Eps 6 Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo
Baca online Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo
Cersil Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo.
Eng Hui sejenak memandang Bun Hong, kemudian ke arah orang kurus yang masih rebah di atas lantai dengan muka pucat dan memandang dengan mata mengandung ketakutan.
"Ayah dan Ibu, setelah kalian pergi, aku merasa tidak betah di rumah, maka aku memberi tahu kepada para murid di rumah untuk menjaga rumah dan aku sendiri pergi menyusul Ayah dan Ibu. Tadi, ketika aku tiba di depan kuil, aku bertemu dengan orang kurus itu yang mengajak bicara dan dia amat ramah dan baik. Karena aku hendak menyelidiki apakah Ayah dan Ibu benar berada di kuil ini, diam-diam aku menyelinap masuk. Ketika sedang mencari-cari di dalam, aku melihat betapa pemuda ini memukul roboh orang kurus yang ramah itu, maka akupun segera turun tangan membelanya. Pemuda itu membawa si kurus lari ke belakang dan aku mengejar sampai sini."
Mendengar penjelasan ini, semua pendekar tersenyum.
Memang telah terjadi kesalah-pahaman di antara dua orang muda itu.
Ciu Kui Eng sendiri tertawa dengan hati lega karena ternyata puterinya tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan keributan.
Hanya kesalah-pahaman biasa saja.
Siauw Lian Hong juga girang mendengar penuturan puteri sahabatnya itu, maka iapun lalu menghampiri puteranya.
"Bun Hong, ketahuilah bahwa gadis manis ini adalah puteri dari sahabat kami. Ayahnya adalah Thio Ki atau Thio-pangcu ketua Kang-Sim-Pang, sedangkan Ibunya adalah Ciu Kui Eng yang sudah seringkali kaudengar namanya. Ternyata Thio Eng Hui ini menyangka engkau seorang penjahat maka menyerangmu."
Bun Hong memandang kepada Eng Hui dengan muka merah. Sementara itu Kui Eng juga berkata kepada puterinya.
"Pemuda itu Tan Bun Hong, putera dari Tan Ci Kong dan Siauw Lian Hong, dua orang sahabat kami yang paling baik dan yang sudah sering kaudengar namanya. Dia menangkap orang ini karena orang ini agaknya seorang mata-mata yang menyelundup dan kini kami akan memeriksanya."
"Ah, begitukah?"
Eng Hui juga menjadi merah mukanya dan tidak berani lagi memandang langsung kepada pemuda itu.
"Eng Hui, engkau yang bersalah dalam hal ini. Lekas minta maaf kepada kakakmu Tan Bun Hong. Bagaimanapun juga, engkau lebih muda dan engkau yang kurang teliti."
"Nanti dulu, Ibu,"
Kata Eng Hui penasaran.
"Orang kurus itu belum diperiksa dan belum ternyata bahwa dia memang bersalah, jadi masih belum terbukti bahwa dia yang benar dan aku yang bersalah. Kita tunggu sampai orang ini diperiksa."
Lalu ia melirik ke arah Bun Hong.
"Kalau kemudian ternyata aku memang bersalah, biarlah aku akan minta maaf."
Bun Hong merasa tidak enak.
"Sudahlah, bibi. Sebaiknya urusan ini tidak diperpanjang karena kesalah-pahaman bukanlah suatu kesalahan, tidak perlu minta maaf. Ayah, sebaiknya orang ini segera diperiksa,"
Sambungnya kepada Ayahnya. Tan Ci Kong mengangguk, lalu menghampiri orang yang rebah di lantai itu dan diapun berjongkok di dekatnya.
"Nah, sobat. lebih baik engkau mengaku sekarang, apa artinya perbuatanmu yang mencurigakan itu? Engkau menyelinap masuk ke dalam kuil seperti seorang pencuri, dan engkau bahkan telah menotok roboh seorang Tosu. Siapa engkau dan apa maksud perbuatanmu yang mencurigakan itu?"
Orang kurus itu kini sudah mulai dapat menggerakkan kaki tangannya dan dengan agak sukar dia bangkit duduk di atas lantai, sepasang matanya memandang ke kanan kiri dan melihat betapa dia berada di tengan kerumunan para pendekar dia merasa gentar sekali.
Akan tetapi mendengar perkataan Ci Kong tadi, dia mendapatkan harapan dan segera berpegang kepada harapan itu.
"Benar Taihiap, saya... saya memang pencuri, saya masuk ke dalam kuil ini karena mendengar bahwa di dalam kuil terdapat banyak harta yang disimpan para Tosu. Karena ketahuan seorang Tosu, saya merobohkannya, akan tetapi... sial, perbuatan saya diketahui oleh orang muda ini..."
"Cukup!"
Ci Kong membentak, karena sebagai seorang pendekar yang sudah seringkali menghadapi mata-mata dan sudah banyak kali terjun dalam perjuangan, dia sudah berpengalaman sehingga tidak mudah dibohongi begitu saja.
"Mengaku saja terus terang bahwa engkau sudah tahu akan pertemuan kami ini dan datang untuk memata-matai kami. Hayo katakan, kau mata-mata pihak mana dan siapa yang mengutusmu, dan apa saja tugasmu?"
"Saya... saya betul pencuri, akan tetapi belum mencuri apa-apa, harap Taihiap suka memberi ampun dan membebaskan saya..."
"Ah, aku ingat sekarang!"
Tiba-tiba seorang di antara para pendekar itu berseru dan dia bukan lain adalah tokoh Tiat-Pi Kai-Pang tadi.
"Bukankah engkau ini yang berjuluk Pek-ci Sin-to (Maling Sakti Tikus Putih) yang terkenal di kota Pao-ting? Tan-Taihiap, dia ini jelas mata-mata pemerintah Mancu! Sudah lama aku mendengar betapa maling hina ini menghambakan diri kepada pemerintah Mancu dan menjadi mata-mata!"
Tan Ci Kong mencengkeram rambut orang itu dan mengguncangnya.
"Nah, sekarang telah kelihatan belangmu! Hayo mengaku saja apa yang kaulakukan di sini!"
Orang kurus itu kelihatan semakin ketakutan, apalagi ketika dia merasa betapa kuatnya cenkeraman tangan Tan Ci Kong.
Para pendekar ini tentu akan memaksa dan kalau perlu menyiksanya agar dia mengaku, pikirnya.
Tiba-tiba dia berusaha meronta dan memandang kepada seorang di antara pendekar itu sambil berseru.
"Toako, kenapa kau diam saja? Tolonglah aku... aughhhh..."
Semua orang, termasuk Ci Kong terkejut bukan main karena tiba-tiba saja seorang di antara para pendekar menggerakkan tangannya dan sebuah piauw (senjata rahasia runcing) telah menyambar dan menancap di ulu hati tawanan itu.
Selagi semua orang terkejut, orang tinggi besar itu telah melompat dan keluar dari ruangan itu.
Semua orang yang terkejut dan bingung itu disadarkan oleh Bun Hong yang berteriak.
"Dia tentu pemimpinnya. Kejar...!"
Semua orang baru sadar bahwa tentu si tinggi besar yang mereka kenal sebagai Ciang Koai, seorang pendekar yang dulu pernah berjuang bersama mereka membantu Tai Peng, kini menjadi kaki tangan pemerintah Mancu dan tentu dia membunuh pembantunya, si kurus itu, agar si kurus tidak membuka rahasia.
Maka, semua orang lalu berserabutan mengejar keluar kuil.
Akan tetapi ketika semua orang tiba di luar kuil, ternyata kuil itu telah dikepung oleh sedikitnya seratus orang tentara kerajaan!
Ternyata gerakan si kurus tadi memang sengaja dilakukan untuk memancing kalau-kalau ada penjaga pihak para pendekar di luar kuil itu tanpa diketahui para pendekar!
Melihat hal ini, Ci Kong mengepal tinju.
Baru saja para pendekar mengambil keputusan untuk bergabung dengan pasukan rakyat yang dipimpin oleh Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, bukan untuk melawan pemerintah Mancu melinkan untuk menenteramkan keadaan dengan menghadapi Tai Peng dan para pemberontak lain, dan kini mereka malah dikepung oleh pasukan pemerintah!
"Kita berpencar dan lari mencari jalan masing-masing!
Ingat akan keputusan rapat pertemuan kita!"
Teriaknya dan mereka lalu berpencaran.
Ci Kong bersama Lian Hong dan putera mereka, Bun Hong, segera menyerbu ke arah kiri.
Mereka disambut oleh tombak-tombak para perajurit, akan tetapi mereka mengamuk dan menerjang terus, merobohkan siapa saja yang menghalang jalan keluar mereka.
Para pendekar yang lain juga menyerbu ke semua jurusa.
Thio Ki juga disertai Kui Eng, dan puteri mereka Eng Hui, menerjang ke arah kanan dan mmerekapun mengamuk untuk membuka jalan keluar.
terjadilah pertempuran yang sengit di luar kuil.
Para Tosu dan para tamu kuil itu menjadi ketakutan dan berjongkok di belakang meja-meja sembahyang untuk bersembunyi.
Biarpun jumlah para pendekar itu hanya kurang lebih dua puluh orang sedangkan para perajurit ada seratus orang, namun tidak mudah bagi pasukan itu untuk menangkap para pendekar yang rata-rata memiliki kepandaian silat yang tinggi itu.
Setelah terjadi pertempuran yang tidak terlalu memakan waktu lama, sebagian besar dari para pendekar itu dapat lolos, hanya meninggalkan tiga orang yang tewas dan beberapa orang di antara mereka membawa lari luka, akan tetapi di pihak pasukan perajurit Mancu, tidak kurang dari lima puluh orang roboh dan terluka, bahkan ada beberapa orang yang tewas pula!
Karena para pendekar itu melarikan diri berpencar, sukar bagi para perajurit yang sudah merasa jerih untuk melakukan pengejaran.
Mereka hanya menyerbu kuil, menangkapi para Tosu, bahkan para tamu yang datang hanya untuk bersembahyang, ikut pula ditangkap!
"Han Le, muridku dan juga anakku yang baik, duduklah di sini, aku ingin membicarakan sesuatu yang amat penting denganmu."
Han Le tersenyum.
semenjak gurunya ini menjadi suami Ibunya, selalu gurunya menyebutnya murid dan anak, dan kasih sayang gurunya menjadi semakin jelas dilimpahkan kepadanya.
Kini dia sudah berusia sembilan belas tahun dan selama ini dia menerima gemblengan yang tak mengenal lelah dari Bu Beng Kwi.
Menurut keterangan Suhunya, hampir semua ilmu silat yang dimiliki Suhunya telah dia kuasai dengan baik.
Dan dia amat sayang kepada Suhunya, apalagi ketika dia mendapat kenyataan betapa terdapat cinta kasih yang besar antara gurunya atau Ayah tirinya dan Ibunya..
Dia melihat betapa Ibunya hidup berbahagia sebagai isteri Suhunya, nampak dari wajah Ibunya yang selalu berseri cerah penuh kebahagiaan, bagaikan setangkai bunga yang terpelihara baik dan tak pernah haus dari siraman air yang menghidupkan dan menyegarkan.
Untuk Ibunya itu saja dia sudah amat berterima kasih kepada Suhunya dan diam-diam dia kagum kepada Ibunya, yang demikian waspada dan bijaksana, tidak keliru memilih walaupun pada lahirnya, Ibunya amat cantik dan Suhunya amat buruk rupa.
Dia yakin benar bahwa Suhunya adalah seorang laki-laki sejati, seorang pendekar budiman yang sukar dicari keduanya.
bahkan kini kedua orang Suhengnyapun telah menjadi pemimpin-pemimpin rakyat yang gagah perkasa, pejuang-pejuang kenamaan dan patriot-patriot yang membela kepentingan rakyat.
Diapun berniat untuk mengikuti jejak kedua orang Suhengnya yang bercerita banyak tentang perjuangan ketka dua tahun yang lalu berkunjung ke tempat itu.
"Suhu, bagiku, Suhu merupakan guru dan Ayah yang amat baik dan setiap yang dibicarakan Suhu selalu penting bagiku. Sekarang ada kepentingan apakah yang membuat Suhu bersikap demikian sungguh-sugguh?"
Katanya sambil duduk di atas bangku depan Suhunya, terhalang sebuah meja di mana terdapat minuman air teh yang tadi dihidangkan Ibunya untuk orang tua itu.
Bu Beng Kwi memandang kepada murid yang juga menjadi anak tirinya itu dengan sepasang mata yang mencorong penuh kasih sayang, juga penuh perhatian.
Anak itu kini telah menjadi seorang dewasa, pikirnya puas, seorang laki-laki yang gagah perkasa.
Dalam hal ilmu silat, murid ini sudah melampaui tingkat Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, dua orang muridnya yang kini telah menjadi pejuang-pejuang kenamaan.
Muridnya ini telah berusia sembilan belas tahun, tubuhnya tinggi besar, tingginya sama dengan dia, dengan dada yang bidang dan perawakan yang gagah sekali.
Bangga dia mempunyai murid seperti Gan Han Le ini.
Dan bukan saja Han Le pandai ilmu silat tinggi, bahkan oleh Ibunya dia diajari ilmu mempergunakan senjata api, yaitu sebuah pistol.
Isterinya itu, Sheila, adalah seorang wanita kulit putih yang pernah mempelajari cara menembak dan ia sendiri yang melatih puteranya itu menjadi seorang penembak mahir!
Bu Beng Kwi berhasil mendapatkan sebuah pistol dan senjata inilah yang dipergunakan oleh Han Le untuk belajar menembak sehingga dia menjadi seorang penembak mahir yang amat jitu tembakannya.
Dan pistol itu kini tersimpan oleh Han Le, kadang-kadang diselipkan di pinggang tertutup baju, dan dengan adanya senjata api ini, tentu saja Han Le menjadi seorang ahli silat yang amat hebat dan berbahaya bagi lawannya.
"Han Le, ada suatu rahasia besar yang selama ini kusembunyikan darimu, dan aku sengaja menanti sampai engkau menjadi dewasa baru rahasia itu kubuka dan kuberitahukan padamu. Akan tetapi sebelum hal itu kulakukan, lebih dulu aku ingin sekali mengetahui apa yang akan kau lakukan sekarang, setelah kunyatakan bahwa sudah habis waktunya engkau mempelajari ilmu dariku. Engkau telah dewasa, telah matang dan cukup kuat untuk membela diri, untuk menentukan langkah hidupmu nanti, Nah, apakah yang akan kau lakukan, anakku?"
"Suhu, aku ingin sekali pergi turun gunung dan ikut dalam perjuangan membela rakyat jelata agar segala yang pernah kupelajari dari Suhu tidak akan tersia-sia."
Jawabnya dengan tegas dan sungguh-sungguh.
"Apa yang mendorongmu untuk berjuang?"
"Suhu, aku... tertarik untuk mengikuti jejak kedua Suheng, dan... bahkan mendiang Ayah kandungku juga seorang pejuang, bukankah begitu? Jadi, sudah selayaknyalah kalau akupun menjadi seorang pejuang. Bukankah Suhu akan menyetujuinya?"
Bu Beng Kwi mengangguk-angguk.
"Tentu saja, tentu saja aku setuju. Akan tetapi, apakah tidak ada lain cita-cita lagi dalam hidupmu, hal yang amat ingin kaulakukan?"
Bu Beng Kwi ingin mengetahui semua isi hati muridnya ini, karena sebelum dia membuka rahasia yang mungkin akan menghabisi hidupnya, dan dia sudah siap siaga menghadapi hal ini, dia ingin lebih dahulu memberi pengarahan kepada muridnya untuk melakukan apa yang diinginkannya.
Han Le mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat, lalu dia menggeleng kepala perlahan.
"Kiranya tidak ada lagi, Suhu. Aku hanya mempunyai Ibu dan Suhu, dan kini Ibu telah hidup berbahagia bersama Suhu di sini. Dulu, di waktu aku belum mengetahuinya, ada cita-cita di hatiku untuk membalas kematian Ayah! Akan tetapi setelah Ibu memberi tahu bahwa yang membunuh Ayah ternyata sudah tewas pula, padamlah cita-cita itu... eh, kenapa Suhu? Kenapa Suhu memandangku seperti itu?"
Han Le terkejut ketika melihat perubahan pada pandang mata Suhunya.
Sepasang mata yang besar sebelah yang biasanya mencorong itu kini tiba-tiba saja seperti lampu kehabisan minyak, dan pandang mata Suhunya itu aneh sekali.
"Han Le, tahukah engkau siapa nama Ayahmu?"
"Tentu saja! Ayah bernama Gan Seng Bu."
"Tahukah engkau siapa pembunuh Ayahmu, yang masih Suheng dari Ayahmu sendiri?"
Han Le merasa heran, akan tetapi dia menjawab juga.
"Ibu pernah memberi tahu. Pembunuh Ayah itu adalah Suhengnya sendiri yang bernama Koan Jit, akan tetapi ada apakah...?"
"Gan Han Le, apakah engkau ingin melihat bagaimana wajah Koan Jit, pembunuh Ayah kandungmu itu?"
Han Le tekejut sampai bangkit berdiri, memandang kepada Suhunya dengan mata terbelalak penuh selidik, alisnya berkerut.
Apakah gurunya hendak main-main dengan dia?
Kalau bermain-main, keterlaluan sekali permainan ini!
"Suhu, apa artinya ini?
Bukankah di sudah meninggal dunia?"
Bu Beng Kwi menggeleng kepala, meraba mukanya dan berkata.
"Dia masih hidup, sayang sekali, dan kau boleh memandang wajahnya dengan baik-baik. Inilah orangnya!"
Tangannya bergerak cepat dan tiba-tiba saja wajah buruk Bu Beng Kwi itu berobah sama sekali!
Bukan lagi wajah seorang Kakek yang mukanya pletat-pletot, matanya besar sebelah, hidungnya menyerong dan mulutnya mencong telinganya kecil.
Sama sekali bukan, melainkan wajah seorang laki-laki yang dapat dibilang tampan, dengan muka penuh kerut-merut dan membayangkan kedukaan, kulit mukanya agak kehitaman dan sepasang matanya yang tajam itu kini diliputi kedukaan besar.
"Inilah wajah Koan Jit, pembunuh Ayahmu itu!"
Sampai beberapa amanya Han Le berdiri terbelalak,wajahnya berubah pucat sekali, tak mampu mengeluarkan kata-kata. kemudian dia berteriak.
"Suhu! Harap jangan main-main!"
Bu Beng Kwi atau Koan Jit itu tersenyum sedih dan menggeleng kepalanya.
"Gan Han Le, aku tidak main-main. Aku adalah Koan Jit, pembunuh Ayah kandungmu, dan aku sudah siap untuk menerima pembalasan dendam darimu, aku siap untuk menerima kematian di tanganmu. Nah, balaslah kematian Ayahmu itu dan bunuhlah aku!"
Dengan kakinya, Bu Beng Kwi menendang meja yang menghalangi mereka ke samping sehingga kini mereka berhadapan. Bu Beng Kwi masih duduk di atas kursinya dan Han Le sudah berdiri sejak tadi.
"Tapi... tapi... bagaimana ini? Apa artinya ini? Mengapa Suhu melakukan semua itu? Mengapa? Ah, Suhu... aku tidak percaya! Jangan permainkan aku, jangan membikin bingung aku... dan diapun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suhunya.
"Bangkitlah, Han Le, dan hadapi kenyataan. Engkau bukan mimpi dan aku tidak berbohong. Dahulu aku bernama Koan Jit dan aku pernah membunuh Suteku yang bernama Gan Seng Bu. Kemudian, karena malu akan sepak terjangku sendiri aku mematikan nama Koan Jit dan aku berubah menjadi Bu Beng Kwi. Akhirnya aku berjumpa dengan Ibumu, jatuh cinta dan... engkau tahu sendiri. Aku sengaja menunggu sampai engkau dewasa, baru memberi tahu akan hal ini agar engkau dapat mengambil keputusan secara dewasa pula. Nah, aku sudah siap. Akulah Koan Jit pembunuh Ayahmu dan engkau boleh melakukan apa saja!"
Sambil mendengarkan keterangan Suhunya, Han Le menangis dan tiba-tiba dia meloncat berdiri tegak, memandang wajah orang di depannya itu dengan muka beringas dan sepasang mata berkilat.
Air matanya masih mengalir turun membasahi kedua pipinya ketika dia menudingkan telunjuknya ke arah muka Bu Beng Kwi.
"Kau...! Engkau telah membunuh Ayahku, kemudian... engkau menggunakan muslihat... engkau pergunakan kelemahan hati Ibuku dan engkau malah mengawininya! Engkau sungguh kejam, keji dan tidak berperikemanusiaan!... Engkau bunuh Ayahku dan menipu Ibuku!"
Han Le mengepal tinju dan napasnya tersengal-sengal saking marahnya.
"Dan engkau menipu aku, menjadikan aku muridmu... kau kira dengan kebaikan-kebaikan berselubung itu kau sudah menebus dosamu terhadap Ayahku? Kau keji, kau kejam"
"Aku siap menerima hukuman, Gan Han Le..."
Kata Koan Jit dan suaranya lirih sekali, mukanya kini tunduk dan kedua matanya basah.
Bukan main sakitnya rasa hati dimaki-maki oleh anak yang dicintanya, disayangnya seperti anak sendiri.
Akan tetapi dia merasa bahwa memang sudah semestinya demikian, dan hal ini sudah seingkali dibayangkannya selama bertahun-tahun ini, bahkan seringkali membuat dia tidak mampu tidur.
Dengan kedua tangan terkepal Han Le memandang wajah laki-laki tua di depannya itu, penuh kebencian.
"Memang! Engkau harus mampus. Engkau binatang berwajah manusia, engkau iblis busuk, jahanam keparat, pembunuh Ayahku, penipu Ibuku...!"
Kedua tangannya sudah menggetar, penuh terisi tenaga sinkang karena Han Le sudah siap untuk menerjang dan mengirim pukulan maut kepada orang di depannya itu.
Dia lupa bahwa orang itu adalah gurunya.
Lupa karena memang wajah orang itu berbeda, dan yang teringat hanyalah bahwa orang itu pembunuh Ayahnya dan penipu Ibunya yang patut dibunuh!
Diapun menerjang ke depan dan mengirim pukulan ke arah dada orang tua itu.
Akan tetapi detik terakhir, pakaian serba putih seperti yang biasa dipakai Bu Beng Kwi, seperti mengingatkan Han Le bahwa orang ini adalah Bu Beng Kwi, gurunya, maka ditahannya gerakan pukulannya dan dikurangi tenaganya.
namun pukulan itu sudah mengenai dada Bu Beng Kwi alias Koan Jit.
"Bruukkk...!"
Koan Jit terkena pukulan, akan tetapi pukulan keras dari tenaga otot saja, bukan pukulan sinkang sehingga dia tidak terluka parah, hanya terengah saja dan dia masih bangkit berdiri, diam-diam dia merasa heran mengapa muridnya yang marah sekali itu memukul seperti itu, bukan pukulan maut yang sekali saja akan dapat mengantar nyawanya ke alam baka.
Dia berdiri dengan terhuyung dan menghampiri lagi muridnya yang berdiri bingung.
"Hukum dan bunuhlah aku, jangan kepalang tanggung, Gan Han Le,"
Katanya.
"Baik, aku akan, membunuhmu! Sebagai Koan Jit, engkau telah membunuh Ayahku! Sebagai Bu Beng Kwi, engkau telah menipu Ibuku, menodai Ibuku!"
Sekali ini Han Le sudah mengambil keputusan untuk membunuh orang di depannya itu. Dia sudah mengerahkan tenaga dan siap menerjang, akan tetapi pada saat itu dia tersentak kaget karena jeritan Ibunya.
"Henry!!"
Ibunya datang berlari dan menubruk Koan Jit yang berdiri limbung sambil mengusap darah dari ujung mulutnya.
"Henry, apa yang kau telah lakukan? Dan apa yang akan kau lakukan ini?"
Ibunya membentak sambil menghadapi puteranya. Tentu saja Han Le merasa heran bukan main melihat Ibunya menubruk Koan Jit dan tidak heran melihat bahwa Bu Beng Kwi telah berubah menjadi Koan Jit.
"Ibu, tidak tahukah Ibu siapa dia ini? Dia ini Koan Jit, pembunuh Ayahku, pembunuh suami Ibu! Dan dia menyamar sebagai Bu Beng Kwi, menipu kita, bahkan menodai Ibu dan mengawini Ibu!"
"Ahhh, ini semua gara-gara engkau tidak membiarkan aku memberi tahu anakku sejak dulu, menanti sampai dia dewasa dan engkau sendiri yang memberi tahu keadaanmu."
Sheila menegur Bu Beng Kwi yang kini duduk kembali dengan kepala ditundukkan seperti anak kecil yang merasa bersalah.
"Henry, dengarlah. memang dia ini Koan Jit. Ingatkah engkau ketika engkau kuajak pergi meninggalkan Bu Beng Kwi? Nah, ketika itulah akupun mengajakmu meninggalkannya. Akan tetapi...engkau tahu sendiri... betapa baiknya dia, dan aku... Ibumu ini, maafkan aku, nak, aku telah jatuh cinta kepadanya, kepada pembunuh Ayahmu. Akan tetapi, engkau sendiri mengenal siapa adanya Bu Beng Kwi, orang macam apa. Koan Jit memang telah mati, yang hidup adalah tubuhnya, akan tetapi hatinya, namanya telah menjadi Bu Beng Kwi. Bu Beng Kwi telah membunuh Koan Jit, maka engkau tidak boleh membunuh Bu Beng Kwi, anakku, karena dia gurumu, dia Ayah tirimu, dia mencinta kita berdua dengan sepenuh jiwa raganya"
"Tidak, Ibu! Tidak boleh begitu! Ah, mengapa Ibu begitu keji? Mau saja menikah dengan pembunuh Ayah? Ibu tidak cinta padaku, Ibu... kejam dan mengkhianati Ayah kandungku...! Aku harus bunuh dia, Ibu. harus!"
Dengan tubuh menggigil Sheila menghadang di depan puteranya.
"Jangan, Henry! Engkau dilatih silat sejak kecil, apakah dengan kepandaian yang kau peroleh dari dia itu kini hendak kau pergunakan untuk membunuh dia, orang yang selama ini melatihmu, mengasihimu?"
"Baik, aku tidak mempergunakan ilmu silat yang dia ajarkan kepadaku. persetan dengan ilmu-ilmunya itu! Aku akan membunuh dengan ini, tanpa kepandaian yang kuperoleh darinya!"
Dan Henry mencabut pistol jenis revolver itu dari balik bajunya dan menodongkannya ke arah Bu Beng Kwi yang masih diam saja sambil memandang kepada Ibu dan anak itu.
"Henryyyy...!"
Sheila menjerit dan mendekat sehingga ujung pistol itu menempel di dadanya sendiri.
"Engkau tidak boleh lakukan itu! Tidak, dia adalah suamiku yang kucinta, kalau engaku berkeras hendak membunuhnya, engkau harus lebih dulu membunuhku!!"
Mendengar ucapan Ibunya ini, terbelalak mata Han Le dan dia melangkah mundur, pistolnya menunduk, mukanya pucat sekali.
"Ibu... Ibu bahkan membelanya, melindunginya? Padahal dia... dia pembunuh Ayahku...! Ibu... Ibu sungguh tidak patut... ahhhh...!"
Han Le meloncat keluar dan melarikan diri pergi dari situ tanpa menoleh lagi.
"Henry...! Henry...!"
Sheila mengejar, akan tetapi puteranya itu telah berkelebat cepat sekali dan lenyap dari situ.
Sheila yang terus mengejar, akhirnya terpelanting jatuh ketika kakinya tersentuh batu dan pada saat tubuhnya roboh, kedua lengan Bu Beng Kwi yang kokoh kuat menyambarnya dan tubuh yang terkulai pingsan itu lalu dipondongnya masuk kembali ke dalam rumah.
"Henry... ahh, Henry...!"
Sheila mengeluh ketika ia siuman kembali dan melihat suaminya duduk di tepi pembaringan dengan wajah sedih, wajah Koan Jit tanpa topeng.
Sheila menangis sesenggukan.
Koan Jit mengelus rambut kepala isterinya penuh kasih sayang.
"Kita harus berani menghadapi semua ini, isteriku. Sudah kubayangkan akan begini jadinya. bagaimanapun juga, dia tidak akan tega membunuhku."
"Tapi dia... dia pergi dan lari dari sini... ah, bagaimana kalau aku kehilangan anakku lahir batin...?"
Koan Jit menggeleng kepala sambil tersenyum, lalu menarik bangun isterinya yang menyandarkan kepala sambil menangis di dadanya.
"Jangan khawatir. Biarkan dia mengambil keputusan sendiri. Biar peristiwa hebat ini menambah kematangan jiwanya, meupakan gemblengan baginya. Tidak, dia tidak mungkin membencimu, Sheila. Dia hanya merasa bingung, seperti yang kaurasakan dahulu itu. Biarkan dia melihat kenyataan dan memutuskan langkahnya sendiri. Aku sudah rela, apapun yang akan dilakukannya. Kita tunggu saja..."
"Tapi... bagaimana kalau dia tidak kembali ke sini? Aku... aku akan merana dan sengsara memikirkan dia. Kalau kepergiannya untuk berjuang dan untuk suatu tujuan tertentu, aku sudah rela karena dia sudah dewasa. Akan tetapi kalau dia pergi meninggalkan aku dengan hati mengandung penasaran dan kebencian, ahhh..."
Sheila tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia sudah menangis lagi dengan sedihnya.
"Baiklah, kita tunggu sampai satu bulan. Kalau dalam satu bulan dia belum kembali, biar kita juga pergi mencarinya sampai berjumpa dan dia harus mengambil keputusan tentang diriku, sebagai laki-laki seperti yang selalu kuajarkan kepadanya."
Dengan janji ini, legalah hati Sheila.
Ngeri ia memikirkan bahwa puteranya itu pergi untuk selama-lamanya dari sisinya, pergi dengan perasaan benci terhadap dirinya.
Mencinta kalau diuntungkan, membenci kalau dirugikan!
Beginilah selalu yang terjadi.
Cinta dan benci saling berganti tempat, sebagai akibat untung dan rugi yang selalu datang silih berganti.
Segala perbuatan seperti itu selalu palsu dan hanya mendatangkan duka belaka.
Selama ada si aku yang menimbang-nimbang untung rugi sehingga menimbulkan cinta atau benci, maka batin akan selalu diguncang konflik.
Kalau sudah tidak ada pamrih, tidak ada perasaan diuntungkan dan dirugikan, maka perbuatan akan dituntun oleh cinta kasih, bukan "cinta"
Yang menjadi kebalikan dari "benci", karena cinta seperti itu bukan lain hanyalah nafsu ingin menyenangkan diri sendiri belaka.
Dan justeru keinginan untuk senang inilah yang membawa kita kepada kecewa, bosan, dan duka.
Sekali ini pasukan kulit putih yang menyerbu ke arah Peking terdiri dari pasukan Inggris dan Perancis yang amat kuat.
Perang terjadi di sepanjang jalan dan karena pasukan kulit putih memiliki persenjataan yang lengkap, dengan senjata api, maka pertahanan balatentara kerajaan Mancu mengalami kekalahan di mana-mana.
Apalagi ketika itu pasukan-pasukan kerajaan sudah menjadi lemah dengan adanya pergolakan sejak Tai Peng memberontak.
Dengan cepatnya pasukan kulit putih yang mendarat di teluk Pohai dan menyerbu ke barat itu telah mengepung kota besar di Tian-cin.
Pasukan Kerajaan Mancu mempertahankan diri sekuatnya.
Setelah terjadi pertempuran berpekan-pekan lamanya, di mana pasukan kulit putih menghujani kota Tian-cin dengan peluru meriam dan senapan, akhirnya bobollah pertahanan pasukan kerajaan Mancu.
Tian-cin diduduki dengan mengambil korban yang tidak sedikit, terutama sekali rakyat jelata.
Seperti ulah semua anak buah pasukan yang memperoleh kemenangan, pasukan kulit putih itupun tidak terkecuali, melakukan pembunuhan, perampokan, pembakaran dan perkosaan yang semena-mena terhadap rakyat kecil.
Sisa pasukan kerajaan sendiri dapat melarikan diri, mundur dan membuat pertahanan baru di kota Wu-cing yang menjadi benteng pertama dari pertahanan di kotaraja Peking.
Keadaan pasukan kerajaan Mancu amatlah lemahnya, bukan hanya karena pada waktu ini terjadi banyak pemberontakan yang didahului oleh pemberontakan Tai Peng, akan tetapi juga terutama sekali karena pasukan pemerintah penjajah ini sama sekali tidak memperoleh dukungan dari rakyat jelata.
Dan pasukan yang tidak memperoleh dukungan rakyat tentu menjadi lemah.
Pada waktu itu, rakyat sudah cukup menderita karena kekorupan para pejabat pemerintah penjajah sehingga diam-diam tertanam perasaan benci yang mendalam dalam hati rakyat terhadap penjajah.
Oleh karena itu, ketika pasukan asing kulit putih melakukan penyerbuan, rakyat sama sekali tidak mau membantu melainkan lari cerai berai dan mengungsi.
Pasukan rakyat yang dipimpin oleh Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, yang mendapat bantuan banyak sekali pendekar yang pandai, tidak dapat membantu pasukan pemerintah yang terus didesak mundur oleh pasukan kulit putih, karena pasukan rakyat ini sedang sibuk membendung pasukan Tai Peng yang tadinya berniat pula menyerbu ke utara mempergunakan kesempatan selagi pemerintah Mancu terancam pasukan kulit putih itu.
Terjadilah perang yang seru antara laskar rakyat ini dengan pasukan Tai Peng yang juga dibantu oleh orang-orang pandai dari golongan sesat yang diketuai oleh Lee Song Kim.
Dengan dipelopori pasukan gabungan Inggris dan Perancis, pasukan-pasukan asing itu mendesak terus ke utara, benteng demi benteng dibobolkan, dan akhirnya dalam tahun 1860, pasukan orang kulit putih itu, dibantu banyak mata-mata pribumi yang menerima upah besar, berhasil membobolkan benteng pertahanan terakhir di kotaraja dan mereka menyerbu Peking!
Bagaikan perampok-perampok ganas, Pasukan itu menyerbu istana, bahkan mereka merampok Taman Terang Sempurna yang indah, membakarnya dan merampok harta benda istana-istana yang terdapat di situ, membunuh banyak pengawal, menculik dan memperkosa banyak wanita dayang dan puteri!
Harta benda yang amat luar biasa, yang bahkan belum pernah dilihat oleh orang-orang kulit putih itu sendiri, dirampok habis-habisan, istana dirusak dan dibakar.
Kaisar Hsian Feng terpaksa melarikan diri bersama dua orang permaisurinya dan juga pangeran mahkota yang masih kecil, dalam tiga buah kereta besar, membawa harta benda dan dikawal oleh sepasukan perajurit pengawal.
Rombongan ini keluar dari pintu gerbang sebelah barat ketika pasukan asing mulai menyerbu kotaraja.
Tujuan rombongan Kaisar ini adalah Yehol di mana Kaisar memiliki sebuah istana perburuan yang besar.
Akan tetapi ketika rombongan pengungsi ini tiba di tepi sebuah hutan, mereka tersusul oleh pasukan kulit putih dan mata-mata mereka yang telah mengetahui akan pengungsian ini dan melakukan pengejaran cepat.
Terjadilah pertempuran sengit di tepi hutan itu.
Kaisar dan keluarganya bersembunyi dan berlindung di dalam kereta-kereta itu, takut kalau terkena peluru nyasar.
Biarpun pasukan asing yang mengejar itu hanya terdiri dari dua puluh empat orang saja, namun lima puluh orang perajurit pengawal Kaisar merasa kewalahan melawannya.
Para pengawal ini membawa senjata api, namun senjata api mereka itu kuno sekali kalu dibandingkan dengan senapan dan pistol yang dipergunakan pasuka kulit putih yang lebih modern dan dapat memuntahkan peluru lebih gencar dan tepat.
Hal ini tidaklah aneh, karena senjata api yang dimiliki oleh sebagian keadaan pasukan-pasukan pengawal Kaisar itu adalah senjata yang dapat dibeli dari orang kulit putih, Dan orang kulit putih yang cerdik itu memang sengaja menjual senjata api dari mutu yang rendah saja!
Dalam waktu sebentar saja, dua ekor kuda penarik kereta roboh, dan sedikitnya lima belas orang perajurit pengawal roboh, tewas atau terluka, sedangkan di pihak orang kulit putih belum seorangpun yang terkena!
Selagi keadaan pasukan pengawal itu terancam bahaya yang dapat mengakibatkan celakanya Kaisar dan keluarganya, tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat.
Bayangan putih dari seorang pemuda yang mengenakan pakaian serba putih seperti orang berkabung.
Sejak tadi, tidak ada perajurit pengawal Kaisar yang berani meloncat keluar.
Mereka berlindung di balik pohon-pohon, karena begitu keluar sedikit saja mereka tentu menjadi makanan peluru yang diberondongkan oleh pihak musuh.
Kini, melihat ada bayangan putih berani keluar bahkan mendekati tempat mereka bertiarap dan berlindung, senapan-senapan dan pistol-pistol memberondongkan peluru panas ke arah bayangan itu.
Akan tetapi bayangan putih itu memiliki gerakan yang bukan main cepatnya.
Dia menyelinap ke balik pohon, berloncatan tinggi dan kadang-kadang bertiarap sehingga sukar sekali dijadikan sasaran peluru dan bayangan itu makin dekat saja.
Ketika dua orang serdadu kulit putih yang merasa penasaran bangkit berlutut dan membidikkan senapan mereka lebih seksama ke arah bayangan itu, tiba-tiba terdengar letusan dua kali dan nampak api berpijar di tangan bayangan putih itu, disusul teriakan kesakitan dan robohnya dua orang serdadu itu yang ternyata roboh karena tembakan pistol yang dilepas oleh bayangan putih!
Terkejutlah para serdadu itu.
Kiranya bayangan itu adalah sorang yang mahir sekali mempergunakan pistol dan begitu muncul telah merobohkan dua orang di antara mereka!
Sementara itu, para perajurit pengawal Kaisar ketika melihat munculnya si baju putih yang telah merobohkan dua orang lawan, dan kini masih berloncatan di antara hujan peluru musuh, menjadi girang dan bangkit kembali semangat mereka.
Merekapun kini menggunakan kesempatan selagi pihak musuh memberondongkan senjata mereka ke arah si baju putih, merekapun menyergap dan menghujankan peluru senapan-senapan mereka ke arah musuh.
Dua orang kulit putih roboh lagi oleh sergapan ini.
Akan tetapi berondongan mereka yang kini ditujukan kepada pasukan pengawal membuat pasukan itu kembali harus bersembunyi.
Bayangan putih itu lenyap pula di antara pohon-pohon dan tak lama kemudian terdengar bunyi derap kaki kuda disusul kutukan para serdadu kulit putih karena tiba-tiba saja semua kuda tunggangan mereka yang tadi ditambatkan pada batang pohon, tahu-tahu telah terlepas semua dan lari ketakutan!
Kiranya ini perbuatan si bayangan putih tadi yang nampak lagi menyelinap berloncatan di antara pohon-pohon!
Kadang-kadang nampak wajah orang itu dan pasukan kedua pihak dapat melihat bahwa bayangan putih itu ternyata seorang pemuda berpakaian serba putih yang bertubuh tinggi besar, gagah perkasa dan berwajah tampan.
Memang gerakannya hebat bukan main, cepat seperti seekor burung sehingga dia seperti mampu mengelak dari sambaran peluru-peluru yang berdesingan!
Bahkan kini kembali dia telah berloncatan mendekati pasukan asing itu dan setiap kali pistol di tangannya meledak, tentu ada seorang sedadu kulit putih yang roboh dan tewas!
Ternyata kemahirannya menembak cepat amat mengejutkan dan juga menggentarkan hati para serdadu yang masih terus berusaha memberondongkan peluru mereka ke arah si baju putih itu.
Pembaca tentu dapat menduga siapa adanya si baju putih itu.
Dia adalah Gan Han Le atau Henry!
Setelah melarikan diri dari Bukit Awan Merah, dari gurunya dan Ibunya, Henry melakukan perantauan dan petualangannya.
Hatinya masih penuh luka.
Dia merasa bingung.
Harus diakuinya bahwa tidak mungkin baginya untuk membenci Bu Beng Kwi yang buruk rupa itu.
Sudah terlalu banyak kebaikan dan kasih sayang dia terima dari Kakek buruk rupa itu.
Akan tetapi, melihat Koan Jit, mengingat bahwa Koan Jit ini musuh besar yang telah membunuh Ayahnya, dia merasa benci sekali.
Dan melihat betapa Ibunya mnjadi isteri dari musuh besar itu, hatinya kecewa, penasaran dan juga malu.
Tadinya dia memang berniat untuk mencari kedua orang Suhengnya, ingin membantu perjuangan mereka melawan pasukan Tai Peng.
Akan tetapi, setelah melihat kenyataan bahwa kedua orang Suhengnya itu adalah murid-murid dari Koan Jit, musuh besarnya timbul pula perasaan tidak suka kepada kedua orang Suheng itu dan diapun tidak jadi mencari mereka.
Diapun merantau sampai ke kotaraja dan ketika terjadi penyerbuan pasukan asing kulit putih ke kotaraj a, kebetulan dia berada di kotaraja.
Dari gurunya, Bu Beng Kwi, Han Le banyak mendengar tentang tujuan perjuangan rakyat.
Tidak suka kepada pemberontak Tai Peng yang ternyata banyak menindas rakyat dan bersekongkol dengan golongan sesat, juga menentang orang kulit putih yang menyelundupkan candu dan jelas hendak menguasai bandar-bandar besar, dan tentu saja menentang pemerintah penjajah Mancu.
Oleh karena itu, melihat penyerbuan pasukan kulit putih ke kotaraja, diapun bersikap dingin saja.
Dia tidak membantu orang kulit putih, juga tidak membantu pemerintah Mancu.
Akan tetapi, ketika melihat sepak terjang para serdadu kulit putih, membakari rumah dan istana, membunuh orang, merampok barang-barang dan bahkan memperkosa wanita, jiwa pendekarnya memberontak!
Diapun lalu bergerak dan setiap kali melihat serdadu melakukan kejahatan, dia turun tangan membunuhnya!
Demikianlah, ketika dia melihat istana dirampok dan dibakar, kemudian keluarga Kaisar melarikan diri, diam-diam diapun membayangi.
Bagaimanapun juga, dia merasa kasihan kepada keluarga Kaisar yang terancam bahaya.
Ketika ada pasukan kulit putih mengejar dan terjadi pertempuran, dia hanya menonton saja, karena di situ terdapat lima puluh orang pengawal Kaisar.
Akan tetapi, ketika melihat betapa pasukan pengawal itu tidak mampu menang bahkan terdesak dan keadaan keluarga Kaisar terancam, Han Le turun tangan dan memperlihatkan kemahirannya bermain dengan pistolnya untuk menghadapi pasukan yang bersenjata api dengan lengkap itu.
Han Le mengamuk dengan pistolnya dan sedikitnya tiga belas orang serdadu kulit putih roboh terkena peluru pistolnya dan peluru yang diberondongkan pasukan pengawal.
Sisanya menjadi panik dan mereka lalu melarikan diri melalui hutan, berlindung pada pohon-pohon.
Han Le mengejar dan masih merobohkan dua orang lagi sebelum dia kembali ke tempat pertempuran.
Sementara itu, permaisuri kedua, Cu Si atau Yehonala, sejak tadi mengintai dan menonton pertempuran itu dengan hati gelisah.
Akan tetapi ia sempat melihat bayangan putih yang dengan gagah berani membantu pasukan pengawal sehingga akhirnya pihak musuh dapat dihalau pergi dan sebagian roboh.
Setelah keadaan aman, ia lalu memanggil pengawal terdekat dan memerintah agar orang berpakaian putih itu dihadapkan kepadanya di dalam kereta.
Ketika Han Le keluar dari hutan setelah melakukan pengejaran, komandan pasukan pengawal yang bermuka brewokan telah menantinya dan cepat komandan ini memberi hormat kepadanya.
"Terima kasih atas bantuan Taihiap kepada kami,"
Katanya agak heran ketika melihat betapa pemuda tinggi besar yang tampan dan gagah ini memiliki sepasang mata yang mencorong akan tetapi agak kebiruan seperti mata orang kulit putih!
"Tidak perlu menghaturkan terima kasih,"
Jawab Han Le dengan sikap dingin saja karena memang dia tidak ingin bersahabat dengan pasukan pengawal Kerajaan Mancu.
"Sekarang sudah aman, harap lanjutkan perjalanan."
Berkata demikian, dia lalu membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.
"Nanti dulu, Taihiap!"
Tiba-tiba komandan itu berseru. Han Le mengerutkan alisnya dan membalikkan tubuh menghadapinya.
"Taihiap, saya diutus oleh Sang Permaisuri Kedua untuk memanggil Taihiap menghadap, beliau ingin bicara dengan Taihiap."
Makin dalam kerut di antara alis mata Han Le.
Dia memandang ke arah kereta dan pada saat itu, tirai kereta tersingkap dan nampak wajah seorang wanita yang amat cantik tersembul dari balik tirai, sepasang mata yang jeli dan berwibawa memandang kepadanya.
"Baiklah,"
Katanya, tertarik karena dia ingin sekali tahu apa yang hendak dibicarakan seorang permaisuri kepadanya.
Dengan langkah gagah diapun mengikuti komandan itu dan ternyata dia dihadapkan kepada wanita yang tadi memandang kepadanya dari balik tirai!
Ketika pintu kereta dibuka dan dia berhadapan dengan wanita itu, dia mendapat kenyataan bahwa wanita itu memang cantik sekali, dengan pakaian yang mewah, dan usianya kurang dari tiga puluh tahun, cantik dengan senyum dan pandang mata memikat.
"Paduka memanggil hamba ada keperluan apakah?"
Tanya Han Le sambil memberi hormat tanpa berlutut.
Dia tidak berpengalaman, namun di samping ilmu silat tinggi, dia juga diberi pelajaran baca tulis dan tata cara sopan santun oleh gurunya.
Akan tetapi, di depan seorang permaisuri Mancu, tentu saja dia tidak mau berlutut walaupun kata-katanya cukup sopan sebagai seorang rakyat terhadap isteri Kaisar!
Sepasang mata Cu Si bersinar-sinar dan seperti menggerayangi tubuh pemuda yang berdiri di depannya.
Kalau saja bukan pemuda yang tampan dan gagah perkasa, yang sudah menyelamatkan keluarganya, yang menghadapinya dengan sikap seperti itu, kurang hormat dan tidak berlutut, tentu ia akan marah.
Akan tetapi ia teringat bahwa saat itu, biarpun masih menjadi permaisuri kedua, ia hanyalah seorang pengungsi, keluarga Kaisar yang sedang kalah dan melarikan diri!
"Orang muda yang gagah perkasa, engkau telah menyelamatkan kami sekeluarga Sri Baginda Kaisar dari malapetaka.
Harap jangan kepalang tanggung menolong kami, kawallah kami sampai selamat tiba di Yehol.
Untuk itu kami akan memberi hadiah besar kepadamu."
Karena yang minta pertolongan kepadanya seorang wanita yang demikian cantiknya, juga dengan suara yang memohon, bukan memerintah seperti layaknya seorang permaisuri, Han Le merasa tidak enak kalau menolak.
Pula, setelah pasukan pengawal itu kehilangan banyak anak buah, memang berbahaya sekali bagi keselamatan Kaisar itu melanjutkan perjalanan tanpa pengawalan yang kuat.
"Lihatlah, Sri Baginda sedang sakit dan lemah, harap kau suka mengasihani kami, orang muda yang gagah."
Kata pula Cu Si dengan suara merayu.
Han Le melihat seorang laki-laki yang melihat pakaiannya tentulah Kaisar sendiri, duduk bersandar dengan tubuh lemah, muka pucat dan mata terpejam.
Mereka sekarang hanyalah keluarga lemah yang membutuhkan bantuan, bukan keluarga Kaisar penjajah yang lalim, pikir Han Le.
"Baiklah, hamba akan mengawal sampai ke Yehol,"
Katanya memberi hormat.
Cu Si girang sekali, meneriaki pengawal agar memberi kuda terbaik kepada pemuda itu dan membiarkan pemuda itu menjalankan kudanya di dekat kereta yang ditumpangi keluarga Kaisar.
Ketika malam tiba, terpaksa keluarga Kaisar itu menghentikan perjalanan di luar sebuah hutan, karena selain kuda mereka sudah lelah, juga jalan di sepanjang hutan itu buruk sekali, apalagi sehabis hujan kemarin, Jalan itu berlumpur dan melakukan perjalanan melalui jalan seburuk itu pada malam hari berbahaya sekali.
Kereta bisa terperosok, bahkan terguling kalau salah memilih jalan.
Ketika para pengawal sedang mengaso dan membuat api unggun, mengelilingi kereta yang ditumpangi keluarga Kaisar, juga para pelayan dan dayang yang berkumpul di dekat kereta, banyak di antara para pengawal saling mengobati luka yang mereka derita, Han Le duduk menyendiri di luar kurungan perajurit pengawal.
Dia membuat api unggun sendiri dan menerima pembagian ransum, makan dengan sunyi sambil melamun.
Betapa nasib manusia tidak tentu, seperti hari yang sebentar terang sebantar gelap, sebentar hujan sebentar cerah.
Lihat saja nasib Kaisar dan keluarganya, pikirnya.
Biasanya mereka itu hidup bergelimang kemewahan, kemuliaan dan kehormatan.
Akan tetapi sekarang mereka melarikan diri, seperti pengungsi-pengungsi yang melarikan diri dari bahaya, mencari keselamatan, melewatkan malam di dalam kereta yang sempit, di tepi hutan yang gelap gulita dan banyak nyamuknya!
Nasibnya sendiripun telah mengalami perubahan hebat sekali.
Dia mengenang Ibunya, juga gurunya.
Sukar dia membayangkan bagaimana keadaan mereka, apa yang mereka lakukan semenjak dia meninggalkan mereka.
Dia merasa amat kasihan kepada Ibunya, akan tetapi belum juga dia dapat mengerti mengapa Ibunya mau saja diperisteri musuh besar yang dulu membunuh Ayahnya!
Tiba-tiba terdengar sorak sorai dan tempat itu telah dikepung oleh banyak sekali orang yang semua memegang senjata tajam.
Ada yang memegang golok, pedang, ruyung atau tombak dan sikap mereka itu kasar-kasar.
"Bunuh keluarga Kaisar Mancu!"
"Permaisuri untuk aku, ha-ha!"
"Barang-barangnya tentu banyak!"
"Bunuh semua anjing-anjing pengawalnya!"
Dari ucapan dan melihat sikap mereka, mudah diduga bahwa mereka itu adalah segerombolan perampok yang jumlahnya banyak, sedikitnya ada lima puluh orang!
Memang pada waktu itu, banyak gerombolan perampok yang menamakn diri mereka pejuang dan menentang pemerintah Mancu.
Akan tetapi tujuan mereka sesungguhnya bukan demi memebela kepentingan rakyat, melainkan kepentingan diri pribadi.
Dengan menamakan diri "pejuang"
Penentang penjajah, mereka dapat mengangkat diri, bukan seperti gerombolan perampok!
Mereka mendengar bahwa keluarga Kaisar melarikan diri dari kotaraja dan mereka dapat menduga bahwa keluarga Kaisar melarikan diri itu tentu membawa banyak sekali barang berharga, juga puteri-puteri cantik jelita!
Karena itu, malam itu mereka nekat menyerbu.
mereka bukanlah gerombolan perampok biasa, kalau demikian halnya tak mungkin mereka berani menyerang keluarga Kaisar yang dilindungi pasukan pengawal.
Mereka itu dipimpin oleh Yan-san Ngo-coa (Lima Ular Gunung Yan), lima orang kakak beradik seperguruan yang terkenal sekali sebagai perampok yang malang melintang di sebelah utara kotaraja Peking, memiliki ilmu kepandaian silat tinggi dan mereka telah berhasil menghimpun anak buah mereka yang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.
Para perajurit tentu saja terkejut bukan main.
Mereka masih lelah dan kini diserbu secara tiba-tiba, di malam gelap yang hanya diterangi oleh beberapa buah api unggun di sana-sini.
"Kurung kereta dan pertahankan! Jangan pergunakan senapan, lindungi Kaisar dengan golok!"
Bentak komandan pasukan yang merasa khawatir kalau anak buahnya menggunakan senapan.
Selain akan terlambat karena perampok sudah menyerbu, juga peluru bisa kesasar mengenai teman sendiri.
Terjadilah pertempuran hebat dan segera terdengar suara senjata tajam saling beradu, menimbulkan suara nyaring mengerikan.
Apalagi para perampok itu banyak yang mengeluarkan suara ketawa mengejek, menyerankan dan memang segera dapat dilihat bahwa dalam adu senjata tajam, para pengawal itu agaknya bukanlah tandingan para anggauta perampok.
"Keparat, perampok busuk!"
Han Le memaki dan diapun cepat menerjang ke arah para perampok.
Terjangan Han Le hebat sekali.
Biarpun dia bertangan kosong, namun setiap kali tangannya menampar, tentu ada seorang anggauta perampok yang berteriak dan terguling roboh.
Akan tetapi, para perajurit pengawal juga terdesak hebat dan banyak di antara mereka yang roboh sehingga Han Le terpaksa harus berloncatan ke sana-sini untuk membantu perajurit yang kewalahan.
Han Le teringat akan keselamatan keluarga Kaisar yang berada di dalam kereta.
Yang terpenting harus melindungi mereka, pikirnya dan diapun mulai membuka jalan menghampiri kereta yang oleh pasukan pengawal secara mati-matian coba dipertahankan.
Akan tetapi agaknya para perampok lebih kuat dan mereka mulai mendekati kereta sambil tertawa-tawa dan berteriak-teriak.
Pintu kereta-kereta itu tertutup rapat dan Han Le dapat membayangkan betapa panik dan takutnya keluarga Kaisar yang berada di dalam kereta-kereta itu.
Hatinya merasa lega melihat bahwa tiga buah kereta itu belum terjamah oleh para perampok, akan tetapi diapun dapat melihat betapa akan repotnya kalau dia sendiri harus melindungi tiga kereta itu yang dapat diserang dari semua jurusan.
ketika telah tiba dekat, dia terkejut dan tertarik sekali melihat perkelahian hebat yang terjadi di dekat kereta antara seorang gadis melawan pengeroyokan lima orang perampok yang memiliki gerakan lihai bukan main.
Lima orang perampok ini masing-masing memegang sepasang golok besar, sedangkan gadis itu, yang melihat bentuk tubuhnya, hanya seorang gadis remaja, memegang sebatang pedang tipis.
Akan tetapi, Han Le merasa kagum bukan main melihat cara gadis itu menggerakkan pedang melawan para pengeroyoknya.
Pedang itu diputar sedemikian rupa sehingga lenyap bentuknya, berubah menjadi segulung sinar putih yang menyilaukan mata tertimpa sinar api unggun yang masih bernyala terang tak jauh dari situ.
Siapakah gadis lihai ini, pikirnya, dan kenapa tadi tidak nampak?
Dan siapa pula lima orang perampok yang lihai itu?
Dia tidak sempat menyelidiki untuk menjawab kedua pertanyaan itu, melainkan cepat turun tangan, terjun ke dalam perkelahian karena bagaimanapun lihainya, gadis itu agaknya mulai kewalahan juga menghadapi pengeroyokan lima orang yang merupakan lawan tangguh.
Sepuluh gulung sinar golok itu mulai menekan dan mengepung dan gadis itu terpaksa harus berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan ancaman bacokan golok.
"Penjahat-penjahat curang!"
Bentak Han Le dan diapun menerjang masuk sambil memainkan Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang gerakannya cepat, berubah-ubah dan amat kuat itu.
Apalagi dia telah melindungi kedua lengannya dengan kekebalan sehingga kalau perlu dia berani menangkis golok lawan dengan lengan tanpa khawatir lengannya akan terluka.
Begitu dia menyerbu masuk, buyarlah kepungan terhadap gadis itu, karena tamparan tangan dan tendangan kaki Han Le sedemikian cepat dan kuatnya sehingga lima orang perampok itu terkejut sekali karena hampir saja menjadi korban pukulan dan tendangan, mereka mencelat mundur dan kini maju lagi terpecah menjadi dua.
Dua orang mengeroyok gadis remaja itu, sedangkan yang tiga lagi mengeroyok Han Le yang bertangan kosong.
Terjadilah perkelahian yang lebih seru lagi.
Setelah kini hanya dikeroyok oleh dua orang lawan, pedang gadis itu mulai beraksi, menyambar-nyambar dengan cepat, indah dan kuatnya sehingga dalam waktu belasan jurus saja, dua orang pengeroyoknya yang memegang empat batang golok itu menjadi terdesak hebat dan mereka lebih banyak memutar golok melindungi diri dari sambaran sinar pedang yang demikian lihainya.
Han Le maklum bahwa tiga orang pengeroyoknya tidak boleh disamakan dengan para anggauta perampok lainnya yang telah dilawan dan dirobohkannya tadi.
Mereka bertiga itu bermain golok dengan baik sekali, dan tiga orang itu membentuk semacam barisan segitiga yang saling bantu dan rapi sekali.
Tahulah dia bahwa mereka ini bukan orang sembarangan dan agaknya menjadi pemimpin gerombolan perampok itu.
Memang duagaannya benar.
Dua orang yang mengeroyok gadis itu dan kini bersama tiga orang yang mengeroyoknya, adalah Yan-san Ngo-coa sendiri, yang memimpin gerombolan perampok terdiri dari lima puluh orang itu.
Karena merasa yakin bahwa orang-orang mereka tentu akan dapat menang dan menumpas para perajurit pengawal yang jumlahnya lebih kecil dan kelihatan sudah lelah dan lemah, Yan-san Ngo-coa lalu menerjang masuk dan menghampiri tiga buah kereta untuk menyerbu keluarga Kaisar dan berpesta pora dengan mereka dan harta mereka.
Akan tetapi, terdengar bentakan nyaring dan entah darimana datangnya, tiba-tiba saja sudah muncul gadis remaja itu yang memutar sebatang pedang tipis menahan mereka!
Mula-mula Yan-san Ngo-coa memandang rendah dan seorang di antara mereka maju untuk menangkap gadis itu, bukan untuk membunuhnya melainkan untuk menangkapnya karena gadis remaja itu cantik manis dan tentu saja mereka merasa sayang untuk membunuhnya.
Akan tetapi hampir saja yang seorang itu celaka karena pedang gadis itu ternyata lihai bukan main.
Seorang lagi maju, tetap saja terdesak sehingga akhirnya mereka berlima maju semua mengeroyok dan pada saat gadis itu terdesak, mucul Han Le membantu.
Siapakah gadis remaja yang lihai itu?
Tidak mengherankan kalau gadis remaja itu lihai, karena ia adalah puteri tunggal dari Yu Kiang dan Ceng Hiang!
Ayah gadis itu, Yu Kiang, adalah seorang bangsawan tinggi yang ahli dalam hal sastera, akan tetapi dapat dikata tidak pandai ilmu silat.
Akan tetapi isterinya, Ceng Hiang, adalah seorang puteri pangeran yang memiliki ilmu silat hebat!
Sebagai puteri pangeran yang menjadi keluarga kerajaan, Ceng Hiang beruntung sekali mewarisi ilmu-ilmu silat yang istimewa, yaitu beberapa ilmu silat tinggi peninggalan keluarga Pendekar Pulau Es!
Dan lebih dari itu, secara kebetulan sekali ia menemukan sebuah kitab peninggalan Tat Mo Couwsu yang bernama Pek-seng Sin-pouw, yang mengajarkan langkah-langkah ajaib.
Karena Ibunya seorang ahli silat tingkat tinggi, tidaklah mengherankan kalau gadis remaja yang menjadi puteri tunggal itu mewarisi ilmu silat yang lihai dari Ibunya.
Gadis itu bernama Yu Bwee, berusia kurang lebih tujuh belas tahun dan memiliki bakat yang amat baik.
Biarpun masih berdarah bangsawan dan dekat dengan keluarga kerajaan, namun sejak dahulu keluarga Yu Kiang dan Ceng Hiang tidak setuju dengan sikap Kaisar Hsian Feng yang amat lemah dan yang tidak memperhatikan urusan pemerintahan sehingga kebanyakan di antara pejabat pemerintah merupakan orang-orang korup yang menindas kehidupan rakyat.
Bahkan diam-diam keluarga ini menaruh penghargaan kepada para pejuang yang berjuang untuk memebebaskan rakyat dari penindasan kaum penjajah.
Akan tetapi, tentu saja merekapun tidak mau menjadi pengkhianat, tidak mau mengkhianati kerajaan dan walaupun mereka tidak langsung membantu pemerintah, namun mereka masih mempunyai perasaan setia terhadap kerajaan dan tidak mau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pemerintah.
Ayah Ceng Hiang, yaitu Pangeran Tiu Ong, juga hanya mau menjabat kedudukan sebagai pengurus perpustakaan istana dan sama sekali tidak mau mencampuri urusan pemerintahan, apalagi yang menyangkut urusan rakyat.
Bahkan Yu Kiang sendiripun tidak mau menjabat kedudukan, melainkan hanya menjadi seorang guru besar sastera saja.
Ketika terjadi penyerbuan orang kulit putih ke kotaraja, tentu saja Ceng Hiang tidak mau tinggal diam.
Ia mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk membantu para perwira mempertahankan kota, dan suaminya, Yu Kiang, juga sibuk membantu pertahanan kotaraja dengan siasat perang yang kesemuanya sia-sia belaka karena pihak musuh jauh lebih kuat perrsenjataannya.
Yu Kiang merupakan seorang di antara mereka yang membujuk Kaisar agar suka pergi melarikan diri dan mengungsi ke Yehol bersama keluarganya.
Ceng Hiang lalu mengutus puterinya, Yu Bwee, untuk menyusul dan kalau perlu melindungi Kaisar.
"Anakku, Yu Bwee, sekaranglah tiba saatnya engkau memperlihatkan kepandaian yang selama ini kuajarkan kepadamu. Kejarlah rombongan Sri Baginda ke Yehol dan lindungilah keluarga itu dalam perjalanan sampai ke Yehol. Engkau tinggallah di sana untuk sementara waktu, melindungi keluarga Sri Baginda Kaisar sampai aku datang menyusul ke sana."
Demikianlah pesan Ceng Hiang kepada puterinya.
Sebetulnya, bukan hanya karena ingin agar puterinya bersetia dan membela keluarga Kaisar saja maka Ceng Hiang menyuruh puterinya yang masih muda itu melakukan pekerjaan berbahaya itu, juga karena ia ingin menyingkirkan puterinya dari kotaraja!
Puteri bangsawan yang lihai ini maklum bahwa kotaraja tidak dapat dipertahankan lagi dan sebagai kota yang kalah dan diduduki musuh, tentu kota itu akan mengalami kekacauan, akan dirampok dan mungkin dibakar, dan amat berbahaya bagi para wanita, terutama yang muda dan cantik, untuk tetap tinggal di sebuah kota yang diduduki musuh.
Inilah sebabnya mengapa ia ingin agar puterinya itu tidak berada di kotaraja apabila kota itu terjatuh ke tangan pasukan kulit putih.
Yu Bwee menunggang kuda dan melakukan pengejaran.
Baru malam itu ia berhasil menyusul rombongan Kaisar yang tiba di tepi hutan, dan tepat sekali ketika ia tiba di situ, rombongan pengungsi itu sedang dikepung perampok.
Ia segera meloncat turun, mencabut pedangnya dan menyerbu, melindungi tiga buah kereta dari serbuan lima orang pimpinan perampok itu sampai muncul Han Le yang membantunya.
Setelah menghadapi dua orang pengeroyok saja, Yu Bwee yang merasa lega karena tiba-tiba muncul bantuan yang demikian lihai, mempercepat gerakan pedangnya.
Dua orang itu payah mencoba untuk mendesaknya, karena gerakan kaki gadis itu melangkah secara aneh dan selalu dapat menghindarkan diri dari sambaran empat batang golok itu.
Gadis ini ternyata telah menggunakan Langkah Ajaib Pek-seng Sin-pouw yang dipelajarinya dari Ibunya.
Tubuhnya menjadi ringan sekali dan tubuh itu kadang-kadang dapat berputar sedemikan rupa sehingga semua bacokan dan tusukan hanya mengenai tempat kosong belaka walaupun tadinya kelihatan sudah tepat pada sasarannya.
Dan sebagai balasan, pedang ditangan gadis itu menyambar-nyambar dengan cepatnya.
Akhirnya, dua orang itu tak mungkin dapat menghindar lagi ketika dengan kecepatan kilat, setelah kaki kirinya berhasil menendang roboh seorang pengeroyok, pedang di tangan Yu Bwee menyambar dan merobohkan orang kedua dengan sabetan yang mengenai leher, kemudan dilanjutkan dengan tusukan yang mengenai dada orang pertama yang roboh oleh tendangannya.
Ketika Yu Bwee mengangkat muka menendang ke kanan untuk membantu orang berpakaian putih yang tadi menolongnya, ternyata orang itupun sudah selesai dengan merobohkan tiga orang pengeroyoknya, hanya dengan tangan kosong saja!
Orang ketiga baru saja dirobohkannya dengan sebuah tamparan keras, hampir berbareng dengan robohnya dua orang pengeroyoknya.
Yu Bwee memandang kagum.
Ia sendiri hanya dapat memenangkan pengeroyokan dua orang dengan sebatang pedang di tangan, akan tetapi pemuda berpakaian serba putih itu merobohkan tiga orang pengeroyok dengan tangan kosong saja!
Para perampok menjadi terkejut bukan main ketika melihat robohnya lima orang pemimpin mereka.
Terbanglah nyali mereka melihat ini, maka ketika Yu Bwee dan Han Le seperti orang berlumba menerjang para perampok yang berani mendekat, merekapun menjadi panik dan larilah sisa para perampok itu ke dalam hutan!
Sekali ini kerugian yang diderita pasukan pengawal amat parah, lebih dari setengah jumlah mereka roboh dan sisanya hanya tinggal dua puluh orang lebih saja.
Yu Bwee sendiri cepat menghadap Kaisar dan dua orang permaisurinya.
Kaisar masih lemah dan sakit, maka Yu Bwee hanya dapat menghadap permaisuri Cu An dan permaisuri Cu Si saja.
Dua orang permaisuri itu tadi melihat sepak terjang Yu Bwee dan mereka kagum, juga senang sekali, akan tetapi mereka tidak mengenalnya.
Baru setelah Yu Bwee memperkenalkan diri sebagai puteri guru sastera Yu Kiang dan cucu dari Pangeran Ceng Tiu Ong, dua orang permaisuri itu girang dan Cu An berkata halus.
"Yu Bwee, engkau naiklah ke dalam kereta ini dan temanilah kami. Dengan adanya engkau di samping kami, baru kami merasa aman."
Cu Si juga membenarkan permintaan ini dan terpaksa walaupun hatinya tidak merasa suka, Yu Bwee tinggal di dalam kereta menemani dan menjaga mereka.
Melihat keadaan para pasukan pengawal, han Le merasa khawatir sekali.
kalau terjadi serangan lagi, tentu akan berbahaya keadaan mereka.
di Yehol memang ada pasukan besar, akan tetapi karena kekacauan itu, agaknya tidak ada hubungan kepada pemimpin mereka sehingga mereka itu hanya menjaga dan menanti di yehol.
han Le lalu menemui komandan dan pasukan pengawal yang juga sudah terluka pangkal lengan kirinya yang kini dibalut.
"Ciangkun, sebaiknya kalau pejalanan dilanjutkan saja agar cepat dapat tiba di Yehol sebelum ada serangan lain dari musuh."
Komandan merasa setuju, dan enam orang disuruh menyalakan obor besar sebagai penunjuk jalan yang kini dijalankan lagi melalui jalan-jalan yang rusak, becek bahkan berlumpur.
Biarpun amat sukar perjalanan itu, namun akhirnya sampai juga mereka ke perbatasan Yehol dan disambut oleh pasukan penjaga.
Selamatlah keluarga Kaisar sampai di tempat tujuan dan tentu saja keluarga itu amat bersyukur dan berterima kasih kepada Gan Han Le dan juga kepada Yu Bwee karena dua orang muda gagah perkasa inilah yang telah menyelamatkan perjalanan keluarga Kaisar setelah pasukan pengawal terancam oleh musuh yang hampir saja mencelakakan keluarga besar itu.
Yu Bwee yang masih berdarah bangsawan kerajaan itu segera digandeng dan diajak masuk ke dalam istana Yehol oleh permaisuri Cu An, sedangkan Han Le cepat dipesan oleh Cu Si untuk masuk dan menghadapnya.
Sebenarnya Han Le tidak bermaksud untuk lama tinggal di Yehol.
Setelah keluarga Kaisar dapat dengan selamat mencapai Yehol, dia merasa bahwa kewajibannya selesai dan dia ingin pergi saja.
Akan tetapi, komandan yang menemuinya mengatakan bahwa itu adalah perintah permaisuri dan siapapun tidak dapat menentang atau membangkang terhadap perintah permaisuri.
Pemuda itu dapat ditangkap dengan tuduhan melawan permaisuri kalau tidak mau menghadap.
Karena tidak ingin mendatangkan keributan, Han Le terpaksa masuk ke dalam taman yang luas dari istana itu di mana dia diharuskan pergi menghadap permaisuri kedua itu.
Ruangan di tepi taman itu indah bukan main.
Lantainya dari marmer biru dan perabot-perabot rungan itu serba indah, Tirai-tirai Sutera beraneka warna membuat suasana di ruangan itu semakin cerah.
Bunga-bunga di taman menyiarkan keharuman sampai ke dalam ruangan, ditambah lagi dengan bau dupa harum membuat Han Le seolah-olah memasuki ruangan di kahyangan, merasa seperti mimpi karena selama hidupnya belum pernah dia melihat tempat seindah dan semewah itu.
Akan tetapi, sunyi saja di tempat indah itu ketika dia bersama komandan memasukinya.
Ketika mereka masuk ruangan, yang nampak hanyalah permaisuri kedua Cu Si bersama tiga orang dayang.
Nampak beberapa orang pengawal yang berjaga di luar ruangan.
Ketika komandan itu datang bersama Han Le, mereka disambut oleh seorang thaikam yang bermuka buruk yang bukan lain adalah Li Lian Ying, thaikam (manusia kebiri) yang menjadi kepercayan Cu Si.
Thaikam inilah yang membawa mereka menghadap majikannya dan melihat mereka muncul, Cu Si bangkit berdiri dari tempat duduknya, dengan mata bersinar dan wajah berseri ia memandang kepada Han Le.
Komandan itu mengajak Han Le untuk menghadap sambil berlutut, dan terdengar Li Lian Ying melaporkan bahwa komandan telah datang membawa pemuda Gan Han Le seperti yang diperintahkan permaisuri itu.
Cu Si tersenyum, jantungnya berdebar tegang dan gembira melihat pemuda yang membuatnya tergila-gila itu.
"Terima kasih, Ciangkun,"
Katanya kepada komandan pasukan pengawal.
"Engkau boleh pergi sekarang."
Komandan itu mengundurkan diri, meninggalkan Han Le bersama thaikam buruk rupa itu yang masih menghadap permaisuri.
Cu Si memberi isyarat kepada Li Lian Ying dan tiga orang dayang yang tanpa berkata-kata lagi lalu pergi meninggalkan ruangan itu, masuk ke dalam.
Kini tinggallah Han Le berdua saja dengan Cu Si.
Setelah tidak ada orang lain di situ kecuali para pengawal yang berjaga di luar ruangan itu seperti patung, menghadap keluar.
Kembali Cu Si tersenyum melihat pemuda itu masih berlutut sambil menundukkan mukanya.
Betapa tampannya pemuda ini, pikirnya.
Tampan dan gagah perkasa!
Berbeda jauh dengan Kaisar yang lemah dan sakit-sakitan itu.
Bahkan perjalanan melarikan diri itupun telah membuat Kaisar jatuh sakit.
Han Le sendiri mengerutkan alis ketika menundukkan mukanya.
Dia melihat betapa semua orang pergi, tinggal dia sendiri yang belum disuruh mundur oleh permaisuri dan dia merasa tidak enak sekali.
Tidak wajar ini, pikirnya dan dia mengharapkan permaisuri itu akan segera menyelesaikan urusannya dan menyuruhnya pergi.
Suara wanita itu demikian halus merdu dan penuh wibawa ketika menyuruh komandan tadi pergi.
Tiba-tiba terdengar suara itu lagi, merdu dan halus.
"Pendekar muda yang perkasa, siapakah namamu?"
Tanpa mengangkat muka, Han Le menjawab.
"Nama hamba Gan Han Le."
"Gan Han Le, bangkitlah dan duduklah di kursi depanku ini, agar lebih enak kita bicara dan angkatlah mukamu agar aku dapat melihat wajahmu."
Berdebar keras rasa jantung Han Le mendengar perintah yang dikeluarkan dengan suara lembut ini.
Dia meragu, akan tetapi tidak berani membantah dan diapun bangkit dan duduk berhadapan dengan permaisuri itu, lalu mengangkat mukanya.
Cantik sekali wanita di depannya itu, masih muda dan memiliki pandang mata tajam menantang.
Bibirnya yang tipis merah itu mengulum senyum.
melihat betapa mulut dan mata itu seperti hendak melumatnya, Han Le cepat menundukkan lagi mukanya.
Diam-diam Cu Si tersenyum lebar dan berahinya semakin berkobar.
Kini, Cu An dan para keluarga sedang sibuk mengurusi Kaisar yang jatuh sakit, bahkan tadi sampai pingsan.
Semua orang sibuk di dalam sehingga ia memperoleh kesempatan baik untuk berbuat apa saja di situ tanpa ada yang tahu.
Ia tadi hanya mengatakan kepada Cu An bahwa ia hendak memberi hadiah kepada pendekar baju putih yang telah menyelamatkan rombongan keluarga Kaisar di tengah jalan dan tentu saja alasannya yang amat kuat ini menjauhkan kecurigaan siapapun juga.
Melihat wajah Han Le ketika memandangnya tadi, hampir tidak kuat ia menahan gairah hatinya.
Kalau menurutkan dorongan gairahnya, ingin ia segera menubruk dan merebahkan dirinya di dalam pelukan pemuda yang ganteng itu.
Akan tetapi tentu saja ia menahan diri karena mereka berada di ruangan terbuka, dan walaupun di situ tidak ada orang lain kecuali para pengawal yang berjaga seperti patung, akan tetapi tempat itu mudah dilihat orang dari luar.
"Han Le...,"
Suaranya sudah menjadi lain, seperti bisikan, seperti rintihan.
"Kami sekeluarga amat berterima kasih kepadamu..."
Ia berhenti sebentar untuk menekan guncangan hatinya.
"...dan aku ingin memberi hadiah kepadamu sebagai tanda terima kasih..."
"Hamba mohon Paduka tidak usah repot memeikirkan hal itu, karena hamba melakukannya sebagai suatu kewajiban..."
"Biarpun demikian, kami berhutang budi dan nyawa kepadamu, Han Le. Marilah, kau mengikuti aku ke dalam untuk menerima hadiah itu."
Ia bangkit dengan tergesa-gesa dan meninggalkan kursinya.
Biarpun hatinya penuh keraguan dan kekhawatiran, namun melihat permaisuri yang telah mengeluarkan perintah itu melangkah masuk, mau tidak mau Han Le juga bangkit berdiri dan mengikuti dari belakang.
Nampak olehnya betapa sepasang bukit pinggul itu menari-nari ketika kedua kaki yang kecil itu berlenggang di depannya, pinggang yang ramping itu meliuk ke kanan kiri demikian indahnya.
Makin tegang rasa hati Han Le ketika permaisuri itu mengajaknya memasuki sebuah kamar!
Dan dua orang dayang yang tadinya membersihkan kamar itu, segera keluar dan pergi setelah mendapat isyarat dari sang permaisuri.
Begitu mereka masuk ke dalam kamar, tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi Cu Si lalu menutupkan tirai tebal yang menutup pintu kamar!
Dan sebelum Han Le dapat menenangkan perasaannya yang terguncang, tiba-tiba saja permaisuri itu membalik dan menghadapinya, dekat sekali, lalu tiba-tiba kedua lengan yang kecil halus itu melingkari lehernya seperti dua ekor ular dan hidungnya mencium keharuman yang keluar dari dada dan rambut permaisuri itu.
"Han Le, pondonglah aku ke pembaringan itu, cintailah aku dan engkau akan kuberi hadiah apa saja yang kau inginkan..."
Bisik permaisuri itu dengan suara gemetar karena gejolak berahinya.
Tentu saja Han Le terkejut bukan main.
hal ini sama sekali tak pernah disangkanya!
hatinya memberontak dan kalau saja dia tidak menguasai perasaannya yang terguncang hebat, tentu dia telah menggerakkan tangan memukul wanita itu!
Akan tetapi, untung bahwa dia masih ingat bahwa wanita itu adalah permaisuri dan akan terjadi geger kalau sampai dia membunuhnya.
maka, dengan lembut dia melepaskan diri dari pelukan dan melangkah mundur.
"Tidak! Paduka tidak boleh begitu. Hamba pergi sekarang!"
Tanpa menanti jawaban diapun melompat keluar dari dalam kamar itu dengan langkah lebar dan cepat diapun keluar dari bagian istana di samping dekat taman itu.
Sejenak Cu Si tertegun.
Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa pemuda itu akan menolaknya!
Bagaimana seorang laki-laki berani menolaknya?
Wajahnya berubah pucat, lalu menjadi merah sekali melihat betapa pemuda itu keluar dengan cepat.
Ia lalu bertepuk tangan dan isyarat itu mengundang datangnya lima orang pengawal yang berada paling dekat.
"Kejar orang muda itu, tangkap dia!"
Bentaknya.
Lima orang pengawal itu berserabutan keluar untuk melakukan pengejaran, akan tetapi di dalam hati mereka amat gentar.
Sudah mereka ketahui betapa pemuda itu dengan gagah beraninya telah menggagalkan usaha banyak perampok yang menghadang pelarian keluarga Kaisar!
Menurut berita yang mereka dengar dari sisa para perajurit pengawal, pemuda itu memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, dan sekarang mereka diutus untuk menangkap pemuda lihai itu!
Sementara itu, dengan menahan tangisnya, Cu Si memanggil Li Lian Ying yang merasa heran melihat majikannya duduk lesu dan mata basah air mata.
"Jahanam itu berani menolakku dan agaknya para pengawal jerih untuk menangkapnya. Aih, hatiku sakit hati sekali, Lian Ying!"
Cu Si membanting-banting kakinya yang kecil di atas lantai.
"Sungguh kurang ajar sekali, berani dia menolak Paduka!"
Li Lian Ying juga berseru sambil mengepal tinju.
"Tentu saja para perajurit yang tolol itu takut kepadanya karena memang dia lihai. Akan tetapi ada satu orang yang akan berani melawannya, agaknya Paduka lupa kepada nona Yu Bwee. Kalau mengutus nona Yu Bwee yang mengejar, tentu orang itu akan dapat ditangkap dan diseret kembali menerima hukuman"
"Aih, engkau benar, Lian Ying. Kenapa aku melupakan gadis itu? Panggil ia ke sini!"
Li Lian Ying lari ke dalam istana dan tak lama kemudian, Yu Bwee sudah menghadap permaisuri kedua itu.
"Yu Bwee, pemuda bernama Gan Han Le yang membantu kami di perjalanan itu, setelah tiba di sini berani sekali kurang ajar kepadaku! Kini dia melarikan diri dan kiranya hanya engkau sajalah yang akan mampu mengejar dan menangkapnya! Tangkap dia dan seret di ke sini agar kami dapat memberi hukuman atas kekurang-aj arannya!"
Yu Bwee merasa heran dan terkejut, akan tetapi tidak berani mendesak untuk bertanya kekurang-ajaran yang bagaimana telah dilakukan pemuda itu.
Ia menyanggupi lalu keluar dari istana, menerima petunjuk para penjaga ke arah mana larinya pemuda berpakaian putih itu dan iapun melakukan pengejaran dengan cepat.
Setelah Yu Bwee berangkat, Cu Si masih merasa gelisah.
ia ingin menangkap Han Le, bukan hanya karena merasa malu dan sakit hati ditolak pemuda itu, akan tetapi juga khawatir kalau-kalau pemuda itu akan bercerita di luaran akan rayuannya yang gagal.
Karena itu Han Le harus dapat ditangkap, harus dibunuh!
Munculnya seorang dayang yang melapor sambil menangis bahwa keadaan Kaisar menjadi semakin parah, membuyarkan lamunan Cu Si dan iapun bergegas masuk ke dalam istana, menuju ke kamar di mana Kaisar menderita sakit parah, dirubung oleh para selir dan dayang dan ditangisi oleh Cu An,permaisuri pertamanya.
Dengan mempergunakan ilmu berlari cepat, Yu Bwee akhirnya dapat menyusul Han Le setelah matahari condong ke barat.
Pemuda itu sedang mendaki lereng sebuah bukit dan nampak dari jauh oleh Yu Bwee karena pakaiannya yang serba putih itu mudah dilihat dari jauh.
Gadis inipun cepat berlari mendaki bukit dan akhirnya dapat menyusul di puncak bukit yang memiliki tanah datar penuh rumput hijau.
"Sobat yang berada di depan, perlahan dulu!"
Yu Bwee berteriak dari belakang dan Han Le menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuh.
Dia tersenyum mengejek karena sejak tadi diapun tahu bahwa ada orang berlari cepat mendaki bukit, agaknya hendak mengejarnya.
Akan tetapi di balik senyumnya, diapun merasa heran mendapat kenyataan bahwa yag mengejarnya adalah gadis perkasa yang pernah membantunya melindungi keluarga Kaisar, gadis yang amat lihai permainan pedangnya itu!
"Ah, kiranya engkau yang melakukan pengejaran, nona.
Kita tidak saling kenal dan tidak mempunyai urusan, oleh karena itu, apakah kepentingan yang mendorongmu untuk mengejarku?"
Dua pasang mata bertemu dan sejenak, mereka saling berpandangan, penuh selidik.
Pemuda ini sungguh tampan, dengan mata yang agak membiru sehingga nampak aneh, pikir Yu Bwee.
Ia masih belum mengerti apa yang telah dilakukan pemuda ini maka permaisuri demikian marahnya, mengatakannya kurang ajar dan ingin menghukumnya.
Kurang ajar sikapnya, ataukah...
hanya ada semacam kekurang-ajaran seorang laki-laki terhadap seorang perempuan, apalagi kalau perempuan itu demikian cantik jelita dan menarik seperti permaisuri Cu Si!
"Bukankah engkau yang pernah melindungi keluarga Kaisar, dan baru pagi tadi meninggalkan istana Yehol?"
Tanya Yu Bwee, ingin kepastian.
"Benar, dan engkau adalah gadis berpedang yang ikut pula melindungi keluarga Kaisar,"
Jawab Han Le.
"Aku diutus oleh Permaisuri Cu Si untuk menangkapmu dan membawamu kembali ke istana! Karena itu, menyerahlah dengan baik daripada aku harus mempergunakan kekerasan!"
Kata Yu Bwee, tidak ingin mencampuri urusan antara pemuda itu dengan permaisuri, juga tidak ingin tahu.
Tugasnya hanyalah menangkap dan habis perkara.
Han Le mengerutkan alisnya.
Di dalam hatinya dia merasa marah bukan main.
Permaisuri yang tak tahu malu itu kini bukan sadar dan menyesal akan kelakuannya yang hina dan tidak pantas, malah menyuruh orang untuk menangkapnya!
Dan mengapa gadis yang gagah perkasa ini mau saja diperintah untuk menangkapnya?
Dan tiba-tiba dia merasa jantungnya seperti ditikam oleh kekecewaan.
Apakah gadis yang dikaguminya ini juga seorang wanita semacam permaisuri itu?
Alangkah sayangnya kalau benar begitu.
"Nanti dulu, nona. Aku akan mau saja ditangkap dan tidak akan melawan kalau aku mengetahui mengapa aku kau tangkap, dan apa kesalahanku maka engkau mengejarku untuk menangkap."
Yu Bwee memandang dengan tajam.
"Permaisuri kedua memerintahku untuk mengejar dan menangkapmu, membawamu kembali ke istana karena engkau telah berani kurang ajar kepada beliau!"
Makin mengkal rasa hati Han Le mendengar tuduhan ini.
Jelas bahwa permaisuri yang tak tahu malu itu telah memutarbalikkan kenyataan, atau jangan-jangan gadis ini memang jahat seperti majikannya dan menganggap bahwa penolakannya terhadap ajakan permaisuri itu merupakan kekurang-ajaran.
"Nona, tahukah engkau apa yang telah terjadi antara aku dan sang permaisuri?"
Wajah Yu Bwee berubah merah dan ia memandang marah.
"Aku tidak tahu dan tidak perduli apa urusannya! Pendeknya, tugasku hanyalah menangkapmu dan habis perkara!"
Mendengar ini, legalah hati Han Le. Kalau begitu, gadis ni memang tidak tahu dan bukan membela permaisuri yang jahat, melainkan hanya melaksanakan perintah saja tanpa mengetahui sebabnya.
"Nona, aku melihat bahwa engkau adalah seorang gadis perkasa, seorang pendekar yang tentu akan dapat mempertimbangkan dengan adil setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nah, aku akan menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi dan kemudian terserah kepadamu apa yang akan kau lakukan. Maukah engkau mendengar keteranganku?"
Sejak semula hati Yu Bwee memang sudah tertarik dan kagum kepada pemuda berpakaian serba putih itu, dan iapun dapat menduga bahwa pemuda itu seorang pendekar yang berilmu tinggi.
Dan sebagai puteri seorang bangsawan yang sejak kecil tinggal di kotaraja, tentu saja iapun pernah mendengar celotehan orang tentang Yehonala, selir Kaisar yang kini setelah melahirkan seorang putera lalu diangkat menjadi permaisuri kedua Cu Si.
Ia pernah mendengar kabar yang buruk tentang permaisuri ini, oleh karena itu, mendengar kata-kata Han Le, ia menjadi bimbang, tidak menjawab, tidak mengangguk akan tetapi juga tidak menggeleng, hanya menanti.
"Sesungguhnya beginilah peristiwanya, nona. Ketika menyelamatkan rombongan dari ancaman para perampok, keluarga Kaisar minta kepadaku untuk terus mengawal, dan hal itu kulakukan sampai mereka selamat tiba di Yehol. Ketika aku hendak meninggalkan Yehol karena tugas itu telah selesai, permaisuri kedua memanggilku menghadap. Kemudian ia menyuruh pergi semua orang, dan mengajakku ke dalam kamar dengan maksud memberi hadiah atas jasaku. Biarpun aku sama sekali tidak mengharapkan hadiah, aku tidak berani menolak dan mengikutinya masuk ke dalam kamar. Akan tetapi apa yang terjadi? Ah, sungguh memalukan sekali kalau diceritakan! Ia bersikap tidak wajar bahkan... tidak tahu malu, membujuk aku melakukan hal-hal yang tidak sopan. Aku menolak dengan marah dan aku menggunakan kekerasan untuk melarikan diri! Nah, begitulah peristiwanya dan kini tahu-tahu ia telah mengutusmu untuk mengejar, menangkap aku dan membawa kembali ke istana!"
Wajah Yu Bwee menjadi merah.
Sebagai seorang gadis, ia merasa malu sekali mendengar betapa permaisuri membujuk pemuda ini untuk melakukan hal yang tidak sopan.
Tanpa dijelaskanpun ia dapat membayangkan apa yang dilakukan oleh permaisuri Cu Si.
Hatinya menjadi bimbang dan ragu ketika ia menatap wajah pemuda itu.
Sepasang mata yang warnanya seperti warna lautan itu menyinarkan kesungguhan dan kejujuran.
"Hemm, bagaimana aku bisa tahu apakah ceritamu itu benar ataukah bohong? Siapa tahu engkau memutarbalikkan kenyataan?"
Tanyanya dengan alis berkerut.
"Terserah kepadamu untuk percaya atau tidak, nona. Akan tetapi kalau aku memutarbalikkan kenyataan, kalau aku memiliki niat buruk itu, dengan kepandaianku, perlukah aku melarikan diri dan dapatkah sang permaisuri lolos dariku setelah aku diajaknya ke dalam kamarnya?"
Kembali sepasang pipi Yu Bwee menjadi merah sekali.
memang tak dapat dibantah kebenaran kata-kata pemuda ini.
pemuda ini lihai sekali.
Kalau memang mempunyai niat buruk terhadap permaisuri itu, apa sukarnya?
Dan mengapa pula pemuda itu melarikan diri?
Akan tetapi, biarpun ia mulai percaya akan kebersihan pemuda ini, ia masih belum melepaskannya.
Di samping tugas yang dibawanya dari Yehol untuk menangkap pemuda ini, juga ada keinginan pribadi yang timbul, yaitu ia ingin sekali menguji kepandaian pemuda yang menarik hatinya itu.
"Percaya atau tidak bagi sang permaisuri tidak ada pilihan lain. Aku harus menangkapmu!"
"Hemm, kalau engkau tidak mau melihat kenyataan dan berkukuh hendak melaksanakan perintah sang permaisuri, berarti engkau membantu yang salah, nona. Dan tentu saja akupun tidak sudi kalau harus kembali kepada siluman betina itu!"
"Tidak perlu memaki! Aku memang ingin melihat sampai di mana kelihaianmu!"
Berkata demikian, Yu Bwee memasang kuda-kuda, siap untuk menyerang.
han Le melihat dan hatinya senang.
gadis itu tidak mencabut pedang, melainkan hendak mempergunakan tangan kosong dan hal ini hanya dapat diartikan bahwa gadis itu memang hanya ingin menguji kepandaian, bukan mengajak berkelahi!
Walaupun dia tidak gentar andaikata gadis itu menggunakan pedang sekalipun.
Akan tetapi kalau terjadi demikian, dia akan kecewa dan menyesal.
Dia tidak ingin bermusuhan dengan gadis yang amat jelita ini, bahkan ingin bersahabat dengannya.
"Baiklah kalau memaksa, akupun ingin menguji kepandaianmu, nona,"
Katanya dan baru saja dia berhenti bicara, gadis itu telah menerjangnya dengan dahsyat.
Kedua tangan gadis itu mengirim pukulan dengan telapak tangan terbuka seperti orang mendorong, akan tetapi dari kedua telapak tangan itu timbul kekuatan dahsyat yang berhawa dingin.
"Bagus!"
Seru Han Le yang mengerti bahwa gadis itu sengaja mengeluarkan tenaga sinkang dan diapun ingin menguji kekuatan gadis itu dan dia menyambut kedua telapak tangan itu dengan kedua tangannya sendiri.
"Plak! Pakk!"
Tubuh Yu Bwee terdorong mundur, akan tetapi dengan terkejut sekali Han Le merasakan betapa ada hawa dingin menyusup ke dalam tubuhnya melalui telapak tangan yang bertemu dengan telapak tangan gadis tadi.
Cepat dia mengerahkan tenaga sinkang dan membendung aliran tenaga dalam yang berhawa dingin itu agar tidak sampai melukainya.
Keduanya merasa kagum, karena Yu Bwee tadi merasa betapa dorongannya bertemu dengan kekuatan seperti benteng baja yang membuat ia terdorong mundur.
Yu Bwee lalu menyerang lagi, kini tubuhnya bergerak cepat, kaki tangannya mengirim serangan bertubi-tubi dan setiap serangan mengandung tenaga yang amat kuat.
Diam-diam Han Le kagum bukan main, Akan tetapi pemuda ini mempergunakan kecepatan gerakan tubuhnya untuk mengelak atau menangkis.
Dia selalu mengalah dan jarang membalas karena memang dia tidak ingin merobohkan (Lanjut ke
Jilid 14) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 gadis itu.
Yu Bwee telah mewarisi ilmu dari Ibunya dan Ceng Hiang adalah seorang wanita yang beruntung sekali mewarisi ilmu-ilmu dari keturunan keluarga Para Pendekar Pulau Es!
Akan tetapi, karena ia bukan keturunan langsung, maka ilmu-ilmu dari Pulau Es yang diwarisinya itu hanya merupakan sisa-sisa saja dari ilmu-ilmu aselinya.
Bagikan air yang sudah mengalir jauh, tentu saja tidak dapat disamakan dengan air yang baru keluar dari sumbernya.
Kepandaian yang dimilikinya dari Ibunya itu tentu saja belum ada sepuluh prosen dari ilmu-ilmu Pulau Es!
Namun cukup membuat Ibunya menjadi seorang wanita yang amat lihai, Bahkan ia sendiripun menjadi seorang gadis yang sukar dikalahkan oleh ahli silat sembarangan saja.
Baru tenaga sinkang yang dipergunakannya tadi saja, yang berhawa dingin, adalah sinkang yang amat hebat, yang dinamakan Soat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju) yang merupakan ilmu dari keluarga Pulau Es.
Akan tetapi tentu tidak sedahsyat aselinya.
Di lain pihak, Han Le mewarisi ilmu-ilmu dari Bu Beng Kwi atau Koan Jit yang menjadi murid pertama dari mendiang Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia yang sakti.
Ilmu silat tangan kosong Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang telah dikuasainya dengan baik membuat pemuda berpakaian putih ini lihai sekali.
Ketika tiba giliran Han Le untuk mengeluarkan ilmunya dan membalas, bukan dengan maksud merobohkan, hanya untuk menguji dan mendesak, Pemuda ini kaget dan kagum ketika tubuh lawan itu selalu dapat mengelak dan gadis itu mempergunakan langkah-langkah aneh yang selalu membuat tubuhnya berada di luar jangkauan serangannya!
Itulah Pek-seng Sin-pouw (Langkah Ajaib Seratus Bintang) yang dimainkan oleh Yu Bwee dari Ibunya, yang secara kebetulan menemukan kitab peninggalan Tat Mo Couwsu yang mengajarkan ilmu langkah ajaib itu.
Mereka saling serang sampai seratus jurus dan Yu Bwee mulai berkeringat.
Belum pernah ia dapat menyentuh tubuh lawan walaupun lawannya juga belum pernah dapat menyentuhnya.
Yu Bwee tidak tahu bahwa sesungguhnya pemuda berpakaian putih itu selalu mengalah.
Walaupun ia memiliki Pek-seng Sin-pouw, kalau Han Le menyerang dengan sepenuh kemauan, walaupun ia dapat bertahan tidak urung ia akan dapat dirobohkan oleh pemuda itu.
Han Le sudah merasa cukup menguji ilmu kepandaian gadis itu dan dia merasa kagum bukan main, juga semakin tertarik, karena gadis itu selain memiliki kecantikan yang luar biasa, ternyata memiliki ilmu silat yang aneh-aneh dan lihai bukan main.
Juga gadis ini bukan seorang yang ganas, buktinya biarpun tidak mampu mengalahkannya, belum juga gadis itu mau mencabut pedang.
Padahal ketika menghadapi perampok, begitu terjun ia sudah mengeluarkan pedangnya dan sungguh amat berbahaya.
Ketika tangan kanan Yu Bwee meluncur dan mencengkeram ke arah dadanya, Han Le sengaja memperlambat gerakan mengelak, akan tetapi diam-diam dia melindungi kulit dadanya dengan ilmu kebal Kim-ciong-ko sehingga jari-jari tangan gadis itu meleset dari kulitnya yang menjadi keras dan licin, dan yang kena dicengkeram hanyalah bajunya saja.
"Bretttt...!"
Baju di bagian dadanya itupun terobek selebar tangan!
Keduanya melompat mundur dan Yu Bwee masih memegang kain robekan baju putih sambil tersenyum penuh kemenangan.
Bagaimanapun juga, gadis ini merasa girang dan bangga karena bukankah dengan robeknya baju di bagian dada itu membuktikan bahwa ia lebih unggul?
Han Le yang meloncat ke belakang itu lalu menjura.
"Nona, sungguh lihai sekali, aku mengaku kalah."
Giranglah hati Yu Bwee.
Pemuda ini meupakan lawan yang amat tangguh, dan rendah hati sehingga mudah mengaku kalah begitu saja, padahal ketika tangannya mencengkeram dada tadi, ia merasa betapa dada itu keras seperti baja dan licin sekali sehingga tangannya hanya berhasil merobek baju.
Ia menduga bahwa pemuda itu memiliki ilmu kekebalan yang hebat.
Sikap ini mendatangkan rasa suka di hatinya dan ia semakin ragu apakah ia harus memaksa pemuda ini untuk kembali ke istana.
"Sudahlah, tidak mudah mengalahkanmu. Sesungguhnya, benarkah apa yang kau ceritakan tentang sikap sang permaisuri tadi?"
"Aku Gan Han Le bukanlah orang yang suka berbohong,"
Kata Han Le "Namamu Gan Han Le? Aku bernama Yu Bwee..."
Otomatis gadis itu memperkenalkan diri.
"Aku girang sekali dapat berkenalan denganmu, nona Yu Bwee. Sungguh mengherankan sekali melihat seorang gadis berbangsa Mancu memiliki ilmu silat yang demikian lihainya."
"Aku tidak sepenuhnya keturunan Mancu. Dalam darah Ayahku mengalir pula darah Han. Aku hanya seorang peranakan. Dan engkau? Kulihat engkau berbeda dengan pemuda Han yang biasa. sepasang matamiu itu..."
"Agak kebiruan?"
Han Le berkata dan merasa sebal dengan dirinya sendiri.
"Memang, akupun seorang peranakan. Ayahku seorang Han aseli, akan tetapi Ibuku seorang kulit putih..."
"Ahhh...!"
"Hemm, engkau heran dan...memandang rendah? Tidak aneh karena semua orang membenci orang kulit putih, akan tetapi biarpun ia seorang wanita kulit putih, Ibuku bijaksana dan membantu perjuangan rakyat, Ayahku yang sudah tiada juga seorang pendekar dan pahlawan rakyat pejuang..."
"Aih, kalau begitu benar! Ayahmu tentu Gan Seng Bu!"
Han Le terkejut.
Tadi dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu terkejut bukan karena mendengar Ibunya berkulit putih, melainkan terkejut karena agaknya dapat menduga siapa adanya Ayahnya yang menikah dengan wanita kulit putih.
Rasa bangga menyelinap di dalam hatinya.
"Engkau mengenal Ayahku?"
Yu Bwee menggeleng kepala.
"Tidak mengenal orangnya, hanya mendengar namanya dari cerita Ibu. Ibupun, walaupun puteri seorang pangeran Mancu, amat akrab dengan para pendekar pejuang dan sering bercerita tentang para pendekar sehingga ketika engkau mengatakan bahwa Ibumu seorang kulit putih, aku teringat akan pendekar Gan Seng Bu yang menikah dengan wanita kulit putih."
Yu Bwee berhenti sebentar dan mereka kini saling pandang, dengan sinar mata lain, penuh kagum.
"Aku tahu bahwa Ayahmu telah gugur, akan tetapi di mana Ibumu?"
Pertanyaan ini bagaikan sebatang pedang menusuk jantungnya.
Han Le menjadi agak pucat dan diapun menarik napas panjang, teringat betapa Ibunya telah menjadi isteri Koan Jit, musuh besar yang telah membunuh Ayahnya!
Ibunya telah berkhianat.
"Ibu juga sudah meninggal dunia,"
Jawabnya singkat.
"Ah, kasihan sekali engkau, Han Le. Sekarang, setelah mengenal siapa adanya dirimu, aku percaya padamu. Memang, sudah banyak kabar desas-desus yang kudengar tentang permaisuri kedua itu. Biarlah, akan kukatakan bahwa aku tidak berhasil menyusulmu."
"Terima kasih, Yu Bwee, aku tahu bahwa engkau memang baik sekali dan seorang gadis berjiwa pendekar yang gagah perkasa."
Yu Bwee memandang robekan kain putih yang masih berada di tangannya dan sadar bahwa sejak tadi ia memeganginya, ia lalu melepaskannya sehingga kain putih itu melayang jatuh ke atas tanah, dan iapun memandang ke arah baju di bagian dada berlubang itu.
"Maafkan, aku tadi telah merobek bajumu..."
Katanya.
"Tidak mengapa, Yu Bwee, masih untung bahwa engkau hanya merobek baju, bukan kulit dagingku."
Tiba-tiba saja terdengar suara bentakan.
"Gan Han Le, menyerahlah sebelum kami terpaksa menembakmu! Menyerah untuk menjadi tawanan kami!"
Dan tiba-tiba saja muncul dari balik semak-semak dua orang perwira tentara kerajaan yang menodongkan dua buah senapan ke arah Han Le! "Nona Yu, minggirlah dan jauhi pemuda itu!"
Kata orang kedua.
Yu Bwee mengenal mereka sebagai dua orang perwira pengawal yang tentu diutus pula oleh permaisuri Cu Si untuk melakukan pengejaran dan mereka membawa senjata senapan!
Sungguh berbahaya, pikir Yu Bwee.
Ia sudah tahu akan hebatnya senjata api itu, yang dalam jarak jauh amat sulit dilawan dengan ilmu silat, lebih berbahaya dari senjata rahasia apapun juga karena amat tepat dan mematikan.
Ia tidak mau mundur, akan tetapi bahkan Han Le yang melangkah mendekati dua orang itu sampai jarak antara mereka hanya kurang lebih lima belas meter.
Pemuda itu bersikap tenang sekali, bahkan mulutnya tersenyum ketika dia berkata dengan nada menentang.
Dia menjaga agar gadis itu tidak berada di belakangnya.
"Kalau aku tidak menyerah, lalu kalian mau berbuat apakah?"
"Kami akan menembakmu mampus!"
Bentak mereka bergantian dan moncong bedil mereka telah ditodongkan ke arah dada Han Le.
"Han Le, menyerah sajalah, terlalu berbahaya melawan mereka yang memegang senapan!"
Kata Yu Bwee dengan khawatir sekali melihat sikap Han Le yang agaknya tidak mau menyerah itu.
"Tidak! Aku tidak sudi menyerah!"
Tiba-tiba Han Le menerjang ke depan dan begitu moncong sebatang senjata api memuntahkan api, tubuhnya sudah bergulingan.
"Darr...!"
Peluru itu berdesingan lewat di atas tubuh yang masih bergulingan dan sambil bergulingan, Han Le sudah mencabut pistol kecil dari pinggangnya.
"Klek-klek!"
Dia membuka kuncinya, lalu menembak.
"Darr...!"
Penembak pertama tadi terjungkal roboh.
"Darr...!"
Orang kedua menembak, akan tetapi kembali Han Le sudah bergulingan dan membuka kunci pistol membuang tempat peluru pertama dan ketika lawannya sedang sibuk mengisi peluru dia sudah melompat bangkit dan kembali pistolnya meledak.
"Darr...!"
Dan perwira kedua itupun terjungkal.
Keduanya tewas seketika karena peluru pistol yang ditembakkan Han Le tepat mengenai kepala sampai tembus!
Han Le tidak memperdulikan mereka, melainkan memandang ke sekeliling untuk melihat kalau-kalau masih ada musuh.
Akan tetapi sunyi saja di puncak bukit itu, agaknya hanya mereka berdualah yang tadi datang.
Dia lalu melangkah kembali menghadapi Yu Bwee yang memandang kepadanya denga kagum.
Pemuda ini selain lihai ilmu silatnya, juga amat pandai mempergunakan senjata api.
Untung bahwa sejak semula ia sudah merasa kagum, tertarik dan suka kepada Han Le sehingga ketika ia hendak menangkapnya tadi, ia tidak mencabut pedangnya.
kalau sampai mereka bermusuhan dan Han Le mencabut pistolnya, tentu ia akan tewas pula dengan amat mudahnya seperti kedua orang perwira itu.
"Terpaksa aku mendahului mereka, kalau tidak... tentu aku yang menjadi korban,"
Katanya seolah-olah minta maaf kepada Yu Bwee.
"Engkau tahu bahwa bagaimanapun juga, aku tidak sudi kembali ke istana Yehol."
Yu Bwee hanya mengangguk dan matanya mengamati wajah pemuda itu penuh kekaguman.
"Yu Bwee, aku pergi sekarang, senang sekali telah dapat berkenalan denganmu. Selamat tinggal, Yu Bwee."
"Selamat jalan..."
Pemuda itu membalikkan tubuh, akan tetapi baru melangkah tiga langkah, dia berhenti dan membalik kembali menghadapi Yu Bwee.
"Yu Bwee, aku... aku ingin sekali menyimpan benda milikmu untuk menjadi kenangan dan peringatan pertemuan ini... relakah engkau memberikan kepadaku...?"
Sejenak Yu Bwee bingung, tidak tahu apa yang dimaksudkan, akan tetapi wajahnya menjadi kemerahan ketika ia dapat menyelami maksudnya. Ia menjadi bingung tak tahu harus menjawab bagaimana.
"Benda... benda apa maksudmu."
"Tusuk kondemu yang kiri..."
Yu Bwee meraba kepalanya dan matanya terbelalak.
Rambutnya digelung ke belakang dan dua batang tusuk konde dari emas di situ, akan tetapi kini tusuk konde yang kiri sudah lenyap!
"Tusuk kondeku lenyap...!"
Katanya. Han Le mengeluarkan tusuk konde itu dari saku bajunya.
"Inilah benda itu, Yu Bwee. Maaf, sudah kuambil ketika kita bertanding tadi dan tadinya hendak kusimpan, akan tetapi aku tidak ingin menjadi pencuri, maka aku minta dengan terang-terangan. Kalau engkau keberatan, benda ini akan kukembalikan kepadamu, kalau boleh, akan kusimpan sebagai kenangan."
Berdebar rasa jantung Yu Bwee dan mukanya sebentar pucat sebentar merah.
Betapa bodohnya menganggap diri lebih pandai dalam ilmu silat daripada Han Le!
Kiranya diam-diam pemuda itu telah berhasil mencabut tusuk konde tanpa ia mengetahui.
Padahal, tusuk konde itu dekat dengan tengkuknya, dan kalau pemuda itu menghendaki, bukan tusuk konde yang dicabut, melainkan nyawanya melalui totokan pada tenkuk!
Dan pemuda perkasa ini ingin menyimpannya sebagai tanda mata, sebagai kenangan!
Ia berusaha mejawab, akan tetapi lehernya seperti tersumbat rasanya dan ia hanya dapat mengangguk dan mengeluarkan suara lirih.
"... simpanlah!"
"Terima kasih, Yu Bwee, aku tidak akan melupakanmu selama hidupku, selamat tinggal!"
"Selamat berpisah..."
Sekali dua kali meloncat saja tubuh itu berubah menjadi bayangan putih yang berkelebatan dan lenyap ke bawah puncak.
Sejenak Yu Bwee berdiri termenung, dan ia merasa heran sekali mengapa tiba-tiba saja hidup ini terasa begini sunyi dan kosong, Ia merasa seperti kehilangan dan kesepian.
Ketika ia menunduk, nampak robekan kain putih itu dan seperti di luar kesadarannya sendiri ia membungkuk dan menjumput kain itu, sejenak diamatinya kain putih itu dan sambil menarik napas panjang, robekan kain selebar tangan itupun dimasukkannya ke dalam saku bajunya!
Iapun pergi meninggalkan puncak dengan cepat, menuju ke Yehol untuk membuat laporan palsu kepada permaisuri Cu Si.
Kalau kedua orang perwira bersenjata api tadi tidak tewas, entah apa yang harus dilaporkan.
Akan tetapi sekarang ia dapat melapor bahwa usahaya mencari Han Le gagal dan bahwa ia...
tidak bertemu dengan pemuda itu.
Kemalangan yang bertubi-tubi menimpa Kerajaan Ceng dan hampir saja menghancurkan Kerajaan Mancu itu.
Peking diserbu dan diduduki musuh, yaitu orang-orang kulit putih.
Kaisar Hsian Feng yang usianya baru tiga puluh tahun lebih itu, setelah berhasil mengungsi ke Yehol, jatuh sakit berat yang membawa kematiannya!
Kaisar Hsian Feng meninggal dunia dalam usia muda dan di dalam pengungsian di Yehol.
Tentu saja hal ini menggegerkan, akan tetapi keluarga Kaisar dan para pembesar dapat merahasiakan hal ini agar tidak membuat kedaan menjadi semakin kacau dan lemah.
Pangeran Kung ditugaskan oleh para pembesar yang mewakili pemerintah untuk membuat perjanjian pedamaian dengan orang-orang kulit putih.
Dalam hal ini, sebagai negara yang kalah, tentu saja pemerintah Mancu menerima syarat-syarat yang disodorkan oleh orang kulit putih.
Perdamaian yang berat sebelah dan menguntungkan bangsa kulit putih yang diperbolehkan membuka kantor perdagangan di manapun juga!
Bahkan Peking yang sejak berabad lamanya menjadi kota terlarang, kini harus dibuka untuk para duta negeri Eropa untuk bertempat tinggal, dengan dasar persamaan hak.
Banyak sekali daerah yang tadinya tunduk untuk menjadi bagian kekuasaan pemerintah Ceng, kini terjatuh ke tangan orang kulit putih.
Dalam tahun 1862 Bangsa Perancis memperoleh Cochin Cina, kemudian tahun 1863 menguasai Kamboja dan tahun 1867 menguasai Annam Macao juga resmi menjadi milik Portugal.
Birma menjadi jajahan Inggris.
Bukan hanya negara-negara selatan yang dicaplok oleh orang-orang kulit putih, akan tetapi semua kota pelabuhan di sepanjang pesisir selatan dan timur harus dibuka untuk mendaratkan kapal-kapal dagang mereka.
Dalam perjanjian yang diadakan setelah Peking jatuh dalam tahun 1860-1861 itu, Pangeran Kung berjasa besar.
Pangeran Kung adalah adik mendiang Kaisar Hsian Feng, yang memimpin pasukan kerajaan.
Ketika mengetahui bahwa ajalnya akan tiba Kaisar Hsian Feng lalu mengumpulkan para pembantunya.
Tiga orang Menteri dan lima orang Jenderal yang ikut pula mengungsi ke Yehol untuk mengatur upacara pengangkatan putera mahkota sebagai pengganti Kaisar.
Putera mahkota itu adalah Pangeran Cai Chun, yaitu putera dari Yehonala atau Cu Si, satu-satunya putera Kaisar Hsian Feng, yang pada waktu itu baru berusia enam tahun!
Cai Chun diangkat menjadi Kaisar dengan julukan Kaisar Chi Hsiang, dan delapan orang pembesar itu oleh Kaisar yang telah berada di ambang kematian itu diangkat menjadi wakil Kaisar yang akan mengatur pemerintahan atas nama Kaisar cilik yang tentu saja belum mengerti apa-apa itu.
Di antara delapan orang pembesar tinggi yang diangkat menjadi wakil Kaisar cilik itu adalah Su Shun, seorang pembesar yang cerdik, berambisi besar dan menjadi pucuk pimpinan di antara mereka yang delapan orang itu.
Namanya sudah terkenal sebagai seorang pembesar yang licik, berkuasa dan banyak sudah dia mengangkat orang-orang Han menjadi pembesar, asal mampu memeberi sogokan yang besar.
Dia terkenal sebagai seorang pembessr yang korup, namun karena cerdik dan berkuasa besar, tidak ada yang berani menentangnya.
Sungguh sama sekali tidak disangka oleh Su Shun, pembesar yang sudah berpengalaman dan cerdik ini, bahwa dia akan medapatkan penentang dan musuh yang sama sekali tak disangka-sangkanya, dan yang dalam hal kecerdikan bahkan mengatasinya!
Musuh itu bukan lain adalah Yehonala atau permaisuri Cu Si yang kini, setelah puteranya diangkat menjadi Kaisar, otomatis menjadi Ibu Suri Cu Si!
Su Shun tidak megira bahwa dalam kepala cantik yang masih muda itu, terdapat ambisi yang jauh lebih besar daripada ambisinya, dan terdapat kecerdikan yang lebih lihai!
Niuhulu atau permaisuri pertama Cu An yang kini menjadi Ibu Suri Pertama, sebagai permaisuri pertama tentu saja memiliki kekuasaan besar.
Dengan cerdiknya, Cu Si minta persetujuan para pembesar bahwa ia dan Ibu Suri Cu An diangkat menjadi wakil Kaisar yang masih kecil itu pula, mewakili Kaisar dalam mengambil keputusan yang diajukan oleh Delapan Wakil Kaisar yag menjalankan roda pemerintahan.
Dengan demikian, tentu saja seolah-olah Cu Si menempatkan dirinya dan Ibu Suri Cu An di tempat yang lebih tinggi kekuasaannya daripada delapan pembesar tinggi itu.
Hal ini ditentang oleh Su Shun dan teman-temannya, dengan alasan bahwa tidak terdapat peraturan seperti itu semenjak Kerajaan Ceng berdiri.
Ibu Suri Cu An sendiri, seorang yang lemah dan tidak berambisi, tidak perduli akan itu semua.
Akan tetapi tidak demikian dengan Ibu Suri Cu Si.
Ia segera bertindak, membujuk Cu An bahwa delapan orang pembesar itu tidak setia dan dapat mencelakakan Kaisar dan keluarganya.
Bahkan ia berhasil membujuk Ibu Suri Cu An untuk mengirim surat kepada Pangeran Kung yang menguasai balatentara untuk datang ke Yehol dan merundingkan bagaimana untuk meghadapi Su Shun dan kawan-kawannya.
Su Shun juga tidak tinggal diam.
Disebarnya mata-mata dan dilakukanlah segala usaha untuk memisahkan dua orang Ibu Suri itu dengan Pangeran Kung, yang pertama tetap di Yehol dan yang kedua di Peking dan tidak memberi jalan kepada mereka untuk saling bertemu.
Segala jalan dilakukan untuk menghalangi pertemuan atau hubungan di antara mereka.
Su Shun dan kawan-kawannya menyatakan bahwa tidak pantas bagi Pangeran Kung untuk menemui ipar-ipar perempuan dan tidak baik meninggalkan tugasnya di Peking yang masih dalam keadaan gawat, dan sebagainya.
Karena malu hati, Pangeran Kung juga tidak berani berterang dan menghubungi dua orang kakak iparnya itu.
Perasaan malu ini oleh Su Shun dan kawan-kawannya dianggap sebagai perasaan takut dan mereka memandang rendah kepada kekuasaan Pangeran Kung yang mengepalai balatentara dan yang mendapatkan kesan baik di mata pasukan kulit putih, karena berhasilnya perjanjian perdamaian itu.
Juga pihak Ibu suri, terutama sekali Ibu Suri Cu Si, tidak tinggal diam.
Ia berusaha keras untuk menjatuhkan delapan orang yang dianggap menjadi saingannya itu.
Cai Chun yang kini menjadi Kaisar Chi Hsiang adalah anaknya!
Seharusnya ialah yang menjadi wali dan wakil Kaisar selagi Kaisar masih bocah, bukan delapan orang pejabat tinggi itu.
Dalam usaha Cu Si untuk berhubungan dengan Pangeran Kung di kotaraja, Yu Bwee berjasa sekali.
Gadis perkasa inilah yang menjadi jembatan dan dengan kepandaiannya yang tinggi, Yu Bwee dalam melakukan perjalanan bolak-balik dari Kotaraja ke Yehol dan sebaliknya, membawa pesan-pesan dan surat-surat antara Ibu Suri Cu Si dan Pangeran Kung!
Tugas ini bukan tidak berbahaya.
Beberapa kali Yu Bwee dihadang dan diserang oleh mata-mata yang disebar oleh Su Shun dan kawan-kawanya, namun gadis perkasa itu berhasil mengalahkan mereka semua dan melaksanakan tugasnya dengan baik.
Akhirnya, kedua pihak dapat mengadakan perundingan lewat perantaraan Yu Bwee dan Pangean Kung dapat menghadap Kaisar di Yehol, bahkan Kaisar bocah ini, diwakili oleh Ibu Suri, mengangkat Pangeran Kung menjadi perdana menteri yang bekuasa penuh.
Ketika Kaisar dan kedua Ibu Suri kembali ke kotaraja Peking, delapan pejabat tinggi yang dituduh berkhianat itupun ditangkap!
Su Shun yang melarikan diri dapat dikejar dan ditangkap, dihukum mati, ada pula yang dihukum minum racun, dipenjara selama hidup atau dibuang.
pendeknya, semua lawan dan kaki tangan mereka tidak ada yang diampuni oleh Ibu Suri Cu Si dan semenjak itu, Ibu Suri Cu Si seolah-olah memegang kendali pemerintahan mewakili puteranya!
Memang benar di sampingnya masih ada Ibu Suri Cu An yang kedudukannya lebih tinggi, namun Ibu Suri ini lemah dan tidak pernah mau mencampuri urusan pemerintahan, berbeda dengan Cu Si yang gila kekuasaan dan mulailah wanita ini menguasai kerajaan sampai hampir lima puluh tahun lamanya!
Namun, di samping ambisinya yang berkobar-kobar untuk menjadi orang yang paling berkuasa di seluruh negeri, Ibu Suri Cu Si juga merupakan seorang wanita yang panas, yang besar sekali nafsu berahinya.
Semenjak gadis ia diperisteri mendiang Kaisar Hsian Feng yang lemah karena terlalu bayak pelesir, apalagi ia ditinggal mati dalam usia yang amat muda, bagaikan bunga sedang mekar-mekarnya, sedang haus-hausnya akan kepuasan batin.
Oleh karena itu, kembali ia merasa kesepian, merana dan hiburan yang ia dapatkan dari Li Lian Ying, thaikam kepercayaannya itu, tidak lagi mampu memuaskan dahaga yang menyiksanya.
Dan melihat junjungannya seperti cacing kepanasan atau ikan di daratan, kembali Li Lian Ying yang cerdik itu yang datang menolong.
Thaikam ini mengetahui rahasia seorang thaikam lain yang bernama An Tek Hai, seorang laki-laki tinggi besar yang bertubuh kuat.
Rekannya ini sudah dikebiri seperti dia juga, akan tetapi pengebirian terhadap An Tek Hai belum sempurna benar sehingga thaikam yang satu ini tidak sepenuhnya mati kejantanannya.
Melihat ini, dengan tujuan menyenangkan junjungannya, Li Lian Ying mulai mendekati An Tek Hai dan memberi obat-obat ramuan dari Tibet yang dahulu dipergunakan Kaisar Hsian Feng untuk memperkuat dirinya.
Setelah minum obat itu, terjadilah hal yang luar biasa.
An Tek Hai menemukan kembali kejantanan sepenuhnya, bahkan jauh lebih kuat daripada sebelum di dikebiri!
Dengan janji akan membalas budi Li Lian Ying, diperkenalkanlah keadaan An Tek Hai ini oleh Li Lian Ying kepada Ibu Suri Cu Si.
Tentu saja Cu Si menjadi girang sekali.
An Tek Hai adalah seoang laki-laki yang termasuk tampan, tidak seperi Li Lian Ying dan tubuhnya begitu kokoh kuat dan jantan.
Apalagi ketika An Tek Hai mulai melayaninya, Cu Si merasa girang bukan main.
bagaikan orang yang sedang kehausan, ia dapat minum sepuasnya sekarang.
Bagaikan tumbuhan bunga yang kekeringan, kini ia memperoleh siraman sehingga bunga, daun sampai ke akar-akarnya menjadi basah dan segar kembali.
Mulailah hubungan gelap yang dilakukan siang malam antara Cu Si dan An Tek Hai, dan karena An Tek Hai adalah seorang"kebiri"
Yang boleh saja keluar masuk di semua ruangan dalam istana, tidak ada seorangpun yang mencurigai.
Dengan leluasa Cu Si dapat saja memanggil An Tek Hai ke kamarnya setiap kali timbul seleranya.
Betapapun juga, para dayang merasa curiga, namun desas-desus di kalangan mereka itu sama sekali tidak diperdulikan Cu Si dan Tek Hai yang sedang dimabok nafsu.
Kaisar bocah yang ketika masih pangeran bernama Cai Chun, kemudian ketika diangkat Kaisar di Yehol bernama Kaisar Chi Hsiang, kini setelah menjadi Kaisar di kotaraja mendapat nama lain, yaitu Kaisar Tung Chi.
Kaisar ini biarpun masih amat muda, sudah mendengar pula akan desas-desus bahwa Ibu Suri Cu Si bermain gila dengan seorang thaikam yang bernama An Tek Hai.
Dia merasa malu dan marah sekali.
Memang sejak kecil Kaisar ini tidak terlalu dekat dengan Ibu kandungnya yang dianggapnya berwatak buruk, keras dan galak, tidak seperti watak Ibu Suri Cu An yang lemah lembut dan bijaksana.
Biarpun Ibu Suri Cu Si Ibu kandungnya, namun sejak kecil dia merasa lebih dekat dengan Ibu Suri Cu An!
Mendengar akan hubungan gelap itu, dibantu oleh para pengawal thaikam, pada suatu pagi dia menyuruh tangkap An Tek Hai yang baru saja keluar dari kamar Ibu Suri Cu Si!
An Tek Hai hanya tertawa, mengira bahwa Kaisar yang masih bocah itu main-main.
Akan tetapi dengan sikap bengis Kaisar bocah itu memerintahkan orang-orangnya untuk menelanjangi An Tek Hai.
"Kalau dia benar thaikam palsu dan kejantanannya masih belum mati, pukul saja dia sampai mampus!"
Kata Kaisar Tung Chi kepada para pengawalnya.
Dia berpikir bahwa kalau An Tek Hai ternyata masih memiliki kejantanan, berarti dia thaikam palsu dan desas-desus tentang Ibu Suri kedua itu mungkin benar.
Sebaliknya, kalau kejantanan thaikam An Tek Hai itu benar-benar sudah mati, berarti bahwa desas-desus itu hanya fitnah belaka.
An Tek Hai ketakutan setengah mati, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat, hampir dia tidak mampu berdiri saking takutnya dan dia hanya berlutut sambil mendekam dan hampir terkencing di celana.
ketika para pengawal itu memaksanya menelanjanginya untuk memeriksa, tentu saja orang yang ketakutan setengah mati ini kehilangan kejantanannya sama sekali!
Untunglah bagi An Tek Hai, karena hal ini menghilangkan kecurigaan Kaisar Tung Chi dan An Tek Hai dibebaskan.
Ketika Ibu Suri Cu Si mendengar laporan An Tek Hai tentang peristiwa itu, ia marah sekali, akan tetapi ia tidak mampu berbuat sesuatu terhadap puteranya sendiri yang sudah menjadi Kaisar, bahkan ia merasa khawatir dan diam-diam ia menyuruh An Tek Hai untuk meloloskan diri pergi ke Hang-cow, dengan memberi banyak bekal.
Maksudnya agar kekasihnya itu untuk sementara waktu tidak memperlihatkan diri agar tidak membangkitkan kecurigaan.
Akan tetapi, ternyata An Tek Hai bernasib malang, dan desas-desus tentang dirinya sudah menarik banyak orang yang menjadi pembencinya.
Kepergiannya diketahui dan diapun ditangkap dengan tuduhan pengkhianat yang hendak meninggalkan kotaraja untuk menjadi mata-mata musuh.
Dia dijatuhi hukuman mati!
Ibu Suri Cu Si diam-diam menangis sampai beberapa hari lamanya, menangisi kekasihnya yang telah tiada.
Semua hiburan Li Lian Ying tidak dapat mengobati kerinduannya, dan Li Lian Ying, thaikam yang cerdik ini tahu penyakit apa yang diderita oleh junjungannya.
Ia mendengar bahwa di waktu masih gadis remaja.
sebelum dingkat menjadi selir Kaisar, Cu Si pernah saling mencinta dengan pamannya sendiri, yaitu adik Ibunya yang usianya tidak berselisih banyak dengannya.
Hubungan cinta itu terputus ketika Yehonala menjadi selir Kaisar, dan kini pamannya itu, yang bernama Yung Lu, telah menjadi seorang pejabat pertengahan di Peking.
Setelah melakukan penyelidikan melalui kaki tangannya, Li Lian Ying lalu mengajukan usul kepada junjungannya.
"Hamba merasa bersedih sekali melihat Paduka setiap hari tenggelam dalam kedukaan. Hamba kira, pertemuan dengan seorang anggota lama akan dapat menggembirakan Paduka, tentu saja kalau Paduka menyetujui."
Cu Si dengan malas-malasan memandang pelayan yang amat setia itu.
"Hemm, Lian Ying, siapa yang kau maksudkan itu?"
Tanyanya dengan suara agak kurang senang.
Bagaimanapun juga, sanak keluarganya adalah orang-orang biasa, dan tidak senang hatinya kalau diingatkan akan keluarganya, sama dengan mengingatkan bahwa ia adalah keturunan orang-orang biasa!
"Baru-baru ini hamba bertemu dengan seorang sahabat yang menceritakan bahwa paman Paduka yang bernama Yung Lu menjadi seorang pejabat pertengahan di kotaraja.
Lupakah Paduka kepada paman Paduka itu?"
Wajah Ibu Suri Cu Si berseri mendengar disebutnya nama ini.
Tentu saja ia masih ingat kepada Yung Lu, pamannya itu.
Ketika maih remaja, ia pernah jatuh cinta kepada pamannya itu, dan biarpun hanya merupakan cinta monyet, namun masih menjadi kenangan manis.
Mendengar nama Yung Lu kini berada di kotaraja, terbayanglah wajah yang tampan itu dan iapun ingin sekali bertemu dengannya.
Akan tetapi ia melihat kesulitan untuk dapat bertemu dengan pamannya itu dan hal ini ia katakan kepada Li Lian Ying.
"Harap Paduka jangan khawatir,"
Kata Li Lian Ying.
"Kalau Paduka berkenan, pertemuan itu dapat hamba atur. Bukankah dia merupakan paman Paduka sendiri? Tidak akan ada salahnya kalau Paduka memanggil dia menghadap untuk dimintai nasihat tentang urusan pemerintahan. Takkan ada yang mencurigai kehadiran seorang paman yang mengunjungi Paduka."
Cu Si girang sekali dan cepat ia menuliskan surat panggilan itu.
Tentu saja Yung Lu merasa tegang dan dengan jantung berdebar-debar menanti di ruangan tamu yang mewah dan indah itu.
Selama hidupnya, baru sekali ini dia memasuki bagian istana yang demikian indahnya.
Sejak keponakannya menjadi selir Kaisar dan kemudian bahkan menjadi permaisuri kedua dan akhir-akhir ini menjadi Ibu Suri, dia tidak pernah bertemu dengan Yehonala.
Dan kedudukan keponakannya itu bukan tidak ada manfaatnya baginya.
Dia seorang yang tidak berpendidikan tinggi, akan tetapi kini dapat menduduki jabatan tinggi pertengahan.
Semua itu adalah karena dia dikenal sebagai paman dari Ibu Suri Cu Si!
Dan kini, keponakannya itu memanggilnya!
Li Lian Ying muncul dan tanpa banyak cakap lagi, thaikam ini mengajak Yung Lu masuk ke dalam dan diantarnya orang itu ke dalam kamar Ibu Suri Cu Si di Istana barat.
Di dalam ruangan kamar yang luas itu, Yung Lu melihat seorang wanita cantik duduk di atas dipan, dan sukar baginya untuk mengenal wajah gadis remaja Yehonala yang pernah saling mencinta dengannya.
Yang duduk di dipan itu adalah seorang wanita cantik jelita dan agung, wanita yang sudah matang, dengan pandang mata tajam berwibawa dan mulut yang kecil tersenyum manis.
Dia hendak menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi dengan tangannya, Ibu Suri Cu Si melarangnya.
"Paman Yung Lu, tidak perlu berlutut...!"
Kataya.
pada saat itu, dengan sopan Li Lian Ying lalu keluar dari kamar, menutupkan tirai Sutera berlapis-lapis untuk menutupi keadaan di dalam kamar itu dari penglihatan orang di luar kamar dan diapun duduk berjaga di luar kamar.
"Paman Yung Lu, engkau duduklah di sini, di dekatku. Aku sungguh rindu sekali kepadamu. Lupakah engkau kepada Yehonalamu?"
Dengan tubuh gemetar Yung Lu duduk di atas dipan, di dekat wanita itu dan bagaikan seekor harimau betina yang kelaparan, Ibu Suri Cu Si segera merangkulnya dan menjatuhkan dirinya di atas pangkuan Yung Lu.
"Ah, Yung Lu, aku kesepian, aku rindu padamu..."
Keluhnya.
Tentu saja hal ini sama sekali tak pernah disangka-sangka oleh Yung Lu.
membayangkan saja dia tidak berani bahwa bekas kekasihnya di waktu remaja itu, yang kini telah menjadi orang paling berkuasa di seluruh negeri, ternyata masih teringat kepadanya, bahkan masih mencintanya!
Dia heran mengapa semalam tidak mimpi kejatuhan bulan!
Dan tentu saja dia menyambut ajakan wanita cantik itu dengan gembira karena Yung Lu termasuk seorang laki-laki yang mata keranjang dan nafsu berahi merupakan kesenangan yang selalu dikejarnya.
Akan tetapi dia masih merasa khawatir dan ragu-ragu, takut kalau sampai ketahuan orang lain.
Hal ini dirasakan oleh Cu Si yang tertawa genit.
"Laki-laki tolol, kenapa begini takut-takut? Siapa orangnya yang berani masuk ke sini tanpa kupanggil?"
Katanya sambil merangkul.
Yung Lu merasa bagaikan dalam mimpi.
Kini tanpa disangkanya, dia mendapatkan segalanya dari wanita ini, padahal dahulu ketika mereka masih remaja, biarpun mereka saling mencinta, dia tidak pernah mendapatkannya.
Kini wanita itu menyerahkan segalanya dengan rela dan tentu saja dia merasa seperti melayang ke langit ke tujuh.
Demikianlah, mulai hari itu, Yung Lu menjadi kekasih baru Ibu Suri Cu Si.
Dan untuk memudahkan dua orang ini mengadakan hubungan setiap saat yang mereka kehendaki dengan leluasa, kembali Li Lian Ying yang mengajukan usul-usul yang amat cerdik.
Kebetulan waktu itu, jabatan pengawas Urusan Rumah Tangga Istana sedang kosong dan jabatan ini lalu diberikan kepada Yung Lu.
Semenjak itu, sebagai pejabat dalam istana, dengan leluasa Yung Lu mengadakan pertemuan dengan Cu Si.
kehadirannya tidak mendatangkan kecurigaan, karena pertama, dia adalah paman sendiri dari Cu Si, dan kedua, dia adalah pejabat baru yang mengurus semua persoalan di dalam rumah tangga istana.
Dan kini wajah Cu Si nampak berseri, tubuhnya nampak segar dan sehat.
Dia menemukan kekasih yang hebat dalam diri pamannya itu, jauh lebih hebat dibandingkan dengan mendiang Kaisar Hsian Feng, atau dengan An Tek Hai sekalipun!
Ibu Suri Cu Si dapat melakukan segala perbuatan yang disukainya dengan bebas dan leluasa karena Ibu Suri Cu An yang lebih suka membaca kitab-kitab agama di dalam kamarnya, menyerahkan segala urusan kepada madunya itu.
Akan tetapi, seperti biasa terjadi di dunia ini, kesenangan tidak pernah meninggalkan saudara kembarnya, yaitu kesusahan.
Hubungan mesra antara paman dan keponakan itu baru beberapa bulan saja sudah membuat Ibu Suri Cu Si mengandung!
Bingunglah wanita ini.
Hanya Li Lian Ying orang yang dipercayainya, di samping Yung Lu tentunya, akan tetapi kedua orang itu tidak berhasil menggugurkan kandungan dengan obat-obat yang mereka bawa.
Untuk mempergunakan obat yang terlalu keras, mereka tidak berani, takut kalau akibatnya malah berbahaya bagi nyawa Ibu Suri Cu Si.
Dan mengundang tabib pun tidak mugkin karena tentu rahasia itu akan bocor.
Akhirnya Cu Si teringat kepada isteri Pangeran Chun yang merupakan saudara perempuannya yang boleh dipercaya.
Antara mereka memang ada hubungan yang akrab walaupun tentu saja isteri pangeran itu selalu merasa rendah diri terhadap Ibu Suri Cu Si.
Diam-diam Cu Si memanggil isteri Pangeran Chun dan setelah saudara perempuan ini datang, Cu Si cepat metangkulnya dan mengajaknya bicara bisik-bisik di dalam kamarnya, berdua saja.
Di situ Cu Si menceritakan keadaan dirinya yang mengandung!
Adiknya mendengarkan dengan mata terbelalak, lalu duduk diam seperti patung karena tidak tahu harus bicara apa.
Barulah ia terkejut ketika Cu Si menyatakan maksudnya mengundang saudara perempuan itu.
"Hanya engkaulah yang dapat menolongku dan mengeluarkan aku dari kesulitan ini, saudaraku."
Kata Cu Si dan selanjutnya, dengan bisik-bisik Cu Si menyatakan rencana siasatnya.
Adiknya itu, isteri Pangeran Chun, diperintahkan untuk mengaku kepada suaminya bahwa ia mengandung, berpura-pura mengandung!
Dan adiknya itu akan tinggal di situ bersamanya, dengan alasan agar mendapat perawatan yang baik di samping menemani Ibu Suri Cu Si.
Hari itu juga, Cu Si mengutus Li Lian Ying untuk berkunjung kepada Pangeran Chun dan menyampaikan kabar itu!
Tentu saja Pangeran Chun terkejut dan terheran-heran mendengar bahwa isterinya mengandung.
Akan tetapi dia percaya dan tidak perduli lagi karena memang dia mempunyai banyak selir sehingga dia lupa lagi kapan terakhir kalinya dia menggauli isterinya.
dan karena isterinya itu merupakan saudara yang amat akrab dengan Ibu Suri Cu Si, diapun tidak heran bahwa isterinya lebih suka menceritakan tentang kandungannya kepada saudaranya itu.
Demikianlah, rahasia ini ditutup rapat dan setelah kandungan itu tiba saatnya untuk dilahirkan, Ibu Suri Cu Si dan isterinya Pangeran Chun tak pernah berpisah dari satu kamar.
Dua orang bidan dipanggil ketika malam itu Ibu Suri Cu Si melahirkan.
Pada keesokan harinya, diumumkan bahwa isteri Pangeran Chun telah melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat!
Adapun kedua orang bidan yang membantu kelahiran itu, lenyap tak ada yang tahu ke mana perginya.
Mereka itu diam-diam telah dibunuh oleh kaki tangan Li Lian Ying agar mereka tidak membocorkan rahasia tenang kelahiran anak itu.
Setelah "melahirkan"
Dan kesehatannya pulih, isteri Pangeran Chun membawa puteranya pulang, disambut dengan penuh kegembiraan oleh keluarga Pangeran Chun.
Dan anak inilah, anak kandung Ibu Suri Cu Si, yang kelak setelah Kaisar Tung Ci meninggal, Oleh Ibu Suri Cu Si yang memegang tampuk kekuasaan, diangkat menjadi Kaisar pula!
Memang hebat sekali Ibu Suri Cu Si ini, seperti tercatat dalam sejarah.
Ia seorang wanita yang keras hati, ambisius, dan cerdik bukan main.
dari keluarga bersahaja ia dapat naik menjadi permaisuri dan kemudian Ibu Suri yang memerintah negara besar itu selama kurang lebih lima puluh tahun!
Dan di samping kekuasaannya yang mutlak, keputusan-keputusan yang keras dan penting, di sebelah dalam istana tersimpan pula rahasianya, yaitu selalu dirundung kesepian sehingga ia melakukan hubungan gelap dengan banyak pria, dan ini merupakan kelemahannya, yaitu menjadi hamba dari nafsu berahinya sendiri.
Demikianlah sekedar gambaran awal keruntuhan Kerajaan Mancu, didahului dengan kekacauan dan lemahnya keluarga kerajaan itu sendiri.
Setelah berpisah dari Yu Bwee, gadis yang menarik perhatiannya itu, yang mendatangkan kesan mendalam, Gan Han Le melanjutkan perjalanannya.
Dia telah melihat keadaan kotaraja, melihat kekacauan yang terjadi, bahkan melihat penyerbuan pasukan kulit putih yang telah menduduki kotaraja dan yang memaksa Kaisar sekeluarganya melarikan diri ke Yehol.
Semua yang telah dialaminya itu membuat dia lebih bingung lagi.
Semenjak dia lari meninggalkan Ibunya dan gurunya, Han Le merasa bingung dan hatinya penuh dengan dendam yang bertumpuk, Akan tetapi dia sendiri tidak tahu kepada siapa dendam itu harus ditumpahkan, kepada gurunya?
Kepada Ibunya?
Ah, tidak mungkin.
gurunya kini telah menjadi Ayah tirinya!
Akan tetapi, kenyataan bahwa gurunya, Bu Beng Kwi, ternyata adalah musuh besarnya juga, Koan Jit pembunuh Ayah kandungnya, telah menghancurkan bayangan tentang diri seorang guru yang dicintanya dan dikaguminya.
Kini rasa cinta dan hormatnya berbalik menjadi kebencian.
Bahkan diapun kehilangan perasaan suka kepada kedua orang Suhengnya yang menjadi pimpinan rakyat.
Tidak, dia tidak akan mencari mereka, tidak akan membantu mereka!
Membantu kedua orang Suhengnya itu sama saja dengan membantu gurunya!
Dalam keadaan bingung ini Han Le meninggalkan Yehol dan diapun teringat kepada raja baru di Nan-king, pemimpin pasukan Tai Peng, yaitu Ong Siu Coan!
Bukankah Ong Siu Coan itu Suheng dari Ayah kandungnya?
Dan selama dia dan Ibunya berada di sana, di Nan-king, merasa diperlakukan dengan amat baik oleh Ong Siu Coan.
Bahkan mungkin dia dan Ibunya masih tinggal di sana dalam keadaan terhormat, kalau saja tidak muncul Bu Beng Kwi yang membawa mereka lari.
Dia bahkan pernah belajar ilmu silat dari seorang kepala pengawal bernama Giam Ci, seorang sahabat dari Tang-Ciangkun.
Di sana dia diperlakukan oleh siapa saja dengan sikap hormat karena dia adalah sanak dari Kaisar, putera dari saudara seperguruan Kaisar Ong Siu Coan sendiri.
Kenangan ini menarik hati Han Le untuk pergi berkunjung ke Nan-king!
Dia akan mengunjungi supeknya yang menjadi Kaisar itu, dan melihat perkembangannya nanti.
Kalau keadaan di sana cocok dengan hatinya, mengapa dia tidak membantu saja gerakan supeknya itu, gerakan Tai Peng karena bukankah gerakan itu juga bermaksud menumbangkan penjajah Mancu?
Pada suatu sore dia tiba di sebuah kota yang letaknya di sebelah utara lembah Sungai Yang-ce, dan merupakan perbatasan kekuasaan Tai Peng dan kekuasaan pemerintah Kerajaan Mancu.
Kota ini bernama Cu-sian dan karena terletak di perbatasan, maka kota ini selalu berada dalam keadaan gawat dan di situ berkeliaran mata-mata dari pihak Tai Peng, dari Kerajaan Mancu, dari golongan-golongan kang-ouw dan bahkan ada mata-mata yang bekerja untuk kepentingan orang kulit putih.
Betapapun juga, perdagangan selalu ramai di kota ini, karena tempat inipun terkenal sebagai tempat penyelundupan candu dan senjata api gelap.
Kota Cu-sian ini sudah berada dalam kekuasaan Tai Peng dan karena itu, di mana-mana terdapat penjagaan pasukan Tai Peng yang selalu mencurigai siapa saja yang memasuki kota.
Han Le juga tidak terkecuali.
Begitu memasuki pintu gerbang, dia sudah dihadang oleh belasan orang tentara Tai Peng yang melakukan penggeledahan.
Akan tetapi Han Le sudah siap siaga sebelumnya sehingga dia menyembunyikan pistol kecilnya di dalam celana, diikat dengan betis kirinya.
Buntalan pakaiannya tidak terdapat barang mencurigakan kecuali pakaian, maka diapun lolos dan dibiarkan masuk kota yang ramai itu.
Tidak mudah mendapatkan kamar di kota yang ramai itu, akan tetapi akhirnya dia bisa mendapatkan sebuah kamar di losmen kecil dan kotor yang berada di ujung kota.
Di belakang losmen itu mengalir sebuah sungai kecil yang airnya kotor karena menampung semua sampah orang-orang yang tinggal di kota itu.
Biarpun dia mendapatkan kamar terakhir yang paling kecil dan paling kotor, Han Le mersa lega karena akhirnya dia mendapatkan sebuah tempat untuk beristirahat.
Setelah membayar kamar itu, dia lalu keluar dari kamar dan pergi meninggalkan losmen untuk mencari rumah makan karena sejak pagi tadi dia belum makan.
Hampir saja kakinya tersaruk sebatang tongkat yang melintang di ambang pintu losmen itu.
Dia terkejut karena tongkat itu tadinya tidak ada dan tiba-tiba saja meluncur dari samping.
Ketika dia menoleh dengan marah, siap menegur orang yang agakya sengaja melintangkan tongkat, dia melihat seorang pengemis bermata buta dan kemarahannyapun lenyap.
Dia tadi dapat meloncati tongkat itu dan tidak sampai tersaruk, dan pengemis yang buta matanya ini sudah pasti melakukan hal itu tanpa sengaja.
"Lopek (Paman tua), berhati-hatilah dengan tongkatmu, jangan sampai membikin jatuh orang lewat,"
Kata Han Le, menegur halus memperingatkan si buta itu. Pengemis itu lalu menodongkan tangannya minta sumbangan.
"Yang buta tak melihat, yang bermata harus berhati-hati, tuan yang datang dari kotaraja harap bermurah hati terhadap seorang pengemis buta."
Han Le mengeluarkan dua potong uang kecil dan meletakkannya di telapak tangan orang itu, akan tetapi alisnya berkerut dan dia bertanya.
"Bagaimana engkau bisa tahu aku datang dari kotaraja?"
Biarpun kebetulan di situ tidak terdapat orang lain, pengemis itu menjawab berbisik.
"Suaramu asing, tentu menarik perhatian. Satu petanyaan lagi, apakah pakaianmu putih?"
Han Le menjadi semakin heran.
"bagaimana engkau bisa tahu? memang pakaianku putih."
Akan tetapi pengemis buta itu tidak menjawab, melainkan bangkit berdiri dan melangkah pergi, menggunakan tongkatnya yang panjang untk meraba-raba ke atas jalan.
Han Le merasa penasaran dan cepat mengejar.
Akan tetapi dia enjadi semakin terkejut dan heran.
Biarpun orang itu buta dan berjalan dengan meraba-raba, namun gerakannya cepat bukan main sehingga diapun harus melakukan ilmu berjalan cepat untuk menyusulnya!
Dan ternyata orang itu erhenti di belakang rumah kampung yang sepi karena senja telah larut, dan menantinya.
"Tuan, berhati-hatilah. Nanti malam tepat tengah malam jam dua belas, pergilah ke kuil tua di luar pintu gerbang sebelah timur. Kami semua berkumpul di sana dan kedatanganmu amat dinantikan."
Tanpa menanti jawaban, pengemis buta itu meloncat dan agaknya dia sudah hafal dengan jalan di sini karena kini dia berlari cepat.
Han Le menjadi semakin penasaran dan hendak mengejar.
Akan tetapi dia teringat akan pesan orang itu dan diapun menghentikan niatnya untuk melakukan pengejaran.
Orang pengemis buta itu agaknya telah mengenalnya dan tahu bahwa dia datang dari kotaraja.
Akan tetapi kenapa dia disuruh datang tengah malam nanti di kuil tua sebelah timur pintu gerbang?
Siapakah pengemis buta itu?
Dari gerakannya ketika meninggalkannya, dia dapat menduga bahwa pengemis itu bukan orang sembarangan, atau mungkin juga hanya pura-pura buta saja.
Apakah dia seorang mata-mata kerajaan yang mengenalnya sebagai pemuda yang pernah menolong keluarga Kaisar?
Ataukah seorang utusan dari Permaisuri kedua yang hendak menjebaknya?
Apapun yang terjadi, dia harus menghadiri pertemuan pada tengah malam itu.
Dia sudah tertarik sekali karena tahu bahwa dia menghadapi pengalaman yang menegangkan, mungkin berbahaya.
Han Le bersikap tenang saja dan dia melanjutkan keinginannya untuk makan di rumah makan.
Banyak rumah makan di kota itu, dan dia memasuki rumah makan yang lezat hidangannya.
Setelah makan kenyang dia kembali ke losmen.
Malam itu dia beristirahat tanpa meninggalkan kewaspadaannya, dalam keadaan siap siaga, bahkan tanpa melepas sepatu dan pakaian luarnya.
Sebelum tiba saat tengah malam, Han Le sudah meloncat keluar dari kamarnya dan meninggalkan losmen secara diam-diam.
Tidak sukar baginya untuk pergi ke gerbang timur tanpa kelihatan orang.
Malam sudah larut dan sunyi.
Hanya beberapa orang laki-laki mabok saja yang berjalan sempoyongan menuju pulang dan rumah-rumah makan yang paling lambat baru saja ditutup.
Han Le mempergunakan kepandaiannya untuk menyelinap di antara rumah-rumah, pohon-pohon, karena dia dapat menduga bahwa di tempat itu tentu berkeliaran banyak orang pandai.
Dia langsung menuju ke pintu gerbang timur dan memilih bagian tembok yang tidak terjaga dan gelap untuk melompatinya dan keluar dari tembok kota.
Malam itu gelap sekali.
Menguntungkan bagi Han Le yang bergerak dengan hati-hati mendekati kuil tua terpencil yang berdiri di lereng bukit itu.
Biarpun kuil itu merupakan sebuah kuil kuno yang sudah kosong, namun temboknya masih nampak kokoh kuat, dan malam ini ada sinar penerangan yang menyorot keluar dari dalam kuil, tanda bahwa di situ terdapat orang.
Kuil ini memang kadang-kadang dipergunakan orang untuk melewatkan malam, Tentu saja orang-orang yang tidak mempunyai uang untuk bermalam dengan menyewa kamar losmen.
Dilihatnya beberapa sosok tubuh orang berjaga di depan dan di belakang kuil secara sembunyi.
Hal ini sudah diduganya.
Pengemis buta itu mengatakan bahwa "mereka"
Akan menanti kehadirannya, berarti di situ akan terdapat banyak orang dan tentu akan membicarakan urusan penting, maka tentu tempat itu dijaga.
Diapun mempelajari keadaan.
Kuil itupun cukup besar, merupakan bangunan induk dan bangunan-bangunan kecil di sekelilingnya.
Beberapa orang penjaga itu hanya mengawasi bagian depan dan belakang kuil, hanya kadang-kadang saja meronda melewati kedua bagian pinggir.
Ketika melihat tiga orang penjaga lewat meronda Han Le cepat menyusup dan begitu mereka lewat, Diapun meloncat naik ke atas genteng kuil sampai dari pinggir.
Gerakannya cepat dan sudah diperhitungkannya sehingga di dalam kegelapan malam itu, tidak kelihatan apa-apa dan kakinyapun tidak menimbulkan suara ketika menginjak genteng.Pakaiannya yang serba putih itu kini sudah tertututp sehelai mantel biru yang tadi sengaja dipakaianya untuk menutupi pakaiannya yang putih.
Han Le merayap di atas genteng kuno yang tebal itu, menuju ke bangunan induk dari mana menyorot sinar penerangan yang cukup besar.
Dengan hati-hati dia membuka genteng dan mengintai ke dalam.
Ternyata ruangan di bawah itu cukup luas dan agaknya sudah dibersihkan untuk keperluan ini.
Tidak ada meja kursi di situ, dan di lantai telah dihamparkan tikar yang menutupi lantai dari ujung ke ujung.
Ada lima orang duduk di dalam ruangan itu, dan satu di antaranya segera dikenal oleh Han Le, yaitu si pengemis buta!
Dan dia merasa malu terhadap diri sendiri yang tadi pernah mengira bahwa pengemis buta itu hanya pura-pura buta, karena kini ternyata bahwa orang itu memang buta!
Kedua matanya yang hampa nampak putihnya saja itu kelihatan jelas tersorot sinar lampu yang ada empat buah bergantungan di ruangan itu.
Kini nampak si buta itu mengetuk-ngetuk lantai bertilamkan tikar dengan tongkatnya, seperti ingin minta perhatian.
Empat orang kawannya itu rata-rata berusia empat puluh tahun lebih, sikap mereka gagah, dengan pakaian sederhana, ada yang menyamar seperti petani, ada pula yang seperti saudagar, akan tetapi mereka semua memiliki sinar mata yang mencorong penuh semangat.
"Sudah kukatakan, aku tidak akan keliru. Menurut penyelidikan teman-teman kita, orang itu berpakaian serba putih dan dia mempunyai sepasang mata yang biru! Bukti apalagi yang lebih meyakinkan? Tentu dialah orangnya yang kita tunggu, dan ketika aku mencoba dengan tongkatku, dia mudah saja menghindar. Karena itulah dia kuundang."
Berdebar rasa jantung dalam dada Han Le, mereka sedang membicarakan diriya!
Kiranya dia disangka orang lain!
"Akan tetapi, Lo-Kai (pengemis tua), aku masih merasa heran bagaimana orang kulit putih mau membantu kita?
Benar-benarkah mereka itu, ataukah hanya tipu muslihat belaka?"
"Hemm, kurasa mereka bersungguh-sungguh. Setelah mereka menang perang dan mengadakan perjanjian damai dengan pemerintah Ceng, mereka memperoleh banyak keuntungan, mendapat kebebasan berdagang di mana saja. Tai Peng merupakan ancaman bagi pemerintah kerajaan Ceng, yang berarti juga mengancam kedudukan mereka. Karena itu, setiap usaha untuk menghancurkan Tai Peng, kini tentu akan dibantu oleh orang kulit putih! "Akan tetapi, Lo-Kai,"
Kata orang kedua sangsi.
"Aku mendengar bahwa hubungan antara kulit putih dan Tai Peng baik sekali, karena mereka itu memiliki agama yang sama."
"Benar,"
Kata orang ketiga.
"Aku pernah menyelundup ke Nan-king dan melihat banyak orang kulit putih berkeliaran di sana. Sudah lama Tai Peng bersahabat dengan orang kulit putih."
"Sekarang sudah pasti tidak demikian,"
Kata Kakek buta dengan suara yakin.
"Ingat saja tentang candu. Tai Peng melarang candu masuk ke wilayah kekuasaan mereka. Hal ini saja mendatangkan kerugian besar bagi orang kulit putih. Pula, kesamaan agama mereka hanya namanya saja, akan tetapi orang kulit putih juga tahu bahwa agama mereka itu telah dirobah oleh Kaisar Tai Peng, dan menjadi alat untuk mengelabui rakyat, bukan agama yang aseli. Lebih menguntungkan bagi orang kulit putih kini untuk bersahabat dengan Kerajaan Ceng daripada dengan Tai Peng yang mulai nampak belangnya."
Diam-diam Han Le mendengarkan percakapan itu dan dia kagum terhadap si buta yang nampaknya demikian mengenal keadaan pemerintahan.
Akan tetapi tentu saja dia tidak mau menelan begitu saja keterangan pengemis buta itu yang membenci Tai Peng dan agaknya orang-orang ini mau bersekutu dengan orang kulit putih untuk menentang Tai Peng!
Dan agaknya di situ akan diadakan untuk membicarakan urus an politik.
"Akan tetapi, Lo-Kai. Kalau gerakan kita tidak menentang pemerintah Mancu, bahkan membantu pemerintah Mancu menentang Tai Peng, dan bekerja sama dengan orang kulit putih, bukankah berarti kita ini lalu menjadi kaki tangan pemerintah penjajah? Bagaimanapun juga, Tai Peng adalah gerakan rakyat yang berhasil menduduki sebagian tanah air dan merampasnya dari cengkeraman penjajah Mancu!"
Kata orang keempat. Tiga orang temannya mengangguk-angguk setuju. Pengemis buta itu menarik napas panjang.
"Pertanyaan itu merupakan hal yang selalu diragukan oleh para pendekar yang membantu perjuangan rakyat. Akan tetapi, kalian belum tahu akan seluk beluknya politik dan ilmu perang. Tidak bisa disamakan dengan ilmu silat bela diri. Dalam ilmu perang banyak lika-likunya. bahkan kalau perlu, golongan yang kemarin dimusuhi, hari ini dirangkul sebagai sahabat, walaupun mungkin besok sudah kita pukul lagi sebagai musuh! Kita takkan berhasil kalau haya memeperlihatkan kepahlawanan saja, mencoba utuk membersihkan tanah air dari musuh-musuh sekaligus! Bagaimana mungkin kita mengusir sekaligus penjajah Mancu, penjahat-penjahat Tai Peng, dan pasukan kulit putih? Tidak mungkin sama sekali! Karena itu , kita harus menghancurkan yang terpenting lebih dulu, dan menggandeng kekuatan lain untuk membantu kita. Karena itu, tujuan kita sekarang adalah menghancurkan Tai Peng, dan untuk itu, kita mengulurkan tangan kepada orang kulit putih, juga kepada pemerintah Kerajaan Ceng. Setelah kelak Tai Peng hancur, barulah kita mengalihkan sasaran kepada Kerajaan Mancu, atau kepada orang kulit putih, tentu saja sesuai dengan keadaannya nanti. Mengertikah kalian?"
Empat orang itu saling pandang, akan tetapi mereka masih belum mengerti benar.
Mereka adalah orang-orang gagah yang telah digembleng untuk bersikap gagah, tidak suka akan siasat-siasat dan muslihat licik.
Akan tetapi karena mereka tahu bahwa mereka menghadapi urusan yang terlalu besar dan berat bagi mereka, bahwa mereka hanyalah pelaksana-pelaksana, merekapun mengangguk saja.
Tiba-tiba terdengar suara penjaga dari luar berteriak akan datangnya tamu dari kotaraja!
"Silakan dia masuk!"
Kata pengemis buta.
Dari pintu ruangan itu yang kini menjadi lebar sekali karena separuh dinding bagian itu telah bobol, muncul tiga orang laki-laki yang usianya mendekati lima puluh tahun.
Mereka masuk dengan langkah gagah, kemudian mereka menghadapi lima orang yang duduk bersila itu, seorang di antara mereka berkata.
"Kami diutus oleh Pangeran Kung untuk memenuhi undangan cu-wi (anda sekalian)."
"Bolehkah kami melihat surat perintah dari Pangeran Kung?"
Tanya si buta.
ketika laki-laki tinggi besar yang mewakili dua orang temannya itu megeluarkan tanda perintah dari Pangeran Kung yang ada capnya sang pangeran, tentu saja bukan si buta yang menerimanya melainkan empat orang temannya yang mengembalikannya kepada tamu itu setelah menelitinya.
"Kami masih belum melupakan sekap pemerintah terhadap teman-teman kami seperjuangan,"
Kata pengemis buta itu dengan suara yang angkuh,"dan hanya karena kami percaya kepada Pangeran Kung maka kami mengirim undangan agar ada wakil dari kotaraja yang menyaksikan pertemuan penting ini.
Kami hanya mengharapkan persetujuan dari pemerintah tanpa campur tangan dan tanpa menghalangi gerakan kami untuk memukul Tai Peng."
"Kami mengerti dan kamipun datang sebagai penonton dan pendengar belaka,"
Kata orang tinggi besar.
Mereka dipersilakan duduk dan tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan muncullah seorang gadis di ruangan itu.
Tiga orang wakil pemerintah kerajaan itu terkejut, akan tetapi lima orang itu tidak memperlihatkan rasa kaget.
"Aih, Thio-Siocia (nona Thio)! Mana Ayah Ibumu?"
Tanya seorang di antara teman-teman si pengemis buta.
Gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun, dan tadi Han Le yang melakuan pengintaian, terkejut dan kagum bukan main melihat betapa gadis itu memiliki gerakan yang amat cepatnya.
Kini, dia dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas di bawah sinar empat buah lampu besar.
Wajah yang lonjong dengan dagu meruncing manis, hidungnya agak berjungkat ke atas menambah kemanisan wajahnya.
Wajah yang ayu itu selalu berseri dan cerah, mulutnya seperti selalu menghias senyum, matanya berkilauan dan pakaiannya rapi.
Tahi lalat merah di sudut bawah dagu menambah daya tariknya.
Seorang gadis yang cantik jelita, dengan bentuk tubuh yang ramping indah!
Gadis itu bukan lain adalah Thio Eng Hui, puteri tunggal dari Thio Ki dan Ciu Kui Eng.
seperti telah diceritakan di bagian depan, keluarga ini ikut pula terjun ke dalam perjuangan, dan semuda itu, Eng Hui sudah pula membantu orang tuanya.
Mereka bertiga kini menggabungkan diri dengan pasukan yang dipimpin oleh Li Hong Cang, dan ikut membantu pemimpin rakyat itu untuk melatih perajurit yang terdiri dari rakyat jelata.
Seperti juga Ceng Kok Han yang membuat persiapan menghimpun tentara atau bekas laskar rakyat di sebelah barat, Li Hong Cang juga menghimpun laskar rakyat di sebelah timur.
"Ayah dan Ibu sibuk, dan akulah yang ditunjuk oleh Li-bengcu (ketua Li) untuk menghadiri pertemuan ini. Li-bengcu, juga Ayah dan Ibu, mengirim salam kepada Pek-Gan Lo-Kai dan kawan-kawan di sini!"
Tiba-tiba Kakek pengemis buta itu tertawa gembira.
"Ha-ha-ha, biarpun wanita, anak naga tentu akan menjadi naga perkasa pula! Nona yang baik, siapakah namamu?"
"Aku bernama Thio Eng Hui, Lo-Kai."
"Bagus, nona Eng Hui, aku terima salam dari Li-bengcu yang kuhormati, dan orang tuamu yang kukagumi. Silakan duduk, nona,"
Dan kepada tiga orang tamu pertama, Kakek pengemis buta itu memperkenalkan.
"Nona ini merupakan utusan dari Li-bengcu, dan nona Eng Hui, mereka bertiga itu adalah utusan dari pangeran Kung, yang datang sebagai peninjau saja."
Sambil duduk di atas lantai, tiga orang laki-laki itu memberi hormat kepada gadis muda itu, yang dibalas dengan sikap dingin oleh Eng Hui.
Sejak kecil, oleh Ayah Ibunya, gadis ini dididik untuk membenci pemerintah Kerajaan Mancu, maka, kini berhadapan dengan tiga orang utusan Pangeran Kung, tentu saja ia merasa tidak senang, walaupun ia juga tahu bahwa sasaran perjuangan kali ini adalah menentang Tai Peng.
"Di mana wakil dari pasukan kulit putih?"
Ia menoleh ke kanan kiri untuk mengalihkan percakapan agar tidak perlu bicara dengan wakil istana Mancu itu.
"Apakah dia belum datang"
"Jangan khawatir, nona Eng Hui, dia pasti datang,"
Kata Pek-Gan Lo-Kai.
pengemis tua ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal di daerah selatan dan biarpun matanya buta, namun dia memiliki kepandaian yang lihai sekali.
Julukannya, Pek-Gan Lo-Kai (Pengemis Tua Mata Putih) merupakan nama poyokan, akan tetapi kau m kang-ouw menghormatinya karena dia berjiwa gagah perkasa, dan biarpun hidup sebagai pengemis, namun dia selalu menentang kejahatan.
Matanya yang putih itu memang tidak dapat melihat, akan tetapi Tuhan Maha Adil, dan sebagai pengganti matanya, dia mendapat kepekaan yang luar biasa dalam alat tubuh lainnya, pendengarannya, penciumannya, perasaan dan rabaan tangannya, Semua amat peka melebihi manusia biasa sehingga semua itu dapat menutup kebutuhan hidup yang terganggu oleh butanya mata.
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 5
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 9