Pemberontakan Taipeng 1

Eps 1 Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo

Baca online Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo

Cersil Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo.

Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Dua orang penunggang kuda itu amat gagah dan mengagumkan semua orang yang kebetulan bersimpang jalan dengan mereka.

Dua ekor kuda tunggangan mereka juga merupakan kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan kuat.

Kuda-kuda itu berlari congklang ketika mereka memasuki sebuah dusun.

Laki-laki itu berusia kurang lebih tiga puluh delapan tahun, bertubuh tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, dan sikapnya anggun berwibawa seperti sikap yang biasa nampak pada diri seorang bangsawan tinggi, sikap seseorang yang merasa akan kebesaran dan kepentingan pribadinya.

Mulut dan matanya selalu nampak tersenyum ramah, namun di balik sinar mata yang ramah itu kadang-kadang kelihatan sinar mencorong yang aneh.

Dia menunggang kuda berbulu hitam yang nampak ganas dan liar, namun penurut di bawah kendali kedua tangannya yang kokoh kuat itu.

Adapun wanita yang menunggang kuda berbulu putih di sampingnya adalah sorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun, tubuhnya masih seperti seorang gadis yangbaru berusia dua puluh tahunan saja, masih padat dengan pinggang yang ramping.

Wajah wanita inipun masih cantik dan manis sekali dengan setitik tahi lalat di pipinya, dan seperti juga pria itu, ia menunggang kuda dengan tubuh yang tegak dan lemas, sikap seorang penunggang kuda yang mahir.

Pakaian sepasang suami isteri yang anggun dan gagah ini cukup mewah, dan keduanya mengenakan sepatu kulit yang mengkilap, model sepatu boot yang biasa dipakai oleh orang-orang kulit putih, dan mereka melindungi tubuh dari hawa dingin dengan mantel tebal yang berkibar di belakang mereka.

Suami isteri itu melewati sebuah kedai arak dan keduanya saling pandang.

"Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar sambil minum arak agar kuda kita tidak terlalu lelah?"

Tanya si wanita bertahi lalat itu kepada suaminya.

Sang suami tidak menjawab, melainkan memandang ke arah dua ekor kuda yang mereka tunggangi.

Memang kuda-kuda itu nampak lelah, penuh keringat karena mereka telah melakukan perjalanan jauh, sejak pagi adi dan kini sudah lewat tengah hari.

Dia mengangguk dan keduanya lalu turun dari punggung kuda, menuntun kuda mereka menghampiri kedai arak, mengikat kendali kuda di depan kedai, lalu memasuki kedai itu, disambut oleh seorang pelayan yang membungkuk-bungkuk penuh hormat melihat datangnya dua orang berpakaian mewah itu.

"Selamat siang, tuan dan nyonya!"

Katanya penuh hormat.

"Silakan duduk dan kami akan menghidangkan masakan yang paling lezat. Arak kami paling terkenal di seluruh daerah ini!"

"Sediakan masakan dan arak yang terbaik untuk kami, dan sediakan pula air dan rumput yang baik untuk dua ekor kuda kami."

Pelayan itu mengerutkan alisnya, memandang ke arah dua ekor kuda di luar.

"Akan tetapi, tuan... kami tidak biasa mencarikan makan minum untuk kuda..."

"Carikan saja, kami akan membayar berapa saja yang kau minta!"

Kata si wanita dan pelayan itu mengangguk-angguk dan tersenyum. Kesempatan baik untuk mendapatkan hasil tambahan, pikirnya.

"Baik, nyonya. Silakan duduk...!"

Pelayan itu mengantar mereka ke sebuah meja di ujung bagian dalam yang menghadap keluar.

Suami isteri itu duduk menghadapi meja, saling berhadapan, yang pria menghadap keluar sedangkan yang wanita menghadap ke dalam.

dengan demikian, keduanya dapat meneliti pintu luar dan pintu dalam.

Dua buah buntalan yang tadi mereka turunkan dari punggung kuda dan mereka bawa masuk, mereka letakkan di atas meja.

Tak lama kemudian mereka melihat seorang pelayan memberi rumput dan air kepada kuda mereka di luar, dan setelah pelayan datang membawa hidangan berupa masakan yang masih panas mengepul dan juga nasi dan arak, mereka lalu makan minum tanpa banyak cakap.

Selagi suami isteri ini makan dan minum di dalam kedai arak ang tidak berapa besar itu, dan tidak ada tamu lain kecuali mereka di siang hari itu, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk dan banyak orang bergerak di sekeliling rumah makan.

Para pelayan kelihatan ketakutan dan mereka lari keluar dari rumah makan, Hal ini tentu saja diketahui oleh suami isteri yang sedang makan, akan tetapi keduanya hanya saling pandang sejenak, kemudian melanjutkan makan minum seolah-olah mereka tidak tahu akan gerakan banyak orang yang mengepung rumah makan.

Suasana yang tadinya hiruk pikuk menjadi hening, tanda bahwa orang-orang yang berada di luar itu telah mengepung dan siap siaga.

Kini muncullah seorang laki-laki bertubuh gendut di ambang pintu depan, sikapnya berwibawa dan angkuh, dan dia memandang ke arah suami isteri itu sambil berseru dengan suara nyaring.

"Pemberontak Ong Siu Coan! Engkau telah dikepung, menyerahlah untuk kami tangkap!"

Mendengar disebutnya nama ini, orang-orang yang tadinya nonton di luar rumah makan itu menjadi terkejut dan mereka lari ketakutan untuk bersembunyi.

Juga para tetangga yang tadi mengintai di balik jendela, terkejut dan tak seorangpun berani keluar dari pintu rumah.

Nama Ong Siu Coan sudah terkenal sekali di daerah Nan-king itu.

Dusun itu berada di sebelah selatan kota Nan-king dan siapakah yang tidak mengenal nama pemimpin dari pasukan pemberontak Tai Peng itu?

Nama Ong Siu Coan sebagai pimpinan pemberontak Tai Peng amat terkenal sebagai seorang pejuang yang berusaha menumbangkan pemerintah Mancu, dan terkenal pula sebagai pelindung rakyat jelata.

Kini orang-orang itu bukan takut terhadap Ong Siu Coan, melainkan mereka takut karena maklum bahwa yang mengepung rumah makan itu adalah pasukan pemerintah yang berpakaian preman dan karena yang dikepung adalah Ong Siu Coan, maka tentu akan terjadi pertempuran yang hebat di tempat itu.

Laki-laki tinggi besar yang gagah dan sedang makan di dalam kedai arak itu memang benar Ong Siu Coan, pemimpin pasukan Tai Peng yang tadinya memakai nama perkumpulan Pai Sang-ti Hwee (Perkumpulan Pemuja Tuhan), semacam perkumpulan agama yang berdasarkan Agama Kristen namun sudah tidak asli lagi, bercampur dengan Agama To dan pelajaran Khong Hu Cu.

Perkumpulan itu makin lama menjadi semakin besar dan kuat, lalu membentuk balatentara yang disebut balatentara Tai Peng (Perdamaian Besar) yang bertujuan untuk menentang dan menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah Mancu.

Gerakan yang bersifat perjuangan inilah, bukan agamanya, yang menarik banyak orang dari rakyat jelata untuk datang bergabung, terutama sekali kaum petani yang merasa tertindas oleh pemerintah Mancu.

Pria gagah itu adalah pemimpin Tai Peng.

Namanya Ong Siu Coan, bukan hanya terkenal sebagai seorang pemimpin pejuang yang disegani dan dikagumi rakyat, namun terkenal pula di dunia persilatan sebagai seorang ahli silat yang pandai.

Dia adalah murid seorang datuk sesat yang terkenal sekali, yaitu Thian-tok (Racun Langit), seorang di antara Empat Racun Dunia, tokoh-tokoh sesat yang amat terkenal diwaktu-waktu yang lalu.

Adapun wanita cantik bertahi lalat di pipinya itu juga bukan orang sembarangan.

Ia bernama Tang Ki, dan ia adalah puteri tunggal dari Hai-Tok (Racun Lautan), seorang di antara Empat Racun Dunia pula.

Dalam hal imu silat kiranya tingkat kepandaian Tang Ki ini tidak kalah oleh suaminya, karena selain menerima gemblengan dari Ayahnya sendiri, Juga wanita perkasa ini secara kebetulan telah menemukan sebuah kitab kuno ciptaan Tat Mo Couwsu yang terisi pelajaran ilmu silat tinggi berdasarkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa.

Sudah kurang lebih dua belas tahun mereka menjadi suami isteri di luar kehendak dan pesetujuan Hai-Tok dan mereka berhasil menghimpun kekuatan untuk memberontak terhadap pemerintah Mancu.

(Baca Giok-Liong-Kiam bagian pertama).

Ong Siu Coan bergasil membangun balatentara besar, bukan saja karena dia lihai, berilmu tinggi dan agama barunya menarik perhatian banyak orang, terutama sekali karena dia mempunyai banyak harta benda untuk membiayai perkumpulannya.

Dialah yang berhasil menemukan harta pusaka yang tersembunyi dalam rahasia pedang pusaka ini dia berhasil membentuk balatentara dan sanggup membiayainya.

"Ong Siu Coan, meyerahlah sebelum kami terpaksa mempergunakan kekerasan!"

Kembali perwira gendut yang berpakaian preman itu membentak.

perwira ini dengan anak buahnya yang kini mengepung restoran, berjumlah kurang lebih tiga puluh orang, adalah pasukan penyelidik atau mata-mata pemerintah yang bertugas di sekitar Nan-king.

Sejak pagi tadi dia dan anak buahnya tahu akan munculnya pemimpin Tai-Peng di tempat umum, maka dia sudah mempersiapkan anak buahnya untuk menghadang di dusun itu.

Kebetulan sekali suami isteri itu berhenti di rumah makan, memudahkan mereka untuk mengepung dalam usaha menangkap pemberontak itu.

Akan tetapi Ong Siu Coan dan Tang Ki masih enak-enak makan, melanjutkan makan tanpa menghiraukan si gendut.

Melihat sikap suami isteri itu, si gendut menjadi marah.

Dia segera mencabut sebuah pistol yang tersembunyi di ikat pinggangnya, lalu melangkah maju, diikuti oleh tiga orang perwira pembantu yang mencabut pedang.

Si gendut sambil menodongkan pistolnya maju menghampiri Ong Siu Coan dan Tang Ki, berseru kepada anak buahnya yang berada di luar rumah makan.

"Serbu dan tangkap mereka!"

Pada saat itu, Ong Siu Coan dan Tang Ki saling pandang dan pria perkasa itu berbisik.

"Kuambil si gendut, yang lain untukmu!"

Isterinya mengerti dan mengangguk.

Pada saat itu terdengar suara gaduh di luar rumah makan itu dan ternyata dua puluh orang lebih yang menjadi anak buah si gendut dan tadi mulai bergerak hendak menyerbu, secara tiba-tiba diserang oleh belasan orang yang memiliki gerakan yang tangkas sehingga dalam gebrakan pertama saja beberapa orang anggauta pasukan itu telah roboh!

Peristiwa itu mengejutkan si gendut dan diapun cepat melangkah ke depan sambil menodongkan pistolnya kepada Ong Siu Coan, diikuti tiga orang pembantunya yang siap menyerang dengan pedang mereka.

Pada saat itu, mendadak Ong Siu Coan menggerakkan sepasang sumpit yang tadi dipakai untuk makan dan meluncurlah dua sinar yang cepat buan main ke arah si gendut.

Sebatang sumpit menancap di tangan yang menggenggam pistol, dan sumpit ke dua menghunjam ulu hati!

Si gendut sama sekali tidak menyangka akan datangnya serangan itu, maka diapun terkejut dan pistol di tangannya meledak, akan tetapi karena pada saat itu dia sudah berada dalam keadaan sekarat oleh sumpit yang menembus jantungnya, Peluru yang melincur keluar dari pistol itu hanya menembus langit-langit dan genteng dan tubuhnya lalu terjengkang dan terbanting lalu berkelojotan.

Sementara itu, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Tang Ki sudah menerjang dan menyambut tiga orang pembantu perwira yang berpedang.

Wanita ini tiak bersenjata, namun gerakannya sedemikian cepatnya.

Walaupun tiga orang perwira berusaha menyerangnya dengan pedang, namun bayangan tubuh wanita itu berkelebatan di antara tiga batang pedang dan kedua tangannya bergerak menampar.

Tiga orang itupun menjerit kesakitan dan roboh terpelanting, tak mampu bangkit kembali karena Tang Ki telah melakukan tamparan-tamparan maut dengan kedua tangannya yang ampuh, dan yang dijadikan sasaran adalah pelipis kepala tiga orang itu!

Pertempuran yang terjadi di luar rumah makan itupun tidak berlangsung lama.

Dua puluh orang lebih perajurit yang berpakaian preman itu bukanlah lawan seimbang bagi belasan orang yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi itu dan dalam waktu singkat saja mereka semua telah roboh dan tewas!

Dua orang pimpinan rombongan yang menyerbu para mata-mata pemerintah itu menerobos masuk dan memberi hormat kepada Ong Siu Coan dan Tang Ki.

Kiranya mereka adalah anggauta pemberontak yang tersebar di mana-mana dan yang tadi melihat pimpinan mereka terancam lalu turun tangan membantu.

Ong Siu Coan mengangguk acuh kepada dua orang itu dan isterinya yang menghadapi mereka.

"Terima kasih atas bantuan kalian,"

Kata Tang Ki, mewakili suaminya yang kini telah menjadi seorang pemimpin tinggi sehingga suaminya merasa terlalu tinggi untuk berwawancara dengan anak buah tingkat rendahan seperti dua orang pemimpin rombongan pasukan kecil itu.

"Cepat singkirkan semua mayat dari dusun ini, lempar ke dalam hutan dan ajak semua pria dari dusun ini untuk menggabung agar mereka terbebas dari hukuman pemerintah."

Dua orang itu mengangguk dan menyatakan mentaati perintah, lalu mengundurkan diri.

Ong Siu Coan dan isterinya lalu meninggalkan dusun, menunggang kuda mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat keluar dari dusun itu.

Para anak buah pejuang itu telah mengumpulkan para penduduk dan menganjurkan agar para penghuni laki-laki bergabung dengan mereka karena peristiwa itu tentu akan berekor panjang.

Pemerintah tentu akan mengirim pasukan besar untuk mengadakan pembersihan di dusun itu di mana perajurit pemerintah sebanyak kurang lebih tiga puluh orang telah tewas pada hari itu.

Ong Siu Coan dan Tang Ki membalapkan kuda menuju ke sebuah dusun yang berada di luar kota Nan-king, sebuah dusun yang cukup besar dan mereka langsung menuju ke sebuah rumah yang nampak bersih dan rapi walaupun sederhana saja.

Kedatangan mereka disambut oleh sepasang suami isteri yang berpakaian sederhana sepeti para petani, dengan anak mereka, seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sebelas tahun.

Melihat siapa yang datang, suami isteri itu kelihatan terkejut dan heran, akan tetapi juga girang sekali.

"Aihhh, angin apakah yang meniup kalian datang ke sini? Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi keluarga kami yang sederhana menerima kunjungan pemimpin besar balatentara Tai Peng yang semakin terkenal itu!"

Seru tuan rumah dengan wajah berseri dan pandang mata penuh kagum. Sementara itu, nyonya rumah juga saling rangkul dengan Tang Ki seperti dua sahabat baik yang sudah lama tidak saling berjumpa.

"Tan Ci Kong, engkau mengangkatku terlalu tinggi dan menurunkan dirimu terlalu rendah!"

Kata Ong Siu Coan sambil tertawa setelah memberi hormat. kemudian memandang kepada anak laki-laki itu dan berseru.

"Ahh, apakah dia ini puteramu? Sungguh seorang anak yang berbakat baik sekali!"

"Benar, dia anak tunggal kami. Bun Hong, cepat beri hormat kepada paman Ong Siu Coan dan bibi Tang Ki. Mereka ini suami isteri yang amat lihai dan patut kau hormati!"

Anak laki-laki yang bermata tajam itu cepat maju memberi hormat dan menyebut paman dan bibi.

"Marilah kita bicara di dalam,"

Kata tuan rumah dan mereka lalu masuk ke dalam rumah sederhana yang nampak bersih dan rapi itu.

Suami isteri yang menjadi tuan rumah itupun bukan orang-orang sembarangan.

Tan Ci Kong adalah seorang pendekar besar, seorang tokoh Siauw-Lim-Pai yang menerima gemblengan langsung dari Siauw-Bin-Hud.

seorang datuk Siauw-Lim-Pai yang selalu bertapa dan mengasingkan diri, bahkan akhir-akhir ini bertapa sampai meninggal dunia, tak pernah lagi keluar dan mencampuri urusan dunia.Isterinya bernama Siauw Lian Hong, juga seorang wania sakti karena ia adalah murid terkasih dari San-tok (Racun Gunung), seorang di antara Empat Racun Dunia sehingga tingkat ilmu kepandaiannya seimbang dengan tingkat Ong Siu Coan dan isterinya.

Dua pasang suami isteri ini sudah saling mengenal karena belasan tahun yang lalu mereka adalah teman-teman seperjuangan walaupun jalan hidup mereka bersimpang.

Kalau Ong Siu Coan dan isterinya merupakan sepasang suami isteri perkasa yang bercita-cita besar, bertekad untuk meggulingkan pemerintah penjajah Mancu, maka Tan Ci Kong dan Siauw Lian Hong adalah sepasang suami isteri pendekar yang suka akan hidup sederhana, dan selama belasan tahun semenjak menikah tidak pernah menonjolkan diri di dunia persilatan maupun mencampuri urusan perjuangan, melainkan hidup tenteram di dusun itu mendidik putera mereka, Tan Bun Hong yang merupakan anak tunggal.

Mereka sudah banyak mendengar akan sepak terjang Ong Siu Coan yang merupakan ancaman bagi pemerintah Mancu, dan diam-diam mereka berdua merasa kagum bukan main, oleh karena itu tentu saja mereka terkejut dan heran ketika secara tiba-tiba saja tokoh pimpinan yang amat terkenal itu muncul mengunjungi mereka.

Empat orang pendekar sakti yang dulu pernah menjadi rekan-rekan seperjuangan itu kini duduk di ruangan dalam.

Tan Bun Hong, anak kecil itu oleh Ayah Ibunya disuruh bermain di luar dan dilarang untuk masuk ke dalam ruangan pertemuan.

Setelah mereka duduk berhadapan, Ci Kong dan isterinya memandang dua orang tamunya dengan penuh perhatian, sebaliknya Ong Siu Coan dengan matanya yang bersinar aneh dan tajam juga mengamati dua orang bekas rekan seperjuangan itu penuh selidik.

Dalam usinya yang tiga puluh enam tahun, Tan Ci Kong masih kelihatan muda.

Tubuhnya nampak tegap dan kulitnya agak gelap sebagai tanda bahwa sebagai orang yang suka bekerja di ladang dia banyak tertimpa sinar matahari.

pakaiannya tetap sederhana dan wajahnya yang jelas membayangkan kegagahan itu kelihatan penuh kesabaran dan penuh pengertian.

Juga Siauw Lian Hong masih nampak cantik manis dengan mukanya yang berbentuk bulat dan matanya yang lebar jernih, lembut dan tajam.

"Ong-toako,"

Kata Ci Kong dengan sikap hormat dan menyebut toako (kakak) kepada rekan yang lebih tua itu.

"Sudah bertahun-tahun kami mendengar bahwa engkau telah menjadi seorang panglima dan pemimpin besar balatentara pejuang yang amat kuat. Kami kagum sekali dan merasa heran melihat toako berdua datang berkunjung dan merasa yakin bahwa kunjungan ini tentu mengandung maksud yang amat penting."

Ong Siu Coan saling pandang dengan isterinya, kemudian melayangkan pandang matanya kepada tuan dan nyonya rumah, lalu menarik napas panjang.

"Sungguh menyenangkan sekali bicara dengan suami isteri yang gagah perkasa dan ucapanmu tadi langsung menyentuh persoalan yang sebenarnya, saudara Tan Ci Kong. Memang sesungguhnyalah, kedatangan kami ini mengandung maksud yang teramat penting yang mempunyai hubungan erat sekali dengan perjuangan rakyat menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu."

Tentu saja Tan Ci Kong dan Siauw Lian Hong menjadi tertarik sekali, akan tetapi Ci Kong yang menduga bahwa tentu Ong Siu Coan datang untuk menarik dia dan isterinya agar suka membantu gerakannya, mendahuluinya.

"Ong-toako, sebelumnya harap toako ketahui bahwa selama ini kami berdua hidup sebagai petani dan hidup tenteram di dusun ini, tidak pernah mencampuri urusan perjuangan bahkan tidak pernah mencampuri urusan dunia persilatan. Kami berdua ingin mendidik putera yang merupakan anak tunggal kami dan belum ingin melibatkan diri dengan perjuangan."

Ucapan ini mengandung peringatan bahwa dia dan isterinya tidak akan mau ikut membantu perjuangan Ong Siu Coan. Akan tetapi Ong Siu Coan menggeleng kepala.

"Membantu perjuangan dengan menerjunkan diri merupakan keputusan pribadi. Memang, sesungguhnya kami datang untuk mohon bantuanmu, saudara Ci Kong. Akan tetapi bukan minta bantuan tenaga."

Lega rasa hati Ci Kong, akan tetapi dia pun heran. Kalau bukan bantuan tenaga, lalu bantuan apalagi? "Bagaimana kami dapat membantumu, Ong-toako?"

"Tuhan sendiri yang telah memberi petunjuk kepadaku, saudara Tan Ci Kong. Tuhan sendiri yang telah memberi penerangan dan penglihatan kepadaku di waktu aku tidur beberapa hari yang lalu..."

"Maksudmu... engkau mimpi, Ong-toako?"

Tanya Ci Kong yang merasa heran dan tidak mengerti.

"Ah, tidak... tidak...! Aku berada dalam keadaan sadar dan aku mendengar sendiri suara Tuhan berbisik-bisik kepadaku, amat jelas bunyinya dan beginilah bisikan Tuhan itu kepadaku . Anakku Ong Siu Coan, perjuanganmu akan berhasil kalau engkau memegang Giok-Liong-Kiam di tanganmu karena pusaka itulah lambang kejatuhan kerajaan Mancu. Nah, demikianlah bisikan Tuhan kepadaku, saudara Ci Kong. Karena itulah, aku dan isteriku kini datang berkunjung untuk minta pertolongan kalian berdua, meminjam Giok-Liong-Kiam."

Siauw Lian Hong mengerutkan alisnya.

Pedang pusaka Giok-Liong-Kiam pernah dijadikan rebutan di dunia persilatan.

Pedang itu tadinya dicuri oleh seorang pencuri pandai dari gudang pusaka istana Kaisar, kemudian menjadikan rebutan banyak orang gagah di dunia persilatan.

Pedang pusaka itu dahulu diperebutkan karena pedang itu mengandung rahasia penyimpanan harta pusaka yang amat besar nilainya.

Dan akhirnya dalam perebutan itu, ialah yang berhasil mendapatkan pedang pusaka Giok-Liong-Kiam.

Akan tetapi usahanya bersama gurunya untuk memperoleh harta pusaka itu gagal karena setelah tempat penyimpanan rahasia itu ditemukan, ternyata harta pusaka itu telah lenyap didahului orang lain.

Setelah itu, tentu saja tidak ada lagi orang yang memperebutkan Giok-Liong-Kiam, sebatang pedang terbuat dari batu Giok berbentuk naga yang tidak dapat menjadi senjata yang ampuh walaupun memang merupakan barang mahal harganya.

Giok-Liong-Kiam kini hanya menjadi semacam benda indah atau hiasan saja, dan ia telah menyerahkan kepada Tan Ci Kong, sebagai tanda cintanya sebelum mereka menikah dahulu.

Bagi ia dan suaminya, Giok-Liong-Kiam merupakan tanda jalinan cinta kasih di antara mereka, maka, mana mungkin memberikannya kepada orang lain?

Akan tetapi karena ia telah menyerahkan pusaka itu kepada suaminya, tentu saja benda itu telah menjadi hak suaminya dan hanya dialah yang berhak memutuskan dalam menghadapi permintaan Ong Siu Coan.

Ci Kong memandang tamunya dengan sinar mata tajam penuh selidik, kemudian dia menjawab.

"Ong-toako, memang benar bahwa Giok-Liong-Kiam ada padaku, sebagai hadiah dari isteriku. Pusaka itu merupakan lambang cinta kasih antara kami dan kami simpan sebagai pusaka keluarga."

"Bagus sekali kalau begitu!"

Ong Siu Coan berteriak girang dan mengangguk-angguk.

"Kalian berdua pejuang-pejuang yang gagah perkasa, patriot-patriot sejati yang sudah membuktikan setia baktinya kepada tanah air dengan perjuangan kalian di masa lalu. Kalau kini lambang cinta kasih antara kalian yang sudah menjadi suami isteri menjadi lambang perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah laknat yang menekan rakyat, bukankah pusaka itu menjadi semakin terhormat? Kami hanya meminjamnya saja, saudara Tan Ci Kong berdua. Kami hanya meminjam, bukan untuk kepentingan kami, melainkan untuk perjuangan. Dengan pusaka itu di tangan kami, tentu akan mendatangkan dukungan dari para pendekar dan mereka akan lebih suka membantu perjuangan kita. Kalau sudah berhasil perjuangan kita, pusaka itu akan kami kembalikan kepada kalian, karena untuk apakah pusaka itu bagi kami pribadi? Kami pribadi tidak membutuhkannya. dan kamipun datang karena petunjuk langsung dari Tuhan, saudara Ci Kong. Menolak perintah Tuhan merupakan dosa yang teramat besar, dan kalau perintah itu tidak dilaksanakan, tentu kita semua terkena hukumannya yang amat berat."

Ci Kong saling pandang dengan isterinya, dan keduanya merasa bimbang.

Tentu saja pusaka itu sebenarnya tidaklah begitu penting sekali bagi mereka, hanya menjadi benda peringatan saja.

Dan ucapan Siu Coan tadi terlampau berat menekan batin mereka, karena dihubungkan dengan perjuangan.

Tentu saja di lubuk hati mereka, suami isteri pendekar ini condong untuk membantu Siu Coan menentang pemerintah penjajah Mancu yang mereka benci pula.

Agaknya Ong Siu Coan yang pandai membaca isi hati orang melalui pandang mata dan sikapnya, maklum bahwa suami isteri itu biarpun masih ragu-ragu, namun condong membantunya.

"Kami harap saudara Ci Kong berdua dapat berpikir dengan adil dan mengingat akan asal-usul pusaka itu. Pusaka itu dicuri orang dari gudang pusaka istana, dan sebelum itu, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita semua. Lenyapnya pusaka itu dari istana merupakan lambang kejatuhan Kerajaan Mancu! Dan kini tidak diperebutkan orang lagi karena harta pusaka itu telah lenyap. Kiranya orang yang telah menemukan harta pusaka itulah yang lebih berjodoh dengan Giok-Liong-Kiam, tidaklah kalian berpendapat demikian?"

Ci Kong dan Lian Hong terpaksa mengangguk karena memang kenyataannya demikian.

Pusaka Giok-Liong-Kiam berasal dari istana Kaisar dan benda itu keluar dari istana karena dicuri orang, kemudian diperebutkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw.

Biarpun kini Giok-Liong-Kiam berada di tangan mereka, namun harus diakui bahwa sebetulnya merekapun tidak berhak, karena benda itu bukan pusaka yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, melainkan merupakan benda curian!

Dan perebutan berakhir setelah harta pusaka yang disimpan rahasianya oleh Giok-Liong-Kiam ternyata telah diambil orang lain, maka memang tepatlah kalau dikatakan bahwa yang berhasil mendapatkan harta pusaka itu lebih berjodoh dengan Giok-Liong-Kiam.

"Akan tetapi siapakah yang telah mendapatkan harta pusaka itu?"

Tanya Siauw Lian Hong dan Ci Kong mengangguk karena pertanyaan yang sama mengaduk hatinya.

Sepasang mata Ong Siu Coan bersinar-sinar aneh ketika dia menatap wajah kedua orang di depannya, dan suaranya terdengar halus namun penuh wibawa ketika dia bicara.

"Apakah kalian tidak dapat menduganya? Aku telah berhasil membangun balatentara yang amat besar jumlahnya, tidak kurang dari seratus ribu orang! Dari mana aku dapat membiayai semua itu? Dari mana aku dapat memberi makan kepada orang sebanyak itu, membelikan pakaian, senjata dan sebagainya? Saudara Ci Kong, bayangkan saja berapa banyak harta yang harus dipergunakan untuk semua itu, untuk menghimpun ratusan ribu orang?"

Ci Kong dan Lian Hong saling pandang dan mata mereka terbelalak penuh keheranan, kekagetan dan juga kekaguman.

"Jadi... kau maksudkan... engkaulah orangnya yang telah mengambil harta pusaka Giok-Liong-Kiam itu?"

Tanya Ci Kong. Siu Coan mengangguk dan tersenyum.

"Tidak sepenuhnya. hanya tinggal seperempat bagian saja, namun cukup besar untuk dapat membiayai balatentara yang ratusan ribu jumlahnya. Semua orang memperebutkan harta pusaka itu untuk kesenangan dan kepentingan pribadi, akan tetapi aku ingin mendapatkan harta itu bukan untuk kepentingan pribadiku, melainkan untuk kepentingan perjuangan. Karena itulah, Tuhan selalu memberi perlindungan dan bimbingan kepadaku sampai saat ini. Dan kami sungguh mengharapkan agar saudara Ci Kong berdua membantu pula pelaksanaan perintah dan kehendak Tuhan."

Ci Kong dan Lian Hong kembali saling pandang.

Orang ini telah mengerahkan seluruh tenaga, pikiran dan harta miliknya untuk perjuangan!

Kalau sekarang, mereka menolak memberi pinjam Giok-Liong-Kiam, yang sebetulnya bukan milik mereka melainkan sebuah benda curian yang setelah perebutan terjatuh ke tangan mereka, sungguh hal ini amat berlawanan dengan jiwa kepatriotan mereka!

Akan tetapi, biarpun Giok-Liong-Kiam itu telah diberikan oleh isterinya kepadanya, menjadi haknya, namun Ci Kong tidak mau melampaui isterinya, oleh karena itu dia lalu berkata kepada Ong Siu Coan.

"Ong-toako, perkenankan aku berunding lebih dulu dengan isteriku di dalam."

Tanpa menanti jawaban, Ci Kong lalu bangkit dan mengajak isterinya meninggalkan ruangan itu untuk berunding empat mata di dalam kamar mereka.

Ong Siu Coan hanya mengangguk sambil tersenyum.

Setelah berada di dalam kamar, Ci Kong lalu bertanya.

"Bagaimana pendapatmu, Hong-moi?"

Lian Hong memandang suaminya.

"Dan engkau bagaimana?"

Ci Kong yang sudah mengenal baik isterinya maklum bahwa dengan jawaban itu, isterinya sudah setuju walaupun masih meragu dan menantikan keputusannya.

Kalau isterinya tidak setuju, tentu langsung saja isterinya mengatakan tidak setuju.

Isterinya setuju, akan tetapi tidak berani lancang karena pusaka itu telah diberikan kepada suaminya.

"Aku tidak keberatan. Bagaimanapun juga, pusaka itu adalah benda curian dari kerajaan, dan pula, kalau hanya dipinjam untuk memeperkuat perjuangan dan menarik lebih banyak orang kuat membantu perjuangan, apa salahnya?"

"Akupun berpikir demikian,"

Kata Lian Hong dengan hati lega.

"Kalau begitu, kita serahkan pusaka itu sekarang juga."

Ci Kog lalu mengajak isterinya keluar sambil membawa Giok-Liong-Kiam yang dibungkus dalam kain kuning. Ong Siu Coan menyambut mereka dengan wajah berseri.

"Sungguh bijaksana sekali bahwa kalian telah menyetujui dan suka memenuhi permintaan kami,"

Katanya, seolah-olah dia telah tahu lebih dulu bahwa suami isteri pendekar itu tentu akan memenuhi permintaannya. Ci Kong menyerahkan buntalan kain kuning itu dan berkata.

"Kami memang suka sekali menyerahkan pusaka Giok-Liong-Kiam untuk kau pinjam, Ong-toako, mengingat bahwa engkau meminjamnya untuk keperluan perjuangan. Mudah-mudahan saja dengan adanya Giok-Liong-Kiam, balatentaramu akan menjadi semakin besar dan kuat sehingga kekuasaan penjajah Mancu akan dapat segera dihancurkan."

Ong Siu Coan menerima pusaka sambil tersenyum.

"Bukan hanya itu, juga kami mengharapkan agar kalian berdua sewaktu-waktu suka datang membantu mengulurkan tangan untuk menghancurkan penjajah yang menyiksa rakyat jelata."

Diapun membuka buntalan dan bersama Tang-ki, dia mengagumi Giok-Liong-Kiam yang memang teramat indah itu.

Ukiran batu halus sekali berbentuk naga itu indah bukan main, halus sekali sehingga benda itu merupakan sebuah pusaka yang tentu amat mahal harganya.

Terutama sekali orang kulit putih yang haus akan benda-benda kuno, tentu akan membayar pusaka ini dengan harga yang luar biasa tingginya.

Setelah mendapat kenyataan bahwa pusaka itu benar Giok-Liong-Kiam yang asli Ong Siu Coan membuntalnya lagi dengan kain kuning, lalu menyelipkannya di ikat pinggangnya.

"Mari kita berdoa mohon berkah Tuhan agar pusaka ini benar-benar akan membawa kita kepada kemenangan atas kaum penjajah Mancu."

Mendengar ini, Kiki lalu merangkap kedua tangan, menundukkan muka dan meletakkan kedua tangan di meja, memejamkan kedua matanya.

Ong Siu Coan sendiri bersedekap, menyilangkan kedua lengan di depan dadabdan menundukkan mata, kemudian terdengar dia berdoa dengan kata-kata yang bergetar penuh perasaan.

Ci Kong dan Lian Hong hanya saling pandang, tidak tahu harus berbuat apa, hanya memandang suami isteri yang bersembahyang di depan mereka.

Baru saja Siu Coan selesai bersembahyang, tiba-tiba terdengar suara bersuit lirih yang terdengar dari depan rumah itu.

mendengar ini, Siu Coan lalu berkata kepada Ci Kong.

"Ada seorang pembantu kami memberi tanda di depan rumah, harap kau suka mengajaknya masuk, saudara Ci Kong. Tentu dia membawa berita penting sekali maka berani menggangguku di sini."

Ci Kong bergegas keluar dan benar saja, di luar telah berdiri seorang laki-laki gagah perkasa yang usianya sekitar empat puluh tahun, berpakaian seperti petani, serba hitam.

melihat Ci Kong, orang itu menjura dengan hormat.

"Tan-Taihiap, bolehkah saya bertemu dan menghadap Ong-bengcu (pemimpin rakyat Ong)?"

Katanya dengan sikap hormat. Diam-diam Ci Kong kagum. Anak buah Ong Siu Coan ini gagah dan juga telah mengenalnya.

"Engkau dipanggil untuk menghadapnya di dalam,"

Kata Ci Kong dan tanpa banyak cakap orang itu lalu ikut bersama Ci Kong memasuki ruangan dalam rumah itu.

begitu melihat Siu Coan, laki-laki itu memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki seperti perajurit dan berkata dengan suara lantang.

"Lapor kepada bengcu bahwa pasukan besar anjing Mancu telah datang ke arah dusun ini. Agaknya ada mata-mata yang telah melaporkan tentang peristiwa di dusun sebelah tadi. Mohon petunjuk."

Ong Siu Coan mengerutkan alisnya.

"Berapa jumlah mereka?"

"Menurut penyelidik, tidak kurang dari dua ratus orang."

"Dan kekuatan kita yang berada di sini?"

"Hanya ada dua puluh orang, bengcu. Semua penduduk yang bergabung dengan kita telah berangkat ke selatan."

"Ah, mereka belum terlatih. Dan dua puluh orang cukup untuk memancing musuh keluar dari dusun ini. dengar baik-baik. Dua orang dari kalian menyamar sebagai kami berdua, meggunakan dua ekor kuda kami dan pancing pasukan itu agar menuju ke hutan di sebelah timur. Setelah tiba di sana, tentu hari telah menjadi gelap. Kalian masuk hutan dan berpencar. Kalau mereka berani mengejar, kalian lanjutkan perjalanan dan meloloskan diri. Kami sendiri akan menggunakan kuda lain, sediakan kuda baru, dan mengambil jalan lain. Ingat, jangan memaksa suatu pertempuran dalam keadaan berat sebelah. Nah, laksanakan perintahku. Ambil kuda kami dan tukar dengan yang baru."

"Baik, bengcu!"

Orang itu memberi hormat, juga memberi hormat kepada Ci Kong dan Lian Hong, lalu cepat keluar dari dalam rumah itu.

"Apakah yang telah terjadi?"

Tanya Ci Kong."Ketika kami menuju ke sini, di dusun sebelah kami diserbu oleh tiga puluh lebih pasukan pemerintah.

Untung ada anak buahku yang bertugas di sini, dan kami telah membunuh seluruh pasukan pemerintah yang tiga puluh orang lebih itu.

Mayat-mayat mereka telah dilempar ke dalam hutan dan semua laki-laki muda di dusun itu telah meninggalkan dusun dan bergabung dengan kami.

Akan tetapi celakanya, agaknya ada mata-mata musuh yang berhasil lolos dan memeberi lapoan ke Nan-king dan kini datang pasukan dua ratus orang lebih dari Nan-king."

"Ah, celaka! Kalau begitu tentu mereka tahu bahwa kalian telah datang ke rumah kami, Ong-toako!"

Kata Ci Kong dan wajahnya berubah khawatir. Ong Siu Coan mengangguk, wajahnya tetap dingin.

"Itu sudah resiko pejuang, saudara Ci Kong. Maka, kukira sebaiknya kalau kalian bergabung saja dengan kami dan sekarang juga meninggalkan rumah ini."

"Tapi..."

Ci Kong teringat akan puteranya.

Bagi dia dan isterinya, tidak ada keberatan apapun kalau ikut berjuang, karena memang merekapun menghendaki agar tanah air mereka terbebas dari cengkeraman orang-orang Mancu.

Akan tetapi lalu bagaimana dengan pendidikan putera mereka?

Pada saat itu, Tan Bun Hong datang berlari memasuki ruangan itu, sepasang matanya yang lebar bening itu terbelalak dan memandang Ayahnya penuh ketegangan.

"Ayah, ada pasukan menyerbu dusun kita, membunuhi orang-orang dusun".

"Ah, begitu cepat mereka tiba!"

Ong Siu Coan berseru dan seperti dikomando saja, mereka berempat, dua pasang suami isteri perkasa itu sudah berloncatan keluar rumah.

Benar saja, di ujung dusun sebelah utara terdengar suara ribut-ribut dan teriakan-teriakan wanita ketakutan.

Mereka cepat menyelinap dan melihat betapa perajurit-perajurit dari Nan-king itu membunuhi orang seenaknya sendiri, Ci Kong dan Lian Hong sudah siap untuk mengejar mereka.

Akan tetapi Siu Coan mencegah dan berkata lirih.

"Jangan tergesa-gesa. Lihat, tentu anak buahku akan segera bergerak memancing mereka keluar dari sini."

Benar saja, sepasukan orang lain yang menunggang kuda dan berpakaian petani secara tiba-tiba menyerbu.

Tentu saja pasukan pemerintah itu menjadi marah dan cepat menyambut serangan balasan orang itu, yang dipimpin oleh seorang laki-laki dan seorang wanita yang menunggang dua ekor kuda besar hitam dan pitih, kuda-kuda tunggangan Ong Siu Coan dan isterinya tadi.

bahkan pakaian yang dikenakan dua orang pemimpin pasukan kecil itupun serupa dengan pakaian yang dipakai Ong Siu Coan dan isterinya.

Melihat dua orang pemimpin pemberontak ini, komandan pasukan pemerintah berteriak-teriak untuk menangkap mereka yang dianggapnya adalah pemimpin besar kaum pemberontak Tai Peng dan isterinya.

Pertempuran itu terjadi berat sebelah karena mana mungkin belasan orang pemberontak itu melawan dua ratus lebih pasukan dari Nan-king.Segera mereka melarikan diri ke timur, dikejar oleh pasukan karena komandan pasukan bernapsu sekali untuk menawan dua orang pemimpin besar pemberontak Tai Peng itu.

Sudah terbayang olehnya hadiah yang amat besar dari istana kalau dia mampu menangkap Ong Siu Coan dan isterinya!

Setelah pasukan besar itu mengejar belasan orang pemberontak yang melarikan diri ke timur, Siu Coan lalu keluar dari tempat prsembunyiannya.

Segera dua orang anak buahnya yang tinggal di situ menghampirinya dan memberi hormat.

"Bujuk para peduduk untuk bergabung dengan kita,"

Pesan Ong Siu Coan.

"Mereka harus cepat dibawa ke selatan agar tidak keburu dikejar oleh pasukan penj ajah."

Dua orang itu memberi hormat dan mereka segera menemui para penduduk, dan seperti juga penduduk dusun pertama, kini peduduk dusun inipun, terutama yang laki-laki dan masih muda, tidak ragu-ragu lagi untuk bergabung dengan para pejuang Tai Peng.

Tidak ada pilihan lain lagi bagi mereka.

Kalau mereka pergi mengungsi begitu saja, akan mengungsi ke mana?

Dan tentu akan dapat dikejar oleh pasukan pemerintah dan mereka tetap saja akan dibunuh sebagai pemberontak-pemberontak.

Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri hanyalah bergabung dengan pasukan Tai Peng, dan dengan demikian mereka bahkan dapat membalas dendam kepada pemerintah penjajah yang selama ini telah menekan keluarga mereka turun-temurun.

Demikian siasat yang dipergunakan oleh Ong Siu Coan, satu di antara siasat-siasatnya untuk mengumpulkan kekuatan dan memperbesar jumlah anggauta pasukannya!

Kini diapun membujuk Ci Kong yang kebingungan.

seperti para penghuni lainnya di dusun itu, Ci Kong juga maklum bahwa tidak mungkin lagi dia tinggal di dusun itu bersama keluarganya, tentu akan diancam oleh pasukan pemerintah.

Apalagi dia adalah orang yang dikunjungi oleh pimpinan besar pasukan pemberontak Tai Peng!

Tan Ci Kong cepat mengambil keputusan setelah berunding dengan isterinya.

Dia akan bergabung dengan Ong Siu Coan, membantu perjuangan sambil melarikan diri dari dusun itu, sedangkan isterinya akan membawa putera mereka lari mengungsi ke pegunungan Wu-yi-san, yaitu ke puncak Pek-liong-kwi-san (Puncak Iblis Naga Putih), tempat kediaman gurunya, yaitu San-tok (Racun Gunung).

Kepada isterinya Ci Kong berjanji bahwa dalam waktu setahun dia akan menyusul ke puncak itu.

Dengan tergesa-gesa, keluarga Tan itupun berkemas, membawa barang-barang yang berharga dan yang perlu saja, kemudian mereka saling berpisah.

Ci Kong menunggang kuda bersama Ong Siu Coan dan TangKi, meninggalkan dusun itu menuju ke selatan.

Siauw Lian Hong bersama puteranya Tan Bun Hong, juga menuju ke selatan, ke Pegunungan Wu-yi-san, berboncengan menunggang kuda pula.

Berakhirlah sudah kehidupan penuh damai dan ketenteraman bagi keluarga Tan Ci Kong.

Mereka mulai kehidupan baru penuh kekerasan dan tantangan, dan terpaksa pula suami isteri itu saling berpisah.

Semua ini gara-gara Ong Siu Coan yang datang ke dusun mereka.

Mereka mengira bahwa hal itu terjadi kebetulan saja, Sama sekali tidak mengira bahwa memang Ong Siu Coan sudah memperhitungkan kemungkinan ini dan mengatur siasat yang menguntungkan pihaknya dalam segala kesempatan.

Buktinya, peristiwa di kedua dusun itu amat menguntungkan dirinya, memperkuat pasukan Tai Peng dengan ratusan orang penduduk dusun, yang terutama sekali, selain memperoleh Giok-Liong-Kiam, juga memperoleh bantuan seorang pendekar yang boleh diandalkan, yaitu Tan Ci Kong!

Dan perhitungan Ong Siu Coan memang tepat sekali.

Setelah dia melalui orang-orangnya menyiarkan bahwa pusaka Giok-Liong-Kiam kini berada di tangannya dan menjadi lambang kekuatan Tai Peng juga lambang kehancuran pemerintah penjajah Mancu, banyak pendekar merasa tertarik.

Apalagi ketika mereka mendengar bahwa pendekar Tan Ci Kong, pendekar Siauw-Lim-Pai yang amat terkenal itu, kini bergabung dan bahkan menjadi pembantu utama Ong Siu Coan, Berbondong-bondong kaum pendekar datang menggabungkan diri membantu perjuangan balatentara Tai Peng!

Dan Ong Siu Coan-pun mulai bergerak menyerang ke utara.

Tujuannya adalah merebut dan menduduki kota besar Wu-chang, kemudian Nan-king dan setelah menguasai wilayah lembah Yang-ce sampai ke muara, akan melanjutkan serangan menyerbu terus ke utara dan menduduki Peking, menggulingkan pusat pemerintahan Mancu.

Demikianlah rencananya.

gerakannya didukung oleh banyak petani dan pimpinan pasukan diserahkan ke tangan pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi.

Bagaimana alasan muluk yang dikemukakan orang yang kebetulan duduk di tingkat atas untuk membersihkan diri, tidak dapat disangkal lagi bahwa apa yang dinamakan pemerintah sesungguhnya hanyalah sekelompok orang yang sedang berkuasa pada saat itu.

Baik buruknya sebuah pemerintahan, kuat atau lemahnya, tergantung sepenuhnya kepada keadaan batin sekelompok orang yang sedang berkuasa itu, dan akibat daripada sebuah pemerintahan itu menyeret keadaan hidup rakyat banyak yang tunduk kepada pemerintahan itu.

Di dalam sebuah kerajaan, kekuasaan mutlak berada di tangan Kaisar, sehingga kuat lemahnya kerajaan itu yang digantungi nasib rakyatnya dapat dilihat dari keadaan Kaisarnya.

Pada waktu itu, yang menjadi Kaisar adalah Kaisar Sian Feng yang naik tahta dalam usia sembilan belas tahun (1851-1861).

Jatuh bangunnya setiap dinasti tidak ada bedanya dengan jatuh bangunnya setiap orang manusia.

Sebab seseorang terjatuh dari kedudukannya, hal itu disebabkan oleh ulah dirinya sendiri, dan jatuhnya sebuah negara disebabkan oleh pemimpinnya.

Akan tetapi kalau kita melihat sejarah, seolah-olah ada Kekuasaan Tertinggi yang sudah menentukan dan mengatur semua itu.

Kalau sudah tiba saatnya seorang manusia harus mati, ada saja yang menjadi sebab-sebabnya pula.

Kerajaan Mancu atau dinasti Ceng yang sepenuhnya menguasai daratan Cina dimulai dalam tahun 1663 dengan Kaisar pertamanya Kang Si, setelah mengalami masa jayanya yang gemilang selama kurang lebih dua ratus tahun lamanya, mulailah menyuram ketika Kaisar Sian Feng dinobatkan menjadi Kaisar.

Kaisar muda Sian Feng ini berbeda jauh dibandingkan dengan Kaisar-Kaisar Mancu sebelumnya, bahkan amat jauh berbeda dari Kakek buyutnya yaitu Kaisar Kian Liong.

Kaisar Sian Feng ini selalu mengejar kesenangan, terutama sekali kesenangan mengumbar nafsu berahi, bermain-main dengan wanita-wanita cantik.

Pengejaran kesenangan merupakan suatu penyakit yang akan menyeret kita ke dalam lingkaran setan yang berakhir dengan kesengsaraan, bahkan awal dan akhirnyapun sudah berada dalam keadaan yang sengsara, tak puas, tak dapat menikmati keadaan hidup.

Bukan berarti bahwa kita harus menjauhi kesenangan, harus menolak dan menghindari kesenangan.

Kesenangan adalah suatu keadaan hati, dan sudah menjadi hak setiap orang manusia untuk dapat senang.

namun, kalau kita sudah diperbudak, maka kita selalu mengejarnya dan pengejaran inilah yang jahat!

Pengejaran inilah yang menyeret kita kepada segala macam perbuatan kemaksiatan dan kejahatan.

Pengejaran terdorong oleh keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih banyak, lebih baik, dan lebih segalanya daripada keadaan yang sudah ada.

Pengejaran membuat mata kita selalu memandang ke depan, kepada khayan, kepada suatu keadaan atau kesenangan yang belum terdapat.

Dengan demikian, yang nampak besar, indah dan menyenangkan hanyalah sesuatu yang kita kejar dan kita ingin dapatkan itu, dan dengan sendirinya, segala seuatu yang ada pada kita tidak lagi nampak keindahannya, tidak lagi menyenangkan!

Dan di dalam pengejaran inilah terdapat bahaya penyelewengan, karena pengejaran membuat mata kita buta terhadap baik buruknya tindakan atau langkah kita.

Kita terjang saja segala yang menjadi perintang atau penghalang dalam pengejaran kita, kita tendang, kita langkahi, kalau perlu kita injak!

Semua demi memperoleh sesuatu yang kita anggap akan mendatangkan kesenangan dan kepuasan kepada kita.

Dan, sekiranya yang dikejar itu berhasil kita dapatkan, benarkah kita akan senang dan puas, seperti yang kita idamkan?

Memang senang, memang puas, namun inipun biasanya hanya bertahan dalam waktu singkat saja.

Karena penyakit itu membuat mata kita mengejar lagi, mengejar sesuatu yang kita anggap lebih baik dan lebih menyenangkan daripada yang sudah terdapat itu!

Yang sudah terdapat itu menjadi masa lalu dan kita ingin mendapatkan sesuatu yang masih berada di masa depan lagi.

Hal begini akan terus menguasai kehidupan kita, menjadi lingkaran setan dari masa lampau dan masa depan, dan kita tidak pernah benar-benar hidup karena hidup adalah saat ini, sekarang ini.

Masa lalu telah mati dan tidak perlu dikenang lagi, masa depan hanyalah khayal yang belum ada.

Kaisar Sian Feng hidup berenang didalam lautan kesenangan.

Semenjak muda, dia memang tidak tertarik oleh pemerintahan, akan tetapi sejak remaja dia sudah mengenal kesenangan dengan wanita.

Dia diangkat menjadi Kaisar dalam tahun 1851, di dalam masa keributan dan di waktu pemerintahan Mancu sedang kacau, baik menghadapi orang-orang kulit putih yang mulai menanam kuku-kukunya di daratan Cina, maupun menhadapi pemberontakan di dalam negeri.

Kaisar Sian Feng tidak menghiraukan semua ini, menganggap ringan dan menganggap tak mungkin ada kekuatan yang akan mampu menghancurkan kekuasaannya.

bahkan pemberontakan Tai Peng juga dianggap sepi saja oleh Kaisar muda ini.

Urusan pemerintahan tidak ditangani langsung oleh Kaisar Sian Feng, melainkan diserahkan kepada Pangeran Kung dan para menteri.

Kaisar sendiri sibuk mencari perempuan-perempuan baru, Berpuluh selir yang muda-muda dan cantik-cantik berada di sekelilingnya setiap saat, namun dia masih belum juga merasa cukup atau puas.

Kesukaannya mengejar kesenangan membuat dia menjadi mudah bosan.

Dia bergairah dengan kaki kecil perempuan Han, maka seringkali Kaisar muda ini menyamar dengan pakaian biasa, dengan pengawalan rahasia, mengunjungi rumah-rumah pelacuran di Peking.

Kelemahan seorang Kaisar tentu saja merupakan hal yang amat penting bagi para pembesar penjilat karena mereka dapat mempergunakan kelemahan Kaisar ini untuk kepentingan diri sendiri.

melihat kesukaan Kaisar terhadap wanita-wanita Han ini, kepala thaikam (orang kebiri) yang menjabat sebagai kepala Taman Yuan-beng-gwan (Taman Terang Sempurna), yaitu taman musim panas, segera bertindak dengan cerdiknya.

Dia menghubungi Kaisar dan berjanji akan mencarikan gadis-gadis Han yang cantik dari selatan.

Tentu saja Kaisar merasa gembira sekali dan menyetujuinya.

Oleh karena pada masa itu terdapat peraturan istana yang melarang wanita bukan Bangsa Mancu dimasukkan istana maka gadis-gadis Bangsa Han itu ditaruh di dalam Taman Yuan-beng-gwan.

Oleh pembesar thaikam itu, dicarikanlah gadis-gadis yang muda belia dan cantik jelita dari daerah Nan-king, Hang-couw dan So-chouw dan dibawalah mereka itu ke dalam taman yang amat indah itu.

Taman Terang Sempurna merupakan istana taman musim panas yang amat indah berbau bangunan asing karena taman dan istana ini dibangun oleh seorang pendeta Italia bernama Castiglione di jaman Kaisar Kian Liong.

Bukan main gembiranya hati Kaisar muda itu.

Setiap hari dia berada di taman musim panas, bersenang-senang dengan selir-selir baru Bangsa Han yang mengelilinginya dan lupa akan segala.

Para pejabat yang mengelilinginya adalah penjilat-penjilat yang hanya berusaha menyenangkan hati Kaisar agar mereka memperoleh hadiah atau kenaikan pangkat.

Atas petunjuk mereka, di taman musim panas itu dipelihara lebih dari tiga ratus ekor menjangan.

Ramuan tanduk menjangan dan darah segar binatang itu menjadi obat kuat bagi sang Kaisar.

Darah itu ditaruh dalam mangkok kemala sebagai minuman setiap hari untuk menjaga kekuatan Kaisar muda yang setiap hari dikeroyok oleh puluhan orang selir itu!

Nafsu memang tidak ada puasnya, seperti api yang makin diberi umpan semakin berkobar.

Biarpun sudah mempunyai selir yang kini menjadi ratusan jumlahnya, masih saja Kaisar Siang Feng tidak mau melepaskan perempuan-perempuan baru yang belum pernah disentuhnya.

Dayang-dayang istana yang terdiri dari gadis-gadis cantik, perawan-perawan jelita, banyak yang menjadi korban keganasan Kaisar ini.

Kalau melihat seorang dayang cantik, bisa saja dia timbul gairah dengan tiba-tiba dan langsung diterkamnya gadis itu.

Kaisar yang menjadi budak nafsu ini tidak segan-segan untuk menggauli seorang dayang di depan selir-selirnya, hanya sekedar memamerkan kekuatannya.

Permaisuri Kaisar adalah seorang wanita cantik yang baik hati namun teramat lemah.

Melihat keadaan suaminya, mulai timbul perasaan khawatir di dalam hati permaisuri, Apalagi melihat betapa Kaisar mengumpulkan demikian banyak selir berbangsa Han di Taman Terang Sempurna.

Lebih-lebih kalau ia mengingat bahwa Kaisar belum mempunyai keturunan putera yang akan menjadi pangeran mahkota.

Maka ia lalu membujuk Kaisar untuk mengambil gadis-gadis Mancu tercantik untuk dijadikan dayang-dayang baru di dalam istana.

Kaisar yang mata keranjang itu tak perlu ditanya kedua kalinya.

Tentu saja dia tertawa dan menyatakan persetujuannya atas usul sang permaisuri.

Ratusan orang perawan remaja didatangkan para petugas.

Akan tetapi setelah dipilih oleh permaisuri, yang diterima sebagai calon hanya enam puluh empat orang perawan yang disuruh membersihkan diri, mengenakan pakaian-pakaian baru yang indah, diajar pula tata cara dan sopan santun istana.

Pendeknya, enam puluh empat orang gadis ini digembeng secara kilat agar menjadi dayang-dayang yang mengenal peraturan dan menyenangkan.

Demikianlah, pada suatu pagi yang cerah, setelah Kaisar bangun tidur dan dilayani para dayang untuk mandi dan bertukar pakaian, Kaisar menghadapi santapan pagi dengan pertunjukan istimewa yang sengaja diadakan oleh permaisuri.

yaitu pertunjukan lomba kecantikan yang dilakukan oleh enam puluh empat orang perawan remaja yang pilihan!

Gadis-gadis Mancu yang cantik-cantik itu berbaris melenggang di depan Kaisar, dengan bermacam gaya dan lagak, dan semua adalah wanita-wanita yang cantik sekali.

Kaisar memandangi mereka satu demi satu dengan mata terbelalak dan mulut menyeringai senang, seperti seorang anak kecil yang diberi mainan yang banyak dan menyenangkan hatinya.

Berulang-ulang keluar pujian dari mulut Kaisar terhadap gadis-gadis itu dan sukarlah baginya untuk memilih mana yang paling cantik dan siapa di antara mereka yang akan dipilihnya untukmelayaninya dan menemaninya malam hari itu.

Akan tetapi tiba-tiba pertunjukan yang amat menggembirakan itu terganggu dengan pelaporan pengawal bahwa Pangeran Kung dan seorang panglima yang bertugas memimpin pasukan besar di selatan minta menghadap karena ada urusan penting sekali.

Kaisar menggerakkan tangannya dengan hati tak senang, minta agar pertunjukan itu dilangsungkan sampai habis.

Gadis-gadis itu terus melangkah satu demi satu, akan tetapi gangguan itu membuyarkan perhatian Kaisar sehingga dia hampir tidak melihat adanya seorang di antara para perawan itu, seorang gadis yang memiliki kecantikan yang khas dan pembawaan yang amat menarik.

Gadis ini nampak menyolok sekali dan jauh berbeda dari yang lain.

Kalau gadis-gadis lain itu kelihatan takut-takut dan malu-malu, ia sama sekali tidak demikian.

Dengan anggunnya ia lewat di depan Kaisar, bahkan di dalam setiap gerak-geriknya, lirikan matanya, lenggak-lenggoknya, senyumnya, ada pengendalian dan kepribadian yang khas.

Akan tetapi Kaisar sudah merasa tak senang dengan gangguan tadi sehingga dia tidak lagi memperhatikan gadis-gadis itu.

Akhirnya, setelah gadis terakhir lewat, Pangeran Kung dan panglima itu dipersilakan masuk.dengan wajah dingin Kaisar bertanya mengapa sang pangeran itu mengganggunya di waktu sepagi itu.

Pangeran Kung sambil berlutut berkata dengan penuh hormat, dengan wajah mengandung kegelisahan dan keprihatinan besar.

"Mohon Sri Baginda sudi mengampunkan hamba yang berani mengganggu dengan menghadap tanpa dipanggil. Akan tetapi hamba membawa laporan berita yang amat buruk, Sri Baginda."

Kerut di dahi Kaisar makin mendalam. Celaka, pikirnya, sudah mengganggu kesenangannya, masih membawa berita buruk lagi.

"Hemm, berita apakah? katakan!"

"Panglima Thung ini datang membawa laporan bahwa pasukan kerajaan yang berjaga di selatan telah dipukul mundur dan kini pemberontak Tai Peng telah menduduki Nan-king dan Wu-chang. Kekuatan mereka besar sekali, didukung oleh rakyat setempat dan dibantu oleh para petani, juga para pendekar."

Berita itu tentu akan mengejutkan setiap orang, namun Kaisar yang hanya mementingkan pengejaran kesenangan itu hanya nampak kaget sebentar saja.

"Sungguh menyebalkan!"

Kata Kaisar tak senang.

"Kita sudah membuang banyak harta untuk membiayai pasukan-pasukan itu, akan tetapi sekarang menghadapi segerombolan pemberontak saja tidak becus membasminya!"

Panglima Thung mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah sekali. Sambil berlutut dan memberi hormat dia berkata.

"Ampun, Sri Baginda. hamba sekalian, seluruh pasukan yang berjaga di selatan, sudah mengerahkan tenaga dan mengorbankan banyak nyawa ketika menghadapi serbuan pemberontak Tai Peng. Akan tetapi kekuatan mereka amat besar, dan yang lebih menyulitkan lagi, rakyat membantu mereka, juga para pendekar yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, kalau hamba mendapatkan bala bantuan dari kota raja, dengan pasukan-pasukan pilihan dan perwira-perwira yang berilmu tinggi, hamba akan mencoba untuk merebut kembali Wu-chang dan Nan-king."

Kaisar menoleh kepada Pangeran Kung.

"Bagaimana pendapatmu, pangeran?"

Hal ini memang sudah diperhitungkan oleh Pangeran Kung.

"Sri Baginda, agaknya tidak akan menguntungkan kalau kita mengerahkan seluruh tenaga untuk menggempur pemberontak Tai Peng di selatan, karena kita harus pula berjaga-jaga terhadap pemberontakan dari utara dan barat, juga terhadap gerakan orang-orang kulit putih. Kalau kita mengerahkan tenaga ke selatan, tentu kedudukan kotaraja menjadi lemah, memudahkan lawan untuk menyerbu. sebaiknya kini kalau pasukan di selatan dikerahkan untuk menjada tapal batas saja agar pemberontak tidak dapat maju dan sementara kita biarkan mereka menduduki kedua kota itu sampai kita merasa kuat untuk merebutnya kembali. Hamba akan memerintahkan agar dibentuk pasukan-pasukan baru untuk memperkuat pertahanan kita."

Kaisar mengerutkan alisnya dan menggerakkan kedua tangan dengan tidak sabar lagi. Kepalanya menjadi pening harus memikirkan urusan pemberontakan itu.

"Begitu juga baik, kau aturlah saja semua itu, pangeran, dan aku hanya menanti berita yang baik-baik saja darimu. Nah, kalian keluarlah dan laksanakan tugas sebaiknya."

Dua orang pembesar itu tidak berani membantah lagi, keduanya keluar dan baru setelah mereka tiba di luar, keduanya saling pandang dan menggeleng kepala.

Tanpa bicarapun kedua orang pembesar ini memiliki pendapat dan pandangan yang sama terhadap Kaisar yang sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap urusan pemerintah, melainkan menenggelamkan diri ke dalam kesenangan pribadi belaka.

Memang hebat sekali gerakan Tai Peng.

Dalam tahun 1853, setahun saja setelah Ong Siu Coan memperoleh Giok-Liong-Kiam, pasukannya yang amat kuat itu menyerbu ke utara dan dengan kekuatan penuh menduduki Wu-chang dan Nan-king dan menguasai seluruh daerah sepanjang lembah Yang-ce bagian timur sampai ke muaranya!

Akan tetapi, sudah menjadi ciri hampir seluruh pemimpin di dunia ini, bahkan menjadi ciri umum manusia, kemenangan selalu mendatangkan guncangan kepada batin, membuat pertimbangan menjadi miring dan orang yang merasa menjadi pemenang itu akan dihinggapi penyakit mabok atau gila kemenangan!

Lupa diri!

Mabok kemenangan ini menimbulkan bermacam-macam sikap dan perbuatan.

Ada yang lalu mengangkat diri setinggi-tingginya, ada yang memperkuat kedudukannya, ada pula yang berebutan kekuasaan seperti segerombolan serigala yang memperebutkan bangkai lembu yang mereka bunuh bersama, ada yang lalu berfoya-foya untuk berpesta pora atas kemenangannya, secara berlebihan dan tidak mengenal puas.

Ada yang melampiaskan dendamnya dan dengan kekuasaan yang ada pada dirinya, membalas dendam dengan cara yang luar biasa kejamnya.

Ong Siu Coan agaknya tidak terkecuali.

Bahkan sebagai seorang pemenang yang berhasil baik, dia bukan hanya mabok, melainkan sudah menjadi gila dalam arti yang sedalam-dalamnya!

Ong Siu Coan bahkan mengangkat diri sendiri menjadi Kaisar dari Kerajaan Sorga yang didirikannya, Bahkan dia mengaku secara resmi bahwa dia adalah putera Tuhan yang kedua, adik dari Yesus!

Betapapun juga, harus diakui bahwa gerakan Tai Peng (Perdamaian Besar) yang dipimpin oleh Ong Siu Coan itu memperoleh sukses yang gemilang.

Mula-mula, sepak terjang Tai Peng mendatangkan rasa suka dan memperoleh dukungan para pendekar karena gerakan itu membela kepentingan rakyat kecil.

mengusahakan penghapusan kemiskinan para petani, mengangkat derajat kaum wanita dan menghapuskan peraturan-peraturan dan tradisi-tradisi yang merendahkan martabat wanita.

Selain Tan Ci Kong yang menjadi orang kepercayaan dan pembantunya, juga banyak sekali orang-orang pandai dan pendekar-pendekar perkasa bergabung dengan Ong Siu Coan.

ketika dia mula-mula memberi nama Kerajaan Sorga Tai Peng kepada balatentaranya, Dia sudah dibantu oleh banyak orang pandai, di antara pemdekar-pendekar itu terdapat nama-nama besar yang tercatat dalam sejarah seperti Lin Feng Siang, Li Kai Fang, Si Ta Kai, Wei Chang Hui, Yang Siu Cing, dan terutama sekali Li Siu Ceng dan Tan Yu Ceng.

mereka ini tercatat di dalam sejarah sebagai tokoh-tokoh yang memperkuat pimpinan Tai Peng dan menjadi pembantu-pembantu utama dari Ong Siu Coan.

Ong Siu Coan berhasil menduduki Nan-king, lalu menyuruh dua orang pembantunya, yaitu Lin Feng Siang dan Li Kai Fang untuk memimpin pasukan menuju ke utara, mempersiapkan penyerbuan besar-besaran yang tujuannya adalah penyerbuan ke kotaraja Peking!

Akan tetapi, ada suatu hal yang membuat banyak pendekar merasa kecewa dengan gerakan Tai Peng.

meraka melihat betapa Ong Siu Coan membuat pengakuan-pengakuan aneh, Seperti "putera Tuhan"

Dan "adik Yesus"

Dan bahwa dia dapat membuat hubungan langsung dengan Tuhan, menerima petunjuk-petunjuk yang kesemuanya itu menuju ke arah ketidaknormalan.

Yang lebih daripada segalanya adalah melihat betapa Ong Siu Coan membiarkan anak buah pasukannya melakukan segala macam perbuatan kejam, bukan hanya membunuhi orang-orang yang dicurigai tanpa diperiksa, akan tetapi juga merampok dan memperkosa wanita!

Ong Siu Coan terlalu memanjakan anak buahnya, dan tentu saja di antara mereka terdapat banyak orang yang memang berwatak penjahat.

Karena perbuatan-perbuatan kejam seperti memperkosa wanita dan merampok itu tidak dijatuhi hukuman, tentu saja yang lain-lain juga terseret karena perbuatan-perbuatan jahat yang menguntungkan dan menyenangkan diri sendiri mudah sekali menular dan dicontoh orang lain.

Melihat kenyataan-kenyataan pahit ini, mulailah para pendekar mengundurkan diri setelah mereka itu dengan gagah perkasa membantu penyerbuan Wu-chang dan Nan-king sampai kedua kota itu berhasil diduduki.

Yang mengundurkan diri banyak sekali termasuk pula Tan Ci Kong.

Akan tetapi karena sudah merasa berhasil dan kekuasaannya mulai nampak sebagai hasil perjuangannya, Ong Siu Coan tidak perduli.

Masih banyak orang yang suka menjadi pembantunya, pikirnya, apalagi setelah kini dia mengangkat diri menjadi pemimpin besar, bahkan raja dari Kerajaan Sorga Tai Peng!

Kalau saja Ong Siu Coan tidak berwatak sombong dan tinggi hati, kalau saja kesempatan yang amat baik setelah balatentaranya memperoleh kemenangan itu dia pergunakan sebaiknya dengan memperkuat pasukan, Bersekutu dengan para pemberontak lain yang pada waktu itu juga bermunculan di utara dan barat, atau kalau saja dia mau bersekutu dan mempergunakan kekuatan orang-orang kulit putih yang agaknya akan suka membantunya mengingat bahwa dia mengaku sebagai penyiar Agama Kristen, agaknya sejarah akan membuat catatan lain dan mugkin sekali Tai Peng ini akan menguasai seluruh daratan dan berhasil pula menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu!

Akan tetapi Ong Siu Coan terlalu tinggi hati dan mabok kemenangan, merasa bahwa balatenataranya tidak ada yang akan dapat mengalahkannya karena dia memperoleh bimbingan dari Tuhan sendiri!

Kemenangan demi kemenangan yang dicapai oleh balatentara Tai Peng membuat Ong Siu Coan tinggi hati dan lengah sehingga hampir saja kelengahannya itu menewaskannya pada malam hari itu.

Malam itu gelap dan sunyi.

Karena merasa aman dan tidak mungkin ada orang yang berani mengganggunya, Ong Siu Coan dan isterinya tidur di dalam istana mereka tanpa pengawalan pribadi.

Mereka mengambil istana di Nan-king yang merupakan istana tua namun megah menjadi tempat tinggal mereka, hidup bagaikan seorang raja, megah dan mewah.

Karena tidak ada pasukan pengawal pribadi yang melakukan penjagaan, ketika suami isteri ini sudah tidur, tidak ada orang (Lanjut ke

Jilid 02) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 dalam istana itu yang melihat berkelebatnya bayangan orang bergerak cepat sekali melayang turun dari atas genteng istana setelah tadi dia berlompatan seperti seekor burung terbang atau kucing saja.

Para pelayan di istana itu terdiri dari orang-orang yang tidak berkepandaian silat, maka mereka tidak mendengar atau melihat sesuatu.

Bayangan itu menyelinap dan akhirnya mengintai dari jendela kamar di mana Ong Siu Coan tidur bersama Tang ki, isterinya.

Sebagai seorang yang berasal dari sebuah dusun di Hwa-sian, propinsi Kuang-tung, yang baru saja mengangkat diri menjadi Kaisar, Ong Siu Coan belum dapat hidup sebagai layaknya seorang raja atau seorang pembesar tinggi.

Dia masih belum mengerti dan masih hidup sebagai orang biasa, tidur sekamar dengan isterinya tanpa ada penjagaan ketat seperti yang biasa bagi seorang raja.

Juga dia tidak memiliki selir.

Hal ini bukan hanya karena dia mencinta isterinya, akan tetapi juga karena satu di antara peraturan agama barunya adalah melarang pria beristeri lebih dari seorang.

Maka, di luar tempat tidurnya itu tidak nampak adanya pengawal dan hal ini membuat bayangan yang mengintai di luar kamar, mengeluarkan suara ketawa lirih mengejek.

Bayangan yang dapat bergerak seperti setan itu bertubuh sedang dan tegap, pakaiannya indah seperti pakaian seorang pelajar, rambutnya mengkilap terpelihara rapi, akan tetapi mukanya tertutup saputangan Sutera hitam sehingga tidak dapat dikenal, hanya sepasang matanya saja yang nampak dari dua buah lubang pada saputangan itu, sepasang mata yang tajam dan kadang-kadang mencorong!

Pada tubuhnya tidak nampak adanya senjata.

Hal ini saja menunjukkan bahwa dia bukan seorang pencuri biasa, melainkan seorang yang sudah terlalu percaya kepada diri sendiri, tidak membutuhkan senjata lagi karena kaki dan tangannya sudah merupakan senjata yang tidak kalah ampuhnya dengan senjata dari baja.

Atau juga menjadi petunjuk bahwa dia adalah seorang yang sombong dan menganggap kepandaian sendiri terlampau tinggi sehingga memandang rendah orang lain.

Ketika sepasang mata yang mencorong itu mengamati keadaan di dalam kamar yang remang-remang karena hanya diterangi lampu minyak yang dikerudungi kain hijau dan melihat benda yang dicarinya, sepasang mata itu mengeluarkan sinar berkilat.

Benda itu adalah Giok-Liong-Kiam yang diletakkan berdiri di atas sebuah meja, bersandar pada dinding yang dihias indah dan di atas dinding terdapat gambar Yesus.

Ada dua buah lilin kecil bernyala di kedua ujung meja yang diberi tilam Sutera putih yang dipinggirnya berenda.

Giok-Liong-Kiam seolah-olah menjadi sebah benda keramat, benda pujaan di bawah gambar Yesus!

Dan memang Ong Siu Coan selalu menonjolkan Pedang Naga Kemala itu sebagai benda keramat, Sebagai pusaka dan lambang kejayaan Tai Peng.

Senyum simpul agaknya menghias pada mulut yang tertutup saputangan itu karena matanya juga membayangkan kegembiraan ketika dia melihat pedang itu.

Setelah meneliti beberapa saat lamanya dan merasa yakin bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang, dan dari suara pernapasan di dalam kamar itu dia dapat mengetahui bahwa orang-orang yang tidur di balik kelambu itu tentu sudah pulas, orang itu lalu menggunakan kedua tangannya untuk membuka daun jendela.

Daun jendela itu terkunci dari dalam dan terbuat dari papan kayu yang tebal dan terukir indah, karena daun jendela itu dipasang di kamar induk dari istana itu.

Tidak akan mudah orang membongkarnya dari luar, karena engsel dan kunci jendela terbuat dari besi, buatannya kokoh bukan main.

Akan tetapi, dengan jari-jari tangannya yang amat kuat, orang itu dapat membuka daun jendela tanpa mengeluarkan banyak suara!

Hal ini membuktikan bahwa orang berkedok ini memang benar lihai sekali.

Setelah daun jendela terbuka, dia meloncat ke dalam kamar melalui lubang jendela, gerakannya tiada bedanya dengan gerakan seekor kucing meloncat, ketika kedua kakinya turun ke lantai kamar, sama sekali tidak terdengar suara berisik.

Harus diingat bahwa dua orang yang tidur di balik kelambu tempat tidur itu adalah Ong Siu Coan dan Tang Ki, dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, yang telah melatih diri sedemikian rupa sehingga panca indera mereka demikian pekanya dan biarpun tertidur nyenyak, kalau ada suara sedikit saja yang mencurigakan sudah cukup untuk menggugah mereka!

Akan tetapi sekali ini, mereka tidak mendengar sesuatu dan tetap tidur nyenyak, seperti dapat diketahui oleh orang itu dengan mendengarkan pernapasan mereka yang panjang dn halus tak terkendali.

Hal ini kembali membuktikan kelihaian orang itu.

Sesaat lamanya dia berdiri saja memandang ke arah kelambu, sambil mendengarkan pernapasan dan melihat kalau-kalau kelambu itu bergoyang.

Akan tetapi semuanya tetap hening dan dia menganggu-angguk girang, melihat ke arah dua pasang sepatu di bawah pembaringan, sepasang sepatu pria dan sepasang sepatu wanita.

Kemudian dia menoleh ke arah meja di mana terdapat Giok-Liong-Kiam yang berada dalam sarungnya.

Dia melangkah maju, langkahnya juga lembut tanpa suara, dan dilain saat dia telah mengambil pedang pusaka itu, Mencabutnya dari dalam sarung dan matanya kembali mencorong dan berkilauan ketika dia melihat bahwa benda itu benar Giok-Liong-Kiam yang dicarinya.

Tak disangkanya bahwa benda itu akan dapat dia temukan sedemikian mudahnya!

Dia lalu menyelipkan pedang itu ke balik jubahnya, di ikat pinggangnya, dan kakinya melangkah mendekati jendela.

Akan tetapi, dia berhenti dan menoleh ke arah ranjang, lalu kakinya bergerak menghampiri.

Agaknya timbul suatu keinginan yang membuatnya menghampiri ranjang, menggunakan tangan kiri menyingkap kelambu dan dia menjenguk ke dalam.

Ong Siu Coan tidur miring membelakangi isterinya yang tidur terlentang.

Keduanya tidur pulas.

Orang itu berdiri memandangi wajah dan tubuh Tang Ki yang tertutup pakaian tidur yang tipis, dan sejenak sepasang mata itu mengeluarkan sinar lembut.

Tangan kirinya masih menyingkap kelambu dan kini tangan kanannya bergerak ke depan, dengan lembut meraba dan mengusap kaki Tang Ki di bagian paha.

Rabaan halus ini cukup bagi Tang Ki untuk merasakan sesuatu yang tidak wajar dalam tidurnya.

Ia membuka mata dan seketika ia mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya sudah meloncat dan menerjang ke arah orang berkedok itu!

Tang Ki adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi sekali, mungkin tidak kalah lihai dibandingkan suaminya.

Ia adalah puteri tunggal Hai-Tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, dan selain telah mewarisi ilmu-ilmu silat yang hebat dari Ayahnya, juga ia telah mewarisi ilmu meringankan tubuh yang istimewa ciptaan Tat Mo Couwsu yang ditemukan di dalam sebuah kitab yang bernama Hui-thian-yan-cu (Burung Walet terbang ke Angkasa)!

Maka, terjangannya tadi, biarpun dilakukan dalam keadaan baru saja terbangun dari tidur nyenyak, dan dari keadaan rebah terlentang, berlangsung cepat bukan main dan tahu-tahu tubuhnya sudah melesat naik, ke depan dan kedua tangannya telah melancarkan pukulan maut ke arah kepala dan dada orang berkedok!

Orang itu sudah cepat meloncat ke belakang dia menghadapi terjangan Tang Ki dengan tenang saja!

Padahal ketika tubuhnya melayang dan memukul, Tang Ki telah menggunakan Ilmu Pukulan Thai-lek Kim-kong-jiu, ilmu pukulan warisan dari Ayahnya yang mengandung tenaga bagaikan geledek menyambar.

Akan tetapi orang itu menyambutnya dengan gerakan yang sama sehingga kedua tangannya bertemu dengan kedua tangan Tang Ki, saling bentur di udara dengan tenaga yang sama-sama kuat.

"Dessss...!"

Akibat benturan tenaga dahsyat itu, tubuh Tang Ki terlempar kembali ke atas pembaringan, sedangkan orang berkedok itu mengeluarkan suara mengejek menyerupai tawa tertahan.

Sementara itu, Siu Coan sudah terbangun oleh suara dan gerakan isterinya dan terkejutlah dia melihat seorang berkedok menyambut pukulan isterinya yang ampuh dan membuat isterinya terjengkang dan terbanting ke atas pembaringan.

"Maling hina yang sudah bosan hidup!"

Bentaknya dan diapun sudah meloncat turun dari atas pembaringan dan langsung menyerang orang berkedok itu.

Karena dia dapat menduga bahwa orang itu tentu lihai, maka begitu menyerang dia sudah menggunakan jurus dari ilmu silat yang paling diandalkan di antara ilmu-ilmu silat lain, yaitu Ngo-heng Kuan-hoan-kun yang dipelajari dari gurunya, yaitu Thian-tok (Racun Langit).

Akan tetapi, dari balik kedok kain Sutera itu terdengar suara tawa mengejek dan orang itu menyambut serangannya dengan ilmu silat yang sama.

Bahkan orang itu membalas serangan Siu Coan dengan jurus-jurus Ngo-heng Lian-hoan-kun pula!

Demikian hebat serangan orang itu membuat Siu Coan terpaksa cepat meloncat ke belakang dengan kaget bukan main.

Karena kakinya tidak bersepatu, maka gerakannya menjadi terganggu.

Kaki yang tidak biasa telanjang itu agak kaku ketika dipakai bersilat.

"Siapa kau...!"

Dia membentak karena heran melihat betapa orang itu dapat bersilat dengan Ilmu Ngo-heng Lian-hoan-kun!

Dialah satu-satunya murid Thian-tok sekarang.

Kedua orang saudara seperguruannya, yaitu Koan Jit dan Gan Seng Bu sudah tewas.

Rasanya tidak mungkin gurunya telah diam-diam mengambil murid lain sebelum gurunya itu mengambil dia sebagai murid.

Akan tetapi orang berkedok itu hanya menjawab dengan suara ketawa bergelak kemudian sekali melompat, dia sudah menerobos keluar jendela dan melarikan diri.

"Tangkap penjahat!!"

Siu Coan berteriak, juga Tang Ki yang tadi terkejut oleh kekuatan orang itu, berteriak-teriak.

Keduanya tidak dapat langsung melakukan pengejaran karena harus mengenakan sepatu yang sebelum tidur mereka lepas, dan membereskan pakaian.

Para pelayan datang berlarian dan di antara mereka ada yang melihat berkelebatnya orang berkedok itu.

mereka menjerit-jerit dan datanglah perajurit pengawal yang berjaga di luar.

Akan tetapi ketika Siu Coan dan Tang Ki keluar, penjahat itu sudah tidak nampak lagi bayangannya.

Barulah Ong Siu Coan sadar bahwa dia lengah dan malam itu juga dia memerintahkan agar istananya dijaga ketat, baik di sebelah luar maupun di sebelah dalam.

Kemudian dia kembali ke dalam kamar bersama isterinya.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hatinya ketika dia mendapat kenyataan bahwa Giok-Liong-Kiam telah lenyap dari atas meja!

Baru dia mengerti apa yang dikehendaki penjahat tadi memasuki kamarnya.

Mencuri Giok-Liong-Kiam!

Betapa beraninya!

Masuk ke dalam kamarnya mencuri Giok-Liong-Kiam!

Dan berhasil pula.

Ong Siu Coan mengepal tinju, marah sekali.

Akan tetapi diapun maklum bahwa peristiwa ini tidak boleh tersiar karena tentu akan mengurangi semangat para pembantunya.

Maka, diam-diam dia lalu menyuruh buat sebatang Giok-Liong-Kiam palsu, hanya meniru gagang dan sarungnya saja dan menaruh Giok-Liong-Kiam itu di atas meja untuk menggantikan yang hilang.

"Aku tahu siapa maling itu!"

Kata Tang Ki ketika mereka berdua membicarakannya. Suaminya memandang tajam.

"Engkau tahu? Siapa jahanam itu?"

"Menurut dugaanku, dia tentulah Lee Song Kim, bekas Suhengku itu!"

Memang Ayahnya, Hai-Tok Tang Kok Bu, mempunyai seorang murid yang amat disayangnya, yang bernama Lee Song Kim, seorang yang memiliki kepandaian dan kecerdikan luar biasa.

Bahkan karena Lee Song Kim maka Tang Ki sampai jauh dari Ayahnya.

Ayahnya menghendaki agar dia menikah dengan Song Kim, akan tetapi Tang Ki mencinta Ong Siu Coan dan tidak suka, bahkan benci kepada Song Kim.

Hal ini membuat Ayahnya marah dan Ayahnya agaknya lebih suka kepada murid itu daripada kepada puterinya.

"Lee Song Kim?"

Siu Coan mengerutkan alisnya.

"Bagaimana engkau dapat menyangka demikian?"

"Ketika aku menyerangnya, dia menangkis dengan gerakan dari jurus Ilmu Silat Thai-kek Kim-kong-jiu, dan siapa lagi kalau bukan dia yang pandai melakukan ilmu pukulan itu?"

"Ah, engkau juga?"

Siu Coan berseru kaget.

"Akan tetapi ketika dia menghadapi seranganku, dia juga mempergunakan jurus dari ilmu silatku, yaitu Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hoan-kun! Tak mungkin kalau Lee Song Kim dapat memainkan silat perguruanku itu. Yang dapat melakukannya selain Suhu dan aku, juga Gan Seng Bu dan Koan Jit. Akan tetapi, Gan Seng Bu telah mati dan Suheng Koan Jit... ahhh..."

Tiba-tiba Siu Coan terbelalak, memandang isterinya seperti orang terkejut dan teringat akan sesuatu.

"Ada apakah?"

Tanya Tang Ki, hatinya merasa tidak enak.

"Suheng Koan Jit... jangan-jangan dia orangnya...

"Koan Jit?"

Tang Ki bertanya, matanya terbelalak dan wajahnya berobah.

"Akan tetapi, bukankah dia telah tewas tertimpa batu-batu ketika ledakan itu membuat terowongan runtuh dan menimpa dirinya "

Ia membayangkan peristiwa yang mengerikan itu.

Ketika itu, para pendekar muda, pejuang-pejuang yang menentang pemerintah Mancu, berusaha membebaskan para pimpinan pejuang dan tokoh-tokoh tua yang ditawan karena terjebak oleh tipu muslihat yang diatur Lee Song Kim.

Di dalam usaha mereka itu, mereka tidak berhasil, bahkan mereka sendiri terjebak dan terancam untuk tertawan, mati atau hidup, dan sudah tidak ada jalan keluar lagi ketika mereka terjebak dalam terowongan di bawah tanah yang menghubungkannya dengan tempat para pimpinan yang ditawan.

Dalam keadaan tersudut dan tertodong senapan-senapan para perajurit kulit putih yang bersekongkol dengan pasukan pemerintah Mancu, tiba-tiba muncul Koan Jit yang dengan gagah perkasa menolong mereka dengan jalan menghadapi para perajurit dengan alat-alat peledak di tangan!

Dan Koan Jit meledakkan terowongan itu, membuat terowongan tertutup dan para serdadu tidak dapat mengejar mereka yang berhasil menyelamatkan diri, lolos bersama para pimpinan pejuang, akan tetapi Koan Jit sendiri tertimbun batu-batu terowongan yang runtuh menimpa dirinya.

Benarkah Koan Jit teruruk batu-batu itu?

Mereka tidak dapat melihatnya karena ketika ledakan-ledakan terjadi, debu dan asap menggelapkan tempat itu.

Akan tetapi yang ditemukan hanyalah sebuah sepatu Koan Jit dan agaknya tubuh Koan Jit sudah hancur lebur atau mungkin juga tertimbun runtuhan batu-batu itu.

Bagaimana mungkin sekarang Koan Jit dapat hidup kembali dan mencuri Giok-Liong-Kiam?

"Akan tetapi, andaikata benar dia Koan Jit, berapapun lihainya, bagaimana dia mampu menangkisku dengan Thai-lek Kim-kong-jiu?"

Tang Ki membantah.

"Itulah yang membingungkan dan meragukan..."

Siu Coan menggeleng kepalanya dengan heran.

"Bagaimanapun juga,kita harus mencari pusaka itu dan merampasnya kembali,"

Kata Tang Ki.

"Tidak mungkin... kita berdua mana bisa pergi begitu saja seperti yang sudah-sudah? Aku adalah seorang raja dan engkau permaisuriku, tak mungkin pergi merantau untuk mencari pencuri pedang pusaka."

"Kita mempunyai banyak pembantu yang pandai, kita dapat mengerahkan anak buah, mengerahkan pasukan istimewa untuk mencarinya sampai dapat."

Ong Siu Coan menggeleng kepala.

"Kita harus bertindak cerdik. Kita tidak membutuhkan Giok-Liong-Kiam, yang kita perlukan hanyalah namanya saja. dan sekarang Giok-Liong-Kiam bahkan tidak kita perlukan lagi. Bukankah pusaka itu telah berhasil menarik perhatian dan mengundang orang-orang gagah yang telah membantu gerakan kita sehingga berhasil? Kini kita tidak memerlukannya lagi. Biarlah saja ia dibawa pergi orang lain."

"Tapi... kita meminjamnya dari Ci Kong! Bagaimana kalau dia memintanya kembali?"

"Kalau dia datang memintanya kembali, barulah kepadanya kita berterus terang bahwa pusaka itu dicuri orang. Akan tetapi kita mendapatkan banyak pusaka rampasan dan kita boleh menggantinya dengan pusaka lain atau mengganti kerugian dengan benda berharga lainnya. Biarlah dia yang akan berusaha mencari kembali pusaka itu. Kita tidak membutuhkan Giok-Liong-Kiam lagi."

Demikian Ong Siu Coan menyuruh isterinya menyimpan peristiwa pencurian Giok-Liong-Kiam itu sebagai suatu rahasia.

Dia tidak ingin semua orang tahu bahwa Giok-Liong-Kiam yang dipandang sebagai lambang kejayaan Tai Peng itu dicuri orang!

Biarlah semua orang mengira bahwa Giok-Liong-Kiam masih berada dengan aman di dalam istananya.

Memang Ong Siu Coan ini amat cerdik dan selalu bertindak dengan penuh perhitungan demi keuntungan sendiri.

Gadis itu memang cantik sekali, cantik dan manis, dengan bentuk muka bulat telur, dagu meruncing, sepasang alis yang hitam tebal panjang seperti juga rambutnya, sepasang mata yang tajam dan bening, hidung kecil mancung dan mulut yang amat manis dengan bibir yang selalu merah basah dan menantang.

Akan tetapi, kadang-kadang nampak sifat dingin dan kejam pada mulut itu.

Untuk melengkapi keindahan tubuh gadis itu, bentuk tubuhnya juga amat menarik, dengan pinggang yang kecil ramping, tinggi semampai dan lekuk lengkung tubuh yang menggairahkan.

Gadis berusia tujuh belas tahun ini memang amat cantik manis, bagaikan setangkai bunga yang mulai mekar.

pembawaannya lincah jenaka dan segala yang nampak di sekitarnya menjadi cerah menggembirakan.

Dari bentuk pakaiannya mudah diketahui bahwa ia adalah seorang gadis berbangsa Mancu yang pada saat itu menjadi dayang istana Terang Sempurna di taman Yuan-beng-yuan, Dan sebagai seorang di antara para dayang yang berada di situ, ia ditugaskan untuk menjaga dan mengurus sebuah pondok kecil di sudut taman.

Gadis itu bernama Yehonala, sebuah nama Mancu yang berarti Anggrek Kecil.

Ia adalah seorang di antara enam puluh empat orang perawan Mancu yang didatangkan oleh permaisuri Kaisar untuk menggantikan selir-selir berbangsa Han karena permaisuri khawatir bahwa kelak suaminya akan mempunyai keturunan putera dari bangsa Han.

Akan tetapi biarpun Yehonala amat menonjol dalam kecantikan dan sikapnya di antara semua perawan yang dibawa ke istana, ketika Kaisar memeriksa gadis-gadis itu, datang berita yang amat tidak menyenangkan mengenai didudukinya Wu-cang dan Nan-king oleh pasukan pemberontak Tai Peng.

Maka perhatian Kaisar yang terpecah dan terganggu membuat Kaisar Sian feng tidak melihat Yehonala.

Yehonala adalah puteri sulung seorang pejabat menengah berbangsa Mancu.

Gadis ini sudah banyak mengunjungi banyak tempat, mengikuti Ayahnya ketika Ayahnya bertugas dan dipindah-pindahkan ke banyak kota.

Hal ini membuat Yehonala lebih berpengalaman daripada gadis-gadis Mancu yang lain, dan ia memiliki banyak kelebihan.

Bukan hanya kecantikan wajah dan kepadatan tubuhnya, juga ia pandai merias diri dan pandai pula menyanyi dengan suara merdu.

Ia banyak mengenal lagu-lagu rakyat berbagai daerah dan pandai menyanyikannya dengan suara yang merdu.

Selain itu, juga Yehonala berakal, cerdik dan pandangan luas dan jauh.

Mula-mula ia memang merasa kecewa karena agaknya Kaisar mengacuhkannya dan tidak memilihnya menjadi selir, Bahkan semenjak ia berada di taman itu, belum pernah satu kalipun Kaisar menaruh perhatian terhadap dirinya.

Akan tetapi, ia menekan kekecewaannya dan kecerdikannya membuat ia berusaha sedapatnya untuk menarik perhatian Kaisar.

Mula-mula, selama berbulan-bulan ia mengecat, menghias dan memperbaiki pondok kecil yang dijaganya.

Ia melukis banyak bunga anggrek, bunga kesayangannya yang menjadi namanya, dan menggantungkan lukisan-lukisan itu di dalam pondoknya.

Juga dengan uang saku yang ditabungnya, ia mulai menyuap thaikam (orang kebiri) yang bertugas menjaga taman dan istana Yuan-beng-yuan sehingga bersahabat baik dengan mereka.

Dua tahun lamanya Yehonala bersabar dan berusaha.

Sementara itu ia telah menjadi seorang gadis yang masak dan semakin cantik saja.

Hubungannya dengan para thaikam sudah semakin erat dan para thaikam itu suka membantunya, mencari kesempatan agar Kaisar dapat melihatnya.

Kesempatan itu tiba pada suatu sore hari yang hawanya panas.

Pada waktu itu, Kaisar Sian Feng duduk di dalam tandu yang dipikul oleh delapan orang thaikam.

Kaisar sedang dalam perjalanan mengunjungi seorang selir bangsa Han yang menjadi kesayangannya.

Para thaikam yang sudah mengadakan kontak dengan Yehonala, sengaja memikul tandu itu dengan berputar, lewat di bawah pohon-pohon wu-tung yang teduh dan melalui pondok yang didiami Yehonala.

Pada saat itu, sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh Yehonala, Kaisar yang duduk melenggut oleh kantuk karena panasnya hawa, mendengar suara nyanyian merdu.

Tentu saja dia tertarik sekali dan menyingkap tirai tandu di depannya.

"Berhenti...!"

Kata Kaisar, tertarik sekali karena begitu dia menyingkap tirai, dia melihat sebuah pondok yang dihias amat indah, dicat baru dan di depan pondok penuh dengan tanaman bunga beraneka warna.

Sungguh merupakan sebuah pondok yang terbagus di antara pondok yang berada di taman itu.

"Ah, sungguh mungil sekali pondok ini,"

Kata Kaisar dan dibantu oleh para thaikam, diapun turun dari atas tandu, lalu menghampiri pondok dan karena daun pintu pondok terbuka, Kaisar lalu masuk ke dalam.

Setibanya di dalam pondok, kembali dia tertegun.

Di dalam pondok tergantung lukisan-lukisan bunga anggrek beraneka bentuk dan warna, indah sekali dan perabot pondok itupun dicat dan diatur penuh dengan kerapian yang nyeni.

Kaisar masih mendengar suara wanita bernyanyi, maka diapun menjenguk jendela belakang dan ia semakin terpesona.

seorang gadis Mancu dengan baju Mancu Sutera merah muda sedang duduk di dekat kolam ikan kecil di belakang pondok.

Gadis itu sedang mengipasi tubuh yang kegerahan dengan kipas sambil menyanyikan sebuah lagu rakyat daerah Soo-chouw.

Suaranya merdu sekali dan nyanyian itu adalah nyanyian rakyat tentang seorang gadis yang sedang menanti datangnya sang kekasih.

Romantis sekali sehingga Kaisar merasa terharu, hanyut oleh nyanyian itu dan terpesona oleh kecantikan gadis itu.

Heran dia mengapa selama ini dia tidak pernah melihat dayang yang manis dan mempesona ini?

Setelah Yehonala berhenti bernyanyi, Kaisar Sian Feng lalu menghampiri gadis itu dari belakang.

Tentu saja Yehonala sudah tahu akan kehadiran Kaisar, akan tetapi dengan cerdik ia berpura-pura terkejut, membalikkan tubuh dengan sikap semenarik mungkin.

Ia nampak terkejut ketika melihat bahwa yang memujinya itu adalah Kaisar sendiri.

cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Kaisar.

"Mohon Paduka sudi mengampuni hamba, karena tidak tahu akan kunjungan yang mulia Sri Baginda, maka hamba tidak menyambut dengan selayaknya."

Suaranya penuh dengan kemerduan, dengan kata-kata yang teratur dan sopan sehingga Kaisar menjadi girang bukan main.

Tak disangkanya di tempat yang indah itu dia akan bertemu dengan seorang gadis secantik dan sepintar ini.

Dia tertawa bergelak.

"Nona manis, angkat mukamu dan biarkan aku melihatnya,"

Katanya sambil tertawa.

Yehonala tersipu malu sehinga wajahnya yang putih bersih, mulus dan cantik itu menjadi kemerahan, menambah kemanisan wajahnya.

Dengan malu-malu, senyum dikulum ia mengangkat mukanya menengadah sambil berlutut dan Kaisar Sian Feng menjadi girang bukan main.

Kini dia dapat melihat wajah itu dengan jelas dan memang sebuah wajah yang amat menggairahkan hatinya.

Dia lalu menglur tangannya, membelai pipi dan leher yang berkulit halus dan hangat itu.

"Siapakah namamu?"

Dengan sikap tersipu malu sehingga daya tariknya menjadi kuat, gadis itu menjawab lirih.

"Nama hamba Yehonala... sudah dua tahun hamba mengabdi di.."

"Dua tahun?"

Kaisar Sian Feng terkejut dan memaki kebodohannya sendiri.

Selama dua tahun dia membiarkan setangkai bunga yang demikian indahnya tanpa pernah menyentuhnya, apalagi memetiknya, melihatpun belum pernah.

"Yehonala, nama indah, seindah lukisan-likisanmu. Yehonala, hari amat panas dan aku merasa gerah sekali. Aku ingin mandi di dalam pondokmu..."

Tentu saja Yehonala menjadi girang bukan main.

Tidak sia-sia semua kesabaran selama ini, tidak sia-sia semua rencana yang telah dilakukannya.

dengan girang ia lalu mempersilahkan Kaisar memasuki pondok, ia lalu mempersiapkan air harum untuk mandi junjungannya itu dan dengan sikap malu-malu seperti layaknya seorang anak perawan yang belum pernah berdekatan dengan pria, ia membantu Kaisar mandi di sore hari yang panas itu.

Setelah merasa puas mandi, juga puas membelai dan menciumi dara itu, Kaisar mengenakan pakaiannya dan berbisik.

"Yehonala, bersiaplah engkau untuk melayani dan menemaniku malam nanti."

Yehonala berlutut dan menyatakan kesanggupannya dengan sikap malu-malu, namun di dalam hatinya ia bersorak penuh kemenangan.

Ia harus dapat menundukkan hati junjungannya ini, ia harus berhasil memenuhi cita-citanya, yaitu menjadi selir terkasih Kaisar, Kalau mungkin menjadi Ibu dari putera Kaisar agar kelak ia dapat menjadi Ibu suri!

Cita-citanya amat besar, dikandung semenjak ia dipilih untuk dibawa ke istana Kaisar.

Karena pertemuannya dengan Yehonala, Kaisar tidak jadi mengunjungi selirnya dan langsung pulang ke istana.

Dia telah menemukan seorang gadis baru yang amat mempesona dan dia harus mempersiapkan diri untuk bersenang-senang malam nanti dengan gadis itu.

Diminumnya darah segar menjangan yang dicampur dengan tanduk menjangan dan ramuan lain untuk memperkuat tubuhnya.

Sementara itu, setelah Kaisar meninggalkannya, Yehonala bersenandung dengan gembira, lalu ia pun mempersiapkan diri, mandi dengan air bunga yang harum, kemudian menggosok-gosokkan ramuan yang dapat membuat kulit tubuhnya menjadi halus lunak, bersih dan segar.

Ia sudah bersiap siaga ketika pada malam harinya muncul dua orang thaikam yang diutus Kaisar untuk menjemputnya.

Pada jaman itu, terdapat peraturan istana yang luar biasa.

Setiap orang selir atau wanita yang dipilih Kaisar untuk melayaninya, selalu akan dijemput oleh dua orang thaikam dan dibawa kepada Kaisar dalam keadaan telanjang dan digulung selimut, kemudian dipanggul ke kamar Kaisar.

Hal ini terutama sekali untuk menjamin keamanan Kaisar karena di jaman dahulu pernah terjadi Kaisar dibunuh oleh seorang wanita yang dipaksa menjadi selirnya.

Peraturan ini berlaku bagi semua selir atau dayang yang dipanggil Kaisar, kecuali, tentu saja, Permaisuri yang sudah mendapatkan kepercayaan sepenuhnya dari Kaisar, yang mempunyai kedudukan tinggi sehingga tidak sepatutnya mengalami perlakuan yang merendahkan itu.

Yehonala juga diharuskan bertelanjang lalu digulung dalam selimut dan dipanggul oleh dua thaikam, dibawa ke kamar Kaisar dalam istana.

Dan pada malam hari itu, Yehonala melayani Kaisar Sian Feng.

Gadis ini memang cerdik bukan main.

Walaupun ia seorang perawan yang selama hidupnya belum pernah berdekatan dengan pria, namun ambisinya yang besar mendatangkan kecerdikan dan ia mampu membuat Kaisar merasa terbuai dalam kenikmatan yang belum pernah dialaminya sebelum ini.

Dia sudah mulai merasa bosan dengan wanita-wanita Han yang menjadi selirnya karena wanita Han selalu bersikap lembut, malu-malu dan pasrah sebagaimana layaknya seorang wanita yang ingin disebut sopan.

Akan tetapi Yehonala tidak demikan.

Dalam usahanya untuk menyenangkan dan memuaskan hati junjungannya, ia mau dan sanggup melakukan apapun juga!

Ia bagaikan seekor kuda yang binal dan liar, dan hal ini merupakan pengalaman baru bagi Kaisar.

Apalagi, hal yang amat diharapkannya terjadilah.

Ia mulai mengandung dan yang lebih penting daripada segalanya, setelah kandungannya terlahir, ternyata seorang bayi laki-laki!

Seorang putera Kaisar, calon putera mahkota!

Tentu saja hal ini bukan hanya amat menggirangkan hati Yehonala, bahkan juga amat membesarkan hati Kaisar dan para keluarganya.

Kelahiran putera ini sekaligus mengangkat derajat Yehonala yang tadinya hanya seorang dayang dan kemudian menjadi selir, kini otomatis menjadi seorang permaisuri kedua, dengan kekuasaan yang di bawah Sang Permaisuri sendiri.

Agaknya sudah menjadi hal yang sukar untuk dibantah lagi bahwa di dalam cinta asmara antara pria dan wanita, terdapat perbedaan yang amat besar.

Walaupun tidak berani pengarang mengatakan bahwa kenyataan ini berlaku bagi semua orang, namun kebanyakan terbukti bahwa cinta seorang pria terhadap seorang wanita banyak sekali dipengaruhi oleh nafsu berahi, Sedangkan cinta seorang wanita terhadap pria banyak sekali dipengaruhi oleh kemuliaan harta benda.

Karena cinta yang dipengaruhi oleh keinginan untuk bersenang ini, baik bagi pria melalui kepuasan berahi, dan wanita melalui kepuasan harta benda, namun jelaslah bahwa cinta kasih seperti ini hanya akan menimbulkan bermacam masalah dan pertentangan saja.

Kepuasan nafsu berahi dan kepuasan harta benda erat hubungannya dengan kebosanan dan kekecewaan, dan kalau sudah demikian maka selalu akan terjadi pertentangan di mana cinta kasih dapat berbalik sama sekali menjadi kebencian!

Adakah cinta kasih antara pria dan wanita yang tanpa pamrih sehingga benar-benar merupakan cinta kasih yang murni tanpa dikotori keinginan pribadi untuk bersenang-senang?

Kalaupun ada, jarang sekali kita melihatnya dan hal ini sungguh patut disayangkan.

Kaisar Sian Feng terlalu sibuk dengan pengejaran kesenangan, terutama sekali kesenangan melalui pengumbaran nafsu berahi sehingga dia hampir tidak perduli sama sekali tentang pemerintahannya.

Padahal, di waktu itu, pemberontakan terjadi di mana-mana.

Bukan hanya pemberontakan-pemberontakan Tai Peng yang kini sudah menduduki Wu-cang, Nan-king dan lembah Sungai Yang-ce sampai ke muaranya, juga terdapat pemberontakan-pemberontakan lain yang cukup besar di sebelah utara dan barat.

Pada waktu pasukan-pasukan pemberontak Tai Peng menyerbu dan menduduki Nan-king, yaitu pada tahun 1853, di utara terjadi pemberontakan Nian-fei, sedangkan di Kwei-cow barat terjadi pemberontakan Suku Bangsa Miau.

Jelas nampak betapa kebesaran dan kejayaan Kerajaan Ceng-tiauw yang dikendalikan oleh Bangsa Mancu itu mulai menyuram, Dan kelemahan dinasti itu bersumber kepada lemahnya orang yang menjadi Kaisar pada waktu itu.

Desakan para pemberontak yang seolah-olah mengepung Peking, ditambah lagi dengan makin besarnya kekuasaan ang ditanam oleh orang kulit putih, benar-benar membuat Kerajaan Ceng terancam keruntuhan, hal yang diacuhkan saja agaknya oleh Kaisar Sian Feng.

Dan pada jaman itu, para pembesar negeri berlomba untuk membesarkan perut, masing-masing dengan jalan korupsi, suap menyuap, dan hanya mementingkan diri sendiri dan kesenangan pribadi belaka, tentu saja mencontoh langkah yang diambil oleh Kaisar mereka.

Bagaikan sebatang pohon, betapapun kokoh kuat dan besarnya pohon itu, kalau sudah dihinggapi penyakit sejak dari akarnya sampai ke ujung-ujung daunnya, maka tak lama kemudian pohon itu tentu akan menjadi rusak dan roboh juga.

Di lereng Pegunungan Luliang-san, di lembah Sungai Fen-ho yang sunyi, terdapat sebuah perkampungan yang tentu akan menarik perhatian orang yang kebetulan lewat di situ.

Sejak dari pintu gerbang tembok pagar yang mengelilingi perkampungan itum sampai kepada bangunan rumah-rumah di dalamnya, nampak kemewahan yang tidak sesuai dengan kedaan di tempat sunyi terpencil itu.

Pantas perkampungan itu berada di kota, dimiliki oleh orang-orang atau keluarga yang kaya raya.

Sebuah bangunan besar seperti istana berada di tengah perkampungan, dikelilingi bangunan-bangunan yang lebih kecil dan di belakang bangunan besar itu terdapat sebuah taman yang luas dan indah.

Di tengah taman terdapat sebuah panggung beratap kayu yang besar dan luas, tanpa dinding.

Bagi penduduk dusun-dusun di sekitar Pegunungan Luliang-san, Pemilik atau majikan perkampungan itu mereka kenal sebagai Lee-Kongcu atau mereka cukup menyebutnya Kongcu (Tuan Muda) saja, karena di seluruh pedusunan tidak ada orang lain yang disebut Kongcu.

Orang yang menjadi majikan pekampungan itu adalah seorang laki-laki yang usianya sudah tiga puluh enam tahun lebih, dan orang-orang menyebutnya Kongcu hanya karena mereka tahu bahwa dia itu masih perjaka, dalam arti kata masih belum menikah.

Namanya adalah Lee Song Kim!

Orang ini memang memiliki banyak keunggulan.

selain terkenal sebagai majikan kampung yang kaya raya, juga Lee Song Kim terkenal sebagai seorang ahli silat yang berilmu tinggi sehingga seluruh penghuni dusun-dusun di daerah pegunungan itu merasa takut kepadanya, juga segan dan hormat karena Lee Song Kim seringkali mengulurkan tangan membantu kepada para petani miskin.

Wajahnya tampan pesolek dengan pakaian yang selalu indah dan mewah seperti seorang pelajar yang kaya raya.

Sikapnya selalu periang dan senyum simpul yang selalu menghias bibirnya itu mengandung ejekan dan pandangan meremehkan kepada semua orang.

Tidak mengherankan kalau Lee Song Kim tinggi hati dan meremehkan orang lain karena memang dia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Lee Song Kim adalah murid terkasih dari mendiang Hai-Tok Tang Kok Bu, seorang di antara Empat Racun Dunia, Ayah kandung dari Tang Ki yang kini menjadi "permaisuri"

Dari raja kecil Ong Siu Coan pemimpin pemberontak Tai Peng.

Dari Suhunya, Lee Song Kim telah mewarisi seluruh ilmunya dan hal ini masih belum memuaskan hatinya.

Sebagai seorang murid, juga anak angkat, juga kekasih yang amat dimanja oleh Hai-Tok, Lee Song Kim minta kepada gurunya itu untuk merampaskan dan mencurikan kitab-kitab pelajaran ilmu silat tinggi dari aliran-aliran dan perkumpulan-perkumpulan besar, Sehingga ketika gurunya itu berusaha mencuri kitab di kuil Siauw-Lim-Pai, gurunya dikeroyok oleh pendeta-pendeta lihai dan tewas.

Sebagai ahli waris Pulau Naga yang dimiliki Hai-Tok, Lee Song Kim menjadi seorang yang kaya raya.

Akan tetapi diapun maklum bahwa perbuatan gurunya mencuri kitab-kitab dari berbagai aliran persilatan telah ketahuan, maka diapun lalu menyelamatkan diri dari Pulau Naga membawa semua harta benda yang ditinggalkan gurunya, juga semua kitab yang telah dicuri oleh gurunya untuknya.

Dia menyembunyikan diri dan menggembleng diri selama bertahun-tahun dengan ilmu-ilmu dari kitab-kitab curian itu sehingga tentu saja ilmu kepandaiannya menjadi semakin hebat.

Kini tingkat ilmu kepandaiannya sudah sedemikian majunya sehingga jelas melampaui tingkat mendiang gurunya sendiri!

Akhirnya, setelah merasa dirinya kuat, Lee Song Kim berani muncul kembali.

Sebagai seorang yang mewarisi harta benda yang banyak, dia hidup sebagai seorang yang kaya raya, membangun perkampungan itu dan biarpun dia belum juga beristeri, namun sebagai seorang pria yang mata keranjang, di dalam gedungnya terdapat puluhan orang pelayan wanita muda-muda dan cantik-cantik yang selalu siap melayaninya karena mereka itu menjadi pelayan merangkap selir.

Juga untuk memperkuat diri, Lee Song Kim mengumpulkan orang-orang muda yang memiliki ilmu silat, bahkan dididiknya, sebanyak tiga puluh orang lebih yang menjadi anak buahnya dan tinggal di dalam rumah-rumah yang mengelilingi gedungnya di dalam perkampungan itu.

Lee Song Kim adalah seorang yang memiliki ambisi besar.

Pernah dicobanya belasan tahun yang lalu untuk mencari kedudukan dan kemuliaan melalui Kerajaan Ceng.

Dia bahkan pernah mengabdikan dirinya kepada penjajah, mengkhianati para pejuang.

Akan tetapi akhirnya ia gagal dan sebaliknya dikejar-kejar oleh pemerintah!

Dia tidak sanggup lagi mencari kedudukan melalui pangkat, maka kini ambisinya mencari cara lain.

Dia ingin menjadi seorang yang akan disebut Thian-He Te-It Bu-Hiap (Pendekar Silat Nomor Satu di Dunia)!

Karena itu, dia menggembleng diri setiap hari dengan ilmu-ilmu dari semua aliran.

Bahkan kitab-kitab yang telah dicuri gurunya untuk dirinya, dari perkumpulan-perkumpulan besar seperti Thian-He Te-It Bu-Hiap, Kun-Lun-Pai, Kong-tong-pai dan lain-lainnya, masih belum memuaskan hatinya.

Dia berpikir bahwa untuk dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia, Dia harus menguasai semua ilmu silat dari aliran manapun juga agar dia dapat menghadapi dan menguasai jago-jago dari semua aliran silat yang ada!

Dan diapun perlu menguji ilmu-ilmu yang sudah dipelajari dan dikuasainya itu, untuk melawan tokoh-tokoh dari aliran-aliran itu sendiri.

Baru setelah dia memiliki secara lengkap ilmu berbagai aliran itu dan merasa yakin akan mampu mengalahkan semua tokohnya, dia akan mengumumkan bahwa dialah Thian-He Te-It Bu-Hiap!

Dan untuk pengangkatan diri menjadi jagoan nomor satu di dunia itupun sudah dia dapatkan lambangnya, yaitu Giok-Liong-Kiam!

Ya, tidak keliru dugaan Tang Ki.

Lee Song Kim inilah pencuri Giok-Liong-Kiam!

Setelah dia mendengar berita bahwa Giok-Liong-Kiam terjatuh ke tangan Ong Siu Coan sebagai pimpinan pemberontak Tai Peng, Dia lalu mengirim anak buahnya melakukan penyelidikan tentang Ong Siu Coan.

Dan ketika dia mendengar laporan anak buahnya betapa istana Ong Siu Coan di Nan-king tidak terjaga dengan ketat, dia lalu turun tangan sendiri, pergi ke Nan-king dan berhasil mencuri Giok-Liong-Kiam dengan amat mudahnya.

Akan tetapi dasar mata keranjang dan cabul, setelah berhasil mencuri pedang pusaka itu, dia tidak segera pergi melainkan menyingkap kelambu untuk melihat sepasang manusia yang tidur di balik kelambu.

dan melihat wanita yang pernah menjadi sumoinya, yang pernah dicintanya, tidur terlentang dalam pakaian yang tipis, dia tidak dapat menahan diri dan meraba pahanya membuat wanita itu terbangun dan menyerangnya, juga membangunkan Ong Siu Coan yang menyerangnya.

Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi, dia mampu meloloskan diri.

Kalau dia menghendaki, tentu saja dia akan mampu membunuh Ong Siu Coan dan Tang Ki selagi mereka masih tidur.

Akan tetapi dia tidak mau melakukannya.

Hal itu tentu akan menimbulkan geger besar dan kalau sampai dia dimusuhi oleh Tai Peng, celakalah dia!

Dia cukup cerdik untuk menggunakan kedok sehingga suami isteri yang berhasil menjadi raja kaum Tai Peng itu tidak melihat bukti bahwa dia pencurinya.

Sore hari itu, Lee Song Kim makan minum ditemani tiga orang pelayan wanita yang paling cantik dan yang menjadi tiga orang kesayangannya.

Tiga orang wanita muda yang cantik-cantik ini seperti berlomba untuk mengambil hati Kongcu mereka, bersikap manis dan genit, menemaninya makan minum sambil bersenda gurau.

Lee Song Kim minta disediakan masakan-masakan yang serba istimewa karena dia hendak merayakan keberhasilannya mencuri Giok-Liong-Kiam, walaupun hal itu masih dirahasiakannya, baik terhadap anak buahnya sekalipun.

Belum tiba saatnya untuk menyiarkan bahwa dia kini yang memiliki Giok-Liong-Kiam, karena hal itu selain akan memancing datangnya banyak tokoh yang tidak ditakutinya, namun juga memancing datangnya Ong Siu Coan dengan pasukannya yang sama sekali yidak boleh dipandang ringan.

Selama beberapa bulan ini, dia sudah mengalahkan banyak ahli silat dari berbagai aliran, dengan mempergunakan ilmu silat dari aliran itu sendiri dan hal ini menambah kegembiraan hatinya.

Hanya aliran-aliran silat yang besar-besar saja yang belum dicoba ilmu silatnya.

Setelah merasa kenyang, Lee Song Kim melanjutkan pestanya di dalam kamarnya, minum arak ditemani tiga orang kekasihnya.

Dua orang memijit-mijit seluruh badannya, memilih otot-otot yang kalau dipijit dapat melenyapkan rasa lelah, sedangkan seorang pelayan lain duduk di atas pangkuannya, tertawa-tawa ketika dibelainya.

Tiba-tiba daun pintu diketuk orang dari luar dan terdengar seorang anak buah minta diterima menghadap karena ada laporan penting.

Pelayan wanita yang duduk di atas pangkuan Lee Song Kim segera meloncat turun dan atas isyarat majikannya ia membuka pintu, Lee Song Kim mengerutkan alisnya, memandang kepada anak buahnya itu dengan hati tak senang karena dia merasa terganggu selagi bersenang-senang dengan tiga orang kekasihnya.

"Ada urusan penting apakah yang mendorongmu untuk menemuiku?"

Tanyanya, siap untuk marah-marah kalau pemuda yang bermuka hitam itu tidak memiliki alasan yang kuat.

"Harap Kongcu suka memaafkan saya,"

Kata pemuda itu.

"Akan tetapi mentaati perintah Kongcu, saya melapor bahwa di kaki bukit ada dua orang Tosu tua yang berjalan menuju perkampungan kita. Melihat sikap dan dandanan mereka, juga bahwa seorang dari mereka membawa pedang di punggung, saya dapat menduga bahwa mereka bukan Tosu-Tosu biasa, Karena itu saya cepat lari untuk melapor kepada Kongcu."

Wajah yang tadinya membayangkan kemarahan kini berubah cerah gembira.

"Bagus, aku harus menemui mereka!"

Katanya dan diapun sudah meloncat turun dan membereskan sebatang pedang di balik jubahnya dan berkelebat keluar.

Gerakannya cepat sekali seolah-olah dia mempergunakan ilmu terbang saja.

Dua orang Tosu itu berusia kurang lebih enam puluh tahun.

Seorang di antara mereka bertubuh kurus tinggi dan membiarkan rambutnya tergerai di kedua bahunya.

Di punggungnya nampak sebatang pedang bersarung butut, dan jubah Tosu yang menutupi tubuhnya berwarna kuning lusuh.

Wajahnya agak muram dan jarang senyum, wajah yang kurus nampak lonjong, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi kurus.

Adapun Tosu kedua bertubuh gendut, tidak setinggi temannya, juga jubahnya kuning dengan bagian dada terbuka.

Agaknya dia selalu kegerahan.

tidak nampak dia membawa senjata dan wajahnya yang bundar itu selalu dihias senyum, sepasang matanya yang lebar bersinar dan berseri.

Mereka melangkah tanpa berkata-kata.

Lee Song Kim memperhatikan mereka.

Pengetahuannya tentang tokoh-tokoh berbagai aliran silat memang luas.

Walaupun dia belum pernah bertemu sendiri dengan dua orang Tosu ini, namun menurut hasil penyelidikannya selama beberapa tahun ini, sejak dia masih hidup di Pulau Naga bersama Hai-Tok, membuat dia tahu bahwa dua orang ini adalah dua tokoh Kun-Lun-Pai tingkat tiga yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Bukan main girang rasa hatinya.

Terbuka kesempatan baginya untuk menguji ilmu silatnya yang didapat dari kitab pelajarannya!

Diapun cepat keluar menghadang perjalanan dua orang Tosu itu.

Ketika si tempat sunyi itu tiba-tiba muncul seorang laki-laki tampan yang berpakaian mewah seperti seorang pelajar kaya, dua orang Tosu itu memandang heran dan memperlambat langkah mereka karena laki-laki itu berdiri di tengah jalan, nampaknya sengaja menghadang mereka.

"Jiwi totiang (bapak pendeta berdua), harap perlahan dulu berjalan, karena saya ingin sekali bicara dengan jiwi (anda berdua),"

Kata Lee Song Kim dengan sikap sopan dan ramah. Tosu tinggi kurus yang berwajah muram itu diam saja, akan tetapi Tosu gendut tertawa ramah.

"Ha-ha, ada keperluan apakah si-cu (orang gagah) menahan perjalanan dua orang Tosu seperti kami?"

Diam-diam Song Kim memuji ketajaman mata Tosu gendut ini.

Begitu bertemu Tosu ini sudah dapat melihat bahwa dia bukan seorang pelajar biasa, melainkan pandai ilmu silat maka Tosu itu menyebut "sicu".

Akan tetapi Song Kim memperlihatkan wajah biasa saja.

"Totiang, kalau saya tidak salah duga, ji-wi totiang adalah tokoh-tokoh dari Kun-Lun-Pai, bukan?"

Dua orang Tosu itu saling pandang dan kerut di antara kedua alis Tosu kurus menjadi semakin dalam. Akan tetapi Tosu gendut segera menjawab sambil tertawa.

"Siancai... pinto berdua hanyalah Tosu-Tosu perantau biasa saja..."

Song Kim tersenyum.

"Totiang tidak perlu merendahkan diri. Bukankah totiang berjuluk Tiong Gi Tojin dan totiang yang kurus ini adalah Tiong Sin Tojin? Tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai tingkat tiga yang berilmu tinggi dan lihai sekali!"

Dua orang Tosu itu kini nampak terkejut, bahkan Tosu gendut kehilangan senyumnya.

"Sicu, siapakah engkau dan apa kepeluanmu menghadang perjalanan kami, apalagi setelah engkau mengenal siapa adanya kami?"

Tanya Tosu gendut, wajahnya serius.

"Saya hanya seorang laki-laki biasa saja, orang menyebut saya Lee Kongcu dan saya paling suka dengan ilmu silat walaupun kepandaian saya masih rendah sekali. Sudah lama saya mendengar akan kelihaian ji-wi totiang, maka setelah sekarang ada jodoh untuk bertemu di sini, saya harap ji-wi tidak terlalu pelit untuk mempertunjukkan ilmu-ilmu ji-wi yang tinggi untuk membuka mata saya."

Dua orang Tosu itu mengerutkan akisnya.

"Orang muda, kami hanyalah Tosu-Tosu yang selalu mendambakan kedamaian dan tidak suka berkelahi. Ilmu yang kami pelajari hanya untuk menjaga diri saja. Karena tidak ada urusan apapun di antara kita, bagaimana mungkin kami mengeluarkan ilmu silat? Kami bukan tukang jual obat di pasar yang suka memamerkan ilmu silat,"

Kata pula Tosu gendut. Lee Song Kim menggeleng kepala.

"Jodoh sudah menentukan perjumpaan kita, maka ji-wi jangan menolak, harap keluarkan imu-ilmu simpanan ji-wi untuk saya lihat."

"Orang muda lancang!"

Kini Tosu kurus yang bernama Tiong Sin Tojin membentak marah.

"Minggirlah dan biarkan kami melanjutkan perjalanan!"

Kembali Song Kim menggeleng kepala.

"Tidak bisa, totiang. Sebelum ji-wi menunjukkan ilmu-ilmu simpanan ji-wi, jangan harap akan dapat melanjutkan perjalanan."

"Siapa yang berani melarang kami!"

Bentak Tosu tinggi kurus, kini menjadi marah sekali.

"Akulah yang melarang. Bagaimanapun juga, ji-wi harus melayani dulu aku barang seratus jurus!"

"Siancai, orang ini sungguh sombong dan kurang ajar, Suheng. Biar pinto menghajarnya!"

Kata Tosu kurus.

"Hati-hatilah, Sute. Agaknya dia memang sengaja mencari urusan,"

Kata Tosu gendut.

Tiong Sin Tojin, yang tinggi kurus, segera melangkah maju dan karena dia dapat menduga bahwa orang muda yang demikian sombong dan kurang ajar tentu memiliki kepandaian cukup tinggi, begitu menyerang dia mengeluarkan jurus serangan yang ampuh dan dahsyat.

Kedua tangannya membentuk paruh burung yang meruncing dan paruh burung ini mematuk-matuk ke arah jalan darah yang berbahaya di kepala, leher dan dada secara bertubi-tubi.

"Hemm, Pek-ho-tok-hi (Bangau Putih mematuk Ikan)...!"

Seru Lee Song Kim sambil mengelak ke sana-sini.

karena dia sudah mengenal gerakan jurus ini, maka tidak sukarlah baginya untuk menghindarkan diri.

Tiong Sin Tojin terkejut mendengar seruan pemuda itu yang telah mengenal jurus serangannya.

Cepat dia merubah gerakan kaki tangannya dan kini dia menyerang dengan dua buah jari tangan kanan, yaitu telunjuk dan jari tengah, menusuk ke arah leher.

"Sian-jin-ci-lou (Dewa Menunjukkan Jalan)... Kembali Song Kim berseru dan betapapun cepat dan dahsyatnya serangan maut itu, dengan mudah dia dapat menangkis sambil melangkah mundur dua langkah. serangan ini pun gagal.

"Tahan dulu!"

Bentak Tiong Sin Tojin.

"Siapakah engkau yang mengenal jurus-jurus Kun-Lun-Pai? Apakah engkau seorang murid Kun-Lun-Pai?"

Song Kim menggeleng kepalanya.

"Bukan murid, akan tetapi aku suka sekali mempelajari jurus-jurus terlihai dari Kun-Lun-Pai, bukan seperti yang kau perlihatkan tadi, totiang."

Tiong Sin Tojin menjadi marah.

"Sudahlah, pinto tidak mempunyai urusan dengan orang gila seperti engkau. Suheng, mari kita pergi."

"Ha, nanti dulu, totiang. Kalau engkau tidak mau menyerang, biarlah aku yang menyerangmu. Lihat ini Hok-thian-hok-te (Membalikkan Langit dan Bumi)!"

Bentak Song Kim dan diapun sudah menyerang dengan ganas sekali, menggunakan kaki tangannya dan serangan itu datang dari atas dan bawah, amat cepatnya.

Melihat betapa pemuda itu menggunakan sebuah jurus Kun-Lun-Pai yang ampuh dan berbahaya, Tiong Sin Tojin terkejut dan cepat diapun menyambut dengan elakan dan tangkisan, Dan merasa betapa lengannya tergetar setiap kali bertemu dengan lengan lawan.

Yang membuat dia penasaran dan kaget sekali ketika melihat betapa lawan itu kini menyerangnya terus dengan jurus-jurus pilihan dari Kun-Lun-Pai!

Terpaksa dia harus mengeluarkan jurus-jurus tandingan untuk memunahkan semua serangan itu dan memang inilah yang dikehendaki oleh Song Kim.

Diam-diam otaknya yang cerdik itu mencatat semua gerakan lawan yang dapat mematahkan setiap serangannya sehingga dari pekelahian ini dia memperoleh tambahan jurus-jurus pilihan dari Kun-Lun-Pai.

Karena merasa tidak dapat menandingi pemuda itu dengan tangan kosong, Tiong Sin Tojin meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya.

Akan tetapi Suhengnya, Tiong Gi Tojin yang gendut, cepat mencegahnya sambil meloncat ke depan.

"Sute, barlah pinto yang maju."

Dia tidak ingin Sutenya menggunakan senjata karena mereka berdua tidak bermusuhan dengan orang she Lee ini, Untuk apa menggunakan senjata?

Pantang bagi orang-orang yang menjadi pendeta, apalagi pendeta Kun-Lun-Pai yang terpandang, untuk melukai, apalagi membunuh orang tanpa sebab.

Kini, dengan mulut masih tersenyum menyeringai, Tosu gendut ini menghadapi Song Kim.

"Lee-Kongcu (tuan muda Lee), sesungguhnya pinto tidak mengerti mengapa Kongcu memaksa pinto berdua untuk bertanding silat denganmu. Lebih tidak mengerti lagi pinto melihat betapa engkau yang mengaku bukan murid Kun-Lun-Pai, demikian pandai bersilat dengan ilmu silat aliran kami!"

"Tiong Gi Tojin, terus terang saja, aku adalah orang yang paling suka belajar ilmu silat, karena itulah maka aku minta kepada ji-wi untuk memberi petunjuk kepadaku barang seatus jurus. Karena suka ilmu silat, aku mempelajari semua aliran, termasuk Kun-Lun-Pai. Sayang, sangat sedikit yang kupelajari, maka kuharap akan memperoleh barang beberapa jurus dari ji-wi totiang."

"Huh, kau hendak mencuri ilmu orang lain!"

Bentak Tiong Sin Tojin yang berdiri di pinggir sambil mengepal tinju dengan marah.

"Mencuri...!"

Tiba-tiba Tiong Gi Tojin berteriak dan memandang kepada Song Kim dengan mata terbelalak.

"Kalau begitu, dia yang melakukan pencurian kitab Kun-Lun-Pai beberapa tahun yang lalu"

"Benar! Tentu dia inilah pencurinya!"

Teriak Tiong Sin Tojin, agaknya juga baru sadar dan teringat akan peristiwa menggemparkan tentang hilangnya beberapa buah kitab pusaka Kun-Lun-Pai.

"Pantas dia bukan murid Kun-Lun-Pai namun pandai ilmu silat Kun-Lun-Pai."

Dua orang Tosu itu kini langsung menerjang Song Kim dengan serangan maut karena mereka baru sadar bahwa tentu inilah orang yang telah mencuri kitab dari gudang pusaka Kun-Lun-Pai.

Song Kim merasa gembira sekali dan menyambut mereka dengan cepat, memancing mereka untuk mengeluarkan ilmu-ilmu mereka yang paling hebat.

Dua orang Tosu ini terpancing dan mereka memang menyerang dengan jurus-jurus pilihan, tidak tahu bahwa sama saja halnya mereka mengajarkan ilmu pukulan aliran mereka yang paling ampuh kepada laki-laki yang amat lihai ini.

Dengan serangan dua orang itu, banyak jurus yang tadinya dipahami Song Kim secara teoritis saja, kini dia memperoleh petunjuk bagaimana harus memainkan jurus itu dengan tepat.

Dia mempermainkan dua orang Tosu itu sampai lima puluh jurus lebih tanpa merobohkan mereka, hanya menyerang untuk memncing mereka mengeluarkan jurus pilihan aliran Kun-Lun-Pai.

"Tahan dulu!"

Bentak Tiong Gi Tojin yang melompat mundur diikuti Sutenya. Dia merasa penasaran sekali.

"Sebetulnya siapakah engkau, murid mana dan mengapa memusuhi kami orang Kun-Lun-Pai?"

Karena melihat betapa lihainya lawan, Tiong Gi Tojin merasa perlu untuk tahu lebih banyak tentang lawan ini, sedangkan Tiong Sin Tojin kini mencabut pedangnya karena maklum bahwa ilmu silat tangan kosong mereka berdua agaknya tidak akan mampu mengalahkan lawan yang lihai itu.

Sementara itu, Song Kim sudah merasa cukup menimba pengetahuan ilmu silat Kun-Lun-Pai dari meraka, dan melihat betapa mereka kini telah mempersiapkan senjata, dia maklum bahwa kalau dia main-main terus, salah-salah dirinya sendiri yang menjadi korban karena bagaimanapun juga harus diakuinya bahwa dua orang Tosu itu amat tangguh.

Maka, sambil tersenyum diapun menjawab.

"Mau tahu aku murid mana? Nah, ji-wi totiang (dua bapak pendeta), kiranya ji-wi (kalian berdua) belum buta dan dapat mengenal ilmu silatku!"

Berkata demikian, Song Kim memasang kuda-kuda lalu menerjang ke depan, ke arah Tiong Gi Tojin dengan jurus dahsyat dari ilmu silat Houw-kun (Silat Harimau).

Tiong Gi Tojin terkejut dan cepat mengelak sambil mencabut sebatang kebutan dari pinggangnya dan mengebut ke samping.

Akan tetapi Song Kim sudah menubruk ke samping dan menyerang Tiong Sin Tojin dengan cakaran kedua tangannya, persis gerakan seekor harimau yang mencakar ke samping dengan amat kuatnya.

Tiong Sin Tojin juga cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari terkaman itu dan kedua orang Tosu itu hampir berbareng berseru.

"Murid Siauw-Lim-Pai...??"

Mereka berdua mengenal ilmu silat Siauw-Lim-Pai itu, yaitu Houw-kun (Silat harimau).

satu di antara ilmu-ilmu silat Siauw-Lim-Pai yang meniru gerakan binatang-binatang buas.

Akan tetapi sambil tertawa Song Kim menyerang terus dan biarpun kedua orang lawan itu memegang pedang dan kebutan, tetap saja dia dapat mendesak mereka dengan jurus-jurus maut dari Siauw-Lim-Pai.

Hal ini tidaklah aneh, sama sekali bukan karena dia terlalu mahir dengan ilmu silat Siauw-Lim-Pai, yang seperti juga dengan ilmu-ilmu silat berbagai aliran hasil curian mendiang gurunya, hanya dikuasai beberapa bagian saja yang tergolong tinggi tingkatnya, melainkan karena memang sebelum menguasai berbagai ilmu silat itu, dia sendiri sudah amat lihai sebagai murid Hai-Tok.

ilmu silat Siauw-Lim-Pai itu dia pergunakan sebagai kulit luarnya saja, akan tetapi sebenarnya sinkang yang dipergunakan dibalik pukulan dan cengkeraman itu adalah sinkang yang diwarisinya dari Hai-Tok.

Dan memang tingkatnya jauh lebih tinggi kalau dibandingkan dengan tingkat dua orang Tosu Kun-Lun-Pai tingkat tiga itu.

"Krrakkk...!"

Tiba-tiba cengkeraman tangan kirinya tepat mengenai kepala Tosu itupun terpelanting, pedngnya terlempar dan diapun tidak mampu bergerak lagi.

Tempurung kepalanya bagian pelipis kanan Tiong Sin Tojin retak dan tertekan masuk kedalam dan nampak kepala itu berlubang empat, bekas empat buah jari tangan Song Kim yang mencengkeram.

Tiong Sin Tojin tewas seketika.

Tiong Gi Tojin marah bukan main, menggerakkan kebutannya sehingga terdengar bercuitan dan gulungan putih menyambar-nyambar.

Namun, dengan lincahnya Song Kim dapat menghindarkan diri, kemudian kembali tangannya yang ampuh bergerak, kini memukuldengan tangan terbuka ke depan.

"Desss...!"

Dada kiri Tiong Gi Tojin terkena hantaman telapak tangn itu.

"Uhhhh!"

Tiong Gi Tojin terhuyung, darah segar keluar dari mulutnya dan kebutannya terlempar lepas dari tangannya yang kini keduanya dipakai untuk menekan dadanya yang kena pukul tadi.

"Ha-ha-ha, kiranya tidak berapa hebat kepandaian Tosu tingkat tiga dari Kun-Lun-Pai. Sayang bukan tingkat pertama atau ketuanya sendiri yang dapat kuajak bertanding,"

Kata Song Kim.

Tiong Gi Tojin berdiri memandang kepada lawan itu dengan mata tajam dan penuh kemarahan, kemudian tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, dia mengambil tubuh Sutenya yang sudah menjadi mayat, memanggulnya dan tanpa pamit diapun pergi diiringi senyum mengejek dari Lee Song Kim.

Begitu Tosu gendut itu memanggul tubuh Sutenya, Song Kim cepat memanggil dua orang pembantu atau juga muridnya untuk membayangi perjalanan Tiong Gi Tojin dan melihat perkembangan siasat yang telah dilaksanakan tadi, yaitu mengadu domba antara Kun-Lun-Pai dan Siauw-Lim-Pai.

Dia tahu bahwa di antara aliran-aliran persilatan, dua partai persilatan itulah yang merupakan sumber ilmu silat tinggi.

Siauw-Lim-Pai adalah gudang ilmu silat dari para hwesio sakti seperti mendiang Tat Mo Couwsu dan lain-lain, sedangkan Kun-Lun-Pai juga merupakan gudang ilmu silat dari para pertapa dan Tosu di Kun-lun-san, bahkan dari Himalaya.

Kalau dia dapat menguasai ilmu-ilmu paling tinggi dari dua partai persilatan itu, Dia tidak akan gentar lagi menghadapi jagoan-jagoan mereka dan dia akan lebih mudah mencapai cita-cita yaitu mengangkat diri menjadi Thian-He Te-It Bu-Hiap (Jago Silat Nomor Satu di Kolong Langit)!

Dengan menahan rasa nyeri pada luka di dadanya, Tiong Gi Tojin berlari sambil memanggul jenazah Sutenya.

Tentu saja dia tidak mungkin dapat kembali ke Kun-Lun-Pai yang jauh, dan hanya pergi ke sebuah kuil yang menjadi cabang dari Kun-Lun-Pai.

Pada malam harinya, tibalah dia di kuil yang dipimpin oleh seorang Sutenya, yaitu Tiong Le Tojin.

Setibanya di pintu kuil, Tiong Gi Tojin tidak kuat lagi dan diapun roboh terguling bersama jenazah Tiong Sin Tojin.

Tentu saja Tiong Le Tojin, ketua kuil Kun-Lun-Pai itu, terkejut sekali melihat kedua orang Suhengnya itu.

Seorang telah menjadi mayat dan seorang lagi dalam keadaan terluka berat.

"Tiong Gi Suheng, apakah yang telah terjadi?"

Tanyanya sambil memangku kepala Suhengnya itu yang napasnya sudah empas-empis dan mukanya sudah menjadi pucat kebiruan.

"Orang she Lee... murid Siauw-Lim-Pai..."

Hanya demikian dia mampu mengeluarkan suara karena diapun terkulai dan tewas menyusul Sutenya.

Tentu saja pesan terakhir ini membingungkan hati Tiong le Tojin.

Murid Siauw-Lim-Pai she Lee.

Agaknya orang she Lee itulah yang membunuh kedua orang Suhengnya.

Karena pentingnya urusan Tiong Le Tojin setelah mengurus kedua jenazah Suhengnya itu sebagaimana mestinya, lalu berangkat menuju ke pusat Kun-Lun-Pai untuk melaporkan tentang kematian dua orang Tosu Kun-Lun-Pai.

Disebutnya Siauw-Lim-Pai merupakan hal gawat dan Tiong Le Tojin tidak berani lancang mengurusnya sendiri ke Siauw-Lim-Pai.

Para pimpinan Kun-Lun-Pai terkejut mendengar bahwa dua orang tokoh mereka tewas di tangan seorang she Lee murid Siauw-Lim-Pai.

Ada beberapa orang tokoh pimpinan yang berwatak keras dan segera menyatakan untuk menuntut balas kepada orang-orang Siauw-Lim-Pai, akan tetapi Tiong Tek Seng-jin, ketua Kun-Lun-Pai pusat yang usianya sudah tujuh puluh tahun dan terkenal bijaksana, sabar dan juga sakti itu, mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Siancai, siancai, siancai...! Perbuatan menurutkan nafsu amarah merupakan penyelewengan yang hanya akan mendatangkan malapetaka belaka. Sejak dahulu kita sudah mengenal Siauw-Lim-Pai dan tahu bahwa pusat Siauw-Lim-Pai pusat orang-orang gagah yang berjiwa patriot dan pendekar. Karena itu, kalau ada seorang murid Siauw-Lim-Pai melakukan penyelewengan misalnya, janganlah hendaknya kesalahan itu kita timpakan kepada seluruh anggauta Siauw-Lim-Pai! Yang tidak benar adalah oknumnya, bukan perkumpulannya. Mengingat akan persahabatan antara kita dan Siauw-Lim-Pai, biarlah kita sampaikan saja peristiwa ini kepada Siauw-Lim-Pai untuk menindak murid mereka yang melakukan pembunuhan terhadap dua orang murid kita."

Mendengar ucapan yang halus dan mengandung penuh wibawa ini, semua pimpinan Kun-Lun-Pai menyadari dan mereka pun mentaati pesan itu.

segera dikirim utusan ke pusat Siauw-Lim-Pai untuk melaporkan peristiwa pembunuhan atas diri dua orang Kun-Lun-Pai.

Pada waktu itu, yang menjadi ketua Siauw-Lim-Pai adalah Thian Tek Hwesio, menggantikan Suhengnya, Thian He Hwesio yang sudah meninggal dunia karena usia tua.

Thian Tek Hwesio yang bertubuh pendek kecil itu berusia tujuh puluh tahun lebih dan dia dibantu oleh Thian Khi hwesio yang bertubuh sedang dan berusia tujuh puluh enam tahun.

Tentu saja dua orang hwesio tua ini dibanru pula oleh beberapa orang murid-murid kepala.

Ketika Thian Tek Hwesio dan Thian Khi hwesio menerima utusan Kun-Lun-Pai dan mendengar pelaporan mereka, keduanya terkejut dan saling pandang.

"Omitohud... pinceng merasa berduka sekali mendengar berita yang buruk ini. Ingin pinceng mengetahui, siapakah nama murid Siauw-Lim-Pai she Lee yang melakukan pembunuhan itu, di mana tempat tinggalnya dan apa pula sebabnya?"

Utusan Kun-Lun-Pai memberi hormat dan dengan jelas dia lalu menceritakan bahwa dua orang itu tahu-tahu roboh di depan kuil Kun-Lun-Pai di tai-gu, dan bahwa mendiang Tiong Gi Tojin yang ketika itu masih hidup hanya meninggalkan pesan beberapa patah saja, yaitu .

"orang she Lee... murid Siauw-Lim-Pai..."

"Omitohud, jadi pihak Kun-Lun-Pai tidak tahu siapa sebenarnya orang she Lee murid Siauw-Lim-Pai itu dan apa yang menjadi sebab maka dia sampai membunuh dua orang Tosu Kun-Lun-Pai?"

"Benar,"

Jawab utusan itu.

"Ketua kami dengan hormat menyerahkan kepada kebijaksanaan locianpwe di Siauw-Lim-Pai untuk menyelidiki dan bertindak atas perbuatan muridnya, dan Kun-Lun-Pai tidak akan mencampuri."

"Sungguh bijaksana sekali ketuamu itu, to-yu. Akan tetapi bagaimana kami akan dapat bertindak dan (Lanjut ke

Jilid 03) Pemberontakan Taipeng (Seriall 02 -Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 menghukum murid kami kalau kami tidak mengetahui siapa dia?

Hendaknya diketahui bahwa murid Siauw-Lim-Pai yang berada di luar banyak sekali, dan tak terhitung junlah murid yang she Lee, bahkan mungkin ada cucu murid she Lee yang tidak pernah kami ketahui atau kenal sama sekali."

"Siancai... kami hanya utusan, locianpwe, dan kami sudah menyampaikan laporan dan pesan ketua kami. Kemudian terserah kepada kebijaksanaan Siauw-Lim-Pai. Kun-Lun-Pai hanya akan bertindak sebagai penonton untuk mengagumi keadilan dan ketegasan Siauw-Lim-Pai yang sejak ratusan tahun menjadi sahabat kami, demikian pesan ketua kami."

"Omitohud... betapa sukarnya tugas itu, akan tetapi pinceng akan mencobanya, melakukan penyelidikan itu. Harap sampaikan salam dan hormat kami semua kepada para pimpinan Kun-Lun-Pai."

Utusan itupun pergi meninggalkan Siauw-Lim-Pai dan tak lama kemudian, Lee Song Kim juga mendengar akan segala laporan anak buahnya yang melakukan penyelidikan.

Hatinya merasa agak kecewa bahwa api yang dinyalakannya antara Kun-Lun-Pai dan Siauw-Lim-Pai tidak jadi berkobar.

Kiranya kedua pihak tidak dibakar perasaan marah, bahkan Kun-Lun-Pai menyerahkan penyelidikan tentang perisriwa itu kepada Siauw-Lim-Pai.

Cita-citanya untuk membakar kedua perkumpulan besar itu agar mereka saling serang sehingga dia akan dapat mempelajari gerakan-gerakan ilmu silat mereka yang sedang bertanding, gagal.

Ang-Hong-Pai (Perkumpulan Tawon merah) merupakan sebuah perkumpulan sesat yang anggautanya seluruhnya terdiri dari wanita-wanita belaka.

Biarpun hanya merupakan sebuah perkumpulan wanita, namun nama Ang-Hong-Pai terkenal di dunia hitam sebagai perkumpulan yang kuat karena para anggauta wanita yang jumlahnya mendekati seratus itu rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, ahli pula tentang penggunaan racun dan rata-rata memiliki watak kejam dan buas, mudah membunuh dan tidak segan-segan menyiksa lawan yang tertawan.

Juga banyak di antara mereka terkenal sebagai wanita-wanita yang haus akan pria, Suka menangkapi pria-pria muda dan celakalah pria yang sudah menjadi tawanan mereka karena dia akan dibawa ke sarang Ang-Hong-Pai dan tak seorangpun tahu apa yang menjadi nasibnya karena dia takkan pernah muncul lagi di dunia ramai!

Biarpun banyak di antara para anggauta Ang-Hong-Pai merupakan wanita-wanita muda yang berwajah cantik dan bersikap genit, namun kaum pria bergidik ngeri kalau mendengar disebutnya nama Ang-Hong-Pai.

Terutama sekali mereka yang tinggal di daerah kota Nan-ping di Propinsi Hok-kian.

Kalau ada seorang wanita, betapa cantikpun, mengenakan pakaian serba merah, sebagai tanda bahwa ia anggauta Ang-Hong-Pai, maka para pemuda yang tidak memiliki kepandaian segera cepat-cepat menyembunyikan diri, seperti anak-anak ayam melihat datangnya seekor musang.

Para hartawan di kota Nan-ping dan sekitarnya, tidak ada yang berani menolak untuk memberi sumbangan apabila ada wanita baju merah datang ke rumah mereka, sehingga kehidupan Ang-Hong-Pai terjamin oleh sumbangan-sumbangan itu, di samping hasil perampokan atau pencurian yang mereka lakukan di tempat-tempat yang jauh dari wilayah Nan-ping.

Mereka tidak pernah mau mengganggu wilayah itu karena mereka memperoleh sumbangan dengan dalih "menjaga keamanan".

Ada memang terjadi beberapa kali munculnya seorang jagoan yang menganggap dirinya cukup mampu utuk menjadi pendekar dan menentang Ang-Hong-Pai, akan tetapi akibatnya, jagoan itu yang tewas dan mayatnya tak pernah dilihat orang.

Maka, nama Ang-Hong-Pai menjadi semakin tersohor dan kaum pendekar merasa lebih aman untuk mengambil jalan sendiri dan tidak mencari perkara dengan waita-wanita liar itu.

Yang menjadi ketua dari Ang-Hong-Pai ketika itu adalah seorang wanita berusia kurang lebih enam puluh tahun, akan tetapi melihat bentuk wajahnya yang masih manis, mukanya yang belum dinodai keriput, tubuhnya yang masih padat rampng, ia nampak seperti seorang wanita berusia tiga puluh tahun saja!

Para anggauta atau murid Ang-Hong-Pai menyebutnya Theng Toanio dan nama sebenarnya adalah Theng Ci.

Wanita ini masih nampak cantik dan pakaiannya selalu mewah, berwarna merah terbuat dari Sutera mahal dengan hiasan kuning emas dan garis biru.

Theng Toanio ini melanjutkan kedudukan mendiang subonya (guru wanita) memimpin Ang-Hong-Pai dan karena ia nampak lebih pandai daripada mendiang subonya, maka anak buah Ang-Hong-Pai semua taat dan tunduk kepadanya.

Theng Toanio inilah yang mulai memungut sumbangan dari para hartawan, berbeda dengan mendiang subonya yang dahulu hanya mengandalkan kejahatan untuk membiayai perkumpulannya.

Juga kini anggaua Ang-Hong-Pai mendekati seratus orang kesemuanya terdiri dari wanita-wanita cantik dengan usia tidak lebih dari tiga puluh tahun!

Theng Toanio mengusir bekas anggauta yang usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun.

Wanita ini memang lihai sekali, lihai permainan pedangnya dan juga amat pandai mempergunakan senjata rahasia jarum merah yang mengandung racun tawon yang amat kuat.

Perlu diketahui bahwa diwaktu mudanya, Theng Ci ini pernah diperkosa oleh datuk sesat Thian-tok, dan agaknya pengalaman inilah membuat Thian-tok tidak melupakan wanita ini.

Pada tahun terakhir menjelang kematiannya, datuk sesat Thian-tok, satu di antara Empat Racun Dunia yang menjadi guru Ong Siu Coan, mencari Theng Ci di sarang Ang-Hong-Pai.

Mula-mula, melihat kedatangan datuk sesat yang pernah memperkosanya, Theng Ci menjadi marah dan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok.

Akan tetapi Thian-tok terlalu lihai baginya dan untuk kedua kalinya, wanita ini terpaksa menyerah, bahkan sekali ini ia melayani segala kehendak Thian-tok dengan sukarela karena Racun Dunia itu menjanjikan kepadanya untuk mengajarkan ilmunya yang paling hebat.

Demikianlah, selama hampir satu tahun, Thian-tok hidup di antara para wanita di Ang-Hong-Pai, dan mengajarkan Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hoan-kun-hoat kepada Theng Ci atau Theng Toanio, juga beberapa ilmu lain.

Setelah Thian-tok merasa bosan tinggal di situ dan pergi, Theng Toanio telah menjadi seorang wanita yang lihai bukan main, jauh lebih lihai daripada sebelum ia digembleng Thian-tok.

Dan iapun melatih anak buahnya sehingga mereka juga memperoleh kemajuan pesat.

Semakin ditakutilah Ang-Hong-Pai semenjak waktu itu.

Ang-Hong-Pai berada di puncak sebuah bukit yang penuh dengan hutan lebat, di luar kota Nan-king dalam Propinsi Hok-kian.

Dari jauh, perkampungan Ang-Hong-Pai tidak nampak saking lebatnya hutan di bukit itu.

Akan tetapi, bukit yang diberi nama Ang-Hong-Pai atau Bukit Tawon Merah itu terkenal sebagai tempat berbahaya dan tidak ada seorangpun berani mencoba-coba untuk mendudukinya.

Di dalam hutan itu terdapat penuh binatang hutan yang buas, akan tetapi yang membuat orang merasa gentar adalah rombongan tawon-tawon yang bermacam-macam di tempat itu.

Banyak di antara tawon-tawon ini berbisa.

Sengatannya dapat mengakibatkan maut dalam waktu beberapa jam saja.

Dan tentu saja, selain bahaya binatang buas dan tawon, bahaya terbesar yang mengancam mereka yang berani mendaki bukit itu adalah perkumpulan Ang-Hong-Pai sendiri.

Pada waktu itu, Kaisar amat lemah dan berenang di dalam kesenangan pemuasan nafsu belaka.

Kelemahan Kaisar tentu mengakibatkan kelemahan pemerintahan, pejabat-pejabat tidak terkendali sehingga mereka bagaikan kuda-kuda yang lepas dari kekangan, berubah menjadi raja-raja kecil yang tidak memperdulikan keadaan rakyat, Melainkan berlomba untuk menumpuk kekayaan dan memperkuat kedudukan.

Adanya gangguan kepada rakyat seperti perampok dan golongan hitam macam Ang-Hong-Pai, tidak diperdulikan oleh para pejabat daerah.

Bagi mereka, asal kedudukan mereka tidak diganggu, sudahlah.

bahkan banyak terjadi penjahat berkomplot dengan pejabat, keduanya memiliki kepentingan yang sama, yaitu makmur dengan jalan menghisap darah rakyat jelata dan tidak saling menentang, Katakanlah bagi hasil!

Theng Toanio tidak terkecuali.

Iapun melihat kelemahan pemerintah, maka iapun segera mengadakan kontak dengan para pejabat daerah, mengirimkan barang-barang berharga sebagai tanda penghormatan dan hal ini membuat para pejabat segan untuk menentang Ang-Hong-Pai, Asal perkumpulan itu tidak mengganggu alat-alat pemerintah.

Demikianlah kedudukan Ang-Hong-Pai amat kuat di daerah itu, dan para pendekarpun segan untuk menentangnya.

Namun, pada suatu pagi yang sunyi dan cerah, nampak sesosok bayangan mendaki bukit Ang-hong-san dengan lenggang seenaknya, seolah-olah dia sedang mendaki sebuah bukit yang indah untuk pergi bertamasya, bukan sedang mendaki bukit yang penuh dengan bahaya yang mengancam nyawanya.

Bayangan itu adalah seorang laki-laki yang belum tua, usianya tiga puluh delapan kurang lebih, pakaiannya mewah, wajahnya tampan dan tubuhnya membayangkan kekuatan.

Rambutnya tersisir licin dan mengkilap karena minyak, mulutnya tersenyum-senyum.

Seorang pria muda yang tampan menarik dan berpakaian mewah, pesolek dan senyumnya tentu mudah meruntuhkan benteng pertahanan hati wanita!

Orang ini bukan lain adalah Lee Song Kim!

Tidak mengherankan kalau orang seperti dia sudah tahu bahwa bukit itu adalah sarang Ang-Hong-Pai, karena dia adalah seorang yang amat lihai dan memang dia naik ke puncak bukit dengan maksud mengunjungi Ang-Hong-Pai.

Lee Song Kim mendengar berita tentang Ang-Hong-Pai, tentang ketuanya yang masih nampak cantik biarpun usianya sudah setengah abad lebih, tentang para anggautanya yang berjumlah hampir seratus orang, semua wanita muda yang menarik.

Timbul keinginan hatinya untuk berkunjung dengan dua macam niat di hatinya.

Pertama, untuk menguji ilmu ketua Ang-Hong-Pai, kalau perlu menguasai ilmu silatnya, Dan kedua, kalau memang benar bahwa anggauta Ang-Hong-Pai terdiri dari wanita-wanita muda yang cantik, dia bermaksud menaklukkan perkumpulan itu.

Pertama, agar Ang-Hong-Pai dapat memperkuat kedudukannya, dan kedua, wanita-wanita itu dapat menghibur hatinya dan memuaskan nafsunya.

terutama sekali dia harus menyusun kekuatan, karena untuk mempunyai jagoan nomor satu, harus mempunyai kekuatan yang mendukung di belakangnya, untuk menghadapi lawan yang banyak jumlahnya.

Ang-Hong-Pai bukanlah perkumpulan yang besar kalau kedatangan orang asing di bukit itu tidak mereka ketahui semenjak orang itu menginjakkan kaki di tanjakan pertama.

Mereka selalu memasang penjaga di semua sudut, secara bergilir.

Ketika para penjaga melihat munculnya seorang laki-laki yang demikian tampannya, Jantung mereka sudah berdebar tidak karuan, merasa gembira dan tegang sekali, seperti sekumpulan serigala kelaparan melihat munculnya seekor domba yang gemuk dari dalam semak-semak.

Tiga orang penjaga ini ingin sekali segera menubruk pria itu, diperebutkan.

Akan tetapi mereka bukan orang-orang yang bodoh dan lancang.

Mereka dapat melihat, dari sikap dan langkah pria itu, bahwa yang mendaki bukit ini bukanlah orang sembarangan.

Mereka tidak berani sembrono.

Sekali bertindak dan gagal, tentu mereka akan mendapat kemarahan ketua mereka.

Padahal, kalau sudah marah, Theng Toanio kejam luar biasa.

Mudah saja membuntungi lengan atau kaki, atau bahkan leher orang!

Maka, sambil menahan getaran hati yang penuh dengan nafsu melihat pria yang demikian gantengnya, tiga orang ini lalu membagi tugas.

Seorang melapor kepada ketua di atas, yang lain tetap mengintai.

mereka tidak khawatir pria itu akan dapat pergi dari bukit itu karena bukit itu, di antara pohon-pohon besar di dalam hutan, terdapat jebakan-jebakan dan perangkap-perangkap yang penuh rahasia.

Sebelum tiba ditanjakan lereng pertengahan, tentu pria itu sudah akan masuk perangkap dan mudah saja mereka tawan!

Demikian pikir mereka, sama sekali tidak mengetahui bahwa calon korban yang mereka sangka seekor domba gemuk yang lunak dagingnya itu ternyata adalah seekor harimau yang tidak akan mudah dikalahkan oleh pengeroyokan segerombolan serigala betina yang kelaparan!

Bahkan mungkin segerombolan serigala betina itulah yang akan menjadi korban terkaman sang harimau.

Lee Song Kim memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali.

Penglihatan dan pendengarannya, juga panca-indera yang lain, amatlah peka dan terlatih.

Maka, diam-diam dia sudah mendengar dan melihat berkelebatnya tiga bayangan wanita di antara semak-semak belukar itu.

Akan tetapi dia hanya tersenyum saja, tidak membuat gerakan mencurigakan, pura-pura tidak tahu saja.

Namun dia sudah dapat menduga bahwa tentu bayangan-bayangan itu adalah penjaga-penjaga yang sudah melihat di mendaki bukit dan tentu kini Ang-Hong-Pai telah membuat persiapan untuk menyambutnya.

Mengingat akan hal ini, Song Kim tersenyum, penuh kepercayaan kepada diri sendiri.

Dia terus melangkah maju dengan gagah, memasuki hutan lebat itu, mendaki tanjakan pertama yang penuh liku.

Beberapa kali dia mendapatkan jalan buntu, terhalang jurang yang menganga lebar dan mengerikan.

Bagi orang biasa demikian, akan tetapi dengan mudah Song Kim melompati jurang-jurang itu!

Beberapa buah perangkap yang tertutup daun-daun dapat diketahuinya karena sebelum melangkah, dia melemparkan batu-batu kecil dengan tenaga kuat ke atas tanah yang akan diinj aknya.

Perangkap itu bekerja dan tebukalah lubang jebakan ketika terkena sambitan keras itu sehingga tidak sampai menjebak tubuhnya.

Dari kauh, para anggauta Ang-Hong-Pai mengamati gerak-geriknya dan mereka semua terkejut melihat betapa laki-laki itu mampu melewati semua rintangan.

Makin yakin hati mereka bahwa pria itu bukan orang bisa, melinkan orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Melihat ini, Theng Toanio cepat mempersiapkan anak buahnya untuk melakukan penghadangan secara bertahap.

Pasukan penghadang pertama muncul ketika Song Kim tiba di lereng pertama.

Dia melihat munculnya lima orang gadis yang memegang tali hitam mengepungnya dari belakang batang-batang pohon.

Dia melihat betapa lima orang itu mengikatkan ujung tali hitam panjang pada pinggang mereka, sedangkan tali itu mereka gulung dan dipegang di tangan mereka.

Ujung lainnya berbentuk lasso dan mengertilah dia bahwa mereka itu adalah ahli-ahli melempar tali untuk menjerat binatang buas, dan kini agaknya pasukan lasso ini hendak menangkapnya dengan tali hitam itu.

Dian-diam dia tersenyum dan pura-pura tidak melihat mereka.

Benar saja dugaannya.

Tiba-tiba lima orang gadis itu menggerakkan tangan, dari lima jurusan yang mengepung Song Kim, dan nampaklah lima sinar hitam ketika tali-tali itu meluncur dengan mulut lasso terbuka lebar menyambar kepalanya.

Tentu saja dengan mudah Song Kim akan dapat melepaskan diri dari ancaman bahaya.

Akan tetapi dia sengaja membiarkan tubuhnya, lasso-lasso itu dengan cepat memasuki kepalanya dan menjerat seluruh tubuh dari leher sampai ke kaki!

Karena lima orang gadis itu tadi melempar tali melalui di atas cabang pohon di depan masing-masing, hal yang sudah diatur lebih dahulu, kini mereka menarik tali itu dengan harapan agar tubuh Song Kim tertarik dan tergantung di udara, di antara lima batang pohon.

Akan tetapi, betapapun kuat mereka membetot dan menarik, tetap saja tubuh Song Kim tidak bergeming, tidak terangkat sedikitpun.

Laki-laki itu malah tersenyum lebar dan menoleh ke sana-sini untuk melihat lima orang gadis yang bersitegang menarik tali masing-masing.

Dengan kedua tangannya, Song Kim mengumpulkan lima helai tali yang mengikat tubuhnya itu, mengerahkan tenaga dan tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring sambil terus menarik lima helai tali itu dan akibatnya, dengan sentakan yang mengejutkan, tubuh lima orang gadis iti kini tertarik ke atas dan tergantung kepada cabang pohon di depan masing-masing!

Mereka meronta-ronta, akan tetapi tidak mampu melepaskan diri karena ikatan ujung tali pada ikat pinggang mereka, yang sengaja dibuat demikian agar lawan tidak dapat merampas tali, amatlah kuatnya.

Song Kim kini melepaskan lasso-lasso itu dari tubuhnya.

Dengan satu tangan saja dia menahan tubuh lima orang gadis itu dengan cara memegang ujung tali erat-erat, kemudian mengikat kelima ujung tali menjadi satu, mengikatnya pada sebatang pohon.

Sekarang tubuh lima orang gadis itu tergantung setinggi satu meter dari tanah, mereka masih meronta-ronta, akan tetapi makin meronta, makin kuat saja tali mengikat pinggang mereka.

Sambil tersenyum lebar Song Kim menghampiri mereka, mengamati mereka satu demi satu.

Rata-rata mereka berusia dua puluh lima tahun, bertubuh padat kuat dan berwajah manis.

Bagaikan orang memeriksa dan menilai ternak yang akan dibelinya, tangan Song Kim membelai tubuh gadis-gadis itu, mengelus dagu, pipi dan leher, menowel, mencolek dan mencubit sana-sini sambil tersenyum.

Kemudian tangannya meraih dan terdengar bunyi kain robek ketika dia merenggutkan pakaian mereka itu terlepas dari tubuh mereka, satu demi satu sehingga kini lima orang gadis itu tergantung dalam keadaan telanjang bulat!

"Ha-ha-ha, inilah hukuman kalian yang telah berani mencoba untuk menghalangi perjalananku.

Sekali lagi kalian berani menggangguku, bukan pakaianmu yang kurobek, melainkan kulitmu!"

Setelah berkata demikian, Song Kim melanjutkan perjalanannya mendaki bukit.

Melihat sepak terjang pria itu dari tempat persembunyiannya, Theng Toanio terkejut bukan main.

Apa yang diperlihatkan Song Kim tadi merupakan bukti bahwa orang ini memiliki kepandaian tinggi sekali.

Maka iapun tidak mau mengambil resiko dan cepat mengerahkan semua anak buahnya, langsung dipimpinnya sendiri melakukan penghadangan.

Biasanya, untuk menghadapi lawan yang berani naik ke Ang-Hong-Pai, ada beberapa lapis pasukan yang makin ke atas semakin kuat penjagaannya.

Akan tetapi sekali ini Theng Toanio tidak mau menyia-nyiakan waktu dan membiarkan anak buahnya terancam.

Ia sendiri memimpin anak buahnya.

Lebih dari lima puluh orang gadis dengan pedang di tangan berbaris di belakangnya, sedangkan selebihnya menyusun diri sebagai pengepung dan penjaga tempat-tempat lain karena khawatir kalau-kalau pria yang pandai itu mempunyai teman-teman yang menyerbu dari lain jurusan.

Ada pula beberapa orang yang menolong dan melepaskan lima orang rekan yang tergantung dalam keadaan telanjang tadi.

Baca Juga: Mutiara Hitam 5

Baca Juga: Suling Emas 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger