Eps 9 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo
Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo
Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.
Cepat ia menekan jalan darah Bi Li di pundak dan untuk menghentikan darah yang mengucur ini perhatiannya tercurah kembali kepada Bi Li dan ia tahu, bahwa yang terpenting di antara segalanya adalah merawat Bi Li lebih dulu.
Cepat is melompat pergi dari tempat itu melalui para penjaga yang sudah datang mengepung sambil berseru.
"Bangsat Liok Kong Ji, lain kali aku datang mengambil kepalamu!"
Beberapa orang penjaga roboh dan kocar-kacir ketika mencoba untuk menghadang larinya.
"Biarkan dia pergi?"
Seru Kong Ji kepada para penjaga, maklum bahwa mereka ini sama sekali bukan tandingan Tiang Bu dan ia masih mengharapkan untuk dapat menawan pemuda perkasa itu mengandalkan alat-alat rahasia di dalam Ui-tiok-lim.
Siapakah yang dapat ke luar dari Ui-tiok-lim?
Hutan Bambu Kuning ini sudah terkenal sebagai tempat yang tak mungkin dimasuki orang kalau toh orang itu dapat masuk, tak mungkin akan dapat ke luar.
Lebih sulit dan berbahaya dari pada Kuil Siauw-lim-si yang termasyhur.
Tanpa mendapat rintangan lagi dari kaki tangan Liok Kong Ji, Tiang Bu berlari cepat ke luar ruangan itu dengan maksud ke luar dari istana besar dan membawa Bi Li ke tempat aman.
Begitu melompat ke luar ruangan itu, lebih dulu ia mengeluarkan obat dari saku bajunya, yaitu obat tempel yang ia tempelkan pada luka atau ujung lengan yang buntung dan dibalutnya ujung itu depan robekan bajunya sendiri.
Kemudian ia menotok beberapa jalan darah penting, selain untuk menghentikan darah yang mengalir ke bagian yang buntung, juga untuk mematikan rasa nyeri yang tentu akan menyiksa gadis itu apabila siuman.
Dilihatnya wajah Bi Li pucat sekali seperti mayat.
Tiang Bu makin bingung.
Inilah tanda bahwa gadis itu telah kehilangan banyak sekali darah maka perlu cepat-cepat diberi obat dan makanan penambah darah.
I a perlu cepat-cepat pergi dari tempat ini.
Segera ia memondong lagi tubuh Bi Li dan berlari ke luar.
Akan tetapi, manakah jalan ke luar?
Tadi ketika ia memasuki gedung ini, jalan masuk mudah saja, dari pekarangan depan melalui ruangan depan dan gang kecil panjang sampai di ruangan belakang di mana Liok Kong Ji dan kawan-kawannya berada.
Akan tetapi sekarang keadaannya lain sekali.
Setelah mecari-cari, akhirnya dengan hati lega Tiang Bu mendapatkan lorong atau ruang kecil tadi yang cepat dimasukinya.
Akan tetapi, setelah lari beberapa lama.
ia menjadi makin bingung.
Lorong keeil ini ternyata bercabang-cabang banyak sekali dan sudah lebih dari sepuluh cabang ia masuki akan tetapi selaln tiba di jalan buntu.
Celaka, pikirnya, ini tentu bukan yang tadi.
Ia lari kembali akan tetapi anehnya, ia sudah tidak bisa sampai ke tempat semula.
Lorong ini mati di sebuah, kamar buntu, lorong itupun demikian, benar-benar membingungkan sekali.
Setelah lebih dari tiga jam ia berputar di lorong-lorong yang tidak ada jalan keluarnya dan ruwet seperti benang ini, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa.
suara ketawa Liok Kong Ji yang tidak kelihatan orangnya.
"Ha ha-ha, Tiang Bu. Baru mengenal kelihaian ayahmu! Inilah yang disebut Gua Seribu Lorong. Menyesatkan. Kau takkan bisa ke luar dari ini. Kau menakluklah, anakku. Aku takkan mencelakaimu, aku........ aku ayahmu dan sayang kepadamu. Lihat, gadis itu sudah amat payah, banyak kehilangan darah dia akan mati lemas. Kau menaluklah dan akan menyuruh orang merawatnya sampai sembuh. Kauterimalah menjadi anakku yang terkasih dan kalau perlu, gadis itu boleh menjadi mantuku."
"Lionk Kong Ji manusia Iblis. Siapa percaya omonganmu yang berbisa? Kau sendiri baru saja membuntungkan lengannya!"
"Karena terpaksa, puteraku. Karena terpaksa, kalau tidak kulakukan siasat itu, bagaimana dapat mengundurkan kau yang begitu gagah perkasa? Oo anakku, aku bangga bukan main melihat pureraku demikian sakti.......! Tiang Bu, sebetulnya permusuhan apakah yang ada antara anak dan ayah, antara kau dan aku? Bisa jadi banyak orang yang merasa menjadi musuhku, akan tetapi mengapa kau? Aku tak pernah mengganggumu......."
"Kau, setan! Kau telah menghina ibuku, kau telah mencelakai banyak orang baik baik!"
"Tiang Bu, kau keliru. Kapankah aku menghina ibumu??"
"Jahanam, kau masih hendak menyangkal?"
Tiang Bu membentak ke arah suara yang bersembunyi di balik dinding itu.
"Kau telah mempermainkan ibuku, menghinanya ketika dia masih gadis."
Liok Kong Ji yang bicara dari balik pintu rahasia itu tertawa bergelak.
"Ha ha ha, Tiang Bu, kau bicara apa ini? Ingatkah kau kalau tidak ada aku yang kau bilang menghina Soan Li, bagaimana bisa terlahir kau? Kau adalah putera Soan Li dan aku, bagaimana kau bisa bilang begitu?"
Tiang Bu merasa sepeti ditampar mukanya. Ia menjadi pucat sekali ketika ia meletakkan tubuh Bi Li di alas lantai dan ia berlari mengepal tinju ke arah suara itu.
"Memang, aku memang anak haram! Aku anak hina dina yang terlahir dari perbuatanmu yang keji terkutuk! Akulah bukti hidup tentang kejahatanmu yang tak berampun. Dan bukan orang lain aku sendiri yang akan mencabut nyawamu. Hampir ia menangis saking sakit hatinya kalau teringat akan keadaan dirinya yang berayah sedemikian jahat dan hinanya.
"Hemmm, kau terlalu terpengaruh oleh hasutan manusia macam Wan Sin Hong. Mana ada anak bijaksana melawan ayah sendiri. Kau belum insyaf Tiang Bu belum insyaf......"
Setelah mengeluarkan ucapan dengan nada sedih ini, Liok Kong Ji menghilang. Tiang Bu kembali memperhatikan Bi Li. Gadis itu mengeluh dan bergerak perlahan. Ia cepat berlutut dan menyangga leher Bi Li.
"Uuhhh. lenganku....... ah, Tiang Bu....... aduuuhhh......"
Setelah membuka mata sebentar, Bi Li pingsan lagi, lemas dalam pelukan Tiang Bu.
Tentu saja pemuda ini menjadi makin bingung.
Ia mencoba lagi untuk mencari jalan ke luar, berlari-larian di sepanjang lorong yang panjang berputar-putar itu.
Selagi ia kebingungan, tiba-tiba terdengar suara perlahan dari jauh, suara wanita.
"Dari Gu-seng (Bintang Kerbau) membelok ujung tanduk melalui Liu-seng (Bintang Pohon Cemara) ada pintu ke luar!"
Tiang Bu girang sekali.
Tidak perduli itu suara siapa ia lalu berlari terus, membelok menurutkan gambar Bintang Kerbau.
Pantas saja tadi ia berputaran tak dapat ke luar.
Tidak tahunya yang dimaksudkan dengan ujung tanduk kanan itu bukanlah lorong, hanya sebuah lobang yang hanya dapat dilalui dengan merangkak.
Sambil memeluk tubuh Bi Li, ia memasuki lubang ini, merangkak ke depan dan tak lama kemudian betul saja ia tiba di sebuah lorong lain, dari sini ia berlari terus mengambil tikungan sesuai dengan kedudukan bintang Liu-seng.
Di dalam ilmu silat memang terdapat langkah-langkah kaki menurutkan beutuk bintang yang dua puluh tujuh buah banyaknya.
Setiap bintang mempunyai bentuk-bentuk tertentu, dari dua titik sampai tujuh titik banyaknya.
Ini merupakan bentuk langkah-langkah ilmu silat tinggi yang tentu saja dikenal oleh setiap orang ahli silat kelas tinggi.
Tiang Bu juga sudah mempelajari titik ini, maka begitu mendengar seruan dari luar tadi.
ia dapat menurut dan membuat belokan sesuai dengan gambar atau titik Gu-seng dan Liu-seng.
Alangkah girangnya ketika ia mendapatkan lorong terakhir itu membawanya ke luar ke sebuah hutan bambu kuning.
Akan tetapi baru saja ia berlari belasan langkah, kaki kirinya, sudah terjeblos ke dalam lumpur yang tertutup pasir dan rumput!
Baiknya Tiang Bu selalu waspada dan cepat ia dapat menahan keseimbangan tubuhnya sehingga yang terjeblos hanya kaki kirinya, sedangkan kaki kanan masih di atas tanah keras.
Dengan mencabut kaki kirinya yang sudah melesak ke dalam lumpur selutut lebih dalamnya.
Ia bergidik.
Kalau kaki kanannya tadi juga terjeblos, kiranya sukar baginya untuk menyelamatkan diri.
Pengalaman mendebarkan ini membuat pemuda itu ragu ragu untuk berlari terus.
Tempat ini benar-benar luar biasa sekali, penuh bahaya yang tak disangka-sangka.
Baru keluar dari gedung saja tadi sudah sukar bukan main, sekarang masih harus keluar dari Ui tiok-lim, hutan Bambu Kuning yan agaknya bahkan lebih sukar dari pada jalan rahasia di gedung besar itu.
Padahal Bi Li perlu cepat-cepat dibawa ke luar untuk diobati.
"Tiang Bu....., kau di situ............. Lekas ke sini....... turutkan jalan itu, akan tetapi jangan menginjak jalan, ambil jalan di sebelah kiri deretan bambu di atas rumput!"
Kembali terdengar suara wanita yang tadi memberitahukan rahasia lorong, kini suara itu terdengar lemah dan Tiang Bu mengenal suara Cui Lin!
Tiang Bu menurut petunjuk ini.
Segera ia melangkah dari jalan itu ke sebelah kiri di mana tumbuh rumput liar.
Kemudian ia melangkah maju menurut sepanjang lorong yang pinggirnya ditumbuhi bambu-bambu kuning.
Benar saja, di bawah rumput itu terdapat tanah keras dan sama sekali tidak dipasangi perangkap.
Memang siapakah orangnya akan mengambil jalan ini kalau di sampingnya terdapat jalan yang bersih rata dan baik?
Setelah berjalan hati-hati beberapa puluh tindak, jalanan terhalang serumpun bambu kuning muda yang tumbuh di tanah yang bundar.
"Hati-hati, jangan terlalu dekat rumpun bambu muda!"
Kembali terdengar suara Cui Lin di depan, tak jauh lagi.
Tiang Bu kaget dan cepat melompat ke kiri menjauhi.
Akan tetapi karena ingin tahu ia mengambil batu dan melemparkannya ke dekat rumpun bambu dan "........
sssshhh.......
ssssttt.......!"
Tujuh ekor ular berbisa yang mokrok lehernya menyambar ke sekeliling rumpun.
Ular-ular ini ternyata ekornya diikat pada rumpun dan selalu bersembunyi.
Hanya pada saat ada korban melewat dekat, ular-ular kelaparan ini tentu serentak menyerangnya.
Tentu saja Tiang Bu tidak takut menghadapi serangan binatang-binatang ini, akan tetapi kalau dia tadi amat dekat tentu ia akan kaget dan mungkin melompat ke kanan di mana dipasangi macam-macam alat rahasia jebakan.
Tergesa-gesa Tiang Bu maju terus ke arah suara tadi..
Tak lama kemudian ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak!
Ia melihal Cui Lin dan Cui Kim terbenam di lumpur maut, terhisap lumpur sampai ke Ieher.
Bahkan Cui Kim sudah tak bergerak lagi, hanya matanya yang besar dan indah itu terbelalak ketakutan, tidak bersinar lagi seperti mata orang yang kehilangan ingatannya.
Agaknya saking takutnya menghadapi kematian mengerikan ini, Cui Kim telah hilang ingatannya.
Cui Lin dengan air mata bercucuran memandang ke arah Tiang Bu.
Pemuda ini bingung bukan main.
Dua orang gadis itu berada di tengah-tengah kolam lumpur jauhnya ada empat tombak dari tempat ia berdiri.
Tanpa membuang waktu lagi, Tiang Bu meletakkan tubuh Bi Li di atas rumput dengan cekatan menggunakan kekuatan tangannya mencabut dua batang bambu kuning.
"Jangan, Tiang Bu...... tak ada gunanya..........kami....... kami......."
Akan tetapi mana Tiang Bu mau mendengarkannya?
Seorang berjiwa kesatriya seperti dia tentu saja tidak bisa tinggal berpeluk tangan melihat dua orang gadis terancam bahaya maut seperti itu.
Cepat ia memasang dua batang bambu itu sampai dekat mereka, lalu berjalan di atas bambu-bambu yang melintang mendekati Cui Lin dan Cui Kim.
Dengan cepat ia menyambar tangan Cui Lin dan menariknya.
Akan tetapi ia melepaskan kembali karena Cui Lin menjerit kesakitan.
"Jangan, Tiang Bu....... kau hanya akan menyiksaku....... ketahuilah, tadi kami berusaha menolongmu ketahuan oleh...... oleh si keji Liok Kong Ji dan Cui Kong...... kedua kaki kami dihancurkan tulang-tulangnya, kami diloloh racun....... kemudian dilempar ke sini. Tempat ini akan menjadi kuburan kami...... aduuh...... percuma saja kau menolong kami, tak mungkin lagi, mana bisa kau menolong nyawa kami?! Lihat........ aduh, adikku dia sudah....... sudah......."
Cui Lin menangis dan gerakannya ini membuat tubuhnya makin melesak ke bawah.
Hanya dagu yang bertahi lalat keeil itu kelihatan.
Tiang Bu terharu bukan main.
Dalam keadaan hampir mati gadis ini masih berusaha menolongnya.
Teringat ia akan kenang-kenangan lama, dahulu ia menganggap tahi lalat di dagu ini manis bukan main.
"Cui Lin......."
Katanya bingung.
"Apa yang harus kulakukan untuk menolong kalian. Lekas katakan!"
Cui Lin tersenyum di antara tangisan "Kau harus ke luar dari sini dengan selamat.
Dengar baik-baik, dari sini kau mengambil jalan di antara rumpun-rumpun bambu itu dengan hati-hati menurutkan letak titik bintang Pin-seng (Bintang Purnama).
lalu Ni-seng (Bintang Wanita), selanjutnya Bi-seng (Bintang Ekor) kemudian yang terakhir Sin-seng (Bintang Hati).
Nah, dengan demikian kau akan tiba di bukit batu-bats karang di mana kau bertemu dengan aku.......
aduuhh......
Tiang Bu, kalau kau mau menolong aku dan adikku.......
kelak balaskan sakit hati kami kepada mereka berdua.......
aaahh, pergilah......"
"Tidak, aku harus menarikmu ke luar dari sini!"
Tiang Bu berseru, marah dan penuh keharuan. Marah kepada Kong Ji dan Cui Kong, terharu melihat keadaan dua gadis yang mengenaskan ini.
"Aduuhhh, jangan! Aku akan mati karena nyeri! Kakiku sudah patah patah, rusak sakit sekali. Enak begini, hangat-hangat di dalam lumpur....... selamat jalan, Tiang Bu...... Pergilah, kalau mereka datang mengejar, sukar bagimu untuk ke luar."
Tiang Bu ragu-ragu, akan tetapi tiba-tiba terdengar keluhan Bi Li.
"Tiang Bu...... kau di mana......? Apakah aku sudah mati.......?"
Ternyata Bi Li siuman dan mendapatkan dirinya rebah di atas rumput, ia segera memangil-manggil Tiang Bu.
Untuk bangun berdiri tidak ada tenaga lagi.
Terpaksa Tiang Bu berdiri.
Sekali lagi ia memandang kepada Cui Lin den Cui Kim.
"Selamat tinggal......."
Katanya, suaranya tersendat di tenggorokan.
"Pergilah....... eh, nanti dulu...... Tiang Bu, coba kau ....... kau peluk kepalaku untuk penghabisan kali...... kaulah orang termulia....... bayanganmu hendak kubawa ke sana....."
Dengan isak tertahan Tiang Bu berlutut di atas batang-batang bambu, mendekap kepala yang hampir terbenam itu lalu mencium jidat Cui Lin.
Juga ia mencium jidat Cui Kim yang segera menangis meraung-raung.
"Aku harus menolong kalian........harus......!"
Kata Tiang Bau setengah berteriak.
"Tiang Bu.......!"
Terdengar pula suara Bi Li memanggil lemah.
"Terima kasih, Tiang Bu, selamat berpisah......."
Kata Cui Lin ketika Tiang Bu menoleh ke belakang untuk melihat Bi Li.
Ketika pemuda ini memandang lagi ke lumpur, ia hanya melihat hawa keluar dari dua tempat menerbitkan suara perlahan.
Dua kepala gadis itu sudah tidak kelihatan lagi, ternyata Cui Lin telah menggerakkan tubuhnya sekerasnya agar kepalanya lekas terbenam dan kematian lekas menyambut nyawanya.
Cui Kim yang menangis menggerung-gerung juga segera terhisap oleh lumpur karena tubuhnya bergerak-gerak.
Sunyi di situ.......
sunyi mengerikan.
Tiang Bu memutar tubuh, memandang arah hutan bambu kuning yang ditinggalkan di belakang.
Gunung itu tidak kelihatan lagi.
Ia mengepal tinju dan terdengar giginya kerot-kerotan.
Memang tadinya ia membenci dua orang gadis ini yang sudah pernah memperdayainya.
Akan tetapi melihat betapa dua orang gadis ini tersiksa sedemikian hebat apa pula dua orang gadis itu akhir-akhir ini berdaya menolongnya, ia menjadi sakit hati sekali terhadap Kong Ji dan Cui Kong.
Akan tetapl ketika Bi Li memanggil lagi ia tersadar dan cepat lari menghampiri Bi Li.
Melihat pemuda ini, gadis yang rebah terlentang itu tersenyum lembut.
"Tiang Bu, apakah kita sudah berada sorga.......?"
Tiang Bu membungkuk, mengangkat dan memondong tubuh Bi Li dengan hati hati. Bisiknya di dekat telinga gadis itu.
"Belum, Bi Li. Kita sedang berusaha keluar dari neraka ini.......!"
Cepat Tiang Bu maju ke depan, mengambil jalan menurut petunjuk Cui Lin.
Setelah berbelok-belok menurutkan titik empat bintang yang kesemuanya ada dua puluh satu titik atau dua puluh tikungau, benar saja tiba di bukit batu-batu karang di mana ia pernah bertemu dengan dua orang gadis yang sekarang telah tewas itu.
Makin terharu hati Tiang Bu.
Sampai dekat kematiannya, Cui Lin masih menolongnya.
Lunaslah sudah kedosaan gadis itu terhadapnya.
Akan tetapi, ketika hendak melanjutkan perjalanannya, ia menjadi bingung sekali.
ketika dulu di tempat ini, ia mengikuti Cong Lung yang menjadi petunjuk jalan.
Kini ia tidak tahu lagi mana jalan itu dan maklum bahwa tempat ini amat berbahaya, sekali keliru melangkah kaki.......
terjeblos ke dalam perangkap.
Bi Li yang masih setengah pingsan itu berbisik.
"Tiang Bu, mengapa berhenti?"
"Aku...... lupa lagi jalannya, Bi Li."
"Kau cari saja....... dulu aku sudah memberi tanda....... ketika mengikuti Cong Lung kupotong-potong sabuk merah, kusebar di sepanjang jalan......."
BI Li terlalu banyak bicara, napasnya memburu dan ia memejamkan lagi matanya untuk mengaso.
Ia merasa tubuhnya lemas bukan main, demikian lemasnya sampai-sampai ia lupa agaknya bahwa lengannya sudah buntung.
Tiang Bu girang mendengar ucapan gadis itu.
Ketika matanya mencari-cari, benar saja melihat sepotong kain merah di sebelah sana.
Ia menghampiri kain merah itu dan selanjutnya ia mencari jalan dengan bantuan potongan-potongan kain merah yang disebar di atas tanah setiap sepuluh langkah.
Diam-diam Tiang Bu memuji kecerdikan Bi Li, gadis ya dikasihinya itu.
Akan tetapi kalau ia teringat akan lengan Bi Li, ia menjadi berduka sekali.
Cepat ia lari lagi ke luar dari bukit batu karang dan akhirnya terlepaslah mereka dari daerah Ui-tiok-lim yang amat berbahaya.
Akan tetapi sekarang Tiang Bu sudah mengingat baik-baik semua jalan yang dilaluinya tadi, baik jalan masuk maupun jalan ke luarnya.
Hari telah menjelang senja, Bi Li rebah telentang di atas rumput, Mukanya pucat, matanya yang seperti mata burung Hong itu menatap wajah Tiang Bu yang duduk di sisinya.
Tiang Bu sudah merawat Bi Li, memberi pencegah keracunan juga obat penambab darah.
Sekarang keadaan gadis itu tidak menghawatirkan lagi.
Juga pundak yang sudah tak berlengan lagi itu telah dibalutnya baik-baik.
"Tidurlah, Bi Li, agar enak badanmu. Biar aku menjagamu di sini. Kubuatkan api unggun, ya?"
Kata Tiang Bu sengaja bersikap gembira karena pandang mata Bi Li tadi seperti pandang menikam hatinya karena ia tak tahan menyembunyikan rasa iba dan harunya.
Bi Li tidak menjawab, menggigit bibir menahan tangis, lalu menggerakkan kepala mengangguk.
Setelah itu membuang muka ke sisi agar jangan melihat lagi pemuda itu, karena sekali saja ia beradu pandang dengan Tiang Bu yang sinar matanya penuh haru dan iba itu, ia dapat menangis menjerit-jerit.
Tiang Bu mengumpulkan kayu kering lalu membuat api unggun agar hawa malam yang dingin dan nyamuk dapat terusir pergi dan Bi Li dapat tidur nyenyak.
Setelah selesai membuat api unggun, ia mendengar isak tangis dan ketika ditengoknya ternyata Bi Li telah bangkit duduk dan menangis sedih.
Tangan kanannya menutupi muka, air mata menetes turun melalui celah-celah jari tangan, pundak yang buntung sebelah kiri itu bergoyang.goyang.
Tiang Bu maklum akan kesedihan hati gadis itu.
Akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan duduk di dekatnya, menyentuh lengannya sambil berkata lembut.
"Bi Li, mengapa kau menangis. Kita sudah terlepas dari bahaya maut......."
"Tiang Bu...... ah....... lenganku........."
Bi Li tak dapat melanjutkan kata-kata karena tangisnya makin sedih. Tiang Bu memegang erat-erat tangan kanan gadis itu IaIu berkata menggigit gigi.
"Aku tahu, Bi Li aku tahu....... aku bersumpah untuk membalas dendam ini, tunggulah saja.......!"
Akan tetapi Bi Li rupanya tidak memikir tentang sakit hati. yang lebih dipikir adalah keadaan pundak kirinya yang buntung.
"Aku menjadi orang..... buntung... aduh Tiang Bu...... aku menjadi seorang jelek penderita cacat selama hidup....... menjadi buah tertawaan orang....... aku akan terhina selama-lamanya......."
Tiang Bu maklum apa yang dipikirkan gadis ini. Sebagai seorang gadis muda, cantik jelita, tentu saja cacat ini amat menghancurkan hati.
"Tidak, Bi Li. Siapa yang berani mentertawakanmu akan kutampar mulutnya sampai copot-copot giginya, siapa berani menghina akan kubuntungi lengannya. Tidak! Dalam pandanganku kau tidak menjadi buruk, aku.. tetap sayang kepadamu, Bi Li. Jangankan baru hilang sebelah lengamu yang tidak ada artinya karena kau masih tetap cantik dan baik bagiku, andaikata kau menjadi bercacad lebih hebat lagi, pada mukamu atau di mana saja aku tetap akan....... akan....... mencintaimu seperti biasa, bahkan lebih lagi. Bi Li, kaulah satu-satunya wanita yang telah merampas hatiku..."
Rupanya terkejut Bi Li mendengar ini.
Jari tangan yang menutupi mukanya diturunkan dan muka yang pucat dan basah air mata ini menghadapi muka Tiang Bu, sepasang mata yang gelap indah tetapi penuh linangan air mata itu menatap mata Tiang Bu.
Sejenak mereka berpandangan tak bergerak.
Kemudian Bi Li menundukkan mukanya, menangis makin sedih.
Sambil terisak ia berkata terputus.
"Tak mungkin...... tak mungkin, aku orang cacat....... kau akan ditertawai orang...... ah, lebih baik aku mati saja, Tiang Bu......"
Tiang Bu merangkul pundaknya, menghiburnya sedapat mungkin, bahkan menjanjikan untuk kelak memberi pelajaran ilmu silat tinggi sehingga biarpun lengannya buntung sebelah tidak akan kalah menghadapi musuh bagaimana tangguhpun.
Akhirnya Bi Li terhibur dan sambil merebahkan tubuhnya yang lemas itu terlentang di atas rumput ia mendengarkan kata-kata hiburan Tiang Bu yang muluk-muluk.
Pemuda ini berusaha sedapat mungkin menghibur hati Bi Li, bahkan bersumpah dengan kesungguhan hati.
Bi Li mendengarkan sambil meramkan mata, akhirnya gadis itu jatuh pulas.
Baru legalab hati Tiang Bu.
Tadinya amat berkhawatir Bi Li tak dapat menahan kesedihannya dan melakukan perbuatan nekad membunuh diri.
Baru setelab melihat gadis itu tertidur dan pipinya menjadi agak kemerahan, pemuda ini merasa betapa tubuhnya lelah bukan main.
Ia telah melakukan pertempuran hebat, dan menderita goncangan batin yang berat, baru sekarang terasa tubuhnya seakan-akan tidak bertenapa lagi.
Ia menyadarkan tubuh di batang pohon dekat api unggun dan tak lama kemudian iapun tertidur.
Menjelang pagi Tiang Bu terkejut mendengar suara ayam hutan berkokok nyaring.
melompat bangun dan baru ia tahu bahwa tanpa terasa ia telah jatuh pulas di luar kehendaknya.
Bagaimana ia bisa jatuh pulas selagi menjaga Bi Li.
Cepat ia menengok dan jantungnya berhenti berdetak ketika ia melihat tempat yang tadinya ditiduri Bi Li sekarang telah kosong.
Ia menengok ke sana ke mari, sinar matanya cemas mencari-cari, namun orang yang dicari tidak kelihatan lagi.
Bi Li telah pergi dari situ tanpa memberi tahu padanya.
"Bi Li......!"
Tiang Bu berseru memanggil mengerahkan tenaga lweekangnya sehingga auarnya bergema di hutan itu dan terdengar sampai jauh sekali......."Bi Li! Kau di mana......?"
Namun tidak ada jawaban kecuali kokok ayam hutan yang terkejut ketakutan dan gema suaranya sendiri.
Tiang Bu menjadi gelisah sekali.
Sekali melompat ia telah berada di bekas tanah berumput yang tadinya ditiduri Bi Li untuk melihat kalau-kalau di situ terdapat tanda-tanda mencurigakan.
Benar saja, di atas tanah yang rumputnya sudah dicabuti, ia melihat huruf-huruf yang halus bentuknya tanda tertulis seorang wanita terpelajar.
Memang Bi Li semenjak kecil hidup di istana pangeran, tentu saja ia mahir sekali menulis huruf-huruf indah.
Huruf-huruf itu berbunyi demikian.
"Ada waktu suka, ada waktu duka. Sekali bertemu pasti akan berpisah, Badan cacat, tidak patut menerima cinta. Tak perlu menyeret enghiong (orang gagah) ke lembah hina."
"Bi Li kau terlalu merendahkan diri...."
Tiang Bu mengeluh setelah membaca "surat"
Di atas tanah itu berkali-kali dengan hati terharu.
"Biarpun lengan kirimu buntung, Kau masih seratus kali lebih berharga dari pada aku."
Ia bangkit bardiri, teringat akan keadaan Bi Li yang masih belum sembuh lukanya dan badannya masih lemah, teringat betapa akan sengsaranya gadis itu merantau seorang diri dalam keadaan bercacat tanpa kawan yang menghibur dan melindunginya, ia memekik "Bi Li.....!
Jangan tinggalkan aku.......!"
Seperti orang gila Tiang Bu memanggil-manggil nama gadis itu sambil berlari cepat sekali keluar masuk hutan.
Namun jangan orangnya, bayangannya sekalipun tidak nampak seakan-akan Bi Li sudah lenyap ditelan bumi.
Akhirnya setelah setengah hari berlari-larian ke sana ke mari tanpa tujuan, kembali ke tempat semula dan pemuda menjatuhkan dirinya di atas rumput bekas tempat tidur Bi Li.
"Bi Li....... Bi Li....... aku cinta padamu. Walaupun lenganmu buntung..........."
Tiba-tiba ia bangkit berdiri, wajahnya menyeramkan.
kedua tangannya terkepal dan ia memandang ke arah Ui-tiok-lim lalu mengacung-acungkan tinju sambil berseru keras "Liok Kong Ji, jahanam besar!
Akan kubunuh kau.......
kubunuh kau dan kaki tanganmu.....!"
Larilah pemuda ini ke arah sarang ayahnya itu dengan hati panas.
Sekarang ia telah tahu jalan ke Ui tiok-lim didorongnya batu karang basar dan ia melompat ke bawah ketika tanah tiba-tiba terbuka, melompat ke dalam sumur di mana ia pada kemarin harinya terjerumus bersama Bi Li.
Melalui terowongan yang kemarin, ia terus merayap sampai di tempat tahanan Cui Lin dan Cui Kim.
Dari sini ia sampai di sumur dangkal, di tengah-tengah hutan bambu.
Dengan hati-hati Tiang Bu melompat naik dan duduk di pinggir sumur, matanya memandang ke sekelilingnya, penuh selidik.
Kedatangannya kali ini berbesa dengan kemarin.
Selain ia telah tahu betul akan jalan rahasia di sini, juga ia datang dengan nafsu membunuh terbayang pada matanya yang tajam sinarnya, pada mulutnya yang cemberut, pada gerak tangannya yang tangkas dan kuat.
Tiang Bu datang ke Ui-tiok-lim untuk mengamuk, untuk membunuh.
Kebenciannya terhadap ayahnya yang ganas itu meluap-luap.
Berkat petunjuk Cui Lin tentang rahasia memasuki Ui-tiok lim, dan karena kepandaianya yang tinggi, tanpa banyak susah Tiang Bu berhasil memasuki gedung besar Liok Kong Ji, ayahnya yang amat dibencinya.
terutama sekali karena orang itu ayahnya!
Memang kebencian Tiang Bu terhadap Liok Kong Ji adalah terutama sekali karena orang itu ayahnya yang sejati.
Sekiranva Liok Kong Ji bukan ayahnya, kebencian Tiang Bu takkan demikian hebat.
Dalam hati pemuda ini timbul penasaran dan kekecewaan besar sekali.
Alangkah akan bahagia hatinya bertemu dengan ayahnya kalau saja ayahnya bukan seorang demikian jahat dan keji.
Sebagai protes mengapa berayah sedemikian jahat maka Tiang Bu membenci ayahnya.
Liok Kong Ji sedang berkumpul dengan saudara-saudara angkatnya.
Sebagian pada mereka telah merasai kelihaian Tiang Bu dan bekas tangan pemuda lihai ini masih terasa.
Biarpun dengan kepandaian mereka yang tinggi mereka sudah dapat menguasai diri dan menyembuhtan luka-lukanya, namun masih terasa sakit, terutama sekali It-ci-san Kwa Lo yang telunjuknya patah-patah masih nampak pucat.
Telunjuk kanannya dibalut dan membengkak, akan tetapi tulang-tulangnya sudah disambung kembali.
"Sungguh tidak mengira dua setan betina itu mengkhianatiku!"
Demikian ucapan terakhir Liok Kong Ji yang nampak bersungut-sungut.
Mereka baru saja membicarakan tentang Cui Lin dan Cui Kim yang dihukum secara keji.
Ketika mengetahui bahwa dua orang gadis itu yang membawa datang Tiang Bu kemudian bahkan menolongnya keluar dari Ui tiok-lim, Kong Ji marah bukan main.
Bersama Cui Kong ia menangkap dua orang gadis itu menyiksa mereka, memukul hancur tulang-tulang kaki mereka dan melemparkan mereka ke dalam rawa lumpur maut.
Kini mereka membicarakan kehebatan sepak terjang Tiang Bu.
Di dalam hatinya Kong Ji merasa keperihan hebat.
Sebetulnya ia amat bangga bahwa putera satu-satunya ternyata demikian lihai.
lebih pandai dari pada Wan Sin Hong yang ditakutinya.
Ah, kalau saja Tiang Bu puteranya itu mau berbaik dengan dia.
mau mengakuinya sebagai ayah dan berada di sampingnya, ia takkan takut kepada Wan Sin Hong, takkan takut kepada siapa-pun juga dan tidak perlu bersembunyi di tempat seperti Ui tiok-lim.
Ia akan dapat merajai dunia!
Ia merasa kecewa sekali.
Putera tunggalnya bahkan memusuhinya, agaknya amat membencinya.
Sekarang tentu akan makin benci lagi setelah ia membuntungi lengan gadis cantik itu.
Sayang!
Ia terpaksa membuntungi lengan gadis itu, kalau tidak, kiranya tidak ada jalan lain untuk menahan amukan Tiang Bu kemarin.
Apa boleh buat, keadaan sudah demikian.
dan terpaksa ia harus menghadapi permusuhan dengan puteranya sendiri.
"Kita harus memperkuat penjagaan. Siapa tahu kalau-kalau anak bengal itu datang mengacau lagi. Kalau perlu, Lo-thian-tung Cun Gi Tosu akan kupanggil untuk memperkuat kedudukan kita,? katanya dengan muka murung.?Benar-benar aku tidak mengerti bagaimana ia memperoleh kepandaian sehebat itu dan......."
Kata-katanya terhenti oleh pekik mengerikan.
Kong Ji dan kawan-kawannya tersentak kaget.
Memang hati mereka selalu dag-dig dug, sekarang mendengar pekik ini tentu saja wajah mereka menjadi pucat.
Apa lagi ketika pekik itu disusul oleh melayangnya tubuh seorang penjaga pintu yang dilemparkan orang ke arah Kong Ji.
Cepat Kong Ji menggunakan tangan kiri menyampok dan.......
penjaga pintu itu terlempar ke atas lantai di pojok ruangan.
Telah tewas tanpa kelihatan terluka.
Menyusul ini, tubuh Tiang Bu berketebat dan tahu-tahu ia sudah berdiri di depan pintu ruanpan.
Dengan langkah tenang perlahan berjalan masuk, matanya menyapu orang-orang di dalam ruangan itu bagaikan petir menyambar-nyambar.
Kong Ji menjadi maka pucat, akan tetapi karena ia bersama banyak kawan, ia memberanikan hati dan berkata lantang, (Lanjut ke
Jilid 25) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25
"Tiang Bu, anakku yang baik. Bagus sekali kau datang kembali. Akhirnya seorang anak pasti akan kembali kepada ayahnya."
Berkata demiktan.
Korg Ji melangkah maju dengan kedua tangan terjulur ke depan, seakan-akan seorang ayah hendak memeluk puteranya.
Melihat sambutan seperti ini, biarpun hatinya amat panas dan marah, ingin hatinya segera menyerang orang ini, namun Tiang Bu merasa tidak enak kalau terus menyerang tanpa bicara dulu.
Akan tetapi, sebelum ia sempat membuka mulut, tiba-tiba ia merasa betapa dari dua tangan Liok Kong Ji yang diulur ke depan itu, menyambar tenaga pukulan yang amat dahsyat.
Sekali lirik melihat kedudukan tubuh Kong Ji agak merendah, terkejutlah Tiang Bu.
Itulah pukulan Tin san-kang yang maha hebat.
Memang bukan Liok Kong Ji si manusia iblis kalau tidak securang dan selicik itu.
Kong Ji pandai membaca sinar mata dan wajah orang.
Begitu melihat Tiang Bu, ia maklum bahwa perbuda ini datang untuk membalas dendam, bahkan tak ada gunanya berunding secara damai dengan pemuda yang sedang marah.
Oleh karena itu, pada luarnya ia kelihatan ramah tamah dan baik, namun diam-diam ia telah mengerahkan tenaga, bersiap untuk menyerang secara tiba-tiba dengan ilmu pukulan Tin-san-kang yang lihai.
Inilah serangan gelap yang sama sekali tidak diduga oleh Tiang Bu, biarpun pemuda ini sudah maklum akan kejahatan orang yang mengaku menjadi ayahnya.
Cepat Tiang Bu mengerahkan tenaga sinkang pada dadanya karena untuk mengelak sudah tidak mungkin.
Semacam tenaga dorong yang luar biasa kuatnya menyambarn ya dan dadanya tentu akan remuk kalau saja tenaga sinkangnya tidak hebat.
Dada itu sekarang terisi hawa, menjadi seperti bola karet padat dengan angin, pukulan itu terpental da membuat tubuhnya terlempar ke belakang namun tidak terluka.
Bagaikan dilempar oleh tenaga raksasa, Tiang Bu terlempar membentur dinding.
Baiknya ia sudah bersiap-siap sehingga cepat dapat mengerahkaa ginkagnya dan tubuhnya tertahan dinding lalu jatuh dalam keadaan berdiri.
Orang lain tentu akan membuat tembok itu bobol dan menderita luka-luka.
Bagaikan harimau terluka Tiang Bu membalikkan tubuh, akan tetapi lagi-lagi ia dihadapi serangan gelap dari Kong Ji.
Beberapa sinar menyambar ke arah jalan darahnya, tidak kurang dari tujuh bagian!
Sinar hitam itu adalah Hek-tok ciam (Jarum Racun Hitam) yang amat lembut dan datangnya tanpa mengeluarkan suara.
Tiang Bu tidak menjadi gugup.
Ia telah menggerak-gerakkan kedua tangannya memancing ke luar tenaga lwee-kangnya dan begitu kedua tangannya menyambar ke depan, tanpa mengelak ia telah dapat menghindarkan serangan gelap ini.
Semua jarum hitam tersampok runtuh oleh angin pukulannya.
Tiang Bu marah sekali dan hendak memaki akan kecurangan orang.
akan tetapi lagi-lagi Kong Ji sudah mendesaknya dengan pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam), semacam pukulan warisan See-thian Tok-ong yang luar biasa jahatnya.
Jangankan terkena tangan yang melakukan pukulan ini baru terkena hawa pukulan saja lawan akan roboh dengan tubuh menghitam dan nyawa melayang!
"Setan, kau curang!"
Bentak Tiang Bu sambil menggerakkan kedua tangan memukul ke depan. Akibat dari adu tenaga dari jauh ini, Liok Kong Ji mundur tiga tindak dengan muka pucat, sedangkan Tiang Bu hanya menahan napas saja.
"Bagus. kepandaianmu memang hebat, dan kau cukup berharga untuk bicara. Kau datang kalau bukan hendak berbakti kepada ayahmu, habis mau apakah....?"
Tanya Kong Ji, biarpun ia juga marah, tak dapat ia menyembunyikan kekagumannya terhadap pemuda lihai ini.
"Kau masih hendak bertanya lagi? Aku datang untuk menamatkan riwayatmu, untuk membunuhmu!"
Jawab Tiang Bu sambil melangkah maju, tidak perduli betapa Cui Kong, Ban kin-liong Cong Lung, Twa-to Ma-It Su, It-ci-san Kwa Lo, Koai-jiu Sin-touw Lee BokWi dan Hok Lun Hosiang sudah bangkit dan mengeluarkan senjata masing-masing, mengambil tempat untuk mengeroyoknya.
Liok Kong Ji menyeringai.
"Tiang Bu, Tiang Bu! Di manakah ada di dunia ini ada seorang anak membunuh bapaknya? Apa kau tidak takut akan terkutuk oleh Langit Bumi?"
"Banyak cerewet yang tidak ada gunanya. Aku datang bukan untuk membunuh ayahku melainkan untuk membunuh seorang penjahat sekeji-kejinya di dunia ini!"
"Lho, aku ini ayahmu, Tiang Bu! Aku Liok Kong Ji ayahmu, dan ibumu Gak Soan Li...!"
"Cukup! Ibuku sudah mati, demikian ayahku sudah mati dalam hati dan ingatanku. Kau bukan ayahku, kau seorang iblis yang harus dibasmi dari muka bumi. Kau... kau... jahanam besar!"
Tiang Bu melangkah maju, sinar matanya mengandung penuh ancaman sehingga Liok Kong Ji yang biasanya amat pemberani dan keji itu bergidik.
"Ayah, mengapa banyak mengalah terhadap orang kurang ajar semacam ini? Hantam saja!"
Kata Cui Kong mempersiapkan huncwenya.
"Saudara-saudara, sekarang aku tidak sayang lagi, keroyok dan bunuh bedebah ini!"
Kong Ji kini marah betul-betul dan semua kasih sayangnya sebagai ayah terhadap anak lenyap, terganti oleh kebencian besar.
Tiang Bu bukan dianggap anaknya lagi, melainkan musuh besar yang berbahaya dan yang harus dilenyapkan dari muka bumi kalau dia mau hidup aman.
Cepat Kong Ji mencabut pedangnya dan menyerang Tiang Bu.
Pedangnya berputar secara luar biasa, berkembang ke depan sampai lebar membundar, mengeluarkan sinar putih berkilau dan mendatangkan hawa dingin menyusup tulang kepada yang diserangnya.
Tiang Bu mengeluarkau teriakan kaget menghadapi serangan ini.
Pernah ia melihat Tiong Jin Hwesio memainkan ilmu pedang ini maka tahulah ia bahwa yang dimainkan oleh Liok Kong Ji secara hebat untuk menyerangnya adalah ilmu pedang warisan Hoat Hian Couwsu yang lihainya bukan kepalang.
"Setan! Kau sudah mencuri pula Ilmu Pedang Swat-Tian-kiam-sut (Ilmu Pedang Teratai Salju) dari Omei-san,"
Toriaknya sambil cepat mengelak dan mengibaskan tangannya dengan pengerahan tenaga lweekang untuk melawan hawa dingin yang keluar dari serangan pedang itu.
Merasa betapa pedangnya terdorong ke samping oleh kibasan tangan ini, Kong Ji diam-diam terkejut sekali, apa lagi pemuda itu sekali melihat sudah mengenal ilmu pedangnya.
Memang dahulu ketika beramai-ramai menyerbu ke Omei-san, Liok Kong Ji sudah berhasil mendapatkan sebuah kitab ilmu pedang yaitu Swat-lian-kiam-coansi yang dilatihnya secra rahasia dengan amat tekunnya.
Orang lain tidak ada yang tahu bahwa ia mendapatkan kitab itu dan mempelajarinya, akan tetapi sekarang baru sejurus saja ia keluarkan, pemuda ini sudah lantas mengenalnya.
"Ha ha, kaukira hanya kau saja yang pandai? Hari ini kau akan mampus di depan kakiku, boeah jahanam tak tahu diri!"
Bentaknya untuk menutupi kekagetannya.
Kembali ia menyerang dengan ilmu pedangnya yang tinggi tingkatnya digerakkan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya karena nafsu membunuh sudah memenuhi dirinya.
Terpaksa Tiang Bu mengelak.
Serangan-serangan "ayahnya"
Kali ini dilakukan dengan sungguh-sungguh dan benar-benar bukan serangan yang tidak berbahaya.
Ia harus hati-hati.
Agaknya Liok Kong Ji kali ini mengeluarkan kepandaiannya betul-betul untuk menghadapinya.
"Kau memamerkan kepandaianmu? Bagus. Akulah lawanmu."
Kata Tiang Bu dengan gerakan indah melakukan jurus Sam hoan-bu sehingga kembali serangan Kong Ji mengnai tempat kosong.
"Bunuh keparat ini!"
Teriak Cui Kong yang cepat menyerbu membantu ayah angkatnya, menyerang dengan huncwenya yang juga amat lihai.
Biarpun tadinya merasa gentar, kini melihat sang twako Liok Kong Ji sudah bergerak dan agaknya betul-betul hendak membunuh pemuda itu, lima orang saudara angkat Kong Ji menjadi besar hati dan berturut-turut mereka melompat maju, menyerang dengan keistimewaan masing.masing.
Ban-kin-liong Cong Lung menyerang dengan tangan kosong, namun pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang sudah cukup untuk merobohkan lawan karena dia memang seorang ahli lweekeh yang tanggub tenaga lweekangnya.
Twa-to Ma it Sun memutar-mutar golok besarnya.
It-ci-san Kwa Lo biarpun jari telunjuknya kini dibungkus dan tak dapat dipergunakan, namun jari-jari tangannya yang lain masih ampuh.
Si jari lihai Kwa Lo ini adalah ahli totok nomor satu di daerahnya, memiliki kepandaian Tiam-hiat-hoat (Ilmu Menotok Jalan Darah) yang istimewa dilakukan dengan satu jari dan betapa tingi kepandaian Kwa Lo dapat dilihat dari kepandaiannya mempergunakan jari tangan yang manapun juga.
Babkan ibu jari yang besar tumpul dapat pula ia pergunakan!
Koai-jiu Sin-touw Lee Bok Wi Si Malaikat Copet juga merangsek maju, kini mengeluarkan senjatanya yang istimewa berupa besi kaitan kecil alat yang biasa dibawa oleh ahli-ahli copet untuk menyambar barang orang.
Akan tetapi kini kaitan besi ini bukan dipergunakan untuk menyambar benda berharga yang dipakai orang, melainkan dikerjakan secara hebat untuk menyambar nyawa Tiang Bu.
Akhirnya Hok Lun Hosisng, orang yang memiliki Ilmu toya Siauw lim-si, lihai dan amat hati-hati toyanya menyambar-nyambar mengeluarkan angin.
Untuk kedua kalinya Tiang Bu menghadapi pengeroyokan tujuh orang yang amat lihai, yang kesemuanya merupakan jago-jago kelas satu.
Akan tetapi sekarang ia seorang diri, tidak melindungi Bi Li, juga tidak memondong orang sepertI kemarin.
Di samping ini, hatinya marah dan sakit hati, maka Tiang Bu hebat sekali gerakannya, seperti seekor naga mengamuk.
Dengan pengerahan sinkang yang ia miliki dari latihan Ilmu Seng thian-to, jari jari tangannya demikian kuat dan kebal untuk mengibas dan menangkis setiap sambaran senjata lawan.
Cukup dengan angin pukulannya saja dapat menahan dan setiap orang lawan tidak berani datang terlampau dekat, karena sambaran angin pukulannya cukup membuat lawan menderita luka dalam yang hebat, tidak kalah berbahayanya dari pada senjata yang paling tajam.
Namun tujuh orang lawannya juga bukan ahli silat sembarangan, mereka bertempur dengan hati-hati, maklum akan kelihatan pemuda sakti itu.
Senjata datang menerjang seperti hujan, semua dilakukan dengan teratur dan hati-hati.
Terutama sekali pedang di tangan Liok Kong Ji benar benar hebat gerakannya.
Kalau saja pemuda itu bukan murid Omei-san dan kebetulan sakali pernah melihat Ilmu Padang Soat hoat-kiam-sut dimainkan oleh guru ke dua Hong Jin Hwesio di Omei-san, tentu ia akan payah melawan Ilmu pedang yang mendatangkan hawa dingin ini.
Pertempuran itu hebat sekali, cepat dan seru sampai-sampai sukar membedakan satu dari yang lain.
Di sekeliling tempat pertempuran, angin pukulan menyambar-nyambar membuat meja kursi beterbangan dan suara angin bersiutan sungguhpun di luar gedung pada saat itu tidak ada angin.
Benar-benar sebuah pertempuran ahli-ahli silat tingkat tinggi.
Seratus jurus lewat sudah.
Belum dapat tujuh orang itu mendesak Tiang Bu, bahkan sebaliknya perlahan akan tetapi tentu Tiang Bu mulai dapat mengacau pertahanan mereka.
Dengan pukulan-pukulan yang ia mainkan dari Ilmu Pukulan Sakti Thian-te Si-kong ia menolak semua serangan lawan, kemudian dengan ilmu silat bersegi delapan, ia dengan mudah menghadapi tujuh orang pengeroyoknya dan dapat secara bergiliran membagi serangan.
Kong Ji yang merasa penasaran bukan main menggerung seperti singa.
Pedangnya meluncur seperti kitat menyambar ke arah tenggorokan Tiang Bu.
Ketika pemuda ini yang sedang menangkis serangan toya Hok Lun Hosiang dengan tendangan kaki cepat mengelak ke kiri, Kong Ji memapakinya dengan pukulan Hek tok ciangnya.
Keadaan Tiang Bu terjepit sekali.
Pada saat pukulan Hek-tok-ciang ini mengancam lambungnya, masih ada dua serangan lawan yang tidak kalah berbahaya.
Pertama-tama huncwe di tangan Cui Kong melakukan totokan ke arah jalan darah di punggungnya, sedangk golok besar Ma It Sun membabat lehernya.
Jadi sekaligus tiga macam serangan yang merupakan tangan-tangan maut mengancam nyawanya.
Baiknya Tiang Bu adalah murid Omni-san dan sudah memiliki kepandaian, ketenangan dan parhitungan yang tepat.
sekilas pandang tahulah ia bahwa dari tiga serangan ini pukulan Hek-tok-ciang dari Kong Ji ke arah lambungnya datang paling akhir, juga baginya yang sudah memiliki hawa sinkang untuk mengebalkan badan, pukulan Hek-tok-ciang ini paling kecil artinya.
Huncwe yang menotok jalan darah di Thai-hut-hiat dan golok yang membabat leher lebih berbahaya.
Jalan darah Thai-hut-hiat adalah jalan darah paling lemah bagi ahli-ahli silat dan ahli lwee-keh, sedangkan penotokan dilakukan oleh Cui Kong dengan Huncwe mautnya, bahayanya besar sekali.
Adapun babatan golok ke arah lehernya juga tak boleh dipandang ringan, sebelum golok tiba angin sudah menyambar, tanda bahwa si tinggi besar hitam Ma It Sun itu bertenaga besar dan goloknya sendiripun berat.
Tiang Bu membagi tenaga.
Sebagian yang mengandung hawa murni dari sinkang ia salurkan ke arah lambung untuk menerima pukulan Hek-tok-ciang, sedangkan sebagian pula ia pergunakan di kedua tangannya yang bergerak cepat sekali.
Dengan Ilmu Twi-san-siu-po (Tolak Gunung Menyambut Mustika) ia menggunakan tangan kiri yang dimiringkan menolak atau menangkis tusukan huncwe berbareng dengan tangan kanannya secepat kilat menyambut datangnya golok dari samping.
Betapapun cepatnya golok melayang, tangan kanan Tiang Bu lebih cepat lagi menempel golok dari tamping dan mendorongnya sekuat tenaga ke belakang.
"Celaka.....!"
Seru Cui Kong melihat golok yang tadinya menyambar leher Tiang Bu sekarang menyeleweng dan sebaliknya malah menyambar kepadanya!
Twa to Ma It Sun tentu saja maklum akan hal ini, namun ia tidak dapat mengendurkan tangannya yang sudah terdorong oleh tenaga Tiang Bu.
Untuk membersihkan diri agar jangan sampai dianggap menyerang Cui Kong, Si golok besar terpaksa melepaskan gagang goloknya.
Senjata itu terus meluncur ke arah Cui Kong.
Pemuda ini dapat menggerakkan huncwenya menangkis.
Terdengar suara keras, tangannya tergetar hebat, namun ia selamat, Golok dapat terpukul jatuh hanya mengalami kekagetan luar biasa.
Sungguh berbahaya keadaan tadi.
Sebaliknya Ma It Sun lebih sialan.
Begitu ia melepaskan goloknya, baru ia merasa ada angin panas menyambar.
Ia berusaha mengelak namun tidak sempat lagi.
Tadi ia terlampau kaget melihat goloknya hendak minum darah kawan sendiri maka perhatiannya tarpecah.
Pantangan besar bagi ahli silat kelas tinggi untuk membagi perhatian selagi menghadapi lawan tangguh.
Sedangkan pukulan yang dilakukan oleh Tiang Bu ini bukan pukulan biasa, melainkan pukulan tangan miring yang menganduog tenaga lweekang kuat sekali.
"Kekkk!"
Seperti disambar petir Ma It Sun memegangi kepala dengan perut ditekuk.
Perutnya telah kena pukulan, namun kepalanya yarg terasa panas seperti hendak meledak, napasnya putus.
Ia terjungkal kedepan, tergelimpang dan roboh telungkup, tak bernapas lagi.
Enam oraug yang lain melihat ini menjadi marah, tetapi juga gentar.
It ci-sian Kwa Lo yang masih merasa penasaran dan sakit hati karena telunjuknya patah-patah, diam-diam melakukan serangan gelap dari belakang, sekaligus kedua tangannya bekerja.
Tangan kiri menotok ke arah tulang belakang sedangkan tangan kanan yang telunjuknya terbungkus itu menggunakan jari kelingking menotok jalan darah Siauw-hu hiat, jalan darah terkecil di punggung, akan tetapi paling berbahaya kalau sampai terkena.
Yang lain-lain membantu Kwa Lo.
Si Malaikat Copet Lee Bok Wi juga mengerjakaa besi kaitannya, dari depan.
Ia dengan besi kaitannya ke arah muka Tiang Bu, hendak mengait biji mata atau hidung.
Juga Ban-kin liong Cong Lung memukul dari samping dibantu oleh Hok Lun Hosiang yang menyodokkan toyanya ke arah perut lawan.
Kong Ji dan Cui Kong tidak mau ketinggalan.
Setelah Kong Ji menendang mayat Ma It Sun sehingga terlempar ke pinggir dan tidak akan terinjak-injak ia lalu mengerjakan lagi pedangnya, demikian pula Cui Kong maju, biarpun kini amat hati-hati karena tadi hampir celaka.
Sekarang Tiang Bu sudah tidak sabar lagi.
Kalau tadi nafsu membunuhnya hanya ditujukan kepada Kong Ji dan Cui Kong.
sekarang ia mulai marah kepada yang lain-lain pula.
Pengeroyokan ini menghalangi atausetidaknya memperlambat terlaksananya keinginan hatinya menewaskan ayah anak yang jahat itu.
Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik keras sekali.
Inilah lweekang yang setinggi-tingginya, disalurkan dalam suara yang menggetar.
Biarpun Tiang Bu tidak pernah mempelajari Ilmu Sai-ciu Hokang (Ilmu Auman Singa), namun sinkang dan lweekangnya sudah lebih dari kuat untuk melakukan pekik yang mengandung tenaga hebat ini.
Kitab Sang thian-to yang sudah dipelajarinya telah mengumpulkan tenaga sinkang baginya, tenaga yang sehebat-hebatnya namun masih kurang ia sadari.
Kini Tiang Bu terserang kemarahan besar ia gemas melihat pengoroyokan mereka, maka untuk melampiaskan hawa marah yang mendesak di dada, ia mengeluarkin pekikan ini.
Tadinya ia hanya ingin memuaskan hawa marah, ingin menantang.
Siapa kira pekikannya ini merupakan serangan yang luar biasa hebatnya.
"Eeeiiiikkk......!"
Pekik ini lebih menyerupai suara garuda dari pada suara singa mengaum.
Yang paling rendah Iweekangnya antara para pengeroyok adalah Koai jiu in-touw Lee Bok Wi Si Malaikat Copet.
Begitu mendengar pekik ini wajahnva menjadi pucat sekali dan tubuhnya menggigil.
senjata kaitan terlempar dan kedua tangannya ia pergunakan menutupi kedua telinganya.
Namun tetap saja ia terguling roboh, muntah-muntah darah, kejang lalu......
mati!
Hawa serangan yang terkandung dalam pekik itu telah merusak dan menghancurkan seluruh latihan lweekang dalam dirinya.
Lima orang yang lain juga mengalami goncangan hebat sekali.
Bahkan Hok Lun Hosiang hwesio Siauw-lin si yang murtad itu, telah melempar toyanya dan duduk bersila mengatur napas, karena ia telah menderita luka dalam yang tidak ringan.
It ci-sian Kwa Lo terhuyung-huyung mundur dengan wajah pucat seperti mayat, kedua kakinya menggigil.
Cui Kong yang tadi merasa jantungnya seperti copot mendengar gerengan cepat mengerahkan tenaga lweekang melindungi telinga dengan tangan.
"Iblis...........!"
Kong Ji berbisik dengan muka pucat pula.
Hanya dia yang dapat menahan serangan pekik yang dahsyat ini, biarpun merasa dadanya berdebar-debar dan telinganya mendengar suara gema mengiang.
Akan tetapi Tiang Bu yang tadinya juga kejut melihat akibat pekikannya, tidak mau banyak membuang waktu.
Kedua tangannva bergerak ke kanan kiri dan pertama-tama.
Hok Lun Hosiang tergelimpaag tewas, disusul robohnya Ban kin lions Cong Lung dan yang terakhir It-ci-sian Kwa Lo!
Tewaslah lima orang jago Ui-tiok-lim, saudara-saudara angkat dan tangan kanan Liok Kong Ji.
Tiang Bu bersiap menghadapi Kong Ji dan Cui Kong.
Akan tetapi, sekali melompat orang itu telah lenyap dari situ!
"Jahanam pengecut Liok Kong Ji kau hendak!ari ke mana?"
Tiang Bu lari meagejar ke depan, akan tetapi ke mana ia harus mencari.
Tempat di situ penuh rahasia dan perginya Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong tadi saja pun sudah aneh sekali.
Tahu-tahu hilang begitu saja.
Tiang Bu ragu-ragu dan bingung, juga amat penasaran dan gemas.
Biarpun ia sudah berhasil menewaskan lima orang kaki tangan Kong Ji yang paling diandalkan dan karena itu berarti sudah menewaskan lima orang jahat yang mengotorkan dunia, namun ia masih belum dapat membunuh Kong Ji.
"Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong! Majulah kalau kalian jantan!!"
Kembali Tiang Bu memaki-maki dan berteriak?
teriak memanggil keluar ayah dan anak itu.
Namun keadaan sunyi saja, tidak terdapat seorangpun manusia.
Biarpun tadinya di dalam gedung itu penuh dengan pelayan dan para selir Kong Ji, namun sekarang entah bagaimana mereka sudah pada menghilang semua.
"Percuma......."
Pikirnya.
"Aku mencari-cari tak mungkin dapat menemukan mereka, salah-salah aku bisa terjebak. Lebih baik kutunggu mereka di bawah bukit."
Setelah berpikir demikian.
Tiang Bu lalu lari meninggalkan daerah Ui tiok lim, mengikuti jalan yang pernah dilaluinya ketika ia memondong Bi Li keluar.
Akhirnya ia selamat sampai di bawah bukit.
Di sini ia bersembunyi sambil mangaso untuk mencegat keluarnya Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong.
Sehari ia berjaga di situ, namun tak seorangpun muncul.
Menjelang senja, barulah ia melihat rombongan orang turun gunung.
Hatinya berdebar tegang, tak salah lagi, tentu itulah rombongan Liok Kong Ji, pikirnya.
Diam-diam ia mentertawakan Liok Kong Ji yang dianggap goblok sekali, mengungsikan keluarganya demikian tergesa-gesa.
Rombongan itu terdiri dari belasan joli yang dipikul oleh para pelayan, ada pula yang membawa buntalan-buntalan besar, agaknya membawa harta benda dari Ui-tiok-lim.
Tiang Bu melompat ke luar.
"Berhenti!"
Bentaknya.
"Liok Kong Ji, keluarlah untuk terima binasa!"
Melihat munculnya pemuda ini, para pelayan menjadi kaget dan ketakutan. Mereka berkumpul, menutunkan joli lalu berlutut dengan tubuh gemetar.
"Siauw-ya, ampunkan kami......."
Yang berani membuka mulut berkata lemah.
"Di mana majikan kalian? Surub Liok Kong Ji ke luar menemuiku!"
"Liok-loya tidak....... tidak ada....... kami tidak tahu...... hanya disuruh pergi meninggalkan gunung....."
Jawab seorang pelayan.
"Bohong......!"
Tiang Bu tidak sabar lagi.
Dengan menggerakkan sedikit kaki kirinya, pelayan itu terguling-guling dan Tiang Bu maju menghampiri joli-joli itu.
Disingkapnya joli diperiksanya dalam joli.
Terdengar pekik dan jerit wanita.
"Laki-laki kurang ajar!"
"Cih. tak tahu malu!"
"Kau mau apa.......!"
"Hee....... ada pemuda kurang ajar. Jangan buka buka joli......!"
Tiang Bu kewalahan.
Ternyata joli-joli terisi wanita-wanita muda cantik yang menjadi selir Kong Ji.
Sudah diperiksa seluruh joli, juga diperiksa semua anggauta rombongan tidak terdapat Kong Ji maupun Cui Kong.
Saking marahnya Tiang Bu membanting-banting kaki.
Kemudian ia mendapat akal.
Dihampirinya sebuah joli, disingkapnya joli itu tanpa memperdulikan jerit tangis orang di dalamnya.
Bahkan ia lalu mengulurkan tangan ke dalam joli, menangkap lengan wanita di dalam joli, dan ditariknya ke luar.
Seorang wanita muda yang cantik akan tetapi berbedak tebal sekali meronta-ronta dalam pegangannya.
"Hayo kau mengaku, di mana adanya Liok Kong Ji!"
Bentaknya marah.
"Kalau tidak mau mengaku, akan kulempar kau ke dalam jurang itu!"
Ia menuding ke arah sebuah jurang yang curam.
"Aaiiihhh, ampun..... taihiap...... ampun. Sesungguhnya kami tidak tahu...... ke mana dia......,"
Wanita itu menangis dan meratap.
"Kami hanya diberi perintah supaya pergi mengungsi turun gunung, tidak diperbolehkan kembali lagi......"
Tiang Bu membentak bentak dan menakut-nakuti sampai wanita itu terkencing-kencing ketakutan dan Tiang Bu dengan jongah dan mendongkol melepaskan tangannya.
Dengan pakaian bawah basah wanita itu merayap kembali ke dalam joli.
Tiang Bu menyeret keluar wanita dari joli ke dua.
Akan tetapi sama saja.
biarpun ia sudah mengancam, wanita itu tidak dapat menceritakan di mana adanya Liok Kong Ji.
Tiba-tiba muncul seorang wanita berpakaian hijau muda, datang-datang membentak marah.
"Begal tak tahu malu! Kau berani menghina kaum wanita?"
Tiang Bu memutar tubuh dan dua sinar berkilauan menyambarnya.
Cepat ia mengelak dan mengulur tangan menangkap pergelangan dua tangan gadis baju hijau itu yang telah menyerangnya dengan sepasang kapak kecil secara hebat sekali.
"Fei Lan,......!"
Katanya tertegun ketika mengenal gadis puteri penebang kayu yang pernah ditemuinya ketika ia melakukan perjalanan ke selatan mencari Toat-beng Kui-bo.
Gadis cantik berbaju hijau itu terkejut mendengar namanya dipanggil, juga ia tidak sanggup menarik kedua tangannya yang terpegang oleh pemuda itu.
ia memandang, memperhatikan dan mengingat-ingat.
Kemudian pecahlah senyumnya,.......
seruannya.
"Tiang Bu koko.......! Akhirnya aku dapat berjumpa denganmu!"
Tiang Bu melepaskan pegangannya dan gadis itu bertanya, keningnya berkerut penuh curiga dan penasaran.
"Tiang Bu koko, hendak berbuat apakah terhadap wanita-wanita ini?"
Melihat sikap dan pandang mata gadis ini merah muka Tiang Bu. Celaka, ia tentu disangka hendak berbuat yang tidak patut terhadap rombongan itu.
"Fei Lan, jangan salah sangka. Rombongan ini adalah keluarga musuh besarku, aku sedang memaksa mereka mengaku di mana adanya musuh besarku yang menyembunyikan diri itu."
"Begitukah?"
Tiba-tiba sikap Fei Lin berubah cepat sekali. Ia menghampiri joli terdekat menendang joli itu sehingga wanita yang ada di dalamnnya menjerit dan terlempar jatuh bergulingan.
"Kau tidak mau mengaku? Hayo katakan di mana adanya musuh besar tunanganku ini!"
"A....... am....... ampun...... aku tidak tahu......."
Wanita itu masih mencoba menjawab dan inilah kesalahannya. Sepasang kapak bergerak dan....... tubuh wanita itu terpotong menjadi tiga! Putus pada leher dan pinggangnya.
"Fei Lan.......!"
Tiang Bu berteriak tidak kuasa mencegah pembunuhan yang sama sekali tak pernah disangka-dangka itu. Fei Lan berpaling kepadanya, tersenyum semanis-manisnya.
"Koko. musuhmu adalah musuhku, anjing-anjing betina ini harus dipaksa, kalau perlu dibunuh!"
"Tidak, jangan!"
Tegur Tiang Bu sambil melompat mendekati Fai Lan untuk mencegah gadis ini menyebar kematian.
Biarpun amat benci kepada Kong Ji dan Cui Kong, namun Tiang Bu tidak menghendaki rombongan yang terdiri dari para selir dan pelayan ini dibunuh.
Mereka ini adalah orang-orang biasa yang tidak mempunyai dosa, bahkan harus dikasihani berada di bawah kekuasaan seorang jahat macam Kong Ji.
"Kalian pergilah dari sini."
Katanya kepada mereka. Bagaikan dikejar setan, rombongan itu lalu berlari-lari turun dan cepat-cepat pergi dari tempat itu.
"Fei Lan, bagaimana kau bisa berada di sini?"
Tanya Tiang Bu setelah rombongan itu pergi sambil membawa mayat wanita yang sudah terpotong menjadi tiga itu.
"Tiang Bu koko, kau benar-benar lelaki yang tidak tahu kasihan kepada tunangan. Sudah dua tahun aku mencari-carimu, hidup terlunta-lunta. Baru sekarang kebetulan sekali kita bertemu dan kau masih tanya bagaimana aku bisa berada di sini? Kau benar-benar terlalu!"
Fei Lan menyelipkan sepasang kapaknya di pinggang, menutupi muka dengan kedua tangan, menangis.
Tiang Bu melongo.
Untuk beberapa lama ia sampai tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun.
Teringat ia akan peristiwa yang dahulu, ketika ia bertemu dengan Fai Lan dan ayahnya.
Ayah gadis ini secara begitu menetapkan perjodohan antara dia dan gadis ini dan Fel Lan juga menerimanya.
Tanpa bertanya tentang pendapatnya, ayah dan anah ini sudah menganggap otomatis perjodohan itu terikat.
Benar-benar gila.
"Fai Lan, di mana ayahmu?"
Akhirnya dapat juga membuka suara.
Akan tetapi mendengar pertanyaan ini, Fei Lan memperhebat tangisnya.
Tiang Bu menjadi makin bingung.
ia paling bingung menghadapi wanita menangis.
Tak tahu apa yang harus dilakukan atau diucapkannya, ia banyak berdiri mematung memandaog gadis yang menangis tersedu-sedu itu.
"Fei Lan, jangan menangis dan bicaralah!"
Akhirnya ia membentak saking tidak sabar lagi. Aneh. Fei Lan tiba tiba saja berhenti menangis dan memandang kepadanya dengan heran dan mendongkol.
"Koko, kau keterlaluan sekali. Bertahun-tahun tidak muncul, setelah kucarari sampai dua tahun lebih, sekarang bertemu kau membentak-bentak."
Kembali Tiang Bu yang melengak. Celaka, pikirnya, sudah bertahun-tahun gadis ini masih belum insyaf dan belum sembuh, bahkan penyakitnya "mengaku-aku jodoh"
Makin menggila.
"Katakanlah mengapa kau datang ke sini dan mana ayahmu. Jangan bicara tidak karuan, aku tidak ada waktu, hendak mengejar musuh-musuhku"
"Ayah telah tewas. pembunuhnya kakek buntung. Koko, sekarang aku sebatang kara. Aku ingat jenjimu. Bukankah kau menyuruh aku menanti lima tahun? Nah, sekarang sudah lima tahun, aku mau ikut kau!"
Akan tetapi Tiang Bu tidak memperhatikan kata-kata terakhir ini, yang ia perhatikan adalah tentang kakek buntung yang membunuh Lim-bong Lai Fu Fat si penebang kayu yang lihai.
"Kakek buntung lihai? Kau tahu nemanya?"
"Namanya Lothian tung Cun Gi Tosu, dia membawa seorang bocah perempuan dan......"
"Dia lari ke mana? Tahukah kau, Fei Lan, Dia lari ke mana?"
Tiang Bu bertanya sambil memegang lengan gadis itu. Fei Lan memandang heran. Ia tidak mengerti mengapa "tunangannya"
Ini demikian memperhatikan Lo-thian-tung Cun Gi Tosu.
"Kakek buntung itu naik peruhu ke selatan. Karena aku tidak kuat melawannya akan tetapi aku mendendam atas kematian ayah, aku mengikutinya terus diam-diam. Ternyata terus ke laut, menuju ke pulan-pulau selatan. Aku tidak dapat mengejar terus. Mengapa kau bertanya, koko?"
Tiang Bu memegang lengan gadis itu erat-erat dan suaranya mengandung kasihan sungguh-sungguh ketika ia berkata.
"Fei Lan, aku tidak bisa menjadi jodohmu. Kau cantik, gagah, tentu mudah mendapat pasangan. Kau carilah pemuda lain, jangan mengharapkan aku. Jangan khawatir, kematian ayahmu kelak aku yang akan membalaskan kepada kakek buntung itu. Nah, selamat tinggal dan jangan mencari aku lagi!"
Fei Lan hendak merangkul, akan tetapi Tiang Bu lebih cepat. Sekali berkelebat pemuda itu lenyap dari depannya. Fei Lan bengong terlongong-longong, lalu menangis dan berkata seorang diri.
"Mencari pemuda lain........? Mana ada seperti dia.......? Ah, ayah....... nasib anakmu buruk sekali......"
Gadis itupun berjalan sambil menangis, pundaknya bergoyang-goyang dan jalannya limbung.
Wan Sin Hong meninggalkan isterinya, Siok Li Hwa, di Kim-bun-to dan dia sendiri merantau untuk mencari puterinya yang diculik oleh tosu buntung Lo-thian-tung Cun Gi Tosu.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, di dalam peperangan hebat di kota raja ketika bala tentara Mongol menyerbu, Sin Hong berhasil menolong Bi Li dan Wan Sun dari kepungan tentara musuh.
Akan tetapi Bi Li melarikan diri ketika mendengar dia bukan putera Wanyen Ci Lun, dan Wan Sun diajak pergi oleh Sin Hong ke Kim bun-to pula.
Di pulau ini, Wan Sun seringkali bertemu dengan Coa Lee Goat yang menjadi calon isterinya.
Bersemilah cinta kasih di dalam hati dua orang muda ini, dan mereka memang merupakan pasangan cocok, sama muda, sama elok dan sama gagah.
Akan tetapi hati Wan Sun selalu berduka kalau ia teringat akan Bi Li.
Diam-diam ia harus mengaku dalam hati bahwa cintanya yang pertama jatuh kepala Bi Li, semenjak ia tahu bahwa dara jelita itu bukanlah adik kandungnya.
Akan tetapi, dia telah dicalonkan menjadi jodoh Lee Goat dan setelah ia bertemu dengan gadis tunangannya itu, timbul juga rasa suka.
Karena orang tua Wan Sun sudah meninggal dunia dan walinya yang paling berhak menjadi pengganti orang tuanya adalah Wan Sin Hong.
maka sesuai dengan kehendak pendekar ini, taklama sesudah tinggal di Kim-bun-to, dilangsungkanlah pernikahan antara Wan Sun dan Coa Lee Goat.
Pernikahan ini dilangsungkan dengan meriah dan agak tergesa-gesa karena Wan Sin Hong hendak segera pergi melakukan perantauannya mencari anaknya yang hilang.
Beberapa bulan setelah menikah.
Wan Sun juga mengajak isterinya pergi untuk menyelidiki perihal Bi Li yang sekarang setelah menikah, kembali timbul perasaan cinta saudara terhadap gadis itu.
Tentu saja Coa Lee Goat tidak keberatan.
bahkan merasa gembira pergi merantau mencari adik iparnya.
Anak-anak orang gagah selalu merasa gembira apabila melakukan perantauan, karena hanya dalam perantauan inilah kepandaian silat yang dipelajari semenjak kecil, kelihatan kegunaannya.
Perjalanan sepasang suami isteri ini tidak menemui banyak rintangan.
Siapakah yang berani mati mengganggu mereka?
Kepandaian Lee Goat dalam ilmu silat sudah termasuk tingkat tinggi, dia adalah puteri dari Go Hui Lian terutama sekali dia murid Wan Sin Hong!
Selain dia, suaminya, Wan Sun juga bukan seorang biasa saja.
Wan Sun adalah murid Ang jiu Mo-li, tokoh utara yang disegani kawan ditakuti lawan itu.
Dibandingkan dengan isterinya, Wan Sun tidak kalah lihai.
Kasihan bagi sepasang suami isteri yang meninggalkan Kim-bun-to ini, juga bagi Wan Sin Hong, mereka ini tidak mengetahui bahwa beberapa bulan semenjak mereka pergi meninggalkan Kim-bun-to, peristiwa besar terjadi di pulau itu.
Yang kini tinggal di rumah besar Coa Hong Kin adalah dia sendiri bersama isterinya Go Hui Lien, kemudian Siok Li Hwa yang merasa agak kecewa tidak diajak pergi bersama oleh suaminya.
Win Sin Hong memberi alasan bahwa perjalanan kali ini sungguh amat berbahaya.
Penculik puteri mereka adalah Lothian tung Cun Gi Tosu seorang tokoh besar yang memiliki kepandaian tinggi sekali.
Wan Sin Hong merasa lebih aman meninggalkan Li Hwa di Kim-bun-to.
Memang pendapat Sin Hong ini ttdak keliru.
Dalam menghadapi Cun Gu Tosu, dia lebih leluasa bergerak seorang diri, tak usah melindungi isterinya.
Dan isterinya tinggal di Kim bun-to bersama Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, tempat aman dan di antara sahabat-sahabat baik yang gagah perkasa pula.
Disamping tiga orang pendekar ini, di rumah itu masih ada lagi dua orang penjaga rumah yang mempunyai kepandaian lumayan karena mereka sudah mendapat petunjuk dari Coa Hong Kin.
Hong Kin yang maklum bahwa banyak sekali musuh dan orang jahat selalu berlaku hati-hati dan menaruh penjaga-penjaga malam yang mempunyai kepandaian, sehingga dia sekeluarga di waktu malam tak melakukan penjagaan sendiri dan dapat tidur tanpa terganggu.
Pada suatu hari, ketika Hong Kin, Hui Lian dan Li Hwa sedang duduk bercakap-cakap di ruang depan, penjaga memberi tahu bahwa Hwa Thian Hwesio dari Kwan-te-bio datang ingin bertemu, bersama seorang laki-laki setengah tua.
Girang hati tiga orang ini cepat mereka, menyambut.
Hwa Thian adalah kenalan lama.
Hwesio ini adalah tukang dapur atau tukang masak dari Kuil Kwan-te-bio yang sudah berusia lima puluh tahun, berkepala gundul pelontos bertubuh gemuk, lucu dan ilmu silatnya tinggi.
Dahulu hwesio ini banyak membantu Pangeran Wanyen Ci Lun dan karenanya dia adalah sahabat karib Coa Hong Kin yang dahulupun merupakan tangan kanan Wanyen Ci Lun.
Dengan mulut tersenyum-senyum hwesio gemuk itu memasuki ruangan, di sampingnya berjalan seorang laki laki setengah tua berkumis panjang yang sikapnya keren dan di punggung terselip sebatang pedang.
Sungguh berbeda sekali sikap dua orang ini.
Hwesio itu mulutnya melengeh (tersenyum lebar) terus sedang kawannya keren dan mendekati cemberut.
"Hwa Thian suhu, angin apakah yang membawamu ke sini? Kau makin gemuk dan makin muda saja!"
Sambut Coa Hong Kin yang memang sudah biasa berkelakar dengan hwesio ini. Hwesio itu tertawa terbahak.
"Kalau angin tentu angin Nirwana yang meniup pinceng ke sini. Pinceng makin gemuk dan muda karena apakah yang harus disusahkan? Hidup di dunia bukan untuk berduka, melainkan untuk menghilangkan sengsara. Ha ha-ha, tepat sekali ujar-ujar kuno bahwa bertemu dengan sahabat kental yang terpisah jauh benar-benar merupakan yang menggembirakan. Coa-sicu, melihat kau dan jiwi hujin ini, pinceng merasa seperti memasuki sarang harimau dan naga!"
Hui Lian dan Li Hwa memberi hormat dan Hui Lian yang masih memiliki wataknya yang lincah gambira, berkata.
"Hwa Thian suhu bergurau saja. Kalau hendak bicara tentang naga, kau adalah Kiang Lions (Naga Tangguh) sedangkan kami hanyalah Tee-couw-coa (Ular Biasa) saja."
Hwa Thian Hwosio tertawa bergelak sambil memegangi perutnya yang gendut, tongkatnya digoyang-goyangkan, sampai keluar air matanya ia tertawa.
"Ha-ha-ha-ha. Coa-hujin benar-benar pandai merendahkan diri. Mana gundul seperti pinceng patut disebut Kiang Liong! Kak Ouw-sicu ini kiranya masih pantas."
Berkata demikian, hwesio itu menunjuk kepada kawannya Kemudian disambungnya.
"Inilah Ouw sicu yang bernama Ouw Beng Sin, berjuluk Huangho kiam sian (Dewa Pedang dari Huangho)"
Ouw Beng Sin cepat cepat menjura kepada Hong Kip bertiga sambil berkata.
"Hwa Thian Losuhu terlalu memuji, aku orang she Ouw hanya bisa main sejurus dua jurus. Kawan-kawan yang terlalu mengambil hati memberi julukan Kiam sian, apa boleh buat, sesungguhnya tidak berani di depan samwi-enghiong aku menggunakan nama julukan itu."
Sikap orang ini setengah merendah setengah mengagulkan diri.
Dunia persilatan, jarang ada orang yang menggunakan nama juluka Kiam-sian (Dewa Pedang) atau Kiam-ong (Raja Pedang) kalau dia tidak memiliki kepandaian bahwa ilmu pedangnya tidak ada yang melawan di dunia ini.
Orang ini berani memakai julukan seperti itu, tentu mempunyai kepandaian berarti.
Di samping dugaan ini, juga timbul perasaan tidak puas dan penasaran, apa lagi bagi Siok Li Hwa yang memang wataknya agak keras dan tidak suka mengalah.
Nyonya ini menganggap bahwa di dunia ini tak ada yang melebihi suaminya.
Wan Sin Hoog, dalam permainan pedang.
Masa orang macam ini saja berani memakai gelar Dewa Pedang?
Akan tetapi sebagai seorang wanita, pula sebagai fihak tuan rumah, ia diam saja hanya mata yang bening itu menyambar laksana kilat.
Kebetulan sekali Ouw Beng Sin juga sedang melirik ke arahnya.
Orang berkumis yang mengaku Dewa Pedang ini terkejut melihat sinar mata ini dan ia mulai percaya akan kata-kata Hwa Thian Hwesio bahwa ia telah memasuki gua harimau dan naga.
Setelah semua dipersilakan duduk dan arak telah dikeluarkan biarpun menjadi hwesio, Hwa Thian Hwesio tidak pantang arak Hwa Thian Hwesia mulai menceritakan maksud kedatangannya.
"Selain hendak menengok Coa-sicu dan juga Wan sicu yang sayang sekali tidak berada di rumah. pinceng juga memenuhi permintaan yang amat sangat dari Ouw sicu ini. Dia ini adalah kenalan lama, seorang gagah yang malang melintang di Sungai Huangho dan seperti juga kita semua, dia amat suka akan ilmu silat, terutama ilmu pedang dan suka pula meluaskan pengalaman dan persabatan. Sudah lama Ouw-sicu mendengar nama besar Wan-taihiap, dan tahu pula bahwa Kim-bun-to adalah sarang ahli-ahli ilmu pedang. Sudah bertahun-tahun Ouw-sicu rindu untuk mencoba ilmu pedangnya di Kim-bun-to, akan tetapi belum juga dilaksanakan dan sekarang...."
Hwa Thian Hwesto berhenti dan nampaknya sukar untuk melanjutkan kata-katanya ketika sinar matanya bertemu dengan pandang mata Li Hwa yang tajam menusuk.
"Harap Ouw-sicu suka melanjutkan menyampaikan sendiri maksud hatinya,"
Katanya kemudian dengan tertawa tawa untul menghilangkan kebingungannya.
Orang she Ouw itu bangkit berdiri dari kursinya, menjura kepada tga orang yang menjadi tuan rumah, lalu batuk-batuk tiga kali untuk membersihkan kerongkongannya baru ia berkata.
"Apa yang diucapkan oleh Hwa Thian Hwesio yang terhormat tadi memang betul sekali,"
Ia mulai berkata dan diam-diam Hong Kin harus mengaku bahwa tamunya ini pandai mengatur kata-kata, seorang ahli pidato agaknya.
"Telah bertahun-tahun siauwte rindu sekali akan kesempatan berkunjung ke Kim-bun-to dan menerima sedikit petunjuk dalam hal ilmu pedang, Sampai bermimpi-mimpi oleh siauwte pertemuan dengan Wan Sin Hong Tai-kiam-hiap (Pendekar Pedang Besar) dan mendapat petunjuk ilmu pedang barang dua puluh jurus sebelum siauwte mengakui keunggulannya. Selain Wan-taitiap, kiranya di dunia ini tidak ada lagi yang dapat memberi petunjuk kepada siauwte. Sekarang berkat kemurahan hati Hwa Thian Losuhu yang terhormat, siauwte mendapat kurnia dan kehormatan menginjakan kaki di Kim-bun-to, akan tetapt sayang seribu kali sayang. Wan-taihiap tidak berada di sini. Ah, memang nasib siauwte yang sial, dahulu siauwte mana berani lancang datang ke sini!? Sekarang ada perantaran. kiranya tidak berjumpa dengan orangnya.....!"
Hong Kin hanya saling pandang dengan isterinya, akan tetapi Li Hwa mendongkol bukan main.
Besar kepala benar orang ini, pikirnya.
Di dalam pidatonya tadi jelas ia menonjolkan kesombongannya sungguhpun diatur dengan rangkaian kata yang berliku-liku.
Dengan sombong orang she Ouw ini membayangkan bahwa sebelum kalah oleh Wan Sin Hong, sedikitnya ia sanggup melawan sampai dua puluh jurus, dan lebih-lebih lagi sombongnya dengan kata-kata bahwa di dunia ini selain Wan Sin Hong tidak ada yang dapat memberi petunjuk atau dengan lain kata-kata, selain Wan Sin Hong tidak ada orang mampu menandingi ilmu pedangnya!
Dengan mata berapi Li Hwa juga bangkit berdiri, lalu berkata dengan suara nyaring "Sungguh tidak baik mengecewakan tamu yang sudah payah datang dari tempat jauh.
Menilik dari ucapan saudara Ouw, tentu memiliki kiamhoat (ilmu pedang) jempolan, apa lagi julukannya Dewa Pedang.
Mana suamiku mampu menandingi?
Biarpun suamiku sedang pergi dan tidak dapat melayani kehendak tamu, namun aku isterinya dengan ilmu pedang pasaran sanggup mewakili suami sebagai tanda setia.
Silakan!"
Setelah berkata demikian tangan kanannya bergerak dan "srattt...!?
pedang Cheng-liong-kiam tercabut, mengeluarkan cahaya hijau menyilaukan mata.
Boleb jadi 0uw Bong Sin agak sombong akin tetapi ia seorang jujur.
Kalau tidak miliki sifat baik di samping kosombongannya mana orang seperti Hwa Thian Hwesio mau menjadi sahabatnya?
Melihat sikap Li Hwa dan mendengar bahwa nyonya ini isteri Wan Sin Hong, ia cepat-cepat menjura dan berkata.
"Ah, kiranya hujin ini Wan-toanio? Maaf seribu kali maaf. siauwte bermata tak dapat mengenal! Harap toanio jangan salah duga dan tidak manjadi marah, maafkanlah kala siauwte tadi berlancang mulut. Sesungguhnya dari lubuk hati siauwte tidak ada maksud buruk, siauwte ingin sekali menerima petunjuk dari Wan-taihiap. Mana siauwte berani kurang ajar terhadap toanio? Maaf, maaf!"
I a menjura berulang ulang sebingga kemarahan Li Hwa lenyap sebagian besar. Akan tetapi pedang sudah dicabut, amat tidak enak kalau harus disimpan kembali sebelum dimainkan.
"Saudara? Ouw, Kim-bun-to memang tempat orang-orang yang suka akan ilmu silat. Setelah tiba di sini dan sengaja hendak main-main ilmu pedang, apa sih susahnya memberi petunjuk kepada kami? Hitung-hitung memberi pelajaran kepada kami yang masih bodoh....."
"Ah, mana berani...... mana berani....!"
"Kalau begitu, biarlah. Hitung-hitung kita saling menukar dan menambah ilmu, bagai mana?"
Kata pula Li Hwa.
"Bagus sekali!"
Hwa Thian Hwesio bertepuk tangan gembira "Usul Wan-hujin ini memang tepat.
Di antara golongan sendiri, di antara ahli-ahli silat, mengapa banyak sungkan-sungkan?
Ouw-sicu bertanding pedang dengan Wan-hujin hampir sama dengan berhadapan dengan Wan-taihiap sendiri.
Mari beri kesempatan kepada piceng untuk melihat keindahan sinar pedang."
Dengan kata katanya yang mengandung kegembiraan ini Hwa Thian Hwesio sudah mengubah keadaan, dari panas menjadi dingin dan memancing suasana baik sehingga kalau toh terjadi pibu (mengadu kepandaian) akan dilakukan dengan maksud baik, tidak disertai hati meradang dan kepala panas.
"Baiklah, kalau berdasarkan menukar dan menambah ilmu tentu saja siauwte tidak keberatan. Maafkan kelancangan siauwte!? sambil berkata demikian, ia menjura kepada semua orang dengan tubuh membungkuk, ketika tubuhnya tegak kembali, kelihatan sinar merah dan sebatang pedang yang kemerah-merahan telah tercabut, melintang di depan dadanya. Gerakannya ini sudah menunjukkan bahwa kesombongan orang she Ouw ini memang berisi. Namun Li Hwa sama sekali tidak gentar. Dengan tenang ia melangkah ke tengah ruangan yang luas, berdiri melintangkan pedang di dada sambil berkata.
"Saudara Ouw, silakan!"
Ouw Beng Sin melangkah maju menghampiri, membungkuk-bungkuk dan menjawab.
"Wan toanio, siauwte menanti. Mulailah."
"Aku pihak nyonya rumah, kau mulailah dulu."
Li Hwa menjawab, sesuai dengan kesopanan ahli silat.
"Akan tetapi siauwte seorang pria, tidak patut kurang ajar. Toanio jangan banyak sungkan, harap membuka serangan."
Memang LI Hwa bukan seorang yang biasa sungkan-sungkan, maka ia mulai memutar pedangnya dan berkata.
"Saudara Ouw, lihat pedang!"
Tangannya menggerakkan pedang dan sinar hijau manyambar ke arah dada Ouw Beng Sin.
Ouw Beng Sin cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga untuk mengukur sampai di mana tenaga nyonya pendekar itu.
Akan tetapi ia kecele karena bagaikan seekor belut yang cepat gerakannya, pedang Cheng-liong kiam sudah ditarik mundur untuk melakukan serangan ke dua membabat leher.
Terkejutlah sekarang Ouw Beng Sin.
Dia sudah banyak berhadapan dengan ahli pedang namun belum pernah bertemu ilmu pedang secepat ini.
Ia berlaku hati-hati, mengelak dan menangkis sambil mencari lowongan membalas serangan.
Akan tetapi, Li Hwa tidak memungkinkan adanya lowongan itu.
Pedangnya terus menerjang secara berantai, tidak dapat diselingi sebuah tusukan maupun bacokan dari lawan.
Demikian cepatnya gerak pedangnya sehingga yang kelihatan hanya sinar hijau dan Ouw Beng Sin merasa diserang oleh ratusan buah pedang!
"Hebat.....!
Kim-hoat bagus.......!"
Berkali-kali Ouw Beng Sin berseru kagum.
Baru sekarang ia merasa takluk betul-betul.
Baru isteri Wan Sin Hong saja kiam hoatnya sudah begini luar biasa, apa lagi ilmu pedang pendekar sakti itu!
Sebentar saja sinar pedangnya yang kemerahan sudah lenyap cahayanya, terbungkus oleh berkelebatnya sinar hijau, pedang di tangan Li Hwa.
Kalau ia mau, Li Hwa dapat melukai Ouw Beng Sin.
Akan tetapi tentu saja Li Hwa tidak mau membikin malu seorang tamu yang dibawa datang oleh Hwa Thian Hwesio.
Bukannya karena ilmu kepandaian orang she Ouw itu amat rendah.
Sebetulnya ilmu pedang Ouw Beng Sin juga lihai dan pantas kalau jarang ada orang kangouw dapat menandinginya.
Kalau hanya Coa Hong Kin atau Go Hui Lian saja kiranya hanya bisa mengimbangi permainan pedang Ouw Beng Sin dan tentu akan makan waktu ratusan jurus baru bisa mangalahkannya.
Kepandaian mereka setingkat.
Akan tetapi harus diketahui bahwa sebelumnya Li Hwa memang sudah lebih tinggi tingkat kepandaiannya.
Kemudian ditambah lagi oleh latihan dari Toat beng Kui-bo dan akhir-akhir ini mendapat petunjuk dari suaminya sendiri.
Tentu saja kiam-hoatnya luar biasa sekali.
Li Hwa hanya menyerang sampai dua puluh jurus.
Sengaja ia menanti sampai dua puluh jurus dan pada jurus terakhir ujung pedangnya menotol bajunya di bagian dada kiri Ouw Beng Sin, kemudian ia melompat mundur sambil berkata.
"Saudara Ouw memang memiliki kiam hoat bagus!"
Merah sekali muka Ouw Beng Sin. Gerakan Li Hwa tadi selain indah juga amat cepat sehingga "tusukannya"
Tidak terlihat oleh orang lain keceuali Ouw Beng Sin yang cepat melirik ke arah bajunya yang sudah bolong kecil.
"Wan-toanio benar-benar lihai sekali ihmu pedangnya."
Ia berkata sambil menjura berkali-kali. Hwa Thian Hwesio tertawa bergelak dan berkata nyaring.
"Bagus, pinceng telah menyaksikan kiam-hoat indah dan kali ini Ouw-sicu tidak penasaran. Ha-ha-ha!"
Tiba-tiba terdengar suara keras dan tubuh seorang penjaga melayang ke dalam ruangan itu.
Muka penjaga itu pucat sekali.
Agaknya menderita luka bebat.
Dengan susah payah ia bangun kembali dan Hong Kin cepat menolongnya, mendudukkannya di atas bangku.
"A Liok, kau kenapakah?"
Tanyanya.
"Di luar..... ada penjahat...... Ting twako dibunuh....... dan....... dan....... uaaah!"
Penjaga itu muntahkan darah segar dan tubuhnya menjadi lemas, kepalanya lunglai dan terbanting ke atas meja.
Bagaikan orang tertidur saja ia tak bergerak.
Semua orang menjadi terkejut dan cepat memandang ke luar.
Sunyi saja di luar.
Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang gerakannya cepat bukan main sehingga tahu-tahu kelihatan orangnya di dalam ruangan itu, tersenyum-senyum mengejek dan matanya menyapu-nyapu lima orang yang berdiri memandangnya.
Dia masih muda, seorang pemuda tampan yang membawa dua senjata aneh sekali.
Tangan kanannya memegang sebuah lengan manusia yang sudah tidak ada dagingnya, tinggal kulit yang membungkus tulang dan di dekat pergelangan tangan terdapat seekor ular putih berbisa.
Tangan kirinya memegang sebatang huncwe bambu.
Ia memandang sambil tersenyum, kadang-kadang mengisap ujung huncwe yang sudah diisi tembakau dan menyala, akan tetapi anehnya, asap yang diisapnya tak pernah keluar dari mulutnya.
Lima orang yang berada di ruangan itu adalah ahli-ahli silat tinggi.
Melihat cara pemuda tampan ini mengisap huncwa yang terus disedot ke dalam akan tetapi tidak dikeluarkan lagi, menjadi terkejut.
Hanya dengan lweekang yang amat tinggi orang dapat melakukan hal ini dan secara diam-diam pemuda ini datang-datang telah mendemonstrasikan kesaktiannya.
"Kau siapakah dan apakah kau yang membunuh, dan melukai dua orang panjaga rumah kami?"
Tanya Coa Hong Kin yang sudah melangkah maju.
Pemuda itu bukan lain adalah Liok Cui Kong!
Senyumnya melebar dan harus diakui bahwa pemuda ini berwajah tampan.
Dengan sikap kurang ajar ia melirik ke arah Hui Lian dan Li Hwa, kemudian menjawab.
"Kusangka penjaga-penjaga Kim bun-to lihai, tidak tahunya hanya gentong-gentong kosong! Ada tamu agung tidak disambut, bukankah mereka itu kurang ajar dan patut dibunuh?"
Mendengar ucapan ini, Hui Lian naik darah. Ia melangkah maju dan berdiri dekat suaminya, lalu menudingkan telunjuknya ke arah pemuda itu.
"Tikus busuk! Siapa namamu dan dengan maksud apa kau datang-datang mengacau? Apa kau sudah bosan hidup?"
Sambil berkata demikian Hui Lian sudah mencabut pedangnya juga Hong Kin meraba gagang pedang karena maklum bahwa pemuda itu datang bukan dengan maksud baik.
"Hmmm, kalau tidak salah lihat, pernah pinceng melihat muka orang muda ini, dia bersama bangsat besar Liok Kong Ji....."
Hwa Thian Hwesio menghentikan kata-katanya ketika sepasang mata pemuda itu memandang dengan tajam penuh ancaman seperti mata setan.
"Aku bernama Liok Cui Kong dan siapakah di antara kalian yang bernama Coa Hong Kin dan Go Hui Lian?"
"Kami yang bernama Coa Hong Kin dan Go Hui Lian. Kau mau apa?"
Kini Hong Kin juga sudah mencabut pedang. Cui Kong tertawa mengejek.
"Apakah Tiang Bu itu anak kalian?"
Mendengar pertanyaan ini, Hong Kin melengak. Akan tetapi Hui Lian segera menjawab.
"Betul, Tiang Bu anak kami. Kau mau apa?"
Kembali Cui Kong tertawa dan tiba-tiba menyemburkan asap putih bergumpal-gumpal ke arah muka Hong Kin dan Hui Lian.
"Bagus! Aku datang hendak membunuh kalian. Ha-ha ha!"
Makin banyak asap ke luar dari mulut pemuda ini.
agaknya asap dari huncwe yang tadi diisapnya dan baru sekarang ia keluarkan.
Hong Kin dan Hui Lian kaget sekali, hendak mengelak namun tidak keburu,.
Mata mereka terasa pedas tak dapat dibuka dan bau yang amat keras menyesakkan pernapasan mereka.
"Asap beracun, awas!"
Seru Hwa Thian Hwesio yang cepat mendekap hidung dan mulutnya, sedangkan tangan kirinya menggerakkan tongkat.
Juga Li Hwa sudah mencabut pedang sambil mengeluarkan dua butir pil merah.
Sebutir ia masukkan ke dalam mulut, yang sebutir lagi ia berikan kepada Hwa Thian Hwesio.
"Hwa Thian suhu, simpan ini di mulut dan mari kita gempur iblis cilik ini!"
Akan tetapi, Cui Kong benar benar hebat.
Ia menyemburkan terus asap putih itu memenuhi ruangan dan lengan manusia dengan ularnya itu mulai ia gerakkan menyerang Hwa Thian Hwesio yang berada di mukanya.
Ouw Beng Sin berseru.
"Pemuda jahat sekali, kau mampus di tanganku orang she Ouw."
Pedangnya diayun dan karena kebetulan berdiri di belakang Cui Kong ia langsung menyabetkan pedang ke arah kepala pemuda itu sekuat tenaga.
Akan tetapi.
tanpa menoleh Cui Kong menyabetkan tangan kering itu ke belakang untuk menangkis dan......
Ouw Beng Sin memekik nyaring lalu roboh, tewas tergigit ular putih yang amat berbisa!
Sementara itu, Hui Lian dan Hong Kin masih terhuyung huyung dan mundur sambil batuk-batuk.
Baiknya ada Hwa Thian Hwesio dan Li Hwa yang sudah memutar senjata menyerang Cui Kong sehingga pemuda ini terhambat gerakannya.
Kalau tidak ada pertolongan ini, tentu dengan mudah Cui Kong dapat menyerang suami isteri yang sedang repot ini.
Asap yang disemburkan oleh Cui Kong memang asap berbisa yang amat berbahaya.
Mata hanya terasa pedas saja kalau terkena akan tetapi siapa yang menyedot asap ini, paru-parunya akan keracunan dan keadaannya berbahaya sekali.
Cui Kong seridiri sudah mempergunakan obat penawar maka ia tidak terpengaruh oleh asap ini.
Selain asapnya yang berbisa, juga huncwe di tangan pemuda itu adalah sebuah senjata yang luar biasa lihainya dipergunakan untuk menotok jalan darah.
Kepandaian Cui Kong dalam mempergunakan senjata istimewa ini amat tinggi.
Ditambah lagi dengan senjata aneh berupa lengan manusia dengan ular berbisa, benar-benar Cui Kong merupakan lawan yang amat tangguh.
Bahkan pengeroyokan Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio tak dapat mendesaknya.
Sebaliknya.
Cui Kong tidak mau menghabiskan seluruh perhatiannya untuk dua orang lihai ini.
Kedatangannya untuk membunuh ayah ibu Tiang Bu sebagai perbuatan balasan dari serbuan Tiang Bu ke Ui tiok-lim.
la tahu bahwa setelah Tiang Bu tidak mau mengaku Kong Ji sebagai ayah bahkan memusuhinya, tentu Tiang Bu amat sayang kepada ayah bunda angkatnya ini.
Dan menghadapi Tiang Bu sendiri adalah berbahaya dan sukar karena Tiang Bu amat lihai, jalan satu-satunya yang paling mudah dan terbaik untuk membalas dendam hanyalah mencelakai ayah bunda angkat Tiang Bu yang berada di Kim-bun-to ini.
Oleh karena itulah, ia menangkis serangan-serangan Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio sambil menghambur-hamburkan asap beracun, kemudian berusaha keras untuk menyerang dan mendesak (Lanjut ke
Jilid 26) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26 Hong Kin dap Hui Lian yang masih belum dapat membuka mata dan masih kebigungan di pojok ruangan.
Li Hwa maklum akan maksud ini, demikian pula Hwa Thian Hwesio.
Maka dua orang ini yang merasa amat khawatir akan keselamatan suami isteri terus mendesak Cui Kong sambil melindungi mereka, sungguhpun amat sukar bagi mereka usaha ini karena mata mereka sendiri terasa pedas-pedas dan sudah mengeluarkan air mata karena pengaruh asap beracun.
Cui Kong mempercepat gerakan lengan manusia dan huncwenya.
Kepandaiannya memang masih lebih tinggi dari pada kepandaian Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio, maka sedikit demi sedikit ia mulai dapat mendekati Hong Kin dan Hui Lian!
Keselamatan suami isteri Kim-bun-to ini benar-benar terancam bahaya maut!
Asap beracun yang keluar dari huncwe Cui Kong itu benar-benar amat berbahaya.
Karena Hong Kin dan Hui Lian tadi berdiri di depannya, maka asap yang disemburkan itu tepat memasuki mata suami-isteri ini dan membuat mereka sukar membuka mata yang amat pedas rasanya.
Hwa Thian Hwesio sudah mempunyai pengalaman luas.
Ia dapat menduga atau mengira-ngira bahwa tentu Tiang Bu telah membuat sakit hati Kong Ji dan Cui Kong maka sekarang pemuda ini datang hendak membalas dendam kepada ayah bunda Tiang Bu.
Maka sambil menggereng kakek gundul ini mengayun tongkatnya menyerang pemuda itu agar jangan sampai mencelakai Hong Kin dan isterinya.
Akan tetapi dengan enak saja Cui Kong meloncat maju, huncwenya menangkis tongkat dan lengan kering yang dipegangnya menyambar.
"Krakk!"
Jari-jari tangan lengan kering itu tepat menghantam leher Hwa Thian Hwesio.
Dunia menjadi gelap di depan mata hwesio semua kesadarannya masih membuat ia lekas-lekas melempar diri ke belakang.
Ia bergulingan di atas lantai dan pingsan Baiknya ia tadi melempar diri ke belakang kalau tidak, tentu ular putih yang melingkar di lengan itu akan menggigitnya dan kalau hal ini terjadi, nyawanya tentu sudah melayang.
"Iblis keji, rasakan pembalasanku!"
Li Hwa menjerit marah dan pedangnya yang berubah menjadi segunduk sinar hijau menyambar-nyambar bagaikan naga mengamuk.
Cui Kong kewalahan juga menghadapi ilmu pedang yang lihai ini, maka terpaksa untuk sementara meninggalkan Hong Kin dan Hui Lian, mencurahkan perhatiannya menghadapi serangan Li Hwa.
Setelah ia melawan dengan sepenuh tenaga, baru ia dapat membendung gelombang serangan sinar hijau itu.
Sementara itu, biarpun matanya sukar di buka lama-lama, Hui Liao dan Hong Kin dapat menangkap suara pertempuran itu dan tahu bahwa Ouw Beng Sin dan Hwa Thian Hwesio sudah roboh oleh pemuda lihai itu.
Mereka menjadi nekat.
Dengan mata dipaksa terbuka, Hui Lian menerjang dengan pedangnya.
Hong Kin juga demikian, menyerang mati-matian membantu Li Hwa.
"Adik Hui Lian, jangan dekat?..!"
Seru Li Hwa.
"Biar aku menghadapi setan ini!"
Nyonya ini maklum bahwa kedatangan Cui Long adalah hendak membunuh suami isteri ini dan melihat keadaan mereka, sukar untuk mengalahkan Cui Kong.
Kalau saja mata suami isteri ini tidak terpengaruh asap beracun, tentu mereka bertiga dapat menandinginya, akan tetapi keadaan sekarang lain.
Amat berbahaya kalau Hong Kin dan Hui Lian maju.
Akan tetapi mana suami isteri yang berjiwa gagah itu mau mundur membiarkan Li Hwa seorang diri menghadapi musuh yang tangguh?
LI Hwa hendak menolong mereka tampa memperdulikan keselamatan nyawa sendiri, mereka juga tidak akan mundur, tidak takut mati dalam menghadapi musuh membantu Li Hwa.
"Ha-ha.ha, ayah bunda Tiang Bu, si keparat ternyata tidak seberapa! Ha-ha!"
Cui Kong mengejek sambil memutar ua senjatanya yang aneh.
Sebetulnya ilmu kepandaian Hong Kin tidak rendah.
Apa lagi Hui Lian.
Nyonya ini adalah adik seperguruan dari Liok Kong Ji sendiri.
Ilmu pedangnya lihai bukan main.
Akan tetapi, kini mereka tidak dapat bergerak leluasa karena mata terasa sukar sekali dibuka terus.
Dan yang mereka hadapi adalah Liok Cui Kong, seorang pemuda gemblengan yang amat luar biasa ilmu kepandaiannya.
Selain mendapat petunjuk dari Liok Kong Ji sendiri, juga pemuda ini adalah murid dari Lothian-tung Cun Gi Tosu.
Hui Lian marah bukan main.
Sambil menggertak gigi ia membuka matanya yang pedas itu lebar-lebar.
kemudian ia menggerakkan pedangnya dari atas ke bawah lalu membalik dengan mendadak dimiringkan dengan gerakan menyerong dan ujungnya membuat lingkaran-lingkaran.
Inilah gerakan yang disebut Hui-in-ci-tian (Awan Mengeluarkau Kilat ), sebuah gerakan tipu dalam ilmu Pedang Pak-kek Kiam-sut.
Hebatnya bukan kepalang!
Tidak percuma Hui Liang menjadi puteri pendekar besar Go Ciang Lee.
Cui Kong benar-benar terkejut.
Baru terbuka matanya bahwa dua orang suami isteri yang secara menggelap telah ia serang dengan asap ini adalah ahli-ahli pedang yang lihai.
Cepat ia meninggalkan Li Hwa, menggunakan tongkatnya menangkis sinar pedang yang menyambar-nyambar leher dan kepalanya.
"Plaak!"
Tongkatnya menempel pada pedang dan tak dapat ditarik kembali karena tiba-tiba pedang nyonya itu diputar cepat sehingga tongkatnya turut berputaran.
"Mampuslah kau, bedebah!"
Hui Lian membentak sambil memukul dengan tangan kirinya ke arah pusar lawannya.
Pukulan ini juga bukan serangan biasa, melainkan gerakan Hai ti lap-liong (Menyelam ke Laut Mengejar Naga) dari Ilmu silat Thian-hong cianghwat peninggalan ayahnya.
Keistimewaan pukulan ini yalah dilakukan dalam keadaan tak tersangka-sangka dan luar biasa cepat datangnya.
Sebelum Cui Kong sempat mengelak atau menangkis, pukulan sudah sampai di pusarnya!
Pemuda itu pasti akan terjungkal mampus kalau saja tenaga lweeeang dari Hui Lian lebih besar lagi.
Sayangnya, tenaga dalam nyonya itu masih kalah jauh oleh Cui Kong, pemuda ini dengan muka pucat cepat merendahkan diri sehingga pukulan itu tidak mangenai pusarnya, melainkan mengenai dada.
Ia mengerahkan sinkangnya menyambut datangnya pukulan, akan tetapi berbareng mengerjakan lengan kirinya ke arah leher Hui Lian.
Dada Cui Kong terpukul dan pemuda itu terhuyung mundur dengan muka pucat, akan tetapi Hui Lian mengeluh perlahan dan roboh dengan pedang masih di tangan.
Ternyata bahwa leher nyonya perkasa ini telah terpagut ular putih yang melingkar di pergelangan lengan kering itu dan dalam sekejap saja racun ular telah menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sungguh sayang nyonya yang perkasa ini terpaksa harus melepaskan napas terakhir dalam tangan Liok Cui Kong.
Hong Kin mengeluarkan seruan kaget dan marah bukan main.
Ia menubruk maju dan menukan pedangnya secepat kilat.
Gerakannya ini sudah bukan gerakan menurut ilmu pedang lagi yang selain mengandung sifat menyerang selalu ada sifat melindungi diri.
Serangan Hong Kin kali ini sama sekali tidak mengandung unsur penjagaan diri, seratus prosen menyerang dengan nekat dan cepat sekali.
Menghadapi kenekatan seorang ahli pedang seperti Hong Kin, betapapun lihai adanya Cui Kong tetap saja ia tidak keburu mengelak.
Hampir saja lehernya tertembus pedang kalau saja ia tidak sempat membuang diri ke kanan sehingga hanya kulit leher dan pundaknya yang terkena pedang sampai mengeluarkan darah banyak sekali.
Marahlah Cui Kong, dengan sepenuh tenaga lengan kering itu di sabetkan kepada Li Hwa yang sudah mendesaknya lagi, sedangkan huncwenya ia pukulkan ke depan menghantam kepala Hong Kin.
Hong Kin mencoba untuk menangkis pukulan ini dengan pedangnya, namun ia kalah tenaga.
Benar huncwe dapat tertangkis, akan tetapi melesat dan dengan tepat mengenai pinggir kepala di atas telinga.
"Prakk!"
Tanpa mengeluarkan keluhan. Tubuh Hong Kin terguling dan bergelimpangan di dekat jenazah isterinya, tak bernyawa lagi! "Iblis terkutut! Mari kita mengadu jiwa!"
Seru Li Hwa marah sekali dan kedua matanya bercucuran air mata melihat nasib dua orang sahabat baiknya itu.
Pedangnya mendesak dan kemarahannya membuat gerakannya lebih hebat daripada biasanya.
Juga kini tangan kirinya sudah mengeluarkan Cheng-jouw-cian ( Jarum Rumput Hijau) siap untuk menyerang lawan tangguh itu dengan senjata rahasianya yang sudah amat terkenal itu.
Cui Kong tertawa bergelak.
Girang sekali hatinya dapat menewaskan Coa Hong Kin dan Go Hui Lian.
Himpas sudah sakit hatinya terhadap Tiang Bu yang dalam penyerbuan Ui-liok-lim telah menewaskan banyak kawan dan merusak bangunan itu semau-maunya.
"Ha-ha-ha, Tiang Bu! Aku ingin melihat mukamu kalau kau melihat ayah ibumu menggeletak tak bernyawa oleh tanganku. Ha ha ha!"
Sambil tertawa-tawa Cui Kong melawan Li Hwa.
Memang ilmu kepandaian pemuda ini hebat sekali, bahkan Li Hwa masih bukan tandingannya.
Ular di lengan kering itu terus menerus mengancam, membuat Li Hwa tak dapat mendesaknya.
Sebaliknya, nyonya yang terkenal dengan julukan Hui eng Niocu ini sekarang terpaksa mundur selalu untuk menghindarkan sepasang senjata aneh dari lawannya yang masih muda.
"Ha ha ha, nyonya manis, kepandaiannya boleh juga. Akan tetapi tuan mudamu tak boleh kaupandang rendah! Nah, terima seranganku!"
Huncwe mautnya bekerja cepat sekali.
Li Hwa masih menangkis dengan pedangnya dengan maksud mematahkan huncwe itu dengan Cheng-liong-kiam.
Namun, huncwe di tangan Cui Kong itu terbuat dari bahan yang amat keras.
Huncwe terpental, akan tetapi bukan terpental membalik, melainkan menyerong ke atas dan tahu-tahu huncwe itu telah berhasil mengetuk pundak kiri Li Hwa!
Nyonya ini terhuyung sambil memegangi pundaknya.
Cui Kong tertawa terbahak-bahak sambil melompat keluar karena pada saat itu di luar rumah terdengar amat banyak orang.
0rang-orang penduduk Pulau Kim-ban-yo yang datang tertarik oleh ribut-ribut di dalam.
Li Hwa menggigit bibirnya, melepaskan pedang dan tangan kanannya yang masih dapat digerakkan lalu menghujankan Cheng-jouw-ciam ke arah bayangan Cui Kong.
Namun percuma saja.
Cui Kong gesit sekali gerakannya dan sebentar sudah menghilang melalui atas genteng.
Hanya suara ketawanya yang bergema menyeramkan.
Ketika penduduk datang menyerbu ke dalam.
mereka hanya dapat menolong para korban keganasan Liok Cui Kong.
putera angkat Liok Kong Ji yang telah mewarisi kekejaman ayah angkatnya.
Pada suatu pagi yang indah di kaki Pegunungan Tapie-san, matahati sudah naik tinggi dan pagi hari itu benar-benar indah.
Di pinggir jalan, para petani sibuk bekerja di sawah ladang di mana batang-batang padi sudah satu kaki tingginya, hijau segar bergoyang-goyang tertiup angin seperti penari penari bergerak lincah.
Para petani bekerja riang, dan digembirakan oleh harapan panen baik.
Burung-burung beterbangan, diteriaki dan disoraki, ditakut-takuti oleh para petani yang amat membenci mereka.
Biarpun barang padi belum berbuah, namun para petani sudah benci melihat kedatangan burung-burung ini.
Sebagian besar para petani mencabut-cabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar padi.
Sebagian pula mengatur perairan agar sawah mereka tidak kekurangan air.
Dari arah utara kelihatan seorang gadis menuntun seekor kuda tinggi besar.
Gadis ini sampai turun dan kudanya dan berjalan kaki agar dapat lebih menikmati pemandangan alam indah di pagi cerah itu.
Pakaian gadis ini sederhana saja, rambutnya yang hitam dibiarkan tergantung ke belakang punggung, diikat pita di tengah-tengah.
Namun kesederhanaannya tidak menyembunyikan kecantikannya yang menawan hati.
Gadis ini manis benar, usianya paling banyak sembilan belas tahun.
Pada wajahnya yang manis dan halus itu terbayang kegagahan, terutama sekali terpancar dari pasang matanya yang tajam.
Memang tidak sukar menduga bahwa dia adalah seorang gadis kangouw yang memilliki kepandaian ilmu silat.
Seorang gadis muda melakukan perjalanan seorang diri, membawa seekor kuda yang kelihatan liar dan tinggi besar.
sudah barang tentu gadis itu bukan sembarang wanita.
Tanpa memiliki kepandaian, mana seorang gadis seperti dia berani menunggang kuda setinggi itu.
Dara manis ini bukan lain adalah Lie Ceng, puteri Pek-touw tiauw ong Lie Kong.
Usianya delapan belas tahun dan semerjak Ceng Ceng dikalahkan oleh Tiang Bu dahulu ketika ia berusia lima belas tahun, gadis ini melatih diri dengan tekun sehingga ia mewarisi kepandaian ayah bundanya, juga ia kini telah dapat mewarisi isi kitab Pat-sian-jut-hun yang didapat oleh ayahnya dari Omei-san.
Kepandaiannya sudah meningkat tinggi sekali, akan tetapi wataknya masih tetap seperti dulu gembira, lincah dan galak!
Seperti telah dituturkan di bagian depan, tiga tahun yang lalu pernah ia bertemu dengan Tiang Bu dan kedua orang tuanya malah sudah menetapkan untuk menjodohkan dia dengan Tiang Bu.
Akan tetapi Ceng Ceng dengan tegas menolak perjodohan itu, Berkali-kali kedua orang tuanya mendesaknya, namun tetap saja Ceng Ceng tidak mau.
Akhir-akhir ini, ayah bundanya mengalah dan ayahnya berkata gemas.
"Ceng Ceng, kau sekarang sudah berusia delapan belas tahun dan ayah bundamu sudah ingin sekali mempunyai anak mantu. Dalam pandangan kami selin Tiang Bu di mana lagi ada pemuda yang patut menjadi sisianmu diukur dari kepandaiannya? Apakah kau tidak kecewa kalau medapatkan pemuda yang kepandaiannya rendah? Kalau kau selalu menolak untuk menikah, habis kau. Hendak hendak menanti sampai berusia berapa?"
"Biar aku berusia sampai seratus tahun tak menikah, apa sih salahnya, ayah? Apakah pernikahan itu suatu keharusan hidup?"
"Sudah tentu, Ceng Ceng!"
Kata ibunya marah.
"Bagaimana kau masih bertanya lagi?"
"Ehm, begini, ibu. Kalau memang betul ini suatu keharusan, siapakah gerangan yang mengharuskan??"
Memang Ceng Ceng sebagai anak tunggal semenjak kecil dimanjakan dan sudah biasa berdebat dengan ayah bundanya.
"Yang mengharuskan siapa.......?"
Bentak ibunya gemas.
"Kau..... kau memang anak terlalu manja?.."
Karena tidak bisa menjawab, nyonya Lie Kong hanya bisa menunjuk-nunjuk muka anaknya dengan telunjuknya.
"Ceng Ceng. seorang manusia harus mengalami tiga kejadian. Pertama Lahir, ke dua kawin, ke tiga mati. Orang terlahir pasti akan mati dan matinya itu baru sempurna kalau dia meninggalkan keturunan. Kalau tidak kawin, bagaimana bisa meninggalkan keturunan? Salah satu di antara sifat-sifat tidak berbakti yang paling penting adalah tidak punya keturunan. Kalau kau tidak ingin disebut anak puthauw (anak durhaka), kau harus memilih jodohmu agar ayah bundamu dapat menikmati kebahagiaan menimang cucu."
Merah wajah Ceng Ceng mendengar kata-kata ayahnya yang diucapkan dengan tenang namun sungguh-sungguh ini.
"Akan tetapi, ayah,"
Bantahnya berkepala batu.
"kalau aku tidak suka, masa aku harus dipaksa?"
"Akan datang saatnya timbul rasa suka kalau kau sudah bertemu dengan jodohmu. Kau menolak seorang pemuda seperti Tiang Bu, yang kau cari orang macam apakah?"
Dengan kepala tunduk Ceng Ceng menjawab perlahan.
"Dia harus memiliki kepandaian labih tinggi dari pada kepandaianku, dia harus gagah perkasa, harus berbudi mulia, dan dia harus berwajah tampan......."
Lbunya menggeleng-geleng kepala, akan tetapi Lie Kong tertawa.
"Semua wanita tentu saja mencari suami begitu! Akan tetapi kau lupa sedikit, Ceng Ceng anakku yang manja. Yang harus diutamakan adalah sifat jujur dan setia! Tiang Bu memiliki kejujuran, juga dia seorang yang memiliki kegagahan dan kesetiaan. Memang harus aku nyatakan bahwa dia tidak tampan. Akan tetapi jangan kau ngukur watak manusia dari tampangnya. Banyak sekali laki-laki yang kelihatan gagah, tampan dan mulia, padahal semua itu palsu belaka. Aku amat khawatir kau akan terpikat oleh macam itu. Ceng Ceng. Sekali lagi kunasehatkan, jangan kau terlalu percaya kepada wajah tampan."
Ceng Ceng diam saja, akan tetapi di dalam hatinya ia tetap berkeras bahwa dia hanya kawin dengan seorang pemuda yang tampan, ganteng dan mendatangkien rasa suka di dalam hatinys, Tidak seperti Tiang Bu yang berhidung pesek berbibir tebal!
Semenjak kecil Ceng Ceng memang suka pergi bermain-main sampai jauh.
Setelah dewasa dan kepandaiannya tinggi dia sering kali pergi jauh ke kota lain sampai berhari-hari.
Ayah bundanya membolehkannya saja.
Pertama agar gadis itu bertambah pengalaman serta pengetahuannya, ke dua siapa tahu kalau di kota lain bertemu jodohnya.
Demikianlah, pada pagi hari itu Ceng Ceng juga sedang melakukan perantauannya.
Ia mendaki Bukit Tapie-san dan kini sedang berada dalam perjalanan pulang.
Tertarik oleh keindahan alam dan kesibukan para petani, gadis ini melompat turun dari kuda, lalu berjalan perlahan menuntun kudanya yang besar dan bagus itu.
Ceng Ceng memang semenjak kecil suka akan keindahan.
Kepada orang tuanya ia selalu minta apa-apa yang serba indah.
Pakaian sederhana yang dipakainya itu hanya untuk menutupi pakaian indah dan mewah yang tersembunyi di dalamnya.
Ia selalu menutupi pakaiannya yang indah apabila melakukan perjalanan, pertama tama untuk menjaga agar pakaiannya yang indah tidak menjadi kotor terkena debu, kedua kalinya agar jangan menarik perhatian orang-orang jahat.
Kudanya pun kuda mahal, kuda pilihan yang amat kuat.
Ceng Ceng berdiri di pinggir sawah dan tersenyum gembira melihat dua orang anak laki-laki berusia enam tujuh tahun mengejar-ngejar burung.
Memang amat nakal burung-burung kecil berdada kuning itu.
Digebah dari sini turun di sana, diusir dari sane hinggap di sini.
Burung yang berkelompok itu seakan-akan tahu bahwa yang mengusir mereka hanya dua orang bocah maka sengaja menggoda dan mengejek.
Dipermainkan oleh burung kecil ini, dua orang bocah cilik itu marah-marah.
Mereka berteriak-teriak dan menyambitkan batu.
"Awas kalian, perampok perampok kecil. Kalau terjatuh ke dalam tanganku, kau tentu akan kucabuti bulumu, kupuntir batang lehermu, kupanggang sampai kuning!"
Kata seorang anak.
"Setan-setan kelaparan!? memaki anak kedua.
"Kami bersusah payah bekerja, ayah dan kerbau meluku, Ibu menanam, aku membersihkan rumput, kami menunggu panen dan kalian ini setan setan selalu mengganggu. Enyah keparat!"
Bocah-bocah itu lari ke sana ke mari sambil memaki-maki.
"Kami makan tak pernah memakai daging, kalau kami dapat menangkapmu, kami makan kepalamu!"
Melihat bocah-bocah ini dan para petani yang sepagi itu sudah bekerja keras dan rajin di sawah ladang, timbul pikiran di dalam kepala Ceng Ceng betapa sukarnya orang bekerja untuk menghasilkan bahan makanan.
Dia setiap hari makan nasi akan tetapi belum pernah bekerja di ladang untuk manuai padi, apa lagi meluku dan mencangkul.
Alangkah senangnya orang kota, hidup mewah dan setiap hari makan nasi dari padi terbaik.
Sebaliknya para petani yang setiap hari semenjak pagi buta sampai malam gelap bekerja membanting tulang memeras keringat di sawahnya, hidup serba kurang dan miskin.
Ceng Ceng membungkuk, mengambil segenggam pasir, menanti sampai kelompok burung dada kuning itu terbang lewat.
tangannya digerakkan, pasir menyambar mekar jala dan.......
belasan ekor burung runtuh ke atas tanah, sisanya terkejut dan terbang jauh-jauh.
Dua orang bocah itu memandang dengan mata terbelalak lebar dan mulut bengong, kemudian melihat burung-burung bergeletakan di atas tanah, mereka bersorak-sorak girang dan berlari-lari menghampiri untuk mengambil bangkai burung-burung itu.
"Hebat, timpukan yang lihai sekali??!"
Dengan suara halus memuji.
Ceng Ceng cepat menengok dan melihat seorang pemuda tampan lewat di atas jalan itu.
Pemuda ini berpakaian seperti seorang ahli silat, akan tetapi sikap dan gerak-geriknya halus seperti seorang pelajar.
Ketika Ceng Ceng menengok, pemuda itu mempercapat langkahnya dan sebentar saja sudah jauh.
Ceng Ceng tertarik.
Sikap pemuda itu gagah bukan main, juga wajahnya amat tampan, agaknya seorang pendekar perantau.
Di pinggangnya terselip sebatang bambu kecil, bukan pedang.
Biarpun amat tertarik dan ingin tahu siapakah gerangan pemuda itu dan sampai di mana kelihaiannya, namun sebagai seorang wanita tentu saja Ceng Ceng tidak berani menegur.
Apa lagi pemuda itu sudah pergi jauh dan sebentar saja bayangannya lenyap di tikungan jalan sebelah selatan.
Gadis itu lalu melanjutkan perjalanannya, melompat ke atas kuda yang dilarikan ke selatan.
Ia hendak mencari ayah bundanya yang berada di kota Kiu-kiang yang terletak di dekat Telaga Poyang.
Perjalanan masih jauh, makan waktu dua hari lagi.
Malam hari itu Ceng Ceng tiba di sebuah dusun yang cukup ramai.
Ia bermalam di rumah perginapan, memberikan kudanya kepada pelayan sambil memesan.
"Beri makan dan minum secukupnya pada kudaku ini dan masukkan dalam kandang yang baik dan terlindung dari angin malam. Jaga dia baik-baik. besok kuberi hadiah."
Pelayan itu mengangguk-angguk lalu menuntun kuda besar itu ke samping hotel. Lewat tengah malam, Ceng Ceng terkejut bangun dari tidurnya ketika pintu kamarnya digedor orang.
"Siocia....... siocia....... bangunlah! Kuda itu dilarikan orang!"
Ceng Ceng mendengar suara kaki kuda berderap lewat di depan hotel.
Dengan cepat ia melompat turun, menyambar pedangnya lalu menerjang pintu luar.
Begitu mendadak dan cepat ia membuka pintu sehingga pelayan yang melaporkan tentang kehilangan kuda dan tadinya berdiri di luar pintu, terjengkang tunggang-langgang ketika pinta dibuka.
Akan tetapi Ceng Ceng tidak memperdulikannya lagi, terus saja melompat keluar dan lari mengejar ke arah suara kuda melarikan diri ke barat.
Malam itu baiknya terang bulan, dan ternyata malam sudah larut sekali dan sudah menjelang fajar.
Ceng Ceng memiliki ginkang yang tinggi warisan dari ayah bundanya.
Kalau hanya kuda biasa saja yang dilarikan orang, kiranya ia masih akan sanggup menyusulnya, akan tetapi kudanya yang dieuri ini bukanlah kuda biasa, melainkan kuda pilihan dari utara yang sanggup lari seribu li sehari semalam.
"Maling kuda pengecut jahanam! Berhentilah kalau kau memang jantan!"
Teriak Ceng Ceng sambil mengerahkan tenaga dalamnya agar suaranya terdengar jauh.
Akan tetapi pencuri kuda itu bahkan membalapkan kudanya dan hanya suara ketawanya terdengar dari jauh.
Diam-diam Ceng Ceng terkejut.
maklum bahwa pencuri kudanya itu bukanlah pencuri biasa.
Orang yang suara ketawanya dari tempat sejauh itu dapat terdengar, tentu memiliki Iweekang tinggi.
Ia mempereepat larinya, akan tetapi percuma saja.
Makin lama derap kaki kuda makin menghilang berikut bayangan kuda.
Ceng Ceng membanting banting kakinya dengan gemas ketika ia berdiri di luar sebuah hutan.
Ia tidak tahu kemana pencuri itu melarikan kudanya.
Dengan hati mendongkol sekali Ceng Ceng berjalan terus sampai pagi.
Ia keluar dari hutan dan mengambil keputusan untuk mencari terus kudanya yang hilang sebelum pergi menyusul ayah bundanya.
ia merasa penasaran sekali kalau belum mendapatkan kembali kudanya, terutama sekali kalau belum mamberi hajaran kepada pencuri kuda yang kurang ajar itu.
Tiba-tiba ia mendengar ringkikan kuda dari arah kiri.
Girangnya bukan main karena ia segera mengenal suara kudanya!
Biarpun sudah letih karena bangun pada tengah malam tidak tidur lagi, ia segera lari ke arah kiri dengan cepat.
Dan betul saja.
ia melihat kudanya sedang makan rumput di bawah pohon dilepas begitu saja!
Dengan beberapa kali lompatan Ceng Ceng sudah tiba di dekat kudanya dan segera ia memegang kendalinya.
Dan pada saat itu baru ia melihat bahwa tidak jauh dari situ, di atas baru-baru besar, duduk seorang pemuda tampan yang bersila dan sedang bersamadhi!
Pemuda ini bukan lain adalah pemuda yang memujinya kemarin ketika ia menyambit burung-burung dengan pasir.
Peniuda Itu meramkan mata, bibirnya agak tersenyum, tampan sekali, kedua tangan di depan dada dan sebatang bambu yang ternyata adalah huncwe terselip di pinggangnya.
Sampai lama Ceng Ceng berdiri memandang, kemudian ia menjadi marah.
Tentu pemuda ini yang telah mencuri kudanya!
Ia melepaskan kendali kudanya, melangkah maju mendekati pemuda itu sambil membentak.
"Pencuri kuda kurang ajar! Turunlah kau menerima hajaran!"
Pemuda itu membuka matanya memandang kepada Ceng Ceng dengan mata bersinar dan bibir tersenyum.
"Nona, kau memaki siapa?"
Tanyanya, suaranya halus, sikapnya sopan.
"Memaki kau, siapa lagi? Kau pencuri kuda hina, turunlah kalau kau mempunyai kepandaian!"
Dilolosnya pedang dari pinggangnya dan gadcis ini siap untuk menyerang. Pemuda itu tersenyum tenang.
"Nona, aku Cui Kong selamanya tidak pernah mencuri kuda. Harap kau dapat memperbedakan antara pencuri kuda dan orang baik-balk."
Memang pemuda ini bukan lain adalah Liok Cui Kong.
Setelah berhasil membunuh Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, pemuda ini lalu melakukan perjalanan ke selatan menuju ke tempat tinggal ayah angkatnya yang baru, yaitu di sebuah pulau di pantai selatan, mendekati Lo thian-tung Cun Gi Tosu yang juga melarikan diri ke selatan setelah di utara ia tidak diterima baik oleh Jengis Khan.
Kebetulan sekali di tengah jalan ia melihat Ceng Ceng.
Sebagai seorang pemuda mata kerarjang yang bejat moralnya, tentu saja melihat seorang dara cantik seperti Ceng Ceng.
hati Cui Kong tergorcang hebat.
Akan tetapi, melihat sikap dan gerak gerik Ceng Ceng, pula menyaksikan kepandaian gadis ini, timbul perasaan aneh dalam diri Cui Kong.
Berbeda dengan perasaan kalau melihat gadis-gadis lain.
ia amat tertarik dan timbul kasih sayang.
Inilah agaknya cinta yang bersemi di dalam hatinya, oleh karena manusia bagaimana jahatpun sekali waktu akan jatuh hati kepada seorang tertentu.
Ini pula sebabnya maka Cui Kong tidak mau bermain kasar.
Ia sengaja mencari kuda nona itu dan sekarang menanti di sini, siap mencari alasan baik untuk berkenalan.
Ceng Ceng mengerutkan alisnya mendengar jawaban pemuda itu.
Ia tidak mengenal nama Cui Kong, dan ia ragu-ragu apakah ucapan itu betul.
"Bagaimana kau bisn bilang bukan pencuri kuda kalau kudaku hilang dari rumah penginapan, dibawa orang pada tengah malam, terus kukejar di sini dan kudapatkan kuda itu berada di sini bersamamu? Bagaimana kau bisa menyangkal?"
Cui Koug mengangguk-angguk berkata, masih tersenyum memikat hati.
"Memang ada kulihat tadi seorang laki-laki membalapkan kuda lewat dekat ini. Karena curiga melihat orang pagi-pagi membalapkan kuda yang besar dan indah, aku menegurnya. Akan tetapi orang itu malah mengayun pecut menyerangku. Aku menangkap pecutnya dan membetotnya sehingga orang tidak punya guna itu roboh terjungkal. Dua kali ia menyerangku lagi akan tetapi dua kali ia terjungkal lalu melarikan diri. Kuda itu ia tinggalkan dan kuda baik ini ternyata tidak mau pergi. Nah, aku sudah memberi keterangan, apakah kau masih hendak memaki aku sebagai maling kuda?"
Ceng Ceng memang seorang gadis lincah pandai berdebat. Mendengar penuturan ini ia menjawab.
"Enak saja kau mendongeng! Apa buktinya kebenaran dongenganmu itu dan siapa bisa bilang kalau kau tidak membohong?"
"Nona, ada dua sebab kuat yang menjelaskan bahwa aku bukan pencuri kuda. Aku sudah menyaksikan kepandaianmu, kalau aku yang mencuri, perlu apa aku masih melarikan diri? Kedua, andaikata aku yang mencuri lalu lari ketakutan, perlu apa aku sekarang musti menantimu di sini? Coba kau pikir baik-baik."
Memang beralasan sekali ucapan ini, akan tetapi perut Ceng Ceng sudah menjadi panas.
Kalau saja Cui Kong memberi alasan yang ke dua saja, ia sudah akan merasa puas dan percaya.
Akan tetapi, alasan pertama dari pemuda itu menyatakan bahwa pemuda itu memandang rendah kepadaianya!
Cui Kong bilang bahwa dia sudah menyaksikan kepandaian Ceng Ceng dan andaikata dia yang mencuri kuda, ia takkam lari.
Bukankah itu berarti bahwa pemuda ini menganggap kepandaian Ceng Ceng tidak berapa?
"Bagus, tidak tahunya kau selihai itukah?
Boleh, boleh kita coba-coba.
Kalau kau betul sudah dapat mengalabkan pencuri kuda, tentu kepandaianmu lebih tinggi dari pada aku.
Turunlah?"
Setelah berkata demikian, Ceng Ceng menggunakan kakinya mendorong baru besar yang diduduki oleh Cui Kong.
Hebat sekali lweekang nona ini.
Batu yang beratnya ada seribu kali ini menjadi miring!
"Ayaaa, kiranya kau sekuat ini!"
Seru Cui Kong, benar-benar terkejut.
Tadinya ia hanya melihat gadis itu menimpukkan pasir merobohkan banyak burung sekaligus.
Kepandaian ini indah, akan tetapi belum menunjukkan bahwa gadis itu seorang ahli silat tinggi.
Melihat usianya yang bogitu muda, Cui Kong menganggap gadis itu tentu tidak sedemikiah hebat.
Akan tetapi dorongan kaki pada batu besar tadi benar-benar mendemonstrasikan tenaga yang hebat dan kepandaian yang tinggi!
Sementara itu, Ceng Ceng juga kagum melihat tubuh yang tadinya bersila di atas batu, kini.
"melayang"
Turun dalam kedudukan masih bersila seakan-akan pemuda itu pandai terbang.
Padahal inipun demonstrast ginkang yang hebat dari Cui Kong, yang mempergunakan ujung-ujung jari kakinya menotol batu di bawahnya sehingga tubuhnya dapat mencelat turun.
Ketika tiba di tanah, kedua kakinya dilepas sehingga ia jatuh berdiri dengan ringan dan tenang.
Ceng Ceng bersiap-siap, ia mengandalkan Ilmu silatnya Pat-sian-jut-bun, sama sekali tidak mengira bahwa pemuda di depannya inipun ahli dalam ilmu silat itu!
Soalnya begini.
Seperti telah diceritakan dahulu, kitab Pat-sian-jut-bun yang tadinya terjatuh ke dalam tangan Pek-thouw tiauw ong Lie Kong dan diberikan Ceng Ceng, telah dirampas oleh Cui Lin dan Cui Kim dan akhirnya terjatuh ke dalam tangan Liok Kong Ji.
Akan tetapi sebelum terjatuh ke dalam tangan Liok Kong Ji, Cui Kong sudah mencuri lihat dan otaknya yang cerdas dapat menghafal isinya dan diam-diam iapun mempelajari ilmu silat ini.
Oleh Liok Kong Ji kitab itu bahkan dijadikan bahan untuk mengatur barisan bambu di Ui tiok-lim, yang makin disempurnakan ilmu dari kitab ini.
Demikianlah Ceng Ceng sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ia berhadapan dengan tokoh Ui-tiok lim atau kakak angkat dari dua orang gadis yang mencuri kitabnya dan yang sekarang masih dicarinya itu.
"Nona, kau betul-betul hendak mengujiku? Boleh, boleh, akupun ingin sekali tahusampai di mana tingginya kepandaianmu. Akan tetapi harap kauingat bahwa aku betul-betul bukan pencuri kudamu dan kita bertempur hanya sebagai pibu persahabatan saja."
"Jangan banyak cingcong! Keluarkan senjatamu!"
Seru Ceng Ceng.
Gadis ini belum tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda ini.
Biarpun ia tertarik akan ketampanan wajah pemuda ini dan sifat-sifainya yang gagah, namun sebelum mengukur tinggi rendah kepandaiannya, mana bisa ia menaruh penghargaan?
Cui Kong mencabut keluar huncwenya menjawab.
"Aku masih muda dan tidak doyan menghisap tembakau, akan tetapi huncwe ini sudah menjadi kawau lama yang selalu melindungiku, inilah senjataku nona. Kau majulah!"
Diam-diam Ceng Ceng menjadi agak gembira. Seorang yang mempergunakan senjata begitu aneh, tentu memiliki kepandaian tinggi dan ia ingin sekali tahu sampai bagaimana tingginya.
"Lihat pedang!"
Serunya dan dengan gerakan manis sekali ia menusuk ke arah tenggorokan lawannya, kemudian pedang diteruskan dengan gerakan memutar ke atas ke bawah sedangkan tangan kirinya ditekuk di depan dada.
Sekaligus ujung pedang itu menyerang tiga bagian tubuh yang berbahaya.
Melihat gerakan ini, Cui Kong terkejut sekali.
Itulah gerakan Cui sian-sia-ciok ( Dewa Arak Mamanah Batu) sebuah gerak tipu dari Ilmu Silat Pat sian-jut-bun!
Ia cepat memutar huncwenya ke depan tubuh sambil melompat mundur dan berkata.
"Nanti dulu, nona. Seranganmu begitu Iihai dan ganas, kalau sampai mengenai aku, bukankah nyawaku akan menghadap Giam-kun (Dawa Maut)?"
Ia berkelakar. Ceng Ceng cemberut.
"Kalau takut pedang jangan bicara sombong!"
"Aku seorang jantan tulen tidak takut mati, nona. Hanya aku khawatir akan mati dengan mata melek karena penasaran sebelum aku tahu siapa orangnya yang akan. membunuhku. Pedang tidak bermata, nona. Sebelum ada kemungkinan dada ini tergores pedang aku harus tahu siapa gerangan nona yang gagah perksa ini? Kau sudah tahu, namaku Cui Kong. Akan tetapi siapa nona dan dari aliran manakah?"
"Namaku Lie Ceng, bukan dari aliran mana-mana. Ayahku Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong."
Cui Kong pura-pura terkejut girang, padahal di dalam hatinya ia benar-benar terkejut dan cemas.
Ia merasa punya dosa terhadap Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong karena bukankah Cui Lin dan Cui Kim telah mencuri kitab gadis ini?
Dengan air muka kelihatan tercengang girang ia berseru sambil merangkapkan kedua tangan memberi hormat.
"Aduh, kiranya li-hiap (pendekar wanita) adalah puteri dari Lie-locianpwe yang mulia. Maaf, maaf, aku yang bodoh tidak tahu dan berlaku kurang hormat. Memang li-hiap tentu saja tidak mengenal namaku yang terpendam ke dalam lumpur, akan tetapi sebaliknya dari bawah lumpur aku sudah melihat rajawali kepala putih terbang melayang di angkasa raya."
Mendengar pujian yang muluk ini tentu saja hati Ceng Ceng merasa senang, akan tetapi ia masih penasaran.
Seranga n pertamanya tadi ternyata dengan mudah dapat ditangkis oleh Cui Kong, apakah pemuda ini betul-betul akan dapat menangkan dia.......?
Kalau betul demikian.....
hemmm, pemuda seperti ini lah kiranya yang patut.......
menjadi jodohnya!
Merah muka Ceng Ceng dengan sendirinya ketika ia berpikir sampai di situ.
"Sudahlah, tak perlu banyak peradatan ini. Hayo kita selesaikan pibu kita!"
Cui Kong merasa girang mendengar nona itu menyebut "pi-bu", bukan pertandingan sungguh-sungguh, maka ia segera bersiap dan berkata.
"Aku yang bodoh sudah siap menerima petunjuk dari li-hiap."
Ceng Ceng tidak mau berlaku sungkan lagi.
Pedangnya digerakkan amat cepatnya, menyambar-nyambar bagaikan seekor burung rajawali mengamuk.
Sinar putih seperti perak bergulung-gulung mengurung diri Cui Kong yang berlaku tenang tenang saja.
Pemuda yang sudah tahu akan kelihaian ilmu Pak-sian-jut-bun ini, tidak mau berlaku gugup dan tidak mau mengikuti pergerakan pedang lawan.
Kalan ia mengikutinya, akan celakalah dia.
Inilah kehebatan ilmu pedang itu yang harus dilawan dengan tenang.
Ia hanya memperhatikan sinar pedang menyambar ke arahnya untuk ditangkis dengan huncwenya.
ilmu silat Cui Kong masih setingkat lebih tinggi dari pada gadis ini, juga tenaganya lebih besar.
Oleh karena itu ia dapat melayani Ceng Ceng dengan baik.
Andaikata ia belum mencuri baca kitab Pat-sian-jut-bun, kiranya dia takkan depat menghadapi gadis ini demikian enak, sedikitnya dia harus mengerakkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi.
Sebaliknva, Ceng Ceng merasa seakan-akan menghadapi tembok baja yang amat kuat.
Biarpun pemuda itu bergerak lambat dan tenang namun ke mana saja pedangnya menyerang di situ sudah ada huncwe yang menangkis.
Dan setiap tangkisan huncwe membuat telapak tangan tergetar.
Hati Ceng Ceog ikut tergetar pemuda itu benar-benar lihai.
Kiranya tidak kalah lihai oleh Tiang Bu.
Akan tetapi dia pernah dikalahkan oleh Tiang Bu dan ia merasa penasaran apakah pemuds tampan yang lihai inipun dapat mengalahkannya.
"Hayo kau balas menyerang!"
Bentaknya berulang-ulang melihat pemuda itu hanya menjaga diri saja.
"Mana aku berani!"
Jawab Cui Kong mengambil hati.
Tentu saja pemuda ini tidak tahu akan suara hati gadis ini.
Dia tertarik kepada Ceng Ceng dan berusaha mengambil hatinya, ia takut kalau kalau gadis itu akan merasa terhina dan marah kalau sampai ia mengalahkannya, maka ia hanya mempertahankan diri saja.
Tidak tahunya gadis ini bahkan menghendaki sebaliknya.
"Bagaimana tidak berani ini pi-bu namanya! Hayo kaubalas, hendak kulihat apa kau mampu mengalahkan aku."
"Aku tidak berani melukaimu. nona. Aku tidak mau kau menjadi sakit hati dan marah,"
Jawab Cui Kong halus sambil menangkis tusukan pedang sehingga lagi lagi terdengar bunyi "tringg"
Yang amat nyaring dibarengi bunga api berpijar.
"Bodoh! Kalau pedangku terlepas dari tangan aku menyerah kalah,"
Kata pula Ceng Ceng.
Mendengar ini, Cui Kong cepat menggerakkan huncwenya, kini membalas dengan totokan-totokan berbahaya.
Gerakannya cepat sekali karena ia telah mainkan ilmu pedang yang ia pelajari dari gurunya, mengambil dari kitab Omei-san yang terjatub ke dalam tangan Lo.
Tnian-tung Cun Gi Tosu, yaitu kitab Soanhong-kiam-coan-si (Kitab Ilmu Pedang Angin Puyuh).
Pedang ini sekarang diganti dengan huncwe dan diputar sampai mengeluarkan angin dingin.
Sebetulnya, sama-sama kitab dari Omei-san kehebatan ilmu yang dimainkan oleh Cui Kong dengan Pat-sian jut-bun yang dimainkan Ceng Ceng itu mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri.
Namun karena Cui Kong memangnya menang setingkat, tentu saja permainannya juga lebih lihai dan Ceng Ceng sebentar saja merasa pening.
Ia mencoba menangkis dengan pedangnya, akan tetapi pedang itu tertempel huncwe dan ikut berputaran dan terlepas dari pegangannya, berpindab ke tangan kiri Cui Kong!
Dengan sikap manis budi dan merendah Cui Kong memutar pedang itu dan memegang ujungnya.
Gagangnya ia angsurkan kepada Ceng Ceng sambil berkata.
"Karena kurang hati-hati pedangmu terlepas, nona. Terimalah kembali dan maafkan aku, kiam-hoatmu benar-benar hebat sekali aku merasa kagum."
Ucapan ini dikeluarkan dengan sikap sungguh-sungguh sehingga sama sekali Ceng Ceng tidak merasa diejek.
Akan tetapi, tetap saja mukanya menjadi merah sekali ketika ia nerima kembali pedangnya dan memasukannya kedalam sarung pedang.
"Dalam ilmu pedang aku telah kalah, akan tetapi aku masih hendak menecoba ilmu silat tangan kosong!"
Kata Ceng Ceng.
Ia tahu bahwa sikapnya ini keterlaluan.
Sudah jelas bahwa ia kalah lihai, tantangannya ini benar-benar bocengli (tidak pakai aturan).
Akan tetapi gadis ini memang keras kepala dan pada saat itu ia memang ingin sekali tahu apakah benar-benar pemuda tampan ini lebih lihai dari padanya dalam sagala macam ilmu silat.
Cui Kong tersenyum.
Gadis ini cantik jelita dan keras hati, puteri Pak-thouw-tiauw-ong pula.
Hemm, aku harus dapat menundukkannya.
Jarang di dunia ini bisa kudapatkan gadis sehebat ini.
"Baiklah, nona. Aku yang bodoh hanya menurut saja atas segala kehendakmu, dan tentu saja aku girang mendapat petunjuk-petunjuk dari puteri Pek-thouw-tiauw-ong yang ternama."
"Lihat pukulan!"
Ceng Ceng terus saja menyerang tanpa mau membuang waktu lagi.
Begitu menyerang ia mempergunakan ilmu silat ciptaan ayahnya, yaitu Pek-tiauw-kun-hwat (Ilmu Silat Rajawali Putih).
Ayahnya mencipta ilmu silat ini dari gerak-gerak pek-thouw-tiauw (rajawali kepala putih) peliharaannya.
Ketika dua ekor rajawali itu pertama kali dipeliharanya dan masih liar, sering kali Lie Kong sengaja mengajaknya bertempur atau ia menyuruh isterinya melayani mereka dan diam-diam ia memperhatikan gerak gerik mereka.
Cara mereka mengelak, menangkis dan menyerang.
Dari latihan inilah pendekar pantai timur ini akhirnya berhasil mencipta Pek-tiauw-kun-hwat yang merupakan gabungan dari gerak gerak rajawali dicampur gerak-gerak tipu ilmu silat tinggi yang sudah ia pelajari semenjak kecil.
Gerakan Ceng Ceng amat lincah.
Kedua tangannya bergerak-gerak, kadang-kadang mekar seperti sayap rajawali, kadang-kadang menotok seperti paruh rajawali, tubuhnya menyambar ke atas ke bawah, kedua kakinya kadang-kadang berjungkit, kadang-kadang merendah atau meloncat loncat tinggi.
Pendeknya amat indah dipandang akan tetapi amat berbahaya dihadapi lawan.
"Bagus sekali! Kau hebat, nona,? berkali-kali Cui Kong mengeluarkan suara pujian bukan hanya sekedar untuk mengambil hati akan tetapi memang ia merasa kagum sekali. Sifat gadis yang lincah jenaka ini memang cocok sekali dengan ilmu silat ini. Dan Cui Kong girang mendapat kesempatan?main-main"
Dengan gadis seperti ini, sungguhpun main-main ini dapat membahayakan keselamatannya karena pukulan-pukulan gadis itu ternyata bukan main-main.
Tingkat kepandaian Cui Kong memang masih menang setingkat, akan tetapi ia harus berlaku hati-hati sekali kalau tidak mau terkena pukulan yang berbahaya.
Seratus jurus lewat dan belum juga Ceng Ceng dapat mendesak Cui Kong.
Sebenarnya kalau Cui Kong mau, ia tentu akan dapat robohkan lawannya ini dalam seratus jurus, dia sudah banyak mempunyai ilmu pukulan yang aneh-aneh dan beracun.
Namun menghadapi Ceng Ceng ia menjadi lemah, tidak tega mencelakainya.
Ia ingin merebut hati gadis ini tanpa kekerasan, melainkan dengan kehalusan dan cinta kasih.
Di lain pihak, Ceng Ceng makin lama makin kagum terhadap pemuda ini.
Belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda demikian pandainya, kecuali Tiang Bu.
Ia sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya, tetap saja tidak mampu ia mendesak.
Pertahanan pemuda itu kuat seperti baja sehingga semua serangannya membalik.
Cui Kong berpikir bahwa kalau dalam pertandingan tangan kosong ini ia mengalahkin gadis itu, mungkin gadis itu akan menjadi tersinggung hatinya dan berbalik membencinya.
Harus kuberi kesempatan kepadanya supaya kali ini dia menang, pikirnya.
Cepat ia menyerang akan tetapi berbalik memberi kesempatan dan lowongan.
Sebagai seorang ahli silat ia tentu saja Ceng Ceng dapat melihat lowongan ini dan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik.
Tangan kirinya menyambar ke arah dada yang terbuka dengan pukulan keras, akan tetapi segera kepalannya dibuka dan hanya telapak tanganuya yang mendorong sekuat tenaga.
"Bukk!"
Cui Kong terjengkang dan berjungkir balik ke belakang, Sedangkan Ceng Ceng merasa tangannya kesemutan dan kaku.
Bukan main kagetnya dan diam-diam ia menjadi makin kagum karena hal itu membuktikan bahwa tenaga lweekang pemuda itu tinggi.
"Nona lihai sekali. Aku Cui Kong mengaku kalah,"
Kata Cui Kong sambil mengebut-ngebutkan bajunya.
Akan tetapi Ceng Ceng bukan anak kecil.
Kini ia maklum bahwa pemuda itu sengaja mengalah dan merahlah mukanya.
Makin tertatarik hatinva, pemuda ini selain gagah perkasa, juga berbudi manis dan pandai merendah.
Di lain fihak, Cui Kong hampir menari kegirangan karena ketika merubah pukulan menjadi dorongan tadi.
Ia dapat menduga bahwa sedikitnya gadis itu mempunyai pandangan baik terhadap dirinya dan tidak mempunyai sikap bermusuh lagi!
"Ah, kau terlalu memuji.
Sebetulnya akulah yang kalah dan terus terang saja aku mengakui kelihaianmu, saudara....
saudara,...."
"Cui Kong namaku, nona. Kau selalu merendah, nona Lie. Sebetulnya saja kepandaian kita setingkat, mungkin aku sodikit lebih kuat, ini tidak aneh karena kau seorang wanita, Akan tetapi, dibandingkan dengan ayahmu tentu aku kalah jauh sekali. Sudahlah, tertang kepandaian memang tidak ada batasnya, nona. Bolehkah aku bertanya, nona hendak pergi kemanakah?"
"Aku pergi merantau meluaskan pengalaman,"
Jawab Ceng Ceng singkat. Wajah Cui Kong berseri.
"Aah, tentu saja begitu. Puteri seorang pendekar tentu ingin pula mengetahui bagaimana keadaan dunia kang-ouw. Akupun mempunyai keinginan seperti itu, nona. Hanya bedanya, kalau ayah bundamu terkenal sebagai pendekar-pendekar besar, adalah aku seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara di dunia ini, hanya mempunyai seorang ayah angkat. Akan tetapi....."
Cui Kong menarik napas panjang.
"Ayah angkat inipun hanya menambah beban hidupku. Aku...... aku terpaksa lari dari rumahnya....."
Mendengar ucapan terputus-putus dan tidak jelas ini, hati Ceng Ceng tertarik. Kepribadian pemuda itu memang telah menarik hatinya. ingin sekali ia mengetahui keadaan pemuda ini.
"Mengapa......? Mengapa kau....... lari?"
Diam-diam Cui Kong makin gembira.
Jelas bahwa nona ini menaruh perhatian kepada dirinya.
Ia harus berlaku hati-hati.
Nona ini bukan nona sembarangan, melainkan puteri dari Pek.thouw-tiauw-ong Lie Kong.
Ia harus menggunakan akal dan siasat untuk mendapatkan gadis yang benar-benar yang benar-benar telah membetot semangatnya ini.
"Ahh, kepada orang lain biar mati aku takkan mau menceritakan urusan keluargaku, nona. Akan tetapi terhadapmu....... entah mengapa biarpun baru sekarang bertemu, aku merasa...... seakan-akan kita sudah menjadi sahabat baik puluhan tahun lamanya......."
Ia berhenti sebentar untuk melihat bagaimana reaksi kata-katanya yang berani ini, apakah gadis ini akan marah?
Tidak, Ceng Ceng malah menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.
Ia menjadi makin berani dan melanjutkan kata-katanya.
"Sebenarnya, ayah angkatku hendak memaksa aku untuk menikah dengan seorang gadis kampungku. Maka aku..... lari pergi!"
Tanpa disengaja Ceng Ceng tertawa kecil mendengar ini. Ia memandang muka pemuda itu dan bertanya jenaka sudah timbul sifatnya yang jenaka dan lincah.
"Mengapa lari? Apa dia itu buruk rupa?"
"Tidak buruk, bahkan cantik menjadi kembang kampungku. Akan tetapi, nona Lie yang baik, bukan seorang gadis cantik yang lemah menjadi idam-idaman hatiku. Gadis itu benar cantik, akan tetapi dia lemah dan bodoh. Kakinya sebesar kepalan tangan....."
"Eh. bukankah itu baik sekali? Kata orang kaki wanita harus kecil, makin kecil makin baik."
Diam-diam ia melirik ke arah kakinya yang biarpun tidak besar dan mungi namun tidak bisa dibilang kecil seperti kaki wanita dusun yang semenjak bayi dibungkus dan diikat.
"Mana bisa dibilang baik? Kaki kecil bengkok, jalannya terpincang-pincang. Ah, tak sudi aku dekat wanita demikian. lemah berpenyakitan. Idaman hatiku, kalau orang buruk rupa dan bodoh semacam aku ini laku kawin, calon isteriku harus seorang wanita yang gagah perkasa. Tak usah dibilang lagi kalau gagahnya seperti engkau, nona, baru memiliki kegagahan setengah kepandaianmu saja, aku sudah akan merasa bahagia sekali. Kalau......... andaikata....... dia itu seperti engkau baik rupa maupun kepandaian....... ah. aku....... aku mau berlutut di depannya, nona!"
Sambil berkata demikian, Cui Kong betul betul menjatuhkan diri berlutut di depan Ceng Ceng.
Demikian pandainya Cui Kong mengambil hati!
Ceng Ceng cepat membalikkan tubuh tidak mau menerima penghormatan itu sambil berkata.
"Jangan begitu! Tidak patut orang-orang muda seperti kita bicara tertang perjodohan. Itu urusan orang tua. Berdirilah agar kita bisa bicara dengan baik."
Diam-diam gadis ini merasa girang sekali hatinya.
Sudah lama ia mengidamkan seorang calon suami yang tidak saja tampan dan halus budinya, akan tetapi juga memiliki kepandaian yang melebihi kepandaiannya.
Dan pemuda ini tidak saja sudah memenuhi semua syarat, bahkan terang-terangan sudah menyatakan cinta kepadanya!
"Kau tidak marah?
Terima kasih, nona.
Agaknya hari ini Thian menuntunku ke jalan babagia."
Cui Kong berdiri dan nona itu kembali menghadapinya.
"Seperti juga kau. aku dipaksa oleh ayah untuk menikah dengan seorang pemuda yang tidak kusetujui. Aku tadinya hendak dipaksa menjadi jodoh seorang pemuda bernama..... Tiang Bu."
Kalau Cui Kong tidak mempunyai kepandaian menguasai diri, tentu ia akan tersentak kaget mendengar disebutnya nama ini.
Hendak dijodohkan dengan Tiang Bu pemuda sakti itu, Hatinya berdebar keras.
Alangkan kebetulan.
Kalau ia bisa mendapatkan gadis ini, tidak saja hatinya akan puas karena memang ia tertarik dan cinta kepada Ceng Ceng, Akan tetapi juga sekaligus itu merupakan pukulan terhadap Tiang Bu, merupakan sebagian dari pada balas dendam kepada pemuda yang dibencinya itu.
"Mengapa kau tidak setuiu, nona? Apakah Tiang Bu itu seorang pemuda yang tidak memiliki kepandaian silat?"
Ia pura-pura bertanya.
Ceng Ceng tersenyum.?Tentang kepandaian silat aku sama sekali tidak dapat menang melawan dia, mungkin kau dapat mengalahkannya.
Hemm, aku ingin sekali melihat kan dan dia bertempur.?
Diam-diam Cui Kong mengeluh di dalam hatinya.
Kalau saja Ceng Ceng tahu betapa Tiang Bu sudah membikin kocar.kacir Ui-tiok-lim!
Dikeroyok tujuh saja masih tidak kalah, bagaimana Cui Kong harus menghadapi Tiang Bu seorang diri?
memikirkan hal ini saja bulu tengkuknya sudah berdiri saking ngerinya.
"Ah, kalau begitu dia seorang yang berkepandaian tingi? Mengapa kau menolaknya. nona?"
Tanyanya menyimpangkan pembicaraan tentang kepandaian silat. Kemudian disambungnya cepat agar dianggap sopan.
"Ah, maaf beribu maaf, sebetulnya tidak patut aku berlancang mulut. Mulutku patut digampar!"
Cenga Ceng yang tadinya hendak marah menjadi tersenyum.
"Apakah kepandaian tinggi saja cukup menjadi syarat perjodohan? Kalau hati tidak suka, siapa bisa memaksaku?"
Cui Kong bertepuk tangan, wajahnya berseri.
"Bagus! Barus! Memang menjadi orang muda barus demikian. Aku girang sekali bahwa ternyata pendirianku ada yang menyamai, keadaanku dan keadaanmu cocok sekali, nona."
Kembali Ceng Ceng menjadi merah mukanya, akan tetapi dia memang bukan gadis pemalu. Ditatapnya wajah pemuda itu penuh selidik, lalu bertanya.
"Kau telah memperkenalkan nama, akan tetapi siapa she (nama keturunan) mu? Dan kemana kau hendak pergi?"
"Aku she Kwe dan seperti juga kau, aku pergi merantau menjauhkan diri dari paksaan ayah angkatku."
Kemudian ia berkata dengan sikap sungguh-sungguh.
"Nona Lie Ceng, aku Kwee Cui Kong biasa bicara jujur dan terbuka, sesuai dengan sikap orang gagah yang tidak suka menyimpan perasaan sendiri sebagai rahasia. Terus terang nona. Begitu bertemu dengan nona, apa lagi setelah mengadu kepandaian, aku merasa cocok sekali denganmu, dan....... apa bila nona setuju?.. maafkan kelancanganku karena aku suka berterus terang menyatakan isi hatiku, apabila nona setuju, aku ingin ikut nona menemui orang tua nona untuk........ untuk mengajukan pinangan atas diri nona."
Dapat dibayangkan betapa likat dan malu rasa hati Ceng Ceng sebagai seorang dara mendengar kata-kata yang terus terang seperti ini.
Akan tetapi diam-diam ia memuji keberanian pemuda ini dan sama sekali ia tidak bisa marah karena memang pemuda ini tidak bisa dibilang kurang ajar.
Bahkan ucapan itu membuktikan betapa jujur dan gagah sikapnya!
Memang Ceng Ceng hanya pandai ilmu silat akan tetapi pengalamannya masih hijau sekali.
Tentu saja menghadapi seorang "buaya "
Seperti Cui Kong, ia terpikat! Sampai lama Cang Ceng tidak bisa bicara, akhirnya sambil menundukkan muka ia berkata.
"Urusan jodoh urusan orang tua, bagaimana jika kau hendak bertemu sendiri dengan ayah bundaku?"
Sudah menang setengah bagian, pikir Cui Kong!
Terang gadis ini setuju, kalau tidak masa bertanya demikian, tentu marah.
Kalau gadis ini marah dan menolaknya, tentu Cui Kong hendak menggunakan kekerasan menculiknya, akan tetapi ia lebih senang mengambil jalan halus karena memang kali ini ia bersungguh-sungguh, begitu berjumpa dengan Ceng Ceng ia tertatik sekali.
Apa lagi kalau diingat bahwa dara ini puteri Pek-tbouw-tiauw-ong, dia harus berhati-hati.
"Ucapanmu itu memang tepat sekali, nona, dan akupun tentu akan mematuhi peraturan dan kesopanan. Akan tetapi apa mau dikata, seperti tadi telah kuceritakan, aku adalah seorang anak yatim piatu, tiada ayah bunda lagi........"
Sampai di sini dengan pandai sekali sepasang mata Cui Kong menjadi basah oleh air mata!
"Ayah angkatku memaksaku menikah dengan seorang gadis kampungku puteri seorang hartawan, kalau kuceritakan kepadanya tentang niatku ini sudah pasti ia akan marah-marah dan menolak.
Oleh karena itu, lebih baik aku datang sendiri kepada ayah bundamu dan menyatakan bahwa di dunia ini tidak ada lagi waliku sehingga terpaksa aku mengajukan pinangan sendiri.
Nona Lie yang mulia.
sudikah kau menyetujui permohonanku ini?"
Ceng Ceng menjadi terharu.
Hatinya sudah jatuh betul-betul.
akan tetapi sebagai seorang gadis terhormat, bagaimana dia bisa menjawabnya?
Tiba-tiba kudanya meringkik dan menggaruk-garuk tanah dengan kaki depan.
Kuda itu sudah tidak sabar dan minta diberi kesempatan lari.
"Aku memang hendak manyusul ayah di kota Kiu-kiang. Kalau kau hendak mencari kami, datang saja di Telaga Po-yang, di sana ayah mempunyai perahu besar tempat kami pelesir. Nah, aku pergi dulu!"
Dengan gerak ringan sekali Ceng Ceng melompat ke atas punggung kudanya. Sekali menarik kendali kuda itu meringkik dan melompat jauh terus berlari cepat.
"Nona, bagaimana aku tahu yang mana perahu ayahmu?"
Cui Kong berteriak keras.
"Cari saja burung pek-thouw-tiauw, tentu ketemu!"
Jawab Ceng Ceng sambil menoleh dan melambaikan tangannya.
Kemudian kuda itu membalap cepat, sebentar saja lenyap di sebuah tikungan jalan.
Cui Kong berdiri bengong, merasa hatinya dan semangatnya terbawa lari oleh kuda itu.
Akhirnya ia menghela napas panjung dan berkata heran.
"Cui Kong... Cui Kong.... mengapa hatimu seaneh ini? Hemm, banyak sekali wanita cantik, akan tetapi tak seorangpun dapat menandingi Ceng Ceng. Dia itulah calon isteriku! Aku harus mendapatkan dia!"
Kemudian iapun lari cepat menuju ke Kiu-kiang.
Telaga Poyang adalah sebuah telaga besar di Propinsi Kiang-si.
telaga yang indah dan juga ramai.
Telaga ini menjadi pusat keramaian dan tempat orang berpelesir, terutama sekali oleh karena letaknya di dekat kota-kota besar seperti Nan ciang dan lain-lain.
Para saudagar tidak ada yang tidak melewatkan waktu untuk mengunjungi telaga ini apa bila maraka kebetulan lewat di daerah ini, juga para pembesar setempat selalu menghibur hati di telaga dengan perahu-perahu mereka yang serba mewah dan indah.
Telaga ini menjadi pusat para seniman di mana mereka menvari ilham di tempat sunyi indah ini untuk menghasiIkan karya-karya besar.
Hanya rakyat kecil, kaum petani dan nelayan yang agaknya tidak menaruh perhatian atas segala keindahan alam ini, pandangan mata mereka jauh sekali bedanya dengan orang-orang kota itu.
Mengapa demikian?
Oleh karena rakyat kecil yang selamanya tinggal di dusun-dusun ini sudah biasa dengan segala keindahan alam semenjak mereka kecil.
Mereka telah menjadi satu dengan keindahan tamasya alamsehingga para pelukis dan penyajak tidak pernah lupa menyebut mereka ini dalam lukisan atau sajak mereka.
Memang sagala keindahan itu akan kehilangan rasanya apabila telah dimiliki.
Di antara puluhan buah perahu indah millik para pembesar dan saudagar, terdapat sebuah perahu cat putih yang sedang saja besarnya.
Akan tetapi tentu saja sudah termasuk besar dan mewah apa bila dibandingkan dengan perahu-perahu butut milik para seniman dan nelayan yang banyak berkeliaran di permukaan telaga.
Perahu bercat putih ini sudah tiga bulan berada di situ, dimiliki oleh sepasang suami isteri pendekar yang amat ternama, yaitu Pek-thouw tiauw ong Lie Kong dan isterinya Souw Cui Eng.
Bagi orang-orang yang sudah biasa merantau di dunia kangouw, melihat dua ekor burung pak-thouw-tiauw yang sering kali hinggap di atas perahu atau terbang berputaran di atasnya, tentu akan mengenal siapa pemilik perahu itu.
Pada suatu pagi, ketika matahari mulal memancarkan sinarnya di permukaan telaga suami isteri pendekar ini sudah kelihatan duduk di atas dek perahu mereka.
Sudah jadi kebiasaan mereka untuk "mandi cahaya matahari"
Di waktu pagi yang merupakan sebagian dari pada latihan mereka sehingga tubuh selalu sehat dan awet muda.
Inilah saatnya mereka bercakap cakap dengan asyik, si isteri melayani suami minum teh hangat dan sekedar santapan pagi.
(Lanjut ke
Jilid 27) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27
"Heran mengapa Ceng Ceng masih juga belum kembali? Apa dia lupa bahwa dalam bulan ini kita akan meninggalkan Po-yang?"
Terdengar Lie Kong berkata sambil menghirup teh panasnya.
"Anak ini kalau sudah bertamasya lupa waktu."
Jawab Souw Cui Eng.
"Akan tetapi pada saatnya ia tentu akan datang. Biarpun suka pelesir, Ceng Ceng selalu ingat akan pesan kita. Kurasa sebelum lewat bulan ini tentu ia akan pulang."
Lie Kong menarik napas panjang.
"Tabun ini Ceng Ceng sudah berusia delapan belas lebih, dan kita belum mendapatkan calon jodohnya......."
Isterinya juga menarik napas panjang.
"Anak itu agak bandel. Akupun sudah setuju sekali kalau dia menjadi isteri Tiang Bu pemuda yang sakti itu. Akan tetapi, aahhh, memang Ceng Ceng amat bandel?.."
"Tunggu saja sampai kita bertemu dengan keluarga di Kim-bun-to, tentu hal perjodohan ini akan kujadikan,"
Kata Lie Kong, Tiba-tiba terdengar pekik nyaring.
Suami isteri itu menoleh ke darat sebelah timur sambil mengerutkan kening.
Sekali lagi pekik terdengar dan tak lama kemudian seekor buruag rajawali berkepala putih datang beterbangan di alas perahu, berputar-putar sambil cecowetan.
"Hemm, betinanya ke mana?"
Tanya Lie Kong sambil memandang burungnya itu.
"Celaka, tentu terkena bencana. Hayo kita lihat!"
Kata isterinya yang amat sayang kepada separang burungnya.
Suami isteri ini cepat minggirkan perahu, diikuti oleh pok-thouw-tiauw dari atas.
Dengan sigap mereka melompat ke darat meninggalkan perahu lalu berlari mengikuti burung mereka yang menjadi penunjuk jalan.
Burung itu terbang terus ke sebuah hutan kecil di sebelah timur telaga.
Setelah memaauki hutan, mereka melihat enam orang laki-laki aneh yang berdiri saling berhadapan.
Lie Kong dan isterinya berdiri bengong seperti patung!
Apa yang mereka lihat memang luar biasa anehnya.
Tiga di antara enam orang itu pernah mereka lihat, yaitu bukan lain adalah Pak-kek Sam-kui (Tiga Iblis Kutub Utara) yang bernama Giam lo-ong Ci Kui, Liok-to Mo-ko Ang Bouw, dan Sin sai-kong Ang Louw.
Akan tetapi, tiga orang ini sekarang berdiri berhadapan dengan tiga orang Pak kek Sam-kui pula!
Tegasnya pada saat itu terdapat dua orang Ci Kui, dua orang Ang Bouw, dan dua orang Ang Louw.
tiga pasang manusia kembar yang sukar sekali dibedakan mana aseli mana palsu!
Hanya bentuk pakaian mereka yang agak berbeda, selebihnya mereka serupa benar.
Saking heran dan terkejut menyaksikan pemandangan ganjil ini, Lie Kong dan isterinya sampai tak dapat mengeluarkan suara.
Burung pek-thouw-tiauw betina sedang dipegang sayapnya oleh seorarg Ci Kui dan burung itu sama sekall tak dapat berkutik.
Memegang burung besar yang amat kuat seperti itu menunjukkan keahlian sipemegangnyaa.
"Ha, pemilik pek thouw tiauw sudah datang kau masih juga belum melepaskannya!"
Kata Ci Kui kedua kepada Ci Kui pertama.
Ci Kui yang memegang burung mengeluarkan ketawa sambil memandang kepada Lie Kong, agaknya ia jerih dan sekali menggerakkan tangan, burung pek thouw tiauw betina itu sudah terbang tinggi mengeluarkan pekik marah.
Ci Kui kedua yang menyuruh Ci Kui pertama tadi lalu menjura kepada Lie Kong.
"Si-cu harap sudi memaafkan kami. tiga orang adik kakak ini membuat kesalahan terhadadap sicu, kami yang mintakan maaf. Sekarang kami enam orang kakak beradik masih mempunyai urusan penting sekali, harap sicu mengalah dan mundur."
Lie Kong cepat-cepat mengerahkan tenaganya ketika dari sepasang kepalan itu menyambar angin yang amat kuatnya.
Ia membari penghormatan itu dengan merangkap kedua tangan ke dada dan digerakkan ke depan.
Dua tenaga dahsyat saling bertemu dan Lie Kong tergeser sedikit kaki kirinya, tanda bahwa orang tinggi kurus itu benar-benar lihai sekali.
Hal ini mengejutkan hati Lie Kong.
Ia tahu bahwa tiga orang Pak kek Sam kui lihai, akan tetapi tidak mungkin seorang saja dari mereka dapat menandinginya.
Akan tetapi karena orang bicara dengan cengli (menurut aturan), iapun tidak mau banyak cakap.
Burungnya tidak terganggu, mengapa ia harus banyak ribut?
Ia mengangguk kepada isterinya, lalu mengundurkan diri.
Akan tetapi oleh karena hutan itu tempat umum, ia berani dengan isterinya duduk di bawah pohon agak jauh dari situ untuk melihat apa yang selanjutnya akan terjadi antara tiga pasang manusia kembar yang aneh-aneh seperti siluman itu.
Dua pasang Pak-kek Sam kui selanjutnya tidak memperdulikan lagi akan hadirnya Lie Kong dan isterinya dan mereka saling berhadapan, sikap Pak-kek Sam kui pertama menantang dan Pak-kek Sam -kui kedua sikapnya tenang, sabar membujuk.
"Bagaimana, apakah kalian masih berkeras kepala tidak mau ikut kami pulang ke utara?"
Terdengar Ci Kui kedua bertanya. Ci Kui pertama menjawab.
"Tidak! Kami bebas melakukan apa saja yang kami sukai dan kalian tak perlu mencampuri urusan kami!"
Agaknya seperti juga Ci Kui kedua, yang pertama inipun mewakili kawan-kawannya.
"Hemmm, kalian ini benar-benar tak tahu diri. Kami sebagai saudara-saudara tua masih bersikap sabar sekali. Kalian patut dilenyapkan dari muka bumi. Kalian secara tak tahu malu sekali mencemarkan nama saudara tua, membantu manusia manusia jahat dan pengkhianat semacam Liok Koug Ji dan Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Di mana sifat kegagahanmu? Raja besar kami sedang sibuk memukul ke barat, kalian anak-enak hedak mengikuti Liok Kong Ji yang bersembunyi di Pulau Pek-houw-to (Pulau Harimau Putih) di laut selatan. Sudah banyak kejahatan kalian lakukan sebagai kaki tangan Liok Kong Ji sudah banyak kalian membuat permusuhan dengan orang-orang gagah di dunia selatan. Dari pada kelak kalian mampus di tangan orang-orang gagah, lebih baik sekarang kalian roboh oleb tangan kami sendiri."
Mendengar ini, Pak-kek Sam-kui pertama menggereng marah dan mereka mulai menyerang.
Ci Kui pertama menyerang kakaknya, demikian pula Ang Bouw dan Ang Louw.
Pertempuran hebat terjadi, pertempuran aneh antara orang-orang kembar yang aneh!
Memang membingungkan sekali melihat pertempuran antara orang-orang ganjil itu.
Sabenarnya, tiga orang yang biasa disebut Pak-kek sam-kui yaitu yang sekarang menjadi Pak-kek Sam-kui pertama, adalah adik-adik kembar dari Pak kek Sam kui ke dua.
Mereka adalah tiga pasang orang kembar dari daerah Mongol yang semenjak kecil menjadi sahabat.
Kemudian setelah mereka dewasa, mereka terpisah, merupakan dua kolompok.
Yang tua melanjutkan ilmu mereka, menyembunyikan diri di gunung sedangkan yang muda.
yaitu Pak-kek Sam-kui yang sudah banyak dikenal, membantu perjuangan Temu Cin atau Jengis Khan.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Pak-kek Sam-kui ini terpikat oleh Li Kong Ji dan menjadi kaki tangannya.
Ketika saudara saudara tua mereka mendengar akan penyelewengan adik-adiknya ini mereka turun gunung, membantu Jengis Khan kemudian mereka menuju ke selatan untuk mencari adik-adik mereka yang mengikuti Li Kong Ji.
Tidak mengherankan apabila kepandaian mereka lebih tinggi dari pada Pak kek Sam-kui yang sudah dikenal Lie Kong.
Sekarang dapat menduga pula akan hal itu setelah mendengar percakapan tadi.
Yang menggirangkan hatinya adalah berita tentang tempat tinggal Liok Kong Ji, akan tetapi berbareng juga membuatnya tidak mengerti.
Ia sedang berusaha mencari Ui tiok lim tempat tinggal Liok Kong Ji untuk mencari kembali kitab Omei-san yang dirampas oleh dua orang gadis Ui-tiok-lim dari tangan Ceng Ceng.
Mengapa sekarang Liok Kong Ji sudah ke Pek-houw-to?
Ketika ia memandang ke arah pertempuran, mudah saja ia menduga bahwa tak lama lagi Pak kek Sam-kui yang muda akan kalah.
Pertempuran itu memang hebat, dilakukan dengan tangan kosong saja akan tetapi angin pukulan mereka membuat batang pohon bergoyang-goyang dan daun-daun rontok semua seperti ada enam ekor gajah mengamuk.
Betul saja dugaannya, hampir berbareng tiga orang Pak-kek Sam-kui yang muda terpukul roboh dan pingsan.
Masing-masing mengangkat adik sendiri, memanggulnya dan tanpa menoleh lalu lari pergi dari situ.
"Sam-bengcu, tunggu!"
Teriak Lie Kong sambil melompat mengejar.
"Hendak kutanya sedikit, bukankah Liok Kong Ji berada di Ui tiok-lim? Mengapa sam-wi tadi mengatakan dia sudah pindah ke Pek-houw to?"
Si jangkung gundul yang memanggul tubuh Ci Kui menengok dan berkata,?Kami juga tadinya menyusul ke Ui-tiok-lim, ternyata di sana sudah rusak, dihancurkan oleh seorang pemuda perkasa bernama Tiang Bu.
Sekarang Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu berada di Pek-houw-to, kedudukan mereka lebih kuat lagi!"
Setelah berkata demikian, bersama kawan-kawannya ia lari cepat sekali, sebentar saja sudah lenyap dari situ. Lie Kong menarik napas panjang dan berkata kepada isterinya.
"Benar benar banyak sekali orang pandai di dunia ini. Baiknya tiga orang saudara tua Pak-kek Sam kui itu tergolong orang orang baik, kalau mereka jahat seperti adik-adiknya, entag siapa yang dapat menghadapi mereka. Sekarang kita sudah tahu bahwa Liok Kong Ji berada di Pek houw to, tentu kitab Pat-sian-jut-bun juga ia bawa ke sana. Kita menanti kembalinya Ceng Ceng, kemudian kita harus mengejar ke Pek-houw to."
Suami isteri ini lalu kembali ke perahu mereka di Telaga Po-yang.
Alangkah kaget dan girang hati mereka melihat Ceng Ceng sudah tiba di situ, kudanya ditambatkan di pinggir telaga dan gadis itu sendiri duduk melamun di atas dek perahu.
"Ceng Ceng.......!"
Ibunya berseru girang.
"Ayah.......! Ibu.......!"
Seru gadis itu, sadar dari lamunannya.
Setelah bertemu dengan ayah bundanya, Ceng Ceng mendapatkan kembali kelincahannya dan sebentar saja ia sudah sibuk manceritakan pengalaman perjalanannya kepada ayah bundanya.
Diceritakannya keindahan alam yang dilihatnya di Tapie-san, tentang para petani dan tentang bagaimana ia membantu anak petani menangkap burung.
Akhirnya ia berkata tentang Cui Kong setelah bicara tentang hal yang sepele-sepele.
"Ayah, Aku bertemu dengan seorang pemuda dan aku....... aku kalah bertanding ilmu silat olehnya."
"Mengapa kau bertempur dengan orang?"
Kontan ayahnya menegur.
"Dia mengalahkanmu! Waah, tentu dia lihai sekali?. Siapa pemuda itu? Agaknya kau kagum padanya,"
Komentar Ibunya. Memang wanita lebih tajam perasaannya dalam hal ini. Ceng Ceng sekaligus menjawab pertanyaan ayah dan ibunya.
"Aku salah kira, tadinya ia kusangka pencuri kudaku, tidak tahunya dia malah yang merampas kembali kudaku dari tangan pencuri."
Dengan singkat dia menceritakan pengalamannya tentang kuda yang dicuri orang pada malam hari, lalu tentang pertemuannya dengan Cui Kong.
"Kami bertempur, mula-mula dengan senjata lalu bertangan kosong. Akan tetapi dua kali aku kalah. Dia she Kwee seorang yatim piatu......"
"Eh. eh. alangkah tak patutnya kau sampai berkenalan dengan orang asing!"
Tegur Lie Kong.
"Habis dia memperkenalkan diri, masa aku harus menutupi kedua telingaku,"
Bantah Ceng Ceng manja.
"Dia...... dia bilang mau datang ke sini...... mau berjumpa dengan ayah ibu....."
Sampai di sini muka gadis itu menjadi merah sekali dan ia berlari memasuki kamarnya sambil berkata.
"Ayah, aku lelah sekali hendak mengaso."
Lie Kong saling pandang dengan isterinya, lalu keduanya mengangguk-angguk maklum.
"Bagaimanapun juga, kita harus berlaku hati-hali dalam memilih calon jodohnya,"
Kata Lie Kong dan untuk ini isterinya setuju.
Pada keesokan harinya, Cui Kong sudah tiba di tepi Telaga Po-yang karena ia telah melakukan perjalanan cepat sekali.
Banyak terdapat perahu-perahu besar di telaga yang luas itu.
Akan tetapi tidak sukar untuk mencari perahu yang dimaksudkan oleh Ceng Ceng.
Dari tepi pantai ia sudah melihat dua ekor burung, yang seekor hinggap di atap perahu, yang seekor lagi beterbangan di atap perahu, berputaran.
Burung-burung yang indah dan besar.
Berdebar hati Cui Kong.
Ia sudah mendengar nama besar Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, yang berilmu tinggi, juga kabarnya Lie adalah seorang pendekar wanita yang lihai.
Ia tahu pula bahwa ayahnya tidak cocok dengan suami isteri pendekar ini dan bahwa dahulu ketika beramai-ramai menyerbu ke Omei-san suami isteri inipun mendapatkan sebuah kitab yang akhirnya terjatuh ke tangan ayah angkatnya.
Ia harus berlaku hati-hati dan pandai beraksi.
Disewanya sebuah perahu kecil dan didayungnya perahu itu ke tengah telaga, mehampiri perahu cat putih yang kelihatannya tidak ada penghuninya.
Akan tetapi setelah perahu kecilnya mendekati perahu besar cat putih itu, tiba-tiba terdengar suara bersuit dan burung pek thouw tiauw yang yadinya enak enak melengut di atas atap perahu mengulur kepala dan memandang ke arah perahu kecil kemudian ia terbang menyambar menyerang Cui Kong dengan ganasnya!
Cui Kong adalah seorang cerdik.
ia dapat menduga bahwa perbuatan burung ini tentu ada yang mengaturnya.
Kalau burung itu memang liar dan menyerang semua orang asing, sudah tentu telaga itu takkan aman.
Setiap orang tentu akan diserang burung ini dan sebentar saja telaga itu akan kosong ditinggal pergi para pengunjung.
Jadi jelas bahwa burung ini tentu ada yang memerintah maka menyerangnya.
Dan justeru dia yang diserang!
Pasti orang yang menyuruhnya itu hendak nenguji sepandaiannya.
Dia tadi sudah mendengar suitan nyaring sebagai tanda, Ceng Cengkah gerangan yang menyuruh burung itu menyerangnya?
Tak mungkin.
Gadis itu "ada hati"
Kepadanya, tak mungkin hendak mencelakainya dan untuk coba-coba, gedis itu sudah cukup tahu akan kepandaiannya.
Tak bisa salah lagi, pikirnya, tentu pemilik burung itu, Pek-thouw-tiauw-ong sendiri atau isterinya yang menyuruh burung rajawali ini menyerangnya.
Dan ini-pun tidak mungkin kalau tidak ada sebabnya.
Pek-thouw.tiauw-ong dan isterinya belum mengenalnya, mengapa turun tangen?
Jawaban satu satunya, cukup mudah, tentu Ceng Ceng sudah menceritakan hal dirinya kepada ayah bundanya dan sekarang begitu tiba ia diuji oleh ayah gadis itu yang ingin melihat sendiri sampai di mana kelihaian pemuda yang dibicarakan oleh anaknya!
Cui Kong memikirkan ini semua sambil mengelak.
Sedikit saja miringkan tubuh patukan dan cakaran burung itu mengenai tempat kosong.
Lewatnya tubuh burung besar itu membawa angin yang cukup santer, membuat ikat kepala Cui Kong berkibar-kibar.
Memang dugaan Cui Kong tepat sekali.
Da balik dinding balik perahu, Lie Kong, isterinya dan Ceng Ceng mengintai ke luar dan tad Lie Kong yang memberi aba-aba kepada burung rajawalinya untuk "mencoba?
kepandaia pemuda yang ditunjuk oleh puterinya.
Melihat betapa mudahnya Cui Kong menghindarkan sambaran burungnya, kembali Lie Kong bersuit lebih keras.
Sekarang tidak saja burung betina yang tadi menyerang pula, bahkan burung jantan yang beterbangan di atas ikut pula menyambar dan mengepung Cui Kong.
Cui Kong terkejut.
Ia maklum bahwa burung itu kuat bukan main dan sekali kena disamhar, buarpun ia depat mengebalkan diri dan tidak terluka, akan tetapi ada bahayanya, ia akan terlempar dari perahu dan jatuh ke dalam air telagu!
Tentu saja dengan pukulan tin-san-kang ia dapat memukul mampus dua burung itu, akan tetapi inipun tidak baik.
Kalau ia membikin mati burung-burung kesayangan orang tua Ceng Ceng.
bukankah berarti ia akan mengecewakan dan membikin marah Pek.thouw tiauw ong Lie Kong?
Kalau terjadi demikian, mana ada harapan baginya untuk meminang gadis itu?
Pada saat yang kritis ini, Cui Kong mendapt pikiran baik.
Perahu itu adalah perahu nelayan dan di pojok perahu terdapat sebuah jala ikao.
Cepat ia menyambar jala itu dan begitu dua ekor burung menyambar dekat, ia menggetakkan jala ikan ke atas memapaki.
Jala itu milik seorang nelayan miskin, sudah robes-robek dan butut.
Alan tetapi di dalam tangan Cui Kong yang memiliki lweekang tinggi, jala itu rupakan senjata hebat.
Sekali lempar saja ia telah berhasil menangkap dua ekor burung itu ia dalam jala.
Cepat ia memutar-mutar jala itu sehingga tubuh dan kaki dua pek-thouw-tiauw itu tergubat sama sekali.
Dua ekor burung itu meronta kuat, namun Cui Kong lebih kuat lagi.
Dengan tenang Cui Kong lalu menggenjot tubuhnya dan melompat ke atas dek, jala terbuka dan dua ekor burung tadi terbang tinggi sambil berteriak-teriak ketakutan!
Lie Kong dan isterinya kagum sekali.
Kini mereka percaya bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada Ceng Ceng.
Cara yang dipergunakan untuk menghadapi dua ekor burung pek thouw-tiauw tadi saja sekaligus telah membuktikan adanya kecerdikan, kegesitan dan tenaga lweekang yang mengagumkan.
Muncullah Lie Kong den Souw Cui Eng dari dalam bilik perahu, diikuti oleh Ceng Ceng yang menundukkan muka kemalu-maluan dan mengerling dengan ekor matanya ke arah Cui Kong.
Pemuda itu cepat-cepat menjatuhkan berlutut di depan Pek thouw-tiauw ong Lie Kong dan isterinya sambil berkata.
"Mohon locianpwe yang budiman sudi memaafkan boanpwe yang berlaku lancang. Tanpa diundang boanpwe Kwee Cui Kong berani lancang naik ke perabu locianpwe, tidak lain oleh karena di tengah jalan boanpwe mendapat kehormatan bertemu dengan puteri locianpwe yang terhormat. Boanpwe sudah berjanji hendak datang ke sini menghadap locianpwe berdua."
Sow Cui Eng berseri girang melihat sikap yang amat sopan santun dan merendah dari pemuda ini.
Benar-benar seorang pemuda yang pandai membawa diri, tepat sekali menjadi mantuku, pikirnya.
Akan telapi Lie Kong mengerutkan alisnya.
Hatinya tak senang melihat sikap berlebih-lebihan dan agak menjilat dari pemuda ini.
Bukan sikap seorang gagah, pikirnya.
Akan tetapi oleh karena orang sudah berlutut, tidak baik kalau tidak disambut.
Ia lalu membungkuk dan berkata.
"Orang muda, jangan terlalu sungkan, bangunlah."
Dipegangnya kedua pundak Cui Kong untuk ditarik baneun tambil dikerahkan sedikit tenaganya.
Merasa betapa dua tangan itu mengenai pundaknya seperti bukit karang menindihnya, Cui Kong cepat-cepat mengerahkan lweekangnya menahan sehingga Lie Kong memegang pundak yang lunak seperti tidak bertulang.
Pek-thouw-tiauw-ong mengangpuk-angguk.
Diam-diam ia agak terkejut karena dari sentuhan ini ia dapat menaksir babwa tenaga lweekang pemuda ini sudah hampir mengimbanginya.
"Bangunlah, aku sudab tahu akan kepandaianma yang tinggi."
Setelah Cui Kong bangkit berdiri, kembali Lie Kong mengerutkan keningnya.
Sepasang mata pemuda ini benar-benar tidak menyenagkan perasaan batinya.
Mata yang tajam liar, mengsndung sesuatu yang mangerikan seperti bukan mata manusia.
Mata Iblis!
Sabaliknya, Souw Cui Eng memandang kagum kepada pemuda ini.
Dia juga tahu betapa suaminya telah mencoba tenaga pemuda yang agaknya menjadi pilihan hati puterinya.
"Sekarang katakan apa kehendakmu mengunjungi kami,"
Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 2
Baca Juga: Pendekar Sakti 7