Ceritasilat Novel Online

Pedang Sinar Emas 11

Eps 11 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.

Akan tetapi kalau ia teringat betapa dahulu Leng Li oleh ayahnya hendak dijodohkan dengan Pun Hui dan oleh karena ditolak oleh Pun Hui lalu menjadi malu dan melarikan diri, hatinya tidak enak sekali.

Tentu akan terjadi sesuatu antara mereka.

Akan tetapi apakah dayanya?

Ia harus pergi membantu ayahnya dan tentang Pun Hui, biarpun ia tak dapat melenyapkan kekhawatiran, untuk sementara waktu harus ia lupakan dulu.

Maka berangkatlah tiga orang wanita gagah itu mendayung sebuah perahu yang mereka sewa dari seorang nelayan, menuju ke Pulau Sam liong to.

Siang Cu mengetahui jurusan mana yang paling mudah dan dekat untuk pergi ke Pulau Sam liong to itu, jalan yang jauh lebih dekat dibandingkan dengan jalan yang biasa diambil oleh Siauw Yang dahulu.

"Ha, ha, ha, Song Bun Sam. Kali ini kau tentu akan mampus bersama anakmu. Ha, ha, ha! Dan tak lama lagi isteri dan puterimu juga akan mampus!"

Lam hai Lo mo berkali kali tertawa sambil menyindir nyindir ketika keadaan Bun Sam makin terdesak hebat.

Namun Bun Sam tidak patah semangat dan sedikitpun tidak pernah merasa gentar, ia pikir bahwa kalau ia selalu menangkis dan mengelak, maka ia kekurangan kesempatan untuk merobohkan lawannya yang sembilan orang banyaknya dan rata rata memiliki kepandaian tinggi itu.

Aku harus merobohkan mereka seorang demi seorang, pikirnya.

Dan untuk mencapai maksud ini, tiada lain jalan kecuali memberi umpan dan membiarkan dirinya terpukul!

Ketika ia melihat tongkat merah dari Ang tung hud menyambar ke arah perutnya, ia miringkan tubuh ke kanan sambil merendahkan badan, akibatnya tongkat itu menghantam pangkal lengan kanannya yang memegang pedang karena serangan Ang tung hud itu datangnya dari belakang.

Sambil mengerahkan lweekang ke arah pangkal lengan yang menerima pukulan tongkat, Bun Sam mengayun tangan kiri dengan pukulan Thai lek Kiam kong jiu dipukulkan ke arah dada Ang tung hud yang sudah kegirangan melihat serangan tongkatnya akan mengenai sasaran.

"Buk!"

Tubuh Bun Sam terpental sampai tiga kaki jauhnya ketika tongkat itu menghantam pangkal lengannya, akan tetapi ia dapat mempertahankan kedudukan kakinya sehingga dapat memutar pedang menangkis datangnya serangan susulan bertubi tubi dari pengeroyok lain.

Akan tetapi akibat pukulannya Thai lek Kim kong jiu tadi bukan main hebatnya.

Ang tung hud yang terserang pukulan ini dengan tepat sekali di dadanya, merasa terdorong oleh tenaga yang hebat dan tubuhnya terjengkang.

Darah merah tersembur keluar dan mulutnya dan kakek hwesio dari Tibet ini pingsan dengan wajah pucat sekali.

Ia roboh pingsan untuk selamanya karena tak lama kemudian nyawanya melayang meninggalkan raga yang telah terluka hebat di bagian dalam itu.

Jantungnya pecah dan tulang tulang iganya patah patah.

Demikianlah hebatnya ilmu Pukulan Thai lek Kim kong jiu peninggalan Kim Kong Taisu yang sudah dilatih dengan amat hebatnya oleh Bun Sam sehingga telah mencapai tingkat sempurna.

Lam hai Lo mo dan kawan kawannya menjadi marah sekali.

Mereka mengurung makin rapat dan Lam hai Lo mo berteriak teriak mendesak kawan kawannya untuk segera merobohkan pendekar pedang itu.

Melihat hasil daripada akalnya yang bukan tidak berbahaya bagi keselamatan diri sendiri, Bun Sam berbesar hati.

Pukulan tongkat tadi dapat ditolak kembali oleh tenaga lweekangnya dan ia hanya merasa agak panas pada pangkal lengannya.

Akan tetapi hal ini tidak mengurangi ketangguhan ilmu pedangnya.

Untuk kedua kalinya ia memancing dan ketika ia melihat datangnya pukulan tangan kosong dan Sin kun sian orang ketiga dan See san Ngo sian, pukulan yang melayang menuju ke arah dadanya, ia tidak mengelak mundur, bahkan melangkah maju dan menerima pukulan itu dengan dadanya!

Akan tetapi berbareng dengan itu, pedangnya melakukan gerakan menusuk ke depan.

"Blekk!"

Dada Bun Sam terpukul oleh kepalan tangan Sin kun sian.

Namanya saja sudah Sin kun sian (Dewa Kepalan Sakti), maka dapat dibayangkan kehebatan pukulan orang ke tiga dan See san Ngo sian ini yang memukul sambil mengerahkan tenaga Houw mo kang (Tenaga Siluman Harimau).

Bun Sam terjengkang dan harus mempergunakan ilmu Lompat Sin hong noan sin (Burung Hong Sakti Membalikkan Tubuh) dengan berpoksai (membuat salto) ke belakang sampai tiga kali memutar pedang menangkis semua serangan, sehingga ia tidak sampai jatuh.

Akan tetapi, yang hebat adalah keadaan Sin kun Sian, karena ketika Bun Sam menerima pukulannya, pendekar pedang ini menusuk ke depan dan tanpa dapat dielakkan lagi, dada Sin kun sian tertembus oleh Oei giok kiam sehingga ia roboh dengan dada mengucurkan darah dan tewas tak lama kemudian!

Bun Sam makin besar hati sungguhpun pukulan dari Sin kun sian tadi biarpun dapat ditolak oleh tenaga khikangnya dan tidak mendatangkan luka berat di dalam dada, namun cukup membuat bajunya di bagian dada hancur dan kulit dadanya menjadi matang biru!

Pada saat itu, Lam hai Lo mo yang menjadi marah sekali lalu melakukan serangan hebat dengan tongkatnya, menotok jalan darah maut di ulu hati Bun Sam, Raja pedang ini cepat menangkis dengan pedangnya dan begitu pedang itu terbentur dengan tongkat bambu, pedang itu cepat meluncur ke kanan dengan gerakan yang amat tak terduga duga dan tahu tahu telah tertancap di perut Sin to sian orang ke lima dari See san Ngo sian.

Orang ini menjerit dan roboh mandi darah, dan pada saat itu Bun Sam juga mengeluh dan terhuyung huyung ke belakang.

Ternyata bahwa ketika tadi tongkat bambunya kena ditangkis dan selagi Bun Sam menyerang Sin to sian, dengan gemas Lam hai Lo mo melakukan pukulan Sam hiat ci hoat ke arah jidat Bun Sam dengan tangan kirinya!

Mendengar suara hawa pukulan maut yang amat berbahaya ini dan mencium bau jari tangan yang sudah direndam dengan racun, Bun Sam cepat miringkan kepalanya Akan tetapi oleh karena pedangnya masih menancap di perut Sin to sian sehingga gerakannya terhalang dan kedudukan tubuhnya tidak sentausa.

Biarpun Bun Sam capai menghindarkan mukanya dan pada pukulan maut itu, namun ia tidak dapat mencegah pundaknya terkena pukulan tiga jari berdarah dan Lam hai Lo mo!

Tubuh Bun Sam terputar putar ketika ia terhuyung huyung ke belakang.

Baiknya ia tadi telah mengerahkan lweekangnya ke arah pundak yang terpukul sehingga biarpun ia menderita luka berat, namun ia masih sadar dan di dalam keadaan terputar putar itu ia masih sempat pula memutar pedangnya melindungi tubuhnya!

Matinya Ang tung hud, Sin kun sian, dan Sin to sian secara berturut turut ini membuat Lam hai Lo mo dan yang lain lain marah sekali.

Diam diam Lam hai Lo mo harus mengakui bahwa Bun Sam kini benar benar telah hebat sekali ilmu pedangnya.

Akan tetapi ia juga girang melihat pukulannya Sam hiat ci hoat berhasil melukai pundak lawan yang tangguh itu.

Ia percaya bahwa biarpun pukulannya itu tidak menewaskan Thian te Kiam ong, namun tentu akan banyak mengurangi kelihaian gerakan pedangnya.

Dugaannya memang tepat sekali.

Bun Sam merasa betapa pundak dan pangkal lengannya sakit bukan main sehingga gerakan tubuhnya tidak lincah lagi.

Ia terdesak hebat dan agaknya sebentar lagi ia takkan dapat mempertahankan diri.

"Hayo robohkan dia! Balas sakit bati kawan kawan kita yang tewas!"

Seru Lam hai Lo mo berkali kali untuk memanaskan hati kawannya.

Para pengeroyok tinggal enam orang lagi, namun keadaan mereka masih amat kuat.

Tiba tiba Eng Kiat yang tidak ikut bertempur dan berdiri menonton di pinggir, berseru.

"Celaka, Siauw Yang dan Siang Cu datang bersama nyonya Song!"

Mendengar ini, Bun Sam makin bersemangat, akan tetapi Lam hai Lo mo menjadi pucat sekali. Juga ia merasa heran bagaimana muridnya dapat berperahu dengan musuh musuhnya.

"Tung hai Sian jin, kau dan puteramu halangilah mereka mendarat. Gulingkan perahu!"

Seru Lam hai Lo mo.

Memang di antara semua orang yang berada di situ, agaknya yang dapat melakukan tugas ini hanyalah Tung hai Sian jin dan puteranya.

Mereka berdua memiliki kepandaian di dalam air yang luar biasa.

Tung hai Sian jin memang telah merasa penasaran menghadapi Bun Sam yang belum juga dapat dirobohkan, kini melihat datangnya Siauw Yang dan ibunya serta murid Lam hai Lo mo, timbul kekhawatiran besar.

Ia lalu melompat mundur dan mengajak puteranya.

"Hayo, Eng Kiat, kita gulingkan perahu mereka dan kita main main di air!"

Keduanya lalu berlari cepat ke dalam air, berenang ke arah perahu kecil yang didayung ke pantai.

Bagaikan dua ekor ikan hiu saja Tung hai Sian jin dan puteranya berenang ke tengah menyongsong datangnya perahu.

Mereka yang duduk di dalam perahu yang didayung cepat itu tentu saja melihat apa yang terjadi di pantai.

Sian Hwa dan Siauw Yang berdebar gelisah melihat Bun Sam dikeroyok oleh enam orang yang amat lihai gerakannya.

Kemudian, mereka melihat dua orang melompat ke dalam air dan menyongsong kedatangan perahu mereka.

"Ibu, mereka itu adalah Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat, dua orang yang ahli benar bermain dalam air. Tentu mereka berniat menggulungkan perahu kita!"

"Kurang ajar! tiba tiba Siang Cu yang semenjak tadi tidak berkata sesuatu dan wajahya muram dan keruh, memaki dua orang yang berenang itu, kemudian ia mencengkeram gagang dayung yang menjadi patah patah dan pecah pacah, dengan pecahan pecahan kayu dayung ini, ia lalu menyambit ke arah dua orang yang sedang berenang di permukaan air laut. Biarpun benda yang dijadikan senjata penyambit oleh Siang Cu ini hanya pecahan kayu, namun karena di sambitkan dengan tenaga luar biasa, dapat merupakan senjata yang amat berbahaya. Hal ini diketahui oleh Tung hai Sian jin dan Eng Kiat dengan baiknya, maka begitu ada benda benda kecil meluncur cepat ke arah mereka, kedua ayah dan anak ini cepat menyelam di bawah permukaan air. Melihat hal ini, Siang Cu dan Siauw Yang menjadi bingung dan mereka diam diam merasa khawatir sekali. Kalau sampai dua orang itu dengan menyelam dapat sampai di bawah perahu mereka dan menggulingkan perahu di tempat yang masih dalam itu, celakalah mereka. Akan tetapi, Sian Hwa yang sudah lebih banyak pengalamannya dan lebih masak jalan pikirannya, lalu berkata kepada mereka.

"Anak anak, kalian jagalah pinggiran dan bawah perahu dengan dayung, pukul apabila melihat bayangan di dalam air, biar aku sendiri yang mendayung perahu ke pinggir."

Mendengar ini Siauw Yang dan Siang Cu menjadi girang dan memuji kecerdikan nyonya itu.

Siang Cu dari kiri dan Siauw Yang dari kanan perahu lalu menjenguk ke pinggir dan menjaga dengan dayung di tangan, siap untuk menusuk atau memukul apabila dua orang ayah dan anak itu muncul.

Tiba tiba di bawah perahu kelihatan bayang bayang dua sosok tubuh manusia yang bergerak seperti ikan di bawah perahu Siauw Yang menusukkan dayungnya dan Siang Cu mengemplang bayangan kedua.

Alangkah kagetnya Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat ketika dua batang dayung menyerang mereka dengan hebat dari atas permukaan air.

Mereka tidak mengira bahwa orang orang yang berada di atas perahu telah menjaga dan telah menanti kedatangan mereka.

Dengan cepat mereka menyelam lagi lebih dalam sehingga pukulan pukulan dayung itu tidak mengenai tubuh mereka.

Akan tetapi perahu meluncur cepat karena terus didayung oleh Sian Hwa yang mengerahkan seluruh tenaganya.

Nyonya ini tidak memperdulikan luka lukanya setelah kini ia melihat keadaan suaminya, ia ingin cepat cepat mendarat agar dapat segera menolong dan membantu suaminya itu.

Ketika Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat melihat bahwa usaha mereka menggulingkan perahu tidak berhasil dan melihat perahu itu meluncur ke pulau, mereka menjadi bingung dan kecewa.

Apalagi Eng Kiat karena tadinya sudah ia bayangkan betapa ia akan dapat memeluk Siauw Yang dan Siang Cu sekaligus.

Di dalam air, ia tidak usah takut kepada dua orang dara manis yang selalu terbayang di depan matanya itu.

Akan tetapi, ternyata harapannya meleset.

Tidak saja ia dan ayahnya tidak berhasil menggulingkan perahu, bahkan tiga orang wanita gagah itu kini sudah melompat ke darat dan kalau mereka kembali ke pulau mungkin sekali mereka juga takkan dapat menghadapi Thian te Kiam ong yang kini kedatangan pembantu pembantu yang amat lihai itu.

Tung hai Sian jin yang cerdik lalu memberi tanda kepada puteranya dan keduanya tidak kembali lagi ke pulau Sam liong to, melainkan terus berenang ke arah perahu mereka dan kabur.

Begitu mendarat dan melompat ke pantai, Sian Hwa dan Siauw Yang lalu menyerbu para pengeroyok.

Bun Sam girang sekali melihat isteri dan anaknya selamat, sebaliknya Siauw Yang bukan main marahnya.

pedangnya berkelebat cepat dan dalam beberapa gebrakan saja ia telah berhasil membabat putus pinggang Pat Jiu Sian, orang pertama dan See san Ngo sian.

Akan tetapi sebaliknya, begitu tiba di pantai, Siang Cu melihat tek hong yang masih menggeletak di atas pasir.

Ia kaget bukan main dan melupakan segalanya, menubruk pemuda itu dan berseru.

"Tek hong.... !"

Siauw Yang, Sian Hwa dan Bun Sam menjadi terheran heran melihat sikap gadis baju merah ini, akan tetapi mereka tiada banyak kesempatan untuk memperhatikan Siang Cu karena mereka masih menghadapi keroyokan lima orang musuh lihai.

Adapun Siang Cu setelah meraba tubuh Tek Hong yang masih hangat, tahu bahwa pemuda yang dikasihinya itu belum tewas, maka hatinya sedikit lega.

Ia melihat tiga tapak jari merah di muka pemuda itu, maka tahulah ia bahwa yang melakukan hal ini adalah suhunya.

Biarpun ia sendiri belun pernah mempelajari ilmu pukulan yang jahat ini namun ia pernah melihat suhunya melatih diri dengan ilmu ini dan tahu pula bahwa pukulan ini mengandung racun yang berbahaya sekali.

Teringatlah ia akan penuturan Sian Hwa dan kini Siang Cu mulai bangkit perlahan sedangkan kedua matanya melirik ke arah suhunya bagaikan sepasang mata burung hong yang sedang marah.

Adapun Lam hai Lo mo ketika melihat muridnya, segera berseru.

"Siang Cu, muridku yang baik, lekas kau bantu gurumu membasmi musuh musuh besar yang sudah membikin sengsara gurumu, Siang Cu!"

Lam hai Lo mo tahu bahwa kepandaian muridnya sudah cukup tinggi dan boleh diandalkan, maka kalau muridnya mau membantu, keadaannya tidak amat terdesak.

Benar saja Siang Cu menghunus pedangnya dan melompat mendekati gurunya.

Akan tetapi dara ini tidak menggerakkan pedangnya untuk membantu suhunya, melainkan dengan mata berapi, ia bertanya.

"Suhu, tahukah suhu siapa adanya Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee?"

Mendengar pertanyaan ini, pucatlah muka Lam hai Lo mo.

Akan tetapi bukan saja ia tidak dapat menjawab, bahkan tidak sempat karena pada saat itu, Siauw Yang telah mendesak dengan hebat, apa lagi kini Sian Hwa ikut mengamuk dan juga Bun Sam setelah melihat anak isterinya selamat, ilmu pedangnya menjadi makin kuat saja, sungguhpun pendekar ini telah terluka hebat.

Sedangkan di fihak Lam hai Lo mo kini tinggal lima orang lagi, yakni Lam hai Lo mo sendiri dibantu oleh Sam thouw hud, Toat beng sian dan Koai kiam sian.

Akan tetapi, ternyata Tung hai Sian jin tidak muncul muncul lagi, maka makin gelisahlah hati Lam hai Lo mo.

Ia mengira bahwa Tung hai Sian jin dan puteranya telah tewas ketika menyongsong kedatangan perahu tadi sehingga kini di fihaknya hanya ada empat orang!

Keadaan Lam hai Lo mo dan tiga orang kawannya terdesak hebat.

Lam hai Lo mo memang curang dan licik.

Melihat keadaan fihaknya amat terancam dan muridnya tidak mau membantu bahkan mengajukan pertanyaan yang amat mengagetkan hatinya, ia lalu memutar tongkatnya sedemikian rupa sehingga Siauw Yang terpaksa mundur.

Kesempatan ini dipergunakan olehnya untuk melompat jauh dan melarikan diri sambil memaki Siang Cu.

"Siang Cu, kau murid durhaka, tidak mau membantu gurumu. Percuma saja kudidik kau sampai bertahun tahun!"

"Suhu, terangkan dulu siapa adanya Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee!"

Siang Cu berteriak sambil mengejar kakek buntung itu.

"Lam hai Lo mo, kau hendak lari ke mana?"

Bentak Siauw Yang sambil mengejar juga.

Dua orang gadis itu seakan akan berlumba mengejar Lam hai Lo mo.

Akan tetapi harus diakui bahwa kakek ini sungguhpun kakinya hanya tinggal sebelah, larinya bukan main cepatnya, dibantu oleh tongkat bambunya yang seperti menggantikan kedudukan kakinya yang sudah buntung.

Lam hai Lo mo mempunyai banyak tempat sembunyi di dalam gua guanya dan karena ia maklum bahwa muridnya sudah mengetahui semua persembunyian itu, ia lalu lari ke sebuah gua yang semenjak dahulu ia rahasiakan dari muridnya.

Gua ini dari luar merupakan gua biasa saja, akan tetapi begitu ia masuk ke dalamnya, sebuah pintu rahasia dan batu besar menutup lubang masuk dari dalam secara otomatis.

Dalam waktu yang sama Siauw Yang dan Siang Cu tiba di depan gua.

Dua orang gadis ini tanpa banyak cakap dan tanpa berunding lebih dulu, segera menggunakan tenaga mendorong batu besar yang menutup pintu gua.

Dengan pengerahan tenaga bersama, dua orang dara perkasa itu berhasil mendorong batu besar itu menggelinding ke samping.

Akan tetapi berbareng dengan menggelindingnya batu penutup lubang itu, terdengar suara keras dan dari gunung di atas gua itu berhamburan jatuh batu batu yang menggelinding dari atas!

Baiknya Siauw Yang dan Siang Cu amat gesit.

Melihat ancaman hebat ini mereka cepat melompat ke dalam gua sehingga terhindarlah mereka dari timpaan batu yang banyak itu.

Akan tetapi, ternyata bahwa gua itu mempunyai empat lorong atau terowongan yang amat gelap.

Tanpa banyak cakap lagi Siauw Yang mengejar melalui terowongan sebelah kiri sedangkan Siang Cu yang belum pernah memasuki gua persembunyian gurunya ini lalu mengejar ke kanan.

Sementara itu, dengan bantuan isterinya, Bun Sam dengan mudah membereskan tiga orang lawan nya, yakni San thouw hud, Toat Beng sian, dan Koai kiam san.

Tiga orang kakek ini setelah ditinggalkan secara pengecut sekali oleh Lam hai Lo mo, menjadi hilang semangat mereka.

Gerakan mereka menjadi lambat sekali dan pedang di tangan Bun Sam bagaikan sinar kilat menyambar nyambar.

Terdengar pekik susul menyusul ketika tiga orang kakek itu seorang demi seorang roboh terkena serangan pedang Oei giok kiam yang dimainkan oleh Bun Sam secara istimewa sekali.

Nyawa mereka menyusul empat orang kawan yang sudah pergi terlebih dulu.

Dengan tewasnya tiga orang ini maka seluruh pengurus Sam hiat ci pai yang sembilan orang banyaknya itu hanya tinggal dua orang lagi, yakni Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin, sedangkan yang tujuh orang telah tewas.

Akan tetapi, setelah berhasil merobohkan tiga orang pengeroyoknya itu, Bun Sam mulai lemas dan pengaruh luka luka di tubuhnya membuat matanya berkunang kunang dan kepalanya pening.

"Syukur kau selamat.... katanya kepada Sian Hwa sambil tersenyum.

"akan tetapi, anak kita.... Tek Hgng...."

Dengan tindakan limbung Raja Pedang ini menghampiri tubuh Tek Hong yang masih menggeletak di atas pasir.

Akan tetapi ia telah lelah sekali dan tergulinglah Bun Sam di sebelah puteranya dalam keadaan pingsan.

Sian Hwa menjadi bingung sekali.

Apalagi ketika ia melihat keadaan Tek Hong yang seperti sudah tak bernyawa lagi.

"Siauw Yang.... !"

Teriaknya keras keras memanggil puterinya yang tadi mengejar Lam hai Lo mo.

Akan tetapi yang datang bukan Siauw Yang, melainkan Siang Cu.

Kalau Siauw Yang masih penasaran dan mencari cari jejak Lam hai Lo mo di dalam terowongan yang panjang itu adalah Siang Cu yang lebih mengenal keadaan di situ, telah dapat menduga bahwa suhunya itu telah berhasil melarikan diri keluar dari gua di balik bukit dan tentu suhunya itu telah melarikan diri dengan perahu tanpa terlihat oleh mereka.

Maka Siang Cu keluar lebih dulu dari pada Siauw Yang.

Melihat Siang Cu berlari mendatangi, Sian Hwa berkata dengan suara bingung.

"Gwat Eng anakku yang baik, di mana adanya Siauw Yang?"

"Aku tidak tahu ke mana perginya, akan tetapi suhu sudah pergi jauh dari pulau ini. Dan harap jangan panggil aku dengan lain nama karena namaku adalah Ong Siang Cu,"

Mendengar jawaban yang ketus ini Sian Hwa mengerutkan kening.

"Kau agaknya masih belum percaya kepadaku? Belum percaya akan penuturanku bahwa kau adalah puteri dan Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee? Tunggulah aku mengambil surat peninggalan ayah mu...."

Sian Hwa tergopoh gopoh mengambil surat itu yang berada di saku baju suaminya, ia perlu meyakinkan gadis ini karena kalau sampai gadis ini ragu ragu dan kemudian membela suhunya yang jahat sedangkan suaminya masih pingsan, benar benar merupakan hal yang hebat.

Siang Cu menerima surat itu dan ketika ia membaca surat peninggalan Pangeran Kian Tiong yang ditujukan kepada Song Bun Sam, hatinya berdebar.

Akan tetapi ia segera memasukkan surat itu ke dalam saku bajunya sambil berkata.

"Sebelum aku bicara dengan suhu, hatiku belum yakin benar?"

Sian Hwa tercengang. Kekasaran sikap gadis ini melukai perasaannya.

"Kau benar benar tidak percaya kepada kami keluarga Song?"

Siang Cu telah menghampiri Tek Hong dan berlutut di dekat tubuh pemuda itu.

Ia memeriksa keadaan Tek Hong dengan penuh perhatian.

Hanya dengan memandang ke arah jidat dan wajah pemuda itu, tahulah dia bahwa pemuda ini terkena racun ular merah yang amat berbahaya.

Akan tetapi mendengar seruan nyonya itu, ia memandang dan berkata ketus.

"Bagaimana aku bisa percaya kepada keluarga yang sudah begitu kejam menyiksa seorang tua sehingga suhuku menjadi seorang yang bercacad seumur hidupnya?"

"Gwat Eng....! Kau salah duga...."

Kata Sian Hwa, akan tetapi gadis baju merah itu telah memondong tubuh Tek Hong dan membawanya melompat jauh.

"Tunggu, kau hendak membawa ke mana anakku itu?"

Pertanyaan ini diajukan terdorong oleh rasa heran yang jauh lebih besar daripada perasaan khawatir.

"Dia terluka parah, kalau tidak lekas mendapat obat penawar racun, takkan tertolong jiwanya."

"Jangan bawa dia pergi. Aku tidak percaya melihat sikapmu yang kasar!"

Sian Hwa melompat mengejar. Akan tetapi gerakan Siang Cu lebih cepat dan dalam beberapa kau lompatan saja ia telah pergi jauh.

"Percaya atau tidak bukan urusanku. Pendeknya aku tidak bisa melihat Tek Hong tewas begitu saja. Aku harus menolongnya."

Sian Hwa hendak mengejar terus, akan tetapi teringat akan suaminya, ia menjadi bingung dan tidak tega meninggalkan suaminya seorang diri.

"Nona, tunggu dulu!"

Teriaknya.

"Mengapa kau lakukan hal itu? Mengapa kau berkeras hendak menolong Tek Hong?"

Dari jauh Siang Cu menjawab.

"Aku cinta padanya!"

Jawaban yang keras dan terus terang ini benar benar membuat Sian Hwa terpukul hatinya dan ia berdiri bengong memandang ke arah gadis baju merah yang berlari cepat sekali sambil memondong tubuh Tek Hong, ia merasa tidak ada gunanya mengejar Siang Cu yang demikian cepat larinya.

Setelah tertegun sampai lama, nyonya ini lalu berseru memanggil puterinya berkali kali.

"Siauw Yang.... ! Kau lekas kemarilah!"

Akan tetapi ketika Siauw Yang muncul keluar dari gua setelah dengan sia sia mencari Lam hai Lo mo, Siang Cu telah pergi jauh dengan Tek Hong mempergunakan sebuah perahu.

"Siauw Yang, Tek Hong telah dibawa pergi oleh Gwat Eng, dan ayahmu...."

Kata Sian Hwa dengan wajah pucat, kelihatannya bingung sekali.

Siauw Yang terheran mendengar bahwa kakaknya dibawa pergi oleh Siang Cu atau Gwat Eng, akan tetapi lebih dulu ia berlutut mendekati ayahnya dan bersama ibunya ia memeriksa keadaan ayahnya.

Keduanya menjadi lega ketika melihat bahwa Bun Sam pingsan terutama karena lelah dan mengeluarkan banyak darah, sedangkan luka lukanya, biarpun yang terjadi karena pukulan Sam hiat ci hoat, tidak berbahaya.

Semua ini berkat dari latihan yang mendalam dari Raja Pedang itu sehingga tubuhnya amat kuat dan tenaga lweekangnya telah sangat tinggi.

Setelah mendapat kenyataan bahwa keadaan ayahnya tidak mengkhawatirkan, baru Siauw Yang bertanya kepada ibunya, akan tetapi lebih dulu ia memasukkan sebutir pel pembersih darah dalam mulut ayahnya.

"Ibu, mengapa dia membawa pergi Hong ko ?"

"Entah.... dia bilang bahwa nyawa Hong ji amat terancam oleh racun pukulan, dan takkan tertolong kalau tidak lekas lekas diobati. Ia memaksa membawanya pergi untuk mengobatinya."

Sian Hwa merasa tidak enak untuk menceritakan tentang pengakuan cinta gadis baju merah itu terhadap Tek Hong. Mendengar penuturan ibunya, Siauw Yang menarik napas panjang dan berkata.

"Orang itu benar benar aneh sekali. Ia ganas dan jahat, pantas menjadi murid Lam hai Lo mo, akan tetapi ada sesuatu yang aneh padanya."

"Dia ganas dan sikapnya kasar karena semenjak kecil dididik oleh Lam hai Lo mo, akan tetapi gerak geriknya gagah seperti ayah bundanya."

"Apakah ibu yakin benar bahwa dia itu benar benar anak Pangeran Kian Tiong yang diculik orang?"

"Tak salah lagi, tentu dia puteri Pangeran Kian Tiong. Kasihan sekali nasib gadis itu...."

Kata Sian Hwa dan kembali air matanya berlinang karena nyonya ini teringat akan Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee yang baik hati dan yang terbunuh oleh kakek buntung.

Sekarang ia tidak ragu ragu lagi bahwa pembunuh mereka itu bukan lain tentulah Lam hai Lo mo.

"Yang mengherankan hatiku, bagaimana dia bisa mengenal Hong ko dan mengapa pula dia begitu bersusah payah hendak mengobati Hong ko...."

Kata Siauw Yang sambil berpikir keras, kemudian katanya seperti kepada diri sendiri.

"tak dapat diragukan lagi bahwa dahulu mereka tentu pernah bertemu dan agaknya ada terjadi sesuatu di antara mereka...."

Diam diam Sian Hwa memperhatikan puterinya, Hm, kalau gadis puterinya ini sudah dapat menarik kesimpulan sedemikian jauhnya, itu hanya berarti bahwa puterinya inipun sudah pernah mengalami sesuatu yang mengesankan hatinya, dan agaknya takkan jauh meleset dugaannya bahwa puterinya inipun tentu "ada apa apanya"

Dengan Liem Pun Hui. Percakapan mereka terhenti ketika Bun Sam terdengar mengeluh dan pendekar ini siuman dari pingsannya. Begitu siuman, ia perlahan lahan bangkit, duduk dan bertanya.

"Bagaimana Lam hai Lo mo?"

"Dia dapat melarikan diri, ayah,"

Kata Siauw Yang.

"Dan di mana Tek Hong?"

Bun Sam menengok ke tempat di mana tadi ia meletakkan puteranya.

"Dia dibawa pergi oleh Siang Cu untuk diobati karena lukanya amat berbahaya,"

Jawab Siauw Yang lagi.

"Siang Cu? Siapa dia?"

Siauw Yang lalu menuturkan pertemuannya dengan murid Lam hai Lo mo itu dan menuturkan semua pengalamannya di rumah Pangeran Ciong. Bun Sam mendengarkan dengan penuh perhatian dan akhirnya ia berkata.

"Sudah kuduga bahwa Pangeran Ciong itu tentu bukan orang baik baik. Sudah semestinya ia binasa. Akan tetapi tentang gadis itu.... benar benarkah dia Kian Gwat Eng puteri Pangeran Kian Tiong dan Luilee?"

"Tidak salah lagi, aku Sudah yakin benar akan hal itu."

Sian Hwa lalu menuturkan dengan jelas tentang Siang Cu. Akan tetapi ia segera menunda penuturannya ketika melihat wajah suaminya berkerut dan pucat.

"Kau pucat sekali...."

Bun Sam menarik napas panjang.

"Lam hai Lo mo lihai dan jahat sekali. Bekas pukulan jari tangannya amat berbahaya dan aku amat khawatir akan keadaan putera kita. Aku sendiri yang terkena pukulan itu, kiraku sedikitnya tiga hari aku harus beristirahat, mengatur napas dan membersihkan darah di pulau ini. Aku tidak bisa mencari Tek Hong..."

Bun Sam nampak lelah sekali.

"Sudahlah, jangan kau banyak bicara dan banyak berpikir. Tek Hong sudah dibawa oleh Gwat Eng dan aku percaya bahwa gadis itu tentu mewarisi kemuliaan hati orang tuanya. Kau beristirahatlah, biar kita tinggal tiga hari di tempat ini!"

Isteri yang setia dan mencintai ini lalu membantu Bun Sam berdiri dan digandengnya suami yang terluka ini menuju ke gua bekas tempat tinggal Lam hai Lo mo di mana Bun Sam akan merawat dirinya.

Sian Hwa keluar kembali menemui puterinya.

Ia melihat Siauw Yang duduk termenung dengan sepasang alis bersambung.

Ibu yang bijaksana ini dapat menduga mengapa puterinya bermenung dengan wajah muram.

"Siauw Yang, ayahmu hendak beristirahat dan memulihkan kesehatannya di Pulau Sam liong to ini. Biar aku yang menjaganya di sini, kau boleh pergi untuk menyelidiki keadaan Pun Hui. Kalau dia selamat, syukurlah. Dan setelah kau berhasil, tak usah kau kembali ke sini, terus saja kau kembali lebih dulu ke Tit le. Kamipun akan segera kembali ke sana karena rumah sudah terlalu lama kita tinggalkan."

Seketika itu juga, wajah cantik yang tadinya muram itu menjadi terang berseri, seakan akan bayang bayang gelap tertimpa sinar matahari.

"Baik, ibu. Aku akan mengerjakan perintahmu,"

Jawabnya dengan nada suara seorang anak penurut.

Diam diam Sian Hwa menjadi geli melihat sikap Siauw Yang ini.

Biasanya, semenjak kecil, kalau disuruh apa apa, gadis ini mengomel dan malas malasan, akan tetapi sekarang ia demikian penurut!

Sian Hwa memang suka melihat Pun Hui, dan dia pernah mengalami buaian cinta kasih, maka diam diam ia merasa amat terharu menyaksikan betapa puterinya pada saat itu sama benar dengan keadaannya ketika masih muda, ketika ia terpaksa berpisahan dengan Bun Sam yang pada masa itu masih merupakan seorang pemuda yang telah menempati ruang hatinya.

Setelah berpamit kepada ayah bundanya dan mendapat ijin persetujuan mereka, berangkatlah Siauw Yang meninggalkan Pulau Sam liong to, untuk mencari Pun Hui.

Ia tahu ke mana harus menyusul Bi sin tung Thio Leng Li, gadis puteri Sin tung Lo kai Thio Houw yang secara aneh sekali telah membawa lari Pun Hui.

Diam diam ia merasa heran, akan tetapi rasa khawatirnya lebih besar lagi, karena memang peristiwa yang dilihatnya amat mengherankan dan mencurigakan.

Bagaimana Leng Li bisa merayakan pernikahan dengan Pangeran Ciong, dan mengapa kemudian puteri Ketua Pengemis itu menolong Pun Hui dan membawanya lari?

Dengan cepat Siauw Yang melakukan perjalanan dan mendarat di pantai Tiongkok, lalu menuju ke tempat di mana Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti Merah berpusat, yakni di sebelah barat saluran.

Kita tinggalkan dulu Siauw Yang dan mari kita mengikuti perjalanan Siang Cu yang membawa pergi Tek Hong.

Pemuda itu masih pingsan.

Akibat pukulan Sam hiat ci hoat yang dilakukan oleh Lam hai Lo mo tepat mengenai jidatnya, meninggalkan tanda bekas jari tiga buah yang merah warnanya.

Kalau saja Tek Hong tidak mempergunakan tenaga Kim kong ketika ia dahulu dipukul oleh Lam hai Lo mo, tentu sekarang ia telah tewas.

Pukulan Sam hiat ci hoat memang amat jahat.

Pukulan ini mengandung hawa racun yang berasal dari ular ular merah.

Apalagi dilakukan oleh Lam hai Lo mo sendiri, pencipta dari ilmu pukulan mengerikan itu, tentu saja jauh lebh hebat dari pada apabila pukulan ini diakukan oleh anggauta anggauta lain dari Sam hiai ci pai.

Biarpun Siang Cu sendiri belum pernah mempelajari ilmu pukulan ini, namun ia pernah mendengar dari suhunya tentang kelihaian racun ular merah.

Pernah Lam hai Lo mo menuturkan kepadanya bahwa racun ular merah itu adalah racun yang pengaruhnya berbahaya sekali dan yang tidak dapat disembuhkan oleh pengobatan apapun juga kecuali oleh obat katak putih yang berada di daerah di mana ular ulur merah itu hidup.

Dan Siang Cu tahu di mana daerah ular merah itu, yakni di daerah Tiongkok, daerah dingin yang sering kali menjadi tempat penuh dengan buku buku salju.

Pernah satu kali ia diajak oleh suhunya ke daerah ini di mana suhunya menangkap seekor ular merah untuk diambil racunnya.

Akan tetapi, tetap saja hati Siang Cu ragu ragu dan khawatir sekali.

Selama dua hari di daerah itu dengan suhunya, biarpun suhunya sudah mencari ke sana ke mari dengan bantuannya, mereka tak dapat menemukan seekorpun katak putih.

Menurut penuturan suhunya, di seluruh daerah bersalju itu, belum tentu ada tiga ekor katak putih paling banyak hanya sepasang dan itupun takkan mudah didapatkan orang.

Katak itu bersembunyi di bawah salju dan berbeda dengan katak katak biasa, kalau bertelur, di antara seribu telur, paling banyak hanya ada sepasang atau dua ekor saja yang menetas.

Siang Cu memondong tubuh Tek Hong sambil berlari cepat, ia telah berada di daerah itu dan pikirannya kusut, tubuhnya lemas dan lelah.

Telah sepekan lamanya ia melakukan perjalanan sambil memondong tubuh Tek Hong dan selama waktu ini ia lupa makan lupa tidur, pikirannya penuh dengan kegelisahan melihat wajah pemuda yang dikasihinya itu!

Memang, perasaan yang paling agung dan kuat di dunia ini adalah perasaan kasih sayang.

Dengan kasih sayang orang dapat melakukan apa saja, bahkan dengan kasih sayang orang dapat melakukan hal hal yang nampaknya tak mungkin.

Orang yang biasa dianggap sebadai seorang mulia karena cinta kasih dapat melakukan hal yang serendah rendahnya, sebaliknya orang yang biasa dianggap seorang rendah dapat melakukan hal yang semulia mulianya karena kasih sayang.

Perasaan cinta kasih yang bersarang di dalam hati Siang Cu membuat gadis ini sedemikian kuat sehingga ia tahan untuk tidak makan dan tidak tidur selama sepekan, terus menerus melakukan perjalanan sambil memondong tubuh pemuda itu!

Tentu saja hal ini takkan mungkin ia lakukan kalau saja ia tidak dibikin kuat oleh kasih sayangnya terhadap pemuda ini.

Berkali kali terdengar ia mengeluh dan menyebut nyebut nama pemuda itu dalam bisikan sayu.

"Tek Hong.... jangan khawatir, sayang. Mati atau hidup, kau takkan kutinggalkan...."

Cinta kasihnya terhadap Tek Hong makin mendalam setelah kini ia membuktikan sendiri betapa gagah dan mulia adanya keluarga pemuda ini.

Tentu saja ia percaya sepenuhnya akan penuturan Sian Hwa dan kini ia tahu betapa jahat adanya kakek buntung yang mengaku menjadi gurunya dan yang berlaku seakan akan amat sayang kepadanya, ia percaya bahwa gurunya itulah yang pembunuh orang tuanya, karena orang seperti gurunya dapat melakukan hal apapun juga.

Ia hanya belum mendapat keyakinan dan kepuasan kalau belum mendengar pengakuan dari mulut kakek buntung itu sendiri.

Tiba tiba Siang Cu merasa pemuda itu bergerak gerak dalam pondongannya.

Bukan main girangnya ketika ia melihat pemuda itu telah siuman dan membuka matanya dengan penuh keheranan.

"Kau.... ?"

Tek Hong berkata lemah.

"Siang Cu.... apakah aku sudah mati dan bertemu dengan kau di sorga?"

Pemuda itu menggerakkan leher memandang ke kanan kiri dan tidak amat menggelikan kalau ia mengira berada di surga karena tempat itu memang luar biasa sekali.

Belum pernah ia menyaksikan tempat seperti daerah itu.

Sana sini putih belaka, apalagi tertimpa sinar matahari yang redup.

Pohon pohon terbungkus salju, demikian pula tanah dan bukit bukit sehingga orang yang datang ke tempat itu akan merasa seperti dalam mimpi.

"Tidak, Tek Hong Kita masih hidup. Sudah kuatkah kau untuk turun?"

Tek Hong baru sadar bahwa masih di pondong oleh gadis itu.

Maka ia segera menggerakkan tubuh dan turun dengan hati berdebar keras.

Kini ia teringat akan semua pengalamannya maka ia menjadi makin terheran heran.

"Siang Cu, aku ingat sekarang...."

Akan terapi ia haru menghentikan kata katanya karena tiba tiba ia menjadi limbung dan pandangan matanya berputar putar, tubuhnya lemas sekali. Siang Cu sigap memeluknya.

"Tek Hong, kau perlu beristirahat, kau terluka hebat. Mari kita duduk...."

Ia lalu menggandeng pemuda itu dan mereka duduk di atas akar pohon besar yang tertutup salju.

Melihat tubuh pemuda itu masih lemas sekali.

Siang Cu tidak berani melepaskannya dan dengan lengan kiri memeluk punggung Tek Hong, ia menahan tubuh pemuda itu.

"Bagaimana rasanya? Peningkah kepalamu? Sakitkah?"

Tanya Siang Cu dengan gelisah sekali. Tek Hong membuka matanya dan ia tersenyum lemah.

"Siang Cu, tidak ada penderitaan apapun juga yang akan dapat mengurangi kebahagiaanku melihat kau sendiri yang menolong dan merawatku, Terima kasih Siang Cu, terima kasih. Tak salah pilihan hatiku, kaulah gadis termulia di dunia ini."

"Hush...."

Kata Siang Cu dan tanpa disadari nya, dua titik air mata menetes dari sepasang matanya yang indah.

"Aku harus mencarikan obat untuk lukamu yang amat berbahaya itu...."

Kembali Tek Hong tersenyum.

"Aku ingat Sekarang. Aku dan ayah dikepung oleh Lam hai Lo mo dan kawan kawannya. Mereka lihai sekali, aku terkena pukulan Lam hai Lo mo dan kepalaku serasa dibakar.... Tiba tiba ia melompat bangun dan hampir roboh kalau Siang Cu tidak cepat cepat menangkap lengannya dan membujuknya untuk duduk kembali.

"Apa yang terjadi dengan ayahku?"

Ia memegang lengan Siung Cu erat erat.

"Siang Cut bagaimana ayah.... ?? "

"Ayahmu selamat, hanya terluka ringan sekarang bersama ibumu dan adikmu berada di Pulau Sam liong to...."

Mendengar ini. Tek Hong berseru girang dan menjatuhkan diri berlutut di depan Siang Cu.

"Siang Cu, kau telah menolong ayah...."

Siang Cu mengangkat bangun pemuda itu dan mengelus elus rambut Tek Hong yang menjadi putih terkena salju ketika ia berlutut tadi.

"Tidak, Tek Hong. Bagaimana seorang rendah seperti aku dapat menolong ayahmu? Dia terlampau gagah bagi suhu dan kawan kawannya kemudian ibu dan adikmu datang. Keluargamu memang orang orang luar biasa dan kepandaian mereka bukan lawan suhu dan kawan kawannya. Semua kawan suhu, kecuali suhu sendiri, Tung hai Sian jin, dan puteranya, telah tewas di dalam tangan ayah, ibu, dan adikmu!"

Tek Hong nampak bingung. Kepalanya terasa pening sekali.

"Akan tetapi kau.... bagaimana kau dapat membawaku ke sini.... ?"

Ia terpaksa menghentikan kata katanya lagi dan segera memegangi kepalanya yang serasa akan pecah.

"Bagaimana rasanya, Tek Hong? Sakitkah?"

Siang Cu segera memijit mijit kepala pemuda itu.

"Jangan kau terlalu banyak bicara, terlalu banyak berpikir.... kau terluka hebat...."

"Ya, terluka oleh suhumu.... Siang Cut agaknya aku takkan kuat menahan.... aduh...."

Dengan lemas pemuda itu berusaha memperkuat tubuhnya akan tetapi ia tidak dapat menahan serangan rasa sakit yang hebat sehingga sambil mengeluarkan keluhan panjang, kembali ia jatuh pingsan dalam pelukan Siang Cu.

Gadis ini menjadi bingung sekali dan menangis sambil memanggil manggil nama pemuda itu.

Akan tetapi ia segera dapat mengatasi perasaannya.

Dengan hati hati ia merebahkan tubuh Tek Hong di atas tanah yang tertutup salju.

Cepat ia membuka mantelnya dan dibentangkan mantel itu di atas salju, lalu ia memindahkan tubuh Tek Hong di atas mantel itu.

Tubuhnya terserang hawa dingin ketika ia membuka mantel dan hanya memakai pakaian yang tipis dan ringkas.

Akan tetapi ia tidak memperdulikan semua ini.

Sambil mencabut pedangnya.

Siang Cu lalu mulai mencari katak putih yang akan menolong nyawa kekasihnya.

Ia diberi tahu oleh suhunya bahwa ular ular merah yang terdapat di daerah ini, bersarang di dalam lubang lubang itu tertutup oleh salju, akan tetapi mudah dilihat karena nampak kemerahan seakan akan di bawah salju terdapat gumpalan darah.

Itulah bisa dari ular yang dipasang di sekitar mulut lubang untuk menghalau pergi musuh yang hendak memasuki lubang sarang mereka.

Dan untuk mencari katak putih, demikian kata suhunya, harus dicari di dekat sarang ular ular merah itu.

Karena di tempat sekitar itu ia tidak mendapatkan lubang sarang ular ular merah.

Siang Cu terpaksa meninggalkan Tek Hong dan pergi agak jauh, memutari sebuah bukit kecil yang tertutup salju.

Akhirnya dengan girang ia melihat tanda tanda merah di atas tanah bersalju, tanda tanda bahwa di tempat itu terdapat ular ular merah.

Daerah ini penuh dengan bukit bukit salju kecil, merupakan tempat yang amat indah seperti dalam mimpi, akan tetapi sunyi sekali dan seperti mati, tidak ada pergerakan sedikitpun juga.

Angin yang bertiup hanya dapat dirasakan, karena tidak ada benda yang dapat digerakkan oleh angin, kecuali debu salju yang berhamburan seakan akan tepung putih yang disebar dan atas.

Setelah mencari ke sana ke mari, tiba tiba Siang Cu melihat tanda tanda merah di bawah sebatang pohon besar yang sudah berobah menjadi pohon kecil karena tertutup seluruhnya oleh salju.

Siang Cu menjadi girang karena itulah mulut lubang sarang ular ular merah.

Cepat ia menghempas hempaskan kedua kakinya sambil mengerahkan tenaga di sekeliling lubang itu.

Demikianlah cara untuk memaksa ular ular itu keluar.

Betul saja, tak lama kemudian, lubang yang tertutup oleh salju itu tiba tiba terbuka dan uap kemerahan mengebul keluar dari lubang itu.

Itulah hawa dari bisa ular yang sudah mulai keluar, mengirim dulu bisanya untuk membinasakan musuh.

Kemudian, ular pertama keluar, disusul oleh kawan kawannya yang jumlahnya semua ada enam ekor ular ular merah.

Ular ini kulitnya berkilat kemerahan, hanya di bagian muka saja putih dan lidahnya juga putih.

Akan tetapi ketika ular ular ini mendesis, muka dan lidah berubah menjadi merah seperti darah, jauh lebih merah dari pada warna tubuhnya.

Siang Cu tahu dari suhunya bagaimana caranya untuk mengetahui di mana gerangan adanya katak putih di sekitar tempat itu.

Kalau katak itu tempatnya berada di sebelah utara lubang sarang ular, tentu ular ular itu tidak berani maju ke utara demikian pula kalau berada di jurusan lain.

Ia berdiri di sebelah selatan lubang dan ular ular itu ketika melihatnya, lalu serentak mengejar ke arahnya dengan suara mendesis desis.

Ular Ular yang panjangnya ada tiga kaki itu berlenggak lenggok dan gerakan mereka cepat sekali.

Siang Cu maklum sekali kena gigit saja, ia akan tewas.

Maka melihat ular ular itu berani menyerangnya dan ia berdiri di sebelah selatan lubang, ia tahu bahwa katak putih tidak terdapat di sebelah selatan, ia cepat melompat ke sebelah kanan atau sebelah timur lubang Namun ular ular itu tetap mengejarnya Siang Cu lalu melompat lagi ke kanan, kini berada di sebelah utara lubang.

Melihat betapa ular ular itu tetap saja mengejarnya, tahulah dia bahwa di jurusan selatan, dan utara tidak terdapat katak putih.

Tentu di sebelah barat, pikirnya, akan tetapi ia masih belum puas dan cepat melompat lagi ke kanan, kini berdiri di sebelah barat lubang, ia menduga bahwa ular ular itu seperti takut menghadapi sesuatu akan mundur atau masuk kembali ke dalam lubang.

Akan tetapi bukan main heran dan kecewanya ketika melihat betapa ular ular merah itu tetap saja mengejarnya dengan cepat sekali.

Hal ini hanya boleh diartikan bahwa di sekitar tempat itu tidak terdapat katak putih!

Bukan main marah hati Siang Cu.

"Ular ular bedebah!"

Makinya kecewa sekali.

Pedangnya berkelebat dan putuslah leher dua ekor ular yang terdekat dengannya.

Dengan marah Siang Cu bermaksud membunuh semua ular itu, akan tetapi tiba tiba terdengar orang berkata.

"Jangan bunuh.... ! Sayang bahan obat demikian banyaknya dibuang sia sia!"

Siang Cu terkejut dan cepat membalikkan tubuh sambil melompat menjauhi ular ular itu.

Ia melihat seorang kakek gemuk dengan potongan tubuh seperti patung Jilaihud, berwajah ramah sehingga mulut dan matanya seperti tertawa tawa.

Kakek ini datang menghampiri ular ular itu lalu mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya yang penuh tambalan.

Ternyata bahwa benda itu adalah seekor katak berkulit putih.

Sebelum Siang Cu hilang kaget dan herannya, kekek itu melemparkan katak putih itu di tengah tengah ular yang tinggal empat ekor banyaknya itu.

Untuk sesaat ular ular itu seperti bingung dan ketakutan, akan tetapi setelah mereka mendapat kenyataan bahwa katak putih itu tidak bergerak seperti mati, mereka lalu maju menyerang dan menggigit!

Kalau dibicarakan memang aneh sekali.

Empat ekor ular itu menggigit dan empat jurusan, dalam waktu bersamaan dan kini mereka masih menggigit katak putih itu.

Akan tetapi setelah menggigit, mereka tak dapat melepaskan gigitan lagi seakan akan gigi gigi mereka menempel dan tak dapat dibuka kembali Tubuh empat ekor ular itu berkelojotan dan sebentar saja mereka tak dapat bergerak, lemas dan mati!

Namun mulut mereka masih menempel pada tubuh katak.

Siang Cu melihat katak putih itu, berdebar hatinya dan ia melangkah maju hendak mengambil katak obat itu.

"Jangan ganggu! Biarkan racun mereka dihisap habis!"

Kakek gemuk itu berkata mencegahnya sehingga Siang Cu yang tidak mengerti menjadi ragu ragu dan menahan langkahnya.

Tak lama Kemudian, kakek itu tertawa bergelak melangkah maju dan melepaskan katak itu dari gigitan empat ekor ular merah.

Ternyata oleh Siang Cu bahwa ular ular itu telah mati dengan tubuh kering seakan akan seluruh darahnya telah dihisap oleh katak itu dan katak itu sendiripun ternyata adalah katak yang sudah tak bernyawa lagi.

"Ha, ha, ha! Bahan obat datang sendiri tanpa dicari! Benar benar murah, tak usah membahayakan nyawa. Nona, terima kasih, kau baik sekali. Telah lama aku mencari cari ular ular ini dan kalau mereka berada di dalam sarangnya, bagaimana aku dapat memancing mereka keluar?"

"Mengapa kau membiarkan katak itu digigit?"

"Kau tidak tahu, nona Gigitan mereka itu membuat semua bisa mereka dihisap oleh katak ini dan karenanya khasiat katak ini lebih hebat lagi. Bisa itu setelah terkumpul di dalam tubuh katak berobah menjadi obat. Sekarang, khasiat katak itu cukup untuk mengobati sepuluh orang yang tergigit oleh segala binatang berbisa. Ha, ha, ha, aku beruntung sekali!"

Akan tetapi kakek itu terpaksa menghentikan ketawanya ketika tiba tiba tubuh Siang Cu berkelebat dan tahu tahu katak yang dipegangnya telah berpindah ke tangan gadis berbaju merah itu.

Kakek itu terkejut melihat gerakan gadis itu yang luar biasa sekali cepatnya, sebaliknya Siang Cu juga terkejut karena ternyata bahwa kakek itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat atau setidaknya amat lemah, benar benar di luar dugaannya semula.

Tadinya Siang Cu mengira bahwa kakek ini tentulah seorang luar biasa yang berkepandaian tinggi akan tetapi ternyata tidak demikian sama sekali.

"Nona, ternyata kau seorang kang ouw yang tidak kenal aturan!"

Siang Cu tertegun mendengar teguran ini.

"Apa katamu, orang tua? Mengapa kau menganggap aku seorang kang ouw yang tidak kenal aturan?"

Tanya gadis itu marah.

"Gerakanmu seperti kilat cepatnya, tanda bahwa kau seorang ahli silat dan seorang kang ouw, akan tetapi kau merampas barang milik seorang kakek yang lemah, itu tanda bahwa kau seorang kang ouw tidak kenal aturan!"

Merah wajah Siang Cu, akan tetapi ia adalah seorang gadis yang keras hati, maka jawabnya.

"Kakek yang baik, di dalam dunia kang ouw terdapat peraturan bahwa siapa yang kuat dialah yang berhak memiliki benda yang diperebutkan. Kalau kau memang kuat, cobalah kaurampas kembali benda ini dari tanganku."

Kakek yang tubuhnya seperti patung Jilaihud itu tertawa, lalu bernyanyi.

"Mengerti akan orang lain adalah waspada. Mengerti akan diri sendiri lebih bijaksana. Mengalahkan orang lain mengandalkan kekuatan belaka. Mengalahkan diri sendiri barulah gagah perkasa. Mengenal batas kecukupan berarti kaya bahagia. Melakukan sesuatu dengan memaksa berarti nekad-membuat."

Ujar Nyanyian ini adalah sebagian daripada ujar Nabi Locu. Akan tetapi Siang Cu tidak mau mengambil pusing akan semua sindiran ini.

"Kakek, apapun yang hendak kaukatakan aku tidak ambil perduli dan cukup kauketahui bahwa aku sengaja merampas katak putih ini untuk mengobati seorang yang terkena bisa ular merah. Kalau sudah selesai, benda ini boleh kauambil kembali."

Setelah berkata demikian. Siang Cu melompat pergi. Akan tetapi kakek itu berseru.

"He, nona baju merah! Apa gunanya kau mengambil katak itu kalau tidak tahu cara mempergunakannya?"

Siang Cu tersentak kaget dan kedua kakinya seperu tertahan oleh sesuatu. Apalagi ketika ia mendengar kakek itu berkata lagi sambil tertawa tawa.

"Katak itu sudah menghisap banyak sekali racun ular merah. Penggunaan yang tepat merupakan obat mujijat, akan tetapi penggunaan yang salah akan merupakan racun yang tiada duanya di atas dunia! Bukankah itu sama halnya dengan menolong si sakit dengan jalan merenggut nyawa meninggalkan raganya?"

Mendengar ini, Siang Cu menjadi pucat.

Memang suhunya belum pernah menceritakan bagaimana cara mengobati orang terkena bisa dengan katak putih ini.

Bagaimana kalau kata kata kakek ini benar dan ia tidak berhasil menolong Tek Hong bahkan membunuhnya?

Ia bergidik dan cepat ia berlari kembali.

"Kakek yang baik, tolonglah aku! Kawanku terkena pukulan yang mengandung racun ular merah dan keadaannya amat berbahaya, nyawanya sewaktu waktu dapat meninggalkan raganya. Tolonglah, kakek yang baik, obatilah dia!"

"Ha, ha, ha, beginilah sifat orang muda. Bersikap sombong tak mau kalah. Kalau aku meniru sikapmu dan berkeras tidak mau menolong biarpun kau akan membunuhku, apa dayamu?"

Siang Cu dapat menduga bahwa biarpun kakek ini tidak pandai silat, namun melihat wataknya, tentulah kakek ini seorang yang luar biasa.

Orang orang seperti ini memang tidak takut menghadapi maut.

Mulai bingunglah gadis ini karena ia teringat akan keadaan kekasihnya Dengan cepat ia lalu melangkah maju dan berlutut di depan kakek itu sambil menangis!

"Eh, eh, kukira kau seorang dara perkasa yang berhati baja dan keras melebihi laki laki.

Tidak tahunya kau tetap saja seorang perempuan, mudah tertawa mudah menangis!"

"Orang tua yang budiman, tolonglah kau obati dia yang sedang sakit. Kalau aku sendiri yang sakit, aku tidak akan menyusahkan engkau, bagiku mati tidak apa apa. Akan tetapi dia, ah, kakek yang baik, dialah orang satu satunya di dunia ini yang kucinta. Kematiannya akan lebih hebat bagiku daripada kematianku sendiri."

Mendengar ucapan Siang Cu ini, tiba tiba wajah kakek gemuk yang tadi tertawa tawa jadi berobah dan ia mulai menangis!

Tangisnya mendadak dan keras seperti ketawanya sehingga ia seperti seorang kanak kanak yang menangis, berkaok kaok keras.

Melihat ini, Siang Cu tertegun.

"Aduh, nona yang gagah dan cantik. Kau membikin hatiku sakit dan penuh iri hati. Kaulah orang berbahagia sekali, mendapat kesempatan untuk mencurahkan isi hatimu yang penuh kasih sayang kepada seseorang! Tidak ada kebahagiaan di dunia ini melebihi perasaan kasih sayang yang begitu murni seperti kasih sayangmu terhadap orang itu. Tidak ada kasih sayang yang suci murni melebihi kasih sayang yang diselimuti oleh kerelaan pengorbanan sebesar yang kaunyatakan itu. Kau berani berkorban melupakan kepentingan diri sendiri demi orang yang kau cinta. Aku kagum dan iri kepadamu, nona. Aku bersedia mengobati orang yang kau cintai itu. Bagaimana sakitnya? Apakah dia digigit ular merah?"

Bukan main girangnya hati Siang Cu melihat bahwa ia telah dapat menangkan hati kakek aneh ini.

"Tidak, ia tidak tergigit binatang berbisa melainkan terkena pukulan Sam hiat ci hoat yang mengandung bisa ular merah, terpukul pada jidatnya."

"Ganas sekali pemukul itu! Bagaimana keadaannya? Apakah kuku tangannya berwarna hitam ataukah putih?"

"Kuku tangannya putih, belum berubah hitam,"

Jawab Siang Cu.

"Celaka! Bodoh kau! Kalau kuku tangannya berubah hitam berami ia masih belum begitu berat keadaannya. Kalau berwarna putih, tanda bahwa bisa itu telah mengancam nyawanya! Di mana dia?"

Mendengar ini Siang Cu menjadi pucat dan bingung sekali. Air matanya mengalir deras.

"Dia tidak jauh dari sini, mari kita pergi ke tempat dia berbaring,"

Katanya cepat.

"Tak usah, membuang buang waktu saja. Biar aku mengerjakan obat ini dan kau cepat cepat bawa dia ke mari. Lekas!"

Kakek itu menerima katak putih dari Siang Cu dan gadis ini tanpa bertanya tanya lagi lalu melompat cepat dan lenyap dalam sekejap mata, membuat kakek itu menahan napas penuh kekaguman.

Tek Hong masih rebah pingsan di atas mantel seperti orang tidur, atau lebih tepat lagi, seperti mayat karena mukanya pucat sekali.

Siang Cu merasakan jantungnya perih dan dengan penuh kegelisahan ia meraba lengan pemuda itu.

Hatinya lega merasa bahwa lengan itu masih hangat, lalu ia menyelimutkan mantel tadi dan memondong tubuh Tek Hong, membawanya lari menuju ke tempat kakek gemuk yang diharapkan akan dapat menyembuhkan pemuda ini.

Akan tetapi, setelah tiba ditempat itu, Siang Cu merasa semangatnya terbang meninggalkan tubuhnya ketika ia melihat kakek itu telah rebah mandi darah dan tak bernyawa lagi di atas salju dan sebagai gantinya, di situ berdiri Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat!

Seperti biasa Bong Eng Kiat memandang kepada Siang Cu dengan tersenyum senyum dan sinar mata penuh gairah.

Tung hai Sian jin berdiri tenang dan tangan kanannya memainkan katak putih yang tadi dipegang oleh kakek gemuk.

Sebetulnya, tadi ketika Siang Cu bercakap cakap dengan kakek gemuk, Tung hai Sian jin dan puteranya telah tiba di tempat itu dan mereka bersembunyi di balik bukit sambil mengintai dan mendengarkan.

Tanah yang tertutup salju lunak itu membuat tindakan kaki dua orang yang memiliki kepandaian tinggi ini tidak terdengar oleh Siang Cu.

Setelah Siang Cu pergi untuk mengambil Tek Hong, mereka muncul dan sekali mengulur tangannya, Tung hai Sian jin sudah dapat merampas katak putih itu.

Kakek gemuk itu hendak membuka mulut, akan tetapi Bong Eng Kiat menotok pundaknya sehingga ia roboh terguling.

"Hayo ceritakan kepada kami bagaimana caranya mempergunakan katak putih ini!"

Kata Tung hai Sian jin kepada korbannya yang memandang dengan mata terbelalak.

"Hm, kalian ini sepasang iblis jahat jangan harap akan membuka mulutku,"

Maki kakek gemuk dengan tegas.

Eng Kiat hendak mengayun tangan membunuhnya, akan tetapi Tung hai San jin mencegahnya.

Lalu kakek ini membungkuk dan membebaskan kakek gemuk itu dari totokan sehingga kakek ini dapat bangun duduk di atas salju.

"Mengapa kau keras kepala? Kami membutuhkan katak putih ini bukan untuk mengobati siapapun juga melainkan kami pernah mendengar bahwa katak putih ini dapat dipergunakan sebagai obat penguat tubuh yang luar biasa. Kau ceritakan kepada kami bagaimana caranya mengobati orang atau kalau kau tidak suka, biarlah kau ceritakan saja apakah benar benar katak putih ini dapat menjadi obat kuat yang mujijat? Kalau kau mau bercerita, kami takkan mengganggumu lagi."

Kakek gemuk itu adalah seorang yang sudah banyak merantau dan dia tahu betul bahwa orang orang seperti yang sekarang ia hadapi ini tidak boleh dipercaya omongannya.

Dan ia merasa amat kasihan kepada nona baju merah tadi.

Pikiran dalam kepala yang besar dan bulat itu bekerja keras, kemudian nampaklah senyumnya seperti biasa.

"Ada orang yang perlu ditolong, bagaimana bicara tentang obat penguat tubuh? Kalau kalian mau mempergunakan katak ini untuk mengobati teman nona tadi, barulah aku mau memberi tahu cara mempergunakan katak ini sebagai obat penguat tubuh."

"Baik, aku berjanji akan mengobati kawan nona tadi,"

Kata Tung tui Sian jin.

"Lekas kau ceritakan bagaimana caranya."

"Lebih dulu kau genggam bagian kepala katak ini sampai mulutnya tertutup rapat, lalu kau pencet perutnya perlahan lahan sehingga dari lubang tubuh belakangnya keluar darah berwarna putih yang menetes. Lima belas tetes darah ini dapat dipergunakan untuk diminum oleh si sakit. Kemudian, tubuh katak ini boleh digosok osokkan di atas luka orang yang sakit untuk mengisap keluar semua bisa. Akan tetapi cara menggosoknya harus mempergunakan bagian perut katak ini. Setelah luka yang tadinya berwarna merah atau kebiruan atau hitam menjadi putih kembali, baralah penggosokan dihentikan dan korban itu akan sembuh kembali."

"Cukup, aku sudah mengerti. Sekarang bagaimana kalau dipergunakan untuk memperkuat tubuh ?"

Tanya Tung hai Sian jin dengan penuh gairah karena hal inilah baginya yang terpenting. Kakek gendut itu terseryum.

"Tidak ada manusia di dunia ini yang mengenal cukup, dia yang mengenal cukup, barulah seorang yang kaya dan berbahagia, yang tidak mengenal cukup akan hancur dalam kekecewaan, diburu oleh nafsunya sendiri."

"Jangan ngaco belo, lekas katakan bagaimana caranya!"

Bentak Eng Kiat yang ingin pula mendapatkan khasiat obat itu.

"Kalian hendak memperkuat tubuh? Sampai bagaimana kuatnya? Tetap saja takkan dapat melawan maut...."

"Apa kau ingin kami kehilangan kesabaran dan memecahkan kepalamu?"

Bentak Tung hai Sian jin marah.

"Baiklah, baiklah, bukan aku yang menghendaki, akan tetapi kalian sendiri. Pencetlah katak itu dari belakang sehingga keluar darah merah dari mulutnya Nah, darah ini kalau diminum mendatangkan kekuatan yang luar biasa, akan tetapi jangan banyak banyak, setetespun cukuplah."

"Kau tidak bohong?"

"Siapa berani bohong? Aku berani membuktikannya."

Tung hai Sian jin menggerakkan tangan mengetuk pundak kakek gendut ini sehingga tertotoklah jalan darahnya dan akibatnya seluruh tubuh kakek ini seperti lumpuh, lenyap sama sekali tenaganya, Tung hai Sian jin lalu memencet belakang tubuh katak putih itu dan benar saja, dari mulut yang terbuka itu menetes darah merah.

Dengan memaksa membuka mulut kakek gendut, Tung hai Sian jin meneteskan setitik darah ke dalam mulut kakek itu.

Ajaib!

Sudah terang bahwa kakek gendut itu tidak mempunyai tenaga lweekang dan takkan mungkin membebaskan diri dari pengaruh totokan.

Akan tetapi, begitu tetesan darah merah itu tertelan olehnya, tiba tiba ia dapat menggerakkan tubuhnya kembali, tanda bahwa totokan Tung hai Sian jin tadi buyar!

"Bagus, kau tidak membohong!"

Serunya keras akan tetapi berbareng kakek kejam ini menggerakkan tongkatnya ke arah kepala kakek itu.

"Prak!"

Tanpa dapat bersambat lagi kakek gendut itu roboh dengan kepala pecah!

Pada saat itu, muncullah Siang Cu yang memondong tubuh Tek Hong.

Melihat nona ini, Tung hai Sian jin menjadi marah, akan tetapi sebaliknya, Eng Kiat cengar cengir dengan sikap menjemukan sekali.

"Nona, kau benar benar amat memalukan. Bagaimana kau mati matian membela pemuda ini dan hendak mencarikan obat untuknya sedangkan kau tentu tahu bahwa pemuda ini adalah musuh besar suhumu, putera dan Thian te Kiam ong? Seharusnya kau membunuhnya!"

Tegur Tung hai Sian jin dengan suara marah.

"Kau calon isteriku mengapa memondong mondong seorang pemuda? Siang Cu, lemparkan dia di jurang!"

Kata Eng Kiat dengan sikap ceriwis sekali.

Siang Cu merasa dadanya panas.

Ingin ia mengamuk dan menyerang dua orang ini.

Akan tetapi ia bukan seorang gadis bodoh, ia maklum bahwa hal itu tidak akan menguntungkan, pertama tama ia takkan menang menghadapi dua orang ini seorang diri saja, kedua kalinya obat katak putih itu telah terjatuh ke dalam tangan mereka, sedangkan ia amat membutuhkannya untuk menolong Tek Hong.

"Tung hai Sian jin, harap kau mengingat perikemanusiaan dan berikanlah obat katak putih itu kepadaku agar aku dapat mengobati Tek Hong."

"Hm, kau tidak tahu bagaimana cara mempergunakannya, bagaimana kau dapat mengobatinya? Kalau salah pengobatan itu, dia takkan sembuh bahkan sebaliknya akan mempercepat kematiannya."

Mendengar ucapan ini Siang Cu yang cerdik tahu bahwa tentu kakek yang licik dan kejam ini sudah dapat mengetahui cara pengobatannya sebelum membunuh kakek gemuk yang bernasib malang itu.

Maka ia lalu bersikap halus dan berkata.

"Tung hai Sian jin, mengingat akan hubungan antara kau dan suhu, tolonglah aku dan obatilah Tek Hong."

"Satu permintaan yang aneh. Tek Hong ini adalah putera dari Thian te Kiam ong Song Bun Sam musuh besar kita, bagaimana kini kau murid Lam hai Lo mo minta aku mengobatinya? Bahkan kalau aku harus mengingat akan hubunganku dengan suhumu, pemuda ini harus kubunuh sekarang juga!"

Setelah berhenti sebentar Tung hai Sian jin memandang tajam tajam kepada Siang Cu lalu bertanya.

"Sebetulnya apakah yang membuat kau begitu memperhatikan pemuda ini dan ingin melihat dia sembuh?"

Sambil menahan perasaan hatinya yang jengah dan malu. Siang Cu mengeraskan hati dan menjawab dengan suara gagah.

"Aku cinta padanya! Aku suka berkurban apa saja asal dia dapat disembuhkan. Orang macam aku tidak apa mati, akan tetapi dia adalah seorang mulia dan tidak selayaknya mari muda."

"Kau tak tahu malu!"

Bentak Tung hai Sian jin marah sekali dan tongkatnya sudah menggetar di dalam kedua tangannya yang menggigil, ia marah sekali dan ingin ia membunuh Siang Cu dan Tek Hong di saat itu juga.

Akan tetapi Eng Kiat yang sudah mengetahui watak ayahnya dan sudah merasa khawatir sekali kalau kalau ayahnya menjadi marah dan membunuh Siang Cu, segera maju dan berkata.

"Ayah, jangan mengganggu calon menantumu sendiri."

"Mantu apa? Siapa sudi mempunyai mantu tak kenal malu seperti dia ini? Dunia masih lebar, masih banyak wanita yang lebih cantik dari padanya. Kau akan kucarikan puteri yang jauh lebih cantik. Jangan khawatir, Eng Kiat, sebutkan saja gadis mana yang kaukehendaki, biar puteri pangeran akan dapat kauambil untukmu."

"Hanya satu, ayah, yakni Siang Cu inilah kuharapkan menjadi isteriku. Karena itu, harap ayah jangan membunuhnya,"

"Tung hai Sian jin, lekaslah kau mengobati Tek Hong!"

Siang Cu yang tidak memperdulikan percakapan mereka, mendesak dan membujuk, ia tidak berani mempergunakan kekerasan karena maklum bahwa hal itu percuma saja.

"Hm, kau benar benar ingin melihat dia sembuh?"

"Tentu saja!"

"Dan kau rela berkurban apa saja untuknya?"

Tanya pula Tung hai Sian jin.

"Biarpun harus menebus nyawanya dengan nyawaku, aku rela!"

Jawab nona itu tegas.

"Eng Kiat, aku menyerahkan syaratnya kepadamu. Aku akan mengobati pemuda ini asalkan Siang Cu memenuhi syarat yang kau ajukan,"

Kata Tung hai Sianjin yang sudah merasa bohwat (tak berdaya) menghadapi puteranya yang tergila gila kepada Siang Cu ini.

Ia maklum bahwa puteranya hanya suka betul betul kepada dua orang gadis, yakni Siang Cu dan Siauw Yang puteri Thian te Kiam ong.

Hal ini tidak mengherankan, karena di dunia ini agaknya sukar dicari gadis gadis seperti kedua orang nona ini, tidak saja cantik jelita, akan tetapi juga memiliki kepandaian yang luar biasa dan mengagumkan.

Mendengar kata kata ayahnya, Eng Kiat maju mendekati Siang Cu dan berkata.

"Syaratnya ringan saja, yakni kau harus bersumpah bahwa kau suka menjadi isteriku."

Siang Cu merasa kepalanya pening, jantungnya berdebar kera dan ia menahan nahan nafsunya yang hendak meluap dan menekan kedua tangannya yang seakan akan ingin bergerak sendiri untuk menampar muka pemuda yang amat dibencinya itu.

Akan tetapi kalau ia menengok ke bawah, ia melihat wajah Tek Hong yang pucat seperti mayat, maka ia tak dapat menahan lagi jatuhnya air matanya, ia tak dapat menjawab hanya mengangguk anggukkan kepalanya kepada Eng Kiat sambil menurunkan tubuh Tek Hong ke atas salju.

"Obatilah dia.... sembuhkanlah dia.... !"

Katanya di antara isaknya.

"Kau bersumpahlah dulu seperti yang diminta oleh Eng Kiat, bersumpah bahwa kau akan suka menjalani upacara pernikahan dengan dia, menjadi isterinya,"

Kata Tung hai Sian jin.

"Aku bersumpah untuk.... menjalankan upacara pernikahan dengan Eng Kiat dan menjadi.... isterinya,"

Kata Siang Cu dengan hati hancur.

"Lekas obati dia, takut kalau kalau terlambat. Akan tetapi sumpahku ini hanya berlaku kalau Tek Hong kausembuhkan."

"Bagus,"

Eng Kiat bersorak girang.

"Ayah, kau obatilah dia ini. Siang Cu sudah menjadi calon isteriku benar benar! Aduh senangnya. Bidadariku yang manis, kau seakan akan telah memberi hadiah bulan purnama kepadaku. Ke sinilah, adinda yang tercinta, sini duduk dengan kanda."

Bukan main mendongkol dan marahnya hati Siang Cu, Gadis ini sudah lelah sekali dan dalam waktu sepekan tidak tidur dan tidak makan.

Kemudian ia menghadapi goncangan goncangan batin yang hebat, sekarang ditambah pula oleh nafsu amarah yang tertahan tahan, maka sambil memandang penuh kebencian kepada Eng Kiat, ia menjerit dan roboh pingsan di dekat Tek Hong.

Eng Kiat menjadi bingung sekali, ia membanting banting kedua kakinya dan hampir menangis.

Sambil mewek mewek ia berkata kepada ayahnya.

"Ayah, lekas sembuhkan dia! Aduh bagaimana ini? Ayah jangan perdulikan Tek Hong, lekas obati dia lebih dulu, bagaimana pengantinku menjadi begini?"

Eng Kiat menggoyang goyang pundak Siang Cu sambil mewek mewek dan memanggil namanya.

"Dinda Siang Cu.... dindaku yang manis, bangunlah.... !"

"Minggirlah!"

Tung hai Sian jin membentak marah kepada puteranya. Kemudian ia memegang nadi pergelangan tangan Siang Cu lalu tertawa terbahak bahak.

"Dia kurang tidur dan lapar sekali. Hayo keluarkan bekal makanan dan arak!"

Tanpa menanti perintah kedua kalinya, Eng Kiat lalu menurunkan gendongan buntalannya, mengeluarkan kue kering dan dengan amat telaten dan penuh cinta kasih.

Setelah memasukkan beberapa potong kue dan memberi minum arak kepada Siang Cu, mulailah gadis itu siuman kembali.

Akan tetapi begitu melihat bahwa ia sedang disuapi oleh Eng Kiat, ia cepat cepat melompat bangun dengan muka merah.

Eng Kiat tertawa.

"Ha, ha, ha, tadi kau sambil meram makan kue dengan enaknya. Marilah kaumakan lagi manis!"

Akan tetapi Siang Cu tidak mau memperdulikan lagi dan ketika ia menengok ke arah Tek Hong, ia segera berkata.

"Kenapa dia belum diobati? Hayo lekas obati dia, Tung hai Sian jin. Bukankah aku sudah mengucapkan sumpahku?"

Tung hai Sian jin terkenal akan kelicikannya, kini melihat sikap Siang Cu tentu saja ia tidak percaya begitu saja.

"Untuk mengobati pemuda ini, adalah hal yang mudah. Akan tetapi makan waktu lama. Aku sudah mempelajarinya dan kakek itu. Sedikitnya makan waktu tiga hari. Akan tetapi aku bertanggung jawab bahwa dia pasti akan sembuh. Sementara itu kau harus pergi dengan Eng Kiat dan merayakan pernikahan di kampungku, yakni di rumah adikku, seorang piauwsu (pengantar barang ekspidisi) di dusun Tiang kwan."

"Kau licik!"

Siang Cu membentak marah, akan tetapi ia segera menahan marahnya dan berpikir cepat.

"Kita harus atur seadil adilnya. Boleh aku meninggalkan Tek Hong di sini bersamamu, dan aku memang sudah bersumpah untuk menjalankan upacara pernikahan dengan anakmu. Akan tetapi, semua itu hanya dengan satu syarat bahwa aku harus melihat dulu kesembuhan Tek Hong dan bahwa aku baru mau menikah kalau Tek Hong sudah sembuh Sementara itu, jangan harap Eig Kiat akan berlaku kurang ajar. Sekali saja melakukan hal kurang ajar, aku anggap sumpahku tak berlaku!"

Jilid XXX TUNG HAI SIAN JIN sudah mengenal kekerasan hati Siang Cu, akan tetapi iapun tahu bahwa gadis ini betapapun juga pasti tidak akan sudi melanggar sumpah sendiri. Oleh karena itu ia berkata.

"Baiklah, kau akan melihat dia sembuh. Sekarang pergilah kau dengan Eng Kiat ke dusun Tiang kwan. Eng Kiat, kau beri tahukan kepada pamanmu untuk mempersiapkan pesta pernikahan. Pernikahan harus dilangsungkan seminggu setelah kalian tiba di sana. Dan aku berjanji bahwa dalam saat pesta pernikahan dilangsungkan Tek Hong akan kubawa ke sana dalam keadaan sembuh. Akan tetapi, nona, jangan sekali kali kau berani melanggar sumpah sendiri karena tidak sukar bagiku untuk membunuh pemuda ini kalau kau melanggar sumpah."

Dengan air mata bercucuran Siang Cu menjawab tegas.

"Kaukira aku orang apakah? Ludah yang sudah keluar takkan kujilat lagi. Biar aku mampus kalau aku melanggar sumpahku!"

"Bagus, berangkatlah kalian !"

Siang Cu menubruk Tek Hong memeluk lehernya dengan mesra sambil menangis.

"Tek Hong, selamat tinggal. Ketahuilah bahwa semua ini kulakukan demi keselamatanmu. Di dunia kita tak berjodoh, biar di akhirat kita bertemu kembali."

Setelah berkata demikian, ia mengibaskan tangan Eng Kiat yang hendak membangunkannya.

"Mari kita pergi!"

Katanya kasar dan mendahului pemuda itu berlari turun dari tempat itu. Eng Kiat mengikutinya dengan senyum lebar. Setelah dua orang muda itu pergi, Tung hai Sian jin juga tertawa tawa.

"Kau boleh kusembuhkan, kubawa ke Tiang kwan agar kau dapat menyaksikan pernikahan anakku dengan Siang Cu, itupun merupakan hukuman berat bagimu. Dan pula, setelah kau sembuh dan anakku sudah menikah, lalu kemudian membunuhmu apa sukarnya? Ha, ha, ha!"

Tadi ia memang membohong kepada Siang Cu, karena sebetulnya untuk menyembuhkan pemuda itu, cukup memerlukan waktu sehari saja.

Ia lalu memencet katak putih di bagian mulutnya dan benar saja, keluarlah darah berwarna putih dari lubang di belakang tubuh katak itu.

Tung hai Sian jin mengambil cawan arak dan bungkusnya, menghitung tetesan darah sebanyak lima belas tetes.

Kemudian ia menotok jalan darah di bagian pundak Tek Hong untuk menjaga agar pemuda ini tidak memberontak setelah sembuh, lalu diminumkannya obat itu ke dalam mulut Tek Hong.

Setelah itu, Tung hai Sian jin mempergunakan perut katak putih, digosok gosokkan pada jidat Tek Hong yang ada tanda bekas tiga jari tangan merah.

Benar saja, tak lama kemudian tanda itu perlahan lahan lenyap dan terdengar pemuda itu mengeluh perlahan.

Seperti tadi ketika memeriksa Siang Cu kini Tung hai Sian jin juga mengerti bahwa pemuda ini lapar sekali, hampir mati kelaparan!

Dengan kasar Tung hai Sian jin lalu menjejalkan kue kering di mulut Tek Hong dan memberi minum arak.

Tak lama kemudian Tek Hong membuka kedua matanya.

Pemuda ini setelah melihat wajah kakek yang duduk di dekatnya, terkejut sekali dan tahulah dia bahwa dia terjatuh ke dalam tangan musuh, ia mencoba menggerakkan tubuhnya dan tahu pula bahwa dia berada dalam keadaan tertotok.

Ia melihat pula katak putih ditangan Tung hai Sian jin maka dengan heran ia bertanya.

"Tung hai Sian jin, kau menyembuhkan aku dengan katak itu, dengan maksud apakah? Di mana Siang Cu? Kau apakan dia?"

Tung hai Sian jin tertawa bergelak, nampaknya senang sekali. Baru sekarang ia dapat membalas dendamnya setelah berkali kali dibikin sakit hati oleh keluarga Song Bun Sam.

"Setan, kalau aku mau, sekarang juga aku dapat memukul kepalamu sampai hancur. Akan tetapi aku kasihan kepadamu, kasihan melihat nasibmu!"

Tentu saja Tek Hong tidak dapat mempercayai omongan ini dan ia berkata.

"Tung hai Sian jin, tak perlu berkelakar dan berpura pura. Bagaimana orang seperti engkau bisa menaruh hati kasihan kepadaku? Apa yang telah terjadi? Mana Siang Cu?"

"Murid Lam hai Lo mo itu setelah melihat kau menggeletak seperti mayat, tak berdaya dan kelihatan buruk sekali, mana ia dapat mencintamu lagi? Ia bertemu dengan puteraku dan ia telah menyatakan setuju menjadi isterinya. Sekarang dia dan Eng Kiat sedang menuju ke Tiang kwan untuk merayakan pernikahan mereka. Aku melihat kau disia siakan dan dipatahkan hatimu olehnya, menjadi tidak tega untuk membiarkan kau mampus, maka aku menyembuhkanmu."

Tek Hong adalah seorang pemuda yang cerdik, maka di dalam ketidakpercayaannya terhadap kakek ini, ia melirik ke sekelilingnya yang sunyi sekali, terlihat olehnya tubuh kakek gemuk menggeletak tak bernyawa dengan kepala pecah, maka ia berpikir pikir apakah gerangan yang terjadi.

Tak salah lagi bahwa tentu Siang Cu telah tertawan oleh kakek ini dan entah bagaimana nasibnya.

Kemudian ia teringat bahwa di dalam keadaan seperti tadi, sangat boleh jadi Siang Cu terjepit dan terdesak oleh Tung hai Sian jin, sehingga meluluskan permintaan apa saja asal ia dapat disembuhkan.

Mengingat itu, Tek Hong menarik napas panjang dan mengeluh.

"Siang Cu.... mungkinkah kau berkorban untukku.... ?"

"Apa maksudmu? Siapa berkurban? Siang Cu telah menerima pinangan Eng Kiat dan sekarang mereka sedang menuju ke tempat perayaan pernikahan mereka."

"Aku tidak percaya!"

Kata Tek Hong dengan suara disengaja keras menunjukkan ketidakpercayaannya. Hal ini ia lakukan untuk memancing agar kakek itu mau membawanya ke sana.

"Sabar, orang muda. Memang aku bermaksud membawamu ke sana agar kau dapat melihat sendiri betapa gadis itu melakukan upacara pernikahan dengan puteraku. Ha, ha, ha! Akan tetapi tunggulah sebentar, aku hendak menambah kekuatanku dengan obat ini. Menghadapi engkau saja tak perlu aku khawatir, akan tetapi kalau gadis itu hendak melakukan khianat, aku perlu menambah kekuatanku untuk menghadapi kalian berdua. Setelah aku minum obat ini, biar ayahmu sendiri aku sanggup menghadapinya!"

Tek Hong tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh kakek itu, akan tetapi ia diam saja dan hanya memandang dengan penuh perhatian.

Tung hai Sian jin lalu memegang katak itu di bagian belakang tubuhnya dan menggenggam nya erat erat.

Menitiklah darah merah dari mulut katak itu, suatu hal yang benar benar amat mengherankan.

Bagaimanakah seekor katak yang sudah mati masih mengandung darah?

Sebenarnya darah itu adalah darah ular ular merah yang telah dihisap oleh tubuh katak yang aneh itu, dan setelah darah itu berada di dalam tubuh katak, memang setitik darah dapat mendatangkan tenaga yang luar biasa di dalam tubuh manusia.

Akan tetapi Tung hai Sian jin bukanlah Tung hai Sian jin yang sudah terkenal akan ketamakan dan kelicikannya kalau ia cukup puas dengan setitik darah merah itu saja.

Ia tadi sudah membuktikan bahwa darah itu memang benar mendatangkan tenaga luar biasa pada kakek gendut.

Baru setetes saja sudah dapat membuat kakek gendut itu terlepas dari pengaruh totokan, apalagi kalau secawan banyaknya!

Maka ia terus memencet katak itu sampai habis darahnya, memenuhi setengah cawan.

arak.

Kemudian diminumnya darah merah setengah cawan itu!

Tek Hong memandang saja dan ia amat tertarik dan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Akibatnya hebat sekali.

Wajah Tung hai Sian jin menjadi merah sekali dan matanya melotot lebar.

Kakek ini merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi panas dan tulang tulangnya berbunyi berkerotokan.

Kemudian ia merasa seluruh tubuhnya gatal gatal dan bukan main girangnya ketika ia merasa tubuhnya amat ringan dan hawa dari dalam pusarnya naik ke dada.

"Ha, ha, ha, tenagaku menjadi berlipat ganda. Aku harus berlatih untuk menguji tenagaku!"

Bagaikan seorang gila ia mencak mencak dan melompat ke sana ke mari.

Sebatang pohon yang tak berdaun lagi dan seluruhnya diliputi oleh salju berada di dekat situ.

Batang pohon ini besarnya dua kali besar tubuh orang.

Tung hai Sian jin melompat ke dekat pohon dan memukul batang pohon itu dengan tangan kanannya.

Terdengar suara keras dan batang pohon itu patah di tengah tengah, tumbang mengeluarkan suara berisik.

Tung hai Sian jin tertawa bergelak, mengungkai pohon itu dan melontarkannya jauh jauh.

Kemudian ia melompat ke kiri, memukul sebuah balu besar yang tertutup salju.

Debu salju berhamburan ketika terdengar suara keras dan batu itu pecah!

Diam diam Tek Hong terkejut sekali melihat hal ini.

Batu itu adalah batu karang yang beratnya ribuan kati, bagaimana dengan sekali pukul saja kakek ini dapat memecahkannya?

Ia maklum bahwa ayahnya sendiripun tak mungkin dapat melakukan hal ini.

Bukan main hebatnya tenaga dari kakek ini.

Benar benarkah obat yang diminumnya telah mendatangkan tenaga yang berlipat ganda?

Tung hai Sian jin makin menggila.

Sambil mengeluarkan suara tertawa yang terdengar bukan seperti suara manusia, ia memukuli batu batu di sekitar tempat itu sehingga batu batu itu pecah pecah dan menumbangkan pohon pohon bagaikan seekor gajah yang mengamuk.

Makin lama mukanya menjadi makin merah dan ia merasa seluruh tubuhnya makin gatal gatal dan panas.

Kemudian sambil berjingkrak jingkrak seperti orang gila, ia menghampiri Tek Hong.

"Ha, ha, ha, sudah kaulihat, anak muda? Sekarang kau tak perlu kutakuti, juga ayahmu bukan apa apa bagiku. Kau dan ayahmu mampu berbuat apa kepadaku? Ha, ha, ha !"

Ia lalu menepuk nepuk pundak Tek Hong untuk membebaskan totokannya ladi.

"Hayo kau ikut aku menyaksikan upacara pernikahan Siang Cu dan Eng Kiat."

Tek Hong terbebas dari totokan dan setelah mengatur pernapasan memulihkan perjalanan darahnya, ia lalu meloncat bangun.

Tung hai Sian jin tertawa tawa dan mendorongnya.

Tek Hong mengelak, akan tetapi ia terkejut bukan main karena bawa dorongan itu masih saja mendatangkan kekuatan luar biasa sehingga ia terhuyung huyung ke belakang!

"Ha, ha, ha, kau sudah merasakan betapa hebat tenagaku, bukan?

Ha, ha, kepandaianmu tiada artinya bagiku."

Kembali ia mendorong beberapa kali sehingga pemuda itu terhuyung huyung ke sana ke mari seperti daun kering tertiup angin puyuh.

Tek Hong menjadi mendongkol dan marah, maka ia membalas dorongan orang yang mengganggunya, ia mempergunakan tenaga Kim kong dan mendorong dengan kedua tangannya.

Akan tetapi apa yang terjadi?

Kakek itu menerima dorongannya dengan dadanya dan bukan kakek itu yang terdorong, melainkan Tek Hong yang merasa ada tenaga raksasa menolak dorongannya dan membuat tubuhnya terjungkal ke belakang!

"Ha, ha, ha, Kim kong Pek lek jiu tidak berarti apa apa lagi bagiku, ha, ha!"

Tek Hong benar benar heran dan terkejut.

Tokoh persilatan yang bagaimana tinggi ilmu silatnyapun tidak akan kuat menerima dorongannya tadi tanpa menangkis atau mengelak, akan tetapi kakek ini menerimanya begitu saja dengan dada terbuka!

Benar benar Tung hai Sian jin telah memiliki tenaga yang luar biasa sekali.

Adapun Tung hai Sian jin lalu menubruk maju dan sebelum Tek Hong dapat menghindarkan diri ia telah kena dipegang tanpa dapat bergerak lagi.

"Hayo kau ikut ke Tiang kwan!"

Katanya sambil menyeret tangan pemuda itu.

Mereka berlari larian cepat sekali dan Tek Hong terpaksa mengikutinya karena tidak berdaya untuk melepaskan pegangan yang amat kuat itu.

Akan tetapi, tiba tiba Tung hai Sian jin berteriak keras sekali dan melepaskan pegangannya kepada Tek Hong karena ia mempergunakan kedua tangan untuk memegang lehernya.

"Aduh.... aku tak dapat bernapas.... aduh.... !"

Sambil berkata demikian, kakek ini mencekik lehernya sendiri, sakan akan hendak menghancurkan sesuatu yang mengganjal kerongkongannya.

"Hm, darah katak putih telah meracunimu sendiri, Tung hai Sian jin,"

Kata Tek Hong sambil memandang penuh perhatian dan dengan perasaan tegang.

Muka kakek itu menjadi merah sekali dan warna merah menjalar terus sampai di seluruh tubuhnya.

Teringatlah Tung hai Sian jin akan kata kata kakek gendut pemilik katak putih.

Kakek itu sudah menyatakan bahwa tidak boleh terlalu banyak minum darah katak putih, cukup setetes saja.

Akan tetapi ia telah minum setengah cawan banyaknya.

Mulai timbul rasa takut dalam hatinya.

"Aku akan mati.....? Kalau begitu, kau lebih dulu harus mampus!"

Serunya tiba tiba dan dengan menggerakkan kedua lengan memukul Tek Hong, ia menerjang maju.

Baiknya Tek Hong sudah siap sedia dan cepat ia mengelak sambil melompat ke kiri.

Akan tetapi, bukan itu saja serangan itu cepat dan hebat, akan tetapi terutama sekali tenaga pukulannya yang luar biasa.

Memang Tek Hong berhasil mengelak, akan tetapi hawa pukulan kedua tangan itu menyambarnya dan ia melempar sampai lima kaki lebih dan merasa betapa dadanya sakit!

Cepat ia duduk bersila dan mengatur napas untuk menolak pengaruh hawa pukulan yang akan dapat mengakibatkan luka di dalam dadanya itu.

Sementara itu Tung hai Sian jin kelihatan terputar putar di atas ke dua kakinya, mukanya menjadi makin merah dan kedua tangan yang memegangi leher lagi juga menjadi amat merah.

Kemudian sambil berteriak ngeri Tung hai Sian jin roboh terlentang tak bergerak lagi.

Tubuhnya kaku dan nyawanya melayang meninggalkan raganya!

Ia telah menjadi korban daripada hawa nafsu ketamakannya sendiri.

Darah ular merah yang berada di dalam katak putih itu memang merupakan obat penguat tubuh luar biasa, akan tetapi karena terlampau banyak ia meminumnya, kekuatan yang luar biasa itu merusak darahnya sendiri dan memutuskan urat urat di seluruh tubuhnya.

Setelah Tek Hong merasa bahwa kesehatannya pulih kembali, ia membuka matanya, ia melihat tubuh Tung hai Sian jin menggeletak di atas tanah, maka cepat ia melompat bangun dan menghampirinya.

Bergidik ia ketika melihat betapa kakek itu telah kaku seperti sebatang balok, dengan mata mendelik dan lidah keluar, seluruh muka dan tubuhnya merah seperti kepiting direbus.

Bukan main ngerinya hati Tek Hong menyaksikan pemandangan ini maka ia menarik napas panjang dan teringatlah ia akan ujar ujar Nabi Locu yang menyatakan bahwa.

"Nama dan tubuh, manakah yang lebih dekat? Tubuh dan barang, manakah yang lebih berharga? Mendapat dan kehilangan, mana lebih merugikan? Karena itu . Terlalu kikir pasti mengakibatkan pemborosan besar, Banyak menimbun pasti mengakibatkan kehilangan besar! Yang tahu akan cukup takkan sampai pada kehinaan. Yang tahu takkan sampai pada bahaya. Dia akan dapat bertahan lama!"

Tek Hong tidak sampai hati untuk meninggalkan jenazah Tung hai Sian jin begitu saja.

Dia seorang keturunan pendekar besar yang berhati mulia dan bijaksana, maka sebagai seorang manusia yang penuh rasa perikemanusiaan, pemuda ini lalu menggali lubang di bawah salju dan mengubur jenazah itu secara sederhana.

Juga ia berlari kembali ke tempat dimana tadi ia melihat jenazah seorang kakek gendut dan jenazah inipun dikuburkan baik baik.

Kemudian, tanpa mengenal lelah, ia cepat cepat pergi menuju ke dusun Tiang kwan untuk mencari Siang Cu, kekasihnya.

"Nona Leng Li, terus terang saja kukatakan bahwa aku mencinta Siauw Yang, puteri dari Thian te Kiam ong dan apapun juga yang terjadi, aku akan tetap setia kepadanya. Maafkan aku banyak banyak, nona. Aku tahu bahwa kau adalah seorang gadis yang bijaksana dan gagah dan pemuda yang manapun juga akan berbahagia sekali kalau bisa menjadi suamimu. Kau telah menolongku terlepas dan bahaya maut, dan sekarang, aku... sebaliknya mengecewakan hatimu. Maafkanlah."

Demikian kata kata Pun Hui yang diucapkan kepada Leng Li. Nona ini duduk di atas batu di taman bunga sambil mengusap usap air matanya yang membasahi pipinya.

"Liem siucai, aku dapat memaklumi isi hatimu. Akupun bukan seorang gadis tak tahu malu yang akan memaksa hati orang menyukaiku. Sejak dahulu kau telah menolak kehendak ayah yang memaksa hendak menjodohkan kau, dan aku tahu bahwa kau..... kau tidak suka kepadaku. Akan tetapi...."

"Nanti dulu, nona. Siapa bilang aku tidak suka kepadamu? Aku bahkan akan berbahagia sekali kalau boleh mengaku sebagai kakakmu,"

Bantah Pun Hui. Tiba tiba wajah Leng Li yang manis menjadi terang berseri, sepasang matanya memandang dengan sinar gembira.

"Ah, itulah jalannya! Kau tahu bahwa aku tidak ingin menikah dengan si apapun juga dan penolakanmu itu sama sekali tidak menyusahkan hatiku, sungguhpun membuat aku merasa rendah."

"Maaf.... !"

"Jangan ulangi lagi persoalan maaf, Liem siucai. Sekarang mari kita mencari jalan bagaimana baiknya. Yang kususahkan adalah watak ayah. Dia menghendaki agar kita berjodoh dan wataknya yang keras membuat aku tak berdaya. Kalau kau menolak, dia tentu akan membunuhmu."

"Kalau begitu kehendaknya, biarlah. Kematian hanyalah merupakan pembebasan daripada derita hidup,"

Jawab Pun Hui dengan sikap gagah, sikap yang telah menarik banyak wanita, di antaranya Leng Li, Siang Cu, dan Siauw Yang.

"Bukan begitu, Liem siucai. Aku percaya akan keteguhan hatimu, akan tetapi bukankah kau tadi menyatakan bahwa kau mencinta Song lihiap? Kalau rela mati begitu saja, bagaimana gerangan dengan perasaan hatimu terhadap Song lihiap? Bukankah itu berani bahwa kau memutuskan hubungan cinta kasih?"

Mendengar ini, wajah Pun Hui menjadi pucat dan sedih.

Memang, hal ini merupakan pukulan yang melemahkan hatinya dan menghancurkan semangatnya.

Laki laki manakah yang takkan menjadi lemah semangat apabila terpengaruh oleh asmara?

"Habis, apakah dayaku?

Menuruti kehendak ayahmu, aku tidak mungkin dapat melakukannya.

Menolak berarti aku akan dibunuhnya dan aku mana bisa menghindarkan diri dari ayahmu yang berkepandaian tinggi?"

"Liem siucai, kau tadi menyatakan bahwa kau suka menjadi kakakku, betul betulkah?"

Tanya Leng Li sambil memandang tajam. Pun Hui berkata sungguh sungguh.

"Aku hidup sebatangkara di dunia ini. Kau seorang gadis yang baik hati dan gagah perkasa, mendapat seorang adik seperti engkau merupakan kehormatan yang besar sekali bagiku. Mengapa aku tidak bersungguh sungguh?"

"Nah, itulah jalan satu satunya supaya kau dapat menghindarkan diri dari paksaan ayah. Kau harus menjadi kakak beradik!"

Kata Leng Li girang.

"Apa maksudmu?"

"Kita dapat melakukan upacara sembahyang dan mengangkat saudara!"

Pun Hui berseri wajahnya.

Benar juga, hal inilah satu satunya jalan untuk menghindarkan diri dari paksaan.

Kalau sudah mengangkat saudara dengan bersumpah di meja sembahyang, berarti mereka telah menjadi kakak beradik dan tidak mungkin lagi dijodohkan!

Dua orang muda itu tengah bercakap cakap di taman bunga di sebelah belakang gedung besar tempat tinggal Sin tung Lo kai Thio Houw.

Adapun kakek ini sendiri sedang sibuk mengatur rumah yang hendak dihiasnya, karena dengan berkeras kakek ini memaksa Leng Li dan Pun Hui untuk segera merayakan pernikahan!

Selagi Sin tung Lo kai memberi petunjuk petunjuk kepada para anak buahnya, yakni pengemis pengemis bertongkat merah memberes bereskan rumahnya, tiba tiba seorang pelayan datang kepadanya dan berkata.

"Lo enghiong, nona dan Lim siucai di taman bunga sedang melakukan upacara sembahyang."

Sin tung Lo kai terkejut dan memandang penuh keheranan.

"Apa? Apakah mereka melakukan upacara pernikahan sendiri dengan diam diam? Gila mereka itu."

Dengan langkah lebar ia lalu menuju ke belakang rumah dan memang benar, di tengah tengah taman bunga ia melihat puterinya dan Pun Hui sedang berlutut di depan meja sembahyang sambil memegang hio di tangan masing masing.

Agaknya mereka telah selesai sembahyang, karena kini mereka berdiri, menancapkan hio di hioluw dan memberi hormat sekali lagi kepada meja sembahyang lalu membalikkan tubuh menghadapi Sin tung Lo kai.

"Ayah.,...!"

Kata Leng Li dengan wajah berseri.

"Ayah.....!"

Kata pula Pun Hui yang cepat menjatuhkan diri berlutut di dpan pengemis tua yang sakti itu.

Semua ini adalah akal daripada Leng Li.

Dialah yang menyuruh pelayan memberitahukan ayahnya dan dia pula yang mengatur agar upacara sembahyang mereka selesai begitu ayahnya tiba di situ.

Dan kini Pun Hui menyebut "ayah"

Sambil berlutut, sesuai pula dengan akal yang direncanakan oleh gadis yang cerdik itu.

Sin tung Lo kai Thio Houw tertegun melihat wajah puterinya berseri seri, ayah yang mencinta puterinya dan ingin melihat anaknya berbahagia itu menegur sambil tertawa.

"Hm, apakah kalian sudah begitu tidak sabar menanti sehingga melakukan upacara pernikahan sendiri? Dan kau ini anak mantuku, mengapa menyebut ayah? Seharusnya menyebut ayah mertua!"

Leng Li melangkah maju menghadapi ayahnya.

"Ayah, aku dan Hui ko (kakak Hui) tidak melakukan upacara sembahyang untuk pernikahan."

"Apa? Jangan kalian main main!"

Sin tung Lo kai membentak dan sepasang alisnya telah berdiri.

Leng Li menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya, di sebelah Pun Hui yang masih berlutut.

Gadis ini telah melihat ayahnya hendak marah, maka cepat cepat ia mendahului ayahnya dan berkata.

"Ayah, harap ayah saka mendengarkan dengan sabar. Tadi memang aku dan Hui ko bersembahyang, akan tetapi untuk bersumpah mengangkat saudara."

"Kau gila!"

"Tidak, ayah. Semua ini untuk kebaikan kita bersama. Aku dan Hui ko memang sudah menganggap seperti saudara sendiri dan kebetulan kami berdua tidak mempunyai saudara. Kami berdua amat berterima kasih atas kehendak ayah yang amat baik, akan tetapi kalau hal itu dipaksakan, akan banyak mendatangkan hal hal yang tidak menyenangkan, ayah."

"Bicaralah yang jelas!"

Kata Sin tsng Lo kai yang masih belum padam api kemarahannya.

"Pertama tama, anak sendiri memang belum ingin menikah."

"Anak bandel!"

"Kedua kalinya, Hui ko telah bertunangan dengan nona Siauw Yang, puteri dari Thian te Kiam ong. Oleh karena itu kalau ayah memaksa kami menikah, tidak saja ayah berarti akan menyusahkan hatiku, juga ayah akan menanam bibit permusuhan dengan keluarga Thian te Kiam ong."

"Aku tidak takut."

Sin tung Lo kai berkeras kepala.

"Aku percaya bahwa ayah takkan takut. Akan tetapi, bukankah maksud ayah menikahkan aku hanya karena ayah hendak melihat anakmu hidup berbahagia? Aku tidak ingin menikah, kalau ayah memaksaku dan kemudian timbul permusuhan yang tiada habisnya, bagaimana aku berbahagia? Sekarang aku berbahagia. Aku tidak usah menikah, mendapat saudara tua yang amat baik seperti Hui ko, dan dengan keluarga Song kita semua mempunyai bubungan amat baik."

Sin tung Lo kai termenung dan merasa dikalahkan oleh puterinya sendiri, ia mengangkat bangun puterinya dan memegang kedua pundak Leng Li, menatap wajah puterinya dengan tajam.

Leng Li yang melihat tarikan muka ayahnya, menjadi terharu dan dua titik air mata melompat keluar dari sepasang matanya.

"Leng Li, apakah kau tidak membohong? Apakah kau tidak melakukan semua ini untuk berkorban? Apakah hati mu tidak merasa sakit dan terluka? Bukankah kau suka kepada Pun Hui?"

Dengan air mata mengalir akan tetapi bibir tersenyum, gadis itu mengangguk anggukkan kepalanya.

"Tentu saja aku suka padanya, ayah. Kalau tidak masa aku mau menjadi adik angkatnya? Tentang jodohku, kelak Hui ko tentu akan dapat mencarikan untukku, bukan begitu, Hui ko?"

"Aku bersumpah untuk menjaga dan membela adik Leng Li seperti adik kandungku sendiri, ayah,"

Kata Pun Hui dengan suara bersungguh sungguh. Sin tung Lo kai merasa terharu dan ia lalu mengangkat bangun pemuda itu, dipeluknya bersama Leng Li di kanan kiri.

"Bagus, aku mendapat seorang putera! Akan tetapi mulai sekarang kau harus belajar silat, tidak suka aku mempunyai putera yang lemah!"

Demikianlah, Pun Hui telah tertolong dari keadaannya yang sulit sekali berkat kecerdikan Leng Li.

Leng Li khawatir kalau kalau ayahnya menjadi curiga dan mengerti bahwa pengangkatan saudara itu hanya sebagai akal belaka, maka ia membujuk kepada Pun Hui supaya untuk sementara waktu mau tinggal di situ dan menurut saja mempelajari ilmu silat.

Pun Hui pernah mendapat petunjuk tentang ilmu silat dari Siauw Yang.

Pengetahuannya tentang kauwkoat (teori ilmu silat) sudah mendalam sehingga ketika Leng Li mengajarnya, gadis ini menjadi tercengang.

"Pengertianmu sudah luas sekali tentang pokok pokok ilmu silat!"

Kata gadis ini sambil membelalakkan matanya yang bening. Pun Hui tersenyum.

"Aku hanyalah seorang kutu buku dan seorang terpelajar, pengetahuanku itu hanya sampai di dalam otak saja, tidak mendarah daging."

Leng Li lalu memberi pelajaran praktek kepada pemuda ini dan ternyata bahwa Pun Hui dapat melatih ilmu silat dengan cepat.

Beberapa hari kemudian, pada suatu senja Sin tung Lo kai sendiri perkenan mengajar ilmu silat kepada Pun Hui Kakek ini sikapnya biasa dan ia mulai merasa suka kepada pemuda yang pandai membawa diri ini.

"Leng Li berbakat, akan tetapi ia tidak cukup kuat untuk mewarisi seluruh kepandaianku. Kulihat kau berbakat baik dan kau masih mempunyai darah dan pikiran yang bersih. Juga semangatmu besar, maka kaulah kelak yang akan mewarisi kepandaianku,"

Kata kakek ini kepada Pun Hui.

Kemudian ia mulai memberi petunjuk tentang kedudukan kaki dan tubuh dalam bersilat dan mainkan ilmu tongkatnya yang istimewa.

Dengan taat, sungguhpun ia tidak begitu suka mempelajari ilmu silat, Pun Hui memperhatikan dan mencontoh petunjuk petunjuk itu.

Selagi mereka bermain silat di taman bunga tiba tiba terdengar suara nyaring.

"Liem suheng, mari kita pergi dari sini!"

Maka melayanglah seorang gadis bertubuh langsing memasuki taman itu.

"Kau ...?"

Pun Hui berseru dan semua kegirangan dan kerinduan terkandung dalam suara ini.

"Song lihiap!"

Kata Leng Li ketika melihat gadis yang datang ini. Adapun Sin tung Lo kai tersenyum mengejek dan berkata.

"Hm, kiranya nona Song yang datang tanpa diundang. Apakah kehendakmu?"

Siauw Yang, gadis yang baru datang itu memandang dengan tajam dan dan pandangan matanya. Pun Hui maklum bahwa gadis ini penuh kemarahan dan kecurigaan.

"Aku datang untuk mengajak Liem suheng pergi dari sini. Mengapa mesti menunggu undangan?"

"Nona, kau kurang ajar sekali! Mengherankan sekali kalau ayahmu tidak akan marah kepadamu kalau dia melihat sikapmu sekarang ini. Kau hendak mempergunakan paksaan membawa pergi Pun Hui dari sini?"

Tanya Sin tung Lo kai yang kelihatan marah juga sehingga diam diam Leng Li merasa amat khawatir dan gelisah.

"Siapa mulai mempergunakan kekerasan? Suhengku ini dengan paksa diculik pergi oleh puterimu, kalau aku sekararg bersikap keras pula membawanya kembali, kau mau apa?"

Sambil berkata demikian, Siauw Yang karena merasa amat panas hati dan penuh cemburu terhadap Leng Li, melirik ke arah Leng Li sambil mencabut pedang Kim kong kiam.

Muka Leng Li menjadi merah sekali ketika ia mendengar ini dan sambil menundukkan mukanya ia berkata lirih.

"Song lihiap, harap kau jangan salah duga. Aku hanya menolongnya dari bahaya ketika kami diserbu oleh anak buah Pangeran Ciong, lalu membawanya ke sini. Baiknya di tengah jalan kami bertemu dengan ayah dan mendapat pertolongannya. Harap kau jangan menyangka yang tidak tidak."

"Siapa menyangka yang tidak tidak? Aku hanya bicara sebetulnya saja. Bukankah kau memang membawa pergi Liem suheng secara paksa dan tidak membawanya kembali ke tempat semula? Marilah, Liem suheng, kita pergi dan sini dan jangan menanti keributan yang hanya akan menyebalkan saja."

Sambil berkata demikian, Siauw Yang memandang kepada Pun Hui.

Pemuda ini menjadi bingung sekali.

Ia girang bukan main melihat Siauw Yang masih selamat dan dapat bertemu di sini, akan tetapi suasana panas yang di bawa datang oleh Siauw Yang membuatnya gelisah.

"Baiklah, sumoi, memang akupun tentu akan mencarimu. Akan tetapi marilah kau bicara baik baik lebih dulu dengan kami. Perlu ada penjelasan penjelasan agar di antara kita tidak ada perasaan tidak enak."

"Apa kau bilang?"

Sin tung Lo kai membentak marah kepada Pun Hui dan menggerak gerakkan tongkatnya.

"Kau hendak pergi begitu saja? Kau adalah puteraku dan kau harus taat kepadaku! Kalau kau harus pergi, hanya ada satu keputusan yakni bahwa kepalamu harus pecah lebih dulu oleh tongkatku! Hendak melihat siapa orangnya berani mencegah aku menghajar puteraku sendiri."

Sambil berkata demikian, Sin tung Lo kai melirik ke arah Siauw Yang dengan sikap menantang.

Tentu saja Siauw Yang menjadi heran dan marah.

Akan tetapi kemarahannya jauh lebih besar daripada keheranannya, maka tanpa bertanya ia telah memegang gagang pedangnya erat erat dan matanya bernyala nyala ditujukan kepada Sin tung Lo kai.

"Sumoi, sabar dulu.... !"

Kata Pun Hui.

"Kau benar benar hendak menjadi seorang anak yang tidak berbakti dan berkhianat?"

Sin tung Lo kai membentak dan melangkah maju. Siauw Yang juga melangkah maju, siap untuk melindungi pemuda itu.

"Tidak sama sekali, ayah, aku hanya hendak memberi penjelasan kepadanya,"

Kata Pun Hui. Kemudian ia berpaling kepada Siauw Yang dn berkata.

"Sumoi, ketahuilah bahwa aku telah menjadi anak angkat dan Sin tung Lo kai dan Leng Li adik angkatku."

"Nah, sekarang akan kutanya apakah kau masih hendak mencampuri urusan rumah tangga kami? Aku melarang puteraku pergi, dan kau mau apa?"

Kata Sin tung Lo kai kepada Siauw Yang dengan sikap mengejek. Merah bukan main muka Siauw Yang demi mendengar ini ia marah, akan tetapi ia lebih heran dan menyesal mendengar pengakuan Pun Hai.

"Orang tua, kalau memang dia itu sudah menjadi puteramu, akupun tidak sudi mencampuri nya lagi. Aku bukanlah orang yang tidak tahu aturan."

Akan tetapi baru sampai di sini kata kata Siauw Yang, Sin tung Lo kai yang merasa menang kedudukan dan mendapat angin, lalu memotong nya.

"Kalau sudah begitu, tidak lekas pergi dari sini mau tunggu apa lagi?"

Bukan main mendongkolnya hati Siauw Yang. Ia telah merasa amat kecewa kepada Pun Hui dan sekarang ia dihina pula oleh kakek itu. Sambil membanting banting kaki dan hampir menangis ia membentak.

"Orang tua, kita sudah tidak ada urusan apa apa mengenai diri orang muda ini. Akan tatapi kalau kau menghendaki pertempuran, mari kita keluar mengadu kepandaian sampai seribu jurus!"

"Siapa takut padamu, bocah sombong? Kau berkepandaian karena puteri Thian te Kiam ong, akan tetapi kau perlu diberi ajaran sopan santun!"

Sin tung Lo kai sudah memuiar tongkatnya. Akan tetapi sebelum dua orang jagoan ini bertanding, Pun Hui sudah menjatuhkan diri berlutut di depan ayah angkatnya.

"Ayah, mohon jangan angkat tangan bertempur dengan dia. Maafkanlah dia ayah...."

"Kau mintakan maaf untuk seorang yang berlaku kurang ajar kepada ayahmu?"

"Ayah, jangan bertempur dengan dia. Aku... aku cinta padanya, ayah...."

Semua orang, kecuali Leng Li, tertegun mendengar ini. Dan Siauw Yang dengan perlahan menengok kepada Pun Hui, kemudian menahan jatuhnya air mata dan sekali berkelebat ia lenyap dari situ.

"Siauw Yang.... !"

Pun Hui memanggil, akan tetapi gadis itu sudah pergi jauh dengan cepat sekali. Sin tung Lo kai tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha, ha! Leng Li keras kepala, akan tetapi kau lebih keras kepala lagi. Akan tetapi, aku suka pada anak anak yang keras hati dan bersemangat. Dan kau dapat membawaku menjadi besan dari Thian te Kian ong. Tidak jelek, tidak jelek, ha, ha, ha!"

"Ayah, harap jangan mengharap hal ini sebagai main main belaka. Siauw Yang sudah marah dan kalau sampai aku terpisah selamanya dari Siauw Yang, hidupku akan menderita sengsara,"

Kata Pun Hui.

"Anak bodoh! Soal perjodohan, kau dan dia tahu apa? Aku masih hidup, dan Thian te Kiam ong masih hidup pula. Biarkan dia datang membicarakan urusan ini, baru aku akan dapat mengangkat namaku. Bagus sekali!"

Pun Hui tak berani membantah lebih jauh karena ia mendapat isarat kerlingan mata dari Leng Li, maka pemuda ini yang sudah percaya akan kecerdikan adik angkatnya, lalu menutup mulut, ia tahu bahwa dalam hal urusannya dengan Siauw Yang, ia boleh mengharapkan bantuan dari Leng Li.

Sebagaimana telah ditularkan d bagian depan, Ong Siang Cu ikut pergi dengan Bong Eng Kiat menuju ke dusun Tiang kwan, di mana di rencanakan akan dilakukan upacara pernikahan mereka.

Dapat dibayangkan betapa hancurnya hati Siang Cu ketika ia melakukan perjalanan di samping pemuda yang dibencinya itu.

Ia telah rela berkurban demi keselamatan Tek Hong, pemuda yang dicintainya, ia telah bersumpah mau menjadi isteri Eng Kiat dan ia tahu bahwa sumpah ini hanya berarti bahwa dia pasti mati.

Dia tidak akan sudi diperisteri oleh Eng Kiat atau siapapun juga kecuali Tek Hong, maka ia lebih baik membunuh diri daripada menjadi jodoh Eng Kiat.

Ia akan menghabiskan nyawanya setelah ia melihat betul bahwa kekasihnya itu benar benar telah disembuhkan oleh Tung hai Sian jin.

Tentu saja ia bisa melanggar sumpahnya, akan tetapi hal inipun tidak akan ia lakukan.

Jalan satu satunya hanya menghabiskan nyawa sendiri, dengan demikian, Tek Hong tertolong dan iapun terbebas dari pada sumpahnya menjadi isteri Eng Kiat.

Akan tetapi masih ada yang mengganjal hatinya, yakni urusan gurunya, Lam hai Lo mo.

Telah berkali kali ia membaca surat Pangeran Kiam Tiong kepada Song Bun Sam yang sampai sekarang masih berada di saku bajunya.

Kalau ia mati sebelum dapat menanyakan hal itu kepada Lam hai Lo mo ia akan mati dalam penasaran.

"Adik Siang Cu, mengapa kau melamun dan nampak berduka saja?"

Tiba tiba Eng Kiat yang semenjak tadi memandangnya, bertanya dengan suara halus penuh kasih sayang. Suara ini lebih menyebalkan hati Siang Cu daripada kalau pemuda itu bicara kasar.

"Siapa melamun? Siapa berduka? Perduli apa kau dengan semua urusan? Tak usah kau memperhatikan aku!"

Katanya ketus. Hening sesaat dan pada saat itu. Siang Cu terbenam dalam renungannya sendiri, karena ia sedang memikirkan sesuatu yang tiba tiba memasuki otaknya.

"Bagaimana aku tidak harus perduli? Aku cinta padamu, adik Siang Cu yang manis."

Akan tetapi kata kata yang halus dari Eng Kiat ini hampir tidak terdengar oleh Siang Cu yang sedang melamun dan tiba tiba gadis ini berpaling padanya sambil menahan tindakan kakinya.

"Eng Kiat, betul betulkah kau suka padaku?"

"Aku bersumpah, demi langit dan...."

"Cukup! Kalau kau suka padaku, tentu kau mau menceriterakan terus terang segala yang ingin kuketahui?"

"Tentu, tentu!"

"Sudah lama kau mengenal Lam hai Lo mo suhuku?"

"Semenjak aku kecil! Akan tetapi tentu saja yang lebih mengetahui keadaannya adalah ayahku, mereka semenjak dahulu sudah saling tahu."

"Hm, kalau begitu, ceritakan padaku tentang halnya dengan sepasang suami isteri bangsawan, yakni Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee."

Berobah air muka Eng Kiai ketikjt ia mendengar ini. Sampai lama ia tidak dapat menjawab dan memandang kepada gadis itu dengan penuh keraguan.

"Kau.... sudah tahukah tentang.... tentang mereka?"

Kata pemuda itu gagap dan matanya memandang dengan mata terbuka lebar lebar.

Melihat sikap dan mendengar kata kata pemuda itu, Siang Cu yang cerdik sekali dapat menduga bahwa pemuda itu tentu tahu akan peristiwa yang terjadi antara kedua suami isteri bangsawan itu dengan Lam hai Lo mo dan bahwa pemuda ini hanya takut untuk menceritakan hal itu kepada lain orang.

Maka ia lalu berkata.

"Tentu saja aku tahu. Mereka itu adalah ayah bundaku dan aku dibawa oleh suhu dari kerajaan. Akan tetapi pengetahuanku ini baru suram suram saja, maka berlakulah baik kepadaku seperti janjimu tadi bahwa kau akan menceriterakan segala yang kau ingin tahu. Aku ingin kau menuturkan tentang kedua orang tuaku itu dan tentang kematian mereka di tangan Lam hai Lo mo suhuku."

Eng Kiat menjadi bengong.

"Jadi selama ini kau telah tahu akan hal itu? Adikku Siang Cu, memang akupun tahu baik akan hal itu! akan tetapi biarpun terhadap kau sendiri, tadinya aku sama sekali tidak membuka mulut karena Lam hai Lo mo telah berkata bahwa siapa saja yang membocorkan hal yang ia rahasiakan itu, pasti akan dibunuhnya! Jangankan aku, bahkan ayahku sendiripun takkan mau membocorkan rahasia itu. Akan tetapi, sekarang ternyata kau sendiri telah mengetahuinya, tidak ada salahnya lagi kalau aku menuturkan hal itu. Apalagi, bukankah kau calon isteriku yang tercinta?"

"Cukup semua itu, lekas ceritakan!"

Siang Cu mendesak sambil menahan perasaannya yang menegang.

"Sebetulnya tidak banyak yang dapat kuceritakan. Ayahmu seorang pangeran berkedudukan tinggi di kota raja, bahkan ada desas desus bahwa ayahmu itulah yang tadinya akan menggantikan singgasana kaisar. Adapun ibumu, pernah ketika aku masih kecil aku melihatnya, seorang yang amat cantik jelita, sama benar dengan engkau, hanya matanya berwarna biru dan indah sekali. Ibumu adalah puteri kepala suku bangsa Semu yang amat ternama pula. Hal hal lain aku tidak tahu, hanya yang aku ketahui bahwa ketika kau masih kecil, ayah bundamu itu didatangi oleh seorang kakek pincang yang membunuh mereka dan membawamu pergi. Ayah melihat ketika kakek pincang itu membawamu ke Sam liong to, oleh karena itu, Lam hai Lo mo mengancam ayah dan aku jangan sampai membocorkan rahasia itu. Nah. hanya itu yang kuketahui. Siang Cu, tidak penting bagimu karena kaupun sudah mengetahuinya."

Dengan kata kata ini sambil berpaling ke kanan kiri, seakan akan Eng Kiat hendak menghihur hatinya yang ketakutan bahwa bukan dia yang membocorkan rahasia Lam hai Lo mo itu.

Siang Cu tersenyum mengejek menyaksikan sikap ini, akan tetapi di dalam hatinya, Siang Cu merasa terharu sekali.

Ternyata betullah semua yang ia dengar dari Thian te Kiam ong sekeluarga, bahwa pembunuh orang tuanya bahkan suhunya sendiri.

"Akan tetapi, mengapa suhu melakukan pembunuhan itu semua? Tentu ada sebab sebabnya maka kedua orang tuaku dibunuhnya."

"Semua adalah kesalahan Thian te Kiam ong belaka! Memang orang itu selalu mengandalkan kepandaiannya sendiri melakukan pengacauan di mana mana, membikin hidup orang lain tidak bisa tenteram. Aku mendengar dan ayah bahwa dahulu Lam hai lo mo membantu kerajaan. bersama dengan Pat jiu Giam ong yang menjadi jenderal. Akan tetapi kedudukan Lam hai Lo mo yang amat baik itu dirusak oleh Thian te Kiam ong yang memusuhinya, bahkan akhirnya baik Pat jiu Giam ong maupun suhumu telah dikalahkan oleh Thian te Kiam ong secara curang. Kabarnya dikeroyok oleh Thian te Kiam ong dan guru gurunya. Adapun ayahmu, Pangeran Kian Tiong itu, bersahabat baik sekali dengan Thian te Kiam ong. Tentu saja suhumu yang menaruh hati dendam kepada Thian te Kiam ong, juga menganggap kawan kawan baik Thian te sebagai musuhnya pula."

Siang Cu mengangguk angguk.

Pikirannya bekerja keras.

Ia dapat membayangkan dengan amat mudahnya mengapa Thian te Kiam ong sampai bermusuhan dengan Lam hai Lo mo.

Sudah bukan rahasia lagi baginya bahwa watak dari suhunya itu memang amat jahat dan keji, sebaliknya watak dari keluarga Song adalah watak orang orang gagah yang amat mengagumkan hatinya, ia sudah kenal baik watak Tek Hong pemuda pujaan kalbunya, ia membuktikan sendiri kegagahan Seng Bun Sam atau Thian te Kiam ong, raja pedang yang luar biasa itu.

Ia telah tahu pula akan kehebatan sepak terjang Song Siauw Yang dan ibunya yang halus dan ramah tamah.

Oleh karena itu, biarpun tidak tahu apa yang menjadi sebab sebab permusuhan antara suhunya dan keluarga Song.

Siang Cu dapat menduga bahwa kesalahan tentu berada di pihak Lam hai Lo mo.

Semua pemikiran ini membuat hati Siang Cu tidak karuan rasanya.

Kini sudah terang bahwa Lam hai Lo mo pembunuh ayah bundanya, jadi ia boleh menganggap kakek itu sebagai musuh besarnya yang harus dibalas.

Akan tetapi di samping itu gadis ini tidak lupa pula betapa kakek itu telah memelihara dan mendidiknya semenjak ia masih kecil dengan penuh kasih sayang.

Jadi boleh dibilang ia telah berhutang budi yang tak dapat dibayangkan besarnya kepada kakek yang menjadi gurunya itu.

Mengapa demikian?

Mengapa suhunya membunuh ayah bundanya secara kejam kemudaan memelihara dan mendidiknya menjadi murid?

Apa yang dikehendaki oleh kakek yang aneh itu?

Tiba tiba terkilas dalam bayangan pikiran Siang Cu hal hal yang telah terjadi ketika ia masih kecil.

Sering kali gurunya itu sambil menimang nimangnya dan tertawa berkikikan berkata kepadanya.

"Siang Cu, muridku yang manis, muridku yang pandai, muridku yang baik. Kaulah orangnya yang kelak akan mewarisi semua kepandaianku, bahkan kau akan menjadi lebih lihai daripadaku. Kaulah, ya kaulah orangnya yang kelak akan membalaskan sakit hatiku terhadap semua musuh musuhku! Ha, ha, ha, kaulah anak manis yang kelak akan membasmi seluruh musuh besar Lam hai Lo mo."

Teringat akan semua ini, diam diam Siang Cu bergidik.

Mukanya menjadi merah sekali, ia merasa ngeri dan marah sekali karena matanya telah terbuka kini akan kekejian kakek yang menjadi gurunya itu.

Demikian besar kebencian Lam hai Lo mo terhadap Thian te Kiam ong dan Pangeran Kian Tiong sehingga tidak saja kakek ini membunuh pangeran dan isterinya, akan tetapi bahkan mendidik puteri mereka untuk kelak memusuhi Thian te Kiam ong, sahabat baik pangeran itu.

"Keparat jahanam!"

Tak terasa mulut gadis itu memaki gurunya.

"Memang betul, Thian te Kiam ong itu keparat jahanam yang mengacaukan segala hal."

Bong Eng Kiat salah sangka mengira gadis itu memaki Song Bun Sam.

"Akan tetapi sudahlah, adikku yang manis, untuk apa kita memikirkan dia? Begitu sesudah kita menikah, kita tidak mau mencampur semua urusan itu. Kita menjadi suami isteri yang bahagia menjauhkan diri dan aku akan berdagang, di mana kita tidak lagi menghadapi permusuhan permusuhan."

Siang Cu gemas sekali, akan tetapi kata kata ini menarik hatinya, ia memandang dengan penuh selidik.

"Kau tidak hendak mencari dan memusuhi keluarga Song itu?"

Tanyanya. Eng Kiat menggeleng kepala dan tersenyum lalu mengulur tangan hendak menangkap lengan Siang Cu akan tetapi gadis itu cepat mengelak sehingga Eng Kiat menangkap angin.

"Siang Cu, apa kaukira aku seorang yang haus darah? Cita citaku adalah mencari kebahagiaan hidup, dan dengan kau di sampingku sebagai isteri terkasih, aku akan hidup bahagia, menjadi ayah dan beberapa orang anak...."

"Oh, tutup mulutmu!"

Bentak Siang Cu dengan muka merah.

Akan tetapi timbul pandangan lain baginya terhadap pemuda ini.

Pemuda ini betapapun juga mata keranjang dan ceriwisnya, namun tidak sejahat ayahnya dan jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan Lam hai Lo mo.

Ia percaya bahwa seorang pemuda beriman lemah seperti Eng Kiat, apabila mendapat bimbingan dari seorang yang penuh kasih sayang besar kemugkinan akan menjadi orang baik baik.

Akan tetapi, tentu saja ia tidak sudi menjadi isteri Eng Kiat atau isteri siapapun juga kecuali Tek Hong.

Perjalanan dilanjutkan dengan cepat menuju ke Tiang kwan, dan di dalam perjalanan, Siang Cu jarang sekali membuka mulut lagi.

Jawaban jawabannya yang ia ucapkan atas pertanyaan dan senda gurau Eng Kiat hanya singkat saja, bahkan tidak jarang ia tidak menjawab sama sekali oleh karena itu, Eng Kiat ingin cepat cepat tiba di tempat tujuan.

Sebelum pernikahan dilangsungkan, hatinya masih terap gelisah, karena siapa tahu akan perobahan hati gadis yang aneh wataknya ini.

Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di pinggir sebuah hutan di lereng pegunungan.

Karena sudah melakukan perjalanan jauh, merela lalu mengaso di bawah sebatang pohon besar.

Siang Cu mempergunakan saputangan untuk menghapus peluh di dahinya dan dengan sikap manja.

Eng Kiat lalu mengeluarkan kipasnya dan mengipasi gadis itu untuk mengusir hawa panas.

Terharu juga hati Siang Cu melihat pemuda ini.

Makin lama sikap Eng Kiat makin baik dan mengambil ambil hatinya, padahal ia selalu bersikap tidak mengacuhkan.

Seringkali di waktu bermalam di dalam hutan, setelah Siang Cu tertidur, Eng Kiat mempergunakan mantelnya untuk menyelimuti tubuh gadis itu dan ia berjaga semalam suntuk untuk mengusir nyamuk yang hendak menggigit kulit yang halus dan putih dari kekasihnya.

"Eng Kiat, kau tahu bahwa aku tidak suka padamu. Mengapa kau mati matian hendak mengawiniku?"

Siang Cu bertanya dengan nada suara mengandung iba hati. Eng Kiat tersenyum pahit.

"Bagaimana seorang kasar dan bodoh seperti aku dapat mengharapkan cinta seorang seperti kau, Siang Cu? Mendapat kesempatan untuk mencintamu itu saja sudah merupakan kebahagiaan paling besar di dalam hidupku."

"Akan tetapi, kau tahu bahwa aku hanya mau menikah padamu karena terpaksa, karena cinta kasihku kepada Tek Hong, karena aku tidak ingin melihat ia mati. Aku lakukan ini sebagai pengorbananku terhadap Tek Hong. Adakah hal ini tidak menyakitkan hatimu?"

"Akan tetapi, kalau sampai Tek Hong tidak tertolong oleh ayahmu dan tidak dapat hadir ketika perayaan pernikahan dilangsungkan, tidak saja aku takkan sudi melakukan upacara itu, bahkan kau akan kubinasakan, Eng Kiat!"

Siang Cu memandang tajam penuh ancaman. Eng Kiat tertawa.

"Aku percaya akan kesayangan ayah padaku. Dia pasti akan menyembuhkan pemuda itu."

"Akan tetapi masih ada sebuah syarat lagi, Eng Kiai. Sebelum upacara itu dilakukun lebih dulu aku harus bertemu dengan Lam hai Lo mo."

Eng Kiat terkejut.

"Untuk apa kau akan bertemu dengan kakek buntung itu?"

"Untuk mendapat kepastian daripadanya apakah benar benar dia telah membunuh orang tuaku dan kalau benar demikian, hendak menuntut keterangan mengapa ia melakukan hal yang keji itu."

Eng Kiat tak dapat menjawab dan pada saat itu, terdengar suara ketawa terkekeh kekeh disusul oleh suara yang parau.

"Ha, ha, ha, bohong! Bohong benar ucapan itu. Siapa yang membunuh orang tuamu?"

Mendengar suara ini, serentak Siang Cu melompat bangun dan di lain saat pedangnya Cheng hong kiam sudah tercabut dan berada di tangan kanannya.

Bayangan kakek berkaki buntung sebelah melayang turun dari atas pohon besar dan Lam hai Lo mo berdiri di depan dua orang muda itu sambil mempermainkan tongkatnya.

"Siang Cu, kau tadi bicara tidak karuan. Kalau kau mau tahu, yang membunuh orang tuamu adalah Thian te Kiam ong ong Bun Sam! Sedangkan akulah yang menolongmu sehingga kau terbebas dari bahaya maut di tangan penjahat itu."

"Lam hai Lo mo, kau bohong, kau jahanam besar!"

Seru Siang Cu yang tak dapat mengendalikan hawa nafu kemarahannya lagi.

"Siang Cu, kau kurang ajar! Mana ada murid berani mengatakan bohong kepada suhunya?"

"Memang kau pembohong besar! Kau memutarbalikkan kenyataan. Kaulah yang membunuh mati ayah bundaku lalu menculikku. Apakah kau begitu pengecut tidak berani mengakui perbuatanmu?"

"Siapa bilang? Hayo katakan, siapa bilang?"

"Eng Kiat yang menjadi saksi, Eng Kiat dan ayahnya!"

Merah muka Lam hai Lo mo seperti kepiting direbus. Dengan muka mengancam ia menoleh kepada Eng Kiat dan memaki.

"Anjing busuk! Kau yang membuka rahasia?"

Kau dan ayahmu? Kalau begitu kepalamu akan pecah, begitupun kepala ayahmu!"

Melihat betapa wajah Eng Kiat menjadi pucat sekali dan pemuda itu melangkah mundur ketakutan.

Siang Cu menjadi kasihan dan ia teringat bahwa tidak seharusnya ia mengatakan bahwa Eng Kiat yang membuka rahasia itu.

Maka ia melompat maju di depan Lam hai Lo mo sambil membentak.

"Lam hai Lo mo, tak usah kau membelokkan persoalan! Kau pembunuh orang tuaku, maka sekarang aku harus mengadu nyawa denganmu!"

Setelah berkata demikian, Siang Cu terus saja menyerang dengan pedangnya menusuk kearah dada bekas guunya itu secepat kilat.

Kakek yang buntung sebelah kakinya itu cepat melompat dan mengelak sumbil membentur pedang bekas muridnya dengan tongkat di tangannya.

Lalu ia mengeluarkan suara yang aneh, terdengar seperti suara tertawa dan menangis campur aduk.

"Alangkah buruknya nasibku! Seagala kepandaian yang kuajarkan kepadamu, ternyata sekarang dipergunakan untuk menyerangku sendiri."

Tertikam hati Siang Cu mendengar ini dan mukanya menjadi merah. Akan tetapi sambil mengertak giginya ia berkata.

"Kebaktian terhadap orang tua jauh lebih berharga daripada kebaktian terhadap guru. Kau haru menebus dosamu terhadap ayah bundaku."

Lagi lagi ia menyerang, kini dengan sabetan pedang nya ke arah kakek itu.

Sebagai orang yang memberi pelajaran ilmu pedang kepada Siang Cu tentu saja Lam hai Lo mo tahu sepenuhnya segala macam sifat penyerangan pedang gadis itu, maka kembali ia dapat mengelak dengan baiknya.

Akan tetapi dengan gerakan yang lebih ganas lagi Siang Cu menyerang untuk ke tiga kalinya.

Lam hai Lo mo menangkis dan timbullah marahnya.

"Kau sudah bosan hidup dan hendak menyusul kedua orang tuamu? Baik, kuantarkan kau menjumpai mereka!"

Tongkatnya lalu begerak cepat dan kini bekas guru dan murid itu saling gempur dengan hebatnya.

Siang Cu memiliki gerakan yang luar biasa cepatnya, dan boleh dibilang kecepatan gerakannya sudah mengatasi suhunya.

Hal ini karena memang ia berbakat baik sekali dan jauh lebih muda serta memiliki tubuh yang lemas dan gesit.

Akan tetapi semua gerakan pedangnya telah dipahami baik oleh Lam hai Lo mo, sebaliknya penyerangan tongkat di tangan kakek itu memiliki banyak gerakan yang belum dimengerti oleh Siang Cu.

Oleh karena ini, sebentar saja gadis itu terdesak hebat.

"Jangan bunuh isteriku........ jangan bunuh dia!"

Berkali kali Eng Kiat menjerit jerit dengan hati gelisah, akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak berani menggerakkan tangannya untuk membantu Siang Cu.

Memang, biarpun ia telah memiliki kepandaian yang tinggi, namun sifat pengecutnya masih ada.

Tidak ada kepandaian yang dapat melenyapkan sifat seseorang dan Eng Kiat memang amat takut terhadap kakek buntung ini.

Dengan tongkat Lam hai Lo mo masih belum dapat membobolkan pertahanan pedang di tangan Siang Cu.

Agaknya kalau hanya mengandalkan tongkatnya, kakek buntung ini akan sukar sekali atau setidaknya akan lama sekali untuk dapat merobohkan bekas muridnya.

Maka dengan gemas sekali ia lalu mulai mainkan tangan kirinya, melakukan pukulan pukulan Sam hiat ci hoat.

Siang Cu terkejut sekali.

Belum pernah ia mempelajari ilmu pukulan ini sungguhpun dahulu ia telah mendengar dari suhunya itu ketika Lam hai Lo mo tengah menciptakan ilmu pukulan yang hebat ini.

Keadaan Siang Cu makin terdepak dan dalam jurus ke limapuluh lebih, tiba tiba ketika sepasang senjata bertemu dan saling menempel, jari jari tangan kiri kakek itu melayang dan menyentuh jidat Siang Cu yang berkulit putih halus.

Gadis itu mengeluh, pedangnya terlepas dan tubuhnya terhuyung huyung lalu roboh.

Wajahnya yang putih kemerahan berubah menjadi kebiruan dan jidatnya nampak tanda tiga buah jari merah.

Setelah merobohkan bekas muridnya, Lam hai Lo mo berdiri bagaikan patung, memandang kepada tubuh yang menggeletak itu dan butiran butiran air mata mengalir turun dari matanya.

Teringat ia betapa dahulu ketika masih kecil, Siang Cu ia timang timang dengan penuh kasih sayang.

Kemudian ia teringat kepada Eng Kiat yang berdiri sambil menangis keras.

"Kau.... anjing busuk, kaulah biang keladi semua ini.... !"

Kata Lam hai Lo mo yang melangkah maju menghampiri Eng Kiat dengan tindakan lambat.

"Tidak.... tidak.... aku tidak bersalah...."

Eng Kiat mundur dengan muka pucat, menggoyang goyangkan kedua tangannya dan tubuhnya gemetar.

"Kau harus mampus!"

Berkali kali Lam hai Lo mo menggumam dan terus mengikuti pemuda itu.

Saking takutnya, Eng Kiat lalu membalikkan tubuhnya dan lari.

Akan tetapi, baru beberapa langkah ia berlari, tiba tiba ia merasa pundak kanannya sakit sekali dan ternyata bahwa tongkat kakek itu telah dilontarkan dan menembus pundak tepat di bawah tulang pundaknya.

Sakitnya bukan main sehingga tubuh Eng Kiat terhuyung huyung dan matanya menjadi berkunang kunang.

Ia lebih mempercepat larinya, akan tetapi karena ia sudah pening dan pandang matanya gelap, ia lupa bahwa tadi dalam terputar putar, ia menghadapi Lam hai Lo mo sehingga ketika ia lari cepat ia bukan menjauhkan diri, sebaliknya menghampiri kakek itu.

Ia mendapatkan kenyataan ini setelah terlambat, ia hanya mendengar suara kakek itu tertawa menyeramkan dan ketika ia membuka mata lebar lebar, kakek itu telah berada di depannya dan pada waktu tangan kanan kakek itu meluncur ke depan, terdengar suara "krek!"

Dan robohlah tubuh Eng Kiat setelah tersentak ke belakang.

Jidatnya telah terkena pukulan Sam hiat ci hoat dengan hebatnya sehingga biarpun kulit jidatnya tidak rusak, namun seluruh isi kepalanya telah hancur.

Ia menggeletak tak bernyawa lagi dengan seluruh kepala menjadi hitam dan jidatnya terhias tanda tiga buah jari merah.

Lam hai Lo mo mencabut tongkatnya dari pundak Eng Kiat, lalu memandang tubuh Siang Cu beberapa lama.

Kemudian ia pergi, bicara seorang diri di dalam perjalanan.

Suara penuh ancaman.

"Bun Sam, kau sekeluarga mu harus mampus...."

Pada saat itu terdengar jerit mengerikan.

"Siang Cu.... !"

Ketika Lam hai Lo mo menengok wajahnya berobah seram, ia melihat seorang pemuda tegap, dan tampan memeluk tubuh Siang Cu sambil menangis.

Ternyata bahwa pemuda itu bukan lain adalah Tek Hong, putera dan Thian te Kiam ong Song Bun Sam!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah meninggalkan Tung hai Sian jin yang tewas karena ketamakannya sendiri, Tek Hong cepat cepat mengejar Siang Cu yang pergi bersama Eng Kiat.

Pemuda ini amat khawatir akan keselamatan kekasihnya, maka ia melakukan perjalanan cepat sekali tanpa menunda nunda.

Oleh karena itulah maka ia dapat menyusul Siang Cu dan Eng Kiat.

Namun sayang sekali, ia terlambat sedikit sehingga ketika tiba di dekat hutan itu, ia mendapatkan dua tubuh menggeletak di atas tanah.

Ketika melihat bahwa yang menggeletak itu adalah Siang Cu dan Eng Kiat, ia cepat menubruk Siang Cu dan memeluknya sambil menangis.

"Siang Cu.... kau, kenapakah.... ?"

Gadis itu belum tewas.

Pukulan Sam hiat ci hoat yang mengenai jidat Eng Kiat jauh lebih hebat sehingga pemuda itu tewas pada saat itu juga.

Akan tetapi pukulan yang ditujukan kepada Siang Cu, biarpun amat hebat namun belum cukup kuat untuk menewaskan gadis itu seketika.

Siang Cu membuka matanya dan ketika melihat wajah Tek Hong dekat dengan wajahnya, ia tersenyum dan sepasang mata yang tadinya sudah menyuram itu bersinar kembali untuk beberapa lama.

"Tek Hong.... sampai akhir.... aku tetap setia.... pada cintaku...."

Tek Hong mendekap kepala di pangkuannya itu ke dada, seakan akan takut kalau kalau gadis itu akan lenyap dari depannya.

"Siang Cu.... Siang Cu, kau jangan meninggalkan aku...."

"Aku akan menantimu...."

Kata kata Siang Cu makin lemah dan tiba tiba sepasang mata gadis itu terbuka lebar lalu ia menjerit.

"Tek Hong, awas belakang! Hati hatilah!"

Lalu ia terkulai, dan tak dapat bergerak lagi.

Tek Hong cepat melompat sambil melepaskan tubuh Siang Cu karena ia merasa ada sambaran angin dari belakang.

Sambil mempergunakan gerak tipu It ho hoan sin (Burung Ho Membalikkan Tubuh) ia membalik sambil mencabut pedangnya.

Baiknya ia berlaku cepat karena sebatang tongkat menyambar cepat sekali ke arah kepalanya dan mendatangkan angin yang dingin.

"Lam hai Lo mo, siluman tua. Kiranya kau yang telah menewaskan Siang Cu. Rasakan pembalasanku!"

Tek Houg menyerang tanpa banyak cakap lagi.

Pemuda ini menyerang dengan penuh semangat.

Memang ilmu pedangnya Tee coan Liok kiam sut luar biasa hebatnya, kini ditambah oleh dendam yang menggelora karena kematian Siang Cu, maka serangannya menjadi jauh lebih ganas dan berbahaya daripada biasanya.

Lam hai Lo mo juga tidak banyak komentar lagi ia maklum bahwa pemuda ini mencinta bekas muridnya dan maklum pula bahwa betapapun juga, putera Thian te Kiam ong ini tentu takkan mau menyerah begitu saja sebelum mengadu nyawa.

Maka kakek inipun lalu mengeluarkan kepandaiannya dan kini pertempuran menjadi lebih hebat daripada tadi ketika Lam hai Lo mo menghadapi Siang Cu.

Diam diam Lam hai Lo mo mengeluh karena menghadapi ilmu pedang pemuda ini mengingatkan dia akan ilmu pedang yang dimainkan oleh Sang Bun Sam, begitu tangguh dan kuatnya.

Biarpun ia telah mengerahkan tenaga dan memutar tongkatnya dengan ilmu silatnya yang penuh keganasan dan kecurangan, namun tetap saja sinar pedang lawannya mengurungnya dan membuatnya menjadi bingung dan cepat lelah.

Tek Hong yang mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian disertai kenekatan yang meluap luap, tetap waspada, ia sudah maklum bahwa tangan kiri kakek buntung itu lihai sekali dalam mempergunakan ilmu pukulan Sam hiat ci hoat.

Hal ini tidak memungkinkan Lam hai Lo mo untuk mempergunakan ilmu pukulan yang mematikan itu karena tiap kali tangan kirinya bergerak, selalu ia didahului oleh Tek Hong yang mempergunakan ilmu pukulan Kim kong pek lek jiu untuk menyerang tangan kiri lawan itu.

Akan tetapi, pemuda ini tentu saja kalah pengalaman dan ia lupa bahwa yang dihadapinya adalah Lam hai Lo mo, seorang tokoh jalan hitam yang di waktu dahulu sebelum ia lahir, sudah merupakan seorang tokoh yang amat berbahaya.

Tiba tiba Lam hai Lo mo memperlambat gerakannya, sepasang matanya memandang tajam seakan akan mengeluarkan cahaya berapi, bibirnya kemak kemik membaca mantera dan dengan mendadak ia berkata, suaranya dalam dan amat berpengaruh.

"Anak muda, Siang Cu memanggilmu apakah kau tidak dengar? Coba dengarkan baik baik ia memanggil dan minta petolongamu!"

Tek Hong tertarik dan merasa amat heran.

Ia tahu bahwa tadi gadis itu telah menghembuskan napas terakhir, maka kini mendengar ucapan Lam hai Lo mo cepat ia melompat, membalikkan tubuh dan memandang ke arah gadis itu.

Sungguh luar biasa sekali.

Tek Hong hampir tidak percaya akan penglihatannya sendiri.

Ia melihat Siang Cu telah bangun duduk, membetulkan rambutnya dengan gaya yang amat menggairahkan hatinya.

"Tek Hong, kesinilah...."

Suara Siang Cu berbisik sayu.

"Tek Hong, ke sinilah...."

Akan tetapi pada saat itu, Tek Hong masih dapat mengelak cepat untuk menghindarkan diri dari sambaran tongkat Lam hai Lo mo.

Pemuda ini lalu membalas serangan lawan dan kembali mereka bertempur ramai dan seru.

"Dengar, dia memanggil manggilmu!"

Berkali kali Lam hai Lo mo berkata dengan suaranya yang berpengaruh. Benar saja dalam menghadapi serangan serangan kakek itu, Tek Hong mendengar suara Siang Cu merayu rayu.

"Tek Hong kemarilah.... ! Tidak kasihankah kau kepadaku? Tolonglah...."

Tek Hong melompat sambil menangkis serangan tongkat Lam hai Lo mo dan sekali melompat ia telah berada di dekat Siang Cu.

Akan tetapi ketika ia menengok, ia melihat gadis itu telah rebah kembali tak bergerak sedikitpun, dengan muka kebiru biruan dan pada jidatnya nampak tanda tiga jari tangan merah yang mengerikan itu.

"Siang Cu....!"

Dengan hati hancur Tek Hong menggunakan tangan kiri menggoyang goyangkan tubuh kekasihnya, akan tetapi ia segera menarik kembali tangannya ketika jari jarinya menyentuh kulit tubuh yang dingin seperti tubuh seorang yang telah mati!

Teringatlah ia kini akan penuturan ayahnya bahwa Lam hai Lo mo adalah seorang ahli hoat sut (ahli sihir) yang memiliki ilmu hitam yang mujijat.

"Celaka!"

Pikirnya ketika ia merasa ada sambaran angin pukulan yang amat hebat dari belakang.

Ternyata bahwa tadi dalam kebingungannya menghadapi ketangguhan pemuda itu, Lam hai Lo mo telah mempergunakan hoat sut sehingga dalam pandangan Tek Hong, Siang Cu kelihatan bangun duduk sedangkan telinganya seolah olah mendengar gadis itu memanggilnya dengan suara merayu.

Dan pada saat pemuda itu mencurahkan perhatiaannya kepada gadis itu, Lam hai Lo mo segera mengirim pukulan pukulan mematikan!

Tek Hong cepat mengangkat pedang menangkis pukulan tongkat, akan tetapi ia tidak berhasil menghindarkan bahaya yang datang dan pukulan tangan kiri Lam hai Lo mo.

Jidatnya terkena pukulan Sam hiat ci hoat dan tergulinglah tubuh pemuda itu, bergelimpangan di dekat tubuh Siang Cu!

Memang tadi Tek Hong sedang terkejut sekali ketika menjamah tubuh kekasihnya yang dingin, maka untuk seketika itu, perhatiannya terbagi dan ia tidak mungkin dapat menangkis dua macam serangan dari Lam hai Lo mo yang sangat ganas dan keji.

Pukulan Sam htat ci hoat yang mengenai jidat Tek Hong amat hebat dan pemuda ini biarpun telah mengerahkan tenaga dalam dan sudah pula mendapatkan sari pengobatan katak mujijat, tetap saja menjadi pening dan otaknya terluka hebat.

Namun dalam keadaan hampir mati itu, Tek Hong masih sempat mempergunakan tenaga terakhir, melontarkan pedangnya ke arah Lam hai Lo mo dengan gerak tipu Kim coa jip te (Ular Emas Masuk Ke Dalam Tanah).

Pedangnya berobah menjadi sinar yang cepat menyambar ke arah perut Lam hai Lo mo yang sedang tertawa bergelak melihat hasil dan kemenangannya.

Bukan main kagetnya Lam hai Lo mo melihat datangnya sambaran pedang.

Ia tidak mempunyai jalan lain kecuali melompat ke atas.

Namun gerakannya kurang cepat karena tadi ia tertawa gembira sehingga perhatiannya berkurang, maka pedang itu masih berhasil menyerempet pahanya yang tinggal sebelah.

"Aduh...."

Jeritnya dan kulit pahanya terobek pedang sehingga mengeluarkan banyak sekali darah berceceran di atas tanah.

Lam hai Lo mo menyumpah nyumpah dan lari masuk ke dalam hutan terpincang pincang.

Tek Hong makin pening dan pemuda ini lalu menghampiri tubuh kekasihnya, menubruk dan memeluk Siang Cu lalu roboh miring dengan tangan masih memeluk leher kekasihnya.

Sebentar saja mukanya menjadi biru dan jidatnya terdapat tanda tiga buah jari tangan merah!

Dengan hati tidak karuan rasa, Siauw Yang berlari lari meninggalkan Sin tung Lo kai, mendongkol, kecewa, berduka dan banyak lagi perasaan tidak enak tercampur aduk di dalam hatinya.

Juga ia merasa malu kepada diri sendiri, seakan akan telah menerima tamparan dari keluarga Thio dan dari Pun Hui, pemuda yang selalu menjadi buah kenangannya.

Berkali kali ia menggigit bibir dan menghapus air matanya.

Dan tujuan perjalanannya hanya satu, yakni menyusul orang tuanya yang masih berada di Sam liong to.

Pada suatu hari ia memasuki sebuah dusun pegunungan yang banyak hutannya, ia melihat orang orang dusun bersimpang siur dan kelihatan ada terjadi sesuatu yang luar biasa.

"Lopeh, ada terjadi apakah maka kalian begitu sibuk dan bingung?"

Tanyanya kepada seorang tua petani yang kebetulan lewat di dekatnya. Petani itu menoleh dan memandang kepadanya dengan sinar mata bercuriga dan ragu ragu.

"Aku paling tidak suka melihat orang berpedang atau bergolok. Sejak muda aku tidak suka melihatnya!"

Jawabnya ketus dan bersungut sungut. Siauw Yang memang sedang mendongkol, maka jawaban yang langsung menyindirnya yang berpedang itu, membuatnya marah.

"Orang jahat terdapat di manapun juga."

Jawabnya.

"bukan hanya dengan golok dan pedang orang dapat berbuat jahat, bahkan dengan sebatang paculpun orang dapat berbuat jahat. Lebih lebih lagi dengan mulutnya yang tidak dapat ditahan orangpun dapat menyakiti hati orang lain!"

Kakek itu tadinya hendak melanjutkan perjalanannya, akan tetapi jawaban Siauw Yang ini membuat ia menahan kakinya dan memandang lebih tajam.

"Eh, kau lain lagi dengan orang orang kang ouw biasa yang kasar, nona. Aku tadi katakan bahwa aku tidak suka kepada orang bersenjata memang beralasan, karena mereka itu selalu mendatangkan keonaran. Dan sekarang, kembali terjadi hal yang membikin ribut. Di luar dusun ini, di dekat hutan terdapat tiga mayat orang menggeletak dalam keadaan mati mengerikan sekali. Sayang.... yang dua orang masih pemuda pemuda teruna yang gagah dan tampan, dan yang seorang adalah gadis remaja yang amat cantik jelita. Semua ini gara gara pedang dan golok, bukankah itu tepat sekali kalau kukatakan bahwa aku tidak suka melihat orang orang berpedang atau bergolok?"

Siauw Yang tertarik hatinya.

Memang ia tidak ingin melihat jenazah tiga orang yang menggeletak di luar dusun, akan tetapi penuturan tentang keadaan orang orang yang masih muda itu sedikitnya membuat ia bertanya lebih lanjut.

"Apanya yang mengerikan, lopeh? Apakah mereka itu terluka hebat oleh bacokan pedang dan golok?"

"Kalau terluka hebat masih tidak berapa mengerikan. Yang bikin orang takut adalah muka mereka itu semuanya menjadi hitam dan di jidat mereka terdapat tanda tiga jari yang merah.... ah, bergidik aku kalau mengingatnya."

Tanpa banyak cakap lagi, begitu mendengar keterangan ini, Siauw Yang berkelebat dan dalam sekejap mata saja ia lenyap dari hadapan kakek itu yang tentu saja menjadi melongo seperti orang melihat setan di tengah hari.

"Orang orang kang ouw memang aneh sekali...."

Ia menggerutu. Dengan hati berdebar cemas, Siauw Yang lari keluar dan dusun menuju ke tempat di mana dikabarkan orang terdapat mayat tiga orang muda itu.

"Tentu korban dari Lam hai Lo mo si keparat...."

Pikir Siauw Yang, karena di antara para anggauta Sam hiat ci pai, yang masih hidup hanya Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin saja.

Akan tetapi ia tidak ragu ragu lagi akan kekejaman Lam hai Lo mo yang tidak segan segan mencabut nyawa orang sambil tertawa bergelak.

Setelah tiba di tempat itu, Siauw Yang melihat beberapa orang dusun merubung sesuatu, cepat ia mendorong mereka ke kanan kiri sehingga orang orang itu terhuyung mundur dan memberi jalan kepada nona cantik yang kedua lengannya kuat seperti jepitan baja itu.

"Thian Yang Agung....!"

Siauw Yang menjerit ketika melihat kakaknya menggeletak dan memeluk Siang Cu.

Gadis ini cepat berlutut dan menangis.

Akan tetapi tiba tiba matanya menjadi beringas ketika ia melihat darah merah berceceran di atas tanah.

"Mundur kalian semua! Biarkan aku memeriksa jejak ini....!"

Bentaknya kepada para petani yang menonton.

Ternyata mata Siauw Yang amat tajam dan dengan cepat ia dapat mengikuti jejak yang dibuat oleh Lam hai Lo mo.

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, kakek jahat ini terluka pahanya dan luka itu mencucurkan banyak darah.

Maka ketika ia masuk ke dalam hutan terpincang pincang, darah menetes dari pahanya dan meninggalkan jejak yang mudah diikuti oleh seorang yang cerdik dan awas pandangannya seperti Siauw Yang.

Gadis ini setelah mendapat kepastian bahwa ceceran darah itu membawanya ke hutan, lalu mengadakan penyelidikan dengan cepat.

Benar saja dugaannya, ia melihat seorang kakek duduk di bawah pohon sambil membalut pahanya yang tinggal sebelah lagi, dan kakek itu duduk membalut paha sambil menangis!

"Siang Cu....

kau mengecewakan hatiku !

Ah, makin tua makin buruk nasibku...."

Demikian Lam hai Lo mo mengeluh sambil menangis dan ia nampaknya demikian berduka sehingga tidak mendengar kedatangan Siauw Yang yang memandang gemas dan mencabut pedang.

"Lam hai Lo mo iblis tua yang keji! Kau telah menewaskan kakakku, rasakan pembalasanku!"

Sambil berkata demikian.

Siauw Yang menubruk dan langsung menyerang dengan pedangnya.

Lam hai Lo mo terkejut sekali dan cepat melempar tubuhnya ke samping lalu menggelundung dengan gerak tipu Trenggiling Menggelinding Dari Puncak.

Berkat kecepatan gerakannya, baru ia terlolos dari pada bahaya maut karena serangan yang dilakukan oleh Siauw Yang tadi memang berbahaya sekali, penuh kegemasan dan keganasan.

Berapi api sepasang mata kakek itu ketika melihat siapa orangnya yang datang menyerang.

Kemudian ia tertawa bergelak dan mukanya berobah girang.

"Ha, ha, ha, bagus! Masih baik nasibku sehingga tanpa dipanggil kau datang! Memang aku harus membasmi keluarga Song keparat! Keluargamu yang selalu mendatangkan malapetaka bagiku. Ha, ha, ha!"

"Tutup mulut dan mampuslah!"

Bentak Siauw Yang dan gadis ini cepat menyerang lagi sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya serta tenaganya.

Pedangnya menjadi enam gulung sinar yang menyilaukan mata dan mengurung lawan dari segala jurusan.

Setiap serangan membawa tangan maut karena kali ini Siauw Yang benar benar marah dan berhati hati dalam menggerakkan pedangnya, ia tidak mau mainkan jurus yang biasa, melainkan mengeluarkan jurus jurus dari Tee coan Liok kiam sut yang paling hebat.

Kalau dibandingkan dengan kepandaian Tek Hong, ilmu pedang dan Siauw Yang masih lebih berbahaya lagi.

Kecepatan gerak dan kegesitannya luar biasa, laksana seekor burung walet dan getaran angin yang terbawa oleh sambaran pedangnya membuat daun daun pohon di atas menjadi bergerak melambai lambai Lam hai Lo mo sibuk sekali.

Tadi telah merasai kelihaian Tek Hong yang amat sukar dikalahkannya, kini menghadapi Siauw Yang yang lebih gesit dan yang sedang marah sekali, sebentar saja ia terkurung sinar pedang dan menjadi terdesak hebat.

Apalagi pahanya yang tinggal sebelah itu terasa sakit dan perih sekali.

Tiba tiba kakek buntung ini tertawa bergelak dengan suara yang amat menyeramkan, lalu ia membentak.

"Ha, ha, ha, bocah cilik, apa kaukira bisa menangkan Lam hai Lo mo yang lihai?"

Siauw Yang terkejut selengah mati.

Suara ketawa yang dikeluarkan oleh kakek itu demikian aneh dan nyaring sehingga ia merasa tidak saja anak telinganya, bahkan jantungnya juga tergetar hebat.

Gadis ini maklum bahwa lawannya ini menurut ayahnya, memiliki ilmu hitam yang amat jahat dan berbahaya, maka ia cepat mengerahkan semangat, menahan napas dan menolak getaran yang seakan akan melumpuhkan semangatnya itu.

"Ha, ha, ha, bagaimana kau dapat melawan ku dengan sebatang pedang buntung?"

Kembali Lam hai Lo mo membentak dengan suara mengandung penuh pengaruh ilmu hitam.

Otomatis Siauw Yang memandang ke arah pedangnya dan bukan main kagetnya ketika melihat betapa pedangnya benar benar tinggal sepotong!

Namun, ia mengerahkan semangatnya dan dengan perlawanan sengit dari batinnya, pedang di tangannya itu berubah ubah kadang kadang kelihaian buntung kadang kadang tidak!

Namun, tentu saja gangguan ini melelahkan dan mengacaukan permainan pedangnya.

Sedangkan tongkat di tangan Lam hai Lo mo makin lihai saja sehingga kini keadaan menjadi berbalik, bukan kakek itu yang terdesak, melainkan Siauw Yang.

"Ha, ha, ha, kau akan roboh! Kedua kakimu sudah lemas, dan tubuhmu gemetar. Kau roboh, roboh.... roboh!"

Lam hai Lo mo mengerahkan tenaga batinnya, mempergunakan hoat sut sepenuhnya.

Siauw Yang adalah seorang nona muda yang belum banyak pengalaman, bagaimana ia dapat bertahan menghadapi kekuatan ilmu hitam kakek ini?

Dahulu ayahnya sendiripun ketika bertempur melawan Lam hai Lo mo, apabila tidak dibantu oleh Kim Kong Taisu agaknya akan roboh oleh ilmu hitam dari Lam hai Lo mo yang curang.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 31 UCAPAN terakhir dari Lam hai Lo mo itu benar benar membuat kedua kakinya lemas dan tubuhnya gemetar sehingga kedudukan kakinya lemah dan terhuyung huyung.

Namun nona perkasa ini masih mencoba untuk menguatkan hatinya.

Memang ia berhasil mengusir perasaan itu, akan tetapi terlambat baginya karena tiba tiba tongkat di tangan Lam hai Lo mo sudah menyambar dan menotok jalan darah di lambungnya.

Siauw Yang terlempar dan tak dapat bergerak lagi!

Lam hai Lo mo berjingkrak jingkrak seperti orang gila, ia menari nari sambil melompat lompat di sekitar tubuh Siauw Yang, tertawa tawa dan mengoceh kegirangan.

"Ha, ha, ha, ha, ha! mereka roboh semua, musuh musuh besarku. Ha ha ha! Aku dapat menyembelihmu, dapat menghancurkan kepalamu dengan Sam hiat ci hoat."

Kakek itu memungut pedang yang terlempar dari tangan Siauw Yang, menggerak gerakkan pedang itu di dekat leher Siauw Yang untuk menakut nakuti gadis yang jalan pikirannya masih sadar itu.

Namun tidak ada tanda sedikitpun di wajah yang cantik itu menyatakan bahwa gadis itu merasa ngeri atau takut.

Kemudian Lam hai Lo mo menggerakkan tangannya hendak memberi pukulan Sam hiat ci hoat pada muka yang berkulit putih halus itu.

Akan tetapi, melihat wajah dan mata gadis itu, tiba tiba Lam hai Lo mo menurunkan tangannya yang hendak memukul.

"Sayang kalau kau mati begitu saja,"

Katanya mengerutkan kening, lalu ia tertawa tawa karena mendapatkan sebuah pikiran yang dianggapnya amat baik.

"Aku akan memotong urat sarafmu yang menuju ke otak sehingga kau akan kehilangan ingatan, lupa akan keadaanmu sendiri. Sesudah itu, dengan hoat sut (ilmu sihir) kau akan kujadikan boneka hidup dan kau akan kusuruh mencarinya dan membunuh Song Bun Sam dan isterinya. Ha, ha, ha, ini bagus sekali. Satu kali pukul mendapat tiga ekor tikus!"

Kakek itu tertawa tawa dan menari nari kegirangan dan kali ini benar benar Siauw Yang merasa takut dan gelisah sekali, ia percaya bahwa kakek yang seperti siluman ini memang bisa membuktikan omongannya dan kalau sampat terjadi begitu, alangkah ngerinya!

Ia dapat membayangkan betapa ia sebagai seorang yang kehilangan ingatan dan menjadi boneka hidup yang bergerak atas kehendak kakek itu, mencari dan membunuh ayah bundanya sendiri di luar kesadarannya!

Sambil terkekeh kekeh Lam hai Lo mo mulai memegang megang dan meraba raba kepala Siauw Yang, mencari cari urat saraf yang akan dipotongnya.

Jari jari tangan kiri meraba raba jidat dan tengkuk sedangkan tangan kanan memegang pedang Kim kong kiam.

Akhirnya ia menemukan urat yang akan dipotongnya, lalu pedangnya didekatkan pada kepala gadis itu.

Akan tetapi gerakannya di urungkan, dan kepada gadis itu ia berkata.

"Pedang ini akan melukai kulitmu dan orang tuamu akan menaruh curiga. Lebih baik aku menggunakan senjata yang lebih kecil agar jidatmu yang bagus itu tidak rusak kulitnya."

Sambil menyeringai kakek itu lalu mempergunakan pedang untuk mengambil sepotong kulit dari tongkat bambunya.

Kemudian ia meruncingkan kulit bambu itu dan tangannya siap bergerak memotong urat syaraf di kepala Siauw Yang!

Kulit bambu diangkat, kepala dipegang dan....

Lam hai Lo mo menggulingkan tubuhnya menggelundung pergi menjauhi Siauw Yang.

Hampir saja kepalanya tertembus oleh sebatang pedang yang melayang bagaikan seekor ular terbang yang menyambarnya.

"Lam hai Lo mo, keparat keji! Masih belum kapok kau melakukan kekejaman di atas dunia ini?"

Terdengar bentakan nyaring dan bukan main kagetnya Lam hai Lo mo karena ia melihat Thian te Kiam ong Song Bun Sam berdiri mendekati Siauw Yang dan mengambil kembali pedangnya yang menancap pada batang pohon setelah gagal menembusi kepala Lam hai Lo mo.

Bagaimana tiba tiba saja pendekar besar ini dapat datang di situ?

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Song Bun Sam yang terluka oleh pukulan Sam hiat ci hoat beristirahat dan memulihkan kesehatannya di atas Pul au Sam liong to, ditemani oleh isterinya.

Tiga hari kemudian, ia telah sembuh kembali.

Ia amat mengkhawatirkan keadaan Tek Hong, maka segera mengajak isterinya untuk mencari puteranya yang dibawa pergi oleh Siang Cu.

Sebelum pergi mereka memeriksa keadaan di dalam gua bekas tempat tinggal Lam hai Lo mo dan dengan girang Bun Sam mendapatkan seekor katak putih yang sudah berisi darah ular merah.

Sebagai seorang yang banyak pengalamannya di dunia kang ouw, tahulah Bun Sam bahwa katak putih ini adalah obat penawar racun yang paling jahat, maka dengan amat hati hati ia menyimpan katak mati itu di dalam kantong bajunya.

Di dalam perjalanan, atas keterangan penduduk di sepanjang perjalanan itu, mereka mendengar bahwa putera mereka menuju Ke dusun Tiang kwan, maka cepat cepat mereka mengejar ke jurusan itu.

Tak lama setelah Siauw Yang pergi mencari Lam hai Lo mo setelah melihat kakaknya dan Siang Cu menggeletak di atas tanah, datanglah Bun Sam dan isterinya.

Yang menggeletak itu adalah tubuh tiga orang muda yang sudah menggeletak seperti tak bernyawa pula, yakni tubuh Tek Hong, Siang Cu, dan Bong Eng Kiat.

"Tek Hong...."

Sian Hwa meratap pilu sambil menubruk dan memeluk tubuh Tek Hong.

Ia merasa terharu sekail melihat betapa puteranya itu masih dalam keadaan merangkul leher Siang Cu dan merasa ngeri melihat wajah sepasang orang muda ini menjadi kebiruan dan di jidat mereka terdapat tanda tiga jari merah.

Bun Sam yang lebih tenang, segera menarik pergi isterinya dan cepat berlutut memeriksa nadi dan dada Tek Hong.

Wajahnya berpeluh dan sepasang matanya sukar dilukiskan, karena di situ terdapat bayangan gelisah, marah, terharu dan juga penuh harapan.

"Bagaimana terjadinya semua ini?"

Tanya Bun Sam tanpa menoleh kepada seorang petani yang terdekat.

"Entahlah, kami hanya melihat tahu tahu mereka bertiga sudah menggeletak di sini. Akan tetapi baru saja seorang gadis gagah juga melihat mereka dan gadis itu berlari masuk ke dalam hutan seperti mengejar sesuatu!"

Pucat wajah Bun Sam mendengar ini. Segera dikeluarkannya katak putih dari kantongnya.

"Sian Hwa, lekas kau mencoba menolong mereka berdua. Tekan keras keras katak ini sampai keluar darah putih dari tubuh belakang nya dan beri minum tigabelas tetes kepada mereka!"

"Bukankah.... bukankah mereka sudah.... sudah.... mati?"

Tanya Sian Hwa.

"Mati atau hidup berada di tangan Thian. Kau boleh mencoba. Aku tidak tahu berapa tetes seharusnya, akan tetapi obat ini amat berbahaya, jangan lebih dari tigabelas tetes. Aku haru mengejar gadis itu...."

"Siauw Yang.... ?"

Bun Sam mengangguk.

"Siapa lagi kalau bukan dia? Tentu Lam hai Lo mo tidak jauh dari sini."

Setelah berkata demikian dan memberikan katak putih kepada isterinya, Bun Sam melompat dan lenyap dari situ membuat para petani yang berada di situ bengong.

Setelah memasuki hutan, dengan tepat sekali Bun Sam melihat betapa Lam hai Lo mo menari nari dan hendak menusuk kepala Siauw Yang dengan sekerat kulit bambu.

Cepat sekali pendekar ini menghunus pedang, untuk melompat tiada waktu lagi, maka ia lalu melemparkan pedangnya, dan mengarah kepala Lam hai Lo mo dalam usahanya untuk menolong puterinya.

Demikianlah, Lam hai Lo mo ternyata dapat mengelak dari sambaran pedang dan kedatangan Song Bun Sam telah menyelamatkan nyawa Siauw Yang dari bahaya yang mengerikan sekali.

Sekali totok saja Thian te Kiam ong telah dapat membebaskan puterinya dari pengaruh tiam hoat yang tadi dilakukan oleh Lam hai Lo mo dengan tongkatnya.

"Ayah.... Hong ko telah...."

Kata Siauw Yang penama kali ia dapat membuka mulutnya.

"Aku sudah tahu, kau lekas pergi membantu ibumu menolong mereka!"

"Mereka sudah.... sudah mati, ayah...."

"Diam dan pergilah!"

Bentak Song Bun Sam dengan penuh geram sambil berdiri dan menghadapi Lam hai Lo mo.

Raja Pedang ini marah bukan main kepada Lam hai Lo mo sehingga ia sampai membentak bentak puterinya yang tercinta.

Adapun Siauw Yang tidak berani membantah pula, cepat ia mengambil pedangnya yang tadi terlempar dan diletakkan di atas tanah oleh Lam hai Lo mo, kemudian ia meninggalkan ayahnya yang hendak menghadapi kakek itu.

Akan tetapi baru beberapa langkah, ia berhenti dan berkata.

"Ayah, ini pedangmu!"

Ia melemparkan pedang itu ke arah ayahnya yang menyambutnya tanpa melihat pedang itu.

Kemudian pendekar besar ini lalu melontarkan pedang Oei giok kiam, yakni pedang isterinya, kepada Siauw Yang.

Gadis inipun menyambut pedang itu, lalu berlari cepat meninggalkan hutan untuk membantu ibunya.

Hatinya berdebar girang karena melihat ayahnya, seakan akan kakaknya dan Siang Cu masih akan dapat tertolong!

"Lam hai Lo mo, kau manusia ataukah iblis?

Kekejamanmu sudah melewati batas kekejian iblis sendiri!"

Saking marahnya, Thian te Kiam ong Song Bun Sam tidak dapat mengeluarkan kata kata lebih panjang lagi.

"Ha, ha, hi hi hi! Song Bun Sam, puaskah kau sekarang? Puteramu mampus, puterimu hampir saja gila. Ha, ha, ha! Dan sekarang kaupun akan mampus!"

Sambil berkata demikian, tiba tiba kakek ini menyerang dengan tongkatnya, ditusukkan ke leher Bun Sam sedangkan tangan kirinya bergerak memukul dengan ilmu Sam hiat ci hoat.

Serangan ini ganas dan berbahaya sekali karena mengetahui akan ketangguhan lawannya.

Lam hai Lo mo telah mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaganya.

Namun, dalam kemarahannya, Bun Sam tidak mengenal kasihan lagi ia menggerakkan pedangnya, menangkis tongkat itu dan begitu terbentur, tongkat bambu itu patah menjadi dua, sedangkan pedang yang terbentur cepat membalik memapaki tangan kiri lawan.

"Aduh....!"

Lam hai Lo mo menjerit ketika pergelangan tangannya terbabat putus oleh pedang Kim kong kiam.

Dari gerakan ini saja dapat di ukur kehebatan ilmu pedang Bun Sam.

Dalam segebrakan saja, ia telah dapat membabat putus tangan Lam hai Lo mo yang terkenal memiliki kepandaian hebat itu.

"Lam hai Lo mo, putusnya tanganmu itu menjadi bukti akan keganasan dan kekejaman tanganmu yang sudah merobohkan banyak orang yang tak berdosa. Sekarang aku mengajukan penawaran padamu. Sembuhkan Tek Hong dan Siang Cu, dan kau akan kuberi pembebasan!"

Lam hai Lo mo meringis ringis kesakitan dan cepat cepat ia menggunakan tangan kanan yang sudah melempar jauh tongkatnya yang terputus, untuk menotok jalan darah di tangan kirinya sehingga aliran darah terhenti dan tidak lagi darahnya mengucur keluar dari pergelangan tangan kiri yang putus.

Kemudian ia tertawa bergelak!

Memang hebat sekali kakek buntung ini.

Dalam keadaan paha terluka dan tangan kiri putus, ia masih dapat tertawa terbahak bahak seperti iblis.

"Ha, ha, ha, hi, hi, hi, Thian te Kiam ong. Kau mau menukar nyawaku dengan nyawa dua orang anak itu? Murah sekali, aku yang rugi! Aku sudah tua dan bercacat, sedangkan mereka masih muda belia!"

"Akan tetapi kau akan menerimanya karena kau masih suka hidup,"

Kata Bum Sam.

"Tepat! Tepat sekali, memang aku harus hidup untuk dapat membalas dendam atas sakit hati ini."

"Kau gila karena hatimu diracuni dendam."

"Manusia mana yang tidak gila? Ha, ha, ha! Hayo kita ke sana, akan kucoba menyembuhkan mereka."

Dengan didampingi oleh Lam hai Lo mo yang terpincang pincang Bun Sam lalu pergi kembali ke tempat di mana Tek Hong dan Siang Cu menggeletak.

Mereka mendapatkan Sian Hwa dan Siauw Yang masih sibuk mengobati mereka.

Besar hati ibu dan adik ini melihat Tek Hong dan Siang Cu mulai dapat bernapas lagi, sungguhpun wajah mereka masih kebiruan.

Tadi ketika menolong puteranya dan Siang Cu, hati Sian Hwa yang penuh welas asih itu mendorongnya untuk menolong Eng Kiat pula.

Akan tetapi ternyata bahwa pemuda putera Tung hai Sian jin ini remuk isi kepalanya dan sudah tidak bernyawa lagi.

Adapun Tek Hong dan Siang Cu, kalau sekiranya tidak lekas lekas mendapat pengobatan katak putih, tentu takkan tertolong pula.

Obat di seluruh dunia takkan bisa menyembuhkan mereka, karena akibat pukulan Sam hiat ci hoat memang luar biasa hebatnya.

Biarpun Tek Hong dan Siang Cu sudah bernapas lagi dan hati Sauw Yang sudah agak lega, namun mereka masih menangis melihat dua orang muda itu diam tak bergerak dan muka mereka masih kebiruan.

"Sudahlah, jangan kalian menangis."

Bun Sam menegur.

"Bagaimana tidak akan menangis melihat putera kita berjuang antara hidup dan mati?"

Sian Hwa mencela suaminya yang dianggap kurang mencinta anak dengan kata katanya tadi.

"Mati dan hidup di tangan Thian, mengapa kita harus memusingkannya? Andakata dia mau, Hong ji hanya mati raganya belaka, mengapa susah susah?"

Bun Sam sengaja berkata demikian agar Lam hai Lo mo tidak menjadi makin girang dan menjual mahal.

Kalau dia memperlihatkan kesedihan terlau hebat, tentu kakek itu akan menggodanya dan menjual mahal dalam mengobati Tek Hong.

Akan tetapi, Sian Hwa sebagai ibu yang sedang gelisah melihat keadaan puteranya, menjadi marah dan berkata gemas.

"Bagaimanakah kau ini? Andaikata kau tega kematian anak kita, apakah kau tega melihat penderitaannya yang demikian hebat?"

Lam hai Lo mu sudah tertawa tawa dan sepasang matanya berseri seri mendengar ucapan isteri dari musuh besarnya itu.

"Betapa beratpun penderitaannya, yang menderita hanyalah raganya. Jiwanya takkan mati, takkan luka, takkan merasakan sakit. Serahkan saja kepada Thian...."

Bun Sam menghibur.

"Enak saja kau bicara! Kita diamkan saja tanpa mengusahakan kesembuhannya?"

Sian Hwa berdiri dan memandang kepada suaminya dengan mata bersinar sinar.

Dalam kemarahannya, nyonya ini sampai lupa akan kehadiran Lam hai Lo mo di tempat itu yang sesungguhnya merupakan hal yang amat ganjil.

Akan tetapi tidak demikian dengan Siauw Yang.

Melihat musuh besarnya datang bersama ayahnya dalam keadaan masih hidup, gadis ini membentak keras dan segera menyerang dengan pedangnya.

Akan tetapi tangannya tergetar dan pedangnya hampir terlepas dari pegangan ketika ayahnya menangkis serangan ini.

"Sabar, Siauw Yang "

Kemudian Bun Sam menghadapi isterinya.

"Tentang ikhtiar penyembuhan, tentu saja menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Kedatangan Lam hai Lo mo ini adalah untuk mengobati mereka."

Seketika itu Sian Hwa dan Siauw Yang tertegun dan tak dapat berkata kata, hanya memandang ke arah Lam hai Lo mo dengan mata terbuka lebar lebar.

Benar benarkah kakek siluman ini hendak menyembuhkan Tek Hong dan Siang Cu?

Sambil tersenyum mengejek karena dalam suasana sekarang ini dia menang, yakni menjadi orang yang amat dibutuhkan pertolongannya, Lam hai Lo mo lalu berlutut memeriksa Siang Cu dan Tek Hong.

"Hmm, dari mana kalian mencuri katak putih?"

Tegurnya sambil berpaling kepada Bun Sam.

"Bukan mencuri, melainkan membawa dari guamu di Sam liong to,"

Jawab Bun Sam tenang.

"Ha, ha, ha, kalian pencuri!"

Kenudian diperiksanya sekali lagi jidat dua orang anak muda itu.

"Akan tetapi kalau kalian tadi tidak menolong mereka ini dengan katak putih, biarpun aku sendiri takkan mungkin menyembuhkan mereka."

Sebagai orang yang menciptakan ilmu Pukulan Sam hiat ci hoat, tentu saja Lam hai Lo mo selalu membawa obat penawar racun pukulan itu.

Ia mengeluarkan sebuah botol berisi obat cair warna putih, yakni sari daripada darah putih katak putih.

"Berapa teteskah mereka diberi minun darah putih dari katak mujijat?"

Tanyanya.

"Masing masing tiga belas tetes,"

Jawab Sian Hwa, suaranya halus karena pada saat itu, tidak ada kebencian sedikupun juga di dalam hatinya terhadap Lam hai Lo mo.

"Hm, kurang dua tetes masing masing,"

Kata kakek itu dan dengan cepat ia meneteskan dua tetes darah putih ke dalam mulut Tek Hong dan Siang Cu.

Kemudian ia minta katak putih itu dari Sian Hwa dan mempergunakan perut katak itu untuk digosok gosokkan pada luka di jidat dua orang muda itu.

Sebentar saja warna kebiruan yang membayang pada muka itu menjadi hilang, demikian pula tiga jari merah yang berbekas di jidat.

Setelah itu, Lam hai Lo mo lalu mengeluarkan enam butir pel hijau.

"Beri minum mereka itu masing masing tiga butir dan semua darah berbisa akan lenyap dari tubuh mereka,"

Sian Hwa sambil bercucuran air mata berlutut di depan kakek itu.

"Lam hai Lo mo, banyak terima kasih atas pertolonganmu kepada anakku dan Siang Cu."

Lam hai Lo mo menjadi pucat.

"Eh, apa apaan ini? Aku.... aku....."

Kakek itu menjadi makin terkejut ketika melihat Bun Sam menjura pula kepadanya dan berkata dengan suara terharu.

"Lam hai Lo mo, istriku benar. Akupun menghaturkan terima kasih kepadamu dan maafkanlah semua kesalahanku yang sudah sudah. Mudah mudahan semenjak saat ini kita akan menjadi sahabat yang baik dan lenyaplah segala permusuhan yang tidak berarti."

Lam hai Lo mo membanting banting kakinya seperti orang gila.

"Kalian gila! Gila sehebat hebatnya! Akulah yang melukai mereka ini. Aku yang tadinya hendak membunuh mereka, dan aku pula yang sudah membunuh Eng Kiat itu! Dan kalian sekarang menghaturkan terima kasih?"

Makin mencak mencak Lam hai Lo mo ketika melihat Siauw Yang ikut berlutut pula di samping ibu nya.

"Pembunuhan yang belum terlaksana bukanlah pembunuhan namanya. Akan tetapi penyembuhanmu telah terbukti, maka sudah seharusnya kami berterima kasih,"

Jawab Bun Sam. Inilah pukulan batin yang amat hebat bagi Lam hai Lo mo.

"Tidak bisa! Tak mungkin! Kalau musuh musuh besarku. Aku akan bunuh kalian kalau bisa. Aku mengobati mereka ini karena terpaksa! Song Bun Sam, kau dan sekeluargamu akan kubunuh semua. Ha, ha, ha, biarpun kalian berlutut memberi hormat, tetap akan kubunuh. Ha, ha, ha!"

"Mana mungkin, Lam hai Lo mo? Kau sudah kehilangan sebelah kaki dan sebelah tangan. Hanya satu tangan kananmu itu dapat dipergunakan untuk apakah? Lebih baik kau merubah cara hidupmu, bertaubat dan menjadi manusia baik baik, bertapa mensucikan diri menebus dosa dosamu...."

Bun Sam membujuk. Lam hai Lo mo makin pucat, ia menunduk, memandang ke arah kakinya yang buntung dan tangan kirinya yang buntung pula. Kemudian ia tertawa terbahak bahak.

"Ha ha ha, hi hi hi! Kakiku hilang, tanganku hilang! Tinggal tangan kanan ini untuk apakah? Aha, Thian te Kiam ong, kaukira aku tidak bisa membunuhmu dengan satu tangan? Lihat, aku bersumpah, disaksikan oleh jari kelingkingku, dengan empat jari tangan kanan akan kubunuh sekeluargamu!"

Setelah berkata demikian, kakek ini lalu menggigit putus jari kelingking kanannya dan makan jari kelingking itu seperti orang makan kacang!

Ternyata bahwa sikap keluarga Song itu benar benar merupakan tusukan batin yang lebih hebat daripada tusukan pedang dan membuat kakek ini berobah ingatannya!

Suara jari kelingking dimakan terdengar kletak kletuk karena gigi kakek yang sudah ompong itu sukar untuk meremukkan tulang tulang jari itu.

Sian Hwa dan Siauw Yang menjadi pucat saking merasa ngeri, sedangkan Bun Sam menggeleng geleng kepalanya dengan muka mengandung hati iba.

"Ha, ha, ha, keluarga Song. Lihat, jari tanganku tinggal empat. Akan tetapi jangankan empat, tiga jari saja sudah cukup! Ibu jariku tidak perlu, karena dengan tiga jari saja, Sam hiat ci hoat akan menumpas seluruh keluarga Song!"

Setelah berkata demikian, kembali mulut kakek itu menggigit ibu jarinya yang besar.

Nampak mukanya berkerut kerut, bibirnya merah karena darahnya sendiri dan kini ibu jarinya telah putus pula, terus dimakannya seperti anjing menggerogoti tulang keras!

"Lam hai Lo mo, ingatlah dan sebutlah nama Thian!"

Kata Bun Sam penuh rasa haru.

"Bun Sam, anjing gila! Kau kira aku tidak ingat? Ha, ha, lihat, tiga jari tanganku sanggup memecahkan batok kepalamu!"

Setelah berkata demikan, kakek itu maju hendak mempergunakan ilmu Pukulan Sam hiat ci hoat menyerang Bun Sam.

Pendekar ini dengan tenang tidak mundur selangkahpun dan memandang tajam.

Akan tetapi, tiba tiba tubuh kakek itu terguling dan ia menjerit jerit kesakitan.

Tangan kanan yang sudah buntung dua jarinya dan tangan kiri yang sudah buntung sebatas pergelangan itu menekan nekan perutnya, kakinya yang belun buntung berkelojotan.

Mukanya menjadi biru dan tak lama lagi menghitam.

Berhentilah kelojotan kakinya dan ia rebah tertelungkup dalam keadaan tak bernyawa lagi.

"Mari kita tolong dia dengan katak putih....."

Kata Sian Hwa terharu.

"Tiada gunanya, ia telah makan jari jarinya sendiri sedangkan jari jari tanganya itu penuh dengan racun untuk melatih ilmu Pukulan Sam hiat ci hoat."

Kata Bun Sam.

Benar saja, setelah diperiksa kakek yang jahat seperti siluman itu telah tewas.

Tek Hong dan Siang Cu siuman kembali Mereka masih lemah akan tetapi dapat bangun dan duduk.

Dengan heran mereka saling pandang, tersenyum dan ketika mereka melihat Bun Sam, Sian Hwa dan Siauw Yang, keduanya mengeluarkan seruan tertahan.

Tadinya mereka mengira bahwa mereka telah berada di dalam alam baka dan tersenyum karena merasa berbahagia mendapatkan kekasih berada di dekatnya.

Akan tetapi, kehadiran tiga orang itu menjadi bukti bahwa mereka masih hidup!

"Tek Hong....

kau baru saja bangun dari kematian!"

Kata Sian Hwa sambil merangkul anaknya dengan tangan kanan dan merangkul Siang Cu dengan tangan kiri.

"Aku sudah tahu akan isi hati kalian. Sudah patut sekali kalian menjadi jodoh, Gwat Eng, kau puteri sahabat sahabat kami, Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee. Kalau orang tuamu masih hidup.... ah, alangkah senang nya hati mereka...."

Merdengar ini, Siang Cu merangkul Sian Hwa sambil menangis penuh keharuan hati.

"Menang mereka sudah sepatutnya menjadi suami isteri,"

Kata Bun Sam.

"Mari kita urus jenazah Lam hai Lo mo dan Eng Kiat sepantasnya, dan cepat kembali ke Tit le."

Dibantu oleh para petani dua jenazah itu di kubur, dengan hati tenang Tek Hong dan Siang Cu mendengarkan penuturan Siauw Yang tentang segala hal yang telah terjadi.

Siang Cu merasa amat bersukur.

Lam hai Lo mo adalah gurunya, maka biarpun kedua orang tuanya telah terbunuh oleh kakek itu, namun ia selalu masih ragu ragu untuk membalas dendam.

Kini, Lam hai Lom mo tewas karena perbuatan sendiri, musuh besarnya tewas dan ia tak usah membunuh guru sendiri.

Juga Eng Kiat telah tewas oleh Lam hai Lo mo sehingga ia tidak usah melanggar sumpahnya sendiri yang hendak melakukan pernikahan dengan pemuda itu.

Dan yang lebih membahagiakan hatinya lagi, keluarga Song telah menerimanya dengan baik baik sebagai calon isteri Tek Hong, pemuda yang memang dicinta dengan seluruh hatinya.

Setelah upacara penguburan jenazah jenazah itu beres, Bun Sam berkata.

"Sekarang marilah kita cepat cepat pulang ke Tit le. Aku sudah mendengar tentang dibakarnya rumah kita, akan tetapi apa artinya hal sekecil itu? Kita bsa membuat lagi ramah kecil kecilan dan yang paling penting, kita akan rayakan upacara perjodohan antara Tek Hong dan Gwat Eng."

Semua orang berseri wajahnya mendengar ini, apalagi Siang Cu dan Tek Hong yang menjadi merah mukanya dan tidak berani saling pandang secara langsung, melainkan saling kerling dengan pandang mata penuh arti..Akan tetapi, tiba tiba Siauw Yang menangis dan menutupi mukanya dengan kedua tangan.

Bun Sam mengangkat alisnya, demikian pula Tek Hong.

"Ah, adikku yang manis, mengapa kau menangis?"

Tanya Tek Hong, Siauw Yang tidak menjawab, akan tetapi tangisnya makin menjadi.

"Siauw Yang, jangan seperti anak kecil. Kau menangis karena apakah?"

Tanya Bun Sam. Sampai lama barulah Siauw Yang dapat menjawab, ia menurunkan kedua tangannya, bibirnya dipaksa tersenyum akan tetapi wajahnya pucat sekali.

"Tidak apa apa, ayah. Aku hanya terlalu girang memikirkan bahwa Hong ko telah selamat dan musuh besar kita telah tewas."

Jawaban ini memuaskan hati Tek Hong dan Siang Cu, akan tetapi meragukan hati Bun Sam dan menggelisahkan hati Sian Hwa.

Ibu yang berpemandangan tajam ini dapat mengerti apa yang menjadi sebab maka puterinya menangis.

Maka ia lalu membawa Siauw Yang ke tempat sunyi dan bertanya.

"Siauw Yang, bagaimana hasilnya dengan perjalananmu mencari Liem siucai?"

Mendengar pertanyaan yang langsung mengenai hatinya dan yang tepat sekali itu, Siauw Yang menangis lagi dan merangkul ibunya.

Sian Hwa mendekap kepala puterinya ke dada, seperti dahulu kalau ia menghibur Siauw Yang ketika masih kecil.

"Bilanglah terus terang kepada ibumu, anakku. Apakah yang terjadi antara kau dan Liem Siucai?"

"Ibu.... dia.... dia menghinaku...."

Sian Hwa mengerutkan alisnya.

"Apa? Dia menghina anakku? Bagaimana seorang yang sopan santun dan halus budi pekertinya seperti dia dapat menghinamu, Siauw Yang?"

"Dia.... dia telah membikin malu padaku. Aku datang untuk menolongnya dari Sin tung Lo kai, tidak tahunya dia.... dia menjadi anak angkat dari orang tua itu...."

Lalu gadis ini menceritakan sejelasnya pada ibunya tentang pengalamannya dengan Pun Hui di rumah Sin tung Lo kai.

Sian Hwa diam diam tersenyum dan dia tahu akan kesusahan hati puterinya.

Ia memang suka kepada pemuda itu dan sudah merasa setuju kalau pemuda yang halus dan sopan dan terpelajar itu menjadi mantunya.

Diam dam ia lalu merundingkan hal ini dengan suaminya setelah menghibur hati Siauw Yang.

Bun Sam mengerutkan alisnya.

"Sin tung Lo kai adalah seorang tokoh kang ouw yang ternama dan iujur, akan tetapi ia terkenal kasar dan tidak mau kalah. Bagaimana Pun Hui menjad putera angkatnya? Habis, bagaimana kehendakmu?"

"Sudah jelas bahwa Siauw Yang mencintai pemuda itu, demikian sebaliknya. Yang ji sudah menceritakan betapa pemuda itu membelanya dan biarpun tiada kepandaian silat namun berani mati membela Siauw Yang, itu sudah cukup menunjukkan kesetiaan hatinya. Kalau mereka sudah saling setuju dan kita tahu bahwa pemuda itu memang seorang yang baik sekali, mengapa kau tidak datang ke tempat tinggal Sin tung Lo kai untuk merundingkan soal perjodohan itu?"

"Kau menyuruh aku pergi ke sana dan meminang Pun Hui? Hm, itu amat merendahkan kita. Apalagi orang sekasar Sin tung Lo kai itu, mana dia mau menerima begitu saja? Pun Hui sudah menjadi puteranya dan kalau pemuda itu memang suka kepada anak kita, mengapa tidak Sin tung Lo kai sebagai ayah angkatnya datang meminang Siauw Yang?"

"Suamiku, mengapa kau begitu kukuh? Sin tung Lo kai sudah terang seorang yang kasar dan kaku, akan tetapi bukankah kau bukan seperti dia? Benar bahwa Pun Hui sudah menjadi anak angkatnya, akan tetapi, jangan lupa bahwa lama sebelum siucai itu menjadi anak angkatnya, dia sudah berhubungan dengan kita. Juga Liem siucai adalah murid dari Yap Thian Giok, berarti dia masih murid keponakan kita sendiri. Membicarakan soal perjodohan diantara orang kita sendiri, masih pakai sungkan sungkan apalagi? Terutama sekali, kau melakukan hal ini demi kebahagiaan puteri kita."

Melihat isterinya sudah menyerang dengan muka merah, Bun Sam mengangkat pundak dan mengangguk angguk.

"Baiklah, baiklah, memang aku orang tua harus selalu turun tangan sendiri, baru urusan orang orang muda dapat dibereskan. Aah, begini kalau menjadi orang tua...."

Pendekar besar itu menghela napas berulang ulang dan Sian Hwa diam diam mentertawakannya.

"Lo pangcu, di luar ada tamu hendak bicara dengan pangcu,"

Seorang anggauta Ang sin tung Kai pang melapor kepada Sin tung Lo kai Thio Houw yang sedang bercakap cakap dengan puteri nya, yakni Bi sin tung Thio Leng Li dan putera angkatnya, Liem Pun Hui di ruang belakang.

"Siapa dia?"

Tanya kakek itu kurang perhatian.

"Dia bukan orang biasa, lo pangcu, melainkan Thian te Kiam ong Song Bun Sam sendiri,"

Anak buahnya melapor dengan wajah berseri karena anggauta ini menganggap bahwa kunjungan pendekar besar itu merupakan peristiwa yang amat penting.

"Hm, biarpun Thian te Kiam ong sendiri, orang apakah perlu disebut bukan orang biasa? Suruh dia menunggu di luar!"

Kata Sin tung Lo kai ketus sehingga anggautanya itu buru buru keluar lagi.

Lem Pun Hui ketika mendengar bahwa yang datang adalah ayah Siauw Yang, otomatis berdiri dari bangkunya dan hendak berlari keluar.

"Duduk saja kau!"

Sin tung Lo kai membentak dan Pun Hui yang melihat lirikan penuh arti dan Leng Li, lalu duduk kembali.

"Ayah, tentu kedatangannya ada hubungannya dengan perjodohan Song lihiap dengan toako,"

Kata Leng Li.

"Hm, habis mengapa? Dia bukan orang yang pinangannya harus diterima oleh siapapun juga,"

Jawaban dari kakek ini membuat muka Pun Hui menjadi pucat, akan tetapi Leng Li tersenyum.

"Ayah, sekiranya dicari di dunia ini, tidak ada besan bagimu yang lebih berharga daripada Thian te Kiam ong! Akan tetapi, kita tak boleh merendahkan diri dan tidak seharusnya menerima begitu saja usul perjodohannya, biar ia seorang besar seperti Thian te Kiam ong sekalipun."

Berseri wajah Sin tung Lo kai, akan tetapi Pun Hu memandang kepada Leng Li dengan heran dan muka muram.

"Kau benar, anakku! Mengapa kita harus merendah rendah dan tunduk kepadanya? Hendak kulihat dia akan berbuat apa kalau kita tidak menuruti kemauannya!"

"Bukan begitu ayah. Dalam jaman sekacau ini, mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga Song, merupakan keuntungan besar bagi kita. Hal itu akan menjunjung tinggi namamu dan juga orang orang lebih memandang hormat dan segan kepada kita. Lagi pula, toako sudah suka kepada Song lihiap yang kepandaiannya kita sudah menyaksikannya. Akan tetapi, harus diadakan syarat syaratnya."

"Hm, siapa suka mempunyai mantu yang pernah menghina dan menantangku?"

"Hal itu boleh dimaafkan, ayah, karena Song lihiap tidak tahu bahwa kau adalah ayah angkat toako, dan dia masih muda serta berdarah panas. Bagaimana kalau ayahnya diharuskan minta maaf untuk puterinya?"

"Itu saja belum cukup mendinginkan hatiku,"

Jawab Sin tung Lo kai.

"Memang di samping itu harus ada syarat lain, yakni dia harus diajak bertanding,"

Kata Leng Li dengan kerling mata cerdik sekali. Sin tung Lo kai mengerutkan kening.

"Kepandaiannya tinggi sekali, aku takkan menang."

Memang kakek ini jujur sekali biarpun ia tidak suka mengaku kalah.

"Itulah syarat untuk memancingnya. Kalau ayah kalah berarti kita mempunyai cukup alasan untuk menolak usul perjodohannya. Ayah boleh minta waktu sampai ayah kelak dapat menang daripadanya."

"Hm, boleh juga. Hitung hitung menguji kepandaian sendiri. Akan tetapi, bagaimana kalau dia yang kalah?"

"Kalau dia kalah, berarti ayah tidak takut padanya dan tentu saja usul itu boleh diterima atau ditolak menurut sekehendak hati ayah."

Sin tung Lo kai diam untuk beberapa lama, lalu mengangguk angguk.

"Baik, mari kita keluar menyambutnya."

Dengan langkah lebar kakek ini keluar, diikuti oleh Leng Li yang tersenyum senyum dan yang tidak memperdulikan pandang mata Pun Hui yang penuh sesal kepadanya.

Dengan amat sabar dan tenang Song Bun Sam menanti di ruang tamu dan ketika ia melihat tuan rumah, cepat bangun berdiri dan memberi hormat selayaknya.

Sekilas ia mengerling ke arah Pun Hui dan Leng Li serta menerima penghormatan mereka dengan anggukan kepala.

"Ah, tidak tahunya Thian te Kiam ong Si Raja Pedang yang ternama besar mengunjungi tempatku yang buruk. Tidak tahu ada urusan penting apakah?"

Tanya Sin tung Lo kai dengan sikap angkuh. Diam diam Bun Sam berdebar mendengar ucapan dan melihat sikap tidak mengasih ini, akan tetapi ia tetap berlaku tenang dan senyum di bibirnya tidak mengurang.

"Sin tung Lo kai, selain aku datang untuk berkunjung karena sudah lama menghormati namamu yang besar juga kedatanganku ini ada hubungannya dengan putera angkatmu itu,"

"Ada apa dengan dia?"

"Kami sekeluarga sudah merundingkan hal ini dan sudah sepakat untuk minta persetujuanmu agar puteramu ini dijodohkan dengan puteri kami. Puteramu sudah kenal baik dengan puteri kami dan mereka itu nampaknya memang berjodoh."

"Eh, eh, kau lucu sekali, Thian te Kiam ong. Mana ada fihak wanita meminang laki laki?"

"Memang berat menjadi orang tua yang hendak memenuhi keinginan hati anak muda,"

Jawab Bun Sam tersenyum, akan tetapi mukanya berubah merah.

"Bukankah puterimu itu bernama Song Siauw Yang?"

"Benar begitu, agaknya kau sudah mengenalnya"

"Siapa tidak mengenalnya dia, nona yang berkepandaian begitu tinggi sehingga berani menghina dan menantangku?"

Bun Sam terkejut, Siauw Yang tak pernah bercerita kepadanya tentang hal ini.

Juga Sian Hwa yang mendengar penuturan puterinya, tidak berani menceritakan hal ini kepada suaminya.

Kalau Bun Sam mendengar hai ini, tentu ia tidak mau datang mengunjungi kakek pengemis ini!

Untuk beberapa lama Bin Sam tak dapat berkata kata, nampaknya bingung dan gugup.

"Kekeliruan tindak anaknya adalah kesalahan orang tuanya, demikianlah orang orang jaman dahulu berkata,"

Tiba tiba Leng Li berkata.

"Song lihiap memang keras kepala dan berwatak berani serta kasar."

Bun Sam mengerling ke arah gadis itu dan tiba tiba ia tersenyum.

"Cocok sekali perbilangan itu, Sin tung Lo kai, kalau puteriku telah bersikap keliru kepadamu, biarlah aku sebagai ayahnya memintakan maaf kepadamu."

Bun Sam menjura dan Sin tung Lo kai menjadi bangga sekali. Thian te Kiam ong menjura minta maaf kepadanya. Ah, kalau saja orang orang kang ouw melihat akan hal ini.

"Sudahlah, hal itu tak perlu diperbincangkan lagi. Tentang usul perjodohanmu, aku mempunyai cita cita bahwa siapa yang menimang kedua anakku, harus memenuhi syaratnya, yakni bertanding dulu dengan aku. Bagaimana, apakah kau menerima usul ini?"

Song Bun Sam makin bingung.

Bagaimanakah kakek ini?

Didatangi orang yang mengusulkan perjodohan, bahkan diajak bertanding silat!

Bukankah hal ini berbahaya sekali dan dapat menjadikan bibit permusuhan?

"Kalau aku kalah, berarti bahwa yang menjadi calon jodoh anakku adalah puteri seorang yang benar benar gagah, jadi aku tidak ragu ragu lagi."

"Hm, maksudmu, kalau kau kalah, kau akan menerima usul perjodohan ini?"

Bun Sam minta keterangan.

"Belum tentu begitu. Hal diterima atau tidak adalah soal belakang, tak dapat dibicarakan sekarang. Pendeknya, mau atau tidak kau memenuhi syarat itu dan bertanding melawanku?"

"Kalau aku yang katah?"

"Kalau kau kalah? Aku akan menimbang nimbang apakah puteraku sudah cukup patut menjadi mantu seorang yang kepandaiannya lebih rendah daripadaku."

Bun Sam menjadi bingung.

Ia dihadapkan pada teka teki yang ruwet.

Kalau ia menang, tentu kakek yng keras kepala ini akan sakit hati, dan kalau ia kalah, kakek yang sombong ini akan memandang rendah kepadanya.

Bagaimana baiknya?

"Ayah, jangan kau sampai kalah olehnya.

Kalau kau kalah, aku akan belajar lebih giat lagi agar kelak aku dapat menebus kekalahanmu itu.

Pendeknya, kita akan berusaha untuk mengalahkan Thian te Kiam ong pendekar yang tak terkalahkan.

Tidak percuma ayah terpilih menjadi ketua Ang sin tung Kai pang!"

Tiba tiba Leng Li berkata dengan penuh semangat.

Bun Sam yang amat cerdik tergerak hatinya mendengar ucapan ini.

Tadi gadis itupun secara rahasia telah memberi nasehat padanya untuk minta maaf bagi kekalahan Siauw Yang, kini kata kata gadis itu mempunyai arti yang lebih dalam lagi.

Maka ia tersenyum dan berkata.

"Kekalahan ayah akan merendahkan nama kami sebagai pengurus Ang sin tung Kai pang yang besar!"

Kata pula Leng Li dan Bun Sam menjadi lebih yakin lagi.

"Leng Li, tutup mulutmu!"

Sin tung Lo kai yang kasar itu membentak, sedikitpun tidak tahu akan isi daripada kata kata puterinya.

"Thian te Kiam ong, bagaimana jawabanmu? Sanggupkah kau?"

"Tentu saja, sobat. Marilah kita main main sebentar!"

Jawab Raja Pedang itu.

Sin tung Lo kai lalu mengeluarkan tongkat merahnya yang ampuh, diputar putar di atas kepala sambil memasang kuda kuda yang teguh.

Bun Sam tahu bahwa dengan bertangan kosong, belum tentu ia akan kalah.

Akan tetapi hal ini akan merupakan penghinaan terhadap tuan rumah, sedangkan ia telah mengambil keputusan untuk melakukan kebijaksanaan sehingga ia dapat memecahkan hal yang amat sulit ini.

Dengan tenang dicabutnya pedang Kim kong kiam, lalu ia memasang kuda kuda seakan akan bersungguh sungguh sambil berkata.

"Sin tung Lo kai, majulah!"

Kakek ketua pengemis itu tidak sungkan sungkan lagi, lalu menerjang dengan tongkat merahnya.

Bun Sam menangkis dan tak lama kemudian mereka bertempur dengan hebatnya.

Pun Hui berdiri dengan muka pucat dan hampir ia menangis.

Bagaimanakah urusan menjadi begini ruwet?

Diam diam ia mengeluh dan menyesali nasib sendiri.

Ilmu tongkat dari Sin tung Lo kai bukanlah ilmu tongkat biasa dan mampunyai gerakan yang amat berbahaya.

Setelah bertempur beberapa belas jurus, tahulah Bun Sam bahwa kepandaian lawannya benar benar tinggi, tidak jauh bedanya dengan tingkat kepandaian Tung hai Sian jin, sungguhpun masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian Lam hai Lo mo.

Akan tetapi ia mengimbangi kepandaian kakek ini dan tidak terlalu mendesak sehingga pertempuran berjalan dengan amat serunya.

Ilmu Pedang Tee coan Liok kiam sut adalah raja ilmu pedang, maka tentu saja tongkat merah di tangan Sin tung Lo kai tidak berdaya menghadapinya.

Hai ini semenjak tadi sudah terasa oleh Sin tung Lo kai yang tiada habis kagumnya menyaksikan gerakan pedang kuning emas sinarnya itu.

Namun ia memang pantang kalah dan terus mendesak sambi mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Setelah bertempur enampuluh jurus lebih dan pedang serta tongkat bergulung gulung seakan akan menjadi satu, tiba tiba Bun Sam yang menghadapi gebukan tongkat pada pinggangnya, sengaja melompat dan memberikan pahanya digebuk.

"Buk!"

Bun Sam melayang dan terhuyung huyung dengan muka merah, lalu menyimpan pedangnya dan menjura.

"Sin tung Lo kai, kau pantas menjadi ketua Ang sin tung Kai pang, karena kepandaianmu benar benar luar biasa. Aku Thian te Kiam ong mengaku kalah. Harap sebulan lagi kau sudi datang ke gubukku di Tit le untuk merundingkan urusan perjodohan anak kita."

Setelah menjura sekali lagi, Bun Sam lalu melenggang pergi dari situ.

Sedikitpun ia tidak kelihatan terluka atau kesakitan.

Sin tung Lo kai berdiri dengan tangan kanan memegang tongkat, akan tetapi tangan kirinya sejak tadi bertolak pinggang saja.

Bahkan ia tidak membalas penghormatan Bun Sam, hanya berdiri memandang dengah muka berubah pucat.

Di dalam hatinya, ia tunduk betul kepada jago pedang itu.

Gebukannya tadi tidak tersangka sangka olehnya karena kalau lawannya mau, tawannya itu masih dapat menangkis, mengapa sengaja memberikan pahanya untuk digebuk?

Yang digebuk tidak apa apa, padahal gebukannya tadi cukup keras untuk menghancurkan batu karang, sebaliknya telapak kedua tangannya terasa panas dan linu.

Bukan itu saja, ketika lawannya itu terlempar, tiba tiba tangan Bun Sam secepat kilat digerakkan ke arahnya dan kakek ini merasa ada sesuatu yang terputus atau terobek pada perutnya.

Ketika ia meraba, ternyata bahwa tali celananya telah putus, kena direnggut secara halus dan tidak kentara oleh raja pedang itu!

"Hebat, hebat....

dia benar benar hebat!...."

Hanya demikian kakek itu berkata sambil menghela napas berhati kati, lalu menyeret tongkatnya sambil berjalan masuk.

Pun Hui berdiri bengong dan terheran heran karena melihat kakek itu berjalan masuk sambil tangan kirinya masih bertolak pinggang.

Benar benar aneh sekali.

Pertempuran tadi aneh.

Penyelesaiannya sudah aneh dan berakhir ganjil pula.

Sekarang kakek itu berjalan sambil bertolak pinggang, benar benar ia tidak mengerti sama sekali.

Akan tetapi setelah kakek itu lenyap dari pandangan mata, terdengar Leng Li tertawa cekikikan, nampaknya geli hati sekali.

Ketika Pun Hui menengok ke arahnya, pemuda ini lebih heran lagi.

Leng Li tertawa tawa ditahan, akan tetapi kedua matanya mencucurkan air mata.

"Eh, eh, adik Leng Li, ada terjadi apakah semua ini? Aku yang sudah menjadi gila ataukah kalian semua bersikap aneh sekali?"

Leng Li menyusut air matanya, menahan geli hatinya dan memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata berseri.

"Selamat, selamat, kakakku yang baik. Perjodohanmu sudah dapat ditentukan dengan tangan."

"Eh, apa kau gila? Kelakuan kalian benar benar merupakan teka teki bagiku."

"Yang manakah yang membikin bingung padamu? Aku bisa memberi penjelasan."

"Pertama tama, bagaimana dengan pertempuran tadi? Berjalan demikian cepatnya dan tahu tahu Thian te Kiam ong pergi mengaku kalah. Benar benarkah dia kalah?"

"Dia memang kalah, akan tetapi kekalahan yang luar biasa, karena ia sengaja mengalah! Ia memberikan pahanya digebuk oleh tongkat ayah, bukan karena kalah pandai, bahkan sebaliknya, untuk membuktikan bahwa kepandaiainya memang jauh lebih tinggi daripada ayah. Digebuk tidak apa apa, bahkan aku berani bertaruh tentu ayah merasa tangannya sakit sakit."

"Hm, lihai sekali."

Pun Hui memuji girang karena memang di dalam hati, ia berfihak kepada ayah Siauw Yang.

"Dan ke dua mengapa ayahmu berdiri saja bertolak pinggang, bahkan berjalan masuk rumah sambil bertolak pinggang pula? Apakah itu tandanya ia marah marah besar?"

Leng Li tertawa cekikikan lagi karena pertanyaan ini membangkitkan geli hatinya yang tadi sudah ditindasnya.

"Kasihan sekali ayah.... kau tidak tahu bahwa ia bertolak pinggang karena terpaksa."

"Mengapa terpaksa. .?"

Pun Hui makin heran.

"Karena karena kalau tangannya ia lepaskan dari pinggang...."

Leng Li tidak dapat melanjutkan kata katanya karena kembali ia tertawa.

"Kalau diepaskan mengapa?"

Pun Hui terkejut, mengira bahwa ayah angkatnya terluka hebat.

"Kalau dilepaskan, celananya akan merosot ke bawah!"

Leng Li memegangi perutnya menahan ketawanya.

"Tali celananya telah direnggut putus oleh Thian te Kiam ong."

Pun Hui menggeleng geleng kepalanya. Ia tidak mengerti ketakuan orang orang kang ouw itu.

"Itupun memperlihatkan bahwa Thian te Kiam ong sepuluh kali lebih lihai daripada ayah, hanya pendekar besar itu sengaja tidak mau membikin malu dan sengaja mengalah. Apalagi yang kau tidak mengerti?"

"Kau tertawa geli aku dapat mengerti sekarang, akan tetapi mengapa kau mencucurkan air mata? Biasanya tak pernah kulihat kau tertawa sambil menangis."

Kembali dua butir air mata bertitik dari mata gadis itu.

"Aku.... aku kasihan kepada ayah dan aku.... aku girang karena soal perjodohanmu tentu akan beres."

"Bagaimana kau bisa bilang begitu?"

Pun Hui tidak mengerti bahwa kali ini gadis itu membohong, bukan karena berbahagia, melainkan karena terharu.

Cinta hati gadis itu terhadap Pun Hui membuat ia merasa perih hati mengingat bahwa pemuda ini akan menjadi jodoh orang lain.

"Karena aku tahu akan watak ayah. Ia telah ditundukkan oleh Thian te Kiam ong, tanpa tersinggung kehormatannya. Kalau Thian te Kiam ong merobohkan dia, kiraku akan sukar bagimu untuk berjodoh dengan Song lihiap. Juga lebih sulit lagi. Akan tetapi sekarang, Thian te. Kiam ong telah berlaku demikian bijaksana untuk mengalah, sehingga pada luarnya ia kelihatan telah dikalahkan oleh ayah, akan tetapi diam diam ia menundukkan hati ayah karena kelihaiannya. Aku berani pastikan bahwa sebulan lagi ayah pasti akan pergi ke Tit le untuk meminang Song lihiap. Ramalan Leng Li ini terbukti karena sebulan lagi, benar saja Sin tung Lo kai mengajak Pun Hui dan Leng Li pergi ke Tit le melakukan peminangan. Tentu saja pinangan diterima dengan sukacita dan tak lama kemudian dilangsungkanlah pernikahan antara Tek Hong dan Siang Cu serta Pun Hui dan Siauw Yang. Orang orang kang ouw dari seluruh penjuru dunia datang menghadiri upacara pernikahan dan semua orang bergembira ria. Juga Leng Li dapat menghibur hatinya karena berkat bantuan Pun Hui, akhirrya ia mendapat jodoh pula dengan seorang sasterawan muda kawan Pun Hui, seorang sasterawan yang akhirnya menduduki pangkat cukup tinggi. Belasan tahun lewat dengan cepatnya semenjak pernikahan itu dirayakan. Pada suatu hari yang amat meriah, karena itu adalah hari Tahun Baru. Di mana mana bergema ucapan ucapan setamat! "Sin chun, Kiong hi (Selamat Hari Raya Musim Semi)!"

"Kiong hi, kiong hi, thiam hok siu (Selamat, selamat, panjang usia banyak rezeki).... !"

Di mana mana terdengar ucapan ini, saling sambut, disertai wajah berseri, mata bercahaya, mulut tersenyum.

Suasananya gembira ria di setiap rumah penduduk kota Soa couw.

Bukan hanya di kota ini saja, bahkan di seluruh daratan Tiongkok.

Tidak, bahkan di seluruh daratan permukaan bumi di dunia ini di mana terdapat orang orang Tionghoa yang merayakan hari raya Musim Semi atau lebih terkenal dengan hari raya Tahun Baru atau Sincia!

Segala apa nampak berseri dan serba baru.

Karena segala apa serba baru inilah kiranya yang menyebabkan Pesta Musim Semi untuk menyambut datangnya musim semi setelah musim kering yang panjang itu berlalu, berubah sebutannya menjadi Pesta Tahun Baru.

Segala apa serba baru dan bersih.

Jalan jalan sudah sejak kemarin dibersihkan orang secara bergotong royong, selokan selokan bersih.

Rumah rumah diberi warna baru, pintu pintu dan jendela jendela dicat, ditempeli kertas kertas merah tanda bahagia.

Huruf huruf kertas gunungan yang melukiskan Soa soa mereka yakni sebagian besar huruf REZEKI atau BAHAGIA memenuhi dinding dan pintu pintu.

Ini semua ditambah dengan hiruk pikuk yang luar biasa.

Tidak ada kegembiraan tanpa suara ribut ribut yang lain daripada biasa terdengar sehari hari.

Suara petasan petasan berdar der dor gembira, antara tambur dan gembreng yang mengiringi liong dan barongsai saling bersaing dengan suara terompet dan tambur arak arakan.

Ada banyak sekali anak anak yang berlari larian di luar rumah, dalam pakaian dan sepatu baru, tangan membawa kue atau kembang gula atau mainan, mengikuti arak arakan barongsai dan liong.

Suara ketawa para wanita cekikikan tertahan dari balik jendela loteng di mana mereka berkumpul menonton arak arakan menjadi sasaran pandangan mata kurang ajar kagum dari anak anak muda di bawah jendela.

Suara para engkong (nenek) yang mendongeng di dalam rumah, di kelilingi oleh belasan, bahkan ada yang puluhan orang cucu cucunya, mendongeng tentang cerita rakyat yang berhubungan dengan tahun baru.

Pendeknya semua rumah nampak kegembiraan besar.

Bahkan rumah tangga yang miskinpun tidak luput mengalami perobahan dihari hari itu ikut ikutan menjadi gembira ria.

Betapa tidak?

Sungguhpun mereka tidak mampu membeli pakaian dan sepatu baru, tidak mampu memperbaiki atau menghias rumah, namun pada hari itu banyak sekali orang orang baik!

Agaknya semua orang berlomba untuk "berbaik hati"

Di hari hari pesta ini.

Rumah orang orang miskin ini kebanjiran hadiah, kebanjiran antaran antaran berupa makanan makanan enak yang biasanya dalam mimpi sekalipun tak mereka jumpai Terutama sekali, tentu saja, di rumah hartawan hartawan dan bangsawan bangsawan yang banyak uangnya, kegembiraan menjadi jadi.

Arak wangi dan mahal berlimpah limpah, daging takkan habis termakan, disertai senda gurau mereka.

Di rumah keluarga Thio yang besar sekali itu tidak ketinggalan.

Bahkan lebib meriah daripada rumah rumah lain karena bagi keluarga Thio membuang uang bagaikan membuang pasir di hari baik itu, bukan apa apa.

Seluruh rumah terhias indah.

Dari pintu pekarangan depan yang terhias dengan kertas berwarna dari sutera, sampai ke taman belakang yang dihias kertas kertas berwarna pula, menunjukkan betapa royalnya keluarga ini membuang uang.

Teng teng besar dari keras bergambar indah dan berharga mahal tergantung di segala ruangan.

Petasan petasan dari pagi sampai malam, sampai pagi lagi.

Semua penghuni rumah gembira dan merasa bahagia.

Semua??

Sayang tidak demikian adanya.

Banyak sekali orang orang yang bergembira ria ini, bahkan di balik wajah wajah gembira itu banyak sekali terbayang kesedihan dan kedukaan yang untuk sementara waktu, agaknya untuk menghormati hari raya, ditunda dan coba dilupakan dengan senyum dan tawa.

Bahkan ada suara tangis lapat lapat terdengar dari ruangan belakang gedung tengah dan meriah dari keluarga Thio itu.

Tangis itu akan terdengar sejak pagi sampai sore, kalau saja di luar tidak begitu riuh dan hiruk pikuk dengan suara petasan dan tambur terompet gembreng canang.

Apakah yang terjadi?

Siapakah yang menangis?

Perbuatan yang benar benar janggal dan ganjil sekali di malam tahun baru seperti itu?

Keluarga Thio adalah keluarga yang dapat disebut keluarga bangsawan, atau bekas bangsawan, karena Thio loya (Tuan Besar Thio) adalah seorang bekas pejabat pemerintah yang bertugas mengumpulkan pajak.

Selama tigapuluh tahun ia mengerjakan tugas ini dan setelah ia merasa terlalu tua dan mengundurkan diri, ia telah berhasil tidak saja mengumpulkan pajak untuk negara, akan tetap terutama sekali mengumpulkan harta benda untuk sakunya sendiri cukup banyak untuk ia dapat hidup menganggur selama hidupnya secara berlimpah limpah dau mewah mewahan.

Thio loya atau nama lengkapnya Thio Kin sudah berusia limapuluh tahun lebih, akan tetapi masih terkenal sebagai seorang mata keranjang.

Selain isterinya, yaitu Thio hujin atau nyonya besar Thio yang hanya mempunyai seorang putera, ia masih mempunyai tiga orang bini muda yang menggembirakan hidup tuanya di rumah gedung itu.

Sudah tentu saja yang tua diantara bini bininya hanya Thio hujin seorang sedangkan tiga orang selir ini masih muda muda, patut menjadi anak anaknya.

Di samping ini, ia masih tidak malu malu dan tidak segan segan untuk mengganggu pelayan pelayan wanita muda yang ada belasan orang bekerja di dalam rumahnya, pelayan pelayan muda yang boleh dibilang "miliknya"

Karena mereka ini dapat ia "beli"

Dari tengkulak tengkulak manusia. Juga Thio loya masih tidak segan segan untuk mengunjungi "rumah rumah bunga"

Di kota Soa couw.

Memang hal hal macam ini agak janggal terdengarnya bagi kita, akan tetapi di jaman Thio Kin hidup, hal seperti ini adalah biasa saja, sudah jamak.

Bahkan Thio Kin terhitung masih "alim"

Kalau dibandingkan dengan hampir semua hartawan dan bangsawan yang rata rata memiliki setir selir lebih dari sepuluh orang.

"Kacang tidak meninggalkan lanjaran"

Demikian bunyi pepatah kuno yang diartikan bahwa perangai sang anak tidak jauh daripada perangai bapaknya.

Maka tidak mengherankan apabila putera tunggal Thio Kin yang bernama Thio Sui, juga terkenal sebagai seorang pemuda lacur.

Thio Sui memiliki wajah seperti ibunya, maka ia tampan sekali.

Mukanya bulat dan kulitnya halus putih, bentuk muka lembut seperti wanita Akan tetapi sayang hatinya tidak selembut ibunya, melainkan sekeras dan sematakeranjang ayahnya.

Karena itu, di dalam rumah ia seakan akan merupakan "saingan"

Dari ayahnya sendiri, karena Thio Sui juga tidak melewatkan kesempatan untuk menggoda para pelayan yang cantik bersih.

Dan diam diam pemuda inipun mengadakan perhubungan rahasia dengan dua orang ibu tirinya atau setir selir ayahnya yang usianya sebaya atau lebih tua sedikit daripadanya.

Tentu saja hal ini tidak diketahui oleh ayahnya.

Pada suatu hari, Thio hujin membeli seorang gadis pelayan dari seorang tengkulak manusia yang biasa menawarkan dagangannya yang istimewa di gedung gedung hartawan besar.

Gadis itu pakaiannya compang camping seperti pengemis.

Dia ini adalah seorang pengungsi dari dekat Lembah Sungai Kuning yang kembali mengamuk, memusnahkan banyak kampung berikut rumah rumah dan penghuninya, termasuk keluarga gadis she Liu ini.

Gadis berusia empatbeleas tahun ini terlunta lunta seperti seorang pengemis.

Ayah bundanya telah hanyut bersama gubuk mereka menjadi mangsa iblis iblis Sungai Kuning yang ganas.

Baiknya Kui Lian, demikian nama gadis ini, semenjak kecil biasa berenang di pinggir Sungai Hoang Ho, maka ketika banjir mengamuk kampungnya, ia berhasil menyelamatkan diri.

Akan tetapi segera menyesali nasibnya mengapa ia tidak ikut hanyut dan tewas saja bersama ayah bunda dan rumahnya karena hidup seorang diri berarti neraka baginya, ia terlunta tunta, wajahnya yang manis tertutup air mata campur debu, sehingga tidak menarik perhatian orang orang jahat.

Akhirnya ia terjatuh ke dalam tangan seorang tengkulak manusia yang pada masa itu sekali berkeliaran di Tiongkok.

Tengkulak manusia ini memberinya makan dan dengan bujukan bujukan manis akhirnya berhasil membawanya ke Soa couw dan menjualnya kepada keluarga Thio untuk duapuluh lima tael perak!

Nasib baik menimpa diri Kui Lan.

Baiknya ia terjatuh ke dalam tangan Thio hujin yang berhati mulia, kalau terjatuh ke tangan keluarga lain, mungkin sebentar saja hidupnya akan rusak, bagaikan setangkai bunga, dipetik dipuja sampai layu lalu dibuang begitu saja, diinjak injak.

Thio hujin merasa kasihan dan sayang kepada gadis pantai yang jujur ini, dan diambilnya gadis itu sebagai pelayan.

Dalam waktu satu tahun saja tinggal d gedung keluarga Thio, Kui Lian nampak segar, sehat dan kecantikannya yang dulu timbul bahkan lebih berseri.

Ia telah menjadi seorang gads berusia limabelas tahun yang cantik dan menggairahkan, terutama menarik hati Thio loya, bandot tua yang paling suka akan daun daun muda itu.

Akan tetapi oleh karena Thio hujin sudah maklum akan gerak gerik suaminya, tahu pula akan penyakit lama suaminya, muka Thio hujin yang sebetulnya sayang dan kasihan kepada Kui Lian, telah memperingatkan Kui Lan akan bahaya itu dan berusaha sedapat mungkin agar pelayan muda ini jarang berpisah dari dekatnya.

Inilah sebabnya mengapa sebegitu jauh belum juga Thio loya tercapai idam idamannya, yakni menjadikan pelayan baru ini sebagai korbannya pula.

Akan tetapi, pada jaman seperti itu, bagaimana mungkin bicara tentang nasib baik seorang pelayan?

Pelayan pelayan seperti Kui Lian tiada bedanya dengan binatang peliharaan, nasibnya berada di tangan majikan majikannya, bahkan mati hidupnya boleh dibilang berada dalam kekuasaan mereka yang memberinya makan sehari hari.

Bagaimana dapat disebut bernasib baik bagi orang orang yang berhak hidup namun tidak berhak menentukan nasib sendiri?

Biarpun bahaya yang datang dari pihakThio loya untuk sementara dapat dibendung berkat kebijaksanaan dan kemuliaan hati nyonya besar, namun datang bahaya lain yang lebih berbahaya.

Yaitu godaan dari Thio kongcu (tuan muda Thio) sendiri.

Godaan ini jauh lebih berbahaya kalau dibandingkan dengan niat niat buruk Tho loya, karena sebagai seorang gadis muda yang cantik tentu saja Kui Lian sama sekali tidak ada hati untuk melayani kehendak majikan tuanya.

Akan tetapi dengan Thio Sui lain lagi soalnya.

Thio Sui adalah seorang pemuda yang tampan dan ganteng, sikapnya halus, bicaranya manis, bujukannya merayu kalbu.

Apalagi bagi Kui Lian, Thio Sui adalah majikan mudanya, masih jejaka lagi.

Kui Lian hanya seorang gadis dusun yang bodoh.

Tak mungkin ia dapat membaca isi hati orang.

Dianggapnya cinta kasih Thio Sui itu dari mulut terus ke hati.

Dianggapnya sumpah dan janji pemuda itu jujur dan setulusnya.

Ia jatuh menghadapi bujukan Thio Sui dan sepasang orang muda itu membuat perhubungan di luar tahu siapapun juga, kecuali mereka sendiri dan para dewata yang setiap hari dimintai berkah oleh Kui Lian agar supaya melindungi dia dan kekasihnya.

Dewata agaknya meluluskan permintaannya, buktinya sampai berbulan bulan perhubungan mereka berlangsung dengan lancar dan selamat tidak mendapat gangguan siapapun juga.

Demikian anggapan Kui Lian.

Dia terlalu bodoh untuk mengerti bahwa hal hal yang demikian tak mungkin dilakukan orang tanpa diketahui akhirnya oleh orang orang lain.

Para penghuni rumah itu tahu belaka, bahkan Thio hujin sendiri juga sudah tahu.

Namun mereka ini hanya menarik napas panjang, bahkan ada yang sambil terkekeh kekeh membicarakan perhubungan ini di belakang Kui Lian atau Thio Sui.

Orang satu satunya yang tidak tahu hanya Thio loya sendiri.

Hal ini adalah karena Thio hujin yang amat memanjakan puteranya memesan kepada semua isi rumah agar jangan membocorkan rahasia orang orang muda itu.

Segalanya akan berjalan baik dan tidak ada perubahan kalau saja tidak terjadi perubahan dalam diri Kui Lian sendiri ia mulai merasa pusing pusing dan badannya tidak enak juga malas.

Akhirnya ia tahu apa yang sedang terjedi dengan dirinya.

Dengan hati kebat kebit ia menyampaikan hal ini kepada kekasihnya.

Thio Sui menjadi kaget setengah mati dan bingung.

Terpaksa ia mengeluarkan isi hati kekhawatirannya di depan ibunya.

Biarpun memiliki hati yang lembut dan budiman, Thio hujin hanya seorang wantia kepala rumah tangga yang jalan pikirannya dipengaruhi seluruhnya oleh hukum hukum tradisi.

Mendengar penuturan putera tunggalnya, ia hampir pingsan.

"Perempuan hina dina itu berani sekali menggoaa hatimu? Berani betul dia mempunyai kandungan darimu? Celaka, hal ini akan menghancurkan nama baik kita, akan mancemarkan nama baik seluruh keluarga Thio yang dihormati orang karena semenjak nenek moyang kita dahulu tidak pernah melakukan hal hal yang remeh. Sekarang kau putera tunggal keluarga Thio akao menjadi ayah dari anak seorang pelayan belian yang tidak diselir secara sah! Ah, Thio Sui, kemana kita akan menyembunyikan muka kita?"

"Ibu, tidak ada lain jalan lagi. Kita harus mencarikan seorang suami untuknya. Kalau kita beri sedikit uang modal, kiranya banyak laki laki dari luar yang suka mengambil Kui Lian sebagai isterinya, dia masih muda lagi tidak buruk mukanya,"

Kata pemuda yang pengecut dan palsu hati ini.

Setelah menghadapi akibat daripada perbuatannya, ia bukan melindungi Kui Lian, bahkan hendak mencuci tangan!

"Bodoh, apa kaukira semua pelayan tidak tahu akan keadaan Kui Lian?

Pula, suaminya juga akan tahu bahwa dia sudah mengandung, apakah dia takkan menjual hal ini secara murah di luaran?"

Ibu dan anak ini bicara kasak kusuk dan akhirnya mereka menemukan jalan terbaik.

Tiada jalan lain kecuali menimpakan segala kesalahan ke pundak seorang pelayan pria!

Demikianlah, pada malaman tahun baru itu, tiba tiba Gan Keng Ki dipanggil majikannya.

Pelayan yang usianya baru duapuluh lima tahun ini dengan wajah berseri dan hati gembira datang menghadap di ruang tengah, mengira akan mendapat hadiah Tahun Baru.

Akan tetapi alangkah herannya ketika berlutut di depan kursi Thio loya, ia melihat wajah majikannya ini muram dan marah, sedangkan Thio hujin, Thio kongcu dan para selir duduk di situ tak bergerak seperti patung.

Suasana demikian tegang dan dingin, sama sekali tidak membayangkan kegembiran tahun baru.

Ada apakah?

Hati Keng Ki mulai berdebar debar tak enak.

Apalagi ketika ia melihat Kui Lian yang terisak isak sambil menutupi mukanya, duduk berlutut di sudut ruangan.

Sudah lama Keng Ki menaruh hati kepada pelayan muda ini, akan tetapi segera mengusir perasaannya karena dihadapannya duduk Thio Kongcu.

Ia maklum bahwa tak mungkin ia dapat bersaing dengan majikan mudanya.

"Keng Ki, hayo akui semua dosamu agar hukumannya agak ringan!"

Thio loya mendamprat dengan bentakan marah.

Memang hartawan tua ini marah sekali ketika mendengar bahwa Kui Lian telah mengandung karena perhubungannya dengan seorang bujang, yaitu Gan Keng Ki, orang kepercayaannya.

Gila betul!

Sudah lama ia merindukan bunga cantik yang tumbuh di dalam tamannya.

Sebelum ia berhasil memetiknya, eh, tahu tahu sudah didahului oleh bujangnya.

Siapa takkan marah?

Di lain pihak Keng Ki menjadi bingung dan melongo.

Kemudian setelah memeras otak mengingat ingat kesaahan apa gerangan yang telah ia lakukan, ia mengangguk anggukkan kepalanya sampai menyentuh lantai dan menjawab.

"Hamba Gan Keng Ki menghaturkan Sin chun Kionghi, hamba akan bersembahyang siang malam dengan doa semoga Thio loya diberkahi usia panjang sampai ratusan tahun, rezeki bertambah sampai kekurangan tempat untuk menampung dan...."

"Tutup mulut!"

Bentak Thio loya marah sekali.

Dalam keadaan biasa, ucapan setamat dan pelayannya ini akan memancing keluar uang hadiah, akan tetapi sekarang sebaliknya, disangka sebagai sindiran dan ejekan.

Sebaliknya, Keng Ki menjadi pucat.

Tadinya ia mengira bahwa karena ia terlambat mengucapkan selamat, ia dianggap bersalah dan tidak tahu adat, maka ia tadi buru buru menghaturkan selamat.

Tak tahunya malah dibentak marah.

"Anjing betinanya sudah mengaku, apa kau anjing jantannya masih berpura pura lagi? Kau bermain gila di belakangku dengan Kui Lian, sampai gadis itu mengandung. Tahukah kau apa artinya dosa itu? Kau telah mengotori rumahku, telah mendatangkan kesialan, telah mencemarkan nama baik kami, telah.... telah...."

Saking marah dan kecewanya melihat kembang idamannya diserobot orang, Thio toya tak dapat mengeluarkan kata kata lagi, hanya tangannya meruding nuding ke kanan ke kiri menyuruh pelayan pelayan lain menangkap dan memberi hukuman kepada Keng Ki.

"Tigapuluh kali cambukan!"

Akhirnya ia dapat juga membentak dengan perintahnya setelah melihat Keng Ki dipaksa oleh delapan buah tangan untuk rebah telungkup di depan majikannya yang sedang marah marah.

Segera terdengar suara suara aneh di malaman Tahun Baru itu.

Suara cambuk cambuk menghantam hantam punggung disusul oleh rintihan memilukan juga tangis perlahan dari Kui Lian tak pernah berhenti.

Semenjak pagi tadi menerima tuduhun yang bukan bukan, Kui Lian terus menangis.

Thio hujin dengan gamasnya menuduh ia melakukan perhubungan dengan Gan Keng Ki!

Apa yang ia harus jawab?

Tentu saja sampai mati ia tidak berani mengaku bahwa yang menjadi ayah dari kandungannya adalah Thio kongcu!

Selain hal ini takkan dapat diterima oleh keluarga Thio, juga akan membuat majikan majikannya menjadi makin marah saja.

Kui Lian hanya mengharapkan campur tangan kekasihnya, mengharapkan perlindungan, pembelaan dan penolongan Thio Sui.

Akan tetapi, alangkah perih hatinya ketika ia melihat pemuda itu memandang acuh tak acuh, seakan akan dia orang yang paling bersih di dunia.

Tidak sekalipun pemuda itu memandang kepadanya sehingga payah Kui Lan mencoba untuk bertemu pandang dan menyampatkan jerit jiwanya melalui pandang mata kepada pemuda itu.

Setelah diberi hukuman tigapuluh kali cambukan yang merobek robek kulit punggungnya, Thio loya berkata.

"Jahanam yang tidak tahu budi. Sejak kecil kau kupelihara, kami beri makan dan pakatan secara berlebih lebihan menolongmu dari kelaparan, akan tetapi balasmu hanya memalukan nama baik kami saja. Sekarang katakan apakah kau ingin kami ajukan ke depan pengadilan atau akan menerima putusan hukuman kami sendiri?"

Gan Keag Ki adalah orang kepercayaan Thio loya, sudah sering kali disuruh mengantarkan ini itu dalam hubungan Thio loya dengan para pejabat tinggi.

Ia cukup cerdik untuk mengerti bahwa hubungan majikannya dengan para pembesar pengadilan amat eratnya, dan bahwa segala perkara yang diadili di pegadilan keputusannya sama sekali bukan berdasarkan keadilan, melainkan tergantung daripada besar atau kecilnya uang sogokan yang diberikan oleh mereka yang diperiksa kepada para petugas pengadilan.

Ia maklum pula bahwa kalau ia diserahkan kepada pengadilan yang sudah makan uang sogokan majikannya, nasibnya sudah dapat ditentukan, yakni siksa, hukum dan buang.

"Hamba menerima segala keputusan loya...."

Akhirnya ia berkata lemah. Thio loya tersenyum. Ini berarti penghematan, tak perlu dia mengirim beberapa puluh tael perak ke pengadialn, dan dia dapat pula "mencuci muka"

Dan mempropagandakan kebaikan hatinya.

"Baiknya aku kasihan kepadamu dan mengingat bahwa kau sudah sebelas tahun bekerja disini, dan bahwa Kui Lian juga bekas pelayan nyonya besar, keputusanku sekarang supaya kau mengawini gadis itu dan pergi dari sini jangan sekali kali berani menginjak pekarangan rumah kami. Dan hati hati, kalau kau dan binimu sudah keluar dari sini berarti kau bukan pelayan kami lagi, kau tidak ada hubungan sama sekali dengan kami dan aku melarang kau bicara sesuatu tentang diri kami."

Dengan lemah Gan Keng Ki terpaksa menerima hukuman itu.

Ia diusir bersama Kui Lian di malam hari itu juga.

Ia menerima dengan kepala tunduk, kemudian pergi ke kamarnya untuk mengumpulkan barang barang yang dipunyainya.

Tidak banyak, hanya sebungkus pakaian, hasil kerja selama sebelas tahun di situ.

Akan tetapi Kui Lian roboh pingsan mendengar keputusan ini.

Roboh pingsan sambil menjerit lirih ketika melihat Thio Sui tersenyum puas dan meninggalkan ruangan tanpa melirik seleretpun kepadanya.

Semua ini terjadi pada jaman itu.

Tidak aneh kejadian yang lebih hebat sekalipun bukan merupakan peristiwa aneh.

Apakah anehnya anjing dipukuli sampai mati oleh majikannya?

Apakah anehnya ayam dipotong.

Kuda diperas tenaganya untuk seikat rumput saja?

Dan pelayan belian di jaman itu tiada bedanya dengan anjing, ayam atau kuda, kadang kadang lebih rendah lagi.

Ya, jaman itu, jaman di mana feodalisme masih merajlela, di mana derajat manusia masih bertingkat tingkat.

Yang kelaparan, si miskin.

Yang ditindas, si lemah.

Yang terinjak injak, si rendah.

"Kau.... perempuan sialan.... Kau perempuan rendah.... tak tahu malu! Kau perusak hidupku.... !"

Keng Ki memaki maki sambil menyeret tangan Kui Lian di sepanjang jalan yang sunyi ditengah malam itu, malam tahun baru!

Akan tetapi yang dimaki maki, tidak menyahut, mendengarpun tidak Kui Lian berjalan terhuyung huyung, setengah diseret oleh Keng Ki wanita ini lebih banyak pingsan daripada sadarnya.

Seperti orang mabuk yang tidak ingat apa apa lagi.

Rintihan rintihan dan keluh kesah perlahan keluar dari bibirnya, matanya setengah terpejam, tubuhnya lemah lunglai.

"Kau perempuan hina dina.... kau main gila dengan majikan muda, main gila lupa daratan, lupa diri, sampat Thian mengutukmu, sampai kau mengandung. Dan aku orangnya yang menerima hukuman untuk pebuatanmu yang kotor itu!"

Keng Ki tiada henti memaki maki.

Yang dimaki tetap tidak mendengar, bahkan Keng Ki merasa tubuh itu menggelandot berat.

Ketika ia melepaskan pegangannya, tubuh itu terkulai dan terguling di atas tanah dan rumput basah, pingsan.

"Terkutuk! Setan atas!"

Keng Ki makin marah dan mendokol.

Kemudian ia duduk mengaso di atas tanah di pinggir jalan itu, termenung dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya, apa yang akan diperbuatnya terhadap wanita yang pingsan itu.

Ia sudah terlalu lelah.

Tubuhnya sakit sakit dan lemas akibat hukuman yang ia terima tadi, panas seluruh badan akibat nafsu amarah yang berkobar.

Akhirnya ia tak dapat menahan kelemasan tubuh, ia berbaring dan tak lama kemudian tidur membuat ia lupa akan kesedihannya, akan kemarahannya, akan nyeri nyeri badannya.

Menjelang tubuh Keng Ki bangun dari tidurnya, ia sadar kembali dan bersama kesadarannya, kembali pula kesedihannya, kemarahannya, kemendongkolannya.

Ia melihat ke arah Kui Lian yang masih rebah miring di atas tanah.

Ketika didekatinya ternyata Kui Lian masih tidur.

Agaknya gadis ini setelah siuman kembali, saking lelahnya tertidur juga.

Melihat gadis yang berwajah manis ini tidur miring dalam keadaan menarik dan juga menimbulkan kasihan, untuk sedetik kemarahan dan kekerasan hati Keng Ki mencair.

Teringat ia akan cinta kasihnya yang dulu diam diam ia tahan untuk gadis ini, gadis yang pernah dirindukannya siang malam.

Akan tetapi tiba tiba perih dan nyeri di punggungnya mengusir kelemahan ini dan mengembahkan kemarahannya.

"Bangun! Perempuan sial!"

Bentaknya sambil melompat berdiri dan mengguncang guncang tubuh Kui Lian dengan kakinya.

Kut Lian mengeluh, membuka mata.

Lalu bangkit cepat cepat seakan akan orang baru sadar dari mimpi, terbelalak memandang ke kanan kiri, kemudian kepada Keng Ki Lalu menangis tersedu sedu.

Bukan mimpi buruk, melainkan kenyataan yang ia hadapi!

Tadinya Kui Lian masih mengharapkan bahwa kesemuanya itu mimpi belaka, akan tetapi alangkah hancur hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa semua itu bukan mimpi, melainkan kenyataan pait.

"Diam! menangis lagi! Perempuan sial, kau tahu apa yang telah kauperbuat terhadap aku? Sejak kecil aku berada di gedung keluarga Thio, mendapat kepercayaan, disuka dan sering mendapat hadiah. Hidupku senang sampai belasan tahun. Kemudian iblis melemparkan kau ke tengah tengah keluarga Thio. Kau siluman betina ini main gila. menggoda kongcu sampai perutmu menjadi besar. Kemudian kau menimpakan dosanya kepundakku. Aku yang dituduh menjinaimu, aku yang dituduh menjadi bapak anak haram di perutmu itu. Cih, tak tahu malu. Coba kaukatakan, kapan aku pernah mendekatimu? Hayo katakan, kapan?"

Makin banyak bicara makin melonjak marah di dada Keng Ki. Ia mencak mencak, membanting banting kaki mengepal tinju.

"Gan twako, ampunkan aku.... biarpun aku tak pernah memfitnahmu, biarpun aku bersumpah tak pernah membawa bawa namamu di depan mereka, tetap saja.... aku telah bersalah.... karena perbuatankulah kau menderita.... Twako, kalau tidak bisa mengampunkan aku.... mengaca kau tidak...... tidak bunuh saja aku di sini? Tidak akan ada orang tahu...."

Lemas kedua tangan Keng Ki yang tadinya dikepal kepal itu.

Melihat gadis ini berlutut dengan kepala yang rambutnya awut awutan itu menunduk, mendengarkan kata kata yang lemah dan sayu diseling isak, lemaslah dia.

"Bunuh.... kau....?"

Ulang katanya gagap dengan pandang mata bodoh.

"Ya, mergapa tidak? Untuk apa artinya hidup bagiku? Aku telah tertipu...."

Ia tersedu sedu.

"Aku tertipu oleh perasaanku, kau benar, twako. Aku seorang perempuan rendah, tak tahu malu, tak tahu menjaga kehormatan. Aku patut kau bunuh saja, jangan menjadi bebanmu...."

Dan iapun menangis tersedu sedu. -ooo0dw0ooo-

Jilid XXXII KENG KI berdiri terpaku Tangan kanannya tergantung di belakang, tangan kiri menjambak jambak rambut, rasa nyeri punggungnya berdenyut denyut.

Lebih baik kutinggalkan saja dia, ia termenung.

Akan tetapi....

Baca Juga: Si Tangan Sakti 7

Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert