Eps 12 Tangan Geledek - Kho Ping Hoo
Baca online Tangan Geledek - Kho Ping Hoo
Cersil Tangan Geledek - Kho Ping Hoo.
Maklum akan kelihaian ayah dan anak yang dikejar-kejarnya, Tiang Bu tidak membuang pedang yang dapat ia rampas dari tangan Liok Kong Ji.
Bahkan sekarang ia mencari-cari dengan pedang di tangan.
sedangkan Bi Li berjalan di belakangnya Akhirnya Tiang Bu dan Bi Li berdiri di depan batu karang yang menutup mulut gua kecil.
Tiang Bu menaruh curiga karena di dekat situ ia melihat tapak kaki yang tidak begitu jelas, tanda bahwa orang yang lewat di situ memiliki ginkang tinggi dan sengaja berlaku hati-hati supaya tidak kelihatan tapak kakinya.
Tapak-tapak kaki itu lenyap di situ dan tidak terdapat sebuahpun gua di dekat situ, maka hal itu amat mencurigakan hatinya.
"Tiang Bu, batu ini baru saja dipindahkan ke sini. Lihat, rumput-rumput di bawahnya tertindih dan rusak. Kalau sudah lama di sini, tentu tidak ada rumput tertindih. Rumput-rumput ini masih hidup dan segar,"
Kata Bi Li menuding ke bawah.
Benar saja, memang ada rumput yang tertindih batu besar itu.
Tiang Bu menjadi girang dan kagum akan keawasan mata Bi Li ia mengerahkan tenaga di tangan kiri dan sekali mendorong, batu karang yang menutupi mulut gua itu roboh, kelihatanlah sebuah mulut gua kecil itu.
Tiang Bu tercengang melihat bahwa di balik batu karang itu hanya terdapat gua yang lobangnya sekecil itu.
Ia merasa ragu-ragu dan mulai memandang ke sana ke mari mencari-cari jejak.
Ketika ia hendak pergi dari situ, kembali Bi Li berkata, Nanti dulu, Tiang Bu.
Aku merasa curiga melihat gua kecil ini.
Kau perhatikan baik-baik, gua ini begini gelap, ini hanya menandakan bahwa dalamnya besar.
Siapa tahu kalau-kalau mereka bersembunyi di sini.
Memang tempat ini merupakan persembunyian yang baik dan tidak mencurigakan, maka harus diselidiki baik-baik."
Tiang Bu sadar dan cepat berkata.
"Kau betul, Bi Li. Kautunggu saja di sini, biar aku menyerbu masuk!"
Bi Li memegang lengan Tiang Bu yang sudah hendak melompat ke dalam gua kecil itu.
"Nanti dulu jangan terburu-buru Tiang Bu. Gua ini mulutnya amat kecil. Kalau betul-betul mereka berada di dalam dan menyerang selagi kau melompat masuk, apakah tidak berbahaya sekali? Aku teringat ketika dahulu bersama ayah Pangerau Wanyen Ci Lun memburu binatang hutan. Ayah menyuruh orang-orangnya mengasapi gua untuk memancing ke luar macan dan binatang buas lain. Apakah tidak lebih baik kita sekarang membakari daun dan ranting kering di depan gua dan meniup asapnya ke dalam untuk memaksa mereka keluar. Kalau sudah berada di luar gua, terserah kepadamu karena aku percaya kau akan dapat melawan mereka."
Tiang Bu tersenyum. Sebetulnya ia tidak takut sama sekali, akan tetapi karena melihat sikap Bi Li demikian bersungguh-sungguh dan gadis itu amat mengkhawatirkan keselamatannya, ia tak tega membantah.
"Sesukamulah"
Jawabnya tertawa.
"Akupun ingin sekali membuat Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong terserang asap dan tak dapat bernapas. Alangkah akan lucunya kalau mereka terpaksa ke luar sambil batuk-batuk tak dapat bernapas."
Ucapan ini dikeluarkan dengan keras oleh Tiang Bu agar terdengar dari dalam gua.
Ucapan ini saja sudah merupakan pancing dan ancaman.
Maksudnya berhasil baik karena tiba-tiba terdengar suara mendesis dan dari dalam gua yang kecil mulutnya itu keluarlah asap hitam bergulung-gulung.
Tiang Bu melompat ke belakang dan mendorong Bi Li untuk mundur.
Ia mengenal asap dari huncwe maut Cui Kong dan tahu bahwa dua orang musuhnya betul-betul berada di dalam gua itu.
Ting Bu memutar pedangnya ketika melihat sinar-sinar hitam menyambar pula dari dalam gua.
Itulah senjata-senjata rahasia hek-tok-ciam yang dilepas oleh Liok Kong Ji untuk menyusul senjata rahasia asap biasa yang disemburkan oleh Cui Kong.
Memang kali ini Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong yang biasanya amat licin dan cerdik itu kena diakali oleh Tiang Bu dan Bi Li.
Mendengar usul Bi Li untuk mengasapi gua itu, mereka menjadi terkejut setengah mati.
Tentu saja mereka tidak sudi dijadikan seperti dua ekor tikus yang terpaksa keluar lemas karena lubangnya diasapi.
Menghadapi serangan, mereka masih dapat mempergunakan ilmu kepandaian untuk melindungi diri, akan tetapi kalau gua itu dipenuhi asap.
berapa lamakah mereka dapat bertahan?
Maka dengan hati kecut mereka terpaksa membuka jalan keluar dan menghujankan senjata rahasia mereka.
Betapapun lihainya ilmu silat Tiang Bu pemuda ini tidak berani berlaku gegabah menyerbu ke dalam gua.
Senjata rahasia dua orang itu cukup berbahaya, apa lagi hek-tok-ciam itu dilepas di antara asap hitam, tidak ketihatan dan amat berbahaya kalau ia terkena Hek-tok-ciam, sungguhpun ia dapat mengobatinya, namun tentu akan banyak mengurangi daya serang dan daya tempur menghadapi ayah dan anak angkat yang berkepandaian tinggi itu.
"Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong manusia-manusia iblis. Keluarlah untuk menebus dosa-dosamu!"
Kata Tiang Bu, siap menanti mereka.
Sambil terus melepaskan jarum-jarumnya, Liok Kong Ji akhirnya melompat keluar, di ikuti oleh Cui Kong yang memegang huncwe mautnya.
Kini Liok Kong Ji juga sudah memegang pedang lagi, karena dalam gua itu memong tersedia beberapa batang pedangnya yang baik baik.
"Bocah durhaka, kali ini aku tidak ampunkan kau lagi!"
Kata Liok Kong Ji sambil memutar pedangnya melakukan serangan kilat dituruti pula oleh Cui Kong.
Tiang Bu tahu bahwa ucapan itu hanya gertakan belaka, namun ia tidak berlaku sembrono dan tidak mau memandang rendah kepada dua orang musuhnya yang sudah berkali-kali mengakali dan lolos dari desakannya itu.
Cepat ia memutar pedang rampasannya dan menangkis serangan lawan lalu membalas dengan hebat dan tidak kalah sengitnya.
Serangan tangan kosong saja Tiang Bu sudah mampu mendesak dua orang lawannya itu, apa lagi ia menggunakan pedang.
Sebentar saja Kong Ji dan Cui Kong hanya bisa main mundur dan ke mana saja mereka meloncat, selalu mereka dibayangi dan dikurung oleh sinar pedang Tiang Bu.
Memang pemuda ini sudah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa dan berkali kali Liok Kong Ji sampai merasa kagum bukan main.
Ilmu pedang yang dimainkan oleh Liok Kong Ji adalah ilmu pedang sakti yang jarang bisa dilawan orang, lihai dan selain cepat dan kuat, juga membingungkan lawan.
Kiranya sukar mencari orang yang akan kuat menandingi ilmu pedang Liok Kong Ji pada masa itu.
Juga Liok Cui Kong memiliki kepandaian gabungan, sebagian ia pelajari dari Kong Ji dan sebagian pula ia dapatkan dari gurunya, Cun Gi Tosu.
Pemuda inipun amat lihai ilmu silatnya, apa lagi huncwe mautnya merupakan senjata ganjil yang amat sukar diduga gerakan gerakannya.
Namun dua orang ini tidak berdaya menghadapi Tiang Bu.
Di dalam permainan Tiang Bu terdapat segala dasar pertahanan yang maha kuat, yang sukar sekali ditemnbus oleh serangan-serangan dua orang itu.
Desakan-desakan Tiang Bu sebaliknya amat berat mereka rasakan, sungguhpun untuk merobohkan mereka juga bukan merupakan hal mudah ba gi Tiang Bu.
Ayah dan anak angkat itu dapat bekerja sama baik sekali.
Mereka telah maklum akan kelihaian Tiang Bu den ketika mereka bersembunyi di dalam gua.
Liok Kong Ji sudah mengatur siasat bertanding menghadapi Tiang Bu.
Ia telah memberi petunjuk kepada Cui Kong dan sekarang petunjuk itu dipraktekkan.
Keduanya tidak bergerak sendiri-sendiri terpisah, melainkan bergabung menjadi satu, saling melindungi dan saling membantu.
Inilah yang membuat Tiang Bu menghadapi kesukaran untuk segera mengalahkan mereka.
Kedudukan mereka memang kuat, bagai tembok baja!
Bi Li menonton pertempuran itu dengan gemas.
Ia merasa penasaran tak dapat membantu kekasihnya dan beberapa kali ia mengepal-ngepal tangannya yang tinggal satu dan memandang marah penuh kebencian kepada orang itu, terutama kepada Liok Kong Ji yang sudah membuntungi lengannya.
Ingin ia segera melihat musuh besar yang sudah membuat hidupnya hampa dan tubuhnya bercacad ini segera roboh binasa di bawah pedang Tiang Bu.
Akan tetapi tiba-tiba ia melihat perubahan dan kini Tiang Bu hanya mendesak Cui Kong seorang, seakan-akan tidak bermaksud merobohkan Kong Ji.
Bi Li mengerutkan keningnya.
Apa Tiang Bu tiba-tiba merasa kasihan dan tidak tega membunuh orang yang sebetulnya masih ayahnya sendiri itu?
Timbul keraguan dan "perang"
Dalam pikiran Bi Li ia teringat akan ayahnya sendiri.
Ayahnya yang sejati, Kwan Kok Sun, juga bukan seorang manusia baikt-baik, bahkan dahulunya amat terkenal jahat.
Demikian pula Tiang Bu.
Sudah sepatutnya kalau Tiang Bu ragu-ragu untuk membunuh ayab sendiri.
Akan tetapi ayah Tiang Bu itu telah membikin buntung lengannya, dosa yang tak dapat ia ampunkan lagi!
Kekhawatiran Bi Li ini sebetulnya kosong belaka.
Tiang Bu sama sekali tidak merasa kasihan kepada Liok Kong Ji.
Ia amat banci kepada orang yang mengaku sebagai ayahnya ini dan ia akan tega membunuhnya.
Dia bukatnya berkasihan kepada Kong Ji, akan tetapi dia sedang menjalankan siasatnya.
Menghadapi ayah dan anak angkat yang dapat bekerja sama dengan baik betul-betul Tiang Bu menemukan kesukaran untuk mencari kemenangan secepatnya.
Pertahanan dua orang itu kuat bukan main.
Oleh karena itu Tiang Bu lali mengambil keputusan untuk menyerang dan mendesak seorang di antara dua pengeroyoknya.
Dan di antara dua oraug itu, Cui Kong paling lemah, maka ia lalu memusatkan perhatiannya kepada Cui Kong dan menghujankan serangan-serangan hebat kepada pemuda itu.
Tentu saja Cui Kong menjadi gelagapan.
Biasanya kalau ada lawan menyerangnya, tangkisan huncwenya dapat membuat serangan lawannya buyar dan gagal, akan tetapi kali ini, makin ditangkis pedang di tangan Tiang Bu menjadi makin ganas, seolah-olah tangkisan huncwe itu menambah daya serangnya!
Biarpun Liok Kong Ji sudah cepat-cepat membantu untuk menangkisnya dan bahkan menyerang Tiang Bu dengan dahsyat.
Tetapsaja Cui Kong tak dapat menghindarkan lagi sebuah tusukan pedang yang amat cepat mengarah perutnya.
Ia mempergunakan segala kelincahannya untuk mengelak dari tusukan yang sudah tak mungkin ditangkis lagi itu, akan tetapi ia hanya berhasil menyelamatkan perutnya, tidak dapat lagi menolong pahanya yang tertusuk pedang sampai tembus.
Ketika pedang dicabut, darah mengalir deras dari paha itu.
Tiang Bu hendak menyusulkan tusukan maut ke dua.
namun Cui Kong yang berteriak kesakitan itu sudah membuang diri ke atas tanah dan menangkis tusukan ini dengan huncwenya.
Terdengar suara keras dan huncwe itu terlepas dari tangannya, namun ia selamat dan segera menggerakkan tubuh bergulingan sampai jauh dan baru berhenti karena di belakangnya adalah tebing batu karang yang amat curam.
Di sini ia merintih-rintih sambil berusaha membebat luka di pahanya dengan baju yang dirobeknya.
Darah amat banyak mengucur, membuat kepalanya pening.
Kemudian Cui Kong terguling pingsan!
Melihat ini, Bi Li yang sudah menjadi kegirangan segera berlari menyambar huncwe Cui Kong yang menggeletak di atas tanah, kemudian ia berlari menghampiri Cui Kong yang sudah pingsan itu untuk memberi pukulan terakhir.
"Bi Li, jangan dekati dia.......... ..!"
Tiang Bu yang masih bertanding dengan Kong Ji itu melarang.
Pemuda ini biarpun melihat Cui Kong sudah terguling dan tidak bergerak seperti mati, masih saja curiga dan takut kalau-kalau kekasihnya menjadi korban kelicikan Cui Kong.
Akan tetapi Bi Li yang sudah sakit hati itu, mana mau dilarang?
Ia makin gemas dan sekali melompat ia sudah tiba di dekat Cui Kong, lalu mengayun huncwe itu ke arab kepala Cui Kong!
Tepat dugaan Tiang Bu.
Sebetulnya Cui Kong tidak pingsan, hanya pura-pura pingsan, untuk menyelamatkan diri dan mencegah Tiang Bu menyerang terus.
Sama sekali ia tidak mengira bahwa Bi Li akan mengejar dan menyerangnya.
Biarpun matanya tertutup, ia dapat mendengar sambaran angin pukulan huncwenya.
Cepat ia menggulingkan tubuh dan kepala sehingsa huncwe di tangan Bi Li itu menghantam batu, menimbulkan suara keras dan bunga api berpijar membarengi muncratnya batu yang remuk terkena pukulan huncwe!
Bi Li penasaran dan mengejar lagi, mengirim serangan hebat.
Terpaksa Cui Kong melompat berdiri, akan tetapi terguling roboh lagi karena pahanya terasa sakit sekali.
Namun dalam mengelak, ia terkena huncwe pada pundaknya, membuat ia mengerang kesakitan Bi Li memukul terus, ditangkis oleh lengan kiri Cui Kong.
"Krak!"
Tulang lengan itu patah.
Tenaga lweekang Cui Kong sudah banyak berkurang karena lukanya yang hebat, maka tidak kuat menerima pukulan huncwe.
Sebelum Cui Ko berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya, Bi Li sudah menyerang lagi!
"Mampuslah kau jahanam!"
Seru Bi Li dengan gemas, huncwenya kini mendorong dada Cui Kong untuk membuat pemuda terjengkang ke belakang di mana tebing batu karang siap menerima tubuh pemuda itu untuk dilempar ke bawah di mana gelombang laut mengganas kelaparan!
Tidak ada jalan mengelak atau menangkis lagi.
Cui Kong berlaku nekat, tidak melindungi tubuhnya melainkan menubruk ke depan dengan kedua tangan mencengkeram atau memeluk.
"Awas, Bi Li..........!"
Tiang Bu berseru dan meninggalkan Kong Ji karena melihat bahaya mengancam Bi Li.
Namun terlambat!
Cui Kong yang sudah nekat dan ingin mati mengajak lawan itu, berhasil mencengkeram lengan tangan Bi Li yang memegang huncwe dan mendorong dada sedemikian hebatnya sehingga tubuh Cui Kong mencelat ke belakang membawa tubuh Bi Li bersama.
Dua orang itu tergelincir masuk ke tepi batu karang dan melayang ke bawah diiringi pekik mengerikan dari Cui Kong.
"Bi Li......!!"
Tiang Bu menjerit dan berlari ke tempat itu, tidak perduli lagi pada Kong Ji yang terus saja mempergunakan kesempatan baik itu untuk lari menyelamalkan diri.
Setibanya di pinggir tebing, Tiang Bu melongok ke bawah dan pucatlah wajahnya.
Jauh sekali di bawah, puluhan tombak jauhnya, hanya kelihatan arus ombak menggelora kepulih putihan.
berbuih-buih seperti mulut iblis yang haus akan darah.
Ia hendak meloncat, akan tetapi segera kesadarannya melarangnya.
Kalau ia meloncat turun, tipis harapan akan selamat.
Apa gunanya membuang jiwa secara sia-sia belaka?
Kong Ji masih belum terbunuh dan pula, menolong Bi Li harus dilakukan dengan jalan sewajarnya, bukan dengan jalan membunuh diri.
Mengingat akan ini, TiangBu segera berlari lari ke kanan kiri untuk mencari tebing yang tidak curam, dari mana ia akan mencari perahu dan menuju ke tempat di mana Bi Li tadi jutuh bersama Cui Kong.
Sukar sekali mencari perahu di situ karena perahu-perahu bajak sudah ia tenggelamkan semua.
Akhirnya ia menggunakan pedangnya menebang sebatang pohon dan menggunakan batang pohon itu untuk perahu istimewa Dengan batang pohon ini ia mendayung menuju ke tempat di mana tadi Bi Li terjatuh.
Akan tetapi ia sudah membuang terlalu banyak waktu, Ketika mencari-cari tebing kemudian mencari perahu lalu menebang pohon untuk perahu, ia telah membuang waktu satu jam lebih.
Biarpun begitu, ketika ia tiba di bawah tebing curam itu, ia masih sempat melihat tubuh Cui Kong yang sudah menjadi mayat itu bergerak-gerak di permukaan air laut yang kini sudah menjadi terang, agaknya sudah kekenyangan karena mendapatkan dua mangsa manusia itu.
Ketika Tiang Bu mendekat, ia merasa ngeri juga melihat bahwa mayat Cui Kong itu bergerak-gerak karena dibuat berebutan oleh beberapa ekor ikan hiu yang ganas dan buas!
Tubuh Bi Li tidak kelihatan sama sekali.
Dengan perahu istimewanya itu Tiang Bu mendayung ke sana ke mari mencari-cari sambit memanggil nama kekasihnya.
"Bi Li??.! Bi Li??..!"
Tiupan angin laut membuat suaranya hilang tak berbekas.
Sia-sia ia mencari-cari tidak kelihatan tubuh yang ia cari-cari.
Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat kerongkongannya serasa tersumbat.
Matanya terbelalak memandang ke arah benda itu, mukanya pucat dan bibirnya bergerak-gerak menyebut "Bi Li........."
Tanpa mengeluarkan suara.
Benda itu adalah robekan baju Bi Li di bagian lengan dan pundak, robek sama sekali seperli ditarik dengan paksa dari tubuh kekasihnya itu.
Ia menoleh ke arah mayat Cui Kong yang masih diseret-seret oleh ikan-ikan ganas itu.
Tak terasa lagi air mata bercucuran dari sepasang mata Tiang Bu.
"Bi Li??."
Ia dapat membayangkan betapa kekasihnya itu sudah lebih dulu menjadi mangsa ikan, mayatnya diseret-seret dan ditarik-tarik oleh ikan-ikan hiu itu sehingga bajunya robek-robek dan terapung di sini.
Dengan isak tertahan Tiang Bu membawa pedangnya meloncat ke dalam air dan menyambar robekan baju itu.
"Bi Li..........!"
Ia mendekap robekan baju itu ke dadanya sambil mendongak ke angkasa, air matanya bercucuran.
Tiba-tiba batang pohon itu bergerak miring dan hal ini menyadarkan Tiang Bu dari pada kesedihan yang membuat ia lupa diri itu.
Dilihatnya seekor ikan hiu meraba-raba perahu aneh itu dengan moncongnya.
Melihat ikan ini, bangkit kemarahan Tiang Bu.
"Bedebah, kau yang membunuh Bi Li!"
Pedangnya berkelebat dan kepala ikan itu terbelah dua.
Air menjadi merah dan tubuh ikan itu terapung dengan perut di atas.
Darah ikan itu sebentar saja mendatangkan banyak ikan hiu yang serta merta menyerbu dan menyerang bangkai hiu tadi.
Melihat betapa lahapnya ikan-ikan itu memperebutkan daging ikan hiu, Tiang Bu menjadi marah.
Dalam pandang matanya, seakan-akan yang diperebutkan itu bukan bangkai hiu, melainkan mayat kekasihnya Bi Li!
"Binatang iblis, kalian jahat dan keji!"
Makinya dan pedangnya berkelebat.
Sebentar saja laut di bagian itu penuh dengan bangkai ikan hiu.
Sampai lelah sekali tubuh Tiang Bu mengamuk dan membunuhi ikan hiu.
Akhirnya ia teringat bahwa perbuatannya ini seperti perbuatan orang gila.
Ia lelah lahir batin, dan dalam keadaan setengah pingsan Tiang Bu menjatuhkan diri di atas batang pohon yang ia jadikan perahu.
Laut mulai mengombnak lagi dan batang pehon itu dipermainkan, didorong-dorong sampai ke tepi.
Dengan hati hancur Tiang Bu mendarat sambil mendekap robekan kain baju Bi Li.
Air matanya kembali jatuh berderai kalau ia teringat betapa kekasihnya itu tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan tidak dimakamkan.
Teringat ini, Tiang Bu lalu menggunakan pedang rampasan itu untuk menggali tanah, cukup dalam seperti kalau orang hendak mengubur jenazah manusia.
Setelah itu ia berlari ke dalam gua di mana tadi Kong Ji bersembunyi dan dia mendapatkan apa yang dicarinva, yaitu lilin dan hio.
Sekembalinya di tanah galian, dengan penuh khidmat Tiang Bo "mengubur"
Robekan baju Bi Li yarg ia anggap sebagai pengganti jenazah kekasihnya.
Ia melakukan upacara pemakaman ini sambil menangis dan menyebut-nyebut nama Bi Li berulang-ulang.
Ia lalu menguruk kembali lubang itu.
Dengan pedangnya Tiang Bu membuat bongpai sederhana dari batu karang.
Ia tidak perduli pedang itu menjadi rusak karenanya, malah setelah rampung membuat bongpai, ia membuang pedang rampasan itu.
Setelah itu ia lalu menyalakan lilin dan hio, bersembahyang dengan penuh khidmat dan sedih.
Ia berlutut di depan bongpai (baru nisan) itu dan berkata keras-keras.
"Bi Li, kau mengasolah dengan tenang. Aku bersumpah bahwa sebelum membunuh Liok Kong Ji untuk membalaskan sakit hatimu aku takkan berhenti. Kau tunggulah aku di alam baka. karena setelah tugasku aku akan hidup sebagai pertapa di Omei-san sampai datang saatku menyusulmu."
Ucapan ini diulangi berkali-kali dan sampai lama ia berlutut di depan "makam."
Demikian khidmatnya ia bersembahyang sampai telinganya yang biasanya amat tajam itu tidak mendengar datangnya beberapa orang yang berdiri di belakangnya dan memandang dengan terheran-heran dan penuh keharuan.
Akhirnya seorang di antara mereka yang bertubuh gagah dan masih muda, mendengar nama Bi Li disebut-sebut Tiang Bu, nampak kaget sekali dan bertanya.
"Kau bilang.......... Bi Li..... Bi Li mati? Apakah itu kuburan Bi Li adikku....?"
Menudingkan telunjuknya ke arah makam itu.
Tiang Bu menoleh dan melihat Wan Sin Hong berdiri sambil bersedakap di situ, memandangnya dengan mata mengandung kasih sayang besar.
Yang bertanya tadi adalah Wan Sun, kakak angkat Bi Li, putera dari mendiang Pangaran Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li, atau saudaranya sendiri, saudara sekandung berlainan ayah!
Orang ketiga adalah seorang tosu tua yang ia tidak kenal.
"Tiang Bu koko, saudara tuaku yang gagah parkasa, betulkah itu makam Wan Bi Li adikku....... ,?"
Kembali Wan Sun bertanya sambil menghampiri Tiang Bu.
Tiang Bu menjadi makin terharu.
Inilah adiknya seibu berlainan ayah.
Inilah anak kandung lbunya.
Ia melompat berdiri dan memeluk Wan Sun, tak tertahan lagi ia menangis terisak.
"Dia.......... dia sudah mati......"
Hanya itu yang dapat ia katakan, kemudian ia manjatuhkan diri berlutut di depan Wan Sin Hong.
Wan Sun cepat berlutut di depan makam sambil menyalakan lilin kemudian ia berdiri dan bersembahyang, mulutnya berkemak-kemik, air matanya menitik turun.
Terbayang semua pengalamannya ketika kecil dan menjelang dewasa.
Bi Li wanita yang sebetulnya merupakan cinta pertamanya sebelum ia bertemu dengan Coa Lee Goat.
Wan Sin Hong menyuruh Tiang Bu berdiri dan ia memandang kepada pemuda ini penuh perhatian.
Alangkah bedanya dengan ayahnya, pikir Sin Hong.
Bocah tidak bardosa yang kini menanggung akibat dari dosa ayahnya yang jahat sekali.
"Tiang Bu, coba kaucoritakan bagaimana Bi Li sampai tewas dan bagaimana hasilnya usahamu mencari musuh kita? Kau tentu datang untuk mencari ayah dan anak iblis itu bukan?"
"Betul seperti apa yang paman Wan Sin Hong katakan, siauwtit datang untuk membalas dendam dan mengakhiri kejahatan manusia-manusia iblis Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong. Kemudian Bi Li menyusul bersama gurunya, Ang-jiu toanio. Sayang sekali mereka berdua telah tewas pula di tangan ayah dan anak iblis itu!"
Kata Tiang Bu gemas.
"Memang Liok Kong Ji sudah terlampau banyak melakukan perbuatan jahat, keganasannya melebihi iblis dan ia telah banyak mengorbankan nyawa orang-orang gagah. Bahkan Pek-thouw-tiauw-ong bersama isterinya dan puterinya juga tewas semua di pulau ini,? kala Sin Hong sambil menarik napas panjang.
"Cetakanya, dia menyuruh anak angkatnya yang sama jahatnya dengan ayahnya itu untuk mengacau di Kim-bun-to sehingga ayah ibumu juga tewas olehnya...... .!!"
Mendengar ini, kekagetan Tiang Bu seperti orang disambar petir. Ia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, kemudian kedua tangannya bergerak memukul ke arah batu karang.
"Brakkk..!"
Batu karang yang besar itu hancur lebur di bagian yang terpukul, debu mengebul dan Tiang Bu muntahkan darah!
Ternyata dendam dan sakit hati ditambah kedukaan yang hebat tadi telah menindih jantungnya, membuat dadanya seperti hampir meledak.
Tahu bahwa sinkangnya yang sudah kuat sekali itu dapat membahayakan nyawanya sendiri, pemuda ini melampiaskan amarah dan nafsunya kepada batu karang, kemudian pukulan itu melepaskan sebagian besar tekanan pada dadanya, membuat ia muntah darah, akan tetapi nyawanya tertolong.
Sin Hong mengangguk-angguk dan membiarkan Tiang Bu menjatuhkan diri berlutut sambil menangisi kematian ayah bundanya yang biarpun hanya ayah bunda angkat, namun ia cinta seperti orang tua sendiri.
"Baik sekali kau dapat menghilangkan kemarahan yang menindih hatimu, Tiang Bu. Seorang laki-laki gagah tidak saja harus berani menghadapi lawan tangguh, juga harus kuat menahan pukulan batin, harus tahan menderita. Segala apa di dunia ini memang nampak bersifat dua macam yang bertentangan, sesuai dengan hukum Im Yang (positive/negative). Hanya orang budiman yang sudah mencapai keselarasan batin yang penglihatannya tidak membedakan unsur dua bertentangan itu. Semua diterima sama saja, penuh keyakinan bahwa segala sesuatu yang menimpa diri memang sudah semestinya demikian. Suka dan duka merupakan bumbu-bumbu hidup, kalau kita tidak tahu merasakan duka, bagaimana kenikmatan suka dapat terasa? Sekarang tenangkanlah semangatmu dan coba kauceritakan bagaimana pengalamanmu di pulau ini."
Mendengar wejangan Sin Hong yang amat dikaguminya itu, Tiang Bu menjadi lebih tenang.
Ia lalu menceritakan semua pengalamannya sejak mendarat sampai tadi bertemu daegan Wan Sin Hong, Wan Sun, dan tosu yang bukan lain adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai.
Merdengar akan kamatian Cui Kong, Wan Sin Hong menarik napas panjang.
"Memang sama saja. Baik atau jahat akhirnya akan mati juga. Akan tetapi kalau sudah tahu ada baik dan buruk dalam perbuatan dan langkah hidup, mengapa menjauhkan kebaikan mengejar keburukan? Cui Kong sudah meninggal dunia tinggal Liok Kong Ji. Kaukira di mana dia bersembunyi, Tiang Bu?"
"Siauwtit tak dapat menduganya. Wan-pek-pek. Orang itu memang amat licin dan penuh siasat. Aku malah khawatirkan dia sudah berhasil menyelamatkan diri, minggat dari pulau ini."
Sin Hong menggeleng kepala.
"Tak mungkin. Kami sudah mengatur dan pulau ini sudah kami kurung dengan mengawasan teliti. Huang-ho Sian jin dan kedua orang puterinya sudah selalu mengelilingi pulau dengan perahu-perahu mereka. Tak mungkin Liok Kong Ji dapat lolos kali ini. Hanya aku belum menyapaikan terima kasihku kepadamu bahwa kau telah berhasil merampas Leng-ji dari tangan Liok Kong Ji yang jahat.? Tiang Bu merasa lega.
"Syukurlah anak pek-pek sudah selamat. Sekarang dimana adik Leng Leng itu?"
Sin Hong lalu menceritakan keadaannya.
Sampai penat mengelilingi Pulau Pek houw-to belum juga mereka mendapatkan jejak Liok Kong Ji.
Kemudian dua rombongan mereka sudah bertemu dan berkumpul kembali tanpa hasil.
Hanya mereka menjadi amat kegirangan terutama sekali Wan Sin Hong dan isterinya ketika melihat Leng Leng sudah berada di situ dibawa oleh Pak Lian dan Ang Lian.
Leng Leng segera didekap oleh ibunya, dan Wan Sin Hong dengan wajah berseri berkata kepada Pek Lian.
"Pek Lian dan Ang Lian, kalian telah berjasa besar mengembalikan anakku. Tak tahu apa yang harus kulakukan untuk membalas budi kalian."
Ang Lian yang kenes itu tertawa jenaka.
"Hadiah untuk enci Pek Lian hanya satu macam, asal Wan taihiap suka menjodohkannya dengan Tiang Bu, cukuplah?.."
"Ang Lian. tutup mulutmu!"
Pek Lian membentak marah, akan tetapi mukanya menjadi merah "Wan-taihiap, harap jangan percaya mulut adikku yang lancang itu.
Sebetulnya, kami enci adik mana becus merampas adik Leng dari tangan Liok Kong Ji yang lihai?
Kami berdua hanya mengantarkannya saja ke sini, yang merampasnya dari tangan musuh adalah..........
Tiang Bu.
Kami berdua berjumpa dengan dia dan dialah yang menyuruh kami membawa adik Leng ke sini sedangkan dia sendiri masih melanjutkan usahanya mencari jejak musuh-musuh kita."
"Bersama seorang gadis cantik sekali akan tetapi lengannva buntung!"
Ang Lian menyambung.
"Bi Li..........!"
Wan Sun berseru kaget mendengar ini.
"Betul, nona itu adalah adik saudara Wan Sun ini,"
Kata pula Ang Lian.
Mendengar ini, Wan Sin Hong segera mengajak Wan Sun dan Bu Kek Siansu untuk menyusul ke daerah batu karang itu.
Kawan-kawan yang lain disuruh menanti dan secara bergiliran meronda dengan perahu agar Liok Kong Ji tidak dapat malarikan diri minggat dari pulau.
Demikianlah, setelah akhirnya rombongan tiga orang ini bertemu dengan Tiang Bu, ternyata Bi Li telah tewas dan potongan baju dikubur oleh Tiang Bu.
Semua orang menjadi terharu sekali dan diam-diam tahu bahwa Tiang Bu benar-benar amat mecinta Bi Li.
Wan Sin Hong merasa menyesal bukan main.
Jodoh yang setimpal sekali, pikirnya.
Tiang Bu dan Bi Li keduanya keturunan orang-orang jahat akan tetapi menjadi baik dalam asuhan orang-orang baik.
Sayang Bi Li meninggal dalam keadaan begini menyedihkan......"Kalau begitu penjahat Liok Kong Ji tentu masih menyembunyikan diri."
Kata Bu Kek Siansu yang semenjak dahulu telah menjadi musuh Liok Kong Ji.
"Lebih baik sekarang kita mengerahkan tenaga untuk mencarinya. Kali ini jangan sampai iblis itu bisa meloloskan diri dari tangan kita."
"Benar apa yang totiang katakan,"
Kata Sin Hong.
"Tiang Bu, apakah kau hendak mencari jejak Liok Kong Ji bersama kami?"
"Biarlah, pek-pek, siauwtit mencari sendiri. Ingin siauwtit berhadapan muka satu lawan satu dengan dia!"
Jawab Tiang Bu gemas.
Sin Hong maklum akan perasaan hati pemuda yang mengejar-ngejar ayah sendiri ini dan maklum pula bahwa di antara semua yang berada di situ, kiranya hati Tiang Bu yang paling panas.
Pula, ia percaya bahwa kepandaian Tiang Bu lebih dari cukup untuk melawan Liok Kong Ji.
"Baiklah kalau begitu. Cuma pesanku, malam nanti kalau belum juga Liok Kong Ji kita temukan, kau pergilah ke pantai selatan di mana kami semua berkumpul. Kau tentu sudah ingin bertemu dengan yang lain-lain, terutamna sekali adikmu Lee Goat yang sudah amat rinda kepadamu."
Tiang Bu mengangguk-angguk terharu sekali dan ia memandang kepada Wan Sun.
"Adikku yang baik. Aku benar-benar merasa berbahagia sekali ketika mendengar bahwa Lee Goat menjadi isterimu. Dia itu adikku, kau juga adikku, benar-benar perjodohan yang amat menggirangkan hatiku."
Wan Sun hanya bisa memegang pundak Tiang Bu dan memandang tajam.
Di dalam lubuk hatinya, Wan Sun menangis sedih.
Alangkah akan baiknya kalau Bi Li tidak meninggal dunia dan menjadi jodoh Tiang Bu.
Mereka lalu berpisah dan tiga orang itu meninggalkan Tiang Bu yang masih merasa enggan meninggalkan makam kekasihnya.
Liok Kong Ji pandai sekali menyembunyikan diri.
Memang sebelum ia diserbu oleh musuh-musuhnya, Liok Kong Ji sudah mengadakan penyelidikan di Pulau Pek-houw-to dan sudah membuat persiapan terlebih dulu.
Ia sudah membuat tempat rahasia yang sukar dilihat dari luar dan di dalam tempat persembunyian ini dia sudah menyediakan bahan makan yang cukup banyak.
Orang seperti dia yang banyak musuhnya tentu saja sudah membuat persiapan kalau kalau ia terpaksa bersembunyi seperti sekarang ini.
Tempat persembunyiannya itu, jangankan orang luar bahkan selir-selirnya sendiri sekalipun tidak ada yang tahu.
Oleh karena itu tak seorangpun di antara selir-selir dan pelayannya dapat memberi tahu ke mana ia bersembunyi.
Usaha Wan Sin Hong dan kawan-kawannya juga usaha Tiang Bu, belum juga berhasil.
Tiing Bu sudah datang ke tempat berkumpulnya Wan Sin Hong dan rombongannya.
Pertemuan yang amat menggembirakan, juga amat mengharukan, terutama sekali pertemuan antara Tiang Bu dan Coa Lee Goat, Berada di antara orang-orang gagah ini, Tiang Bu teringat akan semua pengalamannya ketika ia masih kecil dan di lubuk hatinya ia merasa kecewa sekali mengapa dia putera Liok Kong Ji yang terkenal jahat dan dimusuhi orang-orang gagah ini.
Aku harus dapat membasmi Liok Kong Ji dengan kedua tanganku sendiri pikirnya, agar aku dapat mencuci noda yang didatangkan oleh orang yang mengaku ayahku itu.
Juga pertemuannya dengan pasangan-pasangan seperti Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa, Wan Sun dan Coa Lee Goat, membuat ia makin teringat kepada Bi Li dan membuat ia berduka.
Sudah dua hari dua malam mereka berada di pulau itu dan setiap hari mencari jejak Liok Kong Ji, namun belum juga orang yang licin itu dapat mereka temukan.
"Lebih baik kita pusatkan penjagaan pada pantai saja,"
Wan Sin Hong menyatakan pendapatnya.
"Dan jangan kita mencari-cari lagi. Dengan sembunyi kita mengintai dan meronda di sepanjang pantai agar Liok Kong Ji mengira bahwa kita sudah pergi dari sini. Hanya dengan siasat ini kiranya ia akan keluar dari tempat sembunyinya"
Semua orang menganggap pendapat ini baik sekali, maka tadak lagi diadakan usaha mencari ke dalam pulau, melainkan penjagaan pantai diperkuat.
Hal ini tidak memuaskan hati Tiang Bu dan diam diam ia menemui Wan Sin Hong katanya.
"Wan pek-pek, memang siasat pek-pek baik sekali. Akan tetapi, ijinkanlah siauwte seorang diri mencarinya dengan diam diam menanti sampai ia muncul untuk membekuknya. Mencari beramai-ramai memang amat berisik dan membuat ular itu tidak mau keluar dari sarangnya, akan tetapi kalau seorang saja yang mencari, kiraku tidak akan mengagetkan dia."
Sin Hong tahu bahwa dengan kepandaiannya yang tinggi, Tiang Bu tentu saja merupakan pengecualian.
Dengan kepandaiannya itu tentu saja Tiang Bu dapat mencari tanpa terlihat oleh musuh.
Maka ia menyatakan persetujuannya dan pergilah Tiang Bu dari pantai, kembali ke pedalaman pulau untuk mencari lagi.
Hal ini terdengar oleh Ciu Lee Tai dan membuat si dogol ini penasaran.?Mengapa dia diperbolehkan dan aku tidak?"
Katanya penasaran.?Biarpun boleh jadi Tiang Bu lihai, akan tetapi bukankah dia itu putera sajati dari Liok Kong Ji?
jangan-jangan menyuruh dia mencari sama halnya dengan menyuruh dia memberi peringatan kepada Kong Ji ayahnya lebih berhati-hati dan jangan keluar dari tempat persembunyiannya.?
Ucapan ini ia keluarkan di depan Ang Lian, karena sering kali dua orang muda ini bercakap, atau lebih tepat lagi.
sering kali Lee Tai mencari kesempatan untuk mendekati Ang Lian pada waktu gadis ini berada seorang diri di tepi pantai.
"Huh. omongan apa ini?? bentak Ang Lian cemberut marah.
"Sekali lagi kau bicara seperti itu, aku selamanya tidak mau mendengar omonganmu yang busuk lagi. Dia adalah calon cihuku (kakak iparku), kau tahu? Dan kau berani menghinanya?"
"Eh.......... , oh.......... begitukah..........? Jadi.......... enci Pek Lian........."
Sungguh menggelikan sikap Lee Tai ini. Belum apa apa ia sudah menyebut enci kepada Pek Lian, biarpun usianya lebih tua dari pada Pek Lian yang baru berusia dua puluh satu tahun.
"Tutup mulut, jangan kaubicarakan hal ini kepada orang lain. Pendeknya kau tidak berhak memburukkan nama Tiang Bu. Dia itu seorang yang tinggi ilmunya, bahkan menurut Wan-bengcu, di dunia persilatan sekarang ini jarang ada orang yang dapat manandinginya. Kau ini siapa sih? Janjimu untuk menewaskan manusia iblis Liok Kong Ji juga hanya omong kosong belaka, syaratku itu masih berlaku, kau tahu? Kalau tak dapat mengalahkan Liok Kong Ji. jangan harap aku akan memperdulikanmu lagi!"
Setelah berkata demikian dengan cemberut Ang Lian membalikkan tubuh dan meninggalkan Ciu Lee Tai seorang diri di atas batu-batu di pantai itu.
"Adik Ang Lian......"
Akan tetapi Ang Lian menengokpun tidak, terus pergi ke pondok di mana ia bermalam dengan Pek Lian. Rombongan ini memang membuat pondok-pondok darurat untuk melewatkan waktu malam.
"Baik,"
Kata Lee Tai yang menjadi panas hatinya.
"kau kira aku tidak dapat berusaha seperti Tiang Bu? Kau kira aku tidak bisa pergi sendiri mencari Liok Kong Ji dan menantangnya bertanding sampai selaksa jurus Ang Lian.......... Ang Lian.......... kau belum kenal adanya Kang-thouw-ciang Ciu Lee Tai!"
Pemuda ini bicara seorang diri sambil menepuk-nepuk dada dan goloknya.
Kemudian ia berlari ke pedalaman pulau untuk mencari Liok Kong Ji.
Ciu Lee Tai memang peenuda yang berhati keras dan bernyali besar.
Dia keturunan orang gagah.
Ayahnya Ciu Beng, adalah seorang piauwsu (pengawal barang) yang gagah dan terkenal di daerah Shan-tung.
Juga ayahnya berwatak keras dan tak mau kalah, namun jujur den memiliki jiwa ksatria.
Oleh karena wataknya yang keras, adil dan jujur inilah maka mereka banyak dimusuhi oleh penjahat-penjahat di dunia liok-lim.
Biasanya, sebagian besar piauwsu mempergunakan cara-cara halus menghadapi para perampok, yaitu dengan jalan memberi "uang jalan"
Atau juga disebut uang sewa jalan, pendeknya semacam care menyuap agar perampok-perampok itu tidak mengganggu barang yang dikawalnya.
Akan tetapi Ciu Beng tidak sudi melakukan cara ini.
Dia mengawal mengandalkan kegagahannya, mengandalkan tajamnya golok.
"Seorang piauwsu adalah seorang pengawal dan tugas seorang piauwsu adalah mengawal dan melindungi barang kiriman dengan taruhan nyawa. Ada perampok menghadang harus dibasmi, selain demi melindungi barang juga demi mengamankan kehidupan rakyat jelata. Ini baru gagah namanya!"
Demikian Ciu Beng sering menyatakan pendapatnya.
Wutaknya yang keras dan tidak mau berkompromi dengan para penjahat itu akhirnya mendatangkan malapetaka bagi rumah tangganya.
Sekawanan perampok yang menaruh dendam, menyerbu rumahnya, membakar rumah itu dan di dalam pertempuran hebat Ciu Beng dan isterinya tewas terbunuh oleh orang-orang jahat, meninggalkan anak tunggal mereka yaitu Ciu Lee Tai yang baru berusia sepuluh tahun.
Ciu Lee Tai mewarisi watak ayahnya.
Sejak kecil ia sudah gemar akan ilmu silat dan sudah mewarisi dasar-dasar ilmu silat ayahnya.
Setelah ia menjadi yatim piatu dan harta benda ayahnya habis terbakar, ia lalu menjadi seoring bocah gelandangan, tiada sanak kadang tiada penolong.
Namun sejak berusia sepuluh tahun, ia sudah memperlihatkan keteguhan hati sebagai seorang calon pendekar.
Ia tidak sudi melakukan perbuatan jahat seperti mencuri dan lain-lain, tidak sudi pula mangemis makanan biarpun perutnya sudah kelaparan.
Sebaliknya ia bekerja apa saja yang orang mau mempergunakan tenaganya.
Berkat kejujuran dan kerajinannya, ia dapat membawa diri, dapat memelihara diri sendiri sampai dewasa.
Juga ia tidak melupaka kegemarannya akan ilmu silat.
Terus ia melatih diri dan setiap kali ia mendengar akan adanya seorang guru silat yang pandai, biarpun tempatnya jauh, ia rela kehilangan pekerjaannya, meninggalkan tempatnya dan pergi ke kota tempat tinggal guru silat itu.
Ia rela menjadi bujang atau penyapu lantai di rumah guru silat itu hanya untuk menerima pelajaran ilmu silat dengan cuma-cuma.
Memang bagi orang bersemangat dan bersungguh-sungguh, terbentang jalan luas menuju ke pantai cita cita.
Biarpun dengan susah payah, akhirnya Ciu Lee Tai berhasil juga memiliki ilmu silat yang lumayan, bahkan ia telah mempelajari ilmu golok yang dulu menjadi andalan ayahnya.
Para orang gagah di dunia kang-ouw amat suka kepadanya karena selain jujur dan ringan tangan, juga Lee Tai amat rajin.
Biarpun dalam urusan lain ia nampak dogol, namun dalam mempelajari ilmu silat ia termasuk golongan pandai dan cerdik, cepat mengerti.
Ini pula yang menyebabkan Wan Sin Hong sampai menurunkan beberapa macam ilmu pukulan kepadanya.
Sifat baik lain yang ada pada diri Lee Tai ada hubungannya dengan kematian ayah bundanya.
Pemuda ini amat benci kepada perampok dan setiap kali ia mendengar ada perampok, ia lalu mercari dan tidak mau berhenti sebelum dapat membasmi perampok-perampok itu sampai ke akar-akarnya.
Tadinya ia membabi-buta, akan tetapi pengalamannya dan pergaulannya dengan orang-orang gagah di dunia kang-ouw membuka matanya sehingga dia dapat mambedakan antara perampok-perampok yang memang benar jahat dan perampok-perampok yang sebetulnya menjadi pembela-pembela rakyat, karena yang dirampok oleh mereka itu hanya pembesar-pembesar korup dan bangsawan serta hartawan keji, kemudian hasil rampokan diberikan kepada rakyat miskin.
Seperti halnya Huang-ho Sian-jin, kakek yang menjadi datuk bajak ini mendapat penghargaan tinggi di mata Lee Tai.
Apa lagi karena Huang ho Sian-jin adalah ayah dari Ang Lian.
Di Shantung, nama Cui Lee Tai sudah terkenal dari kegagahan serta kejujuran dikagumi orang, biarpun di samping kekaguman ini juga orang selalu tertawa kalau bicara tentang dia karena ia dianggap lucu.
Demikianlah riwayat singkat dari Ciu Lee Tai yang sekarang pergi seorang diri ke dalam hutan di Pulau Pek-houw-to untuk mencari Liok Kong Ji.
Hatinya masih panas karena ucapan-ucapan Ang Lian, gadis yang membetot hatinya itu.
Karena panas ia menjadi marah dan dengan nekat ia berjalan terus memasuki hutan sambil berteriak-teriak!
"Liok Kong Ji, keluarlah kalau kau jantan.
Mari bertanding selaksa jurus dengan tuanmu Kang-thouw-ciang Ciu Lee Tai!"
Sampai serak tenggorokannya dan sampai lelah kakinya, belum juga Liok Kong Ji muncul atau menjawab.
Akhirnya ia menjadi marah kepada Tiang Bu ketika ia teringat akan kata-kata Ang Lian yang memuji-muji dia membela Tiang Bu sebaliknya mencelanya.
Ia berteriak lagi, kini mencela nama Tiang Bu.
"Tiang Bu, kau orang apa? Hanya anak bangsat Liok Kong Ji. Mana bisa lebih lihai dari aku? Anak srigala tak mungkin menjadi domba. Bapaknya jahat anaknya tentu jahat pula!"
Makin diingat hatinya makin panas.
Tiang Bu anak penjahat Liok Kong Ji bagaimana bisa diterima menjadi calon jodoh Pek Lian dan bahkan Ang Lian agaknya suka kepada Tiang Bu?
Sedangkan dia keturunun orang gagah, selalu dicela oleh Ang Lian!
Padahal apakah Tiang Bu itu?
Mukanya tidak tampan, pendiam tak pandai bicara, agak angkuh.
"Hei. Tiang Bu! Kalau kau betul gagah dan mau membela ayahmu, kau juga majulah bersama Liok Kong Ji. Kau kira aku orang she Ciu takut dikeroyok dua??"
Ia berteriak-teriak seperti orang kemasukan setan untuk mengumbar kemarahan dan kemendongkolan hatinya.
Setelah keluar dari hutan itu, ia tiba lagi di pantai laut, di bagian yang penuh batu-batu karang tinggi dan aneh-aneh bentuknya.
Ia lelah sekali dan mengaso, duduk di atas sebuah batu yang licin.
Hatinya masih mengkal, akan tetapi juga agak bingung.
Ia merasa amat lapar dan panas, untuk kembali di tempat rombongannya, ia tidak tahu jalan lagi.
"Celaka."
Katanya keras-keras.
"Gara Kong Ji dan Tiang Bu ayah anak keparat aku harus bersengsara!"
Karena marah dan kesal tanpa disadarinya ia mendorong-dorong batu karang di sebelah kanannya sambil memaki-maki nama Kong-Ji.
Tiba-tiba ia berteriak kaget karena batu karang besar itu tiba-tiba berbunyi dan sebuah pintu terbuka pada batu karang itu!
Ternyata bahwa ia telah mendorong dan menyentuh alat rahasia tempat persembunyian Liok Kong Ji.
Sebelum hilang kagetnya, tahu-tahu ia telah berhadapan dengan seorang laki-laki tinggi kurus setengah tua yang bermata tajam bukan main.
Ciu Lee Tai sampai hampir terjengkang saking kagetnya.
"Kau??. kau setankah..........?"
Tanyanya saking gugup melihat tahu-tahu ada orang di depannya.
Liok Kong Ji tertawa.
Ia tadi telah mendengar makian-makian orang ini dan ia yang cerdik dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang anggauta rombongan Wan Sin Hong, seorang muda yang dogol.
"Aku lebih tinggi dari pada setan, akulah penunggu pulau ini. Kau siapakah dan apa maksud kedatanganmu?"
Lee Tai kaget bukan main, ia setengah percaya setengah tidak.
Penunggu pulau berarti sebangsa dewa atau iblis, bagaimana bisa muncul di tengah hari?
Kalau mantissa biasa, mengapa tiba-tiba keluar dari dalam batu karang?
"Aku........
aku Ciu Lee Tai, hendak mencari Liok Kong Ji untuk menangkapnya,"
Katanya gagah. Liok Kong Ji tertawa geli.
"Kau.....? Hendak menangkap Liok Kong Ji? Apa kau sudah tahu bahwa Liok Kong Ji itu kepandaiannya tinggi sekali. lebih tinggi dari pada kepandaian gurumu?"
Lee Tai menepuk dadanya "Aku tidak takut! Tak mungkin orang semacam dia lebih lihai dari guruku padahal guruku yang terakhir adalah Wan bengcu."
"Ha ha ha, orang dogol. Aku sendiri belum tentu dapat menangkan Liok Kong Ji. Hendak kulihat sampai di mana sih tingtat kepandaianmu maka kau berani menyombong berteiak menangkap Liok Kong Ji?"
Tiba-tiba tangannya bergerak menampar ke depan.
Ciu Lee Tai cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya untuk memamerkan Kong thouw ciang (Kepalan Baja).
Akan tetapi ia menangkis angin dan tahu-tahu kakinya kedua-duanya terangkat membuat ia terengkang ke belakang dan bergulingan.
Kepalanya sebelah kiri benjol sebesar telur ayam karena menumbuk batu.
Ia melompat berdiri sambil memandang dengan mata "Eh, kau pakai ilmu siluman!"
Kong Ji tersenyum mengeiek, penuh hinaan dan juga geli.
"Bagaimana kau bilang aku pakai ilmu siluman?"
"Kalau memang berkepandaian, adu tebalnya kulit kerasnya tulang, jangan main jegal-jegalan secara curang!"
Tanpa menanti jawaban, Lee Tai menyerang lagi, kini ia memukul dengan tangan kanannya yang keras ke arah dada Kong Ji.
"Blekkk!"
Lee Tai merasakan kepalanya puyeng saking sakitnya kepalan tangan kanannya yang bertemu dengan dada Kong Ji.
Mulutnya yang hendak menjerit kesakitan ia tahan-tahan, sampai ia menggigit bibirnya, pringisan seperti orang sakit mules.
Tulang-tulang lengan kanannya seperti ditusuki jarum!
"Kau......
kau bukan manusia.........."
Kong Ji tersenyum.
"Bocah bodoh, baru sekarang kau mau mengaku. Memang aku bukan manusia biasa, melainkan pertapa yang sudah ratusan tahun berada di sini. Kepandaian seperti kau miliki itu mana bisa untuk melawan Liok Kong Ji?"
Akan tetapi Lee Tai berpikir lagi. Mungkinkah ia berjumps dengan setan? Ah, jangan-jangan ia ditipu, (Lanjut ke
Jilid 34) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 jangan-jangan orang in menggunakan akal untuk menerima pukulannya tadi.
"Barangkali kau memakai baju besi di balik bajumu itu!? Liok Kong Ji sudah mempunyai siasat untuk menggunakan si dogol ini, maka ia berlaku sabar sekali, tidak seperti biasanya. Kalau dalam keadaan biasa, ia tidak terjepit seperti sekarang, tentu dengan satu pukulan saja akan menghabiskan nyawa orang ini. Ia membuka bajunya, memperlihatkan dadanya yang tidak terlindung apa-apa.
"Kau masih penasaran?"
Tanyanya. Lee Tai betul-betul merasa heran. Memang ia masih penasaran karena biasanya, tangannya ampuh sekali.
"Kalaukau masih penasaran, boleh kau memukul atau menendangku tiga kali lagi tampa aku mengelak atau menengkis."
Lee Tai membelalakkan matanya.
"Betul betul kau tidak akan mengelak? Bagaimana kalau aku memukul atau menendang bagian tubuhmu yang berbahaya?"
Kong Ji memang sedang berusaha menundukkan orang ini untuk dipakai pembantu menyembunyikan diri, maka ia mengangguk.
"Boleh kaupukul atau tendang di mana saja. aku takkan mengelak atau menangkis. Kalau aku mengaduh sedikit saja, anggap aku kalah"
"Orang tua, kau sendiri yang menantang, Jangan bilang aku Ciu Lee Tai seorang pemuda curang. Awas, aku akan menyerang bagian tubuhmu yang lemah, apa kau berani?"
"Serang saja, serang sampai tiga kali!"
Kata Kong Ji tersenyum.
Lee Tai lalu mengerahkan tenaganya dan mengirim pukulan dua kali dengan kedua kepalan tangannya.
Tangan kanannya menghantam leher sedangkan tangan kirinya menjotos lambung.
Pukulan -pukulun ini hebat sekali, apa lagi pukulan tangan kirinya yang menjotos lambung karena tangan kirinya masih belum terluka, tidak seperti tangan kanannya yang sudah merah membiru akibat pukulannya pertama tadi.
"Bukk! Plak!"
Berturut turut kedua kepalan tangannya mengenai sasaran dengan jitu.
Akan tetapi, seperti juga tadi, Kong Ji tidak bergeming, sebaliknya Lee Tai tak dapat menahan lagi, mengaduh-aduh dan kedua tangannya digoyang-goyangkan ke kanan kiri karena terasa sakit-sakit, linu dan panas sekali.
"Masih boleh satu kali lagi, orang muda,"
Kata Kong Ji.
Karena penasaran dan rasa sakit, Lee Tai menjadi marah.
Kakinya menendang, tadinya hendak menendang ke arah anggauta yang paling lemah akan tetapi karena memang pada dasarnya Lee Tai bukan manusia curang ia merasa malu sendiri kalau mempergunaka kesempatan untuk membinasakan orang yang tidak berdosa, masa kakinya menyeleweng dan menendang perut.
"Blekk!"
Akibatnya hebat sekali, Lee Tai merasa kakinya seperti menendang bola baja sampai-sampai ia merasa tulang tulang kakinya merasa remuk.
Sambil pringisan kesakitan ia berjingkrak-jingkrak, berloncatan dengan kaki kirinya dan mengaduh-aduh, akhirnya ia menjatuhkan diri berlutut di depan Kong Ji.
Pemuda dogol ini sekarang menjadi takluk benar-benar.
"Selama hidup baru kali ini bertemu manusia sakti seperti locianpwe yang mulia Mohon diberi petunjuk agar teecu mempunyai kepandaian seperti locianpwe dan dapat mengalahkan Liok Kong Ji"
"Ha, agaknya kau amat membenci orang she Liok itu. Ada permusuhun apakah antara kau dengan dia?"
Tanya Kong Ji.
"Sebetulnya teecu tidak mempunyai urusan pribadi dengan dia, hanya kekasih teecu mengajukan syarat bahwa dia mau menerima pinangan teeecu kalau teecu dapat mengalahkan Liok Kong Ji"
Lee Tai yang jujur kini sudah menaruh kepercayaan seribu prosen kepada "manusia sakti"
Ini, maka dengan jujur iapun mengutarakan isi hatinya. Kong Ji mengangguk angguk.
"Aku suka kepadamu dan aku mau memberi pelajaran ilmu silat dan memberi sebuah kitab yang kalau kau sudah pelajari, seribu orang Liok Kong Ji kiranya takkan mampu melawanmu."
Lee Tai girang sekali dan buru-buru ia mengangguk anggukkan kepalanya menghaturkan terima kasih.
"Teeeu bersumpah akan mentaati perintah locianpwe."
Kong Ji adalah seoring yang mempunyai tipu muslihat licik sekali.
Satu kali bertemu ia sudah dapat mengenal watak Lee Tai, dan ia tahu bahwa betapapun dogolnya pemuda ini, namun kejujuran Lee Tai adalah aseli dan tentu pemuda ini menolak perintahnya untuk melakukan sesuatu yang berlawanan dengan suara hatinya sendiri.
Oleh karena itu ia mengambil jalan lain dan berkata.
"Permintaanku hanya satu, yaitu kau jangan bilang kepada siapapun juga tentang diriku di sini. Aku sudah puluhan tahun tidak bertemu dengan manusia, dan dengan kau aku suka memperlihatkan diri oleh karena kita berjodoh dengan aku. Maukah kau bersumpah takkan mengatakan kepada siapapun juga bahwa aku berada di sini dan takkan membuka mulut tentang pertemuan ini?"
"Teecu bersumpah takkan bicara pada siapapun juga tentang lo-cianpwe."
"Bagus, aku percaya kepadamu, karena kalau kau melanggar tentu aku akan datang mengambil nyawamu. Sekarang tentang hal lain. Tadi aku mendengar kau menyebut-nyebut nama Tiang Bu, apa kau tidak tahu bahwa Tiang Bu itu adalah anak Liok Kong Ji dan bahwa sekarang Tiang Bu membantu ayahnya itu untuk bersembunyi?"
Mata Lee Tai terbelalak kaget.
"Betulkah itu, locianpwe"
"Aku selamanya tidak pernah membohong. Aku melihat sendiri betapa Tiang Bu bercakap-cakap dengan Liok Kong Ji dan sambil menangis di depan ayahnya, pemuda itu menyembunyikan Liok Kong Ji di suatu tempat yang tak mungkin didapatkan oleh orang lain. Kau tak perlusibuk, lebih baik kauberitahukan hal ini kepada Wan Sin Hong dan yang lain-lain agar Tiang Bu itu ditangkap dan dipaksa mengaku di mana adanya Liok Kong Ji. Tentu dia bisa memberi tahu."
"Tentu saja! Tentu teecu akan memberitahukan kepada Wan bengcu dan yang lain-lain. Memang teecu sudah bercuriga. Mana ada srigala........"
"Sst, cukup. Tak perlu memaki di depanku. Akan tetapi, karena kau sudah bersumpah takkan menyebut-nyebut namaku, kaupun harus menceritakan bahwa kau melihat dengan matamu sendirl pertemuan antara Tiang Bu dan Liok Kong Ji. Jangan kau menyebut-nyebut tentang aku."
"Tentu teeeu mengerti, dan teeeu akan melaksanakan semua perintah locianpwe. Hanya teecu mohon pelajaran Ilmu silat untuk melawan Liok Kong Ji."
Kong Ji mengeluarkan se
Jilid kitab kuno dari saku bajunya.
"Kitab ini adalah pelajaran Ilmu Pedang Swat-lian-kiam-coan-si, kalau kau mempelajarinya, ilmu pedang ini dapat membuat kau menjadi seorang sakti. Akan tetapi jangan sampai kitab ini terlihat oleh orang lain, apa lagi oleh Tiang Bu sebelum pemuda itu tertangkap. Dia amat jahat dan tentu kitab ini akan dia rampas!"
Bukan main girangnya hati Ciu Lee Tai.
Ia percaya seratus prosen bahwa dengan kitab itu tentu ia akan dapat menjadi seorang sakti, dapat melawan Liok Kong Ji sehingga ia dapat diterima dengan senyum manis oleh Ang Lian.
Sekali saja ia membuka kitab itu, ia mengerti bahwa itu memang sebuah kitab ilmu silat yang hebat sekali.
Memang, dalam hal-hal lain Lee Tai boleh jadi dogol dan bodoh, akan tetapi dalam ilmu silat otaknya memang encer dia dapat membedakan ilmu silat yang baik.
Dengan girang Lee Tai menghatutkan terima kasih.
Lalu timbul kekhawatirannya kalau-kalau orang sakti ini bertemu dengan Liok Kong Ji dan menggunakan kepandaian membunuh musuh besar itu, mendahuluinya.
Moka ia cepat berkata.
"Locianpwe, harap locianpwe jangan mengganggu Liok Kong Ji dulu, biar teecu mempelajari ilmu pedang ini dan teecu sendiri yang akan membekuknya!"
Dapat dibayangkan betapa geli hati Liok Kong Ji setelah mempermainkan Lee Tai mendengar ucapan ini.
Akan tetapi iapun tidak berani muncul terlalu lama.
Saking gelinya ia tak dapat menahan gelak tawanya dan tiba-tiba ia berkelebat lenyap dari depan Lee Tai yang tentusaja menjadi makin kagum dan heran.
Ah, benar-benar dia seorang dewa, pikirnya, dan cepat-cepat menyembunyikan kitab itu ke dalam bajunya.
Lee Tai yang tadinya kegirangan itu medadak menjadi kaget dan gelisah ketika ia teringat bahwa ia berada di tengah pulau dan tidak tahu ke mana jalan untuk kembali ke tempat rombongannya!
Ia sudah menjadi bingung dan tidak tahu lagi mana selatan mana utara, mana barat mana timur.
Akhirnya ia mendapatkan akal juga.
Rombongan itu berada di pantai pulau, kalau aku terus mengikuti sepanjang pantai masa tidak akan mendapatkan mereka?
BerpikIr demikian, pemuda ini lalu cepat-cepat berjalan ke kanan, terus saja berjalan ke depan tidak membelok ke mana-mana lagi.
Tentu saja akhirnya ia sampai juga ke partai.
Girang hatinya melihat air laut membiru terbentang di depannya.
Ia lalu berjalan megikuti pantai dengan laut di sebelah kirinya.
Untuk menghilangkan kssalnya, ia kadang-kadang membuka lembaran kitab itu dan mulai mempelajari isinya.
Jelek-jelek Lee Tai juga pandai membaca karena dahulu ia telah belajar pula membaca.
Sayang kepandaiannya dalm hal membaca ini kurang sempurna sehingga sering kali ia harus mengasah otak untuk memecahkan arti sebuah huruf yang kelihatan asing baginya.
Selagi ia enak berjalan, tiba tiba ia mendengar suara wanita tertawa.
ia cepat menengok ke kiri dan.....
Ang Lian dan Pek Lian mendayung perahu tak jauh dari pantai, melihat kepadanya dan tertawa-tawa.
"Hee, Ciu twako! Kau sedang mencari Liok Kong Ji atau sedang berjalan-jalan makan angin laut?"
Tegur Pek Lian. Lee Tai cepat menyimpan kitabnya dan kelihatan senang bukan main, melambai-lambaikan kedua tangannya kepada dua orang gadis itu.
"Enci Pek Lian dan adik Ang Lian..... Kebetulan sekali berjumpa dengan kalian di sini! Aku sedang bingung bagaimana bisa kembali ke tempat romboogan kita. Enci Pek Lian, kaubawalah aku pulang......"
Pek Liao tersenyum, tidak menjawab, Ang Lian cemberut dan bertanya.
"Apakah sudah bertemu dengan Liok Kong Ji?"
Lee Tai menggeleng kepala.
"Belum, akan tetapi aku mendengar hal penting sekali, tentang dia dan Tiang Bu!"
Mendengar orang bicara tentang Tiang Bu, Pek Lian cepat mendayung perahu ke tepi dan meloncat ke darat, diikuti oleh Ang Lian yang menyeret perahu ke pinggir.
"Mendengar hal penting apa? Lekas ceritakan. Ciu-twako."
Pak Lien mendesak karena ia sudah ingin sekali mendengar tentang Tiang Bu yang pergi seorang diri mencari Liok Kong Ji.
"Apa dia sudah berhasil merobohkan Liok Kong Ji?"
Muka Lee Tai menjadi pucat dan ia nampak bingung. Ia tadi ketika melihat Ang Lian menjadi begitu girang sampai ia lupa akan pesan "dewa"
Itu.
Sekarang ditanya oleh Pak Lian, ia tidak dapat segera menjawab.
Bagaimana ia bisa menerangkan tanpa menyebut orang sakti itu?
Untuk berbohong bahwa dia melihat sendiri pertemuan antara Tiang Bu dan Liok Kong Ji, ia tak sanggup.
Selamanya Lee Tai memang tidak biasa membohong.
"Aku mendengar dari orang lain."
Katanya jujur. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengaku saja mendengar dari orang lain tanpa menyinggung orang sakti itu.
"Aku mendengar bahwa Tiang Bu sudah mengadakan pertemuan dengan Liok Kong Ji. Tiang Bu agaknya ingat kepada ayahnja yang sejati dan menghianati kita, ia bantu menyembunyikan Liok Kong Ji!"
"Tak mungkin..........!"
Pek Lien membentak keras sampai Lee Tai menjadi kaget.
Ang Lian meloncat maju menghadapi Lee Tai.
Sepasang mata gadis ini yang bening dan tajam menatap wajah Lee Tai penuh selidik dan pertanyaan, membuat hati pemuda itu berdebar-debar keras.
"Kau bicara sembarangan apa lagi? Mana bisa Tiang Bu menyembunyikan iblis itu? Tiang Bu mencari-cari untuk membunuhnya."
"Apa anehnya?"
Jawab Lee Tai.
"Hal itu sudah sewajarnya. Bukankah Liok Kong Ji itu ayahnya?"
"Apa kau melihat sendiri hal itu?"
Desak Ang Lian. Lee Tai menjadi bingung.
"Tidak, aku aku mendengar dari orang lain."
"Bodoh, mau percaya saja. Siapa orang yang bilang kepadamu?"
Lee Tai makin bingung.
Biarpun ia agak dogol, akan tetapi pemuda ini berhati keras dalam hal kejujuran dan kesetiaan.
Biarpun terhadap Ang Lian ia mau dan rela melakukan apa saja, bahkan kalau perlu mengorbankan nyawanya, akan tetapi dalam hal melanggar janji apa lagi sumpah, ia pantang!
"Aku mendengar dari orang lain dan..........
dan aku tidak bisa mengatakan siapa orang itu..........
Aku tidak mengenalnya."
"Kau.......... kau bohong!"
Pak Lian membentak marah. Lee Tai boleh jadi dogol den agak bodoh, akan tetapi ia tidak mau dihina.?Selamanya aku tidak membohong! Lebih baik aku mati dari pada membohong!"
Jawabnya tegas. Diam diam ada sinar girang dan kagum berpancar keluar dari mata Ang Lian, dan gadis ini berkata agak halus.
"Boleh jadi kau tidak membohong, akan tetapi sudah pasti orang itu membohongimu. Mengapa kau tidak mau Mengapa kau tidak mau bilang siapa dia? Di dalam pulau ini mana ada orang lain?"
"Adik Ang Lian, aku.......... aku tidak bisa mengatakan siapa dia."
"Hemmm, kau agaknya melindungi dia,? Ang Lian berkata marah.
"Hayo enci, kita pergi, jangan perdulikan si tolol ini."
Ia melompat ke dalam perahu, juga Pek Lian naik ke dalam perahu dan mereka mendayung perahu itu ke tengah.
"Tunggu dulu! Aku ikut pulang!"
"Orang sedogol kau lebih baik jalan kaki,"
Ang Lian berkata dan mendayung perahu makin cepat.
"Ang Lian?? aku tidak tahu ke mana aku harus pergi untuk pulang ke tempat rombongan kita!"
Lee Tai mengeluh.
Ang Lian dan Pek Lian tidak menjawab.
Lee Tai makin bingung.
akan tetapi akhirnya timbul juga ingatannya bahwa tentu dua orang gadis itupun hendak pulang.
Melihat perahu mereka itu menuju ke kanan, iapun melanjutkan perjalanannya karena yakin bahwa tantu di jurusan itu letaknya tempat rombongan mereka.
Dalam hal ini memang ia berpikir tepat.
Ternyata tempat berkumpulnya rombongan itu hanya lima belas li lebih dari tempat pertemuannya dengan dua orang gadis itu.
Dari manakah dua orang gadis itu?
Mereka ini bertugas untuk membawa perahu mengelilingi Pulau Pek-houw-to untuk menjaga dan mengawasi kalau-kalau Liok Kong Ji berusaha minggat dari pulau itu.
Dua orang gadis inipun seperti Lee Tai menyimpan sebuah rahasia.
Rahasia hati masing-masing.
Diam-diam mereka sering kali bercakap-cakap tentang Tiang Bu dan Lee Tai.
Setelah melthat watak dan gerak gerik Lee Tai, biarpun pemuda tampan itu bodoh namun amut jujur dan bernyali besar.
Hal ini membuat Ang-Lian yang centil dan lincah itu tertarik hatinya dan ia mengaku terus terang kepada encinya.
Sebaliknya, biarpun di hadapan orang lain tak pernah membuka mulut, terhadap adiknya, Pek Lian juga berterus terang bahwa ia jatuh hati kepada Tiang Bu yang gagah perkasa.
Tentu saja berita yang di!erima oleh mereka dari Lee Tai itu amat menggelisahkan hati mereka.
Pek Lian gelisah sekali karena kalau hal itu betul-betul, Tiang Bu tentu akan dimusuhi oleh Wan Sin Hong dan tokoh-tokoh lain sebagai seorang pengkhianat.
Sebaliknya Ang Lian menjadi gelisah karena Lee Tai membawa berita buruk ini.
Setelah tiba di tempat rombongan, Pek Lian dan Ang Lian menemui ayah mereka dan kepada kakek ini mereka bercerita tenting berita buruk yang mereka dengar dari Lee Tai.
Huang-ho San jin terkejut dan kakek ini mengangguk-angguk.
"Sungguh berita ini agak tak masuk di akal, akan tetapi Lee Tai itu boleh dipercaya omongannya. Baiknya bukan dia sendiri yang melihat pertemuan antara Tiang Bu dan Liok Kong Ji, sehingga masih banyak sekali kemungkinan ia mendengar berita bohong. Anehnya, siapakah orang di dalam pulau yang menyampaikan berita itu kepadanya?"
"Mungkin seorang pelayan Liok Kong Ji yang masih berkeliaran dan belum tertangkap,"
Kata Pek Lian.
"Akan tetapi, semua selir dan pelayan sudah kita suruh keluar dari pulau ini dan kita membiarkan mereka membawa harta benda Liok Kong Ji. Andaikata ada seorang pelayan yang masih berkeliaran, mengapa kita tak pernah melihatnya? Padahal kita sudah mencari Liok Kong Ji di seluruh pulau,"
Kata Ang Lian. Huang-ho Sian jin menepuk nepuk jidatnya.
"Betul juga! Orang macam Liok Kong Ji mana kuat hidup menderta, seorang diri bersembunyi dari kejaran kita. Tentu ia sudah berhasil membawa seorang pelayan untuk melayaninya di dalam tempat persembunyian itu. Bagus sekali! Kalau begitu, Lee Tai tentu dapat membawa kita ke tempat persembunyian Liok Kong Ji.? "Akan tetapi, ayah. Agaknya si dogol itu tidak mau memberi tahu tentang orang yang menyampaikan berita itu kepadanya, lebih baik menanti sampai dia sendiri menyampaikan berita itu kepada Wan-bengcu. Nanti kita baru menyampaikan pandangan ayah ini."
Huang-ho Sian-jin mengangguk-angguk.
Kakek ini bermata awas dan sebagai seorang ayah yang sudah usia lanjut dan banyak pengalamannya, tentu saja ia dapat mengetahui hati anak-anaknya.
Tanpa diberi tahu oleh siapapun juga, ia tahu babwa Pek Lian jatuh hati kepada Tiang Bu dan bahwa Ang Lian juga tertarik pada Lee Tai.
Ia mengerti pula akan maksud ucapan Ang Lian tadi, yaitu agar supaya Ang Lian tidak dianggap mendahului Lee Tai dan melaporkan halnya kepada Wan Sin Hong.
Terhadap kedua orang pemuda pilihan dua orang puterinya itu, memang Huan ho Sian-jin sudah penuju sekali, tinggal menanti perantara.
Dengan bersungut sungut karena tidak dibawa oleh Pek Lian dan Ang Lian, Lee Tai tiba di tempat berkumpulnya rombongan itu.
Kedatangannya disambut oleh senyuman Wan Sin Hong yang bertanya.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu, Lee Tai?"
Merah muka Lee Tai.
"Wan bengcu, biarpun teecu belum bertemu muka dengan Liok Kong Ji, namun teecu membawa berita yang amat penting sekali."
Pek Lian, dan Ang Lian saling lirik dan Huang-ho Sian-jin menatap wajah pemuda pilihan Ang Lian ini dengan penuh perhatian untuk melihat apakah pemuda ini membohong atau tidak.
Akan tetapi wajah yang tampan itu polos saja, sama sekali tidak membayangkan kebohonpan.
Juga ketika berkata demikian Lee Tai melirik kepada Pek Lian dan Ang Lian.
Ia girang juga bahwa ternyata dua orang gadis itu tidak mengadu sesustu di depan Wan Sin Hong.
"Berita penting apa? Coba ceritakan. Apakah kau melihat jejak Liok Kong Ji?"
"Tidak, Wan bengcu. Hanya aku mendengar dari orang yang tak kukenal bahwa Tian Bu telah mengadakan pertemuan dengan Liok Kong Ji. dan Tiang Bu telah membantu ayahnya bersembunyi. Kalau hendak mengetahui di mana adanya Liok Kong Ji, mudah saja, tanya kepada Tiang Bu dan dia tentu akan dapat memberi tahu, kalau dia tidak melindungi ayabnya!"
Wajah Sin Hong berubah. Berita ini hebat. Saketika itu juga ia meragukan kebenaran berita ini.
"Aku mendengar dari orang lain yang tidak kukenal dan tidak dapat kuceritakan kepada siapupun juga, Wan bungcu,"
Jawab Lee Tai terus terang sambil menundukkan mukanya.
"Lee Tai, kau jangan berlaku sembrono, dan pikirlah baik-baik. Beritamu ini merupakan dakwaan yang amat berat bagi Tiang Bu. Kalau kau melihat Tiang Bu benar mengadakan sekongkol dengan Kong Ji, melihat dengan mata sendiri, tentu aku percaya dan akan kutanyai Tiang Bu. Akan tetapi mendengar dari orang lain, ini masih meragukan. Apa lagi kau tidak mau menceritakan siapa adanya orang pembawa barita buruk itu. Kalau beritamu itu tidak betul, bukankah berarti k menanam permusuhan dengan Tiang Bu?"
Lee Tai diam saja. Terbayang wajah orang sakti itu yang melihat sikap dan kesaktiannya tak mungkin membohong. Dengan berani maka ia lalu berkata..
"Berita itu tidak bohong. biarpun teecu tidak melihat dengan mata sendiri namun teecu menanggung kebenarannya!"
Semua orang melengak, juga Wan Sin Hong. Pendekar ini sudah mengenal watak Lee Tai yang jujur sekali dan tidak pernah membohong, dan melihat sikap pemuda ini, benar-benar mencurigakan.
"Lee Tai, kau kelihatan sudah amat percaya kepada orang itu dan kau melindungi dia, kau tidak mau menceritakan dia itu siapa, sedikitnya kau bisa mengatakan mengapa kau tidak berani mengaku siapa dia."
"Hal itupun menyesal sekali teecu tidak dapat menceritakan. Yang terpenting adalah tentang Liok Kong Ji. Setelah kita mengetahui bahwa Tiang Bu mengerti tempat sembunyi mengapa kita tidak bertanya kepadanya?"
Sin Hong diam saja, menjadi bingung. Isterinya Siok Li Hwa yang amat cerdik berkata.
"Lee Tai tentu telah berjanji kapada orang itu untuk merahasiakan keadaannya. Kalau tidak demikian, tidak nanti Lee Tai bersikap seperti ini. Hemm, menarik sekali orang ini...."
Mendengar ini, Lee Tai makin menundukkan mukanya dan menjawab.
"Tepat sekali apa yang dikatakan oleh toanio. Dan bagi Lee Tai, memegang janji lebih berharga dari pada nyawa!"
Huangho Sian-jin beasts keras.
"Pertemuan Ciu sicu dengan orang yang membawa berita itu sungguh baik sekali. Menurut dugaanku, orang itu tentulah seorang pelayan dari Liok Kong Ji. Buktinya, ketika kita mengusir semua pelayan, di pulau sudah tidak ada siapa-siapa lagi dan ketika kita mencari-cari Liok Kong Ji, juga tidak melihat seorangpun manusia di pulau. Sekarang muncul orang ini, tentu dia itu pelayan yang dibawa bersembunyi oleh Liok Kong Ji dan sengaja menjual obrolan kosong. Kalau sekarang Ciu-sicu mau membawa kita menemui orang itu dan menangkapnya, tentu kita dapat menemukan Liok Kong Ji!"
"Tidak........... tidak..........!"
Lee Tai capat menjawab.
"Tak mungkin dia itu pelayan Liok Kong Ji, tak mungkin! Dan lebih baik aku dipulkul dari pada harus membuka rahasia orang itu."
Setelah berkata demikian, pemuda ini pergi dari situ, menuju ke tempat sunyi di tepi pantai dan duduk di atas batu karang.
Peng Soan tojin, tosu gemuk dari Teng san pai adalah seorang yang suka akan kejujuran.
Ia dapat memaklumi isi hati Lee Tai, maka ia berkata.
"Betapapun juga, kira harus menghargai kejujuran Ciu-sicu. Kalau dia bermaksud jelek dengan sikapnya merahasiakan orang itu, tentu dia sama sekali tidak akan bercerita dan kita pun tidak akan tahu akan pertemuannya dengan orang itu. Juga kecurigaannya terhadap Tiang Bu, beralasan. Kita semua sudah mengenal Tiang Bu sebagai seorang pemuda gagah perkasa dan budiman. Bukan tak masuk pada akal apabila dalam pertemuannya dengan Liok Kong Ji hati pemuda itu menjadi lemah dan teringat akan hubungan antara anak dan ayah."
Semua orang berdiam lagi, kata-kata inipun amat beralasan. Akhirnya Wan Sin Hong berkata tenang?.
"Sukar sekali mengadakan dugaan-dugaan dari sebuah berita yang tidak dilihat sendiri oleh Lee Tai. Karena untuk memaksa Lee Tai juga tidak mungkin, lebih baik kita menanti kembalinya Tiang Bu dan aku sendiri yang akan bertanya kepadanya tentang berita ini."
Menjelang senja, Tiang Bu datang.
Semua orang keluar dari tempat istirahat masing-masing dan menyambutnya.
Wajah pemuda ini tampak keruh dan muram.
Ini tidak mengherankan karena ia masih selalu mengabungi kematian Bi Li dan lebih sedih lagi hatinya karena penyelidikannya sehari penuh itupun tidak membawa hasil.
Karena kesedihan hatinya inilah maka ia tidak pandang mata penuh perhatian dari semua orang yang menyambut kedatangannya.
"Tiang Bu, bagaimana hasil penyelidikanmu? Dapatkah kau menemukan jejak Liok Kong Ji?"
Tanya Sin Hong. Tiang Bu menggeleng kepala dengan lemah.
"Belum berhasil, pek-pek. Akan tetapi aku akan berusaha terus, biar untuk itu aku harus tinggal selama hidup di pulau. Aku tidak akan berhenti mencari sebelum dapat menemukan iblis itu......."
Tiang Bu masih belum insaf berapa semua mata memandang ke arahnya dengan penuh selidik dan penuh perhatian.
"Tiang Bu, kau tentu tahu bahwa aku menganggap kau bukan orang lain. Ibumu kuanggap sebagai saudara sendiri, juga ayah angkatmu selalu menjadi saudara-saudaraku yang terkasih. Kau seperti keponakan atau anakku sendiri."
Baru sekarang Tiang Bu merasa bahwa tentu ada sesuatu.
Ia mendengar suara yang terdengar demikian sungguh-sungguh dan aneh.
Ketika mengangkat muka, baru ia melihat betapa semua orang memandangnya dengan sinar mata penuh selidik.
"Oleh karena itu, kuharap kau suka berterus-terang dan jangan menyembunyikan sesuatu dari aku. Apakah benar kau tidak bertemu dengan Liok Kong Ji dan tidak tahu tempat sembunyinya?"
Tiang Bu yang tadinya duduk di atas batu karang, sekarang bangkit berdiri memandang kepada Wan Sin Hong dengan mata penuh pertanyaan.
"Wan pek-pek, apa artinya pertanyaan itu? Kalau siauwtit bertemu dengan iblis itu, tentu dia atau siauwtit yang menggeletak tanpa nyawa lagi. Apakah pek pek mencurigai sesuatu kepadaku? Ada apakah?"
"Tiang Bu, sebetulnya, kami di sini mendengar berita bahwa kau telah berjumpa dengan Liok Kong Ji......"
Hening sejenak. Semua mata memandang Tiang Bu yang menjadi pucat mukanya. Kemudian dengan nada suara penasaran Tiang Bu bertanya.
"Dan Wan-pek pek percaya akan berita itu?"
"Belum, karenanya aku sengaja bertanya kepadamu sendiri!"
"Kalau aku berjumpa dengan iblis itu mengapa aku diam saja? Ataukah orang mengira aku bersekongkol dengan dia sengaja menyembunyikan dia? Pek-pek, siapakah orangnya yang menyampaikan berita itu?"
"Tak perlu kami terangkan, Tiang Bu. Kami tidak menduga sesuatu, hanya minta penjelasan darimu apakah betul kau bertemu dengan dia atau tidak,"
Kata Sin Hong tegas.
"Tidak, Wan-pek-pek. Aku heran......"
Tiang Bu memandang ke sekeliling, menatap wajah tiap orang yang hadir di situ untuk sejenak.
"mengapa orang menuduhku demikian....... mengapa!"
Wan Sin Hong hanya menarik napas panjang, Juga yang lain-lain tidak mengeluarkan suara.
Pek Lian menahan matanya yang menjadi panas hendak menitikkan air mata.
Ia merasa amat kasihan melihat pemuda gagah yang telah merebut hatinya itu.
"Wan-pek-pek, jawablah. Mengapa orang tidak menaruh kepercayaan kepadaku? Mengapa orang menuduh aku mengadakan pertemuan dengan Liok Kong Ji?"
Sampai lama Sin Hong diam saja, akhirnya ia berkata dengan perlahan.
"Agaknya karena kau putera Liok Kong Ji itulah. Umum menganggap sepantasnya kalau sekiranya kau membantu ayah kandungmu sendiri untuk menyelamatkan diri."
Wajah Tiang Bu pucat sekali. Ia berdiri bengong sampai lama, kemudian ia menundukkan mukanya menyembunyikan dua titik air mata yang melompat ke luar. Kemudian ia mengangguk-angguk.
"Memang.... memang aku anak Liok. Kong Ji... memang aku anak seorang jahat seperti iblis. Ayahnya jahat tentu anaknya jahat pula, seperti.......... Bi Li. Dia puteri Kwan Kok Sun yang jahat, maka ia tewas.......... akupun anak orang jahat, patut saja tidak dipercaya.... aku telah kotor dan cemar karena menjadi anaknya......... tidak seperti kalian..........!"
Ia mengangkat mukanya dan menatap wajah orang-orang itu dengan mata berkilat.
"Kalian anak orang baik-baik, keturunan orang-orang gagah, tentu saja patut dianggap orang gagah! Tak patut orang macam aku dekat dengan kalian, tak patut mendapat kepercayaan kalian! Betapapun juga kita sama lihat saja siapa yang akan mampu membasmi Liok Kong Ji. Biar aku tinggal dalam kerendahanku!"
Setelah berkata demikian, ia melompat bangun dan berlari pergi.
"Tiang Bu.....! Jangan salah paham..........!"
Teriak Sin Hong, akan tetapi Tiang Bu tidak perduli lagi dan berlari terus.
Diam-diam Pek Lian juga berlari mengejar sambil menangis.
Hati Pek Lian seperti diiris-iris melihat keadaan orang yang dikasihinya itu.
Huang-ho Sian-jin terdengar batuk-batuk.
"Hemm, semua ini gara-gara Ciu Lee Tai. Pemuda dogol itu terlalu percaya orang lain.....!"
Mendengar ucapan ayahnya ini, Ang Lian bangkit berdiri dan berjalan pergi tanpa pamit.
Hatinya tertusuk dan ia marah sekali kepada Lee Tai yang menjadi gara-gara semua keributan itu.
Selain marah, juga ia penasaran mengapa ayahnya mencela Lee Tai.
"Coa-taihiap, percayalah bahwa aku tidak menganggap kau sebagai orang jahat. Akulah yang tidak percaya sedikitpun juga bahwa Coa Tiang Bu yang kutahu seorang jantan sejati melakukan pengkhianatan. Harap saja kau suka memaafkan mereka itu karena sesungguhnya merekapun tidak percaya begitu saja akan berita yang terdengar oleh mereka."
Kata-kata ini adalah ucapan hiburan yang dikeluarkan oleh Pek Lian kepada Tiang Bu.
Tiang Bu duduk di atas batu karang.
Kedua tangannya menutupi mukanya dan ia diam tidak bergerak seperti patung.
Pek Lian berdiri d depannya dan gadis ini dengan suara gemetar menyampaikan isi hatinya, dalam usahanya menghibur hati pemuda yang sedang dirundung duka nestapa itu.
Melihat betapa pemuda itu berdiam saja dan tak bergerak seperti patung.
Pek Lian menjadi makin kasihan dan juga khawatir.
Ia takut kalau-kalau saking sedihnya, pemuda ini mengambil keputusan pendek dan nekat.
membunuh diri atau bagaimana!
Hatinya seperti diremas-remas dan tanpa disadari tangannya bergerak dan jarinya menyentuh pundak Tiang Bu dengan halus.
"Coa taihiap.......... harap kan jangan terlalu berduka......... orang lain di dunia ini boleh membencimu, akan tetapi aku tidak! Sampai mati aku takkan membencimu, takkan berubah pandanganku terhadapmu, kau seorang yang paling jantan di dunia ini. Taihiap.......... aku bersedia membantumu dalam segala hal.......... katakanlah, dapatkah aku membantumu........... menghiburmu......?"
Tentu saja Tiang Bu yang sedang terbenam dalam kesedihan itu sejak tadi tahu akan kedatangan Pek Lian, akan tetapi ia tidak perduli, semua ucapan gadis itu tidak dapat mengobati luka di hatinya.
Memang Tiang Bu berturut-turut menerima serangan hebat pada hatinya, pertama-tema karena Bi Li, kemudian sangkaan bahwa ia bersekongkol dengan ayahnya yang jahat.
Setelah ia lari dari rombongan Wan Sin Hong ia tidak kuat berlari jauh, menjatuhkan diri di atas batu karang di tepi pantai dan menangis seperti anak kecil.
"Bi Li......."
Bisiknya.
"Bi Li....... hanya kau seorang yang percaya kepadaku, kau seorang yang menjadi kawanku sejati...... sekarang kau pergi meninggalkan aku pula??"
Kemudian datang Pek Lian yang menghiburnya, maka Tiang Bu hanya menutupi mukanya dan semua ucapan Pek Lian tak dapat masuk perhatiannya.
Akan tetapi, ucapan terakhir yang dikeluarkan dengan suara tergetar den mesra, dibarengi sentuhan pada pundaknya, mendatangkan getaran aneh dalam tubuhnya.
Seakan-akan Bi Li hidup dan muncul lagi, seakan akan Bi Li yang bicara kepadanya.
Hampir dia tidak dapat percaya bahwa ada lain gadis yang bicara kepadanya dengan suara seperti Bi Li.
Penuh kasib sayang!
Tak terasa ia mengangkat muka dan menurunkan kedua tangannya.
Sinar mata itu seperti sinar mata Bi Li benar, penuh kemesraan dan penuh cinta!
Mungkinkah ini?
"Pek Lian cici, mengapa??
mengapa kau sebaik ini terhadap aku?
Mengapa......"
Tanyanya lembut.
"Karena..... bagiku engkaulah orang termulia di dunia ini, taihiap,"
Jawab Pek Lian kedua pipinya merah sekali akan tetapi suaranya mengandung ketetapan hatinya.
"Ya Tuhan.......... kau.......... kau suka kepadaku?"
Pek Lian mengangguk.
"Kalau saja kau tidak memandang hina kepadaku....."
Tiba-tiba tubuh Tiang Bu bergerak dan tahu-tahu ia telah meloncat sejauh empat tombak lebih dari dekat Pek Lian.
"Pek Lian cici...., jangan! Jangan kau menambah dosaku, jangan kau menambah beban hidupku! Aku takkan mau mengganggu hati orang lain lagi. Aku.... setelah selesai urusan di pulau ini..... aku akan bertapa, menjadi seorang pertapa dan selama hidup takkan mencampuri urusan dunia lagi. Aku akan bertapa untuk mencuci noda atas nama keluargaku, yang dikotori oleh manusia she Liok...! Maafkan aku. Pek Lian cici..... maafkan!"
Dengan suara berubah menjadi isak tertahan, tubuh Tiang Bu berkelebat lenyap dari depan Pek Lian.
Gadis ini berdiri mematung, mukanya pucat sekali.
Kemudian ia tersenyum pahit dan menghadap ke arah menghilangnya Tiang Bu, berkata keras.
"Tiang Bu, akupun bersumpah takkan menikah dengan orang lain dan mulai saat ini aku Pek Lian menjadi seorang pendeta!"
Ia mengeluarkan pedangnya dan??..
membabat habis rambut kepalanya yang hitam, halus dan panjang itu!
Setelah itu.
Pek Lian lari ke pinggir pantai di mana ia menaruh perahunya dan meloncat ke dalam perahu, terus mendayungnya perahu itu pergi dari Pulau Pek-houw-to.
Ang Lian tampak berlari-lari di tepi pantai sambil bersungut-sungut.?Dasar tolol tetap tolol!?
gerutunya berkali-kali.
Tiba-tiba ia melihat perahu yang didayung pergi oleh Pek Lian.
"Pek cici, kau kemanakah?"
Teriaknya heran melihat cicinya itu mendayung pergi menjauhi pulau.
Pek Lian menengok dan kagetlah Ang Lian melihat cecinya itu kepalanya telah hampir gundul.
Hanya tinggal sedikit rambutnya, pendek saja.
"Ang-moi, aku hendak pergi dulu, sampaikan hormatku kepada ayah!"
Hanya demikian Pek Lian berseru dan sebentar saja perahunya jauh meninggalkan pulau.
Tentusaja Ang Lian menjadi keheran-heran dan gelisah, Cepat ia berlari memberitahukan hal ini kepada ayahnya.
Huang-ho Sian-jin mengerutkan kening.
Menang semenjak kecil Pek Lian memiliki watak yang aneh.
Baru pakaiannya saja selalu mengenakan pakaian pria, orangnya pendiam, hatinya sukar dijajaki.
Tidak seperti Ang Lian yang genit, lincah dan jujur.
"Kalau dia hendak pergi dulu, biarlah. Tentang dia mamotong rambut, hemm, kita lihat saja nanti, tentu ada sebabnya."
Ang Lian termenuug mendengar ucapan ayahnya ini.
Tentu ada hubungan dengan Tiang Bu pikirnya?.
Mungkinkah cicinya menjadi korban asmara?
Ia teringat akan keadaan diri sendiri dengan Lee Tai.
Tadi sebelum melihat perahu Pek Lian, ia baru saja meninggalkan Lee Tai dengan marah dan gemas.
Ia sengaja mencari Lee Tai untuk menegurnya tentang gara-gara yang ditimbulkan si dogol itu tentang Tiang Bu.
Ia mendapatkan Lee Tai berada di dekat pantai seorang diri, sedang berlatih silat dengan goloknya.
Akan tetapi gerakan goloknya itu lucu dan canggung, lebih menyerupai gerakan pedang, maka banyak gerakan menusuk dari pada membacok berlawanan dengan ilmu golok.
Melihat Ang Lian datang, si dogol gembira dan menghentikan permainan, berkata senyum lebar di bibir.
"Adik Ang Lian, kaulihat. Aku tekun berlatih silat untuk merobohkan si laknat Liok Kong Ji."
Ang Lian menjebikan bibirnya yang merah.
"Lee Tai, belum juga kau memenuhi syarat-syaratku mengalahkan Liok Kong Ji, kau sudah mengecewakan hatiku."
"Aku mengecewakan kau? Lho, apa salahku. manis?"
"Hussh, bicara jangan seperti orang gila! Kau mendatangkan keributan dengan berita busukmu tentang Tiang Bu. Apa otakmu sudah miring? Lee Tai, aku sendiri tidak pernah akan dapat memaafkan kau kalau kau memfitnah Tiang Bu secara pengecut dan curang. Betulkah kau tidak bohong tentang Tiang Bu?"
Muka Lee Tai menjadi sungguh-sungguh.
"Biar aku mampus disambar geledek kalau aku membohong, Ang Lian. Berita itu memang betul, aku mendengar dengan kedua telingaku seadiri."
"Tidak kau lihat dengan kedua mata sendiri?."
"Tidak, akan tetapi betul-betul kudengarkau dengan kedua telingaku ini,"
Jawabnya sambil menjewer kedua telinganya.
"Siapa itu orangnya yang begitu kau percaya?"
Ang Lian memancing.
Gadis itu berusaha supaya Lee Tai mengaku agar ia dapat memindahkan kesalahan pemuda ini kepada sumber berita.
Akan tetapi Lee Tai tentu saja tidak mengerti akan usaha gadis yang hendak menolongnya ini.
"Hal ini.......... tak dapat kuceritakan, Ang-Lian.........."
Ang Lian menjadi marah dan membanting-banting kakinya.
"Kepada akupun kau tidak mau mengalah?"
Lee Tai menarik napas panjang dan kelihatan sedih sekali.
"Apa boleh buat, biarpun untuk kau aku sanggup terjun ke laut api, akan tetapi, aku telah bersumpah takkan membuka rahasia orang itu dan biar kau pukul mati padaku, aku tak dapat mengaku, Ang Lian."
"Kau........... kau tolol!? Ang Lian marah-marah dan membalikkan tubuh terus pergi berlari-lari. Hatinya mendongkol sekali biar pun pada dasar hatinya terdapat rasa kagum kepada pemuda yang setia ini. Kegelisahannya karena Lee Tai merupakan biang keladi gara-garanyalah yang membuat ia merasa gemas bahwa pemuda itu tetap tidak mau mengaku dari siapa ia mendengar berita buruk itu. Akhirnya seperti diceritakan di atas, dalam berlari-lari ini ia melihat Pek Lian yang mendayung perahu pergi dari Pulau Pek-houw-to. Lee Tai juga berduka sekali. Orang-orang lain boleh marah kepadanya, akan tetapi kalau Ang Lian yang marah, ini hebat! Saking sedih dan bingungnya, pemuda ini tidak mau pulang ke tempat rombongan, melainkan terus sampai malam tinggal di tepi pantai itu dan melatih ilmu pedang dari kitab Soat-lian-kiam-coan-si. Dengan tekun ia mempelajari isi kitab dan saban-saban bermain silat untuk mempraktekkan pelajaran itu. Pemandangan malam itu indah sekali. Bulan yang besar, merah, dan bundar timbul dari permukaan air laut sebelah timur. Bukan main indah dan megahnya alam di waktu itu. Cahaya bulan merah di atas air benar-benar mentakjubkan dan sukarlah dilukiskan betapa indahnya bulan timbul di permukaan air ini. Hanya parenung-perenung yang berperasaan halus kiranya akan dapat menangkap keindahan ini. Akan tetapi Lee Tai sama sekali tidak dapat merasakan keindahan alam itu. Menengok pun tidak. Ia hanya girang karena ada cahaya bulan sehingga ia dapat membaca huruf dalam kitab ilmu pedang itu. Satelah meneliti bunyi huruf-huruf dalam kitab, ia lalu melakukan gerakannya, membaca lagi, bersilat lagi. Demikian berulang-ulang ia melatih diri dengan amat tekunnya karena pemuda ini memang berhasrat bear untuk segera menguasai ilmu silat ini untuk merohohkan penjahat besar Liok Kong Ji! Demikian asyik ia berlatih sampai-sampai ia tidak sadar bahwa semenjak tadi ada sepasang mata tajam mengintai dan memperhatikan gerak geriknya dengan penuh perhatian. Pengintai ini adalah Tiang Bu. Pemuda ini tanpa mengenal lelah mencari Liok Kong Ji untuk membalas dendamnya yang bertumpuk-tumpuk. Bahkan ia mendapat dugaan bahwa fitnahan yang orang-orang jatuhkan kapadanya, bahwa dia bersekongkol dengan Liok Kong Ji, tentulah juga hasil muslihat orang jahat yang amat licin itu. Entah bagaimana jalannya, tentu Liok Kong Ji yang menjadi biang keladi sehingga dia difitnah dan dibenci orang. Ia dapat menduga pula bahwa hal ini direncanakan oleh Liok Kong Ji dengan maksud memecah belah fikak musuh. Tipu muslihat yang licin dan licik sekali. Ketika melihat Ciu Lee Tai, ia hanya memandang sepintas lalu dengan acuh tak acuh. Pemuda itu tidak ada artinya baginya dan dalam keadaan seperti itu, ia tidak ada nafsu untuk bertemu dengan anggauta rombongan. Akan tetapi selagi ia hendak pergi mengambil jalan lain pandang matanya tertarik sekali oleh gerakan golok dan kaki pemuda yang sedang berlatih silat ini. Gerakan-gerakan itu amat dikenalnya karena mengandung dasar ilmu silat Omei-san! Ia menunda maksudnya meninggalkan Lee Tai, sebaliknya diam-diam ia menyelinap dan menghampiri lalu mengintai dari balik batang pohon. Alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa betul-betul pemuda dogol itu sedang berlatih Ilmu Padang Soat Kiam hoat dari Omei-san! Di samping kekagetannya, ia juga merasa heran bukan main. Akan tetapi semua perasaan ini berubah menjadi kemarahan ketika ia melihat Lee Tai mengeluarkan sebuah kitab dan membaca kitab ilmu silat itu di bawah penerangan bulan. Sekilas pandang saja Tiang Bu mengenal kitab dari Omei-san itu. Ia tidak dapat menduga dari mana Lee Tai mendapatkan kitab itu akan tetapi ia tidak perduli. Siapa yang mempunyai kitab Omei-san, berarti musuhnya dan kitab itu harus dirampasnya kembali, sesuai dengan perintah suhu-suhunya ketika hendak menutup mata. Cepat ia melompat dan membentak.
"Dari mana kau peroleh kitab itu?"
Bukan alang kepalang kagetnya Lee Tai mendengar bentakan ini dan melihat orang tiba-tiba melompat keluar.
Akan tetapi ketika Lee Tai melihat bahwa yang muncul adalah Tiang Bu, ia teringat akan pesan orang sakti pemberi kitab bahwa ia harus berhati-hati terhadap Tiang Bu karena pemuda itu suka merampas kitab orang lain.
Maka ia cepat menjauh sambil menyimpan kitabnya.
"Kau anak iblis perduli apakah?"
Tiang Bu marah sekali.
"Berikan kitab itu!"
Lee Tai juga marah.
Cocok benar kata-kata orang sakti itu, pikirnya.
Begitu berjumpa Tiang Bu sudah hendak merampas kitab.
Ia lihai, lebih baik aku mendahuluinya.
Tanpa banyak cakap lagi Lee Tai membacokkan goloknya ke arah leher Tiang Bu.
Ia bertenaga besar dan gerakan goloknya cepat.
Serangannya itu bukan serangan ringan, dan amat berbahaya bagi lawannya.
Akan tetapi ia menghadapi Tiang Bu dan lebih hebat lagi, Tiang Bu sedang marah.
Sekali Tiang Bu mengulur tangan memapaki goloknya, golok itu sudah terpukul dari samping dan terpental lepas dari tangan Lee Tai!
Sebelum Lee Tai sempat menyembunyikan kitabnya.
Tiang Bu yang marah itu sudah melompat dan menerkamnya dengan tangan kiri menyampuk tangan kanan Lee Tai sehingga kitab Soat lian-kiam-coan-si terlempar, jari tangan kanannya menyambar dengan totokan istimewa ke arah pundak Lee Tai.
Si dogol merintih lemah dan roboh dengan tubuh lemas tak berdaya, lumpuh dari kepala sampai ke kaki.
Tiang Bu mengambil kitab itu dan mendapat kenyataan bahwa itulah kitab Soat-lian-kiam-coan-si, sebuah di antara kitab-kitab Omei-san yang lenyap dicuri orang ketika Omei-san diserbu beramai-ramai oleh orang-orang kang-ouw.
Ia menyimpan kitab itu di dalam saku bajunya dan hendak meninggalkan Lee Tai.
Akan tetapi ia teringat bahwa Lee Tai adalah anggauta rombongan.
Akan tidak enak sekali terhadap Wan Sin Hong kalau ia morobohkan Lee Tai tanpa mengakui alasan-alasannya.
Pula keadaan pemuda ini mencurigakan sekali.
Bagaimana kitab Omei-san itu bisa terjatuh ke dalam tangannya.
Dan mengapa pemuda ini mengasingkan diri dari rombongan untuk mempelajari kitab secara diam-diam?
Pikiran ini membuat ia tanpa ragu lagi menyambar tubuh Lee Tai yang sudah seperti kain lapuk lemasnya, mengempit tabuh itu dan membawanya lari ke tempat rombongan berkumpul.
Kedatangannya disambut oleh rombongan dengan penuh pertanyaan dalam pandang masa mereka.
Ang Lian lari maju ketika melihat Lee Tai dikempit oleh Tiang Bu.
Gadis ini merasa khawatir melihat keadaan Lee Tei yang sudah seperti orang tak bertulang itu.
Ia mengira bahwa Lee Tai sudah bertempur melawan Liok Kong Ji dan dikalahkan.
"Apa dia dilukai oleh Liok Kong Ji?"
Tanya Ang Lian.
Melihat Ang Lian, Tiang Bu teringat kepada Pek Lian dan menjadi tidak enak sekali.
Ia hanya menggeleng kepala dan hatinya agak lega ketika melihat ke kanan kiri, ia tidak melihat gadis berpakaian pria itu.
Dengan langkah lebar ia menghampiri Wan Sin Hong yang berdiri tegak sambil memandangnya penuh perhatian.
Di depan Wan Sin Hong, Tiang Bu melepaskan tubuh Lee Tai yang masih segar namun tak dapat bergerak itu.
"Dia kenapa, Tiang Bu?"
Tanya Sin Hong, matanya tajam memandang.
"Maaf, Wan pek-pek. Aku melibat dia berlatih ilmu Omei-san dan melihat pula dia membawa-bawa kitab ini."
Tiang Bu mengeluarkan kitab Soan-lian-kiam-coan-si dari sakunya.
"Ketika kutegur, dia menyerang. Terpaksa aku merobohkannya dan merampas kitabnya. Tentu pek-pek tahu akan tugas siauwtit, siapa yang membawa kitab Omei-san dialah musuh, dan kitab Omei-san harus kurampas kembali. Sekarang terserah kepada pek-pek."
Cepat Tiang Bu menggerakkan tangan dan dalam sekejap mata Lee Tai terbebas dari totokan.
Pemuda dogol ini merayap bangun dan mengeluh perlahan.
Wan Sin Hong menerima kitab itu, memeriksanya dan keningnya berkerut.
Tanpa diketahui oleh orang lain karena pendekar ini pandai sekali menekan perasaannya, di dalam hati ia terkejut bukan main.
Bagaimana Lee Tai bisa mendapatkan kitab Omei-san?
Dari siapakah mendapatkannya?"
"Lee Tai! Sekarang kau harus bicara terus terang, sesuai dengan kejujuranmu. Darimana kau mendapatkan kitab ini?"
Tegurnya, suaranya keren berpengaruh.
Lee Tai sudah merayap bangun dan berdiri dengan kepala menunduk, sikapnya mendatangkan rasa kasihan dalam hati Ang Lian.
Mendengar bentakan Wan Sin Hong ini, ia menjawab lirih.
"Wan-bengcu, teecu mendapatkannya dari locianpwe itu.."
"Locianpwe yang mana?"
Hati Sin Hong makin tidak enak karena ia sudah hampir dapat menduganya. Kekhawatirannya terbukti ketika pemuda itu menjawab.
"Locianpwe yang teecu jumpai.."
"Aha Kau maksudkan orang yang berjumpa denganmu, yang bercerita kepadamu akan persekutuan Tiang Bu dengan Liok Kong Ji?"
Dengan muka merah Lee Tai mengangguk.
Sekarang tahulah Tiang Bu bahwa yang membawa berita yang memfitnahnya itu bukan lain adalah Ciu Lee Tai inilah!
Ia menggigit bibir menahan kegemasan hatinya.
Ingin ia menampar muka pemuda dogol itu.
"Dan selain menceritakan berita itu iapun memberi hadiah kepadamu kitab ilmu pedang ini?"
Tanya pula Sin Hong mendesak.
"Dia berkasihan kepada teecu memberikan kitab Ilmu pedang agar teecu dapat mengalahkan Liok Kong Ji. Teeeu ingin sekali merobohkan Liok Kong Ji dengan kedua tangan teecu sendiri, Wan-bengcu."
Lee Tai melirik ke arah Ang Lian yang memandang dengan hati tidak karuan.
Ada rasa mendongkol, gemas, dan juga girang.
Untuk ke sekian kalinya, pemuda dogol ini membuktikan kesetiaan dan cinta kasih kepadanya.
Mendengar ini, Wan Sin Hong membanting kakinya.
"Bodoh betul! Kalau begitu, orang itu adalah Liok Kong Ji!!"
Lee Tai terkejut sekali seperti disambar petir.
"Tidak mungkin...?"
Batahnya perlahan.
"Bukankah dia itu lebih tua sedikit dari pada aku, bertubuh kurus tinggi, pakaiannya mewah, jenggotnya sedikit dan meruncing, matanya mengandung sinar aneh?"
Makin pucat muka Lee Tai mendengar ini dan ia hanya bisa mengangguk-angguk, bingung dan takut.
"Betul Liok Kong Ji orang itu"
Sin Hong berseru "Lee Tai, kau telah tertipu oleh Liok Kong Ji yang menyebar berita perpecahan melalui kau dan telah menyuapmu dengan kitab ilmu pedang.
Lee Tai, sekarang kau harus memberi tahu di mana tempat sembunyinya penjahat itu"
Dengan suara gemetar Lee Tai menjawab.
"Wan-bengcu. Baru sekarang mata teecu terbuka dan teecu sungguh bodoh sekali kena tipu orang. Akan tetapi, teecu sudah bersumpah takkan membuka rahasia persembunyianya dan mana bisa teecu melanggar sumpah sendiri! Lebih baik teecu mati dari pada melanggar janji."
Wan Sin Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek siansu, Pang Soan Tojin dan yang lain-lain tertegun dan tak dapat bilang apa-apa lagi mendengar kata-kata Lee Tai ini.
Sin Hong maklum betul akan watak Lee Tai yang amat jujur dan setia.
Pemuda berwatak seperti ini akan memegang kata-katanya dan andaikata ia dibujuk maupun diancam sampai dibunuh sekalipun, takkan mungkin mengaku dan melanggar sumpah dan janji yang sudah dikeluarkan di depan Liok Kong Ji tanpa disadarinya itu!
Tiba-tiba dalam kesunyian yang tidak enak itu, terdengar suara Tiang Bu.
"Wan-pek pek, memang tidak bisa kita menyalahkan Ciu-twako. Dia berjanji kepada orang yang tidak ia duga Liok Kong Ji adanya. Tentu saja seorang laki-laki gagah takkan melanggar janjinya. Akan tetapi sebagai laki-laki gagah pula, kiranya Ciu twako takkan mau sudah begitu saja diingusi (ditipu) mentah-mentah oleh Liok Kong Ji dan tentu Ciu twako akan membalas dendam. Ataukah, barangkali Cui twako jerih menghadapinya? Hal ini terserah kepada Ciu-twako karena dialah yang dipermainkan. Bagi kita yang lain, lebih baik kita mencari lebih giat karena sudah nyata bahwa Liok Kong Ji masih tetap berada pulau ini."
Ketika Wan Sin Hong memandang kepadanya, Tiang Bu diam-diam memberi isyarat dengan matanya. Sin Hong dapat menangkap maksud Tiang Bu, maka ia menarik napas panjang dan berkata kepada Lee Tai.
"Sudahlah, kalau kau tidak mau mengaku kamipun tidak dapat memaksa. Aku hanya merasa menyesal sekali mengapa kau sampai dapat diperemainkan demikian mudahnya oleh musuh kita itu."
Huang-ho Sian-jin, tokoh yang sudah berpengalaman luas di dunia kang-ouw, tentu saja dapat menangkap maksud hati Tiang Bu dan Sin Hong. Iapun berkata dengan keras.
"Seorang laki-laki tertipu oleh manusia iblis penuh muslihat seperti Liok Kong Ji, masih tidak aneh dan dapat dimaafkan. Akan tetapi seorang yang tertipu dan dipermainkan seperti itu diam saja tidak membalas benar-benar dia tidak patut menjadi laki-laki, lebih pantas disebut banci!"
Panas perut Lee Tai mendengar ini semua, telinganya merah. Kalau calon mertuanya berkata demikian, benar-benar terlalu sekali kalau dia diam saja.
"Liok Kong Ji jahanam keparat, awas kau!"
Sambil berkata demikian, ia lalu lari pergi dari situ tanpa pamit lagi.
Bayangan ke dua berkelebat cepat sekali dan Tiang Bu sudah lenyap dari situ mengikuti Lee Tai dengan diam-diam.
Sin Hong cepat berkata kepada kawan-kawannya.
"Siasat Tiang Bu termakan olehnya. Di luar pengertiannya dan tanpa sengaja, Lee Tai akan membawa kita ke tempat persembunyian Liok Kong Ji. Hayo kita kejar dan ikuti dia. Akan tetapi, hanya Tiang Bu, aku sendiri, Huang-ho Sian-jin dan kedua locianpwe saja yang boleh mendekat, yang lain-lain mengikuti dari jauh. Lee Tai tentu tidak tahu dirinya diikuti orang, akan tetapi Liok Kong Ji lihai sekali. Kalau dia tahu Lee Tai diikuti orang lain, tentu dia tidak mau muncul."
Demikianlah, ramai ramai mereka lari mengejar.
Sin Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek Siansu dan Pang Soan Tojin di depan, yang lain-lain mengikuti dari belakang.
Bayangan rombongan ini bergerak-gerak di bawah sinar bulan purnama, seperti setan-setan penghuni pulau itn karena gerakan mereka cepat dan ringan.
Siasat yang dijalankan oleh Tiang Bu dan Sin Hong memang tepat sekali.
Ucapan-ucapan Tiang Bu, Sin Hong, dan yang dibumbui oleh Huang-ho Sian-jin itu berhasil membakar hati Lee Tai yang memang berdarah panas.
Dengan hati mengandung dendam hebat Lee Tai melarikan diri di sepanjang pantai, mencari tempat pertemuannya dengan Liok Kong Ji kemarin.
Akan tetapi karena ia sedang marah dan bingung, terutama sekali oleh karena bulan sudah mulai bersembunyi di ujung barat, ia kehilangan jalan dan semalam suntuk ia berputar putar saja keluar masuk hutan tanpa berhasil menemukan kembali tempat itu.
Tentu saja Tiang Bu yang membayangi di belakangaya menjadi bingung dan mendongkol sekali.
Ada sebuah hutan yang sudah dimasuki sampai dua kali oleh pemuda dogol itu.
Juga Sin Hong dan kawan-kawannya yang mengikuti dari jarak agak jauh menjadi bingung.
"Jangan-jangan ia tidak berani menjumpai kembali iblis itu,"
Gerutu Huang-ho Sian-jin.
"Lee Tai tak mengenal takut,"
Sin Hong berkata menghibur.
"agaknya ia sudah lupa lagi tempat itu dan kini sedang mencari-cari."
"Liok Kong Ji amat keji dan penuh muslihat. Kalau Ciu sicu bertemu dengan dia, pinto khawatir Ciu-sicu akan terancam bahaya,"
Kata Pang Soan Tojin yang sudah mengenal baik kekejaman hati Liok Kong Ji.
"Belum tentu,"
Jawab Sin Hong.
"Liok Kong Ji tidak akan membunuh sembarang orang yang ia anggap tidak penting. Juga Lee Tai sudah sepatutnya menghadapi resiko itu untuk menebus kesalahan dan kebodohannya. Pula, bukankah kita dapat menolongnya dan terutama sekali Tiang Bu berada tidak jauh darinya. Kalau Tiang Bu melindungi, Kong Ji takkan mampu mengganggu Lee Tai."
Bu Kek Siansu menarik napas panjang.
"Orang muda itu patut dikagumi, berbeda jauh dengan ayahnya. Hanya masih diragukan, setelah ia difitnah sedemikian keji oleh Ciu-sicu, apakah ia mau memperdulikan kaselamatan Ciu-sicu."
"Biarpun putera Liok Kong Ji, aku yakin Tiang Bu sedikitpun tidak mewarisi kekejian hati ayahnya sebaliknya anak itu seperti mendiang ibunya,"
Kata Sin Hong dengan suara sungguh-sungguh.
"Biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk menguji pribadinya, kuharap saja dugaanku tidak meleset."
Sementara itu, Tiang Bu menjadi mendongkol ketika menjelang pagi, Lee Tai menghentikan lari-larinya yang tidak keruan tujuannya itu dan pemuda dogol itu malah duduk mengaso di bawah pohon!
Tiang Bu memang sedang marah dan gemas terhadap Lee Tai yang mendatangkan semua keributan dan prasangka buruk terhadap dirinya.
Kalau saja ia tidak ingat bahwa Lee Tai adalah seorang pemuda anggauta rombongan Wan Sin Hong, tentu ia akan turun tangan memberi hajaran.
Ia tahu bahwa Wan Sin Hong adalah seorang pendekar besar yang selain sakti, juga memiliki kewaspadaan.
Tak mungkIn Wan Sin Hong mau membawa-bawa seorang dogol seperti Ciu Lee Tai kalau pemuda itu tidak memiliki apa-apa yang baik.
Sambil berlari cepat mempergunakan ginkangnya sehingga gerakannya menjadi amat ringan dan sama sekali tidak kelihatan atau terdengar oleh orang yang diikutinya, Tiang Bu memikirkan tentang (Lanjut ke
Jilid 35 -Tamat) Tangan Geledek/Pek Lui Eng (Seri ke 03 -Serial Pendekar Budiman) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 35 (Tamat) diri Ciu Lee Tai.
Diam-diam ia harus mengatakan bahwa pemuda dogol itu memiliki kepribadian dan kesetiaan yang patut dipuji.
Biarpun terhadap seorang jahat seperti Liok Kong Ji, Lee Tai tetap tidak mau melanggar janji sendiri dan rela mengorbankan nama dan nyawanya.
Dan sekarang, pemuda yang sudah tahu bahwa ia takkan mungkin mampu mengalahkan Liok Kong Ji, dengan nekat hendak mencari Liok Kong Ji dan diajak bertanding.
Benar-benar seorang pemuda yang bernyali besar, biarpun dogol dan bodoh.
Melihat Lee Tai beristirahat sambil menyusuti peluh, terpaksa Tiang Bu juga berhenti, bersembunyi di balik pohon dan memperhatikan gerak-gerik Lee Tai.
Pemuda dogol ini bersungut-sungut dan terdengar ia berkata seorang diri.
"Liok Kong Ji jahanam keparat! Kalau kali ini aku tidak dapat menghancurkan kepalamu, lebih baik aku Ciu Lee Tai pulang tak beryawa lagi!"
Tiang Bu tersenyum geli.
Baru kata-katanya saja sudah dogol dan menggelikan.
Kalau sudah tak bernyawa, bagaimana bisa pulang?
Ketika Tiang Bu menggerakkan kepala ke belakang, ia tersenyum.
ia melihat bayangan empat orang tua dan ia bisa menduga siapa adanya mereka itu.
Memang, Sin Hong dan tiga orang kawannya terpaksa berherti karena Lee Tai dan Tiang Bu berhenti pula.
Dan jauh di belakang mereka, rombongan kedua juga berhenti.
Hal ini memang kebetulan sekali bagi rombongan ke dua yang terdiri dari Ang Lian dan Siok Li Hwa yang menggendong Leng Leng.
Mereka mendapat kesempatan beristirahat karena Leng Leng yang digendong dan dibawa berlari-lari itu merasa lelah dan ingin menangis.
Khawatir kalau-kalau Leng Leng menangis, maka Li Hwa mengajak Ang Lian mengikuti dari jauh saja.
Hal ini sebetulnya mengecewakan hati Ang Lian.
Gadis ini diam-diam amat mengkhawatirkan keadaan Lee Tai dan ingin ia mengejar sampai dekat agar dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh pemuda dogol yang memikat hatinya itu.
Ia sekarang dapat mengerti mengapa Lee Tai merahasiakan orang yang menjadi sumber berita yang memfitnah Tiang Bu.
Kiranya orang itu, yang bukan lain adalah Liok Kong Ji sendiri, menggunakan kebodohan Lee Tai untuk menjalankan siasat buruk memecah belah fihak musuh.
Tentu Lee Tai dibujuk didiberi kitab pelajaran ilmu silat untuk dapat melawan Liok Kong Ji, dan di dalam hatinya Ang Lian tahu mengapa Lee Tai mati-matian berusaha mengalahkan Liok Kong Ji.
Sebabnya hanya satu, dia sendiri!
Ucapannnya dahulu yang mengajukan syarat supaya pemuda itu mengalahkan Liok Kong Ji, rupanya termakan betul oleh Lee Tai dan menjadi cta-cita pemuda itu!
Semua itu hanya mencerminkan betapa besar kasib sayang Lee Tai kepadanya, betapa besar hasrat hati Lee Tai untuk dapat memperisterikannya!
Ang Lian menjadi terharu sekali kalau memikirkan hal ini.
Kalau orang-orang yang diam-diam mengikuti jejaknya melamun dalam alam pikiran masing-masing, adalah Lee Tai yang duduk mengaso itu mengorok dalam tidurnya.
Memang, orang seperti Lee Tai ini berjiwa babas.
Betapapun duka dan masgul hatinya, kalau mata sudah mengantuk iapun tidurlah!
Orang yang melihat dia tidur hanya Tiang Bu saja, karena yang lain-lain berada di tempat jauh.
Dapat dibayangkan betapa mendongkolnya hati Tiang Bu.
Dia sendiri merasa tegang dan gemas, ingin lekas-lekas dapat bertemu dengan Liok Kong Ji.
Eh, orang yang diharapkan membawanya ke tempat persembunyian Liok Kong Ji, enak-enak tidur!
Ketika matahari sudah naik tinggi tetap Lee Tai belum juga bangun.
Tiang Bu tidak sabar lagi, Diambilnya tanah lempung dan sekali lontar, tanah lempung itu mengenai hidung Lee Tai.
"Plak!"
Lee Tai melompat bangun, tersentak kaget. Cepat mencabut goloknya yang sudah ia ambil kembali ketika ia mulai pergi mencari Liok Kong Ji tadi, membolang-balingkan goloknya dan berseru.
"Liok Kong Ji, kalau berani jangan menyerang di waktu aku tidur! Keluarlah dan mari kita bertanding selaksa jurus!"
Seruannya keras, sampai terdengar dari tempat di mana Ang Lian dan Li Hwa beristirahat, Siok Li Hwa menggeleng-geleng kepalanya.
"Bocah itu bernyali besar, sayang dogol amat."
Ang Lian diam saja, mukanya kemerahan.
Kalau tanah lempung itu disambitkan oleh orang belum tentu akan dapat terasa oleh Lee Tai.
Akan tetapi sambitan Tiang Bu membuat hidungnya menjadi merah dan terasa pedas sekali.
Seperti kebiasaan ahli silat yang sudah agak "matang"
Biarpun dalam keadaan tidur, namun urat syarafnya selalu bersia siap begitu merasa ada sesuatu yang menggangu, seluruh urat syarafnya bekerja.
Inilah sebabnya maka begitu hidungnya tercium oleh senjata lempung itu Lee Tai terus saja melompat dan mencabut golok siap menyerang!
Sin Hong yang berada di tempat agak jauh dan tidak melihat perbuatan jahil Tiang Bu tadi hanya saling pandang dengan kawan-kawannya.
Akan tetapi mereka segera bangkit dan mulai bergerak maju karena mereka melihat Tiang Bu sudah bergerak pula mengikuti Lee Tai yang sudah berlari-lari ke depan.
Setelah matahari naik makin tinggi, baru Lee Tai mendapatkan kembali tempat di mana ia bertemu dengan Liok Kong Ji.
Seperti juga kemarin, pemuda ini berdiri di dekat batu karang.
Betapapun dogolnya ia masih mampu menggunakan pikiran bahwa kalau ia bersikap kasar, Liok Kong Ji tentu takkan mau keluar.
Oleh karena itu, ia lalu duduk di atas sebuah batu karang kecil dan berkata dengan suara keras.
"Locianpwe yang sakti! Teecu mohon locianpwe suka keluar lagi untuk memberi penjelasan!"
Lee Tai memang tidak pernah membohong, juga tidak bisa membohong. Maka ia sengaja menggunakan kata kata "untuk memberi penjelasan"
Karena memang ia hendak meminta penjelasan dari orang tua itu.
Kata-katanya yang jujur ini ternyata malah kebetulan sekali.
Tentu saja Liok Kong Ji yang sedang bersembunyi di dalam gua rahasia.
mendengar suaranya.
Liok Kong Ji tadinya menjadi curiga dan mengintai ke luar dari sebuah lubang rahasia.
Akan tetapi ia tidak melihat orang lain kecuali Ciu Lee Tai yang duduk di atas batu sambil mengebut ngebut leher dengan ujung lengan baju mengusir panas.
Pemuda itu tidak memegang kitab tanda bahwa pemuda itu memperhatikan pesannya, tidak sembarangan mengeluarkan kitab itu.
Juga pemuda itu minta ia ke luar memberi penjelasan.
Tak salah lagi, tentu ia mengalami kesulitan dengan pelajaran Soat-lian kiam hoat, pikir Kong Ji.
Ahh dogolnya orang ini!
Kalau aku tidak keluar, tentu ia akan membuka mulut menimbulkan gaduh, jangan jangan malah menarik perhatian Wan Sin Hong atau Tiang Bu.
Lebih baik aku ke luar dan mencari akal supaya ia jangan datang lagi, pikir Lio Kong Ji.
Setelah sekali lagi mengintai dan melihat keadaan di luar betul-betul aman, ia menekan alat rahasia dan sebuah pintu terbuka.
Untuk kedua kalinya Lee Tai tersentak kaget ketika melihat Liok Kong Ji tahu-tahu sudah berdiri di depannya, entah dari mana seperti baru muncul dari muka bumi di depannya saja.
Ini adalah karena gerakan Kong Ji amat ringan dan cepatnya.
ia tidak memberi kesempatan kepada Lee Tai untuk melihat pintu rahasia dari gua persembunyiannya.
Akan tetapi, alangkah heran hati Liok Kong Ji ketika melihat Lee Tai tidak segera menjatuhkan diri berlutut, malahan pemuda itu mencabut golok, berdiri tegak dil depannyat lalu mangeluarkan suara bentakan.
"Kau sebenarnya siapakah? Apakah kau Liok Kong Ji?"
Kalau tidak sudah luas pengalaman dan tinggi ilmunya, tentu Liok Kong Ji akan menjadi pucat mukanya "ditodong"
Seperti ini oleh Lee Tai. Akan tetapi Kong Ji malah menarik muka terheran-heran, lalu tersenyum.
"Orang muda, apa kau sudah mabok? Kan tahu aku bukan Liok Kong Ji. Bagaimana kau bisa berkata demikian?"
Sikap yang sewajarnya dari Liok Kong Ji kembali telah menipu pandangan Lee Tai yang memang betul-betul bodoh dalam hal ini.
Dia terlalu jujur dan iapun menganggap bahwa orang lain juga tentu jujur seperti dia, karena menurut anggapannya, mengapa orang harus membohong?
Mendengar kata kata Liok Kong Ji ini, Lee Tai menjadi bingung.
Memang amat sukar, bagaimana bisa menentukan apakah orang ini Liok Kong Ji atau bukan?
Dia selama hidupnya belum pernah bertemu dengan Liok Kong Ji dan orang ini begitu bertemu sudah memberi hadiah kitab pelajaran ilmu pedang, bagaimana ia bisa bersikap tak tahu terima kasih?
Akan tatapi, teringat akan kitab, ia mendapat pikiran.
Segera ia bertanya.
"Kitab itu milik Liok Kong Ji, bagaimana kau bisa memberikannya kepadaku kalau kau bukan Liok Kong Ji?"
Kembali di dalam hatinya Liok Kong Ji terkejut sekali.
Kalau pemuda ini tahu bahwa kitab Soat-tian-kiam-coan-si itu milik Liok Kong Ji, berarti bahwa kitab itu tentu terlihat oleh Tiang Bu atau Wan Sin Hong!
"Orang muda, apa kau melanggar janji dan memberi tahu tentang kitab kepada mereka?"
"Tidak, sama sekali tidak! Hanya......... ketika aku mempelajarinya, Tiang Bu melihatnya dan.......... dan.......... oh, kalau begitu kau betul Liok Kong Ji?"
"Babi hutan! Dasar kau berotak udang bodoh, goblok dan tolol! Aku memang Liok Kong Ji dan kau boleh bawa nama ini ke mereka! Hayo katakan, sekarang mereka baru apa?"
Bentak Liok Kong Ji yang sudah tidak mau main sandiwara lagi. Akan tetapi Lee Tai tidak takut. Ia menggerakkan goloknya dan membentak.
"Bagus! Kalau kau Liok Kong Ji, itulah yang kucari-cari dan kutunggu tunggu! Mari kita bertempur selaksa jurus, kalau bukan kau yang kupenggal lehermu, tentu aku yang menggeletak di sini tak bernyawa. Goloknya menyambar cepat sekali ke arah leher Liok Kong Ji. Serangan Lee Tai ini boleh jadi akan membahayakan lawan lain, akan tetapi sekarang berhadapan dengan Liok Kong Ji. Sekali menggerakkan tubuh ke samping, golok itu menyambar tempat kosong. Golok Lee Tai menyambar lagi dengan kecepatan kilat, kenekatan dan kemarahan Lee Tai membuat gerakan-gerakannya cepat sekali dan serangannya susul-menyusul bagaikan air hujan. Juga ia melakukan serangan sekuat tenaga sampai goloknya mengeluarkan suara berdesing. Betapapun ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, selalu goloknya menyambar tempat kosong dan pada jurus ke delapan, ketika tangan kiri Kong Ji melakukan gerakan menyentil dari samping, terdengar suara nyaring golok itu terlepas dari pegangan Lee Tai, terlempar jauh. Sebelum Lee Tai sempat memperbaiki kedudukannya, kaki kanannya kena dicium ujung sepatu Kong Ji, membuat ia roboh terguling dengan sambungan lutut terlepas! Namun pemuda ini amat bandel dan nekat. Ia melompat bangun lagi, dan biarpun sudah terpincang-pincang, ia menyerang lagi tanpa mengeluarkan keluhan sedikitpun! "Iblis keji!"
Terdengar bentakan nyaring dan sebatang pedang menyambar ke arah punggung Liok Kong Ji, akan tetapi dapat dielakkan dengan mudah oleh Kong Ji.
"Ang Lian........."
Seru Lee Tai, girang dan kaget.
"Jangan dekat-dekat, dia berbahaya!"
"Ciu-twako, aku membantumu!"
Jawab Ang Lian sambil menyerang lagi.
Kejadian ini amat mengejutkan hati Tiang Bu, juga Sin Hong dan yang lain-lain.
Tanpa diduga-duga, ketika menyaksikan betapa Lee Tai tidak berdaya menghadapi Liok Kong Ji timbul kekhawatiran hati Ang Lian dan gadis ini segera melompat dan mati-matian membantu pemuda dogol itu.
Dengan ilmu pedang warisan ayahnya, penyerangan gadis ini hebat juga.
Akan tetapi tentu saja semua penyerangan ini bukan apa-apa bagi Liok Kong Ji yang jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya.
Melihat munculnya gadis ini.
Kong Ji makin gelisah.
Tak salah lagi, tentu yang lain akan segera muncul.
"Bagus kau datang,"
Serunya dan cepat tubuh Liok Kong Ji bergerak.
Sebelum Ang Lian dan Lee Tai tahu apa yang terjadi, karena tiba-tiba bayangan Liok Kong Ji lenyap dari depan mereka, tahu tahu mereka telah roboh tak berdaya, terkena totokan lihai dari manusia iblis itu.
Liok Kong Ji mempunyai siasat bagus untuk menyelamatkan diri.
Melihat dua orang muda itu, ia segera merobohkan mereka dan hendak mempergunakan mereka sebegai perisai, atau sebagai tebusan bagi keselamatan dan kebebasannya.
Akan tetapi, sama sekali di luar persangkaannya bahwa Tiang Bu sudah dekat tempat itu, karena tiba-tiba hawa pukulan keras menyambar hebat ketika ia hendak menghampiri Ang Lian dan Lee Tai yang sudah menggeletak di atas tanah dan hendak menawan mereka.
Hawa pukulan ini biarpun datang dari jarak jauh, hebatnya bukan main dan hawanya panas seperti api menyambar.
Link Kong Ji sendiri adalah seorang ahli lwee-keh dan ia memiliki dua macam pukulan lweakang istimewa, yaitu Hek-tok-ciang dan Tin-san-kang, yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh.
Oleh karena itu, tentu saja ia maklum bahwa ia sedang diserang oleh seorang lawan yang berilmu tinggi ia tidak berani berlaku gegabah, terpaksa ia mengurungkan niatnya menawan Lee Tai dan Ang Lian.
Sebaliknya ia cepat membalikkan tubuh, menggerakkan kedua tangan untuk menyampok pukulan lawan ini.
Tubuhnya terhuyung ketika dua tenaga raksasa bertemu membuat Liok Kong Ji makin terkejut terpaksa ia melompat jauh ke belakang.
Ketika ia memandang, ternyata bahwa yang menyerangnya dan yang menolong Lee Tai dan Ang Lian tadi bukan lain adalah Tiang Bu!
Kemudian bermunculanlah Wan Sin Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek Siansu, Pang Soan Tojin, dan nampak juga Siok Li Hwa yang memondong Leng Leng.
Mereka sudah berdiri di hadapannya, sikap mereka rata-rata garang dan penuh kemarahan!
Muka Liok Kong Ji menjadi pucat, lalu kehijauan, akan tetapi ia dapat menekan perasaannya, meringis dalam senyum buatan.
Ia hanya dapat memandang saja ketika Tiang Bu membebaskan totokan yang membuat Ang Lian dan Lee Tai tak berdaya.
Dua orang muda in segera mengundurkan diri di belakang orang orang tua, karena mereka maklum bahwa mereka sama sekali bukanlah lawan Liok Kong Ji yang jagoan itu.
"Ha-ha-ha."
Kong Ji tertawa mengejek "Wan Sin Hong sudah menjadi pengecut, tidak berani datang sendiri dan membawa seregu pembantu. Apakah kalian ini tua-tua bangka hendak mengeroyok aku?"
Sebelum orang lain menjawab, Tiang Bu sudah membentak marah.
"Perlu apa mengeroyok? Aku sendiri dengan dua tanganku cukup untuk mengakhir riwayatmu yang busuk!"
Pemuda ini dengan muka merah sudah bersiap siaga menerkam musuhnya ini.
Ia makin membenci Liok Kong Ji kalau teringat akan Bi Li kekasihnya yang tadinya menjadi buntung lengannya oleh Liok Kong Ji, kemudian tewas di laut oleh Liok Cui Kong.
Liok Kong Ji menengok ke arah pemuda ini, nampaknya gentar, akan tetapi ia memperlebar senyumnya ketika ia menoleh kembali kepada Wan Sin Hong.
"Hemmm, bagus sekali, Sin Hong. Kau tahu bahwa bocah ini adalah keturunanku, anak Soan Li. Dan kau sengaja menyuruh dia melawanku? Tentu saja aku tidak bisa bersungguh-sungguh dan tidak leluasa kalau harus melawan puteraku sendiri, putera tunggal dan??."
"Tutup mulutmu yang busuk!"
Tiang Bu membentak lagi dan tubuhnya berkelebat, di lain saat ia telah mengirim pukulan ke arah dada Liok Kong Ji!
Kong Ji menangkis, keduanya terhuyung ke belakang, akan tetapi kalau Tiang Bu tidak merasa sesuatu, adalah diam-diam Liok Kong Ji mengeluh karena lengannya terasa panas dan linu.
"Tiang Bu!"
Sin Hong mencegah ketika melihat Tiang Bu hendak menyerang lagi.
"Tunggu sampai dia habis bicara!"
Tiang Bu mentaati perintah ini dan ia melangkah mundur, berdiri tegak dengan mata mencorong, mata yang serupa benar dengan mata Kong Ji, tajam dan bersinar aneh.
Kong Ji maklum bahwa kali ini tidak ada jalan lari lagi bagiaya, maka dengan sikap keren berkata.
"Sekarang aku sudah terkepung, akan tetapi aku menuntut hak seorang kangouw, aku ingin menghadapi kalian seorang demi seorang. Ini kalau kalian berani. Pertama-tama aku menantang musuh besarku sejak kecil. Wan Sin Hong. Majulah kalau kau masih memiliki sifat jantan!"
Sambil berkata demikian, Liok Kong Ji melangkah maju setindak ke depan Sin Hong.
Wan Sin Hong menjadi merah mukanya dan iapun melangkah tiga tindak ke depan Liok Kong Ji.
Dua orang musuh besar sejak kecil ini akhirnya berhadapan muka, satu lawan satu!
Teringat mereka akan riwayat dahulu ketika mereka masih sama-sama kecil, lalu ketika mereka sama-sama muda menjadi musuh, juga berhadapan seperti ini.
Teringat akan ini, tak tertahan lagi Wan Sin Hong berkata, suaranya tenang namun mengandung kebencian besar.
"Kong Ji, teringatkah akan riwayat hidupmu yang penuh dosa? Hidupmu penuh noda darah orang-orang tak berdosa. Kekejianmu melebihi iblis dan akhir-akhir ini dalam usia tua kau bukan menjadi kapok dan menebus dosa-dosa di waktu muda. malah menambah lagi dosa dosamu dengan dosa-dosa baru, kau benar-benar manusia berhati iblis! Sekarang tibalah saatmu untuk menebus dosa-dosamu itu, tidak hanya di dunia akan tetapi juga di depan Giam-kun."
Mendengar kata-kata ini, Liok Kong Ji malah tertawa bergelak.
"Wan Sin Hong, di dunia ini mana ada dosa? Dosa hanya pandangan orang yang merasa dirugikan. Aku membunuh untuk mendahului jangan sampai aku yang dibunuh. Kalau aku tidak pandai menjaga diri, apakah aku tidak kau bunuh dari dulu? Ha-ha, Sin Hong. Aku membunuh orang kau anggap berdosa, apakah kalau kau berhasil membunuh aku, kau tidak berdosa? Aku melakukan perbuatan demi ketenangan hatiku dan orang hidup harus bersenang-senang, apa itu kau anggap dosa? Ha-ha-ha!"
Semua orang tertegun mendengar omongan itu, dan Sin Hong marah sekali.
"Liok Kong Ji, manusia macam kau ini sama dengan iblis. Mana kau tahu tentang dosa.? Kau melakukan perbuatan-perbuatan keji, berlawanan dengan kebajikan, berlawanan kehendak Thian. Kau tentu tidak mengenal Tuhan kau menurutkan hawa nafsu iblis belaka. Perlukah kau kuingatkan akan kedosaanmu yang dulu-dulu? Kau diperlakukan baik-baik oleh gihu (ayah angkat) Lie Bu Tek, akan tetapi kau membalas dengan menabas buntung lengannya. Ini kaulakukan ketika kau masih kecil. Kau menipu orang orang yang menolongmu, mendidiknya bahkan manipu guru-gurumu. Kau melakukan perbuatan keji terhadap orang baik-baik, termasuk Gak Soan Li, perbuatanmu ini saja sudah terkutuk oleh Thian. Lupakah kau akan semua itu? Berkali-kali kau lolos dari tanganku karena siasat-siasat burukmu, kau tidak berani menghadapi segala tantangan seperti orang laki-laki, melainkan mempergunakan tipu muslihat. Akhir-akhir ini kau membunuh Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong suami isteri dan puteri mereka, kau menyuruh anakmu yang menjadi iblis cilik itu menyebar maut di Kim bun-to, membunuh sutitku dan suaminya, kau membuntungi lengan tangan Wan Bi Li. Pendeknya, terlalu banyak kau membikin sengsara orang dan terlalu lama kau mengotorkan dunia. Bersiaplah untuk menghadap Giam-kun dan menebus dosa-dosamu di neraka!"
Wan Sin Hong sudah memasang kuda-kuda dan bersiap untuk melakukan sarangan. Akan tetapi Liok Kong Ji masih bersikap biasa saja, malah ia tersenyum mengejek.
"Wan Sin Hong, kau pandai mencatat dan membacakan daftar kesalahan orang lain, akan tetapi kau menutupi kekejianmu sendiri. Lupakah kau akan perbuatan kejimu membuat aku bercacad seumur hidupku?"
Sin Hong terheran-heran mendengar ini.
Sepanjang ingatannya, belum pernah ia melakukan perbuatan itu.
Memang betul ia sering kali merobohkan Liok Kong Ji dan melukainya, akan tetapi bukan luka yang mendatangkan derita dan cacad.
"Omongan bohong apa yang kau keluarkan ini?"
Bentaknya.
"Ha-ha-ha, seorang laki-laki tidak berani mengakui perbuatannya, apakah layak disebut gagah? Kau telah membuat lengan kiriku bercacad selama hidup, apa masih tidak mau mengaku? Kau lupa ini? Lihatlah baik-baik, macam apa lenganku sekarang setelah dahulu kau bikin remuk!"
Liok Kong Ji maju mengulurkan lengan kiri sambil menyingsingkan lengan bajunya yang kiri, memperlihatkan lengannya yang barkulit putih, lengan yang kurus dan nampak kehitaman totol-totol di dekat sambungan siku.
Sikap wajar Liok Kong Ji ini membuat Sin Hong kurang waspada.
Ia dahulu memang pernah mematahkan tulang lengan Kong Ji ketika ia merampas pedang Pak-kek-sin-kiam dari musuh ini, akan tetapi tidak mengira bahwa perbuatannya itu membuat lengan Kong Ji bercacad selamanya.
Karena ingin tahu melangkah makin mandekat dan melihat lengan itu.
"Wan-pek-pek, awas......!!"
Tiang Bu berseru keras.
Akan tetapi terlambat!
Langan kiri Liok Kong Ji yang disingsingkan lengan bajunya dan sedang dilihat oleh Sin Hong itu, tiba-tiba meluncur ke depan.
menghantam dada Wan Sin Hong dengan pukulan Tin-san-kang yang luar biasa lihainya!
"Buukk!!"
Tubuh Wan Sin Hong terpental sampai dua tombak lebih terkena pukulan itu dan terdengar Siok Li Hwa menjerit melihat suaminya terlempar dalam keadaan berdiri akan tetapi memuntahkan darah segar!
Siok Li Hwa melompat mendekati suaminya, akan tetapi Sin Hong memberi tanda supaya isterinya mundur, kemudian ia berjalan tegap menghampiri Liok Kong Ji lagi sambil menyusut darah dari bibirnya!
Tiang Bu yang sudah hendak menerjang Liok Kong Ji.
terpaksa mundur ketika dengan tangannya Sin Hong memberi isyarat supaya ia juga mundur.
"Pengecut jahanam!"
Maki Siok Li Hwa dengan muka pucat, gelisah memandang suaminya.
"Iblis tak tahu malu? Ang Lian juga memaki marah.
"Wan-bengcu, mundurlah. Biar aku yang melabraknya!"
Lee Tai berteriak-teriak, akan tetapi segera menutup mulut ketika Ang Lian mendelik kepadanya.
Wan Sin Hong tersenyum memandang Kong Ji yang terheran-heran.
Kong Ji tadinya memang mengharapkan dapat memukul mati kepada lawannya ini, akan tetapi Sin Hong tidak roboh, hanya muntah darah.
Hal ini benar-benar tidak diduga-duganya.
Ia tidak tahu bahwa memang Sin Hong selamanya tidak percaya kepadanya dan tadipun pendekar ini sudah mengerahkan tenaga sinkangnya menjaga diri.
Sayangnya, Sin Hong tertarik untuk memeriksa lengannya, maka terlambat mengelak atau menangkis sehingga terkena pukulan yang biarpun tidak membabayakan nyawanya, namun telah mendatangkan luka dalam yang cukup hebat.
"Kong Ji, apa perbuatanmu tadi patut dibanggakan?"
Sindir Sin Hong.
"Kau berlaku curang."
"Apa yang curang? Kau sudah memasang kuda-kuda, sudah siap kita mengadakan pertandingan. Perbuatanku tadi termasuk taktik pertandingan, apanya yang salah? Hanya kau yang terlalu goblok, berotak kerbau."
Setelah berkata demikian, Liok Kong Ji terus menyerang bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan Hek-tok-ciang dan Tin-san-kang.
Penyerangannya hebat sekali, gerakan-gerakannya jauh lebih sempurna dari pada beberapa tahun, bahkan beberapa bulan yang lalu.
Hal ini adalah karena semenjak ia mampelajari kitab Delapan Jalan Utama ilmu silatnya bertambah lihai dan mendapat kemajuan pesat sekali.
Diam-diam Sin Hong terkejut dan kagum.
Harus ia akui bahwa ilmu kepandaian Liok Kong Ji telah memperoleh kemajuan yang jauh di luar sangkaannya.
Biarpun dia sendiri juga selalu berlatih dan memperdalam ilmunya, akan tetapi ia harus mengakui bahwa ia kaLah maju.
Karena dahulu memang tingkatnya sudah lebih tinggi, maka kemajuan yang luar biasa dari kepandaian Kong Ji, hanya membuat lawan ini sekarang memiliki tingkat yang seimbang dengan dia.
Sin Hong berlaku hati-hati, mengerahkan semua kepandaian untuk melawan musuh yang tqngguh ini.
Betapa pun juga Pak-kek Sin-ciang ternyata masih tahan uji dan dapat dibanggakan, dapat menangkis semua terjangan Liok Kong Ji.
Sayangnya Sin Hong sudah menderita luka dalam akibat penyerangan gelap tadi, maka di dalam pertandingan mati-matian ini kadang-kadang ia merasa dadanya sesak dan terpaksa ia sering kali mengalah dalam hal adu tenaga, mengalah untuk menghindarinya dan mengelak.
Tentu saja hal ini diketahui baik oleh Liok Kong Ji.
Dia malah berusaha mengadu lwee-kang agar luka di dalam dada Sin Hong makin menghebat dan parah.
Biarpun ia akhirnya akan roboh di tangan Tiang Bu dan kawan-kawannya, kalau ia sudah dapat menewaskan Sin Hong, ia sudah puas.
"Ha ha, Sin Hong. Kau dulu bukan kau sekarang dan Liok Kong Ji dulu berbeda dengan Liok Kong Ji sekarang!"
Ejeknya untuk memanaskan hati lawan.
"Tentusaja kau berbeda dengan dulu. Kau sekarang lebih pengecut dan lebih keji."
Balas Sin Hong yang mengelak dari sebuah pukulan lalu membalas dengan totokan kilat dari ilmu silatnya Pak-kek Sinciang yang lihai.
Akan tetapi Liok Kong Ji sempat juga menangkis sambil mengerahkan tenaga dan sekali lagi dua lengan saling bentur dengan hebat.
Baiknya Sin Hong adalah ahli tenaga dalam lm yang Sin-kang.
Ia dapat menyalurkan tenaga kasar atau lemas menurut kehendak hatinya dan dapat mengatur harus mempergunakan tenaga apa untuk menyambut serangan Kong Ji agar lukanya di dalam dada tidak bertambah parah.
Akan tetapi, setelah lima puluh jurus lewat dan keadaan Liok Kong Ji bertambah kuat dan ganas, Sin Hong yang sudah menderita luka itu terpaksa mengakui bahwa ia takkan dapat bertahan lebih lama lagi.
Peluh telah memenuhi dahinya dan ia maklum kalau pertempuran tangan kosong ini dilanjutkan, ia akan menderita kekalahan.
Liok Kong Ji terlalu cerdik sehingga tidak mau mengadu kecepatan ilmu silat, melainkan selalu mempergunakan Tin-san-kang atau Hek-tok-ciang untuk mengadu tenaga dalam, maklum bahwa lawannya sudah terluka parah.
"Kong Ji, hadapilah Pak-kek-sin-kiam yang akan mengantar nyawamu ke dalam neraka!"
Berkelebat sinar menyilaukan dan di lain saat pedang Pak-kek-sin-kiam sudah berada di tangan Wan Sin Hong! Liok Kong Ji tertawa bergelak.
"Belum apa apa sudah mengeluarkan pedang!? Iapun mencabut pedangnya dan di dalam otaknya terbayang sesuatu yang menyenangkan hati. Kalau saja aku dapat merampas Pak-kek-sin-kiam, pikirnya. Di antara mereka semua, yang paling harus dikhawatirkan hanya Tiang Bu seorang. Yang lain-lain tak masuk hitungan, kecuali Wan Sin Hong. Akan tetapi kalau aku berhasil menewaskan Sin Hong dan merampas Pak kek-sin-kiam, aku sanggup menghadapi Tiang Bu dan terbukalah jalan keluar ke arah pembebasan! Dengan pikiran ini, Liok Kong Ji menggerakkan pedangnya dan memegang pedang itu melintang di depan dada. Ia memasang kuda-kuda miring dan matanya memandang tajam ke arah lawan. Juga Wan Sin Hong sudah memasang kuda-kuda, tangan kanan memegang pedang melintang di depan, tangan kiri dimiringkan melintang dada pula, seperti orang bersidekap. Sikapnya tenang, matanya tajam waspada, akan tetapi peluh di keningnya menandakan bahwa ia telah lelah. Melihat dua orang musuh besar berdiri barhadapan dengan pedang di tangan, diam tak bergerak laksana patung itu, bagaikan dua ekor jago yang sedang menanti saat baik untuk menerkam, benar-benar menegangkan hati. Semua orang maklum bahwa keduanya siap untuk mengadu nyawa, untuk menentukan siapa menang siapa kalah dengan aliran darah. Siok Li Hwa memberikan Leng Leng kepada Ang Lian dan nyonya ini berdiri dengan kaki gemetar siap dengan senjata rahasia Cheng-jouw-ciam ( Jarum Rumput Hijau ) di tangan untuk melindungi suaminya apabila terancam bahaya maut. Tiang Bu berdiri paling dekat, tegak dengan kedua kaki terpentang dan kedua tangan tergantung di kanan kiri, setiap urat syarafnya pun siap untuk menolong Sin Hong bila mana perlu. Adapun tiga orang kakek Huang-ho Sian-jin, Bu Kek Siansu dan Pang Soan Tojin berdiri menonton dengan penuh ketegangan hati. Mereka bertiga maklum bahwa dua orang yang berilmu tinggi dan sakti sedang berhadapan untuk mengadu nyawa dan mereka sendiri tak kuasa berbuat sesuatu karena tingkat mereka lebih rendah. Kalau dulu, tentu Kong Ji merasa gentar menghadapi Sin Hong dengan Pak-kek-sin-kiam di tangan. Pedang itu sendiri sudah merupakan pedang pusaka yang ampuh apa lagi di tangan Sin Hong yang menjadi ahli waris Pak-kek-sin-kiam-hoat, benar-benar merupakan lawan berat. Akan tetapi sekarang Liok Kong Ji sudah mempelajari banyak ilmu pedang yang ampuh-ampuh, di antaranya Soat-lian Kiam-hoat dan Soan-bong Kiam hoat, keduanya dari kitab-kitab Omei-san yang tentu saja mengandung ilmu pedang kelas satu. Di samping itu ilmunya sudah dipermasak oleh pelajaran dalam kitab Delapan Jalan Utama. Sampai lama dua orang lawan ini saling berhadapan tanpa bergerak. Kemudian Kong Ji berkata mengejek.
"Kau memegang Pak kek sin-kiam, tentu saja kau dapat menang dengan mudah mengandalkan ketajaman pedangmu. Anak kecilpun bisa menang seperti itu."
Watak Sin Hong adalah menjunjung tinggi kegagahan. Biarpun ia maklum bahwa ucapan Kong Ji ini merupakan siasat, akan tetapi mengandung kebenaran juga. Maka ia menjawab.
"Jangan khawatir, aku takkan mematahkan pedangmu. Kalau patah aku takkan menyerangmu, dan kau boleh berganti pedang. Seorang di antara kita akan mati dengan pedang di tangan!"
Tentu saja ucapan ini amat menggembirakan hati Kong Ji.
Sekarang ia tidak takut lagi menghadapi Pak-kek-sin-kiam dan begitu Sin Hong menghentikan ucapannya, ia mengeluarkan seruan seperti binatang menjerit dan menerkam ke depan dengan tusukan kilat.
Tusukan ini ia susul dengan ujung pedang diguratkan ke atas menyerang leher sehingga dalam segebrakan saja pedangnya telah melakukan dua macam tusukan maut.
Sin Hong berlaku tenang.
Ia mengelak dari tusukan pertama dan tusukan ke dua ia tangkis dengan pedangnya dimiringkan sehingga bagian yang tajam tidak merusak pedang lawan.
Biarpun demikian Kong Ji merasa padangnya tergetar dan diam-diam ia mengaku bahwa ilmu pedang lawannya ini benar-benar kuat.
Ia lalu berseru keras dan mulai mainkan Ilmu Pedang Soat-lian Kiam-hoat dari Omei-san.
"Huh, tak tahu malu. Ilmu curian dipakai bertempur!"
Tiang Bu mencela gamas.
Tentu saja ia mengenal gerakan-gerakan dari ilmu silat Omei-san dan dapat menduga bahwa tentulah ilmu yang dipelajari dari kitab curian.
Adapun Sin Hong ketika menghadapi pedang ini, merasa ada hawa dingin sekali menyusup tulang.
Hawa ini timbul dari sambaran pedang Kong Ji.
Maklumlah ia bahwa inti dari ilmu pedang ini berdasarkan tenaga Im-kang yang dalam, sehingga hawa pukulan pedang mengandung hawa dingin yang cukup dahsyat untuk merobohkan lawan yang lweekangnya kurang kuat.
Menghadapi Soan-lian Kiam-hoat ini, terpaksa Sin Hong juga mengerahkan Im-kangnya untuk menahan hawa dingin.
Dari Pak-kek sin-kiam juga menyambar hawa yang dinginnya tidak kalah oleh hawa pedang Liok Kong Ji.
Bukan main hebatnya Im-kang dari dua orang jago tua ini sampai-sampai mereka yang menyaksikan pertempuran itu merasa dingin sekali.
Lee Tai dan Ang Lian yang ilmu kepandaiannya paling rendah di antara mereka semua, sampai menggigil kedinginan.
Setelah lewat tiga puluh jurus, Kong Ji merobah permainan pedangnya dan sekarang pedangnya bergerak bagaikan angin taufan lenyap menjadi gulungan sinar pedang yang mendatangkan hawa panas sedangkan tangan kirinya mulai melakukan pukulan Tin san-kang dan Hek-tok-ciang secara gencar dan bertubi-tubi.
Inilah Ilmu Pedang Soan-hong Kiam-hoat, juga ilmu pedang yang ia curi dari Omei-san, yang ia pelajari dari kitab yang dibawa oleh Lo Chian-tung Cun Gi Tosu.
Kembali Wan Sin Hong terpaksa harus mengubah saluran lweekangnya, dan ia sekarang mengerahkan tenaga Yang kang untuk melawan musuhnya.
Ia dipaksa main adu tenaga dalam oleh Liok Kong Ji yang cerdik dan diam-diam Sin Hong mengeluh.
Dalam ilmu pedang ia tidak mungkin kalah oleh lawannya, akan tetapi kalau lawannya main adu ilmu lweekang, ia payah oleh lukanya di dalam dada tadi Ia sudah mulai merasa mual dan ingin muntah lagi, karena luka di dalam dadanya yang terdesak oleh pergantian tenaga itu kini menjadi makin parah.
Celakanya, ia tadi sudah berjanji takkan mematahkan pedang Liok Kong Ji, maka ini berarti ia sudah kalah selangkah.
Percuma saja ia memegang pedang pusaka, malah lebih baik memegang pedang biasa saja, tidak usah menjaga agar pedangnya tidak menabas putus pedang lawan.
Kong Ji makin bersemangat, menyerang mati-matian.
Terpaksa Sin Hong mengeluarkan ilmunya, pukulan Tin-san-kang yang menyambar datang ia tangkis dengan tenaga lweekang sedangkan pedangnya membacok pundak Li Kong Ji dengan gerakan miring, Kong Ji terkejut sekali dan menangkis.
"Traang...........!"
Pedang di tangan Liok Kong Ji putus menjadi dua!
Dia melompat mundur dan kesempatan yang amat baik ini tak dapat dipergunakan oleh Sin Hong yang sudah berjanji takkan mau mengambil kemenangan dengan ketajaman pedangnya.
"Aku sudah tak berpedang lagi. Mari lanjutkan dengan tangan kosong!"
Kong Ji menantang, tahu bahwa dengan tangan kosong akan ia akan lebih mudah memancing adu tenaga untuk memperoleh kemenangan terakhir.
Dengan sikap tenang Sin Hong manyarungkan pedangnya, agaknya siap untuk melayani Kong Ji selanjutnya.
Siok Li Hwa melompat ke dekatnya dan berkata perlahan penuh khawatiran.
"Kau sudah terluka, lebih baik mengaso dulu, biar yang lain melayani jahanam ini.? Yang dimaksudkan dengan "yang lain"
Tentu saja Tiang Bu, karena Li Hwa juga maklum bahwa selain Tiang Bu atau suaminya, tidak ada yang akan sanggup melawan Liok Kong Ji. Kong Ji tertawa keras.
"Ha-ha-ha! Wan Sin Hong, nyonyamu khawatir kau akan mampus dalam pertandingan. Lekas kau turut dia pulang dan sembunyi di kamar bersama dia!"
Inilah hinaan hebat sekali.
Tidak ada hinaan yang lebih menyakitkan hati bagi seorang gagah dari pada dikatakan takut mati dalam pertandingan.
Memang sengaja Kong Ji menghina demikian supaya Sin Hong merasa malu untuk mengundurkan diri.
Dan ia berhasil.
Sin Hong menyuruh iasterinya mundur, lalu mju menghadapinya.
"Kong Ji, jangan sombong. Aku bukan orang yang takut mati, apa lagi takut padamu. Majulah!"
Sambil berseru keras Kong Ji menubruk, mengirimkan pukulan dahsyat.
Sin Hong mengelak dan membalas dengan pukulan yang tak kalah hebatnya.
Dua orang musuh lama ini kembali bertempur hebat dengan tangan kosong.
Daun-daun pohon rontok dan batu-batu kecil berhamburan terkena sambaran hawa pukulan mereka.
Tiang Bu menonton penuh perhatian.
Dari wajah Sin Hong ia maklum bahwa pendekar itu benar-benar sudah berkurang tenaganya, akan tetapi tadi ia melihat Sin Hong menelan tiga butir pil, maka ia mengerti bahwa luka di dalam dada pendekar itu biarpun melemahkan tubuh, tidak berbahaya lagi.
Ia percaya penuh akan kepandaian Sin Hong mengobati luka sendiri.
Kong Ji juga tahu bahwa biarpun ia akhirnya dapat menewaskan Sin Hong, namun ia harus lebih dulu menghabiskan tenaga sendiri dan kalau terjadi pertempuran terlalu lama, ia akan menjadi terlalu lemah untuk menghadapi yang lain.
Oleh karena itu ia segera mengambil jalan nekat dan cepat.
Soalnya bagi dia hanya dua, hidup atau mati.
Pada saat Sin Hong menggunakan kepalan kanan memukul dadanya, Kong Ji sengaja bar-laku lamban, mengerahkan lweekang untuk menahan hawa pukulan dahsyat itu, kemudian bagaikan ular menyambar, lengan kirinya bergerak menangkap pergelangan lengan Sin Hong dan membarengi saat itu memukulkan kepalan kanannya ke arah kepala lawan.
Sin Hong terkejut sekali, tidak mengira bahwa lawannya akan mengambil jalan nekat.
Kalau ia menggunakan pukulan kirinya, tentu Kong Ji akan tewas, akan tetapi dia sendiri terancam oleh pukulan kanan lawannya yang menyambar bagaikan geledek.
Cepat ia mengambil jalan yang sama karena untuk menyingkir tidak ada waktu lagi, untuk menangkis masih berbahaya.
Dengan gerakan tepat tangan kirinya mencengkeram dan di lain saat pergelangan lengan Kong Ji yang kanan juga dapat ia tangkap!
Dua orang jago tua yang lihai ini berdiri memasang kuda-kuda teguh, berhadapan muka dan saling memegang pergelangan tangan kanan lawan, saling mengerahkan tenaga yang disalurkan melalui lengan tangan masing-masing!
Keadaan menjadi tegang sekali.
Dua orang itu diam tak bergerak seperti patung, akan tetapi urat-urat tangan mereka menggeliat-geliat, dan tenaga dalam mereka sedang saling dorong.
Tak seorangpun di antara mereka berani sembarangan melepaskan pegangan pada lengan lawan karena siapa yang melepaskan pegangan lebih dulu berarti mendapatkan pukulan lebih dulu pula.
Seperempat jam mereka berkutetan dan saling dorong dengan tenaga dalam untuk merobohkan lawan.
Baik pergelangan tangan Sin Hong yang menjadi menghitam, maupun pergelangan tangan Kong Ji yang menjadi biru, terasa sakit sekali, namun tak seorangpun di antara mereka yang mau mengalah.
Kalau saja Sin Hong belum terluka di dalam dadanya, tak mungkin Kong Ji dapat menang, karena kalau Sin Hong selalu menyimpan dan memurnikan hawa dalam tubuhnya, adalah Kong Ji yang menghamburkan tidak karuan dengan jalan hidup menurutkan hawa nafsu belaka.
Akan tetapi Sin Hong sudah terluka berat dan dalam usaha terakhir ini kembali ia muntahkan darah dari mulutnya.
Kong Ji mengerahkan seluruh tenaga, maklum bahwa kemenangan sudah mendekat.
Siok Li Hwa yang melihat suaminya kembali muntahkan darah, melompat dekat dan memukul Kong Ji dari belakang.
Akan tetapi, pukulan yang mengenai punggung Kong Ji ini seperti mengerai daging lunak dan akibatnya kuda-kuda Sin Hong menjadi tergempur dan hampir saja ia melepaskan pegangannya.
Ternyata bahwa pukulan Li Hwa itu dapat direrima dan disalurkan oleh Kong Ji, dipakai untuk menambah tenaganya mendorong Sin Hong!
Melihat ini, Tiang Bu melompat dan menarik tangan Li Hwa mundur.
Kemudian ia sendiri maju di tengah-tengah dan sekali kedua tangannya memukul, satu ke arah pundak Sin Hong dan yang kedua ke arah pundak Liok Kong Ji.
dua orang jago tua ini tersentak ke belakang dan pegungan mereka terlepas!
Sin Hong cepat menjatuhkan diri, duduk bersila untuk mengatur pernapasannya, memulihkan kembali hawa di dalam tubuhnya yang sudah tidak karuan, membuat luka di dadanya makin parah.
Ia perlu beristirahat dan mengatur pernapasannya untuk mengobati lukanya.
Adapun Liok Kong Ji yang tidak terluka, menjadi marah sekali melihat Tiang Bu turun tangan.
"Kau curang.........."
Bentaknya sambil menyerang.
Akan tetapi Tiang Bu yang sudah menjadi gemas sekali, tidak mau banyak cakap lagi.
Serangan pukulan dahsyat itu ia tangkis dengan pengerahan tenaga secukupnya dan akibatnya tubuh Kong Ji terpental ke samping.
Sebelum Kong Ji sempat menyerang lagi, Tiang Bu sudah meloncat dekat dan sekali tangannya menyambar ke arah pundak, terdengar suara "kraak!?
dan tulang pundak Kong Ji patah-patah!
Kong Ji mengeluarkan jeritan menyayat hati.
"Aduuhh.... kau.......... kau.......... anakku sendiri.........!"
Jeritan ini entah bagaimana membuat Tiang Bu terpukau dan diam saja tak bergerak untuk sesaat.
Saat Ini dipergunakan oleh Kong Ji untuk menyebar jarum-jarum Hek-tok-ciam dengan tangan kanan karena lengan kirinya sudah lumpuh akibat remuknya tulang pundak kirinya.
Kemudian, selagi semua orang sibuk meluputkan diri dari penyeraagan Hek-tok ciam, ia melarikan diri!
"Kejar,.......!"
Li Hwa berseru.
Tanpa menunggu komando lagi Tiang Bu sudah dapat menguasai dirinya dan cepat lari mengejar.
Di tengah jalan Kong Ji yang tak sanggup melepaskan diri dari kejaran Tiang Bu yang jauh lebih gesit itu, membalikkan tubuh dan kembali jarum-jarum hitam ia lepaskan ke arah Tiang Bu.
Dengan mudah Tiang Bu menyampok semua jarum dan membentak.
"Iblis jahat. kau hendak lari ke mana?"
"Tiang Bu, kau anakku...... betul-betulkah kau hendak membunuhku......?"
Kong Ji merayu sambll mendekat.
"Tutup mulut.........."
Mempergunakan kesempatan selagi Tiang Bu menjawab.
Kong Ji sudah memukul lagi dengan tangan kanannya, memukul dengan Hek tok-ciang sekuat-kuatnya!
Ini membuktikan sekali lagi betapa curang dan liciknya hati Liok Kong Ji.
Tiang Bu terpaksa menangkis karena untuk mengelak tidak ada waktu lagi.
Saking marahnya ia mengerahkan tenaga dalam tangkisannya dan......
untuk kedua kalinya tubuh Kong Ji terlempar.
Kali ini ia terlalu keras terlempar, sampai tubuhnya bergulingan dan kepalanya terbentur batu-batu karang.
Baiknya ia sudah bertubuh kebal sehingga hanya mukanya saja babak belur dan berdarah, kalau tidak tentu kepalanya akan pecah.
Akan tetapi ia dapat bangun lagi dengan cepat dan melarikan diri.
"Iblis, jangan lari!"
Tiang Bu mengejar lagi.
Akan tetapi Kong Ji yang sudah tak dapat melihat jalan ke luar, mulai merasa takut kepada puteranya sendiri.
Rasa takut membuat ia dapat lari cepat bukan main.
Terpaksa Tiang Bu mengerahkan ginkangnya untuk mengejar lebih cepat lagi sampai Kong Ji tiba di tepi pantai yang amat curam, penuh batu-batu karang.
Tiang Bu takut kalau Kong Ji dapat melarikan diri ke laut, maka ia cepat memungut batu karang kecil dan menyambit.
Mendengar suara angin sambaran batu, Kong Ji mengelak, akan tetapi ia tidak mengira bahwa batu ke dua yang amat kecil sehingga tak menerbitkan suara datang menghantam belakang lututnya, membuat ia terjungkal roboh, tak kuasa mengelak lagi.
Sebelum ia dapat bangkit berdiri, Tiang Bu sudah berada di dekatnya dan pemuda itu menginjak punggung Kong Ji dengan kakinya.
"Kau hendak pergi ke mana sekarang?"
"Tiang Bu...."
Kong Ji terengah-engah.
"Tiang Bu... kau anak kandungku... kau lepaskanlah ayahmu ini dan aku bersumpah..... mulai sekarang takkan berlaku jahat lagi!!. aku bersumpah akan menjadi pertapa mensucikan diri....."
"Iblis, siapa percaya mulutmu? Bersiaplah untuk mampus!"
"Tiang Bu...... ingatlah, kalau tidak ada aku, kaupun tidak berada di dunia ini.......... aku betul-betul sudah bertobat........"
Bujuk rayu dan permintaan ampun ini sama sekali tidak mempengaruhi hati Tiang Bu yang sudah terlampau sakit oleh perbuatan-perbuatan "ayahnya? yang seperti iblis ini. ia membentak keras.
"Kau masih bisa bilang tentang tobat? Mengapa kau tidak ingat ketika kau mencemarkan ibuku? Ketika kau membunuh-bunuhi orang-orang tidak berdosa, ketika kau membuntungi lengan Bi Li? Kau harus membikin perhitungan dengan mereka itu di alam baka! Liok Kong Ji, bersiaplah kau untuk meninggalkan dunia ini!"
Tiang Bu mengerahkan tenaga dan injakannya makin kuat.
"Aahh..... aaaup.... ampun.... Tiang Bu...."
Tiang Bu tidak memperdulikan jeritan ini, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keren berpengaruh dari sebelah belakangnya.
"Tiang Bu, lepaskan dia!!"
Tiang Bu menengok dengan kaget dan alangkah herannya melihat Wan Sin Hong dengan muka pasti berdiri di belakangnya.
sikapnya berpengaruh dan tegang.
Di belakangnya datang anggauta-anggauta rombongan lainnya.
Saking herannya mengapa Sin Hong melarang dia membunuh penjahat itu.
Tiang Bu menurunkan kakinya dari punggung Kong Ji membuat penjahat itu dapat bernapas lagi.
Terengah-engah dan mengerang-erang seperti babi disembelih.
"Wan pek-pek, mengapa kau melarangku membunuh lblis ini?"
"Karena kau anaknya! Kau boleh melawan kejahatannya, akan tetapi kau tidak boleh membunuh dia begitu saja! Tak boleh kau mewarisi kekejian hatinya. Ingat, kau putera Gak Soan Li, seorang pendekar wanita berpribudi tinggi. Kalau kau membunuh dia dalam keadaan begitu, aku...... aku akan membencimu selama hidupku!"
Kata-kata Wan Sin Hong ini terdengar penuh perasaan dan berpengaruh sekali, membuat Tiang Bu mundur dan terkejut.
"Biarkan aku sendiri yang menamatkan hidupnya, karena sesungguhnya hal itu adalah kewajibanku semenjak aku masih muda dulu."
Akan tetapi pada waktu Wan Sin Hong berbicara dengan Tiang Bu dan semua orang memperhatikan dua orang tokoh ini, Liok Kong Ji sudah dapat melompat bangun lagi.
Melihat ia tak dapat mengharapkan keampunan lagi Kong Ji melarikan diri ke pinggir batu karang yang curam.
"Kong Ji, kau hendak lari ke mana?"
Sin Hong mengejar sambil mencabut pedangnya.
"Pak-kek-sin-kiam yang akan menamatkan hidupmu!"
Akan tetapi Kong Ji tidak rela mati di tangan Sin Hong.
Dengan nekat ia lalu melompat ke depan dan??..
terdengar air muncrat ke atas disusul oleh jerit mengerikan dari Liok Kong Ji, Wan Sin Hong dan kawan-kawannya lari ke pinggir batu karang, menjenguk ke bawah dan..........
pemandangan di bawah amat mengerikan hati.
Jauh di bawah, kurang lebih dua ratus meter, kelihatan Liok Kong Ji berkutetan dan bergumul mati-matian melawan puluhan ekor ikan hiu yang mengeroyoknya.
Baju dan kulitnya sudah habis dikoyak-koyak ikan-ikan buas itu dan salahnya dia melakukan perlawanan sehingga nyawanya agak lama melayang.
Saking bingung, takut dan sakitnya, tiba-tiba Liok Kong Ji tertawa bergelak-gelak.
Suara ketawanya mengandung tenaga khikang yang luar biasa, bergema di seluruh permukaan air laut seperti suara ketawa seorang iblis.
Akan tetapi suara ini adalah suaranya yang terakhir karena ia lalu lenyap diseret oleh ikan-ikan itu ke dasar laut untuk dijadikan rebutan sampai habis seluruh tubuh berikut tulang-tulangnya!
Sin Hong menarik napas panjang dan ketika ia menengok, ia meiihat Tiang Bu menutupi mukanya, berdiri bagaikan patung dengan muka pucat sekali.
Ia tahu bahwa pemuda ini pada saat terakhir masih insyaf bahwa manusia yang dikejar-kejar dan kemudian mendapatkan kematian secara begitu mengenaskan, betapapun jahatnya, adalah ayahnya sendiri.
Hal ini menyenangkan hati Sin Hong karena pemuda ini masih mempunyai watak membakti kepada orang tua.
Di samping rasa senang ini juga amat terharu sampai ia berdiri dan memeluk pundak Tiang Bu.
"Tiang Bu, pandanglah aku sebagai ayahmu. Terus terang saja, dahulu pernah aku suka kepada ibumu, rasa suka yang jauh berlainan dengan rasa suka dalam hati Kong Ji yang kotor."
Mendengar ini, Tiang Bu memeluk Wan Sin Hong dan menangis.
Sekali ini Tiang Bu menangis sedih, mencurahkan seluruh kesedihan hatinya karena ditinggal mati Bi Li dan karena mempunyai ayah yang demikian jahat.
"Tiang Bu, kepandaianmu tinggi dan kau masih muda. Masih luas dunia ini terbentang di bawah kakimu dan kau masih akan dapat melanjutkan riwayat hidupmu yang gemilang. Masih banyak kebahagiaan dapat kau capai. Mari kau ikut kami ke Kim-bun-to........."
"Tidak, pek-pek. Terima kasih banyak atas kebaikan hati pek-pek dan yang lain lain. Akan tetapi aku hendak kembali ke Omei-san......"
"Sesukamulah. Akupun dengan bibi dan adikmu akan kembali ke Luliang-san, dan kuharap saja kelak kau suka memberi bimbingan kepada Leng-ji."
"Tentu, pek-pek. Kalau sudah tiba masanya, biarlah siauwtit menurunkan apa yang telah siauwtit pelajari kepada adik Leng Leng."
Dengan terharu mereka lalu berpisah Tiang Bu lebih dulu meninggalkan pulau itu untuk kembali ke Omei-san, di mana ia akan bertapa menjadi orang alim, sesuai dengan janjinya kepada Bi Li.
Adapun Wan Sin Hong lebih dulu menghadiri pernikahan antara Ang Lian dan Ciu Lee Tai yang dilakukan dengan amat meriah.
Melihat Pek Lian yang sudah memotong pendek rambutnya, diam-diam Wan Sin Hong dan isterinya memuji kekerasan hati gadis ini.
Mereka adalah orang-orang berpengalaman, maka mereka dapat menduga apa yang telah terjadi antara Pek Lian den Tiang Bu, karena Ang Lian adalah seorang gadis yang tidak dapat menyimpan rahasia dan sudah menceritakan tentang cicinya itu.
"Cinta selalu memhawa korban,"
Kata Sin Hong menarik napas panjang.
"Biarpun ia diam saja, aku tahu bahwa Tiang Bu patah hati karena kehilangan Bi Li sehingga ia ingin kembali ke Omei-san untuk bertapa. Juga Pek Lian yang mencinta Tiang Bu, tentu telah patah hati karena penolakan pemuda itu sehingga bersumpah takkan menikah selama hidupnya dan hidup sebagai seorang laki laki. Mereka itu patut dikasihani, anak anak yang baik sekali mengalami nasib seburuk itu......"
Li Hwa tersenyum.
"Pek Lian memang patut dikasihani. Akan tetapi nasib orang siapa yang tahu? Kau juga dulunya sama sekali tidak pernah mengimpi akan berjodoh dengan aku, bukan? Nah, siapa tahu kalau-kalau Pek Lian kelak menemui jodohnya. Adapun tentang Tiang Bu........... belum tentu dia menjadi pendeta.........."
"Hee? Apa maksudmu kau bilang begitu? Mengapa kau begitu yakin nampaknya?"
Tanya Sin Hong sambil memandang wajah isterinya yang cantik.
"Kau mendekatlah agar aku dapat berbisik. Orang lain tak boleh tahu........."
Tersenyum karena sifat berahasia isterinya ini, Sin Hong mendekat.
Li Hwa menempelkan bibirnya di dekat telinga Sin Hong berbisik-bisik.
Wajah Sin Hong berobah.
Nampak gembira bukan main sampai ia memeluk isterinya, dipondongnya dan dibawa putar putar di dalam kamar.
"Bagus..........! Bagus.......... Ah, aku girang sekali.........!"
"Hush..... turunkan aku..... ribut-ribut kalau membikin kaget sepasang pengantin bagaimana?"
Tegur Li Hwa.
Apa yang dibisikkan oleh Li Hwa kepada suaminya?
Marilah kita mengikuti perjalanan Tiang Bu yang tanpa menunda-nunda lagi berangkat menuju ke Omei-san, tempat pertapaan mendiang guru-gurunya.
Ia sudah putus harapan, sudah hampa hatinya karena ditinggal pergi Bi Li untuk selamanya.
Apa artinya hidup lagi baginya?
Dia bukan seorang pengecut untuk menghabiskan hidupnya begitu saja akan tetapi iapun tidak ada nafsu lagi untuk hidup di dunia ramai.
Ia akan bertapa, memperdalam ilmunya, menanti ajal mencabut nyawanya dan membawanya bersatu kembali dengan Bi Li kekasihnya.
Sesampainya di puncak Omei-san, ia membersihkan gua tempat suhunya bertapa lalu mengatur sembahyangan secara sederhana.
Pertama-tama ia menyembahyangi arwah kedua orang gurunya, lalu arwah ibunya.
Tak lupa ia menyembahyangi arwah ayahnya, Liok Kong Ji, dan mendoakan supaya ayahnya itu mendapat pengampunan di alam baka.
Akhirnya ia bersembahyang untuk arwah Bi Li dan ia tak dapat menahan kesedihannya lagi, menangis di depan meja sembahyang seperti anak kecil.
"Bi Li, kalau kau ada kekuasaan, lekaslah ajak nyawaku bersamamu. Aku tidak kuat lagi hidup seorang drri di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini,"
Tangisnya sambil mengeluh panjang pendek.
Saking lelah dan duka, Tiang Bu jatuh pulas di depan meja, mendekam di atas tanah yang hangat dalam gua itu.
Dan Tiang Bu bermimpi.
Ia melihat Bi Li dengan pakaian serba putih sederhana namun membayangkan keindahan wajah dan bentuk tubuhnya, berjalan menghampirinya, dengan senyum manis dan mata berkaca-kaca Bi Li dengan lengan sebelah masih buntung dengan wajah yang agak kurus dan pucat, namun sepasang mata yang jernih dan indah masih menyinarkan cinta kasih yang amat mendalam.
"Tiang Bu, jangan berduka, aku sudah datang di sampingmu"
Demikian Bi Li berkata dengan suara merdu. Di dalam mimpinya. Tiang Bu merangkul gadis kekasihnya itu erat-erat.
"Bi Li, jangan kau tinggalkan aku lagi"
"Tidak Tiang Bu. aku takkan meninggalkanmu lagi"
Jawab Bi Li mesra.
Akan tetapi di dalam mimpinya, Tiang Bu melihat tubuh Bi Li terlepas dari pelukannya dan terbawa angin taufan lalu terjatuh ke dalam air laut yang bergelombang.
Datang ikan-ikan hiu mengeroyok Bi Li, persis seperti ketika tubuh Kong Ji digerogoti ikan-ikan hiu buas itu.
Ia mendengar Bi Li menjerit-jerit seperti Liok Kong Ji pula, akan tetapi anehnya jerit Bi Li ini bukan minta tolong seperti Liok Kong Ji melolong kemudian tertawa mengerikan, melainkan Bi Li memanggil-manggil namanya.
"Tiang Bu..........! Tiang Bu....! Sadarlah??.."
Dan Tiang Bu sadar dari mimpinya. Ataukah ia masih bermimpi? merasa tubuhnya dipeluk, kepalanya di atas pangkuan dan pundaknya digoyang-goyang. Terdengar suara Bi Li seperti dalam impian tadi.
"Tiang Bu...... sadarlah.... ahh. Tiang Bu, sudah lama aku menanti di sini, jangan kau tinggalkan aku.... Tiang Bu??."
Tiang Bu membuka matanya dan di bawah sinar lampu yang entah dari mana datangnya ia tak tahu, ia melihat.....
Bi Li duduk di atas tanah, memangku kepalanya dan gadis itu meneteskan air mata di atas mukanya.
Tiang Bu menggigit bibirnya sendiri.
Ia tidak berani bergerak atau mengeluarkan kata-kata karena khawatir kalau-kalau mimpi indah ini akan lenyap dan ia akan sadar mendapatkan dirinya seorang diri dalam gua.
Ia ingin menikmati mimpi bertemu dengan Bi Li ini selama mungkin.
Melihat Tiang Bu sudah membuka mata akan tetapi diam saja, Bi Li berkata.
"Tiang Bu, kenapa kau diam saja? Ini aku, Bi Li. Tidak senangkah kau melihat aku di sini??"
Tiang Bu kaget sekali ketika merasa betapa air mata yang menitik turun dari mata Bi Li itu membasahi pipinya, benar-benar, karena ketika ia meraba, pipinya sudah basah.
Serentak ia bangkit duduk dan memegang lengan Bi Li.
"Bi Li.......... tidak mimpikah aku..........?"
Bi Li menatap wajah kekasihnya dengan air mata berlinang, lalu menggeleng kepala.
"Tidak, Tiang Bu. Kita dalam keadaan sadar. Aku berada di sampingmu, di puncak Omei-san."
"Bi Li...."
Dada Tiang Bu berombak keras, wajahnya pucat seperti kertas saking tegangnya perasaan hatinya.
"Bukankah.......... bukankah kau mati dimakan ikan di laut Pek houw-to.....?"
Bi Li mengambil tangan Tiang Bu dan diciumnya tangan itu.
"Tidak, Tiang Bu. Aku tidak mati, aku masih hidup dan langsung ke sini untuk menantimu datang??."
"Bi Li..... ya Tuhan.... kau betul-betul masih hidup.....?"
Tiang Bu tiba-tiba menjadi lemas dan.....
jatuh pingsan di atas pangkuan Bi Li.
Kegirangan yang tiba-tiba, yang amat keras berlawanan dengan keputusasaan dan kedukaannya, merupakan pukulan hebat bagi Tiang Bu, membuatnya roboh pingsan untuk kedua kalinya.
Tadipun ketika ia tertidur, ia sebetulnya roboh pingsan sampai Bi Li datang dan menyadarkannya.
Tentu saja Bi Li menjadi bingung, hanya dapat memanggil-manggil nama Tiang Bu, memijit-mijit kepalanya dan menyiram mukanya dengan air mata.
Akhirnya Tiang Bu siuman kembali.
Begitu ia siuman, ia hanya dapat memeluk Bi Li dan mendekap kepala gadis itu di dadanya sambil meramkan mata dan memuji syukur kepada Thian Maha Pengasih.
Sampai lama keduanya berdiam seperti patung dalam keadaan bagitu, hanya terdengar Bi Li terisak perlahan dengan hati bahagia.
Setelah detak jantungnya normal kembali dan tenaganya putih pula, baru Tiang Bu melepaskan dekapannya, memandangi wajah kekasihnya, membelai rambutnya penuh kasih sayang, lalu bertanya.
"Aduh, Bi Li, kau benar-benar bisa membikin aku mati kegirangan. Bagaimana kau bisa berada di sini? Aku melihat kau jatuh ke dalam laut dan lenyap. Apakah ada jalan dari dasar laut menembus ke sini?"
"Panjang ceritanya, Tiang Bu. Dan yang tahu akan hal ini kiranya Pek Lian dan bibi Siok Li Hwa."
Kemudian, sambil menyandarkan kepalanya di dada Tiang Bu.
Bi Li menceritakan pengalamannya seperti yang diceritakan dalam bisik-bisik oleh Siok Li Hwa kepada suaminya, Wan Sin Hong.
Ternyata bahwa ketika Bi Li terseret oleh Liok Cui Kong jatuh ke dalam laut, kebetulan sekali lewat perahu yang ditumpangi oleh Pek Lian dan Siok Li Hwa.
Dua orang wanita ini sedang melepaskan kekesalan hati menunggu di pantai sambil sekalian meronda, kalau-kalau Liok Kong Ji akan melarikan diri dari pulau itu.
Melihat Bi Li terseret jatuh oleh Liok Cui Kong.
dua orang Wanita itu segera menolongnya dan membiarkan Liok Cui Kong habis dimakan ikan hiu.
Bahkan mereka cepat-cepat mendayung perahu itu ke daerah lain agar jangan melihat kengerian itu.
Melihat bahwa yang menolongnya Pek Lian, Bi Li lalu teringat akan sikap Pek Lian kepada Tiang Bu.
Ia berpikir bahwa Pek Lian memang jauh lebih cocok untuk menjadi jodoh Tiang Bu.
Gadis ini tidak hanya cantik jelita dan juga gagah perkasa, malah kedua tengannya masih lengkap, tidak buntung seperti dia.
Di depan Siok Li Hwa, secara terus terang ia berkata.
"Aku mohon kepada adik Pek Lian dan bibi Li Hwa, agar supaya hal diriku ini dirahasiakan dari siapapun juga. Aku ingin dianggap sudah lenyap dan mati."
"Eh. mengapa begitu, enci Bi Li?"
Tanya Pek Lian terheran. Bi Li memandang ke arah lengannya yang buntung.
"Sebetulnya aku malu masih harus hidup di dunia ini. Aku hidup hanya karena ingin membalas dendam. Sekarang Cui Kong si keparat sudah mampus, dan Kong Ji tinggal menanti saatnya saja. Aku minta bibi dan adik suka berjanji, rahasiakan bahwa aku masih hidup. Sanggupkah menolong aku orang malang ini??"
Pek Lian benar-benar tidak mengerti.
Akan tetapi Li Hwa yang sudah banyak pengalamannya, dapat menduga bahwa Bi Li tentu mengalami hal yang amat menyedihkan dan ingin dianggap mati oleh seorang tertentu.
Mungkin Tiang Bu orang itu.
Mengapa?
Ia belum tahu ketika itu.
Maka ia lalu memberi isyarat kepada Pek Lian dan menyanggupi permintaan Bi Li.
"Selanjutnya kau hendak ke manakah? Atau hal ini juga dirahasiakan dari kami?"
Bi Li menjadi merah mukanya.
"Memang aku orang sengsara ji-wi sudah menolong nyawaku masih saja aku memberi beban kepada ji-wi. Biarlah ji-wi ketahui bahwa aku hendak pergi ke Omei-san dan bertapa di sana sampai aku mati."
Setelah berkata demikian, Bi Li lalu menggunakan sebuah perahu pergi dari situ.
Ia benar-benar langsung menuju ke Omei-san dan menanti Tiang Bu di sana.
Ia hanya mempunyai dua pilihan.
Tiang Bu datang dan betul-betul pemuda itu tidak mau menerima Pek Lain dan memilih menjadi pertapa itu berarti pemuda itu betul-betul mencintanya sepenuh hati.
Kalau Tiang Bu tidak datang dan hidup bahagia dengan wanita lain, ia rela menjadi pertapa di bukit itu.
Dan ternyata Tiang Bu datang, bahkan menyembahyangi arwahnya!
Dapat dibayangkan betapa bahagia hatinya.
Demikianlah penuturan Bi Li kepada Tiang Bu, juga penuturan Li Hwa kepada Sin Hong tentu saja dengan cara lain dan pandangan lain.
"Bi Li,"
Kata Tiang Bu.
"Mengapa kau lakukan semua itu? Mengapa kau ingin pergi meninggalkan aku dan membiarkan aku merana dan berduka, mengira kau sudah tewas??"
Sambil menyembunyikan mukanya di dada kekasihnya, Bi Li berkata.
"Aku memberi kesempatan kepadamu memilih Pek Lian, biar aku menjadi pertapa yang selalu mendoakan untuk kebabagiaanmu di sini......"
Tiang Bu mencium kepala kekasihnya.
"Bi Li, jadi kau...... kau waktu itu cemburu..........?"
Tanpa mengangkat muka, Bi Li berkata lirih.
"Cemburu sih ada sedikit, akan tetapi terutama untuk menguji sampai di mana besarnya cinta kasihmu, apakah sebesar cinta kasihku kepadamu??.."
Tiang Bu hanya dapat mendekap kepala kekasihnya dalam kebahagiaan yang hanya dia sendirilah yang tahu.
Sementara itu, bulan muncul dari balik awan, berseri menyaksikan pertemuan kembali antara dua orang kekasih yang penuh kasih mesra itu.
Angin gunungpun bersilir, menerjang memasuki gua untuk membelai dua orang muda remaja yang sedang dibuai asmara itu.
Sampai di sini tamatlah cerita Pek lui-eng ini dan berakhirlah pula kejahatan-kejahatan dan kekejian dari Liok Kong Ji dan kaki tangannya.
Thian Maha Adil, betapa pun pandai orang seperti Liok Kong Ji itu bermuslihat, akhirnya orang jahat akan menemui hukumnya.
baik di dunia maupun di akhirat.
Inilah kodrat Tuhan, inilah keadilan Thian, pasti dan tak dapat dibantah pula, seperti pastinya siang dan malam.
Oleh karena itu, setiap orang manusia harus selalu mengemudi nafsunya, harus selalu menguasai dirinya, menjauhkan kejahatan sedapat mungkin, dan memupuk kebajikan sebanyak mungkin, kalau dia hendak mendapat kebahagiaan dinia akhirat!
TAMAT (
http.//www.zheraf.net
Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 12
Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 3