Ceritasilat Novel Online

Tangan Geledek 4

Eps 4 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.

Kantuk yang tadi menguasaii mata Tiang Bu seketika lenyap, terganti oleh perhatian dan keheranan.

Ia melihat gadis cilik itu kedua-duanya sama pandai dan usia mereka pun sebaya, paling banyak sepuluh tahunan.

Akan tetapi keduanya telah memiiiki kepandaian ilmu pedang yang hebat.

Ketika Tiang Bu memandang penuh perhatian kepada seorang di antara dua anak perempuan itu, hatinya berdebar aneh.

Ia seperti sudah kenal baik bocah itu, kenal baik sekali.

Hidung yang kecil meruncing, bibir itu, mata itu.....!

"Lee Goat.....!"

Tak terasa lagi Tiang Bu menyebut nama ini dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah melompat seperti melayang ke tempat pertempuran dan di lain saat ia telah menyodorkan tongkat pikulan yang sejak tadi dipegangnya itu di tengah-tengah antara dua orang gadis cilik yang masih bertempur.

"Tranggg.....! Tranggg.....!"

Dua buah pedang terpental dan terlepas dan pegangan.

Padahal Tiang Bu tidak melakukan pukulan, bahkan dua pedang yangtadi menghantam tongkat pikulannya, namun karena tenaga sinkang yang luar biasa dari Tiang Bu, dua batang pedang itu telah terpental .

Dua orang gadis cilik itu memandang dengan kaget, cepat memungut pedang masing-masing kemudian mereka menghadapi Tiang Bu dari dua jurusan yang berlawanan.

Akan tetapi, Tiang Bu hanya memperhatikan gadis cilik adiknya yang ditinggal ketika baru berusia dua tiga tahun itu.

Telah delapan tahun lebih ia meninggalkan rumah berpisah dari adiknya.

"Kau..... bukankah kau..... Lee Goat.....?"

Tanya Tiang Bu, matanya terbelalak dan bibirnya gemetar, penuh harapan.

Gadis cilik itu memandang kepadanya dengan mata jernih dan kosong.

Sama sekali tidak mengenal, lalu mengerutkan kening dan berkata.

"Bukan. Aku tidak bernama Lee Goat "Betulkah? Kau..... kau serupa betul dengan dia....."

Kata pula Tiang Bu, dadanya penuh kekecewaan.

"Hemm, kau ini siapakah berani menggangguku?"

Tanya gadis cilik itu tiba-tiba dengan marah.

Tiang Bu mendengar sambarah angin ketika punggungnya hendak ditusuk oleh dara cilik yang berada.

di belakangnya.

Dengan gerakan enak saja Tiang Bu miringkan tubuhnya, perasaan dan pendengarannya sudah sedemikian tajamnya sehingga punggungnya seperti bermata maka kelitan ini membuat pedang gadis cilik itu menusuk angin.

Dan sebelum ia dapat menyerang lagi, Tiang Bu menggunakan jari tangannya menyentil tengah-tengah pedang sambil berseru.

"Bocah cilik jangan main-main dengan pedang!"

Sentilan jari tangannya dengan tepat mengenai pedang dan gadis itu berseru kaget, pedangnya seperti direnggut oleh tenaga yang kuat dan tahu-tahu telah terlepas dari pegangannya, meluncur kebawah dan menancap di atas tanah!

"Bi Li, jangan berkelahi.....!!"

Terdengar seruan orang dan seorang pemuda tanggung yang sebaya dengan Tiang Bu tampan dan gagah dengan pakaian indah, datang berlari-lari ke tempat itu.

Jauh di belakang pemuda ini nampak pula beberapa orang tua datang dari jurusan yang berlainan.

Melihat ini Tiang Bu yang merasa kecewa karena gadis cilik yang disangka Lee Goat itu ternyata bukan adiknya, segera menyeret pikulannya dan pergi dari tempat itu.

Ia tidak melihat betapa gadis cilik yang disangka adiknya tadi memandang kepadanya dengan mata penuh pertanyaan dan keheranan.

Sementara itu, bocah perempuan yang seorang lagi memandang kepadanya dengan pandang mata kagum dan tertarik sekali.

Setelah melihat munculnya banyak orang, keheranannya bertambah dan hati Tiang Bu menjadi tidak enak, Tidak biasanya di lereng ini terdapat begitu banyak orang.

Ia tidak kembali ke puncak, melainkan bersembunyi di dalam rumpun tebal sambil mengintai keluar.

Dilihatnya dua orang gadis cilik yang tadi bertempur itu sudah saling menjauhi, gadis yang menyerangnya bersama pemuda tanggung tadi menengok ke arah seorang wanita yang datang seperti terbang cepatnya ke arah mereka.

Adapun gadis yang wajahnya seperti Lee Goat juga menanti datangnya seorang laki-laki.

Melihat orang laki-laki ini, Tiang Bu berdebar jantungnya.

Laki-laki ini bukan laln adalah Wan Sin Hong!

Bagaimana Sin Hong bisa sampai disitu dan siapakah mereka semua itu?

Untuk mengetahui hal ini, mari kita ikuti pengalaman Wan Sin Hong dan Li Hwa.

Seperti telah dituturkan, Sin Hong dan Li Hwa melanjutkan perjalanan mereka.

"Sin Hong, sekarang kita ke mana?"

Tanya Li Hwa sambil mengerling ke wajah Sin Hong di sebelah kanannya.

"Aku akan pergi ke Kim-bun-to. Harus kuberitakan tentang keadaan Tiang Bu kepada Hui Lian dan Hong Kin. Selain itu, aku sudah terlalu lama meninggalkan Luliangsan. Aku harus menengok tempat itu kalau-kalau ada orang mencari aku."

Demikianlah, Sin Hong dan Li Hwa lalu menuju ke Luliangsan, tempat di mana Sin Hong tinggal selama ia menjadi bengcu.

Ketika tiba di lereng Luliangsan, mereka melihat bahwa puncak Luliangsan telah kedatangan banyak tamu dari dunia kangouw.

Mereka itu adalah tokoh-tokoh besar atau wakil-wakil partai besar yang dahulu telah rnemilih Sin Hong rnenjadi bengcu.

Bu Kek Siansu, ketua Butongpai yang nampak paling tua di antara para tokoh itu, maju menyambut kedatangan Sin Hong sambil mernbungkuk.

Sin Hong buru-buru memberi hormat dan berkata.

"Ah, kiranya Bu Kek Siansu Locianpwe dan para Locianpwe yang terhormat. Sungguh menyesal sekali baru sekarang siauwte datang, membikin Cuwi sekalian terlalu lama menanti."

"Kami baru sepekan menanti disini. Pinto sekarang mewakili kami semua karena Tai Wi Siansu sudah meninggal dunia setahun yang lalu,"

Kata Bu kek Siansu. Sin Hong mengerutkan alisnya.

"Sayang sekali belum sempat aku bertemu dengan Tai Wi Siansu Locianpwe di Kun lun san. Semoga arwahnya mendapat tempat yang mulia."

Melihat sikap mereka yang dingin, Sln Hong diam-diam dapat menduga bahwa kedatangan mereka ini tentulah untuk urusan kedudukan bengcu.

Tentu semua orang ini sudah mendengar bahwa dia adalah keturunan bangsa Kin dan karenanya mereka tidak sudi mempunyai bengcu keluarga Kaisar bangsa yang dianggap musuh!

Akan tetapi ia berlaku tenang, lalu bertanya "Tidak tahu urusan penting apakah yang membawa Cuwi sekalian rnendaki Luliangsan?

Apa kiranya (Lanjut ke

Jilid 10) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 yang dapat kulakukan untuk Cuwi sekalian?"

"Wan-sicu, pinto mewakili semua saudara di sini untuk memberi penjelasan dan pinto akan bicara singkat saja,"

Kata Bu Kek Siansu. Mendengar kakek ini menyebutnya Wansicu dan bukan Wanbengcu, Sin Hong tersenyum dingin. Tahulah ia karena sudah jelas sekali bahwa orang tidak memandangnya sebagai bengcu lagi.

"Bicaralah, Bu Kek Siansu,"

Katanya singkat.

"Sebelum kamu datang ke sini, lebih dulu setahun yang lalu Tai Wi Siansu telah memimpin pertemuan. Dalam pertemuan itu dibicarakan tentang kedudukan Wansicu. Oleh karena sudah jelas bahwa Wansicu keturunan Wan Kan atau pangeran Wanyen Kan, maka terpaksa kami semua tidak dapat menerima kau menjadl bengcu kami. Akan tetapi, mengingat kau telah lama membantu kami, kami menghentikanmu dengan hormat, bahkan kami mengajak Wansicu untuk bersama kami membujuk calon bengcu yang hendak kami angkat."

Sin Hong tersenyum lebar. Dadanya terasa lega, Kedudukan bengcu selama ini merepotkannya, membuat hidupnya terikat.

"Bagus! Aku harus berterima kasih kepada Cuwi yang membebaskan aku dari tugas bengcu yang maha berat. Tentu saja aku bersedia membantu membujuknya. Siapakah calon bengcu itu gerangan?"

"Dia adalah seorang dari kakek sakti di Omeisan,"

Kata Bu Kek Siansu. Kening Sin Hong berkerut. Ia teringat akan sikap orang-orang gagah di dunia sebelah selatan yang amat kasar ketika mengunjunginya di Luliangsan beberapa tahun yang lalu.

"Hemm, mengapa Cuwi memilih orang selatan?"

Tegurnya.

"Kalau mereka yang dipilih, terserah. Akan tetapi aku tidak berani memastikan apakah aku akan ikut membujuk mereka yang sama sekali tidak kukenal. Betapapun juga, terima kasih atas pembebasan tugas bengcu.

"Sebagai tanda bahwa aku sama sekali tidak kecil hati dibebaskan dari tugas bengcu, dan untuk menyatakan terima kasih, sekarang aku hendak mengumumkan secara terus terang bahwa biarpun aku memang benar keturunan bangsawan Wanyen, namun aku tidak dapat membela Kerajaan Kin! Untuk menyatakan bahwa di dalam tubuhku masih mengalir darah Han, aku hanya akan membela rakyat apabila terjadi perang yang datangnya dari utara."

Mendengar kata-kata ini, sebagian besar orang gagah yang memang menaruh rasa hormat dan suka kepada Sin Hong bertepuk tangan gembira dan memuji Sin Hong sebagai orang gagah yang patut dlkagumi.

"Cuwi sekalian!"

Kata pula Sin Hong dengan suara keras sehingga suara gaduh itu berhenti karena semua orang rnemperhatikannya.

"Aku hendak mohon pertolongan Cuwi sekalian, terutama para Locianpwe yang terhormat. Oleh karena sekarang diriku tidak terikat lagi oleh tugas berat dan telah bebas, maka aku bermaksud melangsungkan ikatan jodoh dengan Hui eng Niocu Siok Li Hwa di tempat ini. Untuk keperluan itu, aku sangat mengharapkan bantuan para Locianpwe untuk menyelenggarakannya, sebagai wali-wali atau pengganti orang-orang tua, oleh karena baik aku maupun calon isteriku adalah orang-orang yatim piatu, bahkan guru-guru pun telah meninggal dunia. Tidak tahu apakah para Lociaripwe sudi menolong kami?"

Kata-kata terakhir itu diucapkan oleh Sin Hong dengan suara terharu.

Ketika Sin Hong bicara, semua orang mendengarkan dengan tak bersuara, akan tetapi begitu ia habis bicara, terdengar sorak-sorai gemuruh tanda bahwa orang-orang itu menyambut berita ini dengan gembira sekali.

Para locianpwe juga maju untuk memberi selamat dan menyatakan bersedia untuk membantu dua orang muda itu mengesahkan perjodohan mereka.

Para tokoh dunia kangouw berikut para anggauta yang ikut di puncak Luliangsan itu, jumlahnya ada lima puluh orang lebih.

Mereka ini la!u sibuk mengatur ini itu, menghias gua tempat tinggal Sin Hong sebaik-baiknya, membangun pondok atau ruangan darurat untuk tempat berpesta.

Ada pula yang turun gunung cepat-cepat untuk mencari bahan-bahan guna berpesta berikut tukang-tukang masaknya, arak, daging dan lain-lain.

Dalam waktu tiga hari saja semua sudah siap dan pada pagi hari ke empatnya dilangsungkanlah pernikahan antara Sin Hong dan Li Hwa secara sederhana namun cukup meriah!

Hanya sayangnya bagi Li Hwa, di antara para tamu tidak ada seorang pun tamu wanita!

Setelah kedua pengantin diberi restu oleh para locianpwe, lalu diarak menuju makam Pak Kek Siansu dan Pak Hong Siansu di puncak untuk bersembahyang di depan kedua makam ini.

Kemudian kedua mempelai dengan diantar oleh para locianpwe turun ke lereng gunung untuk bersembahyang di depan makam Luliang Samlojin.

Setelah upacara ini selesai, berpestalah mereka di ruangan darurat di depan gua itu.

Menjelang senja semua tamu minta diri dan rneninggalkan puncak Luliangsan, Sin Hong dan isterinya mengantar mereka sampai di tikungan sarnbil tiada hentinya menghaturkan terima kasih mereka.

Kemudian sambil bergandengan tangan kedua mempelai ini dengan hati penuh kebahagiaan kembali ke puncak untuk beristirahat di dalam gua tempat tinggal Sin Hong yang sudah dihias seada-adanya oleh para tamu tadi.

Ketika melangsungkan perjodohannya Sin Hong berusia tiga puluh tahun dan Li Hwa berusia lebih muda dua tahun.

Sukar untuk melukiskan kegembiraan kedua mempelai ini, hanya mereka berdua yang mengalamilah yang dapat merasakan!

Beberapa bulan kemudian Sin Hong mengajak isterinya pergi ke Pulau Kin bun to untuk memberi kabar kepada Hui Lian dan Hong Kin tentang Tiang Bu.

Hong Kin dan Hui Lian menyambut kedatangan Sin Hong dengan gembira apalagi setelah diberi tahu bahwa Sin Hong telah menikah dengan Hui eng Niocu Siok Li Hwa yang gagah perkasa.

Mereka segera mengucapkan selamat dan Hui Lian menegur.

"Wan-susiok (Paman Guru Wan) mengapa tidak memberi kabar lebih dulu kepada kami? Kalau diberi tahu, biarpun jauh kami pasti akan datang untuk menghadiri pesta pernikahan itu!"

Hui Lian menyebut Sin Hong paman guru karena memang Sin Hong masih terhitung paman gurunya sendiri. Ayahnya dahulu adalah murid Pak Kek Siansu, demikian pula Sin Hong. Sin Hong tersenyum.

"Perjodohan kami dilangsungkan secara serentak dan mendadak, mana ada kesempatan memberi kabar!"

Ia lalu menuturkan secara singkat tentang kedatangan orang-orang kangouw di puncak Luliangsan untuk membebaskannya dari tugas bengcu dan betapa dalam kesempatan itu ia lalu minta bantuan mereka untuk merayakan kelangsungan perjodohannya.

Kemudian Sin Hong bercerita tentang Tiang Bu.

"Anak itu memang aneh sekali nasibnya."

Katanya mengakhiri ceritanya.

"Selalu berpindah ke dalam tangan orang-orang pandai, bahkan sekarang kurasa ia telah menjadi murid kakek sakti di Omeisan. Biarlah lain kali kita menengok ke sana."

Hui Lian dan Hong Kin agak kecewa karena Tiang Bu tidak turut pulang akan tetapi mereka lega mendengar bahwa anak itu selamat, bahkan menjadi muid orang pandai.

"Tadinya kami bermaksud untuk menyerahkan Tiang Bu kepada Susiok agar dididik dalam ilmu silat, akan tetapi sekarang dia telah menjadi murid Ji Omeisan biarlah kami menyerahkan anak kami saja agar diterima sebagai mund oleh Susiok berdua."

Kata Hui Lian yang segera nnemanggil anak peiempuannya yang berada di dalam.

Tak lama kemudian muncullah seorang bocah perempuan berusia lima enam tahun, cantik manis, dan mungil sekali.

Bocah ini memandang kepada Sin Hong dan Li Hwa dengan mata bening dan penuh pertanyaan karena ia tidak mengenal mereka.

"Lee Goat, beri hormat kepada Suhu dan Subomu ini!"

Kata Hui Lian kepadanya sambil menuding ke arah Sin Hong dan Li Hwa.

Untuk sesaat bocah itu memandang kepada Sin Hong dan Li Hwa penuh perhatian terutama sekali ke arah pedang yang tergantung di pinggang Sin Hong dan menempel di punggung Li Hwa.

Kemudian ia maju dan berlutut sambil berkata hormat.

"Suhu.....! Subo.....!"

Sin Hong dan Li Hwa saling pandang sambil tersenyum.

Sekali bertemu pandang saja suami isteri ini maklum bahwa masing-masing amat tertarik dan suka kepada bocah itu.

Sin Hong tertawa dan mengangkat bangun bocah itu sambil berkata.

"Anak baik, bangunlah!"

Akan tetapi ia merasa betapa tubuh anak itu kaku seperti batu dan ketika ia mengangkatnya Lee Goat masih dalam keadaan berlutut, tubuhnya kaku dan keras!

Sin Hong tertawa kagum sambil memandang kepada Hui Lian.

Dengan muka merah akan tetapi mata bangga Hui Lian membentak anaknya.

"Lee Goat, jangan kurang ajar! Hayo turun!"

Setelah Lee Goat menarlk kembali "tenaganya"

Dan sudah diturunkan oleh Sin Hong, Hui Lian berkata lagi kepada Sin Hong.

"Dia memang sudah mernpelajari sedikit ilmu silat dan. sedang berlatih Iweekang. Harap Susiok jangan mentertawai kami."

"Mengapa mentertawai? Anak ini berbakat baik sekali, kecil-kecil sudah dapat menggunakan tenaga membikin keras tubuh, benar-benar mengagumkan!"

Kata Li Hwa mendahului suaminya sambil mengangkat Lee Goat dan menciumnya.

Demikianlah, semenjak saat itu, Lee Goat menjadi murid Sin Hong.

Rumah di Kim-bun-to anat besar maka Sin Hong dan isterinya merasa suka tinggal di situ.

Tidak saja rumahnya cukup besar sehingga mereka leluasa, juga Lee Goat merupakan murid yang menggembirakan hati dan juga mereka dapat bergaul dengan rukun dan baik bersama Hui Lian dan suaminya.

Seringkali Sin Hong bercakap-cakap atau bermain catur dengan Hong Kin sedangkan Li Hwa dan Hui Lian kalau sudah mengobrol di dalam kamar berdua sampai lupa waktu!

Mereka benar-benar pasangan-pasangan yang amat rukun Cara hidup yang menyenangkan membuat orang lupa akan waktu yang melewat cepat sekali.

Tanpa terasa lagi tahu-tahu Sin Hong dan Li Hwa sudah tinggal selama empat tahun di Kim bun to!

Sebetulnya Sin Hong sudah kerasan dan senang tinggal di situ.

Mengapa tidak?

Hui Lian dan suaminya amat baik seperti saudara sendiri, juga Lee Goat merupakan murid yang pintar dan cepat maju.

Akan tetapi ada suatu hal yang mengganggu hati Sin Hong dan kadang-kadang membuatnya sampai jauh malam tak dapat tidur, bercakap-cakap dengan suara duka dengan isterinya.

Mengapa?

Bukan lain karena sebegitu lama mereka berdua belum juga dikaruniai putera.

Hal ini mengecewakan hati mereka dan melenyapkan semua kesenangan, membuat rnereka menjadi bosan tinggal di Kim bun to.

Hui Lian dan suaminya terkejut juga ketika pada suatu pagi Sin Hong dan isterinya menyatakan bahwa mereka ingin pergi merantau dan hendak membawa Lee Gpat bersama.

"Sudah terlalu lama kami menganggur saja sampai-sampai kami tidak tahu apa yang terjadi di luar. Selain itu, perlu sekali bagi Lee Goat untuk melihat dunia kangouw agar pengetahuannya bertambah. Kalian tahu sendiri betapa pentingnya ini bagi Lee Goat,"

Kata Sin Hong.

Hui Lian dan Hong Kin tentu saja tak dapat menahan mereka.

Juga mereka merasa tidak enak untuk melarang Lee Goat, karena bukankah mereka sendiri yang menyerahkan Lee Goat menjadi murid Sin Horg.

Dengan mengeraskan hati Hui Lian mengangguk dan menyetujui, bahkan cepat-cepat menyediakan pakaian-pakaian yang hendak dibawa oleh Lee Goat yang sudah kegirangan.

Akan tetapi setelah Sin Hong dan Li Hwa berangkat bersama Lee Goat, naik perahu untuk menyeberang ke daratan, Hui Lian tak dapat menahan tangisnya!

Hong Kin menghiburnya dan menyatakan bahwa di tangan Sin Hong dan isterinyaj pasti Lee Goat takkan menemui bahaya sesuatu.

Suami Isteri Ini sama sekali tidak tahu bahwa baru beberapa ratus li Sin Hong dan rombongannya meninggalkan Kim bun to telah menghadapi bencana hebat.

Sepekan setelah meninggalkan Kim bun to, Sin Hong dan isterinya serta muridnya tiba di kota Nanpo.

Untuk menyenangkan hati Lee Goat yang baru pertama kali itu melakukan perjalanan jauh Sin Hong dan isterinya mengajak Lee Goat bertamasya di taman bunga yang dibuka untuk umum di kota itu.

Waktu itu musim bunga telah lama lewat, akan tetapi di dalam taman masih penuh dengan tanaman bunga yang beraneka warna dan macam.

Maka tempat itu amat ramai dikunjungi orang-orang dari dalam kota maupun dari luar daerah.

Selagi suami isteri dan murid mereka ini menikmati keindahan taman sambil minum teh wangi yang dijual orang di dalam taman dan duduk di atas bangku-bangku kayu yang sederhana, tiba-tiba Sin Hong menoleh.

Ia merasa ada orang memandangnya dan betul saja, begitu ia menoleh, diantara banyak orang ia melihat seorang laki-laki yang memandang kepadanya dengan tajam.

Jantung Sin Hong serasa berhenti berdetak ketika ia mengenal siapa adanya laki-laki itu.

Serentak ia bangkit berdiri dan dengan langkah lebar menghampiri tempat di mana orang itu berdiri.

Akan tetapi orang itu menyelinap di antara orang banyak dan lenyap.

Sin Hong mengejar sambil mendesak orang-orang itu.

Dengan mudah saja kedua lengannya membuka jalan.

Akan tetapi tiba-tiba lengannya bertemu dengan lengan tangan orang lain yang amat kuat sehingga terpaksa Sin Hong berhenti.

Sin Hong mengangkat muka untuk memandang orang yang lengan tangannya keras dan kuat sekali itu dan ia bertemu pandang dengan seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa, bermuka brewok bermata lebar tajam.

Usianya kurang lebih lima puluh tahun, akan tetapi kelihatan amat kuat dan gagah.

"Hemm, di tempat yang begini penuh orang tak boleh tergesa-gesa mendocong orang ke kanan kiri,"

Kata orang brewok itu sambil tersenyum sindir di balik kumis dan jenggotnya.

Sin Hong melirik ke sana ke mari akan tetapi orang yang dicarinya telah lenyap, maka sambil tersenyum ia menjura dan menjawab.

"Maaf, agaknya aku tadi telah melihat setan di siang hari."

Setelah berkata demikian, ia lalu berjalan kembali ke tempat duduknya semula.

Ia sengaja tidak mau berurusan lebih lanjut dengan orang yang sudah jelas memiliki kepandaian tinggi itu.

Diam-diam ia merasa heran karena ia tidak kenal orang itu.

Tentu seorang tokoh besar dari selatan pikirnya.

"Kau tadi mencari siapakah?"

Tanya Li Hwa yang semenjak tadi memperhatikan gerak-gerik suaminya. Sin Hong menjawab perlahan.

"Aku tadi telah rnelihat..... Liok Kong Ji.....!"

Mendengar nama ini, wajah Li Hwa berubah dan alisnya berkerut, dadanya berdebar penuh kekhawatiran, Li Hwa cukup tahu bahwa di mana ada manusia siluman itu, pasti akan terjadi hal yang tidak menyenangkan.

"Mana dia.....?"

Tanyanya lirih.

"Dia sudah menyelinap pergi. Entah dia entah bukan, akan tetapi matanya..... hanya dialah orangnya yang mempunyai mata seperti itu. Mari kita pergi dari sini."

Li Hwa maklum akan kekhawatiran suaminya.

Kalau Sin Hong sendiri tentu saja tidak takut menghadapi Liok Kong Ji, akan tetapi di situ ada Li Hwa dan Lee Goat.

Maka tanpa banyak cakap ia lalu menggandeng tangan Lee Goat dan mereka bertiga melanjutkan perjalanan keluar dari Nanpo melalui pintu sebelah barat.

Setelah keluar dari kota dan tiba di jalan sunyi baru Sin Hong bercerita kepada isterinya tentang pertemuannya dengan orang tinggi besar brewok yang dapat menahan desakan lengannya.

"Biarpun belum yakin benar, akan tetapi kurasa orang itu adalah kawan dari Kong Ji. Kalau kita ingat sepakterjang Kong Ji dahulu, sangat boleh jadi ia mempunyai banyak sekali kawan-kawan yang pandai. Akan tetapi, dia yang sudah bersembunyi di utara, ada keperluan apakah muncul di sini? Apakah aku yang salah lihat orang?"

"Kita harus berhati-hati,"

Kata Li Hwa.

"Orang seperti dia itu tak dapat diduga lebih dulu apa yang terkandung dalam hati iblis itu."

Sin Hong mengangguk-angguk.

"Kuharap saja dia tidak mengulangi perbuatannya yang dulu-dulu ketika ia selalu memusuhiku. Kiraku dia ada keperluan lain karena dengan aku dia sudah tidak ada urusan apa-apa lagi. Akan tetapi....."

Tiba-tiba Sin Hong mengerutkan keningnya.

"Kenapa?"

Li Hwa bertanya.

"Asal saja dia tidak menjadi alat dari orang-orang Mongol untuk mengkhianati bangsa sendiri,"

Kata Sin Hong sambil menarik napas panjang.

"Kalau kehinaan itu ia lakukan, ia tidak patut lagi menjadi manusia dan aku sendiri akan berusaha melenyapkan dari muka bumi!"

Tiba-tiba Sin Hong memberi tanda supaya isterinya jangan melanjutkan langkah dan ia memandang ke arah kiri di mana terdapat segerombolan pohon yang gelap.

Tepat dugaannya bahwa di sana terdapat orang karena setelah beberapa lama ia berhenti, dari dalam gerombolan pohon itu melompat keluar seorang lakilakl tinggi besar yang tadi telah beradu lengan dengannya di dalam taman bunga.

Melihat sikap orang tinggi besar itu di tengah jalan menghadang perjalanan mereka dan sikapnya menantang sekali, Sin Hong berlaku tenang.

Ia mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil berkata.

"Eh, kiranya Loenghiong sudah berada di sini. Alangkah cepatnya! Tidak tahu apakah sengaja Loenghiong menghadang perjalanan kami dan ada keperluan apakah gerangan?"

Laki-laki tinggi besar brewokan itu kini tertawa bergelak sambil memegangi jenggotnya, lalu bertanya, suaranya kaku dan jelas terdengar logat utara dalam suaranya.

"Kau Wan Sin Hong yang disebut Wan-bengcu?"

Pertanyaan yang diucapkan dengan nada gaya memandang rendah ini dijawab oleh Sin Hfong hanya dengan anggukan kepala.

Tiba-tiba Sin Hong cepat mendorong Lee Goat yang mencelat ke arah Li Hwa!

Li Hwa menerima bocah itu dan melompat ke belakang.

Ternyata bahwa laki-laki tinggi besar itu begitu melihat Sin Hong mengangguk sebagai pengakuan bahwa dia memang Wan-bengcu, tanpa banyak cakap lagi lalu mengirim pukulan yang hebat sekali ke arah Sin Hong, disusul dengan tendangan kaki yang seperti kilat menyambar.

Sin Hong yang sejak tadi sudah berlaku waspada, cepat menyelamatkan dulu muridnya, kemudian dengan hati-hati dan cepat ia mengelak dari dua serangan dahsyat itu.

"Sobat, kau siapakah dan mengapa kau menyerangku?"

Ia masih menyabarkan diri dan bertanya sambil memasang kuda-kuda. Melihat betapa Sin Hong dengan mudah mengelak dari serangan-serangannya, orang tinggi besar itu menjadi penasaran.

"Sudah lama aku ingin mencoba kelihaian Wan-bengcu. Sambutlah!"

Kembali kedua tangannya bergerak dan kini Sin Hong menghadapi serangan-serangan pukulan yang datangnya bertubi-tubi cepat sekali, datangnya dari tiga jurusan merupakan serangan yang sukar dijaga!

Namun Sin Hong tidak gentar menghadapi serangan-serangan ini.

Ilmu silatnya Pak-kek Sin-kun cukup kuat untuk menjaga diri dan kalau perlu membalas serangan lawan.

Akan tetapi, sudah menjadi sifat seorang ahli silat apabila menghadapi lawan yang tidak terlalu mendesak dan tidak terlalu membahayakan keselamatannya, tentu lebih dulu ingin melihat bagaimana macamnya ilmu silatnya apalagi kalau ilmu silat itu asing.

Oleh karena itulah maka Sin Hong hanya menjaga diri saja.

Mengelak atau menangkis sambil memperhatikan ilmu silat lawan.

Ilmu silat yang dimainkan oleh orang tinggi besar ini seperti Ilmu Silat Sha kak kun hoat (Ilmu Silat Segi Tiga) dari selatan, akan tetapi kedudukan kakinya lain lagi dan ketika lengan tangannya beradu dengan tangan lawan, orang itu selalu berusaha menangkap pergelangannya seperti ilmu gulat bangsa Mongol.

Setelah puas melihat ilmu silat lawan, Sin Hong lalu mengeluarkan kepandaiannya dan sebentar saja ia dapat mendesak lawannya.

Dalam hal tenaga, orang itu mungkin tidak kalah oleh Sin Hong.

Akan tetapi kalau mau bicara tentang ilmu silat, ternyata kepandaian Sin Hong masih menang jauh.

Sin Hong menanti sampai pukulan tangan kanan lawan yang cepat dan kuat sekali menyambar kepalanya itu datang dekat.

Kemudian tiba-tiba ia menyodorkan tangan kiri ke atas dengan dua jari terbuka menotok urat di dekat siku lengan lawan yang memukulnya sambil merendahkan tubuh dan kepalan tangan kanan menghantam ke depan menuju dada lawan!

Gerakan Sin Hong ini luar biasa sekali dan jarang ada lawan yang dapat menyelamatkan diri.

Juga orang tinggi besar itu tak mungkin sekaligus menghindarkan diri dari serangan-serangan ini.

Bahkan agaknya ia tidak menduga bahwa sambungan sikunya akan ditotok, maka ia cepat menangkis kepalan tangan Sin Hong yang memukul dadanya.

Memang pukulan inilah yang lebih kentara dan mudah diduga, padahal yang berbahaya adalah tangan kiri yang menotok urat siku dengan jari itu.

Sin Hong tidak mengenal orang tinggi besar itu, hanya menduga bahwa orang ini tentulah seorang tokoh dari utara seperti halnya Ang-jiu Moli.

Oleh karena itu tidak merasa mempunyai permusuhan dengan orang ini, maka ia tidak mau melukainya.

Kemudian ia melanjutkan totokannya menjadi cengkeraman dengan lima jari untuk menangkap lengan lawannya itu.

Dengan cara begini pun la sudah membuktikan keunggulannya.

Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia mencengkeram lengan yang besar dan kuat itu tiba-tiba orang itu memutar tubuh sambil menangkap jari-jari tangan Sin Hong yang mencengkeram lengan, lalu dengan gerakan kilat membungkuk dan membanting Sin Hong dari balik pundaknya!

Kalau bukan Sin Hong yang diperlakukan demikian, tentu tubuhnya akan terbanting atau sedikitnya terlempar jauh.

Akan tetapi Sin Hong cepat mengatur keseimbangan badannya dan ketika tubuhnya terlempar, ia melayang seperti seekor burung dan turun ke atas tanah dalam keadaan berdiri tegak!

Orang tinggi besar itu mengeluarkan suara memuji ketika Sin Hong sekali lompatan kembali telah berdiri menghadapinya.

Sebaliknya di lain fihak Sin Hong maklum bahwa lawannya selain memiliki tenaga besar dan ilmu silat lumayan, juga memiliki ilmu gulat bangsa Mongol yang lihai.

Diam-diam ia menyalahkan diri sendiri karena kalau saja ia tidak berlaku sungkan tentu lawan ini sudah terkena totokannya dan ia berada di fihak menang.

"Lo-enghiong hebat sekali!"

Ia memuji untuk merendahkan diri dan memuaskan hati lawannya.

"Kau masih belum kalah!"

Si Brewok itu menjawab dan cepat menyerang lagi dengan hebatnya.

"Benar-benar tak tahu diri!"

Sin Hong membentak marah ketika ia melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan lawan.

Kemudian ia membalas dan sekali lagi Sin Hong mendesak dan mengurung lawannya dengan hujan serangan.

"Saudara-saudara, bantulah aku!"

Tiba-tiba orang brewokan itu berseru tanpa mengenal malu.

Sebetulnya, kalau menurut tata susila dunia kangouw, dalam pertempuran orang pantang minta tolong apabila terdesak.

Berturut-turut muncul tiga orang dari balik rumpun yang lebat dan melihat tiga orang yang bukan lain adalah Pak-kek Samkui ini, tahulah Sin Hong dengan siapa ia berhadapan.

Tak salah lagi bahwa orang tinggi besar ini tentu seorang tokoh utara yang membantu pergerakan Temu Cin!

Maka ia cepat mencabut pedangnya dan sebentar saja ia dikeroyok oleh empat orang lawan.

Giam-loong Ciu Kui, Liokte Moko Ang Bouw, dan Sin-saikong Ang Louw adalah tiga orang yang tak boleh dipandang ringan kalau maju bersama, apalagi di situ masih ada seorang lawan yang kepandaiannya tidak rendah, bahkan lebih tinggi daripada tiga orang Setan Utara itu.

Pada saat itu, muncul orang lain dari belakang pohon.

Orang ini cepat sekali gerakannya dan ia menyambut Li Hwa yang sudah mencabut pedang dan hendak membantu suaminya.

Baik Sin Hong mau pun Li Hwa terkejut sekali melihat orang ini.

"Ha, ha, ha, ha, Wan Sin Hong! Masih kenalkah kau padaku? Hui eng Niocu Siok Li Hwa, jadi kamu sudah menjadi Nyonya Wan? Ha, ha, kau makin tua makin cantik saja!"

"Kong Ji.....! Kau mau apa?"

Sin Hong membentak sambil memutar pedangnya mendesak keempat pengeroyoknya.

"Manusia iblis, tutup mulutmu yang kotor!"

Li Hwa memaki marah dan pedang Cheng-liong-kiam di tangannya bergerak menyerang Kong Ji.

Sambil tertawa mengejek Kong Ji mengelak cepat lalu mengirim pukulan menyerong dari samping yang mengejutkan hati Li Hwa karena dari pukulan ini keluar hawa yang mendorongnya amat kuat!

Cepat ia melompat mundur dan siap menghadapi serangan lawan.

Akan tetapi Kong Ji hanya tertawa dan berkata.

"Hui eng Niocu, takkan ada artinya kau melawan. Kau akan kalah!"

"Subo, serang saja dia!"

Tiba-tiba Lee, Goat yang marah melihat lagak sombong dari Liok Kong ji. Kemudian dia melompat dan memukul Kong Ji dengan tangannya.

"Eh, eh, bocah ini gagah perkasa!"

Kong Ji berseru kagum sambil menangkap tangan Lee Goat dan diangkatnya, ke atas.

"Kong Ji jangan ganggu dia. Dia puteri dari Hui Lian. Sumoimu sendiri!"

Seru Sin Hong yang merasa khawatir kalau-kalau manusia iblis itu mencelakai Lee Goat.

Biarpun dikeroyok empat, Sin Hong masih dapat membagi perhatiannya kepada Kong Ji, benar-benar luar biasa sekali kepandaian Sin Hong.

Adapun Li Hwa lain lagi reaksinya.

Melihat Lee Goat diangkat oleh Kong Ji yang tertawa-tawa dan memandahg kagum, ia cepat menggunakan pedangnya melakukan serangan hebat.

Tubuhnya setengah melayang dan pedangnya menusuk ke arah lambung dengan gerak tipu Liongli-coan-ciam (Liong li Menusukkan Jarum).

Sebuah serangan yang amat hebat dan dilakukan dalam keadaan marah ini mau tidak mau mengagetkan Kong ji juga.

Biappun tingkat kepandaian Kong Ji jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Li Hwa, akan tetapi karena ketika itu Kong Ji sedang mengangkat tubuh Lee Goat, ia berada dalam keadaan berbahaya.

Akan tetapi dengan enaknya sambil tertawa-tawa Kong Ji malah mengangkat tubuh Lee Goat untuk menerima tusukan pedang Li Hwa!

"Celaka.....!!"

Li Hwa menjerit katena ia tidak keburu lagi menahan tusukah pedangnya yang dilakukan dengan penuh kemarahan dan dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

"Traanggg,..."

Pedang Li Hwa terpental dan wanita ini berjungkir balik untuk mengimbangi tubuhnya yang tiba-tiba terdorong hebat.

Ternyata bahwa da!am keadaan berbahaya sekali bagi Lee Goat itu, Sin Hong telah dapat melompat cepat dan dapat menangkis pedang Li Hwa yang sudah mengenai baju Lee Goat!

Sambil menangkis, Sin Hong merampas tubuh muridnya itu yang kini berada dalam kempitan lengan kirinya.

Akan tetapi empat orang lawannya tadi sudah maju lagi mengeroyoknya.

Adapun ketika ia mengangkat muka, ternyata isterinya telah tertawan oleh Kong ji.

Kong Ji memang selamanya menjadi orang yang licik dan curang.

juga ia cerdik bukan main.

Ketika ia melakukan perjalanan ke selatan, ia telah berhasil menarik orang-orang selatan.

Oleh karena ia mendengar bahwa di selatan masih ada tokoh-tokoh yang kiranya akan merupakan bahaya bagi penyerbuan tentara Mongol kelak, ia lalu mendatangkan bantuan.

Maka datang menyusullah dari utara pembantunya yang lihai yaitu orang tinggi besar brewok itu yang bukan lain adalah Butek Sinciang Bouw Gun.

"Ketika ia bertemu dengan Wan Sin Hong, ia segera mengatur siasat dan menyuruh Bouw Gun mencoba kekuatan Sin Hong. Kemudian ia mengeluarkan Pak-kek Sam-kui untuk membantu Bouw Gun. Melihat betapa empat orang sahabatnya itu tetap saja tak dapat mengalahkan Sin Hong, bahkan terdesak hebat, dia lalu muncul sendiri menghadapi Li Hwa. Kini ia melihat betapa Sin Hong masih tetap lihai seperti dulu, bahkan lebih lihai lagi. Kalau dia ikut menyerbu, kiranya biarpun dikeroyok lima, belum tentu Sin Hong akan dapat dikalahkan. Tadi ia hendak mencoba-coba menculik anak itu yang ia kira anak Sin Hong. Akan tetapi mendengar dari Sin Hong bahwa anak itu adalah anak dari Hui Lian, ia tidak mau menggunakan anak itu untuk mencapai kemenangan, sebaliknya ia cepat mengejar Li Hwa. Selagi Li Hwa masih kaget sekali karena tangkisan Sin Hong tadi ketika rnenolong Lee Goat, Kong Ji cepat melakukan totokan-totokan hebat. Li Hwa masih mencoba untuk mengelak, akan tetapi sebuah totokan mengenai jalan darah di pundaknya, membuat tubuhnya menjadi lemas dan kedua kakinya lumpuh. Di lain saat ia telah menangkap pergelangan tangan Li Hwa yang tidak berdaya lagi dan merampas pedang Cheng liong kiam! Melihat isterinya telah tertawan, Sin Hong menjadi marah bukan main. Tadi dia tidak bermaksud melukai para lawannya, akan tetapi kini pedang di tangan kanannya bergerak cepat bagaikan kilat menyambar-nyambar. Biarpun tangan kirinya memondong Lee Goat, namun kelihaiannya tidak berkurang karenanya. Dengan gerakan seperti burung terbang ke atas la!u menukik ke bawah, ia membuat gerakan jungkir balik dan pedangnya menyambar secara aneh dan tak terduga semula sehingga Liok te Moko Ang Bouw yang kurang cepat mengelak, mengeluarkan seruan kaget dan kalau saja Giam lo ong Ci Kui tidak lekas menendangnya sampai terlempar jauh, tentu tubuh Ang Bouw yang kurus kering itu akan terbabat menjadi dua! Pertolongan Ci Kui itu membuat Ang Bouw hanya tergurat sedikit pundaknya dan pantatya yang kena tendang jaga terasa sakit! Ia hendak menerjang Kong Ji, akan tetapi Ci Kui, Ang Louw, data Bouw Gun menghadang dan mengurungnya. Sin Hong yang sudah naik darah karena cemas melihat keadaan isterinya, kembali mengerjakan pedangnya dan Sin-sai-kong Ang Louw roboh terjungkal terkena tendangan kakinya. Melihat sepak terjang Sin Hong, Kong Ji menjadi gentar. Ia tahu bahwa dalam kemarahannya, Sin Hong tak dapat ditahan dan kawan-kawannya pasti akan roboh semua.

"Sin Hong, tahan dan dengarkan kata-kataku, kalau kau ingin isterimu selamat!"

Mendengar ini, Sin Hong melompat ke belakang dan melintangkan pedang di depan dada.

Matanya memancarkan cahaya berapi, mukanya merah dan sikapnya seperti seekor harimau marah.

Dengan sinar mata penuh ancaman melihat Kong Ji menodongkan ujung Cheng liong-kiam di leher Li Hwa.

"Kong Ji, kalau kau ganggu dia......... aku bersumpah akan memenggal batang lehermu ""!"

Kata Sin Hong di balik giginya yang diadu saking marahnya. Kong Ji tersenyum lebar. Masih tampan dia karena makin tua dia makin banyak lagak.

"Sin Hong. Kau lihat isterimu telah berada di ujung pedang. Jangan kau salah terima. Aku tidak bermaksud buruk asal saja kau mendengar omonganku, aku takkan mengganggu Hui-eng Niocu isterimu ini."

Sin Hong sudab cukup mengenal kelicikan watak Kong Ji.

Akan tetapi oleh karena pada saat itu isterinya memang berada di bawah kekuasaan lawan dan ia tak berdaya menolong tanpa membabayakan keselamatan isterinya apa boleh buat is harus mendengarkan syarat-syarat lawan!

"Kong Ji, kaukatakan apa kehendakmu!"

Akbirnya ia bcrkata, Liok Kong Ji yang kini di utara terkenal dengan sebutan Thian-te Butek Taihiap tertawa bergelak penuh kemenangan.

"Sin Hong, kalau kau hendak menerima kembali istcrimu dalam keadaan selamat, pergilah ke Omei-san."

"Apa maksudmu? Apa yang barus kulakukan di Omei-san,"

Tanya Sin Hong agak heran. Kembali Kong Ji tertawa.

"Kau tentu masih ingat babwa aku dahulu telah diangkat menjadi Tung-nam Beng-cu (Ketua Timur dan Selatan) oleh karena kawan-kawan masih menghendaki aku me-megang kedudukan itu, kini ternyata dua orang kakek di Omei-san tidak mau mengakui kedudukanku dan tidak mau membantu. Oleh karena aku hendak mengunjungi mereka dan sekiranya aku membutuhkan bantuanmu ketika berhadapan dengan mereka, kau harus membantuku, Aku bersumpah kau akan menerima isterimu dalam keadaan selamat asal saja kausuka membantuku. Bulan depan pada pertengahan bulan kau harus berada sana. Aku bukan mengancam, akan tetapi kalau kau tidak dapat membantuku, akupun tidak menanggurg tentang keselamatan Hui-eng Niocu. Selain itu, akupun menghendaki keterangan dari pedamu. Di mana adanya puteriku?"

Sin Hong memandang tajam.

"Nanti dulu Kong Ji. Kita bicarakan soalnya satu demi satu. Kau hendak menjadikan isteriku sebagai tawanan sampai aku membantumu pada bulan depan di Omei-san. Bantuan apa yang kau kehendaki dari aku? Apa yang harus kulakukan terhadap dua orang kakek sakti di Omei san?"

"Kami hendak membujuk mereka supaya mereka bekerja sama, dan........."

"Ha......! Bekerja sama dengan balatentara Mongol, bukan?"

"Sin Hong, jangan kau mengejek. Ingat, ini urusan mati hidupnya isterimu! Pendeknya, pada bulan depan kau harus berada di Omei.san dan terserah kepadamu kelak apakah kau menghendaki isterimu selamat dengan jalan membantu kami, ataukah kau ingin melihat isterimu tewas dalam tanganku. Dan kau tahu, kalau sekarang kau mengamuk, isterimu akan kubunun lebih dulu, kemudian kau akan kami keroyok. Kawan-kawanku ada belasan orang tokoh-tokoh kang-ouw di daerah setatan yang tak jauh dari sini menantiku. Kau tinggal pilih!. Sin Hong berpikir cepat. Memang, ia tidak usah takut dan sangat boleh jadi ia akan dapat membasmi mereka ini semua termasuk Kong Ji akan tetapi juga sudah dapat dipastikan babwa lebih dulu Li Hwa akin tewas di tangan Kong Ii! ia tidal tega membiarkan isterinya tewas. Waktu masih satu bulan dan kelak ia dapat melihat gelagat di puncak Omei-san. Kelau ada harapan menolong Li Hwa dan membasmi Kong Ji, mengapa harus targesa-gesa dan menurutkan nafsu hati? Mengapa harus mengorbankan nyawa isterinya yang tercinta? "Baik! Bulan depan kita bertemu lagi di Omei-san. Akan tetapi kau tentu tahu betul Kong Ji bahua adabila kau mengganggu isteriku, aku akan mencarimu biarpun kau bersembunyi di neraka. Bahkan sampai matipun arwahku akan selalu mencarimu untuk membalas dendam!"

Kita Sin Hong. suaranya penuh semangat dan tersungguh-sungguh sehingga diam-diam Kong Ji mcrasa ngeri juga.

"Sekarang permintaanku yang kedua, Sin Hon?. Di mana adanya keturunanku? Adakah ia laki-laki atau perempuan dan di mana dia sekarang?"

Mendengar suara ini mengandung keharuan, diam diam Sin Hong terheran. Manustu iblis seperti ini masih ingat akan keturunan! "Keturunanmu yang mana? Manusia macam kau ini mana mempunyai keturunan?"

Tanya Sin Hong, tetapi tiba-tiba hatinya menjadi perih karena teringatlah ia bahwa dialah orangnya yang tidak mempunyai keturunan biarpun sudah menikah hampir lima tahun lamanya.

"Sin Hong, jangan kau pura-pura. Kau tahu dengan betul anak siapa yang ku maksudkan. Ataukah perlu hal itu kita bicarakan lagi? Kau tahu. bahwa dia telah melahirkan anak keturunanku. Di mana dia sekarang?"

Kong Ji mendesak.

Tiba-tiba Sin Hong mendapat akal.

Dia tidak ingin memberitahukan bahwa enak Kong Ji yaitu Tiang Bu, berada di Omei san, bukan ia tidak ingin mempertemukan anak itu dengan ayahnya yang keji dan jahat ini.

Akan tetapi untuk berbohong diapun tak sanggup.

"Kong Ji, memang benar dia melahirkan anakmu, seorang anak laki-laki dan......"

"Betulkah.........? Sudah kuduga! Aku mempunyai seorang putera!.. Ha, di manakah dia sekarang, Sin Hong? Namanya siapa?"

"Di mana adanya dia sekarang lebih baik kau bertanya kepada kawan-kawanmu Pak kek "Sam-kui itu! Merekalah yang menculik anakmu itu dari tanganku di Go-bi-san,"

Kong Ji menjadi pucat mukanya.

"Apa....?? Dia....?"

Kong Ji lalu menoleh kepada Pak kek Sam kui dan membentak.

"Mengapa tidak memberi tahu bahwa dia itu anakku?"

Giam lo-ong Ci Kui menjawab, nampaknya ketakutan.

"Maaf, Taihiap. Mana kami tahu bahwa anak itu putera Taihiap sendiri?"

"Dimana dia sekarang? Hayo lekas bawa ke mari!"

"Harap sudi memaafkan kami. Taihiap. Kalau kami tahu bahwa anak itu adalah putera Taihiap, tentu akan kami jaga dengan pertaruhan nyawa kami. Anak itu sudah lama sekali tidak berada dalam bimbingan kami lagi!. Semenjak di utara anak itu sudah dirampas oleh Thai Gu Cinjin dan sekarang entah dibawa ke mana."

"Celaka......... Celaka......! Aku berhadapan dengan anak sendiri sampai tidak tahu.........!"

Kong Ji membanting-banting kakinya. Saking marah dan kecewanya ia sampai lupa bertanya siapa nama puteranva itu.

"Sudahlah, mencari Lama gila itu tidak berapa sukar. Kelak tentu anakku akan kembali kepadaku. Sin Hong, sampai jumpa pertengahan bulan depan di Omei-san. Aku tahu kau pasti datang,"

Katanya sambil menarik lengan tangan Li Hwa yang masih lemas dan tak dapat bicara itu dan dengan suara tinggi ia memberi isyarat.

Dari balik gerombolan pohon muncul beberapa orang membawa beberapa ekor kuda.

Kong Ji mengangkat Li Hwa dan mendudukkannya ke atas kuda, scdangkan ia sendiri dan Pak-kek Sam-kui serta Bou Gun juga melompat ke atas kuda.

"Awas kalau kau mengganggu dia, Kon Ji!"

Hanya ini yang dapat dikatakan oleh Sin Hong yang memandang tsterinya dibawa pergi dengan hati gelisah.

Biarpun Liok Kong Ji dan kawan-kawannya yang lihai itu tak dapat mengalahkan ilmu kepandaian Wan Sin Hong yang tinggi, namun manusia iblis ini dengan kecerdikan dan kecurangannya dapat menggunakan tipu muslihat dan membuat Sin Hong tunduk di bawah pengaruhnya.

Setelah Li Hwa tertawan dan mati hidupnya berada di tangan Kong Ji, sudah tentu sekali Sin Hong menjadi seakan akan tak berdaya dan sedapat mungkin hendak menyelamatkan nyawa isterinya itu.

Sin Hong mempunyai keyakinan bahwa Kong Ji tentu tidak akan berani mengganggu Li Hwa karena orang jahat itu sebetulnya merasa jerih kepadanya.

Dengan keyakinan inilah maka Sin Hong menerima syarat Kong Ji untuk datang ke 0mnei-san.

Demikianlah seperti telah dituturkan di bagian depan.

Tiang Bu dari tempat persembunyiannya melihat Sin Hong berlari-lari menghampiri perempuan yang tadinya ia sangka adalah adiknya, Lee Goat.

Siapakah anak perempran itu?

Memang tidak salah sangkaan Tiang Bu tadi.

Bocah itu bukan lain adalah Coa Lee Goat yang telah menjadi murid Sin Hong.

Karena Sin Hong maklum bahwa keluarga muridnya.

tetutama sekali kakek bocah itu, Hwa I Enghiong Go Ciang Le mempunyai banyak sekali musuh dan pada waktu itu dunia kang-ouw sedang kacau balau dan banyak terjadi kerusuhan, maka ia memesan kepada Lee Goat agar supaya menyembunyikan namanya dan jargan sekali-kali memperkenalkan diri kepada orang lain.

Inilah yang menjadi sebab, mengapa Lee Goat diam saja tidak memengaku ketika Tiang Bu menyebut namanya, biarpun bocah perempuab ini terkejut bukan main mendengar orang yang sama sekali tidak dtkenalnya taru tahu telah menyebut namanya begitu saja.

tentu saja sudah lupa lagi dan tidak mengenal Tian Bu karena ketika Tiang Bu pergi meninggalkan rumah, Lee Goat baru berusia dua tahun.

Kedatangan Sin Hong di Omei-san memang terutama untuk menolong isterinya sebagaimana dijadikan syarat pemerasan oleh Kong Ji, akan tetapi juga ia sekalian hendak membuktikan apakah benar dugaannya tepat yaitu bahwa Tiang Bu dibawa oleh kakek sakti di Omei san.

Ia merasa bertanggung jawab atas kehilangan bocah itu.

Semenjak Li Hwa dibawa pergi Kong Lee Goat selalu kelihatan muram dan berduka.

Kadang-kadang ia demikian gemas sehingga di depan gurunya ia berkata.

"Kalau aku besar dan kuat, jahanam Kong Ji tentu akan kubelek dadanya, kucabut keluair jantungnya!"

Sin Hong mengerutkan kening apabila melihat muridnya marah-marah seperti ini.

"Hush, Lee Goat, jangan kau bicara sembarangan. Tak baik memperlihatkan isi hati yang meluap-luap dan tidak baik menanam kebencian kepada seseorang."

"Suhu. teecu benci sekali kepada orang jahat itu. Kenapa suhu tidak membunuhnya saja? Bagaimana kalau subo sampai celaka di tangannya?"

"Tidak, subomu akan selamat dan kita akan hertemu lagi dengan dia di puncak Omei-san. Lee Goat harus belajar tenang dan sahar. Jangan sekali -kali menurutkan nafsu hati dan tangan sekali kali kehilangan ketenanganmu betapapun hebat pengalaman yang kauhadapi. Kalau aku turun tangan pada saat subomu ditawan, itu bahkan akan mencelakakan subomu. Tenanglah,"

Akan tetapi Lee Goat tak dapat dihibur dan dalam perjalanan menuju ke Omei-san ia bermuram durja dan nampak marah-marah dan berduka selalu.

Setelah mereka tiba di kaki Gunung Omei-san, barulah nampak bocah itu agak gembira.

"Suhu, di manakah adanya subo?"

Tanyanya sambit menudingkan telunjuknya ke arah puncak. Sin Hong mengangguk.

"Mari kita lari, suhu. Teccu sudah ingin sekali melihat subo selamat di puncak sana kata Lee Goat yang mendahului gurunya berlari naik.

"Hati-hati, Lee Goat. Jalan di sini sukar, jangan kau gergesa-gesa dan meninggalkan kewaspadaan!"

"Baik, suhu! jawab Lee Goat, akan tetapi tetap saja gadis cilik ini berlari-lari mendahui suhunya. Karena maklum bahwa ginkan dari muridnya sudah cukup tinggi, Sin Hong tidak khawalir dan ia menyusul dari belakang pelahan-lahan. Waktunya masih dua hari lagi mengapa harus tergesa-gesu? Sambil tersenyum Sin Hong memandang muirdnya yang kini mencabut pedang membabati alang-alang dan pohon-pohon kecil yang merintangi jalan.

"Bocah itu besar sekali semangatnya seperti Hui Lien di waktu muda,"

Pikir Sin Hong.

Setelah tiba di lereng gunung, tiba-tiba Sin Hong melihat berkelebatnya beberapa bayangan orang yang cepat naik ke gunung melalui jalan lain di sebelah kiri.

Hatinya menjadi curiga juga tertarik.

Cepat bagaikan bayangan burung terbang, Sin Hong melompat kekiri dau mengintai dari balik batang pohon ia melihat orang-oranganeh yang tak dikenalnya naik ke gunung dengan ilmu lari cepat yang mendadakan bahwa mereka adalah Orang-orang berilmu.

Bahkan di lain bagian gunung itu terdapat pula orang orang naik ke puncak.

Samar-samar Sin Hong melihat Le Thong Hosiang, Nam Kong Hosiang, Nam Siong Hosiang.

dan Hengtuagan Lojin, empat orang hwesio yang pernah datang mengunjunginya di Luliang san beberapa tahun yang lalu.

Tokoh-tokoh selatan pada naik ke Omei-san, ada apakah gerangan?

Apa yang hendak dilakukan oleh Liok Kong Ji?

Sin Hong menduga bahwa semua ini tentulah gara-gara Liok Kong Ji yang selalu pandai menimbulkan keonaran di mana-mana.

Sementara itu, Lee Goat sudah berlari lari meninggalkan suhunya sampai di tempat Tiang Bu tertidur di bawah pohon.

Pedangnya masih membabat-babat rumput dan pohon kecil yang melintang di jalan, seakan-akan ia jalan sedang berperang dengan tetumbuhan itu.

Memang dalam hatinya Lee Goat mengumpamakan rumput dan pohon kecil itu seperti Liok Kong Ji yang sudah menculik subonya maka ia membabat dan membacok dengan penuh semangat!

"Ular.....!"

Serunya geli dan ngeri melihat seekor ular hijau mengangkat kepala dan lidahnya mendesis-desis ketika Lee Goat membabat alang-alang yang tadinya menjadi tempat sembunyi ular itu.

Akan tetapi ia sebentar Lee Goat terkejut.

Secepat kilat pedangnya menyambar dan tubuh ular itu terbabat putus menjadi dua!

Sambil menggerak-gerakkan kedua pundak kegelian Lee Goat menggunakan ujung pedangnya untuk mencokel potongan-potongan tubuh ular itu ke dalamsemak-semak.

"Setan berhati jahat!"

Tiba-tiba mendengar makian dari dalam semak-semakitu dan muncullah seorangbocah perempuan yang sebaya dengan Lee Goat.

Bocah ini juga membawa pedang dan dengan marah sekali ia lalu menerjang Lee Goat dengan bacokan pedang.

Tentu saja Lee Goat menjadi heran dan cepat menangkis sambil berkata.

"Aku tidak sengaja melemparkan bangkai ular. Kalau kebetulan mengenaimu mengapa kau marah-marah? Apa kau mau bunuh orang?"

Gadis cilik yang berwajah jelita itu dengan alis berkerut memakinya.

"Orang dengan hati keji seperti kau harus dibunuh! Kenapa kau membacok ular yang tidak bersalah apa-apa? Kau benar kejam."

Setelah berkata demikian, kembali ia menyerang Lee Goat dengan hebat.

Lee Goat menjadi marah sekali.

Membunuh ular dianggap kejam.

Orang macam apa ini!

Setelah menangkis serangan lawan, iapun membalas dengan bacokan-bacokan sehingga dua orang gadis cilik itu saling serang dengan ramai.

Pedang yang mereka gunakan adalah pedang biasa yang kelihatan terlalu panjang bagi mereka, akan tetapi ternyata bahwa keduanya dapat memainkannya dengan baik, tanda bahwa mereka adalah murid-murid dari guru yang pandai dalam ilmu pedang.

Bagi Lee Goat mainkan senjata pedang bukan hal yang aneh karena gurunya aalah Wan Sin Hong, seorang ahli pedang yang lihai sekali.

Akan tetapi gadis cilik yang marah-marah karena ada ular dibunuh Lee Goat yang juga lihai sekali ilmu pedangnya, siapakah dia ini?

Bocah perempuan yang lihai dan marah-marah melihat seekor ular dibunuh ini adalah Wan Bi Li yang datang ke tempat itu bersama Wan Sun kakaknya dan Ang jiu Mo-li gurunya.

Seperti diketahui, Wan Sun dan Wan Bi Li menjadi murid Ang jiu Mo-li tokoh utara yang amat lihai itu dan kini Ang jiu Moli mengunjungi Omei-san membawa dua orang muridnya.

Baik Sin Hong maupun Ang jiu Mo-li merasa heran melihat kehadiran masing masing di tempat ini.

Ang-jiu Moli yang menegurnya lebih dulu.

"Wan-bengcu, agaknya murid-murid kita saling mewakili gurunya untuk mencoba kepandaian masing-masing. Bi Li, apakah kau kalah oleh murid Wan-bengcu ini?"

Tanya Ang-jiu Mo-li kepada Bi Li. Gadis cilik itu menjebikan bibirnya yang manis.

"Mana teecu bisa kalah oleh orang keji itu? Bertempur lagi sampai seribu jurus teecu masih berani!"

Lee Goat memandang dengan mata tajam dan marah.

"Sombong, kaukira aku takut menghadapimu?"

Sin Hong tersenyum, lalu menegur muridnya dengan suara keren.

"Lee Goat, jaagan mudah naik darah. Mengapa kau bertempur dengan orang lain?"

"Teecu tidak apa-apa diserang oleh bocah gila itu, suhu,"

Lee Goat membela diri.

"Tidak aps-apa katamu? Pandai membohong. Dia telah membunuh seekor ular yang tak berdosa!"

Kata Bi Li, sepasang matanya memancarkan sinar bercahaya yang mengejutkan hati Sin Hong.

Bocah yang menjadi murid Ang-jiu Mo-li itu hebat sekali sinar matanya, pikir Sin Hong kagum, juga khawatir karena bocah seperti itu dapat menjadi seorang yang berbahaya kelak.

"Wan-bengcu, kau lihat bahwa muridmu yang bersalah dan bahwa muridku memiliki sifat pendekar, suka menolong yang lemah."

Ang jiu Mo-li menyindir sambil tersenyum mengejek.

"Baik sekalu. Sayangnya yang ditolong adalah seekor ular yang jahat,"

Jawab Sin Hong.

"Betapapun juga, muridku telah salah karena berani melanggar pantanganku bertempur, Lee Goat. hayo kau minta maaf kepala Ang-jiu Mo-li dan dua muriidya!"

Lee Goat mengerutkan alisnya dan ragu-ragu. Apalagi ketika ia mendengar Wan Sun mengomeli adiknya.

"Seharusnya kau tidak datang.datang menyerang orang lain, Bi Li. Kau mencari gara gara saja!"

Mendengar omelan Wan Sun ini, Lee Goat marasa dimenangkan dan ia merasa penasaran mendengar perintah suhunya agar supaya ia minta maaf.

Akan tetapi ketika ia melirik dan melibat gurunya memandang kepadanya dengan sen)um penuh arti dan pandang mata harapan ia lalu mengangkat kedua tangan membungkuk dengan hormat ke arah Ang-jiu Mo-li bertiga murid-muridnya sambil berkata.

"Harap maafkan semua kesalahanku!"

Ang-jiu Mo li menjadi merah mukanya.

"Wan-bengcu, benar-benar kau lebihpandai mendidik murid. Dan kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ketahuilah, Wan-bengcu bahwa aku masih angin sekali mengukur sampai di mana kehehatan ilmu pedangmu yang begitu disohorkan orang. Setelah murid kira bermain-main, marilah kita mencoba-caba sebentar."

Akan tetapi Sin Hong yang sedang menderita batin karena kehilangan isterinya, tidak ada nafsu untuk mengadu kepandaian. Ia menggeleng kepala dan menjawab.

"Ang jiu Mo-li, bukan sekali-kali aku tidak menghargai ajakanmu. Akan tetapi sekarang bukanlah saatnya yang tepat untuk mencoba kepandaian. Ingatlah bahwa kita, berada di daerah orang lain dan menurut patut kita harus menghormati tuan rumah di 0mei-san dan jangan memamerkan kepandaian di sini. Nanti saja kalau urusanku di sini sudah beres, tentu aku takkan manolak ajakanmu itu."

Kembali Ang-jiu Mo-li tersenyurn. Ia masih nampak manis sekali kalau tersenyum.

"Agaknya kau juga segan terhadap kedua couwsu dari Omei-san! Baiklah, aku setuju dengan pendapatmu. Akan tetapi, kau datang di tempat ini ada urusan apakah?"

Sin Hong merasa segan untuk mengaku terus terang. Kemudian ia teringat akan pemandangan di lereng bukit tadi di mana ia melihat banyak sekali orang kangouw mendaki gunung.

"Aku tertarik karena melihat banyak orang gagah mendaki Gunung Omei.san. Hendak kulihat mereka itu akan berbuat apa. Dan mengapa pula kau jauh-jauh datang dari utara ke tempat ini, Ang jiu Mo-li?"

Diam-diam Sin Hong terkejut sendiri ketika timbul dugaan di dalam hatinya apakah wanita lihai ini bukan sekutu Kong Ji pula?

Kalau betul sekutu Kong Ji, ia benar-benar akan menghadapi lawan yang amat tangguh.

Ang-jiu Mo li tersenyum, agaknya tidak percaya akan keterangan Sin Hong tadi.

"Aku pun tadinya hanya ingin melancong saja. Kebetulan bertemu dengan kau di sini dan kalau benar banyak orang naik ke puncak Omei-san benar benar akan ada pesta hebat yang menggembirakan. Nah, sampai berternu kelak di kaki gunung ini, Wan-bengcu. Ataukah..... di puncak kita berjumpa "Kita sama lihat saja nanti. Ang-liu Mo-li,"

Jawab Sin Hong.

Sejak tadi Wan Sun memandang kepada Sin Hong dengan pandang mata penuh gairah.

Beberapa kali ia menggerakkan bibir hendak mengeluarkan suara, akan tetapi ditahan-tahannya dan akhirnya ketika gurunya mengajak dia dan adiknya pergi, ia menurut saja tanpa mendapat kesempatan lagi untuk bicara dengan Sin Hong.

Dapat dibayanglan betapa inginnya puteta pangeran ini bicara dengan Sin Hong setelah ketahui bahwa inilah Wa bengcu atau Wan Sin Hong yang masih terhitung pamannya sandiri.

Sejak kecil ayahnya sudab sering kali menuturkan kepadanya tentang Wan Sin Hong yang gagah perkasa dan yang memiliki wajah serupa benar dengan ayahnya, Wanyen Ci Lun.

Sekarang setelah berhadapan muka.

tentu saja ia ingin sekali bicara dengan pamannya ini.

Akan tetapi ia tidak berani oleh krena gurunya sudah memesan dengan keras agar supaya di dalam perantauan.

dua orang muridnya ini jangan mengaku bahwa mereka adalah putera Pangeran Wanyen Ci Lun dari Kerajaan Kin.

Juga Sin Hong meninggalkan lereng itu dan mengajak Lee Goat melarjutkan perjalanan menuju ke puncak gunung.

Lee Goat menengok ke sana ke mari mencari-cari dengan matanya.

"Kau mencari siapa?"

Tanya Sin Hong.

"Suhu, tadi ketika teecu bertempur dengan anak.......... setan itu........."

"Hush. jangan menggunakan kata-kata makian! Lee Goat, bukankah tadi kau sudah minta maaf? Baruk sekali watakmu."

Lee Goat menjadi merah mukanya.

"Ampun, suhu. Teecu tidak bermaksud memaki, karena di dalam hati teecu tidat ada kebencian terhadapnya."

"Lanjutkan penuturanmu tadi."

"Ketika tadi teecu bertempur, di antara kami berdua belum ada yang kalah atau menang. Biarpun teecu sudah menggunakan Ilmu Pedang Soan-bong-kiam-hoatt (Ilmu Pedang Angin Puyuh), namun teecu tak dapat mendesaknya. ilmu pedangnya juga istimewa sekali, akan tetapi teecu tak mau kalah dan kami berdua masih seimbang. Tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki yang usianya sebaya dengan kakak lawan teecu tadi, ia mendorongkan tongkatnya di tengah-tengah, di antara kami. Pedang teecu menghantam torgkat itu dan......... pedang kami berdua terlempar!"

Sin Hong mengelus-elus dagunya yang mulai ditumbuhi jenggot. Hati kecilnya menduga-duga dan ia merasa heran apakah bocah yang dimaksudkan ini bukan Tiang Bu! "Bagaimana rupanya?"

Tanyanya.

"Rupanya jelek, pakaiannya tambal-tambalan. Melihat rupanya, dia itu seperti anak kampung biasa saja, suhu. Akan terapi anehnya, begitu dia muncul dia llu menyebut nama teecu! Inilah yang membikin teecu bingung dan heran sekali."

Berdebar hati Sin Hong. Tak salah lagi, tentu Tiang Bu yang mengenal wajah adiknya! "Apa katanya?"

Ia mendesak muridnya.

"Dia hanya bertanya bukankah teecu ini Lee Goat dan ketika teecu jawab bukan, dia terheran dan menyatakan bahwa wajah teecu serupa benar dengan wajah Lee Goat!"

Sin Hong mengangguk-angguk.

Kini iapun menengok ke kanan kiri, memandang tajam untuk melihat apakah Tiang Bu masih berada di sekitar tempat itu.

Akan temtapi Tiang Bu sudah pergi.

karena anak inipun melihat datangnya banyak sekali orang orang aneh yang naik ke puncak, maka diam-diam iapun mendahului pulang ke puncak untuk memberi tahu gurunya.

"Ke mana dia pergi? Mengapa tadi aku tidak melihat dia?"

"Entahlah, tadi dia terus pergi lagi, suhu. Siapakah dia, suhu........"

Tanya Lee Goat.

"Kau tidak tahu. Dia itulah kakakmu sendiri yang pergi dari rumah ketika kau masih berusia dua tahun."

Lee Goat membelalak....... matanya yang lebar.

"Kakak Tiang Bu yang diculik orang? Akan tetapi......... kenapa dia......... dia begitu buruk dan pakaiannya penuh tambalan seperti penggembala kerbau?"

"Dia itu kakakmu. Hemm, jangan kau melihat pakaian. Bukankah tongkatnya sekali gerak saja sudah membikin terlepas pedangmu?"

Lee Goat membungkam.

Dalam hatinya memang ada rasa bangga akan kepandaian kakaknya yang lebih tinggi darinya, akan tetapi ia merasa kecewa karena kakaknya itu menurut anggapannya berwajah jelek, tidak tampan gagah seperti kakak Bi Li tadi.

Juga, mengapa kakaknya tidak membantunya dan memberi hajaran kepada Bi Li?

Akan tetapi terus saja ia tidak berani membicarakan hal ini di depan suhunya dan tanpa banyak cakap ia mengikuti gurunya naik ke puncak.

Apa lagi sekarang perjaIanan amat sukar, melalui batu-batu karang yang tajam dan runcing, harus mempergunakan ginkang dan perhatian sepenuhnya.

Di bagian yang paling berbahaya, Sin Hong memegang tangan muridnya.

Jauh di depan ia melihat Ang-jiu Mo-li juga manggandeng kedua muridnya di kanan kiri untuk melalui tebing yang curam dan berbahaya.

Sementara itu, Tiang Bu berlari cepat naik ke puncak dan dengan wajah agak berubah ia memasuki pondok, ia melihat kedua orang kakek sakti itu sedang duduk berhadapan menghadapi papan catur.

Melihat kedua orang gurunya yang sudah amat tua dan akhir-akhir ini kelihatan lemah dan sering kali mengeluh karena tubuh sudah mulai digerogoti usia tua.

Tiang Bu menjadi makin gelisah.

Tiong Sin hwesio sudah berusia hampir sembilan puluh tahun dan Tiong Jin Hwesio hanya lebih muda sepuluh tahun.

Sering kali Tiong Sin Hwesio mengeluh bahwa tulang tulangnya sudah terlalu lapuk, tubuhnya sudah terlalu tua sehingga "tidak enak"

Lagi dijadikan tempat tinggil jiwanya! Dan sekarang (Lanjut ke

Jilid 11) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 dua orang hwesio tua ini masih enak-enak bermain catur, padahal dari bawah gunung naik banyak orang yang kelihatannya aneh-aneh dan gagah-gagah!

Kalau mereka itu naik dengan maksud jahat, bukankah kedua orang suhunya akan celaka?

Selama lima tahun di Omei-san, Tiang Bu belum pernah manyaksikan kelihaian kedua orang gurunya.

Biarpun ia telah menerima banyak pelajaran ilmu yang tinggi tinggi, namun kedua orang kakek itu tak pernah mendemontrasikan kepandaian mereka, apalagi Tiong Sin Hwesio yang kerjanya hanya bersamadhi dan main catur belaka.

Tiong Jin Hwesio masih mendingan karena di waktu melatih ginkang dan lweekang atau ilmu silat yang sulit-sulit, masih terlihat kelihaiannya.

Oleh karena inilah maka tidak mengherankan apabila Tiang Bu mengkhawatirkan keselamatan dua orang kakek itu.

"Tiang Bu, kau sudah pulang. Apakah pekerjaamu mengisi tempat air sudah selesai?"

Tiong Jin Hwesio bertanya tanpa menoleh dari papan catur yang dihadapinya.

"Belum suhu. Akan tetapi......."

"Kalau begitu keluarlah dan selesaikan dulu pekerjaanmu baru nanti bicara!"

Tiong Jin Hwesto memotong kata-katanya. Suara keren dan berpengaruh sehingga Tiang Bu tidak berani berlaku lambat.

"Baik, suhu......"

Ia bangkit dari lantai di mina ia tadi berlutut lalu berjalan perlahan menuju ke pintu.

"Tiang Bu.....!"

Panggilan halus dari Tiong Sin Hwesio membuatnya menghentikan tindakan kakinya. Ia membalik dan menjatuhkan diri berlutut di ambang pintu, menanti kelanjutan bicara suhunya.

"Melihat apa-apa, bersikaplah tenang. Hanya ketenangan yang mempertajam kewaspadaan. Jangan mencampuri urusan orang lain dan jangan bertindak sembrono. Dua orang gurumu masih hidup dan masih berada di sini, mengapa kau gelisah? Bekerjalah dan tunggu saja perintah kami!"

"Baik, suhu dan terima kasih atas nasehat suhu,"

Kata Tiang Bu.

Kini kedua kakinya terasa ringan seperti hatinya.

Kata-kata Tiong Sin Hwesio seperti memberi semingat kepadanya oleh karena kata-kata itu seakan akan hendak membayangkan bahwa dua orang suhunya itu sudah tahu akan naiknya banyak orang ke puncak dan tentu sudah siap-siaga.

Dengan hati lega Tiang Bu membawa pikulan dan tempat air, lalu berlari-lari turun dari puncak menuju ke lereng di mana terdapat pancuran air.

Akan tetapi baru saja ia memenuhi dua kaleng tempat air itu dengan air gunung yang jernih dan sejuk, tiba-tiba terdengar orang tertawa dan berkata.

"Bagus kau datang menghantarkan diri!"

Ketika Tiang Bu membalikkan tubuh, ia melihat Thai Gu Cinjin sudah berdiri di hadapannya dan di samping Thai Gu Cinjin berdiri pula seorang laki-laki gundul setengah tua yang matanya berputar liar.

Melihat laki-laki gundul ini, Tiang Bu menjadi makin terkejut karena ia mengenal laki-laki ini sebagai pembunuh gurunya, Ba Hok Lokai!

Itulah laki-laki gundul berpakaian compang-camping yang senjatanya istimewa, yaitu dua ekor ular merah.

Karena maklum bahwa dua orang yang berdiri di hadapannya itu tentu tidak mengandung maksud baik.

Tiang Bu lalu membalikkan tubuhnya dan melarikan diri.

Akan tetapi, ia merasa ada sambaran ongin dari belakang.

Cepat bocah ini menjatuhkan diri ke kiri dan tongkat panjang dari Thai Gu Cinjin yang tadi menyambarnya itu lewat cepat di atas kepalanya.

"Tiang Bu, jangan lari! Kalau kau lari berarti kau akan mampus. Kami tidak akan mengganggu, hanya minta bantuanmu mengantar kita ke puncak, ke tempat dua orang kakek itu menyimpan kitab-kitabnyal"

Kata Thai Cu Cinjin.

Tiang Bu yang sudah melompat bangun tentu saja tidak memperdulikan kata-kata ini dan sekali lagi ia melompat hendak melarikan diri.

Tiba tiba terdengar desir angin dan tahu-tahu Thai Gu Cinjin dan orang gundul itu sudah melompat dan berada di depannya, menghadang dengan wajah mengandung ancaman.

"Jiwi mau apakah! Aku tidak mau berurusan dengan jiwi, biarkan aku lewat!"

Kata Tiang Bu sedikitpun tidak takut.

"Tiang Bu, sudah lama aku tahu bahwa kau sekarang menjadi murid di Omei-san. Aku hanya minta kau mengantar kami ke tempat simpanan kitab."

Orang gundul itu tertawa bergelak dan terdengar suaranya yang menyeramkan.

"Anak baik, aku masih mau mengambilrnu sebagai murid. Kau cocok dengan aku. Akan tetapi lebih dulu kau harus mengantar kami naik ke atas puncak!"

"Tidak, aku tidak sudi mengantar maling-maling kitab!"

Jawab Tiang Bu yang segera hcndak lari lagi.

Akan tetapi orang itu menubruknya dengan gerakan cepat lalu mengirim totokan ke arah pundaknya.

Sudah jelas maksud si gundul itu hendak menangkapnya.

Akan tetapi ia sama sekali tidak tahu bahwa biarpun bocah di depannya ini baru berusia tiga belas tahun, sesungguhnya telah memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Melihat datangnya serangan Tiang Bu menjadi marah.

Ia selalu ingat akan nasehat dua orang suhunya bahwa apabila tidak diserang jangan sekali-kali ia mendahului menyerang orang.

Apabila ia membela diri, kalau terpuksa sekali juga tidak beleh ia melukai atau merobohkan orang.

Kini menghadapi tubrukan orang gundul itu yang cukup berbahaya, ia miringkan tubuh, mengerahkan tenaga dan secepat kilat tangannyabergerak menangkis terus menangkap tangan orang dan melemparkan tubuh orang gundul itu dengan meminjam tenaga tubrukan lawan!

Gerakan Tiang Bu ini cepat, otomatis dan tidak terduga sama sekali.

Kalau orang lain yang tadi menyerangnya tentu kini akan terlernpar.

Akan tetapi yang menyerangnya adalah Kwan Kok Sun yang berjuluk Tee-tok (Racun Bumi), seorang kang-ouw yang sudah terkenal (baca Sin-kiam Hok-mo).

Biarpun amat terkejut karena bocah itu tidak saja dapat menangkis tubrukannya bahkan dapat pula membalas dengan hebat namun Kwan Kok Sun si orang gundul yang lihai itu masih dapat menguasai dirinya.

Begitu lengan kanannya ditangkap, tangan kirinya lalu mengirim pukulan ke arah kepala Tiang Bu dan kali ini ia mengirim pukulan yang dahsyat yang bukan main-main lagi, melainkan pukulan maut yang dapat mematikan.

Inilah pukulan Hek-tok-ciang (Pukulan Racun Hitam) yang luar biasa dahsyat dan berbahaya!

Tiong Bu sudah mewarisi kepandaian luar biasa dari kedua orang suhunya yang sakti.

Panca-inderanya tajam dan perasa sekali, terutama matanya amat awas.

Pukulan Hek-tok-ciang yang amat berbahaya dan dilakukan dari jarak dekat ini sudah lebih dulu dirasainya, maka secepat kilat ia menangkis dengan hawa pukulan dari atas ke bawah, menggunakan dua tangan mendorong ke bawah menggunakan tenaga khikang sedangkan kedua kakinya menotol tanah sehingga tubuhnya mencelat ke atas melalui kepala Kwan Kok Sun!

"Lihai sekali..........!"

Kwan Kok Sun sampai berseru kagum dan juga kaget melihat cara bocah itu menyelamatkan diri.

Akan tetapi Thai Gu Cinjin sudah siap sedia.

Ia tidak mau melepaskan Tiang Bu begitu saja karena memang ia amat membutuhkan bocah itu, Thai Gu Cinjin selain lihai ilmu silatnya juga ia terkenal amat cerdik.

"Tiang Bu jangan lari!"

Tongkatnya diputar menghadang di depan Tiang Bu yang menjadi bingung juga.

Kalau dua orang itu mcnyerangnya dengan sungguh-sungguh yaitu denganmaksud membunuh, kiranya akan sukar baginya untuk membebaskan diri.

Biarpun ia sudahlima tahun belajar ilmu silat tinggi di Omei-san, namun kalau dibanding-kan dengan tingkat kepandaian Thai Gu Cinjin masih tak mungkin dapat menang.

"Thai Gu Cinjin, kalau kau memaksa aku membantumu mencuri kitab lebih baik aku mengadu nyawa denganmu,"

Katanya gagah sedikitpun tidak merasa gentar biarpun tahu ia berada dalam bahaya maut. Thai Gu Cinjin menahan tongkatnya dan berkata manis.

"Tiang Bu. kepandaianmu sudah hebat sekarang! Kau bawalah aku menghadap Tiong Jin Hwesio.Untuk menghadap sendiri pasti ia tidak mau mencrimaku. Maka kau bisa membawa kami menghadap orang tua itu, cukuplah."

Memang Thai Gu Cinjin cerdik.

Ia pikir tidak ada gunanya membunuh anak ini karena kalau sampai terjadi demikian tentu dua orang kakek Omei-san akan menjadi marah sekali dan ini amat berbahaya.

Sebaliknya kalau anak ini mau mengantarkannya, ia akan dapat naik ke puncak dengan mudah, juga ia takkan dicurigai dan banyak kesempatan baginya untuk melakukan niatnya, yaitu mencuri kitab-kitab pelajaran di Omie-tan.

Karena biarpun ia pernah naik ke puncak ini untuk bermain catur dengan kedua kakek itu, namun sekarang ia mengambil jalan lain dan ia belum mengenal jalan ini.

Salahnya Thai Gu Cinjin tidak memperhitungkan bahwa di dunia ini bukan dia seorang saja yang mempunyai akal.

Juga Tiang Bu orang bocah yang cerdik dan mudah menangkap maksud hati orang yang dtsembunyikan di balik senyum dan kepalsuan.

Ia maklum bahwa kepandaiannya masih belum cukup untuk dapat dipergunakan mengimbangi kelihaian dua orang ini.

"Baiklah, Thai Gu Cinjin. Kalau hanya membawa kau menghadap saja, aku tidak melakukan sesuatu yang salah. Akupun tidak takut kau berlaku curang dan membunuhku karena selain aku dapat menjaga diri, andai kata aku mati di tanganmu, aku takkan penasaran. Kedua orang suhuku pasti akan menghukummu dan membalaskan penasaran."

Setelah melepas ancaman ini.

Tiang Bu lalu mendahuiui dua orang itu naik ke puncak sambil memikul dua kaleng airnya.

Thai Gu Cinjin dan Kwan Kok Sun mengikutinya dari belakang.

Tiang Bu bersikap acuh tak acuh, padahal ia maklum bahwa nyawanya berada di dalam tangan dua orang di belakangnya itu.

Sementara itu, Sin Hong yang menggandeng muridnya meloncati batu karang dan jurang menuju ke puncak, akhirnya dapat melewati daerah batu karang yang sukar itu dan tiba di daerah datar yang ditumbuhi rumput semak hijau.

"Suhu, banyak sekali orang di sana!"

Kata Lee Goat, akan tetapi Sin Hong menarik muridnya ke bawah dan mengajaknya bersembunyi di balik rumput yang tinggi.

Di sebelah sana memang terdapat beberapa belas orang yang berjalan perlahan naik ke puncak.

Dari balik rumput hijau Sin Hong mengintai dan ia melihat Kong Ji berjalan dengan beberapa orang yang telah dilihatnya, yailu orang-orang Mongol dan tokoh-tokoh utara seperti Pak-kak Sam-kui, Bu-tek Sin-ciang Bouw Gin dan masih banyak lagi orang-orang yang kelihatan memiliki kepandaian tinggi.

Diam-diam Sin Hong menghitung dan memperhatikan calon lawannya seorang demi seorang.

Termasuk Kong It, mereka semua ada empat belas orang.

Akan tetapi di mana Li Hwa?

Ia tidak melihat adanya Li Hwa di dalam rombongan itu dan hatinya amat tidak enak.

Kong Ji memiliki banyak tipu muslihat, maka ia harus berhati-hati.

Setelah rombongan Kong Ji ini lewat, keadaan menjadi sunyi.

Akan tetapi Sin Hong masih belum keluar dari tempat sembunyinya karena telinganya dapat menangkap gerakan orang yang naik dari bawah puncak.

Tak lama kemudian, benar saja ia melihat rombongan ke dua yang juga terdiri dari banyak orang, bahkan ada dua puluh orang.

Mereka ini adalah rombongan orang -orang dari dunia kang-ouw di daerah selatan, karena antara mereka terdapat Le Thong Hosiang, Hengtuangsan Lojin dan kedua orang hwesio Koalikungsan yang selalu membawa bawa tombak, yaitu Nam Kong Hosiang dan Nam Siang Hosiang.

Di antara mereka itu tardapat orang-orang yang berpakaian seperti pangemis, seperti siucai (sasterawan), tosu, hwesio, dan lain-lain.

Setelah rombongan ke dua ini lewat, baru saja Sin Hong hendak berdiri.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa cekikikan, membuat dia kaget setengah mati dan cepat ia berjongkok kembali di balik rumput tinggi.

Siapakah orangnya yang kedatangannya sampai tak terdengar olehnya?

Tentu orang yang lihai luar biasa pikirnya.

Akan tetapi biarpun suara ketawanya sudah terdengar, orangnya masih juga belum kelihatan.

Kemudian muncul titik-titik hitam di udara.

Titik-titik ini melayang tinggi, lalu menukik ke bawah dan tak lama kemudian terdengar suara memukul-mukul.

Ternyata bahwa tiga buah titik hitam itu setelah dekat adalah tiga ekor kelelawar yang amat besar dan warnanya hitam berbintik-bintik kuning.

Ketika tiga ekor kelelawar ini lewat di atas kepala, Sin Hong mencium bau amis dan ia menjadi terkejut sekali.

"Kelelawar berbisa dari Lam-hai (Laut Selatan)."

Katanya di dalam hati.

Sebagai seorang ahli waris pengobatan dari Raja Tabib Kwa Siucai, Sin Hong mengenal kelelawar ini yang gigitannya sama bahayanya dengan gigitan ular yang paling berbisa!

Tak lama kemudian, kembali terdengar suara ketawa cekikikan dan muncullah orangnya.

Pundak Lee Goat di bawah telapak tangan Sin Hong menggigil tanda bahwa bocah ini merasa ngeri dan ketakutan.

Memang, manusia yang sekarang berjalan lewat, berbongkok-bongkok dibantu oleh tongkat panjang, hampir tidak menyerupai manusia dan lebih pantas disebut iblis atau siluman!

Orang ini adalah seorang nenek tua yang wajahnya menyeramkan.

Rambutnya berwarna putih kelabu, kasar dan tebal, lengket menjadi satu tak pernah tercium sisir, panjang riap-riapan menutupi pundak dan sebagian mukanya.

Pakaiannya hitam, hanya semacam selendang kuning melambai di pundak dan pinggangnya.

Tangan yang memegang tongkat itu dihiasi jari.jari yang kukunya seperti kuku setan, runcing melengkung mengerikan.

Kedua kakinya yang besar itu telanjang, jari-jari kakinya merenggang dan melebar seperti kaki bebek.

Akan tetapi yang paling mengerikan adalah mukanya.

Matanya kccil, nampak kejam karena kerut-merut pada dahi pinggir dan bawah matanya.

Htdungnya pesek dan dari samping tidak kelihatan sedangkan mulutnya bisa membikin orang mengkirik.

Mulut ini terisi gigi yang jarang-jarang meruncing seperti gigi ular.

Sambil berjalan tersaruk-saruk nenek ini mengeluarkan suara cekikikan, tertawa seorang diri.

Tiba-tiba ia mengacungkan tongkatnya ke atas dan dari mulutnya keluar suara mendesis atau lebih tepat siulan yang amat tinggi, demikian tingginya sehingga yang terdengar suara desis yang menyakitkan anak telinga.

Inilah suara yang dikeluarkan dengan khikang tinggi.

Lebih tinggi dan lebih hebat dari pada pekik Hui-eng Niocu yang terkenal.

Dan kemudian ternyata bahwa suara ini adalah suara panggilan, karena seekor diantara tiga ekor kelelawar itu lalu menukik ke bawah dan hinggap di ujung tongkat nenek itu, lalu menggantung dengan kepala di bawah mengeluarkan suara mencicit seperti suara tikus.

"Anak nakal, biar kawan-kawanmu terbang dulu, kau harus mengawani aku di sini. Kau tahu aku kesepian, hi hi hihi.......!"

Setelah nenek menyeramkan itu lewat dan lenyap dari pandangan mata, baru Sin Hong berani berdiri dan mengusap-usap kepala Lee Goat yang nampak pucat sekali.

Tiba-tiba Sin Hong tertawa melihat bahwa tak jauh dari situ, di sebelah kanannya terdapat seorang kakek yang juga bersembunyi dan mengintai seperti dia tadi.

Agaknya orang itu lebih dulu berada di situ, karena ia tidak melihat kedatangannya.

Kebetulan kakek itu menengok dan terkejutlah Sin Hong ketika mengenal bahwa kakek itu bukan lain adalah hwesio gemuk bulat seperti bal yang pernah ia lihat dahulu di sebuah kelenteng dekat kota raja.

Di sebelah selatan kota raja terdapat sebuah Kelenteng Kwan-te-bio dan di situ yang menjadi ketua adalah Hoan Ki Hosiang.

Ia kenal baik dengan hwesio tua ini.

Kemudian datarg seorang hwesio baru yang pekerjaannya menjadi tukang dapur.

Hwesio itu bernama Hwa Thian Hwesio, biarpun hanya tukang dapur akan tetapi memiliki ilmu pedang tinggi.

Ketika Sin Hong mengunjungi kuil itu, dahulu ia melihat hwesio tukang dapur ini memindah-mindahkan patung yang beratnya seribu kati dengan mudahnya, maka tahulah ia bahwa Hwa Thian Hwesio memiliki kepandaian lihay.

Dan sekarang tahu-tahu hwesio gemuk bundar itu berada di situ bertiarap di antara rumput tinggi, presis seekor babi gemuk!

Hwesso berusia lima puluh tahun ini memiliki wajah yang lucu dan orangnya selalu gembira.

"Eh, eh, kiranya Wan-sicu ada di sini pula! Pinceng sampai kaget setengah mati, kukira nenek siluman tadi muncul di sini. Hi...!"

Ia menggerak-gerakkan kedua pundak bergidik kengerian.

Sin Hong tersenyum lebar.Tidak ada orang yang takkan tersenyum apabila bertemu dan bicara dengan hwcsio gemuk ini karena segala gerak-geriknya serba lucu.

Kepalanya bulat matanya, hidungnya, bibirnya serba tebal dan bentuknya bundar, demikian perutnya.

Benar-benar menyerupai patung Ji-lai-hud yang banyak terdapat di kelenteng.

Seperti patung pula, hwcsio ini mulutnya selalu terbuka dengan senyum gembira, seakan-akan ia melihat dunia ini seperti panggung di mana orang-orangnya menjadi pelawak-pelawak menggelikan.

"Hwa Thian Suhu, angin apa yang meniupmu sampai ke sini?"

Tanya Sin Hong, terbawa gembira oleh kelucuan hwesio itu. Hwa Thian Hweio merengut akan tetapi mulutnya tidak seperti orang bersungut-sungut, tetap saja seperti orang tersenyum gembira.

"Kalau pinceng terbawa angin, tentulah angin busuk yang meniup pinceng sampai di sini!"

Ia menggunakan ujung bajunya untuk mengipasi dadanya yang telanjang. Inilah kebebatannya. Di dekat puncak 0mie-san yang begitu sejuk dan dingin, tetap ia berkeringat.

"Kalau saja bukan Wanyen Siauw ongya yang memerintah, biar kaisar sekalipun menyuruh pinceng, pinceng takkan sudi datang di sini bertemu dengan segala macam siluman yang mengerikan. Hiii."

Kembali ia bergidik dan Lee Goat tak dapat menahan ketawanya melihat pundak yang gemuk itu bergerak seperti menari-nari.

Sin Hong mendekati hwesio itu dan memegang lengannya, penuh perhatian ia bertanya.

"Jadi kau mcnjadi utusan Pangeran Wanyen Ci Lun? Ada urusan penting apakah gerangan maka kau diutus ke sini? Atau ini rahasia yang tak boleh diketahui orang lain?"

Kepala bundar tak berleher itu bergerak-gerak ke depan membuat gerakan mengangguk.

"Memang rahasia karena tugas pinceng menyelidik. Akan tetapi baiknya pinceng mengenal siapa Wan-sicu. Terhadap Wan-sicu pinceng tak perlu merahasiakan sesuatu, bahkan pinceng banyak mengharapkan bantuan Wan-sicu."

"Coba ceritakan!"

Kata Sin Hong.

Hwa Thian Hwesio lalu menceritakan pengalaman-pengalamannya.

Wanyen Ci-Lun yang amat memperhatikan perkembangan keadaan, tahu dari para penyelidiknya bahwa raja bangsa Mongol mengirim banyak orang gagah ke selatan untuk mengajak orang-orang kang-ouw di daerah itu supaya kelak suka membantu pergerakan bangsa Mangol.

Juga ia mendengar tentang perubahan yang terjadi di dunia orang kang-ouw bagian utara bahwa Wan-bengcu telah dibebaskan dari pada tugas dan orang orang itu kabarnya hendak memilih bengcu baru di selatan.

"Yang dicalonkan mereka adalah dua orang kakek sakti di 0mei-san ini,"

Hwa Thian Hwesio melanjutkan ceritanya.

"Oleh karena itulah maka pinceng diutus ke selatan untuk menyelidiki hal ini, bahkan kalau mungkin pinceng harus dapat menarik bantuan mereka untuk membantu Kerajaan Kin menghadapi serbuan orang orang Mongol."

Kemudian Imam itu melanjutkan penuturannya.

Ketika ia mulai naik Bukit Omei-san, ia sudah lebih dulu menyelidiki keadaan orang-orang yang hendak naik ke puncak.

Banyak sekali yang naik dan dalam panyelidikannya, hwesio yang cerdik ini mendapat kenyataan bahwa mereka itu semua datang dengan maksud hati yang berbeda-beda.

Ketika ia melalui lereng sebelah timur, ia melihat seorang laki-laki tampan sedang menarik lengan seorang wanita cantik memasuki sebuah kuil tua yang berada di pinggir jurang.

Melihat cara wanita ini diseret, Hwa Thian menjadi curiga.

Cepat ia mengejar dan membentak ke arah kuil.

"Sobat yang berada di dalam keluarlah dulu, pinceng mau bicara!"

Tak lama kemudian dari dalam kuil itu melompat keluar laki-laki tadi, nampak gagah dengan pedang di punggung. Laki laki itu tersenyum mengejek ketika bertanya.

"Hwesio gemuk, kau memanggil aku Tung Nam Bengcu ada keperluan apakah?"

"Hemm, pinceng tidak kenal segala Tung Nam Bengcu. Hanya melihat kau seorang laki-laki mayeret-nyeret wanita tadi dengan maksud apakah? Siapa dia?"

"Dia adalah tawananku dan kau tak perlu mencampuri urusanku. Ketahuilah bahwa aku adalah Thian-te Bu tek Taihiap Liok Kong Ji. Lebih baik kau hwesio gemuk pergi dari sini dan jangan menggangguku!"

Hwa Thian Hwesio pernah mendengar namae Liok Kong Ji, maka biarpun ia sudah mengerti bahwa orang di depannya ini lihai sekali ia segera menyerang.

"Kau jahanam tak tahu malu!"

Bentaknya sambil mengirim serangan dengan tendangan kaki kiri.

Namun Liok Kong Ji dengan mudah saja dapat mengelak lalu membalas dengan serangan serangan hebat yang membuat Hwa Thian Hwesio sebentar saja sibuk sekali.

Hwesio gemuk ini kalah jauh ilmu silatnya.

Baiknya ia memiliki ilmu kelit yaag baik sekali sehingga begitu jauh Kong Ji belum dapat menjatuhkannya, biarpun hwesio itu sudah mandi peluh dan napasnya memburu.

Tak dapat diragukan ligi, dalam waktu cepat tentu Koug Ji akan dapat merobohkannya.

Dalam keadaan yang gawat itu, tiba-tiba muncul bintang penolong.

Terdeagar bentakan nyaring."Liok Kong Ji manusia busuk, jangan menghina orang!"

Mendengar bantakan ini, Kong Ji mecelat ke belakang dan mcncabut peclangnya.

"Ang-jiu Mo-li......!"

Serunya kaget.

Adapun Thian Hwesio girang bukan main melihat kedatangan wanita sakti ini.

Baiknya Ang-jiu Mo-li sudah mengenalnya dan hwesio itupun mengenal guru dan putera-putera majikannya.

Bahkan Wan Sun dan Wan Bi Li juga muncul dan tertawa-tawa melihat betapa Hwa Thian Hwesio mandi keringat dan napasnya megap-megap.

"Toanio, tolong kauhukum jahanam kurang ajar itu......!"

Akhirnya hwesio gemuk ini dapat mengeluarkan suara sambil mewek-mewek.

"Dia menculik wanita, disembunyikan di dalam kuil itu!"

Ang-jiu Mo li memandang kepada Kong Ji dengan senyum menghina.

"Memang itulah kepandaian tunggal dari Liok Kong Ji. Cih, tak tahu malu!"

"Ang-jiu Mo-li, jangan kau percaya omongan badut terlalu banyak makan ini. Wanita itu adalah tawananku, dia adalah Hui eng Niocu Siok Li Hwa, isteri dari Wan Sin Hong. Aku menawannya karena aku ada urusan dengan Wan Sin Hong. Siapa bilang aku hendak mengganggunya?"

Mendengar bahwa wanita itu isteri Wan Sin Hong, Hwa Thian Hwesio menjadi makin marah.

Juga Ang-jiu Mo-li kaget karena tidak mengira bahwa Wan Sin Hong ternyata menikah dengan Siok Li Hwa yang pernah dilihatnya sekali.

Yang paling kaget adalah Wan Sun.

Pemuda cilik itu mendengar bahwa isteri Wan Sin Hong diculik dan disernbunyikan dalam kuil, segera melompat memasuki kuil dengan niat menolongnya.

Wan Bi Li melompat pula menyusul kakaknya.

Akan tetapi, di lain saat terdengar dua orang bocah itu menjerit dan tubuh mereka bergulingan keluar pintu kuil!

Ang-jin Mo-li terkejut sekali, namun hatinya lega kembali ketika melihat bahwa kedua orang muridnya itu bergulingan keluar karena menggunakan Ilmu Kelit Trenggiling Turun Gunung untuk menghindarkan diri dari serangan gelap yang berbahaya.

Benar saja, setelah tiba di luar pintu, kedua anak itu lalu melompat dan cepat lari menghampiri guru mereka.

Wajah mereka nampak pucat din nyata sekali mereka itu merasa ngeri dan takut.

Hal ini mengherankan hati Ang-jiu Mo-li karena tidak biasanya murid-muridnya, apa lagi Bi Li, berhati penakut.

"Ada apakah?"

Tegurnya, alisnya berkerut tak senang melihat dua orang muridnya memperlihatkan sikap ketakutan.

"Suthai.... di dalam ada......... ada siluman menakutkan sekali!"

Kata Wan Sun, agak malu-malu akan tetapi masih ketakutan.

"Siluman? Biar pinceng menangkapnya, untuk menjaga Kelenteng Kwan-te-bio!"

Seru Hwa Thian Hwesio dengan sikap gagah.

Ia berjalan memasuki kuil dengan langkah tegap, kedua kaki agak dibongkokkan, kedua tangan terkepal dan perut serta dadanya melengkung seperti katak marah.

Terdengar suara hiruk-pikuk di sebelah dalam kuil tua itu, suara bak-bik-buk orang bertempur, kemudian disusul pekik Hwa Thian Hwesio seperti babi disembelih dan orang-orang di luar kuil melihat tubuhnya yang bulat seperti bola itu menggelinding keluar!

Setelah melompat berdiri, ia meraba-raba gundulnya sambil bertanya kepada Wan Sun.

"Kongcu, tolong kaulihat kepalaku ini bonyok tidak?"

Wan Sun din Bi Li tertawa geli melihat tingkah laku hwesio ini dan Wan Sun memeriksa kepala yang bulat itu. Ternyata tidak ada yang luka.

"Tidak ada yang bonyok, Iosuhu,"

Katanya.

"Juga tidak pecab-pecah? Sukurlah...... Omitohud......! Toanio, yang di dalam bukan siluman, melainkan manusia betina setengah siluman. Toat-beng Kui-bo dari Lam-hai (Laut Selatan)!"

Baik Kong Ji maupun Ang jiu Mo-li yang selama ini hanya merantau di daerah utara dan selatan tidak sampai di pantai Laut Selatan, tidak mengenal nama ini.

Berbeda dengan Hwa Thian Hwesio yang memang berasal dari kota kecil di dekat pantai selatan.

Oleh karena tidak mengenal nama mendengar laporan ini, Kong Ji dan Ang.jiu Mo-li berkelebat memasuki kuil itu.

Akan tetapi mereka berseru kaget dan melompat mundur lagi karena tiba-tiba di ambang pintu kuit itu muncul seorang nenek yang amat menakutkan.

Toat-bong Kui-bo (Biang Iblis Pencabut Nyawa).

Nenek ini tertawa cekikikan dan di bawah lengan kirinya terkempit tubuh Li Hwa yang tak berdaya karena nyonya ini masih berada dalam keadaan tertotok.

Melihat manusia luar biasa yang mengerikan ini, Ang-jiu Mo-li sendiri yang sudah dijuluki Mo-li (Iblis Betina), masih menjadi kaget setengah mati.

Juga Kong Ji yang mempunyai watak seperti iblis, melihat nenek ini berdiri bulu tengkuknya.

Hampir berbareng, seperti sudah janji lebih dulu, dari tangan Ang jiu Mo-li menyambar sinar putih dan dari tangan Kong Ji mcnyambar sinar hitam yang kesemuanya menuju ke arah jalan darah di tubuh nenek itu.

Tiga buah Pat-kwa-ci (Biji Segi Delapan) yang lihai dari Ang-jiu Mo-li dan lima batang Hek-tok.ciam (Jarum Racun Hitam) dari Kong Ji menyerang cepat.

Akan tetapi, sekali nenek itu menggerakkan tangan kanan yang memegang tongkat panjang, ujung lengan bajunya melambai.

Dari lambaian ini keluar angin yang menyapu delapan buah senjata rahasia itu runtuh semua.

Ang-jiu Mo-li dan Liok Kong Ji terkejut.

Mereka bersiap untuk menggempur nenek itu.

Akan tetapi Toat-beng kui-bo tertawa cekikikan dan berkata.

"Manusia-manusia tak kenal malu. Di rumah orang jangan membikin rusuh. Ataukah kalian berani menghina dua kakek tua bangka dari Omei-san?"

Mendengar bentakan ini, dua orang itu tertegun.

Tentu saja mereka tidak berani menghina dua orang kakek sakti di Omei san.

Toatbeng Kui-bo sambil tertawa-tawa lalu berjalan terbongkok-bongkok pergi dari situ.

"Lepaskan dia......... Kong Ji barseru sambil rnencabut Cheng-liong-kiam, pedang rampasan dari Li Hwa. Melihat pedang itu, Toat-beng Kui-bo menyeringai dan tiba-tiba tubuhnya melayang cepat menyambar ke arah Kong Ji. Tangannya terayun dan dengan gerakan hebat menghantam kepala Kong Ji. Baru kali ini Kong Ji menghadapi serangan yang demikian berbahayanya. Cepat ia mengelak, akan tetapi tahu-tahu pedangnya terpukul tongkat dan terlepas dari pegangan. Pedang itu mencelat ke atas dan tubuh nenek itu bagaikan seekor burung hantu yang besar, melayang pula ke atas dan di lain saat pedang itu telah berada di tangannya! "Hi-hi-hi. Cheng-liong kiam, Kenapa berada di tangan bocah ini?"

Katanya dengan suara ketawa meringkik seperti kuda.

"Itu pedangku, dirampas olehnya,"

Kata Li Hwa perlahan.

Nyonya ini tertotok dan tubuhnya lumpuh, namun masih dapat membuka suara.

Mendengar ini, Toat-beng Kui-bo melanjutkan perjalanannya, sama sekali tidak memperdulikan Kong Ji yang berdiri melongo.

Kong Ji menjadi marah dan penasaran sekali.

Sambil mengeluarkan seruan keras ia hendak mengejar.

Tak mungkin ia dikalahkan begitu saja.

Juga Ang jio Mo-li yang kini melihat bahwa wanita yang dibawa Toat-beng Kui-bo itu adalah wanita yang dulu ia lihat bersama Wan Sin Hong lalu mendahului Kong Ji dan melompat melakukan pukulan dengan tangan merahnya, menampar muka yang seperti iblis itul Menghadapi pukulan ini, Toat-beng Kui bo kaget dan tidak berani memandang rendah.

Ia rnelompat mundur dan tiba-tiba dari mulutnya keluar suara mendesis dan dari atas menyambar turun lima ekor kelelawar raksasa!

Binatang-binatang aneh ini menyambar-nyambar di atas kepala Ang-jiu Mo-li dan Liok Kong Ji yang hendak menyerang Toat-beng Kui bo, seakan-akan hendak melindungi nenek itu.

"Kelelawar berbisa.....!"

Hwa Thian Hwesio yang mengenal kelelawar yang hidup di dalam gua-gua di pantai laut selatan itu cepat menyeret Wan Sun dan Wan Bi Li dan membawa mereka lari memasuki kuil untuk bersembunyi.

Setelah Ang-jiu Mo-li memanggilnya dari luar baru hwesio gundul gemuk ini berani mengajak mereka keluar.

Ternyata kelelawar-kelelawar itu sudah lenyap bersama Toat beng Kui bo.

Juga Liok Kong Ji tidak kelihatan lagi.

"Ke mana siluman itu? Mana pula Liok Kong Ji?"

Tanya Thian Hwesio sambil celingukan.

"Mareka sudah pergi,"

Jawab Ang-jiu Mo-li singkat. Demikianlah penuturan Hwe Thian Hwesio kepada Wan Sin Hong. Sebagai penutup penuturannya, Hwa Thian Hwesio berkata.

"Nah, Ang-jiu Mo-li dan dua orang muridnya melanjutkan perjalanan ke puncak dan pinceng mengambil jalan lain. Di sini pinceng melihat orang-orang itu naik, maka pinceng bersembunyi di dalam rumput-rurnput. Tak tahunya bertemu dengan sicu di sini."

Ia lalu tersenyum lebar.

Sin Hong tertarik sekali oleh penuturan ini.

Terutama sekali tentang Li Hwa.

Isterinya itu telah bebas dari tangan Kong Ji dan kini berada di tangan Toat-beng Kui-bo.

Akan tetapi mengapa tadi ia tidak melihat Li Hwa bersama nenek itu?

Di mana adanya Li Hwa?

Juga penuturan bahwa dua orang bocah yang menjadi murid Ang-jiu Mo-li itu ternyata putera-puteri Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li membuatnya tercengang.

Akan tetapi karena tahu bahwa Ang-jiu Mo-li memiliki kepandaian tinggi, diam.diam ia merasa bersyukur bahwa anak-anak Wanyen Ci Lun mendapatkan guru yang pandai.

Biarpun ia sudah tidak ada urusan dengan Liok Kong Ji dan berarti tidak ads urusan dengan Omei-san, akan tetapi oleh karena isterinya kini berada di tangan Toat-beng Kui-bo yang naik ke puncak, terpaksa Sin Hong melanjutkan perjalanan ke puncak Omei-san untuk mengejar Toat-beng Kui-bo dan menuntut dikembalikannya isterinya.

Sambil menyambar tubuh Lee Goat yang dipondongnya.

Sin Hong berlari cepat sekali sehingga sebentar saja Hwa Thian Hwesio tertinggal jauh.

Sementara itu, di lain bagian dari Gunung Omei-san di dekat puncak, seorang pemuda tanggung diserang hebat oleh dua ekor burung Pek.thouw-tiauw, semacam burung rajawali yang besar sekali dengan kepala putih.

Dua ekor burung raksasa itu sambil mengeluarkan suara cecowetan menyambar-nyambar ke arah pemuda tanggung itu.

Pemuda itu bukan lain adalah Tiang Bu.

Menghadapi serbuan dua ekor burung yang berbahaya ini, Tiang Bu menyambar sebatang ranting pohon.

Dengan senjata istimewa ini ia melindungi diri sedapat mungkin.

Burung raksasa itu beratnya sedikitnya ada lima ratus kati, maka sambarannya dapat dibayangkan betapa hebatnya.

Mungkin ada seribu kati.

Dua burung sehebat ini hendak menjadikan bocah itu sebagai mangsanya.

Biarpun amat kewalahan menghadapi serbuan dua ekor binatang raksasa ini, namun Tiang Bu tak pernah minta tolong.

Ia mainkan ranting kayu itu dengan gerakan cepat, sambil mengatur langkah dan mengelak setiap kali burung raksasa itu menyambar dengan paruh besar dan cakar mengerikan di depan.

Beberapa kali Tiang Bu sudah dapat menusuk tubuh binatang-binatang itu dengan rantingnya akan tetapi seakan-akan tidak terasa oleh Pek-thouw-tiauw itu.

Bagaimana Tiang Bu bisa berada dalam keadaan demikian berbahaya?

Bukankah tadi ia berjalan diikuti oleh Thai Gu Cinjin dan Kwa Kok Sun, dua orang yang amat berbahaya dan mengancam keselamatannya?

Memang demikian.

Tadinya Tiang Bu memikul pikulan airnya, berlari naik ke puncak diikuti oleh Thai Gu Cinjin dan Teetok Kwan Kok Sun.

makin lama Tiang Bu makin mempercepat larinya dan ia sengaja membawa dua orang itu melalui jalan yang paling sukar, yaitu di daerah yang yang paling liar di mana ia biasa berlatih Ilmu Lari Liap-In-sut dengan gurunya.

Setelah tiba di daerah ini, ia lalu mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, berlompatan dengan lincah sekali.

Lebih dulu ia melempar pikulannya agar tidak menghalangi getakan-gerakannya.

"Hai, tungau.........!"

Seru Thai Gu Cinjin, kaget melihat betapa bocah itu tiba-tiba demikian gesit gerakannya.

Ia mengerahkan tenaga untuk mengejar.

Juga Tee-tok Kwan Kok Sun segera tertinggal oleh Tiang Bu.

Dalam hal ilmu silat, sangat boleh jadi Tiang Bu belum dapat mengimbangi mereka, akan tetapi Ilmu Lari dan Lompat Liap in-sut adalah ilmu ginkang yang sangat tinggi.

Maka begitu Tiang Bu tiba di daerah ini dan mempergunakan ilmunya, dua orang pengejarnya itu tertinggal jauh.

"Tiang Bu, berhenti! Kalau tIdak, kuhancurkan kepalamu!"

Thai Gu Cinjin memaki-maki dan menyumpah-nyumpah, akan tetapi Tiang Bu bukan anak bodoh dan berlari terus dengan cepatnya.

Tiba-tiba Tiang Bu mendengar suara angin dari belakang.

Cepat ia mengelak dan beberapa butir batu kecil yang disambitkan oleh Thai Gu Cinjin lewat di dekat tubuhnya.

Kembali terdengar suara senjata rahasia dan secepat mungkin Tiang Bu mengelak ke kiri.

Beberapa sinar hitam lewat cepat sekali.

Inilah senjata rahasia jarum-jarum berbisa yang berwarna hitam.

yang dilepas oleh Tee-tok Kwan Kok Sun.

Jarum-jarum berbisa ini disebut Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam) yang dulu merupakan kepandaian istimewa dari mendiang ayahnya.

See-thian Tok-ong.

Juga Liok Kong Ji mewarisi kepandaian ini dari See-thian Tok-ong.

Senjata-senjata ini berbahaya sekali, sedikit saja mengenai kulit, racunnya akan bekerja, ikut bersama darah dan meracuni seluruh tubuh!

Didesak oleh senjata rahasia-rahasia yang dilepaskan bertubi-tubi dari belakang oleh orang-orang yang memiliki tenaga besar ini Thing Bu menjadi sibuk juga.

Untuk berhenti dan melawan, ia maklum takkan dapat menang.

Lebih baik berlari terus sambil mengelak dari setiap serangan amgi (senjata gelap atau senjata rahasia), pikirnya.

Maka dipercepat larinya.

Ia tidak dapat cepat-cepat terbebas dari kejaran dua orang itu karena baik kedua pengejarnya, terutama sekali Thai Gu Cinjin, memiliki kepandaian tinggi dan dapat berlari cepat pula.

Pada saat itulah tiba-tiba dari angkasa raya terdengar pekik nyaring dan dua ekor burung rajawali kepala putih itu menyambac turun, langsung menyerang Thai Gu Cinjin dan Tee-tok Kwan Kok Sun.

Thai Gu Cinjin mengayun tongkatnya dan Kwan Kok Sun mengirim pukulan.

Terdengar suara berdebuk dan dua ekor burung itu terpental ke udara.

Akan tetapi tubuh mereka kuat sekali karena mereka tidak tewas, melainkan terkejut dan beterbangan di atas sambil cecowetan.

"Siapa berani memukul Pek thouw-tiauw kami?"

Terdengar suara halus dan tiba-tiba muncul seorang laki-kaki gagah bersama seorang wanita cantik.

Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan sikap mereka gagah sekali.

Inilah jago dari Pantai Timur, Pekthouw-tiauw-ong Lie Kong dan isterinya yang bernama Souw Cui Eng, Lie Kong selamanya merantau ke luar lautan bersama isterinya, menjelajah pulau-pulau terdekat dengan Tiongkok dan karena itu, ia sama sekali tidak dikenal oleh orang-orang dari lain daerah.

Thai Gu Cinjin dan Kwan Kok Sun yang datang jauh dari barat juga tidak mengenalnya.

Maka Thai Gu Cinjin membentak marah!

"Jadi kau yang punya burung liar itu?

Bagus!

Burung liarmu datang-datang menyerang orang dan kau bilang kami memukulnya?

Benar-benar kurang ajar sekali!"

Lie Kong tersenyum dan berkata tenang.

"Burung-burung kami sudah terlatih baik, tak mungkin mau menyerang orang yang tak berdosa. Kalian tentu melakukan sesuatu yang tidak benar kalau sampai diserang oleh burung-burung kami."

Melihat sikap yang tegas dan tenang dari Lie Kong, juga melihat sikap wanita di sebelahnya yang nampak gagah. Thai Gu Cinjin menahan kemarahan hatinya.

"Enak saja kau menuduh orang. Kami sedang mengejar seorang bocah setan. yang menipu kami dan tahu-tahu dua ekor burungmu telah menyerang kami."

"Nah, itulah! Kalian mengejar seorang bocah. tentu saja burung kami menganggap kalian berlaku keterlaluan dan ingin membela bocah itu. Salah kalian sendiri!"

Kata Li Kong mentertawai.

Kesabaran orang ada batasnya.

Tee-tok Kwan Kok Sun tidak biasa dihina orang, maka melihat sikap pemilik burung itu darahnya sudah meluap.

Dengan geraman menyeramkan ia lalu menubruk maju dan mengerjakan kedua tangan mengirim pukulan Hek-tok-ciang sambil berseru.

"Burungnya jahat, pemiliknya gila. Minggirlah!"

Pukulan Hek-tok ciang atau pukulan Racun Hitam bukan main hebatnya.

Jarang ada orang dapat menahan pukulan ini.

Juga tidak berani menangkis karena pertemuan tangan saja dapat melekat.

Orang lain tentu akan mengelak kalau menghadapi pukulan maut ini.

Akan tetapi, Lie Kong yang berkepandaian tinggi dan sudah banyak mengalami hal-hal aneh di luar lautan, bersikap tenang sekali.

Dari warna tangan yang berubah hitam itu maklumlah ia bahwa lawannya mempergunakan tangan "berisi""

Yaitu tangan yang sudah dilatih lebih dulu untuk mclakukan pukulan istimewa yang berbisa.

Dengan gerakan lambat ia mengulur tangan dan menyentil dengan kuku jarinya, tepat ke arah jalan darah di dekat pergelangan tangan.

Akibatnya, bukan Lie Kong yang mengelak, bahkan Kwan Kok Sun yang menahan pukulannya karena kalau dilanjutkan, mungkin ia akan tertotok!

Racun Bumi ini merubah scrangan, akan tetapi tiba-tiba terdengar desir angin dari kiri dan isteri Lie Kong sudah menyambutnya dengan sebuah tendangan kilat.

"Manusia tak tahu malu, mampuslah!"

Kwan Kok Sun lagi-lagi harus melompat dan mengelak karena dari hawa tendangan saja maklumlah ia bahwa ia tidak akan dapat menahan tendangan sang amat kuat ini.

Tak lama kemudian bertempurlah Kwan Kok Sun melawan Souw Cui Eng yang ternyata lihai sekali.

Juga wanita ini sikapnya gagah, karena melihat Kwan Kok Sun tidak mengeluarkan senjata iapun tidak mau mencabut pedangnya melainkan menggunakan kaki tangannya untuk menghadapi Racun Bumi itu.

"Tiauw ko ( Burung Rajawali )! Kaujaga anak itu jangan boleh lari!"

Kata Lie Kong kepada dua ekor burungnya sambil menghadang Thai Gu Cinjin.

Hwesio Lama ini sudah mengayun tongkatnya, akan tetapi Lie Kong menggerakkan tangan dan.........

tongkat itu ditangkis begitusaja dengan lengannya, akan tetapi cukup membuat tongkat itu terpental dan tangan Thai Gu Cinjin gemetar!

Dari tangkisan ini saja sudah dapat dilihat bahwa kepandaian Lie Kong benar-benar hebat sehingga Thai Gu Cinjin menjadi jerih dan mengeluh di dalam hati.

Beberapa kali ia bertemu dengan orang-orang pandai, yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari padanya.

Padabal kalau berada di Tibet, jarang ada orang yang dapat mengimbangi kepandaiannya!

"Kalian ini pendeta-pendeta tak tahu aturan.

Di tempat orang lain berani berlagak, apakah tidak menaruh hormat kepada tuan rumah?"

Lie Kong membentak karena dia sendiri di tempat ini merasa sungkan untuk bertempur dengan orang lain.

Teguran ini membuat Thai Gu Cinjin makin gentar.

Tentu saja ia tidak berani memandang rendah kepada tuan rumah yang ia ketahui adalah dua orang yang sakti.

Maka mendengar ani, ia lalu berseru kepada Kwan Kok Sun.

"Tee-tok, mari kita pergi!"

Juga Tee-tok Kwan Kok Sun merasa penasaran sekali karena dilawan oleh seorang wanita yang bertangan kosong saja ia tidak mampu mengalahkannya.

Apalagi kalau wanita ini mencabut pedang atau lebih-lebih lagi laki-laki itu!

Baiknya ia tadi belum mengeluarkan senjatanya yang luar biasa, yaitu ular-ular hidup.

Kalau ia sudah mengeluarkan senjata dan mereka sudah bertempur mati-matian, agoknya sukar untuk menghentikan pertempuran.

Kini mendengar seruan kawannya, ia melompat mundur sambil berkata.

"Toanio benar-benar lihai sekali!"

Sambil berkata demikian, sebelum mundur ia mengadu lengannya dengan lengan lawan sambil mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang dengan maksud melakukan pukulan gelap.

Orang lain kalau terkena pukulan ini pasti akan kemasukan racun hitam melalui hawa pukulan yang tetap akan merupakan racun berbahaya sekali.

Akan tetapi ketika lengan tangannya yang kasar itu beradu dengan lengan tangan lawan, ia merasai kulit lengan yang halus empuk dan panas bukan main, rasa panas yang menjalar terus ke kulit lengannya sendiri sehingga serasa kulit lengannya terbakar!

Ketika ia melompat mundur dan melihat ke arah lengannya ternyata di dekat pergelangan lengan terdapat tanda bintik merah dua buah, tanda bahwa ia telah terkena pukulan rahasia orang!

Celaka, bukan lawan yang menderita, bahkan dia yang terluka!

Souw Cui Eng tersenyum.

"Sobat beracun kau lihai sekali. Hadiahmu pukulan beracun tadi baiknya sudah kulihat Lebih dulu dan dapat membalas budimu."

Setelah berkata demikian, nyonya itu tersenyum manis berpaling kepada suaminya, Dengan mendongkol sekali Kwan Kok Sun mengikuti Thai Gu Cinjin melanjutkan perjalanan ke puncak.

Dia tidak usah khawatir akan luka di tangannya karena sebagai ahli racun tentu saja ia pandai mengobati luka-luka karena pukulan atau karena racun.

Sementara itu, seperti telah dituturkan bagian depan, Tiang Bu sibuk sekali menjaga diri dari serbuan dua ekor Pek thouw yang menyerbunya.

Sambil berlari dia berloncatan ke sana ke mari, Tiang Bu berada jauh dari tempat pertempuran tadi.

Dan dua ekor burung itu dalam usaha mereka mentaati perintah majikan, yaitu untuk menjaga jangan sampai Tiang Bu lari, lalu menyerang dengan maksud menangkap bocah itu.

Akan tetapi sungguh tak terduga, bocah yang diserangnya ternyata bukanlah makanan empuk dan bukan saja melawan serta selalu menghindarkan diri bahkan juga dapat membalas serangan mereka dengan sebatang ranting.

Hal ini memarahkan dua ekor binatang itu yang serta menyerang dengan sungguh-sungguh, membuat Tiang Bu sibuk bukan main.

Tiba-tiba dari bawah melayang dua sinar hitam yang panjang dan bentuknya seperti ular.

Dua "ular"

Ini menyambar ke arah sepasang Pek thouw-tiauw secara luar biasa cepatnya dan.........

di lain saat dua ekor burung yang ganas itu jauh ke bawah, meronta-ronta sambil cecowetan.

Ternyata bahwa dua buah sinar yang seperti ular itu adalah dua helai tambang yang dilontarkan orang secara isrimewa dan secara aneh pula telah dapat menelikung dua ekor burung itu di udara.

Dua ekor Pek-thouw-tiauw itu roboh dalam keadaan tertelikung bagian leher, sayap dan kakinya sehingga seperti ayam yang hendak direbus!

Pek-thouw-tiauw ong (Raja Burung Rajawali Putih) Lie Kong dan isterinya yang sudah ditinggal lari oleh Thai Gu Cinjin dan Kwen Kok Sun, kaget bukan main melihat dua ekor burung mereka roboh di atas tanah, meronta-ronta sambil berteriak kesakitan dan kebingungan.

Mereka tak percaya bahwa bocah itu yang merobohkan dua ekor burung itu.

Akan tetapi ketika mereka berlari-lari menghampiri, tiba-tiba mereka melihat bayangan orang berkelebat cepat mendahului mereka menyambar tubuh Tiang Bu dan di lain saat bocah itu sudah lenyap!

Suami isteri yang berkepandaian tinggi ini hanya melihat bentuk bayangan orang yang tinggi kurus, akan tetapi tidak dapat mengenal orangnya saking cepatnya gerakan itu.

"Bukan main......!"

Lie Kong menggeleng-geleng kepala ketika melihat dua ekor burungnya telah terikat tambang.

"Salama hidupku belum pernah aku menyaksikan kehebatan seperti ini. Siapa lagi yang dapat melakukan semua itu kalau bukan manusia dewa itu?"

Ia lalu melepaskan ikatan yang membuat dua ekor binatang peliharaannya yang istimewa itu tak berdaya, dibantu oleh isterinya.

Adapun Tiang Bu begitu melihat dua ekor burung itu roboh dan merasai angin mendesir sudah tahu bahwa gurunya yang ke dua, Tiong Jin Hwesio yang datang menolongnya.

Benar saja, tak lama kemudian ia melihat bayangan gurunya ini berkelebat dan di lain saat lengannya sudah ditarik dan ia dibawa lari seperti terbang cepatnya.

"Pertemuan yang menarik sekali. kau harus menyaksikan untuk menambah pengalaman!"

Hanya demikian kata-kata Tiong Jin Hwesio, dan tak lama kemudian gurunya ini sudah tiba di tanah lapang yang terbuka, letaknya di sebelah kiri tempat tinggal mereka.

Lapangan terbuka ini memang sengaja dibuat oleh dua orang kakek itu untuk tempat berlatih pernapasan dan menjemur diri menampung kekuatan dari sinar matahari.

Di sini pula Tiang Bu biasanya berlatih ilmu silat.

Ketika Tiang Bu tiba di situ, ia melihat gurunya yang pertama, Tiong Sin Hwesio, sudah duduk bersila di tempat yang biasa.

Kakek ini mengangguk melihat muridnya datang, lalu katanya perlahan.

"Apapun yang kaulihat nanti, jangan mengeluarkan suara dan jangan bergerak."

"Baik, suhu."

Kata Tiang Bu memberi hormat lalu ia mengambil tempat duduknya sendiri, yaitu di belakang dua orang gurunya yang duduk berdampingan di atas batu hitam.

Tiang Bu duduk di atas batu hitam pula.

tepat di belakang Tiong Sin Hwcsio.

Iapun bersila seperti orang bersamadhi.

Akan tetapi dalam keadaan setegang itu, mana ia mampu bersamadhi mengumpulkan panca indera?

Ia bahkan diam-diarn melirik ke kanan kiri, memperhatikan tempat itu dengan penuh perhatian.

Keadaan sunyi saja.

Suara yang terdengar hanya suara daun pohon kembang yang tumbuh dia belakang tempat mereka duduk.

Pohon inilah pohon satu satunya yang berada di situ dan kembangnya yang herwarna putih itu memenuhi tangkai dan dahan.

Baunya sedap dan sejuk, dan apabila ada angin bertiup, bunga-bunga itu rontok berhamburan dan daun-daun bunga yang kecil-kecil memenuhi tempat itu, bahkan ada yang menjatuhi kepala Tiang Bu dan dua orang gurunya, akan tetapi mereka diam saja.

Matahari sudah naik tinggi dan sebentar lagi tengah hari akan tiba.

Mulailah terdengar suara dan tak lama kemudian dari depan, kanan dan kiri mulai bermunculanlah orang-orang yang dinanti-nanti oleh dua orang guru dan seorang muridnya ini.

Biarpun dua orang guru besar itu masih menundukkan muka dan sedikitpun tidak perduli, namun Tiang Bu tak dapat tinggal diam tanpa mengacuhkan mereka.

Anak ini diam-diam memasang mata dan melihat teliti siapa-siapa yang datang.

Pertama-tama, muncullah Toat beng Kui-bo yang berjalan terbongkok-bongkok dibantu oleh tongkatnya.

Benar-benar mengherankan sekali bagaimana nenek bongkok yang jalannya lambat-lambat itu bisa tiba di sini paling dulu.

Hampir berbareng, muncul pula Ang-jiu Mo-li yang kedua tangannya menggandeng Wan Sun dan Wan Bi Li.

Kalau Toat-beng Kui-bo hanya mengangkat tongkat dan sedikit membungkuk ke arah Tiong Sin Hwesio dan Tiong Jin Hwesio sebagai penghormatan yang aneh tanpa mengeluarkan sepatah kata, adalah Ang-jiu Mo-li bersikap lain.

Wanita cantik ini merangkap kedua tangan di dada, menghadap ke arah dua orang kakek itu sambil berkata perlahan.

"Jiwi locianpwe, aku yang rendah Ang-jiu-cu (Si Tangan Merah) datang rnenghadap!"

Tanpa mengangkat muka, dua orang kakek itu merangkap kedua tangan di depan dada dan membungkuk sedikit selaku penghormatan penganut Agama Buddha, pertama-tama ke arah Toat-beng Kui-bo, kemudian ke arah Ang-jiu Mo-li.

Samua ini dilakukan tanpa mengangkat muka !

Tiang Bu melihat betapa dua orang murid Ang-jiu Mo-li memandang kepadanya dengan pandang mata terheran-heran.

Akan tetapi Tiang Bu pura-pura tidak melihat kepada mereka, hanya mengerling sebentar lalu mengalihkan pandang dari sudut matanya ke arah orang-orang lain yang datang.

Ia melihat kedatangan Wan Sin Hong dengan jantung berdebar.

Juga lagi-lagi ia dibikin kagum dan terguncang melihat bocah perempuan yang datang bersama Sin Hong.

Benar-benarkah bocah itu bukan adiknya, Lee-Goat?

Kini ia melihat bocah perempuan itu juga memandang kepadanya dengan tajam kemudian ia melihat betapa sepasang mata bccah itu menjadi basah oleh air mata.

Tak salah lagi, dia itu Lee Goat Demikian pikir Tiang Bu, akan tetapi ia tidak berani mengeluatkan suara.

Kalau orang-orang lain agak terheran melihat Tiang Bu duduk bersila di belakang dua orang kakek itu, hanya Sin Hong yang tidak merasa heran.

Ia sudah menyangka bahwa Tiang Bu tentu diambil murid oleh dua orang kakek sakti dari Omei.san.

Sekarang melihat betapa betul-betul Tiang Bu menjadi murid orang-orang sakti, diam-diam ia merasa girang sekali, akan tetapi juga ia merasa gelisah kalau teringat akan Kong Ji.

Kong Ji sudah tahu bahwa Tiang Bu adalah anaknya, bagaimana kalau nanti Tiang Bu mengetahui ayahnya yang sebenarnya?

Bagai mana nanti kalau Kong Ji membuat ribut di sini?

Akan tetapi ia dapat menenangkan hatinya dan dengan penuh penghormatan memberi hormat ke arah dua orang kakek itu.

"Boaopwe Wan Sin Hong memberi hormat kepada jiwi locianpwe yang terhormat."

Tiong Jin Hwesio mengangkat muka dan tersenyum ke arah Wan Sin Hong.

"Wan-bengcu yang terhormat berkenan datang mengunjungi tempat kami yang buruk. Selamat datang......... selamat datang......!"

Berturut-turut datang Liok Kong Ji dan kawan-kawannya.

Selain Pak-kek Sam-kui dan Bu tek Sin-ciang Bouw Gun, masih banyak terdapat tokoh-tokoh selatan yang dikepalai oleh Lo Thong Hosiang dan tokoh-tokoh selatan lain.

Juga muncul Pek-thouw.

tiauw-ong Lie Kong dan isterinya, membawa sepasang burung rajawali yang besar.

Jumlah semua orang yang kini berada di tempat itu tidak kurang dan empat puluh orang!

Diam-diam Tiang Bu mendapat kenyataan bahwa Thai Gu Cinjin dan Kwan Kok Sun tidak kelihatan di situ.

Hal ini membuat curiga sekali.

Akan tetapi taat akan larangan suhunya, ia diam saja.

Di lain pihak, Sin Hong merasa heran juga melihat hadirnya beberapa orang tokoh utara, diantaranya ia lihat Bu Kek Siansu, Pang Soan Tojin, dan Ci Lien Tojin.

Akan tetapi karena ia tadi sudah mendengar penuturan Hwa Thian Hwesio, ia tidak begitu heran lagi, bahkan mengherankan mengapa Hwa Thian Hwesio yang gemuk itu belum juga muncul di situ.

Setelah melihat para tamunya yang tak diundang datang memenuhi tempat itu Tiong Jin Hwesio mengangkat muka.

Mata tuanya masih amat tajam dan sekali sapu dan pandang matanya ia sudah dapat mengetahui siapa-siapa orangnya yang datang pada saat itu.

Tangannya kanan kiri meraup dua genggam rontokan daun bunga putih, lalu katanya tenang-tenang.

"Cuwi sekalian tanpa diundang telah hadir. Pinceng tak dapat menyuguh apa-apa kecuali rontokan bunga, siapa yang tidak dapat menerimanya harap segera pergi lagi saja!"

Setelah berkata demikian, hwesio tua ini menggerakkan kedua tangannya dan......

daun-daun bunga putih itu meluncur cepat, setiap helai menyambar ke arah seorang tamu.

Hanya dua orang murid Ang-jiu Mo-li, seorang murid Wan Sin Hong, dan dua ekor burung rajawali itu saja yang terhindar dari sambaran rontokan bunga!

Semua orang tcrkejut dan otomatis mengangkat tangan menyambut sumbaran bunga itu.

Mereka rata-rata adalah jago-jago silat kenamaan yang berkepandaian tinggi.

Baru mendaki gunung ini dan bisa mencapai puncak saja sudah menjadi tanda bahwa mereka itu memiliki kepandaian tinggi.

Maka tanpa ragu-ragu semua orang mengangkat tangan menerima rontokan bunga putih yang kecil itu.

Akan tetapi akibatnya hebat.

Segera terdengar pekik kesakitan susul-menyusul diikuti rubuhnya banyak orang ke belakang!

Ternyata bahwa rontokan daun bunga yang kecil itu kitika mengenai tangan ada yang menancap dan ada pula yang menggetarkan serta melumpuhkan seluruh tangan.

Bahkan ada yang tidak kuat menahan hawa dorongan yang luar biasa hingga roboh terguling ke belakang!

Tak usah dibilang lagi betapa kaget dan takut hati mereka yang tidak kuat menerima timpukan daun bunga tadi.

Tanpa berkata apa-apa lagi mereka lari turun dari puncak dan tempat itu sebentar saja menjadi sepi karena lebih banyak yang lari turun daripada yang tinggal.

Yang masih herdiri di situ karena kuat mererima timpukan tadi adalah Wan Sin Hong, Ang-jiu Mo-li, Toat-beng Kui bo, Liok Kong Ji, Bouw Gun, Pak kek Sam-kui, delapan orang tokoh selatan termasuk Le Thong Hosiang, dan tiga orang tokoh utara serta suami isreri pemilik burung-burung rajawali, Pek-thouw-tiauw ong Lie Kong dan isterinya.

Masih ada beberapa orang lagi dan jumlahnya hanya dua puluh tiga orang.

Yang lain semua lari.

Tiong Jin Hwesio tersenyum.

Tiong Sin Hwsio masih tetap duduk sambil meramkan mata, sama sekali tidak menghiraukan yang terjadi di situ.

"Cuwi sudah dapat menerima suguhan pinceng dengan baik. bagus sekali! Itu menjadi tanda bahwa cuwi sekalian cukup berharga untuk merundingkan sesuatu dengan kami. Kalau pinceng tidak salah sangka, cuwi sekalian para tokoh kang-ouw dari daerah selatan hendak membujuk kami supaya suka menjadi bengcu. Bukankah demikian kehendak cuwi?"

"Betul demikian dan kami harap locianpwe berdua takkan menolak. Bahaya perang sudah di depan mata. Kaum kang-ouw terpecah belah. Kalau bukan jiwi locianpwe yang rnemimpin kami, siapa lagi?"

Jawab Le Thong Hosiang tokoh Tai yung pal yang mewakili kawan-kawannya. Kembali Tiong Jin Hwesio tersenyum ramah.

"Belum pernah ada di dunia kang-ouw diangkat dua orang bengcu. Bukankah sudah ada seorang bengcu yang amat baik di dunia kangouw dan sekarang bahkan hadir di sini? Bukankah Wan-bengcu biarpun masih amat muda merupakan pemimpin yang baik sekali. Pinceng sudah banyak mendengar kebaikan-kebaikan dan jasa-jasanya."

"Akan tetapi dia adalah keturunan Wanyen keluarga Raja Kin! Mana bisa kami mempunyai bengcu seorang keturunan musuh ratyat? Hanya orang-orang utara yang tolol mau memilih dia!"

Kata Le Thong Hosiang sambil memandang kepada semua orang yang hadir, lalu berkata.

"Bukankah di sini terdapat pula saudara-saudara yang mewakili daerah utara?"

Bu Kek Siansu, ketua Bu-tong-pai yang bertubuh tinggi kurus dan berjenggot panjang, menjura sambil menjawab.

"Pinto dari Bu-tong-san mewakili sobat-sobat dari utara untuk mengunjungi jiwi twa-suhu menghaturkan hormat. Memang betul dahulu kami telah memilih Wan Sin Hong sicu untuk menjadi bengcu berdasarkan kepandaiannya yang tinggi dan memang harus kami akui bahwa Wan-sicu adalah seorang gagah perkasa. Akan tetapi setelah kami ketahui bahwa dia adalah keluarga raja, kami mangambil keputusan untuk membebaskannya dari tugas bengcu. Kami yang tidak sudi menjadi kaki tangan kaisar penjajah tentu saja tidak mau mempunyai bengcu keluarga kaisar. Kenudian kami mendengar bahwa jiwi twa-suhu berdiam di 0mei-san dan mengingat babwa jiwi adalah ahli waris dari Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Cawsu, sudah sepatutnya kalau jiwi memegang pucuk pimpinan para orang gagah sedunia agar segala pertentangan dapat dilenyapkan dan semua tenaga dapat dicurahkan untuk melindungi rakyat jelata dari pada penindasan kaum penjajah dari manapun juga."

Tiong Jin Hwesio menggeleng-geleng kepalanya.

"Omitohud, alangkah sempitnya pandangan orang sekarang!"

Ia menoleh kepada Sin Hong dan berkata kepada Bu Kek Siansu.

"Binatang boleh dipilih jenisnya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Akan tetapi manusia tak mungkin dapat dilihat baik buruknya dari keturunan maupun keadaan lahirnya. Wan-bengcu adalah murid dari mendiang Pak Kek Siansu yang masih sealiran dan sstingkat dengan kami. Kalau Wan bengcu dapat melakukan tugasnya dengan baik, mengapa menggantinya? Kami dua saudara tidak mau mencampuri urusan dunia mengapa kalian mendesak? Pulanglah, pulanglah. Biar Wan bengcu, memimpin kalian, pasti semua beres."

Sambil berkata demikian Tiong Jin Hwesio melambai-lambaikan tangan mengusir semua orang supaya pergi.

Liok Kong Ji melompat maju.

Dia tahu betapa lihainya dua orang kakek Omei-san itu.

Baru sambitan daun bunga saja tadi ketika ia menyambutnya, telapak tangannya sudah terasa kcsernutan.

Ia tahu (Lanjut ke

Jilid 12) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 bahwa kalau daun bunga itu diganti dengan benda keras biarpun kepandaiannya tinggi, ia takkan sanggup menerima sambitan kakek yang lihai itu.

Dua orang kakek yang berilmu tinggi ini akan menjadi pembantu-pembantu yang tak ternilai harganya bagi pergerakan Temu Cin, akan tetapi juga dapat menjadi lawan yang amat berat.

Oleh karena itu, ia harus berdaya menarik dua orang kakek ini di pihaknya atau kalau tidak berhasil membasmi mereka!

"Jiwi locianpwe bicara dengan tepat dan bijaksana sekali,"

Kong Ji mulai berkata dengan suara lantang.

"Orang-orang yang sudah tua seperti jiwi locianpwe memang sudah sepatutnya tidak diganggu lagi dengan urusan duniawi sehingga jiwi dapat tekun menenteramkan batin."

Tiong Sin Hwesio yang sejak tadi meramkan matanya, kini membuka mata dan semua orang mclihat betapa sinar mata hwesio ini sudah layu dan tak parsemangat seperti orang yang menderita sakit berat.

Memang sesungguhnya hwesio tua ini sudah lama menderita sakit, sakit tua yang membuat semangatnya bosan tinggal di tubuh tua itu.

"Pinceng mendengar lagu indah dinyanyikan secara sumbang,"

Katanya sambil menatap wajah Kong Ji "Sicu siapakah?"

Biarpun pandang mata dan suaranva sudah lemah, namun dalam sikap kakek tua ini membayangkan pengaruh luar biasa dan membuat orang mau tak mau menaruh segan dan hormat.

Sekelebatan kakek ini sepeti gambar Nabi Locu yang kecil tubuhnya, tua sekali bongkok dan jenggotnya sudah putih semua.

Berbeda dengan Tiong Jin Hwesio yang tidak berambut dan tidak berjenggot, adalah Tiong Sin Hwesio ini kepalanya ditumbuhi beberapa helai rambut-rambut di pinggirnya, rambut-rambut putih halus seperti benang sutera.

Juga jenggotnya halus dan putih.

Kong Ji cepat memberi hormat kepada kakek itu.

"Teecu bernama Liok Kong Ji, nama yang tidak terkenal bagi losuhu. Akan tetapi akan menjadi berarti kalau teecu memberi tahu bahwa anak muda yang duduk di belakang jiwi losuhu itu adalah puteraku!"

Orang yang merasa paling terkejut mendengar pengakuan ini adalah Tiang Bu sendiri. Hampir saja ia menjerit "bohong!"

Kalau saja ia tidak ingat dan taat akan pesan gurunya.

Apa pun yang terjadi, ia tidak boleb mengeluarkan suara dan tak boleh berbuat sesuatu.

Maka hanya mukanya saja yang berubah pucat.

Ia mengenal Liok Kong Ji sebagai seorang panglima di daerah Mongol.

la pernah berjumpa dengan orang itu ketika dahulu ia dibawa ke utara oleh Pak kek Sam kui.

Dan dahulu Liok Kong Ji tidak bicara sesuatu tentang pengakuan anak.

Mengapa sekarang orang itu mengaku bahwa dia anaknya?

Terbayang dalam ingatan Tiang Bu ucapan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa bahwa dia bukanlah putera Coa Hong Kin dan Go Hui Lian.

Ketika Hui eng Niocu Siok Li Hwa menculiknya dari Kim bun-to dan memaksanya bersumpah di depan makam Pat-jiu Nio-nio untuk menjadi murid Hui-eng pai dalam marahnya Hui-eng Niocu Siok Li Hwa menyatakan bahwa dia bukanlah anak Coa Hong Km dan Go Hui Lian, melainkan anak ayah bunda lain yang pada waktu itu ia tidak memperhatikan.

Dianggapnya Hui-eng Niocu bohong maka ia tidak ingat lagi nama ayah bunda yang disebut itu.

Sekarang teringatlah ia bahwa dahulu Hui-eng Niocu menyebut nama Liok Kong Ji!

Jadi inikah ayahoya?

Mengapa begitu?

Tiong Jin Hwesio menoleh kepada muridnya dan bertanya.

"Tiang Bu, benarkah kau putera situ ini?"

"Dia berkata bohong, suhu. Setahu teecu, ayah teecu bernama Coa Hong Kin dan ibu teecu bernama Go Hui Lian puteri Hwa I Enghiong Go Ciang Le."

Kini Tiong Jin Hwesio berpaling kepada Kong Ji dan suaranya berubah keren ketika ia berkata.

"Liok-sicu, pinceng tidak kenal padamu namun serasa pernah pinceng mendengar namamu yang kurang scdap. Kau jangan main-main di sini. Mengapa kau berani mengaku murid kami sebagai puteramu?"

Liok Kong Ji tertawa. Panahnya mengena sasaran, pancingannya berhasil baik.

"Locianpwa, mana aku berani membohong atau main-main? Tadinya teecu sendiri juga tidak tahu akan rahasia ini yang dipegang penuh serta ditutup rapat oleh Wan Sin Hong. Locianpwe"

Agaknya dapat diperdayai sehingga amat memuji dan percaya kepada Wan Sin Hong. Maka harap locianpwe tanya kepadanya akan hal ini."

"Wan-bengcu, betulkah kata-kata Lie situ ini bahwa Tiang Bu adalah puteranya?"

Tanya Tiong Jin Hwesio.

Keadaan menjadi sunyi.

Semua orang menaruh perhatian sepenuhnya akan perkara ini yang biarpun barsifat pribadi namun cukup menarik karena urusan ini saja dapat menimbulkan heboh dan keributan.

Semua orang memandang ke arah Sin Hong, ingin tahu apa jawabannya.

Sin Hong memandang ke arah Tiang Bu yang seakan-akan hendak menelannya dengan pandang mata yang tajam itu, kemudian menoleh ke arah Kong Ji, kemudian berpaling kepada Tiong Jin Hwesio din menundukkan kepalanya.

"Memang betul,"

Jawabnya lemah.

"Bohong....!"

Tiang Bu menjerit, lupa akan pesan gurunya dan ia melompat ke depan Sin Hong, kedua tangan terkepal, matanya berapi.

"Wan-siok-siok, bukankah kau sudah tahu bahwa ayah bundaku di Kim-bun-to. Dia itu, muridmu itu, bukankah dia Lee Goat, adikku? Aku tahu ketika ia masih kecil sekali, masih bayi. Aku yang menggendongnya, mengajaknya main-main! Mengapa pula dia pura-pura tak kenal padaku? Siok-siok, katakan sebenarnya bahwa aku bukan anak orang itu!"

Sin Hong tersenyum pahit, merasa amat kasihan kepada bocah ini.

Salahnya sendiri, pikirnya.

Dialah yang berdosa, membuka rahasia itu kepada Kong Ji katena khawatir akan keselamatan isterinya yang tertawan oleh Kong Ji, anak ini harus menelan kenyataan pahit sekali.

"Tiang Bu, kau memang puteranya. Semenjak masih bayi kau dipelihara oleh ayah bundamu di Kim bun-to......"

Wajah Tong Bu menjadi pucat.

"Aku masih belum percaya!"

Ia menoleh dan memandang kepada orang yang mengaku ayahnya itu dengan pandangan mata menantang.

"Wan siok-siok, kauceritakan mengapa semenjak bayi aku dipelihara oleh ayah bunda di Kim.bun.to. Mengapa kalau aku memang anak orang lain, orang tuaku yang aseli tidak memeliharaku sendiri?"

Muka Sin Hong sebentar pucat sebentar merah.

Keningnya berkerut.

Ia berada dalam keadaan yang amat sukar.

Tidak menjawab bagaimana dan kalau ia menjawab dan meceritakan hal sebenarnya, berarti ia akan membanting nama bocah itu ke dalam jurang kehinaan!

Mana ia tega untuk merendahkan bocah ini dengan bercerita di depan orang banyak bahwa bocah ini terlahir dari ibu yang gila dan yang dipermainkan oleh Kong Ji.

Sama saja dengan membuka rahasia bahwa Tiang Bu adalah anak dari perhubungan gelap, anak yang tidak karuan ayahnya atau anak haram!

Sin Hong menggeleng geleng kepalanya sambil menarik napas panjang.

"Aku......... aku tak dapat menceritakannya, Tiang Bu"".."

"Wan siok-siok, kau harus.........! Kau harus menceritakannya kepadaku. Harus.........!"

Tiang Bu mendesak. Sing Hong menggeleng kepalanya dengan sedih dan memandang kepada bocah itu dengan kasihan.

"Tidak bisa, Tiang Bu ""."

"Kalau begitu kau bohong! Kau pembohong besar di dunia ini...... atau kau pengecut besar!"

Tiang Bu melangkah maju dan matanya bcrsinar marah dan kedua tangannya dikepal seakan-akan dia hendak menyerang Sin Hong. Terdengar Kong Ji tertawa mengejek dan Sin Hong menjadi pucat sekali.

"Tiang Bu...l"

Bentaknya keras.

"Siapapun tidak boleh menyebut aku pengecut!"

"Mengapa kau menyembunyikan rahasia orang? Mengapa kau tidak berani bicara terus terang? Hanya seorang pengecut yang menyimpan rahasia orang dan membuat orang mendapat malu dan terhina!"

Kata Tiang Bu makin berani.

"Hayo katakan......... atau harus aku memaksa.........??"

"Tiang Bu.........!!"

Sin Hong hampir tak dapat menahan kesabarannya lagi. Mukanya sebentar merah sebentar pucat. Pada saat itu, Tiong Sin Hwesio membentak.

"Tiang Bu, kau memalukan guru-gurumu. Hayo mundur dan masuk ke rumah!"

Mendengar bentakan ini, terdengar isak naik dari dada Tiang Bu, mukanya pucat sekali dan dengan kaki limbung dan maka pucat ditundukan, ia lalu berlari masuk ke dalam pondok, di mana ia membanting diri di atas lantai dan menangis!

Baru kali ini selama hidupnya Tiang Bu merasa sakit sekali hatinya.

Sementara itu, Le Thong Hosiang berkata mengejek.

"Dasar keturunan pangeran penjajah, tidak lurus hatinya, berani menghina murid tuan rumah. Dasar pengecut tetap pengecut!"

Sin Hong menggerakkan lehernya dan menengok ke arah pembicara.

"Le Thong Hosiang, kau memaki siapa?"

Tanyanya, suaranya lambat dan agak tergetar.

"Ho ho-ho, mcmaki kau, siapa lagi?"

Baru saja kata-kata ini keluar dari bibir Le Thong Hosiang tubuh Sin Hong mencelat dan dengan marah ia menyerang Le Thong Hosiang.

Akan tetapi Ketua Tai-yun-pai memang sengaja mencari percekcokan dengan Sin Hong dan karenanya ia sudah siap sedia.

Dua orang sutenya yaitu Lo Kong Hosiang dan Le Tak Hosiang, sudah menjaga.

Begitu Sin Hong bergerak, dua orang hwesio ini menggerakkan toya mereka menyerang Sin Hong dari dua jurusan.

Juga Le Thong Hosiang menggerakkan toyanya sambil berkata kepada Tiong Jin Hwesio.

"Jiwi locianpwe, harap maafkan, pinceng hendak memberi hajaran kepada pangeran kesasar ini!"

Akan tetapi, kata-katanya terhenti karena Sin Hong dengan gerakan cepat sekali mangeluarkan kepandaiannya.

Bagaikan halilintar menyambar tubuhnya berkelebat di antara tiga barang toya lawan dan di lain saat Le Tak Hosiang terlempar ke kanan, Le Kong Hosian, terjungkal dan Le Thong Hosiang roboh dengan toyanya patah-patah!

Baiknya Sin Hong masih ingat bahwa ia berada di Omei-san dan di depan dua orang kakek sakti yang menjadi tuan rumab.

Pula dia ingat bahwa pertempuran hanya urusan kecil saja.

maka ia tidak sampai menurunkan tangan maut, hanya membuat Le Thong Hosiang patah patah toya berikut tulang lengan kanannya sehingga hwesio menjadi pingsan.

Adapun Le Kong Hosiang dan Le Tak Hosiang hanya terlempar mendapat kepala benjol saja.

Semua orang menjadi kaget sekali menyaksikan kehebatan Sin Hong.

Kong Ji tersenyum masam.

Ang jiu Moli memandang kagum penuh gairah kepada Sin Hong.

Mulut Toat-beng Kui-bo bergerak-gerak seperti orang makan kacang goreng, atau seperti mulut domba menggayem kembali makanan dari perutnya.

Keadaan menjadi sunyi sekali.

Tiba-tiba terdengar.

suara Tiong Jin Hwesio, bernada tak senang.

"Wan-bengcu, kau kasar sekali. Apakah di sini kau hendak memamerkan kepandaianmu?"

Sin Hong cepat memberi hormat kepada kakek itu.

"Maaf locianpwe. Bukan sekali-kali boanpwe berani bersikap kurang ajar, akan tetapi orang-orang itu terlalu mendesak boanpwe."

"Hemmm, memang tIdak keliru kata kata Tiang Bu tadi. Seorang yang tidak berani berkata terus terang, biarpun sikapnya itu hendak menolong orang lain misalnya, tetap saja ia mendekati sikap pengecut. Kau datang ini ada keperluan apakah?"

Merah wajah Sin Hong dan sikapnya menjadi berani.

Dia tidak mau membuka rahasia itu semata-mata untuk melindungi muka dan nama baik Tiang Bu, akan tetapi bocah kurang terima itu mengatakannya pengecut dan kakek ini malah membenarkan bocah itu.

"Locianpwe memang bukan menjadi watakku untuk membuka rahasia orang lain di depan umum. Oleh karena itu pulalah maka aku yang muda dan bodoh kali ini juga tidak membuka rahasia mengapa aku datang ke tempat ini. Hanya terus terang saja, kedatanganku ke sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan segala keributan urusan bengcu dan segala tetek-bengek lain tetapi aku datang untuk mencari isteriku yang diculik orang. Akan tetapi aku belum begitu kurang ajar untuk mengganggu Iocianpwe sebagai tuan rumah yang hendak melayani tamu-tamunya, maka silakan. Biar aku menanti setelah urusan semua selesai, barulah aku berurusan dengan pcnculik isteriku!"

Tiba-tiba Tiong Sin Hwesio tertawa geli.

"Heh-heh-heh, murid Pak Kek Siansu ini bersemangat juga. Sayang ia terlalu seeji (sungkan) dan mengalah sehingga diinjak-injak orang jahat."

Kemudian ia berkata kepada Tiong Jin Hwesio.

"Sute, lekas kaubereskan orang-orang ini. Pinceng sudah lelah."

Tiong Jin Hwesio dengan muka sebal dan hilang sabar berkata.

"Siapa lagi yang masih ada urusan hayo lekas katakan, jangan bikin capai hati orang!"

Liok Kong Ji melaugkah maju. Dengan senyum cerdik sekali ia berkata.

"Jiwi Locianpwe tadi menyatakan tidak hendak mencampuri urusan dunia, itu baik sekali. Biarpun kita semua tidak berani minta pertolongan jiwi untuk segala urusan keduniaan. akan tetapi kami sangat mengharapkan agar kelak jiwie memenuhi janji dan tidak turun gunung untuk mencampuri urusan kami."

"Eh, lancang! Kauanggap kami ini siapa sudi melanggar janji dan kau ini punya hak apa bicara seperti itu?"

Tiong Jin membentak.

"Bagus, locianpwe. Memang aku percaya penuh bahwa locianpwe kelak takkaa melanggar janji. Adapun aku memang hendak mewakili para orang gagah karena ketahuilah bahwa aku pernah mereka pilih sebagai Tung Nam Bengcu dan sekarang setelah Wan Sin Hong tidak berhak menjadi bengcu lagi, aku mewakilkan diri untuk menjadi calon bengcu. Bagaimana, para sobat yang hadir di sini. Setujukah mengangkat siauwte sebagai bengcu?"

Tanyanya kepada kawan-kawannya.

Yang hadir di situ sebagian besar adalah kawan-kawan Kong Ji.

Maka tokoh-tokoh selatan seperti La Thong Hosiang yang sudah siuman, bersama sute-sutenya dan Nam Kong Hosiang berdua Nam Sion; Hosiang ketua Kaolikung-bio (kelenteng di Bukit Keolikung-san), Heng.tuan-san Lojin, Pak-kek Sam-kui, Bouw Cun beberapa orang ternama lain.

serentak menyatakan setuju dengan suara gemuruh.

"Tidak, kami tidak setuju."

Tiba.tiba Bu Kek Siansu berseru keras.

"Semua tokoh utara tidak setuju kalau Liok-sicu yang menjadi bengcu!"

"Habis kau mau apa?"

Bu-tek Sin-ciang Bouw Gun naelompat maju di depan Bu Kek Siansu sambil melotot dengan sikap menantang. Bu Kek Siansu tidak melayani orang kasar itu, melainkan menghadap Tiong Jin Hwesio dan berkata.

"Harap locianpwe sudi turun tangan. Liok Kong Ji itu seorang manusia jahat, kalau dia menjadi bengcu, akan celakalah dunia kang-ouw.........."

"Bu Kek Siansu, tak malukah kau memburukkan orang lain di depan umum? Laginya kau lupa bahwa dua orang kakek sakti dari Omei-san sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan kita."

Dengan mendongkol sekali Tiong Jin Hwesio menggerak-gerakkan tangannya.

"Pergilah kalian urus sendiri persoalan ini, jangan mengganggu kami."

Liok Kong Ji tertawa bergelak.

Tercapailah maksud hatinya, berhasillah tipu maslihatnya walaupun ia tak mungkin dapat mengharapkan bantuan dua orang kakek itu, tetapi sudah berhasil mengikat mereka dengan janji takkan mencampuri urusannya.

Kelak dalam penyerbuan tentara Mongol ke selatan, kiranya ia mempunyai senjata janji ini untuk membuat dua orang sakti ini tak berdaya andaikata mereka hendak turun tangan.

"Cuwi bengyu sekalian, mari kita turun dan jangan mengganggu lagi dewa-dewa Omei-san!"

Katanya sambil mengajak kawan-kawannya turun dari puncak.

"Hemm Liok Kong Ji, biarpun akan hancur tubuhku, kelak akulah yang akan menjadi lawanmu,"

Kata Wan Sin Hong dengan suara lantang, akan tetapi Kong Ji hanya tertawa.

"Jiwi locianpwe harap ingat bahwa anak itu adalah puteraku, jadi kelak aku membawanya pulang."

"Tutup mulutmu,"

Sin Hong membentak.

"Mana buktinya bahwa dia puteramu?"

Kong Ji hanya tertawa mengejek lalu pergi dari situ. Tiong Jin Hwesio menghela napas, dongkol sekali.

"Benar-benar hari ini kami sedang sial, didatangi oleh orang-orang dogol, tukang berkelahi. Eh, eh kalian ini masih belum pergi, mau apa lagikah? Apakah masih ada urusan lain? Ini nenek tua bukankah Toat beng-Kui-bo dari Laut Selatan? Hemm, kau sudah tua mau mampus seperti kami masih berkeliaran di sini, mau apakah?"

Tegur Tiong Jin Hwesio.

Terdengar suara ketawa cekikikan ketika nenek mengerikan itu menggerakkan mulutnya.

Tiga ekor kelelawar terbang dari tongkatnya ketika nenek itu tertawa, beterbangan di atas kepala nenek itu seakan-akan suara tawa tadi merupakan isarat bagi mereka untuk siap menjaga keselamatan majikan mereka!

"Hi-hi-hi-hi, Tiong Jin Hwesio dan kau tua bangka Tiong Sin Hwesio tukang tidur!

Dari tadi aku heran apakah kalian sudah lupa kepadaku.

Kiranya kalian masih ingat.

Alangkah sombongnya kalian, makin tua makin sombong sehingga sejak tadi kalian berlaku seolah-olah tidak kena!

lagi padaku!

Cihh, laki-laki memang selalu berwatak tinggi hati."

Tiong Sin Hwesio tiba-tiba membuka matanya dia menarik napas panjang.

"Kau masih sama saja seperti lima puluh tahun yang lalu sedikitpun tidak berobah!"

Harus diketahui bahwa ketika masih mudanya, Toat-beng Kui-bo adalah seorang wanita yang cantik jelita, oleh karena itu, kini mendengar kata-kata Tiong Sin Hwesio, ia merasa mendapat pujian.

Oleh karena itu, kembali mengeluarkan suara ketawa haha-hihi menyeramkan sekali.

"Hi-hi-hi hi, Tiong Sin Hwesio biarpun sudah tua bangka, tetap saja seorang laki-laki yang pardai mengambil hati! Tiong Sin Hwesio biarpun tadinya aku agak gentar menghadapimu dan berniat mengajak pibu sutemu saja, namun melihat kebaikan hatimu, aku merubah niatku dan sekarang aku ingin mancoba sampai di mana kelihaianmu yang amat disohorkan orang. Orang bilang bahwa ilmu silat warisan Tat Mo Couwsu lebih lihai dari pada warisan Hoat Hian Couwsu. Akan tetapi aku tetap berpendirian bahwa selain dua orang couw-su itu, masih ada ilmu silat lain yang tak kalah hebatnya!"

Tiong Sin Hwesio merem-melekkan matanya, lalu mengambil napas panjang.

"Toat-beng Kui-bo, kata-katamu itu benar belaka. Memang banyak sekali ilmu silat dunia ini yang Iihai-lihai dan hebat-hebat akan tetapi sebagian besar adalah ilmu silat yang sengaja diciptakan orang untuk orang-orang jahat. Maka kalau dibandingkan dengan peninggalan cauw-su, ahh, jauh sekali."

"Pandai kau bicara, orang tua. Coba kau jelaskan, bagai mana bedanya!"

Nenek itu menuntut.

"Sute, nenek ini bawel amat. Coba kau menjelaskannya, bukan hanya untuk Toat beng Kui-bo, juga untuk orang yang menyebut diri ahli ilmu silat di sini agar supaya membuka matanya "

Tiong Jin Hwesio mengangguk, lalu berkata dengan suara lantang.

"Ilmu silat adalah kelaujutan dari pada ilmu batin. Manusia harus lebih dulu belajar memperkuat batin membersihkan hati dan pikiran. Kalau pikiran dan hati tidak bersih, mana bisa mempelajari ilmu batin untuk mencari Nirwana? Manusia terdiri dari lahir dan batin, keduanya harus maju bersama, tak boleh pincang sebelah. Batinnya saja yang kuat tanpa lahir yang kuat takkan selaras, sebaliknya lahirnya kuat batinnya tidak kuat mendatangkan kekerasan dan penyelewengan. Setelah mempelajari ilmu batin dan sudah memiliki jiwa yang kuat dan bersih, sudah semestinya melatih lahir supaya kuat pula karena sudah menjadi kewajiban setiap mahluk untuk menjaga dan melindungi tubuh sendiri dari bahaya yang mengancam dari luar. Inilah mengapa orang-orang pandai di jaman dahulu menciptakan ilmu silat, diciptakan penuh kesadaran dan kesucian batin, ditujukan dalam mencipta untuk memberi perisai dan pelindung kepada manusia lemah supaya dapat menjaga tubuh. Kemudian oleh orang orang yang bersemangat dan berjiwa besar, malah ilmu ini dipergunakan untuk membantu berputarnya keadilan dan mendorong terlaksananya kebajikan. Akan tetapi, sungguh celaka, banyak sekali disamping ilmu silat yang bersih ini muncul ilmu silat yang dipergunakan untuk mengagulkan diri, untuk menyombongkan diri dan memamerkan kepandaian, untuk berkelahi dan mengalahkan orang lain. Alangkah sesatnya!"

Setelah Tiong Jan Hwesio berhenti bicara Tiong Sin Hwelio berkata.

"Nah, kaudengar itu, Toat beng Kui-bo. Pinceng tahu kau berilmu tinggi. Apakah kau masih hendak menantangku mengadu ilmu? Itu tandanya ilmumu sesat."

"Kakek tua bangka banyak lagak! Aku belajar ilmu untuk dipergunakan, bukan seperti kalian ini belajar puluhan tahun hanya untuk dipakai bekal mampus. Kalau kalian tidak mau melayani aku pibu, juga tidak apa. Akan tetapi segala macam ilmu peninggalan Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Couwsau itu untuk apakah? Lebih baik kalian berikan kapadaku sebelum kalian mampus agar dapat kuperkembangkan dan kuturunkan kepada orang baik."

Mendengar ini, Tiong Sin Hwesio bergerak dan tahu-tahu kakek tua yang sejak tadi duduk sudah berdiri ke depan Toat-beng Kui-bo.

Gerakannya tak dapat dibilang cepat karena ia nampak lambat-lambatan, akan tetapi tak seorangpun dapat melihat kapan dia bangkit dari duduknya!

"Toat-beng Kui-bo, apakah kau juga seperti orang-orang yang berwatak maling itu?

Kitab-kitab pusaka tak boleh diganggu oleh siapa-pun juga.

Kau sendiripun tidak boleh"

Nenek itu tertawa, memperlihatkan giginya yang jarang dan runcing seperti gigi tikus atau gigi kelelawar.

"Ini berarti kau mau melayani aku bertanding!"

"Lebih baik main-main sebentar dengan tulang-tulangku yang sudah lapuk dari pada membiarkan kau mengotori kitab-kitab kami!"

Kata Tiong Sin Hwesio.

"Kalau begitu kau terimalah ini!"

Seru nenek itu dan kedua tangannya yang berkuku panjang itu mendorong ke depan.

Gerakannya biasa saja akan tetapi ketika kedua lengan itu menyambar, orang-orang yang berdiri beberapa tombak jauhnya dari tempat itu masih merasai hawa dorongan yang dahsyat!

Dan ketika kedua kaki nenek itu berganti-ganti dibantingkan ke tanah, tempat di sekitar itu tergetar seperti gempa bumi.

Tiong Sin Hwesio menyebut.

"0mitohud!"

Dan dengan gerakan sederhana pula ia meluruskan kedua lengan tangannya. Di lain saat dorongan nenek itu sudah diterimanya dan dua pasang telapak tangan itu saling menempel.

"Omitohud, kau hendak mengadu lweekang. Bagus...... kau takkan menang, Toat-beng Kui-bo.......!"

Kata Tiong Sin Hwesio sambil tersenyum memperlihatkan mulut yang tak bergigi lagi.

Yang masih hadir di tempat itu hanya tinggal Sin Hong, Ang-jiu Mo-li dan suami isteri Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong berdua.

Mereka merasa kagum bukan main terhadap kakek tua itu.

Mengadu tenaga lweekang seperti itu adalah pertandingan yang amat berbahaya.

Seluruh perhatian dan tenaga dalam harus dikerahkan kepada telapak tangan untuk mendesak hawa pukulan atau hawa dorong lawan.

Akan tetapi kakek itu masih dapat bicara seenaknya!

Juga Toat-beng Kui-bo terkejut sekali dan menyesal bukan main mengapa ia datang-datang mengadu tenaga lweekang dengan kakek tua yang sudah mau mati itu.

Begitu mendengar kakek itu bicara, tahulah ia bahwa tenaga lweekangnya kalah jauh.

Namun nenek ini adalah seorang yang terkenal keras hati dan tidak mau kalah.

Ia mengerahkan seluruh tenaganya, kedua kakinya berganti-ganti menjejak tanah, dan dari dalam petutnya keluar suara gerengan seperti harimau dan tanah di sekitarya bergerak gerak terkena getaran tenaganya yang dahsyat.

Pohon kembang di belakang dua orang kakek itu tergetar dan berhamburanlah bunga dan daun segar ke bawah sehingra sebentar saja pohon itu telah menjadi gundul sama sekali tak berbunga atau berdaun lagi.

Melihat orang-orang gagah yang hadir di situ kembali terkejut.

Harus mereka akui bahwa nenek buruk rupa ini memiliki tenaga lweekang yang lebih tinggi dan pada mereka sendiri.

Namun, kakek Tiong Sin Hwcsio masih tampak tenang-tenang saja.

"Omitohud, Toat-beng Kui-bo, mengapa kau berlaku nekad?. Kau tak kan menang. Tariklah tenagamu dan kau melompat mundur, kita sudahi.saja adu tenaga ini."

Akan tetapi-nenek itu bukannya menurut bahkan makin hebat ia mengerahkan tenaganya, sampai uap putih rnengcpul dari kepalanya dan peluh membasahi dadanya.

"Kau tidak mau mundur baik-baik? Terserah, terpaksa pinceng mcndorongmu mundur. Satu......... dua.......... tiga........!"

Tubuh Toat-beng Kui-bo tiba-tiba terlempar ke belakang seperti disambitkan.

Baiknya nenek ini lihai sekali.

Ia cepat mengerahkan ginkangnya, berjumpalitan dan hanya terhuyung-huyung, tidak sampai roboh terlentang.

Mukanya pucat, napasnya memburu dan peluhnya memenuhi tubuh.

Ia berdiri meramkan mata sebentar untuk mengatur napas.

Lega hatinya karena kakek itu ternyata tidak melukainya.

Ketika ia membuka matanya, ia melihat Tiong Sin Hwesio masih berdiri.

Segera melompat maju dan berkata.

"Kita masih belum main ilmu silat. Hayo, kaulayani aku barang sepuluh jurus. Kalau dalam adu tenaga lweekang aku kalah, kini aku akan menebus kekalahanku!"

Katanya menantang. Aneh sekali, tubuh Tiong Sin Hwesio gemetar, kedua kakinya menggigil dan suaranya terdengar lemah sekali ketika menjawab.

"Aku tidak bisa......... tidak mau mengadu ilmu silat dengan kau, ilmu silatmu jahat dan kotor...."

"Kau takut? Hi-hi hihi, Tiong Sin Hwesio takutkah? Kau mau atau tidak, harus kau layani aku kalau tidak mau kusebut pengecut dan penakut yang ngeri menghadapi kekalahan!"

"Pinceng bukan takut, kau takkan menang. Muridku saja cukup untuk melayanimu. Tiang Bu""!"

Kakek ini menoleh ke arah pondok memanggil muridnya.

Dalam suara panggilannya itu terdengar getaran yang aneh sehingga Tiong Jin Hwesio tidak hanya memandang kepada suhengnya itu, bahkan kini menghampirinya dan tanpa berkata sesuatu hwesio jangkung kurus ini menaruh tangan di punggug suhengnya, lalu keningnya berkerut.

Sementara itu, Tiang Bu berlari keluar.

Pada mukanya masih nampak bekas air mata.

biarpun ia merasa sungkan keluar menemui atau menghadapi orang-orang itu terutama sekali Sin Hong, namun tentu saja ia tidak berani membantah panggilan twa-suhunya.

Ia menjatuhkan diri berlutut di depan Tiong Sin Hwesio, siap menanti perintah selanjutnya.

"Tiang Bu, seorang jantan pantang mengalirkan air mata keluar."

Tiong Sin Hwesio menegur muridnya.

"Ampunkan teecu, suhu. Hati teecu terasa sakit dan perih, air mata keluar tanpa dapat teecu cagah lagi."

"Kau sakit hati? Bagus, asal saja jangan kau menjadi buta karena perasaan itu. Tiang Bu, kau akan mewakili pinceng menyambut tantangan untuk berpibu dengan Toat-beng Kui-bo. Beranikah kau?"

Kata Tiong Sin Hwesio sambil menunjuk ke arah nenek itu.

Tiang Bu memandang.

Nenek ini rupanya saja sudah demikian mengerikan dan membuat semangat lawan terbang setengahnya, apalagi nama julukannya yang begitu menyeramkan Toat beng Kui-bo yang berarti Iblis Wanita Pencabut Nyawa!

"Tentusaja teecu akan mentaati perintah suhu, dan teecu tidak penasaran andaikata locianpwe ini benar-benar akan mencabut nyawa teecu,"

Jawabnya. Tiong Sin Hwesio tertawa girang.

"Ha, kau seperti anak itik yang takut air! Akan tetapi lebih baik seperti anak itik takut air dari pada menjadi seperti anak ayam tenggelam di sungai!"

Perumpamaan anak itik takut air adalah sikap orang yang merendah, tidak tahu akan kepandaian sendiri maka takut-takut seperti anak itik takut air padahal pandai sekali renang!

Sebaliknya anak ayam mati di sungai menyindirkan sifat seorang sombong yang tidak insaf akan kepandaian sendiri yang terbatas sehingga ia akan tenggelam dalam kesombongannya sendiri.

"Tiang Bu, selama aku berada di sini, kau telah mempelajari ilmu-ilmu yang kalau kau pergunakan benar-benar akan dapat mengatasi atau setidaknya mengimbangi kepandaian Toat-beng Kui-bo. Majulah!"

Tiang Bu merangkak maju dan berlutut di depan kaki suhunya.

"Coba kau lakukan Khai-khi-jiu hiat!"

Sin Hong dan yang lain-lain kagum sekali.

Khai-khi-jiu-hiat (Membuka Hawa Melemaskan Jalan Darah) adalah semacam ilmu yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang hanya dapat dilkukan oleh orang yang sudah memiliki sinkang di tubuhnya dan sudah mempelajari dasar ilmu lweekang yang paling tinggi.

Khai-khi-jiu-hiat ini biasanya dipergunakan dalam keadaan samadhi untuk menerima sarinya bulan sebagai tenaga Im-kang dan sarinya matahari sebagai tenaga Yang-kang.

Apakah benar-benar bocah ini dapat melakukannya?

Dan kakek itu menyuruhnya melakukan Khai-khi-jiu-hiat untuk apakah?

Setelah Tiang Bu bersila dan melakukan Khai-khi-jiu-hiat, Tiong Sin Hwesio melangkah maju mendekati Tiang Bu, lalu mengangkat kedua tangan ke atas kepala.

Tiba-tiba Tiong Sin Hwesio melompat maju dan memegang lengan suhengnya.

"Suheng, jangan.........!"

Hwesio jangkung kurus ini sudah dapat menduga apa yang hendak dilakukan oleh suhengnya maka dengan hati ngeri ia hendak mencegah. Tiong Sin Hwesio tersenyum ramah kepada sutenya itu.

"Sute, kau sudah dapat mengerti niatku. Memang jalan ini yang terbaik. Ketahuilah bahwa setelah mengadu lweekang tadi, pertahananku melawan datangnya Giam lo ong karena usia tua sudah lumpuh. Kematian sudah di depan mata, mengapa harus mati sia-sia. Lebih baik kuwariskan dia yang kelak harus melanjutkan riwayat kita. Toat-beng Kui-bo berkata benar, sayang pelajaran puluhan tahun dibawa ke lubang kubur begitu saja."

Tiong Jin Hwesio mengangguk-angguk, tak dapat berkata apa-apa lagi kecuali memandang kepada kakek tua itu dengan pandang mata terharu.

"Kau mendahului aku, suheng? Terserah sesukamulah....."

Katanya perlahan sekali.

"Tiang Bu, bersiaplah kau, buka selebar-lebarnya jalan darahmu!"

Sambil berkata demikian, kembali Tiong Sin Hwesio mengangkat kedua lengan tangannya ke atas, jari-jari tangan dibuka sepeti hendak mencengkeram sesuatu dari udara.

Makin lama jari-jari tangan ini makin tergetar mula-mula hanya jari tangan saja yang bergetar, makin lama menjalar ke lengan, pundak, tubuh dan tak lama kemudian seluruh tubuh kakek itu tergetar hebat.

Demikian hebat tenaga getaran sampai-sampai Sin Hong yang sudah tinggi lweekangnya ikut pula tergetar kedua kakinya, seakan-akan tenaga itu menjalar melalui tanah dan udara!

Hebat bukan main kakek tua itu ketika mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya.

Mau apakah dia?

Sin Hong sendiri tidak dapat menduga kakek ini mau berbuat apa, ia hanya khawatir kalau-kalau kakek ini menyerang orang, kiranya biarpun Tiat beng Kui-bo sendiri takkan mungkin dapat menahan.

"Terimalah!"

Teriakan ini keluar bagaikan jerit mengerikan dari mulut Tiong Sin Hwesio dan tiba-tiba sepuluh jari tangannya bergerak dan memukul ke arah ubun-ubun kepala Tiang Bu! "Celaka......."

Sin Hong melompat bagaikan seekor burung walet menyambar ke arah kakek itu untuk menolong Tiang Bu.

Dengan mcngerahkan seluruh lweekangnya karena maklum akan kelihaian kakek itu.

Sin Hong cepat menggunakan kedua lengannya untuk menangkis gerakan ke dua tangan kakek yang memukul ubun-ubun kepala Tiang Bu.

"Ptak-.....!"

Terdengar suara keras dan tubuh Sin Hong terlempar jauh kebelakang sampai lima tombak lebih!

Baiknya kepandaian Sin Hong sudah tinggi, maka dapat ia mangatur keseimbangan tuhuhnya dan turun ke bumi dalam keadaan berdiri.

Namun ia merasa tubuhnya lelah bukan main seperti kehabisan tenaga sama sekali.

Seakan akan tenaga sinkangnya terbetot dan terhisap habis ketika lengannya bertemu dengan lengan kakek itu.

Kini ia hanya dapat berdiri memandang dengan mata ngeri.

Setelah teradu dengan lengan Sin Hong lengan tangan kakek itu seakan-akan ditambah tenaga lagi dan kini meluncur cepat ke arah ubun-ubun kepala Tiang Bu tanpa dapat dicegah lagi.

"Capp.........!"

Orang orang melihat seakan-akan sepuluh buah jari tangan itu menancap kepala Tiang Bu yang masih duduk bersila.

Tubuh anak itu seperti orang disambar petir, berkelojotan dan rambut kepalanya berdiri semua!

Setelah berkelojotan dan matanya mendelik, lalu tubuh Tiang Bu roboh di atas tanah, tak bergerak lagi.

Juga Tiong Sin Hwesio jatuh duduk di dekat tubuh anak itu bersila dan tak bergerak seakan-akan tubuh hwesio tua itu sudah menjadi patung.

Hanya jenggotnya yang putih panjang saja bergerak-gerak tertiup angin.

"Suheng.........!"

Tiong Jin Hwesio mengeluarkan suara seperti mengeluh kemudian ia merangkap kedua tangan ke dada memberi hormat kepada suhengnya yang duduk tak bergerak itu.

"Eh, apa apaan ini?"

Toat.beng Kui-bo berseru tak senang merasa diabaikan oleh kakek Omei-san.

"Diamlah, Toat bang Kui-bo!"

Tiong Jin Hwesio mernbentaknyn marah. `Tunggu saja sebentar, kalau kau demikian haus berkelahi, murid kami yang akan mewakili suheng mengajar adat kepadamu!"

Sementara itu, Sin Hong melompat ke dekat Tiang Bu yang menggeletak terlentang di dekat Tiong Sin Hwesio.

Akan tetapi ia melompat balik lagi dan matanya terbelalak.

Ia tadi hampir saja menyentuh tubuh Tiang Bu akan tetapi cepat ia menjauhkan diri ketika melihat pemuda cilik itu menggerak-gerakkan dua tangan seperti orang kepanasan, mengeluh menoleh ke kanan kiri seperti orang sakit demam.

Dan dari gerakan kedua tangan Tiang Bu itu menyambar hawa pukulan yang membuat Sin Hong melompat mundur dengan terkejut sekali.

Ia menoleh ke arah Tiong Sin Hwesio dan".

ia segera merangkapkan kedua tangan sebagai tanda penghormatan.

Tahulah kini Sin Hong akan keanehan kakek tadi, atau sedikitnya ia dapat menduga apa yang sesungguhnya telah terjadi.

Tentu kakek itu telah menurunkan ilmunya yang terakhir kepada Tiang Bu, boleh jadi telah mendatangkan kekuatan hebat pada diri anak itu melalui pukulan tadi.

Dan kakek itu telah melakukan ini dengan mengorbankan nyawanya!

Dugaan Sin Hong memang banyak betulnya.

Akan tetapi ia tidak mengetahui hal yang sesungguhnya.

Hanya Tiong Jin Hwesio saja yang tahu sejak tadi apa yang dilakukan oleh suhengnya.

Ternyata bahwa ketika tadi mengadu lweekang dengan Toat.

beng Kui-bo, keadaan Tiong Sin Hwesio sudah payah sekali.

Hwesio ini sudah lama menderita sakit tua, usianya sudah terlalu tua dan agaknya ia hanya "menanti saatnya"

Saja.

Kemudian ia ditantang oleh nenek itu sehingga terpaksa turun tangan.

Tentu saja Toat-beng Kui-bo bukan lawannya dan mudah ia mengalahkan pertandingaa lweekang itu.

Namun, tubuhnya yang sudah rapuh itu mana kuat menahan pertandingan lweekang?

Segera kakek ini merasa bahwa isi dadanya terluka hebat akibat pengerahan tenaga lweekang dan tahulah ia bahwa ia menghadapi kematian yang tak dapat ditolong lagi.

Maka ia lalu mengambil keputusan, mempergunakan saat terakhir itu untuk menurunkan seluruh tenaga sinkangnya kepada muridnya yang terkasih, Tiang Bu.

Anak ini cerdik sekali dan sudah banyak mempelajari ilmu pukulan yang tinggi-tiuggi.

Namun oleh karena tubuhnya masih amat muda dan belum memiliki sinkang yang tinggi apabila bertemu dengan lawan tangguh masih belum dapat diandalkan.

Oleh karena itu, di saat terakhir itu ia menyuruh muridnya melakukan Khai-khi-jiu-hiat, kemudian ia melakukan pukulan hebat itu untuk memindahkan tenaga sinkang ke dalam tubuh muridnya.

Pukulannya tadi adalah semacam pukulan hebat sekali, tidak dikenal oleh ahli silat lain dan merupakan pukulan gaib yang disebut Sin-siang-hoan-kang (Tangan Sakti Memindahkan Tenaga).

Pukulan ini kalau dipergunakan untuk menyerang lawan jarang ada lawan dapat menghindarkan diri karena setiap gerak mengandung aliran tenaga sinkang yang luar biasa.

Akan tetapi kakek itu telah dapat mempergunakan untuk memindahkan tenaga sinkangnya ke dalam tubuh Tiang Bu yang sedang "terbuka,"

Benar-benar hebat luar biasa.

Dalam keadaan "terbuka", seperti Tiang Bu tadi, jangankan pukulan sehebat Sin ciang hoan-kang, walaupun pukulan biasa dari seorang ahli lweekeh saja sudah akan mematikannya.

Baiknya Tiang Bu sudah diberi latihan dasar lweekang dan tubuhnya sudah berisi hawa murni.

Maka ia tidak mati oleh pukulan dan biarpun tubuhnya kemasukan tenaga hebat seperti aliran listrik, ia hanya roboh pingsan dan berkelojotan saja.

Tak lama kemudian, gerakan kaki tangannya yang seperti orang menghadapi sakratul maut itu makin mengendur akhirnya terhenti dan ia bangkit duduk sambil meramkan matanya.

Kepalanya masih puyeng, kedua telingannya mendengar suara "ngiiiiiiiing"...".

tak kunjung henti.

"Tiang Bu, loncatlah berdiri dan gunakan Lo pai-hud (Kakek Menyembah Buddha) ke arah angkasa tiga kali!"

Terdengar Tiong Jin hwesio berkata kepada muridnya itu.

Biarpun kepalanya masih pening, namun anak ini yang selalu mentaati suhunya, tanpa ragu-ragu lagi lalu meloncat berdiri dan melakukan gerak itu memukul udara di atas kepalanya tiga kali dengan kedua mata masih meram.

"Krotok......... kratok......... krekkk.........! Terdengar bunyi di seluruh bagian tubuhnya ketika ia melakukan tiga kali pukulan udara kosong itu, dan......... Tiang Bu baru membuka mata dan tersenyum memandang suhunya.

"Suhu, aku merasa segar sekali!"

"Tiang Bu, sekarang kau bersiaplah menghadapi tantangan Toat-beng Kui-bo sebagai wakil guru-gurumu."

Tiang Bu kaget bukan main mendengar kata suhunya ini sehingga tak terasa ia memandang.

Akan tetapi gurunya itu tidak main-main, bahkan menatap wajahnya penuh ketegasan.

Ia tidak berani membantah, lalu bangun berdiri, menjura kepada suhunya, berkata.

"Baik suhu,"

Lalu menghampiri Toat beng Kui-bo.

"Nenek tua, aku datang mewakili guru. guruku. Kau mau memberi pelajaran cepatlah bergerak."

Katanya, suaranya membayangkan kenekadan.

Memang hati Tiang Bu amat perih karena peristiwa tadi, batinnya masih sakit sekali kepada Liok Kong Ji yang sikapnya mendatangkan benci dan yang mengakuinya sebagai putera dan juga ia merasa sakit hati kepada Wan Sin Hong yang menutup rahasianya.

Oleh karena merasa hancur hatinya mendengar bahwa ia bukan putera ayah bundanya di Kim-bun-to, ia menjadi sedih dan nekad.

Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya ketika ia "dipukul"

Pingsan oleh Tiong Sin Hwesio tadi.

Toat beng Kui-bo adalah seorarg sakti yang tinggi ilmu silatnya.

Tentu saja setelah hilang kaget dan herannya, seperti Sin Hong iapun dapat menduga apa yang tadi dilakukan oleh Tiong Sin Hwesio yang kini bersila dalam keadaan tak bernyawa lagi itu.

Ia tersenyum sindir lalu tertawa cekikikan menyeramkan sekali.

"Hi hi-hi-hi, Tiong Sin Hwesio tua bangka yang sudah tahu nyawanya akan terbang, lalu mengoperkan segalanya kepada bocah ini masih mending. Akan tetapi Tiong Jin Hwesio tidak malukah kau bersembunyi di balik bocah goblok ini untuk menutupi kegentaranmu. Majulah sendiri jangan mengirim bocah ini ke neraka menyusul suhengmu."

"Nenek tua ngacaubalau! Kau tidak saja menghina ji-suhu. bahkan kau menghina twa-suhu. Siapa bilang twa-suhu sudah meninggal lihat dia masih bersila dan tidak mati. Kau benar-benar perlu diusir dari sini!"

Setesai memaki demikian, Tiang Bu rnelompat ke arah nenek itu dan mengirim pukulan dengan tangan kirinya.

Tiang BU merasa kaget sendiri.

Memang ia sudah memiliki ginkang yang tInggi bahkan dapat dengan baik melakukan ilmu lompat Liap in sut (Ilmu Mengejar Awan) akan tetapi kali ini begitu ia menggerakkan kedua kakinya tubuhnya melesat bagaikan didorong orang dari belakang.

Ia mengira tentu suhunya yang membantunya, maka hatinya besar lagi dalam melakukan penyerangannya kepada nenek yang menakutkan ini.

Toat-beng Kui-ho tertawa mengejek.

"Kau seperti burung baru tumbuh sayap...."

Akan tetapi kata-katanya terputus dengan terpaksa karena tahu-tahu pukulan anak itu sudah mendekati dadanya dan didahului angin pukulan yang kuat sekali.

Cepat nenek ini mengangkat lengan menangkis dan untuk kedua kalinya ia terkejut karena lengan tangannya tergetar hebat.

Sebaliknya Tiang Bu juga merasa lengannya tergetar, akan tetapi hanya sebentar, Dari dalam perutnya naik semacam hawa panas yang mengalir ke lengaan yang membuatnya merasa kuat sekali.

Sebelum tubuh turun ke atas tanah, ia telah dapat manggerakkan tangan kanan menampar pundak kiri Toat beng Kui-bo.

Gerakan ini bukan tamparan biasa karena sekali menampar ia telah mengancam tiga pusat jalan darah terutama di tubuh bagian atas.

"Hayaaaa".!"

Toat-beng Kui-bo menjerit dan cepat ia mengeluarkan gerakan ilmu silatnya yang aneh.

Kedua tangannya ying seperti cakar ayam itu mencakar ke depan yang kiri mengejar gerakan tangan Tiang Bu, yang kanan mencakar ke arah muka bocah itu.

Perlu diketahui bahwa kuku-kuku tangan nenek ini mengandung hawa pukulan beracun yang amat lihai, yaitu racun kelelawar yang selalu mengawaninya.

Jangankan kuku-kuku itu sampai masuk di daging lawan, baru menggurat kulit saja sudah cukup membuat lawan roboh binasa!

Akan tetapi Tiang Bu sudah mempelajari banyak gerukan ilmu silat yang amat tinggi.

Sebelum ia berlatih di bawah pengawasan dua orang kakek sakti Omei-san itu, diapun sudah paham Ilmu Silat Pat-hong-hong-i yang hebat dan cukup kuat untuk menghadapi tokoh-tokoh besar, serta sudah ahli malakukan gerakan kaki Lam-hoan.sam-hu untuk membebaskan diri dari segala macam serangan aneh.

Cuma saja, kepandaiannya itu dahulu masih belum masak, belum kuat dasarnya.

Apalagi dia masih belum memiliki sinkang, maka tentu ia takkan menang kalau menghadapi lawan tangguh.

Sekarang lain lagi, di luar pengetahuannya sendiri, anak ini sudah memiliki lwee-kang yang tiada taranya di dalam tubuhnya, warisan dari twa-suhunya.

Sayang ia selain belum mengetahui akan hal ini, juga belum biasa mempergunakan sinking dengan sebaiknya.

Begitu melihat bergeraknya kedua tangan lawan, Tiang Bu cepat mengangkat tangan kiri, dengan jari telunjuknya ia melakukan sentilan ke arah pergelangan tangan itu.

Inilah gerakan dari It-ci-tia.n-hoat (Menotok Satu Jari) dan tangan kanannya tetap saja melakukan serangan.

Ketika hendak dicakar, tangan kanannya itu otomatis mengelak sambil melanjutkan serangan........."kokk!"

Leher nenek itu telah kena dipukul dengan jari-jari miring.

Nenek itu mengeluh, tubuhnya terhuyurg huyung sampai lima tindak.

Inilah hebat!

Tadi melihat datangnya pukulan yang tak mungkin dapat dihindarkannya lagi, ia sudah bersiaga.

Dengan pengerahan tenaga Chian-kin jat (Tenaga Seribu Kati) ia menanti datangnya serangan anak itu sambil dia diam-diam mentertawai Tiang Bu karena sudah banyak orang gagah berjungkir balik roboh memukul nenek yang mengerahkan tenaga hebat ini.

Akan tetapi.

alangkah kagetnya ketika tangan bocah itu mengenai lehernya ia merasa jalan pernapasan di lehernya seperti dicekik setan dan tubuhnya terhuyung tak dapat ditahan lagi!

Masih baik bahwa tubuhnya terhuyung dan ia tidak mengerahkan tenaga pada kedua kakinya.

Kalau sekiranya demikian tentu pukulan itu datangnya akan lebih hebat dan sangat boleh jadi tulang lehernya akan remuk.

Kejadian ini benar benar hebat dan luar biasa.

Toat-beng Kui-bo adalah seorang yang kepandaiannya amat tinggi dan tenaga lweekangnya sudah sampai di puncak yang amat tinggi.

Biarpun harus ia akui bahwa semua kesalahannya itu memang sebagian besar karena kesalahannya sendiri, yaitu terlalu memandang rendah lawan, namun seorang bocah seperti ini dapat memukulnya sampai sedemikian benar-benar hampir tak dapat dipercaya.

"Setan iblis anak haram, kau ingin mampus?"

Bentak Toat-bong Kui-bo yang merasa tersinggung kehormatannya sebagai seorang datuk persilatan.

Tongkatnya diputar sampai berubah menjadi sinar hitam bergumpal-gumpal menyilaukan dan menggelapkan pandangan mata.

Akan letapi pada saat itu terdengar Tiong Sin Hwesio berseru kaget.

"Celaka, penjahat membakar gedung kitab......!!"

Ketika semua orang memandang, benar saja pondok itu bagian belakangnya sudah menjadi lautan api dan di antara asap dan api itu berkelebatan beberapa bayangan orang.

"Tiang Bu! Bantu pinceng menangkap pcnjahat dan melindungi kitab.kitab!"

Seru Tiong Jin Hwesio.

Akan tetapi pada saat itu, Tiang Bu sedang memandang ke arah Tiong Sin Hwesio yang kini sudah rebah terlentang dengan muka ditutup kain.

Ia tidak tahu bahwa tadi Tiong Jin Hwesio merawat janazah suhengnya yang sudah mulai mendoyong letak duduknya dan membaringkan jenazah itu dengan baik di atas tanah serta menutupi muka itu dangan kain.

Baca Juga: Jago Pedang Tak Bernama 1

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert