Ceritasilat Novel Online

Tangan Geledek 3

Eps 3 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.

Tiap malam ia berlatih di dalam kamarnya dengan amat tekun sehingga dalam waktu setahun saja Tiang Bu telah memperoieh kemajuan pesat.

Ilmu silat yang ia dapat dari kitab dari Omei-san itu benar-benar hebat.

Gerakan-gerakan kaki tangan dalam Ilmu Silat Pat-hong-hong-i ini mengandung kekuatan yang mendorong kemampuannya dalam berlatih Iweekang menurut petunjuk Pak-kek Sam-kui.

Tiga orang kakek ini sampai terheran-heran melihat kemajuan yang luar biasa dari murid mereka.

Mereka hanya merasa heran dan gembira, sama sekali tidak mengira bahwa kemajuan Tiang Bu itu sebagian besar berkat latihan-latihannya di waktu malam di dalam kamarnya!

Tiang Bu merasa menyesal sekali bahwa kamarnya tidak cukup luas untuk berlatih Pat-hong-hong-i, karena pukulan-pukulan dari ilmu silat ini mengandung hawa pukulan yang menderu sehingga kalau ia berlatih terlalu cepat dan terlalu mengerahkan tenaga, suara hawa pukulan itu akan terdengar oleh ketiga suhunya.

Alangkah senangnya kalau ia dapat berlatih di luar, di udara terbuka, pikirnya.

Akhirnya kesempatan itu tiba.

Pak-kek Sam-kui mulai melakukan tugas-tugas baru, membantu pasukan-pasukan menggempur suku-suku bangsa yang belum mau taluk di daerah perbatasan selatan dan barat.

Pengaruh bala tentara Mongol mulai berkembang dan membesar.

Temu Cin mulai memperluas wilayahnya ke barat menyerbu daerah Sin-kiang dan ke selatan menalukkan suku-suku bangsa perantau, memaksa mereka menggabung dengan bala tentaranya.

Bahkan ia mulai mendesak kedudukan orang-orang bermata biru di utara!

Kesempatan selagi guru-gurunya tidak ada, dipergunakan oleh Tiang Bu sebaik-baiknya.

Biarpun para pelayan memper-lakukannya dengan baik dan hormat meng-ingat bahwa anak ini murid dari Pak-kek Sam-kui, namun Tiang Bu tidak be-rani berlatih silat di dekat rumah itu.

la sengaja keluar dari rumah, bahkan keluar dari perkampungan dan berlatih silat dl dalam sebuah hutan yang sunyL Di dalam hutan ini ia boleh berlatih sesuka hati-nya.

la bersilat Sam-hoan Sam-bu sehingga ketangkasannya yang dulu kembali setelah ia latihan beberapa kali.

Juga Ilmu Silat Pat-hong-hong-i yang dilatihnya makin maju saja.

la merasa tubuhnya ringan dan kedua tangannya mengeluarkan angin pukulan kalau ia mainkan Pat-hong-hong-i.

Sampai sehari penuh ia melatih di dalam hutan ini, bahkan kadang-kadang ia datang di situ pada malam hari secara diam-diam kalau para pelayan sudah tidur pulas.

Kalau ia lelah, ia duduk di atas batu karang dan melamun.

Di samping keg;irangannya melihat kemajuannya sendiri, kadang-kadang ia juga merasa sedih.

la tidak kerasan tinggal di daerah utara yang amat dingin ini.

Dan celakanya tiga orang gurunya sama sekali tidak mau mempedulikannya sehingga pakaiannya tak pernah diganti, niasih tetap compang-camping.

Bahkan baju yang dipakainya itu kini sudah tidak berlengan lagi, atau hanya berlengan setengah.

Terpaksa ia potong sebatas Siku dan potongannya dipergunakan untuk menambali bagian-bagian yang sudah robek dan berlubang.

akan tetapi kepada siapa ia harus mengeluh?

Tiga orang gurunya memang manusia-manusia aneh.

Mereka menduduki pangkat-pangkat besar, kaya raya dan hidupnya mewah, namun pakaian ketiga orang gurunya itu pun hampir tak perhah diganti!

Biarlah, pikirnya menghibur hati sen-diri.

Aku mendapat makan cukup, ini saja sudah baik sekali.

Kelak kalau ada kekuatan, aku harus segera minggat dari tempat ini.

Dengan pikiran seperti ini Tiang Bu dapat menahan hidup di.utara sampai dua tahun lebih.

la masih belum berani melarikan diri oleh karena maklum akan luasnya pengaruh bangsa Mongol dan bahwa Temu Cin mempunyai I banyak sekali kaki tangan di mana-mana.

Kalau ia harus pergi, pergi ke manakah?, Pergi ke selatan tentu akan dapat dikejar oleh tiga orang gmpJnya, karena kepandaiannya sendiri masih jauh untuk dapat dipergunakan meruaga diri dalam tempat berbahaya itu.

Ketika itu Pak-kek Sam-kui melalkukan tugas penting sampai dua bulan lebih.

Tiang Bu menjadi senang sekali dan waktu yang dua bulan lebih itu ia pergunakan untuk melatih Pat-hong-hong-i dan Sam-hoan Sam-bu sebaik-baiknya, sehingga boleh dibiiang siang malam ia berada di dalam hutan itu.

Memang ia memiliki bakat yang baik sekali, pula otaknya memang cerdas maka ia kici telah dapat memainkan dua macam ilmu silat tinggi ini secara cukup baik.

(Lanjut ke

Jilid 07) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 Dia sama sekali tidak tahu bahwa sejak ia datang, kurang lebih dua bulan kemudian, Panglima Besar Thian-te Bu-tek Taihiap Liok Kong Ji telah berangkat ke selatan, sesuai dengan siasat Temu Cin, yaitu mengumpulkan bala bantuan di selatan dan kalau mungkin menghancurkan kekuatan-kekuatan yang menentang-nya di daerah Cin.

Semenjak pertemuan pertama itu, Tiang Bu sudah lupa lagi akan panglima itu.

Kalau saja ia tahu bahwa orang itu bukan lain adalah ayah-nya sendiri!

Akan tetapi ia tidak tahu, tak seorang pun tahu.

Juga Kong Ji sendiri tidak tahu.

Di dalam dunia ini kiranya hanya tiga orang yang tahu betul akan hal itu, mereka adalah Wan Sin i Hong, Go Hui Lian dan Coa Hong Kin.

Pada hari itu seperti biasa Tiang Bu pagi-pagi sudah pergi ke hutan dan di tempat biasa ia mulai berlatih Ilmu Silat Pat-hong-hong-i.

Angin pukulan yang ke-luar dari kedua tangannya menderu-deru mengeluarkan suara.

Benar-benar luar biasa ilmu silat ini dan lebih luar biasa lagi adalah anak itu yang dalam usia sembilan tahun sudah dapat bersilat se-perti itu baiknya.

Saking asyiknya Tiang Bu berlatih ia sama sekali tidak tahu bahwa Pak-kek Sam-kui sudah berdiri tak jauh dari situ, memandang dengan mata bersinar marah sekali!

"Setan cilik!

Kau telah menipu dar menghina kami!

Kau harus mampus!"

Seru Liok-te Mo-ko Ang Bouw dengan marah sekali.

Tiang Bu menjadi pucat ketika ia menghentikan gerakan kaki tangannya dan menoleh kepada mereka.

Akan tetapi ia dapat menetapkan hatinya dan me-nanti dengan tenang apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Bangsat rendah, ilmu sllat apa yang kau latih tadi?"

Tanya Giam-lo-ong Ci Kui dengan suara menggeledek. Tiang Bu maklum bahwa membohong takkan ada gunanya setelah mereka itu menyaksikan dengan mata sendiri. la berlutut sambil berkata.

"Teecu berlatih Ilmu Silat Pat-hong-hong-i."

"Dari siapa kau belajar ilmu setan itu?"

Tanya pula Ci Kui, agak tertegur melihat muridnya bicara demikian terus terang.

"Dari...... dari sebuah kitab di bawah petunjuk mendiang Bu Hok Lokai."

Kembali tiga orang kakek itu melengak. Jadi orang jembel yang mati di pinggir jalan itu adalah Bu Hok Lokai dan menjadi guru Tiang Bu? Benar-benar mereka tidak pernah menyangkanya.

"Apalagi yang kaupelajari dari jembel itu selain ilmu tadi dan mengemis?"

Ci Kui bertanya, suaranya mengandung ejekan.

"Teecu diberi pelajaran ilmu Silat Sam-hoan Sam-bu....."

Baru saja ia bicara sampai di sini, Liok-te Mo-ko Ang Bouw sudah tak dapat menahan sabar lagi.

"Bagus, coba kita lihat sampai di mana lihainya dua ilmu silat itu!"

Sambil berkata demikian ia melompat maju me-nerkam Tiang Bu dengan buasnya!

Tiang Bu terkejut sekali.

la maklum bahwa ia berada daiam bahaya besar karena ia sudah mengenal baik watak tiga orang gurunya ini.

Cepat ia meng-gerakkan kakinya, melesat ke belakang dan di lain saat ia telah dapat mwigelak beberapa serangan Ang Bouw yang bertubi-tubi dengan mempergunakan gerakan Pat-hong-hong-i yang tadi dilatihnya.

"Setan alas! Dia dapat mengelak!"

Seru Sin-saikong Ang Louw yang segera maju pula menyerbu.

"Biar aku yang membunuh setan ini!"

"Tidak, aku yang harus merobohkannya,"

Kata Ci Kui yang maju pula me-nyerang. Di lain saat Tiang Bu sudahg diserbu oleh tiga orang suhunya! "Celaka....."

Anak ini mengeluh, menghadapi seorang saja ia tahu bahwa akhirnya akan terpukul binasa, apalagi ketiga-tiganya maju bersama.

Namun ia tidak putus asa dan cepat mainkan Pat-hong hong-i sebaik-baiknya.

Untung baginya bahwa karena memandang rendah, tiga orang kakek itu tidak mempergunakan ilmu silat lain dan menggunakan Ilmul Silat Hui-houw-tong-te untuk menyerangnya.

Mungkin Pak-kek Sam-kui merasa malu kalau mengghinakan ilmu silat lain yang belum dikenal Tiang Bu.

Hui-houw"

Tong-te sudah dipelajari oleh Tiang Bu secara baik-baik, maka sudah cukup adil kiranya kalau mereka juga menggunakan ilmu ini untuk menyerang.

Sama sekali mereka lupa bahwa tiga orang kakek yang sudah kenamaan di dunia kang-ouw mengeroyok seorang bocah ber-usia sembilan-sepuluh tahun, benar-benar merupakan hal yang menggelikan dan menjemukan.

Akan tetapi Pak-kek Sam-kui bukanlah orang-orang biasa, mereka berwatak jahat dan aneh dan segala niat di dalam hati mereka lakukan tanpa mempedulikan anggapan orang lain.

Melihat datangnya serangan dari tiga jurusan Tiang Bu yang cerdik lalu mengubah gerakannya dan mainkan ilmu meng-elak Sam-hoan Sam-bu.

Ilmu ini lebih tepat untuk menghadapi keroyokan tiga orang, apalagi karena dengan ilmu ini perhatiannya seluruhnya dipusatkan untuk menghindarkan diri dari serangan, sama sekali tidak ada jurus menyerang.

Pak-kek Sam-kui benar-benar merasa penasaran sekali.

Bocah itu gerakannya lincah melebihi burung walet, gesit me-lebih kera.

Dipukul sana melesat ke sini, dicegat sini menerobos sana, benar-benar sukar ditangkap atau dipukul.

Gerakan kaki yang iiga langkah berubah dan ta-ngannya yang bergerak ke sana ke mari seperti menari itu benar-benar sukar di-ikuti.

Sampai dua puluh jurus Tiang Bu selalu dapat menyelamatkan diri.

Akan tetapi ia mulai lelah dan langkah-langkahnya mulai dikenal oleh i Pak-kek Sam-kui.

Sekali bergerak, Pak-kek Sam-kui sudah mengambil kedudukan yang mencegat dan mematikan ttiga langkah-nya, Tiang Bu terjepit dan sekali pukul ia akan mati.

"Pak-kek Sam-kui tak tahu malu! Pergi kalian!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan sebatang tongkat panjang dengan ukiran kepala naga berkelebat menyambar ke arah tiga orang itu dengan hebat sekali.

Sambaran toihgkat ini benar hebat, menyambarnya ke arah kepala Pak-kek Sam-kui jadi melewati atas kepala Tiang Bu.

Tongkat itu sekaligus menyerang tiga orang pengurung Tiang Bu tanpa membahayakan bocah itu sendiri.

Pak-kek Sam-kui kaget sekali dan tidak berani menangkis sambaran tongkat yang angin pukulannya panas ini.

Mereka cepat nnelompat mundur dan ketika mereka memandang, ternyata yang berdiri di depan mereka adalah seorang hwesio gundul tinggi besar dengan jubah merah dan tongkat kepala naga yang panjang.

Pendeta Lama baju merah dari Tibet.

"Thai Gu Cinjin.....!"

Giam-lo-ong Ci Kui berseru kaget. Tak disangkanya sama sekali pendeta Lama ini bisa berkeliaran sampai di sini! "Kau datang ke Mongol ada keperluan apakah?"

Seperti diketahui, Thai Gu Cinjin ini adalah hwesio Lama dari Tibet yang telah berhasil mencuri sebuah kitab dari Gunung Omei-san.

Di bagian depan telah diceritakan bahwa karena takut dirampas oleh Ang-jiu Mo-li, Thai Gu Cinjin ini menitipkan kitab curiannya kepada Tiang Bu dan kemudian setelah Ang-jiu Mo-li gagal mendapatkan kitab di tangannya, ia pun gagal mendapatkan bocah yang dititipi kitab itu!

Kemudian setelah mencari sekian lama tanpa hasil, ia mendengar bahwa bocah itu adalah murid Pak-kek Sam-kui, maka bergegas ia pergi ke Mongol untuk mencari Pak-kek Sam-kui.

Kebetulan sekali ia mendengarkan percakapan antara Pak-kek Sam-kui dah Tiang Bu, dan melihat betapa bocah itu terancam bahaya maut.

Kalau saja ia sudah mendapatkan kitabnya kembali, kiranya ia takkan pe-duli apakah Pak-kek Sam-kui hendak memecah dada atau kepala bocah itu"

Akan tetapi ia harus mendapatkan kitab-nya lebih dulu, maka cepat ia mencegah, Pak-kek Sam-kui membunuh Tiang Bu.

"Pak-kek Sam-kui, kalau tidak ada urusan penting untuk apa pinceng jauh-jauh datang ke tempat buruk ini Seperti kalian ketahui, pinceng kehilangan kitab pelajaran ilmu silat yang dulu pin-ceng titipkan kepada Setan Cilik ini. Setelah pinceng mendapatkan kembali kitab itu, kalian mau bunuh dia boleh bunuh, pinceng tidak ada urusan lagi."

Kemudian tanpa menghiraukan Pak-kek Sann-kui lagi, Thai Gu Cinjin melangkah maju menghadapi Tiang Bu dan membentak.

"Anak setan, mana kitab yang kutitipkan padamu dulu?"

Diam-diam Tiang Bu mengeluh akan nasibnya yang benar-benar buruk.

Baru saja terlepas dari tangan Pak-kek Sam-kui, ternyata yang menolongnya adalah hwesio yang ia bawa lari kitabnya dan yang tentu marah sekali kepadanya.

Ini sama halnya dengan terlepas dari mulut harimau jatuh di mulut naga Akan tetapi sudah kepalang.

la maklum takkan "

Dapat hidup lebih iama lagi, maka tim-bul keberaniannya yang luar biasa.

"Losuhu, kitab itu sudah teecu bakar"."

Muka Thai Gu Cinjin yang berwarna ungu itu berubah hijau.

Tongkat kepala naga di tangannya menggigil, agaknya hendak dijatuhkan ke atas kepala Tiang Bu.

Kalau hal ini terjadi, tentu kepala bocah itu akan remuk seperti telur ayam dipukul dengan batu.

"Anak setan! Jangan kau membohong. Tadi pinceng lihat ilmu silatmu Pat-hong-hong-i dari kitab itu cukup baik. Dari mana kau belajar kalau tidak dari.

"kitab itu? Mana sekarang kitabnya?"

"Teecu katakan sudah teecu bakar. Tentu saja teecu belajar dari kitab itu. Setelah isinya teecu pindahkan ke dalam otak, lalu kitab itu teecu bakar."

"Jadi kau hafal semua isi kitab itu?"

Tanya Thai Gu Cinjin terheran. Tiang Bu mengangguk.

"Hafal di luar kepala segala teori dan gerakannya."

Sengaja Tiang Bu menyombong karena melihat lubang jarum untuk lolos.

Barangkali hal ini yang akan menyambung nyawaku pikirnya.

Betul saja dugaan bocah cerdik ini.

Sekali menggerakkan tangan kiri, Thai Gu Cinjin sudah menyambar tubuhnya dan dikempitnya demikian kuat sehingga Tiang Bu khawatir dadanya akan pecah.

"Pak-kek Sam-kui, bocah ini kubawa. Setelah isi kitab kuperas keluar dari kepalanya, pinceng akan mewakili kalian mencabut nyawanya."

Pak-kek Sam-kui tak beram membantah.

Mereka maklum bahwa pendeta Lama ini kepandaiannya lebih tinggi daripada mereka sehingga kalau terjadi pertempuran, kiranya mereka akan kalah.

Dari lagi apa sih gunanya bertempur?

Mereka tidak sudi menjadi guru-guru Tiang Bu lagi dan akan lebih baik kalau anak itu dibawa dan juga kaiau mereka yang membunuh, mereka takut kelak dibunuh oleh Thai Gu Cinjln.

Betapapun juga akan pembalasan yang mungkin da-r tang dari fihak Wan Sin Hong!

"Sesukamulah, Thai Gu Cinjin.

Kami tidak membutuhkan bocah ini.

Sebaiknya kalau bocah ini dibunuh karena kelak ia hanya akan mendatangkan malapetaka saja."

Kata Ci Kui.

Thai Gu CinJin hanya tersenyum dan mengeluarkan suara ketawa menghina seakan-akan mentertawakan nasihat Ci Kui ini, kemudian dengan gerakan yang amat cepat ia berlari keluar daii hutan menpju ke selatan.

Untuk kesekian kali-nya; Tiang Bu terjatuh ke dalam tangan seorang sakti lain lagi yang akan meng-ubah seluruh keadaan hidupnya selanjutnya.

Mari kita menengok keadaan Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa yang sudah terlalu lama kita tinggalkan.

Telah diceritakan betapa tulang paha dari Hui-eng Niocu Siok Li Hwa parah terkena ledakan senjata rahasia dari serdadu-serdadu Mongol, kemudian Sin Hong terpaksa sekali menolong dan merawatnya karena kalau ia tidak mau, gadis itu pun tidak mau dirawat orang lain dan rela mati terlantar di dalam hutan!

Wan Sin Hong yang dapat mengenal watak orang rriaklum bahwa gadis seperti Li Hwa ini tidak takut mati dan akan membuktikan apa yang dikatakannya.

Oleh karena itu, juga karena ia memang kasihan dan suka kepada dara liar ini, ia memondong tubuh Li Hwa yang terluka, membawanya ke dalam sebuah goa yang menjadi tempat tinggal sementara karena Li Hwa tidak boleh kembali ke Hui-eng-pai kalau membawa laki-laki.

la merawat paha yang pecah tulangnya itu sehingga Li Hwa yang mencinta Sin Hong dengan seluruh jiwa raganya merasa amat bahagia!

Memang lucu sekali.

Alangkah mudahnya bahagia datang bagi orang yang dimabuk cinta!

Setelah berbulan-bulan hidup di dekat Siok Li Hwa, Sin Hong mendapat kenyataan bahwa gadis yang nampaknya liar dan keras ini, sesungguhnya mempunyai watak yang baik sekali dan berhati emas.

Selain Li Hwa amat mencintanya, juga gerak-gerik gadis itu makin meresap mencocoki seleranya, kelihatan manis, menarik dan menawan hati.

Heran dia!

Mungkinkah dia mencinta Li Hwa?

Atau mungkinkah cinta kasih gadis itu kepadanya yang amat mendalam mem-bawa pengaruh dan "menular"

Kepadanya?

Sin Hong menjadi bingung kaiau perasaan cinta kasih terhadap Li Hwa merangsang di hatinya.

la berpikir-pikir.

Dulu aku mencinta Gak Soan Li, lalu aku merasa bah-wa yang kucinta Go Hui Lian.

Sekarang.....

aku mencinta Siok Li Hwa!

Begini mudah berubahkah hatiku?

Begini mu-rah dan palsukah cintaku?

Aku tak boleh tergesa-gesa.

Harus kubuktikan lebih dulu apakah perasaanku kali ini betul-betul murni.

Sudah dua kali aku mecinta orang dan selalu gagal merangkai cinta kasih menjadi sebuah pernikahan yang membahagiakan.

Kali ini aku tak boleh gagal lagi dan tidak boleh sembarangan mengaku cinta sebelum aku tahu pasti bahwa perasaan yang timbul ini murni!

Selagi ia melamun itu, dari dalam goa keluarlah Siok Li Hwa, jalannya masih perlahan akan tetapi tidak terasa sakit lagi.

"Sin Hong, sepagi ini kau sudah melamun. Memikirkan apa sih?"

Tegur dara itu dengan suara manis.

Sin Hong terkejut mendengar suara orang yang sedang menjadi buah lamunannya itu.

la berpaling dan matanya bersinar melihat Li Hwa keluar dari goa.

Pakaiannya kumal, rambutnya awut-awutan dan matanya masih mengantuk Akan tetapi nampak cantik dalam pandang matanya, kecantikan aseli.

Sin Hong menekan kekaguman hatinya dan membelokkan perhatian gadis itu dengan tegurannya.

"Kau sudah tidak pincang lagi, Li Hwa. Akan tetapi hati-hati, jangan terlalu cepat berjalan! Dan kau bangun terlalu siang. Makin pagi makin baik merendam pahamu di telaga. Hayo ku-antar ke sand cepat-cepat, jangan "am-pai matahari keburu keluar!"

Li Hwa nnemandang kepada. pemuda itu dengan mata bersinar dan wajahnya yang sayu berseri. la menjura dan meng-angkat kediia tangan ke dada dengan sikap menghormat sekali,!alu berkata nadanya menggoda.

"Baiklah, Tuan Perawat. Hamba akan mentaati segala perintah Tuan."

Setelah berkata demikian gadis ini hendak lari ke telaga yang tak jauh dari situ letaknya.

"Bandel......!"

Sin Hong mendamprat dan di lain saat gadis itu sudah dipon-dongnya dan dibawanya lari ke telaga seperti yang setiap hari ia lakukan se-belum Li Hwa kuat berjalan.

Li Hwa menyandarkan kepalanya di dada Sin Hong sambii memejamkan ma-tanya.

Terasa enak dan nyaman dalam pondongan tangan yang kuat itu, seperti anak kecil dipondong ibunya, terayun-ayun dan penuh perasaan aman.

"Sin Hong, sudah seminggu lebih kau tidak memondongku. Aku sengaja keluar agak siang supaya kau khawatir aku terlambat merendam kakiku....." .

"Hemmmmm, kau memang bengal sekali. Jadi kau sengaja bangun siang dan memperlambat pergi merendam kaki ke telaga hanya agar aku memondongmu ke sini?"

"Habis, aku rindu akan pondonganmu sih!"

Jawabnya manja dan genit.

Sin Hong menurunkan Li Hwa di ping-gir telaga di atas sebuah batu yang ber-ada di pinggir telaga sehingga dengan duduk di atas batu itu Li Hwa dapat me-rendam kakinya dan dapat pula mandi seperti yang biasa ia lakukan apabila oada pagi hari merendam kaki.

"Mandilah, aku hendak pulang dulu,"

Kata Sin Hong. Kata-kata "pulang"

Ini memang sudah biasa mereka katakan kalau mereka bermaksud kembali ke dalam goa besar yang seakan-akan sudah menjadi rumah tinggal mereka.

Setelah berkata demikian, Sin Hong membalikkan tubuh hendak meninggalkan tempat itu agar Li Hwa dapat mandi dan merendah kaki dengan leluasa.

"Sin Hong, jangan tinggalkan aku.....!"

"Eh, eh, kau seperti anak kecil saja, Li Hwa. Bukankah sudah beberapa hari ini kau berendarn seorang diri?"

"Dulu kau selalu membantuku me-rendam kaki....."

Cela Li Hwa manja. Sin Hong memandang dan tersenyum gemas.

"Dulu. tulang pahamu masih belum tersambung benar, kau tidak bisa turun seorang diri. Sudah tentu aku membantu-mu. Akan tetapi sekarang..... kau sudah kuat, tidak saja dapat merendam kaki, akan tetapi juga dapat turun mandi. Apa kau ini anak kecil yang harus kumandikan?"

Tiba-tiba muka Sin Hong menjadi merah oleh kata-kata terakhir yang terlanjur ia ucapkan itu.

"Mengapa tidak.....?"

Li Hwa menjawab, senyum dan pandang matanya menantang sehingga muka Sin Hong men-Jadi makin merah.

"Sudahlah Li Hwa. Jangan main-main. Lekas kau mandi dan aku menunggu di depan goa."

"Sin Hong, kalau aku terjeblos ke dalam lubang di telaga lagi, aku sekarang takkan menjerit kalau kau pergi""

Sin Hong teringat ketika beberapa hari yang lalu ia meninggalkan Li Hwa mandi seorang diri, tiba-tiba ia men-dengar gadis itu menjerit.

Cepat bagai-kan terbang ia lari dari depan goa me-^ nuju ke telaga itu dan melihat gadjis itu .

tenggelam dan hanya kelihatan dua ta-ngannya saja di permukaan air.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya.

Tanpa ingat apa-apa lagi ia lalu melompat ke dalam air dan menolong gadis itu yang setelah ia tarik tangannya ternyata bah-wa gadis itu telah terjeblos ke dalam sebuah lubang yang dalam.

Setelah Li Hwa selamat baru ia insaf, bahwa ia berada dalam keadaan yang amat tidak pantas berdekatan dengan gadis yang baru mandi!

Cepat ia me-lepaskan Li Hwa yang sudah selamat dan melompat ke pinggir, dengan muka mem-belakangi Li Hwa ia mengomeli gadis itu yang tertawa-tawa!

Teringat akan ini, terpaksa Sin Hong tidak berani meninggalkan tempat itu dan ia mfrnarik napas panjang merasa kalah oleh gadis yang pintar menggoda dan keras kepala itu.

"Baiklah, aku akan menunggu di sini, akan tetapi jangan kau ke tengah. Mandi di pinggir juga cukup, mengapa mesti ke tengah di mana banyak lubangnya yang tak tersangka-sangka?"

Li Hwa tersenyum penuh kemenangan dan dia kini tanpa sungkan-sungkan lagi lalu menanggalkan pakaian dan merendam paha sekalian mandi.

la bermain-main dengan air bahkan sambil tertawa-tawa beberapa kali menggunakan air untuk dipercikkan ke pinggir ke arah Sin Hong.

Tiada hentinya ia menggoda pemuda itu dan mengajaknya bercakap-cakap.

Akan tetapi Sin Hong selalu menjawab tanpa menoleh.

Diam-diam Li Hwa makin suka nielihat sikap Sin Hong yang sopan ini, makin suka dan juga geli hatinya.

Perasaan wanitanya dapat meraba betapa sangat inginnya hati pemuda itu menoleh dan melihatnya namun, ditahan-tahannya.

Ini semua hanya karena Wan Sin Hong adalah seorang pemuda yang hebat, seorang pemuda yang berhati kuat, beriman teguh.

Pemuda pilihan dan karenanya Li Hwa menjadi makin cinta saja.

Sebetulnya, berkat perawatan Sin Hong yang amat telaten dan penuh per-hatian, juga karena pengobatan Sin Hong yang luar biasa, tulang paha yang patah itu sudah tersambung baik dan kaki Li Hwa sudah sembuh sama sekali.

Akan tetapi karena gadis itu takut kalau-kalau Sin Hong akan meninggalkannya, maka ia berlaku pura-pura masih sakit!

Gadis iru amat berkhawatir kalau-kalau Sin Hong akan pergi dari sampingnya dan hal ini akan merupakan siksaan batin baginya.

la tidak kuat lagi kalau harus berpisah dari dekat pemuda itu.

Setelah selesai merendam kakinya dan mandi, Li Hwa cepat mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian lagi.

Rambutnya yang hltam panjang itu dikepang dan diperasnya.

"Mari kita pulang, Sin Hong,"

Katanya setelah selesai. Baru Sin Hong mau menoleh dan memandang gadis itu yang nampak segar dan cantik, biarpun kini rambutnya menjadi tidak karuan karena basah.

"Marilah, aku hendak bicara sesuatu dengan kau, Li Hwa,"

Jawab Sin Hong. Mereka berjalan kaki berdampingan. Telaga itu terletak di sebelah barat goa sehingga ketika mereka "pulang"

Mereka menyongsong terbitnya matahari.

Pagi yang cerah dan indah.

Musim semi telah tiba sehingga hutan itu penuh bunga dan daun.

Burung-burung menyambut matahari, bunga-bunga tersenyum kepada mereka.

Pagi nan indah, Li Hwa berjaian perlahan di samping Sin Hong sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

Sesungguhnya gadis ini merasa amat gelisah karena kata-kata Sin Hong tadi.

la takut ditinggalkan, Akan tetapi ia menahan hatinya dan mengobati kegelisahannya dengan bernyanyl-nyanyi, Di antara anak buah Hui-eng-pai terdapat banyak wanita yang pandai bernyanyi dan Li Hwa yang mempunyal suara merdu mempelajari banyak macam nyanyian.

Sln Hong berjalan dengan pikiran penuh pertanyaan dan kesangsian.

Gadls di sampingnya ini memang aneh sekali.

Ia sampai merasa heran memikirkan mengapa Li Hwa demikian, mencintanya.

Belum pernah seingatnya ada wanita yang mencintanya sebesar cinta Li Hwa kepadanya.

Sudah beberapa kali para ketua Hui-eng-pai datang dan membujuk Ll Hwa untuk kembali seorang diri di Hui-eng-pai, menduduki kembali kedudukan ketua.

Akan tetapi tetap Li Hwa menolak.

"Tempatku adalah di dekat Wan-bengcu. Kalian kembalilah. Kalau perlu, bubarkan saja Hui-eng-pai. Aku tidak mau lagi memimpln dan aku akan hidup membantu Wan-bengcu."

Adapun Li Hwa yang bernyanyi-nyanyi kecil itu juga melamun.

Selama beberapa bulan ini Sin Hong hidup di dekatnya siang malam.

Belum pernah satu kali pun Sin Hong memperlihatkan bahwa pemuda itu membalas clnta kasihnya dan pemuda Ini selalu bersikap penuh sopan santun.

Akan tetapi, tak dapat disangkal pula bahwa Sin Hong selalu menjaganya, selalu merawatnya dan wajah yang tarnpan dan tenang Itu nampak bcrserl gembira setiap kali mendapat kenyataan bahwa kakinya berangsur sembuh.

Apakah benar-benar pemuda ini tega meninggalkannya?

Tidak, la akan menolak untuk ditinggalkanl Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa dadanya berdebar gelisah ketika mendengar kata-kata Sln Hong yang menyatakan hendak bicara sesuatu dengan dia.

Karena kegelisahan inilah maka Li Hwa untyk sementara lupa akan peranannya sebagai seorang gadis yang "tak pernah sembuh kakinya".

Biasanya ia selalu berpura-pura kakinya masih sakit dan belum sembuh betul sehingga jalannya tak begitu cepat.

Akan tetapi sekarang, saking tegangnya perasaan, ia berjalan cepat dan terus mengikuti Sin Hong yang sengaja mempercepat langkahnya.

Setelah mereka tiba di depan goa, Sin Hong berhenti dan memutar tubuh menghadapi Li Hwa sambil berkata.

"Li Hwa, kakimu sudah sembuh. Ja-lanmu sudah kuat dan cepat!"

Li Hwa kaget sekali. Baru la sadar bahwa ia tadi telah berjalan cepat sekali, terlalu cepat bagi seorang yang kakinya masih sakit! "Tidak..... tidak.....!"

La tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tahn bahwa kali ini ia tidak dapat membohong lagi.

la hanya berdiri bingung dan mukanya berubah pucat, matanya terbelalak lebar seperti orang ketakutan.

Melihat keadaan gadis ini, Sin Hong menghela napas dan berkata perlahan setelah dua kali menelan ludah, sukar baginya untuk mengeluarkan suara pada saat itu.

"Li Hwa, setiap pectemuan tentu akan berakhir dengan perpisahan. Kini sudah? tiba masanya kita harus berpisah."

"Tidak..... Sin Hong, kau tidak boleh meninggalkan aku.....!"

Kata-kata ini dikeluarkan dengin nada menjerit akan tetapi keluarnya perlahan sekali seperti bisikan yang serak terhalang isak.

Mata yang terbelalak itu mulai membasah, bibir yang berbentuk indah dan berwarna merah itu mulai menggigil dan digigit"

Gigitnya menahan tangis.

"Sin Hong..... jangan tinggalkan aku!!"

Dan tiba-tiba gadis ini menjatuhkan dirinya berlUtut di depan Sin Hong, menundukkan kepala. Pundaknya bergoyang-goyang dan isaknya ditahan-tahannya.

"Sin Hong...... kau boleh tinggalkan aku setelah kaubunuh dulu aku....."

Melihat ini, kembali Sin Hong merasa ada debar aneh di dalam dadanya, la cepat memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkat bangun.

Mereka berdiri berhadapan.

kedua tangan Sin Hong ma-sih menyentuh pundak Li Hwa.

"Li Hwa, angkat muka dan berlakulah gagah! Tidak semestinya kau berlutut di depanku. Li Hwa, kau melarang aku pergi, apakah selama hidupku aku harus berdiam di sini di goa ini seperti..... mahluk jaman purba? Aku telah ditugas-kan sebagai seorang bengcu dan pekerja-anku banyak. Apa akan kata orang di dunia kalau Wan-bengcu menyembunyikah diri saja di sini bersamamu?"

"Sin Hong,"

Li Hwa berkata dengan air mata masih menetes turun di kedua pipinya.

"Kau boleh pergi dari sini, akan tetapi aku ikut! Kalau kau pergi meninggalkan aku dengan paksa..... aku..... aku akan membunuh diri!"

Sin Hong menarik napas panjang. Hal ini sudah ia duga, bahkan ia sudah mengerti bahwa dara ini pasti akan berkata demikian.

"Li Hwa, apa kau sudah pikirkan masak-masak apa artinya ucapanmu? Kau adalah seorang ketua perkumpular yang besar. Hidupmu di sini sudah senang dan mewah. Kau ikut aku? Aku ini orang apakah? Tidak karuan tempat tlnggalku, lagi pula, kau sendiri tidak tahu bahwa kini kedudukanku terancam, tokoh-tokoh selatan memusuhiku, orang-orang dari utara mengarah nyawaku, dan agaknya tokoh-tokoh di daerah Cin juga sudah muJai tak percaya kepadaku karena aku keturunan pangeran bangsa Cin. Kau mau ikut aku? Kau tahu bahaya setiap waktu mengancam diriku dan kaJau kau ikut, berarti kau pun terancam bahaya pula."

Mendengar ini, Li Hwa memandang kepada Sin Hong dengan marah. Matanya bersinar-sinar seperti mengeluarkan api.

"Sin Hong, kaukira aku ini gadis macam apakah? Kau pemberani, apa kaukira aku pun takut mati? Apalagi hanya menghadapi bahaya, biarpun harus menyerbu lautan api, kalau bersamamu aku rela dan berani! Sin Hong harus berapa kalikah aku menyatakan bahwa hidupku hanya untukmu seorang? Tanpa kau disampingku lebih baik aku mati!"

"Li Hwa...... Li Hwa.....! Tentu saja aku tahu akan cinta kasihmu kepadaku dan aku percaya sepenuhnya akan pe-rasaanmu yang murni itu. Aku merasa amat berbahagia bahwa seorang serendah aku mendapat penghormatan sebesar ini, mendapat cinta kasih seorang gadis se-pertimu. Baiklah, Li Hwa. Hal ini me-mang sudah kupertimbangkan masak-masak. Kau boleh ikut dengan aku, se-lamanya sampai kau bosan."

"Kau gila......!"

Li Hwa bersorak seperti anak kecil lalu memandang ke-pada Sin Hong dengan bibir cemberut.

"Sin Hong, kau benar-benar gila kalau mengira aku akan menjadi bosan."

Sin Hong tersenyum, diam-diam ter-haru sekali melihat gadis ini.

"Li Hwa, dengarlah baik-baik. Kita sudah sama-sama dewasa, bukan orang-orang muda yang masih hijau. Kita sama tahu apa artinya dan apa bahayanya apabila kita berdua selalu berkumpul dan melakukan perjalanan bersama. Li Hwa, marilah kita duduk dan mari kita bicara sebagai se-orang laki-laki dan seorang perempuan dewasa yang penuh pengertian dan ber-pandangan luas. Aku perlu membuka isi hatiku sebelum melakukan perjalanan berdua bersamamu."

Dengan wajah berseri dan muka kemerahan karena kata-kata yang baru diucapkan oleh Sin Hong itu Li Hwa mengangguk dan rn6reka memilih tempat duduk di atas batu-batu hitam yang ba-nyak terdapat di tempat itu, di bawah lindungan bayangan pohon yang teduh.

"Li Hwa, mari kita selidiki keadaan kita masing-masing. Dan mari kita mem-buka isi hati secara jujur."

Sin Hong memulai dan wajahnya yang nampak sungguh-sungguh membuat Li Hwa ber-debar dan gadis ini tidak berani main-main dan berjenaka seperti biasanya.

"Lebih dulu aku akan bicara tentang dirimu. Kau seorang gadis yang menjadi ketua Hui-eng-pai, kau telah rela meng-hadapi kekurangan dan kesengsaraan ka-rena kau mencinta kepada seorang se-perti aku dan sudah sewajarnyalaH kalau kau menjadi seorang isteri yang berbudi dan membahagiakan hati suamimu. Li Hwa yang biasanya paling berani bicara terus terang seperti ini dan yang biasanya dia menjadi pihak penyerang dalam percakapan seperti ini, sekarang mendengar kata-kata Sin Hong mukanya menjadi merah sekali sampai ke telinganya dan ia hanya menundukkan muka seperti seorang gadis dusun yang malu-malu! "Untuk dirimu tidak ada yang perlu ditinjau lagi. Kau sudah jelas seorang gadis yang berhati murni dan cinta kasni-mu tulus ikhlas dan suci. Sekarang marilah kauperhatikan diriku."

Suara Sin Hong yang bersungguh-sungguh itu menarik perhatian Li Hwa sepenuhnya sehingga gadls ini mengangkat mukanya dan menatap wajah pria yang menjadi pilihan hatinya ini.

"Dahulu aku pemah merasa jatuh cinta. Akan tetapi oleh karena aku masih hijau sekali, aku sendiri tidak tahu pasti siapakah yang kucintai itu."

"Kau mencinta Go Hui Lian."

Li Hwa memotong, suaranya tenang saja tanpa rasa cemburu. Sin Hong menggelengkan kepalanya.

"Belum tentu, Li Hwa. Pertama-tama bertemu dengan Gak Soan Li hatiku tertarik, kemudian bertemu Go Hui Lian aku pun merasa tertarik. Kalau mau dikata bahwa aku mata keranjang, buktinya melihat lain-lain wanita aku tidak tertarik. Karena itu aku merasa bahwa hatiku tidak tetap terhadap wanita dan bahwa cinta kasihku kepada dua orang yang kusebutkan itu mungkin sekali palsu. Aku merasa menyesal sekali mengapa hatiku mudah berubah dan merasa betapa cinta kasihku terlalu murah. Oleh karena inilah, maka menghadapi kau yang sepenuh jiwa mencintaku, aku menjadi bingung dan ragu-ragu. Ragu-ragu terhadap hatiku sendiri. Aku tidak mau main-main dengan cinta lagi sebelum aku yakin betul apakah benar-benar aku mencinta orang.

"Li Hwa, aku tak dapat menolak permintaanmu untuk ikut dengan aku. Bukan hanya karena aku takut kau betul-betul akan membunuh diri, bukan hanya karena aku merasa bahwa cinta kasih sebesar cinta kasihmu itu sungguh keji kalau ditolak. Akan tetapi terutama sekali, setelah aku berkumpul dengarikau selama beberapa bulan ini, aku pun..... merasa berat untuk berpisah."

Li Hwa tersenyum manis sekali, mukanya ditundukkan dan matanya mengerling ke wajah Sin Hong. Hatinya girang bukan main, hanya dia sendiri yang tahu! "Akan tetapi,"

Sin Hong buru-buru menyambung kata-katanya.

"Aku tidak berani sembrono dan sembarangan saja menyatakan bahwa aku pun cinta kepada-mu, Li. Hwa. Aku tidak mau membuat kesalahan lagi dalam hal ini. Aku tidak akan berani menyatakan cintaku sebelum aku yakin betul karena aku tidak sudi menipumu dengan cinta palsu yang keiak akan luntur! Biarlah kita melakukan per-jalanan bersama. Biarlah orang lain menganggap bagaimanapun juga. Paling perlu kita menjaga diri, menjauhkan se-gala perbuatan yang tidak patut. Biar kita menguji hati kita sendiri. Kalau kelak ternyata bahwa aku betul-betul mencintamu, Li Hwa, aku takkan ragu-ragu lagi meminangmu sebagai isteriku. Kalau bukan demikian halnya hatiku terhadapmu, biarlah kelak kita menjadi saudara saj"a. Bagaimana pendapatmu?"

"Sin Hong aku menurut saja segala kehendak hatimu, asal saja aku kau bolehkan berada di sampingmu. Kau sudah bicara secara jujur, aku girang men-aengar ini, sungguhpun aku sudah tahu bahwa kau memang seorang yang amat menjaga kebersihan hati dan perbuatan dan memang kau amat jujur. Baiklah dan sekarang kaudengar pengakuanku tentane Cintaku padamu. Tentu saja aku mencintamu seperti seorang wanita mencinta pria kekasihnya dan ingin menjadi isterimu, mgin menjadi ibu daripada anak-anakmu. Akan tetapi jangan kira bahwa cintaku kepadamu hanya karena nafsu muda semata, Sin Hong. Aku tidak punya orang tua, maka aku pun mencintamu seperti seorang anak mencinta orang tuanya.

"Aku sudah ingin sekali menjadi ibu ttiaka aku pun mencintamu seperti seorang ibu mencinta puteranya. Aku tidak punya saudara maka aku pun mencintamu seperti seorang saudara kandung. Tentu saja kebahagiaan hidupku akan sempurna andaikata kau sudi mengambilku sebagai isterimu, menjadikan aku ibu dari anak-anakmu. Akan tetapi, tanpa itu pun aku dapat hidup asal aku selalu berada di sampingmu, Sin Hong. Tentu saja aku akan berterima kasih sekali kalau kau pun membalas cinta kasihku, akan tetapi andaikata tidak, aku cukup puas asal kau tidak membenciku!"

Bukan main terharunya hati Sin Hong mendengar kata-kata yang panjang lebar, kata-kata yang sesungguhnya setiap hari telah berpancaran keiuar dari kerling mata gadis itu, membayang melalui senyum-senyumnya.

Sampai basah kedua mata Sin Hong ketika ia menatap wajah gadis i.tu dan tak terasa pula kedua tangannya bergerak maju, ditaruh di atas pundak gadis itu.

Sampai lama mereka berpandangan.

"Setidaknya kau..... kau tentu suka kepadaku, bukan?"

Tanya Li Hwa, suara-nya sayu, mengibakan.

"Tentu saja, L! Hwa. Kaulah satu-satunya orang yang paling kusuka di dunia ini."

Tiba-tiba Li Hwa bangkit berdiri dan tertawa geli, menutupi mulutnya.

"Kau bohong!"

Seteiah percakapan Serius itu selesai timbul kembali sifatnya yang jenaka dan suka menggoda.

"Tidak, Li Hwa, demi kehormatanku, aku tidak berbohong! Memang aku suka kepadamu."

Li Hwa mengangkat muka, menegak-kan kepaia, membusungkan dada dan melangkah maju menantang sampai dekat sekali dengan Sin Hong. Pandang matanya penuh ejekan ketika ia berkata, nada suaranya menantang.

"Betulkah kau suka kepadaku? Aku tidak percaya sebelum kaubuktikan kata-katamu""

Sewaktu-waktu kalau Li Hwa sudah inenggodanya dengan kebinalan macam ini, hampir saja pertahanan hati Sin Hong roboh.

Masih teringat ia akan godaan-godaan Li Hwa ketika kakinya belum sembuh.

Tentang jerit di telaga ketika gadis itu "tenggelam"

Padahal ia tahu hanya pura-pura saja!

Menggodanya dengan segala macam kata-kata jenaka dan sikap menantang.

Kini menghadapi sikap Li Hwa seperti itu, diam-diam Sin Hong mengerahkan hawa dan menekan debar jantungnya,, kemudian kedua tangannya memegang kepala gadis itu, kedua tangan di bawah telinga kanan kiri, mengangkat muka yang manis itu lalu.....

diciumnya kening Li Hwa seperti seorang ayah mencium anaknya atau seorang kakak mencium adiknya!

Namun perbuatan ini sudah membuat seluruh muka Sin Hong dan Li Hwa men-jadi merah seperti udang direbus dan kedua kaki Sin Hong menggigil seakan-akan ia terserang demam!

"Nah, itulah tandanya bahwa aku suka kepadamu, Li Hwa."

Biarpun sudah me-ngerahkan tenaga, tetap saja suara Sin Hong terdengar gemetar.

Li Hwa tidak menjawab, melainkan menjatuhkan tubuhnya dengan lemas ke depan, menyandarkan kepala di dada kekasihnya lalu menangis tersedu-sedu!

Sin Hong mendekap kepala itu sambil melongo, melihat ke kanan kiri seperti monyet disumpit, tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Baru kali ini ia melihat Li Hwa menangis tersedu-sedu.

Air matanya membanjir seakan-akan air mata itu sudah Jama dibendung dan kini pecah bendungannya, membanjir membasahi baju Sin Hong.

Tidak kepalang Li Hwa me-nangis, suaranya sampai hampir menggerung-gerung seperti anak kecil ditinggal pergi ibunya.

"Eh, eh...... kaukenapa.....? Li Hwa, kau mengapakah.....?"

Baru kali ini selama hidupnya Sin Hong mengalami hal yang membuatnya terheran-heran dan juga kebingungan.

Karena Li Hwa tidak i menjawab, akhirnya Sin Hong membiar-kannya saja menangis sepuasnya sampai air mata yang keluar dari mata gadis itu menembusi bajunya dan membasahi dada dan perutnya.

Akhirnya habis juga air mata yang "dikuras"

Oleh Li Hwa dan gadis itu menegakkan kepalanya kembali.

Matanya menjadi agak kemerahan, juga seluruh mukanya kemerahan, dan dadanya masih terisak-isak.

Akan tetapi ketika.

Sin Hong menatapnya penuh kekhawatiran, ia menggaruk-garuk kepalanya dan mata serta mulutnya terbuka heran.

Gadis yang terisnk-isak itu tersenyum!

Mukanya berseri-seri gembira!

"Li Hwa.....!"

Seru Sin Hong setelah akhirnya ia dapat mengeluarkan kata-kata.

"Kau atau akukah yang sudah berubah menjadi gila??"

Senyum Li Hwa melebar sehingga"

Nampak giginya yang putih mengkilap."

"Apa maksudmu, Sin Hong?"

"Kau tadi menangis seakan-akan aku telah mampus, dan sekarang kau tertawa! Apa artinya ini?"

"Aku menangis karena..... bahagia dan senang hatiku, Sin Hong."

Jawab gadis itu sambil menyusuti air mata yang menn-basahi mukanya.

Kemudian ia melihat ke dada dan perut Sin Hong di mana baju-nya sudah basah kuyup.

Meledaklah ke-tawanya dan Li Hwa menuding-nuding ke arah perut Sin Hong.

Sin Hong menggeleng-geleng kepala dan akhirnya ikut tertawa juga.

"Li Hwa, lain kali-kalau bersenang hati, jangan membikin kaget orang. Kalau senang hati kau menangis seperti itu, apakah kalau bersusah hati lalu tertawa-tawa?"

Li Hwa menghentikan tawanya, lalu berkata dengan wajah sungguh-sungguh.

"Sin Hong, kau marahkah? Maafkan aku kalau aku tadi membikin kaget kau. Biar-lah lain kali aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku tadi."

Melihat sikap Li Hwa, Sin Hong men-jadi menyesal mengapa tadi ia mencela.

Ia lebih suka melihat gadis itu bersikap sewajarnya.

la menyukai keadaan Li Hwa yang aseli seperti tadi, tidak dibuat-buat bersungguh-sungguh seperti sekarang ini.

"Tidak, tidak sekali-kali aku marah. Aku malah ikut gembira. Jangan kau mengubah perangai dan kebiasaanmu setiap kali aku menegurmu, Li Hwa. Kalau kau ingin menangis, menangislah seperti tadi. Aku..... tidak apa-apa hanya tadl kaget dan..... dan basah semua dada dan perutku....."

Li Hwa tertawa lagi melihat sikap Sin Hong yang kelihatan tidak karuan, agap-gugup dan lucu ini.

Akhirnya mereka berkemas.

Lalu Li Hwa pergi seorang diri ke Hui-eng-pai, menjumpai tokoh-tokoh Hui-eng-pai untuk berpamit.

"Maafkan, terpaksa aku meninggalkan Hui-eng-pai oleh karena aku mempergunakan hak hidupku untuk mengejar kebahagiaan. Terserah kepada kalian untuk membubarkan Hui-eng-pai ataukah untuk melanjutkannya. Akan tetapi, kalau diteruskan, hendaknya ingat bahwa aku selalu takkan mendiamkannya saja apa-bila Hui-eng-pai dibawa ke jalan sesat. Biarpun aku bukan menjadi ketua Hui-eng-pai lagi, namun namaku akan terbawa kalau Hui-eng-pai menyeleweng, dan aku-lah yang akan menghukum dengan kedua tanganku sendiri!"

Dengan kata-kata pesanan ini, Li Hwa lalu berangkat setelah mengambil barang-barangnya yang aer-harga untuk dibawa sebagai bekal.

Ba-nyak anggauta Hui-eng-pai menangis ketika Li Hwa pergi meninggalkan mereka.

Akan tetapi, Li Hwa sudah melupakan mereka lagi setelah ia menuruni bukit dengan Sin Hong di sampingnya.

Hatinya gembira sekaJi.

Betapa tidak?

Menjadi isteri Sin Hong atau pun tidak keiak, ia akan tetap selalu berada dij dekat Sin Hong dan ini berarti bahwa idam-idaman hatinya telah terpenuhi.

Selama Sin Hong berkumpul dengan Siok Li Hwa di dalam goa dan meng-obati kaki gadis itu, ia telah mencerita-kan kepada Li Hwa bahwa bocah yang diculiknya dari Kim-bun-to itu sesungguhnya bukan putera Go Hui Lian dan Coa Hong Kin.

Tadinya Sin Mong tidak hendak menceritakan atau membuka rahasia ini, akan tetapi Li Hwa selalu menyatakan penyesalannya bahwa putera Hui Lian yang dicuJiknya hanya untuk memancing Sin Hong datang dan untuk membalas dendamnya karena Hui Lian telah "merebut"

Hati Sin Hong, kini telah Jenyap dibawa oleh Pak-kek Sam-kui. Melihat betapa Li Hwa benar-benar merasa menyesal, dan tahu pula akan sifat-sifat gadis itu, akhirnya Sin Hong membuka rahasia Tiang Bu.

"Bocah itu,"

Katanya.

"diberi nama Coa Tiang Bu dan semenjak masih bayi dipelihara oleh Hui Lian. Dia bukan anak Hui Lian dan Hong Kin."

"Pantas saja kalau begitu! Aku sering. kali merasa heran mengapa bocah ini mukanya buruk, padahal Hui Lian cantik dan Hong Kin tidak buruk rupa,"

Kata Li Hwa.

"Kalau begitu, dia itu anak siapa-kah? Sungguhpun rupanya tidak tampan"

Akan tetapi harus kuakui bahwa anak itu nnempunyai tulang dan bakat yang baik sekali. Aku tidak main-main ketika hen-dak mengambilnya sebapai murid, karena kulihat dia memang berbakat sekali."

"Memang demikian dan sayang sekall dia bukan anak dari Hui Lian dan Hong Kin. Akan tetapi kiraku bagi mereka sama saja karena diambil anak sejak kecil."

"Dia itu anak siapakah?"

Sin Hong menarik napas panjang.

"Kasihan sekali anak itu. la terlahir dari perbuatan yang sejahat-jahatnya, berayah seorang manusia siluman. Li Hwa, sebetulnya rahasia ini hanya diketahui oleh aku, Hui Lian, dan Hong Kin saja dan belum pernah diceritakan kepada orang lain."

"Hemm, kalau begitu janganlah di-ceritakan kepadaku, karena tak baik membuka rahasia orang. Bagiku sih sama saja, karena aku sudah tahu dia itu anak siapa."

"Kau tahu.....?"

"Tentu saja! Bukankah dia itu anak Liok Kong Ji dan Gak Soan Li?"

"Eeeeh..... bagaimana kau bisa tahu, Li Hwa?"

"Sin Hong, apa kaukira aku Ini orang sebodoh-bodohnya? Dahulu di puncak Ngo-heng-san sudah kudengar tentang Soan Li mempunyai anak yang tidak ada ayahnya. Kemudian kau tadi menyebut-nyebut manusia siluman, siapa lagi kalau bukan Liok Kong Ji? Mudah saja meng-hubung-hubungkan semua itu bukan?"

"Memang tepat sekali dugaanmu, Li Hwa. Tiang Bu adalah anak Liok Kong Ji dan Gak Soan Li. Akan tetapi, bocah itu semenjak kecil dipelihara oleh Hui Lian, dan dia bersama Hong Kin amat mencinta Tiang Bu. Oleh karena bocah itu hilang dari rumah mereka karena per-buatanmu, kita harus mencarinya dan membawanya kembali ke Kim-bun-to."

"Baiklah kalau kau menghendaki demikian."

Hanya ini jawaban Li Hwa ketika itu dengan hati mengkal karena ia belum yakin apakah kelak Sin Hong mau membawanya.

Setelah kemudian ternyata bahwa Sin Hong mau menerimanya merantau berdua.

Li Hwa mengingatkan soal Tiang Bu ini.

"Sin Hong, ke manakah tujuan per-jalanan kita? Apakah kita akan langsung menoari Tiang Bu di utara? pak-kek Sam-kui adalah pembantu-pembantu setia dari Raja Mongol, maka kalau benar-benar mereka terus membawa Tiang Bu, bocah itu tentu dibawa ke utara dan se-baiknya ke sanalah klta menyusul."

Akan tetapi Sin Hong tidak menye-tujui dan menjawab.

"Tidak sekarang Li Hwa. Aku pun menduga demikian, akan tetapi memasuki daerah Mongol pada waktu sekarang bukanlah hal yang mudah. Bahaya besar mengancam kalau kita memasuki daerah Temu Cin itu. Bukan sekali-kali aku takut menghadapi bahaya, akan tetapi kalau sampai aku tewas da-lam perjalanan berbahaya itu, bukankah aku akan mati sebagai seorang bengcu yang mengecewakan? Aku hendak ke Lu-liang-san lebih dulu, hendak kukumpulkan para tokoh besar yang dulu mengangkat-ku sebagai bengcu dan kukembalikan kedudukan ini. Setelah aku terlepas dari-pada ikatan tugas sebagai bengcu, baru-lah aku akan pergi mencari Tiang Bu."

Maka berangkatlah Sin Hong dan Li Hwa menuruni Gunung Go-bi-san, me-iakukan perjalanan yang cepat ke sela-tan.

Sin Hong kelihatan tenang-tenang saja akan tetapi Li Hwa nampak gem-bira, wajahnya berseri-seri dan alam yang terbentang luas di depannya ke-lihatan baru dalam pandangannya, baru dan serba indah menyenangkan.

Larinya cepat sekali dan agaknya kakinya sudah tak sakit sama sekali.

Diam-diam Sin Hong tersenyum di dalam hatinya kalau la teringat.betapa baru kemarin gadis ini masih berpura-pura sakit kakinya dan berjalan perlahan agak pincang!

"Gadis bengal.....!"

Di dalam hatinya ia mengomel, akan tetapi ia merasa senang.

"Bocah setan..... kau telah berani menipuku.....! Kurang ajar kau, sepatut-nya dipecahkan kepalamu!"

Sambil berlari dengan langkah lebar Thai Gu Cinjin memaki-maki Tiang Bu yang dikempit di bawah lengan tangan kirinya sedangkan tongkat kepala naga itu dipukul-pukulkan ke kanan kiri sehingga pohon-pohon tum-bang dan batu-batu pecah.

Ngeri hati Tiang Bu menyaksikan amukan kakek gundul yang tinggi besar seperti raksasa ini.

Tenaga pukulan tongkat itu benar-benar dahsyat dan mengerikan.

"Berani kau membakar kitab peninggalan Hoat Hian Couwsu dan menghafal isinya. Hah, kau berani mendahuluiku? Setan alas! Kiranya dalam penjelmaan dulu rohku pernah berhutang kepada rohmu sehingga dalam penjelmaan sekarang ini kau membalasku, menagih janji."

Hwesio Lama dari Tibet itu terus-terusan mengomel panjang pendek tentang hu-bungan roh-roh dan tentang hukum karma.

Tiang Bu hanya mendengarkan saja penuh perhatian dan ia mendapat kenyataan bahwa pendeta Lama ini benar-benar seorang pemuja hukum karma, yakni hukum yang menyatakan bahwa roh manusia setelah meninggal akan menjelma pula dalam tubuh lain akan tetapi hubungan-hubungan dengan roh lain di waktu hidup yang lalu akan terulang kembali.

Tagih-menagih hutang, balas-membalas dendam!

"Apa yang harus kulakukan?

Apa?

Membunuhmu, aku kehilangan isi kitab.

Membiarkan kau hidup juga tak mungkin karena kau telah menipuku!"

Demikian pmelan terakhir pendeta Lama itu.

"Losuhu, mengapa bingung? Dalam penjelmaan yang dulu teecu adalah muridmu, sekarang pun demikian pula."

Kaget hati Thai Gu Cinjin mendengar ini sampai-sampai ia menghentikan!ang-kahnya dan melepaskan Tiang Bu dari kempitannya.

Bocah itu terguling di atas tanah, tubuhnya sakit-sakit akah tetapi ia merasa lega telah terlepas dari him-pitan lengan yang berbulu dan kuat itu.

"Apa maksud kata-katamu tadi?"

Ben-taknya dengan mata merah.

"Teecu merasa yakin bahwa dalam penjelmaan yang dahulu, teecu adaiah murid Losuhu. Buktinya begitu berternu dengan Suhu, tanpa disengaja Suhu telah menurunkan sebuah pelajaran ilmu silat kepada teecu dan takut kitab itu terjatuh ke dalam tangan orang lain, teecu telah menghafalkan di luar kepala semua isinya lalu membakar kitabnya. Bukanlah itu namanya jodoh? Kemudian, tak tersangka-sangka pula, Suhu telah menolong nyawa teecu dari ancaman Pak-kek San-kui! Bukankah ini bukti ke dua dari adanya jodoh? Sekarang mengapa Losuhu menjadi bingung seorang diri? Bagi teecu tidak ada bedanya, mau dibunuh atau tidak apa sih perbedaannya?"

"Eh, Setan Cilik. Bagaimana kau bilang tidak ada bedanya?"

"Kalau Losuhu membunuh teecu, tentu Losuhu akan terbunuh pula oleh teecu. Dalam penjelmaan mendatang, mungkin teecu menjadi orang yang lebih kuat untuk membalas kematian teecu di tangan Suhu. Dengan demikian, teecu berhutanglah dan pada penjelmaan berikutnya Suhu yang membunuh teecu lagi dan Suhu yang berhutang. Kalau Suhu meng-hendaki permusuhan yang tiada habisnya antara dua roh kita, sekarang Suhu mau bunuh teecu, bunuhlah!"

Thai Gu Cinjin terkenal sebagai seorang tokoh besar yang selain pandai juga senang menipu orang.

Banyak sekali pnuslihatnya sehingga ia disegani dan ditakuti orang.

Akan tetapi ia mempunyai satu cacad besar, cacad yang ada hu-bungannya dengan kedudukannya sebagai seorang pendeta Lama.

Sebagaimana telah menjadi tradisi dan kepercayaan mutlak para Lama, ia amat percaya akan hukum tumbal lahir (re-incarnation).

Oleh karena itu, kata-kata yang diucapkan Tiang Bu tadi termakan benar-benar oleh hatinya.

"Sebaliknya kalau Suhu tidak menghendaki balas-membalas selama roh kita belum musnah apa salahnya kalau Suhu mengambiil teecu sebagai murid dan pelayan?"

Thai Gu Cinjin meraba-raba kepalanya yang gundul pelontos. Keningnya berkerut. la berpikir keras.

"Hemm, kau tentu keturunan roh yang sudah maju sehingga masih kecil sudah bisa bicara seperfi itu.....! Kau betul juga, kalau kau menjadi muridku berarti kau selalu berada di samplngku dan tidak akan dapat menggunakan Pat-hong-hong-i sewenang-wenang dan sesuka-sukamu sendiri. Di samping itu kau harus taNl bahwa kitab itu bukan milikku, melainkah milik Tiong Jin Hwesio, seorang di antara dua kakek sakti di Omei-san. Kalau kau sudah tahu akan hal ini, kau pun tentu tahu bahwa kalau kakek itu tahu kitab-nya hilang ia tentu akan mencari kita."

"Dan Suhu tidak kuat menghadapi Tiong Jin Hwesio?"

Tanya Tiang Bu.

"Apa kau sudah gila? Tiong Sio Hwesio dan Tiong Jin Hwesio adalah orang-orang sakti di masa ini. Merekalah pewaris-pewaris dari kitab-kitab peninggalan Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Couwsu. Siapa bisa melebihi mereka? Barangkali hanya orang-orang yang telah mewarisi kitab-kitab lain dari Tat Mo Couw-su, seperti mendiang guruku dan guru Ang-jiu Mo-li, orang-orang seperti itulah yang bisa menandingi dewa-dewa Omei-san""

Mendengar ini, hati Tiang Bu tertarik sekali.

Tetah berkali-kah ia bertemu dengan orang-orang yang berkepandaian tinggi.

la sudah bertemu dengan Hui-eng Niocu yang lebih lihai, lalu Pak-kek Sam-kui yang lebih lihai lagi.

Sekarang ini ia menjadi murid Thai Gu Cinjin yang malah lebih lihai daripada Pak-kek Sam-kui.

Akan tetapi pendeta Lama ini merasa dirinya tidak berarti ketika ia bicara tentang dua orang hwe-sio yang ia sebut "Dewa"

Omeisan!

Alangkah banyaknya orang pandai di dunia ini, pikir Tiang Bu dan diam-diam ia rnerasa amat .

girang bahwa ia telah menghafal sebuah kitab dari Omei-san.

Memikirkan ini kegirangan hatinya karena diterima menjadi murid Thai Gu Cinjin menjadi berkurang dan ia ingin sekali bisa menjadi murid "Omei-san itu.

Akan tetapi ia tidak dapat melamun lebih lanjut oleh karena Thai Gu Cmjin sudah melepaskan buntalan itu kepadanya sambil berkata.

"Mulai sekarang, kau ikut aku. Bawalah buntalan ini."

Tiang Bu tidak berani membantah.

la baru saja terlepas dari bahaya maut lagi.

Pendeta Lama ini tidak jadi membunuh-nya bahkan mengambUnya sebagai murid.

Akan tetapi Tiang Bu adalah seorang anak yang cerdik.

la maklunn bahwa be-lum tentu pendeta ini mengampuninya.

Siapa tahu kaiau Thai Gu Cinjin hanya ingin menguras isi kitab itu daripadanya, kemudian setelah dapat mempelajari Pat-hong-hong-i lalu membunuhnya.

Hal ini mungkin sekali bagi seorang seperti Thai Gu Cinjin.

Tidak ada penjahat yang hatinya lebih kejam daripada seorang pendeta yang jahat!

Oleh karena itu, ia berlaku amat hati-hati dan waspada.

Benar saja seperti yang ia duga, Thai Gu Cinjin mulai menyuruh ia setiap hari berlatih Pat-hong-hong-i.

"Ilmu silat yang tinggi dan tidak ada Orang lain mengetahuinya itu bukan ilmu sembarangan, Tiang Bu. Maka harus kaulatih sampai sempurna betul. Biar aku yang mengawasi kalau-kalau ada yang keliru."

Tiang Bu di dalam hatinya berpikir.

Bagaimana dia bisa mengetahui mana yang keliru kalau selamanya dia sendiri belum mempelajari Pat-hong-hong-i?

Aku tak boleh terkena bujukannya.

Dengan cerdik sekali Tiang Bu lalu mengubah-ubah gerakan Pat-hong-hong-i.

Tentu saja di depan seorang ahli silat tinggi seperti Thai Gu Cinjin ia tidak berani mengawur saja dan bersilat de-ngan tidak karuan.

la ma.sih mainkan Pat-hong-hong-i, akan tetapi selain de-ngan gerakan tangan kaku tak karuan, juga ia sengaja mencampur-campur Pat-hbng-hong-i dengan Sam-hoan Sam-bu dan Hui-houw-tong-te dalam gerak kakinya.

"Heran sekali, mengapa Pat-hong-hong-i hanya ilmu silat picisan,"

Kata Thai Gu Cinjin terheran-heran.

"Masa Hoat Hian Couwsu meninggalkan ilmu silat macam begini?"

Akan tetapi ia masih mengandung harapan lain.

Pikirnya, barangkali bukan salah Ilmu Silat Pat-hong-hong-i, melainkan bocah ini yang tidak becus.

Kemudian ia teringat bahwa Tiang Bu hanya menghafal di luar kepala dan tentu saja berlatih send^ri tanpa pimpinan jadinya tidak karuan.

Aku harus sabar, pikirnya periahan-lahan dan sedikit demi sedikit ilmu ini tentu pindah ke-pada aku dan dapat kusaring serta aku ambil aselinya.

Demikianlah, dengan pikiran seperti ini, sampai berbulan-bulan Tiang Bu ikut kakek itu merantau, sama sekali ia tidak tahu bahwa kakek itu nnengajaknya ke daerah selatan.

Diam-diam Tiang Bu merasa girang dan juga geli karena akal bulusnya berhasil menipu Thai Gu Cinjin.

Pada suatu sore Thai Gu Cinjin mengajak Tiang Bu beristirahat di pinggir sebuah kelompok pohon setelah mereka keluar dari padang tandus yang tanahnya mengandung pasir.

Mereka telah rnelaku-kan perjalanan setengah hari lebih diterik panas.

Bagi Thai Gu Cinjin hal ini bukan apa-apa.

Kakek ini dapat bertahan untuk berjalan terus tiga hari tiga malam.

Akan tetapi Tiang Bu yang belum tinggi kepandaiannya, telah kehabisan tenaga dan napas.

la amat berterima kasih keti-ka kakek itu mengajaknya mengaso.

Apa-lagi tempat itu amat teduh dan nyaman sekali kalau dibandingkan dengan daerah "yang dilaluinya setengah hari tadi.

Thai Gu Cinjin sebentar saja mendengkur dan melenggut di bawah pohon, bersila seperti patung Buddha Tiang Bu termenung dan pikirannya melayang-layang.

Sudah empat tahun lebih ia meninggalkan rumah orang tuanya di Kim-bun-to.

la teringat akan semua keluarganya dan diam-diam ia menahan tangisnya.

Bukan kepalang rindunya kepada ayah bundanya, terutama sekali kepada Lee Goat.

Tentu sekarang sudah besar, sudah enam tujuh tahuo usianya, pandai bermain-main dan pandai bicara.

Ketika ia pergi, Lee Goat baru berusia dua tahun.

la tentu lupa kepadaku, pikir Tiang Bu sedih.

Bilakah ia akan dapat pulang?

Kalau saja aku bisa lari dari Thai Gu Cinjin ini, pikirnya.

Akan tetapi lari dari kakek sakti ini tak mungkin.

Biarpun kakek ini melenggut dan mendengkur, tak berani Tiang Bu meninggal-kannya.

Bocah ini sudah banyak berkurn-pul dengan orang-orang pandai sehingga ia tahu bahwa mereka ini lihai sekali.

Pula, andaikata ia dapat melarikan diri dari Thai Gu Cinjin, ia harus pergi ke mana?

Jalan menuju ke Kim-bun-to ia tak tahu.

Andaikata ia ketahui dari bertanya-tanya, kalau jauh sekali dan tidak membekal uang bagaimana?

"Aku harus bersabar,"

Pikirnya.

"aku , harus giat belajar. Kalau sudah memiliki kepandaian apa sih (Lanjut ke

Jilid 08) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 sukarnya pulapg ke Kim-bun-to? Pula ayah dan ibu"

Yang kabarnya pandai sekali ilmu silat meng-apa tak pernah mengajarku?

Aku suka ilmu silat dan kalau aku pulang tidak boleh belajar bagaimana?, Tiang Bu membolak-balik pikiranya demikian asyik ia termenung sehingga ia tidak melihat adanya dua orang yang datang ke tempat itu.

Mereka ini adalah seorang laki-laki dan seorang wanita.

Tadinya mereka hendak melewati saja kakek yang melenggut dan bocah jembel yang melamun di bawah pohon itu, akan tetapi ketika mereka melihat wajah Tiang Bu, tiba-tiba mereka menahan kaki dan laki-iaki itu bertanya ragu.

"Bukankah bocah itu yang kita cari...? Wanita itu menoleh, memandang penuh perhatian kemudian berseru girang sekali.

"Betul dia Tiang Bu.....!"

Mendengar namanya disebut orang, baru Tiang Bu mengangkat kepala dan memandang.

Ketika ia melihat dua orang itu dan mengenal wanita yang menyebut namanya, kagetnya bukan main.

Wanita itu bukah lain adalah Hui-eng Niocu Siok Li Hwa yang ia takuti dan benci!

Dan laki-laki itu adalah laki-laki gagah yang dulu pernah merampasnya dari Li Hwa di Go-bi-san.

Laki-laki gagah dan tampan yang agaknya bermaksud baik menolongnya, akan tetapi yang tidak dikenalnyal sama sekali.

Mengapa mereka sekarang datang bersama?

Melihat Li Hwa, Tiang Bu merasa khawatir sekali.

la takut kalau diculik lagi oleh wanita cantik itu.

Ia pernah merasai kegalakan Li Hwia di waktu dulu, maka ia merasa lebih senarig ikut Thai Gu Cinjin daripada, ikut Li Hwa.

Karena pikiran ini ia lalu menggoyang-goyang lengan pendeta Lama itu sambil berkata.

"Suhu..... , Suhu..... bangunlah. Ada orang-orang datang.....!"

Tentu saja Thai Gu Cinjin tadi sudah mendengar kedatangan dua orang itu akan tetapi karena tidak menyangka buruk, ia tidak peduli dan meramkan terus matanya.

Kini setelah Tiang Bu menarik-riariknya, ia membuka rnata, mengangkat muka memandang.

Melihat dua orang muda yang datang, pendeta Lama ini kembali menundukkan muka dan memejamkan matanya, sama sekali ia Ss tidak mau peduli.

Pendeta Lama yang berilmu tinggi ini memang agak sombong.

la tidak mau berurusan dengan segala orang muda tak berarti.

Orang-orang muda seperti itu bisa apakah?

Biar me-reka bicara dengan Tiang Bu kalau me-reka butuh, tak perlu ia melayani mereka!

Melihat sikap gurunya ini, Tiang Bu menjadi gelisah.

Apalagi sekarang dua orang itu bertindak menghampiri.

Dari jauh Li Hwa sudah menegur.

"Tiang Bu, selama ini kau ke mana sajakah? Kami mencari-carimu sampai payah!"

Kedua tangan wanita itu dijulur-kan ke depan seakan-akan hendak me-nangkap. Tiang Bu makin ketakutan.

"Suhu.....! Suhu.....! Mereka datang hendak menculik aku!"

Teriaknya kepada Thai Gu Cinjin sambil mengguncang-guncang lengan kakek ini. Thai Gu Cinjin membuka lagi matanya dan wajahnya kelihatan mendongkol ketika ia mengomeli muridnya.

"Kau ini kenapakah ribut-ribut tidak karuan mengganggu orang mengaso? Ke mana nyalimu? Kau memalukan orang yang menjadi guru saja. Siapa sih berani menculikmu? Kalau orang tidak memiliki nyawa cadangan mana berani mengganggu!"

Setelah melempar lirikan memandang rendah kepada Li Hwa dan Sin Hong, pendeta Lama ini menutupkari matanya kembali! "Tiang Bu, mengapa kau berada disini dengan ba....."

Li Hwa menghentikan kata-katanya, karena tiba-tiba Sin Hong memegang pundaknya.

Ketika ia menengok ia melihat Sin Hong mengerutkan kening dan menggeleng-gelengkan kepaia menegurnya dan mencegahnya, menge-luarkan kata-kata kasar.

Memang Li Hwa tidak sesabar Sin Hong.

Mendengar ucapan dan melihat sikap pendeta gundul itu, ia merasa dipadang rendah dan dipandang hina sekali, maka serta merta darahnya naik.

Tadi ia tentu akan melanjutkan makiannya dengan kata-kata "bangsat tua!

bangka"

Atau "bajul"

Atau badut gundul". Akan tetapi oleh cegahan Sin Hong, ia cepat membelokkan makiannya ketika disambungnya lagi.

"dengan bajut ini?"

Makian "bajut"

Memang tidak begitu kotor dan menghina. Tiang Bu mengandalkan Thian Gu Cinjin maka kekhawatirannya berkurang. Ia-menjawab dengan lantang.

"Ini adalah Suhuku, harap Jiwi jangan ganggu teecu lagi. Teecu suka menjadi muridnya."

Li Hwa memandang kepada Sin Hong yang juga ternyata sedang memandangnya sambil tersenyum.

"Nah, itulah! Seperti juga nasib suka atau tidak disuka orang tergantung sepenuhnya atas sikap kita. Kau dulu kiranya tidak bersikap terlalu manis terhadap Tiang Bu maka dia sekarang begitu ketakutan melihatmu. Li Hwa, insyaflah kau sekarang akan pentingnya sikap manis budi, apalagi terhadap seorang bocah?"

Li Hwa menggigit bibirnya yang merah sambil mengangguk-angguk.

Memang selama melakukan perjalanan dengari kekasihnya ini, ia sering kali?

diperlakukan seperti seorang murid dan harus mendengarkan "kuliah"

Dari Sin Hong bukan hanya tentang perangainya, juga tentang ilmu silat, ilmu berlari cepat dan lain-lain. Mendengar ucapan Sin Hong ini, tiba-tiba Thai Gu Cinjin berkata tanpa membuka matanya.

"Orang muda seperti gentong kosong, nyaring bunyinya, hanya; angin tsinyat^ Sudah tahu nasib tergantung kepada sikap, mengapa tidak lekas-lekas pergi dan jangan mengganggu orang mengaso?"

Sin Hong dan Li Hwa menjadi serba salah.

Menurut patut memang mereka harus segera pergi dari situ.

Tiang Bu sudah menjadi murid orang ini dan tidak suka mereka bawa dan kakek ini tidak sudi diajak bicara, mau apa lagi.

Sebagai seorang gagah Sin Hong merasa malu untuk melakukan hal tidak pantas.

Kalau Tiang Bu berada di tangan pak-kek Sam-kui, ia boleh menerjang dan merampas kembali anak ini.

Akan tetapi bocah ini kini telah menjadi murid seorang pendeta Lama yang nampaknya tak boleh dipandahg ringan.

"Tiang Bu, Ibumu di rumah bersedih, menanti kembalimu!"

Tiba-tiba Li Hwa berkata.

Memang Hui-eng Niocu amat cerdik dan banyak akal.

la maklum akan kehalusan budi Sin Hong yang pasti tidak mau melakukan kekerasan terhadap pendeta Lama itu seperti yang ia hendak lakukan, maka satu-satunya jalan ialah membujuk Tiang Bu.

"Kami datang untuk mengantarkan kau pulang ke rumah Ibumu, Tiang Bu."

Hati Tiang Bu tergerak. Akan tetapi ia berlaku hati-hati dan tidak mudah dibujuk.

"Kalau Niocu begitu baik hendak mengantarkan aku pulang mengapa dahulu menculikku dari rumah?"

Bantahnya yang membuat Li Hwa terpukul dan terce-ngang.

Akan tetapi Li Hwa seorang yang cerdik dan banyak akal.

Cepat ia dapat rnenguasai kebingungannya dan tersenyum manis.

Sayang Tiang Bu roasih kanak-kanak, andaikata ia sudah dewasa kira-nya segala kemarahan akan banyak ber-kurang menghadapi senyum semanis itu!

"Anak yang baik, kau tidak tahu.

Da-hulu memang ada pertikaian antara orang tuamu dan aku, pula aku ingin mengambilmu sebagai murid.

Sekarang aku dan orang tuamu sudah berbaik kembali.

Marilah Nak, kauikut kami pulang ke Kim-bun-to.

Ibumu menanti-nanti!"

Tiang Bu menggeleng kepala.

"Tak mungkin Ibu berduka karena aku hilang. Buktinya dia tidak mencari aku sampai bertahun-tahun!"

Dalam kata ini terkandung rasa sedih dan sakit hati.

Memang kadang-kadang timbul penasaran dan sakit hati dalam dada Tiang Bu kalau ia terkenang betapa ayah bundanya yang berkepandaian tinggi seperti yang sering ia dengar dibicarakan dan dipuji-puji oleh para pelayan, sama sekali tidak pernal"

Menyusul dan mencarinya!

Jawaban itu kembaii membuat Li Hwa melengak.

Lalu ia mengira bahwa anak ini tidak begitu sayang atau tidak begitu disayang oleh ibunya.

Mungkin Coa Hong Kin lebih menyayanginya.

Cepat ia berkata.

"Tiang Bu, selain Ibumu bersedih menanti-nantimu, juga Ayahmu amat mengharapkan kedatanganmu. Marilah ikut kami pulang!"

Kembali Tiang Bu menggeleng kepala.

"Kelak kalau aku sudah kuat, aku dapat pulang sendiri."

Sin Hong yang maklum akan maksud akal yang diperguriakan oleh Li Hwa, lalu membantu dengan kata-kata yang ramah.

"Tiang Bu, anak baik. Kami cukup mengerti betapa kau telah menderita bertahun-tahun. Ayah bundamu tiada hentinya memikirkan kau dan sudah mencari-cari tanpa hasil, juga adikmu amat mengharapkan dan merindukan pulangnya kakaknya."

Kata-kata ini seperti pisau menancap di jantung Tiang Bu.

Diingatkan akan adiknya yang katanya rindu kepadanya, tak tahan pula matanya menjadi basah dan merah.

Entah bohong atau tidak, orang ini, akan tetapi tak dapat diragu-kan lagi bahwa adiknya pasti amat merindukannya, pikirnya.

"Siapakah kau.....?"

Tanyanya kepada Sin Hong.

"Aku sahabat baik ayah ibumu. Percayalah kepada kami. Kami betul-betul datang untuk mengajak kau pulang."

"Lee Goat....."

Tiang Bu menyebut nama adiknya perlahan, wajah adiknya yang mungil terbayang di depan matanya.

"Sudah besarkah dia? Sudah pandai bicarakah? Apakah dia nanti masih mengenal aku.....?"

Melihat bahwa disebutnya adiknya membuat bocah itu terpikat, Sln Hong lalu berkata.

"Adikmu sudah besar. Marilah kaulihat sendiri di rumah. Dia tentu akan girang sekali kalau kau pulang."

"Pulang.....?"

Tiang Bu menoleh kepada Thai Gu Cinjin dan pada muka anak ini terbayang kekhawatiran.

Sln Hong dan Li Hwa yang bermata awas dan cerdik maklum bahwa tentu Tiang Bu takut kepada pendeta itu, maka berkatalah Sin Hong cepat-cepat.

"Ya, pulang ke Kim-bun-to, Tiang Bu. Suhumu tentu akan memberi ijin kepadamu."

Tiba-tiba Thai Gu Cinjin menggerakkan tongkatnya dan tahu-tahu tongkatnya yang panjang sudah disodorkan ke depan, melintang di depan Sin Hong dan Li Hwa, merupakan palang menghalangi mereka maju.

"Tidak, Tiang Bu. Kau muridku dan harus taat kepada perintahku. Kau takkan ke Kim-bun-to, melainkan ikut ke mana pun juga aku pergi. Kelak kau akan ikut dengan aku ke Tibet!"

Setelah menyemprot muridnya dengan kata-kata ini ia lalu menoleh kepada Sin Hong dan Li Hwa, memutar kedua matanya dengan marah lalu berkata.

"Orang-orang muda tak tahu gelagat! Apa kalian mau mencari penyakit atau kalian sudah bosan hidup? Tadi sudah kukatakan jangan mengganggu aku dan lekas pergi!"

"Maafkan kami, Losuhu,"

Kata Sin Hong sambil menjura.

"Sesungguhnya kami datang untuk mengajak pulang anak ini yang dulu dirampas oleh Pak-kek Sam-kui dari tangan kami."

Mendengar ini, Thai Gu Cinjin makin memandang rendah. Kalau terhadap Pak-kek Sam-kui saja mereka ini kalah, ber-arti kepandaian mereka ini kalau adapun amat tidak berarti. la tersenyum mengejek.

"Kalian ini sudah terpukul oleh Pak-kek Sam-kui masih bandel. Apa kaukira mudah saja merebut muridku ini? Lihat tongkatku ini. Kalau kalian bisa melewati tongkatku, baru aku bicara."

Setelah, berkata demikian, tongkat kepala naga itu dilonjorkan ke depan dengan tangan kanan, melintang setinggi dua kaki dari tanah.

Sin Hong merasa mendongkol sekali.

Kakek ini benar-benar sombong, pikirnya, Dapat dimengerti bahwa kalau orang seperti Sin Hong sabarnya bisa mendongkol, apalagi Li Hwa!

Nona ini sudah bercahaya matanya, kemerah-merahan pipinya dan jari-jari tangannya yang bagus itu sudah menggetar dikepal-kepal.

"Biar aku mencobanya. Masa melewati saja tak mampu?"

Kata Li Hwa perlahan kepada Sin Hong dengan mata penuh permintaan. Sin Hong tidak tega mencegah. la mengangguk dan berkata per-lahan.

"Berhati-hatilah kau."

Biarpun terang-terangan kakek gundul itu menantang mereka berdua, namun bukan watak Sin Hong dan Li Hwa untuk rnengeroyok orang begitu saja.

Mereka berdua adalah orang-orang yang berke-pandaian tinggi dan sudah percaya penuh akan kepandaian sendiri, maka amat memalukan kalau mereka maju berdua sebelum tahu bagaimana kekuatan lawan.

Hui-eng Niocu Siok Li Hwa adalah seorang ahli ilmu ginkang yang jarang ditemukan bandingannya.

Gerakannya amat cepat dan tangkas, tepat sekali dengan julukannya Nona Garuda Terbang!

Maka ia cepat-cepat mengajukan diri tadi karena dianggapnya betapa mudahnya melewati halangan berupa tongkat dipalangkan seperti itu!

Dengan gaya yang indah ia melangkah tiga tindak ke depan bersiap-siap lalu berkata nyaring.

"Kakek sombong, aku lewat!"

Cepat bagaikan anak panah menyambar tubuhnya meluncur ke depan melompati tongkat melintang itu dengan kedua lengan dikembangkan ke kanan kiri seperti seekor burung garuda terbang.

Inilah Ilmu Melompat Hui-eng-coan-in (Burung Garuda Menerjang Awan), cepat dan indah gerakan ini.

Akan tetapi kali ini Nona Garuda Terbang bertemu dengan batu!

Begitu itubuhnya melayang, pendeta Lama itu yang kembali sudah tunduk dan meram-kan mata dengan sikap memandang ren-dah sekali, telah menggerakkan tongkat ke atas dan tepat sekali tongkatnya itu, melakukan totokan ke arah iga dari tu-buh Li Hwa yang masih melayang itu.

Terdengar teriakan kaget disusul oleh ketawa terkekeh-kekeh.

Li Hwa yang melihat datangnya sodokan tongkat ini, terkejut sekali sampai menjerit.

Cepat ia melakukan gerakan berjungkir balik di udara, tangan kirinya menyambar ujung tongkat dan terpaksa ia melompat kem-bali ke tempat tadi, tidak berhasil me-lewati tongkat itu dan ditertawakan oleh Thai Gu Cinjin yang masih meramkant matanya!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Li Hwa.

la telah dihina orang yang menggagalkan lompatannya dengan mudah sambil meramkan mata!

Benar-benar ia dianggap seorang anak kecil yang bodoh!

"Heh-heh-heh-heh!

Masih untung ginkangmu lumayan.

Kau boleh coba agi, dengan pedang di tangan pun boleh kalau masih berani."

Kata-kata Thai Gu Cinjin yang kini membuka matanya dan memandang kepadanya dengan penuh ejekan membuat darah Li Hwa bergolak.

Secepat kilat tangannya bergerak meraba gagang pedang dan sinar hijau berkere-depan menyilaukan mata ketika pedang itu di laln saat telah terhunus.

"Pokiam (Pedang Pusaka) bagus! Asal saja kau bisa mempergunakannya!"

Kembali kata-kata dari Thai Gu Cinjin ini merupakan ejekan yang memandang rendah.

"Pendeta sombong, jagalah aku lewat!"

Teriak Li Hwa dan dengan gerakan cepat sekali ia melompat maju lagi dengan pedang diputar-putar di depannya la akan membabat putus tongkat pahjang itu apabila pendeta itu menghalanginya lagi dengan tongkatnya.

Betul saja, Thai Gu (Sinjin dehgari gerakan sembarangan saja menyodok dengan tongkat menghalangi majunya Li Hwa.

Gadis ini mengayun pedane, mengerahkan tenaga dan membacok tongkat dengan Cheng-liong-kiam.

Terdengar suara keras,, bunga api berpijar dan Li Hwa terkejut bukan main.

Bukan saja tongkat itu tidak putus oleh sabetan pedang, bahkan pertemuan antara dua senjata sehingga mengeluarkan bunga api ini mernbuat telapak tangannya per.ih tdari tergetar.

Dan di lain saat ujung tongkat itu telah menyerampang kedua kakinya!

Ini terang hanya gerakan untuk memper-maihkan dan menggertaknya saja.

Sambil menggigit bibir saking cemas, terpaksa Li Hwa melompat ke atas menyelamat-kan kedua kaki dari sabetan tongkat.

Akan tetapi tongkat itu menyusulnya cepat dan melakukan sodokan dari bawah mengarah perutnya!

Ini keterlaluan sekali!

Main-main yang sudah bukan merupakan main-main lagl melainkan penghinaan yang tidak pantas.

Li Hwa tidak mau menangkis dengan pedangnya, melainkan kedua kaki yaog tadinya ditarik ke atas, tiba-tiba ia lonjorkan dan dengan tepat ia menyambut ujung tongkat itu dengan tumit kakinya, kemudian dengan.

meminjam tenaga so-dokan tongkat iluu tubuhnya mumbul setinggi tiga atau empat tombak ke atas!

Dengan cara ini ia hendak sekaligus melewati pendeta itu dan menang!

"Lihai sekali!"

Teriak Thai Gu Cinjin melihat kehebatan ginkang dari nona itu dan Sin Hong juga diam-diam girang dan memuji kecerdikan Li Hwa yang dapat mempergunakan hinaan lawan untuk mencapai kemenangan.

Akan tetapi baik Li Hwa maupun Sin Hong menjadi terkejut sekali ketika tiba-tiba tongkat panjang itu "terbang"

Dari tangan kakek itu, meluncur ke atas seperti anak panah terlepas dari busurnya!

Serangan ini berbahaya sekali dan hanya seorang dengan ginkang tinggi seperti Li Hwa yang dapat menyelamatkan diri.

Melihat luncuran tongkat ke depannya itu, Li Hwa maklum bahwa kalau ia melanjutkan lompatannya, ia akan termakan oleh tongkat itu.

Untuk mengelak tak mungkin lagi, maka cepat ia memegang pedangnya dengan kedua tangan, diayun ke bawah memapaki datangnya tongkat dengan seluruh tenaganya.

Terdengar suara keras dan kembali bunga api berpijar.

Tongkat kena dihajar pedang terlempar ke bawah, akan tetapi juga tubuh Li Hwa terpental ke belakang kembali sehipgga ketika gadis ini me-lompat turun, ia.

masih belum melewati kakek yang telah memegang tongkatnya lagi!

"Li Hwa, kau mundurlah.

Biar aku mencoba-coba,"

Kata Sin Hong, maklum bahwa ia menghadapi seorang sakti yang tak boleh dipandang ringan sama sekali. Ia menjura kepada pendeta Lama itu sambil berkata.

"Maaf, Locianpwe. Aku yang muda mohon lewat!"

Setelah berkata demikian derigah larigkah tenang dan biasa saja Sin riong berjalan maju.

Thai Gu Cinjih biar-pun masih memandang rendah kepada laki-laki muda ini namun karena ia dapat menduga bahwa lawan kedua ini tentu lebih lihai daripada wanita tadi, memegang tongkatnya dengan kedua tangan, disodorkan merupakan palang yang mencegah Sin Hong lewat.

Kedua tangannya memegang ujung tongkat kuat-kua dan matanya memandang orang yang aatang penuh perhatian dan bersiap-siap.

Dengan sekilas pandang, Sin Hong mengukur kedudukan kakek itu dengan penuh perhitungan, kemudian ia berkata.

"Maaf, Locianpwe. Tongkatmu menghalangi jalan!"

La membungkuk dan menangkap tongkat itu dengan kedua tangan mengerahkan tenaganya untuk menekan tongkat itu ke bawah.

Thai Gu Cinjin kaget sekali.

la melakukan penjagaan dengan tongkat untuk mencegah orang lewat dan untuk menggebuk atau mendorong orang yang hendak melompati tongkatnya.

Tak disangkanya sama sekali bahwa orang muda ini menangkap tongkatnya dan menekannya ke bawah.

Tentu saja untuk mengadu tenaga, ia kalah kedudukan.

Orang muda itu memegang ujung sana tongkatnya dan menekan ke bawah.

Kalau ia harus mempertahankan dan mengangkat tongkat itu dari ujung sini, berarti tenaganya menjadi satu lawan sepuluh!

Akan tetapi Thai Gu Cinjin memang berwatak sombong.

Ia terlalu percaya akan kepandaiannya sendiri yang dianggapnya tidak ada bandingnya.

Di samping kesombongan ini, juga ia berpikir andaikata ia kalah tenaga, toh masih belum berarti bahwa pemuda itu dapat lewat.

Begitu tongkatnya dilepaskan oleh lawannya dan lawan itu hendak melompat lewat, ia masih "dapat menggebuk dari belakang!

Karena pikiran inilah maka Thai Gu Cinjin lalu mengerahkan seluruh teoaganya untuk mempertahankan tekanan Sin Hong.

Akan tetapi kakek inii sama sekali tidak tahu bahwa ia berha.dApan dengan Wan Sin Hong pendekar muda, yang berilmu tinggi sehingga tujuh delapan tahun yang lalu sampai memenangkani pemilihan bengcu di Ngo-heng-san!

Biarpun ia mengerahkan seluruh tenaganya, dengan amat mudah karena memang menang kedudukan sehingga dengan sepersepuluh tenaganya saja Sin Hong dapat menang-kan tenaga lawan ujung tongkat itu tentu ditekan, oleh Sin Hong sampai masuk ke dalam tanah!

Sin Hong terus menekan dan ujung tongkat itu amblas dan melesat terus makin lama makin dalam.

Thai Gu Cinjin terkejut.

la tak menyangka!

Memang, kekalahan adu tenaga ini tidak ia herankan oleh karena memang kedudukannya yang kalah, akan tetapi ia tidak pernah memperhitungkan bahwa pemuda itu bukan hanya menekan sekedar untuk melompati tongkat, melainkan bermaksud menekan terus sampai tongkat itu melesak ke dalam tanah sehingga mudah baginya mengendurkan tenaganya melawan.

Biarpun tongkat amblas ke dalam tanah, pikirnya asal saja masih kukerahkan tenagaku, begitu dilepaskan olehnya akan dapat tercabut kembali untuk mengemplang kepalanya dari belakang!

Di samping ilmu silatnya yang tinggi, Sin Hong juga memiliki otak yang sehat dan cerdik, maka ia sudah dapat menduga apa yang tersembunyi di balik pengerahan tenaga sia-sia dari kakek itu.

la menekan terus, kemudian pada saat yang baik ia melepaskan tongkat sambil berseru.

"Aku lewat!"

Tongkat yang tadinya terpendam da-lam tanah itu tiba-tiba tercabut membawa gumpalan-gumpalan tanah.

Sedianya tongkat itu dari bawah akan langsung menghantam tubuh Sin Hong yang me-lewatinya.

Akan tetapi dengan gerakan tenang-tenang saja Sin Hong menunda langkahnya, hanya untuk beberapa detik saja karena begitu tongkat itu tercabut dan melayang kuat ke atas, ia menerobos dari bawah tongkat!

Ketika Thai Gu Cinjin sadar bahwa ia kena tipu, orang muda itu sudah lolos dan sudah berdiri jauh melewatinya, tak dapat dihalanginya atau dicegah oleh tongkatnya lagi.

Wajah Thai Gu Cinjin menjadi merah sekali.

Keringat berkumpul di dahinya yang kelimis.

la memandang kepada Sin Hong dengan mata bersinar-sinar mengeluarkan hawa panas.

"Jahanam, kau telah menipuku! Kau lewat bukan mengandalkan kepandaian, melainkan mengandalkan tipu muslihat licik!"

Bentaknya marah. Sin Hong tersenyum dan menjura dari tempat ia berdiri.

"Locianpwe, seorang tua seperti Lo-cianpwe ini apa mungkin menelan kembali ludah yang sudah dikeluarkan?"

"Setan! Aku tadi berjanji kalau kalian dapat lewat baru aku mau bicara. Siapa menarik kembali omongan? Dengar baik-baik, aku berjanji lagi bahwa kalau kau sekarang dapat menghalangi aku lewat, aku takkan banyak omong lagi dan kau boleh membawa pergi bocah setan Tiang Bu""

Sin Hong mengerutkan alisnya.

la maklum bahwa ia menghadapi seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi berbatin rendah.

Dengan orang macam ini tak mungkin dicapai penyelesaian secara damai.

Kalau ia tidak memperlihatkan kepandaiannya, kakek iru pasti akan berlagak terus.

Maka ia segera siap meng-hadapi tantangan itu.

Memang kata-kata tadi sama dengan tantangan, karena ia dapat menduga bahwa kakek itu pasti akan berusaha keras untuk dapat melewatinya, biarpun untuk usaha itu ia harus membunuh lawannya.

Ini bukan merupakan peerjanjian atau pertaruhan biasa saja, melainkan menyangkut kehormatan maka tentu akan dipertahankan mati-matian.

Namun, Sin Hong masih memancing untuk mengetahui pasti isi hati lawan.

"Baiklah, Locianpwe. Memang aku dapat menduga bahwa akhirnya Locianpwe tentu akan mengembalikan bocah itu kepada kami. Harap Locianpwe jelaskan apakah Locianpwe hendak lewat dengan tangan kosong, ataukah dengan bantuan senjata?"

Thai Gu Cinjin menjadi mendongkol dan merasa disindir. Tapi orang muda ini memang telah berhasil "lewat"

Biarpun dengan cara menipu, dengan mengandalkan tangan kosong belaka.

Akan tetapi ia tidak mau berlaku bodoh seperti tadi tidak mau gagal oleh karena memandang rendah lawan.

Orang rnuda yang sikapnya tenang, matanya terang, bicaranya ramah seperti ini lebih baik jangan dipandang rendah.

"Aku sudah tua dan lemah, kemana-mana harus dibantu tongkatku ini."

Thai Gu Cinjin mengira bahwa orang muda itu tentu menjadi gentar dan mengajukan alasan supaya ia lewat dengan tangan kosong.

Kalau sampai terjadi demiklan, ia akan mendapatkan kembali mukanya dan dapat membalas orang muda itu dengan ejekan bahwa pemuda itu takut.

Akan tetapi ia kecele.

Sin Hong menarik napas panjang, tahu bahwa kakek ini menghendaki pertandingan silat dengan senjata.

Hal ini sama sekali tidak menggelisahkan hatinya, bahkan ia merasa lega.

Kalau kakek ini menggunakan tongkat yang berarti bersenjata, ia pun tidak malu-malu mempergunakan pedangnya.

Dan karena tongkat itu pun senjata ampuh seperti tadi telah terbukti ketika beradu dengan Cheng liong kiam maka ia tidak malu mempergunakan Pak kek Sin kiam dan takkan disebut mencapai kemenangan karena mengandalkan senjata pusaka.

"Baiklah, Locianpwe. Aku siap sedia. Kau cobalah untuk lewat!"

Katanya sambil mencabut pedangnya yang mengeluarkan cahaya lebih cemerlang daripada cahaya hijau dari Cheng liong kiam tadi. Melihat ini Thai Gu Cinjin tertegun dan kagum sekali.

"Banyak pedang bagus!"

Katanya.

"Kalau aku tak dapat lewat, kalian boleh bawa pergi Tiang Bu. Akan tetapi kalau sebaliknya, kalian harus meninggalkan pedang-pedang itu!"

Ternyata kakek inl tldak mengenal pedang Pak kek Sin kiam yang akan dikenal oleh ratusan tokoh-tokoh kangouw lainnya.

Hal ini tidak mengherankan oleh karena Thai Gu Cinjin baru sekarang turun gunung meninggalkan Tibet.

Tidak seperti banyak orang sakti yang selalu mengunjungi Tibet, di waktu dahulu pemilik pedang ini, Pak kek Siansu belum pernah ke Tibet.

Oleh karena inilah maka tokoh-tokoh besar Tibet ini tidak mengenal Pak kek Sin kiam, baik nama maupun rupa.

"Kalau Locianpwe yang menang apa yang hendak kau lakukan, baik yang patut maupun yang tidak kami akan dapat berbuat apakah?"

Kata Sih Hong yang sudah berdiri dengan pedang melintang di tangan kanan.

Pemuda ini tenang sekali.

Dengan pedang di tangan memang Sin Hong boleh merasa tenang.

Dalam hal ilmu pedang kiranya Pak-kek Kiamsut sukar dlcari bandingannya, apatagi kalau ilmu pedang ini dimainkan oleh Sin Hong yang mempelajarl dengan sempurna, ditambah dengan Pak-kek Sinkiam di tangannya pula!

Andaikata ia menghadapi kakek itu dalam pertempuran tangan kosong, belum tentu ia akan setenang dan sepasti itu untuk mencapal kemenangan.

Thai Gu Cinjln tentu saja merasai sindiran Sin Hong ini.

Dengan marah ia mengayun tongkatnya tinggi-tinggi di atas kepala, memutar-mutarnya sehingga mengeluarkan angin dan bersuara mengaung seperti kitiran angin.

"Awas aku lewat. Minggir.....!!"

Bentaknya menerjang maju.

Melihat ini, diam-diam L.i Hwa meleletkan lidahnya yang merah.

Kakek itu benar-benar berbahaya sekali, pikirnya.

Dari gerakan tongkat dan angin yang menyambar-nyambar saja gadis ini pun tahu bahwa kakek itu berkepandaian tinggi dan bertenaga besar.

Ia takkan merasa aneh kalau saja mendengar bahwa kakek ini merampas Tiang Bu dari tangan Pak kek Samkui, karena dapat diduga bahwa kepandaian kakek ini memang lebih tinggi daripada kepandaian Pak-kek Samkui.

Sin Hong menggerakkah pedangnya menangkis.

Seperti juga tadi ketika tongkat bertemu dengan Cheng liong kiam, terdengar suara keras dan terlihat sinar api berpencaran.

Thai Gu Cinjin merasa tangannya kesemutan.

Kagetlah ia dan cepat-cepat ia menarik kembali tongkatnya untuk diperiksa apakah tidak rusak.

Ia melihat tongkat itu tidak apa-apa, hanya warna lapisannya lecet-lecet.

Ia memandang kepada Sin Hong yang berdiri tenang-tenang saja.

Bukan main heran hatinya.

Akan tetapi keheranannya terganti kemarahan yang memuncak.

Kehormatannya tersinggung.

Masa ia harus kalah oleh seorang bocah seperti ini?

Kini ia menggeram dan melangkah maju.

Lenyap sama sekali keinginan hatinya hendak lewat saja terganti oleh nafsu merobohkan atau mengalahkan pemuda berpedang pusaka ini.

"Robohlah!"

Bentaknya dan kini tongkatnya dimainkan dengan gerakan silat yang kuat dan cepat juga amat aneh gerak-geriknya.

Muka Thai Gu Cinjin yang berwarna ungu itu kini berubah merah gelap.

Sin Hong mengelak cepat dan membalas dengan serangan pedangnya.

Ia harus bertaku awas karena menghadapi gerakan ilmu tongkat yang amat aneh.

Namun, Pak kek Kiamsut memang bukan ilmu pedang sembarangan dan di dalam ilmu pedang ini terdapat segala macam gerakan untuk menghadapi macam-macam lawan.

Sebentar saja pedangnya tenyap berubah menjadi gundukan sinar yang menyilaukan mata, yang membendung hujan pukulan tongkat dan membalas dengan kecepatan halilintar menyambar-nyambar membuat Thai Gu Cinjin terkejut bukan main.

Baru sekarang Thai Gu Cinjin mendapat kenyataan dan terbuka matanya bahwa yang dapat mengalahkannya di dunia ini bukan hanya kakek-kakek sakti di Omeisan dan Angjiu Moli iblis wanita dari utara itu.

Ilmu pedang orang muda ini hebat sekali, bahkan kalau ia bandingkan dengan ilmu pedang dari Angjiu Moli yang pernah ia lihat kiranya tidak kalah lihai.

Sementara itu, Siok Li Hwa mendekati Tiang Bu yang melihat pertempuran itu dengan mulut ternganga dan mata terbelalak.

Hampir ia tidak percaya akan penglihatannya sendiri menyaksikan pertempuran yang hebat bukan main itu, Thai Gu Cinjin kelihatan seperti raksasa mengamuk.

Tongkatnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang panjang seperti seekor naga hitam, nampaknya dahsyat dan mengerikan.

Di lain fihak lawannya telah lenyap, hanya bayangannya saja kadang-kadang nampak di antara gulungan sinar pedang yang berkelebatan cepat.

Pemandangan itu mirip dengan hari hujan di mana sinar tongkat itu merupakan mendung hitam sedangkan sinar pedang merupakan sinar kilat yang menyambar-nyambar dan diantara mendung dan kilat itu bertempur seorang raksasa ganas melawan seorang dewa yang tampan!

Yang amat mengherankan hati Tiang Bu, bagaimana orang muda itu dapat melawan Thai Gu Cinjin?

Selama ini, orang yang dianggapnya paling lihai hanyalah Thai Gu Cinjin yang dengan mudah merampasnya dari tangan Pak-kek Samkui yang begitu jahat dan menakutkan.

Akan tetapi sekarang pertempuran itu berjalan demikian seru dan siapakah di antara mereka yang lebih unggul.

"Tiang Bu, apakah kau tidak mengenal orang yang hendak menolongmu supaya kau bisa pulang? Tidak kenalkah kau akan orang yang sekarang bertempur melawan pendeta Lama itu?"

Pertanyaan dari Li Hwa yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya ini mengejutkan hati Tiang Bu. Ia menggeleng kepalanya, akan tetapi matanya terus mengincar ke arah dua orang yang tengah bertempur.

"Apakah Ayah Bundamu dahulu belum pernah menyebut nama Wan Sin Hong di depanmu?"

Tanya pula Li Hwa terheran-heran. Mendengar disebutnya nama ini, tiba-tiba Tiang Bu teringat. Pernah sambil lalu ketika Tiang Bu minta ayah ibunya mengajar ilmu silat, ibunya berkata.

"Kelak saja kau boleh belajar ilmu silat kepada pendekar besar yang menjadi pemimpin semua ahli persilatan, yaitu Wan bengcu."

Ketika ia mendesak dan bertanya siapa adanya Wan bengcu itu, ibunya menjawab.

"Dia adalah sahabat baik ayah bundamu bahkan dia masih terhitung Susiokku (Paman Guruku). Namanya Wan Sin Hong dan kiranya di dunia ini tidak ada orang yang dapat menandingi ilmu silatnya."

Demikianlah yang ia ingat tentang nama Wan Sin Hong.

Jadi orang yang lihai inilah Wan Sin Hong yang oleh ayah bundanya hendak dijadikan gurunya?

Tiang Bu memandang makin tertarik akan tetapi sayang matanya belum begitu awas untuk dapat mengikuti jalannya pertempuran yang cepat itu.

Melihat ini, Li Hwa menoleh ke arah pertempuran lalu berkata dengan suara pasti.

"Dia pasti akan menang. Pernahkah Ayah Ibumu menyebut nama Wan Sin Hong?"

Kini Tiang Bu mengangguk dan matanya bersinar gembira. Li Hwa juga merasa senang karena sekarang anak itu agaknya percaya kepadanya dan tidak curiga seperti tadi.

"Siapakah Kakek Gundul sombong itu? Apa betul dia gurumu?"

"Dia bernama Thai Gu Cinjin, pendeta Lama dari Tibet,"

Jawab Tiang Bu tanpa mengalihkan pandangan matanya dari medan pertempuran.

"Teecu dipaksa menjadi muridnya setelah dia merampas teecu dari tangan Pak-kek Samkui. Aduuhh..... kenapa itu.....??"

Tiba-tiba Tiang Bu menuding ke arah pertempuran yang mengalami perubahan.

Kini ia melihat Sin Hong, nampaknya orang muda itu kelelahan atau entah mengapa.

Akan tetapi jelas gerakan Sin Hong tidak seperti tadi, pedangnya mulai tidak karuan dan tiba-tiba Thai Gu Cinjin yang kini sudah mengeluarkan sebuah saputangan merah membentak.

"Orang muda, lepaskan pedangmu dan berlututlah!"

Aneh sekali!

Sin Hong terhuyung-huyung berusaha menetapkan langkahnya namun tak berhasil akhirnya ia benar-benar jatuh berlutut, hanya Pak-kek Sinkiam masih di tangannya.

Apakah yang terjadi?

Setelah bertempur selama lima puluh jurus, Thai Gu Cinjin yang sombong itu harus mengakui keunggulan Wan Sin Hong.

Sudah dua kali dalam lima puluh jurus itu Sin Hong membuktikan keunggulannya.

Dengan ilmu pedangnya yang luar biasa itu, ia telah berhasil membabat putus ujung lengan baju dan ujung jubah lawannya.

Oleh karena maklum pemuda yang dihadapinya memiliki ilmu pedang yang tinggi sekali dan kalau dilanjutkan tentu ia akan kalah, Thai Gu Cinjin lalu mempergunakan ilmu sihirnya.

Kaum Lama di Tibet pada umumnya memuja roh suci, terutama sekali roh suci dari Buddha yang mereka percaya selalu jutsi (menjelma) menjadi seseorang yang mereka pilih menjadi Dalai Lama.

Kalau kaum Lama ini memuja roh suci yang mereka harapkan dapat memimpin mereka ke arah jalan kebenaran, adalah kaum Lama jubah merah ini memuja atau mengadakan hubungan dengan roh-roh jahat atau roh-roh penasaran, bukan untuk memuja guna kebaikan jalan hidup, melainkan dipuja untuk dipergunakan bantuannya dalam menjalankan ilmu-ilmu hitam.

Tingkat ilmu silat Wan Sin Hong memang sudah amat tinggi dan kiranya tidak banyak orang-orang sakti di dunia ini yang akan dapat mengalahkannya dalam ilmu silat.

Akan tetapi dia masih muda dan pengalamannya tentu saja masih belum cukup banyak.

Belum pernah ia berhadapan dengan lawan yang mempergunakan ilmu sihir untuk menyerangnya.

Kalau lawannya mempergunakan pukulan atau serangan dengan senjata-senjata berbisa, kiranya mengandalkan kepandaiannya yang tinggi ia akan dapat menyelamatkan diri.

Akan tetapi kali ini Thai Gu Cinjin mempergunakan ilmu sihir atau hoat-lek (ilmu gaib) dengan mempengaruhi dan menguasai semangat Sin Hong melalui pandangan mata, gerak tangan penuh rahasia, dan suara perintah yang menyeramkan.

"Orang muda, lepaskan pedangmudan berlututlah!"

Bentaknya dan Sin Hong terhuyung-huyung, berusaha menetapkan langkahnya namun tak berhasil dan akhirnya menyerah terhadap kekuasaan aneh yang memaksa dan menguasainya.

Ia jatuh berlutut, hanya Pak-kek Sinkiam masih di tangannya, tergenggam erat-erat.

Ini tepat dengan wataknya, agaknya pedang pusaka di tangan takkan dilepaskannya!

Semboyan "mati hidup dengan pedang di tangan"

Menjadi pedoman setiap orang gagah. Thai Gu Cinjin tertawa bergelak melihat lawannya yang muda dan lihai itu sudah takluk di bawah pengaruh sihirnya.

"Orang muda sombong, baru kau tahu kelihaian Thai Gu Cinjin. Kaukira aku tidak bisa melewatimu? Minggirlah!"

Sambil berkata demikian tongkatnya yang panjang itu meluncur cepat ke arah ulu hati Sin Hong.

Biarpun kedua kakinya seperti lumpuh dan tak berdaya, menghadapi serangan maut ini, otomatis tenaga dan hawa sinkang di dalam tubuh Sin Hong bekerja dan seakan-akan tanpa ia gerakkan lagi tubuhnya sudah miring membuat gerakan mengelak!

Akan tetapi serangan Thai Gu Cinjin bukan seperti serangan tukang silat sembarangan saja.

Kepandaian kakek ini sudah tinggi dan melihat tubuh itu mengelak, ia pun mengejar dengan tongkatnya.

"Brukkk.....!!"

Dada sebelah kanan dari pemuda itu terdorong ujung tongkat. Tubuh itu mencelat sampai empat tombak lebih, terbanting bergulingan lalu rebah tertelungkup di atas tanah tak berkutik.

"Sin Hong.....!!"

Li Hwa lupa akan segalanya.

Gadis ini melompat dan mengejar Sin Hong, lalu menubruk dan memelukinya.

Dipangkunya kepala Sin Hong, didekap ke dadanya dan ia memperhatikan muka kekasihnya itu.

Darah segar mengalir keluar dari mulut Sin Hong, membuat bibirnya menjadi merah berlepotan darah.

Mukanya pucat sekali dan matanya terpejam.

"Sin Hong.....! Bangunlah.....! SinHong, jangan kau mati...... jangan tinggalkan aku, Sin Hong.....!!"

Saking kaget dan khawatirnya kalau-kalau pemuda yang menjadi pujaannya itu mati, Li Hwa lupa akan kegagahannya dan menangis seperti anak kecil.

Ia tadi menyaksikan sendiri, betapa hebatnya dorongan tongkat dari Thai Gu Cinjin dan sebagai seorang ahli silat tinggi ia dapat mengerti bahwa pukulan semacam itu agaknya tidak mungkin dapat ditahan orang, apalagi kalau yang terkena itu bagian dada.

"Sin Hong, jangan tinggalkan aku....., bawalah aku serta....."

Ia menangis dan lupa akan segala, ia mencium muka yang disangkanya sudah akan ditinggalkan nyawa itu.

Ia tidak peduli betapa darah segar yang mengalir keluar dari mulut Sin Hong itu mengenai pipinya, hidungnya, bahkan bibirnya terkena darah dan terasa darah pada mulutnya!

"Suhu, kau.....

kau kejam sekali!

Kau.....

kau jahat"!"

Teriakan ini dikeluarkan oleh Tiang Bu yang merasa amat terharu melihat sikap Li Hwa.

Saking marahnya ia lupa diri dan melompat maju ke depan Thai Gu Cinjin, terus menyerang kakek itu dengan ilmu silat yang ia pelajari dari kitab, yaitu Pat hong hongi!

"Plak buk plak buk.....!"

Thai Gu Cin mengeluarkan seruan kaget ketika ia melompat ke belakang.

Serangan bocah tadi sungguh aneh luar biasa sehingga biarpun Thai Gu Cinjin yang lihai sudah mengelak cepat, tetap saja kaki tangan bocah itu memberi hadiah dua kali tendangan dan dua kali pukulan yang datangnya susul menyusul.

Baiknya bocah itu tenaganya tidak seberapa, kalau yang melakukan pukulan tadi orang yang sudah dewasa dan memiliki tenaga lweekang, tentu ia sudah roboh!

"Murid pengkhianat, kau mau membela musuh?"

Bentak Thai Gu Cinjin untuk menutupi malunya dan tongkat panjangnya menyambar ke arah kepala Tiang Bu dengan hebatnya.

Akan tetapi...

pukulan itu mengenai tempat kosong.

Bagaikan seekor monyet yang lincah Tiang Bu berhasil mengelakkan diri.

Thai Gu Cinjin menjadi makin penasaran.

Tongkatnya menyambar lagi, sekali, dua kali, tiga kali.

Tetap saja mengenai angin belaka.

Tiang Bu dengan langkah-langkah aneh selalu dapat rnengelak.

Ternyata bahwa bocah ini telah mempergunakan Ilmu Kelit Sam hoan Sambu yang ia pelajari dari mendiang Bu Hok Lokai dan ternyata hasilnya luar biasa.

Ahli silat biasa jarang ada yang dapat menyelamatkan diri dari pukulan tongkat satu kali saja dari Thai Gu Cinjin, apalagi sampai empat kali!

Thai Gu Cinjin menggereng marah, tangan kirinya ikut bergerak mengeluarkan pukulan khikang.

Benar saja, terkena hawa pukulan ini, tubuh Tiang Bu terhuyung-huyung seperti didorong dan ia tidak dapat lagi mainkan Samhoan Sambu dengan baik.

Tongkat panjang sudah bersiutan di atas kepalanya yang agaknya sebentar lagi akan remuk seperti kepala tikus dihantam dengan batu besar.

"Cringgg.....!"

Bunga api berpijar .ketika tongkat itu tertangkis dan terpental.

Thai Gu Cinjin makin marah ketika melihat bahwa yang menangkis tongkatnya itu adalah pedang di tangan Wan Sin Hong yang memegang pedangnya dengan tangan kiri.

"Thai Gu Cinjin, kau tidak patut disebut orang gagah. Keji sekali hendak membunuh seorahg bocah kecil!"

Kata Sin Hong dengan suara halus dan tenang, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar bercahaya.

Bagaimanakah Sin Hong sudah dapat bangun kembali?

Pertanyaan ini memenuhi pula kepala Thai Gu Cinjin.

Sin Hong telah memiliki sinkang yang amat luar biasa di dalam tubuhnya.

Pukulan tadi biarpun mendatangkan luka hebat dalam dada sebelah kanan, akan tetapi tidak sampai mencabut nyawanya.

Pula, kejernihan pikiran dan hati berkat latihan bertahun-tahun dalam ilmu Imkang dan Yangkang membuat la sebentar saja pingsan.

Ia sadar dan siuman dalam dekapan Li Hwa yang menjadi girang bukan main melihat Sin Hong dapat bergerak lagi dan membuka matanya.

"Lepaskan, Li Hwa. Aku tidak apa-apa....."

Kata Sin Hong, bukan main terharunya melihat budi kecintaan yang demikian besarnya dari gadis ini terhadap dirinya.

Tidak saja ia merasa terharu, akan tetapi juga mulailah bersemi cinta kasih di dalam hatinya yang tadinya sudah membeku.

Melihat wajah Li Hwa yang berlinang air mata akan tetapi sekarang bibirnya tersenyum penuh harapan, melihat betapa pipi dan bibir gadis itu terkena darah merah yang mengalir dari mulutnya sendiri, tak tertahan lagi Sin Hong mengeluarkan keluhan lirih.

"Li Hwa..... Li Hwa....."

Dan dua titik air mata keluar tertahan bulu matanya.

Aneh sekali!

Pada saat itu hilanglah kekuasaan aneh yang tadi membuatnya lumpuh!

Memang dada kanannya terasa sakit sekali, akan tetapi adalah akibat dari pukulan tongkat, dan merupakan luka dalam yang sewajarnya.

Tidak seperti lumpuhnya kedua kaki yang tidak wajar.

la tidak tahu bahwa cinta kasih yang murni dapat mengusir hawa busuk dari ilmu hitam yang tadi menguasai dirinya.

Dengan cinta kasih murni yang mulai bersemi di dalam dadanya, ilmu hitam Thai Gu Cinjin menjadi buyar!

Pada saat itu ia mengerling dan melihat Tiang Bu menyerang Thai Gu Cinjin.

juga Li Hwa menoleh dan kedua orang ini terheran-heran melihat betapa pukulan-pukulan Tiang Bu bisa mengenai tubuh kakek itu, kemudian betapa pukulan-pukulan dan serangan tongkat itu tidak bisa mengenai tubuh Tiang Bu.

Sin Hong cepat mengeluarkan tiga butir pel merah, putih dan kuning dari sakunya dan menelan tiga pel itu.

Ini adalah obat mujarab sekali untuk menahan rasa sakit di dalam dada kanannya.

Sebentar saja dada kanannya terasa panas dan kebal seperti mati tidak begitu terasa lagi sakitnya.

Akan tetapi pundak dan lengan kanannya tak dapat digerakkan.

Ia memegang pedang Pak kek Sinkiam dengan tangan kiri lalu melompat dan tepat sekali dapat menangkis tongkat Thai Gu Cinjin yang hampir saja meremukkan kepala bocah itu.

"Kau masih belum mampus?". bentak Thai Gu Cinjin kagum dan heran. Alangkah kuatnya orang muda ini, pikirnya. Akan tetapi melihat pemuda itu memegang pedang dengan tangan kiri dan pundak serta lengan kanannya kelihatan tergantung mati, hati Thai Gu Cinjin menjadi besar. Ia tidak khawatir terhadap Li Hwa dan setelah pemuda kosen ini tak dapat lagi menggerakkan pundak dan lengan kanan, ia takut apakah? Maka mendengar teguran Sin Hong yang menyebutnya tidak patut disebut orang gagah dan berwatak keji, ia tertawa bergelak sambil menggoyang-goyangkan tongkatnya dengan lagak sombong.

"Tikus cilik, kau sudah hampir mampus masih berani membuka mulut besar? Bocah itu aku yang bawa, dia muridku dan aku hendak membunuh dia atau tidak ada sangkut paut apakah dengan kau?"

Li Hwa dengan suara marah sekali berkata.

"Kau pendeta busuk! Biar soal itu kami tidak mencampuri dan kami anggap kau berhak membunuhnya, akan tetapi bagaimana kau secara tak tahu malu dan tebal muka tadi telah mengalahkan orang dengan bantuan ilmu iblis? Apa itu perbuatan orang gagah?"

Muka Thai Gu Cinjin yang biasanya berwarna ungu itu berubah menjadi kehijauan. Ini adalah tanda bahwa ia merasa malu dan juga marah. Ia menudingkan tongkatnya yang panjang sambil membentak.

"Bocah ini roboh karena dia bodoh dan memang kalah olehku! Kalian ini dua tikus kecil yang sudah kalah tak usah banyak cakap lagi. Tinggalkan dua batang pedang kalian dan minggat dari sini!"

Sambil berkata demikian ia menggerakkan tongkatnya mengancam hendak menghancurkan kepalanya dua orang muda itu.

"Wan-sioksiok (Paman Wan), kau sudah terluka. Biarlah aku saja mengadu nyawa dengan Kakek jahat ini!"

Tiba-tiba Tiang Bu berseru dan melompat hendak menyerang Thai Gu Cinjin lagi.

"Tiang Bu, mundur kau!"

Kata Sin Hong dengan suara keren, akan tetapi pandang matanya kepada bocah itu penuh kekaguman dan senang. Kemudian ia menghadapi Thai Gu Cinjin, pedang di tangan kirinya melintang di depan dada.

"Thai Gu Cinjin, ketahuilah bahwa aku Wan Sin Hong bukan seorang yang takut menghadapi kematian. Kita bukan anak kecil, juga kita adalah orang-orang kawakan di dunia kangouw yang tahu akan peraturan-peraturan kangouw. Memang tadi aku telah kalah olehmu karenakau mempergunakan hoatsut dan aku kurang waspada sehingga kena tertipu olehmu, maka luka di dadaku sudah sewajarnya, hukuman bagi kelalaianku. Akan tetapi aku belum menerima kalah. Tanganku masih sebelah lagi dan pedangku belum pernah terlepas dari tangan. Mari kita bertempur secara jantan, mengandalkan kepandaian silat. Kalau aku kalah olehmu, tidak hanya pedang kuberikan, juga kepalaku!"

Sejak tadi mendengar pemuda itu memperkenalkan nama sikap Thai Gu Cinjin sudah berubah. Ia memandang penuh perhatian lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Jadi kau inikah bengcu baru yang muda dan bijaksana menurut kata orang? Pantas kau lihai. Akan tetapi ketahuilah bahwa daerahku di Tibet tidak termasuk wilayahmu, maka bagiku kau bukan bengcu. Kau masih berani menantangku dengan sebelah tanganmu lumpuh? Benar-benar aku harus memuji ketabahanmu. Orang she Wan, setelah sekarang aku mengerti bahwa kau adalah Wanbengcu, biarlah memandang muka orang-orang kangouw aku habiskan perkara sampai di sini saja. Kau dan Nona ini boleh pergi membawa pedang kalian!"

Biarpun amat mendongkol melihat orang sudah melukai kekasihnya sampai hampir saja tewas itu sekarang bicara tentang perdamaian, namun Li Hwa yang merasa amat gelisah melihat keadaan Sin Hong lalu menarik tangan pemuda itu sambil membujuk untuk pergi saja.

"Kau terluka, tak baik bertempur lagi,"

Katanya.

Akan tetapi Sin Hong menggeleng-geleng kepalanya sambil memandang ke arah Tiang Bu.

Tak mungkin ia mau pergi meninggalkan Tiang Bu terancam bahaya maut hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, Li Hwa juga seorang yang berjiwa gagah, pada saat lain kiranya ia pun akan berpendirian sama, yaitu tidak sudi menyelamatkan diri dan membiarkan orang lain dalam ancaman maut, Akan tetapi, pada saat itu seluruh perhatian Li Hwa tercurah kepada Sin Hong dan ia tidak dapat memikirkan lain kecuali keselamatan Sin Hong.

"Tenang, Li Hwa. Aku tahu baik apa yang kulakukan. Aku kuat menghadapinya. Jangan kau gelisah,"

Kata Sin Hong, kemudian ia berkata kepada Thai Gu Cinjin.

"Thai Gu Cinjin, sukur kau menghendaki dihabiskannya urusan ini. Akan tetapi Tiang Bu harus ikut aku. Aku memang diminta oleh dua orang tuanya untuk mencari dan membawa pulang anak ini. Harap dapat mempertimbang-kannya."

"Tidak mungkin! Kau baru boleh membawanya kalau dia sudah menjadi mayat"."

Bentak Thai Gu Cinjin.

"Hemm, kalau begitu terpaksa kita melanjutkan pertempuran untuk melihat siapa yang berhak membawa pergi anak itu."

Thai Gu Cinjin menjadi marah sekali.

"Wan Sin Hong, kau terlalu sekali. Kalau tadi aku hendak menghabiskan urusan adalah karena aku mengingat akan orang-orang kangouw, bukan sekali-kali karena aku takut kepadamu! Masih lengkap kedua tanganmu saja aku tidak takut dan dapat mengalahkanmu, apalagi sekarang. Akan tetapi kau memaksaku dan menantang karena bocah ini. Benar-benar kau sudah bosan hidup.

"Terserah apa yang kaupikir, Thai Gu Cinjin. Aku tetap mempertahankan bocah ini yang harus pulang ke rumah orang tuanya."

"Keparat, kaukira aku takut menghadapi pembalasan orang-orangmu? Siaplah untuk mampus!"

Setelah berkata demikian, Thai Gu Cinjin memutar tongkatnya dan menyerang hebat.

"Pendeta bau! Kalau kau bukan banci kau tentu melawan Wanbengcu dengan kepandaian silat, bukan dengan ilmu iblis!"

Li Hwa berteriak-teriak dengan hati gelisah.

"Pendeta murid iblis jahat berhati keji macam dia mana becus main silat? Kalau tidak mengandalkan ilmu iblisnya jangankan oleh Wan-sioksiok, aku sendiri pun mampu menghajar kepala gundulnya sampai benjol-benjol!"

Tiang Bu berseru keras-keras.

Bocah yang amat cerdik ini tahu ke mana tujuan seruan Li Hwa tadi, maka ia serta merta membantu.

Mendengar teriakan-teriakan ini muka Thai Gu Cinjin menjadi merah kehitaman.

Tadi boleh jadi ia jerih menghadapi Sin Hong tanpa mempergunakan ilmu hitamnya.

Akan tetapi sekarang setelah, Sin Hong terluka berat di dalam dadanya dan tidak mampu lagi menggerakkan pundak dan lengan kanan, ia takut apakah?

"Tikus-tikus.

cilik kalian lihat saja.

Setelah manusia she Wan ini roboh, kalian akan kukubur hidup-hidup!"

"Asal saja menguburnya jangan menggunakan ilmu setan!"

Teriak Tiang Bu.

"Thai Gu Cinjin, kalau kau memang jantan tulen bukan banci, kau harus berani menyatakan bahwa kau tidak akan menggunakan ilmu hitam!"

"Baik lihatlah, aku tidak menggunakan Hoatsut!"

Teriak Thai Gu Cinjin marah dan dengan perut panas.

Hoatsut adalah ilmu sihir yang banyak dipelajari tokoh-tokoh kangouw di daerah utara dan barat.

Tibet adalah sebuah di antara pusat-pusat ilmu hitam itu.

Dengan tongkatnya yang panjang dan berat Thai Gu Cinjin mulai menghujani Sin Hong dengan serangan-serangan dahsyat.

Pikirnya, seorang lawan yang sudah menderita luka dalam seperti orang muda ini, tentu dalam beberapa jurus saja akan mudah ia robohkan.

Akan tetapi Sin Hong bukanlah orang biasa.

Ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang tinggi, apalagi ilmu pedangnya.

Biarpun ia hanya bermain pedang dengan tangan kiri sedangkan lengan kanannya tak dapat ia gerakkan untuk menjadi imbangan, namun kehebatan pedangnya masih luar biasa sekali.

Pedang di tangan kirinya setelah ia mainkan berubah menjadi sinar seperti kilat menyambar-nyambar dan selalu dapat menangkis serbuan tongkat lawan, bahkan dengan secara tak terduga-duga sama sekali masih dapat melakukan tekanan dan serangan balasan yang tak kalah dahsyatnya!

Dengan gerakan dahsyat seperti gerak tipu Hai-ti-lauw-liong (Menyelam Laut Mengejar Naga), tongkat Thai Gu Cinjin digerakkan secara melengkung, menyambar ke arah pinggang Sin Hong.

Angin dingin berbunyi bersiutan ketika tongkat itu mengancam pinggang Sin Hong yang akan remuk bersama tulangnya kalau terkena pukulan maut ini.

Sin Hong terlalu tenang.

Dengan gerakan Pak-hong-phu-liu (Angin Meniup Cemara) dari Ilmu Pedang Sam-hong kiamsut (Ilmu Pedang Angin Puyuh) yang dulu ia pelajari dari Luliang Samlojin, tubuhnya meniarap hampir rata dengan bumi dan pedangnya bergerak di atas tubuh melindungi diri sehingga sabetan tongkat lawannya melewat di atas kemudian disentil oleh pedangnya untuk mencegah tongkat itu bergerak ke bawah.

Setelah meluputkan diri dari serangan dahsyat lawannya, Sin Hong melompat berdiri terus membalas kontan dengan gerak tipu Sian-jin Sia-ciok (Dewa Memanah Batu) dari ilmu pedangnya Pak-kek Kiamsut yang hebat.

Serangannya tidak berhenti sampai di sini saja, melainkan disambung dengan serangan-serangan lain Hui-in-ci-tiam (Awan Mengeluarkan Kilat) dan Hui-po-liu-hong (Air Mancur Pelangi Melengkung).

Menghadapi serangan bertubi-tubi dari tipuan Pak-kek Kiamsut ini, biarpun hanya dilakukan dengan tangan kiri, Thai Gu Cinjin menjadi silau matanya dan kabur pandangannya.

Kepalanya pening dan ia tidak tahu lagi ke mana meluncurnya sinar pedang lawan.

Tahun-tahu ia merasa lengan kanannya perih dan tongkatnya terlepas, kemudian pundak kirinya sakit sekali menyebabkan lengan kirinya lumpuh dan di lain saat ia telah terjungkal dan roboh dalam keadaan duduk!

Ternyata bahwa rentetan serangan hebat itu telah membuat lengan kanan Thai Gu Cinjin terobek kulit dan dagingnya, pundak kirinya putus tulang sambungannya dan dadanya tertendang kaki Sin Hong!

Di lain fihak, Sin Hong yang tertalu banyak mengerahkan tenaga dalam keadaan terluka hebat di dada kanannya, terhuyung-huyung dan tentu roboh kalau tidak cepat-cepat dipeluk oleh Li Hwa.

Menyaksikan sepak terjang Sin Hong yang gagah perkasa, yang dalam keadaan terluka hebat dan terancam nyawanya masih tidak sudi melarikan diri meninggalkan Tiang Bu, kemudian betapa dalam keadaan terluka parah masih berhasil mengalahkan lawan berat dengan pedang di tangan kiri Li Hwa menjadi kagum bukan main dan cinta kasihnya sekaligus naik sampai tak dapat diukur lagi.

Ia memeluk kekasihnya itu dengan bangga dan juga cemas karena wajah Sin Hong dan juga cemas karena wajah Sin Hong tampak pucat sekali!

"Sin Hong, kau"..

kau tidak apa-apa"..??"

Tanyanya khawatir. Sin Hong menggigit bibir dan memejamkan sebentar matanya, menahan rasa sakit di dalam dada. Ketika ia membuka mata, ia nampak terkejut dan berkata.

"Aku tidak apa-apa..... akan tetapi..... Tiang Bu..... dia terancam bahaya. Aku tak dapai menolongnya, tenagaku habis...."

Ia menjadi lemas sekali.

Li Hwa menengok dan melihat betapa dengan buas sekali Thai Gu Cinjin yang sudah terluka hebat itu kini menggunakan tangan kanannya yang sudah mandi darah untuk menyerang Tiang Bu!

Ia nampak menyeramkan sekali dan tangan yang beberapa kali hendak mencengkeram kepala Tiang Bu itu penuh dengan darah yang mengucur dari kulit yang tergores dan terluka pedang di dekat siku.

"Sudah kalah tak tahu malu.....""

Berkali-kali Tiang Bu menyindir sambil berlompatan dan menari-nari ke sana kemari untuk menghindarkan diri dari bahaya maut.

la mainkan Samhoan Sambu (Tiga Kali Lingkaran Tiga Kali Menari) untuk menyelamatkan diri dan sekarang setelah Thai Gu Cinjin menyerangnya hanya dengan tangan kanan, bocah ini dapat mempertahankan diri dengan baik sekali.

Gerakannya gesit sekali dan tubrukan atau pukulan Thian Gu Cinjin selalu mengenai angin.

Kakek itu menjadi makin marah, apalagi Tiang Bu mengelak sambil tertawa-tawa, meringis dan mengejeknya.

Thai Gu Cinjin memang sudah menerima kalah dan tahu bahwa kepandaiannya masih kalah jauh oleh Sin Hong.

Akan tetapi sebelum ia pergi, ia hendak membunuh Tiang Bu dulu.

Selain untuk melampiaskan kemendongkolan hatirya, juga ia tidak ingin bocah yang telah mewarisi kitab yang ia curi dari Omeisan itu terjatuh ke dalam tangan orang lain.

Tak seorang pun tahu bahwa ia mencuri kitab itu, atau lebih tepat lagi, tak seorang pun dapat membuktikan andaikata ada yang menuduhnya.

Hanya Tiang Bu satu-satunya orang yang menjadi saksi utama akan kesalahannya.

Oleh karena itu Tiang Bu harus ikut dia kalau masih hidup, atau boleh berpisah dari sampingnya asal tak bernyawa lagi.

Kalau Sampai orang lain mendengar bahwa dia telah menjadi pencuri kitab Omeisan, hal itu masih belum ada artinya.

Akan tetapi kalau sampai kakek-kakek sakti di Omeisan mengetahuinya, ah.....

mengingat hal ini Thai Gu Cinjin merasa bulu tengkuknya berdiri dan ia menjadi makin bernafsu menyerang Tiang Bu.

Tiba-tiba Thai Gu Cinjln menghentikan serangannya karena tahu takkan ada hasilnya.

Ia berdiri tegak, menudingkan telunjuknya ke arah Tiang Bu, lalu ia berseru.

(Lanjut ke

Jilid 09) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Roboh kau, Tiang Bu! Tiang Bu maklum bahwa kakek itu mempergunakan sihir. Ia hendak mempertahankan, namun tentu saja ia kalah kuat. Tanpa dapat dicegah lagi ia roboh terguling! Thai Gu Cinjin mendekatinya dengan langkah lebar. Kakek ini hanya terluka pundak kiri dan lengan kanannya, akan tetapi kedua kakinya sama sekali tidak terluka dan gerakan kakinya masih cepat sekali. Setelah dekat dengan Tiang Bu yang masih rebah miring, ia mengangkat tangan kanannya hendak memukul. Akan tetapi ia menurunkan lagi tangan, itu sambil meringis kesakitan. Kiranya darah terlalu banyak keluar dari lengan itu, membuat tubuhnya terasa lemas dan tangan kanannya sakit sekali. ta tidak jadi memukul, lalu mengambil tongkatnya, mengayun tongkat itu ke arah kepala Tiang Bu, dan...

"Traangg......!"

Tongkat itu terpental hampir memukul kepala Thai Gu Cinjin sendiri sedangkan kedua kaki kakek ini terhuyung-huyung mundur saking kerasnya tangkisan pada tongkatnya tadi.

Ia kaget dan memandang ke kiri, lalu.....

lari dengan langkah lebar seperti orang melihat setan yang menakutkan!

"Celaka....."

Dengusnya di sepanjang jalan.

"selalu bertemu dengan Angjiu Moli..... sialan betul.....!"

Memang betul, yang menangkis tongkat Thian Gu Cinjin dan karenanya telah menyelamatkan nyawa Tiang Bu bukan lain adalah Ang-jiu Mo-li, tokoh wanita utara yang berwajah cantik manis dan gagah perkasa!

Dengan tangan kosong, tangannya yang kemerahan dan berbentuk mungil bagus itu, ia telah menangkis pukulan tongkat tadi dan membuat Thai Gu Cinjin lari ketakutan.

Kini wanita gagah itu memandang ke sekelilingnya, menyapu dengan ujung matanya yang tajam dan bening.

Melihat Li Hwa duduk di atas tanah sambil menaruh tangan di pundak seorang pemuda tampan yang duduk bersila sambil meramkan mata dalam samadhi, ia mengerutkan kening.

Lalu ia menoleh kembali kepada Tiang Bu yang sudah bangun dan duduk.

"Apa saja yang dilakukan oleh Thai Gu Cinjin di sini?"

Tanyanya.

Pertanyaan ini ia tujukan kepada dua orang dewasa yang duduk di atas tanah itu sungguhpun matanya memandang kepada Tiang Bu.

Ang-jiu Mo-li biarpun usianya sudah empat puluh tahun dan ia cantik jelita dan kelihatan masih muda, akan tetapi ia adalah seorang gadis yang selama hidup-nya belum pernah berdekatan dengan pria.

Maka melihat pemandangan yang mesra, melihat cinta kasih demikian nyata tercurah dari pandang mata Li Hwa yang cemas, ia menjadi jengah dan tidak berani memandang terlalu lama!

Biarpun Li Hwa mendengar jelas dan ia pun sudah menengok memandang, akan tetapi ia tidak berani mengeluarkan suara menjawab.

la melihat kekasihnya sedang bersamadhi mengerahkan hawa murni di dalam tubuh untuk mengobati luka di dalam dada dan semenjak tadi ia tidak berani berkutik.

Menurunkan tangannya yang memegang pundak Sin Hong saja ia tidak berani, bernapas pun hati-hati sekali agar jangan sampai Sin Hong terganggu dalam pengerahan lwee-kangnya.

Apalagi harus mengeluarkan suara keras untuk menjawab pertanyaan wanita aneh itu.

Ia takut kalau-kalau Sin Hong akan terganggu dan keadaannya menjadi makin hebat.

Juga Tiang Bu diam saja.

Anak yang cerdik ini tidak berani sembarangan membuka mulut.

Ia tidak tahu siapa adanya wanita cantik yang sikapnya gagah tapi angkuh ini.

Kawan ataukah lawan.

Oleh.

karena itu ia pilih tutup mulut saja agar jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak pada tempatnya.

Setelah menanti jawaban tak kunjung tiba, Angjiu Moli menjadi marah.

"Apa kalian ini orang-orang tuli!? Ataukah gagu?"

Bentaknya, kini lupa akan rasa jengahnya yang tadi dan ia menoleh ke arah Li hwa dah Sin hong.

Sin Hong membuka matanya dan rnelihat ini.

Li Hwa cepat-cepat menurunkan tangannya dari pundak pemuda itu.

Memang tidak selayaknya di depan orang lain ia memperlihatkan cinta kasihnya kepada pemuda itu.

Pandang mata Sin Hong tajam luar biasa.

Sekilas pandang saja ia dapat menduga siapa gerangan wanita di depannya ini.

Tangan yang merah seperti itu tak mungkin dimiliki orang kedua kecuali Ang-jiu Mo-li, tokoh utara yang pernah ia dengar kehebatannya.

"Ang-jiu Mo-li, kau telah menyelamatkan nyawa keponakanku Tiang Bu dari tongkat maut Thai Gu Cinjin. Terima kasih!"

Kata Sin Hong sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil tetap bersila di atas tanah.

Mendengar disebutnya nama Ang-jiu Mo-li, mata Li Hwa terbuka lebar-lebar peruh kekaguman dan juga keheranan.

Tak disangkanya, Ang-jiu Mo-li yang dulu pernah disebut-sebut oleh mendiang gurunya, Pat-jiu Nio-nio, sebagai seorang wanita yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya, ternyata hanyalah seorang wanita yang belum tua dan cantik sekali!

Di lain fihak mendengar kata-kata Sin Hong, biarpun pada wajahnya yang cantik itu tidak ada perubahan dan keangkuhan masih membayang jelas dari pandang matanya, namun di dalam hatinya Ang jiu Mo-li merasa kaget dan heran.

Kalau orang mengenal namanya, itu dianggapnya jamak saja, karena memang ia seorang yang amat terkenal, apalagi tangannya yang berkulit merah halus itu mudah dikenal orang.

Yang amat mengejutkan dan mengherankan hatinya adalah cara bagaimana pemuda yang pucat dan terluka berat di dalam dadanya itu bisa tahu bahwa tadi ia telah menolong bocah itu dan mengusir Thai Gu Cinjin?

Padahal ia tahu benar bahwa pemuda itu sejak tadi meramkan mata dan mengerahkan tenaga dalam untuk melawan pengaruh luka di dada.

Mungkinkah orang ini sudah memiliki sinkang demikian tinggi sehingga dalam siulian (samadhi) tadi dapat memecah panca inderanya?

Juga Li Hwa yang tadi tahu bahwa Ang-jiu Mo-li menolong mereka mengusir Thai Gu Cinjin, lalu berdiri dan memberi hormat.

"Sudah lama siauwmoi mendengar nama besar Toanio. Terima kasih atas pertolongan Toanio kepada kami."

Ang-jiu Mo-li menjebikan bibirnya dan diam-diam Li Hwa harus mengakui bahwa wanita yang berdiri di depannya ini cantik dan menarik sekali, terutama bentuk tubuhnya yang bagus dan padat.

Di lain fihak Ang-jiu Mo-li juga memandang Li Hwa penuh perhatian, agaknya seperti hendak membanding-bandingkan kecantikan muka dan keindahan bentuk tubuh Li Hwa dengan dirinya sendiri!

"Kau siapa?"

Tanyanya dengan lagak seperti seorang kota yang sombong bertanya kepada seorang dusun yang dianggapnya rendah dan tolol.

Kalau dulu diperlakukan begini, biar-pun tahu orang yang menghinanya itu berkepandaian tinggi tentu Li Hwa akan mencak-mencak dan marah sekali.

Akan tetapi semenjak ia dekat dengan Sin Hong, ia sudah banyak berubah.

Pandangannya makin jauh, pertimbangannya makin masak dan ia dapat menguasai wataknya yang mudah marah.

Sambil tersenyum manis sekali, senyum Li Hwa memang luar biasa manisnya, ia menjawab.

"Siauw-moi bernama Siok Li Hwa, guruku adalah mendiang Pat-jiu Nio-nio di Go-bi-san."

Ang-jiu Mo-li tersenyum lebar, matanya jelas kelihatan bahwa ia memandang rendah.

"Hemm, Pat-jiu Nio-nio dari Hui-eng-pai? Aku dulu kenal gurumu itu, kepandaiapnya tidak jelek."

Bukan main mendongkolnya hati Li Hwa melihat lagak yang amat sombong dari wanita bertangan merah itu, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi hanya mengalihkan pandang matanya, kini ia menengok ke arah Sin Hong yang masih duduk bersila dan telah meramkan mata kembali.

Hati Li Hwa menjadi lega melihat betapa kedua pipi Sin Hong yang tadinya pucat kehijauan sekarang sudah menjadi merah.

Tiang Bu ternyata sudah mendekati Sin Hong pula dan anak itu memandang kepada Sin Hong penuh kekaguman dan perhatian.

"Laki-laki itu siapa?"

Terdengar Ang jiu Moli bertanya pula. Suaranya seperti orang bertanya sambil lalu saja, acuh tak acuh karena ia tidak mau kalau disangka terlalu "menaruh perhatian"

Kepada seorang pria!

Bahkan ketika Li Hwa menengok untuk menjawabnya, cepat sekali Angjiu Moli memutar leher mengalihkan pandang matanya yang tadinya menatap wajah Sin Hong!

"Dia ini adalah Wan-bengcu, namanya Wan Sin Hong."

Jawab Li Hwa sengaja memperkenalkan kedudukan Sin Hong untuk sedikit mengurangi kesombongan wanita itu, karena harus diakui bahwa nama Wan-bengcu bukanlah nama kecil saja, dikenal oleh hampir seluruh orang gagah di dunia persilatan.

Akan tetapi ia kecele kalau mengira demikian.

Biarpun agak tertegun mendengar nama ini, namun Angjiu Moli tidak berkurang sombongnya.

"Jadi dia ini Wan-bengcu? Siapa yang melukainya sampai demikian parah?"

"Thai Gu Cinjin yang melukainya....."

Li Hwa tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Angjiu Moli tertawa terkekeh-kekeh, nadanya menghina sekali.

"Hihihihi.....! Kiraku Wan-bengcu adalah seorang yang berkepala tiga berlengan enam, sampai-sampai setiap malam aku mimpi karena ingin sekali bertemu dan mencoba kesaktiannya. Tidak tahunya hanya seorang muda bodoh yang oleh Thai Gu Cinjin saja sudah kalah! Orang she Wan, sung"guh tak patut kau menjadi bengcu dan kecewa hatiku. Kalau kau tidak terluka oleh Thai Gu Cinjin tentu aku dapat mengajakmu mengadu kepandaian dan kau akan terluka bukan oleh pendeta Lama tolol itu, melainkan oleh tanganku! Sayang sekali!"

Mendengar kekasihnya dipermainkan orang, Li Hwa tak dapat menahan kemarahannya.

Semangatnya yang dulu, semangat burung garuda yang tak kenal takut, bangkit kembali.

Ia memandang kepada Angjiu Moli dengan sepasang mata bersinar, lalu berkata keras.

"Toanio, kau sombong sekali! Wan Sin Hong tidak kalah....."

Tiba-tiba Sin Hong membetot lengannya dan terdengar pemuda ini berkata kepada Angjiu Moli.

"Angjiu Moli, mana orang seperti aku ada harga untuk berpibu dengan kau? Memang aku kalah oleh Thai Gu Cinjin, apalagi dengan kau, kepandaianku tidak ada artinya bagimu."

Tadinya Angjiu Moli sudah marah sekali melihat Li Hwa yang berani menentangnya.

Biasanya, siapapun juga yang berani menentang Angjiu Moli, pasti akan menjadi korban pukulan tangan merahnya dan dapat dipastikan orang itu akan tewas!

Tadi dia sudah mulai marah, wajah yang cantik itu sudah mulai merah, bulu matanya sudah bergerak-gerak seperti ditiup angin.

Akan tetapi sikap dan kata-kata Sin Hong yang merendah itu mengurangi kemarahannya dan membuat hatinya senang.

Wan-bengcu yang disohorkan orang jarang tandingannya itu kini merendahkan diri di hadapannya, nampak jerih dan takut!

Kembali ia tertawa, kini bunyi tawanya merdu, tanda keriangan hati, bukan seperti tadi ketika mengejek.

"Kau tidak cantik tapi genit sekali!"

Bentaknya dan tangan kanannya melayang ke arah kepala Li Hwa.

Li Hwa terkejut dan tidak tinggal diam.

Cepat ia mengerahkan tenaga dan menggunakan tangan menangkis.

Tangannya bertemu dengan lengan yang halus dan panas sekali yang begitu bertemu telah menempel tangannya tak dapat ditarik kembali.

Pada saat itu juga tahu-tahu tangan kiri Angjiu Moli sudah bergerak dan....."plak.""

Pipi kanan Li Hwa kena tamparan, rasanya pedas, perih dan panas! "Wan-bengcu, lain kali kalau kau sudah sembuh aku ingin mencoba kepandaianmu!"

Angjiu Moli berseru keras dan tubuhnya berkelebat cepat sekali ke arah Sin Hong.

Li Hwa tak kuasa menghalanginya karena gerakan wanita tangan merah itu memang seperti sambaran kilat saja cepatnya.

Tahu-tahu Angjiu Moli sudah menggunakan tangan kanannya yang merah sekali itu untuk menepuk punggung Sin Hong.

Tepukannya keras dan terdengar suara "plak!"

Yang jauh lebih keras daripada ketika menampar pipi Li Hwa.

"Jangan pukul Sin Hong.....!"

Li Hwa menjerit dan melompat untuk menyerang Angjiu Moli, akan tetapi hanya terdengar suara ketawa terkekeh-kekeh dara di lain saat bayangan wanita bertangan merah itu sudah lenyap dari situ.

Li Hwa tak pedulikan lagi wanita itu dan cepat menghampiri Sin Hong.

Dan ia melihat pernuda itu masih bersila, kini sudah membuka mata dan memandang kepadanya dengan senyum lebar.

Wajahnya kelihatan segar dan cahaya matanya berseri, agaknya jauh lebih sehat daripada tadi!

"Sin Hong.....!

Kau tadi dipukul oleh.....

iblis.....

siluman wani....."

"Hush, tenang dan duduklah, Li Hwa."

Sin Hong menyambar pergelangan tangan Li Hwa dan menarik gadis ini duduk berhadapan dengannya. Tiang Bu juga memandang kepada Li Hwa dengan bengong melihat ke arah pipi kanan gadis itu.

"Li Hwa, jangan memakinya. Dia tadi memukulku bukan dengan maksud buruk. Ang-jiu Mo-li memang ganas dan nakal seperti siluman, akan tetapi hatinya baik".

"Apa.....? Kau bilang dia itu baik? Dia menampar pipiku, dia memukul punggungmu. Sin Hong, jangan-jangan kau sudah terkena sihir lagi. Siapa tahu kalau-kalau siluman itu pun ahli ilmu hitam seperti Thai Gu Cinjin?"

"Ssst, jangan menuduh sembarangan saja, Li Hwa. Ketahuilah bahwa tadi dia telah menotok pusat jalan darah di punggungku dan rnemasukkan hawa Iweekang untuk mernbantuku sehingga dalam sedetik saja tenaga di dalam tubuhku menjadi berlipat ganda dan dapat menyembuhkan luka di dada kananku."

Li Hwa melongo.

"Oohh, begitukah? Tapi..... tapi tadi ia menampar pipiku, sampai sekarang masih terasa panas dan sakit. Apakah itu pun dengan maksud baik untuk menolongku?"

Katanya sambil meraba-raba pipi kanannya yang terasa panas.

"Niocu, pipi kananmu merah sekali. Ada gambar lima jari merah di situ!"

Kata Tiang Bu sambil menuding ke arah pipi kanan Li Hwa.

"Apa.....?"?"

Li Hwa membelalakkan matanya lalu cepat lari memasuki hutan kecil mencari air.

Tak lama kemudian ia berlari kembali, berdiri di depan Sin Hong sambil membanting-banting kaki!

Ia telah menangis dan dengan suara megap-megap ia berkata.

"Sin Hong kau harus balaskan hinaan ini! Harus!"

Katanya sambil menangis dan mengusap-usap pipinya yang sebelah kanan Sin Hong bersikap tenang.

"Duduklah, Li Hwa. Aku akan memeriksa pipimu yang ditampar."

Li Hwa menjatuhkan diri duduk di atas tanah dan Sin Hong memeriksa pipinya, jari-jari Sin Hong yang meraba-raba pipinya mendatangkan rasa dingin dan sejuk, menghilangkan rasa panas.

Dan dalam keadaan seperti itu tiba-tiba terasa oleh Li Hwa betapa beda sikap Sin Hong sekarang terhadapnya.

Betapa dalam pandangan mata Sin Hong kepadanya nampak sesuatu yang aneh namun mesra, sesuatu yang membuat hatinya berdebar ganjil.

Seakan-akan ia melihat titik api di dalam manik mata pemuda itu, titik api yang hanya timbul apabila mata itu memandang kepadanya.

Sin Hong tersenyum.

"Tidak apa-apa, Li Hwa, Angjiu Moli hanya main-main. Dalam waktu satu bulan paling lama, tanda merah itu akan lenyap sendiri."

"Tidak apa-apa katamu? Itu penghinaan namanya! Penghinaan besar yang harus dibalas? Sin Hong, apa kau tidak ikut terhina karena perbuatannya ini? Apa kau tidak malu melihat aku dihina seperti ini.....?"

Air matanya mengucur makin deras, hatinya sakit sekali, jauh lebih sakit daripada rasa panas di pipinya. Sin Hong tersenyum.

"Mengapa malu, Li Hwa. Dengan warna merah itu pipimu, kau nampak makin..... cantik menarik. Bukankah begitu, Tiang Bu?"

Bocah itu tidak tahu tentang cinta kasih.

Juga ia tidak tahu harus berkata apa.

Baginya, gambar lima jari di atas pipi Li Hwa mana bisa disebut menambah cantik, kelihatannya lucu baginya.

Akan tetapi karena ia cerdik dan dapat menduga bahwa Sin Hong bermaksud menghibur dan mengurangi kemarahan dan sakit hati Li Hwa, ia mengangguk-angguk.

Isak tangis yang agak keras itu tiba-tiba terhenti dan gadis itu menatap wajah Sin Hong dengan bengong, mata terbuka lebar dan mulut agak terbuka kelihatan giginya yang putih.

Air mata masih mengalir di atas pipinya.

Baru sekarang ia mendengar Sin Hong menyebutnya.....

cantik menarik!

Pujian ini sekaligus melenyapkan semua kemarahannya, ia terlalu girang untuk dapat marah lagi, biar kepada Angjiu Moli sekalipun.

Wajahnya perlahan-lahan menjadi merah dari akar-akar rambul di keningnya sampai ke leher dan telinganya.

Cap jari merah di pipinya tidak kelihatan lagi karena sekarang semua wajahnya menjadi kemerahan dan berseri-seri.

"Be..... betulkah itu, Sin Hong?"

Kata lirih dan gagap.

"Apakah yang betul, Li Hwa?"

Tanya Sin Hong yang benar-benar tidak dapat menangkap arti pertanyaan gadis ini.

Bibir Li Hwa yang merah bergerak-gerak akan tetapi tidak ada suara keluar.

Ia memandang dengan ragu ke arah Tiang Bu, lalu terlompat kata-kata jawabannya.

"Betulkah bahwa..... Angjiu Moli tidak menghinaku?"

Kegagapannya dan keragu-raguan dalam kata-katanya ini dapat ditangkap oleh Sin Hong yang dapat menduga pula bahwa Li Hwa sengaja menyimpangkan pertanyaannya karena di situ hadir orang ke tiga, Tiang Bu.

"Dia memang tidak menghinamu dan tak perlu hal ini kau jadikan dendam. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa perbuatannya itu nakal dan keterlaluan, timbul dari wataknya yang sombong. Aku berjanji bahwa kelak kalau ada kesempatan, aku akan berusaha supaya kau dapat membalas tamparan itu. Puaskah kau sekarang?"

Kegirangan hati Li Hwa bukan kepalang.

Kalau di situ tidak ada Tiang Bu tentu ia akan.....

mencubit kekasihnya itu.

Hanya wajahnya saja makin berseri dan sekarang Sin Hong yang diam-diam memaki diri sendiri bermata buta.

Li Hwa begini cantik jelita, begini manis, begini setia penuh cinta kasih dan begini mulia hatinya.

Mengapa baru sekarang ia melihatnya seperti itu?

Mengapa baru sekarang hatinya bicara?

"Disamping janjiku untuk mernberi kesempatan kepadamu membalas tamparan itu, aku pun berjanji akan membalas budinya ketika ia menolongku tadi."

Kata pula Sin Hong.

Li Hwa diam saja, masih terlampau girang hatinya untuk timbul rasa cemburunya yang biasanya amat besar itu.

Adapun Tiang Bu makin kagum akan kepribadian Sin Hong yang dianggapnya seorang gagah perkasa yang patut dicontoh, baik kelihaiannya, kecerdikannya, maupun kehalusan budinya.

Sin Hong bangkit berdiri perlahan, menggerak-gerakkan lengan kanannya, mula-mula hati-hati dan perlahan, makin lama makin cepat dan ia girang sekali mendapat kenyataan bahwa luka di dalam dadanya telah sembuh.

"Angjiu Moli memiliki Iweekang yang tinggi,"

Katanya perlahan, kagum dan juga ingin sekali tahu apakah ia tidak dapat menandingi tokoh wanita utara yang amat terkenal itu.

"Akan tetapi wataknya buruk, sombong bukan main."

Li Hwa mencela, kini agak merasa "tidak enak"

Karena Sin Hong memuji seorang wanita, walaupuri pujian itu bukan kosong belaka.

"Wan-sioksiok apakah dia itu lebih lihai darimu?"

Tanya Tiang Bu, masih terheran-heran karena ia telah bertemu orang-orang yang amat pandai.

Kalau tadinya ia menganggap Thai Gu Cinjin sebagai orang terpandai, tak tahunya muncul Wan Sin Hong yang lebih hebat, dan kini Wan Sin Hong memuji-muji Angjiu Moli.

Begitu banyaknya orang pandai, setiap bertemu yang baru lebih pandai lagi.

Siapa gerangan orang yang memiliki kepandaian tinggi?

Mendengar pertanyaan Tiang Bu, Sin Hong memandang bocah itu dan tersenyum.

Ia suka kepada Tiang Bu setelah.

menyaksikan keberanian dan kecerdikan anak ini, dan ia berbareng merasa heran sekali mengapa wajah Tiang Bu tidak tampan.

Padahal ayahnya, Liok Kong Ji, biarpun berwatak jahat namun memiliki wajah yang tampan sekali dan ibunya Gak Soan Li, adalah seorang wanita gagah yang cantik.

Tiba-tiba Sin Hong teringat akan hal yang menakjubkan hatinya tadi ketika ia melihat bocah ini berhasil memukul Thai Gu Cinjin!

"Tiang Bu, tak perlu kita ketahui siapa yang lebih lihai.

Betapa pun tinggi kepandaian seorang manusia, tentu ada orang lain yang melebihinya dan setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Tadi pun kau telah dapat memukul Thai Gu Cinjin, bukankah itu aneh sekali?"

Wajah Tiang Bu membayangkan kekecewaan hati.

"Sayang aku bodoh dan tidak bertenaga. Kalau ada sedikit saja tenagaku, tentu akan dapat membantumu melawan Thai Gu Cinjin. Pukulan-pukulanku tidak terasa olehnya, bahkan telapak tanganku sendiri terasa sakit dan panas-panas."

Sin Hong tersenyum dan maklum, bahwa tentu saja pukulan seorang anak kecil ini tidak ada artinya bagi tubuh Thai Gu Cinjin yang sudah kebal.

Yang mengherankan hatinya hanyalah cara Tiang Bu melakukan serangan sehingga berhasil tadi.

"Tiang Bu, coba kau menyerang aku dengan pukulan-pukulan seperti yang telah kau lakukan terhadap Thai Gu Cinjin tadi.

"Aah, Wan siokhu (Paman Wan), jangan mentertawakan kebodohanku!"

"Anak bodoh, orang mau memberi petunjuk disangka mentertawakan. Apa yang harus ditertawakan dalam ilmu silat?"

Li Hwa mencela Tiang Bu. Mendengar ini, merah wajah Tiang Bu, matanya berseri dan ia memandang kepada Sin Hong.

"Sioksiok, kau benar-benar mau memberi petunjuk padaku?"

Tanyanya girang.

"Kita lihat saja nanti. Aku hanya ingin melihat pukulan-pukulanmu yang tadi telah berhasil mengenai tubuh Thai Gu Cinjin. Mulailah!"

Tadinya memang Tiang Bu merasa ragu-ragu untuk menyerang Sin Hong biarpun hal itu adalah atas kehendak Sin Hong sendiri, akan tetapi setelah mendengar bahwa ia akan diberi petunjuk, dengan penuh semangat ia lalu mulai menyerang dengan Ilmu Silat Pat-hong-hong-i yang sudah ia pelajari dari kitab pusaka Omeisan.

Sin Hong melihat kedua lengan bocah itu bergerak-gerak secara aneh dan cepat sekali juga kedudukan kakinya berpindah-pindah merupakan segi delapan.

la merasa terkejut sekali, bukan saja karena sifat-sifat yang amat luar biasa dan lihai dari ilmu silat ini, akan tetapi terutama sekali karena ia tidak mengenalnya!

Inilah hebat.

Sebagai seorang bengcu, tentu saja Sin Hong mengenal hampir semua ilmu silat, akan tetapi yang sekarang di mainkan oleh Tiang Bu ini sama sekali belum pernah ia melihatnya.

Hampir mirip dengan Pak kwa kun-hwat akan tetapi lebih hebat, apalagi serangan-serangan dengan dua tangan itu berubah menjadi banyak!

Sin Hong menangkis perlahan dan mengelak akan tetapi segera ia mengeluarkan seruan tertahan karena sebentar saja ia terpaksa main mundur karena terdesak hebat!

Kedua tangan bocah itu seakan-akan bergerak otomatis, apabila yang kiri ditangkis atau dihindarkan, yang kanan tentu melakukan serangan berikutnya, demikian seterusnya kedua tangan itu menghujankan serangan-serangan yang luar biasa dan tak terduga-duga.

Demikian hebat serangan Tiang Bu sampai-sampai Sin Hong yang lihai terpaksa menggunakan seluruh perhatiannya untuk menjaga diri jangan sampai terpukul seperti Thai Gu Cinjin tadi.

"Hebat sekali ilmu silatnya ini,"

Pikir Sin Hong kagum.

"kalau ia sudah dewasa dan besar tenaga, sukar menahan serangan-serangannya. Ilmu silat apakah dan dari manakah ini yang demikian hebat mengatasi semua ilmu silat yang pernah kupelajari dan kukenal?"

Kemudian Sin Hong teringat betapa bocah ini dengan amat lihainya meloloskan diri dari serangan-serangan maut Thai Gu Cinjin sehingga kakek itu terpaksa merobohkannya dengan ilmu hitam.

Teringat akan ini ia cepat berkata.

"Cukup seranganmu ini. Sekarang jagalah baik-baik dan kelit semua seranganku!"

Tiang Bu mentaati perintah "Pamanya Wan"

Yang lihai dan mengagumkan hatinya itu.

Ia menghentikan serangan-serangannya dengan Ilmu Silat Pat-hong-hong-i mulai menjaga diri dengan Ilmu Kelit Sam-hoan Sam-bu.

Serangan Sin Hong dimulai dengan tubrukan yang dahsyat.

Ia bermaksud menubruk dan menangkap bocah itu dari dua jurusan kanan kiri dengan kedua lengan dipentang.

Akan tetapi, bagaikan belut saja, bocah itu membuat gerakan lemas dan aneh seperti orang menari dan.....

Sin Hong menubruk angin!

la mengelak dan cepat mengirim serangan susulan yang makin lama makin dahsyat.

Namun dengan cara yang luar biasa sekali Tiang Bu selalu dapat menyelamatkan diri sampai sepuluh jurus berturut-turut.

Inilah hebat!

Seorang bocah cilik dapat mengelak selama sepuluh jurus berturut-turut dari serangan Wan Sin Hong, benar-benar hebat.

Jago silat tingkat menengah saja belum tentu mampu menahan sampai lima jurus.

Yang mengagumkan hati Sin Hong sesungguhnya bukan bocah itu yang sudah terlalu lihai, melainkan ilmu silat yang agaknya khusus untuk berkelit itulah yang terlalu hebat.

limu kelit ini seperti gerakan menari, namun membuka banyak jalan untuk melepaskan diri dari bahaya ancaman serangan lawan secara aneh dan cepat.

Untuk kedua kalinya Sin Hong merasa terpukul.

Juga ilmu silat atau ilmu kelit ini ia tidak kenal dan tak pernah melihatnya.

Benar-benar membuat ia tertegun dan melompatlah ia ke belakang.

"Cukup! Tiang Bu anak baik, dari mana kau memperoleh dua ilmu silat yang luar biasa ini? Atau pernahkah kau mempelajari ilmu silat lain selama kau meninggalkan rumah?"

Dasar anak kecil.

Biasanya ia hanya menghadapi celaan dan kebencian, sekarang melihat sikap Sin Hong yang amat ramah dan mendengar pujiannya, Tiang Bu menjadi girang sekali dan cepat menjawab untuk memamerkan.

"Masih ada satu lagi, Wan-sioksiokl"

"Coba kau perlihatkan dan kau gunakan untuk menyerangku."

Dalam kegembiraannya untuk memamerkan ilmu silatnya yang ketiga,"

Tiang Bu cepat membuka pasangannya dan cepat mainkan Ilmu Silat Hui houw tongte yang ia pelajari dari Pak kek Samkui, jari-jari tangannya dibuka merupakan cengkeraman dan ia mengeluarkan gerengan-gerengan kecil seperti seekor harimau cilik berlagak.

Dengan dahsyat ia menyerang Sin Hong.

Akan tetapi alangkah kaget dan kecewanya ketika baru saja dua gebrakan ia menyerang, ia telah ditangkap lengannya dan didorong mundur, dibarengi suara Sin Hong yang penuh teguran.

"Ilmu silat apa yang kau perlihatkan ini? Ilmu silat jahat dan kotor seperti ini harap jangan kau mainkan lagi selama hidupmu!"

Tiang Bu melangkah mundur dengan muka merah.

"Maaf, Sioksiok. Aku hanya dipaksa belajar ilmu silat ini oleh Pak-kek Samkui....."

Katanya lambat "Yang dua pertama tadi, dari siapa kau belajar dan apa namanya, ilmu silat menyerang dan mempertahankan tadi?"

"Yang ke dua adalah Ilmu Kelit Sam-hoan Sam-bu yang kupelajari dari Suhu Bu Hok Lokai, dan yang pertama....."

Tiang Bu ragu-ragu.

Menurut Bu Hok Lokai, kitab yang mengandung Ilmu Silat Pat hong hong i itu adalah kitab curian yang diperebutkan oleh orang-orang kangouw.

Kitab itu terjatuh ke dalam tangannya secara kebetulan sekali.

Haruslah ia ceritakan ini?

Selagi ia ragu-ragu, tiba-tiba angin menyambar-nyambar, daun-daun pohon pada rontok dan beterbangan ke bawah.

"Ayaaa....."

Terdengar Li Hwa menjerit.

"Gunakan tenaga khikang menangkis daun-daun itu.....!!"

Teriak Sin Hong kepada Li Hwa dan ia menubruk ke depan untuk memeluk Tiang Bu dan melindunginya, akan tetapi alangkah kagetnya karena ia tidak dapat menemukan Tiang Bu.

Sementara itu, daun-daun masih rontok sepertl hujan dan anehnya, daun-daun ini melayang cepat dan kalau mengenai tubuh terasa sakit-sakit seperti jarum-jarum disambitkan saja!

Li Hwa dan Sin Hong menggunakan kedua tangan untuk mengebut ke kanan kiri sehingga daun-daun yang mendekati mereka pada runtuh ke bawah.

Kemudian tidak hanya daun-daun yang beterbangan hingga sukar untuk melihat ke depan, bahkan pasir dan tanah debu berhamburan ke atas menyerang mata mereka.

"Keluar dari tempat ini!"

Seru Sin Hong Sambil menarik lengan Li Hwa dan mengajaknya melompat jauh keluar dari bawah pohon-pohon itu.

"Mana Tiang Bu.....?"

Tanya Li Hwa.

"Entahlah. Biar aku mencarinya!"

Kata Sin Hong dan baru ia sadar betapa dalam bahaya ini, baginya yang terpenting lebih dahulu adalah menyelamatkan Li Hwa dari bahaya! "Lihat itu....."."

Jerit Li Hwa sarnbil menudingkan telunjuknya ke arah sebuah pohon besar yang berdiri.

Sin Hong menengok dan melihat pemandangan yang aneh dan membuat bulu tengkuknya berdiri.

Di puncak pohon itu, di antara daun-daun dan ranking-ranting seperti seekor burung besar, duduk bersila seorang kakek gundul botak yang tubuhnya kurus dan jangkung sekali.

Kakek itu tangan kirinya mengempit tubuh Tiang Bu yang entah kapan telah ditangkapnya, sedangkan tangan kanannyu melakukan gerakan mendorong, menarik, dan memutar-mutar ke arah pohon-pohon dan tanah di mana tadi mereka berdiri.

Dan dari tangan kanannya itu seakan-akan keluar angin puyuh yang membuat daun-daun hijau rontok dan pasir serta debu di tanah membubung naik!

Tenaga seperti ini selama hidupnya belum pernah disaksikan oleh Sin Hong, apalagi oleh Li Hwa.

Melihat dua orang muda itu melompat jauh, kakek gundul itu menghentikan gerakan-gerakan tangannya dan seketika angin puyuh berhenti.

Kakek itu laki menibuka mulut sambil menengadah dan keluarlah suara nyanyian yang parau dan serak, sama sekali tidak sedap didengar telinga.

Akan tetapi kata-kata dalam nyanyian itu didengarkan dengan penuh perhatian oleh Sin Hong dan Li Hwa.

"Di antara Ciunglai dan Tailiang Barang simpanan dicuri orang, Lam thian Heng te buta dan tuli. Dua cacing tua menunggu mati Tak ingin mati seperti macan. Lebih baik tak diketahui kawan lawan. Akan tetapi, Thian Maha Kuasa DiturunkanNya calon Naga! Cacing tua berubah pikiran. Berkenan tinggalkan sedikit warisan."

Kata-kata dalam nyanyian ini amat menarik hati Sin Hong.

Akan tetapi selagi ia hendak mengajukan pertanyaan, tiba-tiba sinar terang berkelebat di puncak pohon tinggi itu dan di lain saat kakek gundul itu lenyap bersama Tiang Bu!

"Celaka!

Kembali Tiang Bu diculik orang!"

Kata Li Hwa mendongkol.

"Beruntung sekali anak itu....."

Kata Sin Hong perlahan sambil menarik napas panjang, hatinya masih tegang menyaksikan kehebatan kakek tadi.

"Beruntung? Apa maksudmu, Sin Hong?"

Tanya Li Hwa.

"Li Hwa, apakah kau tidak memperhatikan nyanyian kakek tadi?"

"Aku mendengar, akan tetapi apa sih artinya nyanyian tidak karuan itu?"

"Apakali kau belum pernah mendengar tentang dua orang kakek sakti setengah dewa yang bertapa di Omeisan dan yang tidak mau mempedulikan urusan duniawi, akan tetapi ditakuti semua orang karena luar biasa lihainya?"

"Tentu saja aku pernah mendengar tentang dua orang kakek itu. Bukankah mereka itu berada di daerah selatan?"

Sin Hong mengangguk.

"Tahukah kau, di antara Ciunglat dan Tailiangsan dua pegunungan yang disebut dalam nyanyiannya tadi terdapat apa?"

Li Hwa mengerutkan alisnya yang hitam panjang dan rapi.

Sepasang matanya yang jeli dipejam-pejamkan, akan tetapi karena ia belum terlalu jauh merantau dan tidak mengenal daerah selatan, ia tak dapat menjawab, hanya menggelengkan kepala setelah lama berpikir.

"Eh, kiraku kau akan menyebut nama tempat itu, alisnya berkerut-kerut dan matamu berkedap-kedip, tak tahunya jawabanmu hanya menggeleng kepala!"

Sin Hong menggoda dan Li Hwa tertawa manis.

"Ketahuilah, di antara dua pegunungan di sebelah barat Propinsi Secuan itu terdapat Gunung Omeisan. Dia tadi bilang dalam nyanyiannya bahwa barang simpanan dicuri orang. Tentu ada sesuatu yang hilang sehingga kakek itu sampai keluar dari tempat pertapaan dan berada di sini. Kalau tidak amat penting, tak mungkin seorang sakti yang sudah menjauhkan segala keduniawian mau pergi sebegitu jauhnya."

"Selanjutnya dia bilang Lamthian Hengte buta dan tuli, dua cacing tua menunggu mati. Tak ingin mati seperti macan, lebih baik tak diketahui kawan dan lawan. Apa artinya itu?"

Tanya Li Hwa.

"Aha, kiranya ingatanmu pun kuat sekali Li Hwa. Kau sudah hafal nyanyian itu di luar kepala!"

Teriak Sin Hong dengan muka berseri.

"Habis, apa kaukira aku sebodoh kerbau? Sin Hong, jangan kau menggoda orang saja, aku menjadi gemas melihamu!"

Kata Li Hwa cemberut, marah dibuat-buat. Sin Hong tersenyum lebar.

"Dan aku jadi senang melihatmu marah-marah dan gemas. Kau makin manis kalau cemberut, Li Hwa."

Wajah Li Hwa menjadi merah sekali sehingga cap tangan di pipinya tidak kelihatan.

Untuk ke dua kalinya dalam hari ini ia merasa hatinya berdetak tidak karuan karena girangnya mendengar Sin Hong yang selama ini "alim"

Sekali, berturut-turut menyebutnya "cantik menarik"

Dan sekarang "manis"! "Betulkah itu, Sin Hong?"

Tanyanya pula lirih, pertanyaan yang sama ketika ia disebut cantik menarik.

"Apanya yang betul, Li Hwa?"

Sin Hong balas bertanya. Sebetulnya pemuda ini sudah dapat menduga betapa girangpya gadis ini karena pujian-pujiannya, akan tetapi ia sengaja berpura-pura bodoh untuk menggoda.

"Betulkah bahwa aku.... bahwa kauanggap aku".. manis?"

Li Hwa kini menundukkan mukanya, suaranya perlahan sikapnya malu-malu.

Sin Hong berdebar penuh bahagia hatinya, juga ia merasa heran.

Biasanya Li Hwa bersikap terus terang dan dalam menyatakan cinta kasihnya tidak malu-malu?

Mengapa setelah ia mulai menyatakan bahwa ia pun membalas cinta kasih itu, Li Hwa nampak malu-malu dan tidak berani memandangnya?

Aneh sekali kaum wanita, pikir Sin Hong.

"Li Hwa, terus terang saja. Baru sekarang hatiku terbuka, baru sekarang mataku terbuka. Kaulah wanita yang paling cantik dan manis di dunia ini!"

Li Hwa meramkan mata menahan air mata yang hendak mengucur keluar kedua kakinya lemas sehingga ia menjatuhkan diri berlutut.

Cepat-cepat ia menutupi mukanya dengan kedua tangan agar Sin Hong tidak melihat ia mengucurkan air mata!

"Eh, kau kenapakah?"

Sin Hong bertanya sambil menyentuh pundaknya.

Li Hwa menggoyang kepala dan pundak, diam-diam menghapus air matanya, lalu berdiri dan tersenyum lebar.

Matanya masih basah akan tetapi tidak ada air mata yang keluar lagi.

"Tidak apa-apa, hayo jelaskan keteranganmu tentang nyanyian tadi!"

Katanya, sikapnya biasa seperti sediakala.

Kembali Sin Hong terheran-heran.

Memang Li Hwa seorang wanita luar biasa, pikirnya.

Akan tetapi ia tidak mau menggoda terus dan melanjutkan penjelasannya untuk menerangkan arti nyanyian kakek tadi.

"Dia bilang Lamthian Hengte buta dan tuli. Lamthian Hengte berarti kakak beradik dari dunia selatan, siapa lagi kalau bukan dua orang kakek sakti di Omeisan? Dengan pengakuan buta tuli, dimaksudkan bahwa dua orang kakek itu seperti dua ekor cacing tua menunggu mati. Ucapan ini untuk menyatakan kerendahan hati mereka yang menyamakan diri sendiri seperti cacing. Memang orang-orang sakti selalu menuruti jalan merendah, makin tinggi kepandaiannya makin ia merendahkan diri. Ada peribahasa yang menyatakan bahwa macan mati meninggalkan kulitnya dan manusia mati meninggalkan nama baiknya. Akan tetapi dua orang kakek Omeisan tidak mau mencari nama atau meninggalkan nama tersohor, malah merasa lebih baik tidak berhubungan dengan orang luar sehingga tidak punya kawan juga tidak punya lawan!"

"Ah, jelaslah sekarang kuberi keterangan Sin Hong. Benar-benar dia telah merendahkan diri secara berlebihan!", kata Li Hwa, memandang kepada Sin Hong dengan kagum. Biarpun mulutnya berkata demikian, seakan-akan memuji dan kagum kepada kakek sakti itu namun matanya jelas menyatakan bahwa sebenarnya Sin Honglah orangnya yang ia kagumi! "Kemudian ia bilang bahwa thian telah menurunkan seorang calon Naga yang berarti seorang calon pendekar besar. Tak salah lagi tentu yang ia maksudkan Si Tiang Bu! Memang anak itu luar biasa sekali. Kau melihat sendiri betapa sekecil itu ia telah menguasai dua macam ilmu silat yang amat luar biasa, yang selama hidupku baru sekali itu kulihat. Kemudian setelah melihat Tiang Bu, agaknya hatinya tergerak dan pendiriannya untuk mati dan meninggalkan nama berubah. Ia berniat akan meninggalkan sedikit warisan, tentu sebagai seorang sakti warisannya adalah ilmu kesaktian yang akan ditinggalkan kepada Tiang Bu."

"Jadi dia mengambil Tiang Bu sebagai muridnya?"

Kata Li Hwa sambil mengangguk-angguk.

"Pantas saja kaubilang bahwa Tiang Bu beruntung sekali."

Sin Hong mengerutkan keningnya.

"Betapapun juga, kalau teringat riwayat ayahnya, kadang-kadang aku menjadi ragu-ragu. Kalau betul dugaanku tadi bahwa Tiang Bu akan menjadi murid orang pandai sehingga dia sendiri kelak memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari ayahnya sendiri, kemudian kalau dia... dia menuruni watak ayahnya, bukanlah itu hebat sekali?"

Li Hwa maklum akan kegelisahan hati Sin Hong karena ia pun tahu betapa jahat ayah anak itu, yakni Liok Kong Ji manusia iblis yang tiada taranya dalam hal kejahatan.

Keduanya, termenung dan perlahan Li Hwa berkata.

"Mudah-mudahan tidak begitu jahat....."

Kemudian dua orang muda itu melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan.

Gunung Omeisan adalah sebuah gunung yang tinggi dan indah dipandang dari jauh namun sukar didaki orang.

Banyak jurang-jurang yang amat curam, lereng yang terjal penuh gunung-gunungan batu karang yang tinggi meruncing seperti menara-menara alam yang penuh rahasia.

Karena keadaan di Gunung Omeisan ini amat sukar dan berbahaya sekali, maka hampir tidak ada orang pernah mendaki.

Kalau ada juga, maka hanya sampai di lereng.

Mereka ini adalah pemburu-pemburu ahli-ahli silat atau penduduk-penduduk di daerah itu yang datang untuk berburu, mencari daun-daun obat, mencari kayu-kayu berharga dan lain-lain.

Akan tetapi tak ada yang berani mencoba naik melalui lereng batu-batu karang yang amat terjal itu.

Bukan saja tidak berani karena berbahaya, terutama sekali karena mereka tahu bahwa di puncak karang itu tinggal dua orang kakek sakti yang mereka anggap sebagai dewa dan tak berani mereka mengganggu dua orang kakek itu.

Pada suatu pagi yang amat dingin, dari atas puncak gunung Omeisan itu nampak dua titik hitam-hitam bergerak-gerak ke sana kemari, cepat dan gesit.

Dilihat dari jauh, orang akan rnengira bahwa itu adalah dua ekor burung besar dan kecil.

Akan tetapi setelah dua titik itu makin turun, akan nampaklah bahwa mereka itu adalah seorang kakek gundul jangkung kurus dan seorang pemuda tanggung yang berlompatan ke sana kemari di atas ujung batu-batu yang runcing!

Pemuda tanggung itu adalah Tiang Bu!

Dan kakek itu adalah kakek gundul jangkung yang dulu membawanya pergi dari depan Sin Hong dan Li Hwa.

Siapakah gerangan kakek lihai ini?

Tepat seperti dugaan Sin Hong dahulu, kakek ini adalah seorang di antara dua kakek sakti dari Omei-san.

Dia adalah Tiong Jin Hwesio, dan yang seorang lagi adalah seorang kakek yang sudah lebih tua dari Tiong Jin hwesio yang berusia tujuh puluh tahun, yaitu suhengnya yang bernama Tiong Sin Hwesio berusia delapan puluh tahun dan rambutnya panjang sudah putih semua.

Tiong Sin Hwesio dan Tiong Jin Hwesio adalah dua orang pertapa yang sudah puluhan tahun menyembunyikan diri tidak mau berurusan dengan dunia luar.Kepandaian mereka luar biasa tingginya.

Hal ini tidak mengherankan kalau diingat bahwa Tiong Sin Hwesio adalah pewaris dari ilmu-ilmu yang ditinggalkan oleh Tat Mo Couwsu sedangkan Tiong Jin Hwesio mewarisi ilmu-ilmu dari Hoan Hian Couwsu!

Dua orang kakek tua ini hidup sebagai pertapa di puncak Omeisan di mana mereka bangun sebuah pondok berbentuk kelenteng yang cukup besar dan indah.

Tiong Jin Hwesio mempunyai kepandaian mengukir, maka semua tiang-iang dan payon-payon pondok itu diukirnya, sehingga merupakan bangunan yang akan mengagumkan hati orang-orang kota.

Kesenangan dua orang pertapa ini hanya bersamadhi dan melatih ilmu-ilmu yang mereka pelajari.

Memang aneh sekali kalau dipikir.

Hidup sebagai pertapa dan bermaksud tinggal di situ sampai mati, akan tetapi keduanya amat tekun memperdalam ilmu kepandaian mereka.

Di samping ini, mereka paling suka main catur sehingga dahulu Bu Hok Lokai sampai dibawa ke situ hanya untuk diajak bermain catur!

Bukan hanya Bu Hok Lokai, sudah banyak orang-orang yang terkenal ahli main catur, biarpun tinggalnya di kota raja atau jauh sekali dari situ, tetap akan diculik dan mereka bawa ke puncak Omeisan untuk diajak main catur!

Karena kesenangan bermain catur inilah yang memungkinkan Thai Gu Cinjin yang amat licin dan banyak tipu muslihat itu untuk mencuri sebuah kitab dari kedua kakek itu.

Dengan mengajak dua orang ahli catur dari Tibet, Thai Gu Cinjin mendaki Gunung Omeisan.

Tentu saja diterima dengan girang sekali oleh dua orang kakek itu karena ia membawa dua orang ahli catur itu.

Kalau saja ia tidak membawa dua orang ahli catur itu, sudah tentu dia tidak diperbolehkan naik ke puncak.

Segera Tiong Hwesio dan Tiong Jin Hwesio tenggelam dalam permainan catur menghadapi dua orang ahli dari Tibet yang dibawa oleh Thai Gu Cinjin itu.

Dan bukan main permainan ini.

Sampai tiga hari tiga malam!

Waktu itulah yang memungkinkan Thai Gu Cinjin menyelinap ke dalam pondok dan akhirnya ia berhasil mencuri sebuah kitab yang berisi pelajaran Ilmu Silat Pat hong hong i.

Sampai lama sekali setelah Thai Gu Cinjin dan dua orang ahli catur itu pergi turun dan Omeisan baru dua orang kakek ini tahu akan kehilangan sebuah kitab pusaka.

Tiong Jin Hwesio menjadi marah dan turun gunung untuk mencari.

Karena turunnya ini yang menyebabkah beberapa orang lihai di dunia kahgouw tahu bahwa kitab Omeisan dicuri Thai Gu Cinjin sehingga di mana-mana pendeta Lama jubah merah ini dihadang orang untuk dirampas kitabnya.

Dan akhirnya, seperti telah diceritakan semula, kitab itu terjatuh ke tangan Tiang Bu secara kebetulan sekali dan karena bocah ini mempelajari Pat hong hong i, maka Tiong Jin Hwesio dapat mengenal ilmu silat itu dan membawa bocah ini ke Omeisan.

Juga Tiong Sin Hweslo suka sekali rnelihat Tiang Bu, yang memiliki bakat luar biasa, maka ia pun setuju dengan niat sutenya untuk mengangkat Tiang Bu menjadi ahli waris Omeisan!

Memang pada dasarnya Tiang Bu berbakat dan suka sekali akan ilmu silat.

Tak dapat disangkal bahwa hatinya amat rindu akan pulang, rindu kepada ayah bundanya, terutama sekali rindu kepada Lee Goat.

Akan tetapi, kesukaannya belajar silat mengatasi kerinduannya sehingga rindunya terobati ketika ia mulai belajar ilmu sitat di puncak Omeisan la tekun sekali dan ditambah kecerdikannya, dua orang kakek sakti di Omeisan menjadi makin sayang kepadanya.

Akan tetapi dua orang sakti itu tidak memperlihatkan kasih sayang mereka, bahkan mereka bersikap keras dan lidak saja Tiang Bu harus berlatih berat sekali, juga anak ini harus bekerja keras.

Setiap hari Tiang Bu harus membersihkan pondok, mencari kayu, menimba air, mencuci daun-daun, dan lain-lain.

Namun bocah yang tahu diri ini melakukan semua pekerjaannya tanpa mengeluh.

Ia menerima semua pekerjaan berat itu sebagai biaya pelajarannya.

Ia tidak tahu bahwa pekerjaan-pekerjaan itu sebetulnya termasuk "latihan"

Pula, latihan untuk menguatkan tubuhnya sehingga tubuh dan pikirannya menjadi biasa akan penderitaan lahir.

Seorang gagah harus kuat menahan penderitaan lahir.

Baru saja lima tahun Tiang Bu belajar ilmu di Omeisan, ia telah memperoleh kemajuan yang luar biasa sekali.

Pada pagi hari itu, ia dilatih oleh Tiong Jin Hwesio dalam ilmu yang disebut Liap tinsut (Ilmu Mengejar Awan)!

Itulah semacam ilmu laricepat atau ilmu melompat yang berdasarkan ginkang yang sempurna.

Akan tetapi pemuda tanggung ini sudah pandai sekali melompati jurang yang sepuluh tombak lebarnya, berlompatan dari ujung batu karang ke ujung lain yang amat runcing sehingga menuruni lereng yang terjal serta melalui daerah jurang yang curam itu baginya bukan apa-apa lagi.

Tiong Jin Hwesio yang melatih ginkang padanya, membawanya ke tempat berbahaya di daerah gunung itu.

Makin lama kakek ini membawa Tiang Bu ke tempat yang makin sukar sehingga beberapa bulan kemudian tidak ada sebuah pun tempat yang tak dapat didatangi Tiang Bu.

Tentu saja kakek ini merasa puas sekali.

Juga dalam ilmu-ilmu yang lain Tiang Bu memperlihatkan kemajuannya.

Biarpun dua orang suhunya menghujaninya dengan pelajaran-pelajaran berat, namun ia dapat mengatur waktunya dan dapat menerima semua itu dengan baik.

"Pinceng dan Jisuhumu (Gurumu yang ke Dua) tak pernah mempergunakan senjata. Thian sudah mengaruniai kita dengan tangan kaki, panca indera dan akal budi. Mengapa pula kita harus mengandalkan bantuan senjata seperti pedang atau golok? Tidak, biarpun hanya dengan tangan dan kaki, asal dilatih baik tidak akan kalah menghadapi senjata yang bagaimanapun juga,"

Kata Tiong Sin Hwesio kepada muridnya.

Memang keistimewaan inilah yang membuat Tiong Sin Hwesio dan Tiong Jin Hwesio terkenal sebagai orang-orang sakti yang berilmu tinggi.

Mereka tak pernah mempergunakan senjata, akan tetapi selama ini, tak seorang pun yang berani mencoba-coba dapat mengalahkan mereka.

Banyak sudah ahli-ahli pedang, ahli-ahli tombak dan ahli-ahli senjata lainnya sengaja datang untuk mencoba-coba karena mereka ini sebagai ahli senjata tentu saja tidak suka dicela.

Akan tetapi mereka semua roboh dengan mudah saja oleh Tiong Sin Hwesip dan Tiong Jin Hwesio.

"Thian melengkapi kita dengan akal budi. Untuk apakah ke mana-mana rnembawa senjata tajam seperti jagal? Kalau memang perlu, setiap benda di depan kita, baik benda itu berupa setangkai kembang, sebatang ranting, atau sehelai daun, dapat kita pergunakan untuk membela diri. Bukan senjata yang istimewa, melainkan orangnya yang berada di belakang senjata. Golok pusaka, pedang mustika, segala yang runcing-runcing dari yang tajam-tajam takkan ada artinya apabila orang yang memegangnya tolol. Sebaliknya, sehelai daun akan lebih berguna daripada sebatang pedang apabila orang yang mempergunakannya mengerti bagaimana harus mempergunakannya,"

Demikian Tiong Sin Hwesio melanjutkan nasihatnya kepada Tiang Bu yang selalu mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatatnya baik-baik di hati dan ingatannya.

Dilihat dari semua nasihat ini, sama sekali tidak mengherankan apabila Tiang Bu tak pernah mendapat pelajaran bersilat dengan senjata apa pun juga.

I a hanya menerima pelajaran ilmu silat tangan kosong, ini pun tidak begitu dipentingkan oleh dua orang kakek itu.

Yang lebih dipentingkan adalah penggemblengan dalam memperkuat hawa sinkang di dalam tubuh, mengumpulkan tenaga-tenaga tersembunyi sehingga dapat dipergunakan dengan baik-baik.

Dapat dimengerti apabila tanpa disadarinya, Tiang Bu telah memiliki tenaga lweekang yang hebat dan memiliki ilmu khikang dan ginkang yang istimewa.

Dengan sinkang orang dapat memiliki tubuh yang kuat dan kebal, dengan lweekang orang dapat mengatur tenaga sehingga tenaga seratus kati menjadi seribu kati, dengan khikang orang dapat mengatur pernapasan sehingga tidak saja isi dadanya bersih, juga terutama sekali napasnya panjang dan kuat.

Dengan ginkang orang dapat mengatur gerakan yang lincah, ringan dan cepat.

Kalau semua ini sudah terpenuhi, berarti orang sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi!

Dengan dasar-dasar ini, orang sudah menjadi kuat dan sukar dikalahkan.

Beberapa bulan kemudian pada suatu hari Tiang Bu duduk mengaso di bawah sebatang pohon.

Ia tidak lelah, karena tubuhnya sudah kuat sekali, dan mengerjakan pekerjaan mengangkut air dari lereng ke puncak sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Yang membuat ia ingin beristirahat di bawah pohon adalah panas terik matahari yang membakar kulit.

Musim panas sedang hebat-hebatnya, sehingga di lereng Omeisan yang biasanya dingin itu pun tidak luput dari serangan hawa panas matahari.

Hawa panas, bayangan pohon, ditambah silirnya angin gunung membuat Tiang Bu duduk melenggut bersandarkan tongkat pikulannya.

Tempat ia berhenti mengaso itu adalah di lereng selatan di mana terdapat sebuah kelenteng kuno yang sudah mulai rusak karena tidak dipakai lagi.

Di depan kelenteng itu terdapat pagar terbuat daripada kayu besi yang berukir indah.

Di luar pagar inilah Tiang Bu duduk mengaso, melenggut dan mengantuk karena malam tadi ia terlalu malam berlatih teori ilmu silat sampai lupa waktu.

Tiba-tiba ia mendengar suara senjata beradu nyaring sekali, seakan-akan berada di dekat telinganya.

Tiang Bu membuka matanya dan dengan terheran-heran ia melihat dua orang gadis cilik sedang bertempur.

Keduanya mempergunakan sebatang pedang dan gerakan mereka lincah dan indah.

"Cringg.....!"

Pedang berkali-kali bertemu menerbitkan suara nyaring dan bunga api berpijar menyilaukan mata.

Baca Juga: Si Bangau Merah 11

Baca Juga: Mutiara Hitam 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert