Eps 9 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.
Kata Siang Cu, akan tetapi suhunya sudah menyeret tangannya diajak terus naik melalui para penjaga yang berdiri menjauh dengan muka pucat.
Pada lapisan penjaga ke dua.
kembali Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu yang buntung kakinya itu menggerakkan tongkatnya dan membunuh beberapa orang penjaga dengan amat mudah, semudah orang mencabut rumput kering saja.
Tentu saja keadaan menjadi geger.
Makin tinggi Lambai Lo mo dan muridnya naik, makin gemparlah keadaan.
Penjaga di bukit itu diatur sedemikian rupa sehingga makin tinggi, para penjaga terdiri dan orang orang yang lebih tinggi ilmu silatnya.
Namun, sampai di tempat penjagaan ke lima, sekali saja mengerakkan tongkat, selalu beberapa orang penjaga roboh tak bernyawa pula dalam keadaan mengerikan kalau tidak kepalanya pecah tentu lehernya putus tulangnya!
Akhirnya Lam hai Lo mo dan Siang Cu berhadapan dengan tujuh orang murid kepala dari Go bl pai yang turun tangan sendiri dan menjaga di depan gerbang pintu masuk yang menuju ke kelenteng!
Melihat tujuh orang hwesio yang sikapnya seperti orang orang berkepandaian, Siang Cu yang sejak tadi merasa gelisah dan menyesal sekali melihat keganasan suhunya, segera mendahului suhu nya dan bertanya.
"Cu wi suhn harap jangan menghadang dijalan dan lekas beritahukan di mana adanya bangsat besar Siauw giam ong Lie Chit. Kami datang hanya hendak menghukumnya, kalau tidak dihalangi kami takkan mengganggu lain orang."
Akan tetapi, tujuh orang murid kepala yang sudah mendengar betapa kakek buntung dan muridnya ini telah menewaskan banyak sekali anak urind Go bi pai, sudah menjadi marah sekali.
Giok Seng Hosiang menggerakkan toyanya dan berkata keras.
"Siluman buntung dan siluman rase datang datang mengacau dan membunuh orang orang tak berdosa, karang kau menghendaki supaya kami mengalah saja? Sudah berkali kali diberitahukan bahwa di sini tidak ada orang bernama Siauw giam Lie Chit, akan tetapi kalian tidak percaya dan memaksa naik mengotori tempat kami yang suci. Demi nama Buddha yang penuh welas asih, kami selalu akan menolong orang orang baik dan memelihara nyawa binatang binatang yang tak berdosa. Namun siluman siluman seperti kalian ini yang selalu merusak dan membunuh, harus kami basmi!"
Siang Cu memang berwatak keras.
Tadinya ia merasa kasihan melihat tujuh orang hwesio tua ini dan berusaha untuk mendahului suhunya, menyelamatkan mereka dari keganasan tongkat suhunya yang lihai.
Akan t tapi ketika ia mendengar ucapan ini, mendengar betapa suhunya dimaki siluman buntung dan dia sendiri dimaki siluman rase yang dalam dongeng suka menjelma menjadi wanita cantik, ia menjadi marah bukan main.
"Bangsat tua bangka! Kepala gundulmu dan jubahmu hanya untuk kedok saja, ternyata kalian memang orang orang busuk yang sudah bosan hidup. Kalau ingin mampus, majulah!"
Giok Seng Hosiang dan enam orang adik seperguruannya lalu menggerakkan senjata masing masing, menyerbu dengan marah sekali ke arah Siang Cu.
Melihat gerakan mereka, gadis ini terkejut juga.
Angin keras menyambar dari senjata toya yang dipegang oleh Giok Seng Hosiang dan lain lain hweso yang memegang pedang, golok dan tongkat, juga memiliki kepandaian yang Cukup tinggi.
Siang Cu di samping kekejamannya, juga timbul kegembiraannya karena sebagai murid seorang pandai yang telah memiliki ilmu silat tinggi tidak ada kegembiraan yang lebih besar daripada menghadapi lawan yang tangguk!
Maka segera ia menggerakkan pedangnya, melayang layang di antara sambaran senjata senjata dari tujuh orang hwesio itu.
Silau mata Giok Seng Hosiang dan adik adik seperguruannya melihat cahaya pedang yang berkelebat dari gadis itu.
Mereka maklum bahwa gadis itu benar benar h hai sekali, namun mereka adalah murid murid dari Gobi Sam thaisu, tokoh tokoh Go bi pai yang memiliki kesaktian, maka sambil berseru nyaring mereka menggerakkan senjata mengepung ramai ramai dan berusaha mendesak gadis itu.
Adapun Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu ketika melihat muridnya dikeroyok, ia memandang dengan penuh perhatian dengan sepasang matanya yang seperti mata burung setan itu, iapun melihat bahwa tujuh orang hwesio ini tingkat kepandaian nya jauh berbeda dengan hwesio hwesio yang tadi menjaga dijalan bukit.
Diam diam ia bergembira dan membiarkan saja muridnya dikeroyok, karena ia hendak memberi kesempatan kepada muridnya untuk berlatih.
Beberapa kali ia tertawa tawa terkekeh kekeh dengan suara amat menyeramkan kalau melihat betapa sinar pedang Siang Cu mendesak lawannya.
Biarpun Siang Cu memiliki watak yang keras dan kadang kadang kelihatan seperti ganas, namun sebenarnya, watak yang baik dari ayah bundanya masih mengalir di dalam darah di tubuhnya, ia tidak suka sembarangan membunuh orang, apalagi orang orang yang dianggapnya tidak berdosa, ia baru mau membunuh orang yang dianggapnya memang jahat dan patut disingkirkan karena membahayakan keselamatan umum.
Kini menghadapi tujuh orang hwesio tua ini, iapun tidak tega untuk membunuh mereka.
Maksudnya hanya hendak mengalahkan mereka dan kalau mungkin merobohkan dengan luka yang tidak membahayakan nyawa.
Akan tetapi hal ini amat sukar baginya.
Tujuh orang lawannya bukanlah orang lemah dan karena sikapnya yang tidak keras ini membuat ia sukar mendesak lawan lawannya.
Kalau sekiranya Siang Cu berhati kejam dan mau menurunkan tangan besi.
agaknya ia akan dapat menewaskan tujuh orang lawannya itu seorang demi seorang.
Ilmu pedangnya memang amat ganas dan lihat, yang khusus diciptakan oleh Lam hai Lo mo untuk muridnya ini.
Adapun Lam hai Lo mo ketika melihat kelemahan hati muridnya dan maklum bahwa muridnya sengaja berlaku mengalah dan tidak menyerang sungguh sungguh, menjadi penasaran sekali.
Kalau saja muridnya menjatuhkan tangan ir.aut dan membunuh tujuh orang lawannya, tentu ia akan menjadi girang dan bangga sekali.
Akan tetapi kini Siang Cu tidak mau membunuh lawannya sehingga nampaknya terdesak oleh tujuh orang pengeroyoknya.
"Siang Cu, kau memalukan gurumu!"
Sambil berkata demikian, tubuh kakek buntung ini bergerak cepat sekali dan tongkatnya bergerak menyambut bagaikan halilintar mencari korban.
Terdengar teriakan ngeri dan seorang di antara tujuh murid kepala Go bi pai itu terlempar jauh dengan tulang iga patah patah karena pukulan tongkatnya yang lihai.
"Suhu, jangan membunuh....!"
Seru Siang Cu dengan muka berobah.
Makin lama, keganasan suhunya makin mengerikan hatinya.
Ketika ia tinggal berdua dengan suhunya di pulau kolong, ia tidak pernah melihat watak sesungguhnya dari Lam hai Lo mo.
Sekarang setelah ia masuk ke dunia ramai bersama kakek itu menyaksikan keganasan gurunya yang luar biasa dan amat mengerikan, ia menjadi terkejut sekali.
Tak pernah disangkanya watak yang demikian kejam, yang membunuh manusia begitu mudah seperu orang membunuh nyamuk saja.
Akan tetapi, seruannya itu tidak dapat mencegah suhunya, bahkan Lam hai Lo mo berkata sambil tertawa bekakakan.
"Siang Cu, kau lihat. Begitulah caranya memberi hukuman kepada setan setan gundul ini. Ha, ha, ha!"
Kembali tongkatnya berkelebat.
Enam orang hwesio itu menahan dengan senjata mereka namun seorang di antaranya tidak dapat menahan.
Pedangnya terpukul membalik dan menancap ai dadanya sendiri sampai tembus ke punggungnya.
Melihat ini.
Giok Seng Hosiang berseru marah.
"Siluman buntung yang jahat, siapakah kau dan mengapa kau merusak keamanan Go bi pai? Permusuhan apakah yang membuat kau mengamuk seperti ini?"
Lam hai Lo mo tertawa mengejek.
"Mana Go bi Sam thaisu? Suruh mereka keluar, mereka akan mengenalku!"
"Sam wi suhu kami sedang turun gunung."
Kata Giok Seng Hosiang.
"Hm, kalau begitu siapa wakilnya yang memimpin Go bi pai pada saat ini?"
"Pmceng (aku) yang menjadi murid kepala tertua,"
Jawab Giok Seng Hosiang.
Batu saja ia menutup mulutnya, Lam hai Lo mo sudah melompat ke dekatnya dan sekali mengulurkan tangan kiri, kakek ini telah menangkap belakang leber Giok Sang Hosiang dan mengancam.
"Bagus! Kalau begitu, kaulah yang bertanggung jawab. Lekas kausuruh keluar bangsat Lie Chit itu. Kalau tidak, batok kepalamu yang licin akan kuhancurkan!"
Lalu Lam hai Lo mo menambahkan dengan suaranya yang menyeramkan.
"Kau mau tahu siapa aku? Semua dewa dan iblis dari Laut Selatan adalah hamba sahayaku, tahu?"
Mendengar ini, seperti terbang semangat Giok Seng Hosiang meninggalkan raganya.
"Locianpwe.... apakah Lam hai Lo mo Seng Jin Siansi?"
Tanyanya. Karena siapa lagi orangnya yang mengaku menjadi raja dari selatan selainnya Lam hai Lo mo (Iblis Tua dari Laut Selatan)?"
"Ha, ha, ha, pendengaranmu baik juga. Nah, sekarang kau lekas suruh bangsal Lie Chit keluar."
"Maaf, locianpwe, di sini sesungguhnya tidak ada murid bernama Lie Chit."
"Kau juga keras kepala dan harus mampus!1 Sambil berkata demikian, Lam hai Lo mo melemparkan tubuh Giok Seng Hosiaug demikian kerasnya sehingga tubuh hwesio itu tertumbuk pada dinding kelenteng dan roboh dengan kepala pecah dan tidak bernyawa lagi.
"Suhu....!"
Kembali Siang Cu berteriak ngeri.
Akan tetapi, Lam hai Lo mo sudah timbul marahnya karena merasa amat kecewa tidak dapat bertemu dengan Siauw giam ong Lie Chit yang telah mencuri emasnya.
Tongkatnya digerak gerakkan dengan amat hebatnya sambil memaki maki dan menggereng seperti seekor harimau buas.
Adapun lima orang murid kepala yang lain, kini dibantu oleh hwesio hwesio yang berada di situ, juga menjadi marah sekali sungguhpun mereka merasa gentar.
Sambil berteriak teriak mereka maju mengurung.
Kasihan sekali para hwesio ini, karena mana mereka dapat melawan Lam hai Lo mo yang lihai?
Mereka itu bagaikan nyamuk nyamuk kecil yang melawan nyala api, begitu datang dekat tentu roboh binasa menjadi korban tongkat di tangan Lam hai Lo mo yang lihai.
Mayat mayat bergelimpangan di depan kelenteng.
Melihat ini, Siang Cu berteriak teriak sambil menangis.
Hatinya tidak karuan rasanya.
Tak pernah dibayangkannya sedikit pun juga semenjak ia menjadi murid gurunya bahwa suhunya adalah seorang iblis yang demikian kejamnya!
"Suhu....!
Suhu....!
Cukup, suhu, jangan membunuh begitu kejam..
Teecu tak kuat melihatnya...."
Namun Lam hai Lo mo menjadi makin marah mendengar ini.
Ia merasa seakan akan muridnya itu menentangnya dan baru kini ia insyaf bahwa watak muridnya itu sama sekali tidak cocok dengan wataknya sendiri, ia tega untuk membunuh semua orang yang dianggap menghalang halanginya.
Biarpun ia harus membunuh seribu orang sekalipun.
"Tutup mulut! Lebih baik kau bantu aku members! kan tikus tikus ini!"
Katanya dan tongkatnya mengamuk makin hebat.
Siang Cu tidak dapat menahan kengerian harinya melihat begitu banyak orang menjadi korban keganasan gurunya, ia melompat di depan Lam hai Lo mo dan menggerakkan pedangnya menangkis tongkat gurunya.
"Suhu, tahan....!"
Lam bai Lo mo tertegun. Muridnya telah berani menangkis tongkatnya! "Anak gila! Apa maksudmu menahanku? Siang Cu menjatuhkan diri berlutut sambil bercucuran air mata.
"Suhu.... ampunkan teecu.... sesungguhnya teceu tidak berani menahan suhu dan tentu teecu akan membantu sekuat tenaga karau sekiranya suhu menghadapi musuh musuh besar yang tangguh. Akan tetapi.... mereka ini... mereka adalah pendeta pendeta yang lak berdosa.... mungkin sekali Lie Chit memang tidak berada di sini. Suhu, untuk apa suhu membunuh sekian banyaknya orang.... !"
Makin berkobar api kemarahan dalam dada Lam hai Lo mo.
Ia menghantamkan tongkatnya pada sebuah patung singa di depan kelenteng, Terdengar suara keras dan patung singa itu hancur lebur, ia marah sekali dan kalau menurutkan keparahannya, sebetulnya hantaman tadi ditujukan kepada kepala Siang Cu.
Namun, di dalam hatinya ada sesuatu yang aneh, rasa kasih sayang yang luar biasa terhadap muridnya mencegahnya membunuh gadis ini dan sebaliknya ia menghancurkan patung singa, ia telah lama memelihara dan mendidik gadis ini dan telah tumbuh cinta kasih seorang ayah terhadap anak sendiri di dalam hati nya terhadap murid ini.
Dan sekarang murid ini, yang disayangnya lebih dari nyawanya sendiri, telah berani menentangnya.
"Anak gila, kau tahu apa tentang keadaan manusia? Pendeta pendeta inipun setan setan berwujud manusia, harus dibasmi."
Sambil berkata demikian, kemarahannya memuncak, kini ditujukan kepada semua hwesio Go bi pai karena hwesio hwesio ini dalam anggapannya dibela oleh Sang Cu.
Di dalam hati yang memang kotor ini timbul anggapan bahwa Siang Cu lebih sayang kepada fawcsio hwesio ini daripada kepadanya.
Memang demikianlah hati orang yang sudah tua oleh nafsu iblis dan kebencian.
Orang yang membenci orang lain, siapapun juga yang mencoba untuk mendamaikannya, tentu dia akan menganggap bahwa pendamai itu lebih membela orang yang dibencinya.
Inilah kelihaian siasat iblis yang sudah menguasai hati orang yang digoda nya.
Demikian pula Lam hai Lo mo.
Dia sedang marah dan membenci pendeta pendeta Go bi pai bermaksud membasmi mereka Sekarang Siang Cu berani mencegahnya, mana dia bisa sadar bahwa perbuatan muridnya itu semata mata karena sayang kepadanya dan hendak mencegah suhunya melakukan dosa besar.
Sebaliknya, dia malah mengira bahwa Siang Cu lebih sayang kepada para pendeta itu daripada kepadanya sendiri.
Ia makin marah kepada para pendeta itu dan sekali melompat sambil mengayun tongkat kembali dua orang hwesio roboh dan tewas.
"Suhu, jangan....!"
Seru Siang Cu sambil melompat dan menghadang suhunya.
Ayunan tongkat suhunya ditangkisnya dan sebentar saja terpaksa Lam hai Lo mo harus menyerang muridnya sendiri untuk dapat mengejar hwesio hwesio itu.
Siang Cu mengerahkan kepandaian dan tenaganya untuk menghalangi suhunya sehingga timbul pertempuran hebat antara guru dan murid ini, sungguhpun bukan dengan maksud saling merobohkan, hanya untuk saling menghindarkan saja.
"Lekas kalian lari, bodoh!"
Seru Siang Cu berulang ulang kepada para hwesio yang maiib ingin mengeroyok Lam hai Lo mo.
"Apakah kalian sudah bosan hidup? Lekas kalian lari pergi turun gunung !"
Sementara itu, Lam hai Lo mo berteriak teriak "Akan kubunuh kalian semua!"
Namun pedang di tangan Siang Cu bergerak cepat sekali dan selalu menghadang ke mana juga pun kakek ini bergerak.
Para hwesio kini menjadi jerih sekali dan mereka berlari cerai berai meninggalkan tempat itu sehingga keadaan menjadi sunyi.
Namun Siang Cu tetap saja menahan suhunya, karena maklum bahwa kalau ia melepaskan suhu nya, kakek sakti ini tentu akan dapat mengejar dan banyak orang akan tewas pula.
"Siang Cu bocah gila, kau minggirlah!"
Berkali kali Lam hai Lo mo berteriak, akan tetapi Siang Cu mempertahankan.
"Kau murid murtad!"
Lam hai Lo mo berseru marah.
"Lebih baik suhu membunuh teecu daripada membunuh semua orang tak berdosa itu"
Jawab Siang Cu. Kau mau mati?"
Bentak La m hai Lvmo dan kini tongkatnya diputar luar biasa hebatnya sehingga menimbulkan angin puyuh, Siang Cu terkejut sekait karena sekarang suhunya benar benar menyarangnya dengan kehebatan yang luar biasa.
Sementara itu Lam hai Lo mo berteriak teriak "Akan kubunuh kalian semua !
Kubasmi kalian semua!"
Tongkat itu seakan akan berobah menjadi puluhan batang banyaknya dan menyerang ke arah jalan darah dan bagian bagian tubuh yang bercahaya.
Terpaksa Siang Cu lalu memutar pedangnya Cheng hong kiam sehingga pedang itu berobah menjadi segulung sinar hijau yang menyambar ke sana ke mari, menangkis setiap serangan tongkat.
Namun sai sia, karena dalam kemarahannya, Lam hai Lo mo mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan mana Siang Cu dapat bertahan?
Beberapa puluh jurus kemudian, pedangnya terlempar dari tangannya dan sebuah sambaran toya ke arah kakinya membuat gadis itu terjungkal.
Namun ternyata kasih sayangnya yang amat besar terhadap Siang Cu telah menolong gadis itu.
Lam hai Lo mo tidak tega untuk membunuh muridnya yang terkasih, maka ia hanya membikin muridnya terjungkal saja.
Siang Cu kini merasa bahwa para hwesio sudah pergi jauh, maka ia lalu berlutut dan berkata menangis.
"Suhu, kalau suhu hendak membunuh teecu, silahkan."
Sebaliknya, Lam hai Lo mo lalu menancapkan tongkatnya di atas tanah untuk menghilangkan kemendongkolan hatinya.
"Sudahlah, sudahlah! Kita telah melakukan sesuatu yang amat memalukaji. Ambil pedangmu dan mari kita pergi dari sini!"
"Terima kasih, suhu kata Siang Cu sambil irengambil peaangnya. Sebelum gadis ini menyarungkan pedangnya, gurunya berkata.
"Lain kali jangan kau membangkitkan marahku, Siang Cu. Aku bisa lupa dan kau akan celaka oleh tongkatku."
Siang Cu memandang ke arah pedangnya yang belum dimasukkan ke dalam sarung pedang lalu menjawab.
"Asal saja suhu tidak berlaku sekejam tadi, selamanya texu mana berani menghalangi kehendak suhu? "Kalau aku berbuat seperti tadi lagi, bagaimana?"
"Kalau begitu.... entah, teecu tidak berani berjanji karena teecupun bertindak atas dorongan sikap kasihan. Harap saja suhu tidak mengulangi lagi."
"Hm, hm.... akupun tidak bisa berjanji padamu. Bagaimana nanti sajalah!"
Kata Lam hai Lo mo sambil mencabut tongkatnya dan segera berlari pergi dari situ dengan hati mendongkol.
Siang Cu cepat menyusul suhunya dan dua orang ini meninggalkan Go bi san.
Beberapa pekan kemudian, mereka tiba di Tit le.
Siang Cu makin merasa tidak puas melihat sikap suhunya.
Beberapa hari yang lalu, kembali gurunya berlaku sewenang wenang, membunuh seorang pemuda hanya karena pemuda itu menyatakan kagum akan kecantikan Siang Cu dalam ucapan yang agak kurang ajar.
Kemudian dalam sebuah rumah makan, ketika pelayan tidak percaya kepadanya dan minta diperlihatkan uang lebih dulu untuk membayar pesanan masakan yang mahal mahal dan kakek itu, kembali Lam hai Lo mo menjatuhkan tangan maut, membunuh pelayan itu, lalu memaksa pemilik rumah makan mengeluarkan semua makanan yang sudah dipesan, makan dengan enak dan pergi tanpa membayar.
Beberapa kali Siang Cu menyatakan ketidak puasannya, akan tetapi gurunya hanya menjawab.
"Siang Cu, kau tahu apa tentang kehidupan di dunia kang ouw ? Sebagai muridku, kau harus tunduk dan taat, habis perkara. Kau mau pura pura berlaku baik? Ha, ha, kau belum tahu akan watak manusia, yang dilakukan baik baik namun membalas dengan kejahatan. Kalau kau sudah banyak dikecewakan, kelak kau akan menganggap orang orang yang berlaku baik itu sebagai erang se bodoh bodoh nya."
Malam hari itu, bagaikan dua sosok bayangan setan, Lam hai Lo mo dan Siang Cu berlompatan di atas genteng rumah rumah orang tidak langsung menuju ke rumah Thian te Kiam ong Song Bun Sam.
Mudah saja bagi mereka untuk mendapatkan keterangan di mana rumah pendekar besar itu.
Siang Cu berdebar hatinya.
Tidak hanya dia bahkan Lam hai Lo mo sendiripun merasa hati nya tidak tenteram, ia tengah menuju ke rumah seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali.
Boleh dibilang lawan yang akan dihadapi ini ada lah orang yang paling tinggi kepandaiannya yang pernah dilawannya, maka setidaknya ia menjadi gelisah.
"Hati hatilah, Siang Cu. Pekerjaan ini bukan main main. Selain usahaku ini untuk membalas dendam kepada Thian te Kiam ong yang sudah membuat aku menjadi seorang bercacad seperti ini, juga kepandaiannya amat tinggi. Kau harus berhati hati sekali. Menghadapi isterinya. tak usah khawatir, Kau saja dapat membereskannya. Akan tetapi kalau nanti aku bertempur melawan Thian te Kiam ong sendiri, kau harus membantuku, persiapkan jarum jarum hitammu, karena dilawan dengan berbarang saja belum tentu kita akan menang "
Tentu saja Siang Cu menjadi tegang hatinya.
Belum pernah ia melihat suhunya begitu gelisah dan takut menghadapi lawan.
Kalau ia melihat keadaan suhunya yang rusak tubuhnya itu, timbul kebencian besar di dalam hatinya terhadap Thian te Kiam ong Kali ini ia anggap usaha suhunya auciv maka ia bertekad hendak membantu sekuat tenaga, kalan perlu ia bersedia jiwa untuk membalas budi suhunya.
Karena mereka mempergunakan ilmu lari cepat, sebentar saja mereKa noa di atas genteng rumah besar dari Thian te Kiam ong.
Rumah itu besar dan sunyi.
Biarpun waktu itu belum malam benar, akan terapi keadaan sudah agak gelap, lampu lampu yang dipasang di dalam rumah itu telati dikecilkan.
Bihkan di bagian dalam tidak di pasangi lampu hanya di bagian depan dan belakang saja.
Lam hai Lo mo tidak berani buru buru turun dari genteng, hanya mendekam sambil ihendengar kan dengan penuh perhatian Lapat lapat ia mendengar suara orang bicara di bagian belakang rumah, akan tetapi di bagian dalam sunyi saja.
Siang Cu mendekam di belakang suhunya, tangan kanan memegang pedang, tangan kiri menggenggam jarum jarum hitamnya.
Setelah mempelajari keadaan di bawah selama beberapa menit, L&m hai Lo mo lalu memberi tanda dengan tangannya kepada Siang Cu untuk melompat turun.
Mereka melakukan ini dengan hati hati sekali, memilih kebun belakang untuk turun dengan gerakan amat ringan.
Kemudian, berindap indap mereka memasuki rumah itu dari pintu samping setelah tanpa mengeluarkan bunyi sediktpun Lam hai Lo mo menggunakan tenaga lweekangnya untuk mematahkan engsel pintu yang tertutup itu.
Baru saja mereka memasuki ruang belakang, tiba tiba terdengar orang bertanya.
"Siapa kau?"
Cepat bagaikan kilat menyambar, tongkat Lam hai Lo mo bergerak, terdengar suara "prak!"
Dan orang yang menegur mereka itu roboh tanpa dapat membuka suara pula.
Ketika memandang dengan teliti, ternyata bahwa erang nu adalah seorang pelayan.
Lam hai Lo mo tidak merasa puas melihat orang itu liati, tongkatnya bergerak lagi ke arah leher orang itu dan remuklah tulang leher nenkut daging dan kulitnya.
Leher orang itu putus sama sekali seperti dibabat oleh golok tajam!
Ngeri juga hati Siang Cu melihat ini.
Kembali gurunya telah kambuh gilanya, pikirnya.
Kalau gurunya bermusuh dengan Thian te Kiam ong, mengapa berlaku sekejam itu kepada seorang pelayan yang tidak berdosa?
Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia tidak mau membuka mulut.
Lam hai Lo mo terus menuju ke ruang tengah dan mencari kamar besar.
Ia berhasil memasuki kamar yang tinggal gelap.
Sebelum masuk ke dalam kamar itu, beberapa kali tangan kirinya b rgerak dan puluhan butir jarum hitam menyambar ke seluruh penjuru kamar itu, menyebar maut.
Akan tetapi tidak ada suara apa apa yang terdengar Sebagai akibat sambaran jarum jarumnya itu.
Lam hai Lo mo tidak puas dan menerjang masuk sambil memutar tongkatnya seperti orang gila.
Terdengar suara hiruk pikuk dan meja kursi serta pembaringan di dalam kamar itu patah patah dan hancur terkena amukan tongkat kakek buntung ini.
Setelah mendanai kenyataan bahwa kamar itu benar benar kosong, Lam hai Lo mo melompat keluar.
Di dalam rumah itu terdapat tiga buah kamar, yakni kamar Soug Bun Sam bersama isterinya, kamar Tek Hong, dan kamar Siauw Yang.
Tiga kamar ini semua menjadi korban dari amukan tongkat Lam hai Lo mo diobrak abrik dan dihancurkan.
Kemudian, dengan penasaran sekali karena tidak melihat orang di situ.
Lam hai Lo mo lalu mengajak muridnya menuju ke belakang.
Suara gaduh tadi menarik perhatian dua orang nelayan dari rumah itu yang tadi bercakap cakap di ruang belakang, di kamar pelayan.
Mereka berdua lalu pergi ke dalam rumah hendak memeriksa apakah yang menimbulkan gaduh itu.
Baru saja mereka, tiba di ambang pintu tembusan, tiba tiba Lam hai Lo mo dan Siang Cu bergerak Lam hai Lo mo menggerakkan tongkatnya dan seorang pelayan roboh dengan kepala terpisah dari tubuh.
Ternyata dengan seksh sabet saja, leher orang itu telah putus.
Siang Cu yang kini sudah tahu akan keganasan suhunya, mendahului suhunya itu, cepat melompat dan menangkap pelayan ke dua.
"Lekas katakan, di mana adanya Thian te Kiam ong Song Bun Sam?"
Bentaknya perlahan. Pelayan itu gemetar seluruh tubuhnya sehingga untuk beberapa lamanya ia tidak dapat menjawab, ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Song taihiap sedang pergi keluar kota, entah ke mana."
Siang Cu menjadi kecewa mendengar ini, akan tetapi Lani Lo mo menjadi marah Tanpa dapat dicegah oleh Siang Cu, tongkatnya bergerak dan pelayan inipun roboh dengan tulang leher putus seperti dua orang kawannya!
Kemudian Lam hai Lo mo mengamuk, semua anjing, kucing dan ayam peliharaan Song Bun Sam dibunuh, lau untuk melampiaskan kemarahannya, ia membakar rumah itu menjadi abu!
"Suhu, kau terlalu!"
Siang Cu berkata marah sekali, ia menganggap perbuatan suhunya di luar batas kesopanan.
Biarpun terhadap musuh besar, tidak semestinya suhunya membunuh para pelayan yang tidak berdosa, bahkan membakar rumah sampai habis.
Ini bukanlah perbuatan gagah, lebih patut disebut perbuatan pengecut, membunuh pelayan dan membakar rumah di waktu musuh besar itu tidak ada di rumah!
Lam hai Lo mo marah sekali.
"Apa kau bilang? Terlalu? Eh, Siang Cu, bukankah kau muridku? Apakah sekarang kau juga hendak membela Tfaian ts Kiam ong si jahanam?"
"Bukan begitu, suhu. Teecu hanya bersedih melihat sepak terjang suhu yang terlalu kejam. Apakah dosanya para pelayan itu? Apa dosanya binatang binatang peliharaan tadi? Dan mengapa pula membakar rumah sedangkan tuan rumah tidak ada? "Kau perduli apa? Apakah kau lebih sayang kepada pelayan pelayan tadi daripada kepadaku? Apakah kau lebih sayang kepada anjing dan ayam daripada kepada gurumu? Kau muridku, kudidik semenjak kecil Kau harus tunduk dan taat kepadaku, segala sepak terjangku bahkan harus kau contoh. Nah, lihat ini!"
Lam hai lo mo menggunakan kakinya untuk menendang mayat seorang di antara pelayan pelayan tadi sehingga mayat itu terlempar ke dalam api yang bernyala nyala.
"Hayo kau turut perbuatanku dan lemparkanlah dua orang pelayan yang lain ke dalam api pula!"
Siang Cu menjadi mendongkol bukan main.
Ia tidak mentaati perintah suhunya, bahkan lalu membalikkan tubuh keluar dari pekarangan rumah itu, Lam hai Lo mo marah sekali.
Dua kali tendangan membuat dua mayat yang lain melayang ke dalam api, kemudian ia mengejar muridnya "Siang Cu, kalau aku tidak sayang kepadaku, sekarang juga kuhancurkan kepalamu.
Kau harus tunduk dan taat kepadaku, biar andaikata kau kujodohkan dengan putera Tung hai Sian jin itu atau bahkan kaupun harus tunduk andaikata kau kuambil menjadi isteriku sendiri.
Kau adalah anak yatim piatu, aku yang membesarkanmu, aku yang memeliharamu dan aku yang mendidikmu.
Mengerti?"
Akan tetapi, ucapan yang keluar dari otak Lam hai Lo mo yang sudah setengah gila itu membuat gadis ini merasa muak sekali, ia tidak berani menyatakan kemarahannya, sungguhpun mendengar ucapan itu ingin sekali ia mencabut pedang dan menyerang suhunya, ia hanya menghapus air matanya sambil berjalan terus kemudian dapat juga ia berkata.
"Masa bodoh, terserahlah. kepada suhu saja, mau bunuh boleh bunuh. Pendek kata, mulai sekarang teeeu tidak mau mengikuti suhu, karena segala perbuatan yang suhu lakukan bertentangan dengan hati teecu."
"Siang Cu, kembalilah!"
"Tidak, suhu, teecu akan merantau seorang diri."
"Kubunuh kau kalau tidak segera datang ke sini!"
"Terserah kepada suhu. Bukankah teceu anak yang suhu pelihara dan didik sampai besar? Sekarang mau bunuh terserah, teecu takkan melawan."
"Kau murid murtad! Begitukah sikap seorang murid terhadap suhunya? Apakah kau mau bersekongkol dengan Thian te Kiam ong untuk memusuhi ku? Kau tidak kasihan melihat suhumu menjadi rusak karena Thian te Kiam ong?"
Mendengar ucapan ini, Siang Cu menghentikan tindakan kakinya dan menengok.
Wajahnya pucat dan air matanya mengalir di sepanjang pipinya, bibirnya gemetar.
Baru kali ini ia merasa betapa buruk nasibnya.
Menjadi seorang yatim piatu, tidak tahu siapa orang tuanya dan dibesarkan oleh seorang guru yang biarpun amat sakti, namun ternyata bukan orang baik baik, batikan boleh ditang manusia berwatak iblis!
"Suhu tahu bahwa teecu kasihan kepada suhu.
Akan tetapi perbuatan perbuatan yang suhu lakukan itu menghapus rasa kasihan itu membuat teecu menjadi sedih dan kecewa.
Teecu bukan seorang murtad, bukan mengkhianati suhu.
Bahkan teecu berjanji hendak mencari sendiri musun besar suhu itu dan akan teecu balaskan sakit hati suhu.
Biarpun untuk itu teecu harus berkorban nyawa untuk membalas budi suhu selama mendidik teecu!"
Lam hai Lo mo tertegun.
"Kau hendak mencari Thian te Kiam ong? Bagus, bagus! Baiklah, mari kita berlomba, siapa yang akan dapat membunuhnya lebih dulu, ha, ha, ha!"
Selelah berkata demikian, kakek ini lalu berkelebat pergi. Ia meninggalkan kata kata dari jauh.
"Betapapun juga, kau muridku dan akan datang saatnya kau harus ikut lagi padaku."
Lam hai Lo mo memang seorang kakek yang sudah gila dan rusak jiwanya, akan tetapi otaknya cerdik.
Ia masih meragukan apikah akan dapat menangkan Thian te Kiam ong.
Maka sekarang ia heudak mewakilkan pembalasan dendam itu kepada Siang Cu.
Sementara itu, ia bisa mencari kawan dan membantu untuk melanjutkan usahanya membalas dendam ini!
Sementara itu, Siang Cu lalu melanjutkan perjalanannya bertekad untuk mencari Thian te Kiam ong dan mengadu nyawa untuk membayar hutang yang ia dapat dari suhunya.
Setelah itu kalau ia tidak mati dalam usahanya ini ia akan menjauhkan diri dari suhunya, dari dunia ramai karena hidupnya kini kosong, tidak bercita cita, tiada tujuan, adanya hanya kekecewaan dan kedukaan.
Perasaan ini membuat Siang Cu yang pendiam dan keras bati menjadi makin pendiam.
Demikianlah maka ketika Tek Hong tiba di Tit le, pemuda ini melihat rumahnya telah menjadi tumpukan puing dan tiga orang pelayan orang tuanya telah tewas dalam keadaan amat mengerikan.
Tak seorangpun dapat menceriterakan siapa erangnya yang melakukan bal ini.
Akan tetapi diam diam Tek Hong sudah dapat menduga bahwa yang melakukan tentulah Lam hai Lo mo, musuh besar ayahnya yang amat jahat dan yang ia dengar masih hidup menjadi penghuni dari Pulau Sam liong to itu.
Hatinya menjadi berduka dan gelisah sekali.
Siauw Yang tertawan oleh orang jahat, kini rumahnya dibakar musuh dan orang tuanya entah berada di mana.
Karena bingung dan tidak tahu harus menyusul orang tuanya di mana, Tek Hong lalu mengambil keputusan untuk berangkat saja ko Sian hoa san untuk minta tolong kepada supeknya, Yap Thian Giok atau kalau mungkin minta pertolongan nenek gurunya, Mo bin Sm kunl Pada suatu hari ia tiba di perbatasan Propinsi Shan si sebelah barat, di mana mengalir Sungai Kuning (Hoang ho) yang lebar dan penuh airnya.
Tek Hong berjalan cepat di sepanjang lembab sungai yang mengalir melalui sela sela lereng Bukit Lu liang san.
Sian hoa san tidak jauh lagi, puncaknya sudah nampak menjulang tinggi di depan.
Ketika ia sedang berjalan cepat dengan hati penuh gundah dan geli bab, tiba tiba ia mendengar tiara senjata beradu menerbitkan suara nyaring sekali.
Pendengaran Tek Hong amat tajam dan terlatih.
Dari mara nyaring itu ia dapat menduga bahwa yang beradu adulah senjata duri pada logam yang amat baik.
Suara beradunya besi itu atau baja biasa saja tidak mengeluarkan bunyi seperti itu.
Dan biasanya, di mana ada senjata mustika, tentu ada orang orang gagah yang berkepandaian tinggi.
Tek Hong mempercepat larinya, menuju ke arah datangnya suara gaduh itu.
Suara itu datang dari lereng bukit yang kering dan ketika ia tiba di situ, ia melihat seorang gadis muda berpakaian serba merah sedang dikeroyok hebat sekali oleh ketiga orang hwesio gundul yang sudah berusia tua.
Gadis baju merah itu memainkan sebatang pedang dengan gerakan bebat sekali.
Tubuhnya bergerak ke sana kemari seperti seekor burung merah, demikian lincah dan ringannya.
Pedang yang dimainkannya mengeluarkan cahaya gemilang berwarna hijau dan permainan pedangnya demikian lihai sehingga pedang itu beruban menjadi segulung sinar hijau yang menyambar uyambar seperti seekor naga mengamuk!
Tek Hong kagum sekali dan kalau tidak melihat pakaian dan pedangnya, tentu ia akan mengira bahwa gadis itu adalah Siauw Yang adiknya.
Apa karena gerakan gadis itu demikian gesit seperti gerakan Siauw Yang.
Ia lalu memperhatikan tiga orang kakek hwesio yang mengeroyok gadis itu.
Biarpun gadis itu gagah perkasa dan ilmu pedang nya tinggi, namun keroyokan tiga hwesio itu membuatnya terdesak juga.
Hal ini membukukan bahwa tingkat kepandaian tiga orang hwesio itupun sudah mencapai tingkat yang amat tinggi.
Melihat pakaian gadis itu, pembaca tentu dapat menduga siapa adanya dara perkasa itu.
Memang dia bukan lain adalah Ong Siang Cu, murid dari Lam Hai Lo mo Seng Jin Siansu, dara perkasa yang memisahkan diri dari suhunya karena ia tidak suka melihat sepak terjang suhunya yang ganas dan kejam.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, dara ini melarikan diri dari Lam hai Lo mo dan merantau seorang diri dengan satu cita cita, yakni mencari Thian te Kiam ong Song Bun Sam untuk mencoba membalaskan sakit hati suhunya yang telah dirusak badannya secara keji dan mengerikan oleh Raja Pedang itu.
Akan tetapi, ketika ia tiba di lereng Bukit Lu liang san, di tengah jalan ia bertemu dengan tiga orang hwesio tua yang agaknya memang mengejarnya, karena begitu bertemu, tiga orang hwesio itu serentak menyerangnya!
Siang Cu adalah seorang dara yang tak kenal takut.
Melihat serangan hebat tiga orang hwesio tua yang tak dikenalnya, yang menyerang dengan tangan kosong namun dengan gerakan luar biasa lihainya, ia cepat mengelak dan mencabut pedangnya.
Melihat sinar hijau dari pedang di tangan gadis itu, tiga orang kakek gundul ini nampaknya menjadi makin marah.
"Tak salah lagi inilah siluman wanita itu!"
Teriak seorang di antara mereka yang cepat mencabut sebatang toya hitam.
"Benar, maii kita lenyapkan siluman ini dulu, baru kelak mencari siluman tua, kata hwesio kedua yang mengeluarkan sebuah kipas besar dengan lima batang yang ujungnya runcing dan layar kipasnya terdiri dari lima warna.
"Siluman rase, kau menyerahlah!"
Teriak hwesio ke tiga yang mengeluarkan senjata berupa segulung tasbeh perak.
Siang Cu marah bukan main mendengar betapa tiga orang kakek ini datang datang tidak hanya menyerangnya, malahan memaki makinya sebagai siluman.
Namun, biarpun ia memiliki kekerasan hati, ia tidak segila gurunya, ia masih dapat menahan gelora cairnya yang marah, dan sambil pentangkan pedang Cheng hong kiam di depan dadanya, ia membentak murah.
"Tertahan dulu! Kalian ini orang orang tua yang berpakaian seperti pendeta, mengapa tidak mencari jalan terang? Apakah memang begitu sifatnya pendeta pendeta, datang datang memaki orang dan mencari permusuhan? Aku Ong Siang Cu tidak takut seujung rambutpun kepada kalian, akan tetapi aku harus tahu lebih dulu, apakah kalian ini udik salah mengenai orang? Aku selama hidupku belum pernah bertemu dengan kalian, apakah mendadak kalian telah menjadi gila?"
Tiga orang kakek gundul itu sebetulnya adalah tokoh tokoh besar dari Go bi san, ketua ketua Go bi pai yang disebut Go bi Sam thaisu.
Hwe So yang berserjata toya hitam adalah Thian Seng Hwesio dan senjatanya itu disebut Ouw tiat pang (Toya Besi Hitami.
Hwesio ke dua yang bersenjata kipas adalah Thian Beng Hwesio dengan senjatanya kipas Ngo heng sam (Kipas Lima Zat).
Hwesio ke tiga adalah Thian Lok Hwesio dengan senjatanya tasbeh perak yang tidak kalah lihainya oleh senjata senjata ke dua orang suhengnya.
"Siluman betina, kau belum mengenal pinceng bertiga ataukah hanya pura pura tidak kenal? Pinceng adalah Thian Ssng Hwesio dari Go bi pai, ke dua orang suteku ini adalah Thian Beng Hwesio dan Thian Lok Hwesio. Kau sudah mengetahui akan dosamu yang besar, sekarang tidak lekas menyerah mau tunggu pinceng turun tangan dan menggunakan kekerasan?"
Kata ketua pertama dari Go bi pai itu. Mengertilah kini dara itu mengapa tiga orang kakek gundul ini datang datang begitu marah kepadanya.
"Ah, jadi sam wi losuhu ini adalah Go bi Sam thaisu? Dengar sam wi (kalian bertiga), saya akan memberi penjelasan mengenai peristiwa yang baru terjadi di puncak Go bi san."
Sesungguhnya, memang di dalam hati Siang Cu merasa malu dan tidak enak terhadap tiga orang kakek ini karena perbuatan suhunya Akan tetapi, sebagai ssorang murid, tidak akan ia menimpakan kesalahan kepada suhunya, bahkan ia harus membela nama baik suhunya.
"Mau bicara apa lagi?"
Seru Thian Beng Hwesio yang sudah marah sekali sambil mengebutkan kipas Ngo heng san di tangannya ke arah gadis itu.
Kipas ini hebat sekali dan selain tiap ujung batangnya dapat dipergunakan sebagai sen jata runcing yang menembus kulit daging dan tulang serta dapat pula dipergunakan untuk menotok jalan darah dengan cara yang berbahaya sekali bagi fihak lawan, juga dengan tenaga lweekang, kipas ini dapat dikebutkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan angin p u k u Ion yang dapat merobohkan seorang lawan yang tidak begitu kuat Akan tetapi, kini ia menghadapi Ong Siang Cu, dara perkasa yang semenjak kecil digembleng hebat oleh Lam hai Lo mo, seorang tokoh besar di dunia persilatan yang sakti.
Ketika merasakan sambaran angin yang hebat memukul ke arah dadanya.
Siang Cu menggerakkan tangan kirinya, melakukan gerakan menyampok di depan dada dan angin pukulan yang keluar dari sambaran kipas itu dapat dibuyarkan seketika itu juga.
Thian Beng Hwesio menggereng marah melihat pukulannya dipunahkan dengan demikian mudahnya.
Ia hendak melompat maju dan melakukan serangan, akan tetapi Thian Seng Hwesio mengangkat tangan mencegahnya.
"Nanti dulu, ji sute ( adik seperguruan ke dua ). Biarkan dia bicara sebentar. Masih belum terlambat untuk memberi hukuman padanya."
Kemudian ia berkota kepada Siang Cu.
"Kau bicaralah sesukamu, kami akan mendengarkanmu, biarpun kami tak dapat berjanji akan mempercayai semupa kata katamu."
Siang Cu marah dan mendongkol sekali, akan tetapi ia dapat menahan kesabaran hatinya, lalu berkata dengan merengut.
"Kau mendengar atau tidak, terserah kepada sam wi. Mau percaya atau tidak, juga aku tidak ambil pusing. Pokoknya aku harus menerangkan kepada sam wi mengapa kami sampai turun tangan memberi hajaran kepada orang orang Go bi pai, Nah, dengarlah baik baik. Aku dan suhu tadinya bertempat tinggal di atas Pulau Sam liong to, jauh dari dunia ramai, selama hidup kami lak pernah mencampuri urusan orang lain apalagi berurusan dengan orang orang Go bi pai sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk memusuhi Go bi pai. Akan tetapi belum lama ini, kami didatangi oleh seoreng anak murid Go bi pai yang bernama Siauw giam ong Lie Chit dan jahanam itu telah minggat dari pulau kami sambil membawa harta simpanan suhu. Nah, bukankah itu sudah sepantasnya kalau suhu dan aku marah dan mencarinya untuk memberi hukuman yang setimpal? Kami tidak tahu ke mana harus mencarinya, akan tetapi oleh karena dia anak murid Go bi pai, kami lalu mencari ke Go bi san. Murid murid sam wi di Go bi san tidak membantu kami dan tidak mau menyerahkan jahanam Lie Chit, sebaliknya malahan memaki dan menyerang kami. Itulah sebabnya mengapa suhu menjadi marah dan menghajar mereka."
"Enak saja kau bicara."
Thian Serg Hwesio membentak marah.
"Kami tidak mempunyai murid bernama Siauw giam ong Lie Chit. Hal ini sudah berkali kali dikatakan oleh murid murid kami Akan tetapi kau dan gurumu tidak percaya dan menjatuhkan tangan maut, mengandalkan kepandaian sendiri. Kelakuanmu dan suhumu seperti kelakuan iblis saja. Oleh karena itu, menyerahlah agar kami tak usah menggunakan kekerasan. Katakan di mana sekarang adanya gurumu, siluman buntung itu."
"Orang tua, jangan sembarangan mengeluarkan makian,"
Kata Siang Cu mendongkol.
"Suhu adalah Lam hai Lo Mo Sian jin Siansu, tiga orang seperti kalian ini mana dapat mengeluarkan kesombongan di depannya, lebih baik sam wi melupakan saja kesalahfahaman itu, yang sudah biarlah lalu dan selanjutnya harap sam wi lebih keras mendidik murid agar dapat menyambut datangnya tamu dengan lebih hormat."
"Siluman wanita, kau sombong!"
Seru Thian Beng Hwesio yang sudah tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi.
Kipas Ngo heng Sian di tangannya bergerak cepat, ujungnya menotok ke arah iga kiri Siang Cu dan kaiti kipas yang berwarna lima itu tertutup.
Gerakan serangan Sian jit Kiu cu (Dewa menyambut Mutiara) ini lihai sekati, dan Siang Cu maklum akan hal ini, maka ia lalu berseru nyaring dan pedangnya berkelebat menangkis.
Thian Lok Hwesio tidak mau tinggal diam karena ia tahu bahwa gadis ini memiliki kepandaian tinggi Segera ia berseru keras dan tasbeh peraknya menyambar pula melakukan serangan yang tak kalah lihainya.
Tasbeh ini terbuat daripada perak, setiap butir biji tasbeh dapat mendatangkan luka maut pada lawannya.
Juga thian Seng Hwesio melihat gerakan Siang Cu yang amat gesit, tidak mau membiarkan dua orang sutenya bersusah payah Sendiri, cepat menggerakkan toyanya dan toya itu menyambar teras, mendatangkan angin pukulan yang mengejutkan hati Siang Cu.
Berbahaya Sekali tiga orang lawan ini, pikirnya, terutama sekali toya di tangan Thian Sheng Hwesio.
Maklum bahwa ia menghadapi tiga urang lawan yang benar benar tangguh, Siang Cu tidak mau banyak cakap lagi, melainkan ia mengerahkan seluruh perhatian, tenaga dan kepandaian untuk menjaga diri dan balas menyerang.
Pedangnya berobah menjadi gulungan sinar hijau, menjadi satu dengan tubuhnya yang terbungkus pakaian merah sehingga ketika ia mainkan pedangnya dengan cepat, yang kelihatan hanya gulungan besar sinar hijau melingkungi bayangan merah, seperti setangkai bunga mawar merah di antara daun daun hijau.
Siang Cu berusaha keras untuk merobohkan lawan tanpa membunuh mereka, ia tidak tega kalau harus membunuh tiga orang kakek yang dianggap oleh hatinya sama sekali tidak berdosa ini.
Bahkan ia merasa bahwa ia dan suhunya yang bersalah dalam dalam hal ini, sungguhpun untuk menerima salah dan menyerah menerima hukuman, ia tidak mau.
Namun, jangankan hendak mengalahkan Go bi Sam Thaisu tanpa membunuh mereka.
Andaikata ia bermaksud membunuh merekapun, belum tentu ia bisa.
Tingkat ilmu kepandaian tiga orang kakek ini jauh melebihi dia, hanya karena ilmu pedangnya yang aneh, ganas dan cepat sajalah yang membuat sampai begitu lama Siang Cu belum kalah!
Senjata tiga orang kakek ini selain aneh, juga merupakan senjata senjata yang terbuat daripada logam yang keras dan kuat sekait, sehingga dapat menandingi Ctieng hong kiam di tangannya.
Setelah bertempur hampir seratus jurus, Siang Cu mulai terdesak hebat!
Tiga orang tokoh Go bi pai itu bertempur dengan maksud membunuh, dan hal ini dapat dimaklumi karena tentu saja mereka merasa sakit hati sekali melihat kelenteng mereka dibakar musnah dan banyak murid murid mereka binasa.
Siang Cu benar benar dapat dipuji.
Tiga orang lawannya ini bukanlah orang orang se m barangan.
Jangankan menua maju bersama, sedangkan untuk melawan seorang di antara mereka saja, orang harus memiliki ilmu silat tinggi.
Namun ketiga Go bi Sam Thaisu sudah amat terkenal sebagai tokoh tokoh yang berkepandaian tinggi dan dunia kang ouw memandang mereka dengan segan dan hormat.
Entah sudah berapa banyak lawan jahat dan lihai tunduk dan roboh dalam tangan tiga orang kakek ini.
Akan tetapi sekarang, menghadapi seorang gadis muda, biarpun mereka telah mengeroyoknya, dalam seratus jurus masih juga mereka belum dapat mengalahkannya!
Ini merupakan hal yang amat memalukan dan merendahkan nama baik mereka dan diam diam mereka harus akui bahwa selama hidup belum pernah mereka temui seorang gadis semuda ini dengan kepandaian sehebat itu.
Apalagi karena dalam keadaan terdesak.
Siang Cu masih dapat kadang kadang melakukan serangan balasan yang amat berbahaya.
"Siluman jahat yang berbahaya!"
Thian Lok Hwesio memaki sambil mengerahkan tenaga, mengerang dengan tasbehnya yang menyambar ke arah kepala Siang Cu.
Pada saat hu juga, Thian Beng hwesio menyerang dengan kipasnya ke arah ulu hati gadis itu sedangkan hampir berbareng Thian Seng Hweiio nenyerampangkan toyanya ke urat!
Serangan ini hebatnya bukan main dan agaknya Siang Cu yang sudah berada dalam keadaan amat teratsak iu takkan dapat menghindarkan cirinya itgi.
Akan tetapi, ketabahan, keirnangan, dan kegesitan gadis ini menolongnya.
Dengan amat cekatan.
Siang Cu melakukan gerakan berbareng dengan sepasang tangannya.
Tangan kanan yang memegang pedang itu menangkis sambaran tasbeh di kepala, dan lengan kirinya melakukan gerakan o samping menyompok kipas yang menusuk ulu hatinya.
Terdengar suara keras dan bunga api berpijar ketika pedang bertemu dengan tasbeh, sedangkan tangan kirinya yang menyampok kipas lalu bergerak dan mengembangkan lima jari tangan yang kecil halus, mencengkeram ke arah kain kipas itu, namun Siang Cu merasa pinggir telapak tangannya perih dan ternyata kulit telapak tangannya berdarah, terluka oleh kipas itu.
Pada saat itu, datanglah toya atau tongkat Ouw t;ar pang dari Thian Seng Hwesio yang menyerampang kakinya dari kanan!
Tidak ada waktu lagi untuk melompat atau mengelak, juga kedua tangannya yang baru saja menghindarkan dua serangan tak mungkin menolong kakinya.
Siang Cu amat tabah dan besar hati.
Melihat datangnya toya yang akan dapat mematahkan tulang tulang kakinya dengan mudah, ia lalu cepat menggerakkan kaki kanan, diangkat sedikit dan ia menerima datangnya sambaran tongkat itu dengan ujung atau telapak kakinya!
Ketika toya itu sudah mengenai telapak kaki nya, Sian Cu mengerahkan lweekang untuk menolak hawa pukulan lawan sambil mempergunakan ginkang, mengenjot kakinya sehingga tiba tiba tubuhnya terlempar ke atas terdorong oleh desakan pukulan toya itu.
Tubuh yang ringan ini melayang ke atas dan Siang Cu cepat mempergunakan gerakan Sin liong hoan sin (Naga Sakti Membalikkan Badan) lalu berpoksai (membuat salto) tiga kali sehingga tubuhnya berputar makin tinggi, kemudian ia melayang turun dengan kepala di bawah dan kaki di atas, sedangkan pedangnya diputar sedemikian rupa di bawah kepalanya sehingga tidak memberi kemungkinan kepada lawan untuk mendesaknya.
Akan tetapi, gerakan Siang Cu ini demikian indah dan lihat, sehingga tiga orang kakek gundul itu lupa untuk mendesaknya, berdiri sambil memandang gadis itu dengan kagum sekali.
"Bagus sekali!"
Thian Seng Hwesio tidak terasa berseru memuji.
Akan tetapi ia segera mendesak lagi, bahkan kini Thian Beng Hwesio yang melihat kipasnya robek sedikit, menjadi marah sekali dan menyerang lebih hebat daripada tadi.
Pada saat Siang Cu sudah merasa lelah dan sudah mulai terdesak hebat itu, muncullah Sang Tek Hong.
Pemuda ini merasa tidak senang melihat cara pertempuran itu.
Seorang gadis muda dikeroyok oleh tiga orang hwesio tua yang memiliki kepandaian tinggi, ketika ia melihat bahwa gadis itu banyak persamaannya dengan Siauw Yang, ia lebih menaruh hati kasihan kepada gadis yang dikeroyok itu.
Ia memang sedang gelisah hatinya.
Kini melihat gadis iiu dikeroyok dan amat terdesak, ia membayangkan betapa akan bingungnya hati Siauw Yang kalau sekiranya adiknya itu yang mengalami keroyokan.
Siapa tahu kalau kalau Siauw Yangpun mengalami nasib seperti gadis yang agaknyapun berada seorang diri ini.
"Sam wi losuhu, tahan dulu!"
Serunya sambil melompat maju mendekat.
Mengeroyok seorang lawan yang begitu muda, sungguh tidak boleh dibilang gagah.
Go bi Sam thaisu sedang marah dan penasaran sekali karena sampai begitu lama mereka belum juga bisa mengalahkan Siang Cu, maka teguran pemuda yang baru datang ini membuat muka mereka menjadi merah saking merasa malu dan juga marah.
Apalagi Thian Beng Hwesio yang kipasnya kena dibikin robek oleh Siang Cu.
Hwesio ini mengira bahwa pemuda yang datang tentu kawan dari Sivng Cu, atau setidaknya kedatangannya merupakan bantuan bagi gadis itu, maka ia melompat, menyerang dengan kipasnya ke arah kepala Tek Hong sambil membentak.
"Jangan mencampuri urusan kami!"
Serangan ini dilakukan dengan hebat, akan tetapi sesungguhnya Thian Beng Hesio hanya hendak menggertak saja.
Ia memandang rendah kepada pemuda yang baru tiba, dan iapun tidak mau membunuh orang maka ia hanya hendak menakut nakuti Tek Hong saja.
Akan tetapi, sikapnya ini menimbulkan kesan buruk dalam hati Tek Hong.
Dengan adanya sikap kasar dari Thian Beng Hwesio yang sedang marah, Tek Hong makin merasa yakin bahwa tentu tiga orang hwesio ini adalah orang orang jahat yang mengganggu gadis itu.
Kini menghadapi serangan dengan senjata kipas yang dahsyat ia cepat menggerakkan tangan kanan menyampok dan mengerahkan tenaga.
Tangannya bergerak memutar dan dengan indahnya ia melakukan gerakan pukulan yang disebut Tui san ciang (Pukulan Mendorong Bukit) Tangannya beradu dengan kipas dan "krak!"
Sebatang daripada lima batang tulang kipas itu patah dan kain kipas robek lagi ujungnya.
Sesungguhnya, biarpun kepandaian Tek Hong sudah sangat tinggi, namun tidak mungkin dalam segebrakan saja ia berhasil mematahkan batang kipas Thian Beng Hwesio, kalau saja Thian Beng l.wesio berlaku hati hati.
Hwesio itu memandang rendah pemuda ini, sama sekali tidak pernah mengira bahwa ia berhadapan dengan putera dari Thian to Kiam ong Song Bun Sam.
Maka melihat kipasnya patah, ia menjadi pucat dan marah sekali.
"Manusia jahat, ternyata kau kawan dari siluman rase ini!"
Bentaknya sambil menyerang terus dengan kipasnya yang kini kainnya telah robek dan baungnya tinggal empat buah lagi.
Akan tetapi kini ia menyerang lebih hebat dan hati hati dan biarpun kipas itu telah rusak, namun masih merupakan sebuah senjata yang amat lihai.
"Sabar, losuhu, aku tidak ingin bertempur, hanya kurasa tidak adil mengeroyok nona ini,"
Kata Tek Hong yng cept mengelak. Akan tetapi thian Beng Hwesio mendesak terus sehingga terpaksa Tek Hong mencabut pedangnya untuk mempertahankan diri.
"Losuhu, sekali lagi kuulangi, aku tidak mencari permusuhan, hanya menuntut keadilan melihat nona ini dikeroyok tiga oleh orang orang berkepandaian tinggi seperti kalian,"
Kata Tek Hong dengan suara sabar.
Akan tetapi Thian Beng Hwesio yang galak dan sudah marah sekali tidak mau mendengar kata katanya dan menyerang terus dengan hebatnya.
Ilmu pedang Tek Hong adalah ilmu pedang yang pada masa itu merupakan ilmu pedang tiada taranya sehingga ayahnya mendapat julukan Raja Gedang, dan pemuda ini memang memiliki tenaga Iweekang yang besar serta ketenangan gerakan yang membuat ilmu pedangnya menjadi makin masak dan kuat.
Sedangkan Thian Beng Hwesio yang sucah amat lelah ketika mengeroyok Siang Cu tadi, kini ditambah pula dengan rasa penasaran dan marah maka gerakannya mengawur dan nekat, hanya memusatkan gerakan pada serangan dalam nafsunya hendak segera merobohkan lawan.
Maka ketika ia menyerang dengan hebat dengan kipasnya Tek Hong menggerakkan pedang secara luar biasa dan hebat sekali, pedangnya menyambar dan begitu dapat menangkis kipas, lalu digerakkan memutar.
Bukan main hebatnya gerakan yang mengandung tenaga menempel ini karena tanpa dapat ditahan pula, Thian Beng Hwesio terpaksa harus mengikuti putaran pedang ini dan kipasnya ikut pula berputaran dengan pedang!
"Lepas senjata!"
Terdengar Tek Hong berseru sambil mengerahkan tenaga dan....
benar saja kipas itu terlepas dari tangan Thian Beng Hwesio dan mencelat ke atas, disambar oleh tangan kiri Tek Hong sehingga kipas itu kini berada di tangan pemuda ini.
"Harap losuhu berlaku sabar dan marilah kita bicara secara baik baik,"
Kata Tek Hong sambil menyerahkan kembali kipas itu.
Akan tetapi, Thian Beng Hwesio sudah menjadi malu sekali karena kekalahannya yang tak tersangka sangka ini.
Ia menerima kipasnya, menggunakan kedua tangan untuk mematahkannya be berapa kali sambil berkata.
"Sudahlah.... sudahlah pinceng memang harus belajar lagi sepuluh tahun!"
Adapun dua orang hwesio lainnya yang masih mengeroyok Siang Cu, ketika melihat betapa saudara mereka kena dikalahkan oleh pemuda yang tara tiba.
menjadi kaget dan marah sekali, juga mereka menjadi gelisah.
Baru menghadapi dara muda murid Lam hai Lo mo itu saja mereka bertiga sudah tak berdaya, apalagi kalau sekarang datang lawan barn yang agaknya tidak kalah lihainya seperti gadis itu Tanpa banyak cakap lagi.
Thian Seng Hwesio dan Thian Lok Hwesio cepat mengalihkan serangannya, kini mereka maju menyerang Tek Hong yang tidak menyangka nyangka sama sekali.
Jilid XXIV MELIHAT betapa sebatang toya hitam yang berat sekali menyambar ke arah pinggangnya sedangkan seuntai tasbeh putih menyambar ke arah kepalanya, Tek Hong cepat menggerakkan pedang diputar sedemikian rupa sehingga sekaligus ia dapat menangkis dua serangan yang menuju ke pinggang dan kepala ini.
Kemudian ia cepat melompat ke kanan untuk menjauhi dua orang penyerangnya sambil berkata.
"Eh, eh, ji wi suhu ini benar benar aneh. Aku datang hanya untuk mencegah pertempuran yang berat sebelah dilanjutkan. Tidak kusangka sama sekali, bahkan sam wi memusuhiku dan menyerang hebat. Aku datang bukan bermaksud buruk,"
Biasanya Tek Hong tidak bisa bicara panjang, sekarang ia bicara hanya karena ia merasa amat penasaran melihat sikap tiga orang hwesio yang ia lihat berkepandaian tinggi itu.
Adapun Siang Cu yang kini sudah ditinggalkan oleh dua orang pengeroyoknya, mendapat kesempatan untuk memandang dan melihat pemuda itu dengan baik baik.
Ia melihat seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali, dengan sepasang alis seperti golok dan sepasang mata tajam berpengaruh.
Tak terasa lagi ia menjadi tertarik, apa lagi setelah ia mengetahui bahwa pemuda itu telah mengalahkan Thian Beng Hwesio dalam waktu begitu cepat.
Kemudian ia mendengar bahwa kedatangan pemuda ini hanya untuk menolong dia yang tadi dikeroyok, maka merahlah wajah Siang Cu.
Ia melompat maju dan menggerak gerakkan pedangnya sambil berkata keras dan sinar matanya ditujukan ke arah Tek Hong dengan tajam.
"Eh, orang lancang! Apa kaukira aku takut menghadapi dua lutung tua ini? Bukan kau seorang saja yang memiliki kepandaian."
Setelah melontarkan kata kata keras kepada Tek Hong, Siang Cu lalu menghadapi Thian Seng Hwesio dan Thian Lok Hwesio sambil berkata.
"Kalian ini orang orang tua yang mau memperlihatkan kepandaian mengeroyokku, apakah kalian masih hendak melanjutkan pertempuran? Kalau demikian, majulah, biar kita bertempur lagi sampai seribu jurus!"
Kata kata ini ditutup dengan pedang digerakkan cepat di depan dada, merupakan sinar kehijauan yang menyilaukan mata.
"Iblis wanita, kalau tidak dapat mengalahkan kau, pinceng bertiga tidak mau disebut lagi Go bi Sam thaisu!"
Bentak Thian Lok Hwesio sambil menggerakkan tasbehnya menyerang Siang Cu.
Juga Thian Seng Hwesio menggerakkan Ouwtiat pang di tangannya, menghantam kepala gadis itu sekuat tenaga.
Kembali terjadi pertempuran hebat.
Melihat dua orang saudaranya sudah maju kembali mengeroyok Siang Cu, Thian Beng Hwesio yang senjatanya sudah ia patahkan tadi ketika ia dikalahkan oleh Tek Hong, menjadi tidak enak kalau tidak membantu, ia merasa kalah dan malu terhadap Tek Hong, akan tetapi terhadap Siang Cu ia belum kalah dan cepat ia lalu mengeluarkan senjata senjata rahasianya berupa touw kut cui (bor penembus tulang).
Senjata rahasia ini bentuknya seperti piauw, akan tetapi ujungnya merupakan bor dan kalau dilepas, jalannya memutar sehingga jangankan tulang manusia, bahkan besipun dapat ditembusnya.
"Rebahlah kau!"
Bentaknya dan sebatang touw kut cui menyambar ke arah dada Siang Cu.
Gadis ini terkejut sekali.
Menghadapi keroyokan tiga orang tadi, ia masih dapat mempertahankan diri.
Akan tetapi setelah Thian Beng Hwesio mempergunakan senjata rahasia, bahayanya menjadi lebih besar karena ia tidak dapat menghadapi lawan ke tiga ini secara langsung.
"Tua bangka curang!"
Serunya sambil mengelak cepat, akan tetapi gerakan ini mendatangkan kesempatan bagi Thian Seng Hwesio dan Thian Lok Hwesio yang cepat mendesak dengan senjata senjata mereka yang lihai.
Kini kedua orang hwesio ini sengaja mengeroyok dari kiri kanan agar memberi kesempatan bagi Thian Beng Hwjaio untuk mempergunakan senjata rahasianya.
Berkali kali Thian Beng Hwesio melepaskan am gi (senjata gelap) sedangkan kedua orang bwesio lain menyerang dengan desakan hebat dari kiri kanan.
Kembali Siang Cu terdesak hebat dan biarpun gadis ini memutar pedangnya sambil memaki maki tiga orang kakek itu, tetap saja ia berada dalam kedudukan amat berbahaya.
Karena sudah lima kali ia melepas touw kut cui tanpa hasil, Thian Beng Hwesio menjadi penasaran sekali.
Kini ia tidak mau menyambitkan senjata gelapnya begitu saja melainkan menanti kesempatan baik.
Ia mencari ketika dan pada saat Siang Cu sudah terdesak hebat dan berada dalam keadaan yang lemah, ia cepat melemparkan dua batang touw kut cui, satu ke arah leher dan yang ke dua ke arah lambung gadis itu!
Siang Cu terkejut dan tanpa terasa ia berseru!
"Celaka....!"
Pedangnya sedang dipergunakan untuk menangkis toya yang menyambar ke atas kepala, sedangkan tangan kirinya dipergunakan untuk menyampok datangnya serangan tasbeh.
Untuk senjata rahasia yang menyambar leher, ia dapat menggerakkan kepalanya mengelak, akan tetapi senjata rahasia ke dua agaknya akan menembusi lambungnya.
Pada saat yang amat berbahaya itu, terdengar suara nyaring den senjata rahasia yang mengancam lambung Siang Cu tiba tiba tertahan lajunya dan runtuh di atas tanah.
Sepotong batu hitam melayang dari tempat Tek Hong berdiri dan dengan tepatnya menolong nyawa Siang Cu.
Tadinya Tek Hong tertegun ketika mendengar pengakuan Thian Lok Hwesio bahwa tiga orang hwesio tua itu adalah Go bi Sam thaisu.
Ia belmu pernah bertemu muka dengan tiga orang hwesio ini sebelumnya, akan tetapi nama mereka telah sering kali disebut sebut oleh ayahnya sebagai tokoh tokoh besar, ketua ketua dari Go bi pai yang besar dan ternama.
Oleh karena inilah maka ia merasa ragu ragu antuk menolong gadis gagah itu dan timbul keheranannya mengapa tokoh tokoh besar seperti Go bi Sam thaisu mengeroyok seorang gadis muda yang memiliki ilmu pedang begitu luar biasa.
Akan tetapi ketika ia melihat betapa Thian Beng Hwesio mempergunakan senjata rahasia sehingga keselamatan Siang Cu terancam, ia tidak dapat bertahan diri untuk berpeluk tangan saja.
Semenjak tadipun ia telah mengambil tiga potong batu karang hitam yang berada di dekatnya dan dengan batu batu ini ia bersiap sedia membantu.
Batu pertama dilepasnya untuk menyelamatkan nyawa Siang Cu ia tidak tinggal diam sampai di situ saja, melainkan mengayun tangan dua kali.
Batu ke dua menghantam toya Ouw tiat pang di tangan Thian Seng Hwesio sedangkan batu ke tiga membentur tasbeh di tangan Thian Lok Hwesio.
Tiga orang ketua Go bi pai itu terkejut bukan main.
Tadi Thian Beng Hwesio sudah merasai sendiri betapa tingginya kepandaian pemuda asing itu, kemudian ia melihat betapa touw kut cui yang dilepaskan untuk menyerang gadis itu lelah terbentur dan runtuh oleh sepotong batu yang dilemparkan oleh Tek Hong.
Hal ini saja sudah membuat ia kagum dan jerih.
Kemudian, ketika Thian Seng Hwesio dan Thian Lok Hwesio tiba tiba merasa senjata di tangan mereka tergetar dan telapak tangan mereka terasa perih ketika terpukul oleh batu baiu kecil itu, keduanya melompat mundur dan memandang kepada Tek Hong dengan alis berkerut.
"Barangkali memang kami sudah terlalu tua dan harus mengundurkan diri. Biarlah, kami mengaku kalah dan hanya kepada iblis tua Lam hai Lo mo kami hendak mengadu nyawa,"
Kata Thian Seng Hwesio dan ketiga orang hwesio tua itu lalu pergi dan situ dengan wajah muram.
Tek Hong menjadi makin kaget mendengar disebutnya nama Lam hai Lo mo, musuh besarnya yang agaknya juga menjadi musuh besar tiga orang tokoh Go bi san ini Akan tetapi, apakah hubungannya Lam hai Lo mo dengan pertempuran yang sekarang ini?
Ia hendak mengejar dan bertanya kepada tiga orang hwesio itu, akan tetapi mereka sudah jauh dan pula ia merasa malu mengingat betapa tadi ia telah mengalahkan dan membikin malu kepada mereka.
Kini ternyata bahwa mereka juga memusuhi Lam hai Lo mo!
Ah, ayahnya tentu akan menegurnya dan marah kalau mendengar akan hal ini.
"Kau manusia lancang!"
Teguran dengan suara nyaring dan halus ini membuat Tek Hong teringat kembali akan gadis yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi itu. Ia menoleh dan menjadi penasaran.
"Sudah dua kali kau mengatakan aku lancang. Itukah terima kasihmu kepadaku?"
Katanya gemas.
"Siapa mau berterima kasih? Aku tak pernah mengharapkan pertolonganmu, tak pernah membuka mulut minta tolong kepadamu. Campur tanganmu tadi bahkan menjengkelkan aku dan merugikan namaku sebagai orang gagah. Dan kau mengharap aku berterima kasih?"
Kata Siang Cu dengan sikap menantang, dada dibusungkan dan kepala dikedikkan.
Selama hidupnya Tek Hong belum pernah bertemu dengan seorang gadis segalak ini.
Biasanya gadis gadis selalu bersikap malu malu dan ramah kepadanya, kecuali adiknya sendiri, Siauw Yang tentunya.
Adiknya hampir sama dengan gadis ini, galak dan aneh, akan tetapi tetap saja gadis ini lebih galak dan lebih aneh, juga lebih cantik menarik!
"Gadis sombong,"
Katanya gemas.
"aku tidak mengemis terima kasih darimu, akan tetapi setidaknya kau harus bersukur karena terlepas daripada maut yang tadi mengancammu"
Tek Hong marah dan mendongkol dan dalam pandangan Siang Cu, bulu bulu alis yang berbentuk golok itu seakan akan berdiri.
Gadis itu tersenyum mengejek, menjebikan bibirnya, akan tetapi dalam pandangan pemuda itu wajah dara ini menjadi makin ayu saja!
"Siapa takut mati?
Aku sudah berani hidup, sudah berani menderita, mengapa takut mati?
Pula, mereka itu tidak bersalah.
Akulah yang bersalah dalam pertempuran tadi, maka bantuanmu tadi tidak tepat sama sekali, kau lancang turun tangan membantu orang bersalah.
Sungguh bodoh dan gegabah!"
Sambil berkata demikian, Siang Cu lalu membalikkan tubuhnya dan pergi berlari dengan cepat sekali.
Tek Hong terpaku dan tidak bergerak sampai beberapa lama.
Sikap gadis itu benar benar menakjubkan hatinya.
Mana ada orang mengaku bahwa diri sendiri bersalah?
Mana ada orang, apalagi seorang dara muda, yang jujur dan berani?
"Eh, nona, tunggu dulu!"
Teriaknya.
Hatinya tertarik sekali dan ingin ia mengenal gadis itu lebih baik lagi.
Ingin ia tahu apa sebabnya gadis itu bertempur melawan tiga orang tokoh besar Go bi pai itu.
Biarpun gadis itu sendiri sudah mengakui kesalahannya, namun Tek Hong tidak mau percaya.
Seorang gadis demikian aneh dan luar biasa, yang mau mengakui bahwa ia bersalah, tak mungkin seorang berwatak jahat.
Sinar matanya demikian jujur, demikian gagah berani, wajahnya demikian cantik menarik....!
"Nona, tunggu dulu, aku ingin bicara denganmu,"
Katanya sambil melompat mengejar. Akan tetapi Siang Cu tidak memperdulikan nya, bahkan mempercepat larinya.
"Nona, mengakulah. Kau siapakah dan apa hubunganmu dengan Lam hai Lo mo?"
Tanya Tek Hong sambil mengerahkan khikangnya sehingga suaranya dapat mengejar nona yang sudah berlari jauh itu.
Sambil berlari terus.
Siang Cu menjawab tanpa menoleh, hanya mengerahkan khikang mempergunakan Ilmu Coan im jib bit (Mengirim Suara Dari Jauh).
"Kita tidak ada hubungan dan tak perlu saling mengenal nama. Selamat tinggal!"
Tek Hong terpaksa menahan kakinya karena sudah terang gadis itu tidak mau mengenalnya.
Selain gadis itu dapat berlari cepat sekali sehingga belum tentu a akan dapat menyusulnya, juga amat tidak baik kalau ia terlalu mendesak.
Jangan jangan ia akan dianggap seorang pemuda ceriwis tak kenal malu.
Sambil menghela napas berulang ulang saking kecewanya, ia lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke Sian hoa san untuk mencari supek nya, yakni Sin pian Yap Thian Giok kalau kalau mungkin minta pertolongan nenek gurunya, wanita sakti Mo bin Sin kun.
Kalau ia teringat kembali akan keadaan adiknya, Siauw Yang, yang tertawan oleh Tung Hai Sian jin dan Bong Eng Kiat, teringat pula akan rumahnya di Tit le yang sudah menjadi abu dan pelayan pelayan terbunuh oleh Lam hai Lo mo, kemudian tidak tahu pula di mana adanya kedua orang tuanya, ia menjadi amat gelisah.
Terutama sekali mengingat akan nasib Siauw Yang.
Kegelisahannya membuat ia berlari cepat sekali menuju ke Sian hoa san yang tidak jauh lagi dari situ.
Namun, betapapun cepatnya ia berlari dan betapapun gelisah hatinya memikirkan adiknya, bayangan gadis galak yang baru saja meninggalkannya tak pernah meninggalkan ruang hatinya.
Pada saat Tek Hong berlari lari menuju ke Bukit Sian hoa san yang sudah nampak menjulang tinggi dan jauh, di puncak Sian hoa san sendiri terjadi hal yang hebat.
Lima orang hwesio berkepala gundul, berjubah serba hitam dan bertubuh tinggi besar, dengan sikap yang menyeramkan berlari lari cepat sekali di puncak itu, menuju ke sebuah pondok bambu yang berada di puncak bukit.
Pondok ini dahulu menjadi tempat bertapa wanita sakti Mo bin Sin kun, akan tetapi akhir akhir ini dijadikan tempat tinggal muridnya, yakni Sin pian Yap Thian Giok.
Ketika itu, Thian Giok sedang berada di dalam pondoknya.
Orang tua gagah ini merasa agak kecewa karena ketika ia mencari muridnya, yakni Liem Pun Hui di tengah hutan di mana ia tinggalkan, pemuda itu tidak kelihatan lagi dan tidak ada tanda tanda ke mana perginya.
"Dasar kutu buku yang tidak suka akan kekerasan,"
Sin pian Yap Thian Giok menghela napas, lalu ia pulang ke Sian hoa san.
Ia merasa berduka sekali karena setelah Pun Hui tidak menjadi muridnya, ia merasa betapa sunyi hidupnya, ia tidak beristeri, berketurunan, tidak mempunyai murid dan Mo bin Sin kun yang dianggap sebagai ibu sendiri telah pergi meninggalkannya, ia mengambil keputusan untuk pergi merantau sekali lagi barangkali saja ada seorang murid yang berjodoh dengannya.
Kalau akhirnya tidak juga ia memjumpai murid, ia akan bertapa di Sian hoa san dan tidak akan memcampuri urusan dunia lagi.
Di samping merantau mencari murid, juga ia hendak membantu Song Bun Sam dan isterinya mencari anak anak mereka, Tek Hong dan Siauw Yang.
Tiba tiba telinganya yang berpendengaran amat tajam itu mendengar suara tindakan kaki di luar pondok.
Ia tahu bahwa ada lima orang berkepandaian tinggi datang dan berada di luar pondok, ia menduga duga siapa gerangan hina orang tamu yang datang, karena puncak Sian hoa san jarang sekali kedatangan tamu.
Akan tetapi oleh karena ia mempunyai amat banyak kawan di dunia kang ouw ia tidak dapat menduga siapa lima orang tamu ini.
"Selamat datang di puncak Sian hoa san!"
Kata Sin pian Yap Thian Giok dan ia melompat keluar dari pintu pondoknya.
Akan tetapi, ia terheran heran karena melihat lima orang hwesio tinggi besar berdiri di depan pondok dan ia sama sekali tidak pernah melihat mereka ini dan tidak tahu dengan siapa ia berhadapan.
Akan tetapi Sin pian Yap Thian Giok adalah seorang terpelajar yang menghargai kesopanan.
Sebagai seorang tuan rumah yang peramah, ia cepat menjura dengan penuh hormat sambil berkata.
"Selamat datang, ngo wi su bu (lima bapak pendeta) yang terhormat, selamat datang di Sian hoa san. Silahkan masuk di pondokku yang buruk."
Akan tetapi, lima orang Hwesio yang berkulit agak kehitaman dan bertubuh tinggi besar itu tidak menjawab, hanya memandang kepada Thian Giok dengan mata mereka yang lebar.
Dua orang di antara mereka sudah berusia tua sekali akan tetapi masih kelihatan kuat.
Adapun tiga orang yang lain adalah hwesio hwesio berusia empatpuluh tahunan.
Pakaian mereka semua sama, yakni berwarna hitam.
Hanya badanya, dua orang hwesio tua itu tidak membawa bungkusan bungkusan besar di punggungnya dan pedang tergantung di belakang punggung.
"Di mana Mo bin Sin kun?"
Terdengar seorang di antara hwesio tua yang pipinya codet bertanya, tanpa memperdulikan keramahan Thian Giok.
Adapun hwesio ke dua yang usianya paling tua, memandang ke dada Thian Giok dengan penuh perhatian.
Hwesio tua ini bertubuh gemuk sekali dan kepada hwesio yang tidak bicara inilah sekarang Thian Giok memandang, ia merasa kenal hwesio tua ini, akan tetapi sudah lupa lagi entah di mana.
"Guruku tidak berada di sini, sedang turun gunung dan entah kapan aku dapat bertemu dengan dia lagi. Ada keperluan apakah ngo wi mencarinva? Kalau perlu, boleh diberitahukan kepadaku agar sedatangnya, dapat kusampaikan."
Tiba tiba kakek ke dua yang sejak tadi memandang kepada Thian Giok, kakek yang bertubuh gemuk sekali itu melangkah maju dan bertanya dengan suara keras.
"Bukankah kau yang bernama Thian Giok, murid Mo bin Sin kun?"
Mendengar suara ini, teringatlah Sin pian Yap Thian Gok siapa adanya kakek gemuk ini.
Hal ini menimbulkan rasa tidak enak di dalam hatinya karena hwesio tua ini bukan lain adalah Sam thouw hud (Buddha Berkepala Tiga).
Seorang tokoh Tibet yang lihai sekali dan yang dulu pernah membantu Lam hai Lo mo dan Pat jiu giam ong memusuhi Mo bin Sin kun, Kim Kong taisu dan dikalahkan oleh Song Bun Sam.
Melihat akan hal ini, dengan hati tidak enak ia dapat menduga bahwa musuh besar gurunya ini tentu datang membawa maksud yang tidak baik.
"Benar dugaanmu, losuhu. Dan sekerang aku pun teringat bahwa losuhu tentulah Sam Thouw hud dari Tibet, bukan?"
Akan tetapi agaknya Sam thouw hud tidak memperhatikan ucapan Thian Giok ini.
Hal ini tidak aneh kalau orang mengetahui bahwa Sam thouw hud telah menjadi tuli saking tuanya, ia tidak dapat mendengar sama sekali, maka biarpun ia yang tertua, ia tidak menimpin pembicaraan dan tugas ini ia serahkan kepada kakek ke dua yang sebetulnya masih sutenya (adik seperguruannya) sendiri yang berjuluk Ang tung hud (Buddha Bertongkat Merah).
Tiga orang hwesio lainnya adalah murid muridnya yang sudah memiliki kepandaian tinggi pula.
Tiba tiba Sam thouw hud berkata kepada kawan kawannya, atau juga kepada Thian Giok karena biarpun ia memandang kepada kawan kawannya, akan tetapi ia berkata dalam Bahasa Tionghoa.
"Murid jahat guru bertanggung jawab, guru jahat murid ikut menanggung dosanya. Gurunya tidak ada, muridnya lebih dulu menerima hukuman."
Mendengar ucapan ini, tiga orang hwesio yang lebih muda segera mencabut pedang yang berada di punggung, lalu serentak maju mengeroyok Thian Gok dengan gerakan pedang mereka yang cepat dan kuat.
"Sudah kuduga bahwa kalian dalang membawa maksud buruk!"
Seru Thian Giok yang cepat meloloskan senjatanya Pek giok joan pian (cambuk dari batu kemala putih) yang selalu dilibatkan di pinggangnya.
Senjatanya inilah yang membuat Thian Giok dijuluki Sin pian (Pian Sakti) karena dengan senjata ini ia telah merobohkan banyak sekali penjahat di dunia kang ouw.
Kini, menghadapi keroyokan tiga orang murid Sam thouw hud, ia memutar pian nya dengan hebat karena maklum bahwa lawan lawannya bukanlah orang lemah.
Thian Giok sekarang bukanlah Thian Giok ketka masih muda.
Ia telah mendapat tambahan ilmu silat dari Mo bin Sin kun dan ditambah oleh pengalamannya yang luas, ilmu silatnya amat lihai, jasa tenaganya amat besar.
Setelah pertempuran berjalan duapuluh jurus lebih, ternyatalah bahwa kepandaian tiga orang murid Sam thouw hud itu, biarpun cukup lihai, namun tidak berdaya menghadapi pek giok joan pian di tangan Thian Giok yang menyambar nyambar laksana seekor naga putih yang sakti.
Melihat ini, Ang tung hud menjadi tidak sabar.
Tadinya memang suhengnya dan dia ingin mengukur sampai di mana tingginya murid Mo bin Sin Kun, karena ia dan suhengnya merasa terlalu rendah untuk menghadapi "orang biasa"
Saja.
Akan tetapi, melihat gerakan Pek giok joan pian itu, ia maklum bahwa kalau dilanjutkan, tiga orang murid keponakannya takkan menang dan kalau sampat mereka roboh, hal itu berarti akan membuat mereka kehilangan muka.
Tadi Thian Giok hanya mempergunakan pian nya untuk mempertahankan diri dan betapapun juga, ia tidak ingin menjatuhkan tangan maut kepada lawannya.
Kini, melihat gerakan hwesio tua yang memegang tongkat merah ini, tahulah ia bahwa kalau tidak ingin roboh, ia harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, yang berarti bahwa iapun harus mengeluarkan serangan serangan maut yang mungkin merenggut nyawa lawannya yang sudah tua ini.
Ia merasa tidak tega untuk melakukan hal ini, karena sesungguhnya yang menjadi musuh besar gurunya hanyalah Sam thouw hud saja.
Oleh karena itu ia membentak.
"Tahan dulu! Siapakah losuhu ini dan ada hubungan apakah dengan Sam thouw hud?"
"Pinceng adalah Ang tung hud, sute dari Sam thouw hud. Kami sengaja datang untuk membalaskan malu yang diderita oleh suheng paluhan tahun yang lalu. Karena gurumu merupakan salah seorang di antara musuh musuhnya, maka kau sekarang harus membayar untuk gurumu itu. Nah, bersiaplah untuk binasa!"
"Kalian ini benar benar tidak tahu diri! Sam thouw hud dahulu berurusan dengan guruku dan kawan kawannya hanya karena ia terbawa bawa oleh kejahatan Lam hai Lo mo dan Pat jiu Giam ong, dan dia kena dikalahkan. Mengapa sekarang kalian datang dari tempat jauh hanya untuk mencari permusuhan dan melakuan pengacauan? Apakah kau benar benar mengambil keputusan untuk membunuh aku?"
"Tak usah banyak cerewet. Kau murid Mo bin Sin kun harus mati lebih dulu!"
"Bagus! Kaukira aku takut kepadamu? Majulah!"
Thian Giok marah sekali dan sebagal murid terkasih dari Mo bin Sin kun, tentu saja ia tidak takut menghadapi musuh musuh ini.
Ang tung hud menggerakkan tongkatnya dan benar saja.
Gerakannya hebat sekali dan mendatangkan angin dingin yang menyambar sebelum tongkat itu datang.
Thian Giok tidak gentar dan cepat mengelak sambil membalas serangan itu dengan sambaran piannya.
Ang tung hud menangkis dan cepat menyusul dengan pukulan tongkatnya ke arah kepala Thian Giok.
Namun jago dari Sian hoa san ini tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan kirinya menyampok ke arah tongkat itu.
Sebelum tangannya mengenai tongkat, angin pukulannya telah membuat tongkat itu terpental ke belakang!
"Hebat!"
Seru Ang tung hud kaget sekali dan ia cepat melompat ke belakang dan melakukan serangan lagi, kini amat hati hati karena maklum bahwa lawannya yang jauh lebih muda ini memiliki ilmu pukulan yang dahsyat sekali.
"Hati hati, sute. Pukulannya itu adalah Soan hong pek lek jiu, harus kaulawan dengan Hek mo kang!"
Kata Sam thouw hud yang mengenal pukulan tangan kiri itu sebagai salah satu ilmu pukulan yang lihai dari Mo bin Sin kun.
Ang tung hud memiliki kepandaian yang hanya sedikit di bawah tingkat kepandaian Sam thouw hud, maka iapun lihai sekali.
Kini, setiap kali Thian Giok melancarkan pukulan tangan kirinya, yakni pukulan Soan hong pek lek jiu, lawannya bergerak merendahkan tubuh dan mencerahkan pukulan tangan kiri atau kanan dari bawah yang mendatangkan angin pukulan panas dan hebat pula.
Tubuh Thian Giok sering kali terpental ke belakang apabila dua macam ilmu pukulan ini bertemu, tanda bahwa pukulannya masih kalah ampuh dan lweekangnya kalah kuat!
Setelah bertempur selama tigapuluh jurus, tahulah Thian Giok bahwa keadaannya berbahaya sekali.
Hwesio tinggi besar dan kurus ini memiliki ilmu tongkat yang hebat, ilmu pukulan yang dahsyat dan pengalaman bertempur yang luas.
Untuk menghadapi lawan ini saja sukar sekali baginya untuk mencapai kemenangan, apalagi kalau Sam thauw hud sendiri yang turun tangan, belum diperhitungkan bantuan tiga orang hwesio tadi yang kepandaiannya juga sudah amat tinggi.
Benar benar ia menghadapi lawan lawan tangguh dan bahaya besar karena mereka ini bertekad untuk membunuhnya!
Akan tetapi, Thian Giok bukanlah seorang pengecut yang merasa gentar menghadapi bahaya maut.
Ia bahkan lebih bersemangat lagi dan Pek giok joan pian di tangannya bergerak cepat, lenyap berobah menjadi segulung sinar putih yang berkelebatan membungkus tubuhnya sehingga setiap desakan tongkat merah itu dapat ditolak ke belakang.
Namun amukannya ini bukan berarti bahwa ia telah dapat mengatasi kepandaian Ang tung hud, karena ia selalu masih berada di fihak yang terdesak oleh tongkat merah yang benar benar lihai itu.
Tiba tiba terdengar bentakan nyaring dan bayangan tubuh yang gesit berkelebat memasuki gelanggang pertempuran.
"Siluman busuk dari mana berani mengganggu Sian hoa san?"
Ang tung hud melihat sinar putih berkelebat dan tangannya yang memegang tongkat menjadi tergetar ketika sebatang pedang menangkis tongkat itu dengan gerakan digetarkan dan dengan luncuran yang amat aneh.
Ia melompat mundur dan melihat bahwa yang membantu Sin pian Yap Thian Gok adalah seorang pemuda tampan yang gagah sekali kelihatannya, walaupun pakaiannya menunjukan bahwa pemuda ini adalah seorang ahli surat.
"Tek Hong, kebetulan sekali kedatanganmu?"
Seru Yap Thian Giok girang.
"Mari bantu aku mengusir lima siluman jahat ini. Yang tua dan gemuk itu adalah Sam thouw hud, tentu kau pernah mendengar namanya."
Tek Hong terkejut dan memandang ke arah kakek hwesio yang seorang lagi, yang memegang tongkat kepala naga di tangan kanan dan sebuah kebutan hitam di tangan kiri.
Ia teringat akan cerita ayahnya bahwa di antara anggauta anggauta Hiat jiu pai (Perkumpulan Tangan Berdarah) yang dibentuk di kota raja dibawah pimpinan Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo belasan tahun yang lalu, terdapat seorang tokoh Tibet yang berjuluk Sam thouw hud dan yang memiliki kepandaian lihai sekali.
Jadi orang inikah yang sekarang datang mengganggu Sian hoa san?
"Mereka ini mau apa, supek?"
Tanyanya.
Sebelumnya Thian Giok menjawab, tiga orang hwesio murid Sam thouw hud sudah bergerak maju.
Mereka ini memang merasa gentar menghadapi Yap Thian Giok yang berkepandaian tinggi maka mereka tadi diam saja, menyerahkan tugas menghadapi pendekar Sian hoa san itu kepada susioknya yang jauh lebih lihai daripada mereka.
Akan tetapi ketika mereka melihat kedatangan Tek Hong dan mendengar dari percakapan antara Tek Hong dan Thian Giok bahwa pemuda ini hanya murid keponakan dari Yap Thian Giok, mereka memandang rendah dan serentak maju mengeroyok Tek Hong!
Tingkat kepandaian Tek Hong, biarpun ia jauh lebih muda, kalau dibandingkan sudah banyak melebihi tingkat kepandaian Thian Giok!
Hal ini adalah karena kalau Yap Thian Giok hanya menghisap sari pelajaian ilmu silat tinggi dari seorang guru saja yakni Mo bin Sin kun, adalah Tek Hong mempelajari ilmu silat tinggi dari ayahnya dan karenanya ia menghisap sari pelajaran ilmu silat yang diturunkan kepada ayahnya oleh Mo bin Sin kun, Kim Kong Taisu, dan Bu tek Kiam ong!
Oleh karena ini pula maka Tek Hong sudah mempelajari bersama Siauw Yang, dengan amat baik ilmu ilmu silat seperti Thai lek Kim kong jiu dari Kim Kong Taisu, Soan hong pek lek jiu dan Mo bin Sin kun, Kim kong Kiam hwat dari Kim Kong Taisu pula, dan akhirnya ilmu pedang yang merajai pada waktu itu, yakni Tee coan liok kiam sut dari Bu Tek Kiam ong Si Raja Pedang.
Semua kepandaian ini ia terima dari ayahnya, bersama sama Siauw Yang adiknya yang lincah.
Dalam hal ilmu pedang, adiknya yang lebih lincah dan gesit lebih unggul daripadanya, akan tetapi dalam hal ilmu pukulan, Tek Hong menang jauh apalagi tenaga lweekang pemuda ini memang sudah tinggi sekali, berkat dari bakatnya sendiri dan dari gemblengan ayahnya yang tak kenal lelah.
Kini menghadapi serangan tiga orang hwesio gundul yang memegang pedang itu, Tek Hong berlaku amat tenang.
Serangan hwesio pertama ditangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaganya.
Terdengar suara keras dan pedang di tangan hwesio itu patah, sedangkan si hwesio sendiri menjerit kesaktian, karena ketika menangkis, pedang di tangan Tek Hong meluncur terus melalui gagang pedang tawan melukai jari tangan yang memegang pedang.
Hwesio itu melepas gagang pedangnya dan mengaduh aduh sambil memegangi tangannya yang berdarah.
Serangan hwesio ke dua merupakan tusukan pedang dengan gerak tipu yang hampir sama dengan gerakan pedang Sian jin tit louw (Dewa Menunjukkan Jalan).
Tek Hong yang sudah dapat mengukur sampai di mana tingkat kepandaian lawan, tidak menangkis lagi ataupun mengelak, melainkan ia menggerakkan tangan kirinya memukul ke depan dan aneh sekali.
Sebelum ujung pedang mengenai dada Tek Hong, lebih dulu hwesio itu memekik dan tubuhnya terpental ke belakang seperti terdorong oleh tenaga raksasa, ia mencoba untuk mempertahankan dirinya, akan tetapi tetap saja terguling roboh sambil memegangi dadanya yang terasa sakit dan sukar bernapas.
Itulah Ilmu Pukulan Soan hong pek lek jiu yang dilakukan dengan baik sekali.
"Bagus !"
Thian Giok memuji kagum.
Melihat betapa ilmu pukulan dari suhunya dilakukan demikian baik oleh Tek Hong, ia makin kagum kepada Song Bun Sam Si Raja Pedang.
Bun Sam hanya menerima latihan sebentar saja oleh Mo bin Sin kun akan tetapi sekarang dapat menurunkan ilmu pukulan itu kepada puteranya yang dapat melakukan dengan baiknya, seolah olah pemuda ini mendapat bimbingan langsung dari Mo bin Sin kun sendiri!
Thian Giok tentu saja sebagai murid Mo bin Sin kun dapat melakukan ilmu pukulan itu lebih baik dari Tek Hong, akan tetapi ia tidak sembarang mengeluarkan ilmu pukulan ini kalau tidak menghadapi lawan tangguh.
Dan tadi, ketika ia mempergunakan Soan hong pek lek jiu terhadap Ang tung hud ia mendapat lawan Ilmu Pukulan Hek mo kang yang luar biasa dari hwesio tua itu.
Hwesio ke tiga murid Sam thouw hud juga sudah tiba dengan serangan pedangnya.
Kini Tek Hong berlaku amat tenang, bahkan pemuda ini menyarungkan pedangnya dengan sikap seakan akan tidak melihat datangnya serangan pedang hwesio itu yang membabat lehernya dengan gerak tipu yang hampir sama dengan Han ya pok cui (Burung Goak Menyambar Air).
Akan tetapi, setelah pedang itu sudah hampir menempel kulit lehernya, Tek Hong menundukkan kepalanya dan cepat sekali tangan kirinya meluncur ke atas memegang pergelangan tangan hwesio itu.
Gerakan ini disusul oleh tangan kanannya yang menyerbu ke arah perut dan dalam lain saat tubuh hwesio itu terangkat tinggi tinggi oleh Tek Hong dan sekali di lemparkan, tubuh hwesio itu melayang dan jatuh berdebuk di dekat kawan kawannya bagaikan sebatang pohon tumbang.
Kali ini Tek Hong mempergunakan ilmu silat tangan kosong warisan Kim Kong Taisu.
Melihat ini Sam thouw hud dan Ang tung hud marah sekali.
Lebih lebih Sam thouw hud yang melihat betapa tiga orang muridnya telah dikalahkan dalam sejurus saja dengan cara yang demikian memalukan, ia mengeluarkan seruan seperti seekor binatang buas, dan tubuhnya bergerak dengan cepat sekali.
Amat mengherankan kalau dilihat betapa tubuh yang gemuk sekali itu ditambah pula usia yang sudah amat tua sehingga kalau berdiri kelihatan sebagai orang tua yang sudah amat lemah dan hanya dapat bergerak lambat sekali, akan tetapi begitu ia bergerak menyerang Tek Hong, serbuannya tidak kalah cepat dan kuatnya daripada serbuan seekor harimau jantan yang sedang marah.
Tongkat Kim liong pang di tangan kanannya bergerak terputar putar di atas kepala, lalu meluncur ke arah kepala Tek Hong bagaikan seekor naga menyambar.
Adapun kebutan di tangan kirinya meluncur pula, menotok ke arah ulu hati pemuda itu.
Dua serangan yang dilakukan berbareng ini merupakan sepasang tangan maut yang menjangkau nyawa!
Menghadapi serangan ini, Tek Hong Cepat mencabut pedangnya dan memutar pedang itu sedemikian rupa di atas kepalanya untuk menangkis sambaran tongkat.
Adapun totokan ujung kebutan yang mengarah dadanya itu, ia elakkan dengan miringkan tubuh ke kiri sambil menyampok dengan tangan kirinya, mempergunakan tenaga dari pukulan That lek kim kong jiu.
Pedang dan tongkat beradu, membuat Tek Hong merasa telapak tangannya tergetar, sedangkan tangan kirinya yang menyampok ujung kebutan juga terasa pedas dan panas!
Tahulah pemuda ini bahwa ia menghadapi lawan yang amat tangguh dan ia dapat menduga pula bahwa Sam thouw hud tentu telah memperdalam ilmu silatnya semenjak dahulu dikalahkan oleh ayahnya sebagaimana ia mendengar dari penuturan ayahnya, ia berlaku hati hati sekali dan cepat ia mainkan Ilmu Pedang Tee coan liok kiam sut, sedangkan tangan kirinya digerakkan menurut Ilmu Pukulan Thai tek kim kong jiu.
Memang betul bahwa Sam thouw hud telah memperdalam ilmu silatnya dan jika dibandingkan dengan belasan tahun yang lalu, ia kini jauh lebih tangguh ia bersilat sambil mengerahkan tenaga Hek mo kang yang hebat, dengan amat bernafsu ia mendesak Tek Hong dan mengirim serangan serangan maut.
Di lain fihak, Ang tung hud juga cepat menyerbu dan menyerang lagi Yap Thian Giok yang terpaksa menghadapinya dengan mati matian.
Pertempuran terbagi menjadi dua dan berjalan dengan serunya sehingga empat orang yang bertempur itu lenyap dari pandangan mata tertutup oleh gulungan sinar senjata yang di gerakkan cepat sekali.
Biarpun Tek Hong mengaku bahwa ia masih kalah tingkatnya oleh lawannya, namun kehebatan Ilmu Pedang Tee coan liok kiam sut masih dapat memungkinkan ia melakukan perlawanan hebat dan tidak begitu terdesak seperti halnya Yap Thian Giok.
Sin pian Yap Thian Giok jago dari Sian hoa san ini benar benar terdesak hebat oleh Ang tung hud dan dalam pertempuran mati matian, ia hanya dapat mempertahankan diri saja.
Beberapa kali ia bebas dari bahaya maut ketika tongkat merah menyambar, dan hanya mendapat pukulan dua kali di bagian tubuh yang tidak berbahaya sehingga ia masih dapat melakukan perlawanan.
Namun harus diakui bahwa keadaannya amat berbahaya dan agaknya tak lama lagi ia terpaksa harus menyerah kalah.
Tek Hong yang bertempur melawan Sam thouw hud, tahu akan keadaan supeknya ini, maka ia menjadi amat gelisah.
Pemuda yang cerdik ini diam diam mengatur langkahnya sehingga ia berada dekat dengan supeknya dan dapat bersikap membela supeknya kalau nyawa supeknya terancam oleh lawannya.
Baiknya ia melakukan hal ini karena benar saja, pada suatu saat ia mendengar supeknya berteriak dan satu benturan hebat antara tongkat merah dan Pek giok juan pian membuat pian dari supeknya itu putus!
Selagi Thian Giok terhuyung huyung ke belakang, Ang tung hud tertawa sambil menubruk dan melakukan serangan hebat dengan serudukan kepalanya ke arah perut Yap Thian Giok!
Sin pian Yap Thian Giok tak kuasa mengelak dari serangan dahsyat ini dan tiba tiba Tek Hong yang melihat datangnya bahaya ini, melompat dan menghadapi Ang tung hud!
Serangan kepala Ang tung hud sudah dekat dan Thian Giok yang melihat murid keponakannya mewakili dirinya menerima serangan itu berseru.
"Awas, Tek Hong!"
Akan tetapi pemuda itu telah memalang kedua tangan di depan dada dan pedangnya menusuk ke depan.
Akan tetapi, kedua tangan Ang tung hud menggerakkan tongkat menangkis pedang sedangkan kepalanya terus menyeruduk ke arah perut Tek Hong.
Pemuda ini hanya menggunakan tangan kiri saja yang menjaga perutnya dan ketika kepala itu tiba, ia merasa betapa tangannya sakit sekali dan tubuhnya terlempar ke belakang seakan akan terdorong oleh tenaga yang luar biasa besarnya.
Tek Hong terlempar lebih dua tombak dan jatuh di atas tanah dalam keadaan duduk.
Pergelangan tangan kirinya patah dan dadanya terasa panas.
Ia maklum bahwa ia telah menderita luka di dalam tubuh maka ia cepat mengatur pernapasannya.
Adapun Ang tung hud juga merasa betapa kepalanya kesemutan, maka ia terkejut sekali, ia mencoba untuk mengatur jalan darah di kepalanya, namun ternyata bahwa tangan kiri Tek Hong yang mengandung tenaga Thai lek kim kong jiu tadi telah mendatangkan luka di kepalanya.
Setelah terhuyung huyung, Ang tung hud menjerit dan roboh pingsan.
Bukan main marahnya Sam thouw hud melihat ini.
Sambil memekik keras tongkatnya menyambar hendak memukul Tek Hong yang masih bersila di atas tanah sambil meramkan matanya "Jangan bunuh dia secara curang!"
Yap Thian Giok melompat dan menggunakan dua tangan yang diisi dengan tenaga Soan hong pek lek jiu itu ia menangkis sambaran tongkat Kim hong pang.
Akan tetapi, ia kalah tenaga dan tangkisannya membuat ia terpental ke belakang dan di lengan kanannya nampak tanda membiru karena benturan dengan tongkat.
Baiknya tulangnya tidak patah, dan tangkisan itu pun membuat Sam thouw hud terhuyung ke belakang.
Kini Sam thouw hud menyerang lagi, melompat dan tongkatnya menyambar kepala Tek Hong.
Thian Giok yang terlempar dan tidak berdaya menolong, hanya meramkan matanya agar jangan melihat kengerian itu.
Agaknya kepala pemuda itu akan pecah terpukul tongkat yang demikian beratnya.
"Siancai, siluman tua bangka sungguh kejam,"
Terdengar suara halus dan sehelai sinar merah menyambar ke arah tongkat yang memukul kepala Tek Hong.
Sam thouw hud terkejut sekali ketika merasa tongkatnya direnggut oleh tenaga yang kuat sekali, ia mengerahkan tenaga membetot, namun tongkatnya tidak terlepas dan libatan benda merah itu.
Tiba tiba benda merah itu melepaskan libatannya dan meluncur menyerang pundak Sam thouw hud.
Dilepaskan tiba tiba saja, Sam thouw hud sudah terhuyung ke belakang, ditambah lagi oleh serangan hebat ini, membuat dia tidak tertahan lagi terjengkang ke belakang.
Baiknya ia gesit dan cepat berpoksai (membuat salto) sehingga terhindar dan jatuh ia mengenal selendang merah itu dan wajahnya berobah pucat.
Benar dugaannya, ketika ia memandang, ia melihat Mo bin Sin kun berdiri di situ dengan selendang merah di tangan kanan.
Wanita ini tidak berobah, masih nampak gagah dan cantik biarpun usianya tua sekali, tidak kurang dari tujuhpuluh tahun.
"Sam thouw hud, kau datang mau apakah?"
Bentak Mo bin Sin kun dengan suara keren.
Sam thouw hud kehilangan semangat dan keberaniannya.
Dahulu ia telah merasai kelihaian wanita sakti ini, dan tadi serangan selendang merah itu membuktikan bahwa kepandaian dan tenaga Mo bin Sin kun ternyata tidak berkurang, bahkan makin hebat.
Sekarang, empat orang kawannya telah terluka semua dan kalau dia sendiri harus menghadapi Mo bin Sin kun tanpa kawan, ia merasa amat jerih.
Lagi pula di sana masih ada Thian Giok yang kepandaiannya tidak rendah, dan pemuda itu pula yang agaknya kini sudah dapat mengatasi lukanya.
"Sam thouw hud, mengapa kau diam saja?"
Kembali Mo bin Sin kun bertanya, akan tetapi oleh karena Sam thouw hud memang sudah tuli, mana ia bisa mendengar pertanyaan ini.
"Suthai, agaknya siluman tua ini memang tidak dapat mendengar lagi. Dia datang untuk mencari suthai dan hendak membalas dendam. Ia telah membawa empat orang kawannya yang kesemuanya telah dikalahkan oleh Tek Hong, akan tetapi sebaliknya Tek Hong juga menderita luka,"
Kata Thian Giok kepada gurunya. Sementara itu, Sdm thouw hud lalu menghampiri sutenya mengangkat tubuh yang pingsan itu dan dipanggulnya, kemudian ia berkata kepada Mo bin Sin kun.
"Kawan kawanku telah terluka. Biarlah kali ini aku mengalah, akan tetapi lain kali aku pasti akan datang lagi!"
Setelah berkata demikian, ia lalu mengajak tiga orang muridnya untuk pergi dari situ.
Sambil terpincang pincang dan meringis kesakitan, tiga orang hwesio murid Sam thouw hud itu mengikuti suhu mereka.
Mo bin Sin kun sekarang jauh berbeda dengan Mo bin Sin kun belasan tahun yang lalu.
Dahulu ia terkenal memiliki watak keras sekali akan tetapi kini ia menjadi jauh lebih sabar setelah bertapa dan mengasingkan diri dan dunia ramai beberapa tahun lamanya.
Ia tidak mau mengejar Sam thouw hud melainkan menghampiri Tek Hong.
Sudah lama ia tidak bertemu dengan pemuda ini, semenjak pemuda ini masih kecil, ia kagum melihat pemuda ini yang parasnya, mirip dengan ibunya, akan tetapi pada saat itu, Tek Hong nampak pucat sekali.
Sebaliknya, Tek Hong sudah dapat mengatasi lukanya dan kini dadanya tidak begitu sakit lagi rasanya.
Melihat Mo bin Sin kun, ia cepat berlutut memberi hormat kepada nenek gurunya itu.
Mo bin Sin kun mengangkat bangun Tek Hong dan ketika ia menyentuh kedua pundak pemuda itu, ia berkata.
"Kau menderita luka di dalam dada. Baiknya tubuhmu telah kuat berkat latihan yang baik sehingga tidak membahayakan nyawa."
Nenek tua yang sakti ini lalu menotok dua kali ke arah punggung Tek Hong, kemudian mengeluarkan bungkusan obat dan memberi tiga butir pel merah kepadanya.
"Telanlah tiga butir ini dan kau akan sembuh kembali dalam beberapa hari saja,"
Katanya.
Sambil menghaturkan terima kasih, Tek Hong menelan pel itu lalu ia mengikuti Mo bin Sin kun dan Yap Thian Giok yang mengajaknya masuk ke dalam pondok untuk bercakap cakap.
Setelah Yap Thian Giok menuturkan tentang kedatangan Sam thouw hud, Ang tung hud dan tiga orang muridnya kepada Mo bin Sin kun, Tek Hong dengan muka sedih lalu menuturkan pula segala pengalamannya, ia menceritakan betapa adiknya tertawan oleh Tung hai Sian jin, menuturkan pula tentang Liem Pun Hui yang masih berada di pulau itu menanti dengan setia sampai Siauw Yang tertolong.
Juga ia menuturkan perihal Lam hai Lo mo yang hidup kembali dan bagaimana kakek sakti yang jahat dan kini buntung kakinya itu membakar rumah orang tuanya di Tit le.
"Hm, tidak tahunya Pun Hui telah pergi bersama Siauw Yang. Bagus, anak itu memang baik dan boleh dipercaya,"
Kata Yap Thian Giok mendengar tentang muridnya. Adapun Mo bin Sin kun mengerutkan keningnya dan berkali kali menghela napas panjang.
"Gagallah maksudku mencuci tangan dari urusan dunia satelah sekarang mengetahui bahwa si jahat Lam hai Lo mo masih hidup. Setelah dia turun gunung, dan Tung hai Sian jin serta orang orang jahat seperti Sam thouw hud juga datang mengacau, mana bisa aku enak enak di atas gunung? Terpaksa akupun harus turun tangan. Thian Giok, besok kau ikut aku pergi ke Sam liong to!"
Tentu saja Thian Giok setuju dan menyatakan kesediaannya. Tek Hong girang sekali. Setelah supeknya dan nenek gurunya mau turun tangan, harapannya timbul kembali untuk dapat menolong adiknya.
"Terima kasih atas pertolongan supek dan sucouw, akan tetapi teecu akan pulang dulu ke Tit le. Di sana tidak ada apa apa dan kalau sewaktu waktu ayah bunda teecu pulang, mereka tentu akan bingung sekali. Teecu hendak meninggalkan surat di sana baru teecu akan menyusul ke Sam liong to."
Setelah berkata demikian, Tek Hong lalu memberi penjelasan kepada Thian Giok dan Mo bin Sin kun tentang letak Pulau Sam liong to itu.
Kemudian ia berpamit untuk kembali ke Tit le, setelah mendapat nasehat nasehat dari dua orang tua itu dan menerima lagi tiga butir pel merah dari Mo bin Sin kun.
"Sebaiknya, dalam dua pekan ini, hindarkan segala pertempuran karena luka di dalam dadamu belum pulih kembali,"
Kata Mo bin Sin kun dan Tek Hong menyanggupi untuk mentaati pesan ini.
Maka berangkatlah pemuda ini turun dari Sian hoa san dengan dada lapang, karena kini ia mendapat bantuan orang orang sakti yang membikin fihaknya kuat.
"Siauw Yang...! Siauw Yang....!"
Panggilan ini di teriakkan berkali kali dan suara panggilan itu bergema di permukaan air laut.
Suara ini keluar dari sebuah perahu kecil yang terapung apung di atas air laut, dan di dalam perahu kelihatan seorang pemuda berpakaian sasterawan memegang dayung dan mendayung perahu itu hilir mudik mengelilingi sekumpulan pulau yang berada di situ.
Pemuda ini nampak kurus sekali dan wajahnya pucat ia kelihatan sedih dan suaranya yang tak pernah mendapat jawaban itu membuat suasana di sekelilingnya menjadi makin sunyi.
Telah sepekan lebih pemuda itu yakni bukan lain Liem Pun Hui, setiap hari dari pagi sampai petang, menaiki perahu itu dan mendayungkannya perahunya ke semua pulau yang berada di situ untuk mencari Sauw Yang, gadis perkasa yang sudah menawan hatinya.
Kasihan sekali keadaan pemuda ini.
Ia lupa makan, lupa tidur dan sama sekali tidak memelihara kesehatannya lagi sehingga ia menjadi kurus kering dan pucat, ia amat gelisah, bahkan gelisah kalau kalau tidak akan bertemu dengan dara yang dicintainya itu, melainkan gelisah memikirkan keadaan Siauw Yang ia tahu akan kejahatan manusia seperti Bong Eng Kiat dan ayahnya, dan tahu betul bahaya besar apa yang mengancam diri gadis itu.
Sepekan lebih ia tidak pernah makan hanya minum saja dan jarang sekali ia tidur, maka tubuhnya terpaksa lemas dan lemah.
Pada saat itu ia memanggil manggil sampai suaranya menjadi parau dan perahunya mendekati sebuah pulau yang sudah ada tiga kali ia darati, tiba tiba ia melihat seorang wanita di pantai pulau itu melambaikan saputangan kepadanya.
Pun Hui menggosok gosok matanya, khawatir kalau kalau pikirannya sudah terganggu atau matanya sudah tidak sempurna lagi.
Sudah tiga kali ia mendarat di pulau ini.
Seperti juga di pulau pulau yang lain, akan tetapi selalu tidak bertemu dengan seorangpun manusia.
Sekarang ada wanita itu, dan manakah datangnya?
Apakah dia Siauw Yang....
Berpikir demikian, hatinya berdebar keras dan ia mendayung perahunya ke pantai itu.
"Siauw Yang....!"
Suara yang diteriakkan ini tidak keluar, tersumbat di kerongkongannya karena ia merasa amat terharu, juga khawatir kalau kalau yang ia hadapi itu hanya lamunan atau impian belaka.
Kini perahunya telah menempel di darat dan wanita itu telah berdiri tak jauh dari perahunya.
Tak salah lagi, itulah Siauw Yang, gadis yang selama ini dicari carinya, ditunggu tunggunya, yang kini berdiri dengan mata bersinar sinar dan bibir tersenyum.
"Siauw Yang....!"
Pun Hui melompat keluar dari perahunya ke atas pantai berpasir, terhuyung huyung menghampiri gadis itu dan setelah mendapat kenyataan bahwa ia benar benar tidak mimpi dan gadis itu benar benar Siauw Yang, ia hanya dapat mengeluh penuh kebahagiaan.
"Siauw Yaaang ....."
Lalu roboh di depan kaki gadis itu, tak sadarkan diri! Ketika ia siuman kembali, ia melihat Siauw Yang sedang memijit mijit leher, pundak, dan punggungnya sambil memanggil manggil namanya.
"Liem suheng, kau kenapakah ?"
Liem Pun Hui bergerak dan bangku, lalu duduk di atas pasir, di dekat Siauw Yang yang sedang berlutut "Aku tidak apa apa, aku amat girang melihat kau masih selamat dan hidup, sumoi,"
Jawabnya sambil mencoba untuk bersembunyi dan melupakan keletihan dan kelaparan yang membuatnya lemas sekali.
"Akan tetapi kau pucat sekali, dan kurus! Padahal baru sepekan kita berpisah. Kau kenapakah, suheng? Sakitkah kau?"
Siauw Yang mendesak sambil memandang tajam ke arah wajah pemuda itu.
"Tidak, tidak sakit. O, ya, tahukah kau aumoi bahwa belum lama ini aku telah bertemu dengan kakakmu Song Tek Hong di pulau kecil itu! Tapi sekarang ia telah pergi lagi untuk mencari bantuan."
Pun Hui sengaja mengubah arah percakapan agar tak usah menjawab pertanyaan gadis itu tentang keadaannya.
"Betulkah?"
Siauw Yang benar saja amat tertarik hatinya mendengar itu. Pun Hui lalu menceritakan pengalamannya dengan Song Tek Hong yang di dengarkan oleh Siauw Yang penuh perhatian.
"Jadi setelah putus asa mencariku, ia lalu kembali untuk memberi laporan tentang keadaanku yang tertawan kepada ayah bundaku? Akan tetapi mengapa kau mendiri masih ada di sini, Liem suheng? Mengapa kau tidak ikut dengan twako untuk kembali ke daratan?"
"Aku... aku tinggal di pulau itu untuk.... menanti kalau kalau kau akan datang ."
Mendengar jawaban yang gagap ini, Siauw Yang memandang tajam.
Gadis ini otaknya cerdik luar biasa maka melihat keadaan pemuda itu, mendengar suara panggilan tadi, dan kini mendengar penuturannya, ia dapat menduga.
Tak terasa pula wajahnya menjadi merah dan matanya berlinang air mata.
"Liem suheng, kau tinggal di pulau dan kau setiap hari berperahu mencari cariku selami ini?"
"Habis.... tidak ada sesuatu yang dapat ku kerjakan....."
"Dan kau selalu memanggil manggilku, menjelajah sekumpulan pulau pulau ini tanpa kenal lelah."
"Itu kewajibanku, sumoi...."
"Dan dalam melakukan hal ini, kau sampai tidak pernah makan, mungkin tak pernah tidur! Kau menyiksa dirimu sendiri hanya untuk mencari aku, suheng...."
"Habis bagaimana aku bisa makan dan tidur, bagaimana aku bisa hidup kalau kalau...."
Sampai di sini Pun Hui tertegun dan tak dapat melanjutkan kata katanya.
Tadinya ia hanya akan menyangkal seberapa dapat agar kelihatannya ia jangan terlalu memikirkan gadis ini, akan tetapi dalam kata katanya, ia telah terpeleset sehingga bukan menyembunyikan, bahkan ia membuka perasaan hatinya secara terang terangan!
"Liem suheng....
kau baik sekali...."
Kata Siauw Yang dengan terharu dan juga jengah, ia memang sudah menduga bahwa pemuda sasterawan ini "ada hati"
Terhadapnya, akan tetapi tak disangkanya sampai demikian mendalam!
Adapun Pun Hui setelah tanpa di sengaja telah membuka sendiri rahasia hatinya, buru buru menyimpangkan pembicaraan itu dengan pertanyaan.
"Dan kau bagaimana bisa tiba tiba muncul di pulau ini, sumoi? Terus terang saja, sudah tiga kali aku mendarat di sini, akan tetapi tidak pernah aku melihatmu atau orang lain di pulau ini."
Siauw Yang tersenyum.
"Baru saja aku tiba di sini dan sebelum aku bercerita, kaumakanlah dulu, suheng. Aku tadi telah makan buah buah yang enak sekali yang terdapat di pulau ini. Kau makanlah."
Siauw Yang mengeluarkan beberapa buah yang berwarna kekuningan dan memberikan itu kepada Pun Hui.
Melihat buah ini dan mencium baunya yang harum, perut Pun Hui yang kosong itu mulai berkeruyuk dan mulutnya membasah.
Ia cepat menerima dan makan buah itu, enak harum rasanya.
"Terima kasih buah ini enak sekali, sumoi."
Sambil memandang pemuda itu makan buah Siauw Yang tersenyum lagi. Lucu rasanya dan senang hatinya melihat pemuda itu makan dengan lahapnya.
"Bukan rasa buah itu yang luar biasa, melainkan seleramu dan rasa lapar yang membikin segala apa menjadi enak dimakan,"
Katanya.
Satelah Pun Hui selesai makan dan rasa lapar mereda, Siauw Yang lalu menceritakan pengalamannya.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, dalam pertempuran melawan Tung hai Sian jin dan puteranya, yakni Bong Eng Kiat, Siauw Yang tertawan dan dipondong pergi oleh Bong Eng Kiat, sedangkan pedangnya Kim kong kiam dirampas oleh Tung hai Sian jin yang memimpin para bajak laut meninggalkan pulau kosong di mana Pun Hui menggeletak dalam keadaan pingsan.
Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiai membawa gadis itu ke sebuah perahu dan mereka mendayung perahu itu cepat cepat ke tengah laut, lalu mengembangkan layar sehingga perahu itu cepat berlayar ke tengah samudera, diikuti oleh perahu perahu layar dari para bajak laut.
"Ayah, aku minta agar dikawinkan dengan gadis jelita ini!"
Beberapa kali Bong Eng Kiat merengek rengek sambil memandang ke arah tubuh Siauw Yang yang menggeletak di dalam perahu dalam keadaan tak sadar.
Tubuh itu amat menggairahkan dalam pandangan matanya dan menurut keinginan hatinya, ia ingin segera mendapatkan gadis ini sebagai isterinya.
Ayahnya tertawa tawa saja sambil menghiburnya.
"Sabar, Eng Kiat. Aku maklum bahwa kau tentu tergila gila kepada gadis ini yang memang patut menjadi jodohmu. Akan tetapi ketahuilah, bahwa kau adalah anak tunggalku putera dari Tung hai Sian jin. Tidak mungkin puteraku akan melakukan pernikahan begitu saja seperti orang liar! Harus diadakan upacara yang sah, dihadiri oleh semua orang di dunia kang ouw. Kalau kau menikah, kau harus menikah secara terhormat. Berbeda lagi kalau kau hanya ingin main main saja dengan wanita ini."
"Tidak, ayah. Aku cinta kepadanya, aku tidak mungkin memperlakukan dia sebagai wanita biasa yang hanya ingin kupermainkan lalu kubuang lagi. Aku ingin ia menjadi isteriku yang sah, menjadi ibu dari anak anakku! Aku cinta dan kasihan melihat wajahnya yang ayu."
Sambil berkata demikian, Eng Kiat mendekati Siauw Yang dan mengelus elus kepala dan rambut gadis itu yang halus dan panjang menghitam.
Nyata sekali bahwa ia menaruh hati sayang kepada Siauw Yang, bukan semata terdorong oleh nafsu.
Betapapun jahat seseorang, pada suatu waktu ia tentu akan bertemu dengan seorang wanita yang menjatuhkan hatinya dan membuat ia ingin menjadi seorang suami dan ayah yang baik, seorang wanita yang dapat merobah watak yang jahat menjadi baik, merobah watak yang kejam itu menjadi penuh belas kasihan!
"Bagus!"
Jawab Tung Hai Sian jin dengan wajah berseri.
"Memang akupun seorang manusia biasa yang ingin sekali melihat kau berbahagia, hidup tenteram bersama seorang isteri yang cocok, ingin menimang seorang cucu. Ha, ha, ha! Kalau begitu, kau harus bersabar, anakku. Kita harus mencari kesempatan untuk melangsungkan pernikahanmu dengan gadis ini secara baik baik!"
Bong Eng Kiat berseri wajahnya, akan tetapi hanya sebentar saja. Tiba tiba ia mengerutkan keningnya dan wajahnya nampak berduka.
"Akan tetapi, ayah. Dahulu ia pernah menolak lamaranku, dan orang tuanya tentu tidak setuju. Bagaimana dia mau menjadi isteriku?"
"Itulah sebabnya maka kita harus mencari jalan yang baik. Dia sudah berada di kekuasaan kita, hal ini merupakan senjata yang amat ampuh bagi kita. Biarlah untuk sementara kita mendarat di pulau kosong dan membujuk sambil mencari kesempatan dan akal."
Akan tetapi, agaknya para dewa yang berkuasa di lautan merasa muak menyaksikan kejahatan Tung hai Sian jin, puteranya dan anak buah mereka yakni bajak bajak laut yang sudah terlalu sering melakukan kejahatan dan kekejaman itu.
Tiba tiba saja, benar benar di luar dugaan dan perhitungan para bajak laut yang sudah tahu akan keadaan lautan entah mengapa sebabnya, timbul taufan yang hebat.
Perahu bajak yang kecil itu tertiup taufan dan tentu akan tenggelam kalau mereka tidak lekas lekas menurunkan layar.
Tung hai Sian jin terkejut sekali dan agar lebih memudahkan menurunkan layar, ia menggunakan tangannya menghajar pangkal tiang layar.
"Kraakk!"
Tiang layar sebesar paha manusia itu tumbang dan patah setelah sekali saja terkena babatan tangan Tung hai Sian jin yang dimiringkan.
Namun taufan masih mengamuk hebat dan gelombang sebesar gunung pergi datang mengombang ambingkan perahu perahu itu.
Para bajak berteriak teriak ketakutan, disusul oleh pekik dan jerit kematian ketika beberapa buah perahu mulai terbalik membawa para penumpangnya keluar dan terjungkal ke dalam air.
Lengan lengan tangan dengan jari jari terbuka, jerit jerit mengerikan, bercampur aduk dengan suara angin berderu.
Jari jari tangan itu diulur hendak mencari pegangan, namun apa daya mereka terhadap kekuatan ombak yang besar?
Mereka diangkat ke atas, dihempaskan lagi ke dalam air sampai habis tenaga dan napas mereka dan tenggelamlah tubuh para bajak laut itu menjadi santapan ikan ikan besar.
Di antara perahu perahu kecil itu, hanya perahu yang ditunggangi oleh Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat saja yang dapat menahan serangan ombak dan taufan.
Tung hai Sian jin cepat berseru kepada puteranya untuk memegangi pinggiran perahu dan menggunakan tenaga menekan dorongan ombak sehingga prrahu itu tidak terbalik.
Mereka berdua harus bekerja mati matian dan sepenuh tenaga.
Melihat tubuh Siauw Yang terguling ke kanan kiri di dalam perahu dan kepala gadis itu terbentur pinggiran perahu, Eng Kiat lalu menarik tubuh Siauw Yang dan dipangkunya, dipeluknya erat erat agar tubuh gadis itu tidak terlempar ke luar.
Tangan kirinya memeluk Siauw Yang sedangkan tangan kanannya memegangi pinggiran perahu dengan pengerahan tenaga lweekang.
Sementara itu, dengan sebelah tangan memegang pinggiran perahu, Tung hai Sian jin mempergunakan dayung dengan tangan kirinya, mendayung sedapatnya agar perahunya dapat keluar dan gelanggang maut itu.
Akhirnya ia berhasil, perahu kecil itu meluncur keluar dari permainan ombak, akan tetapi ternyata bahwa perahu mereka telah tiba di bagian samudera yang amat jauh dan kelompok pulau pulau kecil tempat mereka.
Ternyata bahwa taufan telah membawa perahu mereka jauh ke timur!
Ketika mereka melihat ke sekeliling mereka, tak sebuah pun perahu anak buah mereka nampak.
Agaknya mereka semua telah menjadi korban taufan dan tenggelam di laut.
"Benar benar Thian masih melindungi kita,"
Kata Tung hai Sian jin sambil menarik napas panjang dengan hati merasa ngeri.
"di antara sekian banyak orang, hanya kita berdua yang selamat."
"Bertiga, ayah, bukan berdua. Bahkan orang ke tiga, adik Siauw Yang ini yang agaknya membawa nasib baik. Orang secantik dia, mana ada iblis bertega hati untuk membunuhnya? Oleh karena itu, hatiku lebih tetap lagi untuk mengambilnya sebagai isteriku yang tercinta!"
Tung hai Sian jin mengangguk angguk.
"Mungkin kau benar. Mari kita mencari tempat mendarat."
Tak lama kemudian, mereka melihat sebuah pulau yang berada di tengah laut, jauh terpencil dan bukan merupakan sebuah di antara pulau pulau yang pernah mereka tinggali.
Mereka mendarat, dan Eng Kiat memondong tubuh Siauw Yang ke darat.
Dengan girang mereka mendapat kenyataan bahwa pulau itu amat subur, mempunyai pohon pohon yang berbuah dan terdapat pula binatang bnaiang hutan yang dapat dijadikan penolak kelaparan.
Pada saat itu, Siauw Yang siuman dari pingsannya oleh pengaruh totokan yang lihai.
Selelah pikirannya jernih kembali dan melihat betapa ia di pondong oleh Bong Eng Kiat, ia menjadi gemas sekali, ia mengangkat tangan dan mengirim pukulan ke arah lambung pemuda itu, Bong Eng Kiat telah mempelajari ilmu silat dari ayahnya dan kepandaiannya telah mencapai tingkat yang tinggi, maka ia dapat merasa gerakan gadis ini.
Ia terkejut sekali dan cepat menggunakan tangan menangkis pukulan itu, akan tetapi ia terpaksa melepaskan Siauw Yang.
"Eh, eh, adik Yang, mengapa kau memukulku? Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu."
Eng Kiat menegur sambil tersenyum dan memandang kepada gadis itu dengan penuh cinta kasih dan berahi Siauw Yang cemberut.
Sekejap mata saja ia dapat melihat betapa keadaannya tidak berdaya sama sekali.
Pedangnya telah terampas oleh Tung hai Sian jin.
Dengan pedang di tangan saja, ia masih sukar untuk mengalahkan Bong Eng Kiat, apa lagi Tung hai Sian jin.
Sekarang ia tidak berpedang, tentu saja sia sia kalau ia melakukan perlawanan, ia bukan seorang gadis bodoh dan mata gelap yang tidak tahu bahaya dan yang melakukan sesuatu atas dorongan nafsu marah belaka.
Otaknya bekerja dan ia mengambil keputusan untuk berlaku sabar dan menahan kemendongkolannya, menanti datangnya kesempatan baik.
"Kau menggendongku, masih bilang tidak melakukan sesuatu yang buruk? Siapa sudi kau gendong seperti anak kecil?"
Bong Eng Kiat tertawa bergelak. Hatinya girang sekali melihat gadis itu tidak terus menyerang dan mengamuk, hal yang tadinya diduga duganya dan yang akan menyakitkan hatinya.
"Adik Yang, apa salahnya kau kugendong? Kalau tidak kugendong, bagaimana kau bisa terhindar dari bahaya maut ketika taufan menyerang hebat perahu kita? Kau masih belum sadar kembali, tentu saja harus kupondong."
"Aku tidak sudi. Tidak sudi aku bersentuhan kulit denganmu, tahu?"
Tung hai Sian jin tertawa masam dan berkata.
"Eng Kiat, gadis yang kaucinta ini galak bukan main, apakah kau tetap tergila gila kepadanya?"
"Biar galak, akan tetapi ia baik, ayah. Galak nya itu bukan menjadi watak dasarnya. Coba ayah lihat, biarpun ia bicara marah marah, bukankah wajahnya masih terang dan manis seperti bulan purnama? Adik Yang, kau jangan marah marah. Bagiku, kalau kau marah wajahmu menjadi makin menarik, akan tetapi hal itu amat tidak baik untukmu sendiri. Orang yang suka marah marah apalagi seorang dara muda, dapat menjadi lekas tua!"
Eng Kiat dan Tung Hai Sian jin tertawa, akan tetapi Siauw Yang tetap cemberut.
"Aku tidak akan marah asal saja kau tidak menggangguku. Aku tahu bahwa kini aku tidak berdaya dan percuma saja andaikata aku melawan."
"Lihat dan dengar ayah, bukankah dia seorang dara yang selain gagah perkasa dan cantik jelita juga amat cerdik dan pandai mempergunakan otaknya? Di dunia ini mana ada seorang gadis seperti dia?"
Berkata Eng Kiat sambil tersenyum senyum gembira.
"Akan tetapi,"
Kata Siauw Yang tanpa memperdulikan pujian orang.
"sekali saja kau berlaku kurang ajar Kepadaku, biarpun aku harus mati, aku akan menyerangmu dengan nekat,"
"Adik Yang. Bagaimana aku dapat mengganggumu? Aku cinta sepenuh jiwaku kepadamu, aku kasihan kepadamu. Aku bersumpah takkan mengganggumu."
Mendengar kata kata puteranya ini, Tung hai Sian jin menjadi geli hatinya dan tersenyum pahit.
"Sudahlah, kalian orang orang muda boleh ribut mulut dan bertengkar membangun cinta kasih akan tetapi aku orang tua tidak sabar lagi mendengarnya. Aku hendak menyelidiki keadaan pulau ini. Eng Kiat, hati hatilah. Dia ini bukan gadis sembarangan, jangan sampai kau kena diakali olehnya di waktu berada berdua dengan dia. Kalau dia menyerang, pergunakan senjatamu, dengan tangan kosong saja tak mungkin dia akan mengalahkanmu. Pula, jangan lupa segera memanggilku kalau dia berlaku jahat."
Setelah berkata demikian, Tung hai Sian jin meninggalkan dua orang muda itu di pantai dan sekali melompai kakek sakti ini telah lenyap di balik pohon pohon yang memenuhi pulau itu.
Siauw Yang mendongkol sekali, juga amat khawatir, tidak disangkanya bahwa Tung hai Sianjin begitu cerdik dan dapat menduga akan isi hatinya, ia maklum bahwa pemuda ini benar benar cinta kepadanya dan sudah tergila gila, dan agaknya bolah dipercaya bahwa untuk sementara waktu ini, pemuda itu takkan mengganggunya dan takkan menggunakan kekerasan.
Akan tetapi, berapa lamakah akan dapat dipertahankan hal ini?
Pemuda macam Eng Kiat kalau sudah dikuasai deh nafsu, tentu takkan mundur untuk melakukan sesuatu yang melanggar norma kesusilaan dan perikemanusiaan.
Berpikir sampai di sini, diam diam Siauw Yang bergidik.
Namun ia bersyukur bahwa selama ia pingsan, pemuda itu tidak melakukan sesuatu.
Kalau terjadi demikian, aku akan mengadu nyawa dengan mereka, pikirnya gemas.
Benar saja seperti dugaannya, Eng Kiat biarpun selalu bicara manis kepadanya dan barsikap halus, tidak pernah memperlihatkan tanda tanda hendak mengganggunya atau berlaku kurang ajar.
Bahkan di waktu malam hari, ketika Siauw Yang tidak dapat pulas dan berpura pura tidur, Eng Kiat menghampirinya, bukan untuk mengganggu, melainkan untuk duduk dekat nona itu dan menggunakan baju luarnya mengusir nyamuk yang berani datang menggigit kulit tubuh yang putih halus dari nona pujaan hatinya!
Diam diam Siauw Yang yang tidak tidur itu merasa terharu akan tetapi juga gemas sekali.
Cinta kasih yang diperlihatkan oleh Eng Kiat kepadanya hanya mendatangkan rasa jemu di dalam hatinya, ia teringat akan Pun Hui.
Pemuda itu lain lagi.
Memang halus dan sopan lahir batin, bukan berpura pura.
Dan di dalam hatinya, ia selalu merasa kasihan kepada Pun Hui, sungguhpun ia sendiri tidak tahu apakah itu tanda hati cinta atau bukan.
Akan tetapi kalau ia teringat akan Pun Hui yang menggeletak pingsan seorang diri di atas pulau itu, hatinya gelisah sekali.
Tung hai Sian jin juga tidak perduli kepadanya dan tidak pernah bicara dengan dia, bahkan memandangnya jarang.
Kakek ini dengan cepatnya telah dapat menemukan sebuah gua besar dan gua ini mereka jadikan tempat tinggal untuk sementara waktu.
Pernah terjadi pada suatu senja, Bong Eng Kiat pergi dari pulau itu.
Siauw Yang tidak tahu ke mana perginya pemuda ini, sama sekali tidak menduga bahwa Eng Kiat telah berperahu, pergi ke pulau di mana ia dan ayahnya menawan Siauw Yang.
Pemuda ini teringat akan Pun Hui yang belum tewas dan ia pergi ke sana dengan maksud membunuh pemuda itu.
Hal ini terjadi karena di dalam hatinya timbul perasaan cemburu yang besar terhadap Pun Hui dan ia takkan merasa puas sebelum membunuh pemuda sasterawan itu.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia bertemu dengan Tek Hong dan cepat cepat melarikan diri di dalam perahunya.
Akan tetapi tentu saja ia tidak berani menuturkan peristiwa itu kepada Siauw Yang bahkan diam diam ia memberi tahu kepada ayahnya tentang pertempuran ini.
"Ayah, kalau tidak lekas lekas adik Yang menjadi isteriku, aku khawatir kalau kalau Thian te Kiam ong Song Bun Sam dan puteranya akan menyusul ke mari."
Ayahnya tersenyum.
"Kau boleh memperisteri dia di sini juga siapa yang akan melarangmu?"
"Mana dia mau, ayah?"
"Anak bodoh. Biarpun di dalam hati ia mau atau tidak, seorang gadis tidak nanti mengangguk angguk menyatakan mau apabila hendak diperisteri orang. Penolakannya hanya untuk kepantasan saja. Sekali ia telah menjadi isterimu, tentu ia takkan banyak rewel lagi."
"Mempergunakan kekerasan, ayah?"
Tung hai Sian jin mengangguk angguk dan dari sikap ini saja sudah dapat diukur betapa buruknya watak Tung hai Sian jin yang di waktu mudanya juga merupakan seorang pemuda yang kurang baik.
"Menggunakan kekerasan tentu. Kemudian, setelah ia dapat ditundukkan dan tidak banyak rewel lagi, barulah aku akan menemui Thian te Kiam ong dan minta dengan resmi lalu diada kau upacara resmi yang disaksikan oleh semua orang kang ouw."
"Tidak! Tidak bisa, ayah! Aku tidak tega melakukan hal itu kepada adik Yang. Kalau lain gadis mungkin aku mau melakukan hal itu kepadanya, akan tetapi adik Yang aku ingin dia menjadi isteriku dengan rela. Aku ingin iapun mencinta aku sebagai suaminya, ayah!"
"Bocah totol! Habis apa yang dapat kaulakukan?"
"Ayah, pergilah menemui Thian te Kiam ong, nyatakan bahwa puterinya telah berada di dalam tawanan kita. Dengan sedikit ancaman ayah dapat memaksanya untuk menyerahkan puterinya kepada kita. Tentu ia tidak tega melihat puterinya berada dalam bahaya dan lebih suka melihat puterinya hidup sebagai isteriku yang tercinta daripada binasa. Ayah, kau bukanlah seorang sembarangan dan agaknya Thian te Kiam ong akan berpikir panjang, akan merasa bahwa menjadi besanmu bukanlah hal yang memalukan atau rendah. Ayah, tolonglah anakmu kali ini, dan bujuk atau ancamlah orang tua itu supaya dia tunduk dan suka menerima pinangan kita."
Menghadapi anaknya yang merengek rengek ini, akhirnya Tung hai Sianjin kalah. Barkali kali ia menarik napas panjang.
"Perempuan.... perempuan.... kau selalu mengacaukan keadaan! Baiklah, Eng Kiat, aku akan pergi menemui Thian te Kiam ong. Seandainya dia marah, ia kau kuhadapi ia dengan nekat, belum tentu akan kalah. Memang kata katamu betul juga, dengan adanya Siauw Yang bersama kita, Thian te Kiam ong tentu tak berani menggangguku. Akan tetapi, kau haru berhati hati benar. Kalau kutinggalkan berdua dengan gadis itu, keadaanmu amat berbahaya. Sekali saja ia dapat memegang senjata pedang, kau akan celaka, Eng Kiat! Kita harus akui bahwa kepandaiannya lihai sekali dan agaknya kau takkan dapat menang kalau bertanding pedang dengan dia."
Eng Kiat mengangguk angguk.
"Aku mengerti, ayah. Kalau tidak selihai itu dia, agaknya cintaku juga akan berkurang. Justru karena dia dapat menangkan kepandaianku maka aku makin kagum kepadanya. Aku sudah cukup berhati hati, ayah, dan pedang Kim kong kiam itu kau bawa sajalah, sekalian untuk diperlihatkan kepada Thian te Kiam ong sebagai bukti bahwa memang betul puterinya telah kita tawan. Dengan pedangku di tangan dan dia bertangan kosong, tak mungkin dia bisa memberontak."
Maka berangkatlah Tung hai Sian jin untuk mencari Thian te Kiam ong Song Bun Sam, meninggalkan Siauw Yang dan Bong Eng Kiat berdua saja di atas pulau itu.
Biarpun tidak diberi tahu perihal perginya Tung hai Sian jin, namun hati Siauw Yang menduga bahwa tentu kakek itu akan melakukan sesuatu yang menimbulkan tidak rasa enak di dalam hatinya.
Apalagi ketika melihat betapa perahu itu dibawa pergi oleh Tung hai Sian jin, ia menjadi makin gelisah.
Memang betul bahwa dengan perginya kakek itu, lebih besar harapannya untuk melepaskan diri dari Eng Kiat, akan tetapi andaikata ia dapat merobohkan pemuda ini, bagaimana ia dapat keluar dari pulau itu?
Akhirnya Tung hai Sian jin akan datang kembali dan kalau melihat ia merobohkan puteranya, tentu kakek itu akan membalas dendam dan ia akan kalah!
Gadis ini bingung sekali.
Ke mana saja ia pergi, pemuda itu tidak mau berpisah dari sampingnya, dan untuk mencari siaaat dan kesempatan, terpaksa Siauw Yang berlaku kurang galak bahkan agak manis sehingga pemuda itu merasa terapung apung di sorga ke tujuh.
Pada keesokan harinya, Eng Kiat mengajak Siauw Yang memancing ikan di tepi pantai.
Udara jernih sekali dan andaikata yang di dekatnya itu bukan Eng Kiat, tentu Siauw Yang akan merasa gembira, karena ia memang seorang dara yang berwatak periang.
"Eng Kiat, ke manakah perginya ayahmu?"
Tanyanya.
Sebutan ini beberapa kali membuat Eng Kiat tidak puas.
Berkali kali ia membujuk Siauw Yang supaya suka menyebut koko (Kanda) kepadanya akan tetapi gadis itu tidak sudi menurut, bahkan menjebikan bibir mengejek.
Oleh karena itu, akhirnya ia menerima juga sebutan yang sederhana itu, yakni memanggil namanya langsung begitu saja.
"Adik Yang, ayah pergi untuk menemui ayahmu."
Siauw Yang terkejut, kemudian tersenyum.
"Sama halnya dengan seekor kelinci menemui harimau. Ayahmu takkan kembali dengan kepala masih menempel di lehernya."
Eng Kiat tersenyum sabar.
"Mungkin demikian kalau ayah pergi menemuinya dengan maksud buruk. Akan tetapi kali ini ayah pergi menemui ayahmu untuk merundingkan urusan antara kita."
"Ada urusan apa antara kita selain bahwa kau dan ayahmu telah menggunakan kekerasan menawanku? Ayahku akan marah sekali dan...."
"Bukan demikian, adikku yang manis. Ayahku akan mengajukan usul agar supaya kita menjadi jodoh yang cocok dan saling mencinta. Aku amat mencintaimu, adik Yang, dan dunia agaknya akan menjadi neraka kalau aku harus berpisah dari sampingmu!"
"Cih! Tak tahu malu! Aku tidak sudi!"
"Tak mungkin menolak kalau ayahmu sudah setuju, adikku sayang. Kita akan menjadi suami isteri yang hidup rukun sampai di hari tua, mempunyai anak anak dan menimang nimang cucu kita."
"Cukup!"
Tangan Siauw Yang menampar dan biarpun Eng Kiat mengelak, masih saja jari jari tangan Siauw Yang mengenai pipinya, menimbulkan suara "plak"
Dan pipi pemuda itu menjadi merah.
"Aduh, panas panas enak bekas tanganmu!"
Kata Eng Kiat sambil mengelus elus pipinya dengan senyum di mulut.
Melihat sikap Eng Kiat, tidak karuan rasa hati Siauw Yang.
Ingin ia menangis keras untuk menyatakan kemendongkolan hatinya.
Ia tidak bodoh untuk menyerang terus, karena kalau pemuda itu mencabut pedang, tentu ia takkan dapat melawannya, ia merasa terharu, geli, gemas, dan juga gelisah menghadapi pemuda yang nyata telah tergila gila kepadanya itu.
"Eng Kiat, apakah betul betul kau mencintaiku?"
Tanyanya.
"Aku bersumpah, disaksikan langit, bumi, dan laut bahwa aku mencintaimu setulus ikhlas hatiku, adik Yang."
"Aku tidak butuh sumpahmu!"
Jawab Siauw Yang ketus, kemudian disambungnnya lagi dengan suara halus.
"Dan apakah kau kasihan kepadaku?"
Dengan suara sungguh, Eng Kiat m menjawab.
"Kalau aku tidak berbelaskasihan kepadamu, apakah kaukira kau masih akan hidup sampai saat ini dan apakah kaukira aku akan dapat menahan nahan berahiku melihatmu yang cantik molek ini? Tidak, adikku sayang, aku tidak mau menyakitimu, tidak mau menyakiti hati ataupun tubuhmu."
"Kalau kau berbelaskasihan, mengapa kau tidak membiarkan aku pergi? Eng Kiat, di sini aku merasa seperti seekor burung dalam sangkar. Bebaskanlah aku dan selamanya aku akan berterima kasih kepadamu."
Mendengar kata kata ini, tiba tiba pemuda itu menangis. Siauw Yang menjadi terheran heran dan mengira bahwa pemuda ini memang tidak normal otaknya.
"Siauw Yang...."
Ucapanmu ini lebih menyakitkan dari pada tusukan ujung pedang beracun.
"Kau tahu aku cinta kepadamu, tergila gila kepada mu, ingin selama hidupku tak pernah berpisah lagi denganmu, bagaimana kau minta aku membebaskanmu? Adikku sayang, kaulah yang harus kasihan kepadaku...."
"Cih, sebal aku mendengarmu!"
Setelah berkata demikian, Siauw Yang lalu berlari pergi meninggalkan Eng Kiat.
Pemuda itu mengejarnya dan tidak mau terpisah jauh darinya.
Siauw Yang memutar otaknya, memeras seluruh kecerdikannya.
Bagaimana ia harus bersikap?
Bagaimana ia dapat melepaskan diri dari pemuda itu?
Ia tahu bahwa Tung hai Sian jin hendak memaksa ayahnya menyetujui perjodohan itu, tentu dengan mengancam akan membunuhnya kalau ayahnya tidak menyetujui atau kalau ayahnya membunuh Tung hai Sian jin, tentu Eng Kiat yang tak dapat menahan nafsu berahinya akan melakukan paksaan kepadanya.
Bagaimana baiknya?
Menitik air mata di pipi gadis ini, makin dipikir sedihlah dia sehingga akhirnya ia menjatuhkan diri, duduk di atas rumput sambil menangis.
"Adikku sayang, mengapa kau berduka? Jangan menangis, adik Yang, kau membikin hatiku perih,"
Terdengar suara Eng Kiat di belakangnya.
Menurutkan suara hatinya, ingin sekali Siauw Yang berdiri dan memukul pecah kepala pemuda ini.
Akan tetapi ia tidak mau melakukan hal ini.
Ia adalah seorang gadis yang tabah dan tenang, yang memiliki kecerdikan dan yang selain mempertimbangkan apa yang hendak dilakukannya, tidak semata mata terdorong oleh nafsu marah.
Cepat ia menghapus air matanya dan berkata dengan suara pilu.
"Eng Kiat, cintamu kepadaku palsu! Rasa belas kasihanmu juga pura pura saja. Kau amat kejam, membiarkan aku di pulau ini, jauh keramaian, jauh dari manusia manusia lain. Aku bisa menjadi gila kalau harus tinggal terus di sini tanpa hiburan."
"Kau ingin hiburan? Maukah kau kalau aku bernyanyi untukmu? Adik Yang, aku banyak mempelajari nyanyian indah. Dengarlah aku bernyanyi untukmu!"
Setelah berkata demikian, Eng Kiat mencabut pedangnya dan mempergunakan pedang itu diketok ketokkan pada sebuah batu karang untuk menimbulkan irama lagu, kemudian ia bernyanyi.
Jilid XXV PEMUDA ini memang sudah mempelajari kesusasteraan dan ia suka bernyanyi. Suaranya memang empuk dan merdu dan ia pandai sekali menyanyikan lagu lagu percintaan kuno.
"Bulan purnama tersenyum cantik nian! Kepada siapakah kau tersenyum, Bulan? Tentu kepada Sang Matahari Pujaan dan kekasih hati Yang tak kunjung menampakkan diri. Ah mengapa kau bermuram durja Bulan? Gelap menyelubungi wajah indah rupawan Mengapa gerangan? Karena matahari tak kunjung datang Tiada nampak di malam petang. Dengar Dewi Bidan tersedu sedan Wahai kekasih di mana engkau gerangan? Suara Eng Kiat begitu merdu, penuh perasaan sehingga terdengar memilukan. Tak terasa pula Siauw Yang menengadah ke atas, memandangi mega mega yang bergerak perlahan terbayanglah wajah Pun Hui di antara mega mega. Suara itu menyayat hatinya dan tak terasa pula kembali air matanya bertitik.
"Kau menangis, adikku sayang? Kau lebih indah rupawan daripada bulan...."
Terdengar suara Eng Kiat yang menyadarkan gadis itu. Cepat cepat ia menghapuskan air matanya dan berkata.
"Eng Kiat, kalau kau memang kasihan kepadaku, besok pagi bikinkanlah sebuah perahu agar kita dapat berperahu dan melupakan kesunyian di pulau ini. Aku ingin sekali berperahu, menangkap ikan di laut."
"Tentu, adikku manis. Malam ini juga aku akan membuat perahu untukmu,"
Kata Eng Kiat.
Siauw Yang memandang tajam, khawatir kalau kalau pemuda itu akan dapat membaca pikirannya, akan tetapi pemuda itu tersenyum senyum saja dan agaknya tidak menyangka sesuatu.
Legalah hati Siauw Yang.
"Kau memang baik hati,"
Katanya singkat.
"Aku hendak tidur, kaubikinlah perahu itu."
Padahal semalam itu Siauw Yang tak dapat tidur sama sekali.
Pikirannya bekerja keras.
Kalau sudah ada perahu, berarti ia menambahkan sebuah kemungkinan untuk melarikan diri, pikirnya.
Andaikata aku tidak dapat merobohkannya dengan kekerasan, dan dia selalu menjagaku, kalau sewaktu waktu dia tertidur atau alpa, aku dapat melarikan diri dengan perahu itu, pikirnya.
Eng Kiat ternyata memenuhi janjinya.
Semalam suntuk ia bekerja dan pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, ia telah menyelesaikan perkerjaannva.
Berkat tenaga lweekangnya yang tinggi dan pedangnya yang tajam, ia dapat membuat sebuah perahu kecil dari sebatang pohon!
"Mana layarnya?"
Tanya Siauw Yang yang menjenguk dan melihat hasil pekerjaan itu dengan wajah riang.
"Di mana bisa mendapatkan layar di tempat ini?"
Tanya Eng Kiat menggaruk garuk kepala lalu menghapus peluh di dahinya.
"Kau punya baju luar yang lebar dan tebal? Beri aku barang empat buah, akan kubuatkan layar untuk perahu ini!"
Kata Siauw Yang.
Pemuda itu berlari ke dalam gua dan mengambil empat buat baju luarnya yang tebal dan terbuat daripada kain mahal, ia menyerahkan baju itu kepada Siauw Yang sambil tersenyum.
Siauw Yang tidak berlaku bodoh untuk melarikan diri pada saat Eng Kiat mengambil baju, karena dengan dayung saja ia tak mungkin dapat mencapai tempat jauh, apalagi karena ia tidak tahu ke jurusan mara ia harus berperahu.
Setelah menerima baju baju luar itu, ia lalu menyambung nyambungnya dan menjahitnya dengan pertolongan tusuk konde dan untuk benangnya ia mengambil dari pinggiran baju luar.
Eng Kiat memandang kelakuan gadis itu sambil tersenyum senyum.
"Sayang kau membuatkan layar, alangkah senangnya kalau kau dan aku berada di rumah dan melihat kau menjahit baju untukku."
"Cih, tak tahu malu. Pergilah dan jangan mengganggu pekerjaanku!"
Kata Siauw Yang. Eng Kiat lalu menjauhi gadis itu, duduk bersandar pada sebatang pohon.
"Aku lelah dan ingin tidur, adik Yang. Aku percaya bahwa kau takkan sampai hati membunuhku di waktu aku tertidur,"
Katanya sambil tersenyum.
Siauw Yang mendongkol sekali dau ketika ia menengok pemuda itu telah mendengkur.
Hati Siauw Yang berdebar.
Bagaimana kalau ia mengambil sebuah batu karang besar dan melemparkan batu itu ke arah kepala Eng Kiat?
Ia bergidik.
Tidak.
Ia takkan berlaku pengecut.
Bagi seorang gagah, lebih baik binasa daripada melakukan hal seperti itu.
Ia akan mempercepat pembuatan layarnya agar dapat melarikan diri sewaktu pemuda itu tertidur, pikirnya.
Akan tetapi pekerjaan membuat layar itu tidak mudah.
Sampai petang barulah ia selesai dan ketika ia pergi ke perahu itu, Eng Ktat bangun dan melompat berdiri.
Ternyata bahwa mungkin sekali pemuda itu tadi hanya berpura pura tidur saja.
"Tidak baik malam malam berlayar, adik Yang. Kalau kau kehendaki, besok pagi pagi kita b6leh berlayar mencari ikan."
Sambil berkata demikian, ia membantu Siauw Yang memasang tiang layar pada perahu kecil itu dan ketika dipasang layar buatan Siauw Yang, Eng Kiat tertawa geli.
"Alangkah lucunya layar ini, seperti beberapa orang berdiri di dalam perahu."
Mau tidak mau Siauw Yang tersenyum geli juga.
Memang, baju baju yang disambung sambung itu kini kelihatan seperti empat orang laki laki berdiri bertolak pinggang di atas perahu, Siauw Yang kembali ke gua dan malam itu ia tidur dengan nyenyak karena hatinya sudah lega melihat keadaan perahu dan layar yang memungkinkan dia untuk melarikan diri.
Pada keesokan harinya, ketika ia bangun, ternyata Eng Kiat tidak kelihatan di luar gua seperti biasanya, ia cepat menuju ke sebuah sumber air untuk membersihkan diri, dan ia merasa segar dan sehat, ia telah siap untuk melakukan usaha melarikan diri.
Setelah ia menyusul ke pantai, ternyata Eng Kiat tidur mendengkur di dalam perahu itu.
Siauw Yang menggigit bibirnya.
"Hem, jadi bedebah ini sudah mengetahui isi hatiku dan tentu sepanjang malam ia tidur di sini menjaga aku jangan mencari perahu,"
Pikirnya gemas. Baru saja ia datang, Eng Kiat terbangun dan melompat sambil tersenyum.
"Selamat pagi, adik Yang. Apakah sepagi ini kau ingin berlayar?"
"Aku ingin mencoba perahu kita,"
Kata Siauw Yang sambil mencoba untuk menyembunyikan kekecewaan dan kegemasan hatinya.
"Baik, baik! Mari kita berlayar."
Kedua orang muda itu lalu membawa perahu ke air dan Eng Kiat memegang dayung di tangan kanan dan pedang di tangan kiri.
Pemuda ini selalu siap sedia menghadapi segala kemungkinan, sehingga Siauw Yang menjadi makin mendongkol.
"Aku harus berlaku manis agar ia lalai,"
Pikir Siauw Yang.
Gadis ini lalu menggunakan dayung yang dipegangnya untuk memukul ke air setiap kali ada ikan timbul di permukaan laut.
Pukulannya selalu tepat sehingga Eng Kiat memuji Siauw Yang berlaku riang gembira dan lambat laun pemuda itu tertarik dan tertawa gembira juga.
Eng Kiat mulai memukul mukul ke dalam air pula, bahkan ia mengajak Siauw Yang berlomba mencari ikan dengan jalan memukul ikan yang mengapung.
Siauw Yang memperhatikan segala gerakan Eng Kiat dan mencari kesempatan baik.
Akan berhasilkah dia?
Hatinya berdebar penuh ketegangan dan harapan melihat pemuda itu makin gembira dan tertawa tawa.
Di dalam perahu kecil buatan Bong Eng Kiat, Siauw Yang sedang memcari kesempatan untuk membebaskan diri dari pemuda itu.
Gadis ini melihat kalau ada ikan yang berani timbul di permukaan air dan sikapnya yang pang gembira sambil tertawa tawa itu membikin Eng Kiat gembira juga sehingga pemuda in;pun memukuli ikan dengan dayungnya.
Saking gembiranya, Eng Kiat bermain main sambil bernyanyi.
"Minumlah arakmu selagi cawanmu penuh, kawan! Tangkaplah kebahagiaan selagi kau muda rupawan! Petiklah mawar selagi ia segar ayu Jangan tunggu sampai ia tua dan layu Musim chun (semi) datang menjalang Bulan bersinar itulah cemerlang Apa guna keluh kesah dan rawan? Berilah aku cawan! Penuhi cawan arakku, kawan. Aku mau minum sepuasku Aku mau minum sepuasku!"
Melihat kegembiraan pemuda itu, Siauw Yang makin girang karena hanya orang bergembira dan berduka saja yang kehilangan kewaspadaan. Ia berpura pura gembira pula dan memuji nyanyian tadi.
"Eng Kiat, nyanyian mu tadi bagus sekali."
"Kau senang dan ikut gembira, adikku sayang?"
"Tentu saja, akan tetapi kegembiraanku tidak sempurna kalau kau tidak menyatakan nyanyianmu tadi dalam perbuatan. Cawan sudah penuh sekali mengapa kau tidak minum sepuasnya?"
Kata kata ini diucapkan oleh Siauw Yang tanpa mengandung maksud lain, akau tetapi Eng Kiat mengartikan salah dan kini pemuda itu memandangnya dengan mata penuh gairah.
"Benar benarkah apa yang kau katakan, adik Yang?"
Tanyanya sambil menggeser duduknya lebih dekat dan tangannya hendak memegang lengan Siauw Yang.
Melihat sikap ini, terkejutlah Siauw Yang dan gadis yang cerdik ini maklum bahwa tadi tanpa disadarinya, ia telah mengucapkan kata kata yang seakan akan mengandung sindiran bahwa dia lelah siap melayani cinta kasih pemuda itu.
Maka ia cepat cepat menyampok tangan pemuda itu sambil berkala tertawa.
"Eng Kiat jangan kau kurang ajar! Aku sudah mulai gembira dan kurang kebencianku kepadamu, akan tetapi kalau kau berani menyentuhku aku akan benci setengah mati kepadamu!"
Kata kata ini manjur sekali karena Eng Kiat, segera mundur kembali sambil menghela napas kecewa.
"Tidak, adikku, aku terlalu sayang kepadamu, jangan kau benci padaku."
"Kalau kau sayang padaku, mengapa tidak memenuhi permintaanku? Padahal aku hanya minta supaya kau minum sampai puas seperti yang kau nyanyikan tadi."
Eng Kiat memandang kepadanya dengan mata penuh tanda tanya.
"Kau ini aneh sekali, tidak ada cawan dan arak di sini, bagaimana kau menyuruh aku minum?"
"Mengapa kau begitu bedoh dan kekurangan akal untuk menambah kegembiraan? Yang diminum orang adalah benda cair, biarpun di sini tidak ada cawan dan arak, apakah kekurangan benda cair?"
Kata Siauw Yang tertawa sambil menunjuk ke air di kanan kiri perahu. Eng Kiat memandang kepada Siauw Yang dengan mata terbelalak, kemudian ia tertawa bergelak gelak.
"Ha, ha, ha! Benar kata kata ayah bahwa wanita adalah mahluk yang paling menyenangkan, paling manis, akau tetapi juga paling aneh dan lucu! Aku pernah membaca Tat Ki (siluman rase menjelma wanita cantik) pernah menyuruh Tiu Ong (raja yang tergila gila padanya) untuk melakukan segala hal yang aneh aneh dan bahwa Yo Kwi Hui (ratu cantik dan genit) pernah menyuruh para pengagumnya untuk merangkak rangkak meniru seekor anjing. Sekarang kau menyuruh aku minum air laut sebagai pengganti arak! Akan tetapi biarlah, menuruti kehendak wanita yang aneh aneh adalah jalan untuk mendapatkan cinta kasihnya. Biar aku memelihara kegembiraanmu, adik Yang!"
Setelah berkata demikian, dengan tangan kanannya Eng Kiat menyenduk air laut di pinggir perahu dan minum air itu!
Siauw Yang tak dapat menahan gelak tawanya melihat betapa muka pemuda itu meringis selelah ia merasai air laut yang asin dan amis.
"Mukamu seperti monyet kelaparan!"
Kata gadis itu sambil tertawa tawa. Eng Kiat meringis.
"Asin sekali, membuat perut muak!"
Siauw Yang makin geli tertawa.
"Minum lagi, Eng Kiat, minumlah lagi."
Untuk kedua kalinya Eng Kiat menyenduk air dengan tangannya dan kesempatan ini dipergunakan oleh Siauw Yang dengan baiknya.
Cepat tangannya menyambar pedang yang tadi dipegang oleh Eng Kiat dan yang sekarang diletakkan di dekatnya karena tangan kanannya ia pergunakan untuk menyendok air.
Biarpun pedang pemuda itu ada dua buah karena Eng Kiat memang bersenjata siang kiam (sepasang pedang), namun karena tangan kirinya selalu memegang dayung, ia hanya menurunkan sebatang pedang saja.
Kini pedang itu telah berada di tangan Siauw Yang.
Nanum sesungguhnya gadis ini tidak bermaksud untuk membunuhnya, karena ia tidak tega membunuh seorang yang telah berlaku begitu baik kepadanya.
Ia hanya ingin mempergunakan pedang itu untuk memaksa pemuda itu membebaskannya.
"Loncatlah ke dalam air!"
Siauw Yang mengancam sambil menodongkan pedang ke dada Eng Kiat.
Pemuda ini tiba tiba menjadi pucat sekali.
Seri wajahnya lenyap seketika dan kini berobah menjadi wajah seorang yang bermata tajam dan meryeringai jahat.
"Kau curang...."
Katanya.
"Pergi cepat!"
Siauw Yang membentak.
Eng Kiat tertawa bergolak, tubuhnya terguling ke dalam air, akan tetapi kedua tangannya memegang pinggiran perahu dan sekali ia mengerahkan tenaga, perahu itu terbalik membawa tubuh Siauw Yang ke dalam air pula.
Siauw Yang marah sekali dan dengan secara membabi buta ia membacokkan pedangnya ke kanan kiri, namun sebentar saja tubuhnya yang tenggelam dan air yang memasuki hidung dan mulutnya membuatnya kelabakan!
Dia tidak sangat pandai bermain di air dan gerakannya yang menyerang ke sana ke mari itu membuat ia minum banyak air laut dan akhirnya ia menjadi lemas dan pedangnya tahu tahu lelah terampas kembali oleh Eng Kiat.
Sebagaimana diketahui, Eng Kiat adalah seorang pemuda ahli berenang dan ahli dalam air, karena ia adalah putera dari Tung hai Sian jin yang pandai sekali bergerak di dalam air.
Sengaja pemuda ini membiarkan Siauw Yang minum air laut dan menjadi lemas, kemudian ia merampas pedang sambil memeluk tubuh gadis itu yang tidak berdaya lagi, lalu membawanya berenang kembali ke perahu.
Ia melemparkan tubuhnya ke atas perahu sambil masih memeluk Siauw Yang yang sudah menjadi lemas dan merasa kembung perutnya.
"Kau anak nakal,"
Berkali kali Eng Kiat berkata, akan tetapi ia tidak marah, bahkan tertawa tawa geli melihat Siauw Yang menjadi basah kuyup. Kemudian ia mendekatkan mukanya dan mencium pipi gadis itu.
"Jahanam.... kubunuh kau.... !"
Desis Siauw Yang dan gadis ini memberontak sekuatnya sehingga terlepas dari pelukan Eng Kiat.
Kemudian ia menghantam dengan tangannya yang dapat dielakkan oleh Eng Kiat.
Pergerakan ini membuat perahu menjadi miring.
"Hati hati adik Yang! Perahu bisa terguling lagi!"
Seru Eng Kiat menakut nakuti.
Tentu saja Siauw Yang bukan seorang bodoh, ia tahu bahwa kalau sampai ia terguling ke dalam air lagi, tentu ia akan dipeluk lagi oleh Eng Kiat yang menolongnya.
Maka ia menarik kembali tangannya dan membatalkan serangannya.
"Jahanam keparat! Kau benar benar kurang ajar sekali Awas, kalau aku ada kesempatan, akan kupecahkan kepalamu!"
Seru Siauw Yang dengan jengkel sekali, ia merasa betapa pipinya yang tercium tadi serasa terbakar api, digosok gosoknya dengan telapak tangannya untuk mencuci bersih bekas ciuman yang dianggapnya sebagai noda besar.
Hampir saja ia menangis kalau saja ia tidak dapat menetapkan guncangan hatinya.
"Adik Yang, maafkan aku...."
Terdengar Eng Kiat berkata lirih.
"Persetan! Kau telah membikin sakit hatiku. Kau telah menghinaku, telah merendahkan diriku. Akan kubunuh kau!"
Tak tertahan pula dua titik air mala melompat keluar dari sepasang mata yang bening itu.
"Adik Yang, kau benar benar tidak adil sekali!"
Eng Kiat berkata dengan suara terdengar sedih.
"Kau telah berusaha hendak membunuhku akan tetapi aku tidak marah dan tidak menyesal, bahkan menolongmu dari air. Adapun ciuman itu, boleh kau anggap sebagai sedikit hukuman atas kenakalanmu, akan letapt bagiku, itu tanda cinta kasihku yang murni. Kalau sekali lagi Kau mencoba untuk menipu dan mengakali aku, hukuman nya lain lagi...."
"Apa yang akan kaulakukan terhadapku manusia jahanam?"
"Aku.... aku akan memaksa kau menjadi isteriku! Adik Yang, aku tak mungkin marah kepadamu, tak mungkin membencimu, karena aku cinta padamu."
Betapapun pemuda itu merayu dan bicara dengan halus, namun seujung rambutpun Siauw Yang tidak terpikat.
Gadis ini tahu benar bahwa kehalusan sikap pemuda itu kepadanya hanya karena pemuda itu tergila gila kepadanya.
Namun, ia maklum bahwa pemuda seperti ini takkan segan segan untuk melakukan ancamannya, untuk melakukan kekejian dan kekerasan.
Aku harus berusaha melepaskan diri, pikirnya.
Lebih lekas lebih baik karena siapa tahu berapa lama lagi pemuda ini dapat berlaku sopan dan lemah lembut.
Aku akan melarikan diri, dan kalau tidak berhasil, biar aku berlaku nekat dan mati daripada terjatuh ke dalam tangannya.
Eng Kiat tidak dapat menduga apa yang sedang dipikirkan oleh gadis yang kelihatannya diam seperti patung itu dan hal ini membikin hatinya tidak enak.
"Mari kita mendarat, adikku. Pakaianmu basah semua, kau bisa masuk angin."
Siauw Yang tidak menjawab dan diam saja ketika Eng Kiat mendayung perahunya kembali ke pulau.
Ketika memasuki gua, Siauw Yang nampak menggigil kedinginan.
Giginya beradu dan tubuhnya menggigil, kedua tandannya memeluk dada.
Melihat ini Eng Kiat terkejut sekali.
"Sakitkah kau, adik Yang?"
Tanyanya dengan khawatir dan otomatis tangannya diulur untuk meraba jidat gadis itu seperti laku seorang kakak yang menyayang adiknya.
Siauw Yang diam saja dan tidak menjawab, juga tidak membantah ketika pemuda itu meraba jidatnya.
Eng Kiat kaget sekali ketika meraba jidat Siauw Yang, karena jidat itu panas sekali.
"Celaka! Kau terserang demam!"
Katanya.
"Apa kataku tadi, kau masuk angin."
"Biarlah, mati juga tidak apa,"
Kata Siauw Yang tak acuh, padahal dalam hatinva ia merasa geli sekali.
Gadis ini sedang menjalankan siasatnya, sengaja ia menggigil dan ketika Eng Kiat tadi meraba jidatnya ia menahan napas dan mengerahkan tenaga dalam, melakukan Ilmu Pan khi jit hiat (Pindahkan Hawa Panas ke Jalan Darah).
Ilmu ini ia pelajari dari ayahnya dan ilmu ini bukan sembarangan ilmu yang dapat dipelajari oleh orang kang ouw.
Kegunaannya besar sekali karena di waktu musim dingin, ia dapat membikin tubuhnya panas, sebaliknya di waktu musim panas, ia dapat menyesuaikan diri dengan segala macam keadaan dan menolak serangan hawa dingin maupun panas.
Dalam kegugupannya mengira gadis yang dicintanya itu sakit, Eng Kiat kena dibohongi dan pemuda ini bingung sekali.
"Adik Yang, kau sakit, jangan bilang tentang mati. Ah, bagaimana baiknya? Lekas lekas kau menukar pakaianmu dengan yang kering. Aku akan pergi mencari daun obat untuk menolak bahaya demam."
Setelah berkata demikian, ia keluar dari gua.
"Tak usah, Eng Kiat. Kalau kau memang sayang kepadaku, lebih baik kau buatkan sebuah pondok bambu Aku sudah tak kuat tinggal di gua yang dingin ini. Hawa dalam gua inilah yang mendatangkan penyakit."
"Ah, begitukah? Baik, sayang, baik. Sekarang juga aku akan membikinkan pondok untukmu."
Eng Kiat lalu pergi dan cepat menebang pohon dan bambu untuk membuatkan pondok bagi kekasih hatinya itu.
Namun ia berlaku cerdik dan sering kali datang ke gua menengok Siauw Yang.
Ia tetap saja menaruh hati curiga dan tidak mau lengah, karena ia sudah kapok tidak mau tertipu lagi oleh gadis yang selain cantik jelita dan pandai ilmu silat, akan tetapi juga cerdik sekali.
Sampai tiga hari Siauw Yang berpura pura sakit, tinggal saja di dalam gua dan segala keperluannya dilayani oleh Eng Kiat dengan setianya..
Sementara itu, pondok bambu yang cukup kuat dan hangat telah jadi, bahkan pemuda ini membuat sebuah dipan kayu untuk tempat gadis itu tidur.
"Nah, pondokmu sudah jadi, adik Yang. Sekarang mari kita pindah ke sana "
Ajaknya sambil memasuki gua.
"Sebetulnya, apa gunanya pondok itu? Aku merasa tubuhku makin tidak enak, dadaku sesak dan agaknya aku takkan lama lagi hidup di dunia ini. Semua ini karena engkau, manusia kejam. Kalau kau membebaskan aku, kiranya aku takkan menderita sakit ini."
Biarpun ia berkata demikian, namun Siauw Yang tidak membantah ketika diajak pindah ke dalam pondok, ia masih memperlihatkan tanda tanda kelemahan, berjalan dengan sempoyongan, wajahnya pucat, rambutnya kusut dan tiap kali pemuda itu meraba jidatnya, jidat itu makin panas saja.
"Adik Yang, kau terlalu banyak berduka. Itulah yang menyebabkan menyakitmu. Bersabarlah dan tunggu sampai ayah pulang, tentu kau akan mendapat kesempatan berkumpul kembali dengan ayah bundamu dan..... dan hidup kita akan berbahagia, sebagai suami isteri yang rukun...."
"Tutup mulutmu dan pergi!"
Siauw Yang membentak, menangis dan menjatuhkan diri ke atas dipan.
"Aku mau mati saja, aku mau mati ..... !"
Kemudian, tiba tiba gadis itu menggigil dan mengaduh aduh.
"Aduh dingin.... dingin sekali....!"
Tentu saja Eng Kiat menjadi sibuk. Pemuda ini berlari keluar dan tak lama kemudian ia masuk kembali, membawa sehelai selimutnya yang tebal dan semangkuk obat yang disediakan sejak tadi.
"Adik Yang, peliharalah dirimu. Minum obat ini lalu tidurlah, tutup tubuhmu dengan selimut tebal ini. Kalau kau sudah berkeringat, tentu demam itu akan lenyap,"
Katanya. Dengan tangan gemetar, Siauw Yang menerima pemberian selimut dan obat itu "Keluarlah, biarkan aku seorang diri. Obat akan kuminum di akhirat setelah aku mati, sebagai tanda terima kasihku "
"Eh, apa maksudmu?"
"Pergi, biarkan aku mati !"
Setelah berkata demikian.
Siauw Yang melemparkan mangkok obat itu ke atas lantai sehingga obatnya tumpah, lalu ia menggunakan selimut tebal tadi untuk menyelimuti tubuhnya dari kepala sampai ke kaki.
Eng Kiat tercengang, akan tetapi melihat gadis itu mau berselimut, hatinya terhibur juga dan ia pergi meninggalkan Siauw Yang.
Sehari itu, Siauw Yang tidak mau makan, tidak mau bicara, bahkan tidak pernah keluar dan dalam selimut.
Beberapa kali Eng Kiat datang menengok dan mengajaknya bicara, akan tetapi melihat gadis itu tidur di dalam selimut dan bagian dada turun naik dengan tenang, ia menjadi lega dan mengira bahwa gadis itu tentu tertidur dan sudah sembuh kembali.
Setelah malam tiba dan melihat Siauw Yang masih tertidur berkerudung selimut, hatinya lega sekali.
Dipasangnya lampu minyak lemak ikan, ditaruhnya lampu kecil itu di atas meja yang dibuatnya secara kasar, kemudian lu meninggalkan kamar pondok setelah menutupkan pintunya.
Betapapun juga, ia tidak kehilangan kehati hatiannya dan segera menuju ke tempat ia bermalam semenjak ia dan Siauw Yang berada di situ, yakni di dalam perahu dekat pantai.
Jalan satu satunya bagi Siauw Yang untuk melarikan diri hanya perahu itu, dan kalau ia tidur di dalam perahu, tak mungkin gadis itu dapat melarikan diri, pikirnya.
Sementara itu, di dalam pondok Siauw Yang memutar otaknya yang cerdik.
Memang ada keharuan di dalam dadanya melihat betapa betul betul pemuda itu mencintanya, akan tetapi karena ia sudah melihat dasar watak pemuda itu, sedikiipun ia tidak menaruh belas kasihan kepadanya.
Rencananya berhasil baik sejauh itu dan ia hanya menanti waktu baik saja.
Menjelang tengah malam, ketika untuk kesekian kalinya Eng Kiat datang menjenguknya, Siauw Yang dari dalam selimunya berkata kata seperti orang mengigau.
"Tidak ada kematian lebih enak daripada menjadikan mangsa api. Menjadi abu, beterbangan bebas, nyaman sekali ...."
Eng Kiat membelalakkan mata, dan melihat gadis itu di dalam selimut bergerak gerak seperti menggeliat, lalu menarik napas panjang dan napas nya tenang kembali.
Ia tersenyum.
Ia mengigau, pikirnya dan setelah menanti sampai beberapa lama mendapat kenyataan bahwa gadis itu benar benar telah pulas dengan enaknya, Eng Kiat menjadi lega dan kembali ke perahunya.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa bayangan Siauw Yang mengikutinya dengan diam diam.
Gadis yang tinggi ilmu ginkangnya ini melompat keluar dari pondok dan mengintai ke arah pemuda itu.
Selelah mendapat kenyataan bahwa benar benar Eng Kiat sudah masuk kembali ke dalam perahu yang berada di pantai dan merebahkan diri di dalam perahu untuk tidur Siauw Yang cepat cepat kembali ke pondok.
Ia segera mencari sebatang balok pohon yang masih banyak terdapat di depan pondok, sisa dari bahan bangunan pondok yang ditebang oleh Eng Kiat.
Ia mencari balok yang sebesar tubuh manusia demikian pula panjangnya.
Dengan hati hati ia meletakkan balok itu di atas dipan, lalu menyelimutinya.
Ditanggalkannya baju yang dipakainya, dan ditutupkan pada balok di bawah selimut, dan sengaja mengeluarkan sedikit ujung baju itu di luar selimut.
Dilihat begitu saja, memang kelihatan seperti dia sendiri yang masih tidur di bawah selimut itu.
Cepat ia memakai pakaian yang diambil dari buntalannya, keluar sebentar untuk mencari beberapa buah batu karang kecil untuk senjata rahasia kemudian ia mempergunakan api lampu kecil di atas meja untuk membakar pondok dari belakang!
Setelah itu, cepat sekali ia berlari dan melompat ke dalam gelap, terus menuju ke pantai di mana Eng Kiat masih tidur di dalam perahu nya.
Ia bersembunyi di belakang pohon tak jauh dan pantai sambil memandang ke arah perahu dengan hati berdebar tegang.
Berhasilkah nanti rencana dan siasatnya yang sudah diatur sebaik baiknya itu?
Suara bambu terbakar meledak dan tiba tiba Eng Kiat melompat bangun dari dalam perahu.
Ia memandang ke sekeliling dan terlihatlah asap mengebul di antara cahaya merah dari arah pondok.
"Siauw Yang.... ! Kebakaran..... !"
Semangat pemuda ini seakan akan terbang meninggalkan raganya karena ia teringat akan suara Siauw Yang ketika mengigau tadi.
Bukankah dalam igauannya gadis itu menyatakan bahwa mati menjadi mangsa api amat senang?
"Celaka, jangan jangan dia bunuh diri dengan membakar pondok!"
Pikirnya dan tanpa banyak pikir lagi, Eng Kiat lalu melompat dan berlari cepat sekali menuju ke pondok yang terbakar.
Hampir berbareng, Siauw Yang pun melompat keluar dari tempat sembunyinya dan cepat ia merenggut putus tali perahu yang diikatkan pada batu karang.
Ia tidak mau membuang waktu lagi, cepat diambilnya dayung yang terletak di dalam perahu dan didayungnya perahu itu ke tengah laut.
Setelah berada di air yang dalam dan merasai sambaran angin malam, ia lalu memasang layar dan meluncurlah perahu kecil itu melawan ombak, ia bebas!
Sementara itu, Eng Kiat telah tiba depan pondok.
Pondok itu telah mulai terbakar di bagian belakangnya dan kini telah merembet ke tengah, Eng Kiat membuka pintu depan dan dilihatnya Siauw Yang masih tidur dalam selimut, seakan akan tidak tahu dan tidak merasa bahwa pondok sudah terbakar sebagian.
"Siauw Yang.... !"
Teriak Eng Kiat dengan lega karena ternyata bahwa gadis itu belum terbakar. Ia melompat dan cepat menyambar "tubuh"
Di dalam selimut itu, dipondong bersama selimutnya.
Akan tetapi alangkah kadetnya ketika ia merasa bahwa yang dipondongnya itu adalah benda keras yang membujur kaku.
Cepat disingkapkan selimutnya dan ternyata bahwa di bawah selimut itu bukanlah tubuh Siauw Yang, melainkan sebatang kayu balok.
"Tertipu aku kali ini,"
Serunya mendongkol sambil melemparkan balok itu ke dalam api yang menyala.
Dengan cepat ia berlompat lompatan dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk lari ke pantai.
Benar saja seperti yang dikhawatirkan, perahunya telah lenyap.
"Siauw Yang.... ! Jangan kau lari.... !"
Teriaknya ketika melihat bayangan perahu di bawah sinar bulan suram telah meluncur jauh di tengah samudera.
Tanpa banyak ragu lagi ia lalu melompat ke dalam air dan berenang secepatnya.
Akan tetapi, Siauw Yang ketika melihat betapa pemuda itu hendak mengejarnya, segera menggerakkan kedua tangannya dan banyak sekali benda benda hitam menyambar ke arah tubuh Eng Kiat.
Pemuda itu terkejut sekali ketika tiba tiba hidungnya terasa sakit sekali.
Ia meraba dan hidungnya telah pecah tertimpuk batu karang, ia memiliki pendengaran terlatih dan tajam, akan tetapi oleh karena ia sedang berenang maka suara air terpukul kaki tangannya membuat ia tidak dapat mendengar datangnya senjata rahasia itu.
Ia mengutuk dan cepat menyelam akan tetapi ketika ia timbul kembali, perahu itu telah memasang layar dan terdorong oleh angin sehingga meluncur amat cepatnya.
Tak mungkin lagi baginya untuk mengejar.
Sambil menyumpah nyumpah diri sendiri karena kebodohannya Eng Kiat berenang ke tepi laut dan mengobati hidungnya yang pecah kutilnya.
"Awas kau, siluman rase. Kalau kau sampai tertawan lagi olehku, akan kubalas dendam ini!"
Pada saat itu, lenyaplah kasih sayangnya kepada Siauw Yang, terganti oleh dendam yang hebat.
Ia membayangkan pembalasan dendam yang sengeri ngerinya yang dapat diderita oleh gadis itu.
Dua hari Siauw Yang berlayar terus tanpa berani berhenti karena khawatir kalau kalau Eng Kiat mengejarnya.
Ia masih belum memegang senjata, maka hal itu berarti bahwa ia belum dapat membela diri dengan baik apabila ia bertemu dengan pemuda itu, apalagi bertemu dengan tung hai Sian jin.
Setelah perutnya terasa lapar sekali, barulah ia terpaksa mendarat ke sebuah pulau kecil dan tak lama kemudian ia melihat Pun Hui yang berperahu sambil memanggil manggil namanya.
Hal ini telah dituturkan di bagian depan.
Demikianlah, ia menuturkan semua pengalamannya itu kepada Pun Hui, juga tentang Eng Kiat yang tergila gila kepadanya, tidak ada yang disembunyikannya.
Hanya satu hal tidak ia ceritakan, yakni bahwa Eng Kiat pernah menciumnya ketika ia mencoba untuk mengakalinya.
Sampai saat ini kalau ia teringat akan perbuatan Eng Kiat itu, wajahnya menjadi merah dan otomatis telapak tangannya mengusap usap pipinya dengan keras, seakan akan hendak membersihkan noda yang mengotori pipinya.
"Kasihan sekali Bong Eng Kiat...."
Kata Pun Hui setelah mendengar penuturan itu. Siauw Yang memandang heran.
"Eh, Liem suheng. Kau masih bisa menaruh hati kasihan kepada seorang jahanam seperti dia?"
"Memang dia jahat, sumoi, dan kejahatannya itu pada suatu saat tentu akan membawanya ke jurang malapetaka. Akan tetapi aku kasihan sekali mendengar dia begitu mati matian mencintaimu. Tidak ada derita yang lebih hebat daripada cinta kasih tak terbalas."
Siauw Yang tersenyum dan wajahnya memerah ketika ia memandang tajam kepada pemuda sastrawan ini.
"Eh, eh, Liem suheng. Kau bicara seperti seorang kakek yang sudah banyak pengalaman saja."
"Memang aku sudah mempunyai banyak pengalaman dalam hidup, baik yang kualami sendiri maupun yang kubaca di dalam buku."
"Hemmm, kalau begitu, tidak aneh namanya kau bisa menyatakan hal seperti kaukatakan mengenai diri Eng Kiat tadi. Tentu kau sudah pernah mengalaminya sendiri, bukan begitu, suheng?"
"Mengalami apa, sumoi?"
"Bahwa.... bahwa kau pernah mengalami cinta kasih yang tak terbalas...."
Berobah wajah Pun Hui, ketika ia memandang kepada gadis itu, akan tetapi ketika ia bertemu pandang dengar Siauw Yang tiba tiba wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya.
"Dalam hal ini....aku.... aku belum mengalami sendiri...."
Ia berhenti sebentar lalu memandang tajam kepada Siauw Yang dan melanjutkan.
"bukan tak pernah aku mencinta orang, akan tetapi.... aku tidak tahu apakah cinta kasihku terbalas atau tidak...."
Siauw Yang adalah seorang gadis yang cerdik sekali, ia telah dapat menduga bahwa pemuda inipun, seperti Eng Kiat, tergila gila kepadanya.
Akan tetapi ia tahu pula bahwa dibandingkan dengan Eng Kiat, pemuda ini lain lagi.
Perbedaan antara Eng Kiat dan Pun Hui laksana bumi dan langit.
Kalau Eng Kiat berkepandaian silat tinggi dan merupakan seorang pemuda kasar liar seperti seekor harimau ganas, adalah Pun Hui seorang pemuda halus sopan santun seperti seekor domba jinak.
Eng Kiat menyatakan cintanya dengan begitu saja, tanpa tedeng aling aling, secara kasar, bahkan tidak ragu ragu untuk menonjolkan gairah dan berahinya.
Sebaliknya, biarpun sudah menjadi kenyataan bahwa dalam memikirkan dirinya, Pun Hui sampai lupa makan lupa tidur dan berani mati merantau seorang diri di tengah laut di antara pulau pulau kosong, namun untuk menyatakan cinta kasihnya.
Pun Hui masih ragu ragu, terhalang oleh kesusilaan dan sopan santun.
Kini setelah percakapan mereka mendekati persoalan hati dan perasaan, Siauw Yang merasa tidak enak sendiri.
Entah bagaimana, terhadap Pun Hui yang bersikap sopan santun, halus dan lemah lembut, ia tidak percaya akan kekuatan hati sendiri.
Maka cepat cepat ia mengalihkan percakapan kepada persoalan lain.
"Liem suheng, biarpun kau masih lemah dan belum kembali tenagamu, terpaksa kita harus segera berangkat. Aku percaya bahwa Eng Kiat takkan tinggal diam saja dan kalau dia dapat mengejar kita, sukarlah untuk melawannya tanpa pedang di tanganku"
"Baiklah, sumoi. Memang untuk apa sih lama lama tinggal di tempat ini? Mari kita kembali ke barat, ke daratan yang aman menyusul kakakmu yang sudah mendarat lebih dulu. Memang saudaramu itu tentu akan kembali ke sini lagi mungkin bersama orang tuamu. Akan tetapi, menanti mereka amatlah berbahaya dan siapa tahu kalau kalau kita akan bertemu dengan mereka di tengah perjalanan,"
Jawab Pun Hui.
Dua orang muda itu lalu berlayar pergi, kini mempergunakan perahu yang ditumpangi oleh Pun Hui, karena perahu ini jauh lebih baik daripada perahu buatan Eng Kiat yang kasar dan sederhana.
Sebentar saja mereka telah meninggalkan pulau kosong itu tanpa mampir di Sam liong to, karena untuk apakah mampir di pulau yang telah ditinggalkan oleh penghuninya itu?
Pun Hui nampak gembira sekali setelah kini ia dapat melihat Siauw Yang berada dalam keadaan selamat.
Kesehatannya pulih kembali, karena sebenarnyapun ia tidak sakit apa apa, hanya kurang makan dan kurang tidur belaka.
Sekarang kita mengikuti perjalanan Song Tek Hong, pemuda gagah perkasa yang turun dari Sian hoa san untuk kembali ke Tit le, ke rumah orang tuanya yang telah dibakar habis oleh Lam hai Lo mo.
Agak lega hatinya karena supeknya, yakni Sin pian Yap Thian Giok bersama nenek gurunya, Mo bin Sin kun telah berangkat menuju ke Pulau Sam liong to.
Ia percaya bahwa dengan bantuan dua orang tua yang sakti ini tentu Siauw Yang akan tertolong.
Ia perlu kembali lebih dulu ke Tit le, kerena ia masih belum tahu ke mana perginya ayah bundanya.
Siapa tahu kalau kalau telah pula pulang ke Tit le atau setidaknya, kalau mereka belum pulang, ia dapat meninggalkan pesanan kepada tetangga atau meninggalkan surat untuk ayah bundanya, menceritakan segala peristiwa yang terjadi.
Tiga hari kemudian ia tiba di sebuah padang rumput yang sunyi.
Ia melakukan perjalanan amat cepat karena hendak segera tiba di kampungnya.
Setelah padang rumput terlewat, ia mulai menyeberangi daerah yang berbukit dan berbatu.
Perjalanan melalui daerah ini amat sukar dan sulit, karena tidak ada jalan raya dan ia harus melakukan perjalanan melalui jalan liar yang berbatu batu dan berlubang lubang.
Kalau tidak hati hati, orang yang melalui jalan ini bisa tergelincir dan tersandung batu atau terjeblos ke dalam lubang yang tertutup oleh bulu bulu kecil.
Juga keadaan di sini amat sunyi dan panas, tak kelihatan seorang pun manusia lewat.
Belum lama Tek Hong melewati daerah ini, ttba tiba dari depan berkelebat bayangan orang dan tahu tahu seorang tua bertubuh tinggi kurus yang memegang sebatang tongkat panjang kepala naga (liong touw tung) telah berdiri di hadapannya.
Tek Hong terkejut sekali ketika melihat bahwa orang ini bukan lain adalah Tung hai Sian jin!
Ia sudah tahu bahwa kakek ini adalah orang yang memusuhi ayahnya, maka bertemu di tempat sunyi seperti ini dengan tokoh laut timur ini, sungguh bukan hal yang menyenangkan.
Namun Tek Hong tidak menjadi gentar hanya menegur dengan suara tenang.
"Tung hai Sian jin, setelah kau menawan adikku Siauw Yang, sekarang kau menghadang perjalananku, ada keperluan apakah?"
Tung hai Sian jin tertawa bergelak, menggerak gerakkan tongkatnya dan tahu tahu tongkat itu menghantam sebuah batu karang besar di sampingnya.
Terdengar suara keras dan batu karang itu terbelah dua!
Diam diam Tek Hong kagum menyaksikan demonstrasi tenaga yang luar biasa ini dan mengeluh bahwa ia tak mungkin dapat menangkan kakek sakti ini.
"Ha, ha, ha! Dasar keturunan Thian te Kiam ong, yang perempuan tinggi hati dan tabah, yang laki laki sombong dan berani! Anak muda, kalau aku mau menyerangmu, apa kaukira akan dapat melawanku? Ha, ha, ha!"
"Menang kalah bukannya soal, orang tua. Yang penting siapa berpegang kepada kebenaran dialah yang menang!"
Jawab Tek Hong.
Kembali Tung bai Siang jin tertawa besar."Ha, ha, ha!
Kau benar sekali.
Oleh karena itu akupun sekarang hendak berpegang kepada kebenaran dan aku bertemu dengan kau ini bukan kusengaja.
Akan tetapi bukannya tidak kebetulan, karena memang aku sedang mencari cari ayah bundamu.
Karena mereka tidak ada di Tit le, kau sebagai kakak dari adikmu perempuan dapat juga menjadi wakil orang tuamu."
Berdebar hati Tek Hong.
Apakah kehendak kakek ini hendak menemui ayah bundanya?
Kalau hendak mengadu kepandaian, terang tidak mungkin karena kakek ini sudah pernah kalah oleh ayalnya dan ia percaya bahwa kalau bertempur lagi, kakek ini tetap saja takkan dapat menangkan ayahnya.
"Apa kehendakmu hendak bertemu dengan ayah?"
Tanyanya.
"Dengarlah kau, orang muda yang mewakili ayah bundamu. Adik perempuanmu telah berada bersama kami, dan kebetulan sekali puteraku cinta kepadanya. Memang aku lihat mereka berdua pantas sekali menjadi suami isteri, maka aku sekarang datang dengan maksud baik, yakni hendak meminangnya dan minta persetujuan kedua orang tuamu agar adik perempuanmu itu menjadi isteri Eng Kiat puteraku."
"Tung hai Sian jin, tak ada aturan seperti ini! Bukankah dahulu kau pernah mengajukan pinangan dan ditolak oleh adikku dan orang tuaku? Bagaimana kau sekerang ada muka untuk mengajukan pinangan lagi?"
Merah wajah Tung hai Sian jin.
"Sombong! Apa kaukira darah keluargamu lebih bersih dari pada darah kami? Soal pinangan dulu dan sekarang lain lagi. Adikmu sudah suka dengan anakku dan sekarang adikmu bersama kami."
"Hm, kau mau melakukan paksaan dan berani menawan adikku?"
Tek Hong menuduh dengan berani dan marah.
"Aku hanya minta perkenan dan persetujuanmu sebagai wakil orang tuamu, bukan hendak berbantah dan banyak mengobrol, orang muda. Pilih saja, kau akan melihat adikmu mati penasaran tanpa ada orang yang tahu ataukah melihat adikmu hidup berbahagia sebagai mantuku?"
Biarpun dadanya merasa meledak saking marahnya, namun Tek Hong bukanlah seorang bodoh, ia mengerti betul bahwa kakek ini hendak mempergunakan paksaan terhadap adiknya dan ia tidak tahu bagaimana nasib Siauw Yang.
Tentu saja ia tidak sudi untuk menerima pinangan itu tanpa menanya isi hati Siauw Yang dan tanpa minta persetujuan orang tuanya, akan tetapi menolak begitu sajapun tidak baik karena mungkin sekali akan membahayakan nyawa adiknya.
"Tung hai Sian jin, biarpun aku adalah kakak dari Siauw Yang, namun dalam hal perjodohannya aku tidak berhak memutuskan. Ayah bundaku masih hidup dan aku harus minta persetujuan mereka lebih dulu. Lebih baik kau mencari mereka, dan mendengar keputusan mereka."
"Di mana mereka?"
"Aku sendiri pun sedang mencari mereka, karena rumah kami telah dibakar oleh iblis tua Lam hai Lo mo."
Tung hai Sian jin tertawa bergelak gelak.
"Ha, ha, ha! Lam hai Lo mo memang iblis tua, aku setuju kau menyebutnya demikian. Orang tuamu tentu mencarinya dan aku tidak perduli akan semua itu, bukan urusanku! Lebih baik kau sekarang ikut adikmu dengan puteraku. Setelah itu, bukankah aku menjadi besanmu? Dengan ikatan keluarga, berarti aku adalah orang tuamu sendiri, dan setelah anakku kawin dengan adikmu, jangan kau khawatir, urusan Lam hai Lo mo si iblis tua, serahkan saja kepadaku! Aku yang akan bikin buntung sebelah kakinya lagi."
Tek Hong mengerutkan keningnya.
Soal membalas dendam kepada Lam hai Lo mo adalah urusan yang kecil tak berarti apabila dibandingkan dengan urusan perjodohan Siauw Yang karena hal ini adalah penentuan nasib dari adiknya.
"Tidak mungkin, lo cianpwe. Aku tidak berani menjadi wakil orang tuaku dalam hal ini. Lebih baik kau mencari ayah bundaku untuk urusan itu."
Melototlah mata Tung hai Sian jin.
"Apa? Kau berani membantah kehendakku? Apa kau ingin melihat tongkatku mengamuk? Apa kau berani melawanku?"
"Tung hai Sian jin, mungkin sekali kepandaianmu jauh lebih lihai daripada kebisaanka yang sedikit, akan tetapi demi mempertahankan kehormatan adikku, aku bersedia mengorbankan nyawa!"
Kata Tek Hong dengan sikap gagah.
"Kalau begitu, biarlah aku membawa kepalamu sebagai saksi perkawinan adikmu!"
Bentak kakek itu yang cepat menyerang dengan tongkatnya, biarpun ia belum mencabut pedangnya, namun Tek Hong sudah waspada dan siap sedia, ia telah menduga akan datangnya serangan yang luar biasa hebatnya, maka cepat ia melompat ke belakang menghindarkan diri dari serangan maut itu, sambil mencabut pedangnya, ia juga marah dan sakit hati sekali, apalagi ketika ia melihat pedang adiknya, yakni pedang Kim kong kiam yang sebetulnya adalah pedang ayahnya, kini nampak tergantung di pinggang orang tua itu.
"Aku bersedia mengadu nyawa denganmu!"
Katanya gagah dan ketika tongkat kepala naga itu menyambar lagi, ia cepat mengelak sambil mengirim serangan balasan.
Tek Hong maklum bahwa ia menghadapi lawan yang tangguh dan lihai, maka serentak ia mainkan Ilmu Pedang Tee coan Liok kiam sut dari ayahnya.
Pedangnya berobah menjadi segulung sinar keputihan yang amat menyilaukan mata, bergulung gulung dan bergerak gerak cepat sekali, merupakan sebuah benteng yang amat kuat, juga kadang kadang pedang itu menyambar dan mengirim serangan balasan yang tidak kalah hebatnya.
Diam diam Tung hai Sian jin harus mengagumi kegagahan pemuda ini biarpun gerakan pemuda ini tidak selincah adiknya dan ilmu pedangnya juga tidak selihai Siauw Yang, namun pemuda ini lebih menang dalam tenaga lweekang dan juga lebih tenang permainan silatnya sehingga ia mempunyai pertahanan yang amat tangguh, ia mengerahkan tenaga dan mainkan tongkatnya demikian cepat dan kuatnya sehingga tongkat yang gagangnya merupakan kepala naga itu benar benar seperti berubah menjadi seekor naga mengamuk.
Batu batu kecil dan pasir berhamburan dan bunga api berpijar tiap kali ujung tongkatnya beradu dengan pedang atau menghantam batu batu karang di sekitar tempat itu.
Angin pukulan tongkatnya mendatangkan hawa dingin yang membuat Tek Hong terdesak mundur terus.
Pemuda ini kalah kuat dan juga kalah pengalaman, sehingga dalam pertempuran ini, akhirnya ia hanya dapat mempertahankan diri saja, tanpa diberi kesempatan untuk membalas karena selalu dihalangi oleh tongkat yang lebih panjang daripada pedangnya.
Tung hai Sian jin tertawa berkakakan.
Sambil mendesak hebat, berkali kali ia bertanya.
"Tidak mau menyerahkah, kau? Apa sukarnya menjadi wakil orang tua untuk menyaksikan pernikahan adikmu? Kau akan dihormati dan mendapat suguhan arak paling istimewa!"
Namun sebagai jawaban, Tek Hong hanya mainkan pedangnya makin gencar dan membalas serangan sedapat mungkin dengan hati gemas.
Akhirnya Tung hai Sian jin maklum pemuda ini tidak mengenal kompromi dalam urusan itu.
Adiknya keras hati, kakaknya keras kepala, apalagi orang tuanya!
Ia tidak mempunyai harapan besar untuk mendapat persetujuan keluarga dari Siauw Yang tentang perjodohan itu dan tentu akan terjadi permusuhan dan kekerasan.
Kalau sampai terjadi demikian, ada baiknya membinasakan pemuda ini sehingga berkuranglah tenaga yang berbahaya di fihak musuh.
"Baiklah kalau kau memang lebih luka mati!"
Bentaknya dan kini tongkatnya mendesak makin hebat sehingga Tek Hong dipaksa mundur jauh.
Malang baginya, di belakangnya terdapat tumpukan batu batu kecil yang ketika diinjaknya, ternyata bahwa batu batu itu menutupi sebuah lubang di tanah.
Tak dapat dicegah lagi karena perhatiannya ditujukan kepada tongkat lawan yang selalu mengancam, tubuh pemuda itu terjeblos ke dalam lubang yang dalamnya sampai ke pinggangnya.
"Ha, ha, ha! Kau seperti tikus dalam jebakan!"
Tung hai Sian jin memburu sambil mengayun tongkatnya ke arah kepala pemuda itu.
Tek Hong cepat menundukkan kepalanya dan merendahkan diri ke dalam lubang.
Tongkat itu lewat menyambar di atas kepalanya, memukul batu batu di pingir lubang itu.
Kembali Tung hai Stan jin menyerang, sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Tek Hong untuk keluar dari lubang itu.
Namun pemuda ini memang patut diuji keuletannya.
Kedudukannya sudah amat payah dan terancam, ia tidak mendapat kesempatan keluar dari lubang sehingga ia hanya dapat menangkis datangnya sambaran tongkat atau mengelak dengan cara merendahkan tubuh dan bersembunyi di dalam lobang itu.
Tung hai Sian jin tertawa bergelak, namun diam diam ia menjadi gemas sekali.
Tiap kali ia menyerang, kakinya menendang batu batu kecil yang berhamburan memasuki lubang itu, makin lama makin banyak sehingga batu batu kecil itu menutupi kedua kaki Tek Hong.
Pemuda ini tak dapat menggerakkan kedua kakinya, akan tetapi tetap saja pedangnya merupakan perisai yang amat kuat.
"Trang! Trang! Trang! Pedangnya selalu dapat menangkis tiap kali tongkat kepala naga itu menyambar ke arah kepalanya yang pasti akan dapat menghancurkan kepalanya dengan sekali pukul saja. Tung hai Sian jin ketika melihat betapa kedua kaki pemuda itu tak dapat bergerak lagi, menjadi makin gembira dan memertawakan sebagai orang gila. Ia menendangi batu batu dan pasir makin banyak lagi sehingga kini tubuh bagian bawah dari Tek Hong telah terpendam. Kalau saja lubang itu lebih dalam lagi, tentu ia akan terkubur hidup hidup. Kinipun ia terkubur hidup hidup setengah badannya, dari kaki sampai ke punggungnya. Tung hai Sian jin melompat ke belakang, menghapus peluhnya yang membasahi leher dan jidatnya. Ia merasa lelah sekali karena pukulannya selalu kena ditangkis, ia heran sekali atas kekuatan dan keuletan Tek Hong, karena untuk menangkis tongkatnya dibutuhkan tenaga ratusan kati besarnya. Bukan main kuatnya putera Thian te Kiam ong ini dan ia tahu bahwa Eng Kiat puteranya takkan dapat menangkan pemuda ini dalam pertempuran.
"Apakah kau masih belum mau menerima permintaanku?"
Tanyanya.
Tek Hong hanya menggelengkan kepala sambil memandang dengan mata terbelalak marah.
Untuk mempertahankan nama baik orang tuanya dan kehormatan adiknya, ia tidak takut menghadapi maut.
Sebetulnya telapak tangan kanan Tek Hong sudah matang biru panas dan perih sekali.
Tangkisan tangkisannya terhadap pukulan tongkat amat berat dan membuat tangannya sakit, akan tetapi ia tidak mau tunduk biarpun andaikata tangannya akan hancur lebur.
"Aku lelah dan ingin mengaso. Sekarang aku tidak akan menyerangmu dengan tongkat lagi, melainkan mempergunakan dada dan kepalamu sebagai sasaran latihan melempar batu,"
Kata Tung hai Sian jin gemas, ia benar saja duduk mengaso di bawah sebuah batu karang tinggi, kemudian ia mengambil batu batu karang sebesar kepala manusia dan melemparkan batu batu itu ke arah Tek Hong.
Pemuda ini menangkis dengan pedangnya dan merasa betapa tangan sampai ke pundaknya tergetar dan sakit sekali.
Ia maklum bahwa tenaga lemparan memang lebih berbahaya dan lebih kuat daripada tenaga pukulan, dan tahu bahwa kakek itu hendak menyiksanya, melempari batu sampai ia tidak kuat dan kepalanya akan pecah terpukul batu.
Namun tidak sepatahpun keluhan keluar dari mulutnya.
Tetap ia mempergunakan pedangnya menangkis datangnya setiap batu yang menyambarnya dengan kuat dan cepat.
Tangannya sudah mulai gemetar dan ia dapat menangkis bahwa paling banyak ia hanya akan kuat menangkis belasan kali lemparan batu legi.
Benar saja, setelah ia menangkis untuk ketigabelas kalinya, tangannya menjadi kaku dan pedangnya ketika beradu dengan batu itu, terlepas dari pegangannya dan terlempar ke samping bersama batu itu yang terkena tangkisan.
"Ha, ha, ha, kini aku hendak melihat apakah kau masih dapat menggunakan tanganmu untuk menangkis."
Kata Tung hai Sian jin tertawa bergelak gelak.
Agaknya kakek ini gembira dan senang sekali melihat permainannya.
Pemuda ini terpaksa mempergunakan tangan kirinya menyampok dan ia masih dapat membuat batu itu menggelinding jauh tanpa terluka.
Ia dapat mempergunakan tangan kirinya menjadi perisai.
Namun, baru lima kali ia menangkis, kulit lengan kirinya sudah mulai berdarah karena lecet oleh batu itu ketika ia menangkis.
Keadaannya sudah berbahaya sekali dan ajaknya dua tiga kali lemparan lagi, ia takkan kuat menahan.
Akan tetapi, ketika batu yang besar kembali melayang, tiba tiba batu itu terhenti di tengah jalan, jatuh terpental setelah bertumbuk dengan lain batu dan mengeluarkan bunga api.
Ada orang lain yang melempar batu menangkis serangan itu.
"Tua bangka kejami Kau benar benar iblis berwajah manusia,"
Terdengar bentakan halus dan nyaring menyusul lemparan batu yang menangkis batu Tung hai Sian jin.
Sesosok bayangan merah berkelebat dan seorang gadis cantik berpakaian merah yang memegang sebatang pedang berkilau tajam berdiri di situ, menghadapi Tung hai Sian jin yang sudah bangkit berdiri dengan marah.
Ketika melihat gadis ini, Tung hai Sian jin marah sekali, sebaliknya Tek hong memandang girang.
Gadis baju merah itu bukan lain adalah gadis jelita yang galak, gadis yang dulu dikeroyok oleh tiga orang tokoh Go bi pai.
"Kau lagi?"
Bentak Tung hai Sian jin sambil tersenyum mengejek, akan tetapi sepasang matanya bersinar marah sekali.
"Gadis liar, kau selalu mencampuri urusanku. Pergi sebelum aku lupa bahwa kau adalah murid sahabatku dan tongkatku akan menamatkan riwayatmu di sini!"
"Pergi dan membiarkan kau melakukan perbuatan keji terhadap orang lain? Enak saja kau bicara orang tua siluman,"
Jawab gadis itu yang bukan lain adalah Siang Cu.
Berkata demikian, ia lalu menghampiri Tek Hong yang masih setengah terpendam batu batu dan pasir.
Tanpa berkata sesuatu dan dengan pandangan mata tak acuh, gadis ini mengulur tangan hendak menangkap tangan Tek Hong untuk ditariknya keluar.
Akan tetapi, Tung hai Sian jin sudah melompat dan mengayun tongkat kepala naganya menyerang.
"Biarlah kalian berdua mampus di sini !"
Serunya.
Serangan itu hebat sekali dan karena Siang Cu sudah maklum akan kelihaian kakek ini, ia terpaksa membatalkan niatnya menarik keluar tubuh Tek Hong dan sambil menggerakkan pedang ia membalikkan tubuhnya, menangkis pukulan dahsyat itu.
"Traang!"
Bunga api berpijar ketika dua senjata itu bertemu.
Belum lenyap gema suara senjata beradu ini, secepat kilat Siang Cu sudah membalas dengan sebuah tusukan ke arah dada lawannya.
Gerakannya ganas dan cepat sekali sehingga Tung hai Sian jm terpaksa cepat melompat mundur karena untuk menangkis tusukan ini sudah tidak ada waktu lagi.
Hebat, pikir Tung hai Sian jin, murid Lam hai Lo mo ini benar benar ganas sekali ilmu pedangnya.
Karena itu, ia berlaku hati hati sekali untuk menghadapi gadis ini.
Adapun Siang Cu tidak mau berlaku lambat.
Melihat lawannya melompat mundur, iapun segera mendesak dan mengirim serangan dengan amat gencar dan serunya.
Pedangnya berkelebat kelebat merupakan gulungan sinar hijau.
Cheng hong kiam merupakan pedang pusaka simpanan istana kaisar, maka tajam dan kuat sekali.
Dalam beberapa belas jurus saja, ketika ujung tongkat bertemu dengan pedang dalam benturan keras, Tung hai Sian jin merasakan getaran pada tangannya dan ketika ia melihat, ternyata bahwa lidah kepala naga dari gagang tongkatnya yang tadi dipakai untuk memukul dan ditangkis oleh Siang Cu, telah putus.
"Gadis liar, kau berani merusak lidah nagaku? Tunggu akan kuhancurkan kepalamu yang keras!"
Bentak Tung hai Sian jin marah sekali dan tongkatnya diputar sedemikian rupa sehingga Siang Cu seakan akan terkurung dari empat jurusan.
"Sebentar lagi kepalamu yang putus, bukan lidah tongkat kepala nagamu,"
Kata Siang Cu dengan nada menyindir, iapun memutar pedangnya lebih cepat lagi, namun sebentar saja ia harus akui kelihaian kakek itu karena betapapun cepatnya ia menggerakkan pedangnya, tetap saja sinar pedangnya tertindih dan ia terkurung dan terdesak hebat oleh tongkat itu.
Sementara itu, Tek Hong yang melihat betapa gadis baju merah itu bertempur mati matian melawan Tung hai Sian jin yang lihai, menjadi amal khawatir akan keselamatan gadis itu.
Ia menahan napas, mengumpulkan tenaga lalu berusaha keluar dan pendaman batu itu.
Baiknya ia tidak terluka, hanya kulit lengannya saja yang lecet dan perih, maka selelah ia mengerahkan tenaga, ia berhasil juga keluar dari tumpukan batu dan pasir di dalam lubang itu.
Ia segera mengambil pedangnya yang tadi terlempar oleh tumpukan batu, lalu mangatur napasnya untuk memulihkan tenaga.
"Tung hai Sian jin, kau hanya berani menghina orang orang muda. Rasakan pembalasanku!"
Seru Tek Hong yang cepat melompat dan menyerbu kakek itu, mengeroyoknya bersama gadis baju merah.
Siang Cu melihat bantuan ini tanpa mengeluarkan kata kata, juga tidak kelihatan perubahan pada mata dan mukanya.
Padahal tentu saja ia merasa lega bahwa pemuda itu pada saat yang tepat datang membantunya.
Sebaliknya, Tung hai Sian jin menjadi makin marah dan penasaran sekali.
Setelah kini Tek Hong turun tangan, ia mendapat lawan yang amat berat.
Menghadapi seorang saja di antara dua orang muda itu, ia yakin pasti akan menang.
Akan tetapi kalau dua orang muda ini bergabung menjadi satu, benar benar ia menghadapi lawan yang tangguh sekali.
Ilmu pedang Tek Hong sudah bukan rahasia lagi merupakan ilmu pedang yang disebut raja ilmu pedang pada waktu itu, lihainya bukan main dan kuat sekali pertahanannya.
Adapun ilmu pedang Siang Cu adalah ilmu pedang yang diajarkan oleh Lam hai Lo mo si iblis tua, ganas dan cepatnya mengerikan sekali.
Lebih lebih lagi karena dua orang muda itu amat cerdik, tahu akan sifat dari permainan pedang masing masing sehingga dalam pengeroyokan ini, Tek Hong lebih banyak menggunakan pedangnya menahan serangan Tung hai Sian jin, sebaliknya Siang Cu lebih banyak menggunakan pedangnya untuk menyerang dengan gerak tipu gerak tipu yang dahsyat dan berbahaya bagi keselamatan lawan.
Pedang Cheng hong kiam di tangan Siang Cu merupakan pedang yang amat berbahaya sehingga Tung hai Sian jin jarang berani menangkis dengan tongkatnya kalau tidak terpaksa sekali.
Hal ini membuat ia harus bergerak lebih cepat lagi dan amat melelahkan tubuhnya yang sudah tua.
Puluhan jurus tewat dan akhirnya Tung hai Sian jin terdesak hebat.
Sebuah tusukan yang cepat sekali dan Siang Cu hampir saja menembus dadanya.
Biarpun kakek ini sudah cepat miringkan tubuh, tetap saja ujung pedang melanggar bajunya dan terdengar suara kain terobek ketika pedang itu melubangi bajunya.
Tung hai Sian jin melompat ke belakang sambil memutar tongkat di depan tubuhnya, ia mengeluarkan keringat dingin dan merasa tidak sanggup bertempur lebih lama lagi.
Maka tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia lalu melompat ke belakang dan melarikan diri.
"Tua bangka pengecut, kau hendak lari ke mana?"
Teriak Siang Cu hendak mengejar.
"Tak perlu dikejar, nona,"
Kata Tek Hong dan biarpun pemuda ini membujuk dengan singkat, aneh sekali, Siang Cu seakan akan seekor kuda yang ditarik kendalinya dan kedua kakinya berhenti berlari.
Adapun Tung hai Sian jin berlari cepat sambil berseru menjawab ejekan Siang Cu.
"Kalian ini orang orang muda yang curang, mengeroyok seorang tua. Pinto (aku) tidak ada banyak waktu untuk melayani kalian."
Tek Hong dan Siang Cu tidak memperhatikan kata kata yang terdengar dari tempat jauh itu, melainkan saling pandang tanpa berkata kata.
Siang Cu memiliki pandangan mata yang tajam dan tabah, sama sekali tidak sungkan sungkan dan malu malu, sebaliknya Tek Hong yang tidak kuat beradu mata terlalu lama dengan gadis ini, dan yang mengalihkan pandangan ke bawah lebih dulu.
Kemudian Tek Hong menjura sambil berkata.
"Nona, kau telah menyelamatkan nyawaku. Bagaimana aku dapat menyatakan terima kasihku?"
"Tidak ada yang menyelamatkan nyawa dan tidak ada yang diselamatkan. Tidak ada pula yang harus berterima kasih,"
Jawab Siang Cu singkat sehingga Tek Hong menjadi makin gagap.
"Nona, kau.... kau keras. Sedikitnya harap kau suka memberitahukan namamu agar nama itu dapat kuingat selama hidupku sebagai nama seorang gadis gagah perkasa yang telah menolongku."
"Sobat, apa sih perlunya segala perkenalan ini? Kau dan aku adalah orang orang lain, diantara kita tidak ada hubungan sesuatu. Pertemuan kita hanya secara kebetulan saja. Sudahlah, baik sekali kau dan bisa selamat dan terlepas dari ancaman kakek yang lihai itu. Perkenankan aku pergi."
"Nanti dulu, nona. Kata katamu tadi tak dapat kubenarkan. Sudah dua kali kita bertemu dalam keadaan yang amat ganjil. Pertama kali aku membantumu ketika kau dikeroyok oleh Go bi Sam thaisu, sekarang pada pertemuan kedua kalinya, kau yang membantu aku dari ancaman Tung hai Sian jin. Bukankah ini mempunyai arti bahwa kita memang sudah ditakdirkan untuk menjadi sahabat sahabat baik? Perkenalkanlah aku, nona, aku...."
"Cukup."
Siang Cu membentak dengan suara keras.
"Aku.... aku tidak butuh dengan namamu. Kita tak usah saling memperkenalkan nama dan keadaan masing masing, cukup asal kita saling mengenal sebagai sahabat. Bukan begitu maksudmu? Nah, kalau kau benar benar menghendaki aku sebagai sahabat, aku suka menerimanya asal saja kau menerima syaratku, yakni kita tak usah saling memperkenalkan nama dan menuturkan riwayat."
Tek Hong tertegun dan merasa heran sekali.
Siapakah dara perkasa yang penuh rahasia ini dan mengapa tidak mau memperkenalkan nama?
Akan tetapi melihat wajah yang bersungguh sungguh itu, ia maklum bahwa gadis ini amat keras hati dan kalau ia berkeberatan, tiada harapan baginya untuk berkenalan.
"Baiklah,"
Ia mengangguk angguk.
"tentu saja aku suka menurut kehendakmu yang aneh itu. Kita tak usah mengenal nama dan keadaan masing masing. Akan tetapi, kiranya boleh aku mengetahui ke mana nona hendak pergi?"
"Ke mana saja hati dan kaki membawaku."
"Sama sekali tidak ada tujuan?"
Tanya Tek Hong.
"Tidak ada, hanya mengandalkan nasib mempertemukan aku dengan musuh besarku "Nona mempunyai musuh besar? Boleh aku tahu siapa dia itu?"
Siang Cu tersenyum pahit sambil menggelengkan kepala.
"Dia seorang tokh besar yang kenamaan dan tersohor sebagai seorang pendekar berbudi mulia. Akan tetapi kau tak perlu tahu siapa dia."
Memang, di sepanjang perjalanannya, Siang Cu menyelidiki keadaan musuh besarnya, sehingga ia mendengar dari setiap orang, baik orang orang kang ouw maupun Liok lim, bahwa Thian te Kiain ong Song Bun Sam adalah seorang taihiap (pendekar besar) yang budiman.
Berita ini membuat hatinya makin sengsara dan kecewa akan keadaan suhunya, namun ia telah bersumpah untuk membalaskan dendam gurunya terhadap Thian te Kiam ong Song Bun Sam dan sekali kali ia tidak akan menarik kembali sumpahnya ini, ia telah merasa amat tertarik sehingga malu untuk mengaku sebagai murid Lam hai Lo mo, dan malu pula untuk mengaku siapa dia sebenarnya.
Oleh karena itu, iapun merasa malu kalau harus mengaku bahwa dia memusuhi seorang pendekar besar yang mulia seperti yang dikabarkan orang atas diri Thian te Kiam ong.
Mendengar ucapan gadis baju merah itu, Tek Hong menjadi makin tertarik dan terharu.
Tentu ada rahasia yang amat hebat pada sadis ini dan ia menjadi ingin sekali mengetahui rahasianya apa gerangan yang membuat gadis jelita itu menyembunyikan diri dan berlaku begitu aneh.
Mana ada orang yang memuji muji musuh besarnya sebagai seorang berbudi mulia dan merendahkan diri sendiri sebagai seorang yang berada di fihak salah?
Seorang gadis yang berani, berkepandaian tinggi, dan amat jujur sehingga terhadap seorang asing ia berani mengaku dan memuji muji kebaikan musuh besarnya, akan tetapi di lain fihak begitu kukuh menyembunyikan keadaan diri sendiri dengan terang terangan pula.
"Nona, benar benar kau seorang yang aneh sekali. Dahulu ketika kau bertempur menghadapi Go bi Sam thaisu, kau menyatakan kepadaku bahwa kau berada di fihak yang salah. Sekarang, kau mempunyai seorang musuh besar dan kau berkata pula bahwa dia seorang pendekar besar yang budiman. Nona, agaknya kau selalu berada di fihak yang salah dengan kau sengaja. Belum pernah selama hidupku aku mendengar tentang seorang yang sengaja menempatkan diri di fihak yang salah."
Mendengar ini Siang Cu tersenyum penuh kedukaan, dan diam diam dia memuji kecerdikan pemuda ini yang dapat merangkan rangkaikan persoalan sehingga agaknya dengan mudah rahasianya akan terbuka olehnya.
Ia menarik napas panjang dan berkata.
"Memang demikianlah, sahabatku. Semenjak kecil aku berada di tempat yang keliru. Terdidik di tempat yang keliru dan selalu menghadapi perkara yang salah. Sampai kini, tak berayah tak beribu, tak berhandai taulan, tiada rumah tiada cita cita yang ada hanya permusuhan dengan orang gagah yang budiman!"
Ia menghela napas lagi.
"Apa hendak di kata? Sudah begitulah nasibku dan aku tidak peduli lagi. Tek Hong ikut merasa berduka mendengar ucapan gadis ini, sungguhpun ucapan itu dikeluarkan dengan suara yang gagah dan sedikitpun tidak mengandung nada duka. Pemuda ini benar benar tertarik hatinya melihat Siang Cu, karena harus ia akui bahwa selamanya ia belum pernah melihat gadis seperti ini.
"Nona, nasibmu benar benar mengharukan hatiku. Setelah kita menjadi sahabat, biarpun tanpa mengenal nama dan keadaan masing masing, bolehkah aku menyertaimu dalam perjalanan merantau di dunia kang ouw?"
Siang Cu memandang tajam, dan ia mulai marah, ia mengira bahwa pemuda ini sudah tergila gila kepadanya dan mempunyai maksud yang tidak sopan.
Akan tetapi ketika ia melihat sinar mata pemuda itu yang membayangkan kejujuran dan kesungguhan hati, sama sekali tidak nampak tanda tanda lain memandangnya, ia tidak jadi marah.
Namun karena Siang Cu sudah biasa menyatakan perasaan, pikiran, dan suara hatinya melalui bibrnya, ia secara langsung bertanya.
"Sahabat, agaknya kau mencintaiku, betulkah?"
Wajah Tek Hong menjadi pucat pada saat mendengar pertanyaan ini, lalu berubah merah sekali ia memandang kepada Siang Cu dengan mata terbelalak dan mulut melongo.
Bukan main gadis ini!
Pertanyaan itu merupakan penyerangan yang langsung menyerbu hati, lebih ganas dan lihai daripada serangan ujung pedang yang tajam.
"Nah.... aku.... eh, bagaimana tiba tiba saja kau menyerangku dengan pertanyaan itu?"
Akhirnya Tek Hong dapat berkata dan alisnya yang tebal berkerut.
Penasaran dan tak sedap juga hati nya, karena ia dapat menduga bahwa gadis ini tentu menganggap ia sebagai pemuda gila wanita yang ugal ugalan.
Kehormatannya tersinggung oleh pertanyaan itu.
Akan tetapi Siang Cu seakan akan tidak mengacuhkan sikapnya, bahkan menarik napas panjang sambil berkata.
"Sudah terlalu sering dan terlalu biasa bagiku melihat laki laki jatuh cinta melihatku. Aku bosan melihat sinar mata laki laki memandang mesra, penuh bujukan, namun penuh kepalsuan."
"Aduh, hebat sekali gadis ini,"
Pikir Tek Hong dan perutnya mulai terasa panas.
"Nona, kau terlalu sekali1 Kaukira aku ini orang macam apakah? Aku lebih baik mati daripada berlaku kurang ajar terhadap wanita, aku terang sopan, seorang terdidik baik oleh orang tuaku."
Sampai di sini, Tek Hong melihat wajah gadis itu seakan akan menahan tikaman di hatinya.
Teringatlah ia bahwa gadis ini tiada ayah ibu, dan sudah mengaku pula bahwa ia dididik salah dan berada di dunia yang agaknya tidak baik semenjak kecilnya, maka timbul kasihan di dalam hatinya dan suaranya menjadi halus.
"Nona, betapapun juga, laki laki tinggal laki laki dan kuharap kau jangan terlalu salahkan mereka kalau mereka tergila gila dan cinta kepadamu. Hal itu sebenarnya adalah salahmu sendiri."
"Salahku?"
Siang Cu bertanya dan merasa geli. Baru sekarang ada orang berani menyalahkannya karena banyak laki laki tergila gila kepadanya.
"Bagaimana aku salah dalam hal itu?"
"Kau salah karena mengapa wajahmu cantik? Mengapa sikapmu menarik dan kepandaianmu tinggi? Kalau kau tidak cantik tidak menarik dan tidak lihai, kukira kau akan terhindar dari pada pandangan mata mesra daripada laki laki di manapun juga,"
Kata Tek Hong.
Siang Cu membelalakkan matanya yang bagus dan ia lalu tertawa geli.
Diam diam Tek Hong memandang kagum.
Pantas saja banyak orang lelaki tergila gila.
Kalau tertawa, gadis ini begitu manis!
"Tidak ada yang lebih manis merayu daripada ucapan laki laki,"
Kata Siang Cu.
Jangankan memuji, menyalahkan juga tetap merayu!
Sudahlah, sobat, akupun tidak perduli lagi tentang pandangan mata laki laki.
Kau boleh memandang kepadaku sesuka caramu sendiri asalkan jangan bersikap kurang ajar seperti laki laki lain."
Kembali kehormatan Tek Hong tersinggung dan timbul keangkuhannya.
"Aku tidak mudah jatuh cinta!"
Katanya singkat, akan tetapi ketika ia memandang kepada wajah Siang Cu, kembali timbul rasa kasihan di dalam hatinya dan ia cepat menyambung kata katanya lebih halus karena ia merasa khawatir kalau kalau ucapannya itu akan menyakiti hati.
"Eh, tentu sudah banyak sekali yang menyatakan cinta kepadamu, bukan?"
"Menyatakan sih tidak berani karena pedangku mereka anggap ganas. Di antara mereka, hanya seorang saja yang kuanggap kurang ajar dan pasti menjadi korban pedangku apabila aku bertemu lagi dengan dia. Dia adalah Bong Eng Kiat putera dari Tung hai Sian jin tadi."
Tek Hong terkejut.
Adiknyapun ditawan oleh pemuda kurang ajar itu.
Jadi agaknya gadis inipun pernah bentrok dengan Eng Kiat?
Simpatinya terhadap gadis ini makin membesar dan ia mengambil keputusan untuk mengawani gadis ini menghadapi musuh musuhnya.
Sebelum ia membuka mulut, Siang Cu sudah memandangnya dan bertanya tiba tiba.
"Kau sendiri hendak pergi ke manakah? "Akupun sedang merantau hendak mencari orang tuaku yang pergi dari rumah tanpa kuketahui ke mana perginya. Aku tadinya hendak pergi ke Tit le, kemudian aku akan ke kota raja lalu terus merantau ke pantai sebelah timur."
Gadis itu nampak tertegun.
"Ke Tit le? Kemudian ke pantai timur? Kaumaksudkan bahwa kau hendak pergi ke pantai Laut Po hai?"
Sekarang Tek Hong yang terkejut.
"Demikianlah niatku. Akan tetapi kalau kau menghendaki pergi ke lain tempat, aku bersedia mengawanimu."
Setelah berpikir sejenak, Siang Cu tersenyum dan berkata.
"Sudah kukatan bahwa aku tidak mempunyai tujuan, hanya mengandalkan hati dan kaki. Sekarang ada kau sebagai sahabatku, biarkan aku menurut saja ke mana kau hendak pergi. Siapa tahu kalau kalau kau yang membawa aku bertemu dengan musuh besarku itu."
"Nona, alangkah janggalnya kalau kita tidak saling mengenal nama dan keadaan. Mengapa mesti ada segala rahasia ini?"
Baru saja ia berkata demikian. Siang Cu menjadi marah.
"Baik, kita berpisah di sini saja karena kau tidak mau memenuhi syaratku tadi!"
Setelah berkata demikian, ia melompat jauh dan melarikan diri. Tek Hong cepat mengejar dan menyusul gadis itu.
"Nona, maafkan aku banyak banyak. Aku tadi kelepasan bicara, tak dapatkah kau memaafkan seorang sahabat baru?"
Lemah pula hati Siang Cu dan ia memandang tajam.
"Sekali kali jangan kauulangi pertanyaanmu tadi. Aku sudah mengambil keputusan tidak akan menceritakan kepada siapa pun juga tentang keadaan diriku yang tidak baik. Nah, cukup sekian saja. Mari kita berangkut!"
Dengan hati terheran heran, Tek Hong tidak berani banyak cakap lagi dan berjalanlah kedua orang muda ini menuju ke Tit le.
Setelah melakukan perjalanan bersama, dengan girang Tek Hong mendapat kenyataan bahwa watak dasar dari gadis itu sebetulnya baik sekali.
Bicara ramah dan periang pula.
Akan tetapi aneh sekali, kadang kadang dengan tiba tiba sikap itu berobah menjadi ganas, kaku dan selalu cemberut, sungguh pun dalam pandangan Tek Hong, selagi marahpun gadis ini wajahnya menjadi makin menarik dan manis.
Tentu saja ia tidak tahu bahwa gadis ini semenjak kecil memang mengalami nasib yang sengsara sekali, ia di culik oleh Lam hai lo mo, semenjak kecil dididik oleh guru setengah gila dan jahat itu sehingga ia memiliki watak yang aneh.
Sering kali di dalam dadanya ketika ia masih kecil, terasa kedukaan besar sekali dan kerinduan yang menyesakkan napas, orang tuanya yang tak pernah dikenalnya karena ia tidak teringat lagi akan wajah mereka.
Rasa sayangnya hanya tercurah kepada gurunya, maka dapat dibayangkan betapa duka dan patah hatinya ketika ia melihat kekejian gurunya yang ternyata memiliki tabiat yang jauh sekali berbeda dengan dia.
Kalau mengingat akan perbuatan perbuatan suhunya, ia amat benci kepada suhunya, benci setengah mati dan agaknya mau ia membunuh suhunya itu!
Akan tetapi kalau ia teringat kepada wajah yang menyeramkan itu, teringat akan keadaan tubuhnya yang rusak, teringat pula betapa dengan penuh kasih sayang suhunya mendidik dan merawatnya semenjak kecil, timbul hati tayang dan kasihan.
Pertentangan di dalam hatinya ini membuat Siang Cu menjadi putus harapan dan sering kali membuat ia bingung dan berubah ubah sikapnya.
Ia gembira dan jenaka serta peramah apabila ia tidak teringat akan gurunya, dan lupa akan orang tuanya.
Akan tetapi sekali ia teringat akan nasib dirinya, ia menjadi pemarah dan tukar diajak bicara.
Sebetulnya, ketika Tek Hong menyatakan hendak pergi ke Tit le, telah timbul dugaan di dalam hati Siang Cu yang membuat dada berdebar tidak enak.
Pemula ini demikian perkasa, ilmu pedangnya amat mengagumkan, dan kini hendak pergi ke Tit le.
Tak dapat salah lagi tentu ada hubungan sesuatu antara pemuda ini dengan Thian te Kiam ong, pendekar musuh besar gurunya yang rumahnya juga di Tit le dan yang sudah dibakar habis habis oleh suhunya itu!
Ketika mereka tiba di pintu gerbang Tit le, dengan hati berdebar tak enak, Siang Cu bertanya.
"Kau hendak mengunjungi siapakah di kota ini?"
"Tidak mengunjungi siapa siapa, melainkan hendak pulang karena memang rumahku di sini. Akan kulihat sebentar, apakah orang tuaku telah kembali."
"Di mana rumahmu?"
Ditanya demikian, Tek Hong menjadi bingung.
"Rumah....? Ah, memang tadinya kami punya rumah, akan tetapi.... orang jahat seperti iblis telah membakar rumah kami sampai habis. Mereka adalah Lam hai Lo mo dan muridnya. Oleh karena itulah ayah bundaku harus kuberi tahu karena mereka sedang keluar kota. Kalau mereka sudah kembali, sukurlah, kalau belum aku harus meninggalkan surat pemberitahuan kepada tetangga. Marilah, kalau mereka sudah kembali, akan kuperkenalkan kau kepada orang tuaku."
Akan tetapi, wajah Siang Cu telah berubah pucat sekali dan untuk menyembunyikan ini dari Tek Hong, ia berpura pura mengusap peluh dari wajahnya dengan sehelai saputangan.
"Tidak, aku tidak mau ikut kau ke sana. Aku hendak mencari rumah penginapan dan ingin beristirahat sambil menunggu kau kembali,"
Katanya. Tek Hong tidak membantah.
"Kalau begitu, biarlah aku yang mencarikan rumah penginapan terbaik untukmu. Pemiliknya aku sudah kenal baik."
Siang Cu tidak menjawab, hanya mengangguk saja.
Ia merasa tubuhnya lemas sekali.
Setelah Tek Hong mendapatkan sebuah kamar dalam rumah penginapan itu, ia segera masuk ke dalam kamar dan dari dalam kamar berkata kepada Tek Hong yang masih berdiri di luar karena pemuda ini ketika melihat sikap gadis itu yang selalu mengerutkan kening, mengira bahwa sudah datang lagi kemarahan dari gadis aneh itu.
"Kau pergilah dan bereskan urusanmu, jangan memikirkan aku di sini."
Tek Hong menghela napas.
"Baiklah. Aku pergi dulu dan setelah beres urusanku, kita akan melanjutkan perjalanan ke timur."
Pemuda ini segera menuju ke rumahnya yang kini hanya tinggal bekasnya saja.
Ia mendapat kenyataan dan tetangga tetangganya bahwa ayah bundanya belum pulang, demikian pula Siauw Yang tidak ada kabarnya.
Maka ia lalu cepat cepat membuat surat untuk ayah bundanya, menceritakan segala peristiwa yang terjadi dan menyerahkan surat itu kepada seorang tetangganya she Lie dan agar surat itu diberikan kepada ayah bundanya apabila mereka pulang.
Jilid XXVI BIARPUN menurutkan kata hatinya, ia ingin sekali ke rumah penginapan di mana gadis baju merah itu menanti nantikan, namun demi kesopanan kepada tetangga yang dimintai tolong itu, Tek Hong terpaksa bercakap cakap lebih dulu dengan mereka sampai hari menjadi malam.
Kemudian ia berpamit dan dengan cepat ia kembali ke rumah penginapan.
Ketika ia tiba di situ, ia melihat pemilik rumah penginapan, seorang setengah tua yang gemuk, tengah berdiri di depan rumah itu sambil menggeleng geleng kepala dan mulutnya terdengar bicara seorang diri.
"Sungguh aneh.... aneh sekali...!"
"Eh, Tung twako, mengapa kau berdiri di sini seorang diri?"
Tek Hong menegurnya. Pemilik rumah penginapan itu terkejut karena ia tidak mendengar kedatangan pemuda itu.
"Kau Song kongcu? Ah, kau terlambat, baru saja kawanmu pergi dari sini!"
"Pergi? Ke mana?"
Tanya Tek Hong kaget.
"Tidak tahu! Aku tahu akan keanehan watak orang orang kang ouw dan tentu saja aku tidak berani banyak bertanya. Hanya dia bilang bahwa dia tidak jadi bermalam di sini."
"Dia tidak meninggalkan pesan apa apa untukku?"
Pemilik rumah penginapan itu menggeleng kepala.
"Tidak sama sekali. Dia kelihatan marah marah dan jengkel sehingga aku tidak berani banyak bertanya. Aku tahu bahwa orang kang ouw seperti gadis itu kalau sudah marah, sekali menggaplok akan sanggup merenggut nyawaku,"
Katanya sambil mengangguk anggukkan kepalanya, tanda bahwa dia sudah tahu betul akan watak orang orang kang ouw karena dia sudah banyak bertemu dengan orang orang kang ouw yang bermalam di rumah penginapannya.
"Kau tidak tahu ke mana perginya?"
Tanya Tek Hong dengan bingung.
"Kaukira aku begitu bodoh, Song kongcu? Tidak percuma kau mengenal aku. Tadi ketika ia pergi, aku segera keluar dan aku melihat bayangannya cepat sekali berkelebat menuju ke timur."
Baru saja pemilik rumah makan menutup mulutnya, ia melihat bayangan di depannya berkelebat ke timur dan tahu tahu pemuda itu sudah lenyap dari depannya, ia menjulurkan lidahnya dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aneh, seperti iblis iblis saja orang orang kang ouw itu,"
Katanya berkali kali kepada diri sendiri.
Tek Hong cepat sekali berlari ke timur, mempergunakan kepandaiannya dan mengerahkan seluruh ginkangnya.
Matanya dipasang tajam tajam untuk mencari di mana adanya gadis baju merah yang secara rahasia telah meninggalkannya itu.
Mengapa ia marah dan pergi, pikirnya bingung.
Ah, kalau saja ia tadi tidak lama bercakap cakap dengan para tetangganya tentu ia masih dapat bertemu dengan gadis itu dan mungkin dapat menahan kepergiannya atau setidaknya dapat pergi bersama.
Ketika ia tiba di luar kota, ia melihat bayangan hitam berlari lari cepat keluar dari kota itu.
Hatinya berdebar girang dan ia mempercepat larinya sambil berseru.
"Nona, tunggulah sebentar!"
Bayangan itu memang benar Siang Cu adanya.
Tadi ketika Tek Hong pergi meninggalkannya di rumah penginapan, ia segera menyelidiki keadaan pemuda itu.
Tanpa diketahui oleh siapapun juga, ia melompat ke luar dan jendelanya dan menyusul ke tempat tinggal Thian te Kiam ong yang dulu sudah dibakar oleh suhunya.
Di rumah tetangga Thian te Kiam ong, gadis ini melihat Tek Hong bercakap cakap dan ia segera mengintai dari atas genteng.
Mendengar percakapan mereka, tahulah dia bahwa memang benar pemuda ini adalah Song Tek Hong putera dari Thian te Kiam ong musuh besarnya.
Dengan tubuh lemas dan tindakan limbung Siang Cu segera berlari kembali ke hotelnya.
Di di dalam kamar, tak terasa pula ia menangis tersedu sedu, ia tertarik kepada pemuda itu, bukan rahasia lagi baginya bahwa ia suka kepadanya.
Pemuda itulah satu satunya orang, di samping Liem Pun Hui pemuda sasterawan yang juga menarik perhatiannya, yang menimbulkan harapannya untuk hidup terus, untuk hidup bahagia.
Dan kini, ternyata bahwa pemuda yang dipujanya di dalam hati itu bukan lain adalah putera dari Thian te Kiam ong, musuh besarnya yang hendak dibalasnya.
Ia sudah bersumpah untuk membalas dendam suhunya yang sudah dirusak oleh Thian te Kiam ong.
"Tek Hong...."
Keluhnya di dalam hati.
"tak mungkin kita menjadi.... sahabat, tak mungkin..."
Segera ia mengambil buntalan pakaiannya dan keluar dari kamarnya. Pemilik hotel yang melihat gadis itu seperti hendak pergi, segera menjura sambil bertanya.
"Lihiap hendak pergi ke manakah?"
Siang Cu yang masih merah mata dan pipinya memandang marah dan hampir saja ia menendang orang itu.
"Aku pergi ke mana kau perduli apakah? Ini uang kamarnya, biar aku tak jadi bermalam, kubayar juga!"
Ia melemparkan sepotong perak ke arah meja dan uang itu menancap pada papan meja.
Kemudian tanpa banyak cakap ia lalu melangkah ke luar.
Hatinya diliputi kesedihan besar.
Tidak bisa ia menanti Tek Hong untuk mengajak putera musuh besarnya itu bertempur karena ia tahu bahwa hatinya tidak mengijinkan ia untuk melukai pemuda itu.
Ia akan cepat cepat mencari Thian te Kiam ong, memenuhi tugasnya, dan habis perkara.
Itulah tujuan satu satunya dalam hidupnya kini.
Habislah semua harapan dan impian manis.
Ketika ia tiba di luar pintu gerbang kota, tiba tiba ia mendengar panggilan Tek Hong dan dengan wajah berobah merah ia menahan tindakan kakinya dan membalikkan tubuh.
Di dalam keadaan yang suram muram karena cuaca hanya diterangi oleh bintang bintang di angkasa, ia melihat tubuh pemuda itu, merupakan bayangan hitam yang amat cepat lari mendekat.
"Song Tek Hong, kau mengejarku ada apakah?"
Tanyanya menahan gelora hatinya agar suaranya tidak terdengar gemetar. Tek Hong yang sudah berdiri di depan Siang Cu, menjadi tertegun.
"Nona...., kau Sudah tahu namaku? Bagus sekali, aku girang bahwa akhirnya kau mengenalku pula. Akan tetapi, mengapa kau meninggalkan aku, nona? Bukankah kita sudah berjanji hendak bersama mencari musuh besarmu?"
"Tak perlu lagi,"
Kata Siang Cu menahan gejolak hatinya yang menyesakkan dada.
"aku sudah menemukan musuh besarku!"
"Siapa dia? Di mana?"
"Kaulah orangnya! Kau dan orang tuamu! Ketahuilah, Song Tek Hong, aku adalah Ong Siang Cu, murid dari Lam hai Lo mo! Suhu dan aku yang membakar rumahmu, dan kami sedang mencari cari ayahmu untuk membalas dendam hati suhu! Seharusnya kau pun menjadi musuh besarku, harus kuserang kalau mungkin kubunuh! Akan tetapi ah..... aku yang bodoh dan lemah, aku suka kepadamu. Tak kuasa tanganku menghunus pedang untuk menyerangmu. Sekali lagi aku suka kepadamu, nah dengarkah kau? Karena aku tak dapat memusuhimu, akan tetapi ayahmu, tentu akan kucari dan kutantang mengadu nyawa!"
Tek Hong merasa seakan akan kepalanya disambal petir pada saat itu, ia limbung dan hampir saja roboh karena kedua kakinya terasa lemas. Ia menghampiri Siang Cu sambil berkata lemah.
"Nona...."
"Berhenti! Jangan mendekati aku! Aku musuhmu, aku orang jahat sejahat jahatnya. Akulah iblis yang membakar rumahmu. Suhu dan aku sudah mengacau di Go bi pai sehingga kami dimusuhi oleh orang orang Go bi pai. Suhu dan aku sudah membakar rumah Thian te Kiam ong ayahmu dan karenanya kau tentu akan membalas dendam. Kau mau membalas dan hendak menyerangku? Silahkan, aku tidak takut! Dengarlah, wahai Song Tek Hong, bahwa aku Ong Siang Cu karena begitu pandir dan lemah mencintaimu, tidak akan kuasa untuk menyerangmu! Akan tetapi perhatikanlah, hanya untuk saat ini saja. Sewaktu waktu kalau kita bertemu akan kututup mataku dan akan kuserang kau sebagai musuh besarku. Dan sebaliknya kalau kau menyerangku, akan kulawan mati matian! Nah, selamat tinggal dan jangan mencoba untuk mendekati atau bertemu denganku!"
"Siang Cu....!"
Tek Hong melompat mengejar gadis itu yang sudah berlari pergi. Dengan cepat pemuda itu lalu menangkap ujung baju Siang Cu yang berkibar di belakangnya sehingga gadis itu terpaksa berhenti.
"Bodoh, tolol! Pergi!"
Bentaknya dan tangan kanannya bergerak menampar pipi Tek Hong.
Sebagai seorang ahli silat, Siang Cu mengerti bahwa pemuda itu dengan mudah akan dapat mengelak dan melepaskan pegangan pada ujung bajunya, akan tetapi ternyata pemuda itu sama sekali tidak mengelak.
"Plakk!"
Tamparan itu keras sekali. Tek Hong merasa betapa pipinya pedas dan kepalanya pening sehingga ia jatuh berlutut di depan gadis itu, akan tetapi tangannya masih memegangi ujung baju dengan erat erat.
"Siang Cu, pukullah aku, bunuhlah! Aku takkan melawan. Kau jangan pergi dulu sebelum mendengar omonganku. Aku kasihan padamu, aku cinta padamu, hal ini kau sudah tahu kiraku. Entah bagaimana iblis membuat kau menjadi murid Lam hai Lo mo. Kau hendak mencari ayah dan membalas dendam gurumu, akan tetapi sebaliknya sumpahku. Akupun hendak mencari gurumu, hendak kubinasakan dia, iblis tua yang jahat itu, bukan hanya itu, bukan hanya karena ia memusuhi ayah, terutama sekali karena dia telah menjerumuskan kau ke lembah kejahatan. Akan tetapi padamu, aku takkan melawan. Siang Cu, aku cinta kepadamu....."
Mendengar ucapan ini, bercucuran air mata dari mata gadis ini, mengalir di sepanjang pipinya dan berjatuhan ke atas wajah Tek Hong yang berlutut sambil mengangkat muka memandang.
Gadis itu tidak dapat menjawab, tubuhnya gemetar, kedua kakinya menggigil dan yang terdengar hanya isak tangisnya.
Baru kali ini selama hidup nya ia merasai keharuan, kedukaan, dan berbareng kebahagiaan yang luar biasa mendengar ucapan pemuda ini.
"Tek Hong...."
Hanya ini yang dapat di bisikkan oleh bibirnya yang gemetar.
"Siang cu, kau.... kau menangis.....?"
Tek Hong bangkit berdiri dan kepalanya masih pening, ia merasa tubuhnya seperti terputar putar, namun wajah gadis itu masih selalu berada di depan matanya.
"Siang Cu, mengapa kau memaksa diri melawan suara hati nuranimu sendiri? Mengapa kau tidak mau membantah saja kehendak jahat dari gurumu?"
"Tek Hong, tiada gunanya lagi..."
Siang Cu makin tersedu sedu.
"Aku sudah terseret ke dalam lumpur kejahatan oleh suhu...."
"Tidak, Siang Cu! Kau bersih laksana bunga teratai yang biarpun terseret ke dalam lumpur, masih bersih dan murni."
"Tek Hong...."
Baca Juga: Suling Naga 4
Baca Juga: Suling Naga 6