Eps 7 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo
Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo
Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.
Lie Kong membagi-bagi empat permata itu kepada para pembantu dengan tugas supayat benda-benda itu ditukarkan bahan makanan, selebihnya diserahkan kepada Huang-ho Sian jin untuk disimpan sebagai cadangan.
Semua benda itu adalah benda berharga terdiri dari emas permata hanya sebuah cepuk atau kotak kecil yang ternyata berisi seekor katak hijau disimpan oleh Lie Kong ke dalam sakunya.
"Benda macam ini tidak dapat ditukar makanan"
Katanya perlahan.
Biarpun ia seorang tokoh kang-ouw yang ulung, namun binatang macam ini merupakan teka-teki baginya.
tidak tahu binatang apa itu dan apa pula khasiatnya, hanya yakin bahwa binatang itu tentu mempunyai khasiat yang luar biasa maka ia simpan dalam saku.
Setelah beres membagi-bagi tugas, Lie Kong mengajak isterinya untuk menyusul Ceng Ceng, Karena merasa khawatir juga.
Lie Kong berlari cepat, berendeng dengan isterinya.
Ketika tanpa disengaja tangannya menyentuh tangan isterinya, tiba-tiba ia berhenti berlari, memegang lengan isterinya dan..
dipeluknya isterinya itu penuh kasih sayang.
Souw Cui Eng mangipatkan tangan suaminya yang memeluknya erat dan mendorong muka suaminya itu yang mendekat mukanya.
"Eh, apa kau tiba-tiba kemasukan setan? Maka di tengah jalan bersikap seperti ini? Cih, memalukan sekali!"
Akan tetapi suaminya memandangnya dengan mata aneh.
"Cui Eng....... sekarang aku mengerti khasiat kodok hijau ini.......! Coba kau yang membawanya."
Dengan terheran-heran Souw Cut Eng menerima cepuk itu dan memasukkannya ke dalam saku bujunya. Tidak ada akibat apa-apa.
"Mungkin belum, harus agak lama."
Kata suaminya.
"Mari kita berlari terus dan lihat akibatnya nanti."
Akan tetapi sampai lama mereka berlari, tidak ada reaksi apa-apa pada diri Souw Cui Eng.
"Hemm, sekarang aku dapat menduga. Katak macam ini pernah aku mendengarnya, namanya katak pembangkit asmara. Ada sepasang. yang jantan kalau berdekatan dengan seorang wanita dapat membangkitkan nafsu asmara, sebaliknya yang betina merangsang seorang laki laki. Tentu ini yang betina maka padamu tidak berakibat apa-apa."
Selanjutnya dalam mengejar Ceng Ceng, katak itu terus disimpan oleh Souw Cut Eng biarpun nyonya ini kadang-kadang merasa jijik harus mengantongi seekor katak.
Kita kembali kepada Ceng Ceng dan Tiang Bu.
Gadis itu berlari cepat sekali di sepanjang lembah Huang-ho.
Tiang Bu mengejar terus di belakangnya, tidak segera menyusul karena ia memang sengaja hendak melihat sampai ke mana nona itu akan lari dan berapa lama kekuatan gadis itu.
Ternyata Ceng Ceng memiliki daya tahan yang besar dan gadis ini biarpun baru saja datang dan sudah lama berlari-lari dengan Tiang Bu, ternyata sekarang masih kuat berlari-lari sampai setengah hari.
Menjelang senja mereka sudah melalui jarak ratusan li jauhnya dan belum juga Ceng Ceng berhenti.
Tiba-tiba gadis itu mempercepat larinya, Tiang Bu juga mengerahkan tenaga.
Mereka tiba di lembah sungai yang indah, Di bagian ini sungai itu lebar sehingga air tidak begitu hebat meluapnya.
Di luar sebuah hutan cemara kelihatan sebuah kelenteng tua dan Ceng Ceng berlari memasuki pekarangan kelenteng ini.
"He. jangan injak ularku!"
Tiba-tiba terdengar bentakan dan tahu-tahu tangan Ceng Ceng sudah dipegang dan dibetot orang.
Ceng Ceng kaget bukan main karena betotan ini kuat sekali.
Apalagi ketika ia menoleh ternyata bahwa yang menariknya juga seorang dara cantik jelita sekali.
Usianya sebaya dengan dia sendiri.
Gadis muda ini tadinya duduk di balik semak-semak dan kini tangan kirinya memegang seekor ular hitam yang kecil dan liar!
Ceng Ceng sampai berdiri bulu tengkuknya saking merasa jijik dan ngeri.
"Kenapa kau berlari dan seperti dikejar setan?"
Tanya gadis cantik jelita itu.
suaranya merdu dan senyumnya manis.
Dalam kaget dan herannya karena di tempat sunyi ini muncul wanita cantik, apalagi pakaiannya serba indah, Ceng Ceng mengira bahwa ia tentu berhadapan dengan siluman atau bidadari.
Buktinya ketika membetot tangannya tadi tenaganya besar bukan main dan memegang ular berbisa pula.
"Memang aku dikejar...... dikejar orang jahat......."
Jawabnya gagap.
"Kau sembunyi di sana. biar aku menghajarnya!"
Jawab gadis cantik itu.
Ceng Ceng melompat dan lenyap di dalam kelenteng.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya buat Tiang Bu ketika tiba di pekarangan kelenteng, ia tidak melihat Ceng Ceng, sebaliknya melihat seorang gadis lain yang sebaya dengan Ceng Ceng akan tetapi yang memiliki kecantikan luar biasa.
Lebih cantik malah dari pada Ceng Ceng, atau kalau tidak lebih cantik, memiliki sifat kecantikan berbeda namun tidak kalah menarik dan menggairahkan.
Bagi Tiang Bu, gadis ini benar-benar hebat dan sampai berdiri bengong bagaikan patung.
Pemuda ini berdiri tegak tak bergerak, hanya sepasang matanya saja yang bergerak-gerak memandangi mahluk indah di depannya.
Akan tetapi ketika ia melihat ular hitam kecil yang melingkar-lingkar dan menggeliat-geliat di tangan kiri gadis itu, ia jadi kaget setengah mati.
Gadis itu menggerak-gerakka bibirnya mengarah senyum dan sepasang matanya yang lebih indah dari pada mata burun Hong itu mengikuti pandangan mata kaget dari Tiang Bu yang mengarah tangan kirinya.
Dengan halus ia lalu melepaskan ular kecil itu ke dalam semak-semak.
kemudian ia bertanya, suaranya tetap merdu namun mengandung kekerasan.
"Kau ini orang apakah. mengejar-ngejar seorang gadis di tempat sunyi. Kalau saja yang dikejar dan yang mengejar itu orang orang biasa, tentu gadis ini akan menjatuhkan tangan besi tanpa bertanya lagi. Akan tetapi ketika membetot tangan Ceng Ceng tadi, dapat merasai tenaga lweekang yang tinggi dari gadis itu. Bagaimana seorang gadis kosen seperti itu lari ketakutan menghadapi seorang pemuda petani atau nelayan yang sederhana ini"
"Jangan salah sangka,"
Tiang Bu cepat-cepat menjawab karena ia takut kalau-kalau si jelita ini menyangka ia akan berbuat jahat terhadap Ceng Ceng.
"gadis tadi mencuri kitabku dan aku mengejarnya untuk minta kembali kitab itu."
Mendengar ini, sikap gadis cantik itu berubah, keningnya yang halus putih berkerut dan alis yang hitam lentik itu berdiri.
"Begitukah, mari kita cari dan tanya dia. Aku tidak sudi menolong seorang maling!"
Setelah berkata demikian, gadis itu berjalan memasuki kelenteng.
Gerakan kaki yang ringan bertenaga dan gerakannya maju yang amat cepat itu kembali membuat Tiang Bu maklum bahwa gadis jelita itu memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, mungkin tidak kalah oleh Ceng Ceng!
Begitu memasuki kelenteng, Tiang Bu menahan napas saking kagum dan heran.
Kelenteng itu sudah tua dan di luarnya buruk sekali.
Akan tetapi ketika ia masuk ke ruangan dalam, ternyata di situ amat indah penuh dengan hiasan tembok yang serba mabal dan indah.
Lukisan-lukisan yang bagus dan hidup, pot-pot bunga telukir naga di atas meja-meja yang indah pula.
Benar-benar mengagumkan.
Akan tetapi ia tidak sempat untuk niemikirkan semua ini kerena gadis itu telah membawanya ke ruang belakang di mana terdapat seorang muda gagah.
Melihat pemuda ini, Tiang Bu tiba-tiba merasa sungkan karena mengingat akan keadaan sendiri.
Pemuda itu berpakaian indah, wajahnya yang berkulit putih itu tanpan dan gagah sekali, dengan rambut hitam panjang digelung ke atas dan diikat dengan sutera kuning.
Tubuhnya tegap dan matanya tajam, potongan seorang pendekar muda?
kalangan bangsawan!
Dibanding dengan pemuda itu, Tiang Bu harus mengaku bahwa ia kalah dalam segala-galanya!
Tidak nempil, seperti gagak dengan garuda!
Apalagi ketika mereka berdua memasuki ruangan belakang itu, pemuda tampan gagah ini sedang berdiri memegang batang pedang dengan sarungnya yang indah pula.
"Moi-moi, kukira kau sudah mengusir pergi pemuda kurang ajar itu. Kenapa dia juga masuk?"
"Koko, mana gadis tadi? Dia membohongi aku. Dia itu seorang maling yang dikejar saudara ini."
"Maling?"
Pemuda tampan itu mengerutkan alisnya yang tebal.
"Moi-moi, jangan menuduh sembarangan. Dia itu adalah puteri dari Pek thouw tiauw-ong Lie Kong seorang pendekar besar dari pantai timur, Mana bisa seorang maling ? Orang ini yang jahat maksudnya, jangan kita kena tipunya...."
Sambil berkata demikian, pemuda itu melompat dan tangan kirinya mencengkeram pundak Tiang Bu.
"Kau siapakah dan apa niatmu mengejar seorang gadis baik-baik?"
Tiang Bu tidak mengelak, akan tetapi ketika pundaknya kena dicengkeram, ia terkejut merasakan tenaga dahsyat pemuda itu yang tentu saja akan membuat tulang pundaknya hancur.
Cepat ia mengerahkan tenaga lweekangnya dan kini pemuda itu yang berteriak kaget sambil melompat ke belakang dan menarik tangannya yang terasa panas dan lumpuh!
Tiang Bu mempergunakan kesempatan itu melompat sambil berkata.
"Maaf, urusanku bukan urusan kalian, lain kali aku datang belajar kenal!"
Dan di lain saat tububnya sudah berkelebat keluar mengejar Ceng Ceng yang ternyata sudah lari kembali.
Pemuda dan pemudi mewah itu mengejar, namun ketika tiba di depan kelenteng mereka tidak melihat Tiang Bu.
"Hebat...... pemuda dusun itu lihai sekali!!"
Terdengar pemuda itu menggerutu.
"Koko, kau harus ingat akan nasihat nio-nio. Mengukur kepandaian orang jangan didasarkan keadaan muka atau pakaiannya. Begitu bertemu aku sudah menduga dia itu bukan sembarangan."
Sementara itu, Tiang Bu terus mengejar Ceng Ceng yang kini berlari ke arah tempat semula.
Akan tetapi karena hari sudah mulai malam dan kesabaran Tiang Bu sudah menipis, pemuda ini mengerahkan ginkangnya akhirnya ia dapat menyusul Ceng Ceng.
"Bocah kepala batu, kau berhentilah,"
Tiang Bu membentak, tangan kanannya digearakkan untuk menangkap lengan Ceng Ceng.
Tiba-tiba Ceng Ceng memutar tubuhnya dan secepat kilat menyambar ke arah dada Tiang Bu.
Tanpa peringatan lebih dulu tahu-tahu Ceng Ceng sudah menyerang Tiang Bu dengan pedang.
"Bagus. kini kita dapat mengadu kepandaian!"
Kata Tiang Bu yang cepat mengelak dan menggunakan dua jari tangan untuk mengetuk pergelangan tengan gadis itu.
Namun Ceng Ceng juga lihai sekali dan dapat bergerak cepat, ringan kaki tangannya serta lincah gerakannya.
Lebih hebat pula, ilmu pedang dia ini luar biasa sekali.
Seperti pernah dilihat oleh Tiang Bu, gerak langkah kaki gadis itu menyerupai Ilmu Silat Pat kwa-kun-hoat yang pernah ia pelajari, akan tetapi pecahan-pecahannya lain lagi.
Sungguhpun berdasarkan langkah segi delapan, namun daya serangannya bermacam-macam, ada yang lembek ada yang keras dan sukar sekali diduga perubahan-perubahannya.
Dalam beberapa belas jurus saja, tubuh Tiang Bu sudah terkurung oleh pedang yang sinarnya bercabang delapan, menyambar nyambar laksana kilat di musim hujan!
"Kiam-hoat (ilmu pedang) yang bagus!"
Tiang Bu memuji dan pemuda ini harus mempergunakan semua kepandaiannya untuk menghindarkan diri dari ancaman sinar pedang.
Baiknya ia telah mewarisi sinkang dari dua orang kakek sakti di Omei-san sehingga kadang-kadang ia dapat mempergunakan kuku jarinya untuk menyentil pedang lawan.
Di lain fihak, Ceng Ceng merasa kagum dan heran bukan main.
Memang ia sudah menduga bahwa pemuda ini lihai sekali.
Hal ini sudah ia buktikan ketika mereka beradu kekuatan lari.
Akan tetapi melawannya dengan tangan kosong dan menghadapi pedang dengan sentilan kuku jari?
Inilah hampir tak dapat dipercaya!
Ia telah memainkan Ilmu Silat Pat-sian-jut-bun dari kitab yang dibawa oleh ayahnya dari Omei-san dan ayahnya sendiri ketika melihat ia mainkan ilmu pedang ini sudah mengaku bahwa ilmu pedang ini hebat sekali.
Ayahnya sendiri tidak mungkin dapat menghadapinya hanya dengan sentilan kuku jari seperti yang dilakukan oleh pemuda dusun ini!
Akan tetapi, betapapun tinggi kepandaian Tiang Bu dan betapapun mudah baginya menyelamatkan diri dari ancaman pedang gadis itu, namun harus ia akui bahwa untuk mengalahkan Ceng Ceng tanpa melukai bukanlah hal yang mudah.
Gadis itu nekat sekali dan sama sekali tak mau menyerah biar pun beberapa kali tangannya tergetar ketika pedang disentil oleh jari tangan Tiang Bu.
Akan tetapi makin lama Ceng Ceng menjadi makin lemas dan ia sudah lelah sekali.
Malam mulai menyelimuti bumi dan keadaan menjadi remang-remang.
Baiknya sore-sore bulan sudah keluar dan melihat langit yang cerah, dapat dibayangkan datangnya malam yang terang dan indah, Ceng Ceng mulai marah dan memaki-maki.
"Pemuda sombong, tak tahu malu! Meminta kitab? Boleh bunuh dulu aku!"
"Gadis kepala batu! Mengapa mau mengukuhi kitab orang?"
Tiang Bu membentak dan pada saat pedang gadis itu menusuk ulu hatinya, ia cepat miringkan tubuh sehingga pedang itu meleset di dekat dada, di bawah ketiak.
Secepat kilat Tiang Bu menurunkan lengan.
Sedangkan tangan kirinya ditotokkan ke arah pundak kanan Ceng Ceng.
Totokan itu mengarah Kian-keng-kiat dan kalau mengenai sasaran tentu gadis itu akan roboh lemas.
Ceng Ceng tidak sudi memberikan pundaknya ditotok, terpaksa ia melompat mundur dan melepaskan pedangnya, Di lain saat Tiang Bu sudah mengejar dengan pedang rampasan di tangan.
Pedang itu ditodonglan ke arah tenggorokan Ceng Ceng dan ia berkata keren.
"Hayo kaukembalikan kitab itu kepadaku!"
Akan tetapi Ceng Ceng malah bertolak pinggang dan mengedikkan mukanya, mambusungkan dadanya menantang.
"Tusuklah......! Tusuklah!!! Apa kau kira aku takut mati??"
"Ceng Ceng, siapa mau membunuhrpu? Aku hanya ingin minta kembali kitab dari Omei-san itu. Kalau kau sudah mempelajarinya, mengapa kau masih mengukuhi kitabnya? Untuk apa bagimu?"
Kata Tiang Bu sambil merunkan pedangnya.
"Habis bagimu sendiri untuk apakah? Kau sudah memiliki kepandaian kau sendiri sudah mempelajari banyak ilmu dari Omei-san. Mengapa aku mempelajari sebuah saja kau sudah iri hati? Apa kau mau kangkangi semua kepandaian di dunia ini?"
"Tidak demikian, jangan salah mengerti. aku minta kembali semua kitab yang diambil orang dari Omei-san, ini untuk mematuhi perintah suhuku. Bahayanya, kalau kitab terjatuh ke tangan orang jahat, bukankah kepandaian dari ilmu itu akan dipakai untuk kejahatan dan kareranya suhu-suhuku ikut berdosa?"
Gadis itu tersenyum mengejek, maksudnya menyakitkan hati Tiang Bu, tidak tahu bahwa senyumnya itu dalam pandangan Tiang Bu manis sekali dan sama sekali tidak menyakiti hati bahkan menyenangkan!
"Bodoh!
Kitab sudah kupelajari, kau ambil kembali ada gunanya apakah?
Biarpun kitabnya tidak ada, tetap saja aku dapat mempergunakan ilmunya."
"Akan tetapi aku percaya kau bukan orang jahat,"
Kata Tiang Bu.
"Kalau benar kau percaya begitu, mengapa kau tetap hendak minta kembali kitab itu. Mengapa tidak kau percayakan ke tanganku. Kau memang sombong dan murka!"
Sambil berkata demikian, Ceng Ceng tiba-tiba menyerang dengan pukulan keras. Tian Bu mengangkat tangan dan menangkap pergelangan tangan gadis itu, sekali mengerahkan tenaga "menyedot"
Gadis itu tidak dapat meronta pula!
Ia berusaha untuk memberontak melepaskan tangannya namun sia-sia.
Dengan marah gadis itu menggerakkan tangannya menampar muka Tiang Bu, akan tetapi bagaikan seorang dewasa menghadapi seorang anak kecil yang rewel, Tiang Bu kemhali dapat menangkap sebelah lengan ini ke dalam tangan yang sudah memegang tangan kanan jadi kini dua lengan gadis itu menjadi satu dipegang oleh Tiang Bu.
"Kau masih belum kapok? Hayo katakan di mana kitab itu?"
Kata Tiang Bu.
"Di dalam saku baju dalamku! Kalau kau berani ambil. kau laki-laki ceriwis, kurang ajar dan cabul!"
Ceng Ceng menantang.
Pada saat itu berkelebat dua bayangan datang.
Mereka ini adalah Lie Kong dan isterinya.
Melihat kedatangan mereka, Tiang Bu cepat melepaskan tangan Ceng Ceng dan mukanya menjadi merah sekali.
Ceng Ceng berlari menubruk ibunya sambil menangis.
"Maaf,"
Kata Tiang Bu menjura.
"Aku tidak bermaksud menghina puterimu, Lie loenghiong. Akan (Lanjut ke
Jilid 19) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 tetapi dia bandel..."
Lie Kong tersenyum.
Tadi ia sudah menyaksikan sambil bersembunyi dan melihat betapa hebat kepandaian Tiang Bu ketika menghadapi ilmu pedang anaknya.
Tanpa ragu lagi pendekar ini maklum bahwa dia sendiri masih belum tentu dapat menangkan Tiang Bu.
Saking kagumnya, timbul maksudnya mengambil mantu pemuda ini!
"Tiang Bu, apakah kau murid tunggal Omei-san?"
"Betul, lo enghiong."
"Kau bernama keturunan apakah?"
Tiang Bu bingung.
Kalau ditanya tentang shenya, ia paling sukar menjawab dan hatinya tertusuk, teringat ia akan keadaannya masih belum pasti siapa ayah bundanya.
Mengaku she Coa, ia tidak suka membohong mengaku she Liok, ia malu berayah Liok Kong Ji.
"Aku....... aku sendiri belum tahu, lo-enghiong. Namaku cukup dengan Tiang Bu saja."
Lie Kong tersenyum.
Jawaban begini saja tidak mengherankan hatinya.
Memang orang-orang yang berkepandaian selalu berwatak aneh, maka tidak mengherankan kalau pemuda ini juga berwatak aneh, agaknya tidak mau mengaku siapa orang tuanya.
"Tiang Bu, tentang kitab itu, kiranya apa yang diucapkan oleb Ceng Ceng tadi tidak terlalu salah. Kitab itu aman ada padanya, dialah yang bertanggung jawab bahwa ilmu itu takkan dipergunakan untuk kejahatan. Pula....... kalau kau setuju, kami akan merasa girang sekali kalau kau suka memberikan kitab itu kepadanya sebagai............ sebagai tanda mata!"
"Apa maksudmu, lo-enghiong?"
Tanya Tiang Bu heran. Lie Kong memang biasa berkata terus terang, Sambil tersenyum akan tetapi matanya memandang sungguh-sungguh ia berkata.
"Aku tadi sudah bersepakat dengan isteriku bahwa kalau kau tidak keberatan, kami bermaksud menjodohkan anak tunggal kami yang bodoh itu dengan kau, Tiang Bu. Bagaimana jawabmu?"
Kalau saat itu ada kilat menyambar kepalanya, kiranya Tiang Bu takkan begitu terkejut seperti ketika mendengar "pinangan?
ini.
Seujung rambut dibagi tujuh ia tak pernah mengharapkan hal langka ini terjadi.
Bagaimana sampai begitu "berharga tinggi"
Dipinang oleh seorang pendekar besar seperti Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong untuk dijodohkan dengan seorang dara jelita seperti Ceng Ceng?
Bagaimana ia harus menjawab?
Ceng Ceng cantik seperti bidadari, wataknya menggatalkan hati, gerak geriknya menggairahkan dan terus terang saja, hati Tiang Bu tertarik dan suka sekali.
Kalau ia menolak berarti ia sudah berotak miring!
Akan tetapi sebelum ia dapat menjawab, Ceng Ceng mendahuluinya dengan teriakan marah.
"Tidak.......!? Aku tidak sudi dijodohkan dengan pemuda berwajah monyet itu! Hidungnya pesek, bibirnya tebal, aku tidak suka!"
Kalau saja Tiang Bu lebih tua usianya dan sudah mendalam pengertiannya tentang hubungan laki-laki dan wanita, tentu ia akan merasa terhina sekali mendengar akan penolakan Ceng Ceng.
Akan tetapi, kini mendengar bahwa Ceng Ceng menolaknya karena hiduungnya pesek dan bibirnya tebal, ia makin tertawa!
"Terima kasih, lo-enghiong.
Aku tidak mau kawin, apalagi dengan seorang bocah kepala batu dan galak seperti dia itu.
Aku hanya minta kembali kitab suhu.
Aku yakin lo-enghiong yang ternama tidak akan sudi mengangkangi kitab orang lain."
Saking jengkelnya Tiang Bu mengeluarkan sindiran ini. Merah wajah Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong mendengar ini, wajahnya yang tampan menjadi berkerut dan ia membentak puterinya.
"Ceng Ceng, bocah lancang! Hayo kau kembalikan kitab itu kepada murid 0mei-san ini!"
Ceng Ceng yang masib memeluk ibunya itu kini berkata dengan suara sedih dan takut.
"Tak mungkin, ayah. Kitab itu....... telah dirampas orang setengah bulan yang lalu?.."
Kagetlah Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong dan isterinya. akan tetapi dengan gemas Tiang Bu mencela.
"Bohong! Tadi kau bilang berada di dalam saku baju dalammu......!"
Ia menghentikan kata-katanya dan mukanya menjadi merah. Ceng Ceog melerok.
"Siapa bicara denganmu? Aku bicara dengan ayahku, dan kau tidak boleh turut campur!"
"Ceng Ceng, jangan kau main-main! Dimana kitab itu?"
Ayahnya mendesak. Dengan suara mengandung kekecewaan, kedukaan, dan takut kepada ayahnya, dara itu lalu bercerita.
"Ketika itu aku sedang berlatih bagian terakhir dari Pat sian-jut-bun yang paling sukar. Karena ingin supaya gerakanku dalam bagian terakhir ini sempurna, aku keluarkan kitab itu dan membentangkannya di atas tanah. Setelah mempelajari aku lalu berlatih. Kitab itu masih terhentang di atas tanah. Kupikir keadaan di sana aman karena di tengah hutan yang sunyi. Sama sekali tak terduga, tiba-tiba muncul dua orang gedis yang cantik genit. Tadinya kukira dua orang gadis yang datang itu enci Pek Lian dan enci Ang Lian maka aku tidak begitu khawatir. Siapa kira begitu datang dan begitu aku melihat bahwa mereka itu sama sekali asing bagiku, belum aku sempat mengambil kitab Pat-siant-bun, seorang di antaranya telah menyambar dan merampas kitab.? Demikian Ceng Ceng memulai dengan penuturannya, didengarkan dengan penuh perhatian dan dengan kening berkerut oleh ayah bundanya dan Tiang Bu. Gadis ini melanjutkan ceritanya. Melihat kitabnya dirampas orang, tentu saja ia menjadi marah bukan main, akan tetapi juga heran dan ingin tahu siapa adanya mereka itu.
"Eb, maling-maling cilik, kau berani mengambil kitabku? Hayo kembalikan!"
Bentaknya untuk sejenak tidak menyerang segera karena terlalu heran ada orang berani merampas kitabnya.
Sebaliknya, dua orang gadis itu agaknya juga tidak memandang sebelah mata kepada Ceng Ceng, bahkan kurang memperhatikan, buktinya mereka berdua bicara sendiri tanpa memperdulikan makian Ceng Ceng.
"Adik Kim, tak salah lagi, inilah kitab Omei-san itu yang dicuri oleh keluarga dari timur."
Kata gadis pertama yang manis dan di dagunya terdapat tahi lalat kecil yang menambah manisnya.
"Benar, cici, dan budak parempuan ini agaknya anaknya."
Jawab gadis ke dua yang miliki sepasang mata yang indah dan sepenuhnya membayangkan watak genit baik dipandang dari alisnya yang panjang kecil dengan ujung menjungat ke atas, bulu matanya yang bitam panjang melengkung mendatangkan bayang-bayang pada pelupuk matanya dan kerling mata yang meruncing ke sudut.
Sementara itu Ceng Ceng sudah kehabisan kesabarannya.
Cepat pedangnya bergerak menerjang gadis pertama yang tadi mengambil kitab sambil berseru.
"Maling kecil, kau mencari mampus!"
Akan tetapi, sinar pedang yang kemerahan menangkis pedangnya itu dan ternyata gadis ke dua yang bermata genit itu telah menangkis dengan sebatang pedang pendek yang merah.
Melihat cara lawan ini menangkis, diam-diam Ceng Ceng terkejut dan maklum babwa ia menghadapi lawan yang tidak rendah kepandaiannya.
Ia mengeluarkan seruan keras dan kini ia menyerarg makin hebat, mendesak gadis berpedang merah sambil mainkan Ilmu silat yang baru ia pelajari dari kitab Omei-san itu.
Gadis berpedang merah itu ternyata hebat pula ilmu pedangnya, cepat dan kuat gerakan pedang dan tenaganyapun tidak kalah oleh Ceng Ceng.
Namun menghadapi desakan pureri Pek-thouw tiauw-ong ini yang marah sekali, ia terpaksa main mundur.
"Enci Lin. budak ini kepandaiannya boleh juga. Bantu aku!"
Teriak gadis berpedang merah.
Tak lama kemudian sinar putih menyambar cepat dan Ceng Ceng terpaksa melompat mundur sambil menangkis datangnya serangan sinar putih yang ternyata lebih cepat dan kuat dari pada sinar pedang marah.
Ternyata bahwa ilmu pedang gadis bertahi lalat di dagunya itu malah lebih tinggi dari pada!
Namun dalam menangkis serangan ini, Ceng Ceng merasa yakin bahwa ia masih dapat mengimbangi kepandaian gadis berpedang putih ini, kalau saja ia tidak dikeroyok.
Kini mereka maju bersama dan sepasang sinar marah dan putih itu menyambar-nyambar seperti kilat, membuat ia sibuk juga dan akhirnya terpaksa main mundur!
Dua orang gadis kakak beradik itu lalu tertawa dan si tahi lalat di dagu berkata.
"A Kim, budak ini manis sekali, jangan bunuh dia. Biarkan dia hidup dan kelak datang menyusul kita agar ada kegembiraan."
Setelah berkata demikian. gadis itu bersama adiknya melompat dan berlari cepat.
"Demikianlah, ayah. Kitab itu mereka bawa pergi. Aku tidak berani memberitahukan ayah atau ibu, selain takut mendapat marah juga?.. malu. Tadinya anak pikir akan diam-diam menyusul mereka dan menumpas kembali, akan tetapi ayah mengajakku ke sini untuk membantu Huang-ho Sian-jin, terpaksa maksud itu tertunda."
Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong membanting-banting kakinya.
"Bocah bodoh! Selain kena dikalahkan orang, kau masih berkepala batu tidak segera memberi tahu kepadaku. Mereka itu benar-benar berani menghina kita. Apa kau tidak ada ingatan untuk bertanya siapa mereka itu pada waktu mereka pergi?"
"Ada kutanya nama mereka, ayah. Mereka mengaku bernama Liok Cui Lin dan adiknya Liok Cui Kim, bahkan sebelum pergi mereka menyatakan bahwa mereka tinggal di dalam Hutan Ui tiok-lim (Hutan Bambo Kuning) di lembah Sungai Luan-ho di luar tembok besar dekat Kota Raja Kin."
"Ui-tio-lim.......?"
Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong terkejut mendengar disebutnya tempat ini dan ia saling pandang dengan isterinya.
Tempat itu sudah mereka kenal, sebuah tempat yang amat berbahaya, yang ratusan tahun yang lalu dibangun oleh seorang tokoh jahat dari utara.
Tempat ini penuh rahasia dan tangan-tangan maut menjangkau dari tempat-tempat tersembunyi sehingga sudah sejak lama sekali tak seorangpun berani mendatangi tempat yang dianggap sebagai sarang iblis itu.
Dan sekarang ditinggali oleh dua orang gadis yang sanggup merampas kitab dari tangan Ceng Ceng!
"Eh, mana dia.......?"
Tiba-tiba Lie Kong bertanya kaget ketika menengok tidak melihat Tiang Bu di situ.
"Entah. dia tadi melangkah ke sini dan agaknya ada bayangan berkelebat di dekatku."
Kata Souw Cui Eng, isterinya, kemudian nyonya itu menjadi pucat.
"Katak itu telah hilang berikut tempatnya"
Lie Kong makin kagum.
"Hebat sekali!? Bocah itu, tentu dia yang mengambilnya, Ceng Ceng, apa kau tadi malihat Tiang Bu pergi?"
Gadis itu memang sejak tadi memperhatikan Tiang Bu, akan tetapi iapun hanya melihat pemuda itu berkelebat dan lenyap, maka ia menggeleng kepala. Lie Kong menarik napas panjang.
"Ceng Ceng, aku masih tetap ingin sekali menjodohkan kau dengan dia. Di dunia ini kiranya tidak mudah bagimu mencari jodoh seperti orang muda tadi. Sekarang kita bersiap-siap setelah selesai urusan di sini kita mengejar dua orang gadis Liok itu ke utara."
Tiang Bu memang telah mencuri katak dalam peti yang disimpan oleh Souw Cui Eng.
Tadinya Tiang Bu merasa curiga karena nyonya ini beberapa kali meraba saku baju seakan-akan takut kalau ada barang penting lenyap dari saku itu.
Ia tadinya mengira bahwa mungkin sekali kitab itu diam-diam disimpan nyonya ini.
Maka mendengar penuturan Ceng Ceng bahwa kitab dari Omei san itu telah dirampas oleh dua orang anak perempuan Liok, ia menjadi kaget sekali.
Karena tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan kitab dari keluarga ini,.
Tiang Bu lalu cepat pergi setelah lebih dulu ia menggunakan kepandaian dan kecepatannya untuk menyambar isi saku nyonya itu yang ternyata adalah peti kecil dengan katak ajaib yang pernah dilihatnya.
Kebetulan, pikirnya.
Harta benda itu memang sudah sepatutnya kalau dipergunakan untuk menolong para korban banjir.
Akan tetapi katak wasiat ini siapa tahu kalau-kalau menjadi benda simpanan Pangeran Wanyen Ci Lun, biar kuambil dan kukembalikan kepadanya.
Setelah pergi dari lembah Sungai Huang-ho itu, Tiang Bu teringat akan pemuda dan dia gadis yang lihai dan yang tinggal di dalam kelenteng itu.
Ia ingin tahu mereka itu siapa, terutama gadis itu benar-benar amat menarik hatinya.
Dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya, Tiang Bu menyusul ke kuil yang pernah dilihatnya ketika ia mengejar Ceng Ceng.
Ia ingin cepat bertemu dengan pemuda dan gadis yang aneh itu, ingin berkenalan, terutama sekali dengan gadisnya.
Wajah gadis itu serasa tidak asing baginya, serasa pernah dilihatnya, entah di mana dan bilamana ia sudah lupa lagi.
Ketika ia tiba di dekat kelenteng tua, ia melihat banyak orang sedang hilir mudik mengangkuti barang-barang dari dalam kelenteng.
Terayata yang diangkuti itu adalah barang-barang perabot rumah tangga yang indah yang tadinya menghias isi kelenteng!
Apakah mereka hendak pindah?
Tiang Bu benar-benar menjadi terheran-heran ketika mendapat kenyataan bahwa yang mengangkut adalah orang-orang berpakaian seperti tentara seragam.
Dan mereka bekerja nampak tergesa-gesa sekali.
Selagi Tiang Bu bingung tak tahu harus berbuat apa, ia mendengar suara senjata beradu di tempat jauh, arah dekat sungai.
Terdengar suara lain lagi yang mendesak supaya para serdadu itu bekerja lebih cepat.
Karena tertarik, Tiang Bu cepat menyelinap di antara pepohonan dan menuju tempat pertempuran.
Dan di dekat sungat ia melihat pemuda tampan dan gadis jelita itu benar-benar tengah bertempur melawan seorang pemuda tampan yang lain yang hebat sekali kepandaiannya.
Pemuda itu tampan, bertubuh jangkung kurus, dahinya lebar seperti botak, mulutnya tersenyum-senyum mengejek dan mata yang bersinar-sinar aneh!
Yang hebat, ia mainkan senjata yang luar biasa sekali, yaitu sebatang huncwe (pipa tembakau) yang panjangnya dua kaki, terbuat dari pada bambu badan batangnya dan tempat apinya dari tanah.
Akan tetapi ia mainkan huncwe itu secara luar biasa sekaIi.
Jelas kelihatan oleh Tiang bu bahwa pemuda tampan ini mainkan senjata huncwenya seperti orang mainkan pedang dan ilmu pedangnya inilah yang hebat.
"Eh, seperti Soan-hong-kiamsut (llmu Pedang Angin Puyuh)?? eh, mengapa begitu? Itu seperti Soan-lian kiamsut (Ilmu Pedang Teratai Saju)....."
Tiang Bu berkata seorang diri ketika matanya mengikuti permainan pedang yang dilakukan dengan huncwe itu.
Apalagi ketika tiba-tiba ia merasa sambaran huncwe itu mendatangkan hawa dingin, ia tidak ragu lagi bahwa tentu pemuda ini mengerah tenaga dalam Ilmu Pedang Teratai Salju, semacam ilmu pedang disertai lweekang tinggi yang asalnyn dari Omei-san!
"Siapa dia yang begini lihai.....?"
Tanya Tiang Bu dalam hati, membuat ia ragu untuk mencampuri pertempuran itu.
Akan tapi kakak beradik itupun ternyata memiliki kepandaian yang tidak rengah.
Hebat sekali adalah dara jelita itu, karena ia menghadapi lawannya dengan senjata yang lebih luar biasa lagi, yaitu dua ekor ular belang di kedua tangan kanan kiri.
Melihat senjata aneh di tangan dara cantik ini, Tiang Bu, melengong dan seperti dibuka matanya.
Teringatlah akan peristiwa di puncak Gunung Omei-san ketika ia melihat dua orang gadis kecil bertempur, yang seorang adalah Lee Goat adiknya dan gadis kedua bukan lain adalah gadis ini.
Tak salah lagi!
Dan pemuda itu......
pemuda yang sekarang mempergunakan pedang dengan amat indahnya mengeroyok pemuda berhuncwe itupun bukan lain adalah pemuda yang kemudian datang melerai adiknya yang berkelahi.
Akan tetapi, pendapat ini tetap saja tidak mendatangkan keyakinan di hati Tiang Bu apakah ia harus membantu mereka.
Ia tidak mengenal mereka, juga tidak mengenal pemuda lihai berhuncwe itu, kalau tanpa mengetahui urusannya ia membantu sefihak, itu tidak adil sekali.
Akan tetapi kalau didiamkanya saja.
juga tidak betul karena ia merasa khawatir sekali akan keselamatan gadis itu.
Selagi ia ragu ragu, terdengar pemuda berhuncwe itu tertawa, suara ketawanya sungguh-sungguh berlawanan dengan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang halus.
Suara ketawanya parau, kasar dan kurang ajar.
Apalagi ucapannya yang menyusul ketawanya itu.
"Ha, ha ha, menurut patut aku harus membikin mampus kalian ini, budak-budak bangsa Kin! Akan tetapi...... aduh sayang sekali kau, gadis manis. Mari ikut dengan aku mengejar kebagiaan, dan aku akan mengampuni jiwa budak yang menjadi kakakmu ini."
Kata-kata ini saja cukup bagi Tiang Bu untuk mengambil keputusan membantu gadis itu.
Bukan karena ia kini tahu bahwa gadis dan kakaknya itu bangsa Kin, ia tidak mempunyai hubungan dengan bangsa Kin, akan tapi kenyataan bahwa pemuda berhuncwe itu ternyata cabul dan jahat cukup membuat ia menganggapnya bersalah.
"Setan pemadatan jangan kau menjual lagak,"
Bentak Tiang Bu dan begitu ia menyerbu, pemuda berhuncwe itu terkejut setengah mati.
Tadinya ia sudah melihat datangnya pemuda sederhana ini, akan tetapi tidak memperhatikannya dan tidak memandang sebelah mata, mengira bahwa pemuda itu bukan lain adalah seorang di antara "kuli-kuli"
Pemuda dan gadis itu.
Kiranya sekarang begitu membentak dan menyerbu dengan tangan kosong angin dorongan tangannya menyambar hebat dan hampir saja huncwenya terlepas dari pegangan dan hampir terampas kalau saja tidak cepat-cepat melompat mundur.
Dara jelita dan pemuda itu seperti pembaca sudah dapat menduga adalah Wan Bi Li dan kakaknya, Wan Sun, melihat datangnya benturan, dapat bernapas lega.
Tentu saja mereka mengenal Tiang Bu sebagai pemuda yang kemarin mengejar-ngejar Ceng Ceng, akan tetapi karena sekarang pemuda ini membantu mereka melawan si pemegang huncwe yang lihai, mereka segera bersiap untuk mangeroyok pemegang huncwe itu.
Pada saat semua barang dari dalam kuil sudah diangkut ke sebelah perahu besar yang sejak tadi berada di tepi pantai sungai dan muncullah seorang panglima gundul dari dalam perahu itu.
"Bi Li dan kongcu, mari kita berangkat!"
Seru panglima ini dengan suara keras.
Dua orang pemuda itu biarpun ragu-ragu tak berani membantah perintah ini dan segera mereka melompat keluar dari kalangan pertempuran, membiarkan Tiang Bu seorang diri menghadapi si pemegang huncwe, terus mereka berlompatan lari ke atas perahu.
"Gadis manis tunggulah aku!"
Si pemegang huncwe berseru dan tubuhnya berkelebat mengejar.
Bukan main cepatnya gerakannya ini karena tahu-tahu ia sudah berada di dekat Bi Li yang melarikan diri dan begitu mulutnya ditiupkan segulung asap ungu menyambar ke arah muka Bi Li dan gadis itu terguling!
Akan tetapi, Tiang Bu yang tadinya bengong dan heran mengenai panglima gundul di perahu besar itu adalah Kwan Kok Sun atau orang gundul yang dahulu membunuh suhunya, Bu Hok Lokai kini menjadi sadar melihat tergulingnya Bi Li.
Ia berseru keras dan pemuda berhuncwe yang sudah membungkuk untuk menyambar tubuh Bi Li, tiba-tiba terpental dan bergulingan sampai beberapa tombak jauhnya.
Ternyata ia telah kena didorong oleh Tiang Bu yang marah sekali.
Hebatnya, dorongan yang dilakukan dengan tenaga lweekang besar itu agaknya tidak melukai pemuda berhuncwe ini.
Ia telah bangkit kembali dan telah melompat ke dekat Tiang Bu dengan muka bengong terheran, bahkan saking herannya melihat kelihaian Tiang Bu tadi, ia sampai tidak memperhatikan dan tidak perduli lagi melihat Bi Li dipondong oleh kakaknya dan dibawa lari ke atas perahu.
Kemudian perahu dengan cepat berlayar ke tengah sungai yang sedang banjir!
"Bagus, jadi kau mempunyai sedikit kepandaian?
Setan belang, kau ini siapakah berani sekali mencampuri urusanku!"
Tiang Bu tersenyum, lega melihat gadis manis itu sudah pergi dengan aman.
Kini ia mendapat banyak kesempatan untuk melihat dan memperhatikan pemuda itu.
Pemuda itu paling banyak berusia dua puluh satu tahun dan biarpun wajah dan gerak-geriknya serta pakaiannya menandakan bahwa dia itu seorang sopan terpelajar namun sepasang matanya membuat orang berdebar ngeri.
Sepasang mata mempunyai sinar yang aneh menyambar-nyambar dan seperti bukan mata manusia.
Di dalam matanya inilah letak keistimewaan dan mungkin kejahatan pemuda ini, pikir Tiang Bu, kagum melihat seorang masih begini muda sudah memiliki kepandaian tinggi.
Ia amat tertarik karena tadi ia mengenal dua ilmu pedang terbayang dalam ilmu pedang yang dimainkan dengan huncwe oleh pemuda ini, dan dua ilmu pedang yang berasal dari Omei-san.
"Sobat, ilmu silatmu hebat sekali. Sayang kau berlaku kurang sopan kepada seorang gadis terhormat. Setelah gadis itu pergi, perlukah kita meneruskan permusuhan? Bukankah lebih baik kita berkenalan? Namaku Tiang Bu dan aku sama sekali tidak mempunyai permusuhan dengan kau, hanya tadi aku ingin menolong nona itu......"
Akan tetapi ia melongo ketika tiba-tiba pemuda berhuncwe itu terbahak-bahak sambil memegangi perutnya dan kadang-kadang menatap wajahnya.
Tiang Bu merasa seakan-akan mukanya ada coretan arang, ia menjadi gemas sekali akan tetapi diam-diam ia meraba-raba mukanya kalau kalau muka itu kotor dan kelihatan lucu membuat orang tertawa seperti tadi.
"Ha-ha ha-ha, kau......? Kau yang bernama Tiang Bu ......!? Ha-ha ha ha. kok begini saja macamnya? Lucu...... lucu......!"
Pada saat itu, dari jauh terdengar suara wanita bertanya.
"Twako kau tertawa-tawa gembira ada apakah?"
Mendengar pertanyaan ini, pemuda Itu makin keras ketawanya dan Tiang Bu diam-diam terkejut.
Suara pertanyaan Itu dikeluarkan orang dari tempat jauh dengan pengerahan ilmu Coan im-jip-bit (Mengirimi Suara dari Jauh) yang cukup lihai, tanda bahwa wanita yang bicara tadipun memiliki kepandaian tidak boleh dipandang ringan.
"Moi moi, kalian lekas datang ke sini. Ada hal yang amat menyenangkan dan menggelikan hati. Lekas!"
Pemuda berhuncwe menjawab, juga dengan pengerahan Ilmu Coan lm-jip-bit ke arah barat dari mana suara datang.
Baru saja gema suara ini lenyap, dari barat berlari datang dua orang gadis berpakaian serba merah dan ketika dua orang gadis itu datang dekat, Tiang Bu mendapat kenyataan bahwa mereka ini masih muda belia, paling banyak usia mereka sembilan belas dan delapan belas tahun, keduanya cantik-cantik dan manis-manis menggairahkan.
Apalagi cara mereka berpakaian amat ketat dan ringkas, mencetak bentuk tubuh mereka yang bagaikan kembang baru mekar-mekarnya sehingga muka Tiang Bu menjadi merah padam melihat lekuk-lekuk tubuh yang kencang menantang dan dicetak oleh pakaian tipis, padahal biasanya disembunyikan rapat-rapat oleh setiap orang gadis sopan.
Gadis pertama yang mempunyai tahi lalat merah kecil di dagunya berusia paling banyak sembilan belas tahun, matanya galak kejam akan tetapi bibirnya yang indah bentuknya itu tersenyum manis sekali.
Gadis kedua yang lebih muda sedikit amat menarik karena memiliki sepasang mata yang bening dan indah bentuknya, bergerak-gerak dengan amat genit, kerlingnya tajam menyambar-nyambar dari ujung mata.
"Apa yang menyenangkan hati twako tanya gadis bertahi lalat sambil memandang kearah Tiang Bu.
"Apakah pemuda seperti ini kau bilang menyenangkan?"
"Biarpun tidak menyenangkan, memang betul dia menggelikan,"
Kata gadis ke dua dan kerlingnya menyambar ke arah muka Tiang Bu yang menjadi makin merah, semerah warna pakaian dua orang dara lincah ini.
"Enci Lin, kaulihat, matanya lapar betul."
Memang sepasang mata Tiang Bu menyapu mereka berdua dan nampaknya "lapar"
Sekali, padahal pemuda ini memperhatikan mereka karena amat tertarik melihat keadaan mereka ini seperti yang digambarkan oleh Ceng Ceng!
Tahi lalat di dagu itu!
Dan sikap dua orang gadis ini, tak salah lagi inilah dua orang gadis she Liok yang telah merampas kItab Omei-san dari tangan Ceng Ceng.
Sebelum ia sempat menegur atau bertanya, pemuda yang memegang huncwe itu sudah berkata.
"Kalian tidak tahu, beliau ini bukan orang lain, akan tetapi inilah dia yang bernama Tiang Bu!"
Disebutnya nama ini benar-benar mendatangkan perubuhan besar pada dua orang dara manis itu.
Lenyap muka yang tadinya geli mentertawakan itu, terganti oleh perasaan heran, kagum, dan bahkan.....
mencari-cari muka.
"Memang namaku Tiang Bu apakah anehnya dengan itu? Kalian ini siapa?"
Pemuda berhuncwe itu membusungkan dada, berdiri dengan sikap menantang di depan Tiang Bu, lalu menjawab dengau suaranya yang kasar dan serak.
"Mau tahu namaku? Aku...... Cui Kong namaku tidah kalah baiknya dengan namamu, juga aku lebih tampan. Adapun tentang kepandaian, aku tidak kalah kalau belum mencoba. Sambut ini!"
Begitu kata-kata ini dikeluarkan huncwe itu meluncur cepat menusuk tenggorokan Tiang Bu, disusul oleh tangan kiri yang masuk ke perut dengan telapak miring seperti pedang membacok.
Inilah serangan maut yang luar biasa lihai dan berbahayanya.
"Bagus!"
Seru Tiang Bu yang cepat sekali reaksinya menghadapi serangan dahsyat yang dilancarkan secara tiba-tiba ini.
Ia maklum bahwa pemuda di depannya ini tidak main-main dan menyerangnya dengan mati-matian, begitu pula bahwa pemuda yang mengaku bernama Cui Kong ini memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada kepandaian Ceng Ceng, bahkan lebih tinggi dari pada kepandaian Bi Li dan kakaknya.
Cepat ia mengerahkan ginkangnya, berkelebat mengelak tusukan huncwe ke tenggorokan sedangkan tangan kiri lawan yang membacok perutnya itu ia sambut dengan tangan kanan untuk dicengkeram.
Akan tetapi Cui Kong ternyata cerdik dan gesit sekali.
Rupanya pemuda tampan inipun sudah dapat menduga akan kelihaian Tiang Bu dan karenanya merasa jerih untuk mangadu tangan.
Cepat ia menarik kembali tangan kirinya yang seperti seekor ular tahu-tahu telah menyusup ke dalam saku bajunya dan keluar lagi, kemudian dibarengi bentakan aneh, dari mulut pemuda itu menyambar asap ungu dan dari tangan kirinya menyambar jarum-jarum hitam, sedangkan huncwenya meluncur lagi ke arah ulu hati Tiang Bu.
Sekaligus tiga macam serangan yang dapat merenggut nyawa telah mengurung Tiang Bu.
"Ganas dan keji......!"
Seru Tiang Bu kaget.
Ia cepat melompat sambil mengumpulkan sinkangnya menggerakkan tangan berulang-ulang untuk memukul runtuh jarum-jarum hitam yang menyambar ke arahnya itu dengan hawa pukulannya, sedangkan dengan tenaga khikang yang mengagumkan, ia meniup arah asap ungu itu sehingga buyar dan terbang tetbawa angin.
"Hebat.......!"
Demikian dua orang gadis menonton pertempuran itu memuji kepandaian Tiang Bu.
Juga Cui Kong diam-diam merasa kagum dan kaget sekali melihat cara Tiang Bu menghadapi semua serangan dengan demikian aneh dan mudah.
Namun masih merasa penasaran dan dengan marah kembali menyerang dengan empat cara, yaitu dengan huncwe, dengan asap ungu, dengan jarum-jarum hitam atau dengan tangan kirinya.
Setiap gerakan dalam serangan ini merupak tangan maut menjangkau ke arah nyawa Tiang Bu, karena serangan huncwe selalu ditujukan kepada bagian tubuh yang berbahaya, sedangkan asap ungu dan jarum hitam itu semuanya mengandung racun yang amat jahat, juga pukulan-pukulan tangan kiri selalu mengarah jalan darah kematian.
Menghadapi serangan-serangan lawan yang amat ganas ini, Tiang Bu marah sekali.
Akan tetapi dia tidak sekeji Cui Kong dan tidak mau dia menewaskan orang tanpa sebab.
Kalau Tiang Bu menghendaki, dengan ilmunya yang jauh masih berada di atas tingkat Cui Kong kiranya mudah saja ia mengeluarkan serangan maut sebagai balasan yang takkan mungkin dapat dihindari oleh lawannya.
Akan tetapi Tiang Bu tidak berniat membunuh orang.
Ia hanya ingin mengukur sampai di mana kepandaian pemuda ini dan ingin mengalahkannya tanpa membunuh atau melukai berat.
Inilah yang sukar karena pemuda inipun bukan orang lemah dan memiliki kepandaian tinggi sekali, maka mengalahkan dia tanpa melukai berat atau membunuh, hanya mudah dibicarakan akan tetapi pelaksanaannya sukar sekali.
"Aha, kau benar lihai, dan hatimu lemah sekali. Ha-ha-ha!"
Berteriak-teriak Cui Kong memuji dibarengi ejekan-ejekan yang memanaskan hati.?Lihat, alangkah manisnya Cui Lin dan Cui Kim itu, alangkah bagusnya bentuk badannya.
Eh, Tiang Bu, kalau kau bisa menangkan aku, akan kuberikan mereka kepadamu untuk menyenangkan hatimu!?
Tiang Bu marah sekali dan berusaha sekerasnya untuk merobohkan lawan yang lihai tangan lihai mulut ini.
Seratus lima puluh jurus sudah lewat dan selama itu Tiang Bu tetap menghadapinya dengan tangan kosong.
Makin lama Tiang Bu makin terkejut oleh karena ilmu silat dari pemuda di depannya itu selain lihai sekali juga banyak macamnya dan diantaranya terdapat ilmu pedang yang sifatnya tak salah lagi bersumber pada ilmu-ilmu Omei-san Di lain pihak, biarpun mulutnya mengomel namun Cui Kong diam-diam merasa panas bukan main.
Belum pernah selama hidupnya menghadapi lawan sehebat ini yang melayani huncwe dan senjata-senjata rahasianya hanya dengan dua tangan kosong untuk selama seratus lima puluh jutus, sedikitpun tak pernah terdesak bahkan mendesaknya dengan hebat.
Saking gemas dan penasaran, ia melompat mundur dan melakukan pelanggaran apa yang dilarang oleh ayahnya, yaitu melakukan pukulan dahsyat ajaran ayahnya.
Pukulan Tin-san-kang (Pukulan Mendorong Gunung).
Tubuhnya agak merendah setengah berjongkok selagi Tiang Bu mengejar maju, Cui Kong dorong dengan kedua tangan kosong ke depan mulutnya membentak.
"Roboh......!!"
Hebat tekali pukulan Tin-san-kang ini.
Pukulan ini asalnya ciptaan seorang tosu kenamaan, ketua lm-yang bu pai dan bernama Giok Seng Cu.
Tosu rambut panjang ini adalah murid Pak Hong Siansu.
Oleh Giok Seng Cu ilmu ini diturunkan kepada Liok Kong Ji dan dari Liok Kong Ji menurun kepada Cui Kong.
Dalam menggunakan ilmu ini, ternyata Cui Kong tidak kalah lihainya oleh Liok Kong Ji.
Tiang Bu merasa seperti terbawa tiupan angin keras, dan ia tidak kuasa menahan lagi.
Biarpun ia sudah mengerahkan tenaga sehingga pukulan ini sama sekali tidat dapat melukainya, namun dorongan hawa pukulan dahsyat ini membuatnya terlempar ke belakang dan roboh terlentang!
Saking kaget dan kagumnya ia tidak cepat-cepat berdiri dan ini dipergunakan oleh Cui Kong yang berwatak licik.
Melihat betapa Tiang Bu hanya roboh saja dan pada mukanya tidak terlihat tanda kesakitan melainkan keheranan, Cui Kong masih belum puas akan kemenangannya, cepat ia melompat mendekati dan kini dari jarak dekat ia melancarkan pukulan Tin-san-kang pada perut Tiang Bu.
Pukulan maut!
Kali ini Tiang Bu tidak mau mengalah lagi karena menghadapi bahaya sebesar itu, mengalah berarti mati.
Dengan tubuh masih telentang di atas tanah, ia menggerakkan kedua tangannya dipukulkan ke atas, ke arah dua tangan Cui Kong yang menghantamnya.
Biarpun tidak kelihatan dua pasang tangan bertemu, namun pertemuan dua tenaga raksasa di tengah udara itu akibatnya hebat sekali.
Tubuh Tiang Bu yang terlentang itu melesak ke dalam tanah sampai sejengkal lebih, sedangkan tubuh Cui Kong bagaikan tertendang dari bawah, terpental ke atas kemudian roboh lemas dan muntah-muntah darah!
"Saudaraku Tiang Bu, aku mengaku kalah?..
kau patut menjadi putera sejati dari ayah....."
Kata Cui Kong dan dua orang gadis itu maju dan merangkul pundak Tiang Bu.
"Koko, kau benar-benar lihai sekali?."
Kata Cui Lin sambil meremas remas tangan Tiang Bu.
"Koko, kau nanti harus ajarkan pukulan hebat itu kepada adikmu ini, biar upah. kuberi dulu......"
Kata Cui Kin dan cepat meraih kepala Tiang Bu untuk ditarik dan diciumnya pipi pemuda itu dengan bibir dan hidungnya.
Hal ini sama sekali di luar dugaan Tiang Bu.
Karuan saja ia menjadi gelagapan hampir saja ia mendorong dua orang gadis itu kalau saja tidat terjadi hal yang aneh di dalam dirinya.
Entah mengapa, begitu dua orang gadis itu merangkulnya dan bersikap manja dan manis, begitu kulit lengan yang halus putih bersentuhan dengan kulit leher dan lengannya, begitu keharuman bunga-bunga yang keluar dari pakaian mereka menyentuh hidungnya, tiba-tiba saja Tiang Bu menjadi panas seluruh tubuhnya.
Dadanya berdebar tidak karuan, kepalanya seperti berdenyut-denyut, pandang matanya berkunang dan pikirannya menjadi tidak karuan.
Tiba-tiba saja timbul sesuatu yang mendorongnya untuk merasa senang, merasa gembira bersentuh kulit dengan dua orang gadis ini, bahkan membuatnya ingin membalas dan menyambut tangan dan belaian mereka.
Pendeknya dalam waktu singkat dan secara aneh sekali, nafsu binatang telah menguasai hati dan pikiran Tiang-Bu, sukar untuk dilawan lagi.
Sementara itu, Cui Kong sudah bangun berdiri dan menghapus darah yang melumuri bibirnya, lalu menghampiri Tiang Bu sambil menjura dan berkata.
"Benar-benar siauwie takluk sekali, kepandaian Tiang Bu koko patut dikagumi dan tentu akan membanggakan hati ayah kita."
Tiang Bu agak tersadar dari pada buaian pengaruh aneh yang memabokkannya melihat kedatangan Cui Kong, akan tetapi ia menjadi terheran-heran.
"Kalian ini siapakah? Dan apa maksud kata-kata yang ganjil itu?"
"Saudara tua Tiang Bu harap maklum bahwa aku adalah putera angkat dari ayahmu Liok Kong Ji, jadi kita masih terhitung saudara, dan mereka ini, Cui Lin dan Cui Kim adalah??"
"Kami juga saudara-saudara angkat, akan tetapi seperti telah dijanjikan oleh Cui Kong toako tadi, setelah dia kalah maka kami menjadi......"
Setelah berkata demikian, dengan stkap genit sekali Cui Lin menggandeng tangan kanan Tiang Bu sedangkan tangan kiri pemuda itu digandeng oleh Cui Kim!
Adapun Cut Kong memandang dengan tersenyum girang, lalu katanya.
"Tiang Bu koko, mari silakan mengaso di tempat di mana kita dapat bercakap-cakap dengan senang."
"Kita bukan saudara......"
Bantah Tiang Bu lemah karena hatinya makin tidak karuan ketika dua tangannya digandeng dan dibelai oleh dua orang dara cantik itu.
"Aku...... aku bukan anak Liok Kong Ji?"
Akan tetapi sambil tertawa-tawa Cui Kim berkata.
"Aah, koko jangan kau main-main"
Dicubitnya lengan pemuda itu dan ditarik-tariknya maju.
Sambil tertawa-tawa dua orang gadis itu membetot Tiang Bu yang terpaksa berjalan bersama mereka, sungguhpun mukanya masih memperlihatkan keraguan Cui Kong di sepanjang jalan terus menerus "bernyanyi?
memuji kegagahan, kelihaian Tiang Bu.
Bahkan kini dua orang gadis itu mulai memuji-muji ketampanan Tiang Bu, pada hal tadi mereka mencela.
Anehnya.
Tiang Bu yang biasanya berwatak gagah dan bersemangat, kini seakan-akan pikirannya diselubungi sesuatu yang membuat daya pikirannya tumpul, membuat ia seperti kehilangan semangat dan seluruh tubuhnya dikuasai oleh nafsu, kotor.
Tentu saja ia tidak menyangka sama sekali bahwa hal ini adalah akibat pengeruh katak ajaib yang ada di dalam saku bajunya!
Katak hijau itu memang betul semacam katak yang beracun aneh, seperti yang pernah dikatakan oleh Pek-thouw tiauw-ong Lie Kong bahwa katak hijau itu adlah katak pembangkit asmara.
Racun yang keluar dari tubuh katak itu menjalar kepada orang yang membawanya dan mendatangkan pengaruh yang luar biasa kuatnya sehingga orang yang membawanya akan diserang nafsu berahi yang tidak sewajarnya, membuat orang itu gelap mata dan kehilangan semangatnya.
Kalau si pembawa tidak bersentuhan kulit dengan wanita, maka pengaruh katak itu tidak terasa.
Akan tetapi sekali orang bersentuhan kulit dengan seorang wanita, ia akan terpenguruh hebat sekali, apa lagi jika yang terpengaruh itu orang yang memang pada dasarnya mempunyai watak romantis.
Adapun Tiang Bu, sebagai putera Liok Kong Ji yang aseli, ternyata sedikit banyak ada?darah?
ayahnya mengalir di tubuhnya yang membawa watak "gila perempuan"
Dari ayahnya itu kepadanya.
Oleh sebab inilah maka mudah sekali dibinggapi penyakit dari racun katak itu.
Bagaikan orang mabuk, Tiang Bu menurut saja digandeng dan ditarik oleh Cui Lin dan Cui Kim, seperti seekor kerbau ditarik hidungnya.
Mereka menuju ke sebuah pondok kecil yang berada di sebuah hutan, belasan li dari pantai sungai tadi di mana perahu besar ng membawa Bi Li dan Wan Sun menghilang.
Seperti kelenteng tua yang ditinggali Bi Li dan Wan Sun tadi, pondok inipun dalamnya serba indah dan mewah, bahkan di sini terdapat tiga orang pelayan laki-laki.
Cui Kong segera memberi perintah kepada para pelayan untuk mengeluarkan hidangan arak wangi dan Tiang Bu dijamu dengan segala kehormatan.
Dengan ramah-tamah Cui Kong menuangkan arak wangi dalam cawan besar penuh dan memberikan cawan itu kepada Tiang Bu.
"Tiang Bu koko, silakan menerima ucapan selamat bertemu dari siauwte dengan segelas arak "Aku...... aku tidak biasa minum arak,"
Kata Tiang Bu menolak.
Akan tetapi Cui Kim merangkul lehernya dan menerima cawan arak itu lalu menempelkannya pada bibir Tiang Bu sambil berkata "Koko, apakah kau tidak suka kepada kami.
Terimalah.
biar ucapan selamat itu ditambahi oleh penghormatanku."
Dihadapi bujuk rayu oleh si jelita dalam keadaan dia sedang terpengaruh oleh racun katak hijau, mana Tiang Bu dapat menolaknya?
Sambil tersenyum-senyum bingung ia akhirnya menerima juga minum arak itu.
Akan tetapi begitu arak itu mrmasuki mulutnya, hawa sinkang di dalam tubuhnya otomatis naik den menahan arak itu sehingga tidak sampai masuk ke tenggorokan.
Tiang Bu merasa sesuatu yang panas, pedas dan nenusuk-nusuk dari arak itu maka di dalam setengah sadarnya ia bercuriga.
Cepat ia memutar kepala ke samping dan menyemburkan arak itu ke tanah.
"Racun......!"
Katanya.
Sebenarnya seruan itu hanya karena kagetnya saja merasa sesuaru yang amat tidak cocok di dalam mulutnya, akan tetapi tanpa disengaja ia telah mengeluarkan seruan yang amat tepat.
Kalau saja Tiang Bu memperhatikan, tentu ia melihat betapa wajah Cui Kong dan dua orang gadis itu menjadi pucat.
Bahkan Cui Kong sudah menarik huncwenya, bersiap kalau-kalau Tiang Bu akan menyerang.
Akan tetapi karena melihat Tiang Bu tidak menyerangnya, Cui Kong lalu menyambar cawan arak di tangan Tiang Bu yang masih ada sisa araknya.
"Kurang ajar, kau berani mencoba meracuni kakakku?"
Bentaknya kepada pelayan yang tadi mengeluarkan hidangan.
"Tidak...... siauwya...... bukankah siuwya menyuruh hamba......"
Kata-kata pelayan yang menjadi ketakutan itu dipotong cepat oleh Cui Kong.?Aku menyuruhmu mengeluarkan arak terbaik dan yang paling wangi, akan tetapi apa yang kau hidangkan?
Arak obat luka, arak yang mengandung racun.
Hayo kau minum ini!?
Ia mengulurkan tangan memberikan cawan itu, akan tetapi pelayan itu dengan muka pucat dan tubuh gemetar mundur tidak mau menerimanya.
"Tidak...... tidak...... ampun siauwya?"
Akan tetapi sebuah totokan dengan ujung huncwe membuat pelayan itu berdiri kaku dengan mulut ternganga, kemudian sekali menggerakkan cawan, isi cawan itu tertuang ke dalam mulut terus memasuki perut si pelayan yang bernasib malang.
Setelah itu Cui Kong menotok pula jalan darah pelayan itu membebaskannya.
Akan tetapi racun sudah bekerja dan seketika itu juga pelayan itu terjungkal, berkelojotan dan......
mati.
"Akh, mengapa dia dibunuh?"
Tiang Bu mencela, kaget dan ngeri.
"Dia tentu pesuruh musuh-musuhmu, twako. Dia itu pelayan yang baru saja tiga hari bekerja pada kami. Kalau tidak dibunuh, dia bisa berbahaya,"
Jawab Cui Kong yang segera menyuruh dua orang pelayan lain untuk mcngurus mayat pelayan sial itu.
Kemudian ia mengundurkan diri dan mempersilakan Tiang Bu bersenang-senang dengan dua orang gadis itu.
Tiang Bu benar-benar seperti orang lemah.
Tak kuasa ia mengusir pengaruh racun katak pembangkit asmara itu dan akibatnya membawa ia seperti buta, tidak dapat ia menolak cumbu rayu kedua orang gadis yang sikapnya amat manis, mesra dan penuh cinta kasih kepadanya.
Tiang Bu menjadi lupa akan segala ilmu batin yang pernah dipelajarinya, ia tidak berdaya dan menurut saja dirinya dibawa dan diseret ke jurang kehinaan oleh dua orang gadis yang biarpun pada lahirnya cantik-cantik, namun di lubuk hatinya sebetulnya adalah siluman-siluman bermuka manusia ini.
Pada keesokan harinya, seperti orang yang baru sadar dari maboknya, Tiang Bu mendapatkan dirinya terlentang di atas pembaring, di dalam kamar yang indah dan harum.
Ia tak melihat Cui Lin dan Cui Kim dan tubuhnya terasa kaku dan sakit-sakit ketika ia hendak bangun.
Pada saat itu, perasaannya yang sudah terlatih, juga berkat sinkangnya yang tinggi.
ia tahu akan adanya senjata-senjata rahasia yang menyambar.
Cepat sekali reaksinya dan di lain saat ia telah menggelundungkan tubuh ke bawah ranjang dan cepat melompat berdiri pada saat ujung huncwe di tangan Cui Kong menusuk ke arah matanya.
Tiang Bu kaget bukan main.
Serangan ini luar biasa cepatnya dan pula sedang dalam keadaan limbung.
pikirannya masih belum sadar benar, baiknya ilmu silat yang dilatih bertahun tahun oleh Tiang Bu adalah ilmu silat tinggi yang jarang bandingannya di dunia.
Kedua kakinya secara otomatis sudah bergerak menurutkan Ilmu Kelit Sam-hoan-sam-bu.
Kedua kaki ini ketika bergerak dalam I lmu Kelit Sam-hoan-sam-bu, seakan-akan dua ekor ular saja lemasnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah melejit ke samping dan bebaslah ia dari tusukan yang mengarah matanya.
Sebelum ia dapat mengatur kembali posisinya.
Cui Kong telah menerjangnya lagi dengan ilmu silatnya yang cepat dan lihai, dengan serangan-serangan bertubi-tubi yang amat ganas dan dahsyat.
Kamar itu cukup lebar, tetapi karena di situ terdapat meja kursi, sukar juga bagi Tiang Bu untuk menghindar diri dari serangan-serangan yang bertubi-tubi dan amat lihai itu, sehingga dua kali ia terkena juga tusukan ujung bambu huncwe, sekali pada pahanya, dan kedua kalinya pada pundaknya.
Baiknya tubuh pemuda ini sudah luar biasa kuatnya, kebal dan tidak mudah terluka sehingga tusukan-tusukan yang demikian cepat dan kerasnya itu hanya merobek pakaian dan sedikit daging di bawah kulit saja, sama sekali tidak mendatangkan luka yang membayakan.
Marahlah Tiang Bu.
Tadinya ia belum membalas karena tidak tahu apa sebabnya ia diserang mati-matian oleh pemuda yang mengaku sebagai saudararya itu.
Akan tetapi, luka-luka di pundak dan pahanya membuat ia maklum bahwa tanpa perlawanan, ia akan menghadapi malapetiaka.
Sambil berseru keras yang merupakan bentakan dahsyat, Tiang Bu mementang kedua tangannya dan sepuluh jari tangannya didorongkan ke depan.
Inilah pukulan dahsyat sekali dari Ilmu Pukulan Pek-lo (Jari-jari Geledek).
Masih balk bagi Cui Kong bahwa Tiang Bu tidak bermaksud membunuhnya maka pukulan dahsyat ini ditujukan ke bawah.
Cui Kong menjerit keras dan terlempar keluar kamar, kedua tulang pahanya remuk.
Tiang Bu hendak melompat keluar pula, tetapi tiba-tiba Cui Lin dan Cui Kim lari masuk dan memeluknya.
"Koko yang baik, jangan bunuh dia?"
Cui Lin membujuk sedangkan Cui Kim memeluknya erat-erat. Begitu dua orang gadis itu berada di dekatnya, lemaslah seluruh tubuh Tiang Bu, lenyap kemarahannya.
"Akan tetapi...... kenapa dia...... hendak membunuhku?"
Tanyanya, keningnya berkarut matanya bersinar penasaran.
"Duduklah..... biar kuterangkan kepadamu..."
Kata Cui Lin dan bersama adiknya ia menyeret Tiang Bu untuk duduk di atas ranjang.
"Sesungguhnya, terus terang saja, dia mempunyai hati kepadaku, akan tetapi aku tidak membalas cintanya dan ...... dan cinta padamu. Ini agaknya membuat iri dan cemburu dan tanpa tanya lagi dia menyerangmu. Akan tetapi dia sudah mendapat bagiannya dan tentu kapok. Biar dia pergi dari sini, jangan kita perdulikan dia."
"Koko, kau...... kau gagah parkasa hebat......!I"
Cui Kim memuji dan nampak bangga sekali.
Untuk kedua kalinya Tiang Bu roboh.
Racun katak sudah menjalar memasuki darahya membuat ia lupa daratan dan tidak tahu bahwa dua orang wanita cantik ini mengatur siasat untuk mencelakakannya.
Namun, Cui Kim dan Cui Lin agaknya jerih menghadapi kelihaian ilmu silat Tiang Bu, sehingga sampai sebulan lebih mereka mengajak Tiang Bu bersenang-senang di tempat itu.
Segala keperluan disediakan oleh dua orang pelayan itu dan anehnya, di tempat sesunyi itu apa saja yang dikehendaki mereka akan tersedia, makanan-makanan yang mahal atau minuman-minuman yang lezat.
Dalam maboknya, hal inipun tidak menarik perhatian Tiang Bu, apalagi menimbulkan kecurigaannya.
Di luar pengetahuannya, makin lama tubuh Tiang Bu makin lemas.
Racun katak itu memang hebat.
Kalau yang dirangsang tidak melayaninya, racun itu takkan ada gunanya dan akan mati sendiri.
Sebaliknya, apabila orang yang dirangsang menuruti dorongan nafsu yang timbul dari rangsangan racun ini, racun itu akan bekerja makin hebat, mengeram dalam jalan-jalan darah dan menyerang jantung.
Kalau bukan Tiang Bu.
dalam waktu dua pekan saja orang yang menuruti nafsu akibat rangsangan racun ini akan kehabisan semua tenaganya dan darahnya akan keracunan sedemikian hebat yang akan merenggut nyawa.
Baiknya Tiang Bu memang memiliki sinkang luar biasa, juga ia pernah mempelijari kitab Seng-thian-to dan melatih semacam yoga yang tertinggi, maka pengaruh racun itu dalam waktu sebulan lebih hanya membuat ia lemas saja dan tenaga sinkangnya banyak yang lolos ke-luar!
Empat puluh hari sudah lamanya Tiang Bu dipermainkan oleh kakak beradik Cui Lin dan Cui Kim dan masih tetap saja dua orang gadis ini jerih dan tidak berani sembarangan turun tangan terhadap Tiang Bu.
Pada suatu pagi, Tiang Bu yang makin lemas tubuhnya dan masih belum bangun dari tidurnya, akan tetapi dua orang wanita itu sudah berhias dan sedang mengatur hidangan pagi di atas meja.
Tiba-tiba terdengar suara.
"kok kok kok kok!"
Yang nyaring.
Cui Lin dan Cui Kim sampai tersentak mendengar suara ini di dalam kamar.
Mereka melihat Tiang Bu masih tidur dan ketika mereka mercari-cari, terlihatlah kotak hitam berukir di bawah bantal Tiang Bu.
Dengan hati-hati Cui Kim mengamhil kotak ini dan kembali terdengar suara nyaring seperti tadi.
Cui Kim membuka perlahan tutupnya dan?...
seekor katak hijau melompat keluar, terus ia menycrbu ke atas meja dan......
makan makanan buah yang berada di situ.
Agaknya katak ini paling doyan manisan atau makanan yang manis-manis maka tadi ketika mencium bau manis-manis yang baru dihidangkan pagi ini, ia memberontak dan berbunyi di dalam kotaknya.
Katak aneh itu memang luar biasa biarpun tidak diberi makan sampai berbulan-bulan ia tidak apa-apa.
"Aneh sekali!"
Kata Cui Kim.
"Untuk apakah dia menyimpan seekor katak?"
"Hush, jangan keras keras. Kukira katak ini semacam katak ajaib yang besar kasiatnya. Biar kupegang dia,"
Cepat sekali tangan Cui Lin menyambar, namun sekali menggerakkan pinggul saja katak itu sudah dapat mengelak.
Tiga kali Cui Lin menubruk, selalu katak itu dapat mengelak di atas meja, mengelilingi piring berisi manisan itu.
"Pancing dengan manisan."
Kata Cui Kim yang segera mengambil semua manisan, disukkan ke dalam kotak.
Benar saja, katak segera melompat dan sekali melompat tahu-tahu ia telah berada di dalam kotak.
Demikian cepat lompatannya.
Cui Kim cepat menutup kotak itu dan memasukkannya ke dalam sakunya.
Suara ribut-ribut ini membuat Tiang Bu bangun dari tidurnya.
Dengan lemah dan ogah-ogahan ia membuka mata lalu bangkit duduk, memutar pinggang ke kanan kiri lalu bersila untuk bersamalhi seperti yang ia lakukan tiap malam dan pagi.
Begitu panca indranya terkumpul dan pernapasannya jalan dengan sempurna, mendadak ia merasa sesuatu yaig aneh sekali.
Ia tidak rindu dan mencari-cari Cui Lin dan Cui Kim seperti biasa ia rasakan setiap saat kalau ia tidak tidur dan semangatnya perlahan-lahan datang kembali.
Tiba-tiba saja pikirannya seperti dibuka dari selubungan tirai hitam gelap, membuat ia teringat segala kehinaan yang ia lakukan selama puluhan hari ini.
Dan ia tiba-tiba menjadi malu dan terkejut sekali.
Cepat ia membuka matanya dan melihat dua orang wanita cantik itu tengah memandangnya sambil tersenyum-senyum.
Senyum mereka yang biasanya mendatangkan rasa nikmat pada perasaan Tiang Bu, kini merupakan ejekan yang menikam kalbu, seperti mentertawakan kelemahan dan kedunguannya.
Tak tertahan lagi Tiang Bu menutupi mukanya dengan kedua tangan untuk mengusir bayang wajah dua orang suhunya yang seakan-akan memandangnya dengan bengis.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras untuk mengusir kata kata Tiong Sin Hwesio yang bergema di telinganya pada saat ia "sadar"
Itu.
"Tiang Bu muridku, syarat untuk menjadi seorang gagah adalah sama dengan syarat untuk menjadi seorang kuncu (budiman), karena seorang gagah itulah seorang budiman dan demikian sebaliknya. Kalau kau dapat mengalahkan seratus orang musuh, itu masih belum gagah. Sebaliknya kalau kau dapat mengalahkan iblis yang selalu datang dan hendak menguasai hati dan pikiran setiap orang, dapat mengalahkan iblis yang mengeram dalam dirimu sendiri, barulah kau patut mengaku sebagai murid Omei-san! Hati-hati bahwa iblis menguasai batinmu adalah kalau kau menghindari menyakiti hati, atau mencelakai lain orang yang tidak berdosa hanya untuk memuaskan nafsu dan benci, kau merugikan lain orang hanya untuk kepentingan dan keuntunganmu sendiri, kalau kau melakukan perbuatan hina dan kotor untuk memuaskan nafsu, terutama sekali kalau kau berjina??."
Kata-kata ini semua berdengung di telinga Tiang Bu dan akhirnya tak dapat tertahan lagi Tiang Bu menangis.
"Ampun suhu...... ampunkan teecu?"
Katanya, masih menutup muka dan air matanya jatuh berderai.
"Melakukan perbuatan salah itu sebuah kesesatan, akan tetapi tidak menghentikan perbuatan yang salah itu sebuah kesesatan lain yang lebih besar."
Suara Tiong Jin Hwesio bergema di telinganya, membuat semangat Tiang Bu bangkit dan ia menurunkan kedua tangannya, membuka matanya yang menjadi merah dan basah.
"Koko, kau kenapakah?"
Kata Cui Lin.
"Agaknya kau mimpi buruk"..."
Kata Cui Kim sambil tertawa dan bersama encinya ia maju menghampiri Tiang Bu. Akan tetapi Tiang Bu mengebutkan selimut ke arah mereka.
"Pergi kalian!"
Bentaknya keras.
Selimut itu menyambar ke arah dua gadis ini yang tidak mampu mengelak.
Akan tetapi sambaran selimut itu hanya mendatangkan rasa pedas sedikit pada kulit.
Maklumlah dua orang gadis ini bahwa Tiang Bu telah kehilangan banyak tenaganya sehingga pukulannya tidak berbahaya lagi.
"Twako...... bantu kami........,!"
Tiba-tiba Cui Lin berteriak sambil mencabut pedang diturut oleh Cui Kim.
Mereka serentak nyerang Tiang Bu!
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Tiang Bu atas serangan yang sama sekali tak pernah disangkanya ini.
Ia melompat dari atas perbaringan sambil mengelak dan dengan kecewa ia mendapat kenyataan betapa gerakannya tidak begitu gesit lagi.
Namun berkat ilmunya yang tinggi, masih dapat ia menghindar sambaran-sambaran pedang dua orang kakak beradik yang malam tadi masih menjadi kekasih-kekasihnya yang kelihatannya mencintainya.
"Kerbau itu sudah cukup gemuk untuk disembelih?"
Terdengar suara orang dan muncullah Cui Kong dengan huncwenya di tangan.
Selama puluhan hari ini, Cui Kong bersembunyi tak jauh dari situ, sambil mengobati luka-lukanya dan menyambung tulang-tulang pahanya yang remuk oleh pukulan Tiang Bu, sementara dua orang wanita itu merayu dan menyeret Tiang Bu ke lembah kehinaan mempergunakan kecantikan mereka dan di luar tahu semua orang, mereka mendapat bantuan dari katak pembangkit asmara!
Melihat pemuda ini muncul, pikiran Tiang Bu yang selama ini gelap dia tidak ingat apa-apa seperti dibuka.
Dapatlah ia menduga bahwa selama ini ia memang sengaja dibikin mabok oleh dua orang.gadis itu dengan rayuan dan cumbuan mereka.
Karena tidak dapat menangkan dia dengan ilmu silat, mereka telah menggunakan kecantikannya dan agaknya semua ini diatur oleh Cui Kong yang menjadi dalang di belakang layar!
Marahlah Tiang Bu melihat pemuda itu dan cepat ia menubruk mengirim pukulan ke arah dada Cui Kong.
Akan tetapi, dua orang "kekasihnya"
Yang selama puluhan hari dari malam berlaku amat manis kepadanya, kini merupakan lawan yang haus darah dan pedang mereka menyambar dari kanan kiri secara kilat.
Terpaksa Tiang Bu menarik kembali serangannya terhadap Cui Kong untuk menge!ak dan menggunakan jari tangannya menyentil pedang dua nona itu.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika hampir saja jari-jari tangannya tcrbabat putus ketika bertemu dengan pedang!
Masih baik ia cepat melompat ke samping sambil menarik tanganya.
Ternyata bahwa tenaga sentilannyapun hilang kekuatannya.
Pada saat itu, ujung huncwe di tangan Cui Kong sudah menyambar.
Tiang Bu mencoba untuk mengelak, akan tetapi kedua kakinya lemas dan ia hanya sempat miringkan tubuh.
Namun ujung huncwe terus mengejar dan lrhrr belakangnya ditotok!
Tian Bu mengeluh.
Kalau biasanya, totokan seperti itu saja takkan mengakibatkan apa-apa karena hawa sinkangnya tentu akan melawannya, akan tetapi sekarang ia tidak kuat menolak sehingga jalan darahnya terkena totokan lihai, membuat ia lemas dan roboh terpelanting ketika Cui Kong menendang lututnya.
Di lain saat, ujung dua pedang dan sebuah huncwe telah menodong jalan jalan darah kematian, membuat ia tak berdaya sama sekali.
"Ha ha ha tikus buruk. Kau mau apa sekarang?"
Bentak Cui Kong, menusuk-nusuk kulit dada Tiang Bu memancing pemuda itu mengaduh.
Akan tetapi biarpun kesakitan, Tiang Bu diam saja, sama sekali tidak mengeluh.
Ia lebih banyak merasa hanteur hatinya mengingat akan kesesatannya dari pada merasa takut.
Dua orang nona itupun tertawa cekikikan.
"Twako, kalau tidak ada kami dua orang wanita lemah, tak mungkin hari ini berhasil membekuknya,"
Kata Cui Kim.
"Memang kalian anak anak baik dan pintar sekali, telah menjalankan siasatku secara sempurna. Tunggulah, kelak aku akan menyatakan terima kasihku kepada kalian,"
Jawab Cui Kong sambil tertawa-tawa. Mendengar ini, hati Tiang Bu makin hancur dan ia ingin memukuli diri sendiri karena kebodohannya. Mataku telah buta, pikiranku penuh penyesalan.
"Cui Kong, hayo kau bunuh saja aku. Orang macam aku memang layak dibunuh, tidak ada gunanya hidup!"
Kata Tiang Bu sambil memandang kepada Cui Kong dengan mata mendelik.
"Ha-ha ha ha, .Tiang Bu. Kau merengek-rengek ingin minta kasihan? Apa kau mau mengingatkan aku bahwa kita masih saudara angkat?"
"Tidak, kaubunuhlah aku. Siapa sudi punya saudara angkat macammu? Juga aku bukan anak ayah angkatmu. Lebih baik mati!"
Jawab Tiang Bu gemas.
"Twako, tusuk saja jantungnya biar lekas beres. Sebal hatiku melihat monyet ini,"
Kata Cui Kim sambtl menekan ujung pedangnya sehingga ujung pedang itu masuk ke dalam daging di pundak Tiang Bu sampai mengenai tulang pundaknya.
Dapat dibayangkan betapa nyerinya, namun Tiang Bu sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit.
Jangankan mengeluh berkedippun tidak!
"Biarkan aku yang memenggal lehernya, dia sudah terlalu banyak mempermainkan diriku.
Aku ingin membalas sakit hati dan penghinaan itu!"
Kata Cui Lan dan nona ini mengayun pedangnya ke arah leher Tiang Bu yang menanti datangnya pedang dengan mata menantang berani.
"Traaangeg....,......!"
Pedang itu terpental oleh tangkisan huncwe di tangan Cui Kong.
"Eh, twako...... apa kau tiba-tiba menjadi lemah hati dan penyayang?"
"Lin-moi. jangan lupa akan pesan ayah? Dia boleh ditawan, boleh dibikin tak berdaya dan dihilangkan kepandaiannya, akan tetapi tidak boleh dibunuh. Dia berbahaya dan aku masih meninggalkan hutang kepadanya, biar sekarang kusurun dia membayarnya."
Setelah berkata demikian huncwenya bcrgcrak cepat sekali dan,....."krak...... krak.....!"
Tulang-tulang kaki Tiang Bu patah-patah oleh pukulan huncwe.
Rasa nyeri menyusup ke tulang-tulang seluruh tubuh Tiang Bu, membuat wajah menjadi pucat seperti mayat dan bibirnya tang tebal itu mengeluarkan darah karena digigitnya sendiri dalam menahan rasa sakit akan tetapi berkat kekerasan hatinya, ia masih sadar ketika ia diseret oleh Cui Kong dan dua orang nona itu, diseret keluar dari dalam pondok kemudian dilempar ke dalam jurang yang dalam di pantai sungai!
(Lanjut ke
Jilid 20) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 Dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan, Tiang Bu mempergunakan kesempatan terakhir menolong nyawa dari maut dengan cara membentangkan kedua lengannya mencari pegangan sesuatu penahan tubuhnya yang meluncur ke bawah, bergulingan di atas batu-batu yang tajam.
Akhirnya ia tertolong, tangan kanannya dapat memeluk sebatang pohoa yang tumbuh di lereng jurang.
Mempergunakan sisa tenaganya Tiang Bu memeluk batang pohon itu dan ia bcrhenti bergulingan.
Agaknya Thian masih menghendaki supaya ia hidup.
Setelah dapat menempatkan diri, duduk di atas batu di dekat pobon sambil memeluk batang pohon yang menjadi penolongnya itu, Tiang Bu pingsan.
Tubuhnya menggelantung di pohon, matanya meram dan napasnya lemah sekali.
Biar kita tinggalkan dulu Tiang Bu yang berada dalam keadaan mati tidak hiduppun payah itu dan mari kita menengok keadaan dunia luar jurang itu di mana terjadi hal-hal yang tidak kalah hebatnja.
Pemimpin bangsa Mongol, Temu Cin yang pandai meminpin itu, makin lama makin terkenal di antara para suku bangsa yang tinggal di daerah utara.
Suku bingsa demi suku bangsa ia taklukkan, bahkan suku bangsa Kerait yang amat kuat dan yang tadinya selalu mengalahkan orang-orang Mangol, dapat ia tundukkan.
Oleh karena semua orang menganggap Temu Cin sebagai pemimpin besar yang amat boleh diandalkan, pada tahun l206 semua suku bangsa mengadakan rapat besar di hulu Sungai Onon dan dalam kesempatan inilah Temu Cin diangkat menjadi raja besar dari seluruh Mongolia dan diberi gelar Jengis Khan yang kemudian menjadi tokoh besar yang amat termasyhur di dalam sejarah.
Nama besar Jengis Khan ditakuti oleh semua suku bangsa dan banyak sekali suku bangsa yang takluk tanpa diserang, Sepak terjang barisan Jengis Khan yang gagah berani dan ganas kejam terkenal di mana-mana.
Memang di dalam barisan Jengis Khan terdapat banyak sekali orang-orang pandai, bahkan banyak pula orang Han dan orang orang selatan, ahli-ahli silat yang pandai, terkena bujukannya dan masuk menjadi pembantu.
Di antara suku-suku bangsa di daerah perbatasan di utara, hanya suku bangsa Han Hsia yang masih belum mau tunduk.
Jengis Khan mulai memimpin tentaranya ke sana dan dalam waktu dua tiga tahun saja berturut-turut diserangnya suku bangsa ini hancurlah balatentara Hsi-Hsia.
Setelah itu Jengis Khan mulailah dengan rencananya yang besar, rencana yang sudah lama ia idam-idamkan dan sudah lama ia mengatur siasat untuk rencana ini, yaitu menyerbu ke selatan.
Di serangnya Kerajaan Kin.
Pada tahun l2ll ia mulai menyerbu Shensi dais Hopei, mambakar rumah-rumah rakyat, merampok, membinasakan, mengganas dan menghancurkan segala apa yang menghalangi tentaranya.
Rakyat di daerah utara melakukan perlawanan mati matian.
Di mana-mana Jengis Khan menemui perlawanan.
Namun bala tentara Mongol terlampau kuat.
Biarpun dengan adanya perlawanan rakyat ini pergerakan bala tentara Mongol agak terhalang, namun dalam waktu dua tahun saja bala tentaranya sudah berhasil menyerbu Yenking atnu Peking, kota raja Kerajaan Kin!
Hebat sekali pertempuran-pertempuran yang terjadi sebelum bala tentara musuh berhasil menyerbu ibukota ini.
Pihak Kerajaan Kin melakukan perlawanan gagah perkasa dan mati-matian.
Pangeran Wanyen Ci Lun yang berhasil mengumpulkan banyak orang gagah, apa lagi akhir-akhir ini setelah ia mengutus Kwan Kok Sun untuk mercari bantuan ke selatan, melakukan perlawanan mati-matian.
Oleh usaha Pangeran Wanyen Ci Lun yang melakukan segala daya upaya untuk menghalau musuh inilah maka tidak mudah bagi balatentara Mongol untuk memasuki atau membobolkan kota raja.
Juga bukan sedikit tentara dan perwira Mongol yang tewas dalam perrempuran ini.
Beberapa kali pertempuran terpaksa ditunda karena kedua fihak sudah banyak mengalami kerusakan.
Mereka menunda pertempuran untuk memberi nafas kepada balatentera masing-masing.
di fihak Mongol untuk dapat berunding guna mengatur slaw peoyerbuao baru, saw nye di fibak Kin untuk dapat berunding guna mengatur siasat pertahanan yang kokoh kuat.
Sudah untuk kedua belas kalinya kedua pihak menunda perang.
Kembali masing-masing fihak mengatur siasat.
Di fihak istana kaisar, Pangeran Wanyen Ci Lun mengadakan perundingan dengan para panglima perang.
Pangeran ini nampak jauh lebih tua dari pada usianya yang sebenarnya, hal ini karena ia terlalu banyak menderira selama negaranya diserang oleh orang Mongol.
Keningnya berkerut cambangnya panjang, menambah keangkeran wajahnya yang tampan.
Di dalam ruangan sidang itu.
selain sepuluh orang panglima besar Kerajaan Kin, juga di sampingnya duduk berapa orang tokoh-tokoh kang-ouw yang sudah datang untuk membantu Kerajaan menghadapi serbuan bala-tentara Mongol.
Nampak di situ Tee-tok Kwan Kok Sun yang berpakaian panglima dan berkepala gundul, Hwa Thian Hwesio tukang dapur Kelenteng Kwan twe bio di selatan kota raja, hwesio gemuk bundar yang amat lucu akan tetapi kepandaiannya tinggi, dan banyak lagi tokoh kangouw yang datang ke situ karena tertarik oleh hadiah-hadiah besar!
Bahkan disitu hadir pula Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, sepasang suami isteri pendekar yang gagah perkasa, yang baru datang dari Kim-bun-to beberapa hari yang lalu.
Kedatangan sepasang suami-isteri ini bersama puteri mereka Coa Lee Goat yang sudah remaja puteri dan selain cantik jelita juga gagah perkasa murid Wan Sin Hong.
Mereka ini datang untuk menjemput Gak Soan Li dan anak-anak mereka karena dahulu Pangeran Wanyen Ci Lun sudah minta pertolongan mereka agar supaya memboyong anak isterinya ke Kim-bun-to apabila perang dengan orang-orang Mongol pecah.
Akan tetapi, Gak Soan Li juga dua orang anaknya, Wan Sun dan Wan Bi Li, berkeras idak mau mengungsi pergi meninggalkan Pangeran Wanyen Ci Lun.
0leh karena itu, biar pun tidak tertarik oleh perang, sepasang suami isteri ini menjadi tidak enak hati kalau buru-buru pergi seakan-akan mereka takut menghadapi perang.
Terpaksa mereka memutuskan untuk tinggal beberapa lama, selain mengawani Gak Soan Li, juga melihat-lihat apakah mereka dapat membantu sahabat mereka, Pangeran Wanyen Ci Lun yang sedang berjuang membela negaranya.
Pangeran Wanyen Ci Lun merasa kecewa dan berduka karena Wan Sin Hong tisak datang membantunya.
"Wan-taihiap tak mungkin mau datang,"
Kata Coa Hung Kin yang sudah tahu akan pendirian pendekar besar itu.
"Tentu siauw ongya dapat menyelami perasaannya. Dia adalah seorang patriot Han tulen dan terus terang saja dia tidak mau mencampuri urusan dua kerajaan bukan bangsanya."
Memang Hong Kin suka berterus terang dan hubungannya dengan Pangeran Wanyen Ci Lun sudah amat erat, tanpa sungkan-sungkan lagi.
"Dan pendirianmu sendiri bagaimana, kawan?"
Tanya Wanyen Ci Lun, memandang tajam dan penuh harap kepada suami isteri itu. Coa Hang Kin tersenyum pahit dan menarik napas panjang.
"Tentu saja kami berdua siap sedia membantumu dan akan rela mengorbankan nyawa untuk menolongmu. Akan tetapi ini hanya kesetiaan seorang terhadap sahabat baiknya, bukan kesetiaan seorang warga negara terhadap negaranya."
Wanyen Ci Len menarik napas panjang.
"Sayang aku bukan orang Han. Aku akan senang sekali berjuang membela tanah air bahu membahu dengan kalian dan dengan orang-orang seperti Wan Sin Hong. Tidak, sobat-sobatku yang baik, aku takkan minta pengorban jiwa sahabat-sahabat baik untuk kepentinganku semata. Aku hanya minta apabila keadaan terlalu mendesak dan anak-anak serta isteriku terancam bahaya kalian suka membawanya mengungsi dan menyelamatkan diri ke selatan."
Demikianlah percakapan antara mereka sebelum rapat penundaan perang itu diadakan.
Dengan kagum Hong Kin dan Hui Lian mendengar sahabatnya itu mengatur siasat, akan tetapi mereka juga berduka mendengar betapa keadaan sahabatnya itu sudah terdesak hebat seperti terbukti dalam ucapan Pangeran Wanyen Ci Lun kepada orang-orang gagah dan para panglima yang hadir di situ.
"Barisan musuh menggunakan siasat memecah belah pusat kekuatan kita. Maka mereka menyerang dari empat penjuru secara bergantian agar payah kita memusatkan tcnaga pertahanan secara berpindah-pindah. Memang pertahanan kita cukup kuat, benteng cukup tebal dan terjaga kuat. Akan tetapi tentara kita jauh kalah banyak jumlahnya. bahkan kini makin lama makin kecil karena jatuhnya korban tanpa dapat ditampung tenaga baru karena kota raja sudah terkurung. Makin berkurangnya anggauta barisan, berarti makin lemahnya pertahanan kita. Memang dengan cara baihok (barisan bersembunyi) kita dapat melakukan pertempuran gerilya dan mendatangkan kerugian lebih besar pada mereka. Namun, biarpun kita andaikata dapat merobohkan seratus orang musuh hanya dengan mengorbankan sepuluh orang, yang sepuluh ini bagi kita amat besar artinya, karena tidak ada penggantinya sedangkan musuh mudah saja mendatangkan bala bantuan atau mengganti tentaranya yang luka-luka dan lelah. Juga, amat sukar bagi kita untuk mendatangkan rangsum dari luar tanpa menghadapi bahaya besar dirampas musuh."
Ia berhenti sebentar untuk melihat reaksi pada muka para pendengarnya.
"Celakanya, semua hal yang tidak menguntungkan kita itu diketahui belaka dengan baiknya oleh pihak musuh!"
Kata Tee-tok Kwan Kok Sun dengan muka muram.
"Akan tetapi keadaan kita sebetulnya tidak amat buruk,"
Kata Pangeran Wanyen Ci Lun cepat-cepat untuk mengusir kelemahan semangat para pembantunya, memang harus diakui bahwa pihak musuh amat kuat.
Akan tetapi selama semangat orang-orang kita berkobar seperti sekarang, jangan harap mereka dapat membobolkan pertahanan.
Di samping pertahanan kita yang kuat juga aku sudah mengirim permintaan bala bantuan dari saudara saudara bangsa Hsi-Hsia yang menaruh dendam terhadap orang-orang Mongol.
Kepala barisan mereka yang masih bersembunyi di hutan, Tiku Tami telah berjanji untuk memperkuat pertahanan kita dan memukul dari luar.
Berita ini menggirangkan semua orang.
Kwan Kok Sun mangangguk-angguk dan berkata.
"Memang baik sekali, dan pula, dapat diharapkan kehadiran scorang tokoh besar yang kepandaiannya amat tinggi. Tokoh besar inilah yang dapat diharapkan untuk merobohkan pentolan-pentolan Mongol seperti Thian-te Basek-Tai-hiap Liok Kong Ji. Bu-tek Sin ciang Bouw Gan dan yang lain-lain."
Kaget semua orang mendengar ini.
Siapakah yang dapat mengalahkan pentolan Mongol yang disebutkan tadi?
Kwan Kok Sun tertawa cara ketawanya masih menyeramkan biarpun sudah memakai pakaian panglima besar.
"Dia itu adalah Toat beng Kui-bo dari Banmo-tong!"
Baru saja nama ini disebut, tiba-tiba dari luar ruangan terdeagar suara ketawa cekikikan terbawa angin yang bertiup masuk, kemudian terdengar suara.
"Hi-hi-hi-hi. Pangeran Wan-yen, aku datang membawa hadiah!? Dua buah benda melayang masuk, jatuh berdebuk di atas meja yang dikelilingi mereka yang sedang berunding. Ketika dua benda itu berhenti menggelinding dan semua orang memandang, ternyata bahwa dua benda itu adalah dua buah kepala manusia yang agaknya baru saja dipenggal lehernya karena darah segar masih menetes netes dari leher! Melihat bahwa dua kepala itu memakai topi panglima Mongol, Kwan Kok Sun tertawa senang dan berkata ramah.
"Locianpwe Toat -beng Toanio, silahkan masuk!"
Akan tetapi belum habis kata-kata ini, orang yang diundang itu telah berdiri di dekat meja sambil tertawa cekikikan.
Mereka yang belum pernah melihat rupa Toat beng Kui-bo, menjadi pucat dan bergidik penuh kengerian hati.
Apalagi ketika melihat bahwa nenek itu memondong seorang anak perempuan kecil yang usianya baru dua tiga tahun, anak yang mungil sekali, pipinya kemerahan dan bibirnya merah tersenyum-senyum.
Akan tetapi, baju dan jidat anak ini bernoda darah, agaknya darah dari dua buah kepala yang dipenggal oleh nenek mengerikan itu!
"Pangeran Wanyen, aku memenuhi janji datang untuk memberi hajaran kepala anjing-anjiug Mongol yang melampaui perbatasan dan mengacau di bumi Tiongkok!
Ketika hendak masuk kota raja tadi, aku dihadang oleh pasukan tentara Mongol Ketika mengamuk aku teringat bahwa seorang tamu harus bawa oleh-oleh, maka kusambar kepala dua orang panglima pemimpin pasukan itu dan kubawa kemari untuk dipersembahkan kepadamu.
Hi-hi hi!"
Tadi Pangeran Wanyen Ci Lun bengong dengan kagum dan ngeri. Sekarang ia cepat berdiri memberi hormat dan berkata.
"Kedatangan locianpwe bagi kami adalah seperti datangnya air hujan di musim kening! Terima kasih atas pemberian hadiah locianpwe. Dalam masa seperti ini tidak ada hadiah yang lebih berharga dari pada kepala musuh!"
Pangeran itu mempersilakan nenek buruk rupa itu duduk dan memberi perintah kepada pelayan untuk membawa pergi dua buah kepala dan membersihkan bekas darah.
Kemudian ia sendiri menuangkan arak ke dalam cawan emas untuk Toat-beng Kui-bo.
Nenek itu menerima sambil tertawa-tawa senang.
Kwan Kok Sun mengatur siasatnya.
Orang seperti nenek ini sukar diurus dan kalau tidak memakai akal, biarpun nenek ini kepandaiannya tinggi sekali, takkan ada gunanya karena tentu takkan mau mentaati perintah.
"Locianpwe, tadinya kami sudah kegiranaan sekali karena mengira bahwa dua buah kepala itu adalah kepala dari Liok Kong Ji dan Bouw Gun. Eh, tidak tahunya hanya kepala dua perwira-perwira yang tidak ada nilainya. Akan tetapi aku tidak berani menyalahkan locianpwe oleh karena siapakah orangnya bisa memenggal kepala Thian.te Bu-tek Taihiap Liok kong Ji dan Bu.tek Sin-ciang Bouw Gun yang lihai sekali. Apalagi mereka berada di markas tentara musuh. Sukar...... sukar??.!"
Kwan Kok Sun terpaksa berhenti bicara karena arak dari cawan Toat-beng Kui.bo menyiram mukanya dan terasa pedas, bukan main sampai-sampai ia tidak bisa membuka matanya.
"Gundul pacul! Kau terlalu memandang rendah padaku. Kaukira aku tidak becus mencabut kepala tikus-tikus macam mereka?"
Kwan Kok Sun cepat memberi hormat pada nenek galak itu dan berkata sambil memaksa tersenyum di mulut padahal hatinya memaki marah.
"Harap locianpwe tidak marah, tentu saja aku percaya penuh akan kemampuan locianpwe. Soalnya, kami sudah terlalu awat dibikin pusing oleh orang orang seperti Thian-te Bu-tek Taihiap dan Bu-tek Sin ciang, tanpa mampu berbuat apa-apa. Kalau kiranya locianpwe sanggup mencabut kepala mereka dan dibawa ke sini. benar benar kami akan berterima kasih besar sekali kepada locianpwe."
Semua orang, termasuk Pangeran Wanyen Ci Lun, diam-diam memuji kecerdikan Kwa Kok Sun yang mula-mula "membakar"
Hati nenek sakti itu untuk kemudian didorong kearah perbuatan yang akan banyak membantu pergerakan mereka melawan musuh.
Hanya Toat-beng Kui-bo seorang yang tidak tahu, buta oleh kesombongannya.
Toat beng Kui-bo menoleh kepada Wanyen Ci Lun, lalu tiba-tiba melontarkan anak kecil yang dipondongnya itu ke arah Pangeran Wanyen.
"Pangeran, aku titip bocah ini kepadamu. Nanti kalau sudah kubawa datang dua kepala tikus itu, aku ambil kembali anak itu!"
Wanyen Ci Lun sudah menangkap bocah perempuan yang menjadi kaget karena dilemparkan dan menangis itu.
Sebelum ia sempat menjawab, angin mendesir dan nenek yang seperti siluman itu sudah lenyap dari ruangan itu.
Semua orang menjadi bengong.
Bahkan Hong Kin dan Hui Lian sendiri yang sudah banyak bertemu dengan orang-orang pandai, harus mengaku bahwa nenek itu memiliki kepandaian yang hebat sekali.
Yang paling gembira adalah Pangeran Wanyen Ci Lun oleh karena kalau benar-benar nenek itu bisa membunuh dua orang yang disebutkan tadi berarti pihak musuh akan kehilangan dua orang panglima yang kuat dan pandai.
Toat-beng Kui-bo memang luar biasa sekali.
Ketika ia berlari seperti terbang keluar dari kota raja, sukar bagi orang biasa untuk dapat melihatnya.
Yang nampak hanya bayangan hitam berkelebat cepat, atau kalau orang melihat ke atas akan terlihat tiga titik hitam terbang cepat ke utara dan tiga titik hitam ini kalau diperhatikan adalah tiga ekor kelelawar besar.
Ketika Toat-beng Kui-bo memasuki kota-raja, ia sudah dihadang dan bertempur, maka para pasukan Mongol yang bertugas mengurung kota raja, tahu bahwa kini nenek itu sudah keluar lagi dari kota raja.
Akan tetapi pengalaman tadi masih membuat mereka gentar, pengalaman hebat di mana sepasukan Mongol habis dibunuh oleh nenek itu dan dua orang panglimanya lenyap kepalanya dibawanya pergi.
Kini melihat kelelawar dan bayangan hitam, mereka sebagian besar hanya pura-pura tidak melihat!
Bahkan perwira yang memimpin pasukan kecil cepat-cepat menyimpangkan pasukannya ke arah lain agar jangan bertemu dengan nenek itu.
Toat-beng Kui bo juga tidak memperdulikan mereka.
Tujuannya kini hanya mendatangi kemah para panglima Mongol dan berusaha mencari Liok Kong Ji dan Bouw Gun untuk dipenggal batang lehernya dan dibawa kepalanya ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun sebagai bukti bahwa ia bukan hanya omong kosong.
Kelelawar-kelelawar yang terbang di atas selalu mengikuti ke mana nenek itu menuju.
Pada saat itn kaisar Jangis Khan juga sedang mengadakan perundingan dengan para panglimanya, merundingkan siasat untuk mcmbobolkan benteng pertahanan Kora Raja Kin yang kokoh kuat itu.
Di antara para pangliwa besar, nampak pula di situl Liok Kong Ji, Bouw Gun, Pak-kek Sam kui.
Dan orang-orang akan merasa terkejut, heran dan juga malu kalau saja mereka melihat siapa-siapa yang hadir pula dalam ruangan kemah Raja Mongol itu.
Tokoh-tokoh besar dari selatan, orang-orang yang menamakan dirinya orang gagah di dunia kang ouw banyak yang hadir di situ, menjadi pengkhianat-penghianat penjual negara, menjadi kaki tangan orang Mongol!
Di antara mereka rampak Le Thong Hosiang ketua Tatyun-pai, Nam Kong Hosiang dan Nam-Siang Hosiang dua orang tokoh Kaolikung-pai, Heng-tuan Lojin, hwesio perantau dari Hengtuan-san dan masih banyak lagi.
"Jalan terbaik menurut pendapat hamba, Kota Raja Kin itu harus dikurung rapat. Jalan ke selatan harus dipotong, dan pembantu-pembantu yang berada di dalam kota raja dan mendapat kedudukan penting supaya mulai dengan gerakan mereka pada sast kita mengadakan penyerbuan besar-besaran, bukan dari satu pintu melainkan dari empat jurusan,"
Demikian usul Liok Kong Ji kepada Jengis Khan. Kaisar yang sekarang bertubuh kekar mengangguk-angguk.
"Taihiap berkata benar, cocok dengan rencanaku. Memang kita tidak ada banyak waktu untuk dibuang-buang di sini, hanya untuk mengepung sebuah kota saja. Aku sudah mendatangkan bala bantuan dari utara, tiga puluh laksa banyaknya, begitu mereka datang setelah diberi waktu mengaso sehari, malamnya kita serbu kota Kin dari empat penjuru. Kita habiskan dan ratakan kota itu dengan bumi."
Setelah memberi keputusan terakhir dalam pertemuan itu, Jengis Khan memberi tanda bahwa persidangan ditutup dan ia masuk ruangan dalam.
Pada saat kaisar sudah masuk ke dalam dan para panglitna mulai berjalan keluar, tiba-tiba terjadi ribut-ribut yang datangnya dari arah kiri.
Nampak para penjaga berlari-larian.
Melihat ini Bu-tek Sin ciang Bouw Gun panglima Mongol tua yang tinggi besar berewokan itu menjadi marah.
Memang dia terkenal berwatak keras dan berdisiplin sekali.
Rata-rata panglima Mongol amat berdisiplin sehingga, barisan-barisan mereka terkenal sebagai barisan yang amat teratur dan kuat.
Melihat para penjaga cerai-berai, Bouw Gun cepat lari ke arah tempat itu sambil beteriak-teriak memaki para penjaga.
"Anjing-anjing kekenyangan tak tahu malu. Begitukah caranya berjaga"
Seorang penjaga kebetulan lari ke tempatnya tiba-tiba terlempar dengan kaki patah patah karena ditendang oleh Bauw Gun.
Penjaga itu kesakitan hebat akan tetapi, masih dapat melapor dengan suara mrintih-rintih.
"Ampun, taiciangkun.... di sana?.. ada...... ada siluman mengamuk hebat...... banyak kawan binasa..."
"Setan pengecut, di mana dia?"
"Di sana......"
Penjaga itu menudingkan jarinya.
"dia tadi masuk ke dalam kemah tai-ciangkun......"
Bouw Gun marah sekali mendengar ada siluman mengamuk dan memasuki ke kemahnya, cepat ia melompat dan lari ke kemahnya.
Alanglah kaget dan marahnya ketika ia melihat di sepanjang jalan menuju ke kemahnya penuh penjaga-penjaga yang menggeletak dalam keadaan mati atau terluka berat.
Ada yang kepalanya pecah, lehernya patah, perutnya pecah berantakan, kaki tangan patah-patah.
Juga di depan kemahnya bergelimpangan mayat penjaga.
Bouw Gun berlari cepat dan menyerbu ke dalam kemahnya sendiri, begitu ia membuka pintu, ia melihat seorang perwira, kepala penjaga kemahnya sedang bertempur melawan seorang nenek yang mengerikan.
Perwira itu kepandaiannya cukup tinggi, akan tetapi pada saat itu ia kena dicengkeram oleh nenek itu yang menggerakkan tangan kanan mencengkeram kepalanya.
Perwira itu menjerit keras dan mengerikan sekali sebelum muka dan kepalanya hancur oleh cengkeraman kuku panjang nenek itu.
Darah dan otaknya berceceran, tubuhnya roboh tak bernyawa lagi.
"Hi hi hi. hi, otak udang macam ini melawanku? Mana tikus likus besar Liok Kong Ji dan Bauw Gun, suruh keluar jangan sembunyi di kosong ranjang!"
Nenek itu bersumbar.
Bouw Gun sudah pernah mendengar nama besar Toat-beng Kui.bo, bahkan di puncak Omei-san pernah ia bertemu dengan nenek itu.
Biarpun.
maklum akan kelihatan nenek ini namun saking marahnya ia tidak gentar.
Apa lagi ia berada dalam kandang sendiri.
"Siluman betina kau ingin mampus!"
Bentaknya marah sambil menyerbu maju.
Sesuai dengan julukannya, Bu tek Sin-ciang atau Tangan Sakti Tanpa Tandinganya Bouw Gun adalah ahli tangan kosong yang mengandalkan ilmu silat tangan kosong dan kekuatan kedua lengannya yang hebat.
Selain ilmu silatnya juga orang tinggi besar ini mahir ilmu gulat dari Mongol yang sudah terkenal dan berbahaya.
Sekali saja orang tertangkap oleh tangannya, jangan harap akan dapat terlepas sebelum ada yang patah-patah tulangnya.
Oleh karena itu, kali inipun ia menyerbu Toat-beng Kui bo dungan tangan kosong saja, menubruk sambil mengirim pukulan yang disusul oleh cengkeraman.
Akan tetapi kali ini ia menghadapi Toat-beng Kui bo seorang tokoh yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari padarya, baik dalam ilmu silat maupun dalam hal tenaga lweekang.
Melihat orang tinggi besar itu, Toat-beng Kui-bo tertawa cekikikan.
"Ah! Kiranya kau? Mari cucuku, mari maju untuk kucabut kepalamu dari tubuhmu yang tak terharga itu!"
Tongkatnya menyambar cepat memapaki serbuan Bouw Gun, langsung menyambar ke arah leher dengan kekuatan yang dahsyat dan kalau mengenai leher, bisa copot lepala itu dari tubuhnya.
Bouw Gun kaget sekali.
Hawa pukulannya biasanya amat kuat din dengan hawa pukulannya saja ia dapat membunuh orang.
Akan tetapi nenek ini sama sekali tidak memperdulikan pukulannya, bahkan dengan tak terduga sudah mendahuluinya dengan serangan maut.
Terpaksa ia mengelak mendekari untuk menyerang dari jarak dekat.
Tangan kirinya menyambar tongkat untuk ditangkapnya, tangan kanan memukul dada.
"Hihi, kau lihai juga!"
Toat beng Kui-bo mengejek.
Ia hanya menarik tongkatnya agar jangan sampai terampas lawan sedangkan pukulan pada dadanya tidak dihiraukan sama sekali.
Bouw Gun kaget dan orang Mongol ini dapat menduga bahwa tentu nenek itu mengandalkan sinkangnya yang tinggi untuk menahan pukulannya, maka setelah kepalannya menyambar dekat dada, ia merubahnya menjadi cengkeraman.
Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika tangannya bertemu dengan permukaan yang rata dan keras seperti papan baja.
Nenek itu sama sekali dadanya sudah tidak ada daging maupun kulit yang dapat dicengkeram.
Agaknya kulitnya sudah mangeras dan rata dengan tulang sehingga kuat sekali.
Bouw Gun dalam kagetnya cepat hendak menarik kembali tangannya, akan tetapi terlambat.
Toat beng Kui-bo sudah menggerakkan tongkatnya dan terdengar suara "buk"
Yang keras ketika tongkat itu mendorong dadanya.
Tubuh orang Mongol itu terjengkang darah tersembur dari mulutnya.
Dalam keadaan sekarat ia tidak berdaya ketika kembali tongkat menyambar, kini mengenai lehernya.
"Krak..!"
Leher itu remuk sama sekali dan...... putus. Kepala Bauw Gun sudah terpisah dari badannya.
"Hi hi-hi-hi.........!"
Toat-beng Kui-bo tertawa-tawa ketika ia menyambar kepala dan diangkat untuk mengamat-amati muka Bouw Gun yang masih meringis dan masih marah.
"Iblis betina jangan kau menjual lagak!"
Berturut-turut beberapa orang yang memiliki gerakan gesit sekali melompat masuk.
Mereka ini adalah Liok Kong Ji yang diikuti oleh tokoh-tokoh lain.
Melibat betapa kepala Bouw Gun sudah dicopot oleh nenek itu, karuan saja Liok Kong Ji dan kawan kawannya marah sekali.
Di lain saat, melihat datangnya Liok Kong Ji, Toat-beng Kui-bo juga menjadi girang.
"Aha, kau datang pula, cucuku? Mari..... mari sini, kawanmu ini sudah lama menanti. Berikan kepalamu kepada nenekmu ini, hi hi-hi!"
Marah sekali Kong Ji mendengar ini.
Tangannya bergerak dan dari tengan kirinya menyambar sinar hitam, yaitu Hek-tok-ciam (Jarum-jarum Racun Hitam) dan tangan kanannya mengeluarkan hawa pukulan Hek-tok-ciang yang amat berbahaya.
Toat-berg Kui bo yang terlalu memandang rendah kepada Kong Ji, berlaku sembrono dan tidak mengelak atau menangkis, hanya mangerahkan sinkangnya.
Ketika jarum-jarum mengenai tubuhnya, jarum jarum itu runtuh, akan tetapi pukulan Hek-tok-ciang membuat tubuh nenek itu terhuyung ke belakang.
"Ayaao......! Setan, kau berani memukulku?!"
Bentak nenek itu marah sekali dan, tiba-tiba dari atas udara menyambar turun benda hitam yang cepat menyambar Kong Ji.
Tentu saja Liok Kong Ji kaget dan menankis dengan tangannya.
Sebuah benda hitam terlempar dan yang dua berhasil menyambar pundaknya.
Baiknya Liok Kong Ji berkepandaian tinggi sehingga ia cepat miringkan tubuh dan kelelawar itu hanya merobek baju saja.
Namun cukup membuat ia bergidik karena maklum bahwa terluka oleh kelelawar itu sukar sekali mengobatinya.
"Serbu, bunuh siluman ini!"
Kong Ji berteriak-teriak marah sekali sambil menyerbu diikuti oleh kawan-kawannya.
Kini tahulah Toat-beng Kui-bo bahwa nama besar Liok Kong Ji bukan kosong belaka dan bahwa ia telah dikurung oleh banyak orang pandai.
Sambil tertawa-tawa ia melempar kepala Bouw Gun ke depan.
"Makanlah kepala sahabat baikmu!"
Liok Kong Ji dan kawan-kawannya terpaksa mengelak agar jangan sampai terkena sambitan dengan kepala ini.
Kong Ji mengulur tangannya menyambar kepala itu dan memberikan kepada seorang pengawal untuk merawatnya.
Sementara itu Toat-beng Kui-bo mempergunakan kesempatan ini untuk melompat keluar dari kemah.
Akan tetapi Kong Ji dan kawan-kawannya mana mau melepaskannya?
Cepat mereka mengejar.
Akan tetapi dalam kegaduhan ini, sambil tertawa cekikikan, kembali tongkat di tangan nerek itu sudah merobohkan tiga orang pengeroyok.
Pengepungan rapat sekali dan nenek itupun berlaku nekad, mengamuk bagaikan siluman terjepit.
Tongkatnya sampai mcnjadi merah karena darah para korban yang dirobohkannya.
Keadaan menjadi gempar.
Baru kali ini orang-orang Mongol itu menghadapi lawan sehebat ini.
Bahkan ketika Ang jiu Mo-li mcngamuk dikeroyok oleh panglima-panglima Mongol tidak sclihai nenek ini.
Selain lihai nenek inipun ganas sekali, setiap kali tongkatnya menyambar tentu ada lawan roboh binasa.
Akhirnya hanya yang pandai-pandai saja berani mengeroyok, di antaranya Liok Kong Ji sendiri, Pak Kek Sam-kui, dan para ketua partai yang membantunya.
Selagi mereka repot mengeroyok nenek yang benar-benar kosen sekali itu, tiba-tiba terdengar suitan panjang dan tinggi.
Suitan ini memekakkan telinga.
"Lo thian-tung Cun Gi Totiang datang?."
Seru Liok Kong Ji dengan suara girang sekali.
"Totiang yang mulia, bantulah kami!"
Kemudian disambungnya dengan suara memerintah.
"Cui Kong, lekas bantu kami!"
Yang datang adalah seorang tosu tua yang buntung kaki kanannya, namun biar kakinya hanya sebelah saja yang kiri, jalannya tidah pincang.
Sebuah tongkat panjang menjadi pengganti kaki kanannya, gerakannya cepat sekali.
Ia datang bersama seorang pemuda yang memegang huncwe.
Liok Cui Kong yang sudah kita kenal kelihaiannya.
"Silahkan semua minggir, biar kami berdua menangkap siluman ini."
Kata tosu buntung itu, yang bukan lain adalah Lo-thian-tung Can Gi Tosu.
Seperti dapat diduga dari julukannya Lo Thian-tung atau Tongkat Pengacau Langit, kakek ini adalah seorang ahli bermain tongkat yang jarang bandingannya.
Dia adalah seorang tosu pengembara dari barat yang dapat diperalat oleh Liok Kong Ji, bahkan ia akhirnya mendapat kepercayaan dari Kong Ji untuk melatih ilmu silat kepada anak-anak angkatnya, yaitu putera angkatnya, yaitu Liok Cui Kong, dan dua orang puteri angkat sejak kecil Cui Lin dan Cui Kim.
Melihat bakat yang amat baik dan luar biasa dalam diri Cui Kong, Liok Kong Ji menjadi amat sayang kepada putra angkat ini dan menurunkan semua kepandaiannya, maka ditambah oleh gemblengan dari tosu buntung itu, kepandaian Cui Kong menjadi hebat sekali.
Begitu Can Gi Totiang menggerakkan tongkatnya dan Cui Kong menyerang dengan huncwenya, Toat beng Kui-bo sudah maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang amat tangguh.
Ia memutar tongkatnya dan sekaligus menangkis serangan dua orang lawannya itu.
Terdengar suara keras, bunga api berpijar dan tiga orang itu melompat mundur untuk memeriksa senjata masing-masing.
Setelah dengan lega melihat bahwa senjata masing-masing tidak rusak mereka maju bertempur lagi dengan seru.
Ttga ekor kelelawar menyambir ke bawah hendak membantu Toat beng Kui-bo, akan tetapi, Liok Kong Ji mengayun jarum-jarum Hek-tok-ciamnya sehingga binatang binatang itu jatuh ke bawah mengeliarkan pekik nyaring.
Toat-beng Kui-bo berlaku nekad.
Ia tadi sudah menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai dan sudah merasa lelah sekali.
Kini ia dikeroyok oleh dua orang guru dan murid yang kepandaiannya tinggi, apa lagi Liok Kong Ji yang juga lihai sekali itu mulai maju mendesak membantu dua orang pengeroyok, maka Toat-beng Kui-bo merasa makin terdesak hebat.
Sambil mengeluarkan seruan-seruan seperti harimau terjepit, nenek yang sudah tua sekali ini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga terakhir untuk membela diri dan membalas menyerang.
Namun tiga orang lawannya terlampau kuat dan setelah beberepat kali terkena pukulan, akhirnya Toat bong Kui-bo terpaksa harus mengakui keunggulan lawan.
Tongkat dari Lo thian tung Cun Gi Tosu berhasil menyerampang kakinya, menibuat ia roboh dan pada saat itu, pukulan Tin san-kang dilancarkan oleh Liok Kong Ji, membuat nenek itu muntah darah, ditambab totokan hun-cwe di tangan Cui Kong yang mengenai jalan darah kematian pada lehernya membuat nyawa Toat-beng Kui-bo melayang meninggalkan raganya.
Liok Kong Ji tertawa bergelak saking girangnya.
Dengan kasar ia membalik tubuh nenek itu terlentang lalu menggerayangi saku-saku jubah nenek itu.
Sebuah kitab keluar dari saku dan sekilas pandang saja Liok Kong Ji maklum bahwa itu adalah kitab wasiat dari Omeisan.
Judulnya DELAPAN JALAN UAMA.
Cepat-cepat kitab itu menghilang di dalam bajunya sendiri.
"Kurang ajar sekali, ini tentulah perbuatan Pangeran Wanyen Ci Lun yang berhasil menarik bantuan nenek siluman ini untuk mengacau kita. Kita kehilangan banyak tenaga, di antaranya Bu tek Sin-ciang Bouw Gun sampai tewas. Kalau kita tidak membalas, benar-benar merendahkan nama besar kita semua,"
Kata Liok Kong Ji.
"Liok-sicu, biarlah pinto yang akan menyelinap ke kota raja dan mengantarkan kepala nenek ini,"
Kata Lo-thian-tung Cun Gi Tosu dengan suara tenang.
"Perkenankan aku ikut dengan Con Gi To-tiong, ayah,"
Kata Cui Kong cepat cepat karena pemuda ini ingin sekali mengalami hal-hal baru.
Di samping gurunya yang lihai, ia tidak usah merasa takut.
Liok Kong Ji cukup percaya akan kelihaian tosu itu dan tahu pula bahwa tingkat kepandaian Cui Kong sekarang sudah demikian tinggi sehingga tidak berselisih banyak dengan kepandaiannya sendiri.
Dua orang ini tentu dengan mudah dapat melampaui penjaga dan pengawal.
Ia memberi perkenan dan berangkatlah dua orang itu menjelang senja membawa kepala Toat-beng Kui-bo yang dibungkus kain kuning.
Memang dugaan Liok Kong Ji tepat.
Tosu itu bersama muridnya dengan mudah dapat melampaui para penjaga dan berhasil memasuki lingkungan istana pada malam hari itu.
Akan tetapi beda dengan sepak terjang Toat-bong Kui-bo yang masuk sambil mengamuk dan membuh musuh, dua orang ini berlaku hati-hati sekali dan masuk tanpa diketahui orang.
Cun Gi Tosu maklum betul bahwa kalau sampai ketahuan, keadaan mereka amat berbahaya karena di istana banyak terdapat orang pandai.
Bahkan ia memesan kepada Cui Kong agar supaya hati-hati dan tidak boleh membunuh orang secara sembarangan saja.
"Kita harus menghemat tenaga dan hanya turun tangan kalau bertemu dengan orang penting. Setidaknya harus keluarga Pangeran Wanyen yang kita bunuh atau culik. Membunuh penjaga-penjaga dari perwira biasa saja tidak akan menggemparkan dan tidak mengangkat nama kita,"
Demikian kata tosu itu kepada Cui Kong yang maklum akan maksud gurunya.
Demikianlah, menjelang tengah malam tosu ini bersama muridnya berhasil memasuki istana Pangeran Wanyen Ci Lun.
akan tetapi mereka terkejut melihat penjagaan yang amat kuat.
Apalagi tempat di mana pangeran itu berada, yaitu di kamarnya.
terjaga kuat sekali sehingga mereka tidak mungkin menyerbu.
Tiba tiba terdengar suara anak kecil menangis dari kamar itu.
Cun Gi Tosu dan Cui Kong yang mendekam di tempat mengintai.
Terdengar suara Wanyen Ci Lun memberi perintah kepada para penjaga supaya menjaga lebih teliti, dan kepada seorang pelayan wanita setengah tua pangeran itu berkata.
"Anak ini menangis saja, bawa keluar dan biar dia tidur denganmu!"
Tak lama kemudian, pelayan pengasuh itu keluar memondong seorang anak perempuan berusia dua tahun lebih yang menangis terus.
Beberapi orang penjaga bergerak-gerak di tempat gelap dan nampak berkilaunya pedang dan golok terhunus dari para penjuga istana itu.
Pintu kamar tertutup kembali.
akan tetapi segera terdengar jerit wanita pemondong anak tadi yang roboh dan anak kecil itu kini sudah berada dalam pondongan seorang tosu yang berkaki buntung.
"Penjahat! Penculik!"
Teriak para penjaga menggema di malam gelap.
Beberapa sosok bayangan para penjaga ini berkelebat mengejar, akan tetapi empat orang penjaga menjerit roboh terkena pukulan dari belakang yang ternyata dilakukan oleh Cui Kong dengan hun-cwe.
Banyak penjaga datang berlari ke tempat itu, di antaranya banyak panglima yang berkepandaian tinggi.
Teriakan "tangkap penjahat"
Makin gencar terdengar dari empat penjuru.
Akan tetapi dengan gerakan kilat Cun Gi Tosu melemparkan bungkusan kuning ke arah para penjaga.
Seorang panglima menyampok bungkusan itu yang jatuh menggelinding ke arah lantai.
Bungkusan terbuka dan.......
para pengejar untuk sejenak terkesiap melihat kepala Toat beng Kui-bo yang nampak lebih menyeramkan dari pada ketika masih hidup.
"Celaka......,...!"
Teriak seorang panglima.
"Kejar mata-mata Mongol itu!"
Akan tetapi Cun Gi Tosu dan Cui Kong sudah menghilang di dalam gelap, berlari cepat keluar dari lingkungan istana.
Mereka menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara.
Tanda bahaya dari istana itu dengan cepat sudah terdengar oleh seluruh penjaga di pintu-pintu gerbang kota raja dan semua orang menjaga dengan teliti.
Oleh karena inilah maka tidak begitu mudah bagi Cun Gi Tosu dan Cui Kong untuk keluar, tidak seperti masuknya tadi.
"Kita harus menggunakan, kekerasan!"
Kata Cun Gi Tosu yang mengikat anak itu di pungungnya dan menyumpal mulut yang kecil itu dengan saputangan sehingga tidak dapat menangis lagi.
Dengan hati-hati mereka berlari menuju pintu gerbang.
Cun Gi Tosu menyeret tongkatnya, Cui Kong memegang huncwenya.
"Berhenti! Siapa itu??"
Bentak dua orang penjaga yang berdiri terdepan ketika melihat bayangan dua orang mendatangi.
Akan tetapi jawaban pertanyaan ini adalah berkelebatnya sinar hitam dan di lain saat dua orang penjaga itu roboh dengan kepala pecah dan nyawa melayang!
"Mata-mata Mongol jangan lari!"
Terdengar bentakan dari belakang dan sebatang pedang sang digerakkan secara cepat bukan main menyambar ke arah leher Cui Kong.
Pemuda ini kaget sekali, cepat memutar tubuh sambil mainkan huncwenya menangkis.
ternyata yang menyerang adalah seorang gadis cantik dan gagah yang datang bersama Wan Bi Li dan Wan Sun yang sudah pernah dijumpainya.
Gadis gagah ini bukan lain adalah Coa Lee Goat.
Usianya paling banyak baru enam belas tahun, akan tetapi dara remaja ini sudah mewarisi ilmu pedang dari Wan Sin Hong gurunya, maka ia lihai sekali.
Sementara itu, Wan Bi Li dan Wan Sun juga menyerbu mengeroyok Cu Gi Tosu.
Setelah dekat dengan ayahnya yang mengaku sebagai ayah angkatnya, kepandaian Bi Li makin meningkat.
Apalagi dalam hal memelihara ular, ia malah mendapat julukan atau cuma poyokan Dewi Ular karena jarang orang melihat dia tidak membawa ular.
Dalam pertempuran inipun ia mempergunakan senjata aneh yaitu ular hidup yang dimainkannya sebagai orang bermain senjata joanpian (cambuk).
Inilah permainan ilmu silat joanpian dengan ular hidup yang ia pelajari dari gihu (ayah angkatnya).
Di sampingnya, Wan Sun mainkan pedangnya yang juga amat lihat karena pemuda ini sudah mewarisi kepandaian Ang-jiu Mo-li bahkan sudah mulai memperdalam ilmu Silat Kwan Im Cam-mo (Dewi Kwan Im Menaklukkan Iblis) yang terkandung dalam kttab Omei-san yang terjatuh ke dalam tangan Ang-jiu Mo-li.
Sebetulnya Cun Gi Tosu tidak usah takut menghadapi keroyokan putera dan puteri Pangeran Wanyen Ci Lun ini karena tingkat kepadaiannya masih jauh lebih tinggi, juga Cui Kong masih lebih lihai dari pada Lee Goat.
Akan tetapi guru dan murid ini maklum bahwa mengalahkan tiga orang pengejar muda ini bukan hal yang dapat dilakukan dalam waktu singkat, sedangkan di dalam kota raja masih banyak terdapat orang-orang pandai yang setiap saat pasti akan datang mengeroyok.
"Cui Kong, mari kita pergi! Buka jalan darah!"
Seru Lo-thian tung Cun Gi Tosu kepada muridnya. Cui Kong terpaksa mentaati perintah suhunya karena iapun maklum akan bahayanya tempat itu.
"Totiang, apa kita tidak bisa membawa Nona Ular itu bersama kita pulang?"
Tanyanya, karena melihat Bi Li kembali timbul gairah dan cintanya.
"Hush, jangan main-main. Lekas kita pergi......!". bentak tosu itu. Keduanya memutar senjata lalu membalikkan tubuh dan menyerbu penjaga yang menghadang di depan pintu gerbang yang tertutup. Sebentar saja lima-enam orang penjaga roboh terkena terjangan dua orang lihai ini dan sebelum Bi Li, Wan Sun dan Lee Goat sempat menghalangi, dua orang itu sudah melayang naik ke atas pagar tembok. Beberapa orang penjaga di atas pagar tembok melepas anak panah, akan tetapi hujan anak panah ini sia-sia saja. Runtuh semua ketika tiba di depan dua orang yang sedang melompat, kena disampok oleh putaran senjata mereka. Ketika para penjaga itu bendak menyerang, kembali beberapa orang roboh dan terus terjungkal ke bawah benteng mengeluarkan pekik mengerikan. Bagaikan dua ekor ular, Cui Kong dan gurunya melayang turun keluar pagar tembok dan sebentar saja mereka sudah selamat tiba di barisan mereka sendiri. Tentu saja hal ini menggirangkan hati Jengis Khan yang tadinya marah sekali karena kehilangan beberapa orang penglima termasuk Bouw Gu yang setia. Kini hinaan dari fihak Kin sudah terbalas dan nama kehormatan orang Mongol sudah terangkat lagi olek sepak tcrjang Cu Gi Tosu dan Cui Kong. Dua orang ini diberi hadiah besar. Pesta gembira diadakan untuk menyambut mereka dan Kong Ji merasa puas melihat tosu itu berhasil menculik seorang anak dari Wanyen Ci Lun.
"Totiang, hendak diapakan anak perempuan dari Pangeran Wanyen Ci Lun ini?"
Tanyanya kepada Cun Gi Tosu. Tosu kaki bunting itu tersenyum.
"Tidak kusengaja dapat menculik puteri Pangeran Wanyen dan kebetulan sekali anak ini bertubuh baik. Sayang kalau dibiarkan tersia-sia."
"Kita bawa saja ke Ui-tok-lim, totiang."
Kata Cui Kong. Tosu itu mengangguk.angguk.
"Betul, memang dia patut menjadi panghuni Ui-tok-lim."
Sementara itu, di dalam istana Pangeran Wanyen Ci Lun menjadi gempar.
Pangeran ini marah sekali, bukan saja melihat kepala Toat-beng Kui-bo yang berarti panghinaan besar bagi istana Kin, akan tetapi juga merasa mendongkol sekali karena bocah itu kena diculik.
Dia tidak tahu sinpakah anak itu yang oleh Toat-beng Kui-bo dititipkan kepadanya, akan tetapi dia dan isterinya merasa suka sekali melihat bocah yang mungil itu.
Biarpun sekarang Toat-beng Kui bo sudah tewas dan tidak ada orang yang akan menuntutnya karena hilangnya bocah itu, namun di dalam hatinya pangeran ini merasa berdosa dan bersalah.
Masih baik kalau anak yang terculik itu mendapat perlakuan baik dari orang-orang Mongol, Kalau sebaliknya, bukankah itu kesalahannya?
Pada keeaokan harinva, Pangeran Wanyen Ci Lun duduk di dalam kebun belakang istananya bersama Gak Soan Li.
Juga di situ hadir.
Wan Bi Li dan Wan Sun yang menceritakan pengalamanoya malam tadi ketika mangejar penjahat.
"Pemuda yang memegang huncwe itu mengaku bernama Liok Cui Kong, putera Liok Kong Ji. Dia memang lihai dan jahat."
Kata Wan Bi Li menutup penuturunnya.
Memang sudah terdengar berita oleh Pangeran Wanyen Ci Lun dan isterinya bahwa Liok Kong Ji masih hidup dan kini membantu pergerakan orang-orang Mongol.
Kini Gak Soan Li yang menjadi agak pucat mendengar penuturan Bi Li, tak tertahan lagi mengutarakan keheranannya yang terpendam sekian lama.
"Tidak salahkah bahwa si jahat Liok Kong Ji masih hidup? Pedang di tanganku sendiri yang mencabut nyawanya, kutusuk dadanya sampai tembus ke punggung. Bangkainya sudah di kubur, bagaimana sekarang dia bisa muncul d antara orang Mongol, Benar-benar aku masih belum percaya."
"Banyak orang yang mehhat dia itu betul-betul Liok Kong Ji. Memang aku sendiri juga merasa heran seperi yang kaupiktrkan. Benar-benar manusia itu selalu membawa bencana. Kurasa hanya seorang di dunia ini dapat menerangkan rahasia aneh ini,"
Kata Pangera Wanyen Ci Lun perlahan.
"...... Wan Sin Hong.......?"
Terdengar Gak Soan Li bertanya, suaranya lemah.
Wanyen Ci Lun mengangguk.
Di antara suami isteri ini terdapat rahasia besar.
Di dalam cerita indah PEDANG PENAKLUK IBLIS diceritakan betapa sebelum menjadi isteri Pangeran Wanyen Ci Lun, Gak Soan Li telah menjadi kurban kebiadaban Liok Kong Ji sehingga Gak Soan Li melahirkan seorang putera yang bukan lain adalah Tiang Bu.
Akan tetapi semua hal ini terjadi ketika Soan Li berada dalam keadaan kehilangan ingatan.
Jauh sebelum itu, sebelum menjadi korban Liok Kong Ji, Soan Li telah berjumpa dengan seorang pemuda yang dianggapnya seorang pemuda bodoh sederhana bernama Gong Lam dan gadis yang gagah itu telah jatuh cinta kepada Gong Lam.
Lalu oleh kekejian Kong Ji, Gak Soan Li kehilangan ingatannya.
Setelah sadar, ia hanya ingat dua orang.
Wan Sin Hong yang dibencinya karena ketika melakukan kekejiannya, Kong Ji mengaku bernama Wan Sin Hong.
Dan orang ke dua adalah Gong Lam yang tetap dicintanya dan kembali Liok Kong Ji yang mengaku sebagai Gong Lam, crimper.
mempergunakan kesempatan selagi Soan Li masih kehilangan ingatan.
Padahal Gong Lam itu bukan lain adalah Wan Sin Hong.
Untuk mengetahui peristiwa ruwet dan menarik ini lebh jelas, silakan baca cerita PEDANG PENAKLUK lBLIS.
Sampai sekarang Soan Li masih belum sadar betul akan duduknya perkara.
Dia hanya mengira babwa Gong Lam itu acbetulnya tidak ada, yang ada ialah Pangeran Wanyen Ci Lun yang semenjak dahulu ia cinta, memang wajah Gong Lam alias Wan Sin Hong itu serupa benar dengan wajah Pangeran Wanyen Ci Lun, seperti pinang dibelah dua.
Memang mereka ini sesungguhnya masih saudara misan.
Perlahan-lahan Pangeran Wanyen Ci Lun suka menceritakan kepada isterinya tentang Wan Sin Hong yang dianggap saudaranya dan seorang ggah perkasa yang amat ia cinta dan hormati.
Setelah mendengarkan penuturan Wan Bi Li dan Wan Sun tentang penyerbuan dua orang mata-mata Mongol itu.
Wanyen Ci Lun menarik napas panjang dan berkata kepada Soan Li.
"Isreriku, bagi seorang panglima yang penuh tanggung jawab terhadap negaranya, aku sama sekali tidak tahut atau khawatir terhadap musuh. Kau tahu bahwa aku siap sedia mengurbankan nyawa demi membela negara. Akan tetapi kalau aku melihat engkau dan anak-anak kita, berat juga rasa hatiku. Memang akupun tahu bahwa kau cukup pandai menjaga diri, demikian pula Bi Li dan Sun-ji. Akan tetapi. menghadapi balatentara Mongol yang begitu banyaknya. bagaimana kelak kita bisa saling membantu? Aku tetap akan merasa khawatir kalau kau dan anak-anak kita tidak mengungsi ke selalan. Ikutlah dengan Hong Kin dan isterinya ke Kim-bun to. Kelak kalau aku dapat lolos dengan selamat dari perang ini. pasti aku akan menyusul ke sana. Andaikata aku gugur, kau dan anak-anak pun, berada di tempat aman dan aku akan mati dengan mata meram."
"Tidak, tempat kami di sini, di sampingmu. Dalam suka maupun duka,"
Jawab Soan-Li dengan suara tetap.
"Bukankah begitu, anak-anak?"
"Betul, ibu. Ayah, akupun harus membantn ayah berjuang melawan iblis-iblis Mongol!"
Kata Wan Sun.
"Kalausaja ayah tidak menghadapi musuh dan negara sedang aman, aku akan suka sekali pelesir ke Kim bun-to. Akan tetapi dalam kedaan seperti ini, bicara tentang pelesir sungguh bukan pada tempatnya. Ayah, kita masih belum kalah oleh tikus-tikus Mongol, mengapa ayah nampak berkhawatir?"
Kata Wan Bi Li sambil mendekati ayahnya dengan sikapnya yang manja.
"Kalian tidak tahu....... balatentara Mongol luar biasa kuatnya, mereka beberapa kali lipat banyak dari pada kita. Kota raja sudah terkurung rapat, tidak ada ransum dapat di datangkan dari luar. Berpuluh-puluh gerohak ransum yang datang dari selatan juga sudah dirampas mereka. Bukan aka takut akan tetapi benar-benar harapan kita tipis sekali, sekarang kiranya masih mungkin bagi kalian untuk menerobos keluar dari kepungan, mengungsi ke selatan seperti dilakukan oleh kaisar dan pembesar tinggi dan......."
"Akan tetapi mengapa kau sendiri tidak pergi mengungsi? Kau mendesak kami menyelamatkan diri, mengapa kau sendiri tidak ikut pergi?"
Soan Li menegur suaminya.
"Aku lain lagi. Aku seorang pangeran kerajaan Kin, aku harus membela negara dan kerajaan sebagai seorang panglima yang setia. Akan tetapi lain lagi dengan kau dan anak-anak. lnilah sebab-sebabnya mengapa aku memberi she Wan kepada anak anak kita, aku ingin mereka tetap menjadi orang Han, bercampur dengan rakyat jelata di Tiongkok, jangan dicap bangsa penjajah."
Pada saat itu muncul Coa Hong Kin dan Go Hui Lian. Nyonya ini sambil tertawa berseru keras.
"Coba lihat, siapa yang datang bersama kami?". Pangeran Wanyen Ci Lun mengeluarkan suara girang, melompat dari kursinya, berlari maju dan di lain saat ia sudah berpelukan dengan Wan Sin Hong! Gak Soan Li duduk seperti patung di atas kursinya, wajahnya dan matanya terbelalak memandang ke Wan Sin Hong dan Pangeran Wanyen Ci Lun. Dua orang laki-laki setengah tua yang serupa benar wajahnya, tampan dan gagah, hanya pakaian saja yang berbeda. Pangeran Wanyen berpakaian seperti seorang panglima sedangkan Wan Sin Hong berpakaian sederhana.
"Aku pernah bertemu dengan dia ....... aku pernah bertemu dengan diaa......"
Demikian kata hati nyonya ini dan dadanya berdebar aneh, keningnya yang masih halus itu berkerut-kerut seakan-akan ia sedang mengerahkan tenaga otaknya untuk mengingat-ingat.
Di belakang Sin Hong muncul Siok Li Hwa yang masih cantik gagah, akan tetapi kelihatan lesu dan berduka..Nyonya ini digandeng oleh Coa Lee Goat, murid suaminya juga muridnya.
"Saudaraku yang baik..........! Tentu Thian yang menuntunmu mengunjungi kami yang sedang amat mengharap-harapkan kedatanganmu. Silakan duduk di dalam. kita bicara....."
Wan Sin Hong menjadi terharu dan matanya basah ketika ia memandang kepada pangeran itu dan kepada Gak Soan Li yang masih duduk mematung, kemudian ketika ia melirik dan melihat Wan Bi Li sudah bergandeng tangan dengan Lee Goat dan dua orang gadis itu berbisik-bisik agaknya membicarakan.
mereka yang baru datang, wajahnya yang tadinya muram menjadi agak berseri.
"Ah, sekarang kalian sudah menjadi sahabat baik, bukan? Memang semua adalah orang sendiri. dulu di Omei-san kalian berkelahi!"
"Suhu, dulu teecu tidak tahu bahwa Bi Li adalah puteri dari bibi guru sendiri. Kalau tahu masa bertempur"
Jawab Lee Goat tertawa.
Sin Hong memperkenalkan isterinya kepada Pangeran Wanyen Ci Lun dan mereka memberi hormat sebagaimana mestinya.
Sin Hong menghadapi Soan Li dengan wajah tidak memperlihatkan perubahan apa-apa, ia menjura sambil berkata sopan.
"Harap hujin banyak bailk......."
Soal Li hanya menjura kepada Sin Hong dan isterinya, bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara, akan tetapi hatinya berbisik.
"Aku pernah mengenalnya, pernah mengenalnya??.."
Pangeran Wanyen Ci Lun mengajak tamu-tamunya masuk ke ruangan dalam untuk bercakap-cakap dan tak lama kemudian Pangeran Wanyen Ci Lun duduk menghadapi Wan Sin Hong dan Coa Hong Kin, sedangkan di ruangan belakang Gak Soan Li bercakap-cakap gembira dengan Go Hui Lian dan Siok Li Hwa.
Baik penuturan Li Hwa kepada Soan Li dan Hui Lian, maupun penuturan Sin Hong pada Pangeran Wanyen Ci Lun dan Hong Kin, amat mengejutkan para pendengarnya.
Hati siapa yang takkan terkejut dan menyesal mendengar bahwa anak perempuan yang tadinya dibawa oleh Toat-beng Kui-bo dan yang baru kemarin siculik oleh mata-mata Mongol, bukan lain adalah onak tunggal dari Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa!
Pangeran Wanyen Ci Lun menggebrak meja.
"Celaka! Kalau tahu demikian. tentu anak itu takkan pernah kubiarkan terpisah dari sampingku. Pantas saja kami amat suka kepadanya, kiranya dia Itu anakmu.....?"
Cepat ia menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam tadi di mana anak itu telah terculik oleh seorang tosu buntung dan seorang pemuda putera Liok Kong Ji.
Wan Sin Hong menjadi pucat mendengar ini.
"Putera Liok Kong Ji? Sampai sekarang iblis itu masih tetap menggangguku. Tunggu saja kau. Kong Ji. lain kali kita bikin perhitungan. Awas, kau kalau sampai anakku terganggu,"
Kata Sin Hong mendengar penuturan itu.
Kemudian atas permintaan Pangeran Wanyen Ci Lun, ia lalu menuturkan pengalamannya secara singkat selama ini.
Seperti telah kita ketahui, kurang lebih tiga tahun yang lalu ketika Tiang Bu mengunjungi Toat-beng Kui-bo di Ban-mo-tong, Wan Sin Hong berada di sana bersama istertnya yang ketika itu sedang mengandung.
Tadinya Wan Sin Hong mengejar Toat berg Kuibo yang membawa Siok Li Hwa, akan tetapi ketika tiba di Ban-mo-tong, ia mendengar hal yang amat mengherankan hasinyat, yaitu bahwa Toat beng Kui-bo sesungguhnya adalah ibu sendiri dari Li Hwa!
Li Hwa amat percaya kepada keterangan Toat-beng Kui-bo yang dapat menceritakan segala hal tentang Pat-jiu Nio-nio gurunya dahulu ketika ia masih berada di perkumpulan Hui-eng-pai.
Juga Li Hwa amut kasihan melihat nenek itu maka nyonya yang memang sejak kecil rindu sekali untuk bertemu dengan ibunya, menjadi tidak tega meninggalkan Toat-beng Kui-bo dan membujuk suaminya untuk mengawan "ibunya"
Di tempat yang menyeramkan itu.
Pada waktu itu Sin Hong sedang menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan terutama sekali karena sikap bermusuh dari tokoh-tokoh kang-ouw setelah mereka mendengar bahwa dia masih keturunan keluarg pangeran Kin.
Inilah sebabnya mengapa Sin Hong menuruti permintaan isterinya dan suami isteri ini tinggal di tempat itu seperti mengasingkan diri sambil melayani keperluan Toat-beng Kui-bo dan mengawasi nenek itu.
Betapapun juga, di dalam lubuk hatinya Sin Hong masih ragu-ragu dan curiga, belum sepenuh hati dapat menerima bahwa isterinya adalah anak kandung dari nenek yang mangerikan itu.
Waktu berjalan cepat sekali, Li Hwa melahirkan seorang anak perempuan, Toat-beag Kui-bo kelihatan sayang sekali kepada?cucunya"
Ini dan seringkali nenek itu datang menimang-nimang bayi itu.
Sin Hong sudah mulai bosan tinggal di tempat itu, akan tetapi Li Hwa selalu membujuknya agar supaya mereka tinggal di situ dan mengawani ibunya sudah sangat tua.
"Ibu sudah berusia tua sekali, bagaimana kalau kita tinggalkan seorang diri lalu jatuh sakit? Siapa yang akan merawatnya? Kau harus tahu bahwa semenjak kecil aku tidak pernah dekat dengan dia, kalau tidak sekarang pada saat dia sudah sangat tua aku melakukan kewajiban dan baktiku sebagai anak, mau tunggu kapan lagi?"
Demikian isteri ini membantah dan terpaksa Sin Hong menahan sabar.
Memang kesabaran Sin Hong luar biasa sekali, hasil latihannya ketika ia berada di Luliangsan.
Kembali dua tahun lebih lewat dan Wan Leng atau yang biasa mereka panggil Leng Leng anak itu sudah berusia dua tahun dan menjadi seorang anak yang mungil.
Pada suatu hari ketika Sin Hong sedang duduk di lereng memandang ke tempat jauh, agaknya rindu untuk berkelana turun dari tempat itu.
bertemu dengan sahabat-sahabat baik dan orang-orang gagah di dunia kangouw, tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu, ia kaget sekali karena maklum bahwa orang yang dapat datang di dekatnya tanpa ia dengar, banyalah orang yang sudah memiliki kepamdaian tinggi sekali.
Ketika ia melompat berdiri dan memutar tubuh, ternyata yang berdiri di depannya adalah Ang-jiu Mo-li, masih tetap cantik seperti dulu biarpun usia sudah empat puluh tahun lebih, hampir lima puluh tahun.
"Ang-jiu Mo-li mengejutkan orang. Ada keperluan apakah kau sampai datang ke tempat ini?"
"Wan Sin Hong manusia pelamun! Makin tua kau makin tidak ada tidak ada guna!? Ang Jiu Mo-li mengejek.
"Hmmm, mungkin?..? jawab Sin Hong sebal karena memang sudah sering kali ia merasa bahwa ia makin tiada guna, maka ejek orang amat mengenai hatinya.
"Akan tetapi mengapa kau berkata demikian?"
"Di utara api peperangan sudah bernyala-nyala. Orang-orang gagah mempergunakan kesempatan untuk mengeluarkan kepandaian agar tidak sia-sia. Akan tetapi kau, yang katanya berdarah bangsawan Kin, yang terkenal sebagai pangeran bangsa Kin berpakaian Han. kau memeluk lutut melamun di sini bersenang-senang dan berbulan madu yang tiada berkesudahan dengan isterimu, menjadi kaki tangan dari siluman tua Toat-beng Kui-bo. Cihh, tak tahu malu dan betul betul seorang pengecut besar."
"Ang jiu Mo-li, kau datang-datang memaki aku apakah maksudmu? Mau apa kau datang ke sini?"
"Lupakah kau akan pertemuan kita yang lalu ketika aku menampar muka wanita yang sekarang menjadi isterimu? Aku datang untuk membuktikan sampai di mana kepandaianmu, orang pemalas dan pelamun yang sudah pernah berani mengagulkan diri sebagai seorang bengcu! Bersiaplah kau!"
Sin Hong melihat betapa kedua tangan wanita itu perlahan-lahan berubah warnanya, menjadi merah muda menjadi merah tua.
Ia makum apa artinya.
Memang Ang-jiu Mo-li amat terkenal namanya oleh kedua tangan ini yang mengandung sinkang beracun luar biasa kuat dan berbahaya.
Ia menarik napas panjang.
"Ang-jiu Mo-li, sebetulnya aku merasa enggan untuk bertempur dengan seorang wanita tanpa sebab-sebab yang kuat. Akan tetapi karena kau tadi sudah memaki aku seorang pengecut, terpaksa aku harus membela diri dan membuktikan bahwa makianmu tidak berdasar. Aku sudah siap. Ang-jiu Mo-li.? "Bagus, jaga seranganku!"
Seru wanita itu gembira.
Sudah lama sekali ia rindu untuk mengukur kepandaian pendekar yang terkenal ini dan baru sekarang ia mendapat kesempatan.
Selain itu, semenjak ia bertemu dengan Sin Hong dahulu, diam-diam Ang-jiu Mo-li sering kali duduk termenung dan melamun.
Belum pernah selama hidupnya ia tertarik oleh laki-laki, akan tetapi bengcu muda ini benar-benar telah merebut hatinya.
Maka dapat dibayangkan betapa sakit hatinya dan betapa kecewanya ketika ia mendengar bahwa kini Wan Sin Hongsudah menjadi suami Hui-eng Niocu Siok Li Hwa.
Wan Sin Hong berlaku hati-hati sekali dalam menghadapi serangan Ang-jiu Mo-li.
Ia maklum bahwa wantia ini bukanlah lawan biasa, sama sekali tidak boleh dipandang ringan karena memiliki kepandaian yang tingkatnya sudah amat tinggi.
Dengan penuh perhatian ia menghadapi serangan lawan, mengerahkan kepandaian dan tenaganya untuk mempertahankan diri dan balas menyerang.
Kepandaian Ang-jiu Mo-li memang sudah setingkat dengan Sin Hong.
Wanita sakti ini ketika menjelajah di utara, sudah mengemparkan tokoh-tokoh utara, bahkan sudah menggegerkan tokoh-tokoh Mongol dengan kepandaiannya yang tinggi.
Liok Kong Ji sendiri di utara hampir menjadi korban tangannya ketika Liok Kong Ji yang mata keranjang tertarik oleh kecantikannya dan mencoba mengganggunya.
Kalau saja tidak dikeroyok oleh banyak tokoh Mongol yang tinggi kepandaiannya, tentu Ang-jiu Mo-li tidak akan melarikan diri dan Kong Ji dapat selamat terlepas dari tangannya.
Sebaliknya Wan Sin Hong yang sudah bertahun-tahun tak pernah bertempur melawan orang-orang (Lanjut ke
Jilid 21) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21 pandai, juga tidak merosot kepandaiannya, bahkan selama ini ilmu lweekangnya meningkat.
Dalam pertempuran menghadapi lawan ini ia berlaku tenang sehingga biarpun Ang jiu Mo-li mengeluarkan semua kepandaian dan menyerang dengan cepat dan gencar, Sin Hong dapat mengimbanginya.
Jarang ada pertempuran tangan kosong demikian ramainya, di mana tipu dilawan tipu dan kegesitan dilawan ketangkasan.
Bayangan dua orang ini sampai sukar dikenal lagi, seperti sudah menjadi satu.
Kegagahan Sin Hong ini makin menggerakkan hati Ang jiu Mo-li yang mencinta Sin Hong.
Dahulu ketika masih muda wanita ini selalu bersumpah bahwa ia takkan mau menikah dengan orang yang tidak dapat melawan kepandaiannya, dan benar saja.
Tak pernah ia menemui laki-laki yang wajahnya mencocoki hatinya dan kepandaiannya dapat mengimbangi kepandaiannya.
Kini menghadapi Sin Hong yang memang sudah menarik hatinya ia menjadi kagum bukan main sehingga wajahnya menjadi merah napasnya memburu dan matanya bersinar-sinar.
"Wan Sin Hong, tahan dulu!"
Katanya. Sin Hong pun menghentikan serangannya dan memandang heran.
"Kau mau bicara?"
Tanyanya tenang. Diam-diam ia harus mengakui bahwa kecuali Toat-beng Kui-bo, belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang wanita sehebat ini kepandaian silatnya.
"Sin Hong, kepandaian kita seimbang"". tidak melihatkah kau betapa cocoknya kalau kita berdampingan, kau dan aku berdua akan dapat menguasai dunia! Pek-thouw-tiauw-ong dan isterinya yang terkenal bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan kita berdua! Sin Hong, di dunia ini tidak ada jodoh yang lebih setimpal dari pada kita!"
Kalau pipinya ditampar, kiranya Sin Hong takkan semerah itu mukanya.
"Ang-jiu Mo-li, bagaimana kau bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kau tahu aku sudah beristeri. Kau memang patut ditampar seperti yang diminta oleh isteriku!"
Bentak Sin Hong sambil melompat maju dan mengirim tamparan ke arah pipi Aug-jiu Mo-li.
Memang Sin Hong tidak pernah lupa akan hinaan yang dilakukan oleh Ang-jiu Mo-li terhadap Siok Li Hwa ketika belum menjadi isterinya.
Pipi Li Hwa ditampar sampai merah oleh Ang jiu Mo-li dan Li Hwa menjadi sakit hati sekali, bahkan menuntut agar supaya Sin Hong berjanji untuk membalaskannya.
Namun tadinya Sin Hong sama sekali tidak ingin menanam permusuhan dan tidak mau menghina Ang-ji Mo-li dengan menampar pipinya.
Hanya setelah mengeluarkan kata-kata yang dianggapnya terlalu dan tak tahu malu, Sin Hong menjadi marah dan menamparnya.
Ang-jiu Mo-li mana mau membiarkan dirinya ditampar?
Dengan marah ia mengelak dan memaki.
"Manusia sombong ! Aku akan mcmbunuh binimu itu! Lebih dulu aku akan membunuhmu pelamun tiada guna!? Kembali Ang jiu Mo li menyerang dan begitu ia bergerak, Sin Hong mengeluarkan seruan kaget. Serangan-seranyan Ang-jiu Mo-li sekarang ini benar-benar hebat dan sama sekali berbeda dengan tadi. Dalam gebrakan pertama saja sudah hampir saja lehernya terkena totokan, dan selanjutnya ia terdesak terus dan terpaksa hanya bisa menjaga diri dan main mundur menghadapi gclombang serangan yang dahsyat itu. Ia tidak tahu, bahwa inilah Ilmu Silat Kwan-im-cam-mo yang dipelajari oleh Ang jiu Mo li dari kitab Omei-san yang dulu terjatuh ke dalam tangannya. Tidak heran apabila Sin Hong sendiri tidak mengenal ilmu ini dan menjadi terdesak olehnya. Sin Hong adalah seorang pendekar besar yang berjiwa gagah perkasa. Biarpun sudah amat terdesak oleh pukulan-pukulan aneh dan sakti dari lawannya, tetap ia tidak sudi mengeluarkan Pak-kek sin-kiam untuk melawan seorang wanita yang bertangan kosong. Ang-jiu Mo-li tadi sudah menyatakan bahwa kedatangannya hendak menguji kepandaian. Setelah sekarang mereka bertempur dan wanita itu melawannya dengan tangan kosong, bagai mana ia ada muka untuk mempergunakan pedangnya? Ia lebih suka kalah dan roboh dari pada menurunkan kehormatannya dengan bersikap curang atau licik. Pada saat itu. muncul Siok Li Hwa yang berlari-lari sambil memondong anaknya, Leng Leng. Melihat bahwa suaminya sedang bertempur melawan Ang-jiu Mo-li, Li Hwa menjadi marah sekali dan berseru.
"Suamiku, balaskan sakit hatiku. Kau tampar pipinya biar bengkak-bengkak!"
Akan tetapi Ang-jiu Mo-li yang menjawab sambil mengejek dan mendesak Sin Hong.
"Bagus. perempuan tiada guna kau sudah datang. Tunggu sebentar aku membereskan dulu lakimu ini, baru aku akan mencabut nyawamu berikut nyawa anakmu!"
Saking marahnya. Li Hwa menurunkan anaknya di bawah pohon dan siap membantu suaminya mengeroyok Wanita Tangan Merah yang lihai itu. Melihat gerakan isterinya, Sin Hong cepat berseru.
"Li Hwa, jangan.......! Lebih baik kau bawa Leng Leng kepada gakbo (ibu mertua) agar terlindung dari ancaman perempuan ini."
"Kita robohkan dia bersama!"
Li Hwa membantah.
"Jangan. Isteriku! Ini pertandingan pibu, tidak boleh main keroyokan!"
Kata pula Sin Hong yang tetap hendak menjaga namanya.
"Huh, terhadap seorang siluman tangan merah mana perlu menggunakan aturan lagi? Dia jahat dan sudah biasa tidak pakai aturan, perempuan hina macam itu saja meagapa kita harus sungkan-sungkan?"
Mendengar makian ini, kemarahan Ang-jiu Mo li tak dapat ditahan lagi.
Sambil berteriak nyaring tubuhnya melayang meninggalkan Sin Hong, langsung ia menerjang Li Hwa!
"Ang-jiu Mo-li, jangan serang isteriku!"
Bentak Sin Hong mengejar.
"Li Hwa, jangan lawan dia. Lari!"
Akan tetapi mana Li Hwa mau lari?
Dia sendiri berilmu tinggi dan bukan menjadi wataknya untuk lari menghadapi lawan yang ba gaimana tangguhpun.
Melihat serangan Ang-jiu Mo-li, ia cepat menggerakkan kedua tangan menangkis.
"Plak!"
Dua lengan tangan bertemu dan Li Hwa terlempar terus muntah darah.
"Hai, berani melukai anakku?"
Terdengar bentakan dan sekaligus sebatang tongkat melayang ke arah kepala Ang-jiu Mo-li dan dua ekor kelelawar menyerangnya dari kanan kiri.
Ang-jiu Mo-li maklum siapa yang datang maka ia cepat melompat ke belakang menghindarkan diri dari serangan hebat itu.
"Gakbo, dia datang hendak berpibu dengan aku, biarkan aku melayaninya!"
Kata Sin Hong yang melihat isterinya menelan sebuah pil putih, ia lalu melompat lagi mendekati dua orang wanita sakti yang kini sudah bertempur.
"Anak mantu, kau diamlah, sudah tentu kau suka melayaninya karena dia ini masih cantik dan terkenal gila laki-laki. Biar aku mengambil jantungnya untuk makanan kelelawar-kelelawarku. Hi hi-hi!"
Tongkatnya mendesak terus dan diam-diam Ang-jiu Mo-li terkejut sekali.
Tadinya ia tidak gentar terhadap nenek ini karena biarpun dulu kepandaiannya masih kalah setengah tingkat, namun bertambahnya kepandaiannya dengan ilmu Silat Kwan im-cam-mo dari Omei-san, ia kira akan cukup untuk menghadapi nenek itu.
Akan tetapi kiranya melihat gerakan tongkat, kepandaian nenek itupun meningkat banyak!
Dan Ang-jiu Mo-li ingat bahwa ketika terjadi keributan di Omei-san nenek inipun melarikan sebuah kitab.
Tentu nenek inipun sudah mendapatkan semacam ilmu silat yang lihai.
Mengingat ini, Ang-jiu Mo-li menjadi gentar juga.
Menghadapi Sin Hong andaikata ia kalah, ia masih bisa mengharapkan selamat.
Akan tetapi nenek ini seperti bukan manusia lagi dan kekejamannya sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw.
Di samping ini, Ang-jiu Mo-li juga merasa gelisah mendengar sebutan-sebutan antara Sin Hong dan Toat-beng Kuibo.
Mantu dan mertua?
Gila ia tahu betul bahwa Toat-beng Kui-bo tak pernah punya anak!
Otak di dalam kepala Ang-jiu Mo-li memang cerdik sekali.
Ia melihat keuntungan dalam keganjilan itu, Tiba-tiba ia tertawa keras.
dengan nada mengejek.
"Toat-beng Kui-bo, manusia tak tahu malu. Apa kau berani mendengarkan kata-kataku sebentar?"
"Bocah ingusan, mengapa aku takut? Cepat atau lambat, jantungmu pasti akan menjadi mangsa kelelawar-kelelawarku. Syyyyt. Anak-anak baik, nanti dulu, dia mau bicara."
Katanya kemudian pada dua ekor kelelawar yang anehnya seperti mengerti, menunda serangan dan hinggap di atas pundak itu. Ang jiu Mo-li bergidik, akan tetapi ia tetap tertawa.
"Toat-beng Kui-bo, kau ini sudah tua bangka apakah masih mau membadut? Kau menyebut Wan Sin Hong anak mantumu apa-apaan sih ini? Siok Li Hwa adalah Hue-eng Niocu, bagaimana bisa menjadi anakmu Apakah kau mengangkat anak kepadanya? Ha ha, siluman macam engkau ini, yang sejak muda tidak ada laki-laki yang sudi mengerlingmu sebentarpun juga, bagaimana bisa punya anak dan mantu? Ha. Toat-beng Kui-bo, jangan bikin aku mati tertawa geli!"
"Iblis, Dia memang anakku. Li Hwa memang anakku....."
Bentak Toat-beng Kui bo dan tongkatnya bergerak pula.
"Nanti dulu, jangan kau menipuku. Ketika aku masih kecil sebelum orang-orang seperti Li Hwa ini lahir, aku sudah mendengar dari ayah bahwa kau adalah seorang wanita bermuka siluman yang amat buruk dan orang malah menyangsikan apakah kau ini laki-laki atau wanita. Mungkin kau banci! Sejak kapan kau menikah dan kapan pula kau punya anak? Menurut perhitunganku, ketika aku masih kecil kau sudah berusia lima puluh atau enam puluhan, jadi sekarang kau tidak kurang dari seratus tahun. Sedangkan Li Hwa ini paling banya berusia empat puluh tahun. Dalam usia berapakah kau melahirkan dia? Dalam usia tujuh puluh tahun, barangkali? Ha-ha.ha, Toat-beng Kui-bo, seorang anak kecilpun akan tahu bahwa kau membohong."
Terdengar jerit tertahan dari Li Hwa ketika mendengar kata-kata ini dan Toat-beng Kui-bo dengan marah sudah memutar tongkatnya pula menyerang Ang-jiu Mo-li Si Tangan Merah cepat mengelak lalu melarikan diri sambil tertawa.
"Mulut jahat, kau mau lari ke mana?"
Toat beng Kui-bo mengejar, akan tetapi Ang-jiu Mo-li menyebar Pat-kwa-ci yang dipukul runtuh oleh tangan baju nenek itu yang terus mengejar.
Tiba-tiba Sin Hong melompat dan menghadang di depan Toat-beng Kui-bo.
"Biarkan dia lari, tak perlu membunuh orang."
Dalam kemarahannya yang luar biasa, Toat-beng Kui-bo membentak.
"Kau...... mau membela dia?"
Dan tongkatnya menghantam Sin Hong.
Sin Hong sudah siap sedia karena) memang selama ini ia merasa curiga terhadap nenek yang aneh itu.
Dengan sigap ia melompat ke samping.
Ketika Toat-beng Kui-bo memandang ke depan, ternyata Any-jiu Mo-li sudah menghilang.
Marahlah dia, kemarahannya kini tertuju kepada Sin Hong dan tongkatnya melayang lagi menyerang Sin Hong.
Kembali Sin Hong mengelak dan kali ini mencabut Pak-kek-sin kiam.
"Ibu mengapa kau hendak membunuh mantumu sendiri.....?? tiba-tiba Li Hwa berseru sambil mendekati dengan Leng Leng dalam pondongannya. Mendengar ini tiba-tiba Toat-bang Kui-bo menghentikan gerakannya. Matanya yang mengerikan itu menatap wajah Li Hwa penuh selidik, lalu ia berkata.
"Kau tidak percaya akan obrolan siluman tadi, bukan? Kau masih percaya dan mengaku aku sebagai ibumu?"
Dengan air muka tidak berubah Li Hwa menjawab.
"Tentusaja, tentu saja."
Toat-beng Kui-bo mengampit tongkatnya.
"Kesinikan cucuku, aku ingin menggendongnya."
Sesungguhnya, di dalam hatinya Li Hwa sudah terpengaruh oleh ucapan Ang-jiu Mo-li tadi dan kini iapun merasa yakin bahwa tidak mungkin kalau Toat-beng Kui-bo ini ibunya.
Akan tetapi ia maklum betapa lihai adanya nenek ini dan kalau ia tidak mengambil hatinya lalu nenek ini mengamuk, berabe juga.
Suaminya belum tentu sanggup mengalahkan nenek ini, apalagi dia sendiri masih terluka.
Kini nenek itu minta Leng Leng untuk digendong.
Sungguh berat ujian ini.
Namun, dengan senyum penuh kepercayaan, ia menyerahkan Leng Leng yang segera dipondong oleh Toat-beng Kui-bo, Nenek ini lalu terhuyung-huyung pergi sambil memondong cucunya.
Terdengar ia bersungut-sungut.
"Kalau kau tidak percaya lagi bahwa aku ibumu, hmm, kubunuh kalian semua, kubunuh.......!"
Setelah Toat-beng Kui bo pergi jauh membawa Leng Leng, barulah Li Hwa memperlihatkan kecemasannya.
Ia memandang kepada suaminya, mereka saling pandang penuh pengertian dan Li Hwa lalu menubruk Sin Hong sambil menangis.
"Kau betul...... dia bukan ibuku....."
Katanya.
"kalau saja aku percaya akan keraguanmu dahulu....... sekarang dia membawa pergi Leng Leng, bagaimana baiknya.......?"
"Tenanglah. Memang kau tadi bersikap tepat sekali. menghilangkan kecurigaannya dengan memperlihatkan kepercayaan. Kalau kau bersikap lain, aku khawatir kita takkan dapat menolong diri. Nenek itu lihai bukan main. Dalam keadaan biasa. kiranya aku masih akan dapat menahannya. Akan tetapi kulihat ilmu tongkatnya tadi luar biasa sekali ketika ia menghadapi Ang-jiu Mo-li. Tak salah lagi dugaanku bahwa kitab DELAPAN JALAN UTAMA itu mengandung sari pelajaran ilmu silat tinggi tentu betul adanya. Tiang Bu telah ditipunya. Aku sudah mengkhawatirkan hal itu. Tak mungkin orang-orang sakti di Omei-san menyimpan kitab pelajaran Agama Budha biasa saja, tentu di situ tersembunyi sari pelajaran Ilmu silat. Dan nenek itu agaknya sudah mulai mempelajarinya. Ilmu tongkat yang dimainkannya tadi benar-benar luar biasa dan aku takkan dapat melawannya, biarpun dengan Pak kek sin-kiamsut."
"Sekarang bagaimana caranya untuk minta kembali Leng Leng?"
"Kita harus menggunakan akal. Kau tetap bersikap seperti tadi, penuh kepercayaan. Seperti biasa ia akan mengembalikan Leng Leng kalau kau menyusul ke sana. Kemudian secara diam diam kita akan pergi dari sini."
Dengan hati berdebar gelisan mereka menanti-nanti, akan tetapi sampai keesokan harinya, Toat-beng Kui-bo tak kunjung datang.
Terpaksa Li Hwa lalu naik menyusul ke tempat tinggal nenek itu, sedangkan San Hong menanti dari tempat yang tidak begitu jauh sambil mengintai.
Tak lama kemudian ia melihat Li Hwa berlari kembali sambil menangis.
"Celaka....... dia....... dia sudah pergi membawa Leng Leng!"
Katanya.
Sin Hong menjadi pucat dan berlaku nekad.
Ia cepat lari ke arah tujuh buah gua besar dan mencari, bersiap untuk menempur Toat beng Kui-bo.
Akan tetapi betul seperti kata-kata isterinya, nenek itu tidak kelihatan bayangannya lagi.
Agaknya nenek itu dapat menduga bahwa Li Hwa takkan mau mengaku dia sebagai ibu lagi dan dengan marah lalu pergi membawa Leng Leng.
"Sudahlah, jangan kau menangis."
Sin Hong menghibur isterinya.
"Bagaimanapun juga dia amat sayang kepada Leng Leng. Dia pergi tentu karena takut kalau kita membawa anak itu pergi meninggalkamnya, maka ia mendahului dan membawa anak kita."
"Ke mana kita harus mengejar dan mencarinya?"
"Kalau tidak salah dugaanku, dia tentu pergi mencari Ang-jiu Mo-li. Tentu dia marah sekali kepada Ang. jiu Mo-li karena Si Tangan Merah itulah yang membuka rahasianya. Maka kita harus mencari di utara, di kota raja Kerajaan Kin, karena aku mendengar bahwa Ang-jiu Mo-li pernah menjadi guru dari anak-anak Pangeran Wanyen Ci Lun dan kiranya tidak terlalu salah kalau kita mencari dia di sana."
Tanpa membuang waktu lagi, suami isteri ini menyusul ke kota raja dan seperti telah diceritakan di bagian depan, mereka bertemu dengan Pangeran Wanyen Ci Lun setelah berhasil mcmasuki kora raja, hal yang tidak mudah karena kota raja itu sudah terkurung oleh bala tentara Mongol.
"Demikianlah, kita menyusul ke sini. ternyata terlambat dan baru kemarin anakku diculik oleh kaki tangan Liok Kong Ji."
Sin Hong inengakhiri penuturannya sambil membanting kaki.
Dari ruangan datang Li Hwa berlari sambil menangis.
Nyonya inipun mendengar Gak Soan Li tentang penculikan atas diri Leng Leng pada malam tadi oleh orang-orang Mongol.
Sambil menangis ia berlari mencari suaminya.
"Kita harus mengejar ke sana. sekarang juga!"
Nyonya ini berteriak marah.
"Biar kita mengadu jiwa dengan iblis jahat Liok Kong Ji!"
Sin Hong menyabarkan isterinya.
"Mari kita berunding dulu dan mengatur siasat jangan terburu nafsu."
Gak Soan Li dan Go Hui Lian juga menyusul ke situ untuk menghibur Li Hwa dan sekarang merekapun dipersilahkan duduk di ruangan itu.
Mendengar disebutnya nama Liok Ko Ji oleh Li Hwa tadi, tak tertahan lagi Soan Li bertanya.
"Heran sekali, bukankah iblis yang namanya Liok Kong Ji itu dahulu sudah mampus kubunuh dengan pedangku? Bagaimana sekarang bisa muncul di antara orang-orang Mongol?"
Ia bertanya demikian sambil memandang kepada suaminya, padahal Pangeran Wanyen jugu maklum kepada siapa pertanyaan ini ditujukan. Maka ia lalu berkata kepada Sin Hong.
"Saudara Sin Hong hanya kaulah yang dapat menjawab pertanyaan isteriku tadi. Sudah lama kami terganggu oleh pertanyaan yang tak terjawab ini."
Sin Hong menarik napas panjang.
"Memang yang terbunuh dahulu itu bukan Liok Kong Ji. Dia terlalu licin dan siang-siang sudah menyediakan orang ke dua yang mukanya memang serupa dengan dia. Orang itulah yang terbunuh sedangkan dia sendiri melarikan diri ka utara dan menggabung kepada orang-orang Mongol."
"Dan sejak dulu kau sudah tahu akan ini?"
Tanya Pangeran Wanyen. Sin Hong mengangguk.
"Sengaja aku diam saja agar jangan menggelisahkan hati banyak orang, iblis itu memang jahat sekali dan sampai sekarang ia masih saja mendatangkan kesusahan kepadaku. Akan tetapi sekarang aku akan menyusul ke sana dan sekali ini perhitungan terakhir harus dibuat. Dia atau aku yang mati."
"Adik Li Hwa. jangan khawatir, kami akan ikut membantumu,"
Tiba-tiba Hui Lian berkata yang disetujui oleh Hong Kin dan Lee Giok. Sin Hong menggeleng kepala.
"Untuk memasuki perkemahan orang orang Mongol secara sembunyi, lebih baik dilakukan oleh seorang saja. Makin banyak makin berbahaya karena ketahuan seorang saja bearti akan menggagalkan urusan. Bahkan Li Hwa sendiri harus menanti di sini dan akuslah yang akan pergi ke sana. Kalau aku berhasil merampas kembali Leng Leng tanpa pertempuran, itulah paling baik. Kalau tidak, terpaksa aku harus mengadu nyawa dengan Liok Kong Ji. Malam nanti aku berangkat dan terima kasih atas kesediaan kalian membantu dan berkorban.? Percakapan dilanjutkan dan mereka menuturkan riwayat masing-masing selama berpisah. Dengan girang akan tetapi juga terharu sekali Hong Kin dan Hui Lian mendengar penuturan Sin Hong tentang diri Tian Bu yang menurut Sin Hong kini sudah memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan betapa pemuda itu disiksa oleh keraguan karena pengakuan Liok Kong Ji kepadanya sebagai anaknya. Tentu saja ketika menceritakan hal Tiang Bu, Sin Hong sengaja agar jangan sampai terdengar oleh Soan Li yang sedang bercakap-cakap dengan Li Hwa. Juga Lee Goat, Wan Sun dan Wan Bi Li sudah ikut bercakap-cakan dengan gembira. Dalam kesempatan ini terdorong oleh kegembiraan bertemu dengan sababat baik Sin Hong melupakan kedudukannya dan timbul niat yang amat baik. Ia menghampiri Pangeran Wanyen Ci Lun dan membisikkan sesuatu, kemudian iapun memberi tahu dengan suara perlahan kepada Coa Hong Kin. Dua orang ini saling pandang, tersenyum dan kemudian mengangguk setuju. Tak lama kemudian larilah Lee Goat keluar sari ruangan itu dengan muka merah ketika Pangeran Wanyen Ci Lun dan Coa Hong Kin mengumumkan pertunangan antara Wan Sun dan Coa Lee Goat! Adapun Wun Sun yang mendengar ini, juga menjadi merah sekali mukanya, akan tetapi lirikan matanya sekilas ke arah Bi Li membayangkan kehancuran hatinya. Pemudaa ini semenjak mendengar bahwa Bi Li bukan adik kandungnya, yaitu ketika ia mendengarkan percakapan antara ayah bundanya dan Kwan Kok Sun, berubahlah pandangannya terhadap gadis yang selama ini ia sayang sebagai adik sendiri itu. Diam-diam bersemi cinta kasih yang lain dalam hatinya terhadap Wan Bi Li. Maka dapat dibayangkan betapa hancur hatinya mendengar keputusan ayahnya bahwa ia dijodohkan dengan Coa Lee Goat, sungguhpun harus akui bahwa Lee Goat bukan gadis sembarangan dan tidak tercela sedikitpun juga. Setelah mengerling sekilas ke arah Bi Li dengan hati hancur, iapun mengerling ke arah Wan Sin Hong dengan hati menaruh dendam. Tadinya tiap kali memandang kepada Wan Sin Hong, pemuda ini merasa kagum dan juga bangga karena pendekar itu masih satu she dengan dia dan masih terhitung paman. Akan tetapi setelah Sin Hong mengusulkan perjodohan itu, diam-diam Wan Sun menjadi marah dan sakit hati kepada Sin Hong, Malam tiba. Sin Hong sudah berkemas menyiapkan pedangnya dan berpakaian serba ringkas, Li Hwa tadinya merengek hendak ikut karena ia mengkhawatirkan keselamat suaminya, akan tetapi setelah Sin Hong menjelaskan bahwa pergi dua orang akan lebih berbahaya, ia mengalah. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar berkali-kali disusul sorak-sorai menggegap-gempita.
"Musuh menyerbu??!!"
"Mereka membobol dari empat jurusan..!"
"Siap?! Lawan.......!!"
Teriakan ini simpang siur.
Sin Hong dan Li Hwa menjadi pucat karena suara ledakan tadi hebat luar biasa membuat kamar mereka seperti hendak roboh.
Cepat mereka melompat keluar dan hampir mereka bertumbukan dengan Coa Hong Kin dan isterinya yang juga berlari keluar.
"Tentara Mongol melakukan serbuan besar-besaran,"
Kata Hong Kin.
"Mari kita cari Pangeran Wanyen Ci Lun. Kita bantu dia!"
Kata Sin Hong dengan hati tetap dan suara tenang.
Tadinya memang pendekar ini tidak ada nafsu untuk mencampuri urusan perang, akan tetapi karena Kong Ji berada di pihak sana dan puterinya sekarang diculik pula oleh orang-orang Mongol, ia tidak bisa tinggal diam saja.
Datang pula Lee Goat dan berlima mereka lari ke ruangan besar di mana Pangeran Wanyen Ci Lun sudah berkumpul dengan para panglima, membagi-bagi perintah.
Juga Kwan Kok Sun, Wan Sun.
dan Wan Bi Li sudah berada di situ, semua berpakaian dinas, Gak Soan Li tidak setinggalan.
Nyonya ini dulu mendampingi suaminya, sedetikpun tak mau ditinggal.
Pedang tajam berkilauan berada di tangan kanannya dan pakaiannya ringkas, membuat ia nampak gagah biarpun wajahnya agak pucat.
Setelah selesai membagi-bagi tugas dan semua panglima sudah pergi melakukan penjagaan sekuatnya.
Wanyen Ci Lun berpaling kepada Sin Hong dan memegang kedua tangannya.
"Saudaraku yang baik, sayang sekali sebelum kau merampas kembali anakmu, setan-setan itu sudah datang menyerbu. Seperti sudah kukhawatirkan, mereka kini agaknya mengerahkan seluruh kekuatan, menycrbu dari empat penjuru. Kaudengar tembok bagian utara sudah bobol dan agaknya malam ini kita harus menyerah kalah. Akan jatuh banyak korban......"
Suara pangeran itu menggetar.
"akan tetapi aku akan mempertahankannya dengan titik darah penghabisan! Aku hanya minta kepadamu, Wan Sin Hong saudaraku, kauselamatkan dua orang anakku. Jangan mereka ikut berkorban seperti aku dan...... dan isteritu yang setia ini."
"Jangan khawatir, kami akan membantumu menghadapi iblis-iblis Mongol itu apabila mereka betul-betul menyerbu ke sini,"
Jawab Sin Hong terharu.
"Jangan....... kau jaga saja Bi Li dan Wan Sun. Jangan biarkan mereka membuang nyawa sia-sia.... nah, selamat tinggal, aku harus pimpin sendiri anak buahku!"
Wanyen Ci Lun bersama isterinya keluar, akan tetapi sebelumnya mereka menghampiri Bi Li dan Wan Sun. Pangeran itu dengan suara mamerintah berkata.
"Kalian kutugaskan menjaga rumah kita agar jangan dimasuki orang-orang jahat dalam keadaan sekacau ini!"
"Baik, ayah!"
Jawab mereka bcrbareng, nampak bangga karena mendapat bagian tugas.
Perang hebat terjadi pada malam itu.
Darah membanjiri kota raja.
Tentara Mongol mengamuk laksana iblis-iblis neraka mencari kurban.
Rumah-rumah dirampok dan dibakar orang-orang dibunuh, wanita-wanita cantik diculik.
Jerit tangis bercampur aduk dengan pekik marah dan kesakitan.
Api mengaamuk membakari rumah.
Perlawanan fihak tentara Kin juga patut dipuji pantang mundur.
Namun mereka kalah banyak dan makin lama makin terdesak mundur.
Balatentara Kin makin mendekati lingkungan Istana yang sudah hampir kosong karena ditinggalkan oleh para pembesar yang sudah mengungsi lama sebelum penyerbuan terjadi.
Dalam kekecauan seperti itu balatentara Mongol tak dapat ditahan lagi.
Sebagian, mereka yang jahat dan memang tadinya orang-orang jahat seperti perampok dan lain-lain yang menggabungkan diri hanya dengan maksud mencari kesempatan, menyerbu ke dalam istana untuk mencari benda-benda berharga.
Akan tetapi beberapa orang yang?kesasar?
ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun, hanya mengantarkan nyawa karena di sana mereka disambut oleh orang-orang gagah!
Sin Hong dan isterinya juga keluar.
Di sana sini mereka merobohkan beberapa orang musuh yang sedang menyeret wanita atau sedang membakari rumah.
Melihat keadaan yang tak tertahankan lagi, Sin Hong maklum bahwa melakukan perlawanan akan sia-sia belaka.
Ia mengajak Li Hwa kembali ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun.
Ternyata di situ pun sudah terjdi pertempuran.
Wan Sun, Wan Bi Li dibantu oleh Hui Lian dan Hong Kin serta Lee Goat sedang mengamuk, dikeroyok oleh belasan orang tentara Mongol yang buas.
Sin Hong marah sekali.
Pedangnya berkelebatan dan para pengeroyok itu sebentarsaja terbasmi habis.
"Wan Sun, Bi Li, tak mungkin dapat dipertahankan lagi. Pertahanan sudah bobol, perlawanan hampir tidak ada lagi. Sebentar lagi mereka semua pasti akan menyerbu ke mari dan kita takkan dapat mempertahankan lagi. Mari kita keluar dari sini dengan jalan darah dapat kita keluar dari kepungan."
Kata Sin Hong.
"Tidak?.! Kita harus mencari ayah, Bi Li.? Wan Sun menyambar lengan adiknya.
"Mari......!"
Dan tanpa dapat dicegah lagi kakak beradik itu berlari keluar mercari ayah mereka.
Sin Hong hanya manggeleng kepala, akan tetapi diam-diam ia merasa kagum.
Kalau ia mau, tentu saja ia dapat mencegah mereka pergi dan memaksa mcreka itu ikut dengan dia menyelamatkan diri.
Akan tetapi ia tak tega berbuat demikian.
Ia tidak mau menghalangi sikap mereka yang gagah perkasa yang hendak membela ayah dan membela negara.
"Biarkan mcreka, mereka memang berhak. Kalau Thian manghendaki, mereka akan dapat lolos dengan selamat."
Kata Sin.
Hong.
Kemudian ia bersama isterinya, Hong Kin.
Hui Lian dan Lee Goat inenyerbu keluar dan membuka jalan darah ke selatan.
Pekerjaan ini bukan mudah karena di mana-mana mereka dihalangi oleh tentara Mongol yang tentu saja tidak mau melepaskan rombongan di mana ada tiga orang wanitanya yang cantik-cantik.
Akan tetapi mereka ini bukan lawan berat bagi Sin Hong dan kawan-kawannya.
Akhirnya Sin Hong berhasil membawa rombongannya melalui pintu selatan yang sudah tak terjaga lagi.
Kota raja menjadi lautan api di sana-sini bertumpukan mayat-mayat dan orang-orang terluka.
Jerit wanita-wanita diseret, orang-orang dibunuh, memenuhi udara.
"Kalian pulang dulu ke Kim-bun-to, aku akan berusaha mencari Kong Ji dan membuat perhitungan!"
Kata Sin Hong.
Li Hwa maklum bahwa suaminya lebih bebas kalau bergerak sendiri menghadapi lawan-lawan yang amat berbahaya seperti Kong Ji dan tokoh-tokoh Mongol, maka ia tidak membantah dan melanjutkan parjalanan cepat ke selatan.
Sedangkan Sin Hong barkelebat kembali ke kota raja yang geger itu.
Di mana-mana masih terdapat pertempuran mati-matian, yaitu perlawanan dari sisa-sisa pengawal dan panglima yang tidak mau menyearah kalah.
Dengan tubuh penuh luka-luka dan mandi darah, Pangeran Wanyen Ci Lun berlari terhuyung-huyung menuju ke istana sambil memondong tubuh Gak Soan Li yang juga penuh luka dan sudah pingsan.
Pangeran ini bersama anak buahnya melakukan perlawanan juga Soan Li membantunya.
Ketika memasuki istananya, beberapa orang serdadu menyerbunya.
Namun dalam keadaan terluka.
Pangeran Wanyen Ci Lun masih gagah dan setelah serdadu perampok kena dirobohkan, yang lain pada lari.
Istana itu sudah awut-awutan, barang-barang berharga sudah menjadi rebutan.
Akan tetapi Wanyen Ci Lun merasa lega karena tidak melihat anak-anaknya menjadi korban.
Ia hanya mengharapkan anak-anaknya sudah pergi bersama Sin Hong.
Setelah tiba di ruang tengah, ia tidak kuat lagi.
Darah sudah terlalu banyak keluar dari tubuhnya.
Ia roboh terguling dengan Soan Li masih dalam pelukannya.
Soan Li membuka matanya, nampaknya kaget dan takut.
Akan tetapi menjadi tenang lagi kelika melihat bahwa ia berada dalam pelukan suaminya yang duduk menyandar tembok.
"Kau....... kau gagah sekali......."
Ia memuji suaminya yang mandi darah.
Tadi ia mengamuk tanpa memperdulikan keselamatan nyawa sendiri, pada hal para pangeran dan para pembesar yang lain sudah siang-siang lari mengungsi, tak lupa membawa harta mereka.
Wanyen Ci Lun meraba pipi isterinya dengan sentuhan mesra.
"Kau pun gagah perkasa dan kau isteriku yang setia......."
Di luar suara peperangan masih ramai. Sorak-sorai suara serdadu-serdadu Mongol membuktikan bahwa pertahanan tentara Kin makin runtuh. Pangeran Wanyen Ci Lun menghela napas.
"Runtuhlah kekuasaan Kin dan sebentar lagi kalau iblis-iblis itu masuk ke sini, kita akan mati."
Akan tetapi Soan Li tidak merasa gentar.
"Tidak apa mati disampingmu."
Jawabnya.
"Suamiku, dalam saat terakhir ini, aku ingin sekali keraguanku lenyap. Jawablah, siapakah sebenarnya Wan Sin Hong itu? Begitu bertemu muka, aku merasa bahwa dahulu aku pernah bertemu dengan dia....... dan....... dia serupa benar dengan....... dengan......"
Ia tak berani, melanjutkan kata-katanya dan memandang wajah suaminya. Wanyen Ci Lun tersenyum dan mengangguk "Sama dengan Gong Lam......?"
Kini Soan Li yang mengangguk.
"Memang dia itu Gong Lam, isteriku. Mula-mula kau bertemu dengan dia. dengan Win Sin Hong yang mengaku bernama Gong Lam. Kemudian muncul iblis busuk Kong Ji yang mengaku bernama Wan Sin Hong dan kemudian mengaku bernama Gong Lam. Kau diberinya minum racun yang merampas ingatanmu. Kemudian muncullah aku yang begitu melihatmu terus jatuh cinta. Atas kehendak Wan Sin Hong, aku terpaksa mengaku sebagai Gong Lam pula untuk membantu ingatanmu yang ketika itu belum sadar betul."
Soan Li merangkul suaminya."Kau memang mulia...... dan bagaimana dengan......, dengan anak si keparat itu? Betul-betulkah ketika Hui Lian menyatakan bahwa anak itu sudah?? sudah mati?"
Pada seat itu, dari luar menerobos seorang pemuda.
Gerakannya ringan dan gesit sekali.
Ternyata dia ini adalah Liok Cui Kong yang malam kemarin datang di istana ini bersama gurunya dan berhasil menculik Leng Leng.
Pemuda ini tentu saja ikut menyerbu kota raja dan begitu tentara Mongol berhasil menguasai istana, pertama-tama yang ia lakukan adalah lari ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun, karena ia teringat akan Wan Bi Li gadis jelita yang membuat ia rindu dan gandrung itu.
Melihat Pangetan Wanyen Ci Lun duduk bersandar tembok sambil memeluk tubuh isterinya, keduanya bermandi darah dan sudah lemah sekali.
Cui Kong tertawa mengejek.
"Pangeran Wanyen Ci Lun, mana kegagahanmu? Ha-ha-ha ha, akhirnya Kerajaan Kin harus bertekuk lutut juga. Kemarin kau masih kaya raya dan menikmati kemuliaan, sekarang akan habislah semua harta benda berikut nyawa keluargamu. Ha-ha-ha!"
Gak Soan Li dan Pangeran Wanyen Ci Lun heran sekali mellhat persamaan pemuda ini dengan Liok Kong Ji, yaitu persamaan dalam gerak-gerik dan kekejamannya.
Dalam hal rupa memang berbeda, Cui Kong bahkan lebih tampan.
Akan tetapi pemuda ini benar-benar mewarisi sifat-sifat jahat dari Liok Kong Ji.
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 2
Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 2