Tangan Geledek 5

Eps 5 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.

Kini Tiang Bu tidak memperdulikan seruan Tiong Jin Hwesio, bahkan tidak perdulikan gurunya itu berlari ke arah tempat kebakaran.

Anak itu sebaliknya lari menghampiri tubuh suhunya, berlutut dan menyingkap kain pcnutup muka.

Melihat muka suhunya pucat kebiruan dan tak bergerak lagi, ia kaget bukan main.

Apa lagi setelah ia menjamah tangan gurunya itu dan mendapatkan bahwa kakek ini sebcnarnya telah putus nyawanya.

Tiang Bu lalu menangis mengggerung-gerung.

Kebakaran itu merubah keadaan di depan pondok.

Toat-beng Kui-bo tiba-tba lupa kepada Tiang Bu dan sambil mengeluarkan suara ketawa cekikikan, ia menutulkan tongkatnya di atas tanah dan tubuhnya berkelebat menengejar Tiong Jin Hwesio.

"Toat bcng Kui-bo, berhenti dulu"

Tubuh Sin Horg berkelebat dan cepat sekali ia mengejar Toat-beng Kui-bo.

Juga Ang jiu Mo-li sambil menggandeng dua orang muridnya telah pergi dari situ, demikian pula Pek-tbow-tiauw-ong Lie Kong betsama isterinya saling pandang dan cepat mcnyusul orang.orang itu menuju ke tempat kebakaran.

Mudah saja diduga niat mereka.

Tentu akan mcncoba-coba barangkali mereka dapat memperoleh sebuah dua buah kitab pusaka.

"Tiang Bu.........! siniii.........!!"

Teriakan dahsyat dari Tiong Jin Hwesio ini menyadarkan Tiang Bu.

Bocah ini mendengar suara ji-suhunya seperti orang minta tolong.

Cepat ia menutupkan kain di atas muka suhunya yang sudah mati itu dan menggerakkan tubuh, ia telah melesat cepat sekali ke arah suara itu.

Untuk kedua kalinya ia merasa heran atas keringanan tubuhnya sendiri.

Akan tetapi ia tidak ada tempo lagi untuk banyak berpikir akan hal ini.

Ketika ia tiba di tempat itu, yaitu di belakang pondok, di situ telah terjadi pertempuran hebat.

Bagian yang lerbakar adalah di sebelah kamar kitab dan kini api sudah mulai membakar gudang kitab di mana terdapat ratusan buah kitab kuno dari macam-macam pelajaran.

Dan di luar tempat kebakaran itu.

di sana-sini menggeletak tubuh orang yang sudah menjadi mayat.

Pek-thouw-tiauw.ong Lie Kong yang beradu punggung dengan isterinya, bertempur melawan enam orang yang tak dikenal oleh Tiang Bu.

Kalau saja dua ekor burung rajawali mereka tidak membantu, tentu suami isteri ini akan terdesak hebat.

Agaknya beberapa pengcroyok tadi telah tewas oleh dua cakar burung itu, terbukti adanya tanda-tanda darah pada paruh dan cakar mereka dan di dekat tempat itu terdapat beberapa orang yang kepalanya dan mukanya pecah-pecah penuh darah.

Di lain bagian, Ang.jiu Mo-li juga mangamuk.

Tokoh utara ini mainkan pedang yang bersinar merah, tangan kirinya juga memukul-mukul, bahlcan kadang-kadang tangan kirinya menyebar pat-kwa-ci, senjata rahasianya yang mengintai nyawa para pengeroyoknya.

Ia dikeroyok oleh empat orang yang kosen juga.

Tak jauh dari situ, Toat-beng Kui-bo bertempur melawan Sin Hong dan dua orang tak terkenal membantu Sin Hong mengeroyok nenek itu.

Yang mengherankan hati Tiang Bu adalah orang-orang yang tidak dikenalnya yang semua berpakaian seperti orang-orang asing dan melihat pakaian mereka, mudah duga bahwa mereka itu adalah orang-orang segolongan yang entah datang diri mana.

Akan tetapi ia tidak dapat memperhatikan terlalu lama karena segera ia melihat gurunya tengah dikeroyok oleh tiga orang.

Orang pertama adalah seorang tosu berkaki satu, yang luar biasa lihainya.

Orang ke dua ia kenal yaitu Bu-tek Sin-ciang Bouw Gun dan orang ke tiga membuat Tiang Bu marah bukan main karena orang ini adalah Liok Kong Ji yang mengaku berjuluk Thian-te Bu-tek Taihiap mengaku pula sebagai calon bengcu seluruh dunia dan paling celaka mengaku sebagai..

ayahnya!

Keadaan Tiong Jiu Hwesio payah sekali Tangan kiri hwesio jangkung kurus ini memeluk tiga buah kitab dan ia menghadapi tiga orang lawannya hanya dengan sebelah tangan, namun ia terdesak hebat.

Terutama sekali tosu buntung kakinya itu lihai bukan main, sedangkan Bouw Gin dan Liok Kong Ji juga bukan orang-orang lemah.

Jelas sekali bahwa Tiong Jin Hwesio sudah terluka hebat.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, Tiang Bu mengeluarkan suara bentakan dan cepat menyerbu, membantu suhunya.

Karena ia paling benci kepada Kong Ji yang mengaku-aku sebagai anaknya, Tiang Bu menyerang Kong Ji dengan memukulkan tangan kanannya ke dada orang itu.

Liok Kong Ji adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Dia adalah ahli ilmu-ilmu keji seperti Ilmu Pukulan Tin-san-kang (Pukulan Merobohkan Gunung) yang lihai dari Giok Seng Cu, Hek-tok-ciang ( Tangan Racun Hitam) dari See thian Tok-ong, bahkan ia paham pula Thian-bong-ciang-hoat (Ilmu Pukulan Angin Taufan) yang dipelajarinya dari Hwa I Enghiong Go Ciang Lee dahulu.

Di samping ilmu-ilmu hebat ini, ia masih memiliki banyak macam ilmu silat yang lihai dan ganas.

Oleh karena itu, tentu saja ia memandang rendah kepada Tiang Bu.

Akan tetapi oleh karena ia tahu bahwa bocah ini adalah puteranya, ia tentu saja tidak mau mencelakai Tiang Bu.

Pukulan bocah itu diterimanya dengan tangkisan pelahan agar jangan sampai ia melukai tangan bocah itu.

Akan tetapi ia kccele dan alangkah terkejutnya ketika belum juga tangan Tiang Bu mengenainya, hawa pukulan yang menyambar keluar dari tangan anak itu sudah terasa olehnya, kuat sekali!

Kedua lengan bertemu "..

Kong Ji mengeluarkan seruan kaget dan tak dapat ditahan lagi ia terjengkang roboh ketika Tiang Bu yang cepat sekali gerakan tangannya telah merobah serangannya yang tertangkis tadi menjadi dorongan.

Dengan gemas Tiang Bu melompat mendekati dan hendak mengirim pukulan pula.

Kong Ji menyesal sekali mengapa tadi ia memandang ringan bocah ini sehingga saking kurang hati-hatinya ia kena dorongan roboh.

Ia melihat sinar maut di dalam pandang mata anak itu dan serangan yang datang bukan main cepatnya.

Betapapun besarnya kasih hatinya kepada anaknya yang belum mau mengakuinya itu, Kong Ji tentu saja lebih cinta kepada diri sendiri.

Melihat kedatangan Tiang Bu yang melakukan serangan luar biasa, Kong Ji cepat menggerakkan kedua tangannya dan.......

sinar hitam yang banyak sekali meluncur memapak kedatangan tubuh Tiang Bu.

"Tiang Bu, hati-hati.........!"

Seru Tiong Jin Hwesio kaget. Akan tetapi karena ia memecah perhatian ke arah Tiang Bu, ia berlaku lengah dan ujung tongkat dari tosu buntung itu tepat menotok iga kanannya.

"Tukk!"

Tubuh Tiong Jin Hwesio terlempar dalam keadaan masih berdiri.

Hwesio jangkung kurus ini tidak roboh akan tetapi ketika kakek buntung itu melayang dan menyambar, sebuah kitab dapat terampas lawan.

Sekarang tinggal dua buah kliab saja di tangan Tiong Jin Hwesio.

Namun hwesio tua ini benar-benar sakti.

Biarpun ia sudah terkena totokan demikian hebat, hanya sebuah saja dapat dirampas musuh dan di lain saat ia sudah mengamuk lagi.

Tangan kanannya bergerak-gerak mengeluarkan angin dan hawa pukulannya dapat menahan serangan Bouw Gun dan tosu kaki buntung.

Adapun Tiang Bu yang terancam bahaya maut oleh jarum-jarum racun hitam (Hek-tok-ciam) yang dilepaskan Kong Ji menjadi bingung.

Biarpun bocah ini sudah memiliki kepandaian tinggi, namun pengalamannya masih dangkal sekali.

Ia belum pernah bertempur menghadapi orang-orang lihai apalagi menghadapi serangan senjata rahasia yang mengandung racun jahat.

Melihat sinar hitam yang berbau amis itu menyerangnya, Tiang Bu hanya menggerakkan dua tangan untuk mengibasnya sambil mengerahkan tenaga.

Memang hebat!

Dari kibasan kedua tangannya itu keluar hawa pukulan yang kuat sekali sehingga jarum-jarum hitam itu terkibas runtuh semua.

Namun ada dua buah jarum hitam yang masih melukai tangan kirinya sebelum tersampok jatuh.

Darah mengucur dari dua luka kccil di tangannya.

Tiang Bu tidak menjadi gentar biarpun rasa luka-luka di tangan itu sikit dan panas sekali.

ia menubruk maju dan mengirim serangan lagi selagi Kong Ji berdiri termangu-mangu.

Melihat anaknya terluka Hek-tok-ciang Kong Ji menjadi khawatir juga.

"Tiang Bu, kau terluka jarumku, jang banyak bergerak........."

Akan tetapi Tiang Bu tidak perdulikan seruan ini dan segera menyerang orang yang mengaku ayahnya akan tetapi melukainya itu dengan pukulan-pukulan Tat Mo Ciang hoat yang ia pelajari dari Tiong Sin Hweso.

Ilmu silat kuno warisan Tat Mo Couwsu, yang merupakan sebuah dari pada sumber-sumber seluruh ilmu silat di dunia.

Menghadapi ilmu silat yang aneh, kelihatan lambat namun sukar diikuti gerakan-gerakannya ini, Kong Ji menjadi bingung.

Ia tahu bahwa bocah di depannya ini biarpun memiliki kepandaian tinggi, namun dalam pertempuran masih hijau sekali, akan tetapi untuk menjatuhkan tangan maut ia merasa sayang karena bacah ini adalah anaknya sendiri.

Selain itu, sejak semula telah menyelinap di dalam otaknya yang cerdik suatu niat yang dianggapnya amat baik.

Tiang Bu agaknya telah mewarisi kepandaian sakti dari dua orang kakek Omei-san.

Kalau kelak bocah itu mau mengakui sebagai ayah, bukankah mudah saja "mengoper"

Semua kepandaian itu melalui anaknya? "Tiang Bu, kau......... kau puteraku. Jangan serang aku, mari kuobati tangnnmu yang terluka itu,"

Katanya bcrulang ulang melompat lompat mundur menghindarkan tangan Tiang Bu.

"Kau pembohong, penipu, pengecut!"

Tiang Bu bukan tunduk terhadap bujukan itu bahkan menjadi marah sekali dan terus menyerang dengan gencar.

Karena bingung menahan ilmu silat itu dia tahu bahwa Tiang Bu memiliki tenaga sinkang yang bukan sewajarnya Kong Ji serba susah dan menjadi bingung.

Pada saat itu terdengar seruan tosu kaki butung.

"Tai ciangkun (panglima besar), sudah dapat kitab. Hayo pergi.........!"

Biarpun kata-kata ini diucapkan seperti perintah, namun jelas bahwa kakek buntung menganggap Kong Ji sebagai atasannya.

Kong Ji mendengar ini segera bersuit keras.

Heran sekali.

Semua orang yang tadi bertempur melawan Pek-tbouw thiauw-ong Lie Kong, dan isterinya, juga yang mengeroyok Ang-jiu Mo-li mendengar suitan ini lalu melompat pergi dan sekejap saja pertempuran berhenti semua dan Kong Ji serta kawan-kawannya lenyap dari situ, meninggalkan kawan-kawan yang sudah (Lanjut ke

Jilid 13) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 tewas, membawa yang terluka bersama mereka.

Tiang Bu melompat ke arah gurunya yang telah roboh dan duduk bersila di atas tanah dengan muka pucat.

Gurunya masih memegang dua buah kitab dan napasnya terengab-engah.

ketika melihat bocah itu, ia berkata lemah.

"Tiang Bu, yang membakar ini....... Thai Gu Cinjin......... kaucari dan kejar dia, rampas kitab yang dibawanya......... kalau perlu bunuh dia........."

Tiang Bu melompat cepat ke arah gudang yang terbakar.

Hatinya terasa perih melihat betapa kitab-kitab kuno itu telah menjadi umpan api yang tak mungkin dapat dipadamkan lagi.

Kitab-kitab itu tak dapat ditolong lagi.

Ia memandaog ke kanan kiri dengan beringas.

Akan tetapi di situ tidak terdapat bayangan manusia, maka ia lalu melompat ke atas genteng pondok dan memandang tajam kesemua jurusan.

Jauh sekali di lereng gunung ia melihat bayangan Liok Kong Ji dan kawan-kawannya.

Kalau saja di antara tombongan ini tidak terdapat tosu buntung yang lihai, tentu Tiang Bu tidak akan mengenal rombongan siapa itu.

Melihat tosu buntung dan banyaknya orang-orang yang turun, ia dapat menduga bahwa itulah bayangan Liok Kong Ji dan kawan-kawannya.

"Hmmm, kalau saja suhu tidak menyuruh aku mencari Thai Gu Cinjin, tentu aku akan mengejar mereka pikirnya. Tiba tiba di sebelah kiri ia melihat bayangan orang berkelebat. Cepat ia melompat turun dan mengejar sampai di bawah puncak, di daerah batu-batu karang tidak kelihatan ada orang di situ, ia terheran-heran. Tak salah lagi penglihatannya, tadi ada dua atau tiga bayangan orang bcrkelebatan mengapa sebentar saja lenyap? Selagi ia celingukan, tiba-tiba terdangar suara orang berkelahi. Suara ini baru terdengar karena terbawa angin yang tiba-tiba bertiup ke arahnya, ia mengejar dan kiranya Giam-lo ong Ci Kui yang sedang bertempur itu, melawan seorang hwesio yang bertubuh gemuk bundar. Hwesio gemuk bundar itu mengeluarkan suara "hah! heh! hayaaa...... .!"

Dengan suara jenaka.

Ilmu silatnyapun aneh, berloncat-loncatan seperti katak melompat Akan tetapi sudah tentu ia bukan lawan Giam lo ong Ci Kui yang mendesak hebat dengan pukulan-pukulan Hui houw-tong.ree yang ganas.

Tiang Bu mengintai dari belakang batu karang dan ia menjadi bingung siapa yang harus dibantunya.

Ia tidak mengenal hwesio gemuk itu, dan tidak tahu pula mengapa mereka bertempur.

Ia hanya bingung karena tidak melihat adanya Thai Gu Cinjin, ia merasa tidak perlu mencampuri urusan Giam-lo ong Ci-Kui dan hendak meninggalkan tempat itu.

Tiba tiba muncul Liok-te Mo-ko Ang Bouw den Siangkong Ang Louw.

Ang Bouw segera berkata.

"Suheng, tikus gemuk ini bereskan saja lekas-lekas. Semua orang sudah pergi dan biarpun kakek tua itu terluka parah, kalau dia menyusul ke sini kita bisa celaka!"

"Kalian bantulah. Anjing gemuk ini sukar sekali dipukul mampus,"

Kata Ci Kui. Segera kedua orang sutenya menyerbu.

"Heh-heh heh, siluman-siluman hutan, majulah. Sebelum kalian mengembalikan kitab curian, aku Hwa Thian Hwesio takkan mau mengampuni kalian maling-maling hina-dina."

"Hwa Thian Hwesio, kau ini anjing pemerintah Kin, ada sangkut paut apakah dengan urusan kami? Kitab ini bukan kitabmu, kau perduli apakah?"

Kata Ci Kui marah.

"Ha-ha-ha, dasar bangsat tetap bangsat. Barang siapapun juga yang kaucolong, itu namanya tetap maling-Bagaimana pinceng harus mendiamkan saja? Pinceng paling anti kepada segala macam maling dan copet. Hayo kaukembalikan!"

"Suheng, habiskan saja dia ini!"

Seru Sin saikong Ang Louw marah sekali sambil melompat dan menyerang hwesio gemuk itu dengan cakarnya yang berbahaya.

"Ayaaa.........! Ini siluman atau binatang buas?"

Seru Hwa Titian Hwesio sambil mengelak dengan lompatan ke kiri.

Biarpun tubuhnya gemuk bundar, namun gerakannya ternyata ringan sekali.

Tiap kali tubuhnya turun ke tanah, segera terpental kembali ke atas.

Karena ia menarik kedua kakinya, maka ia merupakan segundukan tubuh bundar seperti bola yang selalu mental ke atas lagi tiap kali menyentuh tanah.

Betapapun gesitnya, karena yang menyerangnya adalah Pak kek Sam-kui yang lihai, dalam dua gebrakan saja cakar kuku tangan Sin-saikong Ang Louw telah mengenai pundaknya.

Hwesio itu cepat miringkan pundak dan "breett......!"

Bajunyaterobek ke bawah sehinggga nampak dadanya yang penuh daging dan gajih serta sedikit perut yang gendut seperti kerbau hamil.

"Eh, main rusuh.......! Berkelahi ya berkelahi, masa merobek baju seperti perempuan berkelahi! Rusuh tak tahu malu!"

Hwesio gendut itu marah-marah dan mengejek ketiga orang lawannya.

Diam-diam Tiang Bu menjadi geli melihat lagak hwesio gemuk itu, geli tercampur kagum karena biarpun terdesak hebat terang sekali nyawanya terancam maut, hwesio gendut itu masih sempat mengolok-olok para lawannya, juga Tiang Bu tergerak hatinya ketika mendengar percakapan antara mereka tadi dan sekilas pandang kearah baju Giam-lo-ong Ci-Kui, ia melihat sesuatu yang menonjol dari dalam saku baju Ci Kui.

Tak salah lagi, tentu diapun mencuri sebuah kitab dari gudang yang terbakar, pikir Tiang Bu.

Segera ia melompat dan menerjang iblis jangkung itu.

Lompatan Tiang Bu seperti kilat menyambar.

Empat orang itu tidak melihat ia datang dan tahu-tahu bocah ini sudah tiba di depan Ci Kui, mengirim pukulan dengan tangan kiri ke arah muka kakek itu sedangkan tangan kanan terulur ke arah jubah yang menonjol.

"Plakk......... brettt........!"

Giam.lo-ong Ci Kui menangkis.

Terpekik kesakitan ketika lengan tangannya patah beradu dengan lengan Tiang Bu disusul terobeknya bajunya dan kitab yang disimpan di dalam sakunya telah berada di dalam tangan Tiang Bu.

Tiga orang setan utara itu menjadi bengong dan juga marah.

Mereka merasa kaget dan heran menyaksikan kehebatan bocah yang pernah menjadi murid mereka itu.

"Tiang Bu......... Kembalikan kitab kami!"

Seru Ang Houw dan Ang Louw yang sudah melompat menghadapi Tiang Bu. Bocah itu menggeleng kepalanya.

"Apakah kalian ikut-ikut membakar gudang kitab Omei-san?"

Tanyanya, suaranya perlahan dan lambat, akan tetapi di dalamnja mengandung ancaman hebat.

Kalau tiga orang kakek mengaku ikut membakar, ia takkan segan-sogan lagi untuk menyerang mereka dan kalau perlu membunuh mereka.

"Tidak, kami tidak membakar..... kau tanya Thai Cu Cinjin, dialah yang membakarnya bersama Tee-tok Kwan Kok Sun......"

Kata Ci Kui.

"Akan tetapi kitab itu".. kauberikanlah kepada kami, Tiang Bu."

Biarpun ia kesakitan dan marah sekali tulang lengannya sudah dipatahkan oleh bocah itu namun ia masih lebih sayang kepada kitab itu dan hendak membujuk Tiang Bu supaya suka memberikannya.

"Tak mungkin. Bahkan perbuatan kalian mencuri kitab ini saja sudah harus dihukum."

"Keparat busuk, murid murtad. Berani kau melawan guru-gurumu?"

Bentak Ang Bou sambil menubruk maju.

"Aku bukan murid kalian, hanya murid paksaan. Bahkan kalian telah menculikku."

Jawab Tiang Bu tenang sambil mengolok, lalu balas menyerang.

Ang Bouw menangkis berbareng dengan datangnya Ang Louw yang menyerang hebat.

Namun seperti juga Ci Kui, begitu beradu lengan dengan bocah itu, ke duanya melompat mundur dengan meringis kesakitan.

Baiknya Tiang Bu yang kini sudah maklum akan kehebatan tenaga sendiri, masih ingat bahwa mereka pernah mengaku murid kepadanya maka tidak mau mengerahkan seluruh tenaga sehingga Ang Bouw dan Ang Louw tidak mengalami patah tulang lengan seperti Ci Kui.

Namun cukup ketiga orang kakek ini maklum akan kelihaian Tiang Bu, maka tanpa banyak cakap lagi mereka lalu melarikan diri menyusul rombongan Liok Kong Ji.

"Hayaaaa.........! Kalau tidak kedua mataku yang lamur melihat sendiri, mana aku bisa percaya? Bocah ajaib....... apakah kau penjelmaan Sin-tong Lo cia!"

Tanya Hwa Thian Hwesio sambil mengelus elus perutnya yang gendut.

Lo Cia adalah seorang anak dewa yang sakti, tokoh terkenal sekali sepanjang masa dalam dongeng-dongeng Tiongkok.

Karena Lo Cia adalah seorang bocah sakti (sin tong) atau bocah ajaib, maka Hwa Thian Hwesio yang melihat kelihaian Tiang Bu mengucapkan perbandingan itu.

Memang sesungguhnya hwesio gandut ini kagum dan heran sekali.

Selama hidupnya baru kali ini ia bertemu dengan seorang anak berusia paling banyak empat belas tahun dapat mengalahkan tiga orang tokoh iblis seperti Pak kek Sam-kui.

Sekali pandang saja Tiang Bu merasa suka kepada hwesio gendut ini.

Apalagi tadi ia sudah jelas mendengar kata-kata hwesio ini yang berjiwa gagah, hendak mencegah orang membawa lari kitab Omei-san.

Akan tetapi pada saat itu ia tidak mempunyai banyak waktu untuk bercakap-cakap, maka setelah tersenyum sebentar ia bertanya.

"Mohon tanya, apakah losuhu tadi melihat Thai Gu Cinjin? Ke mana larinya?"

Sepasang mata Hwa Thian Hwesio yang sudah bundar besar itu kini melotot makin lebar seperti hendak meloncat keluar dari pelupuk matanya.

Kalau ia terheran heran metihat bocah ini dapat mengusir Pa.k-kek Sam-kui, sekarang ia hampir tak percaya mendengar bocah ini bertanya tentang Thai Gu Cinjin dan seolah-olah hendak mengejarnya.

Akan tetapi ia masih penasaran dan balas bertanya.

"Siauw-hiap mencari Lama Jubah Merah itu mau apakah?"

"Diapun mencuri kitab dan dia yang membakar pondok, aku harus mengejarnya dan menyeretnya ke depan suhu atau membunuhnya!"

Jawab Tiang Bu tanpa ragu-ragu lagi dengan suara gemas.

Baru Hwa Thian Hwesio percaya dan sepasang matanya memandang penuh kekaguman.

Dapatkah ia menduga bahwa tentu anak ini adalah murid dari kedua orang kakek sakti Omei-san.

Ia cepat menudingkan telunjuknya ke arah utara sambil berkata.

"Tadi pinceng melihat Thai Gu Cinjin berdua Tee-tok Kwan Kok Sun berlari ke sana, masing-masing membawa sebuah kitab. Pinceng tidak berani menghalangi mereka yang amat jahat dan lihai."

"Sudah lamakah?"

Tiang Bu cepat memandang ke jurusan yang ditunjuk oleh hwesio itu.

"Sudah, tadi sebelum pinccng menghadang Pak-kek Sam-kui. Kiranya sekarang mereka sudah jauh di kaki gunung sebelah utara. Tiang Bu membanting-banting kaki kanannya dan hwesio yang berdiri kira-kira dua meter jauhnya dari padanya itu tiba.tiba terdorong roboh! "Celaka......... harus kuheritahukan kepada suhu. Terima kasih atas kebaikanmu, losuhu."

Tiang Bu terus berkelebat kembali ke atas puncak tanpa memperdulikan hwesio gendut itu yang masih rebah di atas tanah sambil memandang kepadanya dengan mulut ternganga dan mata terbelalak.

Setelah ia tiba di dekat pondok, ternyata gudang kitab itu sudah habis terbakar di kini api sudah merembet sampai di pondok depan dan agaknya tak lama lagi seluruh pondok bekas tempat tinggal kedua orang kakek sakti itu akan musnah menjadi abu.

Hati Tiang Bu tiba-tiba menjadi perih dan untuk sejenak ia meramkan mata sambil menggigit bibir.

"Maling-maling buruk itu jahat sekali. Awaslah, kelak aku akan mencari kalian seorang demi seorang untuk diberi hajaran atas kejahatan kalian ini!"

Katanya perlahan.

Kemudian ia menengok ke arah Tiong Jin Hwesio yang masih duduk bersila.

Tubuhnya tidak bergerak-gerak, akan tetapi bayangannya bergerak-gerak di depannya karena nyala api yang membakar di belakangnya itu bergerak.

"Suhu......!"

Tiang Bo berlutut di depan gurunya, hatinya penuh haru dan duka.

Tahu betapa sedihnya hati gurunya ini yang tidak saja kematian suhengnya, akan tetapi juga kehilangan kitab pusaka yang selama ini amat disayang melebihi nyawa sendiri.

Kedua orang kakek itu selama ini menjaga dan melindungi kitab di dalam gudang itu seperti menjaga keselamatan sendiri dan sekarang"...

sekaligus kitab-kitab peninggalan Tat Mo, Cauwsu dan Hoat Hian Couwsu itu menjadi abu.

"Suhu.....!"

Sekali lagi Tiang Bu berbisik dengan suara serak.

Tiong Jin Hwesio menarik napas panjang, membuka mata dan di bawah sinar api itu wajahnya nampak angker sekali.

Ia memandang kepada Tiang Bu dan bertanya.

"Bagaimana dengan Thai Gu Cinjin?"

"Dia sudah melarikan diri bersama seorang yang bernama Tee tok Kwan Kok Sun. Kalau suhu menghendaki, sekarang juga teecu akan mengejar mereka sampai dapat dan mengadu nyawa dengan maling maling itu,"

Kata Tiang Bu penuh semangat. Gurunya menghela napas dan menggeleng-geleng kepala.

"Mereka terlalu lihai. Mungkin dengan kepandaianmu dan tenaga sinkang yang diturunkan oleh suheng kepadamu kau akan mampu mengalahkan mereka, akan tetapi kau bisa celaka oleh tipu muslihat mereka. Kau belum banyak pengalaman, muridku dan kau tidak tahu betapa jahat dan kejinya orang orang di dunia kangouw. Hemmm........."

Tiba-tiba hwesio jangkung kurus ini menatap tangan muridnya.

"Coba dekatkan lenganmu yang kiri!"

Ketika tangan kiri itu diulurkan dan dipegang oleh Tiong Jin Hwesio, kakek ini berkata.

"Hemm, siapa yang melukai tanganmu ini?"

"Luka tidak seberapa suhu, hanya kulitnya lecet, mengeluarkan sedikit darah. Tidak apa-apa."

"Hemm......... inilah yang kumaksudkan bahwa kau masih hijau. Kau tidak tahu bahwa tanganmu ini telah terkena racun yang amat berbahaya. Sudah tentu kau mati seketika kalau saja sinkang di dalam tubuh tidak menolak hawa berbisa itu. Bagaima kau sampai terluka?"

Tiang Bu terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa jarum-jarum hitam itu mengandung racun yang demikian berbahaya.

"Orang bernama Liok Kong Ji itu yang melukai teecu dengan jarum-jarum gelapnya."

"Ah, Hek-tok ciam (Jarum Racun Hitam). Nih, kau telan obat ini!"

Kata Tiong Sin Hwesio sambil memberikan pel putih. Tiang Bu menelannya.

"Tiang Bu, dengan hawa sin-kang di tubuhmu yang sekarang sudah cukup kuat, memang kau dapat menahan racun yang tidak berapa banyak itu. Akan tetapi di dunia ini masih berkeliaran manusia-manusia macam Liok Kong Ji dan yang sudah biasa mempergunakan senjata gelap dan racun jahat. Apalagi orang yang datang bersama Thai Gu Cinjin dan bernama Tee tok Kwan Kok Sun itu, yang sudah biasa dengan racun racun ular. Belum lagi kita bicara tentang Toat beng Kui Bo dengan racun-racun kelelawar, kelabang dan lain-lain. Kau......... kau berhati-hatilah, Tiang Bu karena sebentar lagi kau harus hidup sebatang kara dan harus menghadapi mereka seorang diri".."

Jantung Tiang Bu berdebar.

"Apa maksudmu, suhu.....?"

"Tiang Bu, tosu kaki buntung kawan Liok Kong Ji tadi amat lihai ilmu silatnya. Aku terluka hebat olehnya, takkan tortolong lagi."

"Suhuuu...... .!"

"Hush, tenanglah. Manusia di dunia ini siapa yang takkan mati? Bagiku, untuk apa susah? Aku akan menyusul suheng dan......... kitab kitab kita......... Sekarang kaudengar baik-baik pesanku. Lihat, aku telah berhasil menyelamatkan dua buah kitab ini. Kitabini bersama sebuah kitab lain yang terampas oleh tosu kaki buntung, adalah kitab-kitab paling penting dan berharga dari sekalian kitab peninggalan dua couwsu kita. Kaupelajari dua kitab ini baik-baik dan kiranya kau takkan mudah dikalahkan orang dalam ilmu silat dengan kepandaianmu asalkan berlatih baik-baik, Liok Kong Ji itu manusia jahat, jangan kau mudah dipengaruhi olehnya."

"Satu-satunya manusia yang boleh kau percaya hanya Wan Sin Hong. Kau datanglah kepadanya dan kauminta dia membuka rahasia apakah benar kau putera Litok Kong Ji yang jahat itu. Kalau benar demikian terserah kepadamu akan tetapi pinceng ikut menyesalkan kalau benar kau putera Liok Kong Ji. Kitab-kitab di sini sebagian besar terbakar musnah lebih baik dari pada terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat. Akan tetapi selain kitab Suan hong-kiam-coan-si yang dirampas oleh tosu buntung tadi, masih ada beberapa kitab terjatuh ke dalam tangan mereka. Kalau pinceng tidak salah lihat Pak-kek Sam-kui juga telah mencuri sebuah."

"Teecu merampasnya dari tangan Giam-lo-ong Ci Kui,"

Kata Tiang Bu yang lalu menuturkan tentang pertentuannya dengan Pak-kek Sam kui, juga tentang hwesio gendut yang bernama Hwa Thian Hwesio.

"Bagus, kausimpan juga kitab itu. Kemudian kaucari Ang-jiu Mo-li, Pek-thouw-tiauw-ong, Thai Gu Cinjin. Tee-tok Kwan Kok Sun dan tosu kaki buntung itu serta Liok Kong Ji. Mungkin mereka itu masing-masing telah membawa pergi sebuah kitab, harus kau rampas kembali."

"Baik, suhu. Akan teccu balaskan sakit hati itu hari ini,"

Jawab Tiang Bu, mencatat baik-baik nama-nama itu di dalam hatinya.

"Jangan berlaku kejam. Hanya Thai Gu Cinjin yang membakar pondok kita. Yang lain-lain itu hanya mengambil kitab karena ingin mempelajari ilmu tinggi. Akan tetapi hatiku masih belum tenteram kalau kau tidak memiliki kepandaian dalam ilmu pengobatan seperti Wan Sin Hong. Kalau bisa, muridku, kau "". kau mintalah Wan sicu mengajarmu......"

Tiba-tiba kakek itu berhenti bicara dan batuk-batuk. Tiang Bu kaget melihat suhunya itu pucat sekali dan darah menyembur keluar dari mulutnya ketika batuk-buruk hebat.

"Suhu, kau istirahatlah......."

Katanya. Hwesio itu menggeleng kepala, lalu berkata, suaranya lantang berpengaruh.

"Thiang Bu, kau lakukan Khai-khi jiu-hiat!"

Thing Bu kaget.

Biarpun hanya menduga-duga ia sudah tahu apa artinya kalau ia melakukan perintah itu.

Bukankah tadi twa-suhunya, Tiong Sin Hwesio, juga menyuruh ia Khai-khi-jiu-hiat dan kakek itu lalu memukul kepalanya dan rupa-rupanya memindahkan sin-kang ke dalam tubuhnya sampai gurunya itu sendiri mati?

Apakah guru ke dua inipun bukan hendak melakukan seperti guru pentama tadi?

Ia menggeleng-geleng kepalanya.

"Tidak......... tidak.........jangan,"suhu...."

Katanya gagap.

"Tiang Bu, twa-suhumu berlaku betul tepat. Kalau kau tadi tidak menerima sinkangnya, kiranya sekarang kau sudah tidak bernapas lain atau diculik oleh orang jahat. Twa-suhumu tadi sudah hampir tewas dan takkan dapat membantu menghadapi orang orang jahat. Sekarang pinceng juga sudah menghadapi pintu kematian, mengapa pinceng harus membawa pergi sinkang yang di dunia sana tidak akan ada gunanya lagi? Tiang Bu, biarpun sekarang ini sinkang di dalam tubuhmu tidak banyak selisihnya dengan sinkang di dalam tubuhku, namun sedikit hawa murni yang selama ini pinceng latih puluhan tahun, kiranya akan dapat menambah kekuranganmu. Hayo jangan kau membantah lagi, ini perintahku. Khai-khi jiu-hiat!"

Tiang Bu berlutut sambil menangis menggerung-gerung di depan suhunya.

"Pesanku terakhir, Tiang Bu. Selama hidupmu kau tidak boleh membawa-bawa senjata tajam, juga tidak bolehmembawa-bawa senjata gelap. Kau pergunakan kaki tanganmu untuk melindungi diri dan segala apa yang berada di dekatmu boleh kau pergunakan sementara kau memerlukannya. Akan tetapi senjata, itu pantang benar."

Lapat-lapat terdengar suara Tiong-Jin Hwesio, disusul perintah lagi.

"Sekarang, Khai-khi jiu-hiat!"

Tiang Bu yang amat patuh akan perintah suhunya, tidak berani membantah.

Dengan hati dan perasaan hancur ia melakukan perintah suhunya berlutut.

Tiong Jin Hwesio sambil tetap duduk bersila lalu mengangkat tangan kanan dan seperti dilakukan oleh Tiong Sin Hwesio tadi, ia memukul kepala muridnya dengan pengerahan seluruh hawa sinkangnya,yang dipaksa keluar dari jari-jari tangannya memasuki tubuh muridnya!

Tadi ketika menerima hawa sinkang dari twa-suhunya, kontan keras Tiang Bu terjungkal dan berkelojotan tak ingat orang.

Akan tetapi sekarang lain lagi keadaannya.

Di dalam tubuhnya telah mengalir hawa sinkang yang biarpun belum dapat ia gerakkan secara tepat karena belum terlatih namun sudah memiliki tenaga otomatis yang menolak penyerangan dari luar.

Oleh karena itu, biarpun sebagian dari pada tenaga sinkang yang dilancarkan oleh pukulan Tiong Jin Hwesio dapat memasuki tubuhnya, namun sebagian pula terpental kembali membuat Tiong Jin Hwesio terpelanting roboh dan tewas di saat itu juga.

Ada pun Tiang Bu juga terpental dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya, akan tetapi ia hanya merasa dada dan perutnya panas seperti orang baru menenggak secawan besar arak keras, ia segera dapat melompat berdiri dan menubruk suhunya yang ternyata telah meninggal dunia.

Dengan hati sedih dan terharu sekali, Tiang Bu lalu mengurus jenazah kedua orang suhunya itu, dikuburnya di tempat yang baik di dekat pondok yang sekarang sudah padam apinya dan menjadi tumpukan puing.

Setelah berlutut berjam-jam di depan gundukan kuburan kedua orang suhunya, Tiang Bu ia berdiri dan bagaikan patung ia memandang mayat orang-orang yang masih malang melintang di tempat itu.

Ada tujuh mayat yang tak dikenalnya siapa orangnya, hatinya gemas karena ia maklum bahwa tujuh orang itu adalah mayat dari kawan-kawan Liok Kong Ji yang agaknya tewas ketika memperebutkan kitab-kitab dengan tokoh tokoh seperti Ang-jiu Mo-li dan Lie Kong.

Akan tetapi, kegemasan itu dikalahkan oleh bisikan hati nuraninya yang mengumandangkan ajaran-ajaran dua kakek sakti Omei-san tentang pribadi dan kebajikan.

Akhirnya, ia menggali lubang di suatu tempat dan mengubur mayat-mayat itu secara baik.

Setelah sekali lagi berlutut sampai lama sambil mengheningkan cipta untuk menghormati makam dua orang suhunya, Tiang Bu lalu turun gunung sambil membawa tiga buah kitab.

Dua kitab dari suhunya tadi adalah Seng-thian-to (Jalan Naik ke Sorga) dan Thian-to Si keng (Kitab Sajak Bumi Langit).

Tiang Bu terheran sendiri mengapa dua kitab yang judulnya aneh ini dianggap terpenting oleh suhunya.

padahal isi dua kitab Seng-thian to itu adalah petunjuk ilmu kebatinan dan Thian-te Si-keng terisi sajak-sajak dan syair-syair melulu.

Akan tetapi ini hanya pandangan sepintas lalu saja dan Tiang Bu belum sempat mempelajari secara mendalam.

Adapun kitab yang dirampasnya dari Giam-lo-ong Ci Kui tadi berjudul Kiang-liong-kun-hoat (lImu Silat Naga Tangguh).

Demikianlah, sambil membawa tiga buah kitab ini Tiang Bu mulai turun gunung menempuh jalan hidup baru.

Cita-citanya, pertama-tama hendak mencari Wan Sin Hong untuk bertanya tentang rahasia hidupnya.

Ia akan bertanya secara baik-baik atau memaksa.

Pcndeknya.

Wan Sin Hong harus bicara terus terang kepadanya siapa sebenarnya ayah bundanya dan mengapa orang yang bernama Liok Kong Ji itu mengaku-aku sebagai ayahnya.

Selagi ia berjalan perlahan menuruni puncak ia mendengar suara orang batuk-batuk.

Tiang Bu memang tidak menggunakan ilmu lari cepat karena sesungguhnya hatinya berat sekali meninggalkan puncak Omei-San dimana ia telah tinggal lima enam tahun lamanya.

Cepat ia menengok dan kelihatanlah tubuh gemuk bulat menggelinding keluar dari balik batu karang.

Agaknya Hwa Thian Hwesio yang bertubuh gendut itu tadi telah melepaskan lelah di balik batu karang.

Wajah yang gemuk itu tersenyum lebar ketika ia melihat Tiang Bu.

"Eh, kiranya siauwhiap. Hendak ke manakah? Harap sebelum pergi kau suka menolong pinceng lebih dulu."

"Losuhu, kau berada di puncak Omei-san ada perlu apakah?"

Tiba-tiba Tiang Bu bertanya penuh curiga. Semenjak datang orang-orang yang telah mendatangkan mala petaka hatinya selalu curiga kepada siapapun juga.

"Pinceng sengaja datang untuk menghadap Jiwi locianpwe di puncak Omei-san. Bukan saja karena pinceng sudah lama kagum sekali kepada Jiwi-locianpwe itu, juga kedatangan pinceng ini diutus oleh Pangeran Wanyen Ci-Lun di kota raja, kerajaan Kin di utara. Ku lihat siauw-sicu ini tentulah murid dari Jiwi locianpwe di sini, maka mohon sudilah siauw-hiap melaporkan kedatangan pinceng untuk menghadap."

Tiang Bu memandang tajam, keningnya berkerut.

Kalau ia tidak salah ingat, yang bernama Pangeran Wanyen Ci Lun adalah Pangeran di Negara Kin yang mukan ya hampir sama dengan Wan Sin Hong dan yang pernah menolongnya dari serangan Pak-kek Sam kui dahulu.

Apakah niat pangeran itu mengutus seorang hwesio menemui kedua orang gurunya.

"Losuhu hendak menghadap dua orang guruku? Boleh, mari ikut!"

Pemuda cilik ini membalikkan tubuh dan berjalan naik ke puncak lagi.

Dengan wajah tersenyum lebar Hwa Thian Hwesio mengulur langkah mengikuti Tiang Bu.

Akan tetapi alangkah heran hati hwesio itu ketika Tiang Bu mengajaknya berhenti di depan dua makam yang masih amat baru yang berada di dekat tumpukan puing.

"Losuhu. kau sudah menghadap kedua guruku. Lekas kauberitahukan apa maksud kedatanganmu dan apa kehendakmu datang ka tempat ini."

"Omitohud...... jadi..... jadi jiwi locianpwe telah......... telah meninggal dunia......?"

Katanya gagap.

"Akan tetapi kau sudah kubawa menghadap, Biarpun dua orang guruku sudah meninggal dunia, namun ada aku wakilnya yang dapat mendengar apa maksud kedatanganmu !"

Kata Tiang Bu suaranya keren.

Hwesio gendut itu melirik ke arah Tiang Bu, kagum dan juga heran.

Melihat betapa bocah berusia tiga empat belas tahun itu bersikap gagah biarpun pakaiannya robek-robek dan dandanannya sederhana sekali, benar-benar ia merasa kagum.

Apalagi sepasang mata bocah itu yang membuat Hwa Thian Hwesio diam-diam berpikir bahwa anak ini kelak akan lebih hebat dari Wan Sin Hong pendekar yang ia kagumi.

"Hayo katakan apa maksud kedatangan di depan makam suhu-suhuku, kalau tidak akan berubah pandanganku kepadamu, losuhu. Tadinya kau kuanggap satu-satunya di antara orang yang baru-baru ini banyak datang ke sini, satu-satunya yang dapat dipercaya dan bukan maling kitab. Akan tetapi kalau kau tidak mau mengaku apa maksud kedatargan mungkin akan berubah pandarganku itu."

Hwa Thian Hwesio menarik napas panjang. Lebih dulu ia memberi hormat di depan d makam itu, lalu ia menghadapi Tiang Bu.

"Siauw-sicu, ketahuilah bahwa pinceng adalah utusan Pangeran Wanyen Ci Lun. Pinceng disuruh menghadap Jiwi locianpwe di Omei-san untuk mohon bantuan mereka. Pada waktu ini, Negara kita di utara sedang terancam bahaya besar, bahaya penyerbuan bangsa Mongol yang dirajai oleh Temu Cin dan dibantu oleh orang-orang pandai dan jahat seperti Liok Kong Ji, Pak-kek Sam kui, dan lain-lain. Oleh karena itu demi menjaga keselamatan rakyat apabila bangsa Mongol menyerbu, Pangeran Wanyen Ci Lun atas nama kaisar Kerajaan mohon bantuan Jiwi-locianpwe di sini. Sudi kiranya untuk sementara tinggal di istana dan melatih ilmu silat kepada panglima-panglima Kerajaan Kin. Demikianlah tugas pinceng, tidak tahunya Jiwi locianpwe meninggal dunia."

Tiang Bu mengerutkan kening.

Ia tidak begitu tahu tentang keadaan kerajaan dan negara juga tidak perduli.

Akan tetapi disebutnya Liok Kong Ji sebagai pembantu kaisar bangsa Mongol mengingatkan dia akim pengalaman-pengalamannya ketika dahulu ia dibawa melalui perbatasan utara ke daerah orang Mongol oleh Pak-kek Sam-kui.

Hatinya makin timbul kebenciannya tcrhadap orang yang bernama Liok Kong Ji itu.

Inilah serangan macamnya orang yang oleh suhunya dianggap penghianat baugsa, pcnjahat yang paling rendah di permukaan bumi.

Tiong Sin Hwesio dahulu pernah berkata kepadanya bahwa penjahat yang paling hina dina dan harus dibasmi di dunia ini adalah Penghianat bangsa itu orang yang membantu musuh negara serta orang semacam Liok Korg Ji.

Liok Kong Ji seorang bangsa Han, mengapa membantu bangsa Mongol musuh negara?

Getir dan pahit rasa hati Tiang Bu kalau ia ingat akan kemungkinan bahwa orang macam ini menjadi ayahnya.

"Kedatanganmu percuma saja, losuhu."

Jawabnya. suaranya dingin.

"Andaikata kedua orang suhuku masih hidup. juga takkan ada gunanya. Di waktu hidupnya, kedua orang guruku adalah orang-orang yang menyucikan diri, tidak mau memusingkan urusan dunia bagaimana beliau dapat diajak ke istana kaisar? Pula, kedua orang guruku patriot-patriot sejati, bagaimana bisa diajak membantu Kerajaan Kin? Tidak, kedatanganmu sia-sia belaka, losuhu."

Biarpun orangnya suka melawak dan tingkah lakunya kadang-kadang lucu.

Hwa Thian Hwesio adalah seorang yang cerdik.

Ia, dapat menduga bahwa satu-satunya orang yang telah mewarisi ilmu kepandaian hebat dari dua orang kakek sakti di Omei-sun hanyalah bocah ini.

"Siauw-sicu, salah duga. Biarpun daerah utara dipimpin oleh Kerajaan Kin, namun mereka itu tidak ada bedanya dengan kita orang-orang Han. Buktinya, banyak orang-orang pandai seperti Wan-sicu dan lain-lain membantu Kerajaan Kin Bahkan Ang-jiu Sian li juga membantu menjadi guru di sana. Sedangkan orang-orang Mongol merupakan pengaruh asing yang hendak menjajah kita dan pasti rakyat akan menderita kalau mereka sampai menyerbu ke selatan, maka membantu memperkuat kedudukan Kerajaan Kin di perbatasan utara sama halnya dengan membantu negara dan menyelamatkan rakyat, kewajiban utama bagi para patriot. Oleh karena itu, sauw-sicu sendiri tentu saja sebagai seorang patriot muda, sudah berkewajiban untuk membela rakyat Han yang tinggal di utara dan terancam maut di tangan para serdadu Mongol."

Hati Tiang Bu tergerak.

"Bagaimana nanti sajalah. Toh sekarang orang-orang Mongol belum menyerbu dan pula orang seperti aku ini yang bodoh dan tidak tahu apa.apa, sungguh bingung memikirkan tentang perang dan sebagainya. Aku masih mempunyai banyak tugas dari mendiang suhu-suhuku untuk kulaksanakan.

"Memang kau belum mengerti tentang semua itu, siauw sicu. Sayang sekali Wan sicu telah pergi, kalau tidak tentu dia dapat menjelaskan kepadamu. Ah, entah bagaimana dengan nasib, Wan sicu tadi......"

Kata-kata tentang Wan Sin Hong yang tak disengaja ini menarik hati Tiang Bu. Memang ia sedang mencari Wan Sin Hong dan tidak tahu harus mencari di mana.

"Di manakah adanya Wan Sin Hong?"

Tanyanya sambil lalu. akan tetapi sebetulnya penuh perhatian. Memang Tiang Bu biar masih kecil sudah memiliki kecerdikan.

"Entah di mana. Tadi pinceng melihat bertempur dengan Toat-beng Kui-bo nenek mengerikan itu. Kemudian nenek itupun menyerbu gudang kitab dan mencuri sebuah kitab, tetapi dikejar dan diserang oleh Wan-sicu yang hendak memaksa nenek itu mengembalikan isterinya yang dirampas oleh nenek dari tangan Liok Kong Ji. Akan tetapi agaknya Wan-sicu biarpun lihai sekali belum dapat menangkan nenek itu. Akhirnya pinceng yang bersembunyi di balik batu karang, melihat nenek itu melarikan diri cepat sekali sambil berseru kepada Wan-sicu bahwa kalau Wan-sicu hendak mencari isterinya, supaya menyusulnya ke Ban-mo-tongng (Gua Selaksa Iblis) di tepI pantai Laut Selatan."

"Lalu bagaimana?"

Tanya Tiang Bu, kini amat tertarik.

"Nenek itu lari cepat sekali, dikejar-kejar oleh Wan-bengcu. Entah bagaimana jadinya. Akan tetapi melihat gerakan nenek itu, pinceng menduga kiranya Wan-bengcu takkan dapat menyusulnya."

Tiang Bu diam tejenak berpikir.

"Losuhu yang baik, kelak kalau sudah selesai tugasku tentu kita akan bertemu lagi di kota raja Kerajaan Kin. Kita sama lihat saja kelak, apakah aku perlu membantumu. Sekarang bolehkah aku bertanya di mana adanya Ban mo-tong itu?"

"Siauw-si-cu hendak menyusul ke sana?"

Tanya hwesio itu membelalakkan mata. Tiang Bu mengangguk.

"Dia membawa kitab, aku harus memintanya kembali,"

Katanya dingin. Hwa Thian Hwesio menggerak gerakkan kepala yang bundar itu ke atas ke bawah beberapa kali.

"Siauw-sicu pandai, memang baik berbakti kepada guru biarpun guru sudah meninggal dunia. Siauw-sicu pergilah ke selatan, ke Propinsi Kiangsi yang berbatasan dengan Hokkian, carilah Pegunungan Wu-yi-san dan Tai-yun-san dan di antara dua pegunungan itu pergilah terus ke selatan sampai bertemu dengan laut. Di daerah situlah kalau tidak salah letaknya Ban-mo-tong. Akan tetapi harap siauw-sicu berhati-hati karena daerah itu amat berbahaya."

Tiang Bu menghaturkan terima kasih lalu cepat mempergunakan kepandaiannya, dalam sekejap mata saja ia lenyap dari depan Hwa Thian Hwesio yang berdiri melongo.

Ginkang bocah itu malah lebih hebat dari Wan-bengcu pikirnya.

Kemudian iapun turun gunung.

Pagunungan Wu-yi-san da Tai-yun-san terletak di bagian paling selatan dari daratan Tiongkok yang luas.

Untuk mencapai daerah ini, Tiang Bu telah melalui perjalanan beberapa bulan lamanya menjelajah daerah-daerah yang amat asing baginya.

menempuh bahaya-bahaya besar dalam perjalanan.

Akan tetapi berkat kepandaiannya yang tinggi dan kekuatan tubuhnya yang luar biasa semua rintangan dapat diatasinya dan pada suatu hari kelihatan pemuda cilik ini dengan tenangnya berjalan masuk hutan keluar hutan yang tumbuh di lereng gunung di antara Pegunungan Wu-yin-san dan Tai-yun-san itu.

Biarpun usia Tiang Bu baru kurang lebih empat atau lima belas tahun, namun benar-benar mengherankan sekali, setelah ia mewarisi sinkang yang hebat dari dua orang suhunya, tubuhnya mengalami perubahan cepat.

Pertumbuhan badannya mengagetkan sekali, membuat ia dalam usia itu kelihatan seperti seorang laki-laki dewasa.

Bahkan wajahnya yang membayangkan kejujuran itu kelihatan "matang"

Hilang sifat kekanak-kanakannya.

Tiang Bu memang rajin bukan main.

Selama melakukan perjalanan, tiada hentinya ia membuka-buka tiga buah kitab yang dibawanya untuk dipelajari.

Kitab yang mengandung pelajaran silat Kiang liong-kun-hwat dibuka-buka sebentar saja karena Ilmu Silat Naga Tangguh yang termuat di situ tidak begitu berarti baginya.

Dia telah pula mempelajari ilmu-ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada Kiang liong-kun-hwat ini dari dua orang suhunya.

Akan tetapi dua kitab lainnya yangtadinya sukar ia mengerti dan yang mengherankan hatinya mengapa justru dua kitab ini yang dibela mati-matian oleh suhunya, sekarang amat menarik hatinya.

Setelah ia teliti secara mendalam, ia menjadi girang bukan main karena ilmu-ilmu yang luar biasa sekali bersembunyi di dalam dua kitab ini.

Kitab Seng-thian to (Jalan Naik ke Surga) mengandung pelajaran samadhi tingkat tertinggi.

Biasanya, pelajaran siulian atau samadhi sudah mencapai tingkat paling tinggi apabila orang dapat mengheningkan cipta mengumpulkan segala panca-indra sampai lupa diri atau yang disebut "mati dalam hidup"

Atau "tidur dalam kesadaran".

Akan tetapi ilmu Seng thian-to ini mengajar cara bersamadhi lebih tinggi lagi sehingga orang mencapai persatuan dengan jalannyapernapasan dan peredaran darah.

Apabila ilmu ini sudah dilatih baik-baik, maka orang itu akan dapat mengikuti dan menguasai jalannya pernapasan dan darah di dalam tubub dan ini merupa sinkang yang tertinggi juga khikang yang tak dapat diukur lagi tingkatnya karena orangakan dapat mempergunakan hawa di dalam tubuh sesuka hatinya.

Dengan kekuatan hawa ini orang akan dapat nembikin semua bagian tubuh menjadi kebal, karena tidak ada kekuatan dan kekerasan di dunia ini yang dapat melebihi hawa.

Adapun kitab yang ke dua, yaitu Thian-te Sikeng (Kitab Sejak Bumi Langit) itu biarpun kalau dibuka lembarannya hanya akan berisi sajak dan syair melulu, namun di situ tercakup rahasia alam tentang bumi dan langit.

Inilah sari pelajaran yang tidak saja membuka rahasia tentang Im dan Yang, termasuk sifat dan kekuatan Ngo heng yang menjadi lima sifat bumi-langit.

Setiap sajak yang termuat dalam Thian-te Sikeng ini dengan sendirinya merupakan semacam imbangan yang dapat dirangkaikan menjadi semacam ilmu silat yattg luar biasa.

Tiang Bu yang memiliki kecerdikan luar biasa tentu saja segera dapat membentuk atau mencipta bermacam-macam ilmu silat dari pada sajak-sajak ini.

Tentu saja ia menjadi girang luar biasa dan kemajuan ilmu kepandaiannya meningkat secara kilat.

Selagi Tiang Bu berlari-lari keluar dari hutan untuk memasuki hutan berikutnya yang amat besar, tiba-tiba ia mendengar suara keras orang menebang pohon.

Suara orang menebang pohon bukanlah aneh, karena kiranya setiap orang tentu sudah pernah mendengar bunyi kapak membacok batang pohon yang berbunyi "crok, crok, crok........"

Dengan irama menentu dan tiada henti hentinya.

Akan tatapi pendengaran Tiang Bu sudah menjadi luar biasa sekali setelah ia melatih diri dengan ilmu Seng-thian-to, maka ia mendengar sesuatu yang tidak sewajarnya dengan penebangan ini.

Saking tertarik, ia menghentikan larinya dan mendengarkan lebih teliti.

"Crok crak-cruk"". bruuuukk.........!"

Demikian terdengar suara jauh di sebelah kirinya. Belum juga habis gema suara ini, terutama suara terakhir yang diikuti oleh getaran tanah, tahu-tahu di sebelah belakangnya sudah terdengar lagi.

"Crok-crak-cruk.............. bruuuk.........!"

Cepat Tiang Bu menengok ke belakang dan,...... eh,......... lagi-lagi terdengar suara yang sama, kini dari sebelah kanannya.

"Crok-cruk......cruk... bruuuuk.........!"

"Hebat,"

Pikirnya sambil cepat-cepat mempergunakun ginkangnya melompat ke kanan, ke arah suara terakhir itu.

Mana ada cara menebang pohon secepat itu?

Ketika mengejar ke kanan tadi Tiang Bu sudah mempergunakan ilmunya yang hebat yaitu Liap-in-sut (Ilmu Mengejar Awan), cepatnya bukan main.

Akan tetapi tetap saja terlambat karena ketika ia tiba di tempat suara tadi, ia hanya melihat sebatang pohon siong besar sekali telah tumbang dan melihat daun-daunnya masih bergoyang-goyang menandakan bahwa pohon itu baru saja tumbang.

Dan saat itu, jauh di depan sudah mulai lagi terdengar suara yang sama, suara orang menebang pohon besar hanya dengan tiga kali bacokan.

"Hebat!"

Tanpa membuang waktu lagi Tiang Bu melompat, kali ini ia menggunakan ilmunya melompat, yang disebut Sam-teng-jig thian (Tipa Kali Lari Melompat Memasuki Langit)!

Ilmu ini luar biasa hebatnya sehingga tubuh pemuda itu lenyap dan tak dapat diikuti lagi dengan pandangan mata saking cepatnya gerakannya.

Satu kali lompatan ia bisa mencapai jarak belasan sampai dua puluh tombak.

Kali ini Tiang Bu tidak terlambat dan dapat melihat seorang laki berusia kurang lebih empat puluh tahun sedang menebang pohon besar.

Laki-laki ini hebat sekali.

Tubutnya tinggi besar, jenggot dan kumis pendek kasar, mukanya segi empat, dan telinganya lebar.

Karena ia bekerja dengan tubuh atas telanjang, nampak dadanya yang bidang peruh otot-otot besar.

Demikian pula sepasang lengannya penuh otot-otot yang melingkar, celananya sampai sebatas lutut, berwarna hitam.

Kapak yang dipergunakan juga luar biasa.

Besar dan matanya lebar, tajam bukan kepalang tajam sampai gemerlapan terkena sinar matahari.

Orang itu bekerja dengan tubuh penuh peluh.

Dengan gerakan tegap, kapak diayun ke arah batang pohon siong yang besarnya dua kali tubuh orang.

"Crok-crak cruk........."

Tiga kali ayunan saja batang pohon itu roboh dan tumbang, mengeluarkan suara "brukkk.........!"

Dan tergetarlah pohon-pohon di sekelilingnya.

Begitu pohon itu roboh, orang itu lalu berlari cepat sekali ke depan, kepalanya menengok ke kanan kiri memilih pohon lain.

Begitu mendapatkan pohon yang dikehendaki, ia berhenti dan kembali mengayun kapaknya!

"Sahabat gagah, harap berhenti dulu.

Siauwte ingin bicara......

.!"

Tiang Bu cepat melompat mengejar dan mengangkat tangan mengajak bicara, Akan tetapi orang itu mengerlingpun tidak, terus melanjutkan pekerjaannya, mengayun kapaknya.

Tiang Bu memperhatikan.

Kapak itu mula-mula menghantam dari kanan agak miring atau menyerong dari atas ke bawah, lalu ayunan kedua kali dari kiri ke kanan kemudian yang ke tiga kalinya kembali dari kanan, akan tetapi kali ini gerakannya lurus menabas.

Dan kembali sebatang pohon baru tumbang.

Kemudian orang itu lari lagi.

"Hee, sahabat tukang kayu! Berhenti dulu sebentar!"

Kembali Tiang Bu berseru keras. Namun orang itu tetap tidak perduli, terus saja lari ke depan sambil memilih pohon dengan pandang matanya kemudian berdiri dekat pohon yang terpilih dan mengayun kapak.

"Sahabat baik, siauwte Tiang Bu mohon bicara sebentar.........!"

Kata Tiang Bu lagi, ia berdiri di depan orang tinggi besar ini.

Namun ia dianggap seperti lalat saja oleh orang luar biasa itu.

Tiang Bu mendongkol.

Terlalu memandang rendah orang ini, pikirnya.

Aku harus memperlihatkan sedikit kepandaian.

Tanpa berkata apa-apa lagi ia lalu menggunakan ginkangnya melompat ke atas menyambar ujung cabang yang cukup besar dari pohon yang ditebang itu, dan duduklah Tiang Bu di dalam pohon yang berdekatan sambil memegangi cabang pohon yang ditebang.

Pemuda ini tadi sudah memperhatikan betapa pohon yang ditebang oleh penebang aneh itu, robohnya ke kiri, oleh karena itu ia sengaja duduk di atas pohon sebelah kanan pohon yang ditebang itu.

"Crok-crak crok "..! Tiga kali ayunan dahsyat itu dilakukan dan batang pohon yang besar itu telah terbacok dalam sekali dan hanya tinggal sedikit hati kayu saja yang masih menahan. Biasanya sedikit tahanan ini tidak kuat menahan batang itu berdiri dan tentu segera tumbang akan tetapi kali ini tidak demikian. Barang pobon yang sudah kena sambaran kapak sampai tiga kali itu tidak roboh.Masih berdiri tegak bagaikan raksasa yang tidak merasakan hantaman kapak. Penebang kayu itu mengerutkan keningnya yang lebar, mengusap muka yang penuh peluh itu, lalu memandang ke atas. Segera ia dapat melihat seorang pemuda tegap, berhidung pesek berbibir tebal dan berkulit hitam sedang duduk di atas cabang pohon yang berdekatan sambil memegangi ujung cabang pohon yang ditebangnya! Pantas saja pohon ini tak mau roboh, pikirnya, kiranya ada orang yang sengaja menahan dengan memegang cabangnya. Dengan tak acuh penebang pohon itu mendupak pohon di depannya. Pohon berguncang keras, namun tetap tidak tumbang! Mulailah penebang pohon itu menaruh sedikit perhatian kepada Tiang Bu. Ia maklum bahwa untuk menahan sebatang pohon roboh dengan memegangi cabangnya saja bukanlah pekerjaan sukar, karena memang daya berat pohon itu berada di bawah, di atasnya ringan sekali. Seorang bocah saja kiranya akan mampu melakukan hal itu. Akan tetapi tadi ia sudah mendorong pohon dengan kakinya dan bocah di atas itu sanggup mempertahankan, tentu memiliki sedikit tenaga.

"Monyet cari perkara, rasakanlah!"

Tiba-tba penebang pohon itu berkata dengan suaranya yang keras dan tiba-tiba ia menendang pohon itu bukan ke kiri, melainkan ke kanan!

Ia sengaja membalik arah robohnya pohon sehingga bagi pemuda itu tidak ada jalan lain lagi untuk menahan, bahkan akan tartimpa oleh pohon itu!

Akan tetapi, aneh di atas aneh, pohon yang didupak oleh kakinya yang sedikitnya bertenaga lima ratus kati itu, tetap saja tidak roboh sungguhpun sudah bergoyang-goyang dan daunnya pada rontok!

Kali ini penebang kayu itu tertegun sejenak.

Menarik cabang untuk menahan robohnya pohon bukan hal mengherankan akan tetapi menahan robohnya pohon ke arahnya dengan jalan mendorong cabang itu, benar benar mustahil!

Namun benar-benar telah dilakukan oleh pemuda itu.

"Anak muda, turunlah. Kau cukup berharga untuk orang meninggalkan pekerjaannya dan melayanimu."

"Ha, akhirnya kau mau juga bicara, lopek!"

Seru Tiang Bu dengan girang dan sekarang pcmuda ini melepaskan pegangannya pada ujung cabang sambilmelompat ke bawah, pohon itupun tumbanglah, menerbitkan suara hiruk pikuk.

Dengan gerakan ringan Tiang Bu melayang ke depan penebang pohon itu dan ia sudah menjura dengan hormat sebelum penebang itu hilang kaget dan herannya menyaksikan cara Tiang Bu melayang turun benar-benar merupakan gerakan yang jarang ia jumpai.

Pemuda itu tadi telah melayang diantara cabang-cabang dan ranting-ranting pohon raksasa yang sedang tumbang menimpanya, benar-benar gesit melebihi seekor burung kecil.

Penebang kayu itu memandang kepada Tiang Bu dengan tajam dan penuh perhatian peluhnya deleweran dari leher dan dadanya.

Kemudian ia berkata.

"Kau yang semuda ini sudah memiliki tenaga luar biasa, siapakah kau dan mengapa kau mengganggu pekerjaanku?"

Sambil tersenyum ramah dan bersikap hormat-Tiang Bu menjawab.

"Harap maafkan lopek. Aku Tiang Bu dan bukan maksud mengganggu pekerjaan lopek. Aku merasa amat tertarik dan kagum sekali menyaksikan cara lopek menebang kayu yang menunjukkan bahwa lopek adalah seorang berilmu tinggi. Mohon tanya siapakah nama lopek yang terhormat dan mengapa lopek menebangi kayu-kayu pohon yang besar besar ini?"

Penebang itu menggerak-gerakkan alisnya yang hitam dan tebal.

"Hemm, apa sih anehnya menebang kayu, dan lebih-lebih lagi apa sih anehnya seorang penebang kayu? Kerjaku menebangi kayu-kayu yang tua dan dan baik, kukapak menjadi kayu-kayu balok dan kujual kepada pedagang kayu. Apa anehnya dalam hal itu? Kau bilang aku memiliki kepandaian luar biasa dan berilmu, tentu saja. Kepandaianku ialah menebang kayu dan ilmuku tentu saja cara mempergunakan kapak menumbangkan pohon. Apa anehnya dalam hal ini? Orang muda jadikanlah hal ini sebagai pegangan olehmu bahwa di dunia ini memang terdapat banyak sekali macam ilmu, setiap orang lain lagi ilmunya. Ilmu apakah yang boleh dibanggakan? Kau boleh memiliki lweekang dan ginkang istimewa, akan tetapi dalam hal menebang kayu, kiranya kau harus belajar dulu kepadaku! Juga terhadap ahli silat lain seperti aku ini, kau tentu akan kalah. Apa anehnya dalam hal itu? Seorang ahli tentu saja mudah mengerjakan pekerjaan keahliannya, ini sudah lumrah."

Tiang Bu menjura dengan lebih hormat setelah mendengar kata-kata ini. Ia tahu bahwa di balik kesederhanaan gerak-gerik dan kata-katanya ini, ia berhadapan dengan seorang yang pandai.

"Lopek, hari ini aku Tiang Bu yang muda dan bodoh telah bertemu dengan lopek dan menerima pelajaran, sungguh merupakan hari yang amat beruntung bagiku. Mohon tanya namamu yang mulia agar tak mudah kulupakan."

"Eh, orang muda, apakah tadi kau menghentikan pekerjaanku hanya untuk bertanya nama belaka?"

Tiba-tiba orang itu membentak kelihatan marah.

Diam-diam Tiang Bu merasa terkejut akan sikap orang yang amat aneh.

Tak disangkanya bahwa di bagian selatan, di tempat yang sunyi ini terdapat orang seaneh ini.

Ia tidak berani membohong dan segera berkata terus terang.

"Sesungguhnya, lopek. Selain merasa tertarik dan kagum sehingga aku ingin sekali mengenal dan mengetahui nama lopek, juga ada sedikit urusan yang ingin aku mendapat bantuanmu. Aku sedang mencari pantai di mana terdapat gua-gua yang disebut Ban-mo-to. Dapatkah kau menunjukkan di mana tempat itu dan jalan mana yang harus kuambil untuk menuju ke sana?"

Tiba-tiba orang itu memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, untuk sementara tak dapat menjawab.

"Kau....... kau hendak pergi ke Ban mo-tong.........?"

Akhirnya ia dapat bertanya gagap. Tiang Bu mengangguk dan pada saat itu terdengar suara nyaring.

"Thia thia (Ayah), mengapa kau berhenti menebang?"

Suara ini nyaring sekali dan tak lama kemudian dari selatan datang berlari-lari seorang gadis berpakaian serba hijau.

Gadis ini cepat sekali larinya, pakaiannya berkibar ketika ia lari membuat ia kelihatan seperti seekor kupu besar.

Tangannya memegang sepasang kapak kecil di kanan kiri dan tiap kali ia tiba di dekat pohon yang sudah ditumbangkan oleh ayahnya, ia menggerakkan kedua kapak itu cepat sekali dan tubuhnya melompat ke sana ke mari di sekitar pohon itu.

Gerakannya tangkas dan gesit seperti burung walet menyambar-nyambar, dan sebentar saja pohon yang telah tumbang itu telah digunduli, semua cabang dan ranting berikut daun-daunnya telah habis dibacok kapak, tinggal batang pohonnya saja yang kini telah merupakan balok besar panjang.

Kalau cara manebang pohon dari penebang tadi sudah luar biasa, maka cara membersihkan cabang ranting dan daun ini tidak kalah hebatnya.

Pekerjaan yang kiranya oleh dua orang laki-laki biasa akan dilakukan setengah hari, oleh gadis baju hijau itu hanya dilakukan dalam beberapa menit saja!

Setelah memandang ke arah puterinya yang bekerja itu dengan puas dan mulut tersenyum si penebang pohon lalu menjawab pertanyaan tadi.

"Pemuda ini yang menghentikan pekerjaanku. Kau ke sinilah, Fei Lan!"

Karena pohon yang ditebang oleh ayahnya sudab dibersihkanya semua, gadis itu lalu berlari-lari ke tempat ayahnya.

Dari jauh ia sudah memandang ke arah Tiang Bu dengan penuh perhatian.

Akan terapi setelah tiba di situ ia membuang muka dan berkata kepada ayahnya.

"Ayah, bocah seperti ini bagaimana sampai bisa menghentikan pekerjaanmu?"

Memang sudah sepatutnya kalau Fei Lan terheran-heran karena ia tahu betul bahwa biasanya kalau ayahnya sudah mulai bekerja jangankan manusia, biarpun alam yang mendatangkan hujan angin besar, tidak mampu menghentikan ayahnya dan pekerjaannya.

Bagaimana sekarang seorang manusia biasa saja dapat melakukan hal itu?

"A-Lan, jangan kau memandang ringan kepadanya,"

Kata penebang pohon itu sambil tersenyum penuh arti.

"semuda ini ia telah memiliki kepandaian tinggi. Kiranya inilah orang yang kau nanti-nantikan. Kalau kau setuju hemmm"".. aku akan girang sekali menjadi mertuanya!"

Mendengar ucapan ayahnya, sepasang pipi gadis itu menjadi merah sekali.

Namun dengan tabah ia memutar tubuh menghadapi Tiang Bu dan sepasang matanya memandangi pemuda itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

Terdengar ia menarik napas panjang lalu berkata.

"Hemmm, kau tak dapat dikatakan tampan........."

Tiang Bu sejak tadi sudah memperhatikan gadis baju hijau yang berdiri tegak di depannya itu.

Gadis ini usianya tentu tak kurang dari delapan belas tahun, tubuhnya berbentuk indah, ramping dan berisi seperti biasa bentuk tubuh gadis gunung yang biasa bekerja berat.

Kulit tangan dan leher yang tidak tertutup pakaian nampak tidak begitu putih karena setiap hari terbakar matahari, namun kelihatan kulit yang halus kecuali di telapak tangan yang sudah biasa bertemu dengan gagang kapak.

Kedua kakinya biasa, tidak kecil seperti kaki wanita yang dibungkus semenjak lahir.

Rambutnya panjang dan hitam sekali, digelung ke atas secara sederhena dan diikat dengan tali rambut warna hijau pula.

Wajah gadis itu cantik dan manis, sayang sekali matanya tidak lembut seperti kebanyakan gadis cantik, keras dan membayangkan kegalakan dan kesombongan.

"Memang aku buruk, akan tetapi kau cantik, cici......"

Kata-kata ini terlepas dari mulut Tian Bu begitu saja, sama sekali tidak mengandung maksud kurang ajar atau kagum melainkan untuk menyatakan bahwa ia tidak sakit hati disebut tidak tampan.

Adapun pujiannya bahwa gadis itu cantik memang sewajarnya.

Tiang Bu masib belum cukup dewasa untuk merasa sungkan memuji kecantikan seorang gadis yang baru dilihatnya begitu saja.

Anehnya, mendengar kata-kata Tiang Bu seketika sinar mata yang keras galak untuk beberapa detik melembut dan pada bibir yang merah sewajarnya itu terbayang senyum bangga.

Pandang mata Tiang Bu amat tajam dan ia dapat menangkap semua ini tanpa mengerti sebab-sebabnya.

Ia belum tahu bahwa wanita manapun juga, kanak-kanak, muda maupun nenek nenek, selalu akan merasa senang kalau dipuji cantik.

"Memang dia kurang tampan, A-Lan. Akan tetapi perhatikan baik-baik sepasang matanya lihat alisnya. Mata yang seperti bintang dengan alis yang seperti golok itu cukup jelas membayangkan kegagahannya. Air mukanya segi empat, daun telinga lebar, hidung pesek dan bibir tebal. Lihat, apakah dia tidak berwajah toapan (wajah yang mulia)?"

Kata penebang pohon dengan wajah berseri.

"Pilihan yang baik sekali, Fei Lan........."

"Apakah dia lebih kuat daripada pohon siong ayah?"

Pohon siong adalah nama pahon yang setiap hari "dikerjakan"

Oleh gadis itu dan ayahnya. karenanya dianggap lemah. Kalau pemuda ini lebih kuat dari pada pohon siong, berarti lebih tangguh dari pada dirinya sendiri.

"Kau cobalah,"

Ayahnya menganjuri. Tiba-tiba pandang mata gadis itu berubah keras ketika ia menatap wajah Tiang Bu.

"Awas, lihat kapakku!"

Teriaknya dan pada saat itu juga ia menerjang maju dengan kapak di kedua tangannya diayun cepat sekali, yang kiri menyambar leher yang kanan menyambar pundak Tiang Bu!

Gerakannya kuat dan cepat seperti ketika ia "menjerbu"

Pohon yang telah ditebang ayahnya tadi, maka kalau serangannya berhasil, tentu dalam sesaat saja leher dan pundak akan terbabat putus!

Tiang Bu kaget sekali karena tidak menduga bahwa dirinya akan diserang hebat.

Namun serangan itu baginya tidak berarti, dan dengan gerakan lambat saja ia dapat menghindarkan diri sehingga dua kapak itu menghantam angin.

Akan tetapi, cepat seperti kilat sepasang kapak itu telah menyambar lagi, yang kiri mengapak hidung yang kanan menyambar perut.

Cepat sekali datangnya dua serangan ini sehingga kalau Tiang Bu tidak dapat bergerak cepat, hidungnya akan makin pendek lagi dan perutnya akan ambrol!

"Hayaaaa.........!

Galak amat.......!!"

Seru Tiang Bu sambil menggeser kaki miringkan muka dan dua tangannya bergerak maju.

Tahu-tahu sepasang kapak telah pindah ke dalam tangannya tanpa si gadis tahu bagai mana cara lawan merampasnya.

Untuk sejenak Fei Lan tertegun dan berdiri seperti patung.

"Sulap.........! Sihir.........!!"

Bisiknya, akan tetapi segera disambungnya marah.

"Hidung pesek, aku masih belum kalah, belum roboh."

Cepat ia menyerang maju, kini mempergunakan dua tangannya yang tak kalah lihainya oleh sepasang kapak tadi.

Sambaran kedua tangannya mendatangkan angin pukulan yang cukup dahsyat dan kiranya takkandapat ditahan oleh tukang-tukang silat biasa.

"Aduh galaknya......"

Dian-diam Tiang Bu mengeluh.

Ia memang tadi sengaja hanya merampas kapak, tentu saja ia merasa sungkan untuk menjatuhkan gadis orang, apalagi karena di antara mereka tidak ada permusuhan apa-apa.

Cepat ia melempar sepasang kapak ke kiri dan kapak itu melayang lalu menancap di atas tanah berjajar rapi, kemudian menghadapi serangan gadis itu dengan tenang.

Dengan langkah Sam-hoan Sam-bu.

mudah saja ia mengelak dari serangan-serangan Fei Lan yang bertubi-tubi datangnya.

Kemudian Tiang Bu membuat gerakan mengulet, pinggangnya melengkung ke kiri, lalu dengan cepat jari telunjuknya bekerja.

"Catt!"

Dengan cepat sekali jalan darah tai-wi-hiat telah kena ditotok dan.....

tubuh gadis itu menjadi kaku dalam keadaan kedua tangan sedang ditarik ke belakang, dada membusung ke depan dan kedua kaki setengah berlutut, muka dikedikan ke depan.

Benar-benar ia telah berubah menjadi patung yang manis dan indah sekali!

"Wah-wah wah.....

kali ini benar-benar kami beruntung sekali.

Tanpa melepas umpan datang ikan emas yang jarang terdapat.

Calon mantuku yang baik, kau benar-benar pantas dibanggakan!"

Penebang pohon itu tertawa bergerak-gelak keras sekali. Tiang Bu hanya memandang dan mengerutkan kening.

"Calon mantu kepalamu!"

Diam-diam ia memaki di dalam hati.

Ayah dan anak ini benar-benar bikin hati mendongkol, pikirnya.

Ia dianggap apa sih datang-datang mau diperlakukan sesuka mereka sendiri saja?

Dengan puas ia melihat penebang kayu itu berkutetan dengan gadisnya, ditepuk sana ditepuk sini, digosok-gosok sana dipijit sini dalam usahanya membebaskan Fei Lan dari pengaruh totokan.

Ada empat macam cara pembebas tiam-hoat yang lihai dipergunakan oleh penebang kayu itu dan ini saja sudah menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki banyak macam ilmu kepandaian tinggi.

Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat menyembuhkan puterinya!

Hal ini benar-benar di luar dugaan tukang penebang kayu itu hingga kalau tadi ia berusaha membebaskan totokan itu dengan masih tertawa-tawa, kini suara ketawanya berhenti seketika dan mukanya bahkan nampak terheran-heran.

"Orang muda, kau dari perguruan mana dan tiam hoat apakah yang kau gunakan untuk menotok Fei Lan tadi?"

Katanya lupa menyebut "mantuku"

Saking herannya bahwa ia seorang tokoh besar dalam dunia persilatan, sampai tidak becus memulihkan akibat totokan seorang pelonco seperti bocah itu! (Lanjut ke

Jilid 14) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14

"Lopek, dari perguruan mana tak perlu kupamerkan, juga tiam-hoat yang kulakukan tadi biasa saja. Kau lihat saja, aku akan memulihkan puterimu."

Setelah berkata demikian dengan tenang Tiang Bu menghampiri Fei Lan, tangan kanannya meraba leher tangan kiri mengurut punggung tiga kali dan gadis itu sudah dapat bergerak lagi!

Penebang kayu itu makin terheran-heran.

Tadi ia sudah melakukan pengobatan macam itu akan tetapi tidak ada hasilnya.

Bagaimana pemuda ini sekali bergerak terus berhasil?

Namun ia menjadi girang sekali karena mendapat kenyataan bahwa pemuda itu ternyata bukan orang sembarangan.

"A-Lan, bagaimana pikiranmu sekarang? Tidak betulkah omonganku bahwa mencari jodoh baik tak boleh diukur dari panjangnya hidung?"

Diam-diam Tiang Bu makin gemas karena sudah beberapa kali hidungnya disinggung-singgung orang.

Betul demikian pesekkah hidungnya?

Tak terasa lagi tangan kanannya diangkat ke arah hidung untuk meraba daging menonjol di atas mulut itu.

Fei Lan kini sudah takluk betul-betul, mengerling ke arah Tiang Bu mengeluarkan suara ketawa tertahan, lalu dengan penuh aksi memutar tubuh membelakangi pemuda itu, muka ditundukkan ditutup kedua tangan dan ujung kaki utak-utik tanah.

"Ha-ha-ha-ha! Anakku yang biasanya tabah dan berani sekarang tak sanggup mengucapkan kata-kata di depan calon suaminya. Ha-ha ha-ha! Orang muda, kau bahagia sekali. Sudah seratus dua belas orang pemuda ditolak mentah-mentah oleh anakku yang cantik dan gagah ini dan sekarang pilihannya terjatuh kepadamu! Kau mimpi apakah semalam? Ha. ha-ha! Anak mantuku, ketahuilah bahwa aku bernama Lai Fu Fat berjuluk Lim-song (Raja Hutan)! Dan ini puteri tunggalku Lai-Fei Lan. Kau benar-benar kejatuhan bulan menjadi mantu keluarga Lai. Eh, kau tadi bernama Tiang Bu, siapa orang tuamu, apa shemu dan kau tinggal di mana?"

Biarpun hatinya mendongkol bukan main, Tiang Bu masih bersikap sabar dan menjura berkata lemah. lembut.

"Lopek, harap suka maafkan aku dan sungguh menyesal bahwa aku tak dapat menerima budi kecintaan kalian. Aku datang jauh-jauh ke selatan ini sama sekali bukan untuk urusan perjodohan, aku masih terlalu muda untuk itu......."

"Ha ha-ha, malu-malu kucing. Berapa sih usiamu?"

Tanya Lai Fu Fat sambil tertawa.

Merah muka Tiang Bu.

Celaka, pikirnya.

Orang ini benar-benar patut mendapat julukan Lim-song (Raja Hutan) karena kelakuannya memang seperti orang hutan!

"Usiaku baru lima belas tahun kurang."

Ia menjawab juga.

"Aha! Lima belas tahun? Sudah terlalu-besar! Dulu dalam usia empat belas tahun aku sudah menikah. Heh-heh-heh!"

"Aku jauh lebih mula dari pada anakmu!"

Saking jengkelnya Tiang Bu tak terasa lagi mengeluarkan kata-kata ini untuk membuka mata orang bahwa dia tidak patut menjadi jodoh Fei Lan.

"Lebih muda empat tahun. Bagus! Laki-laki memang harus lebih muda dari isterinya, baru bisa saling mengasuh. Selisih empat tahun bagus, bagus. Ini jodoh namanya, selisih empat tahun namanya kaki meja, jadi kokoh kuat tidak goyah tidak ganjil. Tiang Bu menggigit bibirnya yang tebal. Ia marah sekarang.

"Lai-lopek, aku tidak mau menikah dengan anakmu!"

Lim-song Lai Fu Fat yang sedang tertawa bergelak-gelak itu tiba-tiba menghentikan tawanya dan memandang kepada Tiang Bu seakan-akan tidak percaya apa yang telah didengarnya tadi.

"Apa kau bilang? Coba bilang satu kali lagi."

"Aku tidak mau kawin dengan anakmu!"

Tiang Bu mengulang. Lai Fu Fat melongo, juga Fei Lan memandang dengan muka pucat ke arah pemuda itu.

"Orang muda, apakah pikiranmu waras? Tidak gila?"

"Lopek, apakah kau sengaja mau menghina aku orang muda?"

"Hanya orang berotak miring yang akan menolak Fei Lan! Seratus dua belas orang muda gagah-gagah dan tampan-tampan ditolak Fei Lan, padahal mereka mau menyembah-nyembah asal di terima menjadi suaminya. Dan kau.... kau si hidung pesek, Si muka monyet, kau.... menolaknya......?"

Saking herannya Lai Fu Fat sampai tak dapat marah.

Ia benar-benar heran melihat ada orang muda berani menolak Fei Lan!

Juga gadis itu saking marah dan merasa terhina, mulai menangis terisak-isak!

"Aku tahu bahwa aku tidak berharga, buruk rupa, miskin dan bodoh lopek.

Akan tetapi aku sama sekali tidak ingin kawin, biar dengan puterimu sekalipun.

Harap maafkan."

Akhirnya Tiang Bu berkata, kewalahan melihat sikap mereka itu.

"Maafkan....? Maafkan"..? Sebetulnya kau harus mampus kalau saja aku tidak kasihan pada anakku yang akan kehilangan kau! Kau harus menikah dengan Fei Lan. Tidak boleh tidak. Apa kau biasa melanggar peraturan?"

Tiang Bu terheran.

"Peraturan apa yang telah kulanggar?"

"Bocah gendeng, jangan kau berpura-pura, ya? Kau sudah menerima bertanding dengan Fei Lan bahkan sudah mengalahkannya. berarti bahwa kau telah memasuki sayembara anakku yang hanya mau menikah dengan mareka yang dapat mengalahkan dua kapaknya! Bukan itu saja, kau telah sudah menotoknya, bahkan sudah membuka lagi totokanmu."

"Kalau demikian mengapa gerangan?"

"Tolol! kau sudah menyentuh badannya dan tadi kau membebaskan totokan dengan meraba-rabanya. Setelah melakukan pelanggaran kurang ajar ini, kau masih mau nyangkal dan tidak mau menjadi suaminya!"

Tiang Bu melongo den sampai lama tidak dapat menjawab.

"Itu"

Itu... aku tidak tahu......."

Ia berkata gagap-gugup.

"Bagaimanapun juga, kau harus menjadi suaminya, dan sekarang juga!"

Kata Lai Fat bersitegang.

"Aku tetap tak dapat menerimanya, lopek."

"Kau menolak?"

"Terpaksa kutolak karena aku tidak ada niatan untuk kawin."

Terdengar jerit tertahan dan Fei Lan berlari pergi dengan kaki limbung.

"Bocah, kau telah menghina kami. Kalau aku menggunakan kerasan, apakah kau juga masih berani menolak?"

"Aku tetap menolak,"

Jawab Tiang Bu penasaran. Kembali Lai Fa Fat terheran dan ia kagum juga.

"Kau gagah dan berani, patut menjadi suami anakku. Mari kita bertanding, kalau kau kalah, kau mau tidak mau harus mengawini Fei Lan."

"Dan kalau kau yang kalah, kau harus menunjukkan kepadaku di mana adanya Ban-mo-tong."

Jawab Tiang Bu menantang, sedikitpun tidak gentar.

"Bersiaplah dan keluarkan senjatamu!"

Tiang Bu berdiri tegak, sikapnya tenang.

"Lopek, aku tidak bisa menggunakan senjata, cukup dua tangan dan dua kaki ini."

Lai Fu Fat memandang ke arah kapaknya yang besar, lalu menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dan berkata.

"Masa aku harus melawan kau yang bertangan kosong dengan kapak wasiatku? Ke mana akan kutaruh mukaku?"

"Terserah mau lopek taruh ke mana muka itu tetap tidak akan menggunakan senjata kecuali kaki tanganku."

Biarpun tadi bersikap dan berkata sungkan-sungkan, kini sekali menyerang si penebang pohon yang aneh itu ternyata menggunakan kapaknya dengan dahsyat, melakukan serangan maut yang amat berbahaya.

Kapak yang besar dan lebar itu menyambar cepat merupakan gulungan maut yang amat berbahaya.

Kapak yang besar dan lebar itu menyambar cepat merupakan gulungan sinar perak, berubah ubah serangannya seperti naga sakti yang sedang memilih tempat yang baik untuk menerkam.

Alangkah jauh bedanya serangan ini dengan serangan Fai Lan tadi, sungguhpun gadis itu tadi menggunakan dua buah kapak.

Kapak di tangan Lai Fu Fat ini benar-benar lihai sekali dan Tiang Bu merasa sambaran angin yang dingin mengiris kulit.

Namun pemuda ini sama sekali tidak gugup.

Dan tenang sekali, tak pernah berkedip dan kedua kakinya digeser ke kanan kiri belakang.

"........... sett........... sett.........."

Semua sambaran sinar kapak itu memukul angin! Lim song Lai Fu Fat menjadi penasaran sekali. Ia mengerahkan tenaga dan kapak melayang dengan gerakan menyilang dan nyerong.

"Wirr...........! Wirr...........! Siuuuutt......! Hebat gerakan ini, kapak sampai berubah menjadi kilat menyambar-nyambar sungguh pun hari itu tidak akan turun hujan. Tiang Bu cepat mengelak terhadap serangan kilat tadi, namun kapak itu sinarnya mengikuti ke manapun juga ia mengelak, menyambar-nyambar di atas kepala dan lewat demikian cepat dan kerasnya di atas telinga sehingga anak muda ini mendengar suara.

"ngung".ngung"""

Yang menakutkan, seolah-olah kapak sudah dekat benar hendak memancung lehernya.

Lai Fu Far melanjutkan serangan-serangannya dengan tiga kali pukulan tadi, dan suara "wirr.............

siuutt..........!"

Terdengar berulang-ulang.

Inilah ilmu serangan dengan gerakan menebang batang pohon-pohon yang besar itu.

Tiang Bu terkejut sekali.

Sarangan ini benar-benar hebat.

Hawa pukulan yang keluar dari tiga kali serangan ini susul-menyusul dan makin kuat.

Pantas saja pohon-pohon besar itu rebah setelah tiga kali bacok, ternyata begini hebatnya serangan itu.

Setelah mempelajari isi kitab suci Seng-thian-to, tanpa disadarinya, ginkang atau ilmu ringankan tubuh dari Tiang Bu telah meningkat tinggi sekali, juga ilmu silatnya sudah menjadi luar biasa setelah ia mempelajari beberapa bait sajak dalam kitab Thian-te-sinkeng.

Anehnya, menghadapi serangan tiga serangkai yang dahsyat dari penebang pohon itu, tiba tiba saja Tiang Bu teringat akan bunyi sajak yang telah dibacanya dalam kitab thian-te Si-keng itu.

Bunyi sajak itu seperti berikut .

Ada mulia tentu ada yang hina sebagai imbangan.

Ada yang tinggi tentu ada yang rendah sebagai dasar.

Sajak-sajak di dalam kitab Thian to Si-keng itu terisi sajak-sajak pelajaran Nabi-nabi Buddha, Locu, Khong-cu dan lain-lain.

Yang teringat oleh Tiang Bu ini sebetulnya adalah dua bait dari sajak dalam kitab To-tek-keng dari Agama Tao.

Akan tetapi, anehnya, bagi seorang yang sudah memiliki dasar ilmu silat tinggi, isi dari pada sajak-sajak ini merupakan tipu-tipu silat yang hebat.

Demikian pula, teringat akan bunyi sajak ini Tiang Bu segera mendapat akal untuk mengalahkan lawannya dengan mudah.

Begitu kapak itu menyambar di atas kepala.

ia tertawa, kedua tangan bergerak menangkis dengan hawa pukulan lweekang ke arah pergelangan tangan kedua kakinya bergerak dan......

di lain saat kapak itu telah terpental dari pegangan Lai Fu Fat dan orang itu sendiri roboh dengan lutut lemas dan lumpuh karena sambungan lututnya telah kena dibikin terlepas oleh Tiang Bu!

"Aneh....

luar biasa.....

kata Lai Fa Fat dengan nada seperti Fei Lan ketika ia dikalahkan dan menyebut "sulap dan sihir."

Ia benar-benar tidak tahu bagaimana ia dikalahkan lawannya.

Ini benar-benar tak masuk di akal.

Lim-ong Lai Fa Fat sudah puluhan tahun tak pernah dikalahkan orang, jangan kata dirobohkan tanpa ia mengetahui bagaimana caranya!

Ia mulai percaya akan sangkaan Fei Lan tadi bahwa bocah ini tentu seorang ahli sulap atau dukun sihir.

"Sicu lihai sekali. Tidak tahu sicu mencari Ban-mo-tong ada keperluan apakah?"

Tanyanya meringis menahan sakit dan tangannya mulai memijit-mijit lutut untuk membetulkan letak tulang yang keseleo.

"Aku hendak mencari Toat-beng Kui-bo si pemelihara kelelawar!"

Jawab Tiang Bu kurang perduli, karena ia tidak banyak mengharapkan keterangan lengkap dari orang seperti penebang aneh ini.

Akan tetapi, demi mendengar ucapannya, Lai Fu Fat dengan susah payah berdiri dan menjura dengan hormat.

"Aha, kiranya tamu agung dari Ban-mo-tong yang hendak bertemu dengan Nio nio. Selamat datang, sicu. Ketahuilah bahwa ini sudah termasuk daerah Nio-nio, akan tetapi tentu saja aku sudah mendapat ijinnya untuk menebang pohon di sini. Kalau sicu hendak bertemu dengan Nio-nio, kau ambillah jalan lurus ke selatan. Kurang lebih tiga puluh li lagi kau akan bertemu dengan sebatang sungai. Nah, di sana sicu carilah Cia Nam si nelayan yang tentu akan suka mengantar sicu ke Ban-mo-tong. Selain Cia Nam, tak ada orang di dunia ini yang akan dapat mengantar sicu ke sana."

Tiang Bu girang sekali. Tak disangkanya bahwa dari penebang ini ia akan mendapat keterangan demikian jelas. Ia menyesal telah melukai orang ini. Cepat ia meluruskan kembali tulang-tulang kaki itu.

"Lai lopek, kau baik sekali, terima kasih"

Katanya sambil menjura lalu pergi dari situ.

"Hee, sicu yang gagah. Bagaimana dengan anakku?"

Penebang itu berteriak, akan tetapi Tiang Bu pura-pura tidak mendengar melainkan mempercepat larinya menuju selatan.

Ketika ia lari sejauh lima li, eh tahu-tahu Fei Lan telah berdiri di tengah jalan, menghadangnya!

"Cici Fei Lan, kau mau apa di sini?"

"Tiang Bu ko-ko (kakanda Tiang Bu) tentu saja aku mau ikut denganmu....."

Jawab Fei Lan dengan suara merdu merayu dan tersenyum manis sekali. Tiang Bu gelagapan.

"Ikut ke mana....?"

"Ke mana saja kau pergi, aku ikut. Ke neraka sekalipun aku suka ikut, koko yang baik.........."

Tiang Bu melongo. Wah, runyam nih, pikirnya. Disangkanya ia telah bebas dari ayah dan anak yang aneh itu, kiranya sekarang masih dirong-rong oleh gadis ayu ini.

"Tidak boleh, cici. Aku tidak bisa pergi membawa orang lain. Perjalananku penuh bahaya, laginya...... tak pantas dilihat orang kalau seorang gadis seperti engkau ini pergi berdua-dua saja dengan seorang laki laki..."

"Iiih, siapa bilang tidak patut? Seorang isteri pergi mengikuti suaminya yang terkasih, bagaimana tidak patut?"

Sahut Fei Lan sambil mengerling.

"Isteri siapa suami mana? Jangan main-main, tidak ada suami di sini. Aku tak pernah mengambil kau sebagai isteriku!"

"Akan tetapi aku sudah menyerahkan jiwa-raga menjadi isterimu, koko..........."

Fei Lan merayu dan melangkah dekat.

"Gila...........! Tidak, aku tidak mau. Sudah, aku pergi ..........! Tiang Bu melompat melewati gadis itu.

"Koko, aku bunuh diri.........!"

Tiang Bu cepat menggunakan gerakan berjungkir balik dalam lompatannya ketika melihat betapa gadis itu betul-betul mengangkat kapak dibacokkan ke arah leher sendiri!

Cepat gerakan Tiang Bu ini.

Biarpun tubuhnya di udara, berkat ginkang dan lweekangnya yang tinggi ia dapat memutar balik tubuhnya dan sekali tangannya terayun memukul, hawa pukulan yang dahsyat telah memukul atau mendorong tangan Fei Lan, membuat kapak itu terlepas dan tubuh gadis itu terhuyung-huyung.

"Fei Lan, apa kau sudah gila?"

Tegur Tiang Bu, marah sekali sambil berdiri bertolak pinggang di depan gadis itu.

"Kalau aku jadi gilapun, kau yang berdosa."

Jawab Fei Lan bersungut-sungut sambil mendekati pemuda itu.

"Cici Fei Lan, kau dengarlah omonganku baik-baik. Aku masih kanak-kanak, aku belum suka menikah, bahkan aku sama sekali tidak ada pikiran tentang jodoh. Kau bersabarlah, dalam urusan perjodohan, mana boleh dilakukan paksaan? Tunggu sampai lima tahun lagi, kalau aku sudah berusia dua puluh tahun nah, nanti kita bicarakan lagi. Sementara jangan kau ganggu aku, kau boleh mencari calon suami lain."

"Kalau kau menolak, aku akan bunuh diri saja,"

Kembali Fei Lan mengancam.

"Aduh, kau ini terlalu sakali. Siapa yang menolak? Aku hanya minta tempo. Sekarang aku masih terlalu kecil. Lima tahun lagi baru kita bicara tentang jodoh. Bagaimana? Kalau kau tidak menerima usul ini masa bodoh, kau boleh berbuat sesukamu aku takkan menghalangimu lagi. Akan tetapi kalau kau bunuh diri, jangan arwahmu nanti menganggap aku sama sekali tidak memberi kelonggaran dan kesempatan. Aku bukan menolak hanya minta waktu untuk kelak berunding lagi."

Wajah Fei Lan yang tadinya merengut itu kini tersenyum kembali.

"Begitukah? Sebetulnya..... sekarang lebih baik...... akan tatapi biarlah, asal kau tidak berbohong. Biarlah sebagai tanda mata agar kau tidak lupa kelak, kau bawa ini......."

Gadis itu merogoh balik bajunya dan keluarlah sehelai saputangan berwarna merah muda yang harum.

"Kau simpanlah, koko......"

Akan tetapi tiba-tiba gadis itu mengebutkan saputangan merah muda itu dan bau yang harum luar biasa memasuki hidung Tiang Bu.

Bau wangi ini begitu kerasnya sampai terasa menjalar ke dahi pemuda itu.

Tiang Bu meramkan matanya, kepalanya terasa pening akan tetapi hanya sebentar saja.

Ketika ia membuka mata...........

aneh bin ajaib...........

gadis di depannya itu telah berubah sama sekali dalam pandang matanya.

Kalau tadinya Fei Lan merupakan gadis yang cantik manis, sekarang gadis itu berubah menjadi seorang yang cantik jelita seperti bidadari Kayangan, ayu tiada bandingannya dan menggairahkan.

Anehnya, Tiang Bu merasai sesuatu berdebar-debar dalam dadanya, merasai gejolak hati yang selama hidupnya belum pernah ia alami.

Ia merasa ada nafsu binatang yang amat panas menguasai hati dan pikirannya, membuat darahnya mendidih, dan senyum Fei Lan seakan-akan merupakan lambaian dan tantangan.

Nafsu jahat dalam dirinya mendorong-dorongnya agar ia menubruk dan memeluk gadis jelita di depannya itu.

Namun, Tiang Bu telah menjadi murid orang-orang sakti.

Biarpun ia marasai adanya nafsu iblis yang entah dari mana datangnya menguasai hatinya, namun nuraninya masih bekerja kuat.

Dan dia telah mempelajari kitab Seng-thian-to, maka cepat ia meramkan mata mengerahkan seluruh perasaan dan tenaga batinnya untuk menyelidiki diri sendiri.

Ketika ia memeriksa keadaan pernapasannya maka dengan kaget tahulah ia bahwa hawa kotor penuh keharuman yang mempengaruhi peredaran darah, membuat darah menjadi cepat jalannya.

Ketika ia meneliti perjalanan darahnya untuk mengetahui dari mana datangnya itu, ia menjadi lebih kaget karena ia dapat merasai bahwa nafsu itu memang sudah ada dalam darahnya!

Hanya biasanya tidak bangkit dan baru sekarang nafsu itu memberontak setelah "dibangunkan"

Oleh hawa yang harum dari luar, dan setelah memberontak demikian hebatnya hendak mempengaruhi jiwa raganya, Tiang Bu cepat menggunakan hawa murni untuk menekan semua gelombang ini dan dengan khikangnya yang tinggi ia dapat "menangkap"

Dan "mengumpulkan"

Semua hawa yang mengandung keharuman beracun yang disedotnya tadi.

Setelah tenang, ia membuka matanya dan baru sekarang ia melihat bahwa gadis itu kini telah merangkul lehernya dan menyandarkan kepala dengan rambut harum semerbak di atas dadanya sambil matanya meram melek.

"Terima kembali racunmu......!"

Tiang Bu berbisik dan dengan pengerahan khikang ia meniupkan hawa harum yang memabukkan tadi seluruhnya ke arah muka gadis yang berada dekat dengan mukanya.

Fei Lan gelagapan seperti kepalanya dibenamkan ke dalam air, Tanpa dapat ia cegah lagi ia telah kena hisap hawa yang harum, yang keluar dari mulut dan hidung Tiang Bu, hawa harum yang tadinya berasal dari sapu tangan merahnya!

Gadis itu terhuyung huyung, lalu roboh di atas tanah.

Mukanya merah sekali, matanya berkilat-kilat dan dengan penuh nafsu sepetti seekor binatang liar ia menubruk Tiang Bu.

"Koko.......!"

Akan tetapi Tiang Bu telah melompat pergi, meninggalkan gadis itu yang kini menjadi korban dari racunnya sendiri.

Beberapa lama kemudian, Lai Fu Fat si penebang pohon mendapatkan puterinya itu dalam keadaan menyedihkan.

Pakaiannya robek-robek menjadi setengah telanjang, mulutnya mengingau tidak karuan dan tubuhnya panas sekali.

Tiang Bu beberapa kali bergidik dan merasa ngeri kalau ia teringat akan pengalamannya yang amat berbahaya tadi.

Kalau diingat-ingat, ia menganggap pengalamannya dengan Fei Lan tadi yang paling berbahaya mengerikan dari pada semua peristiwa yang pernah ia alami.

Terutama sekali yang membuat ia gelisah dan ketakutan adalah keinsyafannya bahwa di dalam dirinya sebenarnya hidup semacam nafsu iblis yang seakan-akan naga jahat sedang tidur di dasar hatinya untuk sewaktu-waktu bangkit dan mengamuk apabila batinnya terganggu dan lemah.

Nafsu ini terletak di dalam darahnya.

Warisan keturunan.....?

Dengan ngeri hati Tiang Bu makin tekun melatih diri dengan samadhi seperti yang diajarkan dalam kitab suci Se thian-to agar hawa murni dalam dirinya menjadi kuat betul untuk melawan naga jahat dalam diri itu dan menjaga agar jangan sampai naga itu bangkit!

Karena ia tidak ingin tersusul oleh Lai Fu Fat dan Lai Fei Lan, Tiang Bu berlari cepat sekali sehingga tak lama kemudian sampai ia di sungai seperti yang dituturkan oleh Lai Fu Fat tadi.

Sungai itu cukup lebar, airnya jernih dan alirannya tenang menuju ke selatan.

Karena tidak melihat seorangpun manusia dan tidak melihat sebuahpun perahu di situ, Tiang Bu melanjutkan perjalanannya mengikuti aliran air sungai ke selatan.

Kurang lebih lima li ia mengikuti sungai, sampailah ia di sebuah dusun yang subur sekali tanahnya.

Dari jauh sudah terlihat, perahu-perahu tukang ikan hilir mudik membawa muatan ikan seperahu penuh.

Wajah orang-orang nampak gembira, rumah-rumah nampak bagus biarpun sederhana dan orang-orang yang berada di desa itu gemuk-gemuk dan berpakaian utuh.

Ini semua menjadi bukti bahwa dusun ini tentu merupakan dusun makmur dan murah sandang pangan.

Karena hari sudah mulai gelap, Tiang Bu mencari rumah penginapan.

Akan tetapi alangkah kecewanya ketika mendapat keterangan bahwa di dusun itu tidak ada rumah penginapan.

Lebih baik kucari nelayan yang bernama Cia Nam itu, pikirnya, dan aku dapat bermalam di rumahnya.

Segera ia kembali lagi ke tepi sungai di mana tadi ia melihat banyak perahu diikat di situ.

la melihat beberapa orang nelayan sibuk membongkari muatan dari perahu-perahu mereka.

Ada yang menurunkan barang dagangan para pedagang yang mengangkut dagangan dari lain kota melalui sungai itu, ada yang menurunkan ikan-ikan hasil menjala dan mancing.

Di tepi sungai banyak pula yang membetulkan jala yang robek, ada yang duduk bergerombol mengelilingi api unggun sambiI bercakap-cakap dan ada pula yang duduk seorang diri termenung di tepi sungai.

Tiang Bu menghampiri segerombolan orang yang tengah bercakap-cakap itu.

Mereka ini adalah nelayan-nelayan yang kasar, bermuka kehitaman karena setiap hari mandi cahaya matahari yang panas terlihat dengan kerut merut dalam dalam pada muka mereka sebagai tanda bahwa mereka tidak asing dengan pengalaman pengalaman sukar dan hebat.

"Maaf, saudara-saudara sekalian kalau mengganggu, aku hendak mencari orang nama Cia Nam si nelayan. Apakah dia berada di sini?"

Orang-orang itu tertarik akan langgam bicara Tiang Bu yang berbeda dengan orang selatan, akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda ini mencari Cia Nam, mereka membuang muka.

Seorang nelayan tua berkata padanya.

"Sungguh aku tidak tahu apa keperluan mencari Cia Nam, orang muda. Akan tetapi kalau kau mencari si gila itu, nah, tuh di sana ia sedang melenggut."

Telunjuknya ditudingkan ke arah gelap.

Tiang Bu menoleh, akan tetapi tidak melihat sesuatu di dalam gelap hanya ia tahu bahwa yang dituding itu adalah sungai.

Akan tetapi melihat sikap mereka seperti tidak senang ketika ia menanyakan Cia Nam.

Tiang Bu tidak mau bertanya lagi mengucapkan terima kasih lalu pergi ke arah yang ditunjuk oleh nelayan tua tadi.

Ia menyusuri pantai sungai dan akhirnya di tempat sunyi ia melihat seorang laki-laki bertopi caping lebar tengah jongkok di atas sebuah perahu kecil yang butut.

Di ujung atau kepala perahu itu dipasangi sebuah lampu teng yang tidak berapa terang namun cukup memperlihatkan lantai perahu yang selalu basah seperti telah bocor.

Orang itu seorang laki-laki, sukar ditaksir usianya karena mukanya berada di bagian yang gelap, sedang menongkrong sambil memegangi ujung tangkai pancing dari bambu.

"Sahabat yang di atas perahu! Apakah kau kenal orang bernama Cia Nam dan di mana tempat tinggalnya, lahukah kau?"

Seru Tiang Bu dari pinggir sungai. Orang itu tertawa mengikik tanpa menoleh, lalu berkata.

"Setan she Cia itu adalah iblis penjaga sungai dan rumahnya di dasar sungai ini!"

Ia melanjutkan pekerjaannya memancing tanpa menoleh sama sekali.

"Loncat saja ke air, tentu kau akan bertemu dengan dia!"

Tiang Bu mendongkol sekali.

Akan tetapi ia juga girang karena boleh jadi orang itu sendirilah Cia Nam.

Kalau tidak, mana ada orang begitu keterlaluan mempermainkannya?

Kalau Cia Nam sendiri, mungkin, karena jarang yang diperkenalkan oleh seorang aneh seperti penebang kayu itu, tentulah seorang aneh pula.

Berpikir demikian, ia lalu berkata.

"Aku mau bertemu dengan dia!"

Dan lompatlah ia ke arah perahu kecil yang jauhnya ada tiga tombak dari daratan itu.

Tentu saja amat mudah bagi Tiang Bu untuk melompat hanya tiga tombak jauhnya.

Akan tetapi aneh sekali, tiba-tiba perahu itu meluncur pergi seperti didorong atau didayung padahal orang itu masih tetap nongkrong dan tdak melakukan sesuatu.

Hampir saja Tiang Bu celaka.

Siapa orangnya yang takkan bingung kalau sedang melompat ke perahu, lalu perahunya itu berpindah tempat?

Orang lain tidak akan ampun lagi pasti akan tercebur ke dalam sungai.

Akan tetapi Tiang Bu dapat menggerakkan kedua kaki dan tangannya sehingga tubuhnya yang sudah menurun itu terpental kembali keatas dan secepat kilat ia telah menutulkan kaki di atas geladak peruhu.

"Berbahaya sekali..........!"

Katanya perlahan. Kemudian ia berkata kepada orang itu keras-keras.

"He, sobat, mengapa kau main-main seperti itu? Kalau aku tercebur ke dalam sungai bukankah berbahaya sekali? Aku tidak bisa berenang, tahu!"

Sebagai jawaban, orang itu menyambar lampu teng di kepala perahu kemudian dengan tubuh masih berjongkok, kedua kakinya mengembat dan.....

perahu itu miring dan terbalik!

Akan tetapi dia sendiri tetap nongkrong, kini di atas punggung perahunya yang sudah terbalik.

Tiang Bu juga tetap melompat ke atas, kagetnya bukan kepalang.

Baiknya ia tadi melihat gerakan orang itu dan menirunya sehingga ketika perahu sudah terbalik, iapun dapat turun dan tetap berdiri di punggung perahu!

"Eh, eh, kau ini apa-apaan?"

Tiang Bu menegur.

Kini terlihat olehnya bahwa orang itu adalah seorang pendek kecil yang rambutnya sudah putih, seorang kakek berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Akan tetapi matanya berkedap-kedip dan jelalatan, kelihatannya nakal sekali.

"Bukankah kau mau bertemu dengan iblis sungai di dasar sungai? Hi-hi-hi..!"

"Cia-lopek, jangan kau main-main. Aku benar-benar ingin sekali bertemu denganmu, dan aku mencarimu, atas pemberitahuan lopek Lai Fu Fat si penebang pohon."

Kakek itu memandang penuh perhatian. Ia menurunkan lampunya didekatkan ke depan sambil berkata.

"Duduklah!"

Tiang Bu lalu berjongkok seperti kakek itu di atas perahu yang terbalik dan lampu berada di tengah-tengah mereka.

Benar-benar pertemuan yang aneh!

Bercakap-cakap di atas perahu terbalik yang terapung-apung di sungai terbawa perlahan oleh aliran sungai itu.

"Kau mau apa mencari Cia Nam?"

Tanya kakek itu sambil tertawa mengejek dan tiba-tiba saja Tiang Bu dapat menduga mengapa kakek ini agaknya tidak disuka oleh para nelayan.

Tentu disamping kepandaiannya yang tinggi, kakek ini adalah seorang tua yang berwatak nakal seperti bocah bengal, suka mengganggu dan menggoda orang.

"Aku hendak memohon pertolonganmu mengantarkanku ke Ban-mo-tong!"

Jawab Tiang Bu singkat. Kakek itu mengangkat alisnya.

"Aku hendak bertemu dengan Toat beng Kui-bo!"

Sambung Tiang Bu. Kakek itu kini mengerutkan keningnya.

"Apa kau gila?"

Tanyanya. Tiang Bu mendongkol. Benar-benar di selatan ini banyak orang pandai, akan tetapi hampir semua otaknya miring! "Kalau aku gila, apa aku melayanimu mengobrol di atas perahu terbalik?"

Jawab Tiang Bu.

"Hem, kau betul, kau betul! Apa kau bosan hidup?"

"Tidak! Yang sudah tua dan kesepian masih belum bosan, bagaimana aku yang muda sudah bosan? Aku mohon kau sudi mengantarku besok pagi, aku akan berterima kasih sekali."

"Sekarang kita pergi!"

Kata kakek itu tiba-tiba dan sekali ia mengenjot-enjot kakinya, perahu itu kembali miring dan membalik.

Seperti tadi, keduanya menggunakan sinkang.

melompat ke atas dan turun kembali setelah perahu terbalik seperti sedia kala.

"Mangapa sekarang? Begini gelap?"

"Takut apa? Kalau mau sekarang, kalau tidak mau kau boleh melompat ke dalam air! Akan tetapi kakek itu telah mendayung perahunya cepat sekali ke tengah sungai sehingga Tiang Bu harus menutup mulut karena tak mungkin ia melompat ke darat, apalagi dalam keadaan yang gelap itu. Kakek itu melepaskan dayungnya dan perahu terbawa arus sungai. Lampu kedua yang sama tuanya dengan yang pertama, dinyalakan oleh kakek itu.

"Kalau aku perlu membalikkan perahu, kau harus memegangi lampu kedua ini,"

Pesannya.

"Mengapa perahu harus dibalikkan?"

Tanya Tiang Bu, ngeri juga karena kalau perahu terus tenggelam. bukankah berabe? "Sudah bocor, menguras sukar, lebih mudah dibalikkan agar airnya keluar semua!"

Orang aneh, pikir Tiang Bu.

Akan tetapi di lain saat ia sudah tidak sempat berpikir lagi karena kini kakek itu mendayung perahunya yang meluncur cepat bukan main ke depan, menerjang malam gelap, sehingga Tiang Bu yang tabah merasa ngeri juga.

Bagaimana kalau terbalik?

ia merasa bahwa kali ini nyawanya berada di dalam kenggaman kakek gila ini.

Entah berapa lama perahu itu meluncur cepat sekali.

Tahu-tahu bulan sudah muncul dan nampak pemandangan yang menyeramkan di kanan kiri sungai.

Tebing sungai sekarang bukan merupakan tanah daratan yang datar ditumbuhi rumput dan tanaman lain, melainkan merupakan batu-batu karang yang berbaris menyeramkan seperti barisan raksasa hitam yang memegang senjata-senjata tajam besar, seperti mulut naga siap mencaplok kurban yang berani mendekat.

"Heh-heh.heh. inilah Ban-mo-tong (Gua-gua Selaksa Iblis). Kau mendaratlah di sini, aku harus kembali!"

Kakek nelayan itu mendayung perahunya ke pinggir, akan tetapi tidak berani mepet, hanya dalam jarak dua tombak dari batu-batu karang itu.

"Melompatlah ke pinggir!"

Tiang Bu ragu-ragu. Di tengah malam buta ia harus mendarat di tempat seperti itu. masih baik kalau memang ini tempat yang dicari-cari, bagaimana kalau bukan? "Betulkah di sini Ban mo tong?"

Tanyanya.

"Kau tidak percaya kepada Cia Nam berarti tidak percaya kepada dirimu sendiri! Lihat! Kakek itu menudingkan telunjuknya dan Tiang Bu melihat bayangan-bayangan hitam berterbangan di atas batu-batu karang. ltulah bayangan-bayangan kelelawar yang terbang membunyikan sayap memukul tubuh. Mengerikan sekali. Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara aneh dan tahu-tahu perahunya miring tenggelam! Tiang Bu kaget sekali, menotol kaki di geladak perahu sambil menggenjot tubuh mengerahkan ginkangnya, melompat ke atas batu karang terdekat. Ketika ia menoleh. ia melihat perahu benar-benar tenggelam dan dua lampunya padam! Akan tetapi tak lama kemudian muncul lagi perahu itu di tengah sungai dan kakek itupun muncul di atas perahunya sambil tertawa-tawa cekikikan. Tiang Bu mendongkol juga. Kakek itu benar-benar nakal sekali. nakal dan berbahaya. Kalau ia tidak memiliki ginkang yang cukup tinggi. bukankah ia akan mampus di tengah sungai? Mendadak kakek itu mengeluarkan seruan kaget dan ketakutan.

"Nlo-nio..... ampun. aku.... ampun... aku akan segera pergi..... harap suka panggil kembali ini.... ini."

Ia menggerak-gerakkan dayungnya di atas kepala untuk melindungi kepalanya yang disambari oleh tiga ekor kelelawar hitam.

Melihat sikap kakek itu yang amat ketakutan, Tiang Bu dapat menduga bahwa binatang-binatang itu tentulah amat berbahaya, kalau tidak demikian, masa seorang yang lihai seperti kakek itu sampai ketakutan?

Biarpun kakek itu nakal, namun harus di akui bahwa ia telah ditolong olehnya diantarkan ke tempat yang dicarinya.

Tiang Bu meraba ke pinggir badannya dan meremas ujung batu karang di dekatnya.

Kemudian ia mengayun tangannya ke depan menyambit ke arah tiga ekor kelelawar yang kemudian jatuh ke atas sungai, mati!

"Orang muda, kau baik sekali.

Akan tetapi hati-hatilah, kau sudah membunuh binatang peliharaan Nio-nio..........."

Kata kakek itu yang cepat-cepat mendayung perahunya melawan arus sungai.

Bangkai tiga ekor kelelawar itu hanyut terbawa arus, kepala mereka pecah terkena sambitan Tiang Bu.

Karena malam hanya diterangi bulan sepotong dan tempat itu penuh batu karang, amat berbahaya kalau orang sampai terpeleset ke bawah.

Tiang Bu tidak berani pergi dari tempat iru.

Ia malah memilih tempat yang rata antara batu-batu karang di mana ia duduk bersila menanti datangnya pagi.

Mudah-mudahan aku dapat bertemu dengan Toat-beng Kui-bo dan Wan Sin Hong di tempat ini, pikirnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, begitu terang tanah, Tiang Bu meninggalkan barisan batu karang di pinggir sungai itu mulai menjelajah daerah yang benar-benar liar ini.

Daerah batu karang ini amat luas dan di mana-mana terdapal gua-gua yang besar.

Memang tidak sampai laksaan banyaknya seperti namanya, akan tetapi lebih dari seratus buah gua yang besar-besar.

Apakah orang-orang yang dicarinya tinggal di dalam gua-gua itu?

Apa ia harus memeriksa ke dalam gua satu demi satu?

Tiang Bu berjalan memeriksa keadaan disitu dan mendapat kenyataan bahwa di antara bukit-bukit batu karang terdapat pula tanah-tanah datar yang tak berapa luas dan pohon-pohon yang aneh bentuknya.

Selagi ia longak-longok tak tahu harus mulai mencari bagian mana, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali gerakannya tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang laki-laki gagah perkasa dan tampak gagang pedang nampak tersembul dari balik pundanya.

Laki-laki itu berdiri tegak di dekatnya, memandang tajam penuh selidik.

"Wan-siok-siok (Paman Wan).........."

Seru Tiang Bu dengan girang sekali melihat bahwa laki-laki itu bukan lain adalah Wan Sin Hong, orang yang dicari-carinya.

Orang itu memang benar Wan Sin Hong yang dahulu dari Omei-san terus mengejar Toat-beng Kui-bo untuk minta kembali isterinya.

Akan tetapi Toat-beng Kui-bo lebih tepat larinya dan meninggalkan Wan Sin Hong setelah memesan supaya mencarinya di Ban-mo-tong.

Ketika Wan Sing Hong menyusul ke Ban-mo-tong, ia mendapatkan Li Hwa isterinya itu telah menjadi murid Toat-beng Kui-bo dan Li Hwa memaksa suaminya supaya tinggal di Ban mo tong.

Tentu saja Sin Hong tidak senang mendengar ini.

"Kau sungguh aneh,"

Tegurnya kepada isterinya.

"dalam hal ilmu silat saja, mengapa harus belajar dari Toat-beng Kui-bo. Benar-benar aku tidak mengerti."

Sambil menundukkan mukanya Li Hwa berkata lirih.

"Betapapun juga..... aku tak dapat meninggalkan dia seorang diri di sini..... sudah menjadi kewajibanku untuk mengawaninya sampai dia meninggal dunia..."

"Hwa-moi....! Mengapa demikian?"

Sin Hong terheran-heran.

"Dia..... dia itu ibuku,....."

Akhirnya Li Hwa membuat pengakuan yang amat mengejutkan hati Sin Hong.

Maka berceritalah Li Hwa apa yang ia dengar dari Toat-beng Kui-bo, bahwa duhulu Hoat beng Kui bo setelah melahirkan dia.

menitipkan Li Hwa yang masih orok itu kepada Pat-jiu Nio-nio yang menjadi adik seperguruannya, Toat-beng Kui-bo melakukan hal ini karena merasa malu mempunyai anak yang tidak berayah!

Demikianlah ketika bertemu di lereng Omei-san.

Toat-beng Kui-bo bertemu kembali dengan puterinya yang mula-mula ia kenal secara kebetulan saja.

Tadinya Toat beng Kui-bo hanya hendak menolong Li Hwa dari tangan Liok Kong Ji, akan tetapi kemudian ia melihat Cheng-liong-kiam maka terbukalah rahasia bahwa nyonya muda yang cantik ini sesungguhnya adalah puterinya sendiri yang dulu ia titipkan kepada sumoinya, Pat-jiu Nio nio!

Mendengar penuturan ini, Sin Hong menjadi terharu dan menghela napas.

Tak disangkanya bahwa isterinya akan bertemu dengan ibunya yang ternyata seperti iblis itu.

Diam-diam ia masih menyangsikan kebenaran cerita Toat beng Kui-bo ini, akan tetapi ia tidak banyak membantah dan oleh karena hatinya sendiri sudah menjadi dingin terhadap penghidupan di dunia kaug-ouw yang selalu ribut, ia meluluskan keinginan isterinya untuk tinggal di Ban-mo-tong agar Li Hwa selalu dekat dengan "Ibunya"

Dan dapat melayaninya sambil belajar ilmu silat dari Toat -beng Kui-bo yang lihai.

Demikianlah, dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya hati Sin Hong ketika di pagi hari itu ia melihat Tiang Bu terkeliaran di daerah berbahaya ini.

"Tiang Bu, bagaimana kau bisa sampai ke-sini dan""".. ada keperluan apakah kau datang di tempat berhahaya ini?"

Tegurnya. Tiang Bu tersenyum dan memandang wajah Sin Hong yang tampan itu.

"Wan siokhu, aku sengaja datang di Ban-mo-tong untuk mencarimu dan mencari siluman tua Toat beng Kui-bo,"

"Kau mencari Toat beng Kui bo ada urusan apakah?"

Melihat Wan Sin Hong mengerutkan kening nampak tidak senang. Tiang Bu menjawab terus-terang.

"Wan siok-siok, ketika terjadi keributan di puncak 0mei-san, Toat beng Kui bo juga mencuri sebuah kitab. Aku datang untuk minta kembali kitab itu, memenuhi perintah suhu."

Diam-diam ia memuji kesetiaan bocah ini dan keberaniannya.

"Dan kau mencari aku ada keperluan apa?"

Tanyanya, wajahnya agak berubah kalau ia teringat akan peristiwa di puncak Omei-san di mana bocah ini bertemu dengan Liok Kong Ji.

"Aku sengaja mencarimu untuk bertanya tentang keadaan diriku, siok-siok. Ceritakan padaku sejujurnya tentang hubunganku dengan Liok Kong Ji yang mengaku sebagai ayahku itu!"

Ketika mengeluarkan kata-kata ini, Tiang Bu bersikap keras dan jelas nampak dari suara dan sinar matanya bahwa apapun yang akan terjadi, ia berkukuh menghendaki dipecahnya rahasia ini, kalau perlu ia akan memaksa Sin Hong dengan kekerasan!

Sin Hong tersenyum pahit.

Alangkah beraninya bocah ini!

Pertama-tama ingin merampas kembali sebuah kitab dari tangan Toat-beng Kui-bo, satu hal yang kiranya tak akan berani seorang tokoh kang-ouw kenamaaa melakukannya.

Kedua kalinya hendak memaksanya melakukan sesuatu.

Akan tetapi, perlu bocah ini diuji, pikir Sin Hong.

Dia hendak menemui Toat.beng Kui-bo, hal yang amat berbahaya.

Baik kulihat sampai di mana kepandaiannya.

Kalau dia belum pandai menjaga diri harus dihalangi niatnya bertemu dengan Kui-bo mengantar nyawa dengan sia-sia.

"Tiang Bu, dulu sudah kukatakan bahwa aku tidak bisa menceritakan hal itu kepadamu. Menyesal sekali!"

Suara Sin Hong benar-benar mengandung penyesalan, akan tetapi juga tegas. Memang pendekar ini tidak ingin membuka rahasia anak ini yang akan merendahkan nama ibunya? "Wan siot-siok!"

Mata Tiang Bu bersinar-sinar mengeluarkan api, mengingatkan Sin Hong akan mata Liok Kong Ji.

"Kau harus menceritakannya kepadaku, biarpun untuk itu harus kupaksa!"

"Tiang Bu bocah lancang, belum pernah ada orang mampu memaksa Wan Sin Hong, apalagi engkau!"

"Kau orang tua minta dihajar!"

Tiang Bu menjerit dan ia menggerakkan tubuh menyerang Sin Hong.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Hong ketika merasa betapa angin pukulan yang keluar dari tangan bocah ini luar biasa sekali panas dan antepnya!

Namun ia adalah seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi dan pengalaman luas, maka cepat mengelak, tidak berani menangkis tangan bocah yang ternyata memiliki tenaga aneh ini.

Tiang Bu mendesak terus dan pukulan-pukulan yang ia lancarkan, makin lama membuat Sin Hong makin terkejut dan heran.

Biarpun ia memiliki Ilmu Silat Pak-kek Sin-kun yang lihai namun pukulan-pukulan bertubi-tubi dari bocah itu menghalangi semua jalannya, membuat ia terdesak.

Dan hebatnya, ia tidak mengenal ilmu pukulan yang dipergunakan Tiang Bu itu.

Kadang-kadang Tiang Bu memukul, kadang-kadang menggampar atau menusuk dengan jari-jari tangan terbuka dan gerakan-gerakannya seperti orang menulis huruf.

Sekelebat seperti ilmu silat huruf yang pernah dipelajari dari Luliang Siucai, akan tetapi ini lebih hebat lagi.

Bocah ini menyerang dengan gerakan seenaknya saja, tanpa tergesa-gesa seakan-akan Tiang Bu sudah dapat menduga atau sudah tahu ke mana Sin Hong hendak mengelak, karena selalu tubuh Sin Hong dalam mengelak dipapak oleh serangan lain!

Sin Hong dari heran terkejut menjadi penasaran.

Ia melompat ke sana ke mari, dan menghindarkan diri dari pukulan, lalu mencoba untuk membalas.

Namun ia mengalami keanehan luar biasa.

Begitu Tiang Bu percepat gerakan-gerakannya, Sin Hong kehabisan pintu, sama sekali tak melihat lowongan untuk dapat membalas.

Jangankan membalas serangan, baru melindungi diri saja sudah sukar bukan main.

"Wan siok-siok, apakah kau masih belum mau membuka rahasia itu?"

Tiang Bu bertanya sambil terus menyerang, kini mempergunakan gerakan-gerakan yang ia "temukan"

Dalam sajak-sajak kitab Thian-te Si-keng.

"Hayaaa...........!"

Tak terasa Sin Hong berseru sambil melompat ketika tangan kanan Tiang Bu yang terbuka dipukulkan secara sembarangan saja ke arah dadanya dan telah menyerempet pundaknya.

Bocah ini yang menyerang sembarangan saja masih sambil bicara lagi, telah berhasil mengenai pundaknya.

Benar luar biasa.

"Sratt.......!!"

Di lain saat, berbareng dengan berkelebatnya sinar menyilaukan mata tangan kanan Sin Hong sudah memegang Pak-sin-kiam pedang pusaka peninggalan Pak kek Siansu!

"Lebih baik kau bunuh aku dari pada menutup rahasia itu!"

Seru Tiang Bu, sedikitpun tidak gentar biarpun silau melihat pedang pusaka yang hebat ini.

Ia masih terus mendesak maju dan kini kedua kakinya berdiri di atas ujung jari jarinya dan mengerahkan ginkangnya yang paling tinggi.

Hebat sekali pemuda cilik ini.

Dia tiba-tiba saja menjadi begitu ringan gerakannya seolah-olah bersayap!

Diam-diam Sin Hong menjadi makin kagum.

Biarpun pendekar ini sudah mencabut Pak-kek Sin-kiam, pedang pusaka yang jarang sekali ia pergunakan kalau tidak amat terpaksa, namun mana ia mempunyai niat membunuh Tiang Bu?

Ia hanya ingin menguji kepandaian pemuda ini dan biarpun tadi ia sudah mendapat kenyataan bahwa dengan tangan kosong.

Ia sendiri tidak dapat memenangkan Tiang Bu, namun hatinya masih belum puas.

Sin Hong maklum akan kelihaian dan berbahayanya Toat-beng Kui-bo yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari padanya sendiri, maka kini ia ingin menguji Tiang Bu dengan senjata tajam.

Siapa kira bahwa pemuda itu melanjutkan serangannya dengan tangan kosong!

Tentu saja Sin Hong merasa enggan menghadapi seorang pemuda cilik bertangan kosong sedangkan ia menggunakan Pak-kek Sin kiam, maka berkata.

"Tiang Bu, kalau kau memang hendak memamerkan kepandaian, keluarkan senjatamu!"

"Aku tidak ingin pamer, hanya ingin kau menceritakan riwayatku, Wan-siok-siok. Orang bilang kau seorang pendekar budiman, mengapa dalam hal ini kau begitu kukuh? kau tidak kasihan kepadaku?"

Sin Hong sudah amat kagum akan kepandaian Tiang Bu, maka merasa kepalang kalau tidak menguji terus. Ia menggerakkan pedangnya dan berkata.

"Awas, lihat pokiam!"

Kepandaian yang paling diandalkan oleh Sin Hong adalah ilmu pedangnya.

Memang ilmu pedangnya, Pak-kek Kiam-sut, adalah ilmu pedang yang luar biasa sekali dan ia menjagoi di dunia kang-ouw.

Belum pernah ada ahli pedang lain yang berani menyatakan ilmu pedangnya dapat melebihi Pak-kek Kiam-sut.

Begitu Sin Hong menggerakkan pedangnya, sinar pedang bergulung-gulung mengurung tubuh Tiang Bu.

Namun Tiang Bu yang sudah siap, cepat bergerak menurutkan jurus jurus mujijat dari Sam-hoan-sam-bu, tubuhnya menjadi seakan-akan bulu ringannya dan dapat mengelak sebelum pedang lawan menyambar, seakan-akan hawa pukulan pedang sudah lebih dulu mendorongnya menyingkir dari sabetan mata pedang.

Betapapun hebatnya ilmu mengelak ini, Namun Tiang Bu masih hijau dalam pengalaman pertempuran dan Ilmu Pedang Pak-kek Kiam-sut memang betul-betul luar biasa sekali sehingga pemuda ini sekarang menjadi terkurung sinar pedang dan sama sekali tidak mendapat kesempatan membalas.

Ini disebabkan ia hanya mengandalkan pertahanan diri dengan jalan mengelak karena untuk menangkis ia tidak berani.

Ia maklum akan ketajaman dan keampuhan Pak-kek Sin-kiam maka tidak mau mengambil resiko buntung lengan.

Setelah terdesak hebat, baru ia teringat akan pesan suhunya bahwa kalau terpaksa sekali ia boleh mempergunakan benda apa saja yang dekat dengan dia untuk menjaga diri.

Dilihatnya sebatang ranting kayu kering tak jauh dari situ.

Cepat ia menggeser kedudukannya ke tempat itu dan lain saat ia telah menjemput ranting ini terus melakukan perlawan hebat.

"Trangg......! Tranggg............!"

Berkali-kali pedang Pak-kek Sin-kiam berbunyi nyaring ketika bertemu dengan ranting dan Sin Hong menjadi pucat.

Baru kali ini seumur hidupnya ia mengalami hal yang luar biasa ini.

Sebatang ranting kayu kering kuat menahan pedangnya, padahal senjata-senjata berat jago-jago silat lain tidak akan kuat menahan dan pasti akan terbabat putus.

Bukan hanya kuat menahan, bahkan dari ranting itu menjalar tenaga yang melalui pedangnya terus menghantam telapak tangannya dengan getaran di dahsyat.

Ia merasa lweekangnya terpukul dan tergetar.

Hebat sekali, pikirnya.

Sin-kang yang sudah kumiliki ditambah latihan lm-kang dan Yang-kang bertahun-tahun, masa kalah kuat oleh tenaga bocah ini?

Juga ia mengalami hal yang mengagetkan.

Ilmu Pedang Pak kek Kiam-sut sudah merupakan raja ilmu pedang dan setiap getaran membuat ujung pedangnya tergeser pecah menjadi tujuh yang langsung menyerang jalan darah lawan di tujuh bagian.

Tentu saja hanya mendiang Pak Kek Siansu yang sudah sanggup menggetarkan pedang menjadi tujuh bagian, akan tetapi Sin Hong sudah mencapai tingkat tinggi dan dalam kedudukan yang tidak terlalu terdesak ia dapat mengeluarkan pedangnya menjadi enam.

Namun anehnya, bocah yang memegang ranting ini, biarpun ilmu silat yang dimainkan itu jelas sekali bukan ilmu pedang melainkan ilmu pukulan biasa yang dimainkan dengan biasa yang dimainkan dengan bantuan ranting, ternyata sudah dapat menggetarkan ranting itu menjadi enam pula, sehingga semua serangan Pak-kek Sin-kiam gagal.

Saking penasaran dan dalam niatnya mangadu tenaga lweekang.

Sin Hong mengeluarkan seruan keras dan tiba-tiba pedang dan ranting bertemu di udara, saling menempel tak dapat dilepaskan lagi.

Sin Hong mempergunakan lweekang dan mengerahkan tenaga menyedot sehingga ranting lawan tak dapat terlepas dari pedangnya, kemudian ia mulai mengerahkan tenaga melalui pedang untuk menyerang.

Kalau ia sudah dapat memaksa pemuda melepaskan rantingnya.

itu berarti tenaga lweekangnya masih menang setingkat!

Biarpun Tiang Bu belum pernah mengalami pertempuran mati-matian dan hebat seperti sekarang ini dan tidak tahu apa maksud dari Sin Hong namun tubuhnya yang sudah terisi tenaga sinkang yang ia warisi dari dua orang suhunya, secara otomalis telah merasai datangnya serangan dahsyat dari lawan dan otomatis tenaga sinkang di badannya mengalir keluar melalui ranting untuk menahan gelombang serangan lawan.

Dua tenaga raksasa bertemu, saling dorong, kadang-kadang Tiang Bu terdorong sehingga tenaga-tenaga itu bergerak di dalam rantingnya membuat ranting itu bergerak keras.

Akan tetapi secara mendadak kadang-kadang arus tenaga itu membalik dan Sin Hong yang terdesak hebat sampai tenaga itu saling dorong di dalam pedangnya, membuat pedang Pak-kek Sin-kiam tergetar dan mengeluarkan suara mengaung!

Tenaga sinkang dari Sin Hong sudah tinggi dan hebat.

Biarpun Tiang Bu telah mewarisi sinkang dari dua orang gurunya namun karena belum dapat mempergunakannya secara sempurna, ia tentu akan kalah oleh Sin Hong, kalau saja tidak secara kebetulan bocah ini mempelajari kitab Seng thian-to dalam perjalanannya.

Di luar pengetahuannya sendiri, tenaga sinkang di tubuhnya telah melonjak tinggi tingkatnya ketika ia mulai melatih samadhi menurut petunjuk kitab suci itu.

Demikianlah, dalam pertandingan adu tenaga lweekang ini, Sin Hong sama sekali tidak dapat mendesak Tiang Bu.

Setiap kali ia mengerahkan tenaga mendesak, selalu tenaganya mental kembali.

Akan tetapi, juga Tiang Bu tidak dapat mendesak oleh karena memang pemuda ini belum pandai betul mempergunakan lweekang untuk menyerang lawan.

Pada saat itu, terdengar suara sayap memukul dibarengi suara cecuwitan di atas kepala.

Dua ekor, kelelawar menyambar Tiang Bu.

"Hushh........... jangan...........!. seru Sin Hong dan tiba-tiba tubuhnya terpental ke belakang terhuyung-huyung dan ia muntahkan darah segar. Saking cemasnya melihat Tiang Bu diserang dua ekor kelelawar berbisa, Sin Hong sampai lupa diri dan tadi mengeluarkan suara mengusir binatang-binatang itu. Padahal dalam pertandingan lweekang di mana menghadapi lawan yang sama kuatnya sehingga ia perlu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, bicara merupakan pantangan keras. Begitu ia terkejut dan terguncang hatinya ia mengeluarkan suara, tenaganya membalik dan memukul diri sendiri membuat ia terpental dan memuntahkan darah karena di dalam dadanya mengalami guncangan pukulan yang mendatangkan luka. Sementara itu, Tiang Bu yang tadinya juga mencurahkan seluruh perhatian kepada lawannya, menjadi gugup ketika tahu-tahu dua titik hitam menyambar ke arahnya dengan tepat sekali. Baiknya Sin Hong sudah terpental mundur sehingga ia bebas. Akan tetapi saking lamanya ia mengadu tenaga tadi, tangan kanannya yang memegang ranting sampai terasa kaku dan kesemutan. Maka ia cepat mengangkat tangan kiri menyampok kelelawar yang menyerang kepalanya.

"Plak!"

KeIelawar itu terlempar dan kepalanya remuk.

Kelelawar ke dua sudah tiba dan tanpa dapat dicegah lagi menggigit leher Tiang Bu sebelah kiri.

Akan tetapi, juga kelelawar ini begitu menggigit.

tubuhnya berkelojotan dan terlempar ke bawah terus mati!

Kiranya tenaga sin-kang di tubuh Tiang Bu ketika tadi dikerahkan, masih bekerja keras dan begitu ada yang menggigit leher, otamatis tenaga itu mengalir ke leher menyerang kelelawar tadi.

Sin Hong melihat betapa kelelawar itu menggigit leher Tiang Bu.

ia menjadi kaget sekali.

"Celaka......!"

Teriaknya dia cepat melompat ke dekat Tiang Bu tanpa memperdulikan lukanya sendiri.

Tiang Bu hanya merasa lehernya tertusuk dan gatal sekali, hidungnya mencium hawa busuk yang memuakkan.

Biarpun ia belum berpengalaman, namun sikap Sin Hong dan bau busuk itu menimbulkan dugaan Tiang Bu bahwa kelelawar ini tentu berbisa.

Cepat ia meramkan mata dan mengarahkan kekuatan batinnya seperti yang pernah dilatihnya dari kitab Seng-thian-to.

Di lain saat ia roboh pingsan!

Wan Sin Hong adalah seorang yang tidak saja memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu pedang nomor satu, akan tetapi ia juga terkenal bagai ahli pengobatan yang jempolan sehingga beberapa orang kang-ouw yang pernah ditolongnya diam-diam memberi julukan Yok-ong (Raja Obat) kepadanya.

Sebagai ahli waris kitab pengobatan dari Kwa-siucai ahli segala racun, tentu saja begitu melihat kelelawar peliharaan Toat-beng Kui bo di tempat itu Sin Hong lantas tahu bahwa kelelawar itu adalah sejenis binatang yang amat berbisa.

Kelalawar pantai laut selatan ini sekali menggigit orang sukar diobati lagi.

Bahkan setelah meneliti keadaan bisa kelelawar ini puluhan hari lamanya, Sin Hong hanya sanggup mengobati racun gigitan binatang itu asal saja racun belum menjalar ke jantung orang yang digigit.

Hal ini hanya bisa terjadi apabila orang yang digigit segera mendapat pertolongannya, akan tetapi tempat yang digigit itu jauh dari jantung, karena racun yang jahat ini agak lambat jalannya.

Sekarang Tiang Bu digigit di lehernya, dekat jalan darah, dalam beberapa detik saja tentu racun telah menjalar ke jantung dan tak mungkin diobati pula!

Maka dengan sedih Sin Hong cepat berlutut memeriksa keadaan luka pemuda itu setelah agak merasa heran mengapa kelelawar yang menggigit itu mati mendadak.

Untuk ketiga kalinya, Sin Hong terkejut dan terheran-heran lalu kagum setelah ia memeriksa leher yang terkena gigitan kelelawar itu.

Pertama kali ia kaget menyaksikan ilmu silat tangan kosong dari Tiang Bu yang terang jauh mengatasinya, kedua kalinya ia terperanjat menghadapi tenaga sinkang dari pemuda itu luar biasa sekali.

Kini untuk ketiga kalinya ia kaget bukan main menyaksikan hal yang aneh sekali.

Tiang Bu pingsan bukan karena gigitan kelelawar, akan tetapi pingsan yang aneh, jalan darahnya terhenti sama sekali akan tetapi napasnya masih berjalan perlahan-lahan.

Hebatnya, racun kelelawar yang jelas kelihatan hitam itu berkumpul dan diam di bawah kulit leher, tidak bergerak-gerak dan tidak menjalar ke mana-mana karena semua peredaran darah pemuda itu berhenti seperti tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi!

Akan tetapi jelas pemuda itu masih hidup karena napasnya masih keluar masuk, hanya detak jantungnya berhenti!

Sin Hong tidak membuang banyak waktu lagi.

Cepat ia mengeluarkan jarum peraknya dan menusuki luka di leher itu mengeluarkan semua racun hitam dengan amat mudah karena hanya berkumpul di bawah kulit.

Sambil bekerja ia mengingat-ingat akan penuturan gurunya dahulu, Pak Kek Siansu tentang ilmu batin yang gaib seperti Ilmu sihir, yakni dalam keadaan hidup mematikan raga.

Dengan ilmu inilah orang dapat melakukan segala hal aneh seperti menusuk lidah dengan pisau, menusuk dada dengan pedang, menginjak api, dan lain-lain tanpa merasa sakit dan tanpa berpengaruh apa-apa oleh keadaan raga.

Apakah pemuda ini sudah memiliki kepandaian semacam itu?

Akan tetapi tidak mungkin kalau ini main sihir, karena pemuda itu pingsan.

Setelah selesai mengeluarkan semua racun dan selagi ia hendak mencekoki Tiang Bu dengan pel merah obat kuatnya, tiba-tiba Tiang Bu siuman, meraba lehernya yang sudah di tutup koyo (obat tempel), lalu berkata.

"Terima kasih atas pertolongan Wan siok-siok."

Sin Hong melongo. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya (Lanjut ke

Jilid 15) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 tadi Tiang Bu telah melakukan ilmu yang ia dapat dari kitab Seng-thian-to. Biarpun ia pingsan tak dapat bergerak karena seluruh peredaran darahnya ia "suruh"

Berhenti, namun ia masih sadar. Inilah kehebatan ilmu "menguasai"

Peredaran darah dan jalanan napas dan hawa dalam tubuh!

"Kau......

kau hebat sekali, Tiang Bu"..", kata Sin Hong dalam hatinya takluk betul.

Kini ia boleh melepas anak ini menemui Toat-beng Kui-bo dengan hati tenang karena percaya penuh bahwa kepandaian pemuda cilik ini sudah cukup tinggi untuk menghadapi nyonya besar majikan daerah Bin-mo-tong ini.

"Wan siok-siok, kiranya sekarang kau tak-kan begitu pelit untuk membuka rahasiaku. Siapakah ayah bundaku sesungguhnya dan mengapa sejak kecil aku menjadi anak ayah bundaku di Kim bun-to?"

Sin Hong menjadi serba salah.

Terbayang olehnya segala peristiwa di waktu dahulu (baca Pedang Penakluk Iblis).

Ia sudah berjanji takkan membuka rahasia itu yang akibatnya hanya akan memalukan Tiang Bu sendiri dan berarti pula mendatangkan kecemaran bagi nama baik Nyonya Pangeran Wanyen Ci Lun.

Pula Sin Hong maklum betapa bencinya nyonya itu, Gak Soan Li, kepada anaknya keturunan Liok Kong Ji.

Kalau ia membuka rahasia Tiang Bu, bukanlah itu sama halnya dengan mendatangkan malapetaka bagi mereka semua?

Sin Hong menjadi bingung betul dan tak dapat menjawab.

Tiba-tiba bintang penolong datang, berupa isterinya sendiri.

"Eh, Tiang Bu! Kau di sini........"

Teguran ini keluar dari mulut Li Hwa yang muncul dari balik batu-batu karang.

Tiang Bu menengok dan melihat Hui-eng Niocu masih cantik dan lincah seperti dulu, hanya kini agak lambat gerakannya dan nampak lesu.

Tentu saja pemuda ini tidak tahu bahwa itu adalah tanda-tanda seorang wanita sedang mengandung.

Segera ia memberi hormat kepada Siok Li Hwa.

Melihat munculnya Li Hwa, Sin Hong mendapatkan kembali ketenangannya dan berkata kepada Tiang Bu.

"Tiang Bu, kalau hendak bertemu dengan Toat beng Kui bo pergilah ke sana dulu. Kau ambillah jalan ini terus ke selatan, sampai di pinggir laut kau belok ke kanan melalui bukit batu-batu karang yang amat sukar. Di sana terdapat tujuh gua-gua besar. Nah, kau masuki gua-gua itu satu demi satu dan di salah satu antara tujuh gua itu kau tentu akan menjumpai orang tua itu. Kalau sudah selesai urusanmu dengan beliau, kau datanglah ke sini, nanti aku akan memberi jawaban atas pertanyaanmu tadi."

Dengan kata-kata ini selain untuk memberi petunjuk tentang jalan menuju ke tempat tinggal Toat-beng Kui-bo, juga Sin Hong "minta tempo"

Untuk berunding lebih dulu dengan isterinya.

Tiang Bu girang sekali.

Tidak saja untuk petunjuk jalan mencari Toat-beng Kui-bo, akan tetapi juga karena janji Sin Hong.

Ia percaya akan kata-kata pendekar itu.

maka ia cepat menghaturkan terima kasih, lalu menjura kepada Li Hwa lalu melompat berlari cepat ke selatan.

Dalam sekejap mata saja ia lenyap dari pandangan mata.

Sin Hong menarik napas panjang.

"Luar biasa sekali, anak itu kelak akan menjadi jago yang tiada taranya. Kalau saja watak buruk ayahnya tidak menurun kepadanya..........."

Ia lalu menceritakan semua peristiwa yang ia alami tadi kepada isterinya.

Dengan terus terang ia akui sekarang saja kepandaian Tiang Bu sudah melampaui kepandaiannya, apalagi kelak beberapa tahun lagi kalau Tiang Bu sudah dewasa benar-benar dan sudah banyak pengalaman.

"Aku bingung bagaimana harus menjawabnya,"

Ia menutup penuturannya.

"Mengapa mesti bingung. suamiku? Ceritakan saja kepadanya, bahwa dia bukan putera Hong Kin dan Hui Lian, melainkan putera Soso Li dan Kong Ji."

"Ah, tak mungkin aku sekejam itu. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau aku buka rahasia itu, Hwa-moi. Anak itu akan terpukul batinnya, Soan Li akan tercemar namanya dan kalau ibu dan anak itu dipertemukan, aku khawatir akan terjadi hal-hal hebat dan mengerikan."

Li Hwa maklum akan maksud kata-kata suaminya. Dia memang sudah mendengar semua tentang peristiwa itu dan tahu betapa bencinya Soan Li kepada anak kandung keturunan Kong Ji.

"Akan tetapi, lebih tidak baik lagi menutupi kenyataan. Kulihat Tiang Bu bukan anak bodoh dan akhirnya ia tentu akan tahu juga."

"Akan tetapi aku sudah bersumpah tak membuka rahasia Soan Li..........."

"Kalau begitu mudah saja, diatur supaya dia mendengar dari orang lain. Lebih baik diatur begini saja......"

Isterinya yang cerdik ini lalu memberi petunjuk-petunjuk kepada suaminya.

Sin Hong mengangguk-angguk setuju.

Kata-kata Sin Hong ketika memberi petunjuk kepada Tiang Bu tentang tempat kediaman Toat-beng Kui-bo memang betul.

Setelah Tiang Bu sampai di tepi laut dan membelok ke karan, ia benar-benar menghadapi perjalanan yang amat sukar.

Bukit batu karang yang mendoyong di sepanjang pantai laut itu nampak menyeramkan dan bukan tempat manusia.

Pantas saja disebut Ban-mo-tong (Gua Selaksa Iblis) karena memang hanya iblis dan siluman saja yang patut tinggal di daerah ini.

Perjalanan ke gua-gua yang disebutkan oleh Sin Hong bukan perjalanan mudah dan hanya orang-orang berkepandaian tinggi saja dapat lewat di sini.

Jalan menanjak atau menurun selalu melalui ujung-ujung batu karang yang tajam meruncing.

Jalan di atas batu-batu karang ini tanpa pengerahan ginkang yang tinggi, akibatnya tentu sepatu hancur dan telapak kaki luka-luka.

Dari jauh sudah nampak tujuh buah gua menghitam seperti mulut-mulut siluman raksasa terbuka dengan gigi-gigi runting monongol dari bawah dan bergantungan di atas gigi-gigi runcing batu karang pula.

Tentu saja Tiang Bu tidak tahu di dalam guha yang mana di antara tujuh buah itu adanya orang yang dicarinya, maka terpaksa ia mencari dari guha pertama.

Perjalanan yang amat sukar.

Gua itu kosong, hanya ada beberapa ekor kelelawar menyambar keluar, akan tetapi segera menjauhi Tiang Bu ketika pemuda ini menyampok dongan pengerahan hawa pukulan yang cukup akan dapat mematikan binatang-binatang itu kalau berani mendekat.

Terpaksa turun lagi dan perjalanan dari gua pertama ke gua kedua lebih sukar lagi.

Kembali kosong!

Tiang Bu benar-benar diuji kesabarannya atau agaknya Toat beng Kui-bo sengaja mempermainkan anak muda ini karena setelah ia buang waktu setengah hari, bersusah-payah merayap dari gua ke gua sampai gua ke enam ternyata semua gua yang didatangi Tiang Bu kosong!

Hari telah mulai senja ketika Tiang Bu tanpa mengenal lelah mendaki naik ke bukit gua ke tujuh.

Dari jauh sudah nampak titik-titik hitam, yang ternyata adalah kelelawar-kelelawar hitam kelelawar-kelelawar berbisa yang terbang tinggi di atas kepala Tiang Bu berkeliling seakan-akan pengintai-pengintai yang pandai.

Diam-diam Tiang Bu ngeri juga melihat ada kelelawar yang amat besar.

Panjang dari ujung sayap kiri ke ujung sayap kanan tidak kurang dari sedepa dan besar badan binatang itu seperti anjing kecil.

Akan tetapi binatang-binatang ini tidak menyerang, maka Tiang Bu juga bersikap tenang saja melanjutkan perjalanannya di atas batu-batu karang yang runcing itu, memegang sana meraba sini.

Telapak tangan dan kakinya sudah mulai pedas-pedas.

Akhirnya ia sampai di mulut gua dan pertama-tama yang menyambutnya adalah asap putih yang harum dari dupa wangi yang dibakar orang di dalam gua!

Ia merayap terus dan......

benar saja, di dalam gua itu duduk bersila menghadapi dupa terbakar dan dikelilingi oleh "hulubalang-hulubalangnya"

Yaitu kelelawar-kelelawar besar yang sayapnya hitam berbintik-bintik.

Toat-beng Kui-bo memandang ke arahnya dengan tersenyum mengerikan!

Nenek ini tertawa tanpa mengeluarkan suara, kemudian ketika ia mengangkat tangannya yang penuh kuku panjang ke depan, baru suara ketawanya terdengar, cekikikan seperti suara iblis tertawa.

"Hi-hi-hi-hi, kau bocah murid hwesio malas di Omei-san! Besar sekali nyalimu, datang dan menjenguk ke semua gua-guaku. Hi-hi-hi-hik, kalau bukan murid Omei-san aku suka mempunyai murid setabah ini.......!"

Kata-kata sambutan ini melegakan hati Tiang Bu, karena tadinya ia mengira bahwa begitu bertemu ia tentu akan diserang mati-matian oleh nenek biang iblis ini.

Ia sudah siap sedia dan diam-diam ia juga tidak berani memandang ringan kepada nenek tokoh dunia selatan ini.

"Locianpwe, harap maafkan kalau aku yang muda berlaku lancang, datang menghadap tanpa dipanggil,"

Katanya hormat.

"Hi-hi-hi-hi, dasar murid gundul gendeng. Bersopan-sopan menjemukan!"

Nenek itu mengambil babakan kayu harum dan mengawurkannya di atas pedupaan. Asap baru putih tebal bergulung-gulung naik dan bau harum memenuhi gua yang buruk dan kotor itu.

"Orang muda, kau datang ada apakah? Apa tidak cukup bertemu dengan anak mantuku di luar sana?"

"Aku sengaja datang mencari locianpwe untuk minta kembali kitab Omei-san yang dulu terbawa ke sini."

Tiang Bu masih berlaku sabar dan menghindar kata-kata tuduhan mencuri.

"Kalau aku tidak mau mengembalikannya kepadamu, bagaimana?"

Sepasang mata itu liar menyapu keluar gua dan dua ekor kelelawar datang dari luar, sedangkan yang berada di dalam menggelepar-geleparkan sayap.

"Kalau demikian, terpaksa aku yang muda berlaku kurang ajar dan mohon dilanjutkan pibu di puncak Omei-san dahulu. Aku bersedia mengorbankan nyawa untuk memenuhi tugas ini mengumpulkan kembali kitab kitab Omei-san yang tercuri."

"Hi hi hi! Kau luar biasa sekali. Hebat. Setua ini baru sekarang ini aku mengalami ditantang oleh seorang bocah masih ingusan! Benar-benar besar sekali nyalinya. Bocah siapa namamu?"

"Namaku Tiang Bu."

Jawab pemuda singkat.

"Tidak pakai she (keturunan)?"

Tiang Bu menggeleng kepala.

"Lupa lagi siapa she ku!"

Nenek itu tertawa cekikikan, suara ketawanya aneh sekali, ada nada marah ada juga nada menangis.

Binatang-binatang kelelawar di dekatnya beterbangan tidak menentu di atas kepalanya, agaknya merekapun bingung mendengar suara ketawa ini dan tidak tahu mereka diperintah apa.

"Masih kecil kau sudah memiliki watak aneh,"

Kata Toat-beng Kui-bo, kemudian ia nampak sungguh-sungguh ketika terkata lagi.

"Tiang Bu, karena kau mewakili dua orang gundul Omei-san yang sudah tewas, baik aku mengaku terus terang bahwa dalam keributan itu, aku menyelamatkan sebuah kitab dari tangan pencuri itu. Akan tetapi setelah kulihat, kitab ini ternyata cocok sekali untuk seorang tua bangka yang penuh dosa seperti aku, sama sekali tidak ada artinya bagi seorang bocah seperti engkau. Kitab ini dapat berjasa besar sekali untukku dan karenanya akan kupelajari untuk bekal mati. Kau tidak boleh minta kembali."

Mana Tiang Bu mau percaya?

Kalau kitab tidak berarti, mana nenek ini mau mengambilnya dan menahannya?

Tentu kitab pelajaran ilmu silat yang tinggi.

Kedua orang suhunya pernah menyatakan kepadanya bahwa kalau kitab-kitab pelajaran ilmu silat tinggi terjatuh ke dalam tangan orang jahat, maka akan merupakan hal yang berbahaya sekali, dan harus dihalangi.

Lebih baik kitab pelajaran itu dibakar dari pada terjatuh ke dalam tangan orang jahat.

Karena selain hal itu berarti akan memperkuat kedudukan orang-orang jahat, juga kelak dapat mencemarkan nama baik dua orang hwesio Omei-san itu, bahkan dapat mencemarkan nama besar Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Couwsu dua orang guru besar itu.

"Kalau begitu, terpaksa aku minta pelajaran dari locianpwe,"

Kata Tiang Bu menantang dengan sikap tenang.

Kembali ia bersiap sedia menghadapi serangan mendadak dari nenek itu.

Akan tetapi aneh, nenek itu menghela napas dan tidak berbuat apa-apa, lalu berkata perlahan.

"Aku sudah pernah mencoba kepandaianmu di 0mei-san. Ilmu silatmu tinggi dan sinkangmu hebat. Tidak kepalang dua orang kakek gundul mengambilmu sebagai murid. Akan tetapi jangan kira aku masih kurang akal dan kepandaian untuk membunuhmu. Mudah bagiku untuk membunuhmu, apalagi kau berada di sini. Hemm, soalnya........... semenjak membaca kitab itu, aku tidak mau lagi membunuh manusia tanpa dosa. Dan kau anak baik........... aku tidak mau menambah dosa"

"Locianpwe, memang akupun tidak suka berkelahi, apalagi dengan locianpwe yang berilmu tinggi. Akan tetapi kitab itu diambil dari Omei-san dan aku sudah menerima pesan suhu agar mengambil kembali semua kitab-kitab itu."

"Dan selanjutnya? Akan kau apakan kitab-kitab itu?"

"Selanjutnya terserah kepadaku. akan tetapi sudah pasti kitab-kitab itu takkan terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat."

"Ha, kau menggolongkan aku manusia jahat? Memang tidak salah. Aku jahat, lebih jahat dari pada kelelawar-kelelawar berbisa ini. Aku tadinya tidak perduli, tidak takut hukuman neraka. Tidak tahunya semua itu ada hukuman timbal baliknya dan semua perbuatanku merupakan tamparan bagiku sendiri. Ah, bocah bernyali besar, tahukah kau bahwa kalau aku belum membaca kitab yang kau minta itu, pada saat ini kau tentu sudah menggeletak mampus dan darah serta dagingmu menjadi umpan kelelawar-kelelawarku?"

"Aku tidak takut mati, locianpwe. Lebih baik mati menjalankan tugas dari pada hidup melihat kitab dipelajari orang lain dan kelak kepandaian dari kitab dipergunakan untuk perbuatan jahat."

"Ha, kau memang hebat. Apa kau kira kitab itu kitab pelajaran ilmu silat Tiang Bu, kalau itu kitab pelajaran silat, mana aku sudi menyimpannya? Semua ilmu silatku boleh kutukar cuma-cuma dengan pelajaran dari kitab itu. Kau tidak percaya? Apa kau mau berjanji bahwa kalau kitab itu bukan pelajaran silat kau mau meminjamkan atau memberikan kepadaku?"

Tiang Bu berpikir sejenak.

Dua orang suhunya adalah hwesio-hwesio yang alim dan suci.

Sangat boleh jadi di antara sekian banyaknya kitab-kitab itu, terdapat kitab-suci yang tidak ada hubungannya dengan ilmu silat, melainkan kitab pelajaran ilmu batin agar manusia dapat mencari kebenaran sejati.

Kalau betul kitab itu hanya pelajaran agama atau kebatinan dan dapat "menyembuhkan Toat-beng Kui-bo dari kejahatannya, bukankah akan berjasa baik dan apa salahnya dipinjamkan?

"Baik.

locianpwe.

Aku berjanji bahwa setelah melihat kitab itu dan mendapat kenyataan hanya kitab pelajaran berhubungan dengan kebatinan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu silat atau ilmu kegagahan lain, kitab itu boleh kupinjamkan kepada locianpwe untuk sepuluh tahun lamanya.

Nenek itu tertawa cekikikan.

"Kau memang bocah pintar dan berhati baik. Nah, kau periksalah kitab ini!"

Sambil berkata demikian, Toat-beng Kui-bo mengeluarkan sebuah kitab yang sampulnya kuning dan melemparkan kitab itu ke arah Tiang Bu.

Pemuda ini segera menerimanya dan cepat membalik-balik lembaran kitab itu di bawah penerangan matahari yang sudah menyuram.

Pada halaman pertama ia melihat judul kitab itu ditulis dengan huruf-huruf besar.

DELAPAN JALAN UTAMA Di bawah huruf-huruf besar ini tertulis dengan huruf-huruf kecil.

Sari pelajaran dari Yang Mulia Ji lai hud untuk membebaskan diri dari Siksa Dunia.

Tiang Bu mengerutkan kening.

Melihat nama Tiong Jin Hwesio di ujung bawah sampul dan melihat tulisan-tulisan kecil itu, tidak salah lagi bahwa kitab ini memang kitab suhunya.

Dan melihat bunyi judul dan penjelasannya, tidak dapat disangsikan lagi bahwa ini tentu kitab pelajaran yang menjadi kitab suci dari Agama Budha, mengandung semacam pelajaran kebatinan.

Ia masih kurang puas, dan membuka-buka halaman selanjutnya.

Dengan pandang matanya yang tajam ia mencari-cari namun tak dapat menemukan sebuah kalimatpun yang menulis tentang ilmu silat.

Ia melihat kalimat-kalimat yang tak dimengertinya seperti.

"Hanya ada Delapan Jalan Utama, Empat Kebenaran Mulia, kebajikan yang utama adalah Bebas Nafsu, manusia utama adalah dia yang dapat melihat pelajaran ini". Di bagian lain dari kitab itu Tiang Bu membaca kalimat-kalimat yang berbunyi.

"Segala yang tercipta akan musnah. Segala yang tercipta mendatangkan duka nestapa dan sakit. Segala bentuk itu tidak aseli dan palsu adanya". Dan banyak kaIimat-kalimat lain yang tidak begitu jelas baginya, akan tetapi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu silat. Setelah membalik-balik lembaran kitab itu beberapa lama sampai halaman terakhir, Tiang Bu melangkah maju dan memberikan kitab itu kepada Toat-beng Kui-bo sambil berkata.

"Memang kitab ini lebih cocok untuk ciampwe, biarlah locianpwe pinjam sampai sepuluh tahun"

Toat-beng Kui bo tertawa cekikikan.

"Sepuluh tahun lagi kau masih muda, belum patut membaca ini. Tunggu sampai kau tua, aku kembalikan kitab ini padamu, Tiang Bu.? Tiang Bu yang tidak terlalu memperhatikan kitab seperti itu, menganggap kata-kata ini hanya main main saja. maka iapun tidak mau banyak membantah.

"Mudah mudahan dengan kitab ini locianpwe akan mendapatkan jalan utama yang bersih, maafkan aku telah mengganggu waktu locianpwe yang berharga."

Setelah berkata demikian, Tiang Bu mengundurkan diri dan keluar dari gua itu.

Ia harus berlari cepat kalau tidak mau kemalaman di daerah berbahaya ini.

Berkat ginkangnya yang luar biasa, ia berhasil tiba di tempat ia bertemu dengan Sin Hong tadi, tepat pada saat malam tiba dan gelap menyelimuti bumi.

Ketika ia tengah mencari-cari sambil menengok ke sana-sini tiba-tiba muncul Sin Hong.

"Kau sudah kembali? Cepat amat! Apa kau sudah bertemu dengan Toat-beng Kui-bo?"

Tiang Bu mengangguk.

"Dan kau tidak apa-apa? Apakah kitab itu sudah kau minta?"

Tiang Bu menggeleng kepala.

"Kitab itu ternyata kitab pelajaran menyucikan hati sungguh sebuah kitab yang tepat untuk Toat beng Kui-bo. Aku sudah meminjamkannya padanya agar ia baca untuk bekal menghadapi alam baka."

Sin Hong terkejut dan menghela napas berulang-ulang.

"Mudah-mudahan benar begitu. Tiang Bu malam telah tiba. Mari kau bermalam di pondokku, besok kau baru melanjutkan perjalanan. Kita bisa bercakap-cakap."

Tiang Bu mengangguk, lalu mengikuti Sin Hong.

Ternyata Sin Hong dan isterinya telah membangun sebuah pondok sederhana, di tepi sungai.

Kedatangan Tiang Bu disambut oleh Li Hwa dengan gembira.

Tadinya diam-diam Li Hwa merasa gelisah juga mendengar bahwa pemuda itu menghadap "Ibunya"

Dan merasa khawatir kalau-kalau sikap Tiang Bu yang polos dan berani itu akan memarahkan hati Toat-beng Kui-bo.

Akan tetapi ternyata pemuda ini malah meminjamkan kitab Omei-san itu kepada Toat-beng Kui-bo dan bahkan sedikitpun pertempuran tidak terjadi di gua-gua menyeramkan itu.

Malam hari itu Tiang Bu bercakap-cakap dengan Wan Sin Hoag.

Baru sekarang ia mengenal kepribadian Wan Sin Hong dan Tiang Bu menjadi kagum sekali.

Kata-kata yang keluar dari mulut pendekar besar ini membuat Tiang Bu merasa malu kepada diri sendiri dan ia merasa manyesal sekali atas sikapnya yang sudah-sudah terhadap Sin Hong, sikap kasar dan kurang ajar.

"Tiang Bu, kau harus tahu bahwa bukan sekali-kali aku sengaja menyimpan rahasiamu karena maksud buruk. Ketahuilah, bahwa aku telah berjanji bahwa hal ini akan kurahasiakan. Janji seorang laki-laki harus dipegang teguh dan diikat dengan nyawa. Janji baru bisa putus kalau nyawa juga putus. Di samping ini semua, aku tidak melihat sesuatu kebaikan dalam pembukaan rahasia ini. Masa depanmu amat suram-muram apabila kau tetap hendak mengetahui rahasia itu. Kau harus tahu bahwa semenjak kecil, semenjak kau baru lahir, kau sudah dipelihara oleh ayah bundamu yang sekarang di Kim bun-to, dan kau tentu mengerti pula bahwa ayah bundamu itu mencintaimu seperti kepada putera sendiri. Oleh karena itu, apa perlunya kau berkukuh hendak mengetahui rahasia itu?"

"Wan siok-siok, memang betul apa yang kau ucapkan itu. Ayah dan ibu di Kim-bun-to penuh kasih sayang kepadaku dan hal ini ku akui. Selamanya akupun akan menganggap mereka sebagai ayah bunda sendiri. Akan tetapi...... tentang orang she Liok itu....., ingin mendengar ceritanya bagaimana dia mengaku sebagai ayahku, dan lebih hebat lagi..... mengapa pula Wan-siok-siok membenarkan pengakuannya itu. Aku penasaran dan hidupku selanjutnya akan tersiksa hebat apabila siok-siok tidak menjelaskan, siapakah sebenarnya ayah bundaku dan mengapa semenjak kecil aku ditinggalkan di Kim-bun-to."

Sin Hong menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya.

"Aku tidak dapat membuka rahasia itu, Tiang Bu."

"Tiang Bu,"

Kata Li Hwa dengan suara halus.

"pamanmu adalah seorang laki-laki sejati. Dalam rahasia riwayatmu itu terselip hal-hal yang amat berbelit-belit, dan menceritakan satu harus menceritakan dua dan sekali membuka rahasia itu maka akan terbuka semua rahasia yang amat..... amat tidak menguntungkan kau sendiri. Kau tentu tahu bahwa sebagai seorang gagah yang menjunjung tinggi pribudi, pertama-tama janji harus dipegang teguh, kedua kalinya, pantang membuka rahasia yang akan mencemarkan nama orang-orang, apalagi orang-orang yang menjadi sahabat-sababat baik."

Li Hwa menghela napas lalu menyambung kata-katanya.

"Tadi ketika kau pergi, kami sudah mengambil keputusan bahwa rahasia ini tetap takkan kami buka pada siapapun juga, biarpun untuk itu kami akan menghadapi maut. Hanya masih ada jalan yang dapat kami tunjukkan kepadamu."

Menghadapi alasan-alasan yang dikemukakan oleh Sin Hong dan Li Hwa, akhirnya hati Tiang Bu menjadi lemas. Tentu saja mendengar ada jalan lain, ia menjadi gembira sekali.

"Bagus sekali! Jalan apakah itu? Harap segera diberitahukan kepadaku."

"Kau pergilah ke kota raja Kerajaan Kin utara. Di sana ada seorang sahabat bernama Pangeran Wanyen Ci Lun......? kata Sin Hong yang menyambung kata-kata Li Hwa.

"Aku sudah kenal pangeran itu!"

Tiang Bu memotong. Sin Hong terkejut sekali, juga Li Hwa melengak.

"Kau...........? Sudah kenal dengan Pangeran Wanyen Ci Lun......?? "Sudah, ketika aku merantau bersama Bu Hok Lokai di kota raja. Bahkan aku ditolong oleh Pangeran Wanyen Ci Lun, akan tetapi pertemuan itu hanya sebentar."

Dengan singkat Tiang Bu menceritakan pengalaman dahulu ketika ia dirampas kembali Pat kek Sam-kui.

"Betul, dia itulah Pangeran Wanyen Ci Lun sahabat baikku atau..... masih saudara misanku sendiri.? Tiang Bu mengangguk.

"Pantas saja siok-hu serupa benar dengan dia,"

Kata pula Tiang Bu.

"Kau jumpai dia dan kau bantulah. Dia itu orang baik dan kiranya pada masa datang ini dia memerlukan bantuan seorang seperti engkau. Setelah kau membantunya mendapat kepercayaannya baru kau keluarkan isi hatimu, ceritakan siapa sebenarnya dan bahwa kau mengabdi kepadanya atas permintaanku. Kemudian kau serahkan suratku. Kiranya dia tentu akan suka membuka semua rahasia ini. Hanya satu hal yang kau harus tahu. Dia itu orang baik, dia juga tersangkut dalam rahasia ini, juga isterinya. Kau harus membela mereka itu dengan seluruh kesetiaanmu.?"

Biarpun tidak mengerti, namun Tiang Bu mengangguk-angguk dan hatinya agak lega betapapun juga, kini terbuka jalan baginya dan ia tidak membantah.

Setelah mendapat petunjuk dari Wan Sin Hong bahwa untuk membongkar rahasia riwayat hidupnya ia harus pergi ke kora raja Kin dan mengabdi kepada Pangeran Wanyen Ci Lun.

Tiang Bu merasa lega.

Biarpun dari Sin Hong sendiri ia Sin Hong yang tepat dan mengandung pelajaran tentang kegagahan, Tiang Bu merasa tunduk dan tidak berani memaksa.

Mereka bertiga, Tiang Bu, Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa, bercakap sampai jauh malam.

Bahkan setelah Li Hwa mengundurkan diri ke dalam kamar untuk mengaso, Tiang Bu masih terus diajak bercakap-cakap oleh Sin Hong.

Selain amat tertarik dan suka kepada pemuda luar biasa ini, juga Sin Hong "menjajaki"

Hatinya.

Ia sengaja memancing-mancing dalam percakapan itu untuk menjenguk isi hati dan watak pemuda kalau-kalau ada sedikit persamaan dengan ayahnya, Liok Kong Ji manusia jahat seperti iblis itu.

Namun ia merasa lega karena didengar dari kata-katanya maupun dipandang dari sinar mata dan gerak geriknya.

pemuda ini cukup "bersih".

Sebaliknya di lain fihak, Tiang Bu kagum dan makin tunduk terhadap Wan Sin Hong pendekar besar yang semenjak kecil sudah sering kali ia mendengar namanya dipuji-puji oleh ayah bundanya, yaitu Con Hong Kin dan Go Hui Lian.

Sekarang ia tahu bahwa pendekar ini memang patut dipuji.

Selain memiliki ilmu silat yang tinggi.

juga ilmu pengobatan yang luar biasa.

Di samping ini ternyata pandangannya luas, pertimbangannya masak, wataknya mencerminkan watak kesatria perkasa yang menjunjung tinggi kegagahan dan kebajikan.

Sampai malam berganti pagi dua orang ini masih duduk berhadapan bercakap-cakap.

Orang-orang dengan lweekang setinggi yang mereka miliki.

memang tidak terganggu oleh lapar, haus dan kantuk.

Mereka memiliki daya tahan yang tidak seperti manusia.

Tidak minum atau tidak tidur sepekan saja, bagi mereka bukan apa-apa.

"Wan-siok-siok. masih ada satu hal lagi yang aku ingin mengetahui. yaitu tentang anak perempuan yang ikut dengan siok-siok ke Omei-san itu. Kalau aku tak salah ingat, wajahnya seperti adikku Lee Goat."

"Memang tak salah dugaanmu, dia itu Coa Lee Goat, adikmu."

Wajah Tiang Bu berseri, matanya bersinar-sinar.

"Aduh, dia sudah besar. Ilmu silatnya lihai, dia cantik manis sekali..... Lee Goat adikku."

Tiba-tiba saja seri mukanya lenyap terganti bayangan kecewa.

"Akan tetapi...... mengapa dia menyangkal namanya ketika kutanya....?"

"Dia tidak tahu bahwa kau kakaknya yang telah meninggalkan rumah semenjak dia masih berusia dua tahun, dan memang aku melarangnya memperkenalkan nama ketika ia kuajak ke Omei-san untuk menjaga perbuatan orang jahat."

"Dia sekarang di mana siok-siok? Kenapa tidak ikut ke sini? Aku ingin sekali bicara dengan adikku....."

Kata Tiang Bu penuh rindu kepada adiknya yang amat ia sayang itu.

"Dia berada di Kim bun-to. Ketika aku mencari bibimu yang ikut pergi dengan Toat-beng Kui-bo ke sini, lebih dulu aku mengantar pulang muridku itu. Dalam perjalanan menghadapi bahaya, tentu saja aku tidak mau membawa dia."

"Aku akan pulang, aku ingin bertemu ayah bunda dan adikku!"

Suara Tiang Bu terdengar penuh keharuan ketika ia berkata demikian, seperti seorang anak anak yang sudah amat rindu akan rumahnya.

Akan tetapi ia segera dapat menguasai hatinya dan sikapnya tenang lagi ketika ia bertanya.

"Wan siok-siok, hari ini aku akan meninggalkan tempat ini. Masih ada lagi permohonanku kepadamu, yaitu ingin aku tahu dimana tempat tinggal orang orang yang telah mencuri kitab-kitab Omei-san. Aku harus datangi mereka itu seorang demi seorang untuk merampas kembali kitab-kitab suhu."

"Mereka itu siapa?"

"Yang harus kucari adalah Ang-jiu Mo-li, Thai Gu Cinjin, Tee-tok Kwan Kok Sun, Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, dan........ Liok Kong Ji?.. dan seorang tosu kaki buntung datang bersama Liok Kong Ji. Mereka semua menurut suhu telah mencuri masing-masing sebuah kitab, juga Toat-beng Kui bo yang sudah kubereskan."

Sin Hong nampak terkejut mendengar nama-nama ini, lalu menarik napas panjang.

"Hebat....... kau masih semuda ini sudah memikul tugas seberat itu. Kau malah lebih berat dari pada aku dalam hal ini. Orang-orang yang kau sebutkan namanya itu semua adalah tokoh-tokoh tingkat paling tinggi di dunia kang-ouw. Dan kau harus mencari dan melawan mereka? Setiap orang dari mereka sudah merupakan lawan yang amat lihai. Aah, Tiang Bu dengan pengalamanmu yang masih hijau, bagaimana kau mampu menghadapi mereka??"

Sin Hong benar-benar merasa gelisah apalagi kalau ia teringat akan bahaya para musuh anak itu dalam hal penggunaan senjata-senjata berbisa.

Mungkin dalam hal ilmu silat, bocah yang sudah mewarisi kepandaian dua orang sakti dari Omei-san ini akan kuat menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun.

Akan tetapi kalau orang-orang itu mempergunakan kecurangan, mempergunakan senjata rahasia yang berbisa umpamanya, bagaimana Tiang Bu akan dapat menang?

"Tiang Bu, dalam hal ilmu silat kiranya tidak ada yang dapat kuajarkan kepadamu yang melebihi apa yang sudah kaupelajari, akan tetapi kalau kau suka, aku bisa ajarkan baberapa cara pengobatan untuk menghadapi serangan-serangan lawan yang mempergunakan senjata-senjata rahasia berbisa.

Tinggallah beberapa hari di sini mempelajari dan aku akan merasa tenang dan tenteram melihat kau turun dari sini sudah membawa bekal kepandaian itu."

Memang inilah yang diharap-harapkan Tiang Bu.

Sebelum meninggal dunia, Tiong Jin Hwesio juga sudah memberi anjuran agar supata ia menjadi murid Wan Sin Hong dalam ilmu pengobatan.

Akan tetapi setelah perlakuannya yang kasar terhadap Sin Hong, Tiang Bu tidak berani membuka mulut minta diangkat murid.

Sekarang, atas kehendaknya sendiri Sin Hong hendak memberi pelajaran tentang ilmu pengobatan, serta merta Tiang Bu menjatuhkan diri berlutut.

"Atas kemurahan hati Wan.siok-siok mengangkat murid kepada siauwtit yang bodoh siauwtit merasa berterima kasih sekali............"

"Hush, bangunlah kau."

Sin Hong berkata tersenyum sambil mengangkat bangun pemuda itu.

"Di antara paman dan keponakan, mana ada aturan sungkan-sungkan? Kau tidak menjadi muridku, Tiang Bu, melainkan tetap sebagai keponakan. Asal kelak kau menjadi manusia utama dan pendekar berhati mulia, pamanmu ini sudah merasa girang dan bahagia sekali."

Demikianlah, dengan tekunnya Tiang Bu menerima petunjuk-petunjuk dari Sin Hong selama sepekan.

Sin Hong menerangkan segala yang berhubungan dengan racun yang biasanya dipergunakan oleh orang kang-ouw, juga berbagai macam pukulan yang mcngandung hawa berbisa seperti Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) yang dipergunakan oleh Tee tok Kwan kok Sun dam Liok Kong Ji atau tangan merah dari Ang.jiu Mo-li.

Kemudian ia menjelaskan satu demi satu tentang cara pengobatan kalau terkena pukulan-pukulan berbisa ini.

Tak lupa Sin Hong menerangkan tentang cara mengobati luka bekas gigitan binatang-binatang berbisa yang paling berbahaya.

Karena otak Tiang Bu memang cerdas dan ingatannya kuat, maka dalam waktu sepekan ia telah dapat menghapal semua pelajaran itu.

Namun Sin Hong masih belum puas, maka ketika Tiang Bu turun dari bukit batu karang itu, ia memberi sebuah buku catatan kepada Tiang Bu, sehingga apabila perlu dan terlupa, pemuda itu dapat mencarinya di dalam buku itu.

"Jangan kau bilang kepada siapapun juga bahwa aku dan isteriku berdiam di sini. Tiang Bu. Aku sendiripun sedang menghadapi sesuatu yang sulit, dan mudah-mudahan tidak lagi kami juga akan turun dari tempat ini, kembali ke dunia ramai,"

Pesan Sin Hong dengan suara perlahan.

Tiang Bu tidak tahu apakah kesulitan yang dihadapi oleh Sin Hong itu, akan tetapi ia berjanji akan menanti pesan paman atau gurunya itu.

Kemudian pemuda ini turun dari bukit batu karang, mulai dengan perantauannya yang akan membawa ia menghadapi berbagai macam pengalaman hebat.

Ia telah mendapat petunjuk dari Sin Hong tentang tempat kediaman orang-orang hendak dicarinya.

Menurut keterangan Sin Hong.

Ang jiu Mo-li tokoh Utara itu kini sering kali muncul di kota raja Kerajaan Kin, Liok Kong Ji dan tosu kaki buntung itu sudah tentu berada di utara di antara orang-orang Mongol dan hal ini sudah diketahui oleh Tiang Bu sendiri.

Thai Gu Cinjin adalah seorang tokoh pendeta Lama jubah merah, sudah tentu bertempat tinggal di daerah Tibet.

Tentang Kwan Kok Sun, Sin Hong sendiri tidak dapat menentukan di mana tempat tinggalnya, akan tetapi Tiang Bu pernah melihatnya di dekat kota raja Kerajaan Kin pula, bahkan gurunya, Bu Hok Lokai, juga tewas oleh Tee-tok Kwan Kok Sun ini.

Adapun Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong dan isterinya adalah tokoh-tokoh pantai timur dan tinggalnya di sekitar daerah Kiang-su, dimana surgai besar Yang ce-kiang memuntahkan airnya ke dalam laut.

Karena perjalanan Tiang Bu meninggalkan Ban-mo-tong yang berada di ujung selatan itu menuju ke utara, maka di antara orang-orang yang hendak dicarinya itu, Pek-thouw-tiau-ong Lie Kong, adalah orang yang paling dekat tempat tinggalnya, maka ke Kiang-se inilah tujuan pertama perjalanan Tiang Bu.

Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan lamanya karena Tiang Bu tidak tergesa-gesa dan melakukan perjalanan sambil melihat-lihat, pada suatu hari ia tiba di sebuah hutan kecil di luar kota Wukeng di perbatasan Propinsi Anhui dan Kiang-su.

Jalan raya kasar yang dilaluinya itu masih basah dan amat becek, tanda bahwa baru saja turun hujan.

biarpun jalannya becek, namun Tiang Bu berjalan limbat dengan hati senang.

Hawa udara amat sejuknya dan amat nyaman seperti biasa hawa sehabis turun hujan.

Apalagi di dalam hutan penuh pohon dan bunga, hawanya bersih sekali.

Tiang Bu menyedot hawa bersih itu sepuas hatinya, membikin dadanya mekar dan semangatnya segar.

Garis.garis panjang yang masih nampak baru di atas jalan itu memberitahukan bahwa belum lama sehabis hujan, di jalan itu lewat sebuah kendaraan yang ditarik kuda.

Melihat dalamnya garis-garis itu.

Tiang Bu dapat menduga bahwa kendaraannya tentu berat atau membawa muatan berat.

Siapa yang lewat berkendaraan di tempat seperti ini?

Mungkin kereta piauw kiok (Perusahaan Expedisi/pengawal Kiriman Barang), pikir Tiang Bu.

Atau pembesar.

Bodoh, pikirnya hari sebagus ini berkendaraan.

Takkan terasa hawa yang sejuk, tidak senikmat orang berjalan kaki!

Memang hati dan pikiran Tiang Bu masih murni, masih bersih sehingga ia sslalu merasa puas dengan apa yang dirasai atau dipunyainya.

Tak pernah timbul iri di dalam hatinya, karena ia memang tidak mempunyai keinginan bersenang-senang atau meniru keadaan orang lain.

Tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara derap kaki kuda dari belakang.

Dua ekor kuda, pikirnya.

Dilarikan kencang sekali.

Benar saja, tak lama kemudian terdengar bentakan.

"Minggir!"

Tiang Bu melangkah ke pinggir jalan yang cukup lebar itu, bukan takut keterjang kuda, melainkan takut pakaiannya akan kotor terkena percikan tanah becek berlumpur itu.

Ia berdiri dan memutar tubuh hendak melihat siapa gerangan penunggang-penunggang kuda itu.

Ternyata mereka adalah seorang gadis muda yang berwajah manis bertubuh ramping bersama seorang pemuda tampan dan gagah bermuka putih.

Dua orang muda-muda ini duduk di atas kuda dengan tegak dan biarpun dua ekor kuda itu lari kencang, tubuh mereka sama sekali tidak terguncang.

Kepandaian menunggang kuda seperti ini hanya dapat dilakukan oleh ahli silat-ahli silat yang berkepandaian tinggi, maka seketika hati Tiang Bu tertarik.

Pemuda itu melirik ke arah Tiang Bu sambil tersenyum memandang rendah.

sedangkan kerling mata dara berwajah manis itu membayangkan penghinaan ketika ia melihat bahwa pemuda yang mereka lewati itu hanya seorang pemuda biasa belaka.

"Moi moi, jejak mereka masih nampak jelas. Mereka belum jauh, mari kita susul cepat!"

Kata-kata ini diucapkan oleh pemuda itu ketika mereka sudah lewat agak jauh.

Tentu saja mereka tidak mengira bahwa pendengaran Tiang Bu jauh lebih tajam dari pada pendengaran orang biasa maka Tiang Bu mendengar ucapan ini.

Hatinya berdebar.

Pertama karena kata-kata itu diucapkan dengan nada mesra sekali.

Mereka begitu rukun dan cocok, pasangan yang sedap dipandang.

Otomatis Tiang Bu teringat akan Lai Fei Lan dan mukanya menjadi merah.

Celaka, pikirnya.

Satu kali bertemu gadis cantik, begitu "kasar"

Dan menantang sampai-sampai ia menjadi ngeri dan jijik.

Hal ke dua dan mendebarkan hatinya adalah isi kata-kata yang menyatakan bahwa mereka berdua agaknya berdaya-upaya keras untuk menyusuI "mereka".

Tentu dimaksudkan rombongan kendaraan yang roda-rodanya masih meninggalkan jejak nyata itu, pikirnya.

Tiang Bu makin tertarik dan cepat ia mengejar, mempergunakan ilmu lari cepatnya yang istimewa.

Akan tetapi ia sengaja tinggal di sebelah belakang mereka dan mengikuti dengan sembunyi.

Tak lama kemudian sepasang muda-mudi itu sudah dapat menyusul rombongan di depan yang terdiri dari sebuah kendaraan yang ditarik oleh empat ekor kuda dan dikawal oleh lima orang laki-laki gagah berkuda dan bergolok di pinggang.

Dari pakaian mereka, jelas bahwa mereka tentulah segolongan piauwsu (pengawal barang kiriman) yang sedang mengawal kereta itu.

Entah siapa berada di dalam kereta yang tertutup oleh sutera hijau, hanya kusir kereta itu sajayang kelihatandi depan memegang cambuk.

Di bagian depan dan belakang kereta itu terpasang dua bendera besar dengan lukisan dua ekor singa emas dan ditulis huruf emas besar.

SING KIM SAI PIAUWKIOK.

Ini berarti bahwa kereta itu beserta sekalian isinya adalah menjadi tanggung jawab atau berada di bawah perlindungan Siang-kim sai Piauwkiok (Kantor Expedisi Sepasang Singa Emas)!

Nama Siang kim-sai atau Sepasang Singa Emas sudah amat terkenal di dunia lioklim dan jarang ada penjahat berani mengganggu barang yang dilindungi oleh perusahaan ini.

Ketuanya adalah dua orang kakak beradik, yang tua berjuluk Twa kim-sai (Singa Emas Besar) bernama Yo seng dan yang ke dua berjuluk Ji kim-sai (Singa Emas ke-Dua) bernama Yo Teng.

Kidua orang saudara Yo ini adalah ahli-ahli silat di daerah Kiangsu dan kepandaian mereka tinggi sekali sehingga para penjahat tidak ada yang berani bermusuhan dengan mereka.

Apalagi Siang-kim-sai Piauwkiok telah membuat untung besar dengan usaha mereka dan kedua orang she Yo selalu membuka tangan untuk memberi sumbangan kepada tokoh-tokoh liok-lim sehingga dengan para anggota Hek-to (Jalan Hitam, Penjahat) mereka mempunyai hubungan baik.

Jarang sekali kedua kakak beradik she Yo ini mengawal sendiri.

Pekerjaan mengawal cukup mereka wakilkan kepada pembantu-pembantu dan murid-murid mereka saja.

Baru kalau terjadi halangan atau untuk urusan besar, mereka turun tangan sendiri.

Demikian pula, karena perjalanan yang dilakukan menuju ke daerah sendiri, kereta itu hanya dikawal oleh lima orang piauwsu, yang tiga orang pegawal sedangkan yang dua orang murid-murid Siang-kim-sai.

Ketika lima orang piauwsu ini mendengar suara derap kaki kuda dari belakang, mereka dengan tenang menengok dan merasa lega ketika ia lihat bahwa yang datang hanyalah sepasang muda-mudi yang agaknya sedang berpesiar untuk bersenang-senang.

"Ha, agaknya pengantin baru....."

Seorang piauwsu muda, hidungnya besar dan matanya sipit, gerak-geriknya ceriwis tanda ia mata keranjang, berkata tersenyum.

Dia ini bernama Tin Kui, murid dari Siang-kim-sai yang termuda.

Lagaknya sombong dan ia terkenal seorang yang mata keranjarg.

Para piauwsu lain hanya tersenyum.

Melihat cepatnya dua ekor kuda itu dilarikan, kusir kereta lalu memperlambat larinya kereta dan menarik kendali agar empat ekor kudanya agak ke pinggir untuk memberi jalan kepada dua orang muda-mudi itu.

Sepasang muda-mudi itu hanya melirik saja dan terus membalapkan kuda melampaui rombongan itu, tidak perduli betapa para piauwsu itu memandang ke arah si dara berwajah manis itu penuh gairah dan dengan tersenyum-senyum penuh arti.

Tiang Bu yang mengikuti dari jauh, melihat betapa dua orang penunggang kuda itu ternyata lewat begitu saja dan tidak mengganggu, menjadi malu sendiri dan memaki diri sendiri bodoh.

Mereka orang baik-baik kusangka hendak merampok, pikirnya.

Benar-benar aku masih hijau.

Akan tetapi, berbeda dengan pikiran Tiang Bu, para piauwsu yang sudah banyak pengalaman itu ketika dua ekor kuda lewat, tiba-tiba menjadi curiga sekali melihat cara dua orang muda itu menunggang kuda.

Tadi hal ini tidak mereka perhatikan karena seluruh perhatian terbetot oleh kemanisan wajah dara itu.

Baru sekarang setelah mereka tak dapat melihat wajah itu, dari belakang mereka lihat betapa dua orang muda itu duduk tegak tak bergoyang sedikitpun juga seperti patung di atas kuda.

"Hemmm, mereka memperlihatkan kepandaian menunggang kuda. Jangan-jangan mereka akan kembali..........."

Kata seorang piauwsu tua, pembantu dari Siang-kim-sai.

Baru saja ucapan ini keluar dari mulutnya, tiba-tiba dua penunggang kuda yang sudah jauh itu tahu-tahu memutar kembali kuda mereka dan menjalankan kuda itu congklang memapaki rombongan piauwsu!

Tiang Bu yang berlari di belakang rombongan itu menjadi melongo.

Kini dua orang itu telah berhadapan dengan rombongan piauwsu.

Pemuda itu mengangkat tangan kanan ke atas dan berseru, suaranya halus dan kata-katanya teratur seperti seorang terpelajar namun suara itu nyaring dan menusuk telinga, tanda diucapkan dengan pengerahan khikang yang tinggi.

"Berhenti dan buka peti berukirkan sepasang Kilin kami hendak mengambil isinya!"

Tan Kui, piauwsu muda bermata sipit itu menjadi marah. Ia majukan kudanya dan memaki.

"Kutu-buku masih ingusan apakah kau berlagak mau menjadi begal besar? Lebih baik kau kembali ke bukumu, ambil pit dan bak sebagai hukuman menulis seribu kali kalimat AKU TAKKAN MENCURI. Kalau tidak jangan salahkan tuan besarmu menyeretmu turun dari kuda!"

Pemuda bermuka putih itu tersenyum mengejek, giginya yang putih mengkilap nampak dan diam-diam Tiang Bu kagum sekali.

Pemuda muka putih ini luar biasa tampannya, bahkan lebih manis dari pada kawannya itu.

"Kadal busuk pemakan lalat, kau benar-benar bisa menyeretku? Cobalah!"

Tan Kui marah bukan main.

Dia adalah murid Siang-kim-sai dan nama Siauw-sai-cu (Mustika Singa Kecil) Tan Kui bukanlah nama sembarangan untuk daerah Kiangsu.

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 15

Baca Juga: Jodoh Rajawali 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger