Eps 7 Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo
Baca online Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo
Cersil Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo.
Karena lihai ilmunya, dalam pengetahuannya dan banyak pemgalamannya, maka semua tokoh kang-ouw setuju mengangkatnya menjadi pemimpin kelompok laskar rakyat yang berada di sepanjang sungai dan di perbatasan antara daerah Tai Peng dan daerah Kerajaan Ceng.
Juga Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, dua orang pemimpin besar yang menghimpun laskar rakyat, percaya kepadanya untuk memimpin rencana penyerbuan terhadap kota Cu-sian, yang merupakan benteng pertama sebelah utara sungai dari pasukan Tai Peng.
Malam itu diadaan pertemuan untuk merundingkan urusan besar itu dan tanpa di sengaja, Han Le menjadi saksi peristiwa yang amat penting ini, yang merupakan sumbu pertama yang menyulut api peperangan antara laskar rakyat melawan Tai Peng.
"Dia? Apakah mereka tidak datang semua?"
Eng Hui bertanya.
"Mereka? Aku hanya bertemu dengan seorang saja. Bukankah dia berpakaian serba putih?"
"Benar, akan tetapi dua orang pembantunya berpakaian bisa, seperti pakaian kuli yang memikul barang-barangnya. Dia menyamar sebagai seorang pelancong. kebetulan saja aku bertemu dengan mereka di luar pintu gerbang kotaraja."
"Sebentar lagi tentu dia akan datang,"
Kata pula Pek-Gan Lo-Kai.
Mendengar ini Han Le yang merasa semakin tertarik, tahu bahwa saatnya telah tiba untuk muncul.
Dia dengan hati-hati merangkak kembali ke atas wuwungan bangunan samping kuil itu, dan meloncat keluar dari tembok kuil dan dengan jalan memutar dia mengampiri pintu depan.
Tiba-tiba bermunculan empat orang penjaga yang meghadangnya.
"Siapa engkau?"
Bentak mereka. Han Le tersenyum mengejek.
"Kalian tentu siapa aku,"
Jawabnya."Katakan saja kepada Pek-Gan Lo-Kai bahwa aku si baju putih telah datang memenuhi undangannya."
Seorang di antara para penjaga segera melapor dan setelah (Lanjut ke
Jilid 15) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 mendapat jawaban dari Pek-Gan Lo-Kai yang mempersilakan tamunya masuk, Han Le diperbolehkan masuk dan dikawal oleh para penjaga menuju ke ruangan di bangunan induk.
Sepasang mata Han Le menjadi agak silau ketika penerangan lampu menyambutnya di ruangan itu.
Sembilan pasang mata dari mereka yang hadir di dalam ruangan itu menyambutnya dan memandangnya penuh perhatian.
Tiba-tiba Eng Hui meloncat dari atas tikar, berdiri menghadapi Han Le dan berseru dengan suara galak.
"Lo-Kai, dia ini bukanlah si pakaian putih yang menjadi wakil orang kulit putih itu!"
Mendengar ucapan Eng Hui, semua orang terkejut, terutama sekali lima orang yang menjadi tuan rumah.
seorang yang mukanya hitam, teman Pek-Gan Lo-Kai yang berjuluk harimau Muka Hitam, sudah meloncat dan enghadapi Han Le, siap untuk menyerang, hanya tinggal menunggu komando di pengemis buta.
Pek-Gan Lo-Kai juga bangkit berdiri dan menudingkan tongkatnya kepada Han Le.
"Engkau berpakaian putih dan datang dari kotaraja?"
Pertanyaan yang pernah diajukan ini diulang kembali sehingga Han Le merasa geli.
"Benar, akan tetapi engkau buta bagaimana bisa tahu?"
"Dan engkau mata-mata dari orang kulit putih yang dikirim ke sini?"
"Siapa bilang aku mata-mata. Ingat, orang tua, kita saling bertemu di pintu gerbang losmen dan engkau yang mengundangku ke sini, dan aku..."
"Celaka, dia tentu mata-mata Tai Peng!"
Eng Hui yang sejak tadi merasa curiga, membentak marah. Han Le merasa mendongkol.
"Aku bukan mata-mata siapapun juga..."
Akan tetapi Harimau Muka Hitam yang berada dekat di depannya, membentak.
"Orang muda, menyerahlah engkau!"
Dan tangannya yang berjari besar dan membentuk cakar harimau itu telah menambar ke arah pundak Han Le untuk mencengkeram dan menangkap.
tentu saja Han Le tidak sudi ditangkap, dan dengan sedikit miringkan tubuhnya saja dia sudah dapat menghindarkan terkaman itu.
"Tempat gila apa sih ini? Tanpa dosa tanpa perkara, aku diundang ke sini tengah malam, dan begitu muncul, aku hendak ditangkap. Enak saja!"
Han Le mengomel walaupun dia tahu bahwa dia dicurigai sebagai mata-mata Tai Peng.
Agaknya percuma saja dia menyangkal dan mestinya dia melarikan diri saja dan tidak mencampuri urusan mereka.
Akan tetapi melihat orang-orang ini, terutama munculnya Thio Eng Hui, membuat hatinya tertarik dan orang-orang ini tentu memiliki ilmu silat tinggi, maka diapun ingin sekali menguji kepandaian mereka.
"Tak perlu bersandiwara, engkau tentu mata-mata Tai Peng!"
Si muka hitam kini menerjang lagi, lebih hebat dari tadi karena dia merasa penasaran betapa mudahnya pemuda itu tadi mengelak dari sambaran cengkeraman tangannya.
Kini dia memajukan kaki kanan yang masih membentuk cakar harimau, mencakar ke arah muka Han Le sedangkan tangan kiri menyusul dengan tusukan jari terbuka ke arah perut pemuda itu.
Gerakannya cepat dan juga mengandung tenaga yang amat berbahaya bagi Han Le.
Namun, pemuda ini bersikap tenang saja, hanya nampak kedua tangannya bergerak cepat bukan main dan tiba-tiba Si Harimau Muka Hitam itu mengeluarkan seruan kaget, kedua lenganya lumpuh karena di sambar jari-j ari tangan yang menotok jalan darah di atas siku dan selagi kedua lengannya tergantung lemah tak berdaya, Han Le mengirim tendangan dan tubuh yang tinggi besar itupun terbanting roboh!
Melihat ini, tiga orang yang lain terkejut dan mereka sudah berloncatan bangun, akan tetapi tiba-tiba Pek-Gan Lo-Kai membentak.
"Mundur! Biar aku yang menghadapinya!"
Biarpun matanya buta, namun sekali menggerakkan kaki, pengemis buta itu telah berada di depan Han Le.
Hal ini saja sudah menunjukkan betapa lihainya Kakek ini dan Han Lepun tidak berani memandang ringan.
"Orang muda, siapakah sebenarnya engkau? Kalau benar gagah, mengakulah saja bahwa engkau mata-mata Tai Peng!"
Han Le menarik napas panjang, hatinya kesal.
"Pek-Gan Lo-Kai, engkau seorang tua yang sudah buta, sebetulnya harus dikasihani, akan tetapi sikapmu malah membikin orang jengkel. Tanpa dosa, ketika keluar dari losmen, engkau mencoba untuk menjegal kakiku, kemudian engkau bertanya apakah aku berpakaian putih dan datang dari kotaraja. Karena memang pakaianku putih dan datang dari kotaraja, tentu saja aku benarkan. Dan engkau mengundang aku datang di tengah malam begini di sini, akan tetapi hanya disambut serangan!"
"Hemm, siapa percaya omonganmu? Engkau mencurigakan dan lihai. Siapakah engkau sebenarnya?"
"Aku seorang perantau biasa, namaku Gan Han Le..."
"Dia tentu mata-mata Tai Peng!"
Tiba-tiba seorang di antara tiga utusan Pangeran Kung berseru.
"Kami pernah mendengar tentang dia! Dia pernah menyelamatkan keluarga Kaisar ketika melarikan diri ke Yehol, akan tetapi kemudian dia kurang ajar dan kabarnya hendak membunuh Ibu Suri kedua. Dia buronan kami dan tentu mata-mata Tai Peng.
"Bagus, menyerahlah, orang muda!"
Kata Pek-Gan Lo-Kai.
Kakek ini yang pada saat ini terpaksa harus berbaik dengan orang kulit putih dan kerajaan, mendengar betapa pemuda ini pelarian dan buruan tentara kerajaan, hendak mendatangkan kesan baik dengan ikut menangkapnya.
"Aku tidak sudi menyerah kepada siapapun!"
Han Le balas membentak, marah sudah. Diapun ingin menguji kepandaian Kakek buta yang agaknya amat berkuasa di antara para tokoh yang hadir.
"Kalau begitu, sambutlah tongkatku!"
Pek-Gan Lo-Kai menyerang.
Tongkatnya yang butut dan tidak berapa besar itu menyambar dengan cepat, berubah menjadi sinar hitam yang mengeluarkan suara angin bersiutan!
Namun, Han Le dapat cepat mengelak.
Ketika tongkat itu membalik dan menyambar lagi bertubi-tubi sampai tujuh kali, Han Le tetap mengelak ke sana-sini.
Namun, tongkat itu menyambar terus.
Ketika tongkat menyambar dengan tusukan ke arah dadanya, Han Le tidak lagi mengelak melainkan menangkis dengan totokan ke arah pundak kanan dengan maksud agar Kakek it melepaskan tongkatnya.
Akan tetapi dia terkejut.
Kakek itu tidak mengelak dan ketika totokannya mengenai pundak, ujung jarinya bertemu dengan daging yang demikian keras dan licin sehingga totokannya meleset dan pada saat itu tongkat sudah menyambar lagi, menghantam ke arah kepalanya!
Han Le melompat ke belakang dan kini dia tidak berani main-main lagi.
Kakek ini ternyata lihai bukan main dan ketika dia balas menyerang, Kakek itu seperti memiliki mata yang awas saja, tahu ke arah mana lawan mengirim serangan sehingga dia dapat mengelak atau menangkis dengan totokannya.
Han Le mulai merasa khawatir, Dia telah memasuki guha harimau yang penuh dengan harimau-harimau yang galak dan berbahaya.
baru Kakek buta ini saja demikian lihainya, kalau mereka semua maju mengeroyok, dia bisa celaka.
Maka, diapun tidak ingin memperpanjang perkelahian itu.
Ketika Kakek itu menghantamkan lagi tongkatnya, Han Le menanti sambil mengerahkan tenaga khikangnya, lalu menyambut tongkat itu dengan dorongan kedua tangannya sambil mengeluarkan bentakan nyaring, menggunakan Ilmu Sin-houw Ho-kang, yaitu semacam ilmu serangan melalui suara yang dapat mengguncangkan jantung lawan!
"Dessss...!"
Kakek buta itu terpental ke belakang, tubuhnya tergetar oleh suara melengking yang dikeluarkan oleh Han Le dan tangkisan pemuda itu amat kuat.
Melihat ini, Thio Eng Hui sudah menerjang ke depan dan tangannya menampar ke arah leher Han Le.
Melihat tamparan yang demikian cepat dan mendatangkan angin pukulan berat, Han Le menangkis sambil mengerahkan tenaga untuk mengundurkan lawan yang kelihatannya juga amat lihai ini.
"Dukk...!"
Keduanya terkejut dan keduanya terdorong ke belakang!
Han Le terbelalak memandang.
kiranya gadis ini lebih kuat sinkangnya dibandingkan Kakek buta!
Sungguh seorang lawan yang berat!
Kini tahu-tahu gadis itu telah memegang tongkat pendek seperti pedang, kemudian menyerangnya kalang kabut dengan kecepatan yang membuat Han Le menahan napas!
Diapun mengerahkan ginkangnya, untuk mengimbangi kecepatan gerakan gadis itu.
Orang-orang lain termasuk Kakek buta yang mengikuti perkelahian itu dengan telinganya, mejadi kagum.
Sungguh kedua orang muda itu merupakan lawan yang amat cepat gerakannya dan seimbang kekuatannya!
Mereka semua tidak tahu bahwa kedua orang muda itu adalah cucu-cucu murid dari dua diantara Empat Racun Dunia.
Han Le memainkan ilmu silat tangan kosong Ngo-heng Lian-hoat yang menjadi ilmu dari Thian-tok, sedangkan Eng Hui memainkan tongkatnya dengan Ilmu Tongkat Cui-beng Hek-pang (Tongkat Hitam Pengejar Nyawa) dari Tee-tok!
Melihat betapa gadis yang mereka andalkan agaknya tidak dapat dengan cepat merobohkan pemuda baju putih itu, Pek-Gan Lo-Kai menggerakkan tongkatnya kembali membantu Eng Hui.
bahkan empat orang kawannnya juga siap-siap melakukan pengeroyokan, sedangkan tiga orang utusan dari Pangeran Kung sudah gatal tangan pula untuk ikut terjun dan membantu menangkap mata-mata Tai Peng yang lihai itu!
Ketika Pek-Gan Lo-Kai maju dengan tongkat panjangnya, Han Le masih mampu memepertahankan diri menghadapi pengeroyokan gadis dan Kakek itu.
Akan tetapi ketika empat orang pembantu Pek-Gan Lo-Kai maju, Sedangkan tiga orang utusan kotaraja siap-siap pula dan dari luar berdatangan belasan orang anak buah Pek-Gan Lo-Kai yang tadi melakukan penjagaan, Han Le mulai merasa terkepung ketat dan keadaannya berbahaya.
Dia tidak melihat lubang untuk meloloskan diri kecuali membela diri mati-matian sambil mencari kesempatan untuk membalas serangan lawan.
Keadaan Han Le sungguh terancam bahaya.
Biarpun dia seorang pemuda yang memiliki ilmu silat tinggi, namun para pengeroyoknya juga orang-orang yang amat lihai.
Baru tingkat kepandaian Eng Hui saja sudah hampir mengimbanginya, apalagi di situ terdapat Pek-Gan Lo-Kai yang juga tangguh sekali dan para pembantunya yang cukup lihai.
Kalau keadaannya sudah mengancam benar dan tidak ada jalan keluar lagi, terpaksa dia akan mencabut pistolnya dan mempergunakan senjata itu untuk meloloskan diri, pikirnya.
"Dar! Dar! Dar!..."
Tiba-tiba terdengar ledakan keras tiga kali dan nampak asap di luar ruangan.
Tiga orang penjaga roboh tewas seketika dan semua orang menghentikan perkelahian, terkejut memandang keluar dan ternyata ruangan itu telah terkepung oleh puluhan orang pasukan Tai Peng yang diantaranya ada yang memegang bedil!
Pasukan itu dipimpin oleh dua orang laki-laki berusia hampir lima puluh tahun.
Seorang tinggi kurus bermuka pucat, dan yang seorang lagi tinggi besar bermuka merah.
Mereka ini bukan lain adalah Tiat-Pi Kim-Wan (Lutung Emas Berlengan Besi) dan Seng-jin Sin-touw (Maling Sakti Dewa), dua di antara tokoh-tokoh sesat yang menjadi pembantu kanan Ong Siu Coan, raja dari Tai Peng!
"Orang muda, engkau hebat juga,"
Kata Tiat-Pi Kim-Wan kepada Han Le, senang melihat pemuda itu tadi dikeroyok oleh orang-orang yang dia tahu adalah pimpinan laskar rakyat yang memusuhi Tai Peng.
Akan tetapi Han Le mengerutkan alisnya dan tidak menjawab, walaupun kedatangan orang-orang Tai Peng itu telah menyelamatkannya.
"Ha-ha, Pek-Gan Lo-Kai, engkau jembel tua bangka berani mengadakan pertemuan di sini untuk menentang Tai Peng, ya? Dan kalian bersekutu dengan orang-orang bule yang berhati palsu itu untuk mengeroyok kami? Ha-ha, tentu kalian sedang menanti datangnya mereka ini, bukan?"
Dia memberi isyarat dan anak buahnya mendorong tiga orang yang terjatuh ke lantai ruangan itu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan yang berpakaian serba putih, dan dua orang berpakaian sebagai kuli.
"Mereka ini mata-mata orang kulit putih yang kalian tunggu-tunggu? Ha-ha-ha! Orang-orang kulit putih telah mengkhianati kami. Lihat, inilah hukuman bagi mereka dan kalianpun seorang demi seorang, kecuali si baju putih ini yang tidak memusuhi kami, akan menerima hukuman yang sama!"
Dia memberi isyarat lagi ke belakang.
"Dar! Dar! Dar!"
Tiga kali bunyi tembakan, asap mengepul menggelapkan ruangan itu dan tiga orang mata-mata orang kulit putih itupun roboh mandi darah, menggelepar sekarat.
Kesempatan selagi ruangan penuh asap itu dipergunakan oleh yang memutar tongkatnya, merobohkan empat orang anggauta pasukan Tai Peng di sebelah kiri dan meloncat keluar dari ruangan.
Juga Pek-Gan Lo-Kai dan teman-temannya memutar senjata menghadapi pasukan Tai Peng, mengamuk untuk meloloskan diri.
Tiga orang utusan dari kota raja juga terpaksa membela diri dan mencari jalan keluar.
Terjadilah pertempuran yang kacau di dalam ruangan itu.
Han Le hanya berdiri di pojok, merasa ragu karena dia tidak tahu harus membantu siapa.
Dia tahu bahwa Pek-Gan Lo-Kai dan teman-temannya itu adalah para pejuang rakyat yang hendak menentang Tai Peng, sedangkan gadis yang tadi disebut nona Thio Eng Hui oleh si pengemis buta jelas adalah utusan dari Suhengnya, Yaitu Li Hong Cang yang sekarang telah menjadi bengcu atau pemimpin rakyat yang berjuang.
Tiga orang itu adalah utusan dari Kerajaan Mancu.
Dia tidak mau membantu kedua pihak, juga dia merasa ragu-ragu untuk membantu orang-orang Tai Peng, sebelum kedudukannya jelas di dalam kerajaan baru yang dipimpin oleh Ong Siu Coan, bekas Suheng mendiang Ayahnya itu.
Maka diapun tidak mencampuri perkelahian itu.
Perkelahian itu berjalan dengan seru dan Kakek pengemis buta itu memang lihai bukan main.
Demikian pula tiga orang utusan dari kotaraja itupun lihai sehingga banyak pula anak buah Tai Peng yang roboh oleh mereka.
dalam perkelahian yang campur aduk itu, di mana pengeroyokan dilakukan secara kacau, tidak mungkin lagi bagi para pemegang bedil untuk mempergunakan senjata api mereka, Karena kalau hal ini dilakukan, banyak sekali bahaya akan mengenai tubuh teman sendiri.
Akan tetapi, pasukan Tai Peng itu terlalu banyak jumlahnya, dan dua orang yang memimpin pasukan itu, yaitu Tiat-Pi Kim-Wan dan Seng-jin Sin-touw, juga bukan orang sembarangan, melainkan tokoh-tokoh kang-ouw yang lihai dan banyak pengalaman.
Akhirnya, Pek-Gan Lo-Kai berhasil lolos keluar bersama seorang pembantunya, sedangkan tiga orang pembantunya yang lain tewas.
Di pihak tiga orang utusan kotaraja, juga hanya dua orang saja lolos sambil membawa luka, sedangkan seorang lagi roboh dan tewas.
Thio Eng Hui sudah lolos lebih dahulu sejak tadi.
Setelah pertempuran berhenti, Tiat-Pi Kim-Wan dan Seng-jin Sin-touw lalu menghadapi Han Le dan Tiat-Pi Kim-Wan yang tadi sudah melihat kelihaian pemuda ini dan memujinya, kini bertanya dengan alis berkerut.
"Orang muda, tadi engkau dimusuhi mereka, dikeroyok dan hendak dibunuh. Mengapa setelah kami muncul membantumu engkau malah diam saja dan tidak mau membantu kami merobohkan mereka? Lihat, di antara anak buah kami banyak yang tewas dan terluka, sedangkan mereka banyak yang lolos."
Han Le memandang kepada orang tinggi kurus itu dengan sikap acuh, lalu menjawab seenaknya.
"Aku tidak mengenal kalian, mengapa aku harus membantu dalam pekelahian itu?"
"Akan tetapi kau dimusuhi mereka?"
"Benar, karena aku disangka mata-mata Tai Peng."
"Dan kami adalah tokoh-tokoh pimpinan pasukan Tai Peng. Kenapa engkau yang kami tolong malah tidak mau membantu kami?"
Kini Seng-jin Sin-touw mencela. Han Le memandang orang tinggi besar itu penuh perhatian beberapa saat lamanya sebelum dia menjawab.
"Kalian bukan menolongku. Kalian adalah orang-orang Tai Peng dan tentu saja kalian memusuhi mereka yang menentang Tai Peng. Akan tetapi aku? Aku mereka serang karena mereka menyangka aku seorang mata-mata Tai Peng. Padahal aku bukan mata-mata Tai Peng. Kalau sudah jelas kedudukanku di Tai Peng, tanpa diminta lagi tentu tadi aku sudah membasmi mereka!"
Tiat-Pi Kim-Wan dan Seng-jin Sin-touw saling pandang.
Orang muda ini lihai, hal itu dapat mereka saksikan tadi ketika pemuda ini dapat bertahan dikeroyok oleh demikian banyaknya orang lihai.
Namun, mengeluarkan kata-kata bahwa dia mampu membasmi mereka, sungguh amat sombong.
Pek-Gan Lo-Kai dan kawan-kawannya tadi amat lihai, dan pemuda itu dikeroyok banyak orang tentu hanya mampu membela diri saja, mana mungkin membasmi mereka?
Dapat meloloskan diripun sudah untung.
"Hemm, orang muda. Musuh-musuhmu tadi amat lihai, bagaimana engkau seorang diri, kalau tidak ada petolongan kami, akan mampu membasmi mereka"
Tanya Tiat-Pi Kim-Wan sambil tersenyum mengejek.
"Dengan kedua tanganku, kalau aku mau, aku dapat membasmi mereka tadi,"
Hawab Han Le sejujurnya, bukan dengan maksud untuk menyombongkan diri. Jawaban ini membuat Tiat-Pi Kim-Wan menjadi penasaran sekali.
"Orang muda, engkau boleh jadi memiliki ilmu slat yang tinggi, akan tetapi tidak mungkin dapat membasmi banyak orang pandai yang mengepung dan mengeroyokmu demikian ketat. Andaikata kami ini musuh-musuhmu dan kini mengepungmu, bagaimana mungkin engkau dapat membasmi kami?"
Tiat-Pi Kim-Wan memberi isyarat dan dua puluh orang pasukan telah mengepungnya, di antara mereka ada pula yang menodongkan bedil!
Dua orang anak buah Lee Song Kim itupun sudah menodongkan senjata maisng-masing dengan sikap mengeroyok Han Le.
Akan tetapi mereka tersenyum dan tahulah Han Le bahwa mereka memang hanya main-main atau ingin mengujinya saja.
Diapun tersenyum.
"Tidak benar sama sekali!"
Katanya dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat, tahu-tahu dia telah berada di belakang tubuh Tiat-Pi Kim-Wan, mencengkeram leher bajunya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan menekankan mulut pistol kecilnya di lambung pemimpin pasukan Tai Peng itu.
"Semua lempar senjata atau pimpinan kalian ini akan mati di ujung pistolku lebih dulu!"
Bentaknya.
Semua anak buah Tai Peng terbelalak.
Mereka tidak berani menyerang karena tubuh pemuda itu terlindung oleh tubuh Tiat-Pi Kim-Wan, sedangkan perwira tinggi kurus inipun terbelalak karena sama sekali tidak dapat mengikuti gerakan pemuda baju putih, bahkan tidak melihat bagaimana pemuda itu tahu-tahu telah mencabut sebuah pistol.
Pasukan itu masih ragu-ragu, dan tiba-tiba Han Le berkata lagi.
"Kalian masih belum yakin akan kemahiranku menembak pistol kecil ini? Lihat dua ekor cecak di atas itu."
Dan diapun cepat sekali menggerakkan tangan kanannya yang memegang pistol.
"Dar! Dar!"
Semua orang memandang dan mereka terkejut dan kagum bukan main melihat jatuhnya dua buah kepala cecak yang tubuhnya sudah hancur dilanggar pistol!
Han Le melepaskan cengkeramannya pada leher baju Tiat-Pi Kim-Wan, dan pistolnya telah lenyap lagi seperti disulap saja dan kini dia menghadapi dua orang tokoh Tai Peng itu dengan sikap tenang,sama sekali tidak memperlihatkan kebanggaan karena perbuatannya tadi bukan untuk membanggakan kepandaian melainkan untuk medatangkan kesan agar terpandang oleh orang-orang Tai Peng.
Dua orang itu sejenak terbelalak, kemudian bertepuk tangan memuji, diikuti oleh para anggauta pasukan mereka yang merasa kagum sekali.
"Bukan main! Orang muda perkasa, engkau bukan hanya pandai ilmu silat, bahkan ahli memainkan senjata api pula! Siapakah namamu, orang muda?"
"Namaku Gan Han Le..."
"Ah, benar! Tadi aku merasa sudah mengenalnya. Dia adalah murid keponakan dari raja kita!"
Terdengar teriakan seorang perajurit yang usianya sudah empat puluh tahun.
Perajurit ini pernah menjadi perajurit pengawal dan dia pernah melihat Han Le ketika dia bersama Ibunya tinggal di istana Ong Siu Coan.
Mendengar ini, terkejutlah dua orang perwira itu.
mereka mengenal akan kekerasan hati Raja Ong Siu Coan terhadap anak buah yang bersalah dan mereka tadi bersikap kurang hormat kepada murid keponakan raja itu!
"Benarkah...
engkau murid keponakan raja kami?"
Tanya Tiat-Pi Kim-Wan. Han Le mengangguk.
"Benar, mendiang Ayahku adalah Sute dari Sri Baginda Raja Ong Siu Coan."
Dua orang itu segera memberi hormat dengan sikap merendah, diikuti pula oleh anak buah mereka.
"Harap Gan-Taihiap sudi memaafkan kami yang tidak tahu dan tidak mengenal Taihiap. Marilah kami mengiringkan Taihiap untuk menghadap Sri Baginda di istana."
Han le mengangguk.
Memang dia berniat untuk menghadap supeknya yang kini telah menjadi raja itu.
Dahulu supeknya bersikap baik terhadap dia dan Ibunya, dan kini, selagi dia kehilangan pegangan, sebaiknya kalau dia menghambakan diri kepada raja Tai Peng itu.
Bukankah dengan membantu Tai Peng meruntuhkan kekuasaan penjajah Mancu, sama saja dengan garis tujuan yang pernah diperjuangkan mendiang Ayahnya, yaitu menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu?
Untuk apa dia membantu kedua Suhengnya yang kini menjadi pimpinan rakyat itu?
Mereka agaknya telah menyeleweng, melakukan persekutuan dengan Pemerintah Mancu!
Kaki tangan Lee Song Kim yang merupakan pasukan rahasia.
Walaupun Lee Song Kim dan kaki tangannya bekerja membantu pemerintah Tai Peng, bahkan Lee Song Kim kini menjadi kaki tangan Ong Siu Coan, Dan kekasih dari Kiki atau Tang Ki permaisuri dari raja Tai Peng itu, namun Lee Song Kim dan kaki tangannya merupakan kelompok rahasia tersendiri yang memiliki gerakan cepat, penuh rahasia, dan teratur sekali.
Oleh karena itu, walaupun mereka mengajak Han Le sebagai seorang tamu kehormatan pergi ke istana menghadap Sri Baginda Raja, namun diam-diam Tiat-Pi Kim-Wan dan Seng-jin Sin-touw tekah mengutus seorang kepercayaan untuk lebih dulu pulang ke Nan-king dan menyampaikan laporan kepada Lee Song Kim tentang peristiwa yang terjadi di kota Cu-sian di perbatasan itu, dan tentu saja tentang Gan Han Le yang kini ikut bersama pasukan untuk pergi mengadap Sri Baginda.
Mendengar laporan itu, Lee Song Kim langsung saja pergi menghadap Raja Ong Siu Coan, dan bersama permaisuri tang Ki mereka lalu membicarakan pemuda itu.
"Tidak disangka bahwa anak itu kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang lihai,"
Kata Ong Siu Coan.
"Sungguh menguntungkan sekali kalau dia mau menyumbangkan tenaga membantu kita. Dia harus diterima denga baik, disenangkan hatinya dan diberi kedudukan tinggi sesuai dengan kepandaiannya."
"Akan tetapi, walaupun pendapat Paduka itu benar sekali, namun hamba kira sebaiknya kalau Paduka lebih dahulu menguji sampai di mana tingkat kepandaiannya, dan apakah dia memang cukup lihai untuk diangkat menjadi pembantu Paduka yang boleh diandalkan,"
Kata Lee Song Kim, bagaimanapun juga sudah memandang pemuda itu sebagai calon saingannya.
Raja Ong Siu Coan tersenyum lebar, sepasang matanya yang mempunyai sinar aneh itu mencorong, wajahnya berseri menunjukkan bahwa hatinya bergembira saat itu.
"Tentu saja dia pandai sekarang. Anak itu memang berbakat, dan lupakah engkau kepada si muka buruk yang mengaku mata-mata orang kulit putih dan yang telah menukar Han Le dan Ibunya dengan dua ratus pucuk bedil itu? Ha, dia itu ternyata telah merampas senjata-senjata itu dari mata-mata yang sesungguhnya, dan dia itu lihai sekali. Agaknya Han Le menerima ilmu silat dari orang rahasia itu."
"Betapapun juga, kita harus berhati-hati,"
Kata Tang Ki.
"Kita ingat siapa orang tua anak itu. Ayahnya adalah seorang pemberontak yang gigih, dan siapa tahu diapun condong untuk bersekutu dengan para pemberontak yang dipimpin oleh Li Hong Cang dan Ceng Kok Han itu. Dan ingat pula siapa Ibunya. Seorang wanita kulit putih. Tidak akan mengherankan kalau diam-diam kini dipergunakan oleh orang kulit putih untuk mengamat-amati kita, Raja itu mengangguk-angguk. Dia merasa girang mendengar usul-usul dari permaisurinya dan tangan kanannya itu, dan makin yakinlah hatinya bahwa mereka berdua inilah sesungguhnya pembantu-pembantunya yangpalig setia dan boleh diandalkan. Ong Siu Coan bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu apa yang telah terjadi antara kedua orang ini, apa yang mereka lakukan di belakang punggungnya. Biarlah, pikirnya. Dia tidak membutuhkan lagi Tang Ki sebgai isteri atau kekasih, untuk itu dia dapat meguasai setiap orang wanita muda cantik yang disukainya. Dia membutuhkan Tang Ki sebagai sekutu, sebagai pembantu dan dia melihat bahwa Tang Ki amat berguna untuk mengikat Lee Song Kim! Biarlah mereka itu berjina sesuka hati mereka, sepuas hati mereka, karena hal ini merupakan kelemahan mereka yang menjadi senjata baginya untuk menundukkan mereka berdua! "Selama ada kalian berdua membantuku, hatiku akan selalu tenang. Sebaiknya kalian berdua rundingkan bagaimana untuk menghadapinya, Lee-Ciangkun, engkau bertugas untuk menguji kepandaian Gan Han Le itu, dan kalian berdua atur saja siasat untuk menguji kesetiaannya. Nah, tinggalkanlah aku sendiri, aku hendak bersembahyang dan menghadap Bapa di Surga untuk memohon petunjuk-Nya."
Tang Ki dan Lee Song Kim saling lirik, kemudian mengundurkan diri karena raja itu selalu mempergunakan alasan yang sama kalau hendak menyendiri, dan untuk melakukan apa saja di luar tahu permaisurinya atau orang lain, kecuali yang dikehendakinya.
Ketika mereka keluar dari dalam ruangan itu, Lee Song Kim berbisik.
"Apakah dia tahu akan hubungan antara kita"
Tang Ki tersenyum.
"Kau kira dia bodoh? Tentu saja dia tahu..."
"Aihhh...!"
Wajak Song Kim berubah agak pucat. Tang Ki menggandeng tangannya dan menariknya memasuki sebuah di antara kamanya pribadi. setibanya di dalam, ia menutup daun pintu dan merangkul leher kekasihnya itu.
"Jangan khawatir! Dia sudah tidak membutuhkan aku sebagai isteri atau kekasih lagi. Masa itu sudah lama berlalu. Dia hanya membutuhkan aku sebagai sekutu dan pembantu yang setia."
Mereka berdua tenggelam ke dalam kemesraan di dalam kamar itu, mencurahkan kasih sayang masing-masing menurutkan gairah nafsu mereka yang tak kunjung kering dan puas itu.
Setelah itu, mereka lalu duduk di tepi pembaringan, seperti dua orang sahabat yang sedang berbincang-bincang, membicarakan tentang Han Le dan mengatur siasat untuk menghadapi pemuda itu.
Begitulah, ketika Gan Han Le dibawa menghadap raja oleh dua orang perwira pembantu Lee Song Kim itu, dia diterima oleh Raja Ong Siu Coan dengan gembira, namun tidak terlalu lama.
"Ah, engkau tentu Gan Han Le, putera Sheila dan mendiang Gan-Sute itu!"
Kata Ong Siu Coan sambil tersenyum memandang pemuda yang berlutut di depannya itu.
"Selama ini, engkau telah menuntut ilmu silat, kepada siapa saja engkau berguru, Han Le?"
Han Le tidak ingin menyebut-nyebut nama gurunya yang kini amat dibencinya itu, dan pula, gurunya ternyata adalah Koan Jit, Suheng dari raja ini sendiri yang tadinya sudah disangka mati, tentu kalau dia mengaku, hal itu akan mengejutkan raja dan membuat dia repot saja.
"Harap Paduka sudi mengampuni hamba yang selama ini hamba tidak ada kesempatan untuk datang menghadap. Selama ini hamba merantau dan hamba belajar silat di mana-mana, dari siapa saja tanpa guru tertentu. Ong Siu Coan mengerutkan alisnya. Dia seorang yang cerdik dan diapun tahu bahwa orang muda ini hendak menyembunyikan nama gurunya. Tentu ada alasannya yang kuat, maka diapun tidak mau mendesak.
"Bagaimana dengan Ibumu? Di mana Ibumu sekarang?"
Ditanya tentang Ibunya, Han Le menjadi semakin berduka, akan tetapi ditahannya agar dia tidak terbayang pada wajahnya.
"Ibu... Ibu telah meninggal dunia..."
Suaranya mengandung haru dan kesedihan, sedih karena dia harus membohong dan mengatakan bahwa Ibunya telah mati, atau lebih baik mati saja daripada hidup menjadi isteri dari musuh besar yang membunuh Ayah kandungnya!
Keharuan dan kedukan Han Le itu diterima sebagai pengakuan yang sebenarnya oleh Ong Siu Coan.
"Ah, engkau anak yang malang,"
Katanya.
"Jangan berduka, Tuhan mencinta orang-orang yang malang."
"Terima kasih, Sri Baginda."
"Gan Han Le, menurut laporan orang-orangku, engkau bertemu dengan mereka ketika engkau berkelahi melawan orang-orang yang memusuhi Tai Peng. Dan engkau sekarang datang menghadap padaku, sesungguhnya, apa yang kau kehendaki?"
"Kalau Paduka sudi menerima, hamba ingin mengabdi kepada Paduka."
Dia berhenti sejenak lalu cepat menyambung kembali.
"Hamba ingin seperti mendiang Ayah, ingin memebela tanah air dan bangsa, mengusir penjajah Mancu!"
"Bagus!"
Ong Siu Coan tertawa girang.
"Engkau tepat sekali datang kepadaku kalau ingin menjadi seorang patriot. Mari kita hancurkan penjajah Mancu! Dan engkau akan kuangkat menjadi panglima sesuai dengan kepandaianmu. Untuk mengukur sampai di mana tingkat kepandaianmu, engkau harus menghadap Lee-Ciangkun yang bertugas untuk menguji para perwira baru. Bawa dia menghadap Lee-Ciangkun!"
Kata raja itu kepada Tiat-Pi Kim-Wan dan Seng-jin Sin-touw yang mengantar Han Le menghadap.
Han Le menghaturkan terima kasih dan pergi bersama dua orang itu ke tempat tinggal Lee Song Kim yang berada di bangunan sayap kiri.
Dia disambut dalam sebuah ruangan yang luas di mana dia melihat seorang wanita berusia empat puluhan tahun yang masih nampak cantik jelita, dengan tahi lalat di pipi, pakaian yang amat mewah dan indah walaupun nampak ringkas dan agaknya ia merupakan orang yang paling dihormati di situ.
Kursinya paling tinggi, dan belasan orang yang berpakaian panglima dan perwira duduk di kanan kiri dan belakangnya, nampak bersikap hormat terhadap wanita itu, dan terhadap seorang panglima yang duduk di sebelah kiri wanita itu.
Sekali pandang saja Han Le mengenal mereka.
Wanita itu adalah Panglima Lee Song Kim, seorang panglima baru yang datang belum lama setelah dia dan Ibunya berada di istana itu.
kiranya panglima itu kini telah menjadi seorang panglima besar yang tentu tinggi kedudukannya, kalau tidak, tidak duduk sejajar dengan Permaisuri.
Karena di situ terdapat Sang Permaisuri, melihat betapa dua orang pengantarnya memberi hormat sambil berlutut, diapun memjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Tang Ki sebagai seorang permaisuri.
Sepasang mata wanita ini berkilat.
Ia membenci Ibu anak ini karena Ibu itu terlalu cantik sehingga menjatuhkan hati suaminya, bahkan juga menjatuhkan hati Lee Song Kim yang kini menjadi kekasihnya.
Akan tetapi, ia tidak membenci anak ini.
Seorang pemuda yang memiliki ketampanan yang aneh, dengan sepasang matanya yang kebiruan dan tubuhnya yang tinggi besar dan tegap gagah.
Apalagi kalau pemuda ini memiliki kepandaian tinggi dan dapat membantu Tai Peng, tentu saja ia tidak membencinya.
Ia tahu bahwa Han Le memberi hormat dengan berlutut untuk menghormatinya, maka hatinya merasa senang.
"Bangkitlah, orang muda dan duduklah di kursi yang kosong itu. Engkau berada di antara tokoh-tokoh pimpinan pasukan, tidak perlu terlalu banyak penghormatan seperti di dalam istana."
Setelah menghaturkan terima kasih, Han Le lalu duduk, ikut menghadapi sebuah meja besar dan dia berhadapan dengan Lee Song Kim dan Tang Ki.
Dengan pandang matanya Han Le menyapu mereka yang hadir dan ternyata ada tiga belas orang berpakaian perwira tinggi duduk di situ, jadi ada lima belas orang dengan Lee Song Kim dan Permaisuri.
Dan ruangan itu dijaga ketat oleh kepungan pengawal, baik yang nampak terang-terangan maupun yang bersembunyi.
Yang terakhir sekali, pandang mata Han Le bertemu dengan wajah Lee Song Kim dan mereka saling pandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.
Seorang pria berusia empat puluh lima tahun yang memiliki sepasang mata mencorong tajam dan membayangkan kecerdikan dan kelicikan, pikir Han Le.
Dia harus berhati-hati terhadap orang seperti ini.
"Gan Han Le, kami mendapat tugas dari Sri Baginda untuk mengenal dirimu lebih baik,"
Kata Lee Song Kim dengan suara tegas dan pandang mata penuh selidik.
"Oleh karena itu, harap semua pertanyaan akan kau jawab dengan sejujurnya. Engkau datang untuk menghambakan diri kepada Kerajaan Sorga dari pasukan besar Tai Peng, benarkah?"
Han Le mengangguk, tanpa menjawab.
"Apa yang mendorongmu bekerja membantu kami di sini?"
"Saya ingin membantu gerakan Tai Peng yang hendak menghancurkan kekuasaan pemerintah penjajah Mancu, dan membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah,"
Kata Han Le dengan jujur, tanpa ragu sedikitpun.
"Hemm, tahukah engkau siapa Ayahmu, orang macam apa dia?"
Tanya pula Lee Song Kim. pertanyaan-pertanyaan ini memang sudah diatur sebelumnya, dirundingkan dengan Tang Ki.
"Mendiang Ayah adalah seorang pahlawan, seorang pendekar dan patriot sejati!"
Jawab Han Le dengan suara lantang.
"Benar sekali, siapa yang tidak pernah mendengar nama pendekar dan pahlawan Gan Seng Bu semenjak Perang Madat? Kalau engkau ingin melanjutkan perjuangan mendiang Ayahmu, mengapa engkau tidak mengikuti gerakan mereka yang enamakan diri pejuang takyat, yang dipimpin oleh Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, dan diikuti pula oeh banyak pendekar?"
Pertanyaan ini merupakan pancingan yang berbahaya sekali.
Kalau saja Han Le tidak merasa begitu membenci gurunya otomatis juga membenci kedua orang Suhengnya itu, dan kalau saja dia disangka wakil pihak kulit putih sehingga dia melihat bahwa kelompok pejuang rakyat itu kini bersekongkol dengan pemerintah Mancu dan orang kulit putih, tentu dia akan terjebak oleh pertanyaan Lee Song Kim itu.
"Tidak!"
Jawabnya tegas.
"Kelompok pejuang itu telah menyeleweng, bahkan kini bekerja sama dengan penjajah Mancu, dan dengan orang kulit putih. Saya lebih setuju dengan perjuangan Tai Peng yang jelas menentang penjajah Mancu."
Lee Song Kim dan Tang Ki saling lirik, nampaknya puas dengan jawaban itu. Lee Song Kim malah tertawa.
"Ha-ha-ha, engkau memang benar sekali, Gan Han Le. Ceng Kok Han dan Li Hong Cang itu sesungguhnya hanyalah pengkhianat-pengkhianat bangsa yang menjadi anjing penjilat bangsa Mancu. mereka bergerak membantu penjajah untuk menentang kami, dengan dalih perjuangan untuk membohongi dan memikat rakyat. Akan tetapi, Han Le, engkau tentu ingat bahwa Ibumu adalah seorang wanita berkulit putih..."
"Saya harap Ciangkun tidak bicara tentang Ibuku yang sudah... sudah meninggal...". kata Han Le tak senang.
"Maaf, bukan maksudku untuk mengingatkan engkau kepada Ibumu yang telah tiada, hanya... karena engkau berdarah orang barat, bahkan melihat warna matamu juga mudah dilihat bahwa di dalam tubuhmu ada darah orang kulit putih, apakah engkau tidak mempunyai pikiran untuk mengabdi kepada pasukan kulit putih yang kini berkuasa di seluruh bandar pelabuhan?"
Pertanyaan yang memikat dan juga menjemukan hati Han Le. Dia paling tidak suka diingatkan bahwa matanya biru, bahwa ada darah campuran mengalir di tubuhnya.
"Saya terlahir di atas tanah ini, minum air dari tanah ini, biarpun Ibuku sorang wanita kulit putih, namun beliau juga tidak suka kepada penjajah Mancu. Tanah airku adalah di sini, dan saya bersedia membelanya dengan taruhan nyawa."
Tang Ki mengangguk-angguk.
"Akan tetapi Gan Han Le, ketahuilah bahwa semua tokoh pasukan Tai Peng, para panglima yang kini berada di sini, semua memiliki kelebihan dalam kepandaian khas mereka masing-masing. Untuk menjadi seorang perwira yang memimpin ribuan orang tentara, dia harus memiliki ilmu kepandaian tinggi, baik dalam ilmu silat ataupun dalam ilmu perang. Dia harus gagah perkasa dan berani mati. bersediakah engkau untuk diuji kepandaianmu dalam suatu pertandingan? Akan tetapi ingat, pertandingan silat dapat saja berakibat luka parah atau kematian!"
Han Le sudah menduga bahwa tentu dia akan diuji kalau hendak mengabdi kepada seorang raja.
"Hamba bersedia,"
Jawabnya singkat. Kini Lee Song Kim yang bicara.
"Gan Han Le, di antara perwira tinggi, ada tiga tingkat yang biasanya diuji di sini, dan di sini pula diputuskan tingkat mana yang dapat menerimanya. Tingkat ketiga diuji menandingi seorang perwira tinggi dan harus dapat bertahan sampai lima puluh jurus. Ujian tingkat kedua dihadapkan kepada dua orang perwira tinggi dan dia harus dapat bertahan sampai lima puluh jurus pula, sedangkan untuk tingkat pertama, dia harus bertahan selama lima puluh jurus menghadapi pengeroyokan tiga orang perwira tinggi. Tidak tahu tingkat mana yang akan kau tempuh?"
Kalau memang akan menjadi perwira, harus yang tingkat pertama, pikir Han Le.
Pula, di sini dahulu Ibunya hanya menjadi seorang pekerja di dapur.
bagaimanapun juga, dia harus mengangkat nama Ibunya, dan Ayahnya pula!
Dan agaknya tidak percuma selama ini dia digembleng mati-matian oleh gurunya, juga Ayah tirinya, juga musuh besarnya!
"Saya ingin mengikuti ujian untuk tingkat pertama!"
Jawabnya dengan suara tegas.
Tiga belas orang perwira tinggi itu, yang rata-rata memiliki ilmu silat lebih tinggi daripada para pembantu Lee Song Kim, saling pandang dan tersenyum mengejek.
Orang muda itu terlalu sombong, pikir mereka.
melawan seorang di antara mereka saja mana mungkin bisa menang?
Apalagi harus dkeroyok tiga!
Di antara mereka semua, mungkin hanya Sang Raja, Sang Permaisuri, dan Lee-Ciangkun saja yang akan mampu menang menghadapi pengeroyokan tiga orang di antara mereka!
Juga Lee Song Kim dan Tang Ki terkejut mendengar keberanian Han Le itu.
Mereka sudah mendengar bahwa pemuda ini memang lihai, bahkan lihai memainkan pistol, tetapi menghadapi pengeroyokan tiga orang perwira tinggi?
Sukar untuk dapat menang!
Akan tetapi Lee Song Kim sudah berkata kepada tiga orang di antara tiga belas perwira tinggi itu.
"Kok-Ciangkun, Song-Ciangkun, dan Bhe-Ciangkun, harap kalian bertiga menguji Gan Han Le ini selama lima puluh jurus!"
Tiga orang perwira tinggi itu bangkit dan senyum mengejek membayang di wajah mereka.
Perwira she Kok bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan kepala botak, kedua lengannya panjang dan besar, dia kelihatan seperti seekor biruang ketika bangkit berdiri.
Song-Ciangkun bertubuh tinggi kurus, mukanya kuning, kumisnya hanya beberapa lembar berjuntai ke kanan kiri mulutnya, matanya sipit dan mukanya meruncing model muka tikus, mulutnya tersenyum mengejek buruk sekali.
Perwira ketiga, Bhe-Ciangkun, bertubuh tegap dengan lengan dan leher dilingkari otot-otot yang besar, kelihatan kokoh kuat seperti batu karang.
"Orang muda, marilah kita main-main sebentar,"
Kata Kok-Ciangkun dan mendengar ini, Han Le bangkit berdiri dan mengikuti mereka ke tengah ruangan.
Para perwira yang lain pindah ke kursi lain untuk menonton pertandingan ujian itu.
Tang Ki dan Lee Song Kim, sebagai dua orang yang berilmu tinggi, keduanya telah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dari Hai-Tok, menonton denga mata bersinar-sinar penuh perhatian.
Ingin mereka mengenal ilmu silat yang akan diperlihatkan oleh pemuda ini.
dari ilmu silatnya, mereka berdua tentu akan dapat mengetahui diapa gerangan guru pemuda ini, atau dari perguruan dan cabang persilatan mana dia memperoleh kepandaiannya.
Kini Han Le sudah berdiri di tengah dan tiga orang pengujinya itu berdiri di depan, dan kanan kiri agak ke belakang, membentuk kepungan segi tiga.
Tiba-tiba Lee Song Kim teringat akan sesuatu dan dia berkata.
"Gan Han Le, dalam pertandingan ini boleh dipergunakan senjata, akan tetapi sama sekali tidak boleh mempergunakan senjata api!"
Han Le tersenyum memandang kepada tiga orang yang telah mengepungnya dan diapun menjawab.
"Pistol saya tidak akan saya pergunakan selama mereka inipun tidak mempergunakan senjata rahasia, Ciangkun."
Kepada tiga orang pembantunya, Lee Song Kim memperingatkan.
"Sam-wi (kalian bertiga) harap jangan mempergunakan am-gi (senjata gelap), karena dia memiliki pistol yang tak dapat dilawan oleh senjata gelap apapun. Jangan sam-wi mencari kematian konyol."
Tiga orang perwira itu tersenyum, bahkan Kok-Ciangkun tertawa.
"Ha-ha-ha, menghadapi seorang muda yang pantas menjadi anak atau murid kami, kami sudah maju bertiga, bagaimana kami sampai hati menggunakan senjata gelap? Orang muda, bersiaplah dan jaga serangan kami!"
Mula-mula Bhe-Ciangkun yang menyerang dari samping kiri.
Pukulan perwira yang tubuhnya kokoh kuat ini cepat dan terutama sekali kuat bukan main.
Terdengar bunyi berkerotokan dari otot-ototnya ketika lengannya meluncur dengan tangan membentuk cakar, mencengkeram ke arah pundak Han Le dan serangan ini mendatangkan angin yang mengeluarkan suara mengiuk.
Tahulah Han Le bahwa dia menghadapi sorang ahli tenaga luar, tenaga otot yang terlatih baik dan dia dapat menduga betapa jari-jari tangan itu dapat menjadi keras seperti baja!
Maka dengan lincah dan dengan gerakan tubuh yang ringan dia melakukan langkah pat-kwa seperti yang dipelajarinya dari Bu Beng Kwi dan dengan mudahnya dia menghindarkan diri dari cengkeraman itu, tubuhnya berputar ke kanan dan kini dia disambut oleh jotosan dari depan yang dilakukan oleh Song-Ciangkun.
Sungguh berbeda sekali serangan Song-Ciangkun yang tinggi kurus ini.
Tangannya juga terbuka, akan tetapi tidak mencengkeram melainkan menampar, akan tetapi walaupun nampaknya saja lengan kecil panjang itu bergerak perlahan dan tangan itupun melakukan tamparan yang tidak keras ke arah kepalanya, namun Han Le terkejut karena dia melihat betapa telapak tangan orang tinggi kurus ini mengeluarkan warna menghijau, tanda bahwa perwira tinggi yang seorang ini menguasai ilmu pukulan beracun yang sudah terkandung di dalam telapak tangannya!
Diapun tidak berani sembrono menerima atau menangkis tamparan itu, melainkan membuat langkah Pat-kwa-pouw dan diapun lolos dari tamparan ini dengan mudah.
"Sambutlah...!"
Tiba-tiba menyambar angin keras dan kini Kok-Ciangkun sudah menyambut dengan totokan yang keras dilakukan dengan kedua tangan susul-menyusul.
Kok-Ciangkun tadi melihat betapa pemuda itu telah berhasil menghindar dengan mudah dari serangan kedua orang rekannya, berarti telah melewati dua jurus, Maka diapun maklum bahwa pemuda itu memang lihai, dan diapun segera maju menerjang dengan totokan-totokan bertubi.
Dalam sejurus saja dia telah menyerang ke arah lima jalan darah terpenting di bagian depan tubuh Han Le!
Pemuda itu masih melanjutkan langkah pat-kwa, dan dengan lincahnya diapun berhasil mnghindarkan diri dari totokan-totokan itu.
Akan tetapi, kini Song-Ciangkun dan Bhe-Ciangkun menyambutnya dari dua jurusan dengan serangan yang lebih berbahaya lagi.
Song-Ciangkun melakukan tendangan ke arah lutut Han Le yang dihindarkan oleh Han Le degan loncatan, akan tetapi Bhe-Ciangkun yang memiliki lengan keras seperti baja itu telah menyambutnya dari belakang dengan pukulan beruntun ke arah punggung dan lambung.
Terpaksa Han Le kini menggerakkan tangan menangkis.
"Duk! Dukk!"
Dua pasang lengan bertemu dan akibatnya, tubuh Han Le terpental saking kuatnya tenaga lawan, akan tetapi tubuh Bhe-Ciangkun tergetar hebat oleh tenaga sinkang yang terkandung dalam sepasang lengan Han Le.
Perwira ini seperti menggigil, kemudian menggoyang tubuhnya memulihkan keadaan tubuhnya, lalu menyerbu lagi lebih hati-hati.
Kok-Ciangkun si perut gendut sudah akan menyerang lagi dengan totokannya yang berbahaya.
Orang she Kok ini memang terkenal sebagai ahli totok yang lihai.
Setiap totokannya dengan cepat dan tepatnya mengarah jalan darah yang melumpuhkan.
Namun, dengan kelincahan gerakannya, Han Le selalu dapat mengelak atau menangkis biarpun totokan-totokan dari Kok-Ciangkun itu masih dibantu oleh cengkeraman Bhe-Ciangkun dan tamparan-tamparan Song-Ciangkun.
Dikeroyok tiga orang perwira tinggi yang memiliki tiga macam serangan yang berbeda-beda gayanya itu, Han Le tidak menjadi gugup.
Dia mengandalkan kelincahan gerakannya, kecepatan dan juga ketenangannya sehingga dia selalu dapat menghindarkan dirinya.
Sampai tiga puluh jurus dia hanya membela diri, kemudian mulailah dia mengeluarkan seruan panjang dan tubuhnya bergerak lebih cepat lagi, kini dia mulai membalas!
Dan begitu dia membalas serangan tiga orang pengeroyoknya, mereka menjadi repot!
Tang Ki memandang heran dan kagum, berbisik kepada Lee Song Kim.
"Gerakannya mirip gerakan suamiku!"
Lee Song Kim mengangguk-angguk.
"Tentu saja, bukankah Ayahnya masih Sute dari suamimu?"
"Akan tetapi Ayahnya telah mati ketika dia dalam kandungan!"
Bisik pula Tang Ki.
Song Kim teringat akan hal ini dan diapun memandang heran.
Kalau Ayah anak itu telah mati ketika dia berada dalam kandungan, jelas bukan Ayah itu yang mengajarkan ilmu silatnya.
lalu siapa?
Satu-satunya saudara seperguruan yang tinggal hanyalah Sri Baginda Raja!
Thian-tok sendiri, guru Gan Seng Bu dan Ong Siu Coan, telah lama meninggal dunia.
Lalu dari mana anak itu belajar ilmu silat aliran itu?
Agaknya, satu-satunya orang yang dapat mengajarkan ilmu-ilmu itu hanyalah Sri Baginda.
Hal ini tidaklah mengherankan kalau diingat bahwa Han Le memperoleh semua ilmu silatnya dari Bu Beng Kwi.
Adapun Bu Beng Kwi adalah Koan Jit, murid pertama dari mendiang Thian-tok yang tentu saja memiliki dasar ilmu aliran dari datuk persilatan ini.
Hanya bedanya, setelah Koan Jit sadar dari kesesatannya semenjak menjadi murid Siauw-Bin-Hud, Dan dia berganti nama menjadi, semua ilmu silatnya telah berubah sifatnya, tidak lagi mengandung kelicikan dan kekejaman seperti aslinya.
Bu Beng Kwi telah memperhalus ilmu-ilmu silatnya sehingga biarpun dasarnya masih saja merupakan ilmu silat yang diajarkan oleh Thian-tok, namun memiliki perkembangan lain dan sifatnya lebih halus dan indah.
Karana dasarnya masih sama, maka tentu saja Tang Ki yang sudah mengenal benar ilmu silat suaminya, segera melihat persamaan itu.
Tiga orang pengeroyok itu kini menjadi kewalahan dan biarpun mereka mengeroyok, namun desakan-desakan Han Le yang membagi-bagi serangan membuat mereka lebih banyak menangkis daripada menyerang.
Han Le menggunakan akal yang membuat dia terlepas dari kepungan ketat.
Begitu ada yang menyerang, dia tidak menanti sampai dua orang yang lain juga ikut menyerang, Melainkan dia membuat gerakan cepat menyambut penyerang itu dan meloncat ke belakang si penyerang yang terpaksa membalikkan tubuh dan dengan sendirinya, dua orang kawannya juga berada di belakangnya dan Han Le mendesak satu orang saja tanpa yang dua orang lagi dapat membantu.
Kalau kemudian mereka mengejar dan datang membantu, dia melompat ke belakang pengeroyok lain dan mendesak orang ini dan dengan demikian, dia tidak pernah dikurung dan tidak pernah harus menghadapi tiga orang pengeroyok sekaligus.
Dia berloncatan dari satu ke lain orang, mendesaknya dan dengan cara ini, tiga orang perwira tinggi itu menjadi repot sekali dan setelah lewat lima puluh jurus, mereka bertiga sudah mandi keringat dan baju di bagian dada masing-masing telah dapat terobek oleh jari tangan Han Le.
"Cukup lima puluh jurus!"
Teriak Tang Ki yang menghitung dan pertandingan itu memang sudah ada enam puluh jurus lebih.
Para perajurit pengawal yang berjaga di luar, ikut pula menonton dan mereka itu terheran-heran dan kagum bukan main melihat betapa orang muda itu mampu menandingi pengeroyokan tiga orang perwira tinggi!
Dan tiga orang perwira inipun, melihat terobeknya baju di dada, melihat pula betapa setelah pertandingan dihentikan mereka mandi keringat dan napas mereka terengah-engah sedangkan pemuda itu masih nampak enak-enak saja, maklum bahwa mereka bertemu dengan lawan yang amat angguh!
"Gan Han Le, engkau lulus dan kami akan memilihkan kedudukan yang tepat untukmu.
Yang jelas mulai saat ini engkau adalah seorang panglima kami!"
Kata Tang Ki dengan suara gembira memeperoleh seorang pembantu yang demikian lihainya.
"Kionghi (selamat), Gan-Ciangkun!"
Kata Lee Song Kim langsung saja menyebut Ciangkun kepada Han Le.
"Kalau boleh aku bertanya, dari siapakah engkau mempelajari ilmu-ilmu silat yang tinggi itu? Apakah pernah engkau dilatih secara diam-diam oleh Sri Baginda sendiri?"
Han Le terkejut mendengar pertanyaan ini walaupun dia harus berpikir keras menghadapi pertanyaan yang tiba-tiba itu.
Dia tahu bahwa bagaimanapun juga, ilmu silatnya yang dia dapatkan dari Bu Beng Kwi, sudah pasti mirip atau banyak persamaan, bahkan sama dasarnya dengan ilmu silat yang dimiliki oleh Sri Baginda Ong Siu Coan.
Ayahnya sendiri telah meninggal dunia, juga Koan Jit dikabarkan telah tewas, jadi dalam perguruan itu yang tinggal hanya Ong Siu Coan.
Dari siapa lagi dia dapat mempelajari ilmu silat itu kalau bukan dari Sri Baginda?
Dia tidak mau membuka rahasia Koan Jit, musuh besar yang menjadi gurunya itu.
Dia cerdik dan dapat mencari jawaban tepat dalam waktu sebentar saja.
"Saya tidak pernah dilatih oleh yang mulia Sri Baginda. Ilmu silat yang saya miliki adalah peninggalan mendiang Ayah kandung saya. Ibu telah menyimpan kitab-kitab pelajaran yang ditulis Ayah, dan setelah saya besar, saya mempelajari kitab-kitab itu di bawah petunjuk guru-guru silat yang saya hubungi. Saya belajar sendiri dengan tekun, Ciangkun!"
Lee Song Kim mengerutkan alisnya, tidak puas dengan jawaban itu.
belajar sendiri dari kitab, mana mungkin dapat menguasai sedemikian baiknya?
pula, ilmu silat dari Thian-tok, mana mungkin dapat dimengerti secara baik oleh segala guru silat biasa saja?
Akan tetapi, diapun tidak mendesak karena Tang Ki sudah bicara lagi.
"Ciangkun, untuk menjadi seorang perwira tinggi seorang panglima yang baik dan dapat dipercaya, bukan hanya bermodalkan ilmu kepandaian silat tinggi. Yang terutama bagi kami adalah kesetiaan. Oleh karena itu, sebelum engkau membuktikan kesetiaanmu, tentu saja kami belum dapat menentukan kedudukan apa yang akan kami serahkan kepadamu. Akan tetapi mengingat bahwa engkau masih murid keponakan sendiri dari yang mulia Sri Baginda, hal itu sudah banyak menjamin. Karena itu, kami memberi tugas kepadamu untuk melakukan pembersihan tehadap para mata-mata pihak musuh, baik mata-mata Kerajaan Mancu, mata-mata para pemberontak yang menentang kami, dan mata-mata pihak kulit putih, yang beraksi di sepanjang perbatasan di utara. Bagian itu perlu dibersihkan untuk memperlancar gerakan kita menyerang ke utara. Bagaimana, sanggupkah engkau? Kami akan memberi pasukan secukupnya untuk keperluan itu."
"Saya sanggup!"
Kata Han Le.
"Hanya hamba minta agar pasukan itu dipilihkan pasukan istimewa, tidak perlu terlampau banyak, dan mengenakan pakaian preman."
Demikianlah, mulai hari tu, Gan Han Le diterima sebagai seorang panglima muda oleh Raja Ong Siu Coan, bekerja di bawah Tang Ki dan Lee Song Kim, dan diberi tugas untuk membersihkan mata-mata musuh yang bergerak di bawah tanah di daerah perbatasan utara.
Semenjak Han Le melakukan tugas ini, banyak mata-mata yang dapat dibunuh atau ditangkap, dan dalam waktu beberapa bulan saja daeah perbatasan itu menjadi bersih.
Nama Gan Han Le dikenal oleh kalangan mata-mata, baik dari Kerajaan Mancu, dari para pejuang rakyat, maupun dari pasukan kulit putih dan dia ditakuti.
Tentu saja hal ini amat menggirangkan hati Tang Ki dan Lee Song Kim, karena selain mereka memeproleh seorang pembantu yang cakap, juga Raja Ong Siu Coan menjadi girang dan puas.
Akan tetapi dalam melaksanakan tugasnya ini, jelas sikap keras tanpa ampun terhadap mata-mata Kerajaan Mancu, akan tetapi dia lunak terhadap mata-mata orang kulit putih atau mata-mata para pejuang rakyat.
Bahkan kalau ada mata-mata pejuang rakyat yang tertawan, dia membujuk agar mereka itu sadar dan maklum bahwa Tai Peng adalah rekan seperjuangan untuk menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu, bukan musuh atau saingan.
Dan dia agak lunak terhadap mata-mata orang kulit putih mengingat bahwa Ibunya adalah bangsa kulit putih pula.
Yang menjadi sasaran utamanya adalah Kerajaan Mancu.
Banyak orang, di antara mereka bahwa orang-orang bangsa Mancu sndiri, apalagi orang-orang Han yang merasa terjajah, merasa muak dengan kehidupan yang diisi dengan cara-cara yang tak tahu malu oleh Ibu Suri Cu Si.
tak dapat disangkal bahwa ia adalah seorang wanita yang penuh ambisi, keras hati, cerdik, berani dan pandai.
Untuk mempertahankan kedududannya sebagai orang nomor satu yang mewakili Kaisar bocah, puteranya sendiri, ia tidak segan-segan menyingkirkan satu demi satu lawannya secara kejam dan tak mengenal ampun.
Kedudukannya menonjol dan semua pejabat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, tahu belaka bahwa bagi mereka, tidak ada pilihan lain kecuali mentaati segala perintah yang dikeluarkan oleh Ibu Suri Cu Si sebagai wakil Kaisar.
Tidak taat berarti dipecat atau bahkan mungkin saja dihukum berat.
Ada kabar yang bocor dari istana bahwa karena dalam suatu permainan catur, seorang abdi berani mengalahkan Ibu Suri Cu Si, langsung saja dia dihukum penggal kepala!
Dosanya adalah meremehkan, merendahkan dan menghina Ibu Suri Cu Si!
Dan ini sama pula dengan menghina Kaisar karena Ibu Suri Cu Si adalah Ibu kandung Kaisar!
Akan tetapi yang membuat Yu Bwee merasa muak dan tidak betah lagi tinggal di kotaraja, apalagi di dalam istana, adalah melihat cara Ibu Suri Cu Si mengejar kesenangan, memuaskan nafsu berahinya!
Melihat betapa wanita ini tidak malu-malu untuk berjina dengan seorang thaikam, kemudian berhubungan gelap dengan pamannya sendiri, Yu Bwee tidak betah lagi dan iapun meninggalkan kotaraja dan pulang ke rumah orang tuanya.
Ayah Ibunya menyambut pulangnya sang puteri dengan gembira dan mendengarkan semua cerita dari pengalaman Yu Bwee.
Ketika Yu Bwee menceritakan tentang peristiwa di dalam perjalanan melarikan diri keluarga Kaisar ke Yehol, dan pertemuannya dengan seorang pemuda yang bernama Gan Han Le.
kedua orang tuanya saling pandang dan mengerutkan alisnya.
dari ucapan Yu Bwee, Ayah Ibunya ini dapat menduga bahwa puteri mereka tertarik kepada pemuda itu.
"Hemmm, engkau belum tahu benar akan keadaan pemuda itu, bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa dia seorang pendekar perkasa yang lihai sekali?"tanya Ceng Hiang kepada puterinya.
"Ah, tentu saja aku tahu bahwa dia lihai bukan main, Ibu. Ketika rombongan keluarga Kaisar dihadang perampok, dialah yang menyelamatkan keluarga itu dan aku hanya membantu setelah dia hampir selesai membasmi perampok. Kemudian dia diminta oleh Ibu Suri Cu Si untuk mengawal rombongan."
"Dan sampai sekarang dia masih mengabdi kepada Ibu Suri?"
Tanya Ceng Hiang yang sudah mengenal benar watak para pendekar.
Kalau benar pemuda itu seorang pendekar, tentu dia tidak sudi mengabdi kepada Ibu Suri Cu Si yang akhir-akhir ini ia dengar pula berita busuk tentang dirinya.
"Tidak, dia terkena fitnah, Ibu, dan hampir saja aku bentrok dengan dia."
"Hemm, apakah yang telah terjadi, Yu Bwee?"
Tanya Yu Kiang, Ayahnya.
Dengan panjang lebar Yu Bwee lalu menceritakan betapa pada suatu hari, ia diutus oleh Ibu Suri Cu Si untuk mengejar dan menangkap atau membunuh Gan Han Le karena pemuda itu berani kurang ajar terhadap Ibu Suri.
Tentu saja ia tidak berani membantah dan iapun lalu melakukan pengejaran sampai akhirnya ia dapat berhadapan dengan pemuda itu.
"Dan engkau tentu berhasil menangkap pemuda yang kurang aj ar itu, bukan?"
Tanya Ayahnya.
"Tidak, Ayah. Dia tidak bersalah. Bukan dia yang kurang ajar, bahkan dia melarikan diri karena Ibu Suri Cu Si marah kepadanya setelah dia menolak kehendak Ibu Suri terhadap dirinya."
"Kehendak Ibu Suri? Apa kehendaknya?"
Tanya Ceng Hiang, belum mengerti. Dengan kedua pipi berubah merah Yu Bwee berkata.
"Ia... ia mengajak pemuda itu berbuat yang tidak sopan. Dia menolak dan Ibu Suri Cu Si marah, memerintahkan pengawal menangkapnya akan tetapi dia dapat meloloskan diri."
"Hemmm, sungguh tidak tahu malu...!"
Ceng Hiang berkata dan kedua pipinya juga menjadi merah.
"Akan tetapi, anakku. Bagaimana kalau pemuda itu berbohong? Siapa tahu kalau dia memutar-balikkan kenyataan?"
"Akupun sudah menduga demikian dan dia menyatakan bahwa kalau dia yang mempunyai niat busuk itu, apa sukarnya bagi dia untuk memaksa Ibu Suri? Aku percaya, Ibu, karena memang dia lihai sekali, maka alasannya itu memang tepat. Selain itu, diapun bukan orang sembarangan, dia putera seorang pendekar dan pahlawan yang terkenal."
"Siapa namanya tadi?"
Tanya pula Ceng Hiang, tidak enak hatinya melihat betapa puterinya nampaknya benar-benar tertarik.
"Namanya Gan Han Le dan dia adalah putera tunggal dari mendiang pendekar Gan seng Bu..."
"Ahhh...!"
Ceng Hiang berseru kaget "Yang isterinya orang kulit putih itu...?"
"Benar, Ibu. Ibu kandung Gan Han Le adalah seorang kulit putih."
"Hemmm, jangan engkau lupa betapa jahatnya orang-orang kulit putih, Yu Bwee. Lihat betapa mereka telah menyerbu kotaraja dan merampok istana, membunuh banyak orang, selain merampok juga memperkosa wanita, dan kini mereka menguasai pelabuhan-pelabuhan di negara kita. Mereka jahat sekali, menyebar candu kepada rakyat..."
"Aku mengerti, Ibu. Akan tetapi Ibu sendiri pernah berkata bahwa kebusukan suatu pemerintahan sama sekali tidak mencerminkan watak bangsanya. Pemerintahan hanya dikuasai oleh segelintir orang saja, dan rakyat tidak bertanggung jawab akan segala hal yang dilakukan oleh beberapa orang yang bertanggung jawab itu. Kurasa Ibu dari Gan Han Le tidak ada sangkut pautnya dengan kejahatan pasukan kulit putih, buktinya ia menikah dengan seorang pendekar pribumi."
Ibu dan Ayahnya saling pandang dan Ceng Hiang menarik napas panjang.
"Betapapun juga, aku selalu tidak suka dan curiga kepada orang kulit putih bule..."
"Han Le tidak bule, Ibu." (Lanjut ke
Jilid 16) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16
"Dan matanya yang biru..."
"Memang matanya agak kebiruan."
Makin tidak enak rasa hati Ceng Hiang dan suaminya. Jelaslah bahwa puteri mereka amat tertarik kepada pemuda peranakan yang matanya kebiruan itu.
"Akan tetapi, benarkah dia lihai sekali,? Bagaimana kalau dibandingkan dengan kepandaianmu?"
"Aku kalah, Ibu."
"Ehhh?"
Ceng Hiang terkejut. Ia tahu bahwa puterinya ini lihai, hampir seluruh ilmu kepandaiannya telah diwarisinya.
"Apakah engkau sudah bertanding melawannya?"
Yu Bwee mengangguk.
"Biarpun aku percaya kepadanya atas semua keterangannya, aku ingin menguji kepandaiannya, Ibu. Maka aku memaksanya untuk bertanding."
Yu Kiang mengerutkan alisnya.
Dia bukan seorang ahli silat sepeti isterinya, dan berdarah bangsawan, maka mendengar akan ulah puterinya itu, tentu saja dia terkejut dan tidak senang.
Tak patut seorang gadis, puteri berdarah bangsawan pula, menantang berkelahi seorang pemuda begitu saja, padahal pemuda itu tidak bersalah!
"Bagus sekali perbuatanmu, ya?"
Bentaknya. Akan tetapi Ceng Hiang tidak melihat sesuatu yang buruk dalam kelakuan anaknya itu.
"Ayah, aku hanya ingin menguji sampai di mana kelihaiannya, karena aku tertarik sekali melihat dia mengamuk ketika dia menyelamatkan keluarga Kaisar yang dirampok itu. Kami bertanding, dan agaknya kami seimbang, Ibu. Akan tetapi akhirnya aku berhasil merobek bajunya di bagian dada."
"Hemm, kalau begitu dia tidak berapa hebat! Perbuatanmu itu merupakan tanda bahwa engkau masih menang setingkat, karena kalau kau kehendaki, tentu bukan bajunya yang robek dan dia akan terluka parah."
Yu Bwee tersenyum dan memandang Ibunya dengan sinar mata nakal.
"Akupun tadinya berpendapat seperti itu, Ibu, akan tetapi ternyata pedapatku seperti itu keliru dan dia jauh lebih lihai dariku."
"Eh? Maksudmu...?"
Tanya Ceng Hiang heran.
"Tanpa kuketahui, dia telah berhasil mengambil tusuk sanggulku!"
"Wah...!"
"Dan dia minta kepadaku untuk diperbolehkan menyimpan tusuk sanggul itu sebagai tanda peringatan..."
"Dan kau perbolehkan?"
"Tentu, Ibu. Dia lihai dan baik sekali. Dalam adu ilmu ini, ternyata dia sengaja mengalah."
Kembali Ceng Hiang dan suaminya saling pandang dan diam-diam mereka merasa khawatir.
Tidak kelirukah pilihan hati puteri mereka itu?
Gadis itu telah berusia tujuh belas tahun, cukup dewasa.
Bagaimanapun juga, hubungan antara puteri mereka dan pemuda peranakan itu masih belum terlalu mendalam, dan merekapun sudah bersiap untuk meninggalkan kotaraja.
"Yu Bwee, ada hal penting yang ingin kami bicarakan denganmu."
Kata Ceng Hiang.
"Ayah dan Ibumu telah mengambil keputusan yang mungkin akan mengejutkan hatimu."
Yu Bwee memandang kepada kedua orang tuanya itu dengan sinar mata penuh prtanyaan.
"Ada urusan apakah, Ibu?"
"Begini, sesuai dengan rencana kami berdua, Ayahmu telah mengundurkan diri dari pekerjaannya kepada pemerintah."
Hal ini memang mengejutkan dan mengherankan hati Yu Bwee.
"Ah, apa sebabnya dan bagaimana selanjutnya?"
"Kami melihat betapa pemerintah semakin lemah, bukan saja karena ulah Ibu Suri seperti yang kau lihat sendiri, akan tetapi juga di istana selalu terjadi perebutan kekuasaan karena Kaisar masih bocah. Sungguh tidak enak menjadi seorang pejabat di bawah pemerintah seperti sekarang ini. yang setia dan jujur akan hancur, sedangkan yang dapat hidup hanya mereka yang penjilat dan korup. Melihat beberapa orang sahabat dan rekannya yang jujur dijatuhi gukuman karena ingin meluruskan keadaan, maka Ayahmu mengambil keputusan untuk mengundurkan diri saja. Kita semua akan meninggalkan kotaraja dan untuk sementara waktu, selagi keadaan pemerintah masih begini kacau, kita akan hidup sebagai petani yang sederhana di dusun. Ayahmu memiliki sebidang tanah yang cukup luas untuk dijadikan pertanian dan peternakan, di selatan."
Yu Bwee mengangguk.
"Aku juga ikut girang, Ayah dan Ibu. Aku pun muak melihat keadaan kehidupan yang bobrok dan busuk di dalam istana."
Demikianlah, beberapa hari kemudian, keluarga ini meninggalkan kotaraja, dalam sebuah kereta besar yang ditarik empat ekor kuda.
Yu Kiang menjual semua barang-barang berharga yang besar, dan hanya membawa barang-barang berharga yang kecil saja, dan hasil penjualan barang-barang miliknya itu dijadikan emas dan perak dan dibawanya pergi, menggunakan peti-peti yang ditaruh di dalam kereta.
Tidak seperti bangsawan atau hartawan lain, yang kalau pergi keluar kota tentu mempergunakan pengawalan pasukan ataupun pengawalan para petugas perusahaan pengawalan, keluarga ini tidak mempergunakan pengawal.
Apa perlunya pengawal kalau Ceng Hiang dan Yu Bwee, Ibu dan anak itu sendiri merupakan dua orang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?
Mereka berdua saja lebih kuat dibandingkan dengan sepasukan pengawal yang besar jumlahnya!
Akan tetapi karena pada waktu itu, negara berada dalam keadaan kacau, pemberontakan terjadi di mana-mana dan kedudukan pemerintah Mancu menjadi lemah sekali dengan penyerbuan pasukan orang kulit putih yang lalu dan kekuasaan Tai Peng di selatan, maka di mana-mana bermunculan gerombolan-gerombolan pengacau dan penjahat yang mempergunakan kesempatan selagi pemerintah dalam keadaan lemah itu untuk merajalela.
Ketika kereta yang mereka tumpangi, yang dikendalikan oleh seorang kusir tua, kusir mereka yang sudah menjadi pembantu mereka sejak Ceng Hiang masih kanak-kanak, baru saja meninggalkan kotaraja, semua orang mengenal nyonya Yu Kiang yang berilmu tinggi, juga puterinya yang lihai, maka tidak ada yang berani mncoba untuk mengganggu kereta mereka.
Akan tetapi, setelah mereka meninggalkan kotaraja beberapa hari lamanya dan kini sudah jauh dari daerah kotaraja, mulailah terjadi gangguan-gangguan terhadap kereta mereka.
Sebelum terjadi gangguan, Ceng Hiang maklum bahwa perjalanan yang cukup jauh itu tentu akan mendatangkan gangguan yang cukup banyak, apalagi kalau diketahui oleh para penjahat bahwa keluarganya membawa cukup banyak emas dan perak.
"Kita tidak perlu menanam bibit permusuhan dengan orang kang-ouw,"
Katanya kepada puterinya.
"Oleh karena itu kalau ada gerombolan yang hendak mengganggu, lebih dulu kita menawarkan sumbangan. kalau mereka tidak mau dan memaksa hendak merampok, barulah kita turun tangan melawan mereka. Akan tetapi, jagalah agar jangan sampai engkau melukai terlalu berat, apalagi membunuh. Cukup kalau membuat meeka ketakutan dan tidak mengganggu lagi."
"Akan tetapi, Ibu. Kenapa kita harus bersikap halus terhadap penjahat yang kejam?"
Yu Bwee membantah.
"Perjalanan kita masih panjang, Yu Bwee. Tidak baik kalau menanam bibit permusuhan sehingga perjalanan kita selanjutnya akan terus mengalami gangguan."
Setiap kali mereka bermalam di kota atau dusun, mereka tentu menurunkan barang-barang berharga dari atas kereta dan membawanya ke dalam kamar, sehingga kereta itu kosong dan cukup dijaga oleh kusir.
Pada suatu malam, ketika mereka beristirahat dalam sebuah rumah penginapan, datanglah gangguan yang pertama.
Seperti biasa, mereka menyewa dua buah kamar, sebuah untuk Yu Kiang dan Ceng Hiang, dan sebuah lagi, dekat dengan kamar mereka, untuk Yu Bwee.
Peti-peti berisi emas dan barang-barang berharga ditumpuk di kamar Yu Kiang.
Malam itu, menjelang tengah malam, Yu Bwee terbangun dari tidurnya karena ia mendengar suara yang tidak wajar di atas genteng kamarnya.
Cepat ia turun dari pembaringan, di dalam gelap meraba-raba dan mencari sepatunya, mengenakan pakaian luar, kemudian iapun keluar dari dalam kamarnya itu melalui jendela kamar yang ia buka perlahan-lahan.
Kemudian, ia berindap-indap naik ke atas genteng.
Ketika ia mengintai, ia melihat dua bayangan hitam sedang berjongkok di atas kamar orang tuanya, agaknya sedang mengintai dari genteng yang mereka buka.
Yu Bwee marah dan ingin turun tangan memberi hajaran, akan tetapi ia teringat akan pesan Ibunya dan iapun tersenyum nakal.
Tangannya mencengkeram genteng dan menghancurkannya, lalu menggunakan pecahan kecil dari genteng itu untuk menyambit dua kali.
Dua butir benda kecil menyambar dengan amat kencangnya.
"Tuk! Tuk!"
"Aduhh...!"
Dua orang itu memegang belakang kepala mereka dan menahan pekik kesakitan, lalu menengok ke belakang dan kanan kiri.
"Apa yang mengenai kepalaku?"
Tanya yang seorang sambil mengelus belakang kepalanya yang benjol sebesar kacang tanah.
"Aku juga! Apakah ada yang menyambit?"
"Ah, tidak ada orang... tentu semacam lebah yang menyengat kita."
Mereka mengintai lagi, tangan mereka masih terus mengelus bagian kepala yang kena sambit tadi, yang terasa cukup neyeri.
Kemudian mereka dengan hati-hati sekali berloncatan turun, lalu menghampiri jendela kamar Yu Kiang dan isterinya.
"Peti-peti itu tertumpuk di dalam..."
Kata yang seorang.
"Kita congkel jendela, engkau yang mencari dan mengambil peti yang paling berharga, aku menjaga sumai isteri itu, kalau ada yang terbangun akan kubacok mampus sebelum sempat berteriak,"
Kata orang kedua yang agaknya menjadi pemimpin. Temannya mengangguk dan mereka lalu menggunakan golok yang sejak tadi mereka bawa untuk mencongkel daun jendela.
"Tak! Tak!"
"Aduuhhh...!"
Kini seruan itu lebih kuat daripada tadi, dan mereka berdua meraba kepala bagian kanan dan di situ nampak benjolan sebesar telur ayam.
"Ada yang menyambit kita!"
Bisik yang seorang dan mereka berdua sudah meloncat berdiri, golok di tangan.
"Tidak ada orang! Apa setan yang mengganggu...?"
Kata yang kedua.
Mereka berloncatan menuju pekarangan belakang dari mana tadi tentu ada benda yang menyambar dan mengenai kepala mereka karena mendengar jatuhnya benda-benda kecil itu ke atas lantai setelah mengenai kepala mereka.
Mereka memandang ke dalam kebun itu, namun gelap dan tidak nampak bayangan manusia lain.
Tiba-tiba, seorang di antara mereka menunjuk dengan mata terbelalak dan tubuh gemetar.
Temannya menengok dan keduanya kini berdiri menggigil, muka pucat dan mata terbelalak ketika melihat ujud yang menakutkan sekali, mahluk yang berkerudung putih, tidak nampak mukanya atau kedua lengannya, karena tertutup kain putih dan mahluk itu melayang menuju ke arah mereka!
"Celaka...
se...
setan...!"
Kata yang seorang. Akan tetapi, orang kedua yang menjadi pemimpin, agaknya lebih tabah.
"Setan atau bukan, kalau mengganggu akan kubunuh!"
Dan diapun menyambut dengan tusukan goloknya ke arah dada "setan"
Itu.
"Tranggg...!"
Golok itupun terlepas dan jatuh ke atas lantai, dan sebuah tangan mencengkeram tengkuk si penyerang. Tangan yang dingin seperti es! "Hiiihhhh...!"
Orang itu hampir pingsan saking ngerinya dan diapun lalu meloncat, menyusul temannya yang sudah lari terlebih dahulu.
Mereka lari jatuh bangun dan babak bundas menabrak pohon, tersandung batu, bangun lagi, lari sambil merangkak dan menghilang di dalam gelap.
Yu Bwee melepaskan kain putih yang ternyata adalah alas tempat tidurnya, dan tertawa.
Daun jendela kamar Ibunya terbuka dan Ibunya juga tertawa.
"Bagus, begitu caranya agar mereka ketakutan dan tidak berani lagi mengganggu,"
Kata Ceng Hiang yang ternyata sudah siap karena tadi pun ia sudah mendengar gerakan di atas genteng.
Ibu dan anak yang gagah itupun tidur lagi.
Yu Kiang tidak tahu sama sekali akan peristiwa itu dan tentu saja dua orang penjahat itu menceritakan kepada teman-temannya betapa keluarga itu dilindungi oleh setan yang amat menakutkan.
Mereka memperlihatkan dua benjolan di kepala mereka untuk meyakinkan teman-teman mereka.
Dan selamatlah rombongan keluarga itu keluar dari kota dan melanjutkan perjalanan.
Masih dua kali mereka mengalami gangguan di jalan.
Yang pertama dapat dihindarkan oleh Ceng Hiang yang memberikan lima puluh tael perak kepada gerombolan perampok yang jumlahnya belasan orang.
Mereka mau menerima sumbangan itu dan pergi meninggalkan kereta tanpa mengganggu lagi.
Akan tetapi, pencegatan kedua di dalam hutan di lereng sebuah bukit, tidak dapat dihindarkan dengan sumbangan.
Ketika Ceng Hiang bersama Yu Bwee keluar dari kereta dan Ceng Hiang menawarkan lima puluh tael perak sebagai sumbangan, mereka hanya terkekeh-kekeh mentertawakan Ibu dan anak itu.
Jumlah para perampok itu ada lima belas orang dan tentu saja mereka memandang rendah kepada dua orang wanita itu, seorang kusir tua dan seorang bangsawan yang agaknya membiarkan dua orang wanita menghadapi perampok sedangkan dia sendiri tinggal di dalam kereta.
Memang Ceng Hiang membujuk suaminya agar tinggal saja di dalam kereta.
"Ha-ha-ha, nyonya yang cantik dan nona yang mungil! Apa kalian mengira bahwa kami adalah anak-anak kecil yang merengek minta uang jajan? Ha-ha-ha, kami sudah lama menanti kalian di sini! kami akan membunuh laki-laki yang berada di dalam kereta, juga Kakek kusir itu, kemudian kami mengambil semua barang yang berada di dalam kereta, dan.kalian berdua... hemmm, buah yang masak dan buah yang ranum segar. Yang sebutir sudah masak manis, yang kedua ranum dan renyah! Ha-ha-ha, kalian akan menjadi penghibur kami!"
Bukan main marahnya Yu Bwee mendengar ucapan itu.
Baru kalimat pertama dan kedua saja sampai pada kata-kata bahwa orang itu mau membunuh Ayahnya, sudah membuat mukanya merah dan matanya mengeluarkan sinar berkilat.
Ucapan selanjutnya membuat ia tidak mampu menahan kemarahannya dan sekali tubuhnya begerak, ia telah meloncat ke depan dan menggerakkan tangan menampar muka kepala perampok itu.
Kepala perampok yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam itu melihat gerakan orang, akan tetapi tidak dapat mengikutinya dengan pandang mata karena tubuh gadis itu seperti terbang saja.
Dia masih berusaha menggerakkan kedua tangan, untuk menangkis dan sekaligus menyambar dan menangkap.
"Plakkk!"
Tamparan itu tiba tanpa dapat dihindarkan lagi, bukan main kerasnya sehingga kepala perampok itu mengeluarkan seruan keras saking nyerinya, merasa seolah-olah kepalanya di sambar pertir dan tubuhnya terpelanting, lalu terjungkal dan tidak mampu bergerak, hanya kedua matanya saja yang bergerak berputaran, mulutnya mengeluarkan suara mengorok.
Kiranya tamparan itu telah membuat tulang rahangnya patah-patah, berikut giginya rontok dan bibirnya pecah-pecah.
Darah muncrat keluar dari bibir yang pecah dan lidah yang terluka oleh hancurnya gigi dan tulang rahang!
Para perampok terkejut setengah mati.
Muka kepala perampok itu seperti dihantam dengan sebuah kapak saja, bukan ditampar oleh tangan yang demikian kecil dan lembut!
Akan tetapi, dasar perampok-perampok kasar yang biasanya hanya mengganggu orang lemah, suka mempergunakan kekerasan, mereka tidak mengenal keadaan dan kini beramai-ramai mereka menyerbu, ada yang hendak menangkap Yu Bwee yang jelita, ada yang hendak menubruk Ceng Hiang yang demikian cantik manis, ada yang hendak membunuh kusir dan menyerang ke dalam kereta, untuk membunuh laki-laki yang berada di kereta, dan ada pula yang hendak memperebutkan harta benda yang berada di dalam kereta.
"Bwee-ji (anak Bwee), jangan membunuh orang!"
Ceng Hiang berseru mendahului puterinya yang ia tahu amat marah sehingga telah menampar sedemikian kerasnya sehingga membuat kepala perampok terluka parah.
Akan tetapi, kemarahan Yu Bwee hanyalah kepada kepala perampok itu, karena ucapannya tadi.
setelah menampar seperti itu, kemarahannya mereda dan iapun tersenyum kepada Ibunya.
"jangan khawatir, Ibu. mari kita hajar anjing-anjing tak tahu diri ini!"
Dua tubuh wanita itu berkelebatan dan kini belasan orang perampok itu merasa seperti sedang mimpi buruk sekali.
Mereka tidak sempat melihat bagaimana dua orang wanita itu bergerak.
Tahu-tahu mereka itu merasa seperti disambar petir dan belasan orang itupun roboh satu demi satu sebelum mereka.sempat melakukan apa ya dikehendaki mereka tadi.
Ada yang tiba-tiba pening kepalanya dengan pandang mata berpusing, Ada yang tiba-tiba saja menerima hantaman yang membuat tulang pundak mereka terlepas, tulang lengan patah dan tulang kaki retak.
Dalam waktu beberapa detik saja, mereka semua telah roboh dan mengaduh-aduh, ada yang memegangi kepala, kaki, pundak dan lengan, merangkak bangun dan memandang seperti orang bodoh ke arah kereta yang kini sudah bergerak lagi melanjutkan perjalanan!
Keluarga itu melanjutkan perjalanan, terus ke selatan.
masih tiga kali lagi mereka mengalami gangguan dan hadangan para perampok, namun Ceng Hiang dan Yu Bwee dapat mengatasi gangguan itu.
Sepak terjang mereka membuat para perampok lari ketakutan atau roboh tak berdaya dan walaupun tidak pernah ada yang tewas, namun mereka yang pernah menerima hajaran, sama sekali tiak berani lagi mencoba untuk melakukan pengejaran.
Dusun yang dimaksudkan oleh Ceng Hiang ketika memberi tahu puterinya, yaitu dusun di mana terdapat tanah pertanian luas yang telah dibeli suaminya, berada jauh di selatan, di dekat perbatasan yang menjadi daerah kekuasaan pasukan Tai Peng!
Tanah itu memang subur karena termasuk lembah Sungai Yang-ce-kiang.
Terletak di lereng sebuah bukit yang hijau dan begitu tiba ti tempat itu, Yu Bwee merasa suka sekali.
Tempat itu memang indah, selain tanahnya subur, juga pemandangan alamnya amat indah, banyak pula terdapat pedusunan yang melihat keadaan rumah-rumahnya merupakan pedusunan yang cukup makmur.
Merek tiba di dusun itu di suatu sore dan seorang Kakek petani yang bertubuh tinggi kurus menyambut kereta itu dengan gembira sekali.
Di belakangnya nampak berlari-lari beberapa orang penduduk dusun.
"Yu-Taijin (pembesar Yu) datang... Yu-Taijin datang!"
Teiak Kakek itu dengan gembira.
Yu Kiang tersenyum melihat Kakek itu, juga Ceng Hiang dan Yu Bwee mengenalnya.
Kakek itu pernah bekerja kepada mereka di kotaraja, merupakan seorang pegawai yang sudah lama bekerja di dalam keluarga mereka sebagai seorang tukang kebun.
Kakek inilah yang mengatur pembelian tanah di pedusunan itu.
Bahkan kusir tua itupun mengenal baik Kakek dan mereka saling menyapa dengan gembira.
"Ciu-lopek, bagaimana kabarnya? Jangan sebut aku Taijin lagi, karena aku sudah bukan seorang pembesar lagi sekarang. Bukankah engkau juga sudah mendengar akan hal itu?"
Kata Yu Kiang smbil turun dari kereta, disusul oleh Ceng Hiang dan Yu Bwee.
Penat juga melakukan perjalanan hari itu, karena sejak pagi sekali mereka berkereta, sampai senja itu baru berhenti.
Akan tetapi Kakek Ciu tetap saja menyebut Yu Kiang dengan sebutan Taijin, karena memang sudah terbiasa.
ceng Hiang disebutnya Toanio (nyonya besar) dan Yu Bwee dia panggil Siocia (nona).
"Yu-Taijin, syukurlah kalau Taijin bertiga dapat tiba di sini dalam keadaan selamat. Hati saya sudah merasa tidak enak sekali karena suasana sekarang begini kacau dan banyak perampokan. Bahkan dusun-dusun kini tidak aman lagi, Taijin. Dusun kita inipun selalu terancam dan kami penduduknya hidup dalam keadaan gelisah. Semoga setelah Taijin sekeluarga berada di sini, dusun ini menjadi aman."
Mereka lalu memasuki rumah ang sederhana namun cukup bersih dan besar, rumah yang sdah dibeli oleh Yu Kiang dengan perantaraan Kakek Ciu, dan yang selama ini dijaga dan dibersihkan oleh pelayan yang setia itu.
Ada tiga kamar besar di dalam, sebuah untuk Yu Kiang dan isterinya, sebah untuk Yu Bwee dan sebuah lagi untuk kamar tamu, dan di belakang terdapat pula kamar-kamar untuk pelayan.
"Paman Ciu, apakah yang telah terjadi? Apakah dusun ini pernah dirampok?"
Setelah mereka tiba di dalam rumah dan telah memeriksa keadaan rumah baru mereka itu, Ceng Hiang bertanya kepada Kakek Ciu.
"Dusun ini belum, Toanio. Akan tetapi dusun-dusun di sekitar sini sudah pernah dirampok. kami semua berada dalam keadaan ketakutan."
"Akan tetapi, apakah tidak ada pasukan keamanan yang membasmi perampok itu?"
"Aih, sudah lama di sini tidak ada lagi pasukan keamanan, Toanio. Benteng pertahanan dari pasukan pemerintah agak jauh dari sini, dan mereka itu tentu tidak memperdulikan nasib orang-orang dusun seperti kami."
"Kenapa orang-orang dusun tidak bersatu dan melawan perampok-perampok itu?"
Yu Bwee bertanya sambil mengerutkan alis. Ia benci terhadap para perampok yang sudah pernah pula mengganggu perjalanan orang tuanya.
"Siocia, siapakah yang berani menentang mereka? Mereka bukan perampok biasa..."
"Bukan perampok biasa? Apa maksudmu? Siapakah mereka itu?"
Yu Bwee menjadi penasaran. Kakek itu memandang ke arah jendela dan pintu, seolah-olah ketakutan untuk menjawab, lalu berkata lirih.
"Mereka adalah pasukan Tai Peng..."
"Hemmm, pasukan Tai Peng"
Ceng Hiang bertanya dengan alis berkerut.
"Bukankah dusun ini masih termasuk wilayah kekuasaan pemerintah kita?"
"Benar, Toanio, akan tetapi mereka kini semakin berani selama beberapa bulan akhir-akhir ini. Dengan dalih pembersihan dan mencari mata-mata, mereka menyerbu dusun-dusun, merampok, membunuh dengan kejam..."
"Keparat!"
Yu Bwee mengepal tinju.
"Kalau mereka berani menganggu dusun ini, aku yang akan menghajar mereka"
"Tentu saja Kakek Ciu sudah tahu akan kelihaian nyonya majikan dan puterinya, maka diapun memnadang dengan wajah berseri.
"Dengan adanya keluarga Taijin di dusun ini, kami merasa lega."
Akan tetapi Ceng Hiang dan Yu Bwee tidak tahu bahwa di setiap dusun di sekitar perbatasan itu tentu ada mata-mata Tai Peng sehingga kedatangan keluarga yang membawa barang-barang berharga itu telah diketahui oleh para perajurit Tai Peng.
Juga Ibu dan anak ini sama sekali tidak menyangka bahwa pasukan Tai Peng yang suka merampok itu selain amat banyak jumlahnya, juga dipimpin oleh orang-orang pandai dan cara mereka menyerbu dusun seperti kalau menyerbu musuh dan mempergunakan siasat perang!
Beberapa hari kemudian, para penduduk dusun merasa lega karena tidak terjadi apa-apa dan mereka percaya kepada Kakek Ciu bahwa keluarga bangsawan yang baru saja pindah dari kotaraja itu merupakan orang-orang pandai yang tentu ditakuti para perampok.
Malam itu terang bulan dan Yu Bwee bersama Ibunya, yang selama beberapa hari ini berjaga-jaga diwaktu malam, siap menghadapi segala kemungkinan, malam ini tidak lagi merasa tegang.
mereka berdua menganggap bahwa Kakek Ciu dan penduduk dusun itu terlalu ketakutan karena buktinya, tidak pernah terjadi gangguan selama mereka tiba di situ.
Akan tetapi lewat tengah malam, ketika Ceng Hiang, suaminya, dan juga Yu Bwee sedang tidur nyenyak, mereka dikejutkan oleh suara gaduh yang makin lama semakin ribut.
Teriakan-teriakan "kebakaran"
Dan "rampok"
Mengejutkan mereka. Apalagi ketika Yu Bwee sudah mengetuk pintu kamar orang tuanya dan ketika Ibu dan Ayahnya keluar, ia berkata dengan suara gugup.
"Wah, mereka telah datang menyerang dan membakari rumah-rumah di sekitar dusun!"
"Keparat!"
Ceng Hiang berseru.
"Kita harus basmi mereka."
Akan tetapi ketika ia dan puterinya hendak keluar, ia teringat kepada suaminya dan menjadi khawatir.
Mungkin sekali para perampok itu akan menyerbu rumah mereka!
"Sebaiknya engkau bersembunyi saja dan mengenakan pakaian seperti penduduk biasa,"
Katanya dan pada saat itu, Kakek Ciu datang berlari-lari dari belakang dengan tubuh gemetar.
"Paman Ciu, jangan khawatir. sekarang lebih baik engkau membawa suamiku pergi bersembunyi di kebun belakang. kami berdua akan membasmi para perampok kurang ajar itu!"
Melihat Ceng Hiang dan Yu Bwee berpakaian ringkas dan memegang pedang, kelihatan demikian tenang dan gagah, hati Kakek Ciu menjadi lega dan diapun cepat mengajak Yu Kiang untuk berembunyi di dalam kebun yang gelap karena di situ terdapat banyak pohon-pohon dan semak-semak.
Ceng Hiang dan Yu Bwee lalu berloncatan keluar dan melihat keadaan di dusun itu, mereka berdua menjadi marah sekali!
Ternyata para perampok itu sebelum menyerbu dusun, lebih dahulu membakari rumah-rumah penduduk.
Melihat ini, terpaksa Ceng Hiang dan Yu Bwee berpencaran dan mereka lalu menyerbu para perampok yang sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa melakukan kekejaman yang luar biasa.
Membunuhi orang-orang lelaki, merampok barang-barang, ada pula yang memanggul wanita yang menjerit-jerit minta tolong.
"Jahanam busuk!"
Bentak Yu Bwee dan pedangnya berkelebat, menusuk dada seorang perampok yang memanggul seorang gadis remaja.
perampok itu mengeluh dan roboh, sedangkan gadis remaja itu sudah disambar oleh tangan kiri Yu Bwee.
"Bersembunyilah!"
Kata Yu Bwee melepaskan gadis itu yang lari sambil menangis ketakutan.
Melihat betapa ada kawannya yang roboh tewas, dua orang perampok menjadi marah dan dengan golok di tangan mereka menyerang Yu Bwee.
"Perampok-perampok busuk!"
Yu Bwee membentak, pedangnya berkelebat menangkis dan begitu pedangnya bergerak, terdengar suara nyaring dua kali dan dua orang itupun roboh mandi darah!
Kiranya sambil menangkis, gadis perkasa ini mengelebatkan pedangnya dan sekali sambar saja, pedangnya sudah membabat batang leher kedua orang perampok.
Gegerlah para perampok melihat ini.
Di bagian lain, para perampok juga menjadi terkejut melihat betapa seorang wanita cantik, dengan pedangnya, juga mengamuk dan merobohkan beberapa orang perampok.
Segera mereka memberi tanda dengan suitan-suitan dan kini muncul lebih banyak perampok, dipimpin oleh para perwiranya yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi.
Yang menerjang Yu Bwee kini adalah seorang perwira yang bermuka hitam, dibantu oleh belasan orang anak buahnya.
Perwira muka hitam itu memainkan siang kiam (sepasang pedang) dan melihat gerakannya, jelaslah bahwa dia seorang ahli silat yang cukup lihai.
Pantas perampok-perampok Tai Peng ini berani mengganas, pikir Yu Bwee.
selain jumlahnya banyak, terlatih, juga dipimpin oleh perwira yang lihai.
Akan tetapi, begitu ia memutar pedangnya, perwira yang bermuka hitam itu mengeluarkan seruan kaget karena hampir saja lengan kanannya terbabat pedang gadis itu.
Lengan bajunya robek dicium ujung pedang!
Dia lalu berseru kepada anak buahnya dan Yu Bwee dikeroyok banyak orang yang menghujankan senjata kepadanya.
Namun ia tidak takut dan pedangnya diputar dengan cepat dan kuat sehingga banyak senjata para pengeroyok yang patah, dan ada pula beberapa orang yang roboh oleh tendangannya.
Ceng Hiang juga menghadapi pengeroyokan banyak orang.
Bahkan ada dua orang perwira yang mengeroyoknya, dua orang yang lihai sekali, yang seorang bersenjata cambuk baja dan yang kedua bersenjata sebuah tombak gagang pendek.
Selain dua orang perwira yang lihai ini, masih ada belasan orang mengeroyoknya, namun seperti juga Yu Bwee, nyonya perkasa ini mengamuk dan sinar pedangnya merobohkan beberapa orang pengeroyok.
Kini hanya dua orang wanita itulah yang menjadi pusat perhatian para perampok yang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang itu.
Mereka mengerahkan tenaga untuk merobohkan Ibu dan anak itu, namun makin didesak, makin banyak anak buah mereka roboh sehingga akhirnya mereka menjadi gentar juga.
Perwira muka hitam yang mengeroyok Yu Bwee maklum bahwa kalau diteruskan, tentu anak buahnya akan habis dibasmi gadis perkasa itu, dan diapun meloncat keluar kalangan, membiarkan anak buahnya mengepung ketat dan diapun lari untuk mencari teman-temannya yang boleh diandalkan.
Akan tetapi, dia terkejut melihat betapa tak jauh dari situ, seorang wanita lain mengamuk, dikepung oleh kawan-kawannya bersama anak buah yang sama banyaknya.
Juga keadaan kawan-kawannya di situ menderita kerugian besar.
Dia lalu mengeluarkan sempritan dan meniupnya berkali-kali, memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk mundur.
Apalagi dia melihat kawan-kawan lain sudah banyak yang membawa lari barang rampokan dan ada pula yang menculik gadis dusun.
Mendengar ditiupnya isyarat untuk mundur ini, legalah hati para pengeroyok Ibu dan anak yang amat lihai itu.
Mereka memang sudah merasa jerih terhadap wanita sakti yang mereka keroyok, maka begitu mendengar suara sempritan, mereka lalu berloncatan pergi, didahului oleh para perwira yang memimpin pengeroyokan.
Baik Ceng Hiang maupun Yu Bwee tidak mau membiarkan mereka lari begitu saja dan kembali ada beberapa orang perampok yang roboh oleh pedang mereka!
Akan tetapi segera terdengar derap kaki kuda dan mengertilah Ceng Hiang dan Yu Bwee bahwa perampok itu datang dengan menunggang kuda yang agaknya mereka tambatkan di luar dusun.
Kini mereka melarikan diri dengan berkuda, dan tidak ada gunanya lagi dikejar.
Yang terpenting adalah membantu para penduduk memadamkan rumah-rumah yang terbakar.
Ceng Hiang dan Yu Bwee teringat akan rumah mereka maka merekapun cepat berlari pulang.
terkejutlah mereka melihat betapa keadaan rumah merekapun morat-marit, tanda bahwa rumah itupun tadi diserbu penjahat!
Dan ketika mereka memasuki rumah, mereka melihat Kakek Ciu memapah Yu Kiang yang terluka.
tentu saja mereka terkejut dan cepat memeriksa keadaan Yu Kiang.
Untunglah bahwa luka itu tidak parah, hanya bacokan pada pundak yang melukai daging pangkal lengan, tidak membikin putus otot atau mematahkan tulang.
"Bagaimana dapat terjadi?"
Tanya Ceng Hiang kepada suaminya sambil mengobati luka itu dan membalut pundak. Yu Kiang yang kesakitan itu sukar menjawab, dan Kakek Ciu yang menjawab dan memberi keterangan.
"Kami bersembunyi di kebun. Ketika Taijin mendengar bahwa rumah diserbu, dia memaksa untuk kembali ke rumah. Saya sudah mencegahnya sehingga terjadi ketegangan dan pada saat itu, nampak seorang perampok lari menyeret seorang gadis tetangga. melihat ini, Yu-Taijin menjadi marah dan membentak. Perampok itu membacok dengan golok dan Yu-Taijin roboh. Untung bahwa perampok itu sibuk dengan gadis yang meronta-ronta, maka dia tidak menyerang lagi dan cepat menyeret gadis itu pergi."
Ketika mereka memasuki rumah dan memeriksa, ternyata sebagian besar dari harta mereka, sebuah peti berisi emas dan perak yang mereka bawa dari kota raja sebagai hasil penjualan barang-barang dan rumah mereka, telah lenyap!
"Jahanam!"
Bentak Yu Bwee.
"Berani melukai Ayahku dan merampok barang kita! Aku harus menghajar mereka dan merampas kembali barang kita!"
Berkata demikian, Yu Bwee lalu meloncat keluar dari dalam rumahnya.
"Bwee-ji, jangan...!"
Teriak Ibunya akan tetapi karena ia sedang merawat suaminya, ia tidak mengejar dan tak lama kemudian terdengar derap kaki seekor kuda membalap keluar dari dusun.
Yu Bwee melakukan pengejaran sambil menunggang kuda.
Ceng Hiang tidak setuju dengan perbuatan Yu Bwee.
Melawan perampok tidak berbahaya, akan tetapi karena perampok itu adalah pasukan Tai Peng, maka mengejar mereka sungguh amat berbahaya.
Bagaimanapun juga, Ibu ini percaya akan kepandaian Yu Bwee yang tentu akan mampu menjaga diri sendiri.
Gadis itu sudah cukup berpengalaman.
Bukankah pernah ia suruh melindungi keluarga Kaisar dan berhasil baik?
Yu Bwee tidak dapat melakukan pengejaran dengan cepat karena ia harus meneliti jejak para perampok yang melarikan diri tadi, di tengah malam pula.
Untung baginya bahwa ada sinar bulan sehingga ia dapat mencari jejak kaki banyak kuda yang lari ke selatan.
Ia melakukan pengejaran terus.
Sayang bahwa ia telah ketinggalan jauh, karena tadi ia membuang banyak waktu untuk pulang ke rumah.
Andaikata ia tadi langsung melakukan pengejaran, tentu ia sudah dapat menyusul mereka!
Akan tetapi sampai sinar matahari subuh mulai menerangi bumi mendahului sang matahari sendiri, ia belum berhasil menyusul para perampok.
Yu Bwee berhenti di tepi sebuah hutan, membiarkan kudanya makan rumput dan ia sendiri lalu masuk ke dalam hutan, encari-cari jejak kaki kuda di situ, bersimpang siur.
Apakah ia salah jalan?
Tiba-tiba ia menyelinap di balik sebatang pohon.
dari jauh ia melihat dua orang laki-laki berjalan setengah berlari, tertatih-tatih keberatan karena mereka meggendong bungkusan-bungkusan besar yang kelihatan berat.
mereka adalah dua orang laki-laki tinggi besar bermuka brewokan dan kasar, dan mereka lewat tak jauh dari pohon di balik mana Yu Bwee bersembunyi.
Terengah-engah mereka lewat, dan mereka berhenti sebentar hanya untuk menyeka keringat dari leher dan muka, menggunakan lengan baju mereka, Kemudian mereka melanjutkan langkah memasuki hutan.
Selagi Yu Bwee mempertimbangkan apa yang akan dilakukan terhadap dua orang yang menurut pakaiannya adalah anggauta pasukan Tai Peng yang semalam menyerbu dusun, tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda dan iapun mengurungkan niatnya untuk keluar dan bersembunyi lagi.
Seorang penunggang kuda yang berpakaian serba putih datang dari arah lain.
Dua orang itu, yang belum begitu jauh dari tempat Yu Bwee bersembunyi sehingga ia dapat melihat mereka, nampak terkejut dan berhenti sehingga sebentar saja penunggang kuda berpakaian putih dapat menyusul mereka dan kini si penunggang kuda menghentikan kudanya di depan mereka.
Dua orang itu yang tadinya terkejut, kini menyeringai.
"Heh-heh, kiranya Gan-Ciangkun. kami sampai terkejut!"
Kata mereka dengan sikap menghormat.
Yu Bwee terbelalak.
tentu saja ia mengenal pemuda yang berpakaian serba putih itu.
Gan Han Le!
Biarpun masih putih, akan tetapi bentuk pakaian itu adalah pakaian seorang perwira, dan pemuda itu disebut Gan-Ciangkun (perwira Gan) oleh dua orang anggauta pasukan Tai Peng yang semalam merampok dusun!
Akan tetapi, agaknya sikap Han Le berlawanan dengan sikap dia orang perajurit Tai Peng yang menyeringai gembira itu.
Sikapnya dingin, dan sepasang matanya yang kebiruan itu menyinarkan kemarahan.
"Dari mana kalian dan kenapa kalian tidak bersama pasukan?"
Seorang di antara perajurit itu, yang matanya melotot lebar, sambil menyeringai menjawab.
"Ciangkun, kami baru saja kembali dari penyerbuan sebuah dusun untuk membersihkan tempat itu dari persembunyian mata-mata. Kami mendapat perlawanan sehingga pasukan tercecer dan kami tertinggal. Karena tidak kebagian kuda kami terpaksa menyusul pasukan dengan jalan kaki..."
"Hemmm... dan barang-barang apa yang kalian bawa itu?, Dua orang itu saling pandang sambil menyeringai.
"Bukan apa-apa... Gan-Ciangkun. Tahu sendirilah, ini barang-barang rampasan dari para mata-mata musuh..."
"Tar-tar...!"
Tangan Han Le bergerak dan cambuk kudanya menyambar, mengenai muka kedua orang itu.
Dua orang itu tersentak kaget dan tepekik kesakitan, buntalan yang mereka bawa di atas punggung tadi terlepas jatuh, bungkusannya terbuka dan isinya berserakan.
ternyata barang-barang rumah yang berharga, yang terbuat dari perak, gulungan kain dan sebagainya lagi.
Muka kedua orang itu lecet berdarah dan mereka kini memandang dengan mata terbelalak, terkejut, heran dan juga ketakutan.
"Kalian tadi malam melakukan permpokan dalam sebuah dusun dengan alasan aksi pembersihan terhadap mata-mata musuh! Kalian membunuh, merampok, dan memperkosa wanita! hayo mengaku!"
Dua orang itu saling pandang dan mereka kini menjadi semakin takut.
"Tapi, tapi... kami hanya melaksanakan perintah atasan, Ciangkun..."
"Kalian perampok-perampok dan penjahat-penjahat yang berpakaian prajurit! Sungguh hanya mengotori nama perjuangan saja!"
Kembali Han Le menggerakkan cambuknya dan orang itu berteriak-teriak kesakitan, leher dan muka mereka lecet-lecet berdarah terkena cambuk dan mereka lalu berlutut.
"Ampun, Gan-Ciangkun, kami hanya melaksanakan perintah atasan kami, dan para perwira itupun hanya melaksanakan perintah dari Lee-Ciangkun..."
"Tarrr!"
Cambuk itu menampar mulut sehingga bibir itu pecah.
"Cukup! Aku sudah muak mendengarnya. Hayo angkat barang-barang itu dan ikuti aku!"
Dua orang perampok yang menjadi anggauta pasukan Tai Peng itu tidak berani membantah, tidak berani melawan karena berdua cukup mengenal siapa adanya Gan Han Le, seorang panglima baru yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian amat tinggi sehingga tiga orang perwira tinggi yang mengeroyoknya dalam ujian tidak mampu menang terhadapnya.
Mereka lalu dengan susah payah karena tubuh mereka yang sudah kelelahan itu kini ditambah lagi oleh penderitaan cambukan, mereka mengangkat dua buah buntalan setelah membetulkan bungkusan itu, dan berjalan di belakang kuda yang dijalankan perlahan oleh Han Le, memasuki hutan.
Tentu saja Yu Bwee menjadi bengong keheranan.
tadinya ia terkejut dan heran melihat betapa Han Le kini telah menjadi perwira Tai Peng, akan tetapi ia menjadi semakin terkejut dan heran pula melihat sikap Han Le terhadap dua orang anggauta Tai Peng itu.
Sikap inilah yang melegakan hatinya, yang tadi khawatir sekali melihat pemuda yag tak pernah dapat dilupakannya itu menjadi perwira Tai Peng, dan kini diam-diam ia membayangi dari jauh karena ia maklum akan keliahaian Han Le dan tidak ingin pemuda itu melihatnya sekarang, Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Han Le selanjutnya, dan ingin melihat apa rahasia pemuda itu.
Han Le berhenti di tengah hutan di mana terdapat petak rumput di mana bertumpuk barang-barang rampokan, termasuk sebuah peti milik Ayahnya!
barang-barang itu tertumpuk malang melintang.
"Taruh kedua buntalan itu disitu!"
Bentak Han Le kepada dua orang anak buah pasukan yang tidak berani membantah.
Melihat banyaknya barang rampasan yang berkumpul disitu, tahulah dua orang anak buah ini bahwa bukan hanya mereka berdua yang tertangkap basah oleh Gan-Ciangkun dan dipaksa menaruh barang rampasan itu di disitu.
Mereka adalah dua orang anak buah tokoh-tokoh sesat yang menjadi kaki tangan Lee Song Kim, mereka sudah terbiasa melakukan kejahatan, maka melihat barang-barang itu, mereka lalu mengira bahwa tentu Gan-Ciangkun merampas barang-barang itu untuk dirinya sendiri.
Maka, sambil menyeringai, si muka hitam berkata setelah bersama temannya melempar buntalan itu di atas tumpukan barang-barang itu.
"Gan-Ciangkun, kasihanilah kami yang sudah kelelahan. Ciangkun memperoleh begini banyak, apakah berkeberatan untuk membagi sedikit saja kepada kami berdua?"
"Benar, Ciangkun. Berilah bagian kepada kami dan kami tidak akan melapor kepada Lee-Ciangkun!"
Kata orang kedua dengan nada memeras.
"Tar-tar!"
Cambuk itu melecut-lecut sehingga kedua orang itu kini jatuh terguling-guling, hampir terinjak kaki kuda yang ditunggangi Han Le. Setelah puas menghajar Han Le membentak.
"Nah, pergilah kalian sekarang dari sini! Lebih lama sedikit saja aku melihat muka kalian, tentu aku akan membunuh kalian!"
Mendengar ini, dua orang yang kesakitan itu lalu melarikan diri tunggang langgang.
Sejenak Han Le duduk tegak di atas punggung kudanya memandang ke arah larinya dua orang itu, dan tiba-tiba dia menggebrak kudanya lari ke utara dengan cepat sekali.
Yu Bwee terkejut, hendak mengejar akan tetapi maklum bahwa selain sukar mengejar kuda yang dibalapkan itu, juga tidak ingin kelihatan oleh Han Le.
Biarlah ia akan menanti di sini, pikirnya.
Bagaimanapun juga, Han Le tentu tidak akan meninggalkan barang-barang ini begitu saja, tentu akan kembali karena tak mungkin dia merampas barang-barang itu tanpa ada kelanjutannya.
Dugaannya benar.
Tak lama kemudian ia mendengar suara derap kaki kuda tunggal datang dari jauh dan segera muncul Gan Han Le menunggang kuda, memboncengkan seorang penduduk dusun yang sudah tua.
Orang tua itu kelihatan ketakutan dan ketika Han Le melompat turun dari kudanya sambil membawa tubuh orang tua itu turun, dia segera berlutut.
"Ampunkan saya... jangan bunuh saya..."
Han Le mengerutkan alisnya.
"Jangan takut, paman. Aku membawa paman ke sini bukan untuk membunuhmu, melainkan untuk memberi tahu bahwa sebagian barang milik penduduk dusun yang malam tadi dirampok, berada di sini. Sayang aku tidak dapat mengembalikan semuanya. Beritahukan kepada para penduduk bahwa sebagian barang itu berada di sni dan suruh mereka mengambilnya kembali."
"Ahhh...!"
Petani itu kelihatan terkejut dan girang, lalu memandang tumpukan barang itu, lalu berlari menghampiri dan mengambil sebuah keranjang berisi pakaian dan barang-barang lain.
"Ini milik kami..."
"Kalau milikmu ambillah kembali, paman, akan tetapi harap cepat pergi ke dusun memberi tahu kepada mereka yang kehilangan barang agar cepat mengambilnya ke sini."
"Baik, baik... Taihiap... ah, terima kasih, Taihiap..."
Kata orang itu memberi hormat, lalu pergi dengan cepat sambil memanggul kembali keranjang yag terisi pakaian keluarganya yang tadi dirampok.
Sejenak Gan Han Le mengikuti kepergian orang itu, kemudian menoleh ke arah tumpukan barang-barang, dan menarik napas panjang, Pada saat itu Yu Bwee yang tidak ingin melihat Han Le pergi lagi sebelum bertemu dengannya, meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan berlari cepat menghampiri.
Han Le terkejut bukan main melihat munculnya orang secara tiba-tiba itu, akan tetapi ketika dia mengenal siapa gadis itu, dia makin terkejut dan terheran, akan tetapi juga girang sekali.
Dia meloncat turun dari atas kudanya dan memandang wajah gadis itu dengan mata bersinar-sinar dan senyum berseri.
Gadis yang selama ini tak pernah meninggalkan ingatannya itu kini tiba-tiba saja berdiri di depannya!
"Gan...
Ciangkun...!"
Kata Yu Bwee sambil menjura, kata terakhir terdengar penuh nada mengejek. Wajah Han Le menjadi kemerahan ketika dia membalas penghormatan itu.
"Ah,... nona Yu, harap jangan menyebutku seperti itu. Aku masih tetap Gan Han Le seperti dahulu..."
"Benar, akan tetapi dengan kedudukan sebagai seorang panglima yang ditakuti dari pasukan Tai Peng yang...merampok, bukan?"
Wajah itu semakin merah.
"Nona, agaknya engkau telah sejak tadi mengintai, maka tentu engkau tahu bagaimana sikapku terhadap perampok-perampok tak tahu malu itu. Sayang aku hanya dapat mengumpulkan barang-barang rampasan sebegini saja, karena aku tahu setelah terlambat. Tak kusangka bahwa pasukan pilihan dari Tai Peng melakukan perampokan, dan aku akan menuntut Lee-Ciangkun mengenai perbuatan yang memalukan ini! Akan tetapi, bagaimana engkau tiba-tiba saja berada di sini, nona? Bukankah engkau masih berada di Yehol, ataukah sudah kembali ke kotaraja?"
"Baru beberapa hari aku sekeluarga tinggal di dalam dusun yang dirampok oleh anak buahmu, Ciangkun. Kami melawan dan berhasil mengusir para perampok, akan tetapi Ayah terluka dan barang kami ada yang dilarikan. Aku mengejar sampai di sini, dan bertemu dengan engkau yang ternyata telah menjadi seorang perwira Tai Peng, perwira dari pasukan yang merampok dusun kami! Gan-Ciangkun, aku minta pertanggung-jawabanmu atas malapetaka yang meimpa dusun kami, atas tewasnya beberapa orang dan terlukanya banyakorang termasuk Ayahku, juga atas terculiknya beberapa orang gadis, dan perampokan atas barang-barang penduduk dusun. Kami berhadapan sebagai musuh!"
Han Le kelihatan terpukul dan sedih sekali.
"Dengarlah dulu, nona. Sungguh mati aku tidak tahu sama sekali bahwa pasukan Tai Peng suka melakukan kejahatan seperti ini, dan baru malam ini aku menhetahuinya. belum lama aku diterima menjadi panglima oleh raja di Nan-king dan aku menghambakan diri kepada pasukan Tai Peng yang kuanggap sebagai pasukan kau m patriot yang hendak membebaskan bangsa dari penjajah. Aku mendapat tugas melakukan pembersihan di perbatasan utara, menagkap dan membasmi para mata-mata musuh yang mempersiapkan pemberontakan mengepung Nan-king. Nah, agaknya aku selalu nampak buruk di depanmu, nona, seperti juga dahulu ketika aku difitnah di yehol. maukah engkau percaya kepadaku, nona Yu?"
Mereka saling pandang dan tentu saja Yu Bwee percaya kepada pemuda ini.
Tadipun ia sudah dapat meduga apa yang terjadi, dan sikap Han Le terhadap para perampok sudah jelas menunjukkan bahwa dalam hal perampokan-perampokan itu, pemuda ini sama sekali tidak bersalah dan tidak tahu-menahu.
"Aku percaya kepadamu. Akan tetapi apa artinya kepercayaan itu? Kalau engkau tidak keluar dari pasukan yang suka merampok itu, bagaimana aku dapat mempercayaimu lagi selanjutnya?"
Han Le mengepal tinju.
"Andaikata aku tidak berjumpa denganmupun, aku pasti akan mengurus hal ini, akan kutuntut kepada Lee-Ciangkun! Aku bukanlah orang yang suka menjadi perampok, nona. Aku akan tuntut dia, dan aku akan keluar dari pasukan Tai Peng kalau ternyata pasukannya melakukan kejahatan!"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa keras.
Han Le dan Yu Bwee terkejut sekali dan Han Le sudah meloncat ke dekat Yu Bwee, siap untuk saling melindungi dengan gadis yang telah menjatuhkan hatinya itu.
Dan muncullah seorang panglima yang bukan lain adalah Lee Song Kim!
Dialah yang tertawa tadi dan di belakangnya ampak para pembantunya, antara lain Tiat-Pi Kim-Wan, Seng-jin Sin-touw, juga dua orang wanita pembantunya yang setia, yaitu Theng Ci ketua Ang-Hong-Pai, dan Sing-kiam Moli serta beberapa orangtokoh kang-ouw lagi.
Akan tetapi, Han Le tidak merasa takut melihat munculnya panglima yang sebetulnya merupakan atasannya itu.
"Kebetulan sekali engkau datang, Lee-Ciangkun!"
Katanya dengan suara lantang.
"Memang aku ingin sekali pergi menghadapmu dan ingin mengajukan tuntutan atas sepak terjang anak buahmu yang memimpin pasukan untuk merampoki dusun-dusun!"
Kembali Lee Song Kim tertawa dan sepasang mataya yang tajam dan genit itu kini mengamati Yu Bwee yang cantik manis.
"Ha-ha-ha-ha! Sudah lama kuragukan kesetiaanmu, orang she Gan. Ternyata sekarang terbuktilah bahwa engkau hanyalah seorang pengkhianat yang berpihak kepada mata-mata pihak musuh! Kiranya engkau telah menjadi mata-mata musuh yang diselundupkan ke dalam pasukan kami!"
"Itu bohong!"
Benak Han Le.
"Bohong? Pasukan kami membasmi para mata-mata musuh yang bersembunyi di dalam dusun-dusun, merampas barang-barang musuh, akan tetapi engkau malah membela musuh, memukuli para perajurit sendiri, merampas barang-barang untuk dikembalikan kepada para mata-mata musuh! Dan lebih hebat lagi, sekarang engkau berada di sini dengan seorang mata-mata Kerajaan Mancu! Bukankah itu sudah menjadi bukti yang cukup?"
"Bohong lagi! Nona ini bukan mata-mata Mancu..."
"Ha-ha-ha, pengkhianat Gan, kau kira kami ini orang-orang bodoh yang dapat kau bohongi begitu saja? Kami tahu siapa perempuan ini. Ia mata-mata dari Kerajaan Mancu, seorang puteri bangsawan she Yu."
"Lee-Ciangkun, kiranya tidak perlu banyak perbantahan dengan pengkhianat ini, biar kami yang menangkap mereka!"
Kata Tiat-Pi Kim-Wan yang sudah menerjang maju, Diikuti Seng-jin Sin-touw, juga Theng Ci dan Sin-kiam Moli menerjang dan mengeroyok Han Le dan Yu Bwee dengan pedang mereka.
Lee Song Kim sendiripun cepat menerjang dan menyerang Han Le dengan pedangnya sehingga senjata menyambar ke arah tubuh Han Le dan Yu Bwee.
Namun, dua orang muda ini sudah siap siaga menghadapi pengeroyokan ini, maka mereka sudah cepat saling membelakangi karena dengan cara demikian mereka dapat saling melindungi kawan sambil melakukan perlawanan.
Han Le mencabut pedangnya, pedang sebagai tanda kedudukannya dalam pasukan Tai Peng, sedangkan Yu Bwee juga mengeluarkan pedangnya, mengamuklah dua orang muda ini menghadapi para pengeroyoknya yang terdiri dari banyak orang pandai itu.
Yu Bwee dikeroyok oleh dua orang wanita yang amat lihai, yaitu Theng Ci ketua Ang-Hong-Pai dan Sin-kiam Moli.
Dua orang wanita ini adalah para pembantu Lee Song Kim yang setia dan lihai bukan main, keduanya merupakan ahli-ahli pedang yang berpengalaman.
Sedangkan Yu Bwee adalah seorang gadis remaja yang usianya baru menjelang delapan belas tahun, dibandingkan dua orang wanita pengeroyoknya tentu saja kalah jauh dalam hal pengalaman dan kematangan ilmu silat.
Akan tetapi ia adalah puteri Ibunya Ceng Hiang, seorang wanita sakti yang mewarisi beberapa macam ilmu kesaktian dari Keluarga Pendekar Pulau Es.
Biarpun pengeroyoknya dua orang wanita itu berbahaya sekali, Namun dengan Ilmu Pek-seng Sin-pouw yang membuat ia dapat mengatur langkah-langkah ajaib sehingga mudah menghindarkan diri dari ancaman pedang kedua orang pengeroyoknya, dan dengan ilmu pedangnya yang amat cepat gerakannya, Yu Bwee dapat mengimbangi mereka, dapat membalas dengan tak kalah dahsyatnya pula.
Han Le sendiri juga repot menghadapi Lee Song Kim yang amat lihai karena Song Kim masih dibantu oleh orang-orangnya yang berilmu tinggi, terutama sekali Tiat-Pi Kim-Wan dan Seng-jin Sin-touw.
Akan tetapi, pemuda perkasa ini mengamuk dengan hebatnya, mengeluarkan semua ilmu kepandaian yang pernah dipelajarinya dari gurunya, dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Sukarlah bagi Song Kim untuk merobohkannya, bahkan banyak sudah mengeroyoknya yang kurang tinggi ilmunya roboh oleh Han Le, juga oleh amukan Yu Bwee.
Yang lebih repot lagi adalah Yu Bwee.
Dua orang lawan utamanya, yaitu Theng-Toanio atau Theng Ci ketua Ang-Hong-Pai dan Sin-kiam Moli amatlah tangguhnya, apalagi dua orang wanita ini masih dibantu oleh belasan orang perwira, seperti halnya mereka yang mengeroyok Han Le, Yu Bwee sudah merasa lelah sekali, gerakan pedangnya mulai mengendur dan benar-benar terancam bahaya maut.
Pada saat itu, datang pula pasukan yang dipimpin oleh Tang Ki, Sang Pemaisuri!
Kiranya permaisuri ini sedang menemani Kaisar yang berburu di hutan tak jauh dari situ dan begitu mendengar keterangan pasukan bahwa Gan Han Le memberontak dan kini sedang diserang oleh Lee Song Kim dan para pembantunya, iapun cepat datang ke tempat itu.
Dilihatnya Gan Han Le dan seorang gadis cantik sedang mengamuk dan dikepung.
Ia marah sekali dan cepat ia menyerbu dan begitu ia meloncat, tubuhnya seperti terbang saja berada di atas Yu Bwee dan pedangnya berkelebat menyambar-nyambar dari atas, ia telah mempergunakan ginkang dari Ilmu Hui-thian Yan-cu yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Tat-mo Couw-su itu.
Memang ginkang dari permaisuri ini hebat sekali.
Yu Bwee terkejut.
Biarpun ia cepat mengelak sambil mengelebatkan pedangnya menangkis, tetap saja pundaknya tercium ujung pedang Tang Ki, bajunya robek dan pundaknya terluka.
Walaupun tidak parah luka itu, namun membuat Yu Bwee menjadi semakin terdesak dan repot, apalagi kini Tang Ki membantu dua orang wanita lihai mengeroyoknya.
Lewat belasan jurus lagi, sebuah tendanga kaki Sin-kiam Moli mengenai lambung Yu Bwee.
Gadis ini sudah melindungi lambung yang tertendang dengan sinkang sehingga ia tidak menderita luka dalam yang parah, namun tetap saja ia terpelanting roboh!
Kesempatan ini dipergunakan oleh Tang Ki untuk menyerangnya dengan pedang.
Yu Bwee bergulingan menyelamatkan diri sambil menangkis, akan tetapi keselamatannya terancam hebat ketika TangKi terus emngejar dan menyerangnya bertubi-tubi.
Akhirnya Yu Bwee berhasil meloncart bangun akan tetapi tetap saja pangkal lengan kirinya terserempet pedang dan kembali darah mengucur dari lukanya.
tang Ki menyusulkan tendangan dan tubuh Yu Bwee terguling lagi, sekali ini agak payah karena tendangan yang mengenai atas lututnya itu membuat sebelah kaki terasa nyeri dan kaku.
Tang Ki tidak emberi kesempatan lagi dan menubruk dengan pedangnya.
"Tarrr...!"
Tiba-tiba terdengar letusan dan nampak asap mengepul dari sebuah pistol kecil yang dipegang oleh Han Le.
Tang Ki mengeluarkan jerit tetahan dan roboh terjungkal!
Peristiwa ini amat mengejutkan semua orang, terutama Lee Song Kim yang sama sekali tidak menyangka bahwa Han Le akan mempergunakan pistolnya menyerang permaisuri sehingga permaisuri itu roboh.
"Pasukan bersenapan, tangkap dia!"
Teriaknya dengan penuh penyesalan karena baru sekarang dia teringat untuk mempergunakan pasukan bersenjata api untuk menghadapi dua orang muda itu.
Tadi, dia sudah merasa yakin akan dapat merobohkan Han Le dan Yu Bwee dengan pengeroyokan itu, maka dia tidak sedikitpun teringat untuk mempergunakan pasukan bersenjata api, Kini, penggunaan pistol oleh Han Le seperti mengingatkannya.
Terdengar tembakan-tembakan ke atas sebagai ancaman dan kini belasan orang yang memegang senjata api menodongkan moncong senjata mereka kepada Han Le dan Yu Bwee.
"Kalian berdua menyerah, lempar senjata, atau kami tembak!"
Bentak Lee Song Kim, Han Le tidak melihat jalan lain kecuali menyerah.
Tadi dia terpaksa mempergunakan pistolnya untuk menolong Yu Bwee yang terancam bahaya maut, jatuh dan diserang oleh Tang Ki.
Kini, melihat belasan orang menodong dia dan Yu Bwee, dia maklum bahwa pemainannya telah selesai dan kalau dia lanjutkan, sama saja dengan membunuh diri dan membunuh Yu Bwee.
Maka diapun melepaskan pistol dan berbisik.
"Tidak ada jalan lain, kita harus menyerah."
Sebetulnya Yu Bwee tidak ingin menyerah karena menyerahpun besar sekali kemungkinannya mereka akan dibunuh, lebih keji lagi.
Akan tetapi melihat betapa Han Le telah menyerah, iapaun tidak dapat berbuat lain kecuali melepaskan pedangnya, akan tetapi pandang matanya terhadap Han Le berubah menjadi penuh keraguan.
Pemuda itu aneh sekali.
Jelas ia melihat pemuda itu tadi mengamuk, membunuh banyak orang, bahkan telah menembak tewas permaisuri Raja Tai Peng.
Ia sudah banyak mendengar tentang permaisuri ini dari Ibunya, maka ketika tadi Tang Ki terjun ke dalam pertempuran dan melihat akan sikap semua orang pihak lawan demikian menghormatinya, iapun dapat menduga bahwa wanita itu tentulah sang permaisuri yang menurut Ibunya memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai, bahkan pemaisuri itu dahulu di waktu masih gadis dan belum menjadi pemaisuri raja pemberontak Tai Peng, pernah bersahabat erat sekali dengan Ibunya.
Akan tetapi sekarang, setelah tertodong senjata api pihak lawan, pemuda ini tidak melanjutkan amukannya, bahkan tiba-tiba saja menyerah!
Ia sama sekali tidak tahu bahwa Han Le menyerah bukan karena takut, melainkan karena ingin menyelamatkan Yu Bwee.
Baru ia tahu akan hal ini ketika Han Le berkata kepada Lee Song Kim dengan suara lantang.
"Lee Song Kim, dengarlah baik-baik. Nona ini bernama Yu Bwee dan ia sama sekali bukan mata-mata Kerajaan Mancu. Ia adalah seorang di antara penghuni dusun yang dirampok oleh pasukan yang menyeleweng dan ia melakukan pengejaran sampai kesini. Aku sudah memberontak terhadap Tai Peng karena melihat sepak terjang Tai Peng yang menyeleweng dari kebenaran, dan aku pula yang telah menembak mati sang permaisuri. Oleh karena itu, aku menyerahkan diri dan berani mempertanggung-jawabkan semua perbuatanku. Akan tetapi nona Yu Bwee tini tidak bersalah, maka harap dibebaskan sekarang juga!"
Lee Song Kim yang tadi terkejut bukan main, kemudian marah sekali melihat betapa Tang Ki, permaisuri yang menjadi kekasihnya itu, mati tertembak oleh Han Le, mendengar ucapan Han Le tertawa mengejek.
"Membebaskan? Tidak begitu mudah, pengkhianat! Tangkap mereka dan belenggu!"
Teriaknya dan para anak buahnya lalu membelenggu kedua tangan Han Le dan Yu Bwee, diikat di belakang tubuh mereka.
Lee Song Kim maju menotok pundak mereka dua kali kanan kiri, membuat Han Le dan Yu Bwee tidak mampu lagi mengerahkan tenaga menggerakkan kedua lengan mereka.
Dengan kemarahan yang meluap, Song Kim yang merasa sakit hati sekali kepada mereka, menyeret sendiri dua orang tawanan yang sudah tidak berdaya itu, memasuki sebuah tenda besar yang didirikan anak buahnya tak jauh dari situ.
Dia menyeret kedua orang tawanan itu masuk ke dalam tenda, lalau melemparkan tubuh Yu Bwee ke atas sebuah pembaringan darurat sedangkan tubuh Han Le dia kemparkan ke atas lantai.
Dua orang muda itu tidak mampu melawan karena tubuh mereka lemas tertotok, tidak dapat mereka mengerahkan sinkang mereka.
Mereka melihat betapa wajah Lee Song Kim menjadi beringas merah sekali, sepasang matanya mendelik menakutkan.
"Keparat busuk engkau Gan Han Le! Engkau telah menembak mati pemaisuri, dosamu sungguh tak terukur besarnya."
"Hemm, engkau merasa kehilangan seorang kekasih gelap, bukan seorang atasan,"
Kata Han Le, (Lanjut ke
Jilid 17 -Tamat) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 (Tamat) sikapnya masih tenang.
"Plakkk!"
Sebuah tendangan mengenai pipi Han Le dan darah mengucur dari bibir yang pecah.
Kalau saja Lee Song Kim tidak begitu marah sehingga dia tidak ingin membunuh Han Le secara mudah, tentu tendangannya itu akan dapat mematikan.
Akan tetapi tidak.
Dia menendang hanya untuk menyiksa, bukan untuk membunuh maka tendangannya hanya mengandung tenaga kaki biasa, cukup untuk membuat pipi Han Le menjadi biru lembam dan bibirnya pecah.
tidak, dia tidak akan membunuhnya demikian mudah!
"Benar!
Permaisuri Tang Ki adalah kekasihku!
Dan engkau telah membunuhnya!
Sekarang, aku ingin membuka matamu melihat betapa kekasihmu juga kusiksa lahir batinnya!"
Berkata demikian, dengan senyum kejam Lee Song Kim mulai menanggalkan baju luarnya.
Melihat ini, seketika wajah Han Le menjadi pucat sekali karena dia dapat menduga apa yang akan dilakukan manusia iblis itu terhadap Yu Bwee yang terlentang tak berdaya di atas pembaringan.
"Ha-ha-ha, engkau boleh lakukan apa yang kau suka!"
Dia sengaja tertawa mengejek.
"Kau kira akan dapat menyakitkan hatiku karena melihat ia kau siksa? Ia bukan kekasihku! Aku hanya ingin melihat ia tidak tersangkut dalam urusanku denganmu. Ia bukan apa-apaku, percuma saja engkau akan menyiksanya di depan mataku!"
"Cukup!"
Song Kim membentak.
"Kau kira aku bodoh dan dapat kau tipu dengan kata-katamu ini? Aku tahu kalian saling mencinta, mudah dilihat ketika kalian dikeroyok dan saling melindungi tadi. Bahkan engkau tadi menembak permaisuri sampai tewas untuk melindungi gadis ini! Engkau telah membunuh wanita yang kucinta, sekarang aku akan memperkosa gadis yang kau cinta di depan matamu!"
Berkata demikian, dengan hanya mengenakan pakaian dalam, dengan sikap beringas Song Kim menghampiri pembaringan.
"Lee Song Kim, nanti dulu!"
Teriak Han Le, kini tak dapat lagi berpura-pura karena ternyata ucapannya tadi tidak dipercaya Song Kim.
"Ingat, engkau adalah pembantu utama dari Raja Ong Siu Coan, alangkah hina dan rendahnya kalau engkau hendak melakukan perbuatan terkutuk itu! Lepaskan nona Yu Bwee dan engkau boleh menyiksa aku sampai mati! Lepaskan nona itu!"
Akan tetapi Song Kim tertawa gembira.
"Ha-ha, tidak ada siksaan yang lebih hebat bagimu daripada melihat wanita yang kau kasihi diperkosa orang di depan matamu tanpa engkau mampu berbuat sesuatu! Aku akan memperkosanya dan membunuhnya, dan engkau... bagianmu akan ditentukan oleh Sri Baginda sendiri!"
Kini tangan Song Kim meraih ke arah tubuh Yu Bwee.
"Lee Song Kim..."
Han Le berteriak dan berusaha melepaskan belenggu kedua tangannya dengan sia-sia.
"Brettt...!"
Baju luar Yu Bwee terobek dalam cengkeraman tangan Song Kim dan gadis itu mengeluarkan jerit ketakutan.
Ia menghadapi ancaman bahaya yang amat mengerikan hatinya.
Padahal, ancaman maut tidak akan membat gadis ini berkedip mata.
Pada saat yang amat gawat dan berbahaya bagi Yu Bwee itu, tiba-tiba kain tenda terobek dari belakang dan berkelebat bayangan dua orang memasuki tenda.
Mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis.
Pemuda itu dengan sigapnya lalu menyerang Song Kim dengan sebuah senjata aneh, yaitu senjata kipas yang gagangnya runcing terbuat dari baja.
Serangannya cepat dan kuat sekali.
Han Le tidak lupa kepada gadis itu, karena pernah dia bertemu dengannya, bahkan pernah pula dia bertanding melawan gadis cantik yang wajahnya berseri cerah itu.
Akan tetapi kini dia tertarik melihat betapa pemuda bersenjata kipas itu menyerang Lee Song Kim yang sudah membalas serangan dengan pedangnya sambil bersuit mengeluarkan tanda bahaya, memanggil para pembantunya.
Gadis manis yang mempunyai tahi lalat merah di dagunya bagian bawah itu segera meloncat ke dekat pembaringan, lalu menggunakan jari tangannya membebaskan totokan yang membuat Yu Bwee tak mampu bergerak tadi.
Begitu ia dapat menggerakkan lagi kaki tangannya, Yu Bwee lalu mengerahkan sinkangnya dan belenggu kedua tangannya dapat dibikin putus dengan tidak sukar lagi.
Yu Bwee tidak sempat mengucapkan terima kasih karena gadis itu kini sudah menarik sebatang tongkat dari ikat pinggangnya dan kini ia membantu pemuda yang mainkan kipasnya, Lee Song Kim terkejut dan terhuyung ke belakang.
tentu saja dia mengenal ilmu kedua orang lawannya ini.
Ilmu kipas itu jelas adalah ilmu kipas dari mendiang San-tok, sedangkan ilmu tongkat yang dimainkan gadis manis ini tentu ilmu dari Tee-tok yang disebut Cui-beng Hek-pang (Tongkat Hitam pengejar Nyawa)!
Karena maklum akan kelihaian lawan, apalagi melihat Yu Bwee telah terlepas, diapun cepat meloncat keluar dari tenda itu, dikejar oleh pemuda dan gadis yang perkasa itu.
Dugaan Lee Song Kim tidak keliru.
Pemuda itu bukan lain adalah Tan Bun Hong.
Seperti kita ketahui, Tan Bun Hong adalah putera dari pasangan Tan Ci Kong dan Siauw Lian Hong dan telah mewarisi ilmu-ilmu San-tok, termasuk ilmu mempergunakan kipas sebagai snjata itu.
Adapun gadis itu adalah Thio Eng Hui, puteri dari Thio Ki dan Ciu Kui Eng.
Ayahnya, Thio Ki adalah ketua Kang-Sim-Pang, seorang ahli pedang yang lihai, sedangkan Ibunya adalah murid tersayang dari Tee-tok.
Tentu saja Eng Hui mewarisi ilmu tongkat Cui-beng Hek-pang yang menjadi andalan Ibunya.
Muda-mudi ini membantu perjuangan rakyat, dan para pendekar telah bergabung dan membantu gerakan yang dipimpin oleh Li Hong Cang dan Ceng Kok Han.
Seperti diketahui, gerakan rakyat yang dipimpin oleh dua orang gagah ini sekarang mencurahkan segenap perhatian dan kekuatan mereka untuk menghadapi pemerintah Tai Peng.
Bun Hong dan Eng Hui ditugaskan untuk melakukan penyelidikan di sepanjang perbatasan dan kebetulan saja mereka melihat dari tempat pengintaian mereka ketika Han Le dan Yu Bwee dikeroyok banyak orang Tai Peng yang dipimpin sendiri oleh Lee Song Kim.
Bahkan mereka melihat sendiri betapa Han Le membunuh Permaisuri Tang Ki dengan pistolnya dan hal ini saja sudah meyakinkan hati mereka bahwa Han Le dan Yu Bwee adalah orang-orang yang boleh digolongkan sebagai kawan karena telah bertempur melawan orang-orang Tai Peng.
Apalagi sudah berjasa membunuh permaisuri!
Biarpun hati Eng Hui diliputi keheranan besar tentu saja.
Ia pernah bertemu dengan pemuda bermata biru itu, bahkan pernah bertanding dengannya karena ia dan kawan-kawannya menganggap pemuda itu mata-mata Tai Peng.
Dan sekarang, ternyata pemuda itu malah membunuh permaisuri dari Raja Tai Peng!
Tentu saja ia dan Bun Hong tidak mempunyai banyak waktu untuk menyelidiki keanehan ini dan melihat betapa Yu Bwee terancam bahaya perkosaan oleh Lee Song Kim, Jiwa pendekar mereka memberontak dan merekapun segera turun tangan mencegah perbuatan terkutuk itu!
Ketika Lee Song Kim meloncat keluar dikejar oleh Bun Hong dan Eng Hui, Yu Bwee cepat membebaskan Han Le dan mereka berduapun segera memburu keluar untuk membantu dua orang muda yang telah menyelamatkan mereka tadi.
Akan tetapi, setelah tiba di luar, mereka melihat betapa keadaan di situ kacau balau dan pertempuran terjadi antara pasukan Tai Peng melawan pasukan yang datang menyerbu!
Melihat betapa pemuda dan gadis yang tadi menolong mereka kini dikeroyok oleh banyak orang, Han Le dan Yu Bwee segera terjun ke dalam pertempuran.
Dengan mudah mereka merobohkan beberapa orang anggauta pasukan Tai Peng dan merampas senjata mereka.
Han Le juga merampas sebatang pedang dan ketika hendak keluar dari dalam tenda, dia telah mengambil kembali pistolnya yang tadi dibawa oleh Song Kim dan diletakkan di atas bangku di sudut tenda.
Kini pistol kecil kesayangannya itu telah diselipkan di pinggang dan dia mengamuk besama Yu Bwee, dikeroyok banyak orang.
Kemana perginya Lee Song Kim?
Ketika dia meloncat keluar dari dalam tendanya, dia terkejut sekali mendengar ribut-ribut di luar seperti terjadi penyerbuan.
Dia cepat meneriaki para pebantunya yang datang berlarian dan segera para pembantunya itu mengepung dan mengeroyok Bun Hong dan Eng Hui, sedangkan Lee Song Kim sendiri cepat lari keluar setelah mendengar bahwa memang terjadi penyerbuan dari tentara rakyat, dipimpin oleh seorang Kakek bermuka buruk yang lihai sekali.
Ketika dia tiba di tempat di mana pasukan rakyat itu menyerbu, benar saja dia melihat seorang Kakek bertubuh jangkung yang pakaiannya sederhana serba putih, mukanya penuh cacat dan buruk sekali, tubuhnya agak bongkok, sedang mengamuk!
Kakek itu memimpin pasukan rakyat yang juga mengamuk dan menyerbu pasukan Tai Peng, dan sepak terjang Kakek itu sungguh menggiriskan sekali.
Belum pernah Song Kim melihat sepak terjang oang seperti Kakek buruk rupa itu.
dengan kedua tangan kosong, Kakek itu menyambut datangnya hujan senjata dan setiap kali ada senjata bertemu dengan kedua tangannya, maka senjata itu akan terlepas dari tangan pemegangnya dan Kakek itu menangkap-nangkapi orang seperti orang mencabut rumput saja, melempar-lemparkannya dengan ringan sekali!
Diam-diam Lee Song Kim terkejut dan juga gentar.
Mudah sekali diketahui bahwa Kakek itu merupakan seorang lawan yang amat tangguh dan sukar dikalahkan.
Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat seorang wanita di belakang Kakek itu dan jantungnya berdebar keras.
Sheila!
Itulah Sheila!
Ibu dari Gan Han Le yang kini mungkin telah bebas dan ikut mengamuk lagi bersama Yu Bwee dan dua orang anak muda yang baru datang menyelamatkan mereka.
Tahulah Song Kim bahwa keadaannya amat berbahaya.
Kakek ini harus dilenyapkan lebih dulu, kalau tidak, akan celakalah pasukannya menghadapi amukan seorang Kakek yang kekuatannya tidak lumrah manusia itu.
Diapun segera membari isyarat kepada pasukan senjata api yang sudah siap.
Pasukan ini tadi tidak dapat mempergunakan senapan, karena hal ini akan membahayakan teman-teman sendiri.
"Tembak mampus Kakek itu!"
Teriak Lee Song Kim kepada pasukan senapan yang hanya belasan orang jumlahnya itu. kini sia merasa menyesal mengapa dia tidak embawa pasukan senapan yang lebih besar.
"Tapi... Ciangkun, berbahaya sekali, bisa mengenai teman sendiri..."
Kata komandan pasukan kecil itu.
"Tidak perduli! Yang penting, Kakek itu harus memapus! Tembak dia!"
Bentak Lee Song Kim yang merasa semakin gentar melihat betapa Kakek itu sudah merobohkan lagi empat orang dengan beberapa gerakan saja.
Kakek itu bukan lain adalah Bu Beng Kwi!
Dia terpaksa memenuhi permintaan Sheila yang telah menjadi isterinya, untuk pergi mencari Han Le yang telah melarikan diri meninggalkan mereka karena marah dan menyesal melihat betapa Ibunya telah menjadi isteri dari musuh besar keluarga mereka.
Bu Beng Kwi mengajak isterinya mencari Han Le dan mereka berdua dapat menduga bahwa tentu Han Le telah pergi ke tempat di mana terdapat pertempuran karena mereka maklum bahwa pemuda itu bercita-cita untuk mengikuti jejak Ayah kandungnya, menjadi seorang pejuang dan pendekar.
Akan tetapi usaha mereka selalu menemui kegagalan dan sampai sekian lamanya mereka belum juga dapat menemukan jejak Han Le.
Akhirnya, Bu Beng Kwi mengajak isterinya mengunjungi dua orang muridnya yang kini telah menjadi pemimpin-pemimpin rakyat, yaitu Ceng Kok Han dan Li Hong Cang.
Dua orang pemimpin pasukan pejuang ini girang menerima kunjungan guru mereka walaupun mereka merasa agak canggung ketika melihat betapa Sheila, wanita kulit putih yang pernah membuat mereka berdua tergila-gila ketika mereka masih merupakan pemuda-pemuda romantis itu, kini telah menjadi isteri guru mereka.
Di tempat inipun Bu Beng Kwi tidak menemukan Han Le, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mendengar bahwa ada mata-mata pejuang yang mendengar bahwa kini Gan Han Le telah menjadi seorang panglima di pasukan Tai Peng!
Mata-mata tu menderitakan pula betapa kini panglima Gan Han Le membawa pasukan dan mengadakan pembersihan di sekitar perbatasan dan betapa banyak mata-mata pasukan pejuang dan pasukan pemerintah dibasmi oleh gerakan pembersihan yang dilakukan oleh Gan Han Le.
"Celaka!"
Teriak Bu Beng Kwi.
"Hal ini harus dicegah! Dia telah menyeleweng. Aku sendiri yang akan menyadarkannya!"
"Aku akan ikut, aku akan dapat menyadarkannya!."
Kata Sheila.
Sebetulnya Bu Beng Kwi agak keberatan.
Dia akan memimpin pasukan untuk mencari muridnya itu di perbatasan yang berbahaya di mana banyak terjadi pertempuran.
Akan tetapi Sheila tidak mau dibantah dan akhirnya diapun membiarkan isterinya ikut bersamanya, dan kedua orang muridnya itu menyerahkan sepasukan pejuang pilihan untuk menyertai guru mereka.
Demikianlah Bu Beng Kwi, Sheila dan pasukan itu berangkat ke perbatasan dan dari mata-mata pejuang dia mendengar bahwa kini pasukan Gan Han Le sedang mengadakan pembersihan di mana mereka melakukan pembunuhan dan perampokan terhadap rakyat yang tidak berdosa.
Mendengar ini, Bu Beng Kwi dan Sheila cepat membawa pasukan ke tempat itu dan di tengah hutan itulah mereka melihat pasukan yang sedang mengeroyok Bun Hong dan Eng Hui.
Bu Beng Kwi yang mendengar dari anggauta pasukan bahwa dua orang itu adalah dua di antara para pendekar yang bergabung dengan pasukan pejuang rakyat dan menjadi mata-mata bagi pasukan rakyat, tanpa ragu lagi segera memerintahkan pasukan untuk menyerbu pasukan Tai Peng dan membantu dua orang pendekar itu.
Sedangkan dia sendiri ikut mengamuk sambil melindungi Sheila yang berada di belakangnya.
Pada saat Bu Beng Kwi mengamuk sambil melindungi isterinya, tiba-tiba terdengar letusan dahsyat beruntun.
Api menyambar dari asap moncong belasan buah senapan yang semuanya dibidikkan ke arah tubuh Bu Beng Kwi!
Akan tetapi, ketangkasan ilmu silat telah mendarah daging dalam diri Kakek ini, sehingga begitu telinganya mendengar letusan, otomatis tubuhnya melesat dengan cepatnya seperti burung walet saja dan semua peluru yang menyambar tubuhnya itu tidak ada yang mengenainya.
Akan tetapi, para perajurit yang memegang senjata api itu terus memberondongkan senjata mereka ke arah bayangan putih yang berkelebatan.
Bu Beng Kwi terus berloncatan sambil mendekati penembaknya dan dia berhasil melemparkan dua buah golok yang dirampasnya.
Dua buah golok itu terbang dan menembus dada dua orang di antara para penembak!
Tembakan terus berbunyi gencar dan banyak pula para pengeroyok Kakek itu yang terkena tembakan kawan-kawan sendiri!
Ketika Bu Beng Kwi hendak melanjutkan amukannya, tiba-tiba terdengar suara rintihan isterinya.
"Sheila...!"
Seketika tubuh Bu Beng Kwi lemas ketika dia melihat betapa isterinya telah menggeletak dengan baju bagian dada penuh darah.
"Sheila...!"
Dia menubruk dan cepat memeriksa kedaan isterinya. Dua butir peluru memasuki dada isterinya dan keadaannya amat parah.
"Sheila... kau... kau..."
"Dar...!"
Letusan pistol kecil dari moncong pistol di tangan Lee Song Kim tepat mengenai punggung Bu Beng Kwi.
Kakek itu tidak roboh, hanya tersentak kaget, sedikitpun tidak menoleh, masih berlutut dan memangku tubuh isterinya.
Sebelum Lee Song Kim sempat menembakkan pistolnya lagi, sebuah tendangan mengenai tangannya dan pistol itupun terlepas dan terlempar.
Song Kim cepat membalikkan tubuhnya dan dia berhadapan dengan Han Le!
Ketika Han Le dan Yu Bwee berloncatan keluar dari tenda dan melihat pertempuran, Yu Bwee langsung saja membantu pemuda dan gadis yang tadi menolongnya tanpa banyak cakap lagi, sedangkan Han Le segera membawa pedang rampasannya mencari Lee Song Kim!
Dia harus menemukan panglima yang jahat itu dan membunuhnya, sebagai hukuman atas apa yang telah dilakukannya tadi terhadap Yu Bwee, hampir memperkosa gadis itu di depan matanya.
Ketika dia mendengar suara tembakan berkali-kali dengan gencar, dia cepat berlari ke tempat itu dan alangkah kaget hatinya ketika dia melihat Ibunya dan gurunya berada di situ, betapa Ibunya telah roboh mandi darah dan gurunya memangku Ibunya.
Dia melihat pula betapa Lee Song Kim dengan amat curang menembak gurunya dari belakang, maka dengan kemarahan berkobar di dalam dadanya, dia melompat dan tepat dapat menendang tangan Lee Song Kim yang sudah siap menembakkan pistolnya lagi.
Pistol itu terlempar dan kalau dia menghendaki, dengan mudah saja Han Le dapat membunuh Song Kim dengan pistolnya.
Akan tetapi dia tidak mau melakukan kecurangan seperti itu dan kini dia menghadapi Song Kim dengan mata mendelik penuh kemarahan.
Mengingat betapa orang ini telah menembak gurunya dan betapa Ibunya juga tertembak dan mungkin sudah tewas, kedua mata Han Le menjadi basah dan dia marah bukan main.
"Jahanam busuk!"
Bentaknya dan dia segera menyerang dengan pedangnya.
Song Kim yang kehilangan pistol, menyambut dengan pedangnya pula dan terjadilah perkelahian yang seru dan mati-matian antara kedua orang itu.
Dalam kemarahannya, Han Le mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaga, mendesak dan menyerang dengan cepat dan kuat sekali.
Namun, Lee Song Kim memang amat lihai, jauh lebih berpengalaman dan orang yang suka mencuri dan mempelajari berbagai macam ilmu silat aliran lain ini terlalu tangguh untk dapat dirobohkan, bahkan sukar bagi Han Le untuk mendesaknya, dan segera dia sendiripun mulai terdesak oleh permainan pedang Song Kim yang berubah-ubah secara aneh dan lihai bukan main.
Bu Beng Kwi yang merangkul isterinya, malihat munculnya Han Le yang kini seorang diri melawan Song Kim, merasa terharu sekali.
"Sheila..."
Bisiknya.
"Lihat, itu anak kita..."
Sheila belum tewas walaupun keadaannya sudah payah.
Ia membuka mata memandang dan ketika ia melihat Han Le, Sheila tersenyum, akan tetapi hanya sebentar karena ia segera merasa khawatir.
Karena keadaannya sudah payah, ia tidak mampu lagi bersuara.
Akan tetapi pada saat itu, Sheila dan Bu Beng Kwi melihat seorang gadis yang menerjang maju membantu Han Le sambil berkata.
"Toako, mari kita bunuh manusia iblis ini!"
Melihat munculnya Yu Bwee, giranglah hati Han Le.
Bukan hanya girang karena memeperoleh bantuan menghadapi lawan yang amat tangguh ini, melainkan terutama sekali girang melihat gadis itu dalam keadaan selamat dan mau membantunya.
"Yu-Siocia, kita basmi orang jahat ini!"
Katanya dan Yu Bwee segera menerjang Song Kim dengan pedangnya.
Song Kim menyambutnya dengan tangkisan yang dilanjutkan serangan balasan yang amat dahsyat.
Namun, Han Le sudah menerjang dari samping sehingga terpaksa Song Kim menarik kembali serangannya terhadap Yu Bwee.
Demikianlah, dua orang muda itu mengeroyok Lee Song Kim.
Namun, orang she Lee ini memang lihai bukan main.
Biarpun dikeroyok oleh dua orang muda yang berkepandaian tinggi, tetap saja dia tidak merasa gentar, tidak terdesak, bahkan dia mengubah ilmu pedangnya menjadi dahsyat sekali dan mampu membendung serangan Yu Bwee dan Han Le dengan baiknya, mampu pula membalas dengan tidak kalah hebatnya.
Melihat betapa muridnya dan gadis cantik itu tdak mampu mendesak Song Kim, Bu Beng Kwi merasa penasaran.
Dia dapat melihat betapa lihainya Lee Song Kim dan tahulah dia bahwa murid pertama dari mendiang Hai-Tok cu agaknya telah memperoleh kemajuan yang amat hebat.
Agaknya, biarpun mengeroyok dua, muridnya dan nona itu tidak akan mampu memperoleh kemenangan dalam waktu singkat.
Padahal mereka berada di daerah yang dikuasai musuh, amatlah berbahaya kalau muncul pasukan Tai Peng yang lebih besar jumlahnya, padahal dia sendiri sudah luka parah.
Sebutir peluru memasuki punggungnya dan bersarang di dalam tubuhnya.
maka, diapun dengan lembut merebahkan isterinya sambil berbisik.
"Aku harus membantu anak kita."
Sheila mengangguk dan Bu Beng Kwi sejenak mengamati jalannya perkelahian itu, kemudian tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking tinggi dan panjang, lalu tubuhnya sudah melayang ke arah Lee Song Kim!
Orang ini terkejut bukan main.
Dia tahu betapa lihainya Kakek buruk rupa itu, maka begitu melihat Kakek itu menubruk dari atas, dia menyambutnya dengan tusukan pedang sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Bu Beng Kwi menyambut pedang itu dengan tangan kanannya, menangkis dengan tangan diputar bagian siku, dan tangan kirinya tetap melanjutkan serangan dengan tamparan ke arah kepala Lee Song Kim.
Lee Song Kim terkejut merasa betapa pedangnya bertemu dengan tangan yang kerasnya seperti baja dan dia tahu akan dahsyatnya tamparan itu, maka cepat dia melempar tubuh ke belakang dengan maksud hendak bergulingan menyelamatkan diri.
Akan tetapi, Han Le yang melihat serangan gurunya, segera siap siaga dan melihat Lee Song Kim melempar tubuh ke belakang, dia menyambutnya dngan tendangan.
"Dukkk!"
Biarpun Lee Song Kim yang tidak sempat mengelak lagi telah melindungi pahanya yang tertendang dengan tenaga sinkang, tetap saja tubuhnya terlempar dan terbanting keras, Dia menjadi marah sekali dan begitu dia meloncat bangun, dia sudah menodongkan sebuah pistol kepada Han Le!
Dia menyeringai beringas.
"Pengkhianat, mampuslah!"
Dan diapun menarik pelatuk pistolnya.
"Darrr! Darrr!"
Dua kali pistolnya meletus, akan tetapi Han Le sudah melempar tubuh ke atas tanah dan bergulingan, dan sebelum Lee Song Kim sempat menembak lagi, pistol di tangan Han Le yang dicabut cepat sekali telah memuntahkan peluru panas dengan suara ledakan keras.
Lee Song Kim terhuyung dan saat itu Yu Bwee menusukkan pedangnya, pertama mengenai pergelangan tangan kanannya sehingga pistolnya terlepas, kemudian pedang itu menusuk lambung.
Robohlah Lee Song Kim karena dadanya sudah ditembusi peluru, ditambah lagi dengan tusukan pedang di lambungnya.
Orang yang selama ini malang melintang dan menjagoi akhirnya roboh berkelojotan dan tewas.
Baca Juga: Dewi Maut 3
Baca Juga: Petualang Asmara 5