Eps 14 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.
Kota Leng ting cukup ramai dan di situ terkenal sebagai pusat perkumpulan Ang sin tung Kai pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Merah) yang masih diketuai oleh Sin tung Lo kai Thio Houw dan diwakili oleh Thio Leng Li yang berjuluk Bi sin tung.
Perkumpulan ini bukan semata mata merupakan perkumpulan pengemis, melainkan lebih tepat disebut perkumpulan orang orang gagah yang selalu memupuk perbuatan baik dan membantu rakyat yang tertindas.
Oleh karena Leng ting merupakan pusat di mana sang ketua berada, tentu saja di situ terdapat banyak pentolan pentolan Ang sin tung Kai pang yang seringkali datang menghadap Thio Houw untuk memberi laporan tentang keadaan dan minta nasihat nasihat.
Pada suatu hari, hanya tiga pekan semenjak Leng Li dan suami nya berangkat ke Liok can, rumah gedung di mana keluarga itu tinggal kedatangan seorang pemuda ganteng dan seorang gdis cantik yang membawa hudtim.
Mereka ini adalah Kong Hwat dan Ku Lian.
Sudah setahun mereka ini merantau sampai jauh.
Atas desakan Kong Hwat yang selalu merengek manja, mereka mencari jejak Bi Hui, namun sia sia.
Ahirnya Kong Hwat mengajak kekasihnya pergi ke Leng ting karena ia menduga bahwa Bi Hui besar sekali kemungkinannya pergi ke rumah calon suaminya!
Memikirkan hal ini, ia merasa iri hati dan cemburu sekali terhadap keluarga Sin Tung Lo kai.
Menang, tak salah apabila orang mengatakan bahwa watak seorang sebagian besar terpengaruh dan tergantung kepada pergaulan.
Orang yang wataknya baik apabila terpengaruh oleh orang jahat, lambat laun akan menjadi jahat pula.
Kong Hwat tadinya berwatak baik, akan tetapi ia masih hijau dan kurang pengalaman.
Setelah ia terjerumus ke dalam cengkeraman berbisa dari siluman Kui Lian, moralnya menjadi rusak.
Wanita cabul yang menjadi jahat seperti siluman itu menyeratnya ke dalam lembah kehinaan yang penuh nafsu.
Selama ia melakukan perjalanan dengan Kui Lian, ia terjerumus makin dalam dan akhirnya pemuda keturunan orang orang gagah ini tidak ragu ragu lagi bersama Kui Lian melakukan segala perbuatan seperti mencuri, merampok dan membunuh orang tanpa berkedip mata!
Bahkan, yang lebih hina lagi, mereka berdua melakukan perbuatan perbuatan tak tahu malu yang akan membikin merah muka orang orang sopan.
Biarpun Kui Lian betul betul cinta setulusnya kepada Kong Hwat, namun wanita ini tak dapat mengekang nafsunya dan dengan terang terangan dia berani bermain gila dengan laki laki lain, sedangkan iapun memberi kesempatan kepada Kong Hwat untuk mengganggu anak bini orang.
Bahkan wanita siluman ini membantunya mendapatkan wanita yang kiranya menarik hati Kong Hwat.
Tadinya memang hal ini dilakukan secara sembunyi sembunyi.
akan tetapi kemudian, di bawah pengaruh sihir Kui Lian, Kong Hwat dan kekasihnya bersepakat untuk memberi kesempatan kepada masing masing mencari hiburan dan selingan.
Benar benar perhubungan mereka amat kotor dan hina.
Tidak ada malu lagi, tidak ada cemburu lagi.
Mereka merupakan pasangan yang cocok, pasangan yang jahat dan berbahaya sekali.
Di samping itu mereka masih terus memperdalam ilmu kepandaian, saling bertukar ilmu hingga menjadi makin lihai.
Kedatangan Kong Hwat dau Kui Lian di rumah Sin tung Lo kai disambut oleh tiga orang anggota Ang sin tung Kai pang yang sudah setengah tua usianya.
Mereka ini merupakan tokoh tokoh Ang tin tung Kai pang yang bertugas menjaga tempat tinggal dan mengatur segala keperluan rumah tangga ketua mereka.
Pada siang hari itu, seperti biasa Sin tung Lo kai tengah melatih Li Hwa.
Kakek ini mempunyai pandangan yang amat jauh, oleh karena itu pada bulan bulan pertama ia menyuruh Li Hwa menghafal seluruh isi kitab itu diluar kepala.
Memang pekerjaan ini agak sukar bagi Li Hwa yang lebih pintar bersilat daripada menghafal huruf.
Akan tetapi Sin tung Lo kai memaksanya sehingga Li Hwa terpaksa menghafal isi kitab itu.
Juga kitab dan pedang tidak ditaruh begitu saja di dalam kamar oleh Sin tung Lo kai, melainkan disimpan di tempat rahasia yang hanya diketahui oleh Li Hwa dan dia sendiri.
Di waktu berlatih, mereka tidak membutuhkan kitab itu, kecuali apabila Li Hwa lupa bagian yang hendak dilatihnya.
Melihat bahwa yang menyambutnya tiga orang setengah tua berpakaian tambal tambalan, hati Kui Lian menjadi tak senang.
Biarpun pakaian itu bersih sekali, namun bertambal tambal seperti pakaian pengemis.
Kalau Kong Hwat menjura kepada tiga orang itu, sebaliknya Kui Lian menjebikan bibir dan melihat lihat ke arah lukisan di dinding ruangan depan yang amat lebar itu.
"Sicu siapakah dan hendak bertemu dengan siapa?"
Tanya seorang diantara tiga penyambut itu.
"Siauwte Liem Kong Hwat dari Liok can hendak bertemu dengan Sin tung Lo kai Thio pangcu,"
Jawab Kong Hwat yang belum melupakan sopan santun.
Tiga orang pengurus Ang sin tung Kai pang ini sudah lama membantu Thio Houw, maka mendengar bahwa pemuda ini datang dan Liok can, mereka dapat menduga bahwa ini tentulah pemuda cucu Thian te Kiam ong yang akan di jodohkan dengan Kwan siocia.
Maka dengan muka berseri mereka memberi hormat, kemudian seorang di antara mereka berseru ke dalam, suaranya keras dan mengandung tenaga khikang yang kuat sehingca suara itu dapat terdengar sampai di tempat jauh.
"Pangcu, di sini ada Liem sicu dari Liok can mohon menghadap pangcu!"
Kong Hwat mengerutkan kening.
Alangkah kurarg ajarnya pengemis pengemis ini terhadap ketua mereka.
Masa melaporkan kedatangan tamu dengan cara berteriak begitu saja.
Ia tidak tahu bahwa aturan ini memang diadakan oleh Sin tung Lo kai sendiri semenjak ia melatih ilmu silat kepada Li Hwa, agar tidak ada orang yang berani masuk ke dalam taman atau ruangan belajar silat.
Tak tama kemudian dari belakang rumah terdengar suara nyaring.
"Silahkan tamu yang terhormat duduk menanti sebentar, aku segera keluar menyambut!"
Mendengar ini, tiga orang pengemis itu lalu mempersilahkan Kong Hwat dan Kui Lian untuk duduk menanti di ruang tamu, sedangkan mereka sendiri lalu keluar dan duduk di bangku yang berada di luar rumah, melanjutkan percakapan mereka yang tadi terganggu oleh kedatangan dua orang muda itu.
Belum lama Kong Hwat dan Kui Lian duduk di ruang tamu itu, pintu terbuka dan masuklah Sin tung Lo kai bersama Li Hwa.
Gadis cilik ini berpakaian ringkas dan wajahnya kemerahan, masih basah oleh peluh karena baru saja ia bertatih silat dengan penuh semangat.
Kong Hwat segera menjura dengan hormat kepada kakek yang membawa tongkat merah itu.
"Harap Thio lopangcu baik bak saja selama ini,"
Katanya sederhana. Melihat Kong Hwat, kening Sin tung Lo kai berkerut.
"Eh, eh, kiranya kau? Anak dan mantuku juga pergi ke rumah orang tuamu di Liok can. Apakah kau tidak bertemu dengan mareka? Dan ada kepertuan apakah kau datang ke sini, Liem sicu?"
Tadinya Li Hwa tidak tahu siapa gerangan tamu yang datang, akan tetapi ketika ia melihat bahwa yang datang adalah pemuda yang dicalonkan sebagai jodohnya, tanpa berkata apa apa lagi dengan pipi kemerahan ia lalu berlari masuk.
Melihat ini, Thio Houw tertawa kecil akan tetapi tidak berkata apa apa.
"Lo pangcu, sudah setahun aku pergi dari rumah, mencari adik Bi Hui yang pergi tanpa pamit. Kedatanganku ke sini juga untuk melihat apakah adik Bi Hui berada di sini."
Sin tung Lo kai memandang tajam dan keningnya makin berkerut dalam.
Melihat pemuda ini ia teringat akan penuturan Beng Han bahwa pembunuh Song Tek Hong dan isterinya adalah Kong Hwat dan seorang perempuan muda.
Kakek itu mengerling ke arah Kui Lian yang duduk dengan sikap sombong tak mengacuhkannya.
"Hemm, kau mencari Song siocia? Dan siapakah bocah ini?"
Ia menudingkan jari telunjuknya ke arah Kui Lian.
Kui Lian memiliki watak sombong karena merasa bahwa ia berkepandaian.
Ia biasa memandang rendah kepada orang lain, maka terhadap kakek inipun ia memandang rendah.
Melihat sikap kakek itu yang dianggapnya menghina, ia tertawa genit dan berdiri sambil berkata.
"Kakek ketua jembel, kau menuding nuding kepadaku ada apakah? Aku Cia Kui Lian tidak mempunyai urusan dengan kau. Lebih baik kau lanjutkan urusanmu dengan dia ini dan lebih baik lagi kalau kau lekas lekas mengeluarkan Bi Hui apabita gadis itu disembunyikan di sini agar urusan lekas beres!"
Kong Hwat yang selama ini sudah biasa dengan watak Kui Lian, tidak menjadi heran biarpun ia merasa agak tidak enak, tahu orang macam apa adanya kakek ini.
Mendengar kata kata Kui Lian itu, alis kakek yang sudah putih itu berdiri, matanya mengeluarkan sinar berapi.
"Kau ini siapakah berani bicara macam itu kepada Sin tung Lo kai Thio Houw?"
Kata kakek itu menahan marah dan sepasang matanya terus menatap tajam.
Kui Lian tersenyum manis dan sikapnya makin genit "Kakek tua, kau ingin tahu namaku?
Aku Cia Kui Lian.
Tadi sudah kusebutkan namaku, apakah satu kali saja masih belum memuaskan hatimu?"
Thio Houw membuang muka dan kini mengalihkan pandang matanya kepada Kong Hwat, sikapnya marah dan penuh teguran.
"Liem sicu, mengapa kau membawa bawa perempuan macam ini ke sini? Hemm, aku heran apakah roh Thian te Kiam ong tidak menjadi marah marah melihat cucunya seperti kau ini. Dan aku heran apakah perempuan ini tidak hadir dalam pembunuhan Song taihiap dan isterinya!"
Mendengar ini, wajah Kong Hwat seketika menjadi pucat.
"Lo pangcu jangan kau menghina orang. Cia lihiap ini adalah sahabat baikku yang membantuku di mana mana. Bagaimana kau berani menghinanya? Tentang pembunuhan paman dan bibi, sudah jelas yang membunuhnya bocah setan Beng Han. Lo pangcu, aku datang bukan untuk membicarakan hal itu atau untuk memancing penghinaan, akan tetapi hendak mencari Bi Hui. Dia tidak bisa menjadi cucu mantumu, juga aku tidak, karena Bi Hui dan aku sudah mengikat janji perjodohan sendiri. Kalau Bi Hui bersembunyi di sini, harap kau suruh keluar agar aku dapat mengajaknya pulang."
Hampir saja Sin tung Lo kai Thio Houw tak dapat percaya akan pendengarannya sendiri dan pandangan matanya sendiri.
Inikah pemuda putera Liem Pun Hui dan Song Siauw Yang?
Karena Liem Pun Hui masih putera angkatnya, maka pemuda ini terhitung cucu angkatnya pula!
Dan pemuda ini juga cucu Thian te Kiam ong!
Sudah gilakah pemuda ini!
"Bangsat rendah, kau bicara apa?
Hayo pergi dari sini!
Tak pantas kau menginjak lantai rumahku.
Pergi sebelum aku lupa diri dan menghancurkan kepalamu dan kepala anjing betinamu!"
Kemarahan Sin tung Lo koai meluap luap, wataknya yang keras di waktu mudanya timbul kembali karena merasa dihina orang orang muda. Kong Hwat juga timbul marahnya, ia berdiri dan tersenyum sindir.
"Sin tung Lo kai, kaulah yang lebih dulu menghina kami. Kedatangan kami hanya untuk mencari Bi Hui, akan tetapi kau bicara yang bukan bukan. Tentang pergi dari sini, tanpa kau minta kamipun akan pergi. Akan tetapi lebih dulu harus mendapat kepastian apakah Bi Hui tidak berada di sini. Kami bukan percuma membuang waktu dari perjalanan ke sini!"
"Koko, mengapa banyak urusan? Geledah saja di dalam, habis perkara. Kau geledah ke dalam dan kalau ada Bi Hui seret ia keluar. Aku yang menjaga di sini!"
Kata Kui Lian sambil mencabut pedang menggerak gerakkan hudtimnya. Dapat dibayangkan betapa memuncak kemarahan Sin Tung Lo kai menghadapi dua orang muda itu.
"Jahanam keparat! Andaikata Bi Hui berada di sini kalian mau apakah?"
Tongkat merah di tangan nya sudah tergetar dan hawa marah membayang d matanya.
"Kalau dia berada di sini, harus pulang ikut dengan aku!"
Jawab Kong Hwat yang mengandalkan kepandaian Kui Lian dan hendak memasuki ruangan dalam.
"Jangan injakkan kakimu yang kotor di sini! Pergilah!"
Sin tung Lo kai marah dan menggerakkan tongkatnya, sekaligus menyerang Kong Hwat dan Kui Lian.
Serangan ini hebatnya bukan main mengeluarkan angin berputar seperti angin taufan.
Kong Hwat dan Kui Lan cepat menangkis dengan pedang mereka dan akibatnya, Kong Hwat terhuyung huyung ke belakang dan Kui Lian terpental sampai ke pintu!
Memang, kepandaian Sin tung Lo kai amat tinggi dari pada kepandaian dua orang muda itu.
Pada saat itu, tiga orang kakek penjaga yang mendengar teriakan teriakan marah dari ketua mereka, sudah menyerbu masuk dengan tongkat di tangan.
Tongkat mereka juga merah seperti yang dipegang oleh Sin tung Lo kai.
Seorang di antara mereka berada di dekat Kui Lian.
Begitu ia memandang Kui Lian berseru nyaring.
"Berlutut kau....!"
Suaranya penuh wibawa, pandang matanya penuh hawa dan pengaruh menundukkan.
Hebat sekali, kakek pengemis ini tiba tiba seperti dipukul lututnya dan berlututlah ia di depan Kui Lian.
Sambil tertawa menyeramkan Kui Lian menggerakkan kebutannya yang menyambar ke arah kepala kakek itu.
Tanpa menjerit kakek ini roboh terguling di atas lantai dan tongkatnya terlepas dari pegangan.
Kui Lian dengan pandang mata penuh hawa sihir menghampiri Sin tung Lo kai!
"Pangcu, harap jangan memandang matanya Dia ahli ilmu hitam!"
Seru seorang di antara dua pengemis yang masih hidup.
Dia telah banyak merantau di dunia utara maka ia mengenal ilmu hitam yang lihai dari Kui Lian.
Sin tung Lo kai juga bukan orang yang masih hijau.
Mendengar seruan pembantunya itu, tongkat merahnya segera bergerak menyerang dengan hebat ke arah Kui Lian tanpa ia memandang ke wajah wanita itu.
"Koko, kita pergi saja!"
Seru Kui Liankz sambil menggandeng tangan Kong Hwat dan tangan kirinya mengebutkan saputangan merah.
"Mundur....!"
Seru Thio Houw yang terpaksa menarik kembali tongkatnya karena ia melihat uap hitam mengebul keluar dari saputangan merah itu dan ia tahu bahwa uap itu tentulah semacam bubuk berbisa yang amat berbahaya.
Baiknya Thio Houw dan dua orang pembantunya sudah melompat mundur sehingga mereka terhindar dari pengaruh bubuk berbisa itu.
Akan tetapi ketika mereka memandang, Kui Lian dan Kong Hwat sudah pergi dari situ.
Thio Houw hendak mengejar, akan tetapi pembantunya berkata.
"Pangcu, perempuan siluman itu berbahaya sekali. Tidak ada gunanya dikejar!"
"Aku harus menangkapnya!"
Seru Thio Houw yang terus melompat mengejar.
Akan tetapi tiba tiba terdengar ledakan keras dan ruangan depan itu terbakar!
Ternyata dalam larinya, Kui Lian telah melepaskan semacam obat peledak yang dapat membakar dan dengan jalan itu membebaskan diri dari kejaran lawan!
Thio Houw terpaksa kembali dan menggeleng gelengkan kepala.
"Berbahaya sekali...."
Katanya. Cepat api dapat dipadamkan, agan tetapi pembantu yang tadi terpukul oleh hudtim kepalanya, ternyata telah tewas! "Aku akan cari dan bekuk perempuan itu!"
Sin tung Lo kai berkata seorang diri dengan kemarahan meluap luap.
"Mungkin Beng Han bicara betul, agaknya pembunuh Song Tek Hong dan isterinya juga siluman wanita itu yang membantu Kong Hwat."
Teringat akan Kong Hwat diam diam kakek ini terheran heran mengapa pemuda itu berwatak demikian jahat.
Malamnya kota Leng ting menjadi gempar dengan terjadinya hal yang hebat.
Rumah Sin turg Lo kai di serbu orang, pertempuran hebat terjadi dan pada keesokan harinya ketika orang orang berani mendekati, ternyata Sin tung Lo kai Thio Houw dan lima orang anggota pimpinan Ang sin tung Kai pang telah tewas, dan Kwan Li Hwa telah lenyap!
Tidak ada bukti bukti lain kecuali sebuah lengan arang yang putus sebatas siku, lengan laki laki berbulu yang berotot dan nampak kuat menyeramkan!
Apakah yang sesungguhnya terjadi di malam yang menyeramkan itu?
Memang mudah diduga bahwa orang seperti Cia Kui Lian yang wataknya sudah seperti iblis saja, tidak akan tinggal diam saja setelah terjadi pertempuran siang tadi di rumah Sin tung Lo kai di mana boleh dibilang ia dan Kong Hwat tidak berdaya menghadapi kakek yang lihai itu.
Malamnya ia mengajak Kong Hwat menyerbu lagi dengan alasan bahwa sangat boleh jadi Bi Hui disembunyikan oleh kakek itu!
"Kalau tidak disembunyikan, mengapa ia harus marah marah?
Dan mengapa pula pemuda yang hendak dijodohkan dengan Bi Hui tidak kelihatan?
Kemana pula perginya ayah bunda pemuda itu?
Agaknya mereka semua berada di dalam dan sengaja tidak membolehkan Bi Hui memperlihatkan diri,"
Demikian Kui Lian membujuk bujuk sehingga Kong Hwat akhirnya dapat dibakar hatinya dan setuju untuk menyerbu gedung itu pada malam hari.
Ia memang sudah tahu kelihaian Kui Lian di waktu malam dengan senjata senjata rahasia dan sihirnya yang berbahaya.
Padahal Kui Lian tidak begitu perduli tentang Bi Hui.
Niatnya yang terutama ialah untuk membalas dendam kepada kakek yang danggapnya telah menghinanya siang hari itu.
-ooo0dw0ooo-
Jilid XXXVIII SEKIRANYA yang menyerbu hanya dua orang muda itu, belum tentu kalau Sing tung Lo kai akan menemui kematiannya.
Akan tetapi, nasib dan nyawa manusia memang sudah berada dalam kekuasaan Yang Maha Kuasa.
Kebetulan sekali di malam hari bukan hanya Kong Hwat dan Kui Lian yang menyerbu rumah Sing tung Lo kai!
Sebelum Kong Hwat dan Kui Lian yang menyerbu lewat tengah malam tiba di situ, telah datang lain orang, seorang laki laki tinggi besar yang usianya tigapuluhan, melompat lompat ke atas genteng dan setibanya di atas rumah itu lalu melayang turun dengan teriakan nyaring.
"Sing tung Lo kai, serahkan kitab dan pedang pusaka warisan Tat Mo Couwsu kepadaku!"
Memang boleh dipuji keberanian orang kasar ini karena tidak seperti penjahat biasa, ia langsung menuju ke ruangan tengah dan berteriak teriak dengan cara laki laki menantang!
Sin tung Lo kai sebentar saja keluar dengan tongkat merahnya.
Kakek ini melarang kawan kawannya ikut menghadapi tamunya, melainkan menyuruh mereka menjaga di luar, karena ia khawatir kalau kalau orang ini mempunyai kawan kawan Thio Houw terkejut mendengar ucapan itu, sama sekali tak pernah disangkanya bahwa rahasianya diketahui orang.
Biarpun ia menutup rahasia itu, akan tetapi oleh karena ia melatih cucunya di rumah sendiri, mau tak mau rahasia itu bocor juga dan diketahui oleh beberapa orang anggota Ang sin tung Kai pang.
Sudah menjadi penyakit umum bahwa orang sukar sekali menyimpan rahasia sehingga tanpa disengaja seorang di antaranya membocorkan rahasia itu sampai terdengar oleh seorang gagah di dunia kang ouw.
Orang ini adalah Lee It Kong yang berjuluk Thiat pi (Lengan Besi) Lee It Kong ini seorang berusia tigapuluh tahun yang tinggi besar, berwatak jujur dan kasar, terkenal sebagai perampok tunggal dan maling budiman.
Disebut maling budiman oleh karena melakukan perampokan dan pencurian hanya terhadap pembesar pembesar korup dan hartawan hartawan pelit.
kemudian hasil daripada rampokan dan pencuriannya selalu ia bagi bagikan kepada orang orang melarat, sedangkan dia sendiri tak pernah memakai pakaian indah maupun hidup beroyal royalan.
Hidupnya sederhana, bahkan tidak karuan tempat tinggalnya, setengah gelandangan.
Akan tetapi kepandaiannya tinggi, karena Lee It Kong ini adalah seorang anak murid Siauw lim pai yang telah menamatkan pelajarannya masih belum puas lalu belajar lagi ke Kun lun pai.
Bahkan ia masih memperdalam ilmunya dengan mempelajari segala macam ilmu silat yang dianggapnya tinggi.
Thiat pi Lee It Kong ini tadinya ikut pula mencoba untuk memperebutkan patung emas di Kim hud tah, akan tetapi kalah dulu oleh nenek Soat Li Suthai yang memang memiliki kepandaian lebih tinggi.
Kemudian, karena hubungannya memang luas dan orang orang kang ouw amat suka kepadanya, tanpa disengaja ia mendengar bahwa isi patung telah berada d tangan Sin tung Lo kai.
Serta merta ia berangkat ke Leng ting dan menyerbu rumah kakek ketua pengemis itu.
Sin tung Lo kai mengenal Thiat pi Lee It Kong, maka wajahnya menjadi merah karena marah.
"Orang she Lee, kau benar benar tidak tahu malu. Malam malam datang ke sini apakah yang hendak menjadi maling di rumah orang segolongan?"
Bentak Sin tung Lo kai, pura pura tidak mendengar tentang disebutnya kitab dan pedang. Lee It Kong tertawa bergelak.
"Ha, ha, ha, Sin tung Lo kai, seperti kau tidak tahu saja aku ini maling macam apa. Di rumahmu seperti ini, apanyakah yang bisa dicuri? Aku datang untuk minta kau sedikit mengalah. Setelah berada di tanganmu setahun lebih kiranya sudah patut kalau aku mendapat giliran untuk membuka mata dan menambah pengetahuan."
"Apa yang kaumaksudkan, Thiat pi?"
Tanya Thio Houw, masih pura pura.
"Apalagi kalau bukan rahasia peninggalan Tat Mo Couwsu itu. Tentang pedang, biarlah melihat mukamu yang sudah tua, aku mengalah. Akan tetapi kitab itu harus kauberikan kepadaku!"
"Mengapa harus?"
"Karena akupun membutuhkannya."
"Thiat pi Lee It Kong. Kau tahu bahwa untuk mendapatkan benda pusaka membutuhkan kepandaian. Kau memiliki kepandaian apakah maka berani kau menghendaki kitab pusaka?"
Lee It Kong orangnya kasar dan jujur, akan tetapi agak bodoh sehingga tidak dapat menangkap arti kata kata yang sesungguhnya menantang ini. Ia membusungkan dadanya dan berkata.
"Aku? aku adalah murid Siauw lim pai, aku dapat memainkan delapanbelas macam senjata ringan dan berat. Kedua lenganku sekeras besi dan aku sanggup mengalahkan lawan yang bagaimana tangguhpun."
"Hemm, ketahuilah bahwa untuk mendapatkan barang pusaka dari tangan orang lain kau harus dapat mengalahkan dulu orang itu."
Tiba tiba Lee It Kong tertawa bergelak.
"Begitukah? Baik, kau siaplah dan rasai kekerasan tangan Thiat pi Lee taihiap!"
Setelah berkata demikian, ia lalu melakukan serangan dengan kedua tangannya yang bertenaga besar.
Sin tung Lo kai mengeluarkan suara menyindir, lalu mengelak dan membalas menerjang dengan hebatnya.
Pertempuran seru terjadi di ruangan tengah yang lapang itu, di bawah penerangan lampu yang cukup terang.
Kurang lebih tigapuluh jurus mereka bertempur, terdengar suara ramai ramai dan beradunya senjata di ruangan depan.
Sin tung Lo kai menjadi terkejut dan tahu bahwa di luar datang musuh musuh lain menyerbu dan disambut oleh kawan kawannya yang pada waktu itu hanya ada lima orang.
Akan tetapi lima orang itu kepandaiannya cukup tinggi maka Sin tung Lo kai agak merasa lega.
Ia merasa gemas juga mengapa si kasar ini ternyata tangguh juga dan ulet sekali.
Sudah dua kali tongkat merahnya mengenai pundak dan pinggang, akan tetapi oleh karena Sin tung Lo kai tidak ingin mencelakai, maka kakek ini tidak menggunakan semua tenagannya.
Celakanya, tubuh Si Lengan Besi itu ternyata kuat sekali sehingga pukulan pukulan yang dilakukan dengan sebagian tenaga itu seperti tidak dirasainya.
Teriakan teriakan di luar menyatakan bahwa kawan kawannya terluka maka sambil memutar tongkatnya, Sin tung Lo kai mengeluarkan serangan dahsyat Thian pi Lee It Kong mana dapat menahannya?
Ia menjerit keras karena terdorong keras dan tubuhnya terlempar ke belakang menabrak dinding dan ia roboh dengan kepala pening.
Kebetulan sekali pada saat itu Li Hwa berlari lari keluar dengan pedang Giok po kiam di tangan.
Lee It Kong yang masih agak pening, melihat pedang pendek yang mengeluarkan cahaya luar biasa itu, cepat mengulur tangan hendak merampasnya.
Akan tetapi Li Hwa yang kaget mendengar adanya musuh musuh datang menyerbu dan melihat kong kongnya baru saja mengalahkan seorang musuh, kini melihat orang tinggi besar yang terlempar tadi mengulur tangan seperti hendak menyerangnya cepat menggerakkan pedangnya.
Gerakannya luar biasa lihainya, cepat dan menyamping tidak terduga sama sekali.
Gadis ini otomatis mempergunakan jurus ilmu Silat Im yang cin keng dan....
di lain saat lengan tangan Lee It kong terbabat putus sebatas sikunya!
Terdengar pekik dan jerit berbareng.
Thiat pi Lee it Keng Si Lengan Besi yang kini menjadi Si Lengan Buntung memekik kesakitan dan menjadi jerih.
Sambil menggigit bibir menahan sakit ia masih melompat dan berlari cepat meninggalkan rumah itu.
Adapun jerit tadi keluar dari bibir Li Hwa.
Gadis cilik ini merasa ngeri juga setelah melihat betapa pedangnya telah membabat putus lengan orang dan sekarang lengan yang berbulu itu masih menggeletak penuh darah di depan kakinya!
"Li Hwa, minggir....!
Simpan pedang itu....!"
Seru Sin tung Lo kai Thio Houw, akan tetapi ia tidak sempat lagi karena tiba tiba dua orang muda menyerangnya dengan pedang.
Melihat bahwa mereka itu bukan lain adalah Kong Hwat dan Kui Lian yang siang tadi sudah ia usir, kemarahan Sin tung Lo kai memuncak.
Apalagi melihat Kui Lian yang telah menewaskan kawan nya.
"Bagus, kau mengantarkan nyawa sendiri! Tak usah aku susah payah mencarimu!"
Seru Sin tung Lo kai sambil memutar tongkatnya melakukan serangan serangan yang dahsyat sekali kepada Kui Lian.
Karena kakek ini tidak mau memandang wajahnya, sukarlah bagi Kui Lian untuk mempengaruhi dengan ilmu sihirnya, apalagi memang Sin tung Lo kai seorang kakek yang banyak ilmunya.
Batinnya sudah kuat dan tidak mudah dipengaruhi ilmu pengasihan, nafsunya terhadap wanita sudah beku.
Melihat kekasihnya didesak hebat, Kong Hwat cepat membantu kekasihnya dan tak lama kemudian Sin tung Lo kai sudah dikeroyok dua.
Lima orang pembantu kakek itu ternyata sudah menggeletak tewas oleh dua orang muda ini, roboh seorang demi seorang oleh pedang mereka dibantu hoatsut dari Kui Lian.
Tusukan pedang Kong Hwat yang dilakukan cepat sekali dan samping mengarah lambung Thio Houw membuat kakek ini terpaksa menarik kembali serangannya yang sudah mendesak Kui Lian.
Dengan tubuh dimiringkan dan tongkat diputar ia menangkis tusukan Kong Hwat, membuat pedang pemuda itu menyeleweng saking kerasnya tangkisan tongkat merahnya.
Akan tetapi pada saat itu Kui Lian sudah melakukan serangan balasan dengan gerak tipu Giok li touw so (Sang Dewi Menenun) pedangnya seperti jarum jarum keluar masuk kain melakukan serangan gencar kepada kakek itu.
Thio Houw cepat membalikkan tongkatnya, memutar tongkatnya merupakan segundukan sinar merah yang "membungkus"
Pedang Kui Lian, kemudian tangan kirinya dengan gerakan mencengkeram melakukan serangan ke arah kepala Kui Lian dengan ganasnya.
Jangan dipandang ringan serangan kuku jari tangan kiri yang dipentang ini, karena dengan mudah jari jari tangan ini dapat menghancurkan tembok, apalagi kepala seorang wanita muda yang halus seperti Kui Lian!
"Ayaaaa....!"
Kui Lian berseru kaget dan cepat melompat mundur sambil menarik pedangnya.
Sin tung Lo kai tentu akan mendesak terus kalau saja di saat itu pedang Kong Hwat tidak sudah datang menyerangnya pula dari belakang.
Pemuda itu kini menyerangnya dengan sebuah gerak tipu dari Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut yang biarpun belum sempurna dipelajarinya, namun sudah hebat sekali bagi lawan.
Menghadapi serangan yang demikian hebat, terpaksa Sin tung Lo kai meninggalkan Kui Lian untuk menghadapi Kong Hwat.
Demikianlah, biarpun kakek ini berusaha mendesak dan merobohkan Kui Lian.
namun ia selalu dihalangi oleh Kong Hwat.
"Bangsat curang jangan main keroyokan!"
Tiba tiba terdengar bentakan nyaring dari Li Hwa, bocah cilik yang usianya baru delapan tahun itu, melompat maju menyerang Kong Hwat dengan pedangnya!
Li Hwa tadinya merasa heran dan bingung sekali mendengar tentang keadaan pemuda yang tadinya dicalonkan sebagai jodohnya.
Sekarang melihat pemuda itu datang lagi mengeroyok kong kongnya, timbul rasa bencinya, maka tanpa dapat menahan marahnya, bocah cilik yang tabah ini menyerang Kong Hwat.
Kong Hwat tersenyum mengejek dan cepat ia menggerakkan pedangnya, membabat pedang di tangan bocah perempuan itu sekuat tenaga.
"Traaanggg....!"
"Celaka!"
Kong Hwat berteriak kaget karena pedangnya, Kim kong kiam palsu telah patah menjadi dua oleh Giok po kiam.
Kong Hwat cepat menubruk dan hendak merampas pedang dari tangan Li Hwa.
Akan tetapi ia meleset kalau mengira bahwa ia akan dapat merampas pedang dengan mudah.
Li Hwa amat cepat dan ringan sekali gerakannya, dan pedangnya digerakkan secara istimewa menyerang Kong Hwat!
Namun tentu saja ia yang baru belajar ilmu silat tinggi selama setahun lebih, bukan tandingan Kong Hwat yang cepat merangsek dan mendesaknya.
Dilain pihak, Kui Lian menjadi kewalahan sekali menghadapi Sin tung Lo kai yang terus mengamuk dan mendesaknya dengan tongkat merahnya.
"Sin lung Lo kai, tak tahu malu kau melawan orang muda?"
Tiba tiba terdengar suara mengejek disusul suara ketawa menyeramkan seperti burung hantu.
"Suhu, tolong teecu....!"
Cia Kui Lian berseru girang mendengar suara ini.
Ia sudah terdesak betul betul dan berada dalam keadaan berbahaya.
Menghadapi seorang tokoh persilatan tua yang sudah banyak sekali pengalamannya ini, hoat sutnya tak dapat dipergunakannya.
"Sin tung Lo kai, kau tidak lekas lempar tongkatmu mau tunggu kapan lagi?"
Tiba tiba Koai Thian Cu membentak nyaring, suaranya penuh pengaruh.
Biarpun Sin tung Lo kai sudah menahan dengan tenaga lweekangnya dan mengumpulkan semangat, tetap saja tangannya yang memegang tongkat gemetar dan seperti lumpuh.
Namun ia berhasil menahan sehingga tongkatnya itu sudah terlepas dari genggaman tangan.
Akan tetapi oleh karena serangan hoatsut dari Koai Thian Cu ini amat hebat dan membutuhkan semua perhatian untuk menghadapi, Sin tung Lo kai menjadi lalai dan lupa akan adanya Kui Lian yang takkan segan segan melakukan segala macam kecurangan.
Sesaat kakek pengemis itu berdiri membelakanginya menghadapi Koai Thian Cu, siap melawan mati matian apabila kakek tukang gwamia yang lihai itu menyerang, tiba tiba Kui Lian mengebutkan saputangan merah dengan tangan kiri ke arah mukanya Sin tung Lo kai yang merasa ada hawa menyambar, cepat mengelak, namun hidungnya telah mencium bau yang memabokkan, dan selagi ia terhuyung huyung dengan pikiran kacau.
Kebutan di tangan Kui Lian sudah menyambar dan menotok jalan darah kematian di belakang kepalanya.
Kakek yang gagah perkasa itu roboh dalam keadaan tak bernyawa pula.
Sementara itu, Kong Hwat juga sudah berhasil menangkap kedua lengan Li Hwa yang meronta ronta dengan marah.
Gadis cilik ini sama sekali tidak takut dan ia tidak mau melepaskan pedang pusakanya biarpun lengan kanannya dicengkeram oleh Kong Hwat.
"Lepaskan pedangmu!"
Berkali kali Kong Hwat berkata.
"Tidak sudi!"
Jawab Li Hwa yang tetap meronta ronta dan menendang nendang dengan kedua kakinya.
Kemudian melihat kakeknya tewas, kemarahan Li Hwa meluap.
Ia menangis sambil meronta ronta, bahkan menggunakan gigi untuk menggigit tangan Kong Hwat yang memegangi tangannya, sambil menyumpah nyumpah.
"Siluman betina, aku bunuh kau....! Aku bunuh kau! Kong kong....!"
Li Hwa berteriak teriak.
"Kau harus dipukul! Pergilah menyusul kong kongmu!"
Kata Kong Hwat marah.
Ia melepaskan pegangan tangan kanan untuk diangkat dan memukul kepala bocah itu.
Akan tetapi tiba tiba kepalan tangannya terasa sakit dan ia sampai terhuyung huyung.
Koai Thian Cu telah menangkis kepalan itu dan mendorongnya.
Di lain saat tubuh Li Hwa sudah di kempit oleh Koai Thian Cu.
Sepasang matanya merah dan mengerikan memandang kepada Kong Hwat sehingga pemuda ini menjadi kaget dan ketakutan, Koai Thian Cu kini mengalihkan pandangan matanya kepada Kui Lian.
Suaranya parau dan penuh penyesalan ketika ia berkata.
"Kui Lian, tak kusangka kau berubah menjadi siluman ganas. Kau membunuh Sin tung Lo kai secara curang dan memalukan sekali! Hayo kau ceritakan tentang pembunuhan atas diri putera dan mantu Thian te Kiam ong! Ada sangkut paut apakah dengan kau pembunuhan keji itu?"
Muka Kui Lian menjadi pucat dan Kong Hwat merasa tubuhnya menggetar ketakutan. Akan tetapi Kui Lian dapat menetapkan hatinya. Sambil tersenyum manis sekali kepada suhunya, ia menjawab.
"Suhu, teecu tidak mengerti maksud pertanyaanmu. Apa sih hubunganku dengan kematian putera dan mantu Thian te Kiam ong? Teecu tidak tahu...."
Koai Thian cu nampak marah "Kau tidak tahu menahu? Betulkah? Kui Lian, kau berani membohong gurumu? Berlutut kau....!!"
Seruan ini demikian nyaring berpengaruh sehingga bukan saja Kui Lian, bahkan Kong Hwat juga sampai lemas kakinya dan tanpa disadarinya iapun menjatuhkan diri berlutut!
Kui Lian sudah mewarisi ilmu hoatsut dan karenanya ia lebih dapat bertahan terhadap daya perintah suara gurunya.
Iapun tahu bahwa kalau suhunya menggunakan ilmunya memaksa, ia tak dapat tidak akan mengaku.
Oleh karena itu ia lalu mendahului memberi pengakuan dengan suara lantang.
"Suhu, ketika suhu menyuruh mencari Kim kong kiam, teecu bertemu dengan koko Liem Kong Hwat ini. Apa dayaku, suhu, teecu jatuh cinta dan akhirnya mengikat perjodohan selama hidup dengan koko Kong Hwat. Kerena cintaku kepadanya, maka teecu membantunya membalas dendam atas diri Song Tek Hong dan isterinya. Jadi bukan semata mata teecu membunuh mereka, akan tetapi ini adalah urusan antara koko Kong Hwat dengan paman dan bibinya. Bukan urusan kita, suhu!"
"Hemm, pandai kau bicara. Memang bukan urusanku, akan tetapi mempunyai seorang murid yang begini jahat seperti engkau, kau benar benar mengotorkan namaku. Kau telah berbuat jina, kau merampok, membunuh dan melakukan hal hal tak tahu malu dengan pemuda keparat ini. Harus ku taruh di mana mukaku?"
"Suhu, apa salahnya orang bercinta? Apakah suhu hendak memaksa teecu selalu melayani cinta suhu seperti dulu? Apakah suhu menghendaki teecu kembli kedalam gua gua yang gelap bersama suhu? Suhu, setiap orang mempunyai kelemahannya terhadap cinta kasih!"
Wajah Koai Thian Cu sebentar pucat sebentar merah.
Diingatkan akan hal yang amat memalukan ini, ia seperti menerima pukulan yang luar biasa hebatnya sehingga ia tak dapat menjawab!
Terbayang di depan matanya betapa dahulu, ketika Kui Lan masih menjadi muridnya di dalam gua gua yang sunyi, perempuan muda itu untuk dapat memaksanya menurunkan ilmu ilmu hoatsut yang tinggi, tidak ragu ragu menggoda batin kakek itu secara tidak tahu malu.
Karena bathin Koai Thian Cu memang tidak begitu kuat, akhirnya kakek ini jatuh dan merendahkan martabatnya dengan perbuatan jina.
Sekarang Kui Lian mempergunakan kesempatan ini untuk memukul gurunya sendiri!
Diingatkan akan perbuatannya yang tidak patut itu, Koai Thian Cu tidak kuasa menatap wajah Kui Lian lama lama dan ia tidak ingin wanita itu akan bicara lebih banyak lagi sehingga terdengar orang lain.
Sambil mengeluarkan suara seperti orang mengeluh panjang penuh penyesalan, Koai Thian Cu menggerakkan kedua kakinya dan di lain saat ia telah lenyap membawa tubuh Li Hwa bersamanya.
Ku Lian mengeluarkan suara seperti setan tertawa, kemudian setelah meggeledah dan mendapatkan kenyataan bahwa di situ tidak ada Bi Hui dan bahwa yang tinggal didalam rumah hanya kakek pengemis itu bersama Li Hwa dan kawan kawannya, Kong Hwat dan Kui Lian lalu pergi meninggikan tempat itu cepat cepat.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedihnya hati Leng Li dan suaminya ketika mereka mendapat berita dari para anggauta Ang sin tung Kai pang tentang malapetaka yang menimpa keluarganya di Leng ting.
Cepat mereka berdua pulang ke Leng ting dan dengan penuh duka mereka mengurus pemakaman jenazah Sin tung Lo kai dan kawan kawannya.
Yang amat mendukakan dan menggoyahkan hati Kwan Lee dan Thio Leng Li adalah hilangnya Li Hwa tanpa bekas.
Tak seorangpun tahu siapa yang menculik anak itu, juga tak seorangpun tahu siapa yang membunuh Sin tung Lo kai dan kawan kawannya tidak ada saksi hidup lainnya kecuati Li Hwa yang lenyap.
Bukti yang terdapat hanyalah sebuah lengan tangan yang menyeramkan.
Leng Li tidak membuang potongan lengan ini, melainkan memberinya obat supaya lengan itu tinggal utuh dan kering.
Perlu ia menyimpan lengan itu untuk dipergunakan dalam penyelidikannya, karena sudah gagah ini akan menuntut balas dan mencari jejak anaknya yang hilang.
Di antara para anggauta Ang sin tung Kai pang yang banyak jumlahnya, ada yang melihat Kong Hwat dan Kui Lian pada hari pembunuhan itu di kota Leng ting.
Mereka melaporkan hal ini kepada Leng Li yang menjadi terkejut dan bingung sekali.
Tak mungkin mereka itu ada hubungannya dengan pembunuhan ini, pikirnya.
Lagi pula, tak salah lagi, pembunuhnya tentu orang yang tatah kehilangan lengan, agaknya biarpun pembunuh itu berhasil membunuh Sin tung Lo kai dan kawan kawannya, namun ia harus mengorbankan lengan tangannya.
Maka Leng Li lalu menyebar anak buahnya untuk menyelidiki seorang kang ouw yang lengan kanannya buntung!
Ia sendn lalu pergi ke Liok can untuk berunding dengan Song Siauw Yang tentang Liem Kong Hwat.
"Enci Siauw Yang, harap kau jangan salah mengerti dan menaruh dugaan yang bukan bukan terhadap diriku,"
Kata Leng Li.
"Akan tetapi, sesungguhnya ada hal yang aneh dengan putera mu Liem Kong Hwat itu. Ketika Song taihiap dan istrinya terbunuh, bocah bernama Beng Han itu menuduh bahwa pembunuhnya adalah Liem Kong Hwat dan seorang wanita muda. Sekarang ketika terjadi peristiwa pembunuhan ayahku juga orang orang melihat puteramu bersama seorang wanita muda yang aneh berada di kota Teng ing. Bukan sekali kali aku menuduh yang tidak ada buktinya, akan tetapi kuharap demi kebaikan puteramu sendiri, kau seharusnya melakukan penyelidikan."
Siauw Yang mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya itu.
Hatinya sudah lama kesal melihat kelakuan Kong Hwat.
Sebagai seorang wanita ia dapat menduga bahwa tentu ada apa apa yang tidak bersih antara pureranya dan Cia Kui Lian murid Koai Thian Cu itu.
Ia hanya mengangguk angguk dan berkata.
"Kami sendiri tidak tahu Kong Hwat berada di mana, akan tetapi ucapanmu itu menang baik sekali, adik Leng Li. Kalau orang lain yang bicara agaknya aku akan tersinggung. Akan tetapi kau bicara sebagai seorang anggauta keluarga, maka terima kasih atas pemberitahuanmu. Aku memang sudah mengambil keputusan untuk sekali kali merantau di dunia kang ouw untuk mencari Kong Hwat."
"Sukurlah cici. Tentang mencari puteramu aku berjanji akan mengerahkan anak buahku membantumu."
Demikianlah, dua pasang orang tua yang berprihatin ini lalu merantau untuk mencari anak masing masing.
Biarpun Ang sin tung Kai pang merupakan perkumpulan besar yang banyak anggotanya, namun sia sia saja mereka mencari jejak Li Hwa.
Hal ini tidak mengherankan, oleh karena mencari jejak Li Hwa berarti mencari jejak Koai Thian Cu, padahal jejak kakek aneh dan sakti ini mana dapat diikuti orang?
Koai Thian Cu membawa pergi Li Hwa karena selain untuk menolong nya, juga ia merasa berdosa kepada Sin tung Lo kai dan ingin menebus dosanya dengan menurunkan kepandaiannya kepada Li Hwa.
Juga ia melihat pedang di tangan Li Hwa dan gerakan gerakan anak ini mencurigakan.
Akhirnya dengan girang ia lalu bahwa murid barunya inilah yang berhasil mewarisi kitab dan pedang peninggalan Tat Mo Couwsu!
Dipinggir kota Kwan leng si sebelah baru terdapat sebuah rumah besar yang megah dan mewah.
Melihat betapa setiap hari di pintu gerbang pekarangan depan gedung ini selalu terjaga kuat oleh sedikitnya enam orang yang membawa senjata tajam, orang tentu akan mengira bahwa gedung itu milik seorang pembesar atau bangsawan tinggi.
Sebetul nya bukan demikian, karena rumah ini hanya milik seorang hartawan she Bhok yang terkenal di kota Kwan leng si sebagai Bhok wangee (hartawan Bhok) yang dermawan dan kaya raya, memiliki sebagan besar sawah yang terbentang di sekitar pinggir kota.
Akan tetapi bagi para perjaga dan tamu tamu yang banyak pergi datang di rumah itu, dia terkenal sebagai Sin siang to Bhok Coan (Sepasang Golok Sakti), seorang bekas kepala perampok besar yang amat terkenal di dunia pok lim!
Bhok Coan ini semenjak mudanya menjadi perampok dan menjagoi dunia penjahat dengan sepasang goloknya.
Diapun amat terkenal di dunia kang ouw, terkenal diantara orang orang gagah oleh karena Bhok Coan biarpun seorang perampok, namun amat menghargai persahabatan dengan orang orang gagah.
Setelah berhasil dengan "pekerjaannya"
Itu, dalam usia lamapuluh tahun mulailah Bhok Coan "cuci tangan"
Dan hidup sebagai seorang hartawan di pinggir kota Kwan leng si itu.
Sampai sepuluh tahun ia hidup dalam keadaan aman dan tenteram bersama keluarganya dan terkenal sebagai seorang hartawan yang dermawan.
Hanya orang orang dari kalangan liok lim dan kang ouw saja yang suka datang mengunjunginya tahu bahwa hartawan alim ini sebetulnya adalah bekas perampok yang dahulu ditakuti semua orang!
Berbeda dengan biasanya, pada hari itu rumah gedung Bhok wangwe dihias dengan kertas kertas berwarna dan di pekarangan depan dipasangi tarup.
Orang orang kota Kwan leng si dan penduduk dusun di sekelilingnya sudah mendengar akan diadakannya pesta di rumah hartawan ini, pesta untuk merayakan she jit (ulang tahun) hartawan itu yang sudah berusia enampuluh tahun tepat.
Sudah lajim apabila seorang tokoh dunia liok lim atau kang ouw mengadakan pesta, yang datang tentu orang orang dan rimba persilatan, baik diundang maupun tidak asal sudah kenal nama pasti memerlukan dalang memberi selamat.
Akan tetapi ada keistimewaannya dengan orang she Bhok ini Di depan gedungnya dipasangi tulisan yang berbunyi .
Setiap orang gagah di dunia diharapkan kehadirannya untuk bergembira dan bantu menghabiskan harta keluarga BHOK yang disediakan untuk pesta ini Tidak saja di depan gedungnya sendiri, juga di lain lain kota, di rumah tokoh tokoh kang ouw terkemuka yang menjadi sahabat baiknya, Bhok Coan memasang pengumuman seperti ini dengan mencatat hari dan tanggal pesta she jitnya dirayakan!
Tentu saja tulisan yang amat kasar namun ramah dan jujur ini menarik perhatian semua orang gagah, biar pun yang belum kenal kepada Bhok Coan, menjadi berani untuk melangkah kaki menyimpang dari tujuan perjalanan untuk ikut hadir dalam pesta orang she Bhok yang aneh itu.
Pada hari yang ditentukan, banyak sekali tamu datang berbondong bondong mengunjungi gedung ini.
Tamu tamu terdiri dan bermacam macam orang yang aneh aneh baik bentuk tubuh maupun pakaian mereka.
Tentu saja pesta ini amat menarik perhatian penduduk setempat sehingga mereka semenjak pagi sekali sudah memenuhi jalan di luar pekarangan keluarga Bhok, berdesak desakan nenonton para tamu.
Bhok Coan sendiri menyambut kedatangan para tamu.
Biarpun usianya sudah enampuluh tahun, Sin siang to Bhok Coan masih kelihatan gagah.
Tubuhnya gemuk pendek, dadanya bidang dan membusung ke depan.
Di pinggang kirinya tergantung sepasang goloknya yang sudah menjadi kawan setianya semenjak ia berumur dua puluh tahun dan terjun di dunia kang ouw, golok sepasang yang membantunya sehingga namanya menjadi tenar.
Ketika melihat datangnya ketua ketua partai besar seperti Thian Beng Hwesio dari Go bi pai, Thian Cin cu Tosu dari Kun lun pai, Pak Kong Hosiang dan Siauw lim pai, Tiauw Beng Cinjin dan Kim lian pai, dan beberapa tokoh besar dari pelbagai partai terkemuka, diam diam Bhok Coan menjadi berdebar hatinya.
Tak disangkanya bahwa ulang tahunnya akan mendapat kunjungan tokoh tokoh besar ini.
Akan tetapi tentu saja ini merupakan kehormatan besar sekali baginya dan cepat cepat ia menyambut para "locianpwe"
Ini dengan segala kehormatan dan menempatkan mereka diruangan terhormat, yaitu di ruangan tengah yang terlihat oleh para tamu yang berada di ruangan lainnya.
Di anara para tamu, banyak juga terlihat tokoh tokoh wanita di dunia kang ouw, bahkan banyak yang tidak dikenal oleh Bhok Coan.
Akan tetapi karena percaya bahwa mereka ini tentu orang orang gagah yang memiliki kepandaian, semua diterima oleh tuan rumah dengan ramah tamah.
Di antara para wanita ini terdapat seorang wanita muda yang cantik jelita dan amat gagah sikapnya.
Ia memberi hormat kepada Bhok Coan dengan kata kata singkat.
"Aku Song Bi Hui, mewakili suhu Bu eng Lo kai dan suthai Soat Li Suthai menghaturkan selamat kepada Bhok Lo enghiong dan mendoakan panjang usia."
Nama Song Bi Hui tidak dikenal oleh Sin siang to Bhok Coan, akan tetapi demi mendengar nama Bu eng Lo kai dan Soat Li Suthai, ia cepat cepat memberi hormat kepada nona jelita itu sambil berkata.
"Terima kasih, terima kasih.... selamat datang dan silahkan lihiap duduk!"
Ia sendiri mengantar tamu ini ke ruangan tengah, tempat terhormat.
Siapa yang tidak pernah mendengar nama Bu eng Lo kai dan Soat Li Suthai yang amat terkenal?
Sudah tentu ia harus menempatkan murid dua orang sakti itu di tempat terhormat, kalau tidak ia khawatir akan merendahkan dua orang terkenal itu dan membuat mereka tak enak hati.
Semua tokoh di ruangan terhormat itu melirik penuh perhatian ketika nona cantik itu memasuki ruangan diantar oleh tuan runah sendiri.
Melihat semua locianpwe yang berada di situ memandang dengan perasaan heran, Sin siang to Bhok Coan menjadi tidak enak sendiri dan sambil menjura dan menggangguk ke kanan kiri ia berkata.
"Kiranya dua orang lo cianpwe bernama Bu eng Lo kai dan Soat Li Suthai berhalangan hadir dan mewakilkannya kepada murid mereka, Song lihiap ini."
Semua orang baru mengerti bahwa nona yang baru masuk ini adalah murid Bu eng Lo kai dan Soat Li Suthai, maka mereka tidak lagi terheran heran, hanya memandang ringan karena biarpun dua orang tokoh besar itu lihai sekali, namun nona ini hanyalah murid saja.
Adapun Bhok Coan yang makin lama merasa makin tak enak hati melihat hadirnya banyak tokoh besar yang sama sekali tidak diduga duganya, lalu mendekati seorang kawan baiknya, yaitu Thio Kun seorang yang terkenal banyak hubungannya dan selalu tahu akan peristiwa peristiwa penting di dunia kang ouw.
Ia menyatakan keheranannya tentang kehadiran tokoh tokoh besar ini.
Thio Kun menariknya ke samping lalu berkata perlahan.
"Mungkin ada hubungannya dengan muncul nya partai baru yang menyebut diri Thian hwa kauw (Agama Bunga Surga). Kabarnya para locianpwe hendak melakukan pertemuan dan agaknya di sinilah tempatnya,"
Kata Thio Kun.
Bhok Coan sudah mendengar tentang munculnya perkumpulan agama sesat itu.
Memang banyak sekali pihak Mo kauw (agama sesat) yang mendirikan perkumpulan bermacam macam dan yang selalu bertentangan dengan cabang cabang persilatan yang sudah ada, akan tetapi kabarnya Thian hwa kauw ini merupakan perkumpulan agama yang lain daripada yang lain.
Kabarnya banyak sekali orang gagah yang menceburkan diri dan mau menjadi anggauta perkumpulan ini, bahkan banyak anak murid partai partai besar meninggalkan perguruan dan menggabungkan diri dengan Thian hwa kauw ini.
Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan dan kiranya sekarang para locianpwe itu hendak merundingkan soal ini di tempatnya, sekalian menghadiri perayaan she jit nya!
Diam diam di samping kebanggaan mendapat kehormatan besar ini, juga Sin siang to Bhok Coan merasa gentar.
Siapa tahu, kalau kalau akan terjadi sesuatu yang hebat di sini!
Akan tetapi, dalam kegembiraannya Bhok Coan tidak memikirkan pula akan hal itu.
Ia menerima ucapan ucapan selamat dan banyak pula menerima sumbangan sumbangan dan tanda mata tanda mata dari para kawannya.
Pesta berjalan gembira seakan akan takkan pernah terjadi sesuatu.
Song Bi Hui duduk di antara para locianpwe, kakek kakek dan dan nenek nenek yang sikapnya garang.
Namun Bi Hui bersikap tenang saja, sepasang matanya menatap wajah setiap orang penuh perhatian, akan tetapi mulutnya diam saja tak pernah mengeluarkan suara.
Gadis ini banyak sekali berubah kalau di bandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu.
Dahulu ia terkenal sebagai seorang gadis yang lincah gembira dan cantik jelita.
Sekarang dia masih cantik, biarpun usianya sudah duapuluh delapan tahun lebih, bahkan kecantikannya lebih matang dan lenyap sifat kekanak kanakannya yang dahulu.
Wajahnya masih nampak segar dan penuh kelembutan, akan tetapi sinar mata dan tekukan mulutnya membayangkan kegagahan dan kekerasan karena penderitaan.
Memang, gadis ini banyak mengalami derita batin semenjak kedua orang tuanya terbunuh.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Bi Hui bertemu dengan dua orang sakti, yaitu Bu eng Lo kai pengemis kudisan dan Soat Li Suthai nenek bongkok.
Dua orang ini kepandaiannya tinggi sekali.
Lebih tinggi daripada ilmu kepandaian kedua orang tua Bi Hui.
Oleh karena itu, menjadi murid mereka berarti kemajuan yang hebat juga untuk Bi Hui.
Dari Bu eng Lo kai ia mendapat warisan ilmu ginkang dan silat tangan kosong sedangkan dari Soat Li Suthai ia menerima pelajaran ilmu pedang yang diciptakan dari tongkat nenek yang lihai itu.
Setelah menamatkan pelajarannya, kedua orang gurunya memberi ijin kepada Bi Hui untuk mulai merantau seorang diri dengan tujuan hanya satu, yaitu menyelidik tentang kematian ayah bundanya dan mencari serta membalas pembunuh orang orang tuanya.
"Bi Hui, kau pergilah ke kota Kwan leng si. Di sana Sin siang to Bhok Coan sedang mengadakan pesta she jit nya. Kabarnya tokoh tokoh kang ouw juga hendak mengadakan pertemuan di sana untuk membicarakan tentang munculnya Thian hwa kauw yang menghebohkan itu. Kau wakililah kami untuk datang ke sana. Selain kau akan bertemu dengan orang orang kang ouw, siapa tahu akan dapat mencari keterangan tenang pembunuh pembunuh orang tuamu, juga kau harus mewakili kami mendengar apa yang mereka lakukan terhadap agama baru itu. Sebagai murid kami kaupun harus memperlihatkan kesanggupanmu membantu usaha mereka, asal saja usaha itu menurut pendapatmu baik. Terserah kepadamu untuk mempertimbangkannya. Kami sudah terlalu tua untuk segala urusan macam itu. Nah, kau berangkatlah."
Maka pergilah Bi Hui, langsung ke Kwan leng si.
Ia tidak memperdulikan pandang mata para tamu laki laki, terutama yang muda muda, pandang mata yang mengandung kekaguman dan agak kurang ajar.
Diam diam ia mencari cari dan mengharapkan untuk dapat bertemu dengan tiga orang, yaitu Liem Kong Hwat atau Cia Kui Lian atau Sin tung Lo kai Thio Houw.
Dari tiga orang ini kiranya ia akan dapat mulai penyelidikannya tentang pembunuhan orang tuanya.
Akan tetapi ia tidak melihat seorangpun di antara mereka, maka ia menjadi kecewa dan membuka telinga mendengarkan percakapan para locianpwe yang duduk di dalam ruangan itu.
Tiba tiba seorang kakek tua menepuk meja keras keras sehingga cawan cawan arak berkerontangan.
"Sayang seribu sayang....!"
Katanya sambil menarik napas panjang.
"Kalau Sin tung Lo kai Thio Lo enghiong dapat hadir di sini, alangkah senangnya mengadu kekuatan minum arak dengan dia!"
Seorang kakek lain yang berpakaian seperti tosu di sebelah kiri kakek tadi juga menarik napas.
"Jaman sekarang ini para penjahat tidak seperti dulu. Sekarang banyak oang tak tahu malu, banyak tikus tikus curang dan pengecut. Sin tung Lo kai yang gagah perkasa itu terpaksa tewas dalam keadaan penasaran, tak tahu siapa yang telah membunuhnya."
Mendengar ini, Bi Hui mengeluh di dalam hatinya.
Jadi Sin tung Lo kai juga mengalmi nasib seperti ayah bundanya?
"Pembunuhan pembunuhan keji dan penuh rahasia yang seperti terjadi pada Sin tung Lo kai itu juga terjadi pada diri ketua Leng san pai di timur dan ketua Hek mau pang di pantai Huang ho.
Hemm, ini bersamaan benar dengan anehnya kemunculan perkumpulan Thian hwa kauw!"
Kata Thian Beng Hwesio tokoh Go bi san yang mengebut ngebut kepalanya dengan kipas.
Mendengar disebutnya perkumpulan Thian hwa kauw ini, tidak hanya Bi Hui, juga yang lain lain segera menaruh perhatian besar.
Tokoh Go bi pai itu melanjutkan kata katanya ketika melihat semua mata memandang ke arahnya.
"Bukan rahasia lagi bahwa munculnya Thian hauw kauw amat mencurigakan dan tak perlu di tutup tutupi lagi bahwa banyak anak murid partai partai besar telah murtad dan memasuki agama sesat itu."
"Ha, Thian Beng Losuhu lupa menyebutkan bahwa ada tiga orang murid Go bi pai, dua laki laki dan seorang gadis, semua masih amat muda muda, juga menjadi murtad dan ikut ikutan memasuki perkumpulan itu,"
Berkata seorang kakek dengan tiba tiba sambil mengerling ke arah hwesio yang mengebutkan kipasnya itu. Thian Beng Hwesio melirik ke arah kakek itu dan mukanya berubah.
"Kirarya Thian Cin Ciu Tosu juga sudah tahu akan hal itu. Hemm, memang memalukan sekali akan tetapi pinceng juga mendengar tentang murid murid Kun lun pai...."
"Memang, memang...."
Thian Cin Cu kakek tokoh Kun lun pai mengangguk anggukkan kepala dengan cepat.
"Tak perlu pinto menyangkal pula. Bahkan ada lima orarg pemuda anak murid kami yang lenyap dan kabarnya memasuki perkumpulan jahat itu. Benar benar memalukan nama baik kita..."
"Thian hwa kauw harus dibasmi dari muka bumi. Hanya tidak tahu di mana pusatnya, mohon cuwi beri tahu agar pinceng bisa pergi ke sana menangkap kepalanya,"
Kata Pak Kong Hosiang hwesio tokoh Siauw lim pai dengan suara besar.
Tiba tiba seorang pelayan memasuki ruangan itu dan menyerahkan kartu nama kepada Sin siang to Bhok Coan yang berseru gembira ketika membaca nama itu.
"Thiat pi Lee It Kong taihiap datang, lohu harus menyambutnya sendiri!"
Cepat ia bangkit dari tempat duduknya dan keluar untuk menyambut tamu baru itu.
Tak lama kemudian tuan rumah datang lagi mengiringkan seorang laki laki gagah, berusia kurang lebih empatpuluh tahun, tubuhnya tinggi besar, mukanya tampan dan membayangkan perasaan kejujuran, lengannya buntung sebatas siku sehingga lengan bajunya tampak kosong dan tergantung tak berdaya di dekat pinggangnya.
Di sebelah kiri laki laki buntung gagah yang bernama Thiat pi Lee It Kong ini, berjalan dua orang kakek terbongkok bongkok dibantu oleh tongkat mereka yang butut.
Dua orang kakek ini tidak menarik perhatian orang, mereka ini kelihatan seperti pelayan atau anak buah orang gagah she Lee itu.
Padahal mereka itu bukan lain adalah guru dan paman guru orang she Lee itu.
Ketika Thiat pi Lee It Kong dan dua orang kakek itu diantar oleh tuan rumah lewat di dekat ruangan para tamu di bagian kiri, yaitu bagian tamu tamu "biasa"
Dan bukan tempat terhormat, tiba tiba terdengar seruan tertahan.
Karena para tamu sedang bicara gembira, tak seorangpun memperhatikan seruan ini.
Baru saja Thiat pi Lee It Kong dan dua orang kakek itu dipersilahkan duduk di ruangan terhormat, seorang wanita setengah tua yang masih nampak cantik dan keren, memasuki ruangan itu, membawa sebuah bungkusan yang panjangnya ada dua kaki.
Wanita ini langsung menghampiri Sin siang to Bhok Coan, lalu memberi hormat dan menyerahkan bungkusan itu kepada tuan rumah sambil berkata.
"Bhok lo enghiong, sudilah memberikan bingkisan ini untuk salah seorang tamu yang terhormat!"
Bhok Coan menatap wanita itu.
Wanita yang usianya paling banyak limapuluhan tahun, namun potongan muka yang cantik masih membayang jelas.
Wanita ini tidak membawa senjata tajam seperti orang orang kang ouw oleh karena tadi ia menempatkan wanita itu di ruangan biasa dan mengira bahwa dia hanya seorang kang ouw biasa saja.
Biarpun tidak senang melihat gangguan ini, namun sebagai tuan rumah yang tidak mengenal siapa adanya wanita ini, Bhok Coan menjawab sambil tertawa memperlihatkan keramahan tuan rumah.
"Toanio, bingkisan ini harus disampaikan kepada siapakah? Aku tidak melihat ada tulisan alamatnya di luar bungkusan,"
"Kau bukalah saja, lo enghiong. Nanti kau akan tahu sendiri,"
Jawab wanita itu, tegas dan sikapnya keren.
Melihat peristiwa ini, semua orang di dalam ruangan terhormat itu menaruh perhatian.
Hanya satu orang saja di ruangan itu yang kaget sekali melihat wanita setengah tua itu dan dia ini adalah Song Bi Hui.
Akan tetapi, diapun heran dan ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Adapun Sin siang to Bhok Coan sambil tersenyum senyum lalu membuka bungkusan itu mulutnya berkata perlahan.
"Kau aneh sekali, toanio...."
Akan tetapi, tak dapat di lukiskan betapa terkejutnya ketika bungkusan itu telah di bukanya.
Sin siang to Bhok Cian adalah seorang kang ouw yang kawakan, bekas perampok besar yang tidak segan segan melakukan pembunuhan dan sudah sering kali menghadapi hal tebat.
Namun, begitu bungkusan itu ia buka, serta merta matanya terbelalak, ia mengeluarkan seruan kaget dan isi bungkusan itu jatuh ke bawah, terlepas dari pegangannya, isi bungkusan itu sebuah lengan tangan lengkap dengan lima buah jari tangannya, jatuh berdebuk di atas lantai di tengah ruangan, mengerikan.
"Toanio, mengapa kau main main?"
Tegurnya gelisah, tahu bahwa ini adalah tanda yang tidak baik, tanda datangnya kekacauan dalam pesta she jit nya.
"Apa kau sengaja hendak mengacaukan pestaku?"
Wanita itu memandang tajam, sikapnya galak.
"Bhok enghong, siapa main main denganmu? Bingkisan ini memang diperuntukkan seorang tamumu. Suruh dia datang menerimanya!"
Kini Bhok Coan dan semua orang menoleh ke arah Thait pi Le It Kong.
Orang gagah yang buntung lengannya ini satu satunya orang yang kiranya ada hubungan dengan persoalan ini.
Akan tetapi Sin siang to Bhok Coan tentu saja tidak mau menghina tamunya dan dengan marah ia kembali berpaling kepada wanita itu dan berkata keras.
"Toanio, sebagai tamu tentu saja kau mendapat penghormatanku. Akan tetapi perbuatan toanio ini benar benar keterlaluan sekali. Harap toanio tidak menghina orang dan mencari gara gara. Ambillah kembali benda menjijikkan ini dan bawalah."
"Orang she Bhok! Aku hanya minta kau mempersilahkan orang yang berhak menerima bingkisan ini, mengapa kau banyak cerewet? Biarpun hal ini terjadi di rumahmu, akan tetapi sesungguhnya tiada sangkut pautnya denganmu. Mengapa kau seperti hendak melindungi orang itu?"
"Siapakah dia? Bagaimana aku bisa mengerti siapa orangnya yang wajib menerima benda mengerikan ini?"
Kata Bhok Coan membela diri. Wanita itu menggerakkan bibirnya mengarah senyum penuh ejekan dan matanya menyapu ke arah para tamu untuk kemudian berhenti pada wajah Thiat pi Lee It Kong.
"Apa sih sukarnya untuk mengetahui orang nya. Anak kecilpun dapat melihat siapa yang kehilangan lengan di dalam ruangan ini."
Kini semua mata memandang kembali ke arah Lee It Kong dan semua orang menahan napas, merasa tegang.
Tak salah lagi, pikir mereka.
Tentu Lee It Kong ada hubungannya dengan peristiwa ini.
Thiat pi Lee It Kong berubah air mukanya ketika tadi ia melihat lengan itu menggelinding ke luar dari bungkusan dan kini menggeletak di atas lantai.
Ia masih mengenal lengannya sendiri biarpun lengan itu kulitnya sudah berkerut kerut, sedikitnya ia mengenal bentuk jari jari tangannya Kini melihat semua mata memandang ke arahnya, ia lalu membusungkan dada membesarkan hati, melangkah maju dan menjura kepada wanita itu sambil berkata kepada Sin siang to Bhok Coan.
"Bhok lo enghiong, karena di dalam mangan ini hanya siauwte seorang yang buntung lengannya, tentulah toanio ini ingin berurusan dengan siauwte. Biarkan siauwte membereskan urusan ini."
Bhok Coan terpaksa mengundurkan diri dan seperti tamu tamunya, iapun kini memandang ke arah dua orang yang telah berhadapan itu.
Wanita itu kini memandang kepada Lee It Kong, matanya tajam menyelidik.
Adapun Lee lt Kong membungkuk dan berkata.
"Toanio memang benar lenganku yang kiri telah buntung, akan tetapi belum tentu kalau lengan yang kau bawa ini adalah benar lenganku. Bagaimana kau bisa memastikan bahwa itu adalah lenganku dan kau sengaja datang ke sini untuk mengacaukan dan menghina tuan rumah?"
Tiba tiba wanita itu melangkah maju, sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi dan kata katanya keras dan nyaring sekali.
"Thiat pi Lee It Kong, tidak percuma aku melakukan penyelidikan sampai hampir sepuluh tahun lamanya. Kalau kau benar laki laki, coba katakan di mana kau kehilangan lenganmu?"
Merah muka Thiat pi Lee It Kong dan ia menjawab gagap.
"Di.... di. .."
Tiba tiba ia menjadi marah karena ia merasa malu sekali kalau harus membuka rahasia mengapa dan bagaimana ia kehilngan lengannya "Hm, kau ini siapakah berani kurang ajar di hadapanku?
Di mana aku kehilangan lenganku, sama sekali bukan urusanmu!"
Wanita itu tertawa mengejek "Orang she Lee, potongan lenganmu berada di dalam tanganku.
Bagaimana kau ada muka untuk bilang bahwa aku tidak ada urusan dengan hal itu?
Kalau kau benar benar jantan dan tahu malu, coba jawab, bukankah kau kehilangan lenganmu itu di Leng ting?"
Thiat pi Lee It Kong adalah seorang laki laki yang mengutamakan kegagahan dan berwatak kasar jujur.
Kini kehormatannya dalam ujian.
Memang ia merasa malu kalau diketahui orang bagaimana ia kehilangan lengan, akan tetapi ia akan merasa lebih malu lagi kalau tak dapat menjawab pertanyaan wanita ini, apalagi untuk membohong, ia tidak sudi.
Sambil membusungkan dada dengan suara keras menjawab.
"Betul, aku kehilangan lengan di Leng ting, kau mau apa?"
"Di Leng ting dalam rumah Sin tung Lo kai?"
Wanita itu mendesak dengan mata berapi. Wajah Lee It Kong makin merah, rahasia itu agaknya takkan dapat ditutup tutupi lagi. Ia mengangguk.
"Betul."
"Bagus, keparat jahanam. Terimalah pembalasanku!"
Wanita itu tiba tiba mencabut sesuatu dan tahu tahu sebatang tongkat merah pendek telah berada di tangannya.
Dengan tongkat ini ia melakuan serangan dahsyat ke arah tenggorokan dan ulu hati Lee It Kong.
Sekali serang, ujung tongkat itu telah menotok dua bagian jalan darah yang akan mengantar nyawa orang pulang ke asal kalau mengenai tepat.
Lee It Kong mengeluarkan seruan kaget dan cepat menggunakan gerak loncat Koai liong hoan sin (Naga Siluman Berjungkir Balik) untuk menghindarkan diri dari dua totokan tongkat itu.
Akan tetapi baru saja tubuh nya yang berjutmpalitan itu turun ke atas lantai, ujung tongkat lawannya kembali telah mengejar dan mengurungnya dengan totokan totokan berbahaya!
"Nanti dulu!
Bukan sikap orang gagah menyerang orang tanpa alasan kuat.
Aku mau bicara dulu!"
Teriak Lee It Kong sambil mengelak ke kanan kiri dengan sibuk dan terdesak hebat.
Wanita itu mengeluarkan suara ketawa mengejek dan benar benar menahan tongkatnya sehingga Lee It Kong dapat bernapas lega karena untuk sementara terlepas dari ancaman maut.
"Jahanam she Lee, kau masih mau bicara apalagi?"
"Kau ini perempuan liar siapakah? Selama hidupku belum pernah aku berjumpa denganmu, mengapa kau datang datang menyerangku kalang kabut? Coba kaukatakan, apa dosaku?"
Wanita itu tersenyum, masih manis senyumnya namun di balik kemanisan itu tersembunyi ancaman maut yang mengerikan, sambil menudingkan ujung tongkat merahnya ke arah dada Lee It Kong, ia berkata.
"Orang she Lee, kau sudah melakukan dosa besar di Ang sin tung Kai pang, masih tidak mengenal tongkat ini? Aku adalah Thio Leng Li, puteri dan Sin tung Lo kai! Hemm, kau masih ingin mengetahui dosa dosamu? Baiklah, sebelum mampus kau dengarkan lagi dosa dosamu agar di saksikan oleh para enghiong d sini dan agar kau jangan mampus penasaran! Kau telah menyerbu Ang sin tung Kai pang telah membunuh ayahku Sin tung Lo kai dan menculik puteriku, Kwan Li Hwa! Sekarang aku hendak menawanmu, menyiksamu sampai kau mengaku di mana kau sembunyikan anakku kemudian kau akan ku bunuh, kubelek dadamu kucabut jantungmu untuk dipakai bersembahyang di depan makam ayah!"
Tidak hanya Lee It Kong yang mengeluarkan keringat dingin, juga banyak orang menjadi pucat mendengar kata kata yang amat menyeramkan ini.
Lee It Kong membanting banting kakinya di lantai sambil berkata.
"Celaka.... celaka....! Lee It Kong, kau memang bernasib sial sekali."
Dia memukuli kepala nya sendiri.
"Ingin merebut kitab dan pedang, akibatnya lengan buntung dan masih didakwa menjadi pembunuh dan penculik. Celaka, Thio toanio aku bersumpah bahwa aku tidak membunuh ayah mu dan tidak menculik anakmu."
"Pengecut rendah! Bukti utama adalah lenganmu yang buntung dan tertinggal di rumah kami masih hendak menyangkal? Benar tak tahu malu!"
Sambil berkata demikian Thio Leng Li, wanita itu, kembali menggerakkan tongkat merahnya dan menyerang Lee It Kong dengan dahsyat.
"Bukan aku.... aku tidak berdosa...."
Seru Lee It Kong sambil melompat ke belakang.
Namun Leng Li tidak memperdulikan kata katanya lagi, tongkat merahnya mendesak terus dengan gerak gerak tipu paling lihai dari ilmu tongkat warisan Sin tung Kai pang.
Sebelum Lee It Kong sempat membalas, tiba tiba ujung tongkat merah telah menotok jalan darah tai twi hiat dan seketika itu juga tubuh yang tinggi besar dari Lee It Kong menjadi tegang dan kaku seperti sebuah patung kayu!
Thio Leng Li mengangkat tongkatnya, memukul ke arah pundak lawannya dengan maksud membikin hancur tulang pundak agar selanjutnya orang she Lee itu tidak akan dapat melawan lagi.
Tiba tiba berkelebat bayangan hitam.
"Plak!!"
Tongkat merah bertemu dengan tongkat bambu yang menangkis.
Thio Leng Li merasa tangannya sakit dan cepat melompat mundur.
Di depannya telah berdiri seorang kakek bongkok yang dandanannya sederhana saja.
Dia adalah seorang di antara dua kakek yang tadi datang bersama Lee It Kong.
Dengan tenang kakek ini menggerakkan tongkatnya menotok punggung Lee It Kong yang segera roboh akan tetapi terbebas dan totokan Leng Li.
Dia segera berlutut di depan kakek itu dan berkata.
"Harap suhu lindungi teecu."
"Hemm, Lee It Kong. Aku tahu bahwa Sin tung Lo kai adalah seorang gagah dan bahwa perkumpulannya Ang sin tung Kai pang adalah perkumpulan terhormat. Tentu anak perempuannya juga bukan orang sembarangan dan dapat dipercaya. Hayo kau ceriterakan dengan sejujurnya, bagaimana kau kehilangan lengan di rumah Sin tung Lo kai? Awas, kalau kau membohong, aku sendiri yang akan menghancurkan tulang dipundakmu kemudian menyerahkan kau kepada Thio Lihiap!"
"Ampun, suhu. Sesungguhnya teecu tidak membohong kepada Thio toanio dan teecu tidak sekali sekali merusak nama baik suhu...."
"Cukup! Aku tidak perduli tentang nama. Selamanya aku tak pernah menonjolkan nama. Hayo cerita yang jelas!"
Bentak kakek itu.
"Kurang lebih sepuluh tahun, teecu mendengar sepintas lalu dari percakapan dua orang anggauta Ang sin tung Kai pang bahwa di rumah Sin tung Lo kai tersimpan kitab dan pedang peninggalan Tat Mo Couwsu, yaitu Im yang cin keng dan Giok po kiam. Karena sudah lama teecu mendengar akan kehebatan dua benda ini dan akan membuat pemiliknya menjadi gagah tak terlawan, teecu memberanikan hati mendatangi Sin tung Lo kai dan minta dua benda itu. Akan tetapi dalam pertempuran dengan Sin tung Lo kai, teecu telah dikalahkan."
"Jadi kau tidak membunuh Sin tung Lo kai?"
Tanya gurunya.
"Mana teecu bisa? Dalam pertempuran beberapa belas jurus saja teecu sudah dirobohkan. Bagaimana teecu bisa membunuhnya? Juga, kedatangan teecu itu bukan bermaksud membunuh, melainkan menguji kepandaian sekalian minta pedang dan kitab."
Kakek itu memutar tubuh menghadapi Thio Leng Li.
"Thio toanio, kiranya omongan muridku ini boleh dipercaya Aku sendiri tidak percaya dia mampu membunuh ayahmu."
Memang tadinya Leng Li juga ragu ragu, masa orang yang dalam beberapa gebrakan saja sudah dapat ia totok ini dapat membunuh ayahnya.
Akan tetapi siapa tahu kalau kalau Lee It Kong datang dengan bantuan orang orang pandai.
Maka ia masih belum mau mengalah, lalu bertanya kepada Lee It Kong.
"Kalau kau tidak membunuh ayahku, kau apakan anakku Li Hwa? Mengapa ia hilang terculik?"
Jawaban Lee It Kong benar benar mengagetkan dan di luar dugaan orang.
"Kau mau tahu tentang anakmu itu? Bukankah dia seorang anak perempuan tujuh delapan tahun, membawa sebatang pedang pendek bertabur kemala?"
"Betul.... betul dia. Li Hwa anakku....!"
Kata Leng Li penuh gairah dan harapan. Lee It Kong menarik napas parjang.
"Satu satunya hal yang kuketahui adalah bahwa anak perempuanmu itulah yang membikin buntung lenganku ini...."
"Apa kau bilang?"
Seru Leng Li terheran heran.
"It kong betulkah kata katamu itu?"
Kakek tadi ikut bertanya kepada muridnya dengan hati mengkal karena sungguh memalukan hatinya sekali mendengar muridnya kena dibuntungi lengannya hanya oleh seorang anak perempuan berusia tujuh delapan tahun.
"Memang betul demikian, suhu."
Kemudian ia menoleh kepada Leng Li sambil berkata.
"Ketika aku sudah terpukul roboh oleh Sin tung Lo kai, aku melihat seorang anak perempuan keluar membawa sebatang pedang yang luar biasa, terhias kemala. Aku mengira bahwa tentu itulah pedang pusaka Giok po kiam maka aku berusaha merampasnya. Tidak tahunya sekali bergerak bocah itu telah menebas buntung lengan kiriku! Aku lalu melarikan diri meningkatkan buntungan lengan. Nah, aku sudah berceritera kau percaya atau tidak terserah."
Thio Leng Li termenung sejenak.
Agaknya Lee It Kong tidak membohong, oleh karena ceritra seperi itu sesungguhnya merendahkan nama sendiri.
Akan tetapi ia merasa amat penasaran dan terutama sekali kecewa oleh karena keterangan Thiat pi Lee It Kong itu membuyarkan semua harapannya.
Dengan keterangan tadi keadaan masih sama gelap nya seperti sebelum ia bertemu dengan si lengan buntung ini.
Dia masih belum juga tahu siapa pembunuh ayahnya dan terutama sekali tidak tahu di mana adanya Li Hwa.
"Aku baru percaya kalau kau katakan siapa yang membunuh ayah dan siapa penculik anakku. Kau telah menyerbu ke rumahku dan kau telah bertempur dengan ayah. Tentu kau tidak datang seorang diri dan kau tahu siapa orangnya yang berdosa kalau bukan kau. Peristiwa itu terjadi pada satu malam, mustahil kalau kau tidak tahu. Kalau kau tidak mau mengaku terpaksa aku akan menawanmu dan memaksamu!"
Karena di situ ada suhunya, biarpun ia jerih terhadap nyonya kosen ini, Thiat pi Lee It Kong menjadi marah.
"Thio toanio, kau terlalu sekali. Kau terlalu mengandalkan kepandaian sendiri hendak menghina orang lain! Aku adalah seorang laki laki, semua perbuatan kupertanggungjawabkan. Aku berani menanggung resikonya. Mengapa aku harus membawa bawa orang lain malam itu? Hanya, terus terang saja kukatakan bahwa ketika aku melarikan diri setelah terluka, kelihatan bayangan dua orang berkelebat cepat ke arah rumahmu itu."
"Sapa mereka?"
Leng Li tertarik sekali, kembali timbul harapannya.
"Sayang keadaan gelap, aku tidak mengenal muka mereka, hanya dari bayangan mereka aku dapat menduga bahwa mereka adalah seorang laki laki dan seorang wanita muda."
Leng Li tertegun.
Juga Bi Hui yang sejak tadi mendengarkan percakapan ini terkejut.
Dua orang wanita ini mempunyai pikiran dan dugaan yang sama.
Tiba tiba pada saat itu, dari luar rumah terdengar suara nyaring sekali, membuat para tamu terkejut karena suara ini keluar dan pengerahan khikang yang tinggi.
"Rombongan utusan Thian hwa kauw tiba, Sin siang to Bhok Coan diminta keluar menyambut... !"
Semua tamu saling pandang dengan muka tercengang, dan biarpun hatinya berdebar gelisah, Sin siang to Bhok Coan tentu saja tidak sudi keluar, bahkan lalu menyuruh seorang pelayan untuk keluar dan melihat siapa yang datang serta menanyakan apa keperluan mereka.
Akan tetapi sebelum pelayan itu sampai di luar, terdengar pula suara tadi.
"Sin siang to benar benar tak memandang kepada Thian hwa kauw, perlu diberi rasa!"
Dan dari luar masuklah serombongan orang yang amat menarik perhatian semua tamu.
Rombongan ini terdiri enam orang pemuda tampan dan enam orang dara cantik.
Mereka berjalan merupakan barisan pasangan yang amat menarik dengan pakaian mereka yang mewah dan indah.
Hanya satu hal yang amat menyolok pada para muda itu bahwa muka mereka rata rata pucat pias dan mata mereka tak bersinar seperti orang orang kehilangan semangat.
Namun harus diakui bahwa mereka itu tampan dan cantik!
Di depan duabelas orang pemuda pemudi yang rata rata berusia kurang lebih duapuluh tahun ini berjalan seorang laki laki yang buruk sekali rupanya.
Sukar menaksir usianya karena mukanya kerut kerut dan hitam seperti muka monyet, juga tubuhnya bongkok seperti udang mati.
Matanya besar besar melotot keluar, nampak lebih tepat menjadi iblis daripada manusia.
Rombongan ini berjalan dengan tenang seperti penuh khidmat.
Bahkan kaki pasangan duabelas orang itu melangkah dengan gerakan berbareng seperti barisan tentara terlatih.
Mereka ini kedua tangannya masing masing dirangkapkan di depan dada di mana mereka memegang setangkai bunga teratai, ada yang putih, ada yang merah, ada yang ungu.
Akan tetapi semua teratai yang mereka pegang itu nampak masih segar seakan akan baru saja mereka petik.
Juga kakek atau nenek seperti iblis itu kedua tangannya memegang setangkai bunga teratai yang kiri biru yang kanan ungu, nampaknya lebih besar dari teratai biasa dan di pegangnya dengan cara mengangkatnya tinggi tinggi di atas pundak dekat telinga.
Benar benar rombongan yang lucu namun ada juga sifat angker karena muka mereka yang bersungguh sungguh itu.
Sin siang to Bhok Coan merasa gelisah sekali, namun ia membesarkan hatinya, mengangkat dada dan menekan kegelisahanaya, lalu bertindak maju menghampiri rombongan yang sudah memasuki ruangan terhormat itu.
Ia menjura dengan hormat lalu berkata kepada si bongkok yang agaknya memimpin rombongan itu.
"Lohu orang she Bhok tak pernah merasa ada urusan dengan fihak Thian hwa kauw, sekarang cu wi datang mengunjungi lohu, tidak tahu apakah hendak ikut bergembira ataukah ada urusan lain?"
Orang tua bongkok itu memutar mutar biji matanya, jelilatan memandang ke kanan kiri, suaranya parau dan serak.
"Sin siang to Bhok Coan, kau masih belum menginsyafi dosa dosamu? Kau telah memandang rendah kepada kauw cu (ketua agama) kami, dengan tidak mengundang kauw cu kami berarti kau telah menghina kauw cu yang terhormat."
Sin tiang to Bhok Coan terkejut dan cepat cepat ia menjura sambil berkata ramah.
"Ahh, kiranya begitu? Maafkan lohu yang pelupa. Sesungguhnya oleh karena Thian hwa kauw baru berdiri dan lohu belum mengenal kauw cu cu wi sekalian maka lohu tidak berani mengundang. Sekarang, baiklah lohu mengundang cu wi sebagai wakil wakil Thian hwa kauw untuk duduk di ruangan terhormat."
"Huh, huh, orang she Bhok. Siapa sudi akan undanganmu? Kauw cu kami belum tentu doyan hidangan di sini yang serba kotor. Laginya, kauw cu kami tidak butuh undanganmu melainkan mengutus kami untuk datang menyampaikan hukuman atas dirimu yang sudah menghina perkumpulan kami."
Sin siang to Bhok Coan menjadi panas perutnya.
Belum pernah selama hidupnya ia mengalami aturan yang luar biasa ini.
Orang ber she jit tidak mengirim undangan, masa dianggap menghina, berdosa dan mereka datang hendak menjalankan hukuman.
Banyak sudah ia mendengar akan keanehan sikap orang orang sakti yang kadang kadang sewenang wenang dan luar biasa, akan tetapi aturan seperti yang dilakukan oleh kauw cu dari Thian hwa kauw ini baru sekarang ia mendengar dan mengalaminya.
"Hukuman kepadaku? Hmm, hukuman apakah gerangan?"
Tanya Sin siang to Bhok Coan menahan dongkolnya.
Orang tua yang masih belum diketahui laki laki atau wanita itu mengeluarkan sehetai kertas bergulung dari saku bajunya, membuka gulungan kertas dengan kedua lengan dilempangkan lalu membaca dengan lagak seorang perajurit membaca surat titah raja.
"Atas perintah kauwcu yang maha mulia dari perkumpulan Agama Thian hwa kauw, kami para pengurus bagian pengadilan memutuskan bahwa orang yang bernama Bhok Coan berjuluk Sin siang to tinggal di kota Kwan leng si telah melakukan pelanggaran dosa besar dengan penghinaan terhadap Thian hwa kauw dan memandang rendah kepada kauw cu yang mulia, tidak mau mengirimkan undangan pada pesta she jitnya. Oleh karena itu diputuskan hukuman kepada Sin siang to Bhok Coan seperti berikut . Semua barang sumbangan yang ia peroleh dari para tamu, harus di bawa ke Thian hwa kauw lebih dulu di mana kauw cu akan mengadakan pemilihan dan mengambil mana yang disukai beliau, baru sisanya boleh diambil olehnya, sepasang siang to di pinggang Bhok Coan harus dibawa ke Thian hwa kauw dan sepuluh hari kemudian setelah Bhok Coan datang menghadap kauw cu dan mohon maaf baru senjatanya akan dikembalikan. Demikianlah perintah ini yang...."
Baru saja orang tua itu membaca sampai di sini, Thiat pi Lee It Kong sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Ia berderu keras dan dengan lengannya yang tinggal sebelah itu ia menyerang kakek atau nenek yang sedang membaca "surat perintah"
Menghantam ke arah dadanya dengan keras sekali.
julukan Lee It Kong adalah Thiat pi atau Tangan Besi, maka dapat dibayangkan betapa keras dan dahsyat pukulannya ini.
Tadi Lee It Kong telah menderita malu di depan orang banyak, kini untuk menebus malunya, ia hendak memperlihatkan kegagahannya dengan jalan membela tuan rumah yang diperlakukan sewenang wenang oleh orang orang Thian hwa kauw itu.
Orang tua itu ternyata tidak menghentikan bacaannya, bahkan tidak bergerak sedkitpun juga, sama sekali tidak perduli akan datangnya hantaman tangan Lee It Kong yang menyambar dadanya.
Ia melanjutkan bacaannya.
"Demikianlah perintah ini yang harus ditaati oleh Sin sang to Bhok Coan kalau ia sayang akan nyawa "
Baru sa ia selesai membaca, tangan Lee It Kong sudah dekat dengan dadanya, akan tetap tiba tiba Lee It Kong memekik keras, tubuhnya terjengkang ke belakang dan ketika dilihat, jago lengan buntung ini telah tewas dalam keadaan mendelik dan mukanya berubah hitam.
Keadaan menjadi ribut.
Guru dan paman guru Lee It Kong tadi melihat betapa dua orang pemuda pemudi yang berdiri di dekat orang tua itu menggerakkan tangan dan dua benda bersinar hitam menyambar ke arah leher Lee It Kong.
Tahulah mereka bahwa orang orang Thian hwa kauw itu mempergunakan senjata rahasia berbisa.
"Jahanam Thian hwa kauw, kalian main curang,"
Seru dua orang kakek ini sambil menggerakkan tongkat bambu mereka menyerbu ke depan.
Guru Lee it Kong bernama Tan Lui dan sutenya juga adiknya sendiri bernama Tan Kui, kedua orang kakek ini adalah orang orang dusun yang menjadi petani, namun mereka memiliki kepandaian tinggi.
Tan Lui menyerang kakek bongkok seperti udang ini, sedangkan Tan Kui menggerakkan tongkatnya menyerang dua orang pemuda pemudi yang tadi merobohkan Lee It Kong dengan senjata rahasianya.
Kakek atau nenek bongkok itu sebetulnya seorang laki laki tua yang mukanya buruk sekali.
Dia adalah kepala pelayan dari Thian hwa kauw, kepandaiannya tinggi dan ia bernama julukan Hak tok kwi (Setan Racun Hitam), nama aslinya tidak di kenal orang lagi.
Ketika melihat datangnya serangan Tan Lui ke arah kepalanya, dan mendengar sambaran angin menderu keluar dari tongkat bambu, maklumlah Hek tok kwi bahwa lawannya adalah seorang yang berkepandaian tinggi ia mengeluarkan suara ketawa cekikikan, cepat menyimpan gulungan kertas yang tadi dibacanya dan tahu tahu sepasang bunga teratai biru dan ungu yang tadinya dimasukkan saku ketika ia membaca surat perintah, kini telah berada di tangannya kembali.
Begitu tongkat menyambar dekat kepalanya, kakek ini mangelak ke kiri dan tangan kanannya yang memegang bunga teratai ungu itu, bergerak membalas serangan lawan dengan memukulkan bunga itu!
Benar benar aneh bunga teratai segar dipakai sebagai senjata untuk menyerang!
Akan tetapi akibat serangan bunga teratai ungu ini lebih hebat lagi.
Memang betul Tan Lui dapat cepat mengelak, namun tiba tiba ia sempoyongan ke belakang seperti orang mabuk dan di lain saat, sambil membalikkan tangkai bunga yang dipakai nya, Hek to kwi sudah menusuk iganya dengan jari jari tangan kanan.
Tan Lui roboh terjungkal dalam keadaan tidak bernyawa lagi!
Tan Kui yang menyerang sepasang muda mudi itupun disambut dengan luncuran sinar sinar hitam yang ternyata adalah duri duri pohon berwarna hitam yang berbau keras.
Tan Kui sudah maklum akan bahaya ini karena tadipun murid keponakannya tewas oleh duri duri ini.
Cepat ia memutar tongkatnya dan semua senjata rahasia itu runtuh.
Akan tetapi tiba tiba dua orang muda mudi itu telah menyerangnya dengan gerakan aneh dan cepat, adapun senjata yang mereka pergunakan juga kembang teratai di tangan yang masih segar.
Seperti Tan Lui tadi, iapun memandang rendah dan cepat mengelak sambil membalas dengan penyerangan tongkatnya.
Namun, tiba tiba ia mencium bau harum yang menyesakkan napas dan memusingkan kepalanya dan tanpa dapat dicegah lagi ia terhuyung huyung.
Kembali sinar sinar hitam menyambar dan kali ini dalam keadaan pusing itu Tan Lui tidak berdaya menangkis atau mengelak.
Beberapa buah duri berbisa menancap di tempat berbahaya, tepat mengenai jalan darahnya dan ia terjungkal di dekat mayat suheng dan murid keponakannya dalam keadaan tewas pula!
Orang orang kang ouw yang duduk di situ menjadi marah sekali.
Memang semenjak tadi mereka sudah membicarakan tentang perkumpulan Thian hwa kauw.
Sekarang mereka menyaksikan sendiri sepak terjang perkumpulan itu yang dalam waktu singkat secara keji telah membunuh tiga orang gagah.
Serentak para locianpwe yang hadir di situ bangkit dari tempat duduk mereka dan melompat sambil mencabut senjata.
"Jahanam Thian hwa kauw harus dibasmi!"
Teriak mereka dengan marah.
Juga Thio Leng Li yang melihat sikap orang orang Thian hwa kauw ini menjadi tak senang.
Apalagi melihat Thiat pi Lee It Kong yang hendak dilawannya itu sudah terbunuh oleh mereka, ia menjadi penasaran sekali.
Hek tok kwi tertawa bergelak melihat mereka semua berdiri.
Sama sekali ia tidak menjadi gentar.
Juga duabelas muda mudi yang berada di belakangnya, bersikap tenang tenang dan sudah siap sedia menghadapi keroyokan para tamu itu dengan senjata mereka di tangan, senjata yang luar biasa sekali, yaitu setangkai kembang teratai dan duri duri berbisa!
"He he he he heh!
Masa para locianpwe dari partai partai besar ada muka untuk maju melakukan pengeroyokan seperti sifatnya bajingan bajingan kecil?"
Ketika melihat para locianpwe itu melengak dan ragu ragu karena ejekan ini, kembali Hek tok kwi tertawa.
"Heh heh heh! Para suuli dan siulam (dara jelita dan teruna tampan), lepas tirai asap dan laksanakan perintah kauw cu!"
Baru saja kata kata ini keluar dari mulut kakek itu, serentak mereka mengeluarkan sesuatu dari saku baju dan membantingnya di atas lantai di sekeliling mereka.
"Dar dar dar dar....!"
Ramai terdengar letusan letuaan dan dalam sekejap mata saja ketika para locianpwe itu melompat mundur dengan kaget, ruangan itu telah penuh asap putih bergumpal gumpal.
Asap ini mengandung hawa panas dan amat pedas kalau menyerang mata, maka biarpun para locianpwe di situ berilmu tinggi, mereka terpaksa menutup mata masing masing dan menahan napas.
Terdengar orang terbatuk batuk di sana sini, yaitu mereka yang mengisap asap putih itu, dan di sana sini orang berteriak teriak untuk menganjurkan menangkap orang orang Thian hwa kauw.
Akan tetapi siapakah yang dapat bergerak dalam keadaan seperti itu?
Mata tak dapat dibuka, bernapaspun tidak berani, dan tak dapat dilihat lagi mana kawan mana lawan!
Ketika asap putih itu bergulung gulung naik dan mulai menipis sehingga orang orang dapat membuka mata dan bernapas lagi, ternyata orang orang Thian hwa kauw itu sudah lenyap dari situ.
Dan bersama dengan lenyapnya mereka ini, lenyap pula semua benda sumbangan yang tadinya dijajarkan di atas meja panjang, dan lenyap pula sepasang golok di pinggang Bhok Coan sedangkan tuan rumah itu sendiri menggeletak di atas lantai dalam keadaan lemas tertotok.
Ketika itu di ruangan lain juga ribut ribut karena ternyata di situ telah lenyap tiga orang pemuda tampan dan tiga orang dara cantik.
Menurut mereka yang melihat ketika terjadi ribut ribut tadi, dara dara cantik itu diculik oleh pemuda pemuda Thian hwa kauw yang tampan, sedangkan pemuda pemuda tampan yang menjadi tamu diculik oleh pemudi pemudi Thian hwa kauw.
Benar benar hal yang amat hebat.
Dalam keadaan cepat sekali tigabelas orang anggauta Thian hwa kauw itu dapat melakukan perbuatan perbuatan itu, benar benar membuktikan kelihaian mereka.
Keadaan menjadi ribut dan para tamu banyak yang berpamit meninggalkan tempat itu, kecuali para locianpwe yang dengan hati mengkal dan malu berunding untuk melawan perkumpulan agama baru yang jahat itu.
Juga Thio Leng Li ikut bersidang kemudian diambil keputusan untuk menyerbu Thian hwa kauw sepuluh hari kemudian, yaitu mengantar Sin siang to Bhok Coan yang akan datang di sarang Thian hwa kauw di Kwi ciu.
Tak seorangpun tahu bahwa diam diam Song Bi Hui lenyap pula dari ruangan itu.
Mereka hanya mengira bahwa wanita muda itu ketakutan dan lari lebih dulu tanpa pamit.
Diam diam mereka mentertawakan gadis yang mengaku murid Bu eng Lo kai dan Soat Li Suthai itu.
Kemanakah perginya Song Bi Hui?
Apakah benar dia ketakutan dan melarikan diri di dalam keadaan ribut tadi?
Tak mungkin!
Tidak mungkin seorang seperti Bi Hui melarikan diri.
Semenjak tadi ia mengawasi gerak gerik mereka itu dan diam diam ia merasa amat heran melihat sikap duabelas orang muda mudi yang seakan akan bertindak bukan atas kehendak sendiri.
Memang ketika senjata peledak itu diledakkan, Song Bi Hui tidak berdaya apa apa.
Diapun tidak kuat menahan serangan asap putih yang membikin mata pedas, maka diam diam ia lalu berlari keluar mencari hawa yang segar, keluar dari daerah asap putih bergulung gulung itu.
Tak lama kemudian, di antara hiruk pikuk dan kepanikan para tamu, ia melihat bayangan bayangan putih dari para angauta thian hwa kauw itu berkelebat keluar.
Cepat cepat Bi Hui mengikuti mereka dari belakang, ilmu lari cepat Bi Hui amat tinggi karena gurunya, Bu eng Lo kai (Pengemas Tua Tanpa Bayangan) adalah seorang ahli ginkang yang jarang tandingannya.
Maka biarpun para anggota Thian hwa kauw itu rata rata dapat berlari cepat sekali, tidak sukar bagi Bi Hui untuk mengejar mereka.
Ketika ia melihat bahwa di antara para orang muda itu ada yang memondong pemuda tampan dan gadis cantik, ia dapat menduga bahwa tentu dalam keributan tadi, orang orang sesat itu telah menculik pemuda pemuda dan pemudi pemudi cantik yang menjadi tamu di rumah Sin sang to Bhok Coan.
Hati Bi Hui marah sekali.
Sekali ia melompat, tubuhnya bagaikan seekor burung telah melayang melewati rombongan itu dan dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya rombongan orang Thian hwa kauw itu ketika tahu tahu di depan mereka berdiri seorang wanita muda yang cantik dan gagah, dengan pedang melintang di depan dada.
"Siluman siluman Thian hwa kauw, berhenti dulu!"
Bentakan Bi Hui amat berpengaruh dan nyaring.
Enam pasang muda mudi itu sudah berlari cukup jauh, apa lagi mereka itu semua membawa barang barang berat, bahkan tiga pasang di antara mereka masing masing membawa seorang tawanan, tentu saja mereka sudah telah.
Kini melihat adanya rintangan dan melihat tanda dari Hek tok kwi supaya mereka berhenti, enam pasang orang muda itu menurunkan beban masing masing di atas tanah.
Barang barang sumbangan yang tadinya berada di atas meja di dalam rumah Sin siang to Bhok Coan, kini diletakkan di atas tanah.
Juga tiga pasang orang muda yang diculik, dalam keadaan tertotok dilepaskan diatas tanah, di mana mereka rebah tak berdaya sama sekali.
Hek tok kwi memandang kepada Bi Hui dan matanya yang bulat lebar itu terputar putar membayangkan kekaguman.
"Heh heh heh, ini dia wanita ayu yang gagah perkasa, twa kongcu tentu akan berterima kash sekali kalau kita bisa membawanya pulang. Heh heh heh..."
Anehnya, mendengar kata kata ini, duabelas orang muda dalam barisan itupun tertawa gembira.
Bergidik bulu tengkuk Bi Hui melihat cara mereka tertawa.
Macam mayat tertawa, mulutnya tertawa akan tetapi muka dan matanya tidak ikut tertawa!
Benar aneh keadaan mereka itu.
"Nona yang baik, kau mau apakah?"
Tanya Hek tok kwi sambil tertawa tawa. Bi Hui menudingkan pedangnya ke muka orang bermuka iblis itu.
"Siluman siluman Thian hwa kauw! Urusanmu dengan Sin siang to Bhok Coan, aku tidak perduli karena kalian dan dia sama sama bangsa bangsa perampok dan penjahat! Akan tetapi kalau kalian membunuhi orang begitu saja, mencuri barang barang dan menculik orang orang di depan mataku, aku Song Bi Hui tentu saja takkan mengampuni kalian lagi!"
Mendengar disebutnya sama Song Bi Hui, kakek bongkok itu nampak terkejut, ia melangkah maju dan bertanya penuh perhatian.
"Nona bernama Song Bi Hui??"
"Betul!"
Bi Hui mengelebatkan pedangnya. Sikapnya menantang. Tiba tiba kakek itu menoleh ke belakang memberi aba aba cepat.
"Para siuli dan siulam, hayo kepung dan tawan nona ini hidup hidup! Hati hati, jangan sampai dia terluka parah, twa kongcu akan marah. Tangkap!!"
Serentak duabelas orang muda mudi itu bersama kakek yang lihai tadi, menubruk Bi Hui!
Namun Bi Hui telah mendapat gemblengan dari dua orang gurunya.
Kepandaiannya sudah jauh meningkat, tidak seperti dahulu lagi.
Melihat tigabelas orang lawan itu bergerak maju, tubuhnya berkelebat dan di lain saat pedangnya yang menyambar laksana kilat telah berhasil membacok runtuh empat tangkai bunga teratai dari tangan empat orang pengeroyoknya!
Ia tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk mempergunakan bunga bunga yang mengandung racun itu guna merobohkannya.
Ia maklum bahwa hawa yang terkandung oleh bunga teratai itu semua beracun dan dapat merobohkannya, maka ia sengaja mengeluarkan ginkangnya, berkelebatan ke sana ke mari sambil pedangnya menyambar ke arah lawan.
Namun para pengeroyoknya itu benar benar lihai.
Dalam soal ilmu silat, kiranya mereka itu bukan tandingan Bi Hui.
Akan tetapi, duabelas orang muda itu dapat bergerak seirama, begitu teratur sehingga mereka merupakan duabelas orang dengan satu otak, seakan akan Bi Hui menghadapi seorang lawan yang mempunyai duapuluh empat buah lengan!
Setiap kali Bi Hui keluar dari kepungan, otomatis ia terhadang dan terkepung lagi!
Setiap kali pedangnya hendak merobohkan seorang pengeroyok, sebelas orang lain sudah menyerangnya sambil menolong yang seorang itu.
Dan semua ini hanya di lakukan dengan bunga bunga teratai berwarna!
Mereka meloloskan diri dari serangan pedang dengan jalan mengelak dan membalas serangan dengan pukulan bunga ke arah muka lawan.
-oo0dw0oo-
Jilid XXXIX YANG aneh adalah kakek itu.
Ia tidak ikut bertempur, melompat ke sana ke mari sambil memperhatikan gerak gerik Bi Hui.
Melihat ini, dengan kaget Bi Hui tahu bahwa kakek itu sedang mempelajari ilmu silatnya dan agaknya mencatat dalam otak semua gerak serangan serangannya.
Ia menjadi marah sekali dan cepat menggerakkan pedangnya dengan cara membengkok.
Ia menyerang seorang pemuda di depannya, akan tetapi ketika sebelas yang lain menyerbu dari belakang, ia melompat cepat ke kiri dan dalam keadaan tak terduga kakinya berhasil menendang roboh seorang pemuda lain yang tak sempat mengelak.
Pemuda itu roboh tak dapat bangun kembali.
Robohnya seorang di antara mereka agaknya membikin jerih yang lain lain, buktinya gerakan mereka menjadi lambat dan agaknya kini hanya hendak mempertahankan diri saja tidak bernafsu lagi dalam usaha mereka menangkapnya.
Tiba tiba kakek itu bersuit aneh dan melemparkan sesuatu di dekat Bi Hui.
Gadis ini menyabet benda itu dengan pedangnya, dan.....
asap hijau kehitaman bergulung naik.
Bi Hui mengerahkan lweekangnya mengayun tangan ke arah uap itu yang menjadi buyar, lalu mengerahkan khikang meniup ke arah uap itu yang seperti terkena angin besar lalu membalik.
Akan tetapi pada saat itu, sebelas orang muda itu telah mengurungnya lagi dan dalam rombongan itu melayang tubuh kakek tadi.
Dari kedua tangan kakek itu kini menyambar asap hitam ke arah Bi Hui.
Gadis ini terkejut sekali, dengan gerakan tubuh nya ia dapat mengelak, dan terpaksa ia menahan napas agar hidungnya jangan kemasukan asap hitam.
Namun perhatiannya yang terpecah pecah ini membuat ia tak dapat menghindarkan lagi ketika kakek itu menotok punggungnya dengan ilmu totok yang baik, dilakukan dengan dua jari.
Bi Hui terhuyung huyung, mencoba mengerahkan lweekang untuk menolak pengaruh totokan.
Akan tetapi sebelas orang itu sudah menubruknya, banyak tangan memegang dan menekannya dan di lain saat tubuh Bi Hui sudah diikat erat erat sehelai tali sutera yang amat kuat.
Bi Hui marah bukan main, marah dan gemas sekali, apalagi karena lima orang pemuda tampan itu ikut memeganginya tadi.
Ia merasa malu sekali dan terhina.
Kakek itu tertawa bergelak ketika melihat Bi Hui sudah tak berdaya lagi.
"Ha, ha, ha, ha, kali ini perjalanan kita berhasil baik sekali. Tidak saja siocia akan memberi hadiah besar kepada kita, juga twa kongcu pasti akan memberi hadiah besar. Ha, ha, ha! Hayo kita berjalan terus, rawat dan bawa siulam yang terluka."
Rombongan itu mulai bergerak lagi.
Kini tidak begitu cepat mereka lari karena mereka merasa lelah setelah mengeroyok Bi Hui yang kosen tadi.
Bi Hui dipangul sendiri oleh kakek yang buruk itu yang memanggulnya di pundak seperti orang memanggul kayu.
Bi Hui merasa lega ketika kakek itu yang memanggulnya, bukan seorang diantara pemuda pemuda itu ia merasa ngeri melihat pemuda pemuda tampan itu rata rata berwatak cabul dan genit seperti juga pemudi pemudi itu.
Dan diam diam ia merasa heran sekali karena dalam pertempuran tadi, ia melihat beberapa gerakan mereka menyerupai gerak tipu dari ilmu Silat Thai lek kim kong jiu, ilmu silat warisan keluarganya!
"Nasib,"
Pikirnya.
"baru saja meninggalkan dua orang guruku, sebelum dapat menangkap pembunuh ayah ibu, aku telah terjatuh ke dalam tangan mereka ini..."
Ia tidak tahu nasib apa selanjutnya yang akan menimpa dirinya, akan tetapi sudah pasti bukan nasib baik, melihat sifat Thian hwa kauw yang keji dan jahat itu.
"Aduuhh...."
Mendadak seorang pemuda Thian hwa kauw yang memondong seorang gadis tawanan menjerit dan roboh, gadis tawanan itu ikut terguling.
Semua orang dalam rombongan itu terhenti dan ketika mereka memandang, ternyata pemuda itu roboh dalam keadaan kaku seperti terkena totokan yang lihai.
Hek tok kwi cepat menghampiri pemuda itu dan menotok punggungnya untuk memulihkan jalan darahnya.
Akan tetapi tidak berhasil, ia menepuk nepuk pundak dan mengurut urut iga, tetap tidak ada hasilnya Bukan main kagetnya.
Hek tok kwi adalah seorang ahli dalam ilmu menotok dan senjata rahasia, sekarang ia menghadapi totokan yang tak mampu ia punahkan!
Selagi ia kebingungan, tiba tiba menyambar dua butir batu kecil.
Sebutir menyambar ke arah pundaknya dan sebutir lagi yang beberapa detik lebih lambat menyambar ke arah mukanya.
Keduanya dengan kecepatan kilat akan tetapi datangnya aneh sekali.
Yang kedua datang lebih dulu, padahal ketika menyambar jelas berada di belakang batu pertama.
Hek tok kwi kaget bukan kepalang.
Tentu saja ia dapat mengelak dari batu kedua yang lebih dahulu menyambar mukanya itu, akan tetapi batu yang menyambar pundaknya tak dapat di elakkan lagi.
Terpaksa ia melepaskan tubuh Bi Hui.
dan menggunakan tangan baju untuk menyampoti batu itu.
"Brett..."
Hek tok kwi berseru kaget karena ujung tangan bajunya sobek.
Sementara itu, Bi Hui yang terlempar ke atas tanah, tiba tiba merasa pundaknya tertotok sesuatu dan ia merasa tubuhnya bebas dari pengaruh totokan Hek tok kwi.
Cepat gadis ini mengerahkan tenaganya untuk memutuskan semua tali yang mengikatnya.
Namun terlambat, Hek tok kwi sudah melangkah maju dan sekali mengulur tangan, Bi Hui tak dapat mengelak lagi.
Kembang biru didekatkan pada hidungnya dan seketika itu juga Bi Hui mencium bau harum yang luar biasa sekali, dan ia pingsan.
Sebelum Hek tok kwi sempat menyambar tubuh Bi Hui yang sudah pingsan, tiba tiba kembali menyambar batu batu kecil ke arahnya, kini tiga butir sekaligus.
Betapapun lihainya Hek tok kwi hanya dua butir batu yang dapat ia tangkis.
Yang ke tiga tepat mengenai lehernya.
Ia berteriak kesakitan akan tetapi tidak roboh karena secepat kilat ia tadi telah mengerahkan tenaga lweekang menutup jalan darahnya sehingga batu kecil itu hanya melukai kulit dan dagingnya saja.
Akan tetapi kembali dua orang roboh, kini dua orang gadis anggauta Thian hwa kauw.
Tentu saja Hek tok kwi menjadi marah sekali.
Sambil melompat lompat membebaskan totokan batu yaug merobohkan dua orang gadis itu, ia berteriak teraik.
"Bangsat curang pengecut dari mana berani main gila terhadap Thian hwa kauw?"
Teriakannya dilakukan dengan pengerahan tenaga khikang sehingga dapat terdengar dari jarak jauh. Tiba tiba dari selatan terdengar suara jawaban.
"Siluman siluman Thian hwa kauw jangan sombong. Aku Song Siauw Yang tidak takut kepada kalian...."
Lenyapnya suara itu membawa munculnya dua orang penunggang kuda dari selatan.
Mereka ini adalah seorang nyonya yang gagah bersama seorang laki laki setengah tua yang bersikap dan berpakaian seperti sasterawan.
Inilah Song Siauw Yang dan suaminya, Liem Pun Hui.
Sungguh aneh.
Hek tok kwi yang terkenal galak dan keji itu, tiba tiba nampak gugup.
"Hayo kita pergi, cepat cepat....!"
Serunya kepada semua orang muda anggauta rombongannya.
Para muda itu kini menjadi gentar juga menghadapi sambitan sambitan batu yang amat lihai, cepat mengangkat bawaan masing masing sumbangan dari rumah Bhok Coan dan enam orang tawanan, lalu melarikan diri cepat cepat.
Hek tok kwi sendiri lalu membungkuk untuk menyambar tubuh Bi Hui.
Akan tetapi ia dihujani batu kerikil.
Dua kali ia terkena sambitan, pada pangkal lengan dan paha.
Yang mengenai pangkal lengannya tepat dan hebat sekali, membuat lengan kirinya menjadi setengah lumpuh.
Menghadapi ini, Hek tok kwi menjadi bingung.
Apalagi dua orang penunggang kuda itu sudah datang dekat.
Sambil mengeluarkan seruan kecewa si bongkok ini lalu melompat pergi meninggalkan Bi Hui "Siluman siluman keji kalian hendak pergi ke mana?"
Bentak Song Siauw Yang dan bersama suaminya ia mengejar larinya rombongan itu.
Mereka tidak memperdulikan tubuh yang ditinggalkan, karena lebih penting mengejar anggauta perkumpulan yang terkenal jahat itu.
Setelah rombongan itu lenyap dikejar oleh dua orang penunggang kuda, dari balik batu karang muncullah tubuh seorang pemuda yang amat ringan dan cekatan gerak geriknya.
Dia ini bukan lain adalah Beng Han.
Pemuda ini menghampiri tubuh Bi Hui yang masih mengeletak pingsan, memeriksa sebentar lalu mengangkat tubuh itu, dipondongnya dan dibawa pergi.
Tak lama kemudian, dua orang penunggang kuda yang tadi mengejar rombongan Hek tok kwi telah datang kembali ke tempat itu.
Mereka Song Siauw Yang dan Liem Pun Hui, saling pandang dan Siauw Yang mengerutkan kening ketika melihat gadis yang tadi ditinggal oleh rombongan orang orang Thian hwa kauw itu.
"Eh, ke mana perginya?"
Kata Siauw Yang.
Nyonya ini masih cantik dan gagah seperti dulu biarpun usianya sudah limapuluh tahun, hanya kerut pada keningnya menandakan bahwa selama ini ia banyak menderita batin.
Sebaliknya, suaminya nampak sudah tua dengan rambut yang sudah putih semua, padahal usianya juga baru limapuluh tahun lebih.
"Mungkin dia telah dapat melarikan diri,"
Jawab Liem Pun Hui, suaranya lebih tenang dan sabar daripada dahulu.
"Mungkin juga.... kalau begitu, tentu dia seorang yang memiliki kepandaian...."
Kata Siauw Yang.
Kedua orang ini sama sekali tidak mengira bahwa gadis yang tadi mereka lihat ditinggalkan oleh orang orang Thian hwa kauw itu bukan lain adalah Song Bi Hui.
Kalau saja mereka tahu akan hal ini, sudah tentu mereka takkan mengejar rombongan itu melainkan segera menolong Bi Hui.
Seperti diketahui, suami isteri ini semenjak mendengar dari Bi sin tung Thio Leng Li tentang pembunuhan atas diri Kwa Li Hwa, lalu merasa cemas dan khawatir.
Dengan terus terang Leng Li menceritakan tentang terlihatnya Liem Kong Hwat di kota Leng ting pada saat peristiwa itu terjadi.
Hal ini amat menggelisahkan hati Siauw Yang, maka bersama suaminya ia lalu merantau mencari puteranya itu.
Akan tetapi sampai bertahun tahun mereka tidak mendengar apa apa tentang Kong Hwat yang seakan akan lenyap ditelan bumi tanpa meninggalkan bekas.
Sepasang suami isteri ini menjadi berduka sekali.
Setahun sekali mereka kembali ke Liok can untuk melihat kalau kalau Kong Hwat sudah pulang ke rumah yang ditinggalkan dalam rawatan seorang pelayan tua.
Namun sampai sepuluh tahun lamanya tidak ada berita dari pemuda itu.
Akhir akhir ini Siauw Yang mendengar desas desus tentang berdirinya perkumpulan Agama Thian hwa kauw yang amat aneh dan kabarnya jahat sekali.
Suami isteri ini mendengar betapa perkumpulan ini suka menculik orang orang muda dan mendengar pula betapa secara aneh anak murid partai partai besar yang berkepandaian tinggi dan berwajah cantik atau tampan, banyak yang meninggalkan perguruan dan masuk menjadi anggauta perkumpulan agama sesat itu, menjadi makin curiga.
"Kong Hwat masih hijau dalam dunia kang ouw, dia masih muda dan aku tahu hatinya agak lemah, jangan jangan dia terkena bujukan pula oleh perkumpulan itu seperti pemuda pemuda lainnya,"
Kata Siauw Yang kepada suaminya.
"Kalau begitn lebih baik kita menyelidiki ke sana. Akan tetapi, tahukah kau di mana pusat perkumpulan itu?"
Kata Liem Pun Hui.
"Kabarnya di utara, akan tetapi entah di mana. Hal itu tidak sukar, kita bisa mencari keterangan di jalan. Kiranya banyak orang gagah yang sudah mengetahui di mana sarangnya."
Demikianlah, untuk kesekian kalinya sepasang suami isteri ini berangkat.
Berbeda dengan biasanya mereka selain mencari jejak outera mereka, kini mereka mencari jejak perkumpulan Thian hwa kauw.
Akhirnya mereka mendengar berita tentang usaha para tokoh partai besar untuk mengadakan pertemuan di rumah Sin siang to Bhok Coan di Kwan leng si sekalian menghadiri pasta she jit orang she Bhok ini.
Kabarnya para tokoh besar itu hendak merundingkan tentang perkumpulan Thian hwa kauw yang selain melakukan banyak kejahatan, juga mencemarkan nama baik partai partai besar dengan membujuk anak anak murid muda menjadi anggauta.
Mendengar berita ini, Siauw Yang dan Pun Hui lalu berangkat menuju Kwan leng si yang amat jauh.
Akan tetapi sebelum tiba di kota itu, mereka menghadapi peristiwa yang membuat mereka untuk pertama kali berkenalan dengan orang orang Thian hwa kauw.
Ketika itu mereka tiba di kota Leng ok.
Siauw Yang ingat bahwa di kota ini tinggal seorang guru silat she Can yang pernah mengunjungi ayahnya dahulu untuk menyatakan penghormatan dan kekaguman.
Karena sudah kenal, Siauw Yang menyatakan kepada suaminya untuk mengunjungi rumah sahabat ini dan menanyakan keterangan tentang Thian hwa kauw.
Akan tetapi, ketika Siauw Yang dan suami nya tiba di depan rumah Can kauwsu (guru silat) ini, pintu rumah tertutup rapat dan keadaan di situ sunyi saja.
Padahal tentu penghuninya berada di dalam karena dari rumah bagian belakang mengebul asap, tanda bahwa di dalamnya ada orang masak.
Siauw Yang mengetuk pintu dengan keras, kemudian mengerahkan khikang dan berseru nyaring.
"Apa Can kauwsu ada di rumah? Aku anggauta keluarga Song dari Tit le datang berkunjung!"
Sengaja Siauw Yang menyebut nyebut keluarga Song dari Tit le agar guru silat itu ingat akan mendiang ayahnya, Thian te Kiam ong Song Bun Sam.
Setelah mengeluarkan teriakan itu, ia dan suaminya menanti.
Sunyi senyap untuk beberapa lama, akan tetapi pendengaran Siauw Yang amat tajam sehingga ia dapat mendengar suara kaki bergeser di balik pintu.
"Kreetttt.... !"
Sebuah lubang sebesar kepala orang terbuka di tengah tengah daun pintu dan dari dalam menjenguk sebuah muka yang hampir saja Siauw Yang tidak kenal lagi kalau saja ia tidak melihat sebuah tahi lalat merah di ujung hidung orang itu.
Inilah Can kauw su tak salah lagi.
Jarang di dunia ini ada orang dengan tahi lalat merah di ujung hidung.
Akan tetapi mengapa muka ini begitu berubah?
Nampak tua sekali dan kerut merut pada muka itu membayangkan ketakutan hebat.
Sepasang mata yang kemerahan, agaknya kurang tidur, menatap mereka dan nanpak kecewa, lalu terdengar suaranya bertanya parau.
"Kalian siapa dan ada keperluan apa?"
Siauw Yang terkejut. Dari gerak pundak orang itu yang kelihatan sedikit, ia dapat menduga bahwa tangan orang itu memegang senjata tajam siap untuk bertempur. Ia lalu tersenyum ramah dan berkata.
"Can kauwsu, apakah kau baik baik saja? Aku Song Siauw Yang puteri Thian te Kiam ong, dan ini suamiku, Liem Pun Hui. Apakah kau lupa kepadaku?"
Akan tetapi keramahan Siauw Yang ini tidak mendapat sambutan yang layak. Muka itu bahkan makin masam nampaknya dan bertanya kaku.
"Hemmm, ada keperluan apakah mencari aku seorang she Can yang bodoh?"
"Can kauwsu, mengapa kau berkata demikian? Kami....."
"Katakanlah ada urusan apa, aku tidak punya banyak waktu. Aku akan membantu sebisaku."
Setelah berkata demikian, muka itu memandang jelalatan ke kanan kiri, sama sekali tidak memperdulikan sepasang suami isteri itu.
Siauw Yang membanting banting kaki kirinya dan ini dikenal baik oleh Pun Hui.
Kalau isterinya sudah membanting banting kaki kiri, ini berarti Siauw Yang mulai panas perutnya dan akan marah.
Maka ia mendahului isterinya itu menjura kepada "muka"
Di tengah daun pintu itu sambil berkata.
"Can kauwsu, harap maafkan kalau kedatangan kami ini mengganggu. Sebetulnya kami hanya ingin bertanya sedikit kepada kauwsu tentang Thian hwa kauw dan...."
"Ayaaaaa.... !"
Muka di pintu itu berseru dan lubang itu tertutup cepat cepat, kemudian dari balik daun pintu itu terdengar suara Can kauwsu.
"Aku tidak kenal Thian hwa kauw. Aku tidak tahu menahu tentang Thian hwa kauw..... Pergilah kalian dari sini!"
Setelah itu terdengar suara kaki berlari pergi menjauhi pintu.
Siauw Yang sudah mencabut pedangnya dan hendak menggempur pintu.
Wataknya yang dulu timbul lagi menghadapi sikap orang yang keterlaluan ini.
Akan tetapi suaminya segera memegang tangannya.
"Sabar, niocu. Orang tidak mau menerima tamu, mengapa kita harus memaksa tuan rumah? Lebih baik kita mencari keterangan di lain tempat."
Ia menarik narik lengan isterinya yang masih marah itu. Malamnya, di dalam kamar hotel setelah kepalanya menjadi dingin biarpun hatinya masih panas Siauw Yang berkata kepada suaminya.
"Aku benar benar merasa curiga sekali. Sikap Can kauwsu tadi seperti bukan sewajarnya Dia semenjak kita datang sudah kelihatan ketakutan. Buktinya pintu ditutup rapat rapat dan mukanya kelihatan sedang menghadapi kesulitan yang hebat. Apalagi setelah kita menyebut Thian hwa kauw, ia kelihatan terkejut dan makin ketakutan. Suamiku, aku merasa penasaran sekali. Siapa tahu kalau kalau orang she Can ini ada hubungannya dengan Thian hwa kauw, siapa tahu kalau kalau dia menjadi anggautanya. Malam ini aku harus pergi menyelidik ke sana."
Liem Pun Hui cukup mengenal watak isterinya yang pantang mundur dalam menghadapi urusan apa saja.
Dia sendiripun tadi menaruh curiga dan melihat sikap ketakutan dari Can kauwsu, maka ia tadi melarang isterinya marah marah.
Dia sendiri biarpun sudah mendapat banyak kemajuan dalam ilmu silat karena petunjuk petunjuk isterinya, namun masih kurang leluasa kalau harus menyelidiki rumah orang di waktu malam, apalagi di rumah seorang guru silat.
Maka ia tidak dapat mencegah kehendak isterinya itu dan hanya dapat memesan.
"Kau berhati hatilah, niocu. Jangan mencari perkara. Kau menyelidik saja untuk mengetahui mengapa ia bersikap ketakutan. Jangan kau terlalu membikin aku gelisah menanti di sini!"
Siauw Yang mengangguk, kemudian setelah berpakaian serba ringkas dan membawa pedangnya, nyonya yang gagah ini melompat keluar melalui jendela, terus naik ke atas genteng dan menuju ke rumah Can kauwsu melalui genteng rumah rumah orang.
Gerakannya masih lincah dan ringan seperti di waktu mudanya dan di dalam malam yang remang remang diterangi sinar bulan itu, bayangannya masih memperlihatkan bentuk tubuh yang singset dan ramping.
Ketika tubuhnya melayang di atas genteng rumah dekat rumah Can kanwsu, ia melihat berkelebatnya tujuh bayangan orang yang gesit gesit tanda bahwa mereka itu memiliki lweekang dan ginkang yang tinggi.
Melihat tujuh orang itu masing masing memegang setangkai bunga, hatinya berdebar, inilah orang Thian hwa kauw, pikirnya.
Memang ia sudah sering kali mendengar bahwa orang orang Thian hwa kauw itu selalu membawa setangkai bunga yang dapat dipergunakan sebagai senjata.
Dengan hati hati sekali Siauw Yang mendekam di atas genteng bersembunyi, kemudian ia melompat dan mengikuti gerak gerik tujuh orang itu.
Mereka bertujuh berlompatan bagikan kucing memasuki pekarangan rumah Can kauwsu.
Tak lama kemudian terdengar jerit ketakutan.
Siauw Yang cepat melompat ke atas genteng ruangan tengah dari mana suara jeritan itu keluar, membuka genteng dan dengan gerakan Lee hi Ta teng, ia melompat ringan dan ketika tubuhnya melayang turun, kakinya mengait tiang melintang dan demikianlah, dengan tubuh berjungkir kepala di bawah kaki mengait tiang, nyonya yang gagah ini mengintai apa yang sedang terjadi di bawah.
Ia melihat tujuh bayangan tadi telah berdiri di bawah, merupakan barisan dua dua, anehnya barisan itu ternyata merupakan tiga pasang muda mudi yang tampan dan cantik, sedangkan orang ke tujuh yang berdiri di depan adalah seorang kakek tua bongkok yang buruk sekali rupanya.
Tiga orang pemuda dan tiga orang dara yang tampan tampan itu berdiri tegak seperti patung, sedangkan kakek itu nampak marah marah.
Di depan mereka bertujuh ini berdiri Can kauwsu dengan golok di tangan.
Guru silat ini nampak ketakutan, akan tetapi sepasang matanya menyinarkan kenekatan seperti orang gila.
Di sebelah kirinya berdiri seorang gadis cantik berusia paling banyak enambelas tahun, juga gadis ini nampak pucat, akan tetapi ia berdiri di samping ayahnya sambil memegang sebatang pedang.
Dia adalah puteri Can kauwsu yang tentu saja sebagai anak guru silat telah belajar ilmu silat pula yang tidak rendah.
Adapun di belakang mereka ini, nampak beberapa orang wanita yang saling peluk dan berlutut dengan tubuh menggigil.
Mereka ini adalah isteri Can kauwsu dan beberapa orang pelayan.
Suara jeritan tadi keluar dari mulut mereka inilah yang sudah setengah mati karena ketakutan.
"Can kauwsu, apakah kau sudah tahu akan dosamu yang amat besar terhadap Thian hwa kauw?"
Terdengar kakek itu bertanya dengan suara penuh ancaman. Mendengar penanyaan ini nampak Can kauwsu gementar, namun dengan suara tegas ia menjawab.
"Aku tidak ada hubungan dengan Thian hwa kauw, aku tidak tahu apa apa tentang Thian hwa kauw, jangan mengganggu kami serumah tangga yang tak berdosa !"
Mendengar suara ini, Siauw Yang teringat akan sikap guru silat itu siang tadi. Ia menjadi tertarik sekali dan memandang dengan penuh perhatian. Kakek itu mengeluarkan suara ketawa mengejek.
"Heh heh heh heh, Can kaowsu masih berani membohong? Kau telah membunuh mati seorang siulam (pemuda tampan) anggauta Thian hwa kauw, dan kau masih hendak menyangkal?"
"Tidak! Aku tidak membunuh anggauta Thian hwa kauw! Kapankah aku berhubungan dengan Thian hwa kauw sehingga dapat nembunuh angautanya?"
Jawab Can kauwsu tegas.
"Heh heh heh heh, Thian hwa kauw takkan bertindak tanpa bukti. Sam wi kongcu (tiga orang tuan muda) harap ambil buktinya dan bawa ke sini!"
Kata kakek itu dan tiga orang pemuda tampan dari rombongannya melompat cepat menuju ke pekarangan atau kebun di belakang rumah Can kauwsu.
Melihat ini, nona cilik di samping Can kauwsu nampak gemetar tubuhnya dan tangan kanannya memegang lengan ayahnya dengan memindahkan pedang di tangan kiri.
Kemudian ia memindahkan pula pedang itu ke tangan kanan sedangkan tangan kiri menyusuti peluh di leher dan keningnya.
Biarpun malam itu cukup dingin, agaknya nona ini merasa gerah dan gelisah sekali.
Juga Can kauwsu yang bertubuh tinggi besar dan kelihatan gagah itu nampak cemas dan takut ia mencoba menenangkan hatinya sambil melangkah maju dan berkata kepada kakek itu.
"Locianpwe, sesungguhnya aku orang she Can selama hidup tak pernah mengganggu orang, apalagi mengganggu Thian hwa kauw yang belum kukenal. Mengapa locianpwe sekalian mencampuri urusan rumah tanggaku?"
"He he he, orang she Can, tak perlu banyak cakap. Tunggu sampai buktinya di depan mata baru boleh bicara!"
Jawab kakek itu galak.
Tak lama kemudian tiga orang pemuda tampan tadi nampak muncul dari belakang.
Mereka bertiga menyeret sesuatu dan Siauw Yang terpaksa menutupi hidungnya dengan ujung lengan bajunya.
Bau yang amat tidak enak menyerang hidungnya, bau....
bangkai!
Ketika tiga orang itu telah datang dekat, mereka melempar benda yang mereka bawa itu dan ternyata itu adalah sebuah....
mayat manusia yang sudah mulai membusuk!
Can kauwsu melangkah mundur dengan muka pucat, puterinya mengeluarkan jerit tertahan sedangkan para wanita yang tadi berlutut kini menjadi makin ketakutan.
Nyonya Can yang berjantung lemah sudah hampir pingsan, saking ngeri dan takut.
"Heh heh heh, orang she Can, bukti sudah di depan mata. Jenazah orang siulam dari Thian hauw kauw sudah berada di sini, baru saja digali dari kebunmu. Apakah kau masih hendak berpura pura dan berani bilang tidak tahu menahu tentang jenazah terkubur di kebunmu?"
"Dia.... dia adalah jenazah Coa Lok, pemuda hidung belang...."
"Tak perduli siapa namanya, dia adalah anggauta Thian hwa kauw dan kau sudah berani membunuhnya!"
Kakek bongkok yang bukan lain adalah Hek tok kwi itu berkata marah.
"Aku.... aku tidak tahu bahwa dia adalah anggauta Thian hwa kauw..... dia.... dia datang untuk mengganggu puteriku ini, tentu saja kami melawan dan dia.... dia roboh dan tewas. Kami menguburnya di dalam kebun."
"Heh heh heh kau memutar balikkan urusan. Siulam kami yang telah kau bunuh ini hendak mendatangkan kebahagiaan kepada puterimu, hendak menjadikan puterimu seorang siuli di dalam perkumpulan kami. Maksudnya yang amat mulia itu, mengangkat puterimu dari dara biasa menjadi seorang siuli yang kedukannya sama dengan Thian hwa (Bunga Surga), mengapa kau menuduhnya yang bukan bukan dan membunuhnya?"
"Tidak! Tidak demikian. Dia datang pada tengah malam, menggunakan asap beracun dan memasuki kamar anakku dengan maksud keji. Baiknya kami sudah siap sedia dan...."
"Heh heh heh, maksud keji, katamu? Dia akan menyempurnakan keadaan puterimu agar dapat diterima menjadi siuli oleh kauwcu kami, kau bilang bermaksud keji? Eh, Can kauwsu, kau dengarlah baik baik. Kauwcu sudah mendengar tentang urusan ini, maka hukumannya sekarang, kau harus mampus dan puterimu akan dibawa kesana, bukan untuk mernjadi siuli melainkan menjadi pelayan yang paling rendah kedudukannya. Kalau ketak dia pandai membawa diri, baru ada harapan dia naik kedudukannya."
Can kauwsu melintangkan goloknya.
"Siluman siluman Thian hwa kauw, kami selalu mengalah dan kalian masih mendesak terus. Biarpun aku harus mampus, apa kau kira aku sudi memberikan anakku menjadi anggauta perkumpulan siluman?"
"Terjang....!!"
Hek tok kwi memberi aba aba dan ia pasang muda mudi itu menyerbu.
Hek tok kwi sendiri melompat ke depan dan di lain saat ia telah berhasil menyambar pundak gadis cilik anak Can kauwsu itu dan sekali kempit gadis cilik itu tak berdaya lagi.
Can kauwsu tidak sempat menolong puterinya dan pada saat itu, Hek tok kwi juga telah menggerakkan tangannya ke arah kepala nyonya Can untuk membunuhnya.
"Siluman keji, jangan kurang ajar!"
Tiba tiba terdengar bentakan nyaring dan dari atas tiang menyambar turun tubuh orang yang gesit gerakannya.
Setelah orang itu menyambar dengan pedang digerakkan, hampir saja tangan Hek tok kwi terbabat putus kalau saja kakek itu tidak cepat cepat menarik kembali tangannya yang hendak membunuh nyonya Can tadi!
Akan tetapi di lain saat bayangan itu, bukan lain Song Siauw Yang, sudah berhasi merobohkan seorang Siulam dan seorang Siuli dengan tendangan dan pukulan tangan kirinya yang menggunakan hawa pukulan Soan hong pek lek jiu yang dahsyat.
Melihat cara nyonya kosen ini menyerang dengan pedang dan pukulan tangan kirinya, Hek tok kwi berseru.
"Tahan dulu Toanio yang baru datang ini siapakah dan mengapa memusuhi Thian hwa kauw?"
Siauw Yang mengeluarkan ejekan di dalam hidungnya.
"Hah, sekalian siluman keji tak tahu malu! Aku belum pernah meninggalkan she menyembunyikan nama. Aku Song Siauw Yang dan hari ini kebetulan sekali aku mendapat kesempatan untuk membasmi kalian siluman siluman jahat!"
Mendengar ini, Hek tok kwi lalu melompat mundur dan berkata.
"Melihat muka Song toanio kami melupakan dosa dosamu, keparat Can! Biarlah kali ini kami mengampuni jiwamu!"
Setelah berkata demikian, ia memberi aba aba.
"Pergi!"
Dan tubuhnya berkelebat cepat sekali ke atas genteng sambil memanggul tubuh nona Can yang masih belum di lepaskannya.
Empat orang muda mudi yang belum roboh segera menyambar tubuh dua orang yang terluka, bahkan yang dua orang lagi menyambar jenazah yang bau itu, kemudian cepat melompat ke atas menyusul Hek tok kwi.
"Kau lepaskan nona itu!"
Siauw Yang membentak sambil mengayun kaki mengejar Hek tok kwi. Ginkang dari nyonya ini memang hebat sehingga di lain saat ia berada di atas genteng.
"Tak berani membantah perintah Song toanio!"
Kakek itu tertawa dan tiba tiba Siauw Yang mengulurkan tangan kiri karena tubuh nona cilik itu telah dilontarkan ke arahnya.
Lontaran ini keras sekali.
Terpaksa Siauw Yang mengerahkan lwekangnya dan berlaku hati hati agar nona yang lemas tubuhnya itu tidak terbanting jauh.
Kemudian ia melompat turun dan melepaskan tubuh nona Can di depan ayahnya.
Setelah itu, cepat ia melompat lagi ke atas untuk mengejar dan memberi hajaran kepada orang orang Thian hwa kauw namun mereka sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
Ketika Siauw Yang kembali ke ruangan tengah rumah Can kauwsu, ia disambut oleh Can kauwsu seanak isteri sambil berlutut dan bercucuran air mata.
"Song lihiap, mohon sudi mengampunkan boanpwe yang tak tahu diri, terutama sekali atas sikap boanpwe siang tadi yang amat kasar. Siapa kira sekarang Song lihiap yang menyelamatkan nyawa kami sekeluarga. Sungguh boanpwe layak di pukul mati!"
Setelah berkata demikian, Can kauwsu memukuli kepala sendiri, tanda bahwa ia merasa menyesal sekali atas sikapnya siang tadi.
"Sudahlah,"
Siauw Yang mengangkat tangan memberi tanda mencegah kelakuan guru silat itu.
"Aku tahu bahwa kau berada dalam ketakutan. Karena sikapmu yang tidak sewajarnya itulah aku malam malam datang dan kebetulan melihat sepak terjang orang orang Thian hwa kauw yang tidak patut. Sebetulnya, siapakah pemuda yang kau bunuh itu dan bagaimana duduknya perkara?"
Dengan singkat Can kauwsu bercerita.
Pemuda itu bernama Coa Lok, seorang pemuda yang memiliki bakat baik dalam ilmu silat, juga biasanya berwatak sopan dan baik.
Pemuda ini menarik hati Can kauwsu sehingga pernah Coa Lok diberi pelajaran ilmu silat.
Bahkan diam diam guru silat ini mempunyai rencana untuk menjodohkan puteri tunggalnya dengan pemuda yang berasal dari Hok kian ini.
Coa Lok adalah seorang pemuda perantau dan sekarang bekerja di Leng ok sebagai pembantu seorang pedagang hasil bumi.
Beberapa pekan akhir akhir ini sikap Coa Lok berubah, matanya liar dan beberapa kali ia mengucapkan kata kata tidak sopan di depan Can Goat Li puteri Can kauwsu itu.
Kemudian pemuda ini sering kali menjumpai Goat Li secara sembunyi sembunyi dan membujuk bujuk gadis itu supaya suka pergi bersama dia meninggalkan rumah dan menjadi anggauta Thian hwa kauw!
Tentu saja Goat Li tidak sudi melakukan perbuatan rendah ini, yaitu minggat bersama seorang pemuda meninggalkan rumah.
Bahkan dia menegur Coa Lok dan menyatakan bahwa kalau pemuda itu orang baik baik dan suka kepadanya, mengapa tidak mengajukan pinangan saja kepada orang tuanya sebagaimana orang lajimnya.
Namun Coa Lok tidak mau, hanya mendongengkan tentang kesenangan menjadi anggauta Thian hwa kauw, di sana mereka akan hidup seperti pangeran dan puteri istana, kerjanya setiap hari bersenang senang!
Goat Li lalu melaporkan hal ini kepada ayahnya.
Can kauwsu marah bukan main.
Coan Lok dipanggil dan di beri hadiah maki dan caci bahkan diusir dan dilarang menginjak lantai rumah itu lagi.
Coa Lok pergi sambil tersenyum senyum.
Malamnya menjelang tengah malam, Coa Lok datang dan mempergunakan hio yang asapnya memabokkan, mencoba untuk masuk ke kamar Goat Li dengan maksud keji, dan mungkin sekali hendak menculik gadis itu.
Akan tetapi, Can kauwsu sudah curiga melihat senyum di bibir pemuda itu siang tadi maka sebagai seorang kang ouw yang sudah banyak pengalaman, ia sengaja berjaga.
Dengan marah sekali ia lalu menyerang Coa Lok dan dalam kemarahannya ia membunuh pemuda itu.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat bahwa pemuda itu menyimpan setangkai bunga teratai di dalam saku bajunya, tanda bahwa dia memang betul anggauta Thian hwa kauw.
Hal ini benar benar tak pernah diduga oleh Can kauwsu.
Maka ia cepat mengubur jenazah Coa Lok di dalam kebun dan semenjak hari itu ia menutup pintu dan tidak pernah keluar.
Ia menyimpan rahasia pembunuhan itu secara rapat, dan setiap malam ia ketakutan.
Demikianlah mengapa ia bersikap kaku kepada Siauw Yang dan suaminya, apalagi ketika mendengar Siauw Yang bertanya tentang Thian hwa kauw.
Dan ternyata, seminggu kemudian setelah pembunuhan itu terjadi, rombongan Thian hwa kauw datang membikin pembalasan seperti telah dituturkan di bagian depan.
Siauw Yang menggeleng geleng kepalanya.
"Benar benar jahat dan keji, akan tetapi juga aneh sepak terjang Thian hwa kauw Can kauwsu, apakah kau tahu di mana sarang mereka? Aku merasa penasaran sekali dan hendak melihat siapakah adanya kauwcu mereka itu dan sampai di mana pengaruh perkumpulan ini. Aku mendengar bahwa sudah banyak sekali jago jago muda dari pelbagai partai besar terbujuk dan masuk menjadi anggauta Thian hwa kauw."
"Memang sudah boanpwe dengar tentang hal itu, sayang sekali hamba sendri tidak tahu di mana gerangan pusat perkumpulan itu. Akan tetapi tak jauh dan sini, di Kwan leng si akan diadakan pesta hari she jit Si siang to Bhok Coan. Dia adalah seorang bekas perampok ulung dan tentu dalam pestanya itu akan datang tokoh tokoh terkemuka baik dari golongan kang ouw, liok lim maupua hek to. Wah, kalau lihiap mencari keterangan di sana kiranya akan tercapai maksud lihiap."
Memang Siauw Yang sudah mempunyai niat menuju Kwan leng si, maka ia lalu berpamit dan menolak segala ucapan terima kasih guru silat itu sekeluarga.
Sesamparnya di hotel, suaminya sudah gelisah tidak karuan.
"Mengapa begitu lama? Ada terjadi apakah?"
Tegur suami ini, lega melihat istrinya pulang dalam keadaan selamat.
"Terjadi hal hebat. Aku bertemu dengan orang orang Thian hwa kauw di sana!"
"Jadi betul betul Can kauwsu menjadi anggauta Thian hwa kauw?"
Tanya Liem Pun Hui.
"Hush, bukan demikian. Sebaliknya, dia sekeluarga hampir saja menjadi korban Thian hwa kauw."
Setelah berganti pakaian dan menyimpan pedangnya, sambil duduk di atas ranjang menghadapi suaminya, Siauw Yang menceritakan semua pengalamannya tadi.
Mendengar penuturan isterinya, Liem Pun Hui bergidik dan kemudian menarik napas panjang.
"Mudah mudahan saja anak kita jangan terjerumus ke dalam perkumpulan semacam itu....!"
Demikianlah, suami isteri ini pada keesokan harinya melanjutkan perjalanan menuju ke Kwan leng si.
Karena mereka belum kenal jalan, pula memang tidak tergesa gesa, mereka datang terlambat dan di tengah jalan mereka bertemu dengan rombongan lain dari Thian hwa kauw yang sedang lari membawa barang barang dan orang orang muda culikan.
Melihat kakek bongkok berada pula di antara rombongan itu, mudah saja bagi Siauw Yang untuk mengenal bahwa mereka itu adalah orang orang Thian hwa kauw, maka sambil berseru keras ia mengejar.
Akan tetapi ia tidak berhasil karena ketika ia dan suaminya mengejar dengan menunggang kuda, orang orang Thian hwa kauw itu melemparkan obat obat peldak yang mengeluarkan suara keras dan membikin kaget dan takut kuda tunggangan Siauw Yang dan suaminya sehingga tidak dapat dipaksa melanjutkan pengejaran.
Siauw Yang hanya mengira bahwa orang orang Thian hwa kauw itu sudah mengenal kelihaiannya dan hilang semangat melihat dia muncul.
Sama sekali ia tidak tahu bahwa di balik ini tersembunyi hal lain, karena sebetulnya agak mustahil kalau orang orang Thian hwa kauw yang lihai itu takut kepada nyonya kosen ini.
Terhadap Song Bi Hui, gadis yang kini memiliki kepandaian jauh di atas tingkat kepandaian Song Siauw Yang, mereka masih tidak takut bahkan berhasl menawannya, masa mereka takut kepada Siauw Yang?
Akan tetapi kalau melihat sikap kakek bongkok Hek tok kwi.
memang begitulah agaknya, dia seperti takut sekali terhadap Song Siauw Yang.
Siauw Yang dan suaminya karena tidak melihat gadis yang tadi ditinggalkan oleh rombongan Thian hwa kauw, mengira gadis itu telah lari pergi.
Sama sekali mereka tidak tahu bahwa gadis itu adalah Bi Hui dan bahwa gadis itu dalam keadaan pingsan telah dibawa pergi oleh Beng Han.
Kini mereka melanjutkan perjalanan ke Kwan leng si.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh Sin sian to Bhok Coan.
Apalagi Thio Leng Li, melihat siapa yang datang, nyonya ini lalu menyambut dengan pelukan, dan tanpa malu malu lagi Leng Li menangis di pundak Siauw Yang mendengar akan nasib Leng Li yang kiranya malah jauh lebih sengsara daripada nasibnya sendiri.
Seperti diketahui, Thio Leng Li kematian ayahnya yang dibunuh orang tanpa di ketahui siapa pembunuhnya.
Juga anak perempuannya diculik orang.
Puteranya, Kwan Sian Hong, lima tahun yang lalu pergi hendak mencari pembunuh kong kongnya dan mencari jejak adiknya, akan tetapi hingga kini juga belum ada kabar beritanya.
Lebih celaka lagi, suaminya, Kwan Lee yang agaknya amat berduka karena lenyapnya Kwan Li Hwa puteri kesayangannya, telah jatuh sakit berat sampai datang kematiannya.
"Kasihan sekali kau, adik Leng Li. Biarlah, mari kita sama sama berusaha mendapatkan kembali anak anak kita yang hilang dan percayalah, aku akan membantumu mencari sampai dapat pembunuh ayahmu,"
Kata Siauw Yang menghibur.
Kemudian para tokoh kang ouw yang berada di situ mengadakan perundingan kembali, hati mereka besar karena kini di situ bertambah seorang berilmu tinggi yaitu Song Siauw Yang.
Hampir semua orang kenal siapa adanya nyonya ini karena siapakah yang tidak kenal ayah nyonya ini, Thian te Kiam ong Song Bun Sim Si Raja Pedang?
"Sebelum diadakan perundangan untuk menghadapi Thian hwa kauw, adakah di antara cu wi sekalian yang hadir ini tahu apakah sebetulnya perkumpulan itu?
Bagaimana sifat sifatnya dan mengapa pula banyak orang orang muda sampai terbujuk dan banyak yang suka masuk menjadi anggotanya?"
Oran orang di situ saling pandang, karena memang sebagian besar atau hampir semua di antara mereka tidak tahu. Akhirnya setelah ragu ragu sejenak, seorang tosu menarik napas dan berkata.
"Kiranya pinto dapat menjawab pertanyaan toanio ini."
Semua orang memandang dan ternyata yang bicara adalah Tiauw Beng Cinjin, ketua Kim lian pai.
Melihat semua mata memandang penuh gairah untuk segera mendengarkan penuturannya, kakek Kim lian pai itu menyambung kata katanya.
"Bukan rahasia lagi bahwa banyak orang orang muda yang tadinya menjadi murid partai partai besar dan hidup sebagai pendekar muda yang gagah perkasa, secara tak terduga telah terjerumus masuk menjadi anggauta perkumpulan sesat itu. Demikian pula seorang diantara anak murid Kim lian pai terseret masuk. Pinto sendiri turun gunung untuk mencari anak murid itu. Tiga bulan kemudian, secara kebetulan sekali ketika pinto berada di sebuah dusun, serombongan orang Thian hwa kauw mendatangi rumah hartawan di situ, merampok emas dan menculik anak gadisnya. Pinto turun tangan dan ternyata anak murid Kim lian pai itu berada di antara mereka!"
Kakek itu menarik napas panjang sambil menunda ceritanya.
"Selanjutnya bagaimana, totiang?"
Siauw Yang bertanya mendesak, tertarik oleh penuturan itu.
"Mereka terdiri dari enam orang, tiga pemuda dan tiga orang gadis. Agaknya untuk melakukan pekerjaan yang dianggap ringan itu rombongan ini tidak disertai gembongnya yang berkepandaian tinggi. Pinto dikeroyok, akan tetapi kepandaian sitat mereka itu sebetulnya tidak berapa hebat. Yang membikin pinto marah dan mendongkol sekali adalah anak murid Kim lian pai itu yang ikut pula mengeroyok pinto! Hayaaa, sakit hati sekali melihat anak murid sendiri membantu musuh. Dengan marah pinto memukul murid itu sehingga roboh dan menangkapnya merobohkan pula seorang pengeroyok lain. Akan tetapi empat orang Thian hwa kauw itu melepaskan obat obat peledak mereka, dan ketika pinto melompat pergi membawa tubuh anak murid itu, mereka melarikan diri membawa seorang kawan mereka yang terluka."
Kembali kakek itu berhenti, agaknya merasa menyesal bukan main atas kejadian itu.
"Tentu totiang mendengar cerita tentang Thian hwa kauw dari anak murd itu, bukan?"
Kata pula Siauw Yang.
"Betul. Dalam kemarahan, pinto telah mengirim pukulan maut kepadanya. Nyawanya tak tertolong lagi, akan tatapi sebelum ia mati, bocah itu telah mengakui kesalahannya dan menceritakan kedaan Thian hwa kauw kepada pinto."
Kembali ia berhenti dulu menarik napas panjang, kemudian dilanjutkannya.
"Menurut penuturannya yang terputus putus dan kurang jelas, Thian hwa kauw mempunyai anggauta kurang lebih empatpuluh orang banyaknya, yaitu anggauta anggauta yang disebut siulam dan siuli, terdiri dari pemuda pemuda tampan dan gadis cantik. Di samping itu masih ada tujuh orang kakek dan nenek yang buruk rupa dan lihai sekali ilmu silatnya. Mereka ini menjadi kepala rumah tangga, mengepalai semua pelayan di situ, bahkan juga mereka itu berkuasa atas diri para siulam dan siuli. Yang menjadi kauwcu adalah seorang wanita cantik sekali. Adapun praktek praktek yang dijalankan oleh perkumpulan agama sesat itu amat mengerikan, cabul dan hina. Para siulam dan siuli itu memang selain bertugas melakukan perintah kauwcu seperti merampok, menculik anggauta baru dan lain lain, hidup mereka seperti pangeran dan puteri istana saja. Di antara para siulam dan para siuli tidak terdapat batas dan larangan, mereka hidup bebas berpasangan seperti binatang binatang di hutan, di pelopori dan diberi contoh oleh kauwcu sendiri yang mempunyai banyak kekasih. Benar benar menjemukan sekali dan patut dibasmi!"
"Aneh...."
Sela Pak Kong Hosiang tokoh Siauw lim pai.
"kalau mereka itu melakukan hal hal cabul dan rendah semacam itu, mengapa orang muda muda gagah perkasa sampai dapat terbujuk? Mengapa mereka sudi melakukan hal hal seperti itu?"
Tiauw Beng Cinjin menghela napas.
"Sudah kutanyakan dan kutegur kepada anak murid Kim lian pai itu tentang hal ini. Murid pinto yang dalam menghadapi kematiannya agaknya tetapi sadar dari keadaan tidak sewajarnya itu, menyatakan bahwa mula mula mereka tertarik karena melihat banyaknya pemuda tampan dan gadis cantik yang menjadi anggauta. Akan tetapi sekali datang di tempat itu, mereka merasa tidak kuasa mengatur jalan pikiran sendiri. Sangat boleh jadi mereka itu diberi minum semacam racun yang merampas semangat dan yang dapat membius mereka sehingga mereka tidak dapat menguasai pikiran sendiri. Pendeknya, Thian hwa kauw merupakan semacam harem seperti di istana kaisar, dan para siulam itu sengaja dikumpulkan untuk menyenangkan hati kauwcu dari Thian hwa kauw, sebaliknya para siuli itu dikumpulkan untuk menghibur kekasih kauwcu yang mereka sebut twa kongcu. Selanjutnya pinto tidak mendengar penjelasan apa apa lagi karena anak murid itu keburu menghembuskan napas terakhir. Menyesal sekali dia tidak sempat memberi tahu di mana adanya pusat perkumpulan terkutuk itu."
Tiba tiba Sin siang to Bhok Coan berkata.
"Aku tahu tempatnya. Lihat, ketika mereka tadi membawa pergi siang to (sepasang golok) yang tergantung di pinggangku tanpa kuketahui, mereka meninggalkan ini di ikat pinggang sebagai gantinya."
Ia memperlihatkan sehelai kain berwarna dadu yang ada tulisannya.
"Kalau mau ambil kembali sepasang golok, Datanglah di hutan Harimau Siluman!"
Di bawahnya terdanat gambar kembang teratai yang kelopaknya berwarna macam macam.
"Hutan Harimau Siluman adalah hutan Koai houw lim yang letaknya di kaki gunung Siu sau tak jauh dari sini,"
Kata Bhok Coan.
"Dan si bongkok tadi mengharapkan kedatanganku di sana dalam waktu sepuluh hari. Bagaimanapun juga, kalau tidak ada cu wi yang membantu, mana aku berani mengantar nyawa ke sana? Lebih baik aku kehilangan golok, barang sumbangan, dan muka daripada kehlangan nyawa."
Kata kata Sin siang to Bhok Coan ini benar benar tak dapat dihargai oleh para orang gagah di situ, akan tetapi mereka maklum betapa takut dan jerihnya orang she Bhok ini terhadap Thian hwa kauw.
Dan melihat sepak terjang Thian hwa kauw, ketakutan Bhok Coan dapat di mengerti.
"Bhok enghiong tak usah khawatir,"
Kata Thian Cin Cu tosu Kun lun pai dengan suara mengejek.
"memang kami sudah bersepakat hendak sama sama membasmi perkumpulan itu. Sudah tentu kami semua berada di belakangmu."
"Betul,"
Kata Pak Kong Hosiang.
"memang sebaiknya kalau Bhok sicu memenuhi undangan mereka itu dan kami beramai menjadi pengantar Bhok sicu agar kita dapat masuk dengan mudah. Setelah sampai di sana, baru kita semua bergerak."
Demikianlah perundingan dilanjutkan dan diatur masak masak untuk bersama menggempur Thian hwa kauw yang selain merupakan gangguan bagi rakyat jelata, juga amat merugikan nama baik partai partai besar karena memikat anak anak murid partai persilatan yang ternama.
-oo0dw0oo-Song Bi Hui mengeluh perlahan, kedua matanya masih dipejamkan.
Ia merasa kepalanya pening sekali dan biarpun matanya dipejamkan, kepalanya merasa seakan akan segala apa di sekelilingnya berputar putar.
"Kepalaku... berdenyut denyut pusing sekali...."
Keluhnya tanpa disadarinya. Tiba tiba ia merasa ada tangan mengelus elus kening dan memijat mijat kepalanya dengan halus sekali, dan terdengar suara orang berkata perlahan.
"Kasihan kau, enci Bi Hui...."
Pijatan pada kepalanya itu sekaligus mengusir rasa peningnya, akan tetapi Bi Hui tidak memperhatikan ini.
Ia terlalu kaget mendengar suara laki laki, cepat dibukanya matanya.
Melihat seorang pemuda tampan berpakaian sederhana sedang memijat mijat kepalanya, Bi Hui menjerit, melompat berdiri dan tangan kanannya menampar.
"Plak plak...."
Pipi pemuda itu telah di tampar keras keras akan tetapi tiba tiba kepalanya pening sekali dan ia terhuyung huyung sambi memejamkan mata.
"Hati hati, enci Bi Hui, kau belum sembuh betul..."
Dua lengan yang kuat menyambar pinggangnya dan dengan halus ia dituntun untuk duduk kembali ke bawah pohon.
"Duduk dan mengasolah, jangan terburu nafsu, kau masih lemah....!"
Setelah peningnya mereda, Bi Hui membuka matanya dan memandang pemuda itu.
Kembali ia cepat cepat meramkan matanya, mukanya terasa panas saking jengahnya, bibirnya digigit sendiri untuk menekan debaran jantung yang terasa cemas.
Sejak bilakah dia bersama pemuda ini?
Hatinya tidak enak sekali.
"Kau.... kau siapakah....?"
Tanyanya, suaranya gemetar, penuh bayangan yang bukan bukan.
"Enci Bi Hui, kau masih pusing. Nanti kalau kau sudah sadar betul, kau tentu akan mengenal aku..."
Jawab pemuda itu, suaranya halus dan ramah.
Siapakah dia ini?
Dia kutampar dua kali, akan tetapi dia tidak marah, bahkan menolongku tidak sampai jatuh.
Bi Hui mengingat ingat, kemudian ia membuka mata kembali.
Pemuda itu duduk tak jauh dari situ, memandangnya dengan bibir tersenyum dan sinar mata mengandung iba hati.
Ketika memandang ke sekeliling, Bi Hui mendapat kenyataan bahwa mereka di dalam sebuah hutan yang sunyi.
Hatinya agak lega.
Tadi ia mengira bahwa ia sudah terjatuh ke dalam tangan Thian hwa kauw.
Akan tetapi, hatinya tercekat kembali, siapa tahu kalau kalau pemuda ini anggauta Thian hwa kauw...?
"Siapa kau....?"
Ia menatap tajam penuh selidik. Serasa ia kenal akan wajah ini, akan tetapi lupa lagi di mana pernah bertemu. Pemuda itu tersenyum.
"Sukur, kau sudah sembuh, enci Bi Hui. Aku sudah merasa gelisah sekali. Tiga hari tiga malam kau pingsan dan baru sekarang siuman kembali."
"Tiga hari tiga malam? Dan selama itu aku di sini....?"
Pemuda itu mengangguk.
"Di tempat ini dengan......... dengan engkau...?"
Kembali pemuda itu mengangguk tenang dan mukanya bersih seperti muka orang yang tidak berdosa.
"Dan kau.... kau ini siapakah, mengapa menjaga aku di sini dan kita berada di mana?"
Bi Hui bangkit hendak berdiri akan tetapi kembali ia terduduk karena kepalanya masih pening kalau ia berdiri.
"Enci Bi Hui, aku kebetulan lewat dan mendapatkan kau rebah pingsan di tengah jalan. Aku lalu membawamu ke tempat ini agar kau dapat tidur di bawah pohon, tak kusangka kau pingsan sampai tiga hari tiga malam. Hutan ini tidak begitu jauh dari tempat kau pingsan."
"Hem, aku ingat sekarang. Siluman itu menyerangku dengan kembang.... baunya harum bukan main.... Lalu aku lupa segala.... eh, kau ini siapakah?"
Kembali ia menatap wajah yang ramah dan tampan itu.
Pemuda itu paling banyak berusia sembilan belas tahun, kulit mukanya putih dan alisnya hitam tebal.
Muka yang tampan sekali, akan tetapi yang paling menarik adalah sepasang matanya yang tajam menyambar nyambar seperti kilat.
Mata yang amat berpengaruh dan mengandung kelembutan.
"Enci Bi Hui, betul betulkah kau tidak kenal lagi kepadaku? Belum juga begitu lama, baru sepuluh tahun. Bagiku kau masih sama seperti dulu, enci, belum berubah. Apakah kau lupa padaku?"
Bi Hui teringat dan ia tertegun sejenak. Kemudian ia berkata perlahan.
"Kau.... kau Beng Han....?"
Ia ragu ragu, benarkah pemuda tampan in Beng Han?
Memang ada persamaan pada wajah itu, akan tetapi mungkinkah bocah itu sekarang menjadi seorang pemuda begini ....
begini....
ganteng?
Ketika pemuda ini mengangguk membenarkan ia segera menyambung untuk menutupi perasaan kagumnya dengan teguran penuh curiga.
"Kau mengapa berada di sini? Kau mau apa dan apa hubunganmu dengan Thian hwa kauw?"
Beng Han tersenyum pahit melihat sikap gadis itu.
"Enci Bi Hui, agaknya masih belum lenyap keraguanmu terhadap diriku. Telah kuceritakan tadi bahwa tanpa disengaja aku mendapatkan kau pingsan di tengah jalan, maka kau kubawa ke sini. Adapun aku berada di sini karena.... enci Bi Hui, lupakah kau akan sumpahku dahulu? Aku akan mencari pembunuh pembunuh suheng berdua dan akan menyeret mereka di depan kakimu?"
Mendengar ini, Bi Hui tertusuk hatinya, merasa diingatkan bahwa sakit hatinya atas kematian ayah bundanya belum juga terbalas sampai saat itu.
Tak terasa lagi dua titik air mata meloncat keluar dan menetes turun ke atas pipinya, ia cepat menundukkan mukanya.
Teringatlah ia akan peristiwa dahulu ketika ayah bundanya terbunuh, mereka mendapatkan Beng Han di dalam kamar dengan pedang di tangan.
Kemudian teringat pula ia betapa mereka, dia dan para pelayan, menyiksa Beng Han untuk memaksa bocah itu mengakui perbuatannya, yaitu membunuh ayah bundanya.
Akhir akhir ini baru Bi Hui insyaf bahwa sungguh hal yang amat tidak mungkin kalau bocah berusia delapan sembilan tahun itu mampu membunuh ayah bundanya yang berilmu tinggi!
Ahli ahli sitat yang kepandaiannya sudah tinggi sekalipun belum tentu akan dapat membunuh ayah bundanya.
Apalagi Beng Han.
Sungguh fitnahan keji ketika itu dilontarkan ke atas kepala Beng Han.
Kalau ia teringat ia menjadi malu sendiri dan diam diam ia merasa bersyukur bahwa pada saat ia hendak membunuh Beng Han, muncul Sin tung Lo kai yang mencegahnya.
Dan sekarang ia bertemu dengan Beng Han yang sudah menjadi pemuda dewasa yang tampan dan pemuda ini masih melanjutkan sumpahnya dulu, hendak membalas sakit hati ayah bundanya.
"Beng Han, apakah kau tidak.... tidak sakit hati kepadaku....?"
Tanyanya perlahan, malu untuk mengangkat muka.
"Enci Bi Hui, mengapa kau bertanya demikian? Kita adalah orang sendiri, kalau ada rasa sakit hati, perasaan itu sepenuhnya kutujukan kepada pembunuh pembunuh ayah bundamu!"
"Aku dulu...... pernah.... pernah menyiksamu."
Suara Bi Hui makin perlahan, belum berani ia mengangkat mukanya.....
"Ah, betulkah? Aku malah sudah lupa lagi, enci Bi Hu. Kalaupun demikian, tentu karena kau menjadi kalap berhubung dengan kematian ayah bundamu itu. Aku tidak menyalahkan engkau, enci."
"Akan tetapi.... aku telah.... hampir saja kau kubunuh pada waktu itu.... kalau saja tidak dicegah oleh Sin tung Lo kai...."
Suara Bi Hui makin lirih, kepalanya makin menunduk.
"Aaah, orang tua yang gagah perkasa. Sin tung Lo kai...... itu. Sayang.... diapun menemui kematiannya dalam keadaan penasaran, seperti ayah bundamu, enci Bi Hui."
Kini Bi Hui berani mengangkat muka menatap wajah pemuda itu setelah mengutarakan hal yang mengganjal di hatinya.
"Kau sudah tahu....?"
Beng Han mengangguk.
"Di samping sumpahku dulu, kini kutambah lagl janji untuk mencari pembunuh Sin tung Lo kai dan kubalaskan sakit hatinya."
Kata kata ini diucapkan oleh Beng Han dengan semangat bernyala nyala.
Melihat itu diam diam Bi Hui memuji kesetiakawanan pemuda ini, akan tetapi juga geli hatinya.
Pemuda ini bisa apakah?
Dia sendiri yang memiliki kepandaian tinggi, bahkan sudah digembleng lagi oleh dua arang guru yang sakti, masih belum berhasil mencari musuh besarnya.
Dan orang jahat di dunia ini begini banyak dan lihai.
Pemuda ini bisa apa?
Akan terapi tentu saja dia tidak mau menyatakan perasaan hatinya itu.
"Beng Han, benar benar kau mau memaafkan semua perbuatanku yang menyakiti hatimu dulu?"
"Tidak ada yang harus dimaafkan enci Bi Hui, karena selamanya aku tak pernah sakit hati kepadamu."
"Kau harus memaafkan, Beng Han. Kalau tidak, selamanya aku akan merasa berdosa kepadamu dan tak enak berhadapan denganmu."
Beng Han menghela napas panjang.
"Baiklah. Kalau sekiranya ada kesalahan di antara kita tentu saja aku suka memaafkanmu lahir batin, enci Bi Hui. Aku sudah hutang budi banyak sekali kepada ayah bundamu, terutama sekali aku berhutang budi yang takkan mampu kubalas kepada suhu, kong kongmu. Mengapa engkau begitu sungkan sungkan antara orang sendiri?"
Diam diam Bi Hui kagum juga.
Benar benar Beng Han sekarang bukan Beng Han bocah yang dulu itu.
Akan tetapi, tetap saja ia menyangsikan apakah pemuda ini akan mampu membalas sakit hati yang sampai sekarang belum terlaksana itu.
"Terima kasih Beng Han. Sekarang aku berani memandangmu dan kalau kau benar hendak membalaskan sakit hati keluargaku, mari kita bekerja sama. Terus terang saja sampai sekarang aku belum menemukan jejak pembunuh pembunuh itu. Kau bagaimana?"
"Agaknya tak lama lagi kita akan dapat berhadapan muka dengan mereka, enci."
"Kaumaksudkan....??"
Beng Han menyambut tatapan sinar mata Bi Hui dengan berani. Kemudian ia mengangguk.
"Tak salah, seperti juga pengakuanku dahulu, pembunuh ayah bundamu bukan lain adalah Liem Kong Hwat dan seorang wanita siluman."
"Cia Kui Lian...??"
"Mungkin demikian namanya."
"Dan kau sudah ketahui tempat tinggal mereka?"
"Sedang kuselidiki, enci. Sekarang lebih baik kita mencari sarang Thian hwa kauw lebh dulu. Perkumpulan ini terlalu jahat...."
"Kau tahu aku dijatuhkan oleh Thian hwa kauw....?"
Bi Hui memotong cepat.
Gadis ini memang cerdik dan ia ingin memancing, karena ada dua kemungkinan ia terjatuh kedalam tangan Beng Han.
Yaitu ditolong pemuda ini dari tangan orang Thian hwa kauw atau memang kebetulan saja ia ditinggalkan oleh mereka.
Kalau ditinggalkan, agak tak mungkin.
"Aku hanya tahu kau ditinggalkan di pinggir jalan dalam keadaan pingsan dan aku melihat beberapa orang pemuda dan gadis yang membawa kembang teratai. Sudah lama aku mendengar tentang mereka, itu adalah orang orang Thian hwa kauw. Enci Bi Hui, agaknya menang perjalanan ini menuju ke satu jurusan dan niat kita cocok benar. Tidak saja kita sama sama hendak mencari musuh musuh besar kita, juga kebetulan sekali kau hendak membasmi Thian hwa kauw, padahal akupun sedang mencari mereka untuk.... kalau mungkin dan kalau tenagaku mencukupi, menyerbu sarang mereka."
Bi Hui tersenyum lemah, ia dapat menduga bahwa tentu Beng Han sudah mempelajari beberapa jurus ilmu silat, mungkin agak lihai, akan tetapi pemuda ini tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan Thian hwa kauw.
Betapapun juga, baik juga mempunyai kawan yang sehaluan.
"Thian hwa kauw sudah terlalu tersohor, siapakah yang takkan memusuhinya? Para tokoh terkemuka sekarang juga sedang bersiap siap menyerbu ke sana?"
Tiba tiba Bi Hui mengerutkan keningnya.
"Kau lapar, enci Bi Hui? Kebetulan aku membawa roti kering."
Beng Han menurunkan buntalan dari punggungnya dan dikeluarkan tiga potong roti kering dan seguci arak ringan.
"Bagaimana kau tahu aku lapar?"
Bi Hui bertanya, mukanya merah karena memang baru saja tadi perutnya berbunyi dan terasa perih sekali.
Biarpun ia sudah menekan perut dengan hawa lweekangnya, tetap saja berkeruyuk sedikit.
Mungkinkah Beng Han dapat mendengar suara itu?
Beng Han tersenyum.
"Bagaimana tidak tahu, enci? Tiga hari tiga malam bukanlah waktu pendek untuk berpuasa dan selama itu kau tidak dapat makan apa apa, hanya sedikit air atau arak yang kuteteskan ke dalam mulutmu."
Kata kata Beng Han demikian wajar, sederhana dan jujur sehingga Bi Hui tidak menderita terlalu malu.
Diam diam ia berterima kasih sekali dan terlintas bayangan dalam otaknya betapa selama itu siang malam ia dijaga dan bahkan dirawat oleh pemuda ini.
Mukanya menjadi merah sekali, akan tetapi tanpa bicara apa apa lagi lalu ia menerima roti kering dan memakannya.
Melihat nona itu makan dengan sungkan sungkan dan nampak malu malu, Beng Han lalu ikut makan.
"Beng Han, kau baik sekali. Terima kasih,"
Kata Bi Hui setelah menghabiskan dua potong roti dan minum dua cawan arak ringan.
"Aah, enci Bi Hui, baik apanya sih? Biasa saja antara kita, mana perlu sungkan sungkan? Lagi pula, rotinya keras dan araknya kurang manis."
"Bukan itu, Beng Han. Aku berterima kasih bukan untuk roti dan arak, melainkan untuk pertolonganmu, kalau kau tidak menolongku, menjagaku siang malam sampai tiga hari tiga malam, entah bagaimana jadinya dengan aku, pingsan selama itu di tengah jalan."
"Tak usah berterima kasih, enci. Sudah kewajibanku untuk membantumu. Aku sejak dulu merasa amat kasihan kalau teringat kepadamu, enci. Kau benar benar seorang yang selalu dirundung kemalangan. Benar benar amat buruk nasibmu dan aku doakan semoga selanjutnya nasibmu akan berubah. Apakah.... apakah aku belum mempunyai.... ci hu (kakak ipar ), enci?"
Bi Hui tiba tiba menundukkan mukanya, menggeleng geleng kepalanya dan.... menangis terisak isak. Kata kata Beng Han itu benar benar membuat ia bersedih sekali dan tak tertahankan lagi ia menangis.
"Maaf, enci Bi Hui.... aku tidak bermaksud menyinggung hatimu...."
Kata Beng Han penuh sesal.
Akhirnya Bi Hui dapat mengangkat mukanya yang menjadi kemerahan dan ia menyusut air mata terakhir.
Kemudian rona ini tersenyum!
"Tidak, Beng Han.
Aku hanya lupa diri dan teringat kepada ayah bundaku.
Aku....
aku masih seperti dulu, aku belum menikah, selama ini aku melanjutkan pelajaran ilmu silatku dari dua orang guru baru yaitu suhu Bu eng Lo kai dan suthai Soat Li Suthai.
Baru beberapa pekan saja aku berpisah dengan mereka."
"Aduh, kalau begitu kau tentu lihai sekali, enci! Biarpun belum begitu luas pengalamanku, namun nama dua orang locianpwe yang sakti itu sudah pernah kudengar. Kali ini musuh musuh besar kita tentu akan mampus kalau berhadapan dengan kau."
Kegembiraan Beng Han menggembirakan pula hati Bi Hui, namun ia segera merendah.
"Kepandaianku masih belum seberapa. Dan kau sendiri bagaimanakah? Siapa gurumu dan selama ini kau belajar di mana saja?"
"Enci Bi Hui, aku satu kali menjadi murid suhu Thian te Kiam ong Song Bun Sam, mana bisa menjadi murid orang lain? Selama ini aku hanya belajar sendiri memperdalam pelajaran yang kuterima dari suhu,"
Kata Beng Han, setengah menyembunyikan kepandaiannya, akan tetapi sama sekali tidak membohong, karena bukankah memang selama ini ia mempelajari ilmu silat warisan dan Thian te Kiam ong gurunya?
Diam diam Bi Hui menganggap bahwa kepandaian Beng Han takkan dapat melebihi tingkatnya dulu sebelum ia belajar pada dua orang gurunya yang baru.
Kemudian matanya yang tajam melihat gagang pedang menonjol di balik baju Beng Han yang longgar, maka tanyanya setengah bergurau.
"Ah, pedangmu tentu bagus, ya?"
Tiba tiba sikap Beng Han berubah dan wajahnya nampak sungguh sungguh ketika ia berkata.
"Enci Bi Hui, apakah kau sekarang sudah betul betul percaya kepadaku, tidak ragu ragu dan tidak curiga lagi?"
Bi Hui menggelengkan kepalanya.
"Tidak, dulu aku kurang pikir dan bodoh, Beng Han. Mengapa kau mengulangi hal ini?"
"Karena aku akan memperlihatkan sesuatu yang mungkin akan mengejutkan dan mengherankan hati itu, enci Bi Hui. Lihatlah apa kau mengenal ini?"
Cepat ia mengambil pedang Kim kong kiam dari balik bajunya dan memperlihatkan pedang itu kepada Bi Hui.
"Kim kong kiam..."
Bi Hui memandang ke arah pedang itu dengan mata terbelalak lebar, tangannya diulur hendak merampasnya.
Beng Han menghela napas panjang, memberikan pedang itu ke tangan Bi Hui hingga gadis ini tak perlu merampasnya.
"Beng Han, dari mana kau mendapatkan ini? Dulu pedang ini dipalsu orang, yang aselinya hilang dan kini.... tahu tahu berada di tanganmu."
Beng Han lagi lagi tersenyum pahit.
"Enci Bi Hui, ingatlah, kau tadi menyatakan sudah percaya penuh kepadaku. Dan pula ketika peristiwa itu terjadi, usiaku baru delapan tahun."
Wajah Bi Hui menjadi kemerahan, ketegangan di mukanya mengendur dan ia berkata, suaranya lemah perlahan.
"Tidak, Beng Han, aku akan mengusir sekuat tenaga segala perasaan curiga terhadapmu, aku tahu kau tak berdosa, hanya aku bernasib malang. Akan tetapi sungguh sungguh aku ingin sekali tahu bagaimana pedang yang disangka hilang itu berada di tanganmu?"
"Enci, kau baik sekali. Kukira tadinya kau akan marah marah dan menuduhku mencuri pedang. Terima kasih atas kepercayaanmu. Ketahuilah bahwa Kim kong kiam palsu itu adalah buatan.... mendiang suhu sendiri."
Terbelalak mata Bi Hui yang jeli itu, terbelalak kaget dan heran.
"Apa kau bilang....? Kong kong sendiri yang memalsukan Kim kong kiam? Mengapa dan bagaimana....?"
"Enci, kau tentu masih ingat ketika kong kongku Koai Thian Cu datang berkunjung membawa aku dan menyerahkan aku kepada suhu untuk diajar ilmu silat?"
"Aku masih ingat, bukankah kong kongmu tukang gwamia itu?"
"Itulah asal mulanya. Kong kong telah meramalkan bahwa Kim kong kiam akan mendatangkan malapetaka pada keluarga Song. Setelah kong kong pergi, suhu selalu merasa gelisah karena agaknya suhu percaya betul akan kepandaian kong kong meramal. Maka diam diam suhu lalu membuat Kim kong kiam palsu untuk diwariskan kepada anak cucunya. Tentu saja hal ini beliau lakukan sebagai cara menolak ramalan itu atau sebagai tumbal. Adapun pedang aselinya yang dikhawatirkan akan mendatangkan malapetaka itu, oleh suhu disembunyikan di Kim hud tah, semua ini suhu ceritakan kepadaku, dengan pesan agar supaya kelak aku mengambil Kim kong kiam dan sedapat mungkin berusaha jangan sampai pedang itu menimbulkan malapetaka. Demikianlah, enci, setelah aku meninggalkan Tit le, aku pergi mencari pedang itu di Kim hud tah dan dengan pedang itu aku berlatih ilmu silat yang pernah kupelajari dari suhu."
Bi Hui mengangguk angguk.
"Kong kong agaknya percaya penuh kepadamu daripada anak cucunya sendiri."
Merah muka Beng Han Memang agaknya demikianlah, akan tetapi ia cerdik dan dapat mencari alasan yang kiranya masuk di akal.
"Agaknya itu adalah pengaruh dan ramalan kong kong Koai Thian Cu, enci. Karena kong kong meramalkan bahwa pedang Kim kong kiam akan mendatangkan malapetaka pada keluarga Song, tentu saja suhu tidak berani meninggalkan pedang itu kepada anak cucunya, sebaliknya menyerahkan kepadaku. Akan tetapi seperti kita semua tahu malapetaka itu kiranya datang juga menimpa keluargamu, enci Bi Hui. Oleh karena itu, tak perlu menyingkirkan lagi pedang ini dan boleh kau ambil kembali, karena pedang ini memang milikmu."
"Ah, tidak! Kau yang menerima dari kong kong, kau simpan sajalah,"
Kata Bi Hui cepat cepat sambil menyerahkan kembali pedang itu.
"Akan tetapi itu hakmu, enci."
Bi Hui tetap menggelengkan kepala dan memaksa Beng Han menerima pedang itu.
"Apa kaukira aku tadi menyatakan kepercayaanku kepadamu hanya pura pura belaka? Kau lebih patut menerima warisan pedang ini, pula.... dengan adanya Kim kong kiam, kau dapat menjaga diri lebih baik."
Di dalam hatinya Bi Hui berkata bahwa dia sendiri memiliki kepandaian tinggi maka tak perlu mengandalkan pedang pusaka, sebaliknya orang dengan kepandaian belum tinggi seperti Beng Han memang perlu bantuan pedang tajam dan ampuh seperti Kim kong kiam Beng Han tidak membantah dan menyimpan kembali Kim kong kiam, namun wajahnya memperlihatkan kegembiraan luar biasa.
Ini tidak aneh karena ia sekarang yakin bahwa gadis ini betul betul sudah percaya kepadanya dan tidak mempunyai pikiran ragu ragu atau curiga lagi.
"Enci, marilah kita menyelidiki sarang Thian hwa kauw, siapa tahu dan tempat itu kita akan dibawa kepada musuh musuh besar kita."
"Baiklah, aku sudah hampir putus harapan mencari jejak musuh musuh besarku, sekarang bertemu dengan kau, timbul kembali harapanku."
Sambil berkata demikian, sepasang mata gadis itu menatap wajah Beng Hau dengan penuh kepercayaan dan harapan sehingga muka pemuda itu menjadi merah.
Berangkat dua orang muda itu untuk mencari musuh besar mereka, yaitu pembunuh pembunuh Song Tek Hong dan Ong Siang Cu ayah bunda Bi Hui.
Di sepanjang jalan Bi Hui merasa bingung dengan penjelasan dan kepastian Beng Han bahwa pembunuh ayah bundanya adalah Liem Kong Hwat dan Cia Kui Lian.
Rasa rasanya tidak mungkin Liem Kong Hwat melakukan hal itu karena bukankah pemuda itu keponakan ayah bundanya?
Akan tetapi kalau ia teringat kepada Kui Lian, wanita yang aneh dan berhawa siluman itu, kalau ia teringat akan apa yang terjadi di taman bunga rumah bibinya, di mana Liem Kong Hwat mengadakan pertemuan hina dengan Cia Kui Lian, keraguannya lenyap dan ia mulai percaya kepada Beng Han.
Kemarahannya meluap dan ia ingin lekas lekas bertemu muka dengan Cia Kui Lian dan Liem Kong Hwat, bekas kekasihnya yang kini menjadi musuh besarnya itu.
Kalau ternyata betul Liem Kong Hwat dan Cia Kui Lian pembunuh ayah bundanya, dia akan memenggal kepalanya dan membelah dada mereka itu dengan tangannya sendiri.
0odwo0 Siauw Yang dan Pun Hui tinggal dalam hotel terbaik di kota Kwan leng si.
Menurut rencana perundingan para orang gagah, tiga hari lagi baru mereka berangkat mengantar Sin siang to Bhok Coan menuju ke sarang Thian hwa kauw.
Masih ada tiga hari lagi dan terpaksa suami isteri ini menanti di dalam hotel.
Juga Thio Leng Li tinggal di botel itu, lain kamar.
Setiap hari kedua orang nyonya itu bercakap cakap dan Siauw Yang merasa amat kasihan kepada Leng Li yang tidak saja kematian ayahnya, akan tetapi juga kematian suaminya dan dua orang anaknya entah ke mana perginya!
Heran, di dunia ini banyak sekali orang menderita, dan melihat orang lain yang lebih hebat penderitaannya, merupakan obat penawar baik sekali untuk hati sendiri yang menderita.
Oleh karena itu, Siauw Yang yang biasanya suka termenung dan bersedih memikirkan putera tunggalnya, kini malah menjadi tukang menghibur yang setiap hari berusaha menggembirakan hati Leng Li agar nyonya ini tidak terlalu tertekan hatinya.
Pada malam hari ke dua, menjelang tengah hari, ketika Siauw Yang dan suaminya sudah hampir pulas, tiba tiba mereka mendengar suara gerakan kaki yang ringan di atas genteng kamar mereka.
Siauw Yang menyentuh lengan suaminya memberi isyarat dan cepat ia menyambar pedangnya.
Akan tetapi pada saat itu, dari atas genteng terdengar suara penahan.
"Ayah, ibu, Kong Hwat di sini....!"
Siauw Yang dan Pun Hui menjadi bengong dan untuk sesaat tidak dapat percaya akan pendengaran sendiri.
"Apakah kau mendengar apa yang kudengar?"
Tanya Siauw Yang berbisik. Suaminya mengangguk.
"Ayah, ibu, anakmu menanti di sini. Harap keluar."
Kini tak salah lagi itulah suara Kong Hwat!
Tangan Siauw Yang yang memegang lengan suaminya menggigil.
Akan tetapi segera ia menarik suaminya dan keduanya cepat memakai sepatu dan tidak lupa menggabungkan pedang di pinggang.
Setelah itu keduanya melompat keluar jendela, Siauw Yang di depan karena kepandaian isteri ini lebih tinggi daripada suaminya.
Betapapun juga, yang di dengar tadi hanya suara Kong Hwat, belum keliatan orangnya dan sebagai orang orang yang sudah banyak pengalaman mereka tidak berani main sembrono.
Siapa tahu kalau kalau suara itu hanya pancingan musuh yang berniat buruk.
Ketika mereka sudah keluar hotel dan melompat ke atas genteng, di sana di atas genteng dan di bawah cahaya bulan, berdiri seorang pemuda tinggi kurus.
Siauw Yang dan Pun Hui memandang dengan hati berdebar sambil melompat maju menghampiri.
"Kong Hwat....!"
Seru Pun Hui, suaranya keren mengandung teguran.
"Hwat ji...!"
Seru Siauw Yang, suaranya tercampur isak tertahan dari keharuan hati.
"Ayah, ibu, mari kita turun agar jangan membikin kaget tamu tamu lain di hotel ini."
Setelah berkata demikan, tanpa menanti jawaban ayah bundanya, Kong Hwat melompat dan berlari menjauhi tempat itu.
Sikap ini saja sudah terasa oleh Siauw Yang dan suaminya bahwa putera mereka itu agaknya sudah biasa memberi perintah yang tak harus di bantahnya.
Kemudian mereka mendapat kenyataan lain, yaitu bahwa ilmu ginkang dan lari cepat darii pemuda putera tunggal mereka itu telah mendapat kemajuan yang hebat.
Dengan girang Siauw Yang lalu mengejar.
Hati ibu ini menduga baik, disangkanya bahwa selama ini puteranya tentu telah belajar ilmu silat lagi kepada orang pandai.
Juga Pun Hui melompat dan mengejar.
Setelah Siauw Yang dan Pun Hai melompat turun dan berada di tempat sunyi, Kong Hwat lalu menjatuhkan diri berlutut di depan mereka.
"Ayah.... Ibu...."
Kata pemuda itu, suaranya agak gemetar.
"Kong Hwat, selama ini kau minggat ke mana saja? Anak tidak berbakti, kau sudah membikin susah bukan main kepada orang tuamu!"
Kata Pun Hui dengan nada suara marah.
"Hwat ji, kenapa begini kurus? Apakah kau banyak menderita?"
Tanya Siauw Yang.
"Apa saja yang kau alami selama ini?"
"Tentu panjang untuk diceritakan di sini, ayah dan ibu. Marilah, anak persilahkan ayah dan ibu ikut ke tempat tinggalku, di sana nanti kita bercakap cakap."
Setelah berkata demikian, kembali tanpa menanti jawaban atau putusan ayah bundanya, Kong Hwat bangun berdiri dan lari cepat ke arah utara.
Siauw Yang bertukar pandang dengan suami nya akan tetapi mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk berheran, lalu cepat mengikuti Kong Hwat.
Agaknya pemuda ini masih ingat bahwa kepandaian ayahnya tidak begitu tinggi maka ia tidak mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat.
Kalau ibunya tentu saja tidak akan kalah dalam hal ilmu berlari cepat olehnya, karena ibunya mewarisi ilmu ginkang yang hebat dari nenek nya, yaitu Can Sian Hwa isteri Thian te Kim ong.
Mereka bertiga berlari cepat tanpa bercakap cakap.
Kong Hwat di depan disamping ibunya.
Pun Hui di belakang.
Berkali kali Siauw Yang menengok dan mengamat amati wajah puteranya dan memancing mancing bicara.
Akan tetapi Kong Hwat seperti gagu, mukanya yang kurus memandang lurus ke depan dan seakan akan seluruh perhatiannya dicurahkan kepada kedua kakinya yang berlari cepat.
Ternyata kemudian bahwa mereka berlari cepat sampai setengah malam lamanya.
Setelah pagi dan sinar bulan lenyap dikalahkan oleh cahaya matahari yang kemerahan, mereka telah tiba di kaki sebuah gunung yang tidak begitu besar namun penuh dengan hutan.
Tanpa berkata kata Kong Hwat lari terus membawa dua orang tuanya ke dalam sebuah hutan yang penuh dengan pohon pohon besar sekali, tiba tiba dari dalam pohon itu terdengar suara harimau mengaum saling sahut, seakan akan hutan ini penuh dengan harimau harimau yang ganas.
Berdiri bulu tengkuk Siauw Yang ketika ia mendengar suara harimau harimau ini.
Teringat ia akan penuturan Sin siang to Bhok Coan tentang sebuah hutan yang bernama Koai houw lim (Hutan Macan Siluman) yang berada di kaki Gunung Siu lan.
Menurut Sin siang to Bhok Coan, tempat itulah sarang perkumpulan Thian hwa kauw, ke mana Bhok Coan diperintahkan menghadap kauwcu dari perkumpulan itu!
Jangan jangan Kong Hwat puteranya itu telah....??
Siauw Yang merasa ngeri dan tiba tiba ia memegang lengan puteranya itu, memaksanya berhenti untuk ditanya.
Akan tetapi, berbareng dengan berhentinya Kong Hwat, dari tempat tempat yang tidak diketahui jelas karena mereka itu seperti tiba tiba saja muncul, tahu tahu di kanan kiri jalan telah berdiri puluhan orang pemuda pemudi yang berpakaian rapih dan indah, semua cantik cantik dan tampan tampan, berdiri berbaris di kanan kiri jalan.
Pakaian mereka dari sutera putih bersih amat tipis sehingga bentuk tubuh mereka membayang nyata, bentuk bentuk tubuh orang orang muda yang indah.
Di tangan mereka nampak bunga bunga teratai beraneka warna dan begitu mereka muncul, tercium bau harum semerbak yang aneh, sedap dan wangi, namun merangsang sehingga Siauw Yang hampir hampir berbangakis.
Kemudian mereka itu menggerakkan tangan kanan dan berhamburanlah daun daun bunga beraneka warna yang harum, menghujani Kong Hwat dan dua orang tuanya.
Tangan kiri mereka tetap memegang kembang kembang teratai.
-ooo0dw0ooo-
Jilid XL "SELAMAT datang Liem loya, twa hujin, dan twa kongcu!"
Gadis gadis cantik itu berkali kali menyambut dengan kata kata merdu dan wajah berseri seri.
Terutama sekali lirikan mata para gadis ini kalau ditujukan ke arah Kong Hwat, maka nampak sinar aneh yang membkin hati Siauw Yang berdebar.
Sekarang mata gadis gadis ini demikian liar dan genit, sungguh tidak sesuai dengan wajah mereka yang cantik lembut dan gerak gerik mereka yang halus.
"Kong Hwat, kita berada di manakah??!"
Tanya Siauw Yang hampir berteriak, dan muka nyonya ini berobah pucat, juga Pun Hui memandang wajah putranya dengan tangan terkepal.
Kini baru kelihatan olehnya betapa muka puteranya itu kini menjadi pucat dan sepasang matanya kehilangan sinarnya yang dahulu, sebaliknya terganti oleh sinar yang kejam.
"Ini tempat tinggalku, ibu. Marilah, mari kita ke pondok dan di sana kita bicara panjang lebar. Mari ayah dan ibu kuperkenalkan dengan anak mantumu...."
"Anak mantu....? Kong Hwat, kau.... kau...."
Siauw Yang berkata gagap, dua titik air mata keluar dan meloncat di atas pipinya.
Akan tetapi Kong Hwat tidak berkata apa apa lagi, melainkan menggandeng tangan ibunya dan diajaknya nyonya itu berjalan terus.
Pun Hui dengan hati berdebar tidak enak mengikuti dari belakang.
Siauw Yang juga tidak mengeluarkan suara lagi karena di kanan kiri mereka terdapat begitu banyak orang, sungguh tidak enak kalau harus ribut ribut di sini.
Nanti saja, pikirnya, akan kumaki habis habis bocah ini!
Tak lama kemudian mereka bertiga, diikuti oleh puluhan orang muda muda yang cantik dan tampan itu, tiba di depan sebuah gedung besar yang amat indah.
Benar benar amat mengherankan kalau melihat gedung sepeti itu berada di tengah hutan.
Gedung seperti istana ini pantasnya hanya berada di kota raja, menjadi tempat kediaman pangeran pangeran.
Di depan istana itu mereka disambut oleh tujuh orang kakek dan nenek tua yang membuat suami isteri ini terkejut sekali.
Seorang di antara mereka itu bukan lain adalah Hek tok kwi yang pernah memimpin rombongan siuli dan siulam menyerbu Siang to Bhok Coan.
Yang mengejutkan hati Siauw Yang dan Pun Hui adalah keadaan tubuh dan air muka orang ini.
Mereka itu rata rata sudah tua sekali dan muka mereka buruk buruk menakutkan.
Inilah mereka tujuh orang iblis yang biarpun hanya menjadi pelayan pelayan di Thian hwa kauw, namun mereka merupakan tokoh tokoh yang paling ditakuti.
Hek tok kwi sudah diketahui kelihaiannya, dan enam orang lain juga terdiri dari orang orang tua yang tinggi ilmu kepandaiannya.
Mereka adalah lima orang kakek dan dua orang nenek.
Disamping Hek tok kwi adalah See thian mo (Iblis Dunia Barat), Thung thian mo (Iblis Dunia Timur), Pak thian mo (Iblis Dunia Utara), dan Lam thian mo (Iblis Dunia Selatan).
Adapun dua orang nenek adalah Tok ciang Kui bo (Biang Iblis Bertangan Racun) dan Tok sim Kui bo (Biang Iblis Hati Beracun).
Biarpun mereka ini hanya pelayan pelayan dari Kauwcu (Ketua agama), namun dalam setiap gerakan, rombongan atau barisan siuli siulam selalu dikepalai oleh seorang di antara yang tujuh ini.
Tujuh orang tua ini menyambut kedatangan Liem Kong Hwat dengan penuh penghormatan, menjura dan hampir berbareng dari mulut mereka keluar kata kata sambutan.
"Selamat datang twa kongcu dan ayah bunda nya yang mulia. Kauwcu sudah menanti sejak tadi. Silahkan masuk, silahkan masuk...."
Kini rombongan siuli dan siulam yang tadi menyambut, telah berpencar dan berdiri di kanan kiri dengan tegak sementara tujuh orang kakek dan nenek ini menggantikan mereka mengiringkan Siauw Yang, Pun Hui dan Kong Hwat terus memasuki gedung yang seperti istana itu.
Siauw Yang makin tidak enak hati, juga di kening Pun Hui timbul kerut merut karena dia sudah merasa mendongkol sekali, ingin ayah bunda ini menegur dan menyerang putera mereka dengan kata kata dan pertanyaan, namun keadaan di situ membuat mereka menahan diri, bahkan ingin melihat sampai di mana perkembangan keadaan, ingin pula mereka melihat bagaimana macamnya dia yang disebut isteri oleh Kong Hwat.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang amat indah hiasannya dan begitu mereka masuk ruangan ini, Siauw Yang dan Pun Hui disambut asap kemerahan yang kecerahan yang berbau harum sekali.
Ternyata asap ini keluar dari pedupaan yang dipasang di tengah ruangan, pedupaan yang terukir amat indah dan yang rupanya sengaja ditaruh di situ untuk membuat kamar ini selalu berbau harum.
Setelah mereka dapat membiasakan mata terhadap asap tipis itu, tampaklah seorang wanita muda yang cantik sekali duduk di atas sebuah kursi berukir naga.
Pakaian wanita itu serba putih, tipis sekali membayangkan bentuk tubuh yang menggairahkan.
Juga potongan pakaian itu amat tidak sopan, serba pendek dan kurang.
Yang amat menjemukan hati Siauw Yang dan Pun Hui, wanita itu tanpa malu malu dan tidak perduli sedang diapit oleh dua orang aki laki muda yang tampan, kedua lengannya yang seperi ular itu merangkul leher dua orang pemuda itu!
"Aha, gakhu dan gakbo (ayah dan ibu mertua) selamat datang.
Silahkan duduk,"
Kata wanita itu dengan suara merdu dan genit, tanpa melepaskan pelukannya pada dua orang laki laki muda yang nampak sungkan sungkan karena ada tamu datang.
Begitu mendapat kenyataan bahwa wanita itu bukan lain adalah Cia Kui Lian, meluaplah darah Siauw Yang.
Ia merasa mendapat tamparan keras ketika mendengar wanita itu menyebut dia dan suaminya mertua!
Seperti seekor singa betina Siauw Yang memutar tubuh menghadapi puteranya dengan mata bernyala.
"Kong Hwat.... Apa yang telah kau lakukan....?!?!?"
Muka Kong Hwat sebentar pucat sebentar merah.
Ingatannya yang sudah mulai suram karena pengaruh ilmu hitam dari Kui Lian, kini membuyar ketika ia berhadapan dengan ayah bundanya.
Namun, suasana kotor dan hidupnya yang mengabdi nafsu semata, membuat batinnya lemah dan semangatnya tipis.
"Ibu, dia.... dia itu Thian hwa kauwcu, dia.... isteriku...."
Jawabnya sambil menundukkan muka.
"Plak.....!"
Kong Hwat terhuyuug ke belakang sambil meraba pipinya yang kena tamparan ayahnya.
"Jahanam rendah memalukan orang tua!"
Maki Liem Pun Hui. Tamparannya tadi ia lakukan dengan sepenuh tenaga, akan tetapi oleh karena memang kepandaiannya tidak begitu tinggi, tamparan itu hanya membuat puteranya terhuyung huyung saja.
"Anak puthauw lebih baik mampus!"
Siauw Yang membentak marah dan pedangnya menyambar ke arah dada Kong Hwat dengan tusukan maut!
Ibu ini sudah sedemikian marah dan malunya sehingga ia menjadi mata gelap dan lebih baik melihat anak mati di tangan sendiri daripada melihat anak hidup mencemarkan nama keturunan.
Akan tetapi ilmu kepandaian Kong Hwat sudah meningkat banyak daripada dahulu.
Menghadapi serangan maut yang berbahaya ini ia masih sempat membuang diri ke samping sehingga bukan dadanya yang tertembus pedang, melainkan pundaknya.
Bajunya robek dan daging pundaknya terluka mengeluarkan banyak darah.
Siauw Yang masih mengejarnya dengan serangan selanjutnya.
"Tangkap mereka!"
Tiba tiba Cia Kui Lian menjerit, menudingkan telunjuknya ke arah Siauw Yang dan Pan Hui, matanya mendelik penuh kemarahan.
Tujuh orang tua buruk rupa yang tadinya berdiri diam saja seperti patung, tiba tiba bergerak maju, berbareng menubruk Siauw Yang dan Pun Hui.
Kepandaian mereka sudah tinggi maka sebentar saja Pun Hui sudah kena diringkus dan dibikin tak berdaya.
Akan tetapi tidak demikian dengan Siauw Yang.
Nyonya yang gagah perkasa ini mengerjakan pedangnya sedemikan lihai dan ganas sehingga berturut turut See thian mo dan Lam thian mo roboh mandi darah.
Lima orang tua yang lain menjadi terkejut dan berhati hati, maklum mereka menghadapi seorang nyonya yang tinggi sekali ilmu pedangnya.
Tidak percuma Siauw Yang menjadi puteri Thian te Kiam ong.
Ilmu pedangnya hebat sekali.
Biarpun kini ia dikeroyok oleh lima orang yang lihai, tetap saja ia dapat mendesak mereka.
Karena ia sedang marah, kelihaian Siauw Yang menjadi berlipat, pedangnya berkelebat ganas sekali.
Lima orang tua itu menjadi makin bingung.
Kalau saja mereka dapat perintah "membunuh", kiranya mereka akan lebih cepat berhasill, akan tetapi bunyi perintah kauwcu mereka bukan membunuh melainkan menangkap.
Inilah yang sukar.
Tadinya lima orang ini merasa malu kalau harus mempergunakan racun.
Masa lima orang, bahkan tadinya tujuh, tokoh tokoh besar Thian hwa kauw menghadapi seorang lawan saja harus mempergunakan racun racun.
Akan tetapi, ketika kembali seorang diantara mereka, Tung thian mo, roboh dengan pundak terbabat, terpaksa Hek tok kwi bertindak.
Ia berseru keras, kembang teratai biru menyambar ke dekat muka Siauw Yang, uap putih mengebul dan nyonya yang gagah itu menjadi limbung.
Di lain saat Hek tok kwi sudah berhasil menotoknya dan Siauw Yang menjadi lemas, tak berdaya lagi ketika dibelenggu "Siluman siluman Thian hwa kauw tak tahu malu!"
Tiba tiba terdengar bentakan keras dan seorang laki laki tinggi besar yang gagah sekali.
Bentuk badan dan sikapnya, melompat keluar dari sebuah pintu.
Tangannya memegang sebuah rantai besi yang panjang dan ia memutar mutar rantai ini, mengamuk di ruangan yang indah itu.
Tujuannya adalah menyerang Cia Kui Lian, maka ia menubruk maju sambil mengirim serangan.
"Eh, bagaimana kuda ini bisa terlepas? Tangkap dia!"
Bentak Kui Lian sambil melompat mundur dari tempat duduknya yang kini mewakilnya menerima pukulan rantai.
Sebagian dari kursi indah itu menjadi patah.
Empat orang iblis tua Thian hwa kauw yang sudah berhasil menawan Siauw Yang, kini serentak menghadapi pemuda itu dan ternyata kepandaian pemuda itu masih jauh untuk dapat mengatasi kelihaian tokoh tokoh Thian hwa kauw ini.
Sebentar saja ia telah ditawan dan dikat erat erat dengan rantai besi yang dipergunakannya mengamuk tadi.
"Bagaimana dia bisa terlepas?"
Kembali Thian hwa Kauwcu membentak marah.
Dari pintu di mana pemuda tadi muncul, kini muncul seorang pemuda tampan, yaitu seorang siulam yang menyeret rambut seorang siuli.
Siuli ini masih muda dan manis sekali, rambutnya awut awutan karena di tarik oleh siulam itu.
Dengan kasar siulam itu mendorongnya berlutut di depan kauwcu.
"Dia inilah yang melepaskan!"
Kata siulam itu melapor. Sepasang mata Kui Lian berpancar marah.
"Mengapa kau melepaskan ikatannya?"
Bentaknya. Siuli itu menundukkan mukanya yang menjadi pucat sekali.
"Hamba.... hamba kagum akan kegagahannya..... hamba.... hamba bertugas menjaga dan.... dan tadinya hamba ingin membujuknya, merayunya... celaka, dia menipu hamba, setelah terlepas dia lalu memberontak...."
"Keparat, dia itu untuk aku, bukan untukmu! Kau telah berdosa besar di depan kauwcumu, hayo lekas menebus dosa!"
Kata Kui Lian.
Siuli itu mengeluarkan tangis tertahan, memandang ke kanan kiri seperti seekor kelinci terjepit, kemudaan mencabut kembang teratai merah yang terselip di kancing bajunya dan menyedotnya keras keras.
Ia mengeluh, terhuyung dan roboh, sebelum mati terdengar ia menyebut ayah bundanya.
Kui Lian nampak mendongkol sekali dengan adanya gangguan gangguan ini.
"Bawa pergi bangkai ini! Masukkan tiga orang itu ke dalam tahanan, jaga jangan sampai terlepas!"
Ketika itu, pemuda tadi sudah siuman kembali dan mulai berteriak teriak.
"Kauwcu siluman! Kau pura pura menjadi kauwcu, siapa tidak tahu bahwa kau sebenarnya seorang pelacur kawakan yang hina dina? Jangan harap aku Kwan Siang Hong seorang laki laki sejati sudi tunduk kepadamu. Hah! Lebih baik mampus! Anjng buduk sekalipun tidak sudi padamu, apalagi aku. Tak tahu malu....!"
Pemuda ini tentu akan memaki maki terus lebih hebat lagi sambil mendelik ke arah Cia Kui Lian kalau saja ia tidak ditotok pingsan lagi oleh Hek tok kwi dan diseret pergi bersama Siauw Yang dan Pun Hui yang memandang kepada pemuda itu dengan kagum.
Kini mereka tahu bahwa pemuda itu bukan lain adalah putera Leng Li yang sedang dicari cari ibunya tidak tahunya juga tertawan di sini.
Dari keadaan pemuda itu maklumlah Siauw Yang dan suaminya bahwa agaknya Kui Lian suka kepada pemuda ini dan hendak menjadikan pemuda itu seorang siulam dan menjadi kekasihnya, akan tetapi cucu Sin tung Lo kai ini menolak mati matian!
Memang demikianlah.
Pemuda ini benar benar luar biasa sekali.
Biarpun sudah beberapa kali ia di loloh racun yang mendatangkan rangsang nafsu dalam dirinya, ia tetap kuat dan teguh mempertahankan kegagahannya, tetap ia menolak bujukan Kui Lian dan setiap kali mendapat kesempatan, ia tentu memberontak dan mengamuk.
Sementara itu, ketika Kong Hwat melihat ayah bundanya diseret ke kamar tahanan, timbul kebaktiannya.
Ia melompat dan mendorong Hek tok kwi, untuk menolong dan melepaskan ayah bundanya.
"Hwat ko....!"
Bentakan halus yang keluar dari mulut Kui Lian ini luar biasa sekali pengaruhnya terhadap Kong Hwat.
Tersentak pemuda ini menarik kembali tangannya, hanya berdiri memandang ayah bundanya yang terus diseret pergi.
"Hwat koko, kesinilah.......!"
Kembali Kui Lian berkata, suaranya merdu, akan tetapi penuh perintah nadanya.
Kong Hwat membalikkan tubuhnya perlahan menghadapi Kui Lian, kedua matanya merah dan basah, mukanya berkerut nampak tua, akan tetapi begitu ia bertemu pandang dengan Kui Lian, ia melangkah maju sampai di depan wanita itu.
Kui Lian sudah duduk kembali dengan lembut dan senyum manis memegang tangan Kong Hwat, menariknya sehingga pemuda itu jatuh berlutut di dekatnya.
Ketika kauwcu itu membelai rambutnya, Kong Hwat mengeluarkan isak tertahan dan menjatuhkan mukanya di atas pangkuan Cia Kui Lian, lalu ia menangis!
0oodwoo0 Pada keesokan harinya, serombongan orang gagah mengiringkan Sin siang to Bhok Coan mengunjungi sarang Thian hwa kauw.
Jauh di luar hutan mereka ini telah disambut oleh sebaris siulam siuli yang dikepalai oleh tujuh orang kakek aneh.
Ternyata bahwa tiga orang kakek yang terluka oleh pedang Song Siauw Yang, kini telah sembuh kembali.
"Hanya Sin Siang to Bhok Coan yang diperbolehkan masuk menghadap kauwcu, yang lain harus menanti di luar hutan!"
Kata Hek tok kwi dengan suara keren. Mendengar ini, tentu saja Sin siang to Bhok Coan menjadi mengkeret dan ketakutan. Akan tetapi ia mengangkat dada dan menjawab.
"Sahabat sahabatku ini harus ikut karena merekapun ingin bertemu dengan Thian hwa kauwcu."
Sementara itu, para orang gagah yang berada di situ merasa ngeri menghadapi tujuh orang nenek dan kakek yang wajahnya betul betul menyeramkan itu.
Diam dam mereka bersiap siap karena maklum bahwa mereka menghadap lawan yang gagah.
"Tidak bisa. Kauwcu tidak sempat melayni segala orang,"
Jawab Hek tok kwi dan kata katanya ini agaknya merupakan tanda, buktinya kawan kawannya mengatur barisan dan para siuli dan siulam yang duapuluh empat orang itu maju mendekat.
Tiba tiba para tokoh itu mengenal anak murid masing masing.
Di antara para siuli dan siulam itu terdapat murid murid Kun lun pai, Siauw lim pai Kim lian pai dan Go bi pai.
Pak Kong Hosiang dari Siauw lim pai tak dapat menahan sabar lagi melihat dua orang pemuda yang gagah, kini menjadi siulam dan memandang kepadanya seakan akan tidak kenal.
Padahal dua orang pemuda itu masih terhitung murid keponakannya sendiri.
Ia segera memutar toyanya dan melompat ke arah dua orang muda itu sambil membentak.
"Murid murtad, hayo berlutut dan menyerah!"
Akan tetapi toyanya yang diayun cepat itu bertemu dengan tongkat butut di tangan See thian mo, seorang di antara tujuh tokoh Thian hwa kauw itu keduanya tergetar tangannya dan melompat mundur.
"Pak Kong Hosiang, benar benar memalukan sekali seorang hwesio tokoh Siauw lim pai datang datang berlaku kasar. Mana ada tamu macam ini ?"
Hek tok kwi menyindir. Hwesio itu diam diam memuji Thian hwa kauw yang ternyata sudah mengenalnya, tanda bahwa kaki tangan Thian hwa kauw sudah tersebar dan kedatangannya sudah diketahui lebih dulu.
"Panggil kauwcumu keluar, kami mau bicara. Kalau kalian tidak mau, terpaksa pinceag dan kawan kawan menyerbu ke dalam hutan,"
Kata Pak Kong Hosiang, toyanya melintang di depan dada. Pada saat iu tiba tiba dari dalam hutan muncul wanita cantik.
"Kuda liar! Kau benar besar tidak mengerti cinta kasih orang, apakah kau ingin mampus saja?"
Terdengar wanita itu membentak sambil mengejar cepat.
"Perempuan lacur! Lebih baik aku mati seribu kali lebih dulu!"
Jawab laki laki itu yang melihat pengejarnya sudah dekat, tiba tiba membalikkan tubuh dan memukul sekerasnya.
Akan tetapi dengan mudah wanita itu menyambut tangannya dan sekali totok pemuda tinggi besar itu menjadi lumpuh dan di lain saat ia telah dipanggul oleh wanita itu.
"Sian Hong....! Lepaskan anakku....!"
Tiba tiba Leng Li melompat ke dekat wanita itu dan mencoba untuk merampas.
Memang pemuda itu bukan lain adalah Kwan Sian Hong yang kembali telah berhasil melarikan diri, kini dikejar kejar oleh Cia Kui Lian sendiri.
Akan tetapi serangan Leng Li ini di tangkis oleh Kui Lian dengan mudah mempergunakan pedangnya, kemudian sekali melompat Kui Lian sudah berada di tengah rombongannya.
"Robohkan mereka semua!"
Perintahnya.
Sementara itu, melihat Leng Li sudah bergerak, dan melihat nona cantik ini muncul, para orang gagah dapat menduga bahwa tentu inilah kauwcu dari Thian hwa kauw.
Serentak mereka mencabut senjata Thian Ci Cu tokoh Kun lun pai mengeluarkan pedang pasangan, Pak Kong Hosiang tokoh Kim lian pai mengeluarkan senjata pian lemas atau joan pian yang panjang.
Thian Beng Hwesio tokoh Go bi pai membuka kipasnya Ngo heng san, Thio Leng Li sendri yang berjuluk Bi sin tung menggerakkan tongkat merahnya.
Selain ini masih ada lima orang tokoh kang ouw yang tidak begitu terkenal turut menyerbu.
Pertempuran hebat terjadi di luar hutan itu antara para orang gagah melawan Thian hwa kauw.
Yang amat menggemaskan tokoh tokoh itu adalah ketika mereka melihat betapa anak anak murid mereka yang kini sudah menjadi siulam dan siuli dari Thian hwa kauw, kini bergerak dan melawan para guru sendiri.
Hiruk pikuk suara senjata tajam beradu, dibarengi teriakan dan makian, di susul pekik kesakitan dan robohnya korban.
Pertenpuran ini tentu takkan ramai kalau saja keduanya mempergunakan ilmu silat biasa karena mana bisa orang orang Thian hwa kauw melawan para tokoh kang ouw itu dalam ilmu silat?
Di antara para tokoh Thian hwa kauw, yang ilmu silatnya tinggi hanyalah tujuh orang nenek dan kakek itu, juga Kui Lian sendiri, akan tetapi pada saat itu Kui Lian belum mau turun tangan sedangkan para siuli dan siulam memang berkepandaian ilmu silat tidak tinggi.
Akan tetapi, pihak Thian hwa kauw amat lihai dalam penggunaan senjata senjata rahasia yang beracun, yang sudah terkenal amat sukar dilawan.
Sekali saja hidung menyedot hawa beracun dari bunga bunga teratai yang mereka pergunakan sebagai senjata, orangnyapun akan roboh pingsan.
"Kurang ajar. Lepaskan asap ngo tok (lima racun)!"
Terdengar perintah Thian hwa Kauwcu mangatasi suatu hiruk pikuk pertempuran.
Ia mengeluarkan perintah ini setelah melihat betapa para penyerbu itu rata rata berkepandaian tinggi dan banyak anak buahnya yang roboh terluka.
Mendengar perintah ini tujuh orang tua itu mengatur barisannya dan sebentar saja Leng Li dan kawan kawannya terkurung dan tiba tiba terdengar letusan letusan hebat.
Segala galanya menjadi gelap dan tercium bau busuk menyengat hidung ketika asap beraneka warna bergulung gulung dari benda yang dibanting meledak tadi.
Orang orang gagah barusaha keluar dari kepungan sambil menahan napas agar mulut atau hidungnya jangan menyedot asap beracun itu.
Akan tetapi Hek tok kwi dan kawan kawannya tidak tinggal diam.
Mereka menyerbu dan menyerang setiap orang yang hendak keluar dari kepungan dengan senjata atau senjata rahasia mereka.
Kembali beberapa orang gagah roboh.
Leng Li yang tahu bahwa keadaannya dan kawan kawannya berbahaya menjadi nekad.
Sambil memutar tongkatnya ia melompat keluar kepungan menuju ke tempat Thian hwa Kauwcu, ia diserang oleh dua orang siuli, akan tetapi tongkat merahnya dengan mudah merobohkan dua orang ini.
Selagi ia mencari di mana adanya ketua Thian hwa kauw, tiba tiba ia diserang oleh Hek tok kwi dengan teratai biru yang amat lihai.
Leng Li berusaha mengelak, dan biarpun ia dapat meluputkan diri dari serangan itu, namun hawa beracun dari kembang itu sudah menyambar ke hidungnya, membuat nyonya ini mengeluh dan terhuyung huyung, sebuah totokan dari Hek tok kwi membutnya terjungkal.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, orang orang gagah itu seorang demi seorang kena dirobohkan, kalau tidak terluka oleh senjata, roboh karena asap beracun yang jahat itu!
Melengkinglah suara ketawa Cia Kui Lian, mengejek musuh musuhnya yang tak berdaya, ia melompat datang sambil memanggul tubuh Kwan Sian Hong pemuda gagah yang amat disayangnya itu, mendekati Sin siang to Bhok Coan dan sekali kebutannya bergerak, Bhok Coan yang sudah pingsan itu berkelojotan sebentar lalu diam, mati!
"Inilah anjing yang menjadi biang keladinya."
Thian hwa Kauwcu bersungut sungut sambil mendupak mayat orang she Bhok yang sial itu.
"Siluman wanita, lepaskan aku dan mari kita bertanding seribu jurus!"
Tiba tiba Kwan San Hong yang sudah siuman lagi itu meronta ronta dalam pondongan Kui Lian.
"Kau lepaskan ibuku itu!"
Kui Lian tertawa dan mencubit pipi pemuda itu.
"Sian Hong, tentu saja aku akan membebaskan ibumu asal saja kau berjanji takkan nakal lagi dan tidak akan lari lagi. Selanjutnya kau akan kuangkat menjadi twa kongcu."
"Anjing betina. Siapa sudi mendengar omonganmu? Dosamu sudah bertumpuk tumpuk, sakit hatiku kepadamu sudah ssbesar gunung. Kau sudah membunuh paman Song Tek Hong dan isterinya, sehingga adik Bi Hui menjadi terlunta lunta. Tidak itu saja, kau bahkan membunuh pula kong kong Sin tung Lo kai. Dosa besar seperti itu mana aku Kwan Sian Hong mau habiskan begitu saja? Kau atau aku harus mampus!"
Wajah cantik manis yang tadi nya tersenyum senyum itu tiba tiba menjadi bengis.
"Sian Hong, kau benar benar tidak tahu di cinta! Memang mereka itu mati di tanganku, akan tetapi siapa suruh mereka menentangku? Kau mau mampus menyusul mereka! Akan tetapi aku masih menghendaki kau hidup."
Pada saat itu, tiba tiba berkelebat bayangan putih dan terdengar bentakan keras.
"Cia Kui Lian, akhirnya aku dapat berhadapan muka dengan pembunuh ayah bundaku! Bersiaplah kau membayar hutang nyawa!"
Bentakan ini disusul oleh serangan pedang yang luar biasa dahsyat dan cepatnya, pedang yang menyambar ke arah Kui Lian dengan tusukan ke lehernya.
"Ayaaa....!"
Kui Lian terkejut bukan main.
Tusukan ini luar biasa sekali cepatnya sehingga ia tidak sampai melihat siapa gerangan orang yang menyerangnya.
Cepat ia melepaskan tubuh Sian Hong dari pondongan dan membanting tubuhnya ke belakang, sementara itu Hek tok kwi dan kawan kawannya sudah melompat maju untuk menghadapi penyerang yang lihai ini.
Ketika Cia Kui Lian melompat bangun kembali dan melihat siapa orang tadi.
Ia terkejut sekali.
Akan tetapi ia tenangkan hatinya dan tersenyum sambil menegur orang orangnya supaya mundur.
"Eh, eh, kiranya kau, Hui moi...?"
Bi Hui mencibir.
"Cih, tak tahu malu! Masih hendak berpalsu muka di depanku, he? Cha Kui Lian manusia hina, kau sudah membunuh ayah bundaku bersama manusia berhati binatang Liem Kong Hwat itu. Di mana dia sekarang? Suruh dia muncul biar aku dapat membunuh kalian untuk membalas dendam orang tuaku!"
Mata Kui Lian melihat seorang pemuda yang tadi datang bersama Bi Hui, hanya agak terlambat. Melihat pemuda ini, diapun kaget, tapi dapat pula menenangkan hatinya, lalu tersenyum mengejek lagi.
"Aha, jadi kau datang bersama bocah ingusan itu? Ha, bukankah dia yang dulu membunuh ayah bundamu?"
Katanya. Beng Han, pemuda itu, mendongkol sekali.
"Kau jahat sekali,"
Katanya perlahan.
"Sudah membunuh orang, mengapa hendak menimpakan tanggung jawab ke pundakku? Apa sih kesalahanku kepadanu maka kau memfitnahku?"
Akan tetapi Cia Kui Lian tidak memperdulikannya.
Diam diam kauwcu ini memberi tanda kepada orang orangnya dan serentak semua anak buahnya dipimpin oleh tujuh orang tokoh besar Thian hwa kauw, bersiap dan membentuk barisan yang seperti seekor kelabang besar.
Para siuli dan siulam masih ada duapuluh orang lebih yang tidak terluka, ditambah tujuh orang kakek nenek itu keadaan Thian hwa kauw benar benar masih kuat.
Bi Hui melirik ke sekelilingnya.
Orang orang gagah menggeletak di sana sini, ada yang terluka berat, ada yang pingsan dan ada pula yang sudah tewas.
Di ujung sana kelihatan Sian Hong berlutut di dekat ibunya yang roboh oleh Hek tok kwi.
Ia maklum bahwa betapapun juga, keadaan lawan amat kuat.
Sekian banyaknya tokoh kang ouw masih roboh semua, apakah dia seorang diri, hanya di bantu oleh Beng Han, akan dapat melawan Kui Lian dan anak buahnya?
Akan tetapi ia tidak boleh mundur, sekalipun harus bertaruh nyawa.
"Kui Lian,"
Katanya menyindir.
"apakah kau hendak mengeroyokku dengan semua kaki tanganmu ini?"
Kui Lian maklum bahwa seorang diri, amat berbahaya menghadapi Bi Hui yang agaknya sudah memiliki kepandaian amat tinggi, terbukti dari serangannya pertama tadi.
Juga ia tahu apabila ia melakukan pengeroyokan, tentu pihaknya menang, akan tetapi tak dapat disangsikan lagi, tentu para siuli dan siulamnya banyak yang menjadi korban dan hal ini ia tidak suka.
"Song Bi Hui, kau membuka mulut besar seakan akan kau sudah pasti dapat memenangkan kami. Akupun ingin sekali melihat sampai di mana sih kepandaianmu maka kau bersikap begini sombong. Kalau kau bisa mengundurkan tujuh orang pelayanku ini, baru aku mengaku akan kelihaianmu."
Ia memberi tanda dan Hek tok kwi bersama enam orang kawannya melompat maju menghadapi Bi Hui.
Melihat keadaan tujuh orang ini, diam diam Bi Hui terkejut dan ngeri.
Mereka memang pantas menjadi penghuni neraka, begitu menyeramkan.
Akan tetapi ia tidak takut, sambil melintangkan pedangnya ia berkata.
"Kau hendak menyuruh tujuh iblis ini mengeroyokku? Baik, mereka ini tentu bukan manusia baik baik. Biar kulenyapkan mereka dulu baru nanti kau!"
Akan tetapi Beng Han cepat maju dan pemuda ini berkata dengan suara menyindir.
"Apakah begini saja kegagahan Thian hwa kauw? Main keroyokan? Kalau begitu tidak cocok dengan apa yang kudengar di luaran! Kabarnya Thian hwa kauw mempunyai tujuh ekor anjing penjaga yang galak galak, tidak tahunya cuma galak pandai menggonggong saja, sedangkan pada hakekatnya pengecut, suka main keroyok. Apa tidak berani maju seorang demi seorang?"
Sindiran ini mengenai tepat pada sasarannya, Cia Kui Lian menjadi merah mukannya.
Akan tetapi dia seorang cerdik dan cukup maklum bahwa kalau maju satu lawan satu, terlalu berbahaya bagi orang orangnya menghadapi Bi Hui keturunan Thian te Kiam ong yang lihai itu.
Maka sambil tersenyum ia betkata.
"Bocah lancang! Song Bi Hui Sendiri sudah berani, mengapa kau banyak rewel? Kalau kau mau membantu dan bersama dia maju menghadapi tujuh orang pelayanku, bolehlah. Akan tetapi jangan lari kalau nanti kalah!"
Sebaliknya, Bi Hui khawatir kalau Beng Han membantu, selain akan mengacaukan permainan pedangnya, juga pemuda itu bisa celaka dalam tangan tujuh orang iblis tua itu, maka katanya.
"Harap kau mundur dulu, Beng Han, Biarlah aku melayani mereka, kalau aku tidak dapat menang atau sudah membutuhkan bantuan, baru kau yang maju."
Kata kata ini selain menyatakan pandangan rendah kepada lawan, sekaligus mengangkat Beng Han ke tempat tinggi dan diam diam pemuda itu berterima kasih sekali akan maksud Bi Hui.
Akan tetapi ia merasa gelisah sungguhpun ia tak dapat berbuat apa apa.
Terpaksa ia mundur.
"Terserah kepadamu, enci Bi Hui. Akan tetapi hati hatilah, siluman siluman ini paling curang dan sudah biasa menggunakan senjata gelap dan beracun."
Bi Hui mengangguk, kemudian ia mulai menggerakkan pedangnya sepasang matanya mengerling cepat menyapu keadaan dan kedudukan tujuh orang lawannya.
Hek tok kwi yang memimpin enam orang kawannya mengurung Bi Hui.
Hanya Hek tok kwi yang sudah pernah mengalami bertempur melawan Bi Hui dan tahu akan kelihaian pedang gadis ini, maka ia berlaku hati hati.
"Bersiaplah untuk mampus!"
Bi Hui tiba tiba membentak dan pedangnya berkelebat cepat sekali, membabat ke kanan menyerang Hek tok kwi.
Setan Racun Hitam ini cepat menggerakkan tongkatnya menangkis sambil melompat ke kanan, akan tetapi herannya, tongkatnya tidak mengenai pedang lawan dan tahu tahu see Thian mo menjerit dan roboh dengan lengan kanan putus.
Ternyata bahwa Bi Hui sudah menggunakan akal yang baik sekali.
Dalam gebrakan pertama itu ia pura pura menyerang ke kanan, ke arah Hek tok kwi yang sudah ia ketahui kepandaiannya, akan tetapi serangan ini cepat ia tarik kembali untuk diganti dengan serangan kilat ke kiri, di mana See thian mo yang tidak menduga duga sama sekali saking kagetnya mengangkat tangan kanan menangkis dan akibatnya, lengan kanannya terbabat putus oleh pedang Bi Hui.
"Bagus, enci Bi Hu!"
Seru Beng Han girang, kagum melihat ilmu pedang yang hebat itu.
Sedangkan Kui Lian kaget sekali dan cepat menyuruh beberapa orang siulam untuk mengurus dan merawat See thian mo yang sudah terluka dan tidak berdaya lagi itu.
Sementara itu, Hek tok kwi dan kawan kawannya menjadi kaget sekali.
Tak mereka sangka bahwa gadis ini demikian cerdik dan lihai sehingga dalam segebrakan saja sudah berhasil menipu mereka dan merobohkan seorang kawan lagi.
Mereka rata rata adalah orang orang yang sudah banyak pengalaman dalam pertempuran, maka sekarang mereka berputar putar mengelilingi Bi Hui dan selalu bantu membantu dalam penyerangan maupun pertahanan.
Sekarang sukar sekali bagi Bi Hui untuk mendesak mereka, karena serangan mereka yang bertubi tubi datangnya tak memberi kesempatan padanya untuk balas menyerang.
Apa lagi mereka itu mempergunakan tongkat dan bunga teratai berganti ganti dan Bi Hui sudah maklum betapa jahatnya hawa beracun dari bunga bunga teratai itu.
"Curang....! Curang sekali....! jangan gunakan kembang kembang bau busuk itu!"
Berkali kali Beng Han berteriak sambil menggerak gerakkan kedua tangannya.
Melihat ini, Thian hwa kauwcu menjadi gemas.
Dua tangannya terayun dan beberapa butir jarum halus berwarna putih menyambar kearah pemuda ini.
Beng Han tidak melihatnya, tetap saja menggerak gerakkan kedua tangan sambil menonton pertempuran itu.
Bukan main kaget dan herannya hati Kui Lian.
Jelas terlihat olehnya beberapa batang jarum mengenai dada pemuda itu akan tetapi mengapa Beng Han itu seakan akan tidak merasakannya?
"Hui moi jangan takut, aku membantumu!"
Tiba tiba terdengar bentakan dan Kwan Siau Hong melompat kekalangan pertempuran.
Pemuda ini telah kehilangan pedangnya dan ia tatah lemas tubuhnya karena pengaruh hawa beracun dan totokan Kui Lian, akan tetapi tidak ada apapun di dunia ini yang dapat mengurangi semangatnya.
Setelah ia mengetahui Bi Hui yang dikeroyok oleh setan setan tua itu, ia tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Diambilnya tongkat merah ibunya yang masih pingsan, lalu ia menyerbu membantu Bi Hui, memutar tongkatnya dengan ganas dan nekad.
Harus diakui kegagahan Sian Hong yang tak kenal arti takut ini, dan semangatnya bernyala nyala sungguhpun ia sudah payah.
Akan tetapi bantuannya ini tidak menguntungkan Bi Hui.
Begitu ia terjun ke dalam pertempuran, ia disambut serangan serangan maut oleh Hek tok kwi yang sudah marah sekali.
"Jangan bunuh dia....!"
Cia Kui Lian menjerit dan jeritan ini menolong nyawa pemuda gagah itu karena Hek tok kwi menyerongkan tongkatnya yang tadinya sudah mengarah urat kematiannya.
Kini tongkat itu hanya memukul pundak yang membuat pemuda itu terpelanting dengan tulang pundak terlepas sambungannya.
Melihat pemuda ini terancam bahaya Bi Hui cepat menyerbu Hek tok kwi, untuk sesaat lupa akan pertahanan dirinya sehingga Tung Thian mo yang menyerbu cepat dari arah kiri berhasil menghantam punggungnya dengan tongkat.
Bi Hui terkejut sekali dan dalam kesakitan hebat, gadis ini masih sempat memutar tubuh sambil mengerjakan pedangnya dan....
blesss....!
dada Tung thian mo yang gepeng itu tertembus pedang.
Setan timur ini roboh tanpa bernyawa pula, sedangkan Bi Hui terhuyung huyung dan hampir saja ia celaka dalam tangan Hek tok kwi dan empat orang kawannya kalau saja pada saat itu tidak cepat cepat Beng Han menyambar tubuh Bi Hui dan dibawa keluar dari kepungan.
Melihat gerakan aneh ini, Hek tok kwi dan empat orang kawannya melongo.
Bagi mereka, tahu tahu saja tubuh gadis itu lenyap, yang nampak hanya bayangan Beng Han.
Juga Bi Hui terkejut dan heran, akan tetapi juga girang sekali.
Tak disangkanya bahwa akhirnya Beng Han yang dapat menyelamatkannya.
Setelah menolong Bi Hui, Beng Han lalu menghampiri Sian Hong, membantu pemuda ini keluar dari tempat itu.
Sian Hong menggigit bibir menahan sakit dan pemuda ini girang juga melihat Bi Hui tidak sampai binasa.
Ia duduk di atas rumput dekat gadis itu, lalu keduanya memandang ke arah Beng Han yang kini sudah menghampiri Hek tok kwi dan empat orang kawannya yang ganas.
"Thian hwa Kauwcu,"
Kata Beng Han dengan suara tenang.
"ketahuilah bahwa kedatanganku ini pertama tama untuk membalas kematian suheng Song Tek Hong dan isterinya yang kaubunuh, juga locianpwe Sin tung Lo kai Thio Houw, kemudian membalaskan sakit hati orang orarg yang telah menjadi korban perkumpulanmu yang jahat dan ganas. Aku tidak tahu bahwa para pemuda dan gadis yang kini menjadi kaki tanganmu adalah orang orang tak berdosa, dan mereka itu terjatuh ke dalam tangan dan kekuasaanmu karena kau mempergunakan ilmu hitam dan racun jahat."
"Betul sekali, memang begitulah!"
Teriak Kwan Sian Hong yang kini sudah membawa Leng Li duduk di dekat Bi Hui yang dipeluk oleh Leng Li.
Juga orang orang gagah yang tadinya pingsan dan terluka semua sudah merayap bangun dan berkumpul dekat Bi Hui, semua mata kini dtiujukan kepada Beng Han dengan heran dan kagum.
"Siapakah dia....?"
Tanya beberapa orang.
"Dia murid Thian te Kiam ong Song Bun Sam, kong kongku...."
Kata Bi Hui, suaranya terharu, karena teringat betapa dulu ia hampir membunuh Beng Han yang ia tuduh menjadi pembunuh ayah bundanya, dan sekarang justeru anak itu yang menghadapi pembunuh pembunuh itu untuk membalaskan sakit hatinya!
Adapun Thian hwa kauwcu Cia Kui Lian yang melihat bahwa Beng Han hanyalah seorang pemuda tanggung, menjadi tabah dan dengan senyum mengejek ia menjawab.
"Kau ini bocah masih ingusan, menjual lagak. Kalau kau ingin menjadi siulam, kau masih terlalu kecil, akan tetapi bolehlah asal kau mau menjadi pelayanku selama setahun, jangan pura pura gagah!"
Beng Han tidak menjawab, melainkan mencabut keluar pedang Kim kong kiam yang bercahaya menyilaukan mata.
"Siluman betina, kematianmu sudah terbayang di mata dan kau masih belum bertobat?"
Semua orang kaget melihat pedang ini karena siapakah yang tidak pernah mendengar tentang Kim kong kiam, pedang pusaka dari Thian te Kiam ong?
Juga kauwcu itu agaknya gentar melihat pedang yang mengeluarkan cahaya luar biasa, maka sambil melangkah dekat ia lalu membentak, suaranya penuh hawa ilmu hitam dan sepasang matanya menembus pandang mata Beng Han.
"Anak baik, berlututlah di depan kauwcu dan serahkan pedang itu padaku!"
Ucapan ini dikeluarkan berulang ulang dan kedua tangannya membuat gerakan gerakan rahasia penuh pengerahan ilmu sihir yang ditujukan untuk menaklukkan semangat Beng Han.
"Celaka.... meramkan mata.... !"
Seru Kwan Sian Hong yang tahu akan arti gerakan gerakan itu.
Namun terlambat!
Beng Han berdiri seperti patung dan matanya terbelalak menatap wajah ketua Thian hwa kauw itu.
Kedua lututnya sudah lemas sekali dan terjadi perang hebat di dalam hatinya antara pengaruh sihir itu dengan tenaga batinnya.
Baiknya pemuda ini semenjak kecil sudah terlatih sebagai pertapa di atas menara, akan tetapi suara yang keluar dari mulut Kui Lian adalah suara yang mempunyai daya luar biasa terhadap dirinya.
Andaikata yang menyihirnya itu orang lain, walaupun lebih pandai dan lebih kuat tenaga ilmu hitamnya daripada Cia Kui Lian, kiranya tidak mudah mudah dapat mempengaruhi jiwa Beng Han.
Akan tetapi, di luar tahu Beng Han dan Kui Lian sendiri, keduanya ini masih ada pertalian yang amat dekat, pertalian darah yang langsung!
Dalam suara Kui Lian ini terkandung suara seorang ibu yang biarpun tak di kenal oleh Beng Han, namun dikenal oleh jiwanya.
Inilah yang membuat Beng Han seakan terkena hikmat oleh suara itu dan berdiri tegak seperti patung menyerah tidak akan tetapi bergerak menyerangpun tidak.
Sedangkan Hek tok kwi dan empat orang kawannya sudah mulai maju mendekat.
Pada saat yang amat menegangkan itu, tiba tiba terdengar suara ketawa lembut dan tahu tahu seorang dara remaja yang cantik sambil tertawa tawa telah berdiri di dekat Beng Han.
Dara ini memegang sebatang hudtim putih.
Sambil tersenyum ia mengebutkan hudtim (kebutan pertapa) itu di muka Beng Han sambil berkata.
"Mengapa kau melamun saja? Sadarlah!"
Aneh dan ajaib! Suara dara remaja inipun mempunyai daya luar biasa dan seketika itu juga Beng Han sadar kembali. Ia menoleh dan bertemu pandang dengan dara itu. Keduanya nampak terkejut.
"Kau....??"
Berbareng keluar dari mulut mereka.
Baru sekarang dara itu mengenal Beng Han dan sebaliknya Beng Han segera mengenal gadis ini sebagai Kwan Li Hwa, gadis cucu Sin tung Lo kai yang pernah ia beri kitab dan pedang.
Benar saja, pedang itu kini berada di tangan kanan gadis itu.
"Li Hwa....!"
Terdengar seruan Leng Li dan Sian Hong. Gadis itu menoleh ke arah ibu dan kakaknya, lalu tersenyum.
"ibu, biar aku membantu dulu dia ini membasmi Thian hwa kauw!"
Kemudian ia berkata kepada Beng Han.
"Kau teruskan niatmu membasmi mereka, biar aku menjaga di sini terhadap serangan gelap."
Beng Han maklum bahwa gadis ini entah bagaimana ternyata telah memiliki ilmu sihir juga, maka dengan girang ia lalu menyerbu.
Pedangnya membabat cepat ke arah Hek tok kwi dan empat orang kawannya yang menghalang di depannya, mereka ini mencoba untuk menangkis, akan tetapi kehebatan Kim kong kiam yang digerakkan dengan ilmu Pedang Kim kong Kiam sut memang hebat, begitu terdengar suara keras tiga batang tongkat terbabat putus dan dua orang siluman tua itu roboh mandi darah.
Tok sim Kui bo dan Pak thian mo yang roboh itu, membuat tiga orang lain menjadi gentar.
Juga Cia Kui Lian menjadi jerih sekali.
Kedatangan nona cilik tadi benar benar mengejutkan hatinya karena gerakan gerakannya ketika melawan pengaruh sihirnya tadi jelas sekali menunjukkan gerakan gerakan yang sama dengan ilmunya sendiri.
Celaka, pikirnya, agaknya suhu telah menurunkan kepandaiannya kepada orang lain.
Kalau Koai Thian Cu sendiri yang muncul, ia tidak takut karena gurunya itu telah jatuh di bawah pengaruhnya, akan tetapi sekarang gurunya itu ternyata tidak mau muncul sendiri.
"Keroyok! Robohkan mereka!"
Bentaknya dan biarpun hati nya gentar, Hek tok kwi, Lam thian mo dan Tok ciang Kui bo menyerbu, kini diikuti ramai ramai oleh para siuli dan siulam yang mentaati perintah kauwcu mereka.
Beng Han menyambut mereka.
Dengan gerakan gerakannya yang luar biasa, mudah saja pemuda ini merobohkan para siulam itu dengan totokan totokan tangan kirinya.
Ia sengaja merobohkan mereka tanpa melukai, karena ia maklum bahwa mereka ini hanya menjadi korban.
"Serang dengan asap ngo tok!"
Seru Kui Lian marah.
Akan tetapi, begitu kaki tangannya mengeluarkan racun ini, Li Hwa juga menaburkan semacam bedak putih yang berhamburan dan mengeluarkan bau harum, kemudian dengan sebuah kipas, gadis ini mengusir semua uap yang berwarna lima itu.
Dengan adanya bedak yang ia sebarkan, asap itu tidak berbahaya lagi dan Beng Han juga merasai ini, maka ia menjadi amat girang memperoleh bantuan gadis yang ternyata memiliki kepandaian istimewa ini.
Bukan main marahnya Kui Lian sampai ia mencabut pedang dan hudtimnya sendiri, lalu menyerbu membantu kawannya untuk merobohkan Beng Han.
Sedangkan Li Hwa hanya menonton di pinggir sambil kadang kadang mengeluarkan kata kata memuji ilmu pedang Beng Han dan siap sedia menandingi apabila Thian hwa kauw cu hendak mempergunakan ilmu sihir.
Beng Han mengamuk hebat.
Akan tetapi lawan terlampau banyak, apa lagi para siuli dan siulam yang jumlahnya masih ada duapuluh orang lebih itu membikin ribut saja.
"Eh, nona cilik, apa kau tidak bisa membantuku merobohkan orang orang ini tanpa melukai mereka?"
Kata Beng Han kepada Li Hwa.
"Tentu saja bisa, apa sukarnya?"
Kata Li Hwa yang segera melompat dan mengebut ngebutkan hudtimnya sambil berseru.
"Robohlah, robohlah....!"
Para siuli dan siulam itu adalah orang orang yang sudah kehilangan semangat maka mudah saja dipengaruhi, apalagi oleh Li Hwa yang sudah mewarisi ilmu sihir dari gurunya, Koai Thian Cu.
Setiap kali seorang siulam atau siuli tersentuh hud tim itu, ia segera roboh dan pingsan.
Sebentar saja para siuli dan siulam sudah dapat dirobohkan semua dan Li Hwa kembali menonton pertempuran.
Akan tetapi pertempuran itu sama sekali tidak ramai.
Tok ciang Kui bo dan Lam thian mo juga sudah roboh oleh pedang Kim kong kiam, dan kini yang masih ngotot dan mati matian mempertahankan diri terus adalah Hek tok kwi dan Cia Kui Lian sendiri.
Kui Lian tidak mau mengeluarkan sihirnya karena maklum bahwa selama di situ terdapat nona cilik itu, sihirnya takkan ada gunanya, maka ia mencurahkan seluruh perhatian kepada pedang dan hudtimnya yang cukup lihai.
Juga Hek tok kwi kepandaiannya tinggi.
Namun mereka menghadapi ahli waris dari Thian te Kiam ong.
Biarpun mereka mengerahkan seluruh kepandaian, tidak urung akhirnya Hek tok kwi menjerit dan roboh, darah mengucur dari dadanya yang terbelah oleh pedang Kim kong kiam.
"Suhu....! Apa kau tega melihat aku mati....?"
Tiba tiba Kui Lian menjerit, jeritan nya melengking seperti suara ibu, membuat Beng Han terkesiap dan untuk sejenak ragu ragu.
Koai Thian Cu yang sudah terlihat oleh Kui Lian, terpaksa muncul dari balik tempat sembunyinya.
Kakek ini berlaku cerdik, sebelum Kui Lian membongkar rahasianya yang amat memalukan, ia mendahului.
"Kui Lian dosamu terlalu besar. Orang yang menghancurkan perkumpulanmu ini bukan lain adalah putramu. Dia itu, Thio Beng Han, adalah puteranu dan Thio Sui!"
"Kong kong....!"
Beng Han berseru kaget sekali sambil mendekati kakek itu.
Adapun Cia Kui Lian yang mendengar keterangan ini, merasa seperti di sambar geledek kepalanya.
Ia menjadi pucat sekali, memandang kepada Beng Han dengan mata terbelalak, kemudian ia mengeluarkan jeritan lagi yang amat mengerikan, ketawa bukan menangispun bukan, lalu ia membalikkan tubuh dan lari ke dalam hutan!
"Kejar siluman itu....!"
Kwan Sian Hong membentak dengan suaranya yang keras.
Mendengar ini, Li Hwa dan Beng Han segera melompat dan mengejar ke dalam hutan diikuti oleh Sian Hong, Leng Li dan tokoh tokoh yang sudah siuman kembali, juga Koai Thian Cu mengejar sambil menggeleng nggeleng kepalanya yang sudah putih semua.
"Thian te Kiam ong, aku menyesal mengapa dulu bertemu dengan kau...."
Kata kakek ini dan dua titik air mata yang besar menuruni pipinya yang kempot.
Ketika semua orang tiba di sarang Thian hwa kauw, mereka hanya melihat Cia Kui Lian dan Liem Kong Hwat mandi darah dan dalam keadaan sudah mati di ruangan penjara, juga Siauw Yang dan Pun Hui terluka berat.
Kiranya ketika kauwcu itu hendak mengajak pergi Kong Hwat pemuda yang sudah hampir pulih kembali ingatannya karena dekat dengan ayah bundanya ini, bahkan menyerangnya.
Terjadi pertempuran yang cepat dan hebat, di mana Kui Lian dan Kong Hwat menemui kematiannya sedangkan suami isteri yang masih lemah itu terluka dalam usaha mereka membantu anak mereka Kong Hwat telah merebus dosa dosanya dengan pengorbanan nyawa dan dalam keadaan yang amat mengharukan.
Dengan muka pucat, mata merah dan hati menangis, Beng Han mengurus semua jenazah, termasuk jenazah ibunya sendiri yang seakan akan ia dorong ke dalam lembah maut.
Kemudian semua siuli dan siulam disuruh pulang ke tempat asal masing masing setelah di beri nasihat dan pengobatan oleh Koai Thian Cu.
Baca Juga: Suling Emas 11
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 1