Ceritasilat Novel Online

Pedang Sinar Emas 12

Eps 12 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.

apa jadinya kalau di tinggalkan?

Dia akan kelaparan atau akan terjatuh ke dalam tangan orang yang takkan membiarkan saja wanita cantik ini tidak diganggu.

Pula, ia sendiri sudah tidak punya apa apa, diusir mentah mentah oleh keluarga Thio, karena perempuan celaka ini, pikirnya.

Tiba tiba ia mendapat pikiran yang amat baik.

Mengapa tidak?

Aku dapat membalasnya, juga menolongnya, dan menolong diriku sendiri.

Keng Ki tersenyum.

"Tidak, Kui Lian. Kau tidak seharusnya mati, kau masih muda dan kau harus ingat akan.... anak di kandunganmu,"

Katanya sambil menarik bangun Kui Lian dengan halus. Kui Lian merasa tertusuk hatinya diingatkan akan kandungannya, maka ia menangis tersedu sedu.

"Sudahlah, mari kau ikut saja dengan aku, aku akan mencarikan tempat tinggal yang baik untukmu,"

Keng Ki menghibur "Gan twako, kalau aku tidak mengingat akan.... kandunganku ini.... aku lebih baik mati menyusul ayah bundaku...."

"Hushh.... sudahlah, adikku yang baik. Jangan putus asa, dunia masih terang, hidup masih panjang. Biadab orang orang jahanam seperti keluarga Thio terutama sekali Tho Sui pemuda keparat itu, cepat cepat mampus dimakan iblis di hari tahun baru ini. Angkat muka, Kui Lian, musim semi telah tiba, kau tidak boleh bermuram durja, rezeki akan pergi menjauhi kita kalau kita tidak menyambutnya dengan wajah berseri."

Kui Lian merasa berterima kasih sekali. Alangkah baiknya hati Keng Ki Sambil memegang tangan pemuda itu erat erat, ia melangkah maju, penuh harapan untuk masa depan.

"Gan twako, hidupku selanjutnya hanya mengandalkan kepadamu saja,"

Katanya lemah.

"Kau tertimpa bencana oleh karena aku, dan kau tidak sakit hati malah kau bersiap menolongku.... alangkah mulia hatimu...."

"Aah, jangan berkata demikian. Kita kan senasib? Asal selanjutnya kau taat kepadaku, ku tanggung kau akan mendapat tempat dan kedudukan yang baik."

Maka berjalanlah dua orang itu, di hari tahun baru, di tempat sunyi sepi, menuju ke timur ke arah matahari, menyongsong terbitnya raja sehari.

Kui Lian yang hatinya masih terluka oleh karena dikecewakan kepercayaannya terhadap manusia itu, kembali menerima pukulan batin yang hebat.

Tadinya ia percaya penuh kepada Keng Ki, menggantungkan harapannya kepada pemuda ini yang ia anggap seorang yang semulia mulianya.

Akan tetapi apakah yang terjadi?

Ketika mereka tiba di kota Kun san, Keng Ki bilang bahwa dia mempunyai seorang bibi di kota ini.

Dengan segala senang hati Kui Lian mengikuti Keng Ki mampir di rumah bibinya itu.

Ternyata bibi dan Keng Ki itu seorang janda yang sudah setengah tua, ramah tamah sekali, agak genit, rumahnya teratur rapi dan bersih, penuh bunga bunga dan di situ Kui Lian bertemu dengan empat orang wanita muda yang cantik cantik pulasan.

Sikap mereka yang genit, bedak dan gincu tebal itu membuat Kui Lian merasa tidak enak dan tidak senang.

Akan tetapi oleh karena bibi Keng Ki itu menyatakan bahwa empat orang wanita itu adalah anak anaknya, Kui Lian menelan kesebalannya dan bersikap halus dan ramah.

Di luar pengetahuan Kui Dan, Keng Ki telah main mata dengan perempuan setengah tua itu.

Perempuan itu tersenyum senyum, kemudian mempersilahkan Kui Lian mengaso di ruangan dalam.

"Mengasolah dulu, adikku. Aku ada urusan penting sekali di sebuah kantor di kota ini, urusan pembelian rumah. Kalau sudah selesai, tentu aku akan datang menjemputmu."

Kui Lian yang sudah percaya penuh kepada pemuda ini, tentu saja menurut, bahkan diam diam ia berdoa semoga pemuda itu segera berhasil dalam usahanya mencari rumah tinggal.

Dan dia merasa senang diperbolehkan mengaso di dalam sebuah kamar seorang diri, di mana ia baringkan tubuhnya yang lelah dan sebentar saja ia tertidur nyenyak.

Hari telah sore ketika Kui Lian terjaga dari tidurnya, ia terjaga karena suara ribut ribut dan ketika ia membuka matanya, ia melihat "bibi"

Tadi sudah berdiri di situ dan nampak marah marah.

"Hayo bangun! Enak saja kau sedari pagi tidur sampat sore. Jangan kira aku membelimu hanya untuk memeliharamu dan kau boleh malas malasan di sini. Lekas kau bersolek, itu bedak, itu yanci dan pakaianmu itu ganti dengan ini. Sebentar lagi gelap dan tamu tamu mulai datang."

Karuan saja Kui Lian melongo.

Dia adalah seorang wanita berasal dari dusun, kemudian hidup di dalam rumah keluarga Thio, tidak pernah keluar.

Mana ia tahu bahwa ia telah tersesat ke dalam rumah pelcuran?

Mana ia dapat menduga bahwa wanita wanita yang genit tadi adalah pelacur pelacur dan bahwa bibi ini bukan lain adalah seorang pedagang wanita?

Mana ia tahu bahwa Keng Ki telah menjualnya kepada "bibi"

Ini? "Bibi, apa.... apa artinya ini....?"

Tanyanya gagap.

"Bibi. , bibi.... siapa bibimu? Mulai sekarang kau harus menyebutku Cia ma, tahu? Dan kau jangan pura pura tarik muka suci dan terheran heran. Aku membelimu dari orang muda itu seharga tiga puluh tael perak bukan untuk main main. Kau harus mulai melayani tamu malam ini juga!"

Kui Lian menjadi pucat sekali, matanya berkunang dan ia tentu roboh kalau tidak lekas lekas memegang pinggiran tempat tidur ia sekarang tahu, walaupun masih menduga duga.

"Apa....? Apa artinya ini....? Mana Gan twako? Bukankah dia mencari rumah dan sebentar akan datang ke sini menjemputku?"

Cia ma menjadi marah, ia melangkah maju dan menarik tangan Kui Lian dengan paksa, menurunkannya.

"Jangan banyak tingkah! Apa betul betul kau masih berpura pura lagi? Bukankah kau bisa melacur di rumah keluarga hartawan? Masih berpura pura seperti seorang gadis suci saja lagi. Lekas bereskan dirimu, lalu bereskan pembaringan ini. Kau bikin kusut saja tidur sehari penuh. Atau kau mau dicambuk atau kuseret ke pengadilan karena hendak menipuku untuk tigapuluh tael perak?"

Benar benar Kui Lian terkejut dan bingung.

"Tidak!"

Katanya menggeleng geleng kepala, mukanya pucat dan kedua tangan diangkat ke atas menahan mulut yang hendak menjerit jerit.

"Tidak.... aku tidak tahu.... apa yang kaumaksudkan. Aku.... aku tidak mau tinggal di sini lagi.... aku mau pergi.... mencari Gan twako. Kau perempuan jahat!"

Melihat bahwa benar benar Kui Lian ketakutan dan agaknya tidak berpura pura, Cia ma menjadi agak sabar.

Mungkin aku telah dibodohi oleh bangsat tadi.

Ia membeli diri Kui Lian untuk tigapuluh tael perak dan mendengar dari Keng Ki bahwa Kui Lian adalah seorang bunga raja kelas tinggi yang pernah mejadi rebutan di rumah seorang hartawan besar sehingga gadis ini diserahkan kepadanya.

"Eh..... nona, benar benarkan kau tidak tahu urusannya? Pemuda tadi telah menjual dirimu kepadaku. Ini suratnya! Kau bisa baca? Nah, kau lihat sendiri, ini surat penjualannya. Kau sudah menjadi milikku yang syah. Aku membeli dirimu karena mendengar bahwa kau sudah biasa dengan pekerjaan ini. Kau harus melayani tamu tamuku."

"Tidak, aku.... tidak sudi, lebih baik kau bunuh aku."

Cia ma mengerutkan keningnya.

"Eh, kenapa begitu? Kalau kau tidak mau bekerja, mana kembalikan uangku tigapuluh tael perak, ditambah sewa kamar untuk tidurmu tadi!"

"Dari mana aku dapat uang tigapuluh tael perak?"

Kata Kui Lian, hatinya berdarah, lukanya merekah lagi karena baru sekarang terbuka matanya bahwa Keng Ki tidak tebth baik danpada keluarga Thio!

"Kalau tidak punya uang, kau harus bekerja.

Kau harus mengerti.

Aku berhak memaksamu dengan surat penjualan ini dan tidak seorangpun di dunia ini dapat melarangku."

Muka Cia ma kelihatan begitu beringas dan ganas sehingga Kui Lian menjadi ketakutan.

"Nah, itu. Ada tamu tamu datang, lekas kau berhias!"

Kata Cia ma menoleh ke arah pintu.

"Eh, Cia ma....! Di mana kau? Mana bunga baru yang kau janjikan?"

Terdengar suara keras seorang pria dan disusul oleh suara ketawa laki laki lain.

"Tunggu, Teng kongcu.... aku sudah dapat. Tunggu dan duduklah sebentar!"

Kata Cia ma ke arah luar. Kemudian ia menoleh kepada Kui Lian dan berbisik.

"Lekas kau berdandan. Rejeki nomplok! Yang datang itu adalah putera tihu, Teng kongcu!"

Akas tetapi Kui Lian sudah begitu ketakutan sehingga tiba tiba sambil terisak ia mendorong Cia ma ke samping, kemudian melarikan diri keluar.

"Heii....tunggu.... tangkap dia.... penipu! Hayo kembalikan uangku....!"

Cia ma mengejar dari belakang.

Dua orang laki laki muda yang menanti di ruangan depan, melihat seorang gadis cantik dengan rambut awut awutan berlari keluar dikejar oleh Cia ma, menjadi tertarik.

Pemuda tinggi kurus yang tadi bicara, yaitu Teng kongcu putera tihu, cepat mengulur tangan dan menangkap lengan Kui Lian yang berlari di depannya.

"Lepaskan aku....! Lepaskan aku....!"

Kui Lian meronta ronta. Akan tetapi oleh karena Cia ma berteriak teriak supaya pemuda itu jangan melepaskannya, Teng kongcu bahkan menarik dan memeluk tubuh Kui Lian sambil tersenyum senyum.

"Cia ma, kembang mawar hutan yang liar ini baik sekali!"

Ia memuji. Akan tetapi, sebelum Cia ma dapat menangkapnya tiba tiba Kui Lian menggunakan giginya yang putih dan kuat untuk menggigit tangan Teng kongcu sekuatnya.

"Aduuuhhh! Benar benar kuda betina liar....!"

Pemuda itu berteriak kesaktian dan terpaksa melepaskan pelukannya, ditertawai oleh kawannya. Kui Lian berlari terus keluar dan ke jalan. Cia ma mengejar ngejar sambil memaki maki.

"Bangsat perempuan.... Tangkap, tangkap. Dia menipu uangku.... Tolong bantu tangkap!"

Beberapa orang menghadang dan akhirnya Kui Lian tertangkap, dijambak rambutnya yang terurai dan diseret seret oleh Cia ma.

"Aku beri dia tigapuluh tael perak dan dia hendak lari. Banar benar penipu kecil!"

Cia ma menerangkan kepada orang orang yang menonton di pinggir jalan.

Kebetutan sekali pada saat itu dari selatan datang seorang kakek yang amat aneh pakaiannya.

Tambal tambalan bermacam macam warna.

Potongan pakaian dan rambutnya seperti tosu.

Tangan kanan memegang kebutan, tangan kiri memegang tongkat dan sepanjang jalan ia berteriak teriak.

"Gwa mia....! Gwa mia....? Nasib manusia di tangan Thian akan terapi usaha manusia dapat mengurangi kesengsaraan dan menambah kebahagiaan! Gwa mia.... Gwa mia....!"

Ternyata ia seorang tosu tukang gwa mia, yaitu tukang peramal nasib orang.

Jenggotnya yang panjang putih itu melambai lambai tertiup angin di depan dadanya, matanya jernih dan tajam seperti mata kanak kanak, bibirnya selalu tersenyum ramah.

Melihat ribut ribut antara Cia ma dan Kui Lian, tosu tukang gwa mia ini menghentikan teriakan teriakannya yang menawarkan pekerjaannya, lalu melangkah menghampiri Cia ma yang masih menyeret nyeret rambut Kui Lian.

"Heh, calon mayat busuk. Kau hidup tinggal tiga bulan lagi, tidak mencari jalan terang, bahkan memupuk dosa! Nyonya muda ini sedang mendapat kurnia Thian, mengandung seorang anak laki laki, bagaimana kau berani menyeret nyeretnya seperti itu?"

Biarpun suara ini halus dan mukanya tetap ramah, Cia ma kaget setengah mati sehingga ia melepaskan jambakan tangannya pada rambut Kut Lian yang hitam dan panjang.

Kui Lian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tosu itu sambil menangis, Cia ma memandang kepada tosu dengan mata melotot, kemudian ia bengong melihat wajah tosu ini, mati kutunya ia tidak berani berlaku galak, karena wajah kakek itu benar benar mempunyai pengaruh yang besar sekali.

Tubuh Cia ma mulai gemetar, apalagi kalau ia ingat kata kata kakek ini bahwa usianya tinggal tiga bulan.

"Dia.... dia telah menipu uangku tigapuluh tael. Aku membelinya akan tetapi ia hendak melarikan diri. Harap totiang suka pertimbangkan. Orang seperti aku yang miskin ini kalau ditipu tigapuluh perak, bukankah akan menjadi bangkrut?"

Tosu itu mengulurkan tangannya yang memegang kebutan kepada Cia ma.

"Nah, ini terimalah kembali uangmu. Aku tebus nyonya muda ini,"

Katanya.

Cia ma memandang dan dengan hati girang menerima tiga potong perak dari sepuluh tael sebuah.

Tadinya ia sudah merasa jengkel dan khawatir sekali melihat keadaan Kui Lian, takut kalau kalau kali ini ia rugi.

Tentu saja ia merasa girang mendapatkan uangnya kembali dan terlepas dari gadis yang nekat itu.

"Terima kasih, totiang, terima kasih,"

Katanya tersenyum senyum dan segera pergi dari situ, takut kalau kalau tosu itu berubah ingatan dan minta kembali uangnya.

Akan tetapi tidak demikian dengan orang orang yang berada di situ.

Bukan kejadian biasa seorang tosu aneh "membeli"

Kembali seorang gadis dari tangan tengkulak pelacur.

Bahkan peristiwa yang luar biasa, sejak manusia tercipta sampai sekarang.

Maka banyaklah orang di situ berkumpul, hanya untuk melihat apa yang selanjutnya akan terjadi dengan nona dan tosu itu.

Cia ma sudah dilupakan orang seperti seorang pelaku yang sudah menghilang di balik layar.

"Anak, kau sudah bebas. Pulanglah kembali ke tempat asalmu,"

Kata tosu itu sambil mengipas ngipas lehernya dengan kebutan. Mendengar kata kata ini, Kui Lian yang masih berlutut itu tiba tiba menangis sedih.

"Totiang, dari mana tempat asalku kalau bukan alam baka? Kalau totiang menyuruh aku pulang kembali, bunuh saja aku...."

"Eh, eh, payah aku....!"

Tosu itu tertawa.

"Apa kati tidak punya rumah? Tidak punya orang tua atau keluarga?"

Kui Lian menggeleng kepala.

"Aku seorang yatim piatu, ayahku kesengsaraan, ibuku penderitaan, totiang sudah menebus dan membeli diriku berarti aku milik totiang, terserah hendak totiang bawa ke mana."

Tosu itu menggeleng geleng kepalanya.

"Anak baik, mari kau ikut padaku!"

Tosu itu lalu mengulurkan tongkatnya yang dipegang oleh Kui Lian.

Aneh sekali, begitu tangan gadis itu memegang ujung tongkat, ia merasa tubuhnya kuat.

Tadi ia merasa lemas sekali, akan tetapi tongkat itu seakan akan mengalirkan hawa hangat yang menggetarkan tubuhnya dan mengusir kelelahan, sebaliknya mendatangkan tenaga.

Tosu itu lalu berjalan, diikuti oleh Kui Lian yang masih memegangi tongkat.

"Bandot tua, kau yang sudah mau mampus ini masih tidak tahu malu menginginkan diri seorang perempuan muda? Gadis itu calon milikku!"

Tiba tiba terdengar bentakan dan dua orang muda tahu tahu sudah melompat menghadang di depan tosu itu.

Mereka ini bukan lain adalah Teng kongcu dan kawannya, seorang tukang pukul dan ahli silat di Kun san yang selalu berada di dekat Teng kongcu sebagai pelindung dan pelaksana tugas tugas kasar.

Tukang pukul yang masih muda itu menyeringai dan menghampiri tosu tukang gwa mia itu dengan sikap mengancam, sedangkan Teng kongcu lalu menyambar tangan Kui Lian, hendak ditariknya.

Kui Lian meronta dan membetot tangannya yang terpegang, dan....

Teng kongcu berteriak, tubuhnya terpelanting sampai jauh.

Melihat majikannya terpelanting dan terbanting di tanah berteriak teriak mengaduh, tukang pukul itu menjadi marah sekali, mengira bahwa Kui Lian telah memukul roboh majikannya.

"Anjing betina liar, berani kau memukul kongcu?"

Bentaknya dan tangan kanannya diulur untuk menjambak rambut Kui Lian yang masih terurai dan awut awutan.

Karena ngeri dan takut menghadapi siksaan tukang pukul yang marah marah itu, Kui Lian mengangkat tangan kiri melindungi kepalanya, sedangkan tangan kanannya tetap memegang ujung tongkat, karena ia tidak mau berpisah dengan kakek penolongnya.

Tangan tukang pukul yang mencengkeram itu bertemu dengan tengan yang halus dari Kui Lian dan....

terdengar suara keras.

"krak"

Lalu tubuh tukang pukul itu terlempar.

Sambil memegangi lengan kirinya yang ternyata patah tulangnya, tukang pukul itu meringis ringis, akan tetapi kini menjadi jerit menghadapi gadis yang sekali tangkis dapat mematahkan lengan tangannya itu.

Kui Lan tidak mengerti, bahkan tidak mengira sama sekali apa yang telah terjadi.

Tidak mengerti mengapa Teng kongcu dan tukang pukul nya terpelanting dan roboh setelah menyentuhnya.

"Anak yang baik, mari kita pergi, di sini banyak lalat busuk,"

Kata tosu itu perlahan lalu menarik tongkatnya dan Kui Lian mengikutinya dari belakang, berpegang pda ujung tongkat.

Orang orang hanya memandang dengan mata terbelalak dan kini semua orang memandang Kui Lan dengan kagum, mengira bahwa gadis itu adalah seorang yang tiba.

Karena ini tak seorang pun berani mengkuti kakek dan gadis itu sehingga sebentar saja mereka telah lenyap di satu tikungan jalan.

Tak lama kemudian, datang Cia ma berlari lari dan memaki maki.

"Celaka.... tosu siluman.... dia telah menyihirku."

Ketika semua orang datang bertanya, ia memperlihatkan tiga gumpal tanah di tangannya sambil memberi penjelasan.

"Dia membeli gadis itu tiga puluh tael perak, akan tetapi lihat! Ketika sampai di rumah potongan perak itu berubah menjadi tanah. Mana orangnya? Tangkap! Aku harus menyeretnya ke pengadilan."

Akan tetapi ketika Cia ma mengejar, diikuti oleh banyak orang yang ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kakek dan gadis itu sudah lenyap.

Kita tinggatkan dulu Kui Lian, gadis yatim piatu yang selalu ditimpa kemalangan itu dan mari kita menengok ke lain tempat, di kota Tit le.

Telah berpuluh tahun di kota ini tinggal keluarga Song yang amat terkenal, apalagi di kalangan dunia kang ouw, keluarga Song ini amat disegani.

Siapakah orangnya yang tidak mengenal kakek tua Song Bun Sam yang berjuluk Thtan te Kiam ong (Raja Pedang Langit dan Bumi)?

Naga Sakti tentu berkeluarga naga sakti pula, demikian kata kalangan kang ouw.

Di rumah kakek sakti ini juga tinggal orang orang yang berkepandaian tinggi.

Mendiang isteri kakek ini dulu juga seorang pendekar wanita gemblengan, bernama Can Sian Hwa dan ilmu pedang serta ginkangnya sudah tersohor di seluruh kolong langit!

Sekarang yang singgah di rumah besar dari pendekar tua ini adalah putera tunggalnya yang bernama Song Tek Hong, juga seorang ahli pedang yang telah mewarisi kepandaian ayahnya.

Di samping putera ini tinggat pula mantu perempuannya yang dalam hal kelihaiannya tidak kalah oleh Song Tek Hong sendiri, karena mantu perempuan ini adalah Ong Siang Cu, murid mendiang Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu, tokoh seperti iblis dari dunia selatan.

Ong Sang Cu ini sebetulnya adalah anak dari Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee.

Selain anak dan mantu yang termasuk ahli ahli silat kelas tinggi ini, masih ada lagi cucu tunggal dari Thian te Kiam ong Song Bun Sam, yakni Song Bun Hui, puteri dari Song Tek Hong.

Suami isteri yang saling mecinta ini ternyata hanya mempunyai seorang anak saja.

Oleh karena itu tidak mengherankan apabila ayah bundanya, juga kakeknya, amat sayang kepadanya dan amat memanjakan sehingga Bi Hui menjadi seorang anak yang manja sekali.

Kini ia telah berusia limabelas tahun, cantik jelita, periang dan keras hati seperti ibunya, bagaikan setangkai bunga mawar hutan yang bebas liar sukar didekati.

Selain puteranya Song Tek Hong, Thian te Kiam ong Song Bun Sam masih mempunyai seorang puteri yang tidak kalah lihainya.

Puteri ini bernama Song Siauw Yang, sudah menikah bahkan sudah mempunyai seorang putera yang sudah hampir dewasa, sebaya dengan Bi Hui.

Song Siauw Yang menikah dengan seorang sasterawan bernama Liem Pun Hui dan putera tunggal mereka ini diberi nama Liem Kong Hwat, Keluarga Liem ini tinggal di kota Liok Can, tak jauh dari Tit le.

Pada waktu itu, keluarga Liem juga berada di Tit le karena mereka ini mendengar bahwa kakek Song menderita sakit berat.

Memang kakek Song Bun Sam yang gagah perkasa ini betapapun lihai dan saktinya, harus mengaku kalah terhadap usia tua.

Ia sudah berusia hampir tujuhpuluh tahun.

Melihat kakek ini menderita sakit, anak cucunya datang menengok dan sampai sepekan keluarga Liem tinggal di rumah besar di Tit le itu.

Pada suatu hari, keluarga besar ini sedang bercakap cakap di luar sedangkan kakek Song beristirahat dan tidur nyenyak sehingga para anak cucunya berkesempatan mengobrol di luar, datanglah seorang kakek yang tua sekali, pakaiannya tambal tambalan, tangan kanan memegang tongkat, tangan kiri menuntun seorang bocah laki laki berusia kurang lebih empat tahun.

Di punggungnya terselip sebatang hudtim (kebutan pertapa ) yaitu sebuah kebutan yang dipergunakan sebagai alat pengusir lalat.

Yang sedang mengobrol di luar adalah Song Tek Hong suami isteri, Liem Pun Hui suami isteri dan Song Bi Hui.

Liem Kong Hwat tidak nampak karena pemuda ini sedang mendapat giliran menjaga kakeknya dengan para pelayan.

Pemuda ini memang amat sayang kepada kakek yang ia kagumi lebih daripada ia mengagumi ayah bunda atau orang orang lain.

Melihat kakek yang keadaannya seperti tosu ini, Song Tek Hung, Song Siauw Yang, dan Ong Siang Cu terkejut.

Tiga orang gagah ini sudah kenyang akan pengalaman di dunia kang ouw dan mereka sekali lihat saja dapat membedakan antara orang biasa dan aneh.

Dan keadaan kakek yang datang ini benar benar aneh.

Sukar sekali untuk menaksir usianya karena wajahnya masih kemerah merahan dan matanya seperti mata kanak kanak, akan tetapi jenggotnya yang putih sudah sampai di perut panjangnya.

Inilah kakek tukang gwa mia yang telah menolong Kui Lian lima tahun yang lalu!

Dia tersenyum senyum melihat orang orang setengah tua yang gagah gagah itu dan memandang kagum kepada Bi Hui yang cantik jelita dan juga membayangkan sifat gagah perkasa.

Kemudian ia mengangguk angguk.

"Hebat.... hebat.... di kolong langit ini mana ada keluarga yang lebih hebat daripada keluarga Song?"

Katanya seorang diri. Song Tek Hong yang dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang luar biasa, segera bangun dari duduknya, menyambut kakek itu dengan sikap hormat, menjura dalam lalu berkata.

"Boanpwe mohon tanya, siapakah locianpwe dan kehormatan apakah yang locianpwe hendak berikan kepada kami keluarga Song?"

Kakek itu tertawa bergelak, lalu menunduk memandang kepada bocah yang digandengnya.

"Beng Han, kaulihat dan dengar, buka telinga dan mata baik baik dan kau akan dapat membedakan orang gagah dan orang busuk di dunia ini. Di depanmu berdiri keturunan orang gagah yang patut dihormati, seorang anggota keluarga hebat, maka kau kubawa ke sini."

Bocah berusia empat tahun lebih itu mendengar kata kata ini, menujukan pandang matanya kepada Song Tek Hong dengan tajam penuh selidik, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut.

"Teecu Thio Beng Han yang bodoh mohon pimpinan lo enghiong....."

Suaranya kecil dan merdu akan tetapi nyaring sekali.

Melihat ini, sekaligus timbul rasa suka di hati Song Tek Hong.

Dia tidak mempunyai putera, hanya seorang anak perempuan, maka melihat anak ini, ia merasa kagum sekali diangkatnya anak itu berdiri.

"Anak baik, bangunlah."

Sementara itu, kakek tua itu menghadapi Tek Hong dan berkata, suaranya seperti wajahnya, ramah.

"Sicu, aku ingin sekali bertemu dengan Thian te Kiam ong Song Bun Sam. Sampaikan bahwa aku Koai Thian Cu tukang gwa mia dari selatan datang untuk menyampaikan hormatku."

Nama Koai Thian Cu sama sekali tidak terkenal.

Biarpun Song Tek Hong seorang yang sudah banyak pengalaman dan amat terkenal di dunia kang ouw, namun ia belum pernah mendengar nama Koai Thian Cu ini.

Maka ia mengerutkan keningnya dan menjawab.

"Maafkan, locianpwe. Ayah sidang menderita sakit oleh karena itu kiranya tidak mungkin dapat menyambut tamu. Harap locianpwe suka maafkan dan sudi datang lain kali saja kalau ayah sudah sehat. Kecuali kalau locianpwe suka boanpwe mewakili ayah menyambut locianpwe."

"Mana bisa lain kali? Lain kali Thian te Kiam ong sudah tidak berada di dunia lagi. Apakah kau tidak suka memberi tahu tentang kedatanganku kepadanya?"

"Harap locianpwe sudi memaafkan. Ayah sedang tidur dan boanpwe tidak berani mengganggu."

"Kau betul, sicu. Bakti adalah dasar daripada segala kebajikan di dunia ini. Akan tetapi, keperluanku ini penting sekali dan bukan hanya penting untukku, bahkan penting untuk ayahmu sendiri. Lihat, tak lama lagi tentu dia mencariku!"

Baru saja kata kata ini diucapkan, dari dalam muncul Liem Kong Hwat. Pemuda ini berkata kepada Tek Hong.

"Paman, kong kong minta supaya tamu yang datang dipersilahkan menghadap ke dalam, langsung ke kamarnya."

Karuan saja Tek Hong menjadi melongo dan ia makin merasa kagum kepada kakek ini.

Sambil membungkuk bungkuk ia mempersilahkan Koai Thian Cu masuk, lalu mengiringkannya ke kamar ayahnya.

Koai Thian Cu dengan sikap acuh tak acuh berjalan sambil menggandeng tangan bocah yang bernama Thio Beng Han itu.

Di dalam kamarnya, kakek Song Bun Sam rebah terlentang.

Wajahnya yang masih nampak gagah itu pucat, akan tetapi matanya masih bersinar tajam.

Napasnya agak berat akan tetapi tidak sediktpun wajahnya membayangkan kesesalan hati, tanda bahwa ia menerima penderitaan jasmaninya dengan rohani yang sehat.

Pendengaran kakek ini masih tajam sekali, ia mendengar kedatangan orang dan menoleh pelahan, lalu tersenyum ketika melihat masuknya seorang kakek aneh yang diikuti oleh puteranya.

"Sahabat, kepandaianmu coan in (mengirim suara) mengingatkan aku kepada mendiang Lam hai Lo mo,"

Kata kakek Song sambil bangun duduk dan memberi hormat. Tosu itu tertawa, gema suaranya memenuhi kamar itu.

"Ha, ha, ha, Thian te Kiam ong, memang sudah dekat sekali dugaanmu itu. Lam hai Lo mo adalah suhengku dan aku sendiri bernama Koai Thian Cu."

Dengan suara tegas dan sikap keren kakek yang sedang sakit itu berkata kepada puteranya.

"Tek Hong, bersihkan lian bu thia (ruang main silat), biar aku menerima pelajaran dari Koai Thian Cu taihiap."

"Ha, ha, ha, Thian te Kiam ong sudah tua masih berhati muda, semangat bertempurnya masih berkobar kobar. Sungguh mengagumkan! Akan tetapi biarpun aku sute dari Lam hai Lo mo, aku bukan termasuk seorang lo mo (iblis tua). Bukan, bukan, Thian te Kiam ong. Mana aku ada harga untuk berpibu dengan raja pedang seperti engkau? Aku hanya seorang tukang gwa mia biasa saja, juga seorang tukang obat yang bodoh, hanya mengandalkan peruntungan baik."

Mendengar ini, kakek Song Bun Sam tersenyum dan wajahnya yang tadi nampak keren dan sungguh sungguh itu berubah terang dan ramah.

"Tek Hong, tinggalkan kamar ini. Biar aku bicara berdua dengan tamu kita yang terhormat."

Dengan taat Tek Hong mengundurkan diri diikuti oleh semua pelayan hingga di lain saat kamar itu telah kosong.

Tak seorangpun berani mencoba coba untuk mendekati kamar itu karena siapakah yang tidak maklum akan kepandaian kakek Song yang sakti?

Melihat ini, Koai Thian Cu juga menyuruh bocah yang selalu digandengnya ini untuk keluar.

"Beng Han, kau main main di depan sana, menanti aku keluar."

"Baik, kong kong,"

Kata anak itu yang segera keluar dengan cepat. Di ruang luar ia bertemu dengan keluarga Song yang segera mengajaknya duduk dan memberi makanan kepada bocah yang ternyata pandai membawa diri ini.

"Koai Thian Cu, sekarang katakan, apa maksud kedatanganmu ini?"

Tanya kakek Song setelah semua orang meninggalkan kamar.

"Thian te Kiam ong, tadinya aku ingin main main sebentar denganmu karena sudah lama sekali aku mendengar nama besarmu. Akan tetapi ternyata Thian mendahului aku. Aku bukan orang yang tak tahu malu dan tidak tahu aturan untuk mengajak seseorang sakit berpibu, apalagi karena kulihat bahwa kau takkan dapat melewati dua bulan lagi. Lepas dari batas usia yang sudah ditentukan oleh Thian. Kau terlalu banyak mencurahkan pikiran dan perasaan mengenangkan isterimu dan kau sudah bosan hidup, ingin lekas lekas menyusul isterimu."

Kakek Song memandang kagum dan tersenyum.

"Kau patut jadi tukang gwa mia, Koai Thian Cu. Memang cocok sekali dugaanmu itu. Tentang usia tinggal dua bulan lagi terserah pada kekuasaan Thian. Akan tetapi baik sekali kau beritahu hingga aku dapat membuat persiapan persiapan. Memang sudah teralu lama aku mengawani Kim kong kiam di dunia."

Kakek Song menuding ke arah pedang pusaka Kim kong kiam yang tergantung di tembok, dekat pembaringannya. Tak terasa Koai Thian Cu menoleh ke arah pedang itu. Matanya bersinar sinar.

"Pedang pusaka yang hebat! Seratus kali namanya lebih terkenal daripada nama tukang gwa mia."

Song Bun Sam tertawa.

"Yang ternama itu berarti banyak berlagak, sebaliknya yang pendiam yang selalu menyembunyikan diri, bagaimana bisa ternama? Akan tetapi, makin ternama, makin banyak kesukaran dihadapi dan makin tidak ternama, makin aman!"

"Kau bijaksana sekali, Thian te Kiam ong. Pantas saja Thian hendak buru buru membebaskanmu daripada hukuman di dunia ini, kau beruntung sekali. Eh, bolehkah aku melihat pedang pusaka Kim kong kiam itu?"

"Tentu saja boleh. Hanya kau tahu, selama pemiliknya masih hidup, pedang pusaka hanya boleh di pandang pantang dipegang oleh orang lain,"

Kata kakek Song sambil menyambar Kim kong kiam dan mencabut dari sarungnya.

Sinar keemasan berkeredep menyilaukan mata ketika pedang itu sudah keluar dari sarungnya.

Tiba tiba wajah Koai Thian Cu berubah pucat, matanya menatap pedang pusaka itu penuh perhatian.

"Celaka.... Celaka...."

"Ada apakah, Koai Thian Cu?"

Tanya Thian te Kiam ong Song Bun Sam sambil menatap wajah tamunya dengan penuh selidik.

Koai Thian Cu menarik napas berulang ulang sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

Song Bun Sam merasa makin tak enak ia melihat sikap kakek aneh itu, apalagi karena ia mendapat kenyataan betapa jitu dan cocok dugaan dugaan kakek itu tentang nasib dirinya.

"Koai Thian Cu, kau melihat apakah?"

"Pedang itu... ah, Thian te Kiam ong. Aku tahu bahwa segala bujukanku takkan berhasil, dan hal itu tetap akan terjadi...."

"Hal apakah? Ada apa dengan pedang ini?"

"Aku melihat darah.... darah mengalir oleh pedang pusaka ini... ah, Kim kong kiam... ganas...."

"Tidak aneh Koai Thian Cu,"

Kakek Sang memotong sambil tersenyum dan memandangi pedangnya penuh kasih sayang.

"sudah ratusan penjahat menjadi korbannya, darah para penjahat itu mengalir oleh Kim kong kiam."

"Bukan.... bukan...."

Koai Thian Cu memandang pedang, matanya terpejam, mukanya penuh keringat, berkerut kerut.

"bukan darah penjahat, bukan! Kim kong kiam akan minum darah keluargamu, banyak sekali.... aduuh, bagaimana nasib keluarga mulia sampai menjadi begitu..? Kim kong kiam jahat.... harus kau basmi sebelum terlambat.... ah, sia sia, kau tak percaya!"

Biarpun mulutnya tersenyum, tak luput wajah Thian te Kiam ong Song Bun Sam, pendekar besar yang tak pernah gentar menghadapi penjahat penjahat keji ini, menjadi pucat, ia segera memasukkan Kim kong kiam di sarung pedang kembali, lalu berkata dengan suara mengejek.

"Koai Thian Cu, mengapa kau tidak bilang bahwa pedang ini lebih baik kuserahkan kepadamu agar selanjutnya tidak mengganggu keluargaku?"

Koai Thian Cu mengerti akan sindiran ini. Kembali ia menarik napas panjang dan memandang kepada Song Bun Sam dengan sinar mata tajam menentang.

"Aku tidak salahkan engkau, Thian te Kiam ong. Memang sudah demikianlah garisnya, kau takkan percaya kepadaku. Biarlah aku menyerahkan kepada kebijaksanaanmu sendiri dan kepada kekuasaan Thian. Aku tidak dapat membuka lebih lebar lagi karena rahasia Thian tidak boleh dibuka begitu saja. Ada soal ke dua, dan hal ini kuharapkan kau tidak akan menolak "

"Katakantah, Koai Thian Cu, aku tak pernah menolak permintaan orang yang kiranya dapat kupenuhi."

"Aku mohon kepadamu agar supaya kau sudi menerima Beng Han sebagai muridmu."

"Bocah cilik yang datang bersamamu tadi?"

"Betul, dia bernama Thio Beng Han, seorang yang tidak mengetahui siapa ayahnya dan tidak diakui oleh ibunya. Menurut penglihatanku, dia bertulang pendekar dan kiranya hanya kau yang patut menjadi gurunya."

Tiba tiba Thian te Kiam ong Song Bun Sam tertawa geli dan membaringkan tubuhnya yang sudah terlalu lama duduk, akan tetapi ia masih saja tertawa sambil berbaring.

"Bagaimana, Thian te Kiam ong? Apa kau mau memenuhi permintaanku ini?"

"Koai Thian Cu, mendengar omongan omonganmu satu kali, orang akan mengira kau seorang peramal jempolan. Akan tetapi mendengar dua kali, orang akan menyangka kau berotak miring. Ha, ha, ha!"

"Sesukamu kau menganggap aku bagaimana, akan tetapi, apakah kau menerima permintaanku?"

"Tadi kau bilang bahwa usiaku tidak akan lewat dua bulan, sekarang kau menyerahkan cucumu menjadi muridku. Bagaimana ini?"

"Thio Beng Han bukan cucuku, akan tetapi akulah yang memeliharanya semenjak lahir. Adapun tentang dia menjadi muridmu, jangankan sampai dua bulan, baru sepuluh hari saja sudah jauh lebih berharga daripada menjadi murid orang lain selama sepuluh tahun. Bagaimana Keputusanmu?"

Kembali ia mendesak. Kakek Song menarik napas panjang.

"Banyak sudah aku menjumpai orang aneh, akan tetapi kau seakan akan menjadi rajanya, raja orang aneh! Aku sudah berada di ranjang kematian, bagaimana aku bisa menerima murid seorang bocah cilik? Akan tetapi, kalau ada kata kata tentang perbuatan baik, kiranya hanya memenuhi permintaan inilah yang akan dapat kulakukan, sebagai perbuatan terakhir meringankan dosa dosa yang lalu. Baiklah, tukang gwa mia, aku terima permintaanmu. Panggil dia ke sini!"

Bukan main girangnya wajah Koai Thian Cu ia menghadap keluar kamar, bibirnya bergerak gerak akan tetapi tidak mengeluarkan suara apa apa.

Akan tetapi, tak lama kemudian datanglah bocah itu berlari larian.

"Kau panggil aku ada keperluan apakah, kong kong?"

Tanyanya.

"Beng Han, aku telah beritahu padamu bahwa kau akan kucarikan seorang guru yang baik. Nah, sekarang kau telah berhadapan dengan gurumu, tidak lekas memberi hormat mau tunggu kapan lagi?"

Ia menunjuk ke arah kakek Song yang rebah di atas pembaringan.

Beng Han lalu cepat memasuki kamar dan menjatuhkan diri berlutut di depan pembaringan sambil mengangguk anggukkan kepala delapan kali dan berkata.

"Suhu yang mulia, teecu Thio Beng Han menghaturkan terima kasih atas budi suhu yang mulia, sudi menerima teecu sebagai murid. Teecu bersumpah akan menjunjung tinggi semua ajaran suhu dan akan menjaga nama baik suhu sampai teecu mati."

Thian te Kiam ong Song Bun Sam sampai melompat dan bangun duduk saking kagetnya melihat semua ini.

Pertama tama ia kaget sekali melihat cara Koai Thian Cu memanggil Beng Han yang diperlihatkan oleh kakek tukang gwa mia tadi adalah demonstrasi lweekang yang tinggi sekali, mengirim suara halus sehingga yang keluar dari mulut bukan suara lagi melainkan getaran dan yang hanya dapat ditangkap oleh orang yang sudah menerima latihan tinggi.

Akan tetapi anehnya, Beng Han dapat menerima panggilan kong kongnya ini dan datang dengan cepat.

Inilah hal pertama yang mengagetkan hatinya, kaget dan heran.

Hal ke dua hal yang amat aneh melihat bocah berusia paling banyak lima tahun ini dapat bersikap baik, penuh sopan santun, tahu aturan.

Benar benar kakek Song kaget bercampur girang sekali.

Tidak rugi menerima seorang murid seperti bocah aneh ini.

Koai Thian Cu segera berpamit pulang setelah dengan muka girang ia menghaturkan terima kasih.

Thio Beng Han diterima di rumah keluarga pendekar itu, biarpun dengan muka terheran heran oleh semua orang, namun dengan hati rela dan senang.

Di lembah Sungai Wei ho yang berada di kaki Gunung Cin ling san, terdapat banyak sekali gunung berkarang dan di situ banyak pula terdapat gua gua yang besar dan kelihatan menyeramkan.

Menurut dongeng kuno, gua gua ini dibuat oleh para dewa, akan tetapi lebih tepat kiranya kalau air bah dari Sungai Wei ho meluap sampai merendam gunung gunung dan batu batu karang di tepi pantainya.

Dilihat dari jauh, batu batu karang ini bentuknya aneh aneh menyerupai muka setan setan penjaga sungai yang menakutkan.

Gua gua besar yang kehitaman dengan pintu ada yang menyerupai mulut naga, benar benar menimbulkan dugaan menyeramkan bahwa sampai seperti itu patutnya menjadi sarang para siluman dan iblis.

Sudah sepatutnya kalau gua gua itu mempunyai penghuni iblis iblis yang menyeramkan.

Akan tetapi, di sebuah daripada gua gua besar itu, duduk seorang wanita yang seolah olah sudah berubah menjadi patung.

Sama sekali tidak bergerak, bahkan napasnyapun hampir tidak dapat dilihat, begitu halus dan panjang panjang.

Manusiakah dia atau ibliskah?

Kalau ia termasuk golongan iblis, tentulah ia sebangsa siuman binatang yang indah, karena ia mempunyai bentuk muka yang cantik manis dan tubuh yang indah.

Tentu saja ia sama sekali tidak bisa digolongkan dengan iblis yang menyeramkan.

Siapakah dia?

Wanita yang usianya duapuluh tahun lebih ini bukan lain adalah Kui Lian!

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Kui Lian yang bernasib malang ditolong oleh kakek tukang gwa mia, yakni tosu yang sakti, Koai Thian Cu.

Dapat dibayangkan betapa lihainya dan saktinya Koai Thian Cu ketika Kui Lian yang hendak ditangkap oleh Teng kongcu dan tukang pukulnya, sekali gadis itu menggerakkan tangannya dua orang itu terlempar, bahkan si tukang pukul patah tulang lengannya.

Tentu saja bukan Kui Lian yang melakukan hai ini, melainkan Koai Thian Cu yang mengeluarkan lweekangnya melalui tongkat yang dipegang oleh Kui Lian sehingga di dalam lengan gadis ini mengalir hawa lweekang yang luar biasa!

Koai Thian Cu merasa kasihan sekali kepada Kui Lian dan melihat bahwa wanita muda itu ada jodoh dengannya, jodoh untuk menjadi muridnya.

Oleh kerena itu, tanpa ragu ragu lagi kakek ini lalu membawa Kui Lian ke tempatnya bertapa.

yaitu di lembah Sungai Wei ho, di dalam gua yang menyeramkan tersebut.

Di sinilah ia mulai menurunkan ilmu ilmunya kepada Kui Lian.

Koai Thian Cu memang sute dari Lam has Lo mo Seng Jin Siansu yang telah amat terkena, baik akan ketlihaiannya maupun akan kejahatannya.

Akan tetapi Koai Thian Cu berlainan sekali dengan suhengnya itu.

Dalam hal kepandaian, juga amat berbeda.

Kalau Lam hai Lo mo lebih mengutamakan ilmu silat, sebaliknya Koai Thian Cu lebih memperhatikan pelajaran ilmu hoat sut yang ia pelajari dari guru mereka, seorang pendeta Buddha dari tanah barat.

Hal ini bukan berarti bahwa ilmu sitat Koai Thian Cu rendah, sama sekali tidak.

Kalau dibandingkan dengan Lam hai Lo mo, ia hanya kalah setingkat, akan tetapi dalam hal ilmu hoat sut (sihir), benar benar Koai Thian Cu telah mencapai tingkat tinggi.

Bukan ini saja, bahkan ia pandai menghitung nasib manusia dengan perantaraan bintang dan ramalan ramalannya yang jitu.

Oleh karena maklum bahwa Kui Lian tidak mempunyai bakat besar untuk menjadi ahli sitat, maka Koai Thian Cu hanya memberi dasar dasar ilmu silat saja sambil memberi pelajaran ginkang dan lweekang ringan.

Akan tetapi ia menurunkan ilmu ilmu sihirnya kepada Kui Lian dan alangkah girangnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa dalam hal ilmu ini, Kui Lian ternyata berjodoh dan berbakat sekali.

Dengan tekun Kui Lian bertapa, menempuh segala macam percobaan kekuatan hatinya dan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk ilmu hoat sut ini.

Beberapa bulan kemudian Kui Lan melahirkan anaknya yang dikandungnya, akan tetapi ia tidak mau memperdulikan anaknya bahkan katanya kepada Koai Thian Cu.

"Suhu, anak ini keturunan seorang yang rendah budinya, maka teecu tidak mau mengakuinya."

Koai Thian Cu melenggong.

"Habis bagaimana? Siapa yang akan memeliharanya?"

"Terserah kepada suhu. Pendeknya teecu tidak mau tahu lagi, teecu ingin mempelajari ilmu dan bertapa untuk menebus dosa dosa yang lalu."

Koai Thian Cu yang telah waspada akan hukum karma dan tahu bahwa hal ini tak dapat dicegah lagi, lalu berusaha mencarikan pengasuh anak itu di sebuah dusun beberapa puluh mil jauhnya dari situ.

Akan tetapi ia merasa kasihan dan sayang kepada bocah yang ia beri nama Thio Beng Han itu, dan seringkali ia datang menengok, ia tahu bahwa ayah anak ini adalah Thio Sui seperti yang dulu pernah ia dengar dari Kui Lian, maka ia memberi she Thio kepada Beng Han.

Setelah anak itu dapat berjalan, ia sengaja membawanya kepada ibunya.

Akan tetapi tetap saja Kui Lian tidak mau menoleh kepada bocah itu.

Melihatpun tidak sudi, apalagi mengaku.

Akhirnya Koai Thian Cu mengalah dan teringatlah ia akan Thian te Kiam ong Song Bun Sam yang nama besarnya sudah menggetarkan langit selatan dan yang sudah lama ia ingin jumpai.

Memang datangnya Koai Thian Cu di daerah ini, tadinya adalah karena ia bermaksud mencari Thian te Kiam ong untuk menantang pibu.

Akan tetapi pertemuannya dengan Kui Lian membuat ia terpaksa menunda niatnya itu dan membawa Kui Lian tinggal bersama di tempat pertapaannya yang baru saja ia pilih ketika ia tiba di daerah itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan.

Koai Thian Cu yang memikirkan masa depan Beng Han yang tidak diakui oleh ibunya itu mengantar Beng Han kepada Thian te Kiam ong dan berhasil membuat Beng Han di akui sebagai murid dan ditinggalkan di Tit le.

Hatinya sudah puas dan lega.

Anak yang dilihatnya bertulang baik itu telah di tangan keluarga bijaksana, sungguhpun ia kadang kadang merasa khawatir kalau mengingat akan pedang Kim kong kiam yang dilihatnya akan menimbulkan bencana pada keluarga Song.

Ketika Koai Thian Cu kembali dari perjalanannya ke Tit le, ia melihat Kui Lian bertapa.

Wanita muda ini berpakaian serba putih, rambutnya diurai menutupi pundak dan punggung, duduk bersila di dalam gua tak bergerak seperti patung.

Mukanya yang cantik agak pucat akan tetapi di sekeliling tubuhnya seakan akan memancarkan cahaya sehingga dari jauh ia seperti Kwan Im Pouwsat sendiri sedang duduk bersila!

Melibat ke adaan Kui Lian ini.

kagetlah gurunya.

Bukan mam anak ini, pikirnya.

Cepat sekali kemajuan kemajuan yang dicapainya dalam ilmu hoat sut yang berdasarkan samadbi dan benapa, melakukan segala pantangan.

Kui Lian sudah sedemikian majunya sehingga wanita muda ini kuat sekali bertapa, tidak makan tidak tidur sebulan saja baginya bukan apa apa lagi.

Akan tetapi, kekuatan sihir yang dihimpun di dalam dirinya juga amat hebat.

"Kui Lian, muridku. Bangunlah dari samadhimu,"

Kata Koai Thian Cu dari mulut gua sambil duduk di atas sebuah batu hitam yang berbentuk punggung kura kura.

Tidak ada jawaban dari dalam.

Koai Thian Cu terheran.

Biasanya muridnya ini amat cepat menyambutnya kalau ia datang dari perjalanan jauh.

Ia berdiri dan menjenguk ke dalam.

Baru kagetlah ia ketika melihat uap putih mengepul dari kepala Kui Lian.

Uap ini bergulung gulung naik makin tebal dan akhirnya menyerupai bentuk, tak lama kemudian bentuk itu makin terang dan terciptalah Kui Lian kedua yang segera bersilat kian kemari dengan amat gesitnya.

Koai Thian Cu mendehem dan lenyaplah manusia uap itu Kemudian ia tersenyum puas.

Hebat betul muridnya ini.

"Ah, dia sudah begitu kuat menguasai keadaan di sekelilingnya sehingga aku sendiri sampai terpengaruh. Hebat, benar benar hebat..... bukan main kuatnya Kemauan keras yang didorong oleh penderitaan rokhani,"

Katanya dalam hati. Karena maklum bahwa tak mungkin Kui Lian dibikin "bangun"

Dengan perintah yang dikeluarkan dan mulut saja, kakek ini lalu duduk kembali di atas batu, bersita dan tak lama kemudian iapun sudah mengheningkan cipta, seluruh tenaga dikerahkan untuk memanggil muridnya.

Kui Lian menggerakkan lehernya, mengeluarkan keluhan panjang, lalu bangkit berdiri, mengebut ngebutkan pakaiannya dari tanah yang melekat, lalu berjalan keluar dengan langkah halus.

Ketika ia tiba di luar gua, nampaklah bahwa Kui Lian masih cantik dan menarik, bahkan jauh lebih cantik daripada dahulu.

Sekarang ia telah menjadi seorang wanita yang masak, nampak tenang sekali, sepasang matanya bersinar sinar ganjil, mulutnya tersenyum tenang dan tubuhnya tegak.

Hanya muka itu agak kepucatan karena kurang makan kurang tidur.

"Suhu sudah pulang? Maafkan teecu terlambat menyambut,"

Katanya sambil berlutut di depan suhunya.

"Kui Lian, hari ini adalah hari terakhir dari pertemuan kita. Aku sudah bertemu dengan Thian te Kiam ong, berarti sudah tercapai pula maksud kedatanganku di daerah ini. Aku akan kembali ke tempat asalku, ke selatan. Anu tidak ingin badanku ini kelak dikubur di rantau orang, ingin aku di kubur di tanah kelahiranku sana. Oleh karena itu, hari ini juga aku akan berangkat ke selatan dan takkan kembali lagi. Aku tidak perlu mengkhawatirkan perihal engkau, muridku. Dengan kepandaian yang kaumiliki sekarang, kau takkan terlantar. Juga kiranya takkan ada orang yang dapat mengganggumu. Asal kau tidak salah jalan, kau akan selamat. Terserah kepadamu, jalan mana yang kaupilih, semoga Thian menuntunmu, Kui Lian. Hanya satu pesanku kalau kau ada waktu, pergilah ke Tit le, dan tempat tinggal keluarga Song. Keluarga itu mempunyai sebuah pedang, namanya pedang pusaka Kim kong kiam. Kauambil pedang itu dan simpanlah, atau musnahkan Aku menyuruhmu melakukan hal ini untuk menolong mereka."

"Suhu, teecu tak dapat berkata lain kecuali teecu menghaturkan banyak banyak terima kasih kepada suhu. Teecu tidak dapat membalas budi Suhu, biarlah di lain penjelmaan teecu menjadi anjing atau kuda suhu."

"Kau tahu apa? Kiranya dalam penjelmaan yang dahulu aku telah hutang budi kepadamu, maka yang sekarang ini anggap saja bahwa aku sudah membayarmu. Kalau aku tidak mempunyai anggapan bahwa aku harus membayar hutang budi kepadamu, apa kau kira aku mau membayarmu dengan semua ilmu itu? Aku akan berdosa besar, Kui Lian. Ilmu Howe sut yang kau pelajari ini bukan sembarang ilmu, amat berbahaya bagi orang lain kalau disalsh gunakan. Akan tetapi mudah mudahan kau tidak demikian. Nah, kau boleh mewarisi hudtim ini."

Dengan sikap hormat Kui Lian menerima kebutan suhunya dan berlutut kembali.

"Kui Lian, selamat berpisah."

Inilah kata kata terakhir yang didengar oleh Kui Lian sambil berlutut karena ketika ia mendongak, suhunya itu telah lenyap dari situ, iapun berdirilah, seorang wanita tinggi ramping yang tentu akan menarik hati semua kaum pria, kalau saja sepasang matanya tidak begitu ganjil dan terbayagg sinar membunuh di saat itu.

Ia memandang jauh, melalui jurang jurang jauh sekali, ke arah Kota Soa couw!

Kemudian, dengan senyum di bibirnya yang berbentuk indah akan tetapi bayangan sinar membunuh masih dimatanya, ia melenggang memasuki guanya.

Lenggangnya lemah gemulai seperti puteri istana, nampaknya ia begitu lemah lembut, ketika ia berjalan memasuki gua untuk berkemas karena iapun harus meninggalkan tempat ini cepat cepat!

Ramalan Koai Thian Cu bahwa usianya tinggal dua bulan lagi tidak membikin hati kakek Song gelisah, bahkan diam diam ia mengharapkan ramalan itu akan terbukti karena ia sudah merasa rindu sekali kepada isterinya yang sudah lebih dulu meninggalkannya ke alam baka.

Akan tetapi ramalan kedua tentang pedang pusaka Kim kong kiam, bahwa pedang itu akan menimbulkan banjir darah di keluarganya, benar benar membuat kakek ini merasa gelisah sekali.

Boleh saja ia tidak percaya kepada Koai Thian Cu dan menganggap sebagai obrolan kosong seorang tukang gwa mia penipu, tetapi kalau ia teringat bahwa Koai Thian Cu adalah sute dari mendiang Lam hai Lo mo dan akan tingginya ilmu kepandaian Lam hai Lo mo, mau tidak mau Thian te Kiam ong Song Bun Sam menjadi gelisah juga.

Tadinya ia menaruh curiga juga terhadap diri Beng Han, bocah yang telah diaku sebagai muridnya itu.

Akan tetapi ia segera mengusir pergi kecurigaannya setelah memanggil bocah itu, diajak bercakap cakap dan dilihat tindak tanduknya setiap hari, Beng Han benar benar seorang anak kecil yang luar biasa.

"Beng Han, sebenarnya siapakah ayah bundanmu?"

Tanya Thian te Kiam ong Song Bun Sam kepada bocah yang semenjak ditinggalkan oleh Koai Thian Cu, tak pernah pergi dari samping pembaringan kakek Song, merawat dan melayani segala keperluan kakek yang menjadi suhunya ini dengan penuh perhatian penuh kebaktian.

"Suhu, memang sebenarnya teecu tidak mempunyai ayah bunda. Semenjak kecil teecu di pelihara oleh seorang inang pengasuh atas perintah kong kong Koai Thian Cu. satu satunya orang tua yang mengaku teecu sebagai cucu angkatnya. Teecu tidak tahu siapa ayah teecu, juga menurut kong kong, ibu teecu sudah tidak mau mengakui teecu lagi sebagai anak semenjak teecu terlahir."

Suara anak itu terdengar menggetar mengharukan, dan matanya yang lebar dan tajam itu dikejap kejapkan menahan keluar air mata.

"Hmmm, aneh sekali. Apa kau tidak ingin mencari ayah bundamu?"

Kakek Song memancing.

"Suhu, ayah bunda yang tidak sayang dan tidak menghiraukan anaknya, bukan orang tua yang baik. Sebaliknya, biar orang lain kalau melepas budi, kita boleh menganggapnya seperti orang tua sendiri. Orang tua teecu yang tidak sudi mengaku teecu sebagai anak, mengapa harus teecu cari? Teecu sudah mendapat penggantinya, tadinya kong kong Koai Thian Cu, sekarang suhu yang harus teecu anggap sebagai guru dan orang tua sendiri."

Kakek Song sampat melongo mendengar jawaban ini.

Bagaimana seorang bocah begini cilik dapat mengeluarkan jawaban seperti itu.

Seperti pikian orang dewasa saja!

"Eh, Beng Han.

Dari siapakah kau mendapatkan pikiran seperti itu?"

"Sejak kecil kong kong Koai Thian Cu telah mendidik teecu dan teecu tidak berani melupakan segala apa yang diajarkannya kepada teecu."

Kemudian dalam tanya jawab ini tahulah kakek Song hahwa bocah itu ternyata tidak saja memiliki pengertian yang mendalam tentang hal hal di sekelilingnya, juga telah mempelajari baca tulis dan dasar dasar ilmu silat tinggi dan ilmu hoat sut!

Sungguh luar biasa sekali hasil yang di capai anak itu selama belajar satu tahun lamanya dari Koai Thian Cu.

Maka giranglah hati Thian te Kiam ong dan dia sendiri sampai lupa diri akan usia tua dan mulai menurunkan ilmu silat yang pelik pelik kepada anak itu untuk dihafal teorinya untuk kelak dipelajari sendiri latihan prakteknya.

Sementara itu, diam diam kakek Song menuliskan ilmu Pedang Kim kong kiam dalam sebuah kitab, dan menyuruh seorang pandai besi yang biasa membuat pedang untuk membuatkan sebuah pedang berselaput emas yang sama benar dengan Kim kong kiam.

Hal ini diakukan dengan rahasia, bahkan Tek Hong sendiri tidak tahu akan perbuatan ayahnya ini.

Song Tek Hong bertiga isteri dan puterinya juga Liem Pun Hui bertiga isteri dan putranya, sama sekali tidak tahu ramalan kakek aneh yang baru baru ini datang mengunjungi ayah mereka, mereka juga tidak keberatan untuk menerima Thio Beng Han, oleh karena bocah itu memang pandai membawa diri dan menimbulkan rasa kasihan dan suka kepada mereka.

Hanya Song Bi Hui puteri Song Tek Hong yang mengomel.

"Kong kong aneh sekali. Sudah sering kau aku minta memberi pelajaran ilmu pedang tak pernah dipenuhi, sebaliknya sekarang mengambil murid seorang anak kecil dari luar. Apakah ini bukan berarti membocorkan kepandaian keluarga sendiri?"

"Bi Hui, mengapa kau mengomel? Biarpun kong kong tidak memberi petunjuk padamu, bukankah ayahmu dan aku sendiri sudah memberi pelajaran? Ilmu pedang yang kuajarkan kepadamu juga tidak terlalu jelek!"

Kata Ong Siang Cu, ibunya dengan suara lembut menyembunyikan ketidak senangan hatinya.

Memang iapun merasa kurang senang terhadap ayah mertuanya setelah mendengar kata kata puterinya.

Semenjak mudanya, nyonya Song Tek Hong ini memang terkenal keras hati sekali.

Tek Hong mengerutkan keningnya mendengar kata kata anak dan isterinya ini.

"Bi Hui, kau tidak boleh bilang begitu! Kau adalah anakku, berarti cucu kong kongmu. Sudah ada aku yang menurunkan kepandaian keturunan keluarga Song, mengapa kau masih kurang puas dan minta kepada kong kongmu sendiri? Ilmu kepandaian tidak ada batasnya, kalau kong kongmu menurunkan semua kepandaiannya kepadamu, apa kau kira kau akan mampu menerimanya? Satu macam saja ilmu silat, kalau dipelajari sampai sempurna betul, sudah cukuplah. Biar ada seratus macam kepandaian, kalau semuanya setengah matang, takkan ada gunanya."

Bi Hui cemberut, bibirnya yang manis itu sampat berkerut kerut.

"Ayah, aku memang anak cerewet. Memang sudah banyak aku menerima pelajaran dari ayah dan ibu, akan tetapi.... masih saja aku belum diberi pelajaran Kim kong Kiam sut secara lengkap!"

Tek Hong membanting banting kakinya.

"Kau benar benar tak tahu diri! Ayahmu sendiri biarpun sudah membanting tulang mencurahkan seluruh perhatiannya, masih belum dapat mempelajari Kim kong Kiam sut seluruhnya, baru berhasil empat lima bagian saja. Kau kira gampang menguasai Kim kong Kiam sut?"

"Ayah cuma mewarisi empat lima bagian. Kalau kelak bocah bernama Beng Han itu mewarsi seluruhnya, bukankah hal itu akan amat ganjil? Kim kong Kiam sut adalah ilmu warisan yang paling dibanggakan oleh keluarga kita, ayah sama halnya dengan pedang pusaka Kim kong kiam."

Tek Hong menarik napas panjang. Kalau dipikir pikir betul juga kata kata anaknya.

"Tak mungkin kalau sampai begitu, itupun hanya menjadi tanda bahwa keturunan ayah tidak ada cukup berbakat dan kiranya bukan kesalahan Thio sute kalau sampai dia berhasil mewarisi seluruhnya."

Percakapan mereka terhenti dengan munculnya Liem Pun Hui dan anak isterinya.

"Ah, agaknya sedang mengadakan perundingan besar sekeluarga!"

Song Siauw Yang menegur gembira.

"Apakah kami mengganggu?"

"Sama sekali tidak."

Jawab kakaknya.

"Kami hanya sedang memberi nasehat nasehat kepada anak kita yang cerewet ini!"

Siauw Yang menghampiri Bi Hui dan memeluknya.

"Twako jangan terlalu galak! Keponakkanku begini manis bagaimana disebut cerewet?"

Mendengar ini, Bi Hui yang manja lalu menangis dan masuk ke dalam kamarnya! "Anak manja!"

Tek Hong memaki.

"Sudahlah, twako. Jangan terlalu galak, Bi Hui kan masih terlalu muda."

Kembali Siauw Yang menyambar kakaknya, sedangkan Siang Cu hanya diam saja, kening berkerut dan pandang mata tidak puas.

"Sebetulnya aku hendak memberi tahu kepadamu bahwa kami bermaksud hendak pulang ke Liok Can. Sudah terlalu lama meninggalkan rumah dan sekarang ayah nampak sehat bahkan agak gembira semenjak bocah itu berada di sini."

"Kaumaksudkan Thio sute?"

Membetulkan Tek Hong mendengar adiknya menyebut "bocah"

Kepada sutte kecil itu. Siauw Yang tersenyum.

"Betul, siauw sute itulah. Demikian rajin dan berbakti nampaknya"

"Memang dia rajin dan berbakti kepada ayah. Dia anak baik, kalian ini orang orang perempuan memang banyak cemburu dan curiga. Siauw Yang baru satu bulan saja tinggal di sini, kau sudah hendak pulang. Moi hu (adik ipar), mengapa tergesa gesa?"

Liem Pun Hui tersenyum.

"Twako, kau tahu bahwa di rumah sana aku menerima beberapa orang murid dalam ilmu sastera. Diantara mereka ada yang hendak menempuh ujian kota raja, maka terpaksa aku harus pulang dulu. Apalagi gak hu (ayah mertua) sudah nampak sehat kembali seperti sediakala."

"Baiklah kalan begitu. Apakah kalian sudah minta diri kepada ayah?"

"Belum, sekarang juga kami akan berpamit."

Akan tetapi, ketika Liem Pun Hui, Song Siauw Yang dan putera meraka menghadap kakek Song dan menyatakan keinginan mereka hendak pulang ke Liok Can, orang tua itu menahan mereka.

"Jangan pulang dulu, masih belum habis rasa rinduku Siauw Yang, kau dan suami serta anakmu tinggallah di sini sedikitnya satu bulan lagi. Aku tidak mau kalian tinggalkan sebelum lewat sebulan lagi."

Tentu saja Pun Hui, Siauw Yang dan juga Kong Hwat tidak berani membantah dan menghadapi permintaan kakek itu dengan hati merasa berat.

Dulu dulu belum pernah Thian te Kiam ong Song Bun Sam menahan mereka sampai satu bulan.

Tentu saja mereka tidak tahu bahwa permintaan kakek Song ini ada hubungannya dengan ramalan Koai Thian Cu sebulan yang lalu bahwa hidup kakek Song tinggal dua bulan lagi!

Sebelum ramalan ini terbukti benar atau keliru, kakek Song ingin selalu didekati anak cucunya.

Terpaksa Pun Hui dan Siauw Yang membatalkan kehendak mereka, hanya Pun Hui mengirim seorang utusan ke Liok can untuk memberi tahu kepada murid muridnya apabila mereka hendak melakukan ujian di kota raja supaya mampir di Tit le.

Beberapa hari kemudian, di waktu malam gelap gulita, sedangkan semua penghuni rumah sudah tidur nyenyak, di dalam kamarnya kakek Song sedang melatih muridnya yang baru, Thio Beng Han.

Kakek Song tahu bahwa andaikata ia tidak mati dalam waktu dua bulan seprrti telah diramaikan oleh Koai Thian Cu, tetap saja usianya sudah terlalu tua dan tidak ada waktu lagi untuk menurunkan ilmu silatnya kepada Beng Han.

Maka ia langsung menurunkan ilmu yang tinggi, yaitu pelajaran samadhi dan pernapasan untuk membersihkan darah dan hawa dalam tubuh sehingga anak ini akan mempunyai ginkang yang kuat kelak.

Guru dan murid duduk bersila di dalam kamar itu, kakek Song di atas pembaringan sedangkan Beng Han bocah luar biasa itu, dalam waktu sebulan saja sudah dapat menguasai cara berlatih lweekang dan samadhi yang hebat ini.

Ia sudah pandai mengatur napas sehingga gurunya amat puas melihat kemajuannya Tiba tiba Beng Han yang pendengarannya sudah tajam berkat latihan samadhi ini, mendengar suara dari luar jendela.

Suara orang berbisik seperti membaca doa.

Ia membuka mata dan melirik ke arah gurunya.

Kakek itu tetap duduk bersamadhi seperti patung, seakan akan tidak mendengar suara itu.

Tak lama kemudian, Beng Han merasa kepalanya pening dan matanya mengantuk sekali, seakan akan ada tenaga tidak kelihatan yang memaksanya supaya tidur.

Akan tetapi karena ia sedang berlatih lweekang dan pikirannya sedang jernih, ia mengerahkan tenaga untuk melawan kekuatan tidak kelihatan ini.

Tetap saja ia tidak dapat melawannya dan makin lama kedua matanya makin berat, pikirannya hampir tak dapat dikuasai lagi.

Teringatlah ia akan pelajaran yang dahulu ia terima dan Koai Thian Cu.

Cepat ia mengerahkan tenaga terakhir, bibirnya komat kamit, lalu ia menggunakan ibu jarinya untuk membasahi kedua matanya dengan ludahnya sendiri.

Benar saja, rasa mengantuk lenyap, pikirannya terang kembali dan kini ia mendengar jelas suara orang diluar jendela, suara orang berbisik bisik halus sekali.

Ketika ia melirik, gurunya masih saja duduk bersamadhi.

Di luar pintu kamar itu ia mendengar suara wanita wanita menguap dan mengeluh, disusul suara orang roboh di lantai.

Beng Han merasa aneh sekali.

Tadi memang lapat lapat ia mendengar dua orang pelayan wanita yang menjaga segala keperluan kakek Song, masih bercakap cakap perlahan di luar kamar.

Apakah mereka ini tadi menguap?

Hal ini amat mengherankan, oleh karenanya biasanya mereka tidak mungkin berani berlaku begitu tak tahu sopan, menguap dengan suara keras.

Beng Han bangkit berdiri, perlahan menghampiri pintu dan membuka sedikit untuk melihat.

Ia makin terkejut dan heran melihat dua orang pelayan itu telah tertidur di atas lantai dalam keadaan tidak karuan, bukan sewajarnya orang tidur, saling tindih.

Agaknya mereka tadi saking mengantuknya lalu roboh dan tidur di situ seperti orang orang pingsan.

Melihat ini, Beng Han dapat menduga pasti terjadi hal yang tidak sewajarnya.

Akan tetapi karena melihat suhunya tetap saja duduk bersamadi tak bergerak, ia tidak berani mengganggu.

Ditutupnya lagi pintu kamar dan iapun duduk lagi bersila seperti tadi.

Tak lama kemudian, suara bisik bisik di luar jendela berhenti, lalu terdengar suara orang ketawa, merdu nyaring dan amat menyeramkan.

Beng Han melirik ke arah suhunya, masih saja suhunya tidak bergerak.

Apakah suhunya sudah tertidur pula seperti dua orang pelayan wanita itu?

Suara ketawa itu keras, mengapa orang orang di dalam rumah tidak ada yang mendengarnya?

Padahal di dalam rumah itu berkumpul ahli ahli silat yang ia tahu berkepandaian amat tinggi.

Biasanya jangankan suara ketawa demikian kerasnya, suara sedikit saja yang mencurigakan cukup membangunkan mereka dari tidur.

Jendela bergerak dan daun jendela terbuka sedikit demi sedikit.

Tanpa menggerakkan tubuhnya, Beng Han melirik ke arah jendela ini.

Jendela kamar suhunya ini menembus ke taman bunga di samping kiri rumah, maka begitu jendela terbuka terdengar suara jangkerik, belalang dan lain lain binatang kecil.

Akan tetapi Beng Han tidak memperhatikan semua ini.

Yang menarik perhatiannya adalah sebuah lengan tangan yang mendorong daun jendela itu, lengan tangan yang berkulit putih halus seperti tangan mayat karena di bawah sinar suram suram dan sebuah lilin di meja, tangan itu nampak pucat.

Kemudian muncul sebuah kepala seorang wanita dengan muka yang cantik tapi menyeramkan, muka yang pucat dengan mulut tersenyum kejam dan mata bersinar sinar sebagai mengeluarkan api.

Dengan tenangnya wanita yang masih muda dan cantik itu melompati jendela dan masuk ke dalam.

Gerakannya cukup gesit dan ia menekankan tangan pada jendela ketika melompat ke dalam kamar.

Pakaiannya serba putih dan bersih, potongan tubuhnya tinggi ramping.

Saking terkejut, heran, dan agak ngerinya, Beng Han sampai tak dapat bergerak d tempat duduknya, ia kini membelalakkan matanya, memandang penuh perhatian.

Apa yang hendak di lakukan oleh wanita aneh itu?

Silumankah ia atau manusia jahatkah?

Anehnya suhunya masih saja duduk bersila tak bergerak.

Wanita muda yang cantik dan aneh ini bukan lain adalah Kui Lian.

Seperti telah dituturkan, dia mendapat tugas dan Koai Thian Cu untuk mencuri pedang Kim kong kiam dari Thian te Kiam ong Song Bun Sam.

Kui Lian sudah mendengar dari suhunya tentang keluarga Song ini, keluarga yang menurut suhunya adalah keluarga paling gagah di kolong langit, ia sudah mendengar pula akan kelihaian kakek Song, dan mendengar suhunya memuji muji Kim kong kiam sebagai pedang pusaka yang luar biasa, Kui Lian tidak saja mentaati pesan suhunya untuk mencuri pedang itu agar bahaya ancaman pedang pada keluarga Song terhindar akan tetapi terutama sekali karena ia tertarik dan ingin memiliki pedang pusaka itu untuk dirinya sendiri.

Dengan ilmu hoat sutnya, ia menyirep penghuni rumah itu, kemudian memasuki kamar kakek Song dan tertawa tawa bangga karena melihat seisi rumah tidak ada yang bergerak, tanda bahwa mereka semua telah berada di bawah pengaruh sihirnya.

Ia melihat seorang kakek duduk bersila di pembaringan, memandang tajam dan tertawa lagi.

Disambarnya dua batang lilin di atas meja dan dinyalakan dua lilin itu.

Kini ada tiga batang lilin yang bernyala di situ sehingga keadaan d dalam kamar lebih terang lagi.

Kui Lian menghampiri kakek Song, menatap wajah kakek yang oleh suhunya amat dipuji puji ini.

Dengan sedikit pengetahuannya tentang tanda tanda di wajah orang, ia melihat pula akan tanda kematian di kening kakek Song itu.

"Hi, hi, hi! Thian te Kiam ong Song Bun Sam Si Raja Pedang? Hanya seorang kakek yang sudah mendekati lubang kuburan? Hi, hi, hi!"

Dengan bangga sekali karena ia berhasil membuat seorang pendekar besar seperti Than te Kiam ong tak berdaya oleh pengaruh hoat sutnya Kui Lian bersikap keterlaluan ia mengulurkan jari tetunjuk nya yang mungil untuk menyentuh jidat kakek Song yang licin itu, hanya untuk main main, dengan lagak centil dan genit sekali.

Benar benar hebat perobahan yang terjadi pada diri Kui Lian setelah enam tahun belajar hoat sut dan bertapa di tepi Sungai Wei ho, yang memasuki dirinya sehingga gadis yang tadinya lemah dan halus itu kini berobah genit dan sombong.

"Ayaa....!"

Kui Lian melompat mundur ke belakang ketika ia merasa betapa jari telunjuknya seperti terbakar ketika menyentuh jidat setengah botak dari kakek Song itu.

Akan tetapi ketika ia memandang, kakek itu tetap saja duduk tak bergerak seperti patung, ia lalu mencari cari dengan matanya, merasa tidak enak dan tidak berani lama lama berada di kamar orang sakti ini.

Dilihatnya pedang Kim kong kiam tergantung di dinding dekat pembaringan.

Ia menjadi girang dan cepat ia mengambil pedang itu, mencabut dari sarungnya dan melihat pedang dengan mata bersinar sinar.

"Memang pedang pusaka yang hebat...."

Katanya. Tiba tiba terdengar bentakan nyaring.

"Siluman wanita jangan mencuri pedang!"

Kui Lan kaget setengah mati.

Tak pernah disangka sangkanya ada orang yang dapat menahan sihirnya.

Akan tetap ketika ia memutar tubuh dan melihat bahwa yang berteriak itu hanya seorang bocah laki laki berusia lima tahun, ia tersenyum mengejek.

Beng Han memang sejak tadi memperhatikan gerak gerik wanita itu.

Gemas bukan main hatinya melihat wanita itu mengejek suhunya dan kemarahannya tak dapat dikekang lagi ketika melihat wanita itu mengambil Kim kong kiam, pedang pusaka suhunya.

Melupakan bahaya, anak itu melompat dan menyerang Kui Lian dengan pukulan tangan kanan, sedangkan tangan kiri berusaha merampas pedang.

Akan tetapi, tentu saja ia bukan lawan wanita itu.

Sebuah tendangan membuat tubuh Beng Han terpental dan bergulingan ke tempatnya semula.

Akan tetapi Beng Han bukanlah disebut bocah luar biasa kalau ia gentar dan kapok mengalami tendangan ini.

Dengan amat sigap ia melompat kembali dan melihat wanita itu hendak pergi dari jendela membawa Kim kong kiam.

Ia menubruk dari belakang dan memeluk kedua kaki wanita itu.

"Siluman jangan lari,"

Teriak bocah itu.

Beng Han tidak merasa lagi betapa pipinya yang sebetah kiri tergurat ujung pedang Kim kong kiam yang berada di tangan kiri wantia itu.

Darah mengucur membasahi pipi dan lehernya, namun ia tidak merasa dan tidak tahu.

Di lain pihak, Kui Lian menjadi marah sekali.

Dengan menggoyangkan tubuh, kembali ia membikin Beng Han terpental menubruk tembok.

Ketika bocah itu dengan nekad kembali menubruk, ia menjadi mata gelap dan pedang Kim kong kiam ditusukkan, memapaki datangnya tubuh bocah yang tabah itu.

"Mampus kau, tikus kecil...!"

Pada saat ujung pedang itu sudah hampir menyentuh kulit dada Beng Han, tiba tiba pedang itu terpental dan Kui Lian melompat ke belakang sambi berseru kaget.

Ternyata yang menolong Beng Han adalah kakek Song yang dari tempat duduknya dapat menangkis pedang itu dengan pukulan jarak jauh mengandalkan lweekangnya yang hebat.

Kini kakek Song ini sudah terjaga, sepasang matanya memandang wanita itu dengan tajam.

Kui Lian marah bukan main melihat serangannya gagal, apalagi digagalkan dengan cara yang demikian mudahnya.

Ia menerjang maju, menyerang kakek itu dengan tusukan ke arah dadanya.

Kakek Song sama sekali tidak mau mengelak, hanya tersenyum memandang seperti seorang tua memandang seorang anak nakal.

Dapat dibayangkan betapa terkejutnya hati Kui Lian ketika ujung pedangaya menusuk dada, ia merasa tangannya tergetar dan ujung pedang itu sama sekali tidak dapat menembus atau melukai dada, seakan akan menusuk sebuah benda yang keras dan ulet, meleset dan terpental kembali.

Di lain saat, tangan kakek Song bergerak dan pedang itu sudah terampas.

Baru Kui Lian insyaf bahwa nama besar kakak ini bukan kosong belaka, bahwa pujian pujian gurunya bukan main main dan kakek Song ini memang benar benar seorang yang sakti sekali.

Ia maklum bahwa dalam hal ilmu silat, ia seperti tanah melawan baja menghadapi kakek ini.

Cepat melangkah mundur tiga tindak, sepasang matanya seperti dua buah bintang berkeredap memandang dengan sinar mata menyambar wajah kakek Song, bibirnya yang berbentuk indah itu berkemak kemik, sepuluh buah jari tangannya melakukan gerakan gerakan mistik, sinar matanya makin tajam.

"Perempuan siluman...."

Kakek Song berkata lirih.

"kau siapakah dan apa kehendakmu?"

Kui Lan hanya tertawa haha hihi, lalu berkata menantang.

"Thian te Kiam ong, kau mengandalkan kepandaian untuk merebut pedang. Apa kau kira akupun tidak ada kepandaian?"

Tiba tiba dalam pandangan kakek Song, wanita di depannya itu perlahan lahan berobah menjadi asap dan di lain saat sudah lenyap dari pandangannya!

Dan tak lama kemudian, pedang di tangannya itu ditarik tarik oleh tangan yang tidak kelihatan!

Akan tetapi, dengan pengerahan tenaga lweekangnya, tangan tidak kelihatan yang hendak merampas pedang itu tidak berhasil.

Kemudian kakek Song merasa ada sambaran angin dari tangan yang memukulnya.

Dia tersenyum saja karena sambaran ini baginya amat lemah.

Benar saja, kepalan yang lunak menghantamnya beberapa kali di dada, leher dan mukanya.

Beng Han sudah bangun kembali.

Baru sekarang ia melihat darah mengalir dari pipinya yang tergurat pedang.

Lukanya dalam juga hingga darahnya banyak.

Akan tetapi tidak sempat memperhatikan diri sendiri karena melihat pemandangan yang amat aneh.

Ilmu sihir yang dikerahkan oleh Kui Lian hanya mempengaruhi kakek Song sehingga dalam pandangan kakek itu, ia tidak kelihatan lagi.

Akan tetapi Beng Han masih dapat melihatnya.

Wanita itu tadi mengerahkan sihir dengan pengaruh matanya, dan karena matanya tadi hanya memandang kepada kakek Song dan tidak memandang kepada Beng Han, maka anak itu terluput dari pengaruh sihir.

Dan Beng Han melihat hal aneh.

Ia melihat betapa wanita itu melangkah maju, membetot betot dan menarik narik pedang Kim kong kiam, berusaha untuk merampasnya tanpa hasil.

Kemudian ia melihat wanita itu marah marah dan nemukuli tubuh dan muka kakek Song, sedangkan gurunya hanya diam saja, bahkan seakan akan tidak melihat adanya wanita itu.

"Siluman kurang ajar, jangan menghina guruku!"

Beng Han berseru marah dan biarpun tubuhnya sudah sakit sakit karena beberapa kali terbanting, ia menyerbu dan memukul wanita itu dari belakang.

Kui Lian marah, membalikkan tubuh dan mengirim pukulan ke arah kepala Beng Han.

Akan tetapi, tiba tiba lengan tangannya terasa sakit sekali bertemu dengan jari kakek Song!

Biar pun matanya tak dapat melihat wanita itu, namun Thian te Kiam ong masih lihai untuk mendengar desir hawa pukulan mengancam kepala Beng Han, maka ia dapat menangkis dengan tepat sekali.

"Siluman wanita, pergi kau dari sini! Kalau tidak, terpaksa aku akan memukul roboh padamu!"

Bentakan yang dikeluarkan oleh kakek Song ini disertai lweekang yang hebat sehingga Kui Lian merasa tergetar jantungnya.

Merasa tidak berdaya menghadapi kakek sakti ini, ia lalu melarikan diri, melompat keluar dari jendela dan terus kabur di matam gelap!

"Tak lama lagi setelah kau mampus, baru aku datang mengambil pedang itu,"

Katanya perlahan menghibur kekecewaannya.

Setelah Kui Lian pergi, kakek Song menarik napas dan segara mengobati pipi Beng Han yang terluka.

Ia menjadi makin sayang kepada bocah ini yang sekarang telah membuktikan ketabahannya dan kesetiaannya.

"Beng Han, aku mempunyai dugaan bahwa siluman wanita tadi tentu ada hubungannya dengan Koai Thian Cu ."

"Akan tetapi kong kong tidak jahat, suhu. Wanita tadi jahat sekali."

Song Bun Sam menghela napas "Mungkin juga dugaanku keliru.

Beng Han, andaikata....

ini andaikata saja, kelak ternyata olehmu bahwa Koai Thian Cu yang kauanggap sebagai kong kongnu sendiri itu benar seorang jahat yang bermaksud menipuku dan menyuruh orangnya mencuri pedang pusakaku, apa yang akan kaulakukan?"

Anak kecil itu mengerutkan keningnya, kemudian berkata.

"Kalau benar demikian, maka hal itu luar biasa anehnya, suhu. Kong kong sering kali memberi nasihat nasihat baik kepada teecu dan dalam mengajar teecu membaca telah menyuruh teecu menghafal isi kitab kitab Su si Ngo keng. Akan tetapi, apabila ternyata kong kong jahat seperti yang suhu khawatirkan itu, biarpun dia itu teecu anggap sebagai kong kong sendiri, akan teeeu lawan. Siapapun orangnya, kalau jahat, pasti teeeu akan berusaha membasminya. Akan tetapi mudah mudahan tidak demikian, karena kalau teecu sampai bermusuh dengan dia, teecu akan merasa berduka dan sengsara. Dia seorang baik, suhu."

Girang sekali hati Thian te Kiam ong mendengar ini Ah, pikirnya, tidak salah aku menerima anak ini sebagai murid.

"Beng Han,"

Katanya lirih.

"ingatlah baik baik, aku hendak memesan sesuatu yang amat penting kepadamu. Akan tetapi kau harus berjanji dulu akan menyimpan rahasia ini baik baik dan tidak akan memberitahukan kepada lain orang."

Beng Han berlutut di depan pembaringan gurunya dan suaranya terdengar sungguh sungguh ketika ia berkata.

"Teecu bersumpah akan menjunjung tinggi pesan suhu dan kalau teecu melanggarnya, biarlah teecu binasa di bawah ujung Kim kong kiam!" -ooo0dw0ooo-

Jilid XXXIII "BAGUS!

Tepat sekali sumpahmu ini, karena memang pesanku ini terutama sekali mengenai Kim kong kiam.

Kau tahu, pedang ini sesungguhnya bukanlah Kim kong kiam yang aseli, ini hanya tiruan.

Adapun pedangku yang aseli bersama kitab Kim kong Kiam sut yang kutulis, sengaja kusembunyikan di puncak menara Kim Hud tah di Gunung Kui san.

Kelak, apabila kau benar benar memerlukan dua benda itu, kaulah orangnya yang kubolehkan mewarisinya, dan kau akan dapat mengambilnya dengan mempelihatkan suratku ini."

Sambil berkata demikian, kakek Song menyerahkan sebuah surat yang memang sudah dibuatnya sebelumnya.

Surat itu menerangkan bahwa pembawanya boleh mengambil dua benda yang ia simpan di tempat itu.

Beng Han menerima surat bersampul itu sambil bercucuran air mata.

"Eh, mengapa kau menangis?"

"Suhu, mengapakah teecu yang suhu warisi semua ini? Apakah kelak tidak akan menimbulkan kemarahan dari pihak keturunan suhu sendiri? Kim kong kiam adalah pedang pusaka keluarga Song, demikian pula ilmu silat pedang dari suhu adalah ilmu silat keturunan, bagaimana justeru teecu seorang luar yang suhu percaya?"

Diam diam kakek Song makin kagum kepada muridnya ini dan hatinya makin mantap.

"Bukan karena aku benci kepada anak cucuku, Beng Han. Sama sekali bukan Bahkan, terus terang saja, aku sengaja melakukan ini untuk.... kalau dapat, menolong dan menjaga keselamatan mereka. Sudahlah, kau tak perlu banyak bertanya dan penuhi saja pesanku. Andaikata kau betul betul telah memerlukan dua benda tersebut dan ingin mewarisinya, kau naiklah ke Kim Hud tah (Menara Bhuddha Emas) dan jangan kau turun kembali sebelum kau mempelajari ilmu pedang itu sampai sempurna betul. Kalau kau mengambil begitu saja dan membawa turun, kau akan celaka."

Beng Han mencatat dalam otaknya segala pesan suhunya ini dan menyatakan kesanggupannya untuk mentaati semua perintah kakek Song.

Hampir sebulan kemudian, dengan amat tiba tiba, penyakit yang diderita oleh kakek Song kambuh kembali secara hebat!

Napasnya menjadi sesak, kepala berat, tubuh lemas dan kedua kaki lumpuh!

Melihat hal ini, orang seisi rumah kaget sekali dan air mata mulai bercucuran.

Akan tetapi kakek Song sendiri tersenyum.

"Beng Han, kong kongmu itu memang orang luar biasa pandainya,"

Katanya teringat akan ramalan Koai Thian Cu.

Semenjak tukang gwamia itu datang, dua bulan hanya kurang tiga hari lagi!

Tinggal tiga harikah usianya?

Thian te Kiam ong Song Bun Sam mengumpulkan anak cucunya.

Di dalam kamarnya yang besar itu penuh dengan orang, semua memperlihatkan wajah muram dan berduka, kecuali si sakit sendiri!

Di situ berkumpul Song Tek Hong dan isterinya, Ong Siang Cu serta puteri mereka, Song Bi Hui.

Juga Song Siauw Yang dan suaminya Liem Pun Hui serta putera mereka, Liem Kong Hwat hadir.

Tadinya Beng Han hendak meninggalkan kamar demi kesopanan tanpa diminta oleh siapa pun sehingga Tek Hong menjadi kagum dan memandangnya dengan terima kasih, akan tetapi kakek Song menahannya.

"Beng Han, kau juga muridku. Guru dan orang tua sederajat, murid dan anak juga setingkat. Maka kau tinggat saja disini mendengarkan pesan pesanku agar ketak kalau anak cucuku ada yang lupa, kau dapat mengingatkan mereka."

Kakek Song berhenti sebentar untuk mengatur napasnya yang amat sukar keluarnya.

"Tek Hong, kau kelak yang mewakili aku mengawasi dan menjaga ketenteraman semua keluarga kita. Kau tahu bahwa dahulu aku telah banyak menanam permusuhan dengan orang orang kalangan hitam (penjahat). Tentu di antara mereka dan keturunan mereka banyak yang mendendam sakit hati. Oleh karena itu, kau dan semua kekeluarga harus selalu waspada dan hati hati. Ketahuilah bahwa Kim kong kiam juga selalu diincar incar orang, oleh karena itu, aku minta supaya pedang Kim kong kiam ini disimpan saja di Liok can, di rumah Siauw Yang,"

Kembali ia mengatur napas dan semua yang mendengarkan menjadi makin berduka.

"Aku tahu, ilmu kepandaian dari mantuku Siang Cu amat lihai. Alangkah baiknya kalau kalian mengadakan tukar menukar kepandaian sehingga kepandaian Bi Hui dan Kong Gwat bertambah, sungguhpun semacam saja kalau dipelajari dengan sempurna akan mengalahkan seratus macam yang tidak dipelajari secara baik. Sayang.... sayang aku tak dapat menyaksikan cucu cucuku menikah...."

Kata kata ini memancing isak tangis dari Siauw Yang, Siang Cu, dan Bi Hui.

"Jangan menangis, manusia mana yang tidak akan mati? Kiranya aku masih akan dapat tahan kalau dua tiga hari lagi. Bahkan lucunya.... kalau sampai empat hari aku tidak mati, berarti aku akan hidup beberapa tahun lagi! Ha, ha, ia!"

Ssmua orang yang tidak tahu akan ramalan Koai Thian Cu, mendengar kata kata ini menjad bengong dan mengira bahwa kakek Song telah bicara kacau karena sakitnya.

"Tek Hong, muridku Beng Han ini jangan kau sia sia. Kau pelihara dia baik baik, kau beri pelajaran ilmu silat sebaik baiknya, kau mewakili aku mengajarnya. Kelak ia akan berguna sekali untuk keluarga Song. Kalau dia ingin belajar sastera, biar dia belajar dari mantuku Pun Hui. Dia anak yatim piatu, tak boleh disia sia, harus ditolong. Amat tidak baik menghina seorang anak yatim piatu."

Beng Han menggigit bibirnya untuk menahan isak tangisnya Hanya sepasang matanya saja tak dapat menahan dan air mata turun bercucuran di sepanjang pipinya, melalui luka di pipi kiri yang masih membekas karena ujung pedang yang dipegang oleh Kui Lian dahulu.

Setelah banyak banyak memesan kepada semua anak cucunya, kakek Song tertidur saking lelahnya.

Anak cucunya menjaga secara bergiliran, akan tetapi Beng Han tak mau meninggalkan lantai di depan pembaringan suhunya.

Biarpun beberapa kali Tek Hong menyuruh ia mengaso, ia menyatakan tidak lelah dan ingin menjaga terus suhunya sehingga Tek Hong menjadi terharu melihat kebaktian anak ini dan menyetujui permintaannya.

0odwo0 Kita tinggalkan dulu keluarga Song yang sedang prihatin dan diliputi suasana muram karena kakek Song menderita sakit itu dan marilah kita mengikuti perjalanan Kui Lian.

Biarpun ilmu silatnya tidak berapa tinggi, namun dengan bekal ilmu hoat sut yang ia pelajari secara mendalam sehingga ia memiliki kepandaian luar biasa dalam ilmu ini, Kui Lian menjadi amat tabah.

Di bagian depan sudah diceritakan betapa ia sampai berani menyerbu ke rumah keluarga Song yang terkenal sebagai sarang naga dan harimau.

Akan tetapi, biarpun ia dapat menghilang di depan mata Thian ie Kiam ong Song Bun Sam, namun ia dibikin tidak berdaya oleh kakek sakti itu.

Terpaksa ia pergi dengan tangan kosong mengambil putusan untuk kelak datang mencuri pedang kalau kakek itu sudah mati.

Dengan sedikit ilmu melihat tanda tanda di muka orang, ia telah melihat tanda kematian yang sudah dekat dari kakek Song, maka terhiburlah hatinya.

Kini Kui Lian menujukan tindakan kakinya ke Soa couw, tempat yang selama ini selalu muncul di dalam alam mimpinya, untuk melakukan idam idamannya yang telah lama ia tahan di hati selama beberapa tahun.

Ke Soa couw, ke rumah keluarga Thio.

Membalas dendam, menagih perhitungan lama.

Dengan senyum manis akan tetapi menyeramkan dan sinar matanya membayangkan kekejian, Kui Lian melakukan perjalanan itu dan kalau membayangkan betapa ia akan melakukan pembalasan dendam, ia tertawa bergelak gelak, ketawa yang nyaring dan merdu, akan tetapi mengandung suara seperti bukan suara manusia lagi.

Kui Lian sengaja memilih hari menjelang tahun baru untuk mendatangi Soa couw.

Ia sengaja menanti di luar kota sampai lima hari agar dapat memasuki kota itu tepat di hari malaman Sinchia.

Ia sengaja melakukan hal ini untuk memperingati pengalamannya yang luar biasa sengsaranya di malaman Sinchia enam tahun yang lalu.

Kota Soa couw masih sama dengan dulu.

Cara penduduknya merayakan malaman Sinchia, masih tidak berubah, sama benar dengan dulu dulu.

Rumah rumah dihias indah dicat baru.

Orang orang hilir mudik dengan wajah gembira.

Di mana mana terdengar orang orang merayakan hari raya itu, tetabuan dibunyikan, mercon mercon membikin bising dan gembira.

Semua masih sama dengan enam tahun yang lalu.

Akan tetapi, alangkah bedanya Kui Lun sekarang dengan Kui Lian enam tahun yang talu.

Enam tahun yang lalu, Kui Lian diseret seret keluar kota, mengalami penghinaan sebesarnya, diusir di tengah malam dan menangis sampai matanya hampir berdarah.

Kui Lian enam tahun yang lalu meninggalkan kota Soa couw dengan perasaan perih dan hati remuk redam.

Akan tetapi Kui Lian sekarang memasuki Soa couw dengan senyum manis di bibir, mata bercahaya cahaya penuh kegembiraan hendak tercapai cita cita membalas dendam, menebus sakit hati enam tahun yang lalu.

Di sepanjang jalan, ketika pada senja hari Kui Lian memasuki kota Soa couw, orang orang memberi hormat dan menyapanya dengan manis budi dan ramah.

Siapa yang tak senang melihat seorang wanita muda cantik jelita yang melihat pakaiannya dan kebutan di tangannya tak salah lagi tentu seorang tokouw (pendeta wanita)?

Terutama para pemudanya.

Biarpun mulut mereka tentu saja tidak berani kurang ajar terhadap seorang tokouw namun sinar mata mereka lebih kurang ajar dari pada andaikata, mereka berani bicara tak pantas.

Memang Kui Lian manis dan cantik, lebih manis dari dulu, lebih cantik.

Kerling mata dan senyum bibirnya manis dan matang, pendeknya memenuhi selera setiap laki laki yang memandangnya.

Tak seorangpun yang akan dapat mengenal tokouw ini sebagai Kui Lian yang dahulu.

Dulu usianya baru enambelas tahun ketika ia terusir, biarpun ia telah mengandung, namun sebenarnya dia masih kanak kanak.

Sekarang usianya sudah duapuluh tahun lebih, tubuhnya lebih berisi, sifat kekanak kanakan pada muka dan tubunya sudah lenyap, terganti sifat wanita sepenuhnya.

Di depan gedung keluarga Thio ia berhenti.

Biarpun ia terlatih, tetap saja dadanya berdebar keras dan darahnya berdenyar kencang ketika ia melihat rumah gedung ini.

Indah dan dihias seperti dahulu pula.

Teringat ia betapa dahulu sebelum dijatuhi fitnah dan hukum, beberapa hari di muka ia ikut pula menghias ruangan depan, ikut pula bergembira ria menyambut datangnya Sinchia yang hampir tiba.

Sampai lama ia berdiri saja di depan pintu pekarangan depan, matanya tak pernah berkedip, seakan akan hendak menembus rumah itu, dan kadang kadang mata itu bercahaya seperti hendak membakar rumah gedung beserta sekalian isinya.

"Suthai hendak mencari siapakah?"

Teguran tiba tiba ini membuat Kui Lian sadar dari lamunannya.

Ia cepat tersenyum manis dan ramah kepada seorang laki laki yang berpakaian seperti pelayan itu.

Saking dalamnya ia melamun tadi, sampai ia tidak melihat munculnya pelayan ini.

"Eh, pinto ingin sekali bertemu dengan tuan rumah. Ada urusan yang amat penting sekali. Sukakah kau memberi tahu kepada majikanmu bahwa seorang tokouw dari kuil Cai im tang di luar kota mohon bertemu?"

Pelayan baru yang tidak di kenal oleh Kui Lian.

Dia ini seorang mata keranjang yang segera tertarik sekali oleh tokouw yang muda dan cantik manis ini.

Maka mendengar permintaan Kui Lian yang diucapkan dengan suara halus dan ramah, timbul kekurangajarannya untuk mengganggu.

Memang pada masa itu, bukan jarang terdapat pendeta pendeta laki laki atau wanita yang berlaku nyeleweng, menggunakan pakaian pendeta hanya untuk kedok saja, maka banyak orang yang memandang rendah dan berani menggoda para tokouw atau nikouw.

Pelayan itupun timbul kekurangajarannya melihat seorang tokouw muda yang cantik, apalagi ia yang telah pengalaman dalam hal ini melihat senyum dan kerling mata yang genit itu.

"Suthai yang baik. Pada saat seperti ini, loya dan keluarganya tak boleh diganggu. Kalau suthai hendak ikut berpesta gembira, marilah bergembira dan berpesta dengan aku saja. Aku baru mendapat hadiah sepuluh tael dari majikanku,"

Ia menepuk sakunya di mana terdapat uang hadiah itu. Kui Lian mendongkol. Digerakkannya hud tim di tangannya, menuding muka pelayan itu dan katanya ketus.

"Orang macam engkau ini mana punya uang?"

Pelayan itu merogoh sakunya dan... uang sepuluh tael perak yang ia baru saja dapat dari Thio loya, benar benar telah lenyap! Selagi ia melongo dan pucat, Kui Lian berkata.

"Hayo sampaikan pesanku tadi kepada majikanmu!"

Pelayan itu tiba tiba nampak kaku dan bagaikan sebuah boneka yang dapat berjalan, ia memutar tubuh dan masuk ke dalam rumah ia telah bergerak bukan karena kehendak sendiri, akan tetapi seluruh kemauannya telah dikuasai oleh pengaruh sihir dari Kui Lian!

Pelayan itu langsung memasuki ruangan dalam di mana Thio Kin sedang makan minum dilayani oleh selir selirnya.

Nyonya Thio duduk menemani suaminya.

Semua orang memandang pelayan ini dengan heran, dan Thio Kin memandang marah.

Akan tetapi pelayan yang masuk bukan atas kehendaknya sendiri dan dalam keadaan tidak sadar itu, tidak perduli, terus saja melangkah maju menghadapi Thio Kin dan berkata tantang.

"Loya, diluar ada seorang tokouw dari kuil Cui im tang hendak bertemu dengan loya untuk urusan yang sangat penting."

Baru saja kata kata ini habis dikeluarkan, iapun terguling dan roboh dalam keadaan pingsan, kaku!

Thio Kin terkejut melihat kejadian ini dan menjadi curiga.

Dipanggilnya para pengawalnya yang tetap saja menjaga di malaman tahun baru itu, di ruang belakang sedang minum minum dan main judi.

Lima orang pengawal berlari datang kemudian mengikuti rombongan Thio loya yang menuju ke luar untuk melihat tokouw siapakah yang datang itu.

Ketika Thio Kin dan semua orang tiba di luar, mereka tertegun.

Apalagi Thio Kin, begitu melihat tokouw itu, melihat matanya seperti tertarik oleh sesuatu yang luar biasa.

Di dalam pandang matanya, tokouw itu manis dan cantik sekali, dan selalu bermain mata dengan kerling memikat disertai senyum menantang yang manis sekali.

"Suthai hendak bertemu dengan siapakah? Dan ada keperluan apa?"

Tanya thio Kin. Dengan sikap agung dan suara keren Kui Lian berkata.

"Ketika tadi aku lewat di depan, aku melihat hawa siluman di atas rumah ini maka aku menjadi kasihan kepada penghuni rumah dan hendak mengusir setan."

Semua orang kaget, akan tetapi Thio Kin dapat melenyapkan rasa kagetnya dan bertanya.

"Suthai, apakah tandanya bahwa di dalam rumah ada siluman?"

Kui Lian menunjuk dengan kebutannya ke atas rumah dan berkata.

"Kalian lihatlah, di atas rumah itu ada uap kehitaman seperti mega, itulah hawa siluman!"

Thio Kin dan semua orang memandang ke atas dan.... betul saja, mereka melihat uap hitam mengebul tebal di atas wuwungan rumah! "Celaka...."

Thio Kin mengeluh dan cepat ia menjura kepada pendeta wanita yang catik lagi muda itu sambil berkata.

"Mohon pertolongan suthai.... tolonglah nyawa kami sekeluarga."

Suaranya menggigil ketakutan, sedangkan para selir sudah sejak tadi saling peluk dengan tubuh menggigil.

Hanya Thio hujin yang agak bersikap tenang.

Ia memandang tajam kepada tokouw muda ini, sama sekali tidak tahu bahwa ia berhadapan dengan Kui Lian bekas pelayan pribadinya.

"Suthai, tadinya tidak terjadi sesuatu, tidak ada apa apa yang buruk di rumah kami. Mengapa sekarang tiba tiba ada siluman? Dan mengapa pelayan kami tadi begitu melapor tentang kedatanganmu lalu roboh pingsan?"

Nyonya ini berkata sambil memandang tajam kepada wajah cantik yang serasa pernah dikenalnya ini.

"Toanio, memang siluman itu baru saja datang. Agaknya sengaja datang di waktu malaman Sinchia, entah mengapa harus kuselidiki lebih dahulu. Adapun pelayan yang pingsan, tentu telah terkena gangguan siluman itu, aku sanggup untuk menyembuhkannya setelah aku memeriksa orangnya."

Mendengar ini Thio Kin lalu mengajak tokouw itu masuk ke dalam rumah sambil tiada hentinya menyatakan pengharapannya agar tokouw itu cepat cepat mengusir siluman itu dari rumahnya.

Pelayan yang pingsan kaku itu masih dalam keadaan seperti tadi, tak dapat siuman kembali biarpun banyak kawannya sudah berusaha membetot betot urat urat tubuhnya dan mengguyur kepalanya dengan air dingin.

Tokouw itu berdiri dan memandang kepada pelayan itu.

Lalu katanya.

"Dia betul terganggu siluman yang berada di atas rumah. Ambil kotoran manusia dan jejalkan ke dalam mulutnya. Hanya itulah obatnya, dia akan sembuh kembali."

Biarpun terheran heran akan "obat"

Aneh ini, Thio Kin menyuruh pelayan pelayannya untuk mentaati perintah tokouw itu.

Kasihan sekali pelayan tadi, karena kelancangan mulutnya terhadap Kui Lian sekarang terpaksa merasa dijejali kotoran mulutnya!

Akan tetapi benar saja, setelah mulut pelayan yang pingsan kaku itu dipaksa terbuka dan dijejali kotoran manusia, ia siuman kembaii sambil mengeluh, kemudan muntah muntah dan lari ke kamar mandi untuk membersihkan mulutnya!

Semua orang, biarpun ketakutan dan merasa ngeri, mau tak mau tertawa melihat hal lucu ini.

"Kuharap semua penghuni rumah ini berkumpul agar menyaksikan aku menangkap siluman. Harus lengkap semua keluarga dan pelayan, tidak boleh ada yang ketinggalan serorangpun. Terutama sekali tuan dan nyonya rumah bersama anak anak mereka."

Tentu saja Kui Lian mengharapkan munculnya Thio Sui yang sejak tadi tidak kelihatan di stiu.

"Semua sudah berkumpul,"

Kata Thio Kin.

"kecuali anak kami Thio Sui yang berada di kota raja untuk menghormat calon mertuanya di sana."

"Dan tiga orang pelayan yang pulang ke kampung menjelang tahun baru,"

Sambung Thio hujin. Tokouw muda itu mengeratkan alisnya yang hitam panjang dan melengkung.

"Bagi tiga orang pelayan masih tidak apa, akan tetapi kongcu harus dibersihkan dari hawa siluman. Biarlah, tidak apa, asal saja aku diberi tahu di mana ia tinggal di kota raja, aku dapat mengusir hawa siluman yang mengikutinya itu dari jauh."

"Calon mertuanya adalah seorang pembesar berpangkat siupi she Ma. Di kota raja semua orang mengenal Ma siupi, dan putera kami setelah lulus dalam ujian dan menjadi tiong goan akan melangsungkan pernikahannya di sana dua bulan lagi."

Kui Lian mengangguk angguk.

"Cukuplah, aku dapat mengurusnya dari jauh."

Kemudian ia menyuruh semua orang diam dan berkatalah dia, dengan suara amat berpengaruh sehingga semua mata memandangnya, penuh perhatian.

"Semua orang lihatlah kepadaku!"

Ia lalu berjalan mundar mandir di dalam ruangan tengah itu, semua mata mengikut gerak geriknya tanpa berkedip.

Kemudlan tokouw itu duduk bersila di atas lantai, di tengah tengah ruangan, mulutnya berkemak kemik, tiba tiba ia berkata lantang.

"Siluman sudah datang.... !"

Semua orang, termasuk Thio Kin dan lima orang pengawalnya yang biasanya tabah dan sombong, menjadi gemetar dan para wanita hampir pingsan ketika tiba tiba mereka melihat uap hitam bergulung gulung dari atas turun ke bawah dan berputar putar di depan Kui Lian!

Semua tak berani bergerak dan memandang kepada Kui Lian yang menggerak gerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, seperti sedang bercakap cakap dengan "siluman"

Berupa uap hitam bergulung gulung di depannya itu. Tak lama kemudian uap hitam menghilang. Semua orang merasa lega hatinya, dan tokouw itu berkata.

"Siluman sudah takluk kepadaku dan bersedia untuk meninggalkan rumah ini. Dia itu adalah roh dari seorang pelayan wanita yang dulu diusir dan sini dalam keadaan mengandung."

"Kui Lian....!"

Terdengar Thio hujin mengeluh. Biarpnn sengaja mempermainkan mereka, namun hatinya berdebar ketika mendengar bekas nyonya majikannya itu menyebut namanya.

"Apakah dia dulu pernah menerima penghinaan dari rumah ini?"

Tanyanya. Thio Kin hanya menundukkan mukanya, dan Thio hujin yang menjawah lemah.

"Ya, ya.... mungkin dia sakit hati...."

"Habis dia mencemarkan nama baik keluarga kami,"

Tiba tiba Thio Kin membela nama keluarganya dan sama sekali sidak melihat betapa tokouw itu memandangnya dengan mata tajam menusuk. Kui Lian mengangguk angguk, lalu berkata lagi.

"Tentu saja roh nya ingin membalas dendam kepada orang orang yang pernah mengganggunya dahulu. Oleh karena itu, penghuni rumah ini yang pernah merasa menjadi musuhnya, yang pernah secara diam diam membencinya, dan merasa senang atas kesengsaraannya dahulu, supaya sekarang berkumpul di sini untuk dibersihkan dan dimintakan maaf. Yang lain lain yang tak pernah mengenalnya, atau yang dulu ada hubungan baik dengan dia, tak usah khawatir, dia takkan mengganggunya dan boleh meninggalkan ruangan ini. Hanya mereka yang pernah membencinya, baik berterang maupun secara diam diam, diharuskan berkumpul di sini bersama loya dan hujin."

Para pelayan itu memang tentu saja ada yang dulu bergirang melihat nasib buruk Kui Lian, yaitu mereka yang iri hati melihat Kui Lian disayang oleh majikan majikannya, apalagi melihat Kui Lian dikasihi oleh Thio kongcu.

Mereka yang pernah merasa benci kepada Kui Lian, tentu ingin sekali dirinya "dibersihkan"

Dan dibebaskan dari pengaruh dendam siluman itu.

Pada masa itu, tidak ada orang yang tidak percaya akan adanya siluman siluman dan dewata dewata, maka tentu saja bagi Kui Lian yang memiliki kepandaian hoat sut yang tinggi, mudah saja melakukan peranannya.

Setelah semua orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan Kui Lian meninggalkan ruangan itu, di situ yang tinggal hanya Thio Kin, Thio hujin, dua orang selir dan tiga orang pelayan wanita.

Dua orang selir itu diam diam membenci Kui Lian karena gadis itu menjadi kekasih Thio kocgcu yang secara rahasia mengadakan perhubungan dengan mereka pula.

Adapun tiga orang pelayan itu, membenci Kui Lian karena pelayan baru itu dijadikan kepercayaan dan menjadi pelayan pribadi Thio hujin.

Setelah melihat orang orang yang menjadi musuhnya berkumpul di depannya, tiba tiba tokouw itu tertawa, dengan suara ketawanya yang menyeramkan bulu tengkuk.

Kemudian ia membuka tutup kepalanya dan membiarkan rambutnya terurai.

Rambut yang panjang dan hitam itu berombak ombak menutupi pundak dan punggungnya, sebagian ke depan menutupi dadanya yang berombak karena kemarahannya timbul menghadapi musuh musuhnya ini.

Dalam pandangan wanita wanita di situ, ia kelihatan mengerikan dan menakutkan.

Akan tetapi dalam pandangan Thio Kin yang biarpun sudah tua tetap masih mata keranjang itu.

Ia kelihatan begitu cantik menarik sehingga mata si bandot tua ini melongo menatapi wajah dan rambutnya!

Tetap saja tak seorang di antara mereka yang mengenalnya, biarpun kini mereka merasa seperti pernah ketemu dengan tokouw pengusir siluman ini Kemudian, terdengarlah suara Kui Lian, suara yang nyaring menusuk, diiringi pandang mata bersinar sinar penuh kekejaman, dan senyum menyeringai setengah mengejek.

"Benar benarkah kalian tidak mengenal aku lagi....? Thio loya hujin, dan yang lain lain? Apakah mata kalian sudah buta semua dan tidak mengenal aku, orang yang dulu kalian hina dan kalian tertawakan....? Ha, ha, ha, tidak hanya perasaan dan hati kalian yang buta, juga mata kalian sudah hampir buta! Lihat baik baik, loya. Lihatan baik baik dengan matamu yang berminyak itu. Ha, ha, kambing tua tak tahu malu. Dan juga, hujin, kau yang bermuka palsu, pura pura berbudi mulia akan tetapi curang. Kalian berdua tidak memperbaiki perbuatan putera kalian, malahan menyalahkan kepada pelayan yang sudah ditimpa kemalangan!"

"Kui Lian.... kau.... kau Kui Lian....!"

Kini Thio hujin yang mengenalnya, dan mendengar ini, semua orang terbuka matanya. Para selir kaget, juga para pelayan dan mereka hendak buru buru angkat kaki dari tempat itu.

"Berhenti! Kalian tak dapat bergerak! Semua tak kuasa berkutik dan tidak bisa berteriak!"

Kedua lengan Kui Lian diangkat, jari jari tangannya dikembangkan, sepasang matanya memancarkan pengaruh yang dahyat dan....

tujuh orang itu benar benar tak dapat bergerak!

Thio Kin yang ingin berteriak rnemanggil pengawal pengawalnya juga tak dapat mangeluarkan suara.

Mereka semua telah jatuh ke dalam pengaruh ilmu sihir yang memancar keluar dari sepuluh jari tangan yang dikembangkan dan dari pandang mata yang mengerikan itu.

Dahulunya Kui Lian bukan searang yang berhati kejam.

Dia seorang gadis temah lembut yang baik hati.

Akan tetapi, iblis memang tidak berjauhan dengan manusia.

Sedikit saja mendapat kesempatan, iblis akan menempatkan diri dalam hati manusia.

Kesempatan ini terbuka ketika Kui Lian merasa dibikin sakti hati, ketika gadis itu menaruh dendam kepada orang orang yang membikin dia sengsara.

Dendam ini menimbulkan sifat sifat kejam padanya, ingin ia melihat musuh musuhnya tersiksa, menderita seperti dia dahulu, bahkan lebih lagi.

Knt Lian menghadapi Thio Kin dan isterinya.

"Kalian yang menjadi biang keladii kesengsaraan dan penderitaanku, kalian tak berhak hidup lebih tama lagi. Thio Kin, kau dan isterimu tak boleh menyaksikan pernikahan anak kalian. Berdoalah minta ampun kepada nenek moyangmu!"

Setelah berkata demikian, kebutan di tangan Kui Lian menyambar mengenai kepala bagaian belakang dari Thio hujin.

Hud tim itu menotok jalan darah di belakang kepala dan Thio hujin roboh tak berkutik iagi.

Nyawanya melayang tanpa ia sempat mengeluarkan suara.

Thio Kin ketakutan, mukanya pucat, matanya terbelalak dan keringat dingin memenuhi mukanya.

Ia ingin minta ampun, ingin berlutut, ingin pula melawan dan memanggil pengawalnya, akan tetapi ia tidak dapat bergerak, tak dapat berteriak, hanya dapat memandang Kui Lian dengan mata melotot.

Kemudian datanglah hud tim itu menyambar leher dan dadanya dua kali.

Thio Kin terguling dari kursinya dan dalam keadaan hampir mati terlepaslah ia dari pengaruh sihir, ia menjerit ngeri dan panjang lalu tubuhnya berkelojotan!

Kui Lian tertawa bergelak gelak dan air matanya mengucur keluar dari sepasang mata yang sudah kelihatan merah menyeramkan itu "Hi, hi.

Hi, hi, mampus kau!

Mampus kau!"

Teriaknya dengan suara parau seperti bukan suaranya sendiri.

Dapat dibayangkan betapa takutnya dua orang selir dan tiga orang pelayan itu.

Boleh dibilang semangat mereka sudah setengahnya terbang keluar meninggalkan badan saking takut mereka menghadapi peristiwa mengerikan ini, tanpa dapat bergerak atau berteriak.

Tentu saja jerit yang dikeluarkan oleh Thio Kin dan suara ketawa dari Kui Lian ini terdengar oleh mereka yang berada di luar ruangan itu.

Akan tetapi karena mereka ini menduga bahwa di dalam sedang terjadi hal hal yang menyeramkan untuk mengalahkan siluman, hal ini bahkan membikin mereka seram dan takut.

Para wanita bahkan sudah lari menjauhkan diri, dan hanya lima orang pengawai itu saja yang berani mendekat dengan golok dicabut.

Akan tetapi merekapun tidak berani melongok ke dalam, takut kalau kalau siluman akan mencabut nyawa mereka.

Sementara itu, di dalam ruangan itu Kui Lian menghadapi dua orang selir yang memandangnya dengan muka tak berdarah.

"Kalian benci kepadaku, ya? Kalian anjing anjing betina yang tak tahu malu, kalian membenci padaku karena menganggap aku merampas kekasih kalian, Thio Sui. Anjing betina yang bermain gila dengan anak tiri sendiri, kalian tidak tahu malu dan semenjak sekarang, kalian akan kehabisan rasa malu. Seperti anjing anjing rendah kalian takkan malu melakukan apapun juga!"

Dua kali hud tim itu berkelebat dan ujungnya mencambuk kening dua orang selir itu.

Tiba tiba mereka berdua itu menjambak jambak rambut sendiri, merasa kepala mereka sakit sakit dan gatal gatal hingga saking tidak tahan lagi, keduanya sampai merenggut pakaian mereka terlepas, bergulingan sambil menangis.

Kui Lian tertawa lagi dengan buas, lalu menghadapi tiga orang pelayan perempuan yang menjadi makin ketakutan melihat semua itu.

"Kalian bertiga juga membenci aku? Hmm, benar benar tak punya otak, sama sama pelayan membenci. Daripada punya sedikit otak tak mampu mempergunakannya, lebih baik sama sekali tak punya otak. Kau tidak akan ingat apa apa lagi selama hidupmu! Kembali hud tim itu bergerak gerak memecut kepala tiga orang wanita pelayan itu dan di lain saat tiga orang pelayan ini sudah kehilangan ingatan mereka. Ketika Kui Lian tertawa bergelak, tiga orang wanita ini ikut pula tertawa terkekeh kekeh sehingga suara yang terdengar dari dalam ruangan itu besar benar menegakkan bulu tengkuk. Lima orang pengawal menjadi kaget dan heran sekali. Dengan memberanikan diri mereka menyerbu masuk karena mendapat firasat yang tidak enak. Alangkah kagetnya ketika mereka berlima melihat keadaan di dalam ruangan itu. Thio loya dan isterinya menggeletak tak bernyawa lagi di atas lantai, dua orang selir dengan telanjang bulat bergulingan di atas lantai sambil menangis dan tiga orang pelayan berjingkrak jingkrak tertawa tawa dengan mata terputar putar. Sedangkan tokouw yang katanya hendak mengusir siluman, berdiri di sudut dengan senyum mengejek. Hud timnya digerak gerakkan secara rahasia untuk menambah pengaruhnya membikin gila lima orang wanita itu! Ketika seorang di antara para pengawal membungkuk dan memeriksa keadaan Thio Kin dan tahu bahwa majikannya telah tewas, bukan main marahnya.

"Tokouw siluman, apa yang telah kau lakukan?"

Bentaknya dengan golok siap di tangan. Kawan kawannya juga siap menghadapi Kui Lian. Tokouw muda yang rambutnya riap riapan itu tersenyum manis sekali, lalu melangkah maju menghampiri mereka.

"Aku bunuh mereka, dan bikin gila lima anjing ini. Kalian mau bunuh aku? Mari, silahkan. Bunuhlah, hi hi hi."

Kui Lian melenggang maju dengan langkah dan gaya memikat, sepasang matanya memandang tajam, bibirnya tersenyum manis dan kedua tangannya membuka rambut yang menutupi lehernya, memperlihatkan kulit lehernya yang halus dan putih.

Sikapnya menantang sekali.

Di dalam gerakan gerakan ini tersembunyi tenaga yang luar biasa dari ilmu hoat sut sehingga lima orang itu hanya berdiri melongo, golok mereka yang terpegang tergantung ke bawah dan mereka menjadi lemas Dalam pandangan mata mereka, Kui Lian demikian cantik dan jelitanya sehingga mereda tak kuasa menggerakkan tangan, apalagi menggunakan golok membacok leher yang halus putih itu!

Sambil masih mengerling dan tersenyum senyum, Kui Lian berjalan melalui mereka, keluar dari ruangan menuju ke depan.

Lima orang pengawal itu teringat bahwa majikan mereka telah tewas, maka berkatalah seorang yang tertua.

"Kita harus tangkap dia! Dia pembunuh!"

Serentak mereka mengejar dan mengurang Kui Lian. Kui Lian mengangkat kedua tangannya ke depan sambil menatap mata mereka dan...... lenyaplah dia dari kepungan.

"Aku di sini, kalian hendak menangkap akukah?"

Tiba tiba mereka mendengar suara dan ternyata wanita itu telah berdiri di sudut, di luar kepungan sambil berjalan tersenyum senyum menghampiri mereka.

"Kepung! Tangkap!"

Teriak yang tertua dan kembali mereka mengepung Kui Lian.

Akan tetapi seperti tadi, sebentar saja wanita itu lenyap dari pandang mata.

Ketika mereka mencari cari, mereka melihat berkelebatnya bayangan wanita itu di pekarangan luar.

Mereka berteriak teriak sambil mengejar dan di pekarangan luar kembali mereka mengepung.

Kini seorang di antara mereka yang termuda dan berani, cepat sekali menubruk dan memeluknya dari belakang.

"Siluman perempuan, hendak lari kemana?"

Bentaknya sambil mempererat pelukannya.

Wanita itu meronta ronta sehingga kawan kawannya terpaksa membantu, ada yang memegarg tangan, ada yang memeluk pinggang dan menjambak rambut.

Keadaan menjadi ribut sekali.

Tiba tiba mereka mendengar suara ketawa dari belakang mereka, suara yang membuat mereka tetkejut sekali dan menengok ke belakang.

Benar saja, wanita itu telah berdiri di belakang mereka sambil tertawa tawa dan ketika mereka melihat orang tangkapan itu....

terryata adalah pengawal yang tertua yang menyumpah nyumpah.

"Gila! Buta! Mengapa aku yang kalian keroyok?"

Bentaknya berkali kali.

Tahulah mereka kini bahwa mereka menghadapi seorang wanita yang pandai seperti siluman.

Dengan golok terangkat kelima orang pewgawal ini lalu menyerbu, kini hendak menyerang sungguh sungguh.

Akan tetapi, sekelebatan saja lenyaplah Kui Lian, meninggalkan suara ketawa yang mengerikan di malam hari itu.

Keadaan menjadi geger.

Lima orang pengawal itu berteriak terteriak.

"Ada siluman.... ada siuman...."

Sebentar saja di situ penuh dengan orang orang yang datang karena teriakan teriakan ini dan ramailah rumah gedung keluarga Thio, penuh orang orang yang hendak menonton korban siluman.

Keadaan menjadi lebih gaduh dan ribut lagi ketika lima orang wanita yang telah gila sambil berteriak teriak, menangis dan tertawa, berlari lari keluar dari rumah!

Kota Soa couw bertambah lima orang gila lagi yang berkeliaran di jalan jalan, yang berturut turut dalam beberapa bulan kemudian mati di pinggir jalan karena kelaparan!

Kui Lian telah menagih hutang dan kekejaman enam tahun yang lalu terjadi di rumah keluarga Thio itu sekarang harus ditebus secara mahal sekali.

0odwo0 Keaadaan Thian te Kiam ong Song Bun Sam bertambah payah dan dua hari kemudian semenjak kakek Song ini meninggalkan pesanan pesanan kepada anak cucuknya, ia sudah tak dapat bicara lagi!

Anak anak dan cucu cucunya menjaga di dekat pembaringan dan pelahan lahan terdengar isak tangis dari Song Siauw Yang, Ong Siang Cu, dan Song Bi Hui.

Tiba tiba kakek Song membuka matanya, menarik napas panjang seperti mengumpulkan kekuatan terakhir dan hebat, dia dapat bangun dan duduk!

Benar benar luar biasa sekali kakek ini.

Biarpun dalam keadaan sudah hampir mati, ia masih berhasil mengumpulkan tenaga dan bangun duduk, kemudian dengan tangannya memberi isyarat supaya orang mengambilkan alat tulis.

Tek Hong cepat cepat mengambilkan kertas dan tinta pensil dan kakek yang sudah tidak dapat bicara lagi ini mulai menulis huruf huruf yang jelas dan kuat goresannya.

Anak cucunya dengan penuh perhatian membaca huruf huruf itu.

Pesanku Terakhir, Bi Hui harus dijodohkan Dengan cucu laki laki Sin tung Lo Kai.

Juga Kong Hwat harus dijodohkan dengan Cucu perempuan Sin tung Lo Kai.

Demikian bunyi tulisan sebagai pesan terakhir dari kakek Song.

Tek Hong suami isteri dan Pun Hui suami isteri berlutut di depan pembaringan, menyatakan hendak mentaati perintah kakek Song ini.

Tak seorangpun tahu betapa Bi Hui dan Kong Hwat saling bertukar pandang dan muka mereka menjadi pucat sekali.

Pada malam harinya, dengan tenang Thian te Kiam ong Song Bun Sam, pendekar pedang yang tiada keduanya sehingga mendapat julukan Si Raja Pedang meninggal dunia, di antar oleh tangis anak cucunya.

Anehnya, tangis yang paling hebat di lakukan oleh Bi Hui dan Kong Hwat.

Orang orang hanya mengira bahwa dua orang muda itu saking besar cintanya kepada kong kong mereka maka amat berduka, padahal di dalam kedukaan mereka ini terselip rahasia pribadi.

Dua orang muda, atau misan ini ternyata telah saling menukar hati, saling mencinta!

Maka dapat dibayangkan betapa kecewa dan berduka hati mereka ketika membaca pesan terakhir dari kong kong mereka bahwa mereka berdua harus dijodohkan dengan cucu cucu dari Sin tung Lo kai.

Oleh karena keluarga Song tidak mempunyai sanak saudara yang tinggal di tempat jauh, dan anak cucunya sudah berkumpul di situ, maka jenazah tidak ditahan terlalu lama dan segera dimakamkan dengan upacara yang cukup ramai karena boleh dibilang semua penduduk Tit le tidak ada yang keluar mengantar.

Sedikitnya dari satu rumah tentu keluar seorang anggota keluarga yang mengantar rombongan jenazah pendekar besar itu.

Setelah peti jenazah itu dikubur dan makam itu disembahyangi, tiba tiba terdengar suara orang berteriak teriak kecewa.

"Terlambat....! Terlambat...."

Dan dari bawah berlari lari naiklah beberapa orang ke tempat pemakaman yang merupakan pegunungan kecil itu.

Semua orang memandang dan ternyata yang berlari lari naik itu adalah tiga orang.

Yang berteriak teriak kecewa tadi adalah seorang kakek berusia limapuluh tahun lebih, dari pakaiannya ternyata bahwa ia seorang tosu, jubahnya kuning, topinya juga kuning, mukanya panjang kurus dan sepasang matanya tajam setengah terkatup.

Dua orang di kanan kirinya adalah dua orang laki laki yang usianya kurang lebih tigapuluh tahun, berperawakan kekar dan di pinggang mereka tergantung pedang.

Agak jauh di belakang mereka nampak seorang pengemis tua terpincang pincang, dibantu sebatang tongkat bambu, juga sedang menaiki jalan tanjakan, agaknya menonton upacara pemakaman atau hendak mencari sisa sisa makanan sembahyang.

Akan tetapi tak seorangpun memperhatikan pengemis pincang ini karena semua orang tertarik oleh tiga orang yang berlari lari naik.

Tosu itu tanpa banyak cakap lagi lalu menghampiri makam dan menjura di situ.

Sama sekali tidak menperdulikan orang lain.

Dua orang laki laki yang nampak kuat itu mencontoh perbuatan tosu dan tetap berdiri di kanan kirinya.

"Thian te Kiam ong, kau benar benar orang yang bernasib baik. Atau aku Pat pi Lo cu yang bernasib buruk? Jauh jauh dari See thian (dunia barat) aku datang untuk mencabut julukanmu Raja Pedang, eh, tahu tahunya kau sembunyi di balik peti mati untuk menghindari aku. Terlambat, terlambat....!"

Sambil berkata demikian, ia meraih sebatang sumpit yang terletak di depan bongpai (batu nisan) yang tadinya disediakan untuk memperlengkapi alat alat sembahyang, kemudian sekali tangannya menyentil, sumpit itu meluncur mengenai batu nisan, terus amblas dan tembus sampai ke dalam kuburan.

Agaknya sumpit itu terus menembus peti mati, karena terdengar suara di dalam tanah belakang bongpai!

"Tosu siluman jangan ganggu makam suhu!"

Tiba tiba Beng Han, bocah yang semenjak suhunya meninggal tak pernah terpisah dari jenazah suhunya sampai jenazah itu dimasukkan.peti dan dikubur, melompat marah dan menyerang tosu itu kalang kabut!

Anak berusia enam tahun ini mengalami kedukaan besar karena kematian suhunya yang amat ia sayang.

Sebagai seorang murid baru yang merasa dirinya terpisah dari keluarga Song, merasa dirinya sebagai "orang luar"

Yang sebetulnya tidak berhak, ia tidak berani mencampurkan diri ikut berkabung dengan anak cucu kakek Song.

Akaa tetapi selama kakek itu meninggal sampai dikuburnya, bocah ini tidak tidur dan hampir tidak mau makan kalau tidak dipaksa karena malu hati kepada Tek Hong yang menjadi orang satu satunya yang suka memperhatikan bocah ini.

Mukanya menjadi pucat dan nampak kurus, akan tetapi sepasang matanya bersinar sinar penuh kebencian dan kemarahan ketika ia menyerbu tosu yang menyerang makam suhunya dengan sumpit itu.

Tosu yang mengaku berjutuk Pat pi Locu (Nabi Locu Bertangan Delapan) ini tertegun ketika melihat bocah yang mengaku sebagai murid Thian te Kiam ong ini.

Bagaimana kakek Song itu dapat mempunyai seorang murid yang usianya baru enam tahunan?

Dan ia melihat betapa serangan bocah itu sama sekali tidak ada artinya, sungguhpun gerakan gerakannya merupakan dasar gerakan ilmu silat tinggi, namun jelas ternyata bahwa bocah ini belum memiliki kepandaian, akan tetapi dasar dasar gerakan yang baik sekali ditambah ketabahan dan semangat besar itu membuat Pat pi Lo cu memuji kagum.

"Kemala belum digosok! Anak baik sekali!"

Ia tidak menghiraukan pukulan pukulan kedua tangan Beng Han yang diarahkan ke perut dan bagian tubuh mana saja yang dapat dipukul.

Bing Han merasa seperti memukul gunung batu karang kedua kepalan tangannya sakit sakit, akan tetap dengan nekat ia memukuli terus, sambil tiada hentinya memaki.

"Tosu jahat, jangan ganggu makam suhu!"

"Beng Han, mundur!"

Tek Hong membentak sutenya yang dianggapnya lancang itu.

Kemudian ia menarik tangan bocah itu sehingga Beng Han terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk.

Bocah itu masih mengepal kedua tinjunya dan matanya masih melotot terus menatap tosu itu.

Dengan tenang Song Tek Hong mengambil sumpit kedua dari depan bongpai, lalu berkata.

"Totiang, kau datang datang menyerang makam ayahku, terpaksa aku membalas perbuatanmu dengan serangan yang sama!"

Setelah berkata demikian, sumpit di tangannya itu melayang dengan cepat sekali, meluncur bagaikan anak panah menuju ke dada tosu jubah kuning itu. Dengan mengeluarkan suara "bret!"

Sumpit itu menembusi jubah dan menancap pada dada Pat pi Locu, menancap hampir setengahnya seperti anak panah tenartcap di batang pohon saja.

Akan tetapi tosu itu tidak roboh malahan tertawa sambil mengangguk angguk.

"Tidak jelek, tidak jelek....! Tenagamu cukup hebat."

Setelah berkata demikian, kakek itu menggerakkan tubuhnya dan...

sumpit yang menancap pada dadanya itu meluncur keras dan jatuh di tempat yang jauh, tidak kurang dari lima tombak dari tempat ia berdiri.

Jubah pada dadanya masih berlubang akan tetapi tidak adanya darah sedikit pun juga membuktikan bahwa ia tidak terluka, Melihat itu, tahulah Tek Hong dan yang lain lain bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang lweekangnya sudah mencapai tingkat tinggi daripada tingkat mereka.

Maka mereka bersikap hati hati.

"Bagus, bagus, jadi sicu ini putera Thian te Kiam ong?"

Kembali tosu itu berkata sambil memandang Tek Hong dengan penuh perhatian.

"Betul aku adalah Song Tek Hong dan Thian te Kiam ong adalah ayahku. Totiang siapakah dan apa artinya semua perbuatan totiang yang tidak pada tempatnya ini?"

Tosu itu tertawa terbahak bahak sambil berdongak ke udara.

"Aku orang sial, kalau dua hari sebelum ayahmu mati aku datang, tentu akan terlaksana idam idaman hatiku. Aku dipanggil orang Pat pi Locu dari barat. Karena sudah puluhan tahun aku mendengar betapa tokoh tokoh dari barat terutama dari Tibet, roboh oleh pedang ayahmu yang disebut Kim kong kiam, maka sengaja aku datang jauh jauh dari tempat yang ribuan mil jauhnya, hanya untuk mencoba ilmu pedang dari Raja Pedang. Tidak tahunya Si Raja Pedang telah mati. Di dunia ini mana ada Raja Pedang ke dua? Kecuali...."

Tosu itu memandang kepada Tek Hong dengan meragukan.

"kecuali kalau ada di antara anak cucunya yang telah mewarisi ilmu pedangnya. Hmm, sekiranya ada, boleh juga dia itu mewakili Thian te Kiam ong, hendak kubuktikan apakah kepandaian Raja Pedang itu dapat menahan ilmu pedangku selama duapuluh jurus."

Kata kata ini merupakan tantangan dan hinaan terhadap nama besar Thian te Kiam ong. Beng Han berteriak.

"Tosu bau! Tunggulah kau sepuluh tahun lagi! Aku Thio Beng Han akan mewakili suhu dan memberi hajaran kepada kau ini manusia sombong! Suhu ketika hidupnya memang seorang pendekar besar yang patut disebut Raja Pedang, siapa yang tidak tahu akan hal ini? Kecuali kau, tosu bau yang sombong!"

"Beng Han, diam!"

Kembali Tek Hong membentak. Ia maju selangkah, memberi hormat kepada tosu itu.

"Totiang, kau tentu tahu bahwa kami keluarga Song sedang berkabung dan diliputi kedukaan. Kau seorang beragama apakah tidak dapat merasai hal ini dan tidak mau menghormat perkabungan? Dalam keadaan seperti ini, kami menysal tak dapat melayani kehendakmu yang mencari cari keributan. Datanglah tiga tahun lagi setelah kami melepaskan perkabungan."

"Ha, ha, ha, aku hanya hendak menguji ilmu pedang dari Thian te Kiam ong. Siapa meghendaki keributan? Aku mau membuktikan apakah betul betul ilmu pedang Thian te Kiam ong tidak terkalahkan. Kalau diantara kalian tidak ada yang menuruni Thian te kiam ong dan tidak becus mainkan pedang, sudahlah, memang nasibku yang sial."

Baru saja ia menutup kata katanya, terdengar "sreet!"

Dibarengi sinar berkilauan dan di lain saat Song Tek Hong, Ong Siang Cu, Song Siauw Yang, Liem Pun Hui, Song Bu Hui dan Liem Kong Hwat enam orang telah mencabut pedang masing masing hampir berbareng dan menodongkan ujung pedang pada tosu itu.

Gerakan mereka, kecuali Liem Pun Hui seorang yang ilmu silatnya masih rendah adalah amat cepat dan luar basa sehingga Pat pi Lo cu menjadi tercengang.

"Aduh.... aduh.... hebat. Pantas sekali kalau disebut bahwa keluarga Song adalah keluarga pendekar pedang besar. Akan tetapi, apakah kalian enam orang ini hendak mengeroyok aku seorang? Ha, ha, ha!"

"Tosu sombong, untuk memukul anjing saja mengapa harus menggunakan tongkat besar? Tak perlu orang orang tua yang maju, aku seorangpun cukup untuk melayanimu. Kau majulah!"

Yang berkata demikian ini adalah Song Bi Hui.

Gadis ini memang berdarah panas dan berwatak keras seperti ibunya, lagi pula ia berani sekali.

Sejak tadi ia sudah mendongkol sekali melihat lagak tosu ini, hanya ia tahan tahankan hatinya karena ia takut kepada ayahnya.

Sekarang, dengan pedang di tangan ia menantang tosu itu secara terang terangan.

Tantangan sudah terlanjur dikeluarkan, Tek Hong dan yang lain lain tidak dapat menarik kembali untuk menjaga nama besar keluarga mereka Hanya Tek Hong dan Siang Cu merasa gelisah sekali karena mereka maklum benar bahwa puteri mereka sama sekali bukan lawan tosu yang lihai itu.

Agar jangan disangka hendak mengeroyok terpaksa yang lain lain mengundurkan diri, kecuali Liem Kong Hwat.

Ketika Song Siauw Yang menyuruh puteranya mundur, pemuda ini berkata.

"Ibu, biarkan aku membantu adik Bi Hui menghadapi mereka!"

"Ha, ha, ha! Apakah ini juga anak anak murid dan Thian te Kiam ong?"

Tosu itu bertanya.

"Kami berdua adalah cucu dari Thian te Kiam ong. Tak perlu orang tua kami maju, kami berdua cukup untuk mengusir kau, tosu jahat!"

Sahut Bi Hui dengan pedang melintang di dada, sikapnya garang dan gagah sekali.

"Suhu, sudah jauh jauh ikut dengan suhu, berilah teecu berdua kesempatan untuk main main dengan ilmu pedang dan Thian te Kiam ong juga. Kalau teecu berdua kalah, baru suhu yang melayani mereka,"

Kata seorang di antara dua orang laki laki yang sejak tadi mendampingi Pat pi Lo cu.

Mereka ini adalah murid murid dan Pat pi Lo cu.

Keduanya orang orang berbangsa Mongol yang sudah sejak kecil berada di Tibet dan nama mereka adalah Ma Thian dan Ma Kian.

Sebagai murid murid dari Pat pi Lo cu yang tersayang, mereka ini memang gagah perkasa dan berilmu tinggi.

Ketika Pat pi Lo cu sambil tersenyum mengangggukkan kepala dan melompat mundur, dua saudara kembar she Ma ini lalu mencabut pedang dan menghadapi Bi Hui dan Kong Hwat.

"Kami berdua saudara Ma mohon dari ji wi siauwhiap (kedua pendekar muda)!"

Memang mereka adalah kakak beradik kembar yang amat terkenal di dunia barat dengan nama julukan mereka See thian Siang cu (Sepasang Mustika dari Barat).

Mereka ini sebetulnya Lo cu dan sejak tadi orang sudah tertarik melihat persamaan itu.

Bi Hui yang tidak sabaran tidak mau berlaku sungkan sungkan lagi.

Pedangnya berkelebat cepat melakukan serangan kilat bertubi tubi, disusul oleh Kong Hwat yang tidak mau ketinggalan.

Dibandingkan dengan Kong Hwat, ilmu pedang dari Bi Hui biarpun dari satu cabang, namun lebih banyak ragamnya, serta lebih berkembang kembang.

Dasarnya memang Kim kong Kiam sut, akan tetapi ilmu pedang ini tidak sembarangan dapat ditatih oleh semua orang.

Amat sukar dan dilihat dan latihan latihannya saja, agak membosankan dan seperti tidak ada gunanya.

Oleh karena itu jarang orang yang dapat melatih diri sampai sempurna betul.

Bahkan Tek Hong dan Siauw yang sendiri yang menerima langsung dari kakek Song, masih belum dapat memetik setengahnya dari ilmu pedang ayah mereka.

Oleh karena inilah maka Bi Hui mencampur pelajaran ilmu pedang ayahnya dengan ilmu pedang dari ibunya yang memiliki ilmu pedang yang amat ganas dan tangkas, warisan dari ilmu kepandaian Lam hai Lo mo.

Dalam ilmu pedang, di antara dua orang cucu Thian te Kiam ong ini.

Bi Hui lebih ungggul dan berbahaya.

Akan tetapi, Kong Hwat lebih tenang dan memiliki keuletan serta tenaga lweetang yang lebih besar.

Akan tetapi, dua orang muda yang biasanya amat bangga akan kepandaian mereka yang memang sudah amat tinggi kalau dibandingkan dengan orang orang muda sebaya, kali ini menemui tandingan setimpal.

Sepasang saudara kembar itu ternyata memiliki ilmu pedang yang kuat dan cepat, juga tenaga mereka besar.

Yang lebih membingungkan adalah karena mereka itu tidak saja bermuka sama, berpakaian sama.

akan tetapi juga gerakan ilmu pedang mereka serupa benar dan mereka bertempur secara berganti ganti, sebentar seorang melayani Bi Hui, lalu dengan gerakan teratur dan cepat ia telah berganti lawan, menghadapi Kong Hwat.

Di "kocok"

Seperti ini oleh sepasang saudara kembar yang cocok dalam kerja samanya, Bi Hui dan Kong Hwat menjadi bingung juga.

Akan tetapi dua orang muda ini adalah keturunan pendekar pendekar besar, ilmu silat mereka mempunyai dasar yang ampuh dan hebat, maka dua orang saudara kembar itu masih belum dapat dikatakan menang, sungguhpun tak dapat disangkal pula mereka berada di pihak yang menekan.

Limapuluh jurus berlalu dengan cepatnya dan pertempuran di makam pendekar pedang besar Thian te Kiam ong masih berlangsung terus dengan hebat.

Benar benar luar biasa sekali Thian te Kiam ong Song Bun Sam.

Tidak saja di waktu hdupnya terkenal sebagai Raja Pedang dan tokoh kang ouw yang terkenal, bahkan untuk "merayakan"

Hari pemakamannya saja di tanah kuburannya dilakukan pertempuran pedang yang hebat! Benar benar merupakan "penghormatan"

Istimewa bagi makam kakek Song Si Raja Pedang. Tiba tiba berkelebat bayangan kuning di dahului oleh sinar pedang putih yang menyerbu masuk ke dalam kalangan pertempuran.

"Cring cring cring cring....!"

Empat batang pedang dari Bi Hui, Kong Hwat, dan kedua orang lawannya terpental oleh sinar pedang putih itu dan empat orang ini dengan cepat melompat ke belakang.

Ternyata bahwa yang menolak empat pedang itu adalah Pat pi Lo cu yang kini telah berdiri di tengah dengan pedang di tangan dan tersenyum senyum.

"Cukup! Dapat menghadapi murid muridku selama limapuluh jurus, tanda bahwa kedatanganku tidak sia sia! Cucunya begini lihai, tentu anak dari Thian te Kian ong cukup berharga untuk memberi pelajaran kepadaku Song sicu, majulah mewakili ayahmu, mari kita main main saling menukar siasat ilmu pedang, hitung hitung ukuran sampai di mana tingginya Kim kong Kiam sut dan Tee coan Liok kiam sut!"

Pat pi Lo cu agaknya tidak tahu bahwa dahulu kakek Song telah mempelajari ilmu pedang dari Bu tek Kiam ong dan ia telah berhasil menggabung semua ilmu pedang yang pernah ia pelajari menjadi semacam ilmu pedang yang luar biasa, dan biarpun tetap ilmu pedang itu diberi nama Kim kong Kiam sut sesuai dengan nama pedang yang dipergunakannya, namun sudah jauh bedanya dengan Kim kong Kiam sut yang di pelajarinya dari Kim Kong Taisu.

Mendengar tantangan Pat pi Lo cu ini, Song Tek Hong dan Song Siauw Yang melompat maju, keduanya sudah membawa pedang di tangan.

"Apakah niocu juga anak dan Thian te Kiam ong?"

Tanya Pat pi Lo cu sambil memandang kepada Siauw Yang yang bersikap gagah "Betul!

Kami berdua adalah keturunan dari Thian te Kiam ong.

Kau ini tosu tak tahu adat berani sekali menghina makam ayah, benar benar sudah bosan hidup!"

Pat pi Lo cu tertawa bergelak, kelihatannya senang sekali.

"Ha, ha, bagus! Kalau ada dua anak Thian te Kiam ong, baru seimbang. Tokoh tokoh Tibet bilang bahwa ilmu kepandaianku yang dangkal hanya kurang lebih setengah kepandaian Thian te Kiam ong. Maka kalau kalian telah mewarisi setengah dari ilmu pedang ayah kalian, benar benar aku akan menghadapi bahaya yang hangat dan menyenangkan. Majulah."

Tek Hong tadinya tidak bermaksud mengeroyok, karena sebagai seorang pendekar pantang baginya melakukan pengeroyokan.

Akan tetapi karena ia maklum bahwa kepandaian kakek ini lebih tinggi daripadanya, dan melihat pula betapa kakek ini menantang mereka berdua, ia merasa girang dan lega bahwa adiknya telah maju membantunya.

"Kalau kau berkukuh hendak memberi pelajaran kepada kami, silahkan, totiang!"

Kata Tek Hong sambil memasang kuda kuda, diikuti oleh Siauw Yang.

Dua orang ini adalah ahli pedang ahli pedang yang ternama sebagai ahli waris Thian te Kiam ong Song Bun Sam, di waktu mudanya kedua orang ini telah menggemparkan dunia kang ouw.

Seorang diantara mereka saja sudah merupakan lawan yang amat tangguh dan jarang dapat dikalahkan, apalagi sekarang maju berbareng!

Akan tetapi, yang mereka hadapi bukan orang sembarangan.

Pat pi Locu adalah seorang tokoh besar di Tibet dan sekitarnya Untuk wilayah barat, nama besar Lo cu Berlengan Delapan ini sudah terkenal sekali.

Kiranya hanya beberapa orang guru besar di Tibet atau para Lama tua yang sakti saja yang dapat direndengkan dengan Pat pi Lo cu.

Dahulu banyak tokoh tokoh Tibet yang roboh oleh Thian te Kiam ong, di antara mereka adalah Sim thauw hud (Buddha Bekepala Tiga) dan Ang tung hud (Buddha bertongkat Merah) yang menjadi ketua dari Lama aliran Jubah Hitam di Tibet.

Mereka berdua ini lihai sekali, namun apabila di bandingkan dengan Pat pi Lo cu, mereka kiranya masih kalah setingkat.

Ketika mereka dahulu roboh oleh Thian te Kiam ong, Pat pi Locu masih muda sekali.

Sudah sejak mudanya ia mendengar nama besar Thian te Kiam ong yang berturut turut merobohkan tokoh tokoh besar Tibet, bahkan juga See san Ngo sian (Lima Dewa dan See san), para ketua Cheng i pai (Aliran Jubah Hijau) raboh oleh Raja Pedang itu.

Tentu saja Pat pi Lo cu menjadi tertarik dan kagum, juga penasaran.

Maka ia tidak mau turun gunung, terus saja memperdalam ilmu silatnya dengan idam idaman hati ingin menantang pibu dan mengalahkan Thian te Kiam ong.

Oleh karena itulah maka ia khusus mempelajari ilmu pedang dan boleh dibilang semua ahli pedang di daerah barat telah ia petik kepandaiannya, kemudian semua ilmu pedang dari barat itu ia olah sedemikian rupa menjadi ilmu pedang yang luar biasa lihainya.

Karena ia mempunyai nama julukan Nabi Lo cu, maka ia memberi nama pada ilmu pedangnya itu Lo cu Kiam hoat.

Pertempuran pedang itu terjadi dengan amat seru dan hebatnya, jauh lebih ramai daripada pertempuran antara dua orang cucu Thian te Kiam ong melawan dua saudara kembar tadi.

Gerakan Tek Hong tenang dan kuat, sebaliknya Siauw Yang cepat dan cekatan, sehingga dua buah pedang ini merupakan sepasang pedang yang saling bantu dari kanan kiri dengan keistimewaan dan kelihaian masing masing.

Akan tetapi, pedang bersinar putih dari Pat pi Lo cu yang berada ditengah tengah.

sinarnya bergulung gulung dan melayani dua pedang lawannya.

Pada saat yang baik, Pat pi Lo cu memutar cepat pedangnya dan sengaja mengadu pedang putihnya menghantam pedang kuning emas di tangan Tek Hong.

"Traang!"

Dan alangkah kagetnya hati Tek Hong ketika melihat ujung pedangnya patah!

Benar benar hal yang tidak mungkin.

Bagaimana Kim kong kiam bisa patah oleh lain pedang?

Ia melompat mundur dan memandang pedangnya.

Makin besar kagetnya melihat dari patahan itu bahwa pedangnya hanya pedang biasa yang dibungkus emas sehingga dari luar memang serupa benar dengan Kim kong kiam.

"Ini bukan Kim kong kiam...."

Tak terasa lagi Tek Hong berseru. Siauw Yang juga terkejut dan melompat mendekati kakaknya. Adapun Pat pi Lo cu tertawa mengejek akan tetapi suaranya kecewa ketika ia berkata.

"Ah, jangan kata setengahnya, seperempatnya pun kalian belum menguasai ilmu pedang Thian te Kiam ong. Sayang, kedatanganku sia sia saja, ilmu pedang yang kalian miliki itu masih jauh untuk pantas disebut raja raja pedang! Biarlah lain kali kalau kalian atau anak anak kalian sudah maju ilmu pedangnya dan sudah mewarisi semua kepandaian Thian te Kiam ong, aku datang lagi!"

Setetah berkata demikian, Pat pi Lo cu mengjak dua orang muridnya pergi dan situ.

Ong Siang Cu sudah mencabut pedangnya hendak menyerang tosu itu, akan tetapi Tek Hong memegang lengan isterinya dan berkata.

"Sudahlah, memang dia betul. Kepandaiannya masih lebih tinggi daripada kepandaian kita. Yang lebih penting adalah pedang Kim kong kiam ini. Mengapa tiba tiba saja menjadi pedang palsu? Dimanakah pedang yang aslinya?"

Semua orang tak mengerti, dan setelah upacara pemakaman itu selesai semua, Tek Hong cepat cepat mengajak semua orang pulang karena a hendak mencari Kim kong kiam.

Akan tetapi, sia sia saja, Kim kong kiam yang aseli tidak dapat mereka temukan.

Hanya seorang saja yang tahu di mana adanya Kim kong kiam dan orang ini adalah Beng Han.

Ingin ia membuka mulut memberi tahu kepada Tek Hong yang sedang bingung, akan tetapi kalau ia teringat akan pesan suhunya, ia tidak berani membocorkan rahasia ini dan menutup mulutnya.

"Ayah tentu sudah tahu akan keadaan pedang palsu ini,"

Kata Tek ong kepada isterinya dan adiknya.

"tak mungkin ayah yang berkepandaian tinggi dan waspada tak dapat membedakan yang aseli dan palsu. Akan tetapi sengaja ayah memesan supaya pedang ini disimpan di rumah Siauw Yang. Apakah gerangan maksudnya? "

"Benar benar aneh. Di mana adanya pedang yang tulen?"

Tanya Siauw Yang mengerutkan kening.

"Yang palsu suruh menyimpan aku, habis yang tulen ayah berikan kepada siapakah?"

Ong Siang Cu sejak mudanya berwatak keras dan mudah tersinggung, maka mendengar kata kata Siauw Yang ini, ia berkata.

"Adik Siauw Yang, sudah terang bahwa pedang Kim kong kiam yang tulen tidak diberikan kepada kami!"

"Siapa menduga begitu, so so (kakak ipar)?"

Kata Siauw Yang tersenyum masam. Memang wanita paling mudah tersinggung dan paling mudah cakar cakaran. Hal ini sudah di maklumi oleh Tek Hong yang segera mengadang.

"Sudahlah, tak perlu saling menaruh curiga. Yang penting, marilah kita bersama berusaha untuk mencari di mana adanya pedang pusaka itu."

"Betul apa yang dikatakan oleh twako,"

Kata Pun Hui.

"Lebih baik kami besok pulang saja, dan jangan lupa kitapun harus menyelesaikan pesan tentang perjodohon anak kita."

Siauw Yang dan suaminya lalu mengundurkan diri dan berkemas di kamar mereka, siap untuk berangkat besok pagi.

0odwo0 Bi Hui duduk seorang diri di dalam taman bunga di belakang rumahnya.

Taman bunga ini luas dan indah, apalagi malam itu ditimpa cahaya bulan purnama, amatlah indahnya.

Akan tetapi segala keindahan ini agaknya tidak terlihat maupun terasa oleh dara itu, ia duduk sambil menundukkan muka, keinginannya berkerut dan beberapa kali ia menarik napas panjang panjang.

"Hui moi...."

Terdengar bisikan halus dari belakangnya.

Bi Hui tidak menoleh, juga tidak menjawab hanya kini matanya menatap tanah di bawah kakinya menjadi basah dan tak lama kemudian dua butir air mata menitik turun.

Kong Hwat menghampiri gadis itu, berjalan memutar dan berdiri menghadapinya.

Wajah pemuda ini nampak muram.

"Bi Hui apakah kau juga.... seperti aku pula.... memikirkan tentang perjodohan yang tak menyenangkan hati kita itu....?"

Bi Hui tetap bertunduk, hanya kini ia mengangguk anggukkan kepalanya.

"Memang kong kong terlalu sekali! Mengapa ia meninggalkan pesanan yang gila gilaan itu? Mengapa ia hendak menghalangi kebahagiaan kita dan mencampuri urusan kita? Celakanya orang orang tua kita sudah menyetujui. Benar benar orarg orang tua itu mau enaknya sendiri saja,"

Kata Kong Hwat dengan gemas dan orang orang tentu akan terkejut mendengar kata kata seperti ini keluar dari mulut pemuda yang biasanya berbakti dan perdiam itu.

Biarpun Bi Hui sedang berduka karena keputusan kong kongnya, dan biarpun ia seorang gadis keras kepala, keras hati dan mudah marah, sekarang mendengar kong kongnya dan orang tuanya di cela oleh Kong Hwat, ia segera memandang pemuda itu dan menambah.

"Koko, jangan kau bicara seperti itu! Kita tidak boleh menyalahkan kong kong, karena kong kong hanya melakukan sesuatu demi kebaikan kita. Mana kong kong tahu menahu tentang.... tentang.... kita? Karena kong kong bersahabat baik dengan Sin tung Lo kai, maka ia meninggalkan pesan itu. Dan tentang orang tuaku, mereka juga tidak bersalah. Mereka hanya melakukan hal yang sudah sewajarnya, yaitu mentaati pesan orang tua sebagai anak anak yang berbakti. Bagaimana kau dapat mencela mereka?"

"Akan tetapi, Hui moi....!"

Kong Hwat berseru penasaran sekali.

"Apakah kau juga hendak nenyetujui pesanan gila itu? Apakah kau mau menjadi jodoh cucu pengemis jembel itu?"

Kong Hwat masih terlalu muda untuk dapat mengerti watak Bi Hui.

Watak dara ini terlalu keras hati, dan biasanya kekerasan hanya akan luluh oleh kelemasan.

Andaikata Kong Hwat bersikap lemah dan nelangsa, kiranya Bi Hui akan menaruh kasihan dan aku membela pemuda yang dicintai ini.

Akan tetapi kekerasan tak dapat dilawan dengan kekerasan pula, sebab bisa menimbulkan bunga api.

Bi Hui menjadi merah mukanya mendengar ejekan Kong Hwat itu.

Lalu balas bertanya.

"Kalau kau bagaimana? "Aku? Hah, aku tidak sudi dengan cucu pengemis itu!"

Tiba tiba Bi Hui berdiri, kedua tangannya dikepalkan, kepalanya dikedikkan dan ia berkata marah.

"Kalau begitu kau seorang pemuda yang tak tahu diri, seorang pemuda yang tidak berbakti!"

Kong Hwat terkejut dan melangkah maju, dipegangnya lengan tangan Bi Hui.

"Bi Hui....! Mengapa kau bilang begitu? Bukankah kita saling.... mencinta.... .?"

"Siapa bilang....?"

"Bi Hui, bukankah dulu pernah kau bilang bahwa kau akan berbahagia sekali kalau kelak menjadi jodohku....? Bukan menjadi saksi...."

"Memang betul, akan tetapi aku bodoh. Aku tidak tahu bahwa kau sesungguhnya seorang pemuda yang tidak berbakti, seorang pemuda murtad dan berhati palsu. Sebelum kong kong meninggal kau selalu mendekati kong kong, aku tahu karena kau ingin sekali diwarisi Kim kong kiam dan Kim kong Kiam sut. Sekarang, baru saja kong kong meninggal kau sudah mencaci makinya, juga orang orang tua kita kau caci maki. Aku tidak menyangka kau seorang muda tak kenal budi !"

"Bi Hui, jangan kau bilang begitu.,.....! Semua ini karena cintaku kepadamu. Aku lebih baik mati daripada melihat kau bersanding dengan seorang pengemis dan aku sendiri dipaksa menikah dengan perempuan pengemis. Bi Hui, ingatlah akan kebahagiaan kita. Mari kita lari minggat saja berdua!"

Sambil berkata demikian, Kong Hwat maju dan mencoba memeluk pundak gadis itu.

"Tidak, aku tidak sudi!"

Teriak Bi Hui marah sambil merenggutkan tangannya yang dipegang.

"Bi Hui, kekasihku, jantung hatiku.... tidak ingatkah kau betapa aku telah bersumpah akan bersetia kepadamu, mencintaimu sampai mati.....?"

Kong Hwat merayu dan menyambar pula tangan Bi Hui.

"Kau bersumpah, bukan aku!!"

Kembali Bi Hui merenggutkan tangannya.

"Bi Hui, tidak kasihankah kau kepadaku? Aku lebih baik mati daripada kehilangan cinta kasihmu. Mari kita pergi dari sini, sekarang juga, Bi Hui, manisku...."

Dengan gerakan cepat Kong Hwat memeluknya.

"Kau.... kurang ajar!"

Bi Hui menampar.

Kong Hwat miringkan kepala dan menangkap pergelangan tangan kanan yang menamparnya itu.

Bi Hui membalikkan lengan dan mengirimkan pukulan siku yang disodokkan ke dada pemuda itu.

Kong Hwat terpaksa melepaskan pegangannya, dan pemuda yang telah bernapsu itu kembali hendak memeluk.

Ia berlaku nekat dan hendak membawa pergi piauw moinya dengan paksa.

Akan tetapi tiba tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali dan "plakk....!"

Kong Hwat memekik kesakitan ketika mukanya ditampar keras sekali oleh bayangan itu yang ternyata adalah Ong Siang Cu!

Bukan main kagetnya hati Kong Hwat melihat bibinya ini yang berdiri di situ dengan mata bercahaya marah.

"Jahanam! Tak kusangka bahwa kau ternyata seorang keparat yang tak tahu malu dan kurang ajar!"

Ditahan tahannya kemarahannya.

"Kalau tidak melihat muka ayah bundamu, tentu belum puas hatiku kalau belum melihat kepalamu menggelinding di atas tanah!"

Kong Hwat menutupi mukanya yang bengkak dan berlari masuk ke rumah samping di mana ayah bundanya bermalam. Ong Siang Cu menghampiri puterinya yang duduk. Bi Hui berkata lemah.

"Ibu.... mengapa kau pukul dia....? Biarpun dia kurang ajar, akan tetapi.... dia kan masih keluarga kita sendiri...."

"Tidak perduli! Aku tidak takut! Biar siapa pun juga maju kalau tidak terima dia kupukul, aku takkan mundur!"

Kata Siang Cu yang sudah "naik pitam"! "Apakah dia tadi mencoba untuk.... mengganggumu?"

Bi Hui menggelengkan kepala.

"Dia hanya mengajak aku minggat, ibu...."

"Minggat??? Jahanam besar, mengapa ia mengajak kau minggat?"

"Karena.... karena katanya...... untuk menghindar ikatan jodoh dengan cucu cucu Sin tung Lo kai...."

"Kurang ajar, ia memberi hasutan tidak baik kepadamu. Hmm, akan kulaporkan kepada Siauw Yang...."

Akan tetapi hal ini tak perlu lagi karena terlihat bayangan berkelebat, diikuti bayangan lain yang tidak begitu gesit dan kelihatan Song Siauw Yang berdiri menghadapi Ong Siang Cu dan di belakangnya berlari lari Liem Pun Hui yang menyabar nyabarkan isterinya.

"Sabar.... sabar.... runding dulu...."

Kata Sasterawan ini.

Akan tetapi Siauw Yang sudah habis sabarnya.

Tak dapat disalahkan wanita yang hanya mempunyai seorang putera.

Tadi melihat Kong Hwat masuk dengan muka bengkak bengkak dan mulut berdarah.

Ketika ayah bundanya bertanya kaget, terputus putus ia bilang bahwa ia di tampar oleh Ong Siang Cu, lalu roboh pingsan.!

Sebetulnya pemuda itu bukan pingsan karena sakit di mukanya, melainkan karena sakit di hatinya.

Siauw Yang tak dapat menahan marahnya, cepat berlari lari ke belakang.

Begitu tiba di depan Siang Cu yang masih marah marah, Siauw Yang lalu menegur.

"So so, kau apakan anakku tadi?"

Saking marahnya ia tidak memakai banyak peraturan lagi dan tak dapat bicara banyak.

Ong Siang Cu terkenal memiliki watak keras sekali.

Melihat sikap Siauw Yang, ia mengira bahwa tentu pemuda yang ditamparnya tadi telah mengadukannya kepada ibunya.

"Kutampar mukanya!"

Jawabnya lantang dengan sikap menantang.

"Anakmu itu kurang ajar sekali, kalau bukan dia, tentu sudah kubunuh tadi tadi juga!"

Merah muka Siauw Yang mendengar ini, dadanya berombak dan alisnya berdiri. Bahkan Pun Hui ketika mendengar ucapan ini, merasa kaget dan berkata.

"Mengapa? Apa salahnya Kong Hwat....???"

"So so, kau benar benar menghina kami. Kong Hwat bukan anakmu, bagaimana kau berani turun tangan, bahkan mengancam akan membunuhnya?"

"Kau yang tidak becus mengajar anak!"

Siang Cu membentak marah.

"Dia berani sekali malam malam mengajak bicara Bi Hui di sini, bahkan membujuk anakku untuk lari minggat. Bukankah anakmu itu gila?"

"So so, kau mau enak sendiri saja. Mau menang sendiri saja. Hanya orang buta yang tak dapat menyangka apa yang tumbuh dalam hati dua anak muda itu. Kau menyalahkan anakku, mengapa tidak menyalahkan anakmu sendiri yang tak tahu malu? Sebagai seorang perempuan, anakmu harus lebih tahu malu dan dapat menjaga diri. Sebaliknya, kau tidak menyalahkan anak sendiri dan berani memukul anakku sampai dia roboh pingsan. Aku tidak terima!"

Dada Siang Cu serasa hendak meledak saking marahnya. Dicabutnya pedangnya dan katanya menantang.

"Habis kau mau apa? Kau membela anakmu yang jahat? Rupanya kaupun minta di hajar!"

"So so, kau begini sombong. Kapankah aku pernah kalah olehmu? Kaukira hanya kau saja orang yang mempunyai kepandaian? Demi membela anak majulah!"

Siauw Yang juga sudah mencabut pedangnya dan di lain saat dua orang wanita itu sudah bertempur seru dengan pedang bagaikan dua ekor singa betina berebut mangsa.

Bi Hui merasa malu dan tidak enak hati melihat dan mendengar percekcokan tadi, sudah lari ke dalam kamarnya dan menangis.

Adalah Pun Hui yang menjadi bingung sekali.

Ia menjadi serba salah.

Mau membela isterinya, kepandaiannya tidak seberapa, pula memang ia tidak ingin bertempur dengan keluarga sendiri.

Mau melerai, ia tidak kuat, maklum bahwa kepandaian dua orang wanita itu tinggi sekali.

"Tahan.... jangan berkelahi....!"

Ia berteriak berulang kali, akan tetapi dua orang wanita yang sudah marah sekali itu mana mau mendengarkan kata katanya?

Akhirnya saking bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, Pun Hui berlari lari memasuki rumah untuk memanggil Tek Hong.

"Twako, lekas bangun! So so dan ibunya Kong Hwat bertempur hebat!"

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Tek Hong ketika kamarnya digedor oleh Pun Hui dan mendengar laporan ini, ia cepat berdandan dan melompat keluar, tak lupa menyambar pedangnya di atas meja.

Benar saja, isterinya dan adiknya itu sedang bertempur dengan sengit, dua gundukan sinar pedang saling menggulung dan menyelimuti bayangan tubuh mereka di bawah sinar bulan.

Hebat dan luar biasa pertempuran itu, dan lebih lebih amat berbahaya bagi kedua pihak, karena sedikit saja berlaku lambat tentu akan menjadi korban pedang lihai.

"Tahan senjata!"

Seru Tek Hong sambil menyerbu ke tengah pertempuran dan menggunakan pedangnya untuk menangkis pedang adiknya.

Melihat suaminya, Ong Siang Cu melompat mundur.

Akan tetapi Siauw Yang menjadi marah ketika pedangnya ditangkis hingga terpental oleh Tek Hong ia tidak mau mundur bahkan menyerang Tek Hong sambil membentak.

"Kau mau membela isterimu yang menghina ku? Boleh!"

Tek Hong kaget sekali melihat serangan ini, cepat ia mengerahkan tenaga menangkis pedang adiknya dan untuk mencegah Siauw Yang menyarang terus, ia menggunakan tangan kiri untuk mendorong.

Tenaga lweekang dari Tek Hong amat besar dan kali ini Siauw Yang tidak menyangka akan serangan kakaknya, maka ia terkena dorongan sampai terhuyung buyung ke belakang dan akan jatuh.

Baiknya suaminya cepat mendekatinya dan memeluknya.

Siauw Yang marah sekali, akan tetapi ia di pegang erat erat oleh suaminya yang berkata.

"Sabarlah.... sabarlah.... twako datang karena kupanggil...."

Sementara itu, Tek Hong sudah mendengarkan penuturan isterinya tentang Kong Hwat. Mendengar betapa Kong Hwat membujuk Bi Hui untuk minggat, maka Tek Hong metjadi merah padam.

"Siauw Yang,"

Katanya, suaranya kaku.

"Kau benar benar tidak mau berpikir panjang. Anakmu perlu kauberi pengertian, perlu kau tegur, kalau tidak ia kelak akan menyeleweng. Urusan begini saja kau sampai ribut ribut dengan so somu. Kalau so somu sampai menampar Kong Hwat, apakah salahnya itu? Bukankah sudah sepatutnya seorang bibi memberi hajaran kepada keponakannya? Mengapa kau marah marah?"

"Kau berat sebelah! Kalau aku tampar muka Bi Hui sampai bengkak bengkak dan mulutnya berdarah lalu pingsan, apakah kau akan membolehkannya begitu saja?"

Siauw Yang balas membentak bentak kakaknya.

"Kalau memang Bi Hui bersalah seperti anakmu yang kurang ajar itu, mengapa tidak boleh?"

Siang Cu berkata. Dua orang ibu yang saling membela anaknya itu tentu akan ribut ribut lagi kalau saja Pun Hui tidak cepat cepat melangkah maju dan berlutut di depan Tek Hong dan Siang Cu.

"Twako dan so so, siauwte sebagai orang muda rela dihukum untuk menebus dosa isteriku. Memang kami yang bersalah, sebagai orang orang muda telah berani menantang kaum tua. Ampunkanlah kami...."

Sikap dan ucapan Pun Hui ini merupakan pukulan yang lebih hebat dan tepat daripada Siauw Yang yang menggunakan pedangnya untuk ribut ribut.

Tek Hong memandang isterinya dan membalas penghormatan iparnya itu dengan menjura.

"Jangan begitu. Pihak kami juga bersalah. Sebetulnya, urusan antara keluarga harus diselesaikan dengan jalan damai,"

Katanya. Siauw Yang membetot tangan suaminya.

"Hayo kita pulang ke Liok can. Sekarang juga!"

"Malam malam begini....?"

Jawab Pun Hui, sengaja untuk mencegah agar keberangkatan mereka yang ganjil ini tidak memimbulkan perhatian dan kecurigaan para pelayan dan orang luar.

"Kau tidak mau pulang? Baik, aku dan Kong Hwat akan pulang berdua. Kau boleh tinggal di sini menerima penghinaan orang!"

Kata Siauw Yang dan cepat cepat ia berlari menuju ke kamarnya. Pun Hui menggeleng geleng kepala dan menjura kepada Tek Hong, katanya.

"Twako, harap saja urusan kecil ini tidak meretakkan persatuan keluarga Song."

Tek Hong menjadi terharu dan malu karena sikap adik iparnya yang ia anggap jauh lebih bijaksana daripada sikap adiknya atau isterinya.

Setelah Pun Hui pergi menyusul isterinya dan keluarga itu malam malam pergi meninggalkan Tit le, Tek Hong marah kepada isterinya dan anaknya.

Kemudian ia mengejar rombongan itu.

-ooo0dw0ooo-

Jilid XXXIV SIAUW YANG berkeras tidak mau bicara kepada kakaknya, akan tetapi Pun Hui menyambut kakak iparnya. Tek Hong menyerahkan pedang Kim kong kiam palsu itu kepada Pun Hui sambil berkata.

"Memenuhi pesan mendiang ayah kita, biarpun pedang ini bukan Kim kong kam tulen, akan tetapi harus berada di keluargamu. Oleh karena ini harap moi hu (adik ipar) suka menerima."

Pun Hui menerima pedang itu dan berkata.

"Sudah tentu kami akan mentaati perintah mendiang gak hu dan akan menjaga pedang ini baik baik."

Akan tetapi Siauw Yang karena masih "panas"

Hatinya, berkata menyindir.

"Hemm, pedang picisan di berikan kita dan pedang pusaka entah di mana?"

Tek Hong marah dan hendak menjawab, akan tetapi, ia menahan kata katanya.

Ia maklum bahwa kalau ia membantah, tentu akan terjadi ribut mulut lagi.

Ia kenal baik watak adiknya yang sejak kecil memang tidak mau kalah dalam segala hal, dan dalam hal keberanian dan kekerasan hati, kiranya seimbang dengan watak Siang Cu!

Maka ia lalu mengucapkan selamat jalan dan segera kembali ke rumahnya sedangkan Liem Pun Ha , Song Siauw Yang, dan Liem Kong Hwat melanjutkan perjalanan mereka ke Liok can.

0odwo0 Di kota raja terjadi pula hal yang amat hebat dan menggegerkan.

Pada hari itu terdapat sebuah pesta pernikahan yang ramai dan gembira.

Para penduduk yang berpangkat dan hartawan, ramai ramai datang menghadiri pesta itu, sedangkan penduduk yang miskin dan "orang biasa"

Saja cukup puas dengan menonton dari luar karena tentu saja mereka ini tidak mendapat undangan.

Yang mengadakan pesta adalah keluarga Ma yang berpangkat siupi.

Siapa orangnya tidak mengenal Ma siupi yang selain hartawan juga bangsawan yang berpengaruh!

Ma siupi hanya mempunyai seorang anak perempuan yang kini ia rayakan pernikahannya dengan seorang pemuda yang baru saja lulus dan ujian di kota raja, dan mendapat gelar tiong goan.

Pemuda ini bukan lain Thio Sui, yang telah kita kenal.

Dua bulan sudah lewat sejak terjadi peristiwa mengerikan di Soacouw, di mana keluarga Thio ditimpa malapetaka yang dijatuhkan oleh tangan seorang wanita seperti siluman yang membalas dendam.

Tentu saja Thio Sui mendengar akan peristiwa ini, menjadi berduka sekali kehilangan ayah bundanya, akan tetapi juga takut sekali.

Biarpun tidak menyaksikan dengan mata sendiri, perasaannya mengatakan bahwa yang datang itu tentulah Kui Lian atau arwahnya yang sudah menjadi siluman.

Dia tahu bahwa kalau waktu itu ia berada di rumah tentu iapun tidak terlepas daripada kematian yang mengerikan pula.

Oleh karena inilah maka ia tidak keberatan perkawinannya dilangsungkan terus biarpun ia seharusnya masih berkabung.

Bahkan pemuda itu takut untuk pulang ke Soacouw, terus tinggal saja di kota raja, di rumah mertuanya karena di situ terdapat banyak penjaga dan mertuanya adalah seorang berpangkat yang mempunyai kekuasaan.

Siapa dapat mengganggunya di situ?

Pernikahan dilanggungkan dengan pesta meriah.

Para tamu, laki laki dan wanita, memenuhi ruangan yang sudah disediakan untuk mereka.

Keadaan gembira dan meriah sekali.

Di luar orang berjejal hendak menyaksikan pesta ini.

Tiba tiba Thio Sui merasa seakan akan kepalanya ditarik dan di luar kehendaknya sendiri ia menoleh memandang ke kiri di mana berkumpul tamu tamu wanita, dan....

ia melihat Kui Lian duduk diantara para tamu itu.

Wanita ini sedang memandangnya dengan sepasang mata yang mengeluarkan sinar ganjil akan tetapi berpengaruh sekali, wajahnya masih seperti dulu akan tetapi membayangkan sesuatu yang mengerikan.

Thio Sui menjadi pucat sekali ingin ia membuang muka jangan melihat wanita itu, akan tetapi ia tak kuasa lagi menggerakkan lehernya!

Bahkan matanya terus terbelalak, tak kuasa ia memejamkannya.

Mulutnya yang hendak berteriak minta tolong itu terkancing.

Sekali saja pandang matanya bertemu dengan sinar mata Kui Lian, ia sudah "tertangkap"

Dan seluruh perasaan dan pikirannya sudah terpengaruh oleh kekuasaan sihir.

Kui Lian tersenyum simpul, senyum menyeringai seperi seekor singa betina memperlihatkan taringnya.

Kui Lian bangkit dari tempat duduknya, berjalan dengan lenggang yang menarik hati sambil mengoyang goyang kebutannya.

Kini orang orang mulai memperhatikan pengantin pria yang terus menerus memandang wanita berpakaian serba putih dan yang kini berjalan menghampiri pengantin sambil membawa sebuah hudtim.

Semua orang terheran.

Dari mana datangnya tokouw ini?

Juga penganten wanita dari balik tirai muka menoleh kepada Kui Lian yang tersenyum senyum menghampiri mereka.

"Thio kongcu, kionghi (selamat)!"

Kata Kui Lian, suaranya penuh ejekan sama sekali tidak membayangkan kekecewaan atau kesedihan karena memang sedikitpun ia tidak menpunyai perasaan apa apa terhadap Thio Sui yang tampan itu.

Kalau andaikata dahulu ada sedikit rasa cinta maka cinta itu sudah musnah sama sekali oleh perbuatan keluarga Thio kepadanya.

Sekarang yang ada hanya benci, benci sampat ketulang tulangnya.

Sambil mengucapkan selamat, Kui Lian mengebutkan hudtimnya ke arah kepala Thio Sui.

Ujung kebutan itu secara keji telah menotok jalan darah dan urat syaraf di kepalanya.

Thio Sui mengeluh dan terguling dari kursinya, pingsan.

"Hi hi hi.... pengantin perempuannya cantik sekali,"

Kata Kui Lian, kembali kebutannya bergerak dan kali ini disabetkan dengan sepenuh tenaga ke arah muka pengantin wanita.

Terdengar suara keras.

Tirai muka hancur dan patah patah, ujung kebutan terus mencambuk muka pengantin wanita itu.

Pengantin wanita menjerit kesakitan dan terguling roboh.

Pada mukanya yang cantik terdapat goresan melintang yang dalam, darah mengucur dan selamanya pengantin wanita itu akan mempunyai muka yang cacad, bergores dari pipi kiri ke pipi kanan.

Keadaan merjadi geger di ruangan itu.

Tamu tamu wanita menjerit dan saling tabrak dalam usaha mereka melarikan diri dan bersembunyi.

Tamu tamu pria juga berjejal jejal, yang penakut hendak menjauhkan diri, yang berani dan memiliki kepandaian hendak menangkap Kui Lian.

"Perempuan siluman dari manakah berani bermain gila di sini?"

Bentak para penjaga dan para tamu yang memiliki kepandaian.

Sebentar saja Kui Lian dikepung oleh puluhan orang laki laki yang memegang senjata di tangan.

Adapun Thio Sui dan calon isterinya sudah diangkat orang ke dalam untuk dirawat.

Kui Lian yang dikepung hanya senyum senyum saja.

Senyum manis yang mempunyai pengaruh menundukkan hati pria sehingga para pengepung menjadi bengong.

Dalam pandangan semua pengepung, belum pernah mereka melihat seorang wanita yang demikian cantik jelita, demikian manis senyumnya.

Akan tetapi karena mereka tadi menyaksikan betapa perempuan ini menyerang sepasang pengantin, dan dari belakang dikomando oleh Ma siupi agar wanita itu ditangkap, maka para pengepung tetap bergerak.

Kepungan makin menyempit.

Kut Lian menggerak gerakkan bibirnya mengucapkan mantera, kebutannya digerak gerakkan seperti menulis huruf di udara matanya menyambar nyambar tajam kepada semua orang yang mengepungnya, kemudian tangan kirinya bergerak melambat kepada orang orang di sebelah kirinya.

"Kalian bertiga roboh!"

Luar biasa sekali.

Tiga orang yang berdiri di sebelah kirinya, yang ikut mengepungnya dengan tangan kosong, terhuyung huyung lalu terguling roboh di depan Kui Lian.

Kui Lian mengebut ngebutkan hudtimnya di atas kepalanya dan....

dalam pandangan semua pengepung, tiga orang itu berobah menjadi....

Kui Lian.

Jadi ada empat orang Kui Lian kini yang terkepung.

"Siluman....!"

"Ilmu hitam....! Ilmu sihir jahat.......!"

Ma siupi yang menyaksikan keanehan ini. menjadi makin marah dan ia dapat menduga bahwa tentu wanita inilah yang telah membinasakan keluarga calon mantunya di Soacouw.

"Tidak perduli, biar ada empat atau sepuluh, tangkap semua!"

Barisan penjaga ditambah sehingga ruangan itu penuh sesak.

Mendengar seruan Ma siupi, semua orang yang mengepung bergerak maju untuk menangkap empat orang wanita yang memegang kebutan semua itu.

Kui Lan tertawa bergelak, kebutannya digerak gerakkan ke kanan kiri dan....

keadaan menjadi kalang kabut karena para pengepung itu sama sekali tidak mengganggunya melainkan saling serang dan saling tangkap.

Dalam pandang mata mereka, orang orang di sebelah mereka kini telah berubah semua menjadi Kui Lian.

Inilah kekuatan sihir yang disebar oleh Kui Lian yang mempengaruhi orang banyak seperti penyakit menjalar.

Dapat dibayangkan betapa kacau balaunya dalam pandangan semua pengepung itu, setiap orang yang berada di situ menjadi Kui Lian.

Terdengar pekik dan sumpah, orang saling terjang dan saling tangkap.

Di dalam keributan ini, dengan enak dan mudah Kui Lian menyelinap keluar dari rumah gedung Ma siupi.

Setelah Kui Lian pergi, perlahan lahan kekuasaan sihirnyapun lenyap dan alangkah kaget semua orang ketika mereka bertempur dengan kawan kawan sendiri.

Bahkan Ma siupi yang juga dalam pandangan mata para penjaga berubah menjadi Kui Lian, tahu tahu telah dborgol oleh penjaga.

Ramailah diadakan pengejaran.

Sebentar saja seluruh penduduk kota raja panik mendengar bahwa ada siluman jahat mengganggu kota raja.

Kui Lian berjalan dengan lenggang kangkung keluar dari kota raja.

Kalau ia teringat akan nasib Thio Sui, ia tersenyum senyum puas.

Pemuda itu menjadi biang keladi rusaknya penghidupannya, sekarang biarlah ia menjadi sebab rusaknya hidup Thio Sui.

Memang dugaannya tepat, karena begitu siuman dari pingsannya Thio Sui menjerit jerit dan menyerang calon isterinya yang terluka pada mukanya.

Tentu saja Ma siupi membatalkan perkawinan itu, melihat bahwa Thio Sui telah menjadi gila.

Sebaliknya, anaknya yang dulu terkenal cantik, sekarang menjadi seorang yang bercacat pada mukanya.

Ketika Kui Lian memperlambat jalannya karena sudah merasa aman dan tidak mungkin dapat tertangkap oleh para pengejarnya menurut perkiraannya, tiba tiba terdengar bentakan nyaring dari belakang.

"Siluman jahat, kau hendak lari ke mana?"

Kui Lian cepat membalikkan tubuhnya dan....

hatinya berdebar debar.

Ia melihat seorang pemuda yang gagah dan tampan sekali.

Belum pernah selama hidupnya ia melihat pemuda segagah dan setampan ini.

Pemuda ini mengenakan pakaian seperti seorang pendekar silat, mukanya yang bulat berkulit putih kemerahan, halus kulitnya seperti muka wanita.

Sepasang matanya bersinar sinar seperti bintang, dilindungi sepasang alis yang hitam lebat terbentuk golok melintang.

Sekaligus jatuhlah hati Kui Lian.

Setelah sekarang ia berhasil membalas dendamnya, satu satunya keinginan hanya hidup tenteram dan bahagia.

Dengan pemuda seperti ini di sampingnya, kiranya selama hidupnya ia akan menikmati dan dapat bahagia, pikirnya.

Dengan sepasang matanya yang berpengaruh, Kui Lian memandang pemuda itu, mulutnya tersenyum semanis manisnya, lalu ia menjura dengan sikap hormat.

"Seorang enghiong yang gagah perkasa tidak akan sembarangan saja menuduh orang sebagai siluman, apalagi kalau orang itu seorang wanita yang tak berdaya, sama sekali pantang baginya untuk mengganggu. Sahabat yang gagah perkasa, mengapa kau datang datang menuduhku seorang siluman?"

Pemuda itu menatapnya tajam penuh selidik, lalu mencabut pedang sambil berkata.

"Orang banyak mengejarmu sampat keluar kota raja dan menurut mereka, kau adalah seorang yang telah melakukan perbuatan keji melukai sepasang pengantin yang sedang dirayakan pernikahannya! Siapa tahu apakah kau benar benar salah ataukah pura pura tidak sadar?"

Akan tetapi, Kui Lian tidak perdulikan kata kata ini melainkan memandang penuh perhatian kepada pedang di tangan pemuda itu, kemudian berseru perlahan.

"Kim kong kiam...."

Ia sudah sering kali mendengar dari suhunya tentang pedang Kim kong kiam dan bahkan suhunya telah menyuruhnya mencuri pedang itu.

teringat ia akan kegagalannya ketika berusaha mencuri pedang itu dan tangan Thian te Kiam ong yang sakti.

Di lain pihak, pemuda itu terkejut ketika melihat Kui Lian mengenal pedangnya dan ia makin percaya bahwa wanita cantik sekali di hadapannya itu teatulah bukan wanita sembarangan, dan di pegangnya gagang pedangnya erat erat.

Siapakah pemuda yang memegang Kim kong kiam ini?

Dia bukan lain adalah Liem Kong Hwat.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, ibu pemuda ini yang marah marah telah meninggalkan Tit le malam malam bersama Pun Hui dan Kong Hwat sendiri pulang ke Liok can.

Sakit sekali hati Song Siauw Yang.

Berhari hari ia menangis dan memaki maki puteranya sendiri.

"Kau anak tidak berbakti, anak memalukan orang tua! Kalau kau tidak mau belajar ilmu silat lagi sampai melebihi Song Tek Hong dan Ong Siang Cu, kalau kau tidak mau mencari seorang isteri yang jauh melebihi Bi Hui dalam kecantikan dan kepandaiannya, aku benar benar malu mempunyai anak engkau!"

Kata kata ini diucapkan berkali kali dan Siauw Yang tidak bisa dihibur oleh suaminya.

Melihat keadaan ibunya ini, Kong Hwat menjadi terpukul hatinya dan ia merasa menyesal timbul perkara seperti ini karena gara garanya.

Saking menyesalnya melihat keadaan ibunya, ia merasa benci sekali kepada ayah bunda Bi Hui, terutama sekali kepada Ong Siang Cu, bibinya yang telah menamparnya itu.

Akhirnya, karena tidak tahan menghadapi makian makian ibunya, tiga hari kemudaan Kong Hwat minggat dari rumahnya membawa pedang Kim kong kiam!

Dia pergi menghibur diri dan merantau sampai kekota raja di mana secara kebetulan sekali ia melihat Kui Lian di kejar kejar orang.

Sebagai seorang pemuda gagah perkasa dan keturunan pendekar, tentu saja Kong Hwat tidak mau tinggal diam melihat kejadian ini dan segera mempergunakan ilmu lari cepatnya untuk mengejar Kui Lian.

Demikian, kini ia berhadapan dengan Kui Lian yang ternyata mengenal pedang di tangannya.

"Hemm, kau mengenal Kim kong kiam, berarti kau seorang wanita kang ouw. Bukan mustahil kalau kau benar benar telah melakukan perbuatan kejam tadi."

Kui Lian tersenyum lagi dan diam diam Kong Hwat berdebar jantungnya.

Senyum ini baginya begitu manis, kalah senyum Bi Hui, kalah rasa madu.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa Kui Lian telah mempergunakan ilmu sihirnya sehingga senyum itu mempunyai pengaruh yang tidak sewajarnya.

Mata biasa akan menyatakan tanpa ragu ragu lagi bahwa senyum Bi Hui sepuluh kali lebih manis daripada senyum tokouw ini.

"Siangkong, kau benar benar galak sekali. Nanti dulu, tentang perbuatanku atas diri sepasang pengantin itu ada ceritanya tersendiri untuk urusan itu. Aku ingin sekali tahu apakah hubunganmu dengan Thian te Kiam ong Song Bun Sam maka pedang Kim kong kiam bisa berada di tanganmu?"

Sepasang mata yang bersinar ganjil itu dengan amat tajamnya menentang pandang mata Kong Hwat sehingga pemuda itu tak kuasa menentang lebih lama lagi dan terpaksa menundukkan mukanya.

Menghadapi wanita ini, ia merasa seakan akan dilucuti senjatanya, seakan akan hilang kekuasaannya.

Wanita ini bersikap demikian ramah, demikian wajar sehingga ia merasa malu sendiri mengapa ia tadi terburu nafsu memakinya siluman.

Padahal, seperti dikatakan oleh wanita ini, urusan yang terjadi tadi tentu ada latar belakangnya dan ia belum tahu apa latar betakang itu dan siapa pula gerangan yang bersalah.

"Thian te Kiam ong adalah mendiang kakekku. Apakah.... suthai sudah mengenalnya?"

Ia merasa tak enak dan kaku sekali menyebut suthai kepada wanita ini.

Akan tetapi kalau tidak menyebut suthai, habis menyebut apa lagi?

Memang wajah secantik itu tidak patut menjadi wajah seorang pertapa wanita, akan tetapi mengapa pakaiannya serba putih dan kerudung kepalanya serta kebutannya seperti yang biasa dipakai oleh para tokouw?

Melihat keraguan pemuda itu, Kui Lian tertawa geli.

"Siangkong, kau tak perlu menyebut suthai, karena aku memang bukan pendeta, hanya karena aku murid pendeta maka aku meniru niru pakaian guruku. Aku seorang wanita biasa saja. Tentu saja aku sudah mengenal kakekmu yang sakti itu. Menyesal sekali aku tidak mendengar bahwa ia telah meninggal dunia. Ahh, kiranya kita ini masih terhitung orang segolongan. Di antara orang segolongan, biarlah aku tidak menyimpan nyimpan rahasia lagi. Siangkong, harap kau menyimpan dulu Kim kong kiam itu dan marilah kita saling berkenalan sebelum kita bicara lebih lanjut. Ataukah.... barangkali cucu dari Thian te Kiam ong merasa diri terlalu tinggi untuk berkenalan dengan seorang hina dan bodoh seperti aku?"

Memang Kui Lian pandai sekali bicara dan dalam hal ini Kong Hwat hanya seorang pemuda hijau yang belum banyak pengalaman.

Sekaligus pemuda itu menyerah dan dengan malu malu ia menyarungkan pedangnya sambil berkata.

"Ah, bagaimana kau bisa bilang begitu? Biarpun aku cucu Thian te Kiam ong, apa sih anehnya dan apa bedanya dengan orang lain? Tentu saja aku tidak keberatan untuk berkenalan dengan.... nona. Aku bernama Liem Kong Hwat dan tinggal di Liok can,"

Kata Kong Hwat sambil menjura.

"Oh, kalau begitu seorang cucu luar dari Thian te Kiam ong Sing Bun Sam?"

Tanya Kui Lian sambil menatap wajah yang makin lama makin ganteng dalam pemandanganaya itu.

"Betul. Ibuku adalah anak dari Thian te Kiam ong. Ayahku she Liem, tadinya seorang siucai."

Buru buru Kui Lian memberi hormat sambil tertawa, memperlihatkan deretan gigi yang teratur rapi dan putih bersih.

"Ahh, kiranya aku berhadapan dengan seorang bun bu enghiong (orang gagah ahli silat dan sastera). Maaf, maaf Aku telah berlaku kurang hormat."

"Sudahlah, nona. Mengapa banyak sungkan dan merendahkan diri? Kau membikin aku merasa malu saja. Tidak tahu siapakah nona yang gagah dan siapa pula gurumu?"

Dengan suara dibikin merdu dan halus, Kui Lian menjawab.

"Namaku Cia Kui Lian, seorang yatim piatu yang sejak kecil ikut suhuku. Guruku itu adalah Koai Thian Cu, seorang tokoh dari selatan dan kenal baik dengan Thian te Kiam ong."

Tentu saja Kong Hwat belum pernah mendengar nama Koai Thian Cu yang memang jarang muncul di dunia kang ouw.

Akan tetapi ia merasa malu kalau mengaku belum kenal, dan pula memang ia merasa bahwa ia belum luas perhubungannya di dunia kang ouw, maka ia hanya berkata.

"Ah, kiranya murid dari seorang guru besar yang terkena! Nona, setelah kita berkenalan, harap kau suka menceritakan tentang peristiwa keributan tadi."

"Apakah tidak baik kita bicara sambil melanjutkan perjalanan?"

Tanya Kui Lian.

Kong Hwat menyetujui dan berjalanlah dua orang muda itu berdampingan seperti dua orang kenalan lama.

Dengan secara licin sekali Kui Lian telah dapat merobah suasana.

Kalau tadinya Kong Hwat hendak mengejar dan menangkap "siluman"

Adalah sekarang pemuda itu berjalan berdampingan secara akrab dan mesra dengan "siluman"

Itu sendiri! Bercakap cakap dalam suasana persahabatan.

"Liem siangkong, sebetulnya aku menceritakan tentang peristiwa tadi, aku ingin bertanya apakah kau pernah merasa di bikin sakit hati orang?"

Pertanyaan ini hanya untuk menganbil hati dan tidak disengaja oleh Kui Lian, akan tetapi secara tepat sekali telah menancap di ulu hati pemuda itu yang teringat akan sakit hatinya terhadap keluarga Song!

"Tentu saja pernah!"

Jawabnya.

"Lalu apa yang hendak kaulakukan terhadap orang yang membikin kau sakit hati itu?"

Kui Lian kembali memancing, girang bahwa pemuda inipun hanya punya musuh sehingga mudah baginya untuk menarik pemuda ini sebagai kawan dan mengambil hatinya.

Kong Hwat masih terlalu muda untuk dapat melihat betapa dengan amat cerdik keadaan kembali dibalikkan oleh wanita itu.

Kalau tadinya dia yang mengejar dan hendak menyelidik, sekarang bahkan wanita cantik itu yang selalu bertanya dan dia yang menjawab!

Dia sama sekali tidak merasa akan hal ini, sambil mengerutkan kening ia menjawab.

"Apa yang hendak aku lakukan? Tentu saja membalas hinaan orang kalau saja aku mampu. Sayang kepandaianku masih terlampau rendah."

Kui Lian kaget.

Pemuda ini adalah cucu Thian te Kiam, ong dan dapat diduga bahwa kepandaiannya tentu tinggi sekali.

Akan tetapi mengapa pemuda ini agaknya berputus asa dan tidak berdaya menghadapi musuhnya?

Alangkah lihainya musuh itu gerangan!

Biarpun hatinya ingin sekali tahu, namun Kui Lian tidak mau mendesak, tahu betul bahwa terlalu mendesak hanya akan menimbulkan kecurigaan pemuda ganteng yang sudah memasuki perangkapnya ini.

"Demikian pula aku, siangkong. Ketahuilah, bahwa peristiwa yang terjadi di kota raja tadi, memang kuakui bahwa itu adalah perbuatanku. Memang aku sengaja menyerang dan menghina sepasang pengantin. Akan tetapi perbuatanku itu pun hanya sekedar membalas dendam yang seperti lautan dalamnya."

Kong Hwat mengangguk angguk, penuh kepercayaan.

Makin lama ia makin tertarik kepada Kui Lian dan dianggapnya bahwa seorang gadis seperti ini tak mungkin jahat!

Memang kecantikan yang sudah menggilakan hati orang dapat membuat orang itu menjadi orang sebodoh bodohnya dan dapat membuat matanya buta, pikiran sempit, dan pertimbangannya patah!

"Nona Kui Lian, kalau boleh aku mengetahui, sakit hati apakah yang kaudendam terhadap mereka?"

Mendengar pertanyaan ini, tiba tiba Kui Lian menangis tersedu sedu.

Air matanya mengucur deras melalui celah celah jari tangan yang dipakai menutupi mukanya dan tubuhnya bergoyang goyang sambil dari mulutnya keluar isak isak tertahan.

Menghadapi senjata ampuh kaum wanita ini, Kong Hwat terperosok makin dalam!

"Nona, tenanglah dan jangan berduka, Kalau sakit hatimu belum terbatas seluruhnya, dengan adanya aku di sini, aku siap sedia untuk membantumu."

Kata kata ini sama sekali bukan kata kata seorang pendekar gagah perkasa yang bijaksana lagi, melainkan kata kata seorang pemuda yang sudah mulai tergila gila sehingga berani menyatakan siap melakukan apa saja untuk si dia tanpa dipertimbangkan apakah perbuatan itu salah ataukah benar.

Kui Lian menghentikan tangisnya, masih terisak isak.

lalu memperlihatkan kerling mata yang penuh pernyataan terima kasih yang besar sekali sehingga Kong Hwat menjadi terharu dibuatnya.

"Liem siangkong, ternyata olehku bahwa Thian masih menaruh kasihan kepada diriku yang sebatangkara sehingga hari ini aku bertemu dengan kau yang begini gagah dan berbudi mulia. Biarpun musuhku itu telah kubalas dan aku sudah puas, namun tetap saja aku menghaturkan banyak terima kasih atas budimu yang mulia."

Tiba tiba Kui Lian menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu dengan sikap dan gerakan yang lemah gemulai dan memikat! Kong Hwat tersipu sipu melangkah mundur.

"Ah, nona Cia Kui Lian, jangan begitu.... jangan kau merendahkan diri seperti ini. Aku belum berbuat apa apa untuk menolongmu!"

Kong Hwat benar benar terharu dan bingung. Akan tetapi Kui Lian tetap tidak mau bangkit.

"Kau seorang berhati mulia dan aku amat berterima kasih telah bertemu dengan orang sebaik ergkau, siangkong. Biarkanlah aku berlutut delapan kali di depan kakimu...."

"Jangan! Jangan, nona. Kau bangunlah!"

"Aku tidak akan bangun kalau bukan kau yang membangunkan aku, siangkong. Dengan begitu baru percaya bahwa aku tidak seharusnya berlutut di depanmu."

Terpaksa Kong Hwat melangkah maju, memegang kedua pundak wanita itu dan menariknya berdiri.

Hatinya berdebar tidak karuan ketika jari jari tangannya menyentuh pundak yang lunak halus dan hangat.

Selama hidupnya belum pernah Kong Hwat bersentuhan dengan wanita, bahkan dengan Bi Hui yang dicintainya juga hanya saling tukar pandang dan menyatakan isi hati dengan sinar mata dan senyum saja.

Apalagi ketika ia sudah menarik Kui Lian berdiri, wanita itu lalu menangis dan menjatuhkan kepala di dadanya, Kong Hwat merasa pening dan pandang matanya berputar putar!

Akan tetapi di dalam keadaan aneh ini ia merasai suatu kenikmatan hati yang sukar dituliskan.

Bau sedap harum yang keluar dari rambut kepala Kui Lian membuatnya sukar bernapas.

Hatinya ingin sekali untuk mendekap kepala itu, untuk memeluk tubuh wanita itu yang menyandarkan kepala ke dadanya, akan tatapi rasa malu mencegahnya.

Dan ia khawatir kalau kalau ada orang melihat keadaan mereka seperti itu, karena ia berada di jalan raya.

"Nona, jangan begitu, nanti orang melihat kita...."

Kui Lian menjatuhkan dirinya, lalu memandang. Dua pasang mata bertemu dan Kui Lian yang menundukkan muka dengan sepasang pipi kemerahan. Cantik dan manis sekali.

"Maafkan, Liem siangkong. Karena terlalu bersedih aku sampai lupa diri, Ketahuilah bahwa pengantin laki laki itu adalah seorang she Thio yang sebetulnya semenjak kecil sudah ditunangkan dengan aku. Aku mau bersumpah bahwa aku sama sekali tidak cinta dan tidak suka padanya, akan tetapi karena dia memutuskan pertunangan begitu saja, hal ini berarti hancurnya hidupku. Aku telah menjadi janda sebelum menikah. Pula, ia telah menghina orang tuaku yang miskin sehingga ayah dan ibu sampai membunuh diri saking malu dan berduka. Coba kaupikir, apakah sakit hati dan penghinaan ini tidak hebat? Aku lalu belajar ilmu dan hari ini berhasil aku membalas dendam. Aku tidak tega membunuh, hanya membikin jahanam itu kehilangan ingatannya."

Mendengar ini, Kong Hwat bernapas lega.

Tadinya ia memang merasa kecewa dan khawatir sekali kalau kalau gadis ini melakukan perbuatan kejam untuk merampok atau bagaimana.

Cepat ia mengangkat tangan memberi hormat.

"Maafkan, Cia tihiap, maafkan aku banyak banyak. Seharusnya aku membantumu memberi hajaran kepada pemuda Thio yang jahanam itu, akan tetapi sebaliknya, aku malah mengejar ngejarmu dan menganggapmu seorang penjahat. SUngguh aku bermata namun tak pandai melihat."

"Ah, jangan btang begitu, Liem siankong. Setelah kita menjadi sahabat baik, mengapa mengeluarkan ucapan sungkan? Bukankah kita sudah menjadi sahabat? Tentu saja kalau kau sudi menganggap aku sebagai sahabat...."

"Tentu saja. Aku merasa amat terhormat dan beruntung sekali bisa berjumpa dengan kau, apa lagi dapat menjad sahabatmu."

"Bagus!"

Wajah Kui Lian berseri seri.

"Kalau begitu. tak perlu lagi kita saling merasa sungkan dan menggunakan sebutan seperti orang orang asing. Berapakah usiamu?"

"Duapuluh tahun."

"Luar biasa! Akupun duapuluh. Kalau begitu kita terlahir dalam tahun yang sama, tapi karena kau laki laki biarlah aku menyebutmu koko saja dan kau boleh menyebutku moi moi. Bukankah sebutan ini lebih sedap didengar dan menandakan bahwa kita benar menjadi sahabat baik lahir batin?"

Wajah Kong Hwat menjadi merah sekali, ia heran mengapa gadis ini demikian ramah dan lancar, sedangkan dia yang mendengar saja merasa jengah.

Akan tetapi tak dapat disangka!

pula bahwa hatinya berdebar aneh dan girang mendengar kata kata Kui Lian.

"Baiklah.... Lian moi, aku memang tidak mempunyai adik perempuan...."

Kui Lian cemberut "Aku bukan adikmu. Hwat ko. Aku adalah sahabat baikmu, sahabat setia dan biasanya sahabat lebih baik dan dekat hubungannya daripada hanya seorang adik!"

Kong Hwat tertawa, tidak dapat melihat sindiran yang genit dalam ucapan itu. Maklum dia masih mula dan belum ada pengalaman.

"Sesukamulah, moi moi."

"Hwat ko, setelah kita menjadi sahabat baik kurasa tidak ada rahasia lagi di antara kita. Tadi sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku adalah seorang janda kembang, sungguhpun aku belum pernah menikah dan hanya menjadi tunangan semenjak bayi dengan jahanam Thio itu. Maka perlu kiranya aku mengetahui apakah kau sudah mempunyai isteri ataukah seorang tunangan?"

Kong Hwat menggelengkan kepala "Aku belum beristeri, tentang tunangan.... juga belum."

"Kekasih? Sudah adakah?"

Tanya Kui Lian berani.

Wajah Kong Hwat merah sekali.

Teringat ia akan Bi Hui dan teringat pula ia akan hinaan yang ia derita di rumah Bi Hui di Tit le itu ia tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala sambil menundukkan mukanya.

Sepasang alisnya yang tebal itu berkerut dan wajahnya menjadi muram.

Kui Lian melangkah maju dan memegang tangan kanannya Satu perbuatan yang amat berani dan menantang.

Kong Hwat merasa betapa kulit tangan yang halus hangat meremas tangannya, ia kaget dan heran, juga bingung tak tahu harus bagaimana, hanya memandang kepada Kui Lian dengan mata bingung dan jengah.

"Koko, aku...... kasihan melihatmu. Kau menyimpan rahasia yang menyedihkan hatimu, ini aku tahu pasti. Tadinya kau bilang sudah pernah dihina orang, dan kiranya hinaan itu ada hubungannya dengan kisah cintamu. Bukankah begitu?"

Ia meremas jari jari tangan Kong Hwat sambil memandang dengan tajam dan mesra.

"Koko ku yang baik setelah kita bertemu dan merasa saling cocok, mengapa kau menyimpan rahasia lagi? Percayalah seperti juga kesanggupanmu, betapapun pandainya dia, aku akan mempertaruhkan nyawaku yang tak berguna untuk membelamu!"

Kali ini Kong Hwat benar kaget.

Debar jantungnya makin mengeras.

Bagaimana dara itu sampai demikian mati matian hendak membelanya?

Berani mempertaruhkan nyawa?

Ah, jawaban untuk ini hanya satu.

Cinta!

Gadis manis ini mencintainya!

Ia memandang dan kembali untuk kesekian kalinya, dua pasang mata memandang.

Setiap kali bertemu pandang, makin eratlah cengkeraman pengaruh ilmu sihir yang memancar dari sepasang mata Kui Lian dan makin robohlah pertahanan batin Kong Hwat.

Pemuda itu memegang tangan Kui Lian erat erat.

"Ah, adikku yang baik, adikku yang manis. Kau benar benar baik hati sekali. Dalam keadaan putus asa dan terhina, aku bertemu dengan seorang seperti engkau, benar benar hatiku terhibur. Sampai mati aku takkan melupakan budimu ini, Lian moi. Akan tetapi kau tidak tahu, orang yang menghinaku itu sepuluh teah lebih pandai daripada aku."

"Ceritakanlah, siapa dia dan bagaimana dia menghinamu?"

Kai Lian mendesak.

"Dia itu adalah bibiku sendiri, isteri dari pamanku. Kakekku Thian te Kiam ong mempunyai dua orang anak, yang laki laki benama Song Tak Hong yaitu pamanku dan yang perempuan adalah Song Siauw Yang ibuku. Paman Song Tek Hong mempunyai seorang anak perempuan bernama Song Bi Hui. Belum lama ini aku dan ayah bundaku berkunjung ke Tit le untuk membantu merawat kong kong sampai datang kematiannya. Pada malam hari.... ketika aku sedang barcakap cakap dengan.... Bi Hui, muncul isteri pamanku itu yang dalam hal ilmu silat, kiranya tidak kalah oleh ibuku sendiri! Dan di situlah aku menerima tamparan dan hinaan!"

Kong Hwat menutupi mukanya dan menggigit bibirnya.

Jari jari tangan yang harus merenggut tangan nya itu dan sepasang mata yang bening dan bersinar aneh menatapnya, memaksanya menyambut pandang mata itu.

"Koko, kau.... kau mencinta Song Bi Hui adik misanmu itu, bukan?"

Kong Hwat merasa sukar menjawabnya.

"Dulu.... memang begitu...."

"Akan tetapi sekarang tidak lagi, bukan? Sekarang kau tidak mencintai nya lagi setelah kau bertemu dengan aku? Bukankah begitu?"

Kong Hwat memandang gadis itu dengan mata terbuka lebar lebar, ia sudah jatuh betul betul di bawah pengaruh sihir.

"Heran sekali, bagaimana kau bisa tahu begitu tepat? Menang.... betul begitu, Lian moi."

"Kau sekarang benci dia dan kau.... kau mercinta aku, bukan?"

Kong Hwat mengangguk.

"Lian moi, bagaimana kau bisa tahu dan bagaimana kau berani menyatakan ini? Biasanya seorang gadis akan malu malu bicara tentang ini...."

Kui Lian tersenyum lalu memeluk pundak pemuda itu dan menyandarkan kepalanya di dadanya.

"Koko ku yang baik, pujaan hatiku yang kucinta. Aku memang seorang yang suka berterus terang suka bicara secara langsung. Begitu aku melihatmu, hatiku sudah jatuh. Aku cinta kepadamu dan badan serta nyawaku kusediakan untuk membelamu, untuk membahagiakanmu. Ketika tangan kita bersentuh, jari jarimu gemetar, maka aku menduga bahwa kaupun suka kepadaku. Koko, jangan kau ragu ragu, mari kita pergi ke rumah orang yang menghinamu itu dan aku akan membantumu membalaskan dendam ini!"

Kong Hwat memeluk tubuh Kui Lian, tanpa malu malu lagi.

Setelah mendengar pengakuan Kui Lian, ia merasa berbahagia sekali dan menganggap bahwa gadis ini patut menjadi calon jodohnya.

Patut menjadi pengganti Bi Hui.

Gadis ini tidak kalah oleh Bi Hui!

Bukankah ibunya bilang bahwa dia harus mendapatkan seorang isteri yang melebihi Bi Hui?

Akan tetapi ajakan Kui Lian untuk membalas dendam, kembali mendukakan hatinya.

"Moi moi yang tercinta, kau tidak tahu. Apa kaukira mereka itu orang orang biasa saja? Paman Tek Hong adalah putera kong kong Thian te Kiam ong, kepandaiannya tinggi sekali, lebih tinggi daripada ibuku. Dan kepandaian isterinya juga bukan main tingginya, lagi pula isterinya itu ganas dan galak. Belum lagi ada Bi Hui di sana yang kepandaiannya kiranya tidak kalah olehku. Bagaimana aku dapat menghadapi tiga orang itu?"

"Koko, bukankah kau juga sudah mempelajari ilmu pedang warisan Thian te Kiam ong? Buktinya Kim kong kiam ada padamu. Bukankah kau cucu laki laki tunggal dan kau yang menjadi ahli waris?"

Kong Hwat mencabut pedangnya dan melemparkannya ke tanah dengan wajah kesal dan sebal.

"Kau bilang Kim kong kiam? Sungguh lucu. Inilah celakanya. Aku sudah membanting tulang dan selalu mendekati kakek sebelum meninggal, akan tetapi orang tua yang aneh itu tidak meninggalkan apa apa kepadaku melainkan pedang palsu ini!"

"Palsu?"

Kui Lian cepat mengambil pedang itu dari atas tanah dan terlihatlah olehnya ujung pedang itu patah dan nampak bahwa warna kuning hanya sepuhan dari luar saja.

"Kalau ini palsu, habis yang aselinya di mana?"

"Itulah yang menyebabkan sakit hati. Tak seorangpun tahu di mana pedang yang tulen, karena kong kong tidak meninggalkan pesan apa apa, Akan tetapi, ibu mempunyai dugaan bahwa pedang itu sengaja disembunyikan oleh paman Tek Hong. Rupa rupanya paman Tek Hong tidak rela pedang itu diwariskan kepada keluarga Liem oleh kong kong. maka diam diam dibuatnya pedang ke dua dan yang tulennya tentu mereka simpan sendiri!"

Kui Lian mengangguk angguk.

"Bisa jadi.... bisa jadi.... Kalau begitu, lebih lebih perlunya kau pergi ke Tit le. Tidak hanya untuk membalas hinaan, akan tetapi juga untuk mengambil Kim kong kiam tulen yang sudah menjadi hakmu."

Sambil berkata demikian, Kui Lian merenggutkan tubuhnya dari pangkuan Kong Hwat, berdiri menatap pemuda itu dengan dada membusung, kepala dikedikkan, mata bersinar sinar dan nampak gagah sekali.

Melihat kekasihnya seperti ini, dengan gemas Kong Hwat meraihnya dan memeluknya kembali.

"Kau manis dan gagah sekali, penuh semangat. Betul betul makin lama aku makin cinta kepadamu, Lian moi. Kau harus kubawa pulang, kuperkenalkan kepada ayah bundaku dan kau harus menjadi.... isteriku. Kau maukah, sayang?"

Kui Lian memejamkan mata, ingatannya melamun jauh, penuh kebahagiaan.

Menjadi isteri seorang pemuda seperti ini, cucu Thian te Kiam ong, keluarga perkasa dan ternama.

Pemuda tampan ganteng dan berkepandaian tinggi.

Ahh...

apalagi yang lebih dari ini.

Ia mengangguk angguk dan tanpa membuka mata ia berbisik.

"Aku siap sedia, koko. Sudah kukatakan tadi bahwa badan dan nyawaku ini adalah milikmu. Akan tetapi.... kau harus membalas dendammu lebih dulu, baru aku puas. Aku tidak suka melihat kau selalu bermuram durja dan membawa dendam dan hinaan yang membuat sakit hati di dalam dadamu. Biarlah aku membantumu sehingga aku tidak malu kelak menjadi isterimu setelah aku memperlihatkan kesetiaan dan pembelaanku."

Kong Hwat memeluknya erat erat penuh kasih sayang "Kui Lian, kau berhati mulia. Akan tetapi, kalau kita menyerbu ke sana hanya untuk menemui kematian, bukankah itu akan sia sia belaka?"

"Apa susahnya kalau kita mati? Mati berdua dengan kau merupakan kenikmatan bagiku, koko...."

Wajah yang cantik manis, tubuh yang menggairahkan, sikap yang menarik penuh tantangan, kerling mata memikat, senyum memadu dengan kata kata yang indah penuh bujuk rayu, semua ini ditambah dan diperkuat oleh ilmu sihir pengasihan yang memancar penuh daya pikat dari sepasang mata dan ujung ujung jari tangan Kui Han.

Tidak mengherankan apabila Kong Hwat jatuh dan lupa daratan.

Jangankan baru Kong Hwat yang masih hijau, biarpun seorang laki laki yang sudah kawakan dalam menghadapi godaan wanita, kiranya takkan dapat mempertahankan diri lama lama terhadap Kui Lian.

"Kui Lian.... Kui Lian...."

Kong Hwat memeluk mesra sambil membelai rambut kekasih nya.

"Kau benar benar seorang dewi! Akan tetapi aku tak ingin mati, kasihku. Aku ingin hidup seribu tahun agar dapat menikmati kebahagiaan di sampingmu."

Tiba tiba Kui Lian merenggutkan tubuhnya dan ia menarik Kong Hwat bangun dan berdiri dari atas rumput.

"Koko, kau agaknya tidak percaya akan kesanggupanku? Mungkin dalam hal ilmu sitat aku tidak bisa menangkan mereka, bahkan, mungkin ilmu silatku tidak setinggi kepandaianmu. Akan tetapi, marilah kita buktikan. Apakah kau dapat memukul roboh pohon di sana itu?"

Kong Hwat memandang. Pohon yang ditunjuk oleh Kui Lian itu adalah sebatang pohan siong yang besarnya sama dengan tubuh seorang biasa. Memukul roboh batang pohon sebesar itu kiranya tak mungkin.

"Memukul roboh aku tak sanggup, Lian moi. Kalau aku mengerahkan tenaga lweekang mendorongnya, itupun masih belum berani aku memastikan bahwa pohon itu akan roboh."

"Bukan! Bukan merobohkan dengan memukul dan mendorongnya. Kumaksudkan merobohkannya dari tempat ini."

Kata Kui Lian menantang. Kong Hwat tertawa.

"Apa kau mengimpi? Bagaimana bisa merobohkannya dari sini? Aku bukan dewa!"

"Hwat ko, apakah kiranya pamanmu, isteri nya, juga Bi Hui akan sanggup melakukannya?"

"Tak mungkin. Memang kepandaian paman dan isterinya amat tinggi, akan tetapi untuk merobohkan pohon yang batangnya sebesar manusia dan jarak kurang lebih lima tumbak, benar benar adalah hal yang mustahil. Tidak, mereka takkan dapat melakukannya!"

"Mendiang kong kongmu bagaimana? Apakah Thian te Kiam ong kiranya juga tidak mampu merobohkan pohon itu dari tempat ini?"

"Aku pernah mendengar ibu berceritera bahwa kong kong telah amat tinggi ilmunya. Bahkan ilmu pukulan tangan kosong dari kong kong yang disebut Thai lek Kim kong jiu warisan dari Kim Kong Taisu, juga ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu warisan dari Mo bin Sin kun, katanya sudah demikian tinggi hingga bisa memukul roboh seorang lawan dari jarak lima tombak. Akan tetapi, memukul orang mempergunakan tenaga pukulan atau hawa pukulan tidak begitu sukar, biarpun tidak begitu kuat akupun sudah dapat melakukannya. Berbeda sekali dengan memukul sebatang pohon yang tumbuh dengan kokoh kuat. Tak mungkin, moi moi, biarpun Thian te Kiam ong sendiri, takkan mungkin merobohkan pohon itu."

Kui Lian tertawa manis dan mencubit pipi Kong Hwat.

"Maka jangan kau memandang rendah pada ku. Kekasihmu yang bodoh ini sanggup merobohkan pohon itu dari tempat ini!"

"Kau bisa....?? Betul betulkah, Lian moi?"

"Kaulihat baik baik. Lihatlah pohon itu. Lihat daun daunnya yang hebat. Ada cabangnya di sebelah kiri yang bengkak bengkok seperti ular. Lihat baik baik, Hwat ko.... aku akan merobohkannya, roboh bersama sekalian cabang dan daunnya, roboh seperti ditebang, roboh ke sebelah, kiri.... kau lihatlah pukulan mautku!"

Kui Han mengeluarkan kata kata ini dengan suara mengguntur, penuh pengaruh ilmu hitam yang dahsyat sehingga Kong Hwat bagaikan terpaku memandang kearah pohon itu, ttak kuasa lagi atas pandang mata dan pikirannya.

Kui Lian menggerak gerakkan kedua tangannya ke arah Kong Hwat dan....

pemuda itu melihat betapa pohon besar itu benar benar roboh ke kiri, mengeluarkan suara keras seperti dtsambar petir!

"Hebat....!

Hebat!

Kepandaianmu seperti kepandaian malaikat...."

Kata Kong Hwat terheran heran, akan tetapi Kui Lian sudah memeluk dengan mesra.

"Apa kau masih tidak percaya kepada kekasihmu yang bodoh ini?"

Tanyanya manja.

"Percaya penuh, sepenuh penuhnya. Ha, ha, ha, keluarga Song yang sombong, sekarang kau akan tahu rasa. Rasakanlah datangnya pembalasan dari Liem Kong Hwat dengan calon isterinya."

Pemuda itu tertawa tawa girang dan mereka melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan, mesra sekali.

Kalau saja Kong Hwat tahu.

Kalau saja ia melihat bagaimana tak lama kemudian setelah ia dan Kui Lian pergi dari situ, seorang anak penggembala kerbau memanjat pohon itu sambil tertawa tawa dan pohon itu sama sekali tidak tumbang, masih berdiri kokoh kuat seperti biasa.

Ia tidak tahu bahwa bukan pohon itu yang dirobohkan oleh Kui Lian, melainkan dialah yang dirobohkan, dia yang disihir sehingga dalam penglihatannya pohon itu roboh seperti yang dikatakan oleh Kui Lian.

Dan Kong Hwat tenggelam makin dalam ketika dalam perjalanan itu, tiada hentinya Kui Lian menggoda membujuk rayu, menghujani pelakuan perlakuan manis sehingga mereka berdua melakukan perjalanan seperti sepasang suami isteri yang sedang berbulan madu.

Biarpun belum diresmikan oleh pernikahan, Kui Lian telah menjadi isteri dari Kong Hwat, dan mendapatkan cinta kasih pemuda itu yang sudah jatuh di bawah telapak kakinya.

Dalam ketidaksadarannya Kong Hwat juga merasa berbahagia sekali.

Dalam kesadarannya Kui Lian juga merasa berbahagia.

Kiranya segalanya akan berjalan baik dan mereka akan dapat menikmati hidup sampai tua, kalau saja segala ini bisa lancar seperti diingini manusia.

Akan tetapi, kepuasan dan kekecewaan selalu datang bergandeng tangan, mempermainkan manusia berganti ganti.

Dan cerita ini masih panjang.

0odwo0

"Beng Han, jangan kau memandang rendah ilmu tangan kosong Soan hong pek lek jiu yang hendak kuturunkan kepadamu ini. Mengapa kau begitu keras hati tidak mau mempelajari ilmu silat lain kecuali ilmu Pedang Kim kong Kiam sut? Apa kaukira gampang saja mempelajari ilmu pedang itu?"

Tanya Tek Hong sambil mengerutkan keningnya karena tidak senang melihat Beng Han menolak pelajaran ilmu silat lain kecuati Kim kong Kiam sut.

Beng Han menjatuhkan diri berlutut di depan Song Tek Hong, lalu berkata penuh hormat.

"Suheng, harap kau sudi memaafkan, karena bukan sekali kali aku memandang rendah Soan hong pek lek jiu atau ilmu silat lain. Akan tetapi sesungguhnya, aku hanya minta supaya suheng melanjutkan kehendak mendiang suhn. Suhu telah mulai memberi pelajaran dasar dasar ilmu Pedang Kim kong Kiam sut kepadaku, oleh karena ini, kuharap sudilah kiranya suheng melanjutkan usaha suhu dan menurunkan kepadaku pelajaran dasar ilmu Pedang Kim kong Kiam sut,"

Tek Hong mengerutkan keningnya.

Dia maklum bahwa Beng Han sutenya ini bukan seorang bocah biasa.

Seorang anak berusia enam tahun lebih dapat bicara dengan sikap seperti orang dewasa, dapat berpikir secara mendalam dan memiliki pandangan luas, benar benar bocah ini termasuk bocah yang luar biasa.

Apalagi memang ia tahu bahwa Beng Han memiliki bakat yang baik sekali.

Dia sendiri tidak dapat mewarisi Kim kong Kiam sut sampai sempurna betul dan boleh dibilang bahwa ilmu kepandaian ayahnya belum ada yang mewarisi dan belum ada yang menggantikan kedudukan ayahnya yang tinggi.

Anak Beng Han inikah yang kelak akan mengangkat tinggi tinggi nama keluarga Song?

"Sute, yang kau katakan tadi memang tidak salah.

Akan tetapi kau harus tahu bahwa ilmu Pedang Kim kong Kiam sut bukan ilmu biasa saja dan tidak sembarangan orang mampu memilikinya.

Ketahuilah bahwa aku sendiri setelah berlatih puluhan tahun, masih belum dapat mewarisi setengahnya saja dari ilmu pedang itu.

Juga sucimu dewi-kz Siauw Yang hanya memiliki kurang dan setengahnya, hanya bedanya kalau kau lebih banyak mewarisi bagian pertahanannya, adalah dia mewarisi lebih banyak bagian penyerangannya.

Padahal ketika itu kami belajar di bawah pimpinan langsung dari ayah.

Apalagi sekarang, kalau kau belajar dari aku, apakah hasilnya nanti?

Jangan jangan hanya akan menimbulkan buah tertawaan orang belaka dan akan dianggap bahwa Kim kong Kiam sut amat janggal dan tidak berarti."

"Suheng, maafkan siauwte. Pertama tama, aku ingat akan pesan dan nasihat suhu dahulu, bahwa ilmu silat sebagai tanaman pohon. Yang perlu mempelajari pokok pokok dan dasar dasarnya, atau diumpamakan batang pohonnya. Tentang perkembangannya, itu tergantung sepenuhnya kepada orang yang mempelajarinya, seperti juga batang pohon yang sudah hidup, tentu akan bersemi, mengeluarkan cabang, daun, kembang dan buah. Kuharap suheng sudi memimpin aku dalam mempelajari dasar dasar Kim kong Kiam sut sampai sempurna. Adapun tentang perkembangannya, biarlah itu digantungkan kepada nasib siauwte saja. Kalau nasib baik, kiranya aku akan dapat memperkembangkan sendiri. Dengan mempelajari dasar Kim kong Kiam sut, berarti aku dan suheng tidak menyia nyiakan harapan mendiang suhu. Dan ke dua, aku bersumpah takkan memperlihatkan Kim kong Kiam sut kepada siapapun juga sebelum sempurna betul seluruhnya agar ilmu kita ini tidak menjadi celaan orang."

Terpaksa Tek Hong menuruti permintaan sutenya ini yang memang mempunyai alasan kuat sekali.

Dengan sungguh sungguh ia mulai melanjutkan latihan sutenya, memberi petunjuk petunjuk memecahkan semua rahasia pokok dari gerakan dasar ilmu Pedang Kim kong Kiam sut.

Memang, tepat seperti dikatakan oleh Beng Han tadi, ilmu Silat betapapun tingginya, dasar dasarnya adalah sama dan tak dapat dirobah robah.

Seperti hanya Kim kong Kiam sut, dasar pergerakan kaki dan langkah sudah mempunyai ketentuan sendiri.

Langkah dan dasar ilmu silat ini tidak begitu di pelajari, bahkan selain Tek Hong dan Siauw Yang sendiri, anak anak mereka, Bi Hui dan Kong Hwat, sudah lama hafal dan dapat menguasai sebaiknya.

Akan tetapi, yang sukar adalah kembang tembangnya.

Setiap jurus ilmu silat Kim kong Kiam sut ini dapat dipecah menjadi tigapuluh enam gerakan disesuaikan dengan keadaan dan siasat gerakan lawan pada saat dihadapi, oleh karena itu amat sukar dipelajari.

Apalagi ilmu pedang ini seluruhnya mempunyai seratus duapuluh jurus!

Beng Han dengan amat tekun melanjutkan latihannya, tak mengenal telah, tak mengenal siang malam.

Berkat kecerdikannya, akhirnya ia dapat menguasai pasangan dan kedudukan kaki serta teori teorinya.

Song Bi Hui sering kali mengomel panjang pendek kalau melihat ayahnya tekun melatih Beng Han.

"Ayah memang aneh sekali. Mengapa Kim kong Kiam sut dtiurunkan kepada orang lain? Banyak macam ilmu silat yang dikuasai ayah, mengapa justeru memberikan dasar dasar Kim kong Kiam sut kepada Beng Han?"

Omelnya di depan ibunya.

"Beng Han biarpun masih kecil terhitung susiok mu (paman gurumu) karena dia murid mending kong kongmu. Oleh karena itu sudah sepatutnya kalau dia mempelajari Kim kong Kiam sut. Mengapa kau ribut?"

Ibunya menegurnya.

"Aku sama sekali tidak mengiri, ibu. Aku sendiri sudah mempelajari Kim kong Kiam sut dan terus terang saja, aku tidak sanggup. Tidak mengapa ayah mengajarkan ilmu itu kepada orang lain, asal saja jangan Beng Han. Harap ibu pikir baik baik. Siapakah Beng Han itu? Kalau kita tanya tentang asal usulnya, dia sama sekali tidak tahu siapa ayah bundanya, dan dia dibawa ke sini oleh seorang tosu tukang khoamia, seorang tosu gelandangan yang tidak karuan riwayatnya lagi. Kalau kelak Beng Han sudah besar lalu melakukan kejahatan mempergunakan ilmu silat keturunan kita, bukankah nama baik keluarga Song yang akan hancur lebur?"

"Kurasa tidak. Anaknya kelihatan baik dan andaikata kelak dia menyeleweng, masih ada kita untuk memberi hajaran,"

Kata pula Siang Cu menghibur puterinya.

Namun Bi Hui masih nampak ragu ragu dan tidak puas.

Entah mengapa, gadis ini merasa kurang suka terhadap Beng Han, Hal ini mungkin ditimbulkan karena kong kongnya dan ayahnya kelihatan begitu sayang kepada Beng Han.

Makin baik sikap anak itu terhadap ayah ibunya makin bencilah dia karena mengira bahwa anak itu bersikap baik dan manis untuk "mencuri"

Ilmu silat keturunan mereka.

Memang sikap Beng Han terlalu luar biasa bagi seorang anak berusia enam tahun lebih, kelakuan dan kata katanya membayangkan pikiran yang masak.

Tentu saja seorang dara manja seperti Bi Hui yang masih panas darahnya, melihat gejala ganjil ini sebagai perbuatan sengaja yang menyembunyikan maksud buruk.

Telah beberapa hari Tek Hong meraba tidak enak hatinya ia telah menyuruh seorang utusan mengantarkan suratnya kepada Sin tung Lo kai Thio Houw di Leng ting.

Dalam suratnya itu dia memberitahukan tentang pesan terakhir dari Thian te Kiam ong tentang perikatan jodoh.

Sebagai orang tua pihak wanita, tentu saja Tek Hong merasa tidak patut kalau ia datang mengajukan usul ikatan jodoh, maka sebagai alasan ia katakan bahwa mereka sekeluarga masih berkabung sehingga tidak ada waktu untuk datang sendiri ke Leng ting menghadap pada jago tua itu.

Telah sebulan lebih utusannya pergi, akan tetapi sampai hari itu belum juga utusannya kembali.

Diterimakah atau ditolakkah usul ikatan jodoh itu?

Tek Hong dan isterinya belum pernah melihat cucu Sin tung Lo kai, sungguhpun mereka tahu bahwa Bi sin tung Thio Leng Li, yaitu puteri Sin tung Lo kai dan sahabat baik mereka, mempunyai seorang putera yang sebaya dengan Bi Hui.

Sebetulnya mereka tidak ingin buru buru menjodohkan puterinya, akan tetapi semenjak peristiwa di dalam taman dengan Kong Hwat, Tek Hong suami isteri merasa tidak enak hati.

Sebagai orang tua, tentu saja mereka dapat menduga bahwa sedikit banyak tentu ada "apa apa"

Antara Bi Hui dan Kong Hwa.

Setelah peristiwa ribut ribut itu, jalan satu satunya yang paling baik adalah cepat cepat mengikat jodoh Bi Hui dengan cucu Sin tung Lo kai seperti yang dipesan oleh Thian te Kiam ong.

Bagaimana dengan Bi Hui sendiri?

Gadis ini tentu saja belum diberi tahu.

Dan diam diam Bi Hui masih terkenang kepada Kong Hwat.

Sungguhpun ia sendiri belum dapat menentukan dan belum yakin apakah ia sesungguhnya jatuh cinta kepada Kong Hwat, akan tetapi tak dapat disangkal pula bahwa pemuda itu mendapatkan tempat baik di lubuk hatinya.

Ia menganggap kakak misannya itu selain tampan, juga gagah dan berwatak baik.

Lebih lebih kalau ia teringat betapa pemuda itu mendapat tamparan dari ibunya, ia makin merasa kasihan dan diam diam merasa menyesal mengapa ibunya berlaku begitu kejam, ia tidak menyalahkan sikap Kong Hwat yang hendak mengajaknya melarikan diri karena pemuda itu takut kehilangan dia yang hendak dijodohkan dengan orang lain.

Perangai Bi Hui makin mudah marah dan mudah tersinggung semenjak terjadnya peristiwa di taman itu.

Karena tidak ada orang lain yang boleh menerima timpaan sesalnya, ia sering kali menimpakan kemarahannya kepada Beng Han.

Juga pada pagi hari itu ia marah marah kepada Beng Han di taman bunga.

Pagi hari itu Bi Hui berjalan jalan di taman bunga, lalu termenung memikirkan di mana adanya Kong Hwat sekarang dan apakah masih ada harapan baginya untuk berjumpa dengan kakak misan itu lagi.

Tiba tiba renungannya tergoda oleh suara nyaring di sebelah kiri taman.

"Satu...... satu dua.... satu dua tiga.... satu dua tiga empat....satu dan tiga empat lima... satu dua tiga empat lima enam tujuh....!"

Bi Hui menoleh dengan muka sebal.

Itulah suara Beng Han dan ia tahu apa artinya suara itu.

Bocah itu sedang berlatih langkah langkah dasar ilmu silat Kim kong Kiam sut dengan langkah yang disebut Jit seng pouw (Langkah Tujuh Bntang).

Memang Kim kong Kiam sut berdasarkan langkah tujuh bintang.

Tujuh bintang itu dapat diatur dalam delapan penjuru sehingga jumlah pergeseran kaki itu macamnya ada tujuh kali detapan, limapuluh enam pasangan atau langkah!

Bi Hui hafal benar akan Jit seng pouw ini yang sekarang sedang dilatih secara rajin sekali oleh Beng Han.

Dahulu ketika ia mula mula mepelajari Jit seng pouw ini tidak serajin BengHan.

Bocah ini pagi, sore, malam tak pernah berhenti berlatih Jit seng pouw dan ini masih dibarengi dengan mulutnya menyebut dan menghitung langkah langkah itu agar hafal betul dan dapat mendarah daging dengan kakinya.

Makin di dengar suara itu makin memanaskan hati, makin dilupakan makin merangsang telinga.

Akhirnya Bi Hui membanting kaki dan berdiri dari tempat duduknya, berjalan cepat menghampiri Beng Han.

"Kau kira kau sudah jadi jagoan di sini? Baru bisa begitu saja lagaknya bukan main! Cih, tak tahu malu!"

Beng Han menghentikan latihannya, mukanya merah sekali.

Bukan baru kali ini ia menerima caci maki gadis ini, akan tatapi ia tak pernah menaruh dendam.

Biarpun masih kecil, ia dapat menilai watak orang, dan ia tahu bahwa Bi Hui tentu sedang terganggu hatinya maka kelihatan marah marah selalu.

Sambil menjura ia berkata.

"Cici Bi Hui, kau tahu bahwa aku tidak berlagak. Aku hanya melatih diri sesuai dengan petunjuk ayahmu."

"Tidak berlagak? Kau berlatih dengan mulut berteriak teriak biar semua orang tahu bahwa kau sedang berlatih Kim kong Kiam sut. Hemm, kau, sudah menjadi jagoan, ya?"

"Tidak, Cici Bi Hui Aku hanya seorang sute dari ayah bundamu, sorang yatim piatu yang menumpang di sini."

Mendengar Beng Han merendahkan diri begini, Bi Hui makin marah, seakan akan ia merasa disindir babwa dialah yang jahat terhadap seorang anak yatim piatu!

"Apa kau bilang?

Kau tidak berlagak?

Kalau kau betul betul tahu seorang yang menumpangkan diri mengapa kau semalas ini?

Kau hanya makan tidur dan berlatih silat.

Kau sudah menerima banyak sekali kebaikan dari kami, dan apa balasmu?

Membersihkan taman saja tidak mau."

"Setiap hari kubersihkan, cici...."

"Apa? Berani kau membohong Lihat, kalau sudah dibersihkan bagaimana begini kotor? Penuh daun kering!"

"Memang hari ini belum kubersihkan. Biasanya setelah berlatih baru kubersihkan. Daun daun itu gugur malam tadi."

"Tak tahu diri! Setelah beres pekerjaan baru main main. Masa kau ini main main dulu baru bekerja. Benar benar tak tahu diri kau!"

Pada saat itu, muncul Tek Hong dan Siang Cu.

"Eh, ada apa sih ribut nbut seperti ini?"

Tanya Siang Cu.

"Anak ini sejak pagi main main dan berlatih silat dan taman begini kotor. Ketika kutegur katanya baru membersihkan dan bekerja sehabis main main. Mana ada aturan begitu? Kusuruh dia bekerja dulu, baru main main."

Siang Cu menoleh kepada Beng Han. Nyonya inipun sedang merasa jengkel, mungkin karena utusan mereka ke Leng teng belum juga datang.

"Beng Han, kau jangan selalu membantah kalau diberi tahu oleh B Hui Betapapun juga, kau harus mentaati perintahnya. Apalagi kau yang salah sepagi ini belum apa apa sudah main main. Hayo bekerja!"

Beng Han menundukkan kepala dan memberi hormat.

"Memang siauwte yang salah, harap suci maafkan."

"Beng Han, sikapmu yang selalu merendah rendah itu lama lama menyebalkan!"

Tiba tiba Tek Hong juga membentaknya.

"Kau sudah kuanggap sebagai orang sendiri, mengapa baru mendapat teguran begitu saja sudah bersungkan sungkan dan minta minta maaf segala?"

Bang Han kaget sekali.

Kalau ia mendapat hinaan atau makian dari Bi Hui, itu dianggapnya malah lucu, kalau ia ditegur oleh Siang Cu dia hanya akan menghela napas dan tahu diri, akan tetapi teguran dan Tek Hong yang ia anggap sebagai pengganti suhunya, benar benar menusuk hatinya dan tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipinya.

"Nah, nah, dia menangis! Benar benar anak ini telah diberi hati oleh ayah. Menjadi manja dan besar kepala!"

Kata Bi Hui.

"Bi Hui, jangan kau berkata begitu!"

Tek Hong membentak anaknya.

Ketika ia menoleh.

Bang Han telah pergi mengambil sapu untuk memulai bekerja.

Ia hanya menghela napas, lalu bersama isterinya pergi duduk di dekat empang ikan.

Memang hampir setiap pagi suami isteri ini duduk di dekat empang itu, yaitu di waktu matahari mulai muncul.

Mereka tahu bahwa sinar matahari pagi amat perlu bagi kesehatan mereka yang sudah mulai tua.

Wajah Beng Han nampak muram saja sehari itu, dan matanya selalu basah.

Dengan sembunyi sembunyi ia menahan isak dan kadang kadang menghapus air matanya.

Semua ini tidak terlepas dari penglihatan mata Bi Hui yang tajam.

"Biarlah, kalau kau merasa sakit hati pergi saja dari sini agar jangan menambahkan kejengkelan orang saja."

Bi Hui berkata di dalam hatinya.

Malam tiba.

Gelap sekali di luar.

Hawa malam yang amat dinginnya membuat seisi rumah sudah tidur nyenyak sebelum tengah malam.

Kecuali Beng Han.

Bocah ini tidak dapat tidur.

Gelisah selalu.

Ia teringat akan segala pengalamannya.

Diam diam ia merasa rindu kepada ayah dan bunda, akan tetapi dimanakah ia dapat mencari mereka?

Tahu saja siapa mereka juga tidak!

Di mana adanya kong kongnya, Koai Thian Cu?

Ah, hanya Koai Thian Cu dan mendiang Thian te Kiam ong yang benar benar jujur dan baik terhadap dia.

Kebaikan suhengnya, Tek Hong seperti dipaksakan.

Dia merasa akan hal ini.

Tengah malam lewat.

Keadaan sunyi sekali, baik di dalam maupun di luar ramah.

Akan tetap, di dalam gelap itu, tiba tiba berkelebat dua bayangan orang dengan gerakan gesit sekali memasuki ruangan di dekat taman rumah keluarga Song!

Di bawah sinar pelita ruangan belakang ini, nampaklah bahwa mereka ini adalah seorang pemuda tampan dan dw-kz seorang wanita cantik.

Liem Kong Hwat dan Cia Kui Lian!

Kong Hwat memegang Kim kong kiam palsu sedangkan Kui Lian membawa pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kiri.

Kong Hwat nampak ragu ragu dan takut takut, akan tetapi Kui Lian menarik tangannya dan berbisik.

"Jangan takut. Mana kamar mereka?"

Kong Hwat menuding ke depan.

Dengan kekuatan sihirnya, Kui Lian dapat membuka pintu tanpa banyak kesukaran dan sedikitpun tidak mengeluarkan suara.

Akan tetapi, ketika mereka lewat di kamar tengah, seorang pelayan yang tidur di atas lantai menjadi terbangun dan dengan kaget pelayan itu duduk, matanya memandang terbelalak kepada Kong Hwat.

Akan tetapi, sekali kebutan dengan hudtim ke arah muka orang itu, Kui Lian telah berhasil membuat orang itu jatuh lagi, tidur atau setengah pingsan!

Ujung kebutannya telah dipasang racun penidur yang luar biasa kuatnya.

Mereka maju terus dan tiba di depan kamar Song Tek Hong.

Kembali Kong Hwat ragu ragu dan jerih.

Ia maklum benar akan kelihaian Tek Hong dan Siang Cu.

Akan tetapi kembali Kui Lian menarik tangannya dan dengan kebutan dan sihirnya, Kui Lian berhasil membuka pintu kamar itu dengan amat mudah.

Biarpun jerih, akan tetapi Kong Hwat menjadi bernafsu dan amarahnya timbul ketika ia memasuki kamar bibinya yang pernah menghina dan membikin sakit hatinya.

Rasakan pembalasanku sekarang, geramnya di dalam hati.

Sementara itu.

Kui Lian sudah membuka kelambu dan menudingkan hudtimnya ke arah muka seorang wanita setengah tua yang masih nampak kecantikan wajahnya.

"Dia inikah orangnya?"

Tanyanya kepada Kong Hwat. Pemuda itu mengangguk, pedang di tangannya gemetar. Kui Lian lalu mencambukkan kebutannya rada muka Siang Cu yang sedang tidur sambil berkata.

"Biar kubalaskan tamparanmu!"

Serangan kebutan ini bukanlah serangan biasa, melainkan serangan ke arah urat syaraf di kening dan disertai hawa yang penuh dengan tenaga hoat sut.

Orang lain yang terkena serangan ini pasti akan roboh pingsan dan ingatannya tidak beres lagi.

Akan tetapi Ong Siang Cu adalah seorang wanita yang berkepandaian tinggi sekali.

Begitu kulit mukanya tersentuh, otomatis hawa sinkang di tubuhnya melindungi urat uratnya sehingga biarpun totokan itu tepat kenanya, ia masih dapat melompat bangun.

Melihat Kong Hwat berdiri di situ bersama seorang wanita, keduanya memegang pedang, tahulah ia bahwa mereka ini datang dengan maksud jahat.

Cepat ia menyerang Kong Hwat sambil berseru.

"Bocah keparat, kau benar benar jahat!"

Serangan yang dilakukan oleh Siang Cu luar biasa hebatnya, biarpun dengan tangan kosong saja, akan tetapi kalau berhasil mengenai Kong Hwat, tentu akan dapat merenggut nyawanya.

Sayang sekali Siang Cu sudah terpukul oleh kebutan Kui Lian sehingga serangannya tidak jitu, jaga kakinya menjadi limbung.

Kong Hwat mengelak dan hanya pundaknya saja yang terlanggar membuat ia berjumpalitan dan mengeluh kesakitan!

Di lain saat, Siang Cu yang berhadapan dengan Kui Lian telah kena disihir oleh Kui Lian dan nyonya ini berdiri seperti patung memandang kepada Kui Lian dengan sikap seperti hendak menyerang.

Kong Hwat tidak tahu bahwa bibinya ini sudah tak dapat bergerak lagi.

Melihat sikapnya, dan marah karena pukulan tadi, Kong Hwat cepat menggerakkan pedangnya, membuat serangan balasan.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pedangnya itu dengan mudah amblas ke dalam perut bibinya!

"Ayaaa....!"

Ia melompat ke belakang sambil mencabut pedang yang sudah berlepotan darah, matanya terbelalak memandang darah menyembur keluar dari perut bibinya dan tubuh itu perlahan lahan roboh.

Sepasang mata bibinya memandang kepadanya, penuh keheranan dan kebencian, Siang Cu roboh tanpa mengeluarkan suara lagi, masih setengah berada dalam kekuasaan sihir Kui Lian.

Tek Hong melompat setelah tadi mendengar suara ribut ribut dalam kamar.

Tadinya Kui Lian memang sudah memasang sihir ketika mulai memasuki kamar maka suami isteri pendekar ini tidak mendengar apa apa dan agak kepulasan.

Alangkah kagetnya Tek Hong yang melihat tubuh isterinya berlumur darah menggeletak di lantai dan melihat Kong Hwat berdiam dengan pedang Kim kong kiam palsu berlepotan darah, di sebelahnya dikawani seorang gadis cantik yang bermuka mengerikan.

"Song Tek Hong, lihat padaku!"

Bentak Kui Lian.

Tek Hong tidak menduga apa apa dan menoleh kepada gadis itu, masih belum sadar benar dari tidur.

Biarpun dia seorang pendekar besar yang sudah banyak pengalaman, akan tetapi ia tak dapat disalahkan kalau sampai terjatuh ke dalam kekuasaan Kui Lian.

Siapa yang dapat menyangka bahwa gadis muda ini seorang ahli sihir?

Tek Hong sadar setelah terlambat.

Begitu ia memandang Kui Lian, ia merasa betapa sepasang mata gadis itu menembusi matanya dan langsung menguasai hati dan pikirannya.

"Song Tek Hong, kau tak dapat bergerak.... kaku.... kaku seperti balok...."

Kui Lian menggerak gerakkan hudtimnya dengan lambaian seperti menulis huruf huruf rahasia di udara dan sepasaag matanya terus menatap wajah itu dengan pandangan tajam menusuk.

Tek Hong meronta, berusaha sekerasnya untuk melepaskan diri dari cengkeraman ilmu sihir yang luar biasa.

Nampak urat urat seluruh tubuhnya berkerotokan, tanda bahwa lweekangnya dijalankan untuk memaksa dan mendobrak pengaruh yang menyelubungi tubuhnya dan membuat ia tak dapat bergerak itu.

"Koko, lekas tusuk mati dia....!"

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 13

Baca Juga: Pendekar Bodoh 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert