Eps 13 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.
Kata Kui Lian, terus melanjutkan sihirnya. Ia hampir tidak kuat menguasai Tek Hong, demikian tinggi kepandaian Tek Hong, demikian dahsyat tenaga lweekangnya.
"Lian moi, aku.... aku tidak bisa.... dia.... pamanku...."
"Bodoh, dia melihat kau membunuh isterinya, dia takkan mengampuni kau. Lebih baik lekas bunuh, siapa akan tahu?"
Kui Lian mulai terenggah engah dan Tek Hong mulai dapat menggerakkan leher dan tangan.
"Lekas, koko, aku.... hampir tak dapat menguasainya lagi..."
Kemudian disambung dengan suaranya yang berpengaruh.
"Song Tek Hong, jangan bergerak.... kau tak kuasa bergerak.... kau harus mentaati perintahku ..."
Akan tetapi Tek Hong makin keras berusaha melepaskan diri.
Melihat ini dan mendengar kata kata Kui Lian tadi, Kong Hwat tahu bahwa jalan satu satunya untuk menyelamatkan diri hanya mendahului pamannya.
Dengan mata dipejamkan ia lalu menggerakkan pedangnya, menusuk dada Tek Hong.
Akan tetapi ia berteriak keras dan jatuh terguling!
Dada Tek Hong begitu keras seperti baja sehingga ketika pedang itu membentur dada, semacam tenaga dahsyat telah menolak dan merobohkan Kong Hwat.
"Pilih bagian berbahaya...."
Kui Lian sempat memberi peringatan.
Tahulah Kong Hwat bahwa pamannya itu telah mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya, maka dadanya demikian kuat.
Sekali lagi ia menggerakkan pedangnya, kali ini dengan mata terbuka.
Menusuk bagian pusar dan pedang itu....
menancap dalam!
Tubuh Tek Hong terguling dan darahnya menyembur ke lantai, bercampur dengan darah isterinya!
Suami isteri pendekar yang berkepandaian tinggi ini tewas dalam keadaan yang mengecewakan.
Pada saat itu, Beng Han dengan pedang pendek yang biasa ia pakai berlatih, menyerbu masuk dan memaki maki.
"Jahanam terkutuk.... kau berani membunuh suheng? Kau.... baru sekarang ia melihat bahwa penjahat itu adalah Kong Hwat dan seorang wanita muda yang tidak dikenalnya.
"Kau.... yang.... melakukan ini....?"
Saking heran, marah, berduka melihat Tek Hong dan Siang Cu menggeletak di atas lantai penuh darah, dan melihat Kong Hwat, Beng Han sampai tak dapat bicara lagi!
Ia segera menubruk maju, pedang pendek yang biasa dipakai berlatih itu ditusukkan ke arah Kong Hwat.
Akan tetapi, sekali menggerakkan pedangnya, pedang pendek di tangan Beng Han terlempar dan sebuah dupakan membuat Beng Han roboh bergulingan di atas lantai yang penuh darah sehingga pakaian, tangan.
Dan mukanya terkena darah.
Melihat bahwa Beng Han dapat menjadi saksi dari perbuatannya, Kong Hwat sudah mengangkat pedang hendak membunuh saja bocah ini.
Akan tetapi tiba tiba Kui Lian berseru.
"Tahan, jangan bunuh dia!"
Kong Hwat memutar tubuh, memandang kepada kekasihnya dengan heran.
Akan tetapi Kui Lian tersenyum manis dan tanpa berkata apa apa lagi kebutannya menyambar ke muka Beng Han.
Anak ini masih pening karena terbanting dan dadanya terasa sesak oleh tendangan Kong Hwat.
Ia masih berusaha mengelak, akan tetapi racun di ujung kebutan sudah bekerja dan ia terguling roboh, pingsan.
Kui Lian lalu mengambil pedang pendek yang tadi dibawa Beng Han, memasukkan ujung pedang itu ke dalam genangan darah sampai di pegangan kemudian menaruh gagang pedang di dalam genggaman tangan kanan Beng Han.
Setelah itu, ia lalu membongkar bongkar kamar itu, mengeluarkan uang emas dan perak serta perhiasan perhiasan berharga, membungkus barang barang ini dengan sebuah kain dan meletakkan bungkusan di dekat Beng Han pula.
Setelah semua ini beres, barulah ia menarik tangan kekasihnya diajak keluar.
Kong Hwat sekarang mengerti akan akal kekasihnya, akan tetapi ia membantah.
"Moi moi, bagaimana kalau ia membuka mulut dan bercerita bahwa aku yang melakukan itu?"
"Bodoh. Siapa percaya padanya? Bukti buktinya, pedangnya yang berlepotan darah dan barang yang ada padanya, menyatakan bahwa dia membunuh untuk merampas. Bukankah kau sudah bercerita bahwa anak itu adalah murid termuda dari Thian te Kiam ong, seorang bocah yang tadinya hanya menumpang saja? Siapa percaya kau yang melakukannya, sedangkan kepandaianmu sama sekali bukan tandingan mereka berdua? Kalau bocah itu lain lagi, dia tinggal di rumah ini, banyak kesempatan baginya untuk melakukan pembunuhan di waktu tuan rumah tidur nyenyak."
Kong Hwat puas sekali, lalu hendak menuju ke kamar Bi Hui.
Akan tetapi Kui Lian melarangnya, bahkan cepat cepat menariknya dan mengajaknya keluar dari rumah itu, terus berlari cepat meninggalkan Tit le.
"Eh, Lian moi. Bagaimanakah kau ini? Bukankah kau sudah berjanji hendak mendapatkan Bi Hui untukku? Kau sendiri yang merencanakan semua ini dan sekarang, kau yang melarangku mendapatkan Bi Hui. Apakah kau cemburu, ataukah kau takut kalau kalau cinta kasihku kepadamu akan berubah?"
Kui Lian tersenyum dan memeluk pemuda kekasihnya itu "Koko, aku adalah isterimu yang setia dan aku sudah percaya sepenuhnya kepadamu.
Karena besarnya cintaku kepadamu, maka aku hendak membikin kau bahagia, hendak melihat kau bahagia, biarpun syaratnya harus rela bermadu Bi Hui.
Tidak, aku tidak cemburu, aku rela membagi cintamu dengan Bi Hui, gadis yang telah kau cinta sebelum kau berjumpa dengan aku.
Akan tetapi, kau laki laki bodoh.
Kalau kau langsung memasuki kamar Bi Hui, apakah artinya akal kita menimpakan kesalahan ke pundak bocah gila itu?
Memang dengan ilmuku, aku dapat membikin Bi Hui cinta kepadamu, akan tetapi kalau semua orang gagah tahu akan perbuatan kita, bukankah itu berarti kita mencari penyakit?
Biarlah, kita biarkan Bi Hui dan yang lain lain mengira bahwa bocah itu yang bersalah.
Kelak, baru kita muncul untuk menaklukkan Bi Hui, agar kita tidak menimbulkan kecurigaan.
Muncul di waktu peristiwa itu terjadi benar benar bodoh."
Lagi lagi Kong Hwat harus mengakui kelicinan Kui Lian dan sebagai upah ia merayu dan memuji mujinya.
"Lian moi, kau benar benar isteriku yang hebat! Selain cantik manis dan berilmu tinggi, kau juga cerdik sekali, tanpa kau, entah akan apa jadinya dengan aku!"
"Ah, bisa saja kau memuji. Aku melakukan semua ini karena cintaku kepadamu. Asal saja kau tidak gampang melupakan bini mu yang hina ini. Asal aku dapat berdampingan dengan kau selama hidupku, apa saja akan kulakukan untukmu, koko."
Sambil bergandengan tangan mereka melanjutkan perjalanan, bahkan tak lama kemudian Kong Hwat memondong tubuh Kui Lian ketika wanita itu mengeluh kakinya sakit sakti dan lelah.
Memang, dalam hal ilmu silat, Kong Hwat menang jauh apalagi dalam ilmu lari cepat.
Benar benar harus disesalkan bahwa Liem Kong Hwat, seorang pemuda berkepandaian tinggi yang tadi nya seorang yang berhati lurus dan bersih pula keturunan orang orang gagah, bertemu dengan seorang wanita iblis seperti Kui Lian.
Pemuda ini seakan akan sudah tak dapat mempergunakan pikirannya sendiri, dia yang berbuat Kui Lian yang mengemudi.
Dengan kepandaian seperti yang dimilikinya, dipimpin oleh otak yang cerdik licin dan watak yang sudah seperti siluman seperti Kui Lian itu, benar benar pasangan ini merupakan bahaya besar yang mengerikan bagi siapa yang mereka musuhi.
0odwo0 Pada keesokan harinya, terdengar ribut ribut di dalam rumah keluarga Song.
Keadaan di dalam rumah menjadi geger.
Pelayan wanita menjerit jerit pelayan laki laki berlari lari ke sana ke mari.
"Celaka.... ada penjahat.... !"
"Pembunuh....! Loya dan toanio terbunuh....!"
"Tolong.... tolong....!"
Seorang pelayan menggedor gedor pintu kamar Song Bi Hui.
"Siocia.....! Bangunlah....!"
Bi Hui melompat dari tempat tidurnya, kepalanya masih agak pening.
Seperti beberapa orang pelayan penjaga di depan, iapun terkena pengaruh sihir yang membuat ia tertidur seperti mati, tidak mendengar suara ribut ribut lagi.
Kini ia memlompat ke pintu, dibukanya dan mukanya pucat sekali ketika mendengar kata kata "pembunuhan"!
Tanpa bertanya lagi ia lalu menerjang pelayan pelayan itu dan berlari cepat ke kamar ayah bundanya, ia melihat kamar itu sudah penuh pelayan dan ketika ia menerjang masuk, ia melihat ayah bundanya menggeletak dalam gelimangan darah, sudah kaku dan mati, dan di sudut kamar, dua orang pelayan laki laki sedang memegangi Beng Han yang diikat erat erat.
"Ayaaaaah....! Ibuuuuu.... !"
Bi Hui memekik dengan suara melengking tinggi, menubruk kedepan dan roboh pingsan di antara jenazah ayah bundanya!
Bi Hui menerima pukulan batin yang hebat sekali ketika melihat keadaan ayah bundanya yang sudah tewas itu.
Ia pingsan sampai lama, tubuhnya seperti sudah menjadi mayat.
Sia sia saja para pelayan mencoba untuk menyadarkan sehingga terpaksa para pelayan wanita mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di atas tempat tidur di kamarnya sendiri.
Hari sudah siang ketika akhirnya Bi Hui dapat siuman kembali dari pingsannya.
Mukanya pucat dan tubuhnya panas sekali.
Begitu siuman, ia lalu membuka mata dan mengeluh.
"Ayah.... ibu.... !"
Menangislah gadis ini tersedu sedu.
Air matanya membanjir seakan akan air bah memecahkan bendungan.
Para pelayan mendiamkannya saja karena maklum bahwa pada saat seperti itu, tangis merupakan obat terbaik bagi Bi Hui.
Kemudian gadis itu teringat dan matanya terbelalak lebar.
Ia memandang kepada pelayan pelayan itu dan bertanya.
"Siapa membunuh ayah dan ibu? Siapa....??"
"Entahlah, sioca,"
Kata pelayan ini takut takut "Hanya sekarang para pelayan laki laki sedang mendesak Beng Han untuk mengaku.
Kita mendapatkan loya dan toanio sudah tewas dilantai kamarnya sedangkan di dalam itu terdapat pula Beng Han yang memegang pedang pendek penuh darah dan sebungkus emas permata milik toanio berada di dekatnya.
Agaknya....
agaknya iblis telah memasuki pikiran anak itu dan....
menggunakan kesempatan selagi loya dan toanio pulas, memasuki kamar dan...."
Belum habis pelayan ini bicara, Bi Hui sudah melompat, menyambar pedangnya di tembok dan berlari cepat keluar kamar.
Sesamparnya di ruangan belakang, ia melihat Beng Han duduk di bangku dengan muka pucat, rambut awut awutan dan mukanya biru biru bekas pukulan.
Di depan nya berdiri dua orang pelayan laki laki yang marah marah dan sedang mendesaknya memberi keterangan.
"Bukan aku.... bukan aku....!"
Bi Hui mendengar Beng Han menggeleng gelengkan kepala membantah.
"Apa kalian sudah gila? Bagaimana aku bisa membunuh suheng sendiri? Aku bukan orang gila dan kalian tentunya belum gila untuk mendakwa begitu keji!"
Bi Hui melompat ke depan Beng Han dan sekali tangan kirinya terayun, pipi Beng Han sudah ditamparnya sedemikian keras sehingga anak itu mencelat dan membentur dinding, pipi kanannya menjadi bengkak seketika dan giginya copot copot!
"Bukti apa yang ada padanya?"
Tanya Bi Hui kepada dua orang pelayan itu.
"Dia berada di kamar loya, tangannya memegang pedang pendek yang berlumur darah, baju, tangan dan mukanya penuh darah dan dia membawa pula sebungkus uang emas dan barang perhiasan toanio. Sudah terang setan cilik ini hendak mencuri dan membunuh loya dan toanio selagi mereka tidur pulas, siocia. Terserah kepada siocia bagaimana hendak menghukumnya. Apakah kita harus menyeretnya ke pengadilan?"
"Biar aku adili anjing ini!"
Kata Bi Hui penuh kemarahan ketika ia menghampiri Beng Han yang sudah bangun dan mengusap usap pipinya.
"Bi Hui cici, aku bersumpah bahwa aku tidak membunuh suheng dan suci,"
Kata Beng Han sambil menatap wajah gadis itu dengan tabah.
"Apa kau bilang?"
Bi Hui menjambak rambut anak itu dan menyeretnya "Aku sudah tahu bahwa kau adalah seekor anjing yang tak kenal budi.
Kau disayang ayah dan ibu, dan kau membalas dengan perbuatan terkutuk.
Anjingpun tidak sekeji engkau."
Bi Hui terus menyeret rambut Beng Han dibawa ke ruang tengah di mana jenazah ayah bundanya telah dimasukkan peti. -ooo0dw0ooo-
Jilid XXXV MELIHAT dua peti itu, Beng Han menangis.
Juga Bi Hui menangis, mendorong tubuh Beng Han didepan meja sembahyang.
Beng Han jatuh berlutut dan menangis di depan meja.
Bi Hui juga berlutut lalu menangis.
Dilihat begitu saja nampaknya dua orang ini sedang sama sama berkabung menangis di depan dua peti mati suami isteri Song.
"Ayah dan ibu.... anak telah membawa anjing ini.... menghadap ayah dan ibu.... untuk mengakui dosanya...."
Bi Hui berbisik. Beng Han menangis keras dan berkata lantang.
"Suheng dan suci, siauwte Beng Han bersumpah bahwa siauwte kelak pasti akan dapat menangkap dan membalaskan dendam suheng berdua kepada bangsat laki wanita jahanam itu."
Bi Hui berbangkit dan membentak marah.
"Tutup mulut! Hayo kau lekas mengakui dosa dosamu di depan ayah dan ibu!"
"Cici Bi Hui, aku tidak berdosa.... .."
Kata Beng Han, suaranya bercampur isak.
"Jangan coba menyangkal. Ataukah kau harus kusiksa lebih dulu?"
Bi Hui menodongkan ujung pedangnya di dada Beng Han.
Ujung pedang itu menembus baju dan melukai kulit didada.
Akan tetapi Bang Han tidak merasa takut....."Tusuklah dan belek dadaku agar kau dapat melihat bahwa hatiku tidak keji seperti yang kau sangka, cici.
Aku benar benar tidak pernah melakukan dosa itu.
Aku sama sekali tidak membunuh suheng dan suci.
Percayalah!"
"Mengapa pedang pendekmu berlumuran darah dan mengapa tubuh dan pakaianmu juga berlumuran darah.... ayah dan ibu?"
"Aku.... aku bergumul dengan pembunuh pembunuh itu, aku kalah.... terpelanting dilantai yang penuh darah...."
Bi Hui tersenyum sindir.
"Hemm, kau mau jadi jagoan, ya? Dan bagaimana kau dapat menjelaskan tentang bungkusan barang barang berharga itu?"
"Itu.... itu aku tidak tahu, cici."
"Duk!"
Tubuh Beng Han terjengkang kena tendangan Bi Hui dan dari mulut anak itu keluar darah.
"Hayo mengaku!"
Bi Hui membentak.
"Kalau tidak, hmm, kupenggal lehermu!"
"Aku.... aku tidak membunuh mereka...."
Beng Han terengah engah, sukar bernapas. Tendangan tadi hebat sekali dan telah mendatangkan luka di dalam dadanya.
"Kau tidak membunuh? Habis siapa yang membunuh ayah dan ibu menurut pendapatmu?"
Bi Hui mengecek.
"Pembunuhnya adalah.... Liem Kong Hwat...."
Bi Hui tersentak kaget, akan tetapi kemarahannya memuncak. Tangan kirinya bergerak, leher Beng Han kena dipukul dan bocah ini terpelanting tak dapat bangun lagi. Ia telah pingsan.
"Guyur dia dengan air dingin!"
Seru Bi Hui tak puas melihat Beng Han menjadi pingsan karena ia masih hendak bertanya.
Dua orang pelayan laki laki itu mengambil air dan mengguyur kepala Beng Han.
Anak itu siuman kembali, kepalanya serasa berputaran, lehernya sakit sekali.
Ia lalu berlutut lagi di depan peti peti mati.
"Beng Han, manusia laknat. Kau tentu tahu bahwa semua kata katamu tadi tidak ada artinya. Kau sudah berlaku jahat dan melakukan pembunuhan mengapa harus membawa bawa orang lain yang tidak berdosa?"
"Betul, cici. Aku tidak membohong. Pembunuh suheng dan suci adalah Liem Kong Hwat. Tak salah lagi."
"Keparat, siapa percaya akan obrolanmu? Melawan aku saja belum tentu dia menang, bagaimana dia bisa merobohkan ayah dan ibu? Kau bohong!"
"Dia dibantu oleh.... oleh seorang siluman wanita, muda dan cantik, tetapi jahat.... siluman itulah yang mengalahkan suheng dan suci...."
"Kaulah silumannya! Biar ada seribu orang siuman perempuan muda, tak mungkin dapat mengalahkan ayah dan ibu. Kalau kau yang berbuat selagi ayah dan ibu tidur pulas, itu sangat boleh jadi! Kau masih tidak mau mengaku?"
Beng Han yang dihajar sejak tadi oleh dua orang pelayan kemudian oleh Bi Hui, mendengar ini menjadi panas juga.
"Cici. kau tetap menuduh aku dan bahkan membela Liem Kong Hwat yang memang berdosa. Biarpun aku tahu bahwa kau membelanya karena kau mencinta pemuda itu, akan tetapi kelak kau akan menyesal cici, dan arwah suheng berdua akan mengutukmu."
Bukan main marahnya Bi Hui mendengar ini.
"Bukti bukti sudah jelas menyatakan bahwa kau hendak mencuri barang berharga dan membunuh aah dan ibu, masih banyak cerewet, berani sekali kau menghinaku dengan kata kata kotor? Benar benar kau harus mampus di depan peti mati ayah ibu untuk menebus dosa. Bersiaplah menghadap arwah ayah dan ibu!"
Bi Hui melompat mengangkat pedangnya tinggi tinggi hendak memenggal leher Beng Han sedangkan bocah itu sambil berlutut memejamkan mata menanti binasa, Bi Hui mengayun pedangnya dan...."Trang...!"
Bi Hui melompat mundur cepat cepat karena tangan yang memegang pedang tergetar hebat dan hamper saja pedangnya terlepas dari pegangannya.
Di depannya berdiri seorang kakek pengemis yang memegang tongkat merah yang pendek dan tongkat itulah yang tadi dipakai menangkis pedang Bi Hui sebelum mengenai leher Beng Han.
Kakek ini sudah tua sekali, pakaiannya tembel tembelan dan biarpun semua rambutnya sudah putih dan mukanya sudah penuh keriput, namun sepasang matanya memancarkan pengaruh luar biasa.
"Nona, kau pernah dengan Thian te Kiam ong? Dan peti mati siapakah ini? Mengapa pula kau hendak membunuh bocah itu?"
Bi Hui maklum bahya ia berhadapan dengan seorang sakti, maka ia menjawab kaku.
"Thian te Kiam ong adalah kong kongku, aku Song Bi Hui dan iri adalah peti mati ayah bundaku yang malam tadi dibunuh oleh anjing cilik ini. Maka aku hendak membunuhnya di depan peti mati ayah dan bundaku. Kau ini orang tua yang menolong pembunuh, siapakah?"
Kakek pengemis itu membelalakkan kedua matanya, sebentar memandang kepada Bi Hui, kemudian kepada dua buah peti mati itu, lalu kepada Beng Han.
"Apa kau bilang.....? Tek Hong dan Siang Cu mati terbunuh malam tadi? Oleh bocah ini....?"
Katek itu melangkah maju, menjambak rambut Beng Han dan mengangkat anak itu untuk memeriksa mukanya, seperti seorang jagal memeriksa seekor kelinci, lalu melemparkan tubuh Beng Han ke bawah sehingga anak yang sudah setengah mati itu kembali jatuh di depan peti peti mati.
"Tak mungkin dia ini becus membunuh Song Tek Hong putera Thian te Kiam ong dan Ong Siang Cu murid Lam hai Lo mo,"
Kata kakek pengemis itu. Mendengar kakek itu menyebut nyebut nama ayah bundanya, kakeknya dan guru ibunya, Bi Hui makin terkejut dan ia segera berkata lebih hormat.
"Locianpwe, bukti bukti sudah ada yang menyatakan bahwa bocah inilah pembunuh ayah ibu selagi tidur. Akan tetapi siapakah locianpwe ini....?"
"Kau ini tentu cucu Thian te Kiam ong puteri Song Tek Hong, bukan? Jadi kau ini yang hendak di jodohkan dengan cucuku Kwan Sian Heng? Hemm, sungguh tidak kebetulan sekali, kedatanganku disambut oleh peti peti mati. Mengapa tidak kemarin aku datang hingga dapat mencegah terjadinya hal menyedihkan ini? Benar benar sudah nasib, sudah karma...."
"Bukankah locianpwee ini Sin tung Lo Kai?"
Bi Hui bertanya mendengar kata kata itu. Kakek itu mengangguk angguk.
"Benar, akulah Sin tung Lo kai, sahabat baik kong kong mu, juga besannya karena pateranya Song Siuw Yang berjodoh dengan putera angkatku Liem Pun Hui."
Bi Hui lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu dan menangis tersedu sedu, teringat akan nasib orang tuanya.
Pada saat itu masuklah sepasang suami isteri setengah tua, yang laki laki berpakaian seperti sasterawan, yang wanita nampak gagah dan memegang sebatang tongkat merah.
Di belakang mereka berjalan seorang pemuda tampan dan gagah, tinggi besar dan wajahnya jujur, menggandeng seorang bocah perempuan berusia enam tahun yang munggil dan manis.
Sepasang suami isteri itu bukan lain adalah puteri Sin tung Lo kai Thio Houw yang bernama Thio Leng Li dan berjuluk Bi sin tung (Nona Cantik Tongkat Sakti) bersama suaminya, seorang sasterawan bernama Kwan Lee kawan sekolah Liem Pun Hui.
Adapun pemuda gagah tinggi besar itu adalah Kwan Sian Hong putera mereka dan bocah perempuan itu adiknya, Kwan Li Hwa.
Ketika mereka ini mendengar penuturan singkat dari Sin tung Lo kai tentang peristiwa nebat yang menimpa keluarga Song, semua memandang kepada Beng Han dengan mata terbelalak, terkejut, heran juga marah.
Bi sin tung Thio Leng Li segera memeluk Bi Hui dan menghiburnya dengan nasihat bahwa, mati hidup ditentukan oleh Thian Yang Maha Kuasa.
Beng Han yang menjadi "tontonan"
Merasa betapa semua orang membencinya.
Darah yang mengucur dari luka di jidatnya memasuki matanya, membuat matanya pedas sekali.
Dengan canggung dan kaku ia mencoba untuk menghapus darah campur peluh ini, akan tetapi tidak berhasil.
Ia meraba raba saku mencari cari, tetapi tidak mendapatkan saputangannya.
Tiba tiba sebuah tangan yang munggil menyerahkan sehelai saputangan jambon kepadanya, diikuti kata kata halus.
"Ini, pakai saputanganku untuk menghapus darah di mukamu itu. Mengerikan sekali...."
Beng Han memaksa matanya yang pedas itu memandang dan melihat seorang gadis cilik yang manis. Dengan perasaan terima kasih ia menerima saputangan itu dan menghapus darah di muka dan matanya.
"Siapa namamu?"
Gadis cilik itu bertanya.
"Aku.... Thio Beng Han...."
"Eh, kau seketurunan dengan kong kong! Kong kong juga ber she Thio!"
"Li Hwa, mundur kau!"
Bentak Sin tung Lo kai Thio Houw yang melihat cucunya bercakap cakap dan memberi saputangannya kepada Beng Han, bocah yang didakwa menjadi pembunuh itu.
"Locianpwe, perkenankan saya melaksanakan hukuman kepada pembunuh ayah bundaku agar sakit hati dan penasaran ayah ibu dapat terbalas sekarang juga,"
Kata Bi Hui kepada Sin tung Lo kai (Pengemis Tua Bertongkat Sakti), lalu berdiri da dengan pedang di tangan menghampiri Beng Han.
"Nanti dulu, kau mau apakan dia?"
Tanya Thio Houw.
"Saya hendak membunuhnya di depan meja sembahyang,"
Jawab Bi Hui tenang.
"Jangan bunuh dia.... kasihan...."
Tiba tiba Li Hwa menjerit dan Beng Han kembali memandang kepada gadis cilik ini dengan kagum dan terima kasih.
Selama hidupnya ia takkan dapat melupakan wajah gadis cilik ini yang pada saat itu merupakan satu satunya orang yang menaruh kasihan dan perhatian kepada dirinya.
"Nona Bi Hui, nanti dulu, jangan kau tergesa gesa. Aku masih meragukan apakah benar benar bocah ini mampu membunuh ayah bundamu, biarpun dalam keadaan tidur pulas. Apakah kau sudah bertanya kepada semua pelayan dan mereka itu tidak melihat apa apa malam tadi?"
"Sudah, locianpwe. Tak seorangpun di antara mereka melihat orang lain kecuali Beng Han,"
Jawab Bi Hui.
Memang demikian, pelayan pelayan yang semalam melihat Kui Lian dan dirobohkan sudah tak ingat apa apa lagi hanya lapat lapat merasa seperti mimpi.
Tentu saja menghadapi peristiwa hebat itu tak seorangpun di antara mereka berani bicara tentang mimpi yang tak masuk akal itu.
"Nona Bi Hui, kuharap kau suka bersabar dulu dan berpikir lebih dalam. Andaikata kau sekarang membunuh bocah ini, lalu kelak terbukti bahwa dia itu tidak berdosa bukankah kau akan menjadi pembunuh kejam. Tidak, aku tidak ingin cucu mantuku membunuh bocah tidak berdosa Nona Bi Hui, ayah bundamu mengirim surat kepada kami, mengusulkan perjodohan antara kau dan cucuku Kwan Sian Hong. Oleh karena itu, kuanggap bahwa aku boleh mewakili orang tuamu mengamat amati segala hal yang terjadi di sini dan kiranya aku tidak akan terlalu lancang untuk mengambil keputusan pula dalam urusan bocah ini."
Memang kalau dipikir pikir, Bi Hui juga masih ragu ragu apakah betul Beng Han dapat membunuh ayah bundanya.
Tadi karena terlampau berduka, pula tidak melihat bukti lain, ditambah rasa tidak sukanya kepada Beng Han maka membuat ia kukuh menuduh Beng Han yang menjadi pembunuh ayah bundanya.
Sekarang ia mendengar kata kata kakek pengemis itu, hanya menangis dan berkata.
"Terserah pada locianpwe...."
Ia lalu menubruk peti mati ibunya dan menangis tersedu sedu, segera ditolong dan dipeluk serta dihibur oleh Bi sin tung Thio Leng Li, caton ibu mertua nya.
Sin tung Lo kai menghadapi Beng Han dan berkata.
"Beng Han, bukti bukti menyatakan bahwa kau bersalah. Sekarang hendak bicara apa?"
"Terserah kepada kalian apakah aku bersalah atau tidak. Membela diri tidak ada gunanya, tetap takkan dipercaya. Aku hanya mau bicara begini, bahwa apabila umurku panjang aku akan nencari dan menyeret pembunuh pembunuh suheng dan suci dan memenggal leher mereka di depan makam suheng dan suci!"
Sin tung Lo kai mengangguk angguk.
Kakek pengemis sakti ini sekelebatan saja tahu bahwa anak di depannya bukannya bocah sembarangan, maka ia makin sangsi apakah benar bocah ini yang menjadi pembunuhnya.
"Baiklah, atas nama keluarga Song, aku membebaskan kau, akan tetapi jangan kira bahwa kami akan menutup mata begitu saja. Kelak sih belum terlambat untuk menghukummu apabila ternyata kau yang bersalah dalam pembunuhan ini."
Beng Han tidak menjawab, sebaiknya ia lalu berlutut di depan meja sembahyang dan berkata dengan suara tantang dan air mata bercucuran.
"Suheng dan suci, siuwte bersumpah untuk membalaskan sakit hati ini. Biar siauwte menebus dengan nyawa kalau siauwte sampai gagal menyeret dua pembunuh itu di depan makam suheng berdua. Harap suheng berdua mengaso dengan tenang."
Setelah berkata demikian, ia menjura kepada Bi Hui dan berkata.
"Cici Bi Hui, aku tidak menyesal kepadamu karena aku maklum betapa hancur hatimu kehilangan ayah bunda. Juga aku terima kasih sekali atas kebaikan keluargimu selama aku berada di sini. Cici, baik baiklah menjaga dirimu sendiri. Kelak kita bertemu kembali!"
Pergilah Beng Han ke kamarnya, mengambil pakaian lalu keluar dari rumah itu dengan tubuh sakit semua dan jalanya terhubung huyung, air matanya bercucuran karena ia merasa amat kasihan kepada keluarga Song yang selama ini ia junjung tinggi.
Benar benar bocah luar biasa.
Setelah menerima siksaan yang menyakitkan semua tubuh, dalam meninggalkan tumah itu ia masih bisa melupakan keadaan diri sendiri dan sebaliknya merasa amat kasihan kepada Bi Hui.
Setelah Beng Han pergi, seperti kepada diri sendiri Sin tung Lo kai berkata.
"Bocah luar biasa.... ah, ingin sekali aku dapat menyaksikan terlaksananya sumpahnya tadi."
Kedatangan Sin tung Lo kai Thio Houw dan anak cucunya merupakan hiburan besar bagi Bi Hui.
Sin tung Lo kai mengurus segalanya, juga mengutus seorang pelayan untuk pergi ke Liok can memberi tahu tentang peristiwa hebat itu kepada Liem Pun Hui dan Song Siauw Yang.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Siauw Yang dan Pun Hui mendengar berita itu.
Siauw Yang menangis menjerit jerit.
Biarpun ia pernah ribut dengan Siang Cu, akan tetapi sebagai adik ipar, tentu ia merasa berduka sekali mendengar kematian kakak dan iparnya.
Cepat ia mengajak suaminya pergi, ke Tit le.
Siauw Yang menubruk peti mati peti mati itu dan menangis sampai jatuh pingsan.
Bi Hui menangis bersama bibinya, dan setelah Siauw Yang sadar, dua orang wanita ini saling berpelukan sambil menangis.
Lenyap kemarahan lama.
Ketika mendengar bahwa Beng Han dibebaskan oleh Sin tung Lo kai, Siauw Yang mengerutkan kening dan berkata.
"Kalau bukti bukti menyatakan bahwa anjing cilik itu yang melakukan pembunuhan, mengapa ia di bebaskan dan tidak dihukum menebus nyawa di sini?"
Sin tung Lo kai berkata.
"Kesalahannya belum nyata betul, bahkan dipikir pikir, aku berani bertaruh nyawaku yang sudah tua bahwa anak itu tidak berdosa. Selain itu, apabila kelak ternyata dia yang berdosa, akulah yang akan sanggup menyeretnya di depanmu."
Pun Hui menghibur isterinya sehingga akhirnya Siauw Yang mengalah dan ia sendiri bersumpah hendak menjadi orang pertama yang menusukkan pedang ke dada pembunuh kakaknya dan kakak iparnya.
Ketika Siauw Yang bercakap cakap dengan Leng Li sahabat lamanya, Leng Li bertanya mengapa Kong Hwat tidak ikut datang.
"Ia di sebut sebut oleh mendiang kakakmu yang katanya menurut pesanan Song lo enghiong, harus di jodohkan dengan puteriku. Kau lihat, puteriku masih kecil, baru betusia enam tahun, agaknya ayahmu itu lupa dan mengira bahwa anak perempuanku sudah dewasa."
Siauw Yang menarik napas panjang den teringatlah ia akan semua peristiwa yang lalu di rumah kakaknya ini, sehingga mengakibatkan Kong Hwat minggat dari rumah.
"Anak itu pergi merantau untuk meluaskan pengalaman, tentang perjodohan, ah, mana bisa orang tua sekarang memaksa puteranya? Kalau dia belum mempunyai niat, kita ini bisa berbuat apakah?"
Juga sambil lalu Sin tung Lo kai bertanya tentang pemuda itu, ketika dijwab bahwa Kong Hwat sedang merantau untuk meluaskan pengalaman, ia mengangguk angguk den berkata.
"Memang baik sekali bagi seorang muda untuk merantau meluaskan pengalaman. Apa gunanya kepandaian tinggi tanpa pengalaman? Akan mudah tertipu orang dan kadang kadang kepandaian tinggi sama sekali tidak ada gunanya, sebaliknya pengalaman membikin orang menjadi waspada dan tidak mudah tertipu. Sayang dia tidak mengetahui tentang nasib paman dan bibinya yang buruk...."
Setelah selesai menguruskan penguburan jenasah Song Tek Hong dan isterinya di mana Bi Hui menangis sampai beberapa kali pingsan, mereka lalu berunding.
Sin tung Lo kai Thio Houw tadinya mengharapkan supaya Bi Hui ikut tinggal di rumah calon mertuanya, yakni Kwan Lee dan Thio Leng Li di kota Leng ting.
Akan tetapi Siauw Yang minta dengan sangat supaya keponakannya itu untuk sementara tinggal bersama dia di Liok can.
Ternyata Bi Hui memilih tinggal bersama bibinya, karena ia merasa sungkan dan malu malu harus tinggal di runah calon suaminya, apa lagi karena ia belum mengenal mereka semua kecuali Kwan Li Hwa yang ternyata adalah seorang bocah perampuan yang lucu dan pandai bergaul.
0odwo0 Dalam keadaan setengah mati Beng Han melakukan perjalanan keluar dari kota Tit le.
Tempat yang ia tuju adalah Gunung Kui san.
Ia hendak memenuhi pesan gurunya, untuk pergi ke menara Kim hud tah dipuncak Kui san dan mengambil pedang Kim kong kiam serta kitab pelajaran ilmu pedang dari Thian te Kiam ong, mempelajari itu sampai sempurna baru turun gunung dan membalas dendam terhadap pembunuh pembunuh suheng dan sucinya!
Pikirannya sudah buntu, disaat itu tidak ada lain cita cita melainkan mempelajari ilmu silat tinggi peningglan gurunya lalu membalas dendam terhadap Liem Kong Hwat dan siluman wanita itu!
Akan tetapi Kui san bukanlah tempat dekat, ia harus melakukan perjalanan ratusan li, dan keadaannya sungguh tidak baik untuk melakukan pejalanan jauh.
Selain ia tidak mempunyai uang sekepingpun, tubuhnyapun terasa sakit sakit.
Mukanya bengkak bengkak dan matang biru, leher nya seperti salah urat dan dadanya masih sakit, kadang kadang ia muntah muntah darah segar!
Betapapun juga sengsaranya, anak ini bukan anak sembarangan.
Ia mempunyai kekerasan hati seperti baja, mempunyai ketekadan yang mengagumkan.
Tak pernah terdengar keluhan dari mulutnya.
Bibirnya sampai berdarah darah karena ia menggigit gigitnya menahan rasa sakit yang kadang kadang merangsang dengan hebatnya.
Ia melakukan perjalanan sebagai seorang pengemis, mengisi perutnya dengan cara minta minta, bahkan kadang kadang mencuri.
Tadinya memang berat sekali baginya untuk minta minta, apalagi mencuri.
Ketika untuk pertama kalinya, yaitu tiga hari kemudian semenjak melarikan diri, saking tak kuat menahan lapar ia mencoba untuk minta makan pada pintu rumah orang, ia dibentak bentak dan diusir.
Ada yang memaki makinya, ada pula yang menyuruh anjing mengusirnya!
Beng Han menuju ke sebuah restoran di mana banyak terdapat orang orang berpakaian mewah sedang makan minum.
Akan tetapi, belum juga mulutnya terbuka mengeluarkan suara, baru saja kedua kakinya sampai di ambang pintu, seorang tamu gendut yang menghadapi sepiring besar masakan ikan sebesar paha dan tadinya kelihatan berseri gembira, menjadi marah marah dan membentaknya.
"Pergi kau, jembel hina! Membikin jijik saja pada orang makan!"
Mendengar bentakan ini, para pelayan datang membawa tongkat dan mengusirnya setelah memberi pukulan beberapa kali pada kepalanya.
Persis seperti orang mengusir anjing!
Sakit di hati Beng Han lebih hebat daripada rasa sakit di kepalanya ketika ia duduk di bawah pohon di pinggir jalan.
Akan tetapi ia tidak putus asa.
Mungkin orang tadi kebetulan sedang marah marah atau memang kebetulan ia bertemu dengan orang yang berhati kejam, pikirnya.
Kalau aku bertemu dengan orang orang yang baik hati, seperti mendiang suhu dan suheng berdua yang tak pernah menolak seorang pengemis, tentu aku akan mendapat makan.
Dengan pikiran ini Beng Han kembali pergi ke rumah makan lain.
Melihat beberapa orang sedang makan di dekat jendela, ia lalu berkata penahan.
"Mohon kasihan dan bantuan, sudah tiga hari saya tidak makan...."
Lima pasang mata menatapnya, disusul suara suara menyindir dan memaki.
"Anak malas! Kalau kau tidak mau bekerja, biar setahun kau takkan makan. Tak tahu malu, masih muda sudah mengemis. Hayo pergi, kuketok kepalamu nanti!"
Beng Han menundukkan mukanya dan pergi.
Kerja...???
Kalau ia bekerja kapan ia bisa sampai di Kui san?
Karena hinaan dan ejekan inilah maka Beng Han lalu berlaku nekad, yaitu mencuri makanan!
Dengan modal kepandaiannya yang ia dapat dari Koai Thian Cu dan Thian te Kiam ong, ia sudah lebih daripada orang orang biasa.
Mencuri makanan dari pelayan pelayan restoran bagi nya mudah saja.
Sekali sambar dan lari, para pelayan restoran tak seorangpun yang mampu mengejarnya.
Andaikata ada yang dapat mengejarnya dengan kepandaiannya Beng Han dapat merobohkannya dan lari lagi.
Demikianlah, dengan cara mnta minta atau kalau perlu mencuri makanan, Beng Han dapat melanjutkan perjalanannya ke Kui san.
Dengan bertanya tanya ia dapat mengetahui di mana letaknya gunung itu.
Akan tetapi celakanya, keaadaan tubuhnya makin lama makin payah, biarpun mukanya kini sudah tidak bengkak bengkak lagi dan matang birunya sudah hilang akan tetapi rasa sakit pada leher dan dadanya makin menghebat.
Bekal pakaiannya telah di jualnya semua untuk makan, karena kadang kadang ia tidak mempunyai kesempatan untuk mencuri dan terpaksa menukar pakaian dengan makanan.
Pakaian yang menempel ditubuhnya sudah kotor dan compang camping, sepatunya sudah dibuang karena sudah rusak semuanya.
Beng Han benar benar nenjadi seorang jembel muda!
Pada suatu hari ia tiba di kota Liang ke.
Kota ini berada di kaki gunung Kui san.
Dari kota itu nampak gunung Kui San menjulang tinggi dan bentuknya seperti raksasa atau iblis yang menakutkan.
Dari bawah saja sudah kelihatan bahwa gunung ini amat kaya akan hutan hutan liar dan amat sukar didaki.
Akan tetapi ini semua tidak membikin gentar hati Beng Han, bahkan hatinya girang bukan main melihat gunung ini.
Setelah melakukan perjalanan yang amat sengsara selama setengah tahun baru ia sampai di kaki gunung itu.
Tubuhnya sudah menjadi kurus kering, bukan saja karena kurang makan, terutama sekali karena luka di dalam dadanya.
Mukanya selalu pucat dan hanya sepasang matanya saja yang masih kelihatan hidup, bercahaya penuh semangat dan keberanian hidup.
Setelah bertanya tanya ia mendapat keterangan dari penduduk Liang ke yang ramah tamah.
Memang ada sebuah menara kuno sekali di puncak Kui san, sebuah menara yang menurut dongeng dahulu pernah dipergunakan oleh Kiang Cu Ge (Seorang tokoh besar dalam dongeng Hong sin pong, yang mendapat kekuasaan sebagai pemberi pangkat kepada roh roh) untuk mengurung dan menghukum tiga ekor naga!
Kemudian, menurut dongeng itu, datang Ji Lai Hud (Budha) membebaskan naga naga itu, dari hukuman mereka.
Untuk tanda terima kasih, tiga ekor naga sakti itu lalu membuat sebuah patung Buddha daripada emas murni, ditaruh di dalam menara sebagai pujaan.
"Apakah sampai sekarang patung itu masih ada?"
Tanya Beng Han kepada kakek penjual kipas di pinggir jalan itu.
"Tentu saja masih ada, akan tetapi siapa yang dapat melihatnya? Gunung itu sendiri sudah amat sukar didaki, penuh jurang, hutan hutan liar dan belum lagi binatang binatang buas. Bahkan kabarnya masih ada ular besar seperti liong di dekat puncak. Setelah orang berhasil sampai disana misalnya, tetap saja percuma, karena tidak mungkin dapat memasuki menara, apalagi memanjat naik."
"Mengapa, lopek?"
"Pintu menara di sebelah dalam sampai ke atas berlapis tujuhbelas buah, semuanya dari baja yang amat kuat dan selalu terkunci rapat. Selama ini, di dalamnya kabarnya ada siluman siluman yang menjaganya, entah siluman entah pertapa pertapa, hal ini banyak yang menduga duga. Pendeknya, selama aku tinggal di sini sudah puluhan tahun, belum pernah aku mendengar ada orang bisa masuk ke dalam."
Hati Beng Han menjadi kecil mendengar ini.
Bagaimana kalau dia sendiri tidak bisa masuk.
Apakah waktu setengah tahun dibuang begitu saja secara sia sia?
Hampir ia menangis mendengar penuturan itu, akan tetapi ia lalu menenteramkan hatinya.
Tak mungkin.
Suhu adalah Thian te Kiam ong, tak mungkin dia membohongiku.
Kakek ini tanya berceritera karena mendengar dongeng dongeng yang tidak karuan ujung pangkalnya.
Ingin sekali Beng Han kalau dapat terbang ke puncak gunung itu, akan tetapi tak dapat ia segera melakukan pendakian.
Perutnya telah kosong semenjak kemarin.
Selain harus diisi, juga dia harus membawa bekal, karena ia dapat menduga bahwa pendakian itu memerlukan waktu lama dan takkan mungkin ia mendapatkan makanan di tengah perjalanan itu.
Setelah menghaturkan terima kasih kepada kakek yang menganggapnya seorang jembel yang baru datang, ia lalu pergi menuju ke pasar di mana banyak terdapat warung warung nasi dan kedai kedai arak.
Ketika ia tiba di depan sebuah restoran besar yang penuh tamu, ia berhenti.
Hidungnya kembang kempis ketika ia mencium bau masakan yang amat sedap sehingga beberapa kali menelan ludah.
"Aduh enaknya...."
Katanya perlahan.
Timbul pikirannya untuk merasakan masakan yang amat enak baunya ini.
Kalau ia mengemis di sini, tak mungkin ia akan mendapatkan masakan yang baunya membuat ia makin lapar itu.
Paling paling hanya akan mendapat makanan makanan bekas atau makanan basi.
Jalan satu satunya untuk dapat merasai masakan itu hanya satu, mencuri!
Cepat bagaikan seekor kucing ia menyelinap dan pura pura mencari sisa sisa makanan di belakang restoran itu.
Ia mendengar seorang yang suaranya parau membentak bentak pelayan.
"Hayo cepat bawa bebek panggang itu ke sini! Aku sudah lapar!"
Yang bicara itu adalah seorang hwesio gundul yang gemuk sekali.
Di atas meja di depannya sudah nampak piring piring bekas yang sudah kosong, dan ia tengah makan sepiring mie yang banyak sekali.
Di sudut kiri terdapat guci arak besar.
Benar benar aneh sekali melihat seorang hwesio makan minum dalam restoran!
Pelayan cepat cepat membawa bebek panggang yang baunya membuat mulut Beng Han berliur tadi, dari dapur hendak dibawa ke meja hwesio itu.
Bebek itu masih kelihatan utuh berikut kepalanya, seperti bebek tak berbulu sedang duduk di atas piring yang diletakkan di atas penampan lebar.
Kulit bebek itu merah kekuningan masih mengebul hangat dan kelihatan menantang setiap orang kelaparan!
Beng Han menyelinap maju dan sekali melompat dari belakang telah dapat menyambar bebek itu dan dibawanya lari.
Gerakannya cukup cepat dan gesit sehingga pelayan itu sana sekali tidak merasa!
Setelah ia tiba di dekat meja si gundul dan menurunkan baki dari pundaknya, baru ia melongo melihat piring telah kosong, bebek sudah lenyap.
"Mana bebek panggangnya?"
Hwesio itu membentak sambil menggebrak meja. Pelayan itu bengong seketika, lalu menjawab gagap.
"Tadi.... tadi bebek itu.... ada.... duduk di piring.... sekarang.... .. apa dia terbang pergi?"
Hwesio itu mengereng seperti harimau, bangkit berdiri dengan kasar sampai bangku yang di dudukinya terpelanting kemudian sekali ia menendang tubuh pelayan itu melayang seperti bebek terbang Tubuh pelayan itu melayang dan hendak jatuh menimpa meja penuh hidangan di mana seorang tosu beserta dua orang laki laki gagah sedang duduk makan minum.
Tosu itu mengibaskan ujung lengan bajunya dan....
tubuh pelayan itu terbang balik seperti bola ditendang kembali ke tempat hwesio itu.
"Bagus!"
Hwesio gemuk berseru sambil melirik ke arah tosu, dan sekali ia mengulur tangan ia telah menjambak leher baju pelayan tadi.
"Hayo bilang sungguh sungguh, ke mana perginya bebek panggangku?"
"Ampun.... losuhu.... ampun. Sesungguhnya tadi aku sudah membawanya dari dapur. Entah bagaimana dia bisa.... terbang ...."
Hwesio itu melempar pandang ke arah meja tosu tadi dengan curiga ia tidak melihat ada bebek panggang di situ.
Lalu sepasang matanya yang besar besar itu memandang keluar restoran.
Tiba tiba ia berkata.
"Aku sudah melihat pencurinya, Hayo sediakan lagi bebek panggang lain, aku hendak menangkap pencuri cilik itu."
Dengan langkah lebar ia meninggalkan restoran itu langsung mengejar Beng Han yang berlari lari kecil sambil mengggerogoti bebek panggang.
"Pencuri, kau hendak lari ke mana?"
Beng Han kaget sekali, apalagi ketika tiba tiba saja pundaknya dipegang orang dan tubuhnya diputar sehinga ia menghadapi seorang hwesio gemuk dan bermuka menyeramkan.
"Kau mencuri bebek panggangku!"
Bentak hwesio itu marah.
"Maaf losuhu, teecu, merasa lapar sekali dan bau bebek panggang itu membuat teecu tak dapat menahan keinginan hati lagi. Harap losuhu sudi memaafkan. Kalau teecu tahu nama besar losuhu, kelak kalau ada rejeki teecu akan mengundang suhu dan menjamu seratus ekor bebek panggung sebagai gantinya."
Mendengar ini, tiba tiba hwesio itu tertawa bergelak.
"Ha, ha. ha, ha, kau serigala cilik! Kau tentu murid orang pandai. Siapa gurumu?"
Melihat keadaan hweesio ini, tahulah Beng Han bahwa ia berhadapan dengan seorang berilmu, maka ia tidak berani membohong "Teccu adalah murid dari Thian te Kiam ong Song Bun Sam."
Ucapan ini ia keluarkan dengan suara bangga.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba tiba hwesio itu kelihatan beringas, matanya terbeliak dan lain saat tubuh Beng Han telah dilemparkan ke atas.
Tenaga lemparan ini demikian hebatnya sehingga tubuh anak itu melayang dan jatuh di puncak wuwungan rumah yang amat tinggi!
Beng Han memegangi balok melintang di dekat wuwungan, dipegangnya erat erat karena takut kalau jatuh ke bawah.
Bebek panggang yang baru dimakan sedikit itu entah terlempar ke mana.
"Ha, ha, ha, kau murid Thian te Kiam ong? Biar kautunggu suhumu di sana untuk menurunkanmu. Ha, ha, ha!"
Hwesio gemuk itu berjalan kekenyangan kembali ke rumah makan.
Biarpun keadaan Beng Han begitu tak berdaya dan berbahaya, anak itu tetap tidak mau berteriak teriak minta tolong.
Orang orang yang melihat kejadian ini hanya berkerumun di pinggir jalan menuding nuding ke atas dan sebagian ribut ribut menceriterakan kepada pendatang pendatang baru bahwa anak itu adalah seorang jembel yang mencuri bebek panggang dan dihajar oleh seorang hwesio lihai.
Beng Han yang sudah lemas tubuhnya itu tentu sebentar lagi akan jatuh ke bawah dan akan patah patah tulangnya karena ia sudah hampir tidak kuat mempertahankan diri.
Kedua tengahnya yang memeluk balok itu sudah gemetar kelelahan dan ia sudah memejamkan kedua mata untuk menghadapi kematian.
Tiba tiba pada saat itu berkelebat bayangan putih dan tahu tahu Beng Han sudah direnggut orang.
Para penonton di jalan mengeluarkan seru kagum melihat seorang kakek tua melayang ke atas seperti seekor burung garuda, kemudian dengan mudahnya menyambar tubuh Beng Han, menjejakkan kaki ke wuwungan dan melompat kembali ke bawah membawa tubuh pengemis cilik itu.
Ketika Beng Han memandang, ternyata yang menolongnya adalah seorang tosu tua yang ia tadi tidak melihat telah lama duduk bersama dua orang muda gagah di dalam restoran.
Melihat tosu tua ini, segera Beng Han mengenalnya karena tosu itu bukan lain adalah Pat pi Locu, tosu Tibet lihai yang pernah mengunjungi Tit le dengan maksud menantang pibu (mengadu kepandaian) Thian te Kiam ong akan tetapi karena kakek sakti itu telah meninggal, lalu menyerang makam dan bertempur melawan Song Tek Hong dan Song Siauw Yang.
Melihat orang yang memusuhi keluarga Song ini, Beng Han yang tadinya hendak menghaturkan terima kasih, menelan kembali kata katanya dan memandang dengan mata tajam terbelalak.
"Ha, ha, ha, anak baik, kita saling berjumpa pula di sini. Kau hendak kemanakah?"
Biarpun tidak suka kepada tosu ini, karena merasa bahwa dirinya sudah ditolong dari bahaya maut, Beng Han merasa tidak enak kalau tidak menjawab sejujurnya.
Tidak menghaturkan terima kasih atas pertolongan tadi kiranya sudah cukup memperlihatkan rasa tidak sukanya kepada Pat pi Lo cu.
Kalau ia tidak mau menjawab penanyaan yang diajukan dengan ramah, ia anggap kurang ajar.
"Aku hendak pergi ke gunung itu."
Katanya sambil menatar tubuh dan menudingkan telunjuk nya ke arah Kui san yang nampak puncaknya dari tempat itu.
Sementara itu, dua orang gagah yang tadi duduk makan minum bersama Pat pi Lo cu sudah sampai di situ pula.
Beng Han juga mengenai mereka, bukan lain dua orang murid Pat pi Lo cu yang mukanya sama benar, dua saudara kembar See thian Siang cu Ma Thian dan Ma Kian, yang pernah bertempur melawan Kong Hwat dan Bi Hui.
"Hendak ke Kui san?"
Pat pi Lo cu mendesak dengan penuh perhatian. Beng Han mengangguk.
"Heran, kau pergi ke gunung liar itu hendak mengunjungi siapakah?"
Beng Han mulai tak senang. Kakek ini keterlaluan, pikirnya, mendesak desak dan ingin tahu urusan orang. Tentu saja tak mungkin ia mau menceriterakan tentang niatnya yang dirahasiakan.
"Aku hendak pergi ke Kim hud tah di puncak gunung itu dan selanjutnya harap totiang tidak banyak tanya tanya lagi karena totiang tidak ada sangkut pautnya dengan urusanku."
Pat pi Lo cu bertukar pandang dengan kedua orang muridnya kemudian ia tertawa tawa dan berkata.
"Aha, jadi kau hendak ke Kim hud tah? Eh, anak baik, siapakah yang menyuruhmu kasana? Tentu Thian te Kiam ong yang mengutusmu, bukan?"
Beng Han makin mendongkol.
Kakek Tibet ini sudah tahu bahwa suhunya telah meninggal dunia, bahkan kakek ini melihat pula makamnya.
Bagaimana sekarang masih pura pura bertanya bahwa dia diutus oleh Thian te Kiam ong?
Mengingat ini, ia berkata mendongkol, setengah menyindir.
"Benar, guruku menyuruh aku ke sana."
Wajah Pat pi Lo cu berseri "Bagus!
Sudah kuduga!
Memang Thian te Kiam ong tukang membohong dan menipu.
Peti mati itu tentu kosong dan orangnya masih hidup!
Jadi dia juga hendak datang ke Kim hud tah dan kau disuruh mengamat amati lebih dulu dan disuruh menanti di sana?"
Karuan saja hati Beng Han menjadi makin gemas. Gilakah tosu ini? Atau sengaja hendak mempermainkan dia? Baik, diapun akan main main terus! "Memang begitulah kiranya...."
Jawabnya, lalu dilanjutkan.
"dan kalau nanti suhu melihat kau menggangguku terus, aku tidak bertanggung jawab untuk keselamatanmu, totiang."
Pat pi Lo cu tertawa lagi, nampaknya gembira betul.
"Siapa mau mengganggumu? Aku bahkau hendak mempermudah tugasmu. Kalau kau naik sendiri ke Kui san, kiranya baru sampai di tengah jalan saja kau akan diterkam harimau. Lebih baik mari ikut dengan kami. Kita sama sama menanti munculnya Thian te Kim ong di sana."
Sebelum Beng Han sempat menjawab, lengannya sudah disambar oleh Pat pi Lo cu dan di lain saat ia telah dibawa lari seperti terbang cepatnya menuju ke Gunung Kui san!
Mula mula Beng Han terkejut dan menyesal.
Mengapa dia mempermainkan kakek ini, akan tetapi ketika melihat betapa sukar perjalanan mendaki bukit Kui san itu, diam diam ia merasa girang.
Memang betul andaikata dia harus mendaki sendiri, belum tentu ia akan sanggup.
Apalagi di seranjang jalan banyak ia melihat binatang binatang buas yang tidak berani berbuat sesuatu terhadap Pat pi Lo cu dan dua orang muridnya yang dapat bergerak secepat kijang itu.
Betapapun cepatnya Pat pi Lo cu dan dua orang muridnya mempergunakan ilmu lari cepat berlari mendaki Kui san tetap saja gunung yang penuh jurang dan hutan liar itu tak mudah begitu saja mereka daki dan setelah hari menjadi gelap barulah mereka tiba di puncak, di mana terdapat sebuah menara di dalam taman bunga yang amat indahnya.
Menara itu menjulang tinggi seperti raksasa aneh, merupakan pagoda besar bertingkat tujuhbelas, terbuat daripada batu batu putih yang keras.
Pat pi Lo cu menurunkan Beng Han dan mereka duduk di atas batu batu putih yang banyak terdapat di taman itu seperti bangku bangku yang enak diduduki karena licin dan halus permukaannya.
See thian Siang cu mengeluarkan buntalan makanan dan mereka mulai makan kue kering dan minum arak.
Beng Han juga ditawari dan anak yang kelaparan ini tanpa sungkan sungkan lalu makan sekenyangnya karena persediaan kue kering itu memang cukup banyak.
Beng Han tidak biasa minum arak wangi maka setelah habis lima cawan, anak ini menjadi merah mukanya dan segala apa terputar putar di depan mukanya.
Akan tetapi, tetap saja pikirannya terang dan sadar sehingga bicaranya tidak mengacau.
"Anak baik, kau bilang kapankah gurumu itu akan tiba di sini?"
"Aku tidak pernah bilang kapan dia datang di sini,"
Jawab Beng Han, suaranya lantang dan berkumandang di dalam taman yang dikelilingi pohon kembang itu.
"Thian te Kiam ong gurumu itu datang hendak mengambil Kim hud (Buddha Emas), bukan? Dan kau disuruh menyelidiki siapa siapa yang datang di tempat ini?"
Kembali Pat pi Lo cu memancing dan mendesak.
Sekarang Beng Han benar benar tidak mengerti.
Tak mungkin kakek ini main main, pikirnya.
Benar benarkah kakek gila ini mengira bahwa suhu nya masih hidup dan dahulu yang dimakamkan itu hanya peti kosong?
Benar benar gila!
"Totiang, sebenarnya apakah kehendak totiang?
Bukankah totiang sudah melihat sendiri makam suhuku?
Suhu Thian te Kiam ong sudah meninggal dunia, hampir setahun yang lalu.
Bagaimana totiang mengharapkan bertemu dengan dia disini?"
"Jangan kau bohong! Thian te Kiam ong masih hidup!"
Tosu itu membentak.
"Totiang, entah aku sudah gila, entah kau yang tidak beres pikiran. Aku bersumpah bahwa aku yang menjaga suhu sampai datang maut merenggut nyawanya. Aku yang selalu berada di samping suhu sampai suhu meninggal dunia. Suhu Thian te Kiam ong benar benar telah meninggalkan dunia ini!"
Suara Beng Han lantang karena ia gemas sekali. Pat pi Lo cu dan murid muridnya menjadi tertegun, bahkan seorang di antara murid muridnya mengeluarkan seruan kecewa.
"Kalau beut begitu, mengapa kau tadi menipu kami? Apa maksudmu naik ke puncak Kui san? Kau mau apakah hendak pergi ke Kim hud tah? Hayo bilang sebelum kupatahkan batang lehermu!"
Bentak Pat pi Lo cu.
Beng Han tentu saja tidak mau mengaku.
Kalau ia mengaku, tentu pedang dan kitab peninggalan suhunya akan jatuh di tangan lain orang den ia lebih baik mati daripada membuka rahasia ini.
"Aku.... aku mendengar akan keindahan puncak gunung ini maka aku datang hendak bertapa di sini", jawabnya.
"Kalau totiang tidak percaya, sudahlah."
"Kau bohongi Mengapa kau bocah sekecil ini hendak bertapa? Mengapa? Hayo jawab."
"Itu urusanku sendiri."
Pada saat itu, Pat pi Lo cu berseru kepada dua orang muridnya.
"Awas ada tiga orang datang!"
Akan tetapi terlambat, dua orang muridnya itu mengeluarkan saruan kaget karena mereka di serang oleh dua orang di malam gelap.
Mereka menangkis karena merasa ada angin menyambar dan tubuh mereka terpental jauh ketika lengan mereka bertemu dengan lengan lawan yang amat tangguh.
Juga Pat pi Lo cu diserang orang dan telah menangkis.
Tangkisannya membuat orang itu mengeluh, akan tetapi juga Pat pi Lo cu sendiri merasa lengannya sakit dan pedas.
Ia tahu bahwa penyerangnya itu memiliki lweekang yang hanya kalah sedikit olehnya.
Setelah penyerangan ini, keadaan menjadi sunyi lagi dan ternyata Beng Han telah lenyap dari situ!
"Anak setan, dia telah lari ketika terjadi ribut."
Pat pi Lo cu menggerutu, kemudian ia terkejut mendengar keluhan dua orang muridnya.
Dalam keadaan remang remang karena bulan hanya muncul sepotong, ia meneriksa lengan dua orang muridnya yang ternyata telah membengkak.
Segera ia mengobati mereka dan merasa penasaran sekali.
"Siapakah siluman yang berani main gila?"
Teriaknya keras keras.
"Suhu, jangan jangan Thian te Kiam ong yang muncul dan menolong muridnya,"
Kata Ma Kian.
Pat pi Lo cu terkejut.
Mungkin benar, karena siapakah orangnya yang begitu berani dan lihai sehingga dapat merampas bocah itu di depan dia dan dua orang muridnya?
"Thian te Kiam ong, kalau kau memang sudah datang, jangan bersikap seperti pengecut.
Keluarlah dan mari kita bicara!"
Teriaknya berulang ulang akan tetapi hanya angin malam mempermainkan daun dan bunga yang menjawab teriakan teriakannya itu.
Sementara itu, Beng Han tadi ditotok orang sehingga lumpuh dan tak dapat mengeluarkan suara, kemudian ia dibawa lari oleh tiga orang hwesio tua yang gerakannya seperti iblis saja.
Tiga orang hwesio ini benar memutari menara, lalu masuk dari sebuah pintu rahasia yang dapat menutup sendiri setelah mereka memasuki menara itu.
Setelah tiba di dalam, Beng Han dibebaskan dari totokan, akan tetap masih dikempit oleh seorang hwesio dan mereka bertiga lalu berjalan melalui anak tangga yang tiada habisnya.
Beng Han merasa heran melihat betapa di dalam menara itu tidak segelap diluar menara.
Di situ terdapat anak tangga yang melenggok lenggok seperti ular, terus naik dalam bentuk memutar di sepanjang dinding menara dan di tiap tikungan terdapat lampu penerangan.
Setelah tiba di tingkat ke sembilan, tiga orang hwesio itu melangkah ke kiri di mana terdapat sebuah ruangan duduk yang lebar.
Mereka menurunkan Beng Han dan pergi duduk di atas bangku, berdampingan.
Beng Han baru sekarang melihat wajah mereka dengan jelas kerena di situ digantungi tiga buah lampu penerangan.
Ternyata bahwa mereka itu adalah tiga orang hwesio gundul yang sudah amat tua, dan muka mereka kehitaman dan angker sekali.
Beng Han teringat akan dongeng tentang tiga ekor naga yang dikurung di menara ini dan diam diam ia bergidik.
Siapa tahu kalau kalau tiga orang kakek ini adalah tiga ekor naga yang telah menjadi siluman dan menjelma menjadi manusia?
Baru sekarang ia merasa seram dan ia menjatuhkan diri berlutut tanpa dapat mengeluarkan suara.
"Siapa namamu?"
Tanya seorang di antara tiga hwesio itu, yang tertua.
"Teecu bernama Thio Beng Han, sebatang kara dan tidak mempunyai tempat tinggal tetap."
"Apa betul kau murid Thian te Kiam ong Song Ban Sam?"
"Betul, losuhu. Mendiang Thian te Kiam ong Song Bun Sam adalah suhuku."
"Hemm, jadi benar benar sudah meninggal dunia?"
Hwesio itu menarik napas panjang tanda kecewa.
"Ji wi sute. kalau begitu kita betul betul berada dalam bahaya,"
Katanya kepada dua orang hwesio yang lain. Kemudian ia berpaling kembali kepada Beng Han.
"Kalau kau betul murid Thian te Kiam ong, coba kau buktikan, pelajaran apa yang sudah kau terima dari suhumu sebelum suhumu meninggal."
Beng Han tahu bahwa tiga orang hwesio ini adalah penjaga menara seperti yang dimaksudkan oleh suhunya, yaitu orang orang yang harus ia serahi surat suhunya.
Dan ia maklum pula bahwa mereka tidak percaya kepadanya.
Maka ia lalu berdiri dan mulai menggerak gerakkan kakinya mainkan Chit seng pouw, dasar daripada kedudukan Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut.
"Cukup.... cukup.... kau memang murid Thian te Kiam ong. Thio Beng Han, kalau kau murid Thian te Kiam ong dan gurumu itu sudah meninggal, bagaimana kau sampai terjatuh ke dalam tangan Pat pi Lo cu dan datang ke sini tersama dia?"
Beng Han lalu menuturkan pengalamannya, bahwa ia telah melakukan perjalanan setengah tahun dari Tit le sampai di kaki Kui san.
Kemudian bagaimana ia diserang oleh seorang hwesio gemuk karena mencuri bebek panggangnya, kemudian ditolong oleh Pat pi Lo cu dan diajak bersama sama naik ke puncak Kui san sampai di menara Kim hud tah.
Tiga orang hwesio itu mengangguk angguk.
"Dasar sudah jodohnya kau harus tiba di tempat ini. Kalau kau seorang diri naik ke puncak, kiranya kau akan tewas d tengah jalan. Akan tetapi, apa maksudmu jauh jauh datang ke puncak Kui san."
"Teecu hendak memenuhi perintah suhu di waktu masih hidup. Suhu meninggalkan pesan kepada teeeu untuk menghadap sam wi losuhu di menara Kin hud tah ini dan menyerahkan sepucuk suratnya."
Ia lalu mengeluarkan surat dari Thian te Kim ong yang selalu disimpannya baik baik di sebehh dalam bajunya, tak pernah terpisah dari tubuh seperti sebuah jimat yang keramat.
Surat itu sampai kumal dan kotor.
Segera hwesio tua itu membuka dan membaca dari Thian te Kiam ong dan surat itu berpindah pindah tangan di antara tiga orang hweso tadi.
Mereka mengangguk angguk dan memandang kepada Beng Han dengan mata penuh selidik.
Kemudian mereka berdiri, hwesio tertua berkata.
"Beng Han, di dalam suratnya suhumu mengangkatmu menjadi ahli warisnya dan meninggalkan kitab pelajaran dan pedang kepadamu. Kitab itu harus kau pelajari sampai tamat dan setelah kau dapat melawan kami dengan pedang Kim kong kiam barulah kau diperbolehkan turun menara ini. Hayo kau kuantar ke atas, tempat suhumu menitipkan barang barang warisannya itu."
Dengan hati girang sekali Beng Han lalu mengikuti tiga orang hwesio itu bejalan melalui anak tangga yang melingkar lingkar ke atas.
Menara itu tinggi sekali, setiap tingkat tidak kurang dari limabelas kaki, jadi tujuhbelas tingkat tidak kurang dari duaratus limapuluh kaki!
Di puncak menara yang tinggi itu merupakan sebuah kamar yang bersih dan berhawa sejuk dan di situ selain terdapat sebuah pembaringan, juga terdapat meja dan beberapa buah kursi.
Dan di atas pembaringan itu terletak sebuah peti panjang berwarna hitam.
"Itulah barang peninggalan Thian te Kiam ong yang dititipkan kepada kami, sekarang jadi milikmu. Buka dan lihatlah."
Dengan kaki menggigil saking terharu dan girang.
Beng Han menghampiri dan membuka peti hitam itu.
Di dalamnya terdapat pedang Kim kong kiam tulen, bercahaya kuning menyilaukan mata.
Di dekat pedang itu, terdapat sebuah kitab tulisan suhunya.
Pada sampul kitab tebal itu tertulis Menurunkan ilmu yang kudapat dari para suhu Kim kong Taisu, Mo bin sin kun dan Bu Tek Kiam ong kepada murid Thio Beng Han.
Bukan main girangnya hati Beng Han.
Setelah meletakkan pedang dan kitab di dalam peti kembali, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang hwesio itu sambil berkata.
"Boanseng telah menerima budi besar dari Sam wi locianpwe. Harap sam wi sudi memberi tahu siapakah sam wi locianpwe agar selama hidup boanseng takkan lupa."
Hwesio tertua menarik napas panjang lalu berkata.
"Setelah kau ditetapkan menjadi ahli waris Thian te Kiam ong dan tinggal di sini sampai bertahun tahun, kau terhitung orang sendiri yang harus mengetahui segala urusan ini."
Kakek ini berpaling kepada dua orang hwesio lain.
"Sute kalian turunlah dan amat amati mereka yang di luar itu. Biar pinceng mendongeng dulu kepada bocah ini."
Dua orang hwesio itu menjura, lalu keluar dari ruang puncak itu dan menuruni anak tangga.
Hwesio tua itu lalu menyuruh Teng Han duduk di atas bangku, dan iapun duduk menghadapi bocah itu.
Waktu itu sudah menjelang tengah malam dan hwesio tua ini mulai berceritera, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Beng Han.
Hwesio tua ini adalah Gwat Kong Hosiang dan dua orang sutenya adalah Gwat Liong Hosiang dan Gwat San Hosiang.
Mereka ini sudah puluhan tahun tinggal di dalam menara Kim hud tah, diwajibkan menjadi penjaga menara dan penjaga serta perawat patung emas Buddha yang berada ditingkat kesembilan.
Mereka melanjutkan pekerjaan guru mereka, yaitu Thian Le hwesio tokoh Go bi pai.
Biarpun cerita bahwa patung Buddha emas itu dibuat oleh tiga ekor naga hanya merupakan dongeng, namun tak seorangpun dapat menceriterakan bagaimana asal usul patung emas itu.
Yang semenjak terang turun menurun tokoh tokoh Go bi pai melakukan penjagaan pada patung dan menara ini, dan tempat itu dianggap sebagai tempat keramat.
Kakek guru dari Go bi pai pernah meninggalkan pesanan bahwa jangan sampai patung emas itu dicuri orang karena kalau sampai di tangan orang jahat, akan timbul huru hara besar dan dunia takkan aman.
Oleh karena kepercayaan pada kakek guru ini, maka pihak Go bi pai selalu menugaskan hwesio hwesio berilmu tinggi untuk melakukan penjagaan.
Ketika Thian Le Hwesio yang menjadi penjaga, maka hwesio ini mendatangkan tiga orang muridnya, yaitu tiga orang hwesio tersebut yang sekarang melanjutkan pekerjaan guru mereka yang sudah tewas dalam pertempuran ketika orang orang jahat mencoba merampas patung emas.
Dan tiga orang hwesio ini menerima pemberitahuan rahasia dari suhu mereka bahwa patung emas itu mungkin akan dijadikan rebutan oleh orang orang kang ouw karena di dalam patung itu terdapat kitab pelajaran ilmu silat yang luar biasa, peninggalan dari Tat Mo Couwsu (Sang Budha) sendiri ketika pertama kali berkelana ke Go bi san.
Dengan Thian te Kiam ong, tiga orang hwesio ini kenal baik karena Thian te kiam ong Song Bun Sam pernah naik ke Kui san dan mengunjungi menara yang terkenal ini.
Pertemuan pendekar besar itu dengan tiga orang hwesio penjaga menara menimbulkan tali persahabatan yang erat, sehingga Thian te Kim ong sudah menyanggupi untuk membantu tiga orang hwesio penjaga itu apabila sewaktu waktu Kui san dikunjungi orang orang jahat dan menara Kim hud tah diserbu orang yang ingin mencuri patung emas.
Di lain pihak, tiga orang hwesio itu bersedia pula membantu Thian te Kiam ong sehingga pendekar sakti ini bahkan diperbolehkan menyimpan Kim kong kiam dan kitabnya di menara itu, tingkat paling atas.
Inilah sebabnya mengapa tiga orang hwesio itu menjadi amat kecewa mendengar bahwa Thian te Kiam ong benar benar sudah tewas.
"Kalau suhumu masih hidup dan sekarang berada di sini, kami tidak perduli apakah di luar itu ada seratus orang hendak menyerbu Kim hud tah."
Gwat Kong Hosiang menutup ceriteranya.
Beng Han adalah seorang cerdik.
Setelah mendengar penuturan tadi, ia dapat menarik kesimpulan bahwa kedatangan Pat pi Lo cu dan murid muridnya di tempat itu bukan sekedar mengantarnya atau hendak bertemu dengan suhu nya saja, tentu ada hubungannya dengan kekhawatiran Gwat Kong Hosiang ini.
"Losuhu, selain Pat pi Lo cu dan dua orang muridnya, teecu tidak melihat orang lain di luar. Kalau hanya tiga orang ini saja, apakah sam wi losuhu tidak dapat menghadapi mereka?"
Gwat Kong Hosiang tersenyum.
Tentu saja kami tidak takut menghadapi Pat pi Lo cu dan murid muridnya.
Buktinya kami sudah berhasil merampasmu dari tangannya.
Biarpun Pat pi Lo cu sendiri lihai, akan tetapi hanya dengan dua orang muridnya saja dia tidak berdaya menghadapi kami bertiga.
Sayangnya yang datang bukan hanya bertiga.
Hwesio gemuk yang marah marah karena kau colong bebek panggangnya juga sudah datang, dan selain itu masih ada beberapa belas orang lain.
Besok pagi pagi tentu akan terjadi keributan di sini."
Kembali kakek itu menarik napas panjang, nampaknya agak gelisah.
"Sebenarnya mereka itu siapakah, losuhu?"
"Siapa lagi kalau bukan orang orang kang ouw, orang orang ternama ahli silat yang tak pernah puas akan kepandaian masing masing."
"Apakah sudah pasti mereka itu datang dengan maksud mencuri atau merampas patung emas, siapa tahu kalau mereka itu mengetahui akan simpanan suhu di sini....?"
Gwat Kong Hosiang menggeleng kepalanya.
"Tak mungkin. Gerakan Thian te Kiam ong tak mungkin dapat diikuti orang, betapapun lihai orang itu. Dan yang mengetiahui akan simpanan itu hanyalah kami bertiga. Tidak, mereka itu menang datang untuk merampas patung emas."
"Akan tetapi, losuhu. Teecu sering kali mendengar bahwa orang orang kang ouw ini tidak perduli tentang harta benda. Pula, dengan kepandaian mereka yang tinggi, sewaktu waktu mereka dapat mencuri emas di rumah rumah orang hartawan. Mengapa untuk mencuri emas saja mereka harus datang jauh jauh ke sini?"
Gwat Kong Hosiang tertawa "
Kau tidak tahu.
Beng Han.
Sudah kuceriterakan tadi bahwa patung emas itu mengandung rahasia hebat.
Di dalamnya terdapat kitab pelajaran ilmu silat luar biasa yang hanya diketahui oleh suhu kami.
Kami sedang menanti nanti untuk mencari seorang anak murid Go bi pai yang betul betul berharga menjadi ahli waris kitab ini, oleh karena kitab ini harus menjadi kitab pusaka Go bi pai.
Sebelum kami mendapatkan murid itu, kami tidak berani mengeluarkannya, takut kalau kalau terjatuh ke dalam tangan orang jahat.
Sayang sampai sekarang tidak ada anak murid Go bi pai yang cukup berbakat.
Kami bertigalah yang menjadi murid murid terpandai di waktu sekarang ini...."
Hwesio itu menarik napas panjang.
"Entah bagaimana, hidung, mata, dan telinga orang orang kang ouw memang tajam melebihi anjing anjing pemburu, mereka telah mengetahui akan rahasia itu dan agaknya besok akan terjadi perebutan hebat. Apa boleh buat, kami bertiga sudah bersumpah untuk menjaga patung itu dengan taruhan nyawa."
"Losuhu, teecu merasa menyesal sekali mengapa teecu begini bodoh. Kalau saja teecu mempelajari kitab suhu sampai tamat, kiranya teecu akan sanggup mewakili suhu membantu kepada sam wi lo suhu."
Gwat Kong Hosiang tertawa.
"Anak baik, tak perlu kau berkhawatir. Apapun yang akan terjadi, kau takan terbawa bawa. Pula, kami bertigapun tidak akan menyerah mentah mentah begitu saja. Sebelum mereka berhasil merampas patung emas, merekapun harus mempertaruhkan nyawa lebih dahulu!"
Kemudian Gwat Kong Hosiang mengajak Beng Han keluar dari ruangan itu dan menuju ke sudut menara.
Ia menudingkan telunjuknya ke atas, ke arah pian puncak menara di mana terdengar bunyi burung bercuitan.
Ribuan burung telah membuat sarang di tempat tinggi itu.
Pantas saja tadi Beng Han lapat lapat mendengar suara gemuruh di sebelah atas.
"Lihatlah, Beng Han! Kau selalu akan tinggal di puncak ini dan tidak boleh turun sebelum tamat pelajaranmu melatih ilmu silat dari kitab peninggalan suhumu! Selain tekun belajar, kau pun mulai saat ini menjadi seorang pertapa yang akan menghadapi hidup serba sukar, bahkan mungkin menghadapi ancaman maut. Disini tidak ada makanan lain kecuali apa yang dapat kau ambil dari sarang sarang burung itu, juga untuk keperluan minum, kau hanya mengandalkan sumur kecil yang berada di dasar menara. Nah, sekarang aku akan turun dan besok apabila terdengar ribut ribut dan kau melihat pertempuran di luar maupun dalam menara jangan sekali kali kau keluar dari ruangan ini! Kalau kau keluar dan menemui bencana, kami akan merasa salah terhadap mendiang suhumu. Mengerti?"
Beng Han menjatuhkan diri berlutut.
"Baik, losuhu. Teecu akan memperhatikan dan mentaati semua petunjuk losuhu dan teecu bersunpuh untuk belajar dengan tekun."
Dengan muka puas Gwat Keng Hosiang lalu keluar dari ruang itu dan berjalandw menuruni anak tangga.
Biarpun tubuhyya sakit dan lelah sekali, Beng Hankz tidak mau tidur, sebaliknya ia mengeluarkan kitab peninggalan suhunya dan mulai membuka buka lembaran pertama.
Saking lelahnya, Beng Han jatuh tertidur di atas pembaringan dengan kitab ditangan dan ia tidur sampai matahari snh naik dan sinarnya menembus celah celah dan lobang hawa di puncak menara.
Tiba tiba ia terbangun oleh suara ribut ribut.
Ia merasa kaget dan menyesal mendapatkan dirinya tertidur dengan kitab di tangan, cepat ia menyimpan kitab itu dan menggosok gosok matanya.
"Hwesio, hwesio Gwat Keng, Gwat Liong, dan Gwat San! Kalian lekas keluarlah menyambut aku untuk diperhitungkan nasibmu karena aku melihat hawa kematian di sekitar tempat ini!"
Suara ini terdengar halus akan tetapi mengandung getaran tinggi sehinga biarpun tempat di mana Beng Hjn berada amat tinggi, tetap saja telinganya menjadi sakit dimasuki gema suara itu.
Akan tetapi ia menjadi berdebar, kaget dan girang sekali.
Ia mengenal suara ini.
Tak bisa salah lagi.
Inilah suara kakeknya, Koai Thian Cu!
"Kong kong..."
Tak terasa lagi Beng Han berseru, akan tetapi suaranya lenyap ditelan ruangan yang lebar dan tinggi itu.
Ia berlari menuruni anak tangga, akan tetapi tiba tiba ia menghentikan larinya dan cepat cepat melompat kembali ke dalam ruangan.
Ia teringat akan pesan Gwat Kong Hosiang malam tadi bahwa apa pun yang terjadi, ia sama sekali tidak boleh keluar dari tempat itu!
Beng Han berlari menuju ke pinggir ruangan puncak menara dan mengintai keluar menara melalui lubang lubang angin.
Dan ia benar benar melihat kong kongnya berdiri di sana, jauh di bawah, kelihatan kecil sekali.
Kong kongnya masih seperti dulu satu setengah tahun yang lalu, berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, tongkat di tangan kanan dan kebutan di tangan kiri.
Dari tempat yang amat tinggi itu Beng Han dapat melihat kesekeliling tempat dengan jelas.
Ketika ia memandang ke sana ke mari melalui lubang lubang hawa, terlihat olehnya bahwa dugaan Gwat Kong Hosiang semalam memang terbukti.
Di sana sini kelihatan orang orang yang sikap dan bentuknya aneh.
Ada tosu, ada hwesio, ada pengemis, bahkan ada pula beberapa orang wanita tua muda, juga ada yang berpakaian seperti panglima perang.
Seluruhnya ada enambelas orang termasuk Koai Thian Cu dan Pat pi Lo cu beserta dua orang muridnya.
Ia juga melihat Sin tung Lo kai Thio Houw berada di situ bersama dua orang cucunya.
Melihat gadis cilik yang amat baik terhadap dia ketika dia hendak dihukum di rumah Bi Hui dahulu, wajah Beng Han berseri.
Alangkah inginnya ia memberi tanda kepada gadis cilik itu bahwa dia berada di tempat ini.
Gadis cilik itu tentu akan senang sekali kalau bisa ikut naik kesini, melihat orang orang itu dari tempat yang begini tingginya!
Baik kita tinggalkan Beng Han yang melihat semua peristiwa di depan manara itu dari tempat tinggi dengan amat jelas, sungguhpun orang orang yang bicara di bawah banyak yang tak dapat ia tangkap dengan pendengarannya dan kita menengok ke bawah dan di luar menara.
Memang betul seperti apa yang telah diceriterakan oleh Gwat Kong Hosiang kepada Beng Han malam tadi.
Orang orang di dunia kong auw paling haus akan ilmu yang tinggi tinggi.
Ketika terdengar berita bahwa di dalam Buddha Emas di Kim hud tah tersembunyi sebuah kitab ilmu silat yang kuno dan tinggi, berbondong bondong orang kang ouw datang dan mencoba untuk mencurinya.
Akan tetapi berkali kali para pencuri kang ouw ini gagal karena ketiga orang hwesio Go bi pai yang menjaga di situ bukanlah orang orang sembarangan.
Dan pada hari itu, seperti telah dijanji saja enambelas orang dari kalangan atas datang berkumpul di bawah menara.
Sebetulnya bukan karena telah di janji, melainkan mereka tidak mau didahului oleh orang lain.
Mendengar ada orang orang pandai datang ke Kui san hendak merampas kitab, orang orang itu takut kalau didahului, maka beramai ramai mereka datang dan kini berkumpul di sekitar menara besar dan tinggi itu.
Suara Koai Thian Cu yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikangnya tadi tentu saja terdengar oleh Gwat Kong Hosiang dan dua orang sutenya.
Tak lama kemudian terdengar suara dari dalam menara sebelah bawah.
"Koai Thian Cu, mati hidup di tangan Yang Maha Kuasa, kami tak perlu tahu berapa panjangnya usia kami di dunia. Pintu menara sudah kami buka, siapa bermaksud baik akan disambut baik. Mati karena melakukan perbuatan jahat, bukankah itu mengecewakan sekali?"
Terdengar suara berteriak dan pintu dan paling bawah dari menara itu terbuka dari dalam.
Pintu itu terbuka merupakan gua yang lebar dan hitam, akan tetapi tidak kelihatan seorangpun muncul dari pintu.
Koai Thian Cu dan lain lain tokoh yang hadir tak jauh dari situ bukanlah orang orang bodoh yang suka berlaku ceroboh.
Kakek tukang gwamia ini hanya tertawa lebar melihat pintu menara sudah terbuka, akan tetapi ia tidak mau buru buru masuk.
Sebaliknya ia menoleh ke kanan kiri dan belakang, lalu berkata.
"Jauh jauh kalian sudah melakukan perjalanan ke menara ini, setelah sekarang pintu menara terbuka, mengapa tidak lekas lekas masuk. Tunggu kapan lagi? Ha, ha, ha.... hi, hi, hi, ..!"
Kata kata ini terang merupakan ejekan bagi semua orang gagah yang berkumpul di luar menara. Pat pi Lo cu mendengar ejekan ini lalu tertawa bergelak.
"Koai Thian Cu, kau ini tua bangka benar benar tak tahu malu. Kau menyindir orang orang yang datang di sini, habis kau sendiri hari ini berada disini. Bukankah itu sama dengan seorang maling berteriak copet??? Apa kau tidak malu terhadap raja pengemis yang hadir di sini?"
Dengan menyebut raja pengemis ini sudah terang sekali Pat pi Lo cu maksudkan Sin tung Lo kai Thio Houw, ketua dari Ang sin tung Kaipang yang terkenal itu.
Semenjak tadi, diam diam Sin tung Lo kai terkejut melihat dua orang kakek ini.
Apalagi setelah mendengar mereka bicara.
Tadinya ia hanya menduga bahwa dua orang kakek itu tentu orang orang sakti yang berkepandaian tinggi, ternyata dari gerak geriknya.
Kemudian setelah ia mendengar kakek dua menyebut nama kakek pertama sebagai Koai Thian Cu lalu menyinggung nyinggungnya, ia makin tercengang.
Nama besar Koai Thiankz Cu tentu saja ia pernah mendengar biarpun belum pernah ia melihat orangnya.
Jadi inikah orang sakti yang selain lihai ilmu silatnya, juga lihai sekali ilmu hoat sutnya dan pandai pula melihat nasib orang?
Hanya ia belum tahu siapa gerangan kakek tosu yang dikawani dua orang laki laki gagah bermuka kembar itu, yang dari kata katanya ternyata telah menyindirnya.
Akan tetapi karena ia belum kenal kepada dua orang itu, dan pada waktu itu di situ berkumpul banyak orang orang gagah yang sebagian tak dikenalnya, ia pura pura tidak tahu dan diam saja.
Siapa tahu kalau dewi di situ ada pula raja pengemis yang lain, pikirnya.
"Pat pi Lo cu, bagaimana kau berani main main terhadap seorang raja pengemis? Biarpun ia hanya pengemis dan berpakaian seperti jembel, tetap dia seorang raja! Apa kau lupa bahwa Ang sin tung Kaipang amat terkenal? Jangan main main, ah!"
Untuk kedua kalinya Sin tung Lo kai Thio Houw tertegun.
Jelas bahwa Koai Thian Cu juga mengenalnya, dan sekarang baru ia tahu bahwa tosu ke dua yang aneh itu adalah Pat pi Lo cu.
Nama ini belum pernah ia dengar, akan tetapi ia dapat menduga bahwa kakek inipun tentu lihai bukan main.
Akan tetapi sebagai seorang locianpwe yang sudah terkenal memiliki kepandaian dan kedudukan tinggi, biarpun ia menghormat, ia tidak mau berlebihan dan menyapa mereka dengan sikap seperti orang orang setingkat, ia menjura dan berkata.
"Ji wi beng yu (dua sahabat) dari selatan dan utara harap maafkan aku yang bermata lamur dan berlaku kurang hormat."
Ia menjura kepada Koai Thian Cu, kemudian kepada Pat pi Lo cu.
Akan tetapi alangkah mendongkolnya ketika dua orang kakek itu sama sekali tidak membalas penghormatannya, bahkan tertawa ha ha hi hi!
"He, Koai Thian Cu.
Kau sebagai tosu tukang goamia yang merantau ke sana kemari kadang kadang kelaparan, datang ke sini masih dapat dimaklumi seperti aku sendiri.
Akan tetapi seorang raja datang hendak mencuri ilmu baru, benar benar merendahkan martabatnya!"
Kata Pat pi Lo cu.
Merah telinga Sin tung Lo kai mendengar ejekan ini.
Ia menancapkan tongkat merahnya ke atas sebuah batu di atas tanah dan....
ujung tongkat itu menancap pada batu kecil itu, sama sekali tidak merusaknya seakan akan batu itu terbuat daripada bahan yang basah dan empuk!
Ia membiarkan tongkatnya berdiri di atas batu itu, kemudian ia berkata.
"Aku. si tua bangka tinggal menanti maut menjemput nyawa, untuk apa segala kedudukan? Sebaliknya, ada pepatah bilang bahwa untuk belajar, tidak ada usia tua. Aku ingin belajar, apa sih jeleknya? Apalagi karena kepandaian aku si tua bangka ini memang amat rendah, perlu diperbaiki banyak sekali. Yang terlalu adalah mereka yang sudah pandai dalam segala macam ilmu, bahkan pandai menghitung bintang di langit, masih saja hendak menambah ilmunya. Benar benar seperti hendak bersaing dengan dewakz!"
Karena hatinya panas, Sin tung Lo kai sampai berani menyerang Koai Thian Cu dengan kata kata, atau lebih tepat lagi, ia mengelak dari serangan kata kata Pat pi Lo cu dan "mengopernya"
Kepada Koai Thian Cu! Kakek tukang gwamia ini tertawa terkekeh kekek.
"Kakek kakek tua bangka mau mampus pada tidak tahu diri. Ha, ha, ha, ha! Aku sih lain lagi. Aku mencarikan ilmu untuk cucuku!"
Beng Han yang mendengar suara lantang kong kongnya dari atas, menjadi amat terharu dan bertitiklah air matanya, ia tahu bahwa yang dimaksudkan oleh kong kongnya itu adalah dia sendiri.
Kakek itu hendak mencari kitab kitab pelajaran untuknya!
Selagi tiga orang kakek ini saling serang dengan kata kata, dari dalam menara terdengar lagi suara orang.
"Cu wi yang datang harap maafkan, pinceng tidak dapat keluar menyambut. Pintu menara terbuka tidak ada yang mau masuk, bukan salah pinceng. Jalan menuju ke Kui san memang tak pernah terbuka atau tertutup. Kami bertugas menjaga dengan nyawa kami sebagai taruhan kami melakukan tugas. Dunia sudah cukup kacau, pinceng akan berterima kasih sekali kalau cu wi tidak menambahnya dan suka pergi meninggalkan tempat ini dengan aman."
Kata kata ini keluar dari mulut Gwat Sin Hosing yang bertugas menjaga di tingkat paling bawah. -ooo0dw0ooo-
Jilid XXXVI "Ada hawa kematian di sekitar tempat ini, tak mungkin terlewat begitu saja,"
Kata Koai Thian Cu seperti kepada diri sendiri akan tetapi kata katanya ini mendatangkan rasa serem kepada yang mendengarnya, apalagi bagi mereka yang sudah mengenal betapa jitu ramalan ramalan kakek itu.
Karena pintu sudah terbuka dan orang orang tua itu masih juga belum bergerak, hal ini menimbulkan ketidaksabaran dua orang laki laki setengah tua yang pakainnya seperti guru silat.
Memang mereka ini adalah guru guru silat dari sebelah utara Bukit Kui San.
Mereka lalu melompat memasuki pintu menara dengan gerakan gesit dan teratur, saling melindungi dan tentu saja kepandaian mereka sudah tinggi, kalau tidak demikian, selain tak mungkin mereka bisa sampai di tempat itu, juga kalau tidak pandai mereka takkan berani mengganggu Kim hud tah.
"Sudah mulai... sudah mulai..."
Kata Koai Thian Cu, berseri seri wajahnya seakan akan seorang bocah menjadi gembira menonton pertunjukan yang menarik dimulai!
Dua orang guru silat itu memasuki pintu menara yang gelap dengan langkah seperti harimau harimau mengintai korban, tangan kiri siap menjaga di depan dada, tangan kanan meraba gagang golok yang tergantung di pinggang.
Akan terapi tidak terjadi sesuatu.
Mereka melangkah terus dan tiba di ruangan terbawah, di mana mereka melihat seorang hwesio tua yang berwajah angker duduk bersila di atas bangku, di dekatnya terdapat sebuah meja di mana terletak sebatang pedang yang mengkilap.
Ruangan ini terang karena menerima cahaya penerangan dari luar melalui lubang lubang di dinding atasnya.
Inilah Gwat San Hosiang yang bertugas menjaga di bawah ia duduk bersila dengan muka tunduk seperti sedang semadhi.
Dua orang guru silat itu menyapu tempat itu dengan pandang mata mereka.
Tidak ada patung emas di situ.
Tentu ditingkat atas, pikir mereka saling pandang.
Kesunyian tempat itu mengejutkan hati, maka seorang di antara mereka berkata kepada hwesio itu.
"Losuhu, kami dua saudara Kwee, kauwcu (guru silat) dari Tin an bun, sudah memasuki pintu menara!"
Gwat San Hosiang membuka matanya dan mengangkat muka tanpa menggerakkan tubuh. Kaget dua orang kauwsu itu ketika melihat sepasang mata itu mengeluarkan pandangan tajam menyambar.
"Ji wi kauwsu datang kesini mau apakah? Kim hud tah bukan tempat pelesir."
"Kami datang bukan mau pelesir, melainkan hendak meminjam patung emas!"
Gwat San Hosiang tersenyum.
"Kalian juga?"
Dengan muka merah guru silat pertama berkata, nadanya membela diri.
"Losuhu, kami berdua adalah guru guru silat yang mengandaikan nafkah hidup dari mengajar ilmu silat. Karena sekarang banyak sekali guru silat, maka kami harus mempunyai modal yang baik, dan modal guru silat hanya ilmu silat yang baik. Oleh karena itu maka kami hendak menambah kepandaian untuk di jadikan modal."
"Hendak menambah kepandaian mengapa mencari patung emas?"
Kembali Gwat San Hosiaog bertanya, masih tersenyum menyindir.
"Bukan patung emasnya yang kami butuhkan, melainkan isinya, kitab yang tersembunyi di dalam patung itu. Patungnya boleh losuhu ambil kembali."
"Dari mana ji wi kauwsu tahu akan hal itu? Pinceng sendiri belum pernah membuka buka patung keramat itu. Sayang sekali, ji wi kauwsu datang sia sia. Patung emas itu tidak berada di dalam ruangan ini."
"Tentu berada di atas...."
Dua orang guru silat memandang ke arah tangga yang menuju ke atas.
"Jalan itu terlarang bagi semua orang yang datang dari luar, ji wi tidak boleh melalui anak tangga itu."
"Losuhu, harap losuhu duduk saja, tak usah repot repot. Biarkan kami berdua sendiri yang akan mencari kitab itu dan terpaksa kami harus meminjam anak tangga itu untuk mencari ke atas."
"Tugasku menjaga di sini dan siapapun juga takkan dapat mempergunakan anak tangga itu tanpa melewati tubuh pinceng."
Setelah berkata demikian, tahu tahu tubuh yang bersila itu melayang dan dalam keadaan masih bersila tubuh kakek gundul ini telah berpindah ke bawah anak tangga!
Karena anak tangga itu sempit dan tubuh nya besar, benar benar jalan ke anak tangga itu terhalang dan kalau orang hendak mempergunakan anak tangga harus lebih dahulu melangkahi atau melewati tubuh Gwat San Hosiang!
"Losuhu, kau mencari penyakit!"
Bentak guru silat ke dua sambil mencabut goloknya, diikuti oleh saudaranya. Gwat San Hosiang tertawa.
"Masih harus di buktikan dulu siapa yang mencari penyakit, mungkin ji wi kauwsu yang mencari penyakit."
"Minggir!"
Bentak dua orang kauwsu itu dan hampir berbareng golok mereka menyambar dari dua jurusan.
Serangan ini hebat sekali, karrna bukan saja dilakukan dengan baik dan dari dua jurusan, akan tetapi juga kedudukan hwesio itu amat lemah.
Ia sedang bersila dikaki anak tangga dan agaknya tidak mempunyai jalan keluar lagi dari bahaya yang mengancam nyawanya.
Akan tetapi, Gwat San Hosiang tidak saja pandai ilmu silat dan pengalamannya sudah banyak, juga ia amat pandai melihat orang dan menaksir kepandaian orang.
Ketika dua orang guru silat tadi memasuki pintu menara, sekali melihat dan mendengar gerakan gerakan mereka saja ia sudah dapat menaksir bahwa menghadapi mereka ini tak perlu ia mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaga.
Oleh karena itu, sekarang melihat serangan mereka, iapun berlaku tenang.
Akan tetapi, ia menjadi mendongkol dan marah melihat betapa serangan serangan itu bukanlah serangan biasa, melainkan serangan mengarah matinya!
Memang dua orang guru silat yang maklum bahwa mereda berhadapan dengan orang pandai, begitu bergerak terus menyerang bagian bagian berbahaya dan sekali serangan mereka mengenai sasaran, hwesio itu akan tewas atau terluka parah.
"Ji wi mengajak bertaruh nyawa? Baik!"
Hwesio tua ini tidak bergerak dari tempat ia bersila, akan tetapi tulang tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan dan tiba tiba ia melakukan gerakan mendorong ke depan sambil berseru.
"Pergilah!"
Hebat sekali akibat dari pukulan lweekang yang lihat ini.
Bagaikan disambar kilat, tubuh dua orang guru silat itu terlempar keluar dari ruangan itu, terus bergulingan keluar dari pintu menara!
Orang pertama terbentur pintu dan goloknya menghantam leher sendiri, sedangkan orang ke dua bergulingan seperti balok digelindingkan.
Setelah mereka berhenti terguling guling, mereka sudah tak dapat bergerak lagi, menggeletak di dekat Koai Thian Cu dan....
mati!
"Sudah mulai....
sudah mulai....!"
Kakek ini terus mengeluarkan kata kata ini, akan tetapi suaranya seperti orang mewek.
Tanpa memperdulikan yang lain lain, kakek ini lalu mempergunakan tongkatnya untuk menggali tanah.
Caranya memang luar biasa.
Tongkat sekecil itu ketika dipergunakan untuk menggali tanah, ternyata melebihi sebatang pacul hasil kerjanya.
Sekali tongkat ditancapkan di tanah, ketika dicabut segumpal besar tanah terbawa ke atas.
Dengan cara aneh dan luar biasa ini sebentar saja Koai Thian Cu sudah berhasil membuat atau menggali lubang yang cukup besar dan dalam.
Kemudian ia memasukkan dua mayat guru silat itu ke dalam lubang dan menimbuni lubang kembali dengan tanah galian.
"Ha, ha, ha, sekarang Koai Thian Cu bertambah dengan satu pekerjaan lagi. Tidak saja dia tukang silat, tukang sulap dan tukang ramal, juga sekarang dia tukang mengubur mayat!"
Kata Pat pi Lo cu sambil tertawa terbahak bahak.
Sementara ini, sambil mengeluarkan gerengan keras seperti guntur, seorang hwesio gemuk dengan mata besar melangkah lebar memasuki pintu menara.
Dia ini bukan lain adalah hwesio yang kemarin hari dicuri bebek panggangnya oleh Beng Han.
Hwesio ini bukan orang sembarangan.
Dia bersama Thai Ti Hwesio, seorang anak murid Siauw lim pai yang sudah tinggi ilmu silatnya.
Sayang sekali dia menyeleweng, baik menyeleweng dari perguruan silat Siauw lim pai maupun dari peraturan sebagai seorang hwesio.
Oleh karena itu, sudah lama Siauw lim pai tidak mengakuinya lagi sebagai murid.
Biarpun kepalanya gundul dan jubahnya seperti jubah hwesio pemeluk Agama Buddha, namun cara hidupnya sama sekali tidak seperti seorang pendata.
Dia makan daging apa saja, minum arak sampai mabok mabokan dan tidak ada pekerjaan jahat yang ia pantang!
Thai Ti Hwesio telah kembali ke asal mulanya, yaitu seorang perampok tunggal Dahulu sebelum ia menjadi hwesio dia adalah seorang perampok yang pada suatu hari di robohkan oleh Kian Wi Taisu tokoh Siauw lim pai, lalu bertobat dan menjadi muridnya.
Akan tetapi satelah Kian Wi Taisu meninggal dunia, ia menjadi binal kembali dan datang kembali sifat sifat jahatnya sehingga ia diusir dari Siauw lim pai dan berkeliaran sebagai seorang penjahat keji bersembunyi di kedok hwesio dan jubah pendetanya.
Thai Ti Hwesio memasuki pintu menara itu dengan menyeret tongkat besinya.
Sebagai murid Siauw lim pai, ia adalah seorang ahli bermain toya.
Begitu masuk dan melihat Gwat San Hosiang, ia berkata dengan suaranya yang lantang dan sombong.
"Hwesio penjaga Kim hud tah. Hayo kau lekas ambil kitab peninggalan Couwsu dan mengembalikannya kepadaku. Kalau tidak aku akan mewakili Ji lai hud untuk menghukummu dengan tiga kali kemplangan dengan toya!"
Melihat hwesio gemuk yang sombong ini. Gwat San Hosiang segera berdiri dari dudaknya dan merangkapkan kedua tangannya.
"Omtiohud, yang datang ini seorang hwesio ataukah seorang gila? Ji lai hud tak pernah menghukum orang, melainkan sebaliknya menunjukkan jalan kepada manusia supaya terlepas dari segala ikatan perbuatan dan hukuman. Kau ini siapa dan dari manakah?"
"Kepala gundul bermata bulat. Tidak tahukah kau bahwa kitab peninggalan dari Tat Mo Couwsu itu adalah hakku! Aku adalah Thai Ti hwesio dari Siauw lim pai dan Tat Mo Couwsu adalah guru besar Siauw lim pai."
Gwat San Hosiang tertawa besar.
"Entah kau benar benar seorang murid Siauw lim pai atau bukan, akan tetapi kata katamu ini menggelikan sekali. Ilmu silat biarpun sekarang terpisah pisah dan berganti bulu dengan macam macam nama, asalnya juga satu sumber dan satu pokok. Benda apakah yang tidak berasal dan satu pokok? Thai Ti Hwesio, lebih baik, mengingat bahwa kau sudah rela memakai jubah pendeta dan berkepala gundul, kau keluar lagi saja agar jangan sampai ditertawai orang kalau dua orang hwesio gundul saling gempur."
"Setan, kau siapakah?"
Tanya Thai Ti Hwesio marah.
"Nama pinceng Gwat San Hosiang, terhitung anak murid Go bi pai, akan tetapi sekarang bertugas menjaga menara Kim hud tah."
"Berikan patung emas itu kepadaku!"
Thai Ti Hwesio membentak.
"Apa kau tidak melihat bagaimana akibatnya ketika dua orang guru silat tadi melanjutkan kehendak hatinya yang jahat? Pinceng dan dua orang saudara pinceng bertugas menjaga Kim hud tah dan sekalian isinya, bagaimana kau mau begitu saja minta patung emas?"
"Banyak cerewet. Minggir, aku hendak naik!"
Thai Ti Hwesio memutar toyanya dan melompat ke anak tangga.
Akan tetapii, sebelum kakinya sampai di anak tangga pertama, ia merasa ada sambaran angin dan kiri yang membuat toyanya terbentur ke samping.
Serangan angin ini disusul dengan sambaran pada kakinya yang akan menginjak anak tangga, datangnya demikian cepat sehingga ia menjadi kaget bukan main.
Secepat kilat Thai Ti Hwesio lalu berjungkir balik, membuat poksai (salto) ke belakang dengan menotolkan ujung tongkatnya pada lantai.
Dengan cara demikian barulah ia terbebas dan serangan ke arah kakinya yang tadi disambar oleh Gwat San Hosiang dengan ujung lengan bajunya.
Marahlah Thai Ti Hwesio Tongkatnya di putar putar di atas kepala, kemudian ia melangkah maju dan menyarang hebat dengan gerak tipu Kauw ong pai san (Raja Monyet Menolak Gunung).
Ujung toya itu setelah terpular putar cepat lalu tiba tiba meluncur dan menyambar ke arah kepala Gwat San Hosiang dengan gerakan menghantam lalu dilanjutkan dengan mendorong.
Kepala akan pecah dan muka akan bolong kalau serangan ini mengenai sasaran.
Mendengar suara angin dan merasa sambarannya, tahulah Gwat San Hosiang bahwa lawannya ini adalah seorang ahli gwakang yang bertenaga besar sekali.
Dari langkah kaki dan gerakan toya, ia mulai percaya bahwa orang ini benar benar murid Siauw lim pai yang pandai.
Terkejutlah dia.
Sama sekali bukan terkejut karena jerih terhadap hwesio ini, akan tetapi terkejut melihat kenyataan bahwa Siauw lim pai sampai menyuruh orang untuk mengambil kitab.
Inilah hebat!
Tentu saja ia tidak tahu bahwa Siauw lim pai sama sekali tidak tahu menahu dan tidak ada sangkut paut dengan perbuatan murid murtad ini.
Menghadapi serangan Kauw ong pai san yang hebat, Gwat San Hosiang berlaku tenang sekali.
Dengan menggerak gerakkan dua ujung lengan jubahnya yang panjang, Gwat San Hosiang berhasil menangkis serangan roya yang hebat dari Thai Ti Hwesio.
Hwesio Siauw lim pai ini adalah seorang ahli gwakang, tenaganya besar sekali.
Sebaliknya, selain tinggi ilmu gwakangnya, Gwat Sin Hosiang adalah seorang ahli lweekeh.
Dengan senjata istimewanya, yaitu dua ujung lengan jubah yang terbuat daripada kain lemas, dengan mudah ia dapat menghadapi serangan toya, senjata yang kaku dan kasar itu.
Biarpun hanya ujung lengan jubah yang lemas namun berada di tangan seorang ahli lweekeh dapat berobah menjadi senjata istimewa, dapat dipergunakan sebagai cambuk lemas, dapat pula berubah menjadi kaku dan kuat seperti toya.
Gwat San Hosiang dan dua orang suhengnya adalah murid murid seorang tokoh besar Go bi pai yang dulu bertugas menjaga patung emas Buddha di dalam pagoda itu, yakni Thian Lo Hwesio yang lihai.
Oleh guru mereka, tiga orang murid ini khusus diwarisi ilmu silat yang aseli dari Tat Mo Couwsu, ilmu silat tangan kosong yang disebut Im yang siang ju (Sepasang Kepalan Im dan Yang).
Ilmu silat ini tidak hanya dapat dimainkan dengan dua buah tangan kosong, akan tetapi dalam menghadapi lawan bersenjata yang lihai, tangan kosong dapat berubah menjadi bersenjata ujung lengan baju Oleh karena inilah maka tiga orang kakek ini jubahnya berlengan panjang.
Mereka tak pernah mempergunakan senjata dalam pertempnran, karena sepasang kepalan mereka ditambah ujung lengan baju saja jarang ada yang dapat menandingi.
Dengan ilmu silat Im yang siang ju ini, Gwat San Hosiang dapat menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.
Ia dapat mempergunakan Yang kang maupun Im kang (tenaga kasar atau tenaga lemas) dalam ilmu silat ini, disesuaikan dengan keadaan lawan.
Thai Ti Hwesio ternyata lihai sekali.
Gerakan toyanya kuat dan cepat, menyambar nyambar bagaikan seekor naga mengamuk.
Kedua ujung toyanya ganti berganti melakukan serangan mengemplang, mendorong, menyerampang atau memukul.
Semua serangan merupakan jangkauan tangan maut.
Sampai limapuluh jurus mereka bertempur, akan tetapi sagera ternyata bahwa kapandaian Thai Ti Hwesio masih kalah setingkat.
Ia mulai terdesak dan tongkatnya tak dapat lagi banyak menyerang, melainkan dipergunakan untuk melindungi tubuhnya dari desakan serangan sepasang ujung lengan jubah!
Biarpun begitu.
tidak mudah bagi Gwat San Hosiang untuk cepat cepat mengalahkan Thai Ti Hwesio.
"Sute. mengapa begitu lama mengusir anjing gundul ini? Mari kami bantu!"
Kata kata ini di ucapkan oleh Gwat Kong Hosiang yang ternyata sudah berada di ruangan bawah ini bersama Gwat Liong Hosiang.
Mereka tadinya memang menjaga di tingkat atasan, akan tetapi karena khawatir kalau kalau Gwat San Hosiang kalah, mereka lalu turun tangan membantu.
Tiga orang hwesio penjaga pagoda Kim hud tah ini dengan gerakan serentak melakukan dorongan dengan tangan ke arah Thai Ti Hwesio dan....
tubuh Thai Ti Hwesio yang gemuk itu bagaikan sebuah bola karet terpental keluar pintu!
Thai Ti Hwesio merasa dadanya sakit dan ia berteriak kesaktian ketika tubuhnya melayang terus keluar dengan toya masih dipegangnya, bahkan di pegang di depan dada.
Celakanya, ia melayang ke arah seorang pengemis tua yang duduk di atas tanah.
Pengemis ini tubuhnya penuh kudis dan selalu garuk garuk kaki dan tangannya ia seperti tidak tahu bahwa hwesio gemuk itu melayang dan hendak menimpanya dengan toya lebih dulu!
Beng Han yang melihat hal ini dari atas menara, menjadi kaget dan kasihan sekali kepada pengemis tua itu.
Akan tetapi segera semua orang yang menyaksikan hal ini terkejut sekali.
Pengemis tua itu menggerakkan tangan kiri yang penuh kudis dan....
tubuh gemuk bundar dari Thai Ti Hwesio seperti daun kering tertiup angin, melayang pergi ke kiri!
Kini tubuh Thai Ti Hwesio meluncur ke arah seorang wanita tua.
Nenek ini tubuhnya bongkok dan mukanya penuh keriput, ia berdiri di situ bersama dua orang wanita muda yang berwajah manis dan bersikap gagah.
Melihat datangnya tubuh Thai Ti Hwesio, dua orang gadis itu membuang muka dan berkata.
"Menjemukan!"
"Menyebalkan!"
Akan tetapi nenek itu dengan mulut menyeringai mengangkat tongkatnya ke atas dan....
tubuh Thai Ti Hwesio diputar putar di atas tongkat seperti seorang penari beetari pring.
Sekali nenek ini menggerakkan tongkat, tubuh hwesio sialan itu melayang lagi, kini nenuju ke arah Koai Thian Cu.
Toya panjang terlepas dari pegangan Thai Ti Hwesio yang semenjak tadi sudah tak bersuara lagi.
Koai Thian Cu mengulurkan lengan dan menerima tubuh itu, lalu melemparkannya ke atas tanah, ia tertawa bergelak.
"Benar benar semua orang menghendaki aku menjadi tukang urus mayat!"
Tanpa banyak kata lagi ia kembali membuat lubang di tanah dan mengubur tubuh Thai Ti Hwesio. Ternyata bahwa setelah dewi tubuhnya dijadikan "bola karet"
Dan di oper ke sana ke mari oleh orang orang yang berilmu tinggi itu, Thai Ti Hwesio tewas sebelum tubuhnya menyentuh bumi, tanpa diketahui orang pukulan siapakahkz gerangan yang menewaskannya.
Entah pukulan tiga hwesio penjaga patung emas, entah pukulan pengemis kudisan itu ataukah sodokan tongkat nenek bongkok.
Melihat betapa berturut turut orang yang menyerbu ke dalam mengalami kekalahan bahkan kehilangan nyawa, agaknya yang lain lain menjadi jerih.
Mereka hanya saling pandang dan saling mengharapkan orang lain akan mencoba lebih dulu!
"Ha, ha, ha!
Banyak pengecut, banyak pengecut!"
Kata Koai Thian Cu sambil tertawa bergelak.
"Pat pi Lo cu dan kau Sin tung Lo kai, mengapa berdiri diam saja? Apakah kalian takut menyerbu?"
"Tua bangka tukang urus mayat. Kau hanya bicara saja Mengapa kau sendiri tidak lekas lekas menyerbu?"
Jawab Pat pi Lo cu tersenyum mengejek.
"Mereka maju bertiga, agak sukar...."
Kata Sin tung Lo kai ragu ragu.
"Pula, akupun tidak menghendaki pertempuran yang tidak ada gunanya. Aku hanya mau bicara dengan tiga orang sahabat di dalam."
Setelah berkata demikian, Sin tung Lo kai lalu melangkah maju dan memasuki pintu pagoda itu.
Ia memberi tanda kepada dua cucunya dan dua orang cucunya itu, Kwan Sin Hong dan Kwan Li Hwa, berjalan dengan tenang dan tabah mengikuti kong kong mereka.
Gwat Kong Hosiang dan dua sutenya tahu dengan siapa mereda berhadapan.
Gwat Kong Hosiang mewakili sute sutenya dan menjura sambil menegur.
"Sin tung Lo kai Thio sicu yang terkenal gagah dan adil ada keperluan apakah memasuki pagoda? Apakah sicu juga mempunyai kehendak buruk yang serupa dengan orang orang itu?"
Suara Gwat Kong Hosiang terdengar kaku dan dingin. Sin tung Lo kai Thio Houw menggerak gerakkan tongkat merah di tangannya dan menarik napas panjang. Lalu katanya.
"Dibilang serupa, sama juga. Dikatakan sama. Sesungguhnya lain. Sam wi suhu harap maklum bahwa aku berani menebalkan muka hanya demi kepentingan kedua cucuku ini. Kuharap Sam wi suka menurunkan ilmu warisan Tat Mo Couwsu itu kepada dua orang cucuku ini. Adapun aku sendiri, tua bangka seperti aku ini, untuk apa bersusah susah belajar silat? Kalau sam wi suka menerima permintaanku, aku akan mempertaruhkan nyawa guna membantu sam wi mengusir orang orang yang datang mengganggu sam wi."
Gwat Kong Hosiang menggeleng gelengkan kepalanya.
"Thio sicu. Hal itu tidak mungkin. Menyesal sekali pinceng bertiga tak mungkin memenuhi permintaanmu. Banyak sekali orang menginginkan warisan Couwsu, kalau pinceng berikan kepada sicu, bukankah dunia akan menyebut pinceng bertiga orang orang yang tidak adil dan berat sebelah?"
"Habis, bagaimana keputusan sam wi losuhu?"
Tanya Sin tung Lo kai mengerutkan alisnya.
"Tidak ada jalan lain. Pinceng bertiga diwajibkan oleh mendiang suhu untuk menjaga pagoda ini serta sekalian isinya. Kalau ada orang datang hendak merampok sesuatu, terpaksa pinceng bertiga mempertaruhkan nyawa untuk mencegahnya."
"Maaf kalau begitu aku si tua bangka terpaksa akan mencoba kebodohan, kalau kalau ada nasib baik untuk cucu cucuku."
"Kami harap kalau dapat urungkan saja keherdakmu itu, sicu. Kami bertiga akan amat menyesal kalau sampai terjadi salah tangan terhadap sicu."
Thio Houw tertawa bergelak.
"Mati di tangan sam wi merupakan kehormatan besar. Tunggulah sebentar, aku akan datang lagi."
Setelah berkata demikian, Thio Houw menggandeng tangan Kwan San Hong dan Kwan Li Hwa, diajak keluar dari tempat itu. Baru saja tiba di ambang pintu terdengar suara Gwat Kong.
"Thio sicu, kau dan yang lain lain tunggulah saja di luar. Kami yang akan keluar melayani kalian, tak usah masuk merusak tempat suci ini."
Thio Houw berjalan keluar. Tiba tiba pintu itu tertutup dari dalam. Pat pi Lo cu, Koai Thian Cu.dan yang lain lain mendekati Sin tung Lo kai. Mereka mengajukan pertanyaan apa yang terjadi di dalam.
"Mereka hendak keluar menyambut kita. Agaknya mereka sudah nekad hendak bertempur memperebutkan patung itu. Kita tunggu saja di sini, mereka pasti akan keluar,"
Jawab Thio Houw, kecewa karena ia tidak berhasil membujuk tiga orang hwesio itu untuk menyerahkan warisan Tat Mo Couwsu kepada cucu cucunya.
Kalau merebut dengan kekerasan, benar benar bukan hal mudah.
Andaikata ia berhasil menangkan tiga hwesio itu dan merampas patung emas yang mengandung ilmu pelajaran tinggi, di situ masih ada Pat pi Lo cu, Koai Thian Cu, dan belum dihitung lagi kakek pengmis kudisan dan nenek bongkok yang lihai lihai itu!
Mereka ini sudah pasti takkan tinggal diam dan tentu akan berusaha merampas patung itu pula.
"Pat pi Locu dan kau Koai Thian Cu,"
Kata Thio Houw setelah berpikir masak masak.
"Gwat Kong Hosiang bertiga bukanlah lawan ringan kalau kita maju seorang demi seorang, aku berani bertaruh kita akan kalah semua karena mereka bertekad untuk maju berbareag melindungi patung itu. Di antara kita sudah tidak ada rahasia lagi. Kita masing masing ingin memiliki kitab di dalam patung itu, bukan? Nah, bagaimana kalau diatur begini? Kita bertiga maju berbareng menghadapi mereka bertiga. Dengan cara ini kita banyak harapan menang."
Pat pi Lo cu mengangguk angguk, menyatakan persetujuannya.
"Jembel tua, kalau kita maju bertiga sampai menang dan patung itu berada di tangan kita, habis siapa di antara kita bertiga yang berhak akan isi patung?"
Kata Koai Thian Cu, memandang penuh curiga dan mulutnya tertawa mengejek.
"Kalau sudah demikian mudah saja. Tinggal melihat saja nanti siapa di antara kita yang patut memilikinya!"
Jawab Sin tung Lo kai sambil tertawa juga.
"Bagus, bagus....! Aku setuju. Memang kau jembel tua bangka cerdik sekali, Lo kai!"
Kata Koai Thian Cu sambil tertawa bergelak.
Juga Pat pi Lo cu setuju dengan usul ini.
Tiba tiba terdengar suara keras dan berisik di dalam pagoda seakan akan pagoda itu hendak runtuh.
Dindingnya yang tebal tergetar dan suara hiruk pikuk di sebelah dalam menyatakan bahwa ada sesuatu yang runtuh di dalam.
Nampak debu mengebul ke luar dari lubang lubang angin di sekeliling pagoda itu.
Semua orang terkejut sekali.
"Eh, apa yang dilakukan oleh tiga orang hwesio itu?"
Kata Pat pi Lo cu sambil melompat maju.
Juga Koai Thian Cu dan Sin tung Lo kai melompat ke depan pintu dergan maksud hendak melihat apa yang terjadi di dalam.
Akan tetapi tiga orang kakek ini segera mundur kembali ketika pada saat ini pintu pagoda itu terbuka dari dalam dan keluarlah debu mengebul tebal diikuti pecahan dan bubukan dinding runtuh.
Diantara debu dan pecahan dinding ini berkelebat keluar tiga bayangan dan ternyata mereka ini adalah Gwat Kong Hosiang, Gwat Liong Hosiang dan Gwat San Hosiang.
Pakaian dan muka serta kepala mereka penuh debu, akan tetapi mereka tidak terluka.
Gwat Kong Hosiang membawa sebuah bungkusan yang tidak berapa besar, panjangnya kurang lebih dua kaki.
"Bangunan lama dan lapuk, runtuh dimakan tahun dan abad. Baiknya patung dapat pinceng selamatkan,"
Kata Gwat Kong Hosiang kepada tiga orang kakek di depannya sebagai penjelasan tentang suara hiruk pikuk tadi.
"Runtuh?"
Tanya Pat pi Lo cu.
"Apanya yang runtuh?"
Akan tetapi biarpnn bertanya demikian, ia sama sekali tidak perdulikan pagoda itu dan tatapan matanya selalu tertuju ke arah bungkusan kain kuning yang dipondong oleh Gwat Kong Hosiang.
"Anak tangga dari bawah ke atas runtuh semua! Baiknya patung sudah di bawah dan kami semua di bawah,"
Jawab Gwat Kong Hosiang kemudian disambungnya.
"Cu wi sekalian. Setelah pinceng bertiga mengetahui bahwa cu wi datang hendak merampas patung emas dan pinceng sudah siap sedia mempertahankan dengan nyawa, maka sekarang terserah kepada cu wi. Yang Mulia Buddha telah memberi tanda dengan runtuhnya anak tangga tentu karena marah kepada pinceng bertiga yang sudah kelepasan tangan membunuh orang. Sekarang sudah kepalang tanggung, betapapun juga kami bertiga hendak melakukan tugas dan kewajiban sampai saat terakhir dan hanya kalau kami sudah kalah dan roboh, baru patung ini dapat berpisah dari kami."
Kata kata ini dikeluarkan oleh Gwat Kong Hosiang dengan sikap gagah.
Diam diam Sin tung Lo kai Thio Houw kagum sekali melihat tiga orang hwesio Go bi pai itu.
Memang Thio Houw tidak ingin dalam urusan ini mengadu nyawa, ia memang ingin sekali mendapatkan kitab untuk cucu cucunya, akan tetapi seberapa bisa jangan sampai terjadi pertumpahan darah dalam usaha memenuhi keinginannya ini.
Ia maju dan menjura.
"Sam wi Losuhu, memang tak dapat disesalkan sikap samwi yang gagah ini. Akan tetapi, sebaliknya akan sayang sekali kalau ilmu yang tinggi disimpan begitu saja sampai hilang tidak karuan, apalagi kalau sampai terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Oleh karena itu baik diatur begini saja. Sam wi bertiga main main dengan kami bertiga, yaitu aku sendiri, Pat pi Lo cu, dan Koai Thian Cu. Apabila pihak sam wi kalah, patung harus diserahkan kepada kami bertiga. Sebaliknya kalau kami kalah, sudah tentu kami akan pergi dan menyatakan maaf sebesarnya Bagaimana?"
Gwat Kong Hosiang tersenyum pahit.
"Pinceng mengerti baik maksud ini dan agaknya orang orang berusaha keras untuk mendapatkan patung ini, tanpa dipikir sama sekali bahwa biarpun pinceng bertiga kalah, tetap saja patung menjadi rebutan dan mendatangkan malapetaka dan permusuhan! Memang Hud couw sudah memberi alamat tidak baik. Baiklah kalau begitu kehendak cuwi, kami sudah siap menanti!"
Sin tung Lo kai tidak percaya akan kejujuran Pat pi Lo cu maupun Koai Thian Cu, maka ia mendahului menerjang Gwat Kong Hosiang sambil berseru.
"Maafkan aku! Dengan perbuatannya ini, terpaksa Pat pi Lo cu dan Koai Thian Cu menghadapi Gwat Liong Hosiang dan Gwat San Hosiang yang tidak membawa patung. Namun dua orang kakek ini sudah mendengar akan kejujuran Sin tung Lo kai, maka tidak merasa khawatir kakek pengemis itu akan melarikan diri apabila dapat mengalahkan Gwat Kong Hosiang dan merampas patungnya. Apalagi disitu ada dua orang cucu Sin tung Lo kai yang merupakan tanggungan berharga sekali. Gwat Kong Hosiang menyambut serangan Sin tung Lo kai mempergunakan ujung lengan baju kanan, sedangkan tangan kiri memeluk patung erat erat. Pertempuran ini amat dahsyat dan ramai karena ternyata kemudian bahwa kepandaian dua orang kakek ini memang setingkat. Sayangnya bahwa Gwat Kong Hosiang memeluk patung sehingga sebelah tangannya tidak dapat dipergunakan dalam pertempuran, maka ia agak terdesak juga oleh tongkat merah yang amat lihai dari kakek pengemis itu.
"Sebaliknya, rombongan ke dua dan ke tiga dari pertempuran itu kurang ramai, ilmu kepandaian dari Pat pi Lo cu terlalu lihai bagi Gwat San Hosiang, sedangkan Koai Thian Cu sebentar saja juga sudah membuat Gwat Liong Hosiang bingung dengan serangan serangan tongkat dan hudtimnya. Tukang gwamia iin memang lihai ilmu silatnya, aneh dan banyak tipunya, ia tidak mempergunakan hoatsut karena maklum bahwa kepandaiannya masih setingkat lebih tinggi dari lawannya. Namun ia tidak menyangka bahwa dalam keadaan yang amat terdesak, tiba tiba Gwat Liong Hosiang mengeluarkan seruan keras sekali dan tiba tiba kedua tangannya melakukan serangan pukulan bertubi tubi dengan tenaga pukulan berbeda beda. Kadang kadang tangan kanan mengeluarkan pukulan dengan hawa keras dan panas sedangkan tangan kiri melakukan pukulan lembek dan dingin, kadang kadang juga sebaliknya, inilah puncak ilmu silat Im yang siang jiu yang hebat sekali. Kalau saja Koai Thian Cu bukan seorang ahli yang pengalamannya sudah banyak serta memang tingkatnya lebih tinggi, tentu ia akan terkena pukulan pukulan yang amat membingungkan dan sukar ditangkis ini. Sekali tongkatnya menangkis pukulan dengan hawa Yang, akan tetapi begitu pukulan itu bertemu dengan tongkatnya tiba tiba ujung lengan baju yang tadinya keras berubah lemas sekali, penuh dengan tenaga Im kang yang hebat. Ujung kain itu seakan akan hidup, membelit tongkatnya dan menyendalnya amat keras sehingga Koai Thian Cu tidak menahannya lagi dan tongkatnya terlepas. Kakek ini tidak mau mendapat malu, cepat hudtimnya menyambar seperti kilat. Gwat Liong Hosiang memekik dan roboh tergiling tak bernyawa lagi. Ujung hudtim itu dengan tepat sekali mengenai urat syaraf dan jalan darah terpenting di kepalanya sehingga ia tak dapat tertolong lagi. Melihat suhengnya tewas, Gwat San Hosiang menggigit bibir dan mendesak Pat pi Lo cu untuk membalas kekalahannya. Akan tetapi, berhadapan dengan Pat pi Lo cu, Gwat San Hosiang tak banyak berdaya. Biarpun ia sudah pula mengeluarkan gerakan seperti suhengnya tadi, yakni dengan pukulan Im kang dan Yang kang dicampur adukkan, namun Pat pi Lo cu tetap mendesaknya dengan sepasang kepalan yang ketika dimainkan seakan akan telah berubah menjadi delapan buah. Kedua kakinya bergerak cepat dengan ginkang sempurna sehingga ia seakan akan tidak menginjak tanah lagi. Benar benar tepat sekali julukan Pat pi Locu atau Lo cu Berlengan Delapan dari kakek ini, karena kalau menggerakkan ilmu silat dengan pengerahan tenaga dan kepandaian, ia benar benar seperti Lo cu yang cepat gerakannya karena Lo Cu naik roda api. Pertempuran antara Sin tung Lo kai dan Gwat Kong Hosiang masih berjalan seru. Dengan patung di dalam pelukan tangan kiri, gerakan Gwat Kong Hosiang kaku dan terhalang, namun sampai limapuluh jurus belum juga Sin tung Lo kai merobohkannya. Hal ini bukan saja karena tingkat kepandaian mereka memang seimbang, akan tetapi terutama sekali oleh karena Sia tung Lo kai Thio Houw tak pernah mau mengeluarkan serangan serangan mematikan. Kakek pengemis ini hanya bermaksud mengalahkan Gwat Kong Hosiang dan merampas patungnya, sama sekali ia tidak berniat membunuh. Akan terapi ketika Gwat Liang Hosiang roboh dan tewas oleh Koai Thian Cu, tiba tiba berkelebat dua bayangan orang yang datang datang menyerang Gwat Kong Hosiang. Gerakan dua orang ini hebat sekali dan dalam saat, Gwat Kong Hosiang terkena pukulan tangan dan totokan tongkat sehingga hwesio inipun roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi dan patung yang masih tetap di tangannya itu dirampas orang! Kejadian ini cepat sekali dan tidak terduga oleh Sin tung Lo kai Thio Houw. Ternyata olehnya bahwa yang menyerbu secara pengecut tadi adalah pengemis kudisan yang lihai tadi yang menyerang Gwat Kong Hosiang dengan pukulan yang dahsyat. Adapun orang kedua adalah nenek bongkok yang menyerang dengan tongkatnya. Gerakan nenek ini cepat bukan main sehingga ia yang lebih dahulu mendapat merampas patung dan dibawa lari! "Soat Li Suthai, serahkan patung itu kepadaku!"
Teriak pengemis kudisan itu sambil mengejar.
"Bu eng Lo kai, aku yang merampasnya!"
Nenek itu membantah sambil berlari terus.
Dua orang nona yang tadi bersama dia adalah murid muridnya.
Melihat gurunya sudah berhasil merampas patung, merekapun diam diam melarikan diri ke lain jurusan.
Adapun pengemis kudisan yang bernama Bu eng Lo kai, sama sekali tidak memperdulikan murid murid nenek tadi melainkan mengejar terus dengan gerakan kaki yang cepat sekali.
Sementara itu, Sin tung Lo kai Thio Houw menjadi bingung.
Tak disangkanya bahwa dua orang tadi adalah Bu eng Lo kai dan Soat Li Suthai, dua orang kang ouw yang aneh dan selalu menyembunyikan diri di daerah selatan, namun nama mereka dikenal oleh tokoh tokoh besar sebagai ahli silat kenamaan.
Pantas saja gerakan meeka tadi lihai sekali, pikir Thio Houw sambil menarik napas panjang.
Hampir pada saat yang sama, Pat pi Lo cu juga sudah merobohkan lawannya, Gwat San Hosiang roboh dan tewas seperti dua orang suhengnya.
Benar benar mereka telah memenuhi tugas kewajiban mereka sampai titik darah terakhir.
Setelah merobohkan Gwat San Hosiang, Pat pi Lo cu segera lari mengejar pula di belakang Koai Thian Cu yang sudah lebih dulu mengejar sambil berteriak teriak.
See thian Siang cu, dua murid kembar dari Pat pi Lo cu tak dapat berbuat lain kecuali mengikuti suhu mereka, sedapat mungkin berlari cepat untuk menyusul suhu mereka.
Juga tokoh tokoh lain yang tadi merasa ragu ragu dan jerih untuk maju dan berusaha merampas patung setelah sekarang melihat patung sudah terampas orang lain beramai ramai lari mengejar Soat Li Suthai.
Melihat ini, Sin tung Lo kai Thio Houw tertawa bergelak.
Orang orang itu benar benar menjemukan, pikirnya.
Melihat cara mereka berlari cepat mengejar sudah terang mereka itu bukanlah lawan tokoh tokoh besar yang sudah lari lebih dulu.
Lagak mereka ini seperti anjing anjing kelaparan berebut tulang.
Sin tung Lo kai merasa menyesal sekali bahwa perebutan patung itu sampai berakibat tewasnya tiga orang hwesio penjaga pagoda.
Sesungguhnya hal ini tak ia kehendaki.
Ia memandang kepada jenazah tiga orang hwesio yang menggeletak di atas tanah sambil menggeleng gelengkan kepala.
"Sian Hong dan kau, Li Hwa, Lihatlah, mereka ini adalah orang orang gagah yang patut dipuji. Mereka ini di tugaskan menjaga pagoda merawat patung emas dan mereka melakukan tugas mereka baik baik, menjaga dengan sungguh sungguh dan rela mengorbankan nyawa demi kesempurnaan tugas. Alangkah suci dan mulia manusia yang dapat setia akan tugasnya seperti mereka ini. Patut kalian jadikan contoh kesetiaan dan kegagahan mereka ini."
Sambil memberi nasehat kepada dua orang cucunya, Sin tung Lo kai lalu mengurus jenazah tiga orang hwesio itu, dibantu oleh Sian Hong yang sudah dewasa.
Pemuda ini pendiam seperti ayahnya, juga ia sudah merasa cukup dengan kepandaian silat yang ia pelajari dari ibu dan kong kongnya, maka tidak berhasilnya kakeknya merampas patung tak membuat kecewa.
Tidak demikian dengan Li Hwa.
Gadis cilik ini sudah sejak mendengar tentang pelajaran yang terkandung dalam patung emas sebagai pelajaran ilmu silat yang tinggi dan peningaalan dari dewi Tat Mo Couwsu, selalu merengek kepada kong kongnya.
Gadis cilik ini selain tidak puas, ingin memiliki kepandaian melebihi semua orang.
"Mengapa kong kong membiarkan patung itu dirampas nenek jahat tadi? Sekarang habislah harapanku untuk belajar ilmu silat warisankz Tat Mo Couwsu!"
Kata Li Hwa dengan bibir cemberut. Thio Houw tertawa.
"Li Hwa, enak saja kau bicara! Mereka itu semua adalah orang orang lihai, kepandaian mereka melebihi kepandaianku, bagaimana aku dapat merampas patung itu dengan mudah saja?"
Li Hwa membanting banting kakinya yang kecil.
"Di dunia banyak sekali orang lihai, apalagi sekarang isi patung telah mereka bawa pergi. Bagaimanakah kelak aku akan dapat mengangkat tinggi nama keluarga kita!"
"Li Hwa, mengangkat tinggi nama keluarga bukan dengan kepandaian silat tinggi, melainkan dengan perbuatan yang mulia dan bijaksana. Tentang kepandaian, selain kau adalah calon keluarga keturunan Thian te Kiam ong, apa susahnya? Kau akan berada di dalam keluarga orang orang gagah perkasa dan kiranya mudah kalau kelak kau akan memperdalam ilmu silatmu."
Wajah Li Hwa menjadi merah.
"Kong kong, siapa sudi mengandalkan orang lain? Justeru karena akan tinggal di antara orang orang berkepandaian tinggi, aku tidak suka kalau dipandang sebagai orang yang paling bodoh dan lemah. Sudahlah, dibicarakan juga tidak ada artinya. Kong kong dan Hong ko mengurus jenazah dan aku akan berjalan jalan di sekitar pagoda yang indah ini."
Sambil berkata demikian, gadis cilik yang pandai bicara ini meninggalkan kong kongnya dan kakaknya yang melanjutkan pekerjaan mereka mengubur tiga jenazah para hwesio itu.
Sin tung Lo kai Thio Houw menggeleng gelengkan kepala sambil melihat ke arah cucu perempuannya yang berjalan pergi sampai cucunya itu lenyap di tikungan pagoda.
Sambil tersenyum senynm ia lalu melanjutkan pekerjaannya menggali tanah.
Semua peristiwa yang terjadi di halaman pagoda itu tentu saja kelihatan jelas oleh Beng Han yang menjadi penonton tersembunyi di atap menara.
Ia mengintai dari lubang angin dan melihat nyata bagaimana dalam pertempuran dahsyat itu tiga orang hwesio penjaga pagoda telah tewas dan bagaimana patung emas telah dirampas dan dibawa lari oleh seorarg nenek yang lihai, dikejar oleh yang lain lain.
Juga dilihatnya dengan hati kecewa bagaimana kong kongnya, Koai Thian Cu, selain telah menewaskan Gwat Liong Hosiang, juga ikut pula mengejar.
Beng Han melihat pula betapa Sin tung Lo kai Thio Houw dan dua orang cucunya yang pernah ia lihat di Tit le, mengubur jenazah Gwat Kong Hosiang dan dua orang sutenya.
Juga ia mendengar percakapan antara Thio Houw dan Li Hwa tadi yang dilakukan dengan suara lantang.
Diam diam ia makin kagum dan suka kepada Li Hwa yang dianggapnya bersemangat besar untuk menjadi seorang pandai dan gagah perkasa.
Dan terbayang pula sikap yang amat mengasih dan baik dari gadis cilik itu terhadap dirinya ketika di Tit le.
Beng Han berlari ke dalam mengambil sebuah bungkusan kuning ketika melihat Li Hwa berjalan mangitari pagoda.
Ia menanti sampai gadis cilik itu tiba di bagian lain dan pagoda itu sehingga tidak kelihatan oleh Sin tung Lo kai, kemudian Beng Han membuka sebuah jendela angin dan mengeluarkan tubuhnya sampai sebatas pinggang.
"Haaaiii...!"
Serunya ke bawah.
"Suara yang datangnya dari atas sudah mencapai telinga orang yang berada di bawah Li Hwa menengok ke atas dan setelah mengenal Beng Han, ia malambaikan tangan Beng Han melemparkan bungkusan kuning itu ke bawah bungkusan itu jatuh beberapa tombak jauhnya dari tempat Li Hwa berdiri. Dengan heran sekali Li Hwa mengambil bungkusan kain kuning itu, memandang ke atas beberapa kali sambi membuka bungkusannya. Ternyata isinya sebuah pedang pendek yang bagus sekali dan sebuah kitab kuno. Hati Li Hwa berdebar. Cepat ia membuka lembaran kitab itu dan mendapatkan tulisan disampulnya, IM YANG CIN KENG dan di bawahnya ditulis bahwa kitab itu adalah ciptaan Tat Mo Couwsu dan diperuntukkan mereka yang berjodoh! Adapun pedang itu pada gagangnya terdapat ukiran huruf GIOK POKIAM (Pedang Pusaka Kemala). Li Hwa menjadi girang, heran, kaget dan tidak tahu maksud pemuda cilik di atas itu. Ketika ia memandang ke atas, Beng Han berkata, suaranya terdengar lambat perlahan akan tetapi jelas.
"Kuberikan padamu! Jangan bilang aku di sini!"
Setelah berkata demikian.
pemuda cilik itu menarik diri dan lenyap dari depan lubang angin di puncak menara itu.
Sin tung Lo kai Thio Houw adalah seorang berkepandaian tinggi.
Biarpun ia berada di sebelah depan pagoda dan Beng Han bicara dari atas belakang pagoda, kakek ini dapat mendengar suaranya.
Akan tetapi ia tidak mendengar jelas kata katanya, bahkan tidak tahu pula suara siapakah itu.
Ia merasa khawatir akan keselamatan Li Hwa maka cepat ia meninggakan Sian Hong yang masih bekerja menguruk kuburan tiga jenazah itu.
"Teruskan sendiri, aku mendengar suara di belakang pagoda,"
Katanya sambil melompat cepat.
Ketika ia tiba di sebelah belakang pagoda, ia melihat Li Hwa berdiri termangu mangu, tangan kanan memegang sebatang pedang dan tangan kiri sebuah kitab.
Tadinya gadis cilik ini memandang ke atas pagoda, kemudian setelah melihat kakeknya datang, ia memandang kakeknya dengan wajah berseri.
"Kong kong, lihat! Aku mendapatkan ini!"
Serunya girang.
Sin tung Lo kai memandang ke arah dua benda yang berada di tangan cucunya.
Melihat pedang itu ia tidak tertarik karena memang tidak mengenalnya.
Akan tetapi ketika ia membaca tulisan pada sampul kuno itu, ia terkejut sekali dan berseru keras saking girangnya.
"Inilah dia..!"
Kemudian ia memandang ke kanan kiri dan suaranya menjadi perlahan.
"Inilah kitab yang tadinya berada di dalam patung emas, peninggalan Tat Mo Couwsu yang diperebutkan sampai mengorbankan jiwa beberapa orang gagah tadi, Li Hwa dari mana kauperoleh ini?"
Li Hwa menggerakkan kepala memandang ke atas menara.
Sin tung Lo kai juga memandang ke atas akan tetapi tidak melihat sesuatu yang menarik.
Melihat pandang mata kong kongnya penuh selidik ke atas, Li Hwa menjad berdebar.
Hampir saja ia membuka rahasia Beng Han dan melanggar janjinya.
Dengan suara tenang ia lalu berkata.
"Aku mendapatkan dua benda ini di atas sini, kong kong."
Ditudingnya tanah di bawah kakinya.
"Kau tadi melihat apa di atas? Mengapa kau memandang ke atas menara?"
Tanya Sin tung Lo kai, masih terus melihat ke puncak pagoda penuh kecurigaan.
"Aku tadi terheran mengapa dua benda yang luar biasa ini berada di sini seakan akan terjatuh dari atas,"
Jawab Li Hwa dan ia menjadi terkejut dan menyesal mendengar jawabannya sendiri yang dianggap bodoh.
Jawaban ini mengingatkan Sin tung Lo kai akan suara hiruk pikuk sebelum terjadi pertempuran di depan pagoda tadi.
"Aku hendak menengok ke sana kau tunggu di sini!"
Katanya sambl berlari memutar pagoda.
Li Hwa menjadi kaget dan cemas akan tetapi ia tak dapat berbuat apa apa kecuali lari menyusul kong kongnya.
Sementara itu, Kwan Sian Hong sudah selesai dengan penguburan jenazah tiga orang hwesio dan pemuda ini melihat adiknya berlari lari dengan muka pucat, cepat ia menghampiri dan bertanya.
"Moi moi, kau kenapakah? Kenapa kau berlari lari dengan muka pucat dan napas memburu?"
"Kong kong hendak naik ke atas menara,"
Jawab Li Hwa.
"Aku takut kalau kalau terjadi sesuatu dengan kong kong. Tempat ini amat menyeramkan."
Sian Hong mencari kong kongnya dengan pandang matanya, ia melihat kakek itu sedang mendobrak daun pintu pagoda yang tadi tertutup sendiri.
Daun pintu itu sukar sekali dibuka.
Sin tung Lo kai mengeluarkan tenaganya dan "braaakkk...."
Daun pintu itu didorongnya dengan paksa sampai pecah.
Akan tetapi ia cepat melompat mundur lagi karena dari belakang pintu itu keluar debu dan hancuran dinding.
Setelah debu agak berkurang, Sin tung Lo kai melongok ke dalam dan melihat bahwa ruangan bawah pagoda itu penuh dengan hancuran dinding dan anak tangga.
Kakek itu merasa ngeri.
Anak tangga yang amat tinggi itu ternyata telah roboh ke bawah dan hancur, berikut sebagian dari loteng di atas, entah berapa tingkat yang hancur dan menimpa ke bawah itu.
Tidak ada jalan lagi untuk orang naik ke puncak pagoda, juga tidak mungkin turun kalau orang sudah berada di atas menara.
"Mari kita cepat pergi dari sini,"
Kata kakek itu kepada Li Hwa dan Sian Hong yang sudah memburu ke situ "Agaknya sudah menjadi kehendak Thian bahwa kitab peninggalan Tat Mo Cauwsu harus jatuh kepada Li Hwa.
Ini namanya jodoh.
Tokok tokoh besar memperebutkannya, tahu tahu kitab itu secara aneh terjatuh ke dalam tangan Li Hwa.
Bukankah ini jodoh namanya?
Kita harus menjaganya baik baik dan pergi dari sini sebelum mereka mengetahui akan hal ini dan datang ke sini mendatangkan kesukaran bagi kita."
Dengan tergesa gesa namun gembira sekali Sin tung Lo kai Thio Houw mengajak dua orang cucunya pergi cepat cepat meninggalkan Kim hud tah, pagoda yang mendatangkan keributan karena patung emasnya itu.
Bagaimana kitab peninggalan Tat Mo Couwsu dan pedang Giok po kiam bisa berada di tangan Beng Han dan mengapa pula bocah ini memberikan pedang dan kitab kepada Li Hwa?
Pembaca tentu masih ingat bahwa patung emas yang dijadikan rebutan itu tadinya berada di tangan Gwat Kong Hosiang yang menjaga di tingkat teratas.
Setelah Gwat Kong Hosiang dan Gwat Liong Hosiang turun membantu sute mereka Gwat San Hosiang menghadapi para penyerbu, dan melihat kedatangan Sin tung Lo kai Thio Houw, Gwat Kong Hosiang lalu mendapat firasat tidak enak.
Para penyerbu ternyata banyak dan terdiri dari orang orang pandai.
Apalagi ia melihat adanya Koai Thian Cu dan Pat pi Lo cu.
Gwat Kong Hosiang sudah dapat menaksir bahwa dia dan dua orang sutenya tentu akhirnya akan kalah juga.
Oleh karena itu ia minta Sin tung Lo kai keluar lebih dulu, lalu cepat ia membuka patung emas dengan jalan memutar mutar beberapa kali dengan pengerahan tenaga pada kedua kaki patung.
Tiba tiba terdengar suara dan terbukalah lubang pada punggung patung.
Diambilnya kitab dan pedang dari dalam patung, lalu ditutupnya kembali dengan cara seperti tadi.
Kemudian Gwat Kong Hosiang berlari lari naik ke atas pagoda di bagian paling tinggi, yakni di menara di mana Beng Han berada.
Ia menyerahkan kitab dan pedang itu kepada Beng Han dan karena tidak banyak waktu lagi, secara singkat ia berkata.
"Beng Han, kau kuserahi kitab dan pedang ini dan mulai detik ini kaulah yang menjadi penjaganya, terserah kepadamu apa yang akan kau lakukan terhadap dua benda peninggalan Tat Mo Couwsu ini. Kau sudah dipercaya oleh mendiang Thian te Kiam ong, kiranya patut pula kami percaya."
Beng Han menerima benda itu dan tidak dapat menjawab apa apa karena hatinya diliputi ketegangan. Ketika hendak pergi, Gwat Kong Hosiang menoleh lagi di ambang pintu dan berkata.
"Ingat, kau takkan bisa turun lagi sebelum menamatkan pelajaran dan memiliki kepandaian tinggi. Kami menghadapi musuh musuh tangguh akan tetapi sebelum kami roboh, kami akan menjaga agar tak seorangpun dapat naik dan mengganggumu di tempat ini."
Setelah berkata demikian Gwat Kong Hosiang keluar dari puncak menara itu.
Tak lama kemudian Beng Han mendengar suara hiruk pikuk yang juga terdengar sampai di luar pagoda.
Ternyata bahwa tiga orang hwesio kosen itu dengan kepandaian mereka telah memukul dan menghancurkan anak tangga yang menghubungkan tingkat terbawah sampai ke tingkat teratas!
Jalan keluar atau jalan turun bagi Beng Han sudah dimusnahkan!
Adapun Beng Han ketika menerima kitab itu dengan amat ingin tahu ia membuka buka lembarannya dan melihat tulisan di halaman kitab itu .
IM YANG CIN KENG.
Ia membuka terus dan mendapat kenyataan bahwa kitab itu mengandung pelajaran ilmu silat tinggi.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tanpa disengaja ia membuka lembaran di mana ada tulisan peringatan seperti berikut .
Murid yang mempelajari Im Yang Cin Keng harus bersumpah takkan mempelajari ilmu silat lain !
Melihat tulisan ini, Beng Han terkejut dan timbul perasaan tidak suka akan kitab itu.
Juga pedang pusaka Giok po kiam itu biarpun amat indah, baginya tidak seindah Kim kong kiam yang lebih panjang dan sinarnya kekuningan.
Pedang Giok po kiam gagangnya terhias batu kemala, bentuknya dan gagangnya serba indah dan mewah sekali, lebih pantas kalau dijadikan pedang penghias dinding.
Lebih patut dipakai oleh seorang wanita cantik pesolek!
Inilah sebabnya mengapa tanpa ragu ragu lagi Beng Han melemparkan pedang dan kitab itu kepada Li Hwa.
Memang ia amat berterima kasih kepada gadis cilik ini akan sikapnya yang manis dahulu di Tit le, dan kiranya di dunia hanya gadis cilik ini yang pantai memiliki Giak po kiam daripadanya!
Beng Han masih terlali kecil untuk mengetahui siapa adanya Tat Mo Couwsu pencipta Im yang cin keng, maka ia memandang rendah isi kitab itu yang dianggapnya tak mungkin dapat menyamai kitab peninggalan Thian te Kiam ong.
Sungguh ia tidak tahu bahwa kitab peninggalan Thian te Kiam ong yang berosikan ilmu silat ilmu silat Kim kong kiam sut, Thai tek Kim kong jiu, Soan hong Pek lek jiu, Tee coan Liok kiam sut, dan Ngo heng Sin kiam hoat itu keseluruhannya adalah anak cabang cabang yang bersumber kepada sari pelajaran yang diturunkan oleh Tat Mo Couwsu juga!
Jadi Im yang cin keng dan ilmu silat ilmu silat yang diturunkan oleh Thian te Kiam ong adalah secabang atau sesumber.
Setelah keadaan di bawah pagoda tenang kembali, Beng Han mulai mengatur keadaannya.
Pertama tama ia membuka pintu dan hendak turun.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa anak tangga sudah hancur mulai dari tingkat sembilan ke bawah!
Dengan hati hati sekali ia menuruni sisa anak tangga dan hatinya agak lesa ketika ia melihat belasan buah gentong besar yang berisi air bersih!
Kiranya tiga orang hwesio itu telah mempersiapkan segalanya dan telah mengisi belasan gentong ini dengan air sumber kecil di dasar pagoda yang kini sudah terhuruk oleh puing anak tangga dan dinding!
Akan tetapi Beng Han maklum bahwa belasan gentong air ini takkan mencukupi untuk diminum bertahun tahun, maka ia selalu berlaku hemat sekali, kadang kadang menahan haus dan minum air embun dan kalau datang hujan, tak lupa ia memenuhi gentong gentongnya.
Setiap hari, seperti yang dipesan oleh Gwat Kong Hosiang, ia makan telur burung dan sarang burung.
Pada bulan bulan pertama, ia merasa tubuhnya lemas dan sakit sakit.
Akan tetapi lambat laun ia merasa biasa, bahkan tubuhnya terasa panas hangat dan kuat!
Beng Han benar benar menjadi seorang pertapa luar biasa yang setiap harinya hanya makan telur dan sarang burung yang tinggal beribu ribu di atap pagoda itu.
Kita tinggalkan dulu Beng Han yang dengan amat rajin dan prihatin mempelajari ilmu silat dari kitab peninggalan Thian te Kiam ong, terutama sekali metatih Kim kong Kiam sut yang amat sukar dipelajari itu.
Mari kita ikuti pengalaman Song Bi Hui, dara jelita yang bernasib malang itu.
Telah dituturkan di bagian depan betapa hancur dan sedihnya hati Bi Hui atas kematian ayah bundanya secara demikian.
Setengah dipaksa paksa akhirnya ia ikut juga dengan bibinya Song Siauw Yang, pergi dan untuk sementara tinggal di Liok can.
Hati Siauw Yang pada dasarnya memang berbudi.
Semenjak peristiwa menyedihkan yang menimpa keluarga kakaknya itu, lenyap sama sekali rasa marah yang dahulu.
Ia merasa kasihan sekali kepada Bi Hui dan diam diam ia berunding dengan suaminya.
"Kasihan sekali Bi Hui.... alangkah baiknya kalau dia bisa menjadi isteri Kong Hwat. Aku tahu sejak dahulu bahwa mereka itu saling suka dan akan menjadi suami isteri yang beruntung. Kalau dia menjadi mantu kita, dia akan hidup di antara keluarga sendiri."
Liem Pun Hui menarik napas panjang mendengar kata kata isterinya ini.
"Memang baik sekali maksud hatimu ini, akan tetapi.... bagaimana bisa dilaksanakan? Kau tentu masih ingat akan pesan mendiang gak hu (ayah mertua)...."
"Bahwa kita harus menjodohkan Kong Hwat dengan cucu perempuan Sin tung Lo kai?"
Sambung Song Siauw Yang tak sabar.
"Memang ayah dahulu berkata demikan, akan tetapi dahulu ayah tidak tahu akan keadaan sebenarnya. Kalau dipikir pikir perjodohan antara Kong Hwat dan cucu Sin tung Lo kai sama sekali tidak tepat, bahkan melanggar tata susila. Coba saja kau pikir. Kau adalah anak angkat dari Sin tung Lo kai Thio Houw, tentu sedikti banyak kau tahu akan wataknya. Ketika kita bertemu dengan dia di rumah Bi Hui, bukankah dia juga mengatakan bahwa cucunya itu masih kecil sekali? Dengan pernyataannya yang terus terang itu bukankah sudah terbayang pernyatannya bahwa ia tidak setuju? Pula, perjodohan belum terikat, kita belum pernah mengajukan pinangan, maka kiraku takkan ada halangannya kalau kita menjodohkan anak kita dengan gadis lain."
Melihat sikap isterinya yang tegas ini, Pun Hui tersenyum, ia paling suka melihat semangat isterinya yang senantiasa berkobar dan berapi ini.
"Isteriku, kau memikirkan yang satu lupa akan yang ke dua. Memang kiranya tidak berhalangan kalau kita menjodohkan Kong Hwat dengan gadis lain, akan tetapi dengan Bi Hui? Kau harus ingat bahwa Bi Hui juga sudah dicalonkan menjadi mantu Kwan Lee, dijodohkan dengan puteranya! Dan agaknya mereka itu sudah setuju sekali mengambil Bi Hui menjadi mantu. Menurut pandanganku, putera Kwan Lee dan Leng Li yang bernama Kwan Sian Hong itu memang cukup gagah dan patut menjadi suami Bi Hui. Perjodohan antara Kong Hwat dan Li Hwa yang masih kecil itu boleh kita batalkan, akan tetapi mana mungkin membatalkan perjodohan antara Bi Hui dan Sian Hong?"
Mendengar kata kata suaminya, Siauw Yang bungkam, tak dapat bicara lagi.
Ia harus mengakui akan ketepatan pendapat suaminya ini dan memang menggagalkan perjodohan itu akan mendatangkan bibit kebencian dan dendam.
"Ah, kalau saja Kong Hwat berada di sini...."
Akhirnya Siauw Yang berkata menarik napas panjang.
"Kalau dia berada di sini dapat kita ajak berunding Aku ingin sekali tahu di mana dia berada dan bagaimana perasaan hatinya terhadap Bi Hui sekarang...."
Harapan ibu ini ternyata terpenuhi kurang lebih sebulan kemudian.
Tanpa disangka sangka Liem Kong Hwat datang bersama seorang gadis cantik yang sikapnya aneh sekali!
Tentu saja kedatangan Kong Hwat ini mendatangkan kegirangan luar biasa.
Begitu bertemu Siauw Yang memeluk puteranya dan menangis terisak isak.
Kong Hwat memandang kepada ibunya dengan heran.
"Ibu, mengapa menangis? Apakah kedatanganku menyusahkan hatimu?"
"Kong Hwat... kau tidak tahu.... pamanmu dan bibimu... terbunuh orang...."
Siauw Yang menerangkannya sambil terisak isak.
Mendengar ini, Bi Hui yang hadir pula di situ tak dapat menahan tangisnya.
Siauw Yang melepaskan pelukannya dari pundak Kong Hwat dan menubruk Bi Hui, memeluk dan mencoba menghiburnya.
Dapat di bayangkan betapa tertusuk rasa hati Kong Hwat melihat ini dan diam diam ia mengerling ke arah gadis cantik yang datang bersamanya tadi.
Cia Kui Lian, gadis cantik itu hanya berdiri seperti patung, sama sekali wajahnya yang cantik tak berubah menghadapi semua itu, hanya sinar matanya saja membayangkan ejekan dan seakan akan ia merasa geli di dalam hatinya.
Kong Hwat bukan seorang pemain sandiwara yang baik.
Ia tidak dapat memperlihatkan kekagetan pura pura, maka untuk menekan debar hatinya, ia menghadapi ayahnya dan bertanya kepada ayahnya apakah sesungguhnya yang terjadi.
Liem Pun Hui menuturkan semua peristiwa yang ia lihat di Tit le, juga tentang Beng Han yang tersangka kemudian dilepas oleh Sin tung Lo kai.
Kong Hwat membanting banting kakinya.
"Sin tung lo enghiong salah! Mengapa tidak menahan bocah setan itu dan menyiksanya sampai ia mengaku?"
Katanya penasaran. Kemudian ia berkata kepada Bi Hui.
"Hui moi, jangan kau penasaran. Akulah yang akan mencari setan cilik itu dan menyeretnya di depanmu!"
Melihat Bi Hui yang jelita, cinta kasih lama timbul kembali, membuat suara Kong Hwat ketika nenyebut namanya terdengar penuh kasih mesra.
Hal ini tentu saja tidak terlewat begitu saja oleh pendengaran Kui Lian yang amat tajam.
Diam diam wanita ini melirik dan menyapu wajah ke dua orang muda itu.
Lalu tanpa terlihat orang lain, bibirnya yang manis tersenyum aneh.
Setelah gelombang keharuan mereda, baru Siauw Yang melihat dan memperhatikan Kui Lian.
Wanita muda itupun menatap pandang matanya.
Dari sinar mata Kui Lian memancar kekuatan tersembunyi yang amat berpengaruh dan tak lama kemudian sudah timbul rasa suka dalam hati Siauw Yang terhadap dara aneh itu!
Tidak percuma Kui Lian dahulu bertapa, lupa makan lupa tidur untuk memperoleh kekuatan dalam melatih diri dengan ilmu pemikat hati ini.
"Kong Hwat, nona ini siapakah?"
Akhirnya Siauw Yang bertanya tanpa mengalihkan pandang mata dari wajah yang tersenyum senyum manis dan ramah itu.
Cia Kui Lian cepat menjura dengan hormat kepada Siauw Yang dan Pun Hui sambil mendengarkan kata kata perkenan yang diucapkan oleh kekasihnya.
"Ibu, ayah, dia ini adalah nona Cia Kui Lian seorang pendekar wantia yang berilmu tinggi. Kami bertemu di tengah jalan dan menjadi sahabat."
"Ji wi yang mulia. Telah lama sekali aku yang bodoh mendengar nama besar Thian te Kiam ong, maka alangkah bahagia hatiku ketika aku bertemu dengan Liem Kong Hwat taihiap yang menjadi cucu Thian te Kiam ong. Oleh karena itu, tanpa ragu ragu lagi aku mengikat persaudaraan dengan Liem taihiap dan aku ingin sekali menghadap ji wi untuk minta petunjuk dalam ilmu silat."
Mendengar kata kata ini Siauw Yang dan suaminya merasa makin suka kepada Kui Lian.
Hanya Bi Hui yang diam diam memandang penuh kecurigaan, ia merasa seakan akan ada sesuatu yang mengerikan dan menyeramkan memancar keluar dari diri wanita muda ini.
Senyum dan keramahan yang terlihat pada muka manis itu seperti dipaksakan dan merupakan kedok balaka.
Mungkin sekali perasaannya ini adalah rasa cemburu melihat Kong Hwat datang bersama Kui Lian.
Ketika Siauw Yang mendengar bahwa Kui Lian adalah seorang gadis perantau yatim piatu yang tidak tentu tempat tinggalnya, ia menjadi kasihan dan berkata.
"Nona, karena kau sudah menjadi saudara angkat dari anak kami, mengingat bahwa kau tidak mempunyai keluarga lagi, kami harap kau suka tinggal di sini sampai kau merasa bosan. Anggaplah kami sebagai wakil orang tuamu dan rumah ini sebagai rumahmu sendiri."
Kui Lian menjatuhkan diri berlutut dan dengan suara terharu menghaturkan terima kasih. Siauw Yang mengangkat bangun gadis itu dan berkata ramah.
"Nona, di antara orang sendiri mengapa memakai banyak peraturan sungkan? Jangankan kau telah menjadi saudara angkat anak kami, biarpun tidak demikian, mengingat sesama orang kang ow, kita harus bantu membantu dan saling menyayang. Bolehkah kami mengetahui siapa sebenarnya gurumu yang mulia?"
"Aku yang bodoh pernah belajar beberapa tahun di bawah pimpinan guru Koai Thian Cu."
Mendengar orang sakti ini, Siauw Yang dan Pun Hui saling pandang.
Nama besar Koai Thian Cu adalah nama yang tidak begitu bersih di dalam pandangan orang orang kang ouw karena Koai Thian Cu selain terkenal sebagai tukang gwamia, juga terkenal sebagai ahli sihir dan ilmu hitam.
Akan tetapi, yang paling kaget adalah Bi Hui.
Tak terasa lagi ia bangkit berdiri dan berkata.
"Setan kecil Thio Beng Han dibawa ke rumah keluarga kami oleh Koai Thian Cu siluman tua!"
Mendengar ini, tiba tiba Kui Lian menjadi pucat sekali mukanya.
"Thio.... Beng Han....? siapa dia....?"
Tanyanya dengan bibir terasa kering.
"Dia adalah anak yang tersangka membunuh orang tua Bi Hui."
Siauw Yang menerangkan.
"Memang dahulu anak itu dibawa oleh Koai Thian Cu kepada mendiang ayah untuk dijadikan murid. Anak itu diterima oleh ayah dan menjadi murid hanya beberapa bulan sampai tiba saatnya ayah meninggal. Beng Han lalu ikut dengan ayah bunda Bi Hu serumah. Kemudian terjadi pembunuhan ngeri itu dan Beng Han didakwa akan tetapi ini hanya dakwaan yang belum ada buktinya dan sama sekali tak masuk di akal, bahkan amat meragukan."
Tiba tiba Kui Lian nampak beringas.
"Kalau benar dia dbawa datang oleh suhu, berarti dia itu masih ada hubungan dengan suhu. Kalau memang betul dia yang bersalah, bukan orang lain, melainkan aku sendiri yang akan menghukumnya. Aku bersumpah demi darahku sendiri!"
Sambil berkata demikian, Kui Lian mencabut pedangnya dan di lain saat, semua mata yang memandang melihat wanita muda ini menggoreskan pedang pada lengan tangan yang putih kulit nya sehingga kulit itu pecah dan darah membanjr keluar!
"Eh, nona Cia....
tak perlu kau bersumpah demikian...!"
Siauw Yang mencegah.
Akan tetapi di lain saat ia dan orang orang lain tertegun melihat betapa dengan mengusap luka di tangan beberapa kali saja dengan pinggiran pedang, luka itu telah tertutup kembali dan setelah darah dibersihkan, lengan itu pulih seperti tak pernah tergores pedang!
"Nona, kau lihai sekali.
Pantas menjadi murid Koai Thian Cu!"
Kata Pun Hui sambil tertawa dan memandang kagum. Ia dapat menduga bahwa nona cantik ini tadi hanya "main sulap"
Saja.
"Sesungguhnya, ketika aku berguru kepada suhu Koai Thian Cu, aku tidak pernah melihat adanya anak bernama Beng Han itu. Mungkin sekali suhu memungutnya dari jalan dan karena merasa enggan mengurus sendiri lalu memberikannya kepada mendiang Thian te Kiam ong. Akan tetapi dengan terjadinya peristiwa pembunuhan, berarti suhu ikut bertanggung jawab dan tanggung jawab suhu berarti tanggung jawabku pula. Aku yang akan mencari dan menyeret bocah setan itu ke sini."
Kata Kui Lian penuh semangat.
"Aku akan mencarinya sendiri"
Kata Bi Hui.
"Tidak, aku tadi sudah berjanji akan mencarinya dan menyeretnya ke sini,"
Kata Kong Hwat tak mau kalah. Siauw Yang tertawa.
"Sudahlah, kita bicarakan hal ini kelak saja, tak perlu berebut. Laginya, belum tentu bocah itu yang berdosa."
Kong Hwat dan Kui Lian disuruh mengaso.
Kui Lian memilih tidur bersama Bi Hui yang lambat laun lalu mulai hilang kecurigaannya, karena Kui Lian pandai sekali membawa diri, kelihatan alim dan sama sekali tidak kelihatan dia mempunyai hubungan sesuatu dengan Kong Hwat kecuali hubungan persaudaraan yang bersih.
Lambat akan tetapi pasti, sedikit demi sedikit Bi Hui mulai terpengaruh oleh daya pemikat Kui Lian yang amat kuat.
Sama sekali Bi Hui tidak tahu bahwa kalau ia ingin mencari pembunuh ayah bundanya, maka orang yang tiap malam tidur di sampingnya di bawah satu selimut itulah orangnya!
Beberapa pekan kemudian, menjelang tengah malam Kui Lian bangkit dan tempat tidurnya.
Di dekatnya Bi Hui tidur nyenyak sekali.
Sampai beberapa lama Kui Lian duduk memandang wajah Bi Hui, penuh kebencian.
Sinar maut memancar keluar dari sepasang matanya yang tajam.
Giginya dikerutkan menahan gemas dan marah.
Kemudian Kui Lian melompat turun dengan gerakan ringan tanpa mengeluarkan suara, menghampiri pedang yang ia tetakkan di atas meja dan mencabut ke luar pedangnya Penerangan lilin kecil yang remang remang menimbulkan pemandangan yang menyeramkan ketika wanita yang seperti kemasukan iblis ini mendekati tempat tidur dengan pedang di tangan.
Kembali ia berdiri seperti patung menatap wajah Bi Hui, seakan akan masih merasa ragu ragu akan kehendak hatinya.
"Kong Hwat mencintaimu, kau harus mati!"
Bisik Kui Lian sambil merenggut selimut yang menutupi tubuh Bi Hui, pedangnya diangkat, mata mengincar arah jantung di dada kiri.
"Tok tok tok....!"
Daun jendela diketok orang perlahan lahan, ketokan yang tidak asing bagi Kui Lian karena semenjak ia berada di situ hampir setiap malam Kong Hwat datang mengetok daun jendela dan mengajaknya keluar untuk mengadakan pertemuan di taman.
Kui Lian menahan marahnya, menarik pulang pedang dan menyimpannya kembali di sarung pedang, membuka jendela lalu melompat keluar di mana Kong Hwat sudah menantinya.
Pemuda itu memeluknya dan sambil bergandengan tangan mereka pergi ke taman bunga di belakang.
Biasanya, sebelum meninggalkan kamarnya, Kui Lian tentu melakukan sihr dulu atas diri Bi Hui, membuat gads itu tidur nyenyak tak dapat bangun sebelum ia kembali dari taman.
Akan tetapi malam ini karena bermaksud membunuh Bi Hui, dalam ketegangan tadi ia lupa menyihir Bi Hui.
Apalagi ia lupa mengembalikan selimut yang ia renggut terlepas dari tubuh gadis itu.
Angin memasuki kamar dari daun jendela yang terbuka, meniup padam lilin dan mendatangkan dingin pada tubuh Bi Hui yang tidak terlindungi selimut.
Gadis ini bergerak dan terjaga dari tidurnya.
Tangannya meraba raba mencari selimut.
Terheran ia karena tidak menyentuh Kui Lian yang biasanya tidur di sebelah kirinya.
Dalam keadaan sadar betul kini, ia menggerakkan tangan di dalam gelap, mencari terus sampai ke pinggir tempat tidur, Kui Lian tidak ada!
Angin yang meniup masuk menyatakan kepadanya bahwa jendela terbuka.
Ketika ia menengok kearah jendela, benar saja ia melihat sinar bulan di luar kamar yang gelap gulita itu.
Bi Hui merasa heran dan timbul kecurigaannya.
Memang biarpun tidak ada alasan baginya untuk mencurigai Kui Lian, namun sikap Kui Lian yang aneh selalu merupakan teka teki baginya.
Selalu terasa sesuatu yang aneh dan menyeramkan pada diri Kui Lian.
Bi Hui melompat turun dan menuju ke jendela.
Sunyi sekali.
Hanya suara angin bermain dengan daun daun pohon di luar.....
Kemana dia....
pikir Bi Hui dan hatinya merasa tidak enak.
Dengan hati hati sekali ia lalu melompat keluar dan berindap indap tanpa mengeluarkan suara untuk mencari Kui Lian.
Akhirnya ia mendengar suara bisik bisik terbawa angin dari arah taman bunga.
Cepat namun hati hati ia menuju ke sana, bersembunyi di balik pohon pohon kembang.
Di dalam sinar bulan yang remang remang ia melihat dua bayangan orang di atas bangku di dalam taman dan ketika ia mendekat ia melihat Kong Hwat dan Kui Lian!
Bi Hui merasa mukanya panas dan ia cepat meramkan mata dan membalikkan tubuh, tak sudi ia menyaksikan pertemuan yang hina dan tak tahu malu dari dua orang itu.
Ia tentu sudah pergi cepat cepat kalau saja tidak mendengar namanya disebut sebut dalam bisikan bisikan mereka.
Tanpa disadarinya.
Bi Hui berhenti dan memasang telinga, mendengarkan.
"Kui Lian, kau tahu betapa aku mencintaimu dan bahwa kau kuanggap sebagai isteriku biarpun belum ada pengesahan dari orang tuaku. Akan tetapi sebelum aku bertemu dengan kau, aku sudah cinta kepada Bi Hui! Dan orang tuaku mengusulkan supaya aku mengawini gadis itu. Pikirlah baik baik, kekasihku. Kalau aku menolak, orang tuaku akan marah marah dan kiranya akan sukar bagi kita untuk minta ijin dari mereka."
"Enak saja kau bicara!"
Terdengar Kui Lian menjawab dengan suara manja.
"Kau menikah dengan Bi Hui dan membuang aku? Lebih baik kubunuh siluman betina itu!"
"Hush. jangan bicara begitu, Lian moi. Aku mengawini dia bukan hanya kareaa cinta, akan tetapi.... kau tahu sendirilah! Pula, kalau aku sudah mengawininya, mudah saja bagiku untuk mengawinimu sebagai isteri ke dua. Orang tuaku pasti tidak keberatan karena hal ini sudah lazim terjadi, apalagi kaupun rupa rupanya disuka oleh ayah ibuku."
"Cih, Bi Hui menjadi nyonya besarmu dan aku hanya menjadi bini muda? Menghina sekali.... menghina sekali..."
Terdengar Kui Lian terisak isak seperti menangis, merengek rengek manja dan Kong Hwat menghibur hibur dengan cumbu rayu!
Bi Hui tidak kuat mendengar lebih lanjut.
Dadanya seperti hendak meledak, mukanya terasa dibakar api.
Cepat namun hati hati ia merayap pergi dan kembali ke kamarnya.
Di lain saat ia telah melompat ke atas genteng dan melarikan diri, minggat dari rumah itu, dan Kong Hwat dan Kui Lian yang dalam pandangannya merupakan anjng anjing hina dina yang berbahaya baginya.
Tak disangkanya bahwa Kong Hwat berwatak sehina dan serendah itu!
Tadinya ia memang ada rasa suka kepada pemuda ini, akan tetapi ah!
Ia malu kepada diri sendiri setelah sekarang mendapat kenyataan pemuda macam apa adanya Kong Hwat.
Ia merasa heran sekali.
Dahulu Kong Hwat tidak begitu.
Bahkan beberapa kali ayah bundanya dahulu memuji muji Kong Hwat sebagai seorang pemuda yang baik.
Tentu karena wanita siluman itu!
Tiba tiba Bi Hui teringat akan kata kata Beng Han ketika ia dipaksa mengaku tenang pembunuhan ayah bundanya?
Dipandang dari sudut tingkat kepandaian juga dipandang dari sudut hubungan keluarga, adalah tidak mungkin.
Akan tetapi Kong Hwat pernah dihina oleh ibunya.
pernah ditampar oleh ibunya.
Dan ada wanita iblis itu di samping Kong Hwat.
Sambil berlari lari di malam buta itu, Bi Hui berpikir pikir.
Tak terasa lagi air matanya mengalir di sepanjang pipinya kalau ia teringat akan nasibnya.
"Mungkin aku dahulu salah terhadap Beng Han. Aku terlalu terburu nafsu. Seharusnya aku tanyai Beng Han baik baik tentang pengakuannya itu. Aku harus mencari Bing Han. Hanya anak itu yang menjadi saksi utama tentang pembunuhan ayah ibu. Kalau bukan Beng Han pembunuhnya, sedikitnya ia tentu tahu siapa yang membunuh."
Demikian Bi Hui mengambil keputusun.
Ia harus mencari Beng Han.
Kalau ternyata bahwa Kong Hwat dan Kui Lian pembunuh ayah bundanya, ah....
ia akan....
akan apakah?
Bi Hui ragu ragu.
Dapatkah ia menangkan Kong Hwat?
Apa lagi di sana ada Kui Lian yang katanya murid Koai Thian Cu yang lihai ilmunya?
Belum lagi diingat bahwa di sana masih ada bibinya, Song Siauw Yang dan pamannya Liem Pun Hui yang berkepandaian tinggi, lebih lebih bibinya.
Tentu bibinya takkan membiarkan puteranya diganggu.
"Aku harus mencari Beng Han. Dan aku harus belajar lagi, baru membalas dendam!"
Dengan pikiran ini Bi Hui melajukan larinya, kemana saja kedua kakinya membawanya, tanpa tujuan.
Setelah matahari terbit, baru ia berhenti berlari ia telah tiba di sebelah hutan kecil ia duduk di bawah pohon, mengaso sambil termenung.
Ke mana ia harus pergi?
Ia tidak tahu di mana adanya Beng Han.
Teringatlah Bi Hui akan Sin tung Lo kai sekeluarga.
Bagaimana kalau ia ke sana saja?
Tiba tiba mukanya menjadi merah karena ia teringat akan Kwan Sian Hong yang di calonkan sebagai suaminya.
Kalau tidak ada urusan perjodohan ini, tentu tanpa ragu ragu lagi ia pergi ke Leng ting karena semenjak dahulu keluarga Sin tung Lo kai adalah sahabat sahabat baik orang tua dan kong kongnya.
Selagi ia termenung di bawah pohon, tibi tiba ia melihat beberapa orang berkejar kejaran.
Dua orang di antaranya yang amat cepat gerakannya telah lari ke dalam hutan iotu dan Bi Hui melihat seorang pengemis tua buruk rupa dan kudisan mengejar nenek bongkok yang membawa sebuah bungkusan panjang dari kain kuning.
"Soat Li Suthai, kau masih belum menyerahkan Kim hud (Buddha Emas) itu?"
Tegur pengemis kudisan itu sambil melakukan gerakan lompatan luar biasa sekali.
Tubuhnya melayang ke atas disusul gerakan berjungkir balik sehingga ia melewati atas kepala nenek itu dan di lain saat ia telah berada di depan nenek itu, menghadang jalan!
"Bagus sekali gerakanmu Lo wan seng thian (Monyet Tua Naik ke Langit) tadi, Lo kai (pergemis tua)!"
Nenek yang di sebut Soat Li Suthai itu memuji.
"Akan tetapi jangan kau kira aku jerih melihat aksimu itu. Kau mau merampas patung? Boleh, tapi coba kau kalahkan dulu tongkatku ini!"
Setelah berkata demikian, nenek itu menggerakkan tongkat di tangan kanannya, cepat bagaikan kilat menyambar telah menyerang jembel kudisan, sedangkan lengan kirinya memeluk patung erat erat.
"Ha, ha, ha ha! Kau masih sama betul dengan dulu, haus pertempuran!"
Kata Bu Eng Lo kai kakek jembel itu sambil cepat mengelak menghindarkan diri dan serangan nenek yang lihai dan berbahaya.
"Kau mau bertempur? Hayolah, kulayani kau sampai seribu jurus!"
Dan mereka benar benar bertempur hebat sekali.
Bi Hui sampai menahan napas menyaksikan pertempuran ini.
Dalam gebrakan beberapa jurus saja tahulah gadis ini bahwa dua orang yang sedang bertempur ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya sendiri, bahkan lebih pandai daripada mendiang ayah bundanya.
Kiranya mereka ini setingkat dengan kong kongnya, Thian te Kiam ong!
Tentu saja Bi Hui tak dapat menilai sampai di mana tingkat kepandaian Thian te Kiam ong yang jarang tandingannya itu, dan ia hanya mengira ngira belaka.
Akan tetapi sudah jelas bahwa tingkat kepandaian dua orang itu jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian ayah bundanya.
Tongkat di tangan nenek bongkok itu cepat bukan main gerakannya, menyambar nyambar mengeluarkan angin dan gerakannya sukar sekali diikuti oleh pandangan mata Bi Hui.
Juga setiap sambaran selalu mengarah jalan darah lawan sehingga setiap gerakan merupakan serangan maut yang sukar dihindarkan lagi.
Melihat jalannya sinar tongkat, Bi Hui dapat menduga bahwa ilmu silat itu hampir sama dengan ilmu pedang karena gerakannya seperti ilmu pedang.
Agaknya ilmu itu dapat juga dimainkan dengan pedang di tangan.
Akan tetapi kakek kudisan itu tidak kalah lihainya kalau dibandingkan dengan lawannya.
Biar pun ia bertangan kosong, namun gerakannya lincah bukan main.
Kaki tangannya ringan sekali seakan akan bersayap.
Dengan kecepatan yang mengagumkan ia dapat mengelak dan setiap serangan tongkat bahkan melakukan serangan balasan yang cukup hebat karena setiap pukulan tangannya selalu di elakkan cepat cepat oleh nenek itu, atau kalau ditangkis, tongkat bambu itu terpental kebelakang.
Dari sini saja Bi Hui dapat menduga bahwa kakek itu seorang ahli ginkang dan lweekang yang istimewa.
Dengan gerakan ringan cepat serta tenaga lweekang tinggi ia dapat menghadapi lawan tangguh yang bersenjata hanya dengun tangan kosong saja.
-ooo0dw0ooo-
Jilid XXXVII DIAM DIAM Bi Hui menjadi kagum bukan main.
Sukar baginya untuk dapat menyatakan, siapa di antara kedua orang tua itu yang lebih lihai.
Jangankan dia yang menjadi penonton dan yang kepandaiannya jauh di bawah tingkat mereka, sedangkan mereka sendiri yang bertempur juga tak pernah dapat membuktikan bahwa yang seorang lebih unggul daripada yang ke dua.
Padahal semenjak mereka berkejaran, dua orang tua ini sudah bertempur lebih dari lima kali dan setiap kalinya tidak kurang dari tigaratus jurus!
Tiba tiba terdengar suara keras dari jauh.
"Soat Li Suthai! Berikan Kim hud kepadaku!!"
Mendengar suara ini, Soat Li Suthai dan Bu eng Lo kai otomatis menghentikan pertempuran mereka dan saling pandang penuh pengertian.
"Pat pi Lo cu datang...."
Kata Bu eng Lo kai. Soat Li Suthai mengangguk diam, lalu menatap wajah kakek kudisan itu tajam tajam sambil berkata.
"Bu eng Lo kai, kiranya kita akan lebih senang kalau benda ini terjatuh ke dalam tangan seorang di antara kita daripada jatuh ke dalam tangan pendeta bau dan Tibet itu."
"Cocok. Kita gempur saja dia, baru kemudian kita melanjutkan pertempuran untuk menentukan siapa yang lebih patut memiliki Kim hud,"
Jawab Bu eng Lo kai. Nenek bongkok itu tersenyum sehingga nampak mulutnya yang ompong.
"Kau cerdik sekali, Lo kai,"
Pujinya mengangguk angguk.
Kemudian ia melambaikan tangan kepada dua orang gadis manis yang sudah sampai di situ pula.
Mereka ini Kui Eng dan Kui Li, segera menghampiri guru mereka dan berdiri di belakangnya.
Dua orang gadis ini setelah berdiri dengan gagahnya, kelihatan betapa sama wajah dan bentuk tubuh mereka.
Sukarlah bagi orang lain untuk membedakan mana yang bernama Kui Eng dan mana Kui Li Mereka ini memang saudara kembar yang manis manis dan berkepandaian tinggi.
Hanya mereka berdua inilah murid Soat Li Suthai.
Tak lama kemudian sampailah Pat pi Lo cu dan dua orang muridnya, See thian Sian cu (Sepasang Mustika dari Barat) Ma Thian dan Ma Kian.
Sikap kedua orang murid yang bertubuh tegap dan gagah ini gembira sekali melihat bahwa akhirnya gurunya dapat menyusul nenek yang membawa lari patung emas.
Pat pi Lo cu tertawa bergelak dan menuding jari telunjuknya ke arah bungkusan kuning yang berada dalam pondongan lengan kiri Soat Li Suthai.
"Ha, ha, ha, Soat Li Suthai, kau benar benar licin dan curang sekali. Tanpa memetik kau telah makan buahnya. Mana ada aturan begitu? Aku telah menewaskan seorang di antara tiga orang hwesio penjaga, maka akulah yang berhak memiliki patung itu. Kalau kau hendak merampas, kau harus merampasnya dari tanganku. Ini aturan kang ouw!"
"Pat pi Lo cu, setan Tibet seperti kau mana tahu akan aturan kang ouw? Aturanku adalah, barang siapa lebih cepat dan cerdik, dia yang menang! Kau menghendaki benda ini? Boleh, asal saja dapat mengalahkan tongkatku."
"Juga dapat mengalahkan dua kepalan tanganku!"
Bu eng Lo kai menyambung sambil menyeringai. Pat pi Lo cu menggerak gerakkan alisnya.
"Eh, eh, kalian maju bersama? Hemm, agaknya memang sejak semula kalian sudah bersekongkol!"
Ma Thian dan Ma Kian melompat maju dan berkata kepada Pat pi Lo cu.
"Suhu, ijinkan teecu berdua maju merampas patung emas dan mereka itu!"
Pada saat itu, Kui Eng dan Kui Li juga maju dan berkata kepada Soat Li Suthai.
"Suthai, biarlah teecu berdua memberi hajaran kepada kakek tak tahu diri ini!"
Pat pi Lo cu memandang ke arah dua orang gadis kembar dengan mata terbelalak, sebaliknya Soat Li Suthai juga memandang ke arah Ma Thian dan Ma Kian, nampaknya tertarik dan bingung melihat persamaan mereka.
Dua orang tua yang masing masing mempunyai murid kembar ini hanya mengangguk sebagai tanda bahwa mereka setuju murid muridnya maju ke arah masing masing, ingin sekali melihat siapa yang lebih unggul antara dua pasang saudara kembar ini.
Sementara itu, Ma Thian dan Ma Kian berpandangan dengan Kui Eng dan Kui Li.
Melihat bahwa mereka sama sama saudara kembar dua pasangan ini menjadi tertarik sekali dan ingin mereka menguji kepandaian masing masing.
Ma Thian mewakili adiknya berkata.
"Ji wi lihiap, majulah!"
Kui Eng dan Kui Li senang melihat sikap yang sopan dan mengalah ini, mereka lalu mencabut pedang masing masing.
Juga Ma Thian dan Ma Kian mencabut pedang dan bersiap sedia menghadapi dua lawannya.
Bu eng Lo kai, Soat Li Suthai dan Pat pi Lo cu berdiri dengan muka berseri.
Mereka ini gembira sekali melihat pertempuran antara dua pasang saudara kembar yang benar benar amat menarik.
Bahkan Bi Hui yang duduk di bawah pohon tak jauh dari situ memandang dengan hati tertarik pula.
Kalau empat orang itu bertempur ia takkan tahu lagi mana adik mana kakak.
Pertempuran dimulai.
Ma Thian dan Ma Kian agaknya sungkan sungkan dan mengalah.
Akan tetapi tak mungkin mereka mengalah terus karena pedang di tangan Kui Eng dan hui Li bergerak cepat dan ganas sekali, merupakan dua ekor burung elang menyambar korban, berbahaya dan lihai.
Terpaksa dua saudara Ma inipun menggerakkan pedang dengan cepat untuk melindungi diri dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.
Mereka berempat tak mungkin dapat bertempur menjadi dua rombongan.
Karena persamaan wajah mereka sukar membedakan mana lawan sendiri dan mana lawan saudaranya.
Maka mereka bertempur seperti seorang lawan saja.
Memang hebat.
Kalau dua sekawan bertempur melawan dua orang lawan, masing masing mengandalkan kepandaian sendiri, atau mungkin juga mengandaikan kerja sama.
Akan tetapi tidak mungkin dapat bekerja sama seperti dua pasang saudara kembar itu.
Seakan akan mereka masing masing merupakan dua orang dengan satu hati dan satu pikiran sehingga gerakan pedang mereka dapat otomatis saling melindungi.
Oleh karena inilah maka apabila menghadapi musuh bersama, baik Kui Eng dan Kui Li maupun Ma Thian dan Ma Kian merupakan lawan berat.
Mereka seperti satu orang dengan dua kepala sampai lengan dan sampai kaki!
Yang lebih hebat lagi dalam pertempuran ini adalah karena tingkat kepandaian kedua pasangan itu berimbang.
Makin lama pertempuran berjalan makin seru dan ramai, tubuh keempat orang itu sampai lenyap terbungkus empat gulungan sinar pedang yang saling membelit dan saling menyelimuti.
Berkali kali tiga orang tua yang menonton mengeluarkan suara pujian.
Seratus jurus terlewat, namun empat orang itu masih saja belum ada yang menang atau kalah.
Bahkan kini pertempiran menjadi makin hebat.
"Pasangan yang cocok sekali...."
Bu Eng Lo kai berseru memuji, kagum dan gembira sekali menyaksikan pertempuran yang aneh dan indah ini.
"Jodoh yang baik....!"
Teriak Pat pi Lo cu tak disengaja, akan tetapi ia terkejut mendengar suaranya sendiri.
Ia menoleh kepada Soat Li Suthai yang juga memandang kepadanya ketika mendengar ucapan Pat pi Lo cu tadi.
Nenek itu mengangguk anggut dan berkata perlahan.
"Memang..... jodoh yang baik sekali...."
Mereka saling pandang sampai lama, lalu keduanya tertawa bergelak.
Dalam berpandangan ini, dua orang tua itu sudah dapat membaca isi hati masing masing.
Kemudian mereka melompat ke tengah medan pertempuran sambil berseru.
"Berhenti, tahan senjata!"
Dua pasang saudara kembar itu melompat mundur.
Peluh memenuhi kening mereka.
Muka mereka merah sekali karena di dalam pertempuran yang hebat tadi, masing masing telah menjaga keras agar pedang di tangan jangan sampai mencelakai lawan!
Dengan sendirinya mereka telah mengutarakan isi hati mereka lewat ujung pedang!
"Ha.
ha, ha, Ma Thian dan Ma Kian.
Aku berpendapat bahwa kalian cocok sekali dengan dua nona kembar ini.
Bagaimana kalau Soat Li Suthai menerima kalian menjadi calon suami kedua muridnya?"
Ma Thian dan Ma Kian nampak malu malu dan menundukkan muka. Ma Thian akhirnya menjawab.
"Teecu berdua hanya mentaati perintah suhu dengan senang hati."
Soat Li Suthai juga bertanya kepada dua orang muridnya, Kui Eng dan Kui Li, bagaimana pendapat mu dengan dua orang muda kembar ini?
Sejak dahulu cita citamu hanya mau menikah dengan dua orang saudara kembar pula yang kepandaiannya tinggi.
Nah, bukankah mereka ini cukup memenuhi syarat?
Apakah aku harus menerima andaikata guru mereka melamar kalian untuk menjadi calon isteri mereka?"
Kui Eng menjawab dengan pipi kemerahan.
"Terserah kepada Suthai Teecu berdua hanya menurut...."
Pat pi Lo cu dan Soat Li Suthai tertawa bergelak. Juga Bu eng Lo kai tertawa akan tetapi ketawanya masam ketika ia bertanya.
"Pat pi Lo cu, setelah ikatan jodoh yang amat baik ini, habis bagaimana kehendakmu dengan patung emas?"
Terhenti suara ketawa Pat pi Lo cu ketika ia diingatkan akan patung emas, akan tetapi ia lalu berkata menyeringai.
"Tidak apa tidak mendapat patung emas, sebagai gantinya mendapatkan dua mantu perempuan yang cantik manis! Tentu saja Soat Li Suthai juga sependapat dengan aku."
Soat Li Suthai mengangguk.
"Memang, patung emas ini hendak kuberikan sebagai hadiah kepada dua pasang pengantin. Adapun isi nya akan dimiliki oleh putera pertama antara mereka, inilah kata kataku dan siapa berani melanggar akan berhadapan dengan tongkatku!"
Sambil berkata demikian Loat Li Suthai memandang kepada Bu eng Lo kai dengan sikap menentang.
"Bu eng Lo kai, kata kata Soat Li Suthai. tadi juga menjadi pernyataanku pula,"
Kata Pat pi Lo cu.
"Oleh karena itu, apabila engkau tetap menghendaki patung dan isinya, kau tidak hanya akan menghadapi Soat Li Suthai, akan tetapi juga menghadapi aku!"
Bu eng Lo kai memandang kepada dua orang tua itu, lalu tertawa terkekeh kekeh.
"Lucu.... lucu....! Tadinya aku dan Suthai yang menjadi sekutu, sekarang aku bahkan dihadapkan pada kalian yang dari lawan menjadi kawan. Ha, ha, ha! Sudahlah, mengingat akan pasangan pasangan yang cocok dan jarang kujumpai ini, biarlah kali ini aku mengalah!"
Akan tetapi tiba tiba dan jauh terdengar suara ketawa yang nyaring sekali.
Semua orang menengok dan dari jurusan barat datang berlari lari seorang kakek tua yang mereka kenal baik karena dia bukan lain adalah Koai Thian Cu.
"Bagaimana tukang gwamia itu bisa menyusul ke sini?"
Soat Li Suthai menggerutu.
"Takut apa? Dia seorang diri bisa berbuat apa terhadap kita bertiga?"
Kata Pat pi Lo cu.
Setelah Koai Thian Cu tiba di tempat itu, kakek ini agak tertegun melihat Bu eng Lo kai, Soat Li Suthai, dan Pat pi Lo cu berdiri merupakan satu rombongan menghadapinya bersama dua pasang saudara kembar itu.
Ia memandang kepada pat pi Lo cu dengan mata bertanya.
"Koai Thian Cu, kalau kau bermaksud mengingini Kim hud, lebih baik kau batalkan maksud hatimu itu. Kini patung emas telah kami sumbangkan kepada dua pasang calon pengantin yang paling istimewa di dunia ini. Patung dan isinya menjadi hak putera pertama yang terlahir di antara mereka!"
Pat pi Lo Cu menunjuk kepada dua orang muridnya yang berdiri di samping sepasang saudara kembar Kui Eng dan Kui Li yang nampak kemalu maluan. Koai Thian Cu melengak.
"Jadi kalau aku tetap menghendaki patung atau isinya, aku harus bertempur melawan kalian bertujuh?"
"Demikianlah!"
Kata Soat Li Sothai dengan sikap menantang. Koai Thian Cu tertawa bergelak sambil mengangkat muka memandang ke atas.
"Sudahlah.... aku tua bangka untuk apa harus mengorbankan nyawa untuk sebuah patung? Baiklah, mengingat kepada dua pasang calon pengantin yang benar benar cocok ini, aku mau mengalah. Akan tetapi harap kau suka membikin puas hatiku membuka patung dan mengeluarkan isinya. Biarpun aku tidak dapat mewarisi, melihat saja benda peninggalan Tat Mo Couwsu sudah dapat menambah panjang umur sedikitnya tiga tahun."
Soat Li Suthai mengerutkan kening, akan tetapi Pat pi Lo cu dan Bu eng Lo kai hampir barbareng mendesak.
"Aku cocok dengan permintaan Koai Thian Cu. Mari kita sama sama melihat apa isinya patung ini."
Ketika melihat sikap Soat Li Suthai yang ragu ragu, Pat pi Lo cu berkata.
"Soat Li Suthai, mengapa kau kelihatan khawatir? Kita semua adalah orang orang tua yang boleh dipercaya. Pula, seorang saja berlaku khianat, akan menghadapi tiga orang. Kiraku di antara kita takkan ada yang begitu bodoh."
Mendengar ini, baru Soat Li Suthai hilang kecurigaannya. Akan tetapi ia mengerutkan alisnya den berkata.
"Aku tidak tahu cara membukanya. Untuk memaksa dan merusaknya, sayang sekali. Kelak saja kalau putera pertama muridku terlahir, baru patung ini dibuka secara paksa."
"Biarpun aku sendiri belum pernah membukanya, akan tetapi aku pernah mendengar bahwa untuk membuka patung itu tanpa merusak, orang harus memutar mutar kaki kiri lima kali ke kanan dan kaki kanan empat kali ke kiri."
Soat Li Suthai lalu memegang kaki patung dan memutar mutarnya menurut petunjuk Koai Thian Cu.
Benar saja, di bagian punggung patung terbuka lubang besar.
Dengan hati ingin tahu sekali Soat Li Suthai merogoh ke dalam patung.
Akan tetapi wajahnya berubah pucat ketika tangannya tidak menyentuh sesuatu kecuali sehelai kertas.
Cepat ditariknya keluar kertas itu dan dibacalah tulisan di atas kertas.
"Celaka.... Kita telah tertipu....!"
Kata nenek itu, mukanya menjadi agak pucat.
Semua orang mendekat untuk melihat tulisan apa yang terdapat pada kertas itu.
Mereka membaca tulisan yang jelas dan tebal seperti mengejek.
Kitab Im yang Cin keng dan Pedang Giok po kiam hanya untuk dia yang berjodoh!
Koai Thian Cu tertawa bergelak gelak sampai keluar air matanya.
"Ha, ha, ha, ha, keterlaluan sekali hwesio hwesio itu. Kita dipermainkan semau maunya. Ah, tentu arwah mereka sekarang sedang terbahak bahak mentertawakan kebodohan kita memperebutkan patung kosong. Ha, ha, ha!"
"Hmm, Koai Thian Cu. Kalau aku tidak yakin bahwa selama ini patung itu berada di tangan ku, tentu aku akan mencurigai kau karena kau adalah seorang ahli ilmu hitam. Betapapun juga aku akan mencari dua benda itu!"
Kata Soat Li Suthai penuh kekecewaan dan malu.
"Sudahlah, bagi aku biarpun tidak mendapat barang pusaka akan tetapi mendapatkan dua orang mantu murid yang baik, cukup menggembirakan. Soat Li Suthai, aku akan mengajak kedua murid mu pergi bersama kami agar pernikahan segera dapat ditanggungkan di utara,"
Kata Pat pi Lo cu. Soat Li Suthai memandang kepada dua orang muridnya yang masih menundukkan mukanya.
"Kui Eng dan Kui Li, kau pergilah. Bawa patung emas ini, lumayan untuk bekal dan beaya. Gurumu tak dapat menghadiri pernikahanmu karena aku harus mencari kitab dan pedang itu, untuk puteramu kelak. Hanya doa restuku bersama kalian, semoga kalian hidup bahagia dengan suami kalian."
Kui Eng dan Kui Li menjatuhkan diri berlutut dan berpamit sambil mencucurkan air mata, kemudian mereka ikut pergi bersama Pat pi Lo cu dan dua orang muridnya, yaitu See thian Siang cu Ma Thian dan Ma Kian.
Setelah mereka pergi, Koai Thian Cu kembali tertawa.
"Bagus, dengan begitu perjuangan masih belum habis. Masih ada kegembiraan memperebutkan kitab dan pedang itu. Bagus, bagus! Kita sama lihat saja nanti siapa yang berjodoh dengan Im yang Cin keng dan Giok po kiam!"
Kakek ini hendak pergi, akan tetapi tiba tiba Bi Hui melompat dari tempat duduknya dan menyerang Koai Thian Cu dengan tusukan pedangnya sambil berseru.
"Kakek siluman, kaulah yang mendatangkan malapetaka pada keluargaku!"
Serangan pedang dari Bi Hui hebat sekali karena ia menggunakan gerak tipu dari ilmu Pedang Kim kong Kiam sut yang baru sedikit ia pelajari.
Biarpun demikian, Koai Thian Cu yang jauh lebih tinggi ilmunya itu sampai terkejut dan terpaksa melompat mundur sambil menggerakkan kebutan menangkis pedang itu.
Namun Bi Hui mendesak terus, memutar pedangnya yang menjadi amat ganas dan berbahaya karena ia telah berlaku nekad Bi Hui tahu bahwa kakek ini kepandaiannya amat tinggi dan sebetulnya dia bukanlah lawannya, akan tetapi ia sudah nekad karena sakit hati dan marah.
Koai Thian Cu main mundur dan menangkis.
Diam diam ia terkejut sekali ketika mengenal ilmu pedang ini.
Ketika ia memperhatikan wajah Bi Hui ia makin terheran lalu mengerahkan tenaga, menahan pedang gadis itu dengan hudtim di tangannya sambil berseru.
"Tahan dulu, bukankah kau cucu Thian te Kiam ong? Bicaralah dulu, nona. Jangan sembrono dan menyerang orang tanpa penjelasan."
Dari tangkisan hudtim yang membuat tangannya tergetar ini saja Bi Hui maklum bahwa kalau kakek itu menghendaki, ia sudah roboh sejak tadi.
Saking gemas dan sakit hatinya, ia menarik pedang nya lalu....
menangis!
Soat Li Suthai dan Bu eng Lo kai ketika mendengar bahwa gadis cantik ini cucu Thian te Kam ong.
menjadi tertarik sekali.
"He, Koai Thian Cu. Kau telah melakukan perbuatan busuk apakah maka cucu Thian te Kiam ong sampai menaruh dendam?"
Tanya Soat Li Suthai.
"Aku si tua bangka, biarpun berhati busuk, kiranya belum pernah aku mencelakai cucu Thian te Kiam ong. Aku sendiri tidak tahu mengapa nona ini datang datang menyerangku kalang kabut, padahal aku berani bersumpah tak pernah mengganggunya, jelaskan, nona mengapa kau datang datang menyerangku? Kalau memang aku tua bangka busuk bersalah, boleh kautusuk dadaku tanpa kutangkis!"
Melihat sikap kakek ini, Bi Hui menjadi bingung.
Memang kakek ini tidak bersalah apa apa, tegasnya, pribadinya sendiri tidak bersalah.
Akan tetapi bukankah malapetaka itu datangnya dari adanya Beng Han di sana, juga, malapetaka ke dua, penghinaan yang ia dengar dari mulut Kong Hwat, bukankah disebabkan oleh Cia Kui Lian, wanita siluman murid Koai Thian Cu ?
"Mungkin kau sendiri tidak berdosa, Koai Thian Cu,"
Katanya menahan isak.
"akan tetapi karena kau telah menyerahkan Beng Han kepada keluargaku, maka terjadi malapetaka menimpa keluargaku. Juga murid perempuanmu yang bernama Cia Kui Lian itu adalah iblis wanita yang tak tahu malu!"
Ia lalu menceritakan secara singkat tentang pembunuhan atas diri ayah bundanya, juga ia menuturkan sepintas lalu betapa Kui Lian telah berlaku tak patut dengan Liem Kong Hwat kakak misannya.
Koai Thian Cu menjadi merah mukanya.
"Tak kusangka perhitunganku meleset! Aku sudah meramalkan bahwa keluarga Thian te Kiam ong terancam oleh adanya pedang Kim kong kiam, akan tetapi.... ah, ramalan manusia biasa mana bisa benar? Tenangkan hatimu, nona Song. Aku akan mencari Beng Han dan Kui Lian. Akan ku selidiki siapa sebenarnya yang berdosa dalam pembunuhan orang tuamu."
Setelah berkata demkian, Koai Thian Cu melesat pergi dengan cepat sekali.
"Hemm, ucapan seorang ahli sihir dan tukang gwamia seperti dia itu, mana boleh dipercaya?"
Kata Bu eng Lo kai.
Sementara itu, Soat Li Suthai menatap wajah Bi Hui dengan penuh perhatian.
Gadis ini jauh lebih cantik dw jelita daripada kedua orang muridnya yang sudah "keluar pintukz".
Juga melihat gerak gerik dan bentuk tubuhnya, nona ini memiliki bakat yang amat baik.
Akan tetapi sebagai cucu Thaian te Kiam ong, mengapa kepandaiannya hanya sebegitu saja ketika tadi menyerang Koai Thian Cu?
Benar benar Soat Li Suthai merasa aneh.
Ia tidak tahu bahwa biarpun ilmu kepandaian Thian te Kiam ong amat tinggi, namun anak cucunya tak dapat mewarisi kepandaiannya, karena ilmu ilmu silatnya, terutama sekali Kim kong Kiam sut, amat sukar dipelajari.
Setelah kehilangan dua orang muridnya, nenek ini belum apa apa sudah merasa kesunyian dan ingin mempunya murid baru dan melihat Bi Hui ia merasa suka sekali.
"Nona, kalau kau cucu Thian te Kiam ong, kau behadapan dengan orang orang sendiri. Ketahuilah, aku Soat Li Suthai adalah seorang yang selalu merasa kagum dan mengenang kakek mu dengan hormat dan takluk."
"Begtu pula aku, nona. Bu eng Lo kai biarpun belum pernah bertemu dengan kakekmu selalu menganggap Thian te Kiam ong sebagai sahabat dan guru. Aku ikut merasa berduka mendengar tentang nasibmu yang buruk,"
Kata pula Bu Eng Lo kai. Bi Hui segera menjura dengan hormat.
"Terima kasih banyak atas perhatian dan hiburan locianpwe."
"Nona, setelah terjadi malapetaka kepada keluargamu, lalu kau tinggal dengan siapa dan sekarang hendak pergi kemana?"
Tanya Soat Li Suthai.
Kembali air mata bertitik di atas pipi Bi Hui yang kini agak pucat itu.
Pertanyaan ini menusuk hatinya, mengingatkan padanya bahwa di dunia ini sekarang ia tidak dapat menyandarkan diri kepada siapapun juga.
"Teecu hidup seorang diri dan tidak punya tempat tinggal. Tujuan hidup teecu hanya merantau menambah kepandaian sambil mencari pembunuh ayah bunda."
"Bagus!"
Tiba tiba Bu eng Lo kai melompat dengan muka girang.
"Mari kau ikut padaku, nona. Biarpun aku sudah tua bangka tiada guna, kiranya aku masih dapat menurunkan sedikit kepandaian kepadamu sebagai tanda penghormatanku kepada Thian te Kiam ong."
Soat Li Suthai mengerutkan kening dan menghadapi Bu eng Lo kai sambil cemberut.
"Eh, jembel tua! Kau ini mengapa selalu ingin bersaing dan berebutan dengan aku? Belum juga aku mengambil nona ini sebagai murid, kau sudah mendahuluiku lagi."
Bu eng Lo kai membelalakkan mata lalu tertawa lebar.
"Siapa tahu bahwa kaupun hendak mengambil murid padanya? Aku melihat dia berbakat baik dan aku kasihan melihat cucu Thian te Kiam ong, maka ingin menurunkan sedikit kepandaianku, apa salahku?"
"Setan! Kau selamanya tidak punya murid. Mengapa sekarang mendadak mau menurunkan kepandaian? Tidak, nona ini akan ikut dengan aku dan mewarisi semua kepandaianku."
Agaknya dua orang tua itu kembali hendak ribut ribut dan berebutan seperti tadi ketika mereka memperebutkan patung emas.
Sementara itu, Bi Hui sudah menjadi girang sekali mendengar ucapan mereka yang masing masing hendak mengambilnya sebagai murid.
Cepat ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata nyaring.
"Teecu Song Bi Hui menghaturkan terima kasih kepada ji wi yang mulia. Tentu arwah kong kong juga amat berterima kasih kepada ji wi. Teecu bersedia untuk menjadi murid ji wi suhu dan mempelajari semua yang ji wi ajarkan dengan penuh perhatian."
Kakek dan nenek itu saling pandang, kemudian sama sama tertawa.
"Memang tak perlu diperebutkan,"
Kata Soat Li Suthai.
"kita berdua mengajarnya, bukankah itu lebih baik lagi."
Demikianlah, semenjak hari itu.
Bi Hui diterima menjadi murid Soat Li Suthai dan Bu eng Lo kai.
Kedua orang itu merasa bangga sekali dapat menjadi guru dari cucu Thian te Kiam ong, maka mereka mengajar dengan sungguh sungguh agar jangan memalukan nama sendiri.
Apalagi mereka mengajar berdua sehingga hal ini menguntungkan Bi Hui oleh karena kedua orang gurunya seakan akan berlumba dan tak mau saling mengalah, ingin lebih unggul dalam hal mengajar.
Tidak mengherankan apabila mereka menuang semua ilmu yang mereka miliki dan otomatis Bi Hui yang menerimanya memperoleh kemajuan pesat sekali.
0odwo0 Waktu yang nampaknya merayap lambat sekali itu tanpa terasa telah lewat bukan main cepatnya, melebihi lajunya anak panah yang terlepas dari busurnya.
Tahun demi tahun lewat tak terasa dan tak meninggalkan bekas kecuali kenang kenangan samar.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang terlalu panjang.
Kalau kita mengenang segala peristiwa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu akan terasa oleh kita seakan akan yang sepuluh tahun itu hanya baru sepuluh hari saja!
Kim hud tah atau pagoda Buddha Emas kini kelihatan menyeramkan, kotor tak terurus dan tak pernah dikunjungi orang.
Semenjak orang orang mendengar bahwa di situ terjadi pertempuran hebat sehingga tiga orang penjaga pagoda tewas dan bahwa anak tangga dari bawah menuju ke atas telah runtuh, tempat itu dijauhi orang.
Bahkan belakangan ini tersiar berita bahwa pagoda itu didiami iblis iblis dan siluman siluman.
Ada yang bilang bahwa di waktu malam kelihatan cahaya berkelebatan di puncak pagoda.
Ada pula yang mendongeng melihat bayangan iblis berkelebatan di atas menara.
Bahkan ada yang berani mati mendongeng bahwa siluman naga yang dikurung di bawah pagoda sering kali keluar, menjelma menjadi manusia untuk mencari korban.
Jangankan orang orang biasa, bahkan orang orang kang ouw yang memiliki kepandaian sekalipun merasa jerih mendekati pagoda ini.
Selain sia sia saja dan tidak ada gunanya serta tak mungkin naik ke atas juga mereka merasa ngeri dan seram dengan keadaan pagoda yang tidak terawat ini.
Tak seorangpun menyangka bahwa sebetulnya di menara, di puncak pagoda yang amat tinggi itu, sudah hampir sepuluh tahun lamanya tinggal seorang manusia.
Seperti kita ketahui Thio Beng Han bocah bernasib malang itu berada di puncak pagoda, hidup dalam keadaan sunyi dan sengsara sekali.
Setiap hari hanya makan telur dan sarang burung, minumnya mengandalkan air embun dan air hujan.
Sepuluh tahun ia menjadi seorang pertapa yang betul betul bertapa.
Dalam keadaan nelangsa dan sengsara, manusia mendekati Tuhan.
Terbukalah mata betapa hidup ini semata mata tergantung kepada kasih Tuhan dan setelah tiada tempat mengeluh, tiada mahluk dapat menolong, kembaliah manusia ke tempat semula, dekat dengan Tuhannya.
Kepada Tuhanlah di panjatkan doa dan permohonan.
Ada orang bilang bahwa dalam keadaan nasib malang, Tuhan meninggalkannya.
Ini bohong dan salah pikir.
Tuhan terhadap umat Nya tak pernah berkurang tak pernah berubah seujung rambutpun.
Tuhan Maha Kasih, kasihNya suci murni.
Buktinya, sejahat jahatnya orang, masih diberinya hidup, masih diberiNya menikmati hidup duniawi.
Kalau mau bicara tentang perubahan sikap manusialah yang berubah.
Bukan Tuhan pernah meninggalkan manusia, melainkan manusia yang meninggalkan Tuhan, manusia yang menjauhkan diri dari Tuhan.
Nasib buruk itu hanya akibat daripada perbuatan sendiri.
Tuhan Maha Adil dan Maha Kasih.
Tidak ada kekhilafan, tidak ada kesalahan sedikitpun juga, tidak ada cacat cela datang dari Tuhan.
Orang bijak jaman dahulu berkata bahwa untuk berhasil merenungkan sesuatu, untuk memperkuat batin, untuk mencuci diri dan membersihkan batin, paling baik orang pergi mengasingkan diri ke tempat sunyi.
Ini memang tepat sekali dan tidak heran apabila orang jaman dahulu banyak yang menjadi ahli tapa.
Dari tapa orang dapat mencapai tingkat luhur dan memudahkan manusia mencari jalan mendekati tempat asalnya, di samping Tuhan.
Memang tidak mengherankan, karena di dalam tempat sunyi, terpaksa oleh keadaan, sifat sifat jahat dalam batin manusia lenyap sama sekali.
Berada seorang diri di tempat sunyi, mau berlaku jahat kalau ala orang lain yang dijahatinya.
Dalam bertapa di tempat sunyi, pikiran tidak terganggu keduniawan yang palsu dan membangkitkan angkara, hati dan pikiran menjadi hening bening memudahkan orang teringat akan Tuhan nya.
Demikian pula dengan Beng Han, bocah yang hidup terasing di puncak Kim hud tah itu.
Selama sepuluh tahun ia menjadi pertapa, melakukan tapa yang kiranya jarang tandingannya dalam hal kesengsaraan dan kesunyian.
Selama sepuluh tahun ia tak pernah melihat manusia lain, jangankan melihat, mendengar suaranyapun tak pernah.
Suara yang ia dengar hanya kicau burung, suara binatang hutan sayup sampai, dan bunyi guntur di angkasa.
Selama sepuluh tahun ia hanya makan untuk menyambung nyawa, tegasnya makan dan minum hanya untuk memenuhi kebutuhan badan, sama sekali tak pernah menuruti selera dan nafsu.
Keadaan semacam ini membuat Beng Han menjadi lain daripada manusia biasa.
Dirinya lebih bersih lahir batin, dan perbedaannya dengan manusia lain tidak saja nampak dalam gerak geriknya yang halus kuat, terutama sekali kelihatan dalam sinar matanya, yang tajam penuh pengaruh dan kekuatan.
Sikapnya tenang sekali seakan akan kepercayaannya kepada diri sendiri sudah penuh dan kokoh kuat.
Di samping pembawaan diri yang amat luar biasa berkat berprihatin dan bertapa selama sepuluh tahun ini, juga ia telah melatih Kim kong kiam sut dan yang lain lain sampai sempurna betul.
Karena tidak pernah terganggu oleh orang lain persoalan dunia, ia dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada pelajaran ilmu ilmu silat yang ditinggalkan oleh Thian te Kiam ong.
Maka ia dapat mengisap sari pelajaran itu dan kiranya Thian te Kiam ong sendiri yang dapat mengimbangi kesempurnaannya dalam mainkan ilmu ilmu silat itu.
Di dalam pelajaran ilmu sitat yang terdapat di dalam kitab peninggalan Thian te Kiam ong, terdapat pelajaran ilmu lweekang tinggi yang melatih kedua telapak tangan sehingga timbul tenaga menyedot dan kedua telapak tangan.
Pelajaran ini terutama di siapkan untuk menghadap lawan bersenjata dengan tangan kosong sehingga sekali menangkap senjata lawan, takkan terlepas lagi.
Akan tetapi Beng Han yang berotak cerdik itu lalu menciptakan semacam kepandaian dengan lweekang seperti ini ia tahu bahwa baginya tidak ada jalan turun, kecuali apabila ia dapat merayap melalui dinding di luar pagoda, ia telah melihat betapa cecak dan kadal dapat merayap dengan enaknya di sepanjang dinding.
Mulailah ia belajar "merayap"
Atau merangkak pada dinding kamarnya.
Dengan mempergunakan lweekang, ia menyedot dengan kedua telapak tangannya pada dinding sehingga ia dapat menahan tubuhnya.
Mula mula ia hanya dapat merayap beberapa meter saja.
Akan tetapi berkat latihan hampir tiga tahun, akhirnya ia dapat bertahan merayap di dinding sampai lama mengandalkan kedua telapak tangannya.
Tanpa disadarinya Beng Han telah menciptakan ilmu merayap di tembok yang lebih hebat daripada ilmu merayap yang dikenal di dunia kang ouw sebagai ilmu Pek houw yu chong (Cecak Bermain main Di Tembok).
Setelah ia merasa bahwa ilmu silat yang terdapat di dalam kitab itu telah dikuasainya benar benar dan ilmu merayap yang dilatihnya selama ini sudah cukup sempurna, pada pagi hari sekali Beng Han memandang ke bawah melalui lubang angin di tembok luar pagoda.
Jarang ia memandang ke luar seperti ini, karena baisanya ia khawatir kalau kalau tempat sembunyinya diketahui orang.
"Aku harus mencari Kong Hwat dan wanita siluman itu,"
Katanya pada diri sendiri.
"Aku harus membuktikan kepada cici Bi Hui bahwa aku tidak berdosa. Kasihan cici Bi Hui..."
Setelah termenung sebentar, Beng Han lalu masuk kembali ke dalam kamarnya, mengikat pedang Kim kong kiam pada punggungnya, membawa pakaiannya yang dibuntal.
Sesungguhnya pemuda ini selama sepuluh tahun tidak kekurangan pakaian karena ia dapat menemukan tinggalan pakaian tiga orang hwesio penjaga pagoda.
Biarpun besar besar dan tidak karuan potongannya, namun kainnya cukup kuat dan bersih sehingga Beng Han dapat berganti pakaian apabila dikehendakuya.
Kini ia bahkan mempunyai bekal beberapa potong pakaian hwesio!
Yang dipakainya juga pakaian hwesio yang longgar dan tidak karuan.
Sepatunya juga sepatu hwesio yang besar!
Kalau saja rambutnya tidak panjang menghitam, tentu ia menjadi seorang hwesio muda.
Setelah sekali lagi memandang tempat di mata ia bertapa selama sepuluh tahun itu dengan pandangan sayang ia mulai melangkah keluar dari lubang angin dan mulai mempergunakan ilmunya merayap turun.
Ia tidak perduli andaikata terlihat orang, karena memang ia sudah mengambil keputusan untuk turun di dunia ramai.
Di luar sangkaannya semula, pagoda itu amat tinggi.
Biarpun ia sudah cukup berlatih dengan ilmunya merayap tetap saja kedua telapak tangannya terasa sakit dan tenaga lweekangnya hampir habis sebelum ia tiba di bawah.
Masih kurang lebih tujuh tombak dari tanah dan kedua tangannya gemetar.
Melihat bahwa jarak antara kakinya dan tanah hanya tujuh tombak kurang lebih, Beng Han lalu melepaskan kedua telapak tangannya dan mempergunakan ginkang untuk melayang turun.
Tubuhnya ringan seperti daun kering tertiup angin dan kedua kakinya tidak mengeluarkan suara ketika ia tiba di tanah.
Beng Han memandang ke atas, ke arah puncak pagoda di mana ia tinggal selama sepuluh tahun ini.
Ia menarik napas panjang dan merasa puas.
"Aku tidak melanggar pesan suhu,"
Pikirnya.
"Aku baru turun setelah tamat pelajaranku. Lebih baik aku lebih dulu pergi ke makam suhu untuk menghaturkan terima kasih."
Ia tidak tahu bahwa semenjak ia merayap turun tadi, dari balik semak semak ada dua orang mendekam dan mengintai dengan pandang mata kagum dan terheran heran.
"Berhenti! Serahkan Kitab Im yang Cin keng dan pedang Giok po kiam kepada kami!"
Beng Han terkejut juga mendengar bentakan yang tiba tiba ini.
Ia cepat menengok dan melihat dua orang hwesio tua sekali yang sikapnya keren dan gagah.
Yang seorang memegang kipas besar sedangkan hwesio yang ke dua memegang seuntai tasbeh perak.
Kalau dua benda ini merupakan senjata maka dapat dibayangkan betapa lihai dua orang hwesio tua yang tadi mengintai turunnya Beng Han dan pagoda ini.
Di dalam dunia persilatan telah menjadi kepercayaan bahwa barang siapa mempergunakan senjata yang sederhana maka orang itu tentu berkepandaian tinggi.
Makin sederhana senjatanya, makin tinggilah ilmu kepandaian orang itu.
Biarpun Beng Han tidak dapat menduga demikian karena ia memang kurang pengalaman, namun ia masih ingat akan tata susila dan sopan santun.
Cepat ia menjura sambil tersenyum dan bertanya.
"Mohon maaf kalau aku yang muda tidak mengerti apa maksud ji wi losuhu. Aku Thio Beng Han tidak pernah bertemu dengan ji wi losuhu. Siapakah ji wi losuhu dan apa gerangan maksud teguran tadi?"
Dua orang hwesio tua itu nampak ragu ragu.
Memang, melihat kedudukan mereka yang tinggi, agak tidak patut dan memalukan kalau mereka memperkenalkan diri kepada seorang muda setengah bocah ini, akan tatapi kalau tidak memperkenalkan diri, memang lebih tidak patut lagi.
Tak mungkin berurusan tanpa memperkenalkan diri dan menceritakan sebab sebab teguran mereka.
"Pinceng adalah Thian Beng Hwesio."
Kata hwesio tua pemegang kipas.
"dan ini adalah sute Thian Lok Hwesio kami berdua adalah hwesio hwesio dari Go bi pai yang sudah dua tahun mengintai di sini. Kami mendengar bahwa para suheng kami yang menjaga di sini, Gwat Kong Hosiang, Gwat Liong Hosiang, dan Gwat San Hosiang, telah tewas dan Kim hud lenyap dicuri orang. Kemudian kami mendengar bahwa patung emas itu di curi oleh Soat Li Suthai. Telah kami serbu nenek itu. akan tetapi dia dapat membuktikan bahwa benda benda yang terpenting, pusaka Go bi pai yang tadinya berada di dalam patung telah lenyap dicuri orang. Kami telah menduga bahwa tentu ketiga orang suheng kami menyembunyikan kitab dan pedang itu di sekitar pagoda. Ini hari kau orang muda turun dari atas pagoda secara aneh. Tentu kau tahu tentang kitab dan pedang itu!"
Tahulah Beng Han bahwa ia berhadapan dengan dua orang tokoh Go bi pai yang tinggi ilmunya.
Memang, dahulu pernah Thian Beng Hwesio dan Thian Lok Hwesio bersama seorang hwesio lain lagi bertempur melawan Song Tek Hong dan Ong Siang Cu dan tiga orang hwesio Go bi pai ini menderita kekalahan.
Akan tetapi semenjak itu, Thian Beng Hwesio dan sutenya memperdalam ilmunya dan telah maju pesat sehingga kelihaian mereka sekarang jauh lebih hebat daripada belasan tahun yang lalu.
Kini tingkat kepandaian mereka kiranya tidak berbeda jauh dengan tingkat kepandaian Gwat Kong Hosiang bertiga!
"Ji wi losuhu,"
Jawab Beng Han dengan suara halus dan tenang.
"aku tidak menyangkal. Memang kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, Gwat Kong Hosiang pernah menyerahkan sebuah kitab yang bernama Im yang Cin keng dan sebuah pedang Giok po kiam kepadaku. Akan tetapi oleh karena aku tidak ingin memiliki dua benda itu dan Gwat Kong Hosiang sudah memberikannya kepadaku, aku telah memberikan dua benda itu kepada orang lain."
Thian Beng Hwesio biarpun sudah amat tua, namun hatinya masih keras dan ia masih berwatak berangasan.
"Kau bonong! Tak mungkin kitab dan pedang pusaka yang dijadikan rebutan semua orang kang ouw itu kau berikan kepada orang lain begitu saja!"
Ia tidak ingat bahwa pemuda ini mengatakan bahwa hal itu terjadi sepuluh tahun yang lalu yang berarti bahwa pemuda itu tentu masih kanak kanak ketika hal itu terjadi.
Beng Han tidak marah, hanya tersenyum ramah.
"Kalau losuhu tidak percaya, sudahlah...."
"Kepada siapa kau memberikan kitab dan pedang itu? Hayo mengaku, kepada siapa kau berikan!"
Thian Beng Hwesio mendesak dengan sikap mengancam.
Mendengar penanyaan ini, terbayanglah dalam ingatan Beng Han seorang bocah perempuan yang manis dan baik hati.
Ia tersenyum mengingat gadis cilik itu, lalu bertanya.
"Losuhu, andaikata aku beritahukan siapa dia, losuhu berdua hendak berbuat apakah kepadanya? Mungkin sekali isi kitab itu telah dipelajari nya sampai tamat. Habis, apa yang hendak ji wi lakukan?"
"Kami akan minta kembali kitab dan pedang berikut nyawanya!"
"Nyawanya....??"
Beng Han terkejut sekali.
"Mengapa demikian, losuhu? Apa salahnya maka ji wi hendak membunuhnya?"
"Karena tidak boleh orang lain bukan anak murid Go bi pai mempelajari isi kitab warisan Tat Mo Couwsu! Maka selain kitab dan pedang harus diserahkan kepada kami, juga dia harus menyerahkan nyawanya. Hayo kau beritahukan siapa dia yang membawa dua benda pusaka kami itu!"
Beng Han menjadi marah.
"Keterlaluan sekali. Kejam dan tidak adil! Bukankah kitab itu di perebutkan semua oraang dan siapa yang berjodoh dia berhak mempelajari dan memiliknya? Ji wi losuhu, kalau aku tidak mau memberitahukan kepada siapa benda itu kuberikan, kalian hendak berbuat apakah?"
"Akan pinceng paksa kau supaya mengaku!"
Kata Thian Beng Hwesio sambil menggerak gerakkan kipasnya seakan akan tubuhnya kepanasan. Padahal gerakan ini menandakan bahwa dia sudah mulai kehilangan kesabarannya dan siap menyerang lawan.
"Ji wi losuhu, tadinya aku memang bermaksud memberitahukan kepada ji wi siapa orangnya yang membawa dua benda itu, bahkan aku bersedia membantu untuk mintakan kembali benda benda itu apabila benar benar benda benda itu adalah pusaka dari Go bi pai. Akan tetapi mendengar keputusan ji wi hendak membunuh orangnya, aku menarik kembali niatku tadi. Orang itu tidak bersalah, akulah yang bertanggung jawab karena aku yang memberikan benda benda itu kepadanya. Kalau ji wi losuhu hendak menghukum, hukumlah aku. Sampai mati aku takkan mengkhianati orang itu, karena dia memang tidak bersalah dalam hal ini."
Ucapan yang gugah dari Beng Han disertai sikapnya yang tenang sekali membuat dua orang hwesio itu saling pandang dengan heran.
Alangkah beraninya anak ini, dan tadi mereka berduapun sudah menyaksikan kehebatan ilmu merayap dari pemuda itu ketika menuruni pagoda.
Sungguhpun ilmu itu tidak membuktikan kelihaian dalam pertempuran, namun sudah membayangkan bahwa pemuda ini memiliki lweekang tinggi dan bukan orang sembarangan.
"Orang muda, kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan maka kau bersikap sombong dan berani mati. Kami berdua dari Go bi pai tidak biasanya pulang dengan tangan kosong kalau sudah menggerakkan tangan. Agak segan kami kalau harus bertempur denganmu karena tingkat kami jauh lebih tinggi. Barangkali gurumu masih di bawah kami tingkatnya. Coba kausebutkan nama gurumu barangkali kami mengenalnya,"
Kata Thian Lok Hwesio yang benar benar merasa agak malu kalau harus melayani seorang pemuda dalam kedudukannya sebagai tokoh besar Go bi pai.
Beng Han tersenyum, tahu bahwa dalam kata kata itu tersembunyi kesombongan besar.
"Ji wi losuhu, guruku sudah meninggal dunia dan dahulu orang orang menyebutnya Thian te Kiam ong. Aku menjadi muridnya melalui pelajaran dalam kitabnya."
"Thian te Kiam ong...??"
Hampir berbareng dua orang hwesio itu menyebut nama ini. Mereka kaget dan terheran terheran karena melihat murid Thian te Kiam ong yang sudah lama meninggal dunia itu masih begini muda.
"Bocah lancang jangan kau bohong!"
Bentak Thian Beng Hwesio.
"Mengapa aku harus membohong?"
Balas Beng Han tak senang.
"Agaknya sudah menjadi kebiasaan ji wi losuhu untuk tidak percaya kepada omongan orang lain dan mencari kebenaran sendiri."
"Tak usah banyak cakap, lekas beritahukan siapa adanya orang yang membawa kitab dan pedang!"
Thian Beng Hwesio membentak marah.
"Maaf terpaksa aku takkan memberi tahu karena sikap losuhu buruk dan kasar,"
Jawab Beng Han.
"Kau manusia sombong....!"
Thian Beng Hwesio sudah menggerakkan kipasnya Kipas ini bukan sembarang kipas, melainkan sebuah senjata yang amat lihay.
Disebutnya kipas Ngo heng san dan di dalam pertempuran merupakan senjata berbahaya dimainkan dengan ilmu Silat Ngo heng kun.
Jarang ada orang mampu menghadapi hwesio dengan kipasnya ini.
Akan tetapi Thian Lok Hwesio mencegah suhengnya sambil memutar tasbeh peraknya dan berkata.
"Suheng, menghadapi seorang bocah cilik mengapa suheng harus maju sendiri? Biar pinceng menghadapi dan menundukkannya!"
Beng Han sudah siap sedia.
Biarpun ia belum memiliki pengalaman bertempur, namun di dalam kitab peninggalan Thian te Kiam ong terdapat banyak penjelasan tentang cara menghadapi lawan tangguh.
Ia berlaku tenang dan hati hati sekali, tidak tergesa gesa mencabut Kim kong kiam, melainkan memasang kuda kuda Chit seng pouw dan menaruh kedua tangan dalam sikap pembukaan ilmu Silat Thai lek Kim kong jiu yang tinggi.
Angin dingin bersiut mendahului datangnya tasbeh perak yang menyambar merupakan sinar putih menyilaukan mata.
Melihat senjata lawan yang ampuh itu menyambar ke arah kepalanya, Beng Han berlaku tenang sekali ia tidak terburu buru mengelak, melainkan menanti sampai tasbeh itu datang dekat, sama sekali tidak menghiraukan hawa pukulan tasbeh yang cukup dahsyat itu.
Tiba tiba dengan sedikit gerakan pundak, Beng Han telah mengangkat kedua tangan ke atas dan menggunakan kedua tangan yang dimiringkan untuk menabas ke bawah pada saat tasbih datang menyerang kepalanya.
Dia bukan menangkis, melainkan memukul atau membabat tasbeh itu dengan kedua tangan seperti lakunya seorang membabat rumput dengan golok!
Thian Lok Hwesio kaget sekali sampai hampir berteriak.
Bukan saja tasbehnya tidak mengenai lawan, bahkan senjata istimewa itu seperti terdorong ke bawah dan tanpa dapat ia cegah lagi senjatanya menghantam batu di atas tanah.
Batu itu remuk dan memuncratkan bunga api sedangkan telapak tangan hwesio tua itu terasa perih sekali!
Untuk menutupi malunya, Thian Lok Hwesio mengeluarkan gerengan seperti harimau terluka dan tasbehnya menyambar nyambar cepat dalam serangan bertubi tubi ke arah tubuh pemuda itu.
Beng Han tidak berani berlaku lambat dan sembrono.
Pemuda ini cukup maklum akan lihai nya tasbeh lawan, juga maklum bahwa tenaga lweekang dari hwesio tua ini besar sekali.
Maka ia mengandalkan kelincahan tubuhnya, bergerak ke sana ke mari seperti bayangan, bersilat dalam ilmu Silat Soan hong pek tek jiu yang cepat sekali gerakannya dan kadang kadang kedua tangannya bergerak menyentil tasbeh kalau senjata terlampau mendekati tubuhnya dan mengancam keselamatannya.
Anehnya, setiap kali senjata itu terkena sentilan jari tangannya, senjata itu tentu menyeleweng arahnya!
Diam diam Thian Lok Hwesio merasa kaget, kagum dan juga penasaran.
Masa dia seorang tokoh besar Go bi pai sampai dipermainkan oleh seorang bocah yang bertangan kosong?
Ia makin marah dan tasbehnya menyambar makin kuat dan cepat.
Perlu diketahui bahwa seorang hwesio tua seperti Thian Lok Hwesio yang menjadi tokoh besar Go bi pai, tentu saja ilmu silatnya tinggi dan tenaganya kuat sekali.
Ilmu kepandaiannya biarpun tidak setinggi kepandaian Pat pi Lo cu atau Koai Thian Cu umpamanya, akan tetapi kiranya sudah mengimbangi kepandaian Sin tung Lo kai Thio Houw, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan dahsyat tasbeh peraknya ketika ia menyerang Beng Han dengan penasaran dan marah.
Apabila kalau diingat bahwa Beng Han dapat diumpakan sebagai seekor burung yang baru saja turun dari sarang setelah sayapnya benar benar kuat, biarpun pandai terbang akan tetapi belum banyak pengalaman.
Demikian pula Beng Han.
Kalau saja ia tidak mewarisi ilmu ilmu silat yang luar biasa tingginya disertai ketekunan yang hebat dan ketenangan yang ia dapat dari "bertapa", tentu ia takkan kuat menahan gelombang serangan yang amat dahsyat dari tasbeh di tangan Thian Lok Hwesio.
Baiknya pemuda itu benar benar telah menguasai ilmu silatnya dengan sempurna.
Boleh dibilang beberapa macam ilmu silat tinggi yang ia pelajari dari kitab peninggalan Thian te Kiam ong, sekarang telah mendarah daging dalam dirinya, menjadi satu dengan urat syaraf dan perasaannya sehingga semua gerakannya ketika melindungi diri terjadi seperti otomatis tanpa disengaja atau diatur lagi.
Ketenangan dan kecekatannya membuat semua serangan Thian Lok Hwesio gagal dan menghantam angin belaka.
Namun karena ia bertangan kosong sedangkan lawannya menggunakan senjata tasbeh yang mempergunakan untuk memukul, menotok dan mengemplang ke arah muka, Beng Han menjadi keteter dan terdesak hebat.
Pemuda ini tadinya hanya membela diri sama karena ia tidak merasa bermusuhan dengan hwesio ini.
Akan tetapi oleh karena ia berada dalam keadaan berbahaya apabila mengalah terus, akhirnya ketika tasbih menyambar ke arah mukanya, ia melompat mundur dan mengeluarkan suara keras dari mulutnya sambil mendorongkan kedua tangannya dengan jari jari terbuka ke depan, inilah pukulan dari Soan hong pek lek jiu yang hebat, ilmu warisan dari nenek sakti Mo bin Sin kun, guru Thian te Kiam ong.
Pukulan sakti yang telah terlatih hebat oleh Beng Han ini, mana Thian Lok Hwesio mampu menahannya?
Bagaikan sebuah balok dihanyutkan gelombang laut membadai, tubuhnya terhuyung ke belakang tak dapat tercegah lagi, tasbehnya membalik dan memukul perutnya sendiri.
Baiknya ia masih dapat mengerahkan tenaga perutnya sehingga senjata itu tidak makan tuannya.
Baru setelah terhuyung mundur sejauh belasan langkah, Thian Lok Hwesio dapat mengatur keseimbangan badan dan berdiri tegak dengan muka pucat sekali.
"Omitohud.... hebat luar biasa...."
Ia mengeluh terengah engah. Thian Beng Hwesio hampir tak dapat mempercayai matanya sendiri melihat betapa sutenya dikalahkan demikian mudahnya oleh pemuda ini. Ia menjadi penasaran sekali.
"Bocah, kau berani menghina suteku?"
Bentaknya dan kipasnya dikebutkan ke arah Beng Han.
Pemuda ini merasa angin panas menyambar ke arahnya dari kipas itu.
Ia kaget dan maklum bahwa di depannya bergerak seorang pandai, ia tidak berani sembrono.
Cepat ia menggerakkan kedua tangannya dan menolak hawa panas itu dengan angin pukulan tangannya Angin pukulan kipas di tangan Thian Beng Hwesio terpukul buyar.
Hwesio itu menjadi amat kagum, juga panas hati.
"Bocah, kaulihai juga. Lihat kipas!"
Sambil berseru demikian ia menerjang maju dengan serangan kipas yang ternyata lebih hebat dan dahsyat daripada serangan tasbeh dari Thian Lok Hwesio tadi.
Beng Han tidak mau terlalu mengalah seperti tadi.
Sekarang ia tidak hanya membela diri, melainkan melakukan serangan balasan dengan pukulan pukulan Thai lek Kim kong jiu di campur dengan Soan hong Pek lek jiu yang ampuh.
Menghadapi pukulan pukulan ini, sebentar saja Thian Beng Hwesio main mundur dan kipasnya sudah terkena pukulan sampai robek tengahnya.
"Kami harus memaksamu mengaku!"
Teriak Thian Beng Hwesio nekad.
Teriakan ini sebagai penutup malunya karena ia segera memerintahkan sutenya untuk mengeroyok.
Melihat bahwa suhengnya juga tidak mampu mengalahkan pemuda yang masih bertangan kosong itu, Thian Lok Hwesio lalu menyerang dengan tasbehnya membantu Thian Beng Hweso.
Untuk mencari dimana adanya barang barang pusaka partainya, dua orang kakek tua ini tidak segan segan atau malu malu lagi untuk mengeroyok seorang muda remaja!
Menghadapi keroyokan dua orang kakek tokoh Go bi pai itu, terpaksa Beng Han melompat mundur sampai dua tombak dan di lain saat ketika dua orang kakek itu mendesaknya, tangannya bergerak dan sinar keemasan seperti pelangi menyambar dan menahan gerakan kipas dan tasbeh.
Terdengar suara keras disusul teriakan teriakan Thian Beng Hwesio dan Thian Lok Hwesio.
Ternyata kipas dan tasbeh itu telah terbabat putus ujungnya oleh pedang di tangan pemuda itu.
"Pedang Kim kong kiam di tanganku, apakah ji wi losuhu tidak mengenalnya dan masih menyangkal bahwa aku adalah murid suhu Thian te Kiam ong?"
Dua orang hwesio itu kaget setengah mati melihat betapa dalam segebrakan saja pemuda itu dapat merusak senjata mereka.
Kalau dilanjutkan pertempuran itu, tidak sukar diduga kesudahannya, pasti mereka akan kalah dan roboh di tangan pemuda yang luar biasa ini.
Pula, mereka juga mengenal Kim kong kiam, maka Thian Beng Hwesio menarik napas panjang dan berkata.
"Kau lihai sekali, orang muda, dan patutlah kalau kau menjadi ahli waris kepandaian Thian te Kiam ong. Akan tetapi ketahuilah kami berdua bertugas untuk mencari dan membawa kembali pedang dan kitab pusaka Go bi pai, oleh karena itu biarpun kami harus kehilangan nyawa, kami harus mencari orang yang membawa benda pusaka itu sampai dapat."
Beng Han dapat menghormati tugas orang lain. Ia berkata.
"Ji wi losuhu, aku sendiri akan membantu ji wi untuk mendapatkan kembali kitab dan pedang. Akan tetap aku tetap tidak dapat memberitahukan orangnya kalau ji wi berkukuh hendak membunuh atau mengganggunya. Ketahuilah bahwa orang yang kini membawa kitab dan pedang itu sama sekali tidak berdosa. Dia hanya menerima sebagai hadiah dari tanganku. Adapun aku sendiri juga menerima sebagai hadiah dari Gwat Kong Hosiang, maka ji wi jangan menuduh yang bukan bukan. Menghukum orang, apalagi membunuhnya tanpa alasan yang kuat, sungguh merupakan perbuatan dosa yang harus di pantang oleh ji wi. Aku akan mencari orang itu dan minta kembali kitab dan pedang, kelak kalau sudah berhasil, aku akan pergi ke Go bi san mengembalikannya!"
Setelah berkata demikian, Beng Han menggerakkan kedua kakinya dan sekejap mata saja ia sudah lenyap dari depan dua orang hwesio yang menjadi bengong itu.
Memang Beng Han tidak mau mencari "penyakit", yaitu tidak mau memberi kesempatan kepada hwesio hwesio keras hati agar jangan sampai timbul percekcokan baru Di dalam hatinya ia berjanji untuk mencari Li Hwa, selain untuk minta kembali kitab dan pedang karena isi kitab itu toh sudah dipelajari sampai tamat oleh Li Hwa, juga untuk memberi tahu akan bahaya yang mengancam dari pihak Go bi pai.
Dan terutama sekali karena ia amat ingin bertemu dengan bocah perempuan yang dianggapnya sangat baik budi terhadapnya itu.
0odwo0 Semenjak mendapatkan kitab Im yang cin keng dan pedang Giok po kiam, Kwan Li Hwa melatih diri dengan ilmu silat ini di bawah pimpinan Sin tung Lo kai Thio Houw sendiri.
Kakek sakti ini maklum bahwa kalau ada orang kang ouw yang mengetahui akan hal ini, pasti mereka takkan tinggal diam dan akan mencoba melakukan perampasan kitab dan pedang.
Oleh karena itu ia berlaku keras sekali Cucu perempuannya ini disekap di dalam rumah tak boleh keluar dan di dalam taman bunga di belakang rumah mereka yang terkurung dinding tembok tinggi, yaitu rumah mereka di Leng ting, setiap hari Sin tung Lo kai mengawasi cucunya berlatih silat Biarpun Kwan Siang Hong beberapa kali mengajukan permintaan agar ia diperkenankan berlatih bersama adiknya, namun Sin tung Lo kai berkeras tidak mengijinkannya.
"Kitab dan pedang ini bukanlah benda sembarangan dan terjatuh ke dalam tangan Li Hwa sudah menjadi kehendak Thian. Li Hwa yang berjodoh maka harus dia yang mempelajarinya Kalau kuberikan kepadamu, aku khawatir kita akan menerima kutukan Tat Mo Couwsu. Sian Hong, kau seorang laki laki, selain kepandaianmu dari aku sudah cukup, langkahmu lebar dan kau dapat mencari tambahan kepandaian di dunia kang ouw. Tidak seperti adikmu, seorang perempuan."
Demikian Sin tung Lo kai memberi alasan.
Sian Hong seorang pemuda yang taat, menerima alasan ini dan tidak menaruh hati iri.
Bahkan ia lalu berpamit dari ayah bundanya untuk merantau agar pengertiannya bertambah.
Kedua orang tuanya hanya memberi waktu dua tahun, demikian kata mereka, karena pemuda ini sudah terikat oleh perjodohan dengan Song Bi Hui, cucu Thian te Kiam ong.
Ketika Sin tung Lo kai melihat lihat kitab Im yang cin keng, ia menjadi girang bukan main karena isi kitab itu benar benar merupakan pelajaran ilmu silat yang amat aneh dan tinggi.
Di situ terdapat pelajaran lweekang dan ginkang juga terdapat beberapa macam ilmu silat tangan kosong dan ilmu pedang!
Membaca sepintas lalu saja tahulah kakek ini bahwa cucunya telah mendapatkan ilmu sitat yang amat hebat, jauh lebih hebat daripada ilmu silatnya sendiri!
Maka kakek ini makin tekun melatih cucunya, dan biarpun dia membacanya, ia hanya mengetahui teori teorinya saja agar dapat membri petunjuk.
Dia sendiri tidak mau melatih diri karena merasa tidak berhak.
Beginilah watak seorang gagah sejati!
Setelah setahun lewat, Thio Leng Li dan suaminya, Kwan Lee pergi ke Lok can mengunjungi Song Siauw Yang dan suaminya.
Mereka ini diterima dengan penuh kegembiraan oleh Pun Hui dan Siauw Yang seperti layaknya sahabat sahabat lama bertemu.
Dalam percakapan gembira, Leng Li dan Kwan Lee menyatakan kepentingan dan kunjungan mereka, yakni selain menengok, juga hendak mempererat dan mengesahkan ikatan dan perjodohan antara Kwan Sian Hong putera mereka dan Song Bi Hui, sebagaimana telah diusulkan dahulu oleh mendiang Thian te Kiam ong.
Mendengar ini, wajah Siauw Yang menjadi muram sekali, nampak berduka.
Tentu saja Kwan Lee dan isterinya menjadi heran dan kaget.
Memang semenjak mereka datang, mereka telah melihat wajah tuan dan nyonya rumah nampak muram dan seperti tertutup awan gelap.
"Enci Siauw Yang, kau mengapa nampak berduka?"
Tanya Leng Li. Siauw Yang menarik napas panjang berkali kali lalu berkata.
"Aahh, semenjak ayah meninggal dunia. keluarga kami seperti menerima kutukan. Mula mula terbunuhnya kakakku Tek Hong dan so so secara mengerikan. Kemudian setelah beberapa lama Bi Hui berada di sini, pada suatu malam ia pergi tanpa pamit, entah ke mana perginya sampai sekarang kami tidak tahu. Bahkan pada keesokan harinya, Kong Hwat juga pergi menyusul untuk mencari Bi Hui. Sekarang sudah hampir setahun, mereka belum ada beritanya! Celakalah kami yang ditinggalkan, tak enak makan tak nyenyak tidur. Tadinya kami hendak menyusul, akan tetapi kemanakah? Pula, kalau kami pergi, kami takut kalau kalau mereka pulang. Aaahhh...!"
Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipi Siauw Yang.
Tentu saja dia tak mau berceritera tentang percekcokan dengan Siang Cu dan Tek Hong sebelum dua suami isteri itu terbunuh.
Juga ia tidak mau berceritera tentang hal yang amat menggelisahkan dan menyusahkan hatinya dan hati suaminya, yakni tentang Kong Hwat.
Pemuda ini pergi sehari setelah Bi Hui pergi, dan perginya bersama dengan Kui Lian yang makin lama makin dipikir makin mencurigakan hati mereka.
Diam diam mereka dapat menduga bahwa tentu ada hubungan apa apa yang tidak bersih antara putera mereka dengan wanita muda yang cantik dan aneh itu.
Mendengar penuturan ini, Leng Li dan suaminya ikut bingung.
Mereka datang untuk bicara tentang perjodohan, tidak tahunya dua orang muda yang bersangkutan semua telah pergi tanpa diketahui ke mana perginya, sudah hampir setahun!
Karena kasihan kepada sahabatnya, Leng Li dan suaminya tinggal di Liok can sampai dua bulan lebih.
Adanya mereka berdua di situ merupakan hiburan besar bagi Siauw Yang dan Pun Hui oleh karena sebagaimana diketahui, Pun Hui adalah sahabat baik bahkan kawan sekolah dati Kwan Lee, adapun Siauw Yang dan Leng Li memang telah mengikat tali persahabatan sjak lama.
Hubungan mereka seperti saudara, apalagi memang Pun Hui merupakan kakak angkat dari Leng Li.
Sama sekali Leng Li dan suaminya tidak mengira bahwa sepergi mereka, di Leng ting telah terjadi hal hal yang amat hebat!
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 9
Baca Juga: Pendekar Sakti 5