Ceritasilat Novel Online

Tangan Geledek 11

Eps 11 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo

Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.

Tangan kanannya menyampok tamparan pemuda itu dengan pengerahan tenaga.

Menulut perhitungannya, tangkisan sudah cukup kuat untuk membuat pemuda itu terpelanting dan tentu usahanya merampas kitab akan gagal.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangan kanannya bertemu dengan lengan pemuda itu, ia merasa lengannya kesemutan dan seperti lumpuh, tanda bahwa ia tadi kurang mengerahkan tenaga sehingga tenaganya tertindih dan kalah kuat, dan sebelum ia dapat menguasai diri, tahu-tahu kitab di tangan kirinya telah terambil oleh pemuda itu yang sudah melompat mundur kembali.

Dalam segebrakan saja kitab sudah dirampas!

Ini tak boleh jadi, pikir Ang-jiu Mo-li.

Cepat laksana kilat menyambar, tubuh Ang-jiu Mo-li sudah berkelebat maju mengejar Tiang Bu, kedua tangannya bergantian mengirim Pukulan Ang-jiu-kang ke arah dada dan perut Tiang Bu!

Harus diketahui bahwa pukulan Ang-jiu-kang dari Ang-jiu Mo-li ini hebatnya bukan main.

Pernah ia bertemu Liok Kung Ji dan bertanding dan ternyata Ang jiu kang malah lebih hebat dari pada Hek-tok ciang dari Liok Kong Ji.

Karena kelihaian tangan merahnya inilah maka Ang Jiu Mo-li menjadi terkenal sekali dan ia ditakuti orang di wilayah utara.

Tangan itu belum sampai, hawa pukulannya sudah terasa.

panas dan kuat sekali.

Tiang Bu berlaku waspada, maklum bahwa menghadapi pukulan macam ini ia tidak boleh sembrono.

Juga ginkang dari Ang jiu Mo-li hat bleu ?dell, gerakannya cepat seperti kilat luar biasa sekali, gerakannya cepat seperti kilat menyambar.

Pemuda itu mengerahkan tenaga untuk menjaga diri.

Sinkangnya berputar-putar dan berkumpul di bagian dada dan perut untuk melawan hawa pukulan itu, sedangkan ia sendiri lalu miringkan tubuh agar jangan tersentuh kedua tangan yang memukul.

Akan tetapi, karena perhatiannya dicurahkan ke arah pukulan-pukulan yang dapat mengancam nyawanya meninggalkan badan itu, ia tidak mengira sama sekali bahwa Ang jiu Mo li hanya menggertak dan tahu-tahu tubuh nyonya sakti aku melejit ke atas dan.....

kitab itu sudah terampas kembali oleh Ang jiu Mo-li Wajah yang tadinya pucat dari Ang-jiu Mo li menjadi merah kembali.

Wanita sakti ini tadinya sudah pucat karena sekali gebrakan saja kitab di tangannya sudah terampas oleh seorang pemuda.

Hal ini benar-benar langka dan luar biasa sekali.

Akan tetapi dalam gerakan kedua ia dapat merampas kembali kitab itu, berarti ia sudan dapat membela mukanya.

Akan robohlah namanya kalau terdengar orang betapa dalam satu jurus ia dikalahkan oleh seorang bocah yang masih ingusan!

Setelah sekarang ia dapat merampas kembali kitab itu juga dalam satu gebrakan berarti keadaan mereka masih seri.

"Bi Li, kau bawa dulu kitab ini"

Katanya dan kitab itu di lemparkan ke arah Bi Li yang menyambutnya dengan sebelah tangan dan memegangnya.

"Nah, sekarang majulah, orang muda. Aku ingin sekali melihat sampai di mana lihainya murid Omei-san,"

Kata Ang jiu Mo-li menantang.

Tiang Bu maklum bahwa menghadapi seorang wanita sombong seperti Ang-jiu Mo-li, kalau ia tidak memperlihatkan kepandaiannya tentu sukar untuk mengambil kembali kitab itu.

Juga ia maklum akan kelihaian wanita ini yang tadi sudah memperlihatkan pukulan Ang-jiu-kang yang berbahaya dan kecepatan gerakan yang amat mengagumkan.

Maka ia berlaku hati-hati sekali.

Sebaliknya, tahu bahwa bocah ini benar-benar lihai, timbul kegembiraan hati Ang-jiu Mo-li.

Seperti sebagian besar tokoh kang-ouw, dia juga termasuk orang yang gila silat.

Bertemu dengan lawan tangguh, hilanglah sikapnya tadi dan lupalah wanita ini bahwa dia berniat menguji kepandaian calon jodoh muridnya.

Ia menjadi bersungguh-sungguh dan mabok kemenangan.

Oleh karena itu, setelah melihat Tiang Bu siap, Ang-jiu Mo-li berseru nyaring dan maju menyerang dengan ganas dan dahsyat!

Tiang Bu mengimbangi kecepatan lawannya dan tidak hanya menghindarkan dari serangan, bahkan membalas dengan sarangan yang tak kalah dahsyalnya.

Ang jiu Mo-li kaget sekali melihat betapa tiga kali pukulan yang dilancarkan secara bertubi-tubi itu dielakkan dengan amat mudah oleh Tiang Bu bahkan pemuda itu membalas dengan tamparan yang kuat.

Melihat Tiang Bu menamnpar ke arah pundaknya, diam-diam Ang-jiu Mo-li memuji lagi sikap pemuda ini yang selalu menjaga agar jangan melanggar susila, maka tamparan yang menurut teori silat harus ditujukan ke arah kepala itu dlturunkan menjadi tamparan arah pundak!

Ang-jiu Mo-li melihat datangnya tamparan perlahan saja namun membawa hawa pukulan yang kuat sekali, cepat menyambut dengan tangkisan Ang-iiu-kang.

Ia hendak capat-cepat mengalahkan Tiang Bu kalau sampai pemuda ini terluka oleh tangan merahnya.

hal itu tidak apa karena ia selalu membekal obat penawarnya.

"Prakk!"

Sepasang lengan bertemu dan kesudahannya, Ang-jiu Mo-li terdorong mundur sedangkan tangan Tiang Bu tidak apa, hanya kuda-kudanya kena gempur sedikit.

Ang-jiu Mo-li penasaran sekali, juga kaget bukan main.

Mungkinkah pemuda ini memang lebih lihai darinya dalam hal lweekang?

Sukar diperca ya!

Sekali lagi Ang-jiu Mo-li menyerang dengan dorongan kedua tangannya, kini dilakukan dengan pengerahan lweekang repenuhnya.

Tiang Bu cerdik, tahu akan maksud lawan mengadu kekuatan, maka iapun cepat mengerahkan sinkangnya, dan mendorong pula dengan kedua tangannya.

Sebelum empat buah tangan itu bertemu di udara, hawa pukulan masing-mesing sudah saling dorong dan akibatnya sekali lagi Ang-jiu Mo-li terdorong mundur sampai empat langkah!

Sedangkan kali ini Tiang Bu tetap tidak bergeming, tanda bahwa memang pemuda ini masih jauh lebih menang.

Ang-jiu Mo-li menjadi pucat.

Sudah jelas bahwa ia kalah dalam hal tenaga lweekang.

Ia makin penasaran dan masih berkeras kepala.

Kalau dalam lweekang aku kalah, belum tentu ginkang pemuda ini dapat menangkan aku, pikirnya.

Memang Ang jiu Mo-li selain terkenal karena Ang-jiu-kang, juga terkenal sebagai seorang wanita yang tinggi ilmu gin-kangnya, Lihat serangan serunya dan tiba-tiba tubuh Ang-jiu Mo li berkelebat dan menyambar-nyambar.

Bi Li yang menonton pertandingan itu sampai menjadi silau matanya.

Gurunya lenyap berubah menjadi bayangan yang sukar diikuti pandangan mata, gerak-geriknya cepat dan ringan sekali.

Kali ini Tiang Bu akan kalah, pikir Bi Li, hatinya tidak enak karena ia mengenal gurunya sebagai seorang yang telengas sekali kalau sudah marah.

Melihat ginkang sehebat ini, diam-diam Tiang Bu kagum sekali.

Ia pernah bertempur menghadapi orang-orang lihai, termasuk.

Wan Sin Hong.

Akan tetapi harus ia akui bahwa dalam hal ginkang, baru sekarang ia bertemu dengan lawan yang benar-benar hebat, mengatasi ginkang dari orang-orang gagah lainnya bahkan Sin Hong sendiri kiranya masih kalah sedikit.

Akan tetapi, Tiang Bu adalah seorang muda yang sudah mewarisi kepandaian sakti dari dua orang kakek Omei-san dan terutama sekali semenjak mempelajari isi kitab Sen thian-to, di dalam tubuh pemuda ini mengandung sinkang atau hawa sakti yang hebat, tak dapat diukur lagi betapa tingginya.

Maka dapat dibayangkan betapa kagetnya Bi Li ketika tubuh Tiang Bu tiba-tiba lenyap, bayangan sekalipun tidak kelihatan lagi.

Ke mana perginya pemuda itu?

Dilihat begitu saja tubuh Tiang Bu seperti sudah lenyap dan tidak berada pula di tempat itu, akan tetapi melihat gurunya masih seperti orang bertempur, menjadi bukti bahwa sebenarnya Tiang Bu masih berada di situ, bertanding melawan Ang-jiu Mo-li!

Bi Li sampai bengong terlongong melihat gurunya seakan-akan bertanding melawan setan yang tidak kelihatan.

Kalau Bi Li menjadi bengong terheran-heran adalah Ang-jiu Mo-li yang menjadi kaget setengah mati dan kagum bukan main.

Ia telah mengerahkan ginkangnya, hendak mempergunakan kecepatan gerakannya untuk menangkan pemuda itu.

Akan tetapi perkiraannya meleset sekali karena ke manapun juga ia bergerak, ia telah didahului oleh Tiang Bu.

Kecepatan ditambah dengan Ang-jiu-kang yang ia andalkan itu seperti mati kutunya menghadapi Tiang Bu.

Ia tadinya bergerak dan memutar cepat untuk membikin lawannya pening, kiranya sekarang Tiang Bu bergerak lebih cepat lagi sehingga akibatnya Ang-jiu Mo-li sendiri yang menjadi pusing!

Tadinya Ang-jiu Mo-li berniat mendesak pemuda itu mempergunakan kecepatannya agar Tiang Bu menyerah, kiranya sekarang malah dia yang didesak hebat, setiap pukulan Ang jiu kang didahului oleh totokan-totokan lihai pemuda itu ke arah pergelangan tangan atau siku dan pundak sehingga selalu Ang jiu Mo-li harus membatalkan serangannya.

Karena ilmu silatnya sendiri terang takkan dapat menguntungkan, Ang-jiu Mo-li tidak merasa malu-malu lagi, terus saja mainkan Ilmu Silat Kwan-im cam mo yang ia dapat dari kitab Omei-san!

Ilmu silat ini hebat sekali, gerakannya lembut dan lambat, sesuai dengan sifat Kwan lm Pouwsat dewi welas asih itu, namun di dalam kelemah-lembutan mengandung unsur kekuatan yang hebat, di dalam kelambatan mengandung unsur kecekatan yang luar biasa.

Juga Ang-jiu Mo-li yang memang cantik nampak agung ketika melakukan ilmu silat ini, seperti seorang dewi baru turun dari kahyangan sambil menari-nari.

Bi Li mengeluarkan seruan kagum.

Juga Tiang Bu kaget sekali.

Ia mengenal dasar-dasar ilmu silat gurunya, akan tetapi sebagai seorang pria ia belum pernah mempelajari ilmu silat yang khusus diciptakan untuk murid-murid wanita ini.

Tiang Bu berlaku hati-hati tidak berani sembarangan menyerang.

Baru sekarang setelah Ang-jiu Mo-li mainkan ilmu Silat Kwan im cam-mo, keadaan mereka seimbang.

Untuk mengimbangi ilmu silat secabang ini, Tiang Bu mainkan gerakan -gerakan dari kitab sajak Thian-te-si-keng, berpangkal pada gerakan lawan.

Pertempuran berjalan lambat namun angin pukulan menyambar-nyambar di sekeliling dua orang ini, membuat daun-daun pohon bergoyang-goyang seperti tertiup angin besar, bahkan Bi Li yang berdiri dalam jarak lima tombak dari gelanggang pertempuran, merasai sambaran-sambaran angin yang mengiris kulit.

Dari ini saja dapat dbayangkan betapa lihainya dua orang itu.

Seratus jurus telah lewat dan pertempuran masih berlangsung ramai.

Sebetulnya adalah karena Tiang Bu terlampau sungkan sungkan terhadap guru kekasihnya ini maka pertempuran tidak segera berakhir.

Kalau pemuda ini berlaku kejam dan mencari kemenangan, kiranya pertempuran takkan berlangsung selama itu.

Ang-jiu Mo-li merasa penasaran di samping kekagumannya dan keheranannya.

Selama hidup, belum pernah ia bertemu dengan lawan sehebat ini.

Memang pernah ia berhadapan dengan orang-orang lihai, bahkan dahulu Toat-beng Kui-bo pernah membuat ia kewalahan dan harus mengakui bahwa kepandainnya masih kalah setingkat kalau dibandingkan dengan kepandaian Toat-beng Kui-bo.

Akan tetapi, tak seorangpun di dunia ini pernah menghadapinya dengan cara yang demikian mudah dan banyak mengalah seperti pemuda ini.

Karena penasaran, Ang jiu Mo-li mengeluarkan jurus yang paling ampuh dari ilmu silat Kwan-im cam-mo yaitu gerakan yang disebut Kwan-im lauw ci (Kwan lm Mencari Mustika).

Jurus ini terdiri dari gerakan serangan beruntun dengan kedua tangan yang kelihatannya seperti maraba atau menangkis ke depan, akan tetapi sesungguhnya merupakan pukulan-pukulan Ang jiu-kang disusul totokan-totokan ke arah jalan darah penting di tubuh lawan.

Kehebatan serangan ini adalah apabila dielakkan, serangan susulan menyambar sehingga kedudukan lawan makin lama makin buruk sampai tak mungkin dapat dielakkan lagi.

Untuk menangkis juga amat berbahaya karena kedua tangan Ang-jiu Mo-li sudah menjadi merah darah, tanda bahwa seluruh tenaga Ang-jiu kang telah terkumpul ke dalam seluruh jari tangannya.

Bau amis dan hawa panas menyelimuti setiap gerak tangan, semua merupakan ancaman maut yang mengerikan.

Ang jiu Mo-li dalam penasarannya telah mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya!

Tiang Bu kaget bukan main.

Ia sekarang merasa yakin bahwa menghadapi wanita ganas ini percuma saja ia berlaku halus, percuma saja menyuruhnya mundur hanya dengan demonstrasi kepandaian yang lebih tinggi.

Wanita seperti ini harus dikalahkan, biarpun terpaksa ia harus melukainya.

Cepat ia menggerakkan kedua tangan pula.

Tidak ada jalan lain untuk melawan jurus Kwan-im lauw-cu yang dilakukan dengan Ang-jiu-kang sepenuhnya ini kecuali melawannya keras dengan keras.

Berturut-turut ia manerima serangan Ang-jiu Mo-li dengan kedua tangannya dan di lain saat dua pasang tangan telah saling tempel pada telapak tangan, tak dapat dipisahkan lagi!

Ang jiu Mo-li terkejut.

Tak disangkanya pemuda ini berani menerima serangan Ang-jiu-kang dengan cara demikian.

Akan tetapi diam-diam ia girang karena sekarang ia mendapat kesempatan untuk menang.

Ang-jiu-kang ia kerahkan untuk menyerang Tiang Bu melalui telapak tangan.

Kedua tangan Ang-jiu Mo-li mengeluarkan hawa panas sampai mengepulkan asap putih.

Kalau tangan orang biasa yang terkena tempel tentu akan menjadi hangus dan orangnya akan mati seketika itu juga, akan tetapi Tiang Bu yang maklum bahwa keadaan sekarang bukan main-main lagi melainkan pertandingan adu sinkang yang dapat mengakibatkan maut, mengumpulkan seluruh tenaga dalam yang ia dapatkan dengan berlatih Seng-thian-to, menggerakkan hawa sinkang itu untuk melawan pengaruh Ang-jiu-kang yang mendesak.

Ang-jiu Mo-li merasa betapa telapak tangan pemuda itu dingin seperti salju, makin lama makin dingin.

Sebaliknya telapak tangan Ang-jiu Mo-li makin lama makin panas.

Ternyata bahwa kalau Ang jiu Mo-li mempergunakan sari hawa Yang-kang untuk merobohkan lawannya, Tiang Bu menghadapi dengan sari tenaga Im-kang.

Panas lawan dingin atau keras lawan lembut!

Bi Li berdiri terpukau.

Biarpun tingkat kepandaiannya belum mencapai setinggi ini namun gadis ini maklum apa artinya orang yang ia kasihi berdiri tegak dengan dua tangan ke depan saling menempel.

Ia melihat kini tidak hanya kedua tangan gurunya yang mengepulkan uap, bahkan dari kepala Ang jiu Mo-li juga mengepulkan uap putih.

Anehnya, Tiang Bu nampak tenang-tenang saja, hanya matanya memandang lawan tanpa berkedip.

Dari sepasang mata pemuda yang biasanya memang tajam dan aneh ini keluar cahaya yang membuat jantung Bi Li berdebar.

Juga Ang-jiu Mo-li tidak kuat menghadapi sinar mata pemuda ini, seakan akan kepalanya tembus oleh sinar mata itu.

Ia tahu bahwa ilmu batin pemuda ini sudah mencapai tingkat tinggi sekali sehingga tenaga sakti itu dapat menembus melalui sinar mata.

Setelah tidak kuat menahan sinar mata Tiang Bu, kedudukan Ang-jiu Mo li makin lemah.

Hawa panasnya makin berkurang dan sepeminum teh lagi, ia merasa dingin.

Sinar merah pada kedua tangannya mulai buyar, bahkan membiru!

Ang jiu Mo-li masih berusaha mempertahankan, namun ia tidak kuat lagi.

Uap yang mengebul dari kepalanya makin tebal mukanya mulai berpeluh.

"Cianpwe, belum cukupkah?"

Terdengar Tiang Bu bertanya.

Bukan main kagumnya Ang-jiu Mo-li.

Kini takluk betul-betul.

Karena Tiang Bu masih sanggup bertanding tenaga sambil mengeluarkan kata-kata, itu saja sudah menjadi bukti nyata bahwa pemuda ini masih jauh berada di atasnya.

Tanpa malu-malu lagi Mo-li mengerahkan tenaga terakhir dan menarik kedua tangannya sambil melompat mundur.

Kalau Tiang Bu menghendaki, tentu saja perbuatan ini dapat berarti matinya Ang-jiu Mo-li.

Dalam pertandingan dengan musuh tentu saja Ang-jiu Mo-li tidak mau melompat mundur dan mati konyol, lebih baik mati dalam pertandingan dari pada mati melompat mundur dan terpukul oleh tenaganya sendiri.

Akan tetapi Tiang Bu juga membarengi gerakan lawan dan menarik kembali tenaga sinkangnya.

Ang-jiu Mo-li terhuyung-huyung akan tetapi tidak sampai jatuh.

Cepat ia duduk bersila mengatur pernapasannya dan menenteramkan jantungnya yang sudah terguncang hebat.

Mukanya pucat sekali, namun setelah berlalu beberapa lama, mukanya menjadi merah kembali.

Ia lalu membuka mata, berdiri perlahan dan berkata kepada Bi Li.

"Bi Li, anak bodoh. Kalau kau tetap menjauhkan diri menolak cinta kasih pemuda ini berarti kau menyiksa hati sendiri dan menyia-nyiakan hidupmu. Tiang Bu inilah jodoh yang paling tepat dan baik, di atas dunia kau tak mungkin berjumpa dengan orang seperti ini. Bi Li, mulai sekarang kau ikutlah Tiang Bu calon jodohmu ini mencari musuh yang telah membuntungi lenganmu. Kita bertemu di Pek houw-to dan kelak kalau sudah selesai membasmi orang jahat, aku sendiri akan mengatur pernikahanmu dengan pemuda sakti ini!"

Setelah berkata demikian, Ang-jiu Mo-li lalu berkelebat dan lenyap dari tempat itu meninggalkan Bi Li yang masih berdiri bengong menyaksikan perempuran hebat yang mendebarkan hatinya itu.

Ketika ia mengangkat kepala memandang, ia melihat Tiang Bu sedang memandang kepadanya dengan mata penuh perasaan cinta kasih dan keharuan.

"Tiang Bu..........!"

Tak terasa lagi Bi Li menutupi muka dengan tangannya yang tinggal sebelah dan menangis terisak-isak.

Air mata mengucur turun melalui celah-celah jari tangannya, pundaknya berguncang.

Tiang Bu makin terharu dan kakinya melangkah maju sampai ia berdiri di depan gadis buntung itu.

"Bi Li...... , mengapa kau lari meninggalkan aku..........?"

Tanyanya, suaranya tergetar. Bi Li tak dapat menjawab, hanya isak tangisnya makin menjadi, sampai terdengar ia sesenggukan.

"Bi Li, mengapa kau meninggalkan aku?"

Setelah menahan isaknya dengan mengeraskan hatinya, Bi Li mencoba untuk bicara, akan tetapi sukar sekali sehingga setelah beberapa kali mengulang, baru ia dapat mengeluarkun kata-kata.

"Tiang Bu, apa perlu kau bertanya lagi.....? Kau sudah tahu isi hatiku........."

"Tidak, Bi Li. Justeru aku sama sekali tidak tahu bagaimana maksud hatimu. Kalau kau membenciku dan pergi, aku hanya bisa menerima dengan segala kesadaran bahwa aku orang yang buruk dan tak berharga. Akan tapi.......... kau cinta padaku sepertt aku mencintaimu, mengapa kau.......... pergi meninggalkan aku??.. Apakah kau sengaja hendak membikin aku mati merana? Bi Li, bagaimana kau bisa begitu kejam dan tega??."

Bi Li meramkan mata dan menggigit bibir, jantungnya terasa perih seperti tertusuk duri. Air mata mengucur keluar dari bulu-bulu matanya.

"Tiang Bu.......... justeru karena cintaku padamu maka aku sengaja pergI meninggalkanmu. Aku.......... aku telah menjadi seorang gadis buntung, bercacad selama hidup, tak berharga lagi.......... hanya akan membikin kau malu. Itulah mengapa aku mengambil keputusan pergi. biar hatiku merana asal kau tidak menjadi buah tertawaan orang......"

"Bi Li!"

Suara Tiang Bu menggeledek.

"Orang mentertawakan aku masih tidak mengapa, akan tetapi siapa berani mentertawakan kau, akan kuhancurkan mulutnya! Jangan kau memandang begitu rendah kepadaku. Kau kira aku akan lupa kepadamu setelah kau bercacad? Tidak, sebaliknya cintaku kepadamu makin kekal, makin mendalam. Aku tidak mau berpisah lagi darimu Bi Li. Kita sama-sama sebatang kara, kau hanya punya aku dan aku hanya punya kau seorang. Bi Li. buntungnya lenganmu tidak mengurangi cintaku, karena bukan tanganmu yang kucinta, melainkan kau, pribadimu. Bi Li, jangan kau khawatir, biarpun lenganmu tinggal sebelah saja. dengan mempelajari ilmu dariku, kau takan kalah oleh orang-orang berlengan dua yang manapun juga!"

"Tiang Bu......!"

Bi Li menjatuhkan badannya ke dalam pelukan Tiang Bu dan menangis sepuasnya. Hatinya diliputi keharuan dan juga kebahagiaan besar.

"Tidak, Tiang Bu. Aku takkan meninggalkan kau, kecuali kalau aku mati......."

"Hush, gadis bodoh, jangan bicara soal mati. Kau akan hidup seribu tahun lagi! Tunggu kalau kita sudah membasmi habis orang-orang jahat yang menjadi musuh kita, bukankan gurumu sudah berjanji hendak menikahkan kita?"

Merah wajah Bi Li dan gadis ini merenggutkan kepalanya dari dada kekasihnya.

"Hih, tak tahu malu, Bicara soal kawin! Aku tak sudi mendengar."

Dengan air mata masih menetes turun, Bi Li terseyum.

Tiang Bu juga tersenyum, wajahnya berseri-seri.

Bi Li masih seperti dulu, lincah dan menarik hati.

Dari Bi Li yang sudah diberi tahu oleh Ang-jiu Mo-li, Tiang Bu mendengar bahwa Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong telah pindah ke Pulau Pek-houw to di selatan, memboyongi semua selirnya dan membawa harta bendanya, juga bahwa di pulau itu berdiam Lo-thian tung Cun Gi Tosu yang lihai.

Dengan penuh kebahagiaan oleh karena Bi Li sudah berada di sampingnya, Tiang Bu mengajak kekasihnya itu melakukan perjalanan ke selatan dengan cepat.

Lengan yang buntung itu sudah sembuh sama sekali berkat rawatan Ang-jiu Mo-li.

Buntungnya di bawah pundak ditutup dengan lengan baju yang pendek.

Juga gadis ini karena terhibur oleh sikap Tiang Bu yang amat mencinta, seakan-akan lupa bahwa lengan kirinya buntung dan ia melakukan perjalanan dengan gembira.

Sementara itu, semeniak penyerbuan Sin Hong kemudian disusul oleh penyerbuan Pek thouw tiauw ong Lie Kong dan isterinya, Liok Kong Ji berlaku hati-hati sekali.

Ia mempergunakan hartanya, menyebar mata-mata di sekitar daerah pantai untuk mengetahui kalau kalau ada musuh datang menyerang lagi agar ia dapat bersiap-siap.

Oleh karena itu, kedatangan Tiang Bu dan Bi Li ke pantai laut telah diketahui oleh Liok Kong Ji.

Di dunia hanya ada dua orang yang mendatangkan debar ketakutan dalam hati Kong Ji.

Pertama adalah puteranya sendiri, Tiang Bu, yang ia tahu takkan mau memberi ampun kepadanya dan yang kepandaiannya amat luar biasa, lebih lihai dari pada tokoh manapun juga biarpun usianya masih sangat muda.

Orang ke dua adalah Wan Sin Hong musuh besarnya semenjak muda dulu, ia takut terhadap kepandaian dan kecerdikan Wan Sin Hong.

Pada hari itu, Liok Kong Ji menerima berita dari mata-matanya, berita yang amat mengejutkan dan menggelisahkan hatinya.

Tidak saja Tiang Bu dan Bi Li telah berada di pantai, juga ia mendengar bahwa Wan Sin Hong dan kawan-kawannya sudah menuju ke pulaunya, dan akan datang tak lama legi.

Inilah hebat, pikirnya.

Kalau dua orang ini datang berbareng di Pulau Pek-houw-to, hal ini merupakaa bahaya hebat!

"Lebih baik mereka dipisahkan.

Selagi Sin Hong belum datang dan masih akan makan waktu satu dua hari baru tiba di pantai kita harus memancing Tiang Bu agar dapat cepat datang ke sini untuk kita sambut.

Mustahil kalau dengan keroyokan tak dapat merobohkan bocah itu.

Kalau dia sudah roboh, soal Sin Hong tak perlu dikhawatirkan lagi.

Pokoknya ssal dua setan itu jangan muncul dalam saat yang sama."

Demikian Liok Kong Ji berunding, dengan anak angkatnya Liok Cui Kong.

"Mudah,"

Jawab Cui Kong.

"Biar kita mengirim surat tantangan kepada Tiang Bu agar panas hatinya dan ia segera datang ke sini mebdahului Wan Sin Hong."

Demikianlah. ketika Tiang Bu dan Bi Li tiba di pantai dan sedang mencari perahu di tempat yang sunyi sekali itu, tiba-tiba mata Bi Li yang tajam melihat sesuatu di atas batu karang.

"Tiang Bu lihat.......... Seperti kertas; bertulis yang sengaja dipasang orang di sana!"

Tiang Bu, menoleh.

Benar saja, di atas batu karang terdapat sehetai kertas kuning muda yang ada tulisannya, ditempel di batu karang.

Ketika dua muda-mudi ini mendekati, ternyata tulisan itu memang ditujukan kepada Tiang Bu.

Merah muka Tiang Bu ketika membaca tulisan itu yang berbunyi seperti berikut.

TIANG BU, ANAK PUTHAUW!

KAU DATANG MINTA AMPUN ATAU MINTA MATI, AYAHMU MENANTI LIOK KONG JI.

"Manusia Iblis!? Tiang Bu memaki gemas "Sombong, kaukira aku takut padamu?"

"Lihat, di sana ada perahu datang!"

Teriak Bi Li yang sudah menoleh ke arah laut karena ia melihat ancaman maut di dalam surat Liok Kong Ji.

Gadis ini amat khawatir akan keselamatan kekasihnya karena ia cukup maklum betapa lihainya manusia iblis itu bersama kaki tangannya.

Tiang Bu menengok, dan betul saja, dari arah laut datang sebuah perahu yang layarnya terkembang.

Anehnya, perahu itu kosong tidak ada penumpangnya.

"Mereka telah mengirim perahu untukmu!"

Kata Bi Li, suaranya agak gemetar.

Tiang Bu tidak menjawab melainkan menyambut perahu yang sudah sampai di pantai itu.

Benar-benar orang telah mengirim perahu kosong untuknya, perahu yang layarnya dikembangkan dan kemudinya diatur sedemikian rupa sehingga dengan adanya angin yang mengbembus ke arah pantai, perahu itu bisa berlayar sendiri ke pantai.

"Musuh bersikap sombong sekali,"

Kata Tiang Bu.

"Aku harus ke sana sekarang juga agar jangan dianggap takut. Bi Li, kau tunggu saja di sini. Biarkan aku sendiri Pergi memberi hajaran pada manusia-manusia iblis itu untuk membalaskan sakit hatimu."

"Tidak, Tiang Bu. Aku ikut dengan kau!"

"Bi Li,"

Pemuda itu memegang tangan Bi Li.

"jangan salah sangka. Untuk melindungimu dari mereka aku masih sanggup dan dengan aku di sampingmu mereka tak mungkin berani mengganggumu. Akan tetapi, kau tahu sendiri betapa licik dan curangnya mereka itu, dan inilah yang kukhawatirkan. Menghadapi kecurangan mereka lebih berat dari pada menghadapi kepandaian mereka. Lebih leluasa bagiku pergi seorang diri. Kau tinggallah saja di sini, Li-moi, percayalah, aku meninggalkanmu hanya sebentar saja dan aku meninggalkanmu ini adalah karena sayangku kepadamu."

"Akan tetapi.......... aku ingin sekali membalas sendiri kepada manusia jahanam Liok Kong Ji!"

Tiang Bu mengangguk.

"Jangan kau khawatir, aku akan menyeretnya ke sini sehingga kau dapat membalas sakit hatimu."

"Betulkah, Tiang Bu!"

Tanya Bi Li penuh harap.

"Mana aku mau membohongimu. Nah, kau baik baik menjaga dirimu, tunggu aku di pantai,"

Kata Tiang Bu sambil melompat ke perahu.

"Tiang Bu, kau jagalah dirimu baik-baik. Kau tahu semangat dan hatiku ikut bersamamu.........."

Kata Bi Li, hatinya tidak karuan rasanya melihat kekasihnya pergi menempuh bahaya seorang diri. Tiang Bu tersenyum.

"Jangan khawatir, Bi Li. Doa restumu menjadi jimat pelindungku. Kita akan bertemu kembali, Bi Li."

Ketika perahu mulai menjauhi pantai dan Bi Li berdiri seperti patung di tepinya, Tiang Bu berseru dari jauh.

"Bi Li, aku cinta kepadamu..........!"

Bi Li mengangguk-angguk, tersenyum dan matanya menjadi basah.

Setelah perahu itu sudah jauh sekali merupakan titik hitam, gadis itu menjatuhkan diri berlutut, mukanya diangkat ke atas, matanya meram, bibirnya bergerak-gerak seperti orang bardoa mohon berkat perlindungan dari Thian untuk pemuda yang dikasihinya.

Tiang Bu sudah mendengar dari Bi Li bahwa Pulau Pek-houw to dapat dikenal di antara pulau pulau itu sebagai pulau yang dari jauh tampak keputih-putihan dan bentuknya seperti seekor macan mendekam.

Dan pulau ini memang tidak sukar dikenal dari jauh.

Setelah perahunya didayung cepat menuju ke kumpulan pulau-pulau itu, ia melihat Pulau Pek-houw-to.

Hatinya berdebar girang.

Sekarang ia tidak mau bekerja kepalang tanggung.

Ia harus dapat membasmi Liok Kong Ji dan semua kaki tangannya dan merampas kembali kitab-kitab Omei-san yang sekarang sudah terkumpul ke dalam tangan Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu.

Pemuda ini maklum bahwa ia menghadapi orang-orang pandai.

Lawan-lawan berat yang tak boleh dipandang ringan akan tetapi ia tidak takut.

Ia percaya penuh akan kekuatan sendiri, dan percaya penuh akan dapat mengalahkan mereka semua.

Tiba-tiba ia mendengar suitan keras beberapa batang anak panah menyambar cepat ke arah perahunya, menancap di atap perahunya melihat anak-anak panah itu tidak di arahkan kapadanya, melainkan kepada atap perahunya, Tiang Bu seolah-olah tidak melihat kejadian ini dan bersikap tenang-tenang saja.

Didayungnya perahu layarnya dengan cepat.

Akan tetapi segera muncul lima buah perahu kecil dengan atap melengkung dari balik-balik batu karang yang menonjol di permukaan laut.

Perahu-perahu ini ditumpangi oleh Lam-thian-chit-ong dan belasan anak buahnya, berjumlah dua puluh orang lebih, setiap perahu ditumpangi lima orang.

Dengan cepat perahu-perahu ini sudah malang melintang menghadang kedatangan perahu Tiang Bu.

Pemuda itu tetap tenang maklum bahwa Liok Kong Ji sudah mengirim rintangan pertama untuk menggagalkan pendaratannya ke Pek-houw-to.

Aku harus hati-hati, pikir Tiang Bu.

Di darat aku tak perlu memusingkan dua puluh orang lawan ini, akan tetapi di air, hmm, berat juga.

"He, pemuda yang sudah bosan hidup. Kedatanganmu ini dengan keperluan apakah?"

Teriak si baju marah, ketua dari Lam-thian-cit-ong.

Melihat tujuh orang yang pakaiannya tujuh macam ini, diam-diam Tiang Bu sudah dapat menduga bahwa mereka tentulah merupakau kelumpok kaki tangan Kong Ji yang terdiri dari saudara-saudara seperguruan, dan tentu kepandaiannya tidak lemah.

"Badut merah, kau mau tahu maksud. kedatanganku?"

Jawabnya.

"Dengarlah baik-baik. Aku datang untuk membasmi manusia-manusia iblis seperti Liok Kong Ji, Liok Cui dan kaki tangannya seperti kalian. Sudah jelaskah?"

Lam-thian-chit ong memang mendapat tugas dari Liok Kong Ji untuk mencegat perahu pemuda itu.

Liok Kong Ji masih belum tahu apakah kedatangan Tiang Bu dengan maksud baik ataukah buruk, maka ia menyuruh Lam-thian-chit-ong mewakilinya dan menyelidiki.

Mendengar jawaban Tiang Bu yang tegas itu, Lam-thian chit ong lalu memerintahkan anak buahnya dan di lain saat puluhan batang anak panah menyambar ke arah Tiang Bu.

Akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak perduli, hanya menggerakkan dayung mendayung perahunya.

Aneh bukan main, perahu itu seperti bernyawa, bergerak-gerak cepat tak sebatangpun anak panah mengenai tubuhnya, hanya menancap di tubuh perahu dan masuk ke laut.

Inilah demonstrasi kecelian mata dan kehebatan tenaga menggerakkan perahu yang amat luar biasa.

"Kami menantimu di darat!` terlak si baju merah dan dia bersama enam orang saudaranya lalu menumpang sebuah perahu dan mendayungnya ke daratan Pulau Pek houw-to. Empat buah perabu anak buahnya dengan delapan belas orang masih mancogat di situ. Malah mereka mendayung perahu mendekati perabu Tiang Bu dan mengurung dari empat jurusan. Harus diketahui babwa Lam-thian-chit ong seperti juga Tiang Bu, tidak mengerti ilmu dalam air maka siang-siang mereka meninggalkan Tiang Bu untuk melakukan cegatan-cegatan di darat, tidak seperti delapan belas orang itu yang memang kesemuanya bekas bajak laut. Delapan belas orang ini semua pandai berenang dan pandai bermain di dalam air, merupakan ahli-ahli dan penyelam penyelam. Oleh karena itulah maka tugas pertama untuk monyerang Tiang Bu diserahkan kepada delapan belas orang bajak laut ini. Liok Kong Ji memang sudah siap untuk segalanya dan kedudukannya ini kuat sekali. Melibat gerakan empat perahu yang mengurungnya, Tiang Bu bersiap sedia. Kini ia tidak duduk di dalam perahunya, melainkan berdiri di kepalanya perahu dengan dayung di tangan, sepasang matanya awas memandang gerak-gerik empat perahu lawan yang mengelilingi. Adapun tujuh orang yang berbeda-beda warna pakaiannya itu kini telah mendarat, berdiri di tepi pantai dan menonton bagaimana para anak buah bajak laut itu hendak mengalahkan pemuda itu. Terdengar pemimpin bajak laut itu memberi aba-aba dengan suitan dan kembali empat perahu itu mereka menghujankan panah ke arah Tiang Bu. Berbeda dengan tadi, kini anak panah datang menyerang empat jurusan, depan belakang dan kiri kanan. Kalau tadi semua anak panah datang dari depan maka masih dapat Tiang Bu menggunakan kepandaian menggerakkan perahu untuk mengelak dari sambaran anak panah-anak panah. Akan tetapi sekarang ia tidak dapat berbuat seperti tadi. Cepat ia menggerakkan dayungnya dan....... alangkah terkejut hati semua bajak laut ketika mereka menyaksikan demontrasi kepandaian yang luar biasa. Begitu dayung diputar menangkis anakpanah itu tidak runtuh ke bawah, melainkan meleset dan terus menyambar. Anak-anak panah dari depan melesat dan menyambar arah perabu sebelah kanan, yang dari kiri menyambar ke arah perahu di belakang. dari kiri monyambar ke depan. Jadi dengan dayungnya itu, Tiang Bu "mengoperkan"

Anak panah-anak panah itu ke arah perahu perahu bajak, seakan-akan para bajak itu saling serang sendiri dengan anak panah-anak panah mereka!

Terdengar mereka berseru kaget dan cepat-cepat menangkis.

Akan tetapi dalam kegugupan karena serangan istimewa yang tak pernah disangka-sangka itu, seorang anak buah bajak yang kurang cepat menangkis dan pundaknya tertancap anak panah kawan sendiri.

Anehnya, buah bajak itu terus roboh berkelojotan di dalam perahunya dan tewas seketika itu juga, mukanya berubah hitam!

Melihat hal ini dari atas perahunya, Tiang Bu diam-diam mengutuk Liok Kong Ji.

Ia sekarang tahu bahwa sebelum menyerangnya, semua anak panah yang dibawa oleh anak buah bajak ini telah dilumuri racun hitam oleh Liok Kong Ji.

Alangkah kejinya orang berhati iblis itu!

Melihat betapa dengan dayungnya Tiang Bu dapat menangkis dan malah mengoper semua anak panah, para bajak tidak berani menyerang dengan anak panah.

Serangan pertama tadi saja sudah mengorbankan nyawa seorang kawan sendiri dan mereka kini berputar-putar mengelilingi perahu, menanti saat datangnya aba-aba dari pemimpin mereka yang sedang memutar otak untuk mengatur serangan-serangan barikutnya.

Tiang Bu tetap berdiri di kepala perahu, dengan dayungnya disentuhkan ke air ia menjaga supaya perahunya tetap di tangah-tengah.

Ia kelihatan gagah dan tegap, tenang dan waspada, membuat para bajak memandang jerih.

Mereka semua tahu bahwa kali ini biarpun mereka terdiri dari belasan orang mengepung hanya seorang pemuda, namun tugas mereka jauh lebih berat dari pada kalau mereka ditugaskan membajak sebuah kapal yang dijaga olek sepasukan tentara.

Kembali pemimpin bajak bersuit.

Suitan-suitan yang berbeda-beda sudah merupakan tanda tersendiri.

Mendengar suitan ini, semua anak buah bajak mengeluarkan dua macam senjata.

Di tangan kiri memegang sebuah galah ujungnya dipasangi kaitan besi sedangkan di tangan kanan memegang sebuah tombak yang runcing.

Baik tombak maupun gala kaitan itu panjangnya ada tiga tombak.

Melihat ini, Tiang Bu maklum bahwa mereka hendak menyerangnya dengan tombak dan mencoba untuk mengait dan menggulingkan perahunya.

Ia pikir bahwa kalau mereka berani menyerangnya dengan dua macam senjata itu, ia sama sekali perlu takut karena dengan mudah dapat merampas semua senjata mereka dan menggunakan senjata-senjata panjang itu untuk menghajar mereka.

Perahu-perahu itu mulai mendekat sampai pada jarak delapan tombak.

Tiba-tiba dari masing-masing perahu, dua orang bajak loncat ke dalam air membawa dua macam senjata itu terus menyelam.

Tiang Bu kaget sekali.

Celaka, pikirnya.

Kalau mereka menyerangnya dari bawah dan menggulingkan perahu, ia bisa tewas!

Cepat Tiang Bu mendayung perahunya mendekati perahu sebelah kiri.

Benar saja dugaannya.

Tiba-tiba perahunya bergoyang-goyang dan ternyata telah dikait dari bawah oleh delapan penyelam itu.

Perahunya dibotot-betot dan akhirnya menjadi miring.

Air mulai masuk.

Tiang Bu mempergunalean Chian-kin-kang (Tenaga Seribu Kati) untuk membuat perahu jangan sampai terguling, akan tetapi karena airsudah mengalir masuk, ilmunya ini hanya membikin perahu ambles dan air masuk makin banyak.

Para bajak dari empat perahu itu bersorak-sorak melihat pemuda ini dengan susah payah mempertahankan diri dan perahunya.

Tak lama kemudian perahu Tiang Bu sudah hampir tenggelam, air sudah mulai membasahi sepatu pemuda itu.

Saking gembiranya, para bajak itu kurang waspada dan tidak dapat menduga apa yang dilakukan Tiang Bu.

Tahu-tahu berkelebat bayangan yang hampir tidak dapat diikuti pandangan mata dan pemuda itu sudah meninggalkan perahunya yang tenggelam, kini sudah berada di perahu bajak yang berada di sebelah kini.

Jarak kurang lebih enam tombak itu dilompati oleh Tiang Bu dengan amat mudah dan demikian cepatnya hingga seperti burung walet terbang saja.

Panik terjadi di dalam perahu yang diserbu Tiang Bu.

Untuk menyerang pemuda yang sudah berada di perahu mereka ini, tak mungkin menggunakan dua macam senjata panjang itu.

Selagi mereka bingung hendak mencabut golok dan pedang, Tiang Bu tidak memberi waktu lagi.

Pemuda ini menggerakkan kaki tangannya dan suara berteriak mengaduh susul-menyusul.

Tiga orang anak buah bajak yang berada di perahu itu terlempar ke dalam air untuk terus tenggelam dan tewas!

Kembali delapan orang penyelam menyerang perahu bajak yang kini terampas oleh Tiang Bu.

Perahu menjadi miring dan sebentar saja tanggelam, Tiang Bu mempergunakan ginkangnya, melompat ke perahu ke dua dan seperti tadi ia mengamuk merobohkan tiga orang anak buah bajak yang sama sekali tidak berdaya menghadapi pemuda sakti ini.

Akan tetapi penyelam-penyelam itu tidak mau memberi kesempatan kepada Tiang Bu untuk menyelamatkan diri.

Mereka menyerbu dari bawah air dan terpaksa Tiang Bu meninggalkan perahunya lagi, melompat ke perahu ke tiga.

Sekarang tanpa ia turun tangan, dua orang bajak yang berada di perahu itu masing-masing sudah melompat ke dalam air.

Bajak-bajak itu menggunakan siasat baru.

Mereka bertekad hendak menenggelamkan semua perahu agar pemuda itu tidak mendapat tempat berpijak lagi.

Kemball perahu diserbu dan untuk yang ketiga kalinya Tiang Bu melompat ke perahu bajak yang ke empat!

Perahu ini ditumpangi oleh pemimpin bajak bersama dua orang anak buahnya.

Mereka sudah siap-siap dengan golok di tangan dan pada saat tubuh Tiang Bu melayang, mereka mamapakinya dengan golok yang dibacokkan kuat-kuat.

Namun bacokan tiga orang ini seperti orang membacok bayangan saja.

Dengan ilmu loncat loh-he (gerakan membalik) yang disebut Sinliong hoan-Sin (Naga Sakti Membalikkan Tubuh), tubuhnya membuat salto di udara dan selagi tiga batang golok itu menyambar, ia sudah melewati atas kepala mereka dan mendarat di atas perahu.

Tiga orang bajak itu cepat membalikkan tubuh akan tetapi (Lanjut ke

Jilid 31) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 31 hanya untuk melihat pemuda itu menggerakkan kedua tangannya dan..........

mereka terlempar ke dalam air.

Tiang Bu maklum bahwa kalau perahu terakhir ini tenggelam, ia tidak mempunyai tempat untuk melompat lagi.

Maka cepat ia menggerakkan dayung dan mendayung perahu itu ke arah daratan.

Namun kepandaian berenang para bajak laut itu benar-benar lihai.

Secepat ikan ikan hiu berenang, mereka telah mengejar dan sebelum mencapai darat, masih ada dua puluh tombak lagi, mereka telah dapat mengait perahu dari bawah dengan senjata-senjata kaitan mereka dan cepat membuat perahu itu miring!

Tiang Bu marah sekali.

Ia melihat bayangan-bayangan tak jelas bergerak di dalam air.

Dengan tenaga luar biasa pemuda ini meluncurkan dayungnya ke dalam air menghantam bayangan itu, di antara para penyelam itu terkena pukulan dayung yang disambitkan, kepalanya pecah dan tak lama kemudian mayatnya terapung di permukaan laut, sebentar tenggelam dipermainkan ombak bersama dengan mayat-mayat kawannya yang sudah tewas ketika Tiang Bu melompat-lompat dari perahu ke perahu tadi.

Perahu tetakhir makin miring dan akhirnya tak dapat ditahan lagi perahu itu tenggelam!

Tiang Bu mengerahkan tenaga.

menjejak perahu yang hampir lenyap dari permukaan air itu dan melompat ke arah darat.

Akan tetapi hanya dapat mencapai jarak sepuluh tombak lagi dari daratan tubuhnya jatuh ke dalam air.

"Byuuurr......!"

Air memercik tinggi dan tubuh Tiang Bu tidak kelihatan lagi.

Hanya kelihatan para anak buah bajak dengan tombak di tangan kanan dan kaitan di langan kiri cepat berenang ke arah tempat pemuda itu tenggelam!

Untungnya Bi Li tidak melihat keadaan kekasihnya itu.

Kalau ia menyaksikan betapa kekasihnya terjun ke dalam laut dan dikejar oleh ahli-ahli penyelam yang bermaksud membunuhnya, dapat dibayangkan betapa akan hancur dan bingungnya hati Bi Li.

Pada saat Tiang Bu terancam nyawanya Bi Li masih berlutut di pinggir laut.

Sudah lama titik hitam perahu Tiang Bu lenyap dari pandangan matanya dan gadis ini masih tetap berlutut, hatinya penuh doa untuk keselamatan Tiang Bu, orang satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.

"Bi Li, kau sedang apa di sini?"

Terdengar pertanyaan halus yang membuat Bi Li terkejut.

Seakan-akan gadis ini ditarik turun dari angkasa lamunannya.

Ia melompat berdiri dan membalikkan tubuh.

Ternyata gurunya Ang jiu Mo-li telah berada di depannya!

"Bi Li, kau sudah sampai di sini mengapa berlutut dan seorang diri?

Mana Tiang Bu?"

Tanya pula Ang-jiu Mo-li sambil menoleh ke sana ke mari, seakan-akan mengharapkan akan melihat Tiang Bu berada di sekitar tempat itu.

"Dia sudah berangkat ke Pek-houw to, meninggalkan teecu seorang diri di sini."

"Lho, mengapa begitu? Mengapa kau tidak ikut serta?"

"Teecu disuruh menanti di sini karena katanya.......... amat berbahaya kalau teecu menyerbu. Musuh amat lihai dan dia hendak turun tangan sendiri agar lebih leluasa. Dia.......... dia melakukan ini untuk menjaga agar teecu tidak terancam bahaya."

Bi Li membela dan melindungi kekasihnya agar tidak dipersalahkan oleh Ang-jiu Mo-li.

"Hemm, dasar anak muda. Bodoh sekali! Mati hidup siapakah yang kuasa mengatur kecuali Thian? Mengapa takut mati kalau sudah berani hidup? Bi Li, calon jodohmu itu keliru dalam hal ini. Dia hendak menjauhkan kau dari bahaya, akan tetapi sebaliknya dia membuat kau berada dalam kegelisahan dan penderitaan batin. Bukankah kau menderita sekali ditinggalkan tidak tahu bagaimana dengan nasibnya, bukan?"

Bi Li menundukkan mukanya.

"Memang betul.........."

"Dan kau akan suka sekali, rela mati bersama kalau kau berada di sampingnya, ikut membantunya dalam penyerbuan ke Pek-hou to, bukan?"

Kembali Bi Li mengangguk akan tetapi tidak ada kata-kata keluar dari mulutoya untuk membela Tiang Bu.

"Baik kita susul dia. Kau ikutlah dengan aku."

"Akan tetapi...... dia sudah pesan supaya teecu menanti di sini??"

Ang-jiu Mo-li membelalakkan matanya yang masih bagus.

"Hemm..... belum jadi isterinya kau sudah begitu setia dan taat, lebih taat dari pada kepada gurumu.......?"

Bi Li merasa jengah dan malu, hendak berlutut meminta maaf, akan tetapi tidak jadi ia lakukan ketika mendengar kata-kata Ang-jiu Mo-li.

"Bagus begitu, muridku! seorang wanita harus setia dan taat kepada suaminya dalam hal yang sewajarnya. Memang Tiang Bu melarangmu ikut adalah demi menjaga beselamatanmu, dan memang ia akan dapat bergerak lebih leluasa tampa kau di sampingnya yang hanya akan merupakan gangguan. Kepandaianmu masih jauh kalau harus berhadapan dangan musuh-musuh itu. Akan tetapi sekarang ada aku di sampingmu, aku dapat menjagamu baik-baik. Bahkan kita berdua akan dapat membantu Tiang Bu, kalau-kalau ia kewalahan menghadapi lawan-lawannya yang memang berat."

Bi Li lalu menceritakan tentang tantangan yang ditulis oleh Liok Kong Ji dan tentang perahu yang dikirim untuk menjemput Tiang Bu. Ang-jiu Mo-li mengerutkan kening.

"Tiang Bu gegabah sekali. Kalau musuh sudah mengetahui kedatangannya, itu berarti musuh sudah bersiap sedia menyambut dengan segala macam daya. Liok Kong Ji terkenal jahat dan keji, penuh tipu daya dan muslihat busuk. Lebih baik menyerbu ke Pek-houw-to dengan diam-diam. Akan tetapi ini dapat dimengerti. Tiang Bu seorang pemuda, tentu saja ia tidak tahan menghadapi tantangan. Mari kita mencari perahu dan segera menyusul."

Bi Li tidak membantah lagi, bahkan diam-diam ia gembira sekali.

Memang sesungguhnya, bagi Bi Li lebih baik ia ikut dan selalu berada di samping kekasihnya.

Lebih baik mati bersama dari pada hidup terpisah.

Setelah pergi mencari agak jauh dari situ, akhirnya Ang jiu Mo-li dapat bertemu dengan seorang nelayan miskin yang suka menyewakan perahu bututnya.

Memang semenjak gerombolan Liok Kong Ji mendiami Pek houw-to, keadaan di situ sunyi sekali.

Para nelayan sama pergi pindah dari situ, kecuali nelayan nelayan miskin yang hanya mempunyai perahu butut.

Perahu-perahu butut dan nelayan-nelayan miskin tentu saja tidak ada harganya bagi anak buah Liok Kong Ji dan karenanya malah tidak akan diganggu.

Tak lama kemudian, Ang-jiu Mo-li dan Bi Li duduk di dalam perahu butut itu yang mereka dayung perlahan menuju ke tengah samudera.

Ang-jiu Mo li sudah mencari keterangan sejelasnya tentang letak pulau ini dan sengaja memutar perahunya dan mendatangi pulau itu dari timur.

Karena mereka sudah tahu akan kedatangan Taang Bu dari pantai, tentu penjagaqn mereka dikerahkan di pantai pulau sebelah utara.

Lebih baik kita ambil jalan dari pantai timur dan masuk dari pintu belakang,?

kata Ang-jiu Mo li yang bersikap hati-hati sekali, tidak seperti biasanya.

Ini adalah karena Ang-jiu Mo-li maklum akan kelihayaian lawan-lawannya yang berada di Palau Pek houw-to, sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan lawan-lawan yang pernah dia jumpai dan pernah ia tandingi.

Mari kita mengikuti pengalaman Tiang Bu yang sedang menuju ke Palau Pek-houw-to untuk melakukan perhitungan dengan musuh-musuh besarnya.

Seperti telah diceritakan bagian depan, perahu yang ditumpangi oleh Tiang Bu dihadang oleh bajak-bajak anak buah Liok Kong Ji dan dikurung.

Setelah melakukan pertempuran hebat di atas perahu, akhirnya bajak-bajak itu menenggelamkan semua perahu sehingga terpaksa Tiang Bu melompat ke darat.

Namun, betapapun tinggi kepandaian pemuda ini, lompatannya tidak mencapai darat yang masih amat jauhnya sehingga ia tercebur ke dalam air.

Tubuhnya tenggelam dan para anak buah bajak itu dengan tombak di tangan cepat berenang ke arah tempat pemuda itu tenggelam.

Para bajak itu berteriak-teriak girang, tombak di tangan kiri siap untuk merobek-robek tubuh pemuda itu untuk mencari pahala.

Memang baik sekali tadi Tiang Bu tidak mengajak Bi Li.

Andaikata kekasihnya itu ikut dan sekarang bersama dia tercebur ke dalam air, tentu payah keadaan mereka.

Kini Tiang Bu yang merasa tubuhnya tenggelam, ia cspat mengenjot kakinya ke bawah.

Bagaikan didorong oleh tenaga raksasa tubuhnya mumbul lagi ke permukaan air.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Tiang Bu untuk menyedot hawa udata.

Kemudian ia membiarkan kedua kakinya lurus sehingga tubuhnya tenggelam lagi ke bawah.

Para bajak melihat ini mengira bahwa Tiang Bu memang tak berdaya di air, makin bernafsulah mereka, berenang menghampiri.

Memangsesungguhnya Tiang Bu tidak pandai berenang.

Akan tetapi ia memiliki lweekang yang sudah mencapai tingkat yang sukar diukur lagi tingginya.

Dengan mengisi paru-paru dengan hawa udara, ia sanggup bertahan tidak bernapas sampai lama sekali.

Ia seorang cerdik yang tabah.

Ia tahu bahwa kalau ia menjadi gugup, ia akan tewas oleh bajak-bajak itu dan pandai bermain di air.

Oleh karena itu ia bersikap tenang, mengisi dada penuh hawa lalu membiarkan tubuhnya tenggelam.

Setelah kedua kakinya mencapai dasar laut yang sudah tak begitu dalam lagi karena dekat pantai, Tiang Bu lalu menggerakkan kedua kakinya berjalan menuju ke daratan!

Sepasang matanya yang terlatih baik itu dapat melihat ke depan, ia berjalan terus dengan tenang dan, siap menanti serangan lawan.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya para bajak itu.

Ketika mereka ini mengejar dan menyelam ke bawah, mereka melihat orang yang dikejarnya itu "berjalan-jalan"

Di atas dasar laut seperti orang berjalan jalan makan angin di taman bunga saja!

Untuk sejenak mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Akan tetapi yakin akan kepandaian sendiri bermain di dalam air para anak buah bajak itu beramai lalu menyerbu, menyerang Tiang Bu dengan tombak dan kaitan mereka.

Mereka pikir bahwa di dalam air tidak mungkin pemuda itu masih selihai di darat.

Akan tetapi perhitungan mereka jauh meleset.

Memang tak dapat disangkal lagi bahwa kalau ia disuruh berenang atau menyelam bermain seperti ikan di dalam air, Tiang Bu akan angkat tangan tidak sanggup.

Akan tetapi sekarang soalnya lain lagi.

Pemuda itu bukan berenang atau menyelam, melainkan tenggelam begitu saja dan berdiri di atas dasar air laut yang sudah berada di tepi, agak dangkal dan tidak besar ombaknya.

Berkat khikang dan lweekangnya yang sudah sempurna, Tiang Bu dapat menahan napas dan dapat memberatkan tubuh sehingga dapat bergerak lebih leluasa dari pada penyelam atau ahli berenang yang manapun juga!

Melihat datangnya serangan tombak dan kaitan, Tiang Bu tidak gentar sama sekali.

Dengan kedua tangannya ia menyambar, menangkapi ujung tombak dan sekali gentak saja orang-orang itu sudah terdorong jauh sekali.

Sedangkan di darat saja mereka itu bukan apa-apa bagi Tiang Bu, apa lagi di dalam air.

Tubuh dan berat badan mereka itu tidak seberapa, tentu saja dengan mudah mereka dapt dibikin kocar-kacir.

Bahkan ada yang terkena pukulan dan turukan tombak sendiri, membuat mereka terapung ke permukaan air dalam keadaan terluka berat.

Para bajak Itu menjadi gentar dan tidak berani lagi menyerang, membiarkan pemuda?

Berjalan-jalan?

menuju ke pantai.

Air makin lama makin dangkal sampai akhirnya Tiang Bu tiba di pinggir daratan yang dalamnya hanya sampai ke leher.

Dengan girang ia melihat daratan di depan mata, dapat ia mengambil pernapasan.

Hatinya lega.

Setelah tiba di darat, ia tak usah khawatir lagi akan keroyokan musuh.

Tadipun ia masih untung karena yang mengerojoknya di dalam air hanya bajak bajak dengan kepandaian biasa saja.

Kalau ia bertemu dengan orang pandai di dalam air, tentu ia tak dapat melakukan perlawanan sebagai mana mestinya.

Akan tetapi, begitu ia melompat ke darat ia telah dihadang oleh seorang pesuruh Liok Kong Ji yang memegangi sebuah perahu.

Pesuruh itu menjura di depan Tiang Bu lalu berkata.

"Hamba diutus oleh Liok-taihiap untuk mengganti perahu kongcu yang sudah tenggelam. Kalau kongcu hendak bertemu dengan Liok taihiap, kongcu dinanti di ujung pulau ini. Karena perjalanan melalui darat amat sukar dan khawatir kongcu, sesat jalan, maka perahu ini sengaja disediakan untuk kongcu. Dengan mendayung perahu ini sepanjang pantai terus ke sana, dalam waktu satu jam kongcu akan tiba di tempat Liok taihiap. Demikianlah pesan taihiap, kecuali kalau kongcu sudah kapok dan takut naik perahu, kongcu persilahkan mengambil jalan darat yang lebih jauh dan sukar."

Tiang Bu mendongkol sekali.

Ia tak beleh percaya omongan seorang utusan Liok Kong Ji, akan tetapi embel embel dalam ucapan tadi yang menyatakan bahwa kalau ia takut naik perahu ia dipersilahkan melalui darat, memanaskan perutnya.

Mengapa ia harus takut?

Ia tersenyum mengejek.

"Siapa sih yang takut menghadapi segala bajak tiada guna? Kalau menantangku naik ke perahu, baik. Aku akan naik perahu ini."

Setelah berkata demikian, Tiang Bu melompat ke dalam perabu itu dan mendayung agak ke tengah.

Perahu itu mungil dan enak dayungannya, maka Tiang Bu tidak mengkhawatirkan sesuatu.

Dengan hati-hati akan tetapi cepat ia mendayung perahu itu.

Pantai pulau selalu berada di sebelah kirinya dan ia menuju ke ujung pulau yang tadi ditunjukan oleh pesuruh yang membawa perahu.

Pantai yang tadinya berpasir berganti pantai yang terhias tetumbuhan, pohon-pehon dan batu karang.

Batu-batu karang dan pohon-pohon besar berdiri di tepi pantai, tempat ini amat baiknya untuk orang bersembunyi memasang barisan pendam.

Tiang Bu melirik dan ia berlaku makin hati-hati.

Ia maklum sekali bahwa kalau fihak musuh hendak membokongnya, tempat inilah kiranya yang paling baik dan tepat.

Ia sengaja mendekatkan perahu agak ke pinggir untuk menjaga agar ia mudah mendarat kalau sampai terjadi apa-apa.

Tiang Bu sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi, sepasang mata yang tajam bersinar aneh mengintainya dengan penuh kebencian.

Inilah mata Liok Cui Kong yang sejak tadi sudah mengamat-amati gerak-gerik musuh besarnya.

Akan tetapi hatinya terlalu pengecut untuk muncul begitu saja, maklum bahwa terhadap Tiang Bu ia tidak berdaya sedikitpun juga.

Di belakangnya juga sembunyi banyak kawannya, di antaranya Lam-thian-chit-ong akan tetapi mereka inipun tidak mau bergerak sebelum menerima tugas.

Ketika Cui Kong sedang memutar otak bagaimana harus menyerang musuhnya itu, tiba-tiba ia melihat Tiang Bu mendekatkan perahunya ke pantai.

Girang sekali hati Cui Kong ia mendapat jalan untuk menyerang lawannya.

Dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, pemuda jahat ini mengangkat sebuah batu karang besar sekali dan beratnya ada lima ratus kati lebih.

Ia memasang kuda-kuda, menggerakkan tangan dan tubuh dan..........

sekali lontar batu itu melayang jauh menuju ke depan perahu yang ditumpangi Tiang Bu!

Memang Cui Kong pintar sekali.

Ia tahu bahwa perahu itu bergerak ke depan dan Tiang Bu memiliki tenaga yang luar biasa, sehingga kalau ia melontarkan batu ke arah perahu, tipis sekali kemungkinan akan mengenai perahu dengan tepat.

Oleh karena itu ia sengaja membidik ke depan perahu dan memang perhitungannya tepat sekali.

Batu itu besar dan berat, dilontarkan dengan tenaga lweekang yang sudah terlatih, maka luncurannya tidak kalah lajunya dengan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya!

Kalau diserang seperti ini di darat, tentu Tiang Bu akan memandang ringan saja, akan tetapi sekarang ia berada di atas perahu yang sedang meluncur di atas air!

Namun, karena dia memang sudah siap dan waspada, ia tidak sampai kena bokong, tidak menjadi gugup.

Melihat datangnya batu besar itu hendak menimpanya, Tiang Bu mendahului dengan gerakan melompat yang indah dan cepat sekali, bahkan kecepatannya melebihi kecepatan batu.

Memang hampir tak dapat dipercaya oleh Cui Kong ketika pemuda ini melihat betapa Tiang Bn melesat ke atas sebelum batu itu menimpa perahu dan Tiang Bu malah menginjakkan kaki ke atas batu itu dan dipergunakan sebagai batu loncatan ke daratan!

Hampir bersamaan waktunya, ketika batu besar itu menimpa perahu sampai hancur lebur, Tiang Bu juga sudah tiba di darat dengan selamat!

"Hebat......!"

Para anggauta Lam-thian-chit-ong berseru memuji, lupa bahwa yang mereka puji adalah musuh.

Memang, kepandaian yang sudah diperlihatkan oleh Tiang Bu tadi benar-benar hebat dan mengagumkan.

Sementara itu, melihat Cui Kong, sudah gatal-gatal tlangan Tiang Bu hendak menyerang.?Cui Kong, manusia iblis!

Sekarang kita sudah berhadapan satu dengan yang lain, kalau kau benar jantan jungan main curang, mari kita mengadu tenaga sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa.

Ucapan ini dikelurkan oleh Tiang Bu dengan sikap tenang, akan tetapi mengandung tantangan dan ancaman yang membuat nyali Cui Kong mengecil.

Biarpun begitu, Cui Kong yang cerdik dan penuh akal bulus ini segera menyambut tantangan Tiang Bu dengan ketawa mengejek.

"Ha-ha ha, Tiang Bu manusia sombong. Kau datang hanya untuk mengantar kematianmu di sini. Kaulihat tujuh orang gagah ini? Mereka adalah paman-pamanku, Lam-thian-chit-ong yang terkenal dengan Chit-seng-tin mereka! Apa kau berani menerjang barisan mereka? Ha.ha-ha, Tiang Bu. Kau takkan dapat keluar dari kurungan Chit-seng-tin dengan tubuh bernyawa!"

Memang Cui Kong patut menjadi putera angkat Liok Kong Ji.

Pemuda ini memiliki siasat yang lihai dan otaknya dapat dengan cepat mengatur tipu daya.

Kegagalannya menyerang Tiang Bu dengan batu tadi membuat ia makin insyaf bahwa menghadapi Tiang Bu bukanlah pekerjaan ringan.

Maka ia cepat mengajukan Lam thian-chit-ong untuk dapat menahan musuh itu untuk sementara sedan Ian dia dapat mendatangkan bala bantuan.

Oleh karena memang ia tadi mengajukan Lam-thian-chit-ong hanya untuk dapat melepaskan diri dari ancaman Tiang Bu, begitu melihat tujuh orang pembantu ayahnya itu bergerak membentuk barisan dan menghampiri Tiang Bu, Cui Kong diam diam menyelinap pergi untuk memberi laporan kepada ayah dan gurunya.

Akan tetapi ia mendapatkan ayahnya dan gurunya juga sedang dalam keadaan panik.

Semua tenaga di atas pulau dikerahkan untuk melakukan penjagaan dan Liok Kong Ji berdua Lo thian-tung Cun Ga Tosusudah dalam keadaan bersiaga dengan sejata di tangan, wajah mereka tegang!

Setelah Cui Kong menyelidiki, baru dia tahu bahwa ada penjaga melapor akan datangnya serbuan Wan Sin Hong dan kawan-kawannya ke pulau itu mereka masih dalam perjalanan akan tetapi tak lama lagi, mungkin pada hari itu atau besok hari, akan tiba di pulau ini.

Cui Kong mengetuh.

"Celaka benar, mengapa mereka bisa datang dalam waktu yang sama? Ayah, sekarang Tiang Bu juga sudah mendarat, untuk sementara dilayani oleh Lam-thian-chit-ong. Aku cepat pulang untuk melapor bahwa usahaku membikin dia mampus dalam perahu sia-sia belaka."

Liok Kong Ji mengerutkan alisnya.

"Kalau anak setan itu tak dapat dibinasakan cepat-cepat dan Sin Hong keburu datang, kita bisa menghadapi lawan yang sangat berat. Mari kita gempur dulu bocah murtad itu, baru kita himpun tenaga untuk menghadapi Wan Sin Hong yang kabarnya datang bersama tokoh-tokok kang-ouw."

Cepat Kong Ji mengajak Cun Gi Tosu dan Cui Kong ke tempat di mana Tiang Bu tadi dikeroyok oleh barisan Lam-thian-chit-ong.

Mereka melakukan perjalanan cepat sekali karena khawatir kalau-kalau Lam-thian-chit-ong tidak kuat menanggulangi amukan Tiang Bu yang mereka semua sudah kenal kelihaiannya.

Kekhawatiran mereka memang tidak berlebihan.

Tiang Bu yang menghadapi tujuh orang berpakaian aneh itu berlaku teneng sekali bahkan sekali lirik ke arah kedudukan mereka saja, tahulah pemuda ini bahwa barisan Chit-seng-tin (Barisan Tujuh Bintang, mereka itu mudah saja pemecahannya.

Namun, ia maklum pula bahwa siapa yang belum pernah mempelajari kitab-kitab seperti Sen thian-to dan Thian-te Si-keng, memang akan mengorbankan waktu berpuluh tahun untuk menciptakan barisan seperti yang sekarang diatur oleh tujuh orang berpakaian aneh ini.

Maka ia menghela napas panjang.

Orang orang ini sudah bersusah payah menciptakan barisan, yang dalam kalangan kang-ouw tentu merupakan barisan istimewa yang sukar dilawa.

Sebetulnya sayang juga kalau usahanya sedemikian sukar dan lamanya kini dilenyapkan begitu saja.

"Chit-wi loenghiong (tujuh orang tua gagah), sesungguhnya di antara aku dan chit-wi tidak ada perhitungan apa-apa yang patut diperhitungkan dengan pertempuran, tidak pernah ada permusuhan. Melihat barisan chit-wi ini, berpusat pada Li-seng (Bintang Wanita) dan Nam-seng (Bintang Pria) dan bersumber pada pertukaran tertentu dari pada Im Yang. Cambuk di tangan kanan cu-wi (saudara sekalian) itu mewakili Im-kang (tenaga lemas) dan pisau pendek itu mewakili Yang-kang (tenaga kasar). Ditilik demikian, barisan cu-wi ini diciptakan oleh seorang yang sudah tahu akan hukum alam, tahu pula akan pekerjaan Im Yang. Tidak amat sayangkah kulau sekarang dipergunakan untuk membantu manusia jahat seperti Liok Kong Ji dan untuk mengeroyok orang yang sama sekali tidak ada hubungan atau permusuhan dengan cu-wi? Ingat, lebih baik pikir masak-masak sebelum bertindak dari pada menyesal setelah terlambat!"

Dua orang di antara mereka, yang berpakaian putih dan hitam melengak dan saling pandang.

Mereka kagum dan heran bukan kepalang mendengar ucapan pemuda ini yang sekali lirik saja sudah dapat mengenal inti dari pada Chit seng-tin mereka!

Akan tetapi lima orang yang lain lebih merasa marah dari pada kagum.

Mereka marah dan mendongkol sekali, apa lagi yang berpakaian merah.

Dengan keras ia membentak sambil menudingkan pisaunya.

"Bocah sombong! Kami tidak minta petuah darimu. Kalau kau takut menghadapi Chit-seng-tin kami, lebih baik terus terang saja dan lekas kau minggat dari sini, tak usah banyak mengoceh seperti burung mau mati."

Dalam hal mengendalikan perasaan, tentu saja Tiang Bu menang jauh.

Pemuda ini setelah memperdalam kepandaiannya dari kitab Seng thian-to, memoperoleh kemajuan hebat sekali lahir batinnya.

Ia tersenyum saja mendengar bentakan si baju merah dan kembali menarik napas panjang.

"Memang tepat sekalt kalian mengatur pembagian warna. Warna merah itu bersifat penuh semangat, panas dan menjadi sifat dari pada api. Dan orang yang memakai warna ini memang cocok, telinganya mudah merah, otak mudah sinting."

Si baju merah menjadi makin marah. Dia memang merupakan pimpinan barisan itu, maka segera ia memberi tanda kepada kawan-kawannya dengan gerakan cambuknya ke atas sambil memaki.

"Setan cilik, kau sudah bosan hidup!"

Melihat isyarat yang diberikan oleh saudara tua itu, semua anggauta Chit-seng-tin bersiap siaga dengan senjata mereka dan mulai mengurung Tiang Bu.

Akan tetapi si baju putih dan si baju hitam nampak ragu-ragu.

Si baju putih berkata.

"Ang-ko ( kakak merah ), bocah ini tahu akan sifat tin kita, jangan jangan kita memukul orang segolongan!"

"Betul, Ang-ko, dia begitu tepat bicara tentang keadaan tin kita. Apakah tidak lebih baik berunding saja?"

Kata si hitam.

"Tutup mulut, dia musuh Liok-taihiap. Kewajiban kita untuk membasminya. Serbuuu!"

Kata si baju merah.

Tin itu mulai bergerak dan menurut isyarat si baju merah, tin itu membentuk gerakan Tujuh Bintang Berpindah Tempat.

Barisan ini bergerak cepat dan melenggang-lenggok seperti naga berjalan, sukar sekali diduga lebih dulu ke mana seorang-seorang hendak bergerak.

Tahu-tahu cambuk panjang mereka berbunyi dan susul menyusul menyambar ke arah kepala Tiang Bu!

Ini masih ditanjutkan dengan sambitan pisau yang dipergunakan sebagai senjata rahasia.

Tujuh batang pisau kecil runcing melayang ke arah tuhuh pemuda yang masih tenang-tenang itu sebagai penyerangan susulan dari tujuh ujung cambuk yang menyambar dari segala jurusan mengarah jalan darah.

Tiang Bu dalam menghadapi serangan hebat ini, masih dapat membedakan dan dapat melihat bahwa ujung cambuk kedua orang berpakaian putih dan hitam itu hanya meyambar ke arah jalan darah di pundaknya, bagian yang tidak berbahaya bagi keselamatan nyawanya.

Juga pisau-pisau mereka itu hanya melayang ke arah kedua pahanya, tidak seperti lima orang yang lain.

Lima orang lawan yang lain ini mengirim senjata-senjata mereka, baik cambuk maupun pisau, ke arah bagian yang mematikan.

Menghadapi serangan berantai yang berbahaya ini, Tiang Bu berlaku tenang sekali akan tetapi tubuhnya segera bergerak dan empat kaki tangannya bekerja dengan tepat sekali.

Tujuh orang lawannya menjadi terheran heran karena sebelum cambuk mereka mengenai tubuh pemuda itu, sudah lebih dulu tertolak kembali oleh semacam hawa pukulan sakti yang keluar dari kaki tangan itu.

Sedangkan tujuh batang pisau itupun runtuh semua di atas tanah tanpa melukai kulit atau merobek baju.

Sambil terus menggerak-gerakkan kaki tangannya, Tiang Bu berkata seperti orang bernyanyi.

"Bintang-bintang di langit sudah mempunyai jalan sendiri maka dapat bergerak menurut jalannya dan terhindar dari kehancuran. Hanya bintang yang menyeleweng dari jalannya akan hancur. Masih ada kesempatan bagi kalian, mati hidup ditentukan oleh Thian akan tetapi sebab-sebabnya ditentukan oleh manusia sendiri sebagai akibat perbuatannya!"

Setelah berkata demikian, iapun sudah selesai menangkis semua pakulan cambuk dan Tiang Bu malangkah mundur tiga tindak, berdiri tegak dan memandang ke arah musuh-musuhnya dengan mata tajam.

Tidak terdesak, tapi mundur tiga tindak itu hanya boleh diartikan sebagai gerak mengalah dalam pertandingan silat, mengalah bukan karena terdesak atau kalah, melainkan karena pemuda ini enggan menurunkan tangan kepada orang orang yang tidak ada permusuhan dengannya.

Kalau si baju merah dengan kawan-kawannya itu orang baik-baik, tentu mereka tahu diri!

Melihat betapa pisau pisau mereka tadi runtuh dan cambuk mereka terpental kembali sebelum menyentuh kulit tubuh Tiang Bu, seharusnya mereka maklum bahwa tingkat mereka masih jauh di bawah tingkat pemuda luar biasa ini.

Akan tetapi Lam thian chit-ong ini semenjak dahulu terkenal sebagai perampok-perampok jahat yang tidak tahu artinya takut, tidak mau pula mengenal kesalahan sendiri, maunya menang saja, benar ataupun salah.

Mendengar ucapan Tiang Bu itu si baju merah tidak mau insyaf, malah mengira bahwa Tiang Bu merasa jerih menghadapi pengeroyokan tin mereka.

Ia kembali memberi isyarat dan majulah barisan itu, kini berbentuk lingkaran yang mengurung Tiang Bu.

Hanya si baju hitam dan si baju putih yang masih ragu-ragu.

Mereka bergerak lambat dan tidak segera menyerang.

Yang lain-lain sudah mulai mengayun cambuk dan mengerahkan seluruh tenaga lweekang untuk melakukan serangan.

Tidak seperti tadi, kini semua cambuk diarahkan ke bagian kepala Tiang Bu dengan pukulan maut!

Hanya si baju hitam dan si baju putih yang tidak mau menyerang kepala hanya menyabet ke arah pundak.

"Kalian sudah memilih jalan hidup dan mati, jangan salahkan aku!"

Bentak Tiang Bu tanpa menggerakkan kaki atau tangannya.

Akan tetapi setiap kali ada cambuk menghantam kepalanya, tangannya bergerak cepat sekali dan aneh sekali.....!

Cambuk yang menyambarnya itu bagaikan bisa bergerak sendiri, ujungnya membalik secepat kilat dan menyerang si pemegang tepat nada bagian yang tadi hendak dtserangnya.

Si baju merah yang gerakan cambuknya paling cepat dan paling dulu, menjadi korban pertama.

Cambuk si baju merah tadi menyambar ke arah ubun-uban kepala Tiang Bu dan ketika ujung cambuk bertemu dengan jari tangan pemuda itu, secepat kilat cambuk ini membatik dan ujungnya menghantam ubun-ubun kepala si baju merah sendiri dengan tenaga yang jauh lebih hebat dari pada tadi.

Hal ini karena tenaga si baju merah membalik, ditambah oleh tenaga sentilan jari tangan Tiang Bu.

Tanpa dapat mengeluarkan suara lagi, si baju merah terguling roboh dengan ubun-ubun kepala pecah oleh cambuknya sendiri dan ia menggeletak tak bernyawa lagi.

Oleh karena gerakan tujuh orang ini hampir berbareng, yang lain-lain tak sempat melihat akibat yang hebat ini karena mereka sendiripun secara susul menyusul dan hampir berbareng mengalami akibat itu dari cara pukulan masing-masing.

Si baju hijau juga roboh dengan ubun-ubun bolong, si baju biru roboh dengan jidat remuk demikian pula yang lain lain, roboh tak bernyawa pula.

Hanya si baju hitam dan si baju putih yang roboh tanpa kehilangan nyawa karena mereka ini hanya terserang oleh cambuk sendiri di bagian pundak saja, membuut tulang pundak mereka remuk namun tidak sampai mengakibatkan kematian.

Tiang Bu menarik napas panjang melihat lima orang lawannya tewas dan dua yang lain merintih-rintih kesakitan.

"Kalian masih ditakdirkan hidup. Kalau tadinya kalian berdua merupakan Hek-pek-mo (Iblis Hitam dan Putih), kuharap sungguh agar kelak kalian bisa menjadi Hek-pek-cinjin (Budiman Hitam Putih). Pergilah sebelum kalian mengalami bencana lebih besar."

Tiang Bu memberi dua bungkus obat kepada mereka dan dua orang saudara hitam dan putih ini segera pergi dengan muka pucat.

Mereka maklum bahwi kalau Liok Kong Ji melihat mereka masih hidup, tentu akan timbul kecurigaan dan bukan hal aneh kalau mereka juga akan dibunuh sekalian oleh Liok Kong Ji.

Demikianlah, ketika Liok Kong Ji, Cun Gi Tosu, dan Liok Cui Kong tiba di tempat mereka hanya melihat lima orang anggaota chit ong yang sudah menjadi mayat.

Dua orang lagi yang berpakaian hitam dan putih tidak kelihatan, juga Tiang Bu tidak berada di situ.

"Hemm, agaknya mereka ini bukan lawan Tiang Bu,"

Kata Liok Kong Ji, suaranya terdengar tenang akan tetapi sebetulnya jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Cui Kong menjadi pucat sekali.

"Ke mana Hok-pek-hu (paman Hitam) dan Pek-pet-hu (paman Putih)?"

Tanyanya dan suaranya jelas menggigil ketakutan.

"Penakut!"

Kong Ji membentak sambil meludah. Hatinya mendongkol sekali mendengar suara Cui Kong yang menggigil.

"Mereka tentu sudah lari. Mengapa kau begitu ketakutan?"

"Ayah.......... Tiang Bu begitu.......... begitu keji dan kuat........."

"Pengecut! Kau kira aku tidak dapat melawannya? Lihat saja nanti aku akan mencabut isi perut anak durhaka ini!"

Memang Liok Kong Ji tidak hanya menyombong dan bicara untuk membesarkan hati.

Semenjak tinggal di pulau ini, ia telah melatih diri dengan tekun sekali.

Apa lagi ia telah mempelajari ilmu dari kitab DELAPAN JALAN UTAMA yang didapatkannya dari Toat-beng Kui-bo.

Dari kitab ini ia memperoleh kemajuan ilmu lwee-kang yang luar biasa, juga ilmu pedangnya menjadi makin kuat, maka ia menaruh kepereayaan bahwa ini kali ia akan dapat mengalahkan musuh-musuhnya, baik Wan Sin Hong maupun Tiang Bu.

"Cun Gi totiang kedatangan Wan Sin Hong tentu untuk minta kembali puterinya. Kalau mereka bergabung dengan Tiang Bu, keadaan musuh akan menjadi lebih kuat. Oleh karena Leng ji merupakan senjata terakhir kita, dia itu penting sekali dan jangan sampai terampas oleh musuh. Harap totiang segera mengambil anak itu lebih dulu sebelum kita menghadapi musuh. Kalau keadaan musuh terlampau kuat, mungkin bocah itu akan dapat menyelamatkan kita."

Cun GI Tosu juga percaya akan kepandaian sendiri.

Dia tidak takut berhadapan dengan musuh, akan tetapi ia pikir ucapan Liok Kong Ji ini memang tepat, mengandung kecerdikan luar biasa.

Maka ia mengangguk dan berkelebat pergi.

Mengagumkan sekali kalau melihat kakek yang kakinya tinggal sebelah itu?berlari"

Secepat itu, seperti orang yang tidak cacad saja, bahkan melebihi ahli ginkang yang kakinya masih utuh.

Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong juga pergi dari situ untuk mengatur penjagaan dengan mengerahkan semua penjaga yang berada di pulau itu.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kekagetan dan kegelisahan hati mereka ketika melihat di sana-sini para penjaga menggeletak dalam keadaan tertotok atau terluka .

"Kita harus membantu Cun Gi totiang,"

Kata Liok Kong Ji sambil mencabut pedang.

"Jangan sampai dia roboh oleh musuh, apa lagi jangan sampai Leng-ji dirampas. Dengan berkumpul kita bertiga cukup kuat!"

Ayah dan anak ini dengan hati dag-dig-dug berlari-larian cepat menyusul ke tempat tinggal Cun Gi Tosu karena Leng Leng memang disembunyikan di situ, dikawani beberapa orang pengasuh.

Ketika mereka tiba di depan pondok tempat tinggal Cun Gi Tosu, betul saja tosu itu sedang mati-matian bertempur melawan Tiang Bu!

Cun Gi Tosu mainkan tongkatnya secara hebat dan dahsyat, dan Tiang Bu menghadapinya, dengan tangan kosong.

Bagaimana Tiang Bu bisa muncul di situ dan bertempur dengan Cun Gi Tosu?

Tadinya Cun Gi Tosu berlari cepat menuju ke pondoknya untuk mengambil Leng Leng, dan di dalam hatinya ia sudah mempunyai muslihat licik.

Ia adalah guru Leng Leng dan melihat Leng Leng dalam keadaan selamat, tentu Wan Sin Hong takkan terlalu mendesaknya.

Kalau ia menukarkan Leng Leng dengan keselamatannya, masa Wan Sin Hong takkan mau menerimanya?

Akan tetapi ketika ia sedang berjalan cepat sampai di depan pondoknya, dari balik rumpun bambu berkelebat bayangan lain yang segera menegurnya.

"Cun Gi totiang perlahan dulu!? Cun Gi Tosu berhenti dan memandang. Di depannya berdiri seorang pemuda dengan sepasang mata seperti bintang pagi, bibir tebal membentuk watak teguh dan iman kuat.

"Siapa kau? Mau apa?"

Cun Gi Tosu membentak.

"Cun Gi totiang. Selama hidupku, baru untuk kedua kali ini aku bertemu dengan totiang yang bercacad, sebetulnya patut dikasihani. Sayangnya, perbuatan totiang yang tidak patut menditangkan kebencian yang lebih besar dari pada rasa kasihan kepada tubuh totiang."

"Eh, bocah lancang. Kau siapakah dan apa artinya semua ocehanmu tadi?"

Cun Gi Tosu membentak marah, namun hatinya sudah dapat menduga siapa adanya bocah yang begitu berani mampus, datang-datang mencelanya.

"Aku yang muda dan bodoh bernama Tiang Bu, dahulu ketika masih kecil pernah melihat totiang ikut menyerbu Omei-san dan mencuri kitab-kitab dari suhu."

"Ho ho, jadinya kau ini murid Omei san? Dan kau datang hendak minta kembali kitab kitab Omei-san?"

Kali tosu itu membesarkan hatinya.

"Bukan itu saja, totiang. Selain minta kitab juga aku tidak dapat membiarkan kejahatanmu yang lain-lain. Kau sudah membantu manusia-manusia jahat macam Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong. Juga kau sudah menculik anak dari Wan-taihiap....."

"Bocah keparat, jadi kau anak durhaka dari Liok-taihiap? Alangkah memalukan punya anak macam kau. Rasakan tongkatku!"

Dengan marah Cun Gi Tosu mengayun tongkatnya melakukan serangan kilat dengan tongkatnya ke arah kepala Tiang Bu.

Memang tadinya tosu ini sudah sering mendengar dari Liok Kong Ji dan Cui Kong tentang kelihaian Tiang Bu, akan tetapi sekarang melihat bahwa Tiang Bu hanya pemuda yang tidak lebih usianya dari pada Cui Kong muridnya, ia memandang ringan.

Apa lagi ia melihat pemuda ini bertangan kosong dan tongkatnya mendapat julukan Lo-thian-tung (Tongkat Pengacau Langit), maka serangannya ini hebat bukan main.

Cun Gi Tosu mengira bahwa sekali pukul ia akan dapat membikin mampus lawan muda ini.

Ilmu tongkatnya memang hebat, pukulannya mengandurg tenaga lweekang hampir seribu kati dan sukar sekali dielakkan lawan, apa lagi ditangkis.

Akan tetapi, alangkah heran dan juga gembira hatinya ketika ia melihat bocah itu mengangkat tangan kanan dan hendak menangkis pukulan tongkat itu dengan telapak tangan!

"Ha-ha, remuk tulang-tulangmu!"

Bentak Cun Gi Tosu sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Tak dapat tidak, pikirnya, tangan pemuda goblok ini pasti remuk.

Jangankan baru telapak tangan orang lagi masih muda, senjata baja yang bukan pusaka ampuh tentu akan patah-patah atau hancur!

Sama sekali Cun Gi Tosu tak pernah mimpi bahwa ia tidak menghadapi seorang manusia dengan kepandaian silat biasa, melainkan menghadapi seorang ahli waris langsung dari Omei-san, murid Tiong Sin Hwesio pewaris Tat Mo Couwsu dan Tiong Sin Hwesio pewaris Hoat Hian Couwsu!

Bukan hanya mewarisi kepandaian kedua orang tokoh Omei-san yang tidak ada tandingannya itu, malah sudah pula mewarisi sinkang dari kedua orang sakti itu.

Apa lagi setelah mempelajari kitab Seng-thian-to, tenaga dalam dari pemuda ini sudah jangan dikata lagi kehebatannya, mendekati tenaga sakti yang dimiliki oleh para couwsu (guru besar) dari sekalian partai persilatan besar.

"Plak!"

Ujung Tongkat Pengacau Langit bertemu di udara dengan telapak tangan Tiang Bu dan..........

Cun Gi Tosu meloncat-loncat ke belakang dengan sebelah kakinya.

Hampir saja ia terjengkang roboh kalau ia tidak cepat-cepat melambung tinggi dan berpoksai (berjungkir-balik) sampai tiga kali, baru ia mampu berdiri tegak dan dapat pula menggunakan tongkatnya untuk menyandarkan diri.

Matanya terbuka lebar lebar dan mulutnya melongo.

Serasa mimpi kejadian tadi, hampir tak dapat ia percaya.

Apakah tiba-tiba tenaganya sudah musnah?

Tak mungkin!

Ia mengayun tongkatnya ke arah batang pohon besar di sebelah kirinya.

"Brakk......!"

Batang pohon itu patah dan pohonnya tumbang mengeluarkan suara berisik.

Baru ia mau percaya bahwa pemuda di depannya ini memang sakti bukan main dan mulai ia percaya bahwa muridnya, Cui Kong dan Liok Kong Ji tidak berlebih-lebihan ketika memuji kepandaian Tiang Bu.

Akan tetapi dia adalah Lo-thian-tung Cun Gi Tosu yang terkenal berilmu tinggi.

Masa ia harus takut menghadapi lawan begini muda?

Mungkin bocah ini sudah mewarisi tenaga besar, akan tetapi dalam hal ilmu silat.

tentu belum masak, belum lama terlatih dan belum banyak pengalaman.

Oleh karena pikiran ini, hati Cun Gi Tosu tetap besar dan tabah.

Ia memutar tongkatnya dan menyerang lagi sambil membentak.

"Bocah, tenagamu besar. Akan tetapi jangan kira Lo-thian tung takut!"

Memang benar semua dugaan Cun Gi Tosu tadi.

Melihat usianya yang baru dua puluhan, tentu saja dibanding dengan Cun Gi Tosu, Tiang Bu sama sekali tak dapat direndengkan dalam hal kematangan latihan den pengalaman bertempur.

Sebelum Tiang Bu terlahir di dunia.

Cun Gi Tosu sudah menjadi seorang tokoh besar.

Akan tetapi, harus diketahui bahwa Tiang Bu telah mewarisi ilmu silat yang diciptakan sendiri oleh Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Couwsu.

Mengingat bahwa ilmu ilmu silat yang ada sebagian besar bersumber pada dua orang guru besar ini, dapat dibayangkan bahwa ilmu silat yang dipelajari oleh Tiang Bu memang lebih sempurna dan lebih tinggi tingkatnya dari pada ilmu silat yang dimiliki oleh Cun Gi Tosu.

Memang dia kalah matang dan kalah pengalaman, andaikata pengalaman dan kematangan ilmu silatnya sebanding dengan tosu itu kiranya dalam sepuluh jurus saja tosu buntung itu akan roboh.

Terjadilah pertempuran yang benar benar hebat.

Kali ini Tiang Bu menghadapi lawan yang benar-benar tangguh sesudah ia dahulu menghadapi Wan Sin Hong.

Seperti juga dahulu ketika menghadapi Wan Sin Hong, Tiang Bu terdesak oleh ilmu tongkat yang dimainkan oleh Cun Gi Tosu secara dahsyat sekali.

Kemahiran dan kematangan Cun Gi Tosu dalam bermain silat tongkat benar-benar sudah mencapai batas tinggi sekali dan dalam jurus jurus pertama Tiang Bu benar terdesak terus.

Akan tetapi lambat laun pemuda ini dapat memahami inti sari ilmu tongkat lawannya itu dan mengimbanginya.

Sudah dua kali ia membiarkan pundak dan pahanya dipukul, hanya dilawan dengan hawa sinkang di tubuhnya sehingga pukulan-pukulan itu hanya terasa sakit sedikit saja.

Kemudian setelah tiga puluh jurus lamanya ia memahami inti sari gerakan lawan, baru Tiang Bu membalas serangan lawan dengan desakan-desakan ilmu pukulannya yang lihai.

Baru Cun Gi Tosu terkejut bukan kepalang.

Tasdinya, melithat pemuda itu terdesak, bahkan dua kali kena pukulannya ia sudah mulai girang den mangira bahwa ia tentu akan dapat merobohkan lawan ini.

Tidak tahunya, yang tiga puluh jurus lamanya itu memang sengaja dipergunakan oleh Tiang Bu untuk memahami gerakan lawan dan mengalah, mempertahankan diri terus menerus dengan llmu Kelit Sam-hoan-sam-bu.

Kini setiap pukulan tongkat Cun Gi Tosu, ditangkis atau dikelit dengan balasan serangan pukulan keras.

Kasihan sekali kakek buntung itu yang harus berloncatan ke sana ke mari menghindarkan pukulan Tiang Bu yang didahului oleh sambaran angin pukulan yang kadang-kadang panas kadang-kadang dingin itu.

Cun Gi Tosu makin ketakutan karena maklum bahwa lweekang pemuda ini sudah sedemikian tingginya sehingga dalam satu serangan dapat mempergunakan Im-kang dan Yang-kang secara bergantian atau dicampur campur.

Tingkat setinggi ini biar dia sendiripun masih belum dapat mencapainya!

Berkali-kali tongkat bertemu dengan telapak tangan Tiang Bu.

Makin lama, setiap kali tongkat dan tangan bertemu, Cun Gi Tosu terhuyung makin jauh ke belakang dan pada jurus ke lima puluh.

ketika tongkat Cun Gi Tosu menghantam kepala, Tiang Bu menangkis lagi, Cun Gi Tosu berteriak kaget karena kali ini ia seperti tak bertenaga lagi dan tahu-tahu ia merasa dadanya sakit sekali.

Kembali ia menghantam, ditangkis lagi dan ia menjerit, dadanya seperti dipukul orang.

"Totiang, kejahatanmu sudah memuncak. Kau menghantam diri sendiri sampai mati,"

Kata Tiang Bu yang mendesak terus.

Memang sesungguhnya, hawa pukulan dari Tiang Bu adalah hawa bersih yang keluar dari sinkang di dalam tubuhnya.

Pukulan-pukulan Cun Gi Tosu yang dilakukan dengan pengerahan tenaga lweekang itu makin lama makin lemah, selalu dipultul mundur dan akhirnya tenaganya itu melukai tubuh sendiri di bagian dalam.

Makin hebat ia memukul, kalau ditangkis maka tenaganya itu makin hebat menghantam tubuh sendiri tanpa ia sadari.

Kembali tongkatnya melayang, kini malah menyodok ulu hati Tiang Bu.

Pemuda ini mengerahkan tenaga dan menerima totokan itu dengan telapak tangnnya secara tiba-tiba dan digentakkan.

"Dukk!!"

Cun Gi Tosu terpental ke belakang, muntah-muntah darah dan roboh terlentang tak bernapas lagi. Jantungnya terkena goncangan hebat oleh tenaga sendiri yang membalik dan tewas karena jantungnya rusak.

"Tiang Bu....... tolonglah aku?.."

Tiba-tiba Tiang Bu merasa seakan-akan tubuhnya kaku mendengar suara ini.

Ia menengok dan..,.

apa yang dilihatnya?

Bi Li berada dalam pondongan Cui Kong dalam keadaan lemas tertotok.

Secepat kilat Tiang Bu melompat bayangannya seperti lenyap merupakan sambaran hebat ke arah Cui Kong.

Akan tetapi Liok Kong Ji sudah menghadang di depannya dan berkata keras.

"Tiang Bu, kekerasan hanya berarti tewasnya kekasihmu ini??"

Kata-kata ini membuat Tiang Bu surut kembali dengan wajah pucat.

"Jangan....... jangan ganggu dia...... jangan kalian berani mengganggu calon isteriku! Lepaskan!"

Liok Kong Ji tersenyum dan memandang ke arah Bi Li dengan muka berseri "Aha, calon isterimu ya?

Bagus, dia calon mantuku kalau begitu.

Bagaimana aku mau mengganggu calon mantu sendiri?

Tidak, tidak, anakku gagah perkasa.

Aku bukan orang kejam, Kau pun tentu bukan seorang anak yang kejam mau membunuh ayah sendiri bukan?"

Kita tinggalkan dulu Liok Kong Ji yang cerdik dan penuh tipu muslihat itu mencoba menggunakan lidahnya yang runcing untuk mempengaruhi Tiang Bu.

Bagaimanakah Bi Li dapat terjatuh ke dalam tangan Cui Kong dan Kong Ji?

Mari kita mundur sedikit.

Seperti telah kita ketahui, Bi Li ditinggalkan di pantai daratan oleh Tiang Bu yang tidak menghendaki kekasihnya itu terancam bahaya di pulau musuh musuhnya.

Kemudian datang Ang-jiu Mo li yang mengajak muridnya itu menyusul ke Pulau Pek-houw-to untuk membalas dendam kepada Liok Kong Ji yang sudah membuntungi lengan Bi Li.

Tanpa mendapat kesukaran Ang-jiu Mo-li dan Bi Li mendarat di pulau itu dan cepat berlari-lari dari pantai timur yang benar seperti dugaan Ang jiu Mo-li tidak terjaga kuat karena penghuninya menyangka bahwa musuh tentu akan datang dari barat.

Di sana-sini Ang-jiu Mo-li dan Bi Li melihat penjaga-penjaga menggeletak tertotok atau terluka.

Tahulah mereka bahwa Tiang Bu sudah mulai turun tangan.

Bi Li mendesak gurunya supaya mempercepat perjalanan karena gadis ini mulai mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya, biarpun ia percaya penuh akan kesakitan Tiang Bu.

Ang jiu Mo-li maklum akan isi hati muridnya dan iapun mengerti bahwa menghadapi lawan-lawan seperti Liok Kong Ji dan kaki tangannya memang bukan hal yang boleh dipandang ringan.

Mereka berlari lebih cepat lagi.

Tiba-tiba mereka malihat dua orang laki-laki tengah berlari cepat dari depan dan setelah dekat ternyata bahwa dua orang itu bukan lain adalah Liok Kong Ji sendiri bersama Liok Cui Kong!

Tentu saja Ang-tiu Mo-li menjadi girang sekali dapat bertemu muka dengan masuh-musuh besar yang ia cari-cari.

Kegirangannya bercampur aduk dengan kemarahan besar ketika ia melihat Cui Kong membawa lengan kering yang dilingkari ular sebagai senjata!

Sekali pandang saja maklumlah ia bahwa pemuda keji itu telah mempergunakan lengan Bi Li sebagai sebuah senjata yang mengerikan.

Juga Bi Li tahu akan hal ini maka kemarahannya memuncak.

Dengan pedang di tangan gadis ini langsung menyerang Cui Kong, sedangkan Ang-jiu Mo li membentak.

"Liok Kong Ji manusia iblis, sekarang tiba saatmu untuk kembali ke neraka jahanam!"

Wanita sakti ini lalu maju menyerang dengan tangannya yang menjadi merah seperti api.

Melihat muncuInya wanita tokoh besar utara ini, biarpun dia tidak gentar, namun membuat Kong Ji diam-dram mengeluh.

Tiang Bu sudah merupakan lawan tangguh, dan di sana masih ada ancaman Wan Sin Hong dengan kawan-kawannya yang sedang mendatangi.

Sekarang tahu-tahu ditambah lagi dengan seorang Ang-jiu Mo-li yang ia cukup kenal kelihatannya.

Aneh, dasar ia sedang sial, pikirnya.

Tanpa banyak cakap lagi Liok Kong Ji mempergunakan pedangnya menghadapi Ang-jiu Mo-li.

Pedangnya diputar cepat sekali dan Ang jiu Mo -li terkejut melihat sinar pedang berkilauan dan gerakannya selain cepat dan aneh, juga mendatangkan hawa dingin menandakan bahwa tenaga lweekang dari musuh besarnya ini telah mendapatkan kemajuan luar biasa.

Ia berlaku hati-hati dan cepat mengelak mundur, kemudian sekali berseru nyaring Ang-jiu Mo-li lalu meloloskan selendang suteranya untuk menghadapi pedang lawan yang tak boleh dipandang ringan itu.

Memang Liok Kong Ji sekarang jauh bedanya dibandingkan dengan Liok Kong Ji beberapa tahun yang lalu.

Dia sudah memahami isi kitab Omei-san, tidak saja ia mewarisi ilmu pedang luar biasa dari Omei san yaitu Ilmu Pedang Soat-lian-kiam-coansi (Ilmu Pedang Teratai Salju), akan tetapi juga ia telah mempelajari kitab Pat-sian-jut bun yang ia rampas dari Lie Ceng Ceng.

Kemudian ia juga mempelajari kitab ke tiga dari Omei-san, yaitu Soan-bong-kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Payuh).

Ini semua masih belum hebat, yang paling hebat dan yang membuat ia mendapat kemajuan pesat sekali adalah ketika ia mempelajari kitab Omei-san yang paling sulit dipelajari namun merupakan ilmu paling tinggi, yaitu kitab Delapan Jalan Utama yang ia dapat dari Toat-beng Kui-bo.

Setelah bertempur dua-tiga puluh jurus saja Ang-jiu Mo-li sudah merasa bahwa Liok Kong sekarang benar-benar hebat kepandaiannya dan ia hanya dapat mangimbanginya dengan amat sukar dan harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya.

Merasa penasaran karena dahulu ketika Liok Kong Ji masih tinggal di utara, pernah Ang-jin Mo-li mengacau pasukan Mongol dan pernah pula ia bertanding dengan Liok Kong Ji yang ia desak dan permainkan, sekarang desakan Liok Kong Ji membuat Ang-jiu Mo-li makin marah.

Dulu kalau tidak ada bantuan dari panglima-panglima Mongol, tentu Liok Kong Ji sudah roboh olehnya.

Masa sekarang satu lawan satu ia kalah?

Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li mengeluarkan pekik nyaring.

tangan merahnya melayang ke depan dengan hawa pukulan sepenuhnya manyambar ke arah dada Liok Kong Ji, sedangkan selendang suteranya bagaikan ular merah menyambar kepala Kong Ji.

Inilah sejurus dari ilmu Silat Kwan-Im-cam-mo (Dewi Kwan lm Menaklukkan Iblis) yang ia pelajari dari kitab Omei-san yang terjatuh ke dalam tangannya.

Hebatnya serangan ini sudah jangan ditanya lagi.

Ang-jiu Mo-li yang sudah marah itu benar-benar menurunkan tangan maut dan agaknya Liok Kong Ji takkan dapat menghindarkan diri lagi.

Akan tetapi, kalau kepandaian Ang-jiu Mo-li hanya bertambah oleh ilmu dari sebuah saja kitab Omei-san, adalah Kong Ji menambah kepandaiannya dari empat buah kitab Omei-san, dan kitab-kitab yang ia pelajari tingkatnya lebih tinggi pula.

Kalau kepandaian Ang jin Mo-li hanya meningkat dua bagian, kiranya kepandaian Liok Kong Ji sudah meningkat delapan bagian!

Menghadapi serangan maut itu, Liok Kong Ji juga mengeluarkan seruan keras, pedangnya berkelebat-kelebat seperti naga mengamuk, tangan kirinya didorongkan ke depan.

Pedang bertemu selendang, selendang melibat.

Pakulan Ang-sin-ciang bertemu pukulan Tin-san kang membeleduk di udara membuat Ang-jiu Mo-li, tergetar seluruh anggauta tubuhnya.

Selendang masih melibat, lemas lawan lemas karena kalau Kong Ji mempergunakan tenaga kasar pedargnya bisa patah.

Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li membetot selendangnya yang menjadi kaku dan keras.

Akan tetapi pedang itu juga menjadi keras dan......."krak!"

Selendang itu putus.

Liok Kong Ji tertawa bergelak.

Wajah Ang jiu Mo-li menjadi semerah tangannya.

Wanita sakti itu menyerang lagi mati-matian untuk menebus kekalahannya dalam adu tenaga lwee-kang tadi.

Biarpun selendangnya sudah putus sebagian, namun senjata istimewa ini masih berbahaya sekali.

Sementara itu, Bi Li yang manyerang Cui Kong dengan mati-matian, harus meagakui keunggulan pemuda ini.

Sambil tertawa-tawa Cui Kong melayaninya, kadang-kadang menyindir dan mengejek.

"Hai-hai.......... nona manis, jangan keras. keras membacok lenganmu sendiri!"

Katanya sambil mengangkat lengan kering itu untuk menangkis pedang Bi Li yang menyambar-nyambar.

"Aduh, kau makin cantik jetita saja, seperti patung Kwan Im yang buntung.......! Biarpun sudah buntung aku masih mau..... .!"

Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan hati Bi Li ia dilawan dengan sebuah lengannya sendiri yang sudah kering dan mengerikan, ditambah lagi oleh ejekan-ejekan yang kadang-kadang bersifat kotor dari lawannya.

Dengan nekat sekali Bi Li menghujankan serangan, kalau perlu ia mati mengorbankan nyawanya asal dapat membunuh orang ini.

Sepasang mata yang bening itu berkilat, bibir yang merah digigit dan pedangnya mengeluarkan suara mengaung, menimbulkan segulung sinar berkeredepan.

Biarpun tingkat kepandaian Cui Kong lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya.

namun kiranya takkan mudah bagi pemuda itu untuk merobohkannya.

Apa lagi karena melihat wajah Bi Li yang memang cantik sekali itu, hati Cui Kong tidak tega untuk membunuhnya dan timbul pikirannya hendak menawan Bi Li hidup-hidup.

Tidak saja pemuda ini sudah tergila-gila akan kecantikan Bi Li yang sudah buntung lengannya juga sebagai seorang cerdik seperti ayah angkatnya, ia maklum bahwa Bi Li dapat ia pergunakan sebagai perisai terhadap Tiang Bu yang mencinta gadis ini.

Menghadapi kenekatan Bi Li, Cui Kong menjadi kewalahan juga.

Akhirnya ia terpaksa mengeluarkan huncwenya dan dengan senjata ini ia menyerang Bi Li yang menjadi kocar-kacir pertahanannya.

Selagi gadis ini terdesak, tiba-tiba Cui Kong meniup huncwenya dan asap kekuningan menyambar ke arah muka gadis itu Bi Li mencoba untuk mengelak, akan tetapi ternyata asap itu bukan asap beracun, hanya dipergunakan untuk menggertak saja.

Selagi gadis itu mencurahkan perhatian kepada serangan asap, Cui Kong menggerakkan huncwenya dan.....

Bi Li roboh tertotok, tak berdaya lagi.

Cui Kong tertawa senang.

"Cui Kong, bantulah.....!!"

Terdengar Kong Ji berseru melihat anak angkatnya sudah berhasil merobohkan lawannya.

Cui Kong melompat dan di lain saat Ang-jiu Mo-li sudah dikeroyok dua oleh ayah dan anak yang lihai ini.

Tentu saja Ang-jiu Mo-li menjadi makin kewalahan.

Tadi saja menghadapi Kong Ji ia sudah berada dalam keadaan terdesak.

Apa lagi sekarang Cui Kong maju dan kepandaian pemuda ini memang sudah hebat.

Namun Ang-jiu Mo-li tidak menjadi gentar.

Dengan mati-matian ia membela diri dan membalas serangan kadua orang lawannya dengan sengit.

Setelah menghadapi keroyokan sampai tiga puluh jurus, Ang-jiu Mo-li menjadi lelah sekali.

Kedua lawannya bertenaga kuat dan setiap kali menangkis ia harus mengerahkan seluruh lweekangnya.

Lengan kering di tangan Cui Kong menyambar hebat, ular kecil yang -melingkar di lengan itu siap menggigit.

Jari-jari tangan kering yang mengerikan itu seperti cakar seakan mengarah muka Ang-jiu Mo-li.

Serangan ini hebat datangnya karena merupakan susulan dari pada serangan-serangan Liok Kong Ji yang dapat digagalkan oleh Ang-jiu Mo-li.

Menghadapi serangan dengan lengan kering muridnya ini timbul kemarahan hati Ang-jiu Mo-li.

Dari mulutnya terdengar pekik keras sekali, tangannya yang sudah merah membara itu menghantam ke depan ke arah lengan dan ularnya.

"Brakk!"

Tulang-tulang kering itu hancur berantakan berikut tubuh ular kecil yang menjadi remuk berikut tulang-tulangnya!

Cui Kong sendiri terdorong mundur, akan tetapi di lain saat terdengar Ang-jiu Mo-li mengeluh tubuhnya tergelimpang dan roboh tak bernyawa lagi.

Ang-jiu Mo li ketika menghantam lengan kering tadi mengerahkan perhatian dan mengerahkan seluruh tenaganya, maka ia tidak dapat mengelak lagi ketika pedang di tangan Liok Kong Ji bergerak ke depan dan menembus dadanya!

Tamatlah riwayat hidup Ang-jiu Mo-li, wanita sakti tokoh utara yang dulu ditakuti Liok Kong Ji akan tetapi sekarang tewas oleh pedang Liok Kong Ji pula!

"Lekas kita menyusul Cun Gi totiang.

Kau bawa bocah itu, siapa tahu berguna nanti,"

Kata Kong Ji kepada Cui Kong.

Memang bapak dan anak angkat ini setali tiga uang, sama cerdiknya sama liciknya.

Tanpa banyak komentar lagi Cui Kong memondong tubuh Bi Li yang sudah tertotok jalan darahnya sehingga tak dapat bergerak lagi seperti lumpuh, tubuhnya lemas sekali.

Demikianlah, ketika Kong Ji dan Cui Kong yang memondong Bi Li tiba di dekat pondok Cun Gi Tosu, mereka melihat tosu buntung itu sudah tewas oleh Tiang Bu.

Dan melihat kekasihnya itu, Bi Li yang sudah tak berdaya mengeluarkan seruan minta tolong.

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, melihat Bi Li tak berdaya dalam pondongan Cui Kong, Tiang Bu melompat dan menerkam hendak merampas tubuh kekasihnya itu.

Akan tetapi Kong Ji sudah menghadang di depannya dan mengancam.

"Kalau kau menggunakan kekerasan, berarti calon isterimu itu akan mati, Tiang Bu, sudah berkata-kali kau mendurhaka terhadap ayah sendiri. Kalau dulu kau tidak mendurhaka terhadap ayah sendiri, tentu calon isterimu ini tidak sampai cacad. Sekarang, lebih baik kau kembali ke jalan benar, lebih baik kau berpihak kepadaku, kepada ayahmu sendiri. Setelah kita dapat mengusir musuh-musuh, tentu aku akan mengawinkan kau dengan gadis ini."

Kata-kata Kong Ji dikeluarkan dengan suara halus, penuh bujuk rayu, Tiang Bu diam saja, tak bergerak, keningnya berkerut-kerut.

Diamnya pemuda ini dianggap oleh Kong Ji sebagai keraguan dan ada harapan anaknya yang sejati itu suka tunduk kepadanya, maka dengan muka berseri ia menyambung.

"Tiang Bu, puteraku hanya kau seorang. Di dunia ini hanya ada dua orang yang betul-betul kusayang sepenuh jiwaku, pertama adalan mendiang ibumu dan ke dua kau sendiri! Insysflah, anak, tidak bijaksana kau seorang anak melawan ayah sendiri. Kau bisa dikutuk oleh Thian.....!"

"Tiang Bu, jangan dengarkan dia. Serang dan bunuh saja!"

Tiba-tiba Bi Li berseru marah. Gadis ini khawatir juga melihat Tiang Bu diam saja, ia mengira bahwa pemuda pujaannya itu akan terpengaruh oleh kata-kata Liok Kong Ji.

"Hush, diam kau. Nyawamu di tangan kami!"

Cui Kong membentak Bi Li. Pemuda ini terkejut mendengar ucapan gadis tadi karena ia sudah takut-takut kalau Tiang Bu yang ia takuti itu mengamuk.

"Tiang Bu, jangan perdulikan aku. Aku dibunuh tidak apa, asal kau memakai jantung dua orang ini untuk menyembahyangi rohku, aku akan mati meram,"

Kembali Bi Li berseru. (Lanjut ke

Jilid 32) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32 Sebetulnya, Tiang Bu berdiam saja bukan sekali-kali karena terpengaruh oleh kata-kata yang keluar dart mulut Liok Kong Ji.

Ia tadi berdiam diri karena sedang bingung dan mencari jalan bagaimana ia dapat menolong kekasihnya.

Teriakan-teriakan Bi Li manyadarkannya.

Dua orang ini terlalu jahat, harus dibasmi.

Kalau ia melepaskan mereka, apa lagi membantu mereka hanya karena hendak menyelamatkan kekasihnya, itu bukan perbuatan seorang gagah.

Apa lagi Bi Li sendiri rela berkorban nyawa asal dua orang itu terbinasa.

Kalau ia sampai tunduk terhadap manusia jahat seperti iblis itu, alangkah akan rendahnya, hiduppun Bi Li takkan sudi memandangnya lagi!

Tiang Bu meluncur bagaikan kilat menyambar ke arah Cui Kong, berusaha sekali lagi merampas Bi Li.

"Anak durhaka!"

Kong Ji yang berpemandangan dan memiliki gerakan cepat sekali sudah menghadang lagi sambil melakukan pukulan Hek-tok ciang ke arah dada Tiang Bu.

Pemuda ini tidak perdulikan itu, tangan kirinya menyampok dan tubuh Kong Ji terbuyung huyung oleh bows tangkisan lust biasa kuatnya itu.

Cui Kong ketakutan dan....

melarikan diri sambil memondong tubuh Bi Li dan berkaok-kaok.

"Tiang Bu, kalau kau mengejarku, kubikin mampus gadis ini!"

Tiang Bu ragu-ragu karena betapapun juga amat cinta kepada Bi Li dan merasa tidak tega kalau sampai kekasih hatinya itu tewas.

"Tiang Bu, jangan perduli. Aku rela mati asalkan bisa membasmi ayah dan anak iblis ini!"

Bi Li berseru, mencoba untuk meronta akan tetapi tenaganya habis sama sekali.

Tiang Bu molompat lagi mengejar.

Akan tetapi Kong Ji menyerangnya dengan pedang terhunus, melakukan tusukan yang amat berbahaya sehingga Tiang Bu terpaksa mengelak.

"Anak durhaka, benar-benar kau tidak mau berbaik dengan ayah sendiri?"

Teriak Liok Kong Ji.

"Persetan dengan kau, manusia busuk!"

Tiang Bu balas menyerang.

Pemuda ini mendapat pikiran baik.

Kalau ia berhasil merobohkan Liok Kong Ji lebih dulu, tentu Cui Kong tidak berdaya lagi.

Ia melakukan serangan balasan dengan hebat dan di lain saat dua orang ini, ayah dan anak, bertanding mati-matian.

Kembali Tiang Bu menghadapi lawan berat.

Tingkat kepandaian Liok Kong Ji pada waktu itu malah lebih tinggi dari tingkat Cun Gi Tosu dan pedangnya amat lihai, pukulan Tin-san-kang dan Hek-tok-ciang ia lakukan berganti-ganti, menyambar-nyambar merupakan tangan-tangan maut yang menjangkau nyawa lawan.

Melihat ayah angkatnya bertempur melawan Tiang Bu sehingga musuh ini tidak mengejarnya lagi, Cui Kong menjadi lega dan melarikan diri terus!

Kong Ji gemas sekali melihat ini.

"Cui Kong, anak tak tahu budi! Apa kau tidak mau membantuku?"

Teriak Kong Ji marah. Tiang Bu tertawa mengejek.

"Manusia macam kau memang pantas mempunyai anak seperti dia, berwatak rendah dan tak kenal budi."

Pemuda ini menyerang terus dengan sengitnya, akan tetapi Liok Kong Ji mengelak dan membalas dengan sama dahsyatnya.

Kalau saja Tiang Bu belum memahami ilmu thian-to dan belum menguasai semua dasar Ilmu silat yang diturunkan oleh kedua orang gurunya di Omei-san, tentu ia takkan kuat menghadapi Liok Kong Ji yang kepandaiannya sudah amat tinggi itu.

Baiknya Tiang Bu mengenal inti sari semua limu silat yang dimainkan oleh Liok Kong Ji dengan pedangnya, baik Ilmu Pedang Spat-iian-kiam-host yang berdasarkan tenaga Im-kaog maupun Ilmu Pedang Soan-tian kiam hoat yang berdasarkan tenaga Yang-kang.

Bahkan inti sari Ilmu Delapan Jalan Utama itupun merupakan "pakaian"

Saja dan Ilmu Thian-te Si-kong, maka pengaruhnya terhadap Tiang Bu tidak begitu hebat.

Satu demi satu ilmu silat yang dimainkan oleh Liok Kong Ji dapat dipecahkan dengan baik oleh Tiang Bu.

Sebaliknya, dengan tangan kosong pemuda itn juga tidak begitu mudah mengalahkan Liok Kong Ji, sungguhpun tiap serangan pemuda ini membuat pertahanan Kong Ji kocar-kacir.

Debu beterbangan, daun-daun pohon bergoyang-goyang.

Bahkan pada jurus ke tiga puluh, Kong Ji menusukkan pedangnya dengan gerak tipu Soan-hong-koan jit (Angin Puyuh Menutup Matahari) sebuah gerakan yang lihai dari Ilmu Pedang Soan-hong-kiam-hoat.

Pedangnya membuat gerakan melingkar-lingkar, mula-mula lingkaran-lingkaran kecil, makin lama makin besar sehingga tertutuplah tubuh Kong Ji dan sebentar kemudian lenyap seakan-akan tubuhnya sudah bergabung menjadi satu dengan pedang.

Gulungan sinar pedang yang melingkar-lingkar ini menyambar dengan pesat dan kuatnya ke arah leher Tiang Bu.

Dan dari dalam gulungan sinar pedang itu, Liok Kong Ji masih mengirim pukulan-pukulan Tin-san-kang yang dilakukan bertubi-tubi dengan tangan kanannya!

Serangan macam ini benar-benar hebat bukan main.

Tiang Bu tidak diberi kesempatan untuk mengelak sama sekali karena lingkaran pedang itu sudah menutup semua jalan keluar.

Namun Tiang Ba yang sudah mengenal dasar penyerangan ini tidak menjadi gentar.

Tubuhnya dikecilkan dan ia setengah berjongkot untuk menghindarkan tusukan pedang, kedua tangannya ia dorongkan dari bawah ke atas dengan gerak tipu Seng thian-pai-in (Naik ke Langit Mendorong Awan).

Dari kedua tangannya yang mendorong itu keluar tenaga dahsyat yang hawanya saja sudah membentur pukulan-pukulan Tin-san-kang yang dilakukan oleh Liok Kong Ji.

"Brakk........!"

Sekarang pohon besar yang tumbang di belakang Tiang Bu roboh seperti terdorong tenaga dahsyat.

Inilah kehebatan tenaga Tin-san-kang yang dilakukan oleh Liok-Kong Ji.

Tenaga pukulan ini karena tidak mengenai Tiang Bu bahkan terpental oleh dorongan Seng-thian-pai-in tadi, terus menyambar ke belakang Tiang Bu dan merobohkan sebatang pohon yang besarnya melebihi tubuh Tiang Bu!

Dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian Liok Kong Ji.

Kalau seorang tokoh persilatan biasa saja tak mungkin dapat menghadapi pukulan ini tanpa menderita malapetaka hebat.

Tiang Bu sendiri mau tidak mau menjadi kagum.

Kepandaian Liok Kong Ji benar-benar hebat dan ia harus berlaku waspada.

Lawan ini malah lebih berat dari pada Cun Gi Tosu, malahan ia meragukan apakah Wan Sin Hong dapat menandingi orang ini.

Pemuda ini melihat lawannya melakukan pukulan dahsyat, tidak tinggal diam saja.

Setelah menyelamatkan diri dari serangan lawan tadi, cepat ia membalas dengan pukulan jarak jauh yang tidak kalah hebatnya.

Empat kali berturut-turut kedua tangannya melakukan gerakan memukul ke depan.

Kong Ji merasa datangnya hawa pukulan dahsyat ini, sambil berseru kaget ia meloncat sampai dua tombak ke kiri sambil mengerahkan tenaga mengibaskan tangan.

Namun tetap saja hawa pukulan Tiang Bu membuat ia terhuyung-huyung seperti pohon besar diterjang angin, setelah terhuyung jauh baru ia teebebas dari pukulan dahsyat itu.

Hawa pukulan terus meluncur ke depan dan terdengar suara keras ketika sebuah batu karang yang kokoh kuat roboh terguling seperti didorong oleh seekor gajah mengamuk!

"Lihai sekali........."

Kong Ji memuji.

Hatinya sudah mulai gentar karena dari pukulan ini tadi saja ia sudah maklum bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah juga melawan anaknya sendiri yang memusuhinya ini.

Hatinya merasa sedih dan bingung.

Kalau ia sampai tewas di tangan musuh-musuhnya, hal itu bukan merupakan suatu yang patut disedihkan.

Mati hidup buat seorang seperti Kong Ji ini bukan apa-apa, akan tetapi yang membuat ia bingung dan sedih adalah kalau ia harus mati di tangan puteranya sendiri!

"Cui Kong manusia tak kenal budi......!"

Ia memaki dan bersungut-sungut sambil cepat mengelak ketika Tiang Bu menyerang lagi.

Kong Ji terpaksa melayani dan hatinya penasaran dan marah sekali mengapa Cui Kong tidak membantunya.

Kalau Cui Kong membantu, kiranya ia takkan begini terdesak.

"Cui Kong, di mana kau..........?"

Kong Ji berteriak sambil melompat ke kanan menghindari pukulan maut Tiang Bu, kemudian ia.......... melarikan diri.

"Manusia lblis, kau hedak lari ke mana?"

Tiang Bu mengejar cepat.

Dalam hal ginkang, ia tidak usah menyerah kalah terhadap Liok Kong Ji, maka dalam beberapa puluh langkah saja ia sudah dapat menyusul.

Tiba-tiba Liok Kong Ji membalik, tangan kirinya tarayun, disusul oleh serangan pedang di tangan kanan, dilanjutkan dengan pukulan Hek tok-ciang dari tangan kanan.

Ayunan tangan kiri tadi menimbulkan sinar kahitaman yang menyambar ke arah jalan darah penting di tubuh Tiang Bu.

itulah Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam), senjata rahasia jarum yang sudah direndam racun hitam yang amat jahat.

Serangan ini datangnya tiba-tiba dan tidak terduga-duga karena selagi berlari.

mendadak membalik dan menyerang.

Orang lain tentu akan sukar menyelamatkan diri dari serangan-serangan berantai dari Kong Ji yang betul-betul lihai dan berbahaya sekali ini.

Akan tetapi Tiang Bu memang sudah siapsiaga, sudah dapat menduga lebih dulu bahwa lawannya yang terkenal licik dan jahat itu pasti akan melakukan serangan gelap.

Dengan tenang dan tepat pemuda ini mangepretkan jari-jari tangan yang dilonjorkan dari samping ke arah jarum-jarum racun hitam itu dan semua jarum runtuh di atas tanah.

Selanjutnya tangan kirinya diulur untuk mencengkeram pedang lawan dan tangan kanannya didorongkan ke depan untuk menyambut pukulan Hek-tok-ciang!

Liok Kong Ji kaget bukan main, juga heran dan kagum sekali.

Meruntuhkan jarum-jarum Hek-tok-ciam dengan kepretan jari-jari tangan terbuka merupakan perbuatan yang amat berbahaya, karena sedikit saja kulit tergores jarum dan terluka, berarti ancaman maut.

Namun pemuda itu dapat meruntuhkan semua jarum tanpa terluka sedikitpun.

Kemudian cengkeraman dengan gerak tipu Leng-mauw-po-ci ( Kucing Manerkam Tikus) inipun amat luar biasa dan berbahaya.

Tanpa memiliki lweekang yang tinggi tak mungkin orang berani mencengkeram pedang lawan yang merupakan pedang pusaka, bukan pedang biasa.

Cengkeraman itu adalah semacam Ilmu Silat Sin-na-hwat yang aneh dan jari-jari tangan Tiang Bu yang dibentuk seperti cakar harimau itu menjadi kaku dan kuat melebihi baja.

Tentusaja Kong Ji tidak membiarkan pedangnya dicengkeram dan dirampas.

Cepat ia menarik kembali pedangnya dan seluruh perhatiannya ia tujukan ke arah pukulan tangan kirinya yang merupakan serangan Hek-tok-ciang kuat sekali.

Ia hendak sekali lagi mengadu tenaga dengan harapan kali ini ia akan menang karena Tiang Bu baru saja memecah perhatiannya untuk menghirdarkan serangan jarum dan pedang.

Dan tenaga raksaaa bertemu di udara ketika dua telapak tangan itu hampir saling bertumbukan.

Akibatnya, Tiang Bu mundur dua langkah akan tetapi Kong Ji terpental ke belakang dan hanya dengan berjungkir balik dia dapat menghindarkan diri terjengkang!

Sekali lagi ia harus mengakui keunggulan pemuda itu yang telah memiliki sinkang luar biasa.

Makin kecil hati Kong Ji.

Begitu kakinya menginjak tanah, ia lari lagi secepatnya menuju ke gua-gua di pantai laut untuk bersembunyi.

Tiang Bu tentu saja tidak mau melepaskannya dan mengejar terus.

Tiba-tiba muncul Liok Cui Kong dari balik batu-batu karang.

Pemuda ini sudah membawa senjatanya yang istimewa, huncwe maut.

Datang-datang pemuda itu dimaki ayah angkatnya.

"Setan, kau ke mana saja. Hayo bantu aku merobohkan si durhaka ini!"

Cui Kong tersenyum.

"Ayah, nona manis yang sudah lama kurindukan terjatuh ke dalam tanganku, bagaimana aku bisa menyia-nyiakan waktu dan kesempatan baik?"

Cui Kong sengaja mengeluarkan ucapan-ucapan yang menusuk perasaan Tiang Bu.

Ini ia lakukan untuk menjalankan siasatnya.

Ia tahu bahwa Tiang Bu cinta kepada gadis itu, biarpun Tiang Bu memperlihatkan sikap kurang perhatian karena gadis itu mendesak agar supaya Tiang Bu membunuh Kong Ji dan Cui Kong.

Akan tetapi kalau mendengar kata-kata tadi, masa Tiang Bu tidak menjadi panas hati dan ingin melihat keadaan kekasihnya?

Memang tepat dugaan Cui Kong.

Mendengar ucapan ini, Tiang Bu naik darah.

Secepat kilat ia menerjang Cui Kong yang memapakinya dengan pukulan huncwe.

Akan tetapi sekali menggerakkan tangan, Cui Kong berikut huncwenya terlepas sampai tiga tombak lebih!

"Kau apakan dia..........?

Di mana dia..........?"

Tanya Tiang Bu dengan muka berubah dan napas terengah-engah saking marah dan gelisahnya.

Cui Kong yang tidak terluka sudah bergabung dengan ayah angkatnya.

Ia berdiri di dekat Liok Kong Ji, mempersiapkan huncwe dan menjawab.

"Kau perduli apa? Dia sudah menghadapi kematian mengerikan dan takkan kuberitahukan keadaannya kalau kau tidak manyerahkan diri dan taluk kepada ayah."

Tiang Bu makin marah.

"Jahanam, kalau kau mengganggu dia, jangan kau bersambat kepada neraka!"

Tubuhnya berkelehat dan ia menerjang lagi ke arah Cui Kong, dengan maksud menangkap pemuda keji itu dan memaksanya mengaku di mana Bi Li disembunyikan dan bagaimana keadaannya.

Akan tetapi sekarang terjangannya dihadapi dua orang.

Kong Ji menusukkan pedang dan Cui Kong menotok dengan huncwenya dibarengi semburan uap hitam dari mulutnya, uap yang telah merobohkan tokoh-tokoh Kim-bun-to!

Terpaksa Tiang Bu membuang diri ke kanan untuk mengelak dari serangan-serangan yang tak boleh dipandang ringan ini, lalu melanjutkan serangannya dari samping.

Pertempuran hebat terjadi, kali ini lebih ramai dan seru karena dengan adanya Liok Cui Kong di sumpingnya, kedudukan Kong Ji tentu lebih kuat lagi.

Bukan saja kini ia menghadapi dua orang lawan tangguh, juga hati Tiang Bu sudah terguncang dan gelisah karena ucapan Cui Kong tadi.

Mungkin juga ucapan tadi hanya siasat belaka, akan tetapi manusia macam Cui Kong itu, mana bisa dipercaya?

Semua perbuatan keji mungkin dilakukannya dan hati Tiang Bu gelisah bukan main.

Kong Ji dan Cui Kong memang orang-orang cerdik dan licik, mereka ini sudah tahu akan kegelisahan hati Tiang Bu.

Maka dengan sengaja Liok Kong Ji dalam pertempuran itu bertanya kepada anak angkatnya.

"Cui Kong, kau benar benar mata keranjang! Masa adik iparmu sendiri kau sukai? Benar benarkah kau cinta kepada seorang gadis buntung lengannya?"

Cui Kong tertawa puas.

"Ha-ha-ha, ayah tidak tahu! Biarpun buntung lengannya, nona Bi Li adalah dara tercantik yang pernah kujumpai."

Tentu saja Tiang Bu menjadi makin gelisah. Nafsunya bertempur berkurang banyak dan hatinya ingin sekali melihat keadaan kekasihnya.

"Jahanam, di mana dia......?"

Bentaknya berkali-kall sambil mendesak Liok Cui Kong dengan pukulan-pukulan berat.

Hanya karena Liok Kong Ji membantunya menangkis dari samping maka Cui Kong tidak roboh oleh desakan ini.

Akhirnya Cui Kong maklum bahwa kalau tidak segera mengubah siasat, tentu ia akan celaka.

"Dia di dalam gua ke tiga, mau tahu keadaanya? Lihatlah sendiri!"

I a lalu melompat ke belakang dan tertawa bergelak-gelak.

Tiang Bu ragu-ragu.

Tentu ini siasatnya untuk memancing aku memasuki gua sedangkan dia dan Kong Ji akan melarikan diri, pikirnya.

Akan tetapi tiba-tiba telinganya yang berpendengaran tajam sekali itu mendengar suara rintihan dari dalam gua itu, rintihan dari orang ketakutan yang disembunyikan.

Mendengar ini, Tiang Bu melompat ke arah gua ke tiga yang berjajar di dekat pantai, dari mana tadi Cui Kong muncul.

Ia tidak perdulikan lagi keadaaa ayah dan anak itu yang tentu saja mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri!

Mula-mula Tiang Bu bingung melihat gua yang gelap itu dan ia tidak melihat sesuatu.

Lambat laun matanya biasa dengan kegelapan namun tetapsaja ia hanya melihat batu-batu karang menonjol dan gua itu teruyata menembus ke pinggir laut, merupakan jurang yang amat curam.

"Bi Li..........!"

Teriaknya. Hanya gema suaranya sendiri yang menjawab.

"Bi Li......... di mana kau..........?!"

Ia berseru lagi, kini mengerahkan tenaga khikang sehingga suaranya dapat terdengar sampai jauh di luar gua.

Ia menanti sampai gema suaranya sendiri yang panjang itu lenyap, namun tetap saja tidak ada suara jawaban Bi Li.

Marahlah hati Tiang Bu.

Ia merasa tertipu oleh Cui Kong.

Setan, pikirnya, mengapa aku begini bodoh?

Akan tetapi ketika ia hendak keluar dari gua yang gelap itu, kembali ia mendengar suara rintihan perlahan seperti yang ia dangar tadi.

Ia memperhatikan dan memasuki gua lagi sampai di pinggir jurang.

Ternyata suara itu keluar dari bawah!

Dengan hati-hati Tiang Bu merebahkan diri telungkup ke pinggir jurang dan melihat ke bawah.

Gelap sekali.

Tiba-tiba tangannya meraba sesuatu yang bergoyang-goyang.

Ternyata sehelai tambang yang diikatkan pada batu karang dan tambang itu menggantung ke luar, masuk jurang!

Dari ujung tambang itulah datangnya suara rintihan.

Tiang Bu mengeretak giginya.

Tahulah kini ia bahwa tubuh Bi Li diikat pada ujung tambang yang digantungkan ke dalam jurang yang amat curam itu!

Cepat ia hendak menarik tambang, akan tetapi kecerdikannya melarangnya dan lebih cepat lagi ia menarik kembali tangannya dan berpikir keras.

Tak mungkin orang selicik Cui Kong akan menggantungkan tubuh Bi Li begitu saja dan mudah ditolong.

Tentu ada apa-apa di balik ini semua.

Tiba-tiba ia melompat dengan gerakan cepat ke luar dari gua, menduga bahwa tentu Cui Kong dan Kong Ji megintai di luar gua dan akan melakukan sesuatu untuk menjebaknya.

Akan tetapi di luar kosong saja dan kembali ia mendengar suara rintihan perlahan dari dalam guha.

Ia memasuki guha kembali dan berpikir-pikir.

"Bi Li, apa kau berada di bawah situ?"

Tanyanya sambil melihat ke bawah.

Matanya yang tajam dapat melihat samar-samar bayangan tubuh Bi Li tergantung di bawah, akan tetapi gadis itu tidak dapat menjawab, hanya mengeluarkan suara perlahan seperti rintihan.

Tiang Bu berlari ke luar lagi, menggunakan tenaganya untuk membeset kulit pohon yang ulet.

Ia menyambung nyambung kulit ini menjadi sehelai tambang yang panjang, kemudian berlari masuk lagi ke guha itu.

Ia lupa sudah akan Cui Kong dan Kong Ji.

Seluruh perhatiannya tercurah kepada Bi Li yang hendak ditolongnya lebih dulu.

Dengan cepat dan hati-hati ia mengikatkan tambang kulit kayu ini pada sebuah batu karang, kemudiann ia merosot turun ke dalam jurang melalui tambang sederhana itu.

Ia teringat bahwa kalau musuh musuhnya datang dan memutuskan tambang itu, tentu ia akan menemui bencana besar.

Akan tetapi resiko ini ia harus berani hadapi demi menolong nyawa Bi Li yang terancam bahaya maut.

Ketika ia sudah merosot sampai di tempat Bi Li tergantung dan ia dapat melihat keadaan gadis kekasihnya itu, ia menjadi pucat.

Tambang yang dipergunakan untuk mengikat Bi Li dan digantung dari gua itu, dilibatkan pada sebuab batu karang yang tajam sekali, Tambang itu sudah tergosok-gosok dan tinggal setengahnya saja.

Kalau tadi ia menarik ke atas, sudah pasti tambang itu akan putus dan tubuh Bi Li akan jatuh ke bawah menemui kematian yang mengerikan!

"Cui Kong jahanam keji!"

Tiang Bu mengutuk.

Cepat ia meraba-raba tubuh Bi Li dan mendapat kenyataan bahwa totokan pada tubuh itu sudah dibebaskan, akan tetapi kaki tangan gadis itu terikat dan mulutnya tertutup saputangan.

Inilah sebab mengapa Bi Li tidak dapat menjawab panggilannya.

Cepat ia merenggut saputangan yang menutupi mulut gadis itu sambil berbisik.

"Bi Li, jangan bergerak. Tambang yang mengikatmu hampir putus."

Peringatan ini penting sekali karena kalau tadi Bi Li meronta-ronta. tentu tambang itu sudah putus. Mendengar peringatan ini, Bi Li tidak bergerak, hanya terdengar ia berkata lemah.

"Tiang Bu tanganku sakit sekali.........."

Tiang Bu menggigit bibir melihat betapa lengan kekasihnya yang tinggal sebelah itu ditekuk ke belakang dan digantung.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan kekasihnya.

Cepat Tiang Bu memutus tali itu dan menarik tubuh Bi Li sehingga gadis itu dapat manangkap tali kulit pohon, kemudian tambang yang mengikat kakinya diputuskan pula.

Dengan hati-hati sekali Bi Li lalu merayap naik dengan satu tangannya, dibantu oleh Tiang Bu dari bawah.

Dengan susah payah mereka naik, akhirnya dapat juga mereka tiba di atas, selamat di dalam guha yang gelap itu.

Begitu lepas dari bahaya.

Bi Li terisak dan menjatuhkan diri di atas dada Tiang Bu.

Tiang Bu mangelus-elus rambut kekasihnya, membiarkan kekasihnya yang baru saja terbebas dari bahaya maut mengerikan itu menangis sepuasnya.

"Bi Li.......... kau.......... kau tidak diganggu oleh Cui Kong?"

Bisiknya dengan hati panas terbakar, penuh kebencian dan dendam kepada Cui Kong.

Tanpa mengangkat mukanya dari dada Tiang Bu, Bi Li menggeleng kepalanya.

Kemudian, setelah agak reda tangisnya, dengan singkat ia menceritakan pengalamannya.

"Setelah kau tinggalkan, guruku datang dan dia yang mengajak aku menyusulmu. Malang bagi dia, di tengah jalan bertemu dengan dua orang iblis jahat itu. Terjadi pertempuran, akhirnya guruku tewas dan aku tertawan. Tadi iblis Cui Kong itu mengikatku dan menggantungkan ke luar gua sambil tertawa-tawa mengejek, bilang bahwa aku akan mati dalam tanganmu sendiri. Aku tidak tahu apa yang ia maksudkan, akan tetapi....... hanya Thian yang tahu betapa gelisah dan takutnya hatiku, Tiang Bu.........."

Tiang Bu memeluk lebih erat lagi.

"Hanya sedikit selisih...... Bi Li, sedikit saja selisihnya. Kalau aku tadi terburu nafsu dan menarik tambang di mana kau digantung..... ah, ngeri aku membayangkan! Cui Kong manusia keparat harus kuhancurkan kepalanya!"

Bi Li nampak kecewa.

"Jadi kau belum berhasil menewaskan mereka?"

"Sayang sekali belum. Aku mendengar rintihanmu dan terpaksa kutinggalkan mereka untuk menolongmu."

Bi Li melepaskan diri dari pelukan Tiang Bu.

"Tiang Bu, kau memang benar. Kau lebih benar ketika melarangku datang ke pulau ini. Sekarang ternyata aku hanya menjadi penghalang, malah guruku tewas di tangan mereka.

"Tidak, Bi Li. Mati hidup berada di tangan Thian. Memang agaknya sudah menjadi suratan nasib Ang jiu-toanio untuk tewas oleh mereka. Akan tetapi kita masih mempunyai banyak harapan untuk mengejar dan mencari mereka. Hayo ke luar dari tempat terkutuk ini."

Sambil menggandeng tangan Bi Li, Tiang Bu mengajaknya ke luar.

Sesampainya di luar, ia dapat melihat keadaan kekasihnya.

Memang tidak apa-apa, hanya agak pucat karena mengalami ancaman maut yang mengerikan tadi.

Ia menjadi lega.

Akan tetapi sekarang sudah tidak kelihatan lagi bayangan Liok Kong Ji maupun Cui Kong.

Namun Tiang Bu tidak putus-asa dan ia mengajak Bi Li terus mencari dan memeriksa di sebelah dalam atau di tengah pulau.

Sementara itu, di pantai Palau Pek-houw to juga terjadi hal yang menarik.

Serombongan orang gagah dipimpin oleh Wan Sin Hong mendatangi dengan dua buah perahu ke pulau itu.

Inilah rombongan yang dilihat oleh kaki tangan Liok Kong Ji dan dilaporkan, membuat Kong Ji menjadi gelisah sekali.

Apalagi ketika Kong Ji dan Cui Kong berhasil melepaskan diri dari desakan Tiang Bu dan hendak melarikan diri dengan perahu, mereka melihat dua perahu ini mendatangi, Kong Ji terpaksa kembali lagi ke pulau dan keadaannya sepetti terjepit.

Wan Sin Hong kali ini tidak datang sendiri dan tidak mau kepalang usahanya membalas dendam kepada musuh besarnya.

Ia maklum akan kelihaian Kong Ji yang dibantu oleh Cui Kong, Cun Gi Tosu, dan banyak lagi orang-orang gagah yang berhasil dibujuk menjadi kaki tangan Liok Kong Ji.

Karena tidak berbasil bertemu dengan Tiang Bu yang akan menjadi pembantu kuat baginya, Wan Sin Hong datang membawa beberapa orang tokoh yang berkepandaian cukup tinggi.

Di antara kawan-kawannya itu kelihatan muridnya sendiri, Coa Lee Goat dan suaminya, Wan Sun.

Juga isterinya tidak ketinggalan, yaitu Hui-eng Niocu Siok Li Hwa yang sudah sembuh dari luka-lukanya ketika bertempur melawan Liok Cui Kong di Pulau Kim-bun-to.

Li Hwa mempunyai sakit hati besar sekali terhadap Liok Kong Ji dan kaki tangannya, bukan saja karena anaknya diculik oleh Cun Gi Tosu, juga karena peristiwa di Kim-bun-to, di mana Cui Kong mengamuk dan menyebar maut itu.

Selain keluarga gagah parkasa ini, ikut juga Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, tosu tinggi kurus jenggot panjang itu, dan Pang Soan Tojin ketua Tang-san pai, tosu gemuk berjenggot pendek.

Selain dua orang tokoh tua ini, masih ada lagi Huang-ho Sian-jin si datuk bajak dari Sungai Huang ho bersama dua orang puterinya, Ang Lian yang lincah jenaka dan Pek Lian yang cantik pendiam dan berpakaian pria.

Juga masih ada dua orang lagi, yaitu Hok Tek Hwesio dari Siauw lim pai dan Ciu Lee Tai, seorang laki-laki muda berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan dan gagah.

Ciu Lee Tai ini seorang yang bersemangat sekali, pengagum Wan-bengcu dan biarpun ia agak bodoh, namun ia jujur dan berkepandaian lumayan.

Sebetulnya, Wan Sin Hong maklum bahwa tingkat kepandaian Ciu Lee Tai dan Hok Tek Hwesio masih terlampau rendah kalau dibandingkan dengan kelihaian Liok Kong Ji dengan kawan kawannya, akan tetapi karena mereka ini orang segolongan dan mereka ikut dengan suka rela, ia pikir lumayan untuk melayani penjaga-penjaga kaki tangan Liok Kong Ji.

Demikianlah, rombongan yang terdiri dari sebelas orang ini mendarat dengan hati-hati dan dengan senjata di tangan.

Mereka semua sudah maklum bahwa mereka menghadapi orang-orang jahat yang amat lihai kepandaiannya.

Di sepanjang perjalanan.

Ciu Lee Tai yang biarpun sudah berusia tiga puluh tahun tapi masih tetap single (membujang) itu, agaknya amat tertarik kepada Ang Lian, dara jelita yang bersikap lincah jenaka dan agak genit itu.

Sedemikian jauh, si jaka tua ini selalu "tahan hinaan"

Dan mencemoohkan setiap orang gadis yang memandang kepadanya dengan kagum melihat ketampanan dan kegagahannya.

Akan tetapi begitu ia bertemu dengan Ang Lian dan melihat senyum dan kerling mata gadis ini, jatuhlah keangkuhannya.

Senyum dan kerling itu langsung menembus jantungnya dan membuat dia tergila-gila!

Si bujang ini beberapa kali melirik-lirik, mengajak senyum dan pendeknya mempergunakan segala macam siasat untuk memikat si dara jetita, akan tetapi kali ini ia "bertemu batunya.?

Semua aksinya tidak digubris oleh Ang Lian, bahkan Ang Lian bersikap jinak-jinak merpati, kadang-kadang nampak mudah didekati akan tetapi kalau orang bersungguh-sungguh ia terbang menjauh Sikap beginilah yang membuat hati sang jaka jatuh bangun.

Tentu saja, sedogol-dogolnya, Ciu Lee Tai tidak berani berterus terang dengan kata kata menyatakan perasaan hatinya, apa lagi ia sering melihat wajah datuk bajak Huang-ho Sian-jin yang keren galak dan matanya melotot.

Habislah nyalinya kalau ia melihat bapak dara pujaannya itu.

Namun, saking dalamnya asmara menggerogoti jantungnya, si dogol ini sampai menghadap Wan Sin Hong dan dengan muka merengek ia mohon bantuan pendekar ini.

"Wan-bengcu."

Katanya dengan mukanya yang tampan menjadi merah seperti kepiting dipanggang.

"Siauwte hendak mengajukan permohonan kepada bengcu dan mengharap kemurahan hati bengcu."

Wan Sin Hong sudah lama kenal pemuda tua ini dan ia memang suka kepada Cui Lee Tai yang jujur dan dogol namun berjiwa ksatria.

Bahkan dahulu ia berkenan menurunkan dua tiga macam ilmu pukulan kepada si dogol ini.

Mendengar permohonan disertai wajah yang bersungguh-sungguh itu, ia tersenyum.

"Kita berada di tengah perjalanan, di atas laut. Kau hendak minta aku membantumu dalam hal apakah, Lee Tai ?"

Wan Sin Hong memang memanggil namanya begitu saja, inipun kemauan Lee Tai sendiri yang ingin diaku sebagai anak buah atau murid. Demikian besar kagumnya terhadap Wan Sin Hong.

"Sebetulnya bukan sekarang. Siauwte hanya minta kesediaan bengcu untuk membantuku dalam urusan ini, kelak kalau urusan penyerbuan ke Pulau Pek-houw-to selesai. Apakah bengcu bersedia?"

"Ha, kau ini aneh sekali. Tentu saja aku bersedia membantumu. Akan tetapi, bagaimana kalau dalam penyerbuan yang amat berbahaya ini kau atau aku tewas?"

"Kalau begitu?? kalau begitu....... tentu saja tidak jadi aku?? kawin??"

"Eh kawin......?"

Muka pemuda itu menjadi makin merah.

"Begini, bengcu. Sebetulnya siauwte hendak minta tolong agar bengcu suka........... suka menjadi........... menjadi perantara. Siauwte telah berusia tiga puluh tahun, dahulu ayah ibu minta siauwte menikah akan tetapi siauwte belum sanggup menjalani karena memang belum ada yang cocok. Sekarang ayah ibu sudah tidak ada dan siauwte kerap kali merasa berdosa dan bersedih tak dapat memuaskan hati orang tua. Sekarang siauwte bertemu dengan gadis yang mencocoki hati. Kiranya kalau siauwte bisa menikah dengan dia. arwah ayah-bunda siauwte akan menjadi puas."

Sin Hong tidak ketawa lagi.

Malah ia menjadi amat terharu, teringat akan keadaannya sendiri.

Diapun menikah setelah usianya tiga puluhan lebih, dan tentang orang tuanya...........

juga tidak melihat pernikahannya.

Dengan suara sungguh-sungguh ia menjawab.

"Baik. Lee Tai. Tenangkanlah hatimu. Tentu aku suka menjadi wakil orang tuamu untuk mengawinkan kau. Tidak tahu gadis manakah yang kau penujui?"

"Puteri...... puteri Huang-ho Sian-jin......"

"Aahhh, dia...........? Yang mana?"

"Yang kedua, bengcu. Itu yang namanya Ang Lian yang senyumnya manis kerlingnya tajam??.."

Sin Hong tak dapat menahan senyumnya dan ia mengangguk-angguk.

"Itu soal mudah. Huang-ho Sian-jin adalah sahabat karibku, kalau aku yang mintakan kiranya tak akan sukar. Hanya aku khawatir anaknya sendiri yang akan rewel. Kalau dia tidak setuju, anak seperti Ang Lian itu tentu akan menolak keras. Bagaimana pendapatmu, apakah dia juga........... ada hati kepadamu?"

"Entahlah, bengcu. Akan tetapi dia sering kali tersenyum dan melirik. Akan kuselidiki hal itu. Asal Wan-bengcu sudah bersedia membantu, hatiku sudah lega dan banyak banyak terimakasih."

Tanpa dapat dicegah lagi si dogol lalu menjatuhkan diri berlutut dan pai-kui sampai tujuh kali.

"Sudah, sudah, hasilnya masih belum tentu kau sudah jengkang-jengking seperti ayam makan padi."

Dengan hati gembira dan besar sekali Ciu Lee Tai mengundurkan diri dan semenjak saat itu lebih berani melirik-lirik ke arah Ang Lian.

Bahkan pada suatu ketika, ia mendapat kesempatan mendekati Ang Lian di atas perahu dan berbisik.

"Nona, kalau kelak urusan ini beres, aku akan mengirim wali mengajukan lamaran kepadamu."

Tentu saja Ang Lian melengak.

Selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan orang yang begini terus terang dan tidak kenal malu.

Gadis ini dengan lagak mangejek meludah ke dalam laut dan melihat di situ tidak ada orang memperhatikan mereka, berkata perlahan.

"Enak saja kau mengomong. Kau bisa apa sih mau melamarku?"

Lee Tai mengangkat dadanya yang memang bidang dan tegap.

"Aku Ciu Lee Tai, di barat terkenal dengan julukan Kang-thouw ciang (Si Kepalan Baja) dan siapa yang tidak tunduk terhadap golokku?"

Ia menepuk-nepuk golok di pinggangnya, golok besar yang memang amat lihai kalau ia mainkan.

Ang Lian menjebikan bibirnya yang merah membuat hati Lee Tai menjadi gemas terpincut.

Biarpun orang ini dogol, namun Ang Lian diam-diam suka juga melihat ketegapan tubuh dan ketampanan wajah Ciu Lee Tai.

"Dengar baik-baik, dogol. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan diriku. kecuali kalau ia berkepandaian tinggi."

Bicara begini, Ang Lian teringat akan Tiang Bu yang membuat cicinya, Pek Lian, tergila-gila dan teringat selalu.

"Begini syaratnya. Kalau kau bisa mengalahkan manusia iblis Liok Kong Ji, aku bersedia menerima lamaranmu. Nah, pergilah."

Ciu Lee Tai berseri wajahnya.

Ingin ia menari-nari kegirangan dan saking girangnya ia sampai lupa diri dan..........

melompat ke dalam air!

Tentu saja semua orang di dalam dua perahu itu menjadi panik melihat tidak karu-karuan sebabnya, si dogol itu melompat ke dalam laut dan berenang ke sana ke mari sambil bernyanyi nyanyi.

"Lee Tai, kau sedang apa-apaan?"

Tegur Wan Sin Hong terheran-heran. Baru Lee Tai sadar akan keadaannya yang memang tidak sewajarnya itu, maka cepat-cepat ia memutar otaknya yang puntul untuk mencari jawaban. Akhirnya ia menjawab.

"Wan-bengcu. aku merasa kepanasan dan ingin mandi sebentar menyegarkan tubuh."

Cui Lee Tai merasa bangga akan jawabannya yang langsung ini, tanda bahwa ia cerdik!

Akan tetapi jawabannya membuat semua orang tertawa sehingga ia menjadi kebingungan.

Apa lagi ketika ia melihat Ang Lian cekikikan mentertawakannya, ia makin bingung dan penasaran.

"Apa tidak boleh mandi?"

Tanyanya mendongkol sambil menyambar pinggiran perahu dan merayap naik dengan pakaian basah kuyup.

Mana ada orang mandi dengan pakaian lengkap?

Dan membawa-bawa golok pula, apakah kau hendak menyerang istana Hai-liong-ong di dasar laut?"

Kata Wan Sun sambil menahan kegelian hatinya.

Cin Lee Tai menunduk, memandang pakaiannya yang basah kuyup.

Ia tak dapat menjawab, hanya buru-buru memasuki kamar perahu untuk bertukar pakaian kering.

Akan tapi kegembiraannya tidak lenyap, tidak perduli ia ditertawakan orang, hatinya sebesar gunung.

Liok Kong Ji?

Itu syaratnya?

Jangankan harus mengalahkan Liok Kong Ji biar harus melawan seribu orang Liok Kong Ji ia takkan gentar asal hadiahnya Ang Lian.

Akan kutabas batang leher Liok Kong Ji dengan golokku, pikirnya.

Pikiran hal membuat ia datang lagi menghadap Sin Hong.

"Ada apa lagi, Lee Tai? Harap kau jangan sekali-kali lagi terjun dan mandi di laut, banyak ikan hiu di sini, kalau kau dikeroyok hiu, biar aku sendiri takkan dapat menolong nyawamu."

"Wan-bengcu, apakah Liok Kong Ji itu sudah pasti berada di pulau itu?"

"Tentu saja, memang kita sedang mencari dia. Mengapa?"

"Harap bengcu memberi kesempatan kepadaku untuk menghadapi iblis itu. Siauwte ingin sekali menabas batang lehernya dengan golokku ini, jangan sampai didahului orang lain!"

Wan Sin Hong maklum akan keberanian orang she Ciu ini yang luar biasa, juga maklum akan kedogolannya.

Akan tetapi mendengar ini, benar-benar perutnya menjadi sakit karena menahan tawa.

Dia sendiri belum tentu dapat menahan Liok Kong Ji, dan si dogol ini bersumbar hendak menebas batang leher Liok Kong Ji!

Benar-benar seperti seekor katak hendak membunuh kerbau.

Akan tetapi Sin Hong berperasaan halus, tidak mau mengecewakan atau menyinggung perasaan hati orang lain, maka ia mengangguk dan menjawab.

"Baiklah, Lee Tai. Asalkan dapat berlaku hati-hati, dia lihai sekali."

"Jangan khawatir, bengcu. Golokku biasanya ampuh sekali menghadapi orang jahat."

Ciu Lee Tai menjadi makin gembira.

Semenjak saat itu, ia kelihatan berseri dan gembira dan bernyanyi-nyanyi.

Memang suaranya merdu, sehingga kegembiraan si dogol ini menghibur orang-orang lain dan membuat orang lain gembira pula.

Akan tetapi kecuali Ang Lian, tidak ada orang lain yang dapat menduga mengapa si dogol itu demikian gembira.

Hanya Ang Lian, yang tahu dan diam diam gadis jenaka ini terharu juga.

Ia dapat menjajaki hati Lee Tai dan tahu bahwa pemuda dogol itu sudah membayangkan akan dapat menewaskan Liok Kong Ji dengan mudah.

"Sayang.........? Ang Lian berkali-kali menarik napas panjang dan berbisik-bisik kepada diri sendiri.

"Sayang ia tidak selihai Tiang Bu...."

Sin Hong membawa rombongannya mendarat di pantai yang datar dan sunyi.

Mereka berlompatan ke darat dengan hati-hati sekali.

Mereka merasa heoran dan curiga melihat pantai itu tidak terjaga dan sunyi sekali.

Sin Hong lalu membagi tugas.

Huang-ho Sian jin dan dua orang puterinya diberi tugas menjaga perahu-perahu di pantai agar perahu perahu itu tidak sampai diganggu musuh.

Kemudian dengan delapan orang kawan lainnya Sin Hong memasuki hutan di pulau itu menuju ke tengah pulau.

Mereka menjadi makin heran melihat beberapa orang penjaga menggeletak, terluka atau tewas.

Bahkan mereka menemukan lima orang yang berpakaian berwarna menggeletak menjadi mayat.

"Eh. bukankah ini Lam-thian-chit-ong,"

Kata Hok Tek Hwesio yang mengenal tokoh-tokoh selatan ini.

"Mana lagi yang dua? Masih ada dua orang yang berpakaian hitam dan putih, kemana mereka dan siapa yang bisa membunuh mereka ini? Mereka terkenal lihai dengan Chit-seng-tin mereka."

Wan Sin Hong juga merasa heran.

Ia sudah mendengar bahwa tujuh orang perampok ini menjadi kaki tangan Liok Kong Ji.

Kiranya hanya satu orang yang dapat mengalahkan mereka dan orang itu tentu Tiang Bu.

Benarkah pemuda itu sudah menyerbu ke sini?

Ia mengajak kawan-kawannya maju terus.

Di rumah gedung tempat tinggal Liok Kong Ji sunyi sekali.

Di sana sini bergeletakan para penjaga.

Sin Hong mendesak seorang penjaga yang luka tertotok.

Ia membebaskan totokannya dan bertanya.

"Siapa yang menyerbu ke sini dan melukai kalian?"

"Hamba tidak tahu. Seorang manusia berkepandaian seperti setan. Pergi datang tidak meninggallan bekas dan tahu-tahu kami roboh??"

Orang itu menerangkan karena ia memang tidak mengenal Tiang Bu yang merobohkannya.

"Di mana Liok Kong Ji?"

"Tidak tahu, mungkin keluar menghadapi musuh."

Sin Hong tidak mau perdulikan lagi orang itu dan mengajak kawan-kawannya maju terus.

Akan tetapi Ciu Lee Tai yang merasa kecewa karena Ang Lian tidak diajak menyerbu dan tetpisah dari sampingnya, melampiaskan kemarahannya dengan menendang orang itu yang seketika putus nyawanya.

"Lee Tai, jangan lancang membunuh orang!"

Tegur Sin Hong.

"Bengcu, orang seperti ini adalah setengah iblis, kalau tidak dibunuh kelak tentu menjadi penjahat pula mengacau rakyat."

Bantah Lee Tai.

Sin Hong menganggap pendapat ini betul juga sungguhpun hatinya tidak mengijinkan orang berlaku kejam.

Memang Sin Hong terkenal sebagai seorang pendekar yang halus budinya, tidak mau memburuh kalau tidak penting dan terpaksa sekali.

Ketika mereka memasuki rumah gedung itu, di dalamnya hanya terdapat para selir dan para pelayan wanita.

Mereka ini semua biarpun sudah mempelajari ilmu silat, sekarang tidak berani berkutik dan berlutut minta diampuni jiwanya.

Juga dari mereka ini Sin Hong tidak bisa mendapat keterangan di mana adanya Liok Kong Ji, Liok Cui Kong dan Cun Gi Tosu.

Akan tetapi, ia mendapat petunjuk di mana adanya pondok Cun Gi Tosu, dan mendengar pula banwa Leng Leng dibawa pergi oleh tosu itu ke pondoknya.

Wan Sin Hong mengajak rombongannya menyusul ke pondok itu!

Alangkah kagetnya ketika tiba di depan pondok, ia melihat tosu buntung itu sudah menggeletak tak bernyawa di atas tanah.

"Ada yang mendahulul kita!"

Teriaknya dan ia berlari-lari, diikuti oleh isterinya, memasuki pondok Cun Gi Tosu untuk mencari anak mereka, Leng Leng.

Akan tetapi di dalam pondok hanya terdapat seorang pelayan wanita yang menangis ketakutan.

"Hayo lekas bilang, di mana adanya Leng-ji?"

Li Hwa membentak sambil menempelkan pedangnya di batang leher pelayan itu yang menjadi makin ketakutan.

"Tadi.......... tadi di sini.......... hamba yang bertugas mengasuhnya.......... lalu datang Liok-loya dan Liok-kongcu.......... nona Leng Leng dibawa pergi..........!"

"Ke mana?"

Tanya Sin Hong yang berobah air mukanya mendengar bahwa anaknya dibawa Liok Kong Ji.

"Mana hamba tahu? Ampun, hamba tidak bersalah apa-apa.........."

Sin Hong tidak perdulikan lagi pelayan itu, bersama isterinya dan yang lain lain ia menggeledah ke dalam, akan tetapi betul saja, tak dapat ia menemukan anaknya di dalam pondok.

"Tentu ia membawa Leng-ji lari ke luar. Hayo cari,"

Kata Sin Hong dan keluarlah mereka.

Sesampainya di luar, Sin Hong lalu membagi rombongannya.

Dia sendiri bersama isterinya, Wan Sun dan Coa Lee Goat menuju ke kiri dan dia minta supaya rombongan lain yaitu Bu Kek Siansu, Pang Soan Tojin, Ho Tek Hwesio, dan Ciu Lee Tai mencari di sebelah kanan.

Dengan cara begini Sin Hong hendak mengepung dan memotong jalan Liok Kong Ji dan Cui Kong.

Sementara itu, Tiang Bu dan Bi Li juga mencari terus, keluar masuk gua-gua yang banyak terdapat di pesisir batu karang itu.

Akan tetapi belum juga mereka dapat menemukan musuh-musuh mereka.

Tiang Bu mendapat akal.

Ia naik ke sebatang pohon besar dan tinggi, lalu mengintai puncak pohon itu sampai beberapa lama.

Usahanya ini terhasil karena tak lama kemudian ia melihat bayangan dua orang yang dikejar-kejarnya itu bersembunyi di antara batu karang yang bentuknya seperti menara-menara kecil.

Yang membuat ia terheran adalah ketika melihat Kong Ji memondong seorang anak perempuan kecil.

la cepat melompat turun dan bersama Bi Li lari ke arah tempat itu.

Setelah dekat menyelinap di antara batu karang dengan hati-hati.

Akhirnya ia muncul di depan Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong yang tentu saja menjadi kaget setengah mati.

"Liok Kong Ji, kau sekarang hendak lari kemanakah?"

Tiang Bu mengejek dan siap untuk menyerang.

Liok Kong Ji menjadi bingung.

Untuk lari memang mudah, akan tetapi ia tahu bahwa Tiang Bu dapat mengejarnya.

Untuk mempergunakan bocah yang dipondongnya juga tidak mungkin karena Tiang Bu mana mau memperdulikan bocah itu?

Adanya ia membawa Leng Leng adalah untuk dipergunakan sebagai perisai terhadap Wan Sin Hong.

Kalau Wan Sin Hong dan kawan kawannya yang mengurungnya, dengan mudah ia dapat menyelamatkan diri dengan mengancam nyawa bocah itu.

Cui Kong juga tidak melihat jalan keluar lagi kecuali menyerang mati-matian.

Maka ia lalu menggerakkan huncwenya, langsung menyerang Tiang Bu dengan sengit.

Liok Kong Ji terpaksa menotok Leng Leng agar anak itu jangan dapat lari, menaruh bocah itu di atas tanah dan iapun membantu Cui Kong.

Dengan maju berdua mereka masih dapat bertahan menghadapi amukan Tiang Bu yang luar biasa lihainya itu.

Bi Li tahu diri.

Biarpun ia merasa gemas dan benci sekali melihat dua orang musuh besarnya itu, akan tetapi ia cukup maklum bahwa kalau ia melawan atau membantu Tiang Bu, bantuannya itu tidak banyak artinya, bahkan dapat mengacaukan permainan silat Tiang Bu.

Maka ia berdiri saja menonton.

Ia percaya penuh akan kesaktian kekasihnya, namun tidak urung ia berdebar gelisah juga melihat pedang di tangan Kong Ji menyambar-nyamhar seperti kilat dan huncwe di tangan Cui Kong bergerak ganas diselingi semburan asap hitam yang ia sudah merasai sendiri keganasannya.

Seperti juga tadi, Tiang Bu melayani ayah dan anak itu dengan tenang, namun setiap gerakannya mengandung tenaga dalam sehingga tanpa ia kelit, asap hitam itu sudah buyar sendiri terpukul hawa sinkang yang keluar dari sepasang tangannya.

Pertempuran berjalan seru, sengit dan mati-matian.

Ketika mendapat kesempatan baik, huncwo maut di tangan Cui Kong menyambar ke arah kepala Tiang Bu dengan pukulan yang tentu akan meremukkan kepala itu apa bila mengenai sasaran, sedang pedang di tangan Kong Ji menusuk ulu hati, dengan gerakan memutar yang sudah diperhitungkan masak-masak dan amat sukar dielakkan.

Tiang Bu sengaja berlaku lambut sampai Bi Li mengeluarkan jeritan tertahan.

Ketika huncwe itu sudah menyentuh rambut kepalanya, tiba.tiba Tiang Bu menggerakkan jari tangannya ke atas, menyentil huncwe itu dari atas sehingea huncwe menyelonong ke bawah dan tepat menangkis pedang Kong Ji yang menusuk ulu hatinya.

"Traangg..........!"

Sepasang senjata bertemu keras.

Api berpijar dan di lain saat pedang di tangan Kong Ji sudah terampas oleh Tiang Bu sedangkan huncwe maut itu sudah terlepas dari tangan Cui Kong!

Tentu saja dalam pertemuan senjata itu, Cui Kong kalah kuat oleh ayah angkatnya dan huncwenya sampai terlempar, sedangkan Tiang Bu mempergunakan kesempatan baik itu untuk merampas pedang Kong Ji.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan gentarnya Liok Kong Ji dan Cui Kong yang sudah kehilangan senjata.

Hampir berbareng mereka menghujankan Hek-tok-ciam ke arah Tiring Bu.

Akan tetapi sambil tertawa menyeramkan, Tiang Bu memutar pedang rampasan nya dan semua jarum runtuh ke bawah, bahkan ada yang membalik dan menyambar dua orang pelepas jarum itu sendiri!

Memang Kong Ji dan Cui Kong orang-orang licik sekali.

Dalam keadaan terdesak dan senjata dilucuti dan Tiang Bu yang parkasa malah kini berpedang, mereka masih mampu mempergunakan siasat cerdik.

secepat kilat Kong Ji menyambar tubuh Leng Leng di atas tanah dan mempergunakan bocah ini sebagai senjata!

Ia memegang kedua kaki Leng Leng dan memutar tubuh itu untuk menghadapi serangan Tiang Bu.

"Tiang Bu, jangan lukai bocah itu??!"

Bi Li menjerit.

Gadis ini tidak ingin melihat Tiang Bu membunuh bocah yang mungil itu.

Akan tetapi, tanpi cegahannya, Tiang Bu sendiri tidak sudi membunuh bocah yang tidak diketahui siapa itu.

Hatinya tidak sekejam dan ia terpaksa mengalah mundur, menyelipkan pedang rampasan di pinggang dan maju lagi dengan kedua tangan kosong untuk mencoba merampas bocah itu dari tangan manusia iblis Liok Kong Ji.

Pada saat itu, Cui Kong yang licik juga menyerang lagi dengan Hek-tok ciam, akan tetapi tidak ditujukan kepada Tiang Bu, melainkan ke arah..........

Bi Li!

Namun, kalau hanya diserang senjata rahasia saja, kepandaian Bi Li cukup tinggi untuk menghindarkan dengan elakan manis dan kebutan tangan kanannya ia dapat menyelamatkan diri.

Akan tetapi Cui Kong telah dapat melompat jauh meninggalkan tempat itu Kong Ji menyusul.

Ketiks Tiang Bu hendak mengejarnya, ia membentak.

"Terimalah popwe (jimat) ini!"

Sambil membentak begitu, tubuh Leng Leng ia lontarkan sekuat tenaga ke arah Tiang Bu!

Sungguh kejam manusia ini, untuk menyelamatkan diri ia tak segan-segan untuk membunuh siapapun juga.

Tiang Bi kaget sekali.

Kalau tubuh bocah itu tidak ia terima, tentu bocah itu akan mati terbanting pada batu-batu karang.

Ia lalu bersiap dan dengan kedua tangannya ia menangkap tubuh bocah itu di udara.

Ternyata Leng Leng sudah lemas dan pingsan.

Ketika diputar-putar tadi saja Leng Leng sudah merasa pening dan sukar bernapas, membuatnya pingsan.

Tiang Bu menyerahkan bocah ini kepada Bi Li dan ia hendak mengejar, akan tetapi dua orang mushnnya sudah lenyap, tidak ketahuan ke mana perginya.

Ia membanting-banting kaki.

Lagi-lagi dua orang musuh itu terlepas dari tangannya berkat kelicikan mereka.

"Aku harus dapatkan mereka, aku harus basmi mereka!"

Gerutunya. Bersama Bi Li ia mencari terus, akan tetapi sementara itu siang telah berganti senja dan udara mulai gelap. Leng Leng siuman dari pingsannya dan menangis.

"Diam, nak, diam.......... siapa namamu?"

Tanya Bi Li menimang nimang bocah itu.

"Leng Leng...... mana Sam-ma?"

Tanya anak itu menanyakan inang pengasuhnya.

Bi Li merasa sayang kepada bocah yang mungil ini, sambil mengelus kepalanya ia bertanya tentang ayah ibu bocah itu, akan tetapi Leng Leng yang baru saja mengalami banyak penderitaan semenjak "bibi Ceng Ceng"

Terbunuh, tak dapat banyak memberi keterangan. Ia hanya menangis dan berkali-kali berkata.

"Paman Kong Ji jahat sekali......., jahat sekali.........."

Akhirnya setelah dihibur dan dibuai oleh Bi Li, ia tertidur dalam pangkuan Bi Li.

"Heran, bocah ini siapakah dan anak siapakah. Kecil-kecil ia sudah tahu bahwa Kong Ji jahat."

Kata Bi Li kepada Tiang Bu.

Akan tetapi Tiang Bu memberi isyarat supaya jangan berisik sambil menuding ke depan.

Ketika Bi Li memperhatikan, benar saja dari arah itu terdengar suara orang bicara, makin lama makin keras, tanda bahwa dua orang yang bicara itu sedang berjalan mendekati tempat mereka.

"Dengan bocah itu di tanganmu, kau tak dapat menjaga diri dengan sempurna, lebih baik kau menanti di balik batu karang."

Tiang Bu berbicara kepada kekasihnya.

Bi Li mengangguk.

Memang, kalau fihak musuh muncul dan terjadi pertempuran.

tentu saja dengan adanya bocah itu ia takkan dapat melakukan pembelaan dari dengan baik, apa lagi kalau harus melindungi Leng Leng.

Tanpa banyak membantah ia lalu pergi membawa Leng Leng yang sedang tidur itu, menyelinap di balik batu karang.

bersembunyi sambil mengintai ke arah Tiang Bu.

Keadaan sudah mulai remang-remang, Tiang Bu tidak mengenal muka dua orang yang datang memasuki hutan itu, hanya tahu bahwa dua orang itu adalah seorang pemuda dan seorang gadis.

Ia mengira bahwa mereka ini tentulah kawan-kawan Liok Kong Ji maka tiba-tiba ia melompat ke luar dan membentak.

"Kalian siapa dan di mana Liok Kong Ji?"

Ia sudah siap untuk menyerang tokoh dua orang itu. Dua orang itu kaget bukan kepalang, akan tetapi pemuda itu segera berseru girang.

"Tiang Bu.........."

Gadis itupun berseru kaget dengan sikap jenaka.

"Ya Dewa Maha Agung! Kiranya saudara Tiang Bu ini..........?? Ah, bertahun-tahun enci Pek Lian merindukan dan menanti-nanti, tidak tahunya dapat bertemu di tempat seperti ini. Kalau ini bukan jodoh namanya, entah disebut apa!"

"Ang Lian, jangan main-main!"

Pemuda itu membentak si gadis baju merah yang jenaka. Tiang Bu melengak. Tidak tahunya "pemuda"

Itu adalah Pek Lian, gadis yang dulu pernah ia kagumi, gadis cantik yang bijaksana dan lihai bersama Ang Lian adiknya. Dua orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin.

"Adik Pek Lian dan Ang Lian.......! Kiranya kalian ini? Bagaimana kalian bisa berada di sini dan dengan siapa kalian datang,"

Saking girangnya Ang Lian melangkah maju dan memegang kedua tangan Tiang Bu.

"Saudara Tiang Bu, benar-benar girang hatiku dapat bertemu dengan kau di tempat setan ini. Kalau ada kau di sini, aku tidak takut lagi biar ada lima orang Liok Kong Ji muncul. Dan enci Pek Lian tentu seratus kali lebih girang dari pada aku. Kau tahu, ayah juga ikut datang bersama Wan-bengcu dan yang lain-lain. Mereka juga tentu girang dapat bertemu dengan kau. Baik sekali pertemuan ini, lengkap selengkap-lengkapnya. Biar aku nanti bicarakan urusan perjodohanmu dengan enci Pek Lian."

"Hush, Ang Lian......."

Pek Lian mencegah dengan muka berubah merah sekali.

"Hush apa lagi? Bukankah kau selalu merindukan dia ini? Sekarang sudah berhadapan muka, pakai malu-malu apa lagi? Aku akan bicarakan dengan ayah dan Wan bengcu.........."

"Setan, jangan sembarang bicara! Kalau.......... kuceritakan kepada Ciu twako......"

Pek Lian balas menggoda.

Mendengar ini, Ang Lian menjadi kewalahan dan tak berani banyak bicara lagi.

Sementara itu, mendengar kata-kata dari Ang Lian ini, Tiang Bu menjadi bingung sekali.

Percuma saja mencegah seorang gadis seperti Ang Lian berhenti mengoceh.

"Aku sedang mengejar-ngejar Liok Kong Ji,"

Katanya kemudian.

Ia melirik beberapa kali ke arah tempat persembunyian Bi Li dan sebelum ia memanggil Bi Li, gadis ini sudah mucul sambil memondong Leng Leng.

Pek Lian dan Ang Lian kaget lagi, memandang kepada Bi Li dengan penuh curiga.

"Apakah dia ini seorang selir Liok Kong Ji?"

Tanya Ang Lian yang lancang mulut dan salah duga.

"Nona Ang Lian, jangan salah duga. Dia ini adalah nona Wan Bi Li dan,......"

"Astaganaga..........!"

Ang Lian meloncat dan memeluk Bi Li dengan mesra.

"Maafkan aku, enci Bi Li. Kau boleh tampar mulutku yang lancang. Aduh.......... jadi kau ini adik Wan Sun twako? Pantas?. pantas akan tetapi...."

Ia melihat lengan kiri yang buntung itu dan tak dapat melanjutkan kata-katanya, akan tetapi dari sepasang matanya mengucur air mata.

Biarpun ia kasar dan jujur, namun hati Ang Lian baik sekali ia terharu melihat lengan tangan Bi Li buntung dan ia tak pernah mendengar tentang hal ini.

Sebaliknya, Bi Li mempunyai hati yang keras.

Ia maklum apa yang menyebabkan Ang Lian mengucurkan air mata.

Ini saja sudah melenyapkan kemendongkolan hatinya ketika Ang Lian mengira dia "selir"

Liok Kong Ji.

"Adik yang manis kau mau tahu? Lenganku ini buntung oleh pedang Liok Kong Ji."

Ang Lian membanting-banting kakinya.

"Bangsat besar Liok Kong Ji. Kali ini ia takkan mampu lolos dari hukuman! Enci Bi Li, tahukah kau, kakakmu juga berada dengan kami?"

Ang Lian mengira bahwa BI Li tentu akan girang sekali mendengar ini, akan tetapi Bi Li malah mengerutkan kening, agaknya berita itu tidak menggembirakan hatinya benar.

Memang, dalam keadaannya seperti sekarang, buntung lengannya.

Ia sudah tawar hatinya untuk bertemu dengan siapa juga.

Memilukan saja, pikirnya.

"Anak ini??. anak siapakah?"

Tanya Pek Lian, sikapnya hati-hati dan sejak munculnya Bi Li, ia mendapat firasat yang tidak menyedapkan hatinya. Berkali-kali ia memandang dari Tiang Bu kepada Bi Li dan hatinya menduga-duga.

"Dia itu kami rampas dari tangan Liok Kong Ji."

Tiang Bu menerangkan.

"Kami sendiri tidak tahu dia anak anak siapa, hanya namanya Leng Leng." (Lanjut ke

Jilid 33) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 33

"Ahh, dia ini anak Wan bengcu!"

Ang Lian berkata girang sambil meraih Leng Leng dari pondongan Bi Li sampai bocah itu sadar dari tidurnya dan memandang bingung.

"Benar, dia anak Wan-bengcu. Bukankan namamu Wan Leng, anak manis?"

Leng Leng mengangguk-angguk kepada gadis yang tak dikenalnya ini. Ang Lian menciuminya.

"Syukur, syukur, syukur...... alangkah akan girangnya hati Wan bengcu dan isterinya......!"

Karena percakapan itu tidak karuan juntrungnya, Tiang Bu lalu minta dua orang gadis itu menceritakan keadaannya. Ang Lian menyerahltan Leng Leng yang diminta oleh Pek Lian, kemudian ia bercerita.

"Kami sebelas orang datang untuk menyerbu Pek-houw-to, akan tetapi tak menjumpal siapa-siapa kecuali para selir dan pelayan wanita yang tidak berarti. Ayah, aku dan enci Pek Lian ini sebetulnya bertugas menjaga perahu. Akan tetapi karena sudah hampir sore mereka belum kembali, ayah lalu memperkenankan aku dan enci Pek Lian untuk menyusul mereka. Sebelum kami bertemu dengan seseorang di antaea mereka, tahu-tahu malah bertemu dengan kau dan ternyata Leng-ji sudah tertolong. Menurut keterangan Wan-bengcu, Leng-ji ini dibawa ke sini oleh Cun Gi Tosu."

Tiang Bu mengangguk-angguk. Ia merasa girang sekali bahwa bocah yang ditolongnya itu ternyata puteri Wan Sin Hong. Ngeri ia memikirkan kalau sampai bocah itu tewas dalam pertempuran tadi.

"Keadaan di sini masih amat berbahaya,"

Katanya kemudian kepada dua orang gadis enci adik itu.

"Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong masih berkeliaran dan sedang kami kejar-kejar. Lebih baik kalian kembali kepada ayah kalian dan bawalah Leng-ji ini agar aman dan terlindung di sana, sambil menanti kembalinya Wan-siok-siok."

Ang Lian meugangguk-angguk, akan tetapi Pek Lian berkata.

"Apakah...... apakah tidak baik kalau aku membantumu menghadapi Liok Kong Ji?"

Sebelum Tiang Bu menjawab, Bi Li berkata.

"Tiang Bu, tentu baik sekali kalau?.. enci Pek Lian ini membantumu. Tentu dia memiliki kepandaian tinggi dan karenanya kau akan lebih kuat kedudukanmu."

Tiang Bu seorang yang perasa sekali. Dalam ucapan ini ia menangkap nada yang membayangkan hati sakit, maka ia bingung dan cepat ia berkata kepada Pek Lian.

"Nona Pek Lian, bukan aku tidak mengharap bantuanmu. Akan tetapi harus kauketahui bahwa ilmu kepandaian Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong lihai sekali. Kau bukan lawan mereka."

Ketika melihat pandang mata Pek Lian beralih kepada Bi Li seakan-akan bertanya mengapa kalau Bi Li boleh bersama dia, Tiang Bu cepat berkata.

"Ketahuilah, nona Wan Bi Li adalah sebagai murid terkasih dari Ang jiu Mo-li dan memiliki kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya diri pada kalian, masih tidak mampu membantuku mengalahkan Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong."

Mendengar ini, dua orang enci adik itu merasa kagum kepada Bi Li.

Kiranya nona butung ini lebih lihai malah dari pada mereka!

Akhirnya mereka lalu menurut, membawa pergi Leng Leng untuk kembali kepada ayah mereka yang masih menanti di pantai menjaga perahu.

Tiang Bu dan Bi Li terus mencari jejak Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong.

Akan tetapi malam tiba dan sepasang muda-mudi ini terpaksa melewatkan malam gelap di dalam sebuah gua untuk berlindung dari serangan hawa dingin.

Tiang Bu yang amat memperhatikan Bi Li melihat perubahan pada sikap gadis itu.

Setiap kali bertemu pandang, dari sepasang mata dia itu memancar sinar kemarahan yang aneh.

Semua ini ia dapat melihat di bawah penerangan api unggun yang ia buat untuk mengusir nyamuk yang banyak terdapat di dalam gua di tepi pantai itu.

Ia menduga-duga dan kecerdikannya membuat ia dapat mengetahui bahwa gadis ini tentu merasa cemburu dan penasaran karena kata-kata yang keluar dari mulut Ang Lian yang amat lancang tadi tentang Pak Lian yang rindu kepadanya!

Dugaannya memang tepat dan hal ini dinyatakan oleh Bi Li yang kini mulai membuka mulut bicara setelah sejak tadi diam cemberut saja.

"Tiang Bu, kau tentu sudah kenal baik sekali dengan Huang ho Sian-jin, bukan?"

Diam-diam Tiang Bu geli hatinya. Ia tahu bahwa gadis ini sebetulnya hendak bertanya bahwa ia mengenal baik dua orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin tadi, akan tetapi Bi Li sengaja bicara memutar.

"Tidak,"

Jawabnya sungguh-sungguh dan jujur.

"Baru satu kali aku bertemu dengan orang yang gagah itu."

Ia menceritakan bahwa dahulu ia menolong piauwsu yang dirampas barang-barang berharganya oleh Ang-Lian dan Pek Lian, kemudian ternyata bahwa barang-barang berharga itu dirampas oleh anak Huang-ho Sian jin untuk dibagi-bagikan kepada rakyat yang menjadi korban banjir.

"Pantas saja kalau begitu. Ayahnya seorang tokoh besar yang gagah budiman, dua orang gadis itupun gagah dan cantik-cantik sekali, apalagi yang bernama Pek Lian tadi. Tiang Bu, kau patut menjadi mantu Huang-ho Sian-jin!"

Nah, ini dia maksud hatinya yang penuh cemburu, pikir Tiang Bu.

"Bi Li mengapa kau bicara begitu? Jangan Kau perhatikan ucapan Ang Lian yang sejak dulu memang tukang menggoda orang dan bicaranya sangat sembrono. Ang Lian masih seperti anak-anak, kalau bicara tidak tahu kira-kira dan mudah saja menjodoh-jodohkan orang"

"Tiang Bu, apakah kau tidak berani mengaku bahwa Pek Lian seorang gadis cantik dan gagah?"

Bi Li memandang tajam.

"Memang,"

Jawab Tiang Bu jujur.

"tak dapat disangkal lagi, Pek Lian seorang gadis yang cantik. Akan tetapi hatiku telah tertawan oleh seorang gadis lain bernama Wan Bi Li.........."

"Siapa ketahui hati laki-laki? Tiang Bu, kan lebih cocok dan setimpal kalau berdampingan dengan Pek Lian."

"Bi Li, harap kau sudahi percakapan ini?!? Tiang Bu memegang tangan Bi Li dengan mesra. Kau sudah mengetahui isi hatiku. Selain engkau, tak mungkin di dunia ini ada wanita yang dapat kucinta seperti aku mencintaimu."

Akan tetapi Bi Li tak dapat melupakan sinar mata yang memancar keluar dari mata Pek Lian ketika gadis berpakaian pria itu memandang Tiang Bu, penuh kasih sayang dan kekaguman.

Mendengar ucapan Tiang Bu ini, ia menunduk dan pikirannya melayang-layang.

"Tiang Bu, kalau urusan di pulau ini sudah selesai, apa kehendakmu selanjutnya?"

Akhirnya dia bertanya perlahan.

"Pertama tama, minta Wan-siok-siok mengurus pernikahan kita!"

Jawabnya tegas.

Cahaya kemerahan dari api unggun menyembunyikan warna merah yang menjalari muka Bi Li.

Ia masih menunduk dan menarik tangannya yang dipegang Tiang Bu, lalu jari-jari tangan itu bermain-main dengan sehelai rumput.

"Setelah itu..........?"

Desaknya.

"Setelah itu? Ah. Bi Li. Alangkah bahagianya kalau kita sudah menjadi suami isteri. Cita-citaku hanya untuk membahagiakan hidupmu. Sisa hidupku akan kupergunakan untuk menyenangkan hatimu. Aku ingin merantau ke seluruh permukaan bumi ini bersamamu akan kuajak kau menjelajah di empat penjuru dunia! Bukankah senang sekali?"? Kembali ia memegang tangan Bi Li yang berkulit halus. Ucapan ini membuat hati Bi Li terasa perih sekali. Tak dapat disangkal lagi, ia mencinta pemuda ini, mencinta dengan sepenuh hati karena segala gerak-gerik dan tindak-tanduk pemuda ini benar-benar memikat hatinya. Akan tetapi ucapan tadi, pergi merantau berdua di empat penjuru dunia, benar-benar mendatangkan bayangan dan renungan yang membuat hatinya perih. Ia dapat membayangkan betapa dia dengan lengan buntungnya mengawani Tiang Bu di mana-mana. Tiang Bu, seorang pemuda yang gagah perkasa, yang kelak pasti akan dipuji-puji oleh dunia kangouw karena selain memiliki kepandaian tinggi juga mempunyai pribudi luhur, dengan seorang isteri berlengan buntung dan yang hanya akan menjadi tontonan yang menggelikan orang! Tiang Bu dikagumi dan dipuji puja. sedangkan dia sebagai isterinya akan selalu menerima pandang mata orang yang memandang dengan sinar mata mengandung kasihan bahkan ejekan! Akan kuatkah hati Tiang Bu manghadapi ini semua? Kelak akan tiba saatnya Tiang Bu bertemu dengan seorang seorang gadis cantik jelita yang lebih gagah dari padanya, gadis yang utuh badannya, tidak buntung lengannya. Dan Tiang Bu akan jatuh hati betul-betul, dia akan......akan dilupakan! "Tidak.......... tidak..........!"

Bi Li menutupi jari-jari tangannya ke depan mukanya yang menjadi pucat.

"Bi Li? kau kenapa...... .?"

Bi Li dapat menguasai hatinya yang terkacau oleh bayangan tadi. Ia menggeleng kepalanya dan berkata.

"Aku tidak mau merantau, hal itu hanya akan memalukan saja, Tiang Bu. Dengan lengan seperti ini..........."

"Aku tidak malu, Bi Li! Bahkan kebuntungan lenganmu itulah yang menambah besarnya cintaku kepadamu. Akan kuperlihatkan kepada dunia bahwa aku bangga mempunya kau di sampingku, bahwa aku sama sekali tidak malu karena kau cacad. Coba, siapa berani mengejek atau menghinamu karena cacadmu tentu akan kuhajar habis-habisan!"

Bi Li terharu sekali.

Ia percaya akan cinta kasih pemuda saperti Tiang Bu ini, dan tidak terasa lagi tangannya memegang lengan pemuda itu dengan penuh terima kasih.

Kemudian ia menarik kembali tangannya dan bertanya.

"Tiang Bu, andaikata.......... ini andaikata saja...... perjodohan kita tidak dapat berlangsung, apa yang hendak kau kerjakan?"

Dengan pertanyaan ini Bi Li bendak memancing dan menjenguk isi hati kekasihnya, sampai di mana besarnya cinta kasih pemuda ini. Wajah Tiang Bu berubah.

"Tidak akan ada yang menghalangi perjodohan kita, Bi Li. Iblis sekalipun tidak! Kecuali...... kecuali kalau kau yang tidak mau menerima persembahan cintaku.......... apa boleh buat, kalau demikian halnya, aku bersumpah takkan mau menikah dengan lain orang, aku....... aku akan mengundurkan diri dan menjadi seorang pertapa di Omei-san. Suara yang keluar dari bibir Tiang Bu ini adalah suara hatinya, maka terdengar menggetar mengharukan, membuat Bi Li tak dapat menahan isak tangisnya. Hati gadis ini tidak karuan, girang, bahagia, tercampur duka, haru, dan khawatir. Dia diam saja ketika Tiang Bu memeluk dan menghiburnya. Akhirnya ia pulas dengan kepala di atas pangkuan Tiang Bu yang menjaganya semalam penuh agar tubuh kekasihnya tidak diganggu nyamuk yang masih saja berseliweran biarpun api unggun masih bernyala terus. Pada keesokan harinya, pagi-pagi Tiang Bu bersama Bi Li sudah mulai lagi mencari jejak Liok Kong Ji dan Cui Kong yang masih belum juga dapat ditemukan di mana sembunyinya.

"Mereka tak mungkin keluar dari pulau ini,"

Kata Tiang Bu.

"Setelah Wan siok-siok dan kawan-kawannya datang dengan perahu, tentu Wan-siok-siok tidak begitu bodoh untuk meninggalkan penjagaan di pantai. Menurut Ang Lian dan Pek Lian. Huang-ho Sian-ji ditinggalkan di pantai, tentu kakek itu melakukan perondaan dan akan melihat apabila Liok Kong Ji meninggalkan pulau dan tentu akan memberi isyarat kepada Wan-siok-siok. Aku yakin mereka itu masih bersembunyi dalam gua-gua yang banyak terdapat di pesisir ini."

Bi Li juga berpendapat demikian dan dua orang muda ini mulai mencari terus tanpa mengenal lelah.

Juga rombongan Wan Sin Hong mencari cari, akan tetapi mereka itu berada di lain jurusan dan tidak mencari dalam gua-gua di pesisir batu karang.

Tempat ini memang agak tersembunyi dan hanya Tiang Bu yang sudah sampai di situ lebih dulu.

Memang dugaan Tiang Bu tepat sekali.

Liok Kong Ji tidak berani meninggalkan pulau, bahkan tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya karena maklum bahwa musuh-musuhnya yang banyak jumlahnya berkeliaran di atas pulau itu.

Sekali saja ia terlihat, ia akan mengalami pengepungan dan sukar menyelamatkan diri lagi.

Ia tahu bahwa sekali ini yang mengejarnya orang-orang pandai dari pelbagai kalangan dan andaikata ia dapat melawan Wan Sin Hong, belum tentu ia akan dapat melepaskan diri dari tangan Tiang Bu.

Berdua dengan putera angkatnya.

Liok Kong Ji bersembunyi di dalam sebuah gua besar yang menjadi tempat rahasia di mana ia menyimpan kitab-kitabnya, dan gua itu tertutup oleh sebuah batu besar yang amat berat.

Setelah ia memasuki gua itu bersama Liok Cui Kong lalu mengangkat batu itu dari dalam, menyeretnya ke depan gua dan menurunkannya di depan gua sehingga sepintas pandang saja orang takkan tahu bahwa di batu besar itu terdapat sebuah gua yang mulutnya kecil saja, akan tetapi sebetulnya kalau dimasuki mulut gua yang hanya tiga kaki tinggi dan dua kaki lebarnya itu, membawa orang ke dalam sebuah gua yang besar dan luas penuh dengan perabot-perabot rumah seperti meja kursi, tempat tidur dan yang semuanya terbuat dari pada kayu-kayu yang baik dan mahal.

Juga di dalam gua itu dihias amat mewahnya, diterangi lampu minyak dan dinding-dindingrya yang tertutup papan itu digantungi gambar gambar indah.

Pendeknya, di sebelah dalam merupakan ruangan atau kamar tidur besar yang mewah dan enak ditinggali.

Baca Juga: Si Bangau Merah 1

Baca Juga: Istana Pulau Es 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert