Ceritasilat Novel Online

Tangan Geledek 8

Eps 8 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.

"Iblis kecil!, kami mati sebagai orang-orang gagah, sebagai patriot bangsa, matipun tidak menyesal, sebaliknya kau dan kawan-kawanmu hidup sebagai manusia-manusia hina. dina, sebagai orang orang Han yang tak tahu malu, panjual negara penjilat bangsa Mongol!"

"Bangsat!"

Cui song marah sekali dan melompat maju.

Huncwe digerakkan ke atas siap memukul kepala pangeran itu yang memandangnya dengan mata tak berkedip, sama sekali tidak gentar menghadapi maut.

Dia dan isterinya sudah tidak berdaya tidak ada tenaga untuk menggerakkan badan melakukan perlawanan.

Akan tetepi Cui Kong menahan huncwenya ketika teringat akan gadis jelita yang tidak ia lihat di situ.

"Bagaimanapun juga, kalau teringat akan puterimu aku jadi tidak tega membunuhmu. Eh, Pangeran Wanyen, di mana puterimu? Biarkan aku menolongnya dari bahaya. Katakan di mana dia dan puterimu itu akan hidup, terlepas dari bahaya maut dan hidup menikmati kebahagiaan dengan aku....."

"Keparat!"

Soan Li mempergunakan tenaga terakhir, melompat bangun dan menubruk dengan pedangnya. Akan tetapi sekali sampok saja pedang itu terlepas dari pegangan dan tubuh nyonya itu terpelanting ke atas lanyai.

"Huh huh, kalian memang tidak patut dibaiki. Mampuslah!"

Sambil berkata demikian, Cui Kong kembali menggerakkan huncwenya, kali ini hendak memukul kepala Soan Li.

Akan tetapi.......?

traangg......!?

huncwe itu terpental entah ke mana dan di lain detik di depan Cui Kong yang kaget sekali itu telah berdiri.......

Tiang Bu!

".......

kau.....??"

Cui Kong menjadi pucat seperti melihat setan.

Dua tahun lebih telah lewat dan ia tahu betul bahwa pemuda di depannya ini sudah mati ketika terguling ke dalam jurang.

Sekarang tiba-tiba dan dengan pukulan tangan saja mampu membikin huncwenya terlempar.

Setankah dia?

Apakah ini arwah Tiang Bu yang muncul?

Tiang Bu tersenyum dingin.

"Ya, aku Tiang Bu. Masih ingatkah kau? Cui Kong manusia jahanam, di mana-mana kau menyebar kejahatan. Benar-benar iblis seperti kau ini harus diberi hajaran keras!"

Cui Kong yang mcngingat bahwa ia berada di tempat itu sebagai pemenang dan di seluruh kota terdapat barisan Mongol dan kawan-kawannya, tiba-tiba menjadi berani dan sombong.

"Kau kita aku takut kepadamu? Terimalah ini!"

Cui Kong memukul dengan keras ke arah dada Tiang Bu.

"Blekkk.,.......!"

Bukan Tiang Bu yang roboh, melainkan Cui Kong yang terheran heran tercampur kesakitan terbayang pada mukanya.

Memang tak masuk di akal kalau ada orang dengan dada terbuka menerima pukulanaya tadi, bukan saja orang ini tidak rubuh, bahkan kepalan tangannya kini lengket pada dada tak dapat ditarik kembali.

Sebelum lenyap kagetnya, Tiang Bu menggerakkan kedua tangannya menangkap kaki dan lehernya lalu.......

tubuh Cui Kong dilemparkan jauh, nabrak meja bangku sampai bergulingan.

Baru saja Cui Kong merangkak bangun, ia sudah ditangkap lagi, dilontarkan ke atas sampai mengenai langit-langit dan jatuh menimpa meja.

"Braakkk!"

Meja itu remuk. Baiknya Cui Kong bukan orang sembarangan sehingga biarpun tubuhnya dibikin "main bal"

Oleh Tiang Bu.

namun ia hanya merasa sakit-sakit dan lecet-lecet, tidak menderita luka dalam.

Cui Kong berusaha menggunakan tenaganya memukul lagi ketika Tiang Bu dengan langkah lebar menghampirinya, akan tetapi seperti seorang dewasa melawan anak kecil, tahu-tahu pundaknya sudah dicengkeram lagi dan kembali ia dilempar.

"Buuuk...... kraak!"

Kembali beberapa bangku bergulingan dan tubub Cui Kong menjadi makin lemas.

"Tiang Bu....... tahan.......!? teriaknya terengah-engah.

"Apa kau mau membunuh saudara sendiri? ingat, ayah Liok Kong Ji adalah ayahku dan ayahmu pula, biarpun aku pernah bersalah padamu, kau tentu bisa memandang muka ayah dan mengampuninya?.."

"Aku tidak perduli...."

Kembali tubuh Cui Kong ditangkap dan dilempar, saking gemasnya dilempar keras sehingga keluar pintu.

Benar-benar Cui Kong merasa penasaran dan juga mendongkol sekali bagaimana ia diperlakukan orang seperti seekor kirik (anjing kecil) saja, ditangkap dan dilempar seperti benda mati saja.

Tiang Bu hendak menghajar lagi, akan tetapi jerit menyayat hati di dekatnya.

Ternyata Soan Li sudah bangun dan duduk dengan mata terbelalak, muka yang berlepotan darah itu pucat sekali.

"Kau...... kau anak Liok Kong Ji.....? Kau....... kau.......!"

Soan Li tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia sudab roboh pingsan lagi.

Tiang Bu melompat mendekati dan kecepatan pemuda ini luar biasa sekali sehingga ia masih dapat memegang kepala Soan Li sehingga tidak terbanting pada lantai.

Dengan lembut ia merebahkan kepala itu dan memandang wajah Soan Li dengan kasihan.

"Apa kau yang bernama Tiang Bu dan dulu ketika kecil kau ikut Coa Hong Kin dan Go Hui Lian sebagai anak mereka?"

Pertanyaan yang dikeluarkan dengan lembut ini mengejutkan Tiang Bu.

Ia menoleh dan menghampiri Pangeran Wanyen Ci Lun yang juga sudah bangun dan dengan terhuyung-huyung menghampiri isternya.

Tiang Bu sekali lompat sudah berada di dekat mereka.

"Maaf aku datang terlambat Wanyen Taijin,"

Kata Tiang Bu.

"Seharusnya dua tahun lebih yang lalu aku sudah datang mengahadap, membawa surat dari Wan Sin Hong siok-siok."

Akan tetapi Wanyen Ci Lun sudah payah keadaannya dan tidak begitu memperhatikan kata-kata anak muda itu.

Juga Soan Li yang sudah siuman kembali dan kini menyandarkan kepala pada suaminya, sudah terengah-engah napasnya.

Kedua suami isteri ini memandang kepada Tiang Bu.

"Soan Li, isteriku yang baik, inilah dia Tiang Bu, anakmu yang kau dapat secara paksa dari jahanam Liok Kong Ji itu......". kata Pangeran Wanyen Ci Lun perlahan dan suaranya mengandung penuh kasih sayang. Soan Li tersedu "Dia.......dia....... aku tidak sudi mengakuinya sebagai anak....... aku dahulu ingin membunuhnya....... tapi ah??? dia tidak berdosa.. Tiang Bu....... kau....... anakku......."

Tiang Bu menjadi pucat sekali wajahnya Sin Hong pernah berpesan kepadanya bahwa kalau ia ingin mengetahui rahasia kelahirannya ia harus datang kepada Pangeran Wanyen Ci Lun dan apa yang sekarang ia dengar dan saksikan adalah hal-hal di luar dugaannya sama sekali.

Bagaimana nyonya pangeran ini mengakuinya sebagai anak pula?

Apakah karena terluka hebat dan dalam sakratul maut nyonya ini bicara tidak karuan?

"Wanyen Taijin, kau orang yang dipercaya penuh oleh Wan siok-siok, katakanlah apa artinya semua ini?"

Tanyanya, suaranya penuh keharuan dan tubuhnya menggigil "Tiang Bu, dia inilah ibumu! Isteriku inilah ibumu yang sejati sebelum dia menjadi Isteriku."

Tiang Bu....... anak yang tadinya hendak kubunuh sendiri........ kau tidak berdosa, nak. Ampunkan ibumu.......? "Ibu......."

Tiang Bu menubruk kaki Soan Li dan membentur-benturkan jidatnya pada lantai di depan ibunya. Air matanya bercucuran. Kemudian kelihatan beringas.

"Ibu, siapa yang melukaimu seperti ini? Apakah jahanam Cui Kong tadi? Biar kuseret dia ke sini.......!"

Ia sudah melompat keluar dengan gerakan yang cepat sekali, akan tetapi tentu saja ia sudah tak dapat menemukan Cui Kong di luar.

Pemuda itu sudah menjadi gentar sekali terhadap Tiang Bu dan siang-siang sudah menyeret kakinya lari dari situ.

"Tiang Bu....... bukan....... bukan...... dia?..!"

Kata Soan Li lemah.

Mendengar kata-kata ini, Tiang Bu berlari cepat kembali ke dalam dan berlutut lagi di depan ibunya "Aku terluka karena membela suamiku melawan orang-orang Mongol.

Sudah sepatutnya kami berkorban nyawa demi negara.

Aku.....

aku girang sekali kau menjadi seorang pandai.......

syukur dulu aku tidak membunuhmu......

kau anak........

anakku......."

Sampai di sini Soan Li tidak kuat lagi dan menghembuskan napas terakhir dalam pelukan suaminya yang juga sudah lemah sekali kehabisan darah.

"Taijin, katakan siapa sebenarnya ayahku,?.."

Tiang Bu mengeraskan hatinya supaya tidak menangis menghadapi ibunya yang telah tewas. Baru saja ia ditemukan dengan ibu kandungnya, ia telah ditinggal lagi untuk selamanya.

"Ayahmu....... ayahmu......."

Pangeran Wanyen Ci Lun tak dapat melanjutkan kata-katanya karena saking sedihnya melihat isterinya mendahuluinya, pangeran ini menjadi lemas dan tidak ingat diri! "Taijin....... Taijin.......!"

Alan terapi pada saat itu dari liar terdengar suara hiruk pikuk dan menyerbulah sepasukan tentara Mongol, dua puluh orang banyaknya.

Mereka adalah sebagian dari pada tentara Mongol yang mulai merampoki habis istana-istana di lingkungan istana kaisar itu.

Gedung Pangeraa Wanyen amat besar dan indah, maka saking gembira mereka bersorak-sorak.

sama sekali tidak mengira bahwa masih ada orang berani berada di gedung itu.

"Setan-setan keji, kalian mau apa? Mundur!"

Bentak Tiang Bu dengan suara menyeramkan.

Akan tetapi seorang pemuda seperti Tiang Bu ini, mana ditakuti oleh mereka?

Sambil tertawa-tawa seakan-akan sikap pemuda itu lucu sekali, mereka menyerbu.

Akan tetapi suara ketawa mereka itu segera berubah menjadi jerit dan pekik kesakitan, bahkan pekik kematian ketika sekali pemuda itu berkelebat, mereka menjadi sungsang sumbel dan terlempar dengan kepala remuk, kaki tangan patah atau dada pecah!

Setelah merobohkan lima orang sekaligus, Tiang Bu melompat ke dekat Wanyen Ci Lun lagi, takut kalau-kalau pangeran ini akan tewas sebelum memberi keterangan kepadanya.

Melihat pengeran itu sudah empas-empis ia bertanya di dekat telinganya.

"Wan Taijin. ini aku Tiang Bu bertanya kepadamu. Siapakah sebetulnya ayahku?"

Bibir Wanyen Ci Lun begerak-gerak.

akan tetapi pada saat itu, enam orang serdadu Mongol menyerbu dengan golok mereka.

Tiang Bu menggerakkan kedua kakinya dan empat orang roboh.

Yang dua nekad membacok terus akan tetapi tangan Tiang Bu bergerak mereka roboh dengan leher hampir putus terbacok oleh golok sendiri.

"Taijin, siapakah ayahku......?"

Dengan pengerahan tenaga terakhir. Wan-yen Ci Lun menjawab berbisik.

"Ayahmu..... Liok Kong Ji...... ibumu Gak Soan Li ini ....... ketika masih gadis.....menjadi,....,. korban kakejian Liok Kong Ji.... kaulah keturunannya......."

Tiba tiba wajah Wanyen Ci Lun berubah beringas dan ia memaki-maki dengan suara keras.

"Kong Ji iblis bermuka manusia! Kejahatanmu sudah bertumpuk-tumpuk. dosamu akan menyeretmu ke neraka jahanam.......!"

Pangeran itu menjadi lemas dan menghambuskan nafas terakhir di samping tubuh isterinya.

Tiang Bu menjadi makin pucat.

Tak terasa lagi kedua kakinya lemah dan seperti lumpuh.

Tubuhnya menggigit, air mata membanjir turun.

Jantungnya serasa ditusuk-tusuk.

Dia putera seorang penjahat besar, anak seorang yang berwatak iblis, keji dan kejam.

Dia terlahir dari perhubungan yang tidak sah, bahkan dari penumpahan nafsu binatang yang serendah-rendahnya di mana manusia iblis itu mempermalukan ibunya yang tidak berdosa.

"Aku bunuh dia.....! Aku akan bunuh dia.....! Ahhhh..... dia...... ayahku.... Thian Yang Maha Kuasa, apa yang harus kulakukan??..??"

Dengan bimbang dan sedih Tiang Bu menangis di dekat janazah ibunya.

Teringat ia akan peristiwa yang menimpa dirinya dilempar ke dalam jurang oleh Cui Kong yang jahat, putera angkat Liok Kong Ji.

Seperti telah dituturkan di bagian depan.

Tiang Bu yang di luar tahunya terpengaruh oleh hawa beracun katak pembangkit asmara, ditambah pula oleh dorongan yang sudah mengeram di dalam darahnya roboh di bawah kekuatan Cui Lin dan Cut Kim, dua gadis jalita yang mempergunakan kecantikan mereka untuk mengalahkannya.

Kemudian, dalam keadaan lemas dan tubuh penuh hawa racun katak itu Tiang Bu tidak berda ya sama sekali, kedua kalinya dirusak oleb Cui Kong yang mematahkan tulang-tulang kaki itu kemudian dilempar ke dalam jurang.

Kalau saja tidak kebetulan ada pohon yang menahannya dan dapat dipeluknya, tentu, tubuh pemuda itu akan terbanting ke dasar jurang dan hancur binasa.

Sampai tiga hari tiga malam Tiang Bu tidak mampu bergerak.

Tubuhnya sakit dan panas.

Tenaga dari hawa sinkangnya sudah hampir habis sehingga tubuhnya lemah sekali.

Baiknya ia teringat akan bekal obat-obatan yang masih disimpan di saku bajunya.

Obat-obat pemberian dari Wan Sin Hong.

Dengan pengetahuannya tentang ilmu pengobatan, Tiang Bu yang kini sudah sudar akan keadaan dirinya itu mengambil beberapa buah pel dan ditelannya pel-pel itu secara berturut-turut dalam tiga hari.

Keadaannya banyak baik.

Setelah kedua tangannya bertenaga lagi, ia mulai membenarkan tulang kakinya yang patah oleh pukulan huncwe Lui Kong.

Ia telah mendapat pelajaran kilat dari Sin Hong tentang cara menyambung tulang patah, kepandaian khusus dan istimewa ini adalah warisan dari Raja Obat Kwa Siucai guru Sin Hong, maka berbeda dengan cara penyambungan tulang biasa.

Dalam waktu sembilan hari saja tulang-tulang itu sudah tersambung sendiri berkat dan cara penyambungan yang istimewa ini.

Selama beberapa hari itu, Tiang Bu hanya mengisi perutnya dengan daun-daun dan rumput kemudian denpan girang sekali ia mendapat kenyataan bahwa pohon yang telah menolong nyawanya itu adalah pohon yang berbuah dan buahnya enak dimakan pula.

Makin terjaminlah perutnya dan ia kembali tertolong oleh pohon itu dari bahaya kelaparan.

Akan tetapi orang tidak nungkin dapat hidup dari daun-daun, rumput, dan sedikit buah melulu, maka setelah kedua kakinya dapat digerakken mulailah Tiang Bu menyelidiki tempat itu, mencari jalan ke luar.

Sebelum ia pergi jauh, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari atas jurang, dan muncul kepala seorang laki.laki.

Tiang Bu memandang dan merasa kaget serta heran sekali karena orang itu bukan lain adalah Liok Kong Ji!

"Tiang Bu, kau di situ........?"

Terdengar Kong Ji berseru sambil melongok ke bawah.

"Kau mau apa mencariku?"

Jawab Tiang Bu ketus. Ia benci kepada orang yang mengaku sebagai ayahnya ini, apa lagi ia moderita celaka karena tiga orang muda yang menjadi kaki tangan Liok Kong Ji.

"Syukur kau math hidup! Kalau kau dibunuhnya aku tidak akan mengampuni Cui Kong."

Setelah berkata demikian.

dengan gerakan lincah dan gesit Liok Kong Ji melompat-lompat, terus turun ke dalam jurang menghampiri Tiang Bu yang memandang dengan penuh perhatian.

Ginkang orang ini hebat juga, pikirnya.

Mereka berhadapan.

Ayah dan anak.

Kong Ji memandang penuh perhatian dan tertarik.

Tiang Bu memandang dan merasa sebal.

"Kau mau apa datang ke sini? Mau bunuh aku? Cobalah!"

Kata Tiang Bu, biarpun tubuhnya masih belum sehat benar ia sudah siap menghadapi pertempuran terakhir.

Kong Ji tersenyum dan menatap sepasang mata pemuda yang tajam sekali itu dengan matanya yang juga sama tajamnya.

Wajah dua orang ini jauh sekali perbedaannya, akan tetapi kalau orang memperhatikan sinar mata mereka akan nampaklah persamaan yang luar biasa.

Mata yang tajam sinarnya, tajam gesit membayangkan kecerdasan otak luar biasa.

Hanya bedanya.

kalau mata Kong Ji membayangkan kekejaman, adalah mata Tiang Bu membayangkan kehalusan budi.

"Tiang Bu, agaknya kau masih belum mau mengaku bahwa aku ini ayahmu yang sejati. Padahal kau memang betul anakku bukankah kau sudah mendengar sendiri dari Wan Sin Hong yang tidak menyangkal bahwa kau adalah puteraku? Anak yang baik, kau tidak percaya padaku memang pantas karena kita tidak pernah bertemu, akan tetapi apakah keterangan Wan Sin Hong masih belum kaupercayai? Tiang Bu, kau hanya mempunyai seorang akulah orangnya. Dan puteraku di dunia ini hanya seorang, kaulah orangnya!"

"Hmm, setahuku anakmu banyak. Ada Cui Kong, ada...... ada yang lain-lain."

Tiang Bu tidak dapat menyebut nama Cui Lin dan Cui Kim.

Jangankan menyebut nama dua orang gadis itu, teringat kepada mereka saja sudah mendatangkan rasa malu yang luar biasa besarnya.

Kalau bisa ia ingin melupakan dua orang gadis itu selama hidupnva, ingin malenyapkan mereka dari ingatannya.

"Aah, mereka itu hanya anak-anak angkat atau murid-murid. Cui Kong menjadi anak angkatku baru beberapa tahun ini. Dia anak yatim piatu yang berbakat baik maka kuangkat menjadi puteraku. Ini terjadi sebelum aku tahu bahwa kau masih hidup. Akan tetapi sekarang ada kau, yang lain-lain tidak masuk hitungan. Tentang Cui Lin dan Cui Kim..... mereka itu biarpun kuangkat menjadi anak-anakku, sebetulnya mereka itu akan menjadi bini-bini mudaku. Akan tetapi sekarang aku tahu bahwa kau cinta kepada mereka. Tidak apa, aku mengalah. Dua orang gadis cantik itu biar kuberikan kepadamu. Mari kau ikut dengan aku, Tiang Bu. dan dua orang gadis itu, Cui Lin dan Cui Kim, biar melayanimu untuk selamanya atau selama kau masih suka kepada mereka......."

"Tutup mulut dan pergilah!"

Tiang Bu membentak marah. mukanya berubah marah sekali. Ucapan yang keluar dari mulut orang ini benar-benar membuat ia merasa muak perutnya.

"Aku tidak percaya bahwa aku anakmu. Aku tidak sudi punya ayah seperti engkau!"

Kong Ji tersenyum getir.

"Kausudah terlalu lama hidup di antara orang-orang yang memusuhiku, sehingga tertanam kebencian terhadapku di dalam dadamu. Baik juga kau merasai hukuman di sini agar dapat merubah pendirianmu yang keliru itu. Mana ada anak membenci bapaknya? Kalau aku mempunyai anak lain, tentu sekali pukul aku dapat bikin mampus kau. Akan tetapi anakku hanya kau seorang sedapat mungkin hendak kuperbaiki watakmu. Biar kau bertapa di sini sampai kau mengakui aku sebagai ayahmu, ikut dengan aku sebagai anak berbakti. hidup mulia dan bahagia di Ur-liok-lim seperti seorang pangeran. Sebelum kau mau mengaku, jangan harap kau bisa keluar dari sini.? Setelah berkata demikian, Kong Ji melompat lagi dan ke luar diri jurang itu. Ketika Tiang Bu yang mengikuti gerakan-gerakannya melihat Kong Ji sudah keluar dari jurang, ia melihat belasan orang berpakaian serdadu menjaga di pinggir jurang siap untuk menghalangi ia keluar! Memang mudah saja kalau orang mau mencegah ia keluar. Dengan melemparkan batu ke bawah, biarpun kepandaiannya tinggi takkan mungkin ia dapat keluar dari jurang yang terjal itu. Akan tetapi Tiang Bu tidak kehilangan akal. Ia mulai menyelidiki keadaan lereng jurang yang seperti anak gunung tingginya itu. Akhirnya penyelidikannya berhasil. Di antara batu-batu karang yang terjal. ia melihat sebuah gua yang lebarnya hanya paling banyak satu meter segi empat. Ia merayap dan dengan susah payah akhirnya ia dapat masuk dan duduk di dalam gua melepaskan kelelahannya. Kini mendapatkan tempat terlindung dari hujan dan angin atau panas matahari. Diraba-rabanya saku bajunya. Bagus, kitab-kitabnya dari Omei-san ternyata masih ada berikut ohat-obatnya. Agaknya dua orang gadis tidak berani mengambil kitab-kitabnya selama mereka masih menjadi?kekasihnya?. Hanya peti kecil berisi katak itu saja yang terampas. Juga kiranya dalam keadaan tergesa-gesa, Cui Kong tidak memeriksa isi sakunya. kalau kitab-kitab Omei-san itu sampai terjatuh ke dalam tangan Cui Kong, celaka! Setelah lelahnya berkurang, Tiang Bu merayap makin dalam. Ternyata gua kecil itu adalah sebuah terowongan. Ia merayap terus di dalam gelap membawa setangkai kayu untuk dipakai melindungi diri, kalau-kalau di depan ada sesuatu yang menyerangnya. Terowongan itu panjang dan berliku-liku, sukar diukur berapa panjangnya, hanya Tiang Bu merayap sudah cukup lama ketika ia tiba di sebuah jalan buntu. Terowongan itu berhenti di tepi sebuah sumur! Sumur ini hanya dapat ia ketahui atau duga-duga dengan meraba-raba saja karena keadaan gelap Melihat jari tangan di depan mata sendiri saja tidak kelihatan. Tiang Bu makin tertarik dia ingin tahu. Dengan pengerahan tenaga yang masih ada padanya. ia mencabut batu kecil dari dinding karang dan melempar ke bawah. Tidak ada air di bawah, juga tidak terlalu dalam. Hanya lima kali ia menghitung, batu kecil itu sudah mengenai dasar sumur berdebuk seperti jatuh di atas tanah yang lunak. Tiang Bu berlaku nekad, mengerahkan sinkangnya dan merosot turun. Ia meluncur ke bawah dan tepat seperti sangkaannya. Sumur itu tidak dalam dan dasarnya bukan batu karang melainkan tanah lempung. Ketika ia meraba-raba di sebelah kiri kembali ada lubang, bentuknya bundar, bergaris tengah satu meter. Dan yang membuat hati Tiang Bu berdebar tegang, adalah sinar terang yang samar samar ia lihat di ujung sana ketika ia melongok ke dalam terowongan baru ini. Akan tetapi hanya kelihatan samar samar saja. Cepat ia merayap lagi melalui lubang ini. Ia tertipu sinar samar-samar yang dilihatnya itu cahaya yang datang dari jauh, karena kembali ia tiba di tikungan. Terowongan ini tidak saja berliku-liku akan tetapi juga naik turun dan dua kali panjang terowongan pertama. Tanpa mengenal lelah Tiang Bu merayap terus. Keadaan terowongan makin lama makin terang dan akhirnya, dengan napas terengab-engah, tibalah ia di sebuah ruangan dalam tanah yang lebar dan lega seperti sebuah kamar. Di atas terdapat lubang-lubang di antara batu-batu karang dari mana sinar matahari masuk. Dan di bawah terdapat lubang merupakan sungai-sungai kecil di mana air hujan yang masuk dari alas terus mengalir ke bawah, tidak sampai membanjiri ruangan. Melihat bentuk dinding ruangan, tak salah lagi bahwa tempat ini adalah buatan alam dan sama sekali belum pernah dijamah tangan manusia atau diinjak kaki manusia. Ketika Tiang Bu merayap naik melalui dinding sebelah kiri yang agak mendoyong, melalui sebuah lubang yang cukup besar ia keluar atas ruangan itu dan ternyata tiba di sebuah lereng gunung yang penuh dengan tetumbuhan segar. Bukan main girangnya dan diam-diam ia menertawai Liok Kong Ji yang menyuruh orang menjaga di pinggir jurang. Di dalam ruangan itu Tiang Bu menggembleng dirinya lagi. Untuk mengembalikan sinkang yang sudah meninggalkan tubuhnya selama ia bermain gila dengan dua orang gadis cabul itu, ia harus melatih diri keras-keras dan tanpa mengenal lelah. Siang malam bersamadhi mengatur napas, dan melatih ilmu dari kitab-kitabnya, Seng.thian-to, Thian te-Shi-keng, dan Kiang-liong-kun-hwat. Ia melatih diri sungguh-sungguh dan dengan tekun sekali, bahkan menghafal semua isinya di luar kepala. Ia ingin memindahkan semua kitab ke dalam kepala kemudian hendak membakar kitab-kitab itu agar jangan sampai terjatuh ke tangan orang-orang jahat. Oleh karena belajar seoring diri dengan tekun kadang-kadang mendatangkan keisengan, dan pula membalik-balik lembaran buku untuk mempelajari tiap jurus merupakan hal yang melelahkan juga, tanpa disengaja Tiang Bu menggunakan jari telunjuknya untuk melukiskan tiap gerakan di atas dinding ruangan batu itu. Setelah melatih diri dengan amat tekun dan prihatin, pemuda ini mendapat kembali kekuatannya, bahkan setelah ilmu Seng-thian-to dan Thian-te Si-keng ia pelajari sampai tamat tenaga lweekangnya meningkat cepat dan sinkang di tubuhnya bertumbuh cepat. Ia memerlukan waktu setahun lebih untuk menghafal tiga kitab itu, lalu dibakarnya sampai menjadi abu semua. Akan tetapi sebagai penggantinya di dinding gua itu terdapat lukisan-lukisan tiap jurus dari ilmu silat tinggi dan luar biasa. Thian-te Si keng dan Seng-thian-to sama sekali tidak mengajarkan ilmu silat. Akan tetapi di dalam tiap sajak itu bersembunyi gerakan yang harus dimengerti sendiri. Tiang Bu yang selain memiliki dasar ilmu silat tinggi dari Omei-san, juga memiliki bakat dan kecerdikan luar biasa, dapat menangkap maksud-maksud tersembunyi dalam sajak ini dan dapat menciptakan gerakan silat jurus-jurus ilmu silat yang tiada bandingannya di dunia ini. Girangnya bukan main karena baru sekarang terbuka matanya dan ia betul-betul dapat mengisap sari pelajaran dari dua macam kitab itu. (Lanjut ke

Jilid 22) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 Inilah sebabnya mengapa ia terlambat datang di kota raja dan ketika ia akhirnya meninggalkan gua itu pergi ke kota raja, ia melihat kota raja sudah diserbu oleh balatentara Mongol.

Dengan amat kaget pemuda ini ikut menyerbu masuk, morobohkan setiap orang serdadu Mongol yang hendak menghalanginya.

Cepat ia menyelidiki dan akhirnya ia berhasil menemukan istana Pangeran Wanyen Ci Lun.

Akan tetapi kedatangannya terlambat, pangeran itu bersama isterinya sudah tewas.

Namun masih belum terlambat bagi Tiang Bu untuk bertemu dengan ibunya, Gak Soan Li, dan mendengar keterangan yang menusuk hatinya dari Pangeran Wanyen Ci Lun bahwa memang betul dia adalah anak dari Liok Kong Ji.

Dewikianlah perjalanan Tiang Bu semenjak dia terjerumus ke dalam jurang sampai ia muncul di kota raja yang sedang geger itu.

Kemudian, di antara asap dan api yang membakar kota raja dan di artara pertempuran-pertempuran yang masih juga belum padam, berkelebat bayangan seorang pemuda yang memondong tubuh seorang wanita yang sudah mati.

Gerakan pemuda ini luar biasa cepatnya dan sebentar saja ia sudah keluar dari kota raja yang menjadi neraka itu, terus lari ke selatan sambil memondong mayat itu.

Pemuda ini adalah Tiang Bu yang memondong jenazah ibunya, Gak Soan Li.

Sementara itu, di lain bagian dari lingkungan istana, Wan Sun dan Wan Bi Li mengamuk dikoroyok oleh banyak panglima Mongol, Wan Sun menggerakkan pedangnya dengan ganas, akan tetapi, lebih ganas lagi adalah Wan Bi Li yang tangan kanan mainkan pedang tangan kiri mainkan seekor ular!

Sudah banyak pengeroyok yang roboh binasa oleh dua orang muda murid Ang-jiu Mo-li ini.

Sementara itu, tidak jauh dari mereka Kwan Kok Sun dan beberapa orang panglima lain mengamuk secara nekad dan mati-matian.

Lawan juga amat kuat karena di antara mereka terdapat Pak-kek Sam-kui yang berkepandaian tinggi.

Kwan Kok Sun sudah terdesak hebat dan terluka pundaknya, sedangkan Bi Li dan Wan Sun yang kepandaiannya lebih tinggi juga tak dapat membantunya karena dua orang muda ini sendiri terkurung oleh musuh yang banyak jumlahnya.

Beberapa jurus kemudian, setelah dengan nekad merohohkan dua orang pengeroyok dengan pululan Hek-tok-ciang yang lihai.

Kwan Kok Sun juga roboh terkena pukulan tangan Giam-lo-ong Ci Kui sehingga ia terbanting pingsan dengan kepala luka-luka berat.

"Semua minggir, biarkan kami bertiga menangkap dua orang muda liar ini,"

Seru Sin-sai-kong Ang Louw yang merasa penasaran melihat orang-otangnya tidak mampu merobohkan Bi Li dan Wan Sun.

Tentu saja perintah ini diterima dengan girang oleh para panglima Mongol.

Mereka segera mengundurkan diri dan diam-diam pergi dari situ untuk meIakukan pekerjaan yang lebih menguntungkan dan menggembirakan, yaitu merampok istana.

Tak lama kemudian tinggal Pak-kek Sam-kui yang bertempur melawan Bi Li dan Wan Sun.

Pak-kek Sam-kui adalah tokoh-tokoh dari utara yang memiliki kepandaian tinggi.

Akan tetapi menghadapi dua orang muda ini, mereka tidak dapat mengalahkan dengan mudah.

Bi Li dan Wan Sun adalah murtd-murid; Ang-jiu Mo-li dan Wan Sun sudah mewarisi ilmu dari Omei-san pula, yaitu Kwan-im cam-mo biarpun belum sempurna betul, demikian pula Bi Li.

Bahkan akhir-akhir ini Bi Li mewarisi ilmu-ilmu yang lihai dari Kwan Kok Sun.

Maka dapat dibayangkan betapa hebat dan serunya pertempuran itu yang hanya disaksikan oleh mayat-mayat bergelimpangan di sekitar tempat itu.

Malam telah mulai surut dan fajar sudah menjelang datang.

Perlawanan pihak Kin sudah mulai habis, sebagian besar terbunuh, ada yang tertawan, dan hanya sebagian kecil saja berhasil melarikan diri menerobos pintu belakang.

Akhirnya Bi Li dan Wan Sun terdesak juga oleh Pak-kek Sam-kui yang lihai.

Kalau hanya seorang lawan seorang, kiranya dua orang muda ini takkan kalah.

Akan tetapi sekarang mereka berdua menghadapi tiga orang lawan yang sudah ada kerja sama yang amat kompak, maka perlahan akan tetapi tentu mereka berdua terdesak mundur dan terkurung rapat.

"Pak-kek Sam kui jangan menghina orang-orang muda!"

Terdengar seruan keras dan sinar pedang yang gemilang menyambar, membuat tiga orang itu kaget sekali.

Ketika Ci Kui melihat bahwa yang datang itu adalah Wan Sin Hong yang memegang Pak-kek-sin-kiam, ia menjadi gentar.

Apalagi ketika menengok ke sana ke mari tidak melihat seorangpun kawan kecuali mereka bertiga.

Sin Hong tidak membuang banyak waktu dan menggerakkan pedang menyerang Pak-kek Sam-kui.

Sementara itu ketika melihat bahwa yang datang adalah Wan Sin Hong yang gagah perkasa, Wan Sun menjadi lega dan segera mengajak Bi Li melihat keadaan Kwan Kok Sun yang sudah menggeletak mandi darah.

Wan Sun berlutut dan melihat Kwan Kok Sun sudah empas empis napasnya dan matanya memandang ke arah Bi Li penuh peraaaan, cepat bertanya.

"Suhu, harap suhu suka membuka rahasia Li-moi??.!"

Sebagai seorang tua, Kwan Kok Sun tentu saja menjadi maklum dan gerak-gerik Wan Sun selama ini.

Pemuda ini mencinta puterinya, tak salah lagi.

Dan sekarang tentu Wan Sun ingin Bi Li mendengar bahwa mereka bukan saudara kandung.

"Bi Li, datanglab dekat. Ayahmu takkan lama lagi......"

Bi Li mempunyai perasaan sayang yang yang ia mengerti terhadap ayah angkatnya ini. Mungkin karena sikap Kwan Kok Sun amat sayang kepadanya maka gadis ini membalasnya.

"Gihu, (ayah angkat), mari kutolong kau keluar dari tempat ini dan berobat, kau akan sembuh??.,"

Katanya terharu.

"Bi Li, anakku sayang........? Kwan Kok-Sun memegang tangan anaknya.

"dengar baik-baik. Aku tertuka berat, hanya untuk meninggalkan pesan ini aku menguatkan diri. Kau..... kau adalah anakku yang sesungguhnya....... Ibumu telah meninggal dunia...... ketika kau masih kecil sekali, aku....... aku menitipkan kau pada Pangeran Wanyen Ci Lun. Mereka itu adalah orang tua pungut, akulah sebenarnya ayahmu??."

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Bi Li, kaget dan kecewa.

Ia tadinya mengira senang puteri bangsawan, tidak tahunya dia adalah anak Kwan Kok Sun yang ia tahu dahulunya adalah orang jahat.

Dengan muka pucat ia memandang ayahnya yang makin pucat dan lemah dan dengan mengeluarkan jerit tertahan Kwan Kok Sun menghembuskan nafas terakhir dengan tangan Bi Li masih dalam genggamannya.

Bi Li merenggutkan tangannya, berdiri dengan kaki gametar, lalu......

ia lari cepat pergi dari situ!

"Li-moi.......

kau mau ke mana?..??"

Wan Sun mengejar, akan tetapi enam orang panglima Mongol yang kebetulan lewat di situ segera menyerangnya dengan hebat sehingga terpaksa ia melawan.

Sementara itu, Bi Li sudah lenyap dari pandangan mata.

Enam orang panglima Mongol ini memiliki kepandaian yang lumayan juga sehingga dengan susah payah setelah bertempur lama baru Wan Sun dapat merobohkan seorang lawan.

Akan tetapi hampir saja pahanya kesetempet golok, baiknya pada saat itu muncul Wan Sin Hong lagi.

Ternyata bahwa Pak-kek Sam-kui tidak kuat melawan Sin Hong dan larilah mereka sambil membawa luka pada pangkal lengan Giam-lo-ong Ci Kui.

Sin Hong juga tidak mengejar karena ia melihat Wan Sun dikeroyok dan cepat ia membantunya.

Tiga orang pengeroyok roboh pula oleh Sin Hong.

Yang lain cepat lari.

"Wan Sun. mari kita pergi. Di mana Bi Li?"

"Dia sudah lari, entah ke mana........"

Jawab Wan Sun sedih. Dari luar terdengar kaki banyak orang mendatangi.

"Wan Sun. cepat pergi!"

Sin Hong menyambar lengan orang dan di lain saat ia telah membawa pemuda itu melompat ke atas genteng.

Wan Sun kagum sekali melihat kehebatan kepandaian pamannya ini, maka tanpa banyak cakap lagi iapun mengikuti Sin Hong melarikan diri.

Di atas genteng tidak terdapat banyak rintangan karena para serdadu Mongol sedang senang-senang merampoki istana di bawah.

Juga di pintu gerbang sebelah barat tidak terdapat banyak rintangan sehingga Sin Hong dan Wan Sun dapat melarikan diri dengan mudah.

Karena tidak tahu ke mana perginya Bi Li dan Sin Hong berjanji ketak akan bantu mencari, akhirnya dengan hati berat dan sedih karena berita tentang kematian ayah bundanya, pemuda ini ikut dengan Sin Hong ke Kim-bun to.

Memang Sin Hong tadinya datang ke istanu Pangeran Wanyen Ci Lun, akan tetapi ia terlambat.

Yang dilihatnya hanyalah jenazah pangeran itu saja, sedangkan Gak Soan Li tidak melihat ke mana perginya.

Namun, kalau Wanyen Ci Lun tewas, kecil sekali kemungkinannya Soan Li akan selamat.

Ia tadinya hendak membawa pergi jenazah Wanyen Ci Lun, akan tetapi kemudian is teringat akan kata-kata pangeran itu bahwa mati hidup ia akan tinggal di kota raja.

Akhhirnya ia meletakkan jenazah itu di atas bangku dan menutupinya dengan sehelai kain hijau yang dirobeknya dari dekat pintu besar.

Kemudian ia pergi.

Kepada Wan Sun ia menceritakan bahwa Pangeran Wnnyen Ci Lun sudah gugur sebagai orang gagah dan ibunya entah pergi ke mana, akan tetapi sedikit harapan selamat melihat keadaan di istana yang sudah rusak itu.

Dapat dibayangkan betapa sedihnya hati Wan Sun.

Ayahnya meninggal dunia tanpa ada yang dapat merawat jenazahnya.

Ibunya lenyap tidak ketahuab bagaimana nasibnya, Bi Li juga entah ke mana.

Di sepanjang perjalanan ke Kim-bun to.

Wan Sun hanya menundukkan kepala saja mendengarkan kata hiburan Wan Sin Hong.

Kadang-kadang ia menarik napas panjang dan kadang-kadang jarang sekali ia mengusap air mata yang jatuh berderai di atas pipinya.

Di mana-mana pergerakan Jengis Khan ke selatan menemui perlawanan rakyat yang gigih.

Orang-orang gagah di seluruh penjuru bangkit memimpin rakyat melakukan perang gerilya.

Karena orang-orang seperti Liok Kong Ji dan lain-lain meninggalkannya dan merasa bosan menghadapi rongrongan rakyat, perhatian Jengis Khan beralih ke barat.

Ia menarik semua pasukannya, mengumpulkan kekuatan dan bagaikan gelombang banjir yang dahsyat dan tak terbendung bala tentara Mongol mulai menyerbu ke barat.

Mula-mula Sin-kiang diserbu, lalu terus menaklukkan Iran, Afghanistan, bahkan dari Iran Utara mereka menyerbi Rusia Selatan melalui Peguuungan Kaukasia.

Puluhan laksa orang dibunuh, kota-kota dibakar, dihancurkan oleh bala tentara yang maha hebat ini.

Sementara itu, kerajaan Kin yang tiba-tiba ditinggal pergi musuhnya ini mulai lagi membangun kota yang sudah rusak.

Akan tetapi semangat mereka sudah patah-patah dan Karajaan Kin sudah tidak semakur dahulu.

Apalagi karena orang-orang besar seperti Pangeran Wanyen Ci Lun sudah tidak ada lagi.

Betapapun juga, setelah tidak ada gangguan dari bala tentara Mongol keadaan di dalam negeri menjadi aman kembali.

Orang berdagang seperti biasa dan scbentar saja keramaian menjadi pulih kembali.

Orang sudah hampir melupakan perang kalau saja di sana sini tidak nampak sisa-sisa tumpukan puing, tanda bahwa belum lama ini perang mengganas.

Pada suatu pagi yang cerah di kota Si-yang yang terletak di perbatasan Propinsi Shensi dan Honan, di sebelah selatan Sungai Kuning yang membelok dari utara ke timur.

Kota Si-yang adalah kota ramai, karena adanya Sungai Kuning membuat lalu lintas perdagangan hidup.

Apa lagi di situ adalah kota di perbatasan antara dua propinsi, mika orang-orang dari ke dua wilayah pada datang untuk berdagang.

membuat kota itu makin lama menjadi makin besar penuh dengan hotel-hotel dan restoran-retoran untuk melayani para tamu pedagang dari luar kota.

Semenjak orang-orang Mongol menyerbu dari utara dan orang-orang gagah dari hutan dan gunung bermunculan, orang-orang tidak merasa heran dan aneh lagi melihat orang-orang kang-ouw yang ganjil, baik roman muka, pakaian maupun sikap mereka.

Akan tetapi apa yang dilihat orang pada pagi hari itu di dalam sebuab restoran terbesar di kota Si-yang, benar-benar membuat para tamu restoran lari cerai.

berai dan para pelayan restoran berdiri melongo dengan muka pucat dan kaki gametar ketakutan.

Mula-mula orang ini tidak mendatangkan rasa takut sama sekali bahkan banyak mata diarahkan kepadanya dengan kagum dan penuh gairah.

Dia seorang gadis muda yang cantik sekali, cantik manis wajahnya, dengan bentuk tubuh yang indah tercetak oleh pakaiannya yang ketat.

Lekuk lengkung tubuh yang menunjukkan kedewasaan, bagaikan setangkai bunga cilan yang baru mulai mekar.

Namun tak seorangpun berani memperlihatkan sikap atau mengeluarkan kata-kata sembrono oleh karena sikap si cantik ini amat gagcah, apalagi gagang pedang yang tersembul di balik bajunya membisikkan bahwa gadis jelita ini-pun adalah seorang gadis kang-ouw yang gagah perkasa dan berbahaya.

Mula-mula gadis ini hanya duduk dan minta pesanan arak dan bakmi serta beberapa macam kueh basah.

Akan tetapi, ketika arak dihidangkan dan ia mulai minum, sedangkan semua mata di kerlingkan ke arahnya, tiba-tiba muncul ular-ular berbisa yang galak dan mengerikan, keluar merayap dari dalam baju gadis itu.

Makin lama makin banyak ular ke luar, ada yang merayap dan mengalungi leher si cantik, ada yang membelit-belit kaki, ada yang membelit tangan dan ular-ular itu menjilat-jilat arak dari cawan yang dipegang olehnya!

Ular-ular itu biarpun nampat jinak, akan tetapi maras mendesis-desis dan kelihatan galak sekali ketika melihat orang lain.

Melihat ini, para tamu merasa ngeri dan larilah mereka keluar dan restoran itu, berbisik pada orang-orang yang berada di luar restoran.

"Ada siluman ular.....!"

Para pelayan tidak berani mendekat, karena ular-ular itu nampaknya siap menyerang siapa saja yang mendekati gadis itu dan semua orang dapat melihat bahwa ular-ular itu adalah binatang-binatang berbisa yang paling berbahaya.

Pada saat itu, dari luar restoran terdengar suara laki-laki yang tenang dan lembut.

"Aah, kalian mengingau. Mana ada siluman muncul di pagi hari?"

Tak lama kemudian dari luar masuklah seorang pemuda dengan langkah tenang. Begitu ia memandang dan melihat gadis itu, ia mengeluarkan seruan girang.

"Aah, kiranya kau, nona Wanyen......!"

Pemuda itu bukan lain adalah Tiang Bu.

Tadi ketika ia sedang berjalan, ia mendengar bisikan-bisikan mereka yang lari keluar dari restoran.

Tentu saja ia merasa tertarik sekali mendengar ada "siluman ular?

di dalam restoran, maka cepat ia memasuki restoran itu dan melihat bahwa ying disebut?

siluman ular?

itu bukan lain adalah Wan Bi Li.

Maka dengan girang ia menegur dan dalam kesederhanaannya tanpa banyak sungkan lagi Tiang Bu lalu menyeret sebuah bangku duduk menghadapi nona itu.

Melihat pemuda ini duduk menghadapi nona aneh itu dan sama sekali tidak kelihatan takut akan empat ekor ular yang kini semua mengulurkan kepala kepadanya dengan garang, para tamu yang tadinya masih ragu-ragu sekarang pergi semua, Bahkan para pelayan juga menjauhkan diri, berdiri berkelompok sambil berbisik-bisik.

Dengan tenang Bi Li memandang kepada Tiang Bu, cawan arak masih di tangan kirinya, dan ia berkata dingin.

"Aku bukan nona Wanyen!"

"Aah, harap jangan main-main nona Wan-yen. Aku mengenalmu, bahkan dulu di Omni-san kita sudah pernah bertemu. Aku Tiang Bu dan....... dan sesungguhnya diantara kita masih ada tali persaudaraan. Kita ini masih saudara tiri nona satu ibu lain ayah."

"Sudah kukatakan, aku bukan keluarga Wanyen. Ayahku Kwan Kok Sun yang berjuIuk Tee-tok (Racun Bumi), kongkongku yang berjuluk See-thian Tok-ong (Raja Racun dari barat). Apa kau tidak lekas lari minggir ketakutan seperti orang-orang itu?"

Bi Li bersikap angker, hendak mematut diri dengan sebutan-sebutan menyeramkan dari ayah dan kongkongnya itu. Biarpun Tiang Bu merasa heran mendengar ini namun ia tidak takut. Ia bahkan tersenyum.

"Bctulkah itu?"

Tanyanya ragu-ragu.

"Siapa membohong padamu? Wanyen Ci Lun dan isterinya bukan orang tuaku, hanya semenjak kccil ayah menitipkan aku kepada mereka??.. eh, kau ini orang apakah yang mengajakku bercakap-cakap? Setan, pergi kau!"

Tiang Bu tersenyum, nampak girang dan geli melihat sikap nona ini.

Nona yang cantik jelita, tak pernah ia bertemu dengan yang secantik ini, akan tetapi yang berusaha sekerasnya supaya kelihatan menyeramkan.

"Kalau kita bukan saudara, lebih baik lagi, nona Kwan. Kau memang dari keluarga yang cukup menakutkan. Akan tetapi jangan kira bahwa akupun dari keluarga biasa saja. Siapa yang tidak mengenal ayahku, Liok Kong Ji yang dijuluki manusia manusia iblis karena jahat, keji dan kejamnya? Akulah puteranya! Nah, bukankah kita sama-sama keturunan orang-orang jahat belaka?"

Akan tetapi, mendengar kelakar ini, Bi Li tidak tertawa.

bahkan membanting cawan araknya di atas mejat sampai ambles ke dalam lalu melompat berdiri dan pedangnya sudah berada di tangan.

Empat ekor ular itu otomatis sudah melingkar di kedua tangannya, siap untuk membantunya.

Nona ini benar-benar kelihatan menyeramkan sekarang, dengan senjata pedang dan ular-ularnya itu.

Bau semerbak harum yang keluar dari tubuhnya makin keras menyengat hidung.

Akan tetapi Tiang Bu tetap duduk memeluk lutut, menggoyang-goyangkan kaki dan tersenyum, seakan-akan melihat pemandangan yang lucu sekali.

"Bagus, anak dari bangsat keji Liok Kong Ji? Dengar aku hendak membunuh keparat Liok Kong Ji dan kau ini anaknya, boleh sekarang juga membela ayahmu!"

Senyum Tiang Bu melebar.

"Baik sekali kalau begitu, kita setujuan. Akupun hendak membunuhnya kalau bertemu dengan Liok Kong Ji."

Bi Li kelihatan kaget dan terheran-heran.

"Kau.......? Kalau kau anaknya....... kau hendak membunuh ayahmu sendiri......?"

Ia nampak tidak percaya dan pedangnya masih siap di tangan.

"Biar dia ayahku namun aku tak sudi mengakunya. Dia telah berdosa besar kepada ibuku Gak Soan Li yang menjadi Nyonya Wanyen Ci Lun. Aku sudah bersumpah di depan jenazah ibuku untuk membunuhnya."

Padang itu menurun, lalu kembali ke tempat di punggung gadis itu. Bi Li duduk lagi, kini pandang matanya kepada Tiang Bu agak ramah. Garis-garis duka membayang di jidatnya.

"Ibu...... eh, Nyonya Wanyen sudah....... sudah tewas.......?"

Tanyanya, jelas sekali ia menahan isak tangisnya. Tiang Bu menelan ludah menekan keharuan hati.

"Betul, juga Pangeran Wanyen Ci Lun, mereka tewas sebagai orang-orang gagah. Aku hanya sempat merawat dan mengubur jenazah ibuku, terpaksa meninggalkan jenazah Pangeran Wanyen di istananya. Nona Wanyen..... oh, nona Kwan....."

"Namaku Bi Li!"

"Baiklah, Bi Li, mana kakakmu, Wan Sun? Dia itulah saudara tiriku yang satu-satunya, aku ingin sekali bertemu dengan saudaraku itu."

"Entahlah, aku pergi meninggaIkannya. Dia bukan kakakku lagi, kami adalah orang lain yang secara kebetulan saja sejak kecil mengaku saudara kandung. Aku kini seorang yatim piatu sebatang kara di dunia ini, hanya dengan ular-ularku yang setia."

"Sama dengan aku. Biarpun ayahku, masih hidup, aku sudah menganggapnya tidak ada. Akupun yattm piatu seperti kau. Bi Li, kau sekarang hendak ke manakah?"

"Mencari Liok Kong Ji untuk kubunuh, karena dia sudah terlalu banyak membikin susah orang-orang yang kusayang."

"Kau tahu ke mana harus mencarinya?"

"Ke mana saja. Biar ke neraka sekalipun akan kususul."

"Tidak usah bergitu jauh. Aku tahu tempat sembunyinya, dan akupun hendak ke sana. Mau kau ikut? Dia bukan orang sembarangan, kaki tangannya banyak, kedudukannya amat kuat. Kau bergerak seorang diri amat berbahaya, kalau kita menyerbu bersama, baru ada harapan. Bagaimana?"

"Di mana tempatnya?"

"Di tempat berbahaya yang dinamai Un-tiok-lim, tempat yang penuh rahasia dan kabarnya tak seorangpun, bagaimana gagahnya mampu masuk ke sana. Di sana Liok Kong Ji tinggal bersama kaki tangannya. Bagaimana kau suka? "

"Boleh sekali! Kau orang baik, Tiang Bu."

Pemuda itu tertawa girang.

Gadis ini benar-benar berwatak polos dan jujur, dan ini, menggirangkan hatinya, sesungguhnya baru sekarang ia bertemu dengan gadis yang menarik hati dan menyenangkan hatinya, di samping Ceng Ceng dan Pek Lian.

"Kalau begitu, sesudah kita menjadi sahabat, mengapa kau tidak menawarkan minum?"

Bi Li tersenyum dan hati Tiang Bu berdebar keras. Hebat sekali. Bukan main manisnya gadis ini kalau tersenyum, pikirnya. Kalah Ceng Ceng.

"Agaknya watak nenek moyangku yang buruk sudah menurun padaku. Duduklah di sini menghadapi meja dan mari minum arak bersamaku, Tiang Bu."

"Terima kasih, Bi Li. Heei, pelayan, tambah araknya seguci lagi. Dan bakmi semangkok besar, bakpauw sepiring. Cepat.......!!"

"Ba...... baik, siauwya.......!? Seorang pelayan cepat mengerjakan pesanan ini, akan tetapi setelah siap dan hendak mengantarkan, ia berdiri ketakutan di tempat agak jauh, memegangi mangkok dan piring itu, tidak berani mendekat.

"Kenapa kau?"

Tanya Tiang Bu.

"Maaf, siauwya.......maaf, siocia??.. itu??. itu ular-ular?"

Bi Li tersenyum dan mengeluarkan suara mendesis perlahan dengan bibirnya yang merah. Cepat sekali empat ekor ular itu manyelinap dan lenyap ke dalam saku bajunya setelah mendengar desis perintah ini.

"Nah, mereka sudah sembunyi, takut apa lagi?"

Kata Tiang Bu dan pelayan itu dengan masih takut-takut sekarang berani mendekat untuk menaruh bakmi, arak dan bakpauw di atas meja.

Ia hendak berlaku hormat dan membuka tutup guci menuangkan arak untuk Tiang Bu ke dalam cawan.

Akan tetapi ketika hendak menuangkan arak untuk Bi Li dan melihat cawan melesak ke dalam meja, menjadi pucat.

"Tuangkan arak untuk siocia,"

Kata Tiang Bu sambil menekan meja dan.......

seperti tercabut oleh tangan yang tidak kelihatan tahu-tahu cawan yang tadinya melesak ke dalam meja itu mumbul kembali.

Melihat ini, pelayan itu makin kaget dan kagum, di dalam hatinya menduga bahwa hari ini restorannya betul-betul kedatangan siluman-siluman yang pandai ilmu sihir!

Setelah menuangkan arak untuk Bi Li, ia cepat mengundurkan diri dengan sikap hormat.

Akan tetapi begitu ia masuk ke dalam ia cepat lari ke luar dari pintu belakang.

Di kota Si-yang terdapat tikoan the Thio.

Dia adalah tikoan baru.

yang diangkat semenjak perang selesai.

Tikoan she Thio ini sebetulnya adalah bekas guru silat yang sombong.

Setelah perang selesai, entah bagaimana Thio-kauwsu ini menjadi kaya raya.

Padahal menurut pengakuannya sendiri, ketika terjadi penyerbuan orang-orang Mongol ia bcrjuang di kota raja dan berjasa besar dalam "memukul mundur"

Bala tentara Mongol!

Dia kembali ke Si-yang dengan harta benda banyak dan membual akan jasa-jasanya.

Dengan alasan jasa-jasa terhadap negara inilah terutama sekali dengan pengaruh sogokan-sogokan yang secara royal ia sebarkan kepada pembesar.

pembesar tinggi, akhirnya ia berhasil merebut kedudukan pembesar tikoan di kota Si-yang.

Memang sudah lajim di dunia ini, sesudah perjuangan selesai, cecunguk-cecunguk rendah bermunculan dan berebut penonjolan jasa-jasa.

Contohnya Thio-kauwsu ini.

Ketika perang berkobar dan orang-orang gagah berjuang untuk membela negara, dia menyelundup ke kota raja, bukan untuk berjuang melawan musuh melainkan untuk?berjuang"

Mengumpulkan harta yang ditinggalkan begitu saja oleh orang-orang bangsawan, bekerja sebagai maling atau rampok.

Kemudian, di Si-yang, ia menonjolkan jasa-jasanya sebagai pejuang dan menggunakan harta curiannya untuk menyuap dan menyogok sana-sini sehingga akhirnya ia dapat menduduki tempat sebagai pembesar.

Dapat dibayangkan betapa bobroknya keadaan masyarakat dengan "pembesar-pembesar"

Macam ini sebagai orang-orang berkuasa yang "memimpin"

Rakyat!

Cara Thio-kauwsu, atau sekarang disebut Thio-tikoan, mempertahankan dan membela kedudukannya adalah cara lama yaitu mengumpulkan tukang-tukang pukul yang merupakan pasukan istimewa, pada lahirnya disebut pasukan pengawal keselamatan tikoan, pada hal sebetulnya adalah pasukan yang harus mempertahankan isi gudang kekayaannya dan mempertahankan pangkatnya.

Selain ini, Thio-tikoan juga berusaha mengambil hati rakyat.

Dengan jalan melidungi rakyat dari gangguan orang jahat.

Tentu saja sebutan rakyat dalam mata tikoan ini berbeda dengan rakyat dalam pandangan mata kita.

Bukan rakyat kalau orang itu tidak dapat memberi "apa-apa"

Kepadanya! Yang dimaksudkan rakyat olehnya, rakyat yang perlu dilindungi dan dibela, adalah orang yang dapat memberi "apa-apa"

Untuk menambah penuh isi gedungnya.

Petani-petani miskin?

Ooo, mereka itu bukan rakyat, melainkan tenaga-tenaga yang harus tunduk kepada "rakyat", pemilik tanah seperti kerbau-kerbau bermuka manusia.

Si jembel?

Apalagi.

Mereka itu bukan rakyat melainkan penjahat penjahat yang perlu diawasi.

Restoran-restoran pada waktu menghasilkan untung besar, maka menjadi "langganan"

Baik Thio-tikoan dan terlindung. Maka ketika pelayan itu dengan terengah melaporkan bahwa restorannya didatangi dua "siluman"

Aneh yang mencurigakan. Thio-tikoan lalu memberi perintah kepada serombongan tukang pukulnya untuk "membereskan"

Perkara ini.

Demikianlah, ketika Tiang Bu dan Bi Li sedang enak-enak makan bakmi dan bakpauw sambil minum arak, tiba-tiba serombongan orang terdiri dari tujuh orang yang kelihatan kuat-kuat dan galak memasuki restoran itu.

Tadinya Tiang Bu dan Bi Li tidak ambil perduli, akan tetapi ketika melihat betapa mata ketujuh orang itu diarahkan kepada mereka, Bi Li berkata nyaring.

"Kaulihat restoran ini jorok sekali, lalat hijau yang kotor dibiarkan masuk. Mari kita habiskan arak dan lekas pergi!"

Sambil berkata demikian, Bi Li mengangkat hidungnya yang kecil mancung dengan sikap menghina.

Tujuh orang tukang pukul itu saling pandang, lalu pemimpinnya seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan dengan kedua lengan baju disingsingkan ke atas sehingpa nampak otot-otot melingkar di sepasang lengannya berkata kepada pelayan yang kepalanya menongol dari balik daun pintu di belakang restoran.

"Memang cantik jelita, akan tetapi mana ularnya? Jangan-jangan kau yang khilaf, bidadari disangka siluman. Ha ha ha!"

Pelayan itu diam saja karena ia takut.

Akan tetapi pemimpin rombongan yang mempunyai tahi lalat di ujung hidungnya ini, dengan langkah lebar menghampiri Bi Li dan Tiang Bu, lalu berkata sambil menunjuk hidungnya sendiri.

"Nona manis, kau memaki lalat hijau padaku, memang aku lalat yang ingin sekali hinggap di pipimu yang licin. Ha ha ha. Kalian tidak tahu, aku adalah Ban-Ek Si Kepalan Besi, komandan polisi kota ini. Apa kalian masih berani kurang hormat?"

Ban-Ek SiKepalan Besi itu mengamangkan tinjunya untuk memperkuat julukannya.

"Kepalan Besi"

Tiang Bu yang tidak ingin mencari perkara mendahului Bi Li yang sudah merah padam pipinya. Pemuda ini mengedipkan mata kepada gadis lalu menengok kepada Ban Ek.

"Kau datang-datang kok ribut-ribut, mau apa sih?"

Dada Ban Ek hampir meledak saking marahnya.

Biasanya nama besar Ban Ek Si Kepalan Besi sudah cukup untuk membikin seorang liok-lim bertekuk lutut ketakutan, atau setidaknya seorang kang ouw bersikap lebih hormat dan bersahabat.

Akan tetapi pemuda yang sederhana ini sama sekali tidak mengacuhkannya.

"Pemuda tahu! Kau dan nona ini mencurigakan, harus kami periksa. Kalian berani makan di restoran, hayo keluarkan uang pembayarannya di depan kami!"

"Apa kau yang tadi mengaku komandan polisi sudah merangkap pekerjaan pelayan restoran? Kami tentu akan bayar makanan, akan tetapi hanya kepada pelayan restoran. Siapa tahu kalau kau bukan perampok yang Ingin membawa lari uang kami?"

"Setan alas kelaparan! Kau berani menghina Ban Ek Si Kepalan Besi? Jangan menantang kesabaranku. Hayo lekas perlihatkan bahwa kau bukan tukang tipu makanan dan bahwa kau memang betul akan membayar. Kalau tidak, sebelum makananmu habis, mukamu akan lebih dulu habis oleh kepalan besiku!"

Kini Tiang Bu yang tadinya sabar menjadi marah.

Terlalu sekali, pikirnya.

Biasanya orang-orang yang menamakan dirinya penjaga-penjaga keamanan kota atau polisi itu adalah orang-orang terpelajar, orang-orang sopan yang betul-betul menjadi pelindung menjadi penegak keadilan, menjadi bapak-rakyat yang mendatangkan rasa cinta dan terima kasih rakyat atas jasa-jasa mereka.

Akan tetapi, sikap yang diperlihatkan oleh Ban Ek Si KepaIan Besi ini sama sekali bukan sikap penjaga keamanan, bahkan sebaliknya, sikap pengacau keamanan, bukan sikap bapak atau palindung rakyat, sebaliknya sikap musuh rakyat yang harus diganyang habis-habisan.

"Bi Li, keluarkan uangmu dan perlihatkan kepada monyet ini,"

Katanya menahan marah.

Memang Tiang Bu tidak punya uang.

Kalau tadi ia berani masuk dan makan, adalah karena ia percaya bahwa Bi Li tentu punya uang.

Bi Li semenjak kecil hidup di dalam gedung pangeran, mustahil kalau gadis itu tidak bawa uang......?

Memang betul dugaannya.

Gadis seperti Br Li puteri pangeran, tak mungkin berkantong kosong.

Biarpun uangnya yang tadinya berada di saku sudah habis, namun gadis ini sudah menjual perhiasannya satu demi satu dan selalu ia membawa uang.

Akan tetapi sejak tadi Bi Li sudah naik darah dan kalau tidak ada Tiang Bu di situ yang selalu main sabar, tentu dia sudah memberi hajaran kepada orang yang mengaku diri komandan polisi itu.

Sekarang mendengar kata-kata Tiang Bu, ia sengaja berkata.

"Aku tidak punya uang, yang ada hanya sepasang kepalan tahu. Kau ini anjing kudisan minta bayaran. Nah, terimalah kepalan tahu ini untuk kawan kepalan besimu!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh yang tadinya duduk di kursi itu tahu-tahu telah berkelebat di depan Ban Ek dan......."plak! plak!"

Dua kali telapak tangan gadis "mampir"

Di sepasang pipi Ban Ek. Pukulan itu kelihatannya tidak keras, juga terasa sendiri oleh Ban Ek sendiri tidak keras. Maka komandan ini bertolak pinggang dan tertawa bergelak.

"Ha ha haaaeeekkk!"

Suara ketawanya berubah secara mengagetkan karena tiba-tiba ia muntah darah segar diikuti gigi-giginya yang ternyata sudah copot semua seperti dicabuti.

Ternyata bahwa tamparan Bi Li tadi hanya kelihatannya saja perlahan, namun dilakukan dengan pengerahan lwekang tinggi sehingga melukai jantung dan mencopotkan semua gigi.

Ban Ek terhuyung-huyung.

baru terasa mulutnya sakit-sakit dan dadanya sesak.

Ia hendak marah-marah, akan tetapi dadanya menjadi sesak dan di lain saat ia roboh terlentang dalam keadaan pingsan.

Gegerlah di situ.

Enam orang tukang pukul yang lain menjadi marah dan mencabut golok mereka, akan tetapi hanya tiga orang yang berani menyerbu.

Yang tiga takut-takut dan hanya berdiri dengan golok di tangan.

Begitu menyerbu tiga orang ini menjerit dan roboh tak bernyawa lagi.

Masing-masing tergigit oleh tiga ekor ular yang tahu-tahu sudah menyambar ke luar.

dan kini merayap masuk lagi ke dalam saku baju Bi Li.

"Tahan.......! Tahan........! Celaka dua belas dia itu adalah Wanyen Siocia! Apa mata kalian sudah buta??"

Dari luar datang Thio-tikoan berlari-lari dan pembesar itu serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan Bi Li.

Melihat lagak pembesar yang berlutut itu kemarahan Bi Li seperti api disiram minyak.

Ia sudah memegang seekor ularnya untuk menyerang pembesar itu, akan tetapi Tiang Bu yang sejak tadi sudah mengerutkan kening tak senang melihat gadis itu menyebar maut cepat melangkah maju dan menendang.

Sekali tendang saja tubuh Thio-tikoan terlempar keluar dari rumah makan, bergulingan seperti bola.

"Pergilah! dan jangan mengganggu kami!"

Tiang Bu berseru dengan suara keras berpengaruh.

Thio-tikoan kaget sekali.

Di dalam hati ia marah sekali dan kalau tidak melihat bahwa gadis itu adalah puteri Pangeran Wanyen Ci Lun yang terkenal di kota raja, tentu ia akan mengerahkan tukang pukulnya untuk mengeroyok dan mencelakai dua orang muda itu.

Apa lagi karena sebagai ahli silat ia tahu bahwa pemuda yang menendangnya tidak memiliki kepandaian hanya bertenaga kuat, buktinya ia yang ditendang sampai mencelat jauh itu tidak menderita luka dalam tubuh.

Tentu saja sebetulnya ia tidak terluka karena memang Tiang Bu sengaja tidak mau melukainya.

Bi Li sudah mengeluarkan uangnya dan membayar harga makanan dan minuman kepada pelayan yang berdiri gemetaran saking takutnya.

Kemudian orang muda itu pergi meninggalkan tumah makan.

"Bi Li, kenapa kau begitu kejam? Memang tukang-tukang pukul itu menjemukan sekali, akan tetapi kurasa belum patut dibunuh,"

Di tengah jalan Tiang Bu mencela gadis itu. Celaan ini tidak memarahkan Bi Li, bahkan ia tersenyum merasa dipuji.

"Aku sudah cukup kejam, Tiang Bu? Bagus, aku sudah takut kalau-kalau kelihatan tarlampau lemah. Ingat, aku keturunan See-thian Tok ong dan Tee-tok, dua orang yang sudab amat terkenal sebagai manusia-manusia paling kejam di dunia ini. Mengapa aku tak boleh kejam dan jahat? Hai, aku orang yang kejam di dunia ini, patut menjadi cucu See thian Tok-ong. Awas, Tiang Bu, kalau datang seleraku kaupun dapat kubunuh!"

Tiang Bu tersenyum pahit.

Ia maklum akan gejolak hati gadis cantik ini.

Agaknya kenyataan bahwa ia adalah puteri Tee-tok Kwan Kok Sun, menghancurkan hatinya dan ia menjadi nekad, sengaja berlaku jahat dan kejam karena tentu orang-orang akan memandang rendah dan hina kepada keturunan See thian Tok ong yang jahat.

Dari pada disangka kejam dan jahat, lebih baik sekalian menjadi orang jahat dan kejam agar cocok menjadi keturunan orang yang terkenal paling jahat di dunia.

Tentu demikian jalan pikiran gadis ini.

Diam-diam Tiang Bu berpikir dan ketidaksenangan hatinya menipis, terganti oleh perasaan kasihan yang besar.

"Ingat, Bi Li. Bukan kau saja keturunan orang jahat. Orang tuaku jauh lebih jahat dari pada orang tuamu. Kalau tidak percaya kau boleh tanya-tanya di dunia kang-ouw, siapa yang lebih jahat antara Kwan Kok Sun dan Liok Kong Ji. Tidak ada orang lebih jahat dari Liok Kong Ji yang disebut manusia iblis. Tapi, apa kau kira kalau keturunan orang jahat itupun harus jahat pula? Kau keliru! Pohonnya boleh bongkrek batangnya, akan tetapi belum tentu kalau buahnya buruk."

Bi Li tertawa mendengar perumpamaan ini.

Memang pada dasarnya Bi Li seorang gadis lincah gembira mudah tertawa.

Hanya semenlak ia mendengar bahwa dia anak orang jahat membuat wajahnya diliputi kebengisan mengerikan.

"Kau bicara seperti kakek-kakek. Nenek-moyang kita jahat, siapa yang akan percaya kita baik? Nenek moyang kita jahat, kalau kita lebih jahat dari mereka, bukankah itu artinya melanjutkan garis hidup mereka? Katanya seorang anak harus berbakti. kalau kita pura-pura menjadi orang baik, selain tak seorangpun di dunia ini percaya, juga saolah-olah kita mengejek dan merendahkan orang tua sendiri, manyeleweng dari jalan hidup mereka. Aku tidak sudi menjadi anak orang jahat yang pura-pura baik, ditertawai oleh orang kang-ouw dan dikutuk oleh arwah nenek moyang sendiri!"

Hebat, pikir Tiang Bu. Celakalah kalau jalan pikiran macam ini tidak dirubah.

"Bi Li! Kau keliru! Diumpamakan ayah kita itu sebatang pobon yang bongkrek dan buruk tiada guna, akan tetapi kita sebagai buah-buah pohon bongtkrek itu ternyata manis dan berguna, tentu pohonnya akan dihargai orang dan tidak dirusak. Sebaliknya, kalau pohonnya buruk buahnya masam, dua-duanya tiada guna bukankah pohonnya akan ditebang dan dijadikan umpan api. Nama buruk orang tua kita hanya dapat dicuci dan dibersihkan oleh perbuatan baik kita, bukan makin dicemarkan dan dikotori oleh perbuatan jahat kita. Kau tahu betapa sakit dan hancur hatiku memusuhi ayah sendiri, akan tetapi biarpun harus meramkan mata, kalau bertemu dengan Liok Kong Ji yang di luar kehendakku ternyata adalah ayahku itu, pasti akan kubunuh!"

Bi Li memandang dengan matanya yang indah seperti mata burung Hong. Kemudian tertawa geli sambil menutupi mulutnya yang berbibir merah segar dan bergigi putih seperti mutiara itu.

"Kau....... kau orang lucu benar! Kau bilang mau berbuat baik menebus kedosaan ayah, akan tetapi kau bermaksud membunuh ayah sendiri! Hei, Tiang Bu, tidak tahukah kau bahwa tidak ada kejahatan yang lebih besar dari pada membunuh ayah sendiri? Andaikata aku dapat membunuh seratus orang tidak berdosa, aku masih kalah hebat olehmu yang membunuh ayah sendiri!"

Mendengar ucapan ini, Tiang Bu melongo dan untuk sesaat tak dapat menjawab. Akhirnya ia hanya dapat berkata lirih, terputus-putus.

"Dia jahat...... dia jahat sekali..... aku harus bunuh dia......"

Bimbang hatinya mendengar ucapan Bi Li yang langsung menusuk hatinya itu. Ucapan sederhana namun mengandung sari filsafat hidup tentang "hauw"

Atau berbakti.

Sari pelajaran dari Guru Besar Khong Hu Cu tentang hauw ini banyak disalahgunakan orang.

khususnya para pengikut atau para penganut pelajaran-pelajaran guru besar yang tiada keduanya di dunia itu.

Sebagian besar orang tua mempergunakan ujar-ujar Khong Hu Cu tentang hauw ini demi kepentingan dan keuntungan diri sendiri.

Anak-anak diajar atau bahkan hampir dapat dikatakan dipaksa untuk berbakti secara membuta, untuk menurut apa yang dikehendaki oleh orang tua bukan demi kepentingan anak itu sendiri melainkan demi keuntungan si orang tua.

Anak-anak hendak dijadikan alat-alat untuk menyenangkan hati orang tua dan agar anak-anak itu melakukannya dengan senang hati den membuta, maka si orang tua menyalahgunakan hauw, pelajaran yang suci dari Guru Besar Khong Hu Cu!

Karena penyalah gunakan pelajaran tentang hauw inilah maka di Tiongkok dahulu banyak terjadi hal-hal yang tidak adil, hanya karena orang hendak mengikuti pelajaran tentang hauw secara membabi buta.

Misalnya, anak harus menikah dengan orang yang tak disukainya karena orang tuanya sudah suka, dan anak itu dihadiahi sebutan u-hauw (berbakti).

Anak harus membantu orang tuanya biarpun orang tuannya melakukan pekerjaan jahat dan biarpun si anak di dalam hati tidak menyetujui pekerjaan itu dan anak itu juga anak u-hauw!

Masih banyak hal-hal yang rendah terjadi akibat orang tua menyalahgunakan sari pelajaran ini demi kesenangan dan kepentingan sendiri.

"Kau keliru, Bi Li,"

Kata Tiang Bu dengan suara tegas.

"Kalau sampai aku membunuh Liok Kong Ji, aku membunuhnya sebagai orang pembela keadilan membunuh seorang penjahat besar, seorang pengkhianat bangsa dan seorang pengganggu keamanan rakyat. Bukan sekali-kali sebagai seorang anak membunuh ayahnya."

Untuk beberapa detik sinar mata gadis menatap wajah Tiang Bu penuh kekaguman akan tetapi hanya sebentar karena gadis segera tertawa lagi dengan nada mengejek kemudian berkata.

"Kau tadi telah bilang sudah tahu tempat tinggal ayahmu....... eh, jahanam she Liok itu. Jauhkah dari sini?"

"Tidak begitu jauh. Ui-tiok-lim berada di lembah Sungai Luan-ho, di luar tembok Kota Raja Kin di utara. Di sanalah Liok Kong Ji tinggal, menyembunyikan diri dengan anak-anak angkat dan kaki tangannya semenjak dia mengundurkan diri dari bala tentara Mongol."

"Judi dia tidak membantu Jengis Khan lagi?"

"Sepanjang yang kudengar tidak. Bala tentara Mongol menyerhu ke barat dan hampir semua orang Han yang tadinya membantu, merasa enggan untuk menyerbu ke negara orang lain dan meninggalkan bala tentara Mongol. Akan tetapi mereka ini agaknya merasa malu kepada bangsa sendiri, juga Liok Kong Ji menyembunyikan diri di Ui-tiok-lim, tak pernah muncul lagi di dunia, kang-ouw. Yang muncul hanya anak-anak angkatnya yang dalam kejahatan kiranya tidak kalah oleh Liok Kong Ji."

Tiang Bu menarik napas panjang, teringat akan Liok Cui Lin dan Liok Cui Kim, dan tiba-tiba mukanya menjadi merah.

"Kalau begitu mari kita segera berangkat ke sana!"

Ajak Bi Li dengan nada gembira.

"Baiklah, hanya pesanku jangan kau semberono. Aku mendengar sudah ada beberapa orang gagah mencoba memasuki Ui-tiok-lim, akan tetapi mereka itu gagal di tengah jalan dan dan tewas sebelum mereka dapat bertemu muka dengan Liok Kong Ji atau anak-anak angkatnya."

"Mengapa begitu? Demikian berbahayakah Hutan Bambu Kuning? itu?"

Tiang Bu mengangguk-angguk "Kabarnya begitu.

Bambu-bambu di hutan itu sengaja di tanam merupalan barisan-barisan dalam bentuk yang ganjil, dipasangi alat-alat rahasia yang berbahaya.

Kubarnya memasuki Ui-tiok-lim tempat tinggal Liok Kong Ji itu bahkan lebih sulit dari pada memasukt Kuil Siauw-Lim si yang terkenal kuat."

Diam-diam Bi Li kaget sekali.

ia pernah mendengar dari gurunya, Ang jiu Mo-li bahw Kuil Siauw-lim-si amat kuatnya.

Bahkan gurunya itu, Ang-Jiu Mo li yang lihai, pernah mencoba-coba memasuki Siauw lim-si untuk memcuri kitab, akan tetapi terpaksa keluar lagi dan hampir saja tewas!

Kalau Siauw-lim-si saja sudah begitu lihat dan tempat ini katanya lebih lihai lagi.

dapat dibayangkan betapa sukarnya memasuki Ui tok-lim.

Tanpa kenal lelah, Bi Li dan Tiang Bu melakukan perjalanan bersama menuju ke utara melalui tembok besar.

Di sepanjang perjalanan tiada hentinya Tiang Bu mengulurkan tangan menolong rakyat jelata yang keadaannya amat menyedihkan.

Bekas tangan bala tentara Mongol kelihatan nyata, mendirikan bulu roma, mengerikan sekali.

tumpukan puing menghitam sisa api, bau busuk dari mayat manusia yang lambat dikubur dan darah-darah manusia yang berceceran di atas tanah, ditambah pula dengan manusia-manusia hidup setengah mati, kurus kering seperti rangka hidup terhuyung-huyung atau berjongkok dan bergelimpangan di antara tumpukan puing.

Suara anak-anak menangis minta makan, semua ini menggugah hati Tiang Bu untuk bertindak, didatanginya rumah-rumah pembesar setempat, digunakannya kekerasan agar para pembesar lalim ini suka menggulung lengan baju dan melakukan tugasnya sebagai bapak rakyat, menolong mereka yang patut ditolong dan mengatur mana yang patut diatur.

Berkat kekerasan tangan Tiang Bu, banyak orang desa tertolcong, tidak saja yang kelaparan mundapat makanan, juga yang kepanasan mendapat tempat berteduh dan yang menganggur mendapat pekerjaan.

Semua dijamin oleh para pembesar yang dipaksa oleh tangan keras Tiang Bu.

Mula-mula Bi Li tidak sabar bahkan mendongkol melihat betapa pemuda itu melakukan usaha ini.

Dianggapnya membuang waktu dan tenaga, hanya memperlambat perjalanan.

Akan tetapi ketika ia melihat betapa rakyat yang sengsara itu berterima kasih, betapa anak-anak yang menangis menjadi tertawa, tergugah pula batin gadis yang memang bukan pada dasarnya jahat ini.

Bi Li sengaja berlaku jahat dan kejam untuk "menyesuaikan diri"

Dengan darah keturunannya yang mengalir di tubuhnya.

Setelah rakyat memberi julukan PEK LUl ENG (Ksatria Tangan Geledeg.) kepada Tiang Bu.

Bi Li juga mulai aktip membantu pemuda itu.

Tiang Bu diberi julukan demikian karena selalu ia bertindak tanpa mempergunakan senjata, hanya mengandalkan kedua tangannya yang cepat dan ban bahaya seperti geledek menyambar.

Setelah Bi Li turun tangan pula.

mempergunakbn pedangnya untuk menabas buntung hidung atau batang telinga pembesar lalim dan korup, mempergunakan ular-ularnya untuk menakut nakuti mereka yang menindas rakyat, maktn berhasil lah usaha Tiang Bu.

Makin banyak pulae desa-desa tertolong dari kelaparan dan kebinasaan.

Akan tetapi perjalanan dua orang muda itu menjadi makin lambat sehingga tiga bulan lewat tak terasa ketika mereka akhirnya tiba di daerah lembab Sungai Luan-ho.

Mereka terus menyusur tepi sungai yang mengalir dari utara, Pada pekan ke dua terpaksa bermalam di sebuah hutan.

Belasan li di sekeliling tempat ini tidak ada pedusunan sehingga mereka terpaksa bermalam di bawah pohon.

Malam itu bulan bersinar terang sekali, mendatangkan suasana romantis di dalam butan itu.

Mereka memilih sebuah tempat yang bersih, dibayangi pohon-pobon yangliu yang tinggi dan berbatang ramping seperti pinggang gadis-gadis ayu.

Di atas pohon, langit bersih, biru putih kekuning-kuningan penuh sinar bulan yang mendatangkan hawa dingin sejuk menyegarkan.

Bi Li sepera menjatuhkan diri.

duduk di atas rumput lunak menyandarkan tubuh pada sebatang pohon sambil menarik napas penuh nikmat melemaskan anggauta tubuh yang kaku-kaku kelelahan.

"Aaahhh, enaknya di sini....... nyaman sekali.......!"

Katanya perlahan, senyumnya menambah cemerlang sinar bulan.

Tiang Bu juga merebahkan tubuhnya yang lelah di dekat batang pohon yang sudah tumbang melintang tak jauh dari tempat Bi Li duduk.

Mendengar ucapan gadis itu, Tiang Bu memandang dan hatinya berdebar aneh.

Bukan main indahnya pemandangan itu.

Seorang bidadari mandi cahaya bulan.

Alangkah cantik jelitanya Bi Li ketika bersandar pada pohon dengan muka sepenuhnya disinari cahaya bulan purnama.

Matanya tertutup dan bulu matanya yang lentik panjang itu menimbulkan bayang-bayang di bawah matanya, manis sekali.

Bi Li membuka matanya.

"Kau di mana, Tiang Bu?"

Tanyanya tanpa menoleh, dengan mata berkedip-kedip jarang.

"Di sini.....!"

Jawab pemuda itu.

"Lebih enak di sini, dapat tidur."

Mendengar jawaban ini, Bi Li menengadah dan memandang.

Ia melihat Tiang Bu melonjorkan kakinya ke depan, pungaung dan kepalanya disandarkan pada batang pohon melintang, seperti memakai bantal.

Nampaknya memang enak sekali, tidak seperti bersandar pada batang pohon berdiri, terlalu lurus dan hanya dapat duduk, tak dapat berbaring.

"Minggirlah, akupun ingin tidur! Jangan borong semus tempat itu!"

Bi Li meloncat lincah jenaka.

Tiang Bu mengguling-gulingkan tubuhnya sampai ia berada di ujung batang pohon lalu berbaring miring sambil tersenyum memandang kawannya yang jenaka itu.

Bi Li merebahkan diri terlentang di ujung batang pohon yang lain, kurang lebih lima belas kaki jauhnya dari Tiang Bu sehingga pemuda ini dapat melihat dengan nyata.

Bahkan ia dapat mencium bau harum yang selalu selalu semerbak menghambur dari tubuh gadis itu, bau harum yang ganjil sekali.

Makin berdebar hati Tiang Bu melihat keindahan wajah dan tubuh gadis remaja yang kini berbaring tak jauh dari tempatnya.

Teringat ia akan semua pengalamannya dengan Cui Lin dan Cui Kim dan tiba tiba ingin ia menampar mukanya sendiri.

Bi Li seorang gadis terhormat, tak patut seorang rendah budi dan hina dina semacam dia memikirkan dan merindukannya!

Cepat ia membuang muka ke lain jurusan agar jangan matanya manatapi mahluk indah di depannya itu dan agar jangan sampai hatinya tergoda.

Akan tetapi makin dijauhi makin menggoda.

Ke manapun juga ia melempar pandang, bayangan gadis telentang dengan, dada dan kepala terganjal batang pohon sehingga dada itu membusung padat dan leher yang putih kekuningan itu berlawanan sekali dengan batang pohon yang berwarna coklat, selalu nampak di depan mata.

Seakan-akan bayangan gadis itu berpindah-pindah selalu ke depan matanya, atau seakan-akan sepasang matanya yang pindah ke belakang keplanya, tidak mau meninggalkan pemandangan yang indah itu.

Akhirnya Tiang Bu berbaring miring lagi menghadapi Bi Li!

Aku tidak berhak mengganggunya.

aku tidak berharga mcncintainya.

tidak patut mengenangkannya, sama sekali tidak boleh mendekatinya.

Akan tetapi kalau hanya pandang mata saja apa salahnya?

Aku tidak akan merugikannya dengan hanya pandang mata.

Dengan pikiran ini, Tiang Bu memuaskan rindunya dengan sepasang matanya.

Bi Li agaknya lelah sekali karena gadis itusudah tertidur, napasnya lambat dan halus, bibirnya agak terbuka sehingga gigi yang berderet rata dan putih itu terkena cahaya bulan bersinar-sinar seperti mutiara.

Oleh karena gadis itu sudah tidur, Tiang Bu dapat leluasa memandangnya.

Dengan sinar mutanya ia mencumbu rayu Bi Li dibelai-belainya rambut yang agak kusut itu, penuh kasih sayang.

Heran sekali, terhadap Bi Li ia tidak mengalami rangsangan seperti ketika ia digoda oleh kakak beradik Cui Lin dan Cui Kim.

Tidak timbul nafsu binatangnya, yang ada hanya kasih sayang, kasihan dan ingin melindunginya, ingin berkorban untuknya dan ingin hidup berdua yang lain-lain tidak ada artinya lagi baginya.

"Bi Li mengapa perasaanku terhadap kamu seperti ini.......?"

Tiang Bu mengeluh di dalam hatinya dan tak terasa ia merasa berduka sekali.

Teringat ia akan keadaannya yang sama sekali tidak patut dijejerkan dengan gadis itu.

Bi Li cantik jelita.

lebih cantik daripada Ceng Ceng, lebih cantik dari pada Cui Lin dan Cui Kim, lebih cantik dari pada Lai Fei, pendeknya lebih cantik dari pada semua wanita yang pernah ia jumpai.

Dan dia sendiri, ah, Tiang Bu cukup maklum dan insaf akan keburukan rupanya.

Ia tahu bahwa dia tidak boleh dibilang tampan, apa lagi ganteng.

Olok-olok dan ejekan yang dulu dilontarkan ke mukanya oleh Ceng Ceng, sudah cukup jelas.

Hidungnya pesek, bibirnya tebal, mukanya kehitaman, gerak-geriknya canggung.

Selain itu, ia seorang yatim piatu, seorang pemuda terlantar yang miskin, tidak punya apa-apa.

Dia sama sekali tidak memikirkan Bi Li, apalagi mengharapkan dapat mencintai gadis itu.

Bermalam di tempat seperti ini bersama saja sebetulnya dia sudah tidak berhak!

Apa lagi kalau diingat akan perbuatannya yang terkutuk dengan Cui Lin dan Cui Kim.

Aduhh, dia seorang bermoral bejat.

seorang rendah budi.

Tak terasa pula dua titik air mata turun dari sepasang matanya.

Cepat-cepat Tiang Bu menghapusnya dengan tangan.

Mengapa putus asa?

Aku sudah cukup menyesal akan penyelewengan itu.

bahkan sudah cukup terhukum di dalam jurang, sudah cutup terhina karena perbuatan kotor itu.

Aku sudah bertobat dan takkan mengulangi perbuatan keji itu.

Ia akan mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk melawan rangsangan nafsu jahat yang agaknya sudah mengalir ke dalam darahnya.

Aku harus kuat.

Aku seorang jantan.

"Tiang Bu kau melamun apa........?"

Tiang Bu kaget sekali.

Begitu jauh ia melamun sehingga tidak tahu bahwa gadis itu sudah bergerak dalam tidurnya, kini juga miring menghadapinva dan membuka mata perlahan.

Pertanyaan itu biarpun diucapkaa dengnan perlahan dan lembut, tetap saja membuat Tiang Bu kaget dan hampir pemuda ini melompat.

Baiknya ia dapat menekan perasaannya dan hanya bangkit lalu duduk menyandarkan punggung di batang pohon.

"Aku....... aku hanya memtkirkan nasib kita yang buruk.....,"

Akhirnya dapat juga ia menjawab.

"Mengapa kau bilang buruk?"

Kini suara Bi Li menyatakan bahwa ia sudah sadar betul dan sepasang matanya juga terbuka lebih lebar. Ia nampak ingin tahu sekali.

"Betapa tidak buruk? Nasibmu sudah tak usah ditanya lagi. Dari seorang puteri bangsawan yang semenjak kecil hidup serba mewah dan mulia, sekarang kau berada di tempat sepeti ini, di udara terbuka, bertilam rumput beratap langit berkelambu hutan berlampu bulan......."

Bi Li tertawa geli.

"Kau seperti bersajak! Tiang Bu, di tengah malam buta kau bersajak. Benar-benar lucu!"

Tiang Bu menarik napas panjang sehingga terdergar oleh gadis itu. Bi Li juga bangkit dan duduk seperti Tiang Bu.

"Tiang Bu, susah benarkah hatimu? Kenapa?"

"Aku menghela napas bukan menyusahkan nasib sendiri melainkan...... aku kasihan kepadamu kalau kukenang perubahan nasib hidupmu, Bi Li."

"Aaah, aku yang mengalami sendiri tidak apa-apa kok kau yang susah! Lebih baik kau ceritakan mengapa kau melamun tentang nasibmu. Buruk benarkah nasibmu?"

"Semenjak kecil ketika berada dengan keluarga Coa. aku memang merasa bahagia, akan tetapi selalu timbul keraguan dan keheranan kalau meIihat sikap para pelayan yang aneh terhadapku. Kemudian aku terculik dan semenjak itu tak pernah kembali ke Kim-bun-to, dan mengalami hal-hal yang selalu tidak menyenangkan hati. Makin tua nasibku menjadi semakin buruk jua??"

Kembali Bi Li tertawa geli, mengangkat muka ke atas memandang bulan lalu berkata.

"Bulan, kau dengarlah keluh-kesah kakek ini! Sudah tua nasibnya buruk. Bulan, tak dapatkah kau monolong kakek ini?"

Kebetulan segumpal awan putih lewat di bawah bulan, untuk sajenak menutupi ratu malam itu.

"Tiang Bu, kau lihat. Kesusahan hatimu membuat bulan sendiri ikut merasa sedih dan bermuram muka."

Tiang Bu menghadapi kejenakaan gadis ini dan hatinya terbuka, ia menjadi ikut gembira.

"Bi Li, kukatakan tadi bahwa nasibku sejak dulu sampai sekarang sialan, akan tetapi hanya berhenti sampai sekarang., Mulai aku berjumpa dengan kau sinar terang mengusir semua kegelapan dan......."

"Apa maksudmu!?"

Bi Li tersentak dari duduk tegak, sepasang matanya memandang penuh selidik dan tajam sekali. Tiang Bu sadar bahwa ia mengeluarkan ucapan yang janggal dan patut menimbulkan curiga.

"Aku tidak bermaksud buruk, Bi Li. Kumaksudkan bahwa semenjak bertemu dengan kau, aku mendapat seorang kawan baru yang kiranya akan dapat bekerja sama dengan aku membasmi orang-orang jahat. Bukankah hal ini menggirangkan hati benar dan mengusir semua kesunyian? Aku... aku tidak bermaksud kurang ajar. Bi Li,... jangan kau marah.....? Sikap terang yang diperlihatkan Bi Li menjadi kendur kembali dan gadis itu kembali merebahkan diri seperti tadi sebelum terjaga berbaring terlentang berbantal batang pohon ia mengeluarkan seekor ularnya yang berkulit putih lalu main-main dengan ular ini yang melingkar-lingkar diantara jari-jari tangannya.

"Siapa marah? Hanya kau yang canggung dan bodoh, ucapanmu kadang kadang membingungkan orang."

"Memang aku bodoh, Bi Li. Bodoh dan dungu."

Kata Tiang Bu perlahan, hatinya gondok. Kalau ia masih kecil, tentu ia akan menangis.

"Pemuda yang merasa seperti kakek-kakek padahal masih hijau, orang berilmu tinggi tapi lemah, yang mau pura-pura jadi orang baik memang kau bodoh! Pek Coa (Ular Putih) ini lebih pintar dari padamu.......!"

Tiang Bu makin mendongkol, akan tetapi tidak membantah atau menjawab, takut kalau-kalau jawabannya akan lebih menonjolkan kecanggungan dan kebodohannya.

Padahal ia sendiri tidak tahu dalam hal apakah ia disebut bodoh, sedangkan dalam persoalan apapun juga ia merasa tidak kalah pintar oleh dara ini.

Ia hanya mengerling tanpa menoleh, berbuat seolah-olah tidak mengindahkan dan tidak memperdulikan Bi Li, pada hal matanya sampai terasa hampir juling karena selalu (Lanjut ke

Jilid 23) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 mengerling ke kanan!

Dari sudut matanya ia melihat gadis itu makin lama makin lemas dan napasnya makin lembut tak lama kamudian Bi Li kembali tidur pulas.

Ular putih itu merayap-rayap di antara jari-jari tangan Bi Li dan diam-diam Tiang Bu menyumpahi ular itu.

"Bedebah kau! Masa macammu lebih pintar dari pada aku? Ular setan, ular siluman! Dan kau boleh sesuka hatimu merayap-rayap membelai-belai dia, disayang dan dicintai!"

Dengan hati gemas dan kepala penuh cemburu dan iri hati ia melihat betapa ular putih merayap-rayap terus di antara dada Bi Li, kepalanya yang berlidah merah itu dijulur-julurkan, merayap melalui leher yang berkulit putih kekuningan itu, beberapa kali terpeleset di atas rambut hitam halus yang jatuh di pundak.

Beberapa kali Tiang Bu menelan ludah memaki-maki ular itu dengan mata penuh kebencian.

Tangannya sudah gatal-gatal untuk meraih ular itu dan membantingnya hancur di atas batu untuk melampiaskan rasa marah, cemburu dan iri hatinya.

Kemudian gangguan ular itu sampai pada puncaknya ketika ular itu merayap melalui dagu Bi Li dan Iidahnya menjilat-jilat pipi dan bibir gadis itu.

"Jahanam jangan menghina dia.....!"

Bentaknya dan sekali tangannya bergerak sebuah batu kecil menyambar dan di lain saat ular itu Sudah menggeletak di dekat tubuh Bi Li dengan kepala remuk dilanggar batu tadi, mati tak berkutik lagi!

Bi Li tersentak kaget.

Ketika matanya yang tajam itu melihat Pek Coa sudah menggeletak dengan kepala hancur di dekat, ia melompat bangun dan sudah mencabut pedangnya.

"Siapa berani membunuh Pek coa?"

Bentaknya marah. Melihat sikap Bi Li ini, baru Tiang Bu sadar akan perbuatannya tadi dan merasa menyesal. Iapun bangkit berditi dan berkata dengan suara lemah.

"Maaf, Bi Li. Akulah yang membunuhnya."

Pedang itu dengan perlahan memasuki kembali sarangnya.

Untuk sebentar mata Bi Li terbelalak heran, kemudian membayangkan kekhawatiran ketIka ia melangkah menghampiri Tiang Bu untuk menatap wajah pemuda itu lebih dekat.

"Kau......? Kau membunuh Pek Coa......?? Aneh sekali, Tiang Bu, kau kenapakah dan mengapa Pek Coa yang kau tahu menjadi kesayanganku itu kau bunuh?"

"Aku....... aku tidak sengaja??"

"Tadinya akupun tidak ada niat itu, akan tetapi...... melihat dia menjalar ke atas dada-mu, merayap ke leher dan dagumu...... melihat dia secara kurang ajar sekali menjilat..... pipimu...... bibirmu....."

"Lalu timbul bencimu?"

Heran sekali hati Tiang Bu.

Bagaimana gadis itu tahu belaka akan perasaannya?

"Ya....

eh, aku takut kalau kalau........

kau digigitnya, dia ular berbisa dan kau sedang tidur pulas.......

aku lalu.......

lalu lupa diri dan......

membunuhnya.!

Bi Li, maafkan aku.

Kelak aku akan mencarikan ular putih berapa hanyak kau suka untuk menjadi penggantinya."

Kalau saja ia tidak bicara sambil menundukkan muka, tentu Tiang Bu akan melihat perobahan luar biasa pada wajah gadis itu.

Seluruh muka Bi Li menjadi merah sekali dan gadis ini membuang muka, lalu duduk di tempatnya yang tadi.

Sekali cokel ia telah membuang bangkai ular putih itu.

"Dia toh hanya seekor binatang ular...."

Katanya perlahan.

"Tiang Bu, kau memang laki-laki bodoh. Jangan ganggu, aku ingin tidur, besok harus melanjutkan perjalanan jauh....."

Gadis itu membaringkan tubuhnya, miring membelakangi Tiang Bu dan tak lama kemudian ia sudah pulas lagi.

Tinggal Tiang Bu yang gulak-gulik tak dapat pulas, hatirqa tidak karuan rasanya, merasa berdosa terhadap Bi Li.

Ularnya kubunuh dan dia tidak marah!

Bagaimana dia tahu bahwa aku menjadi benci melihat ular itu menciummya?

Heran, sampai berapa jauh dia mengetahui isi hatiku?

Menjelang pagi, ketika Tiang Bu baru layap-layap tertidur, ia mendengar suara orang.

Seperti kebiasaan.

seorang ahli silat tinggi, Tiang Bu segera sadar dan menengok.

Dilihatnya Bi Li tersenyum-senyum dalam tidurnya dan mengigau dengan suara yang belum pernah ia dengar keluar dari mulut gadis itu, demikian merdu bagikan lagu indah memasuki telinganya.

"Tiang Bu.... kau..... baik sekali.."

Dengan wajah berseri Tiang Bu pulas lagi, hatinya girang bukan main, Alangkah lucu dan bodohnya manusia kalau lagi diamuk asmara!

Beberapa pekan kemudian tibalah Tiang Bui dan Bi Li di daerah lembah Sungai Luan ho yang menikung.

Daerah ini terdapat banyak pegunungan dan kaya akan hutan.

Tanahnya subur sekali akan tetapi sayangnya, di sana-sani terdapat rawa yang amat berhahaya.

Bahkan ada bagian lain yang disebut rawa-rawa maut, karena di sini terdapat rawa yang tertutup rumput-rumput hijau tebal.

Padahal di bawah rumput tebal ini bukanlah tanah keras, melainkan lumpur yang amat dalam dan yang mempunyai hawa menyedot.

Sekali orang terpeleset ke dalamnya, kalau tidak mendapat pertolongan orang lain.

akan sukarlah ia menolong diri sendiri, karena begitu kedua kaki terperosok ke dalam lumpur yang sembunyi di bawah rumput, kaki itu akan terhisap dan sukar dibetot keluar lagi.

Makin lama makin dalam sampai akhirnya seluruh tubuh dihisap masuk.

Kebetulan sekali ketika Tiang Bu dan Bi Li tiba di daerah ini, mereka menjadi saksi akan kengerian ini.

Mula-mula mereka mendengar suara binatang menguak keras berkali-kali.

Mereka merasa tertarik dan berlari cepat ke arah suara itu.

Mula-mula mereka tidak tahu mengapa kijang besar itu meronta-ronta di tengah padang rumput hijau itu sambil menguak-nguak ketakutan.

Seakan-akan binatang itu patah kakinya dan tidak bisa lari lagi, atau seakan-akan kedua kakinya terikat sesuatu.

"Jangan-jangan ia dimangsa ular!"

Kata Tiang Bu. Bi Li mengerutkan kening, hidungnya yang mancung kecil itu berkembang-kempis.

"Tidak ada ular di sini. Akan tetapi kasihan sekali kijang itu, agaknya ketakutan. Coba kulihat dekat!"

Sebelum Tiang Bu sempat mencegah karena pemuda ini sudah merasa curiga melihat padang rumput yang nampaknya mtin sunyi dan menyeramkan itu.

Bi Li sudah melompat dan berlari mendekati tempat binatang itu yang meronta-ronta dan memekik-mekik ketakutan.

Tiba-tiba Bi Li menjerit dan kedua kakinya amblas ke dalam lumpur yang tertutup rumput hijau.

Baiknya gadis ini telah memiliki kepandaian tinggi sehingga tubuhnya tak sampai roboh.

Ia mengerahkan ginkangnya untuk menahan keseimbangan badan, tetapi ketika ia mencoba untuk mencabut kedua kakinya, makin dalam ia terjerumus!

Baru sekarang Bi Li mengerti apa yang menyebabkan binatang itu meronta-ronta dan memekik-mekik ketakutan.

Ia merasa seperti ada sesuatu yang hidup, yang amat kuat menghisap kedua kakinya, terasa dingin-dingin dan betapapun kuat ia bertahan.

tubuhnya makin tersedot ke bawah.

Tiba-tiba ia menjadi pucat dan baru kali ini selama hidupnya Bi Li ketakutan dan......

menjerit!

"Tiang Bu??

tolong.......!"

Tiang Bu sudah tiba di situ.

Pemuda yang cerdik ini sebentar saja dapat menduga apa yang telah terjadi.

Dengan hati-hati ia melangkahkan kakinya menjaga jangan sampai terjerumus pula.

Kalau demikian halnya mereka takkan tertolong lagi.

"Tenang, Bi Li. Kau tertangkap oleh apa yang dinamai lumpur maut atau rawa maut. Jangan banyak bergerak, tunggu aku membetotmu keluar. Diam jangan bergerak, Bi Li......."

Benar saja, setelah Bi Li berhenti bergerak sedotan yang terasa pada kedua kakinya berhenti pula, akan tetapi lumpur itu sudah menghisapnya sampai ia amblas sebatas paha!

Ia mandi keringat dingin saking ngeri dan takutnya, dan kini dengan penuh harapan ia melihat betapa Tiang Bu menghampirinya dengan kedua kaki diraba-rabakan ke depan, sambil tangannya mencabuti rumput untuk memilih tanah keras.

Akan tetapi, tanah yang tadinya kelihatan keras, begitu diinjaknya lalu Iongsor dan di bawahnya tanah keras itu hanya tipis saja, dan di bawahnya adalah lumpur belaka.

Celaka, pikir Tiang Bu dengan jantung terhenti berdenyut.

Kalau begini, tak mungkin Bi Li dapat tertolong.

Begitu ia menarik tubuh gadis itu, tentu tanah yang diinjaknya amblas pula dan mereka berdua akan terjerumus dimakan lautan lumpur!

"Tiang Bu, mengapa kau berhenti....

Apakah??.

apakah aku tak dapat ditolong lagi??.!"

Sebagai jawaban, terdengar kijang itu menguak penuh kengerian.

Terpaksa Bi Li menengok ke belakang, ke arah kijang yang hanya terpisah lima enam meter dari padanya dan melihat keadaan itu, Bi Li menjerit.

"Tiang Bu......!"

Pemuda itupun menengok dan menjadi pucat.

Kijang itu kini telah terhisap sampai melewati lehernya, yang kelihatan hanya sapasang mata yang terbelalak ketakutan lebar, hidung yang mendengus-dengus mengeluarkan uap putih dan mulut yang menguak-nguak panjang dan nyaring.

Binatang itu tidak merasa sakit hanya takut.......

takut luar biasa melihat maut berjoget di depan mukanya.

Dan Bi Li yang merasa ngeri lupa diri dan bergerak membuat ia amblas lagi sampai sebatas pinggang.

"Tiang Bu....... demi Thian....... tolonglah aku...... aku tidak mau mati begini, tidak mau!? teriak Bi li ketakutan dan sepasang matanya melebar seperti mata kijang itu. Nguak terdengar terus, makin lama makin lemah dan yang terakhir suara itu terdengar aneh seperti parau kemudian berhenti tiba-tiba seperti tercekik. Mulut atau moncong kijang itu tidak kelihatan lagi, hanya rumput di mana tadi ia berada bergcrak-gerak, seperti ada ular besar lewat di bawahnya.

"Bi Li. Kau tunggu sebentar. Kau tenanglah jangan bergerak. Ingat ini. jangan bergerak kalau kau ingin tertolong. Demi Thian, aku akan menolongmu, biarpun aku harus berkorban nyawa. Akan tetapi kau tenanglah, pergunakan lweekang untuk mematikan semua pergerakan tubuh. Hanya kalau kau diam seperti barang mati lumpur itu takkan dapat menyedotmu. Aku akan mencari bambu untuk menolongmu. Tenang.....!"

Tiang Bu melompat dan berlari ke arah hutan kecil di mana ia melihat batang batang bambu berkelompok dengan daun daunnya yang indah.

Setelah tiba di tempat itu, pemuda yang tidak mcmbekal senjata tajam ini lalu menggunakan kedua tangan, mencabuti bambu yang amat kuat itu sampai terlcpas akarnya.

Tak lama kemudian ia sudah menyeret tiga batang bambu yang sudah ia patah-patahkan cabang-cabangnya.

Dengan bambu ini dipasang melintang, dapat menghampiri Bi Li yang betul saja tidak bergerak sama sekali sehingga ia terbenam hanya sampai di pinggang, tidak lebih.

Akan tetapi matanya berlinang air mata, mukanya pucat dan bibirnya gemetar.

Berdiri di atas tiga batang bambu itu, Tiang Bu dapat berjalan dengan mudahnya, karena bambu-bambu yang panjang itu tidak tenggelam, seperti sebuah perahu rakit.

Alangkah girang hati Tiang Bu dan juga Bi Li ketika mereka dapat bertemu tangan.

Tiang Bu membetot, mengerahkan tenaganya dan.......

terangkatlah Bi Li dari dalam lumpur maut yang hampir saja menjadikan gadis ini mangsanya.

Saking girangnya Tiang Bu lupa diri dan memeluk gadis itu, tidak perduli pakaiannya sendiri menjadi kotor terkena lumpur yang menyelimuti tubuh dari pakaian Bi Li sebatas pinggang kebawah, Juga Bi Li yang baru saja terlepas dari cengkeraman maut, yang amat mengerikan dan menakutkan, saking terharunya tidak merasa lagi akan pelukan pemuda itu, bahkan ia menyandarkan kepalanya di atas dada Tiang Bu sambil terisak-isak.

Bi Li bukan seorang gadis penakut, jauh dari pada itu.

Sebaliknya, dia memiliki kepandaian tinggi dan nyalinya besar sekali.

Menghadapi kematian dalam pertempuran kiranya akan dilakukan dengan senyum di bibir.

Akan tetapi ancaman maut yang baru saja dialaminya tadi terlalu mengerikan.

Dihisap oleh lumpur perlahan-lahan, sama sekali tidak berdaya seakan-akan maut merenggut nyawa sekerat demi sekerat, ditambah lagi pandangan mengerikan dari kijang yang di hisap sampai lenyap perlahan-lahan tadi, benar-benar luar biasa sekali.

Orang yang paling tabah juga akan merasa ngeri.

Jauh bedanya dengan menghadapi lawan, biarpun lawan itu kuat bagaimanapun juga, kita dapat melawan dapat berdaya upaya mempertahankan diri.

Sementara itu, biarpun tadinya ia memeluk tubuh Bi Li karena terharu dan girang dalam usahanya yang berhasil menolong gadis itu terlepas dari cengkeraman maut, setelan pikirannya tenang kembali dan merasa betapa kepala dengan rambut yang hitam halus dan harum itu terletak di dadanya, ketika melihat kulit leher putih kekuningan yang hangat itu demikian dekat dengan mukanya.

Tiang Bu teringat akan pengalaman membunuh Pek Coa malam itu.

Tiba-tiba dadanva tergetar, berdebar-debar tidak karuan, kedua lengan yang memeluk juga menggigil dan tubuhnya menjadi panas dingin.

Bi Li agaknya juga tersadar atau terjalar oleh rangsang yang mulai menguasai Tiang Bu, karena ia tersentak kaget dan tiba-tiba merenggutkan tubuhnya dari pelukan Tiang Bu.

Pemuda itu sendiri menundukkan mukanya, kedua pipinya merah sekali dan wajahnva nampak sedih, keningnya berkerut.

Tiba-tiba tangan kanannya diangkat dan "plakl plak!!"

Ditamparnya pipinya sendiri dengan kerasnya sampai bibirnya sebelah kanan pecah dan berdarah.

"Tiang Bu, kau kenapakah?!"

Bi Li bertanya, terheran-heran dan lupa akan perasaan malu dan jengah yang tadi membuat ia merenggutkan tubuhnya dan menjauhi pemuda itu.

"Aku seorang jahat.... aku telah menggunakan kesempatan selagi kau terharu untuk...... untuk memelukmu. Sebenarnya tidak boleh....... aku memang amat jahat. Bi Li.......!"

Bi Li melangkah maju, sepasang matanya kini bersinar dan wajahnya barseri. Dipegangnya kedua tangan Tiang Bu dan ia berkata.

"Tidak, Tiang Bu. Kau seorang yang baik sekali, amat baik aku berterima kasih kepadamu. Kalau saja kau tidak cepat mendapatkan akal dengan bambu-bambu itu, aahh......? Bi Li melepaskan kedua tangan Tiang Bu dan menengok memandang ke arah rawa lumpur itu dan bergidik. Sikap dan kata-kata gadis ini mengusir kesedihan Tiang Bu yang tadi merasa betapa kembali ia dikuasai oleh rangsang yang jahat dan berbahaya, yang timbul dari dalam tubuhnya. Rangsang yang amat kuat dan kalau kurang waspada, akan dapat manguasai seluruh hati dan pikirannya. akan melumpuhkan pertimbangannya dan melenyapkan sifat kegagahannya seperti dulu dengan Cui Lin dan Cui Kim. Karena itulah ia bersedih. Akan tetapi kata-kala Bi Li menghiburnya, dan pula bukankah tadi iapun belum dikuasai benar-benar dan masih ingat, buktinya ia masih dapat merasa bersedih dan marah kepada diri sendiri.

"Bi Li, kita harus mencari air untuk mencuci lumpur-lumpur ini. Lihat. pakaianmu sudah tidak karuan macamnya, kotor semua."

Bi Li memandang.

"Apa kau juga bersih? Lihat saja, lumpur sudah mengotori muka dan rambutmu,"

Gadis ini tertawa geli, agaknya baru sekarang ia melihat betapa pipi dan kepala pemuda itu penuh lumpur hitam.

Dengan gembira kembali dua orang muda ini berlari-lari menjauhi rawa itu dan mncari air.

Untuk ini mudah saja.

karena Sungai Luan-ho mangalir dekat saja dan mereka segera turun ke dalam sungai.

Bi Li berganti pakaian kering dari buntalan yang tadi digendongnya.

Akan tetapi Tiang Bu yang tidak mempunyai bekal pakaian, terpaksa, hanya mencuci bagian yang terkena lumpur dan masih terus memakainya.

Tentu saja mereka mencuci pakaian di tempat terpisah yang tidak kelihatan dari tempat masing-masing.

Tak lama kemudian mereka sudah melanjutkan perjalanan, menjelajah daerah pegunungan itu, mencari-cari di mana Hutan Bambu Kuning.

Biarpun Tiang Bu sudah menyelidiki dan mendengar bahwa tempat tanggal Liok Kong Ji berada di sekitar tempat ini, namun ia sendiri belum pernah mendatangi tempat ini dan belum tahu di mana sebetulnya letak Hutan Bambu Kuning yang menjadi sarang Liok Kong Ji.

Mereka berputaran sampai beberapa hari di tempat ini, naik turun gunung.

masuk keluar hutan hutan besar.

namun belum juga mereka melihat Hutan Bambu Kuning.

Bi Li sudah mulai hilang sabar ketika pada hari ke tujuh, pada pagi hari selagi dua orang muda ini berada di sebuah daerah berbatu karang, tiba-tiba mereka mendengar suara orang.

Suara ini adalah suara laki laki dan wanita yang agaknya bertengkar, karena suara mereka keras dan terdengar marab-marah.

Bi Li dan Tiang Bu menuju ke tempat itu, dan dari balik pohon-pobon dan batu karang mereka mengintai.

Bi Li melihat seorang pemuda tampan berhadapan dengan dua orang gadis cantik.

Melihat pemuda itu, teringatlah Bi Li bahwa itulah pemuda yang dulu ikut menyerbu ke kota raja, pemuda yang tadinya datang bersama tosu kaki buntung sebagai utusan Kaisar Mongol, pemuda lihai yang pernah ia keroyok dengan Wan Sun dahulu di tepi Sungai Hoan ho, pemuda kurang ajar dan ceriwis, Liok Cui Kong.

Akan tetapi dua orang gadis cantik itu belum pernah dilihatnya.

Tidak demikian dengan Tiang Bu.

Begitu melihat dua orang gadis itu, wajahnya berubah sebentar pucat sebentar merah, matanya menyinarkan cahaya aneh, seperti marah dan malu.

Ini tidak mengherankan oleh karena dua orang gadis itu bukan lain adalah Cui Lin den Cui Kim!

Dua orang kakak beradik ini masih secantik dulu, tahi lalat kecil di dagu Cui Lin masih amat manis menarik hati, sepasang mata yang genit dan berbentuk indah itu masih membuat Cui Kim seorang gadis cantik yang jarang ada keduanya.

Akan tetapi kecantikan mereka sekarang menjadi racun bagi mata Tiang Bu, bagaikan duri menusuk hatinya, membangkitkan marah dan sakit hatinya.

Akan tetapi ia tidak mau rahasianya diketahui Bi Li dan ia dapat mengendalikan perasaannya dan tinggal diam, mengintai di samping Bi Li.

Ular-ular yang berada di dalam saku baju Bi Li mulai keluar, tanda bahwa gadis itu bersiap-siap manghadapi pertempuran.

Dua orang muda ini masih tidak mau bergerak lebih dulu, hanya mendengarkan pertengkaran antara Cui Kong dan dua orang gadis itu.

"Kalian masih kukuh tidak mau memberikan katak itu kepadaku?"

Cui Kong berkata marah.

"Kalian ini orang-orang perempuan sungguh tak tahu malu. Untuk apa kalian menyimpan katak itu? Binatang ajaib itu hanya untuk laki-laki, tidak ada artinya kalian membawanya. Lekas berikan kepadaku!"

"Kong ko, bukan kami yang tidak tahu malu, sebaliknya engkau yang keterlaluan,"

Bantah Cui Lin berani.

"Binatang ajaib katak pembangkit asmara ini kami dapatkan dari Tiang Bu dan kami simpan sebagai kenang-kenangan. Kami yang berhak memilikinya, setidaknya menjadi hadiah kami sebagai balas jasa kami ketika kita merobohkan Tiang Bu. Mengapa kau mau memaksa kami minta katak ini? Aku tahu kau hendak main gila, kau akan menjadi makin binal dan mata keranjang. Sudah cukup kau menyakiti hati kami!"

"Setan! Kau bilang apa? Cui Lin, kau dan adikmu ini menjadi berbeda benar sikap kalian setelah menjadi kekasih-kekasih Tiang Bu. Agaknya kalian sudah jatuh cinta benar-benar kepadanya, he? Cinta kepada monyet busuk itu, bukan? Ha-ha ha, sungguh menggelikan!"

"Cui Kong, kau bicara apa!?"

Cui Kim membentak marah sampai lupa menyebut Cui Kong dengan kakak.

"Jangan terlalu menghina kami!"

"Cui Kim, di mana kesopananmu?! Aku adalah kakakmu, lupakah kau? Atau kau sudah tidak mau mengaku aku sebagai kakakmu lagi?"

Bentak Cui Kong marah.

"Kakak macam apa kau ini?!"

Cui Kim berkata dengan nada mengejek.

"Mana di dunia ini ada kakak yang memperlakukan kami seperti yang kau lakukan? Kami! menurut saja karena kami memang bukan adik-adik kandungmu, kita masing-masing adalah orang lain, dan kami melayani segala kehendakmu membantu dalam segala hal yang kau lakukan. Attie tetapi mana terima kasihmu? Sekarang malah hendak merampas barang yang menjadi hak milik kami. Cuh, tak tahu malu!"

"Bedebah!"

Cui Kong memukul dada Cui Kim.

Gadis ini mengelak cepat, akan tetapi sebuah tendangan mengenai perutnya, membuat ia terlempar dan roboh.

Sambil meringis kesakitan Cui Kim duduk dan menekan perutnya yang tertendang.

"Cui Kong, kau terlalu sekali!"

Seru Cui Lin marah.

"Untuk kepentinganmu kami sering kali berkorban. Untuk kemenanganmu dan membalasmu kami sampai rela menjadi kekasih Tiang Bu. Sampai sebulan lebih, rela menerima hinaan dari padanya. Sekarang kau bertindak sewenang-wenang melukai adikku. Kau dan kami sama-sama anak angkat dari ayah, ada apakah kau bersikap sebagai atasan kami?"

Cui Kong tertawa mengejek.

"Hak tingkat kepandaian, bodoh! Pula, jangan kira ayah akan terlalu membela kalian kalau kalian tidak menurut perintahku. Ayah masih belum tahu bahwa anak-anak angkatnya yang manis-manis, calon-calon penghiburnya yang dirawat sejak kecil sampai menjadi gadis-gadis jelita, ternyata telah menjadi kekasih Tiang Bu. Ha ha ha......!"

Pada saat itu, sebelum dua orang yang sudah siap bertempur ini saling serang, terdengar seruan orang dan dari balik gunung batu karang muncul dua orang, satu dari kanan kedua dari kiri.

"Hayaa, kami mencari kalian di mana??!"

Teriak seorang di antara mereka.

Melihat kedatangan dua orang ini, otomatis Cui Kong dan Cui Lin merubah sikap menjadi biasa tidak seperti orang mau bertempur.

Bahkan Cui Kim sudah berdiri lagi menahan sakit.

Sementara itu, mendengar percakapan itu, muka Bi Li juga berubah merah sekali.

Ia merasa muak mendengar isi percakapan yang kotor itu, dan beberapa kali ia mengerling ke arah Tiang Bu, bibirnya yang manis ditarik sedemikian rupa untuk mengejek pemuda itu.

"Aha, kiranya kau mempunyai banyak kekasih! Sekali bertemu saja sudah ada dua orang. Mengapa kau tidak lekas keluar menemui dua orang kekasihmu itu?"

Katanya perlahan.

"Ssstt!, diamlah, Bi Li."

Kata Tiang sambil menyentuh tangin gadis itu, akan tetapi Bi Li menarik tangannya sambil berkata ketus.

"Jangan pegang tanganku!"

Tiang Bu kaget dan khawatir.

Belum pernah gadis itu bersikap segalak ini, dan agaknya seperti orang marah-marah.

Heran!

Akan tetapi ia tidak berkata-kata lagi, sebaliknya memperhatikan ke depan seperti Bi Li yang juga sudah memandang ke depan penuh perhatian.

Yang baru datang adalah seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam, kelihatannya kuat sekali, usianya setara empat puluh tahun.

Orang ke dua sebaliknya adalah seorang yang kecil pendek, mukanya kuning pucat seperti berpenyakitan.

Akan tetapi baik Bi Li maupun Tiang Bu maklum bahwa orang berpenyakitan ini adalah seorang ahli lweekeh yang tak boleh dipandang ringan.

"Liok-kongcu, kau membuat beberapa orang kawan sibuk mencarimu ke sana ke mari. Tidak tahunya sedang bersenang-senang dengan jiwi siocia ini di sini,"

Kata si muka hitam.

"Jiwi-siokhu (kedua paman) menyusul ke sini ada keperluan apakah gerangan?"

Tanya Cui Kong, menyembunyikan kemendongkolannya.

"Kami disuruh menyusulmu karena ayahmu yang mulia bendak membicarakan urusan penting denganmu. Agaknya Ui-tiok-lim akan kedatangan tamu tamu penting."

Mendengar bahwa ia dipanggil ayahnya, Cui Kong tidak berani membantah.

Setelah melempar karling penuh ancaman kepada Cui Lin, ia lalu menyatakan baik dan berlari cepat meninggalkan tempat itu, berlari ke balik Pegunungan Batu Karang Putih.

Si muka hitam juga lari di belakang Cui Kong.

Akan tetapi orang yang kurus kering dan pucat itu tersenyum-senyum di depan Cui Lin lalu berkata.

"Nona tadi agaknya ribut mulut dengan Liok kongcu. Di antara saudara ribut-ribut ada urusan apakah. Aku adalah saudara angkat Liok-taihiap, aku akan merasa girang sekali kalau dapat mendamaikan urusan kalian."

Mendengar ini, dua orang gadis itu diam-diam memuji akan kelihaian si muka pucat ini. Juga Tiang Bu diam-diam kaget karena hal itu saja membuktikan bahwa si muka pucat ini benar-benar lihai.

"Ah, Cong-susiok agaknya main-main. Di antara saudara serdiri, mana kami bertengkar! Hanya sedikit ribut mulut urusan kecil,"

Kata Cui Lin. Si muka pucat she Cong itu tertawa bergelak, suaranya tinggi kecil mengiris telinga rasanya.

"Ha ha,ha-ha, nona. Aku terhitung pamanmu sendiri. mengapa hendak membohong? Kulihat adikmu ini menderita luka dalam akibat tendangan, apakah ketika menendang Liok-kongcu juga main-main? Lebih baik lekas minum obat ini, agar luka itu tidak menjalar makin hebat"

Setelah berkata demikian, ia melemparkan sebutir pel merah kepada Cui Kim yang menerimanya lalu menelannya.

"Teriima kasih, Cong-sustok. Kau baik sekali. Memang saudaraku Cui Kong itu keterlaluan."

Kata Cui Kim.

"Coba saja pikir, kami merampas sebuah benda dari musuh kami dan benda itu sudah menjadi hak milik kami. Masa Kong-ko datang-datang hendak merampasnya dari kami? Mana ada aturan demikian?"

"Memang tidak ada aturan seperti itu, apalagi kalau benda itu sebuah pusaka seperti katak pembangkit asmara."

Kata si pucat yang bernama Cong Lung itu.

"Bagaimana kau bisa tahu, Cong-susiok?"

Cui Lin bertanya kaget, juga Cui Kim memandang dengan heran.

"Tentusaja aku tahu. Juga aku tahu bahwa katak di tanganmu itu tidak ada gunanya bagimu, sebaliknya katak yang berada di tanganku juga tidak ada gunanya bagiku. Kaiau kita bertukar katak, barulah ada gunanya."

"..... Apa maksudmu, Cong-susiok?"

Tanya Cui Lie.

"Kalian mendapatkan katak betina yang tidak ada gunanya bagi orang-orang wanita. sebaliknya aku mendapatkan katak jantan yang sama sekali tidak ada artinya dan tidak lebih baik dan pada katak mampus bagi orang laki-laki. Sebaliknya kalau kita bertukar katak, barulah dua benda ajaib itu akau banyak gunanya bagi kita."

Ia tertawa menyeringai.

"Bagaimana kami bisa mempercayai omonganmu, Cong-susiok."

"Bukankah katakmu itu berwarna hijau? Katakku berwarna merah dan kalau kalian mau buktinya, mari kita keluarkan katak masing-masing."

Sambil berkata demikian, Cong Lung mengeluarkan sebuah kotak yang sama dengan katak yang dibawa oleh Cui Lin. Ia membuka sedikit kotak itu dan terdengarlah bunyi nyaring tinggi.

"Kok! Kok I Kok!"

Pada saat itu, Cui Lin mengeluarkan seruan kaget karena kotak di dalam saku bajunya bergerak. Cepat ia mengeluarkan kotak itu dan membuka sedikit tutupnya.

"Kok-kok-kok!"

Terdengar suara keras dan besar dari dalam kotak itu dan tutup kotak bergerak-gerak karena binatang itu meronta-ronta.

"Nan, mereka sudah saling mengenal suara. Bagaimana maukah kau bertukar, nona? Aku bersumpan bahwa aku tidak menipumu."

Cui Lin yang memang tidak mendapat untung apa-apa dari katak hijau yang ia rampas dari Tiang Bu, segera menukarkan kotak berisi binatang aneh itu.

Dan belum lama begitu ia memegangi kotak berisi katak jantan, tiba-tiba mukanya berubah merah dan tak lama kemudian ia tertawa cekikikan sambil memeluk adiknya dan membisikkan sesuatu di telinga adiknya.

Juga Cui Kin tertawa cekikikan.

Agaknya dua orang gadis bermoral bejat ini sudah mulai merasai pengaruh dari katak ajaib itu yang membuat mereka terkekeh sambil berpelukan mereka hendak lari pergi dari situ, akan tetapi Con Lun berkata.

"Nanti dulu, nona-nona manis. Ceritakan dari mana mendapatkan katak ini?"

"Dari dalam saku orang bernama Tiang Bu musuh kami. Karena dia membawa katak itulah kami dapat merobohkan dia, dan kami merampas kataknya setelah itu tak berdaya lagi,"

Jawab Cui Kim yang tertawa-tawa genit dengan mata liar dan pipi kemerahan. Kemudian dia dan kakaknya berlari-larian pergi, kelihatannya girang sekali.

"Perempuan cabul jangan lari......!"

Tiba-tiba Bi Li melompat keluar dengan marah.

Sekarang tahulah Bi Li bahwa Tiang Bu roboh di bawah kekuasaan dua orang wanita itu karena pangaruh katak ajaib.

Hal ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa padanya, maka tanpa menanti isyarat dari Tiang Bu lagi ia sudah melompat ke luar dan beberapa kali lompatan sudah berhadapan dengan Cui Lin dan Cui Kim yang berhenti dan membalikkan tubuh dengan heran.

Dua orang gadis ini terheran-heran melihat Tiang Bu yang mereka sangka sudah tewas.

Cui Kong tidak pernah bercerita tertang Tiang Bu kepada siapapun juga, karena pemuda itu tentu saja malu bahwa dirinya dibikin seperti bola mati oleh Tiang Bu.

Akan tetapi, ketika melihat Bi Li menyerang dengan ular di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, Cui Lin dan Cui Kim kaget.

Cepat merekapun mencabut pedang dan sebentar saja mereka bertempur ramai.

Melihat Bi Li sudah turun tangan, Tiang Bu terpaksa melompat ke luar pula.

Ia memang ingin menawan seorang di antara mereka untuk menjadi penunjuk jalan.

Ia tidak mengkhawatirkan Bi Li yang kiranya cukup tangguh untuk menghadapi pengeroyoknya dua orang gadis cabul itu maka ia segera menghampiri Cong Lun dengan tenang.

Sementara Cong Lun yang melihat munculnya seorang gadis cantik jelita bersenjata ular dan nampak gagah sekali kini sudah bertempur dikeroyok oleh Cui Lin dan Cui Kim, maklum bahwa inilah agaknya dua di antara tamu-tamu penting"

Yang dikatakan oleh Liok Kong Ji yaitu musuh-musuh yang datang menyerbu Ui-tiok lim yang harus dilawan.

Maka melihat munculnya seorang pemuda tangan kosong bersikap tenang, tanpa banyak cakap lagi ia lalu memapaki dengan tangan kanan diulur untuk menangkap Tiang Bu.

Justeru pada saat itu, Tiang Bu juga mengulur tangan untuk menangkapnya.

Dua tangan bertemu, dua tangan yang dibentangkan sehingga telapak tangan kanan mereka saling bertumbukan.

"Plakk??"

Tiang Bu merasa betapa ada semacam tenaga menyedot yang luar biasa sekali keluar dari telapak tangan lawan dan menjalar ke dalam tangannya sendiri membuat tangannya terasa pegal-pegal dan kaku.

Ia kagum bukan main, tidak mengira bahwa lawannya memiliki tenaga kweekang setinggi itu, maka tadi ia tidak mengerahkan seluruh tenaga karena ia memang tidak berniat membunuh orang.

Baiknya pemuda ini sudah melatih diri secara hebat sekali di dalam gua yang ia sebut sendiri Gua Siluman di dalam jurang di daerah lembah Sungai Huang-ho itu.

Ia telah mempelajari semua isi kitab Seng thian-to yang luar biasa sekali, ilmu keturunan yang hanya menjadi rahasia, diturunkan oleh Tat Mo Couwsu sendiri dan hanya dua orang kakek Omei-san yang pernah melihat dan mempelajarinya.

Bedanya kalau kakek 0mei-san itu terlalu banyak mempelujari ilmu silat dari kitab kitab itu, adalah Tiang Bu dapat mempelajari Song-thian-to secara khusus karena karena terkurung dalam jurang, maka kalau dibandingkan dengan dua orang gurunya itu.

Tiang Bu lebih sempurna ilmunya yang ia pelajari dari kitab Song-thiau-to.

Hasilnya, ia memiliki sinkang yang luar biaya sekali, bahkan lebih hebat dari pada ketika ia mewarisi sin-kang dari dua orang gurunya, kemudian tenaga atau hawa sakti dalam tubuhnya itu lenyap ketika ia tergoda oleh Cui Lin dan Cui Kim.

Begiitu merasa ada tenaga menyedot luar biasa dari telapak tangan lawannya, Tiang Bu mengerahkan sedikit tenaga membetot dan dengan mudah saja ia dapat menarik kembali tangannya.

Cong Lung yang mendapat julukan Ban-kin liong (Naga Bertenaga Selaksa Kati) di daerah utara mengeluarkan seruan kaget.

Ia sudah terkenal akan tenaganya yang hebat luar biasa sehingga diumpamakan seekor naga yang bertenaga selaksa kati.

Setiap pukulannya akan menghancurkan batu karang, tiap kali tangannya menggunakan tenaga menyedot, tak seorangpun di dunia ini dapat melepaskan diri dengan mudah.

Akan tetapi bocah ini, yang kelihatannya sederhana dan masih hijau, setelah kena ditempel telapak tangannya, sekali betot sudah terlepas!

Apakah dia sudah kehilangan tenaganya ataukah bocah ini yang menggunakan ilmu sihir?

Dengan malu dan penasaran sekali Cong Lung menyerang lagi, kini mengerahkan seluruh Iweekangnya memberondong dada Tiang Bu dengan pukulan tangan kanan kiri.

Untuk menebus malu tadi Si Naga Bertenaga Selaksa Kati ini rupa-rupanya hendak membunuh Tiung Bu dalam sekali serangan.

Akan tetapi, justeru inilah kesalahannya, kalau ia mempergunakan ilmu serangan biasa, dengan ilmu silatnya yang tinggi kiranya mereka berdua masih akan dapat bertempur ramai untuk beberapa babak lamanya.

Celakanya, dia mengandalkan lweekangnya, tidak tahu bahwa dalam hal ilmu ini menghadapi Tiang Bu ia sama dengan berjumpa gurunya!

Serangannya yang hebat dan dilakukan dengan maksud membunuh ini memukul dirinya sendiri.

Tiang Bu menghadapi pukulan dahsyat ini dengan tenang, hanya melakukan gerakan mendorong dengan tangan kirinya ke depan untuk menghadapi gelombang serangan dahsyat itu.

Ketika dua tenaga raksasa ini bertemu tubuh Tiang Bu hanya bergerak sedikit ke belakang, akan tetapi yang hebat adalah Cong Lung.

Ia menjerit kesakitan, tubuhnya terjengkang ke belakang dan jatuh telentang tak bergerak lagi, pingsan.

Dari mulutnya keluar darah segar.

Masih untung baginya bahwa Tiang Bu tadi tidak mengerahkan tenaga untuk menyerangnya, hanya melakukan pertahanan saja sehingga tenaga serangannya membalik dan memukulnya sendiri.

Kalau tenaga yang membalik ini ditambah oleh tenaga serangan Tiang Bu sedikit saja, Cong Lung tidak hanya akan roboh pingsan, akan tetapi tentu akan mati seketika itu juga.

Sementara Cui Lin dan Cui Kim yang sedang mengeroyok Bi Li merasa kewalahan juga.

Gadis yang baru datang ini lihai bukan main ilmu pedangnya, terutama sekali ular di tangan kirinya itu merupakan senjata yang amat berbahaya dan sukar dilawan.

Tadinya dua orang gadis ini masih besar hati karena di situ ada Cong Lung, akan tetapi ketika melihat bahwa Cong Lung roboh pingsan, mereka kaget bukan main dan cepat melompat ke belakang terus melarikan diri.

"Siluman-siluman betina hendak lari kemana?"

Bi Li membentak sambil mengejar dua orang lawannya yang melarikan diri ke arah batu karang putih ke mana tadi Cui Kong, juga pergi.

Sambil mengejar, B Li menggerakkan tangan dan beberapa buah senjata rahasia pat-kwa-ci menyambar ke arah dua oran gadis yang melarikan diri itu.

Senjata rahasi yang dipergunakan oleh Bi Li ini adalah senjata rahasia Ang-jiu Mo-li, hebatnya buka main.

Biarpun Cui Lin dan Cui Kim sudah memiliki kepandaian tinggi juga, namun mereika terpaksa membalikkan tubuh dan menggunakan pedang menyampok semua senjata rahasia ini, tidak berani mereka berlaku semberono.

Sementara mereka membalik ini Bi Li sudah dekat lagi dan langsung menyerang.

Akan tetapi Cui Lin dan Cui Kim tidak mau melayaninya, setelah sekali menangkis, mereka kembali lari, Bi Li hendak melepas senjata rahasia lagi akan tetapi dua orang lawannya sudah melompat ke belakang batu karang dan terus lari sehingga untuk sesaat gunung batu karang menjadi penghalang baginya.

"Bi Li, jangan kejar...........!"

Seru Tiang Bu, tahu bahwa Bi Li bukanlah seorang gadis yang mudah tunduk menurut, ia melompat mencegat.

Dapat dibayangkan betapa mendongkol hati Bi Li ketika tahu tangannya dipegang dan ditarik dari belakang oleh Tiang Bu.

"Kau..... kau begitu sayang kepada mereka sehingga tidak ingin melihat aku membunuh mereka? Kau membela kekasih-kekasihmu itu......?"

Bentaknya marah sambit membanting-banting kaki karena ia tidak berdaya melepaskan pegangan tangan Tiang Bu.

"Bi Li, kau selalu salah mengerti. Dua orang wanita itu amat curang dan licin kau harus ingat bahwa agaknya kita sudah sampai di daerah Ui-tiok-lim, siapa tahu mereka itu sengaja memancingmu untuk mangejar kemudian menjebakmu! Pula, aku sudah berhasil menangkap seorang yang bisa menjadi penunjuk jalan ke Ui tiok-lim."

Mendengar ini, dan melihat bahwa dua orang gadis tadi sudah lenyap dari situ, Bi Li mengalah.

Akan tetapi pandang matanya kepada Tiang Bu masih membayangkan ke-tidak senangan hatinya.

Tiang Bu merasa hal ini ia tahu pula bahwa tentu gadis ini memandang rendah kepadanya setelah mendengar percakapan antara Cui Lin, Cui Kim dan Cong Lung tadi.

Bi Li menghampiri Cong Lung yang masih pingsan.

Ia metihat saku baju orang itu dan teringatlah ia akan katak ajaib yang berada di dalam peti.

Tanpa banyak cakap lalu mengambil peti kecil itu dari dalam saku baju Cong Lung.

"Bi Li, jangan..... sentuh binatang itu!"

Tiang Bu berseru dan mengulur tangan hendak merampasnya. Bi Li mengelak dan mengejek, matanya bersinar marah.

"Manusia rendah kau hendak merampasnya dan mengulangi perbuatan rendah seperti dulu dengan dua orang pelacur tadi?"

Tiang Bu tersentak kaget. Sungguh diluar dugaannya gadis ini akan begitu marah. Benar-benar sukar dimengerti watak wanita.

"Tidak, Bi Li. Aku....... aku hendak membunuh binatang berbahaya itu!"

"Bukan kau, akan tetapi aku yang akan membunuhnya. Binatang menyebalkan, menjijikkan!"

Dengan gemas ia membuka peti kecil itu dan......

katak hijau itu melompat ke luar cepat bukan main dan di lain saat ular di lengan Bi Li sudah putus lehernya tergigit oleh kaiak itu!

Anehnya, tiga ekor ular lain yang tadinya bersembunyi di saku baju Bi Li, kini meruyap ke luar semua, nampak ketakukan dan hendak melarikan diri.

Akan tetapi, cepat seperti bersuyap, katak itu sudah melayang lagi dan dalam sekejap mata saja, dua ekor ular lain sudah putus lehernya dan mati.

Tinggal seekor lagi ular kecil bersisik putih yang dengan ketakutan mencoba bersembunyi di balik lipatan baju Bi Li.

Katak hijau itu mengejar terus dengan buasnya.

Melihat ketiga ekor ularnya mati digigit katak yang dibencinya ini, Bi Li menjadi makin marah.

"Katak siluman mampuslah!"

Tangannya mencengkeram ke arah katak, akan tetapi katak itu bukan main cepat gerakannya karena sudah dapat mengelak lagi melompat ke bawah dan cepat menyambar ke belakang tubuh Bi Li untuk mengejar ular bersembunyi di balik punggung.

Dengan mulut terpentang lebar katak itu menyerang dari luar baju, tercium olehnya agaknya bau ular yang bersembunyi di balik pungung.

Sebelum Bi Li dapat mengelak, katak itu ternyata sudah menempel di punggungnya, menggigit kulit daging punggungnya dan tidak dapat terlepas lagi.

Bi Li menjerit dan roboh terguling, pingsan.

Ternyata bahwa ketika katak itu menyambar ke arah ular yang bersembunyi di balik bajunya, katak ini mencium bau harum luar biasa yang sumbernya berada di punggung Bi Li, maka mengira kalau ular tadi berada di situ, ia lalu menggigit sekuat tenaga.

Akan tetapi, begitu menggigit, katak itu bertemu dengan racun yang dulu dipasang oleh Tee-tok Kwan Kok Sun di bawah kulit punggung anaknya ini dan gigitan itu tak dapat terlepas lagi karena katak ajaib ini telah tewas.

Di lain fihak, racun yang keluar dari mulut katak sudah menjalar ke tubuh Bi Li, bertemu dengan racun penarik ular, terjadi perang hebat menimbulkan hawa panas membakar tubuh gadis itu sehingga Bi Li roboh pingsan.

Tiang Bu kaget dan cepat memeluk tubuh gadis itu sehingga tidak terbanting.

Ia lebih kaget lagi merasa betapa tubuh itu panas membakar.

Pertama-tama ia melihat katak itu yang ternyata sudah mati akan tetapi masih lengket pada punggung Bi Li.

Dan ular itu sudah bersembunyi di tempat aman, di dalam lipatan baju.

Tiang Bu menjadi bingung.

Biarpun sudah pernah mempelajari ilmu pengobatan dari Wan Sin Hong tentang luka-luka dan akibat racun, namun belum pernah ia mendengar tentang racun katak hijau, katak pembangkit asmara!

Malah baru sekarang ia tahu bahwa "gilanya"

Dia dulu ketika ia tergoda oleh Cui Lin dan Cui Kim juga karena hawa beracun dari katak hijau ini.

Berita yang ia dengar dari percakapan tadi tentang khasiat katak hijau terhadap pria, membuat ia terhibur sedikit.

Setidaknya ia mempunyai alasan kini mengapa ia dahulu sampai melakukan perbuatan rendah itu.

Kiranya ia berada di bawah pengaruh katak pembangkit asmara.

Tiang Bu tidak berani sembarangan mempergunakan obat-obatnya untuk menolong Bi Li sebelum ia tahu betul obat apa yang harus diberikannya.

Ia menarik bangkai katak itu, tanpa ragu-ragu lagi merobek baju Bi Li bagian punggung setelah miringkan tubuh gadis itu.

Tampak kulit punggung yang putih halus dan bekas gigitan katak itu meninggalkan bekas kehijauan.

Anehnya, ia melihat bintik merah di punggung itu.

bintik yang agaknya sudah lama ada dan yang mengeluarkan bau harum keras sekali.

Kini bintik merah itu dilingkari bekas gigitan katak yang berwarna hijau.

Tiang Bu mengambil pedang Bi Li yang terlempar di atas tanah menggunakan ujung pedang untuk melukai sedikit pada punggung Bi Li dan melihat darah yang keluar dari luka.

Darah yang keracunan selalu mendatangkan warna yang akan dapat memastikan obatnya.

Keluarlah darah merah segar dari luka itu, darah merah biasa seperti darah orang sehat.

Aneh sekali, pikir Tiang Bu.

Saking penasaran ia menusuk lagi di dekat luka gigitan katak itu.

Kembali mengalir darah merah segar, sama sekali tidak ada tanda-tanda racun.

Tiang Bu menjadi makin bingung.

Hanya dengan melihat warna darah orang yang tergigit binatang berbisa, ia akan dapat menentukan obat yang mana harus ia pakai.

Akan tetapi darah Bi Li ternyata darah sehat yang sama sekali tidak memperlihatkau tanda keracunan.

Tiang Bu mengeluarkan buku catatannya tentang pengobatan ketika ia belajar dari Wan Sin Hong.

ia membaca dan membalik-balik lembaran catatannya itu namun sia-sia belaka.

Dia masih terlalu hijau dalam hal ini.

Kalau Wan Sin Hong berada di situ pendekar ini akan tahu sebabnya dan akan tertawa, karena sesungguhnya, racun dari katak hijau itu lenyap kekuatannya oleh racun merah yang berada di tubuh Bi Li, racun merah yang dahulu dimasukkan ke punggungnya oleh Tee-tok Kwan Kok Sun.

Racun merah inilah yang mengeluarkan bau harum dan yang menarik semua ular-ular berbisa yang segera menjadi jinak kalau berdekatan dengan Bi Li.

Kini dua macam racun itu saling serang dan kedua-duanya menjadi habis kekuatannya.

Perlahan-lahan dan racun yang bertawanan itu menjadi musnah lenyap di dalam darah yang segar, yang mempunyai daya sendiri untuk melebur dua macam racun yang sudah tidak ada gunanya itu.

Racun katak lenyap juga racun merah yang menimbulkan bau harum itu musnah.

Bau harum dari tubuh Bi Li makin lama makin menghilang dan ia menjadi seorang menusia biasa lagi.

Karena kehabisan akal dan tidak tahu harus mempergunakan obat apa, Tiang Bu hanya bisa mengambil obat tempel untuk mengobati luka-luka bekas gigitan katak dan bekas tusukan ujung pedang, ditempelkau di punggung gadis itu.

Kemudian ia membereskan lagi baju di bagian punggung yang trrbuka dan mengangkat Bi Li ke tempat bersih, di atas rumput yang tumbuh di bawah pobon.

Baru saja ia menurunkan Bi Li di atas rumput, gadis itu siuman, mengeluh perlahan, disambung seruan yang menyenangkan hati Tiang Bu.

"Aduh nyamannya............!"

Ketika pemuda itu meraba jidat Bi Li, ternyata hawa panas tadi sudah hilang dan keadaan Bi Li sudah normal kembali. Gadis itu bangkit duduk dan teringatkah dia akan katak hijau yang menyerangnya tadi.

"Mana binatang itu?"

Katanya gemas.

"Dia sudah mati setelah menggigit punggungmu. syukur kau tidak apa-apa,"

Kata Tiang Bu yang menceritakan dengan singkat kejadian tadi.

Bi Li menyesal bukan main kehilangan tiga ekor ularnya.

Kini ia hanya tinggal mempunyai seekor ular kecil bersisik putih itu, akan tetapi ular ini cukup berbahaya.

Ia sendiri masih belum insyaf bahwa sekarang pengaruhnya terhadap ular telah lenyap, bau harum yang aneh itu telah meninggalkan tubuhnya.

Ular kecil putih yang tinggal satu satunya itu masih jinak kepadanya karena sudah lama ia pelihara.

Terdengar keluhan orang dan Cong Lung bergerak lalu duduk sambil meringis kesakitan.

"Kau benar-benar orang lihai, orang muda,"

Katanya sambil memandang ke arah Tiang Bu dengan kagum.

"Kau sudah mengaku kalah?"

Desak Tiang Bu. Cong Lung mengangguk.

"Belum pernah aku bertemu dengan lawan seperti engkau akan tetapi kalau lukaku sudah sembuh, aku masih ingin minta petunjuk darimu dalam ilmu silat. Sispakah namamu?"

"Namaku Tiang Bu dan kalau kau sudah mengaku kalah, sekarang kau harus menjadi petunjuk jalan kami memasuki Ui-tok-lim."

Mendengar nama itu, Cong Lung agak terkejut.

"Kau bernama Tiang Bu? Aku pernah mendengar tentang Putera Liok-taihiap yang bernama Tiang Bu....."

"Bukan aku! Aku musuh besar Liok Kong Ji. Bawa aku ke sana."

Tiba-tiba Cong Lung bergelak, kelihatannya geli.

"Kau.......? Kau hendak memasuki Ui-tiok-lim untuk mencari Liok-taihiap? Benar-benar sukar dipercaya. Akan tetapi kalau demikian kehendakmu, marilah kuantar kalian ke Ui tiok-lim!"

Ia melompat berdiri dan tiba-tiba ia meraba-raba saku bajunya, keningnya berkerut.

"Katak hijau yang kotor itu telah mampus, tak perlu Kau cari lagi,"

Kata Tiang Bu sambil menunjuk ke arah bangkai katak yang sudah kering.

Cong Lung menarik napas panjang berulang-ulang, kelihatannya menyesal bukan main.

Ia mengerling ke arah wajah Bi Li yang amat jelita itu, lalu berkata.

"Sayang.......!"

Akan tetapi ia segera berjalan cepat dan berkata.

"Marilah!"

Dengan hati-hati sekali Tiang Bu mengikutinya, memberi isyarat kepada Bi Li untuk berjalan di belakangnya.

Gadis itupun bersiap-siap; berjalan di belakang Tiang Bu dengan pedang di tangan kanan dan ular putih melingkar di pergelangan tangan kiri.

Cong Lung berlarl mengitari Pegunungan Batu Karang Putih, lalu memnbelok ke kiri menuju ke pegunungan yang penuh dengan batu karang dan sebatang pohonpun tidak kelihatan dari bawah.

Orang yang hendak mencari Ui tiok lim"Hutan Bambu Kuning) tidak nanti akan mengambil jalan ini karena siapakah orangnya mau mencari sebuah hutan di atas pegunungan yang begitu kering penuh batu melulu?

Inikah keistimewaan Ui-liok-lim yang amat sukar dicari orang.

Tidak saja letaknya di tempat yang tak semestinya, yitu di atas pegunungan batu karang, akan tetapi juga amat sukar mencari jalan di antara batu karang itu.

batu-batu yang berada di situ menjulang tinggi menutupi pandangan sehingga orang mudah tersesat tidak mengenal daerah ini.

Cong Lung adalah seorang di antara kaki tangan Liok Kong Ji.

Liok Kong Ji satelah mengundurkan dari bala tentara Mongol dan berhasil mengumpulkan harta kekayaan besar sekali dari harta rampasan di istana Kerajaan Kin dan hadiah hadiah diri Jengis Khan, lalu hidup sebagai raja muda di Ui tiok lim.

Di tengah Rimba Bambu Kuning ini mendirikan gedung besar seperti istana yang mempunyai hampir seratus buah kamar.

Kini Kong Ji tinggal bersama selir-selirnya yang jumlahnya ada enam belas orang muda muda, ayu-ayu, didampingi pula oleh tiga orang "anak angkatnya"

Yaitu Liok Cui Kong, Cui Lin dan Cui Kim. Tadinya Cui Kim juga menjadi calon selirnya akan tetapi semenjak ia mendengar bahwa dua orang "anak"

Ini sudah melayani Tiang Bu, ia tidak mau menganggu mereka.

Dasar manusia berwatak bejat biarpun di depan matanya ia melihat betapa Cui Lin dan Cui Kim dua orang gadis cabul itu bermain gila dengan?kakaknya?

sendiri Cui Kong, namun Kong Ji sengaja menutup mata.

Dapat dibayangkan betapa rusak dan bejat moral orang-orang yang tinggal di Ui-tiok-lim.

Karena maklum bahwa ia mempunyai banyak musuh, terutama sekali ia merasa jerih terhadap Wan Sin Hong, Kong Ji telah memilih lima orang jagoan yang memiliki kepandaian tinggi.

Lima orang ini adalah kawan-kawannya yang ia kenal di dalam perantauannya, bahkan mereka telah pula membantu pergerakan tentara Mongol.

Dengan lima orang ini Kong Ji yang cerdik mengangkat saudara dan dia diangkat menjadi saudara tua.

Bukan karena usia, melainkan karena kepandaiannya, kedudukannya dan terutama sekali karena hartabendanya.

Dua di antara lima orang "adik angkat"

Ini adalah si muka pucat Cong Lung ahli lweekeh itu dan orang tinggi basar muka Imam yang muncul bernama Cong Lung, bernama Ma It Sun.

Seperti juga Cong Lung, Ma It Sun ini adalah seorang tokoh besar di perbatasan utara yang sudah lama malang melintang sebagai seorang penyamun tunggal yang disegani karena golok besarnya.

Maka ia mempunyai julukan Twa-to (Si Golok Besar).

Tiga orang yang lain juga bukab orang-orang biasa, melainkan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang sudah terkenal memilih kepandaian tinggi.

It-ci-san Kwa Lo It Dewa Jari Tunggal adalah seorang ahli totok dari barat, berwajah gagah penuh brewok berusia lima puluh tahun.

Orang ke empat tak lain adatah Lee Bok Wi, seorang kate kecil, berusia belum empat puluh tahun namun sudah membuat nama besar karena kepandaian meneopetnya yang luar biasa sehingga ia mendapat julukan Koai-jiu Sin-touw (Malaikat Copet).

Yang ke lima adalah seorang hwesio murtad dari Siauw lim-si, ahlit toya bernama Hok Lun Hosiang.

Dengan adanya lima orang ini di sampingnya.

Liok Kong Ji merasa aman.

Dia dan anak-anak angkatnya sudah merupakan barisan yang amat kuat dan sukar terkalahkan, apa lagi para selirnya juga rata-rata memiliki kepandaian silat karena ia beri latihan, lalu para pelayan yang puluhan jumlahnya juga bukan orang-orang sembarangan.

Keluarga besar berikut kaki tangannya ini selain amat kuat, juga mereka tinggal di Ui-tiok-lim, sebuah hutan rahasia yang penuh jebakan-jebakan, penuh perangkap-perangkap berbahaya juga bambu yang tumbuh di situ diatur menurut tin ( barisan ) tertentu sehingga belum pernah ada musuh dapat masuk.

Sekali masuk, orang akan tersesat dan menghadapi pasangan perangkap yang aneh-aneh dan menyeramkan dan jaranglah ada orang masuk dapat keluar kembali dalam keadaan hidup!

Akan tetapi sekarang Cong Lung telah terjatuh ke dalam tangau Tiang Bu, pendekar muda yang baru muncul dan memaksanya menjadi petunjuk jalan memasuki Ui-tiok-lim.

Sudah tentu saja Cong Lung dan kawan-kawanrya dapat memasuki Ui-tiok-lim melalui jalan satu-satunya, jalan rahasia yang tidak diketahui orang luar.

Cong Lung berlari-lari di antara batu-batu karang yang sulit untuk dikenal karena semua hampir sama dan jalan yang dilaluinya ini benar benar sukar untuk diingat.

Tiang Bu sendiri yang biasanya amat cerdik, menjadi bingung ketika untuk kesembilan kalinya Cong Lung menikung pada tikungan yang kelihatannya sama saja dengan yang tadi, seolah-oleh mereka menikung pada belokan yang itu-itu juga.

Cong Lung tentu tidak akan termasuk seorang diantara "lima besar"

Yang sudah mendapat kehormatan diangkat saudara oleh Liok Kong Ji kalau dia seorang bodoh.

Seperti juga Liok Kong Ji dan semua kaki tangannya, Cong Lung ini juga selain lihai ilmu silatnya, lihai pula otaknya.

Ia cerdik sekali.

Melihat kehebatan ilmu kepandaian pemuda yang menawannya ini, ia maklum bahwa melawan takkan ada gunanya.

Oleh karena itu ia sengaja mengalah dan takluk, lalu bersedia mangantar Tiang Bu dan Bi Li ke Ui tiok-lim.

Akan tetapi ini hanya pancingan belaka.

Hal ini diketahui oleh Tiang Bu setelah terlambat.

Ketika menikung untuk kesebelas kalinya tiba-tiba Cong Lung mendorong sebuah gunung-gunungan di sebelah kirinya.

Batu karang yang berbentuk bukit kecil itu tentu beratnva laksaan kati, akan tetapi anehnya ketika didorong oleh Cong Lung lalu bergeser dan terbukalah sebuah lubang seperti sumur.

Cong Lung sudah mendesak masuk dan tubuhnya terguling ke dalam sumur di balik batu karang itu.

Terdengar ia menjerit ngeri!

Tentu saja Tiang Bu dan Bi Li kaget bukan main dan sempat menahan kaki tidak mengikuti jejak Cong Lung.

Kalau demikian halnya tentu mereka juga akan terjerumus ke dalam sumur itu pula.

Akan tetapi, ketika mereka menahan kaki dan beidiri tegak dan ngeri di depan batu karang itu tiba-tiba saja tanah yang mereka injak nyeplos ke bawah!

Untuk melompat tiada kesempatan lagi karena kiri tebing gunung batu karang, di depan menghalang batu karang yang ada sumur di belakang itu.

"Celaka......!!"

Seru Tiang Bu yang cepat menyambar lengan tangan Bi Li sehingga mereka dapat melayang turun bersama ke bawah.

Ketika kaki mereka menyentuh tanah, ternyata mereka telah terjerumus ke dalam sumur yang dalamnya ada lima tombak lebih gelapnya bukan main dan di sekeliling mereka adalah dinding batu karang yang keras dan licin belaka.

Terdengat suara ketawa dari atas dan alangkah heran dan mendongkolnya hati Tiang Bu dan Bi Li ketika mendatpat kenyataan bahwa yang menertawakan mereka itu alalah Cong Lung yang tadi dikira mati tersuling ke dalam sumur.

Tidak tahunya itu hanya akal belaka dari si muka pucat yang lihai.

"Ha-ha ha, Tiang Bu. Biarpun kau menghadapi kematian di dalam jurang maut itu, kau tidak penasaran karena di sampingmu ada bidadari cantik Ha-ha, puaskanlah hatimu sebelum mampus orang muda!"

Kemudian keadaan sunyi sekali karena si muka pucat itusegera pergi meninggalkan tempat itu.

Tiang Bu berusaha melompat ke atas, akan tetapi kedua tangannya terbentur batu karang yang telah menutup lagi lubang itu dari atas, agaknya semua itu tadi digerakkan oleh alat-alat tersembunyi yang sengaja dipasang di situ untuk menjebak musuh.

"Tidak ada jalan ke luar?"

Tanya Bi Li, suaranya tenang saja karena gadis ini tidak takut menghadapi bahaya. Di dalam gelap Bi Li tidak tinggal diam, iapun meraba-raba dinding mencari-cari jalan ke luar.

"Tiang Bu, di sini ada lobang besar!"

Serunya dari arah kiri. Tiang Bu eepat menghampiri ke arah suara gadis ini dan karena keadaan di situ amat gelap, hampir saja beradu muka dengan Bi Li.

"Hugh, kau gila. Main tubruk saja!"

Gadis itu menegur.

"Maaf tidak kusengaja, Bi Li. Mana lubang itu?"

"Ini rabalah. Nah, bukankah ini merupakan jalan terowongan?"

Tiang Bit meraba-raba.

Memang betul, pada dinding sebelah kiri itu terdapat lubang, antara satu tombak tingginya dari dasar sumur.

Telowongan batu karang yang cukup besar untuk orang merayap masuk, basah dan licin.

Memang ada bahayanya tempat seperti itu dipergunakan oleh binatang buas seperti ular untuk bersembunyi, akan tetapni dari pada mati konyol di dalam sumur, lebih baik berusaha mencari jalan.

keluar.

"Bi Li, mari kau ikut di belakangku. Kita memeriksa terowongan ini akan membawa kita sampai ke mana."

"Aku di depan, aku yang membawa pedang,"

Kata Bi Li.

"Tidak, kau di belakang. Biar aku yang menghadapi bahaya lebih dulu"

"Kalau begitu, bawalah pedangku, Kalau kau tidak mau, akupun tidak mau di belakang."

Bi Li berkeras.

Akhirnya Tiang Bu mengalah dan menerima pedang gadis itu, lalu ia melompat ke dalam lubang terowongan diikuti oleh Bi Li.

Dua orang muda ini merayap terus.

Terowongan itu panjang sekali dan di dalam gelap itu rasanya ada setengah hari mereka merangkak sampai kaki tangan terasa sakit akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup besar seperti sebuah kamar tidur atau sebuah kamar tahanan.

Ini lebih baik, setidaknya lebih lebar dan ada sinar masuk dari atas membuat mereka dapat saling melihat, biarpun hanya remang-remang seperti orang melihat bayangan.

Kembali mereka benar-benar terkurung oleh empat dinding batu karang yang amat kuat.

"Bagaimana Tiang Bu? apakah kita harus mati konyol di tempat ini?"

Tiang Bu tak segera menjawab, hatinya tertusuk.

Setelah memeriksa agak lama, iapun habis harapan.

Perjalanan melalui terowongan tadi sama dengan perjalanan mencari kuburan mereka sendiri.

Tidak ada jalan keluar lagi dan bicara tentang pertolongin sama dengan mimpi kosong.

"Agaknya begitulah, Bi Li. Bagi aku.... seorang rendah budi dan kotor. masih tidak apa..... akan tetapi kau.......?"

Suaranya tertahan haru.

"Akupun tidak lebih baik dari pada kau. Tak perlu kita bersedih menghadapi saat terakhir. Lebih baik kita saling menceritakan riwayat masing-masing. Nah, kau mulailah Tiang Bu."

"Keadaanku sudah kuceritakan kepadamu walaupun singkat. Apa sih yang menarik dari diriku yang tak berharga ini?"

"Belum semua kauceritakan, misalnya tentang........ mengenai....... dua orang gadis kakak beradik itu. Aku ingin sekali mendengar ceritamu tentang mereka. Manis, benarkah sikap mereka terhadapmu. Tiang Bu?"

Biarpun kata-kata ini diucapkan lemah-lembut, namun terasa oleh Tiang Bu betapa di dalamnya mengandung hawa marah dan tak senang.

Heran!

"Bi Li, tentu kau mendapat kesan buruk sekali setelah kau mendengar percakapan antara mereka itu.

Aku tidak menyalahkan kau memang sudah sepatutnya kau memandang hina kepadaku.

Aku orang lemah iman dan berberwatak kotor dan cabul.

Kau mau mendengar riwayatnya?

Baik, dengarlah.

Ketika aku bertemu dengan mereka, Cui Kong dan dua orang gadis itu, Cui Kim dan Cui Lin, di dalam pertempuran aku dapat mengalahkan mereka.

Akan tetapi mereka membujuk dan mengatakan (Lanjut ke

Jilid 24) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24 bahwa sebagai anak-anak dari Liok Kong Ji tidak selayaknya kita bermusuhan.

Mereka membawaku ke rumah di lembah Sungai Huang-ho dan di sana mereka mulai menipuku.

Dua orang grdis itu sengaja membujuk rayu.

mempergunakan kecantikan mereka dan di luar tahuku, katak hijau yang kubawa dan kurampas dari tangan isteri Pek thouw-tiauw-ong itu membantu usaha keji mereka.

Dan aku terjeblos, tak berdaya di dalam permainan mereka.

Akhirnya setelah aku tidak berdaya lagi, mereka melemparku ke dalam jurang di mana seharusnya aku mampus sebagai hukuman atas dosa-dosaku.

Akan tetapi agaknya Thian belum menghendaki orang macam aku ini mampus, agaknya aku harus bertemu dengan orang-orang agar aku menderita malu.

Setelah terkurung hampir tiga tahun, aku dapat meloloskan diri dari tempat itu kembali ke dunia ramai.

Nah, demikianlah cerita tentang dua orang gadis itu.

Kau tentu akan makin jemu, bukan?"

Bi Li tidak menjawab, takut kalau suaranya akan tergetar.

Diam-diam ia merasa terharu, kasihan dan kagum sekali kepada Tiang Bu yang dianggapnya amat jujur dan berbudi mulia.

Ia dapat mengerti bahwa perbuatan Tiang Bu itu tentu karena pengaruh hawa racun dari katak hijau yang dari namanya saja katak pembangkit asmara, sudah dapat diduga bagaimana pengaruhnya terhadap seorang pria.

Kesalahan Tiang Bu pantas dimaafkan.

Sebaliknya Tiang Bu mengira bahwa gadis itu tentu muak dan jemu mendengar penuturannya tadi maka diam saja.

Untuk melenyapkan suasana muram ini, ia lalu bertanya dengan suara dibikin gembira.

"Bi Li, tahukah kamu di mana adanya Wan Sun kakakmu itu? Aku ingin sekali bertemu dengan dia."

Sebetulnya ucapan ini kosong. karena dalam keadaan seperti itu, menghadapi maut karena tidak ada jalan keluar, bagaimana bicara tentang ingin bertemu dengan Wan Sun? "Dia bukan kakakku,"

Bantah Bi Li sambil duduk di pojok kamar batu itu melepaskan lelah.

"Dan aku tidak tahu ke mana perginya. Mungkin pergi bersama Wan Sin Hong taihiap yang datang menolong kami pada saat kami terdesak."

Lalu gadis ini menceritakan pengalamannya pada saat kota raja diserbu bala tentara Mongol dan pada saat itu ia mendengar pengakuan Kwan Kok Sun sehingga ia pergi meninggalkan Wan Sun.

Tiang Bu menarik napas panjang.

"Memang aneh, dia bukan kakakmu padahal semenjak kecil berdekatan, akan tetapi dia adalah adik kandungku berlainan ayah, biarpun kami tak saling mengenal. Aku ingin sekali bertemu dengan adikku itu. Ingin aku berbuat sesuatu untuknya, berkorban sesuatu untuknya demi baktiku kepada ibu yang tentu amat mencintanya......."

Bi Li menjadi terharu. Mulia benar hati pemuda ini.

"Memang,....... ibu....... eh. Nyonya Wanyen amat sayang kepadanya. juga kepadaku. Dan San-ko sudah ditunangkan dengan Coa Lee Goat, puteri Coa Hong Kin..."

"Betulkah?"

Tiang Bu berjingkrak seperti hendak menari kegirangan.

"Dengan Lee Goat adikku? Ha-ha-ha. Lee Goat adikku manis yang suka menangis! Ahh, alangkah baiknya...... alangkah bahagiannya kalau saja aku dapat menyaksikan pernikahan itu.......!"

Tiba-tiba ia berhenti bicara karena segera teringat akan keadaannya bersama Bi Li yang agaknya sudah tidak ada harapan lagi itu.

"Kau seorang yang baik sekali, Tiang Bu......."

Kata Bi Li lirih terharu.

"Ah, hanya kau yang memujiku, Bi Li. Kaulah orang baik, adapun aku....... aku orang lemah......."

"Tidak, kaulah satu-satunya orang yang mendatangkan kagum dalam hatiku."

Mendengar kata-kata yang jujur ini Tiang Bu melengak.

"Bi Li..,.. kau tidak berolok-olok? Kau..... betulkah kata-katamu itu?"

Bi Li mengangguk.

"Terima kasih Bi Li, terima kasih."

Menyentuh tangan gadis itu.

"Sekarang aku bersiap untuk mati dengan hati senang. Setidaknya ada orang yang...... suka kepadaku. Kau suka kepadaku, Bi Li? Betulkah ini?"

"Aku..... aku suka kepadamu, Tiang Bu."

"Luar biasa! Hampir tak dapat aku percaya! Bi Li, kau.. gadis perkasa yang begini cantik jelita, bekas puteri pangeran....... bisa jadikah kau suka kepada laki-laki semacam aku ini yang buruk rupa, miskin, dan hina? Bi Li, jangan kau mempermainkan aku dengan ini! Jangan........."

Suara Bi Li terdengar keras dan marah ketika ia menjawab.

"Tiang Bu. apa kau kira aku menjual hatiku begitu murah, suka kepada laki-laki hanya oleh wajah tampan dan budi bahasa halus belaka? Kau memang tidak tampan, juga tidak pandai mengambil hati akan tetapi, watakmu gagah perkasa, budimu mulia dan kau benar-benar seorang jantan sejati. Itulah yang kusuka....."

Saking girang dan herannya.

Tiang Bu hanya berdiri seperti patung, mengerahkan seluruh tenaga urat-urat matanya untuk menembus kegelapan agar ia dapat menatap pandang mata gadis itu membaea isi hatinya.

Akan tetapi kegelapan menghalanginya.

Bi Li tetap merupakan bayangan yang duduk tersardar pada dinding batu karang.

Tiba-tiba keduanya tersentak kaget ketika mendengar seruan-seruan tertahan disusul oleh makian dan teriakan kesakitan, tepat di balik dinding sebelah kanan.

Agaknya di balik dinding sebelah kanan itu terdapat "kamar tahanan"

Pula dan baru saja ada orang orang.

wanita dilempar masuk, karena segera ada suara dua orang wanita di balik dinding itu.

Alangkah heran dan kagetnya hati Tiang Bu dan Bi Li ketika mereka mengenal suara-suara itu sebagai suara Cui Lin dan Cui Kim!

"Benar-benar manusia berhati binatang Cui-Kong itu?

terdengar Cui Kim memaki marah.

Dahulu dia bemanis muka, membujuk bujuk kita dan menyatakan cintanya, semua itu palsu belaka.......!"

Terdengar gadis ini menangis.

"Memang hati laki-laki semua palsu, mana yang bisa dipercaya?"

Kata Cui Lin, suaranya mengandung kemarahan.

"Apa lagi Cui Kong, dia malah lebih jahat dari semua laki-laki yang pernah kita jumpai. Kurang apa kita membantu dia? Sampai-sampai kita mengorbankan diri beberapa kali kepada musuh yang terlalu berat untuk ditawan dengan kekerasan, terpaksa kita mempergunakan kecantikan untuk mengalahkan musuh. Sekarang melupakan kita, malah memusuhi kita. Benar-benar anjing biadab!"

"Agaknya ini hukuman bagi dosa-dosa kita, enci Lin. kalau aku mengingat akan Tiang Bu yang dulu kita goda, benar-benar aku masih merasa malu. Dia itulah laki-laki sejati dan kita harus mengaku bahwa tanpa bantuan katak hijau kiranya tak mungkin kita dapat menjatuhkannya. Kalau aku tahu Cui Kong akan menyia-nyiakan kita dan menyiksa seperti ini, lebih baik aku dulu turut dan membantu Tiang Bu. Dia laki-laki gagah berilmu tinggi......"

"Hush, adik Kim, bagaimana kau bisa melamun yang tidak-tidak? Cui Kong sudah menipu kita dan melempar kita ke tempat ini. Kita sudah tertotok hiat-to kita sehingga tidak berdaya keluar dari tempat ini. Kalau ayah tidak lekas-lekas mencari kita dan Cui Kong mendiamkan saja apakah kita tidak akan mati kelaparan......?"

Kedua orang gadis ini lalu menangis terisak-isak. Sementara itu, di balik dinding batu itu, Tiang Bu memegang tangan Bi Li dengan hati girang.

"Bi Li, kesempatan baik untuk lolos dari sini, bahkan untuk menyerbu masuk mencari manusia Liok Kong Ji."

Tanpa menanti Bi Li menjawab, Tiang Bu mengetuk-ngetuk dinding batu itu dan berkata dengan suara nyaring.

"Cui Lin dan Cui Kim. Aku Tiang Bu berada di sini, terjebak oleh Cong Lung. Kalau kalian bisa menolongku keluar, tentu akupun dapat menolong kalian!"

Suara tangis di sebelah terhenti seketika dan agaknya dua orang gadis itu terheran dan kaget.

"Kau di situ. Tiang Bu? terdengar Cui Lin berkata, hati-hati sekali.

"Bagaimana kau bisa menolong kami yang pernah mencelakaimu?"

"Tolonglah aku keluar dari sini, tentu aku akan melupakan perbuatan kalian yang dulu dan aku akan berusaha menolongmu ke luar pula serta membebaskan hiat-totmu yang tertotok."

Beberapa lama tidak terdengar jawaban, agaknya emci dan adik itu berunding. Kemudian terdengar lagi suara Cui Lin melalui celah-celah kecil di tembok batu karang itu.

"Tiang Bu kau cari sebuah batu berbentuk tengkorak di ujung kanan bagian ini, putar hulu tengkorak itu tiga kali ke kiri, akan terbuka pintu rahasia."

Bukan main girangnya hati Tiang Bu mendengar ini.

Cepat tangannya meraba-raba akhirnya ia mendapatkan batu tengkorak itu.

Hatinya berdebar tegang ketika tangannya mengerahkan tenaga memutar batu tengkorak ke kiri.

"Kriiittt.......!"

Perlahan-lahan terbukalah pintu rahasia yang tidak kelihatan di ujung itu.

Tiang Bu dan Bi Li menerohos ke luar.

Baiknya Tiang Bu selalu waspada dan sudah curiga kepada Bi Li yang sejak tadi diam saja.

Begitu melihat pedang berkelebat ia menangkap pergelangan tangan Bi Li.

"Bi Li, demi Thian....... kau hendak berbuat apa?"

"Tiang Bu, dua ekor siluman seperti dia patut dibunuh! Apa kau hendak melindungi mereka ini, due ekor siluman jahat bekas...... bekas...... kekasihmu....?"

Ruangan di mana Cui Lin dan Cui Kim berada ini cukup terang sehingga mereka dapat saling melihat wajah masing-masing.

Dua orang gadis itu menggeletak dalam keadaan setengah lumpuh dan tidak berdaya karena sudah tertotok hiat-to (jalan darah) mereka.

Bi Li nampak marah sekali, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi-api ketika ia memandang kepada dua orang gadis itu.

"Sabarlah, Bi Li. bukan perbuatan gagah untuk menarik kembali janji kita. Aku tadi telah berjanji akan balas menolong mereka ini yang sudah menolong kita."

"Kau yang berjanji, akan tetapi aku tidak!"

Bi Li membantah.

"Akan tetapi aku sudah berjanji akan bebaskan mereka."

Sambil berkata demikian, Tiang Bu cepat melepaskan pegangannya, lalu dengan gerakan yang luar biasa cepatnya ia menepuk punggung Cu Lin dan Cui Kim yang segera menjadi bebas kembali.

"Tiang Bu, kau mau bertemu dengan ayah? mari kuantar,"

Kata Cui Lin tanpa banyak cakap lagi, juga tidak mau memandang kepada Bi Li yang galak.

Tiang Bu mengangguk, lalu dengan ramah menggandeng tangan Bi Li yang masih marah, karena mendengar bahwa dua orang gadis itu hendak mengantarnya ke tempat Liok Koug Ji, maka Bl Li menurut dan tidak banyak cakap.

Tentu saja berhadapan dengan Kong Ji lebih penting dari pada mengurus dua orang gadis yang amat dibencinya itu.

Segera setelah empat orang ini melompat ke luar dari sumur dangkal di mana Cui Lin dun Cui Kim berada tadi, kelihatan sebuah Hutan Bambu Kuning di depan.

Nampaknya seperti hutan biasa, dengan bambu kuning yang amat indah berkelompok di sana sini.

Akan tetapi sesungguhnya kelompok-ketompok bambu kuning itu teratur menurut kedudukan bintang dan amat sulit dimasuki orang.

Kali ini Cui Lin dan Cui Kim tidak berani berlaku curang lagi.

Memang mereka ingin membalas dendam, terutama kepada Cui Kong, maka dengen sengaja mereka mengantar Tiang Bu memasuki sarang Ui-tiok-lim ini.

Di dalam gedungnya yang indah seperti Istana, Liok Kong Ji dan saudara angkatnya sedang duduk menghadapi meja perjamuan.

Mereka sedang mendengarkan penututan Cong Lung tentang Tiang Bu dan seorang gadis jelita yang telah dijebaknya masuk ke dalam sumur maut.

"Siauwte tidak berani lancang membunuh karena harus menanti keputusan Liok-toako tentang puteranya itu. Harus diakui bahwa pemuda itu lihai bukan main dan agaknya tidak menaruh hormat sama sekali terhadap Liok toako."

Cong Lung mengakhiri penuturannya.

Pada saat mereka sedang bercakap-cakap muncullah orang yang menjadi bahan percakapan mereka.

Tiang Bu memasuki pintu ruangan yang luas itu bersama Bi Li sedangkan dua orang gadis yang mengantarnya tentu saja tidak berani masuk den sudah dari tadi pergi.

"Tiang Bu, akhirnya kau datang juga di sini!"

Liok Kong Ji melompat berdiri dari bangkunya dengan wajah tersenyum girang sekali, padahal dadanya berdebar keras. Memang pandai sekali Kong Ji menyembunyikan perasaannya.

"Ayahmu telah amat mengharapkan kedatanganmu, syukur kau datang, nak! Dan ini siapakah? Calon isterimu? Bagus, Kau boleh tinggal di sini sebagai puteraku bersama isterimu yang jelita ini. Mari, mari duduklah di sini, kuperkenalkan dengan susiok-susiokmu."

Tiang Bu memandang dengan hati tidak keruan rasa.

Ia berhadapan dengan orang yang sejahat-jahatnya, akan tetapi orang ini adalah ayahnya sendiri, hal ini sekarang ia tidak dapat membantah atau menyangkal pula.

Inilah Liok Kong Ji, ayahnya yang dengan keji melebihi binatang telah merusak hidup ibunya.

Gak Soan Li sehingga terlahirlah ia, anak yang tidak diakui ibunya sendiri!

Tiang Bu memandang penuh perhatian dan harus ia akui bahwa Liok Kong Ji tidak patut menjadi ayahnya.

Liok Kong Ji yang sudah berusia empat puluh tahun lebih itu kelihatannya masih muda, pakaiannya terbuat dari pada sutera yang halus dan mahal, wajahnya tampan berseri-seri dan terawat baik, rambulnya yang masih hitam itu mengkilap oleh minyak, digelung ke atas dan diikat dengan sutera halus pula.

Pedang yang indah gagangnya tergantung di punggung, kelihatan tanpan dan gagah sekali.

"Liok Kong Ji manusia iblis! Jangan kau bicara tak karuan. Siapa itu puteramu! Aku, Tiang Bu datang untuk mengambil kepalamu agar rohmu dapat menebus dosamu yang sudah bertumpuk,"

Kata Tiang Bu, suaranya terang saja namun mengandung ancaman hebat.

Terdengar suara tertawa bergelak dan empat orang saudara angkat Kong Ji bangkit dari kursi mereka.

Cong Lung dan Cui Kong yang berada di situ tidak berani sembarang berkutik karena dua orang ini sudah mengenal kelihaian Tiang Bu, akan tetapi empat orang jagoan yang lain merasa amat lucu melihat seorang pemuda sederhana tanpa memegang senjaia apa-apa berani datang di Ui tiok-lim dan mengancam hendak mengambil kepala Thian te Bu-tek Taihiap Liok Kong Ji begitu saja.

Ini benar-benar keterlaluan sekali.

"Bocah ingusan jangan kau kurang ajar! Twa-ko, kalau kau memberi ijin, biar siauwte menangkap puteramu yang puthauw (tidak berbakti ) ini!"

Kata Koat-jiu Sin-touw Lee-Bok-Wi Si Malaikat Copet. Kong Ji yang menjadi merah mukanya mendengar dampratan Tiang Bu tadi, menganguk sambil berkata.

"Bocah ini memang mendapat pelajaran dari orang-orang tidak benar. Perlu digembleng di sini. Kautangkaplah, akan tetapi hati-hati, Lee.sute."

Begitu mendapat perkenan Kong Ji, Lee Bok Wi melompat dan bukan main cepatnya gerakannya ketika melompat karena tahu-tahu ia sudah berada di depan Tiang Bu, terus kedua tangannya dipukulkan ke depan bertubi-tubi.

Melihat gerakan orang kate yang amat cepal ini, diam-diam Tiang Bu kagum dan tahu bahwa ia berhadapan dengan orang pandai yang ahti dalam ilmu ginkang.

Akan tetapi karena tujuan kedatangannya ini untuk membunuh Liok Kong Ji, ia tidak mau membuang banyak waktu.

Pukulan Lee Bok Wi ia hadapi dengan pukulan pula sambil mengerahkan sin-kangnya.

Akan tetapi Si Malaikat Copet ternyata cepat sekali.

Dari sambaran angin pukulan Tiang Bu, dengan kaget sekali ia dapat mengetahui bahwa pemuda sederhana ini ternyata memiliki tenaga yang luar biasa, cepat ia menarik kembali tangannya dan sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah berkelebat ke belakang Tiang Bu dan mengirim totokan dari belakang ke arah punggung pemuda itu.

Akan tetapi bukan Tiang Bu yang roboh, melainkan dia sendiri yang mencelat dan membentur tembok.

Tanpa menoleh Tiang Bu tadi sudah menggerakkan tangan ke belakang dan sekali dorong ia telah dapat membuat tubuh si kate itu terlempar.

"Dia lihai, mari beramai tangkap!"

Seru Cui Kong tak sabar.

Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian Tiang Bu, maka begitu tubuh Lee Bok Wi terlempar, ia menjadi khawatir dan menganjurkan supaya dilakukan pengeroyokan.

Betul, mari keroyok!"

Seru Cong Lung yang sudah tahu pula bahwa maju seorang demi seorang takkan ada gunanya.

Demikianlah, Twa-in Ma It Sun memutar golok besarnya, It-ci-sian Kwa Lo juga melompat maju dan mengirim serangan totokannya yang lihai, Hok Lun Hosiang juga memutar toyanya.

Ditambah lagi dengan Cong Lung dan Cui Kong serta Lee Bok Wi yang sudab maju lagi, sebentar saja Tiang Bu dikeroyok oleh enam orang ahli silat tinggi yang mempunyai kepandaian lihai.

"Majulah. majulah semua kalau sudah bosan hidup!"

Tiang Bu membentak garang, sedikitpun tidak takut.

Kaki tangannya bergerak cepat dan semua serangan lawan dapat digagalkannya.

dielak atau ditangkis.

Pemuda ini benar-benar mengagetkan para lawannya, karena hanya dengan sentilan jari tangan ia berani menangkis serangan senjata tajam.

Sementara itu, melihat betapa Tiang Bu dikeroyok, Bi Li menjadi marah sekali.

Ia menggerakkan pedangnya dan menyerang Liok Kong Ji sambil membentak marah.

"Manusia keji Liok Kong Ji, rasakan pembalasanku!"

Pedang itu menyambar ke arah leher Liok Kong Ji sedangkan ular di tangan kirinya juga ia gerakkan dalam serangan susulan.

"Hem, kau cantik sekali akan tetapi ganas!"

Seru Liok Kong Ji sambil tersenyum mengejek.

Akan tetapi senyum ejekannya segera lenyap ketika hampir saja lehernya tergigit oleh ular kecil yang melingkar di pergelangan tangan Bi Li karena gadis ini menggerakkan tangan kirinya dengan cepat bukan main, Inilah ilmu serangan yang khusus dengan senjata ular hidup.

yang ia pelajari dari ayahnya, Kwan Kok Sun.

"Keji sekali!"

Seru Liok Kong Ji dan pedangnya sudah tercabut pula.

Dengan mainkan pedangnya secara tenang dan lambat, Kong Ji dapat mempertahankan diri dengan mudah.

Memang kalau dibandingkan, ilmu kepandaian Liok Kong Ji jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Bi Li, maka dengan mudah saja Kong Ji mempermainkanrya.

Kadang-kadang pedangnya mengancam dada Bi Li, akan tetapi tidak terus ditusukkannya, melainkan sedikit colekannya membuat baju gadis itu bolong sedikit!

"Kau jelita sekali, kau cantik dan gagah.

Ahh......kalau belum menjadi milik dia, hemm.......

kau akan membikin gedungku lebih menyenangkan lagi....!"

Dengan kata-kata yang kotor Kong Ji memuji-muji kecantikan Bi Li, setengah mempermainkan dan setengah kagum betul-betul karena memang gadis ini memiliki kecantikan yang luar biasa.

Bahkan di antara belasan orang selirnya yang cantik-cantik, di antaranya terdapat pula puteri-puteri dari istana hasil rampasan, tidak ada yang memiliki kecantikan asli seperti Bi Li.

Mendengar ini dan melihat betapa ia dipermainkan, Bi Li menjadi makin marah bertempur dengan nekat.

Sementara itu, dengan kegagahannya yang luar biasa Tiang Bu mengamuk.

Apa lagi melihat Bi Li bertempur dengan Kong Ji ia merasa khawatir karena ia sudah mendengar akan kepandaian Kong Ji yang tinggi dan wataknya yang kejam.

Karena ingin cepat cepat membantu Bi Li, Tiang Bu segera mengeluarkan kepaundaiannya yang istimewa.

Tubuhnya seakan-akan lenyap dari pandangan mata orang-orang pengeroyoknya dan dalam segebrak saja tubuh Cui Kong sudah terlempur berikut huncwenya, juga Ban-kin-liong Cong Lung bergulingan roboh tak dapat bangun pula.

Cui Kong terkena tendangan kilat sehingga menderita luka di dalam perut, sedangkan Cong Lung terkena pukulan hawa lweekangnya yang membalik ketika tadi ia memukul punggung pemuda itu, didiamkan saja oleh Tiang Bu akan terapi sinkangnya bekerja sehingga tangan yang memukulnya itu terpukul sendiri oleh tenaga lweekang yang membalik, membuat Cong Lung merasa tangannya seperti dibakar dan ditusuk-tusuk dan ia bergulingan seperti cacing terkena abu panas.

It-ci-sian Kwa Lo menjadi kaget dan penasaran sekali.

Ia mengerjakan jari-jari tangannya berganti-ganti untuk mengirim totokan sehingga tulang-tulangnya berkerotokan tanda bahwa setiap totokannya dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam dan sekali saja mengenai sasaran tentu tak perlu diulang pula.

Namun Tiang Bu yang sudah marah itu mengangkat tangannya, membuka telapak tangan menerima sebuah totokan jari satu dengan telunjuk kanan.

Kwa Lo sudah girang sekali.

Pemuda ini goblok, pikirnya, mengira bahwa totokanku seperti totokan biasa yang dapat dipunahkan dengan telapak tangan yang penuh tenaga sinkang.

Dia tidak tahu bahwa aku sudah melatih jari jariku dengan bubuk baja putih, jangankan telapak tangan dari kulit daging, biarpun besi akan dapat tembus oleh jari telunjukku, demikian Kwa Lo berpikir dan melanjutkan totokannya dengan sepenuh tenaga.

"Trakk.......!!"

Jari telunjuk menotok tengah tengah telapak tangan kiri Tiang Bu dan akibatnya tubuh Tiang Bu tergetar sedikit akan tetapi Dewa Jari Satu itu menjerit kesakitan sambil melompat mundur terus memegangi tangan kanannya.

Jari telunjuknya sudah bongkak bengkok tidak karuan karena tulang jarinya sudah patah-patah.

Melihat ini, Twa-to Ma It Sun yang melihat gelagat buruk cepat berseru.

"Liok-twako, lekas bereskan bocah itu dan bantu kami!"

Liok Kong Ji sudah tahu bahwa dengan mudah Tiang Bu sudah merobohkan tiga orang dan tinggal tiga orang lagi yang mengeroyoknya.

Ia mendapatkan akal.

Cepat ia manggerakkan tangan kiri, dengan Ilmu Lokoai-sin-kiam (Iblis Tua Menyambut Pedang) ia berhasil menggunakan jari-jari tangannya menjepit pedang Bi Li dan pada saat gadis itu berkutetan hendak mencabut pedaog, pedang Kong Ji menyambar bagaikan kilat.

"Capp....!"

Bi Li mengeluh, darah menyembur dan gadis itu roboh pingsan dengan lengan kiri terbabat putus oleh pedang Kong Ji!

Ular putih yang masih melingkar di pergelangan tangan kiri ini misih menggeliat-geliat di tangan yang kini menggetetak di atas terpisah dari tubuh Bi Li.

"Bi Li...!"

Tiang Bu memekik nyaring sekali dan berdiri bagai patung melihat ke arah gadis yang sudah buntung lengan kirinya itu. Ia tidak perdulikan lagi Iawan-lawannya, mukanya pucat matanya terbelalak.

"Bi Li...... .! Tiang Bu melompat dan menubruk gadis itu yang masih pingsan dan darah bercucuran keluar dari pangkal lengan yang buntung. Dipondongnya tubuh gadis itu, sama sekali tidak perduli akan Twa-to Ma It un yang mempergunakan saat baik itu untuk mengerakkan goloknya dari belakang menyambar kepala Tiang Bu! Namun kepandaian Tiang Bu sudah mencapai tingkat yang sukar diukur tingkatnya, biarpun perhatiannya tercurah kepada Bi Li dan pikirannya bingung sekali melihat gadis ini buntung tangannya, namun perasaannya yang sudah otomatis dalam menghadapi serangan lawan dapat menangkap adanya golok yang menyambar dari belakang. Secara otomatis pula tubuhnya miring dan kakinya menyambar. Terdengar pekik kesakitan, golok terlepas dan tubuh Ma It Sun yang tinggi besar itu terjengkang mengukur tanah. Tiang Bu memandang kepada Kong Ji, pandang matanya beringas penuh ancaman.

"Kau....... kau....... manusia keji.......!"

Cepat laksana kilat, dengan Bi Li masih dalam pondongannya.

Tiang Bu menyerang ke depan, tangan kanan memondong Bi Li, tangan kiri melakukan pukulan dengan pangerahan tenaga sinking sepenuhnya ke arah dada Liok Kong Ji.

Pukulan ini hebat sekali karena mengandung hawa sinkang yang sakti.

Inilah pukulan berdasarkan gerakan sajak yang berkepala "Ya tertembut menembus yang terkeras di kolong langit"

Yaitu sebait sajak dari kitab To-tikkeng yang termuat dalam kitab pelajaran Thian-te Si-kong dan di dalam pukulan "terlembut"

Ini bersembunyi kekuatan maha dahsyat yang sudah dapat ia kumpulkan berdasarkan latihan dari kitab Seng thian to.

Seperti diketahui.

Liok Kong Ji adalah se orang ahli silat yang sakti yang memiliki ilmu-ilmu sakti seperti Hek tok ciang (Tangan Racun Hitam ), Tin-san-kang (Tenaga Mandorong Gunung) dan lain-lain ilmu silat tinggi yang serba lihai.

Kepandaiannya pada waktu itu sudah amat jarang tandingannya maka ia berani memakai julukan Thian-te Bu-tek.

(di Dunia Tidak Ada Lawannya)!

Menghadapi serangan anaknya yang sesungguhnya ini, ia cepat menggerakkan dua tangan menangkis, mengerahkan tenaga untuk melumpuhkan Tiang Bu dan menawannya.

Betapapun juga hasrat hati Kong Ji terhadap Tiang Bu hanya untuk menaklukkan pemuda itu, untuk menarik Tiang Bu sebagai anaknya yang tidak memusuhinya untuk memberi penghidupan mulia dan bahagia kepadanya.

Sama sekali tidak ingin melihat Tiang Bu tewas, maka ia sengaja menangkis dengan pengerahan tenaga untuk kemudian menangkap anaknya ini.

Akan tetapi belum juga ia dapat manangkap lengan Tiang Bu, hawa pukulan pemuda ini sudah menyambar, mendobrak hawa tangan Kong Ji dan terus memukul ke arah dada.

Bukan main kagetnya hati Kong It.

Sungguh di luar dugaannya bahwa pukulan pemuda akan sedemikian hebatnya, pukulan yang selama dia hidup belum pernah mengalaminya.

Cepat ia merendahkan tubuhnya dan dengan kedua tangan ia mendorong, melakukan pukulan Tin san kang sehebat-hebatnya karena maklum bahwa pukulan pemuda itu merupakan pukulan maut.

Dua tenaga tidak kelihatan bertemu di udara, dan.......

Liok Kong Ji terlempar kebelakang sepeti rumput kering ditiup angin menubruk dinding sehingga dinding itu jebol!

Untung baginya, tubuhnya sudah kebal dan setidaknya hawa pukulan Tin-san-kang tadi sudah mengurangi atau menghambat daya serangan pukulan Tiang Bu sehingga ia tidak terluka hebat, hanya muntahkan darah segar karena getaran yang amat hebat.

Dengan sepasang mata terbelalak lebar saking kagum, kaget, heran, dan takut Kong Ji berdiri lagi, siap-siap menghadapi pemuda yang lihai ini.

Tiang Bu sudah mendesak maju lagi dengan muka beringas, sedangkan Hok Lun Hosiang sudah mendekati Kong Ji untuk membantu "twako"

Ini.

Juga para jagoan yang tidak terluka berat seperti Lee Bok Wi dan Ma It Sun sudah bangkit lagi dan bersiap-siap membantu Kong Ji.

Akan tetapi Kong Ji yang maklum bahwa biarpun dikeroyok kiranya mereka takkan mampu menahan amukan pemuda yang memiliki kepandaian luar biasa ini, cepat ia berkata.

"Tiang Bu, kalau tidak lekas diobati, gadis itu akan mati kehabisan darah!"

Memang Kong Ji cerdik bukan main.

Sekilas pandang saja ia sudah dapat menduga bahwa Tiang Bu mencinta gadis itu sepenuh hatinya, maka ia sengaja berkata demikian untuk menahan amukan pemuda itu.

Dan kata-katanya ini memang tidak bohong.

Tiang Bu kaget mendengar ini dan baru ia sadar dan melihat betapa darah terus menerus mengucur dari pangkal lengan Bi Li.

"Bi Li...........!"

Serunya tercampur isak.

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 4

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert