Ceritasilat Novel Online

Tangan Geledek 6

Eps 6 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.

Sekarang kutu buku ini berani memakinya kadal?

Dengan suara menggereng, meniru gaya dan suara suhu-suhunya kalau marah akan tetapi gerengannya ini sumbang, ia melompat turun dari kuda dan goloknya sudah terhunus di tangan.

"Cacing buku, kau turunlah kalau minta dihajar,"

Bentaknya.

"Siapa sudi berurusan dengan segala telur busuk. Pergi dan panggil ketua rombongan,"

Kata pemuda muka putih itu.

"Setan, kau memang harus diseret!"

Tan Kui marah sekali dan melompat maju.

Piausu tua hendak mencegah namun terlambat, Tan Kui sudah di dekat pemuda muka putih itu dan tangan kirinya diulur hendak menangkap kaki pemuda itu untuk diseret turun.

Akan tetapi, bukan pemuda muka putih yang terjungkal dari kuda, melainkan Tan Kui sendiri yang tiba-tiba terlempar ke belakang jatuh gedebukan!

Masih untung bahwa tendangan kilat pemuda muka putih itu hanya membuat ia menderita benjol-benjol di kepala saja dan golok di tangannya tidak makan tuan.

Namun Tan Kui benar-benar tak tahu diri.

Ia meringis kesakitan lalu timbul marahnya.

Sambil memaki-maki kotor ia melompat lagi, kini goloknya diayun untuk menyerang pemuda muka putih yang tadi telah menendangnya.

Pemuda itu dengan seuyum mengejek tak meninggalkan bibir, dengan amat tenangnya menggerakan kakinya memapaki golok yang datang menyambar dan....

begitu golok bertemu dengan ujung sepatu, golok terpental membalik dan menyambar leher pemegangnya!

Tan Kui menjerit dan miringkan leher, namun ujung golok yang dipegangnya sendiri tetap saja menghajar pundaknya.

Sebagian daging pundak sapat darah membanjir.

Tubuh Tan Kui sempoyongan ketika ia menjauhkan diri dari pemuda lihai itu, mendekati piauwsu-piauwsu lainnya dengan muka jerih.

"Hi hi hi, cici, kenapa tidak kau pencet mampus saja kadal itu? Terlalu enak kepalanya yang dogol itu masih dibiarkan menempel di lehernya!"

Kata gadis berwajah manis itu kepada "pemuda"

Muka putih.

Para piauwsu memandang heran.

Kiranya pemuda muka putih itu adalah seorang gadis yang menyamar dalam pakaian pria.

Juga Tiang Bu dari tempat persembunyiannya diam-diam menampar kepalanya sendiri.

Tiga kali tolol, pikirnya.

Mataku sungguh tidak ada gunanya, sampai gadis berpakaian pria saja tidak tahu.

Pantas saja dia begitu manis, lebih dari kawannya.

Kepandaiannya hebat juga, memapaki golok orang dengan ujung kaki menendang dan sekaligus menotok pergelangan tangan, benar benar bukan gerakan main-main yang mudah dilakukan.

Diam-diam Tiang Bu kagum dan melanjutkan pengintaiannya penuh perhatian.

Sementara itu, piauwsu tua yang menjadi kepala rombongan sudah melompat turun dari kudanya dan menghampiri dua orang gadis itu sambil menjura dengan sikap hormat.

"Jiwi-lihiap, harap maafkan apabila seorang kawan kami berlaku lancang. Dia sudah menerima pelajaran jiwi, selanjutnya sudah tidak ada urusan apa-ap, lagi. Sapanjang ingatanku kami dari Siang-kim sai Piauw-kiok tidak pernah ada urusan dengan jiwi. Lihiap, mengapa hari ini jiwi mengganggu kami? Harap jiwi melihat bendera kami dan selanjutnya tidak mengganggu kami yang sedang menjalankan tugas penting. Tentu kelak dua orang ketua kami akan berterima kasih sekali."

Terang bahwa piauwsu tua ini bersikap amat merendah, hal yang aneh dan luar biasa bagi sikap piauwsu dari Siang-kim-sai Piauw-kiok yang biasanya tidak gentar menghadapi penjahat yang besar manapun, ini menandakan bahwa piauwsu tua itu memiliki pandangan yang awas dan bahwa dia sudah banyak pengalaman.

Memang betul demikian karena Lu Tiang Sek, piauwsu pembantu atau tangan kanan Siang-kim-sai itu adalah seorang piauw-su yang sudah puluhan tahun melakukan pekerjaan piauwsu.

Tadi melihat cara gadis berpakaian pria itu menghalau serangan golok Tan Kui, tahulah dia bahwa, gadis itu memiliki kepandaian tinggi.

Pula ia tahu bahwa dua orang gadis itu tentu bukan bangsa perampok sembarangan, karena selain ia tak pernah melihatnya, juga sikap mereka bukan seperti penjahat-penjahat biasa.

Inilah sebabnya ia sengaja merendah dan mempergunakan nama besar Siang-kim-sai Piauwkiok untuk mencegah terjadinya bentrokan.

Gadis berwajah manis itu tersenyum mendengar kata-kata Lu Tiang Sek.

Sambil mengincar ke arah kereta, tangan kirinya bergerak secara beruntun dua kali.

"Krak.! Krak!"

Tiang bendera di depan dan belakang kereta itu patah terkena sambaran dua batang piauw yang dilepaskan olehnya.

"Segala bendera begituan siapakah yang memandang? Kami tidak berurusan dengan Siang-kim-Sai (Sepasang Singa Emas) maupun Siang-thu-kauw (Sepasang Monyet Lempung), pendeknya turunkan peti berukir sepasang Kilin dan keluarkan isinya untuk kami bawa. Habis perkara!"

Kata pula gadis manis itu, sedangkan gadis berpakatn pria hanya tersenyum manis melihat lagak adiknya.

Baru timbul kemarahan Lu Tiang Sek.

Kalau tadi ia sengaja merendah dan mengalah, bukan sekali-kali ia gentar menghadapi dua orang lawan ini, melainkan tidak menghendaki pertempuran dalam menuaikan tugas yang penting ini.

Ia dan kawan-kawannya mengawal kereta yang amat berharga, karena kereta dan isinya ini adalah barang-barang pembesar tinggi dari utara yang kini pulang ke selatan.

Pembesar itu tadinya bekerja di Kerajaan Kin dan menduduki pangkat pembantu menteri, kini pulang ke tempat asalnya, yaitu di kota Wukeng.

Barang barangnya banyak sekali, akan tetapi yang paling penting dan berharga adalah barang yang dikawal sekarang ini.

Kwee-taijin, pembesar itu, berkali-kali memesan agar supaya para piauwsu hati-hati dalam mengawal barang-barang berharga itu, terdiri dari empat buah peti besar, di antaranya sebuah peti yang tidak berapa besar, berukir sepasang Kilin.

"Bocah-bocah perempuan lancang mulut lancang tangan! Kami sudah berlaku sabar dan mengalah, mengapa kalian kurang ajar bahkan berani mematahkan tiang bendera? Kalian boleh belajar merampok sesukanya akan tetapi jangan kalian sekali-kali berani mengganggu barang yang dilindungi oleh Siang-kim Piauw-kiok!"

Sambil berkata demikian, piauwsu tua ini mencabut golok dan berdiri tegak dengan sepasang kaki terpentang di atas tanah, menghadapi dua orang gadis itu.

Tiga orang kawannya juga mencabut golok dan melompat turun dari kuda.

Hanya Tan Kui seorang yang tidak dapat ikut bersiap karena sudah terluka.

Dia hanya mengurus kuda-kuda yang ditinggalkan penunggang masing-masing.

Gadis berpakaian pria itu menoleh kepada adiknya sambil tersenyum dan berkata.

"Moi-moi, empat ekor kadal ini agaknya belum mau menyerah kalau belum dipotong ekornya. Kaujaga saja supaya kereta itu tidak kabur."

Setelah berkata demikian, dengan gerakan lincah dan gesit sekali gadis itu melompat turun dari kudanya.

Ternyata sekarang tubuhnya tinggi langsing ketika ia berdiri di atas tanah, gerakannya lemah gemulai namun cepat sekali sehingga tak seorangpun di antara empat orang piauwsu itu melihat kapan dan bagaimana pedang yang berkilauan putih mengkilap telah terada di tangannya.

Lu Tiang Sek maklum bahwa ia menghadapi lawan pandai, maka ia tidak malu-malu lagi dan berseru keras.

"Robohkan dia!"

Memang bagi kawanan piauwsu dalam menjalankan tugas, jika menghadapi gangguan penjahat tak perlu mereka sungkan-sungkan untuk mengeroyok, karena pertempuran seperti ini lain lagi halnya dengan misalnya pertempuran pibu (mengukur kepandaian masing-masing) di mana orang kang-ouw biasanya amat sportip, tidak mau mengeroyok dan tidak mau berlaku curang.

Akan tatapi, biarpun dikeroyok empat orang piauwsu yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, gadis berpakaian pria itu sama sekali tidak menjadi sibuk.

Dengan pedangnya yang bersinar perak, ia bergerak dan tahu-tahu pedangnya menyambar ke kanan kiri diikuti bentaknya yang nyaring berpengaruh "Roboh...........!"

Hebat bukan main ilmu pedang nona ini.

Dalam segebrakan saja ia telah menyerang empat orang lawannya, masing-masing dengan tusukan atau sabetan yang amat berbahaya.

Segera terdengar pekik kaget dan kesakitan.

Ternyata yang menangkis serangan ini merasa tangannya tergetar, hanya Lu-piauwsu seorang yang dapat mengimbangi tenaga nona itu.

Yang dua orang tergetar dan mundur sedangkan yang termuda, suheng dari Tan Kui, terhuyung-huyung sambil memegangi lengannya yang terluka dan hampir putus!

"Hati-hati, bantu saja aku,"

Seru Lu-Tiang Sek sambil memutar goloknya dengan pengerahan tenaga dan kepandaian, karena maklum bahwa lawan ini biarpun seorang gadis muda namun memiliki kiamsut yang lihai sekali.

Dua orang kawannya membantunya dari kanan kiri dan berlaku hati-hati sekali, hanya membantu gerakan yang disesuaikan dengan penyerangan Lu Tiang Sek sehingga setiap serangan Lu-piauwsu menjadi makin hebat dan setiap serangan gadis itu dapat dihadapi atau ditangkis oleh tiga batang golok.

Dengan cara demikian untuk sementara mereka dapat menahan gadis berpakaian pria itu.

Kusir kereta yang melihat bahwa kawan-kawannya terancam, segera mengangkat cambuk dan memukul kudanya.

Empat ekor kuda itu hendak dibalapkan untuk menyelamatkan kereta berisi barang-barang.

Akan tetapi baru saja cambuknya terangkat ia menjerit dan terjungkal roboh dari atas kereta, pundaknya ditembusi sebatang piauw yang dilepas oleh gadis berwajah manis sambil tertawa cekikikan.

Kembali seorang pengeroyok roboh tercium ujung pedang, kena pahanya membuat ia tak dapat berdiri lagi.

Lu Tiang Sek marah dan khawatir sekali.

Ia memutar golok sehebatnya, namun sia-sia, dengan tusukan indah gerakannya, seorang lagi kawannya terjungkal dengan lutut terlepas sambungannya karena tendangan nona itu.

"Tahan dulu!"

Seru Lu Tiang Sek yang merasa bahwa ia takkan menang. Sebelumnya dikalahkan ia harus tahu dulu siapa adanya dua orang lawannya itu dan mengapa hendak merampok.

"Tahan senjata!"

"Piauwsu tua, apakah sekarang kau takluk?"

Tanya gadis berpakaian pria itu dengan senyum sindir, pedangnya dipalangkan di depan dada.

"Aku Lu Tiang Sek bukan orang yang biasanya menyerah sebelum kalah,"

Bantah piauw-su itu dengan muka marah.

"aku hanya ingin tahu siapakah kalian ini dan mengapa kalian memusuhi kami!"

"Lu-piauwsu, sebenarnya tidak ada perlunya kami memperkenalkan nama. Akan tetapi oleh karena aku tidak ingin kaubilang kami takut kepada Siang-kim-sai, kauketahui bahwa kami adalah anak dari Huang-ho Sian-jin dan kami membutuhkan isi peti berukir Kilin."

"Mengapa kalian ini anak-anak dari seorang tokoh besar seperti Huang-ho Sian-jin hendak menjadi perampok?"

Tanya Lu Tian Sek, kaget dan heran mendengar bahwa ia berhadapan dengan puteri-puteri Huang-ho Sian-jin (Dewa Sungai Huangho) yang amat terkenal sebagai datuk bajak sungai.

Gadis berpakaian pria itu tertawa, manis sekali.

"Ketahuilah, piauwsu yang hanya bekerja untuk uang. Benda-benda ini adalah hasil korupsi dan hasil curian dari pembesar jahanam she Kwee itu. Setelah berhenti dari jabatannya, ia membawa barang-barang itu pulang ke tempat asalnya. Oleh karena itu, sepatutnya kalau kami mengambil barang yang paling berharga agar dia jangan enak-enak saja merampoki harta kekayaan rakyat utara."

Lu Tiang Sek meringis.

"Kami hanya piauw su yang melakukan tugas, Mena kami tahu asal usul barang orang? Kalau kami tidak melindungi barang-barang yang kami kawal, itu baru berarti kami tidak patut menjadi piauwsu. Jiwi lihiap, kalau mau memandang persahabatan, harap jangan mengambil barang itu sekarang. Nanti kalau sudah kami antarkan ke rumah Kwee-taiijin. masa bodoh kalau jiwi mau ambil apa saja."

"Cih, aku disuruh memandang mukamu"

Piauwsu kampungan, jangan banyak cerewet. Kauberikan tidak peti itu?"

"Lebih dulu Lu Tiang Sek harus dapat kau robohkan!"

Jawab piauwsu tua itu gagah.

"Bagus, kan rebahlah!"

Gadis itu menyerang dengan hebatnya.

Pedang di tangannya bergerak seperti ular dan ujungnya sampai tergetar menjadi empat lima buah, melakukan serangan-serangan yang sukar diduga ke mana arahnya dan gerakan pedang itu mengeluarkan sinar gemerlapan menyilaukan mata.

Lu Tiang Sek mengangkat golok menangkis sekuat tenaga.

"Tringg...........! Tringg...........!"

Dua kali goloknya dapat menangkis, namun pedang itu selaIn berpindah-pindah, begitu ditangkis, begitu melejit untuk melakukan serangan selanjutnya dengan ujung pelang yang lain arahnya, membuat pauwsu tua itu bingung dan tahu-tahu ujung pedang lawan menancap pundaknya.

Lu Tiang Sek terjungkal dan pingsan.

"Moi-moi, lekas kita bongkar peti...,"

Kata wanita gagah itu kepada adiknya, tetapi dia dan adiknya tiba-tiba menjadi kaget ketika melihat kereta itu bergerak maju dan di tempat duduk kusir tadi kini sudah ada orangnya.

Ketika mereka memandang, ternyata bahwa "kusir"

Istimewa ini bukan lain adalah pemuda yang tadi mereka lewati di tengah jalan.

"Bocah gunung, kau menggelundunglah turun!"

Seru gadis berwajah manis sambil mengayun tangannya, Sebatang piauw menyambar dan tepat mengenai dada kusir itu.

Si dara manis sudah tersenyum-senyum menanti pemuda itu terjungkal dari atas kereta, dan bersama cicinya ia melompat-lompat menghampiri kereta.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika melihat pemuda itu tidak jatuh terjungkal, malah kereta itu mulai bergerak cepat ditarik oleh empat ekor kuda.

"Kurang ajar, kau mesih belum menggelundung turun?"

Gadis manis itu berseru marah dan heran.

Apakah sambitannya tadi luput?

Mustahil, jelas ia lihat piauw yang ia sambitkan tadi mengenai dada pemuda itu.

Mengapa tidak terjungkal ke bawah?

Apakah..........

tahu-tahu piauwnya telah mencabut nyawa pemuda itu dan membuat ia mati di tempatnya?

Demikian pikir gadis itu sambil lari mengejar.

Setelah dekat, gadis itu mengayun tubuhnya loncat ke atas kereta, ke tempat duduk kusir.

Adapun cicinya, gadis yang berpakaian pria tadi dengan gerakan yang amat gesit telah melompat ke dalam kereta melalui pintu sutera.

Ketika gadis yang muda melompat ke atas kereta, tiba-tiba pemuda kusir yang bukan lain adalah Tiang Bu itu, mengayun cambuk di tangannya.

"Tarr..........!"

Dan betapapun gesitnya, gadis itu tidak dapat menghindarkan cambukan ini.

"Bret"..........!"

Pakaiannya di sekitar pinggang robek dan kulit pinggangnya lecet-lecet. Biarpun (Lanjut ke

Jilid 16) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16 hanya cambuk, namun di tangan Tiang Bu merupakan senjata hebat sekali.

Gadis itu saking kaget melihat kusir itu masih hidup dan sakit terkena cambukan, tak dapat menguasai dirinya dan terbanting ke bawah, justeru tepat sekali di atas Tiang Bu!

Kalau yang jatuh itu laki-laki, tentu akan disampok oleh Tiang Bu.

Akan tetapi mengingat bahwa yang jatuh adalah seorang gadis masih muda, Tiang Bu tidak tega membiarkan gadis itu terbanting roboh.

mungkin binasa terbanting dari tempat tinggi itu dalam keadaan setengah pingsan.

Terpaksa ia menyambut dengan tangannya dan...........

karena gadis itu masih dapat memberontak, tanpa dapat dicegah lagi dan tanpa disengaja gadis itu rebah di atas pangkuannya!

"Kau.........

manusia keparat, kurang ajar, tak tahu aturan......!"

Gadis itu menjadi lemas dan pingsan!

Dapat dibayangkan betapa terguncang perasaannya ketika gadis itu mendapatkan dirinya sudah berada di atas pangkuan pemuda itu dan??.

sebagian pakaiannya robek-robek di bagian pinggang.

Saking heran, marah, dan malu tercampar rasa sakit dan kaget.

ia menjadi pingsan.

Karuan saja Tian Bu yang gelagapan.

Kalau gadis itu tidak pingsan, biarpun ia sendiri merasa malu dan jengah tahu-tahu memangku seorang gadis namun ia dapat mendorong gadis itu di atas bangku kereta di sisinya atau dapat melemparkan gadis itu ke bawah.

Akan tetapi dalam keadaan pingsan, tak mungkin ia melakukan hal itu karena gadis itu tentu akan terlempar jatuh dan berbahaya sekali keselamatannya.

Terpaksa ia menarik kendali kudanya dan menyuruh binatang-binatang berhenti.

Setelah itu baru ia melompat turun dengan tubuh gadis yang pingsan itu dalam pondongannya.

Baru saja ia menurunkan gadis itu di atas tanah dan mukanya menjadi merah sekali melihat betapa pakaian gadis itu tidak karuan letaknya karena bagian pinggangnya sudah putus, tiba-tiba terdengar bentakan.

"Manusia hina, kau apakan adikku?"

Tiang Bu merasa ada sambaran angin.

Dengan cepat ia mengelak dan tangannya menyampok.

Terdengar seruan kaget dan gadis berpakaian pria yang menyerangnya meloncat ke belakang dengan muka berubah.

Sampokan tangan Tiang Bu pada pedangnya membuat pedang itu hampir terlepas dari pegangan.

Hal ini belum pernah ia alami!

Saking kaget dan herannya, gadis berpakaian pria ini berdiri melongo.

Tiang Bu tersenyum.

"Kau tak usah bingung. Adikmu tidak apa-apa dan akupun tidak berbuat apa-apa. Tadi dia menyambit batang piauw kepada dadaku dan aku membalas hadiahnya itu dengan sekali cambukan pada pinggangnya. Eh, tahu-tahu dia pingsan di atas kereta, terpaksa kuturunkan."

Gadis itu cepat membungkuk dan memeriksa adiknya.

Hatinya lega mendapatkan adiknya tidak terluka dan benar saja hanya lecet-lecet sedikit di bagian yang terlibat cambuk.

Sekali ia mengurut leher adiknya nona itu siuman kembali dan begitu siuman melihat Tiang Bu berdiri tak jauh dari situ, ia melompat marah.

"Moi-moi?? hati-hati pakaianmu........!"

Seru cicinya dan gadis manis yang galak itu cepat-cepat memegangi pakaiannya yang hampir saja merosot turun karena tidak ada ikat pinggangnya lagi!

Tiang Bu menahan ketawanya menutupi mulutnya dan membelakangi gadis itu agar jangan kelihatan olehnya kalau-kalau pakaian itu betul-betul akan kedodoran.

"Cici, kau balaskan aku. Monyet itu kurang ajar sekali. Dia mencambuk pinggangku!"

"Moi-moi apa benar kau tadi menyerang dadanya dengan piauw?"

"Betul, kukira sudah mampus, tidak tahunya belum. Cici lekas kauserang dia dengan pedangmu!"

"Tidak ada waktu, mot-moi. Mari kita pergi!"

"Bagus, memang lebih baik kalian pergi, jangan masih begitu muda-muda sudah menjadi rampok. Kalau kelihatan orang kan malu!"

Kata Tiang Bu sambil membalikkan tubuhnya lagi menghadap enci dan adik yang istimewa ini.

"Cici, hatiku sakit sekali olehnya. Aku akan mati penasaran kalau kau belum membalaskan sakit hatiku!"

Lagi-lagi gadis manis itu merajuk, kini dengan mulut hampir mewek.

"Biar lain kali kita mencari dia, moi-moi. Sahabat, siapakah namamu agar lain kali kami dapat mencarimu untuk membikin perhitungan!"

Tanya gadis cantik berpakaian pria. Tiang Bu menjura.

"Namaku Tiang Bu kalian siapakah?"

"Cih, tak tahu malu?"

Gadis berwajah manis itu menyemprot.

"Tanya-tanya nama gadis mau apakah? Laki-laki ceriwis, Mari pergi, cici!"

Dengan tangan kiri memegang pakaian di bagian pinggang supaya tidak melorot dan tangan kanan menarik tangan cicinya, gadis ini pergi dengan bersungut-sungut.

Encinya diam saja dan bahkan membawa adiknya ke tempat kuda mereka berada.

"Tidak memberi tahu juga baik."

Tiang Bu mengomel.

"Selanjutnya aku akan menyebut kalian enci dan adik tukang rampok!"

Kani gadis ayu berpakaian pria itu berhenti dan menoleh. Senyum dan kerlingan manis sekali.

"Saudara Tiang Bu, namaku Pek Lian dan adikku ini Ang Lian."

Setelah berkata demikian, ia mengajak adiknya melompat ke atas kuda dan di lain saat dua ekor kuda itu membedal cepat sekali pergi dari situ.

Tiang Bu melihat mereka membawa empat buah bungkusan kecil, akan tetapi ia tidak tahu dan juga tidak perduli.

Ang Lian berarti Teratai Merah dan Pek Lian berarti Teratai Putih.

Nama-nama yang bagus, seperti orangnya akan tetapi betul-betulkah itu nama mereka?

Mengapa tidak pakai she?

Tiba-tiba Tiang Bu teringat akan nama sendiri yang di perkenalkan tanpa she pula.

Ia tersenyum.

Mudah saja diingat, dua orang gadis itu adalah puteri dari seorang tokoh besar berjuluk Huang-ho Sian-jin.

Ia lalu meruntun kuda-kuda yang menarik kereta itu, dibawa kembali ke tempat pertempuran tadi, Lu Tiang Sek dan kawan kawannya yang sudah siuman dan tadinya bingung sekali, menjadi girang bukan main melihat kereta mereka dituntun kembali oleh seorang pemuda tanggung yang tidak mereka kenal.

"Nih, terima kembali keretamu,? kata Tiang Bu.

"Baiknya aku kenal dua orang gadis itu dan aku berhasil membujuk mereka mengembalikan kereta dan isinya. Mereka itu tidak bermaksud jahat, hanya ingin main-main belaka."

Ia tertawa. Lu Tiang Sek terheran-heran, akan tetapi cepat menjura menghaturkan terima kasih menanyakan nama pemuda ini. Tiang Bu tidak mau menyebutkan namanya.

"Untuk apa namaku? Tidak perlu diketahui. Asal kalian menerima kembali kereta, cukup kan?"

Lu Tiang Sek menyingkap tirai sutera dan ia mengeluarkan keruan kaget.

"Celaka! Peti sepasang Kilin titipan Pangeran Wanyen Ci Lun telah dibongkar dan isinya lenyap!"

Seruan ini membuat Tiang Bu kaget setengah mati. Bukan kaget karena hilangnya benda itu, akan tetapi terutama sekali kaget mendengar disebutnya nama Pangeran Wanyen Ci Lun.

"Apa kau bilang? Siapa punya yang hilang?"

"Sahabat, kaulihat sendirilah,"

Kata Lu Tiang Sek sambil membuka tirai. Betul saja sebuah peti hitam yang indah, berukirkan sepasang Kilin di atas tutupnya, telah terbuka dan isinya lenyap.

"Peti ini menurut keterangan Kwee-taijin adalah titipan Wanyen Ci Lun maka harus dijaga sangat hati-hati. Celakanya, sekarang lenyap!"

Ia membanting-banting kaki.

"Tentu mereka yang ambil....."

Kata Tiang Bu perlahan, masih bingung karena bagaimana Pangeran Wanyen Ci Lun bisa menitipkan sebuah peti berisi barang barang berharga pada pembesar she Kwee itu?

Sementara itu, Lu Tiang Sek dan kawan-kawannya memandang kepada Tiang Bu dengan mata penuh arti, juga mereka mulai mengurungnya.

"Sahabat muda, kau tadi bilang kenal baik dengan mereka?"

"Ya, habis mengapa?"

"Kalau kau kenal baik berarti kan sudah bersekongkol dengan mereka untuk mencuri isi peti itu. Ha, kau adalah pembantu mereka!"

"Ngaco! Gila! Aku bukan apa-apanya dan aku tidak turut mengambil barang. Sungguh mati aku tidak pernah mengira bahwa mereka sudah mengambil barang dari dalam kereta. Kalau aku tahu........... hemm, tentu kuminta barang itu kembali."

"Siapa namamu? Kami harus menangkapmu sebagai saksi..........."

Kata Lu Tiang Sek. Akan tetapi, berkelebat pemuda itu telah melompat jauh dari tempat itu, hanya terdengar suaranya meninggalkan pesan. ?Kalian cari sendiri, aku tidak bersekongkol dengan mereka!"

Tiang Bu cepat sekali mengejar dua orang gadis yang telah lama melarikan diri menunggang kuda tadi.

Kini teringatlah Tiang Bu akan bungkusan bungkusan yang dibawa oleh dua orang gadis itu.

Mengapa ia begitu bodoh?

Ketika ia sedang menghadapi gadis yang menyerargnya di atas kereta, tentu gadis ke dua, yang berpakaian pria dan lebih tinggi kepandaiannya, mempergunakan kesempatan itu untuk memasuki kereta dan membuka peti mengambil isinya.

Dan isi peti itu milik Pangeran Wanyen Ci Lun Ia harus mendapatkannya kembali.

Inilah pembuka jalan baginya untuk menghadap pangeran itu.

Hari telah malam ketika ia tiba di kota Wukeng.

Dari penyelidikannya ia tahu bahwa, dua orang gadis yang dikejarnya itu bermalam di sebuah rumah penginapan di kota ini.

Cepat ia melakukan penyelidikan dan akhirnya ia melihat bahwa dua orang gadis itu bermalam di Hotel "Peng An Likoan".

Hatinya menjadi lega dan dia sendiri bermalam di sebuah kelenteng yang mempunyai ruang depan lebar dan hwesio hwesionya ramah.

Menjelang tengah malam, dengan kepandaiannya yang tinggi, Tiang Bu pergi dari kelenteng itu tanpa diketahui oleh siapapun.

Ia melompat ke atas genteng dan berlari-lari tanpa mengeluarkan suara menuju ke Hotel Peng An.

Siang tadi ia telah menyelidiki dari pelayan Hotel Peng An bahwa dua orang gadis itu bermalam di kamar bagian belakang.

Dengan tubuh ringan Tiang Bu menuju ke bagian ini.

Alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kamar dua orang gadis itu masih terang, lampu di dalamnya belum dipadamkan.

Ketika ia mengintai, ternyata dua orang itu dengan pakaian masih seperti siang tadi, duduk bercakap-cakap di dalam kamar, agaknya memang tidak akan tidur malam itu.

"Cici, aku ingin sekali melihat semua isi kantong-kantong ini...."

Terdengar Ang Lian berkata perlahan.

"Hush, untuk apa? Paling-paling isinya seperti yang kita lihat di kantong pertama tadi, emas dan batu permata. Ayah memang menduga tepat. Orang-orang macam pembesar Kwee itu, setelah mengundurkan diri dari jabatannya, pasti sudah mengumpullan banyak harta, hasil pemerasan dari rakyat jelata. Kita harus hati-hati, moi-moi. Siapa tahu kalau-kalau orang dari Siang-kim-sai Piauw-kiok akan datang mengejar dan merampas kembali kantong-kantong ini."

"Aaah, tikus-tikus macam itu mana berani. Andaikata beranipun, perlu apa dikhawatirkan. Mereka itu hanya gentong-gentong kosong. Paling-paling yang berani mengejar hanya si pemuda hidung pesek bibir tebal seperti monyet hitam itu.........."

"Hush, moi-moi. Kau benar-benar lancang mulut. Kulihat pemuda itu bukan orang sembarargan, dia tentu murid orang sakti, aku mempunyai dugaan bahwa dia itu biarpun kelihatan sederhana tentu seorang pendekar besar........"

Mendengar ucapan Pek Lian ini, hati Tiang Bu berdebar, mukanya menjadi panas dan tentu berwarna merah sekali kalau saja kelihatan. Ang Lian tertawa cekikikan.

"Hi hi hi agaknya cici tertarik hati kepadanya, ya? Awas, kuberi tahu pada ayah nanti......"

"Kurang ajar, mulutmu benar jahat! Awas kau, sekali lagi bicara begitu, kucubit bibirmu!"

"Ampun, cici aku cuma main-main. Orang secantik engkau mana sudi dengan pemuda muka monyet itu? Eh, cici, bunglutan yang satu ini agak lain, lebih ringan akan tetapi dari sini mengeluarkan bau harum yang aneh. Aku ingin melihat isinya."

Setelah berkata demikian, Ang Lian membuka ikatan mulut bungkusan itu.

Kini perhatian Tiang Bu dicurahkan ke bawah lubang kecil dari mana mengintai.

Bungkusan itu dibuka dan terdengar seruan heran dari dua orang gadis itu.

Tiba-tiba terdengar suara.

"kok! kok! kok!"

Yang keras sekali.

"Cici, cepuk ini ada kodoknya!"

"Moi moi, cepat tutup kembali......! Awas jangan sampai ia terlepas!"

"Gila betul, mengapa kodok saja disimpan? Dan dalam cepuk emas berukir begini indah?"

"Moi-moi, apa kau lupa akan cerita aneh? Di dalam istana kaisar terdapat banyak barang-barang pusaka. Kalau aku tidak salah ingat, katak macam ini tentulah seekor di antara banatang-binatang ajaib yang dapat dipergunakan sebagai obat mempunyai khasiat luar biasa lain, entah apa khasiatnya. Binatang seperti ini tentu jauh lebih berharga dari pada semua barang permata atau emas."

"Dan ini, apakah ini........? Eh, eh, eh, mengapa tanganku terbetot........!"

Ang Lian memegang sebuah benda hitam di tangan kanan yang nampaknya berat biarpun besarnya hanya seperti kepalan tangan orang.

Ia menarik-narik tangan kirinya yang terbetot ke tangan kanan, akhirnya terdengar suara "ting!"

Dan gelang di tangan kirinya terbetot dan nempel pada benda hitam itu.

"Hebat, ini tentu besi sembrani seperti yang sering kali disebut-sebut oleh ayah! Moi-moi, dalam kantong ini terisi benda-benda ajaib yang jauh lebih berharga dari pada kantong kantong lain. Lekas kita tutup kembali. Aduh, ayah pasti akan girang sekali melihat serous popwee (jimat) ini!"

Kemudian enci dan adik ini berjaga terus sambil bercakap-cakap lirih.

Tiang Bu manjadi serba salah.

Ingin turun tangan merampas kantong-kantong itu, tentu akan menimbulkan keributan.

Maka iapun menanti saja.

Menjelang pagi, dua orang gadis itu meninggalkan kamar dengan jalan melompati jendela, terus menuju ke kandang kuda.

Tiang Bu maklum bahwa mereka tentu akan pergi pagi-pagi sebelum orang-orang lain bangun.

Benar saja, tak lama kemudian dua oran gadis itu melarikan kuda mereka keluar kota menuju ke utara.

Masing-masing membuwa dua buah kantong yang dijadikan satu dengan sambungan tali panjang dan tali ini digantungkan di pundak sehingga dua buah kantong itu tergantung di depan dan belakang.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya dua orang gadis ini ketika tiba-tiba sesosok bayangan hitam yang gesit sekali muncul di depan mereka.

Sekali menggerakkan kedua tangannya dua ekor kuda tunggangan mereka meringkik dan ketakutan berdiri di atas kedua kaki belakang.

Tentu saja dua orang gadis itu menjadi kaget dan cepat menekan kuda mereka.

Lapat-lapat mereka melihat pemuda yang bernama Tiang Bu itu sudah bergerak ke arah mereka dan di lain saat bungkusan-bungkusan itu telah direnggut dari pundak mereka!

Perbuatan ini dilakukan cepat sekali dan pada saat mereka sedang sibuk menguasai kembali kuda mereka maka tidak sempat mencegah.

Ketika mereka berseru kaget, pemuda itu telah lari cepat ke utara!

"Maling busuk bertenti kau!"

Teriak Ang Lian marah sekali dan dua tangannya diayun.

"Serr...........! Serr...........!"

Dua batang piauw menyambar ke arah punggung Tiang Bu.

"Plak-plak"

Dua batang piauw itu mengenai punggung lalu runtuh ke bawah seperti mengenai karet saja pemuda itu berlari terus seakan-akan tidak merasa bahwa punggungnya dihantam senjata gelap.

Tentu saja Pek Lian dan Ang Lian tidak membiarkan pemuda itu lari menggondol kantong-kantong mereka, cepat mereka mengeprak kuda dan membalapkan kuda tunggangan mengejar.

Namun, ginkang dan ilmu lari cepat Tiang Bu sudah demikian hebatnya sehingga kuda-kuda itupun tak mampu menyusulnya.

Ilmu lari cepat yang dipelajari oleh Tiang Bu adalah ilmu lari yang luar biasa, kesaktian yang diturunkan oleh Tat Mo Couwsu sendiri.

Hanya sayangnya Tiang Bu belum lama mempelajarinya sehingga yang sudah ia miliki hanya paling banyak enam bagian saja.

Seandainya ia sudah memiliki sepuluh bagian atau seluruhnya, kiranya kecepatan kuda-kuda istimewa dari utara sekali pun belum dapat menyusulnya.

Sampai hari terang tanah, dua ekor kuda itu mnsih membalap mengejar terus.

Akan tapi Tiang Bu juga tak dapat meninggalkan kejaran itu.

Memang ia setengah mempermainkan dan berlari seenaknya.

"Orang yang bernama Tiang Bu!"

Tiba-tiba terdengar suara Pek Lian.

"Kalau kau memang laki-laki sejati, jangan main lari. Mari kita mengadu kepandaian sampai seribu jurus!"

Mendengar ini, Tiang Bu tertawa ia menghentikan larinya, membalikkan tubuh menanti datangnya dua dara itu sambil tersenyum.

Dua orang gadis itu melompat turun dari kuda dan sambil berlompat-lompatan menghampirinya, Ang Lian menjadi merah mukanya seperti namanya, cicinya marah akan tetapi, hanya kelihatan dari sinar matanya saja.

"Tentu saja aku laki-laki sejati karena bukan seorang wanita yang menyaru laki-laki,"

Kata Tiang Bu sambil memandang kepada Pek Lian.

Entah mengapa.

Tiang Bu merasa senang sekali menggoda wanita, perasaan suka menggoda ini datang dari dalam dirinya tanpa dapat ditahan atau dicegahpula.

Ia mempunyai perasaan suka mempermainkan atau menggoda wanita, sungguhpun hati nuraninya membatasi dirinya dalam godaanini, dan karenanya ia tidak sudi mempergunakan kata-kata yang tidak sopan.

Ia menggoda hanya karena dorongan hati bukan menggoda dengan maksud-maksud yang kotor.

Mendengar kata-kata Tiang Bu itu, Pek Lian menjadi tertegun dan merah mukanya.

Manis benar gadis ini ketika dengan malu-malu ia menunduk dan menyapu pakaian sendiri dengan lirikannya.

Di lain fihak, Ang Lian sudah tak dapat menahan marahnya.

Sambil menudingkan pedangnya ke arah hidung Tiang Bu, ia menyemprot.

"Monyet hitam, kau cengar-cengir menggoda cici benar-benar sudah bosan hidup! Hayo serahkan empat bungkusan itu berikut kepalamu!"

Sambil terkata demikian, Ang Lian mengayun pedangnya melakukan serangan kilat.

"Hayaaa......!"

Sambil tertawa-tawa Tiang Bu mengelak ke kiri sehingga pedang itu berkelebat di pinggir tubuhnya.

"Galak amat! Kau ini bocah perempuan berani main-main pedang tajam, apa tidak takut, nanti mengenai baju sendiri sehingga robek?"

Ang Lian menjadi makin merah mukanya karena godaan ini mengingatkan ia akan pengalamannya di hari kemarin, betapa pakaiannya sampai kedodoran, bahkan ia sampai terjatuh ke dalam pangkuan pemuda ini.

"Tikus sawah, mampus kau!"

Makinya dan pedangnya berkelebat mengurung tubuh Tiang Bu.

Harus diakui bahwa ilmu pedang gadis itu cukup lihai, cepat, kuat dan sukar diduga gerakan-gerakannya.

Akan tetapi ia menghadapi Tiang Bu, murid tunggal dua orang kakek sakti Omei-san, maka selalu sambaran pedangnya hanya mengenai angin saja.

Tiba-tiba Tiang Bu menggerakkan tangan kiri dan jari telunjuknya menyentil ke arah pedang dari samping.

"Tringg.....!"

Tanpa dapat ditahan lagi oleh Ang Lian, pedangnya sendiri yang terkena sentilan kuat itu terpental membalik dan menyerang pundak sendiri.

"Brett!...........! Ayaaaaa........!!"

Ang Lian menjerit dan melompat ke belakang, mukanya menjadi pucat.

Masih untung baginya bahwa dalam menyentil pedang tadi Tiang Bu masih ingat dan tidak bermaksud mencelakainya.

Kalau sentilan itu dirubah arahnya dan pedang bukan membalik ke pundak melainkan ke dada atau perut, tentu lain lagi akibatnya.

Kini yang terobek oleh ujung pedang hanya pakaian di atas dan yang kelihatan hanya sediki kulit leher dan pundak yang putih halus.

Coba kalau yang robek itu bagian dada atau perut, bisa berabe!

Tentu saja Ang Lian kaget setengah mati.

"Apa kataku tadi? Bocah perempuan kecil tidak baik bermain-main pedang, seharusnya bermain pisau dapur membuat masakan yang lezat."

Tiang Bu menggoda.

"Tiang Bu manusia sombong, kau terlalu menghina orang!"

Seru Pek Lian dan gadis ini menggerakkan pedang menyambar leher sedangkan tangan kiri menyusul dengan pukulan.

Gerakan tangan kiri itu adalah gerakan yang disebut Hio te-boan-hwa (Di Bawah Daun Mencari Bunga), sedangkan pedang itu melakukan serangan dengan gerak tipu Bi-li-tauw-su (Gadis Cantik Menenun).

Sekaligus dapat mempergunakan dua macam gerak tipu, ilmu pedang dan ilmu tangan kosong, benar-benar sudah membuktikan kelihaian gadis ini.

Juga macam serangannya itu merupakan serangan berantai, jadi memang sudah terlatih menggunakan serangan berganda, setiap serangan didahului oleh angin pukulan yang dahsyat dan disertai kecepatan mengagumkan.

"Pantas dia bisa membongkar peti tanpa kuketahui, kiranya ia jauh lebih lihai dari adiknya....."

Pikir Tiang Bu yang cepat-cepat melompat ke belakang sambil mendo-rongkan tangan kirinya menangkis pukulan gadis itu.

Pek Lian tidak mau kepalan tangannya bertemu dengan telapak tangan lawan, cepat ia menarik pulang kepalan tangannya dan dua kali melangkah maju ia sudah mengirim serangan berganda lagi, pedangnya membuat gerak tipu Bi-li-hoan-mo (Gsdis Cantik Menukar Payung) sedangkan kepalan kirinya kembali meryerang dengan tangan terbuka mencengkeram ke arah dada lawan dengan gerak tipu Siu-ko-hian-hwa (Mengambil Buah Memberi Bunga).

Gerakan-gerakannya cepat namun indah sekali,.

lemah gemulai seperti menari, akan tetapi jangan kira "tarian"

Ini tidak berbahaya karena salah-salah leher bisa terpenggal putus dan dada bisa dicengkeram sampai hancur tulang-tulangnya!

Tiang Bu hendak mencoba kepandaian gadis ini.

Ia sengaja menyambuti dua serangan itu dengan kedua tangannya pula.

Tangan kirinya dibuka jarinya dan melakukan gerakan menyampok pinggiran pedang, sedangkan tangan kanan memapaki cangkeraman gadis itu, menggantikan atau mewakili dada.

Pedang itu tersampok ke pinggir hanya mencong dan menyeleweng saja, tidak membalik seperti Ang Lian tadi, sedangkan tangan Tiang Bu dekat pergelangan kena dicengkeram.

Pek Lian menjadi kaget setengah mati.

Jarang ada orang berani menghadapi pedangnya hanya dengan sampokan jari-jari tangan saja, namun toh pemuda ini sudah berhasil menyampok pedangnya sampai menyeleweng, dan cengkeramannya dengan gerak tipu Siu-ko hian-hwa tadi bukanlah sembarangan mencengkeram, melainkan sebuah gerakan dari Ilmu Mencengkeram Liong jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Naga).

Akan tetapi mengapa setelah mengenai tangan pemuda itu, menjadi musnah tenaganya dan cengkeraman itu hanya berubah menjadi semacam cubitan tak berarti saja?

"Aih...aih?., bertempur ya bertempur, tapi jangan main cubit, eh...........!"

Kata Tiang Bu sambil tersenyum dan menggosok-gosok tangannya yang kena "cubit"

Tadi. Karuan saja Pek Lian menjadi malu dan marah, apalagi ketika Ang Lian tertawa kecil ditahan-tahan di belakangnya, lalu berkata lirih.

"Kok mencubit, bagaimana sih cici ini?"

Saking marahnya Pek Lian menjadi pucat mukanya.

Ia mengeluarkan suara bersuit keras dan pedangnya bergerak lagi, kini melakukan serangan-serangan nekat dan berbahaya sekali.

Mendengar suara sultan ini.

Ang Lian menutup menutup mulutnya karena tahu bahwa cicinya marah sekali.

Ia lalu menggerakkan pedangnya pula membantu saudaranya mengeroyok Tiang Bu.

Tiang Bu memang tidak berniat melukai dua orang dara ini, hanya ingin merampas kembali barang-barang itu dan mengembalikannya kepada Pangeran Wanyen Ci Lun.

Iapun kaget mendengar suitan ini yang ia tidak tahu apa maksudnya.

Tiba-tiba diri arah utara terdengar suara suitan semacam itu, akan tetapi jauh lebih nyaring dan panjang, tanda bahwa yang bersuit itu memiliki khikang jauh lebih tinggi dari pada Pek Lian.

"Ceng moi datang....... bagus.....!"

Seru Ang Lian ketika mendengar suitan tadi.

Tiang Bu merasa sudah cukup menggoda maka iapun melompat mundur dengan cara terus lari ke utara.

Dua orang gadis itu mengejar, akan tetapi mana mereka dapat melawan Tiang Bu yang mengerahkan ginkangnya?

Di atas kuda saja mereka tadi masih belum mampu mengejar Tiang Bu.

Apalagi sekarang Tiang Bu mengerahkan ilmu lari cepatnya dan mereka hanya mengejar dengan berlari saja.

Sebentar saja mereka tertinggal jauh.

Dari arah depan terdengar derap kaki kuda dan muncullah seekor kuda hitam yang tinggi besar dan kuat sekali yang berlari seperti terbang cepatnya di tengah tengah debu yang mengebul tinggi.

Di atas kuda hitam itu duduk seorang gadis muda berusia antara lima belas tahun, tubuhnya kecil ramping dan mukanya ayu dan angker seperti muka orang yang biasa dipandang tinggi.

Gadis itu tangan kirinya memegang kendali, tangan kanan memegang sebatang ranting yang agaknya dipergunakan sebagai cambuk.

Melihat munculnya kuda hitam dengan penunggangnya gadis tanggung itu, Pek Lian berseru girang.

"Ceng moi......! tolonglah! Orang itu telah mencuri empat bungkusan kami?..!"

Mendengar seruan ini diam-diam Tiang Bu mendongkol sekali.

Gadis itu telah memutarbalikkan kenyataan, pikirnya.

Mereka yang menjadi perampok, sekarang menuduh dia mencuri bungkusan-bungkusan itu.

Sebaliknya, gadis ayu yang menunggang kuda itu, tiba-tiba menarik kendali kuda dan serentak kuda hitam itu berhenti.

Debu mengebul tinggi, Tiang Bu kagum bukan main.

Menghentikan kuda berlari cepat secara mendadak seperti itu benar-benar bukan hal yang mudah, selain membutuhkan kemahiran menunggang kuda, juga harus memiliki ilmu lweekang yang disebut Jian-kin-kang (Tenaga Setibu Kati), yaitu ilmu memberatkan tubuh sehingga dapat menindih dan mengalahkan tenaga lari kuda itu demikian besar dan kuat sedangkan gadis itu demikian kecil, benar-benar sukar untuk dipercaya kalau tidak menyaksikan sendiri.

Pada saat Tiang Bu masih bengong saking kagumnya, gadis itu sudah "melayang?

dari atas kuda ke dekatnya.

Memang gadis itu seolah-olah melayang, bukan melompat.

Demikian ringan tubuhnya serta gerakannya tadi seakan-akan dia hanya sehelai bulu, terbawa angin saja.

Kemudian sebelum Tiang Bu hilang kagetnya, gadis itu sudah menggerakkan rantingnya, cepat sekali rantingnya menusuk ke depan.

"Cus! Cus! Ujung ranting itu menyolok sepasang mata Tiang Bu dengan gerakan cepat sekali. Tentu saja Tiang Bu tidak membiarkan sepasang mata yang hanya satu-satunya dicolok buta, cepat ia mengelak dan sebagai balasan tangan kirinya menotok ke arah iga lawan untuk mencari sasarannya. yaitu Yan-goat-hiat. Jalan darah Yan-goat-hiat ini letaknya di dekat ketiak, kalau terkena orang akan menjadi kaku seperti patung. Akan tetapi hebat benar gerakan dara ini. Ia lincah dan gesit, juga kedua kakinya melakukan langkah yang aneh mirip langkah ilmu Silat Pat-kwa-kun-hwat. Tahu-tahu gadis itu sudah miringkan tubuh ke kanan, kaki kiri diangkat ke samping menginjak belakang lutut kaki kanan Tiang Bu dari samping. dan hebatnya rantingnya bekerja cepat sekali dan tahu-tahu tali yang menyambung dua buah kantong dan tergantung di pundak Tiang Bu telah putus! Tangan kiri gadis itu diulur, menyambar kantong ke dua. Dengan demikian, dalam gebrakan pertama saja gadis ini sudah berhasil merampas dua kantong dan yang tergantung di pundak Thing Bu kini tinggal dua kantong lagi.

"Jangan takut, jiwi cici. biar siauw-moi yang merampas kembali barang-barangmu dari maling kecil ini!"

Melihat kelihaian gadis muda ini, Tiang Bu tertarik sekali dan merasa suka dan sayang.

Masih begini muda.

lebih muda dari pada Ang Lian, ternyata sudah memiliki ilmu silat yang hebat dan aneh!

Akan tetapi ia mendongkol juga karena gadis ini amat memandang rendah kepadanya bahkan memakinya maling kecil.

Hemm, baru berhasil menipuku begitu saja sudah membuka mulut besar, pikirnya gemas.

"Siapa maling kecil? Nona cilik, biarpun kaki tanganmu lincah dan pandai, ternyata otakmu bodoh. Mudah saja ditipu orang. Mereka berdua itu adalah perampok keji yang merampok barang-barang ini di tengah hutan, sekarang mereka menuduh aku yang mencuri barang-barang mereka, bukankah itu sama halnya dengan maling berteriak maling? Dan kau percaya saja. membantu perampok. Apakah kau juga sebangsa perampok?"

"Eeh, kau kurang ajar sekali! Kau bilang kami perampok dan menghina kami. Andaikata kami betul perampok, habis kau sendiri apakah? Kau hanya maling kecil yang mencuri hasil rampokan kedua cici ini."

Gadis muda itu menegur sambil tersenyum sindir dan ujung rantingnya sudah ditodongkan ke arah leher Tiang Bu tepat di atas jalan darah Tiong-eu-hiat.

"Aku Tiang Bu seorang laki-laki sejati, tidak sudi menjadi maling! Dua orang bocah itulah yang terang-terangan merampok barang yang dikawal oleh orang-orang Siang-kim sai Pioauw-kiok. Aku merampas empat buah kantong ini bukan dengan maksud menjadi maling, melainkan hendak kukirimkan kembali kepada pemiliknya, Pangeran Wanyen Ci Lun di kota raja."

Gadis yang baru datang ini mengangkat kedua alisnya yang hitam dan sepasang mata bintang itu bersinar bersinar penuh selidik kemudian ia tertawa geli.

"Kau...........? Kau mengira orang macam apa kau ini? Berlaku gagah-gagahan, memangnya kau pendekar sakti dari mana sih? Ketahuilah, manusia sombong, kedua cici itu adalah anak-anak dari Huang-ho Sian-jin!"

"Kau yang sombong, bukan aku!"

Tiang Bu menjawab marah.

"Dan aku tidak kenal siapa itu Huang-ho Sian-jin, mengapa kausebut-sebut? Yang aku tahu Sungai Huang-ho adalah sungai yang jahat, suka mendatangkan banjir dan malapetaka kepada rakyat, mana bisa ada Sian-jin (Manusia Dewa) di sana? Paling-paling yang ada tentu Huang ho Yauw koai (Siluman Huang ho) apa kau kenal dengan dia?"

Gadis lincah itu tertawa geli.

"Kau betul, kau betul!"

Rantingnya diturunkan ia perlu mempergunakan tangan menekan perut menahan geli.

"Krucuk atau cacing cauk macam kau ini mana mengenal nama Huang ho Sianjin? Dia memang betul ada itu Huang-hu Youw koai. Justeru karena Youw koai itu pada saat ini sedang mengamuk, maka kedua cici ini datang dan merampas harta dari segala macam okpa (hartawan kejam) seperti bekas menteri dari Kerajaan Kin itu!"

Tiang Bu menjadi bengong dan tidak mengerti, ia merasa dipermainkan, akan tetapi biarpun nona cilik ini sikapnya jenaka dan lincah, akan tetapi kiranya kata-kata seperti itu bukan bermaksud mempermainkan.

"Apa artinya kata katamu itu? Coba jelaskan, aku juga bukan orang yang mau menang sendiri."

"Adik Ceng Ceng terhadap maling kecil ini mengapa mesti banyak bicara? Banting saja biar gepeng!"

Kata Ang Lian yang gemas melihat Tiang Bu karena beberapa kali ia dipermainkan dan dikalahkan.

"Hush, moi-moi, jangan ganggu Ceng-moi!"

Pek Lian mencela adiknya. Aneh, tiba-tiba gadis yang dipanggil Cang itu mengerling ke arah Ang Lian dan bibir yang manis itu cemberut.

"Enci Ang Lian, mengapa tidak dari tadi kau banting sampai gepeng orang ini dan membiarkan dia merampas empat kantongmu?"

Merah wajah Ang Lian.

"Aku..... aku..."

Katanya gagap.

"Ceng-Moi, kau teruskanlah. Kami berdua sebetulnya tadi sudah menyerangnya dan kami kalah."

Kata Pek Lian. Suaranya lemah-lembut penuh kejujuran dan diam-diam Tiang Bu memuji nona berpakaian pria itu, juga merasa kasihan.

"Bukan kalah, memang belum bertempur sungguh-sungguh dan aku yang mendahului lari cepat-cepat. Kalau bertempur sungguh-sungguh, nona yang berpakaian pria itu lihai bukan main, aku tidak berani memastikan akan menang."

Ceng Ceng menyentak Tiang Bu.

"Kau kasihan kepada enci Pek Lian, ya? Kau......... kau??. tergila-gila kepadanya agaknya, ya? Jangan kau kurang ajar, manusia tak tahu diri!"

Thing Bu kaget bukan main.

Perangai nona cilik ini, benar-benar aneh.

Baru saja ramah-tamab sekali, tahu-tahu seperti minyak dijilat api, tiba-tiba marah-marah seperti orang mabok.

Saking herannya Tiang Bu memandang bengong.

"Jiwi cici, jangan salah sangka. Aku sengaja memberi penjelasan kepada bocah ingusan ini??"

"Aku bukan bocah ingusan, kau......... bocah sombong!"

Tiang Bu berteriak marah karena beberapa kali ia dihina. Ceng Ceng tersenyum mengejek dan tidak memperdulikannya.

"Bocah rewel dan manja ini harus diberi penjelasan agar nanti kalau mampus olehku dia tidak penasaran lagi. Jangan sampai arwahnya menghadap Giam-kun (Raja Maut) dan melaporkan bahwa kita ini perampok-perampak jahat, kan cialat (celaka) untuk kita!"

Terpaksa Ang Lian dan Pek Lian tersenyum lagi dan kembali sikap Ceng Ceng seperti tadi, manis jenaka.

"Bocah, kau mau tahu segalanya, bukan? Nah, kau dengar baik-baik. Pada dewasa ini, Huang-ho Yauw-koai iblis di Sungai Huang-ho yang agaknya kalau bukan ayahmu tentu mertuamu itu?.."

"Setan kau.....!"

Tiang Bu memaki.

"Iblis sungai itu sedang mengamuk."

Ceng Ceng melanjutkan, tidak perduli akan makin Tiang Bu.

"membuat air sungai membanjir dan banyak rakyat kehilangan semua benda bahkan banyak yang kehilangan nyawa. Akibatnya kelaparan merajalela. Nah, ayah mengajak aku mengunjungi Huang-ho Sian-jin yang seperti biasa tiap tahun kalau terjadi banjir, sibuk menolong rakyat. Kali ini benar benar dibutuhkan banyak uang untuk mencegah orang-orang mati kelaparan, maka sengaja Huang-ho Sian-jin mengutus dua orang anaknya untuk merampas harta yang tidak halal dari pembesar tukang catut itu. Aku diperintah oleh ayah untuk mengamat-amati, takut kalau-kalau ada bocah-bocah ingusan nakal macam engkau ini mengganggu jiwi cici di tengah jalan."

"Bagaimana kau tahu kalau barang-barang berharga yang dirampok ini barang barang tidak halal?"

"Ho-ho kau tidak saja masih ingusan, bahkan kepalamu masih berbau bawang (sindiran untuk orang yang masih hijau). Masa gitu saja tidak tahu? Biarpun masih pelonco, kalau sudah terjun di dunia kangouw harus tahu membedakan ini. Bangsat she Kwee itu adalah seorang pengkhianat yang mengekor Kerajaan Kin. Tadinya ia miskin akan tetapi setelah bekerja di sana, memperoleh kekayaan berlimpah-limpah dan sekarang karena takut akan serbuan balatentara Mongol, ia membawa hartanya lari ke selatan. Dari mana lagi ia mendapat harta begitu banyak kalau bukan dari memeras rakyat dan mencatut Kerajaan Kin? Dia bukan pedagang yang bisa menarik banyak keuntungan. Apakah orang macam itu harus didiamkan saja, dia memang banyak harta rakyat sampai berlebih-lebihan, tidak habis biarpun dimakan oleh anak cucunya sampai tujuh turunan, sedangkan rakyat di sepanjang lembah Huangho menderita kelaparan?"

"Hemmm, kalau betul kata-katamu ini, memang usaha kalian hebat sekali, patut dipuji. Akan tetapi, aku mendengar dari orang-orang Siang kim-sai Piauwkiok, benda-benda di dalam peti ukiran Kilin itu adalah milik Pangeran Wanyen Ci Lun yang dititipkau. Kilian tidak boleh mengganggu miliknya. Aku mendengar bahwa Pangeran Wanyen Ci Lun adalah seorang gagah yang berbudi."

Kata Tiang Bu.

"Kau mendengar. kau mendengar..... agaknya kau terlalu mengandalkan daun telingamu yang lebar seperti telinga gajah itu. Tidak perduli Wanyen Ci Lun seorang baik seperti dewa, namun ia tetap seorang pangeran yang takkan mampus kelaparan kalau hartanya yang sebegini saja diambil orang. Sebaliknya, harta ini bisa menolong nyawa ribuan, bahkan puluhan ribu orang di sepanjang sungai yang pada saat ini sudah hampir mati kelaparan!"

Tiang Bu melongo. Baru kali ini ia mendengar pidato yang begitu panjang akan tetapi mengenai betul pada hatinya. Tepat dan hebat.

"Kau betul...."

Akhirnya ia berkata.

"Akan tetapi aku masih belum percaya. Aku harus menyaksikan sendiri. Dan lagi, kau ini siapakah begini pandai bicara seperti tukang jual obat?"

"Ha, jadi kau sudah percaya? Kalau begitu lebih baik lagi. Tak usah aku menambah dosa mengantar nyawamu ke alam baka. Serahkan yang dua bungkus itu dan pergilah kau cepat-cepat."

"Eh, eh, nanti dulu, nona cilik."

"Aku tidak cilik lagi. Usiaku sudah lima belas tahun, tahu?!"

"Benarkah?"

Tiang Bu sekarang mendapat kesempatan membalas godaan-godaan dan hinaan tadi. ia tersenyum dan matanya berseri-seri.

"Kau tidak patut kalau berusia lima belas tahun pantasnya kau......... sembilan tahun atau dua puluh tahun."

"Kau edan!"

Ceng Ceng menjerit.

"Masa kalau tidak sembilan tahun dua puluh tahun. Terkaan macam apa ini?"

"Dibilang sudah tua, kau suka menggoda dan menghina orang seperti anak kecil saja, maka kau patut berusia sembilan tahun. Dibilang kecil, kau pandai bicara seperti orang tua saja, maka kau tentu lebih dari dua puluh tahun........."

"Eh. kacoa! Kau sudah bosan hidup, ya.........? Kau mau mampus, ya...? Hemm, sekali tusuk lenyap nyawamu....."

Sambil berkata demikian, gadis itu melangkah maju dan ujung rantingnya mengancam jalan darah kematian. Ketika Tiang Bu mundur-mundur dia maju-maju terus mengancam, marahnya bukan main.

"Sudahlah, apa kau ini tukang bunuh orang? Masa denok-denok kok keji, tidak patut, dong! Pantasnya orang cantik itu ramah-tamah dan halus??."

Tangan yang memegang ranting menjadi lemas dan ranting itu diturunkan ke bawah.

"Awas, adik Ceng Ceng. Jangan kena tipu muslihatnya. Biarpun mukanya seperti monyet hitam, namun ia pandai memikat hati. Cici Pek Lian sendiri hampir-hampir terpikat olehnya........."

"Plak!"

Pipi Ang Lian kena ditampar oleh Pek Lian yang menjadi merah sekali mukanya.

"Ang Lian, sekali lagi kau bicara begitu akan kulaporkan kepada ibu supaya kau dirangket."

Sementara itu, sepasang mata Ceng Ceng berapi-api mendengar ini. Ranting di tangannya tergetar.

"Betul begitukah? Kalau begitu harus mampus........"

"Hayaaa, kalian ini memang orang orang aneh sukar sekali diajak urusan,"

Kata Tiang Bu.

"Aku tidak ingin bertempur. Tentang harta ini, biarlah aku ikut kalian, aku hendak menyaksikan sendiri apakah betul ada usaha orang tua kalian menolong rakyat jelata yang kelaparan. Kalau memang betul, tidak hanya empat kantong benda ini kuserahkan dengan rela, bahkan aku sendiri bersedia disuruh membantu apa saja untuk meringankan beban rakyat di sana."

"Tapi kauserahkan dulu yang dua kantong itu!"

Kata Ccng Ceng.

"Bodoh, mana boleh begitu? Aku akan diejek orang di jalan kalau membiarkan kalian orang-orang wanita membawa barang berat sedangkan aku enak-enak saja. Bahkan kalau kalian percaya, yang dua itu boleh kubawakan."

"Astaga! Jadi dia akan melakukan perjalanan bersama kita? Aku tidak sudi!"

Kata Ang Lian.

"Jangan kuatir, enci Ang Lian. Aku tidak akan pergi bersama-sama. Kalian boleh jalan dulu, aku menyusul belakangan karena aku masih ada sedikit urusan di sini."

Memang Tiang Bu tentusaja tidak mau pergi begitu saja sebelum urusannya yang penting di selesaikan, yaitu mencari Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong di lembah Sungai Yangce yang berada tak jauh dari kota Wu-keng.

Setelah bertemu dengan orang yang dicarinya dan urusan minta kembali kitab beres, baru ia hendak menyusul ke lembah Sungai Huang-ho.

Akan tetapi tentu saja Ceng Ceng tidak setuju.

Selagi ia hendak membantah, tiba-tiba terdengar derap banyak kaki kuda dan tak lama kemudian muncullah delapan orang penunggang kuda yang terdiri dari orang-orang bertubuh gagah perkasa dan di tengah-tengah mereka terdapat orang yang memegang sebuah bendera besar.

"Nah, nah, agaknya pentolan-pentolan Siang-kim sai Piauw-kiok telah menyusul kita......!"

Kata Ang Lian dengan nada menyesal mengapa Ceng Ceng dan Tiang Bu membuang-buang waktu dengan mengobrol tidak karuan.

Memang dugaan Ang Lian ini betul.

Yang datang adalah Siang-kim-sai (Sepasang Singa Emas) sendiri, yaitu Twa kim-sai Yo Sang dan Ji-kim-Sai Yo Teng, diantar oleh enam orang murid-muridnya yang pandai.

Siang-kim-sai memang pantas berjuluk Singa Emas, karena kedua saudara kakak-beradik ini memiliki wajah yang berbentuk segi empat seperti muka singa, bermata lebar dan galak, bertubuh tegap kuat.

Yo Seng muka kuning sedangkan adiknya, Yo Teng bermuka merah.

Begitu mendengar laporan Lu Tiang Sek bahwa peti berukir sepasang Kilin dirampas oleh dua orang puteri Huang-ho Sian-jin.

dua orang piauwsu ini segera membawa murid-murid mereka melakukan pengejaran.

Kini melihat di tempat itu selain dua orang gadis yang merampas barang berharga masih terdapat seorang gadis muda dan seorang pemuda yang keduanya membawa buntalan-buntalan itu, mereka menjadi heran akan tetapi girang.

Melihat empat kantong itu masih berada bersama para perampok, berarti ada harapan mcrampasnya kembali.

Apalagi empat orang perampok itu hanya tiga gadis ayu dan seorang pemuda tanggung.

"Anak-anak Huang-ho Sian-jin, kalian sungguh lancang sekali berani mengganggu kumis singa!"

Datang-datang Ji-kim-sai Yo Teng yang berusia empat puluh tahun dan wataknya agak mata keranjang tak boleh melihat jidat halus ini, berkata dengan sombong....."Hayo maju menghadap, hanya kalau kalian mengembalikan barang rampasan dan minta maaf sambil berlutut baru kami dapat mengampuni kalian!"

"Enci Pek, kaulihat dia ini. Mengakunya singa akan tetapi kalau kulihat baik-baik kok mukanya kaya kucing pemakan bangkai?"

"Mai moi, jangan bergurau, mari kita siap menghadapi Siang kim-sai,"

Jawab Pek Lian sambil melangkah maju dan mencabut pedangnya. Kemudian ia berkata kepada Yo Seng dan Yo Teng.

"Jiwi piauwsu mau apakah? Memang betul kami telah mengambil barang yang didapatkan secara tidak halal oleh pembasar Kin pengkhianat bangsa itu."

Yo Seng sudah mendengar bahwa gadis pertama yang berpakaian pria memiliki kepandaian tinggi, maka kepada Pek Lian ia berkata.

"Nona, melihat muka ayahmu. Huang-ho Sian-jin, biarlah kita habiskan urusan ini asal saja kau suka mengembilikan barang-barang itu. Biar lain kali kami datang mencari ayahmu untuk menghaturkan terima kasih."

Kalau seorang piauwsu hendak mengadakan kunjungan kepada seorang tokoh Liok-lim dan menghaturkan terima kasih, itu artinya sang piauwsu merendahkan diri dan mengalah, tentu akan datang untuk memberi "apa-apa"

Sekedar tanda penghormatan.

"Tidak bisa, barang yang sudah kami rampas. tak dapat kami kembalikan begitu saja. Kalau jiwi piauwsu ada kemampuan, boleh coba rampas kembali,"

Kata Pek Lian tenang. Mendengar ini, Yo Teng marah.

"Koko, mengapa mendengarkan ocehan bocah? Kau tangkap yang banci itu, biar aku tangkap yang galak ini"

Sambil berkata demikian, Yo Teng menubruk maju hendak menangkap Ang Lian.

"Kucing pemakan bangkai, mana kumismu?"

Ang Lian mengejek dan pedangnya ditusukkan ke depan menyambut tubrukan Yo Teng.

Piauwsu ini kaget sekali, dan menyesal telah berlaku sembrono.

Tak disingkanya bahwa gadis itu memiliki gerakan yang amat cepat.

Namun piauwsu ini berkepandaian tinggi, dan cepat ia dapat menggulingkan diri ke kiri dan bergulingan di atas tanah menghindari kejaran lawan.

"Hi hi hi, belum apa-apa kucing busuk sudah gulung koming!"

Ang Lian mengejek.

Yo Teng marah dan kini ia sudah mencabut goloknya, senjata yang amat ia andalkan.

Ejekan gadis itu melenyapkan rasa sayangnya kepada gadis berwajah manis ini.

Sambil mengeluarkan geraman seperti singa mengaum, ia menerjang lagi, mempergunakan goloknya.

Ang Lian cepat menangkis dengan pedangnya.

Tidak berani berlaku sembrono karena dari gerakan golok lawan, ia maklum bahwa piauwsu ini kepandaiannya lihai.

Sementara itu, melihat adiknya sudah mulai bertempur, Yo Seng juga mencabut golok dan berkata kepada Pek Lian.

"Menyesal sekali kau keras kepala. Terpaksa aku harus melayani tantanganmu!"

Setelah berkata demikian iapun berseru keras dan goloknya berkelebat dahsyat.

Namun Pek Lian yang sikapnya tenang itu sudah siap pula dengan pedangnya.

Dengan tangkas dan berani gadis berpakaian pria ini mengangkat pedang menangkis golok, bahkan cepat lakukan serangan balasan yang tak kalah dahsyatnya.

Hebatnya pertempuran antara Ang Lian melawan Yo Teng dan Pek Lian melawan Yo Seng ini.

Kepandaian mereka berimbang hanya Ang Lian masih kalah kuat oleh Yo Teng yang memiliki kepandaian sama dengan kakaknya.

Sementara itu, Tiang Bu dan Ceng Ceng hanya menonton saja.

Melihat jalannya pertandingan, Tiang Bu mengerutkan alisnya dan merasa khawatir akan keselamatan dua orang gadis muda itu.

Keadaan Pek Lian masih tidak begitu buruk, karena ilmu pedang dari gadis ini berar-benar lihai sehingga tak usah kalah atau terdesak oleh lawannya, keadaan dia dan lawannya benar-benar seimbang dan masih sukar untuk menentukaa siapa yang akan kalah.

Yo Seng lebih kuat dan senjatanya amat berat sehingga dalam setiap bentrokan senjata, piauwsu ini dapat melakukan tekanan-tekanan.

Akan tetapi, Pek Lian lebih lincah dan cepat maka gadis ini dapat menutup kerugiannya kalah tenaga dengan kecepatannya sehingga pedangnya seakan-akan mengurung lawan.

Yang amat menggelisahkan hati Tiang Bu adalah keadaan Ang Lian.

Gadis ini biarpun lihai namun ilmu pedangnya belum sematang ilmu pedang cicinya, dan pula gerakan-gerakanya masih ceroboh, karena Ang Lian memounyai nafsu besar dan selalu menuruti nafsunya hendak cepat-cepat merobohkan lawannya, akan tetapi ternyata ia kalah setingkat oleh Yo Teng sehingga dialah yang akhirnya terdesak oleh golok lawan.

Tiang Bu melirik ke arah Ceng Ceng yang berdiri di sebelahnya.

Ia melihat gadis ayu ini berdiri sambil menonton, agaknya tertarik dan gembira sekali, tandanya sepasang mata bintang itu tidak berkejap sejak tadi dan sinarnya berseri-seri.

Benar benar denok anak ini pikir Tiang Bu dan ia kaget sekali.

Lagi-lagi ada dorongan aneh dari dalam dadanya, dorongan yang hampir sama dengan dorongan selera orang kelaparan melihat makanan lezat.

Dalam perantauannya, bukan jarang Tiang Bu merasa kelaparan karena berhari-hari tidak bertemu nasi, maka ia sudah sering kali merasai bagaimana nafsu seleranya timbul apabila dalam keadaan demikian itu ia mencium bau capcai goreng atau melihat ayam panggang digantung dalam restoran.

Sekarang ia kaget sekali karena semenjak bertemu dengan Ang Lian dan Pek Lian, nafsu selera yang hampir sama, bahkan lebih merangsang, selalu timbul di dalam dadanya tiap kali ia melihat gadis cantik.

Apalagi melihat wajah Ceng Ceng dari samping ini tanpa diketahui oleh gadis itu, benar-benar membuat ia terpesona dan dia diam-diam Tiang Bu merjadi takut.

Ia takut kalau dorongan yang merangsang itu akan mengalahkannya, dorongan yang mendatangkan keinginan yang maha kuat untuk menubruk dan memeluk Ceng Ceng!

"Setan bodoh!"

Dengan muka panas Tiang Bu menampar pipinya sendiri dan benar saja dorongan nafsu itu segera terbang pergi dan pipinya terasa pedas panas.

Akan tetapi Tiang Bu masih terus menampari pipinya sampai empat lima kali.

Mendengar suara plak plak plok di sebelahnya, Ceng Ceng menengok dan mata serta mulutnya tadinya terbuka lebar saking herannya, kemudian tertawa geli.

"Lho......! Kau ini sudah kumat gendengmu ataukah memang sebangsa o.t.m. (otak miring)? Kok pipi sendiri ditampari, kalau sudah gatal ingin ditampar kenapa tidak maju saja ke medan pertempuran?"

Tiang Bu bersungut-sungut. Bocah perempuan ini selalu mempergunakan satiap kesempatan untuk mengejek dan menghinanya. Ia melirik dan matanya yang bundar besar itu mendelik.

"Kau bisa mengejek orang, kau sendiri ini orang macam apa? Benar-benar seorang sahabat yang bagus! Dua orang kawanmu terancam bahaya dan kau enak-enak saja menjadi penonton tanpa bayar, bahkan seperti kelihatan senang melihat kawan-kawan terancam bahaya. Hah, tak tahu malu!"

"Aaahh, kau anak kecil tahu apa? Mereka itu dua lawan dua, masa aku harus turun tangan mengeroyok? Laginya, membantu enci Pek Lian atau enci Ang Lien sebelum mereka mundur dan mengaku kalah, berarti menghina mereka. Ahh, kau ini benar -benar belum tahu apa-apa. Kasihan!"

Untuk kesekian kalinya Tiang Bu menjadi merah telinganya.

Biarpun ia mendongkol, terpaksa ia mengakui kebenaran ucapan nona ini yang agaknya sudah memiliki pengalaman luas dalam dunia kang-ouw.

ia melirik ke arah muka Ceng Ceng yang berdiri di sebelah kirinya, menjadi geli melihat wajah yang masih kekanak-kanakan itu berlagak tua.

"Kau berkali-kali menyebutku anak kecil"

Kata Tiang Bu, suaranya menyatakan kemendongkolan hati.

"Padahal kau sendiri baru berusia dua belas tahun, sedikitnya aku lebih tua beberapa bulan atau setahun! Sepatutnya kau menyebutku koko (kakak) kepadaku??"

Bibir gadis itu berjebi.

"Cihh, siapa sudi........."

Pada saat itu terdengar suara keras dan pedang di tangan Ang Lian terlempar oleh sampokan keras golok Yo Teng. Ang Lian mengeluarkan seruan kaget dan melompat jauh sambil berseru.

"Ceng moi, tolong gantikan aku.........!"

Entah kapan ia melompat, tahu-tahu tubuh Ceng Ceng sudah mencelat dan ujung rantingnya ditodongkan ke depan hidung Yo Teng yang hendak mengejar Ang Lian.

"Biarkan aku menawan perampok wanita itu!"

Yo Teng berseru sambil mendelik kepada Ceng Ceng.

"Jangan maju hidungmu akan rusak!"

Bentak Ceng Ceng yang tetap menodongkan rantingnya di depan hidung Ji-kim-sai Yo Teng.

Marahlah Yo Teng dan ketika ia memperhatikan ternyata gadis ini malah lebih cantik manis dari pada Ang Lian dan lebih hebat lagi.

Gadis ini di pundaknya membawa dua kantong rampasan itu.

"Bagus, kau kutawan lebih dulu,"

Serunya menubruk maju.

"Rusak hidungmu!"

Bentak Ceng Ceng.

"Aduhhh....!"

Ji-kim-sai Yo Teng menjerit dan terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi hidungnya yang sudah berlepotan darah.

Ujung hidungnya yang besar telah pecah-pecah terkena tusukan ranting Ceng Ceng, dan biarpun ia tadi sudah mengelak sambil menangkis, tetap saja hidungnya rusak.

Di samping suara ketawanya dan gelak tawa Ang Lian yang merasa puas dan senang sekali melihat musuhnya dibalas, terdengar suara Ceng Ceng.

"Enci Pek Lian. tinggalkan singa kertas itu, biar aku menghadapi mereka berdua, biar lebih enak bagiku!"

Pek Lian memang sudah merasa bingung sekali karena semenjak tadi belum juga ia dapat mendesak lawannya yang ternyata benar-benar tangguh.

Kini melihat Ceng Ceng sudah turun tangan dan mendengar permintaannya, dengan senang hati ia melompat mundur.

Yo Teng marah bukan main.

Biarpun ia tidak terluka parah yang membahayakan nyawa, namun hidung adalah benda lunak dan mudah berdarah, laginya merupakan alat penting di samping perhiasan muka yang mutlak.

Kini hidungnya dirusak, tentu saja Singa Emas ke Dua ini marah bukan main.

Sambil menggereng ia memutar goloknya, terus menerjang maju, sama sekali tidak perduli bahwa lawannya hanya seorang dara belasan tahun yang bertenjatakan sebatang ranting kecil.

Akan tetapi sekali menggerakkan kakinya melakukan langkah yang aneh Ceng Ceng terhindar dari serangan Yo Teng dan ketika ranting diayun ke bawah......"tukk.........!!"

Disusul pekik Yo Teng lagi, kini dibarengi peringisan dan kaki kirinya diangkat ke atas, ke dua tangan memegang tulang kering kaki itu dan kaki kanan berloncatan.

"Aduh......... kurang ajar......... aduh......!!"

Orang dapat membayangkan betapa sakitnya tulang kering dipukul sampai hitam, tidak sampai remuk atau patah akan tetapi mendatangkan rasa sakit yang membuat Yo Teng lupa akan malu lagi berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil.

"Hi hi-hi-hi......!"

Ang Lian tertawa girang dan anak perempuan ini juga meniru-niru Yo Teng berjingkrak-jingkrak.

Melihat adiknya dipermainkan orang.

Yo Seng cepat melompat maju dan baiknya ia cukup cepat sehingga ia dapat menangkis ranting yang kini sudah menyambar cepat dengan totokan ke arah dada Yo Teng.

"Tranggg??..!"

Yo Seng merasa telapak tangan yang memegang gagang golok tergetar dan kesemutan.

Ia kaget bukan kepalang.

Bagaimana benturan golok dengan hanya sebatang ranting kecil mendatangkan rasa seperti itu?

Ia lebih lebih heran melihat betapa gadis muda itu masih remaja puteri, tak pantas memiliki lweekang setinggi itu.

"Tahan dulu!"

Bentaknya sambil menyeret tangan adiknya ke belakang.

Yo Seng berlaku cerdik.

Karena menduga ia berhadapan dengan orang pandai, ia sengaja berhenti hendak tahu siapakah lawannya berbareng memberi kesempatan kepada adiknya untuk memulihkan kakinya.

"Tahan tahan apa lagi! Kalian dua ekor singa kertas menjemukan sekali. Lekas pergi dari sini kalau masih sayang jiwa."

Kata Ceng Ceng dengan sikap angker.

"Kami sudah mengenal dua orang puteri Huang-ho Sianjin. Sekarang muncul kau ini siapakah, nona? Siapa ayahmu dan mengapa pula kau mencampuri urusan ini? Apakah kau juga ingin merampas barang barang itu?"

Tanya Yo Seng.

"Jangan banyak cerewet. Aku siapa tak perlu kalian tahu. Yang penting, dua orang cici ini merampas barang untuk menoIong rakyat, cukup. Dan aku yang akan menghajar kalian kalau tidak lekas lekas pergi."

"Koko, hantam saja bocah kurang ajar ini!"

Tiba-tiba Yo Teng berseru.

Kakinya sudah tak sakit lagi dan sekarang dengan marah ia menyerbu.

Yo Seng juga menggerakkan goloknya dan di lain saat Ceng Ceng sudah dikeroyok oleh kakak beradik yang di daerah Kiangse sudah amat terkenal ini.

Tiang Bu menonton dan memperhatikan gerakan-gerakan Ceng Ceng.

Ia kagum sekali karena gerak kaki dan tangan gadis ini benar-benar luar biasa, bahkan pada dasarnya tidak berbeda banyak dengan ilmu-ilmu silat yang pernah di pelajari dari kakek-kakek sakti Omei-san.

Siapakah gurunya dan siapa ayahnya?

Diam diam Tiang Bu ingin sekali tahu akan hal ini.

Sementara itu, kedua saudara Yo yang merasa takkan dapat menangkan gadis luar biasa ini, segera memberi tanda kepada murid-muridnya.

Enam orang murid itu serentak mencabut golok-goloknya.

Akan tetapi baru saja golok dicabut keluar dari sarungnya, tiba tiba berkelebat sesosok bayangan dan terdengar "bayangan"

Itu berkata. (Lanjut ke

Jilid 17) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17

"Tak boleh main keroyok!"

Ketika bayangan itu berkelebat dari orang pertama, ke dua, dan selanjutnya, eh?..

tahu-tahu semua golok telah terbang dari tangan enam orang murid Siang-kim-sai dan telah pindah ke dalam tangan Tiang Bu yang sudah berdiri kembali di tempat semula.

Kemudian dengan masih tersenyum-senyum Tiang Bu menonton pertempuran lagi.

Ceng Ceng lihai sekali.

Biarpun ia sedang bertempur dikeroyok dua orag yang tak sekali-kali boleh disebut lemah, matanya yang tajam itu masih dapat melihat bahwa Tiang Bu telah turun tangan membantunya melucuti enam orang lawan yang hendak mengeroyok, ia menjadi gemas dan tidak mau kalah muka.

Tiba-tiba rantingnya bergerak makin cepat lagi dan dalam enam jurus berikutnya, Yo Teng terlempar dalam keadaan lemas tertotok sedangkan Yo Seng terpaksa melompat karena goloknya terlepas dari pegangan.

Pergelangan tangannya telah kena "dicium"

Ujung ranting yang runcing dan kalau dia tidak cepat-cepat melompat mundur, tentu ia sudah terguling.

"Hebat."

Ia menjura.

"kami mengaku kalah, nona. Akan tetapi kuharap nona yang memiliki kepandaian tinggi cukup bersikap gagah dan jujur, mau memperkenalkan diri kepada kami agar kami tahu siapakah yang bertanggung jawab atas perampasan barang-barang ini."

Ceng Ceng tersenyum mengejek.

"Diberi tahu namaku sekalipun kau mana kenal? Barangkali kau sudah mendengar nama ayah. Ayahku bernama Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong."

"Hayaaaa....."

Teriakan ini keluar dari mulut Tiang Bu yang memandang kepada Ceng ceng dengan mulut celangap.

"Eh, kau kenapa?"

Tanya Ang Lien yang berdiri dekat Tiang Bu.

Gadis ini tadi melihat sepak terjang Tiang Bu melucuti orang merasa kagum dan mendekat jejaka itu.

Ditegur dengan tiba-tiba oleh Ang Lian yang menggaplok punggungnya, Tiang Bu kaget dan sadar.

"Tidak apa-apa,"

Jawabnya tenang namun hatinya berdebar tidak karuan.

Jadi Ceng Cang itu puteri Lie Kong malahan.

Juga Twa-kim-sai Yo Seng terkejut bukan main.

Tentu saja dia mengenal nama Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong yang boleh dibilang merajai dunia persilatan di bagian timur menjadi locianpwe atau datuk yang disegani, Ia menjadi makin gelisah karena kalau datuk itu yang merampas barang-barang kawalannya, hebat!

Ia cepat menjura sampai dalam dan rendah di depan Ceng Ceng yang sebenarnya bernama Lie Ceng, akan tetapi sejak kecil biasa disebut Ceng Ceng.

"Ah, tidak tahunya kami berhadapan dengan Lie-lihiap puteri taihiap Pek-thouw tiauw-ong! Maafkan kalau kami bermata tak dapat melihat. Kalau kami mengetahui, biar matipun kami takkan berani melawan. Akan tetapi lihiap......... hendaknya diketahui bahwa barang-barang itu bukan milik sembarangan orang. Kalau milik kami sendiri tanpa dimintapun kami rela memberi sebagai tanda penghormatan kepada lihiap. Akan tetapi benda-benda itu menurut Kwee taijin adalah milik Pangeran Wanyen Ci Lun di kola raja Kerajaan Kin, dan harganya tak dapat terbeli?? Bagaimana pertanggungan jawab kami terhadap Pangeran Wanyen Ci Lun kelak........!"

Suara piauwsu tua itu betul-betul terdengar sedih dan putus asa, maka diam-diam Ceng Ceng merasa kasihan juga.

Biarpun harta benda itu barang tidak halal, juga dirampasnya untuk menolong rakyat, akan tetapi orang she Yo, yang tidak berdosa ini, kasihan juga kalau harus menanggung akibatnya yang berat.

"Aku tidak tahu dan tidak perduli. Kami hanya melakukan perintah orang-orang tua kami. Kalau Yo piauw-su merasa penasaran boleh kau kelak menyusul ayah yang sekarang berada di kediaman Huang ho Sian-jin di lembah Sungai Kuning. Atau boleh juga kelak kau menemui ayah di rumah kami kalau ayah sudah pulang dari sana. Sekarang pergilah, jangan ganggu kami lebih lama legi!"

Sikap Ceng Ceng angker dan tak dapat dibantah lagi.

Yo Seng tahu diri dan jalan yang ditunjuk oleh gadis muda itu memang tepat dan merupakan jalan satu-satunya baginya.

Maka ia lalu mengumpulkan murid-muridnya untuk diajak pulang dengan sikap lesu.

Tak lama kemudian derap kaki kuda rombongan piauwsu ini meninggalkan tempat itu.

"Wah adik Ceng Ceng memang hebat. Mudah saja mengundurkan mereka yang galak."

Memuji Pek Lian sambil menjura.

"Aku benar-benar merasa takluk, kepandaianmu makin hebat saja, adik Ceng Ceng."

"Tiang Bu ini juga hebat, kiranya tidak kalah oleh Ceng-moi?"

Tiba tiba Ang Lian berkata.

"Enam orang piauwsu sekaligus dilucuti secara aneh."

Mendengar ini, Ceng Ceng mengerling kearah Tiang Bu dan mulutnya mengejek.

"Apa sih anehnya merampas senjara dari tangan gentong-gentong nasi kosong? Lebih mudah merampas senjata dari tangan bangkai! Kesinikan dua bungkusan itu, harus aku sendiri yang membawanya!"

Bentaknya kemudian sambil menghampiri Tiang Bu.

Tiang Bu yang sekarang sudah tahu bahwa ayah nona ini adalah Pek-thouw tiauw-on Lie Kong yang ia cari dan bahwa orang itu kini juga berada di lembah Huang-ho, mengalah.

la tersenyum dan memberikan dua buah kantong itu kepada Ceng Ceng, lalu berkata.

"Aku kagum dan takluk juga menyaksikan kelihaianmu. Nah, bawalah kalau kaukehendaki."

Setelah menerima dua bungkusan itu, Ceng Ceng lalu melompat ke atas kuda hitamnya dan berkata.

"Mari kita pergi!"

Pek Lian dan Ang Lian juga melompat ke atas kuda.

Melihat Ceng Ceng melarikan kuda tanpa menoleh lagi kepada Tiang Bu, Pek Lian agak ragu-ragu.

Tak terasa lagi gadis berpakaian pria itu menoleh sekilas pandang ke arah Tiang Bu, kemudian iapun mengeprak kudanya menyusul Ceng Ceng sambil berseru.

"Mari, moi-moi."

Ang Lian tersenyum kepada Tiang Bu dan mengejek.

"Kau mau ikut? Kenapa tidak membonceng di belakang enciku? Hi-hi, kau larilah, selamat berlari-larian."

Sambil tertawa-tawa gadis itupun membedal kudanya menyusul Ceng Ceng dan Pek Lian.

Tiang Bu tersenyum.

Tak lama kemudian iapun berlari cepat dan Ang Lian sama sekali tidak heran ketika melihat bayangan Tiang lu menyusulnya dan melewatinya.

Juga Pek Lian yang sudah maklum akan kepandaian pemuda ini tidak merasa heran.

Akan tetapi ketika Ceng Ceng melihat bayangan pemuda ini menjajari kuda hitamnya, ia menjadi marah dan menyumpah-nyumpah, lalu kudanya dibalapkan makin cepat lagi!

Demikianlah, dengan ilmu larinya yang tinggi, Tiang Bu menyertai perjalanan tiga orang dara jelita itu menuju ke Sungai Huang-ho di utara.

Mari kita tinggalkan dulu orang-orang muda itu dan menengok kejadian penting yang terjadi di atas sebuah perahu besar yang bergoyang-goyang di tepi laut selatan.

Di atas perahu besar ini, dua orang sedang bercakap-cakap menghadapi meja dengan sikap bersungguh-sungguh, sedangkan dua orang muda, seorang gadis dan seorang pemuda berdiri mendengarkan percakapan mereka itu tanpa borgerak.

Yang duduk bcrcakap-cakap adalah seorang setengah tua yang barpakaian seperti panglima perang dan kepalanya gundul, mukanya keren dan bersifat kejam.

Yang duduk di depannya bercakap-cakap dengan dia adalah seorang nenek yang mengerikan seperti iblis, bahkan tiga ekor kelelawar yang selalu beterbangan di atas kepalanya dan kadang-kadang hinggap di pundaknya, menambah keseramannya.

Nenek ini adalah Toat-beng Kui bo, nenek aneh dari pantai selatan.

Adapun panglima gundul itu bukan lain adalah Tee tok Kwa Kok Sun!

Dan pemuda-pemudi itu?

Yang laki-laki adalah Wan Sun dan yang wanita Wan Bi Li, putera dan pateri Wanyen Ci Lun atau wurid-murid Ang-jiu Mo-li yang sakti.

Wan-Sun telah menjadi seorang pemuda tampan sekali, sedangkan Bi Li juga telah merupakan seorang dara yang luar biasa cantiknya, demikian luar biasanya sehingga ia terkenal di kota raja sebagai seorang dara yang cantik jelita gagah perkasa.

Bahkan orang-orang menganggapnya sebagai "bunga kota raja".

Benar-benar mengherankan sekali, bagaimana Wan Kok Sun manusia berbisa itu kini menjadi seorang panglima besar Kerajaan Kin dan berada di satu perahu dengan putera-puteri Pangeran Wanyen Ci Lun?

Untuk mengetahui hal ini mari kita sapintas lalu meninjau keadaan Kwan Kok Sun yang ia alami baru baru ini.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tee tok Kwan Kok Sun Si Racun Bumi ini bersama Thai Gu Cinjin menyerbu Omei-san.

Adalah siasat Thai Gu Cinjin untuk membakar pondok kakek 0mei-san itu di bagian perpustakaannya sehingga keadaan menjadi kacau balau dan Thai Gu Cinjin mendapat kesempatan untuk mencuri sebuah kitab.

Kwan Kok Sun sendiri yang mendapat tugas melakukan pembakaran di sana-sini, tidak sempat pula untuk ikut-ikut mencuri kitab.

Ia diberi janji oleh Thai Gu Cinjin bahwa pendela Lama Jubah Merah ini akan mengambilkan sebuah untuknya atau kalau hanya mendapat sebuah, Kwan Kok Sun juga berhak sebagian tegasnya ia boleh juga kelak mempelajari isi kitab itu.

Demikianlah setelah berhasil mendapatkan kitab, Thai Gu Cinjin melarikan diri bersama Tee-tok Kwan Kok Sun, berlari turun dari puncak Omei-san dan terus melarikan diri kearah utara dengan cepat.

Setelah turun gunung dan lari jauh selama setengah hari tanpa berhenti, Kwan Kok Sun dengan napas terangah-engah bertanya.

"Losuhu, bagaimana hasilnya Apakah losuhu tidak lupa untuk membawakan sebuah untukku?"

"Tidak ada kesempatan... tidak ada kesempatan... Tiong Jin Hwesio keburu datang dan siapa sanggup menandingi kakek sakti itu? Kalau pinceng tidak cepat-cepat lari tentu tidak sempat lagi turun gunung...."

Ia menarik napas panjang dan matanya melirik ke arah Kwan Kok Sun.

Tee tok Kwan Kok Sun curiga sekali dan tidak percaya, akan tetapi karena maklum akan kelihaian Thai Gu Cinjin, ia diam saja dan pada mukanya tidak terlihat tanda sesuatu.

Akan tetapi dalam hatinya ia mendongkol bukan main.

Ia dapat menduga bahwa hwesio Lama dari Tibet ini tentu menipunya dan tentu di dalam saku jubah yang lebar itu tersimpan entah beberapa buah kitab.

"Jadi petpustakaan itu dibakar untuk percuma saja dan semua kitab di tempat itu habis terbakar? Aduh, sayang sekali!"

Seru Kwan Kok Sun sewajarnya.

Diam-diam ia mengatur siasat untuk mendapatkan kitab di dalam saku baju hwesio Lama itu.

Biarpun belum melihat buktinya, namun Kwan Kok Sun bukanlah anak kecil dan pengalamannya dalam hal tipu-tipu muslihat orang kang-ouw, sudah cukup banyak.

Akan tetapi di lain fihak, Thai Gu Cinjin juga bukan orang biasa, malah kalau dibandingkan dengan Kwan Kok Sun, ia menang banyak dalam hal tipu muslihat.

Thai Gu Cinjin adalah seorang tokoh yang sudah amat terkenal kecerdikannya dan kelicikannya, dan inipun Kwan Kok Sun sudah tahu.

Ia mau kerja sama dengan Thai Gu Cinjin hanya karena mengingat akan persamaan daerah, juga Kwan Kok Sun berasal dari daerah barat, lebih barat dari Tibet malah.

Ayahnya, See-thian Tok-ong Si Raja Racun dari Baral adalah seorang peranakan India.

Untuk turun tangan sendiri di Omei-san mencuri kitab, bagi Kwan Kok Sun merupakan pekerjaan yang tidak mungkin, terlampau berat.

Oleh karena itu ia bersedia bekerja sama dengan Thai Gu Cinjin dengan harapan, mendapatkan bagian.

Akan tetapi, seperti yang sudah ia sangsikan setelah berhasil, Thai Gu Cinjin hendak menipunya.

Diam-diam Thai Cu Cinjin juga mengatur siasat untuk menyingkirkan Kwan Kok Sun.

Memang kalau tidak amat terpaksa, ia tidak hendak membunuh Tee-tok Kwan Kok Sun mengingat bahwa dahulu Thai Gu Cinjin pernah menerima pelajaran dari See-thim Tok-ong ayah Kwan Kok Sun sehingga biarpun amat jauh, di antara mereka ada perhubungan persahabatan yang sudah lama.

Kalau Kwan Kok Sun tidak membuat banyak ribut dan tidak mengganggunya dengan kitab yang berhasil dicurinya, cukuplah.

"Losuhu, setelah aku membantumu dalam penyerbuan Omei-san, biarpun sayang sekali tidak menghasilkan sesuatu, maka sekarang giliranku untuk mohon bantuanmu seperti pernah kunyatakan sebelum kita berangkat ke Omei-san,"

Kata Kwan Kok Sun.

"Baleh, boleh sekali. Memang bantuanmu di Omei-san harus pinceng balas. Pinceng bukan orang yang tak kenal budi. Ceritakan sahabatku, urusan apa itu di kota raja?"

"Losuhu, sesungguhnya aku mempunyai rahasia besar di kota raja Kerajaan Kin. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang kini berada di rumah seorang pangeran besar."

Thai Gu Cinjin membelalakkan matanya dan tertawa lebar.

"Ha-ha ha, Tee-tok Kwan-Kok-Sun. Dulu pernah pinceng mendengar bahwa kau mempunyai isteri akan tetapi kau juga punya anak? Ha-ha-ha, benar-benar aneh kedengarannya orang seperti kau ini bisa punya isteri dan anak. Teruskan, teruskan!"

"Isteriku meninggal dunia, meninggalkan seorang anak kecil. Karena amat sukar mengurus arak pula karena ingin sekali melihat anakku itu berada dalam perawatan baik-baik, maka aku lalu meninggalkan anakku itu di rumah seorang pangeran yang bernama Wanyen Ci Lun, di kota raja. Sampai sekarang hal itu telah terjadi tiga belas tahun lebih dan anak itu sekarang tentu berusia empat belas tahun. Aku ingin sekali mengambilnya kembali, akan tetapi karena rumah Pangeran besar itu terjaga kuat, aku tidak berani. Sekarang aku mohon pertolongan losuhu untuk membantu aku mengambil kembali anak itu."

"Ha-ha-ha-ha, hal semudah itu apa sih sukarnya? Tentu saja pinceng sanggup membantumu. Jangan khawatir, sahabat. Pinceng pasti akan dapat mengambil puterimu itu."

Demikianlah, dengan amat cerdik Kwan Kok Sun mengatur siasatnya untuk menjebak Thai Gu Cinjin, Apa yang diceritakan oleh Kwan Kok Sun itu memang tidak bohong dan anak yang ia maksudkan itu bukan lain adalah Bi Li yang ia tinggalkan di dalam taman keluarga Wanyen Ci Lun ketika Bi Li baru berusia setengah tahun.

Akan tetapi ia membohong kalau bilang bahwa ia ingin mengambil anak itu kembali.

Ia tahu bahwa anak itu kini telah menjadi murid Ang jiu Mo-li yang lihai.

Oleh karena inilah ia hendak memancing Thai Gu Cinjin agar menculik Bi Li sehingga akan berhadapan dengan Ang Jiu Mo-li sementara ia akan muncul sebagai penolong Bi Li agar bisa mendapat kepercayaan Pangeran Wanyen Ci Lun dan bisa berkumpul dengan anak itu.

Setelah Thai Gu Cinjin melihat bahwa Kwan Kok Sun tidak menyinggung-nyinggung soal kitab Omei-san, ia menjadi lega dan dengan sungguh-sungguh ia ingin membantu Kwan Kok Sun menculik kembali anaknya dari gedung pangeran itu.

Dengan cepat mereka melakukan perjalanan dan setelah tiba di kota raja, mereka menanti sampai malam tiba.

Sementara itu Kwan Kok Sun sudah pergi menyelidiki dan mendengar bahwa Ang-jiu Mo Li kebetulan berada di rumah Wanyen Ci Lun, ia menjadi lega.

Tadinya ia khawatir kalau wanita sakti itu tidak ada.

Kalau demikian halnya, tentu ia akan merubah rencananya.

Biarpun jalan masuk ke lingkungan bangunan istana terjaga kuat sekali, namun bagi orang selihai Thai Gu Cinjin dan Tee-tok Kwan Kok Sun, menyelinap masuk ke lingkungan itu bukanlah hal yang sukar.

Juga penjaga-penjaga di sekeliling dinding tembok pekarangan gedung Pangeran Wanyen Ci Lun bukan apa-apa bagi mereka.

Dengan ginkang mereka yang tinggi, bagaikan dua sosok bayangan iblis mereka melewati dinding tembok tanpa terlihat oleh seorangpun penjaga yang umumnya hanya memiliki kepandaian silat biasa saja.

Di lain saat Thai Gu Cinjin dan Kwan Kok Sun telah berada di atas genteng rumah gedung Pangeran Wanyen Ci Lun.

Keadaan sunyi sekali karena waktu telah menjelang tengah malam dan agaknya seisi rumah telah tidur pula.

Akan tetapi seorang sakti seperti Ang jiu Mo Li sudah tentu saja memiliki pendengaran yang amat tajam.

Kalau orang lain masih enak pulas karena jejak kaki Thai Gu Cinjin dan Kwan Kok Sun memang tidak menerbitkan suara, adalah Ang Jiu Mo-li telah mendengar suara yang mencurigakan di atas genteng.

Pendengaran wanita sakti ini sudah demikian terlatih tajam sehingga ada seekor kucing saja berjalan di atas genteng, kiranya ia akan mendengarnya juga.

Karena itu dapat dibayangkan betapa kaget hati Thai Gu Cinjin ketika tiba tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di bawah sinar bulan ia melihat Ang-jiu Mo-li telah berdiri di depannya!

"Ang-jiu Mo-li......

kau di sini?"

Tak terasa lagi saking kagetnya Thai Gu Cinjin berseru, hatinya gelisah.

"Hemm, kiranya Thai Gu Cinjin si gundul penipu ulung yang datang malam-malam seperti seorang maling kecil. Kau mau apa?"

Thai Gu Cinjin yang memang sudah kaget dan gelisah. dibentak demikian oleh wanita sakti yang ditakutinya itu menjadi lebih gugup.

"Ang-jiu Mo-li, pinceng..........pinceng kesasar........ tak tahu kau di sini........."

"Penjahat berjubah pendeta. Setelah kau melakukan pembakaran yang mengacaukan puncak Omei-san, kau sekarang muncul di kota raja ini mau apa? Dan mengapa justeru tempat ini yang kau kunjungi?"

Disebutnya peristiwa di 0mei-san menimbulkan akal dalam kepala Thai Gu Cinjin yang penuh tipu muslihat itu. Wajahnya segera berubah terang dan ia berkata.

"Terhadap kau mana bisa orang membohong. Ang jiu Mo-li? Sesungguhnya pinceng datang ke kota raja ini sengaja hendak menemuimu. Bukankah kau dahulu telah berhasil menggondol pergi sebuah kitab dari Omei-san?"

Ang.jiu Mo-li mengerutkan keningnya dan mata yang tajam itu memandang penuh curiga.

Memang ia tidak takut sama sekali menghadapi Thai Gu Cinjin oleh karena sudah beberapa kali ia ukur kepandaian pendeta Lama ini dan selalu menang.

Akan tetapi, disebutnya perkara pencurian kitab di Omei-san itu membikin ia merasa tidak enak hati, sungguhpun dua orang kakek sakti di Omei-san telah tewas.

Pengaruh nama besar dua orang kakek sakti dan luar biasa itu rupa-rupanya masih cukup hebat untuk membikin jerih hati seorang lihai seperti Aug jiu Mo-li.

"Kau membuka mulut seperti membuka peti sampah saja! Andaikata betul aku mendapatkan kitab, habis kau mau apakah? Mau merampasnya?"

"Ha ha ha, Ang-jiu Mo-li, kau selalu menganggap jahat pada pinceng. Kau harus ingat bahwa kalau pinceng tidak membakar perpustakaan di puncak Omei san, begaimana kau dapat merampas kitab dari tangan dua orang kakek sakti itu? Sedikit banyak kau mendapatkan kitab adalah karena jasaku! Oleh karena itulah aku datang ini untuk minta balasan kebaikanmu, mengingat akan jasa pinceng yaitu untuk meminjam kitab Omei-san itu barang satu dua bulan. Bukankah permintaan ini adil namanya?"

Memang Thai Cinjin orangnya cerdik Begitu ketemu batunya, ia dapat mencari jalan yang lain, untuk menghindarkan diri.

Ia tahu bahwa takkan menang melawan Ang-jiu Mo-li dan merasa khawatir kalau kalau maksud sesungguhnya dari kedatangannya bersama Kwa Kok Sun malam itu akan diketahui oleh Ang jiu Mo-li!

Maka ia memutarbalikkan persoalan dan sengaja mercari alasan untuk menutupi maksudnya menculik anak Kwan Kok Sun yang katanya dititipkan di rumah Pangeran Wanyen Ci Lun.

Diam diam Kwan Kok Sun kaget dan kagum sekali akan kecerdikan pendeta Lama ini.

Ia sudah mulai khawatir kalau kalau siasatnya takkan berhasil.

Akan tetapi Ang-jiu Moli juga bukan seorang bodoh.

Biarpun kemarahannya memang agak berkurang ketika mendengar kata-kata Thai Gu Cinjin yang memang masuk di akal itu, namun ia masih selalu bercuriga.

"Thai Gu Cinjin, kau pandai bicara. Kalau mau bicara tentang pencurian atau perampokan di puncak Omei-san, maka kaulah maling dan rampoknya! Kau yang membakar rumah orang, kau yang sengaja datang untuk mencuri kitab. Sudah tentu kau telah mendapatkan beberapa buah kitab. Seperti aku andaikata mendapatkan kitab, itupun bukan pencurian atau perampasan, paling paling dapat disebut menyelamatkan kitab dari pada jadi makanan api. Kau mau pinjam kitab? Boleh, boleh, akan tetapi kaupun harus mengeluarkan kitab Omei-san yang kaucuri untuk kupinjam. Kita sama-sama meminjam untuk satu dua bulan, bukankah ini namanya saling menguntungkan?"

Thai Gu Cinjin menjadi pucat, dan untungnya sinar bulan memang sudah membuat muka erang kelihatan pucat maka kepucatan mukanya, tidak kentara.

Diam diam ia mengeluh di dalam hatinya.

Bagaimana mungkin bertukar kitab?

Ang-jiu Mo-li tentu sudah mempelajari atau sudah menghafal isi kitab yang dimilikinya, maka andaikata kitab itu hilang sekalipun tidak akan rugi.

Sebaliknya untung kalau dapat meminjam kitab yang dikantongi Thai Gu Cinjin karena berarti mendapatkan ilmu silat tinggi yang baru.

Di lain fihak, dia sendiri belum mempelajari kitab rampasannya itu, bagaimana dia bisa memberikan kepada orang lain?

Juga untuk mengaku terhadap seorang seperti Ang-jiu Mo li adalah berbahaya sekali.

Kwan Kok Sun yang mendengar kata-kata Ang-jiu Mo-li menjadi senang hatinya.

Akan tetapi ia pura-pura ketakutan dan keturunan See-thian Tok-ong Si Raja Racun dari barat ini cepat melompat sambil berkata dengan nada takut.

"Lo suhu, mari kita pergi saja."

Bagi Thai Gu Cinjin, perbuatan Kwan Kok Sun ini dianggap karena takutnya kepada Ang jiu Mo li, akan tetapi bagi Ang-jiu Mo-li makin bertambah tebal dugaannya bahwa tentu Thai Gu Cinjin benar-benar telah berhasil mengambil banyak kitab Omei-san!

Memang inilah yang dikehendaki oleh Kwan Kok Sun supaya Ang-jiu Mo li terpancing dan tidak mau melepaskan Thai Gu Cinjin.

"Baik, kita pergi saja kalau Ang-jiu Mo-li tidak ingat budi dan tidak mau meminjamkan kitabnya,"

Kata Thai Gu Cinjin yang menjadi makin gelisah karena sikap takut-takut Kwan Kok Sun tidak menguntungkan dia.

Dengan cepat ia mengipatkan ujung lengan bajunya tubuhnya yang tinggi besar itu melesat seperti terbang cepatnya menyusul Kwan Kok Sun.

"Thai Gu......... jangan pergi sebelum meninggalkan kitab-kitabmu!"

Ang-jiu Mo-li berseru dan bagaikan burung walet cepatnja wanita yang lihai inipun melesat dan mengejar.

Thai Gu Cinjin memutar tongkatnya ke belakang.

Gerakan serentak ini ia lakukan untuk menyerang pengejarnya secara tiba-tiba dan dia setengah yakin bahwa biarpun Ang.jiu Mo-li lihai sekali, kiranya serangannya yang dilakukan dengan tiba tiba dan disertai pengerahan tenaga ini akan mengenai sasaran.

Akan tetapi benar-benar hebat, dengan tangan kiri dimiringkan di depan dada dan tangan kanan dikibaskan, sikapnya agung sekali, Ang-jiu Mo li sudah dapat menghindarkan diri dari serangan itu.

Thai Gu Cinjin kaget.

Belum pernah ia melihat gerakan seperti itu.

Ang-jiu Mo-li memang orangnya cantik, akan tetapi ketika melakukan gerakan tadi kelihatan agung sekali seperti seorang pandeta wanita, atau lebih tepat lagi seperti seorang dewi.

Tentu saja Thai Gu Cinjin menjadi makin jerih dan ia tidak tahu bahwa yang baru saja digunakan oleh Ang-jiu Mo-li untuk mengehadapi serangannya yang dahsyat tadi adalah jurus dari ilmu Silat Kwan Im-cam-mo (Dewi Kwan lm Menaklukkan lblis) yaitu ilmu silat yang terdapat dalam kitab Omei-san yang diselamatkan dari api oleh Ang-jiu Mo li.

Selagi Thai Gu Cinjin kebingungan, dari sebelah kanan melesat bayangan lain dan tahu-tahu sinar pedang yang aneh gerakannya melayang ke arah tenggorokannya.

Pendeta Lama ini berkepandaian tinggi, biarpun keadaannya sangat berbahaya, namun ia masih dapat menggerakkan tongkatnya dan menangkis.

Pedang itu terpental dan hatinya lega.

Ternyata yang menyerangnya adalah seorang gadis tanggung yang memegang sebatang pedang.

Serangan gadis ini cukup gesit dan cepat, namun tenaganya masih jauh kalau dibandingkan dengan Thai Gu Cinjin.

Munculnya gadis ini bahkan menolong Thai Gu Cinjin oleh karena serangan pembalasan dari Ang jiu Mo-li jadi tertunda atau terhalang.

"Bi Li, mundur! Biar aku menangkap pendeta gundul ini!"

Ang-jiu Mo-li berseru. Dara itu mengendurkan kejarannya dan Ang j Mo-li, gurunya melesat di sebelahnya. Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Thai Gu Cinjin untuk melarikan diri dalam gelap.

"Ssst, losuhu, sini.........!"

Tiba-tiba dari tempat gelap terdengar suara Kwan Kok Sun.

Thai Gu Cinjin yang sudah hasil meninggalkan Ang-jiu Mo-li karena terlindung dalam gelap pada saat awan menutupi bulan, cepat melompat ke arah suara itu.

Tempat Kwan Kok Sun telah bersembunyi di bawah sebuah jembatan di lingkungan istana.

Kwan Kok Sun menyambar tongkat Thai Gu Cinjin dan menarik kawan ini.

"Kau pengecut......... meninggalkan pinceng.........!"

Thai Cu Cinjin menegurnya.

"Sstt, jangan keras-keras, losuhu. Siapa tahu kalau di sini ada siluman wanita itu?"

"Hampir celaka........."

Kata Thai Gu Cinjin berbisik.

"Kita harus dapat melarikan diri malam ini juga. Kalau lewat malam ini, besok pagi tak mungkin kita dapat keluar dari dinding yang melingkungi istana. Dan agaknya Ang-jiu Mo-li terus mengejar losuhu. Celakanya dia tahu bahwa losuhu membawa kitab-kitab....."

Dalam kebingungan dan kegelisahannya, Thai Gu Cinjin kurang hati-hati dan lupa bahwa ia telah menyangkal kepada Kwan Kok Sun tentang kitab Omei-san.

"Gila betul, dia hendak memaksa pinceng mengeluarkan kitab........"

Tiba-tiba ia berhenti dan memandang ke arah Kwan Kok Sun.

Tangannya bergerak dan di lain saat pergelangn tangan Kwan Kok Sun sudah dipegangnya erat-erat.

Akan tetapi di dalam gelap itu, biarpun kepandaiannya kalah tinggi, Kwan Kok Sun dapat melakukan ancaman balasan.

Jari-jari tangannya yang penuh hawa-hawa Hek-tok (Racun Hitam) sudah menempel di lambung pendeta Lama.

"Losuhu, jangan main main, kalau aku mati, kaupun takkan keluar dari sini dalam keadaan bernyawa. Apa maksudmu?"

Kata Kwan Kok Sun dengan suara lirih.

"Lepaskan tangan hitammu!"

Thai Gu Cinjin membentak, suaranya mengandung ancaman hebat.

"Thai Gu Cinjin, jangan kau main curang. Aku tadinya percaya penuh kepadamu, mengapa kau berkali-kali menipu? Bukankah selama ini aku selalu membantumu? Kau mendapatkan kitab-kitab 0mei-san, mengapa kau membohong? Sekarang dalam menghadapi ancaman, kau masih tidak percaya kepadaku padahal aku selalu setia dan kaulah yang curang."

Thai Gu Cinjin melepaskan cengkeramannya dan menarik napas panjang.

"Kau benar, menghadapi Ang-Jiu Mo-li kita harus bersatu. Sekarang bagaimana baiknya, Tee tok?"

"Tidak ada lain jalan, serahkan kitab-kitab itu padaku!"

"Kau gila.....!"

Kembali Thai Gu Cinjin menggerakkan tangannya, akan tetapi biarpun gelap, Kwan Kok Sun dapat mendengar gerakan ini dan cepat ia menyingkir sambil berkata.

"Sabaarr.......! Kalau Losuhu memberikan kitab-kitab itu kepadaku, losuhu akan selamat. Bukankah yang dicari oleh Ang-jiu Mo-li itu kitab-kitab Omei-san? Kalau losuhu menyerah kemudian dia mendapat kenyataan bahwa benar-benar losuhu tidak membawa kitab bukankah losuhu dapat keluar dari tempat itu? Sedangkan aku dengan mudah dapat keluar karena memang Ang-jiu Mo li tidak ada urusan apa apa dengan aku. Lain orang aku tidak takut."

"Akan tetapi kitab itu........ kuberikan kepadamu......? Enak saja kau!"

"Losuhu masih tidak percaya kepadaku? bukan diberikan melainkan dititipkan. Kitab-kitab itu........."

"Hanya sebuah!"

"Hemm, hanya sebuahkah? Nah, baiklah. Sebuah kitab itu adalah hak milik kita berdua. Biarlah kubawa dulu kemudian kalau losuhusudah dapat melepaskan diri dari Ang-jiu Mo-li, kelak kita pelajari bersama. Aku menanti losuhu di sebelah selatan pintu gerbang kota raja."

"Dan kau nanti lari minggat dengan kitab itu?"

Kata Thai Go Cinjin mengejek.

"Losuhu, berapakah lebarnya langkahku? Tentu akhirnya dapat kaususul. Sudahlah, sekarang tidak ada waktu lagi, kau tinggal pilih saja. Kautitipkan kitab itu kepadaku dan aku menantimu di selatan pintu gerbang kota raja, atau aku pergi meninggalkan kau dan kau boleh berebutan kitab dengan Ang-jiu Mo-li!? Setelah berkata demikian, Kwan Kok Sun hendak melangkah pergi. Thai Gu Cinjin yang biasanya banyak tipu muslihatnya, kini tak terdaya. Memang jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri dan kitabnya hanya menuruti usul Kwan kok Sun. Kecuali itu tidak ada pemecahan lain. Kalau ia muncul dari bawah jembatan tentu akan terdapat oleh Ang-jiu Mo-li dan kalau wanita iblis itu mendapatkan kitab Omei-san dalam kantungnya, pasti ia celaka. Sebaliknya, kalau Kwan Kok Sun dapat nenyelamatkan kitab, kelak mudah saja ia mencari dan merampasnya kembali. Pokoknya asal ia bisa lolos malam ini dari ancaman Ang jiu Mo-li.

"Nih, kaubawalah! Lekas kau pergi dan tunggu di luar tembok kota,"

Katanya menyodorkan scbuah kitab yang diambilnya dari saku jubah sebelah dalam. Kwan Kok Sun menerima kitab itu, memasukkannya ke dalam saku, lalu pergi sambil berkata.

"Terima kasih atas kepercayaanmu."

Setelah bayangan Kwan Kok Sun menghilang ke dalam gelap, Thai Gu Cinjin juga keluar dari tempat persembunyiannya dengan hati-hati.

Biarpun kini ia tidak membawa kitab yang dicari-cari oleh Ang-jiu Moli, bahaya bagi dirinya tidak begitu besar lagi, namun lebih selamat dan baik kalau tidak bertemu sama sekali dengan Ang-jiu Mo-li.

Akan tetapi belum ia berlari dengan hati-hati menuju ke pintu gerbang sebelah selatan tiba-tiba seorang pemuda tampan membentaknya dengan pedang ditodongkan.

"Berhenti! Bukankah kau ini Thai Gu Cinjin yang dicari oleh guruku?"

Sebelum pendeta lama itu menjawab, terdengar bentakan lain, merdu, akan tetapi nyaring.

"Betul dia. koko. Serang saja!"

Bentakan ini dtsusul dengan berkelebatnya pedang dan dara tanggung yang tadi membantu Ang-jiu Mo-li menyerang Thai Gu Cinjin, sekarang sudah muncul lagi dan datang-datang menyerang pendeta Lama itu dengan pedangnya yang ganas!

Pemuda itu yang bukan lain adalah Wan Sun putera Pangeran Wanyen Ci Lun, melihat adiknya menyerang lawan lalu membantu dengan pedangnya sehingga Thai Gu Cinjin harus cepat-cepat memutar tongkatnya untuk menangkis serangan dua pedang yang cukup lihai itu.

"Sabar dulu orang-orang muda. Panggil gurumu Ang-jiu Mo-li, pinceng mau bicara dengan dia!"

Dia sengaja tidak balas menyerang karena kalau sampai ia melukai orang-orang muda ini tentu Ang jiu Mo-li tidak mau mengampuninya.

Akan tetapi gadis muda itu, Wan Bi Li, yang sudah mendengar dari gurunya bahwa pendeta Lama ini jahat dan gurunya hendak mcrampas kitab-kitab Omei-san dari pendeta ini, terus menyerang sambil membentak.

"Tak usah banyak rewel. Menyerah dan serahkan kitab-kitab!"

"Pinceng tidak membawa kitab."

Thai Cinjin mengelak sambil coba memberi keterangan.

Hatinya mendongkol bahwa ia harus mengalah terhadap seorang gadis seperti ini.

Tentu saja ia melakukan ini mengingat bahwa Ang-jiu Moli berada di sekitar tempat ini.

Kalau tidak demikian halnya, mana dia suka mengalah terhadap dua orang muda yang masih hijau seperti ini?

"Bohong!

Koko, mari kita robohkan dia, ini kehendak Nio-nio!"

Seru Bi Li yang menyereng terus. Wan Sun menyerang juga mendengar ucapan adiknya ini.

"Celaka, gadis setan ini berwatak seperti gurunya........"

Thai Gu Cinjin mengeluh dan kembali ia menangkis sehingga terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar ketika dua pedang bertemu dengan tongkatnya.

Kali ini Thai Gu Cinjin mempergunakan tenaga sepenuhnya untuk membikin senjata dua orang muda itu terlepas dari pegangan.

Namun pedang itu tetap berada di tengan Bi Li dan Wan Sun, biarpun keduanya merasa telapak tangannya sakil-sakit dan pedang masing-masing tadi terpental keras.

Melihat ini, Thai Gu Cinjin kagum dan ia lalu memutar tubuh, terus lari.

Tak perlu ia melayani dua orang muda keras kepala ini, pikirnya.

Lebih baik berusaha melarikan diri dan nanti kalau sampai bertemu dengan Ang-jiu Mo-li, baru bicara.

Akan tetapi ia memandang dua orang muda itu terlampau rendah kalau ia kira bisa melepaskan diri begitu mudah dari kejaran mereka.

Begitu ia melarikan diri, Wan Bi Li membentak.

"Kepala gundul jangan lari!"

Dan menyusul bentakan ini, menyambar beberapa peluru pat-kwa-ci dengan cepatnya ke tubuh Thai Gu Cinjin.

Pendeta Lama ini kaget sekali dan cepat ia membalikkan tubuh, mengibaskan lengan bajunya memukul runtuh semua peluru beebentuk bundar segi delapan itu.

Akan tetapi gerakannya ini tentu saja menghambat usahanya melarikan diri dan dua orang muda itu sudah berada di depannya lagi, langsung dua batang pedang yang cepat gerakannya menyerangnya.

"Kurang ajar!"

Thai Gu Cinjin membentak.

Pendeta Lama ini tidak biasa bersikap sabar, maka kali inipun ia tak dapat menahan lagi untuk tidak membalas serangan lawan yang mendesaknya.

Demikianlah, sebelum lari lagi, ia balas menyerang dengan maksud memukul runtuh pedang dua orang lawannya.

"Thai Gu Cinjin, kau berani menyerang dia?..."

Berbareng dengan bentakan suara ini, seekor ular hitam yang panjang menyambar ke arah leher Thai Gu Cinjin untuk menggigit! Bukan main kagetnya hati Thai Gu Cinjin, kaget, heran dan marah.

"Kwan Kok Sun......... iblis jahanam?.!"

Tongkatnya diputar ke arah Tee-tok Kwa Kok Sun dan tangan kirinya menyambar ke arah kepala ular hitam untuk dicengkeram.

"Ular bagus..........!"

Wan Bi Li berseru kagum melihat "senjata"

Yang dipergunakan oleh Kwan Kok Sun yang tak dikenalnya itu.

Karena Thai Gu Cinjin hendak mencengkeram kepala ular itu, Bi Li lalu menyerang pendeta Lama ini dengan tutukan ke arah lambung kirinya yang terbuka.

Terpaksa Thai Gu Cinjin mengurungkan niatnya mencengkeram kepala ular dan tangan kirinya ditarik lagi, siku dibengkokkan dan ujung lengan baju digerakkan ke arah pedang Bi Li, terus dilibat dan dibetot.

Di lain saat pedang gadis itu telah kena dirampas.

Wan Sun sudah menyerang dari samping, membabat pundak lawannya, namun hanya dengan merendahkan pundaknya Thai Gui Cinjin dapat meluputkan diri.

Sementara itu tongkatnya kembali sudah menyambar ke arah Kwan Kok Sun.

Angin menderu keras dan sambaran tongkat ini karena dalam marahnya Thai Gu Cinjin sudah mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkan bekas kawan yang kini mengkhianatinya itu.

Tentusaja Kwan Kok Sun menjadi sibuk sekali, melompat ke sana ke mari untuk menghindarkan diri.

Namun Thai Gu Cinjin mendesak terus.

Wan Bi Li yang kini bertangan kosong, mulai menyerang lawan dengan pukulan tangan dan ayunan amgi (senjata pelap) Pat-kwa-ci, sedangkan Wan Sun terus mendesak-desak dengan pedang.

Namun Thai Gu Cinjin yang sudah mengambil keputusan membunuh Kwan Kok Sun, tidak melayani dua orang muda ini.

Semua serangan hanya dielakkan atau ditangkis, sebaliknya semua serangan ia kerahkan untuk merobohkan Kwan Kok Sun.

"Kwan Kok Sun pengkhianat keji, kau harus mampus!"

Katanya berulang-ulang di antara dengusan nafas tertahan.

Tongkatnya kini dipegang di bagian tengah dan dua ujungnya bergerak-gerak menyambar bergantian, mengeluarkan suara dan angin.

Biarpun Kwan Kok Sun juga bukan orang lemah dan dua orang muda itu membantunya, tetap saja ia terdesak hebat.

Dalam desakan bertubi-tubi, terpaksa Kwan Kok Sun tak dapat menyelamatkan diri hanya dengan jalan mengelak, karena tongkat itu yang kedua ujungnya bekerja, amat cepat datangnya.

Dalam kegugupannya ia hendak mengadu nyawa dan melihat tongkat menyambar cepat, ia melepaskan ularnya ke arah perut lawan.

Ular hitam itu bukan main berbahayanya, karena sekali gigit biarpun orang berilmu tinggi seperti Thai Gu Cinjin tentu akan mati juga.

Thai Gu Cinjin cukup maklum akan hal itu.

Ia tidak sudi mengadu nyawa dan tongkat ditarik kembali lalu sekali kemplang kepala ular hitam itu pecah berantakan!

Benar-benar Thai Gu Cinjin lihai sekali dan ilmu tongkatnya bukan main kuatnya.

Dikeroyok oleh tiga orang lawan yang sudah termasuk orang-orang berilmu silat tinggi, ia tidak terdesak sedikitpun juga malah mendapatkan keuntungan.

"Thai Gu Cinjin jangan kau banyak lagak!"

Bentakan ini membuat Thai Gu Cinjin merasa bulu tengkuknya berdiri karena ia mengenal suara Ang-jiu Mo-li.

"Ang-jiu Mo-li, murid-muridmu mendesakku dan terus terang saja, pinceng tidak bawa kitab, biarkan pirccng pergi dari sini,"

Sambil memutar tongkatnya, Thai Gu Cinjin melompat hendak lari.

"Ang-jiu Toanio, dia itu bohong. Dia penipu besar! Memang dia mencuri kitab-kitab Omei-san dan disembunyikan!"

Teriak Kwa-Kok Sun sambil melakukan pukulan dari tempat ia berdiri ke arah Thai Gu Cinjin dengan tangan.

Inilah Hek tok-ciang yang lihai.

Thai Gu Cinjin maklum akan bahayanya pukulan ini, maka iapun mengerahkan lweekangnya dan memutar tongkatnya di depan tubuhnya untuk menolak kembali angin pukulan beracun itu.

Ang-jiu Mo li menjadi heran, tidak tahu mengapa Kwan Kok Sun tiba-tiba memihak dia dan memusuhi Thai Gu Cinjin.

Akan tetapi ia tidak perduli dan mendengar kata-kata itu, makin besar nafsunya untuk merampas kitab-kitab itu dari tangan Thai Gu Cinjin.

"Gundul busuk, serahkan kitab-kitab itu kepadaku kalau tidak ingin mampus!"

Teriaknya.

Sementara itu, Thai Gu Cinjin marah luar biasa kepada Kwan Kok Sun.

Mendengar ucapan Ang-jiu Mo-li ini, ia tak dapat menjawab, bahkan sambil mengeluarkan suara gerengan ia maju menubruk Kwan Kok Sun sambil mengerjakan tongkatnya.

Betapapun tinggi kepandaian Kwan Kok Sun, namun tingkatnya masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Thai Gu Cinjin.

Ia mencoba untuk mengelak, namun angin pukulan pendeta Lama bermuka ungu itu membuat dia tak dapat mempertahankan diri dan jatuh terguling.

Thai Gu Cinjin memburu dengan tongkat diangkat tinggi, siap dipukulkun ke arah kepala Kwan Kok Sun.

"Traaanggg......!"

Untuk kedua kalinya pedang di tangan Wan Bi Li terlempar.

Tadi.

pedangnya telah terampas akan tetapi di pertempuran berikutnya, Thai Gu Cinjin lemparkan pedang itu yang dipungut kembali oleh Bi Li.

Baru saja melihat betapa Kwan Kok Sun, berada dalam bahaya maut sedangkan Bi Li ingin sekali bicara tentang senjata ular dengan orang gundul ini, gadis itu tanpa pikir panjang segera melompat dan menangkis tongkat yang hendak menghancurkan kepala Kwan Kok Sun, akibatnya pcdangnya terlepas dari pegangan.

"Thai Gu Cinjin, kau masih tidak mau menyerah?"

Tiba-tiba sinar merah berkelebat dan Thai Gu Cinjin menjerit kesakitan.

Pundaknya terkena tusukan jari-jari tangan merah.

Tembuslah kulit daging dan tulang oleh jari-jari ini dan hawa beracun dari tangan merah itu membuat Thai Cu Cinjin merasakan akan tubuhnya dibakar api neraka.

Akan tetapi dasar manusia cerdik penuh akal.

Biarpun dalam keadaan terluka hebat, Thai Gu Cinjin masih dapat melihat jalan terakhir untuk lolos dari bahaya maut.

Tubuhnya menggelinding, tongkatnya melayang ke arah Ang-jiu Mo-li bagaikan seekor naga menyambar.

Ketika Ang jiu Mo-li menyampok tongkat itu dan menoleh, ternyata Bi Li telah kena dipegang lengannya oleh Thai Gu Cinjin.

"Ang-jiu Mo-li, kita tukar nyawaku dengan nyawa muridmu ini!"

Katanya dengan sikap tenang. Bi Li telah kena ditotok dan dalam cengkeraman Lama itu gadis muda ini suma sekali tak berdaya.

"Boleh nyawamu ditukar dengan nyawa muridku dan kitab kitabmu!"

Ang-jiu Mo-li menawar. Thai Gu Cinjin tersenyum getir.

"Tidak ada kitab padaku......?. melirik ke arah Kwan Kok Sun, penuh ancaman. Dia juga tidak berani membuka rahasia tentang kitab yang dititipkan kepada Kwan Kok Sun karena kwatir akan terampas oleh Ang-jiu Mo-li. Kelak mudah ia mengambil kitab itu berikut nyawa Tee tok Kwan Kok Sun.

"Sun ji (anak Sun), kauperiksa saku-saku jubahnya."

Ang-jiu Mo-li memerintah muridnya.

la tahu bahwa kalau ia menggeledah Thai Gu Cinjin tentu takkan mau terima.

Wan Sun melangkah maju dan benar saja, digeledah oleh pemuda ini Thai Gu Cinjin hanya tersenyum mengejek.

Wan Sun tidak mendapatkan apa-apa dari semua saku jubah pendeta Lama itu.

"Tidak ada kitab, Nio-nio,"

Kata pemuda itu kepada gurunya. Ang-jiu Mo-li mengerutkan keningnya, tanda bahwa hatinya kecewa sekali.

"Pergilah, Thai Gu Cinjin dan lepaskan muridku,"

Katanya.

Thai Gu Cinjin tahu bahwa ucapan Ang-jiu Mo-li dapat dipercaya penuh, maka ia membebaskan totokannya atas diri Bi Li dan melepaskan gadis itu sambil tersenyum puas.

Lalu ia menoleh kepada Kwan Kok Sun.

"Mari keluar membikin perhitungan!"

Akan tetapi Kwan Kok Sun tidak memperdulikannya.

"Keluarlah sendiri, aku tidak ada urusan dengan kau!"

"Jahanam........!"

Thai GI Cinjin menggerakkan tongkatnya. Biarpun pundak kirinya terluka hebat namun dengan tangan kanan memegang tongkat, ia masih berbahaya sekali.

"Thai Gu Cinjin, kau tidak lekas-lekas pergi dari sini? Jangan tunggu aku berubah pikiran!"

Ang-jiu Mo-li membentak.

Wanita sakti ini memang ingin membantu Kwan Kok Sun karena ia mempunyai harapan mendengar dari Racun Bumi ini tentang kitab-kitab Omei-san yang dicuri oleh Thai Gu Cinjin.

Sambil menahan marah dan sakit Thai Gu Cinjin tak berani membantah lalu pergi dari situ dengan cepatnya.

Setelah pendeta Lama pergi, Kwan Kok Sun mendekati Bi Li, di bawah sinar bulan ia menatap wajah gadis ini dengan penuh kasih sayang.

"Sama benar dengan ibunya......... serupa lihat mulut dan mata itu......"

Tiba-tiba Kwan Kok Sun menangis terisak-isak.

"Iiihhh, kau kenapakah?"

Kata Bi Li terheran-heran.

Juga Ang-jiu Mo-li melangkah melangkah maju mendekati melihat sikap aneh dari orang gundul ini.

Sebagai seorang tokoh kang-ouw, Ang-jiu Mo-li selalu menaruh curiga terhadap orang-orang seperti Tee tok Kwan Kok Sun ini.

Pada saat itu banyak orang datang berlari.

Mereka ini adalah para pengawal istana dipimpin sendiri oleh Pangeran Wanyen Ci Lun isterinya yang gagah, Gak Soan Li.

Biarpun guru dan dua orang muridnya itu melakukan pengejaran terhadap Thai Gu Cinjin secara diam-diam tanpa minta bantuan para pengawal yang banyak terdapat di istana, namun suara ribut-ribut tadi akhirnya terdengar juga oleh para pengawal.

Juga Wanyen Ci Lun dan isterinya mendengar lalu mereka ikut mencari ketika melihat bahwa kamar kedua orang anaknya kosong.

"Ada terjadi apakah?"

Tanya Gak Soan Li sudah menyiapkan sebatang pedang di tangan, wajahnya menjadi tenang dan lega melihat putera-puterinya selamat.

"Eh kau di sini? Bukankah kau putera See-thian Tok-ong......!"

Pangeran Wanyen Ci Lun bertanya ketika melihat Kwan Kok Sun yang dulu sudah sering kali ia jumpai (baca Pedang Penakluk Iblis).

Kwan Kok Sun yang menghentikan tangis melihat kedatangan banyak orang, lalu menjura kepada Pangeran Wanyen Ci Lun dengan hormat dan berkata.

"Hamba sengaja datang hendak berlemu dengan Taijin membicarakan hal yang sangat penting."

Sambil berkata demikian, Kwan Kok Sun melirik ke arah Wan Bi Li. Wanyen Ci Lun menoleh kepada Ang-jiu Mo-li, dengan sinar matanya minta nasihat wanita sakti itu.

"Tidak ada apa-apa, semua sudah beres Saudara-saudara pengawal dan penjaga harap bubaran, tidak ada bahaya apa-apa di sini. Di harap Taijin pulang bersama Bi Li dan Sun-ji, kalau Kwan Kok Sun ini hendak bicara dengan Taijin, boleh saja biarkan dia ikut. Aku akan menjaganya."

Maka berakhirlah ribut-ribut tadi, sedangkan Thai Gu Cinjin biarpun sudah terluka mudah saja ia lari keluar dari tembok istana melalui para penjaga yang hanya melihat bayangan besar berkelebat dan lenyap.

Adapun Pangeran Wanyen Ci Lun dan anak isterinya segera kembali ke gedung mereka diikuti oleh Kwan Kok Sun yang senantiasa diawasi gerak-geriknya oleh Ang-jiu Mo-li.

Setiba mereka di gedung, Bi Li dan Wan Sun disuruh tidur oleh ayah mereka.

Kemudian Wanyen Ci Lun dan isterinya mengajak Kwan Kok Sun dan Ang-jiu Mo-li ke kamar tamu.

"Nah, ceritakan apa kehendakmu. Kwan-sicu"

Tanya Wanyen Ci Lun tak sabar.

"Tadinya aku hendak menyimpan rahasia ini, akan terapi apa dayaku. Thai Cu Cinjin yang jahat itu telah memaksa aku membuka rahasia. Tadinya Thai Gu Cinjin mempunyai niat jahat, hendak membasmi keluarga Wanyen Taijin......"

"Mengapa?"

Tanya Ang-jiu Mo-li tajam, tidak gampang percaya begitu saja.

"Dia diam-diam telah diperalat oleh Temu Cin raja besar orang Mongol,"

Jawab Kwan Kok Sun cepat tanpa ragu-ragu karena memang sudah ia atur lebih dulu.

"Karena tahu bahwa kedudukan Wanyen Taijin di sini amat berpengaruh dan besar, maka Temu Cin menyuruh Thai Gu Cinjin untuk membasmi keluarga Wanyen seluruhnya untuk melemahkan kedudukan Kerajaan Kin yang akan diserbunya."

"Dan kau ikut dengan dia untuk membantunya?"

Suara Ang-jiu Mo li mengandung ancaman.

"Ah, tidak......... tidak.......! Memang kepada Thai Gu Cinjin aku berjanji hendak membantunya, Akan tetapi sebenarnya aku untuk mencegah dia turun tangan, atau setidaknya mencegah dia membunuh puteri keluarga Wanyen."

"Apa sebabnya, Kwan sicu?"

Wanyen Ci Lun bertanya cepat-cepat dan Gak Soan Li memandang penuh perhatian.

Kwan Kok Sun menarik napas panjang "Apa boleh buat, terpaksa aku membuka rahasia.

Perkara sudah terlanjur begini.

Wanyen Taijin, sesungguhnya pateri paduka, nona Bi Li itu, adalah anakku."

Terbelalak besar mata Wanyen Ci Lun dan isterinya.

Mereka terkejut, seakan-akan baru sekarang mereka tahu bahwa sesungguhn Bi Li bukanlah anak mereka sendiri!

Sudah lupa pula mereka akan kenyataan itu, karena bagi mereka lahir batin Bi Li sudah menjadi anak sendiri.

Hanya Ang-jiu Mo-li yang bersikap tenang.

Wanita sakti ini sudah pernah mendengar cerita tentang keadaan Bi Li yang aneh dan diapun diberi tahu bahwa Bi Li sesungguhnya bukan puteri kandung suami isteri ini.

Akan tetapi Ang-jiu Mo-li tidak begitu mudah percaya akan pengakuan orang seperti Kwan Kok Sun.

Searanya tegas dan menakutkan ketika ia bertanya.

"Mudah saja kau mengaku-aku anak orang. Kalau kau bisa bilang bahwa Bi Li muridku itu anakmu, hayo katakan apa buktinya?"

Mendengar ini, Wanyen Ci Lun dan isterinya sadar. Pangeran itupun segera berkata.

"Betul, Kwan-sicu. Apa buktinya bahwa dia anakmu?"

Ia mengharapkan orang gundul itu takkan bisa menjawabnya.

Ia mengharap jangan ada orang lain di dunia ini akan mengakui Bi Li sebagai anak!

Akan tetapi Kok Sun tidak menjadi gugup menghadapi serangan pertanyaan ini.

Ia menarik napas panjang dan berkata.

"Memang sudah kuduga bahwa aku akan menghadapi hal yang sulit apabila tiba masanya akan mengakuinya sebagai anak. Oleh karena itu aku sengaja memberi tanda. Anak itu di punggungnya, di kanan kiri tulang punggung agak bawah, terdapat dua tanda bintik merah. Dulu sebesar biji teratai, sekarang mungkin lebih besar mengikuti pertumhuhan badannya. Dari dua bintik merah ini keluar bau harum yang aneh. Tidak betulkah ini?"

Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li mengeluarkan seruan tertahan. Ang-jiu Moli yang tidak tahu akan hal itu bertanya kepada Gak Soan Li.

"Betulkah itu?"

Gak Soan Li hanya bisa mengangguk penuh keharuan sedangkan Wanyen Ci Lun menjawab kepada Kwan Kok Sun.

"Tepat sekali keterangan itu! Akan tetapi aku masih belum dapat percaya betul. Kalau betul kau ayahnya, kau tentu dapat menceritakan apa yang menyebabkan bintik-bintik merah itu dan siapa ibunya kemudian mengapa pula anak itu bisa berada di sini bersama kami."

Ang-jiu Mo-li mengangguk-angguk sctuju.

Memang sebelum mempercayai keterangan orang seperti Kwan Kok Sun ini harus lebih dulu, mendapatkan penjelasan dan bukti-bukti yang kuat.

Bi Li yang cantik jelita seperti bidadari itu anak setan gundul ini?

Sungguh sukar dipercaya, kata hati Ang-jiu Mo-li.

"Betul, kau harus dapat menceritakan semua itu semua dengan jelas!"

Katanya memperkuat permintaan Wanyen Ci Lun. Dan tiba-tiba Kwan Kok Sun menangis! Semua orang menjadi terheran-heran.

"Apa-apaan ini? Apa kau sudah gila?"

Bentak Ang-jiu Mo-li hilang sabar.

Tangis Kwan Kok Sun tidak dibuat-buat melainkan mengguguk seperti anak kecil mengharukan hati Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li.

Apalagi Wanyen Ci Lun yang sudah mcngenal watak Kwan Kok Sun.

Orang seperti ini, yang menjadi putera raja racun yang amat jahat, sampai dapat menangis begitu sedih, batinnya benar-benar berduka.

"Ah....... aku teringat kepada dia......... ibu anak itu....."

Ia berusaha keras untuk mengatasi keharuan hatinya dengan menggigit bibirnya sampai berdarah. Setelah mengusap darah di bibirnya dan air mata di pipi, orang gundul ini bercerita singkat.

"Anak itu lahir ibunya meninggal dunia. Dengan susah payah aku memeliharanya. akan tetapi aku seorang kasar bagaimana bisa memelihara seorang bayi? Pertolongan ibu-ibu muda di kampung-kampung memang bisa menyambung nyawa anak itu sampai beberapa bulan. Akan tetapi aku berpikir bahwa kalau anak itu terus menerus ikut aku, dia akan menjadi apakah? Aku seorang perantau, miskin tiada sanak kadang tiada pondok. Maka aku lalu teringat kepada Wanyen Taijin, seorang bangsawan yang sudah kukenal betul keadaan hatinya. Nah, timbul dalam kepalaku untuk menitipkan anakku kepada Wanyen Taijin tetapi aku tidak berani berterang oleh karena aku takut kalau-kalau ditolak permintaanku. Lalu kutinggalkan begitu saja anakku itu di dalam taman bunga di belakang rumah gedung ini. Aku yakin bahwa dengan cara demikian mau tidak mau Wanyen Taijin tentu akan memeliharanya. Dan ternyata dugaanku betul. Anak itu terpelihara baik-baik, menjadi terpelajar, pandai dan....... dan cantik jelita seperti ibunya......."

Kembali ia menangis terisak-isak.

"Nanti dulu,"

Kata Ang-jiu Mo-li.

"Kau belum menceritakan bagaimana tentang dua bintik merah di punggungnya itu."

Setelah menyusuti air matanya. Kwan Kok Sun melanjutkan penuturannya.

"Karena aku sudah menduga bahwa tanpa sesuatu tanda kelak sukar untuk mengakui anakku, aku sengaja memberi tanda itu."

"Bagaimana caranya? Jelaskan!"

Kata pula Ang-jiu Mo-li.

"Semenjak kecil aku selalu bermain-main dengan ular-ular berbisa itu, cara menangkap, memeliharanya, menolak racunnya dan apa saja yang ada hubungannya dengan ular. Pendeknya aku tidak berlebihan kalau mengaku bahwa aku adalah seorang ahli ular beacun. Kebetulan sekali ketika itu aku mempunyai seekor ular kecil merah yang namanya siang hwa ang coa (Ular merah Bunga Harum) yang kudapatkan di perbatasan Tibet. Ular kecil merah itu di sana terkenal sebagai rajanya ular, baunya harum sekali seperti selaksa kembang dan ular-ular lainnya, besar kecil beracun atau tidak terutama sekali yang beracun. baru mencium baunya saja sudah jadi jinak. tunduk dan takut. Nah, ular kubelek tubuhnya, kuambil sari racun yang wangi, kucampuri dengan obat penawar racunnya sehingga racun itu tidak berbahaya lagi, akan tetapi sari keharumannya masih kerja penuh. Sari ini lalu kumasuksan dalam urat-urat di kanan kiri punggung anak sehingga menjadi satu dengan peredaran darahnya, membuat tubuhnya menjadi harum baunya seperti Siang-bwe-ang-coa dan setiap ular tentu takkan berani mengganggu, Memang bukan tidak ada bahayanya memasukkan racun itu ke dalam urat-urat dekat pungung, salah-salah bisa mematikan anaknya. Akan tetapi kukatakan tadi, aku adalah seorang ahli dalam hal itu. Racun itu tidak mendatangkan bahaya bagi anakku, hanya meninggalkan dua bintik merah kecil di punggungnya dan sebaliknya dapat membuat tubuhnya menjadi harum dan anti gigitan ular berbisa."

Mendengar ini, Wanyen Ci Lun dan Soan Li tidak ragu-ragu akan tetapi Ang jiu Mo-li masih berkata kepada Soan Li.

"Harap hujin suka mengujinya sekali lagi. Tanyakan tentang pakaian dan keadaan anak itu ketika ditemukan."

Dengan suara gemetar Soan Li bertanya dan jawaban Kwan Kok Sun tentang pakalan dan keadaan anak itu memang tepat sekali, cocok seperti keadaan anak itu ketika didapatkan di dalam taman.

"Tak salah lagi, kau adalah ayah Bi Li". kata Gak Soan Li, suaranya gemetar terharu, kedua matanya basah oleh air mata. Ibu ini merasa bingung dan gelisah sekali, takut kalau-kalau ayah sejati ini mcnuntut anaknya.

"Agaknya kau memang betul ayahnya, orang she Kwan. Akan tetapi, sekarang anakmu sudah remaja puteri dan semenjak bayi dipelihara oleh Wanyen Taijin dan isterinya. Kau sekarang mau apa?"

Suaranya dingin, dan sudah pasti Ang-jiu Mo-li akan membantu suami-isteri ini mempertahankan puteri mereka.

"Aku tidak mau apa-apa, hanya ingin diberi ijin tinggal di sini, hidup di dekat anakku. Biar aku bekerja membantu Wanyen Taijin, biarpun bodoh dan lemah, kiranya aku ada sedikit tenaga untuk membantu kelak bila orang-orang Mongol datang menyerbu. Di samping itu, aku ingin menurunkan semua kepandaianku kepada puteriku. ingin pula memberi oleh-oleh berupa sebuah kitab yang istimewa kepadanya."

"Dari Omei-san...........?"

Ang-jiu Mo-Li memotong cepat. Kini Kwan Kok Sun yang memandang kepada wanita sakti itu penuh curiga.

"Kalau betul, apakah kau hendak merampasnya, Ang-jiu Mo-li? Kitab ini kudapatkan secara mati-matian dari tangan Thai Gu Cinjin dan hendak kuhadiahkan kepada puteriku. Biarpun aku akan mampus di tanganmu, aku tidak akan membiarkan kau mengambilnya untukmu sendiri!"

Tiba-tiba Ang-jiu Moli tertawa. Aneh, lenyap keangkeran wajahnya, lenyap sifat sifatnya yang ganas kalau Ang jiu Mo li tertawa. Sebaliknya nampak manis dan cantik sekali.

"Setan gundul, kau bicara ngaco! Aku sendiri yang mendapatkan sebuah kitab Omei-san kuajarkan kepada murid-muridku. Masa aku akan merampas kitab yang kau berikan kepada muridku? Aku hanya ingin tahu apakah betul-betul Thai Gu Cinjin mendapatkan banyak kitab dari Omei-san seperti kau katakan tadi?"

"Tidak. Tadi aku sengaja berkata demikian agar supaya kau jangan melepaskannya. Bahkan kitab inipun tadinya dia yang punya, satu-satunya kitab yang dapat ia ambil dari puncak Omei-san."

Lalu Kwan Kok Sun bercerita terus terang betapa ia mengatur siasat untuk menjebak Thai Gu Cinjin di istana dan untuk merampas kitab meminjam tangan Ang-jiu Mo-li.

Mendengar ini, kembali Ang jiu Mo-li tertawa.

(Lanjut ke

Jilid 18) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18

"0rang-orang macam kau dan Thai Gu Cinjin selalu mempergunakan tipu muslihat dan curang."

"Hidupku yang lampau sudah penuh kekejian, Ang-jiu Mo-li. Sekarang melihat keadaan anakku yang mulia hidupnya, aku betul hendak mencuci tangan, hendak menebus dosa dengan memperlihatkan kepada anakku bahwa bapaknya juga dapat menjadi manusia bersih. Asal saja Wanyen Taijin sudi menerima aku bekerja di sini, hidup di dekat anakku, biar disuruh berkorban nyawa aku siap sedia!"

Wanyen Ci Lun menjadi terharu. Tentu saja ia tidak mau menolak, bahkan andaikata orang ini hendak membawa pergi Bi Li, ia punt tidak bisa apa-apa.

"Baiklah, Kwan-sicu. Kau kuterima bekerja dan menjadi perwira, sesuai dengan kepandaianmu. Akan tetapi tentang Bi Li....... apakah kami harus... bicara terus terang padanya?"

"Ohhh, jangan...... kasihan, dia?? tentu akan kecewa sekaIi mendapatkan bahwa ayahnya hanya......? "Harus diberitahu!"

Kata Wanyen Ci Lun yang berwatak agung dan jujur.

"Betapapun akan pahit getirnya kenyataan harus dihadapinya dengan tabah.? Setelah berkata demikian, ketika itu juga ia menyuruh isterinya memanggil Bi Li. Ketika itu telah menjelang pagi dan Bi Li yang baru saja pulas, bangun dengan mata masih mengantuk dan rambut yang awut-awutan. Namun hal ini bahkan menonjolkan kecantikannya yang aseli, membuat Kwan Kok Sun diam-diam kagum bukan main.

"Ayah panggil aku ada apakah?"

Tanya Bi Li kepada Wanyen Ci Lun karena ibunya hanya bilang bahwa dia dipanggil ayahnva untuk kepetluan penting sekali.

Ketika Bi Li melirik dan melihat Kwan Kok Sun masih duduk di situ ia tersenyum dan wajahnya berseri-seri, katanya.

"Kau masih di sini, orang tua gagah? Kebetulan sekali karena aku ingin sekali bertanya tentang ular hitam yang dapat kaupakai sebagai senjata itu. Sayang ular sebagus itu mati oleh tongkat Thai Gu Cinjin."

Dengan suara terharu Kwan Kok Sun menjawab "Jangan khawatir, kalau kau suka aku bisa mendapatkan seekor ular seperti itu untukmu.

Kita masih mempunyai banyak waktu untuk bercakap-cakap tentang segala macam ular, anak yang baik."

"Betulkah?, Aahh, aku ingin sekali mempunyai kawan baik yang bisa membantu dalam pertempuran seperti ular itu!"

Wajah Bi Li berseri-seri dan dara remaja ini sudah lupa lagi bahwa ia keluar karena dipanggil ayahnya.

Sementara itu, menyaksikan ayah dan anak bercakap-cakap itu saja sudah merupakan hal yang mengharukan dan mendebarkan hati sehingga Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li memandang dengan melongo, bahkan Ang-jiu Mo-li juga diam saja tak bergerak.

Kesunyian ini agaknya terasa oleh Bi Li, maka ketika ia menoleh dan melihat sikap ayah-bundanya.

ia menjadi terheran dan berbareng ingat akan panggilan ayahnya.

"Ayah memanggil aku ada kepentingan apakah ayah?"

Tanyanya lagi sambil melangkah maju dan merangkul pundak ibunya dengan sikap manja.

"Bi Li, Kwan-sicu ini....... dia inilah....... ayahmu sendiri. Adapun aku dan ibumu itu hanya ayah dan ibu pungut saja."

Bi Li memandang bingung, mengira ayahnya bergurau lalu mendekati ayahnya, memegang tangannya.

"Ayah kau bilang apa? Aku tidak mengerti."

Suara Wanyen Ci Lun agak gemetar ketika ia menguatkan hatinya dan bicara dengan jelas sementara Gak Soan Li menutupi muka untuk menyembunyikan matanya yang sudah basah.

"Bi Li, ketahuilah. Ketika kau berusia setengah tahun, oleh ayahmu ini kau dititipkan kepada kami karena...... karena ibumu sendiri meninggal dunia ketika kau terlahir?.."

Ucapan ini saja sudah mcnunjukkan betapa luhur budi Pangeran Wanyen Ci Lun, tahu bahwa kalau ia memberi tahu bahwa Bi Li dahulu ditinggalkan ayahnya di dalam taman seakan-akan dibuang, tentu perasaan gadis itu akan tersinggung, maka ia menolong Kwan Kok Sun dengan mengatakan bahwa Bi Li sengaja dititipkan!

Akan tetapi, ucapan yang lemah lembut itu tetap saja merupaka pisau berkarat yang menancap di ulu hati Bi Li.

Dara ini meloncat mundur seakan-akan ditampar, mukanya pucat sekali seperti muka mayat.

Soan Li menjerit dan menubruk gadis itu, terus dirangkul dan didekapnya kepala anaknya itu ke dadanya.

"Bi Li, jangan........ jangan kau memandang aku seperti itu......."

Tangis Soan Li.

"Aku tetap ibumu....... kau anakku, jangan anggap aku bukan ibumu lagi......."

Namun Bi Li meronta dari pelukan ibu berdiri tegak dan sampai lama ia hanya menatap wajah Kwan Kok Sun, Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li berganti-ganti.

"Mengapa scmua ini dirahasiakan tadinya. Mengapa...... ??"

Bi Li tidak menangis, setitik air matapun tidak keluar, pandang matanya menyambar.

"Bi Li, anakku, kami memang tidak menganggap engkau seperti orang lain. Kau adalah anak kami dan....... dan....... kalau tidak ada kejadian malam ini, sampai sekarangpun rahasia itu akan kami simpan, kami bawa mati??"

Tiba-tiba Kwan Kok Sun tertawa keras dan berdiri dari bangkunya.

"Ha ha ha, mengapa ribut-ribut untuk urusan ini? Tentu saja anak Bi Li masih menjadi anak Pangeran Wan-taijin dan hujin. Mana bisa lain? Bahkan nama Bi Li juga pemberian dari ayah bundamu ini. Mana bisa kau menjadi anakku? Tidak pantas, tidak pantas. Biarlah mulai sekarang, kau tetap anak terkasih dari Pangeran Wanyen Ci Lun ada pun aku. Tee-tok Kwan Kok Sun. menjadi gihu (ayah angkat) saja. Bagaimana? Maukah muridku?"

Tiba-tiba Kwan Kok Sun menghadapi Ang-jiu Mo-li dan menjura.

"Maaf, Toanio, bukan maksudku mendesak menjadi guru anak ini. Tentu saja kepandaianmu jauh lebih tinggi dari pada kebisaanku yang tidak ada artinya, akan tetapi seperti kataku tadi, biarpun sedikit, kiranya aku dapat mewariskan kepandaianku , terutama isi kitab itu....."

Diam-diam Ang jiu Mo-li memuji Kwan Kok Sun.

Biarpun Kwan Kok Sun terkenal sebagai seorang yang disebut seorang jahat, seorang yang disebut Racun Bumi, namun dalam hal ini dia rupanya ingat akan budi Pangeran Wanyen Ci Lun sehingga ia dapat mengatasi keadaan tegang itu dengan merendahkan diri terima menjadi ayah angkat saja padahal dialah ayah sejati yang berhak mengaku Bi Li sebagai anaknya.

Maka wanita sakti ini tersenyum dan berkata.

"Kebetulan sekali, memang sudah terlalu lama aku menjadi guru mereka, baik sekali kau datang mengganti kedudukanku."

"Bi Li, mulai sekarang kau boleh melanjutkan pelajaranmu di bawah petunjuk Kwa Kok Sun ini. Yang terpenting kau harus melatih Kwan Im-cam-mo dengan sempurna, dalam hal ini kiranya Sun -ji akan dapat dapat memberi petunjuk. Latihannya sudah lebih matang dari padamu. Nah, jaga baik-baik diri aku pergi. Wanyen Taijin dan hujin, terima kasih atas segala kebaikan kalian terhadap aku selama aku menjadi guru anak anak. Selamat tinggal!"

"Nio.nio.......!"

Bi Li memanggil terbata, akan tetapi watak Ang-jiu Mo-li keras sekali.

Satu kali bilang putih, putih.

Bilang hitam, hitam.

Bayangannya melesat dan sekejap mata saja ia sudah lenyap dari situ.

Wanyen Ci Lun juga girang sekali mendengar keputusan Kwan Kok Sun yang rela menjadi gihu (ayah angkat) saja dari Bi Li.

Tadinya ia sudah khawatir kalau-kalau si gundul itu mempergunakan haknya dan membawa pergi gadis yang menjadi buah hati suami isteri itu.

"Bi Li, kau dengar tadi? Kau tetap puteriku yang terkasih. Hayo beri hormat kepada gihumu?! Kebingungan Bi Li juga terobat oleh sikap Kok Sun tadi maka serta merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan Kwan Kok Sun menyebut.

"Gihu.......!"

Kwan Kok Sun mengelus-elus kepala dara itu sambil mulutnya berbisik.

"Anak baik..... anak baik......"

Tak dapat ia melanjutkan kata-katanya dan matanya kembali menjadi basah.

"Aahhh......"

Semua orang kaget mendengar suara ini, Kok Sun cepat melompat ke arah pintu dan membuka pintu itu, akan tetapi tidak terlihat ada orang.

"Heran, siapakah yang bersuara tadi?"

Katanya perlahan.

Hanya Bi Li yang dapat menduga suara siapa itu.

Itulah suara Wan Sun kakaknya yang sekarang ternyata bukan kakaknya lagi melainkan orang lain itu, lain ayah lain ibu!

Demikianlah, semenjak hari itu Kwan Kok Sun menjadi perwira Kerajaan Kin, diangkat oleh kaisar atas usul Pangeran Wanyen Ci Lun.

Kali ini Kwan Kok Sun benar-benar jujur dalam pekerjaannya, sedikitnya, demikianlah keyakinan Pangeran Wanyen Ci Lun.

Oleh karena itu, Kwan Kok Sun mendapat kepercayaan intuk mengurus perkara-perkara besar, di samping penghidupannya yang mulia terhormat di kota raja dan ketekunannya melatih ilmu silat kepada Bi Li.

Karena Bi Li memang mempunyai sifat suka akan ular ular berbisa, sifat pembawaannya sejak kecil ditambah pengaruh Racun Ular Merah yang mengeram di tubuhnya, maka gadis inipun suka mempelajari ilmu-ilmu tentang ular dari gihunya.

Di samping ini juga Bi Li menerima latihan ilmu silat dari kitab Omei-san hasil rampasan Thai Gu Cinjin yang terjatuh ke dalam tangan Kwan Kok Sun, yaitu kitab Ilmu Pedang Cap-pek Sin-liong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Belas Naga Sakti).

Hubungan Bi Li dengan Wan Sun masih seperti biasa dan pemuda itu nampakuya tidak merobah sikap, menganggap Bi Li seperti adik sendiri, seakan-akan pemuda itu belum tahu akan rahasia itu.

Pada suatu hari Kwan Kok Sun menerima tugas dari Pangeran Wanyen Ci Lun untuk berangkat ke selatan.

"Tentara Mongol sudah mulai bergerak ke arah selatan. Kita harus bersiap sedia dan di samping ini kita harus mengumpulkan bala bantuan sebanyak mungkin. Kwan sicu harap berusaha mencari Wan Sin Hong dan memberikan suratku kepadanya. Kemudian cobalah untuk minta bantuan tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw dan kalau perlu beli tenaga mereka dengan hadiah-hadiah besar."

Berangkatlah Kwan Kok Sun yang diikuti oleh Wan Sun dan Wan Bi Li serta beberapa orang perwira yang berkepandaian tinggi, membawa perbekalan yang banyak, Kwan Kok Sun menemui orang-orang kang-ouw dan banyak juga yang dapat terbujuk oleh Kwan Kok Sun dengan hadiah hadiah yang royal.

Mereka yang kena bujuk berangkat ke kota raja Kerajaan Kin untuk menerima pangkat di sana sedangkan Kwan Kok Sun bersama dua orang anak pangeran itu melanjutkan perjalanan ke selatan.

Mendengar bahwa Wan Sin Hong berada di pantai laut selatan, Kwan Kok Sun membeli sebuah perahu indah dan berlayar ke laut Selatan.

Selain ia sendiri hendak mencari kawan-kawan di daerah selatan juga Bi Li amat mendesaknya untuk mencari Wan Sin Hong sampai dapat.

Gadis ini, juga Wan Sun, yang sudah sering kali mendengar nama Wan Sin Hong dipuji-puji ayahnya, ingin sekali bertemu dengan pendekar sakti itu.

Bukan hanya karena saktinya, akan tetapi juga karena pendekar itu masih terhitung paman mereka dan mereka bahkan oleh Wanyen Ci Lun diberi she (nama keturunan) Wan, seperti Wan Sin Hong.

Demikianlah, seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika perahu besar Kwan Kok Sun berada di dekat pesisir selatan.

ia menerima tamu istimewa yang datang menggunakan sebuah perahu pula.

Tamu ini bukan lain adalah Toat-beng Kui-bo.

Semua orang kang-ouw sudah mendengar tentang Kwan Kok Sun yang membagi-bagi harta benda untuk mencari bantuan orang-orang pandai guna menahan serbuan bangsa Mongol, juga Toat-beng Kui-bo mendengar akan hal ini.

Semenjak Toat beng Kui-bo membaca kitab DELAPAN JALAN UTAMA yang ia curi dari Omei san kemudian oleh Tiang Bu "dipinjamkan"

Kepadanya, benar-benar isi hatinya berubah sama sekali.

Entah bagaimana mendengar akan sepak terjang Tee-tok Kwa Kok Sun yang kini menjadi panglima Kerajaan Kin dan sedang berusaha melawan serbuan bangsa Mongol.

hati Toat-beng Kui-bo tergerak.

Bukan sekali-kali oleh janji dan hadiah besar, melainkan tergerak untuk merebus dosa yang sudah-sudah dengan jalan membela tanah air dari serangan bangsa asing.

Biarpun kini yang menjadi kaisar adalah suku bangsa Kin, namun daerah utara itu termasuk ke wilayah Tiongkok juga dan kini hendak diserbu oleh orang orang Mongol yang biadab.

Timbul jiwa patriot dalam dada nenek-nenek tua ini, maka ia segera menemui Kwan Kok Sun di perahunya untuk mendaftarkan diri menjadi sukarelawati!

Bukan main girangnya hati Kwan Kok Sun, karena ia tahu akan kelihaian nenek ini yang tidak kalah lihai oleh Ang-jiu Mo-li sendiri!

Cepat ia mengeluarkan hadiah berupa barang-barang emas dan permata, diberikan kepada Toat beng Kui-bo sebagai "voorchot"

Dan "uang jasa?, akan tetapi ia melongo ketika Toat-bang Kui bo mengambil berang-barang itu lalu......

melemparkannya ke dalam laut!

Tee-tok Kwan Kok Sun cepat-cepat bangkit berdiri dan menjura sampai dalam.

"Maaf, maaf....... aku tidak sengaja hendak menghina locianpwe......."

"Sudahlah, katakan kepada Pangeran Wanyen Ci Lun bahwa orang-orang Mongol akan menjadi musuhku kalau mereka berani menginjakkan kaki di bumi Tiongkok!"

Setelah berkata demikian.

nenek ini bersuit dan kelelawar-kelelawar yang beterbangan berkumpul dan hinggap di atas pundaknya, Kwan Kok Sun memberi perintah kepada urang-orangnya untuk mendayung perahu ke pantai, akan tetapi Toat beng Kui-bo sudah mendahuluinya melompat keluar menuju ke sebuah perahu yang berdekatan, terus berlompatan sekali lompat ada lima enam tombak dari perahu lain sampai lenyap dari pandangan mata.

Tentu saja pertemuan ini amat mengharukan hati Bi Li dan Wan Sun, yang baru sekarang menyaksikan orang-orang kang-ouw yang lihai-lihai.

Perjalanan ini benar-benar menggembirakan hati mereka dan membuka mata mereka lebar-lebar bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang pandai, yang sutu lebih pandai agaknya dari pada yang lain.

Mari kita kembali kepada Tiang Bu yang sudah agak lama kita tinggalkan.

Seperti telah kita ketahui, Tiang Bu berlari-lari mengikuti tiga orang dara jelita yang membalapkan kuda tunggangan mereka.

Sampai setengah hari lebih Ceng Ceng tidak mau menghentikan kuda hitamnya dan terpaksa Pek Lian dan Ang Lian juga melarikan terus kuda mereka.

Yang paling sial adalah Tiang Bu, biarpun kepandaiannya tinggi, akan tetapi napas manusia mana bisa menyamai napas kuda dalam hal berlari?

Memang ilmu lari cepat dari Tiang Bu sudah tinggi sekali dan andaikata diadu cepat dengan kuda ia takkan kalah.

Akan tetapi diadu kekuatan napas, tentu saja ia kalah.

Kuda tetap kuda dan binatang ini memang telah ditakdirkan menjadi tukang lari, akan tetapi manusia bukan kuda.

"Ahhh. adik Ceng Ceng benar-benar kejam. Membiarkan orang berlari-lari setengah hari!"

Pek Lian mengomel sambil melarikan kudanya di sebelah kuda Ang Lian. Adiknya melirik terus berkata.

"Ah, mengapa sih, cici? Biarkan pemuaa muka monyet itu berlari-lari!"

"Moi-moi, di mana perikemanusiaanmu? Kau suka melihat orang tergoda dan tersiksa seperti itu?"

"Biar kapok! Siapa suruh dia menghina kita, merampas barang-barang itu dari tangan kita. Dia sudah dua kali menghina aku, sekarang dia berani main gila kepada adik Ceng Ceng. Biar dia tahu rasa!"

"Tidak bisa kau bilang demikian, adikku. Bagaimanapun juga, kita harus akui bahwa pemuda itu bukan orang jahat. Dia merampas barang-barang itu untuk dia kembalikan kepada pemiliknya yang menurut dia bernama Pangeran Wanyen Ci Lun dan agaknya dia ada hubungan dengan pangeran itu. Kemudian setelah dia mendengar bahwa kita merampas barang-barang untuk menolong rakyat jelata yang kelaparan dan menjadi korban banjir dia mengalah hanya ingin ikut untuk membuktikan dan menyaksikan sendiri. Dia tentu orang gagah yang seharusnya kita hargai, mengapa adik Ceng Ceng menghinanya begitu macam?"

Tiba-tiba Ang Lian memegang lengan cicinya dan menatap wajah cicinya dengan tajam penuh selidik.

"Cici.......! Kau....... kau agaknya sudah jatuh hati kepadanya! Alangkah lucunya pilihanmu! Puluhan pemuda tanpan dan gagah kautampik, ehh...... tahu-tahu sekarang jatuh terhadap seorang pemuda yang bermuka buruk.......!"

Pek Lian mengipatkan pegangan adiknya dan mukanya menjadi merah sekali.

"Gila! Segala apa kauukur dengan cinta. Dasar gila cinta! Aku hanya bicara sesungguhnya. Pemuda itu pasti bukan orang sembarangan, setidaknya dia tentu murid orang sakti juga dia tidak melakukan kejahatan. Mengapa begitu saja kau terus menuduh aku jatuh hati?"

Setelah berkata demikian Pek Lian membalapkan kudanya menyusul Ceng Ceng sementara itu Tiang Bu nampak bayangannya di belakang sekali, berlari-lari dalam usahanya jangan sampai tertinggal oleh tiga orang nona itu.

Ang Lian menoleh dan tersenyum mengejek, melambai lambaikan pecutnya.

"Cepat! Cepat! Mengapa larimu seperti keong buruk lambatnya?"

Tiang Bu hanya tersenyum saja dan lari seperti biasa.

Diam-diam hati Tiang Bu berdebar aneh, setengah girang setengah bangga ketika mendengar percakapan tadi.

Memang, biar pun ia berada jauh di belakang, ia selalu memasang pendengarannya yang luar biasa tajamnya sehingga ia dapat mendengar percakapan antara enci dan adik tadi.

Mendengar kata-kata Pek Lian, hati Tiang Bu tergerak dan ia merasa suka kepada gadis berpakaian pria itu.

Ia mempercepat larinya dan sebentar ia sudah melampaui kuda tunggangan Ang Lian.

"He, nona kecil galak! Kau ini menunggang kuda atau menunggang kura-kura begitu lambat?"

Ia balas mengejek.

Ang Lian menyumpah-nyumpah akan tetapi tidak berani memaksa kudanya berlari lebih cepat karena kalau kudanya terlalu lelah dan mogok di jalan bisa berabe.

Sementara itu, Pek Lian yang membalap kudanya sudah berhasil menyusul Ceng Ceng dan merendengkan kudanya dengan kuda hitam itu.

"Kau menyusul aku ada apakah, Pek Lian?"

Tanya Ceng Ceng tersenyum. Ia memang sedang merasa kesepian maka senang melihat Pek Lian, ada kawannya mengobrol.

"Adik Ceng Ceng, aku mau bicara tentang orang muda itu. Apakah kita tidak akan berhenti dulu membiarkan dia beristirahat? sudah berlari setengah hari lamanya."

Ceng Ceng memandang dengan mata yang seperti bintang, wajahnya tak senang. Matanya berkata penuh ejekan.

"Kau perduli apa akan dia?"

Akan tetapi mulutnya menggerutu.

"Kalau dia lelah biar dia berhenti sendiri. Aku tidak perduli apakah dia lelah atau akan mampus! Laki-laki kurang ajar dia!"

Pek Lian menarik napas panjang. Dia tahu bahwa bicara dengan nona ini sukar sekali karena Ceng Ceng jauh lebih cerewet dari pada Ang Lian juga lebih galak. Akan tetapi ia berkata terus.

"Ceng-moi, kurasa orang itu bukan orang sembarangan. Lihat saja ilmu lari cerpatnya demikian lihai tentu dia murid seorang sakti. Kalau kita membiarkan dia yang hendak menjadi tamu orang tua kita berlari-larian seperti itu, apakah kelak tidak akan menerima teguran orang kang-ouw dan orang tua kita sendiri?"

"Aku tidak perduli! Siapa sudi mengurusi manusia macam dia? Oh, aku tak sudi!"

Setelah berkata demikian ia melempar pandangan mengejek ke arah Pek Lian lalu membalapkan kuda hitamnya cepat sekali.

Pek Lian tidak mengejar, karera selain kudanya kalah baik, juga ia sudah tidak ada nafsu untuk membujuk pula.

Pada saat itu, bayangan Tiang Bu berkelebat melampaui kudanya dan ia mendengar pemuda itu berkata lirih.

"Pek Lian cici, terima kasih atas budimu yang mulia"

Pek Lian menjadi merah sekali mukanya.

Bagaimana pemuda itu bisa tahu bahwa ia telah berusaha menolongnya.

Saking jengah dan malunya ia lalu mengendurkan larinya kuda, menanti adiknya.

Tiang Bu mengerahkan kepandaiannya berlari cepat sehingga ia dapat menjajari kuda hitam yang ditunggangi oleh Ceng Ceng.

Dara muda ini demi melihat pemuda itu kembali sudah menyusulnya, menjadi marah, menggigit bibir dan mencambuki kudanya yang sudah penuh keringat itu untuk berlari lebih cepat lagi.

"Kuda tolol, kau tak bisa lari cepat lagi?"

Bentak Ceng Ceng marah.

"Waduh lagaknya. Tentu saja enak-enak di punggung kuda mudah saja mencela dan memukul. Coba turun dan lari tentu seperti cacing merayap!"

Tiang Bu menggoda. Ceng Ceng masih muda dan panas darahnya. Mendengar ejekan ini ia marah bukan main.

"Kau kira hanya kau saja yang punya dua kaki dan bisa berlari?"

"Memangnya kau punya kaki?"

Ejek Tiang Bu.

"Hemm. kuberani bertaruh kedua kakimu takkan lebih cepat larinya dari pada cacing merayap."

"Manusia sombong buka lebar-lebar matamu."

Ceng Ceng menjerit dan melompat dari atas kudanya, terus berlari cepat sekali mengerahkan ginkang dan lari cepatnya.

Dara muda ini adalah puteri dari sepasang suami isteri yang sakti dan terkenal sebagai jago atau tokoh besar dari pantai timur.

Tentu saja ilmu lari cepatnya juga luar biasa.

"Ha-ha, bagus sekali! Mari kita berlomba yang kalah boleh naik kuda!"

Kata Tiang Bu.

Tanpa menjawab Ceng Ceng mengerahkan seluruh kepandaiannya dan tubuhnya bagai seekor burung walet bergerak maju cepat sekali, seolah-olah kedua kakinya tidak menginjak bumi atau terbang saja.

Tentu saja ia malu kalau sampai kalah dan menunggang kuda lagi!

Dalam kemarahannya kepada Tiang Bu ia sampai tidak memperhatikan kata-kata pemuda itu.

Sebaliknya, melihat dara itu lari sekuatnya, Tiang Bu tersenyum.

Biarpun ia sudah mulai lelah, namun kalau ia mau dengan pengerahan tenaga sekuatnya, dapat kiranya ia menyusul Ceng Ceng.

Akan tetapi ia memang hendak menggoda gadis galak itu.

Melihat Ceng Ceng berlari cepat sekali, ia lalu melompat ke atas kuda hitam dan.......

menjalankan kuda itu perlahn-lahan sampai Pek-Lian dan Ang Lian datang menyusulnya.

Dua orang gadis ini hampir tak percaya apa yang mereka saksikan.

"Lho, itu kuda Ceng-moi, kok kau tunggangi? Mana dia Ceng-moi?"

Tegur Ang Lian. Tiang Bu tertawa dan berkata keras, sengaja agar terdengar oleh Ceng Ceng yang lari di depan.

"Ah, adik Ceng Ceng sudah demikian baik hati untuk merasa kasihan kepadaku dan meminjamkan kudanya. Dia rela jalan kaki. Bukankah dia baik hati sekali?"

Mendengar ucapan ini, seketika Ceng Ceng hentikan larinya dan ia berdiri tegak menanti datangnya kuda hitam itu.

"Turun kau dari kudaku!"

Bentaknya marah. Akan tetapi Tiang Bu enak-enak saja duduk di atas kuda itu.

"Nona cilik, bukankah tadi kita sudah janji siapa yang kalah boleh naik kuda? Nah, aku yang berhak naik kuda!"

Biarpun watak Ceng Ceng keras sekali, namun sesuai dengan watak dan ajaran ayah bundanya yang terkenal sebagai pendekar-pendekar besar, ia berjiwa gagah dan tidak sudi mengingkari janji.

Memang betul dia tidak berjanji apa-apa, akan tetapi ketika Tiang Bu mengucapkan taruhan tadi, ia tidak membantah dan berarti ia setuju!

"Kau menipuku, aku bodoh tidak melihat orang macam apa kau ini.

Pcnipu!

Baik!

Kau kalah cepat dalam berlari dan kau sudak lelah, kedua kakimu sudah pccah-pccah dan hampir lumpuh.

Kau menang menipu, naik di atas punggung kudaku.

Akan tetapi berikan bungkusan-bungkusan itu!"

Tiang Bu mengambil empat bungkusan dan memberikannya kepada Ceng-Ceng yang menggendongnya, lalu gadis ini tempa berkata apa-apa lagi ccpat belari mendahului mereka.

Tiang Bu tertawa bergelak, akan tetapi dalam hatinya ia memuji gadis itu.

Karenu tadi hanya ingin menggoda, maka ia lalu mengeprak kuda hitam menyusul Ceng Ceng.

Dengan gerakan indah ia melompat ke depan gadis itu dan ikut berlari di sebelahnya.

"Kasihan nona cilik berlari-lari. Kakinya nanti bengkak-bengkak. Kau tunggangi kudamu, biar aku yang berlari. Kalau percaya boleh kubawakan bungkusan-bungkusan itu."

Mana Ceng Ceng sudi?

Dara ini membuang muka dan mempercepat larinya.

Juga Tiang Bu berlari terus di sebelah dara itu.

Sekarang biarpun Ceng Ceng mengerahkan seluruh kepandaiannya, tetap saja pemuda berada di sampingnya, tak pernah tertinggal satu langkahpun.

Baru gadis ini tahu dengan hati kecut dan kaget bahwa ilmu lari cepat pemuda ini sekali-kali tidak kalah olehnya bahkan melebihinya!

Sementara itu, Pek Lian dan Ang Lian yang berada di belakang melihat dua orang muda lari berdampingan sedangkan kuda hitamnya lari sendiri di belakang mereka tanpa ada yang menunggangi, menjadi terheran-heran.

"Hayaa..... dunia sudah tua....? Ang Lian mengeluh.

"Enci Pek Lian, tidak salah duga apa yang aku lihat itu? Mereka jalan berdampingan...... saling mengalah...... begitu mesra??. aduh! Mungkinkah Ceng-moi juga sudah jatuh hati kepada pemuda dogol yang begitu pesek hidungnya dan begitu tebal bibirnya?"

Pek Lian cepat membentak adiknya.

"Hush, jangan usil mulut! Apanya yang tidak mungkin? Sudah kukatakan, pemuda itu bukan orang sembarangan dan....... dan....... kurasa??.. ia cukup berharga untuk orarg seperti Ceng-moi sekalipun."

Biarpun mulutnya berkata demikian sungguh aneh dan dia sendiri tidak mengerti mengapa isi dadanya menjadi panas dan tidak enak, seakan-akan mendadak terserang masuk angin.

Dengan melakukan perjalanan yang amat cepat akhirnya empat orang muda itu tiba di lembah Sungai Huang-ho yang terserang banjir.

Keadaan di daerah ini memang amat mengenaskan.

Sawah ladang yang tadinya ditumbuhi tanaman-tanaman subur kini menjadi telaga.

Dusun-dusun terbenam dan semua harta benda musnah diamuk air bah.

Penduduk berbondong-bondong mengungsi dan sekarang tujuan mereka adalah dusun Tungkan di sana terdapat makan dan hiburan.

Di dusun inilah pusat pertolongan bagi mereka karena di sana Huang-ho Sian-jin dan orang-orang lainnya menggulung lengan baju dan bekerja keras mati-matian untuk mendapatkan batuan makanan dan pertolongan bagi para korban Sungai Kuning yang mendahsyat itu.

Kedatangan Ceng Ceng, Pek Lian dan Ang-Lian yang membawa empat kantung barang-barang berharga dari kota raja mendapat sambutan meriah dan gembira sekali akan tetapi mereka segera memandang dengan mata penuh curiga dan memandang kepada Tiang Bu.

"Ayah, orang ini agaknya menjadi pelindung Pangeran Wanyen Ci Lun. Dia sengaja datang hendak menyaksikan apakah betul-betul kita hendak menggunakan harta ini untuk menolong korban banjir,"

Begitu tiba di situ Ceng Ceng melapor kepada ayahnya.

Tiang Bu memandang dan melihat suami isteri yang gagah perkasa, seorang pendekar tenar Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong dan isterinya, Souw Cui Eng, sikap mereka angker dan mengingatkan Tiang Bu akan pasangan suami isieri Wan Sin Hong dan Hui-eng-niocu Siok Li Hwa.

Dua ekor burung rajawali kepala putih yang berdiri tak jauh dari sepasang suami isteri ini meningatkan Tiang Bu akan dua ekor burung yang dulu menyerangnya di puncak Omei-san.

Juga di dekat sepasang suami isteri pendekar ini, Tiang Bu melihat seorang kakek tinggi besar yang berwajah angker seperti Kwan Kong.

Melihat Pek Lian dan Ang Lian menghampiri kakek ini, Tiang Bu dapat menduga bahwa tentu kakek gagah ini Huang-ho Sian-jin adanya.

Diam-diam ia merasa kagum melihat orang-orang gagah yang bekerja untuk menolong para korban banjir ini.

Setelah mereka, masih ada beberapa orang lagi yang yang rata-rata menunjukkan sikap gagah.

Tiang Bu mengangkat tangan ke depan dada memberi hormat kepada semua orang, lalu berkata.

"Harap cuwi maafkan aku datang mengganggu. Memang tidak salah bahwa aku yang datang untuk melihat-lihat setelah aku mendengar akan usaha cuwi yang mulia. Dan kiranya memang betul bahwa cuwi adalah orang-orang gagah yang patut dikagumi. Aku bukan pelindung Pangeran Wanyen Ci Lun, hanya pernah mendengar bahwa pangeran itu adalah seorang yang berbudi mulia, maka melihat barang-barangnya ada yang merampas, tentu saja tadinya aku bermaksud mengembalikan barang-barang itu. Akan tetapi, melihat bahwa barang-barang itu ternyata dipergunakan untuk menolong orang-orang tentu Pangeran Wanyen Ci Lun sendiri apabila mengetahui takkan menaruh keberatan. Cuma, kuharap supaya benda-benda yang tidak dapat dipergunakan menolong para korban, dikembalikan kepada pemiliknya."

Kalimat terakhir ini diucapkan Tiang Bu mengingat adanya benda-benda ajaib seperti katak yang didengar suaranya di kamar hotel dua orang gadis itu.

Semua orang yang tadinya melihat seorang pemuda tanggung mengikuti tiga orang gadis itu datang dengan maksud menyaksikan apakah betul barang-barang rampasan dipergunakan untuk menolong korban banjir, sudah menjadi gemas dan mendongkol.

Kini mendengar ucapan Tiang Bu, mereka makin marah menganggap pemuda ini lancang dan basar mulut sekali.

Namun Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong dan isterinya hanya mengerutkan kening dan tak senang, sedangkan Huang-ho Sian jin yang sudah mendapat bisikan dari Pek Lian bahwa pemuda ini seorang pandai, memandang penuh perhatian.

Seorang diantara yang hadir, seorang laki-laki tinggi tegap berkepala botak bermata lebar, melompat maju.

Orang ini bukan orang sembarangan, ia bernama Tan Boan It berjuluk Huang-ho Kim-go (Buaya Emas dari Huang-ho) dan menjadi jagoan terkenal di sepanjang Sungai Kuning.

Selamanya Tan Boan It ini tidak pernah mengancingkan bajunya yang terbuka terus memperlihatkan dada bidang penuh bulu hitam.

Dia seorang kasar dan jujur, akan tetapi tak pernah ketinggalan untuk turun tangan, apabila orang-orang membutuhkan pertolongannya.

Melihat lagak dan kata-kata Tiang Bu, Buaya Emas ini tak dapat menahan lagi perutnya yang menjadi panas hendak meledak.

Kepalan tangannya yang sebesar kepala orang menyambar ke arah hidung Tiang Bu, dibarengi bentakannya.

"Bocah lancang dan sombong, menggelindinglah pergi!"

Akan tetapi kenyataannya benar-benar berlawanan dengan bentakannya, karena bukan Tiang Bu yang menggelinding, melainkan dia sendiri, betul-betul "menggelinding,"

Seperti roda.

Ketika tadi pukulan keras dari kepalan besar itu mendekati hidungnya, dengan tenang Tiang Bu menangkap pergelangan tangan itu mengerahkan tenaga dan Si Buaya Emas merasa seakan-akan tubuhnya dimasuki api.

Tak tertahan lagi ia membungkuk dan sekali Tiang Bu mengerakkan kaki mendorong sambil memutar tangan orang disentakkan ke pinggir tubuh si tinggi tegap itu terguling dan terus bergulingan sampai jauh karena tak dapat ditahan lagi!

Huang-ho Sian-jin maklum bahwa si Tan Boan It memang?mencari penyakit?

sendiri.

Akan tetapi betapapun juga, Buaya Emas ini adalah pembantunya dan seorang tamunya tidak seharusnya dihina orang di dalam rumahnya.

Ia melangkah maju dan menghadapi Tiang Bu.

"Orang muda, kau datang-datang memamerkan kepandaian. Aku adalah tuan rumah di sini, kalau kau mau mencoba kepandaian jangan mencari orang lain, mari kita bermain main. Kau datang di sini, akulah tuan rumahnya yang harus menyambut."

Sebetulnya ucapan ini hanya untuk alasan saja, sebenarnya Huang-ho Sian-jin ketika mendengar dari Pek Lian bahwa kepandaian pemuda itu luar biasa sekali, sudah gatal-gatal tangan hendak mencoba.

Akan tetapi, Tiang Bu tidak mau melayani kakek ini.

Memang ia datang bukan hendak mencari perkara, pertama-tama untuk menyaksikan apakah betul-betul harta benda Pangeran Wanyen Ci Lun dipergunakan untuk maksud baik dan terutama sekali hendak bertemu dengan Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong.

Maka ia menjura kepada Huang ho Sian-jin sambil berkata.

"Harap lo-enghiong maafkan aku, karena tidak ingin bertempur. Twako yang kasar ini kurang hati-hati hingga ia mewakili aku menggelinding, harap jangan salahkan aku. Maaf, lo-enghiong, kalau disuruh bertanding dengan kau, aku terima kalah."

Merah wajah Huang-ho Sian-jin.

Biarpun pemuda itu menolak dan menyatakan takut, namun cara mengatakannya jelas memperoloknya dan tidak memperlihatkan rasa takut sama sekali.

Dengan menahan marah ia lalu mengambii sebuah cawan dari atas meja.

"Betapapun juga kau sudah datang ke sini berarti kau tamuku. Nah, aku tuan rumah menghormatimu dengan secawan arak penuh. Terimalah!"

Sambil berkata demikian Huang-ho Sian jin menuangkan arak dari guci ke dalam cawan itu sampai penuh sekali, hampir meluber akan tetapi anehnya arak yang tingginya melampaui mulut cawan itu tidak mau meluber!

Dengan cawan penuh sekali ini ia menghampiri Tiang Bu dan menyodorkan cawan itu.

Tiang Bu kaget sekali, ia kurang pengalaman dan belum pernah melihat pertunjukan macam ini.

Main sulapkah kakek ani?

Juga tidak biasa minum arak.

Akan tetapi ia tahu bahwa penghormatan orang kalau ia tolak, berarti penghinaan dan agaknya kakek ini sengaja mencari cari jalan supaya bisa mengadu kepandaian dengannya.

Terpaksa ia mengangkat tangan menerima cawan itu.

akan tetapi lebih dulu mengerahkan lweekangnya dengan penggunaan tenaga "menyedot".

Karena kurang pengalaman, ia terlalu banyak mempergunakan tenaganya.

tidak ingat akan kehebatan tenaga sinkangnya.

Begitu cawan tersentuh olehnya.

cawan itu bagaikan tertarik lalu terbetot dari genggaman Huang-ho Sian-jin.

membuat kakek itu berubah air mukanya.

Kini cawan berada di dalam genggaman Tiang Bu dan dengan hati girang pemuda melihat bahwa tenaga "menyedot"

Dari lwee-kangnya benar-benar dapat menahan arak tumpah. Bahkan dengan tenaganya yang besar ia dapat "main-main"

Dengan arak itu, dapat ia membuat kelebihan arak di atas mulut "doyong"

Ke kanan atau ke kini.

Semua orang melihat dengan kagum dan heran.

Pemuda bisa memegang cawan dan araknya tidak tumpah atau luber, ini sudah menandakan betapa hebat tenaga Iweekang pemuda cilik itu.

Adapun Tiang Bu sendiri yang tidak tahu bahwa dirinya dikagumi orang, lalu tersenyum dan membungkuk kepada Huang-ho Sian-jin.

"Lo-enghiong, kau orang tua baik sekali. Tentu aku tidak berani menolak, cuma masalahnya. selamanya aku belum pernah minum arak keras. Biarlah aku mencobanya!"

Ia lalu mengangkat cawan itu ke atas dan menggulingkannya ke arah mulutnya yang sudah dibuka lebar-lebar.

Dan sekarang semua orang celangap!

Bahkan Huang ho Kim-go Tan Boan It yang sudah merayap bangun, melongo dan mendekati Tiang Bu untuk menonton permainan "sulap"

Ini dari dekat. Ternyata bahwa biarpun cawan itu sudah dituangkan terbalik, arak di dalamnya tetap tidak mau keluar, hanya "nontot"

Keluar seperti benda keras atau air yang sudah membeku!

Setelah menjungkirkan cawan ini agak lama bahkan mengayun-ayunnya supaya araknya keluar namun sia-sia, Tiang Bu menghela napas dan membalikkan cawan kembali.

"Apa kataku, lo-enghiong? Bukan saja aku tidak biasa minum arak, bahkan araknya sendiri agaknya segan diminum orang seperti aku. Biarlah aku mewakilkannya kepada sahabat ini."

Ia menggerakkan cawannya dan kini di dalam cawan itu muncrat keluar semua arak secara tepat sekali memasuki mulut Tan Boan It yang masih melongo.

Orang tinggi besar ini gelagapan dan tanpa dapat dicegah lagi arak ditelannya!

Biarpun tadinya semua orang tercengang menyaksikan kelihaian pemuda itu, melihat adegan terakhir tak tertahan lagi mereka tertawa, bahkan Ang Lian dan Ceng Ceng cekikikan.

Yang paling terkejut adalah Huang-ho Sian-jin sendiri.Tadi ketika tangan pemuda itu menyentuh cawan dalam menerima tawarannya, ia rasakan tangannya panas dan menggigil.

Tadinya ia masih sangsi, akan tetapi melihat betapa selanjutnya pemuda itu mendemonstrasikan tenaga lweekang yang jauh melebihinya, ia jadi kesima dan baru percaya akan keterangan Pek Lian bahwa pemuda ini memang sakti.

Akan tetapi Pek thouw tiauw-ong Lie-Kong tidak puas.

Dia adalah seorang yang menganggap paling tinggi di antara semua orang yang berada di situ, dianggap yang paling pandai dan menduduki tempat paling terhormat.

Sekarang bocah ini mendemonstrasikan kepandaian, sedikit banyak membuat pamornya nyuram.

Ia melangkah maju, wajahnya yang tampan gagah itu berkerut tak senang dan suaranya ketus.

"Bocah lancang, kau siapakah dan apa maksudmu bertingkah di sini!"

Tiang Bu cepal menjura kepadanya dan berkata.

"Sudah kukatakan tadi bahwa aku pertama-tama ingin menyaksikan apakah betul-betul barang barang rampasan itu dipergunakan untuk menolong rakyat yang sengsara. Kedua kalinya aku sengaja datang untuk mencari Pek-thauw tiauw-ong Lie Kong untuk urusan penting!"

Jawaban ini benar-benar tak disangka, bukan saja Lie Kong, isterinya dan puterinya yang tercengang mendengarnya, bahkan semua orang menjadi tertarik.

Sikap pemuda yang lihai ini amat menarik perhatian dan aneh.

Biarpun sikapnya sederhana dan seperti orang bodoh, namun di dalam kesederhanaannya terbayang kegagahan dan keberanian yang tiada taranya.

"Akulah Lie Kong, kau mau apa?"

Tiang Su tidak kaget karena memang ia sudah tahu. Suaranya tetap ramah ketika ia menjawab.

"Lie lo-enghiong, namaku Tiang Bu, aku datang diri Omei-san dan memenuhi pesan suhuku aku harus minta kembali kitab yang kau...... pinjam dari Omei-san."

Karena di situ terdapat banyak orang, maka Tiang Bu sengaja mengganti ucapan "curi"

Jadi "pinjam"

Karena ia tidak berniat membikin malu orang tua Ceng Ceng!

Sesungguhnya, pertemuannya dengan Ceng Ceng banyak mempengaruhi sikapnya ini, kalau ia tidak bertemu dengan Ceng Ceng, kiranya sikapnya terhadap para pencuri kilab Omni-san akon sangat keras.

Baru sekarang Lie Kong terkejut dalam hatinya.

Tidak tahunya bocah ini adulah murid dua orang kakek sakti Omei-san, pantas saja kepandaiannya demikian hebat.

Dan kedatangannya hendak minta kembali kitab yang telah dicurinja!I Tentu saja Lie Kong tahu akan sikap Tiang Bu yang hendak menolong mukanya.

Ia ingin turun tangan sendiri mempertahankan kitabnya sekalian mencoba sampai mana kepandaian mrrid Omei-san ini, akan tetapi sebagai seorang tokoh besar, ia merasa malu untuk bertanding melawan bocah di depan begitu banyak sahabat.

Sedangkan Huang ho Sian-jin sendiri yang tadi merasa "berbahaya"

Kalau bertanding melawan bocah ini lalu mundur, apalagi dia.

Pula., diam-diam Lie Kong kagum melihat Tiang Bu, yang biarpun tak dapat dibilang seorang pemuda tampan, namun sudah jelas memiliki kepandaian tinggi dan juga pribadi yang halus tidak suka menyinggung orang.

Satu-satunya orang yang dipermainkannya tadi hanyalah Huang-ho Kim-go Tan Boan It, inipun karena kesalahan Buaya Emas itu sendiri yang mulai lebih dulu.

"Jadi kau murid 0mei-san"

Memang benar ada sebuah kitab 0mei san pada kami, akan tetapi kitab itu sudah kuserahkan kepada anaku untuk dipelajari"". Terserah kcpadanya apakah mau mengembalikannya sekarang kepadamu atau tidak,"

Kata Lie Kong sambil melirik ke arah Ceng Ceng. Kaget sekali Ceng Ceng mendengar ucapan ayahnya ini dan seketika mukanya menjadi merah. Ia masih belum mengerti mengapa ayahnya begitu "pengecut"

Untuk menjatuhkan tanggung jawab ke pundaknya biarpun memang betul kitab itu ayahnya tetah diserahkan kepadanya.

Mengapa ayahnya tidak menghadapi sendiri pemuda itu?

Saking bingungnya dan tidak mau ribut mulut dengan Tiang Bu yang pandai bicara itu di depan orang banyak, ia lalu lari sambil berkata.

"Aku tidak mau mengembalikan!"

Melihat Ceng Ceng lari, Tiang Bu tak banyak cakap lagi lalu mengejar.

"Harus dikembalikan kepadaku!"

Katanya.

Demikianlah, baru saja sampai dua orang muda ini kembali sudah berkejar-kejaran!

Lie Kong hanya tersenyum, lalu dengan tenang ia bersama isterinya mengajak Huang-ho Sian-jin memeriksa isi empat kantong itu.

Semua orang kagum dan gembira melihat demikian banyaknya barang berharga yang kalau dijual akan menghasilkan cukup bahan makanan bagi para pengungsi untuk beberpa bulan lamanya.

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 3

Baca Juga: Pendekar Buta 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert