Ceritasilat Novel Online

Pemberontakan Taipeng 2

Eps 2 Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo

Baca online Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo

Cersil Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo.

Ketika Song Kim berjalan melalui lorong yang kecil, di kanan kirinya semak-semak belukar, dia bersikap waspada.

Penciumannya menangkap bau yang asing, bau binatang buas!

Tiba-tiba terdengan suara gerengan yang menggetarkan gunung itu dan Song Kim berhenti melangkah.

Dari dalam semak-semak muncullah dua ekor harimau yang besar, sebesar anak sapi!

Dia tidak tahu bahwa dua ekor harimau itu memang dikerahkan oleh Theng Toanio untuk menyerangnya.

Inilah serangan pertama yang dilakukan oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Theng Toanio.

Melihat Song Kim, dua ekor harimau itu menggereng-gereng dan menghampiri Song Kim dari samping, mata mereka melirik dan penuh kemarahan.

Song Kim berdiri tegak, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang dan siap karena dia tahu betapa kuat dan cepatnya binatang ini.

Dia sama sekali tidak merasa gentar karena yakin akan kekuatan sendiri.

Tiba-tiba binatang yang berada di sebelah kirinya mengaum dan menubruk dengan terkaman yang tinggi.

Song Kim mengelak dengan menyuruk ke samping sehingga tubrukan itu luput.

Harimau yang berada di kanan mengikuti gerakan temannya, kini menerjang ke depan dengan cakar kanan kiri menyambar buas.

Kembali Song Kim mengelak dengan loncatan ke belakang.

Harimau pertama menubruk lagi.

Song Kim memiringkan tubuh ke belakang, lalu ketika tubuh harimau itu melayang di sisinya, diapun menggerakkan tangan kanannya, memukul dengan jari terbuka ke arah dada binatang itu.

"Desss!!"

Tubuh binatang itu kuat sekali, akan tetapi pukulan Song Kim juga dahsyat sekali sehingga tubuh binatang itu terlempar dan terbanting keras.

Harimau kedua menubruk pula dari belakang.

Song Kim mendengar sambaran angin dari belakang, lalu membalikkan tubuh sambil mengayun kaki kirinya.

"Bukkk...!"

Sebuah tendangan yang amat kuat mengenai perut binatang itu, membuat tubuh binatang itu terlempar dan terbanting pula.

Agaknya, pukulan dan tendangan ini membuat dua ekor harimau menjadi ketakutan dan juga kesakitan.

Mereka mengeluarkan suara auman takut dan menyusup pergi, lenyap ditelan semak belukar.

Lee Song Kim mengebut-ngebutkan jubahnya, berdiri tegak lalu berseru dengan suara melengking tinggi dan nyaring karena dia telah mengerahkan khikangnya sehingga suara itu melebihi getaran auman harimau tadi dan menggema di seluruh permukaan bukit.

"Ang-Hong-Pai...! Kalau masih ada lagi pertunjukanmu, keluarkanlah!"

Mendengar suara melengking ini, dan melihat betapa laki-laki itu dengan mudah mampu mengusir dua ekor harimaunya, Theng Toanio kembali terkejut.

Akan tetapi ia memberi isyarat kepada pembantu-pembantunya untuk melanjutkan serangan berikutnya, yaitu menggunakan alat yang paling di andalkan .

lebah-lebah beracun!

Lebah-lebah yang ratusan banyaknya berada di tabung-tabung bambu yang besar, dan di dalam tabung itulah tinggal ratu lebah dan semua telur yang telah menetas.

Lebah-lebah itu buas dan menyerang siapa saja.

Akan tetapi para anggauta Ang-Hong-Pai tidak takut karena mereka telah menggunakan semacam minyak yang terbuat dari daun putih.

Bau minyak ini ditakuti lebah-lebah itu sehingga tidak seekorpun berani menganggu mereka.

Kini tabung-tabung itu dibuka dan ribuan ekor lebah merah berterbangan.

Mula-mula mereka nampak marah dan berterbangan di atas kepala para anggauta Ang-Hong-Pai, akan tetapi karena binatang-binatabg itu mencium bau yang amat ditakutinya,mereka lalu terbang tinggi mencari mangsa lain, dan tentu saja mereka segera terbang menuju ke arah Song Kim yang tidak memakai minyak anti lebah itu!

Ribuan lebah merah dengan mengeluarkan suara mendengung riuh kini menyerbu ke arah Song Kim yang berdiri tegak.

Dia sudah mendengar akan keganasan lebah-lebah merah ini, maka sebelum naik ke bukit itu, dia sudah siap siaga untuk menghadapinya.

Mula-mula dia mempergunakan jubahnya yang dilepas untuk diputar sedemikian rupa sehingga putaran jubah itu mendatangkan angin yang amat kuat.

Lebah-lebah itu terseret oleh putaran arus angin yang dibuat oleh putaran jubah.

Mereka ikut pula terputar-putar dan begitu Song Kim mengebutkan jubahnya dengan kekuatan besar, lebah-lebah itupun tertiup sampai pergi jauh.

Akan tetapi, lebah-lebah itu kembali lagi.

mereka kebingungan dan marah karena tabung-tabung itu ditutup oleh para pembantu Theng Toanio.

Mereka kehilangan tempat tinggal mereka.

Dengan ditutupnya tabung, maka tidak ada tanda apa-apa lagi bagi mereka untuk menemukan sarang mereka, maka mereka menjadi marah dan kembali kepada Song Kim untuk menyerangnya.

Song Kim maklum bahwa tidak baik membunuh lebah-lebah itu.

Kalau dia mau, tentu saja dengan mudah dia akan membunuh semua lebah dengan sambaran jubahnya, akan tetapi dia sayang kepada binatang-binatang yang dapat dipergunakan sebagai senjata itu, dan juga dia tidak mau membuat kesan buruk terhadap Ang-Hong-Pai.

Akan tetapi, kalau hanya menggunakan jubah untuk mengusir mereka, tentu mereka akan datang kembali dan akhirnya dia yang akan menjadi lelah sekali, juga menghalangi dia untuk sampai di puncak bukit.

Maka dipergunakanlah cara kedua yang sudah dipersiapkan.

Setelah untuk kedua kalinya dengan jubah dia membuat lebah-lebah itu tertiup jatuh, dia cepat menyalakan api dan membakar beberapa batang hio biting yang sudah dipersiapkan lebih dahulu.

Dia membuat hio itu dari ramuan yang dicampur belerang.

Terciumlah bau yang amat menyengat hidung dan nampak asap mengepul tebal berwarna putih kekuningan.

Tepat seperti telah diperhitungkan oleh Song Kim, ketika lebah-lebah itu terbang kembali kepadanya, mereka tidak berani mendekatinya, hanya berterbangan saja mengelilingi di atasnya.

Bahkan ketika ada lebah-lebah yang terkena asap itu, mereka terbang kacau balau seperti mabok.

Song Kim memegang dupa biting yang mengeluarkan asap itu dan dengan tenang melanjutkan langkahnya mendaki puncak.

Lebah-lebah itu mengikutinya, akan tetapi karena asap menjadi semakin banyak, merekapun semakin menjauh.

melihat ini, Theng Toanio menyuruh pembantunya untuk membuka tabung-tabung itu.

Begitu tabung-tabung dibuka, tercium oleh lebah-lebah itu lalu ditutup kembali setelah semua lebah masuk tabung-tabung itu.

Song Kim tiba di bawah puncak dan tiba-tiba muncullah Theng Toanio bersama puluhan orang anak buahnya.

Melihat wanita yang gagah dan cantik itu, dikawal puluhan orang gadis yang manis-manis, Song Kim tersenyum dan memandang penuh perhatian dan kekaguman.

Tidak salah berita yang didengarnya.

Wanita itu nampak masih muda dan menggairahkan.

Wajahnya tetap cantik, kulitnya halus dan tubuhnya nampak padat.

Sama sekali tidak dipercaya kalau wanita itu sudah berusia enam puluh tahun!

Dan belasan orang wanita muda yang agaknya menjadi pembantu-pembantu utama ketua itu, nampak yang tercantik di antara semua anggauta.

Pakaian mereka yang serba merah itu benar-benar mengagumkan, seolah-olah Song Kim merasa berhadapan dengan sekelompok bunga yang sedang mekar dengan indahnya!

Di atas puncak, nampak dari situ, terdapat perkampungan dengan bangunan-bangunan yang mungil, cocok untuk menjadi rumah tempat tinggal para wanita manis itu.

Song Kim tidak merasa rendah diri berhadapan dengan mereka, maka dengan sikap tenang diapun tersenyum dan menghadapi Theng Toanio.

"Kalau tidak salah duga, aku berhadapan dengan Theng Toanio, ketua Ang-Hong-Pai bersama para anggauta Ang-hong-pai yang cantik-cantik dan gagah perkasa,"

Katanya.

Dilihatnya betapa pandang mata para pembantu ketua itu berseri mendengar pujiannya.

Akan tetapi Theng Toanio mengerutkan alisnya dan sinar matanya berkilat.

Agaknya wanita ini masih merasa penasaran dan marah karena semua serangannya tadi digagalkan dengan mudah oleh pendatang ini.

"Benar dugaanmu, sobat. Akan tetapi siapakah engkau yang demikian berani mendaki bukit Ang-hong-san dan melanggar wilayah kami?"

"Aku bernama Lee Song Kim dan dikenal dengan sebutan Lee Kongcu. Aku sengaja datang ke sini karena mendengar kebesaran nama Ang-Hong-Pai, untuk berkenalan dan menjadi sahabat, juga ingin sekali menguji sampai di mana kelihaian Ang-Hong-Pai."

"Hemmm, dan bagaiaman pendapatmu tentang Ang-Hong-Pai kami?"

"Tempat yang indah, dengan perangkap-perangkap yang berbahaya, harimau buas, lebah-lebah berbahaya, anak buah yang manis-manis dan gagah. Akan tetapi biarpun semua itu cukup mengesankan, aku masih belum merasa puas kalau belum melihat sendiri sampai di mana kelihaian ketuanya!"

"Lee Kongcu, engkau menantangku?"

Tanya Theng Toanio, mulai tertarik karena pria ini ternyata tidak sombong dan tidak berniat buruk.

Seorang pria yang menarik sekali dan selama ini ia sendiri hanya ditemani dan dilayani laki-laki yang lemah walaupun ia boleh memilih orang-orang yang ganteng.

Belum pernah ia berdekatan dengan pria segagah ini, kecuali tentu saja ketika ia berada di samping Thian-tok.

Akan tetapi Thian-tok hanya tinggi ilmunya saja, sebaliknya ia seorang Kakek tua yang bertubuh gendut tidak menarik sama sekali!

"Theng Toanio, aku hanya ingin membuktikan sendiri sampai di mana kelihaianmu.

Ketahuilah bahwa aku paling suka dengan ilmu silat, ingin aku mengenal semua orang yang dikabarkan berilmu tinggi, dan aku ingin menaklukkan mereka semua."

"Ehh? Menaklukkan mereka? Engkau juga ingin menaklukkan aku?"

"Maksudku mengalahkan mereka semua. Aku ingin disebut sebagai Thian-He Te-It Bu-Hiap (jago Silat Nomor Satu di Kolong Langit)."

"Hemmm... engkau masih muda akan tetapi cita-citamu setinggi langit. baiklah, aku akan melayani barang beberapa jurus. Akan tetapi, bagaimana kalau sampai engkau kalah olehku?"

"Kalau aku kalah, biarlah engkau yang akan menentukan apa yang akan kaulakukan terhadap diriku."

"Dan kalau engkau menang?"

"Kalau aku menang, hal yang sudah pasti bagiku, maka Ang-Hong-Pai harus selalu mentaati perintahku dan menjadi taklukanku."

"Engkau ingin menjadi ketua di sini menggantikan aku?"

"Tidak, jangan salah mengerti, Theng Toanio. Aku hanya ingin agar Ang-Hong-Pai memandang aku sebagai sekutu dan setiap saat aku membutuhkan, Ang-Hong-Pai harus membantuku. Yang pertama, Ang-Hong-Pai harus mengakui aku sebagai ketua kehormatan dan tiga belas orang anggautanya akan kupilih untuk menemaniku di perkampunganku, selanjutnya setiap kali kuminta, mengganti tiga belas orang itu dengan orang-orang baru yang pilihan."

Theng Toanio tersenyum mengejek, akan tetapi terdengar suara cekikikan karena para gadis itu merasa senang sekali dengan syarat ini.

Agaknya mereka akan berebut untuk dapat dipilih karena siapa orangnya tidak akan senang menemani pria yang segagah dan seganteng ini?

"Baiklah, syaratmu itu dapat kuterima.

Akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus tinggal di sini selama satu tahun untuk menjadi pelayan pribadiku."

Song Kim tertawa.

"Ha-ha-ha, betapa senangnya menjadi pelayan pribadimu di sini, Toanio, di antara kembang-kembang merah yang begini cantik dan segar. Baik, kuterima syarat itu dan mari kita mulai."

"Bersenjata ataukah bertangan kosong?"

Tanya Theng Toanio yang masih memandang rendah lawannya.

Biarpun, lawannya tadi sudah memperlihatkan kelihaiannya, namun ia merasa yakin bahwa kalau melawan ia dalam ilmu silat, ia tentu akan dapat mengalahkan laki-laki itu.

Selama ini belum pernah ada yang mampu menandinginya setelah ia digembleng ilmu oleh Thian-tok.

Song Kim memang ingin menguras ilmu dari manapun juga datangnya, maka mendengar tantangan wanita itu, dia tersenyum.

"Biarlah kita main-main dengan tangan kosong dulu, kalau engkau kewalahan, baru boleh engkau mengeluarkan senjatamu, Toanio."

Mendengar ucapan yang memandang rendah ini, lenyap senyum simpul di bibir wanita itu dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Orang sombong, kalau tidak kau jaga mulutmu, aku khawatir sebelum aku mengeluarkan senjata, engkau telah lebih dulu roboh dan mungkin tewas!"

Song Kim masih tersenyum.

"Tewas dalam pibu (adu ilmu silat) adalah hal yang lumrah, Toanio dan aku tidak akan merasa menyesal kalau aku tewas di tangan Toanio, walaupun aku menyesal karena tidak sempat bermesraan dengan nona-nona manis yang berada di sini."

"Cukup, tak perlu banyak cakap lagi, orang she Lee. majulah!"

Theng Toanio berseru.

"Aku adalah seorang tamu, tidak pantas kalau bergerak lebih dulu. Engkaulah yang menyerang dulu, Toanio, aku hanya melayani saja,"

Kata Song Kim dengan sikap tenang. Diam-diam Theng Toanio merasa kagum juga. Laki-laki ini memang gagah, dan dia merasa gembira sekali kalau dapat memiliki seorang kekasih seperti ini.

"Sambut seranganku!"

Theng Toanio membentak dan ia sudah menyerang dengan ganasnya.

Dengan gerakan yang amat cepat wanita itu sudah menotok jalan darah di kedua pundak, leher dan dada secara bertubi-tubi.

Memang hebat gerakan wanita ini, karena selain cepat bukan main, juga tusukan jarinya yang menotok itu mengeluarkan suara bercuitan saking kuatnya tenaga yang mendorongnya.

Diam-diam Lee Song Kim terkejut.

Tak disangkanya bahwa ketua Ang-Hong-Pai begini lihainya.

Dia lalu mengelak dengan gerakan indah sekali, dan ketika tangan lawan masih terus mengejarnya, dia menangkis dengan kibasan tangannya.

"Plak! Plak!"

Dua kali tangannya bertemu dengan ketua Ang-Hong-Pai itu dan keduanya meloncat mundur karena merasa betapa kuatnya tenaga yang keluar dari telapak tangan itu.

"Bagus, agaknya engkau memiliki juga sedikit kepandaian!"

Bentak Theng Toanio dan wanita ini tidak main-main lagi, maklum bahwa lawannya memang lihai, maka iapun lalu mengeluarkan ilmunya yang ia pelajari dari Thian-tok.

Begitu ia menggerakkan kaki tangannya, kakinya bergerak-gerak dengan langkah mengandung perubahan ngo-heng (ilmu unsur), dan kedua tangannya menyerang dengan dahsyat, Song Kim cepat mengelak dan menangkis sambil berseru kaget.

"Heiii! Kiranya Toanio ada hubungan dengan Thain-tok!"

Kata Song Kim.

Wajah Theng Toanio berobah merah.

hatinya tidak senang dan ada perasaan malu ketika ia diingatkan akan hubungannya dengan Thian-tok, juga ia terkejut bagaimana laki-laki ini mengetahui akan hal itu, padahal merupakan rahasia dan tidak diketahui orang lain kecuali para anggauta Ang-Hong-Pai yang tak mungkin berani membuka rahasia itu.

"Hemmm, bagaimana engkau menduga demikian, Lee Kongcu?"

"Mudah saja! Bukankah engkau tadi menyerangku dengan Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat? Biarpun gerakanmu dahsyat dan ganas sekali, namun aku masih mengenal silat andalan Thian-tok itu."

Lega rasa hati Theng Toanio. Orang she Lee ini tidak mengetahui rahasianya, hanya mengenal ilmu silat yang dipelajarinya dari Thian-tok, maka dengan cepat ia berkata.

"Mendiang Thian-tok adalah guruku."

"Ah, kiranya Toanio ini murid locianpwee itu? Pantas demikian lihai! Kalau begitu, Toanio masih saudara seperguruan dengan Ong Siu Coan?"

"Raja dari kerajaan Sorga di Nan-king itu? Ah, mana aku ada harga untuk menjadi saudara seperguruan orang besar seperti beliau itu? Aku hanya menerima pelajaran selama satu tahun saja dari mendiang Suhu, menjelang kematiannya."

"Akan tetapi ilmu kepandaanmu hebat, Toanio. Mari kita lanjutkan permainan kita."

Theng Toanio yang ingin sekali mengalahkan laki-laki ini agar suka menjadi pelayan pribadinya, maju lagi menyerang.

Ia mengeluarkan lagi Ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat untuk menyerang secara bertubi-tubi dan dahsyat.

Namun, tingkat kepandaian Song Kim jauh lebih tinggi sehingga dia mampu mengelak dan menangkis semua serangan itu, sambil mempelajari setiap jurus, mengamati untuk menemukan jurus yang ampuh dan pantas dikuasainya.

Wanita itu terkejut setelah lewat lima puluh jurus, ia belum juga mampu mengalahkan lawannya.

Jangankan mengalahkan, menyentuh tubuhnya saj apun tak pernah karena semua pukulan dan tendangannya dapat dielakkan atau ditangkis.

Sedangkan Lee Song Kim juga sudah merasa puas.

Ada beberapa jurus yang penting dan sudah dicatat dalam benaknya.

Ketika Theng Toanio menendang dari samping dengan gerakan memutar tubuh, dia sengaja diam saja menanti sampai kaki yang menendang itu menyambar dekat dan tiba-tiba saja dia telah menyambar kaki itu dan sepatu kaki itu telah copot dan berada di tangannya.

"Ihhh...!"

Theng Toanio berseru kaget dan mukanya berobah merah sekali. Song Kim mengamati sepatu bersulam merah itu.

"Sungguh indah sekali sepatumu, Toanio,"

Katanya sambil menyerahkan kembali benda itu.

Dengan muka merah karena dirampasnya sepatu itu tentu saja menjadi bukti kekalahannya, Theng Toanio menerima sepatunya dan memakai kembali, kemudian ia berkata.

"Lee Kongcu, dalam ilmu silat tangan kosong, engkau lihai sekali dan aku mengaku kalah. Akan tetapi belum tentu aku kalah kalau kita mempergunakan senj ata."

Lee Song Kim tersenyum.

"Tentu saja harus dicoba dulu, Toanio. Nah, kaukeluarkan senjatamu, akan kuhadapi dengan tangan kosong saja."

Theng Toanio membelalakkan matanya.

Orang ini terlalu sombong kalau akan menghadapi senjata-senjatanya dengan tangan kosong, pikirnya.

Betapapun lihainya orang ini, bagaimana mungkin dapat melawan senjata-senjatanya?

Karena merasa dipandang rendah, Theng Toanio menjadi marah.

"Bagus! Hendak kulihat bagaimana engkau menghadapi senjata-senjataku!"

Berkata demikian tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya telah berada di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membuka kantung yang tergantung di pinggang.

Lee Song Kim memang sengaja hendak mencari kesan mendalam di perkumpulan ini, ingin memperlihatkan ilmunya agar mereka semua tunduk dan taat kepadanya.

Dia bukan sekedar membual atau menyombongkan diri kalau hendak menghadapi Theng Toanio yang bersenjata dengan tangan kosong.

Dia sudah tahu betul sampai di mana tingkat kepandaian lawan.

ketika tadi mereka bertanding tangan kosong.

Dia sudah tahu betul sampai di mana tingkat kepandaian lawan.

Ketika tadi mereka bertanding tangan kosong, dia sudah dapat mengukur dan dia merasa yakin bahwa biarpun lawan berpedang, dia sanggup dan akan dapat mengalahkannya.

Kinipun dia tahu bahwa selain pedangnya, wanita itu mempersiapkan senjata rahasia dan melihat kantung di pinggang itu tempat penyimpanan senjata rahasia jarum merah beracun yang pernah didengarnya sebagai senjata rahasia andalan ketua Ang-Hong-Pai "Aku sudah siap, Toanio, mulailah!"

Katanya sambil memasang kuda-kuda yang indah.

Kaki kiri ditekuk sedikit, kaki kanan dilonjorkan ke depan dengan jari-jari kaki menghadap ke atas dan tumitnya terletak di atas tanah, tangan kiri tergantung agak ke depan dengan jari tangan terbuka dan Ibu jari ditekuk ke dalam, tangan kanan di pinggang dengan siku ditekuk ke belakang sedikit, juga jari tangan terbuka.

Dengan kuda-kuda seperti ini dia menghadapi lawan sambil tersenyum.

Melihat lawannya sudah siap, Theng Toanio yang mulai merasa penasaran itu segera menerjang sambil mengeluarkan teriakan dahsyat yang mengejutkan para anggauta Ang-Hong-Pai kerena teriakan itu membuat jantung mereka tergetar dan terguncang.

Itulah teriakan yang disertai tenaga khikang yang disebut Sin-houw Ho-kang.

Theng Toanio hanya berlatih selama beberapa bulan saja, maka ilmunya ini masih belum matang, belum kuat benar, jauh berbeda dengan yang sudah dikuasai Thian-tok karena Kakek itu ketika masih hidup, dapat saja membunuh orang dengan teriakan ini tanpa menyentuhnya!

Akan tetapi, karena teriakan ini dilakukan pada saat pedangnya menyambar, maka cukup berbahaya dan Song Kim cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang.

Wanita itu cepat pula mengejar dan mengirim serangan berantai yang amat dahsyat.

Perlu diketahui bahwa sebagai ketua Ang-Hong-Pai, perkumpulan yang ahli tentang racun lebah, pedang yang dipegang Theng Toanio inipun mengandung olesan racun tawon yang amat berbahaya.

Sedikit saja tergores dan terluka, maka racun itu akan bekerja dan membuat luka itu melepuh seperti kena api.

Song Kim dapat menduga akan hal ini, maka dia selalu mengelak dan kalau menangkis, dia menggunakan kebutan lengan bajunya.

Biarpun ujung lengan baju, namun kalau menangkis pedang membuat Theng Toanio terkejut sekali karena pedangnya selalu terpukul menyeleweng, bahkan ujung lengan baju itu menimbulkan angin yang keras, disusul pula oleh totokan jari tangan pria itu yang mengarah jalan darah di pergelangan tangan atau sikunya.

Memang harus diakui bahwa tingkat kepandaian Hai-Tok, guru Song Kim, dan Thian-tok, guruTheng Toanio, adalah seimbang.

Akan tetapi Song Kim telah berguru kepada Hai-Tok sejak kecil, bahkan akhir-akhir ini sebelum gurunya meninggal dunia, dia telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian Hai-Tok.

Sebaliknya, Theng Toanio hanya setahun menjadi murid Thian-tok.

Oleh karena itu, dapat dimengerti kalau kini Song Kim dapat mempermainkan seperti tingkat guru dengan murid saja.

Lebih lagi karena Song Kim telah memperdalam ilmu-ilmunya dengan ilmu-ilmu aliran lain yang telah dicuri oleh gurunya untuk dia.

Setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba Song Kim membentak dan totokannya pada pergelangan tangan kanan Theng Toanio tak mugkin dapat dielakkan lagi.

Terdengar wanita itu memekik, pedangnya terlepas dari pegangan karena tangannya itu beberapa detik lamanya tiba-tiba lumpuh.

Theng Toanio meloncat ke belakang, tangan kirinya bergerak dan begitu ia menyambit, sinar merah berkeredepan menyambar ke arah tubuh Song Kim.

Song Kim mirngkan tubuhnya, beberapa batang jarum yang menyambar mukanya luput, akan tetapi banyak jarum menyambar ke tubuhnya dan diapun berteriak.

"Aduh...!"

Tubuhnya terhuyung lalu roboh terlentang dengan muka pucat!

Beberapa orang anggauta Ang-Hong-Pai dan Theng Toanio berseru kaget.

Theng Toanio sendiri juga khawatir kalau-kalau pria yang menarik hatinya itu tewas oleh jarum-jarumnya.

Ia hanya cepat mengobatinya.

setelah mengambil pedangnya yang tadi terlepas, Theng Toanio menghampiri tubuh Song Kim.

Ketika ia membungkuk untuk memeriksa lebih teliti, tiba-tiba terdengar suara ketawa.

Theng Toanio hendak meloncat pergi, akan tetapi ia kalah cepat.

Pedangnya sudah terampas lagi oleh Song Kim yang tiba-tiba saja bergerak melompat dan berbareng dia berhasil mencabut tusuk konde dari emas permata dari kepala Theng Toanio sehingga rambut yang digelung itu terlepas dan terurai ke atas kedua pundaknya!

Tentu saja Theng Toanio terkejut bukan main dan mukanya menjadi merah sekali ketika ia memandang kepada Song Kim yang sudah berdiri di depannya sambil memegang pedang yang untuk kedua kali dirampasnya itu.

"Tapi... tapi... kau tadi terkena jarum-jarumku..."

Katanya agak bingung melihat hal yang tidak disangka-sangkanya ini.

Song Kim menarik jubahnya dan memperlihatkan beberapa batang jarum yang menancap di jubahnya, akan tetapi tidak mampu menembus kulit tubuhnya yang tadi sudah dilindunginya dengan ilmu kekebalan.

"Aih, engkau memang hebat, Lee Kongcu, aku mengaku kalah,"

Kata Theng Toanio sambil mencabuti jarum-jarum itu, kemudian menerima kembali pedangnya dan ia mengajak tamunya yang amat menarik hati itu untuk naik ke puncak dan memasuki perkampungan Ang-Hong-Pai.

Para anggauta Ang-Hong-Pai menyambut kemenangan Lee Song Kim dengan gembira.

Memang mereka sudah merasa kagum sekali, apalagi melihat betapa pria ini dengan amat mudahnya mengalahkan ketua dan guru mereka.

Semua wanita kini memandang kepada Song Kim dengan senyum manis dan sinar mata memikat, wajah mereka semua cerah.

sambil tertawa gembira Song Kim mengikuti ketua Ang-Hong-Pai dan mereka lalu mengadakan pesta di bangunan besar tempat tinggal Theng Toanio.

Demikianlah, mulai hari itu, Song Kim telah menundukkan Ang-Hong-Pai dan perkumpulan ini telah menjadi anak buahnya yang setiap saat siap untuk mentaati perintahnya.

Dia bukan menundukkan Ang-Hong-Pai dengan kepandaiannya, akan tetapi juga dengan daya tariknya sebagai seorang pria yang pandai memikat hati, tampan gagah dan juga berpengalaman.

Bahkan kini di perkampungannya di Lembah Fen-ho lereng Luliang-san, terdapat pelayan-pelayan baru yang jumlahnya belasan orang, muda-muda dan cantik-cantik akan tetapi juga lihai karena mereka adalah belasan orang anggauta Ang-Hong-Pai yang dipilihnya untuk menjadi pelayan pribadinya dan juga pengawal-pengawalnya.

Demikian tunduknya Theng Toanio kepada Song Kim sehingga ketika Song Kim memerintahkan untuk memindahkan Ang-Hong-Pai ke lereng Luliang-san, iapun mentaatinya dan semenjak itu, perkumpulan ini pindah dari Nan-ping untuk mendekati Song Kim dan hal ini memperkuat kedudukan Lee Song Kim yang mulai menyusun kekuatan untuk mengaku diri sendiri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap.

Beberapa bulan kemudian, pada suatu pagi, seorang hwesio tua renta berjalan seorang diri di kaki Pegunungan Luliang-san.

Hwesio ini sudah berusia lanjut, sudah hampir delapan puluh tahun, tubuhnya sedang dan masih tegak, dan wajahnya membayangkan ketenangan dan kedamaian.

Tiba-tiba hwesio tua itu menahan langkahnya dan memandang ke kiri.

Biarpun orangnya belum nampak, namun pendengarannya yang peka dan amat tajam sudah menangkap suara gerakan kaki yang menuju ke tempat dia berjalan.

tak lama kemudian muncullah tiga orang laki-laki yang rata-ratabberusia tiga puluh tahun, berwajah gagah dan berpakaian rapi, akan tetapi memiliki sinar mata yang beringas dan kejam.

Di punggung mereka nampak senjata golok telanjang dan tiga orang ini langsung menghampiri hwesio tua yang berdiri memandang mereka.

Dengan sikap kaku mereka menjura kepada hwesio itu yang cepat dibalas dengan ramah oleh hwesio tua.

"Kami diutus oleh Lee Kongcu untuk mengundang Thian Khi Hwesio ke perkampungan kami."

Hwesio itu memang bernama Thian Khi Hwesio dan merupakan orang kedua dari pimpinan Siauw-Lim-Pai.

bagaimana seorang tokoh tinggi dari Siauw-Lim-Pai dapat berada di tempat itu?

Seperti kita ketahui, peristiwa pembunuhan atas diri dua orang tokoh Kun-Lun-Pai cukup membuat para pimpinan Siauw-Lim-Pai menjadi pusing.

Yang dituduh oleh para Tosu Kun-Lun-Pai menjadi pembunuh dua orang tokoh itu adalah seorang murid Siauw-Lim-Pai yang bermarga Lee.

Tentu sukar bagi orang-orang Siauw-Lim-Pai untuk mencari siapa adanya murid yang membunuh dua orang Tosu Kun-Lun-Pai itu.

Karena maklum betapa gawatnya urusan itu yang mengandung bahaya perpecahan atau bibit permusuhan antara Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai.

Maka Thian Khi Hwesio sendiri lalu berangkat meninggalkan Siauw-Lim-Pai untuk mencari seorang murid Siauw-Lim-Pai yang bernama Tan Ci Kong.

Biarpun termasuk orang yang masih muda, usianya masih kurang dari empat puluh tahun, namun Tan Ci Kong merupakan seorang tokoh Siauw-Lim-Pai yang berilmu tinggi.

bahkan ilmu kepandaiannya masih lebih tinggi dari tingkat kepandaian para pimpinan Siauw-Lim-Pai sendiri, Karena pendekar ini pernah digembleng oleh mendiang Siauw-Bin-Hud, seorang hwesio tua renta yang menjadi datuk dari Siauw-Lim-Pai.

Setelah bertukar pikiran dengan Suhengnya, yaitu Thian Tek Hwesio ketua Siauw-Lim-Pai, Thian Khi Hwesio berangkat sendiri untuk mengunjungi Tan Ci Kong.

Pendekar ini tinggal di dusun Tung-kang di luar kota Kan-ton.

Setelah bertemu dengan pendekar itu dan minta bantuannya agar Tan Ci Kong suka melakukan penyelidikan dan menemukan siapa adanya murid Siauw-Lim-Pai she Lee yang telah membunuh dua orang Tosu Kun-Lun-Pai, Thian Khi Hwesio lalu meninggalkan Tung-kang dan kembali ke kuil Siauw-Lim-Pai.

Di dalam perjalanan inilah dia tiba di kaki Pegunungan Luliang-san dan di hadang oleh tiga orang yang menyampaikan undangan kepadanya.

"Omitohud, sungguh Kongcu kalian itu amat baik hati sekali. Akan tetapi pinceng tidak pernah mengenal Lee Kongcu..."

Tiba-tiba dia teringat. Orang she Lee? Jantungnya berdebar tegang.

"Lo-Suhu, harap diketahui bahwa Lee Kongcu kami adalah orang yang pemurah dan dermawan, menghargai orang-orang pandai. Ketika dia mengetahui bahwa loSuhu lewat di sini, dia mengutus kami untuk menjumpai lo-Suhu dan dengan hormat mempersilahkan lo-Suhu untuk singgah di perkampungan kami."

Diam-diam Thian Khi Hwesio merasa heran sekali bagaimana orang she Lee itu dapat mengetahui namanya dan mengetahui pula bahwa dia lewat di tempat itu.

dan nama marga Lee itu sungguh menarik hatinya dan menimbulkan keinginan tahu untuk mengenalnya.

"Omitohud... sungguh bahagia sekali menerima undangan seorang yang sedemikian baik budi seperti Lee Kongcu. Baiklah, sobat, pinceng memenuhi undangan itu."

Ketika memasuki sebuah perkampungan yang bersih dan teratur rapi, diam-diam Thian Khi Hwesio menjadi heran dan kagum.

Dia dapat menduga bahwa penghuni perkampungan terpencil di lereng bukit ini, jauh dari pedusunan lainnya, Tentu merupakan anggauta sebuah perkumpulan dan mungkin sekali yang menjadi ketua atau kepalanya adalah orang yang disebut Lee Kongcu itu.

Bangunan-bangunan rumah di situ seragam dan di tengah-tengah terdapat sebuah bangunan besar.

Melihat keadaan rumah itu dari luar, orang tentu akan merasa kagum karena rumah yang demikian indah dan besar sepatutnya hanya berada di kota besar, dihuni oleh orang yang kaya raya.

Makin tertariklah hati pendeta tua itu untuk mengenal Lee Kongcu yang mengundangnya.

Ketika tiga orang itu mengantarnya sampai di depan pintu rumah besar, yang menyambut keluar adalah tiga orang gadis cantik yang berpakaian serba merah, rapi dan gagah, gerakannya juga cekatan.

Tiga orang pemuda itu memberi hormat kepada mereka dan berkata.

"Harap sampaikan kepada Kongcu bahwa kami telah berhasil mengundang Thian Khi Hwesio."

"Bagus, kalian telah melaksanakan tugas dengan baik."

Kata seorang di antara tiga gadis itu, yang bertahi lalat di dekat hidungnya, kemudian gadis itu menjura kepada Thian Khi Hwesio.

"Locianpwe, silakan masuk, Lee Kongcu telah menanti kedatangan locianpwe."

"Omitohud, sungguh merupakan kehormatan besar bagi pinceng,"

Kata Thian Khi Hwesio sambil mengikuti tiga orang gadis itu.

Dia makin heran.

Agaknya orang-orang di sini telah mengenalnya, bukan hanya mengenal nama, akan tetapi juga agaknya mengenal bahwa dia adalah seorang tokoh persilatan sehingga gadis-gadis ini menyebut locianpwe.

Dia tahu pula bahwa tiga orang gadis ini, yang menyambutnya, memiliki ilmu silat yang cukup baik, jauh lebih baik ketimbang tiga orang laki-laki yang menghadangnya di kaki bukit tadi.

Ketika dia diajak masuk ke ruangan dalam, hwesio itu mengagumi keindahan perabot rumah.

Lukisan-lukisan indah dan kuno, tulisan-tulisan sajak berpasangan yang amat berharga bergantungan di dinding.

Perabot-perabot rumahnya juga merupakan benda yang mahal dan biasanya mengisi gedung bangsawan yang kaya raya.

Siapakah orang yang bernama Lee Kongcu ini, pikirnya.

Tuan rumah itu telah menantinya di sebuah ruangan samping.

seorang laki-laki yang berusia tiga puluh delapan tahun, berpakaian rapi dan mewah, melihat rambutnya yang licin dan mukanya yang tampan terawat memberi kesan pesolek, sepasang matanya mencorong dan mulutnya tersenyum.

Laki-laki itu bangkit berdiri dari kursinya, memberi hormat dengan ramah kepada hwesio tua itu.

"Selamat datang, locianpwe! Sungguh bagaikan kejatuhan bulan purnama saja rasanya hati kami menerima kunjungan locianpwe, hal yang sudah lama sekali kami jadikan bunga mimpi di malam hari dan kenangan di siang hari. Agaknya para dewa mengabulkan permohonan kami dan sengaja menuntun locianpwe lewat di tempat kami ini. Silakan duduk, locianpwe."

Hwesio tua itu memperhatikan laki-laki yang disebut Lee Kongcu ini.

Dia mengamati dari kepala sampai ke kaki, namun merasa belum pernah bertemu dengan orang ini.

Namun dia dapat menduga bahwa orang yang pesolek dan tampan ini tentu bukan orang sembarangan.

Hanya apa maksud undangannya inilah yang membuat dia merasa heran dan tidak mengerti.

"Omitohud... pinceng (aku) adalah seorang yang sudah tua sekali dan mugkin pelupa. Agaknya Kongcu sudah mengenal pinceng akan tetapi sebaliknya pinceng lupa lagi siapakah Kongcu ini. Dan kapankah kita pernah saling bertemu, dan di mana?"

Lee Song Kim tersenyum, bangga akan pengetahuannya yang luas sehingga dia mengenal hampir semua tokoh persilatan di dunia dan telah memberi tahu semua anak buahnya sehingga begitu melihat hwesio tua ini lewat, anak buahnya juga sudah mengenalnya.

Dia memandang wajah hwesio tua yang sudah duduk di depannya sambil tersenyum.

"Siapkah yang tidak mengenal locianpwe? Locianpwe adalah Thian Khi Hwesio, wakil ketua Siauw-Lim-Pai yang gagah perkasa dan berilmu tinggi. kalau locianpwe hendak mengenal saya, orang memanggil saya Lee Kongcu. Melihat locianpwe lewat di sini, timbul keinginan saya untuk mengundang makan locianpwe dan belajar kenal lebih dekat karena hendaknya locianpwe ketahui bahwa saya adalah orang yang amat kagum terhadap para tokoh dunia persilatan dan ingin mengenal mereka semua. Ah, mari silakan, locianpwe. Hidangan telah dipersiapkan. Jangan khawatir, semua hidangan ini dibuat istimewa untuk para hwesio dan pertapa yang tidak makan daging. Dan minumannya juga teh yang amat harum dan baik. Silahkan!"

Lee Song Kim mengajak hwesio tua itu makan minum dan memang benar, masakan yang dihidangkan tanpa daging sedangkan munumannya air teh wangi, sesuai dengan pantangan seorang hwesio.

Karena dia memang lelah dan merasa lapar, Thian Khi Hwesio tidak sungkan-sungkan atau ragu-ragu lagi, segera makan minum, apalagi melihat tuan rumah juga makan minum dari mangkok dan cawan dengan hidangan dan minuman yang sama pula.

Setelah makan kenyang, Lee Kongcu mengajak Kakek itu ke lian-bu-thia.

"Marilah, locianpwe, pertunjukan akan segera dimulai dan locianpwe merupakan seorang tamu kehormatan kami di antara banyak tamu yang hadir."

"Eh? Apakah Kongcu sedang mengadakan sebuah pesta?"

Laki-laki tampan itu tertawa.

"Boleh dinamakan pesta, ya memang pesta, pesta adu silat! Marilah, locianpwe akan menyaksikan sendiri,"

Katanya sambil mengajak tanunya memasuki lian-bu-thia (ruangan bermain silat) yang amat luas dan bersih, di samping sebuah taman yang besar dan indah pula.

Ketika memasuki ruangan terbuka ini, Thian Khi Hwesio terbelalak heran dan terkejut.

Ada belasan orang yang hadir di situ dan kesemuanya membayangkan orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi.

Dia hanya mengenal dua orang saja di antara belasan orang itu.

Yang seorang adalah seorang Kakek yang terkenal dengan nama Kam-Kauwsu (guru silat Kam), seorang tokoh persilatan aliran Thian-He Te-It Bu-Hiap yang terkenal gagah perkasa, menjadi guru silat bayaran tinggi di Thian-cin.

Dia tahu bahwa Kam-Kauwsu ini memiliki ilmu silat yang tangguh, terkenal sebagai seorang ahli gwa-kang (tenaga luar) yang kekuatannya dibandingkan dengan kekuatan gajah!

Adapun orang kedua yang dikenalnya adalah Tan-siucai (Mahasiswa Tan), seorang murid Pek-hwa-pai dari utara yang juga terkenal sekali sebagai seorang pendekar dari utara, dan ahli silat yang juga merupakan seorang ahli sastera yang selalu berpakaian sebagai seorang sasterawan.

Sasterawan tua ini amat terkenal dengan pedang tipisnya yang dapat digulung dan dipakai menjadi sabuk.

Dua orang gagah inipun terkejut melihat munculnya tuan rumah dan seorang hwesio tua yang mereka kenal sebagai wakil ketua Siauw-Lim-Pai!

Belasan orang lain juga memandang kepada hwesio tua itu dan mereka semua memandang kagum dan hormat ketika Lee Kongcu memperkenalkan Thian Khi Hwesio sebagai tamu agung dan wakil ketua Siauw-Lim-Pai.

Kalau masih ada keraguan sedikit di hati para tamu ini, kini terhapus karena melihat betapa wakil ketua Siauw-Lim-Pai sendiripun hadir sebagai tamu dari orang she Lee yang aneh dan penuh rahasia ini.

Mereka itu semua menerima undangan seperti halnya Thian Khi Hwesio, bahkan di antara mereka ada yang datang sebagai tawanan karena dipaksa!

Namun, setelah berada di rumah laki-laki kaya raya yang aneh itu, merekapun diberi kamar dan dibiarkan bebas sampai pada hari itu mereka semua diminta berkumpul di lian-bu-thia setelah semua orang mendapatkan hidangan mewah di kamar masing-masing!

Ketika semua orang berkumpul di lian-bu-thia yang amat luas itu, baru mereka tahu bahwa di tempat ini berkumpul tokoh-tokoh pilihan dari aliran-aliran persilatan yang menjagoi di dunia kang-ouw.

Apakah maksud Lee Kongcu, demikian nama tuan rumah seperti yang mereka kenal, mengundang dan mengumpulkan semua tokoh persilatan yang lihai ini?

Thian Khi Hwesio memperoleh tempat duduk kehormatan di dekat tuan rumah dan setelah tuan rumah duduk, Lee Kongcu memberi tanda kepada para penjaga sambil berseru.

"Persilakan Kwa-Enghiong hadir!"

Tempat itu terjaga oleh anak buah Lee Kongcu dan semua orang merasa kagum melihat betapa pemuda-pemuda yang tegap, gadis-gadis yang cantik, semua mengenakan pakaian serba indah dan seragam, berjaga di situ dengan sikap tegak dan gagah.

Mendengar perintah Lee Kongcu, dua orang lalu memberi hormat dan masuk ke bagian belakang rumah gedung besar itu.

Tak lama kemudian merekapun datang lagi bersama seorang laki-laki yang kusut sekali rambut dan pakaiannya, seorang laki-laki tinggi kurus yang usianya sekitar lima puluh tahun.

Banyak di antara para tamu yang tidak mengenal laki-laki ini, akan tetapi Thian Khi Hwesio yang melihat orang ini, terkejut sekali.

"Omitohud...! Kiranya Huang-ho Sin-to (Golok Sakti dari Huang-ho) juga berada di sini!"

Laki-laki yang kusut pakaian dan rambutnya itu menoleh dan ketika dia melihat Thian Khi Hwesio, dia mengerutkan alisnya.

"Eh? Thian Ki Lo-Suhu juga berada di tempat aneh ini? Tempat macam apakah ini dan orang-orang macam apakah yang menjadi penghuninya?"

"Kwa-Enghiong, silahkan duduk dan pertanyaanmu itu akan segera terjawab,"

Kata Lee Song Kim dengan muka ramah.

Kwa Ciok Le memandang kepada tuan rumah dan agaknya dia teringat akan sesuatu yang tidak menyenangkan, terbukti dari suaranya yang cukup lantang sehingga terdengar oleh semua orang.

"Hemm, sebaiknya segera terjawab sebelum kesabaranku habis dan terpaksa aku menggunakan kekerasan!"

"Kwa-Taihiap, silakan duduk dan mari kita lihat saja apa yang akan terjadi,"

Kata Thian Khi Hwesio yang khawatir kalau-kalau terjadi ketegangan karena dia mengenal watak keras dari pembasmi bajak dari Huang-ho ini.

Mendengar penawaran Thian Khi Hwesio, tokoh Siauw-Lim-Pai yang dihormatinya itu, Kwa Ciok Le merasa tidak enak kalau bersikap kasar terus, maka dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu duduk di sebelah kiri hwesio tua itu.

Lee Song Kim sendiri lalu duduk di atas sebuah kursi gading dan di sebelahnya nampak seorang wanita yang berpakaian serba merah muda.

Wanita itu kelihatannya berusia tiga puluh tahun, wajahnya masih nampak cantik bersemangat, tubuhnya masik padat dan ramping.

Padahal, wanita ini adalah Theng Ci, ketua Ang-Hong-Pai yang telah menakluk kepada Lee Song Kim dan kini menjadi pembantu Lee Kongcu itu!

Pasukan wanita yang nampak cantik-cantik dan gagah, yang kini berjaga bersama dengan pasukan pria anak buah Lee Kongcu, adalah bekas anak buah Ang-Hong-Pai.

Di sebelah belakang Lee Kongcu, nampak duduk dua orang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang juga kelihatan gagah perkasa.

Mereka itu adalah pembantu-pembantu utama dari Lee Kongcu, yang juga merupakan murid-muridnya yang paling pandai.

"Di antara para tamu yang kami hormati sudah tahu apa sebabnya kami mengundang berkumpul demikian banyaknya tokoh-tokoh kang-ouw dan ahli-ahli persilatan yang berilmu tinggi. Akan tetapi kalau ada yang belum mengarti, baiklah, kami ingin menjelaskan. Kami adalah orang yang suka sekali melihat ilmu silat, suka sekali melihat tokoh-tokoh besar memperlihatkan ilmu silat simpanan masing-masing. kami amat menghormati ahli silat yang pandai, karena itu, kami mohon dengan hormat dan sangat kepada cu-wi (anda sekalian) yang hadir sudilah memberi demostrasi ilmu silat simpanan masing-masing untuk memperkenalkan kelihaian dan untuk membuka mata kami dan memperluas pengetahuan kita bersama. Kami persilakan saudara yang gagah perkasa Tiat-Pi Kim-Wan (Lutung Emas Tangan Besi) untuk memperlihatkan kelihaiannya! Harap cu-wi suka menyambutnya dengan tepuk tangan untuk memberi selamat kepada pendekar perkasa Tiat-Pi Kim-Wan!"

Mendengar ini, sebagian dari para tamu bertepuk tangan dan seorang yang duduk di sebelah kiri bangkit berdiri.

Dia seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya yang hitam memang pantas kalau berjuluk Lutung karena hidungnya pesek mulutnya lebar mirip monyet, sepasang matanya yang sipit itu mengeluarkan sinar jalang dan sejak tadi matanya jelilatan menyambar ke arah pasukan wanita yang cantik-cantik, dan mulutnya yang lebar menyeringai.

Hati orang ini girang bukan main, karena julukannya yang keren itu, Lutung Emas Tangan besi, diperkenalkan, dan lebih bangga lagi dia disebut "pendekar perkasa", padahal, dia lebih pantas dinamakan tukang pukul dan jagoan di kotanya, yaitu Ta-tung.

Setelah bangkit, dengan melangkah ke tengah ruangan yang luas itu, memberi hormat kepada Lee Kongcu, kemudian kepada semua yang hadir, keempat penjuru, diapun memberi hormat sambil bersoja.

Sikapnya memang gagah seperti seorang pendekar tulen.

Biarpun orang ini sombong, namun sesungguhnya harus diakui bahwa dia memiliki ilmu silat yang tinggi dan namanya sudah terkenal di sebelah barat kota raja sebagai seorang jagoan yang sukar dicari tandingannya.

Entah sudah berapa banyak ahli silat yang jatuh di tangannya.

Dia memiliki ilmu silat Kong-thong-pai dan Go-bi-pai, juga dia ahli gulat Mongol sehingga ilmu silatnya yang merupakan campuran tiga aliran ini membuat dia lihai bukan main.

Kedua lengannya terkenal amat kuat sehingga dia dijuluki lengan Besi atau Tangan besi.

(Lanjut ke

Jilid 04) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 Kabarnya kedua lengan itu dapat bertahan menghadapi segala jenis senjata!

Karena tertarik oleh nama besarnya, Lee Song Kim mengundangnya dan tidaklah sukar mengundang orang ini, apalagi kalau dalam undangan itu terdapat kiriman hadiah berupa perak!

Begitu memasuki gedung Lee Kongcu, pada hari kemarin, kemudian mendapatkan perhatian dan pelayanan istimewa, dikelilingi gadis-gadis cantik, tanpa dimintapun segera hati orang ini condong untuk membantu dan bermuka-muka kepada Lee Kongcu yang dianggapnya sebagai seorang hartawan yang dermawan.

Sambutan tepuk tangan membuat Tiat-Pi Kim-Wan merasa bangga.

Hidungnya yang pesek itu berkembang kempis, merekah dan setelah memberi hormat, diapun membuat lompatan berputar ke tengah lapangan, memasang kuda-kuda, kembali bersoja ke empat penjuru.

"Maafkan ilmu silatku yang buruk!"

Katanya merendah, padahal ucapan merendah ini hanya menonjolkan ketinggian hatinya.

Dan diapun mulai bersilat!

Si Lutung Emas ini maklum bahwa mereka yang hadir menyaksikan demonstrasinya adalah ahli-ahli silat dari empat penjuru, mereka adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang lihai, maka tentu saja diapun tidak mau memperlihatkan kelemahannya.

Begitu menggerakkan ilmu silat simpanannya yang biasanya hanya dia keluarkan kalau dia terpaksa sekali, kalau dia terdesak atau menghadapi lawan tangguh.

Dan memang hebat sekali gerakan-gerakan ilmu silat ini.

Pantas dia dijuluki lutung, kiranya bukan hanya karena hidungnya yang pesek dan mukanya yang hitam, melainkan karena kini gerakan silatnya mengingatkan orang akan gerak-gerik seekor lutung.

Mirip Kauw-kun (Silat Monyet) dari aliran Siauw-Lim-Pai dan aliran lain yang memperkembangkan silat macam ini, akan tetapi juga amat jauh bedanya.

Ilmu silat ini hanya dalam hal gaya dan kecekatannya saja mirip lutung, namun di dalamnya menyembunyikan pukulan dan cengkeraman dahsyat, bahkan beberapa kali nampak tubuh itu bergulingan di atas lantai sambil tangannya mencengkeram ke bawah lalu disambitkan ke atas.

Kalau yang dicengkeram itu pasir atau batu lalu disambitkan sambil melompat ke atas, tentu saja amat berbahaya bagi musuh yang dapat terkena pasir matanya atau tersambit batu kepalanya.

Dan kedua lengan itu kalau saling beradu, yang agaknya memang disengaja, mengeluarkan bunyi seperti dua potong besi diadu!

Kalau semua orang mengagumi ilmu silat aneh ini yang merupakan gabungan dari silat Kong-thong-pai, Go-bi-pai dan gulat Mongol, sebaliknya dengan sepasang mata hampir terpejam, Lee Song Kim berusaha menangkap gerakan-gerakan yang dianggap paling ampuh!

Dan diam-diam diapun sudah mencatat gerakan bergulingan sambil mencengkeram tanah dan menyambit tadi, juga gerakan tangan kiri memukul tangan kanan mencengkeram yang ternyata kedua serangan ini hanya gertak belaka.

Karena yang menjadi inti serangan sesungguhnya adalah sebuah tendangan pendek yang dilakukan tiba-tiba ke arah bawah pusar!

Sungguh hebat sekali jurus ini, tidak tersangka datangnya dan amat berbahaya karena sekali mengenai sasaran, lawan dapat roboh tewas seketika, atau setidaknya tentu terluka parah dan tidak akan mampu bangkit kembali karena tertendang bagian yang paling berbahaya dari lawan kalau itu seorang pria!

Kalau lawan seorang wanita, tendangan itu dapat lebih ke atas mengenai perut dan dapat merusak isi perut!

Setelah Lutung Emas Tangan Besi ini selesai memperlihatkan kebolehannya, beberapa orang tamu bertepuk tangan memuji, termasuk tuan rumah dan para pembantunya.

Biarpun dia telah mencatat beberapa gerakan yang dianggap penting dan menguntungkan, namun Song Kim masih belum merasa puas.

"Hebat sekali ilmu silatmu, Tiat-Pi Kim-Wan! Tak percuma anda memiliki nama besar di sepanjang perbatasan Ta-tung! Ah, mau aku bertaruh bahwa tentu sukar sekali mengalahkan anda. Kalau di antara sudara yang hadir di sini mampu menandingi dan mengalahkan ilmu silatmu, aku akan memberi hadiah seratus tael perak!"

Melihat kegembiraan tuan rumah, beberapa orang tamu saling pandang.

Seratus tail perak bukanlah jumlah yang sedikit!

Dalam waktu tiga bulan belum tentu mereka dapat memperoleh hasil sebesar itu.

Mereka itu sebagian besar adalah ahli-ahli silat yang tentu saja suka sekali berpibu (mengadu ilmu silat).

Tanpa diberi hadiah saja mereka sudah tertarik, apalagi dengan hadiah besar itu.

"Ha-ha-ha, hargaku lumayan tingginya, Lee Kongcu. Akan tetapi bagaimana kalau yang melawanku kalah? mau diapakan yang seratus tael itu?"

Song Kim tersenyum.

"Tentu saja untuk pemenangnya!"

Mendengar ini, si Lutung Emas Tangan Besi menjadi girang. Dia bersoja ke empat penjuru.

"Adakah di antara cuwi yang demikian baik hati untuk memberi kesempatan padaku memperoleh hadiah seratus tael perak? Kalau ada tiga orang yang maju dan aku menang tiga kali,berarti tiga ratus! Lumayan juga!"

Demikian sombongnya sikap si Lutung Emas ini sehingga dia seolah-olah membayangkan bahwa dia pasti menang menghadapi lawan yang manapun juga dan kalau ada yang maju, dia yakin akan menang dan mendapatkan hadiah itu.

Uang sebanyak itu dan sikap si Lutung Emas yang tinggi hati menarik banyak orang.

Gatal-gatal hati dan tangan mereka untuk menandinginya.

Seorang tinggi besar yang mukanya merah seperti orang mabok bangkit dan melompat ke tengah lapangan, lalu menghadap Song Kim sambil memberi hormat.

"Lee Kongcu, aku bukan seorang yang kaya dan uang seratus tael bukan sedikit bagiku. Akan tetapi kalau aku maju ini bukan demi uang itu sendiri, melainkan ingin merasakan sampai di mana kebenaran nama julukan Tangan Besi dari Si Lutung Emas!"

Melihat orang ini maju, hati Song Kim gembira sekali.

Orang ini berjuluk Seng jiu Sin-touw (Malaikat Copet), seorang yang biarpun tubuhnya tinggi besar, memiliki kecepatan gerakan yang luar biasa.

Dia ahli dalam hal ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan kecepatan tangannya membuat dia dijuluki Malaikat Copet.

Memang dia merupakan raja copet dan maling di daerah barat, Namun dia seringkali mengagulkan dirinya sebagai penjahat budiman, yang katanya mencuri untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin.

Memang menggelikan sekali.

Menolong orang miskin termasuk perbuatan baik, akan tetapi untuk dapat berbuat baik itu lebih dulu dia harus berbuat buruk, yaitu mencopet dan mencuri!

Mungkinlah ini?

Akan tetapi tidak ada yang sempat bertanya karena takut akan kelihaian si raja copet ini!

Song Kim sudah banyak mendengar tentang tamunya yang seorang ini.

Kabarnya, si raja copet ini memiliki ilmu silat yang bersumber kepada silat dari India, dan dia memperoleh ginkangnya dari seorang pertapa Himalaya yang mengajarkan tentang yoga kepadanya.

Maka, gembiralah ia melihat majunya orang ini karena menurut taksiranya, tingkat Si Raja Copet ini tentu seimbang dengan tingkat Si Lutung Emas.

"Ji-wi, keluarkanlah ilmu simpanan masing-masing agar pibu ini menjadi tontonan yang patut ditonton oleh para locianpwe yang hadir, dan dengan hati rela dan gembira aku akan menghadiahkan seratus tael perak itu kepada sang pemenang,"

Kata Song Kim, sikapnya seolah-olah seorang pecandu ilmu silat, walaupun sesungguhnya semua yang dilakukannya ini hanya mempunyai satu saja pamrih, yaitu ingin dia mengumpulkan ilmu-ilmu selihai dan sebanyak mungkin untuk bekal dan syarat baginya mengumumkan dirinya sebagai Thian-He Te-It Bu-Hiap (pendekar Silat Nomor Satu di kolong Langit)!

Kini dua orang yang sama-sama jangkung itu sudah saling berhadapan.

Si Lutung Emas diam-diam marah dan penasaran medengar ucapan Malaikat Copet.

Dia belum pernah berkenalan dengan orang ini, apalagi mengenal ilmu silatnya, maka biarpun dia mendongkol, Si Lutung Emas bersikap hati-hati sekali.

"Siapakah orang gagah yang ingin pibu denganku?"

Tanyanya, sikapnya cukup sopan walaupun nada suaranya memandang rendah.

"Aku mengenalmu sebagai Tiat-Pi Kim-Wan, biarlah engkau mengenalku sebagai Seng-jiu Sin-touw saja. Kita hanya mengadu silat, bukan mengadu orang dan pribadinya,"

Jawab Si Malaikat Copet.

Mendengar bahwa lawannya adalah seorang Sin-touw atau Malaikat Copet, Si Lutung Emas tersenyum dan sengaja melucu agar tidak sampai kehilangan pendukung.

Dia lalu sibuk memeriksa kantung-kantung jubahnya, mengeluarkan uang dan segala barang yang dianggap berharga, lalu menyerahkan kepada Song Kim sebagai tuan rumah.

"Tolong Kongcu simpan dulu semua milikku yang tak berharga ini, khawatir kalau-kalau nanti tahu-tahu lenyap dari kantungku setelah pibu. Bukankah kalau demikian, biar menang seratus tael, tetap saja kehilangan barang-barangku?"

Tentu saja semua penonton tersenyum, ada pula yang tertawa geli mendengar ini dan mereka semua memandang kepada Malaikat Copet sambil tertawa.

Si Malaikat Copet yang warna mukanya sudah merah itu kini warna itu menjadi kehitaman, tanda bahwa dia merasa marah dan malu.

Song Kim tidak memberi komentar karena tidak mau berat sebelah, tidak pula tertawa, hanya menaruh barang-barang itu di atas meja di depannya.

"Lutung Emas, sambutlah seranganku!"

Bentak si Malaikat Copet dan diapun sudah menerjang.

Gerakannya cepat bukan main, kedua tangan yang bergerak itu sukar diikuti pandang mata, tahu-tahu tangan kiri sudah menampar ke arah pelipis sedangkan tangan kanan menyelonong ke arah lambung lawan dengan totokan keras!

"Wah, cepatnya...!"

Teriak Si Lutung Emas dan diapun segera meloncat ke belakang dengan gaya seekor kera yang cekatan.

Biarpun serangan kedua tangan yang cepat itu luput, tak urung Si Lutung Emas merasa betapa ada angin pukulan yang dingin lewat leher dan membuat bajunya di bagian perut berkibar.

Maklumlah dia bahwa lawannya, selain memiliki kecepatan yang mengejutkan juga memiliki tenaga sinkang yang tak boleh dipandang ringan.

Dan dugaannya memang tepat.

Baru saja dia meloncat ke belakang untuk menghindarkan serangan pertama, lawan sudah menerjang lagi dan tahu-tahu kedua tangan yang cepat sekali seolah-olah dua ekor ular yang ganas itu telah menghujankan serangan bertubi-tubi, setiap pukulan, tamparan atau cengkeraman mengandung tenaga yang amat kuat.

Seng jiu Sin-touw mengeluarkan seruan kaget dan cepat dia melindungi tubuhnya dari serangan dengan jalan mengelak ke sana-sini, kadang-kadang menangkis!

Perkelahian itu berjalan dengan cepat sekali, akan tetapi karena penontonnya adalah ahli-ahli silat jagoan, mereka semua dapat mengikuti perkelahian itu dan merasa kagum.

Sin-touw memang cepat bukan main, akan tetapi pertahanan Kim-wan (Lutung Emas) juga rapat sekali sehingga semua serangan dapat digagalkan.

Tiba-tiba Si Lutung Emas yang menghadapi tendangan lawan, tiba-tiba terjengkang seolah-olah terkena tendangan, padahal dia sengaja melempar diri ke belakang untuk menghindar.

tubuhnya terjengkang akan tetapi bigitu tiba di tanah, tubuh itu bergulingan dan ketika dia mengeluarkan teriakan nyaring, ada dua benda kecil menyambar ke arah mata Sin-touw!

"Heiiittt!!"

Sin-touw berteriak dan cepat merendahkan tubuhnya.

Kiranya karena lantai itu bersih, Lutung Emas tidak dapat mencengkeram pasir atau tanah atau kerikil, maka sebagai gantinya, dia telah merenggut lepas dua buah kancing bajunya dan dua buah benda kecil ini meluncur menuju ke mata lawan.

Pada saat itu lawan merendahkan tubuh untuk mengelak, tubuhnya sendiri yang tadinya berada di atas lantai, tiba-tiba menerjang ke atas dan kedua tangannya yang kuat itu sudah menyambar, didahului oleh sebuah tendangan kakinya yang panjang!

Si Malaikat Copet mengelak dari serangan kedua tangan, maka ketika kaki itu menendang, dia tidak sempat lagi mengelak lalu menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Dukkk!"

Hebat tendangan itu, akan tetapi tangkisan itupun mengandung tenaga yang kuat dan akibat benturan kedua tenaga itu, dua orang jagoan terdorong mundur sampai tiga langkah!

Kini Lutung Emas sudah marah sekali.

Sejak tadi dia didesak dan sekali membalas, kakinya tertangkis sampai rasanya nyeri.

sambil mengeluarkan suara menggereng dengan amat cepatnya.

Song Kim menanti-nanti sampai Lutung Emas mengeluarkan jurusnya yang ampuh tadi, yang dianggapnya sebagai jurus terbaik.

Akhirnya, apa yang diduganya terbukti.

Kiranya memang jurus itu dipergunakan Lutung Emas untuk berusaha mengalahkan lawannya.

Tangan kiri Si Lutung Emas menyambar dengan pukulan dahsyat dibarengi tangan kanan mencengkeram ke depan.

Dua serangan ini memang hebat sekali nampaknya dan pasti dapat mengelabui lawan yang menyangka bahwa dua tangan itu merupakan inti serangan, atau setidaknya satu di antaranya.

Maka lawan tentu akan mengerahkan tenaga dan perhatian menghadapi dua serangan ini.

Demikian pula dilakukan oleh Malaikat Copet.

Pukulan ke arah kepalanya dengan tangan kiri lawan itu dielakkan dengan miringkan kepala, dan cengkeraman tangan kanan lawan di sambutnya dengan tangkisan tangan kiri.

Pada saat itulah tendangan pendek kaki Lutung Emas menyambar!

Bukan main kagetnya Malaikat Copet.

Dia maklum bahwa untuk mengelak atau menangkis tendangan itu tidak keburu lagi, maka tangan kanannyapun memukul ke arah leher lawan untuk mengadu nyawa sedangkan kedua kakinya agak ditekuk untuk memberi kekuatan tambahan pada perut ke bawah yang sudah diisi tenaga sinkang untuk melindunginya.

Si Lutung Emas tidak ingin membunuh lawan.

Biarpun tubuh di bawah pusar itu sudah dilindungi sinkang, kalau terkena tendangannya pasti akan pecah dan lawan akan tewas.

Dia tidak mau melakukan hal ini dan mengarahkan tendangannya ke lutut kiri lawan.

Akan tetapi dia terkejut melihat betapa lawan menjadi nekat dan memukul dengan tangan miring ke arah lehernya.

Pukulan yang mengadu nyawa ini sungguh tak pernah disangkanya, dan datangnya demikian cepatnya!

Maka, satu-satunya jalan hanya melempar tubuh ke samping untuk mengelak.

Dia tidak mugkin melempar tubuh ke belakang karena dalam posisi menendang sehingga kalau hal itu dilakukan, dia akan terbanting dan terjengkang!

Tepat pada saat ujung sepatu Lutung Emas mengenai lutut kaki Malaikat Copet, pukulan tangan miring itu mengenai pundak Lutung Emas.

Akibatnya, Malaikat Copet terjungkal karena lututnya terkena tendangan, akan tetapi sebaliknya lawannya juga terpelanting oleh pukulannya pada pundak.

Diam-diam Song Kim yang melihat jelas gerakan mereka itu menjadi girang dan kagum.

sekaligus dia telah menemukan dua gerakan yang sama-sama hebat!

Cepat dia bangkit dan membantu keduanya untuk bangun.

Kedua orang itu meringis kesakitan karena seperti sambungan lutut Malaikat Copet yang terlepas, ternyata sambungan tulang pundak Lutung Emas juga terlepas.

"Ji-wi sama-sama tangguh dan lihai, tidak ada yang kalah atau menang, biarlah hadiah dibagi berdua, baru adil."

Semua orang menyatakan setuju dan kedua orang itupun kembali ke kursinya, membawa lima puluh tail perak.

Si Malaikat Copet terpincang-pincang ketika menghampiri kursinya, sedangkan Si Lutung Emas juga miring-miring jalannya seperti layang-layang yang berat sebelah.

Dengan sikapnya yang ramah dan sopan, sedikitpun tidak memperlihatkan pamrih aslinya, melainkan memberi kesan bahwa dia memang seorang penggemar silat seratus persen.

Lee Song Kim berhasil membujuk para tamunya seorang demi seorang untuk mendemonstrasikan ilmu-ilmu simpanan masing-masing.

Para tamu itu, di bawah pengaruh arak yang baik, berusaha menonjolkan kepandaian silat masing-masing.

Akan tetapi sudah tujuh orang yang maju mendemonstrasikan ilmu silatnya, Lee Song Kim diam-diam kecewa karena mereka ini tidak memiliki jurus-jurus ampuh seperti dua orang tamu terdahulu.

Karena itu, dia tidak memberi komentar apa-apa dan tidak memancing adanya pibu.

Kini hanya tinggal lima orang yang belum mendemonstrasikan ilmu silatnya.

mereka itu adalah Kam-Kauwsu dari Thian-cin, Tan-siucai tokoh Pek-hwa-pai, Kwa Ciok Le jagoan Kun-Lun-Pai.

Thian Khi Hwesio sendiri, dan seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh tahun yang mukanya buruk dan di punggungnya terdapat sebatang pedang.

Kini Lee Song Kim menunjuk kepada wanita itu dan memperkenalkan.

"Sekarang kami mohon kepada saudari Sin-Kiam Mo-Li untuk memberi petunjuk kepada kami akan kehebatan ilmu pedangnya. Silakan, Lihiap."

Wanita itu bangkit berdiri, melangkah dengan tenang ke tengah ruangan dan menjura kepada Lee Kongcu, kemudian kepada semua orang yang memandang dengan hati tertarik.

Beberapa orang di antara mereka termasuk Thian Khi Hwesio terkejut mendengar disebutnya nama Sin-Kiam Mo-Li (Iblis Betina Pedang Sakti) itu karena nama itu adalah nama seorang tokoh sesat yang terkenal kejam dan sakti, yang membuat nama besar di dunia selatan!

Tak disangkanya bahwa tokoh sesat yang ditakuti itu ternyata hanya seorang wanita berusia empat puluh tahun dan kini bahkan hadir sebagai tamu Lee Kongcu!

"Lee Kongcu, ketahuilah bahwa aku tidak pernah memamerkan kepandaian, dan pedangku ini hanya dicabut kalau berhadapan dengan lawan.

Entah sekarang ada yang mau menjadi lawanku atau tidak, terserah kepada yang hadir.

Kalau tidak ada, sebaiknya aku pergi sekarang.

Kalau ada, silakan maju, karena bagaimanapun juga, aku sudah menerima kebaikan Kongcu dan ingin sedikit menghibur dengan pertunjukan pibu.

Akan tetapi, pedang tidak bermata, kalau sampai kesalahan tangan membunuh atau melukai lawan, harap jangan menjadi kecil hati."

Setelah mengeluarkan ucapan itu, Sin-Kiam Mo-Li berdiri tegak, siap menanti munculnya seorang lawan!

Empat orang tamu lain yang belum memperlihatkan ilmunya tidak ada yang mau menanggapi tantangan wanita itu.

Bukan takut, melainkan mereka sebagai jagoan-jagoan besar selain merasa tidak mau melayani iblis betina yang haus darah itu.

Semua orang maklum bahwa ahli silat yang sudah tinggi ilmunya dapat menguasai senjata masing-masing.

Biarpun senjata tidak bermata, namun si pemegang senjata bermata,bahkan awas sekali sehingga sulitlah dikatakan "kesalahan tangan"

Karena dalam keadaan bagaimanapun juga, seorang ahli silat tinggi dapat menguasai semua anggauta badannya.

Lee Song Kim maklum bahwa di antara empat orang itu tentu tidak ada yang mau maju.

Dia sendiri ingin maju menghadapi Sin-Kiam Mo-Li, akan tetapi dia merasa belum waktunya bagi dia untuk memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya.

Kelak kalau sudah tiba saatnya, sekali memperlihatkan diri, dunia harus mengakuinya sebagai Thian-He Te-It Bu-Hiap!

Maka diapun memberi isyarat kepada Theng Ci, pembantunya, untuk melayani wanita itu.

Memang hanya Theng Ci yang dianggapnya tangguh dan dapat dipercaya akan mampu menandingi Sin-Kiam Mo-Li.

Dua orang muridnya yang duduk di belakangnya, belum tentu akan mampu menandingi wanita berpedang sakti itu.

Theng Ci dapat menangkap isyarat atasannya.

Selama ini, sudah hampir satu tahun ia bersama anak buahnya tinggal di perkampungan yang dibangun Lee Song Kim, menjadi pembantunya yang dipercaya.

Di antara murid-murid dan anak buahnya, banyak yang bertugas menghibur dan melayani Lee Kongcu, tentu saja mereka yang muda-muda dan cantik-cantik saja yang dipilih Song Kim.

Kini Theng Ci bangkit dari tempat duduknya dan Song Kim juga bangkit, memperkenalkan.

"Karena tidak ada yang menyambut uluran tangan Sin-Kiam Mo-Li, untuk memeriahkan pesta ini, baiklah aku meyuruh pembantuku ini untuk mewakili aku, bermain-main sebentar dengan Mo-li agar mata kami semua terbuka menyaksikan ilmu pedang yang hebat dari Sin-Kiam Mo-Li."

Semua tamu bertepuk tangan gembira menyambut majunya Theng Ci karena mereka semua yang sudah mendengar nama besar Sin-Kiam Mo-Li ingin sekali melihat kehebatan ilmu pedang iblis betina itu.

namun diam-diam mereka merasa khawatir.

Bagaimana sih tuan rumah ini?

Menyuruh seorang wanita yang nampak lemah itu untuk menghadapi Sin-Kiam Mo-Li?

Padahal, bukankah tadi Sin-Kiam Mo-Li mengeluarkan ancaman bahaya pedangnya tak bermata, mungkin melukai bahkan membunuh lawan?

Juga ada yang merasa heran, termasuk Thian Khi Hwesio.

Tentu tuan rumah she Lee itu sudah maklum akan kelihaian Sin-Kiam Mo-Li, akan tetapi kenapa berani mengajukan wanita pembantunya itu?

Jelaslah bahwa Lee Kongcu sudah tahu pula bahwa pembantunya akan mampu menandingi si Iblis Betina, Kalau tidak demikian takkan disuruhnya maju.

Dan kalau pembantunya saja berani menandingi Sin-Kiam Mo-Li, mudah diduga bahwa tentu majikan atau ketuanya lebih lihai lagi!

Hati Thian Khi Hwesio semakin tertarik.

Perkumpulannya juga sedang berurusan dengan seorang she Lee yang membunuh tokoh Kun-Lun-Pai dan yang mengaku murid Siauw-Lim-Pai dan kini ada seorang she Lee yang begini aneh, penuh rahasia dan agaknya lihai sekali.

Siapa tahu di antara keduanya itu masih ada hubungan!

Sementara itu, Theng Ci sudah berhadapan dengan Sin-Kiam Mo-Li dan ketua Ang-Hong-Pai (Perkumpulan Tawon Merah) ini sudah pula mencabut pedangnya karena tadi ia mendengar bahwa Si Pedang Sakti ini hendak mempergunakan pedangnya.

Sambil menyembunyikan pedang di bawah lengan, iapun maju dan memberi hormat kepada Sin-Kiam Mo-Li.

"Mentaati perintah Lee Kongcu, aku yang ingin melayanimu bermain pedang sebentar, Sin-Kiam Mo-Li."

Sin-Kiam Mo-Li memandang tajam kepada wanita calon lawannya itu dan diam-diam ia terkejut.

Wanita ini sudah tua, hal itu dapat dilihat dari sikap dan pandang matanya, jauh lebih tua darinya, akan tetapi wajah dan bentuk badan wanita ini bahkan nampak lebih muda darinya!

Hal ini saja sudah membuatnya terheran dan dapat menduga bahwa yang dihadapi tentulah seorang wanita yang tak boleh dipandang ringan.

Pada saat itu, tiba-tiba seorang di antara para tamu mengenal Theng Ci dan diapun berseru.

"Ah, bukankah ia ketua Ang-Hong-Pai di luar kota Nan-ping yang amat terkenal dengan tawon-tawon merah beracun? Mendengar ini, semua orang terkejut, termasuk Sin-Kiam Mo-Li. Ia belum pernah mengenal perkumpulan itu, akan tetapi sudah mendengar namanya dan seperti semua orang yang hadir, ia terkejut karena tidak mengerti bahwa ketua perkumpulan yang ditakuti banyak orang itu kini menjadi pembantu dan wakil pemuda hartawan yang aneh dan penuh rahasia itu! "Ah, kiranya aku berhadapan dengan Ang-Hong-Pai-cu (ketua Ang-Hong-Pai) yang terkenal itu? Sungguh mengherankan, ketua perkumpulan yang ternama kini menjadi pembantu dan wakil Lee Kongcu yang hanya kaya raya dan penggemar ilmu silat."

Mendengar ini, wajah Theng Ci berubah merah.

Ucapan itu sama saja dengan meremehkannya, dan mengingatkan ia betapa perkumpulannya telah ditaklukkan oleh Lee Kongcu.

Ia tidak mampu menjawab dan melihat ini, Lee Song Kim tertawa.

"Moli, kiranya bukan hanya pedangmu yang tajam, mulutmu lebih tajam lagi. Karena tidak ada yang berani menemanimu bermain pedang, aku lalu minta bantuan Ang-hong Pai-cu yang menjadi sahabat baikku, kenapa engkau memandang rendah kepadanya? Lebih baik engkau perlihatkan kepandaianmu dan mengalahkannya!"

"Baik, jangan dikira bahwa aku takut menghadapi siapapun juga. Nah, pai-cu, majulah!"

Berkata demikian, Sin-Kiam Mo-Li menggerakkan tubuhnya ke depan dan nampak sinar berkelebat ketika ia mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar putih berkilauan.

"Aku di pihak tuan rumah, engkau tamu, sudah sepatutnya kalau tamu yang bergerak lebih dulu,"

Kata Theng Ci.

Mendengar ini, tiba-tiba Sin-Kiam Mo-Li mengeluarkan teriakan panjang dan pedangnya sudah membentuk sinar berkelebat menusuk ke arah dada ketua Ang-Hong-Pai itu.

Serangannya cepat sekali dan juga menagandung tenaga kuat sehingga mengeluarkan suara berdesing.

Theng Ci tidak memandang rendah lawannya dan ia sudah siap siaga, maka begitu lawan menyerang, iapun menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan sinkang.

"Cringgg! Trangggg...!"

Dua kali pedang Sin-Kiam Mo-Li menyerang dan dua kali Theng Ci menangkis.

Pertemuan antara kedua pedang itu selain menimbulkan suara nyaring, juga bunga api berpijar dan keduanya cepat menarik pedang masing-masing untuk memeriksa apakah pedang mereka rusak.

ternyata tidak dan kini Theng Ci balas menyerang dan karena keduanya sama-sama tidak berani memandang ringan lawan, mereka telah mengeluarkan jurus-jurus serangan simpanan yang ampuh.

Kalau orang-orang lain menonton perkelahian pedang itu dengan hati tegang dan penuh kekhawatiran bahwa seorang di antara dua wanita itu akan roboh mandi darah, sebaliknya Lee Song Kim merasa girang bukan main.

Dia sudah hafal ilmu pedang Theng Ci, tahu bagian-bagian mana yang lemah dan kuat, maka melalui gerakan Theng Ci, dia dapat pula menilai gerakan lawan, mencatat gerakan-gerakan pedang dari Sin-Kiam Mo-Li yang dianggap lihai dan patut dipelajari.

Dan memang ilmu pedang Sin-Kiam Mo-Li amat lihai, sehingga pantas kalau ia diberi julukan Iblis betina berpedang Sakti!

Biarpun Theng Ci juga seorang ahli pedang yang amat lihai, namun setelah berkelahi selama lima puluh jurus, mulailah Theng Ci terdesak hebat!

Dan kini watak kejam Sin-Kiam Mo-Li sehingga ia dijuluki Iblis Betina.

Biarpun perkelahian itu hanya merupakan pibu belaka, tanpa didasari benci atau permusuhan pribadi, setelah melihat lawannya terdesak hebat, iblis betina itu sama sekali tidak memberi kelonggaran, Bahkan menghujankan serangan-serangan mautnya dengan jurus-jurus yang paling lihai.

Tentu saja Theng Ci menjadi kewalahan, selalu menangkis sambil mundur dan berusaha mengelak ke kanan kiri.

Yang aneh adalah Song Kim.

Orang ini melihat pembantu dan wakilnya terdesak dan terancam bahaya, dia malah kegirangan karena melihat iblis betina itu mengeluarkan jurus-jurus rahasia!

Seolah-olah dia tidak perduli sama sekali melihat nyawa pembantunya terancam bahaya maut.

Sesungguhnya tidak demikian.

Song Kim memang kegirangan karena dapat melihat jurus-jurus pilihan dari ilmu pedang Sin-Kiam Mo-Li, dan kalau tidak mengkhawatirkan keadaan Theng Ci, bukan karena dia acuh, melainkan karena dia percaya penuh akan kemampuan pembantunya.

Dia percaya bahwa Theng Ci mampu menjaga diri walaupun nampaknya sudah demikian kerepotan.

"Mampuslah!"

Tiba-tiba Sin-Kiam Mo-Li membentak, tubuhnya membuat gerakan memutar setengah lingkaran, pedangnya meluncur ke belakang tubuhnya, akan tetapi secara aneh pedang itu membalik dan menyambar ke arah leher Theng Ci dengan kecepatan kilat!

Ketua Ang-Hong-Pai ini terkejut setengah mati, tidak pernah menduga akan datangnya serangan aneh yang tak disangka-sangkanya itu.

Tidak ada waktu lagi baginya untuk menangkis dan jalan satu-satunya untuk menghindarkan diri dari sambaran maut itu hanyalah membuang tubuhnya ke belakang, Bahkan terus melempar diri rebah terlentang ke atas tanah untuk kemudian berjungkir balik!

Akan tetapi, terdengar suara ketawa mengejek dari mulut Sin-Kiam Mo-Li yang sudah memperhitungkan hal ini, maka begitu melihat lawan melempar tubuh ke belakang, pedangnya dengan membuat gulungan sinar telah mengejar dan menusuk ke arah leher dari tubuh lawan yang sudah rebah terlentang itu sebelum tubuh itu sempat meloncat lagi.

Semua orang yang melihat peristiwa ini menahan napas karena agaknya tidak ada jalan untuk menyelamatkan diri bagi ketua Ang hong-pai itu.

Hanya Lee Song Kim saja yang masih melihat dengan senyum di bibirnya.

Dia melihat betapa pembantunya itu sejak tadi telah siap dengan jarum merahnya, senjata rahasia halus yang amat berbahaya itu!

Theng Ci yang melihat sambaran pedang, hanya mampu memutar leher ke kiri dan tangan kirinya bergerak ke depan.

Sinar merah halus menyambut ke arah muka lawan.

Sin-Kiam Mo-Li terkejut dan cepat ia menarik kepala ke belakang dan pada saat pedangnya yang dielakkan lawan itu menusuk pundak sebagai gantinya leher, ia sendiri merasa pahanya nyeri dan pedih sekali karena ketika ia menarik kepala ke belakang tadi, pedang di tangan Theng Ci menusuk pahanya!

Dalam waktu yang hampir berbareng, dua orang wanita itu sama-sama menderita luka.

Theng Ci terluka pundaknya dan Sin-Kiam Mo-Li terluka pahanya.

Dengan marah sekali Sin-Kiam Mo-Li sudah meloncat maju lagi begitu melihat lawannya bangkit berdiri dan siap untuk menyerang.

Akan tetapi pada saat itu Song Kim sudah berdiri menghadang dan menghalang di antara mereka.

"Cukup sudah, kedua pihak sama terluka, tidak ada yang kalah atau menang."

"Wuuuttt... tappp!"

Tiba-tiba saja gerakan tusukan pedang itu terhenti karena pedang itu sudah dijepit oleh jari-j ari tangan kanan Lee Kongcu!

"Sin-Kiam Mo-Li, engkau sungguh lancang dan pedangmu ini berbahaya kalau tidak dipatahkan!"

Berkata demikian, Lee Song Kim menyalurkan tenaga sinkang pada jari-jari tangan kanan yang menagkap pedang dan sekali jari tangannya menekuk, terdengar suara keras dan pedang itupun patah menjadi tiga potong!

Yang dua potong jatuh ke atas lantai mengeluarkan bunyi berdenting, bagian ketiga masih tertinggal di gagang yang masih dipegang oleh tangan kanan Sin-Kiam Mo-Li.

Wanita itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

Tak disangkanya bahwa orang yang dikenalnya sebagai Lee Kongcu ini ternyata memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya, jauh lebih hebat dibandingkan tingkat ilmu silatnya sendiri.

Cara Lee Kongcu menangkap dan mematahkan pedangnya itu merupakan ilmu yang tinggi, mungkin tak dapat dilakukan oleh mendiang gurunya sendiri sekalipun!

Maka, iapun tahu diri dan "Saya telah menerima pelajaran!"

Dan terpincang-pincang ia kembali ke kursinya dan mengambil obat luka untuk mengobati luka di pahanya.

Theng Ci juga kembali ke kursinya dan mengobati luka di pundaknya, sedangkan Lee Song Kim tersenyum dan duduk lagi, tak mau menyinggung peristiwa tadi melainkan memandang empat orang tamu lainnya yang belum sempat memperlihatkan ilmu kepandaian mereka.

Sambil tersenyum Lee Song Kim berkata kepada mereka.

"semua tamu yang gagah perkasa telah memperlihatkan ilmu kepandaian mereka masing-masing yang hebat sehingga menambah meriahnya suasana pertemuan ini. Hanya su-wi yang terhormat, Kam-Kauwsu, Tan-siucai, Kwa-Enghiong dan Thian Khi LoSuhu yang belum sempat memperlihatkan kelihaiannya. Maka, kami mohon dengan hormat dan sangat, sudilah kiranya Kam-Kauwsu dari Thian-cin dan Tan-siucai tokoh Pek-hwa-pai yang keduanya sudah amat terkenal namanya, menghangatkan suasana dengan mendemonstrasikan ilmu silat mereka."

Kam-Kauwsu, guru silat dari Thian-cin itu adalah seorang yang cerdik.

Tadi dia melihat betapa lihainya tuan rumah yang penuh rahasia itu.

Baru tingkat kepandaian Theng Ci, wanita yang menjadi pembantu Lee Kongcu itu saja sudah amat lihai dan agaknya tingkatnya sendiri tidak akan melebihi banyak.

Maka, kalau sampai dia memancing bentrokan atau pibu dengan pihak tuan rumah, mungkin diapun akan mendapatkan malu.

Juga dia tidak ingin mengadu ilmu dengan Tan-siucai.

Dia dapat melihat betapa mereka yang ilmu silatnya biasa saja, tadi tidak dipedulikan oleh tuan rumah dan hanya mendemonstrasikan saja ilmu silatnya.

Yang diadu dalam pibu hanyalah mereka yang ilmu kepandaiannya tinggi.

Maka, begitu mendengar permintaan tuan rumah, dia mendahului Tan-siucai dan meloncat ke tengah ruangan itu, memberi hormat kepada Lee Kongcu dan para tamu sambil tersenyum lebar.

"Saya hanyalah seorang guru silat yang mengandalkan hidupnya dari penghasilan mengajarkan ilmu silat sekedarnya, ada apakah yang boleh diperlihatkan? Akan tetapi kalau untuk menghormati Lee Kongcu yang telah begitu baik hati untuk mengundang saya, maka biarlah saya ikut pula meramaikan pesta ini dengan permainan silat sedapat saya, harap cu-wi jangan mentertawakan."

Tanpa menanti tanggapan, cepat guru silat Kam ini sudah memainkan ilmu silatnya.

Dia sengaja mengeluarkan tenaga sehingga tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan, gerakannya mantap dan penuh tenaga, pukulan dan tendangannya juga mengandung tenaga besar sehingga menimbulkan angin.

Akan tetapi, Lee Song Kim yang menonton penuh perhatian, menjadi kecewa.

kiranya nama besar guru silat dari Thian-cin ini hanya nama kosong belaka, seperti juga ilmu silatnya itu hanya indah dan gagah ditonton saja, akan tetapi sebetulnya tidak ada isinya yang menarik sama sekali.

Gerakan silat biasa yang dapat dipelajari setiap orang.

Tidak ada apa-apanya yang patut untuk dicatat dan dipetik.

Dalam waktu belasan jurus saja Theng Ci akan mampu merobohkan orang ini, pikirnya.

Karena itu, diapun tidak merasa tertarik.

Guru silat itu kelihatan bersemangat benar untuk memamerkan ilmu silatnya, mengerahkan tenaganya dan kecepatannya.

Namun, tidak ada sejuruspun yang dianggap baik oleh Lee Song Kim, maka diapun diam saja dan tidak bernafsu untuk mengadu tamu ini dalam pibu untuk mengorek rahasia ilmu silatnya.

inilah yang dikehendaki Kam-Kauwsu yang cerdik dan selmatlah dia dari kekalahan dalam pibu.

Setelah dia selesai dalam bersilat, para tamu, demi kesopanan, bertepuk tangan memuji, bahkan Song Kim juga ikut bertepuk tangan memuji.

Kam-Kauwsu menjura sambil merendahkan diri, lalu mundur dan duduk kembali di kursinya, di dalam hatinya merasa girang bahwa siasatnya berhasil.

"Sekarang kami mohon Tan-siucai untuk memperlihatkan kepandaiannya. Kami mendengar bahwa Tan-siucai memiliki pedang yang luar biasa, dengan sebatang pedang pusaka yang tipis dan lemas. Kami ingin mengagumi ilmu pedang itu."

Tan-siucai sejak melihat Lee Song Kim tadi mematahkan pedang di tangan Sin-Kiam Mo-Li, sudah merasa curiga akan iktikad tuan rumah.

Maka, dia sudah merasa enggan untuk ikut memamerkan kepandaian.

ketika tuan rumah minta kepadanya untuk memperlihatkan kepandaian, dia bangkit dan menjura kepada Lee Song Kim.

"Harap Lee Kongcu suka memaafkan, akan tetapi hari ini saya tidak mempunyai semangat untuk bermain silat memperlihatkan kebodohan sendiri di depan para locianpwe. Biarlah saya menjadi penonton saja."

"Ah, mana bisa begitu. Tan-siucai? Jauh-jauh kami sengaja mendatangkan tokoh-tokoh persilatan di dunia kang-ouw, selain untuk menghormati mereka, juga untuk menikmati pertunjukan ilmu-ilmu yang tinggi. Kalau anda menolak untuk ikut menggembirakan suasana dengan mendemonstrasikan ilmu silat anda yang terkenal tinggi, sungguh hal itu amat mengecewakan hati kami dan para indangan yang terhormat!"

Kini Lee Song Kim juga bangkit berdiri dan menghampiri jago silat yang berpakaian seperti seorang sasterawan itu.

Mereka berhadapan dan sejenak mereka saling pandang dengan sinar mata tajam.

Tan-siucai kembali menjura.

"Terpaksa saya mengecewakan tuan rumah. Akan tetapi, saya memnuhi undangan tanpa mengetahui bahwa kami diundang untuk diadu seperti ayam-ayam aduan. Terpaksa saya mengecewakan dan biarlah budi kebaikan Lee Kongcu kelak dapat saya balas dengan undangan kehormatan pula. Sekarang, perkenankan saya mohon diri..."

Akan tetapi Lee Kongcu menghadang di depannya.

"Nanti dulu, Tan-siucai. Aku tidak minta kau balas untuk beberapa cawan arakku dan beberapa mangkok sayuran hidanganku. Akan tetapi aku tidak dapat menerima kalau orang memandang rendah kepadaku, biarpun hal itu dilakukan oleh seorang ternama seperti engkau."

Mendengar kata-kata keras dan sikap yang berubah kasar ini, Tan-siucai memandang wajah tuan rumah dengan alis mata berkerut.

"Lee Kongcu, apakah maksud ucapan Kongcu ini? Sungguh saya tidak mengerti,"

Katanya, suaranya kinipun tegas.

"Sebagai tuan rumah yang menghormati tamu-tamunya, akupun ingin agar para tamuku menghormatiku. permintaanku kepada tamu yang hadir untuk sekedar memperlihatkan ilmu kepandaiannya merupakan penghormatan pula dan sudah sepatutnya kalau para tamu memenuhi permintaan itu. Kalau engkau menolak, berarti engkau tidak memperdulikan penghormatanku dan memandang rendah kepadaku. Memandang rendah berarti penghinaan dan aku tidak dapat menerimanya!"

Mendengar ucapan keras dan sikap menantang ini, panaslah rasa hati Tan-siucai.

Dia adalah seorang pendekar dari utara, seorang yang biarpun selalu mengalah dan rendah hati, namun jiwa kependekarannya bangkit kalau dia berhadapan dengan sikap sewenang-wenang.

Melihat sikap tuan rumah itu, kecurigaannya terhadap Lee Kongcu yang berkesan buruk itu menjadi semakin tebal dan diapun memandang dengan wajah merah dan sinar mata tajam.

"Aku tidak mengenal Lee Kongcu dan aku datang ke sini adalah atas undanganmu sendiri. Aku hadir di sini sebagai tamu, bukan sebagai orang yang harus menjalankan semua perintahmu, kalau sikapku ini dianggap memandang rendah dan engkau tidak dapat menerimanya, lalu apa yang selanjutnya akan terjadi?"

Biarpun halus, ucapan ini merupakan tantangan atau menerima tantangan yang dilontarkan Lee Song Kim tadi.

"Bagus! Kalau Tan-siucai merasa pintar sendiri dan benar sendiri, aku orang she Lee menantangmu untuk pibu agar disaksikan oleh para locianpwe yang hadir, asal saja Tan-siucai tidak mempergunakan lidahnya yang tajam melebihi pedangnya untuk mengelak karena takut menerima tantanganku!"

Kalimat terakhir itu dikeluarkan oleh Lee Song Kim sebagai penutup semua jalan keluar karena tentu saja pihak lawan tidak berani menolak.

Menolak berarti mengaku takut!

Tan-siucai mengerti bahwa dalam keanehan sikapnya, Lee Kongcu merupakan lawan tangguh yang berbahaya dan dia belum tahu sebetulnya yang berada di balik sikap menantang ini karena bagaimanapun juga, belum pernah dia merasa bermusuhan dengan orang ini.

"Bagaimana pibu ini akan dilaksanakan?"

Tanyanya, siap siaga karena dia maklum bahwa tak mungkin mundur dari tantangan tuan rumah.

Sementaa itu, para tamu memandang penuh perhatian dan diam-diam Kam-Kauwsu merasa girang bahwa dengan kecerdikannya, dia tadi mampu lolos.

Kwa Ciok Le yang sudah merasa tidak suka kepada tuan rumah, dan Thian Khi Hwesio yang merasa curiga, kini diam-diam memandang penuh perhatian.

"Tan-siucai terkenal dengan pedang tipisnya, ingin sekali aku membuktikan apakah pedang tipisnya itu sama tajamnya dengan lidahnya,"

Kata Lee Song Kim yang sengaja memanaskan hati orang "Srattt...!"

Nampak sinar berkilat dan tahu-tahu Tan-siucai telah memegang sebatang pedang tipis yang berkilauan saking tajamnya.

pedang itu diambilnya dari pinggang karena pedang itu tadi dipakai sebagai sabuk.

Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga seperti orang bermain sulap saja.

"Lee Kongcu, engkau sudah menantangku dan tidak baik kalau aku menolaknya. Nah, keluarkanlah senjatamu."

Lee Song Kim tersenyum.

dari anak buahnya yang melakukan penyelidikan, dia sudah banyak mendengar tentang jagoan ini dan biarpun belum pernah melihat sendiri kelihaiannya, namun dia merasa yakin bahwa dengan tangan kosong dia masih sanggup mengatasinya.

"Aku tetap menghormati tamu, Tan-siucai. Engkau gerakkanlah pedangmu, aku akan menghadapimu dengan tangan kosong saja."

Ucapan ini mengejutkan yang hadir, bahkan Thian Khi-Hwesio juga terkejut.

Dia sudah mendengar tentang Siucai ini dan maklum betapa lihai dan berbahayanya pedang tipis itu.

Dia sendiri sebagai wakil ketua Siauw-Lim-Pai, agaknya masih belum begitu sembrono untuk menghadapi Tan-siucai dengan tangan kosong melawan pedang tipis itu.

Kalau tuan rumah ini bersikap sedemikian angkuhnya, tentu benar-benar telah memiliki tingkat ilmu silat yang amat tinggi!

Maka dengan jantung berdebar, seperti yang lain, pendeta tua ini menonton dengan perhatian sepenuhnya.

Maksud Lee Song Kim menghadapi lawan dengan tangan kosong bukan sekedar kesombongan belaka, melainkan mengandung maksud tertentu.

Dia mendengar akan kehebatan ilmu pedang orang ini maka dengan tangan kosong, dia mampu mengelak terus mengandalkan ginkangnya sambil memperhatikan gerakan lawan dan mencatat jurus-jurus terampuh untuk dipelajari dan dikuasainya.

Song Kim memang sejak kecil memiliki ingatan yang kuat sekali sehingga sekali melihat dan mencatat di dalam benaknya, takkan terlupakan lagi olehnya.

Sementara itu, Tan-siucai merasa penasaran bukan main, diam-diam juga girang.

Orang she Lee ini berbahaya dan sombong.

Kini dia ditantang untuk maju menggunakan pedangnya melawan Lee Kongcu yang bertangan kosong.

kebetulan sekali, pikirnya.

Banyak yang menyaksikan dan kalau sampai pedangnya melukai atau membunuh tuan rumah sekalipun, orang-orang kang-ouw tidak akan menyalahkannya.

"Baik, kau sambutlah pedangku, Lee Kongcu!"

Hebat bukan main memang gerakan pedang sasterawan itu, jauh lebih hebat dari pedang wanita yang berjuluk Iblis Betina Pedang Sakti tadi.

Pedangnya yang tipis itu meluncur dan berubah menjadi sinar kebiruan menyambar-nyambar dan menciptakan gulungan sinar yang panjang.

Namun, Lee Song Kim berdiri dengan tenang saja dan baru tubuhnya bergerak mengelak kalau ada sinar mencuat dari gulungan sinar itu yang menunjukkan bahwa ada serangan mengarah dirinya.

Dengan tepat dan mudah dia mengelak.

Akan tetapi gerakan pedang di tangan Tan-siucai itu hebat bukan main.

Begitu pedang luput mengenai sasaran, pedang itu membalik dan telah melakukan serangan susulan, dan terus susul menyusul seperti seekor burung walet yang sedang berpesta pora menyambari nyamuk-nyamuk dengan terbang hilir mudik dengan kecepatan yang membuat pedang itu mengeluarkan sinar menyilaukan mata.

Dalam waktu beberapa detik saja, pedang itu telah hilir mudik mengirim serangan tidak kurang dari tiga belas kali!

Namun, semua orang kini dibuat kagum oleh Lee Kongcu.

Dia bergerak seenaknya, namun tubuhnya sedemikian ringannya sehingga ke manapun sinar pedang menyambar, tubuhnya selalu sekelebatan lebih cepat mengelak, seolah-olah sebelum pedang tiba, angin pedang itu sudah membuat tubuh Lee Kongcu berpindah tempat.

Hal ini membuat Tan-siucai menjadi penasaran, akan tetapi berbareng dia maklum pula bahwa lawannya benar-benar amat lihai dan memiliki ginkang yang luar biasa.

Maka, diapun lupa diri dan segera mengeluarkan jurus-jurus simpanannya yang paling ampuh.

Justeru inilah yang dikehendaki Lee Song Kim.

Dia mengerahkan ginkangnya dan tubuhnya bagaikan terbang saja menyelinap di antara gulungan sinar pedang, sambil meneliti bagian-bagian ilmu pedang milik lawan yang dianggapnya menarik dan patut untuk dipelajarinya.

Sementara itu, Kwa Ciok Le dan Thian Khi Hwesio sudah saling berbisik-bisik.

"Lo-Suhu, tuan rumah ini sungguh aneh mencurigakan. jelas, ilmunya tinggi sekali dan apa maksudnya dia mengumpulkan kita di sini?"

"Pinceng (aku) juga belum mengerti benar, akan tetapi pinceng sedang mengingat-ingat, barangkali dia ada hubungannya dengan urusan besar..."

"Pembunuhan atas diri tiong Gi Tojin dan Tiong Sin tojin, dua orang tokoh Kun-Lun-Pai itu?"

Kwa Ciok Le melanjutkan.

"Sayapun sudah mendengar akan hal itu dan sebagai murid Kun-Lun-Pai saya pun berkewajiban untuk mengadakan penyelidikan. Orang she Lee ini memang mencurigakan. ketika saya diundang oleh anak buahnya, saya tidak mau sehingga terjadi percekcokan, akan tetapi wanita pakaian merah yang bernama Theng Ci itu mengeluarkan ilmu siluman. ratusan ekor lebah beracun mengeroyokku dan selagi saya sibuk menyelamatkan diri, saya dirobohkannya dengan obat bius yang dikebutkan dengan saputangan merah. Nah, dalam keadaan pingsan saya digotong dan tahu-tahu tadi saya siuman dan dibawa ke tempat ini."

"Hemmm, sungguh mencurigakan. Pembunuh para tokoh Kun-Lun-Pai itu juga mengaku she Lee, akan tetapi dia mengaku murid Siauw-Lim-Pai."

"Tapi, harap loSuhu perhatikan. Ilmu silatnya demikian tinggi, dan saya melihat gerakan-gerakan yang aneh, bahkan kadang-kadang ada dasar gerakan Kun-Lun-Pai..."

Hwesio tua itu memandang penuh perhatian.

Tiba-tiba dia mengepal tinju karena pada sat itu, Lee Song Kim yang agaknya sudah merasa cukup mempermainkan lawan, menggerakkan tangan mencengkeram ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

Tan-siucai dapat mengelak dengan menarik tangannya, dengan gerakan mencengkeram yang dilakukan Song Kim itu memang mirip dengan Ilmu Silat Naga dari aliran Siauw-Lim-Pai, bahkan kedudukan kakinya juga sama.

"Omitohud... engkau benar, sicu. Apakah dia juga telah mempelajari ilmu silat Siauw-Lim-Pai?"

Pada saat itu, Lee Song Kim membalas serangan-serangan lawan, dan begitu dia mengeluarkan kepandaiannya, Tan-siucai yang memegang pedang menjadi kewalahan!

Ketika Tan-siucai masih berusaha menyerang lawan dengan tusukan pedangnya ke arah dada, Lee Song Kim membuat gerakan miring dan dari samping dia memukul siku kanan lawan.

"Plakk!"

Lengan kanan itu tiba-tiba menjadi lumpuh dan di lain saat pedang tipis itu telah berpindah tangan!

Song kim tidak berhenti sampai di situ saja, dia lalu menggerakkan pedang itu dengan satu di antara jurus-jurus penyerangan yang tadi dimainkan oleh Tan-sicai.

Jurus serangan ini mirip sekali, dan bahkan lebih dahsyat karena didorong oleh tenaga sinkang yang jauh lebih kuat.

Melihat ini, Tan-siucai terbelalak, mencoba untuk mengelak dengan menjatuhkan diri ke belakang.

namun, sinar pedang itu mengejarnya terus dan tahu-tahu ujung pedang tipis telah menusuk dadanya dari samping.

tanpa mengeluarkan teriakan Tan-siucai roboh dan tewas seketika karena pedang itu menembus jantungnya.

Semua orang terbelalak, tak mengira bahwa seorang yang lihai seperti Tan-siucai dapat tewas semudah itu di tangan tuan rumah dan tidak mengira bahwa tuan rumah akan sekejam itu membunuh tamunya sendiri.

Lee Song Kim yang menganggap Tan-siucai kelak akan dapat menjadi penghalang bagi cita-citanya, sudah membunuhnya dengan tangan dingin dan kini dia berdiri di tengah ruangan itu, memandang kepada semua tamunya.

"Tan-siucai tewas karena ulahnya sendiri. Cu-wi (anda sekalian) tadi melihat betapa dengan sungguh-sungguh dia berusaha membunuhku!"

Pada saat itu, Theng Ci menghampirinya dan dengan berbisik-bisik wanita ini menceritakan kepadanya apa yang didengarnya dari percakapan antara Kwa Ciok Le dan Thian Khi Hwesio!

"Mereka berdua tadi membicarakan Kongcu dan menyangka Kongcu pembunuh dua orang tokoh Kun-Lun-Pai.

mereka mempunyai niat buruk terhadap Kongcu."

Mendengar ini, Lee Song Kim diam-diam terkejut, akan tetapi dia mengangguk sambil tersenyum dan memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan mayat Tan-siucai dan membersihkan lantai yang penuh darah.

Kemudian dia melangkah maju setelah mengikatkan pedang pada pinggangnya seperti yang dilakukan Tan-siucai tadi, menghampiri tempat di mana Thian Khi Hwesio duduk bersama Kwa Ciok Le.

Lee Song Kim menjura kepada dua orang itu dan suaranya lantang terdengar oleh semua orang ketika dia berkata.

"Nah, sekarang tinggal ji-wi (anda berdua) yang belum memperlihatkan kelihaian. Harap Huang-ho Sin-to si pembasmi bajak Huang-ho dan Thian Khi Hwesio yang menjadi wakil ketua Siauw-Lim-Pai kini maju dan memperlihatkan kelihaian masing-masing. Ji-wi dapat bersilat sendiri-sendiri atau bersama-sama, terserah. Dan kami harap ji-wi tidak memandang rendah dan menolak permintaan tuan rumah seperti yang dilakukan oleh mendiang Tan-siucai tadi."

Sikapnya hormat, kata-katanya halus dihias senyum, namun di dalam ucapannya itu terkandung ancaman bahwa kalau kedua orang itu menolak seperti Tan-siucai, merekapun agaknya akan mengalami nasib seperti sasterawan berpedang itu.

Suasana menjadi tegang dan para ahli silat yang hadir kini memandang dengan sinar mata penuh kekhawatiran.

lenyaplah perasaan gembira seperti yang mereka rasakan dalam pesta tadi.

Tak mereka sangka bahwa pesta pertemuan itu akan menjadi seperti ini.

makin aneh saja kelakuan tuan rumah, dan makin penuh rahaia.

mereka tidak mengerti mengapa Lee Kongcu bersikap seperti itu, bahkan sampai membunuh seorang di antara tamu-tamunya hanya karena tidak mau memenuhi permintaan tuan rumah, yaitu mendemonstrasikan ilmu silat!

Di samping perasaan heran ini, juga terdapat perasaan kagum dan takut karena baru sekarang mereka maklum bahwa Lee Kongcu ini sesungguhnya adalah seorang ahli silat yang amat pandai.

Pantas saja, Theng Ci ketua Ang-Hong-Pai yang demikian lihainya itu, mau menjadi pembantunya!

Kwa Ciok Le dan Thian Khi Hwesio saling pandang.

Tadi mereka telah bercakap-cakap dan mengambil keputusan untuk membuka rahasia Lee Kongcu ini, dan kalau perlu mereka akan maju bersama untuk menentangnya.

Apalagi setelah melihat betapa Lee Kongcu membunuh Tan-siucai dengan cara demikian kejam, sengaja membunuhnya karena tadi Tan-siucai sudah kalah, keduanya mengambil keputusan untuk bangkit menentang orang she Lee ini.

"Lee Kongcu,"

Kata Kwa Ciok Le dengan suara lantang.

"katakanlah terus terang, apakah engkau orang she Lee yang telah membunuh dua orang tokoh Kun-Lun-Pai, yaitu Tiong Gi Tojin dan Tiong Sin Tojin?"

"Dan juga orang she Lee yang setelah membunuh dua orang tokoh Kun-Lun-Pai, lalu mengaku sebagai murid Siauw-lim-pai?"

Thian Khi Hwesio menyambung sambil memandang tajam.

Mendengar ini, para tamu lainnya terkejut dan maklum bahwa mereka menghadapi urusan besar yang gawat.

Akan tetapi Lee Song Kim bersikap tenang, bahkan dia menganggap sudah tiba waktunya untuk memperkenalkan diri.

Dia membutuhkan pembantu-pembantu untuk memperluaskan namanya ke seluruh pelosok agar semua orang tahu bahwa kini muncul seorang jagoan yang pantas diberi gelar Thian-He Te-It Bu-Hiap!

Dan maksudnya mengumpulkan semua jagoan ini bukan sekedar mencuri jurus-jurus terampuh mereka, melainkan juga untuk mulai memperkenalkan diri dan kelihaiannya.

"Thian Khi Hwesio, Huang-ho Sin-to dan para orang gagah yang berada di sini! Aku tidak perlu mengaku atau menyangkal atas semua tuduhan itu. Yang penting, aku memeberitahukan bahwa siapapun orangnya yang berani menentang Thian-He Te-It Bu-Hiap, maka dia akan tewas!"

"Hemm, dan siapakah Thian-He Te-It Bu-Hiap itu?"

Tanya Kwa Ciok Le walaupun terkejut akan kesombongan orang itu dan dapat menduga bahwa tentu orang itu yang mengaku sebagai Orang Gagah Nomor Satu di Dunia.

"Siapa lagi kalau bukan aku?"

Lee Song Kim berkata tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi, sambil hendak berkeruyuk.

"Akulah. Lee Kongcu, yang merupakan satu-satunya orang yang patut berjuluk Thian-He Te-It Bu-Hiap!"

"Omitohud...!"

Thian Khi Hwesio berseru, kaget dan heran melihat kesombongan orang itu.

"Dan siapa kiranya yang mengaku dan mengesahkan Lee Kongcu sebagai Pendekar Silat Nomor satu di Dunia ini?"

Lee Song Kim mengeluarkan sebuah benda dari balik jubahnya dan semua orang melihat bahwa benda itu adalah sebatang pedang terbuat dari batu kemala yang berbentuk naga.

"Giok-Liong-Kiam...!"

Hampir semua orang berseru kaget.

Biarpun di antara mereka belum ada yang melihat bentuk pedang pusaka itu, namun mereka sudah mendengar tentang Giok-Liong-Kiam (Pedang Naga Kemala), yang pernah menggemparkan dunia persilatan karena dijadikan perebutan di antara para orang gagah.

Pedang yang lenyap dari gudang pusaka istana itu pernah diperebutkan dan hampir semua orang kang-ouw tahu belaka tentang pedang itu, tahu pula bagaimana bentuk dan macamnya, walaupun hanya sedikit saja tokoh yang pernah menyaksikannya.

Begitu Lee Song Kim mengeluarkan pedang itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, semua orangpun mengenalnya.

Lee Song Kim tersenyum melihat betapa semua orang memandang kepada pedang pusaka itu dengan muka pucat dan mata terbelalak.

"Benar, ini adalah Giok-Liong-Kiam, lambang dari kegagahan! Dan siapa yang menjadi pemilik Giok-Liong-Kiam, dialah yang patut menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap! Aku sudah menguasai hampir seluruh ilmu silat dari semua aliran, dan aku pula yang menguasai Giok-Liong-Kiam, maka akulah yang berhak menjadi jagoan nomor satu di dunia ini. Kalau ada yang menyangkal, boleh maju untuk membuktikan sendiri!"

"Omitohud...! Bukankah Giok-Liong-Kiam tadinya dikuasai oleh Ong Siu Coan, pemimpin pasukan Tai Peng yang kini menjadi Kaisar dari Kerajaan Sorga yang dibentuknya? Karena Giok-Liong-Kiam maka banyak orang gagah yang membantu pasukannya sampai dia menjadi Kaisar di nan-king. Bagaimana kini bisa berada di tanganmu, Lee Kongcu?"

"Ha-ha, Ong Siu Coan itu hanya macan kertas! Mengandalkan balatentara yang besar jumlahnya dan bantuan para ahli silat! Licik namanya! Akan tetapi aku hanya mengandalkan tenaga sendiri. Kini Giok-Liong-Kiam berada padaku, maka akulah yang pantas menjadi jagoan nomor satu".

"Dan engkau membunuh dua orang tokoh Kun-Lun-Pai menggunakan nama Siauw-Lim-Pai untuk mengadu domba!"

Bentak Kwa Ciok Le marah.

"Omitohud... pinceng teringat akan pencurian-pencurian kitab ilmu silat dari partai-partai besar yang dilakukan oleh Hai-Tok sampai datuk sesat itu tewas ketika hendak mencuri kitab di Siauw-lim-si. Agaknya engkau pula yang berada di balik semua itu, Lee Kongcu!"

Lee Song Kim tersenyum, merasa tak perlu menyangkal.

"Hai-Tok pernah mengajarkan ilmu silat padaku. Akan tetapi sekarang, biar Empat Racun Dunia bangkit lagi mengeroyok aku, aku tidak akan undur selangkahpun. Akulah Thian-He Te-It Bu-Hiap, ha-ha!"

"Keparat, engkau membunuh tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai yang tidak berdosa, aku sebagai murid Kun-Lun-Pai harus membalaskan dendam ini!"

Bentak Kwa Ciok Le sambil mencabut sebatang goloknya yang mengeluarkan sinar kehijauan saking tajamnya.

Tanpa banyak cakap lagi dia menerjang dengan goloknya, dan golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung diikuti suara mencicit ketika menyambar-nyambar.

Namun Lee Song Kim dapat mengelak dengan amat mudahnya karena dia sudah mengenal ilmu golok dari Kun-Lun-Pai itu.

Bahkan dia mengelak dengan gaya ilmu silat Kun-Lun-Pai pula, seperti yang pernah dipelajarinya melalui kitab yang dicuri oleh mendiang Hai-Tok.

Melihat ini Kwa Ciok Le menjadi semakin marah dan goloknya menyambar-nyambar ganas.

"Omitohud, orang she Lee ini jahat, terpaksa pinceng turun tangan untuk membasminya!"

Dan hwesio tua dari Siauw-Lim-Pai itupun menerjang maju membantu Kwa Ciok Le.

Dia hanya mempergunakan kedua lengan jubahnya yang lebar untuk menyerang.

namun karena memang tingkat kepandaian Thian Khi Hwesio jauh lebih tinggi daripada tingkat orang she Kwa itu, biarpun hanya dua ujung lengan jubah, ternyata senjata istimewa ini jauh lebih berbahaya dibandingkan golok di tangan Si Golok Sakti dari Huang-ho itu.

Lee Song Kim tentu saja maklum akan kelihaian wakil ketua Siauw-Lim-Pai, maka diapun cepat mengeluarkan ilmu kepandaiannya dan bergerak cepat untuk menghindarkan diri dari sambaran golok dan ujung lengan jubah.

Melihat betapa pemimpinnya dikeroyok dua orang lihai, Theng Ci memberi isyarat kepada anak buahnya, juga dua orang murid kepala dari Lee Song Kim telah bangkit dan mereka berloncatan ke tengah ruangan itu dalam sikap mengepung.

"Mundur semua!"

Lee Song Kim berseru sambil mengelak ke sana-sini.

"Biarlah aku menghadapi pengeroyokan dua orang ini agar terbuka mata semua orang melhat kelihaianku!"

Mendengar ini, Theng Ci memberi isyarat agar semua anak buah mundur, akan tetapi tetap siaga dan mengepung ruangan itu dengan senjata di tangan.

Kini Song Kim yang menghadapi pengeroyokan dua orang lawan tangguh itu sudah neyimpan kembali Giok-Liong-Kiam dan sebagai gantinya dia melolos pedang tipis yang tadi dirampasnya dari tangan Tan-siucai, Orang ini memang lihai sekali, mampu memainkan segala macam senjata, apalagi pedang yang memang menjadi keahliannya.

Segera tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar pedangnya sehingga golok di tangan Huang-ho Sin-to Kwa Ciok Le dan kedua ujung lengan jubah Thian Khi Hwesio tidak mampu menembus gulungan sinar pedang itu, Bahkan sebaliknya kini Song Kim mulai membalas dan setiap kali ada sinar panjang mencuat keluar dari gulungan sinar, maka seorang di antara dua lawannya harus cepat-cepat mengelak atau menangkis karena sinar itu merupakan serangan maut yang amat dahsyat.

Kini semua tamu yang lain menonton dengan hati penuh rasa kagum terhadap Lee Kongcu.

Tak mereka sangka bahwa tuan rumah itu ternyata adalah seorang ahli silat yang amat tiggi ilmunya dan yang berambisi untuk menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap, bahkan yang telah menguasai Giok-Liong-Kiam!

Kini orang yang lihai itu bahkan berani menghadapi pengeroyokan dua orang tokoh Kun-Lun-Pai dan Siauw-Lim-Pai yang amat lihai itu, menolak bantuan dari anak buahnya.

Lee Song Kim bukanlah seorang bodoh yang tinggi hati dan sombong.

Sama sekali bukan.

Dia adalah seorang yang amat cerdik dan segala tindakannya tidak ngawur, melainkan dilakukan setelah diperhitungkannya masak-masak terlebih dahulu.

Kalu dia berani menghadapi pengeroyokan dua orang lawan itu dan menolak bantuan anak buahnya, hal itu memang disengaja karena dia tahu benar bahwa dia mampu mengalahkan dua orang lawannya.

Dan dia melakukan ini untuk mendatangkan kesan yang mendalam kepada orang-orang kang-ouw yang hadir di situ.

Andaikata dia tidak yakin benar akan mampu mengalahkan dua orang lawannya, tentu dia mengandalkan anak buahnya untuk mengeroyok.

Kini gulungan sinar pedang di tagan Lee Kongcu makin panjang dan melebar, sedangkan sinar golok Kwa Ciok Le menjadi semakin sempit, Tanda bahwa pembasmi bajak dari Huang-ho ini sudah terdesak.

Bahkan Kakek Thian Khi Hwesio juga terdesak hebat oleh sinar pedang bergulung-gulung yang amat dahsyat itu.

Thian Khi Hwesio adalah wakil ketua Siauw-lim-pai, ilmu silatnya memang tinggi, akan tetapi dia tidak memiliki kesaktian seperti misalnya Siauw-Bin-Hud datuk Siauw-Lim-Pai itu.

Memang, pemilihan ketua Siauw-Lim-Pai bukan berdasarkan ketinggian ilmu silatnya, melainkan kedalaman pengetahuannya tentang Agama Buddha karena Siauw-Lim-Pai bukanlah perkumpulan silat, melainkan perkumpulan agama.

Karena itu, tidaklah mengherankan kalau terdapat murid-murid Siauw-Lim-Pai yang bukan hwesio dapat memiliki imu silat yang lebih lihai dibandingkan dengan para hwesio Siauw-Lim-Pai sendiri.

Dan biarpun Thian Khi Hwesio sudah termasuk tokoh yang lihai dari Siauw-Lim-Pai, Namun usianya yang tua juga cara berlatihnya yang kadang-kadang hanya kalau ada waktu senggang saja sebagai selingan ketekunannya memperdalam pelajaran agama, membuat dia kehabisan tenaga setelah terjun ke dalam perkelahian melawan orang yang amat lihai seperti Lee Kongcu itu.

Kini Lee Song Kim menghadapi lawan dengan sungguh-sungguh, bukan seperti tadi sambil mempelajari ilmu silat lawan.

Kini dia menghadapi dua orang pengeroyoknya dengan niat merobohkan mereka.

Akan tetapi dasar dia memandang rendah lawan dan hendak memamerkan kelihaiannya, ketika dia merobohkan Kwa Ciok Le, dia sengaja menggunakan jurus pedang dari Kun-Lun-Pai!

Pedang itu membabat pinggang dan ketika golok Kwa Ciok Le menangkis, tangkisan itu membuat pedang menusuk ke atas dan leher Huang-ho Sin-to tembus oleh pedang tipis yang runcing tajam itu.

Tubuh Huang-ho Sin-to Kwa Ciok Le terbanting roboh terjengkang dan berkelojotan karena lehernya hampir putus tertusuk pedang.

Sebuah tendangan yang menyentuh dada membuat tubuh itu tidak berkutik lagi!

Kini Thian Khi Hwesio harus menghadapi lawan lihai itu seorang diri saja!

Hwesio ini melihat robohnya Kwa Ciok Le, mengeluarkan seruan keras dan memperhebat serangan kedua ujung lengan jubahnya.

Namun, dua kali nampak sinar berkelebat dan dua ujung lengan jubah itupun terbabat putus!

Thian Khi Hwesio terkejut bukan main.

Tak disangkanya lawan memiliki sinkang sehebat itu, mampu membabat putus ujung lengan jubahnya yang telah disaluri hawa sinkangnya.

Namun, dia tidak menjadi gentar dan menubruk maju dengan kedua tangan membentuk cakar garuda.

Hebat bukan main serangan Kakek ini karena dua tangannya itu tidak boleh dipandang rendah, mampu mencengkeram batu karang sampai hancur, apalagi tubuh atau kepala lawan!

Namun, Lee Song Kim sudah mengenal ilmu ini dan cepat tubuhnya mengelak ke samping, kemudian dengan kedudukan tubuh miring itu dia masih dapat mengirim tusukan yang menyerang dari samping, melalui pundaknya yang direndahkan dan pedang itu memasuki dada lawan melalui celah-celah iga kirinya, menembus jantung.

Robohlah Kakek itu di samping mayat Kwa Ciok Le dan lantai itupun kini penuh dengan darah pula!

Semua tamu berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat, memandang kepada Lee Song Kim yang kini sudah berdiri dengan tegak, menyimpan pedangnya dan kembali mengeluarkan Giok-Liong-Kiam.

(Lanjut ke

Jilid 05) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05

"Aku adalah Lee Kongcu, pemegang Giok-Liong-Kiam yang mulai saat ini memakai julukanThian-He Te-It Bu-Hiap! Siapakah di antara kalian yang merasa tidak setuju?"

Para tamu memandang dengan wajah pucat. Mereka merasa gentar dan mereka yang merasa kagum segera menjura dengan hormat.

"Lee-Kongcu pantas menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap!"

Kata mereka.

"Hemm, menyatakan dengan mulut saja tidak ada gunyanya! Mulai saat ini kalian harus mentaati semua perintahku dan menganggapku sebagai seorang pemimpin di antara semua ahli silat, menjadi pemimpin dunia persilatan, dan Giok-Liong-Kiam menjadi lambang kedudukan pemimpin. Semua orang di dunia persilatan harus tunduk dan menghormat lambang suci ini. Siapa saja di antara kalian sekali kupanggil, betapa jauhpun kalian tinggal, harus cepat datang menghadap, dan tugas apapun yang kuminta, kalian harus melaksanakan sebaiknya. Akulah yang akan memimpin dunia persilatan, akan mempersatukan antara kita semua dan memperkuat dunia kita."

Sepasang mata Lee Song Kim mencorong penuh semangat dan kegembiraan ketika dia mengeluarkan kata-kata ini.

Kam-Kauwsu yang diam-diam tadi merasa terkejut dan tidak senang melihat betapa Kwa Ciok Le dan Thian Khi Hwesio dibunuh, tiba-tiba bangkit berdiri menjura ke arah Lee-Kongcu sambil berkata.

"Saya orang she Kam sudah merasa tua dan tidak ingin lagi menghadapi kesibukan di hari tua. Saya harap Lee-Kongcu tidak mengikutkan saya, karena saya ingin mengundurkan diri dan tinggal di dusun untuk menggarap sawah ladang saja. Maafkan, saya akan pulang saja sekarang dan terima kasih atas segala kebaikan Kongcu."

Dia lalu melangkah lebar pergi dari tempat itu setelah memberi hormat kepada tuan rumah. Lee Song Kim mengangkat Giok-Liong-Kiam tinggi-tinggi di atas kepala dan berseru kepada para tamu lainnya.

"Aku minta cuwi yang hadir menghalangi kepergian Kam-Kauwsu yang hendak memberontak!"

Sepuluh orang tamu itu bangkit berdiri, termasuk Sin-Kiam Mo-Li yang terpincang-pincang dan mereka mengepung Kam-Kauwsu dengan sikap mengancam!

Melihat ini, Lee Song Kim girang bukan main dan maklumlah dia bahwa mereka itu benar-benar telah dapat ditundukkan dan kini merupakan pembantu-pembantu yang boleh diandalkan!

Sementara itu, melihat betapa para tamu tadi kini mengepungnya, Kam-Kauwsu merasa terkejut dan juga marah.

"Kalian ini orang-orang macam apakah? Sebelum datang ke sini, kalian adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang gagah perkasa, akan tetapi apakah sekarang kalian berubah menjadi anjing-anjing penjilat yang tidak mempunyai kebebasan dan pendirian sendiri?"

Sepuluh orang itu nampak ragu-ragu, akan tetapi mereka tetap mengepung.

mereka merasa gentar sekali terhadap Lee-Kongcu yang demikian lihainya, dan kini mendengar ucapan Kam-Kauwsu yang mengejek mereka, bagaimanapun juga mereka merasa malu dan ragu-ragu dan mereka semua menoleh ke arah Lee-Kongcu untuk menanti apa yang selanjutnya akan dikehendaki oleh orang aneh yang membuat mereka semua gentar itu.

Lee Song Kim adalah seorang yang cerdik bukan main.

Dia tidak ingin mendesak lagi sepuluh orang yang baru saja takluk dan tunduk kepadanya itu, melainkan ingin membuat mereka menjadi semakin takut sehingga kelak akan taat selalu kepadanya.

"Kalian mingirlah, sahabat-sahabatku yang baik, dan lihatlah betapa aku menjatuhkan hukuman kepada orang yang berani menantangku!"

Kata Lee Song Kim dan dengan langkah-langkah perlahan dia mengampiri Kam-Kauwsu, pedang Giok-Liong-Kiam masih ditangan kanannya, diangkat tinggi-tinggi di atas kepalanya.

"Kam-Kauwsu, lihatlah Giok-Liong-Kiam, ini lambang kekuasaan persilatan! Berlututlah dan minta ampun atas sikapmu yang tidak taat, dan baru mungkin kami dapat mengampunimu,"

Teriak Lee Song Kim dengan sikap penuh wibawa.

Semua orang yang berada di situ diam-diam mengharapkan Kam-Kauwsu untuk mentaati perintah ini dan berlutut minta ampun, karena mereka semua yakin bahwa Lee-Kongcu yang mengangkat sendiri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap itu bukan sekedar menggertak belaka.

Akan tetapi, Kam-Kauwsu adalah orang yang keras hati.

Dia seorang tokoh Thian-He Te-It Bu-Hiap dan biarpun dia yakin akan kelihaian Lee-Kongcu, namun dia masih memiliki harga diri yang diletakkan lebih tinggi daripada nyawa.

Lebih baik mati daripada menerima penghinaan di depan banyak orang!

"Lee-Kongcu, boleh jadi engkau lihai dan aku tidak dapat melawanmu.

Engkau mengangkat diri sendiri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap adalah hakmu, dan aku tidak mau mencampurinya.

Akan tetapi kalau aku disuruh berlutut minta ampun, aku merasa keberatan.

Aku bukan anak buahmu, juga bukan budakmu, bukan pula muridmu, bagaimana mungkin aku berlutut minta ampun kepadamu?

Maaf, aku tak dapat melakukan itu dan biarkan aku pergi dari sini dan tidak mencampuri urusanmu!"

Berkata demikian, Kam-Kauwsu kembali melangkahkan kakinya hendak pergi dari situ.

"Orang she Kam, semua yang menentang kami harus mati!"

Tiba-tiba Lee-Kongcu membentak dan diapun menerjang dengan tangan kirinya, sedang tangan kanan tetap memegang Giok-Liong-Kiam di atas kepalanya.

tangan kirinya itu menampar ke arah kepala dan biarpun kelihatannya perlahan saja, namun angin pukulan menyamabar terlebih dahulu sebelum tanagnnya sendiri tiba.

Kam-Kauwsu maklum bahwa nyawanya terancam maut, maka diapun mengambil keputusan untuk melawan sekuat tenaga.

"Lebih baik mati sebagai harimau daripada hidup sebagai anjing penjilat!"

Teriaknya dan dia mengerahkan tenaga pada tangan kanannya ketika menangkis tamparan itu.

Kam-Kauwsu adalah seorang ahli tenaga gwakang (tenaga luar) yang sudah melatih lengan itu sampai berotot kuat bukan main seolah-olah lengannya itu berotot kawat bertulang besi, juga telapak tangannya sendiri telah dilatih memukuli pasir besi panas sehingga kulit tangan itu tebal dan kuat seperti baja.

Tangkisannya itu dimaksudkan untuk mematahkan lengan lawan.

"Dukk!"

Dua buah lengan bertemu, lengan yang besar berotot melawan lengan yang sedang saja dan berkulit halus, akan tetapi akibatnya Kam-Kauwsu terhuyung dan mengeluh karena lengannya terasa nyeri bukan main.Ternyata dengan sinkangnya yang sudah amat tinggi dan kuat, Lee-Kongcu telah meminjam tenaga luarnya untuk menghantamnya sendiri!

Akan tetapi Kam-Kauwsu sudah nekat.

Biarpun maklum betapa lihainya lawan itu, dia mengeluarkan suara gerengan dan menubruk lagi, kini menggunakan ilmu silat Thian-He Te-It Bu-Hiap, yaitu ilmu silat tangan kosong Ji-liong-jio-cu (Sepasang Naga Berebut Mustika), Kedua lengannya bagaikan dua ekor naga yang bergerak cepat menyerang dari kanan kiri, atas bawah, dengan sasaran pelipis kiri dan lambung kanan lawan.

Gerakan yang disertai tenaga sekuatnya ini membuat tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan.

Melihat jurus yang dikeluarkan Kam-Kauwsu, diam-diam Lee Song Kim terkejut dan maklumlah dia bahwa tadi dia telah ditipu oleh guru silat ini ketika dia minta guru silat itu mendemonstrasikan ilmu silatnya.

Tadi guru silat ini tidak bersungguh-sungguh mengeluarkan kepandaiannya dan baru sekaranglah, ketika menyerangnya, Kam-Kauwsu mengeluarkan jurus ampuhnya.Akan tetapu, mendiang Hai-Tok telah mencuri kitab ilmu silat Thian-He Te-It Bu-Hiap dan dia sudah mengenal dasar-dasarnya.

Kini melihat serangan itu, dia berseru dengan nada suara mengejek.

"Hemm, inikah Ji-liong-jio-cu dari Thian-He Te-It Bu-Hiap?"

Dengan mudah dia mengelak ke belakang sambil menangkis ke kanan kiri karena dia sudah tahu persis ke mana arah sasaran pukulan kedua tangan lawan.

Kam-Kauwsu terkejut.

Kiranya pemuda aneh ini mengenal pula jurus ampuh Thian-He Te-It Bu-Hiap, bahkan tahu cara menghindarkannya.

Kalau saja Song kim tidak marah melihat ada orang berani menentangnya sebagai Thian-He Te-It Bu-Hiap, tentu dia akan suka sekali memancing agar guru silat itu mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari Thian-He Te-It Bu-Hiap untuk dipelajari.

Namun, dia sudah terlampau marah dan kini dia membentak keras.

"Jurus itu tidak ada gunanya di tanganmu. Nah, kau lihat, inilah jurus Ji-liong-jio-cu itu!"

Tiba-tiba Song Kim membalas serangan lawan dengan jurus yang sama tadi!

Akan tetapi jurus Ji-liong-jio-cu yang dipergunakan oleh Song Kim untuk menyerang, kecepatan dan tenaga yang mendorongnya sama sekali tidak dapat disamakan dengan serangan Kam-Kauwsu tadi.

Kam-Kauwsu juga melihat serangan ini dan tentu saja dia mengenal jurus itu.

Akan tetapi betapa kagetnya karena dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengelak lagi.

Tahu-tahu kedua tangan lawan telah menyambar ke arah pelipis dan lambungnya.

Tidak ada waktu lagi baginya untuk mengelak dan terpaksa dia menangkis dengan kedua lengannya, menyambut serangan ke arah pelipis dan lambungnya.

"Dukk! Desss...!"

Tubuh Kam-Kauwsu terpental dan berkelojotan setelah terbanting jatuh, dari pelipisnya mengalir darah!

Kiranya tangkisannya tadi tidak mampu menahan serangan lawan.

Biarpun sudah ditangkis, ternyata sambaran jari tangan Song Kim ke arah pelipisnya masih meluncur dan memukul tangkisan tadi ke samping, maka pelipis kepalanya terkena jari tangan yang ampuh itu.

Tentu saja semua orang menjadi semakin gentar menghadapi kelihaian seperti itu.

Lee Song Kim mengebut-ngebutkan ujung pakaian dan membersihkan kedua telapak tangannya, dengan sikap tenang dia lalu mengeluarkan lagi Giok-Liong-Kiam mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.

"Semua orang harus menghormati Giok-Liong-Kiam ini sebagai lambang kebesaran seorang Thian-He Te-It Bu-Hiap. Berlututlah kalian!"

Semua orang tidak ada yang membantah lagi dan merekapun menjatuhkan diri berlutut kepada Song Kim!bPemuda ini tersenyum penuh kemenangan "Mulai saat ini, kalian menjadi pendukung dan pembantuku.

Jangan khawatir, semua biaya akan kupikul.

Kalian harus menyebar luaskan bahwa kini muncul Thian-He Te-It Bu-Hiap yang akan menjadi bengcu (pemimpin) di antara semua ahli silat."

"Maaf, Lee-Kongcu,"

Seng-jin Sin-to si malaikat Copet itu berkata.

"Bagi kami mudah saja mengangkat Kongcu sebagai bengcu karena kami sudah yakin akan kemampuan Kongcu. Dan kami juga dapat menyebarluaskan ini di antara golongan kami yang memang membutuhkan pimpinan yang pandai agar kami tidak mengalami penekanan dari pihak pemerintah dan para pendekar. Akan tetapi bagaimana terhadap para pendekar? Buktinya, yang tadi hadir di sini saja melakukan perlawanan sehingga terpaksa Kongcu membunuh mereka. Apakah para pendekar akan mau mengakui Kongcu sebagai bengcu? Hal ini kami merasa sangsi."

Mendengar ucapan ini, Tiat-Pi Kim-Wan, Sin-Kiam Mo-Li dan beberapa orang yang hadir di situ mengangguk membenarkan. Lee Song Kim mengepal tinju.

"Aku harus menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap yang diakui oleh semua tokoh dunia persilatan, baik yang dinamakan para pendekar atau para tokoh kang-ouw. Kalau ada yang tidak mau mengakui dan berani menentangku, akan kuhancurkan! Akan kuundang mereka semua dan siapa berani menentang akan kurobohkan, akan kuperlihatkan kepada mereka semua bahwa akulah yang paling lihai."

"Maaf, Kongcu,"

Kini Tiat-Pi Kim-Wan berkata.

"Para ahli silat yang berdiri bebas mungkin akan suka mengakui Kongcu kalau sudah melihat kesaktian Kongcu, akan tetapi bagaimana dengan partai-partai persilatan yang besar seperti Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai? Mereka mempunyai ketua-ketua sendiri, mana mungkin mengakui Kongcu sebagai bengcu mereka."

"Mereka harus mengakui dan aku akan kalahkan ketua-ketua mereka. memang mereka itu sombong dan besar kepala,mereka yang menamakan diri para pendekar itu. Kalau mereka tidak mau mengakui aku, aku akan memimpin kaum kang-ouw, meggantikan kedudukan Empat Racun Dunia! Sekarang, bantulah aku mengirim jenazah Thian Khi Hwesio ke kuil Siauw-Lim-Pai bersama jenazah Huang-ho Sin-to murid Kun-Lun-Pai ini."

"Untuk apa, Kongcu?"

Tanya mereka terkejut dan heran.

Song Kim tertawa dan menceritakan siasatnya.

Biarpun di dalam hati mereka merasa jerih, namun orang-orang yang sudah tunduk dan takluk itu tidak berani membantah dan mereka hanya dapat mengangguk dan siap melaksanakan siasat yang direncanakan Lee Song Kim.

Thian Tek Hwesio, ketua Siauw-Lim-Pai yang bertubuh pendek kecil itu berkali-kali menyebut nama Sang Buddha untuk memadamkan api kemarahan yang bergolak di dalam batinnya.

Akan tetapi para hwesio pembantunya sudah tidak mampu menahan kemarahan mereka.

Wajah mereka menjadi merah, mata mengeluarkan sinar berkilat dan mereka mengepal tinju.

Siapa orangnya yang tidak akan marah ketika muncul lima orang kang-ouw itu, yang datang membawa jenazah Thian Khi Hwesio, wakil ketua Siauw-Lim-Pai itu sambil memberitahu bahwa yang membunuhnya adalah para Tosu Kun-Lun-Pai?

Menurut keterangan lima orang itu yang bukan lain adalah para pembantu baru dari Lee Song Kim, Thian Khi Hwesio terlibat dalam perkelahian dengan Huang-ho Sin-to Kwa Ciok Le, Jagoan murid Kun-Lun-Pai itu, yang marah-marah kepada wakil ketua Siauw-Lim-Pai itu karena kematian dua orang tokoh Kun-Lun-Pai yang kabarnya dibunuh orang Siauw-Lim-Pai.

Dalam perkelahian itu, Kwa Ciok Le tewas di tangan Thian KhiHwesio.

Kemudian muncul beberapa orang Tosu Kun-Lun-Pai yang mengeroyok hwesio itu sehingga Thian Khi Hwesio tewas.

Demikianlah cerita anak buah Lee Song Kim kepada ketua Siauw-Lim-Pai dan para pembantunya.

Tentu saja para pimpinan Siauw-Lim-Pai marah sekali.

Kun-Lun-Pai telah bersikap keterlaluan, pikir mereka.

Biarpun ada dua orang tokoh Kun-Lun-Pai yang terbunuh oleh orang yang mengaku murid Siauw-Lim-Pai, namun belum ada bukti bahwa benar pembunuhnya orang Siauw-Lim-Pai, kenapa sekarang mereka membunuh wakil ketua Siauw-Lim-Pai?

"Kita harus membereskan hal ini dengan pimpinan Kun-Lun-Pai!"

Mereka menuntut ketua mereka.

Karena desakan para pembantunya, akhirnya Thian Tek Hwesio yang usianya sudah tujuhpuluh tahun itu berangkat, diiringkan para pembantunya dalam jumlah belasan orang menuju ke sebuah kuil Kun-Lun-Pai yang jaraknya hanya kurang lebih empat puluh li dari biara itu.

Mereka hendak menuntut kepada para pimpinan kuil itu agar disampaikan protes mereka kepada ketua Kun-Lun-Pai atas peristiwa kematian Thian Khi Hwesio.

Akan tetapi, baru belasan li mereka berjalan, serombongan Tosu Kun-Lun-Pai yang terdiri dari belasan orang pula, dipimpin oleh Tiong Tek Seng-jin, ketua cabang Kun-Lun-Pai itu, dan para Tosu itupun nampak marah sekali.

Begitu kedua rombongan bertemu, keduanya saling pandang dengan melotot penuh kemarahan dan siap untuk saling hantam tanpa banyak cakap lagi!

Akan tetapi, Thian Tek Hwesio yang lebih dapat menahan kemarahannya, maju dan menjura kepada Tiong Tek Seng-jin dan para pembantunya.

"Omitohud... pinceng dan sudara-saudara sedang hendak mengunjungi toyu (sobat) sekalian, kebetulan berjumpa di sini."

"Siancai, agaknya memang kita kedua pihak memiliki niat yang serupa,"

Jawab Tiong Tek Seng-jin.

"Pinto dan saudara-saudara juga ingin berkunjung ke Siauw-Lim-Pai, kebetulan bertemu di dalam hutan ini. Cu-wi (kalian) adalah hwesio-hwesio, orang-orang beragama yang menjunjung kesucian, akan tetapi apa yang kalian lakukan sungguh terlalu sekali. Ketika adik-adik kami Tiong Gi Tojin dan Tiong Sin Tojin dibunuh oleh murid Siauw-Lim-Pai, kami masih bersikap sabar dan menyerahkan kepada Siauw-Lim-Pai untuk mencari dan menghukum pembunuh itu. Akan tetapi, pembunuh itu belum juga dihukum, kini bahkan wakil ketua Siauw-Lim-Pai, Thian Khi Hwesio, membunuh pula seorang tokoh kami yaitu Kwa Ciok Le yang berjuluk Huang-ho Sin-to (Golok Sakti Huang-ho). Apakah Siauw-Lim-Pai sudah tidak memandang lagi kepada kami?"

Thian Tek Hwesio membantah.

"Omitohud, kemarahan toyu tidak adil sekali. Katahuilah bahwa adik kami Thian Khi Hwesio sedang mencari dan berusaha untuk menemukan orang she Lee yang mengaku murid kami itu, akan tetapi di jalan bertemu dengan Huang-ho Sin-to yang menyerangnya. Terjadi perkelahian dan Huang-ho Sin-to tewas. Hal itu biasa saja dalam perkelahian, apalagi kalau murid Kun-Lun-Pai itu yang mendahuluinya. Dan kemudian adik pinceng itu dikeroyok dan dibunuh oleh para Tosu Kun-Lun-Pai."

"Tidak mungkin!"

Kata para Tosu itu dengan marah.

"Sungguh itu fitnah dan bohong besar, bahkan fakta yang diputar-balikkan!"

Kata Tiong Tek Seng-jin sambil menggoyang tongkat panjangnya yang berwarna putih.

"Beberapa orang datang membawa jenazah Huang-ho Sin-to kepada pinto dan menceritakan betapa dia dibunuh oleh Thian Khi Hwesio! Di mana dia Thian Khi Hwesio? Seorang wakil ketua membunuh murid kami, sungguh tak tahu diri. Pintolah lawannya, bukan seorang murid seperti Huang-ho Sin-to!"

"Omitohud, tentu toyu yang mendapatkan keterangan keliru. Thian Khi Hwesio telah menjadi mayat ketika orang-orang mengantarkannya kepada kami dan menurut keterangan, dia tewas dikeroyok para Tosu Kun-Lun-Pai."

Tiong Tek Seng-jin menjadi marah.

"Hai hwesio Siauw-Lim-Pai! Dengarlah baik-baik! Kami telah kehilangan tiga orang yang kesemuanya terbunuh oleh orang-orang Siauw-lim-pai dan kini kalian bahkan menuduh yang bukan-bukan kepada kami. Kami bukanlah pembunuh-pembunuh seperti orag-orang Siauw-Lim-Pai, akan tetapi kamipun bukan pengecut-pengecut yang tidak berani menghadapi kalian. Kita tua sama tua, majulah dan rasakan kelihaian tongkatku!"

Berkata demikian, Tiong Tek Seng-jin melangkah maju dan tongkatnya sudah siap untuk menyerang.

"Tosu jahat!"

Seorang pembantu dari ketua Siauw-Lim-Pai itu memaki dan menyerang dengan kepalan tangannya, akan tetapi terj angannya itu disambut oleh seorang Tosu lain.

Melihat begini, tanpa diperintah lagi, Thian Tek Hwesio dan Tiong Tek Seng-jin sudah saling terjang pula.

Tiong Tek Seng-jin menggunakan sebatang tongkat putih yang panjang, diputar cepat dan Thian Tek Hwesio, ketua cabang Siauw-Lim-Pai itu menggunakan seuntai tasbeh panjang di tangan kanan, dibantu ujung lengan kedua bajunya yang lebar dan panjang.

Belasan orang Tosu dan hwesio kedua pihak juga sudah saling serang tanpa diperintah lagi dan terjadilah pertempuran antar belasan orang itu di tengah hutan!

Tak jauh dari tempat pertempuran itu, Lee Song Kim melakukan pengintaian dan ia tersenyum lebar, penuh kepuasan melihat betapa siasatnya telah berjalan dengan baik dan lancar.

Kini dia mencurahkan perhatiannya kepada pertempuran itu, terutama sekali perkelahian antara Tiong Tek Seng-jin dan Thian Tek Hwesio.

ketua dari kedua cabang perkumpulan besar itu yang tentu saja memiliki ilmu kepandaian tertinggi di antara mereka.

Dia memperhatikan dan mencatat dalam ingatannya gerakan yang mereka lakukan, untuk menambah perbendaharaan ilmu silatnya.

Akan tetapi, belum sampai ada yang roboh dalam pertempuran itu, tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring, suara yang mengandung tenaga khikang yang kuat sekali dan menggetarkan jantung.

"Cuwi harap mundur dan menghentikan pertempuran ini!"

Semua orang tidak dapat melawan pengaruh seruan ini masing-masing menahan serangan lalu berloncatan mundur, menghentikan perkelahian dan semua orang memandang ke arah datangnya suara.

Di bawah pohon, tak jauh dari situ, mereka melihat seorang laki-laki yang gagah perkasa, berusia kurang lebih tiga puluh delapan tahun, berpakaian sederhana seperti seorang petani, namun wajahnya tampan gagah dan tubuhnya sedang namun tegap.

Wajahnya yang tampan itu membayangkan kelembutan, namun penuh wibawa.

Melihat laki-laki ini, para hwesio Siauw-Lim-Pai menjadi girang dan Thian Tek Hwesio berseru.

"Tan-Taihiap...!"

Laki-laki itu adalah Tan Ci Kong, seorang murid dan tokoh Siauw-Lim-Pai yang amat terkenal.

Menurut tingkat, sebetulnya dia masih terhitung murid keponakan dari Thian Tek Hwesio, Akan tetapi karena Ci Kong pernah digembleng sendiri oleh mendiang Siauw-Bin-Hud, yaitu tokoh sakti dari Siauw-Lim-Pai dan Kakek ini masih terhitung paman guru ketua Siauw-Lim-Pai itu, maka hubungan kekeluargaan antara mereka menjadi kacau.

Karena tidak enak kalau memanggil pendekar ini sebagai murid keponakan, padahal tingkat kepandaian Ci Kong jauh lebih tinggi, maka Thian Tek Hwesio menyebutnya Tan-Taihiap (Pendekar Besar Tan).

Juga para Tosu Kun-Lun-Pai mengenal siapa adanya tokoh ini.

Mereka semua maklum bahwa Tan Ci Kong adalah seorang tokoh besar Siauw-Lim-Pai, akan tetapi juga seorang pendekar budiman yang gagah perkasa.

Maka mereka mengharapkan keadilan dari pendekar besar ini yang dalam kegagahan dan keadilannya pasti tidak akan bertindak berat sebelah.

"Cuwi semua adalah dari satu golongan, mengapa kini bertempur sendiri? Kalau ada persoalan, mari kita bicarakan dengan kepala dingin. Tidak ada masalah yang timbul di antara dua kelompok bersahabat yang tak dapat diselesaikan dengan musyawarah."

"Thian Tek Hwesio dikeroyok dan dibunuh oleh para Tosu Kun-Lun-Pai..."

Kata Thian Tek Hwesio. Ci Kong mengangkat kedua tangan.

"Harap susiok bersabar dan biarlah pihak Kun-Lun-Pai yang lebih dulu memberi keterangan agar jangan disangka bahwa saya berpihak kepada Siauw-Lim-Pai, Nah, totiang yang terhormat, apakah sebabnya terjadi pertentangan yang tidak semestinya antara Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai ini?"

Thian Tek Hwesio tidak berkata-kata lagi dan melihat kebenaran ucapan pendekar itu. kini Tiong Tek Seng-jin yang melangkah maju menghadapi ci Kong.

"Tan-Taihiap, kami dari Kun-Lun-Pai bukanlah orang-orang yang suka mencari permusuhan, apalagi terhadap Siauw-Lim-Pai yang kami anggap sebagai saudara segolongan. Akan tetapi kesabaran ada batasnya. baru-baru ini, dua orang anggauta kami, Tiong Gi Tojin dan Tiong Sin Tojin, dibunuh oleh orang she Lee yang mengaku sebagai murid Siauw-Lim-Pai. Hal ini masih kami terima dengan kesabaran dan kami mendatangi para pimpinan Siauw-Lim-Pai agar mereka menghukum murid itu. Akan tetapi, belum juga ada kabarnya tentang Siauw-Lim-Pai she Lee itu, terjadi lagi pembunuhan atas diri seorang murid kami, yaitu Huang-ho Sin-to Kwa Ciok Le, dibunuh oleh wakil ketua Siauw-Lim-Pai sendiri, yaitu Thian Khi Hwesio. Bagaimana kami harus bersabar lagi? Kami bermaksud mendatangi Siauw-Lim-Pai untuk menuntut keadilan, akan tetapi di sini kami bertemu dengan rombongan pimpinan Siauw-Lim-Pai, dan mereka bahkan menjatuhkan fitnah kepada kami, mengatakan bahwa kami mengeroyok dan membunuh Thian Khi Hwesio. Apakah ini tidak mendatangkan penasaran besar?"

Ci Kong mengerutkan alisnya.

"Lo-cianpwe, siapakah yang menyaksikan bahwa Huang-ho Sin-to terbunuh oleh susiok Thian Khi Hwesio?"

"Yang menyaksikan adalah orang-orang yang datang membawa mayatnya kepada kami di kuil kami."

"Siapakah mereka?"

"Pinto tidak mengenal mereka, akan tetapi mereka adalah orang-orang kang-ouw, mungkin kenalan Huang-ho Sin-to, yang menyerahkan mayat, mengatakan bahwa Thian Khi Hwesio yang membunuhnya lalu mereka pergi lagi."

"Karena penasaran dan marah, locianpwe dan para totiang lalu pergi mendatangi kuil Siauw-lim?"

"Benar, kami bermaksud untuk minta keadilan, akan tetapi di sini kami bertemu dengan para hwesio Siauw-lim yang mengatakan kami telah membunuh Thian Khi Hwesio sehingga terjadi pertempuran."

Kini Tan Ci Kong menghadapi Thian Tek Hwesio.

"Susiok, benarkah bahwa susiok Thian Khi Hwesio terbunuh?"

"Benar, ada beberapa orang mengantar jenazahnya ke kuil kami, dan mereka mengatakan bahwa Sute Thian Khi Hwesio dikeroyok dan dibunuh oleh para Tosu Kun-Lun-Pai. Kami lalu pergi hendak mendatangi kuil Kun-Lun-Pai, akan tetapi bertemu di sini dan mereka menuduh Thian Khi Hwesio membunuh seorang murid Kun-Lun-Pai, padahal menurut penuturan mereka yang membawa jenazahnya, Sute Thian Khi Hwesio yang lebih dulu diserang oleh Huang-ho Sin-to. Mereka berkelahi dan Huang-ho Sin-to tewas, akan tetapi Sute lalu dikeroyok dan tewas pula."

Ci Kong mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya.

"Harap cuwi bersabar dan dapat merenungkan baik-baik. Ternyata kedua peristiwa pembunuhan itu, baik atas diri Huang-ho Sin-to maupun atas diri susiok Thian Khi Hwesio, terjadi di luar pengetahuan kedua pihak. Kedua pihak hanya mendengar laporan dari orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Ada hal-hal aneh di sini! Ketahuilah bahwa belum lama ini susiok Thian Khi Hwesio datang kepada saya dan minta kepada saya untuk melakukan penyelidikan terhadap orang she Lee yang telah membunuh dua orang Tosu Kun-Lun-Pai dan mengaku murid Siauw-Lim-Pai. Ketika dia datang, yang menerima hanya istri saya karena saya sedang berada di selatan. Ketika beberapa hari kemudian saya pulang dan mendengar akan peristiwa itu dari isteri saya, saya lalu langsung pergi lagi hendak mencari keterangan yang lebih jelas di Siauw-Lim-Pai. Tentu telah terjadi hal-hal yang aneh di balik semua ini. Pertama, kedua orang Tosu Kun-Lun-Pai terbunuh oleh seorang she Lee yang mengaku sebagai murid Siauw-Lim-Pai. Padahal tidak ada murid she Lee di Siauw-Lim-Pai yang kiranya memiliki ilmu kepandaian demikian tingginya sehingga mampu membunuh kedua orang tokoh Kun-Lun-Pai itu. Dan kemudian disusul kematian susiok Thian Khi Hwesio dan Huang-ho Sin-to. Tidak ada di antara kedua perkumpulan yang melihat sendiri pembunuhan itu, hanya mendengar dari penuturan orang luar yang bernada mengadu domba antara Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai. Aku yakin bahwa agaknya ada hubungannya antara pembunuhan terhadap dua orang Kun-Lun-Pai yang pertama dengan pembunuhan terakhir ini. Dan pembunuhnya hendak mengadu domba antara kedua golongan."

"Akan tetapi, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa dugaanmu itu benar, Tan-Taihiap?"

Tiong Tek Seng-jin membantah.

"Memang belum ada buktinya dan sayalah yang akan melakukan penyelidikan. baru-baru ini, susiok Thian Khi Hwesio telah datang mencari saya dan meninggalkan pesan agar saya melakukan penyelidikan tentang diri orang she Lee yang mengaku murid Siauw-Lim-Pai dan telah membunuh dua orang tokoh Kun-Lun-Pai. Kini tugas saya bertambah, yaitu menyelidiki peristiwa pembunuhan diri susiok Thian Khi Hwesio dan juga Huang-ho Sin-to. Saya mempunyai dugaan bahwa pembunuhnya tentulah juga orang yang mengaku murid Siauw-Lim-Pai itu. Jelas dia bermaksud mengadu domba. Saya harap cu-wi percaya kepada saya dan untuk sementara bersabar menanti hasil penyelidikan saya dan jangan sampai timbul timbul salah paham di antara kedua golongan."

Para Tosu dan hwesio saling pandang lalu mengangguk-angguk.

"Keadaan negara sedang kacau seperti ini, sungguh amat merugikan rakyat kalau sampai di antara golongan kita sendiri terjadi permusuhan,"

Demikian Ci Kong mengakhiri bujukannya yang diterima oleh kedua belah pihak dengan penuh pengertian.

Merekapun lalu saling berpisah, kembali ke kuil masing-masing, sedangkan Ci Kong melanjurkan perjalanannya untuk melakukan penyelidikan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, mula-mula Ci Kong tertarik akan perjuangan yang dipimpin oleh Ong Siu Coan dan bersama banyak orang gagah diapun membantu perjuangan Ong Siu Coan pemimpin pasukan Tai Peng itu, sehingga pasukan Tai Peng berhasil menguasai beberapa daerah di selatan.

Akan tetapi, setelah melihat sepak terjang Ong Siu Coan dan pasuikannya yang tidak berdisiplin, melihat betapa pasukan itu melakukan perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan seperti penjahat, Ci Kong dan banyak pendekar meninggalkan pasukan itu.

Ong Siu Coan yang sudah memperoleh kemenangan itu tidak perduli dan melanjurkan penyerbuan pasukannya ke Peking.

Namun, akhirnya penyerbuan itu dipukul mundur dan dia lalu menjadi raja besar di Nan-king!

Itulah sebabnya Ci Kong pulang menyusul isterinya yang telah pergi ke puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san.

dan begitu tiba di sana, dia mendengar dari isterinya akan kunjungan Thian Khi Hwesio wakil ketua Siauw-Lim-Pai yang minta bantuannya untuk membersihkan nama Siauw-Lim-Pai.

Biarpun kini balatentara Tai Peng yang dipimpin Ong Siu Coan telah menduduki daerah selatan, namun keluarga Kaisar di istana agaknya sama sekali tidak merasa prihatin.

Kaisar Hsian Feng masih saja mengejar kesenangan melalui wanita-wanita cantik sehingga dia sendiri tidak tahu betapa di istananya sendiripun terjadilah hal-hal yang amat memalukan dan mendatangkan aib bagi keluarga Kaisar.

Yehonala Si Anggrek Mungil, gadis cerdik dan cantik manis yang kini naik derajatnya dari selir baru menjadi permaisuri kedua karena setahun setelah berhasil digauli Kaisar lalu mengandung dan melahirkan seorang putera, makin lama semakin merasa tersiksa.

Biarpun ia telah diangkat menjadi permaisuri kedua sebagai Ibu pangeran mahkota, dan ia hidup penuh dengan kemewahan dan kehormatan, namun wanita muda yang berdarah panas ini merasa kesepian!

Makin jarang Kaisar bermalam di dalam kamarnya, dan kalau sekali waktu Kaisar berkunjung dan menggaulinya, ia tidak pernah dapat merasa puas.

Biarpun Kaisar Hsian Feng masih muda belum tiga puluh tahun usianya, namun tubuhnya menjadi lemah sekali.

Hal ini adalah akibat dari pengumbaran nafsu secara berlebihan, Melebihi batas kemampuan dan kekuatannya sendiri dan selalu mengandalkan obat kuat dan obat perangsang yang diminumnya.

Di dalam tubuh telah terdapat batas-batas, ukuran dan timbangan yang sempurna, yang mengatur pembagian kekuatan dalam tubuh.

Kalau orang memaksa diri dengan bantuan obat perangsang, maka dia merugikan diri sendiri, bahkan membahayakan kesehatan dan kesempurnaan diri sendiri.

Pertama dia akan menjadi kecanduan dan ketergantungannya kepada obat kuat dan obat perangsang merupakan racun bagi dirinya.

Tanpa bantuan obat, dia akan kehilangan segala kekuatan dan kemampuannya.

Kedua, pemaksaan dengan obat perangsang ini akan menyedot dengan paksa kekuatan yang sebetulnya harus mejadi cadangan, disedot habis dan tentu saja hal ini amat merusak kesehatan dan melemahkan tubuh.

Hidupnya akan tergantung kepada obat dan sekali obat itu ditinggalkan, dia akan menjadi mayat hidup yang tidak ada gunanya lagi.

Dan betapapun baiknya obat, apalagi obat perangsang, kalau terlalu banyak dipakai tentu akan menimbulkan akibat-akibat sampingan yang buruk.

Segala hal yang berlebihan dan tidak wajar tentu berakibat buruk.

Gairah berkobar di dalam dirinya yang tak pernah dapat disalurkan makin bertumpuk dan membuat Yehonala menjadi pemarah dan pemurung.

Sepasang alisnya yang kecil panjang hitam melengkung seperti dilukis itu hampir selalu berkerut, sepasang matanya menjadi suram padahal biasanya bening dan amat tajam seperti mata burung Hong, senyumnya yang biasanya selalu menghias mulutnya yang mungil itupun menghilang.

Wajahnya muram dan lesu, seperti setangkai bunga kurang siraman air dan menjadi kekeringan.

Li Lian Ying adalah seorang di antara para thaikam (orang kebiri) yang bertugas di dalam istana.

Dia baru berusia dua puluh tiga tahun, bertubuh tegap gagah, namun wajahnya buruk, penuh bekas cacar, menjadi bopeng dan kehitaman.

Namun, Li Lian Ying ini memiliki keahlian.

Dia pandai sekali menata rambut, membuat sanggul dan meriasnya.

Selain itu, diapun ahli dalam hal ilmu pijat sehingga dia merupakan seorang hamba yang disuka oleh Yehonala karena keahliannya itu.

Dan biarpun ujud tubuh Li Lian Ying seorang pria, namun sebagai seorang thaikam, tentu saja Yehonala tidak malu-malu lagi terhadap pria yang sudah kehilangan kejantanannya ini, yang sudah menjadi manusia kepalang tanggung, pria bukan wanitapun bukan.

Li Lian Ying yang cerdik dan berwatak penjilat itu tentu saja maklum akan keadaan Yehonala yang selalu termenung dan muram.

Karena Kaisar jarang datang berkunjung, pemaisuri kedua ini tidak berminat lagi untuk berdandan, padahal dahulu ketika masih menjadi kekasih Kaisar, setiap hari Li Lian Ying yang menata rambutnya, bahkan membantunya mandi, memijatinya dan memberi nasihat-nasihat untuk menjaga kecantikan wajah dan tubuhnya.

Dia merasa kasihan, juga merasa rugi karena kalau dapat berjasa terhadap permaisuri kedua yang royal ini, banyak hadiah yang diterimanya.

Kalau permaisuri kedua ini selalu berduka, diapun mengalami musim kering!

Pada suatu senja, ketika dia melihat permaisuri muda itu duduk termenung dengan rambut kusut, tidak mau pergi mandi padahal tempat mandi yang mewah telah penuh dengan air bunga, Li Lian Ying dengan hati-hati menghampirinya.

"Sri Ratu, silakan mandi, hamba telah mempersiapkan air hangat bercampur air mawar yang harum,"

Katanya dengan suara lembut dan penuh hormat. Dengan malas-malasan Yehonala menoleh dan alisnya berkerut.

"Untuk apa aku mandi dan bersolek diri? Aku tidak ingin mandi, Li Lian Ying. Pergilah dan tinggalkan aku sendiri, biarkan aku duduk seorang diri."

Beberapa orang dayang yang berada di situ juga ikut membujuk, namun puteri jelita itu bahkan sama sekali tidak menanggapi atau menjawab bujukan mereka sehingga mereka ketakutan dan tidak lagi berani bicara.

Li Lian Ying yang disuruh pergi itu tidak beranjak dari tempat dia berlutut.

Kemudin dengan suara halus ia berkata.

"Kenapa Paduka membiarkan diri tenggelam di dalam duka dan nelangsa? Bukankah semestinya Paduka hidup bersuka cita karena Paduka telah dikaruniai seorang putera yang menjadi pangeran mahkota? Harap Paduka ingat bahwa berduka menyesali nasib yang baik mengundang kemurkaan Tuhan..."

"Li Lian Ying, bagaimana aku dapat bergembira? Apa artinya semua kurnia ini? Aku tidak pernah dapat berdekatan dengan puteraku yang sejak lahir dibawa untuk dirawat oleh ahli-ahli perawat bayi dan pendidik-pendidik yang cerdik pandai! Dan aku hidup kesepian. Sri Baginda telah melupakan aku..."

Dan Yehonala tak dapat menahan lagi tangisnya.

Thaikam ini membiarkan junjungannya menangis.

setelah tangis itu mereda dan semua penyesalan telah keluar melalui air ata, barulah dia berkata dengan halus.

"Sri Ratu, hamba mohon Paduka dapat menenangkan diri. Harap Paduka ingat akan kata-kata orang bijaksana bahwa kalau dalam rumah penuh makanan lezat dan udaranya sejuk menyegarkan, suami takkan pernah kelaparan dan malas meninggalkan rumah. Demikian pula keadaan di sini. Kalau Paduka selalu berduka dan tidak mau merias diri, bagaimana kalau sewaktu-waktu Sri Baginda datang berkunjung? Apakah beliau akan merasa betah di sini, melihat Paduka tidak berias dan bermuram durja? Marilah, Sri Ratu yang mulia. Marilah, hamba sekalian membantu Paduka mandi, kemudian hamba akan memijiti tubuh Paduka dan mengusir semua kelelahan lahir batin. setelah itu, hamba akan membuat sanggul yang indah pada rambut Paduka."

Mendengar ini, para dayang ikut pula membujuk dan akhirnya Yehonala mengangguk setuju.

Ia membiarkan Li Lian Ying memondong tubuhnya dibawa ke kamar mandi dan ratu inipun dilayani Li Lian Ying dan para dayang, mandi di air hangat yang harum menyegarkan itu.

Setelah mandi air hangat harum dan tubuhnya digosok minyak wangi, ratu itu lalu minta dipijat oleh Li Lian Ying yang memberi isyarat kepada para dayang untuk mengundurkan diri.

Para dayang tidak berani lagi mengganggu.

Biasanya, kalau dipijat oleh thaikam itu, sang ratu lalu tertidur.

Li Lian Ying mulai memijati tubuh yang indah itu.

Akan tetapi sekali ini, caranya memijati tubuh itu lain daripada biasanya.

Kalau biasanya, jari-jari tangannya yang ahli itu hanya melemaskan otot-otot yang kaku, membuka hambatan-hambatan pada jalan darah sehingga darah berjalan lancar kembali, Mengusir lelah dan ketegangan dengan mengendurkan urat-urat.

Akan tetapi sekali ini lain.

Dia bukan hanya ingin mengusir lelah, melainkan ingin memberi kenikmatan kepada tubuh itu.

Jari-jari tangannya membelai-belai penuh kemesraan, didorong oleh hatinya yang memang penuh dengan gairah yang tak terlaksana.

Dia seolah-olah menggauli dan bermain cinta dengan wanita cantik itu melalui jari-jari tangannya!

Dan Yehonala mula-mula terkejut, akan tetapi karena ia merasakan kenikmatan yang luar biasa, ia diam saja, bahkan pura-pura tertidur membiarkan Li Lian Ying memainkan jari-jari tangannya yang luar biasa pandainya itu!

Dan berhasillah Li Lian Ying mengusir kekecewaan Yehonala, bahkan memberi kepuasan dan kenikmatan kepada wanita muda itu sampai Yehonala tertidur pulas dengan senyum menghias bibirnya.

Keberhasilan Li Lian Ying ini membuat dia semenjak saat itu menjadi kekasih Yehonala!

Dia menjadi hamba yang dikasihi dan kini tugas thaikam itu setiap malam adalah menghibur Yehonala dengan jari-jari tangannya dan diapun menerima banyak hadiah dari permaisuri muda yang kini mulai lagi bersolek dan berwajah gembira penuh semangat hidup.

Baca Juga: Istana Pulau Es 6

Baca Juga: Bu Kek Siansu 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert