Ceritasilat Novel Online

Tangan Geledek 10

Eps 10 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.

Tanya Lie Kong, suaranya dingin dan tenang. Hati Cui Kong berdebar. Suara ini nadanya tidak memberi banyak harapan, akan tetapi ia dapat menenteramkan hatinya, menarik napas panjang lalu berkata.

"Maafkan, boanseng yang berani mati menghadap locianpwe mengandung maksud hati. Bososeng sudah bertemu dengan puteri locianpwe, tak disengaja mencoba kepandaian dan boanseng menganggap di dunia ini tidak ada gadis yang lebih sampurna dari pada puteri loeianpwe. Oleh karena itu, melupakan kerendahan diri sendiri, bounseng datang untuk mohon tangan puteri locianpwe......."

"Hemm, orang muda berani mati! Mana ada aturan orang meminang sendiri?"

Bentak Lie Kong.

"Boanpwe seorang yatim piatu, hidup sebatangkara di atas.dunia tiada sanak kadang. siapa yang sudi menjadi wali boanpwe?"

"Menilik gerakanmu tadi, kau seorang ahli waris kepandaian dari utara, siapa -gurumu dan mengapa gurumu tidak mewakilimu mengajukan pinangan?"

Cui Kong terkejut. Alangkah tajam pemandangan pendekar ini. Ketika ia mainkan dua ekor pek thouw tiauw tadi, ternyata pendekar ini sudah dapat melihatnya bahwa ia mewarisi ilmu silat utara.

"Memang sesungguhnya boanpwe adalah murid seorang tosu perantau di perbatasan utara dan sekarang suhu telah meninggal dunia. Oleh karena tidak mempunyai wali lain, terpnaksa boanpwe memberanikan diri menghadap locianpwe,"

Jawabnya sedih sekali.

Ia dapat mengatur suaranya demikian berduka sehingga Ceng Ceng dan ibunya merasa terharu.

Akan tetapi Lie Kong memandang tajam penuh selidik ke arah pemuda di depannya itu, kemudian ia berkata, suaranya tetap tenang akan tetapi dingin dan berpengaruh.

"Orang muda, tidak gampang mendapatkan tangan puteri tunggal kami secara begitu saja. Kepandaianmu memang memenuhi syarat, cukup tinggi. Akan tetapi kepandaian tidak akan ada artinya kalau orang tidak dapat mempergunakannya untuk maksud baik. Sekarang dangarlah syarat kami. Kami telah kehilangan sebuah kitab pelajaran ilmu Silat Pat-siat-jut bun. Kitab itu dicuri oleh dua orang perempuan jahat dari Ui-tiok-lim, sarang penjahat iblis Liok Kong Ji. Kalau kau bisa merampas kembali kitab itu dan memberikannya kepada kami, nah, permintaanmu akan dapat kami pertimbangkan."

Mendengar ini, berseri wajah Cui Kong. Kalau hanya itu syaratnya, apa sih sukarnya? Kitab pelajaran Pat sian-jut-bun telah berada di tangan ayahnya, dan bukan hal yang sukar baginya untuk mencurinya.

"Baiklah, locianpwe. Boanpwe sanggup dan paling lama dalam waktu satu bulan kitab itu pasti akan boanpwe haturkan di depan locianpwe. Selamat tinggal, boanpwe bermohon diri."

Setelah berkata demikian, Cui Kong memberi hormat kepada Lie Kong suami isteri, mengerling diiringi senyum manis kepada Ceng Ceng, kemudian dengan sigapnya ia meloncat ke atas perahu kecilnya yang masih tarapung-apung tak jauh dari situ.

Ini saja sudah membuktikan kelihaiannya.

Perahu kecilnya terpisah empat tombak lebih dan meloncat ke atas perahu kecil ringan yang bergoyang-goyang.

Itu merupakan kepandaian ginkang yang tinggi.

Karena terlampau girang mendengar syarat yang amat mudah baginya itu, Cui Kong berlaku kurang hati-hati.

Ia tidak tahu betapa Lie Kong makin menaruh curiga kepadanya.

Permintaan Lie Kong ini sebetulnya sama sekali tak boleb dibilang ringan.

Bagi orang lain, merampas kembali kitab dari tangan Lie Kong Ji di Ui-tiok-lim, bukan hal semudah itu.

Akan tetapi pemuda ini bahkan dengan muka berseri berani memastikan akan berhasil dalam satu bulan.

Hal ini sudah merupakan jawaban yang amat mencurigakan Pertama, kalau pemuda itu tidak pasti akan berhasil, tak mungkin dia begitu bergembira.

Ke dua.

Ulan dia berani memastikan dapat berhasil dalam satu bulan, itu berarti bahwa pemuda ini sudah tahu akan kepindahan Liok Kong Ji ke laut selatan.

Karena, andaikata mencari kitab itu ke Ui-tiok-lim, perjalanan pulang pergi saja ke Ui tiok-lim akan mamakan waktu berbulan-bulan!

Pemuda itu mencurigakan sekali,?

kata pendekar yang cerdik dan waspada ini.

"siapa tahu kalau-kalau dia itu mempunyai hubungan dengan penjahat iblis Liok Kong Ji."

"Akan tetapi sikapnya demikian sopan santun juga kepandaiannya demikian tinggi,"

Bantah isterinya. Kau tabu apa?"

Kata Lie Kong mencela.

"Dahulu di waktu mudanya Liok Kong Ji si Iblis juga seorang pemuda sopan dan berkepandaian tinggi."

"Ayah menurut pendapatku. dia bukan orang jahat Buktinya dia telah merampaskan kembali kudaku dari tangan pencuri sela Ceng Ceng berani. Hem hem, apa kau melihat sendiri? Betul dia berkata demikian, akan tetapi kau tidak melihat sendiri ia bertempur melawan pencuri kuda."

Kau memang terlalu curiga,"

Mencela Souw Cui Eng kepada suaminya.

"Kita lihat saja. Mudah-mudahan kecurigaanku keliru."

Apa yang didengar oleh Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong dari percakapan Pek-kek Sam-kwi tentang Liok Kong Ji memang betul.

Orang yang licin sekali itu setelah terlepas dari tangan Tiang Bu dapat menyelamatkan diri dan pindah ke selatan.

Ia merasa tidak aman.

Tadinya hanya Wan Sin Hong seorang yang ia takuti.

Malah belakangan ini ia tidak begitu jerih lagi terhadap Sin Hong setelah ia tinggal di Ui tiok-lim dan selain kepandaiannya sendiri sudah banyak maju, juga ia dilindungi oleh lima orang saudara angkatnya.

Akan tetapi, sungguh tidak nyana sekali lima orang pembantunya itu tewas semua oleh Tiang Bu puteranya sendiri, putera keturunannya yang hanya satu-satunya.

Malah ia sendiri hanya dengan kecerdikannya saja dapat meloloskan diri.

Sekarang merasa makin tidak aman lagi, tahu bahwa Tiang Bu takkan mau berhenti mencarinya untuk membalas dendam, untuk membunuhnya.

Kalau Kong Ji teringat betapa putera keturunannya sendiri hendak membunuhnya, mau tak man hatinya menjadi perih sekali.

Ia takut melawan Tiang Bu, maklum bahwa kesaktian pemuda itu sekarang bahkan jauh melebihi kepandaian Sin Hong atau kepandaian tokoh yang manapun juga yang pernah ia ketahui.

Kemudian ia teringat kepada Lo-thian tung Cun Gi Tosu, kakek buntung yang amat lihai.

Hanya kakek buntung ini yang akan dapat membantunya.

Dan kebetulan sekali, kakek itu sekarang sudah pindah ke selatan, tempat yang amat terpencil, di sebuah pulau kosong yang disebut Pek houw-to (Pulau Macan putih), Andaikata kakek itu masih berada di utara masih ada bahaya lain.

Di utara adalah tempat pasukan-pasukan Mongol, ia tahu bahwa diam-diam Jengis Khan tidak suka kepadanya.

Raja besar itu memberi hadiah kepadanya karena memang tadinya ia membantu, akan tetapi setelah ia mengundurkan diri tidak mau membantu penyerbuan orang Mongol ke barat, Jengis Khan menjadi curiga dan tentu akan mencelakainya.

Demikian, Liok Kong Ji lalu pergi menyusul Cun Gi Tosu ke Pulau Pek-houw to.

Ia diterima baik oleh kawannya ini yang maklum bahwa kedatangan Kong Ji berarti memperkut kedudukannya.

Kong Ji diam-diam lalu mendatangkan selir-selirnya yang ia sayang, lima orang jumlahnya dan sebentar saja pulau kosong itu berubah menjadi ramai dan indah, berkat pembiayaan Kong Ji yang masih mempunyai harta simpanan.

Hanya Cui Kong yang tidak betah tinggat lama-lama di pulau itu dan pemuda ini sering kali pergi merantau ke luar pulau.

Di atas pulau ini, Liok King Ji memperdalam ilmu silatnya.

Dengan tekun ia mempelari kitab-kitab dari Omei-san yang terjatuh ke dalam tangannya.

Dia sendiri mendapatkan kitab Swat lian-kiam-coan-si yang sudah dilatih dengan baik, kemudian kitab silay Pat-sian-jut-bun yang didapatkan oteh Cui Lin din Cui Kim juga telah dipelajari sampai hafal benar.

Akhirnya ia membuka-buka kitab Delapan Jalan Utama yang ia ambil dari mayat Toat-beng Kui bo.

Tadinya Cun Gi Tosu yang mempelajari kitab ini, akan tetapi tosu ini terlalu bodoh sehingga mengira bahwa kitab ini hanya kitab pelajaran Buddha biasa saja.

Akan tetapi begitu Kong Ji melihatnya dengan girang ia dapat memecahkan rahasia kitab itu.

Sama sekali bukan hanya sekedar pelajaran kebatinan dari Agama Buddha, melainkan pelajaran ilmu silat yang amat hebat.

Akan tetapi di samping kehebatannya, juga sukarnya bukan main sehingga payah Kong Ji mempelajarinya.

Isi kitab ini mengandung delapan sari pelajaran lweekang dan penyatur hawa dalam tubuh, setiap pelajaran mempunyai pecahan-pecahan yang amat banyak.

Setiap huruf mengandung pelajaran tinggi dan Kong Ji bukanlah seorang ahli dalam ilmu sastera, maka dapat dibayangkan betapa ia memeras otaknya dan dalam waktu setengah tahun ia baru dapat memetik buahnya dua saja di antara delapan mata pelajaran itu.

Sungguhpun begitu, yang dua ini sudah mendatangkan kepandaian yang mujijat, tenaga lweekangnyat meningkat tinggi dan sinkang (bawa sakti) di dalam tubuh dapat ia salurkan sampai ke ujung pedang.

Semua ini ia latih secara diam-diam.

Cun Gi Tosu sendiri sampai tidak mengetahuinya.

Demikianlah, sekali lagi Kong Ji mengalami hidup tenteram dan aman.

Ia pikir, tak mungkin Sin Hong atau Tiang Bu dapat mencarinya.

Andaikata mereka dapat mencarinya, ia juga tidak takut.

Selain di sampingnya ada Cui Kong dan Cui Gi Tosu yang lihai, juga dia sendiri sanggup menghadapi mereka.

Ia malah ingin sekali mencoba kepandaian barunya dengan Sin Hong atau Tiang Bu.

Sementara itu, Wan Leng.

puteri Sin Hong yang diculik oleh Cun Gi Tosu juga hidup di Pulau Pek Houw-to, ia dirawat oleh para selir Liok Kong Ji yang rata-rata sayang kepada bocah mungil ini.

Juga Cun Gi Tosu kelihatan sayang kepada calon muridnya.

Kita ikuti perjalanan Pendekar Sakti Wan Sin Hong yang mencari jejak Can Gi Tosu, penculik puterinya.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah mengurus pernikahan antara Wan Sun dan Coa Lee Goat.

Wan Sin Hong lalu meninggalkan Kim bun-to untuk pergi mencari puterinya yang diculik oleh Lethian-tung Cun Gi Tosu.

Ia sudah mendengar bahwa bala tentara Mongol kini menghentikan serangannya ke selatan dan mengalihkan perahatiannya ke barat.

Dan ia tahu bahwa musuh besarnya itu ialah pembantu orang Mongol, di samping Liok Kong Ji.

Oleh karena itu, walaupun perjalanan ke utara amat berbahaya dan tidak sembarang orang berani ke sana, Sin Hong melupakan bahaya, merantau ke utara lewat perbatasan Tiongkok utara untuk mencari jejak musuh besar yang melarikan puterinya itu.

Tepat sekali keputusan yang diambil Sin Hong untuk melakukan perantauan seorang diri tampa membawa isterinya, karena perjalanan yang ditempuhnya ini memang amat berbahaya.

Sungguhpun isterinya juga gagah perkasa dan jarang ada orang yang mampu menandinginya, namun memasuki wilayah Mongol yang rakyatnya sedang bergolak itu, apa lagi menghadapi Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji, benar-benar merupakan hal yang amat berbahaya.

Baru saja memasuki wilayah Mongol, selagi enak berjalan di dalam hutan belukar, tiba-tiba dari kanan kiri menyambar belasan batang anak panah yang cepat sekali datangnya!

Baiknya Sin Hong bukan pendekar basa saja, melainkan seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi dan kewaspadaan yang mengagumkan.

Begitu mendengar bersiutnya anak panah dan melihat sinar berkelebat dari kanan kiri, cepat ia telah menggerakkan kedua tangannya ke kanan kiri dan ujung lengan bajunya dengan tepat mengibas runtuh belasan anak panah itu.

Melihat bentuknya anak panah yang bergerak lalu, tahulah Sin Hong bahwa dia dikepung orang Mongol.

Memang anak panah Mongol amat terkenal dan di dalam perang di selatan yang lalu, tentara Tiong-goan kewalahan menghadapi serangan anak panah ya amat kuat dan laju ini.

Benar saja dugaannya tempat yang tadinya sunyi itu tiba-tiba menjadi ramai dengan munculnya dua puluh orang Mongol dan terdengar suara kuda meringkik.

Heran hati Sin Hong bagaimana kuda dapat dilatih sampai berdiam diri tanpa mengeluarkan suara apa-apa dalam pemasangan bai hok (barisan pendam) itu.

Sambil berteriak-teriak menyeramkan, dua puluh orang Mongol seorang di antaranya berpakaian sebagai perwira, menerjang dan mengeroyoknya tanpa bertanya lagi.

Ini tidak aneh karena dalam masa seperti itu, kedatangan seorang berpakaian seperti orang Han tentu dianggap musuh atau mata-mata.

Senjata senjata bermacam macam, ada pedang, golok dan tombak.

Bagaikan hujan sekalian sanjata itu menyambar ke arah tubuh Wan Sin Hong dan kalau semuanya mengenai tubuh, tentu tubuh itu akan menjadi hancur.

Sin Hong tidak sudi hanyak bersoal jawab.

Walaupun dia tidak perdulikan urusan negara dan perang, akan tetapi orang-orang Mongol sudah banyak merampok, membunuh dan membakari rumah rakyat, dengan demikian mereka menjadi juga musuhnya.

Tampak sinar menyilaukan mata berkelebatan ke sana kemari, disusul jerit dan keluh kesakitan.

Sebentar saja sembilan belas orang serdadu Mongol telah bergeletakan mandi darah di atas tanah dan perwira tadipun sudah kehilangan pedangnya dan sekali totok perwira itu menjadi lemas.

Sin Hong sengaja tidak mau membunuh perwira itu.

"Katakan di mana adanya thian-tung Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji."

Sin Hong mengancam dengan ujung pedangnya.

Semua perwira Mongol mempunyai ke gagajan yang luar biasa.

Mereka itu rata-rata tidak takut mati dan melakukan perjuangan sampai titik darah penghabisan.

Inilah sebuah di antara rahasia kekuatan balatentara Mongol, setia dan berdisiplin.

Demikian pula perwira yang sudah terjatuh ke dalam tangan Wan Sin Hong ini.

Dia sudah tertotok dan tubuhnya tak dapat bergerak pula.

Akan tetapi ia masih dapat bicara dan mendengar pertanyaan serta ancaman musuhnya ini, ia tertawa besar.

"Aku seorang perajurit sejati, sudah terjatuh ke dalam tangan musuh, mau bunuh mau siksa, silahkan. Kau kira aku takut mati?"

Jawabnya gagah.

Diam-diam Sin Hong kagum sekali.

Tadi pun ketika ia mengamuk, tak seorangpun antara para perajurit Mongol itu kelakutan atau melarikan diri, sungguhpun kawan-kawan mereka roboh seorang demi seorang oleh pedang pendekar sakti itu.

Kalau saja bala tentara Kin demikian setia dan gagah berani tidak nanti Kerajaan Kin demikian mudah dibikin kocar kacir oleh Jangis Khan, pikir Sin Hong.

"Kau benar-benar seorang tai-tiang-bu (seorang gagah setia) tulen. Aku suka benar akan orang yang berhati jujur dan setia. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku datang ke utara ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang, melainkan untuk urusan pribadi. Salahmu sendiri kau datang-datang menyerangku dengan anak buahmu sehingga terpaksa aku harus membela diri. Juga sedikitnya merupakan hukuman akan perbuatan terkutuk anak buahmu ketika menyerbu ke selatan. Aku menanyakan dua orang itu, terutama Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, adalah karena urusan pribadi. Kau adalah pecundangku dan sudah menjadi hak yang menang untuk mengambil nyawa yang kalah. Akan tetapi melihat kesetiaan dan kegagahanmu, aku mau menukar nyawamu dengan keterangan di mana adanya dua orang itu, atau terutama sekali Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Agar kau tidak ragu-ragu, baik kau ketahui bahwa aku sedang mencarinya untuk merampas kembali puteriku yang ia culik."

Sin Hong yang sudah banyak pengalaman dan amat cerdik itu tahu bahwa berhadapan dengan orang yang jujur dan setia seperti ini, lebih baik ia berterus terang.

"Mata-mata selatan memang pandai menipu dan membohong,"

Jawab Perwira Mongol itu berkeras.

"Aku bukan mata-mata. Kalau aku mata-mata masa aku memasuki wilayah Mongol secara berterang begini?"

Wan Sin Hong menjawab sabar.

"Bagaimana aku bisa yakin sebelum tahu betul siapa kau? Siapa namamu?"

Wan Sin Hong mulai jengkel. Dia menang dia yang menawan, akan tetapi sebaliknya dia malah "diperiksa"

Oleh tawanannya ini. Akan tetapi karena membutuhkaa keterangan di mana adanya musuh besarnya, ia menahan sabar dan menjawab.

"Namaku Wan Sin Hong"

Perwira itu membelalakkan matanya.

"Kau....... Wan Sin Hong yang disebut Wan-bengcu? Raja besar kami sering kali menyebut-nyebut namamu sebagai seorang pendekar besar yang sakti, bukan pembela kerajaan selatan akan tetapi sayang tidak mau membantu pergerakan kami yang suci. Pantas saja aku dan sembilan belas orangku kalah! Ah, jadi kau Wan-bengcu.......?"

"Apa kau sekarang mau menolongku?"

"Tentu saja! Manusia-manusia macam Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji itu mana ada harga kulindungi namanya!"

Sin Hong cepat membuka totokannya, membebaskan kembali orang itu.

"Nah, ceritakanlah di mana mereka."

"Mereka tidak membantu kami lagi. Malah mereka itu diancam oleh raja besar kami karena mereka mengingkari janji, tidak mau membantu penyerbuan ke barat. Kalau kami mendapat kesempatan menyerbu ke wilayah selatan lagi, manusia-manusia macam itu pasti akan kami binasakan! Menurut keterangan para penyelidik kami, Liok Kong Ji sekarang bersembunyi di Ui-tiok-lim di lembah Sungai Luan-ho di luar tembok Kota Raja Kin, sedangkan Cun Gi Tosu katanya melarikan diri ke selatan dan kabarnya tinggal di sebuah pulau kosong di laut selatan, namanya Pulau Harimau Putih."

Wan Sin Hong percaya penuh. Keterangan seorang setia seperti ini tak mungkin bohong. Ia mengangguk-angguk lalu berkata.

"Terima kasih aku harus kembali ke selatan."

Perwira itu memandang kepadanya dengan mulut celangap.

"Kau..... kau membebaskan aku? Tidak membunuhku?"

"Mengapa harus kubunuh? Kita tidak bermusuhan."

"Akan tetapi..... kalau aku menjadi engkau, setiap orang musuhku tentu akan kubunuh. Negara kita kan sedang saling berperang."

Saking jujurnya perwira itu malah menyatakan keheranannya mengapa ia tidak dibunuh!

Sin Hong tersenyum.

Ia memang kagum sekali kepada orang ini, maka ia suka membuang waktu untuk memberi sedikit kuliah.

"Perang adalah perjuangan bunuh membunuh di antara sesama manusia yang sama sekali tidak punya urusan pribadi, bahkan saling tidak mengenal! Memang seorang perajurit harus membunuh musuhnya selagi negara dalam perang bukan sekali-kali membunuh karena rasa benci perseorangan, melainkan membunuh agar jangan dibunuh dan membunuh untuk memenuhi kewajiban sebagai perajurit terhadap negara. Memang perjuangan dalam perang untuk membela nusa bangsa adalah tugas suci setiap orang gagah."

"Akan tetapi sekali saja kau membunuh tentara lawan dengan hati mengandung kebencian pribadi, maka sifat membunuh itu menjadi keji dan hina! Kau boleh membunuh seribu orang tentara lawan tanpa memperdulikan siapa lawan itu, tanpa rasa benci kepada orangnya, dengan pegangan bahwa dia itu musuh negara dan harus dibunuh. Akan tetapi, sekali-kali kau tidak boleh membunuh dengan rasa benci perseorangan. Kalau aku membunuhmu, apa alasanku? Aku tidak ada parmusuhan dengan kau, juga aku bukan tentara lawanmu. Kalau tadi aku membunuh anak buahmu adalah karena aku dikeroyok dan aku diserang lebih dulu sehingga aku harus membela diri. Dengan kau lain lagi, kau seorang gagah dan setia, kau telah memberi keterangan penting kepadaku, Nah, selamat tinggal."

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Sin Hong sudah lenyap dari depan mata perwira itu yang mula-mula melongo, kemudian ia berjingkrak seperti orang kemasukan setan.

"Ha ha. Aku sudah bertemu dengan Wan Sin Hong! Aku mengalami hal luar biasa yang dapat kudongengkan kepada anak cucuku! Baru kali ini aku mengalami kekalahan terhormat dari orang besar seperti Wan-bengcu!"

Orang itu tertawa-tawa kemudian lari ke utara untuk mencari kawan-kawan guna merawat para korban pedang Wan Sin Hong.

Wan Sin Hong memutar perjalanannya sembilan puluh derajat.

Ia kini memutar ke selatan.

Ada keinginan hatinya untuk mencari Liok Kong Ji di Ui-tiok-lim.

untuk membuat perhitungan terakhir dengan musuh lama ini.

Akan tetapi ia menekan keinginan ini karena perhatiannya tercurah kepada puterinya.

la harus mencari dan menolong dulu puterinya, baru kelak membereskan perhitungan dangan Kong Ji.

Oleh karena itu ia tidak mencari ke Ui-tiok-lim, melainkan terus melakukan perjalanan ke selatan yang luar biasa jauhnya.

Di dalam perjalanan ini, Wan Sin Hong teringat akan perjalanannya, ketika ia mencari Tiang Bu yang terculik oleh Hui-eng Niocu yang sekarang sudah menjadi isterinya.

Kalau saja ia lebih dulu pergi ke Ui-tiok-lim, ada kemunngkinan ia akan menjadi saksi betapa Tiang Bu mengobrak-abrik tempat persembunyian Liok Kong Ji ini.

Dalam melaksanakan perjalanan ke selatan, Wan Sin Hong menuju ke barat lebih dulu sampai ia bertemu dengan Sungai Huang-ho, kemudian ia nyambung perjalanannya dengan sebuah perahu setelah lebih dulu ia singgah di Luliang san untuk mengunjungi makam suhunya.

Perjalanan dengan perahu amat cepat karena selain perahu dibawa aliran sungai, juga Sin Hong menambah dengan dayungnya yang digerakkan dengan tenaga.

Terjadi pertemuan dan peristiwa yang menarik hati ketika ia tiba di dekat kota Lok yang, di mana air Sungai Huang-ho dari utara itu membelok ke timur.

Memang Sin Hong hendak mendarat dan melanjutkan perjalanan darat lagi terus ke selatan.

Akan tetapi sebelum ia mendarat, ketika perahunya tiba di daerah berhutan yang liar, tiba-tiba di depannya menghadang lima buah perahu kecil yang diatur berjajar, sengaja menghalangi perahunya.

Dari pengalamannya.

Wan Sin Hong tahu bahwa penghadangnya tentulah golongan bajak.

Akan tetapi ia tidak menjadi gentar.

Empat buah perahu masing-masing hanya ditumpangi dua orang berpakaian hitam yang memegang golok, sedangkan perahu ke lima diduduki tiga orang, yaitu seorang kakek, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik.

Tiga orang ini lebih menarik perhatian Sin Hong karena mereka memperlihatkan sifat-sifat gagah.

Selagi Sin Hong hendak menegur mengapa ia dihadang, tiba tiba ia mendengar suara khim (alat musik) ditabuh oleh pemuda itu dan si gadis cantik bernyanyi, sedangkan kakek itu mengambil irama dengan ketokan dayungnya pada air, Sin Hong memasang telinga memperhatikan isi nyanyian.

"Serigala utara pergi menghilang Datang banjir dan belalang Tinggalkan uang dan barang Baru perahu takkan terhalang! Hati siapa takkan risau? Siapa pula akan hirau? Membuka yangan membantu petani, Kalau bukan bangsa sendiri. Suara gadis itu halus dan merdu, akan tetapi mengandung kekuatan dapat menembus angin dan mencapai telinga Sin Hong, demikian pula permainan khim. Ini semua selain merupakan pernyataan "minta barang dan uang", juga merupakan demonstrast lweekang yang tinggi dari pemuda dan gadis itu. Akan tetapi, sudah tentu saja demonstrasi pemuda dan gadis itu merupakan permainan biasa bagi Sin Hong. Yang amat menarik perhatian Sin Hong adalah kakek yans memukul-mukulkan dayungnya ke air untuk menerbitkan suara berirama. Dayung itu dipukul-pukulkan biasa saja akan tetapi perahu sedikitpun tidak bergoyang dan air sedikitpun tidak memercik ke atas. Nainun, setiap kali dayung mengenai air terdengar bunyi "plak"

Yang keras dan air tertekan ke dalam sedangkan di sekitarnya menaik ke atas!

demonstrasi tenaga lwrekang yang benar-benar tak boleh dipandang ringan.

Melihat betapa tiga orang itu mendemonstrasikan kepandaian, timbul sifat gembira dalam hati Wan Sin Hong.

Iapun berdiri di kepala perahunya, dayungnya digerak-gerakkan perlahan menahan majunya perahu dan ia bersajak.

"Serigala suara pergi menghilang Datang banjir dan belalang. Memang merisaukan hati kawan! Sudah barang tentu bangsa sendiri membantu, Akan tetapi membajak, apakah itu perlu? Apa lagi yang dihadapi adalah seorang dungu, Yang tidak mempunyaI sepeser di dalam saku!"

Terdengar kakek itu tertawa, lalu ia berdiri sehingga kelihatan tubuhnya yang jangkung.

Sajak Sin Hong tadi biasa saja, akan tetapi cara Sin Hong menahan majunya parahu dengan menggerak gerakkan dayung perlahan di atas air sungguh bukan perbuatan biasa.

"Tamu yang lewat bilang tidak punya sepeser, mana bisa melakukan perjalanan? Pedang bagus disimpan di dalam baju, siapa tahu kalau tidak digunakan menambah sengsara rakyat? Jaman ini banyak sekali anjing busuk, Aah, Harus diselidiki betul-betul."

Wan Sin Hong tercengang mendengar kata-kata kakek pemimpin bajak sungai itu.

Alanglah tajam pandang mata kakek itu yang dari jarak jauh dapat melihat pedang Pak-kek.sin-kiam yang ia sembunyikan di balik baju.

Juga kata-kata kakek itu menunjukkan bahwa kakek ini bukanlah bajak sungai biasa saja.

Hatinya timbul ingin mencoba kepandaian kakek itu dan belajar kenal.

Dengan tenang Sin Hong lalu menggerakkan perahu ke pinggir sambil berkata.

"Aku bukan termasuk golongan buaya bicara di atas air sungguh tidak leluasa, Kalausahabat tua ingin bicara, mari ke darat!"

Dengan sekali melompat Sin Hong telah tiba di darat dan berdiri menanti sambil tersenyum tenang.

Memang Sin Hong seorang pendekar yang hati-hati sekali.

Biarpun ia tidak gentar menghadapi bajak sungai itu, akan tetapi kalau sampai terjadi perkelahian di atas perahu, ia bisa menderita rugi.

Sekali saja perahunya digulingkan, ia akan berada di fihak lemah.

Oleh karena itu ia mendahului menantang sambil mendarat.

Kakek itu melihat cara Sin Hong melompat, berseru gembira.

"Aha. kiranya memiliki sedikit kepandaian. Aku akan manyelidiki di atas darat. Kalau kawan boleh terus kalau lawan baru meninggalkan barang!"

Sambil berkata demikian, iapun melompat dari perahunya ke atas darat dengan gerakan yang ringan sekali.

Berturut-turut pemuda dan pemudi yang duduk seperahu dengan kakek itupun melompat dengan gerakan yang menunjukkan ilmu ginkang yang sudah tinggi.

"Bagus!"

Kata Sin Hong sambil tersenyum.

"Sudah kuduga bahwa kalian tentu bukan bajak-bajak sungai biasa. Sekarang dengan cara bagaimana kalian hendak memeriksa dan menyelidik apakah aku seorang baik atau busuk menurut ukuranmu?"

Kakek itu mengurut urut jenggotnya yang panjang dan matanya memandang penuh selidik,?Hemm.

sikapmu mengingatkan aku akan seorang yang sudah sering kali kudengar namanya disebut-sebut orang.

Akan tetapi tak mungkin kau orang itu.

Mau tahu bagaimana cara kami menyelidik?

Bersiaplah dengan pedang yang kausembunyikan itu.

Kalau kau bisa mempertahankan pedang itu dari rampasan kami, kami mengaku kalah dan kau boleh melanjutkan perjalanan diiringi hormatku."

Sin Hong tersenyum.

"Hemm, begitukah cara seorang bajak bertindak? Benar-benar sombong! Siapa di antara kalian yang hendak maju?"

"Thia-thia (ayah), biarlah aku memberi hajaran kepada orang yang banyak lagak ini,"

Kata gadis cantik yang tadi bernyanyi sambil mecabut pedangnya.

Sikapnya galak dan pipinya kemerahan menambah kecantikannya.

Kakek itu hendak mencegah akan tetapi gadis yang lincah dan galak itu telah menikam dada Sin Hong dengan pedangnya.

Wan Sin Hong adalah seorang pendekar besar dan sudah berusia setengah tua.

kesabarannya tebal bukan main.

Mana ia mau melayani seorang gadis remaja yang bertingkah?

Dengan tenang ia mengulur tangan dan di lain saat ia telah mencengkeram pedang itu.

dibetot dan pedang telah terampas olehnya!

"Ang Lian, mundur kau!"

Seru si pemuda sambil menyerang dengan pedangnya tanpa minta perkenan kakek itu.

Sin Hong menggerakkan pedang rampasan yang dipegang pada bagian tajamnya, dengan sekali ia memapaki ujung pedang pemuda menggoyangkan gagang pedang yang dia pegang dan.....

benang ronce hiasan gagang pedang rampasan itu melibat pedang pemuda itu tak dapat ditarik pula.

Sekali Sin Hong membetot, pedang pemuda itu terlepas dari pegangan dan sudah berpindah ke tangan pendekar besar ini!

"Pek Lian, kau telah sombrono!"

Mencela kakek itu sambil tertawa. Sin Hong memandang kepada Ang Lian dan "pemuda"

Yang ternyata seorang gadis berpakaian pria bernama Pek Lian itu.

tersenyum dan menyerahkan pedang-pedang rampasannya kembali.

Ang Lian dan Pek Lian bermerah muka, malu untuk menerima kembali pedang yang sudah terampas.

"Pek Lian, Ang Lian, terima kembali pedang kalian dan haturkan terima kasih!"

Kata kakek itu yang bukan lain adatah Huang-ho Sian-jin.

"datuk"

Bajak sungai di sepanjang sungai Huang-ho.

Dua orang gadis itu melangkah maju menerima pedang masing-masing dan bibir mereka berbisik menyatakan terima kasih.

Mereka merasa heran dan kagum bukan main.

Dahulu mereka dibikin kagum dan tidak berdeya terhadap seorang pemuda bernama Tiang Bu, sekarang kembali mereka bertemu "guru"

Yang lihai bukan main.

Masa dalamsegebrakan saja pedang mereka sudah terampas secara aneh!

Sementara itu, Huang-ho Sian-jin menghadapi Wan Sin Hong dengan mata bersinar-sinar.

Ia merasa gembira sekali dapat bertemu dengan orang selihai ini.

Ia sudah dapat menduga siapa orang ini, Akan tetapi dia bukan ayah Ang Lian yang keras kepala kalau dia sendiri tidak kepala batu!

"Orang gagah, aku tidak memperkenalkan nama dan tidak akan menanyakan namamu sebelum kita mengukur kepandaian.

Kepandaianmu hebat sekali, ingin aku mencobanya.

Cabut pedangmu itu dan mari kita main-main sebentar?!"

Setelah berkata demikian, ia menyambar dayung perahunya.

Dayung itu terbuat dari pada baja panjaog dan berat berwarna hitam.

Wan Sin Hong adalah seorang pendekar sakti.

Tidak saja ilmu silaynya tinggi sekali, juga ia memiliki kecerdikan melebihi orang banyak.

Orang kebanyakan menilai kepandaian murid dari kepandaian gurunya, akan tetapi Sin Hong dapat menilai kepandaian guru terlihat dari kepandaian muridnya.

Ia tahu bahwa dua orang gadis itu adalah puteri kakek ini, tentu mendapat warisan ilmu silat sebanyaknya.

Dan ia sudah dapat menilai bakat dua orang gadis tadi.

Dari perhitungan ini ia sudah dapat menduga sampai di mana tingkat ilmu kepandaian kakek itu dan ia tahu bahwa ia akan dapat mengalabkannya.

"Pedangku sudah kusembunyikan di balik baju, biarlah ia tinggal bersembunyi di sana karena aku tidak bisa mempergunakan kalau bukan berhadapan dengan musuh jahat. Sahabat tua hendak main-main, biarlah aku minta bantuan anakmu meminjam pedang."

Baru ucapannya habis.

Pek Lian yang berdiri dekat, kurang lebih tujuh langkah dari Sin Hong, tiba-tiba merasa ada angin menyambar dan di lain saat pedangnya sudah terambil lagi, terpegang oleh orang sakti itu.

"Maaf anak yang baik. Aku pinjam sebentar pedangmu,"

Kata Sin Hong, suaranya halus dan ramah sehingga Pek Lian tidak bisa marah.

Sin Hong tahu bahwa kalau ia mencabut pedangnya, selain mungkin sekali, kakek itu akan mengenal Pak-kek-sin kiam.

juga kemenangannya takkan ada artinya.

Pedang pusakanya amat tajam dan kalau sekali tangkis dayung lawannya putus, berarti ia akan menang mengandalkan ketajaman pedang pusaka maka ia sengaja meminjam pedang biasa kepunyaan Pek Lian.

Perbuatan dan sikap Sin Hong ini memang boleh dipandang sebagai suatu kesombongan atau sikap memandang rendah lawan, biarpun Huang-ho Sian-jin seorang kakek yang banyak pengalaman dan memiliki kesabaran besar, ia menjadi mendongkol juga.

Tanpa sungkan-sungan sebagai imbalan atau imbangan sikap Sin Hong itu, ia menggerakkan dayungnya, diputar di atas kepala lalu berseru.

"Awas, lihat senjata!"

Bagaikan seekor ikan besar menyambar mangsanya, dayung itu bergerak miring dan sekaligus melancarkan serangan yang mempunyai pecahan lima macam banyaknya.

Lima macam pukulan susul-menyusul dan bertubi-tubi dilakukan dengan kedua ujung dayung, dalam cara dan gerak yang berbeda sifatnya, bergantian mengandung tenaga keras dan lemas!

Inilah serangan hebat sekali yang amat sukar dihindari.

Dayung itu panjang dan berat, digerakkan oleh seorang yang memiliki lweekang tinggi, datangnya cepat, tidak terduga dan kuat sekali.

Akan tetapi, datuk bajak itu menghadapi Wan Sin Hong, seorang pendekar sakti yang tinggi ilmu silatnya bahkan yang pernah di pilih menjadi beng-cu dari para orang gagah.

Biarpun harus ia mengakui bahwa serangan kakek itu benar luar biasa dahsyatnya dan berbahaya, namun ia bersikap tenang sekali.

Dari sambaran angin pukulan ia dapat membeda-bedakan tenaga yang dipergunakan kakek itu.

Harus diketahui bahwa selama "bertapa"

Di Luliang-san.

Wan Sin Hong telah dengan amat tekun melatih diri dan mempelajari serta memperkuat tenaga lweekang sehingga ia boleh dibilang seorang ahli Yang-kang dan Im-kang.

Maka dari itu, sekali lihat saja ia tahu bagaimana harus melayani lawannya.

Pedang pinjaman di tangannya digerakkan parlahan namun mengandung dua macam tenaga yang tepat menghadapi tenaga dayung lawan.

Lima kali dayung itu dapat disambut pedang, di waktu mempergunakan tenaga Yang-kang, terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar di waktu bertemu tenaga Im-kang, tidak ada suaranya seperti dua barang lunak akan tetapi setiap kali membuat Huang-ho Sin.jin menderita pukulan hebat.

Pertemuan tenaga Yang-kang membuat ia merasa panas seluruh tubuhnya dan tergetar mundur, sedangkan pertemuan tenaga Im-kang mombuti kakek itu mengstigil kedinginan dan kedua kakinya lemas.

Ini menandakan bahwa dalam hal tenaga, Sin Hong yang lebih muda itu masih jauh mengatasinya.

Sin Hong yang selalu inenghormati orang lebih tua, membiarkan kakek itu menyerangnya sampai tiga puluh jurus, ia hanya mempergunakan kelincahannya mengelak dan kadang-kadang menangkis tanpa balas menyerang.

Setelah tiga putuh jurus lewat, ia merasa bahwa sudah cukup ia mengalah, lalu katanya.

"Sahabat, maafkan pedangku!"

Tiba tiba pedang itu berubah menjadi segulung sinar menyilaukan mata dan Huang-ho Sian.jin sampai berseru kaget.

Baru sekarang ia menyaksikan ilmu pedang yang luar biasa sekali, Ilmu Padang Pak-kek Kiam sut yang tiada taranya di dunia ini.

Lebih dari tujuh belas pucuk sinar pedang seperti api bernyala menjilat-jilatnya, sukar ditentukan dari mana arah penyerangannya, kelihatan kacau balau Namun teratur sekali demikian baik teraturnya hingga tiap serangan menuju ke arah jalan darah yang penting!

Sebentar saja Huang-ho Sian jin sudah tak berdaya lagi.

Ia menjadi pening, dayungnya hanya diputar-putar tidak karuan dalam usahanya melindungi tubuhnya, lalu ia berteriak-teriak.

"Hebat...... cukup....... cukup. Kalau ini bukan Wan taihiap, bengcu yang tersohor, aku si bodoh tidak tahu lagi kau siapa!"

Wan Sin Hong menahan pedangnya, mengembalikannya kepada Pek Lian sambil mengucapkan terima kasih kemudian berkata pada Huang-ho Sian-jin.

"Nama besar Huang-ho Sian-jin bukan kosong belaka, aku Wan Sin Hong merasa girang dapat berkenalan."

Ia lalu mengangkat tangan memberi hormat. Huang-ho Sian-jin tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha! Kalau tidak bertempur mana bisa saling mengenal? Sekarang aku tahu mengapa Wan taihiap tidak mengeluarkan pedangnya Pak-kek-sin-kiam yang tersohor. Karena, hendak menyembunyikan keadaan diri sendiri. Ha-ha-ha......!"

Kakek itu lalu menoleh kepada dua orang anaknya, Ang Lian dan Pek Lian gadis berpakaian pria sambil berkata.

"Hayo kalian memberi hormat kepada Wan Sin Hong taihiap yang dulu terkenal dengan sebuta Wan-bengcu."

Dua orang anak dara itu memang cerdik. Sudah lama mereka mendengar nama besar Wan Sin Hong disebut ayah mereka, kini setelah berhadapan mereka segera menjatuhkan diri berlutut dan Pek Lian berkata.

"Kami kakak beradik mohon petunjuk dari taihiap."

Sin Hong tersanyum dan juga tercengang karena baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa "pemuda"

Yang ia pinjam pedangnya itu ternyata seorang gadis pula.

"Kalian sudah memiIiki kiam-hoat bagus, belajar apa lagi?"

Terdengar Huang-ho Sian-jin berkata sambil menarik napas panjang dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Kiam hoat apakah yang bagus? Kalau bukan Wan taihiap yang menaruh kasihan dan bermurah hati memberi petunjuk, habis siapa lagi? Harap saja Wan taihiap tidak terlalu pelit."

Ia mengangkat kedua tangan menjura dengan hormat.

Menghadapi permintaan yang sungguh-sugguh dari ayah dan anak ini, Wan Sin Hong merasa tidak enak kalau tidak menuruti.

Tangan kanannya bergerak, sinar terang menyilaukan mata ketika Pak-kek-sin-kiam berada di tangan.

"Kim-hoat dimiliki karena jodoh. Entah nona-nona berjodoh atau tidak, silakan melihat baik-baik!"

Setelah berkata demikian, Sin Hong menggerakkan pedangnya dan dengan perlahan ia mainkan Soan-houg-kiam-hoat (Ilmu Pedang Anglo Puyuh) yang dulu ia pelajari dari Luliang Ciangkun.

Tentu saja ia tak mau menurunkan Ilmu Pedang Pak kek kiam-sut karena selain ilmu pedang ini tidak boleh diturunkan pada sembarang orang, juga untuk mempelajari ilmu pedang ini membutuhkan dasar-dasar yang amat kuat dan amat sukar dipelajari!

Sampai tiga kali Sin Hong mengulang permainannya di depan dua orang gadis Huang-ho Sian jin yang (Lanjut ke

Jilid 28) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28 tahu aturan kang-ouw.

memerintahkan anak buah bajak untuk berdiri membelakangi tempat latihan itu, bahkan dia sendiri juga tidak mau melihat.

Setelah mainkan pedangnya tiga kali ditonton penuh perhatian oleh Pek Lian dan Ang Lian, Sin Hong berhenti bermain berkata.

"Cukup sekian dan selanjutnva tergantung dari jodoh dan bakat."

Dua orang gadis itu berlutut menghaturkan terima kasih lalu pergi dari situ mencari tempat sunyi untuk mengingat dan mempelajari ilmu pedang yang terdiri dari tujuh belas jurus itu.

Sedangkan Huang-ho Sian-jin dengan wajah girang berseri mempersilakan Sin Hong untuk singgah di tempat kediamannya, yaitu di sebuah perabu besar untuk menerima penghormatan dan jamuan.

Akan tetapi Sin Hong menolak dan menyatakan bahwa ia masih mempunyai banyak urusan.

Kemudian ia teringat akan kedudukan Huang-ho Sian-jin sebagai bajak sungai yang malang melintang sepanjang Sungai Huang-ho dan tentunya juga ia pernah keluar berlayar di lautan dan mengenal keadaan pulau-pulau di sebelah selatan.

"Siauw-te ada sebuah urusan dan mengharapkan bantuan lo enghiong,"

Katanya. Wajah Huang-ho Sian jin berseri.

"Tentu saja lo-hu suka sekali membantumu. Wan-taihiap. Entah urusan apakah gerangan dan bantuan apa yang dapat kuberikan?"

"Hanya sebuah keterangan dari lo-enghiong. Aku sedang mencari sebuah pulau di laut selatan, pulau yang bernama Pek-houw to (Pulau Hariman Patih), entah lo enghiong mengenal atau tidak?"

Wajah yang berseri dari kakek itu segera berubah, keningnya berkerut dan untuk sejenak ia memandang kepada Sin Hong dengan mata tajam.

Kiranya taihiap juga mengalami gangguan mereka?

Iblis-iblis itu belum lama tinggal di Pe houw to, akan tetapi sudah membikin kacau banyak orang.

Terutama sekali penduduk di sekitar pantai selatan.

Aku sendiri sedang bersiap-siap untuk nekat menyerbu ke sana, biarpun aku tahu bahwa mereka terdiri dari orang-orang berhati iblis yang amat keji dan berkepandaian tinggi sekali."

"Aku tidak tahu siapa yang kaumaksudkan dengan mereka itu, lo enghiong. Akan tetapi terus terang saja, aku mercari seorang tosu kaki buntung bernama Lo-thian-tung Cun Gi Tosu......"

"Celaka......!"

Huang-ho Sian-jin berseru kaget mendenpar nama ini.

"Jadi diakah gerangan orangnya? Sudah kudengar bahwa pemimpin iblis itu adalah seorang kakek buntung kaki kanannya akan tetapi siapa kira adalah Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Pantas saja banyak anak buahku tewas!"

Huang-ho Sian jin lalu bercerita bahwa memang di pulau itu tinggal banyak orang di dipimpin oleh seorang kakek buntung.

Kakek itu sendiri jarang sekali kelihatan keluar dari Pulau Pek-houw-to, akan tetapi banyak anak buahnya melakukan gangguan gangguan kepada rakyat dan nelayan di sekitar daerah itu terutama di pantai daratan Tiongkok.

"Beberapa kali anak buahku mencoba untuk menegur mereka,"

Huang-ho Sianjin melanjutkan penuturannya.

"Kami biarpun tergolong kaum bajak, namun kami melakukan parampasan bukan semata menggendutkan perut sendiri. Di samping untuk makan anak buah kami yang hanyak jumlahnya, semua sisa hasil pembajakan selalu kupergunakan untuk menolong rakyat yang sedang menderita kekurangan. Maka sepak terjang pebghuni Pek houw-to itu memarahkan hati anak buah dan mereka menegur. Celakanya, mereka tidak suka ditegur sehingga terjadi pertempuran dan selalu pihak anak buahku yang menderita kekalahan. Selama ini aku bersabar saja sampai akhirnya kumendengar mereka itu banyak melakukan penculikan anak-anak gadis di pantai. Ini melewati batas dan aku sudah merencana persiapan untuk menyerbu ke sana dan merobohkan pemimpinnya. Tidak tahunya, pemimpinnya adalah Lo thian-tung Cun Gi Tosu! Aku bisa apakah terhadap dia?"

"Lo-enghiong jangan khawatir. Biarkan aku menghadapi kakek buntung yang telah menculik dan aku hanya minta bantuan lo enghiong untuk mengantarku ke sana sebagai petunjuk jalan,"

Kata Sin Hong.

"Mana bisa begitu? Aku akan mengawani taihiap dan mari kuantar taihiap mendarat di sana. Akupun tidak takut menghadapi Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, sungguhpun dia terkenal sakti!"

Cepat Huang-ho Sian-jin memberi perintah kepada anak buahnya untuk menyediakan sebuwh perahu terbaik dan menyuruh pergi.

Kemudian ia bersama Sin Hong mulai melakukan pelayaran, keluar dari Sungai Huang ho memasuki perairan laut dan terus berlayar ke selatan.

Tidak mengecewakan Huang-ho Sian jin dianggap datuk para bajak, kepandaiannya mengemudi perahu dan berlajar memang hebat sekali.

Perahu berlayar cepat dan dalam tiga hari mereka sudah tiba di tempat tujuan.

Pek-houw-to terletak tak jauh dari pantai di antara sekumpulan pulau-pulau lain.

Pulau ini tidak kelihatan istimewa, hanya kalau dilihat dari jauh memang agak keputihan bentuknya seperti binatang harimau mendekam.

Oleh karena bentuk dan warna inilah maka disebut Pek houw to atau Pulau Harimau Putih.

Hari telah menjadi senja ketika perahu dua orang pendekar itu tiba di kepulauan Itu.

Keadaan di situ benar-benar sunyi, tidak kelihatan sebuahpun perahu nelayan.

Padahal daerah ini terkenal banyak ikannya.

"Kau lihat sendiri, taihiap. Tak seorangpun nelayan berani mencari ikan di sini, pada dahulu di sini amat ramai. lni tandanya betapa ganas orang-orang jahat itu mengganggu ketenteraman para nelayan"

Sin Hong hanya mengangguk dan minta kepada kakek itu untuk melanjutkan palayaran ke pulau itu.

Perahu terus didayung mendekati pulau dan setelah dekat nampak bahwa di antara pulau-pulau itu, hanya Pek houw-to yang kelihatan ada rumah-rutnahnya.

Wuwungan rumah nampak menjulang tinggi di antara batu-batu karang dan pohon-pohon.

Perahu didaratkan dan mereka melompat ke darat dengan hati-hati.

Setelah perahu ditambatkan pada batang pohon, Sin Hong berkata.

"Harap lo-enghiong suka menanti di saja. Aku akan naik dan menyelidiki ke tengah pulau."

Maklum bahwa kepandaiannya memang tdak dapat mengimbangi Sin Hong.

Huang-ho Sin-jin mengangguk dan menerima pesan ini tanpa membantah.

Akan tetapi setelah ia melihat bayangan Sin Hong berkelebat lenyap menuju ke jurusan kiri, iapun lalu menyusup di antara tetumbunan menuju ke kanan, untuk melakukan penyelidikan sendiri.

Tentu saja seorang gagah perkasa seperti kakek ini yang disegani di antara para bajak, merasa tidak enak sekali kalau hanya dijadikan tukang turggu atau tukang perahu.

Biarpun kepandaiannya tidak setinggi Wan Sin Hong, namun ia tidak takut menghadapi kakek buntung dan kawan-kawannya!

Belum lama Huang ho Sian-jin berjalan mengendap di antara pohon-pohon, berindap-indap ia mengintai dengan hati-hati, ia mendengar makian orang dan angin pukulan, tanda bahwa ada dua orang pandai bertempur.

Cepat ia manyelinap di balik pohon dan menghampiri tempat itu, mengintai.

Dilihatnya dua orang pemuda tengah bertempur seru.

Mereka ini adalah seorang pemuda yang berenjata sepasang ranting kayu dan pemuda ke dua senjatanya mengerikan yaitu sebuah tulang Iengan kering di tangan kiri dan seekor ular kecil putih di tangan kanan!

Pemuda bersenjata ranting itu terus terdesak mundur oleh Iawannya yang ternyata lebih lihai.

Namun ia melawan dengan nekat sekali, ia tidak memperdulikan ejekan dan sikap lawan yang tertawa-tawa.

"Ha ha-ba, Wan Sun bocah tolol. Apakah kau masih tidak mau menyerah? Isterimu sudah tertawan dan kau sendiri sudah tak berdaya. Dengan pedangmu saja kau tidak mampu melawanku. Apa lagi dengan ranting? Ha ha jangan kau bersikap goblok. Ayah masih berlaku murah dan melarang kau dibunuh. Kalau tidak begitu, apa kaukira sekarang kau tidak akan menjadi setan tak berkepala dan isterimu sudah menjadi milikku?"

"Keparat jahanam Liok Cui Kong! Kau sudah membunuh ayah dan ibu mertuaku, secara keji menyebar maut di Kim-bun to, kau kira aku sudi mendengar omonganmu? Mari kita mengadu nyawa, aku tidak takut!"

Setelah berkata demikian, Wan Sun menyerang makin hebat.

Dia adalah murid Ang jiu Mo Ii, tentu saja kepandaiannya tidak rendah.

Biarpun pedangnya sudah terampas oleh Cui Kong dan sekarang ia hanya mempergunakab dua ranting kayu, namun ini masih merupaken senjata yang berbaya bagi lawan.

Bagaimana Wan Sun bisa berada di pulau itu dan bertempur melawan Cui Kong?

Seperti pernah diceritakan, setelah melangsungkan pernikahannya dengan Coa Lee Goat, Wan Sun mengajak isterinya untuk pergi ke utara dan mencari adiknya, Wan Bi Li.

Setelah menikah, tentu saja cinta kasih Wan Sun terhadap Bi Li berubah menjadi cinta kasih kakak terhadap adiknya.

karena memang dia tidak beradik dan Bi Li selain tidak bersauaara, juga telah menjadi anak yatim piatu seperti juga dia sendiri.

Kalau teringat akan keadaan Bi Li, sedihlah hati Wan Sun.

Ia ingin bertemu dengan adik angkatnya itu, ingin menarik Bi Li tinggal bersama dia dan kelak mencarikan pasangan yang setimpal untuk adiknya itu.

Lee Goat maklum akan perasaan sayang adik dari suaminya ini, maka ia setuju untuk pergi mencari Bi Li.

sekalian berbulan madu sebagai pengantin baru.

Akan tetapi, setelah berbulan-bulan merantau di utara dan mencati-cari, usaha Wan Sun sia-sia belaka.

Tak seorangpun manusia tahu ke mana perginya Bi Li.

Gadis itu lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Wan Sun menjadi berduka sekali.

Lee Goat yang melihat kedukaan suaminya, lalu menghiburnya dan mengajaknya pulang saja ke Kim-bun to.

"Biar nanti ayah membantumu. Jika ia memberi surat kepada para ketua partai besar minta bantuan mereka, mustahil adik Bi li tidak dapat ditemukan? Ayah mempunyai hubungan dengan semua orang kangouw di empat penjuru dan kalau semua orang kang-ouw membantu mengamat-amati tentu segera akan ada berita di mana adanya adik Bi Li,"

Kata Lee Goat dengan suara menghibur.

Wan Sun menganggap kata-kata isterinya ini tepat juga, maka dia pun menurut.

Akan tetapi, sipa kira, sesampainya si Kim-bun-no, bukannya menerima hiburan bahkan mendengar berita yang hebat menghancurkan hati mereka.

Yang menyambut kedatangan mereka hanya Hwa Thian Hwesio.

Melihat sepasang suami isteri ini datang, Hwa Thian Hwesio menyambutnya dengan air mata bercucuran.

Tentu saja Lee Goat dan Wan Sun terkejut sekali.

"Lo suhu...... mengapa lo-suhu menangis. Mana ayah dan ibu, mana bibi Li Hwa dimana semua orang? Mengapa begini sunyi???"

Lee Goat menoleh ke sana ke mari dan merasa berdebar hatinya, tidak melihat siapa-siapa di situ.

Juga Wan Sun mendapat firasat tak enak, wajahnya sudah menjadi pucat ketika ia melihat hwesio itu menangis terisak-isak seperti anak kecil.

"Hwa Thian lo-suhu, harap suka bercerita trus terang. Apakah yang telah terjadi?"

Hwesio itu akhirnya dapat menenangkan diri. Ia menyusuti air mata dengan ujung lengan bajunya yang lebar, lalu memandang kepada Lee Goat sambil berkata kepada Wan Sun.

"Kongcu, jagalah isterimu baik-baik sementara mendengar ceritaku."

Wan Sun segera menggandeng lengan isterinya, hatinya berdebar karena ia maklum bahwa tentu telah terjadi malapetaka hebat di Kim-bun to.

Adapun Lee Goat seketika menjadi pucat sekali dan suaranya serak ketika ia bertanya.

"Lo-suhu, ceritakanlah, ada apa??"

"Beberapa bulan yang lalu, pinceng kebetulan sekali datang berkunjung ke sini bersama sahabatku Ouw Beng Sin, tiba-tiba datang Liok Cui Kong putera Liok Kong Ji. Pemuda jahat itu mengamuk dan dia lihai bukan main. Biarpun dia dikeroyok, tetap tetap saja menyebar maut. Selain Ouw Beng din dan seorang pelayan tewas, pinceng dan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa terluka hebat, juga Coe-sicu dan isterinya tewas......."

Lee Goat menjerit.

Wan Sun cepat memeluknya dan nyonya muda ini pingsan dalam pelukan suaminya.

Air mata bercucuran dari sepasang mata Wan Sun, giginya berkerot-kerot, akan tetapi tak sedikitpun suara keluar dari mulutnya.

Dengan menekan goncangan dalam dada sendiri, ia memondong isterinya dan membawanya ke dalam kamar, di mana Lee Goat dibaringkan dan dirawat.

Menjelang tengah malam baru Lee Goat siuman dari pingsannya, menjerit-jerit nyaring "Liok Cui Kong bajingan besar!

Aku harus bunuh kau!

Aku akan mencabut jantungmu dipakai sembahyang!"

Berkali-kali ia menjerit menangis sedih.

Baiknya Wan Sun pandai sekali menghiburnya, dan menjanjikan untuk segera mencari musuh besar itu dan membalas dendam.

Akhirnya Lee Goat terhibur juga.

Segera setelah melakukan sembahyang di depan makam ayah bundanya sambil menangis menggerung-gerung, Lee Goat mengajak suaminya pergi lagi mencari jejak Cui Kong!

Akhirnya mereka mendenger bahwa orang yang dicari itu berada di selatan, di Pulau Pek-houw-to.

Tanpa mengenaI lelah dan bahaya, kedua suami isteri ini menyusul ke sana menyeberang dan dengan nekat lalu menyerbu.

Penyerbuan dua orang muda ini mendatangkan rasa geli dalam hati Cui Kong, kagum dalam hati Cun Gi Tosu, dan girang dalam hati Liok Kong Ji.

Cui Kong merasa geli karena melihat dua orang muda yang kepadaiannya belum berapa tinggi berani main-main di depan mulut gua harimau, Cun Gi Tosu kagum menyaksikan keberanian suami isteri muda ini dan Liok Kong Ji merasa girang oleh karena munculnya dua orang muda ini memberi kesempatan baginya untuk menghadapi musuh-musuh besarnya yang ia takuti yaitu Sin Hong dan Tiang Bu.

Kalau saja ia dapat menawan dua orang ini, tentu ia dapat menebus keselamatannya dengan jiwa mereka!

Demikianlah, tanpa banyak cakap lagi Kong Ji memberi perintah kepada Cui Kong untuk menangkap dua orang muda itu hidup-hidup.

Lee Goat sendiri biarpun kepandaiannya tinggi dan kiam-hoatnya lihai karena ia murid Wan Sin Hong, namun tentu saja berhadapan dengan Liok Kong Ji ia marupakan makanan lunak.

Belum sampai tiga puluh jurus, nyonya muda ini sudah terkena totokan yang lihai, jatuh lemas dan menjadi tawanan.

Wan Sun didesak mundur terus oleb Cui Kong.

Biarpun kepandalan Wan Sun tadinya sudah hampir setingkat dengan Cui Kong, akan tetapi akhir-akhir ini Cui Kong mendapat kemajuan hebat dan kini Wan Sun masih kalah sedikitnya dua tingkat!

Dengan senjatanya yang aneh, Cui Kong mendesak Wan Sun yang masih melakukan perlawanan mati-matian.

Ketika Wan Sun menggerakkan pedangnya dengan hebat untuk mamatahkan lengan kering yang mengerikan itu, Cui Kong berkata sambil tertawa.

"Awas, hati-hati sedikit. Kalau tidak, pedangmu akan mematahkan lengan tangan adikmu sendiri. Lihat baik-baik, ini lengan tangan Wan Bi Li, apa kau tidak mengenal lagi?"

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Wan Sun mendengar ini dan tanpa terasa gerakannya menjadi lambat dan tahu-tahu ia kehilangan pedangnya yang kena dirampas oleh Cui Kong.

Namun Wan Sun bukan orang penakut.

Ia melawan terus dengan sepasang ranting pohon yang ia pungut dari bawah pohon, lalu melawan mati-matian.

Pada saat itulah Huang-ho Sian-jin muncul dan mengintai.

Mendengar ucapan Cui Kong yang ditujukan kepada Wan Sun tadi, tahulah kakek ini siapa yang harus ia tolong.

Tadinya ia ragu-ragu karena ia tidak mengenaI dua orang muda yang sedang bertempur itu.

Akan tetapi, ucapan Cui Kong cukup meyakinkan bahwa dia harus membantu pemuda bersenjata sepasang ranting itu.

"Orang muda, jangan takut, lo-hu datang membantumu!"

Seru kakek itu dan dayungnya sudah datang menyambar kepala Cui Kong dengan kemplangan yang mematikan.

Cui Kong terkejut sekali dan cepat melompat ke belakang menghindarkan diri dari sambaran dayung yang bukan main kuatnya itu.

"Eh... eh, kau ini orang tua gila dari mana datang-datang menyeraog orang? Kau siapa dan ada permusuhan apa dengan aku?"

Teriak Cui Kong, mendongkol dan kaget.

Huang-ho Sian-jin penasaran sekali.

Kepandaiannya tinggi, serangannya tadi adalah serangan maut yang sukar dihindarkan, namun pemuda yang membawa lengan kering dan ular itu sekali melompat telah dapat menyelamatkan diri.

"Pemuda jahat, tentu kau yang selama ini menyebar kejahatan! Aku Huang-ho Sian-jin datang untuk membalas kematian beberapa orang anak buahku."

Setelah berkata demikian, kembali kakek ini menyerang dengan dayungnya.

Melihat datangnya bala bantuan, Wan Sun timbul kembali semangatnya dan ikut mendesak.

Sibuklah sekarang Cui Kong menghadapi gelombang serangan dua orang lawannya yang tak boleh dipandang ringan ini.

Ia sama sekali tak boleh berlaku gegabah.

Terutama sekali menghadapi dayung Huang-ho Sian-jin, Cui Kong tak dapat menangkis, hanya mengelak jauh ke sana ke mari menghindarkan diri dari jangkauan dayung yang panjang dan berat itu.

Kalau ia berusaha bertempur merapat datok bajak itu Wan Sun manyambutnya, kalau manjauh, kakek itu menggempurnya.

Cui Kong tahu bahaya.

Ia cepat bersuit keras melepas suara isyarat bahaya kepada kawan-kawannya.

Untung baginya, pada saat itu Kong Ji berada di tempat yang tidak berapa jauh.

Beberapa menit kemudian muncullah Liok Kong Ji di gelaoggang pertempuran.

"Anak bodoh, kalau masih belum mampu membekuk Wan Sun?"

Kong Ji mengomel.

"Kakek bajak Huang-ho ini datang mengacau, ayah,"

Cui Kong membela diri.

Kong Ji melompat ke tengah dengan tangan kosong.

Tiga kali tangannya bergerak dan dilain saat Wan Sun sudah roboh tertotok dan ditawan oleh Liok Kong Ji yang sekarang memiliki kepandaian amat lihai itu.

"Jadi kau ini orang tua yang disebut Huan-ho Sian jin?"

Tanya Kong Ji penuh perhatian.

Huang-ho Sian jin sudah mendengar dari Sin Hong tentang Liok Kong Ji dan Cui Kong.

Tentang Liok Kong Ji, memang sudah lama ia mendengar nama busuknya.

Ia menunda dayungnya, memandang tajam lalu membentak.

"Hemm kau tentu Liok Kong Ji si Manusia Iblis! Pantas saja daerah ini menjadi kacau dan tidak aman tidak tahunya di samping manusia manusia jahat ada kau iblis, yang bersembunyi!"

Liok Kong Ji tersenyum. Kakek ini ilmu dayungnya boleh juga, pikirnya. Tidak ada salahnya untuk menguji Cui Kong.

"Cui Kong, gempur dia!"

Cui Kong memang sudah merasa gemas sekali.

Kalau tidak datang kakek itu tentu ia tak mendapat tegoran ayahnya dan sekarang setelah Wan Sun tertawan, ia dapat melayani kakek itu dengan leluasa.

Ia mengeluarkan suara keras dan tubuhnya melayang, ular dan tangan itu bergantian bergerak menyerang.

Dua macam senjata ini ada keistimewaan masing-masing.

Ular itu amat berbahaya karena sekali saja manggigit akan merobobkan lawan dengan bisanya yang lihat.

Tangan kering yang tadinya menjadi lengan Bi Li itupun tidak kalah hebatnya.

Selain dipergunakan untuk mengemplang dan menotok, juga terutama sekali lengan kering ini mendatangkan hawa yang menyeramkan pada lawan yang kurang kuat batinnya.

Namun Huang-ho Sian-jin seorang tokoh kang.onw yang sudah banyak makan asam garam dunia dan sudah banyak sekali menghadapi banyak pertempuran besar, tidak menjadi gentar.

Dayungnya menyambar-nyambar bagai naga hitam mengamuk, sedtkitpun tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya untuk mendekatinya.

Sebaliknya, Cui Kong mempergunakan kelibcahannya untuk bertempur dari jarak dekat, karena hanya dengan pertempuran jarak dekat saja ia akan peroleh kemenangan dan kakek yang kepandaiannya sudah menginibangi tingkatnya sendiri itu.

Pertempuran berjalan seru, seorang menjaga supaya pertempuran terjadi dengan jauh, yang seorang lagi berusaha merobah kedudukan menjadi pertempuran jarak dekat.

Kalau kadang-kadang Cui Kong berhasil, Huang-ho Sian-jin merobah permainan dayungnya, dipegang di tengah-tengab sehingga rupakan toya atau sepasang senjata pendek, akan tetapi ia segera mendesak lagi supaya dapat menggunakan dayungnya sebagai senjata panjang yang dipakai menyerang dari jauh.

Mereka memperebutkan kedudukan dan pertempuran berjalan seru, ramai dan lama.

Puluhan jurus berlalu tak terasa.

Kong Ji mendongkol sekali.

Semenjak melihat kelihaian Tiang Bu puteranya yang sejak itu ia menjadi tidak sabar melihat Cui Kong dianggapnya amat bodoh.

Tentu saja kalau menghendaki putera angkatnya ini sebagai Tiang Bu, ia mengimpi jauh.

Untuk melampiaskan kekecewaannya melihat Tiang Bu yang saat itu menolak untuk menjadi puteranya, ia menumpahkan kemendongkolan hatinya kepada Cui Kong.

Sering kali pemuda ini dimaki-maki goblok dan bodoh, akan tetapi terus ia menurunkan kepandaiannya kepada Cui Kong.

Sekarang melihat Cui Kong tak dapat merobohkan Huang-ho Sian-jin, kembali Kong Ji memaki-maki sambil memberi petunjuk.

"Tolol, jangan biarkan ujung dayungnya menggertakmu. Pergunakan Soat lian dan barengi Hok-te-twi!"

Cui Kong cepat bergerak menurut petunjuk ayahnya.

Gerakan Soat-lian adalah dari Soat-te kiam hoat (Ilmu Pedang Teratai Salju) yang didapat dari kitab Omei-san, gerakannya lembut namun merupakan inti ilmu ginkang sehingga tubuh menjadi ringan dan cepat, adapun Hok to-twi berarti tendangan mendekam.

Dengan dua ilmu ini Cui Kong menghindarkan diri dari kurungan ujung dayung dan mengirim tendangan-tendangan tak tersangka ke arah dayung dan tangan lawan-Memang hebat rantai serangan ini.

Huang-ho Sian-jin sampai mundur-mundur terdesak untuk menyelamatkan dayungnya, sementara itu dua macam senjata di tangan Cui Kong menggantikan kedudukan pedang dalam gerakan Soat-sian tadi, hebatnya bukan main.

Bagaimanapun juga, tidak mudah merobohkan seorang tokoh besar seperti Huang-ho Sian-jin, kalau yang merobohkan itu hanya seorang dengan tingkat yang dimiliki Cui Kong.

Pertemputan hebat itu berjalan terus sampai seratus jurus dan masih belum dapat dibilang Cui Kong menang di atas angin walaupun selalu diberi petunjuk oleh Kong Ji.

Tiba tiba dari jurusan tengah pulau terdengar suitan lain seperti Cui Kong tadi.

"Gurumu menghadapi musuh lain!"

Kong Ji kaget karena tidak menyangka bahwa masih ada musuh lain yang malah sudah masuk ke dalam pulau.

Ia segera menurunkan tubuh Wan Sun yang tadi dikempitnya dan dengan beberapa kali lompatan ia sudah memasuki gelanggang pertempuran.

Kedua tangannya bergerak memukul dengan tenaga Tin-san-kang secara hebat.

"Brakk!"

Dayung patah menjadi dua dan tubuh kakek itu terlempar, roboh tak sadarkan diri lagi karena hebatnya pukulan Tin-san-kang.

Kong Ji tak memperdulikan lagi kakek itu, menyambar tubuh Wan Sun dan mengajak putera angkatnya cepat kembali ke sarang untuk membantu Lo-thian-tung Cun Gi Tosu menghadapi musuh.

Suitan tadi memang datangnya dari Lothian-tung Cun Gi Tosu yang sedang berhantam dengan Wan Sin Hong!

Wan Sin Hong yang meninggalkan Huang-ho Sian-jin, dengan gerakan cepat sekali menghampiri kelompok rumah di tengah pulau itu dari arah kiri.

Ia tidak berani bertindak secara sembrono.

Ia tahu bahwa dengan beradanya Leng Leng di tangan musuh, ia menjadi tak berdaya.

Musuh dapat mempergunakan anak itu untuk melawannya.

Oleh karena itu, yang paling penting adalah merampas kembali anaknya, baru setelah anaknya ditemukan ia akan memberi hajaran kepada Lothian tung Cun Gi Tosu si kakek buntung.

Ia sudah merasa heran melihat tidak adanya penjagaan kuat di dalam pulau itu lebih-lebih herannya ketika ia melihat banyal wanita cantik berada di dalam rumah terbesar yang berada di tengah-tengah kelompok rumah-rumah itu.

Tentu di sini tempat tinggal Cun Gi Tosu, pikirnya.

Akan tetapi siapakah wanita-wanita muda cantik genit yang pakaiannya mewah itu?

Apakah kakek buntung seorang gila perempuan dan mempunyai banyak selir?

Panas muka Sin Hong saking jemu dan marahnya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi tak seorangpun di antara anak buah yang tinggal di rumah-rumah kecil itu mengetahui kedatangannya.

Bagaikan bayangan setan Sin Hong berhasil memasuki rumah besar.

Tidak terlihat laki-laki di situ, hanya sedikitnya ada tujuh orang wanita cantik dilayani oleh banyak sekali pelayan, lebih sepuluh orang.

Ia tidak berani bertindak sembrono.

Kalau sampai ia terlihat dan wanita-wanita itu menjerit, tentu akan gagal uaahanya merampas kembali anaknya.

Dengan sabar Sin Hong menanti sampai melihat seorang di antara wanita-wanita cantik itu pergi ke taman belakang diikuti dua orang pelayannya, wanita ini cantik sekali, usianya paling banyak tiga puluhan tahun, pakaiannya mewah dan bicaranya halus.

Ragu.ragu hati Sin Hong untuk menyerang seorang wanita, apa lagi sang wanita yang demikian cantik dan halus gerak-geriknya.

Akan tetapi demi untuk menolong anaknya, ia menekan perasaannya dan secepat kilat ia muncul.

Sebelum tiga orang wanita itu sempat menjerit dua orang pelayan sudah tertotok pingsan dan wanita cantik itu berdiri ditotok urat gagunta.

"Jangan takut, aku hanya ingin bertanya. Kalau kau bicara terus terang, kau akan kubebaskan,"

Bisik Sin Hong.

Wanita itu membelalakan matanya yang lebar dan mengangguk.

Sin Hong membuka totokannya dan menarik wanita itu ke tempat gelap.

Memang taman itusudah mulai gelap dengan bayangan-bayangan pohon.

"Katakan, siapa tinggal di rumah besar ini?"

"Yang tinggal di sini suami kami, Liok-taihiap yang berjuluk Thian-te Bu-tek Tai-hiap,"

Wanita itu balas berbisik dengan sikap menakut-nakuti Sin Hong dan dia sendiri agaknya tidak takut sama sekali, malah kini memandang ke wajah Sin Hong yang gagah itu dengan senyum-senyum genit.

Berdebar jantung Sin Hong.

"Liok Kong Ji di sini..........?? Wanita itu mengangguk dengan sinar mata senang. Sin Hong menjadi bingung, girang dan cemas. Dengas adanya Kong Ji, berarti makin sukarlah untuk merampas kembali anaknya, tetapi juga memberi kesempatan kapadanya untuk mengadu nyawa dengan musuh besarnya itu.

"Siapa lagi?"

"Kau tanyakan selir-selirnya..........?"

Wanita itu mengerling penuh gaya.

"Siapa perduli selir?"

Bentak Sin Hong, gemas melihat kegenitan wanita yang tadinya disangka halus dan sopan itu.

"Siapa lagi selain Kong Ji?"

Melihat kegalakan Sin Hong, wanita itu agak takut.

"Masih ada Liok-kongcu........? "Cui Kong......?"

Wanita itu memandang heran.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Diam! Kau menjawab, aku yang bertanya. Masih ada lagikah? Kakek buntung Cun Gi Tosu itu di mana?"

"Dia juga ada. Nah, kau tahu di sini banyak terdapat orang pandai. Lebih baik kau bebaskan aku dan lekas menyingkir.........."

"Diam! Kau lihat seorang anak perempuan yang dibawa oleh Cun Gi Tosu.....?"

"Ohhhh kaau datang untuk mencari Leng ji (anak Leng)?"

"Ya, Leng-ji, anakku...... di mana sekarang?"

Saking tegangnya Sin Hong sampai lupa diri dan mencengkeram pundak wanita itu, Tiba-tiba wanita itu menjadi pucat dan tubuhnya menggigil.

"Ampun......... ampunkan aku. taihiap..... aku tidak tahu apa-apa.....!"

Sin Hongsadar bahwa wanita ini sekarang tahu siapa dia dan menjadi ketakutan. Tentu saja namanya diketahui oleh selir Kong Ji.

"Aku takkan menggangggumu asal kau ceritakan di mana adanya Leng Leng dan di mana adanya Cun Gi Tosu."

Katanya perlahan dan tenang.

"Tadi serelah ada dua orang datang mendarat, siang-siang Cun Gi totiang telah membawa diri Leng-ji dibawa ke pantai timur untuk bersembunyi. Selalu apabila pulau kedatangan orang yang dicurigainya, ia segera menyembunyikan Leng-ji."

"Ke pantai timur katamu? Betulkah?"

"Untuk apa aku membohong?"

Sin Hong menyangsikan ucapan wanita ini maka sekali menotok wanira itu roboh pingsan.

Kemudian dengan mudah ia mengempit tubuh tiga orang wanita itu dan membawa melompat keluar dari tempat itu.

ia meninggalkan tiga orang wanita yang pingsan itu di tempat sepi.

Ia perlu melakukan hal ini agar perbuatannya jangan diketahui orang sebelum ia berhasil merampas kembali anaknya.

Setelah meninggalkan tiga orang wanita pingsan itu, Sin Hong cepat berlari ke timur, menuju ke pantai sebelah timur pulau itu.

Akan tetapi di tengah jalan ia berhenti, berpikir berfikir sebentar lalu berlari kembali ke tempat ia meninggalkan tiga orang wanita tadi.

Disambarnya tubuh seorang pelayan dan ditotoknya hingga siuman kembali.

Pelayan ini ketakutan, akan tetapi Sin Hong berkata perlahan.

"Kau akan kubawa ke tempat persembunyian Cun Gi Tosu dan di sana nanti kau harus berteriak memanggil namanya, bilang bahwa Cun Gi Tosu dipanggil oleh Liok Kong Ji. Awas, kalau kau tidak menuruti aku akan memukul remuk kepalamu dari belakang!"

Dengan tubuh menggigil pelayan itu mengangguk.

Sin Hong lalu mengempitnya dan membawanya lari ke pantai timur.

Pulau itu tidak berapa besar maka sebentar saja Sin Hong sudah tiba di pantai timur yang ternyata marupakan daerah batu karang yang banyak terdapat gua-gua besarnya.

Ia merasa puas telah membawa pelayan itu karena kalau tidak demikian, kiranya tidak mudah mencari tempat persembunyian kakek buntung itu.

Sin Hong bersembunyi di balik batu karang dan pelayan itu mulit berteriak-teriak.

"Totiang..........! Liok-taihiap.......... menyeruh totiang datang segera! Ada musuh menyerbu?..,"

Pelayan itu berteriak memanggil, tiba-tiba sebuah di antara gua-gua itu terdengar suara nyaring.

"Mengapa kau pelayan wanita disuruhnya? Ke mana para penjaga dan pelayan laki-laki"

Pertanyaan ini memang sudah diduga dulu oleh Sin Hong, maka tadipun dia sudah menyiapkan jawaban. Pelayan itu menjawab cepat.

"Semua penjaga dan pelayan sudah bertempur. Bantuan totiang amat diharapkan. Lekaslah, musuh kuat sekali!"

Akhirnya tosu kaki buntung itu muncul juga dan berdebar hati Sin Hong melihat Leng Leng berada dalam pondongan tangan kiri kakek itu! Sekali melompat kakek itu sudah berada, di depan pelayan tadi.

"Aku tidak mendengar suara apa-apa, siapa yang bertempur?"

Pada saat itu Sin Hong muncul cepat.

"Cun Gi totiang, serahkan kembali puteriku. Kalau kau hendak mengadu kepandaian, kulayani secara laki-laki, jangan mengganggu bocah yang tidak tahu apa-apa!"

Alangkah kagetnya hati tosu buntung itu melihat tiba-tiba Sin Hong berdiri di depannya.

Sekali tongkatnya bergerak, tubuh pelayan wanita itu terlempar jauh ke dalam jurang, meninggalkan pekik mengerikan.

"Kalau pinto berniat mengganggu bocah ini, kaukira dia masih hidup."

Jawabnya. Sementara itu, ketika Leng Leng melihat Sin Hong, segera mengenalnya dan berteriak nyaring.

"Ayah.......!"

Akan tetapi anak itu tidak menangis, agaknya merasa senang dalam pondongan kakek itu!

Mata Sin Hong yang tajam dapat melihat hal itu dan ia merasa lega.

Tak dapat disangsi pula, Leng Leng kelihatan sehat montok dan kelihatan tidak takut kepada kakek itu.

Ini hanya menandakan bahwa Leng Lang mendapat perawatan baik, dan kakek itu sayang kepadanya, agaknya hendak dijadikan muridnya!

"Cun Gi tosu, kau telah menculik anakku.

Apakah kau tidak malu dengan perbuatan rendah itu?

Anak kecil jangan dibawa-bawa, kita sama-sama tua kalau hendak bertempur mengadu nyawa, sampai seribu jurus kulayani.

Lepaskan Leng Leng!"

"Tidak, lebih baik kau pergilah dari sini, Wan Sin Hong. Bocab ini akan menjadi muridku, kelak kalau sudah jadi tentu akan pulang sendiri."

Muka Sin Hong nulai merah, tanda kemarahan hatinya.

"Cun Gi Tosu, apa benar-benar kau menghendaki aku menggunakan kekerasan?"

Tosu kaki buntung itu tertawa terkekeh-kekeh "Heh-heh-heh heh, orang lain takut kepadamu, akan tetapi pinto tidak.

Ada berapa sih kepandaianmu maka berani bersikap somhong selama ini?

Mengangkat diri sebagai benbcu, menjagoi dunia kang-ouw!

Hemm, ketahuilah, Wan Sin Hong.

Justeru untuk memberi rasa kepadamu agar kau jangan sombong, maka aku mengambil Leng Leng sebagai murid."

"Pendeta berhati kotor! Siapa tidak tahu bahwa kau pembantu musuh negara dan pembantu penjahat iblis Liok Kong Ji? Kau menghendaki kekerasan, baiklah. Lihat seranganku."

Wan Sin Hong sudah mulai melangkah maju dan menggerakkan tangan memukul pundak kanan kakek yang tangan kanannya membawa tongkat itu.

Lihai sekali kakek ini, biarpun, kakinya hanya sebelah, menghadapi pukulan Sin Hong yang luar biasa lihainya itu ia melompat ke atas dan tertawa mengejek, tongkatnya menyambar dalam serangan yang tak kurang dahsyatnya!

Perlu diketahui bahwa ilmu kepandaian kakek buntung ini memang tinggi sekali.

Ia memiliki permainan tongkat yang tiada tara sehingga mendapat julukan Lo thian tung (Tongkat Pengacau Langit).

Apa lagi setelah berhasil mendapatkan kitab dari Omei-san yaitu Soan-hong-kiam-si, ilmunya bertambah dan ia merupakan orang lihai yang setingkat dengan Liok Kong Ji.

Akan tetapi, menghadapi Wan Sin Hong kiranya ia takkan dapat banyak berlagak atau paling-paling ia hanya bisa mengimbangi kelihaian pendekar itu, kalau saja ia tidak mempunyai?jimat?

berupa Leng Leng dalam pondongannya.

Dengan adanya bocah ini di gendongannya, memang Sin Hong tak dapat berbuat banyak.

Ini pula sebabnya maka ia tidak mencabut Pak-kek sin-kiam, melainkan dua tangan kosong untuk menghadapi kakek buntung itu.

Jika ia menggunakan pedang, tentu ada bahayanya ia melukai puterinya sendiri.

Betapapun juga, dengan kepandaian yang ia terima dari Pak Kek Siansu.

kedua lengan tangannya cukup hebat untuk mendesak lawannya.

apa lagi Sin Hong sekarang telah menjadi seorang ahli Yang-kang dan Im-kang.

Ia tidak jerih menghadapi tongkat Cun Gi Tosu, bahkan dapat membalas dengan angin pakulan yang selalu menyambar ke arah kaki lawan yang tinggal sebelah.

Memang Sin Hong seorang cerdik.

Setelab lawannya memondong Leng Leng, maka satu satunya bagian yang lemah dan mudah diserang adalah kakinya yang tinggal satu itu.

Sekali saja ia berhasil memukul kaki itu dan membuat Iawannya terguling tidak begitu sukar kiranya untuk merampas anaknya.

Diserang terus-menerus bagian kakinya, Cun GI Tosu menjadi marah sekali, biarpun kakinya tinggal sebelah, namun ia dapat melompat tinggi dan jauh.

Ia melompat ke belakang.

berdiri dengan satu kaki dan tongkatnya diputar bagaikan kitiran cepatnya.

Sayang bahwa tangannya memondong Leng Leng, kalau tidak tentu ia dapat menambah susulan dengan tangan kirinya.

Ternyata bahwa adanya "jimat?

berupa bocah itu dalam gendongannya, tidak hanya mendatangkan keuntungan baginya karena Sin Hong tidak berani menggunakan pedang, akan tetapi juga mendatangkan kerugian yaitu pergerakannya jadi terhalang.

Pertempuran dilanjutkan dengan hebat.

Kalau dua orang pandai bertempur, hanya angin pukulan mereka saja yang menyambar-nyambar dan biarpun jarak diantara merasa kadang kadang jauh, masih mereka saling pukul untuk menyerang lawan dengan angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya dari pada tusukan pedang atau hantaman golok.

Melihat kelihaian lawannya, Lo-thian-tung Cun Gi Tosu mulai khawatir.

Jangan-jangan masih ada kawan-kawannya, pikirnya.

Maka ia lalu bersuit untuk memberi tahu kepada Liok Kong Ji dan yang lain-lainnya.

Kalau mereka datang dan membawa dulu Leng Leng.

tentu ia akan mencoba lagi menghadapi Sin Hong dengan mati-matian, dapat menggunakan seluruh perhatian dan kepandaiannya.

Kakek ini masih belum mau tunduk dan tidak merasa kalah.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, mendengar suitan ini Liok Kong Ji dan Cui Kpng segera lari meninggalkan Huang-ho Sian-jin yang pingsan dan membawa pergi, Wan Sun yang tertawan.

Liok Kong Ji lebih dulu melempar Wan Sun pada seorang penjaga, menyuruh penjaga memasukkan orang muda itu dalam kamar tawanan bersama Coa Lee Goat yang sudah tertawan lebih dulu dan supaya dijaga kuat-kuat.

Kemudian bersama Cui Kong ia lari ke timur untuk membantu Cun Gi Tosu.

Ketika Kong Ji melihat siapa yang bertempur melawan Cun Gi Tosu, ia terkejut sekali.

Tak disangka-sangka bahwa Sin Hong yang penyerang kakek itu.

"Aha, kiranya kau mengantar nyawamu ke sini? Ha-ha-ha!"

Kong Ji menutupi kekagetannya dan tertawa bergelak sambil mencabut pedangnya.

"Cui Kong, kaubawa pulang dulu Leng Leng!? kata Cun Gi Tosu kepada muridnya, C ui Kong menerima Leng Leng yang tetap tidak menangis biarpun sejak tadi melihat ayahnya bertempur melawan?suhunya". Bocah masih terlalu kecil untuk mengetahui urusan itu. Gurunya, juga "paman Liok"

Baik sekali terhadap dia, tentu saja dia tidak bisa membenci mereka.

Akan tetapi sekarang mereka ini bertempur dengan ayahnya.

Hal yang lalu ruwet dan sulit dimengerti oleh anak sekecil dia.

Melihat datangnya Liok Kong Ji dan Cui Kong, kemarahan Sin Hong memuncak.

Juga ia gelisah sekali.

Harapan untuk dapat menolong puterinya makin menipis.

Tentu saja ia tidak takut menghadapi Kong Ji dan Cun Gi Tosu, akan tetapi sekarang anaknya berada di tangan Cui Kong dan Kong Ji yang jahat.

Ia cukup mengenaI siasat Kong Ji yang tentu takkan ragu-ragu untuk mempergunakan anaknya sebagaI perisai apa bila kalah.

Memikirkan hal ini ia menjadi bingung.

Kalau tidak ada urusan Leng Leng, tentu tanpa ragu-ragu tentu ia akan menyerang dua orang ini dan akan mengajak Kong Ji musuh busar itu bertempur mati-matian menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Akan tetapi pada saat itu, semua urusan pribadinya ia lupakan dan yang ia pentingkan lebih dulu adalah keselamatan Leng Leng.

Oleb karena itulah Sin Hong pendekar sakti itu menjadi bingung dan ragu ragu.

Tadipun ia menyerang Cun Gi Tosu hanya dengan maksud merampas Leng Leng.

Pada saat itu terdengar pekik burung dari arah darat.

Orang-orang yang lain tidak tahu bahwa itulah tanda rahasia dari Huang-ho Tian-jin, hanya Sin Hong yang tahu bahwa kalau kakek itu memanggilnya.

Tentu ada urusan penting.

Lebih baik ia pergi dulu dan kelak datang lagi.

Dia toh sudah tahu di mana letak Pek-houw to dan tahu pula bahwa Leng Leng puterinya berada dalam keadaan selamat.

Ini saja sudah melegakan hatinya dan sudah berarti bahwa kedatangannya kali ini tidak sia-sia.

"Kong Ji, biar lain kali kita bertemu!? katanya dan tanpa menanti jawaban, tubuhnya berkelebat lenyap di antara batu-batu karang dan puhon-pohon.

"Kejar..........!"

Cui Kong berseru. Akan tetapi Kong Ji mengangkat tangannya mencegah.

"Ha ba-ha, selama hidupku baru aku ini melihat Wan Sin Hong melarikan diri terbirit-birit seperti anjing dirukul!"

Katanya keras-keras dengan sengaja mengerahkan lweekang supaya didengar oleh Sin Hong.

"Untuk apa mendesak anjing yang sudah lan? Birlah, kelak kalau dia berani datang lagi, baru aku sediakan pedang untuk memenggal lehernya!"

Memang disamping kelihaian dan kelicikannya, Kong Ji berwatak sombong.

Tadi sudah disaksikannya bahwa biarpun menggendong Leng Leng, Cun Gi Tosu sanggup menghadapi Sin Hong.

Dengan adanya Cun Gi Tosu yang lihai, juga Cui Kong yang sudah maju dan ditambah dia sendiri yang sekarang sudah mulai melatih ilmu-ilmu kesaktian dari kitab-kitab Omei-san, siapa yang ia takuti lagi?

Pekik burung tadi memang tanda rarsia dari Huang-ho Sian-jin ditujukan kepada Sin Hong.

Ketika ditinggalkan oleh Kong Ji dan Cui Kong, kakek ini sudah siuman.

Ia hanya sebentar saja pingsan terkena sambaran angin pukulan Tin-san-kang yang hebat dari Kong Ji.

Orang lain tentu akan remuk remuk isi dadanya, dan demikian pula disangka Liok Kong Ji maka tanpa curiga lagi Kong Ji meninggalkan tubuh kakek itu.

Namun Huang-ho Sian-jin bukanlah orang biasa.

Tubuhnya sudah memiliki kekebalan, dan pukulan ini biarpun mengguncang isi perut dan dada membuatnya pingsan sebentar, namun tidak mendatangkan luka maut.

Kalau saja Ko Ji tidak begitu sombong dan mau memeriksa, tentu akan membunuh Huang ho Sian-jin lebih dulu sebelum meninggalkannya.

Melihat Kong Ji dan Cui Kong pergi membawa Wan Sun, Huang ho Sian-jin merayap bangun dan di dalam gelap ia menyelinap mengikuti dari belakang.

Ia mendengar betapa Wan Sun diserahkan kepada seorang penjaga.

Biarpun tadi sudah terpukul, Huang ho Sian-jin masih memiliki keberanian besar.

Ia mengikuti sampai Kong Ji dan Cui Kong yang tergesa-gesa itu pergi lari ke timur,.

kemudian ia muncul dan sekali ketok saja pada kepala penjaga itu, ia telah dapat membuat orang roboh..

Cepat ia membebaskan totokan Wan Sun bersama orang muda ini ia maju terus mencari tempat ditahannya Coa Lee Goat.

Hal ini tidak sukar dilakukan.

Berbeda dengan Ui tiok-lim, pulau ini tidak sukar dimasuki rumah-tumah di situ tidak berapa banyak.

Sebentar saja dua orang gagah ini dapat menemukan tempat tahanan di mana Lee Goat ditawan, yaitu sebuah rumah kecil dan enam orang penjaga menjaga rumah itu dengan tombak di tangan.

Akan tetapi apa artinya enam orang penjaga yang hanya kuat tubuhnya dan memiliki ilmu silat biasa saja bagi Wan Sun dan Huang-ho Tian-jin?

Sekali serbu enam orang itu sudah roboh malang melintang dan Wan Sun mendobrak pintu, menyerbu ke dalam.

Lee Goat berada di dalam kamar, tangan kakinya terikat kuat-kuat sehingga ia tidak berdaya lagi.

Wan Sun cepat menolong isterinya, kemudian bersama isterinya ia lari mengikuti Huang-ho Sian-jin ke pantai barat di mana tadi kakek itu meninggalkan perahu.

Tahu bahwa keadann pulau itu kuat sekali dengan adanya orang-orang seperti Liok Kong Ji, Liok Cui Kong, dan Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, maka Huang-ho Sian-jin lalu mengeluarkan pekik burung untuk memanggil Sin Hong.

Ia sudah merasa khawatir akan keselamatan Sin Hong yang begitu lama meninggalkannya belum juga kembali.

Akan tetapi dengan girang mereka melihat berkelebatnya bayangan dan Sin Hong telah berdiri di depan mereka.

"Cepat, kita pargi dulu dari sini!"

Bisik Sin Hong sambil mengajak mereka melompat dalam perahu. Sin Hong merasa girang sekali melihat Wan Sun dan Lee Goat di situ.

"Bagaimana kalian bisa berada di Pek-houw to?"

Tanya Sin Hong setelah perahu bargerak cepat meninggalkan pulau itu.

Sebelum ada yang menjawab, Lee Goat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya dan menangis tersedu-sedu, tak dapat bicara apa-apa.

Sin Hong kaget sekali dan mengelus-elus kepala muridnya.

"Lee Goat, tenangkan hatimu. Apakah yang telah terjadi?"

Dengan air mata bercucuran Wan Sun yang juga berlutut di sebelah isterinya lalu bercerita bagaimana dia dan isterinya menyerbu pek-houw-to dan tentu mengalami bencana kalau tidak ditolong oleh Huang-ho Sian-jin, kemudian dengan suara terputus-putus ia menceritakan betapa Cui Kong telah menyerang Kim-bun-to dan menewaskan banyak orang, diantaranya ayah bunda Lee Goat dan melukai Li Hwa.

Kalau ada geledek menyambarnya, belum tentu Sin Hong begitu terkejut seperti ketika mendengar penuturan ini.

Ia mengepal-ngepal tinjunya, wajahnya pucat dan matanya memancarkan sinar yang menakutkan, giginya mengeluarkan bunyi karena saling beradu.

"Kong Ji, sampai sekarang kau masih menyebar kejahatan,"

Kutanya dengan suara mendesis.

"Cui Kong si keparat itu adalah bentukanmu. Aku hersumpah takkan berhenti sebelum dapat membasmi kalian......."

Huang-ho Sian-jin menarik napas panjang.

"Bagi manusia yang rendah budinya melakukan kejahatan merupakan kesenangan. Berbuat keji terhadap sesama manuais ia anggap perbuatan gagah perkasa, membuat matanya buta dan mengira bahwa dengan merajalela itu ia menjadi seorang yang tidak terlawan. Kong Ji seorang manusia iblis yang bertindak hanya menurutkan nafsu iblia tanpa mengingat akan perikemanusian. Memang iblis-iblis berwajah manusia macam dia dan Cui Kong harus dibasmi dari muka bumi. Sukarnya, mereka mereka memiliki kepandaian tinggi, apa lagi di sana masih ada Lo thian-tung Cun Gi Tosu yang lihai sekali......."

Kembali kakek itu menghela napas. Sin Hong menjadi panas mendengar itu.

"Lo-enghiong, sungguhpun mereka itu lihai, sekali-kali aku tidak takut menghadapi mereka. Sayangnya Leng-ji berada di tangan mereka dan inilah yang menghalangi sepak terjangku. Kalau aku memaksa dan menyerbu, aku takut kalau-kalau mereka menggunakan Leng-ji untuk malawanku dan sebelum aku turun tangan mereka dapat mengganggu anakku. Orang macam Kong Ji takkan segan-segan melakukan perbuatan keji itu untuk mencapai maksud hatinya."

Tiba tiba Sin Hong menghentikan kata-katanya karena kebetulan sekali sinar bulan yang sudah mulai keluar itu menerangi muka Huang-ho Sian-jin! "Lo.enghiong, kau terluka dalam!"

Datuk bajak itu tersenyum.

"Pukulan Kong Ji betul hebat, sekali pukul saja hawa pukulannya telah mematahkan dayungku dan melukai dadaku."

Sin Hong adalah seorang ahli pengobatan. Cepat ia mengeluarkan sebuah pil putih dan memberikan obat itu kepada Huang-ho Sian-jin. Ia memeriksa nadi tangan kakek itu, lalu berkata.

"Untung kau cukup kuat sehingga tidak menderita luka hebat."

Betul saja, setelah menelan pil itu, rasa sakit pada dadanya lenyap.

"Habis sekarang bagaimana baiknya, suhu?"

Akhirnya Lee Goat dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara sayu.

"Apakah kematian ayah ibuku takkan dapat terbalas?"

"Sabar, Lee Goat. Aku sudah bersumpah takkan berhenti sebelum dapat membasmi Liok Kong Ji dan kaki tangannya. Akan tetapi kita harus berhati-hati dan menggunakan siasat karena adikmu Leng Leng berada di tangan mereka. Akan kucari kawan-kawan sehingga keadaan kita cukup kuat. Selagi kawan-kawan menyerbu, diam diam aku akan berusaha merampas Leng-ji lebih dulu dari tangan mereka."

Demikianlah, dengan hati kecewa tak dapat menolong puterinya, akan tetapi juga girang dapat menolong Lee Goat dan Wan Sun, Sin Hong mengajak mereka kembali ke daratan Tiongkok untuk mempersiapkan penyerbuan besar-besaran.

Setelah mengalami serbuan Sin Hong, sedikit banyak timbul kekhawatiran dalam hati Kong Ji, sungguhpun Lo thian-tung Con Gi Tosu dengan sombong menyatakan bahwa sanggup mengusir Sin Hong kalau berani muncul lagi.

"Kalau saja Lang Leng tidak menghalangi pergerakanku, pada waktu itu juga orang she Wan itu tentu sudah kuhancurkan kepalanya,"

Ia menyombong.

Pada lahirnya Liok Kong Ji tertawa memuji kelihaian si kakek buntung, akan tetapi dalam hatinya ia tersenyum dan tidak percaya.

Ia tahu bahwa kepandaian Sin Hong amat tinggi dan kiranya dia dan kakek buntung itu baru dapat mengimbangi saja, untuk menang masih merupakan pertanyaan yang harus dibuktikan kebenarannya.

Apa lagi kalau ia teringat Tiang Bu, bulu tengkak Liok Kong Ji yang terkenal pemberani itu bisa berdiri meremang.

Lima orang pembantu pembantunya yang amat diandalkan ketika ia tinagaI di Ui-tiok-lim telah ditewaskan semua oleh Tiang Bu.

Maka setelah Sin Hong pergi, Liok Kong Ji segera keluar dari pulau dan mendarat, mencari kawan-kawan untuk dijadikan pembantu-bantunya.

Kong Ji pernah menjelajah menjelajah daerah selatan, maka orang orang dari kalangan liok-lim hampir semua mengenalnya.

Dengan mudah ia dapat mencari orang.orang yang berilmu tinggi untuk jadi pembantunya.

Siapakah yang tidak suka hidup mewah di Pulau Pek-houw-to?

Akan tetapi Kong Ji tidak sembarangan memilih orang, setelah mencari-cari, akhirnya pilihan jatuh pada tujuh orang saudara seperguruan yang terkenal di daerah selatan.

Mereka disebut Lam-thiam-chit-ong (Tujuh Raja Dunia Selatan)!

Sebutan raja sudah lajim diberikan kepada kepala perampok dan memang mereka ini adalah kepala-kepala perampok yang amat terkenal di daerah Kwang-tung dan Kwang-si.

Mereka selalu melakukan operasi bersama dan yang amat hebat adalah ilmu bertempur mereka yang disebut Chit-seng-tin )Barisan Tujuh Bintang).

Kalau hanya maju serang demi seorang, kepandaian mereka biarpun tinggi tidak akan menggegerkan daerah selatan.

Akan tetapi ketika dicoba, Liok Kong Ji sendiri tak dapat membobolkan barisan Chip-seng-tin dari tujuh orang raja hutan ini!

Dengan adanya Lam thian-chit-ong di PulauPek-houw-to, kedudukan Liok Kong Ji semakin kuat, akan tetapi daerah pantai timur menjadi makin rusak dan kacau!

Dasar kepala rampok, tujuh orang ini selalu mangadakan pengacauan, pembunuhan dan penculikan.

Sementara itu, Cui Kong sudah berterus terang di depan ayah angkatnya tentang hubungannya dengan Ceng Ceng.

"Ayah, diantara semua dara yang pernah kujumpai, tidak ada yang sehebat Lie Ceng, puteri Pak-thouw-tiauw ong Lie Kong,"

Ia menuturkan pertemuannya dengan Cong dan betapa ia sudah mengajukan lamaran. Kemudian ia mengemukakan syarat diajukan oleh Lie Kong.

"Calon ayah mertuaku itu mengajukan syarat supaya aku dapat mengembalikan Pat-siau-jut-bun yang dulu diambil dari tangan Ceng Ceng oleh Cui Lin dan Cui Kim. Oleh karena itu, aku mohon ayah suka berikan kitab itu untuk kukembalikan kepada mereka sehingga aku dengan mudah dapat menikah dengan Ceng Ceng."

Diam-diam Kong Ji terkejut mendengar nama Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong disebut sebagai calon besannya. Ia mengerutkan alis dan meraba-raba jenggotnya ketika menjawab.

"Anak bodoh. Di antara jutaan anak dara di dunia ini, mengapa justeru kau memilih anak raja burung tiauw itu?"

"Ayah, anak rasa hal itu malah lebih baik lagi,"

Kata Cui Kong membujuk karena memang takut sekali kepada Kong Ji dan tak pernah membantah.

"Kalau Ceng Ceng menjadi isteriku, berarti ia menjadi sekutu yang kuat bagi kita. Selain kepandaiannya sendiri lumayan, juga di sana masih ada ayah bundanya, andaikata kita diserang orang dan Ceng Ceng sampai tertimpa bencana, bukankah itu berarti kita menarik Pek-thouw-tiauw-ong sebagai kawan untuk menghadapi musuh? Ayah, Ceng Ceng akan merupakan sumber bantuan yang kuat untuk kita semua!"

Sepasang mata Kong Ji berkilat kilat dan bergerak ke kanan kiri cepat sekali, tanda bahwa di balik sepasang mata itu, otaknya sedang berpikir-pikir, kemudian ia berkata.

"Bagus sekali! Kiranya kau tidak sobodoh yabg kusangka. Kau boleh bawa kitab Pet-sian jut-bun ke tempat Pek thouw-tiauw ong Lie Kong untuk menyambut isteritmu, akan tetapi tetap kausembunyikan keadaan dirimu sebenarnya. Kalau kau sudah kawin, bawa isterimu dan kitab Pat-sian-jut-bun itu ke sini di luar tahu mertuamu. Dengan demikian, selain istrrimu bisa membantu memperkuat kedudukan kita, mertuamu tidak tahu ke mana anaknya pergi. Andaikata dia kelak mengetahui juga, ia bisa berbuat apa? Malah kita bisa menariknya sekalian memperkuat kedudukan Pulau Pek houw-to."

Cui Kong girang bukan main.

Setelah menerima kitab itu dari Kong Ji, ia cepat melakukan perjalanan ke Telaga Po-yang di mana Pek-thouw.tiauw-ong Lie Kong seanak isteri tinggal untuk sementara waktu.

Memang seperti su di janjikan, Lie Kong dan anak isterinya perpanjang tinggalnya di Telaga Po-yang untuk menanti Cui Kong selama satu bulan.

Tentu saja bagi Lie Kong, syarat mengambil kembali kitab Pat-sian jut-bun hanya untuk alasan saja agar puterinya jangan menikah dengan pemuda tampan yang ia tidak suka itu.

Ia tidak percaya bahwa dalam waktu sebulan pemuda itu akan sanggup mengambil kembali kitab Pat-sian-jut-bun.

Kitab itu sudah jatuh ke dalam tangan Liok Kong Ji yang lihai, mana bocah ini dapat merampasnya kembali?

Akan tetapi alangkah herannya ketika dua puluh lima bahi kemudian Cui Kong muncul di situ dengan wajah tampan berseri-seri.

"Apa kau berhasil?"

Tanya Lie Kong dengan suara ingin tahu dan tidak percaya, sedangkan Ceng Ceng dan ibunya inemandang penuh harapan.

"Berkat doa restu dari gakhu (ayah mertua), anak berhasil merampas kembali kitab Pat-Sian-jut-bun,"

Kata Cui Kong dengan suara merendah dan mengeluarkan kitab itu dari bajunya.

"Itu kitabnya....l"

Tak terasa pula Ceng-Ceng berseru girang mengenal kitab yang pernah dipelajarinya itu.

Lie Kong diam.diam terkejut karena juga mengenaI kitab itu.

Tak salah lagi.

Itulah kitab pelajaran Ilmu Silat Pat-sian.jut-bun dari Omei-san.

"Hemmm, bagus sekali. Bagaimana kau bisa mendapatkannya!"

Tanyanya sambil memandang tajam.

Untuk pertanyaan ini, siang-siang Cui Kong sudah mempersiapkan jawabannya maklum bahwa orang seperti Pek-thouw-tiauw-ong ini tidak mudah dibohongi begitu saja.

Tentu Lie Kong sudah tahu akan kelihaian Liok Kong Ji, maka kalau ia dapat merampasnya dari Liok Kong Ji, tentu tentu akan kentara kebohongannya.

"Sesungguhnya tidak mudah anak mendapatkan kitab ini. Anak menyelidiki dulu dan mendengar bahwa Liok Kong Ji yang mencuri kitab ini memiliki kepandaian amat tinggi, juga di sana masih ada Lo-thian to Cun Gi Tosu yang lihai ilmu silatnya. Dan orang itu sama sekali bukan lawan anak yang masih bodoh. Mereka tinggal di sebuah pulau di selatan dan hanya dengan jalan mencuri anak akhirnya berhasil mendapatkan kitab ini. Anak menyamar sebagat pedagang ikan, bekerja sama dengan seorang nelayan. Akhirnya anak berhasil menjual ikan ke pulau itu dan anak pada malam hari memasuki pulau, menangkap seorang penjaga dan mamaksa mengaku disimpannya kitab-kitab pusaka. Demikianlah, memang sudah masib anak yang sedang baik dan sudah jodoh anak dengan Ceng-moi, akhirnya dengan susah payah anak dapat mengambilnya. Hampir anak tewas ketika dikejar oleh Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu."

Mendengar penuturan ini, Lie Kong timbul kepercayaannya.

Memang iapun sudah mendengar bahwa Liok Kong Ji sudah pindah dari Ui tiok-lim ke sebuah pulau di selatan.

Karena sudah berjanji dan memang ia mulai suka melihat kecerdikan Cui Kong yang berhasil mendapatkan kembali kitab itu, Lie Kong menetapkan perjodohan puterinya dengan Cui Kong dan dirayakan pada waktu itu juga secara sederhana.

Inipun atas pamintaan Cui Kong sendiri yang (Lanjut ke

Jilid 29) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 29 menyatakan bahwa tentu Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu mengejarnya.

Kalau pernikahan itu diadakan secara besar-besaran dan dua orang itu datang, tentu akan jadi keributan hebat.

Maka hanya penduduk di sekitar Telaga Po-yang yang menjadi tamu untuk menyaksikan perayaan pernikahan itu.

Dapat dibayangkan betapa bahagianya hati Cui Kong mendapatkan dara pujaannya.

Juga Ceng Ceng merasa bahagia karena ia mengira mendapatkan seorang suami yang selain tampan, juga berkepandaian tinggi dan dapat memegang janji.

TIdak seperti Tiang Bu yang baruk rupa, pikirnya puas.

Malam harinya diam-diam Cui Kong menyatakan kekhawatirannya kepada isterinya.

"Liok Kong Ji itu lihai bukan main."

Ia ngarang cerita.

"ketika ia mengejarku, dalam sepuluh jurus saja aku sudah hampir celaka. Apa lagi Cun Gi Tosu, kabarnya lebih lihai dari Liok Kong Ji. Kiranya gakhu dan gakbo (ayah dan ibu mertua) sendiri belum dapat menangkan mereka. Aku khawatir mereka itu segera dapat menyusul ke sini. Lebih baik kita malam ini pergi saja secara diam-diam, selain menyembunyikan diri sekalian berbulan madu. Bukankah akan senang sekali kita pergi berdua saja?"

Dirayu oleh bujukan-bujukan halus ini hati Ceng Ceng tertarik.

Akan tetapi dia adalah puteri seorang pendekar besar, keberaniannya luar biasa.

Mendengar suaminya hendak melarikan diri, ia merasa tak puas.

"Mengapa kita begitu takut-takut? Apakah tidak lebih baik bertanya dulu kepada ayah bagaimana baiknya? Mustahil kita berempat tak dapat menghadapi mereka."

"Ssst, jangan. Tentu saja gakhu dan gakbo tidak setuju dan mereka tentu tidak gentar menghadapi Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu. Akan tetapi aku yang sudah menyaksikan kelihaian mereka, Iebih tahu. Pula, Liok Kong Ji mempunyai banyak sekali kawan-kawan yang lihai dan kalau mereka datang dengan membawa kawan-kewannya, bukankah kebabagiaan kita sebagai pengantin baru akan terganggu dan ada kemungkinan aku tewas. Apa kau suka menjadi janda?"

"Tidak...... tidak! Habis, bagaimana baiknya?"

Ceng Ceng bingung juga, terpengaruh oleh ucapan suaminya yang sedang menjalankan siasatnya.

"Kau percayalah kepadaku, isteriku sayang. Aku suamimu masa hendak mencelakakan kau dan mertuaku? Aku sudah mempunyai rencana baik sekali. Mereka itu kalau datang takkan mengganggu ayah ibumu, karena yang mencuri kitab adalah aku dan mereka hanya mencari aku seorang. Oleh karena itu, agar jangan sampai ayah ibumu tertimpa dakwa, lebih baik kita diam-diam pergi dan kitab itu kita bawa serta. Kelak kalau sudah aman keadaannya, kita kembali. Tentu ayah bundamu akan memaafkan buatanku yang hanya kita lakukan demi menjaga keselamatan dan menjauhi keributan. Sungguh menyedihkan kalau sepasang pengantin baru seperti kita yang seharusnya bersenang-senang, sudah harus menghadapi ancaman musuh-musuh berat."

Dengan bujukan-bujukan halus dan alasan-alasan kuat, akhirnya Ceng Ceng tunduk menuruti kehendak suaminya, biarpun air matanya bercucuran ketika pada tengah malam ia pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk mengikuti suaminya!

Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong timbul kembali kecurigaannya ketika pada keesokan harinya ia mendapatkan puterinya minggat bersama suaminya, membawa serta kitab Pat-Sian-jut-bun.

"Hemm, memang aku selalu masih menaruh hati curiga kepada Cui Kong itu...."

Omelnya.

"Jangan berpikir yang bukan-bukan. Dia sudah menjadi mantu kita dan Ceng Ceng juga mencintainya. Kalau mereka pergi tanpa pamit, tentu ada alasan mereka yang kuat. Aku dapat menyelami perasaan mantu kita itu. Bukankah dia selalu kelihatan ketakutan karena sudah mencuri kitab dari tangan Liok Kong Ji? Tentu kepergiannya ada hubungannya dengan hal itu. Mungkin sekali dia tak mau kebahagiaannya sebagai pengantin terganggu oleh kejaran Liok Kong Ji dan kawan-kawannya maka ia pergi bersama isterinya manyembunyikan diri."

"Mengapa kttab itu dibawa dan tidak minta ijin dulu dari kita?"

Lie Kong tetap penasaran.

"Ceng Ceng cerdik dan tentu dia tahu bahwa kalau minta ijin, kau takkan menyetujui kepergian mereka, maka mereka terpaksa pergi diam-diam. Adapun tentang kitab itu, bukankah itu kitab Ceng Ceng karena kau sudah memberikannya kepada Ceng Ceng?"

"Aku harus mengembalikannya kepada Tiang Bu......"

"Ala, kau masih teringat terus kepada bocah itu,? isterinya mengomel, kemudian ibu yang selalu melindungi anaknya ini berkata.

"Kukira mantu kira sengaja membawa kitab agar Liok Kong Ji tidak tahu bahwa ia mencuri kitab itu atas parintahmu."

Betapapun juga Lie Kong berkeras mengajak isterinya mencari jejak anak dan mantunya.

Isterinya setuju karena mereka amat sayang kepada Ceng Ceng dan takut kalau anak tunggal mereka itu menghadapi bahaya.

Ceng Ceng melakukan perjalanan penuh kebahagiaan dengan Cui Kong.

Memang Cui Kong seorang yang pandai sekali merayu hati wanita sehingga Ceng Ceng merasa bahwa ia telah mendapatkan seorang suami yang betul-betul tepat dan menyenangkan hati.

Selama dua bulan Iebih, Cui Kong mengajak isterinya berpesiar dan sepasang suami isteri ini kelihatan rukun dan saling mencinta.

Hari-hari dilewati penuh madu oleh Ceng Ceng yang tidak tahu sama sekali bahwa ia sedang dituntun oleh suaminya ke Pulau Pek-houw-to.

Ia hanya merasa heran ketika suaminya mengajaknya ke pantai selatan dan kemudian membawanya ke pantai yang sunyi.

Di sana telah menanti dua orang dengan perahu yang siap hendak membawa suami isteri ini ke Pek-houw-to.

"Kira tendak pergi ke manakah? Dan siapa mereka itu yang sudah menyediakan perahu untuk kita?"

Tanyanya terheran-heran.

"Bergembiralah, niocu. Kau akan kuajak menghadap ayah angkatku."

"Ayah angkatmu?. Jadi kau mempunyai ayah angkat? Siapa dia dan mengapa dulu tidak menguruskan pernikahanmu?"

Akan tetapi Cui Kong tidak menjawab karena mereka sudah tiba di dekat dua orang yang menanti dengan perahu.

"Kongcu sudah pulang dengan isterinya. Selamt datang, selamat datang!"

Dua orang itu menyambut. Mata mereka memandang pada Ceng Ceng dengan cara yang membuat Ceng Ceng mendongkol. Cui Kong tersenyum kepada dua orang itu lalu berkata.

"Kalian pergilah, kami hendak menggunakan perahu ini berdua."

Dua orang itu tersenyum maklum dan pergi sambil tertawa-tawa.

Ceng Ceng makin heran melihat sikap Cui Kong ini.

Orang macam apakah ayah angkatnya?

Mengapa sikap Cui Kong seperti seorang pangeran saja dan dua orang tadi lagaknya lebih pantas kalau menjadi anak buah..........

perampok!

"Kita ke manakah?

Siapa itu ayah angkatmu?"

Tanyanya, hatinya tak enak.

Cui Kong menggandeng tangan isterinya diajak melompat ke dalam perahu, lalu mendayung perabu itu ke tengah dan memasang layar.

Setelah perahu melaju ke arah timur barulah ia berkata sambil tersenyum dan memegang kedua tangan isterinya.

"Niocu. belum lama aku mendapatkan ayah angkat ini, kerenanya dulu belum kuceritakan padamu. Baru ketika aku mencuri kitab itu aku bertemu dengan dia, bahkan hanya karena pertolongan ayah angkatku maka kita dapat menikah."

"Apa maksudmu?"

"Hanya dengan pertolongannya maka kitab itu bisa terjatuh ke dalam tanganku."

"Siapakah dia? Apakah dia tinggi sekali ilmu kepandaiannya?"

"Sangat tinggi, kiranya tidak kalah oleh gakhu dan gakbo. Kau tunggulah saja sebentar lagi kau tentu akan berhadapan dengan ayah agkatku."

Diam-diam Ceng Ceng menduga-duga tidak mau mendesak karena takut dianggap tidak sabaran oleh suaminya.

Ia hanya menduga bahwa ayah angkat suaminya ini tentu seorang kepala bajak seperti Huang-ho Sian-jin.

Akan tetapi kalau lihainya tidak kalah ayah bundanya.

siapakah gerangan orang itu?

Kiranya di antara para bajak, Huang-ho Sian-jin yang paling lihai dan orang inipun tidak dapat menangkan ayahnya.

Apakah ada bajak laut yang tidak terkenal di dunia liok-lim dan yang kepandaiannya sangat tinggi?

Mungkin sekali karena ayahnya sendiri sering berkata bahwa dunia ini terdapat banyak sekali orang pandai?.

Lebih tebal lagi dugaannya bahwa ayah angkat itu tentu seorang kepala bajak ketika perahu itu mendarat di pulau.

Belasan orang anak buah yang kelihatannya kasar-kasar tertawa-tawa menyambut kedatangan "kongcu"

Mereka.

Yang mengepalai pasukan penyambut ini adalah tujuli orang setengah tua yang pakaiannya aneh sekali.

Pakaian mereka itu menyolok sekali warnanya, barbeda-beda pula.

Ada pula yang seluruhnya merah, ada yang putih, hitam, hijau, dan coklat!

Tujuh orang dengau tujuh macam warna pakaian, benar-benar seperti badut-badut hendak main di panggung.

Diam-diam Ceng Ceng yang berwatak riang itu menahan geli hatinya agar jangan meledak ketawanya.

Dia sama sekali tIdak tahu bahwa tujuh orang badut itu bukan orang orang biasa, melainkan jago-jago yang belum lama ini ditarik oleh Liok Kong Ji ke Pulau Pek-houw-to.

Mereka itulah Lam-thian-ebit ong (Tujuh Raja Dunia Selatan ) yang amat terkenal dengan barisan Chit-seng-tin (Barsan Bintang) mereka!

"Ha ha ha, kionghi (selamat) Liok-kongcu!

Isterimu benar-benar cantik jelita dan langkahnya ringan seperti seekor burung, tentu memiliki ginkang yang luar biasa."

Terdengar si baju merah berkata sambil bergelak.

Yang lain juga ikut tertawa dan mata mereka memandang kepada Ceng Ceng penuh selidik sepeti mata penaksir-penaksir yang kurang ajar.

Bukan main mendongkol dan marahnya hati Ceng Ceng mendengar kata-kata dan melihat sikap yang kurang ajar itu.

Akan tetapi keheranan dan kekagetannya mendengar si baju merah menyebut Liok-kongcu kepada suaminya, mengatasi kemarahannya dan ia menoleh memandang kepada suaminya dengan muka berubah.

Akan tetapi sambil tersenyum lebar Cui Kong menggandeng tangannya dan memberi isyarat untuk menghadap dua orang yang mendatangi dengan langkah lebar.

Mau tak mau Ceng Ceng memandang ke arah mereka.

Ia melihat seorang tosu buntung sebelah kaki dan seorang setengah tua bertubuh jangkung kurus dan berpakaian mewah, pada muka dan dandanannya menandakan bahwa dia seorang pesolek mata keranjang.

Dua orang sedang memandang kepadanya dengan penuh selidik pula.

"Niocu, itulah ayah angkatku dan yang seorang adalah guruku,"

Kata Cui Kong perlahan.

"Lekas memberi hormat kepada mereka."

Sedangkan dia sendiri sudah berkata sambil memberi hormat.

"Ayah dan suhu."

Akan tetapi Ceng Ceng berdiri seperti patung, mukanya pucat sekali, direnggutnya tangannya terlepas dari gandengan suaminya dan ia memandang kepada Liok Kong Ji sambil bertanya, suaranya gemetar.

"Siapa..... siapa kau.........?"

"Cui Kong, mengapa isterimu begini tidak tahu aturan?"

Kong Ji mecela sambil mengerutkan kening. Cui Kong membujuk isterinya.

"Niocu, ayah adalah Liok Kong Ji yang dikenal sebagai Thran te Bu tek Taihiap! Dan suhu adalah Lo-thian Tung Cuu Gi Tosu. Hayo lekas beri hormat!"

Penjelasan ini memasuki telinga Ceng Ceng seperti geledek menyambar. Ia menoleh kepada Cui Kong, matanya terbelalak lebar.

"Kau........ kau...........!"

"Tiba-tiba Ceng Ceng menyerang dengan ganasnya! Cui Kong mengelak dan berkata, suaranya mengandung penyesalan besar.

"Niocu, jangan begitu.......... kau kan isteriku...... .?"

Akan tetapi Ceng Ceag tidak perduli, melihat suaminya melompat jauh, ia membalik dan kini menyerang Liok Kong Ji yang berada paling dekat!

Bahkan ia memukul sambil mencabut pedangnya, laIn menyerang kalang-kabut dengan nekat sekali.

"Niocu. jangan.... ah, isteriku kau sabarlah??.!"

Cui Kong membujuk, suaranya betul betul bersedih.

Untuk pertama kali dalam hidupnya Cui Kong jatuh cinta dan ia betul-betul merasa berduka melihat isterinya memusuhi dia dan ayahnya.

Liok Kong Ji tentu saja merasa malu dan rendah kalau harus melawan wanita muda yang menjadi mantunya.

ia melompat mundur dan berkata kepada Lam thian chit ong.

"Chit-ong, kalian cobalah anak mantu ini. Dia perlu dibuka matanya, bahwa kita tak boleh dipandang rendah, akan tetapi jangan ganggu dia"

Sambil tertawa-tawa tujuh orang yang berpakaian tujuh macam warna itu sagera bergerak maju mengurung Ceng Ceng dalam bentuk sena (Bintang Purnama).

Ceng Ceng semenjak kecilnya memang seorang yang berjiwa gagah dan tidak mengenal takut, maka melihat tujuh orang aneh telah mengepungnya, ia lalu memutar pedangnya dan menyetang dengan jurus jurus yang paling berbahaya.

Ia memang cerdas dan maklum bahwa menghadapi sebuah (barisan), ia harus mencoba untuk membobolkan satu bagian agar dapat keluar dari kepungan.

Oleh karena itu ia sengaja menyerang baju marah untuk membuat Iawan ini terluka atau keluar dari barisan.

Akain tetaspi, ia tidak sangka bahwu tin itu memang luar biasa sekali.

Begitu melihat Ceng Ceng mendesak si baju merah, tin berubah dengan cara yang tak disangka-sangka, dan kini menjadi bentuk Bi-se (Bintang Buntut)!

Si baju merah sudah hilang dan yang menghadapinya kini si baju hijau.

Juga tujuh orang itu sudah melolos senjata mereka, yaitu sebatang cambuk panjang dengan warna yang berbeda dari pakaian mereka.

Si baju marah memegang cambuk hijau, si baju hijau memegaug cambuk hitam, dan begitu seterusnya.

Benar-benar warna yang belang-bentong itu membuat orang yang terkepung menjadi silau dan bingung.

Berkelebatnya cambuk dan pakaian mendatangkan warna-warna yang bertentangan dan amat sukar bagi Ceng Ceng untuk mengetahui lawan seorang demi seorang dan akhirnya terpaksa ia menghapi tujuh orang itu sekaligus.

Tentu saja ia payah baginya.

Menghadapi seorang-seorang saja kiranya baru berimbang, sekarang menghadapi tujuh orang sekaligus yang bergerak menurut pergerakan bintang, aneh dan kadang-kadang ajaib perubahan perubahannya.

Ceng Ceng betul-betul dipermainkan.

Sejurus menghadapi baju merah.

jurus berikutnya sudah bertemu baju hitam.

Menangkis cambuk hijau.

di lain saat cambuk kuning sudah menyambar!

Pandang matanya sudah berkunang-kunang dan belum lewat tiga puluh jurus tenaganya sudah habis.

Akhirnya Ceng Ceng menjadi makin pening ketika barisan itu tiba-tiba berputar-putar, membuat warna aneka macam berputaran di depan matanya, Sambil mengeluh yang merupakan isak dari hancurnya hati dan perasaannya, pedang Ceng Ceng terlepas dan ia sendiri jatuh mendeprok tak bertenaga lagi, mendekam di dalam lingkaran dan menangis!

"Cukup!!"

Cui Kong berseru dan melompat menghampiri isterinya.

Sambil tertawa-tawa Lam thian-chit-ong mengundurkan diri dengan bangga.

Untuk kesekian kalinya Chit seng-tin mereka mengalahkan lawan dengan amat mudah.

Cui Kong memeluk lalu memondong tubuh isterinya yang sudah lemah tak bertenaga dibawanya lari memasuki pulau menuju pondoknya.

Ceng Ceng masih terus menangis sedih.

Setelah oleh suaminya di turunkan di atas pembaringan dalam pondok Cui Kong yang indah dan mewah, baru Ceng Ceng mengeluarkan suara, mengeluh dan menangis.

"Kau...... kau orang jahat.......... kiranya kau anak manusia iblis she Liok itu.......... aku lebih baik aku mati saja.."

Cui Kong memeluk isterinya dan membujuk dengan kata-kata menghibur.

"Niocu, isteriku sayang, jangan kau terbuai nafsu. Dengar dulu kata kataku, kau salah sangka.........."

Ceng Ceng membuka matanya, memandang benci dan air matanya bercucuran.

"Salah sangka apa lagi. Sudah lama mendengar ayah menyebut-nyebut adanya manusia iblis Liok Kong Ji dan kaki tanganya. Bahkan kitabku yang mancuri juga kaki tangannya Liok Kong Ji. Kemudian kau datang.... kau membohong, kau bilang berhasil rampas kitab, tidak tahunya.......... ya Thian Yang Maha Kuasa.......... tak tahunya kau.......... malah anaknya........!"

Kembali Ceng Ceng menangis.

"Ceng Ceng isteriku. Dengarlah dulu. Tak kusangkal bahwa aku sekarang menjadi putera Liok Kong Ji, akan tetapi tadinya aku benar orang she Kwee. Aku hanya anak angkatnya apa kau kira aku dengan mudah dapat mencuri kitab itu dari tangannya kalau dia tidak mengambil anak padaku. Dia suka kepadaku dan mengaku anak, kaulihat dia seorang gagah perkasa dan seorang ayah amat baik."

"Ayah bilang Liok Kong Ji adalah penjahat yang paling keji di kolong langit!"

Ceng Ceng membantah.

"Memang banyak orang yang salah sangka. Gak-hu juga belum melihat sendiri maka menyangka demikian. Orang baik selalu dikabarkan buruk, itu sudah jamak. Kau lihat sendiri, begitu bertemu dia mengaku anak padaku, dan memberikan kitab supaya aku dapat berjodoh dengan kau. Sekarang kau datang-datang menghina dan menyerangnya, namun ia tidak mau turun tangan sendiri, hanya menyuruh Lam-thian-chit ong melayanimu, itupun dengan pesan supaya kau tidak diganggunya. Bukankah semua itu menunjukkan bahwa ayah seorang yang berhati baik?"

Biarpun puteri seorang pendekar sakti, namun Ceng Ceng sebetulnya masih anak-anak, masih hijau.

Mana bisa ia dapat menghadapi Cui Kong yang cerdik dan licin?

Bujukan-bujukan suaminya ini mulai termakan olehnya dan membuat ia agak terhibur, berkurang kecewa dan sesalnya.

"Akan tetapi mengapa kau mengajakku ke sini? Ini tempat apa dan apakah ayah angkatmu itu menjadi bajak laut?"

Tanyanya dengan mata merah dan pipinya masih basah.

Sambil tersenyum Cui Kong mengusap isterinya, membersihkan air mata dan mengelus-elus rambut yang kusut "Sama sekali tidak, isteriku.

Ayah angkatku bukan penjahat, juga bukan bajak atau perampok.

Kau tahu, banyak sekali orang jahat di dunia yang memusuhi ayahku.

Oleb karena sudah bosan dengan segala macam pertempuran, lalu pindah ke pulau ini dan tidak mau memusingkan diri dengan urusan dunia lagi, dan menikmati kebahagiaan di tempat sunyi ini."

Memang sesungguhnya dalam pandangan Cui Kong, orang reperti Liok Kong Ji itu sama kali tidak jahat.

Bagaimana dia akan menganggap jahat kalau Kong Ji bersikap baik terhadapnya?

Pula, sudah lajim di dunia ini bahwa tidak ada manusia yang dapat melihat keburukannya sendiri.

Jangankan melihat keburukan diri sendiri, baru melihat dan mencari kesalahan sendiri saja sudah sama sukarnya dengan jalan menuju sorga.

Kalau semua orang di dunia ini dapat melihat dan mengetahui kejahatan dan keburukan sendiri, kiranya dunia takkan sekacau ini!

Melihat sikap suaminya yang sungguh sungguh dan mendengar kata-kata manis dari Cui Kong yang memang pandai bicara, Ceng Ceng terpengaruh dan terhibur.

Memang masih ada ganjalan kecewa dalam hatinya bahwa ia harus tinggal di satu pulau dengan "ayah mertua"

Seperti Liok Kong Ji yang amat dibenci ayahnya, akan tetapi asal Cui Kong orang baik-baik, yang lain ia tidak perduli.

Akan tetapi setelah beberapa bulan tinggal di situ, hati Ceng Ceng menjadi makin hancur menyaksikan hal-hal yang berlawanan dengan perasaan hati dan nuraninya.

Apa lagi penculikan-penculikan terhadap gadis-gadis pantai, benar-benar membuat ia marah dan mendongkol sekali.

Akan tetapi apa dayanya?

Suaminya sendiri kelihatan amat takut terhadap Liok Kong Ji dan iapun tahu bahwa dia dan suaminya sama sekali bukan lawan mereka itu.

Penghibur satu satunya bagi Ceng Ceng adalah Leng Leng, bocah perempuan yang tinggal di situ.

Apa lagi ketika ia tahu bahwa Leng Leng adalah puteri Wan Sin Hong.

Ia makin sayang kepada anak itu dan boleh dibilang semenjak Ceng Ceng berada di situ, Leng Leng selalu berada di sampingnya.

Karena tahu bahwa ini merupakan hiburan besar bagi si anak mantu, Liok Kong Ji membiarkannya saja.

Andaikata Ceng Ceng hendak memberontak, nyonya muda itu bisa apakah?

Hiburan ke dua bagi Ceng Ceng adalah betapapun juga, suaminya amat mencinta dan menuruti segala kehendaknya.

Benar-benar terhadap Ceng Ceng, Cui Kong selalu bersikap halus dan lemah lembut, cintanya terhadap isteri ini sungguh-sungguh, tidak seperti terhadap wanita yang lain yang sudah-sudah.

Beberapa bulan kemudian, selagi Ceng Ceng bermain-main dengan Leng Leng di pantai utara yang sunyi, mengumpulkan bunga-bunga liar yang amat banyak karena waktu itu musim bunga telah tiba, terdengar Leng Leng berseru girang.

"Burung bagus...... burung bagus........!"

Ceng Ceng yang sedang duduk melamun melihat bocah itu bermain-main sambil memetik kembang, tersadar dari lamunannya dan sekarang, ia melihat seekor burung besar terbang di atasnya.

"Tiauw-ko (kakak burung rajawali)!!"

Serunya kaget, heran dan girang. Suaranya terdengar oleh burung itu dan sekaligus binatang ini mengenal suara majikan mudanya. Dengan gerakan indah sekali menukik lalu melayang turun.

"Burung bagus.......... bibi, tangkap dia, berikan padaku..........!"

Kata Leng Leng sambil berlari rnendekat. Ceng Ceng tersenyum dan kagum melihat keberanian bocah itu, tidak seperti bocah perempuan lain yang biasanya takut melihat burung besar.

"Kau tidak takut, Leng-ji?"

"Tidak, burung bagus!"

Kata Leng Leng yang mendekati dan mengelus-elus bulu di dekat kaki burung itu. Ia kalah tinggi, hanya bisa mengelus bulu di dekat paha.

"Tiauw-ko....... bagaimana kau bisa ke sini? Mana ayah dan ibu........"

Tanya Ceng Ceng sambil memeluk leber burung itu, lupa bahwa tentu saja binatang itu tak dapat bicara.

Pek-thouw-tiauw itu hanya menggerak-gerakkan kepalanya yang putih dan mengeluarkan bunyi lirih, kadang-kadang melirik ke arah Leng Leng karena belum pernah ia mengenal bocah ini.

Tiba-tiba Ceng Ceng mendapat pikiran bagus.

Kalau pek-thouw-tiauw berada di situ, tentu ayah ibunya juga tidak jauh.

Cepat ia memetik sehelai daun yang lebar, menggurat-gurat dengan kukunya menulis beberapa huruf.

Tulisan itu hanya berbunyi;

"AKU BERADA DI PEK-HOUW T0."

"Tiauw-ko, bawa daun ini pada ayah ibu. Mengerti? Berangkatlah!"

Ia menepuk punggung burung itu yang segera menyambar dan mementang sayap terbang cepat sekali.

"Bibi, burungnya mengapa terbang pergi?"

Teriak Leng Leng.

"Nanti dia kembali lagi, Leng-ji."

Dugaan Ceng Ceng memang tepat sekali.

Burung pek-thouw-tiouw yang dua ekor milik Lie Kong itu memang tak pernah jauh dari majikannya.

Pada saat itu.

Lie Kong dan Souw Cui Eng isterinya tengah berlayar dengan sebuah perahu kecil.

Berhari-hari mereka lakukan penyelidikan dengan perahu ini untuk mencari Pek-houw-to.

Suami isteri pendekar ini mempunyai hubungan luas di kalangan kang-ouw.

Mereka sendiri adalah pendekar-pendekar pantai timur dan semua orang gagah, dari kalangan kang-ouw maupun liok-lim hampir semua kenal mereka.

Ketika mereka mencari puteri mereka yang minggat di daerah selatan, mereka bertemu dengan orang-orang liok lim yang langsung memberi selamat kepada mereka yang sudah berbesan dengan Thian-te Bu tek Tai-hin Liok Kong Ji.

Malah Seng-jiu-sin touw Si Malaikat Copet, seorang maling besar bernama Tang Liok, dengan wajah berseri memberi selamat sambil menegur.

"Tai-hiap mengawinkan puterinya mengapa lupa kepada Seng-jiu-sin touw?"

Hampir saja Lie Kong menampar muka orang ini kalau saja ia tidak menyabarkan diri.

"Kalian ini bicara apa? Jangan main-main. Siapa yang berbesan dengan Liok Kong Ji?"

Orang-orang liok-lim itu saling pandang dengan heran.

"Taihiap, bukankah puterimu berjodoh dengan Liok Cui Kong putera angkat Liok-taihiap? Aku melihat sendiri puterimu sekarang berada di Pek-hauw-to bersama suami dan mertuanya."

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati suami isteri itu mendengar keterangan ini.

Tanpa memandang waktu lagi mereka lalu pergi ke pantai dan dengan sebuah perahu mereka mencari Pulau Pek-houw to.

Karena marah dan malu mereka enggan bertanya kepada orang-orang liok-lim ini dan berusaha mencari sendiri pulau itu.

Jarang suami isteri ini bicara, namun dari air mata yang selalu membasahi pipi Souw Cui Eng dan sinar mata suram dan kadang-kadang marah dari Lie Kong, dapat dibayangkan bahwa dua orang ini menderita kesedihan dan kemarahan besar.

Mereka sadar sekarang bahwa mereka telah dipermainkan dan ditipu oleh pemuda yang sekarang menjadi suami Ceng Ceng itu.

"Aku akan membunuhnya......"

Berkali-kali Lie Kong berkata perlahan. Isterinya bergidik mendengar suara yang mengandung ancaman pasti ini.

"Akan tetapi dia anak kita....."

"Lebih baik Ceng Ceng tak bersuami atau mati dari pada menjadi menantu Liok Kong Ji manusia iblis!"

Souw Cut Eng tak berani membantah lagi, hanya sering kali menangisi nasib putri tunggalnya.

Juga ia marasa menyesal mengapa dulu tidak sewaspada suaminya yang selalu menaruh hati curiga kepada pemuda tampan itu.

Memang dalam menilai seorang pria, wanita kurang waspada dan hanya seorang laki-laki pula yang dapat mengetahui sifat baik buat seorang calon mantu laki-laki.

Burung-burung Pek-Inouw-tiauw peliharan Lie Kong adalah burung yang cerdik.

Dalam mencari Pulau Pek-houw to, Lie Kong melepas burung jantannya dan berkata.

"Tiauw-ji, terbanglah dan mencari Ceng Ceng!"

Pek-thouw-tiauw tentu saja tidak bisa bicara akan tetapi burung ini sudah sering kali mendengar perintah Lie Kong.

Kini mendengar disebut nama Ceng Ceng yang dikenal baik, agaknya ia tahu bahwa ia harus mencari majikan mudanya itu, maka terbanglah ia tiggi di udara mengelilingi kepulauan yang berkelompok di deerah itu.

Melihat sebuah pulau yang didiami manusia dan ada rumah-rumahnya, ia melayang turun dan terbang rendah di atas pulau sampai akhirnya ia terlihat oleh Leng Leng dan Ceng Ceng.

Dengan cepat sekali burung rajawali itu terbang tinggi kembali ke perahu majikannya dan menukik turun.

Sambil mengeluarkan bunyi kegirangan ia melepaskan daun di depan kaki Lie Kong dan Souw Cui Eng yang sudah memburu keluar.

Lie Kong menyambar daun itu dan membaca.

Wajahnya bersinar girang setelah membaca huruf-huruf "AKU BERADA DI PEK-H0UW TO"

Itu.

"Dia benar berada di sana!"

Katanya girang dan juga gemas.

Tadinya ia masih setengah mengharapkan bahwa keterangan orang-orang liok-lim itu keliru.

Kini tak bisa salah lagi, Ceng Ceng benar benar telah menikab dengan putera angkat Liok Kong Ji.

Tulisan di atas daun itu benar tulisan anaknya.

Souw Cui Eng tak dapat berkata apa-apa, mukanya pucat.

"Tiauw-ji, antar kami ke tempat Ceng Ceng!"

Burung itu lalu terbang diikuti burung betina, Lie Kong memasang layar mengikuti kemana terbangnya kedua ekor burungnya.

Tak lama kemudian ia sudah minggirkan perahunya di daratan Pulau Pek-houw-to!

Dengan penuh perasaan marah suami isteri ini melompat ke darat dan berlari mengikuti arah thouw-tiauw terbang.

Kedatangan burung rajawali yang besar sudah terlihat oleh Liok Kong Ji.

"Suruh isterimu dan Leng Leng berdiam dalam rumah saja dan mari kita menyambut mereka,"

Kata Liok Kong Ji tenang-tenang saja.

"Sedapat mungkin kita bicara damai dan menarik mereka. Kalau mereka sayang anak tentu mereka suka berdamai."

Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong suami isteri maklum bahwa memasuki pulau itu berarti menghadapi bahaya basar karena mereka sudah mengenal sifat jahat dan curang dari orang macam Liok Kong Ji.

Namun dengan amat tenang Lie Kong dan isterinya berjalan mengikuti terbangnya rajawali di atas.

Bahkan ketika tiba tiba muncul Liok Kong Ji dengan Cui Kong di sebelah kiri dan Cun Gi Tosu di sebelah kanan, suami isteri pendekar itu masih nampak tenang saja, terus melangkah maju dengan tindakan kaki tenang.

Melihat tiga orang ini muncul diikuti oleh tujuh orang di sebelah belakang dan belasan orang lain merupakan pasukan di bagian paling belakang, dua ekor burung pek-thouw-tiauw terbang berputaran di atas, nampaknya bingung dan gelisah.

Dengan air muka ramah tamah dan tersenyum-senyum, Liok Kong Ji melangkah maju menyambut kedatangan suami isteri itu dengan mengangkat kedua tangan memberi hormat.

"Selamat datang saudara-saudara besan yang gagah perkasa! Benar-benar merupakan kehormatan besar sekali bahwa jiwi sudi mengunjungi pulauku yang buruk. Memang setelah antara kita ada ikatan kekeluargaan, habungan perlu dipererat. Silakan beristirahat di pondokku yang butut."

Lie Kong tetap tenang, namun sepasang matanya memancarkan sinar kilat, yang menyambar ke arah Cui Kong dan membuat orang ini berdebar jantungnya.

Melihat sikap tenang dan dingin dari mertuanya ini, diam-diam ia gentar juga.

"Liok Kong Ji, biarpun jalan hidup antara kita jauh berbeda, akan tetapi tidak pernah ada persoalan antara kita sampai kau menyuruh orang mencuri kitab dari tangan anakku kemudian??."

Mata Lie Kong melirik ke arah Cui Kong penuh kebencian.

"kemudian kau membiarkan anakmu menipu kami, malah kau membantunya. Liok Kong Ji, setelah dosa dan penghinaan yang kaulakukan atas diri kami, masihkah kau harus berpura-pura berramah-tamah dan sopan-santun?"

Kata-kata yang keluar dari mulut Lie Kong tetap dilakukan dengan tenang, akan tetapi seluruh perasaan dan urat di tubuh pendekar ini sudah siap untuk segera turun tangan.

Juga Liok Kong Ji bersikap tenang begitu pula Cun Gi Tosu.

Hanya Cui Kong yang tampak makin gelisah saja.

Kong Ji tersenyum mendengar ucapan Lie Kong tadi, lalu menjawab.

"Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, dua urusan yang kausebut-sebut itu adalah urusan anak-anak, sama sekali tidak ada sangkut-paut dengan hubungan antara kau dan aku. Memang, betul kitab yang kaudapat dari Omei-San itu pernah diambil oleh puteri angkatku. Maklumlah anak-anak selalu ingin memiliki barang aneh orang lain, jangankan anak-anak, bahkan calon kakek-kakek macam kitapun masih ingin memiliki kitab kitab Omei-san, ha-ha! Akan tetapi harap kaumaafkan dua orang puteri angkatku itu karena mereka sudah meninggal dunia dalam usia muda. sayang. Adapun tentang soal ke dua. Bagaimana kau menganggap itu penghinaan? Itupun urusan anak-anak urusan anakmu dan putera angkatku. Sudah lumrah dua orang muda saling mencinta kita orang orang tua mana bisa ikut-ikutan. Puterimu suka menjadi isteri puteraku yang mencintainya. Sekarang mereka sudah menjadi suami isteri yang hidup bahagia di sini, apa lagi urusannya?"

Sebagai jawaban, tiba-tiba Lie Kong mencabut pedangnya, diturut oleh isterinya.

Dua ekor burung rajawali kepala putih mengeluarkan bunyi keras menantang ketika melihat majikan-majikan mereka telah siap dengan pedang di tangan.

Dua ekor burung ini siap-siap membantu Lie Kong.

"Liok-Kong Ji, tak perlu kau memutar lidah. Siapa sudi mendengar omongan orang yang terkenal curang dan licik seperti kau?"

Bentak Lie Kong.

"Lie Kong, kau man apakah?"

Liok Kong habis sabarnya melihat tamu-tamunya mencabut pedang.

"Aku datang untuk mengajak pulang puteri kami dan menyeret anjing biadab ini!"

Dengan pedangnya Lie Kong menuding ke arah Cui Kong yang menjadi pucat dan orang muda ini tanpa terasa lagi melangkahkan kaki berdiri di belakang ayah angkatnya.

"Oho-ho, mudah amat kau bieara!"

Liok Kong Ji mengejek.

"Puterimu itu sudah menjadi isteri anakku. Orang pertama yang berhak adalah Cui Kong, orang kedua adalah aku sendiri karena aku ayah mertuanya. Dengar jawabanku, Lie Kong. Ceng Ceng tIdak bisa kaubawa dan tentang ancamanmu kepada puteraku, hemm, aku sabagai ayahnya tentu takkan berpeluk tangan kalau kau hendak mengganggunya."

"Bagus! Memang sudah lama aku menahan-nahan dorongan hati yang hendak memberi hajaran kepada manusia iblis Liok Kong Ji. Majulah, mari kita bertempur seribu jurus untuk inenentukan siapa yang lebih unggul."

Lie Kong menantang.

"Ha-ha, kaukira mudah saja mengadu ilmu kepandaian dengan aku? Orang yang tidak memiliki kepandaian berarti mana ada harga untuk bertanding dengan aku atau Cun Gi Totiang?"

Liok Kong Ji memberi isyarat dan majulah Lam-thian-chit-ong.

Dengan gerak cepat dan indah mereka telah membentuk barisan bintang menghadang di depan Lie Kong dan Souw Cui Eng.

Melihat tujuh orang berpakaian tujuh warna dan bentuk barisan mereka, Lie Kong tersenyum mengejek.

"Eh, kiranya Lam thian chit-ong sekarang juga sudah menjadi begundal manusia iblis she Liok!"

Si baju merah mewakili saudara-saudaranya menjawab.

"Sudah lama kami mendengar nama besar Pek thouw tiauw ong suami isteri. Kini bertemu ternyata yang besar adalah mulutnya, tidak tahu sampai di mana kepandaiannya atau tidak sebesar mulutnya, benar-benar amat menggelikan!"

Enam orang yang lain tertawa mengejek.

Merah muka Lie Kong mendengar hinaan ini.

Ia memberi isyarat kepada isterinya dan suami isteri ini melangkah maju berdampingan dengan pedang di tangan, sikap mereka tenang akan tetapi gagah sekali.

Adapun Lam-thian-chit-ong juga sudah bergerak membentuk lingkaran barisan bintang mengurung dua orang lawan itu.

Mereka berlaku amat hati-hati dan sudah mempersiapkan senjata mereka yang lengkap, yaitu di tangan kiri sebuah pisau pendek dan di tangan kanan cambuk berwarna yang amat lihai.

Mereka mulai bergerak, berjalan perlahan mengitari dua orang itu.

Inilah pembukaan Chit-san-tin (Barisan Tujuh Bintang) dan gerakan berjalan mengelilingi lawan ini disebut Tujuh Bintang Mengitari Bulan.

Lie Kong mombisiki isierinya snows ma.

berdiri saling membelakangi, dengan eara ini suami Wert Ira dapat siding molls.

ungi serangan lawan dart belakang.

Melihat kedudukan suami isteri ini yang bersikap tenang dan masih menanti gerakan barisan yang masih berlarian mengitari mereka, tujub orang itu mempercepat larinya dan tiba-tiba si baju merah memberi tanda, cambuknya menyambar melakukan serangan pertama, disusul oleh saudara-saudaranya.

Namun Lie Kong dan Souw Cui Eng sudah siap dengan pedang mereka dan cepat ia menangkis sambil mengerahkan tenaga.

Cambuk yang ditangkis oleh Suuw Cui Eng terpental saja, akan tetapi yang terkena tangkisan pedang Lie Kong, merasa telapak tangan mereka sakit dan tergetar!

Tujuh orang itu masih melanjutkan serangan mereka dengan cara bergantian sambil bergerak memutar sehingga sepasang suami isteri merasa ada serangan dari sekeliling mereka juga cambuk-cambuk yang beraneka warna itu mendatangkan sinar menyilaukan dan membingungkan.

Namun Lie Kong cepat sekali gerakan pedangnya.

Pedang di tangannya mematahkan serangan lima orang lawan sehingga isteri yang tingkat kepandaiannya jauh lebih rendah dari padanya hanya melayani dua batang dambuk lawan.

Di samping semua serangan ini sinar pedang suami isteri ini masih mampu melakukan serangan balasan yang membuat para lawannya terkejut.

Mereka bergerak memutar lebih cepat lagi sehingga Lie Kong maupun isterinya tidak mampu melakukan desakan pada seorang saja, melainkan harus melayani tujuh orang secara bergiliran.

Terpaksa Lie Kong dan Sauw Cui Eng memutar pedang melindungi diri sehingga pedang mereka berubah menjadi dua gulung sinar pedang saling melindungi dan merupakan benteng baja yang amat rapat.

Untuk sementara, tujuh orang itu tak dapat mendesak jago pantai timur dengan isterinya ini.

Si baju merah memberi tanda lagi dan segera serangan dihentikan.

Kini mereka berlari memutar dari kiri ke kanan, demikian cepat gerakan mereka sehingga kelihatan bayangan indah beraneka warna sambung -menyambung bagaikan pelangi melingkungi dua orang itu.

Ini masih disambung dengan cambuk tujuh warna yang digerak-gerakkan dalam berlari sehingga pemandangan itu benar-benar indah menakjubkan.

Untuk sejenak Lie Kong dan isterinya tidak tahu apa makaudnya tujuh orang lawan yang hanya berlari-larian ini, akan tetapi lama kelamaan mata mereka menjadi silau dan kepala mereka pening.

Memang maksud tujuh orang itu adalah untuk membikin dua orang lawannya pening.

Siapa yang berada di dalam lingkungan "pelangi"

Ini mau tidak mau harus menggunakan mata memandang penuh perhatian agar jangan diserang secara gelap oleh lawan.

Karenanya mata menjadi pedas dan kepala menjadi pening menghadapi aneka warna yang bergerak memutari secara cepat itu.

Untuk mengalihkan pandangan mata agar jangan silau adalah tak mungkin karena ini berarti membuka bahaya bagi mereka sendiri.

Lie Kong adalah seorang pendekar yang banyak pengalamannya bertempur.

Biarpun belum pernah ia menghadapi barisan sehebat ini sebagai lawan, namun taktik pertempurannya sudah amat masak dan sebentar saja memutar otak ia dapat menemukan cara untuk melawan aksi musuh ini.

"Ikuti aku lari!"

Katanya kepada isterinya yang sudah mulai pedas matanya dan tiba-tiba Lie Kong juga membuat gerakan berlari memutar, tidak dari kiri ke kanan melainkan sebaliknya, dari kanan ke kiri!

Souw Cui Eng dengan taat mengikuti suaminya yang ia percaya penuh, tetap waspada dan siap dengan pedangnya.

Pemandangan menjadi makin indah dan aneh.

Sekarang ada dua lingkaran yang bergerak berlawanan, yang luar dengan aneka macam berputar ke kanan, yang sebelah dalam bergerak dari kanan ke kiri Dengan pergerakan ini Lie Kong dapat membuyarkan pemandangan yang menyilaukan mata dan pedangnya mulai menyambar-nyamber menyerang apabila terdapat kesempatan dalam berlari berpapasan dengan lawan-lawan itu.

Gerakan tujuh orang itu menjadi kacau dan si baju merah kembali mengeluarkan aba-aba, segera mereka berhenti berlari dan dengan teratur sekali barisan itu berubah menjadi barisan Liong-sang (Bintang Naga) Si baju merah menjadi kepala, baju hitam dan putih di kanan kirinya manjadi sepasang cakar, baju hijau menjadi perut, baju kuning dan baju biru menjadi kaki belakang.

sedangkan baju coklat menjadi buntut.

Bergeraklah barisan Bintang Naga ini menyerang, cambuk dan pisau bergerak dengan teratur sekali.

Lie Kong tertawa mengejek.

Bersama isterinya ia menyambut serangan ini dan dalam gebrakan pertama saja hampir-kampir pundak si baju putih terbabat pedang Lie Kong.

Akan tetapi tiba-tiba barisan itu bergerak dan tahu-tahu?naga"

Ini sudah menggerakkan buntutnya secara melingkar sehingga dua kaki belakang dan buntut yang terdiri dari tiga orang itu secara tidak terduga telah menyerang dari belakang Lie Kong dan isterinya.

Kembali suami isteri ini terkurung dan kini kurungan tidak seperti tadi, melainkan berubah-ubah.

Kedang-kadang bagian kepala Bintang Naga itu yang menyerang dan buntutnya hanya melindungi kepala.

dan demikian sebaliknya.

Perut naga atau si baju hijau itu sewaktu-waktu melakukan sarangan mendadak dengan menyambitkan pisau pendek sebagai senjata rahsia, dan agaknya mereka ini memang mempunyai bekal banyak sekali pilau-pisau pendek.

Lebih dari dua puluh jurus Lie Kong dan isterinya terdesak dan mereka ini hanya mampu mempertahankan diri, karena jika sewaktu-waktu mereka hendak melakukan serangan balasan, tentu muncul serangan yang tak terduga-duga dari fihak lawan.

Baiknya ilmu pedang Lie Kong memang hebat luar biasa, maka biarpun amat terdesak, ia dan isterinya masih mampu membuat benteng pertahanan yang tak mudah dibobolkan.

"Kau jaga buntutnya, biar aku kepalanya!"

Tiba-tiba Lie Kong yang sudah mendapat akal lagi berseru kenapa isterinya.

Kini mereka melawan dengan teratur.

Keadaan mereka berimbang karena kalau Souw Cui Eng agak terdesak oleh serangan bagian buntut yang terdiri dari tiga orang itu adalah Lie Kong dapat menindih bagian kepala dan perutnya.

Dalam jurus ke tujuh, terdengar suara nyaring dan dua pisau pendek terpental, lepas dari tangan si baju merah dan baju hitam!

Si baju merah mengeluarkan aba-aba sambil melompat ke belakang dan meringis, karena telapak tangan yang memegang pisau tadi sakit.

Secepat kilat barisan Liong-sang itu telah berubah lagi, kini berbentuk Bintang Sisir, merupakan setengah Iingkaran yang mengurung dari depan.

Serentak tujuh orang mengirim serangan dengan pisau pendek yang disambitkan ke arah suami isteri perkasa itu!

Lie Kong dan Cui Eng tidak menjadi gentar.

Putaran pedang mereka meruntuhkan semua pisau pendek yang menyambar seakan-akan burung-burung kecil terpukul kitiran angin besar.

Akan tetapi segera barisan bergerak maju, lima orang menyerang dengan cambuk.

yang dua tetap mengirim sambitan pisau pendek.

Dua orang penyambit ini berganti-ganti, kedudukan mereka amat teratur dan menyulitkan kedudukan lawan.

Diam-diam Lie Kong memuji.

Memang Lam-thian-chit-ong telah menciptakan Chit-seng-tin yang luar biasa kuatnya.

Tahu bahwa kalau dilanjutkan, fihaknya, terutama isterinya akan menghadapi bahaya, Lie Kong cepat mengeluarkan suara bersuit panjang.

Inilah tanda rahasia bagi dua ekor pek-thouw-tiauw untuk bergerak maju.

Dua ekor burung yang amat setia itu tadinya hanya terbang berputarao di atas saja, bingung melihat cara Chit-seng-tin bergerak, tidak tahu harus berbuat apa, lagi pula, belum ada tanda dari majikan mereka untuk bergerak maka mereka hanya cecowetan dan beterbangan di atas, tidak berani sembarangan bergerak.

Kini mendengar suitan Lie Kong, dua ekor burung rajawali raksasa itu mengeluarkan pekik menantang dan dua tubuh yang besar ini menukik dan menyambar ke bawah dengan kecepatan luar biasa.

Begitu dua ekor rajawali ini menggebrak dengan sayap yang besar, kuat dan paruh yang mengerikan, terdengar teriakan-teriakan kaget.

Dua orang anggauta Chit-seng-tin telah kehilangan cambuknya, terampas oleh dua ekor burung itu!

Kedudukan barisan menjadi kacau-balau dan rusak.

Lie Kong tidak menyia-nyiakan waktu baik ini, pedangnya bekerja cepat sekali dan si baju putih berteriak kesakitan, pundaknya tergores pedang dan cambuknya terampas.

Juga si baju coklat yang kurang hati-hati saking kaget melihat datangnya dua ekor rajawali ini, terluka lengannya dan cambuknyn juga terlepas dari pegangan ketika Souw Cui Eag menyerangnya dengan hebat.

Sudah dapat diperhitungkan bahwa sebentar lagi tentu tujuh orang Lam-thian-chit-ong itu akan menderita kekalahan mutlak karena mereka kini sudah kacau-balau bergerak melindungi tubuhnya sendiri sendiri, tidak merupakan barisan teratur lagi!

Kong Ji melihat hal ini dengan hati khawatir.

Tujuh orang itu merupakan pembantu-pembantunya yang boleh diandalkan.

Kalau sekarang dibiarkan tewas oleh Lie Kong, ia yang akan merasa rugi sekali.

Ia memberi isyarat kepada Cun Gi Tosu dan Cui Kong kemudian ia sendiri meloncat maju dan membentak.

"Orang. she Lie. jangan menjual lagak di sini!"

Kong Ji merendahkan diri hampir jongkok, mengumpulkan tenaga sambil menanti datangnya dua ekor pek thouw tiauw yang menyambar lagi.

Melihat sikap Kong Ji itu, Lie Kong yang bermata awas dapat duga niat musuhnya ini, akan tetapi sendiri sedang menghadapi serangan Cun Gi Tosu sehingga ia hanya bisa berseru.

"Tiauw-ji, jangan dekat!"

Akan tetapi terlambat.

Sepasang burung sudah menyambar turun.

Burung-burung ini setia sekali dan mereka mulai mengamuk membela majikan mereka, tidak tahu bahwa Kong Ji sudab siap mengumpulkan tenaga lweekang.

Ketika sepasang burung ini sudah menyambar dekat,.

Kong Ji memukulkan kedua lengannya dengan gerakan Tin-san-kang yang luar biasa hebatnya.

"Blekk!"

Tubuh dua ekor burung itu terpental ke atas, bulu-bulu mereka berhamburan dan dua ekor binatang itu terbanting ke bawah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Mereka telah menjedi korban pukulan Tin-san-kang yang dahsyat dan semua isi perut telah hancur lebur oleh pukulan ini!

"Liok Kong Ji manusia jahanaml"

Lie Kong berseru keras sekali melihat dua ekor binatang kesayangannya tewas.

Pedangnya diputar cepat dalam usahanya hendak menggempur Kong Ji, akan tetapi tongkat kakek buntung itu amat kuatnya menghadang dan menyerangnya.

Ketika dua buah senjata bertemu, kedua tokoh ini terdorong ke belakang, tanda bahwa tingkat tenaga lweekang mereka memang tidak jauh selisihnya.

Lie Kong terkejut, tidak mengira bahwa kakek buntung ini demikian lihai, maka ia pusatkan perhatiannya dan menghadapi Cun Gi Tosu.

Segera pertempuran seru terjadi, di mana fihak Lie Kong dan isterinya terdesak hebat karena tujuh orang Lam-thian-chit ong dan Cui Kong juga sudah membantu.

"Manusia iblis, kau harus mampus!"

Bentak Souw Cui Eng.

marah sekali melihat?anak mantunya?

yang manis itu.

Pedang nyonya ini berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyambar ke arah Cui Kong.

Akan tetapi orang muda yang tak tahu malu ini sudah siap, menangkis dengan senjatanya yang istimewa, yaitu lengan tangan kering.

Tahu bahwa ia menghadapi lawan tangguh, Cui Kong juga mengeluarkan huncwe mautnya dan melawan "ibu mertuanya"

Dengan senjatanya ini.

Karena Cui Kong sibantu oleh sebagian dari Lam-thian-chit-ong, maka sebentar saja Souw Cul Eng terdesak hebat.

Pertempuran ini betapapun juga membuat muka Kong Ji menjadi merah saking jengah dan malu.

Ia tahu bahwa benar-benar akan memalukan sekali apa bila terdengar oleh orang-orang kang-ouw bahwa dia telah mengeroyok dua orang besannya.

Melihat kenekatan suami isteri yang gagah perkasra itu, ia menjadi tidak sabar.

Pertempuran yang memalukan fihaknya ini harus segera diselesaikan, pikirnya.

Diam-diam ia menyiapkan Hek-tok ciam di tangannya Kepandaian istimewa dari Kong Ji memang banyak macamnya.

Selain ilmu pedangnya yang kini bertambah tinggi saja setelah ia mempelajari kitab-kitab Omei-san yang dicuri dan dirampasnya juga ia memiIiki Ilmu Pukulan Tin-san-kang yang amat lihai seperti yang telah ia perlihatkan ketika ia sekali pukul menewaskan dua ekor burung pek-thouw-tiauw tadi.

Di samping itu, ia masih memiliki Ilmu Pukulan Hek-tok ciang (Pukulan Tangan Racun Hitam) dan jarum-jarumnya yang disebut hek-tok-ciam adalah jarum-jarum beracun yang amat berbahaya.

Tiba-tiba terdengar jeritan menyayat hati dan Ceng Ceng berlari-lari ke luar dengan rambut riap-riapan.

Nyonya muda ini tadi sedang mencuci rambutnya ketika ia mendengar berita bahwa di luar terjadi pertempuran hebat.

Tempat pertempuran memang jauh darI tempat tinggalnya.

maka ia segera membawa pedang dan berlari ke luar ketika mendengar dari penjaga bahwa musuh yang datang menyerang diikuti oleh dua ekor burung rajawali.

Mukanya pucat sekali, jantungnya hampir meledak dan rambutnya riap-riapan ketika ia berlari menuju ke arah pertempuran.

Melihat bahwa betul-betul ayah bundanya yang dikeyok hebat dan hampir kalah itu, ia mengeluarkan jerit dan menyerbu.

Tentu saja ia menyerbu dan menyerang Cui Kong, suaminya yang sedang bertanding mengeroyok ibunya.

"Manusia berhati binatang! Kau berani mengeroyok ibuku?"

Bentak Ceng Ceng, pedangnya dengan hebat mengamuk dan menyerang Cui Kong.

Cui Kong menjadi kaget dan bingung sekali.

Ia memang betul-betul sayang kepada isterinya ini, dan menghadapi serangan Ceng Ceng ia hanya main mundur dan menangkis.

"Niocu, mereka yang mendesak, bukan kami........"

Ia mencoba membela diri.

Sementara itu, ketika Souw Cui Eng dan Lie Kong melihat munculnya Ceng Ceng dengan rambut riap riapan dan melihat puteri mereka itu datang-datang membantu mereka dan menyerang Cui Kong, hati ayah dan ibu ini menjadi girang.

Bagaimanapun juga pernikahan antara anak mereka dan Cui Kong adalah suatu kesalahan yang tidak disengaja oleh Ceng Ceng, karena Cui Kong menggunakan bujukan palsu.

Puteri mereka masih tetap seorang gagah dan baik.

"Ceng-ji.......... dari pada kau menjadi isteri manusia iblis ini, lebih baik kita melawan mati-matian"

Teriak Souw Cui Eng dengan air mata bercucuran saking terharu.

"Ceng-ji, kita telah ditipu oleh jahanam Cui Kong, mari kita bikin pembalasan!"

Teriak ayahnya.

Mendengar ini, hati Ceng Ceng makin panas.

Ia memang sudah merasa terjeblos dalam perangkap yang dipasang oleh Cui Kong dengan umpan wajah tampan, sikap halus dan kepandaian tinggi.

Tadinya ia masih terhibur, karena pandainya Cui Kong bicara.

Akan tetapi melihat betapa ayah bundanya dikeroyok, dan kini melihat sepasang burung rajawaii tewas dan mendengar kata-kata ayah bundanya, kemarahan dan sakit hatinya meluap-luap.

Ia menyerang Cui Kong makin nekat lagi.

mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

"Niocu, jangan..... niocu, jangan......!"

Cui Kong mengeluh sambil mudur terus.

Karena ia tidak mambalas dan karena kemarahan membuat Ceng Ceng menjadi ganas, pundaknya terserempet ujung pedang dan mengeluarkan darah.

Pada saat itu menyambar sinar-sinar hitam ke arah dada dan tenggorokan Ceng Ceng.

Nyonya muda ini menjerit dan roboh, tewas di saat itu juga.

Sebatang Hek-tok ciam menancap di tenggorokan dan sebatang lagi di dada.

"Niocu......!"

Cui Kong menubruk dan memeluk mayat isterinya, sedih sekali akan tapi tak dapat marah karena yang membunuh isterinya adalah Liok Kong Ji.

Kong Ji tadi sudah menyiapkan Hek-tok ciam.

Melihat sikap Ceng Ceng, ia maklum bahwa kalau mantunya itu tidak dibunuh, kelak tentu selalu akan menimbulkan keributan.

Setelah menyambitkan Hek-tok ciam ke arah Ceng Cen iapun mempergunakan kesempatan selagi Lie Kong dan Souw Cui Eng terkejut melihat puteri mereka roboh, cepat Kong Ji membidik dan menyambitkan enam buah Hek-tok-ciam dengan kedua tangannya.

Dua batang menyambar Cui Eng, yang empat batang menyambar Lie Kong.

Cut Eng tak dapat mengelak, sebatang Hek tok ciam menancap di lambungnya.

Nyonya ini menjerit, limbung akan tetapi masih sempat melompat ke dekat Cui Kong dan menusuk orang muda itu dengan pedangnya.

Cui Kong mendengar sambaran angin mengelak ke samping, melepaskan tubuh isterinya.

Souw Cui Eng menubruk dan memeluk mayat puterinya, terguling dan roboh tewas dengan memeluk Ceng Ceng!

Lie Kong lebih lihai.

Dengan pedangnya ia berhasil menangkis empat batang Jarum Racun Hitam itu, akan tetapi biarpun berhasil menyelamatkan diri dari ancaman empat jarum hek-tok-ciam, saat itu tongkat Lo-thian-tung Sun Gi Tosu sudah menyambar.

Ilmu tongkat tosu ini hebat sekali dan tadipun dengan susah payah Lie Kong dapat melawan.

Sekarang dalam keadaan terdesak oleh serangan jarum-jarum berbahaya, ia kurang dapat mempertahankan diri.

Ia masih mencoba untuk mengelak, akan tetapi sambaran ke dua mengenai kepalanya.

"Tak!"

Tongkat terpental, seakan-akan mengenai besi.

Kepala Lie Kong kelihatan tidak apa-apa, akan tetapi jago pantai timur ini terhuyung-huyung.

Dengan mata melotot ia masih dapat melontarkan pedangnya yang meluncur cepat seperti pedang terbang ke arah Liok Kong Ji, akan tetapi sekali mengebutkan lengan baju pedang itu tergulung lengan baju dan jatuh ke bawah.

Lie Kong terhuyung dan roboh tak berkutik.

Napasnya putus setelah melontarkan pedang.

Biarpun kepalanya dari luar tidak kelihatan luka, akan tetapi sebelah dalam sudah tergoncang hebat pukulan tongkat yang mengandung tenaga lweekang itu.

Habislah riwayat Pek-thouw-tiauw ong Lie Kong dengan isteri dan anaknya!

Sungguh amat sayang dan menyedihkan kematian keluarga ini dibasmi oleh Liok Kong Ji dan kaki tangannya.

"Bibi.........! Bibi........! Siapa yang membunuh bibi....... ah, bibi jangan.......... tinggalkan Leng Leng.....!"

Bocah perempuan berusia lima tahun itu datang berlari-lari menubruk mayat Ceng Ceng. Akan tetapi sekali tangkap Liok Kong Ji mencegahnya.

"Jangan pegang!"

Bentaknya. Ia merasa sebal sekali melihat bocah yang semenjak kecil dipelihara dengan kasih sayang itu sekarang berbalik mencurahkan kasih sayang kepada pihak lawan.

"Bibi?...!"

Leng Leng menangis dan meronta dalam pegangan Kong Ji.

"Manusia jahat mana yang membunuhmu........? Akan kupukul kepalanya!"

"Anak setan!"

Kong Ji menggerakkan tangan dan tubuh Leng Leng terlempar sampai empat tombak lebih jatuh terguling-guling dan anak itu menangis kesakitan.

"Leng Leng, kau pulanglah, jangan turut campur urusan orang tua!"

Can Gi Tosu membentak bocah itu. Akan tetapi Leng Leng tetap berdiri di situ, memandang ke arah mayat Ceng Ceng sambil menangis terisak-isak.

"Totiang, bocah ini kelak tentu akan menimbulkan bencana saja. Pohon buruk lebih baik dicabut selagi masih kecil,? kata Liok Kong Ji, mengerutkan kening. Ia memang jengkel dan sebal melihat Cui Kong masih menangisi kematian isterinya.

"Taihiap, dia masih kecil. Kalau dididik sepatutnya, kelak dapat menjunjung tinggi nama kita,"

Bantah Cun Gi Tosu yang masih merasa sayang kepada bocah itu.

Sebetulnya kesayangan ini bukan merupakan sebab utama mengapa ia hendak melindungi Leng Leng.

Yang utama sekali, ia diam diam menganggap Leng-Leng sebagai jimat pelindungnya.

Tosu kaki buntung ini sebetulnya merasa gentar juga terhadap Sin Hong dan kalau Leng Leng masih berada di tangannya.

Sin Hong tentu takkan berani mengganggunya.

Kalau keadaan mendesak, ia dapat menukarkan nyawanya dengan anak ini kelak.

Liok Kong Ji merasa tidak baik pada saat seperti itu meributkan hal bocah kecil.

"Hemm, harus mulai sekarang dipimpin baik-baik,"

Katanya, dan dengan langkah lebar ia menghampiri Leng Leng.

"Leng-ji, jangan menangis. Bibimu itu jahat, hendak membunuh kita, maka dia harus mati. Kalau tidak dibunuh dia tentu membunuh kita semua. kaupun akan dibunuhnya."

"Tidak, tidak bisa! Bibi tidak jahat!"

Bantah Leng Leng dengan berani. Kong Ji mengerutkan kening.

"Bocah tolol! Kau tidak menurut kata orang tua? Dia jahat! Hayo kau bilang bibimu itu jahat!"

"Tidak!"

Leng Leng berkukuh sambil menggeleng geleng kepala dan membanting-banting kakinya yang kecil.

"Bibi tidak jahat!"

"Plak"

Kong Ji menampar pipi bocah cilik itu sehingga tubuh Leng Leng tergelimpang.

Akan tetapi anak itu merayap bangun.

Pipi kirinya bengkak.

Namun tanpa memperdulikan rasa sakit pada pipinya ia memandang Kong Ji tanpa kenal takut.

"Bilang dia jahat!"

Bentak Kong Ji makin marah.

"Tidak, tidak! Bibi tidak jahat!"

Leng Leng tetap menggeleng kepala. (Lanjut ke

Jilid 30) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 30

"Plakk!"

Kembali tubuh kecil itu terpelanting.

Kini agak sukar Leng Leng merayap bangun dan pipi kanannya juga bengkak, kepalanya serasa berputar putar.

Anehnya, bocah ini tadi menangisi kematian Ceng Ceng.

Sekarang dipukul sampai bengkak-bengkak mukanya ia tidak mau menangis, malah memandang kepada Kong Ji dengan mata bersinar marah.

Kong Ji sudah melangkah maju, akan tetapi melihat sepasang mata bocah itu, ia bergidik teringat ia akan sepasang mata Sin Hong dan menahan tangannya yang sudah diangkat hendak memukul.

Sementara itu Cun Gi Tosu yang khawatir kalau-kalau Kong Ji membunuh bocah itu, sudah mendekati dan memondong Leng Leng sambil berkata.

"Leng Leng, kau tidak boleh melawan. Harus menurut kata-kata orang tua."

Kemudian kakek buntung ini menjura kepada Liok Kong Ji.

"Harap Liok-taihiap bersabar. Serahkan saja pendidikan bocah ini kepada pinto."

Setelah berkata demikian, Cun Gi Tosu melompat-lompat dengan kakinya yang tinggal sebuah itu, pergi dari situ.

Juga Kong Ji pulang ke rumahnya dengan hati mengkal, baiknya selir-selirnya yang cantik-cantik dan muda menyambut dan menghiburnya dengan sikap dan kata-kata manis sehingga tak lama kemudian Liok Kong Ji sudah tidur mendengkur di kamarnya, dipijit dan dikipasi oleh selir-selirnya.

Sementara itu, dengan hati sedih Cui Kong mengurus pemakaman Ceng Ceng dan jenazah Lie Kong dan isterinya serta bangkai dua ekor burung itu diurus baik-baik dan dimakamkan.

Pekerjaan ini dibantu oleh Lam-thian-chit-ong dan para anak buah.

Tanpa mengenal lelah, Tiang Bu melaksanakan perjalanan ke selatan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tiang Bu yang mengobrak-abrikt Ui tiok-lim hanya berhasil membasmi Ui tiok-lim dan menewaskan kaki tangan Liok Kong Ji, akan tetapi Liok Kong Ji sendiri bersama Liok Cui Kong dapat melarikan diri.

Ketika berjumpa dengan Lai Fei puteri penebang kayu yang lihai itu menrengur bahwa ayah Fei Lan terbunuh oleh Lo-thian tung Cun Gi Tosu dan dari gadis ini ia mendengar bahwa kakek buntung itu pergi ke laut selatan.

Tentu Kong Ji dan Cui Kong juga ke sana, pikir Tiang Bu.

Kakek buntung itu seorang sahabat baik dan komplotan Kong Ji kalau dua orang keparat itu hendak bersembunyi, tentu tempat kakek buntung itu yang paling aman.

Oleh katena sangkaan inilah tanpa mengenal letih Tiang Bu menuju ke selatan.

Pada suatu senja ia memasuki sebuah dusun.

Saatet itu keadaan sunyi sekali dan yang kelihatan hanya beberapa orang petani sedang pulang memanggul pacul, ada yang menggiring kerbau.

Ketika pemuda ini tengah berjalan memasuki dusun, ia melihat berkelebatnya dua bayangan orang di sebelah depan.

Tahu bahwa dua orang itu tentu ahli-ahli silat yang mempergunakan ilmu lari cepat, Tiang Bu tertarik dan iapun lalu menggunakan ginkangnya, meloncat dan berlari mengejar.

Ilmu lari cepat dua orang itu ternyata hebat juga.

Sebentar saja mereka sudah keluar dari dusun.

Tiang Bu makin tertarik dan terus mengejar sampai tiba di sebuah hutan.

Dua orang itu lenyap di dalam hutan.

Tiang Bu penasaran dan mempercepat larinya.

Sebentar saja ia sudah memasuki hutan itu dan melihat seorang wanita setengah tua namun masih cantik sekali sedang duduk bersila di bawah sebatang pohon besar.

Kaget hati Tiang Bu ketika mengenal wanita ini.

Andaikata ia lupa lagi akan wajah wanita ini, ia takkan melupakan sepasang tangan yang kecil mungil akan tetapi berwarna merah itu.

Ang-jiu Mo-li Si Iblis Wanita Tangan Merah!

Akan tetapi di samping kekagetannya, ia juga menjadi girang oleh karena ia teringat bahwa wanita ini dahulu juga membawa lari sebuah kitab dari Omei-san.

Sementara itu, Ang jiu Mo Li sudah memandang kepadanya dan bertanya, suara nyaring galak.

"Orang muda, sejak tadi kau mengejarku, kau mau apakah?"

Tiang Bu memang biasa jujur dan sederhana dalam kata-katanya.

Melihat sikap wanita tengah tua ini dan tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang tokoh besar di dunia kang-ouw, ia segera menjura dan menjawab.

"Tadi di luar dusun aku melihat dua orang berlari-lari. Karena tertarik maka aku segera mengejar sampai ke sini. Tidak tahunya orang di antaranya adalah locianpwe, sungguh kebetulan sekali karena memang aku masih mempunyai sebuah urusan untuk dibereskan dengan locianpwe."

Ang-jiu Mo-li mengangkat muka memandang tajam.

Bocah seperti ini mempunyai urusan dengan dia?

"Eh, orang muda.

Kau ini siapakah?

Jangan kau lancang membuka mulut.

Orang seperti kau ini ada urusan apakah dengan aku?"

Tiang Bu tersenyum, maklum bahwa orang dengan tingkat setinggi Ang-jiu Mo-li tentu saja bersikap tinggi dan sombong terhadap seorang pemuda biasa seperti dia.

Akan tetapi biarpun ia mendongkol, pemuda ini masih mengingat bahwa Ang-jiu Mo li adalah guru Bi Li, maka ia tetap bersikap hormat.

"Tentu saja locianpwe lupa lagi kepadaku. Akan tetapi pernah satu kali kita saling bertemu di Omei-san."

Ang-jiu Mo li memandang lagi penuh perhatian ke arah wajah yang tidak tampan namun membayangkan kegagahan dan kejujuran itu.

Tiba-tiba ia teringat akan bocah murid dua orang kakek Omei-san yang dulu pernah bertempur melawan Toat-beng Kui bo.

Terkejutlah Ang-jiu Mo li dan ia serentak melompat berdiri.

Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda yang mengejarnya tadi ini adalah bocah murrid Omei-san itu.

"Hemm, kaukah ini? Sekarang katakan apa urusan itu,"

Tanya Ang jiu Mo-li, hatinya mulai terasa tidak nyaman.

"Sebelum suhuku menghembuskan nafas terakhir, beliau meninggalkan pesan kepadaku agar supaya aku pergi mencari kitab-kitab Omei-san yang dilarikan orang dan mengambilnya kembali. Oleh karena cianpwe termasuk orang di antara mereka yang membawa pergi kitab Omei-san, kalau tidak salah kitab pelajaran Ilmu Silat Kwan-im cam-mo, maka bukankah pertemuan ini kebetulan sekali? Kuharap saja cianpwe sudah merasa cukup puas meminjam kitab itu selama bertahun-tahun dan sudi mengembalikannya kepadaku."

Ang-jiu Mo-li tersenyum mengejek. Alangkah besarnya nyali pemuda ini. pikirnya. berani minta kembali kitab begitu saja! "Orang muda bernyali naga, siapakah namamu?"

"Namaku Tiang Bu""

Ang-jiu Mo-li hilang senyumnya, nampak tercengang.

"Aha, kaukah yang bernama Tiang Bu? Kau anak keluarga Coa di Kim bun-to?"

Kini Tiang Bu yang tercengang.

Bagaimana wanita sakti ini dapat tahu akan hal ini?

Padahal ia tidak pernah bercerita kepada siapapun juga, kecuali kepada Bi Li, tentu.

Apakah Bi Li pernah bercerita kepada gurunya ini?

Akan tetapi belum lama ia berkumpul dengan Bi Li dan baru saja berpisah, apa Bi Li sudah berjumpa dengan Ang jiu Mo-li semenjak buntung lengannya?

Betapapun juga, pertanyaan itu harus dijawabnya.

"Aku hanya.......... anak angkat mereka..."

"Bagus sekali permintaanmu! Kau betul-betul hendak merampas kembali kitab Kwan-im-cam-mo itu dari tanganku? Lihat, memang kitab ini masih kubawa. Kau mau merampasnya?"

Ang-jiu Mo-li mengeluarkan sebuah kitab dari saku bajunya.

"Mana berani aku berlaku kurang ajar? Aku hanya mengharapkan kebijaksanaan untuk mengembalikan barang orang lain."

"Betul-betul kau hendak minta kembali?"

"Aku adalah seorang murid yang harus mentaati pesan suhu sampai di manapun juga."

"Kitab-kitab Omei-san terjatuh ke dalam tangan orang-orang pandai yang sama sekali bukan lawanmu. Amat berbahaya kalau kau menghendaki semua orang itu mengembalikan kitab. Mengapa kau bersusah payah, toh gurumu sudah meninggal dunia? Kalau kau tidak memenuhi pesan gurumu yang sudah tidak ada lagi itu, tidak ada orang tahu."

Tiang Bu mengerutkan alisnya yang tebal.

"Kali ini cianpwe khilaf! Cianpwe menyatakan tidak ada orang tahu, bukankah aku sendiri dan cianpwe mengetahui kalau aku menjadi murid tidak setia? Apakah cianpwe dan aku bukan orang? Biarpun aku akan menghadapi orang orang sakti dan akhirnya aku harus berkorban nyawa, tetap aku akan memenuhi pesan suhu."

Diam-diam Ang-jiu Mo-li makin kagum kepada pemuda yang setia dan berbakti ini. Tadipun ia hanya menguji hati Tiang Bu.

"Betul-betul kau akan memaksaku menyerahkan kitab ini?"

"Kalau cianpwe tidak suka mengembalikan dengan suka rela, terpaksa aku yang muda akan berlaku kurang ajar dan mencoba kebodohan sendiri."

Jawab Tiang Bu, sikapnya menantang. Ang-jiu Mo-li masih hendak mencoba sekali lagi. Ia menoleh ke belakang dan berseru keras lalu berkata.

"Muridku, kau keluarlah!"

Dari balik gerombolan pohon berkelebat suatu bayangan dan di saat lain, seoring gadis telah berdiri di samping Ang-jiu Mo-li. Wajahnya menjadi pucat ketika ia memandang kepada pemuda itu.

"Tiang Bu?....."

Tiang Bu girang bukan main. Ia melangkah maju dan mengulurkan kedua tengannya.

"Bi Li...... kau di sini..........? Payah aku mencari carimu........!"

Akan tetapi ia segera teringat bahwa di situ ada Ang-jiu Mo-li, maka dengan muka sebentar merah sebentar pucat, Tiang Bu menarik kembali tangannya memandang kepada gadis buntung lenganya itu dengan wajah diliputi keharuan, kedukaan juga kasih sayang besar.

Juga Bi Li memandang pemuda itu, dan dua titik air mata membasahi sepasang pipi Bi Li yang pucat.

Gadis ini menggigit bibirnya, seakan-akan menahan isak tangis dan menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan kata-kata.

Mata Ang-jiu Mo-li yang tajam melihat keadaan dua orang ini, wajahnya berseri.

Kemudian ia berkata.

"Bi Li, kawanmu Tiang Bu ini datang hendak memaksa aku mengembalikan kitab Kwan-im-cam mo. Karena dia kawanmu, aku tidak tega menjatuhkan tangan mencelakainya. Akan tetapi dia berkepala batu dan hendak menggunakan kekerasan. Kausuruh dia membatalkan maksudnya itu."

Bi Li cukup mengenal watak gurunya yang keras hati dan tidak mau mengalah, Ia tahu bahwa kalau Tiang Bu berkeras minta kembali kitab, pasti akan terjadi pertempuran hebat sampai salah seorang menderita luka.

Dan ia sayang keduanya, tidak menghendaki seorang di antara mereka terluka.

"Tiang Bu, aku minta kau suka mengalah dan jangan memaksa guruku mengembalikan kitab Omei san."

Kata Bi Li dengan suara lemah sambil menundukkan muka tidak mau melihat Tiang Bu karena ia sendiri merasa fihaknya yang bocengli (tidak pakai aturan), Tiang Bu menggelengkan kepala perlahan.

Mengapa Bi Li begitu tak adil?

"Bi Li, kitab itu milik mendiang suhu yang sudah memesan supaya aku mengambil semua kitab yang dirampas orang dari Omei-san.

Siapapun orangnya yang mengambil kitab itu, harus kuminta kembali.

Dalam hal lain aku boleh mengalah terhadap gurumu, akan tetapi dalam hal ini......

tak mungkin."

Ang-jiu Mo li segera berkata.

"Bi Li, mulai saat ini aku memberikan kitab ini kepadamu, akan tetapi dengan pesan jangan kau berikan kepada sianapun juga!"

Bi Li maklum akan maksud gurunya ini.

Dia sudah menceritakan tentang keadaaannya dan hubungannya dengan Tiang Bu, maka kini gurunya hendak mempergunakan cinta kasih Tiang Bu terhadapnya untuk mengalahkan pemuda itu.

"Tiang Bu, mengapa untuk kitab yang satu ini kau tidak dapat mengadakan pengecualian. Kuharap sekali lagi kau suka mengalah demi.......... mengingat akan..... persahabatan kita??.."

Kata-kata terakhir ini dikeluarkan perlahan sekali dan kini air matanya, tak dapat dibendung lagi, mengucur dari kedua matanya.

Gadis ini sebenarnya amat cinta kepada Tiang Bu yang sudah berkali-kali membuktikan kegagahan, kecintaan, dan kesetiaannya.

Tiang Bu menjadi pucat mendengar kata-kata ini.

Untuk sejenak ia memandang Bi Li.

Ah, alangkah inginnya ia mendekati, menghibur gadis yang buntung lengannya akan tetapi baginya malah mempertebal kasih sayangnya karena kasih sayang itu ditambah oleh rasa kasihan besar sekali.

Jangankan baru sebuah kitab, biar seribu buah kitab tentu akan ia relakan demi mengingat Bi Li.

Akan tetapi bukan kitab ini, kitab yang harus ia ambil kembali, biarpun ia harus menukar dengan nyawanya.

"Bi Li."

Katanya mengeraskan hati biarpun suaranya gemetar.

"Seorang laki-laki harus dapat mengesampingkan perasaan hati dan urusan sendiri. Mana bisa aku mengkhianati mendiang suhu hanya untuk urusan pribadiku sendiri? Kebaktian dan kesetiaan murid terhadap gurunya adalah suci, dan harus berjalan di atas jalan kebenaran. Andaikata mendiang suhu meninggalkan pesan supaya aku merampas kitab yang bukan menjadi milik dan haknya, tentu dengan senang hati aku melanggar pasan yang tidak benar ini. Akan tetapi pesan suhu ini berlandaskan kebenaran. Kitab ini adalah kitab dari Omei-san yang diambil oleh gurumu. Suhu berpesan agar aku mengambil kembali semua kitab yang hilang, oleh karena kalau kitab-kitab itu terjatuh ke tangan orang jahat, hanya akan menambah kacau dan kotornya dunia. Sekarang aku sudah bertemu dengan gurumu, dan kitab itu sudah bertahun tahun berada di tangan gurumu, tentu isinya sudah hafal olehnya. Mengapa masih harus mengukuhi kitab yang bukan menjadi miliknya?"

Bi Li tak dapat menjawab.

Dalam hatinya, tentu saja ia membenarkan pendirian Tiang Bu, akan tetapi di depan gurunya ia tidak berani berkata apa-apa.

Adapun Ang-jiu Mo-li yang sengaja bersikap keterlaluan itu hanya untuk menguji hati Tiang Bu, makin lama makin kagum.

Belum pernah ia bertemu dengan seorang muda yang demikian teguh hatinya, demikian tebal rasa bakti dan setianya.

Seorang pemuda gagah perkasa, hanya tinggal menguji kepandaiannya saja.

Ang-jiu Mo li telah mendapatkan murid yang ia sayang itu di dalam hutan.

Bi Li hendak memhunuh diri dengan jalan menggantung leher pada angkinnya di sebuah pohon besar.

Setelah Ang jiu Mo-li menolongnya Bi Li dengan air mata bercucuran menceritakan nasibnya yang malang, kehilangan sebuah lengannya yang ditabas buntung oleh Liok Kong Ji.

Kemudian diakuinya betapa Tiang Bu amat mereintanya dan bahwa sesungguhnya iapun suka kepada pemuda itu.

Hanya karena lengannya sudah buntung ia merasa tidak berharga menjadi jodoh pemuda itu, maka diam-diam meninggalkan Tiang Bu dan mencoba membunuh diri di situ.

Ang-jiu Mo-li marah bukan main, menghibur muridnya dan berjanji hendak mencari Liok Kong Ji untuk membalaskan sakit hati muridnya.

Kebetulan di tengah jalan bertemu dengan Tiang Bu, Ang-jiu Mo-li sengaja hendak menguji batin pemuda yang dipilih muridnya dan ia makin kagum saja menyaksikan sikap Tiang Bu.

Seorang ksatria tulen, dan kini ia hendak mencoba kepandaian Tiang Bu.

"Orang muda, kau pandai bicara. Kalau kau bertekad mengambil kembali kitab-kitab Omei-san, tentu kau sudah mempunyai kepandaian. Kitab ini dulu kudapat tidak dengan jalan mudah, bukan diberi hadiah, hanya diambil dengan mempergunakan kepandaian. Kalau kau hendak minta kembali, kau juga harus mempergunakan kepandaian. Coba kaulayani aku beberapa jurus, kalau kau bisa menangkan aku, tentu saja kitab ini boleh kau ambil kembali."

Inilah sebuah tantangan dan Tiang Bu memang sudah bertekat takkan mundur setapak dalam usaha memenuhi pesan suhunya.

Hatinya amat tidak enak terhadap Bi Li, akan tetapi apa boleh buat.

Demi kebenaran, ia bersedia mengorbankan segala, baik nyawanya ataupun kebahagiaannya.

Ia melirik ke arah Bi Li dan berkata lirih.

"Bi Li, maafkan kalau aku melawan gurumu. Kau tahu aku melakukannya karena terpaksa oleh kewajiban."

Lalu ia menghadapi Ang-jiu Mo-li dan menjura sambil berkata.

"Aku yang muda bersedia."

Ang-jiu Mo li masih memandang rendah pemuda itu.

Ia hanya ingin menguji sampai di mana kepandaian Tiang Bu, biarpun pemuda itu takkan dapat memenangkannya, tetap saja ia akan mengembalikan kitab karena ia pikir lebih baik muridnya yang sudah buntung itu menikah dengan pemuda pilihan ini.

Ia mengangkat kitab Kwan-im Cam-mo itu tinggi di atas kepala sambil berkata.

"Kau sudah siap sedia? Nah, lekas rampas kitab ini!"

Diam-diam Tiang Bu mendongkol. Ia tahu bahwa pendekar wanita ini memandang rendah kepadanya, maka iapun tidak mau sungkan-sungkan lagi.

"Maafkan aku yang bodoh,"

Katanya tahu-tahu tubuhnya sudah melesat ke depan tangan kiri menampar pundak, tangan kann menyambar untuk merampas kitab.

Ang jiu Mo-li masih memandang rendah.

Baca Juga: Asmara Berdarah 1

Baca Juga: Pedang Sinar Emas 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert