Ceritasilat Novel Online

Pedang Sinar Emas 10

Eps 10 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.

Siang Cu berbisik sayu dan kaget melihat pemuda itu terhuyung hendak roboh.

Ia tahu bahwa pemuda ini menderita bukan hanya karena tamparannya yang keras tadi, juga oleh tekanan batin yang berat, maka melihat pemuda itu hendak roboh, ia cepat memeluknya.

"Siang Cu, Thian telah mempertemukan kita...... jangan kau tinggalkan aku...."

Kata Tek Hong yang tiba tiba merasa tubuhnya kuat kembali.

Siang Cu tak dapat berkata apa apa hanya menyerah saja ketika Tek Hong memeluknya.

Untuk beberapa lama ia menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu yang mendekapnya erat erat seakan akan takut kalau kalau gadis itu akan pergi lagi.

Untuk beberapa lama keduanya tenggelam dalam suasana yang mesra ini.

Terutama sekali Tek Hong yang masih pening sekali kepalanya, ia tak dapat mempergunakan pikiran dengan baik lagi, ia merasa terayun ayun seperti berada di tengah samudera luas.

Yang ada dalam hatinya hanya cinta kasih yang dibarengi rasa kasihan yang amat besar dan mendalam.

Ia setengah dapat menduga bahwa gadis ini terpaksa menjadi jahat karena pengaruh suhunya, Lam hai Lo mo si iblis tua itu, karenanya ia hendak melawan iblis itu, bukan hanya untuk membela ayahnya, terutama sekali untuk merenggut gadis ini keluar dari cengkeraman pengaruh jahat itu.

Tiba tiba Siang Cu melepaskan diri dari pelukan Tek Hong.

"Tidak, Tek Hong, tidak mungkin! Aku sudah bersumpah kepada suhu bahwa aku harus membalaskan dendamnya terhadap Thian te Kiam ong. Dan aku bukan pengecut. Aku haru memenuhi sumpah itu, akan kucari ayah bundamu, akan kutandingi adik perempuanmu yang kudengar amat lihai. Hanya kepadamu saja aku takkan mencabut pedang. Selamat tinggal, Tek Hong, kekasihku. Percayalah bahwa apapun juga yang terjadi, aku tetap mengenangmu sebagai seorang termulia di dunia ini tempat aku menaruh harapan dalam hidup selanjutnya."

Siang Cu mengeluh dan melompat pergi, menghilang di dalam gelap, ia tidak memperdulikan ratapan dan panggilan pemuda itu yang terdengar menyayat nyayat hatinya, bahkan ia lalu mempergunakan jari jari tangannya untuk menutupi kedua telinganya sambil berlari keras, agar ia tidak dapat mendengar lagi suara panggilan itu.

Ia tidak tahu bahwa pada saat itu, Tek Hong terhuyung huyung lalu roboh di bawah pohon dalam keadaan pingsan.

Sebetulnya Tek Hong adalah seorang pemuda pendiam dan keras hati.

Namun, adakah kekerasan hati yang cukup keras dalam menghadapi asmara?

Hati sekeras bajapun akan hancur luluh!

Tek Hong telah menderita pukulan batin yang hebat sekali, ditambah pula oleh tamparan Siang Cu yang dilakukan dengan tenaga lweekang, maka ia tak dapat menahan dan roboh pingsan.

Memang, tak dapat disalahkan hati pemuda ini, atau tidak boleh mengira bahwa dia terlalu lemah iman atau tidak kuat menahan godaan wanita.

Oleh karena, sukarlah bertemu dengan seorang gadis seperti Siang Cu.

Dia adalah seorang gadis setengah liar yang semenjak kecil terasing dari dunia ramai dan hanya dididik oleh seorang manusia iblis seperti Lam hai Lo mo.

Biarpun Siang Cu bersikap seperti orang liar yang tidak tahu akan sopan santun sehingga sebagai seorang gadis berani dengan demikian terang terangan menyatakan cinta kasihnya terhadap seorang pemuda, namun semua kejanggalan ini ia lakukan dengan wajar sekali, ia lakukan dengan penuh kejujuran dan kesederhanaan, sama sekali tidak mengandung kegenitan atau pura pura.

Tek Hong dapat merasai dan memaklumi sepenuhnya akan hal ini maka ia tertarik sekali dan cinta kasihnya bercampur dengan rasa belas kasihan yang amat besar.

Belum lama setelah Siauw Yang bersama Liem Pun Hui berhasil melarikan diri dan Kepulauan Couwsan dan mendarat di pantai Tiongkok, datanglah Tung hai Sian jin di pulau yang ditinggalkannya, ia tidak berhasil mencari Thian te Kiam ong Song Bun Sam, bahkan hampir saja ia celaka oleh keroyokan Song Tek Hong putera Thian te Kiam ong dan Ong Siang Cu murid Lam hai Lo mo.

Oleh karena itu, dengan hati murung ia ke pulau itu dan hendak menyuruh puteranya mengawini puteri Thian te Kiam ong dengan jalan kekerasan dan paksaan saja.

Alangkah marah, kecewa dan menyesalnya ketika ia mendapatkan puteranya telah memaki maki dan marah marah karena telah diakali oleh Siauw Yang sehingga gadis itu dapat melarikan diri.

"Dasar kau yang goblok, mudah saja ditipu oleh gadis liar itu."

Ayahnya mengomel.

"Aku sudah cukup berhati hati, tetapi dia memang cerdik sekali. Kalau ia terjatuh ke dalam tanganku, aku takkan memberi kesempatan padanya untuk terlepas dari pelukanku. Lebih baik kuhancurkan kepalanya daripada membikin dia terlepas. Hatiku sakit sekali, ayah!"

Tung hai Sian jin tersenyum pahit.

"Apakah kau sekarang masih menghendaki dia sebagai isteri mu?"

Eng Kiat mengerutkan kening.

"Dia jahat! Lebih baik aku menikah dengan murid Lam hai Lo mo."

"Hem, mudah berobah pendirian orang muda, akan tetapi pilihanmu selalu jatuh di tempat yang salah. Murid Lam hai Lo mo juga bukan orang baik, dia telah berani bersekongkol dengan putera Thian te kiam ong, sungguh hal yang aneh sekali. Aku akan menegur Lam hai Lo mo kalau bertemu dengan dia,"

Pada saat itu, terdengar suara keras sekali akan tetapi terdengar dari tempat jauh, tanda bahwa orang yang mengeluarkan suara itu memiliki ilmu mengirim suara dan jauh dengan hebatnya!

"Tung hai Sian jin iblis tua bangka dari Timur!

Di mana Kau?

Mengapa pula pulau ini kosong belaka?"

Berobah muka Tung bai Sian jin. Kalau orang membicarakan setan, tahu tahu ia datang, katanya. Lalu ia mengerahkan tenaga dan menjawab dengan suara nyaring tinggi melengking.

"Lam hai Lo mo iblis tua! Apakah telingamu sudah agak tuli dan matamu sudah agak lamur maka kau tidak bisa lagi mencari aku?"

Sebagai jawaban terdengar suara ketawa bergelak dan terkekeh kekeh amat menyerahkan karena yang tertawa tidak kelihatan orangnya, seakan akan iblis sendiri yang tertawa.

"Bagus kalau kau dan puteramu masih hidup iblis timur! Kami menantimu di Sam liong to, datanglah dan aku akan gembira bertemu dengan kawan kawan sehaluan."

Mendengar ini, Tung hai Sian jin lalu berlari ke pantai diikuti oleh Eng Kiat.

Ketika mereka melihat sebuah perahu kecil panjang di tumpangi oleh delapan orang kakek, mata Tung hai Sian jin yang masih tajam penglihatannya itu mengenal Lam hai Lo mo di kepala perahu akan tetapi orang orang yang lainnya ia tidak kenal.

Hanya dilihatnya dua orang hwesio gundul dan lima orang tosu yang semuanya sudah tua tua.

"Siapakah gerangan mereka itu? Dan apa maksud Lem hai Lo mo mengundang kita ke pulaunya?"

Tung hai Sian jin berkata kepada puteranya.

"Tentu ada keperluan amat penting, ayah. Dia lihai sekali dan kalau kawan kawannya itupun orang orang lihai, lebih baik kalau kita datang ke sana memperkenalkan diri. Siapa tahu kalau kalau mereka itu kelak akan dapat membantu kita."

Tung hai Sian jin hanya mengangguk dan bersama puteranya ia memasuki perahu dan mendayungnya cepat cepat untuk menyusul perahu kecil panjang itu.

Akan tetapi, biarpun Tung hai Sian jin terkenal sebagai seorang ahli di atas dan di dalam air, dan ia terkenal sebagai seorang nelayan pandai, namun perahunya tidak dapat mengejar dan menyusul perahu di depan.

Ia melihat betapa delapan orang di dalam perahu itu sama sekali tidak mempergunakan dayung, hanya mempergunakan tangan saja untuk didorongkan ke air.

Bahkan ada di antaranya yang mempergunakan kaki untuk menendang nendang air di belakang perahu.

Namun perahu mereka itu meluncur dengan amat cepatnya seakan akan telah didorong oleh tenaga yang luar basa.

Melihat ini, diam diam Tung hai Sian jin memuji dan menjadi girang karena hal itu menyatakan bahwa penumpang penumpang perahu itu benar benar memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Sebagai seorang tokoh kang ouw kawakan tentu saja ia senang mendapat kesempatan bertemu dengan tokoh tokoh lain, baik lawan maupun kawan.

Sementara itu, Lam hai Lo mo dengan kawan kawannya telah mendarat di Sam liong to, Sambil tertawa bergelak Lam hai Lo mo berkata.

"Sahabat sahabat, mari mendarat. Selamat datang di Pulau Sam liong to, pulau yang akan menjadi pusat perhimpunan kita. Ha, ha, ha!"

Ia menggerakkan tongkatnya dan tahu tahu tubuhnya melompat ke darat dengan gerakan berjungkir balik seperti seorang anak kecil yang bergirang hati.

Namun dalam lompatan ini saja sudah dapat dilihat kehebatan ilmu gin kang dari kakek buntung ini.

Tujuh orang kakek yang seperahu dengan Lam hai Lo mo, juga bergerak dan masing masing memperlihatkan kepandaian melompat yang kesemuanya amat mengagumkan.

Biarpun berturut turut mereka melompat dan dalam perahu, namun perahu itu sedikit pun tidak bergoyang, tanda bahwa ginkang mereka memang sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Siapakah tujuh orang itu?

Yang dua adalah hwesio hwesio gundul dan mereka ini bukanlah orang orang baru, karena mereka adalah Sam thouw hud dan Ang tung hud, kakak beradik seperguruan dari Tibet yang lihai ilmu silatnya dan yang belum lama ini telah kena dihajar oleh Tek Hong dan Mo bin Sin kun di puncak Sian ho san.

Sam thonw hud dan Ang tung hud meraka amat sakit hati terhadap Mo bin Sin kun.

Tidak saja usaha membalas dendam mereka tak berhasil, bahkan mereka untuk kedua kalinya telah kena dibikin malu dan dikalahkan.

Maka, ketika mereka bertemu dengan Lam hai Lo mo, tentu saja mereka dengan penuh gairah menerima ajakan Lam hai Lo mo untuk mengadakan persekutuan agar kedudukan mereka menjadi lebih kuat.

Adapun lima orang tosu yang ikut pula di dalam perahu itu juga bukan orang orang sembarangan saja.

Mereka ini adalah tokoh tokoh dari Tibet yang setingkat kedudukannya dengan Sam thouw hud, hanya saja mereka adalah pemimpin dari golongan lain, karena mereka bukanlah penganut dan Agama Budha, melainkan lima orang tosu yang terkenal dengan aliran Cheng i pai (Aliran Jubah Hjau).

Mereka ini memiliki kepandaian tinggi dan terkenal dengan sebutan See san Ngo sian (Lima Dewa dari Tibet).

Sebetulnya ilmu silat mereka juga berasal dan Tiongkok tengah, bukan dari barat, karena mereka telah mencipta ilmu silat istimewa sendiri yang berdasarkan Ilmu Silat Ngo heng kun yang mereka pelajari dari seorang tokoh persilatan di gunung Thai san.

Akan tetapi sayang sekali, lima orang tosu ini memang dahulunya bukan orang baik baik.

Mereka fanatik memeluk agama dalam cara yang keliru, sehingga mereka bahkan menyimpang daripada garis garis pelajaran Agama To yang sebenarnya dan bahkan mendekati pelajaran ilmu hitam dan ilmu ilmu gaib yang mengherankan orang.

Mereka telah mengenal Lam hai Lo mo sebagai seorang ahli hoat sut (ilmu sihir), maka dengan iblis dari Laut Selatan ini mereka telah menjadi sahabat baik.

Ketika mereka bertemu dengan Lam hai Lo mo dan dimintai tolong untuk membantunya mendirikan perhimpunan orang orang gagah sehaluan, mereka segera menerimanya dengan gembira dan ikut dengan Lam hai Lo mo ke Pulau Sam liong to.

Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat mendayung perahu mereka cepat cepat untuk mendarat di Pulau Sam liong to.

Di situ mereka disambut oleh Lam hai Lo mo sendiri yang tertawa bergelak dan setelah Tung hai Sian jin mendarat, kakek buntung itu lalu menggandeng tangannya dan diajak menuju ke tengah pulau di mana orang orang lain telah menanti di situ.

"Girang sekali hatiku kau suka datang, iblis Timur!"

Kata Lam hai Lo mo tanpa memperdulikan Eng Kiat yang menjura sebagai penghormatan kepadanya.

"Kau menjadi orang penting dalam perkumpulan kita yang baru."

"Perkumpulan apakah yang kau maksudkan, Iblis Selatan? Aneh aneh saja kau ini, seperti orang muda, pakai mendirikan perkumpulan segala!"

Mencela Tung hai Sian jin.

"Ha, ha, ha, ha! Kau dengarlah saja nanti, sobat,"

Jawab Lam hai Lo mo.

Setelah mereka tiba di tempat terbuka yang berada di depan gua tempat bertapa Lam hai Lo mo, Tung hai Sian jin menjadi terheran heran.

Tempat itu kini indah sekali, entah kapan dibangunnya pendapa yang luas dengan genteng genteng baru dan lantainya dari batu putih.

Di situ terdapat meja dan banyak bangku yang terukir indah sekali.

"Eh, eh, mimpikah aku?"

Tung hai Sian jin berseru dan Eng Kiat juga memandang dengan bengong.

Belum lama ini tempat itu masih kosong melompong, mengapa sekarang telah didirikan pendapa yang indah?

"Iblis Selatan, bagaimana kau bisa menyulap pendapa ini di tempat seperti ini?

Siapa yang mengerjakannya dan sejak kapan kau berobah menjadi seorang yang royal dan mewah?"

Kembali Lam hai Lo mo tertawa bergelak tanpa menjawab pertanyaan ini, sebaliknya ia lalu memperkenalkan Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat kepada tujuh orang pendeta yang telah duduk di atas bangku bangku di pendapa itu.

"Cui wi Bengyu (Sahabat sahabat sekalian)", kata Lam hai Lo mo kepada lima orang tosu dan dua orang hwesio itu.

"Sahabat kita ini adalah Tung hai Sian jin, tokoh besar pantai laut timur dan puteranya, Bong Eng Kiat."

Hanya Sam thouw hud seorang di antara tujuh kakek pendeta itu yang tidak dapat mendengar ucapan Lam hai Lo mo, akan tetapi ia dapat mengira ngira dan melihat yang lain lain berdiri menjura kepada Tung hai Sian jin, iapun berdiri dan memberi hormat.

Tung hai Sian jin yang dapat menduga bahwa kakek kakek itu tentulah tokoh tokoh ternama, cepat membalas penghormatan mereka sambil bertanya kepada Lam bai Lo mo.

"Iblis Selatan, siapakah sahabat sahabat di dalam itu?"

"Pantas saja kau belum mengenal mereka, Iblis Timur. Mereka adalah tokoh tokoh yang selalu menyembunyikan diri di Tibet. Dua orang hwesio itu adalah Sam thouw hud (Budha Berkepala Tiga) dan Ang tung hud (Budha Bertongkat Merah) dua orang pemimpin Aliran Jubah Hitam di Tibet. Adapun lima orang tosu itu adalah See san Ngo sian tokoh tokoh dan Cheng i pai yang berjuluk Pat jiu sian (Dewa Tangan Delapan), Toat beng sian (Dewa Pencabut Nyawa), Sin kun sian (Dewa Tangan Sakti). Mereka ini adalah sahabat sahabat kita yang sudah sehaluan."

Mendengar julukan julukan yang hebat hebat itu, diam diam Tung hai Sian jin menjadi geli dan penasaran.

Sampai di manakah tingginya kepandaian mereka sehingga mereka berani mempergunakan julukan julukan yang demikian hebat?

Tanpa banyak cakap ia lalu duduk di atas bangku di dekat mereka, mengelilingi sebuah meja berukir indah yang besar sekali.

Tiba tiba terdengar suara bersuit keras dari arah pantai dan Lam hai Lo mo tertawa.

"Benar benar gesit sekali murid keponakanku yang baik itu. Ha, ha, ha! Tentu orang orangnya telah datang."

Semua orang menengok dan terlihatlah belasan orang turun dari sebuah perahu besar, membawa dan memikul barang barang yang amat mahal dan arak arak wangi yang ditaruh di dalam guci guci besar.

Seorang laki laki bertubuh pendek kecil yang gesit sekali gerakannya dan yang agaknya mengepalai rombongan ini, segera menghadap Lam hai Lo mo dan berlutut sambil berkata.

"Locianpwe, teecu Thio Kim menerima perintah Ciong Siauw ong ya menyampaikan hormat kepada locianpwe dan mengharapkan maaf karena siauw ong ya tidak dapat datang sendiri berhubung ada urusan amat penting. Oleh karena itu, hanya dapat mengirimkan hidangan untuk para locianpwe dan beberapa orang pembantu untuk melayani perjamuan ini. Adapun teecu diutus untuk mewakilinya mendengarkan apa yang perlu didengar dan apa yang penting dalam pertemuan yang locianpwe adakan."

Lam hai Lo mo mengerutkan kening.

"Ah, bagaimana Ciong Pak Sui berani mengabaikan undanganku? Urusan apakah yang begitu penting sehingga lebih ia utamakan daripada datang di sini?"

"Teecu tidak dapat memberi penjelasan yang memastikan, locianpwe, hanya kalau tidak salah, urusan perjodohannya."

Mendengar ini, Lam hai Lo mo tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha! Akhirnya ia mendapatkan jodoh juga, si mata keranjang itu. Baiklah kalau begitu, hayo kau duduk di sana Thio Kim dan dengarkan semua percakapan agar kau dapat melapor kepada Siauw ong ya kelak."

Thio Kim lalu memberi perintah kepada semua pengiringnya untuk mempersiapkan hidangan setelah dihangatkan lebih dulu.

Mereka juga membawa alat alat untuk masak dan ada pula dua orang tukang masaknya, pendeknya lengkap sekali untuk keperluan pesta.

Setelah semua hidangan dipanaskan dan di keluarkan di atas meja, para pelayan disuruh keluar.

Tak seorang pun di antara mereka boleh tinggal di dalam, kecuali Thio Kim yang mewakili Ciong Pak Sui atau Ciong Siauw ong ya, yakni murid Pat jiu Gam ong yang pernah kita kenal ketika ia berebut kuda dengan Siauw Yang.

Rapat pertemuan itu kemudian dibuka oleh Lam hai Lo mo.

"Saudara saudara tentu telah mendengar betapa keadaan pemerintah Goan tiauw makin terdesak mundur, agaknya tidak mampu membasmi para pemberontak yang merajalela di mana mana. Kaisar Kublai Khan kurang pandai dan lemah. Hal ini diketahui baik baik oleh Ciong Pak Sui yang juga seorang pangeran keturunan dari Jengis Khan yang besar. Maka daripada kita membantu Kublai Khan yang tak dapat menghargai tenaga dan jasa kita, marilah kita membantu Ciong Siauw ong ya yang mempunyai harapan besar."

"Apakah yang boleh kita andalkan atas diri Ciong Siauw ong ya selain kuda kuda yang baik?"

Mencela Tung hai Sian jin tak puas.

Lam hai Lo mo tertawa bergelak "Kau tidak tahu, Iblis Timur, Pangeran Ciong telah mendapatkan peti peninggalan Jengis Khan, peti rampasan dari tanah barat yang berisi harta benda tak ternilai harganya.

Dengan hartanya, Pangeran Ciong tentu kuat membentuk sebuah negara yang besar dan kuat, dapat pula menggulingkan kekuasaan Kublai Khan, asalkan kita mau membantunya.

Di samping cita cita kenegaraan itu, kitapun harus akui bahwa musuh musuh besar kita seperti Thian te Kiam ong dan anak anak mereka, Sin pian Yap Thian Giok putera dari mendiang Jenderal Yap Bouw.

dan gurunya, Mo bin Sin kun, merupakan lawan lawan yang tangguh.

Oleh karena itu, untuk menghadapi mereka ini, kita harus bersatu dalam sebuah perhimpunan yang kokoh kuat."

"Bagaimana rencanamu selanjutnya, Iblis Selatan?"

Tanya Tung hai Sian jin.

"Kita membentuk sebuah perkumpulan yang kuberi nama Sam hiat ci pai (Perkumpulan Tiga Buah Jari Berdarah), dan untuk menjadi anggauta perkumpulan ini, kepanduan kalian telah cukup tinggi. Hanya saja, harus lebih dulu meyakinkan dan mempelajari ilmu pukulan tiga jari yang selama ini kulatih dan kuciptakan, agar perkumpulan kita menjadi lebih berpengaruh dan ternama."

"Apa itu yang kaunamakan Sam hiat ci hoat (Ilmu Pukulan Tiga Jari Berdarah)?"

Tanya pula Tung hai Sian jin ingin tahu sekali. Lam hai Lo mo tertawa bergelak lalu bertanya kepada Thio Kim yang semenjak tadi hanya mendengarkan saja.

"Thio ciangkun (Panglima Thio), bolehkah aku mempergunakan seorang di antara pengikutmu untuk ujian Sam hiat ci hoat?"

Thio Kim memang seorang panglima yang dipercaya penuh oleh Pangeran Ciong. Ia telah menyaksikan kehebatan ilmu pukulan tiga jari dari kakek ini, maka ia berkata.

"Mereka itu adalah orang orang kepercayaan Ciong Siauw ong ya, asal saja locianpwe tidak menewaskan mereka, tentu saja teecu tidak keberatan."

Seorang pelayan dipanggil, dan masuklah seorang pelayan bertubuh tinggi besar dan kelihatannya kuat sekali.

"Eh, sahabat, apakah kau pernah mempelajari ilmu silat tinggi?"

Tanya Lam hai Lo mo kepada pelayan itu. Pelayan ini membusungkan dada dan menjawab.

"Betapapun tinggi ilmu silat yang hamba pelajari, tentu bagi locianpwe tidak ada artinya apa apa. Akan tetapi, hamba pernah mempelajari ilmu silat dari Thio ciangkun sendiri dan di kota kami, hamba disebut Ngo jiauw houw (Harimau Lima Cakar)."

Lam hai Lo mo tertawa bergelak lalu berkata.

"Ngo jiauw houw, awas aku akan menyerangmu."

Setelah berkata demikian, kakek buntung ini tiba tiba tubuhnya berkelebat maju dan ia memukul ke arah kepala pelayan itu dengan menggunakan tiga buah jari tangan kirinya, yakni telunjuk, jari tengah dan jari manis.

Pukulan itu demikian lambat dan perlahan sehingga Ngo jiauw houw tidak menjadi gentar.

Pelayan yang bertubuh tinggi besar ini mengangkat tangan kanan menangkis pukulan Lam hai Lo mo.

Tiga buah jari tangan bertemu dengan lengan tangan yang besar dan berotot, akan tetapi akibat nya hebat sekali.

Pelayan itu terpelanting, mengeluarkan pekik kesakitan dan ia roboh telentang berkelojotan dan pingsan dengan muka membiru.

"Saudara saudara, lihatlah kehebatan Sam hiat ci hoat. Baiknya hanya lengannya yang terkena sehingga aku masih dapat mengobati dan menolong nyawanya, kalau bagian tubuh yang berbahaya yang terkena pukulan tadi, tentu ia akan binasa pada saat itu juga."

Semua orang mendekati dan melihat bahwa pada lengan tangan yang tadi menangkis pukulan tiga jari, terlihat tanda tiga jari tangan yang merah sekali, merah seperti darah atau seperti lukisan tiga jari dari cat merah.

"Hm, apa anehnya pukulan yang mengandung tenaga lweekang disertai Ilmu Totok Ci meh hoat itu. Hanya benar benar aku tidak mengerti mengapa ada tanda merah pada bekas jari tangan,"

Kata Tung hai Sian jin yang memang seorang ahli dalam ilmu kiam hoat. Lam hai Lo mo tertawa.

"Biarlah aku hidupkan dulu dia, agar Pangeran Ciong jangan kehilangan seorang tenaga pembantu,"

Ia menghampiri orang yang telah menjadi kaku dan beku itu, menotok iga dan pangkal lengan, lalu mengurut lehernya. Orang itu mengeluh dan dapat bergerak lagi.

"Kau telanlah tiga butir obat penolak racun ini !"

Kata Lam hai Lo mo yang segera menyuruh pelayan itu pergi ke luar. Semua orang kembali duduk mengelilingi meja.

"Memang betul seperti dikatakan oleh Iblis Timur tadi, ilmu pukulan yang barusan kuperlihatkan memang tidak aneh bagi seorang ahli. Akan tetapi kalau Cat meh ci hoat biasa saja hanya melumpuhkan tubuh orang atau membikin kaku tidak bisa mendatangkan tanda merah dan terutama sekali tidak bisa mendatangkan hawa beracun ke dalam tubuh orang. Pukulan ini lihai sekali dan kalau kita sudah bersumpah menjadi anggauta Sam hiat ci pai, dalam tiga hari akan dapat mempelajari dari aku. Tentu saja hanya orang orang dengan kepandaian tinggi saja yang dapat mempelajarinya. Dengan ilmu pukulan ini patutlah seseorang menjadi anggauta Sam hiat ci pai."

Mereka lalu makan minum dan ramai membicarakan pembentukan perkumpulan baru itu.

Lam hai Lo mo menceriterakan bahwa perkumpulan ini adalah sebagai pengganti Perkumpulan Hiat jiu pai (Perkumpulan Tangan Merah) yang dulu didirikannya juga dan diantara anggota anggotanya, terdapat pula Sam thouw hud dan Pat jiu Giam ong.

Mereka ramai membicarakan perkembangan perkembangan yang mungkin dialami oleh perkumpulan mereka, dan menyebut nama nama para tokoh kang ouw yang kiranya dapat mereka tarik untuk menjadi anggauta perkumpulan mereka.

Setelah makan minum selesai dan perut mereka sudah penuh, Lam hai Lo mo berkata.

"Saudara saudara sekalian jangan khawatir. Pangeran dong berdiri di belakang kita dan sebagai langkah pertama karena Pulau Sam liong to dijadikan pusat perkumpulan, maka mulai sekarang akan dibangun sebuah rumah perkumpulan yang besar sekali, yang dapat menampung sedikitnya duaratus orang anggauta yang akan bermalam di sini. Semua atas biaya Pangeran Ciong."

Mendengar ini, semua orang menjadi gembira sekali.

"Oleh karena itu, marilah sekarang kita resmikan berdirinya Sam hiat ci pai. Kita bersembilan, yakni aku sendiri, See san Ngo sian, Sam thouw hud dan sutenya, dan Tung hai Sian jin, merupakan sembilan pendiri yang selanjutnya boleh menyebut dia menjadi tokoh tokoh pertama dari Sam hiat ci pai. Oleh karena itu, marilah kita sembilan orang bersembahyang untuk melakukan sumpah menjadi dewan pengurus Sam hiat ci pai."

Lam hai Lo mo lalu membagi bagi hio dari sebuah tempat hio dan di situ memang sudah disediakan meja sembahyang yang diatur oleh Thio Kim menurut petunjuk petunjuk dari Ang tung hud yang ahli dalam hal persembahyangan.

Setiap orang dari sembilan kakek itu mendapat tiga batang hio.

Lilin di atas meja sembahyang telah dipasang dan ketika Lam hai Lo mo hendak memimpin sembahyang itu, tiba tiba Tung hai Sian jin berkata.

"Nanti dulu!"

Ia menyalakan tiga batang hio yang dipegangnya, lalu berkata kembali kepada semua orang.

"tiga batang hio ini dipergunakan untuk bersembahyang kepada Tuhan, Langit dan Bumi. Karena kita akan sembahyang sebagai sumpah, cukup disaksikan oleh Langit dan Bumi, pusat tenaga Im dan Yang. Adapun untuk Tuhan, cukup untuk memohon berkah. Karena itu, harus ditaruh di tempat yang setinggi tingginya. Aku memberi contoh lebih dulu dan siapa yang tidak dapat menancapkan hio pertama di tempat itu, tidak cukup berharga untuk menjadi anggauta dewan pengurus Sam hiat cit pai!"

Tanpa menanti jawaban, Tung hai Sian jin lalu melompat ke luar dan cepat sekali tubuhnya melayang ke atas, mempergunakan ilmu lompat dengan gerakan It ho ciong thian (Burung Hong Terjang Langit), melayang ke arah puncak pendapa itu.

Pendapa itu adalah buatan secara darurat, dan di bagian atasnya merupakan tenda kain yang disangga oleh bambu di tengahnya, tinggi sekali dan sukar didatangi orang.

Tidak saja amat tinggi, akan tetapi juga tidak ada tempat untuk berpijak.

Kain tenda itu mana kuat menahan berat tubuh seorang manusia?

Oleh karena itu, semua orang memandang dengan penuh perhatian ketika Tung hai Sian jin melompat ke atas.

Tung hai Sian jin mendemonstrasikan ginkangnya yang indah amat tinggi.

Setelah tiba di dekat bambu penahan tenda di puncak pendapa itu, ia merobah gerakan It ho tung thian itu dengan gerakan Koai hong hoan sin (Naga Siluman Membalikkan Badan), tiba tiba tubuhnya terputar terjungkir balik.

Tangan kirinya menyambar bambu dan dalam keadaan miring itu, ia dapat mempergunakan tangan kiri menahan badannya yang menjadi kaku seperti bambu lain disambung pada bambu penahan tenda itu.

Kemudian ia menancapkan sebatang hio di atas bambu penahan tenda dan semua gerakan ini sama sekali tidak membuat tenda maupun bambunya bergerak sedikitpun.

Setelah sebatang hionya tertancap pada puncak bambu, ia lalu melepaskan pegangan tangan kirinya dan berjumpalitan ke bawah, lalu bergerak indah sekali dengan gerak tipu Sin eng kai ci (Garuda Sakti Membuka Sayap).

Kedua lengannya dikembangkan dan kedua kakinya menyentuh tanah tanpa menimbulkan bunyi sesuatu.

Melihat ini, semua orang memuji.

Ang tung hud lalu berseru keras dan tubuhnyapun melayang naik, mencontoh perbuatan Tung hai Sian jin tadi.

Biarpun ia tidak selihai Tung hai Sian jin, namun ia berhasil juga menancapkan hionya di atas puncak bambu itu dan hanya sedikit saja bambu itu bergoyang goyang.

Sam thouw hud yang mengerti akan maksud Tung hai Sian jin, tertawa terkekeh kekeh, kemudian tubuhnya berkelebat cepat sekali dan tahu tahu iapun telah benda di puncak pendapa.

Kakek ini memang kepandaiannya sudah lebih tinggi daripada sutenya dan agaknya tidak di sebelah bawah kepandaian Tung hai Sian jin melompat sampai ke puncak bambu lalu mempergunakan dua kaki nya menjepit bambu itu bagaikan seekor capung saja sehingga dengan enaknya ia menancapkan hionya di puncak bambu.

Semua ini ia lakukan tanpa menggetarkan bambu dan tenda!

Lima tosu jubah hijau dari Tibet melihat semua pertunjukan ini dengan senyum dikulum.

Seorang demi seorang lalu melompat dan dengan gayanya masing masing dan tersendiri, mereka berhasil menancapkan hionya ke puncak bambu.

Akan tetapi yang paling hebat adalah Pat jiu sian Si Dewa Bertangan Delapan, orang tertua dari See san Ngo sian.

Tidak seperti orang orang lain yang melakukan gerakan melompat memperlihatkan gin kang yang tinggi, ia dengan enaknya berjalan terus, melalui tanah dan kemudian melalui tambang yang mengikat tenda, terus merayap ke atas melewati tenda tenda dan sampai di puncak.

Cara ia merayap itu seperu seekor cecak saja.

Sungguh sukar untuk dapat dipercaya kalau tidak melihat sendiri betapa hebat dan mahirnya tosu dari Tibet ini mendemonstrasikan ilmu yang disebut Pek houw ju chong (Cicak Merayap di Tembok).

Tidak sembarang orang dapat melakukan hal ini karena membutuhkan ginkang dan khikang yang tinggi sekali.

Di samping ginkang dan khikang yang tinggi, juga disertai tenaga hoat sut (ilmu sihir) yang aneh.

Melihat betapa semua orang dapat menancapkan hio di atas puncak bambu, Lam hai Lo mo tertawa geli.

"Heh, heh, heh, heh! Iblis Timur memang seperti anak kecil, bisa saja menguji kepandaian orang sudah puaskah kau sekarang melihat punsu (kepandaian) dari sahabat sahabatku? Akupun hendak menyumbang pertunjukan ini!"

Setelah ia berkata demikian, Lam hai Lo mo mencabut sebatang di antara tiga hionya, lalu mulutnya berkemak kemik membaca mantera.

Setelah ia memandang ke arah puncak tenda, ia lalu melemparkan hio itu seperti seekor kunang kunang yang terbang melayang, terus meluncur ke atas dan mencari jalannya sendiri ke puncak bambu, dan tahu tahu telah tertancap di atas bambu seakan akan ditancapkan oleh sebuah tangan yang tidak kelihatan.

Tung hai Sian jin dan semua orang kakek yang berada di situ tersenyum.

Mereda maklum bahwa itulah kepandaian hoat sut (ilmu sihir) yang tinggi dan yang hanya dapat dilakukan seorang pertapa yang khusus mempelajari ilmu sihir atau yang boleh disebut juga ilmu hitam.

Adapun para pelayan atau pesuruh Ciong siauw ong ya yang kini dapat melihat semua pertunjukan itu, sama sama memandang dengan melongo.

Satelah semua orang dapat melakukan usulnya, Tung hai Sian jin dan para tokoh besar itu kembali memasuki pendapa dan mulailah mereka bersembahyang, bersumpah akan setia kepada perkumpulan Sam hiat ci pai yang mereka dirikan.

"Sekarang cu wi sekalian harap bermalam di sini selama tiga hari untuk membelajari ilmu pukulan Sam hiat ci hoat yang lihai,"

Kata Lam hai Lo mo.

Pada saat itu, terdengar para pelayan yang menanti di luar berteriak teriak seakan akan melihat sesuatu yang aneh dan menakutkan.

Kemudian disusul oleh suara "kraak!", di atas pendapa.

Lam hai Lo mo, Tung hai Sian jin dan yang lain lain cepat melompat ke luar.

Mereka memandang ke atas dan ....

di sana, di puncak tiang bambu penyangga tenda, dengan sebelah kaki berdiri tegak di atas bambu itu dan kaki yang lain diluruskan ke depan dan hio hio menyala di tangannya, tampak seorang nenek tua tegak tak bergerak bagaikan patung batu.

"Mo bin Sin kun...!"

Lam hai Lo mo, Sam thouw hud dan Ang tung hud berseru perlahan dengan wajah berobah. Tubuh nenek yang tadinya diam seperti patung itu mulai bergerak.

"Pinni (aku) datang untuk berurusan dengan Tung hai Sian Jin. Yang lain lain boleh pergi !"

Suara ini terdengar tajam mengiris jantung dan menyakitkan anak telinga karena Mo bin Sin kun mengerahkan khikangnya dan suara yang datang dari atas itu lebih nyaring terdengarnya.

Wajah Tung hai Sian jin menjadi pucat.

Ia maklum apa sebabnya nenek sakti itu mencarinya, tentu ada hubungannya dengan penahanannya terhadap Siauw Yang, puteri Thian te Kiam ong itu.

Sebelum ia menjawab, Lam hai Lo mo menolongnya dengan suara ketawanya yang mengerikan, yakni seperti ringkik kuda.

"Hi, hi, hi, hi, Mo bin Sin kun, kau masih sombong dan tinggi hati, tidak melihat orang lain. Ketahuilah bahwa kau sekarang berhadapan dengan sembilan orang dewan pengurus Sam hiat ci pai, dan oleh karena Tung hai Sian jin juga seorang di antara dewan pengurus, segala urusanmu dengan dia otomatis menjadi urusan kami sembilan orang pula!"

Bergerak sepasang alis Mo bin Sin kun yang sudah berwarna putih, matanya mengeluarkan cahaya menakutkan, tanda bahwa ia marah sekali.

"Bagus, Lam hai Lo mo, kau memang selalu curang dan pengecut! Kalau begitu, sembilan orang dewan pengurus Sam hiat ci pai boleh berhadapan dengan aku! Terimalah kembali hio kalian yang berbau busuk!"

Sambil berkata demikian tangan nenek itu bergerak dan menyambarlah sembilan titik api ke bawah bagaikan sembilan buah bintang melayang jatuh, menyambar ke arah sembilan orang tokoh besar itu!

Biarpun yang disabitkan oleh Mo bin Sin kun itu hanyalah hio hio kecil yang terbuat daripada biting bambu, namun karena dilakukan dengan tenaga lweekang yang lihai, maka bukan tidak berbahaya dan kalau mengenai tubuh seorang biasa saja tentu akan menancap masuk seperti sebatang pedang ditusukkan.

Akan tetapi, sembilan orang itu bukanlah orang sembarangan.

Sekali menggerakkan tangan atau menggerakkan tubuh sambaran hio itu dapat disampok runtuh atau dielakkan dengan amat mudahnya.

Mo bin Sin kun mempergunakan kesempatan itu untuk melayang turun dengan gerakan yang amat ringan sehingga Lam hai Lo mo sendiri merasa terkejut sekali.

Dahulu ia telah berkali kali mengukur tenaga dengan Mo bin Sin kun dan dapat mengetahui sampai di mana kepandaian wanita sakti itu yang membuat ia agak jerih.

Sekarang tahulah dia bahwa kepandaian wanita ini, makin tua bukan makin lemah, bahkan menjadi makin hebat!

"Tung hai Sian jin, siluman jahat, kauapakan Siauw Yang cucu muridku?

Hayo lekas bilang dan kalau kau mengganggunya seujung rambutnya saja, ini hari kepalamu pasti akan kuhancurkan!!"

Bentak Mo bin Sin kun marah sambil mencabut keluar sepasang senjatanya yang amat ditakuti oleh banyak penjahat untuk puluhan tahun lamanya, yakni sehelai sabuk merah yang panjang dan sehelai cermin perak yang berkilauan.

Melihat senjata senjata ini, diam diam berdiri bulu tengkuk Sam thouw hud dan Lam hai Lo mo, akan tetapi oleh karena mereka sekarang bersembilan, sebentar saja rasa takut dan ngeri dalam hati mereka lenyap kembali.

Sembilan orang kakek itu lalu mengurung Mo bin Sin kun sambil mencabut senjata masing masing dengan sikap mengancam.

Pada saat itu terdengar ribut ribut dan ketika semua orang menengok, ternyata bahwa seorang kakek gagah tengah dikeroyok hebat oleh Thio Kim yang berjuluk Si Tangan Seribu dan anak buahnya.

Ternyata bahwa kakek itu adalah Sin pian Yap Thian Giok, murid Mo bin Sin kun yang datang bersama gurunya.

Melihat muridnya sudah turun tangan, Mo bin Sin kun mengeluarkan bentakan nyaring dan sabuk merahnya bergerak menyambar ke arah Tung hai Sian jin dengan totokan maut ke arah leher.

Tung hai Sian jin tidak berani berlaku lambat, cepat melompat mundur sambil menggerakkan Liong thouw tung (Tongkat Kepala Naga) di tangannya sambil berkata.

"Mo bin Sin kun, siapa mengganggu cucu muridmu? Dia kalah bertempur dan kini telah kulepaskan lagi."

"Bohong! Siapa percaya omongan busukmu?"

Kata Mo bin Sin kun yang terus menyerang dengan hebatnya.

Serangan kali ini bukan hanya dilakukan dengan sabuk merahnya, juga disusul oleh serangan cermin perak yang selain membuat mata Tung hai Sian jin silau, juga amat berbahaya karena bingkainya yang terbuat daripada perak itu menghantam ke arah batok kepalanya.

"Celaka!"

Seru Tung hai Sian jin sambil berusaha sedapat mungkin untuk mengelak dan menangkis. Namun ia pasti dapat menghindarkan diri dan bahaya maut ini apabila yang lain lain tidak segera turun tangan.

"Ganas, siluman wanita ganas!"

Seru Sin lo sian Si Dewa Golok Sakti, orang termuda dari See san Ngo sian sambil menggerakkan golok menyerang Mo bin Sin kun dari belakang.

Juga yang lain lain segera menggerakkan senjata mereka mengeroyok Mo bin Sin kun yang terpaksa membatalkan serangan mautnya terhadap Tung hai Sian jin untuk menghadapi yang lain lain.

Pertempuran pecah dengan hebatnya Mo bin Sin kun mengamuk seperti puluhan tahun yang lalu apabila ia menghadapi orang orang jahat.

Akan tetapi selama hidupnya, biarpun ia seringkali menghadapi lawan lawan tangguh dan berbahaya, baru kali inilah ia bertempur melawan keroyokan sembilan orang yang rata rata sudah memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.

Andaikata sembilan orang ini maju seorang demi seorang, tak dapat diragukan lagi bahwa tentu Mo bin Sin kun akan dapat merobohkan mereka satu demi satu, sungguhpun tingkat kepandaian mereka itu hanya sedikit lebih rendah daripada tingkat kepandaian Mo bin Sin kun.

Akan tetapi sekarang sembilan orang itu maju berbareng dan terutama sekali ilmu kepandaian Lam hai Lo mo dan Sam thouw hud telah meningkat jauh daripada dahulu.

Akhirnya Mo bin Sin kun tak tahan menghadapi gempuran sembilan orang yang berkepandaian tinggi ini dan terdesak hebat sekali.

Bagi seorang ahli silat setinggi Mo bin Sin kun tingkatnya, apabila menghadapi keroyokan ahli ahli silat yang tidak begitu lihai, makin banyak pengeroyok makin tenang dan untung, karena keroyokan yang dilakukan oleh orang orang yang tidak mengerti ilmu silat tinggi, bahkan mengacaukan jalannya pertempuran dan mengurangi kelihaian masing masing pengeroyok.

Namun sembilan orang yang mengeroyok Mo bin Sin kun ini adalah tokoh tokah besar, pentolan pentolan aliran agama dan jago jago silat yang telah memiliki pengalaman berpuluh tahun.

Biarpun mereka mengeroyok seorang lawan, namun gerakan mereka tidak kaku dan terhalang, bahkan mereka otomatis dapat mengatur pengepungan sedemikian rupa seakan akan lebih dulu mereka telah melatih diri untuk maju bersembilan menghadapi seorang lawan!

Berbeda dengan keadaan Mo bin Sin kun yang payah didesak hebat, Thian Giok lebih berhasil.

Biarpun ia juga dikeroyok dan kepandaiannya kalah jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian gurunya, namun para pengeroyoknya hanya pelayan pelayan yang memiliki tenaga besar dan ilmu silat kasar belaka.

Yang boleh di pandang hanya Thio Kim seorang, yang memiliki gerakan cukup cepat karena sesuai dengan julukannya, Si Tangan Seribu, ia adalah seorang tukang copet yang mahir.

Namun, bagi Thian Giok tentu saja ia tidak ada artinya dan jago dari Sian hoa san inipun maklum bahwa di antara semua pengeroyoknya, hanya Thio Kim yang pandai.

Oleh karena itu, ia sengaja mendesak dan mengerahkan kepandaiannya untuk menyerang Thio Kim sehingga dalam beberapa jurus kemudian, Thio Kim menjerit dan roboh dengan tulang pundak patah tersambar Pek giok joan pian senjata cambuk di tangan Thian Giok yang lihai.

Para pelayan lain menjadi marah dan memperhebat keroyokan, namun seorang demi seorang dapat dirobohkan oleh jago Sian hoa san yang lihai itu.

Senjata rantai atau cambuk Pek giok joan pian telah menjadi merah karena darah lawan yang roboh tewas atau terluka parah.

Kemudian dengan pandangan mata beringas, Thian Giok melihat betapa gurunya terdesak hebat sekali oleh sembilan orang kakek yang amat lihai.

Tanpa memoerdulikan tentang keselamatan diri sendiri, Thian Gok berseru keras dan tubuhnya menerjang ke arah kepungan itu!

"Thian Giok, jangan maju.

Pergi dan larilah dari pulau ini!"

Seru Mo bin Sin kun, karena wanita sakti ini maklum bahwa bantuan Thian Giok pun takkan dapat memungkinkan kemenangan bagi fihaknya.

Ia mendapat kenyataan bahwa sembilan orang pengeroyoknya itu benar benar merupakan lawan lawan yang tangguh dan lihai sekali.

Akan tetapi, mana Thian Giok mau mendengar perintah gurunya ini?

Ia selamanya taat kepada gurunya, yang dianggap sebagai penolong besar dan pengganti orang tua sendiri.

Kini, melihat gurunya yang tua itu berada dalam keadaan amat berbahaya, berada di tepi jurang maut, bagaimana ia bisa meninggalkannya dan melarikan diri untuk mencari selamat?

Tentu saja ia tidak mau dan ia bahkan memutar Pek giok joan pian dengan sengitnya, memecahkan kepungan gurunya itu.

Akan tetapi, Sam thouw hud dan sutenya yakni Ang tung hud segera menyambut kedatangannya dengan serangan hebat.

Mana Thian Giok sanggup menghadapi dua orang tokoh besar dari Tibet, kepala dari aliran Jubah Hitam ini?

Melawan seorang di antara mereka saja ia takkan menang, apalagi sekarang keduanya maju bersama.

Setelah memutar Pek giok joan pian sehingga senjata ini putus dan batu batu kemalanya berhamburan, ia tidak dapat mengelak lagi ketika hud tim (kebutan) di tangan kiri Sam thouw hud menotok iganya yang membuat tubuhnya menjadi lemas, disusul pula oleh tongkat merah di tangan Ang tung hud yang menotok lambungnya.

Thian Giok roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi, pingsan dan berada dalam keadaan hampir mati!

Melihat ini, Mo bin Sin kun yang amat terdesak itu, menjadi marah sekali.

Terbangun semangatnya dan dengan kecepatan luar biasa, tanpa menghiraukan ancaman senjata senjata lawan, ia melompat dan menyerang Sam thouw hud dan Ang tung hud.

Serangannya luar biasa sekali, cermin peraknya menghantam kepala Sam thouw hud sedangkan sabuk merahnya meluncur menotok jalan darah kematian di ulu hati Ang tung hud.

Ketika itu dengan terkejut dua orang kakek ini mengelak, dua senjata di tangan Mo bin Sin kun tetap mengejar dan menyerang terus!

Pada saat itu, beberapa pukulan telah mengenai tubuh Mo bin Sin kun.

Pedang di tangan Koai kiam sian telah melukai pundaknya, golok di tangan Sin to sian juga telah melukai betisnya, sedangkan pukulan tangan Sin kun sian telah menghantam punggungnya.

Akan tetapi semua itu seperti tidak dirasakan oleh Mo bin Sin kun yang terus menyerang kedua orang tokoh Jubah Hitam yang telah merobohkan muridnya itu.

Dari samping, tongkat ular di tangan Lam hai Lo mo menyambar, terdengar suara keras, tongkat patah dan cermin perak juga pecah!

Hampir berbareng, tongkat kepala naga dari Tung hai Sian jin menyambar, terlibat oleh sabuk merah, saling tarik akhirnya sabuk putus menjadi dua akan tetapi tongkat Tung hai Sian jin juga terlepas dari pegangan!

Namun, Mo bin Sin kun yang sudah kehilangan kedua senjatanya itu masih saja dengan nekad mengejar Sam thouw hud dan Ang tung hud, kini mainkan ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu yang hebat.

Ketika tubuhnya berkelebat dan kedua tangannya menyambar mengeluarkan hawa pukulan yang dahsyat, Sam thouw hud dan Ang tung hud terhuyung sambil menyeringai kesakitan.

Mereka telah terkena pukulan itu dan menderita luka di dalam tubuh.

Akan tetapi, karena Mo bin Sin kun mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada dua orang tokok Jubah Hitam dari Tibet itu, maka ia kurang memperkuat penjagaan diri dan memberi kesempatan kepada Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin untuk melancarkan pukulan tangan yang luar biasa hebatnya.

Tung hai Sian jin mengerahkan tenaga lweekang pada kedua tangannya yang memukul ke arah dada, sedangkan Lam hai Lo mo juga memukul dengan hebat ke arah lambung nenek sakti itu.

Mo bin Sin kun mengeluarkan keluhan panjang dan ia terhuyung huyung lalu roboh pingsan.

Lam hai Lo mo dan yang lain lain lebih dulu menghampiri Sam thouw hud dan Ang tung hud yang duduk bersila mengatur napas, ikan tetapi satelah memeriksa bahwa luka mereka tidak membahayakan Lam hai Lo mo lalu tertawa bergelak dan mengeluarkan tiga butir pel putih, diberikan kepada Sam thouw hud dua butir dan kepada Ang tung hud sebutir untuk ditelan.

Memang luka yang diderita oleh Sam thouw hud lebih berat.

Kedua orang hwesio itu sebentar kemudian sadar kembali dan nampak sehat.

Dengan marah Sam thouw hud dan Ang tung hud hendak membunuh Mo bin Sin kun, akan tetapi Lam hai Lo mo mencegahnya.

"Saudara saudara, lihatlah betapa pentingnya persatuan yang kita adakan. Baru saja Sam hiat ci pai dibuka, kita telah dapat mengalahkan dan merobohkan Mo bin Sio kun, orang yang amat berbahaya yang memusuhi kita. Dengan adanya Sam hiat ci pai, kita tidak takut menghadapi siapa pun juga. Biar Thian te Kiam ong sendiri maju, akan kita hancurkan dia seperti Mo bin Sin kun dan muridnya ini. Dan untuk lebih mendatangkan pengaruh, lihatlah kelihaian Sam hiat ci hoat yang akan kujatuhkan kepada dua orang musuh besar dan pengacau ini."

Setelah berkata demikian, Lam hai Lo mo mengerahkan tenaga, menghampiri tubuh Mo bin Sin kun yang masih menggeletak pingsan di atas tanah, lalu menggunakan tiga jari tangannya memukul jidat nenek sakti itu.

Mo bin Sin kun yang masih pingsan tidak merasa sesuatu, akan tetapi pada saat itu juga nyawanya meninggalkan raganya.

Wajah menjadi biru, demikian pula seluruh tubuhnya, dan pada jidatnya nampak gambar tiga buah jari tangan yang merah sekali.

Biarpun ia telah tewas dan tubuhnya sudah menjadi mayat, namun warna merah pada gambar itu masih nampak nyata.

Lam hai Lo mo tertawa bergelak dan kini ia menghampiri Thian Giok.

Jago Sian hoa san ini telah siuman dari pinggannya.

Ia melihat Lam hai Lo mo menghampirinya, mencoba untuk menggerakkan tubuh.

Akan tetapi ketika Lam hai Lo mo menyerangnya dengan Sam hiat ci hiat, ia tidak kuasa menangkis dan seperti gurunya, iapun tewas setelah berkelojotan sebentar.

Keadaannya serupa dengan gurunya, tubuh dan wajahnya membiru sedangkan pada jidatnya terdapat bekas tiga jari yang merah.

Lam hai Lo mo dan kawan kawannya memeriksa keadaan para pelayan yang diamuk oleh Thian Giok.

Empat orang tewas dan yang lain lain luka berat, termasuk Thio Kim "Hebat sekali,"

Kata Pat jin san, orang pertama dari selatan sambil menggeleng geleng kepala.

"Memang mereka itu ganas sekali,"

Kata Lam hai Lo mo.

"oleh karena itu, perkumpulan kita harus diperbesar dan diperkuat. Sekarang kita mengurus para jenazah dan mengobati kawan kawan yang terluka. Adapun mayat kedua orang musuh besar ini jangan dikubur, biar kita gunakan untuk memancing datang Thian te Kiam ong dan kawan kawannya. Ha, ha, ha! Akan ramailah Sam liong to dan pulau inilah yang akan merupakan tempat kehancuran musuh musuh besarku yang telah membuat aku menderita dan menjadi orang cacad."

Lam hai Lo mo dan kawan kawanya lalu berunding dan sibuk mengatur segala rencana mereka.

Mayat Mo bin Sin kun dan Thian Giok tidak dikubur, melainkan digeletakkan saja di dalam gua kosong.

Mayat para pelayan dimakamkan dan yang terluka dirawat dan diobati.

Pesuruh diutus pergi ke kota Tiong te untuk memberitahu kepada Ciong Pak Sui atau Sui Ciong Siauw ong ya agar pangeran ini tahu akan peristiwa hebat itu dan tahu pula bahwa orang kepercayaannya, yakni Thio Kim masih dirawat di Pulau Sam liong to.

Juga diminta kepada pangeran itu agar mempercepat pembangunan di Pulau Sam liong to, karena perkumpulan San hiat ci pai perlu cepat cepat diperkuat.

Adapun delapan orang tokoh atau anggota dewan pengurus Sam hiat ci pai, lalu selama tiga hari mempelajari Ilmu Pukulan Sam hiat ci hoat yang amat lihai dan sudah mereka saksikan sendiri buktinya itu.

Lam hai Lo mo mengajar mereka, dan memberi tahu pula akan penggunaan racun ular merah yang harus dipergunakan di jari jari mereka untuk melakukan pukulan Sam hiat ci hoat yang amat dahsyat itu.

Bong Eng Kiat tidak mempelajari ilmu pukulan ini oleh karena ia tidak termasuk sebagai anggauta dewan pengurus perkumpulan itu.

Memang tadi ayahnya, Tung hai Sian jin sengaja mengajukan syarat agar calon dewan pengurus dapat menancapkan hio di atas tiang bambu penahan tenda.

Hal ini ia ajukan dengan dua macam maksud.

Pertama tama agar ia yakin betul bahwa kawan kawan yang bekerja sama dengan dia, betul betul memiliki kepandaian yang tinggi.

Kedua kalinya, ia memang hendak mencegah puteranya menjadi anggauta dewan pengurus yang berarti menjadi penanggung jawab pula.

Ia maklum akan bahayanya setelah menggabungkan diri pada perkumpulan ini, biarpun bahaya itu dapat dihadapi bersama dengan banyak kawan pandai.

Akan tetapi ia ingin agar supaya puteranya tinggal bersih di luar pekumpulan dan tidak terseret seret oleh arus permusuhan dengan tokoh tokoh sakti.

Dua orang penunggang kuda keluar dari kota Cin an, menuju ke utara.

Kuda mereka berjalan cepat di sepanjang jalan besar yang menuju ke kota raja.

Mereka adalah seorang laki laki dan seorang wanita, berusia kurang lebih empatpuluh tahun, berpakaian rapi dan bersikap gagah.

Apalagi kuda yang ditunggangi oleh laki laki itu, amat bagus dan kuatnya, berbulu putih dan larinya seperti tidak menginjak bumi agaknya.

Gagang pedang yang kelihatan di belakang punggung masing masing, menunjukkan bahwa mereka adalah dua orang kang ouw yang biasa merantau dikawani pedang.

Siapakah dua orang setengah tua yang gagah dan nampak tampan dan cantik pula ini?

Mereka itu bukan lain adalah Thian te Kiam ong Song Bun Sam dan isterinya yang bernama Can Sian Hwa.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, setelah kedatangan Yap Thian Giok yang membawa surat peninggalan Pangeran Kian Tion gdan puteri Luilee tentang anak mereka yang diculik oleh seorang kakek berkaki satu, sepasang suami isteri peadekar ini lalu melakukan perantauan, meninggalkan rumah mereka di Tit le.

Maksud perantauan mereka ini selain hendak menyelidiki keadaan kakek yang menculik anak sahabat sahabat mereka dan bahkan telah membunuh sahabat sahabat baik itu, juga mereka hendak mencari kedua orang putera puteri mereka yang telah lama meninggalkan rumah, yakni Song Tek Hong dan Song Siauw Yang.

Oleh karena mereka pergi, maka mereka tidak tahu betapa rumah mereka di Tit le telah dibakar musnah oleh musuh besar mereka, Lam hai Lo mo, bahkan pelayan pelayan mereka telah ditewaskan pula.

Memang ganjil sekali keadaan mereka itu.

Mereka meninggalkan rumah untuk mencari kakek berkaki satu yang bukan lain adalah Lam hai Lo mo sendiri.

Sedangkan rumah mereka didatangi dan dibakar oleh musuh besar ini!

Kuda Pek hong ma (Kuda Angin Putih) yang ditunggangi oleh Song Bun Sam, meringkik ringkik dan melompat lompat tinggi sehingga pendekar pedang itu harus menahannya dengan tarikan pada kendali.

"Eh, kudamu mengapa begitu gembira? Agaknya ada sesuatu yang menarik perhatiannya,"

Kata Stin Hwa kepada suaminya.

"Tidak terjadi sesuatu. Dia hanya gembira karena telah keluar dari kota yang berdebu dan sempit. Agaknya dia ingin dibawa membalap,"

Jawab Bun Sam sambil tersenyum dan menepuk nepuk leher kudanya.

"Hem, kuda liar itu selalu saja hendak main balap!"

Sian Hwa mengomel, akan tetapi biarpun mulutnya mengomel, nyonya cantik ini lalu menepuk kudanya sendiri dan membalapkan kuda itu, semata mata untuk memberi kesempatan kepada pek hong ma kuda kesayangan suaminya itu agar dapat mengejar dan membalap memenuhi seleranya!

"Kau baik sekali, isteriku yang manis!"

Bun Sam tertawa dan berkata kepada kudanya.

"Pek hong ma, sekarang kau boleh lari sesukamu!"

Pek hong ma meringkik dan tiba tiba tubuhnya meluncur cepat sekali, sebentar saja sudah dapat menyusul kuda yang ditunggangi oleh Sian Hwa.

Terpaksa Bun Sam menahan sedikit larinya Pek hong ma, karena ia tidak mau meninggalkan isterinya.

Demikianlah, suami isteri pendekar itu membalapkan kuda sehingga sebentar saja mereka telah tiba di puncak sebuah bukit kecil.

"Lihat suamiku, alangkah indahnya pemandangan dari sini!"

Tiba tiba Sian Hwa menghentikan kudanya dan menunjuk ke timur. Bun Sam juga menghentikan Pek hong ma dan memandang ke jurusan itu. Memang indah luar biasa pemandangan alam dari tempat itu.

"Bukit ini termasuk kaki Pegunungan Tai hang di perbatasan Propinsi Hopei dan Santung,"

Kata Bun Sam.

"Mari kita mengaso dulu sambil menikmati keindahan alam."

Mereka berdua turun dan atas kuda yang di biarkan begitu saja.

Dua ekor kuda yang sudah jinak itu lalu makan rumput yang hijau dan gemuk, sedangkan sepasang suami isteri itu lalu duduk di atas batu.

Angin bukit bersilir mendatangkan hawa sejuk menimbulkan nafsu makan.

Sian Hwa lalu mengambil bekal makanan roti kering dan arak dari sela kuda dan mereka lalu makan minum sambil mengobrol gembira seperti pengantin baru sedang bertamasya.

"Lihat, puncak menjulang tinggi di sebelah barat itulah puncak Pegunungan Tai hang,"

Kata Bun Sam sambil menunjuk ke arah barat.

"Hebat ...."

Kata Sian Hwa sambil memandang ke arah puncak yang dihias mega mega putih.

"Di tempat sunyi dan penuh dengan tamasya alam ini, kita merasa begini kecil dan tidak berarti."

Tanpa berpaling kepada isterinya dan dengan pandangan termenung ke arah pemandangan alam yang indah permai itu, Bun Sam mengangguk angguk lalu berkata.

"Kau benar, isteriku. Alangkah indahnya alam semesta, alangkah besarnya kekuasaan Thian Yang Maha Tunggal dan alangkah sucinya cinta kasih Thian kepada kita manusia hingga seluruh yang ada di permukaan bumi ini, berguna belaka bagi manusia. Bahkan siliran angin pun mendatangkan kesejukan yang begini nyaman...."

Sian Hwa mengangkat kedua alisnya, memandang kepada suaminya lalu tersenyum dan menggoda.

"Eh, ucapanmu seperti syair saja!"

Bun Sam sadar dari lamunannya, tersenyum dan memandang kepada isterinya dengan muka merah.

"Tentu saja aku tidak becus sama sekali dalam hal membuat syair kalau dibandingkan dengan kau, isteriku yang pandai."

"Hush, tak perlu memuji muji, bukankah pada pertemuan pertama kali kau juga membuat syair yang lucu?"

Sian Hwa terkenang akan pertemuan pertama antara dia dan suaminya ini dan tak terasa pula ia tertawa geli.

Memang pertemuan mereka dahulu itu lucu dan menggelikan.

Bun Sam memandang wajah isterinya yang dalam pandangannya tetap cantik manis tak berubah itu, lalu berkata dengan sungguh sungguh.

"Memang, isteriku. Pertemuan kita disaksikan dan diikat oleh syair."

Keduanya sampai lama tidak mengeluarkan suara, terbenam dalam lamunan masing masing, lamunan penuh kebahagiaan.

"Mari kita lanjutkan perjalanan kita,"

Ajak Bun Sam.

"Nanti dulu, kulihat ada orang datang ke tempat ini,"

Kata Sian Hwa.

Benar saja, seorang petani sebaya dengan mereka usianya, memanggul pacul berjalan terbungkuk bungkuk pada jalan menanjak itu.

Pakaiannya sederhana dan kasar bajunya sebagian terbuka di dada karena kancingnya hilang, tubuhnya kurus akan tetapi penuh otot karena biasa bekerja berat dan mukanya agak hangus terbakar sinar matahari, ia bertelanjang kaki dan keadaannya miskin sekali, namun yang menarik perhatian suami isteri pendekar itu, adalah sinar kebahagiaan yang memancar dari wajah sederhana itu.

"Selamat siang, sahabat !"

Tegur Bun Sam dengan suara riang dan ramah. Petani itu terkejut dan memandang heran serta ragi ragu, benar benarkah "orang kota"

Ini mau menegurnya begitu ramah? Ia tergopoh gopoh memberi hormat dan berkata.

"Selamat siang, harap saja ji wi dapat enak beristirahat di tempat ini."

Ia membungkuk bungkuk lagi, hendak melanjutkan perjalanannya.

"Sahabat, duduklah dan mari minum arak dengan kami!"

Sekali lagi mata petani itu terbelalak lebar. Benarkah pendengarannya? Benarkah nyonya cantik itu menawarkan duduk dan minum arak kepadanya? "Ha....? Hamba .... Hamba...."

Akan tetapi ia melihat wajah suami isteri itu tersenyum dan berseri, lalu Bun Sam berkata ramah.

"Betul, sahabat. Duduklah dan mari minum arak sambil mengobrol!"

Dengan girang akan tetapi masih terheran heran, petani itu lalu meletakkan paculnya dan duduk di atas batu di hadapan suami isteri itu.

Ia menerima cawan penuh arak dari Sian Hwa dan meminumnya dengan lahap.

"Enak dan harum sekali arak ini,"

Katanya. Sian Hwa memenuhi lagi cawan itu, diterima dengan penuh rasa terima kasih oleh si petani yang memegangi cawan itu sambil memandang kagum.

"Ji wi amat baik, belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan orang kaya yang seramah ji wi. Terima kasih, terima kasih."

"Kami bukan orang kaya,"

Bantah Sian Hwa. Petani itu memandang ke arah pakaian Bun Sam dan Sian Hwa, lalu pandangannya melayang ke arah kuda.

"Biarpun sederhana, namun ji wi berpakaian seperti orang kota, setidaknya ji wi adalah orang orang kota yang berbeda jauh dengan kami di gunung."

"Di kota atau gunung, tetap saja kita sama sama manusia, sahabat yang baik. Sebetulnya saja, aku sengaja mengundangmu untuk menanyakan suatu hal,"

Kata Bun Sam. Dengan sikap siap sedia untuk membantu segala hal yang dapat ia lakukan, petani itu menjawab cepat.

"Apakah yang dapat kukerjakan untuk ji wi? Apakah ji wi hendak bertanya tentang jalan? Ataukah mencari rumah untuk bermalam."

"Tidak, kami sudah hafal akan jalan di sini dan kami hendak melanjutkan perjalanan karena masih siang, belum waktunya bermalam. Yang hendak kutanyakan hanyalah, bagaimana kau yang kelihatan amat miskin dan serba kekurangan, bisa kelihatan begitu gembira?"

Petani itu tercengang, lalu tertawa dan giginya sebelah kiri telah ompong sehingga nampak lucu sekali.

"Mengapa tidak gembira? Apa yang harus disusahkan?"

"Apakah keadaan rumah tanggamu cukup?"

Petani itu menggeleng kepala.

"Kami tidak punya tanah, tidak punya kerbau atau kuda. Aku bekerja dengan kaki tanganku, dibantu oleh isteriku dan anakku laki laki berusia empatbelas tahun. Sayang dia sekarang sedang menderita sakit panas, sudah sebulan lebih."

Bun Sam merasa makin heran.

"Kau miskin dan anakmu sakit, bagaimana kau masih bisa bergembira?"

"Habis, harus bagaimanakah? Penyakit menyerang anak kami bukanlah salah kami, dan kami sudah berusaha mengobatinya. Keadaan miskin memang betul, akan tetapi karena setiap hari aku dan isteriku bekerja, makan cukup dan udara bagus apa guna keluh kesah?"

"Apakah kau tidak berduka memikirkan anakmu yang sakit?"

Petani itu mengerutkan kening dan untuk sesaat ia nampak sedih sekali, akan tetapi disambungnya dengan senyum lagi.

"Alangkah janggalnya pertanyaanmu ini. Orang tua manakah yang takkan hancur hatinya melihat anaknya sakit? Akan tetapi kami telah berikhtiar mengobatinya. Tentang nyawanya, mati atau hidupnya, terserah ke dalam tangan Thian. Keluh kesah dan kesedihan hanya akan menghalang pekerjaanku, membuat aku malas dan mungkin membuat aku sakit. Kalau aku dan isteriku sakit, bukankah lebih payah lagi?"

Bun Sam dan Sian Hwa kagum mendengar filsafat yang amat sederhana ini, namun yang harus mereka akui kebenarannya.

"Jadi kau berbahagia, sahabat baik?"

Tanya Bun Sam. Petani itu termenung.

"Bahagia ....? Apakah bahagia itu?"

"Apakah kau merasa senang hidup di dunia ini?"

"Tentu saja!"

Jawabnya tegas.

"Kalau begitu kau berbahagia,"

Kata Sian Hwa.

"Entahlah, mungkin.... mungkin benar aku bahagia kalau begitu. Hm, arakmu enak sekali!"

Ia menenggak habis arak ke dua.

"Belum pernah aku merasai arak seenak ini Terima kasih, ji wi baik sekali. Wajah ji wi akan selalu kukenangkan dan adapun tentang pertanyaan mengenai kebahagiaan itu.... baiklah akan kurenungkan dan kalau kelak kita bertemu lagi, mungkin aku akan dapat menjawabnya."

Petani itu lalu menjura, mengambil paculnya dan berjalan pergi dengan tindakan ringan.

Bun Sam dan Sian Hwa saling pandang, penuh pengertian.

Kata kata terakhir petani tadi yang menyatakan betapa enaknya arak yang selamanya belum pernah dirasakan itu, menyadarkan mereka.

Arak itu biarpun enak bagi mereka, akan tetapi agaknya tidak pernah terasa senikmat petani tadi merasainya.

Dan hal ini adalah karena petani itu tidak pernah meminum arak seperti ini!

Pada saat itu, terdengar bunyi suling dan dari jauh kelihatan seorang anak kecil duduk di atas punggung seekor kerbau sambil meniup sulingnya.

Anak itu pakaiannya tambal tambalan, tidak bersepatu dan keadaannya lebih miskin daripada petani tadi.

Kerbaunya makan rumput sambil berjalan perlahan dan tiupan anak itu membayangkan kesenangan dan ketenteraman hati yang luar biasa, sesuai benar dengan keadaan yang indah di sekitarnya.

Bun Sam menghela napas panjang dan ketika ia menengok, ia melihat dua butir air mata bertitik di atas pipi isterinya.

Bun Sam memegang tangan isterinya tanpa bicara sesuatu, meremas jari jari tangan isterinya dan keduanya tanpa bicara lalu mengambil sisa makanan, dibawa ke kuda mereka dan berangkatlah mereka naik kuda perlahan lahan, turun dari puncak bukit.

"Itulah kebahagiaan,"

Kata Bun Sam perlahan.

"Mereka yang menerima dengan sabar dan tenang segala sesuatu yang menimpa dirinya, yang menganggap pekerjaan sebagai tugas kewajiban hidup yang sewajarnya, yang tidak menginginkan hal hal yang berada di luar jangkauan tangan, yang merasa senang dan puas akan hasil pekerjaannya dan dapat menikmati segala sesuatu yang ada padanya, orang orang seperti itulah yang patut disebut berbahagia!"

"Kitapun orang orang berbahagia, suamiku."

"Tentu saja. Aku punya engkau dan engkau punya aku, kita suami isteri saling mencinta, dan kita mempunyai seorang putera dan seorang puteri sedangkan anak anak kita...."

Sampai di sini berubah wajah Bun Sam dan alisnya dikerutkan.

"Hm, tak perlu berkeluh kesah, suamiku. Mereka sudah pergi dan hal ini tak dapat kita robah lagi, kewajiban kita hanya berikhtiar sedapatnya mencari mereka. Apa guna keluh kesah yang hanya akan mengganggu tugas kita, membuat kita malas dan mungkin membuat kita sakit?"

Sian Hwa mengulangi kata kata petani tadi.

Bun Sam memandang isterinya, mereka tersenyum dan segera membalapkan kuda menuju ke utara, memasuki Propinsi Hopei.

Percakapan dengan petani sederhana tadi bukan tiada gunanya bagi mereka!

Jilid XXVII MENJELANG senja, Bun Sam dia Sian Hwa memasuki pintu gerbang kota Kim ke bun.

Pada pintu gerbang itu terdapat sebuah ayam batu yang dipasang di atas pintu gerbang, dicat dengan warna kuning emas.

Inilah lambang kota Kim ke bun yang kelihatannya cukup ramai, penuh dengan bangunan bangunan tembok yang besar.

Dengan lambat suami isteri ini menjalankan kuda memasuki kota, hendak mencari rumah penginapan.

Tiba tiba terdengar orang berseru memanggil dan ketika mereka menoleh, mereka melihat seorang laki laki tinggi besar bermuka hitam.

Orang ini kelihatan kasar dan di punggung nya tergantung sebuah pedang, pakaiannya mewah sekali seperti pakaian seorang kaya raya.

"Song taihiap.... alangkah bahagiaku bertemu dengan Song taihiap dan lihiap yang mulia...."

Bun Sam dan Sian Hwa saling lirik sambil menahan senyum.

Alangkah mudahnya orang berbahagia sungguhpun kebahagiaan yang diutarakan oleh orang muka hitam ini belum tentu aseli.

Lagi pula, mereka saling pandang karena merasa heran.

Orang ini belum pernah mereka kenal, bagaimana mereka dapat bersikap demikian gembira berjumpa dengan mereka di tempat itu?

Melihat laki laki tinggi besar itu menghampiri mereka dan menjura dengan penuh sikap hormat, Bun Sam membalas penghormatannya dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

"Song taihiap dan lihiap kedatangan ji wi di kota ini bagi siauwte seakan akan bintang bintang jatuh dari langit! Siauwte mengundang dengan penuh hormat, sudilah kiranya ji wi menghadiri pesta pernikahan siauwte malam ini di rumah siauwte yang buruk."

"Nanti dulu, sobat,"

Bun Sam tersenyum mendengar ucapan itu.

"Sebelum kita melanjutkan percakapan, tolonglah kau memperkenalkan diri lebih dulu. Maafkan kami yang sama sekali tidak ingat lagi siapa adanya kau ini."

Orang tinggi besar itu mengangkat ke dua alisnya yang lebat, kemudian tertawa sambil menampar kepalanya sendiri.

"Aha, memang aku yang bodoh dan tolol! Tentu saja ji wi tidak kenal lagi kepadaku. Thian te Kiam ong, siauwte adalah Ouw bin cu Tong Kwat!"

Kembali Bun Sam dan Sian Hwa saling pandang dengan mulut ternganga.

Mereka memang kenal Ouw bin cu Tong Kwat, akan tetapi orang ini dahulu adalah seorang tosu.

Bagaimana sekarang telah berobah pakaian seperti seorang hartawan biasa?

Kini teringatlah mereka muka orang ini.

Inilah orang yang dulu pernah mampir di Tit le dan yang kemudian menurut cerita Tek Hong dan Siauw Yang, telah merebut peta palsu yang dibawa oleh Coa Kim.

Orang ini akan menikah?

Hampir Bun Sam tertawa.

Usia Ouw bin cu Tong Kwat ini sedikitnya sudah empatpuluh dua tahun.

"Ah, maafkan kami, Ouw bin cu. Bukankah kau dahulu seorang tosu?"

Secara terang Bun Sam bertanya karena ia memang benar benar heran sekali.

Dahulu tosu, sekarang hartawan dan hendak menikah!

Muka yang hitam itu menjadi lebih hitam lagi, tanda bahwa warna merah menjalar di mukanya.

Ketawanya masam tanda bahwa dia malu sekali.

"Sudah lama aku membuang jubah pendeta dan menjadi seorang biasa, taihiap. Sekali lagi kuulangi, mohon ji wi sudi menjadi tamu kehormatan dalam pesta pernikahanku malam ini."

Bun Sam menghela napas ia tidak tertarik sama sekali untuk menghadiri pesta pernikahan, walaupun pesta pernikahan seorang bekas tosu yang sesungguhnya amat menarik hati dan luar biasa.

"Maaf, Ouw biu cu. Kami lelah dan hendak beristirahat. Kami sedang mencari rumah penginapan."

"Tak usah, taihiap. Tak usah! marilah bermalam di rumahku saja. Rumahku cukup besar, yang paling besar di kota ini!"

"Hem, agaknya kau telah menjadi seorang hartawan besar sekarang, Ouw bin cu. Pantas saja kau tidak mau menjadi tosu! Sudahlah, biarkan kami mencari hotel saja, kami tidak mengganggumu, apalagi kau menikah malam ini,"

Kata Bun Sam sambil tersenyum.

"Apa boleh buat kalau taihiap berkukuh hendak bermalam di rumah penginapan. Mari siauwte antarkan."

Sambil berkata demikian, Ouw bin cu lalu menuntun kuda Sian Hwa, membawa mereka ke sebuah rumah penginapan yang cukup baik.

Sepasang suami isteri itu melihat betapa orang orang yang bertemu di jalan, memberi hormat kepada Ouw bin cu dan mereka itu juga memandang heran melihat Ouw bin cu menuntun kuda yang ditunggangi oleh Sian Hwa.

Pemilik rumah penginapan menyambut ke datangan mereka sambil membungkuk bungkuk penuh hormat, terutama sekali kepada Ouw bin cu.

"Tong wangwe (hartawan Tong), selamat datang. Apakah yang dapat kami lakukan untukmu?"

"Beri kamar terbaik untuk dua orang tamuku yang terhormat ini. Layani mereka dengan baik baik dan penuh penghormatan."

"Baik, wangwe, baik!"

Para pelayan sibuk menyambut mereka dan kuda serta barang barang sepasang suami isteri ini diatur baik baik oleh mereka.

"Taihiap, rumah penginapan telah didapatkan. Kuharap taihiap berdua sudi datang menghampiri malam pernikahanku sebentar lagi,"

Kembali Ouw bin cu mendesak.

Bun Sam mengerutkan kening.

Orang ini benar benar terlalu sekali, mana ada orang mengundang dengan cara memaksa seperti itu?

"Maaf Ouw bin cu, malam ini kami hendak beristirahat karena sehari melakukan perjalanan,"

"Taihiap, ini urusan....urusan jiwa....! Siauwte terancam...."

"Apa katamu?"

Bun Sam memandang tajam.

"Perkenankan aku menceritakan hal ini di dalam kamar agar jangan terdengar oleh lain orang."

Bun Sam dan Sian Hwa mengangguk dan ketiga orang ini memasuki kamar.

Begitu tiba di dalam kamar, Ouw bin cu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bun Sam dan Sian Hwa!

"Eh, eh, Ouw bin cu, permainan apa yang kaulakukan ini?"

Bun Sam menegur.

"Taihiap, kasihanilah saya dan tolonglah saya daripada bencana ini. Sudah berpuluh tahun siauwte menderita, dan sekarang baru saja menikmati hidup sebagai orang biasa dan mau menikah, tiba tiba datang malapetaka."

"Bangkit dan duduklah. Coba kauceritakan yang jelas,"

Kata Bun Sam.

Ouw bin cu duduk di atas bangku dengan muka sedih, lalu ia bercerita, ia menimang seorang gadis dusun di luar kota Kim ke bun, pinangannya diterima dan hari pernikahan sudah ditetapkan.

Akan tetapi, tiga hari yang lalu, ketika ia dan beberapa orang kawannya sedang bermain catur sambil minum arak, berkelebat bayangan yang cepat sekali dan tahu tahu dia dan tiga orang kawannya tertotok kaku.

Ketika mereka sadar kembali, di tembok ruangan itu telah ada tulisan orang yang mengancam supaya pernikahannya dibatalkan dan supaya ia memberi uang seribu tail perak kepada calon isterinya.

"Melihat gerakan penjahat itu, terang bahwa dia lihai sekali, taihiap. Tiga orang kawanku itu pun bukan orang sembarangan, akan tetapi berempat dengan siauwte, kami tak sempat bergerak dan tahu tahu telah tertotok. Oleh karena itu melihat kedatangan ji wi berdua, timbul harapan di dalam hati siauwte. Tolonglah siauwte dari ancaman penjahat itu, taihiap."

Bun Sam dan isterinya terheran.

Kepandaian Ouw bin cu ini biarpun bagi mereka tidak ada artinya, namun kalau dibandingkan dengan penjahat penjahat basa saja, sudah termasuk tinggi.

Bagaimana ada penjahat dapat menotoknya bersama tiga kawannya dalam waktu secepat itu?

Dan Bun Sam juga merasa ragu ragu, ia maklum bahwa Ouw bin cu bukanlah orang yang mempunyai nama harum, dan tentu penjahat itu mempunyai alasan kuat untuk memaksa dia membatalkan penikahannya.

"Hm, kalau ada persoalan ini, biarlah kami sekarang juga melihat tulisan d ruang dalam rumahmu itu,"

Kata Bun Sam. Ouw bin cu girang sekali dan menjatuhkan diri berlutut.

"Tentu, tentu, taihiap. Sebentar siauwte hendak menyuruh orang menjemput ji wi."

Dengan girang ia lalu pergi meninggalkan suami isteri itu.

"Heran sekali,"

Kata Bun Sam kepada isterinya setelah si muka hitam itu pergi.

"Siapakah penjahat yang begitu berani?"

"Memang aneh dan amat menarik untuk diselidiki. Baik bagi kita, karena perjalanan tanpa terjadi sesuatu bisa membosankan,"

Jawab isterinya.

Setelah mandi dan tukar pakaian, mereka keluar.

Benar saja, tiga orang pesuruh Ouw bin cu datang menjemput dan sepasang suami isteri pendekar itu lalu diantar ke rumah Ouw bin cu.

Rumah itu sebuah gedung besar yang mentereng dan sudah dihias indah.

Di ruang depan ada belasan orang tamu duduk menghadapi arak.

Mereka ini adalah tamu tamu atau sahabat sahabat dari jauh yang datang lebih dulu.

Ouw bin cu sendiri menyambut Bun Sam dan Sian Hwa, dan semua tamu berdiri sebagai penghormatan karena mereka sudah mendengar siapa adanya dua orang suami isteri itu.

Mereka menandang kagum dan Bun Sam juga melihat bahwa semua tamu itu berpakaian sebagai orang orang kang ouw, maka iapun membalas penghormatan mereka.

Ouw bin cu langsung membawa Bun Sam dan Sian Hwa ke dalam ruangan di mana penjahat itu datang.

Lain orang tidak diperkenankan ikut Ouw bin cu memperlihatkan tulisan di tembok dan kagumlah Bun Sam dan Sian Hwa melihat tulisan yang amat indahnya di tembok yang penuh itu.

Tidak sembarang orang dapat menulis huruf huruf demikian indahnya, dengan gaya yang gagah dan halus.

"Bagus sekali tulisan itu!"

Sian Hwa memuji.

Mereka lalu membaca tulisan itu, sedangkan Ouw bin cu berdiri memandang dengan muka cemas.

Ouw Bin Cu.

Batalkan niatmu mengawini Siu Hiang, bebaskan dia dan beri seribu tail perak.

Kalau kau membangkang malam hari perkawinan tiba, aku datang mengambil uang dan kepalamu.

Tidak ada tanda tangan di bawah tulisan itu dan biarpun isinya mengancam, namun tulisan itu bagus seperti hiasan tembok dan cara mengatur kata katanya bukan seperti yang biasa dipergunakan oleh penjahat kasar.

Lebih tepat tulisan seorang terpelajar tinggi.

Bun Sam mengerutkan keningnya.

"Ouw bin cu, apakah kau mengawini Siu Hiang ini dengan cara memaksa?"

"Ah, tidak sama sekali, taihiap. Aku melamarnya dengan baik baik dan juga orang tuanya sudah menerima sebagaimana mestinya."

"Hm, kalau begitu, penjahat ini berlaku sewenang wenang. Di mana rumah tunanganmu itu?"

"Di dusun Kan si sebelah barat kota ini, hanya tujuh li jauhnya,"

Jawab Ouw bin cu.

"Baiklah, aku tidak tinggal terlalu lama di sini, akan tetapi percayalah bahwa kami akan menyelidiki perkara ini dan berjanji akan menangkap penulis ini kalau ia datang. Akupun ingin sekali bertemu dan bicara dengan orangnya."

Ouw bin cu sudah tahu akan watak pendekar besar ini yang sekali bicara takkan dapat dibantah lagi, dan iapun amat percaya bahwa malapetaka ini tentu akan dapat ditolak oleh Thian te Kiam ong, maka ia menjadi girang sekali dan mengantar kedua orang suami isteri itu sampai di luar gedungnya.

Sebetulnya, belasan orang yang berada di ruang depan itu adalah jago jago silat kawan kawan Ouw bin cu yang ia datangkan dari pelbagai tempat untuk melindunginya.

Namun, melihat kelihaian penjahat yang mengancam, ia masih merasa gelisah.

Sekarang dengan adanya Thian te Kiam ong dan isterinya, ia menjadi lega dan beranilah ia minum arak dan bersenda gurau dengan kawan kawannya.

Adapun Bun Sam dan Sian Hwa setelah keluar dari gedung itu lalu berunding.

"Untuk mencari tahu akan rahasia ini, aku harus menyelidiki rumah Siu Hiang itu. Kalau memang Ouw bin cu berlaku sewenang wenang dalam pernikahannya, aku membenarkan ancaman penjahat itu, sungguhpun aku tidak setuju kalau ia membunuh Ouw bin cu tanpa ada kesalahan yang amat besar. Isteriku, kau naiklah ke atas genteng rumah Ouw bin cu dan berjaga sebentar di sana. Aku takkan pergi lama, hanya akan menyelidiki ke dusun Kan si."

"Baik!"

Sian Hwa mengangguk dari dengan gerakan lincah nyonya ini lalu melompat ke atas genteng rumah terdekat dan meloncat loncat menuju ke rumah Ouw bin cu.

Bun Sam memandang sebentar ke arah bayangan isterinya, lalu ia berlari cepat sekali ke arah barat.

Kepandaian ilmu lari cepat dari Thian te Kiam ong sudah mencapai tingkat tinggi sekali maka sebentar saja ia sudah tiba di dusun Kan si.

Mudah saja baginya untuk mencari rumah dari Siu Hiang, karena di antara rumah rumah sederhana dan miskin di dusun itu, terdapat sebuah rumah yang dihias seperti kalau sedang merayakan pesta pernikahan, ia melihat beberapa orang tetangga rumah itu berkumpul di ruang depan.

Segera Bun Sam melompat ke atas genteng dan mengadakan penyelidikan ke bagian belakang.

Usahanya berhasil baik sekali karena tiba tiba ia mendengar suara isak tangis tertahan dari dalam sebuah kamar ia cepat menghampiri dan mengintai dari atas genteng.

Dilihatnya seorang gadis muda yang memakai pakaian baru tengah duduk menangis di atas pembaringan, sedangkan di depan pembaringan duduk sepasang suami isteri petani di atas bangku.

Suami isteri ini sedang memberi nasehat nasehat kepada puterinya itu.

"Siu Hiang, untuk apa kau menangis? Kami orang tuamu mengawinkan engkau dengan Tong wangwe demi kebahagiaanmu dan kebahagiaan kita serumah tangga. Keadaan begini sukar dan suami mana yang lebih baik daripada Tong wangwe? Biarpun dia sudah agak lanjut usianya, namun boleh dibilang masih belum tua. Dia orang terkaya di kota Kim ke bun, dan kau akan berbahagia menjadi isterinya. Makan cukup pakaian indah, tinggal di gedung besar, dilayani oleh banyak pelayan. Mau apa lagi?"

Terdengar laki laki tua itu berkata dengan suara setengah membujuk setengah memaksa. Gadis itu hanya terisak saja, tak berani menjawab.

"Siu Hiang, anakku yang manis,"

Wanita tua itu ikut membujuk.

"kalau kau menjadi isteri Tong wangwe, berarti kau telah menolong orang tuamu yang setiap waktu terancam bahaya kelaparan. Keadaan begini sukar, mendapatkan suami seperti dia sama dengan kejatuhan bulan purnama. Kalau kau menurut dengan baik baik, berarti kau menjadi seorang anak yang berbakti dan hidupmu akan berbahagia. Ataukah kau lebih suka menjadi anak yang tidak berbakti dan akhirnya menikah dengan seorang pemuda sini yang untuk mencarikan isi perutnya sendiri saja sudah sukar sekali? Apakah kau lebih suka melihat orang tuamu mati kelaparan?"

Setelah berkata demikian ibu anak itu menangis. Siu Hiang makin sedih tangisnya dan memeluk ibunya. Dengan suara terputus putus ia hanya dapat berkata.

"Ibu...... aku tidak ingin menikah......"

"Anak durhaka!"

Si ayah marah marah.

"Biar kau berkeras kepala dan aku akan bunuh diri kalau besok kau banyak rewel!"

Selelah berkata demikian, orang tua itu.

Lalu keluar dari kamar, menutup pintu keras keras dan menuju ke ruang depan untuk melayani para tamunya.

Tinggal si ibu yang membujuk terus dan gadis itu hanya terisak perlahan, agaknya ia menyerah kepada nasib.

Bun Sam menghela napas panjang.

Peristiwa yang ia lihat di dalam rumah kecil ini bukanlah hal baru dan aneh.

Sudah banyak sekali terjadi hal demikian, yakni gadis petani petani miskin harus menikah dengan laki laki pilihan orang tua yang mendasarkan pernikahan itu karena melihat kekayaan calon mantu.

Akan tetapi, di dalam pernikahan, orang tualah yang berhak menentukan, dia bisa berbuat apakah?

Ia tidak berhak mencampuri urusan mereka.

Dan dalam penyelidikan ini, ia terheran.

Terang sekali bahwa baik orang tua maupun anaknya tidak tahu menahu tentang sepak terjang penjahat yang mengancam Ouw bin cu Tong Kwat.

Kalau calon pengantin wanita tahu tidak nanti ia begitu putus asa dan berduka.

Dengan demikian ia tidak dapat menyelidiki penjahat itu di tempat ini.

Dan ia mendapat kenyataan pula bahwa dalam pernikahan ini, memang benar Ouw bin cu tidak mempergunakan kekerasan.

Pernikahan ini sah dan baik karena orang tua si gadis telah menyetujui, sungguhpun persetujuan ini berdasarkan keadaan calon mantu yang hartawan.

"Lebih baik aku kembali ke Kim ke bun, siapa tahu kalau kalau penjahat itu sudah turun tangan."

Pikir Bun Sam yang mengkhawatirkan keadaan isterinya.

Ia percaya bahwa kepandaian isterinya sudah cukup untuk menghadapi setiap orang penjahat, akan tetapi kasih sayang yang amat besar terhadap isterinya membuat ia merasa tidak enak kalau meninggalkan isterinya seorang diri untuk menghadapi lawan tangguh.

Bun Sam cepat sekali berlari kembali ke kota Kim ke bun.

"Demikian cepat? Bagaimana kabarnya?"

Tanya Sian Hwa ketika melihat suaminya sudah kembali lagi demikian cepatnya.

"Di sana tidak ada apa apa,"

Jawab Bun Sam.

"Pernikahan biasa saja, hanya si gadis dipaksa oleh orang tua yang melihat tumpukan harta Ouw bin cu. Apakah penulis ancaman itu tidak muncul?"

"Belum,"

Kata Sian Hwa kesal.

"Aku menunggu angin dingin saja di atas sini."

"Kalau begitu marilah kita turun saja, kita lihat siapa saja di antara tamu tamu Ouw bin cu itu,"

Kata Bun Sam yang merasa kasihan kepada isterinya.

Turunlah mereka dengan gerakan ringan mengejutkan Ouw bin cu dan kawan kawannya yang tahu tahu melihat mereka telah berada di ruang tamu.

Ouw bin cu segera menyambut mereka dengan penuh penghormatan dan mempersilahkan mereka duduk.

"Bagaimana, taihiap? Apakah sudah berhasil?"

Tanyanya penuh harapan. Bun Sam menggeleng kepala.

"Biar kami menanti datangnya pengancammu itu di sini."

Ouw bin cu girang sekali dan segera berteriak menyuruh pelayan menghidangkan makanan dan arak.

Kemudian ia memperkenalkan para tamunya kepada Bun Sam dan Sian Hwa.

Sebagian besar daripada tamu tamu itu adalah orang orang kang ouw yang kasar, namun mereka sudah mengenal baik siapa adanya Thian te Kiam ong, maka mereka memandang dengan segan tidak berani bersikap kasar.

Di antara mereka, yang menarik perhatian Bun Sam dan isterinya hanya dua orang yang cukup terkenal yakni Siauw giam ong Lie Chit yang dulunya seorang tosu, sekarang berobah menjadi seorang berpakaian mewah seperu hartawan pula, dan orang ke dua adalah Jeng jiu mo Thio Kim Si Iblis Tangan Seribu.

Para pembaca tentu masih ingat bahwa Siauw giam ong Lie Chit adalah kawan dari Ouw bin cu dan mereka berdualah yang dahulu menuju ke Pulau Sam liong to dan kemudian tertawan oleh Lam hai Lo mo.

Setelah keduanya, sebagaimana telah dituturkan di depan, berhasil minggat dari Sam liong to membawa harta dari dalam gua milik Lam hai Lo mo, keduanya menjadi hartawan hartawan besar dan melempar jauh jauh jubah tosu untuk kembali menjadi orang biasa yang kaya raya.

Lie Chit juga menjadi hartawan dan tinggal di sebuah kota tak jauh dari Kim ke bun dan selalu dua orang ini masih mengadakan hubungan baik.

Adapun Jeng jiu mo Thio Kim juga pernah pembaca kenal.

Orang ini adalah tangan kanan dari Ciong Pak Sui atau Ciong Siauw ong ya, murid Pat jiu Giam ong yang tinggal di kota Ceng te dan yang gemar sekali memelihara kuda.

Kalau kedatangan Siauw giam ong Lie Chit adalah sewajarnya untuk menghadiri pesta pernikahan sahabat baiknya, adalah kedatangan Thio Kim ini penuh rahasia.

Dia telah mendengar dari Ciong Pak Sui bahwa dua orang bekas tosu ini dicari cari oleh Lam hai Lo mo.

Thio Kim amat luas pergaulannya di dunia kang ouw, maka sebentar saja ia sudah dapat menemukan di mana bersembunyinya dua orang itu.

Ia datang dan kebetulan di rumah Ouw bin cu sedang diadakan pesta pernikahan, maka ia berpura pura menghaturkan selamat.

Padahal diam diam ia menjadi girang sekali karena selain Ouw bin cu, ia juga melihat Lie Chit.

Inilah hasil yang amat besar baginya karena Ciong Pak Sui tentu akan girang sekali mendengar akan hal ini dan akan menyampaikan kepada Lam hai Lo mo yang telah menjadi sekutu Ciong Pak Sui.

Sekarang, secara tidak terduga duga Thio Kim melihat pula Bun Sam dan Sian Hwa.

Bukan main tegangnya hatinya.

Ia berdebar dan menghaturkan selamat kepada diri sendiri yang begitu baik nasibnya sehingga tidak saja ia bisa mendapatkan dua orang yang telah menghianati Lam hai Lo mo dan mencuri harta benda dari Sam liang to, bahkan ia kini bertemu pula dengan Thian te Kiam ong dan isterinya, dua orang yang di benci sekali oleh Lam hai Lo mo.

Thio Kim tahu bahwa kalau dia bisa memancing suami isteri ini ke Pulau Sam liong to sehingga perkumpulan Sam hiat ci pai dapat menyerang mereka, jasanya akan besar sekali.

Dia memutar otak dan sambil tersenyum ramah ia memberi hormat kepada Bun Sam dan Sian Hwa sambil berkata.

"Siauwte Thio Kim sudah lama sekali mendengar nama besar Thian te Kiam ong suami isteri dan merasa berbahagia sekali dapat bertemu di sini. Kebetulan sekali belum lama ini siauwte juga mendapat penghormatan untuk bertemu dengan puteri taihiap yang gagah perkasa."

Wajah Bun Sam dan Sian Hwa berobah, berseri dan penuh perhatian.

"Saudara Thio yang baik, di manakah kau bertemu dengan puteri kami?"

Tanya Sian Hwa tidak sabar.

"Dahulu siauwte bertemu dengan dia di kota Ceng te, akan tetapi puteri mu itu telah melanjutkan perjalanannya. Karena Siauwte tidak mendapat kesempatan bercakap cakap dengan puteri mu, maka tidak tahu ke mana dia pergi. Hanya Ciong Siauw ong ya yang tahu di mana dia berada karena Siauw ong ya yang bercakap cakap dengan nona Bun Sam itu."

"Siapa itu Ciong Siauw ong ya?"

Tanya Bun Sam mengerutkan kening.

Bagaimana puterinya dapat bercakap cakap dengan orang orang seperti Thio Kim ini?

"Ciong Siauw ong ya bernama Ciong Pak Sui, seorang Pangeran penggemar kuda.

Kebetulan sekali sekarang Ciong Siauw ong ya sedang berada di Ningpo.

Kalau ji wi mau bertemu dengan dia, boleh Siauwte antarkan."

Bun Sam mengangguk angguk dan bertukar pandang dengan Sian Hwa.

Mereka tahu bahwa kota Ningpo adalah kota di sebelah timur Propinsi Cekiang, dekat dengan laut dekat pula dengan kepulauan di mana terdapat Pulau Sam liong to.

Pada saat itu, Bun Sam mendengar sesuatu, ia memberi tanda dengan tangannya kepada semua orang agar menghentikan percakapan mereka.

Pada saat itu, malam telah larut sekali dan tiba tiba Bun Sam berkata kepada Sian Hwa.

"Isteriku, mari kita melihat ke atas. Saudara saudara harap jangan bergerak dan tinggal saja di sini. Biar kami berdua yang menyambut datang nya penjahat!"

Semua orang terkejut, terutama sekali Ouw bin cu menjadi pucat.

Mereka tidak mendengar sesuatu, bahkan sesungguhnya Sian Hwa sendiri belum mendengar sesuatu.

Akan tetapi pendengaran Bun Sam luar biasa tajamnya dan pendekar ini sudah dapat mendengar tindakan kaki orang di atas genteng, masih agak jauh.

Dengan tenang Bun Sam mengajak isterinya keluar dari ruang itu dan sekali melompat mereka telah berada di atas genteng.

Keadaan gelap sekali karena di langit hitam tidak kelihatan bintang maupun bulan.

Hanya sedikit sinar penerangan lampu yang menerobos dari celah celah genteng saja yang membuat mereka masih dapat melihat ke depan.

Tiba tiba mereka melihat bayangan berkelebat, pesat sekali.

Di dalam gelap mereka tidak dapat melihat wajah bayangan itu, yang mereka ketahui hanya bahwa bayangan itu bertubuh kecil langsing.

Bun Sam sebagai seorang pendekar besar tidak suka bersembunyi, maka ia segera melompat keluar menghadang kedatangan bayangan itu.

Bayangan tadipun sudah melihatnya, dan tanpa banyak cakap lagi bayangan itu lalu menubruk maju sambil melakukan serangan dengan pukulan keras ke arah dada Bun Sam!

Keadaan gelap sekali sehingga Bun Sam tidak sempat melihat pukulan apakah yang dilakukan oleh lawan ini, namun dengan sigapnya ia mengelak sambil membentak.

"Penjahat ganas, siapakah kau begitu tidak tahu aturan? Sebelum mengadu kepandaian, kau mengaku dulu siapa kau dan apa maksudmu melakukan pemerasan terhadap Ouw bin cu!"

Sebelum Bun Sam menghabiskan kata kata nya bayangan itu sudah tersentak kaget dan melompat jauh sambil berseru.

"Hayaaa....!"

Kemudian tanpa berkata apa apa lagi bayangan ini lalu melarikan diri. Bun Sam menjadi terheran dan juga penasaran.

"Hayo kita kejar dia!"

Serunya kepada Sian Hwa yang juga merasa aneh.

Kedua suami isteri ini lalu mengerahkan tenaga mengejar bayangan itu yang berlompat lompatan dari genteng rumah ke genteng rumah yang lain.

Larinya begitu gesit dan cepat sehingga di dalam gelap, sukar bagi Bun Sam dan Sian Hwa untuk menyusulnya.

Agak jauh dari rumah Ouw bin cu, bayangan itu melompat turun ke atas seekor kuda yang sudah ditunggangi orang, kemudian kuda yang kini dinaiki oleh dua orang ini membalap luar biasa cepatnya!

Hanya terdengar derap kaki kuda dan sebentar saja kuda itu telah menghilang ke arah utara dengan kecepatan seperti setan.

Kebetulan sekali larinya kuda melewati rumah penginapan, maka Bun Sam cepat mengeluarkan kudanya pek hong ma dan berkata kepada Sian Hwa.

"Isteriku, kau tunggu saja di penginapan, biar aku menyusul mereka!"

Ia lalu membalapkan Pek hong ma dan sebentar saja ia telah keluar dari kota, melalui pintu gerbang utara.

Jalan ini menuju ke sebuah bukit berhutan lebat, dan Bun Sam tidak melihat seekor pun kuda atau seorang manusia di tengah malam buta itu.

Akan tetapi ia tetap penasaran dan melanjutkan pengejarannya.

Setelah tiba di luar hutan, Bun Sam menjadi bingung.

Hutan itu gelap sekali, tak mungkin ia masuk hutan yang asing baginya ini dengan berkuda.

Tiba tiba ia mendengar suara kuda meringkik tak jauh dan situ, maka ia lalu melompat turun dari kudanya, menepuk nepuk pundak Pek hong ma sambil berkata.

"Kautunggu di sini, Pek hong ma dan jangan bersuara!"

Dengan cepat Bun Sam lalu berlari memasuki hutan menuju ke arah suara kuda meringkik tadi.

Tak lama kemudian ia melihat sebuah kuil tua di dekat pinggir hutan, dan dari dalam kuil terlihat penerangan.

Juga seekor kuda ditambatkan pada pohon oi luar kuil.

Kuda itu ternyata cerdik sekali karena begitu mencium bau orang asing, ia lalu berbunyi keras sekali.

"Ang ho ma, kau kenapakah?"

Terdengar suara halus seorang laki laki yang keluar dan pintu kuil, lalu menepuk nepuk leher kuda itu.

Bun Sam menyelinap dan bersembunyi di balik pohon.

Setelah laki laki itu masuk kembali ke dalam kuil, ia lalu melompat dan mendekati kuil, mengintai dan sebuah jendela yang sudah rusak.

Ketika ia mengintai ke dalam, tiba tiba wajah pendekar besar ini berobah, sebentar pucat sebentar merah, ia melihat seorang gadis cantik duduk di atas bangku bobrok, dan laki laki itu adalah seorang pemuda tampan dan halus, berpakaian seperti seorang sasterawan.

"Yang moi (adik Yang), kau kenapakah berlari lari seperti dikejar setan tanpa memberi penjelasan? Aku sampai kaget setengah mampus! Apakah yang terjadi?"

Terdengar laki laki itu bertanya. Gadis yang dikenal oleh Bun Sam sebagai puterinya sendiri, yakni bukan lain adalah Siauw Yang menjawab.

"Kau tidak tahu aku bertemu dengan....dengan..."

"Dengan siluman?"

Tanya pemuda itu yang tentu saja bukan lain adalah Liem Pun Hui! "Hush, jangan bicara sembarangan, suheng! Aku bertemu dengan ayah dan ibu!"

"Lho, kalau bertemu dengan mereka, mengapa terkejut?"

Pada saat itu, Bun Sam tak dapat menahan kesabarannya lagi, sekali tendang saja daun jendela hancur dan ia melayang masuk.

"Ayah !"

Seru Siauw Yang sambil bangkit berdiri, sedangkan Pun Hui kaget setengah mati ketika tiba tiba ia melihat seorang laki laki setengah tua yang berdiri dengan gagah dan menakutkan di depannya!

"Siauw Yang, apakah kau sudah gila?

Apa yang kaulakukan di sini, mengapa kau hendak merampok orang dan siapa pula orang muda ini?

Jangan kau main gila, Siauw Yang!"

Untuk beberapa lama Siauw Yang menentang pandangan mata ayahnya yang marah itu tanpa takut sedikitpun, kemudian ia tertawa berkikikan dengan geli sehingga Bun Sam menjadi heran sekali dan Pun Hui tunduk kemalu maluan, tidak tahu harus berbuat apa.

"Ayah, selama hidup baru sekarang aku melihat ayah bingung, marah dan cemburu! Tidak terjadi apa apa yang luar biasa dengan anakmu, ayah. Bahkan ayah yang amat luar biasa, tidak biasa ayah membantu orang jahat!"

"Apa maksudmu? Katakan lekas, dan siapa orang ini?"

"Jangan salah sangka yang bukan bukan, ayah. Dia ini adalah Liem suheng, bernama Liem Pun Hui. Dialah murid dan supek Yap Thian Giok."

Sementara itu. Pun Hui yang sudah dapat menenangkan pikiran dan tahu dengan siapa ia berhadapan, segera menjatuhkan diri berlutut dan berkata lemah lembut.

"Teecu Liem Pun Hui menghaturkan hormat kepada susiok (paman guru)."

Bun Sam memandang tajam kepada pemuda itu dan sekilas pandang saja tahulah dia bahwa pemuda itu adalah seorang terpelajar dan memiliki watak yang baik.

"Bangunlah, biarkan aku mendengarkan penuturan anakku yang nakal itu."

"Ayah, Ouw bin cu adalah seorang jahat, bagaimana ayah bisa membantunya?"

"Bagaimana pula kau bisa bilang dia seorang jahat? Di dalam urusan pernikahannya dengan Siu Hiang, dia tidak melakukan sesuatu yang jahat,"

Kata Bun Sam, akan tetapi ia segera menyambung nya.

"Ibumu menanti nanti di rumah penginapan dengan hati cemas. Lebih baik kita pergi ke sana dan kau boleh menceriterakan semua pengalamanmu kepada kami."

Siauw Yang tertawa tawa lagi dengan gembira. Pertemuan dengan ayahnya ini benar benar menggembirakan hatinya.

"Mari, Liem suheng, kau ikut dengan kami."

Akan terapi biarpun masih muda, Pun Hui memiliki pikiran luas.

"Tak usah, sumoi. Biarlah aku menanti di sini saja. Pertemuanmu dengan kedua orang tuamu amat penting dan kau tentu akan bercakap cakap banyak persoalan dengan susiok dan susiok bo, tak boleh aku mengganggu."

Kembali Bun Sam suka mendengar ucapan ini. Namun Sian Hwa tidak tega meninggalkan Pun Hui seorang diri, maka desaknya.

"Tidak apa, suheng. Marilah kau ikut, tidak baik seorang diri di tempat sunyi ini."

"Biarlah, Siauw Yang Kalau perlu, besok pasi kita boleh mengajaknya pergi dari sini,"

Kata Bun Sam.

"Nah, sumoi, aku menurut dan setuju sekali dengan usul susiok."

Terpaksa Siauw Yang lalu pergi dengan Bun Sam. Ayah dan anak ini lalu naik kuda berendeng menuju ke kota Kim ke bun. Seperti juga suaminya, Sian Hwa menyambut Siauw Yang dengan terheran heran.

"Kau.... Siauw Yang?"

Kegirangan Sian Hwa bercampur kekhawatiran ketika ia memandang kepada suami dan puterinya.

"Mari kita ke dalam dan mendengarkan penuturan Siauw Yang,"

Kata Bun Sam. Siauw Yang memeluk ibunya dan mengajak ibunya masuk ke kamar penginapan.

"Ada kesalahan faham antara aku dan ayah, ibu. Kesalah fahaman dalam urusan Ouw bin cu si Bandot tua."

Kemudian, setelah mereka berada di dalam kamar, Siauw Yang menceriterakan semua pengalamannya.

Banyak sekali pengalamannya itu, dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Liem Pun Hui, tentang tertawannya oleh Tung hai Sian jin dan puteranya, dan bagaimana akhirnya ia bisa meloloskan diri dari ayah dan anak yang jahat itu.

"Bangsat besar Tung hai Sian jin, kalau bertemu tentu akan kuketok kepalanya. Berani sekali dia menghina puteriku!"

Kata Bun Sam marah marah mendengar penuturan Siauw Yang itu.

Siauw Yang juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Ciong Pak Sui murid Pat jiu Giam ong, tentang kuda Ang ho ma dan semua hal yang pernah dialaminya.

Kedua orang tuanya mendengarkan dengan hati tertarik.

"Yang hebat sekali, ayah. Ternyata bahwa Lam bai Lo mo masih hidup, kini makin jahat dan liar. Ia merajalela bersama seorang murid perempuannya. Kata orang, biarpun kini Lam hai Lo mo hanya berkaki satu, namun ia jauh lebih lihai daripada dahulu."

"Berkaki satu?"

Bun Sam saling pandang dengan isterinya.

Teringat mereka akan isi surat dari Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luile yang menceritakan bahwa puteri mereka diculik oleh seorang kakek berkaki satu yang juga membunuh mereka.

Siauw Yang lalu menceritakan penuturan Pun Hui tentang murid Lam hai Lo mo yang lihai, kemudian ia juga menceritakan penuturan Pun Hui bahwa Tek Hong kakaknya telah pula menyusul ke Sam liong to dan kemudian pergi untuk pulang ke Tit le minta bala bantuan.

Mendengar semua ini, Bun Sam dan Sian Hwa menjadi lega karena sedikitnya mereka sudah mendengar bahwa putera merekapun selamat.

"Dan bagimana tentang urusan Ouw bin cu ini? Mengapa kau hendak merampoknya dan hendak menghalangi pernikahannya?"

Tanya Bun Sam. Siauw Yang tertawa.

"Ayah tentu sudah melihat tulisan di tembok dalam rumah Ouw bin cu itu. Itulah tulisan Liem suheng, ayah."

"Hm, coba ceriterakan yang jelas."

"Aku dan Liem suheng dalam perjalanan hendak ke Tit le, dan di luar kota Kim ke bun ini, kami melihat seorang pemuda petani hendak membunuh diri dengan jalan menggantung diri di pohon pinggir hutan itu. Kami menolongnya dan setelah bertanya, dia menceriterakan bahwa kekasihnya, yaitu Siu Hiang, dirampas oleh Ouw bin cu si bandot tua."

"Bukan dirampas, melainkan dilamar dengan baik baik,"

Membela Bun Sam.

"Tentu saja begitu menurut ceritanya sendiri, ayah. Mana seorang maling mau mengakui perbuatannya yang busuk?"

"Tidak demikian, Siauw Yang. Aku sudah menyelidiki ke dusun Kan si dan mendengar percakapan antara Siu Hiang dan orang tuanya. Pernikahan itu adalah atas persetujuan orang tuanya dan kuanggap sudah sepatutnya kita tidak mencampuri urusan orang lain dalam hal pernikahannya."

"Ayah baru mendengar sedikit tidak tahu banyak,"

Membantah Siauw Yang "Memang cara Ouw bin cu bekerja amat licin dan busuk.

Ayah tidak tahu rupanya.

Orang tua Siu Hiang bukanlah orang tua sebenarnya, melainkan orang tua pungut yang memelihara Siu Hian semenjak kecil karena orang tua Siu Hiang tewas dalam bencana kelaparan.

Mereka itu menjual Siu Hiang untuk sebidang tanah dan sedikit uang, dan sebetulnya semenjak kecil Siu Hiang telah ditunangkan dengan petani itu.

Apa yang dilakukan oleh Ouw bin cu?

Untuk memutuskan pertunangan itu, ia telah merampas sawah pemuda itu yang tak berdaya, kemudian mengusir pemuda itu dari kampungnya.

Siapa berani melawannya?

Selain kaya raya, juga ia berkepandaian tinggi.

Dalam pandangan umum, memang agaknya Ouw bin cu melamar secara baik baik, namun yang menjadi persoalannya, pernikahan paksa itu sama dengan pernikahan seekor domba untuk disembelih.

Karena itulah maka aku turun tangan, ayah.

Aku bersama Liem suheng pergi ke rumah Ouw bin cu, aku yang menotok mereka dan Liem suheng yang menuliskan ancaman di tembok.

Malam ini aku hendak menakut nakutinya dan hendak merampas uang agar dapat kuberikan kepada Siu Hiang dan tunanganaya, hendak kusuruh pergi jauh jauh membawa uang itu.

Sayang datang ayah yang membantu Ouw bin cu..."

Mendengar ini, Bun Sam dan Sian Hwa mengerutkan keningnya.

"Hm, kalau begitu, marilah sekarang juga kita pergi kepada Ouw bin cu, minta supaya ia berlaku bijaksana dan membatalkan pernikahannya itu,"

Kata Bun Sam.

Siauw Yang menjadi girang dan mereka bertiga lalu malam malam pergi ke rumah Oaw bin cu.

Waktu itu, fajar mulai menyingsing akan tetapi keadaan masih amat gelap, ketika mereka bertiga berlari cepat menuju ke rumah hartawan itu, tiba tiba dari depan berkelebat bayangan yang gesit sekali, yang berlari cepat bagaikan terbang.

Bun Sam curiga dan membentak.

"Siapa itu?"

Akan tetapi bayangan itu tidak menjawab, melainkan mengelak ke kiri dan melanjutkan larinya, Bun Sam dan Sian Hwa tidak mau mengejarnya, hanya Siauw Yang yang berdarah panas, dan samping mengulurkan tangan hendak menangkap lengan pelari itu.

Namun alangkah kagetnya ketika orang itu sekali menyampok telah dapat menangkisnya dan Siauw Yang merasa betapa sampokan itu kuat bukan main!

"Kurarg ajar, berhenti!"

Bentak Siauw Yang namun orang itu tidak melayaninya dan terus lari. Siauw Yang hendak mengejar akan tetapi ayahnya melarangnya.

"Tak perlu mencari perkara, Siauw Yang. Kita tidak kenal dia dan tidak tahu apa yang dilakukannya. Jangan jangan kita mengganggu orang baik baik."

Dengan gemas dan kecewa Siauw Yang membatalkan niatnya mengejar dan mengikuti kedua orang tuanya ke rumah Ouw bin cu.

Akan tetapi, dari jauh saja sudah terlihat bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat di rumah itu.

Terdengar orang sibuk ke sana ke mari, teriakan teriakan orang seperti mencari seorang maling, dan terdengar pula suara orang menangis.

"Ah, apakah yang terjadi?"

Kata Bun Sam yang mempercepat larinya, diikuti oleh Sian Hwa dan Siauw Yang.

Benar saja, kejadian hebat sekali menimpa rumah Ouw bin cu, dan terjadi baru saja.

Ketika Bun Sam dan anak isterinya masuk, di ruang tamu menggeletak para tamu dalam keadaan mengerikan.

Ada yang lengannya putus, ada yang kepalanya pecah dan darah mengalir di mana mana.

Di antara para tamu, kelihatan Siauw giam ong Lie Chit menggeletak dengan leher putus!

Bun Sam lari masuk dan di tengah ruangan menggeletak tubuh Ouw bin cu, juga dengan leher putus!

Kemudian atas penuturan orang orang yang masih hidup, Bun Sam memandang ke arah dinding di mana terdapat tulisan darah .

OUW BIN CU DAN SIAUW GIAM ONG PENGKHIANAT DAN PERAMPOK, KARENANYA HARUS MAMPUS!

Tulisan itu halus seperti tulisan wanita, dan Bun Sam sedang bingung memikirkan hal ini, ketika muncul Jeng jiu mo Thio Kim dengan tubuh gemetar.

"Aduh, taihiap, celaka besar. Kalau taihiap berada di sini tak mungkin terjadi hal sehebat ini...."

Kemudian ia melihat Siauw Yang, wajahnya berobah dan ia berseru.

"Ah, kiranya nona sudah berada di sini pula?"

Siauw Yang mengenal Thio Kim, maka tanyanya.

"Siapakah yang melakukan amukan ini? Hayo ceritakan!"

Dengan wajah masih pucat, Thio Kim lalu berceritera. Ketika Ouw bin cu dan para tamu sedang makan minum dan bersenda gurau, tiba tiba terdengar bentakan.

"Ouw bin cu manusia keparat, nonamu datang untuk mengambil nyawamu!"

Dan entah dari mana datangnya, sesosok bayangan berkelebat dan tahu tahu seorang nona cantik berbaju merah telah berdiri di ruang itu dengan pedang di tangan.

Ouw bin cu dan Siauw giam ong yang mengenal nona itu, menjadi pucat.

"Nona Siang Cu...."

Teriak mereka perlahan.

"Ha, Siauw giam ong, jahanam besar. Kau pun berada di sini? Kebetulan sekali!"

Setelah berkata demikian, nona yang bukan lain dari Ong Siang Cu murid Lam hai Lo mo, menyerang dengan pedangnya.

Siauw giam ong Lie Chit mengelak dan serentak Ouw bin cu dan kawan kawannya lalu maju menyerbu.

Mereka mengira bahwa nona inilah yang telah meninggalkan surat ancaman di tembok.

Akan tetapi orang orang itu mana mampu menandingi Siang Cu.

Dengan cepat sekali pedangnya mengamuk dengan ilmu pedangnya yang ganas dan liar sehingga tak lama pula terdengar pekik pekik kesakitan dan robohnya orang orang yang terluka hebat.

Siauw giam ong mempertahankan diri sedapat mungkin, namun pedang yang berkilauan itu terus mengejarnya sampai pada suatu saat lehernya terbabat putus oleh pedang di tangan Siang Cu!

Melihat hal ini, Ouw bin cu menjadi ketakutan dan berlari masuk.

Akan tetapi, Siang Cu meninggalkan pengeroyoknya dan mengejar ke dalam, dan di ruang tengah ia berhasil memenggal leher Ouw bin cu pula.

Dengan hati puas karena telah berhasil membunuh orang orang yang telah mengkhianati suhunya, Siang Cu lalu menuliskan kata kata itu di atas tembok, mempergunakan darah musuhnya sebagai tinta.

"Demikianlah, nona Song dan taihiap berdua, yang melakukan pengamukan adalah nona Siang Cu murid Lam hai Lo mo sebagai pembalasan atas sakit hati Lam hai Lo mo terhadap dua orang itu."

"Sakit hati yang mana? Bagaimana kau bisa tahu persoalan mereka?"

Tanya Bun Sam yang cerdik. Thio Kim terkejut dan merasa telah kelepasan omong. Akan tetapi dasar ia cerdik, maka ia berkata tanpa ragu ragu.

"Dahulu kedua orang ini telah menjadi pelayan di Pulau Sam liong to. Pada suatu hari mereka minggat sambil membawa harta benda yang besar dari pulau itu. Hal ini siauwte ketahui karena pernah Lam hai Lo mo mampir di rumah Ciong siauw ong ya dan menuturkan hal tersebut."

"Kau tahu di mana adanya Lam hai Lo mo jahanam tua itu?"

Tanya pula Bun Sam.

"Siauwtte mana tahu! Akan tetapi kalau sam wi (kalian bertiga) mau mengunjungi tempat baru siauw ong ya di kota Ningpo, tentu siauw ong ya akan dapat memberi keterangan lebih jelas pula. Sam wi dapat datang sebagai tamu karena kebetulan sekali siauw ong ya sedang mempersiapkan pesta pernikahannya. Siauwte berlancang mewakili siauw ong ya untuk mengundang sam wi menghadiri pesta itu,"

Kata Si Tangan Seribu dengan cerdik.

Tidak saja ia mempergunakan nama Lam hai Lo mo untuk menarik perhatian, juga dengan ucapan ini ia memancing mereka agar datang di dekat pusat perkumpulan Sam hiat pai agar tiga orang berbahaya ini dapat ditewaskan!

Sudah tentu Bun Sam tak dapat percaya omongan Thio Kim bahwa murid Pat jiu Giam ong itu mempunyai rasa persahabatan dengan dia, karena bukankah Pat jiu Giam ong dahulu tewas di dalam tangannya?

Akan tetapi pendekar besar ini tidak merasa takut, karena memang ia ingin sekali mencari Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin untuk membikin perhitungan.

Orang semacam Lam hai Lo mo memang amat berbahaya kalau masih hidup di dunia ini, sedangkan terhadap Tung hai Sian jin ia hendak membalas penghinaan yang dilakukan terhadap puteri nya.

Setelah beristirahat karena semalam tidak tidur, pada siang harinya Bun Sam, Sian Hwa dan Siauw Yang diantar oleh Thio Kim berangkat menuju ke Ningpo, setelah menjemput Pun Hui yang masih menanti di dalam kuil di hutan itu.

Perjalanan dilakukan dengan cepat.

Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka tahu bahwa diam diam Thio Kim telah menyuruh seorang kakitangannya untuk berangkat lebih dulu tanpa penundaan dan berganti ganti kuda, untuk menuju ke Ningpo memberitahukan tentang kedatangan rombongan Thian te Kiam ong ini!

Memang betul seperti pernah dikatakan oleh Lam hai Lo mo kepada kawan kawannya dalam pembukaan perkumpulan Sam hiat ci pai di atas Pulau Sam liong to, bahwa Ciong Pak Sui atau yang biasa disebut Pangeran Ciong, telah mendapatkan peti rahasia berisi harta benda peninggalan Kaisar Jengis Khan.

Peti ini adalah hasil rampasan dari dunia barat ketika Kaisar Jengis Khan menyerang ke barat dan isinya adalah benda benda terbuat daripada emas permata yang tak ternilai harganya.

Sudah lama murid dari Pat jiu Giam ong ini memang mengandung cita cita untuk menggulingkan kedudukan kaisar dan hendak mengangkat diri sendiri menjadi kaisar, ia merasa telah cukup kuat, karena selain ia sendiri memiliki ilmu silat yang amat tinggi, juga ia mendapat bantuan orang orang pandai, ditambah pula dengan penemuan harta benda itu.

Untuk memperkuat cita citanya, ia selain mengadakan hubungan dengan panglima panglima perang, kepala kepala pasukan yang di sogoknya dan dijadikan kaki tangannya, juga ia bersekongkol dengan supeknya Lam hai Lo mo di Pulau Sam liong to.

Untuk maksud ini ia mempergunakan Pulau Sam liong to sebagai markas besar perkumpulan Sam hiat ci pai yang dibentuk oleh supeknya.

Dan agar memudahkan hubungan pangeran ini lalu membeli rumah di kota Ning po di pantai utara sehingga mudah baginya untuk mengadakan kontak dengan Pulau Sam liong to.

Agar orang tidak menaruh curiga kepadanya, maka semua pergerakannya ini diselimuti oleh kesukaannya mengumpulkan kuda kuda yang bagus sehingga kelihatannya ia pergi ke tempai itu hanya untuk mencari kuda dan sekalian berpelesir.

Akan tetapi rencana besarnya itu tertunda bahkan ia tidak dapat datang menghadiri pembukaan perkumpulan Sam hiat ci pai sebagaimana telah dituturkan di bagian depan karena dalam perjalanannya menuju ke Ningpo itu, ia bertemu dengan seorang gadis yang luar biasa, ia demikian tertarik oleh gadis itu sehingga tiada hentinya ia berusaha untuk menarik gadis ini sebagai isterinya!

Baru pertama kali ini di dalam hidupnya, pangeran berusia empatpuluh tahun yang terkenal mata keranjang dan mempunyai banyak sekali selir selir ini, benar benar jatuh cinta pada seorang gadis!

Akhirnya jerih payahnya berhasil dan ia dapat menarik gadis itu menjadi isterinya dan pernikahannya akan dilangsungkan tak lama lagi.

Kota Ningpo menjadi gempar karena pesta pernikahan yang akan diadakan oleh pangeran ini merupakan pesta yang luar biasa besarnya, melebihi ramainya pesta menyambut datangya tahun baru!

Ciong Pak Sui tidak sayang membuang uang untuk pesta pernikahannya ini, sebagai tanda daripada kegirangan hatinya mendapatkan seorang isteri yang sudah lama diidam idamkannya.

Tidak saja di ruang depan gedungnya yang amat luas, juga halaman depan yang lebar sekali itu dipasangi tetarup dan dihias mentereng sekali.

Ratusan orang tamu dari jauh diundang, bahkan siapa saja yang berada di kota Ningpo boleh menghadiri pesta ini tanpa undangan!

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila penduduk berjejal jejal mendatangi Ningpo dan dusun dusun di kitarnya, hanya untuk menonton dan mendengarkan tetabuhan dan macam macam permainan yang diadakan untuk meramaikan pesta.

Tiga hari sebelum pesta pernikahan dilangsungkan, siang malam telah diadakan pesta dan berbagai pertunjukan.

Pangeran Ciong tidak mau menyia nyiakan waktu baik ini.

Di samping mengundang sahabat sahabat jauh untuk menghadiri pernikahannya, juga ia ingin mengumpulkan banyak orang gagah untuk diajak bersekutu dalam melaksanakan cita citanya.

Ia tahu bahwa orang orang gagah sedunia tidak suka dengan pemerintahan Goan tiauw yang dianggapnya pemerintah asing, dan kalau ia mengajak mereka untuk menumbangkan pemerintahan ini tanpa menyatakan akan kehendaknya menjadi kaisar, tentu ia akan mendapatkan banyak pembantu.

Soal pengangkatan diri sendiri menjadi kaisar, adalah soal mudah setelah pemerintah dapat ditumbangkan!

Akan tetapi, kebahagiaan yang besar dalam hati Ciong Pak Sui itu tiba tiba terganggu oleh datangnya pesuruh dari Thio Kim.

Orang kepercayaannya ini sengaja diutus mewakilinya menghadiri pernikahan Ouw bin cu sekalian untuk mengundang kepada beberapa orang gagah di daerah itu.

Sekarang, Thio Kim belum pulang dan tahu tahu seorang suruhannya datang membawa warta yang menggirangkan namun berbareng amat mengagetkan Thian te Kiam ong dengan isteri dan puterinya akan datang.

Kedatangan mereka bukan hanya untuk menghadiri pesta, akan tetapi terutama sekali untuk mencari Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin!

Dalam kegugupannya, Pangeran Ciong cepat mendatangkan tokoh tokoh besar dari Pulau Sam liong to dan mengajak mereka berunding bagaimana baiknya untuk menghadapi orang orang gagah itu.

"Isteri dan puterinya itu tak perlu dikhawatirkan,"

Kata Tung hai Sian jin. Yang penting bagi kita adalah Thian te Kiam ong sendiri. Ilmu pedangnya bukan main lihainya."

"Betapapun juga, kalau mereka itu maju bersama dengan Ilmu Pedang Tee coan Liok kiamsut sukar juga bagi kita akan dapat mengalahkannya,"

Kata Lam hai Lo mo sambil mengerutkan keningnya. Kemudian, kakek yang lihai dan juga amat cerdik dan curang ini lalu berseri wajahnya yang buruk dan ia berkata.

"Aku mendapat akal! Harus dilakukan siasat begini...."

Ia lalu bicara kasak kusuk membentangkan siasatnya untuk memancing Song Bun Sam.

Semua orang menyatakan setuju dan mengangguk angguk.

Kemudian tokoh tokoh besar itu kembali ke Pulau Sam liong to dan pada pernikahan pangeran itu mereka tidak muncul.

Pada pagi hari sebelum pesta itu dilangsungkan, datanglah rombongan Thian te Kiam ong.

Ciong Pak Sui sendiri menyambut kedatangan mereka dengan wajah berseri.

Tentu saja ia ber pura pura tidak mengenal Song Bun Sam dan isterinya, melainkan langsung menyambut Song Siauw Yang.

"Aduh angin manakah yang meniupmu ke sini, nona Song? Pesta pernikahanku menjadi lebih meriah dan berbahagia dengan kehadiranmu di sini. Ia menengok kepada Pun Hui yang berdiri dengan tenang, lalu menjura dan berkata kepada pemuda itu.

"Selamat datang, Liem taihiap. Aku akan girang sekali kalau dapat melayanimu bermain catur lagi!"

"Banyak lain hal yang lebih penting daripada bermain catur, Pangeran Ciong,"

Jawab Pun Hui tenang.

Jawaban pemuda ini sebenarnya hendak menyatakan bahwa tidak pantas bermain catur di waktu tuan rumah merayakan hari pernikahannya, akan tetapi oleh Ciong Pak Sui diterima keliru.

Disangka oleh pangeran ini bahwa Pun Hui menyindirkan bahwa di sana ada hal hal lebih penting lagi, seperti misalnya mencari Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin.

Sampai saat itu, Pangeran Gong masih menganggap bahwa ilmu silat dari pemuda sasterawan ini tentu jauh lebih tinggi diri kepandaian nona Siauw Yang yang sudah begitu lihai.

Sambil memandang kepada Bun Sam dan Sian Hwa, Ciong Pak Sui pura pura bertanya.

"Dan ini siapakah dua orang sahabat yang gagah perkasa yang datang bersamamu, nona Song?"

Dengan suara bangga, Siauw Yang memperkenalkan kedua orang tuanya.

"Mereka inilah ayah bundaku, Pangeran Ciong, harap diperkenalkan!"

Ciong Pak Sui mengangkat kedua tangan dan menepuk kepalanya.

"Ah, sungguh kurang hormat. Gunung Thai san menjulang tinggi di depan mata, masih tidak mengenalnya. Thian te Kiam ong dan isterinya yang tersohor di seluruh kolong langit. Maaf, maaf, taihiap berdua."

Kemudian ia pura pura marah kepada Thio Kim yang berdiri di pinggir.

"Thio Kim, bagaimanakah kau ini? Datang tamu agung tidak lekas lekas memberitahukan?"

Dengan sikap amat menghormat ia kembali memandang kepada Bun Sam dan Sian Hwa, lalu berkata dengan senyum membayang di belakang kumisnya yang gagah.

"Selamat datang Thian te Kiam ong, selamat datang di rumahku yang buruk. Sudah lama siauwte mengenal nama taihiap, pendekar terbesar yang telah menjatuhkan banyak sekali jago jago silat, diantaranya suhuku sendiri sudah roboh di tanganmu."

Kemudian, melihat pandang mata Bun Sam menajam, ia cepat cepat mengalihkan pandangan kepada Sian Hwa dan menjura.

"Dan inikah pendekar wanita yang sesungguhnya masih suciku sendiri? Selamat datang, selamat datang, mari silahkan duduk di kursi kehormatan."

Ia mempersilahkan mereka duduk di tengah tengah ruangan, di tempat yang agak tinggi.

Memang ia sengaja menyediakan tempat untuk mereka ini, namun sengaja pula ia membawa Pun Hui dan Bun Sam di tengah tengah ruang bagian tamu laki laki sedangkan Siauw Yang dan ibunya duduk di tengah tengah ruangan bagian tamu wanita.

Semua orang memandang kepada rombongan ini dengan penuh perhatian karena kawan kawan Ciong Pak Sui yang hadir di situ telah mendapat bisikan terlebih dahulu dan tuan rumah bahwa musuh besar akan datang di tempat itu.

Sian Hwa yang memang berhati lemah lembut, merasa terharu menyaksikan keramahtamahan Ciong Pak Sui dan diam diam ia memuji tuan rumah ini yang memang benar masih terhitung sutenya sendiri karena pangeran ini adalah murid Pat jiu Giam ong.

Bagi nyonya ini yang sudah biasa bergaul dengan golongan bangsawan, tidak kikuk kikuk lagi dan merasa senang.

Sebaliknya, Bun Sam merasa tidak enak hati.

Bukankah baru saja tuan rumah memperkenalkan dia sebagai pembunuh gurunya?

Dan tuan rumah agaknya sama sekali tidak menaruh sakit hati, bahkan demikian ramahnya.

Ciong Pak Sui sengaja menyuruh selir selirnya untuk melayani Sian Hwa dan Siauw Yang, adapun dia sendiri melayani Bun Sam dan Pun Hui.

Pernikahan dilangsungkan beberapa jam lagi, karena waktunya belum tiba.

"Maaf, Pangeran Gong. Sesungguhnya biarpun kami amat berterima kasih atas undanganmu yang disampaikan oleh saudara Thio Kim, akan tetapi kami sebenarnya mempunyai lain urusan yang lebih penting. Kedatangan kami ini hendak minta pertolonganmu, yakni menunjukkan kepada kami di mana adanya Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Menurut keterangan Thio Kim, kau tahu tempat tinggal mereka."

Ciong Pak Sui pura pura kaget.

"Ah, lancang benar Thio Kim! Bagaimana aku tahu tempat tinggal mereka? Memang benar, Lam hai Lo mo adalah supekku dan tak salah kalau kukatakan bahwa mungkin ia berada di Pulau Sam liong to, akan tetapi bagaimana aku bisa tahu tempat tinggal Tung hai Sian jin?"

"Tidak apa, Pangeran Ciong. Kalau kau mengetahui tempat tinggal Lam hai Lo mo, bagiku sudah cukup. Benarkah dia berada di Pulau Sam liong to?"

Tanyanya ragu ragu karena dari Siauw Yang ia mendapat keterangan bahwa pulau itu sudah kosong.

"Mungkin sekali, taihiap. Siapa mengetahui tempat tinggal yang tetap dan supek yang suka berkelana? Akan tetapi, dia tentu datang di kota ini, karena sudah kuundang. O ya, mengapa sampai sekarang ia belum juga datang? Eh, Thio Kim!"

Ia memanggil pembantunya ini.

"Tanyakan kepada penjaga di luar kalau kalau ia telah melihat supek datang."

Thio Kim menjawab lalu keluar. Tak lama lagi ia datang bersama seorang pelayan yang bertugas menjaga pintu depan. Pelayan itu dengan takut takut memberi hormat dan berkata.

"Siauw ong ya, mohon beribu maaf. Memang ada datang seorang pesuruh dari Lam hai Lo mo cianpwe menyerahkan sebuah surat untuk siauw ong ya."

"Bodoh, mengapa sejak tadi tidak kauberikan kepadaku?"

Ciong Pak Sui membentak.

"Hamba melihat siauw ong ya asyik bercakap cakap dengan tamu agung, maka hamba tidak herani mengganggu."

"Lekas ke sinikan suratnya!"

Setelah memberikan surat itu, pelayan dan Thio Kim lalu pergi, sesuai dengan rencana mereka.

Pangeran itu membuka surat dan membaca beberapa baris tulisan yang seperti cakar ayam, dan wajahnya berobah.

"Bagaimana, Pangeran Ciong? Apakah dia akan datang?"

Tanya Bun Sam tak sabar melihat perobahan muka itu. Ciong Pak Sui menggeleng gelengkan kepala.

"Ah, celaka.... Mari, bacalah sendiri suratnya, taihiap"

Ia memberikan surat itu kepada Bun Sam yang segera mebacanya.

"LAM HAI LO MO MELIHAT THIAN TE KIAM ONG, MENANTANG DIA DATANG KE PULAU SAM LIONG TO. KALAU DIA BUKAN SEORANG PENGECUT DIA AKAN DATANG SENDIRI TIDAK BERKAWAN."

LAM HAI LO MO Merah wajah Bun Sam dan sepasang matanya mengeluarkan sinar marah.

"Iblis tua, kaukira aku takut padamu?"

Katanya perlahan.

"Taihiap, untuk apa melayani kehendak supek yang sudah tua dan suka berlaku seperti anak kecil? Harap kau bersabar dan jangan menurutkan nafsu hati."

Pangeran Ciong pura pura menghibur dan mencegah kemarahan Bun Sam.

"Aku harus pergi ke sana sekarang juga. Perkenankan aku bicara sebentar dengan anak isteriku."

Ciong Pak Sui lalu mengiringkan Pun Sam menuju ke dalam dan Sian Hwa dipanggil bersama Siauw Yang,.

Pun Hui dari tempat duduknya memandang dengan penuh perhatian dan gelisah, tidak tahu apa yang telah terjadi.

Bun Sam memberikan surat kepada Sian Hwa dan Siauw Yang.

"Ayah, mari kita menyerbunya ke sana!"

Seru Siauw Yang dengan marah sekali.

"Tidak, Siauw Yang Aku harus pergi sendiri, tidak sudi aku disangka pengecut!"

"Akan tetapi, orang tua itu penuh akal busuk. Bagaimana kalau dia menjebakmu?"

Kata Sian Hwa dengan hati hati. Bun Sam tersenyum.

"Percayakah kau bahwa iblis tua itu akan mampu menjebak aku? Tenanglah dan kau bersama Siauw Yang dan Pun Hui duduklah saja di sini menghormati pernikahan Pangeran Ciong. Aku takkan pergi lama asal saja aku bisa mendapatkan perahu yang baik."

"Jangan khawatir, taihiap. Tentang perahu biar Thio Kim yang menyediakan. Sebetulnya kalau bisa, aku sendiri mengharap agar jangan taihiap melakukan keributan di sana, akan tetapi aku sebagai orang luar tentu saja tidak berhak mencampuri urusan ini. Percayalah, isteri dan puterimu serta muridmu akan aman di sini dan akan dilayani baik baik sebagaimana mestinya."

Ciong Pak Sui lalu memanggil Thio Kim dan kepada orang kepercayaannya ini ia berpesan agar menyediakan segala keperluan Thian te Kiam ong untuk menyeberang ke Pulau Sam liong to.

Setelah berpamitan kepada anak isterinya, Bun Sam lalu keluar diantar oleh Thio Kim.

Sian Hwa memandang dengan penuh kecemasan, sedangkan Siauw Yang memandang dengan penuh kekecewaan karena tidak boleh ikut.

Ketika mereka kembali ke tempat duduk mereka, telah terjadi hal yang cukup menarik.

Pun Hui yang kini duduk seorang diri di antara semua tamu laki laki, tiba tiba melihat seorang gadis baju merah memasuki ruang tamu dan langsung duduk di antara para tamu wanita.

Berobah wajah Pun Hui melihat gadis ini, karena dia mengenal gadis itu bukan lain adalah Ong Siang Cu, murid Lam hai Lo mo!

Akan tetapi di dalam tempat itu, ia harus berbuat apakah?

Ia ingin memberi ingat kepada Siauw Yang, akan tetapi tidak pantas sekali kalau ia seorang tamu laki laki pergi menjumpai seorang tamu wanita di kelompok wanita itu!

Maka ia hanya duduk dengan hati berdebar dan ia memperhatikan Siang Cu yang duduk hampir tidak kelihatan di antara tamu tamu wanita.

Mari kita ikuti perjalanan Song Bun Sam, pendekar perkasa yang gagah berani itu.

Benar saja, Thio Kim dapat mempersiapkan sebuah perahu yang amat baik, yang telah ada di pinggir laut.

Bun Sam lalu mendayung perahunya ia telah tahu dari Siauw Yang arah dari pulau pulau Chousan itu dan tahu di mana adanya Pulau Sam liong to.

Cuaca bersih sekali dan ombak tidak ada.

Laut tenang seperti air telaga.

Bun Sam mendayung perahunya cepat cepat dan tidak menghiraukan cahaya matahari yang mulai naik tinggi.

Hatinya penuh gairah, ingin sekali ia lekas lekas bertemu muka dengan musuh besarnya.

Selain hendak membinasakan manusia berbahaya itu, juga ia hendak memaksanya mengaku tentang pembunuhan yang dilakukan oleh kakek itu kepada Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee, menculik puteri mereka.

Apakah puteri itu yang kini menjadi muridnya seperti yang diceriakan oleh Pun Hui?

Dengan pukulan dayung yang luar biasa kuatnya, sebentar saja Bun Sam telah melewati "barisan batu karang"

Yang amat berbahaya.

Namun bagi Bun Sam, halangan ini dianggapnya remeh belaka.

Setiap kali perahunya hendak membentur bukit karang, dengan dayungnya ia dapat menolak karang itu dan membuat perahunya meluncur terus, berlenggak lenggok melalui batu batu karang yang berbahaya itu.

Kemudian serombongan ikan hiu menyerangnya.

Namun dengan tenang sekali Bun Sam mencabut pedang dan sekali tubuhnya menyambar, empat ekor ikan hiu putus kepalanya dan tubuh mereka mengambang di permukaan laut menjadi keroyokan kawan kawannya!

Bun Sam mendayung terus, kini terlihat olehnya deretan pulau pulau kecil.

Dengan hati mantap ia mendayung perahunya ke kanan, menurut petunjuk dan Siauw Yang karena puterinya itu sudah berpengalaman di atas laut kepulauan ini.

Pulau ke tujuh di sebelah kiri Pulau Kura kura, pikir Bun Sam.

Setelah melihat adanya sebuah pulau berbentuk Kura kura, ia lalu membelok ke kiri, menuju pulau ke tujuh di sebelah kiri pulau itu.

Setelah perahunya tiba di dekat Pulau Sam liong to, tiba tiba Bun Sam melihat dua benda mengambang di permukaan laut.

Tertimpa sinar matahari, dua benda itu terlihat seperti dua ekor ikan kehitaman dan ketika ia mendayung perahunya mendekat, tenyata bahwa dua benda itu adalah dua.....

mayat manusia!

Ia terkejut sekali dan cepat mendekatkan perahunya.

Setelah perahunya menyentuh dua mayat itu, hampir baja Bun Sam menjerit.

Mayat mayat itu bukan lain adalan jenazah jenazah dan Mo bin Sin kun dan Yap Than Giok!

"Suthai !

Thian Giok....

Bagaimana kalian sampai menjadi seperti ini....?"

Dengan air mata bercucuran Bun Sam mengangkat dua jenazah yang sudah hampir rusak semua pakaiannya itu ke dalam perahunya secepat mungkin ke pulau itu.

Setelah menyeret perahunya ke atas pulau, Bun Sam lalu memondong dua jenazah itu ke tengah pulau, tanpa memperdulikan sekelilingnya, ia tidak takut akan serangan gelap, karena seluruh perhatiannya dicurahkan kepada dua jenazah itu.

Satelah mencari tempat yang baik, ia lalu menggali tanah untuk mengubur jenazah jenazah itu.

Bun Sam bekerja keras, tidak memperdulikan banyak pasang mata yang mengintainya dan balik balik batu karang dan pohon.

Bukan dia tidak tahu bahwa ada orang lain yang mengintai, namun ia hendak menyelesaikan pekerjaan ini lebih dahulu.

Dadanya terasa panas membakar, karena ia dapat menduga siapakah yang telah membunuh dua orang yang ia sayang ini.

"Lam hai Lo mo, tunggulah saja kau...."

Berkali kali bibirnja bergerak gerak mengancam.

Bun Sam merasa heran ketika hendak mengubur kedua jenazah itu, ia melihat tanda tapak tiga jari merah di atas jidat mereka.

Tanda apakah itu?

Namun dengan hati ngeri ia dapat mengerti bahwa tanda itu ditimbulkan oleh pukulan tiga jari tangan yang mempergunakan tenaga lweekang mujijad dan warna merah itu akibat dari semacam racun jahat yang dipergunakan pada jari jari yang memukulnya!

"Jahanam benar, siapa lagi kalau bukan Lam hai Lo mo yang dapat mempergunakan ilmu sejahat ini?"

Katanya di dalam hati, kemudian dengan penuh hormat ia mengubur dua jenazah itu ke dalam dua lubang yang dibuatnya.

Baru saja ia selesai menimbuni lobang lobang itu dengan tanah, terdengar suara ketawa seperti ringkik kuda, akan tetapi Bun Sam tetap tidak gentar dan melanjutkan menimbuni tanah kuburan itu dengan tenang.

Tiba tiba berlompatan beberapa orang dari balik batu karang dan pohon pohon, dan mereka ini dengan sikap mengancam lalu mengurung Bun Sam yang masih berlutut di depan kuburan Mo bin Sin kun sebagai penghormatan terakhir.

"Ha, ha, ha, Song Bun Sam. Jangan menghentikan pekerjaanmu, kau masih harus menggali dua lobang lagi. Ha, ha, hi, hi, hi,!"

Terdengar seorang di antara mereka ketawa besar.

Ia ini adalah Lam hai Lo mo si kakek buntung yang pada saat itu wajahnya lebih menyeramkan lagi daripada biasanya sehingga kawan kawannya sendiri menjadi ngeri melihatnya.

Dengan tenang dan perlahan Song Bun Sam bangkit dan berlutut.

Sepasang matanya melirik ke kanan kiri seperti seekor harimau terkurung.

Sepasang mata yang tajam ini sekarang seakan akan mengeluarkan cahaya berani sehingga setiap orang yang dipandangnya menjadi bergidik.

Bun Sam memutar tubuhnya lambat lambat dari kiri ke kanan sambil menatap wajah orang orang yang mengurungnya seorang demi seorang, ia pertama tama melihat wajah Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat, dan wajah pendekar besar ini bersinar girang dan juga gemas, girang karena tak disangkanya ia menemukan dua orang yang telah menghina puterinya, dan gemas karena ternyata bahwa Tung hai Sian jin dan puteranya telah bersekutu dengan Lam hai Lo mo pula.

Kemudian ia melihat seorang musuh besar lain, yakni Sam thouw hud didampingi oleh seorang hwesio lain yang belum dikenalnya.

Hwesio itu sesungguhnya adalah Ang tung hud, yang memegang tongkatnya yang lihai, Sam thouw hud telah pula bersiap dengan sepasang senjatanya, yakni Kim liong pang dan kebutan, sedangkan Tung hai Sian jin juga sudah memegang tongkat kepala naganya, Eng Kiat biarpun merasa gemar melihat Thian te Kiam ong, namun pemuda ini sudah mencabut pedangnya.

Pandangan mata Bun Sam terus memutar ke kanan dan ia melihat lima orang tua.

Ia tidak tahu bahwa lima orang tua ini bukan lain adalah See San Ngo sian, lima orang dewa dari Tibet yang semua mengenakan jubah hijau.

Paling akhir pandangan matanya bertemu dengan Lam hai Lo mo sendiri diam diam Bun Sam bergidik.

Tak disangkanya bahwa Lam hai Lo mo masih hidup dan kini melihat musuh besar yang seakan akan bangkit kembali dan kubur itu, ia merasa ngeri juga.

Wajah kakek ini sudah rusak dan sebelah kakinya buntung, namun kakek itu masih menyeringai menyeramkan dan wajahnya membayangkan kekejaman yang lebih hebat dari pada dahulu.

Akan tetapi yang membuat wajah Bun Sam seketika menjadi pucat sekali adalah ketika ia melihat seorang pemuda terbelenggu dan dipegang lengannya oleh kakek buntung ini, karena pemuda itu bukan lain adalah puteranya sendiri, Song Tek Hong!

Biarpun keadaannya tidak berdaya sama sekali namun pemuda ini masih kelihatan bersemangat dan tidak gentar sedikit pun juga.

"Tek Hong....!"

Bun Sam berseru, kemudian ia memandang kepada kakek buntung itu dengan mata bernyala.

"Ha, ha, heh, heh, heh! Bukankah tadi kukatakan bahwa kau harus menggali dua lubang lagi? Untuk puteramu dan untukmu sendiri, karena kau dan dia pasti akan mampus di sini kalau kalian tidak mau menurut kepada perintahku!"

Mendengar ucapan ini, Bun Sam yang berotak cerdik maklum bahwa puteranya itu hendak dijadikan "alat pemerasan"

Oleh Lam hai Lo mo.

Ia merasa heran bagaimana puteranya tiba tiba telah terjatuh ke dalam tangan mereka ini, bukankah menurut Pun Hui, puteranya ini telah pergi meninggalkan Pulau Sam liong to?

Tentu pembaca juga merasa heran mengapa Tek Hong telah terlawan oleh Lam hai Lo mo dan untuk mengetahui akan hal ini, baiklah kita mengikuti pengalamaanya.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Tek Hong merasa hancur hatinya oleh pengakuan gadis yang amat menarik hatinya, yaitu Siang Cu, bahwa gadis itu murid terkasih Lam hai Lo mo dan bahwa guru dan murid itulah yang membakar rumah orang tuanya di Tit le!

Penuh kebencian timbul dalam hati Tek Hong terhadap Lam hai Lo mo.

Pembakaran rumah masih tidak amat menyakitkan hati karena seperti juga ayah bundanya pemuda ini tidak begitu terikat oleh harta dunia, dan musnahnya rumah berikut barang barangnya tidak begitu disusahkannya.

Akan tetapi perbuatan kejam dan Lam hai hai Lo mo yang telah membunuh para pelayannya membuatnya marah sekali.

Dan terutama sekali kalau ia mengingat akan keadaan Siang Cu, nona yang dikasihinya dan yang telah terperosok ke dalam lumpur kejahatan karena suhunya yang seperti iblis itu, benar benar membuat hati Tek Hong diliputi penuh kebencian dan dendam.

"Lam hai Lo mo iblis tua, untuk perbuatanmu terhadap Siang Cu, aku harus membalas dan mengadu nyawa dengan kau!"

Berkali kali Tek Hong berkata seorang diri dengan penuh kegemasan ketika ia telah siuman kembali dan pingsannya setelah ditinggal pergi oleh Siang Cu seperti yang telah dituturkan di bagian depan.

Tek Hong sudah tahu bahwa tempat tinggal Lam hai Lo mo bersama muridnya adalah di atas Pulau Sam liong to dan pada waktu ia tiba di pulau itu, kakek itu sedang keluar dari kepulauan itu, demikian pula Siang Cu.

Sesudah kakek itu telah membakar rumah orang tuanya, dan telah berpisah dari Siang Cu, kemana lagi perginya kakek itu kalau tidak kembali ke pulaunya?

Perbuatan kakek itu membakar rumah orang tuanya sedikitnya menunjukkan bahwa kakek itu masih gentar menghadapi ayahnya.

Kakek itu membakar rumah, membunuh pelayan pelayan sewaktu orang tuanya tidak ada di rumah.

Setelah melakukan perbuatan pengecut itu, tentu kakek itu lebih gentar lagi akan pembalasan ayahnya dan tempat sembunyi terbaik agaknya hanyalah di Pulau Sam liong to.

Oleh karena berpikir demikian, Tek Hong lalu cepat menuju ke Sam liong to.

Pertama tama, karena adiknya belum dapat ditemukan dan mungkin sekali masih berada di sekitar Kepulauan Couwsan.

Kedua kalinya, ia hendak mencari Lam hai Lo mo, untuk mengadu nyawa dengan kakek itu karena hatinya sakit bukan main kalau teringat akan keadaan Siang Cu, gadis yang amat dicintanya.

Dalam kemarahannya yang sebagian besar timbul dari kepatahan hati karena sikap Siang Cu yang biarpun telah mengaku mencintanya namun tetap hendak memusuhi keluarga Song.

Tek Hong menjadi nekad dan kurang hati hati.

Ia seharusnya maklum bahwa ilmu kepandaian Lam hai Lo mo terlalu kuat baginya.

Namun ia tidak gentar menghadapi iblis tua itu dan tanpa berpikir panjang lagi ia lalu mendayung perahu dan menuju ke Pulau Sam liong to.

Akan tetapi apa yang menantinya di pulau itu?

Bukan lain adalah perkumpulan Sam hiat ci pai, lengkap dengan semua anggauta pengurusnya.

Begitu ia mendaratkan perahunya di pulau itu, ia menghadapi Lam hai Lo mo yang dikawani oleh Tung hai Sian Jin, Bong Eng Kiat, Sam thouw hud, Ang tung hud, dan See san Ngo Sian.

"Lam hai Lo mo, iblis tua penghuni neraka jahanam! Aku datang untuk mengambil kepalamu!"

Tek Hong membentak tanpa memperdulikan yang lain ketika ia melihat seorang kakek berwajah buruk dengan kaki hanya sebelah.

Lam hai Lo mo belum pernah bertemu dengan Tek Hong, maka ia lebih merasa terheran heran daripada marah.

"Eh, eh, orang muda yang sombong, kau siapakah?"

Tanyanya sambil memandang dengan bibir tersenyum menyeringai dan mata membayangkan pandangan rendah. Akan tetapi Tung hai Sian jin sudah tertawa bergelak lalu menjawab pertanyaan Lam hai Lo mo ini.

"Putera Thian te Kiam ong sudah datang menyerahkan nyawa, kau masih tanya lagi dia siapa? Inilah Song Tek Hong, putera dari Song Bun Sam."

Lam hai Lo mo tertegun mendengar ini.

Diam diam ia merasa kagum sekali terhadap keberanian pemuda putera musuh besarnya, akan tetapi berbareng juga heran mengapa putera musuh benarnya begini bodoh dan sembrono, masih begitu muda, akan tetapi berani mati mendatangi Pula Sam liong to!

Timbul keinginan tahunya, maka sambil masih tersenyum senyum kakek ini bertanya.

"Song Tek Hong, kau datang datang menyatakan hendak mengambil kepalaku yang tua ini dengan alasan apakah?"

"Tua bangka siluman! Pertama tama kau telah membakar rumah orang tuaku secara pengecut dan membunuh pelayan pelayan kami. Kedua kalinya karena kau telah menyeret Siang Cu ke dalam lumpur kejahatan. Dosamu ke dua ini tak boleh diampuni lagi!"

Sambil berkata demikian Tek Hong mencabut pedangnya dan cepat melakukan tusukan maut.

Lam hai Lo mo demikian heran sehingga ia tidak menangkis, hanya cepat mengelak.

Lompatannya dengan satu kaki itu diam diam membuat Tek Hong kagum, karena kegesitan kakek ini tidak kalah oleh orang yang berkaki dua.

"Nanti dulu! Kau menyebut nyebut nama muridku, ada hubungan apakah antara kau dan dia??"

Merah wajah Tek Hong, akan tetapi memang dasar ia seorang pemuda jujur dan tabah, tanpa ragu ragu ia menjawab.

"Aku cinta kepadanya dan ia suka padaku, akan tetapi kau siluman tua menjadi penghalang dan perusak kebahagiaan kami. Kau telah menyeret namanya ke dalam lumpur kejahatan dan memaksa dia tanpa sebab memusuhi keluargaku!"

Kembali Tek Hong menyerang dengan pedangnya.

"Anak musuh bssar datang, bunuh dia habis perkara!"

Tiba tiba Tung hai Sian jin berseru marah melihat pemuda yang nekad itu. Ia telah memutar senjatanya hendak menyerang Tek Hong, akan tetapi Lam hai Lo mo mencegahnya sambil berseru.

"Jangan turun tangan, biar aku mencoba kepandaiannya!"

Kakek buntung ini lalu menggerakkan tongkat bambunya menangkis pedang di tangan Tek Hong.

Lam hai Lo mo mempuayai maksud tertentu dalam pencegahannya kepada kawan kawannya tadi.

Ia hendak mengukur sampai di mana kelihaian Ilmu Pedang Tee coan Liok kiam sut dan dari pemuda ini hendak mengukur kehebatan ilmu pedang Thian te Kiam ong.

Di samping itu masih mempunyai pikiran lain karena memang otak dari kakek ini amat lihai dan licin.

Adapun Tek Hong yang sudah marah dan nekad, terus mendesak kakek buntung itu dengan penuh nafsu.

Ia tidak memperdulikan keselamatan diri sendiri asal dapat membunuh kakek ini ia akan merasa puas.

Tek Hong bukan tidak tahu bahwa keadaannya amat berbahaya Kehadiran Tung hai Sian jin, Sam thouw hud dan Ang tung hud di situ, tiga tokoh yang sudah ia rasai kelihaian mereka, berarti bahwa ia telah memasuki gua harimau dan sarang naga.

Namun nafsunya untuk mengadu nyawa dengan Lam hai Lo mo mengalahkan segala kekhawatiran dan ia menyerang tanpa gentar sedikitpun juga.

Jilid XXVIII TEE COAN LIOK KIAM SUT atau Enam Ilmu Padang Lingkaran Bumi adalah ilmu pedang ciptaan mendiang Bu tek Kiam ong (Raja Pedang Tiada Bandingnya) guru Song Bun Sam.

Ilmu pedang ini ada enam bagian dan setiap bagian terdiri dari tujuh belas jurus sehingga seluruhnya ada seratus dua jurus.

Akan tetapi setiap jurus dapat dipecah pecah lagi dan banyak variasinya yang dapat dipergunakan untuk mengimbangi lawan yang bagaimana lihaipun juga.

Biarpun semenjak kecil Tek Hong dan Siauw Yang telah mendapat gemblengan dari ayah mereka, namun mereka tetap saja tidak dapat menguasai seluruh ilmu pedang yang luar biasa ini.

Dibandingkan dengan Siauw Yang, Tek Hong bahkan masih kalah banyak variasinya, dan kalah lincah sungguhpun dalam hal mempergunakan tenaga lweekang dalam ilmu pedang ini, Tek Hong masih menang dari Siauw Yang.

Kini pemuda itu sedang marah dan dengan penuh semangat dan nafsu ia menyerang Lam hai Lo mo.

Sebaliknya kakek buntung ini memang hendak mengukur sampai di mana kehebatan ilmu pedang keluarga musuh besarnya, maka ia sengaja mundur sambil menangkis atau mengelak.

Akan tetapi, sebentar saja ia menjadi terkejut sesali karena ia telah terkurung oleh sinar pedang lawannya dan terdesak hebat sekali!

"Lihai benar....!"

Serunya dan kini kakek buntung ini tidak berani main main lagi.

Ia cepat mengerahkan tenaga dan membalas dengan serangan serangan dari tongkat bambunya yang amat ganas.

Memang tidak mengherankan apabila Lam hai Lo mo dapat mengimbangi ilmu pedang yang dimainkan oleh Tek Hong, karena selain kakek ini banyak menang dalam hal pengalaman, juga Lam hai Lo mo memang seorang ahli silat yang termasuk kawakan dan menduduki tingkat nomor satu.

Kepandaiannya boleh disejajarkan dengan kepandaian mendiang Kim Kong Taisu, Mo bin Sin kun, Pat jiu Giam ong, Tung hai Sian jin dan tokoh tokoh besar lain.

Bahkan kepandaiannya boleh dibilang paling ganas dan berbahaya.

Apalagi semenjak ia kalah oleh Bun Sam, kakek yang sudah buntung itu melatih diri sehingga ia makin lihai saja apalagi dalam hal tenaga lweekang.

Tek Hong tidak merasa heran melihat perobahan ilmu tongkat dan lawannya, ia sudah menduga sebelumnya bahwa Lam hai Lo mo merupakan lawan yang amat tangguh, bahkan iapun sudah mengira bahwa belum tentu ia akan dapat menangkan kakek ini.

Namun, pemuda ini seakan akan sudah membuta dalam sakit hatinya teringat akan keadaan Siang Cu, ia tidak menakuti apapun juga.

Semangat dan keberanian Tek Hong membuat ilmu pedangnya menjadi jauh lebih kuat daripada biasanya Sinar pedangnya bergulung gulung dan biarpun ia belum dapat memainkan pedang selihai ayahnya, namun pedangnya telah merupakan enam lingkaran yang menyambar dari segala jurusan dan membuat Lam hai Lo mo tiada habisnya memuji, ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk dapat mengimbangi permainan pedang lawannya yang amat muda ini dan pertempuran itu berjalan hebat sekali.

Berpuluh jurus lewat dan kedua orang jago muda dan tua itu saling desak dan saling serang dengan hebatnya.

Kalau Lam hai Lo mo mengagumi ilmu pedang lawannya yang benar benar amat luar biasa, adalah di lain fihak Tek Hong diam diam harus mengakui bahwa kakek buntung itu merupakan lawan yang paling tangguh yang pernah dihadapinya.

Tongkat di tangan kakek itu biarpun hanya terbuat dari bambu, namun sotelah dimainkan seakan akan berobah menjadi benteng baja yang sukar sekali ditembusi oleh pedangnya.

"Hebat....! Lihai sekali ilmu pedang ini....!"

Berkali kali Lam hai Lo mo memuji.

Tung hai Sian jin dan yang lain lain melihat pertempuran itu, menjadi tidak sabar.

Apalagi Tung hai Sian jn yang sudah tahu benar akan kelihaian Lam hai Lo mo menjadi heran dan penasaran, ia dapat melihat bahwa kalau kakek buntung itu mau mengeluarkan ilmu ilmunya yang paling lihai, pemuda ini biarpun tangguh, tentu akan dapat dirobohkan.

Akan tetapi mengapa agaknya kakek buntung itu ragu ragu untuk membunuh lawannya?

Ia cukup tahu akan tingkat kepandaian Tek Hong, karena ia pernah melawan pemuda ini.

Maka iapun dapat memastikan bahwa Lam hai Lo mo pasti akan dapat mengalahkan Tek Hong kalau saja kakek buntung itu menghendaki.

Akan tetapi mengapa kakek itu mengulur ulurkan pertempuran dan tidak segera menjatuhkan tangan maut?

Tiba tiba Tung hai Sian jin teringat mengapa kakek buntung ini tidak mau menggunakan ilmu pukulan Sam hiat ci hoat?

Berpikir sampai di sini, Tung hai Sian jin tiba tiba ingin sekali mencoba ilmu pukulan yang baru ia pelajari ini.

Ia segera menggerakkan tongkat kepala naganya, menyerampang kedua kaki Tek Hong sambil bertera keras.

"Membunuh monyet muda ini, apa sih sukarnya?"

Tek Hong cepat melompat ke atas. Keadaannya sudah terdesak oleh Lam hai Lo mo kini kalau Tung hai Sian jin turun tangan, benar benar amat berbahaya. Namun ia tidak gentar bahkan memaki keras.

"Siluman tua yang curang! Majulah kalian semua, aku Song Tek Hong tidak takut!"

Akan tetapi, kata katanya ini disambut oleh pukulan hebat dari Tung hai Sian jin yang telah mempergunakan ilmu pukulan Sam hiat ci hoat yang luar biasa. Tek Hong terkejut dan Lam hai Lo mo berteriak.

"Jangan bunuh dia!"

Namun terlambat kesemuanya itu, karena biarpun Tek Hong mencoba untuk mengelak, kedudukannya sudah terjepit oleh desakan Lam hai Lo mo.

Tiga buah jari tangan Tung hai Sian jin menyerempet jidatnya dan pemuda itu roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.

Pedangnya terlempar dan ia pingsan.

Ketika Tung hai Sian jin melihat pemuda itu belum binasa, ia melangkah maju dan hendak mengirim pukulan Sam hiat ci hoat untuk menamatkan riwayat pemuda itu.

Akan tetapi Lam hai Lo mo juga melompat maju dan mencegahnya.

"Tung hai Sian jin, jangan bunuh dia!"

Tung hai Sian jin membatalkan niatnya dan ia memandang kepada Lam hai Lo mo sambil menuding ke arah tubuh pemuda itu lalu bertanya.

"Lam hai Lo mo, kalau tidak dibunuh dia ini habis mau diapakankah?"

Lam hai Lo mo tersenyum. Tentu saja tidak ada sedikitpun rasa kasihan dalam hatinya terhadap Tek Hong. Akan tetapi sejak tadipun ia telah mendapatkan pikiran yang amat baik.

"Sabar, saudaraku yang baik. Kebencianku terhadap keluarga Song jauh melebihi sakit hatimu kepada mereka. Akulah orangnya yang akan merasa senang sekali menyisikan kehancuran mereka. Akan tetapi bukankah ada ujar ujar kuno yang menyatakan bahwa seorang yang cerdik dan bijaksana tidak akan hanyut oleh perasaan kebencian dan nafsu? Aku bukan seorang cerdik, akan tetapi aku bercita cita dan hendak kupergunakan dia ini untuk menarik keuntungan sebesarnya."

"Apa maksudmu?"

Pertanyaan ini tidak saja diajukan oleh Tung hai Sian jin, bahkan yang lain lain juga mendekati kakek buntung itu dan ingin tahu apakah rencana Lam hai Lo mo selanjutnya.

"Nanti dulu,"

Jawab Lam hai Lo mo.

"sebelum aku bercerita, lebih baik dia ini dihindarkan lebih dulu dan ancaman maut."

Baiknya pukulan Tung hai Sian jin dalam penggunaan Ilmu Sam hiat ci hoat belum sehebat Lam hai Lo mo dan tadi pukulannya agak meleset sehingga nyawa Tek Hong masih dapat tertolong.

Lam hai Lo mo memasukkan obat penawar ke dalam mulut Tek Hong, kemudian ia mengurut urut jidat yang ada tanda tiga jari merah itu sehingga lambat laun tanda itu lenyap.

Nyawa Tek Hong tertolong.

Akan tetapi Lam hai Lo mo segera menotoknya dan membelenggu kedua tangannya di belakang tubuh.

"Nah, sekarang dengarlah kalian. Kita bersama sudah menyaksikan betapa hebat ilmu pedang dari pemuda ini. Dia yang masih begini muda sudah dapat mengimbangi kepandaian kita dengan ilmu pedangnya. Apalagi kalau ilmu pedang itu dimainkan oleh Thian te Kiam ong ayahnya...."

"Aku tidak takut,"

Seru Tung hai Sian jin marah.

Lam hai Lo mo tersenyum menyeringai "Aku pun tidak takut.

Apa yang perlu kita takuti?

Setelah adanya Sam hiat ci pai, kita tidak mengenal takut.

Akan tetapi cita cita kita bersama adalah cita cita besar yang membutuhkan tenaga bantuan sekuat kuatnya.

Kita boleh pancing datang Song Bun Sam dan dengan puteranya di tangan kita, dia bisa berbuat apakah?

Apalagi, menurut pengakuan pemuda ini yang kupercaya kejujurannya, antara dia dan muridku ada pertalian kasih sayang, inipun merupakan ikatan yang baik sekali...."

Terdengar Eng Kiat menggumam marah. Tung hai Sian jin maklum akan kehendak puteranya maka ia berkata.

"Lam hai Lo mo, antara muridmu dan puteraku sudah ada pertalian jodoh....!"

Lam hai Lo mo kembali tersenyum.

"Bukankah dia lebih suka kepada puteri Thian te Kiam ong? Kalau pemuda ini sudah berada di tangan kita, apa salahnya memaksa Thian te Kiam ong menyerahkan puterinya kepada pureramu itu?"

Berseri wajah Eng Kiat mendengar ucapan ini.

"Ayah, kata kata Lam hai locianpwe betul juga."

Demikianlah, mereka telah bersepakat untuk mempergunakan Tek Hong sebagai umpan dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Song Bun Sam telah mendarat di Pulau Sam liong to dan setelah menguburkan jenazah Mo bin Sin Kun dan Yap Thian Giok, pendekar besar ini mendamaikan dirinya terkurung oleh barisan Sam hiat ci pai yang membawa Tek Hong sebagai tawanan!

"Song Bun Sam, apakah kau tuli dan tiba tiba menjadi gagu?

Kau telah terkurung oleh Sam hiat ci pai dan kau tentu akan mati, akan tetapi terlebih dahulu puteramu ini yang akan kubikin mampus kalau kau tidak mau menurut perintahku.

Pilihlah, mau mati bersama puteramu atau hidup dan menuruti perintahku?"

Demikian Lam hai Lo mo mengulangi kata katanya ketika Bun Sam seperti tidak melayaninya dan pendekar ini hanya memandang kepada puteranya yang ia tahu berada di bawah pengaruh totokan dan dibelenggu sehingga tak berdaya sama sekali.

Otaknya sedang diputar mencari jalan untuk menolong puteranya itu.

"Lam hai Lo mo, ternyata bahwa iblis iblis jahat telah menyelamatkan nyawamu. Setelah dengan keji kau membunuh guruku Mo bin Sin kun dan saudaraku Yap Thian Giok, kau masih ada kehendak keji yang mana lagi yang hendak kau sampaikan padaku?"

Suara Thian te Kiam ong terdengar tenang dan biasa saja, sama sekali tidak terlihat bahwa ia sedang marah besar.

Hal ini menunjukkan bahwa Bun Sam telah dapat mengatur perasaan dan dapat menguasai nafsunya sendiri.

Lam hai Lo mo tertawa bergelak.

"Kau mau mendengarkan kata kataku? Baik, baik, bagus! Itu tandanya bahwa kau masih belum ingin mati dan masih mau melihat puteramu hidup! Kau menuduh aku keji. padahal sebaliknya aku bermaksud baik sekali padamu, Thian te Kiam ong. Dengarlah, diantara putramu ini dan murid perempuanku terdapat jalinan cinta kasih suci murni, karena itu kau harus mengijinkan puteramu ini menjadi suami muridku, Ong Siang Cu Bagaimana keputusanmu? Kalau kau menolak, berarti kau dan puteramu harus mati di sini."

"Teruskanlah, Lam hai Lo mo. Masih ada lagikah syarat syaratmu untuk membebaskan aku dan puteraku?"

Tanya Bun Sam dengan senyum di wajahnya yang masih tampan dan gagah, akan tetapi senyum itu tidak menyedapkan hati Lam hai Lo mo karena baginya seperti senyum seorang dewasa mendengarkan obrolan seorang anak kecil.

"Jangan kau memandang ringan, Thian te Kiam ong. Aku bicara sungguh sungguh. Bukan hanya itu syaratnya, ada lagi. Yang ke dua, kau harus mengijinkan puterimu menikah dengan Bong Eng Kiat, putera dari Tung hai Sian jin. Bukankah itu baik sekali? Anak anakmu menjadi jodoh murid dan putera orang segolongan, bukan orang sembarangan. Baik muridku maupun putera Tung hai Sian jin cukup pantas menjadi mantu mantumu."

Bukan main mendongkolnya hati Bun Sam, ia tadinya bermaksud memberi hajaran kepada Tung hai Sian jin dan puteranya atas penghinaan mereka terhadap Siauw Yang dan kini hendak dipaksa memberikan Siauw Yang kepada putera Tung hai Sian jin!

"Hanya itukah?

Atau masih ada lagi?"

Tanyanya menahan kemendongkolan hati.

"Kaulihat sendiri, sebagai musuh besarmu, seorang yang telah kausiksa dan kaubikin sengsara sehingga keadaanku menjadi begini macam, aku masih berlaku amat murah hati kepadamu! Dua syarat syaratku tadi cukup pantas, dan syarat ke tiga juga demi kebaikan kita bersama. Setelah kau menerima syarat perjodohan kedua anak anakmu, sudah sewajarnya kita sebagai besan besan bekerja sama dan bersatu padu dalam mewujukan cita cita yang tinggi. Kau harus menjadi anggauta dari Sam hiat ci pai dan membantu perjuangan kami."

Kembali Bun Sam merasa hawa panas naik ke dadanya, akan tetapi dengan kuatnya ia dapat menekan kembali hawa itu memasuki pusarnya.

Tiba tiba Tek Hong yang semenjak tadi mendengarkan percakapan itu, berkata keras.

"Ayah! Jangan mendengarkan dan percaya kepada mereka! Siauw Yang telah ditawan oleh Tung hai Sian jin dan perkumpulan mereka jahat sekali."

Akan tetapi dengan penuh ketenangan Bun Sam tidak memperduliksn seruan puteranya, bahkan bertanya kepada Lam hai Lo mo.

"Jadi, kau menghendaki aku membantu perjuangan Sam hiat ci pai? Akan tetapi apakah cita cita perjuangan perkumpulan aneh itu?"

Lam hai Lo mo tertawa puas. Ia mengira bahwa pendekar pedang ini tentu masih sayang akan nyawa sendiri dan nyawa puteranya, maka bertanya demikian penuh perhatian.

"Song Bun Sam, kau sendiri tahu bahwa Kaisar Gian tiauw adalah seorang asing. Oleh karena itu, aku yang bercita cita tinggi lalu membentuk perkumpulan ini untuk membantu Pangeran Ciong. Tidak berat tugasmu, hanya bersumpah sebagai anggauta Sam hiat ci pai dan berjanji setia dan taat kepadaku!"

"Sudah cukup, kau tentu mau menerimanya, bukan?"

Tanya Lam hai Lo mo sambil memandang tajam segala gerak gerik dan sikap Bun Sam.

"Syarat pertama tentang perjodohan puteraku dan muridmu, belum dapat kujawab sekarang karena aku belum pernah bertemu dengan muridmu itu. Kalau kelak ternyata bahwa antara mereka memang ada pertalian cinta kasih seperti yang kau katakan dan aku melihat bahwa muridmu itu cukup baik. tentu akupun tidak keberatan. Akan tetapi syarat kedua tentang perjodohan puteriku dengan putera Tung hai Sian jin, dengan jelas kutolak! Mereka telah berani mengganggu puteriku yang baiknya dapat membebaskan diri, dan untuk hal itu saja mereka harus dihukum. Bagaimana aku sudi menerima puteranya menjadi menantuku? Demikian pula syarat ke tiga, aku tidak sudi menjadi anggauta perkumpulanmu dan tidak mau pula membantu apa yang kausebut cita cita Pangeran Ciong!"

Bun Sam bicara dengan tegas akan tetapi di dalam hatinya ia merasa khawatir sekali.

Kecurigaan dan ketidakpercayaannya kepada Pangeran Ciong ternyata terbukti.

Tidak saja pangeran itu bersekongkol dengai Lam hai Lo mo, bahkan agaknya pangeran itu yang menjadi kepala!

Ia tahu bahwa putera dan puterinya yang berada di tempat pangeran itu tentu tidak aman sebagaimana yang mereka kira.

Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin marah sekali mendengar penolakan penolakan itu, terutama sekali Tung hai Sian jin yang terang terangan dihina oleh Bun Sam.

"Song Bun Sam, kau tidak melihat bahwa puteramu telah berada di tanganku dan nyawanya sewaktu waktu dapat kucabut? Apakah kau tidak melihat bahwa kau telah terkurung oleh dewan pengurus Sam hiat ci pai? Apakah kau tidak ingat bahwa sekalipun gurumu Mo bin Sin kun sendiri, karena hendak membikin kacau di sini telah menemui maut bersama muridnya? Penolakan penolakanmu itu berarti keputusan hukum mati bagi kau dan puteramu!"

Lam hai Lo mo mengancam.

"Nyawa berada di tangan Tuhan, Lam hai Lo mo! Iblis Tua dan Laut Selatan, pernah kau mendengar sajak dari pujangga Locu yang berbunyi demikian? Langit dan Bumi serta segala isinya berasal dari ADA, adapun ADA berasal dari TIADA! Kalau orang nengetahui awalnya, ia akan selamat! Mengapa aku harus takut mati?"

Mendengar ini, Lam hai lo mo dan yang lain lain menjadi agak bingung.

Memang ucapan Thian te kiam ong ini agak aneh dan seperti tidak keruan susunannya.

Akan tetapi Tek Hong yang mendengarnya, tiba tiba berpikir keras.

Pemuda ini memang semenjak kecil sudah hafal akan segala ujar ujar kuno dan Locu dan Khong Cu.

Tentu saja ujar ujar Locu yang tani diucapkan oleh ayahnya itu, ia kenal baik.

Mengapa ayahnya hanya mengucapkan ujar ujar itu bagian belakangnya atau akhirnya saja?

Dan mengapa ayahnya tadi berkata bahwa kalau orang mengetahui awalnya, ia akan selamat?

Bagaimana bunyi awalan ujar ujar itu?

"Berbalik adalah pergerakan Tao.

Kelemahan adalah kegunaan Tao.

Langit dan Bumi serta segala isinya Berasal dari ADA.

Adapun ADA berasal dari TIADA!"

Dengan demikian, ayahnya bermaksud bahwa dia harus tahu tentang "Berbalik dan Kelemahan!"

Tentu saja yang dimaksudkan oleh ayahnya itu adalah dia sendiri, karena bukankah di samping ayahnya, dia orangnya yang menghendaki selamat karena nyawanya terancam bahaya?

Otak Thian te Kiam ong memang cerdik, dan kecerdikannya itu menurun kepada anak anaknya.

Tek Hong memiliki pula kecerdikan luar biasa, maka ujar ujar Locu yang dipergunakan oleh Bun Sam sebagai sindiran ini, dapat ditangkap maksudnya, ia maklum bahwa ia berada di bawah pengaruh totokan dari Lam hai Lo mo dan untuk membebaskan totokan itu, ia harus dibebaskan totokannya di bagian punggung, yakni di jalan darah Tai hui hiat.

Ayahnya menghendaki agar supaya ia berbalik diri dan menghadapkan punggungnya ke arah ayahnya!

Akan tetapi, ia berada di bawah pengawasan Lam hai Lo mo dan lain lain tokoh Sam hiat ci pai yang amat lihai maka sedikit saja ia membuat pergerakan, tentu mereka akan menaruh curiga.

Oleh karena ini, sebelum tokoh tokoh Pulau Sam liong to itu menyatakan sesuatu atas ucapan Bun Sam tadi, ia berseru kepada ayahnya.

"Ayah, mengapa masih melayani mereka? Melihat pun aku sudah merasa muak!"

Sambil berkata demikian, dengan sikap jijik Tek Hong lalu membalikkan tubuhnya, membelakangi Lam hai Lo mo dan ayahnya!

Tadi ketika ia menggali tanah dan mengubur jenazah Mo bin Sin kun dan Yap Thian Giok pada telapak tangan Bun Sam masih menempel tanah lempung.

Dalam pertemuan dan percakapannya dengan Lam hai Lo mo, ia diam diam membersihkan kedua telapak tangannya dari tanah liat itu akan tetapi ia tidak menbuang tanah liat itu, melainkan menggulung gulungnya menjadi tiga butir bola tanah kecil kecil.

Hal ini dilakukan hanya untuk mengumpulkan senjata rahasia guna menghadapi tokoh tokoh lihai itu akan tetapi kini ia dapat mempergunakannya untuk menolong anaknya.

Girang sekali hatinya melihat kecerdikan Tek Hong yang kini tanpa menimbulkan kecurigaan telah membalikkan tubuhnya.

Secepat kilat Bun Sam mengayun tangannya dan sebutir bola tanah yang menyambar tepat mengenai jalan darah Tai hui hiat di punggung Tek Hong.

Seketika itu juga, bebaslah Tek Hong dari pengaruh totokan dan ia dapat menggerakkan tubuhnya lagi.

Berkat latihannya yang tekun dan gemblengan ayahnya yang tak kenal lelah, sekaligus ia dapat memulihkan kembali tenaganya dengan jalan mengatur napas ia memekik keras dan putuslah tali tali yang mengikat kedua tangannya!

Sebaliknya, begitu melihat sambitan dari tangan Bun Sam mengenai punggung Tek Hong, tahulah Lam hai Lo mo dan yang lain lain akan hal yang terjadi cepat sekali tadi.

Yang berdiri terdekat dengan Tek Hong adalah Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin, maka keduanya bergerak cepat hendak menyerang Tek Hong.

Bun Sam tidak tinggal diam.

Begitu sambitan pertama mengenai sasaran dan puteranya teleh terbebas, ia mengayun tangannya lagi dan kini dua butir bola tanah melayang ke arah Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin.

"Kerahkan tenaga Kim kong!"

Seru Bun Sam.

Semua terjadi dalam saat yang cepat.

Lam hai Lo mo memukul dengan Ilmu Pukulan Sam hiat ci hoat ke arah jidat Tek Hong, sedangkan pemuda itu otomatis menurut petunjuk ayahnya, mengerahkan tenaga Kim kong yang telah dilatihnya baik baik Sehingga hawa dan dalam pusarnya naik ke atas melindungi jalan jalan darah di tubuh bagian atas terutama di kepalanya.

Sementara itu, sebutir bola tanah melayang ke arah pangkal lengan Lam hai lo mo tepat mengenai jalan darah sehingga kakek ini pukulannya tidak sehebat yang dikehendakinya.

Adapun butiran bola tanah kedua melayang ke arah Tung hai Sian jin sehingga kakek ini terkejut sekali dan terpaksa mengelak dan karenanya serangannya terhadap Tek Hong dibatalkan!

Akan tetapi, karena Lam hai Lo mo memang lihai, pukulan bola tanah yang mengenai pangkal lengannya tidak dapat menahan pukulannya dan tiga buah jari tangannya mengenai jidat Tek Hong!

Pemuda itu berteriak dan roboh terguling dalam keadaan pingsan!

Akan tetapi, sebelum Lam hai Lo mo atau yang lain lain sempat turun tangan menewaskan Tek Hong, Bun Sam sekali berkelebat telah berada di dekat Tek Hong dan pedangnya menyambar, merupakan sinar kuning.

Pedang ini adalah Oei giok kiam (Pedang Kemala Kuning) yaitu pedang isterinya yang dipinjamnya karena pedangnya sendiri, yakni Kim kong kian telah dibawa pergi oleh Siauw Yang.

Gerakan pedangnya ini demikian hebatnya sehingga Lam hai Lo mo dan Tung hai San jin tidak berani menyambut dan terpaksa melonpat mundur, Bun Sam menyambar tubuh puteranya dan melompat ke arah pantai, dikejar oleh Lam hai Lo mo dan kawan kawannya.

Sebenarnya, Bun Sam melarikan diri bukan karena takut, akan tetapi hendak mencari tempat yang baik.

Ia tidak gentar untuk menghadapi keroyokan mereka, akan tetapi ia khawatir kalau kalau Tek Hong akan dibunuh selagi ia masih sibuk menghadapi mereka.

Setelah tiba di tepi pantai, karena para pengajarnya tetap saja tidak dapat menyusulnya, ia melemparkan tubuh puteranya yang masih pingsan itu ke pinggir laut dan dengan gagah ia menanti datangnya para pengejar.

Kini ia boleh merasa lega karena tak mungkin musuh musuhnya itu mengganggu Tek Hong yang terlindung oleh air laut dari belakang.

"Thian te Kiam ong, kau benar benar bosan hidup!"

Teriak Lam hai Lo mo marah sekali. Semua kawannya telah siap siaga dan dengan sikap mengancam mereka mulai mendekati Bun Sam.

"Lam hai Lo mo, tak usah banyak cerita lagi. Mari segera kita mulai membereskan perhitungan antara kita."

Sambil berkata demikian, mata Bun Sam memandang dengan kecerdikan luar biasa untuk meneliti keadaan tanah di sekitarnya dan untuk mengukur jarak, dengan girang ia melihat bahwa tanah di pantai itu cukup keras dan rata sehingga ia tidak perlu khawatir lagi.

Di dalam pertempuran menghadapi pengeroyokan demikian banyak orang lihai, ia tentu takkan sempat memperhatikan keadaan tanah yang diinjaknya dan hal ini amat berbahaya bagi seorang yang dikeroyok karena sekali kaki salah berpijak, dapat mendatangkan bahaya.

"Sam hiat ci tin (Barisan Tiga Jari Berdarah), serbu....!"

Lam hai Lo mo memberi komando sambil memutar tongkatnya.

Kakek ini memang masih merasa gentar menghadapi Bun Sam yang di waktu masih muda sekali telah mengalahkannya, maka tentu saja ia tidak berani maju sendiri dan memberi komando itu.

Serentak kawan kawannya memutar senjata dan maju menyerang Bun Sam.

Bong Eng Kiat tidak mau ketinggalan dan maju dengan siang kiam (sepasang pedang).

Akan tetapi, begitu Bun Sam memutar pedangnya dan tubuh pendekar ini berkelebatan seperti naga menyambar, terdengar suara keras dan sebatang pedang di tangan kanan Eng Kita terbang pergi entah ke mana!

Juga Koai kiam sian, orang ke empat dari See san Ngo sian yang memegang pedang aneh, merasa telapak tangannya tergetar dan sakit.

Memang, dalam menghadapi senjata senjata lawan yang langsung menanggung akibat benturan pedang yang luar biasa gerakannya itu adalah lawan lawan yang memegang pedang pula Tentu saja hal ini juga terutama bergantung kepada tingkat kepandaian lawan itu dan diantara mereka semua, yang boleh dibilang masih kurang kepandaiannya hanyalah Bong Eng Kiat, maka pedangnya ketika terbentur lalu terlempar jauh.

Sebaliknya, Koai kiam sian sudah cukup tinggi kepandaiannya sehingga ia tidak sampai harus melepaskan pedangnya.

Namun tetap saja telapak tangannya terasa sakit sehingga ia menjadi terkejut sekali.

Belum pernah ia bertemu dengan lawan setangguh ini, yang dalam sekali bentur saja sudah dapat menggetarkan tangannya.

Memang gerakan pedang dari Bun Sam amat luar biasa.

Kalau orang lain, setiap kali pedang terbentur dengari senjata lawan, tenaga gambarannya berkurang banyak.

Akan tetapi, keistimewaan ilmu pedang Bun Sam adalah setiap kali pedangnya terbentur dengan senjata lawan, ia malah dapat "mencuri"

Tenaga lawannya dan pedangnya membalik, untuk menghadapi lain pengeroyokan dengan tenaga lipat ganda! "Eng Kiat, kau mundur...."

Seru Tung hai Sian jin kepada puteranya, karena ayah ini amat sayang kepada putranya dan ia tahu bahwa menghadapi orang seperti Thian te Kiam ong bukanlah hal yang boleh dibuat main main, Lam hai Lo mo dan yang lain lain tidak merasa sakit hati mendengar Tung hai Sian jin menyuruh puteranya mundur karena memang Eng Kiat bukan anggauta pengurus Sam hiat ci pai dan pemuda itu tak dapat banyak diharapkan dalam pengeroyokan ini.

Lam hai Lo mo merasa yakin bahwa kali ini ia dan kawan kawannya pasti akan dapat merobohkan Thian te Kiam ong, karena mustahil mereka sembilan orang yang berkepandaian tinggi tidak mampu mengalahkan seorang lawan saja, biar seorang lawan selihai Thian te Kiam ong sekalipun, maka ia memutar tongkat bambunya dengan cepat mempergunakan tangan kanan sedangkan tangan kirinya melancarkan serangan serangan Sam hiat ci hoat yang merupakan tangan maut menjangkau nyawa!

Bun Sam maklum bahwa ia menghadapi keroyokan orang orang yang rata rata sudah memiliki kepandaian luar biasa.

Gerakan senjata mereka mendatangkan angin keras dan setiap pukuan lawan merupakan ancaman maut.

Akan tetapi ia tidak menjadi gentar dan segera mengeluarkan ilmu pedangnya yang selama ini belum pernah menemui tandingan, yakni Tee coan Liok kiam sut.

Pedangnya seakan akan berobah menjadi enam batang dan gerakannya menimbulkan enam gulungan sinar pedang yang menyambar ke sana ke mari, menangkis setiap serangan lawan dan sebaliknya juga mengirim serangan serangan pembalasan yang tak kalah hebatnya ia tahu bahwa kali ini ia harus mengadu nyawa, karena kalaupun ia sempat melarikan diri, tak mungkin ia dapat membawa tubuh puteranya yang masih pingsan.

Tentu saja ia lebih baik menghadapi maut daripada meninggalkan puteranya, di samping ini, keangkuhannya sebagai seorang pendekar besar tidak mengijinkan ia meninggalkan musuh musuhnya.

Bukan main ramainya pertempuran itu.

Hebat dan dahsyat sekali, dan jarang terjadi pertempuran antara ahli ahli sekian banyaknya.

Di antara para pengeroyok, hanya dua orang saja yang mempergunakan tangan kosong, yakni Pat jiu sian dan Sin kun sian, orang pertama dan ke tiga dari See san Ngo sian.

Mereka memiliki ilmu silat tangan kosong yang istimewa dan dalam menghadapi pedang Thian te Kiam ong, mereka memperlihatkan kegesitan, mengganti ganti ilmu silat mereka dan kadang kadang melancarkan pula pukulan Sam hiat ci hoat yang sudah mereka pelajari baik baik.

Lima puluh jurus telah lewat dan belum seorangpun di antara para pengeroyoknya yang berhasil melukai Bun Sam.

Mereka menjadi penasaran sekali, karena kalau mereka tidak mampu mengalahkan Bun Sam, hal ini merupakan sesuatu yang amat memalukan.

Masa sembilan orang tokoh besar dari Sam hiat ci pai yang mereka banggakan tidak mampu mengalahkan seorang lawan saja?

Mereka segera mendesak makin rapat dan Bun Sam harus bekerja makin keras, bergerak makin cepat dan memutar pedang makin kuat lagi.

Pendekar besar ini maklum bahwa kalau diteruskan begini, akhirnya ia akan kalah juga, karena ia yang lebih dulu akan kehabisan tenaga.

Kecepatan pedangnya jauh berkurang dalam menghadapi sembilan orang lawan, karena ia harus membagi bagi gerakannya dalam menyerang untuk dipergunakan mengelak atau menangkis datangnya senjata lawan yang seperti hujan itu.

Thian te Kiam ong Song Bun Sam memutar otak mencari jalan keluar.

Apalagi ia masih diganggu oleh rasa khawatir memikirkan keadaan isterinya dan Siauw Yang serta Pun Hui yang masih berada di rumah Pangeran Ciong Pak Sui yang ternyata adalah musuh yang berbahaya pula.

Pemusatan pikiran untuk mencari akal dan kekhawatirannya membuat gerakannya agak lambat.

Hal ini tidak disia siakan oleh Lam hai Lo mo dan kawan kawannya yang merangsek makin kuat sehingga sebentar saja Thian te Kiam ong terdesak hebat.

Hampir saja tongkat bambu di tangan Lam hai Lo mo mengenai sasaran ketika tongkat ini menusuk dada Bun Sam.

Baiknya Bun Sam masih sempat menggerakkan tubuh dan memutarnya miring sehingga terdengar kain robek.

Ketika ujung bambu itu menerobos pinggir iga dan merobek bajunya!

"Ha, ha, ha, Thian te Kiam ong, di mana kelihaian ilmu pedangmu yang diturunkan oleh Bu tek Kiam ong?

Ha, ha, ha, sebentar lagi kau akan mampus, juga puteramu!

Dan kau tahu bahwa isteri dan puterimu juga takkan terluput daripada kematian?

Ha, ha, heh, heh!"

Ucapan terakhir ini benar benar menambah kebingungan Bun Sam karena persangkaannya ternyata benar, yakni bahwa isteri dan puterinya terancam bahaya, ia makin kalut dan terdesak hebat dan agaknya benar seperti diramalkan oleh Lam hai Lo mo, sebentar lagi ia akan roboh.

Namun Ilmu Pedang Tee coan Liok kiam sut memang benar hebat dan patut disebut raja sekalian ilmu pedang.

Ilmu pedang ini seakan akan sudah mendarah daging dalam tubuh Bun Sam sehingga biarpun pikirannya kalut, namun gerakannya seperti otomatis dan ilmu pedang ini amat kuat melindungi tubuhnya dari semua serangan para pengeroyoknya.

Baik kita tinggalkan sebentar keadaan Bun Sam yang terancam bahaya maut dalam pengeroyokan sembilan orang tokoh Sam hiat ci pai di Pulau Sam liong to itu.

Mari kita menengok keadaan Siauw Yang, Sian Hwa dan Pun Hui yang masih duduk di ruang tamu yang kini penuh dengan tamu untuk menyaksikan pernikahan Pangeran Ciong Pak Sui.

Betul betulkah keadaan mereka terancam bahaya seperti yang dikhawatirkan oleh Bun Sam?

Kelihatannya tidak demikian, karena Sian Hwa dan Siauw Yang masih duduk di ruang bagian wanita.

Bercakap cakap gembira dengan tamu tamu lain sungguhpun di dalam hatinya, Sian Hwa amat mengkhawatirkan keadaan suaminya dan Siauw Yang masih kecewa sekali karena tidak boleh ikut ayahnya.

Liem Pun Hui yang tadinya masih terheran heran mengapa tiba tiba Bun Sam meninggalkan ruangan dan tidak nampak kembali, kini sedang memperhatikan seorang gadis baju merah yang duduk tidak jauh dari temnat Siauw Yang dan ibunya.

Gadis ini adalah Ong Siang Cu, murid Lam hai Lo mo.

Diam diam Pun Hui merasa amat gelisah melihat gadis yang amat hebat ini.

Biarpun kelihatannya tiga orang ini tidak terancam bahaya sesuatu, namun sesungguhnya diam diam Pangeran Ciong sudah mengatur bersama kawan kawannya untuk menyerbu mereka apabila pernikahannya sudah dilangsungkan.

Pangeran ini tidak mau merusak kebahagiaannya dengan pertempuran dan setelah upacara pernikahannya selesai, barulah ia akan bertindak.

Untuk keperluan ini, kawan kawannya yang banyak terdapat di ruang itu sudah siap sedia, diatur oleh Thio Kim Si Tangan Seribu.

Lucunya, baik Pangeran Ciong Pak Sui maupun Thio Kim Si Tangan Seribu, memperkuat betul betul persiapan untuk mengeroyok Pun Hui karena pangeran dan pembantunya ini masih selalu mengira bahwa pemuda ini lebih lihai dan berbahaya dan pada Siauw Yang.

Tak lama kemudian, upacara pernikahan itu pun dilangsungkan.

Sepasang pengantin sudah mulai menuju ke meja sembahyang untuk bersembahyang.

Pangeran Ciong kelihatan tersenyum senyum girang dan semua orang yang melihat bentuk tubuh pengantin wanita serta melihat wajah di balik tirai halus yang melindungi mukanya, menjadi kagum dan memuji bahwa mempelai itu cantik sekali.

"Bi sin tung Thio Leng Li....!"

Tiba tiba terdengar Pun Hui berseru heran ketika ia mengenal mempelai wanitanya.

"Dia Leng Li....!"

Siauw Yang berseru lebih keras lagi karena gadis inipun tidak pernah mengira bahwa calon isteri Pangeran Ciong adalah Thio Leng Li, puteri dari Sin tung Lo kai Thio Houw, tokoh besar dan ketua dan Ang sin tung Kai pang di wilayah barat saluran.

Pengantin wanita itu ketika mendengar seruan seruan ini, nampak terkejut dan otomatis menyingkap tudung mukanya.

Kini, nampak kelihatanlah wajahnya dengan jelas dan memang dalam hiasan dan pakaian pengantin ia kelihatan cantik manis.

Pertama tama pandang matanya mencari Pun Hui dan ketika ia melihat pemuda itu berdiri di antara para tamu, berobah wajahnya.

Untuk sesaat Leng Li berdiri memandang ke arah Pun Hui, kemudian seperti seorang yang malu malu ia membalikkan tubuh dan memandang ke arah Siauw Yang.

Gadis puteri Thian te Kiam ong ini saking herannya sudah bangkit berdiri.

"Nona Song Siauw Yang....!"

Leng Li berseru girang ketika mengenal gadis perkasa itu.

Akan tetapi, setelah nama ini disebut, sesosok bayangan merah berkelebat dan ternyata gadis baju merah yang semenjak tadi telah memperhatikan Siauw Yang dan Sian Hwa, dengan melompati beberapa orang tamu wanita yang duduk menghalanginya, kini telah berdiri di depan Siauw Yang dan memandang dengan mata menyelidik.

"Hm, jadi inikah puteri Thian te Kiam ong yang tersohor lihai? Kebetulan sekali, telah lama kucari dan engkau dan sekarang setelah bertemu, biarlah kucoba kelihaian pedangmu!"

Kata Siang Cu gadis baju merah itu sambil mencabut pedangnya yang mengeluarkan cahaya kehijauan, yakni pedang Cheng hong kiam.

Siauw Yang dan Sian Hwa terkejut sekali ketika tiba tiba melihat seorang gadis baju merah yang sekali berdiri dan menantang.

"Eh, eh, siapakah kau? Apakah kau telah terlalu banyak minum arak dan menjadi sinting?"

Siauw Yang menegur heran dan marah. Siang Cu tersenyum sindir dan dengan suara marah pula. Ia menjawab.

"Aku Ong Siang Cu murid Lam hai Lo mo. Sudah lama ingin sekali kubuktikan apakah nama besar keluarga Song bukankah nama kosong belaka."

Bukan main terkejut dan marahnya Siauw Yang mendengar bahwa gadis baju merah yang galak ini adalah murid dari musuh besar ayahnya.

Demikian pula Sian Hwa menjadi kaget sekali, akan tetapi semenjak tadi nyonya ini hanya duduk di atas bangkunya sambil memandang kepada Siang Cu dengan mata terbelalak.

"Kau...... kau anak Puteri Luilee.... tak salah lagi...."

Tiba tiba Sian Hwa berseru.

Bagaimana ia bisa meragukan lagi bahwa Ong Siang Cu adulah puteri Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee?

Gadis baju merah ini bentuk mukanya serupa benar dengan Puteri Luilee, hanya bedanya mata dari Puteri Luilee berwarna kebiruan, sedangkan mata gadis ini biasa saja, hitam dan tajam berbentuk indah.

Mendengar ucapan nyonya yang kelihatan cantik dan gagah itu, Siang Cu tertegun dan tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh nyonya Thian te Kiam ong itu.

Akan tetapi pada saat itu, Pangeran Ciong yang terkejut sekali mendengar betapa rahasia Siang Cu akan terbuka, segera berseru.

"Nona Siang Cu, kebetulan sekali! Mereka inilah keluarga yang telah membikin sengsara suhumu?"

Diam diam ia memberi tanda kepada Thio Kim agar menggerakkan orang orangnya. Akan tetapi Siang Cu yang merasa bingung tidak memperdulikan omongan Pangeran Ciong, bahkan membentak.

"Kau tidak ada sangkut paut dengan urusanku!"

Kemudian ia menghadapi Siauw Yang dengan pedang di tangan, lalu menantangnya.

"Berani tidak kau mengadu ilmu pedang dengan aku?"

Siauw Yang adalah seorang gadis yang lincah gembira, akan tetapi juga memiliki kekerasan hati dan keangkuhan tinggi. Menghadapi tantangan ini ia mencabut Kim kong kiam dan tersenyum mengejek.

"Kau perempuan liar memang patut menjadi murid iblis tua Lam hai Lo mo. Apakah kau tidak tahu malu dan begitu tidak tahu aturan sehingga mencari keributan di tempat pesta?"

"Tutup mulut, pendeknya kau berani atau tidak?"

Bentak Siang Cu marah.

"Takut kepadamu? Nanti dulu kawan. Aku Song Siauw Yang tak pernah takut kepada siapa pun juga. Majulah!"

Siauw Yang sudah memasang kuda kuda dan mempersiapkan pedangnya lalu menendang dua buah bangku di depannya Orang orang menjadi gempar dan banyak tamu wanita sejak tadi telah meninggalkan bangku mereka.

"Sabar, Siauw Yang...."

Kata Sian Hwa. Akan tetapi Siang Cu sudah menerjang dan menyerang Siauw Yang dengan pedangnya, ditangkis oleh gadis ini sehingga terdengar suara "Trang....!"

Dan bunga api berpijar menyilaukan mata. Tak lama kemudian bangku bangku dikanan kiri mereka terbang ke sana ke mari karena mereka tendang.

"Nona Siang Cu, kauhajar nona galak puteri Thian te Kiam ong itu, biar ibunya dan suhengnya kami yang akan merobohkannya!"

Teriak pangeran Ciong dengan gembira sekali karena dengan adanya Siang Cu, maka keraguannya lenyap dan ia merasa mendapat tenaga bantuan yang luar biasa tangguhnya.

Pangeran ini maklum bahwa ilmu silat dari murid Lam hai Lo mo itu lebih lihai dan kepandaiannya sendiri, maka ia tidak khawatir lagi bahwa rencananya membasmi keluarga Song akan gagal.

Tanpa memperdulikan kepada pengantinnya, ia lalu menyambar tombaknya dan bersama Thio Kim dan kawan kawan lain, ia lalu menyerbu!

Pangeran ini memang licik sekali, ia merasa takut untuk menghadapi Pun Hui yang dianggapnya lebih lihai daripada Siauw Yang, maka ia lalu menyerang Sian Hwa!

"Suci (kakak seperguruan), kau harus tahu bahwa penghianatanmu terhadap mendiang suhu harus kautebus dengan hukuman mati!"

Kata pangeran itu sambil menusuk dengan tombaknya.

Akan tetapi Sian Hwa sudah siap dan nyonya yang gagah ini cepat menyambar bangku dan menangkis serangan tombak itu.

Sayang sekali bahwa pedangnya Pek giok kiam dipinjam oleh suaminya, maka ia kini bertangan kosong dan hanya mempergunakan bangku untuk menghadapi lawannya.

Sebentar saja ia dikeroyok oleh tujuh orang kawan Ciong Pak Sui sehingga nyonya ini dikepung dan hanya mengandalkan ginkangnya untuk menghindarkan diri dari semua serangan.

Bangku di tangannya sudah hancur dan ia menyambar lain bangku untuk melakukan perlawanan hebat.

Sementara itu, Thio Leng Li menjadi bengong ketika melihat betapa tiba tiba Siauw Yang dan ibunya dikeroyok oleh calon suaminya dan banyak tamu membantu pangeran itu.

Timbul tidak senangnya terhadap Pangeran Ciong yang dikiranya seorang gagah perkasa, kaya raya dan budiman itu.

Lebih lebih lagi kagetnya ketika ia melihat belasan orang dipimpin oleh Thio Kim Si Tangan Seribu yang dikenalnya sebagai orang kepercayaan calon suaminya, mengurung dan menyerbu ke arah Pun Hui dengan tangan memegang senjata.

Seorang di antara kawan Thio Kim yang maju mengeroyok Pun Hui, mempergunakan toya nya untuk mengemplang kepala pemuda itu.

Sebagaimana diketahui, biarpun ia telah diangkat sebagai murid oleh Sin pian Yap Thian Giok, namun Pun Hui belum pernah mempelajari ilmu silat dari gurunya itu.

Memang benar bahwa semenjak ia melakukan perjalanan bersama Siauw Yang, gadis itu banyak memberi petunjuk dan melatih ilmu silat padanya.

Akan tetapi oleh karena kurang kesempatan dan pula memang selamanya belum pernah Pun Hui belajar ilmu silat ia lebih banyak mengerti teorinya daripada prakteknya.

Namun ia telah mengerti cara bagaimana untuk mengelak dan serangan toya itu, maka tergopoh gopoh ia melompat ke kiri.

Malang baginya, karena kepandaiannya masih rendah sekali, lompatannya kaku dan ia menabrak meja sehingga jatuh terguling!

Melihat ini Thio Kim terheran heran.

Benarkah apa yang dilihat?

Bagaimana diserang toya begitu saja pemuda itu dalam mengelak sampai menabrak meja dan terguling guling, seakan akan pemuda itu sama sekali tiduk mengerti ilmu silat?

Ketika melihat Pun Hui mengaduh aduh sambil merangkak bangun, tak tertahan lagi Thio Kim tertawa bergelak dengan hati geli sambil memegangi perutnya.

Tak disangkanya bahwa suheng dari puteri Thian te Kiam ong yang disegani dan ditakuti, bukan saja oleh dia sendiri melainkan juga oleh Pangeran Ciong, ternyata hanyalah seorang lemah yang agaknya hanya kuat dalam hal bermain catur!

Akan tetapi suara ketawa dari Thio Kim ini tidak lama karena tiba tiba ia mendengar seorarg di antara kawan kawannya yang mengeroyok Pun Hui menjerit dan roboh dengan pundak berdarah!

Thio Kim cepat menengok dan ternyata bahwa kawannya itu roboh oleh tongkat di tangan Thio Leng Li, nona pengantin!

"Eh, keponakanku, mengapa kau menyerang kawan sendiri?"

Tanya Thio Kim Si Tangan Seribi ini memang mengaku Leng Li sebagai keponakannya karena she (nama keturunan) mereka sama, yakni she Thio.

Hal ini ia lakukan untuk lebih mendekatkan dirinya dengan majikannya, pangeran Ciong yang mengambil Leng Li sebagai isteri.

"Siapa keponakanmu? Tadinya kalian kukira orang baik baik, tidak tahunya bangsa rendah dan kaki tangan Lam hai Lo mo yang jahat. Jangan mengganggu pemuda ini kalau kalian masih sayang jiwa!"

Thio Kim menjadi bingung.

Untuk menyerang nona pengantin ini tentu saja ia tidak berani karena tentu majikannya akan marah.

Maka ia membentak kawan kawannya supaya mundur dan hanya memandang dengan bengong dan bingung ketika ia melihat Leng Li mengempit tubuh Pun Hui dan dibawa lari cepat dari tempat itu!

"Ciong siauw ong ya!

Nona pengantin membawa lari pemuda she Liem!"

Teriak Thio Kim yang kebingungan.

Pada saat itu, Ciong Pak Sui tengah mendesak Sian Hwa dan tombaknya telah melukai lengan kanan nyonya perkasa itu.

Ia merasa yakin bahwa sebentar lagi tentu ia dan kawan kawannya akan berhasil menewaskan isteri dari Thian te Kiam ong ini.

Akan tetapi ketika ia mendengar seruan ini, ia menjadi kaget heran dan khawatir.

"Kejar dia, paksa kembali! Bodoh kalian!"

Namun ia tidak mau meninggalkan Sian Hwa yang benar benar sudah payah dan terdesak hebat.

Mendengar ini, Thio Kim lalu memberi aba aba dan larilah dia keluar bersama sepuluh orang kawannya, ia maklum bahwa dengan jalan kekerasan ia dan kawan kawannya akan sanggup membawa kembali Leng Li dan pemuda she Liem itu, karena kepandaian nona Leng Li biarpun cukup tinggi, tak mungkin dapat mengimbangi keroyokan sebelas orang.

Thio Leng Li membawa lari Pun Hui dengan cepat.

Ia tahu akan kelihaian Pangeran Ciong dan akan pengaruh besar pangeran itu yang mempunyai banyak sekali kaki tangan, maka kalau sampai ia tersusul oleh mereka, akan celakalah dia.

Baru sekarang terbuka matanya bahwa orang yang tadinya dianggap sebagai orang gagah itu, bukan lain adalah seorang kawan Lam hai Lo mo yang memusuhi Thian te Kiam ong pendekar yang amat dikaguminya.

Tak terasa pula sambil berlari, kedua mata Leng Li menjadi basah.

Alangkah buruk nasibnya.

Dahulu, pada waktu ia amat tertarik oleh Pun Hui, ayahnya berlaku kasar dalam soal perjodohan sehingga ia merasa terhina dan melarikan diri dari ayahnya.

Di dalam perjalanan, ketika ia diganggu oleh sekawanan perampok, ia bertemu dengan Pangeran Ciong yang dengan gagah berani membasmi perampok perampok itu dan mereka berkenalan.

Akhirnya Pangeran itu meminangnya dan karena Leng Li sudah tidak mempunyai harapan untuk kembali kepada ayahnya, ia menerima pinangan itu setengah terpaksa.

Dan sekarang....

Ia kembali bertemu dengan Pun Hui yang hendak dibinasakan oleh orang orang calon suaminya itu.

Dan tidak membantu usaha calon suaminya, bahkan menolong Pun Hui dan membawanya lari!

Semua ini ia lakukan sesuai dengan perasaan hatinya, dan baru sekarang ia tahu bahwa ia sebenarnya tidak menaruh hati suka kepada Pangeran Ciong.

Bahwa ia jauh lebih suka kepada Pun Hui daripada pangeran itu sehingga kini tanpa ragu ragu ia melindungi Pun Hui dengan taruhan nyawa.

Ketika gadis ini berlari terus tanpa memperdulikan protes dari Pun Hui yang berkali kali menyatakan bahwa ia akan kembali ke rumah Pangeran Ciong untuk melihat keadaan Siauw Yang dan ibunya, tiba tiba terdengar bunyi derap kaki kuda dan ternyata bahwa Thio Kim dan kawan kawannya telah dapat menyusulnya.

"Kita harus menghadapi mereka mati matian,"

Kata Leng Li sambil menurunkan Pun Hui. Pemuda ini biarpun tahu akan datangnya bahaya maut, namun ia masih saja tenang dan tidak takut apa apa.

"Nona, mengapa kau memaksa diri hendak berkorban untukku? Kau larilah, biar aku menghadapi mereka,"

Kata Pun Hui gagah. Leng Li tersenyum dan di dalam hatinya ia berkata.

"Inilah agaknya yang merupakan daya penarik kuat sekali dan sasterawan muda ini. Begitu gagah berani dan tabah sungguhpun tidak memiliki kepandaian silat."

Akan tetapi pada mulutnya ia berkata.

"Liem siucai, kita adalah kenalan kenalan dan sahabat sahabat lama, bagaimana aku dapat meninggalkan kau? Segala cacing busuk seperti mereka itu saja, apanya yang kutakutkan?"

Sambil berkata demikian, Leng Li mencabut tongkatnya dan berdiri menghadang di jalan melindungi Pun Hui yang berdiri di belakangnya.

"Leng Li, apakah kau sudah gila? Bagaimana seorang pengantin membawa lari seorang laki laki musuh calon suaminya? Hayo lekas kembali dan serahkan pemuda ini kepada kami."

Thio Kim melompat turun dari kudanya sambil membentak marah, diikuti oleh sepuluh orang kawannya. Leng Li tersenyum menyindir.

"Thio Kim, baru sekarang terbuka mataku dan tahulah aku orang orang macam apa adanya kau sekalian dan Pangeran Ciong! Siapa sudi menjadi isterinya? Kembalilah kalian, aku takkan mengganggu kalian mengingat perkenalan kita yang lalu. Akan tetapi, kalau kalian memaksa hendak membunuh Liem siucai yang tiada dosa, terpaksa aku Bi sin tung Thio Leng Li akan turun tangan dan melakukan tugas sebagai seorang yang menjunjung tinggi kegagahan, membela si lemah dan melawan si penindas."

"Ha, ha, kau sombong sekali. Kawan kawan, tangkap nona pengantin dan bunuh sasrerawan itu!"

Bentak Thio Kim dan sebelas orang itu lalu maju menyerbu.

Terdengar suara keras ketika tongkat di tangan Leng Li bergerak menangkis sekian banyaknya senjata yang diarahkan kepada Liem Pun Hui, kemudian terjadilah pertempuran hebat.

Leng Li benar benar berlaku nekat.

Biarpun ia telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi namun para pengeroyoknya juga bukan orang orang lemah.

Apalagi gadis perkasa ini harus melindungi Pun Hui, maka sebentar saja ia terdesak hebat sekali.

Sebaliknya, Pun Hui tak berdava sama sekali hanya apabila ada seorang di a mara para pengeroyok itu dapat memisahkan diri dan menyerangnya, ia mencoba untuk mengelak.

Leng Li benar benar sibuk dan marah sekali.

Ia mendengar teriakan kesakitan dan melihat Pun Hui dibacok oleh seorang pengeroyok yang memegang golok.

Pemuda itu sudah mencoba untuk mengelak, akan tetapi tetap saja ujung golok itu menyerempet pundak sehingga pundak dan kulit dadanya tergurat golok, pakaiannya robek dan pundak sampai ke dada berdarah.

"Bangsat rendah!"

Leng Li berseru dan sekali ia menggerakkan tubuhnya, ia telah menyerang pemegang golok itu.

Tongkatnya digerakkan cepat sekali.

Pemegang golok menjerit dan roboh dengan dada tertusuk tongkat dan nyawanya meninggalkan raganya di saat itu juga!

Melihat seorang kawannya tewas, Thio Kim dan yang lain lain menjadi marah sekali, kalau tadi mereka hanya menujukan serangan mereka kepada Pun Hui dan terhadap Leng Li mereka hanya berusaha merampas tongkatnya, kini mereka menyerang gadis itu!

Leng Li harus bekerja lebih teras lagi karena kini benar benar keadaannya amat berbahaya.

Akan tetapi, kembali ia merobohkan seorang pengeroyok yang kurang hati hati sehingga orang ini roboh dengan kepala retak retak terpukul tongkatnya!

Pada saat itu, seorang pengeroyok lain berhasil menyerempet lengan kiri Leng Li dengan goloknya sehingga terlukalah lengan itu dan darah mengalir deras.

Namun Leng Li tidak menjadi gentar, bahkan mengamuk makin hebat sehingga kembali seorang pengeroyok jatuh tersungkur.

"Jangan bunuh dia, bikin dia tidak berdaya agar dapat kita!"

Seru Thio Kim berkali kali memperingatkan kawan kawannya, karena kalau sampai nona ini tewas, ia ngeri menghadapi kemarahan Pangeran Ciong.

Seruan inilah yang menyelamatkan nyawa Leng Li karena biarpun ia terdesak hebat, namun lawan lawannya tidak berani mempergunakan serangan maut.

Kini semua orang tidak memperdulikan Pun Hui dan semua senjata dipukulkan keras keras untuk membikin tongkat di tangan gadis perkasa itu terlepas dari pegangan.

Sudah jelas bagi mereka bahwa Pun Hui bukan apa apa dan kalau nona ini sudah dapat dibuat tak berdaya, apa sukarnya membunuh sasterawan itu?

Leng Li berusaha mempertahankan tongkatnya, namun digunting dari kanan kiri oleh sekian banyaknya senjata lawan, akhirnya ia tidak kuat bertahan lagi dan tongkatnya dapat direnggut terlepas dari tangannya!

Pada saat itu, sebuah tendangan dari Thio Kim mengenai belakang lututnya sehingga Leng Li terguling roboh!

"Ha, ha, ha, ringkus dia dan biarkan aku bunuh kutu buku yang lemah itu!"

Seru Thio Kim kepada kawan kawannya dengan hati girang.

Akan tetapi suara ketawanya tiba tiba terhenti dan terdengar suara keras ketika sinar merah menyambar dan kepala Thio Kim pecah berantakan!

Seorang kakek tua dengan tongkat merah telah berdiri di situ dan sambil memaki maki tongkat merahnya bergerak ke sana sini sehingga empat orang pengeroyok tadi roboh dengan kepala pecah!

Melihat kehebatan kakek yang baru datang ini, gegerlah kawan kawan Thio Kim, apalagi ketika melihat betapa dalam beberapa gebrakan saja Thio Kim dan empat orang lain telah tewas dalam keadaan mengerikan.

Yang dua orang lain telah tewas di tangan Leng Li dan seorang pula telah terluka, maka kini hanya tinggal tiga orang lagi.

Mereka menjadi ketakutan dan melarikan diri.

Akan tetapi, kakek bertongkat merah itu sekali melompat telah mengejar dan menyusul mereka dan berbareng dengan berkelebatnya tongkat merah di tangannya, dua orang itupun roboh binasa!

"Ayah....!"

Seru Leng Li dengan girang dan terbaru ketika ia melihat kakek bertongkat merah itu. Sin tung Lo kai Thio Houw, ketua dari Ang sin tung Kai pang itu tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha! Puas hatiku! Lihat, Leng Li, mereka semua mampus, orang orang yang berani sekali mengganggumu tadi. Aha, kau hendak pulang membawa calon mantuku? Bagus, bagus! Mari kita pulang dan segera kita merayakan pernikahanmu dengan dia ini!"

Mendengar ucapan ayahnya ini, Leng Li hendak membantah, akan tetapi ia menahan kemarahannya.

Leng Li setelah banyak merantau telah dapat merebah wataknya, tidak amat berkeras hati dan mudah marah seperti dahulu lagi.

Diam diam ia sering merenungkan keadaan ayahnya dan tahulah ia bahwa ayahnya memang seorang berwatak aneh, namun semua keanehan itu berdasar cinta kasih yang amat besar kepadanya.

"Ayah, Liem siucai ini perlu ditolong. Dia terluka dan kalau tadi anak tidak turun tangan, dia tentu akan dibunuh oleh anak buah Sam hiat ci pai."

Benar saja dugaan Leng Li, mendengar nama perkumpulan ini, sekaligus pengemis sakti itu lupa sama sekali akan urusan perjodohan dan akan pemuda sasterawan itu.

"Sam hiat ci pai? Perkumpulan apakah bernama demikian hebat?"

"Perkumpulan itu berpusat di Sam liong to, dipimpin oleh orang orang seperti Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin. Adapun orang orang ini adalah kaki tangan dari Pangeran Ciong Pak Sui yang merupakan komplotan dari Sam hiat ci pai."

Berita ini benar benar mengejutkan hati Sin tung Lo kai Thio Houw.

Perkumpulan yang dipimpin oleh Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin, tentu merupakan perkumpulan yang hebat dan sekarang ia telah membunuh orang orang perkumpulan itu.

Inilah hebat sekali.

Biarpun ia merupakan seorang tokoh besar yang memiliki kepandaian tinggi, namun nama dua orang itu cukup mengejutkan hati Sin tung Lo kai Thio Houw.

"Akan tetapi bagaimana kau sampai bisa terkeroyok oleh mereka?"

"Karena aku hendak menolong Liem siucai ini, ayah,"

"Aah, lagi lagi pemuda ini menimbulkan kehebohan. Hayo kita pulang, tak perlu kita mencampuri urusan Sam hiat ci pai. Anehnya, pemuda lemah ini bagaimana sampai bentrok dengan perkumpulan yang dipimpin oleh dua orang itu?"

"Nanti saja anak ceritakan, ayah! Sekarang lebih baik kita lekas pulang. Mari Liem siucai, kita pergi ke tempat aman!"

Ajaknya kepada Pun Hui. Pemuda yang sedang mengusap usap darah yang mengucur dari lukanya itu menggelengkan kepalanya.

"Tidak, nona Leng Li, aku harus kembali ke sana. Aku tidak tega meninggalkan Song sumoi dan ibunya yang terancam bahaya maut."

"Kau bisa apakah? Kehadiranmu takkan menolong mereka, bahkan akan menambah beban mereka untuk melindungimu. Hayo kita pergi dari sini."

Leng Li mendesak.

"Tidak, biar aku mati bersama mereka, aku tidak mau lari seperti seorang pengecut."

"Kau banyak rewel,"

Bentak Thio Houw marah.

"Sekali anakku bilang pergi, kau harus ikut pergi!"

Tanpa menanti jawaban Pun Hui, Sin tung Lo kai Thio Houw menyambar tubuh Pun Hui dan mengempitnya. Dalam kempitan kakek ini, mana Pun Hui bisa bergerak sedikitpun juga? "Hayo kita pergi, anakku!"

Kata Thio Houw.

Leng Li tersenyum melihat keadaan Pun Hui dan ia mengangguk.

Maka pergilah ayah dan anak ini, mempergunakan ilmu lari cepat.

Memang Leng Li menganggap bahwa lebih baik cepat cepat pergi dari tempat itu, karena kalau sampai Pangeran Ciong dan kawan kawannya mengejar, biarpun di situ ada ayahnya yang membantu, keadaan mereka amat berbahaya.

Apalagi di sana terdapat murid Lam hai Lo mo.

Kalau tokoh tokoh Sam hiat ci pai sampai datang membantu Pangeran Ciong, ayahnya sendiripun takkan berdaya menghadapi mereka yang terkenal lihai dan kejam.

Mari kita menengok keadaan Siauw Yang dan Sian Hwa.

Sebagaimana telah kita ketahui, Siauw Yang bertempur hebat sekali melawan Siang Cu.

Kedua orang gadis ini sama sama hebat, sama sama lincah dan ilmu pedang mereka sama sama kuat.

Memang dalam hal ilmu pedang, Siauw Yang masih lebih unggul karena memang ilmu pedangnya Tee coan Liok kiam sut warisan Bu tek Kiam ong yang ia pelajari dari ayahnya merupakan ilmu pedang yang menjadi raja segala ilmu pedang di jaman itu.

Namun ia menghadapi Siang Cu yang mempunyai ilmu pedang yang amat ganas.

Sedangkan dalam hal tenaga dan keringanan serta kecepatan gerakan tubuh, boleh dibilang keadaan mereka seimbang.

Kim kong kiam di tangan Siauw Yang berobah menjadi segulung sinar kuning emas, sedangkan Cheng hong kiam di tangan Siang Cu menjadi gulungan sinar hijau.

Dua sinar pedang itu bergulung gulung seperti dua ekor naga sakti saling serang atau tengah bercanda.

Kadang kadang nampak berkelebatannya bayangan merah dari pakaian Siang Cu atau bayangan biru dari baju Siauw Yang.

Akan tetapi jarang sekali kelihatan bayangan dari dua orang gadis perkasa ini karena tertutup sama sekali oleh sinar pedang mereka yang dahsyat.

Sebaliknya, Sian Hwa lebih repot daripada Siauw Yang.

Nyonya yang gagah ini tidak saja menghadapi tombak Ciong Pak Sui yang lihai sedangkan dia sendiri bertangan kosong, bahkan masih banyak kawan kawan pangeran itu mengeroyoknya.

Namun dengan gagah Sian Hwa mengamuk terus, mempergunakan bangku bangku dan agaknya tidak mudah orang merobohkannya biarpun ia sendiripun tidak mungkin dapat melepaskan diri dari kepungan.

Siang Cu masih saja mengingat ingat ucapan nyonya Song itu dan hatinya berdebar.

Masih berdengung di telinganya ketika Sian Hwa menyebut nama Puteri Luilee, sebuah nama yang biarpun tak pernah didengarnya, namun kedengarannya begitu manis, begitu terkenal, dan mendebarkan jantungnya!

Isteri dari Thian te Kiam ong menyatakan bahwa dia adalah anak dan Puteri Luilee?

Apakah artinya ini?

Namun serangan yang hebat dan Siauw Yang membuat ia tak sempat melamun terus.

Kemudian, ketika Siang Cu mengerling ke arah Sian Hwa, ia melihat betapa nyonya itu dikepung dan didesak hebat oleh Ciong Pak Sui dan kawan kawannya.

Merahlah telinga Siang Cu melihat betapa seorang wanita tua yang bertangan kosong dikeroyok oleh sekian banyaknya laki laki yang gagah gagah dan bersenjata tajam!

Apa pula kalau ia ingat bahwa pangeran itu adalah murid keponakan dan suhunya, sungguh membuat ia menjadi malu sekali!

Juga diam diam ia mengaguni kehebatan ilmu silat Siauw Yang dan ibunya.

Sayang Thian te Kiam ong tidak berada di tempat itu.

Kalau ada, tentu ia akan dapat menjajal ilmu pedang dari Raja Padang musuh besar suhunya itu.

Melihat betapa Sian Hwa terdesak hebat, Siang Cu lalu melompat keluar lapangan pertempuran dan berkata kepada Siauw Yang.

"Kalau memang kau gagah, hayo kita melanjutkan pertempuran di tempat sunyi, jangan di tempat yang penuh sesak ini. Dan Lebih baik kau menoloog ibumu lebih dulu, aku menantimu di...."

Akan tetapi pada saat itu. Siang Cu menghentikan kata katanya dan melompat cepat sekali, mengembatkan pedangnya menangkis tombak Ciong Pak Sui yang hampir saja menembus dada Sian Hwa.

"Sungguh tak tahu malu mengeroyok seorang wanita tak bersenjata!"

Seru Siang Cu marah dan Pangeran Ciong terkejut sekali melihat ujung tombaknya telah terbabat putus oleh pedang Siang Cu!

Pada saat Siang Cu bicara tadi, keadaan Sian Hwa amat terdesak.

Sebuah pukulan ruyung dari pengeroyoknya ditangkis dengan bangku itu, akan tetapi bangku itu hancur sehingga lengannya ikut teruka dan pada saat itu, tombak di tangan Pangeran Ciong sudah meluncur dekat.

Baiknya Siang Cu datang menolongnya dan untuk kedua kalinya, Sian Hwa memandang gadis ini dengan mata kagum serta penuh keheranan.

Sebaliknya, Pangeran Ciong menjadi kaget dan marah sekali.

"Nona Siang Cu, bagaimanakah kau ini? Mereka ini adalah musuh musuh kita yang harus dibasmi habis. Thian te Kiam ong sendiri sekarang mungkin sudah mampus di tangan suhumu di Pulau Sam liong to. Bagaimana kau bisa menghalangiku membunuh isterinya?"

"Urusanku dengan mereka tak mungkin kau campuri dan urusanmu dengan merekapun aku tidak sudi mencampuri. Antara kau dan aku tidak ada sangkut paut sesuatu! Akan tetapi aku tidak suka melihat sekian banyaknya laki laki gagah bersenjata mengeroyok seorang wanita setengah tua yang bertangan kosong. Oh, memalukan sekali!"

Kemudian ia menoleh kepada Siauw Yang dan berkata dengan cemberut dan lagak menantang.

"Masih beranikah kau melawan aku?"

"Bocah sombong! Mari kita bertempur sampai seribu jurus. Siapa takut padamu?"

Jawab Siauw Yang marah sekali.

"Kalau begitu mari kita lanjutkan di pantai laut, jangan di sini agar tidak ada orang yang mengganggu pertandingan kita."

Siang Cu melompat, diikuti oleh Siauw Yang yang mengajak ibunya dan tiga orang wanita perkasa itu meninggalkan Pangeran Ciong yang berdiri bengong tanpa berani mengejar.

Setelah Siang Cu berdiri di fihak lawan dan tidak menghendaki ia mengeroyok Sian Hwa, siapa lagi yang ia andalkan?

Apalagi kalau Siang Cu sampai mempergunakan larangan dengan pedangnya, tentu akan berbalik bahaya bagi fihaknya.

Akan tetapi, kawan kawannya banyak sekali dan seandainya Siang Cu tidak mau membantunya, agaknya tak mungkin nona itu akan membantu fihak musuh.

Tidak, ia tak boleh mendiamkan saja isteri dan anak Thian te Kiam ong melarikan diri.

Pangeran Ciong sedang marah karena mendengar betapa calon isterinya membawa lari pemuda pelajar itu yang menjadi suheng dari Siauw Yang.

Maka kebenciannya terhadap keluarga Song makin menghebat dan kini mengandalkan bantuan kawan kawannya, ia mengambil keputusan untuk berlaku nekat.

"Nanti dulu, nona Siang Cu! Ibu dan anaknya itu harus kami tewaskan!"

Ia lalu memberi tanda kepada kawan kawannya, maka menyerbulah lebih dari duapuluh orang keluar, mengejar Sian Hwa dan Siauw Yang! "Ibu, pergunakanlah pedang ini!"

Kata Siauw Yang sambil menyerahkan pedang Kim kong kiam kepada ibunya. Akan tetapi Sian Hwa menggelengkan kepalanya.

"Kau lebih lihai berpedang, Siauw Yang, biarlah aku akan merampas sebatang pedang mereka."

Ibu dan anak ini lalu berbalik dan berdiri menanti kedatangan para pengeroyok itu dengan tenang dan gagah. Adapun Siang Cu membanting banting kaki melihat hal ini. Ia menjadi gemas sekali.

"Orang orang rendah tak tahu malu, kalian lebih baik mampus semua!"

Bentak Siang Cu yang merasa marah sekali melihat betapa Pangeran Ciong dan kawan kawannya berlaku nekad dan terus mendesak Siauw Yang dan ibunya.

Siang Cu tidak saja menganggap mereka ini mengganggunya yang hendak mengadu kepandaian melawan puteri Thian te Kiam ong, akan tetapi terutama sekali semangat kegagahannya tersinggung melihat betapa anak buah murid keponakan suhunya berlaku begitu pengecut.

Setelah mengeluarkan bentakan itu, Siang Cu lalu melompat ke depan, memutar pedangnya dan menyerang Pangeran Ciong dan kawan kawannya!

"Nona Siang Cu, kau gila!

Kalau gurumu tahu akan hal ini, kau tentu akan ditegur!"

Kata Pangeran Ciong yang cepat menangkis serangan pedang Siang Cu.

Akan tetapi jawaban Siang Cu hanya menyerang lebih hebat lagi sehingga Pangeran Ciong Pak Sui terhuyung mundur dan cepat memutar tombaknya untuk menangkis serangan pedang yang datangnya bertubi tubi dan berbahaya sekali itu.

"Aku tidak butuh bantuanmu!"

Teriak Siauw Yang marah melihat Siang Cu membantunya.

Sambil berteriak ia terus menyerang Cong Pak Sui dengan ilmu pedangnya yang kuat dan cepat.

Pangeran Ciong yang sedang terhuyung huyung menghadapi serangan Siang Cu, kaget sekali melihat sinar kuning emas menyambar tenggorokannya, cepat ia menangkis dengan tombaknya, akan tetapi tangannya tergetar dan ia merasa pundaknya perih sekali karena masih saja pedang Kim kong kiam membabat kulit pundaknya.

"Siapa sudi membantumu? Aku benci melihat kecurangannya!"

Balas Siang Cu yang juga membentak ketus dan pedangnya secepat kilat menusuk ke arah dada Pangeran Ciong!

Hebat sekali ilmu pedang kedua orang gadis ini kalau digabung menjadi satu menyerang seorang lawan.

Menghadapi Siang Cu atau Siauw Yang saja Pangeran Ciong sudah takkan menang, apalagi sekarang diserang oleh dua orang gadis yang seakan akan berlomba hendak merobohkannya dan tidak mau saling mengalah, bagaimana ia sanggup mempertahankan dirinya?

Tusukan Siang Cu cepat sekali dan biarpun sambil berseru kaget ia miringkan tubuhnya tetap saja pedang itu menyerempet iganya dan sambil menjerit kesakitan Pangeran Ciong terjungkal roboh mandi darah.

Siauw Yang penasaran sekali melihat musuhnya lebih dulu merobohkan lawan ini, maka ia cepat menyusul dengan sabetan pedang pada leher Ciong Pak Sui.

Darah muncrat dan kepala pangeran yang bercita cita tinggi itu terpisah dari tubuhnya!

Siauw Yang dan Siang Cu sudah saling berhadapan untuk meneruskan pertandingan, akan tetapi pada saat itu, Sian Hwa yang masih mengamuk dikurung rapat rapat oleh belasan orang.

Biarpun nyonya yang gagah ini sudah merobohkan tiga orang pengeroyok dengan sebatang pedang rampasan, namun keadaannya terdesak hebat karena lawan lawannya juga orang orang ahli silat tinggi dan jumlah mereka banyak sekali.

Melihat ini, tanpa janji lebih dulu, Siauw Yang dan Siang Cu menyerbu dan mengamuk, membabati tubuh para pengeroyok seperti seorang petani membabat rumput saja.

Tubuh para pengeroyok bergelimpangan.

Jerit susul menyusul dan darah mengalir membasahi rumput.

Sebentar saja enam orang telah roboh tak bernyawa lagi.

Para pengeroyok menjadi terkejut sekali.

Apalagi ketika mereka melihat bahwa Pangeran Ciong Pak Sui tewas, terbanglah semangat mereka meninggalkan raga.

Tanpa diberi aba aba larilah mereka cerai berai mencari keselamatan masing masing!

"Apakah kau masih penasaran dan hendak melanjutkan pertandingan?"

Tanya Siauw Yang. Betapapun juga, ia merasa bahwa gadis aneh berbaju merah itu telah menolong dan membantu dia dan ibunya.

"Tentu saja! Kaukira aku akan melepaskan kau? Hayo kita pergi ke pantai, di sana kita takkan terganggu orang lain."

Setelah berkata demikian. Siang Cu terus berlari cepat meninggalkan Siauw Yang dan Sian Hwa menuju ke pantai laut.

"Baik, siapa takut padamu?"

Kata Siauw Yang gemas, melihat kenekatan gadis aneh itu dan iapun berlari cepat mengejar ke pantai.

Adapun semua kejadian itu, ditambah lagi oleh lukanya, membuat Sian Hwa menjadi bingung sehingga ia tak dapat berkata kata.

Kasihan sekali nyonya ini biarpun lukanya tidak berarti banyak, namun ketegangan ketegangan itu membuatnya lemah.

Pertama tama, tak disangkanya bahwa Pangeran Ciong Pek Sui yang masih sutenya sendiri itu, akan berlaku curang sehingga kini mengalami kematian yang mengerikan.

Ke dua, ia masih merasa gelisah mendengar bahwa di Pulau Sam liong to, berkumpul Lam hai Lo mo dan kawan kawannya yang tentu akan mengeroyok suaminya.

Ke tiga, perjumpaannya dengan Siang Cu membuat ia berdebar debar.

Nona baju merah ini serupa benar dengan Puteri Luilee.

Dan anehnya, nona ini menjadi murid Lam hai Lo mo.

Kalau sudah diketahui bahwa kakek buntung yang membunuh Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee serta menculik Kian Gwat Eng puteri dari bangsawan itu adalah Lam hai Lo mo, besar sekali kemungkinan bahwa murid Lam hai Lo mo yang serupa dengan Luilee itu tentulah anak mereka yang diculik oleh kakek buntung.

Kini melihat Siauw Yang mengejar Siang Cu hendak mengadu ilmu di pantai, ia menjadi makin bingung dan berlarilah nyonya ini menyusul anaknya.

Ketika ia tiba di tepi pantai, Siang Cu dan Siauw Yang telah mulai bertempur dengan hebat sekali.

Pedang di tangan Siauw Yang berkelebatan dan bergulung gulung merupakan sinar kuning emas yang teratur baik dan selain kuat dan cepat, juga indah sekali dipandang.

Seakan akan seperti nyala api yang diputar putar, bercahaya kuning keemasan dan menyilaukan mata.

Sebaliknya pedang dari Siang Cu merupakan gulungan sinar kehijauan yang tidak saja cepat, namun gerakannya amat ganas dan lihai.

Pedang ini seperti menyambarnya kilat di waktu hujan.

Pertemuan kedua pedang seringkah menimbulkan cahaya dari bunga api yang berpijar, dibarengi suara "traang!

traang!"

Nyaring menyakitkan anak telinga.

Sian Hwa menjadi amat kagum dibuatnya.

Belum pernah ia menyaksikan penandingan pedang sedemikian ramainya, ia memang sudah maklum akan kepandaian puterinya dan tahu bahwa biarpun puterinya belum dapat menandingi ayahnya, namun kepandaian ilmu pedang Siauw Yang masih mengatasi Tek Hong.

Kini anaknya menemui tandingan yang setimpal, karena biarpun gerakan Siauw Yang amat indah dan kuat ilmu pedangnya, menghadapi ilmu pedang yang ganas dan cepat dari Siang Cu, sukar baginya untuk mendesak lawan.

Di antara kedua dara perkasa yang mengadu ilmu kepandaian juga terdapat rasa kagum yang besar.

Kini Siang Cu baru saja percaya bahwa ilmu pedang dan musuh besar suhunya, benar benar hebat dan pantaslah kalau musuh besar suhunya itu berjuluk Thian te Kiam ong atau Raja Pedang Langit Bumi.

Baru anaknya saja ilmu pedangnya sedemikian hebatnya, apalagi ayahnya!

Sebaliknya, Siauw Yang diam diam terkejut melihat ilmu pedang lawannya.

Tadi ketika bertempur di tengah ruangan di rumah Pangeran Ciong, ia tidak dapat mencurahkan semua perhatiannya dan baru sekarang ia betul betul dapat melihat betapa hebat, lincah dan ganas adanya nona yang menjadi lawannya ini.

Serang menyerang terjadi dengan serunya, namun keduanya memang berimbang dalam hal tenaga dan kelincahan.

Siauw Yang menang dalam hal kekuatan ilmu pedang, akan tetapi Siang Cu menang dalam hal keganasan dan kecepatan menyerang.

Keduanya seanding dan agaknya pertempuran itu akan berlangsung lama sekali sungguhpun Sian Hwa dapat mengira bahwa kalau dilanjutkan terus biarpun ada kemungkinan Siauw Yang terluka, namun akhirnya anaknya pasti akan menang.

Selelah kedua orang dara itu bertempur sampai seratus jurus, Sian Hwa menganggap bahwa sudah cukup mereka main main dan memperlihatkan kepandaian masing masing, ia masih menduga dengan kuat bahwa Siang Cu tentulah puteri dari Luilee dan Kian Tiong yang diculik oleh Lam hai Lo mo dan hal ini harus ia beritahukan kepada nona itu.

Selain ini, ia ingin sekali mengajak Siauw Yang menyusul ke Pulau Sam liong to, karena hatinya amat khawatir akan keselamatan suaminya.

"Tahan senjata, aku mau bicara!"

Sian Hwa berseru sambil melompat ke tengah medan pertandingan sambil memalangkan pedang rampasannya tadi.

"Traang!"

Pedang di tangan Sian Hwa patah menjadi tiga ketika bertemu dengan Kim kong kiam dan Cheng hong kiam!

Melihat ini, Siauw Yang melompat mundur demikian pula Siang Cu karena nona ini biarpun merasa amat penasaran karena tidak dapat mengalahkan lawannya, tidak mau melukai nyonya yang maju hanya dengan maksud menahan pertempuran saja.

"Mengapa pertadingan dihentikan? Aku masih belum kalah!"

Tanya Siang Cu marah dan kedua matanya yang bening seakan akan mengeluarkan cahava berapi ketika ia memandang kepada Sian Hwa.

"Ya, ibu, mengapa dihentikan? Aku sudah hampir mengalahkannya!"

Siauw Yang juga memprotes. Akan tetapi Sian Hwa tidak menjawab semua pertanyaan itu, melainkan berdiri bagaikan tercengang memandang kepada Siang Cu.

"Tak salah lagi.... mata itu....hanya warnanya saja yang berbeda akan tetapi bentuknya sama...."

"Eh, apakah yang kaumaksudkan....?"

Siang Cu merasa serem juga ketika ia melihat pandang mata nyonya itu menatap wajahnya dengan penuh selidik.

"Nona, kau adalah puteri dari Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luille....tak salah lagi....!"

Untuk kedua kalinya berdebar hati Siang Cu dan sampai lama ia tidak dapat membuka mulut. Siauw Tang terkejut sekali mendengar ini dan ia bertanya.

"Betulkah, ibu? Akan tetapi bagaimana ia menjadi begini ganas dan jahat?"

Merah wajah Siang Cu mendengar omongan Siauw Yang ini dan menjadi marah.

"Memang aku jahat dan ganas, kaucobalah lenyapkan aku kalau mampu! Aku tidak kenal siapa itu Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee, aku seorang rendah dan jahat, mana mungkin menjadi anak bangsawan bangsawan tinggi?"

Biarpun ia berkata demikian, namun alangkah inginnya ia mendengar lebih banyak tentang pangeran dan puteri itu, alangkah rindunya ia untuk mendengar tentang orang orang tuanya yang tak pernah dikenalnya!

Adapun perasaan ini mendatangkan rasa keharuan besar sehingga basahlah kedua matanya.

Sian Hwa melangkah maju mendekati Siang Cu yang masih memegang pedang Cheng hong kiam.

"Pedang itu.... bukankah itu Cheng hong kiam dari kota raja? Dari siapa kau mendapat pedang itu!"

"Dari suhu, aku tidak pernah mencurinya dari kota raja!"

Jawab Siang Cu yang sedapat mungkin masih hendak bersikap galak dan kasar untuk menyembunyikan kelemahan hatinya.

"Dan mengakulah terus terang, adakah tanda tahi lalat merah di betis kaki kirimu?"

Tanya Sian Hwa sambil menahan napas, kelihatannya tegang dan menahan perasaannya yang bergoncang.

Makin merah wajah Siang Cu mendengar ini.

Bagaimana nyonya ini bisa tahu bahwa ada tahi lalat merah di betis kaki kirinya?

Kalau saja di situ hadir seorang laki laki, agaknya gadis yang keras hati ini tidak sudi mengaku, akan tetapi oleh karena yang ada di situ hanyalah Siauw Yang dan Sian Hwa dua orang wanita, tanpa ragu ragu ia menjawab.

"Memang betul ada...."

Belum habis ia bicara, Sian Hwa sudah maju menubruk dan memeluknya sambil bercucuran air mata "Kau benar Kiang Gwat Eng.... ah, anak ku.... alangkah buruk nasibmu....!"

Siang Cu menjadi terkejut dan bingung. Tanpa terasa lagi pedang Cheng hong kiam terlepas dari tangannya, jatuh ke atas pasir pantai.

"Eh, bagaimanakah ini....? Aku tidak mengerti....?"

"Anakku yang baik, kau sebenarnya bernama Kiang Gwat Eng, anak tunggal dari sahabat baikku Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee yang budiman. Ketika kau masih kecil, kau diculik oleh Lam hai Lo mo yang jahat, dan rupanya kau dipelihara dan dididik menjadi muridnya untuk membantu sepak terjangnya yang tidak bersih...."

"Apa buktinya? Bagaimana kau tahu akan hal ini?"

Siang Cu atau Gwat Eng masih ragu ragu, namun jantungnya bergoncang dan mukanya pucat.

Jilid XXIX "BUKTINYA?"

Sian Hwa melepaskan pelukannya, memegang kedua pundak gadis itu dan menatap wajahnya dengan airmata masih berlinangan di atas kedua pipinya.

"Buktinya tanda merah pada betis kakimu, dan persamaan wajahmu dengan Puteri Luilee, dan pedang ini.... karena pedang inipun dicuri oleh Lam hai Lo mo pada saat ia menculikmu."

Sian Hwa berhenti sebentar untuk mengambil napas, karena ia bicara cepat cepat untuk segera memberi penjelasan kepada gadis itu.

"Dan pula orang tuamu meninggalkan surat pesanan kepada kami."

"Mana surat itu?"

"Dibawa oleh suamiku yang kini sedang menuju ke Pulau Sam liong to, memenuhi tantangan gurumu yang jahat itu."

Kata kata terakhir dari Sian Hwa ini mengandung kekhawatiran.

"Di mana adanya pangeran dan puteri yang kauanggap sebagai orang tuaku itu? Aku hendak mencari mereka dan membuktikan sendiri."

"Mereka telah tewas terbunuh...."

"Terbunuh...?! Siapa yang membunuh mereka?"

"Siapa lagi yang membunuh kalau bukan Lam hai Lo mo si jahat itu, Gwat Eng, Lam hai Lo mo membunuh kedua orang tuamu dan kemudian menculikmu sambil mencuri pedang. Ayahmu masih sempat menulis surat peninggalan untuk kami."

Wajah Siang Cu menjadi pucat dan kedua tangannya menggigil.

Gurunya yang memelihara dan mendidiknya semenjak kecil, yang kelihatan begitu penuh kasih sayang terhadapnya, benar benarkah gurunya telah melakukan perbuatan yang demikian kejinya terhadap orang tuanya?

Akan tetapi keraguan ini dilenyapkan oleh ingatan betapa gurunya memang amat kejam dalam menghadapi orang orang Go bi pai dan ketika menyerbu rumah Thian te Kiam ong di Tit le.

Namun, ia masih sangsi....

dan berkatalah ia tanpa disadari.

"Mungkinkah suhu melakukan hal itu.... ?"

"Kau tanyalah saja kepada si jahat Lam hai Lo mo, pasti dia lebih tahu akan hal itu,"

Kata Sian Hwa yang kembali teringat akan keadaan suaminya.

"Siauw Yang, mari kita segera menyusul ayahmu, siapa tahu kalau kalau Lam hai Lo mo yang jahat itu telah mengatur perangkap. Aku cukup kenal kecurangannya."

"Baik, ibu, memang tadinya akupun hendak ikut!"

"Gwat Eng, marilah kau pergi bersama kami, di Pulau Sam liong to kau akan dapat mencari bukti dari Lam hai Lo mo sendiri tentang penuturanku tadi."

Siang Cu memungut pedangnya dan mengangguk ia hanya dapat mengeluarkan kata kata perlahan yang diulang ulangnya kembali.

"Kalau benar benar dia membunuh kedua orang tuaku...."

Biarpun kata kata yang diulang ulang ini tidak dilanjutkan, namun Siauw Yang dan Sian Hwa dapat menangkap ancaman maut yang terbayang pada mata gadis baju merah yang gagah itu dan diam diam mereka menaruh hati kasihan kepada gadis yang bernasib malang itu.

Siauw Yang tadi telah melihat betapa Pun Hui ditolong oleh Leng Li dan dibawa lari oleh pengantin itu, maka dapat dibayangkan bahwa ia amat gelisah memikirkan pemuda itu.

"Ibu, apakah ibu melihat di mana adanya Liem suheng?"

Ia pura pura bertanya kepada ibunya. Semenjak tadi, Sian Hwa juga memperhatikan Pun Hui karena ia tahu bahwa pemuda itu tidak pandai silat.

"Tadi kulihat dia dibawa pergi oleh pengantin wanita yang agaknya menolongnya dari serangan orang orang Pangeran Ciong. Entah ke mana dibawanya dan akupun tidak tahu mengapa pengantin wanita itu bahkan membantu kita."

"Dia adalah seorang sahabat, ibu. Dia puteri dari Sin tung Lo kai Thio Houw."

"Hm, tadi aku melihat pemuda itu dibawa lari dan dibela mati matian oleh calon isteri Ciong Pak Sui. Tentu ia akan selamat, tak perlu dikhawatirkan,"

Kata Siang Cu yang juga melihat peristiwa itu.

Merah wajah Siauw Yang.

Memang dia juga dapat menduga bahwa Leng Li tentu akan menolong Pun Hui dan tidak bermaksud buruk.

Dia sendiri tak mengerti mengapa tiba tiba Leng Li memberontak dan agaknya tidak suka menjadi isteri Pangeran Ciong, dan ia cukup tahu akan kegagahan nona ketua pengemis itu.

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 5

Baca Juga: Si Tangan Sakti 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert