Eps 4 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.
"Lhoh....! Ehhh....! Bagaimana ini....? Wah, jangan....!"
Kian Bu menjadi bingung, tubuhnya menjadi kaku dan meremang semua, seolah-olah ada ribuan ekor ulat yang merubung tubuhnya.
Dan pada saat itulah muncul kakek dari dalam kereta bersama para piauwsu.
"Hong Ciauw....!"
Kakek itu membentak marah.
Gadis itu lalu melepaskan rangkulannya, terkejut dan mundur, akan tetapi masih sempat melempar senyum dan kerling manis ke arah Kian Bu, lalu berkata.
"Dia ini adalah in-kong (tuan penolong) Suma Kian Bu. Kalau tidak ditolongnya, tentu aku sudah mati di tangan penculik kejam...."
Kian Bu yang melihat kakek itu melotot marah, tahu bahwa keadaannya tidak menguntungkan.
Ayah itu tentu marah melihat anaknya merangkul seorang pemuda!
"Eh, maaf....
aku....
eh, aku hanya menolong puterimu tanpa pamrih sesuatu...."
"Puteri siapa? Dia adalah bini mudaku!"
Bentak kakek itu.
Sepasang mata Kian Bu makin lama makin lebar sampai menjadi bulat dan tidak dapat lebih lebar lagi, mulutnya juga terbuka sampai lama.
Untung di tempat itu tidak banyak lalat!
Akhirnya, tanpa mengeluarkan suara bah atau buh, dia membalikkan kedua kakinya dan lari lintang pukang seperti dikejar hantu!
Tentu saja para piauwsu yang melihat ini menjadi terheran-heran, apalagi mendapat cerita nyonya muda itu bahwa pemuda tadi telah menolongnya dari tangan penculik yang amat lihai tadi.
Benar-benar seorang pemuda yang aneh, pikir mereka, aneh dan berilmu amat tinggi karena dengan beberapa loncatan saja, bayangan pemuda itu melesat dan lenyap.
Kian Bu berlari terus dengan cepat, merasa seolah-olah gadis manis itu mengejarnya, hendak merangkulnya, hendak menciumnya.
Dia bergidik berkali-kali, menggerakkan kedua pundak dan tengkuknya terasa dingin dan ngeri, larinya makin cepat seolah-olah setan gadis itu berada dekat sekali di belakangnya.
"Ha-ha-ha-ha!"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan mendengar suara ketawa ini tahulah Kian Bu bahwa memang ada orang di belakangnya, bukan setan bukan siluman, melainkan kakaknya sendiri.
Maka dia berhenti dan terengah-engah memandang wajah kakaknya yang tertawa-tawa dengan gelinya.
Baru sekarang dia melihat kakaknya tertawa demikian enak sampai memegang perutnya.
"Ha-ha-ha-ha....! Dia bini mudanya.... ha-ha-ha-ha, dan kau dirangkulnya, ha-ha-ha....!"
Kian Lee yang tidak biasa tertawa-tawa seperti itu, kini tidak dapat menahan kegelian hatinya.
"Koko, kau.... kejam!"
Kian Bu membentak dan suara tertawa terhenti. Dengan mulut masih tersenyum lebar menahan geli hatinya, Kian Lee berkata.
"Nah, kau rasakan sekarang, Bu-te. Tidak benarkah kata-kataku bahwa cara yang tidak baik hanya akan menghasilkan ketidakbaikan pula? Karena pertolonganmu tadi hanya sandiwara dan pura-pura saja, hanya palsu, maka hasilnya hanya menimbulkan cemburu seorang suami yang melihat bini mudanya bermain gila dengan orang lain."
"Huh! Sialan perempuan itu....!"
Kian Bu membanting kaki dengan gemas.
"Aku tidak akan melakukan hal itu lagi! Tidak lagi!"
"Sudahlah, Bu-te, sekali waktu ada gunanya juga pelajaran pahit seperti ini bagi kita. Nah, marilah sekarang kita cepat mengejar mereka dan membayangi dari jauh."
"Hehh....?"
Kian Bu memandang kakaknya dengan mata lebar.
"Perlu apa membayangi? Aku tidak butuh berkenalan dengan perempuan itu!"
"Sekarang bukan urusan berkenalan dengan wanita, Bu-te. Ketahuilah, ketika tadi aku melarikan diri dan mengintai, aku melihat berkelebatnya tiga orang tosu dan aku segera membayangi mereka. Aku sempat menangkap percakapan mereka yang menyatakan bahwa mereka akan turun tangan terhadap rombongan itu malam ini di kuil tua."
"Eh, siapa mereka itu?"
"Aku tidak tahu, akan tetapi melihat gerakan-gerakan mereka, kalau benar mereka turun tangan mengganggu, para piauwsu itu bukanlah tandingan mereka. Maka kita harus membayangi dan kalau perlu menolong mereka, Bu-te. Sekali ini bukan menolong pura-pura, bukan main sandiwara, melainkan main betul-betulan karena ada pihak yang terancam bahaya."
"Baik, koko. Akan tetapi kuharap ada penculik sungguhan yang melarikan perempuan itu dan jangan harap aku akan menolong dia. Agaknya orang seperti dia itu memang selalu mengharapkan dibawa pergi penculik!"
Kian Bu mengomel.
"Hushh, jangan sentimen, Bu-te! Dia patut dimaafkan karena memang sukarlah mencari seorang penolong pemuda istimewa seperti engkau."
"Wah, kau tiada habisnya mengejek, koko!"
Suma Kian Bu mengomel dengan suara merengek.
"Awas, kalau lain kali engkau yang kecelik, aku akan mentertawakanmu juga!"
Dua orang kakak beradik itu menggunakan ilmu berlari cepat, akan tetapi karena rombongan itu dibalapkan semenjak mengalami gangguan kakak beradik itu, Maka setelah hampir malam baru mereka dapat menyusul rombongan itu yang telah berhenti di dalam sebuah kuil tua di luar hutan.
Kuil ini adalah kuil Budha yang sudah amat tua, sebagian besar bangunan itu sudah runtuh dan agaknya dibuat sebagai tempat perhentian oleh para pendeta Budha di jaman dahulu ketika mereka mulai dengan penyebaran Agama Budha sampai ke pelosok-pelosok dunia.
Kini kuil kuno dan rusak itu tentu saja tidak dipergunakan lagi oleh para pendeta dan hanya dipergunakan oleh orang-orang yang melakukan perjalanan dan lewat di tempat itu untuk sekedar beristirahat atau kadang-kadang juga bermalam.
Agaknya rombongan yang dilindungi oleh dua losin piauwsu itu memang sudah merencanakan untuk bermalam di tempat itu dan merasa aman karena ada dua losin piauwsu yang mengawal.
Peristiwa penculikan nyonya muda di siang hari tadi, dilakukan oleh seorang pemuda dan entah bagaimana nasib nyonya muda itu kalau tidak ditolong oleh seorang pemuda lain, membuat para piauwsu bersikap waspada, hati-hati dan juga agak cemas.
Baru ada seorang perampok saja yang turun tangan, penjahat itu sudah berhasil menculik wanita di hadapan hidung mereka tanpa mereka dapat menangkapnya!
Setelah hartawan itu dan dua orang isterinya turun dari kereta menempati ruangan kuil yang sudah dibersihkan dan dihangatkan dengan api unggun, duduk di dekat api di atas tikar, para piauwsu yang berjaga-jaga tentu saja membicarakan peristiwa siang tadi.
Juga di antara hartawan dan kedua orang isterinya terjadi percakapan mengenai peristiwa itu.
Terutama si hartawan yang mengomel tak kunjung henti.
"Baru sejenak saja dari sampingku, engkau sudah main gila dengan laki-laki lain,"
Kata si hartawan kepada bini mudanya.
"Sudah berapa puluh kali kau mengatakan hal itu!"
Jawab si bini muda dengan berani.
"Sampai bosan aku mendengarnya! Engkau tidak terancam bahaya maut, maka bicara sih mudah! Aku yang terancam bahaya maut oleh penculik yang ganas dan kejam sekali itu, setelah ditolong orang, tentu saja aku amat senang dan berterima kasih. Dia masih amat muda, sepatutnya menjadi adikku, kalau aku menyatakan terima kasihku dengan merangkulnya, apakah itu merupakan kejahatan besar?"
"Kalau aku tidak keburu muncul, entah macam apa lagi terima kasihmu itu, kau perempuan rendah....!"
"Sudahlah, sudahlah....!"
Isteri pertama mencela.
"Di tengah perjalanan, di tempat berbahaya dan di mana bahaya sewaktu-waktu masih selalu mengancam kita, mengapa ribut-ribut mengenai urusan yang telah lewat? Terdengar para piauwsupun hanya akan menimbulkan rasa malu."
Setelah tiga orang itu dengan bersungut-sungut tidur di dekat api dan tidak lagi ribut mulut, para piauwsu yang berjaga-jaga membicarakan peristiwa siang tadi sambil berbisik-bislk.
Di antara mereka, Can Si Hok si kepala piauwsu sendiri, juga ikut bercakap-cakap.
"Nasib kita masih baik sehingga ada saja muncul seorang penolong sehingga penculikan itu dapat digagalkan,"
Kata seorang di antara mereka.
"Penculik itu mempunyai kepandaian yang hebat sekali. Keroyokan anak panah itu dapat dielakkannya semua tanpa menoleh, padahal dia sedang memondong orang dan sedang berlari. Sayang.dia keburu lari sehingga kita tidak sempat mencoba sampai di mana kepandaian ilmu silatnya. Kelihatannya masih muda sekali."
"Akan tetapi, jelas bahwa kepandaian penolong itupun lebih hebat,"
Bantah yang lain.
"Buktinya dapat menolong dan mengusir si penculik. Penolong itupun masih amat muda. Dari cara dia melarikan diri, jelas bahwa gin-kangnya amat luar biasa, seperti terbang saja."
Can Si Hok, si kepala pengawal yang berjenggot putih, menarik napas panjang dan berkata.
"Kawan-kawan, malam ini harap kalian waspada dan lebih baik kalau tidak seorangpun di antara kita tertidur. Penjagaan di luar kuil harus dilakukan dengan ketat, perondaan di sekitar kuil dilakukan dengan bergiliran. Aku khawatir akan terjadi lagi hal yang tidak kita inginkan. Munculnya dua orang tadi, baik si penculik maupun si penolong, merupakan hal yang amat luar biasa. Selama ini belum pernah pula mendengar di dunia kango-uw muncul dua jago muda yang sedemikian lihainya. Baiknya, kalau yang seorang jahat, yang seorang baik dan suka menolong. Mudah-mudahan tugas kita sekali ini tidak akan gagal."
Penjagaan diperketat dan Can Si Hok sendiri melakukan perondaan.
Kelihatannya aman dan tidak terjadi sesuatu di tempat yang amat sunyi itu.
Benarkah demikian?
Sesungguhnya tidaklah demikian karena tidak jauh dari kuil itu terjadi hal-hal yang tentu akan menggegerkan para piauwsu kalau saja mereka mengetahuinya.
Tiga sosok bayangan yang gerakannya gesit bukan main, bagaikan setan-setan saja layaknya, bergerak di antara pohon-pohon mendekati kuil.
Setelah dekat dengan kuil mereka mengintai dari balik pohon besar ke arah empat orang penjaga yang menjaga di pojok kuil.
"Kita bunuh saja mereka berempat itu, lalu menyerbu ke dalam,"
Berbisik seorang di antara mereka.
"Biarlah pinto yang menyelinap ke dalam mencari benda itu, kalian berdua bikin ribut di luar, memancing perhatian semua piauwsu. Yang agak lumayan kepandaiannya hanyalah Can-piauwsu itu saja, yang lain-lainnya tidak perlu dikhawatirkan."
"Baik, akan tetapi bagaimana dengan hartawan itu?"
Tanya tosu yang ada tahi lalat besar di dagu kanannya.
"Dan kedua orang wanita itu?"
"Bereskan saja mereka, hartawan itu adalah seorang yang pelit!"
Kata tosu kedua.
"Ah, wanita muda itu sayang kalau dibunuh. Dia manis,"
Kata si tahi lalat. (Lanjut ke
Jilid 11) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11
"Hushhhh.... jangan ribut-ribut, kita bergerak sekarang dan.... heiii.... hujankah....?"
Memang ada air menyiram mereka dari atas pohon besar itu.
Tadinya mereka mengira bahwa hujan turun tak tersangka-sangka, akan tetapi hidung ketiga orang tosu itu kembang kempis.
Mereka meraba-raba air hujan yang menimpa kepala dan mendekatkan jari ke depan hidung.
"Mengapa baunya begini?"
"Seperti air kencing!"
Dan "hujan"
Pun berhenti yang berarti memang tidak hujan sama sekali, melainkan ada orang mengencingi mereka dari atas pohon itu.
"Keparat!"
Mereka memaki dan secepat kilat tubuh mereka sudah mencelat ke atas, ke dalam pohon.
Mereka berlompatan dan mencari-cari, akan tetapi tidak ada seorangpun di pohon itu!
Terpaksa mereka turun lagi dan berbisik-bisik penuh ketegangan.
"Apa yang terjadi?"
"Tentu hanya seekor monyet, siapa lagi?"
"Akan tetapi, biarpun monyet, bagaimana bisa bergerak secepat itu seperti pandai menghilang saja?"
"Kita harus bekerja cepat,"
Kata tosu bertahi lalat.
"Sudah dikabarkan orang bahwa kelenteng kuno ini menjadi tempat keramat. Yang dapat menggoda kita seperti tadi tentu hanya setan saja!"
Ketiganya menjadi tegang.
Mereka percaya bahwa setanlah yang menggoda mereka, karena kalau manusia atau binatang, tak mungkin dapat lari dari mereka sedemikian cepatnya.
Mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, tak mungkin dapat dipermainkan dan kalau yang berada di atas pohon tadi manusia atau binatang sudah pasti mereka akan dapat menangkapnya.
"Mari kita bergerak,"
Kata tosu pertama.
"Ji-sute (adik seperguruan kedua), kau menyelinap dari kanan, dan kau sam-sute, kau dari kiri. Setelah kalian menyergap keempat orang itu, pinto akan masuk melalui pintu samping yang kelihatan dari sini itu dan selanjutnya kalian harus memancing mereka semua keluar agar leluasa pinto bergerak ke dalam."
"Baik, suheng,"
Kata kedua orang tosu itu yang segera berpencar ke kiri dan ke kanan.
"Heiii.... aduhhh!"
Tak lama kemudian terdengar tosu yang berlari ke kiri terjungkal dan menahan teriakan makiannya. Mereka berkumpul, kini di tempat tosu itu jatuh.
"Mengapa kau, sam-sute?"
"Tersandung batu! Sialan!"
"Engkau? Dapat tersandung batu? Sungguh aneh."
"Entahlah, batu itu seperti ada tangannya memegang dan menjegal kakiku. Eh, mana batu jahanam itu?"
Dia meraba--raba dan tidak menemukan batu itu.
"Aneh sekali, batu itu besar sekali ketika aku menyandungnya, mengapa sekarang menghilang?"
"Ah, sungguh heran, sekali mengapa mendadak engkau menjadi penakut dan gugup sehingga jatuh sendiri, sam-sute. Apakah cerita tentang setan membuat kau penakut?"
Cela tosu tertua.
"Biarlah empat orang itu kubereskan sendiri, nanti sam-sute menyusul kalau aku sudah memancing mereka keluar,"
Kata orang kedua yang segera meloncat ke depan dengan sigap.
Dua orang temannya melihat dia meloncat ke atas, akan tetapi betapa kaget rasa hati mereka karena tidak melihat temannya itu turun lagi, seolah-olah menghilang begitu saja!
Tosu tertua dan sam-sutenya yang tadi tersandung batu ajaib itu terbelalak memandang.
"Eh, ke mana dia?"
Tanya sutenya.
"Mana ji-suheng?"
Tosu tertua juga bingung karena sutenya itu benar-benar lenyap tak menimbulkan bekas.
"Ji-sute....!"
Bisiknya memanggil.
Tiba-tiba terdengar jawaban agak jauh di belakang mereka, akan tetapi bukan jawaban panggilan itu melainkan suara "ceekkk....
ceekkk...."
Seperti orang yang lehernya dicekik!
Cepat mereka berdua melompat dan lari ke arah suara itu dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat saudara yang dicari-cari itu sedang "menggantung"
Diri di sebuah dahan, Tubuhnya berkelojotan, lehernya mengeluarkan suara tercekik dan dia digantung dengan sabuknya sendiri sehingga celananya merosot turun terkumpul di kaki dan karena tosu bertahi lalat itu sudah "biasa"
Tidak memakai pakaian dalam, tentu saja dia menjadi telanjang bulat di tubuh bagian bawahnya, menimbulkan penglihatan yang lucu sekali!
Kedua orang tosu itu cepat meloncat dan melepaskan sabuk itu dari dahan pohon dan membawa turun saudara mereka yang sudah melotot matanya, terjulur lidahnya dan kebiruan mukanya itu!
Mereka sibuk, yang seorang menggosok-gosok leher bekas terjirat itu, yang kedua membenarkan celana dan mengikatkan lagi sabuknya pada pinggang.
Setelah siuman, tosu ketiga bertanya.
"Ji-suheng, mengapa kau begitu pendek pikiranmu? Mengapa kau hendak membunuh diri dan mengapa pula membunuh diri saja menanti saat seperti ini? Aihh, ji-suheng, kalau kau mati dengan membunuh diri, nyawamu akan melayang ke neraka siksaan!"
"Bunuh diri hidungmu itu!"
Si tahi lalat memaki dan bangkit duduk, menggosok-gosok lehernya dan menggoyang-goyangkan kepalanya.
"Iblis yang melakukan ini!"
"Ji-sute, coba ceritakan, apakah yang terjadi?"
Tanya tosu tertua setelah dia tadi meloncat ke atas pohon menyelidiki akan tetapi juga tidak menemukan orang di situ.
Tosu bertahi lalat menghela napas lalu bergidik.
"Kalian melihat sendiri aku meloncat. Tahu-tahu rambutku ditangkap orang dari atas dan sebelum aku sempat berteriak, jalan darah di leher ditotok membuat aku tak dapat bersuara, dan aku lalu.... digantung di dahan itu."
"Tidak mungkin!"
Tosu pertama membantah.
"Mungkin saja!"
Tosu ketiga mencela.
"Buktinya dia sudah tergantung di sana, kecuali kalau dia menggantung diri sendiri. Ji-suheng, berterusteranglah, apa kau benar-benar tidak mencoba membunuh diri? Jangan putus asa, biarlah wanita di kuil itu untukmu, aku tanggung ini!"
"Sam-sute, sekali lagi kau bicara tentang bunuh diri, lehermu yang akan kucekik!"
Si tahi lalat berkata marah dan mendongkol.
"Ji-sute, pinto sukar untuk percaya. Biarpun andaikata benar ada orang menangkap rambutmu dari atas dan menotok jalan darahmu di leher sehingga kau tidak dapat berteriak, akan tetapi kedua tangan masih bebas. Dengan itu kau dapat...."
"Kalau diceritakan memang aneh, suheng, maka tadi kukatakan bahwa setan sajalah yang dapat melakukan itu. Aku sudah melawan tentu saja, dan tangan kiriku ini sudah menampar lambungnya, bahkan aku yakin benar tangan kananku sudah menotok jalan darahnya di pinggang. Akan tetapi aku seolah-olah menampar dan menotok tubuh.... mayat saja. Begitu dingin dan sama sekali tidak ada hasilnya, hihhh....!"
Dia bergidik dan kedua orang saudaranya ikut merasa ngeri.
"Aihh.... benar-benarkah ada setan di sini....?"
Tosu pertama berkata sambil menoleh ke kanan kiri sedangkan tosu ketiga menggosok-gosok tengkuknya yang terasa tebal. Tiba-tiba si tahi lalat berkata.
"Bukan, suheng. Teringat aku sekarang! Bukan setan karena aku mendengar dia tertawa, disusul suara yang terdengar jelas akan tetapi agak jauh."
"Suara bagaimana?"
"Suara seorang laki-laki berkata. Koko, dia telanjang, ha-ha, begitulah, sekarang aku teringat benar tentu ada dua orang di pohon itu yang mempermainkan aku."
Tosu pertama mengelus jenggotnya.
"Hemmm.... setan atau manusia, jelas bahwa mereka itu lihai sekali dan agaknya hendak merintangi tindakan kita. Bodoh sekali kalau kita berlaku nekat. Biarlah kita anggap saja kita gagal malam ini, dan kita tangguhkan sampai besok. Kita harus membawa bantuan kalau begini, siapa tahu diam-diam ada orang pandai yang melindungi rombongan itu."
Dua orang adiknya mengangguk dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan beberapa kali si tahi lalat menoleh ke belakang karena dia masih merasa ngeri kalau mengenangkan peristiwa tadi.
Tentu saja mudah diduga bahwa yang melakukan gangguan itu adalah Kian Lee dan Kian Bu.
Dan mudah pula diduga bahwa yang mengencingi kepala tiga orang tosu itu dan menyamar sebagai batu lalu menjegal kaki, adalah Kian Bu.
Sedangkan yang menggantung si tahi lalat adalah Kian Lee, dibantu oleh adiknya yang melepaskan sabuk dan membuat tali gantungan di dahan.
Setelah tiga orang tosu itu pergi, Kian Lee yang sudah turun ke bawah bersama adiknya, berkata.
"Ingat, Bu-te. Ayah sudah berpesan agar kita tidak menanam permusuhan dengan siapapun. Urusan antara tosu-tosu itu dengan rombongan hartawan adalah urusan mereka yang sama sekali kita tidak ketahui sebab-sebabnya. Kita tidak boleh membantu satu pihak, hanya kita harus turun tangan kalau ada pihak yang akan melakukan kejahatan."
Kian Bu menggangguk.
"Si tahi lalat suka kepada perempuan itu. Kalau dia menculik si perempuan itu, aku tidak akan mencegahnya."
"Hushh! Menculik sungguh-sungguh merupakan kejahatan yang harus kita cegah. Kita lihat saja besok, agaknya mereka hendak merampas sesuatu dari rombongan itu."
"Bagaimana kalau besok terjadi pertempuran, koko?"
"Kita lihat saja dari jauh. Pertempuran di antara mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Tentu saja kita tidak dapat membantu siapapun, dan kita tidak dapat mencegah pertempuran yang adil. Hanya kalau metihat ketidakadilan, baru kita harus turun tangan seperti yang dipesankan ayah."
"Wah, sukar, Lee-ko!"
"Apanya yang sukar?"
"Tentang keadilan itu, atau lebih tepat ketidakadilan itu. Bagaimana menentukannya mana yang adil dan mana yang tidak? Yang tidak adil bagimu belum tentu tidak adil bagiku dan sebaliknya, demikian pula dengan orang lain!"
"Hemm, Bu-te, seorang yang menjunjung tinggi kegagahan, yang mengabdi untuk kebenaran dan keadilan harus waspada akan kebenaran dan keadilan itu. Kebenaran dan keadilan yang didasari kepentingan diri pribadi tentu saja palsu! Akan tetapi, mudah saja melihat kenyataan akan penindasan dan kejahatan yang dilakukan orang, dan itulah ketidakadilan. Kalau kau belum mengerti benar, maka harus belajar, adikku. yang terpenting, seperti pesan ayah, harus diingat dan diketahui bahwa segala sesuatu untuk perbuatan yang dilakukan demi kepentingan diri pribadi, demi keuntungan lahir batin diri pribadi, tidak benar kalau dipertahankan sebagai kebenaran atau keadilan."
"Wah-wah, kuliahmu membikin aku pusing, koko. Kita sama lihat sajalah besok kalau benar-benar terjadi. Tentu ramai!"
Dua orang kakak beradik itu lalu memilih sebatang pohon besar yang enak dipakai tidur, yang tidak ada semut-semutnya tentu saja dan mereka tidur di dalam selimut daun-daun pohon itu sampai pagi.
Kalau rombongan piauwsu itu sama sekali tak ada yang tidur semenit pun, kedua orang kakak beradik itu tidur dengan nyenyaknya.
Mereka tidak khawatir jatuh karena tubuh dan syaraf mereka yang sudah terlatih sejak kecil itu akan selalu siap menjaga segala macam bahaya yang mengancam tubuh mereka.
Siapakah adanya tiga orang tosu yang gerak-geriknya penuh rahasia itu?
Dan siapa pula rombongan hartawan yang hendak diganggunya?
Untuk mengetahui ini, kita harus mengenal dulu keadaan pemerintahan pada saat itu.
Ternyata bahwa seperti juga di setiap pemerintahan, pada waktu itu banyak terdapat orang-orang yang membenci Pemerintah Mancu yang mulai memperbaiki keadaan pemerintahannya, bahkan berusaha sedapatnya untuk menarik simpati hati rakyat dengan usaha memperbaiki nasib rakyat kecil.
Betapapun juga, tetap saja ada di antara mereka yang penasaran dan menghendaki agar pemerintah penjajah itu lenyap dari tanah air mereka.
Golongan ini yang tidak berani berterang melakukan penentangan terhadap pemerintah yang kuat lalu menyusup ke mana-mana dan di antaranya ada yang menyusup ke dalam tubuh alat negara yang berupa pasukan pemerintah!
Apalagi pada waktu itu, kesempatan baik tiba bagi mereka yang diam-diam membenci Pemerintah Mancu.
Kaisar Kang Hsi sudah tua dan seperti biasanya yang terjadi dalam sejarah kerajaan setiap kali sang raja sudah tua maka timbullah perang dingin di antara para pangeran yang bercita-cita mewarisi kedudukan kaisar yang amat diinginkan itu.
Biarpun putera mahkota yang ditunjuk untuk kelak menggantikan kaisar sudah ada, yaitu Pangeran Yung Ceng, namun banyaklah pangeran-pangeran yang lebih tua usianya, putera-putera selir, merasa iri hati dan selain ada yang menginginkan kedudukan kaisar juga banyak yang memperebutkan pangkat-pangkat tinggi sebagai pembantu kaisar kelak.
Di antara mereka yang berambisi merampas kedudukan terdapat seorang pangeran tua, pangeran yang paling tua di antara para pangeran.
Pangeran tua ini bernama Pangeran Liong Bin Ong, usianya sudah lima puluh tahun lebih karena dia dilahirkan dari seorang selir ayah Kaisar Kang Hsi.
Jadi dia adalah adik tiri Kaisar Kang Hsi.
Diam-diam Liong Bin Ong mengadakan hubungan dengan orang-orang kang-ouw yang membenci pemerintah, bahkan mengadakan kontak dengan suku bangsa liar di luar tembok besar, terutama bangsa Mongol yang masih menaruh dendam kekalahannya terhadap Mancu.
Diantara golongan-golongan yang mengadakan persekutuan pemberontakan ini terdapat perkumpulan Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), yang para pemimpinnya terdiri dari tosu-tosu yang sudah menyeleweng dari Agama To dan mempergunakan agama demi tercapainya ambisi pribadi berkedok agama, yaitu ambisi politik.
Tiga orang tosu yang pada malam itu dipermainkan oleh Kian Lee dan Kian Bu adalah angauta-anggauta Pek-lian-kauw yang ditugaskan oleh pimpinannya untuk melakukan penyelidikan karena Pek-lian-kauw mendengar bahwa pemerintah pusat sedang mulai menaruh curiga terhadap persekutuan itu dan kabarnya mengirim utusan kepada Jenderal Kao Liang yang bertugas sebagai komandan yang menjaga tapal batas utara.
Di dalam kabar yang diterima ini, pesuruh dari pemerintah pusat menyamar dan selain mengirim berita, juga membawakan biaya dalam bentuk emas dan perak.
Tiga orang tosu itu bertugas untuk mengawasi dan kalau dapat merampas semua itu.
Adapun hartawan yang sedang melakukan perjalanan itu memang datang dari kota raja bersama kedua orang isterinya dan dikawal oleh para piauwsu bayaran yang kuat, akan tetapi dia hanyalah seorang hartawan yang hendak pulang ke kampung halamannya saja di utara.
Sama sekali dia tidak mengira bahwa dia disangka oleh para pemberontak sebagai utusan dari kota raja!
Demikianlah, dengan hati merasa lega juga bahwa semalam tidak terjadi gangguan terhadap mereka, para piauwsu mengiringkan dua buah kereta itu melanjutkan perjalanan.
Dusun yang dituju oleh hartawan itu sudah tidak jauh lagi, terletak di balik gunung di depan kira-kira memerlukan perjalanan setengah hari lebih.
Akan tetapi, belum lama mereka bergerak meninggalkan kuil kuno itu, tiba-tiba kusir kereta pertama yang duduknya agak tinggi melihat debu mengepul di depan.
"Ada orang dari depan....!"
Serunya dan semua piauwsu terkejut, siap dan mengurung kedua kereta itu untuk melindungi.
"Berhenti dan berjaga-jaga!"
Piauwsu berjenggot putih memberi aba-aba dan dua buah kereta itu lalu berhenti, semua piauwsu meloncat turun dari kuda dan merasa tegang namun siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Mereka adalah piauwsu-piauwsu yang sudah bertahun-tahun melakukan tugas itu, sudah terbiasa dengan hidup penuh kekerasan dan pertempuran.
Tak lama kemudian, muncullah tiga orang tosu itu dan di belakangnya tampak sepuluh orang tinggi besar yang menunggang kuda.
Dilihat dari cara mereka menunggang kuda saja dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa melakukan perjalanan jauh dengan berkuda, dan sikap mereka jelas membayangkan kekerasan, kekejaman dan juga ketangkasan ahli-ahli silat.
Yang lebih mengesankan bagi para piauwsu adalah tiga orang tosu itu, yang datang dengan jalan kaki, berlari cepat di depan rombongan berkuda.
Para piauwsu yang sudah berpengalaman itu tidak gentar menghadapi sepuluh orang berkuda yang tinggi besar dan kasar itu, akan tetapi mereka dapat menduga bahwa tiga orang tosu itulah yang harus dihadapi dengan hati-hati.
Oleh karena itu, pimpinan piauwsu yang tua dan berjenggot putih, segera melangkah maju menghadapi tiga tosu itu dan menjura penuh hormat.
"Kami dari Hui-houw Piauw-kiok (Perusahaan Pengawal Harimau Terbang) di Sen-yang menghaturkan salam persahabatan kepada sam-wi totiang dan cu-wi sekalian. Maafkan bahwa dua kereta yang kami kawal memenuhi jalan sehingga merepotkan cu-wi saja. Kalau cu-wi hendak lewat, silahkan mengambil jalan dulu!"
Kata-kata penuh hormat dan merendah ini memang biasanya dilakukan oleh para piauwsu jika menghadapi gerombolan yang tidak dikenalnya, karena bagi pekerjaan mereka, makin sedikit lawan makin banyak kawan makin baik.
Tiga orang tosu itu tidak segera menjawab, melainkan mata mereka mencari-cari penuh selidik, memandangi semua anggauta piauwsu, bahkan dua orang kusir keretapun tidak luput dari pandang mata mereka yang penuh selidik sehingga para piauwsu menjadi ngeri juga.
Pandang mata tiga orang tosu itu mengandung wibawa dan agaknya mereka marah.
Tentu saja tidak ada orang yang tahu bahwa tiga orang kakek pendeta ini mencari apakah selain para piauwsu, tidak ada orang yang menyelundup di dalam rombongan itu.
Mereka masih terpengaruh oleh peristiwa gangguan "setan"
Semalam!
Akan tetapi ketika melihat bahwa semua orang yang mengawal kereta adalah piauwsu-piauwsu biasa yang sejak kemarin mereka bayangi, wajah mereka kelihatan lega dan kini si tahi lalat mewakili suhengnya menjawab.
"Kami tidak ingin lewat, kami sengaja menghadang kalian."
Berubah wajah para piauwsu dan tangan mereka sudah meraba gagang pedang masing-masing.
Melihat gerakan ini tiga orang tosu itu tertawa dan tosu tertua sekarang berkata.
"Kami tldak ada permusuhan dengan Hui-houw Piauw-kiok!"
Mendengar ini pimpinan piauwsu kelihatan girang karena sekarang sudah tampak olehnya gambar teratai di baju tiga orang tosu itu, di bagian dada.
Tiga orang pendeta itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan hal ini saja sudah membuat hatinya keder karena sudah terkenallah bahwa orang-orang Pek-lian-kauw memiliki kepandaian yang tinggi.
Akan tetapi biasanya orang Pek-lian-kauw tidak melakukan perampokan, maka para piauwsu selain lega juga menjadi heran mengapa tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu menghadang perjalanan mereka.
"Kamipun tahu bahwa para locianpwe dari Pek-lian-kauw adalah sahabat rakyat jelata dan tidak akan mengganggu perjalanan kami. Akan tetapi, sam-wi totiang menghadang kami, tidak tahu ada keperluan apakah? Pasti kami akan membantu dengan suka hati sedapat kami."
"Kami akan menggeledah kereta yang kalian kawal!"
Kata si tahi lalat yang agaknya sudah tidak sabar lagi.
Berubahlah wajah pimpinan piauwsu.
Sambil menahan marah dia mengelus jenggotnya.
Betapapun juga, dia adalah wakil ketua piauw-kiok dan telah terkenal sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Selain itu sebagai wakil piauw-kiok dia rela mempertaruhkan nyawanya demi nama baik piauw-kiok dan demi melindungi barang atau orang yang dikawalnya.
"Harap sam-wi totiang suka memandang persahabatan dan tidak mengganggu kawalan kami,"
Katanya tenang.
"Kami tidak mengganggu, hanya memeriksa dan tentu saja kalian akan bertanggung jawab kalau kami mendapatkan apa yang kami cari,"
Kata tosu tertua.
"Apakah yang sam-wi cari?"
Tanya piauwsu.
"Bukan urusanmu!"
Jawab si tahi lalat.
"Suheng, mari kita segera menggeledah, perlu apa melayani segala piauwsu cerewet?"
Pimpinan piauwsu melangkah maju menghadang di depan kereta, mengangkat mukanya dan memandang dengan sinar mata berapi penuh kegagahan.
"Sam-wi totiang perlahan dulu! Sam-wi tentu maklum bahwa seorang piauwsu yang sedang bertugas mengawal menganggap kawalannya lebih berharga daripada nyawanya sendiri. Oleh karena itu, betapapun menyesalnya, kami terpaksa tidak dapat membenarkan sam-wi melakukan penggeledahan terhadap barang dan orang-orang kawalan kami."
Si tahi lalat membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Apa? Kau hendak menentang kami? Kami bukan perampok, akan tetapi sikap kalian bisa saja membuat kami mengambil tindakan lain!"
"Kami juga tidak menuduh sam-wi perampok, akan tetapi kalau kehormatan kami sebagai piauwsu disinggung, apa boleh buat, kami akan melupakan kebodohan kami dan mengerahkan seluruh tenaga untuk melindungi dua kereta ini."
"Wah, piauwsu sombong, keparat kau!"
Si tahi lalat sudah bergerak, akan tetapi lengannya dipegang oleh suhengnya.
"Piauwsu, kalau dua orang suteku bergerak, apalagi dibantu oleh kawan-kawan kita di belakang ini, dalam waktu singkat saja kalian semua yang berjumlah dua losin ini tentu akan menjadi mayat di tempat ini. Kami bukan hendak merampok tanpa alasan dan bukan hendak menyerang orang tanpa sebab dan sekarang kami hanya akan menggeledah. Kalau engkau merasa tersinggung kehormatanmu sebagai piauwsu, nah, sekarang antara engkau dan pinto mengadu kepandaian. Kalau pinto kalah, kami akan pergi dan kami tidak akan mengganggu kalian lebih jauh lagi. Akan tetapi kalau kau kalah, kau harus membolehkan kami melakukan penggeledahan."
Piauwsu tua itu mengerutkan alis berpikir dan mempertimbangkan usul dan tantangan tosu itu.
Memang resikonya besar sekali kalau dia membiarkan anak buahnya bertempur melawan rombongan Pek-lian-kauw itu.
Dia dan anak buahnya tentu saja tidak takut mati dalam membela dan melindungi kawalan mereka.
Mati dalam tugas melindungi kawalan bagi seorang piauwsu adalah mati terhormat!
Akan tetapi, perlu apa membuang nyawa kalau para tosu ini memang hanya ingin menggeledah?
Pula, dia mendengar bahwa orang-orang Pek-lian-kauw hanya mengurus soal pemberontakan, siapa tahu hartawan yang dikawal ini menyembunyikan sesuatu, atau membawa sesuatu yang merugikan dan mengancam keselamatan Pek-lian-kauw?
Kalau dia menang, dia percaya bahwa mereka itu tentu akan pergi karena dia sudah mendengar bahwa orang-orang Pek-lian-kauw, biarpun kadang-kadang amat kejam, namun selalu memegang janji dan karenanya memperoleh kepercayaan rakyat.
Kalau dia kalah, dua kereta hanya akan digeledah.
Andaikata mereka menemukan sesuatu yang dicarinya, hal itu masih dapat dirundingkan nanti.
Resikonya amat kecil kalau dia menerima tantangan, dibandingkan dengan resikonya kalau dia menolak.
"Baiklah, kalau aku kalah, sam-wi boleh menggeledah. Sebaliknya kalau aku menang, harap cu-wi suka melepaskan kami pergi,"
Katanya sambil mencabut golok besarnya, senjata yang diandalkan selama puluhan tahun sebagai piauwsu.
"Saya sudah siap!"
Sebelum tosu tertua maju, tosu ketiga sudah berkata.
"Suheng dan ji-suheng, biarkan aku yang maju melayani. Sudah sebulan lebih aku tidak latihan, tangan kakiku gatal-gatal rasanya!"
Si tahi lalat dan suhengnya mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah mundur.
Tosu ketiga yang tubuhnya kecil kurus, mukanya pucat seperti seorang penderita penyakit paru-paru itu melangkah maju dengan sigap.
Dia adalah seorang pecandu madat, maka tubuhnya kurus kering dan mukanya pucat, akan tetapi ilmu silatnya lihai.
Agaknya racun madat yang dihisapnya tiap hari itu tidak mengurangi kelihaiannya, bahkan menurut cerita orang, setiap kali habis menghisap madat, dia menjadi lebih ampuh dari biasanya, dan jurus-jurus silatnya mempunyai perkembangan yang lebih aneh dan lihai!
Tosu itu menghampiri piauwsu berjenggot putih, tersenyum dan memandang ke arah golok di tangan si piauwsu, lalu berkata.
"Eh, piauwsu, yang kau pegang itu apakah?"
Piauwsu itu tentu saja menjadi heran, mengangkat goloknya lalu berkata.
"Apakah totiang tidak mengenal senjata ini? Sebatang golok yang menjadi kawanku semenjak aku menjadi piauwsu."
Tosu kecil kurus itu mengangguk-angguk.
"Aahh, pinto tadi mengira bahwa itu adalah alat penyembelih babi. Heii, piauwsu, kalau kau hendak menyembelih aku apakah tidak terlalu kurus?"
Mendengar ucapan yang nadanya berkelakar dan mengejek ini, rombongan anak buah Pek-lian-kauw tertawa tanpa turun dari kudanya, dan rombongan piauwsu juga tersenyum masam karena pihak mereka diejek oleh tosu kecil kurus yang kelihatan lemah namun amat sombong itu!
"Totiang, kurasa sekarang bukan waktunya untuk berkelakar.
Kalau totiang mewaklli rombongan totiang maju menghadapiku harap totiang segera mengeluarkan senjata totiang, dan mari kita mu-lai,"
Kata pimpinan piauwsu yang menahan kemarahannya.
"Senjata.... heh-heh, twa-suheng dan ji-suheng, dia tanya senjata! Eh, piauwsu, apakah kau tidak melihat bahwa pinto telah membawa empat batang senjata yang masing-masing sepuluh kali lebih ampuh daripada alat pemotong babi di tanganmu itu?"
Piaauwsu tua itu sudah cukup berpengalaman maka dia mengerti apa artinya kata-kata yang bernada sombong itu.
"Hemm, jadi totiang hendak melawan golokku dengan keempat buah tangan kaki kosong? Baiklah, totiang sendiri yang menghendaki, bukan aku, maka kalau sampai totiang menderita rugi karenanya, harap jangan salahkan aku."
"Majulah, kau terlalu cerewet!"
Kata tosu kecil kurus itu dan dia sendiri seenaknya saja, sama sekali tidak memasang kuda-kuda dan sikapnya ini jelas memandang rendah kepada lawan.
Melihat sikap tosu itu, piauwsu itu juga tidak sungkan-sungkan lagi, cepat dia mengeluarkan teriakan dan goloknya menyambar dengan derasnya.
"Wuuuuttt.... sing-sing-sing-singgg....!"
Hebat memang ilmu golok dari piauwsu itu karena sekali bergerak, setiap kali dengan cepat dielakkan lawan, golok itu sudah menyambar, membalik dan melanjutkan serangan pertama yang gagal dengan bacokan kedua.
Demikianlah, golok itu menyambar-nyambar bagaikan seekor burung garuda, dari kanan ke kiri dan sebaliknya, tak pernah menghentikan gerakan serangannya.
"Wah-wehh.... wutt, luput....!"
Tosu kurus kering itu mengelak ke sana-sini dengan cekatan sekali dan biarpun dia juga kaget menyaksikan serangan yang bertubi-tubi dan berbahaya itu, namun dia masih mampu terus-menerus mengelak sambil membadut dan berlagak.
Golok itu bergerak dengan cepat dan teratur, sesuai dengan ilmu golok Siauw-lim-pai yang sudah bercampur dengan gerak kaki ilmu silat Hoa-san-pai, Kadang-kadang menusuk akan tetapi lebih banyak membacok dan membabat ke arah leher, dada, pinggang, lutut dan bahkan kadang-kadang membabat mata kaki kalau lawan mengelak dengan loncatan ke atas.
Suara golok membacok angin mengeluarkan suara mendesing-desing menyeramkan dan sebentar kemudian, golok itu lenyap bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang indah dan yang mengejar ke manapun tosu itu bergerak.
Namun hebatnya, tosu itu selalu dapat mengelak, bahkan kini kadang-kadang dia menyampok dengan kaki atau tangannya.
Hanya orang yang sudah tinggi ilmunya saja berani menyampok golok dengan kaki atau tangan, karena meleset sedikit saja sampokan itu, tentu mata golok akan menyanyat kulit merobek daging mematahkan tulang!
"Kau boleh juga, piauwsu!"
Kata si tosu dan tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking keras dan tubuhnya juga lenyap bentuknya, berubah menjadi bayangan yang cepat sekali menari-nari di antara gulungan sinar golok.
Si piauwsu terkejut ketika merasa betapa jantungnya berhenti beberapa detik oleh pekik melengking tadi, dan sebelum dia dapat menguasai dirinya yang terpengaruh oleh pekik yang mengandung kekuatan khi-kang tadi, tahu-tahu lengan kanannya tertotok lumpuh, goloknya terampas dan tampak sinar golok berkelebat di depannya, memanjang dari atas ke bawah, disusul suara "bret-bret-brettt....!"
Dari kain terobek dan....
ketika tosu itu melempar golok ke tanah, tampak piauwsu itu berdiri dengan pakaian bagian depan terobek lebar dari atas ke bawah sehingga tampaklah tubuhnya bagian depan!
Tentu saja dia terkejut dan malu sekali, cepat dia menutupkan pakaian yang terobek itu, dan dengan muka merah dia menjura dan memungut goloknya.
"Saya mengaku kalah. Silahkan totiang bertiga melakukan penggeledahan!"
Terdengar suara berbisik di antara para piauwsu, akan tetapi pimpinan piauwsu itu berteriak.
"Saudara-saudara harap mempersilakan sam-wi totiang melakukan penggeledahan di dalam kereta!"
Selagi piauwsu kepala ini menutupi tubuhnya yang setengah telanjang itu dengan pakaian baru yang diambilnya dari buntalannya di punggung kuda dan memakainya dengan cepat, ketiga orang tosu itu sambil tertawa-tawa lalu mendekati kedua kereta itu.
Si tahi lalat terpisah sendiri dari kedua orang saudaranya.
Kalau tosu pertama dan ketiga mengham-piri kereta depan, adalah si tahi lalat ini menghampiri kereta belakang di mana duduk si hartawan bersama kedua orang isterinya!
Sambil menyeringai ke arah wanita muda baju merah, si tahi lalat yang menyingkap tirai itu berkata.
"Kalian sudah mendengar betapa kepala piauwsu kalah dan kami berhak untuk menggeledah. Heh-heh-heh!"
Hartawan itu dengan muka pucat ketakutan menjawab.
"Harap totiang suka menggeledah kereta depan karena semua barang kami berada di kereta depan."
"Ha-ha, dua orang saudaraku sudah menggeledah ke sana, akan tetapi yang kami cari itu mungkin saja disembunyikan di dalam pakaian, heh-heh. Karena itu, pinto terpaksa akan melakukan penggeledahan di pakaian kalian."
Tentu saja dua orang wanita itu menjadi merah mukanya dan isteri tua cepat berkata.
"Totiang yang baik, kami orang-orang biasa hendak menyembunyikan apakah? Harap totiang suka memaafkan kami dan tidak menggeledah, biarlah saya akan bersembahyang di kelenteng memujikan panjang umur bagi totiang."
Si tahi lalat tersenyum menyeringai.
"Heh-heh, tidak kau sembahyangkanpun umurku sudah panjang. Kalau terlalu panjang malah berabe, heh-heh!"
Wanita setengah tua itu terkejut dan tidak berani membuka mulut lagi melihat lagak pendeta yang pecengas-pecengis seperti badut dan pandang matanya kurang ajar sekali ditujukan kepada madunya yang masih muda itu.
"Orang menggeledah orang lain harus didasari kecurigaan. Akupun tidak mau berlaku kurang ajar kepada kalian berdua, akan tetapi wanita ini menimbulkan kecurigaan hati pinto, karenanya pinto harus menggeledahnya!"
"Aihhh....!"
Wanita muda itu menjerit lirih, tentu saja merasa ngeri membayangkan akan digeledah pakaiannya oleh tangan-tangan tosu bertahi lalat yang mulutnya menyeringai penuh liur itu.
"Lihat, dia ketakutan! Tentu saja pinto menjadi lebih curiga lagi!"
Kata tosu bertahi lalat itu serius.
"Harap kalian turun dulu, jangan mengganggu pinto sedang bekerja!"
Setelah didorongnya, suami isteri setengah tua itu tergopoh-gopoh turun dari kereta, meninggalkan wanita muda itu sendirian saja.
Wanita itu duduk memojok dan tubuhnya gemetaran ketika memandang tosu itu naik ke kereta sambil tersenyum menyeringai.
"Aku.... aku tidak membawa apa-apa....! Aku.... tidak punya apa-apa...."
"Ah, bohong! Segala kau bawa, kau mempu-nyai begini banyak! Heh-heh, kau harus diam dan jangan membantah kalau tidak ingin pinto bertindak kasar!"
Dan sepuluh jari tangan itu seperti ular-ular hidup merayap-rayap menggerayangi seluruh tubuh wanita muda itu.
Suaminya dan madunya yang berada di luar kereta, hanya mendengar suara wanita itu merintih, merengek dan mendengus diseling kadang-kadang terkekeh genit dan suaranya mencela.
"Eh.... ihh.... hi-hik, jangan begitu totiang....!"
Suara ini bercampur dengan suara tosu itu yang terengah-engah dan kadang-kadang terkekeh pula, kadang-kadang terdengar suaranya.
"Hushh, jangan ribut.... kau diamlah saja ku.... ku... geledah...."
Sementara itu, dua tosu yang lain telah memeriksa kereta pertama.
Akan tetapi mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, kecuali peti-peti terisi pakaian dan beberapa potong perhiasan dan uang emas milik hartawan itu.
"Hemm, sia-sia saja kita bersusah payah. Para penyelidik itu benar bodoh seperti kerbau. Orang biasa dicurigai!"
Tosu kurus kering mengomel.
"Mana ji-sute?"
Tosu tertua bertanya.
"Ke mana lagi si mata keranjang itu kalau tidak ke kereta kedua?"
"Hemm.... mari kita lekas pergi, setelah salah duga, tidak baik terlalu lama menahan mereka. Para piauwsu itu tentu akan menyebarkan berita tidak baik tentang Pek-lian-kauw."
Keduanya meninggalkan kereta pertama dan menghampiri kereta kedua. Ketika mereka berdua membuka pintu kereta, tosu pertama menyumpah.
"Ji-sute, hayo cepat kita pergi!"
"Eh.... uhh.... baik, suheng!"
Akan tetapi agak lama juga barulah si tahi lalat itu keluar dari kereta, pakaiannya kedodoran, rambutnya awut-awutan dan napasnya agak terengah, dan ketika kedua orang hartawan dan isterinya naik kereta, mereka melihat wanita muda itu sedang membereskan pakaiannya dan rambutnya, mukanya merah sekali dan dia tersenyum kecil, mengerling ke arah suaminya yang cemberut.
Pintu kereta ditutup dari dalam dan segera terjadi maki-makian dan keributan di dalam kereta antara si suami yang memaki-maki bini mudanya dan si bini muda yang membantah dan melawan, diseling suara isteri tua yang melerai mereka.
Akan tetapi, ketika dua tosu itu menghampiri kereta kedua, para pengikutnya yang kasar-kasar itu sudah turun dan beberapa orang dari mereka ikut memeriksa kereta pertama, kemudian beberapa buah peti mereka bawa ke kuda mereka.
Melihat ini piauwsu yang terdekat segera meloncat dan menegur.
"Heii, mengapa kalian mengambil peti itu? Kembalikan!"
Jawabannya adalah sebuah bacokan kilat yang membuat piauwsu itu roboh mandi darah.
Gegerlah keadaannya yang memang sejak tadi sudah menegangkan itu.
Kedua pihak memang sejak tadi sudah hampir terbakar, hampir meledak tinggal menanti penyulutnya saja.
Kini, begitu seorang piauwsu mandi darah, semua piauwsu serentak bergerak menyerbu dan terjadilah pertempuran yang sejak tadi sudah ditahan-tahan.
Melihat ini, biarpun hatinya menyesal, tiga orang tosu itu terpaksa turun tangan.
"Jangan kepalang, kalau sudah begini, bunuh mereka semua agar tidak meninggalkan jejak kita!"
Kata si tosu tertua.
Memang terpaksa dia harus membunuh seluruh piauwsu dan kusir serta penumpang kereta, karena kalau tidak, tentu mereka akan menyebar berita bahwa Pek-lian-kauw mengganggu dan merampok.
Hal ini tentu akan menimbulkan kemarahan ketua mereka dan merekalah yang harus bertanggung jawab, mungkin mereka akan dibunuh sendiri oleh ketua mereka karena hal itu amat dilarang karena dapat memburukkan nama Pek-lian-kauw di mata rakyat yang mereka butuhkan dukungannya.
"Bunuh semua, jangan sampai ada yang lolos!"
Tiga orang tosu itu berteriak-teriak sambil mengamuk.
Siapa saja yang berada di dekat tiga orang tosu yang bertangan kosong ini, pasti roboh.
Tiba-tiba tampak berkelebatnya dua sosok bayangan orang yang tahu-tahu di situ telah muncul Kian Lee dan Kian Bu.
Mereka sudah sejak tadi membayangi dan mengintai dari jauh.
Mereka melihat lagak para tosu dan karena wanita muda itu sama sekali tidak minta tolong, bahkan ada terdengar suara ketawanya di antara rintihan dan rengeknya, Kian Lee yang ditahan-tahan oleh adiknya itu sengaja tidak turun tangan dan mendiamkannya saja.
Juga ketika terjadi adu kepandaian tadi, dia tidak berbuat apa-apa karena memang pertandingan itu sudah adil, satu lawan satu.
Akan tetapi melihat pertempuran pecah dan mendengar aba-aba dari mulut tosu itu, Kian Lee dan Kian Bu hampir berbareng melompat dan lari cepat sekali ke medan pertempuran.
Sekali mereka bergerak, robohlah empat orang di antara sepuluh orang tinggi besar pengikut Pek-lian-kauw itu dan terdengar Kian Bu berteriak.
"Cu-wi piauwsu, harap kalian hadapi enam orang hutan itu, biarkan kami menghadapi tiga orang pendeta palsu ini!"
Melihat munculnya dua orang muda yang segebrakan saja merobohkan empat orang tinggi besar itu, semua piauwsu terheran-heran dan tentu saja dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika mengenal kedua orang itu yang bukan lain adalah si penculik nyonya muda dan penolongnya!
Bagaimana mereka dapat datang bersama dan kini membantu mereka menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw?
Akan tetapi, mereka tidak ada waktu untuk bertanya dan kini semua para piauwsu yang bersama pemimpinnya masih berjumlah delapan belas orang karena yang enam orang telah roboh, maju menyerbu dan mengeroyok enam orang sisa pasukan pengikut Pek-lian-kauw yang tinggi besar itu.
Biarpun pada umumnya tingkat kepandaian orang Pek-lian-kauw itu lebih tinggi sedikit, namun karena mereka harus menghadapi para piauwsu dengan perbandingan satu lawan tiga, mereka segera terdesak.
Sementara itu, Kian Lee dan Kian Bu sudah menghadapi tiga tosu yang memandang kepada mereka dengan mata terbelak dan dengan ragu-ragu.
Kian Bu segera tersenyum dan bertanya.
"Apa kabar, sam-wi totiang? Aihh, kenapa sam-wi bau air kencing?"
Mendengar kata-kata ini, tiga orang tosu itu kontan berteriak marah sekali karena mereka tahu bahwa dua orang pemuda inilah yang mengganggu mereka semalam dan yang telah menyamar sebagai "setan".
Biarpun semalam mereka mendapatkan bukti betapa lihainya dua orang itu, namun begitu melihat mereka berdua hanyalah pemuda-pemuda tanggung, tiga orang tosu itu menjadi besar hati.
Sampai di mana sih tingkat kepandaian orang-orang muda seperti itu?
Mereka tentu saja tidak merasa gentar -sedikitpun dan sambil mengeluarkan suara teriakan seperti harimau buas, si tahi lalat sudah lebih dahulu menerjang maju dan mencengkeram dengan kedua tangan membentuk cakar ke arah kepala Kian Bu!
Pemuda ini sama sekali tidak mengelak, akan tetapi setelah kedua tangan yang seperti cakar itu dekat dengan kepalanya secepatnya ia menangkis hingga sekaligus tangan kirinya menangkis dua tangan lawan yang menyeleweng ke samping, kemudian secepat kilat tangan kanannya bergerak selagi tubuh lawan masih berada di udara.
"Plak! Crettt! Aduuhh....!"
Tosu bertahi lalat di dagunya itu berteriak kaget dan kesakitan, lalu mencelat mundur berjungkir balik sambil mendekap hidungnya yang keluar "kecap"
Terkena sentilan jari tangan Kian Bu.
Biarpun tosu itu sudah mahir sekali menggunakan sin-kang membuat tubuhnya kebal, Akan tetapi kekebalannya tidak dapat melindungi hidungnya yang agak terlalu besar dan buntek itu, maka sekali kena disentil jari tangan yang kuat itu, sekaligus darahnya muncrat ke luar.
Tosu kurus kering juga sudah menerjang Kian Lee.
Karena tosu ini lebih berhati-hati, tidak sembrono seperti sutenya, dia menyerang dengan jurus pilihan dari Pek-lian-kauw, bahkan dia mengerahkan sin-kang yang mendorong hawa beracun menyambar ke luar dari telapak tangannya.
Hampir semua tokoh Pek-lian-kauw yang sudah agak tinggi tingkatnya, semua mempelajari ilmu pukulan beracun ini, yang hanya dapat dipelajari oleh kaum Pek-lian-kauw.
Ilmu pukulan ini ada yang memberi nama Pek-lian-tok-ciang (Tangan Beracun Pek-lian-kauw) dan memang amat dahsyat karena begitu tosu itu memukul dengan kedua tangan terbuka, Tidak saja dapat melukai lawan di sebelah dalam tubuhnya dengan hawa pukulan sin-kang itu, akan tetapi hawa beracun itu masih dapat mencelakai lawan yang dapat menahan sin-kang.
Berbahayanya dari pukulan ini adalah karena hawa beracun itu tidak mengeluarkan tanda apa-apa, berbeda dengan pukulan tangan beracun lain yang dapat dikenal, yaitu dari baunya atau dari uap yang keluar dari tangan sehingga lebih mudah dijaga.
Kian Lee agaknya tidak tahu akan pukulan beracun ini, maka dengan seenaknya dia menyambut dengan kedua telapak tangannya pula.
Melihat ini, si tosu kurus kering dan twa-suhengnya yang belum turun tangan menjadi girang, mengira bahwa pemuda itu pasti terjungkal, karena andaikata dapat menahan tenaga sin-kang dari pukulan itu, pasti akan terkena hawa beracun.
"Duk! Plakk!"
Terjungkallah tubuh....
si tosu kurus kering!
Kejadian ini tentu saja membuat tosu pertama menjadi kaget setengah mati karena hal yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang disangka dan diharapkannya.
Dia melihat tubuh sutenya yang roboh bergulingan menggigil kedinginan, terheran-heran mengapa sutenya bisa begitu.
Akan tetapi tak ada waktu untuk memeriksa dan segera menerjang maju dengan marah sekali sambil meloloskan sabuk sutera di pinggangnya.
Sabuk pendek ini memang selalu dilibatkan di pinggang dan merupakan senjatanya yang ampuh sungguhpun jarang sekali dia mempergunakannya karena biasanya, kedua tangannya saja sudah cukup untuk merobohkan seorang lawan.
Akan tetapi sekarang, melihat betapa ji-sutenya dalam segebrakan telah remuk hidungnya dan sam-sutenya juga telah roboh dan menggigil kedinginan, dia maklum bahwa kedua orang muda itu amat hebat kepandainnya dan tanpa sungkan-sungkan lagi dia lalu meloloskan senjatanya itu.
Juga si tahi lalat yang sudah hilang puyengnya karena hidungnya remuk itu, setelah menghapus darah dari mulutnya yang ternoda oleh darah yang menitik dari bekas hidung, sudah mengeluarkan senjatanya pula.
Berbeda dengan suhengnya, senjata tosu ini ada dua macam, yaitu seuntai tasbeh dan setangkai kembang teratai putih yang entah diberi obat apa sudah menjadi keras seperti besi!
Tadinya kedua senjata ini tersimpan di dalam saku bajunya yang lebar dan kini sudah berada di kedua tangannya.
"Wah-wah, setelah menghadapi kesukaran baru kau ingat kepada tasbehmu dan kembang, ya? Apakah engkau hendak membaca doa dan memuja dewa dengan kembang itu?"
Kian Bu mengejek.
"Keparat, mampuslah kau di tanganku!"
Si tahi lalat membentak dan tasbehnya sudah menyambar ganas ke arah dahi Kian Bu sedangkan kembang teratai itu menyambar leher.
Serangan ini berbahaya sekali karena merupakan serangan palsu atau ancaman.
Kelihatannya memang ganas, akan tetapi keganasan ini hanya untuk mengelabui perhatian lawan karena pada detik selanjutnya, selagi perhatian lawan tertuju untuk menghadapi dua serangan ganas itu, kakinya menyambar dan menendang ke arah anggauta kelamin yang merupakan satu di antara pusat kematian bagi seorang laki-laki!
"Cuuuutt-wuuuttt....
wessss!"
Namun sekali ini yang dihadapi oleh si tahi lalat adalah putera Pendekar Super Sakti!
Menghadapi serangan ini, dengan amat tenangnya Kian Bu tersenyum dan memandang saja.
Ketika dua senjata itu sudah datang dekat, dia hanya menggerakkan tubuhnya sedikit saja, dan pada saat kedua senjata itu ditarik secara berbareng, tahulah dia bahwa dua serangan itu hanyalah merupakan gertak sambal saja, maka dengan tenang dia menanti serangan intinya.
Ketika melihat berkelebatnya kaki tosu itu menendang ke arah alat kelaminnya, Kian Bu tersenyum dan pura-pura terlambat mengelak.
"Desss!"
Tepat sekali kaki itu menendang bawah pusar dan Kian Bu terjengkang roboh, mukanya pucat dan matanya mendelik dan napasnya terhenti.
"Hua-ha-ha-ha! Kiranya engkau hanya begini saja! Tidak lebih keras daripada tahu!"
Sambil berkata demikian, si tahi lalat itu melangkah maju, mengangkat kakinya dan mengerahkan sin-kang, hendak menginjak hancur kepala Kian Bu.
"Wuuuuttt! Plak! Tekkk.... wadouww....!"
Tosu itu memekik, kedua senjatanya terlepas dan dia berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil kegirangan, akan tetapi air matanya bercucuran dan mulutnya megap-megap dan mendesis-desis seperti orang kepedasan, kedua tangannya mendekap alat kelaminnya dan kaki kanannya diangkat, kaki kiri berloncat-loncatan!
Apa yang terjadi?
Tentu saja Kian Bu tadi menerima tendangan itu dengan sengaja!
Sebagai seorang putera Pendekar Super Sakti yang telah memiliki sin-kang luar biasa sekali tingginya, pada saat kaki lawan datang, dia sudah mengerahkan sin-kangnya menyedot seluruh alat kelaminnya masuk ke rongga perut sehingga tendangan itu hanya mengenai kulitnya yang dilindungi oleh hawa sin-kang di sebelah dalam.
Akan tetapi dia pura-pura jatuh dan semaput!
Pada saat kaki tosu itu datang hendak menginjak kepalanya, dia cepat menangkap kaki itu, menariknya sehingga tubuh tosu itu merendah, kemudian dengan jari tangannya dia "menyentil"
Alat kelamin tosu itu, mengenai sebutir di antara bola kelaminnya, dan tentu saja mendatangkan rasa nyeri yang sukar dilukiskan di sini.
Hanya mereka yang pernah terpukul bola kelaminnya sajalah yang akan tahu bagaimana rasanya.
Kiut-miut berdenyut-denyut terasa di seluruh tubuh, merasuk di otot-otot dan tulang sumsum, terasa oleh setiap bulu di badan, membuat kepala rasanya mot-motan dan ulu hati seperti diganjal, nyeri dan linu, pedih cekot-cekot dan segala macam rasa nyeri terkumpul menjadi satu membuat tosu itu pingsan tidak sadarpun tidak, hidup tidak matipun belum!
Dalam keadaan seperti itu, tentu saja kedua senjatanya terlepas tanpa disadarinya lagi, bahkan dia masih berjingkrakan seperti seekor monyet diajar menari ketika Kian Bu sambil tertawa mengalungkan tasbeh di leher tosu itu dan menancapkan tangkai kembang di rambutnya!
Sementara itu tosu tertua yang menyerang Kian Lee pun kecelik.
Sabuknya menyambar seperti seekor ular hidup, mula-mula melayang-layang ke sana-sini untuk mengacaukan perhatian lawan.
Namun, melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak membuat gerakan mengelak, bahkan memandang gerakan sabuk itu tanpa gentar sedikitpun juga, sabuk itu melayang turun dan menotok ke arah ubun-ubun kepala Kian Lee.
Kalau saja pemuda ini belum yakin akan kemampuan dan kekuatan sin-kang lawan, tentu saja dia tidak begitu gegabah berani menerima totokan ujung sabuk ke arah bagian kepala yang lemah ini.
Akan tetapi perhitungannya sudah masak, dan dia menerima saja totokan itu.
"Takkkk!"
Ujung sabuk tepat mengenai ubun-ubun kepala pemuda itu, akan tetapi sabuk itu membalik dan hebatnya, bukan sembarangan saja membalik, melainkan mengandung kekuatan dahsyat dan sabuk itu menyerang ubun-ubun kepala tosu itu sendiri tanpa dapat ditahannya.
Kaget setengah mati tosu itu dan cepat dia miringkan kepala sehingga totokan sabuk itu meleset.
Akan tetapi dia masih penasaran.
Disangkanya hal itu hanyalah kebetulan saja karena kuatnya dia menggerakkan sabuk dan kuatnya pemuda itu menahan totokannya.
Biarpun dia kaget dan juga heran, namun kembali dia menggerakkan sabuknya dan sekali ini sabuknya meluncur dan menotok ke arah mata kanan Kian Lee!
Secepat itu pula, tangan kirinya bergerak ke depan mencengkeram ke arah pusar.
Sukar dibandingkan yang mana antara kedua serangan ini yang lebih berbahaya.
Sudah jelas bahwa totokan ujung sabuk ke arah mata itu sedikitnya dapat membuat sebelah mata menjadi buta!
Akan tetapi cengkeraman tangan yang amat kuat itu ke pusar, kalau sampai pusar dapat dicengkeram dan terkuak, tentu isi perut akan ambrol dan terjurai keluar semua!
Kian Lee yang senantiasa bersikap tenang itu sedikitpun tidak menjadi gugup bahkan dengan tenangnya tanpa berkedip dia menanti sampai ujung sabuk dekat sekali dengan mukanya, lalu tiba-tiba tangannya menyampok dan mengirim kembali ujung sabuk itu ke muka lawan, sedangkan perutnya menerima cengkeraman itu, bahkan menggunakan sin-kang untuk membuat perutnya lunak seperti agar-agar sehingga tangan lawan terbenam masuk, akan tetapi setelah tangan lawan memasuki perutnya, dia mengerahkan sin-kang untuk menyedot dan tangan itu tidak dapat ditarik kembali oleh pemiliknya.
Bukan main kagetnya tosu itu, dia harus membagi perhatiannya menjadi dua, sebagian untuk menarik kembali tangannya yang terjepit di perut lawan, dan kedua kalinya untuk menguasai sabuknya sendiri yang menjadi "liar"
Dan menyerang dirinya sendiri.
"Plakk! Krekkk!"
Tubuh tosu itu terjengkang dan dia mengerang kesakitan karena selain pipinya terobek kulitnya oleh hantaman ujung sabuknya sendiri, juga tulang ibu jari dan kelingkingnya patah-patah terkena himpitan di dalam perut pemuda luar biasa itu!
"Tahan semua senjata!
Cu-wi piauwsu, biarkan mereka pergi semua!"
Kian Lee berseru suaranya lantang sekali, penuh dengan kekuatan khi-kang sehingga mereka yang masih bertanding itu terkejut dan menahan senjata masing-masing.
Kepala piauwsu itu yang melihat betapa tiga orang tosu itu telah dibuat tidak berdaya oleh dua orang pemuda aneh itu, tak berani membantah lalu berkata kepada sisa pengikut Pek-lian-kauw.
"Kalian tahu sendiri kami tidak berniat untuk memusuhi Pek-lian-kauw, melainkan pimpinan kalian yang mendesak kami. Nah, pergilah dan bawa teman-temanmu!"
Sisa pihak Pek-lian-kauw yang maklum bahwa melawanpun tiada gunanya, lalu saling tolong dan naik ke atas kuda.
Tiga orang tosu yang tadinya ketika datang menggunakan ilmu lari cepat di depan rombongan kuda, kini dalam keadaan setengah pingsan dipangku oleh mereka yang masih sehat, kemudian tanpa pamit mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Para piauwsu lalu menolong teman-teman mereka yang terluka sedangkan pimpinan rbmbongan itu, piauwsu berjenggot putih menjura kepada Kian Lee dan Kian Bu sambil berkata.
"Berkat pertolongan ji-wi taihiap maka kami masih dapat selamat dan...."
Tiba-tiba dia menghentikan kata-kata dan terbelalak ketika melihat dua orang pemuda itu saling pandang, mengangguk dan tiba-tiba saja melesat dan lenyap dari depannya!
Yang terdengar dari jauh hanya suara melengking tinggi, seperti suara burung rajawali yang sedang berkejaran.
"Bukan main....!"
Piauwsu itu menggeleng kepala dan melongo.
"Sepasang pemuda itu.... seperti.... sepasang rajawali sakti saja....! Sayang mereka tidak memperkenalkan diri....!"
Memang selama hidupnya berkelana di dunia kang-ouw, belum pernah piauwsu ini menyaksikan kepandaian dua orang pemuda semuda itu, dua orang pemuda yang tingkat ilmunya tidak lumrah manusia dan ketika pergi seperti terbang, seperti sepasang rajawali sakti saja!
Tiada habisnya mereka membicarakan kedua orang pemuda itu yang pada kemunculan pertama sudah aneh, seorang menjadi penculik dan seorang menjadi penolong, kemudian penculik dan penolong itu bekerja sama mengusir orang-orang Pek-lian-kauw secara mengherankan sekali.
Tak salah lagi, tentu mereka itu bersaudara melihat wajah mereka yang mirip, dan tentu soal penculikan tadi hanya main-main saja, permainan dua orang pemuda aneh yang tidak lumrah manusia.
Cerita itu menjalar cepat dari mulut ke mulut sehingga mulai hari itu, terkenallah julukan Sepasang Rajawali Sakti untuk dua orang pemuda yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw.
Bukan hanya dari pihak piauwsu itu saja yang memperluas cerita itu, juga dari pihak Pek-lian-kauw sendiri segera mengakui bahwa memang di dunia kang-ouw muncul dua orang pemuda yang aneh dan yang patut disebut Sepasang Rajawali Sakti karena ilmu kepandaian mereka yang amat tinggi!
Tidak baik kalau terlalu lama kita meninggalkan Lu Ceng atau Ceng Ceng, dara remaja cantik jelita dan lincah jenaka yang sejak permulaan cerita ini sudah banyak mengalami hal-hal yang amat hebat itu.
Seperti diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng yang juga mempunyai nama baru setelah diangkat adik oleh puteri Bhutan, yaitu Candra Dewi, hanyut di dalam perahu tanpa kemudi bersama kakak angkatnya, Puteri Syanti Dewi yang dalam penyamarannya karena dikejar-kejar kaum pemberontak juga mempunyai nama baru, yaitu Lu Sian Cu.
Seperti telah diceritakan, Syanti Dewi dan Ceng Ceng terlempar ke air sungai yang dalam dan deras arusnya, ketika perahu yang tanpa kemudi karena ditinggalkan tukang perahu itu menabrak perahu-perahu lain dan terguling.
Syanti Dewi dapat tertolong oleh seorang laki-laki gagah perkasa yang bukan lain adalah Gak Bun Beng, akan tetapi keduanya tidak berhasil mencari Ceng Ceng dengan jalan menyusuri tepi Sungai Nu-kiang.
Namun tak ditemukan jejak Ceng Ceng dan dengan hati berat terpaksa Syanti Dewi bersama penolongnya itu meninggalkan sungai itu dan menganggap bahwa Ceng Ceng tentu sudah tenggelam dan tewas.
Benarkah Ceng Ceng tewas tenggelam di dasar Sungai Nu-kiang di barat itu?
Kalau demikian, pengarang yakin tentu dalam waktu pendek pengarang tentu akan menerima surat-surat protes dari para pembaca!
Tidak, Ceng Ceng tidak tewas dan pada saat Syanti Dewi dan Gak Bun Beng menyusuri tepi Sungai Nu-kiang itu, dia sudah menggeletak jauh dari tepi sungai, di dalam sebuah hutan yang amat sunyi dan liar, menggeletak pingsan dengan muka masih kebiruan, akan tetapi perutnya telah kempis tidak penuh air dan napasnya sudah berjalan dengan halus dan kuat.
Krisis telah lewat dan dara itu telah selamat dari cengkeraman maut melalui air Sungai Nu-kiang.
Ceng Ceng mulai siuman dan menggerak-gerakkan pelupuk mata, atau lebih tepat lagi, bola mata yang masih tertutup pelupuk itu mulai bergerak, kemudian pelupuk matanya terbuka perlahan, makin lama makin lebar sehingga matanya seperti sepasang matahari baru muncul dari permukaan laut di timur.
Mendadak, mata itu terbuka serentak dengan lebar, kepalanya menoleh ke kanan kiri, lalu ke pinggir tubuhnya.
Mengapa dia rebah terlentang di bawah pohon-pohon besar, di atas rumput kering, di dekatnya ada api unggun yang mendatangkan hawa hangat.
Ketika menengok ke kanan, dia melihat seorang pemuda sedang duduk di tepi sungai kecil di dalam hutan itu, duduk membelakanginya dan memegang tangkai pancing, sedang tangan kirinya memegang sebuah paha ayam hutan yang sudah dipanggang, dan di dekatnya tampak kayu yang masih terbakar mengepulkan asap dan di antara api membara itu masih terdapat sisa ayam hutan.
Ceng Ceng tidak bergerak, memandang seperti dalam mimpi.
Siapa pemuda itu?
Dan dia....
mengapa berada di tempat ini.
Tiba-tiba dia menahan seruannya karena teringat.
Bukankah dia bersama kakaknya Syanti Dewi terlempar ke dalam sungai dan hanyut?
Teringat akan ini, teringat akan kakaknya yang hanyut, serentak Ceng Ceng melompat bangun.
"Iiihhh....!"
Dia menjerit kecil dan cepat-cepat dia merobohkan diri "mendekam"
Lagi di atas tanah, kedua tangannya sibuk menutupkan jubah lebar yang kedodoran dan tadi terbuka ketika dia meloncat bangun.
Baru sekarang dia melihat dan memperhatikan keadaan tubuhnya dan rasa malu membuat seluruh tubuhnya, mungkin saja dari akar rambut sampai akar kuku jari kaki, menjadi kemerahan.
Siapa yang tidak akan malu setengah mati mendapat kenyataan bahwa tubuhnya hanya tertutup oleh jubah lebar itu saja, tanpa apa-apa lagi di sebelah dalamnya?
Dia telah telanjang bulat-bulat betul, hanya terlindung oleh jubah itu.
Di mana pakaiannya?
Mengapa dia telanjang bulat?
Siapa yang mencopoti pakaiannya tanpa ijin?
Dan jubah ini, siapa yang menutupkan di tubuhnya?
Siapa lagi kalau bukan pemuda itu, pikirnya dan matanya mulai mengeluarkan sinar berapi.
Kurang ajar!
Pemuda laknat, berani menelanjangi aku dan memakaikan jubah ini.
Pemuda yang harus mampus!
Ingin dia menjerit dan menangis, akan tetapi melihat pemuda yang duduk mancing ikan dan membelakanginya itu diam tak bergerak, dia menjadi ragu-ragu.
Dia tidak boleh sembrono dan lancang, pikirnya.
Bagaimana kalau bukan dia yang melakukannya?
"Setan alas di kali eh, setan kali di alas!"
Tiba-tiba pemuda itu mengomel dan kalau Ceng Ceng tidak sedang marah besar sekali itu tentu dia akan tertawa geli melihat pemuda itu mengangkat pancingnya dan melihat ada tahi tersangkut di mata kail itu!
Agaknya tahi monyet atau binatang lain, akan tetapi bentuknya seperti kotoran manusia dan cukup menjijikkan!
Dengan gerakan gemas pemuda itu menyabet-nyabetkan kailnya di air sampai kotoran itu lenyap, kemudian mengangkat mata kailnya yang sudah kehilangan umpan, mengambil lagi daging bakar, sebagian dicuwil untuk dipakai umpan, sebagian lagi dijejalkan mulutnya.
Melihat betapa pemuda itu kembali mengambil paha ayam dan menggigitnya, timbul air liur di mulut Ceng Ceng karena baru terasa olehnya betapa lapar perutnya.
Pemuda itu lalu menancapkan gagang pancingnya di tanah, lalu bangkit berdiri, membalik dan baru dia melihat Ceng Ceng agaknya!
Melihat gadis itu sudah siuman, mendeprok di bawah dengan tangan sibuk menutupi tubuhnya dengan jubah kedodoran yang kancingnya banyak yang sudah rusak sehingga tidak dapat dikancingkan itu, dia tersenyum mengejek!
Senyum yang bagi Ceng Ceng amat menggemaskan, senyum yang lebih tepat disebut menyeringai dan sengaja mengejek, malah matanya melirak-lirik seperti orang menggoda, tangan kiri memegang paha ayam diacungkan ke atas, dicium dengan cuping hidung kembang kempis.
"Hemmm.... sedap dan gurihnya....!"
Lalu dia menoleh kepada Ceng Ceng sambil berkata, (Lanjut ke
Jilid 12) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12
"Wah, lama benar engkau tidur! Keenakan mimpi, ya? Kau membikin aku repot bukan main, yaaaa.... repot bukan main, lahir batin. Untung engkau tidak mati di sungai, dan untung aku mempunyai jubah cadangan, biarpun sudah agak tua akan tetapi cukup untuk menyelimutimu."
Mendengar ini, kontan keras Ceng Ceng naik darah!
Betapa tidak kalau kata-kata pemuda itu jelas membuktikan bahwa pemuda inilah yang telah mencopoti semua pakaiannya, kemudian mengenakan jubah itu pada tubuhnya!
Sialan?
Dia meloncat bangun, kedua tangan dikepal dan siap untuk menyerang, akan tetapi agak kaku karena tangan kanannya tertutup oleh tangan baju yang terlalu panjang itu dan telapak kakinya terasa nyeri dan juga geli karena kakinya telanjang dan batu-batu di tempat itu agak runcing.
Akan tetapi hanya beberapa detik saja dia memasang kuda-kuda yang kaku itu karena dia melihat pemuda itu sudah menaruh telunjuknya di depan hidung sambil berkata.
"Cih, tidak tahu malu, ya? Lihat jubah itu kedodoran!"
Tentu saja Ceng Ceng sudah cepat menggunakan kedua tangannya untuk menutupi depan jubahnya dan dia tidak berani lagi maju menyerang karena begitu dia menyerang, tentu jubah itu akan terlepas, terbuka dan....
akan tampaklah semua bagian depan dari tubuhnya.
Dia membanting-banting kakinya, akan tetapi segera menjerit dan mengaduh karena kakinya menimpa batu runcing.
Ingin dia menjerit, ingin dia menangis dan dengan mata terbelalak penuh kemarahan dia memandang wajah pemuda itu.
Pemuda itu lalu enak-enak duduk lagi di tepi sungai, membelakangi Ceng Ceng dan sambil melanjutkan makan ayam panggang dia mencurahkan perhatiannya kepada pancingnya, seolah-olah Ceng Ceng tidak ada di belakangnya atau bahkan seolah-olah di dunia ini tidak ada seorang manusia lain kecuali dia dan pancingnya!
Ceng Ceng makin panas perutnya.
Dia memutar otaknya dan teringat akan cerita tentang jai-hwa-cat, yaitu penjahat berkepandaian tinggi yang kerjanya hanya menculik dan memperkosa seorang gadis kemudian membunuhnya.
Dia bergidik.
Seorang penjahat jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) kiranya pemuda itu!
Dia terjatuh ke dalam tangan seorang penjahat keji.
Diam-diam selagi pemuda itu membelakanginya, dia meraba-raba tubuhnya, memeriksa dan merasakan keadaan tubuhnya.
Hatinya lega karena dia merasa yakin bahwa dia belum ternoda.
Akan tetapi berapa lama lagi?
Dan dia sudah ditelanjangi oleh pemuda itu, jari-jari tangan pemuda itu telah menggerayangi tubuhnya ketika menanggalkan semua pakaiannya, bahkan sepatunya, kemudian mengganti dengan jubah itu!
Pemuda kurang ajar!
Pemuda yang harus mampus!
Makin dipikir, makin dikenang, makin panas rasa perutnya.
Dia lalu merobek pinggiran jubah itu sehingga merupakan tali yang cukup panjang, kemudian selain menggunakan sebagian tali untuk ikat pinggang, juga dia mengikat lubang-lubang kancing jubah itu sehingga tidak ada bahaya terbuka lagi kalau kedua tangannya digerakkan.
Setelah itu lalu digulungnya lengan bajunya sampai ke siku agar tidak menghalangi gerakannya karena dia sudah mengambil keputusan pasti untuk menghajar jai-hwa-cat itu!
Menghajarnya sampai mati.
Setelah selesai persiapannya, dia melangkah perlahan dan seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.
Dia sudah memasang kuda-kuda dan kedua tangannya sudah terkepal di pinggang, siap untuk menerjang dan memukul.
Dia harus menyerang dengan jurus apa?
Bagian mana yang harus dipukulnya dan sebaiknya memukul dengan tangan terbuka atau terkepal?
Dia mempertimbangkan, memilih-milih bagian mana yang paling "lunak"
Dan yang paling tepat, karena dia yakin bahwa pemuda itu tentu pandai, maka dia harus dapat berhasil menyerang secara "tek-sek", yaitu satu kali "tek" (suara pukulan) hasilnya "sek" (mati), atau sekali pukul mati!
Tengkuknya yang sebagian tertutup rambut yang hitam lebat dan dikuncir tebal itu?
Ah, kuncir itu terlalu tebal dan ini bisa menahan pukulannya.
Punggungnya?
Pemuda itu memakai baju dan berlapis jubah tebal, inipun tidak menguntungkan kalau dia memukul punggung, apalagi menotok karena totokannya bisa terhalang oleh tebalnya pakaian.
Kepalanya!
Ya, ubun-ubun kepalanya itu.
Biarpun pemuda itu rambutnya hitam dan tebal, akan tetapi kiranya rambut itu tidak cukup kuat untuk melindungi ubun-ubun yang lemah.
Sekali pukul ubun-ubunnya, beres!
Apalagi kalau dia mengerahkan sin-kangnya, menggunakan jari tangan terbuka mencengkeram, tentu jari-jari tangannya akan menancap di ubun-ubun itu.
Crottt, dan otaknya akan muncrat keluar!
Ceng Ceng bergidik ngeri juga.
Belum pernah dia melakukan hal sekejam itu.
Membayangkan otak kepala manusia berlepotan di jari tangannya, dia sudah mau muntah.
Ah, ditotok saja jalan darah di lehernya.
Totokannya biasanya jitu dan sekali totok tentu pemuda itu akan tak berdaya lagi, kalau sudah begitu, terserah nanti bagaimana dia akan membunuhnya.
Tangannya sudah dibuka jarinya, kedua jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan sudah menegang sedangkan tiga jari lainnya ditekuk, siap untuk melakukan totokan yang jitu selagi pemuda itu tekun memperhatikan pancingnya.
"Apakah sebelum membunuhku, kau tidak lebih dulu menanyakan di mana kusimpan pakaianmu? Kalau aku mati dan kau tidak dapat menemukan pakaianmu, apakah kau akan melakukan perjalanan seperti itu?"
Ucapan pemuda itu membuat dia lemas! Lemas dan jengkel. Jari tangan yang sudah menegang menjadi lemas kembali.
"Jai-hwa-cat! Manusia cabul! Mata keranjang! Laki-laki tak tahu malu! Ceriwis dan muka tebal!"
Pemuda itu menoleh, tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang kuat dan putih bersih, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri.
"Apa lagi? Kalau masih ada, keluarkan semua, kalau perlu boleh melihat kamus mencari kata-kata makian. Tidak baik menyimpan penasaran."
Bagaikan api disiram bensin, kemarahan Ceng Ceng makin berkobar, telunjuknya menuding.
"Kau.... kau.... babi celeng monyet anjing kerbau! Kau manusia iblis, setan, siluman eh, apalagi.... eh, keparat jahanam! Hayo kembalikan pakaianku, kalau tidak...."
"Kalau tidak mengapa sih?"
"Kalau tidak.... akan kuhancurkan kepalamu, kurobek dadamu, kukeluarkan isi perutmu, kupotong lehermu, kaki dan tanganmu....!"
"Heh-heh, memangnya aku ayam? Terlalu kejam bagi seorang dara secantik engkau!"
Karena kata-kata dan sikap pemuda itu mengejeknya, tak dapat lagi Ceng Ceng menahan kemarahan hatinya.
"Kembalikan pakaianku!"
"Nanti dulu! Kalau kau minta dengan cara kurang ajar seperti itu, jangan harap aku akan mengembalikannya!"
"Apa? Harus bagaimana aku minta?"
"Yahhh, dengan kata-kata yang sopan dan manis, namanya saja orang minta-minta."
"Aku bukan pengemis!"
"Akan tetapi engkau minta sesuatu, harus yang sopan dan manis."
"Manis hidungmu! Mampuslah!"
Ceng Ceng sudah tak dapat lagi menahan lebih lama dan dia menyerang dengan dahsyat, menggunakan kedua tangannya memukul meskipun kakinya berjingkrak karena telanjang.
"Hehhhh.... waaahhh.... luput!"
"Haaaaiiitttt....!"
Tubuh Ceng Ceng menerjang maju, kakinya menendang menyusul hantamannya mengarah dada.
"Wuuuussss.... hampir saja tapi luput!"
"Hyaattt....!"
Kemarahan membuat Ceng Ceng menyerang sehebatnya, kini tangan kirinya mencengkeram ke arah mata lawan disusul tangan kanannya menyodok lambung.
Pukulan yang berbahaya sekali.
"Bagus sekali, sayang gagal....!"
Bertubi-tubi Ceng Ceng menyerang, mengeluarkan jurus-jurus paling ampuh yang pernah dipelajarinya, terus mengejar ke manapun pemuda itu loncat mengelak, namun tak pernah serangannya berhasil.
Gerakan pemuda itu luar biasa gesitnya, dan tiba-tiba Ceng Ceng mengaduh-aduh, lalu menghentikan serangannya dan pergi dari tempat yang penuh batu kerikil runcing itu ke tempat tadi.
Kiranya pemuda itu mengelak sambil memancing gadis itu mengejarnya ke tempat yang penuh dengan batu kerikil runcing.
Tentu saja kaki Ceng Ceng menjadi korban.
Semenjak kecil, dara itu tidak pernah mempergunakan kakinya bertelanjang menginjak sesuatu, tentu saja telapak kakinya menjadi amat halus, kulitnya tipis dan perasa sekali.
Tanpa sepatu, kakinya itu merupakan bagian tubuh yang lemah sekali.
Kini dia memandang pemuda itu dengan mata terbelalak.
Lagak dan kata-kata pemuda itu, caranya mengelak dan mengejeknya ketika semua serangannya gagal, mengingatkan dia akan seseorang.
Melihat dara itu tidak menyerangnya lagi, pemuda itu berkata kepada diri sendiri.
"Melihat orang mengamuk masih mending, asal jangan melihat orang menangis. Menyebalkan!"
Tiba-tiba tubuhnya lenyap begitu saja dan Ceng Ceng melongo.
Kiranya pemuda itu adalah iblis!
Hanya iblis saja yang pandai menghilang seperti itu.
Akan tetapi, dia belum pernah bertemu dengan iblis, dan menurut dongeng, iblis hanya muncul di waktu malam.
Sekarang, masih siang begini iblis macam apa muncul dalam ujud seorang pemuda tampan?
"Nih pakaianmu!"
Tiba-tiba terdengar suara dari atas dan ketika Ceng Ceng memandang ke atas, kiranya pemuda itu nongkrong di atas dahan pohon dan mengeluarkan pakaiannya dari bungkusan, kemudian melemparkan pakaiannya kepadanya.
Ceng Ceng menerima gulungan pakaiannya itu, lengkap pakaian dalam dan luar, dan sepatunya, akan tetapi pakaian petani yang dipakai menyamar, yang dipakai di luar pakaiannya sendiri, tidak ada.
Dia tidak pula memperhatikan hal ini, bahkan kini pakaian itu hanya dipegangnya saja dengan kedua tangannya karena dia memandang pemuda itu yang meloncat turun dengan gerakan yang membuat dia kaget dan kagum.
Pantas saja seperti menghilang, kiranya pemuda itu memiliki gerakan yang luar biasa ringan dan cepatnya.
Akan tetapi, bukan itu yang membuat dia bengong dan seperti orang terpesona, melainkan buntalan yang dibawa turun oleh pemuda itu.
Teringat benar bahwa dia pernah melihat buntalan itu, bahkan pernah melemparkannya ke dalam sungai.
Melemparkan buntalan!
Dari perahu!
"Heiiiii....!"
Tiba-tiba karena teringat, dia menjerit sambil menudingkan telunjuknya ke arah pemuda itu.
Si pemuda sedang berjongkok memegang buntalan untuk memeriksa apakah pan-cingannya mengena, ketika ditunjuk dan tiba-tiba dara itu menjerit, dia kaget sampai terloncat.
"Wah, kau ini gadis aneh. Apa lagi kau menjerit-jerit seperti melihat setan?"
Dia mengomel.
"Bukan melihat setan, melainkan melihat engkau! Engkau tukang perahu keparat itu! Benar, matamu, senyummu...."
"Bagus dah menarik, ya?"
"Menarik hidungmu! Hayo mengaku! Kau yang menyamar sebagai tukang perahu itu, bukan?"
"Kalau tidak mengaku, mengapa?"
"Mengaku atau tidak, tetap saja aku sekarang mengenalmu. Buntalan itu! Aku membuangnya ke dalam sungai dan kau meloncat mengejar dan menyelam."
"Kau memang gadis liar dan galak!"
"Dan kau.... kau meninggalkan perahu, membuat perahu hanyut dan terguling. Dan enciku ehhhh, enciku.... dia tentu celaka....!"
"Hemm, semua gara-gara engkau juga! Mengapa engkau begitu jahat dan kejam, membuang buntalan orang? Sepatutnya engkau yang harus mati tenggelam, bukan kakakmu yang baik hati dan manis budi dan cantik jelita itu."
"Tidak, engkau yang meninggalkan perahu sampai perahu hanyut!"
Ceng Ceng membantah, marah.
"Kalau kau tidak begitu kejam membuang buntalanku, apakah aku meninggalkan perahu? Kau saja yang tak mengenal budi orang!"
Pemuda itu mengomel lalu mengambil sebuah topi caping lebar dari buntalan besar dan mengebut-ngebutkannya.
Melihat caping itu, Ceng Ceng makin kaget dan memandang dengan matanya yang indah itu terbelalak lebar.
"Heiii....!"
"Ihhh!"
Pemuda itu mencela, terperanjat.
"Apa kau sudah gila, menjerit-jerit tidak karuan?"
"Capingmu itu! Kau adalah orang yang dulu mengganggu ketika sang.... eh, kakakku hendak mandi!"
Pemuda itu menoleh, tersenyum mengejek dan berkata.
"Benarkah?"
"Ternyata kau memang kurang ajar, agaknya sejak dahulu engkau membayangi kami, ya?"
"Kalau kau yang minta aku pergi ketika itu, aku tentu tidak sudi. Akan tetapi Sang Puteri Syanti Dewi, dia begitu cantik, begitu halus, sayang, gara-gara kenakalanmu dia sampai lenyap!"
"Gara-gara kekurangajaranmu!"
Ceng Ceng membantah.
"Gara-gara engkau!"
"Engkau!"
"Hemmm, kau ini hanya seorang dayang pelayan besar lagak amat!"
Pemuda itu mengejek. Sepasang mata yang sudah terbelalak itu mengeluarkan sinar berapi.
"Apa katamu? Dayang pelayan? Keparat bermulut lancang dan busuk!"
Ceng Ceng melepaskan gulungan pakaiannya dan saking marahnya dia sudah menerjang lagi dengan pengerahan tenaga sekuatnya dan mengeluarkan jurus yang paling ampuh.
Akan tetapi, dengan gerakan yang aneh dan sigap, pemuda itu berhasil menangkap kedua pergelangan tangannya dan dia meronta-ronta namun tidak bisa melepaskan kedua tangannya yang terpegang.
Ceng Ceng marah sekali, kakinya menendang-nendang namun selalu dapat ditangkis oleh kaki pemuda itu.
Betapapun juga, memegang seorang dara yang liar seperti itu sama dengan memegang seekor harimau betina, salah-salah bisa terkena cakarnya.
Maka pemuda itu berkata sungguh-sungguh.
"Gadis liar! Kalau kau tak menghentikan kegalakanmu, terpaksa aku akan menghukummu dengan ciuman-ciuman pada mulutmu!"
Diancam pukulan atau maut, agaknya Ceng Ceng takkan merasa takut.
Akan tetapi diancam ciuman, hal yang sama sekali belum pernah dialaminya biar dalam mimpi sekalipun, meremang seluruh bulu di tubuhnya, dan otomatis dia menghentikan gerakan tubuhnya.
Melihat ini, pemuda itu tertawa dan sekali mendorong, tubuh Ceng Ceng terlempar dan terbanting ke atas tanah.
"Huh, biar kau belajar ilmu silat lagi sampai kau menjadi nenek-nenek keriput, tak mungkin engkau dapat melawanku."
Pemuda itu mengejek dengan nada suara sombong sekali.
Ceng Ceng yang terduduk di atas tanah itu tak bergerak, hati dan pikirannya terasa sakit bukan main.
Pemuda ini seorang pemuda yang tampan dan berkepandaian begitu tinggi, dan kini dia dapat menduga-duga bahwa dia yang terseret arus sungai tentu telah ditolong oleh pemuda ini, tentu dalam keadaan hampir mati dan basah kuyup.
Pemuda aneh ini, yang tampan dan gagah, tentu telah mengeluarkan air dari perutnya dan karena pakaiannya basah kuyup, tentu telah menanggalkan pakaian itu dan memakaikan jubahnya kepadanya, dan pakaiannya itu, Sampai sepatu-sepatunya, dijemur sampai kering, mungkin setelah dicuci dulu karena terkena lumpur.
Dan ketika menanggalkan semua pakaiannya, pemuda itu jelas tidak melakukan sesuatu yang melanggar susila, kalau demikian halnya, tidak akan begini keadaannya.
Pemuda yang aneh, tampan, gagah, kurang ajar akan tetapi juga baik sekali.
Justeru kebaikan pemuda itulah yang membuat hatinya menjadi makin sakit, karena betapapun baik dan tampan dan gagahnya, pemuda itu kini ternyata tidak menghargainya, menghinanya, memandang rendah mengatakannya pelayan dan biar sampai menjadi nenak-nenek keriput takkan mampu melawannya.
Dan pemuda itu sudah dua kali mengalahkannya.
Dia jengkel sekali, marah sekali.
Melawan dengan tenaga, tidak mampu, bahkan kalah jauh sekali.
Melawan dengan maki-makian, ternyata pemuda itupun pandai sekali bicara, bahkan setiap kata-katanya menusuk perasaan!
Dia kalah segala-galanya!
Perasaan ini membuat dia terasa begitu nelangsa, teringat dia akan kakeknya, karena kalau ada kakeknya, tentu tidak ada manusia berani bersikap begini kurang ajar kepadanya.
Selama hidupnya, ketika kakeknya masih ada, dia belum pernah mengalami penghinaan seperti ini.
Juga kalau ada Syanti Dewi yang biarpun halus dan lemah namun amat berwibawa itu, agaknya dia ada yang membela.
Sekarang, dia seorang diri dan dihina orang tanpa mampu melawan sedikitpun.
Teringat akan ini, biarpun pada dasarnya Ceng Ceng bukan seorang dara yang cengeng, bahkan amat keras hati dan pantang menangis karena iba diri, kini tak dapat menahan tangisnya dan dia menundukkan muka, menutupi kedua matanya yang mengalirkan air mata.
Siapakah pemuda tampan yang amat lihai itu?
Dia ini bukan lain adalah Ang Tek Hoat!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, pemuda ini semenjak meninggalkan ibunya di puncak Bukit Angsa di lembah Huang-ho, telah banyak mengalami hal yang hebat-hebat.
Selama dua tahun dia menjadi murid Sai-cu Lo-mo dan memperoleh ilmu kepandaian yang amat tinggi, kemudian petualangannya sebagai Si Jari Maut dengan menggunakan nama Gak Bun Beng untuk merusak nama musuh pembunuh ayahnya yang sudah meninggal itu dan kemudian setelah dia dikalahkan oleh Puteri Milana yang membuat dia malu dan penasaran sekali dia bertemu dengan Kong To Tek bekas tokoh Pulau Neraka yang telah mewarisi kitab-kitab peninggalan dua orang Iblis Tua dari Pulau Neraka, yaitu Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin.
Karena Kong To Tek menderita sakit ingatan, tokoh ini yang melihat wajah Tek Hoat mirip sekali dengan Wan Keng In yang sudah meninggal, mengira bahwa dia berhadapan dengan Wan Keng In dan menyerahkan pusaka-pusaka peninggalan dua orang Iblis Tua itu kepada Tek Hoat, berikut pedang pusaka Cui-beng-kiam yang ampuh dan catatan pembuatan obat perampas ingatan yang amat luar biasa.
Karena mencobakan obat perampas ingatan dan obat penawarnya kepada Kong To Tek, maka kakek ini waras kembali dan melihat dia tertipu, dia hendak membunuh Tek Hoat namun kalah dan bahkan dia yang terbunuh oleh Tek Hoat yang telah menjadi lihai sekali!
Dengan hati girang Tek Hoat yang telah mewarisi ilmu kepandaian hebat, bahkan masih ada dua buah kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin yang dianggap gurunya dan yang belum dilatihnya, Pemuda ini lalu pergi hendak pulang ke rumah ibunya di puncak Bukit Angsa, membawa dua buah kitab dan sebatang pedang.
Kini dia tidak sudi lagi menyamar dengan nama Gak Bun Beng.
Dia telah menjadi seorang yang berilmu tinggi, dan dia menganggap bahwa di dunia ini tidak akan ada yang dapat melawannya, maka dia berhak menggunakan namanya sendiri dan hendak mencari nama besar dengan cara yang akan menimbulkan kegemparan di dunia!
Akan tetapi betapa kecewa hatinya ketika dia tiba di puncak Bukit Angsa, dia mendapatkan rumah ibunya kosong dan ibunya tidak berada lagi di rumah itu.
Bahkan melihat bekas-bekasnya, agaknya sudah lama ibunya meninggalkan rumah itu tanpa meninggalkan pesan apapun dan kepada siapapun.
Tek Hoat menjadi jengkel dan marah kepada ibunya, lupa bahwa dialah yang telah melanggar janji.
Ketika pergi dahulu, dia berjanji untuk pulang menengok ibunya setiap tahun, akan tetapi dia telah pergi hampir empat tahun lamanya dan baru ini dia pulang!
Terpaksa dia meninggalkan lagi Bukit Angsa dengan tujuan mencari ibunya, dan terutama sekali mencari nama besar di dunia kang-ouw.
Pertama-tama dia harus mengunjungi Bu-tong-pai dan memberi hajaran kepada para tokoh Bu-tong-pai yang telah berani menghinanya empat tahun yang lalu!
Kedua, dia akan mencari Puteri Milana di kota raja dan akan menantangnya untuk menebus kekalahannya dua tahun yang lalu!
Kemudian dia akan membuat geger dunia kang-ouw dan minta diakui sebagai jagoan nomor satu, lalu dia akan menantang Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman Majikan Pulau Es!
Dengan cita-cita besar itu, pergilah Tek Hoat dari Bukit Angsa.
Akan tetapi sebelum semua cita-citanya terkabul, dia bertemu dengan rombongan Pek-lian-kauw dan dalam bentrokan kecil antara dia dengan para tokoh Pek-lian-kauw, dia telah memperlihatkan kepandaiannya yang dahsyat.
Para tokoh Pek-lian-kauw tertarik, lalu membujuknya dan membawa pemuda yang masih hijau ini pergi menghadap Pangeran Tua, yaitu Pangeran Liong Bin Ong di kota raja!
Pertemuannya dengan Pangeran Liong Bin Ong membuat terbuka mata pemuda ini bahwa jalan satu-satunya untuk mencari kedudukan tinggi, juga membuat nama besar dan melakukan kegemparan di dunia, adalah membantu pangeran ini.
Kalau sampai mereka berhasil merampas tahta kerajaan, tentu dia akan memperoleh pangkat tinggi dan siapa tahu terdapat kesempatan baginya untuk kelak merampas mahkota sendiri dan menjadi kaisar!
Lamunan muluk-muluk ini membuat Tek Hoat untuk sementara melupakan urusan pribadinya dan mulailah dia mengabdi kepada Pangeran Tua yang mengangkatnya menjadi pengawal kepala dan menugaskannya mewakili pangeran ini mengadakan kontak dengan para pembantu pangeran di luar kota raja.
Ketika Kaisar Kang Hsi melamar Puteri Syanti Dewi di Bhutan untuk diperisteri adik tirinya, Pangeran Long Khi Ong, adik tiri Pangeran Tua, diam-diam Pangeran Tua ini tidak setuju.
Tentu saja dia tidak setuju karena ikatan keluarga itu akan memperkuat kedudukan kaisar atau kakak tirinya sendiri di dunia barat.
Karena itulah maka diam-diam dia mengusahakan agar pernikahan itu gagal dan dia lalu mengirim sogokan dan bujukan kepada Raja Muda Tambolon pemberontak di daerah Bhutan untuk menghalangi diboyongnya Puteri Syanti Dewi di daratan besar.
Bahkan dia mengutus para kepercayaannya yang baru, Ang Tek Hoat untuk menyelidiki ke Bhutan dan membantu usaha penggagalan pernikahan itu.
Demikianlah singkatnya keadaan Ang Tek Hoat yang muncul di Bhutan sebagai seorang pemuda yang menyembunyikan mukanya di balik caping lebar ketika Puteri Syanti Dewi hendak mandi.
Kemudian melihat bahwa pasukan Raja Muda Tambolon berhasil, dia diam-diam membayangi sang puteri bersama Ceng Ceng yang melarikan diri.
Dia pula yang menyamar sebagai pedagang garam untuk membantu dua orang gadis pelarian itu lolos, kemudian dia menyamar sebagai tukang perahu.
Semua itu dilakukan agar dia dapat mengamat-amati dua orang gadis itu, dan terutama sekali agar Puteri Syanti Dewi tidak sampai lolos dan dapat mencapai kota raja.
Kalau saatnya tiba, dia akan "menggiring"
Sang puteri ini dan dihaturkan kepada majikannya, kemudian terserah keputusan Pangeran Liong Bin Ong.
Hanya dia harus mengakui bahwa diam-diam dia tertarik dan terpesona oleh kecantikan dan sikap halus sang puteri, sehingga diam-diam membayangkan betapa akan gembiranya kalau dia dapat menduduki pangkat tinggi, kalau mungkin kaisar, dengan seorang isteri seperti puteri Bhutan ini!
Baru sekali ini Tek Hoat merasa tertarik kepada seorang wanita, dan biasanya dia memandang rendah kaum wanita.
Akan tetapi, rencananya menjadi berantakan karena kenakalan Ceng Ceng yang melemparkan buntalannya ke sungai.
Padahal buntalan itu berisi pedang Cui-beng-kiam!
Tentu saja dia tidak mau kehilangan pedang itu dan cepat meloncat ke air sehingga perahu itu hanyut sendiri.
Dia melakukan pengejaran sambil berenang secepatnya.
Namun tetap saja tidak dapat mencegah terjadinya tabrakan sehingga perahu itu terguling.
Cepat dia meloncat ke darat dan lari di sepanjang tepi sungai dan akhirnya dia melihat Ceng Ceng dalam keadaan pingsan hanyut di air.
Dia segera menolong gadis itu, namun tidak berhasil menolong Puteri Syanti Dewi, sama sekali dia tidak mimpi bahwa puteri itu telah ditolong oleh seorang yang namanya akan membuat dia terkejut seperti melihat mayat hidup, yaitu Gak Bun Beng musuh besarnya, pembunuh ayahnya yang telah dianggapnya mati itu.
Tek Hoat yang memiliki watak amat luar biasa, kejam, dingin, tak mengenal sedikitpun perasaan iba, penuh dendam dan penuh kebencian terhadap manusia umumnya, hanya mengejar keuntungan diri pribadi saja, betapapun juga bukanlah seorang yang mudah hanyut oleh nafsu berahi.
Dia seorang pemuda yang kuat luar dalam, kuat pula perasaannya yang seperti membeku dingin sehingga ketika dia menolong Ceng Ceng, mengempiskan perut dara itu yang penuh air, kemudian menanggalkan pakaian Ceng Ceng karena pakaian itu basah kuyup, melihat bentuk tubuh yang sedang mekar dan menggairahkan itu, dia sama sekali tidak terangsang!
Bahkan secara kasar dia menolong Ceng Ceng karena marah, menganggap gadis ini yang menghan-curkan rencananya sehingga dia terpisah dari Syanti Dewi.
Kemudian setelah melihat nyawa Ceng Ceng tertolong, dia mengenakan jubahnya pada gadis itu dan menangkap ayam, memanggangnya, kemudian dia memancing ikan.
Selanjutnya kita telah mengetahui apa yang terjadi.
Kini, melihat Ceng Ceng menangis, Tek Hoat mengerutkan alisnya.
Hatinya seperti ditusuk-tusuk atau diremas-remas.
Memang ada keanehan pada diri Tek Hoat, keanehan yang seolah-olah tidak normal, yaitu dia tidak tahan melihat orang menangis, atau lebih tepat, melihat wanita menangis!
Mungkin saja hal ini timbul dan menjadi wataknya karena di waktu dia masih kecil, sering sekali dia melihat ibunya menangis sesenggukan dan terisak-isak dengan sedihnya, bahkan hampir setiap malam dia melihat ibunya menangis seorang diri dan kalau ditanya kenapa menangis, ia hanya menggeleng kepalanya.
Boleh jadi Tek Hoat merupakan pemuda keras hati dan dingin yang tiada keduanya di dunia, apalagi setelah dia mempelajari ilmu-ilmu mujijat dari dua Iblis Tua Pulau Neraka, wataknya menjadi makin tidak lumrah.
Namun kesan mendalam karena tangis ibunya setiap malam itu masih melekat di hatinya sehingga kini, melihat Ceng Ceng menangis, dia seolah-olah mendengar ibunya menangis dan hatinya seperti diremas-remas!
"Aihh, kenapa kau menangis?"
Tanyanya sambil membalikkan tubuh, duduk menghadapi gadis itu.
Ditanya dengan suara yang halus seperti itu, makin menjadi-jadi tangis Ceng Ceng, akan tetapi segera ditahannya ketika teringat bahwa yang menegurnya adalah pemuda yang memanaskan dan menjengkelkan hatinya itu.
Dia mengintai dari celah-celah jari tangannya dan dengan heran dia melihat betapa pemuda itu amat pucat wajahnya, pandang matanya sayu dan amat berduka, agaknya menderita sekali melihat dia menangis!
"Sudahlah, mengapa menangis?
Aku tidak mengganggumu dan kalau tadi kau tersinggung, sudahlah kau maafkan aku dan jangan menangis...."
Suaranya halus dan lunak, bahkan agak gemetar!
Hal ini mengherankan hati Ceng Ceng sehingga otomatis tangisnya berhenti.
Teringat dia akan kata-kata pemuda itu tadi ketika dia menyerangnya.
"Melihat orang mengamuk, masih mending, asal jangan melihat orang menangis!"
Agaknya pemuda ini memiliki "kelemahan", pikirnya.
Yaitu tidak tahan melihat orang menangis!
Teringat akan ini, Ceng Ceng lalu menangis lagi sesenggukan!
Dan diam-diam dia mengintai dari celah-celah jari tangannya, melihat betapa pemuda itu memejamkan matanya, menggigit bibirnya dan berkata dengan lantang.
"Harap kau jangan menangis!"
Akan tetapi Ceng Ceng menangis terus, memaksa diri menangis sungguhpun kini tidak ada air matanya yang keluar, karena memang tangisnya tangis buatan, disembunyikan di balik kedua tangannya.
Karena dia tertarik melihat sikap pemuda yang aneh itu dia lupa akan kemarahan dan kedukaannya, maka tentu saja sukar baginya untuk menangis benar-benar.
Tek Hoat makin tersiksa.
Suara sesenggukan itu persis suara ibunya di waktu malam.
"Nona, kau maafkan aku dan jangan menangis. Kau lihat aku tidak melakukan sesuatu kepadamu, bukan? Kalau aku berniat buruk, betapa mudahnya aku memperkosamu ketika kau pingsan. Akan tetapi aku tidak berniat buruk...."
"Uhuuuu.... huuhhh.... huuuu....!"
Ceng Ceng memperhebat tangisnya dan dari celah-celah jari tangannya dia melihat betapa pemuda itupun makin hebat penderitaannya.
"Kau.... kau.... telah menanggalkan pakaianku, engkau telah menelanjangi aku, berarti engkau telah menghinaku uh-hu-huuu....!"
"Nanti dulu, jangan menangis, nona. Memang benar aku telah menanggalkan semua pakaianmu, kemudian mengenakan jubahku ini kepadamu. Akan tetapi kalau tidak begitu, habis bagaimana? Pakaianmu basah kuyub, engkau terancam bahaya maut dan satu-satunya cara untuk menolongmu hanya mengeluarkan air dari perutmu, kemudian mengeringkan pakaianmu. Aku melakukan itu untuk menolongmu, untuk menyelamatkan nyawamu...."
"Uhu-hu-hu, bohong.... huuuu.... bagaimanapun juga, kau telah menghinaku dan setelah kau melihat aku telanjang, bagaimana aku tidak akan malu setengah mati? Bagaimana aku dapat bertemu pandang denganmu? Uhu-hu-huuu...."
"Kalau begitu jangan memandang aku...."
Ceng Ceng menangis makin hebat sampai menggerung-gerung.
Dari celah-celah jari tangannya dia melihat benar betapa pemuda itu menjadi makin gelisah dan bingung, bahkan kemudian berkata.
"Sudahlah, jangan menangis. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menebus dosa, asal kau jangan menangis...."
"Kau harus berjanji.... tidak, harus bersumpah....!"
"Baiklah, aku bersumpah. Bersumpah bagaimana?"
"Keluarkan saputanganmu, untuk saksi sumpah."
Tek Hoat yang ingin agar dara itu benar-benar menghentikan tangisnya, terpaksa mengeluarkan saputangannya.
Sesungguhnya, pemuda ini bukanlah seorang yang begitu bodoh.
Akan tetapi dia benar-benar tidak tahan mendengar dan melihat wanita menangis, dan kalau saja bukan Ceng Ceng, tentu dia sudah menggerakkan tangan membunuhnya.
Dia tidak bisa melakukan itu, dia membutuhkan dara ini.
Bukankah dara ini sahabat baik Puteri Syanti Dewi?
Dengan perantaraan Ceng Ceng ini dia masih ada harapan untuk mendapatkan puteri itu, kalau saja puteri itu masih hidup dan dia yakin masih karena dia tidak melihat mayatnya.
"Baik, inilah saputanganmu,"
Katanya mengeluarkan saputangan, tidak melihat betapa Ceng Ceng menggosok-gosok keras kedua matanya sehingga menjadi makin merah dan basah air mata ketika dia menurunkan tangan menyambut saputangan itu.
"Taruh tanganmu di saputangan ini dan bersumpahlah!"
Kata Ceng Ceng mengulurkan saputangan di tangannya. Terpaksa Tek Hoat meletakkan tangannya di atas saputangan yang berada di telapak tangan Ceng Ceng.
"Bersumpahlah bahwa kau tidak akan menggangguku,"
Kata dara itu.
"Aku bersumpah tidak akan mengganggumu."
Tek Hoat mengulang.
"Dan kau tidak akan memandangku."
"Hehhh....? Habis bagaimana? Aku kan punya mata!"
Pemuda itu membantah.
"Kalau kau memandangku, aku akan teringat bahwa aku pernah telanjang di depan matamu dan aku akan mati karena malu."
"Habis bagaimana? Apakah kalau bertemu denganmu aku harus memejamkan mata?"
"Terserah, memejamkan mata atau membalik belakang atau menutupi mata dengan saputangan, pendeknya kau tidak boleh melihat aku!"
"Baiklah...."
Di dalam hatinya Tek Hoat memaki.
"Bersumpahlah bahwa kau selalu akan menutupi atau memejamkan matamu kalau bertemu denganku."
"Aku berjanji akan selalu menutupi atau memejamkan mataku kalau bertemu."
"Dan kau akan selalu menurut kata-kataku, kau akan mengajarkan ilmu silatmu yang tinggi kepadaku, dan engkau akan mencarikan enci Syanti sampai bertemu, dan engkau akan...."
"Wah, tidak jadi saja kalau begitu!"
Tek Hoat berseru keras sambil menurunkan tangannya dari saputangan.
"Masa harus bersumpah begitu banyak? Pula, tidak mungkin aku mengajarkan ilmu silat, dan tidak mungkin harus menurut segala kata-katamu."
Melihat ini Ceng Ceng maklum bahwa dia sudah terlalu jauh dalam tuntutannya, maka cepat dia berkata.
"Baik, kalau begitu ulangi dua sumpahmu itu saja, bersumpah bahwa kalau sampai melanggarnya, engkau akan mati muda dan saputangannya ini menjadi saksinya!"
Karena ingin lekas beres agar dara itu tidak rewel lagi, dia berkata.
"Akan tetapi sebagai imbalannya, kau pun harus bersumpah bahwa kau tidak akan menangis lagi!"
"Baik, aku bersumpah takkan menangis lagi kalau kau sudah bersumpah."
Tek Hoat menarik napas panjang, meletakkan tangannya di atas saputangan lalu berkata.
"Aku...."
"Sebutkan namamu!"
"Aku.... Ang Tek Hoat, bersumpah bahwa aku tidak akan mengganggumu...."
"Sebutkan namaku, Lu Ceng!"
"....bahwa aku tidak akan mengganggu Lu Ceng, dan bahwa aku akan selalu menutupi atau memejamkan mata kalau bertemu dengan Lu Ceng dan kalau aku melanggar sumpah ini, biarlah aku mati muda dan saputangan ini menjadi saksi!"
Ceng Ceng girang sekali lalu menyimpan saputangan itu di sakunya.
"Heiii, kau mau melanggar sumpah? Hayo pejamkan mata atau, membalik! Aku mau berganti pakaian!"
Tek Hoat yang terlupa dan membuka mata memandang tadi, cepat-cepat memejamkan mata dan memutar tubuhnya membalik, diam-diam dia mengutuk diri sendiri mengapa dia mau bersumpah seperti itu.
Akan tetapi, dia sudah terlanjur bersumpah dan memang dia memerlukan gadis ini untuk dapat bertemu kembali dengan Syanti Dewi dan melaksanakan cita-citanya terhadap puteri Bhutan itu.
Kalau segala itu sudah tercapai, membunuh gadis ini apa sih sukarnya?
Biarlah sementara ini dia mengalah dulu.
Pula, dia juga merasa kurang enak dan tidak aman kalau harus melanggar sum-pahnya.
Siapa tahu, sumpah itu benar-benar manjur dan kalau dilanggarnya dia akan mati muda!
Dia bergidik!
Nanti dulu, ya!
Dia masih mempunyai banyak cita-cita yang belum terlaksana.
Pokok-nya hanya terletak pada saputangan itu.
Kalau kelak dia membunuh gadis ini, atau setidaknya merampas kembali saputangannya, berarti sumpahnya sudah punah karena tidak ada lagi saksinya!
Dengan hati gembira Ceng Ceng mengganti jubah yang kedodoran itu dengan pakaiannya sendiri, menyimpan saputangan di balik kutangnya, dan sambil berganti pakaian dia memandang punggung pemuda itu dengan tersenyum.
Dia menang!
Tak disadarinya lagi, dia memberes-bereskan pakaian dan rambutnya agar kelihatan patut.
Dia mempersolek diri untuk pemuda itu tanpa disadarinya!
"Aku sudah selesai!"
Akhirnya dia berkata, ingin melihat pemuda itu memandangnya dengan kagum.
Setelah mengenakan pakaiannya sendiri, tentu dia akan tampak lebih cantik!
Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak menoleh, bahkan melanjutkan memancing ikan dan tiba-tiba mengangkat tangkai pancingnya dan seekor ikan lele yang gemuk menggelepar-gelepar.
Ceng Ceng kecewa, akan tetapi segera teringat.
Celaka!
Pemuda itu tentu tidak akan memandangnya!
Karena sumpah itu!
Perlu apa dia bersolek?
Wah, serba berabe kalau begini.
Akan tetapi dia tahu bahwa pemuda ltu lebih repot lagi karena harus menghindarkan pandang matanya dari Ceng Ceng.
Biar tahu rasa dia!
Pikiran ini mengusir kekecewaannya.
"Nona Ceng...."
"Tak usah nona-nonaan. Aku biasa disebut Ceng Ceng."
"Hemm.... Ceng Ceng, apakah kau tidak lapar?"
Tanya Tek Hoat tanpa menoleh.
"Tentu saja."
"Nah, ini ada sisa ayam panggang...."
"Aku tak sudi makan sisamu!"
"Kalau, begitu, ikan ini kau boleh ambil dan bakar."
Tanpa menoleh Tek Hoat menyerahkan ikan itu yang diterima oleh Ceng Ceng dan tak lama kemudian Ceng Ceng sudah memanggang daging ikan yang gemuk dan makan dengan lahapnya tanpa menawarkannya kepada Tek Hoat.
Hari mulai gelap, senja telah mendatang.
"Kita harus pergi mencari majikan...."
"Apa? Siapa kau maksudkan?"
"Siapa lagi kalau bukan Puteri Syanti Dewi?"
"Tek Hoat, kau jangan sembarangan omong, dan aku bukanlah pelayannya. Mengerti?"
Tek Hoat mengangguk-angguk dan merasa girang.
Tidak keliru dia mengalah kepada gadis liar ini, kiranya sudah diaku sebagai adik angkat.
Kalau dia membunuhnya, tentu sukar baginya untuk berbaik dengan Syanti Dewi.
"Kau tergila-gila kepada kakakku, ya?"
Tek Hoat terkejut, akan tetapi hanya mengangguk. Dia masih duduk membelakangi Ceng Ceng.
"Wah, tidak enak benar begini! Masa aku bicara dengan.... pinggul saja?"
Tek Hoat tersenyum akan tetapi menahan gelak tawanya.
"Habis bagaimana? Aku tidak berani melanggar sumpah."
"Wah, kau menghadap ke sini dan memejamkan mata, masa tidak bisa?"
"Lebih tidak enak lagi buat aku, terus memejamkan mata, masa seperti orang buta."
"Kalau begitu, tutup saja dengan saputangan."
"Saputanganku sudah kau bawa."
Terpaksa Ceng Ceng memberikan saputangannya sendiri yang berbau harum.
Tek Hoat menerimanya, menutupkan saputangan itu di depan matanya dan mengikatkan kedua ujung di belakang kepala, kemudian membalik menghadapi Ceng Ceng.
Gadis itu tersenyum lebar menutupi mulutnya.
Lucu sekali, seperti anak kecil bermain-main!
"Ceng Ceng, kau mengatakan aku tergila-gila kepada kakakmu?
Memang, bukan tergila-gila, melainkan aku....
aku jatuh cinta kepadanya."
"Hemm, bagus! Betapapun juga, engkau bukan pemuda yang buruk rupa dan masih muda lagi. Daripada kakakku itu menikah dengan Pangeran Liong Khi Ong yang kabarnya sudah hampir lima puluh tahun usianya, lebih baik menikah denganmu."
"Benarkah?"
Tek Hoat bertanya girang.
"Ya. Dan aku suka membantumu agar enciku suka kepadamu, asal saja engkau tidak melanggar sumpahmu. Kalau kau melanggar, tidak saja engkau tidak dapat berkenalan dengan enci Syanti Dewi, malah engkau akan mampus di waktu usiamu masih muda. Sayang, kan?"
Kembali dia tersenyum dan menutupi mulutnya.
Dia sama sekali tidak mengira bahwa Tek Hoat dapat melihatnya dari balik saputangan sutera yang tipis itu!
Akan tetapi pemuda inipun tidak berani memandang langsung, takut akan sumpah.
"Hari telah malam, tidak mungkin kita mencari enci Syanti. Malam ini gelap tidak ada bulan. Lalu bagaimana kita akan melewatkan malam?"
"Tak jauh dari sini, di tepi sungai ini terdapat sebuah kuil tua yang kosong. Kita dapat bermalam di situ dan tempat itu memang tidak jauh dari Sungai Nu-kiang. Besok pagi-pagi, kita mencari lagi, mendengar-dengarkan, mungkin ada nelayan yang tahu bagaimana nasib encimu itu."
Lega hati Ceng Ceng.
"Kalau begitu, mari kita ke kuil."
Dia bangkit berdiri dan pergi.
"Haii, bagaimana aku bisa berjalan kalau mataku ditutup begini?"
Ceng Ceng tersenyum.
"Bodoh, kalau begitu mengapa tidak dibuka?"
"Kalau dibuka, mana bisa jalan bersama? Aku tidak mau berjalan dengan mata terpejam, salah-salah bisa terjatuh ke dalam sungai!"
Ceng Ceng tertegun dan bingung.
"Habis bagaimana?"
"Kecuali kalau kau sudi menuntun...."
Karena hari sudah hampir gelap dan hutan itu kelihatannya menakutkan, terpaksa Ceng Ceng menyambar tangan pemuda itu dan menuntunnya.
"Ke mana jalan?"
Dia bertanya.
"Terus saja menurutkan aliran sungai ini,"
Jawab Tek Hoat yang diam-diam merasa geli dan juga bangga bahwa kini dia dapat membalas.
Sesungguhnya dia dapat melihat melalui saputangan tipis itu, akan tetapi biarlah, biar gadis itu tahu rasa, pikirnya.
Betapapun juga, gadis yang liar dan galak ini ternyata cukup baik, mau menuntunnya.
Mereka tiba di kuil kosong.
Karena ruangan yang merupakan kamar tertutup hanya sebuah, maka Ceng Ceng berkata.
"Aku tidur di sini dan biar kau tidur di mana sesukamu asal jangan di kamar ini."
Berkata demikian dia lalu menutupkan daun pintu.
Perbuatan ini sia-sia saja karena biar pintu ditutup, jendela di kamar itu melongo tanpa daun!
Lalu dia membuat api unggun dan tidak memperdulikan lagi kepada Tek Hoat.
Pemuda ini luar biasa, pikirnya.
Ilmu kepandaiannya amat tinggi dan kalau pemuda ini berwatak jahat, sukar untuk melawannya.
Dan dia....
agak aneh rasanya.
Mengapa hatinya tidak enak mendengar pengakuan pemuda itu yang mencinta Syanti Dewi?
Mengapa dia tidak puas?
Mengapa dia tadi merasa jantungnya berdebar-debar ketika tangannya menggandeng tangan Tek Hoat?
Seolah-olah ada getaran dari tangan itu yang menyentuh hatinya, menimbulkan rasa girang yang luar biasa.
Mengapa?
Celaka, jangan-jangan dia telah jatuh hati seperti yang hanya dikenalnya dalam cerita dongeng!
Itukah cinta?
Memang pemuda itu cukup segala-galanya untuk menjatuhkan hati seorang gadis, memang patut dicinta.
Betapa tidak?
Tampan, gagah perkasa, lucu dan pandai mengalah, biarpun agak kasar, akan tetapi buktinya tidak suka melakukan pelanggaran susila.
Wah, jangan-jangan aku jatuh cinta kepadanya, bisik Ceng Ceng sebelum tidur.
Menjelang tengah malam dia terbangun karena mimpi ditelanjangi oleh Tek Hoat!
Ditelanjangi selagi dia sadar dan anehnya, dia diam saja.
Setelah kelihatan pemuda itu hendak merabanya dan hendak memeluknya, barulah dia meronta dan terbangun!
Bulu tengkuknya berdiri.
Kalau tadi bukan mimpi, melainkan sungguh-sungguh terjadi, tentu dia akan membunuh pemuda itu!
Atau, kalau dia kalah, dia akan melawan mati-matian, kalau perlu mempertaruhkan nyawa untuk membela kehormatan-nya.
Bedebah!
Dia memaki pemuda itu akan tetapi segera teringat bahwa yang dikalahkan pemuda itu hanya dalam mimpi saja!
Mungkin kenyataannya tidak demikian, buktinya Tek Hoat juga tidak melakukan sesuatu terhadap dirinya.
Tiba-tiba dia bangkit duduk.
Terdengar suling ditiup orang amat merdu dan indahnya.
Akan tetapi hanya lapat-lapat terdengar, agaknya dari jauh.
Ceng Ceng membereskan rambut dan pakaiannya, kemudian meloncat keluar melalui jendela.
Biarpun tidak ada bulan malam itu, namun langit bersih terhias bintang sejuta, cukup memberi cahaya penerangan di permukaan bumi.
Dia melangkah dengan hati-hati, mencari-cari, akan tetapi ternyata Tek Hoat tidak berada di kuil itu!
Ke mana perginya pemuda itu?
Buntalannyapun tidak nampak.
Ceng Ceng mulai bergidik.
Ngeri dia memikirkan bahwa dia ditinggal sendirian saja di kuil tua itu.
Kuil yang biasanya dalam dongeng kalau sudah kosong dan kuno begitu selalu dihuni oleh siluman-siluman!
Cepat dia keluar dari kuil dan mendengar suara suling lapat-lapat dari depan, dia lalu melangkah maju menuju ke arah suara itu.
Tak lama kemudian dia sudah mengintai dari balik pohon, memandang ke arah Tek Hoat yang berdiri di tepi sungai besar.
Sungai Nu-kiang!
Kiranya dia telah berada di tepi sungai itu, di mana anak sungai dari hutan memuntahkan airnya ke situ dan di tepi sungai tampak Tek Hoat yang tadi meniup suling.
Kini pemuda itu sudah berhenti meniup suling dan menyelipkan kembali sulingnya.
Yang menarik perhatian Ceng Ceng adalah sebuah perahu besar yang bergerak mendekat pantai di mana pemuda itu berdiri, sebuah perahu yang indah dan mewah, dan tampak diterangi lampu-lampu sehingga dia melihat beberapa orang berpakaian tentara mengiringkan seorang berpangkat tinggi yang mewah pakaiannya ke pinggir perahu.
Ceng Ceng mengintai penuh perhatian dan memasang pendengarannya agar dapat mendengarkan apa yang akan terjadi.
Dia melihat Tek Hoat memberi hormat kepada pembesar itu dari pantai sambil berkata.
"Maafkan, hamba tidak sempat melapor karena hamba tidak dapat meninggalkan gadis itu sebelum dia tidur."
"Hemm, Ang Tek Hoat, ceritakan semua yang terjadi. Kami sudah mendengar akan lenyapnya puteri itu, akan tetapi belum jelas bagaimana. Apa saja yang telah kau lakukan selama melakukan tugas yang diperintahkan saudara tua kami Liong Bin Ong?"
"Rombongan penjemput puteri itu telah berhasil dihancurkan oleh Tambolon, dan puteri itu bersama pelayannya yang sudah diangkat saudara, berhasil meloloskan diri, akan tetapi hamba terus membayangi mereka. Bahkan hamba telah berhasil mengajak mereka naik perahu hamba...."
"Bagus! Bagaimana puteri itu? Benarkah amat cantik?"
Tanya pembesar itu.
"Memang cantik jelita seperti bidadari, dan paduka beruntung sekali...."
"Aahhh, sayang sekali dia harus dikorbankan demi cita-cita,"
Orang setengah tua itu menghela napas.
"Akan tetapi, kalau semuanya berhasil dia akan tetap menjadi selirku! Aku Liong Khi Ong bukanlah orang yang suka menyia-nyiakan waktu.... eh, Tek Hoat, lalu bagaimana? Di mana dia?"
"Harap paduka sudi memaafkan hamba. Terjadi kecelakaan, perahu bertabrakan dan terguling. Hamba berhasil menyelamatkan adik angkatnya akan tetapi belum berhasil menemukan Puteri Syanti Dewi...."
"Hahh? Bodoh! Habis bagaimana? Celaka, jangan-jangan dia terjatuh ke tangan orang-orangnya kaisar!"
"Hamba akan mencarinya sampai dapat besok pagi, kalau andaikata dia terampas oleh orang lain, hamba akan merampasnya kembali, harap paduka jangan khawatir,"
Kata Tek Hoat.
"Hemm, baik. Apa perlu kau dibantu pasukan?"
"Tidak perlu, Ong-ya. Hamba lebih leluasa bekerja sendiri. Hamba tanggung akan bisa menemukan puteri itu, asal dia belum tewas."
"Bagus, kami akan menanti saja di kota raja, di sana masih banyak urusan dan kau harus cepat kembali, banyak tugas menantimu."
"Baik, Ong-ya...."
"Baik, Ong-ya...."
Tiba-tiba Ceng Ceng yang bengong terlongong itu terkejut karena mendengar suara berkeresekan di belakangnya.
Dia menoleh dan melihat seorang laki-laki berpakaian hitam, berjenggot panjang berdiri tepat di belakangnya.
Dia hampir berteriak dan membuka mulut.
"Eekkkeeekkk...."
Mulutnya telah dibungkam tangan kiri orang tua dan sebelum dia sempat melawan, pundaknya sudah ditotok dan dia roboh lemas dalam rangkulan orang itu.
"Ssstt, diam.... jangan bergerak.... aku bukan musuh melainkan sahabatmu dan sahabat Puteri Syanti Dewi...."
Setelah berkata demikian dan melihat Ceng Ceng mengangguk, orang itu menotok lagi dan Ceng Ceng terbebas.
Dara ini terkejut dan heran.
Demikian banyaknya orang pandai di sini.
Pemuda itu lihai dan orang inipun hebat kepandaiannya!
Dia memandang sejenak.
Orang itu mukanya membayangkan kegagahan, matanya sipit seperti orang mengantuk, alisnya tebal kepalanya agak botak dan jenggotnya panjang, usianya tentu sudah ada lima puluh tahun, pakaiannya biasa saja seperti pakaian petani.
Melihat orang itu memperhatikan ke depan, diapun lalu memandang lagi.
Kini tampak betapa pemuda itu berbisik-bisik di dekat perahu dengan si pembesar tinggi yang ternyata adalah Pangeran Liong Khi Ong, tunangan Syanti Dewi!
Ceng Ceng berdebar-debar.
Bingung dia dan diam-diam dia memaki-maki Tek Hoat.
Kiranya pemuda itu adalah kaki tangan Pangeran Liong Khi Ong!
Akan tetapi apa artinya ini semua?
Kalau dia kaki tangan Pangeran Liong Khi Ong, mengapa dia bersikap begitu aneh, tidak bersama anggauta rombongan lainnya yang dipimpin oleh pengawal kaisar Tan Siong Khi?
Mengapa bertindak secara rahasia?
Dan apa pula artinya kata-kata pangeran itu bahwa Syanti Dewi terpaksa harus dikorbankan demi cita-cita?
Ceng Ceng menjadi bingung dan tidak bergerak sama sekali, hanya melihat betapa Tek Hoat telah pergi dengan cepat menuju ke kuil kembali, sedangkan perahu mewah itupun bergerak ke tengah sungai.
"Cepat, mari pergi dari sini. Kalau dia kembali dan dapat menyusul kita, celaka. Kita berdua bukanlah lawannya,"
Bisik laki-laki setengah tua berjenggot panjang itu.
"Hemm, mengapa aku harus menurut kata-katamu? Siapa tahu bahwa kau lebih jahat lagi daripada dia?"
"Nona Lu, percayalah kepadaku. Mungkin kakekmu Lu Kiong belum pernah menyebut namaku, akan tetapi aku mengenal baik Lu-lo-enghiong bekas pengawal kaisar. Aku adalah rekan dari Tan Siong Khi. Aku sudah mendengar bahwa kakekmu gugur, dan aku hampir mengerti semuanya, kecuali beberapa hal."
"Apakah yang terjadi? Siapakah sebenarnya pemuda bernama Ang Tek Hoat itu?"
"Sstt, marilah kita segera pergi,"
Kakek itu mendesak.
"Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku."
"Dia seorang manusia luar biasa, ilmu kepandaiannya sangat tinggi...."
"Aku sudah tahu!"
"Tapi dia adalah pengawal Pangeran Liong Bin Ong, pangeran yang merencanakan pemberontakan. Bahkan pangeran itulah yang mengatur pencegatan rombongan sehingga kakekmu tewas. Pemuda itu tangan kanannya dan Pangeran Liong Khi Ong tadi menyalahgunakan niat baik kaisar yang menjadi kakaknya sendiri. Mereka itu demi cita-cita pemberontakan, tidak segan-segan melakukan kekejian, kalau perlu membunuh Puteri Syanti Dewi dan engkau."
"Ohhhh...."
"Marilah, nona. Demi keselamatanmu sendiri dan keselamatan Syanti Dewi."
Dengan hati penuh kengerian Ceng Ceng lalu mengikuti laki-laki itu melarikan diri.
Dia percaya penuh karena bukankah dia sudah menyaksikan dan mendengarkan sendiri pertemuan dan percakapan antara Pangeran Liong Khi Ong dan Ang Tek Hoat?
Kiranya pemuda itu seorang mata-mata pemberontak!
Kiranya malah musuh dari kerajaan kaisar dan kerajaan Bhutan, hendak mencelakakan Syanti Dewi!
Bahkan yang merencanakan pencegatan rombongan yang mengakibatkan terbunuhnya kakeknya, adalah para pemberontak itu!
Dan dia sudah tertarik hatinya oleh Tek Hoat.
"Ahhhh....!"
"Ada apa, nona Lu?"
Tanya kakek itu.
"Tidak apa-apa...."
Jawab Ceng Ceng karena yang terasa nyeri adalah jauh di dalam lubuk hatinya, bukan badannya.
Setengah malam penuh mereka berjalan terus, melalui hutan-hutan dan pegunungan.
Dalam perjalanan ini, kakek tadi menceritakan keadaan kerajaan yang diancam pemberontakan, dan memperkenalkan dirinya.
Dia adalah seorang pe-ngawal kaisar pula, di bawah Tan Siong Khi dan bernama Souw Kee It.
Dia bertugas untuk menyelidiki secara diam-diam keadaan rombongan itu.
Tentu saja dia tidak secepat Pendekar Super Sakti yang juga melawat ke Bhutan dan berhasil menolong Raja Bhutan, akan tetapl sebagai seorang penyelidik yang tahu akan keadaan negara, dia mempunyai pendengaran dan penciuman yang lebih tajam.
Dia mendapatkan rahasia dari pemberontak yang menaruh tangan-tangan kotor ke dalam pencegatan itu, maklum bahwa raja liar Tambolon juga digerakkan oleh tangan kotor dari kota raja sendiri.
Dia telah melihat pula sepak terjang Tek Hoat yang hebat, dan maklumlah dia bahwa dia bukan pula lawan pemuda itu.
Maka ketika memperoleh kesempatan, dia mengajak lari Ceng Ceng.
Mendengar semua penuturan ini, Ceng Ceng makin terheran-heran dan bingung.
Tak disangkanya bahwa pernikahan Syanti Dewi akan membawa akibat sedemikian hebat dan peristiwa itu terlibat dengan pemberontakan yang ruwet.
"Bagaimana dengan enci Syanti Dewi?"
Tanyanya dengan khawatir.
"Sudah kuselidiki, nona. Kabarnya puteri itu juga tertolong secara ajaib oleh seorang nelayan tua yang tidak dikenal siapa sebenarnya. Cara menolongnya amat ajaib sehingga sukar aku mempercaya cerita mereka itu. Akan tetapi, laki-laki gagah yang menolongnya itu telah pergi bersama sang puteri. Sekarang yang saya ingin ketahui, ke manakah rencana nona dan sang puteri tadinya setelah terpaksa meninggalkan kakek Lu yang gugur?"
"Kakek meninggalkan pesan agar supaya kami pergi ke kota raja, minta perlindungan dan bantuan kepada Puteri Milana...."
Souw Kee It mengangguk-angguk.
"Memang tepat sekali pesan kakekmu. Akan tetapi beliau tidak tahu akan perubahan di kota raja. Kalau engkau dan Puteri Syanti Dewi sudah tiba di kota raja dan berada di tangan Puteri Milana, kiranya tidak ada setanpun yang berani mengganggu. Akan tetapi, justeru perjalanan menuju ke kota saja itulah yang amat sukar dan berbahaya. Kaki tangan mereka sudah disebar di mana-mana untuk menangkap kalian berdua."
"Ouhhh, habis bagaimana?"
"Harap nona jangan khawatir. Aku juga mempunyai teman-teman, dan nanti akan kita atur bagaimana membawa nona pergi ke timur dengan selamat. Akan tetapi, kurasa tidak tepat kalau sebelum bertemu dengan Puteri Syanti Dewi nona pergi ke kota raja, kalau kita berhasil sampai ke timur, lebih baik kalau nona untuk sementara berlindung di benteng yang dikuasai Jenderal Kao Liang di tapal batas utara ibu kota."
Hati Ceng Ceng agak lega mendengar bahwa Syanti Dewi juga tidak tewas dan telah tertolong orang pandai, sungguhpun dia bingung memikirkan mengapa begitu banyak orang pandai muncul?
Siapakah penolong Syanti Dewi dan ke mana perginya kakak angkatnya itu?
Dua hari kemudian, tibalah mereka di sebuah dusun dan di sini terdapat pasukan kaisar yang masih setia kepada kaisar.
Souw Kee It lalu mendandani Ceng Ceng sebagai seorang pria, lengkap dengan kumis palsu sehingga andaikata Tek Hoat sendiri bertemu dengannya kiranya akan sulitlah untuk mengenalnya, Demikian pendapat Ceng Ceng ketika dia memperhatikan wajahnya sendiri di depan cermin.
Setelah membawa bekal secukupnya, Souw Kee It bersama Ceng Ceng, lalu menunggang kuda-kuda pilihan, (Lanjut ke
Jilid 13) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 melanjutkan perjalanan mereka ke timur.
Kita tinggalkan dulu Ceng Ceng dengan pengawal kaisar Souw Kee It yang melakukan perjalanan amat jauh ke timur, dan mari kita mengikuti perjalanan Puteri Syanti Dewi.
Secara kebetulan dan aneh sekali, Puteri Syanti Dewi tertolong oleh Pendekar Sakti Gak Bun Beng.
Pendekar ini sudah mengenyampingkan urusan dunia, hidup tenteram di antara rakyat kecil, kadang-kadang menjadi petani, kadang-kadang bercampur dengan para nelayan, selalu memilih tinggal di dusun-dusun yang dianggapnya tidak akan terjadi hal yang penting.
Sungguh di luar dugaannya bahwa hari itu dia terlibat dalam urusan yang amat besar, bukan hanya menyangkut urusan diri pribadi seorang gadis cantik, melainkan diri seorang puteri Raja Bhutan, bahkan menyangkut urusan kerajaan!
Gak Bun Beng yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun itu melakukan perjalanan dengan hati kadang-kadang berdebar keras.
Benarkah yang dilakukannya ini, mengantarkan Syanti Dewi ke kota raja?
Benarkah dia kalau kini dia akan menjumpai Milana?
Sesungguhnya tidak benar dan amat berbahaya, seperti orang hendak membuka balutan luka yang amat parah, akan tetapi apa dayanya?
Tidak mungkin dia membiarkan Syanti Dewi begitu saja setelah dia mengetahui siapa adanya gadis ini.
Calon mantu kaisar!
Dan terancam bahaya karena dikejar-kejar oleh mereka yang hendak menggagalkan perkawinan itu.
Apa boleh buat, demi gadis ini, dan terutama demi kesejahteraan negara, kerajaan kaisar dan Bhutan, dia harus menanggung semua itu, harus berani menghadapi resiko perjumpaannya dengan Puteri Milana!
Perjalanan yang amat jauh itu dilakukan dengan hati-hati oleh Gak Bun Beng yang menjaga agar jangan sampai terjadi keributan di perjalanan.
Dia sudah muak akan keributan dan permusuhan yang dibuat oleh manusia-manusia yang mengaku berkepandaian.
Untuk menjaga agar perjalanan dapat dilalui dengan aman, dia menyamar sebagai seorang perantau yang baru pulang dari perantauannya ke Tibet, dan Syanti Dewi diakuinya sebagai anaknya.
Agar tidak dicurigai orang, dia mengaku bahwa ibu Syanti Dewi seorang wanita Tibet dan memang Syanti Dewi selain pandai dalam bahasanya sendiri, yaitu Bahasa Bhutan, juga pandai berbahasa Tibet dan Bahasa Han.
Berpekan-pekan telah lewat tanpa ada peristiwa penting yang mengganggu perjalanan Gak Bun Beng dan Syanti Dewi.
Pada suatu hari, ketika mereka sedang berjalan melalui jalan raya kasar di lereng pegunungan, mereka berpapasan dengan serombongan pasukan yang terdiri dari kurang lebih seratus orang.
Pasukan ini kelihatan letih dan banyak yang terluka, dan sekali pandang saja Gak Bun Beng dapat melihat bahwa mereka adalah Bangsa Han yang bercampur dengan orang-orang Mongol.
Agaknya pasukan yang hanya tinggal sisanya dari suatu pertempuran yang merugikan fihak mereka.
Diam-diam Gak Bun Beng terkejut.
Apakah kini sudah timbul perang lagi?
Ataukah hanya sisa-sisa pemberontak ataukah pemberontak baru yang sedang ditindas oleh pasukan pemerintah?
Dia tahu bahwa pemberontak Mongol yang amat hebat, yang dipimpin oleh Pangeran Galdan, telah dihancurkan oleh pasukan Kaisar Kang Hsi, bahkan kabarnya Galdan sendiri telah dibinasakan.
Apakah sekarang Bangsa Mongol memberontak lagi, bergabung dengan orang Han yang masih merasa penasaran akan penjajahan Bangsa Mancu?
Karena dilihatnya masih banyak rombongan-rombongan pasukan campuran itu lewat, Gak Bun Beng hendak menghindarkan keributan, maka dia mengajak Syanti Dewi untuk melalui jalan hutan.
Untung bahwa rombongan pertama yang lewat tadi terlalu lelah dan terlalu tertekan batinnya untuk melakukan sesuatu, hanya mereka memandang tajam kepada Syanti Dewi saja, bahkan ada pula yang menyeringai, dan ada yang mengeluarkan kata-kata tak senonoh akan tetapi hanya sambil lalu.
Dasar mereka harus mengalami keributan.
Ketika mereka melalui jalan sunyi, menyelinap-nyelinap di hutan tak jauh dari jalan raya itu, mereka bertemu dengan rombongan lain yang hanya terdiri dari belasan orang, akan tetapi rombongan ini semua duduk melepaskan lelah.
Mereka terdiri dari tujuh orang Han dan delapan orang Mongol dan ada seorang Han dan empat orang Mongol sedang minum arak, agaknya untuk menghibur hati yang penasaran karena keka-lahan mereka.
Melihat bahwa rombongan ini hanya lima belas orang, timbul niat di hati Gak Bun Beng untuk bertanya, maka dia mengajak Syanti Dewi untuk mendekat.
Orang-orang itu memandang kepadanya dengan curiga, akan tetapi ada yang tersenyum lebar ketika melihat Syanti Dewi yang biarpun berpakaian sederhana seperti gadis dusun, namun kecantikannya masih menonjol.
"Maaf, laote,"
Kata Gak Bun Beng kepada seorang Han yang duduk bersandar pohon sambil menekuk lutut duduk pula dekat orang itu, diikuti oleh Syanti Dewi di belakangnya.
"bolehkah kami bertanya mengapa banyak pasukan yang mundur dan banyak yang terluka? Apa yang telah terjadi? Kami ayah dan anak dari Tibet hendak ke Se-cuan, akan tetapi kami khawatir melihat cu-wi terluka, seolah-olah ada perang di sana."
Orang itu yang mukanya dilindungi brewok, memandang kepada Gak Bun Beng kemudian melirik ke arah Syanti Dewi.
"Lebih baik kalian kembali ke barat."
"Ya, kembali saja bersama kami! Biar kami yang melindungi kalian!"
Teriak orang Han yang sedang minum arak bersama empat orang Mongol tadi.
"Kami mempunyai urusan penting sekali di timur, sobat,"
Kata Gak Bun Beng.
"Apakah yang terjadi di sana? Dan siapakah cu-wi?"
"Apakah tidak tahu bahwa kami adalah pendekar-pendekar sejati, patriot-patriot?"
Tiba-tiba orang berewok itu menjawab marah. Gak Bun Beng menggangguk-angguk.
"Ahh, kiranya laote dan cu-wi sekalian adalah pejuang-pejuang yang menentang penjajah, benarkah? Lalu, apa yang terjadi?"
Dipuji sedemikian, si brewok agak sabar, lalu menarik napas panjang.
"Si keparat Jenderal Kao Liang itu! Anjing penjilat kaki Mancu dia! Begitu dia datang meronda di bagian barat dan memimpin sendiri pasukan pembersihan, kita dipukul hancur!"
"Paman, kembalilah saja ke barat, dan sebelum anakmu itu diperebutkan anjing-anjing Mancu, lebih baik diberikan kepadaku!"
Orang Han yang minum arak, usianya kurang lebih tiga puluh tahun itu berkata. Gak Bun Beng menahan kesabarannya.
"Apakah tentara pemerintah itu melakukan perbuatan jahat?"
"Siapa bilang tidak? Merampok, membunuh, menculik dan memperkosa! Dari-pada diperkosa oleh anjing-anjing Mancu dan para penghianat dan penjilat, lebih baik diberikan kepada kami agar menghibur kami para patriot. Dengan demikian, kau dan anakmu itu ikut berjasa untuk tanah air dan bangsa!"
Kata pula orang itu.
"Akur! Jumlah kita hanya lima belas orang, bisa dibagi rata. Marilah, manis, kau layanilah aku!"
Kata seorang Han yang lain yang berkumis panjang melintang. Gak Bun Beng bangkit berdiri sambil tersenyum.
"Kami tahu penderitaan dan perjuangan kalian, sobat-sobat. Akan tetapi anakku ini adalah pembantuku yang utama, seolah-olah tangan kananku sendiri, bagaimana bisa kuberikan kepada orang lain? Mana mungkin aku memberikan tangan kananku?"
"Ahhh, dasar kau pelit! Apakah kau hendak peluki anakmu sendiri? Tak tahu malu! Masa menolong dan meringankan penderitaan kaum pendekar dan pahlawan sedikit saja tidak mau?"
Mereka semua sudah bangkit berdiri dari mengurung.
Syanti Dewi terkejut dan mukanya berubah pucat, kedua tangannya sudah dikepal untuk membela diri.
Dan tidak hanya takut, akan tetapi juga marah sekali mendengar omongan yang kotor itu.
Akan tetapi Gak Bun Beng tetap tenang dan sabar.
Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata.
"Bukan aku pelit, akan tetapi sungguh mati, kalau kalian memaksa hendak mengambil anakku, sama saja dengan kalian memaksa mengambil tangan kananku. Sebelum kalian mengambil anakku, biarlah kuberikan saja kedua tanganku. Hidup tanpa tangan kanan kepalang tanggung. Nah, siapa mau lebih dulu membuntungi kedua tanganku?"
Dia mengacungkan kedua tangannya ke atas.
"Ha-ha-ha! Orang sinting, tapi anaknya cantik manis sekali! Biar kupenuhi permintaannya!"
Teriak orang muda Han yang mabok itu sambil menghunus goloknya yang sudah berkarat karena darah orang dalam pertempuran.
"Baiklah, mari kau buntungi tangan kiriku lebih dulu!"
Bun Beng memberikan tangan kirinya.
Golok itu menyambar, kuat sekali ke arah tangan kiri Gak Bun Beng yang diacungkan ke atas.
Tangan itu tidak mengelak, malah memapaki golok.
"Krekkkk!"
Golokk itu patah-patah dan pemiliknya memandang gagang goloknya dengan mata terbelalak! "Sayang, golokmu sudah berkarat dan rapuh!"
Gak Bun Beng berkata dengan suara biasa.
"Siapa lagi yang mempunyai senjata lebih tajam untuk membuntungi tanganku?"
"Biar kulakukan itu!"
Bentak seorang Han lainnya sambil meloncat maju, pedangnya menyambar tangan kanan Gak Bun Beng.
Kembali pendekar sakti ini tidak mengelak, melainkan memapaki pedang itu dengan tangannya.
"Krak.... krakkk!"
"Hayaaa....!"
Si pemilik pedang terbelalak memandang gagang pedangnya yang hanya tinggal pendek saja itu karena pedangnya sendiri sudah patah-patah.
Melihat ini, tiga belas orang lain serentak maju dengan senjata mereka yang bermacam-macam, ada tombak, golok, pedang dan toya.
Gak Bun Beng membiarkan mereka mencabut semua senjata, kemudian dia meloncat ke depan dan menerima semua serangan dengan kedua tangan dan juga kakinya sambil mengerahkan sin-kangnya.
Terdengar suara krak-krek-krak-krek disusul oleh teriakan si pemilik senjata dan dalam sekejap mata saja semua senjata milik dari lima belas orang itu sudah patah-patah semuanya.
"Ilmu siluman....!"
Terdengar seorang di antara mereka berteriak dan larilah mereka lintang pukang ketakutan, meninggalkan segala perbekalan yang tadi mereka taruh di atas tanah.
Gak Bun Beng menghela napas, lalu menyambar guci arak yang ditinggal di situ, menenggak isinya sampai habis.
Dilemparkannya guci kosong dan diusapnya mulut yang basah itu dengan ujung lengan bajunya.
Dia kelihatan tidak senang sekali.
Memang dia tidak senang karena terpaksa dia harus memperlihatkan kepandaiannya lagi setelah secara terpaksa dia mengeluarkan kepandaian itu ketika menyelamatkan Syanti Dewi.
"Gak-siok-siok...."
Syanti Dewi tahu-tahu telah berada di sampingnya dan menyentuh lengan pendekar itu karena diapun dapat merasakan betapa pendekar itu kelihatan tidak tenang, bahkan seperti orang berduka.
"Engkau banyak repot karena aku saja...."
Gak Bun Beng menoleh dan melihat wajah yang cantik dan agung itu menyuram, dia tersenyum dan mengelus kepala Syanti Dewi.
Bukan main halusnya perasaan anak ini, pikirnya terharu.
"Tidak apa-apa, Dewi. Akupun hanya menakut-nakuti mereka saja. Marilah kita melanjutkan perjalanan."
"Akan tetapi di timur ada perang dan pertempuran, siok-siok."
"Bukan perang, hanya pasukan pemerintah mengadakan pembersihan terhadap sisa-sisa gerombolan pemberontak seperti mereka tadi."
"Akan tetapi, mendengar omongan mereka tadi, mereka bukanlah pemberontak, melainkan patriot-patriot yang berjuang untuk mengusir penjajah dari tanah air mereka."
Puteri itu membantah.
Biarpun hanya seorang wanita, namun sebagai puteri raja tentu saja dia sudah banyak membaca kitab-kitab sejarah dan ketatanegaraan sehingga pengetahuannya agak luas daripada wanita-wanita terpelajar biasa.
Gak Bun Beng menghela napas panjang.
Ucapan puteri ini menyentuh perasaannya, perasaan muak terhadap ulah tingkah manusia dalam hidup ini, maka dengan suara bersemangat.
Di luar kesadarannya dia berkata.
"Manusia di dunia ini siapakah yang tidak akan membenarkan dirinya sendiri? Pemerintah Mancu menganggap mereka pemberontak karena mereka melawan pemerintah yang syah dan menganggap diri sendiri sebagai penolong rakyat, sebaliknya mereka itu menganggap pemerintah sebagai penjajah laknat dan menganggap diri sendiri sebagai patriot. Namun keduanya tetap sama saja, tetap saja melakukan kekerasan dan kekejaman dengan dalih kebenaran masing-masing. Padahal, apa sih bedanya manusia? Dari kaisar, jenderal, pedagang, petani, si jembel sekalipun, hanya dibedakan oleh pakaian dan embel-embel di luar badan. Coba kumpulkan mereka semua, telanjangi mereka semua di dalam sebuah kandang, apa bedanya mereka dengan sekumpulan domba atau kuda? Manusia hanyalah mahluk biasa yang mempunyai kelebihan, inilah yang merusak hidup!"
Syanti Dewi mendengarkan dan memandang wajah pendekar itu dengan mata terbelalak.
Baru satu kali ini selama hidupnya dia, mendengarkan pandangan orang tentang manusia seperti itu.
Ada artinya yang mendalam, ada kesungguhan dan kebenarannya, akan tetapi juga lucu sekali.
Kalau dibayangkan betapa seluruh manusia di dunia ini tidak berpakaian, tidak dihias segala benda-benda yang hanya menjadi pemisah dan penentu dari tingkat masing-masing, alangkah lucunya dan memang sukar membedakan mana raja mana jembel mana kaya mana miskin!
Dia sendiripun tadinya seorang penghuni istana dan memakai pakaian puteri.
Sekarang?
Setelah berpakaian gadis petani seperti itu, siapa percaya bahwa dia seorang puteri?
Apalagi kalau harus telanjang bersama seluruh manusia lain!
"Kau....
kau hebat, paman!"
Katanya lirih. Gak Bun Beng sadar lagi dan memegang tangan Syanti Dewi.
"Kau.... kau semuda ini, sudah dapat menangkap arti kata-kataku tadi?"
Syanti Dewi mengangguk, lalu mengangkat mukanya memandang wajah yang masih tampan dan gagah itu.
Gak Bun Beng dahulunya memang seorang pemuda yang tampan, gagah, matanya mengeluarkan cahaya tajam, mulutnya terhias kumis kecil terpelihara rapi, demikian juga jenggotnya yang pendek saja.
Pakaiannya sederhana, pakaian petani atau nelayan, namun bersih dan kuku-kuku tangannya terpelihara baik, giginya terawat.
"Paman Gak, di manakah adanya keluargamu?"
Gak Bun Beng terbelalak dan mengerutkan alisnya.
"Apa? Keluarga?"
"Ya, isteri dan anakmu...."
"Ah, mari kita cepat melanjutkan perjalanan, aku khawatir mereka datang lagi mengganggu."
Dia memegang tangan Syanti Dewi dan diajaknya dara itu pergi meninggalkan tempat itu.
Sampai lama mereka berjalan menyusup-nyusup hutan karena Gak Bun Beng tidak ingin terganggu lagi oleh gerombolan pemberontak atau pejuang yang melarikan diri karena diobrak-abrik oleh pasukan pemerintah yang kabarnya tadi dipimpin oleh Jenderal Kao Ling yang ditakuti.
Beberapa kali Syanti Dewi menengok dan memandang wajah pendekar itu, namun Gak Bun Beng berjalan terus tanpa mengeluarkan kata-kata.
Akhirnya Syanti Dewi tidak dapat menahan hatinya.
"Paman Gak, di manakah isteri dan anak-anakmu?"
Sesungguhnya pertanyaan ini sejak tadi bergema di telinga Gak Bun Beng dan dia sengaja mengalihkan perhatian dan mengharapkan gadis itu lupa akan pertanyaannya yang terngiang-ngiang di telinga hatinya.
Maka mendengar pengulangan pertanyaan ini, dia menahan napas sejenak untuk menekan perasaannya, baru dia menjawab tenang saja.
"Tidak ada."
"Ehhh....?"
Syanti Dewi terkejut.
"Aku tidak pernah mempunyai isteri atau anak, tidak mempunyai saudara, tidak ada orang tua lagi, aku sebatangkara di dunia,"
Kembali jawaban yang keluar dari mulut pendekar itu terdengar datar seolah-olah seorang nelayan membicarakan jalan atau pancingnya, biasa saja.
"Tapi.... tapi tidak mungkin itu, paman Gak!"
"Apa maksudmu, tidak mungkin? Mengapa harus tidak mungkin?"
"Seorang seperti paman ini.... eh, tidak mungkin tidak menikah! Paman, apakah tidak ada wanita di dunia ini yang mencintamu?"
Tanpa menengok Gak Bun Beng menggeleng kepala dan matanya memandang jauh ke depan.
"Hemm, mustahil! Dan apakah paman tidak ada mencinta seorangpun wanita di dunia ini?"
Gak Bun Beng tersenyum ketika menoleh dan melihat wajah puteri ini diliputi penasaran besar, bahkan seperti orang marah!
"Dewi, engkau kenapa?
Aku tidak pernah memikirkan hal itu dan hidupku sudah cukup bahagia."
"Tidak masuk akal! Seorang pria seperti paman!"
"Hemm, hanya seperti aku ini, apa sih bedanya dengan orang lain?"
"Tidak sama sekali, jauh sekali bedanya! Pangeran-pangeran di Bhutan, bahkan orang berpangkat jauh di bawah pangeran dan orang berharta, mereka itu sedikitnya mempunyai tiga empat orang isteri! Padahal dibandingkan dengan paman, mereka itu tidak ada sekuku hitam paman!"
"Aihh, Dewi, aku seorang tua yang miskin tidak memiliki apa-apa, mana ada ingatan yang bukan-bukan?"
Gak Bun Beng berkata untuk menghibur diri karena percakapan ini tanpa disengaja oleh puteri itu telah menusuk-nusuk perasaannya, mengingatkan dia kepada Milana.
"Jangan paman berkata demikian. Siapa bilang paman sudah tua? Usia paman tidak akan lebih dari empat puluh tahun! Dan pangeran yang namanya Liong Khi Ong itu, yang akan mengawiniku, kabarnya malah berusia lima puluh tahun, dan aku berani bertaruh potong rambut bahwa dibandingkan dengan paman, dia itu bukan apa-apa!"
Gak Bun Beng berhenti melangkah dan memegang kedua tangan Syanti Dewi.
"Dewi, kuminta kepadamu, janganlah kau membicarakan urusan diriku. Aku minta dengan sangat, ya? Banyak hal yang pahit getir telah berlalu, pembicaraanmu hanya akan menggali segala kepahitan yang telah lewat itu saja."
Ucapan ini keluar dengan suara agak gemetar.
Syanti Dewi mengangkat muka memandang dan melihat wajah penolongnya ini diliputi awan kedukaan, hatinya terharu dan dua titik air mata menetes seperti dua butir mutiara di atas kedua pipinya.
"Eh? Kau.... menangis?"
"Aku kasihan kepadamu, paman Gak."
Gak Bun Beng tersenyum dan menggunakan telunjuknya menghapus dua butir mutiara itu.
"Kau anak yang aneh! Kau memperlakukan aku seolah-olah aku ini seorang yang jauh lebih muda daripada engkau. Sudahlah, jangan membicarakan tentang diriku, tidak ada harganya dibicarakan. Sekarang aku ingin bicara tentang dirimu. Mengapa engkau membicarakan pribadi calon suamimu seperti itu? Agaknya engkau tidak suka kepadanya?"
"Hemm, tentu saja,"
Jawab Syanti Dewi ketika mereka melangkah lagi.
"Siapa orangnya suka dikawinkan dengan seorang kakek yang belum pernah dilihatnya selama hidupnya? Dia seorang pangeran, dan kulihat pangeran-pangeran di Bhutan hanyalah orang-orang yang berlomba mengejar kesenangan, tenggelam dalam kemewahan dan aku berani bertaruh bahwa Pangeran Liong Khi Ong itu tentu sudah mempunyai isteri sedikltnya selosin orang, apalagi usianya sudah lima puluh tahun. Aku tentu sudah gila kalau aku mengatakan suka kepadanya, paman Gak."
Gak Bun Beng tersenyum geli.
Bukan main anak ini!
Pandangannya selalu tepat, membayangkan pengetahuan luas dan pertimbangan yang masak, kata-katanya tepat mengenai sasaran dan perasaannya amat halus bukan main.
"Dewi, kalau kau memang tidak suka, kenapa kau mau?"
"Paman, masa paman tidak mengerti? Aku hanya bertugas di dalam perkawinan ini untuk menjadi paku utama dalam singgasana ayah."
"Eh....?"
"Aku kawin bukan karena cinta, melainkan kawin politik. Agar kedudukannya di Bhutan kuat apalagi dalam menghadapi pemberontakan Bangsa Mongol dan Tibet yang dipimpin oleh Tambolon, ayah mengorbankan aku untuk menjadi mantu kaisarmu di sana!"
Kedua pipi itu menjadi merah karena penasaran dan matanya yang indah bersinar-sinar. Gak Bun Beng mengangguk-angguk.
"Kau kan bisa menolak?"
"Aih, paman. Apa dayaku sebagai seorang puteri raja? Kalau aku menolak, andaikata aku bisa menolak, kemudian terjadi sesuatu yang bisa merobohkan kerajaan, bukankah namaku akan dicatat di dalam sejarah sebagai seorang anak yang paling durhaka terhadap orang tua, sebagai seorang puteri yang tidak dapat menjaga negaranya? Ahh, kalau saja aku hanya seorang gadis petani biasa, tentu tidak ada yang usil mulut!"
Gak Bun Beng maklum akan hal ini dan dia menghela napas panjang, merasa kasihan sekali kepada gadis ini, dan dia teringat pula akan nasib Milana yang juga menikah karena terpaksa oleh kaisar!
"Akan tetapi, sekarang engkau telah bebas, bukan?
Engkau telah menjadi seorang gadis petani, bukan?"
"Apa gunanya? Tak mungkin aku menjadi begini terus. Setelah paman nanti menyerahkan aku ke istana, apa dayaku selain menurut dan menerima pernikahan itu dengan mata meram dan perasaan mati?"
"Kalau aku tidak menyerahkan engkau ke istana, bagaimana?"
Sepasang mata itu terbelalak.
"Benarkah, paman? Akan tetapi, tidak diserahkanpun aku tidak berdaya. Mana mungkin aku bisa hidup sendiri di dunia ini? Aku sudah terbiasa hidup keenakan di istana. Aihh, kalau saja ada adik Ceng Ceng.... tentu dia akan dapat mencarikan akal."
"Tenanglah, Dewi. Aku akan membawamu ke kota raja, akan tetapi aku menjamin bahwa tidak ada seorang iblispun akan dapat memaksamu menikah dengan siapapun yang tidak kau suka. Aku tidak akan membiarkan itu, Dewi."
Syanti Dewi memegang tangan kanan Gak Bun Beng yang terkepal itu erat-erat, membawa kepalan tangan itu ke depan hidungnya dan menciuminya sambil terisak.
Di dalam diri penolongnya itu dia tidak hanya menemukan seorang penolong, akan tetapi juga seorang kawan baik, seorang yang menjadi pengganti ayah bundanya, seorang pelindung dan pembela yang dia percaya sepenuh hatinya, seorang yang menimbulkan kasih sayang di hatinya.
"Bangun....! Gak-siok-siok.... bangunlah....!"
Gak Bun Beng membuka matanya.
"Paman, lihat, ada pasukan tentara datang....!"
Gak Bun Beng mengeluh dan merasa kasihan sekali kepada dara itu.
Baru saja mereka beristirahat di dalam rumah kosong yang rusak itu.
Setelah membuat api unggun dan menyelimuti tubuh Syanti Dewi yang tidur di atas rumput kering, dia sendiri lalu duduk bersandar dinding rusak di dekat pintu, menjaga sambil beristirahat, dan diapun tertidur saking lelahnya.
Baru saja tidur, belum ada sejam karena diapun belum pulas benar, sudah ada orang yang mengganggu.
Dia bangkit dan berdiri, menggosok-gosok kedua matanya dan memandang keluar.
"Heiii....! Yang berada di dalam rumah kosong! Hayo kalian semua keluar!"
Terdengar teriakan seorang di antara para perajurit yang memegang obor.
Obor itu besar sekali dan amat terang dan di atas sebuah tandu pikulan duduklah seorang panglima yang berpakaian lengkap dan gagah, pakaian perang, sikapnya gagah sekali mengingatkan Gak Bun Beng akan tokoh Kwan Kong di dalam cerita Sam Kok, seorang panglima perang yang jarang bertemu tanding saking gagah perkasanya.
"Tenanglah, Dewi, mari ikut aku keluar,"
Kata Gak Bun Beng dan dia menggandeng tangan dara itu, diajaknya keluar menghadap panglima itu.
"Suruh pergi mereka semua! Kalau mereka tidak menyembunyikan pemberontak, sudahlah, jangan ganggu penduduk di sekitar sini! Akan tetapi cari di rumah-rumah kosong, di guha-guha dan basmi semua pelarian pemberontak, barulah daerah ini akan aman. Kalian jangan terlalu malas, bekerja kepalang tanggung. Satu kali mengeluarkan tenaga hasilnya harus dapat dirasakan selama satu tahun! Tidak setiap hari mengalami gangguan terus!"
Beberapa orang panglima dan perwira yang mendengar perintah ini membungkuk-bungkuk dan kelihatannya mereka takut sekali kepada panglima gagah perkasa ini.
Tiba-tiba panglima gagah perkasa ini memandang ke arah Gak Bun Beng dan Syanti Dewi.
Gak Bun Beng terkejut.
Pandang mata itu menunjukkan bahwa jelas pembesar militer ini benar-benar bukan orang sembarangan, akan tetapi dia balas memandang dengan sikap tenang.
Pembesar itu memberi isyarat dengan tangan dan seorang perajurlt menggapai kepada mereka sambil berkata.
"Heii, kalian berdua majulah menghadap tai-goanswe!"
Gak Bun Beng menarik tangan Syanti Dewi menghadap pembesar itu dan menjura dengan dalam-dalam, akan tetapi tidak berlutut karena dia ingin menguji watak pembesar ini.
"Hei, berlutut kalian!"
Bentak seorang perajurlt.
"Biarkan mereka!"
Jenderal besar (tai-goanswe) itu berkata, melambaikan tangan kepada Gak Bun Beng memberi isyarat agar mereka berdua maju.
Sekali lagi pandang mata Jenderal itu memandang tajam penuh selidik, kemudian bertanya kepada Syanti Dewi dengan suara membentak dan tiba-tiba.
"Kau, wanita muda katakan, siapa namanya laki-laki ini?"
Tentu saja Syanti Dewi terkejut bukan main karena biasanya, dalam setiap urusan selalu Gak Bun Beng yang maju ke depan dan Gak Bun Beng yang melayani semua tanya jawab.
Sekali ini, secara tiba-tiba jenderal yang kelihatan galak seperti seekor singa itu menanya kepadanya.
Saking kagetnya, dia menjawab tanpa dapat dipikir lebih dulu secara otomatis.
"Namanya adalah Gak Bun Beng!"
Jenderal ini mengerutkan alisnya yang tebal, mengingat-ingat, kemudian dia meloncat turun menghadapi Gak Bun Beng.
Tepat dugaan pendekar sakti ini, cara jenderal itu meloncat menunjukkan pula kemahiran ilmu silat tinggi, biarpun tubuhnya tegap tinggi besar namun gerakannya ringan sekali dan ketika kedua kakinya menginjak tanah, tidak mengeluarkan bunyi apa-apa seperti kaki kucing meloncat saja.
"Kau Si Jari Maut?"
Tiba-tiba jenderal itu membentak.
Gak Bun Beng melepaskan tangan Syanti Dewi dan menyuruh dara itu minggir.
Syanti Dewi juga kaget sekali, apalagi mendengar nama Si Jari Maut.
Mengapa pula penolongnya itu disangka Si Jari Maut?
Bukankah Si Jari Maut adalah tukang perahu itu?
Gak Bun Beng juga merasa heran dan dia menggeleng kepala.
"Bukan, tai-goanswe. Saya tidak punya nama lain kecuali yang dikatakan tadi."
"Siapa dia?"
Jenderal itu menuding ke arah Syanti Dewi.
"Dia anak saya."
"Hemm, wajahnya bukan wajah wanita Han. Jangan membohong kau!"
"Memang anak saya ini berdarah campuran, tai-goanswe. Ibunya adalah seorang Tibet."
Jenderal ini meraba jenggotnya.
"Hem.... kau dari mana hendak ke mana?"
"Saya dari Tibet di mana selama belasan tahun saya merantau dan menikah di sana, sekarang hendak pergi ke Se-cuan."
"Kau bukan Jari Maut?"
"Bukan, tai-goanswe."
"Tapi kau tentu bisa ilmu silat, bukan?"
Sukarlah bagi Gak Bun Beng untuk mendusta terhadap jenderal yang bermata tajam ini.
Tentu saja bagi seorang ahli, dapat melihat bahwa dia seorang yang "berisi", maka dia bersenyum dan menjawab.
"Sedikit-sedikit saya pernah mempelajari."
"Nah, coba kau hadapi seranganku ini, ingin aku melihat sampai di mana kepandaianmu!"
Tiba-tiba saja jenderal itu menerjang maju, gerakannya cepat bukan main, sama sekali tidak sesuai dengan tubuhnya yang besar tegap itu, apalagi dengan memakai pakaian perang yang cukup berat.
Selain cepat, juga pukulan kepalan tangannya didahului angin yang menyambar dahsyat, hawa yang mengandung rasa panas ke arah dada Gak Bun Beng.
Pendekar sakti ini maklum bahwa sang jenderal sudah dapat melihat bahwa dia memiliki kepandaian dan agaknya dia hendak menguji karena curiga, maka diapun tidak mau berpura-pura lagi karena toh akan sia-sia saja dan akan ketahuan oleh jenderal yang cerdik itu, maka diapun cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya sebagian saja cukup untuk menandingi tenaga sin-kang penyerangnya.
"Dukkk!"
Jenderah itu berseru kaget ketika pukulannya tertangkis dan lengannya terpental.
Dia dapat memukul lagi dan tahulah Gak Bun Beng bahwa pukulannya tadi ternyata hanya menggunakan tenaga setengahnya karena jenderal itu belum tahu sampai di mana kekuatannya.
Kini jenderal itu menghantam dengan tenaga penuh, tenaga yang melebihi kekuatan seekor kerbau jantan mengamuk!
"Dess....!"
Kembali pukulan tertangkis dan jenderal itu terhuyung ke belakang.
"Coba pergunakan jari mautmu!"
Bentak sang Jenderal dan kini dia menerjang lagi, kaki tangannya bergerak dan sekaligus Gak Bun Beng menghadapi penyerangan pukulan, tamparan, totokan dan tendangan sebanyak delapan kali berturut-turut.
Maklumlah dia bahwa jenderal ini benar-benar pandai, dan agaknya sang jenderal sengaja mendesaknya dengan jurus luar biasa itu untuk memancing dia agar dia, kalau memang mempunyai, mengeluarkan llmunya yang paling hebat, yang diharapkan akan membuka rahasia Jari Maut.
Tentu saja kalau Gak Bun Beng menghendaki, dengan apa saja, dia sekali turun tangan akan mampu membunuh lawannya ini.
Akan tetapi tentu saja dia tidak mau, bahkan dia menangkis dan sengaja memperlambat gerakannya sehingga dua kali pukulan mengenai bahu dan dadanya.
"Bukk! Dess....!"
Gak Bun Beng terhuyung ke belakang sambil becseru.
"Maaf, tai-goanswe, saya tidak kuat bertahan!"
"Ha-ha-ha-ha!"
Jenderal itu tertawa bergelak, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang dan perutnya sampai bergoyang-goyang ketika dia tertawa sambil mendongak ke angkasa.
"Ha-ha-ha, engkau terang bukanlah Si Jari Maut, sungguhpun engkau pandai sekali merendah. Sobat, aku Kao Liang kagum sekali kepadamu!"
Terkejutlah hati Gak Bun Beng mendengar nama ini.
Kiranya inilah jenderal yang ditakuti oleh para pelarian tadi.
Pantas saja!
Memang seorang jenderal yang hebat!
Untung jenderal ini agaknya tidak pernah atau jarang sekali muncul di kota raja sehingga tidak mengenalnya, pula, andaikata pernah, tentu sudah sejak mendengar namanya tadi pembesar itu lain sikapnya.
"Ah, kiranya Kao-taigoanswe....! Saya pernah mendengar nama besar tai-goanawe dari para pemberontak yang lari terbirit-birit ke barat."
"Ha-ha-ha, dan aku tadinya mencurigaimu sebagai anggauta pemberontak. Tidak mungkin. Apalagi dengan anakmu ini. Nah, kalian berdua hendak ke Se-cuan? Silahkan, kalau di jalan bertemu kesukaran, katakan bahwa engkau adalah sahabat Kao Liang, tentu akan dapat menolong!"
Gak Bun Beng menjura, menghaturkan terima kasih lalu mengajak Syanti Dewi pergi dari situ cepat-cepat, biarpun malam itu cukup gelap karena bintang di langit terhalang sedikit awan.
Gak Bun Beng mengajak Syanti Dewi berhenti di bawah sebatang pohon besar di dekat padang rumput.
Tidak mungkin melanjutkan perjalanan melintasi padang rumput yang demikian rimbun, takut kalau-kalau ada ularnya atau binatang lain.
Melihat lampu-lampu di sebelah kiri, mereka lalu bangkit lagi dan menuju ke tempat itu.
Kiranya itu adalah sebuah dusun yang lumayan besarnya.
Akan tetapi karena dusun itu baru saja mengalami pemeriksaan dan pembersihan, semua penduduk masih merasa takut dan pintu rumah ditutup rapat-rapat.
Beberapa kali Gak Bun Beng mengetuk pintu, dan mendengar suara bisik-bisik di dalam, namun tidak pernah ada yang menjawabnya.
Bahkan ketika mereka melihat sebuah rumah penginapan dan mengetuk pintunya, tidak ada pelayan yang membukainya.
Barulah setelah Syanti Dewi yang bersuara minta dibukakan pintu, daun pintu terbuka oleh seorang pelayan yang memandang mereka penuh curiga.
"Kenapa kalian ini malam-malam menggedor-gedor pintu rumah ocang?"
Tanyanya dengan hati lega akan tetapi juga jengkel ketika melihat bahwa yang datang hanyalah seorang laki-laki setengah tua dan seorang dara remaja yang keduanya berpakaian seperti orang dusun.
"Hemm, bukankah ini rumah penginapan untuk umum?"
Gak Bun Beng bertanya sabar.
"Benar, akan tetapi apakah kau tidak bisa mengerti akan keadaan? Dunia sedang kiamat begini mencari kamar waktu tengah malam! Untung aku berani membuka pintu, kalau tidak siapa lagi yang berani dan kalian takkan bisa mendapatkan tempat di rumah manapun juga."
"Maaf kalau kami mengganggu dan mengagetkan, biarlah besok sebagai penambah uang sewa kamar kami beri juga uang kaget,"
Kata pula Gak Bun Beng. Mendengar bahwa dia akan menerima uang kaget sebagai hadiah pelayan itu menjadi lebih ramah.
"Baru siang tadi dusun kami digerebek dan diperiksa, diawut-awut, banyak yang ditangkap dituduh teman pemberontak. Tentu saja sedusun ini masih dalam suasana panik dan takut."
Gak Bun Beng mengangguk-angguk dan akhirnya mereka memperoleh sebuah kamar dengan dua buah tempat tidur.
Tadinya Gak Bun Beng hendak menyewa dua kamar, akan tetapi di depan pelayan itu Syanti Dewi berkata.
"Ayah, mengapa harus dua kamar? Satu saja cukuplah asal ada dua tempat tidur. Apalagi, aku takut tidur sendiri dalam kamar!"
Malam itu keduanya dapat tidur nyenyak setelah bercakap-cakap sebentar tentang Jenderal Kao Liang.
"Seorang jantan sejati,"
Kata Gak Bun Beng kagum.
"Negara memang membutuhkan orang-orang seperti dia itulah! Aku berani bertaruh apa saja bahwa orang seperti dia tentu setia kepada negara, tidak mabok kedudukan, tidak sudi menjilat dan tidak suka pula menekan bawahan. Ilmu kepandaiannya boleh juga."
"Aku juga sudah khawatir, paman. Dia kelihatannya begitu kuat dan lihai. Akan tetapi ternyata kau tidak apa-apa! Dia memang mengerikan, seperti seekor singa!"
"Jarang kini terdapat orang seperti dia,"
Kata pula Gak Bun Beng.
"Orang pemberani macam dia tentu tidak berhati kejam. Hanya orang penakutlah yang berhati kejam karena kekejaman lahir dari rasa takut. Dan dia tidak pula penjilat, karena hanya orang yang suka menindas bawahannya sajalah yang suka menjilat atasannya. Dia memang jantan sejati dan aku benar-benar kagum!"
Sementara itu, di perkemahannya, Jenderal Kao Liang juga berkata kepada seorang perwira kepercayaannya.
"Orang bernama Gak Bun Beng tadi memang hebat! Aku percaya bahwa dia tentulah seorang kang-ouw yang berilmu tinggi, dan yang memakai nama Gak Bun Beng Si Jari Maut tentulah seorang penjahat yang sengaja hendak merusak namanya."
Memang tepatlah kata-kata Jenderal Kao Liang ini.
Yang merusak dan menggunakan nama Gak Bun Beng Si Jari Maut bukan lain adalah Ang Tek Hoat!
Jenderal ini sudah mendengar akan sepak terjang Si Jari Maut, akan tetapi dia mendengar bahwa penjahat kejam itu adalah seorang pemuda, maka dia tadi percaya bahwa Gak Bun Beng yang ditemuinya itu bukanlah Si Jari Maut.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa ketika menangkis serangannya tadi, Gak Bun Beng hanya mempergunakan sedikit bagian saja dari tenaganya, dan sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa Gak Bun Beng adalah seorang pendekar sakti murid dari Pendekar Super Sakti, Bu-tek Siauw-jin, dan memiliki ilmu-ilmu kesaktian tingkat tinggi yang amat hebat!
Pada keesokan harinya, setelah mandi pagi, Gak Bun Beng berkata kepada Syanti Dewi.
"Dewi, kita harus menyamar dalam perjalanan selanjutnya. Aku sudah kapok kalau sampai terjadi seperti ma-lam tadi. Pula, menurut pelayan, di sebelah sananya padang rumput itu terdapat perkemahan pasukan. Ingin sekali aku melakukan penyelidikan, dan mengetahui apakah gerangan yang terjadi sehingga seorang jenderal yang berpangkat tinggi itu sampai datang ke tempat ini dan melakukan perondaan sendiri, memimpin pasukan sendiri melakukan pembersihan."
"Paman, bukankah Jenderal Kao telah menjamin...."
"Ah, aku tidak mau berkedok nama jenderal, Dewi. Kita melakukan perjalanan sendiri menggunakan akal sendiri untuk menyelamatkan diri. Bagaimana kalau kita menyamar sebagai ayah dan anak penjual silat?"
"Tapi ilmu silatku masih rendah, paman."
"Habis apa kiranya yang menjadi keahlianmu?"
"Aku agak pandai menari...."
"Nah, itu dia! Kita menyamar sebagai penjual obat dan engkau menari, aku yang mengiringi dengan meniup suling."
Syanti Dewi tertawa dan cahaya matahari menjadi cerah bagi Gak Bun Beng.
Tawa gadis yang halus itu benar-benar mendatangkan kesegaran dalam perasaannya.
Bertahun-tahun dia hidup membeku, dan baru sekarang dia merasakan kehangatan perikemanusiaan.
"Menari hanya diiringi dengan suling saja? Dan lagunya? Apakah kau mengenal lagu Bhutan, paman?"
"Tentu saja tidak. Akan tetapi asal melagukan cukup? Apa lagi kita adalah penjual obat, bukan ahli tari sungguhpun aku yakin bahwa engkau tentu merupakan seorang ahli tari yang luar blasa. Nah, sekarang kita harus berbelanja ke dusun ini menyiapkan segala keperluan penyamaran kita. Untukku sebatang suling dan sebuah caping lebar, dan untukmu, apa kebutuhanmu dalam penyamaranmu, Dewi?"
"Sebagai penari keliling, cukup dengan sehelai selendang panjang saja, selendang sutera berwarna merah."
Setelah menemukan dan membeli kebutuhan mereka itu, Gak Bun Beng lalu mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan meninggalkan dusun itu dan melintasi padang rumput.
Di sepanjang perjalanan Syanti Dewi menyanyikan beberapa lagu Tibet yang dikenalnya dan dengan penuh kagum dan keharuan karena dara itu ternyata amat pandai bernyanyi dan mempunyai suara yang amat merdu dan halus.
Gak Bun Beng mempelajari lagu-lagu itu dengan sulingnya.
Ketika mereka sudah melewati padang rumput Gak Bun Beng berhenti dan meminta kepada Syanti Dewi agar supaya menari.
"Kita harus berlatih dulu agar cocok antara suling dan gerakan tarianmu,"
Katanya.
Dia duduk di bawah pohon dan mulai meniup sulingnya, menirukan lagu yang dinyanyikan dara itu, dan Syanti Dewi mulai menari, menggerakkan tubuhnya seperti seekor kupu-kupu beterbangan di atas kelompok bunga, dan ketika selendangnya yang merah itu digerak-gecakkan, selendang itu membentuk lengkung-lengkuk merah yang amat indah dan berubah-ubah.
Kadang-kadang seperti seekor naga merah terbang, kadang-kadang seperti seekor kupu-kupu, lalu seperti huruf-huruf yang hanya tampak sekilas pandang saja karena sudah berubah lagi bentuknya.
Bukan main!
Gak Bun Beng terpesona dan lupa diri, seolah-olah dia sedang berada di kahyangan menyaksikan tarian seorang bidadari.
Di dalam setiap gerakan tubuh dara itu, dari ujung jari tangan sampai ke anak rambut yang terjurai di depan dahi, semua begitu hidup, mengandung warna tertentu dan merupakan nyanyian tertentu, indah penuh rahasia seperti sajak-sajak keramat, meriah dan riang gembira seperti sinar matahari pagi di musim semi!
Setelah Syanti Dewi menghentikan tariannya sambil tertawa, Gak Bun Beng baru sadar.
Dia menurunkan sulingnya pula, masih terlongong dan termenung, seolah-olah orang baru terbangun dari suatu mimpi yang amat indah.
"Paman Gak!"
Syanti Dewi memanggil ketika melihat pendekar itu duduk termenung, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggunya.
"Heh....? Ehhh....!"
Gak Bun Beng menyeka peluh yang tanpa diketahuinya telah memenuhi dahi dan lehernya, kemudian dia memandang Syanti Dewi dengan sinar mata lembut dan penuh kasih sayang.
"Dewi, bukan main kau....! Bukan main....!"
Dan tak dapat ditahan lagi, dia mengatupkan bibir dan dua titik air mata menetes ke atas pipinya. Syanti Dewi menubruknya.
"Paman, ada apakah? Paman.... paman menangis?"
Ucapan ini dikeluarkan penuh ketidakpercayaan.
Rasanya mustahil bagi Syanti Dewi melihat seorang pria yang demikian gagah perkasa, jantan keras bagaikan baja, lembut dan budiman seperti kapas, yang dihormati, kagumi, dan sayang dapat meruntuhkan air mata walaupun hanya dua butir!
Gak Bun Beng tak mampu menjawab dan memejamkan mata ketika merasa betapa Syanti Dewi menyeka dua butir air mata itu dengan ujung selendangnya.
Terbayang-lah wajah Milana, teringatlah dia akan semua kenikmatan dan kebahagiaan berkasih sayang dengan wanita itu.
Kehadiran Syanti Dewi dalam hidupnya membuat luka di dalam hatinya merekah kembali dan dia menjadi amat rindu kepada Milana, amat rindu pada belaian kasih sayang wanita.
Padahal selama ini, dia telah berhasil menundukkan semua itu, telah membuat hatinya mengeras seperti baja.
Namun segala keindahan yang dilihatnya dalam diri Syanti Dewi, segala kelembutannya, mendobrak seluruh pertahanannya dan menjadi jebol!
"Paman kau kenapakah?
Mengapa paman berduka?"
Kemudian Syanti Dewi bertanya dengan suara penuh kedukaan dan kecemasan.
Gak Bun Beng membuka matanya, lalu memaksa diri tersenyum dan membuka capingnya, mengipasi muka dan lehernya dengan caping, bukan untuk mengusir hawa panas, melainkan dengan harapan angin dari kipasan caping itu akan mengusir keharuan yang mencekik lehernya.
Sukar dia mengeluarkan suara dan hanya menggeleng kepala sambil tersenyum.
"Paman, kau tadi kelihatan demikian berduka, sampai menangis! Padahal tadi-nya tidak apa-apa. Setelah aku menari, paman berduka dan terharu. Tentu ada sebabnya, paman. Demikian tegakah paman membiarkan aku dipermainkan kesangsian? Tidak sudikah paman mempercayaiku dan menceritakan apa yang mendukakan hatimu?"
Gak Bun Beng menggerakkan tangan dan mengelus rambut kepala gadis itu.
Gerakan ini meruntuhkan hati Syanti Dewi dan otomatis dia lalu menjatuhkan kepalanya bersandar pada dada pendekar itu.
Dia merasa begitu aman, begitu tenteram dan begitu bahagia, seolah-olah dada yang bidang itu melindunginya dari segala malapetaka yang akan mengancamnya, melindunginya dari segala kedukaan dan mendatangkan kebahagiaan yang dia tidak mengerti.
Gak Bun Beng pun menerima perbuatan gadis ini dengan perasaan wajar, seolah-olah sudah semestinya demikian, dan untuk beberapa saat dia tetap mengelus rambut kepala yang panjang, hitam dan halus itu.
Kemudian dia teringat betapa janggalnya keadaan mereka, maka perlahan dia mendorong kepala gadis itu dari atas dadanya.
Mereka duduk berhadapan dan berkatalah Gak Bun Beng.
"Syanti Dewi, kau lah satu-satunya manusia yang berhak mengetahui segala mengenai diriku."
"Terima kasih, paman. Aku yakin bahwa memang engkau akan menceritakan kepadaku, karena kiranya tidak ada lagi manusia yang demikian mulia seperti engkau, paman."
Gak Bun Beng memegang tangan dara itu, akan tetapi ketika dia merasa ada getaran kemesraan yang luar biasa keluar dari tangan dara itu, dia cepat melepaskannya kembali dan menghela napas, membuang pandang matanya ke tanah, menunduk.
"Dewi, engkau terlalu tinggi memandang diriku. Aku hanyalah seorang tua yang bodoh, yang canggung dan lemah."
"Bukan aku yang memandang terlalu tinggi, melainkan engkau yang selalu merendahkan diri, dan itulah satu di antara sifat-sifat paman yang kukagumi. Sekarang ceritakan, paman, mengapa paman tadi menangis ketika melihat aku menari?"
"Syanti Dewi, karena kau mengingatkan aku akan seorang lain...."
"Seorang wanita?"
Gak Bun Beng mengangguk.
"Wanita yang paman cinta?"
Kembali Gak Bun Beng mengangguk.
"Dan diapun mencinta paman?"
Untuk ketiga kalinya Gak Bun Beng mengangguk.
Syanti Dewi menunduk, kelihatan berduka sekali.
Sampai lama keduanya diam saja, kemudian terdengar dara itu bertanya, suaranya gemetar menahan isak.
"Paman Gak, sudah lamakah dia meninggal?"
Gak Bun Beng mengerutkan alisnya, lalu mengerti bahwa dara ini menyangka kekasihnya itu sudah meninggal.
"Sampai sekarang dia masih hidup, Dewi."
Muka dara itu menjadi pucat sekali, kemudian merah dan dia meloncat bangkit berdiri dan suaranya nyaring penuh rasa penasaran dan kemarahan.
"Kalau begitu dia telah meninggalkan paman, sungguh kejam sekali!"
Gak Bun Beng cepat menggeleng kepalanya.
"Bukan! Bukan dia, melainkan akulah yang meninggalkan dia...."
Wajah yang tadinya merah menyala itu menjadi pucat, kedua tangannya yang dikepal terbuka dan tubuh yang menegang itu menjadi lemas.
"Ouhhh....!"
Syanti Dewi mengeluh dan duduk kembali di depan pendekar itu.
Syanti Dewi melihat Gak Bun Beng pendekar pujaannya itu duduk termenung, wajahnya pucat sekali, alisnya yang tebal berkerut dan di permukaan wajah itu terbayang kenyerian yang sukar dilukiskan.
Melihat wajah pendekar itu sepecti ini, Syanti Dewi tidak dapat menahan tangisnya.
Dia terisak dan memegang kedua tangan pendekar itu, mengguncang-guncangnya sambil bertanya di antara isaknya.
"Akan tetapi.... mengapa, paman? Mengapa....? Mengapa....?"
Suaranya bercampur isak dan dia membiarkan air matanya berderai menuruni pipinya.
Melihat keadaan dara ini, Gak Bun Beng merenggutkan kedua tangannya.
Dia takut kepada dirinya sendiri karena seluruh tubuhnya, seluruh hati dan perasaannya, seakan-akan mendorongnya untuk memeluk dan mendekap dara itu penuh cinta kasih.
Dia melawan hasrat ini dan karenanya dia merenggutkan ketua tangan dari pegangan dara itu, lalu menutupkan keduanya tangannya ke mukanya sambil menahan air matanya dengan jari-jari tangannya.
Sampai lama mereka tidak berkata-kata, yang terdengar hanya suara isak Syanti Dewi dan tarikan napas panjang Gak Bun Beng.
Setelah Syanti Dewi agak mereda dan berhasil menekan perasaan harunya dan ibanya, dia mengangkat muka yang basah dan merah, memandang punggung kedua tangan yang menutupi muka pendekar itu, bertanya.
"Paman, saya yakin pasti ada sebab-sebab yang memaksa paman meninggalkannya. Pasti ada, dan maukah paman menceritakan kepadaku?"
Mendengar suara gadis itu telah tenang kembali biarpun masih gemetar, Gak Bun Beng yang juga telah berhasil meredakan gelora hatinya, menurunkan kedua tangannya dan tampaklah wajahnya yang pucat dan muram.
"Syanti Dewi, sudah kukatakan bahwa aku akan menceritakannya kepadamu. Memang ada se-babnya, dan sebab itu adalah karena aku bodoh dan serba canggung! Begitu banyak aku melihat perkawinan gagal, cinta kasih berantakan setelah terjadi perkawinan, kemesraan lenyap terganti cemburu, kekecewaan dan kemarahan yang berakhir dengan kebencian dan dendam, sehingga aku menjadi muak dan ngeri. Aku menjadi takut kalau-kalau diapun akan menderita apabila kasih di antara kita yang murni itu akan menjadi palsu dan kotor setelah kita menikah. Aku tidak tega membiarkan dia kelak menderita, karena itu, aku mundur.... tidak tahu bahwa aku membawa pergi racun yang menggerogoti dan merusak hidupku hari demi hari. Dengan kekuatan batin aku bisa menundukkan semua itu, membuat hatiku keras dan melupakan segala."
Dia menarik napas panjang dan menengadah, memandang ke langit seolah-olah hendak mengadukan nasibnya kepada Thian.
"Jadi.... itukah sebabnya, paman, seorang pendekar besar mengasingkan dan menyembunyikan diri di antara orang-orang biasa, menjauhkan diri dari segala urusan dan kesenangan duniawi?"
Gak Bun Beng mengangguk.
"Dan selama itu paman tidak lagi tertarik kepada wanita yang manapun?"
"Hemmm.... sebelum mengenal dia, aku belum pernah mencintai orang lain, sesudah itupun aku tidak ada minat dan waktu.... aku malah muak dan tidak percaya akan cinta kasih antara pria dan wanita yang kesemuanya kuanggap palsu belaka! Aku tidak percaya lagi akan kata-kata cinta yang pada hakekatnya hanyalah penonjolan keinginan pribadi untuk mencari kesenangan dan kepuasan hati sendiri. Akan tetapi.... sikapku karena patah hati itu ternyata keliru dan baru aku sadar bahwa memang ada cinta kasih yang murni, yang tanpa pamrih.... yaitu setelah aku bertemu denganmu, Dewi. Setelah aku berjumpa denganmu, setelah aku bergaul beberapa lamanya denganmu, kau mengingatkan aku kepada dia...."
"Aduh, paman Gak.... sungguh kasihan kau! Kalau begitu, mengapa kita tidak pergi mencari dia? Di manakah kekasihmu itu? Sekarang belum terlambat untuk menyambung kembali pertalian kasih sayang yang secara paksa paman putuskan itu! Marilah, aku akan menceritakan kepadanya betapa paman adalah seorang jantan yang hebat, seorang pria yang budiman, yang sampai saat inipun tidak pernah melupakan dia, tidak pernah mengurangi cinta kasihnya yang mendalam dan murni!"
Gak Bun Beng menggeleng kepala.
"Dia.... dia sudah menikah dengan orang lain, Dewi...."
"Ihhhh....!"
Mata yang indah itu terbelalak memandang Bun Beng.
"Mana mungkin....? Bukankah dia mencinta-mu, paman?"
"Dia tidak berdaya, kehendak orang tuanya."
Tiba-tiba Gak Bun Beng teringat bahwa dia telah berlarut-larut, melihat wajah dara itu yang biasanya seperti matahari pagi kini menjadi muram, pucat dan layu, dia hampir memukul kepalanya sendiri.
Tiba-tiba dia memegang tangan dara itu, ditariknya berdiri dan sambil tersenyum dia berkata.
"Aahhh, apa yang telah kita lakukan ini? Kita mendongeng tentang cerita-cerita duka, menggali pendaman-pendaman busuk! Padahal dunia ini begini indah, matahari begitu terang! Hapuskan air matamu itu, Dewi! Engkau masih muda belia, muda remaja. Lihat, masa depanmu seperti sinar matahari itu, cerah dan terang! Perlu apa hidup sekali ini di dunia harus berkeluh kesah dan berduka cita! Air mata darah sekalipun tidak akan dapat membangkitkan kembali yang telah mati! Ha-ha-ha, aku bodoh dan canggung! Mari, Dewi, kita lanjutkan perjalanan. Lihat di sana itu, genteng-gentengnya masih baru, tentu itu merupakan bangunan baru, dan kalau tidak salah, itulah markas pasukan yang akan kita selidiki."
Melihat perubahan sikap pendekar itu, Syanti Dewi yang berperasaan tajam halus dan memang cerdik itu, maklum bahwa pendekar itu selain hendak mengkubur kembali kenangan yang menyedihkan, juga tidak ingin menyeretnya berlarut-larut ke dalam awan kedukaan.
Dia makin kagum dan bersyukur, dan diapun membantu agar pendekar itu tidak kecewa.
Dia menghapus semua keharuannya dan mulai tampaklah senyum di bibir dara itu dan matanya mulai bercahaya ketika dia memandang wajah Gak Bun Beng.
"Baik, paman. Marilah, akan tetapi harap paman menjagaku baik-baik karena aku masih ngeri kalau teringat akan kekasaran perajurit-perajurit itu."
"Jangan khawatir. Betapapun juga, andaikata terjadi apa-apa yang tak dapat kucegah, kita masih mempunyai jimat berupa nama jenderal itu, bukan? Cuma satu hal yang harus kau jaga. Jangan kau menari seindah tadi!"
"Eh, mengapa, paman?"
"Mana mungkin ada penari dusun dapat menari seindah tarian bidadari seperti tadi! Jangan, gerakkan selendangmu biasa saja, agak perkasarlah, gerakan kaki tanganmu."
Syanti Dewi tertawa. Sedap perasaan Gak Bun Beng mendengar suara ketawa ini dan buyarlah semua awan mendung.
"Perintahmu ini jauh lebih sukar daripada perintah memperbaiki atau memperhalus tarian, paman. Memperkasar tarian? Betapa sukarnya, akan tetapi biarlah kucoba asal paman membantu dengan suara sulingmu."
"Membantu bagaimana?"
"Jangan terlalu merdu! Bikin agak sumbang begitulah, jadi aku akan tetap teringat untuk membikin gerakannya kaku."
Keduanya tertawa dan melanjutkan perjalanan menuju ke sekelompok bangunan di depan sambil bergandengan tangan.
Sekali ini Gak Bun Beng tidak ragu-ragu lagi untuk menggenggam tangan yang kecil halus itu.
Mereka bergandengan sebagai dua orang sahabat, sebagai ayah dan anak, bukanlah sebagai sepasang kekasih!
Markas itu adalah markas pasukan penjaga tapal batas.
Biasanya mereka bermalas-malasan, akan tetapi semenjak Jenderal Kao Liang datang beberapa hari yang lalu, mereka tidak berani bermalas-malasan lagi dan penjagaan dilakukan dengan tertib.
Juga tidak ada yang berapi berkeliaran mengganggu dusun-dusun terdekat karena Jenderal Kao Liang terkenal sebagai seorang pembesar yang keras dan kedatangannya otomatis membuat para komandan pasukan di tempat itu juga menjadi tegas dan keras terhadap bawahannya.
Banyak juga orang preman, penduduk dusun yang keluar masuk pintu gerbang benteng, ada yang mengantar kayu bakar, sayur-sayuran dan lain-lain.
Gak Bun Beng berjalan tenang bersama Syanti Dewi dan sambil berjalan dia meniup sulingnya.
Ketika mereka tiba di depan pintu gerbang, empat orang penjaga menghadang mereka dan seorang di antaranya menghardik.
"Berhenti! Siapa kalian dan mengapa engkau meniup-niup suling di tempat ini? Tak tahukah bahwa di sini adalah markas pasukan? "Maaf, kami memanglah rombongan tari maka sudah menjadi kebiasaan saya kalau berjalan meniup suling agar tidak lekas lelah. Jadi di sini adalah markas pasukan pemerintah? Kebetulan sekali! Kami sedang menuju ke timur dan karena kami ingin mendengar secara resmi bagaimana keadaan di sana, maka kami ingin memperoleh keterangan dari komandan kalian. Untuk itu, kami bersedia menghibur kalian dengan tari-tarian dan memberi obat luka yang manjur."
Para penjaga itu saling pandang dan mereka berkali-kali memandang wajah Syanti Dewi yang amat cantik biarpun sederhana pakaiannya itu.
"Kau tunggu sebentar, aku akan melapor kepada komandan!"
Kata seorang di antara mereka penuh gairah.
Gak Bun Beng mengangguk dan duduk di sudut sambil meniup sulingnya, sengaja dia mainkan sulingnya sebaik mungkin untuk menarik perhatian.
Sedangkan Syanti Dewi menunduk saja (Lanjut ke
Jilid 14) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 karena dia merasa "ngeri"
Melihat pandang mata para penjaga itu yang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat!
Tak lama kemudian muncullah si penjaga tadi mengiringkan seorang perwira gendut pendek yang mukanya bulat dan lucu kelihatannya.
Perwira itu adalah komandan sementara di markas itu karena panglimanya sedang pergi mengikuti Jenderal Kao Liang yang sedang memimpin pasukan beroperasi di daerah barat.
Perwira itu sebetulnya seorang yang sabar dan baik, akan tetapi begitu melihat bahwa yang disebut rombongan tari itu terdapat seorang gadis yang demikian denok, kontan saja sikapnya menjadi berubah dari biasanya.
Dia memasang aksl seolah-olah dialah komandan terbesar, dialah panglima tertinggi atau bahkan kaisar sendiri!
Sambil bertolak pinggang dia memandang kepada Gak Bun Beng yang sudah berdiri dan menjura di depannya.
Pandang matanya menyapu pendekar itu dan dara di sebelahnya, seolah-olah dia sama sekali tidak acuh akan kecantikan dara itu dan hanya menjalankan tugasnya sebagai "komandan"
Betul-betul, lalu dia membentak dengan suara nyaring.
"Siapa kau dan dari mana hendak ke mana?"
Gak Bun Beng yang sudah berpengalaman dan pandai membaca sikap dan isi hati orang, tersenyum geli karena maklum bahwa kegagahan perwira ini adalah dibuat-buat untuk menarik perhatian Syanti Dewi, tentunya dengan maksud agar dara itu kagum melihat seorang "komandan sungguhan"!
Ingin sekali dia melihat akan bagaimana wajah badut ini kalau dia tahu bahwa gadis dusun yang cantik dan dipasangi aksi itu adalah Puteri Bhutan yang akan menjadi mantu kaisar!
Bisa dibayangkan bahwa si gendut pendek ini tentu akan bertiarap di depan kaki Syanti Dewi, menyusup-nyusup seperti ular di antara rumput dan minta-minta ampun!
"Maafkan kami berdua, tai-ciangkun!"
Kata Gak Bun Beng yang makin geli hatinya melihat betapa perwira itu ketika mendengar sebutan tai-ciangkun terus saja melembungkan dadanya dan mengempiskan perutnya, akan tetapi karena tidak dapat menahan lama-lama, segera dadanya mengempis dan perutnya mengembung kembali seperti biasanya.
Dicobanya lagi beberapa kali, namun makin lama makin tak kuat sampai napasnya senin kemis dan akhirnya dia membiarkan saja perutnya gendut bergantung dan dadanya mengempis.
"Saya bernama Gak Bun Beng dan dia adalah anakku bernama Dewi, ibunya seorang Tibet. Kami hendak pergi ke timur, akan tetapi di sepanjang jalan saya melihat pasukan pemberontak yang melarikan diri dan kabar selentingan bahwa di timur geger karena perang. Hal ini sangat menggelisahkan kami karena kabar yang kami terima tidak jelas. Maka kami ingin memperoleh keterangan yang resmi dan jelas dari tai-ciangkun agar hati kami lega untuk melanjutkan perjalan ke timur yang amat jauh itu. Untuk kebaikan tai-ciangkun, sebelumnya kami menghaturkan terima kasih dan untuk membalas budi, kami akan mengadakan pertunjukan tari-tarian dan membagi obat luka yang mujarab untuk tai-ciangkun."
Perwira gendut itu menggerak-gerakkan alisnya seperti orang yang berpikir keras.
Memang dia berpikir, akan tetapi alis tipis yang digerak-gerakkan itu termasuk aksinya agar kelihatan sebagai panglima ahli siasat yang pandai.
Lagi-lagi, matanya yang agak bulat dan kecil melirik ke arah Syanti Dewi.
Lirikan cepat tidak kentara akan tetapi tentu saja tidak terlepas dari pandang mata Gak Bun Beng.
"Dewi.... hemmm...."
Perwira itu menggumam, agaknya tertarik oleh nama itu dan sama sekali tidak memperhatikan nama lakl-laki bercaping itu.
"Bagaimana, tai-ciangkun?"
Gak Bun Beng bertanya ketika melihat perwira itu seperti mimpi menyebut nama Dewi.
"Ohhh.... ya, kami pikir dulu. Eh, engkau kelihatan begini tabah menghadapi pasukan, seperti sudah biasa. Engkau bukan mata-mata pemberontak, bukan?"
Gak Bun Beng tersenyum.
Pertanyaan ini saja sudah membuktikan betapa tololnya perwira ini dan dengan seorang perwira seperti ini menjadi komandan markas, tidak akan heran kalau mata-mata dapat menyelundup masuk.
"Tentu saja bukan, tai-ciangkun. Kalau mata-mata musuh, masa kami mencari penyakit datang ke sini? Saya memang sudah biasa dengan pasukan, apalagi pasukan pemerintah sendiri, karena belasan tahun yang lalu saya pun pernah menjadi perajurit dalam pasukan istimewa yang dipimpin oleh Puteri Nirahai sendiri."
"Ohhh....!"
Seruan ini terdengar dari banyak mulut para perajurit yang sudah mengerumuni tempat itu.
Pasukan istimewa dari Puteri Nirahai memang terkenal sekali dan mendengar ini, perwira gendut itu berseri wajahnya.
"Apa katamu tadi? Tepat sekali, bukan? Sudah kulihat bahwa engkau adalah seorang yang biasa dengan pasukan. Kiranya masih bekas rekan sendiri, ha-ha! Kalau begitu, tentu saja kalian kami sambut dengan kedua tangan terbuka. Selamat datang dan marilah masuk. Mari silahkan, nona.... eh, nona Dewi. Indah sekali nama puterimu, saudara Gak!"
Syanti Dewi menjura dengan hormat dan Gak Bun Beng tersenyum girang ketika keduanya diiringkan oleh sang perwira gendut sendiri memasuki pintu gerbang markas itu.
Hari telah mulai gelap karena tadi mereka berangkat dari dusun setelah berbelanja dan sudah lewat tengah hari.
Dan tadi mereka agak lama berhenti bercakap-cakap sehingga menjelang senja mereka baru tiba di depan markas itu.
"Sebaiknya tari-tarian dilakukan di waktu malam hari, di dekat api unggun, barulah tampak lebih indah dan meriah,"
Kata Gak Bun Beng.
"Baik, dan memang sebaiknya demikian agar semua anak buah dapat ikut menonton karena sudah bebas tugas,"
Kata perwira itu yang mulai kelihatan kebaikan hatinya seperti biasa.
"Sekarang kalau kau tidak berkeberatan, ciangkun, harap suka menceritakan kepadaku tentang keadaan di kota raja. Saya ingin membawa anak saya ke kota raja, akan tetapi tentu saja hati saya tidak akan tenteram sebelum tahu bagaimana keadaan di sana."
Perwira itu menggeleng kepalanya.
"Sebetulnya, perjalanan ke sana dari sini sudah tidak akan terganggu oleh para pemberontak lagi karena belum lama ini telah dilakukan operasi pembersihan besar-besaran. Akan tetapi, tentu saja kau harus berhati-hati terhadap perampok dan orang jahat, saudara Gak."
"Harap ciangkun tidak usah khawatir. Kalau hanya menghadapi para perampok, kiranya saya tidak percuma menjadi bekas anak buah Puteri Nirahai. Akan tetapi, bagaimanakah keadaan kerajaan sendiri? Mengapa banyak timbul pemberontakan? Kalau kiranya memang perlu, biarpun sekarang sudah mulai tua, aku akan menghadap panglima di kota raja untuk menjadi perajurit lagi, membela pemerintah."
Perwira itu menggeleng-geleng kepala.
"Memang kurang baik keadaannya. Karena itulah Jenderal Kao Liang sendiri sibuk ke sana ke mari, mengadakan pengontrolan dan perondaan sendiri, hanya dengan beberapa orang pembantu dan pengawalnya. Tentu kau tahu, setelah sri baginda menjelang tua, biarpun tahta kerajaan sudah ditentukan akan jatuh kepada Putera Mahkota Yung Ceng, tetap saja timbul perebutan. Kabarnya banyak pangeran yang diam-diam melakukan pemberontakan secara rahasia sehingga sukar diketahui yang mana yang setia kepada kerajaan dan yang mana yang memberontak. Apalagi akhir-akhir ini keadaan dibikin ramai dan ribut lagi dengan adanya pertalian jodoh antara Puteri Kerajaan Bhutan dan seorang pangeran."
Perwira itu agaknya senang bercerita, apalagi melihat Syanti Dewi mendengarkan dengan penuh perhatian sehingga mata yang indah itu jarang berkedip, pandangannya seolah-olah bergantung kepada bibirnya yang sedang bercerita, bibir yang tebal membiru karena terlalu banyak menghisap tembakau.
Disebutnya Puteri Bhutan itu mengejutkan hati Gak Bun Beng dan karena dia ingin agar perhatian perwira itu beralih dari wajah Syanti Dewi yang tentu saja lebih kaget lagi, dia cepat berkata.
"Mengapa pertalian jodoh dapat menimbulkan ramai dan ribut, ciangkun?"
"Sebetulnya pernikahan itu sendiri tidak akan menimbulkan ribut, bahkan merupakan peristiwa yang menggembirakan. Kabarnya Puteri Bhutan itu cantik bukan main, seperti bidadari...."
"Hemm, sayapun sudah mendengar, bahkan melebihi bidadari,"
Kata Gak Bun Beng secara kelakar untuk sekedar melenyapkan kekagetan Syanti Dewi. Dara itu menoleh kepada "ayahnya"
Dan tersenyum.
"Akan tetapi di balik pernikahan itu tersembunyi maksud-maksud tertentu dari kedua pihak. Pihak Bhutan tentu saja suka berbesan dengan kaisar kita, karena ingin mendapat perlindungan dari para pemberontak Tibet dan Mongol yang dipimpin Raja Muda Tambolon. Sebaliknya, pihak kaisar juga ingin menaklukkan negara itu secara halus melalui ikatan kekeluargaan tanpa perang. Namun maksud kaisar ini mendapatkan tantangan dari banyak pangeran dengan bermacam-macam dalih, akan tetapi saya kira dasarnya hanyalah karena tidak ingin melihat kedudukan kaisar makin kuat dengan adanya banyak negara lain yang bersekutu! Maka kabarnya terjadi bermacam-macam usaha untuk menggagalkan pernikahan itu, bahkan kabarnya rombongan penjemput puteri yang dipimpin Panglima Tan Siong Khi telah diserbu dan puteri itu sendiri kabarnya lenyap ditawan pemberontak. Inilah sebabnya mengapa Jenderal Kao Liang mengamuk dan menumpas para pemberontak di perbatasan. Celakanya ada kabar angin bahwa usaha itu diatur dari kota raja sendiri, oleh para pangeran yang secara rahasia memberontak."
Kaget bukan main hati Gak Bun Beng mendengar ini.
Kiranya segala kekacauan itu bersumber kepada perebutan kekuasaan di istana!
Bagaimana dengan Milana?
"Lalu bagaimana kabarnya sikap pangeran yang akan dikawinkan dengan Puteri Bhutan?"
"Pangeran Liong Khi Ong? Hemm, tidak ada berita tentang dia, kelihatannya tenang-tenang saja, bahkan belum lama ini diapun ikut rombongan Jenderal Kao Liang meninjau ke barat, akan tetapi lalu terpisah dan berpesiar menggunakan perahu melalui sungai dikawal oleh pasukannya sendiri. Masih untung Puteri Bhutan yang seperti bidadari itu tidak jadi menikah dengan pangeran itu!"
"Kenapa demikian? Bukankah enak menikah dengan pangeran yang tinggi kedudukannya?"
Tiba-tiba Syanti Dewi bertanya, tidak dapat menahan hatinya lagi karena yang dibicarakan itu sesungguhnya adalah dirinya sendiri.
Perwira gendut memandang dan tersenyum menyeringai, senang hatinya mendengar dara itu bertanya.
"Menarik sekali ceritaku, ya?"
"Ceritamu menarik dan hebat, tai-ciangkun,"
Jawab Syanti Dewi.
"Biarpun andaikata engkau sendiri, nona, akan sengsara kalau menjadi isteri Pangeran Liong Khi Ong."
Perwira itu berkata sambil mengurut kumisnya yang tebal.
"Pangeran itu terkenal sebagai seorang mata keranjang, selain selirnya banyak sekali, juga setiap malam dia harus berganti teman baru. Maka, andaikata puteri itu menjadi isterinya, dalam beberapa hari saja tentu dia akan disia-siakan begitu saja!"
"Ahhh....!"
Tentu saja berita ini membuat Syanti Dewi terkejut dan marah.
"Ceritamu menarik sekali, ciangkun dan terima kasih atas segala keterangannya. Dengan ceritamu itu, saya malah ingin sekali segera tiba di kota raja untuk mendaftarkan masuk perajurit lagi. Sekarang, hari sudah malam, mari kita mulai dengan pertunjukan sebagai upah kebaikan ciangkun. Dan sebungkus obat ini adalah obat yang amat manjur terhadap luka-luka, saya haturkan kepada ciangkun."
"Terima kasih, terima kasih."
Perwira itu menerima bungkusan obat, lalu mengantarkan mereka keluar.
Api unggun dipasang di pelataran yang luas itu, dan para perajurit sudah berkumpul untuk menonton.
Gak Bun Beng mengeluarkan sulingnya dan Syanti Dewi mengeluarkan selendang.
Suling kemudian ditiup, semakin malam semakin mengalun nyaring dan kemudian mulailah Syanti Dewi menari dengan selendang merahnya.
Gak Bun Beng meniup suling sambil duduk dan matanya mengikuti gerakan Syanti Dewi, juga siap waspada melindungi dara itu, sedangkan Syanti Dewi menari di dalam api unggun, membuat selendang itu nampak seperti api bernyala dan wajah yang cantik itu kemerahan, amat cantik jelitanya.
Ketika melihat betapa dara itu tenggelam ke dalam tariannya dan menari dengan amat indah, Gak Bun Beng cepat mengangkat sedikit jari penutup lubang sulingnya sehingga suara sulingnya menjadi sumbang.
Syanti Dewi terkejut mendengar suara ini, teringat dan menengok ke arah Gak Bun Beng sambil tersenyum, lalu tangan kanannya digerakkan secara kaku, sungguhpun tangan kirinya masih bergerak halus dan lemas sekali.