Ceritasilat Novel Online

Pedang Sinar Emas 8

Eps 8 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.

"Orang tua, aku sebagai tamu tentu saja menurut segala kehendak tuan rumah. Kita bukan musuh dan tidak sedang berhadapan sebagai musuh, hanya sekadar meluaskan pengalaman sambi! memperebutkan kepantasan dan keadilan. Marilah!"

Karena menghadapi lawan tangguh, Bu-beng Sin kai tidak berlaku sheji (sungkan-sungkan) lagi. Tidak perduli apakah lawannya bersenjata ataupun bertangan kosong Segera ta memasang kuda-kuda daa berseru.

"Awas senjataku nona"

Ketika kakek jangkung kurus itu menyerang, Siauw Yang melihat bahwa cara kakek ini mainkan tongkatnya, berbeda lagi dengan permainan pengemis gendut tadi.

Kalau Sam thouw-liok-ciangkai memainkan tongkatnya seperti orang bermain senjata toya, adalah kakek tinggi kurus ini memegang tongkatnya yang panjang seperti orang memegang tombak!

Serangannya lebih banyak menusuk dengan ujung tongkat depan lalu disusul oleh kemplangan ujung tongkot kedua seperti kalau orang mempergunakan tombak dan gagangnya.

Namun ternyata bahwa gerakan kakek jangkung ini lebih kuat dan lebih cepat daripada si gendut tadi.

Siauw Yang kaget juga ketika melihat betapa tiap kali kakek lawannya itu menusukkan ujung tongkat.

maka ujung itu menggetar sampai kelihatannya menjadi tujuh ujung, dan suara getarannya nyaring menyakitkan telinga kemudian, sambil mengerahkan ginkangnya untuk menghadapi ancaman tongkat, Siauw Yang memperhatikan jalannya ilmu tombak lawannya.

"Sin chio-hwat (Ilmu Tombak Sakti) yang lihai,"

Gadis itu memuji.

Adapun Bu-beng Sin kai ketika mendengar pujian ini, menjadi makin kagum.

Bukan sembarang orang dapat mengenal ilmu tombaknya setelah melihat beberapa belas jurus saja, apalagi kalau ilmu tombak itu dimainkan demgan senjata tongkat.

Dan kini rona itu dapat menghadapi semua serangannya hanya dengan tangan kosong saja.

Ia maklum bahwa dilihat dari sudut ini saja sudah dapat diketahui bahwa tingkat kepandaian nona ini masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya sendiri.

Namun, Bu-beng Sin kai adakah seorang kangouw yang sudah berpengalaman dan sudah melakukan perantauan selama berpuluh tahun, la sudah banyak mendengar nama-nama tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi dan andaikata ia bertemu oengan orang yang kepandaiannya lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, ia takkan merasa penasaran karena tahu bahwa di dunia ini banyak terdapat orang pandai dan bahwa kepandaian itu tidak ada batasnya.

Akan tetapi, menghadapi seorang gadis yang baru belasan tahun usianya dan yang hanya menghadapinya dengan tangan kosong saja, sungguh-sungguh membuat ia hampir tak dapat percaya!

Melihat tingkat kepandaian Leng Li saja, ia sudah merasa amat kagum dan menyangka bahwa di dunia ini jarang ada gadis semuda Leng Li dengan kepandaian menyamai tingkat kepandaian gadia itu yang lebih lihai daripadanya, akan tetapi biarpun Leng i.i sendiri tak mungkin dapat menghadapi tongkatnya dengan tangan kosong seperti yang dilakukan oleh gadis aneh ini!

Maka ia merasa penasaran dan mengambil keputusan untuk menyerang sehebat-hebatnya sampai tigapuluh jurus.

Kalau selama tigapuluh jurus ia tidak dapat menjatuhkan lawannya, ia akan mengaku kalah.

Biarpun Siauw Yang sudah mengenal Ilmu tombak Sin-chio-hwat karena pernah ia diberi tahu oleh ayahnya dewi, namun menghadapi desakan kakek jangkung yang benar-benar lihai itu, ia menjadi sibuk juga.

Terpaksa gadis ini lalu mainkan ilmu silatnya Soan hong-pek-lek jiu, yakni kepan daian yang diturunkan oleh Mo-bin Sin-kun kepada ayahnya!

Kedua tangannya bergerak-gerak bagaikan halilintar menyambar dan mendatangkan angin-angin berputar-putar seperti angin puyuh, dan semua serangan tongkat lawannya dapat terpukul mundur!

Tigapuluh jurus lewat dan Bu-beng Sin-kai melompat mundur sambil menyimpan tongkatnya.

"Nona benar-benar hebat, aku mengaku kalah!"

Merahlah muka Leng Li ketika menyaksikan betapa dua orang kawannya beruntun dikalahkan oleh Siauw Yang dengan tangan kosong saja!

Ia merasa malu, marah, dan penasaran.

Cepat ia melompat dengan tongkatnya yang pendek di tangan.

"Biarpun kedua orang suhengku telah kalah, akan tetapi masih ada aku. Coba kau merobohkan aku, baru kami akan mengakui keunggulanmu ."

Kata Leng Li sambil melintangkan tongkatnya di depan dada.

Melihat cara gadis manis ini memegang tongkatnya, kembali Siauw Yang tertegun.

Gadis ini lain lagi, memegang tongkatnya bukan seperti yang dilakukan oleh dua orang kakek pengemis, melainkan seperti orang memegang golok atau pedang.

"Dua orang tua tadi telah berlaku mengalah terhadap aku, sekarang karena kau sebaya dengan aku, tentu kau tidak akan mau mengalah seperti mereka. Majulah, sahabat, mari kita main main sebentar"

Kata Siauw Yang yang menghadapi lawan yang marah itu dengan senyum manis.

Leng Li segera memutar tongkatnya, dan kini Siauw Yang melihat jelas betapa gadis lawannya itu menggunakan pergelangan tangan untuk memutar tongkat.

Inilah gerakan ilmu pedang, pikirnya dengan hati tertarik dan gembira sekali.

Sebagai puteri seorang yang mendapat julukan Kiam-ong (Raja Pedang), tentu saja ia paling suka melihat orang mainkan ilmu silat pedang.

"Lihat senjata!"

Leng Li berseru nyaring dan gadis ini lalu menyerang dengan cepat bagaikan kilat menyambar.

Kini kegembiraan Siauw Yang bertambah, tercampur oleh kekagetan karena gaya penyerangan Leng Li benar-benar hebat sekali.

Sambaran tongkat yang dimainkan seperti pedang itu mendatangkan angin yang bergelombang dan tongkat itu sendiri bergerak -gerak ujungnya dengan getaran yang aneh dan sukar sekali diduga ke mana arah serangan ujung tongkat itu.

Inilah ilmu pedang bukan sembarangah, pikir Siauw Yang kagum sekali.

Ia masih mencoba untuk bertahan dengan tangan kosong, menggunakan Soan hong pek-lek-jiu dan Tai-lek-kim kong-jiu yang diturunkan oleh Kim Kong taisu kepada ayahnya.

Namun biarpun pukulan-pukulan tangannya dapat mengusir bahaya ujung tongkat lawan, tetap saja tongkat di tangan Leng li terus mengikutinya dengan ancaman ancaman yang amat berbahaya, Ia tidak dapat mengandalkan kelincahannya karena ternyata bahwa ginkang dari Leng Li tidak kalah jauh olehnya.

Setelah mempertahankan diri dengan tangan kosong selama duapuluh jurus, akhirnya Siauw Yang berseru.

"Ilmu pedangmu hebat sekali, sobat. Aku tidak kuat menghadapinya bertangan kosong, terpaksa pedangku membantuku!"

Sehabis ucapan ini, tiba-tiba nampak cahaya kuning emas menyilaukan mata dan pedang Kim-kong kiam telah berada di tangannya.

ketika tongkat Leng Li datang menusuk tenggorokannya, Siauw Yang dengan gembira menangkis dan terdengar suara nyaring diikuti oleh berpijarnya bunga api.

Ternyata bahwa tongkat pendek di tangan Leng Li itu terbuat daripada logam yang keras Akan tetapi dalam tangkisan ini maklumlah Leng Li bahwa lawannya benar benar lihai.

Telapak tangannya tergetar oleh tangkisan itu dan ia bersilat dengan hati hati sekali Akan tetapi, begitu Siauw Yang mainkan Te-coan-hok kiam-sut, Ilmu pedang yang diturunkan oleh Bu tek Kiam ong (Raja Pedang Tanpa Tandingan) kepada ayahnya, Leng Li merasa terkejut sekali dan matanya menjadi silau.

Pedang di tangan lawannya berobah menjadi sinar kuning emas yang luar biasa sekali, yang mematahkan seluruh permainan pedang dengan tongkatnya.

Beberapa-jurus kemudian, terdengar suara keras ketika ujung pedang Siauw Yang berhasil membabat ujung tongkat lawan sehingga putus.

Kalau lain orang yang mengalami nasib seperti ini tentu akan menjadi gugup dan bingung atau menyerah kalah, Leng Li adalah seorang gadis yang tabah dan ilmu silatnya memang tinggi.

Kalau tadi ia mempergunakan tongkatnya dengan permainan seperti mainkan pedang panjang, kini begitu melihat tongkatnya putus ujungnva, hanya tingal dua pertiga lagi.

ia tidak menjadi gentar, bahkan melanjutkan serangannya, mempergunakan sisa tongkat itu sebagai pedang pendek.

Serangan dengan sisa tongkat Ini tidak kalah hebatnya oleh serangan-aerangannya tadi sebelum tongkatnya putus ujungnya.

"Bagus, lihai sekali."

Siauw Yang memuji dengan kagum melihat kesigapannya merobah kerugian menjadi keuntungan.

Ia cepat mengelak lalu mengirim serangan balasan yang dapat ditangkis dengan baiknya oleh Leng Li.

Sampai belasan jurus ini saling serang dengan cepat dan tangkasnya, Akan tetapi duapuluh jurus kemudian, kembali pedang Kim kong kiam yang ampuh itu telah berhasil membabat putus sisa tongkat di tangan Leng 1i sehingga tinggal setengahnya.

Akan tetapi benar-benar Leng Li bersemangat baja dan gagah sekali.

Biarpun tongkatnya tinggal dua jengkal lagi panjangnya, ia tetap tak mau mengalah dan kini ia mainkan sisa tongkat itu sebagai sebatang pisau belati.

Dan jangan dikira bahwa perlawanan kali ini hanya terdorong oleh hati nekad belaka.

Sekali-kali tidak, karena biarpun hanya dengan sisa tongkat sepanjang pisau, nona Leng Li masih dapat melakukan perlawanannya yang baik bahkan dapat membalas serangan Siauw Yang dengan serangan berbahaya sekali.

"Kau benar-benar patut dipuji'"

Kata Siauw Yang dengan hati gembira sekali.

Kini kemendongkolannya terhadap Leng Li lenyap, terganti oleh rasa kagum dan ingin bersahabat.

Tidak ada yang lebih menarik hati puteri Thian-te Kiam ong ini melebihi sikap yang gagah perkasa, seperti yang diperlihatkan oleh Pun Hui ketika hendak dikeroyok dan yang kini diperlihatkan oleh Leng Li dengan perlawanannya yang gigih dan pantang mundur.

Akan tetapi berbareng ia merasa penasaran juga melibat betapa ia masih belum dapat mengalahkan lawannya ini setelah bertempur empat-puluh jurus, maka kini ia mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling tinggi dan benar saja, ketika Kim-kong-kiam lenyap merupakan gulungan sinar bercahaya dan menggulung diri Leng Li, puteri ketua Ang-sin-tung Kai-pang ini menjadi bingung sekali dan merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi dingin terkena dan terkurung oleh hawa pedang lawannya yang hebat ini.

"Kau masih belum mengaku kalah, sahabat yang gagah?"

Terdengar Siauw Yang bertanya dan suara gadis ini bagi Leng Li terdengar berpindah-pindah dari kanan kiri dan depan belakang.

"Nona, mengakulah kalah. Lawan kita ini benar-benar sakti"

Kata Bu-beng Sin-kai yang merasa kagum bukan main.

Akan tetapi sebelum Leng Li menjawab tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu tubuh Leng Li terpental keluar kalangan pertempuran karena lengannya kena dibetot orang sebagai penggantinya, kini seorang kakek yang sudah tua, berambut putih dan berpakaian tambal-tambalan akan tetapi berwarna putih semua, berdiri menghadapi Siauw Yang.

Kakek ini melihat tongkat merah yang tertancap di atas batu.

Tongkat itu terbentuk ular dan menancap di atas batu pada ekornya.

Sekali saja ia mencabut perlahan, tongkat itu berada di tangannya dan sambil mengeluarkan bunyi keras batu itu terbelah dua.

Beginilah hebatnya tenaga Iweekang dari kakek ini sehingga Siauw Yang memandang kagum, Gadis ini dapat menduga bahwa tentu inilah ketua dan perkumpulan pengemis atau ayah dari nona yang gagah dan yang menjadi lawannya tadi.

Dugaannya memang tepat.

Yang datang ini adalah Sin-tung Lo-kai Thio Houw, ketua lari Ang sin-tung Kai-pang.

Kini ia memandang kepada Siauw Yang dengan penuh perhatian.

Rambut kakek pengemis ini panjang berwarna putih dan riap-riapan di atas pundaknya, mukanya putih halus dan sepasang matanya peramah sekali, demikian pun mulutnya yang selalu tersenyum.

"Nona muda, pedangmu adalah Kimkong-kiam pedang pusaka milik mendiang Kim Kong Taisu akan tetapi ilmu pedangmu aneh dan hebat sekali. Pernah apakah kau dengan Kim Kong Taisu?"

Mendengar bicara kakek ini, tahulah Siauw Yang bahwa ia berhadapan dengan seorang tokoh besar di dunia kang-ouw yang ia belum kenal, akan tetapi yang mungkin pernah ia dengar namanya dari ayahnya, la mulai mengingat-ingat siapa-siapakah tokoh besar dunia kang-ouw yang hidup sebagai pengemis, Ayahrya pernah memberi tahu bahwa banyak sekali tokoh kang-ouw yang berkepandaian tinggi namun selalu menyembunyikan diri sehingga namanya tidak terkenal, akan tetapi di antara para tokoh kangouw yang hidup seperti pengemis dan telah dikenal oleh ayahnya adalah Pek-bi Kai-ong (Raja Pengemis Alis Putih), Sin tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Sakti), dan yang paling jahat adalah Gin-kiam Tok-kai (Pengemis berbisa Berpedang Perak ).

Siauw Yang adalah seorang gadis yang cerdik, maka setelah ia mengingat -ingat, ia merasa yakin bahwa di antara tiga tokoh pengemis yang dikenal ayah-nya itu, tentulah yang berhadapan dengan dia ini adalah Sin-tung Lo-kai, karena pengemis ini memegang tongkat dan patut menjadi ahli tongkat yang bergelar Sin tung (Tongkat Sakti), la menjura dengan hormat setelah menyimpan pedangnya, lalu berkata.

"Kalau aku yang muda dan bodoh tidak salah lihat. yang di depan adalah orang tua gagah perkasa Sin tung Lo-kai, betulkah? Kalau betul, harap kau orang tua suka menerima hormatku"

Sin-tung Lo-kai Thio Houw tertawa ter-bahak bahak mendengar ini.

"Tak salah dugaanku bahwa kau temu murid seorang pandai. Memang betul, akulah yang disebut Sin tung Lo-kai. Kau siapakah dan siapa gurumu?"

"Menjawab pertanyaan Lo-enghtong tadi, memang pedang ini adalah Kim kong-kiam, akan tetapi pedang ini bukan pedangku sendiri melainkan dapat kupinjam dari ayahku. Adapun guruku bukan lain adalah ayahku sendiri juga. Namaku Sung Siauw Yang dan ayahku.,,....."

"Ha, ha, ha! Tidak tahunya kau adalah puteri dari Thian-te Kiam-ong Song Bun Sam........"

Kakak itu memotong kata-kata Siauw Yang.

Dari She (nama keturunan) gadis itu, ia dapat menduga tepat bahwa ayah gadis itu tentulah Thian-te Kiam-ong.

Hal ini tidaklah sukar untuk menduganya.

Pertama -tama siapa lagi yang memiliki pedang Kim kong-kiam kalau bukan murid dari kakek itu?

Pun melihat ilmu pedang gadis itu yang mengaku belajar dan ayahnya sendiri, mudahlah untuk menarik kesimpulan selanjutnya.

Para pengemis, juga ketiga "Sam lojin"

Ter-kejut bukan main bahwa nona ini adalah puteri dari pendekar besar yang sudah sering kali mereka dengar namanya itu.

"Mengapa kalian begitu sembrono dan tidak mengenal Gunung Thaisan menjulang tinggi di depan mata? Kalian berani sekali bertempur melawan puteri Thian-te Kiam-ong Si Raja Pedang! Bagaimana kalian bisa menang sedangkan aku sendiripun tak mungkin dapat mengalahkannya? Hafii, hai"

Kakek pengemis itu menegur anaknya dan para anak buahnya.

Mendengar teguran kakek itu kepada anaknya dan anak buahnya Siauw Yang merasa tidak enak sekali ia cukup tahu bahwa kakek ini amat merendahkan diri ketika mengatakan bahwa kakek itu sendiri tak mungkin mengalahkannya, karena menurut ayahnya, kepandaian Sin tung Lo-kai Thio Houw ini amat tinggi dan belum tentu ia akan dapat menandingi kelihaian kakek Ini.

"Lo enghiong. harap tidak mengulangi hal-hal yang sudah lewat, tak perlu kiranya dibicarakan. Ternyata kita adalah orang-orang sendiri, karena ayah seringkali bicara tentang lo-enghiong sebagai seorang tokoh yang gagah perkasa dan budiman. Kalau tidak bertempur, tidak saling mengenal, bukankah begitu? Maka aku yang muda mohon maaf sebanyaknya bahwa aku sudah melakukan kelancangan di sini."

Kakek itu memandang kepada Siauw Yang sambil mengelus-elus jenggot putihnya yang panjang dan tersenyum kagum.

"Kau hebat sekali, nona cilik. Tidak mengecewakan kau menjadi puteri Thian te Kiam-ong!"

Kemudian kakek ini menoleh kepada puterinya sendiri dan bertanya.

"Leng Li, apakah sebabnya maka kau dan kawan kawanmu sampai bisa bertanding melawan nona ini?"

Dengan muka merah, Leng Li lalu menceritakan keadaan di situ.

semenjak mereka mendengar tentang kematian orang tua itu sehingga mereka memilih Pun Hui yang dan bersemangat untuk menjadi ketua dan kemudian menceritakan pula betapa Pun Ilui yang setelah ditinggal oleh Sam-lojin barulah hendak mengembalikan tongkat sehingga menimbulkan marah para anggauta sampai hampir dihajar.

Dan betapa Siauw Yang datang membela pemuda itu.

Mendengar penuturan ini, sebentar-sebentar Sin Tung Lo-kat tertawa bergelak sampai keluar air matanya saking merasa geli "Kalian salah, kalian salah!"

Katanya berkali-kali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang berambut putih.

"Biarpun maksudmu baik, akan tetapi salah jalan. Kesalahan pertama, menyangka aku mampus sebelum melihat bukti, baru melihat tongkat saja. Karena itu kalian harus minta maaf kepadaku, karena siapa mau disangka mati padahal masih hidup? Ha, ha, biarpun sudah tua bangka, aku belum ingin mampus. Kesalahan ke dua, kalian memaksa anak muda ini menjadi ketua. Ha, ha, sungguh lucu. Biarpun pandang matanya penuh semangat baja dan dia ini bukan anak sembarangan, namun bagaimana seorang siucai dapat menjadi ketua perkumpulan pengemis? Untuk ini kalian harus minta maaf kepada Liem-kongcu. Kesalahan ke tiga, kalian tidak dapat menghargai usaha nona Song ini yang tentu saja sesuai dengan tindakan seorang pendekar, yakni menolong si lemah yang tertindas oleh si kuat yang keliru."

Dikepalai oleh Bu-beng Sm-kar, semua pengernis, termasuk juga Leng Li, lalu berlutut di depan Sin-tung Lo-kai minta maaf, kemudian menjura kepada Pun Hui menyatakan maaf.

Pemuda ini cepat-cepat membalas penghormatan itu dan berkata kepada Sin-tung Lo-kai dengan suara lantang.

"Lo-enghiong, siauwte tidak berani menerima penghormatan seperti ini, karena sesungguhnya, menurut pendapat siauwte, semua yang terjadi itu tentu ada sebab-sebabnya, dan kalau diusut lebih lanjut, kesalahan itu terletak pada sebab-sebab itulah. Seperti halnya siauwte sampai diangkat menjadi ketua dari perkumpulan cu-wi yang terhormat adalah karena siauwte yang lebih dulu berlaku lancang berani bicara di dalam rapat perkumpulan, padahal siauwte adalah orang luar yang tidak tahu apa apa. Oleh karena itulah maka siauwte sampai terbawa -bawa dan diangkat menjadi ketua. Maka, bukan cu-wi sekalian yang harus minta maaf, sebaliknya siauwte yang merasa bersalah dan mohon maaf sebanyaknya."

Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu menjura ke empat penjuru sebagai pernyataan maaf. Sin-tung Lo-kat memandang dengan muka berseri penuh kekaguman.

"Pantas saja kau diangkat oleh anak buah ku. Liem-sucia. Sesungguhnya memang kau dapat menjadi seorang pemimpin dengan pertimbangan dan pendapatmu yang luas dan bijaksana. Sudahlah ini nyata bahwa kita semua adalah orang-orang sendiri, orang-orang sehaluan yang menjunjung tinggi kegagahan dan pula kebajikan serta keadilan. Tak perlu bersungkan-sungkan lagi."

Setelah membubarkan anak buahnya, Sin tung Lo-kai lalu mengajak Siauw Yang dan juga Pun Hui untuk mampir di rumahnya, yang berada di kota Paoting.

Karena tak dapat dan tidak enak hati menolak undangan kakek ini, terpaksa Siauw Yang dan juga Pun Hui meluluskan permintaan ini.

"Sebetulnya siauwte harus menanti kedatangan guruku di hutan ini, karena guruku sudah berjanji akan datang dalam waktu satu bulan,"

Kata Pun Hui kepada Sin-tung Lo-kai kemudian ia menceritakan betapa seorang gagah telah menolongnya dan mengangkatnya sebagai murid. Mendengar ini, Sin-tuog Lokai tertawa bergelak.

"Liem-siucai, memang kau cukup bersemangat ini mempunyai bakat baik. Soal belajar ilmu silat, biarlah kau dekat dengan aku dan juga telah kenal dengan nona Song ini, apakah sukarnya? Pula, rumahku tidak jauh dari sini dan kalau gurumu itu datang, masih belum terlambat untuk bertemu dengannya di sini."

Setelah dipaksa-paksa, akhirnya Liem Pun Hui tidak membantah pula.

Sesungguhnya, bukan karena paksaan inilah maka ia ikut, terutama sekali karena ada Siauw Yang di situ.

Pemuda ini amat tertarik kepada Siauw Yang dan diam-diam ia harus mengakui bahwa ada pertumbuhan sesuatu yang ia tidak mengerti di dalam hatinya semenjak ia bertemu dengan nona ini.

Rumah tempat tinggal Sin-tung Lo-kai Thio Bouw adalah sebuah bangunan besar yang kuno dan terawat baik.

Di sini kakek sakti itu hanya tinggal berdua dengan puterinya, dibantu oleh beberapa orang pelayan.

1sterinya telah lama meninggal dunia ketika Leng Li masih kecil.

Siauw Yang dan Pun Hui dijamu sebagai tamu tamu terhormat oleh Sin tung Lo-kai san puterinya, ditemani pula oleh Bu-beng Sin kat dan Sam-thouw-liok-ciang-kai.

Suasana amat gembira dan mereka merasa seperti berada di dalam lingkungan sahabat sahabat sendiri.

Apalagi setelah Sin tung Lo-kai minum arak dan mukanya menjadi merah, orang tua ini bercakap cakap dengan hati terbuka dan kagumlah Siauw Yang dan Pun Hui karena ternyata bahwa pengemiskz tua ini benar-benar ahli salam hal ilmu silat dan juga ilmu sastera.

la mencenterakan pertemuannya dengan kakek buntung yang telah mengalahkannya.

"Dia itu hebat sekali. Akan tetapi terus terang saja, aku tidak akan kalah demikian mudahnya kalau dia tidak dibantu oleh muridnya yang benar-benar luar biasa sekali, Melihat ilmu silat murid perempuannya itu, agaknya hanya nona ini saja yang dapat mengimbanginya. Setelah mengintipi keroyokan mereka masih untung bahwa aku hanya terlempar ke dalam sungai dan masih dapat hidup sampai sekarang. Kakek buntung itu benar benar kejam dan ganas sekali, jauh melebihi keganasannya dahulu sebelum ia buntung"

"Siapakah sebenarnya kakek buntung yang lihai itu. Lo-enghiong?* "Kau belum dapat menduganya? Kau akan kagett mendengar namanya, nona. Karena kiranya ayahmu sendiripun takkan menduga bahwa dia masih hidup Dia adalah musuh lama ayahmu."

Siauw Yang mengerutkan keningnya. Siapakah musuh ayahnya yang berkaki buntung? Sepanjang pengetahuannya, tidak ada musuh ayahnya yang berkaki buntung 'Siapakah dia, lo-enghiong?"

Tanya gadis yang tidak sabar ini. Sin tung Lo-kai tertawa.

"Sebelum kau ter-lahir, bahkan ketika ayahmu masih kanak-kanak, dia sudah merupakan tokoh besar dunia kang ouw yang amat ditakuti orang "

"Kau maksudkan Lam-hai Lo-mo Seng Jin Siansu?"

Siauw Yang memotong pembicaraan kakek itu sambil memandang tajam dan terbayang keraguan dan ketidakpercayaan pada wajahnya yang cantik. Sin-tung Lo-kai tersenyum kagum.

"Kau patut sekali menjadi puteri Thian-te Kiam-ong. Tidak saja kepandaianmu amat lihai, bahkan kau memiliki ketajaman otak luar biasa. Memang, kakek buntung itu bukan lain adalah Lamhai Lo-mo si iblis tua."

Siauw Yang melompat bangun dari bangkunya.

"Tak mungkin. Kau tentu salah lihat, Lo-enghiong"

Katanya.

"Ha, ha, ha! Memang tadinya bertemu dengan dia, aku sendiripun meragukan pandang mataku, Akupun sudah mendengar bahwa dia telah tewas dan terjungkal ke dalam Sungai Huang-ho setelah menderita kekalahan dari ayahmu. Akan tetapi pernahkah orang melihat mayatnya? Tadinya aku ragu-ragu karena wajah dan tubuhnya sudah jauh berbeda dengan dahulu. Sekarang ia berwajah seperti iblis benar-benar, mukanya menakutkan dan kakinya sebelah. Akan tetapi ilmu silatnya.........."

Sin-tung Lo kai menggeleng-geleng kepalanya.

"Aku yakin dia bahkan jauh lebih lihai daripada dahulu. Apalagi ada muridnya, seorang gadis berpakaian merah yang Lihai sekali.,...,.,*' "Apakah dia seorang nona yang cantik berpakaian merah berpedang hijau dan galak sekali?"

Tiba-tiba Liem Pun Hui bertanya memotong kata-kata kakek itu, Shi tung Lo kai terheran dan memandang kepada pemuda sasterawan itu dengan mata terbelak.

Akan tetapi Pun Hui tidak memperdulikan pandangan ini dan melanjutkan pertanyaannya "Apakah dia seorang nona yang tinggal di antara pulau-pulau kecil di Kepulauan Cauwsan?* Kembali Sin-tung Lo-kai tertegun dan mengangguk anggukkan kepalanya.

"Memang dia itulah murid Lam-hai Lo-mo, seorang gadis yang tidak saja cantik jelita dan berkepandaian tinggi, namun ganas dan jahat seperti gurunya pula"

Katanya Akan tetapi Liem Pun Hui mengangguk-anggukkan kepalanya.

'Boleh jadi dia galak dan ganas, akan tetapi ia berhati mulia dan gagah perkasa, lo-enghiong.

siauwte sendiri pernah mendapat pertolongan dari dia, dan kalau tidak ada nona itu.

tentu siauwte telah tewas.

Ketika siauwte bertemu dengan dia, siauwte mendengar pula percakapannya dengan kepala bajak laut dan mendengar bahwa dia bernama Ong Siang Cu, murid dan Lam hai Lo-mo yang tinggal di Pulau Sam-liong-to."

Sampai disini, semua orang terkejut karena Siauw Yang memukul meja dengan telepak tangannya yang halus.

Namun, biarpun ia hanya memukul perlahan saja, keempat kaki meja itu amblas ke lantai, masuk kira-kira satu dini lebih.

Ini masih belum hebat, yang amat mengagumkan adalah karena semua mangkok di atas meja, sama sekali tidak bergerak, bahkan arak di cawan tidak setetespun tumpah.

Sin-tung Lo-kai dan puterinya saling pandang penuh kekaguman, demikian pula kedua orang pengemis tua, yakni Bu-beng Sin-kai dan Sam-thouw hok ciang kai, menjadi pucat menyaksikan demonstrasi tenaga Iweekang yang tiada bandingnya bagi mereka ini.

"Kau bilang tadi Pulau San liong to, Liem-kongcu? Dan yang tinggal diatas pulau itu Lamhai Lo-mo si keparat tua? Bagus sekali, sudah kuduga bahwa semua musuh ayah yang tiuggal di pulau itu!"

Semua mata kini memandang kepada Siauw Yang, akan tetapi nona ini tidak melanjutkan kata-katanya, sebaliknya minta kepada Pun Hui untuk menceritakan pengalaman dan perjumpaannya dengan nona baju merah itu.

Mendengar ini, Sin-tung Lo-kai juga membujuk agar Pun Hui suka mencentakan pengalamannya di atas pulau bajak itu.

Maka berceritalah Pun Hui, Ia menceritakan betapa kapal yang membawanya dan juga para penumpang lain telah dirampok oleh bajak laut-bajak laut yang bertubuh kate, kemudian betapa dia dan wanita wanita yang diculik dibawa ke atas sebuah pulau kosong Terutama sekali ia menceritakan kaadaan Ong Siang Cu, yang amat dipuji-pujinya sebagai seorang dara yang gagah perkasa, berkepandaian tinggi dan berbudi mulia, lagi cantik pula.

Entah mengapa, terjadi hal yang amat aneh pada diri Siauw Yang.

Mendengar betapa pemuda sasterawan itu memuji-muji nona baju merah yang bernama Ong Siang Cu, ia merasa perutnya panas dan hatinya amat iri.

"Aku akan cari iblis tua dan kuntilanak itu, dan aku kubasmi mereka "

"Lihiap (nona pendekar), boleh jadi kakek yang disebut Lam-hai Lomo itu iblis tua, akan tetapi nona Siang Cu sekali-kali bukan kuntianak!"

Pun Hui membela Siang Cu, karena dalam ingatannya, nona baju merah itu amat cantik jelita dan yang telah membuat hatinya tertarik.

Makin panas perut Siauw Yang mendengar "Bukan kuntianak katamu?

Gurunya iblis tua muridnya apalagi kalau bukan kuntianak?"

Sambil berkata demikian, lenyaplah wajah yang berseri, terganti oleh wajah seorang gadis yang sedang mendongkol, gemas, dan marah-marah.

Sin-tung Lo-kai sendiri merasa heran mengapa Siauw Yang begitu marah-marah dan agaknya amat membenci gadis baju merah itu.

Kalau Siauw Yang membenci Lam-hai Lo-mo, hal ini ia dapat mengerti karena memang Lam-hai Lo-mo adalah dwmusuh besar dari Thian-te Kiam-ong Song Bun Sam, ayah nona ini.

Akan tetapi nona baju merah murid Lam hai Lo-mo itu baru saja muncul dan agaknya tidak ada alasan bagi Siauw Yang untuk marah-marah dan benci kepadanya.

"Aku sendiri tidak berani memastikan apakah murid Lam hai Lo-mo itu juga jahat seperti gurunya, akan tetapi ia memang lihat sekali, bahkan ilmu pedangnya kulihat tidak kalah lihainya dengan ilmu pedangmu, nona Song. Aku hanya melihat dia seorang gadis pendiam dan juga keras hati, ternyata dari gerakan pedangnya yang amat ganas dan tidak mengenal kasihan."

"Akan kucoba kepandaiannya itu sampai di mana tingginya. Akan kucari mereka di Sam-liong-to!"

Kata Siauw Yang dengan gemas.

Makin tinggi orang.memuji-muji nona baju merah itu, makinkz panaslah hatinya.

Melihat suasana menjadi panas, Sin-tung Lo kai lalu menuang arak lagi ke dalam cawan dan mempersilahkan semua orang minum arak.

Kemudian ia tersenyum dan berkata.

"Minum arak di antara orang-orang segolonga, benar benar mendatangkan rasa bahagia dan gembira, Nona Song, biarpun kau hanya seorang gadis muda, namun menghadapi kau minum tuak, aku merasa seakan-akan berhadapan dengan Thian-te kiam-ong sendiri, maka tidak salahnya kau kujadikan saksi atas keinginan hatiku yang hendak ku utarakan sekarang juga."

"Keinginan hati yang manakah, lo-enghiong?"

Tanya Siauw Yang. Sin tung Lo kai tidak segera menjawab, hanya tersenyum dan kini berkata kepada kedua orang pembantunya. yakni Bu-beng Sin kai dan Sam-thouw-liok ciang-kai.

"Kalian berdua juga dengarkan baik-baik, karena di samping nona Song yang menjadi saksi terhormat, kalian juga harus menjadt saksi pula atas pertanyaanku yang akan kuutarakan ini."

"Baik, suhu, teecu bersedia."

Jawab Bu-beng Sinn kai dan Sam-thouw-liok-ciang kai hampir berbareng, Kini Sin-tung Lo kai memandang kepada Pun Hui, lalu kepada puterinya sendiri, yakni Thio Leng Li yang duduk memandang kepada ayahnya dengan mata bertanya.

Setelah itu, kembali kakek ini memandang kepada Pun Hui, sinar matanya langsung mcnembus sampai ke dalam dada pemuda ini.

"Liem siucai, aku sudah mendengar penuturan tadi bahwa kau adalah seorang siucai pengembara yang sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Terus terang saja, dahulu aku paling tidak suka kepada orang-orang terpelajar karena sebagian orang-orang terpelajar terlalu tebal berbedak, terlalu tebal menutup keburukan dengan keindahan dan bersopan-sopan, terlalu memandang rendah kepada kaum bodoh seolah-olah mereka itu merupakan manusia manusia agung yang mempunyai kelompok tersendiri. Akan tetapi melihat kau sekaligus lenyaplah anggapan itu dan sekarang ternyata bahwa manusia tak dapat dipersamakan dengan benda lain, dan bahwa di antara yang tidak baik terdapat pula yang benar. Juga tidak kurang orang-orang bu ( ahli silat ) yang berwatak jahat sekali, di samping sebagian besar yang menjadi pendekar gagah dan budiman. Melihat kau, aku suka sekali dan karenanya aku mengambil kepututan untuk memberikan puteriku Leng Li kepadamu "

Setelah kakek mi bicara, hening sekali keadaan di situ.

Sungguh menarik kalau orang memperhatikan dan mempelajari wajah orang-orang yang mendengar omongan Sio lung Lo-kai di waktu itu.

Bu-beng Sin kai mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah bersungguh-sungguh, Sam-thouw liok ciang kai tersenyum-senyum lebar dan sepasang matanya melirik-lirik ke arah Leng Li dan Pun Hui.

Leng li sendiri menundukkan mukanya yang tiba tiba menjadi merah sekali sampai ke telinganya, dan gadis ini lama sekali tidak berani bergerak jari-jari tangannya saja yang utak-utik menggurat gurat ujung meja.

Pun Hui memandang kepada Sin tung Lo-kai dengan mata terbelalak dan wajahnya sebentar pucat sebenrar merah, Yang paling aneh adalah sikap Siauw Yang karena gadis ini entah mengapa tiba-tiba mukanya menjadi pucat dan matanya memandang kepada Sin-tung Lo kai dengan tajam sekali.

"Lo-enghiong... apa...... apakah yang kau maksudkan?"

Tanya Pun Hui bingung sekali, tidak tahu harus berkata apa. Sin tung Lo-kai tertawa bergelak.

"Artinya? Aku hendak menjodohkan anakku ini kepadamu, Liem-siucai. Jelaskah itu?"

Belum Liem Pun Hui menjawab, tiba-tiba Siauw Yang berdiri dari bangkunya dan berkata dengan suara kering "Maaf, aku tidak bisa menjadi saksi dalam hal Ini karena selamanya aku tidak pernah dan tidak mau menjadi.......

.comblang."

Setelah berkata demikian, sekali melompat gadis ini telah keluar dari rumah itu.

Semua orang memandang heran ke arah pintu depan dari mana Siauw Yang melompat keluar.

Leng Li nampak marah sekali dan sepasang matanya yang jeli menatap ke arah pintu dan ketika tubuhnya bergerak seakan akan ia hendak mengejar dan memberi hajaran kepada nona yang dianggap telah menghinanya itu.

ayahnya mengangkat tangan memberi tanda supaya, ia duduk diam saja.

"Biarlah kalau nona Song tidak mau menjadi saksi, itupun tidak apa."

La lalu berkata lagi kepada Pun Hui.

"Liem-sucai, kau tidak usah khawatir. Kami yang akan menanggung semua keperluan pernikahan. Dan menurut pendapat dan rencanaku, libih baik pernikahan dilakukan secepat mungkin kalau dapat dalam pekan ini juga. Setelah selesai pernikahan barulah hatiku yang tua ini akan merasa puas."

Bukan main bingungnya hati Pun Hui.

"Lo-enghiong...... siauwte,...siauwte bersedia untuk menolong kalian ini dengan apapun juga, akan tetapi... kawin......? Siauwte..... siauwte tidak berani menerimanya. lo-enghiong."

Tiba tiba sepasang alis Sin tung Lo-kai berdiri dan inilah tanda bahwa dia marah sekali. Leng Li menjadi pucat mukanya dan dua orang kakek pengemis menjadi gelisah.

"Liem siucail Apa maksud kata-katamu itu ? Kau berani menghina kami? Berani menghina aku, Sin-tung lo-kai?"

"Tidak, lo-enghiong, sekali-kali siauwte tidak berani menghina dan tidak bermaksud menghina. Hanya tentang perjodohan ini...... siuwte benar-benar tak dapat menerimanya......"

"Jadi, pendek kata kau menolak?"

Pun Hui adalah seorang pemuda yang berhati tabah sekali.

Kalau tadi ia bicara dengan gagap, adalah karena ia merasa bingung dan tidak enak sekali, khawatir menyinggung perasaan kakek itu.

Kini ia berpendapat bahwa dalam hal ini tidak perlu lagi ada perasaan sungkan-sungkan, karena kalau tidak bisa menimbulkan salah pengertian, lebih baik berterus terang saja.

Oleh pikiran ini, dengan suara tetap ia memandang tajam!-"Demikian kiranya, lo-enghiong.

Siauwte tidak berani menerima dan karenanya siauwte menolak usul dan penghormatan yang bodoh dan rendah ini."

Sin-tung Lo-kai tiba-tiba bergerak cepat, berdiri dan duduknya dan ia sekali ayun tangan, ujung meja itu pecah dan mengeluarkan suara keras seperti di bacak oleh kapak yang tajam.

"tidak tahukah kau bahwa menolak berarti penghinaan besar bagi Sin-tung Lo-kai? "

Suaranya menggigil, alisnya berdiri dan mukanya menjadi merah sekali.

Sementara itu, terdengar isak tertahan dan Leng Li lalu bangkit dari duduknya, berlari sambil menutupi kedua matanya, masuk ke dalam kamar di sebelah dalam rumah itu.

"Ah, Liem-siucai, kau mencari penyakit sendiri ....."

Kata Bu-beng Sin-kai menggeleng-geleng kepalanya dengan muka penuh kekhawatiran.

"Liem-siucai, jangan begitu kukuh. Kau masih belum beristeri, kau sebatangkara dan ketahuilah, banyak sekali pemuda terpelajar dan gagah perkasa yang ingin sekali menjadi mantu dari suhu......."

Kata Sam-thouw-liok-ciang-kai membujuk Makin bernyala api yang membakar dada Sin tung Lo-kai.

Memang banyak sekali pemuda-pemuda yang gagah perkasa dan terpelajar tinggi mengharapkan menjadi suami Leng Li, banyak yang sudah menyindirnya dan mengharapkan uluran tangannya.

Akan tetapi ia masih belum rela melepaskan puterinya, karena belum melihat canon mantu yang mencocoki hatinya.

Dan sekarang, pemuda lemah ini, pemuda sebatangkara yang miskin ini, hanya karena ia tertarik akan semangat dan kecerdikan pemuda ini, maka mau mengambil mantu, pemuda ini bahkan menolaknya mentah-mentah.

"Liem-siucai, tahukah kau bahwa siapa berani menghina Sin-tung Lo kai berarti dia harus mati?"

Sesungguhnya, Liem Pun Hui bukanlah pemuda yang takut akan gertakan.

Makin ia ditekan, makin beranilah dia.

tidak percuma bahwa dia menjadi cucu dari Liem Hoat, panglima perang yang amat terkenal akan kegagahannya.

Hanya karena oleh ayahnya ia dididik kesusasteraan maka ia menjadi seorang pemuda yang bertubuh lemah lembut, namun semangatnya tetap bergelora dan ketabahannya amat mengagumkan.

Ayahnya dan sekeluarganya telah habis menjadi korban perang ketika tentara Goan menyerang dan menduduki Tiongkok.

Kini, menghadapi tekanan dari Sin-tung Lo-kai, bangkitlah keangkuhannya dan lapun berdiri dari bangkunya.

"Lo-enghiong, andaikata memang sudah menjadi watak dan aturan lo-enghiong untuk membunuh orang demikian mudah, silahkan. Siauwte tidak merasa bersalah Siauwte datang sebagai tamu dan tentang perjodohan bukanlah urusan yang dapat dipaksa-paksa begitu saja. Menolak usul perjodohan bukan termasuk penghinaan, karena penolakan siauwte tadi, siauwte lakukan dengan sopan. Bagaimana siauwte dapat dianggap menghina?"

"Setan muda! Kau bahkan berani menentang. Sin-tung Lo-kai biasa mengorbankan nyawa untuk menolong orang. Akan tetapi kalau ia dibina, biar giamlo-ong (malaikat maut) sendiri yang datang menghina, akan kuhancurkan kepalanya."

"Siauwte tidak merasa menghina dan sekarang... siauwte mohon diri. Tak berani siauwte mengganggu lo-enghiong lebih lama lagi. Terima kasih atas segala penyambutan yang ramah tamah dan percayalah, siauwte akan selalu mengingat lo-enghiong sebagai seorang gagah yang budiman."

Setelah berkata demikian. Pun Hui menjura kepada tiga orang kakek pengemis itu, lalu berjalan keluar dengan sikap tenang, sama sekali tidak kelihatan takut.

"Tidak ada orang yang menghina Sin-tung Lo-kai dapat pergi begitu saja sebelum meninggalkan nyawanya!"

Bentak Sin-tung Lo-kai dan tubuhnya berkelebat keluar mengejar Pun Hui, Setibanya di luar rumah, Pun Hui mendengar bentakan ini dan dia segera membalikkan tubuh menghadapi Sin-tung Lo-kai yang sudah berdiri di hadapannya dengan muka menyeramkan.

"Lo-enghiong memaksa hendak membunuh siauwte? Nah, silahkan karena sieawte tentu saja tidak sanggup melawan,"

Kata Pun Hui "Orang muda, sekali lagi, mau tidak kau menerima usulku tadi?"

Tanya pula Sin-tung Lo-kai yang pada saat itu masih saja kagum sekali menyaksikan ketabahan pemuda mi.

Di antara seribu orang muda, belum tentu ia akan bertemu dengan seorang seperti Pun Hui Pun Hui menggeleng kepalanya.

"Siauwte belum ada niat untuk menikah dan siauwte tidak mau dipaksa dalam hal ini."

"Kalau begitu matilah!"

Sambil berkata demikian, Sin-tung Lo kai menggerakkan tongkat merahnya yang berbentuk ular itu ke arah kepala Pun Hui yang meramkan mata menanti datangnya tangan maut yang menjangkau nyawanya.

"Trang....."

Sin-tung Lo-kai berseru kaget dan melompat mundur.

Ketika tadi tongkatnya berkelebat ke arah kepala Pun Hui, tiba riba nampak sinar kuning emas menyambar dan menangkis tongkatnya.

Ternyata Siauw Yang sudah berdiri dihadapannya dengan pedang Kim-kong-kiam (Pedang Sinar Kuning Emas) di tangannya.

Gadis ini berdiri dengan Sikap gagah dan tersenyum sindir.

"Benar kata ayah bahwa tokoh-tokoh kang-ouw yang aneh, di samping sifatnya yang baik dan wataknya sebagai pendekar besar, mempunyai sifat khusus yang aneh dan kadang-kadang jahat. Agaknya Sin tung Lo-kai mempunyai sifat khusus ini. yaitu suka memaksakan kehendak sendiri kepada lain orang dan tidak menghargai perasaan dan pikiran orang lain."

"Puteri Thian-te Kiam-ong, kau mau apa?"

Sin-tung Lo kai membentuk makin marah.

"Sin-tung Lo-kai, sebelum aku menjawab, akupun mempunyai pertanyaan yang sama, yakni kau mau apakah bermain-main dengan tongkatmu di atas kepala Liem-siucai ini?"

Siauw Yang masih tersenyum simpul manis sekali, akan tetapi siapa saja yang sudah mengenal baik watak gadis ini, senyum yang semanis-manisnya dan gadis ini membayangkan bahaya besar, karena setiap saat Siauw Yang marah dan bersiap untuk bertempur, keluarlah senyumnya yang paling manis.

"Bocah lancang. Kau sudah pergi tanpa pamit, berarti kau sudah menjadi orang luar. Mengapa kau hendak mencampuri urusan pribadiku dengan tamuku ini?"

"Kalau Liem siucai masih duduk di dalam rumahmu, berarti dia tamumu. Akan tetapi dia sudah keluar dari rumahmu dan dia seperti aku pula, telah menjadi orang luar atau orang di jalan. Aku seujung rambutpun tidak perduli akan urusan pribadimu, tidak perduli kepada siapa kau hendak memberikan puterimu itu. Akan tetapi, melihat orang tak berdosa hendak dibunuh begitu saja, ah, aku terpaksa harus mentaati pelajaran ayahku, bahwa kalau aku melihat seorang lemah tak berdosa ditindas oleh yang kuat dan jahat. aku harus turun tangan membelanya."

"Bagus, puteri Tian-te Kiam-ong kurang ajar dan tak tahu malu. Jadi kau tidak setuju kalau pemuda ini menjadi mantuku, bahkan hendak mencegahnya menjadi suami Leng Li dan hendak membela dan melindunginya?. agaknya kau lebih suka kalau ayahmu yang mengambilnya sebagai mantu, bukan??"

Hinaan yang keluar dari hati yang sedang panas ini membuat sepasang mata Siauw Yang yang indah itu berkilat-kilat seakan-akan mengeluarkan bunga api.

Tangan kiri gadis ini bertolak pinggang dan tangan kanannya menudingkan pedang ke arah hidung Sin-tung Lo kai, dan suaranya nyaring sekali.

"Setan tua Sin-tung Lo kai. Jagalah lidahmu yang kotor itu! Pemuda ini akan menjadi mantu siapapun juga bukan urusanku dan kau akan menjodohkan puterimu dengan siapapun juga aku tidak ambil pusing. Pendeknya kau tidak boleh membunuh siapapun juga tanpa bersalah. Tak mungkin kau dapat berlaku sewenang-wenang pada saat aku berada di hadapanmu. Kau mau melepaskan Liem siucai dengan aman baik, aku takkan ambil perduli selanjutnya. Akan tetapi kalau kau tetap mau membunuhnya, juga baik, pedangku sudah siap menanti tongkatmu."

Inilah tantangan secara berdepan Sin-tung Lo-kai memang berwatak berangasan dan biarpun ia amat kagum den segan kepada Thian-te Kiam ong, namun ditantang oleh seorang gadis muda seperti Siauw Yang.

tentu saja ia menjadi mata gelap.

"Bocah masih bau pupuk, kau kurang ajar sekali, harus diberi hajaran keras!"

Sambil berkata demikian, tongkatnya menyambar cepat sekali dan tongkat ular itu seperti hidup menusuk ke arah leher Siauw Yang.

"Lihiap, hati-hati.........."

Tak terasa pula Pun Hui yang berdiri menjauhi gelanggang pertempuran itu berseru, la amat gelisah, takut kalau kalau gadis yang gagah dan jelita itu akan menjadi korban hanya karena membelanya, la benar-benar merasa serba susah.

Dalam keadaan seperti ini.

teringatlah ia kepada gurunya dan ingin sekali ia memiliki ilmu silat tinggi agar ia dapat berjuang sendiri mempertahankan hidupnya, tidak mengandalkan dan membahayakan keselamatan lain orang, apalagi orang seperti nona ini yang amat menarik hatinya.

Namun, walaupun baru hanya menguasai dua pertiga saja dari ilmu pedang ini, kepaudaian Siauw Yang sudah demikian hebat sehingga agaknya dengan mudah ia akan dapat menjagoi dunia kang-ouw di antara orang-orang muda sebaya dengan dia.

Hal ini harus diakui pula oleh Sin-tung Lo-kai, jago tua yang sudah banyak sekali menghadapi pertempuran pertempuran besar.

Dengan tongkat ular merahnya, Sin-tung Lo-kat sudah puluhan tahun malang-melintang di dunia kang-ouw dan jarang sekali menemui tandingan kecuali tokoh-tokoh besar yang merupakan sederetan orang-orang berilmu tinggi dan sakti serta menduduki tingkat tertinggi seperti Mo-bin Sin-kun, Lam hay Lo-mo dan akhir-akhir ini Thian-te Kiam-ong dan lain-lain.

Dengan mereka ini, biarpun ia masih kalah tinggi kepandaiannya, namun boleh dibilang sudah sama tingkatnya.

Akan tetapi, setelah kini ia menghadapi permainan pedang dari Siauw Yang, terpaksa ia harus mengakui bahwa ilmu pedang yang diturunkan oleh mendiang Bu-tek Kiam-ong Si Raja Pedang tanpa tandingan, benar-benar semacam ilmu pedang yang aneh dan sukar sekali dilawan.

Kemana saja tongkatnya menyambar, selalu bertumbuk pada sinar pedang yang kuatnya seperti dinding baja dan amatlah sukar membobolkan benteng pertahanan sinar pedang kuning emas itu.

Sebaliknya, baru sekarang Siauw Yang mengalami pertandingan yang hebat.

Belum pernah ia bertemu dengan lawan yang sekuat Sin-tung Lokai.

Ilmu tongkat lawannya ini biarpun amat lihai, namun ia tidak jerih menghadapinya.

Yang membuatnya sukar mendapat kemenangan adalah kenyataan bahwa selain dalam hal tenaga Iweekang dia kalah jauh sekali, juga ia kalah matang dalam gerakan-gerakannya, serta tidak memiliki kembangan gerakan sebanyak yang dimiliki kakek pengemis ini.

Dengan kekalahan pengalaman serta kematangan ilmu silat, berarti bahwa untuk dua jurus gerakan lawan, ia harus mengimbanginya dengan tiga jurus.

Hal ini tentu saja makan banyak tenaga.

Dia kalah tenang dan kalah ulet.

Baiknya kekalahannya ini ditutup oleh kemenangannya dalam hal ilmu pedang karena memang ilmu pedangnya benar-benar dapat menguasai dan menindih ilmu tongkat dari Sin-tung Lo-kai yang sebetulnya juga merupakan ilmu pedang yang dirobah gerakannya, disesuaikan dengan tongkat yang berbentuk ular itu.

Serang-menyerang terjadi amat sengitnya.

Pun Hui sudah merasa pening kepalanya dan pandang matanya silau karena kini dia tidak dapat melihat lagi mana.

Siauw Yang dan mana Sin-tung Lo kai.

Yang terlihat olehnya hanya dua gundukan sinar merah dan kuning emas, yang kadang-kadang panjang seperti ular terbang dan kadang-kadang pendek ganas seperti harimau mengamuk.

Tidak terdengar sedikit pun suara dalam pertandingan ini melainkan suara nyaring dari beradunya kedua senjata dibarengi dengan muncratnya bunga bunga api.

-ooodwooo-

Jilid XXI JANGANKAN Pun Hui yang tidak mempunyai kepandaian silat, sedangkan dua orang kakek pengemis, Bu beng Sin kai dan Sam thouw liok ciang kai yang sudah memiliki kepandaian tinggi, juga merasa silau menyaksikan pertandingan ini.

Mereka berdua maklum bahwa tingkat kepandaian puteri Thian te Kiam ong ini benar benar tinggi sekali dan andaikata mereka berdua diharuskan membantu suhu mereka, agaknya mereka tidak tahu harus bergerak bagaimana.

Melihat betapa sinar kuning emas itu amat kuat gerakannya, Bu beng Sin kai mulai merasa khawatir.

Hanya Leng Li yang tingkat kepandaiannya dalam ilmu pedang sudah cukup tinggi dan agaknya hanya puteri suhunya itulah yang akan dapat membantu.

Teringat akan hal ini, Bu beng Sin kai diam diam lalu berlari memasuki rumah untuk memberi tahu kepada Leng Li yang sampai demikian jauh belum juga muncul.

Akan tetapi, tidak lama kemudian Bu beng Sin kai berlari keluar kembali dengan wajah berubah seperti orang gelisah.

"Suhu, celaka...... nona Leng Li telah lari pergi.... !"

Pada saat itu, Sin tung Lo kai tengah menyerang Siauw Yang dengan bernafsu, dan gerakan tongkatnya makin lama makin nekad.

Agaknya orang tua ini merasa malu dan penasaran sekali karena sudah hampir seratus jurus, belum juga ia dapat mendesak nona muda ini, apalagi mengalahkannya!

Akan tetapi, ketika ia mendengar ucapan muridnya itu, tiba tiba ia melompat mundur dan menancapkan tongkatnya di atas tanah.

Tongkat itu amblas sehingga tongkat ular itu kini hanya kelihatan kepalanya saja, seperti seekor ular yang bersembunyi di dalam tanah dan menjenguk keluar dari dalam lubangnya.

Siauw Yang juga tidak mau menyerang, dan menarik kembali pedangnya.

Napas nona ini agak terengah engah dan wajahnya yang merah itu basah oleh peluh.

Pertempuran tadi benar benar melelahkan dan baginya merupakan pengalaman dan latihan yang amat berguna.

Kini ia memandang kepada Sin tung Lo kai yang mukanya berobah menjadi pucat sekali.

"Apa yang dibawanya?"

Tanyanya dengan suara parau tanpa menoleh kepada Bu beng Sin kai.

"Semua pakaian dan tongkatnya,"

Jawab murid ini dengan perlahan, dan ia agak jerih menyaksikan suhunya demikian pucat.

"Dan apa yang ditinggalkannya?"

"Hanya sepotong surat ini, suhu,"

Jawab Bu beng kai sambil mengeluarkan sehelai kertas dari saku bajunya.

"Baca!"

Bu beng Sin kai merasa ragu ragu dan memandang kepada Pun Hui dan Siauw Yang.

Di depan orang orang luar bagaimana ia harus membaca surat itu?

Menyaksikan keraguan muridnya, Sin tung Lo kai yang sekarang menoleh kepadanya menjadi marah.

"Baca, kataku. Yang keras!"

Terpaksa Bu beng Sin kai membaca surat itu.

Ayah yang tercinta, Anak terpaksa pergi karena tidak kuat menanggung rasa malu yang diakibatkan oleh tindakan ayah sendiri.

Liem kongcu tidak bersalah, dia berhak menentukan jodohnya sendiri.

Akan tetapi ayah telah menawarkan diriku terlalu murah dengan jalan memaksa maksa orang menjadi suamiku.

Selamat tinggal, ayah, jaga dirimu baik baik.

Anakmu yang puthauw (tidak berbakti), Thio Leng Li.

Setelah Bu beng Sio kai berhenti membaca, Sin tung Lo kai lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah, memukul kepala sendiri sambil berkata berkali kali.

"Ya, ya.... aku yang salah! Aku yang salah...!"

Kemudian ia menjambak jambak rambutnya dan menangis sambil menutupi muka dengan kedua tangannya!

Pun Hui memang memiliki semangat besar dan ketabahan yang mengagumkan, akan tetapi sebagai seorang sasterawan, ia memiliki perasaan yang amat halus dan mudah tersinggung.

Melihat keadaan kakek itu, ia menjadi terharu sekali dan ia lalu menghampiri Siu tung Lo kai dan berlutut di dekatnya.

"Lo enghiong, maafkan siauwte.... sesungguhnya siauwtelah yang bersalah sehingga menimbulkan peristiwa ini."

Tiba tiba kakek itu melepaskan kedua tangan nya dari depan mukanya dan berkata keras sekali.

"Pergi kau! Pergi.... !"

Pun Hui terkejut sekali dan segera bangkit berdiri, lalu menjura dan berjalan pergi. Sin tung Lo kai memandang ke arah Siauw Yang yang masih berdiri dan berkata.

"Puteri Thian the Kiam ong, aku tadi dikuasai nafsu, maafkanlah. Kau terlalu lihai untukku."

Lenyap kemarahan Siauw Yang setelah melihat keadaan kakek ini dan kini mendengar pula kata kata merendah ini.

Memang Siauw Yang jarang sekali marah dan kalau sekali ia marahpun mudah saja kemarahannya itu lenyap, ia memiliki watak gembira dan jenaka.

"Tidak apa, lo enghiong. Dan tentang kepandaian, kau menang beberapa kali lipat dari padaku. Terima kasih atas pelajaran tadi dan selamat tinggal!"

Gadis inipun pergi dan berlari cepat menyusul Pun Hui! "Liem siucai, perlahan dulu......!"

Mendengar suara panggilan yang nyaring ini, tiba tiba Liem Pun Hui menahan tindakan kakinya.

Tidak hanya kakinya yang tertahan untuk beberapa detik, ia mengenal baik suara itu, suara yang baru saja dikenalnya beberapa jam, akan tetapi yang selalu bergema di dalam telinganya seperti suara orang yang sudah amat lama dikenalnya.

Itulah suara Siauw Yang Puteri Thian te Kiam ong yang secara mati matian telah melindunginya dari kemarahan Sin tung Lo kai!

Dugaannya memang tidak salah.

Ketika ia membalikkan tubuhnya, gadis itu telah berdiri di depannya, cantik dan gagah dengan wajah riang dan senyum manis yang membuat segala sesuatu campak berseri.

"Nona Song,"

Katanya sambil menjuri dengan hormatnya, alangkah senangnya hatiku melihat kau selamat dan terbebas dari orang tua yang galak itu. Siauw Yang tersenyum.

"Sin tung Lo kai galak luar saja, padahal di dalam hatinya dia seorang berbudi tinggi. Setiap orang mempunyai kelemahannya sendiri dan bagi Sin tung Lo kai, kelemahannya adalah sikapnya terhadap pulennya. Eh, Liem siucai, kulihat nona Leng Li itu gagah perkasa dan cantik jelita, mengapa kau.... menolak dia?"

Wajah Pun Hui menjadi merah dan untuk beberapa lama ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ini.

Akan tetapi pandang mata dara itu menghendaki jawaban dan gadis dengan mata seperti ini tak mungkin pertanyaannya tidak terjawab.

"Sebab sebabnya banyak, nona. Pertama karena aku belum ada keinginan untuk berumah tangga, ke dua, karena aku tidak mau dipaksa begitu saja, dan ke tiga, karena.... agaknya karena aku tidak merasa cocok dengan nona Leng Li."

"Kau tinggi hati!"

"Bukan begitu, Song siocia (nona Song),"

Jawab Pun Hui sungguh sungguh."Aku adalah seorang yang hidup miskin, sebatang kara dan hanya merupakan sisa dari keluargaku yang terbasmi habis oleh kekejaman orang orang jahat.

Kalau aku menerima saja orang memaksaku untuk menikah dengan siapa saja yang dikehendaki oleh orang lain, aku akan menjadi seorang yang tidak ada artinya sama sekali, yang tidak berhak hidup pula.

seperti sebuah boneka saja.

Manusia harus bercita cita, nona."

Senyum Siauw Yang melebar. Memang pemuda ini pandai sekali bicara dan pandai menyusun kata kata yang indah indah.

"Agaknya kau memiliki cita cita yang tinggi dan hebat, saudara Liem. Bolehkah aku mengetahuinya?"

Liem Pun Hui mengerutkan keningnya."Semenjak kecil aku belajar ilmu bun (kesusasteraan) dengan susah payah.

Akan tetapi sekarang teraya ia jelas olehku bahwa dalam keadaan negara kalut dan dikuasai oleh pemerintah lalim, ilmu kepandaian bun tidak ada artinya sama sekali.

Orang tua dan keluargaku dibunuh, orang orang jahat merajalela di dunia, dan apakah yang dapat dilakukan oleh seorang lemah seperti aku dengan pensilku?

Aku harus mencari dari mempelajari ilmu bu (ilmu silat) sehingga seperti juga kau nona dan lain lain orang gagah, darat berbuat banyak bagi orang lain atau bagi rakyat, membela mereka yang tertindas."

Makin berseri muka Siauw Yang yang manis.

"Jadi kau ingin belajar silat?"

"Bahkan aku sudah mempunyai seorang guru yang pandai, akan tetapi sayang sekali sampai sekarang guruku itu belum juga datang. Suhu berjanji akan datang menjemputku dalam waktu sebulan di dalam hutan itu, maka sekarang aku hendak ke dalam hutan menanti datangnya suhu."

Siauw Yang tertarik sekali dan diam diam ia memuji pemuda ini yang berkemauan keras.

"Mempelajari ilmu silat tidak mudah, harus mendapatkan seorang guru yang benar benar pandai. Lihaikah ilmu silat gurumu itu, saudara Liem?"

Pun Hui memandang bangga.

"Suhu memiliki kepandaian yang luar biasa lihainya, agaknya tidak akan Kalah oleh kepandaian Sin tung Lo kai!"

Katanya gembira.

Siauw Yang tersenyum.

Mana bisa pemuda yang belum mengerti tentang ilmu silat tinggi ini mengadakan perbandingan?

Kepandaian Sin tung Lo kai sudah tinggi sekali dan jarang ada orang yang dapat disamakan dengan dia.

"Hebat !"

Katanya dengan senyum."Siapakah suhumu yang hebat dan lihai itu?"

"Suhuku dijuluki Sin pian (Ruyung Sakti) dan bernama Yap Thian Giok tokoh Sian hoa san."

Kali ini Siauw Yang benar benar heran dan terkejut sehingga senyumnya lenyap, matanya terbelalak lebar memandang kepada pemuda itu.

"Apa katamu? Kau diambil murid oleh Sin pian Yap Thian Giok, tokoh Sian hoa san? Ketahuilah, dia itu adalah supekku (uwa guru). Yap supek adalah murid Mo bin Sin kun, dan ayahku pernah pula menjadi murid Mo bin Sin kun. Selain ada hubungan perguruan ini, juga antara ayah dan Yap supek terdapat hubungan persahabatan yang melebihi persaudaraan eratnya!"

Bersinar gembira wajah Pun Hui mendengar ini.

"Kalau begitu...."

Katanya.

"Kalau begitu.... ?"

Siauw Yang menyambung. Keduanya saling pandang, dan jelas nampak bahwa keduanya merasa amat gembira dengan adanya pertalian hubuugan antara mereka ini.

"Kalau begitu masih ada pertalian dekat antara kita!"

Kata Pun Hui.

"Memang betul. Kau murid supek, jadi boleh dibilang adalah suhengku (kakak seperguruan ku)."

"Dan kau adalah sumoiku (adik seperguruanku)!"

Keduanya tersenyum, lalu tertawa. Pun Hui tertawa lebar lalu berkata.

"Suheng macam apakah aku ini? Kau sebagai sumoinya memiliki kepandaian begitu tinggi dan lihai sedangkan aku yang disebut suhengmu, menangkap lalatpun tidak becus!"

"Jangan bilang begitu, suheng. Hal ini tidak aneh karena kau memang belum mempelajari ilmu silat. Pula, kepandaian manusia tidak bisa diukur melihat keistimewaan masing masing saja. Biarpun dalam ilmu silat mungkin sekali aku jauh lebih pandai dari padamu, akan tetapi dalam ilmu kesusasteraan, kalau diadakan perbandingan, kepandaianmu setinggi langit dan kebisaanku hanya serendah bumi! Sekarang harap kau ceritakan kepadaku bagaimana kau sampai bertemu dengan Yap supek dan bagaimana pula sampai bisa diambil sebagai murid."

Keduanya lalu duduk di atas batu karang di bawah pohon dan mulailah Liem Pun Hui mencernakan semua pengalamanya di kota raja.

Betapa semua keluarganya dan keluarga pamannya habis dibunuh, dan betapa ia dengan nekad menulis sajak mencela kaisar dan orang orang besar yang mengandalkan pangkatnya melakukan perbuatan jahat.

Kemudian betapa ia ditolong oleh Yap Thian Giok dan akhirnya diambil murid.

Siauw Yang terharu sekali mendengar nasib pemuda yang menarik hatinya ini.

Ia makin kagum.

Pemuda ini benar benar memiliki semangat dan keberanian yang besar.

Orang dengan kepandaian silat tinggi belum tentu berani melakukan penghinaan kepada kaisar di depan umum seperti yang dilakukan oleh Pun Hui ini.

"Kau patut menjadi murid Yap supek,"

Katanya.

"Sumoi, aku benar benar girang sekali mendengar bahwa kau yang kuanggap sebagai seorang pendekar wanita yang sakti, ternyata terhitung sumoiku sendiri. Sekarang kau hendak ke manakah dan mengapa kau tadi mengejar ku?"

"Terus terang saja, suheng. Tadi sebelum aku tahu bahwa antara kita masih ada hubungan persaudaraan seperguruan, aku hendak memaksamu supaya ikut dengan aku sebagai penunjuk jalan ke Pulau Sam Liong To, karena kau pernah berada di dekat pulau itu ketika dibawa oleh bajak laut sebagaimana tadi kauceritakan di rumah Sin tung Lo kai. Akan tetapi sekarang setelah mengetahui bahwa kau masih terhitung suheng sendiri, niatku lebih kuat lagi. Aku minta kau meninggalkan tempat ini dan harap kau suka membawaku ke Pulau Sam Liong to, suheng."

Pun Hui tertegun.

"Memang aku sudah tahu di mana adanya pulau bajak itu, sumoi. Akan tetapi sungguhpun di dekat situ pasti ada Pulau Sam liong to tempat tinggal nona Siang Cu, bagaimana aku bisa pergi dan sini? Kalau suhu datang.... dan aku tidak ada di sini...."

"Soal supek, jangan khawatir. Kalau supek tahu bahwa kau pergi dengan aku, supek takkan marah. Adapun tentang pelajaran ilmu silat, sebagai dasar dasar pertama, kau dapat belajar dariku, suheng. Kalau ada kemarahan dari supek, aku yang bertanggung jawab. Yang terpenting bukanlah ini saja, akan tetapi andaikata kau tidak pergi dengan aku, tetap saja kau harus meninggalkan tempat ini. Kau tahu bahwa tempat ini masih termasuk daerah yang dikuasai oleh perkumpulan pengemis yang dipimpin oleh Sin tung Lo kai. Setelah itu apa yang terjadi antara kau dengan mereka, kurasa tidak baik dan tidak aman bagimu untuk tinggal di daerah ini."

Pun Hui mengangguk angguk.

Memang kata lata dan nona ini tepat dan beralasan sekali, bukan ini saja.

Yang terutama sekali karena Pun Hui memang jauh lebih suka melakukan perjalanan bersama gadis ini daripada menunggu suhunya di dalam hutan.

Keberatan satu satunya bagi dia hanya kalau suhunya marah.

Akan tetapi kini Siauw Yang berani bertanggung jawab, mau apa lagi?

"Baiklah, sumoi.

Aku ikut pergi denganmu untuk menunjukkan di mana adanya pulau bajak laut itu.

Akan tetapi kau harus berhati hati.

Di atas pulau bajak laut itu tinggal dua orang yang lihai sekali, yakni Tung hai Sian jin dan puteranya.

Aku pernah melihat mereka ketika nona Siang Cu datang menolongku dahulu."

Siauw Yang tersenyum.

"Aku sudah pernah mendengar namanya dari ayah. Akan tetapi, aku ke sana bukan untuk berurusan dengan Tung hai Sian jin, melainkan untuk mencari kakek buntung Lam hai Lo mo, musuh besar ayahku!"

Demikianlah, dua orang muda ini lalu berangkat meninggalkan hutan itu, menuju ke utara.

Perasaan keduanya amat gembira, namun hanya dirasa di dalam hati saja karena tentu saja mereka tidak mengutarakan perasaan gembira ini di luar.

Tanpa disadarinya, Siauw Yang merasa amat suka dan tertarik kepada pemuda yang tampan dan halus ini.

Sebaliknya, setelah dekat dengan Siauw Yang, Pun Hui mendanai kenyataan bahwa gadis ini benar benar mencocoki hatinya, dan ia kagum sekali melihat watak yang polos, jujur, dan lincah ini.

Pun Hui amat menghormati kegagahan, tidak saja kegagahan jasmani, terutama sekali kegagahan watak yang tidak berpura pura dan yang benar benar perkasa lahir batin.

Dan gadis ini memiliki semua syarat bagi seorang gagah perkasa.

Namun Pun Hui tahu diri Dan merasa betapa dia tidak memiliki kepandaian silat tinggi, dan merasa pula betapa dia adalah seorang yatim piatu yang miskin.

Sedangkan gadis ini, yang mengaku sebagai sumoi nya, adalah puteri dan Thian te Kiam ong Song Bun Sam, seorang tokoh besar yang demikian dipuji puji dan disebut sebut oleh orang orang pandai, bahkan Sin tung Lo kai sendiripun menyebut nyebut dan memuji mujinya.

Kalau melakukan perjalanan seorang diri, tentu perjalanan itu akan jauh lebih cepat lagi.

Akan tetapi bersama seorang pemuda lemah seperti Pun Hui, bagaimana ia bisa melakukan perjalanan cepat?

Oleh karena itu, ketika pada suatu hari mereka tiba di sebuah kota, di sebelah utara Peking, Siauw Yang membeli seekor kuda.

Semenjak kecilnya, Siauw Yang sudah suka sekali naik kuda dan ia mempunyai pengertian luas tentang kuda yang baik.

Kalau menurut penglihatannya, di antara kuda kuda yang diperdagangkan di situ, tiada seekorpun yang memuaskan hatinya.

Akan tetapi ia hendak membeli kuda bukan untuk dia sendiri, melainkan untuk Pun Hui.

Pertama agar perjalanan dapat dilakukan lebih cepat, ke dua karena ia merasa kasihan melihat pemuda ini yang kelihatannya demikian lelah melakukan perjalanan jauh.

Maka ia memilih kuda yang diangapnya paling kuat di antara semua kuda di situ.

sungguhpun masih jauh untuk dapat memuaskan hatinya.

"Nah, suheng. Ini kudamu, naiklah!"

"Eh, mengapa begitu? Kau yang membelinya dan kau pula yang pantas menaikinya. Kau naiklah, sumoi, biar aku yang menuntunnya di depan."

Pun Hui membantah. Hampir saja Siauw Yang tertawa terpingkal pingkal mendengar ini, akan tetap ia masih dapat menahannya dan hanya tertawa lebar dengan muka geli.

"Suheng, kau bagaimana sih? Membeli kuda untuk ditunggangi agar perjalanan cepat, bukan sekedar ditunggangi agar dapat duduk enak saja. Masa ada orang naik kuda pakai dituntun segala? Sudah, kau naiklah, di antara kita masa mesti pakai sheji sheji (sungkan sungkan) lagi?"

"Mana ada aturan begitu, sumoi? Kau yang membelinya, ini saja sudah merupakan alasan kuat bahwa kau yang berhak menungganginya. Kemudian masih ada lagi. Kau wanita dan aku laki laki, masa aku yang harus menunggang kuda dan kau yang harus berjalan kaki? Ini terbalik namanya. Akulah yang harus berjalan kaki dan kau yang menunggang kuda, ini baru benar!"

"Tidak, suheng. Kau naiklah, biar aku yang berjalan. Dengan demikian, perjalanan akan lebih cepat daripada kemarin."

"Tidak, kau yang menunggang kuda, sumoi"

"Kau saja, suheng."

"Tidak mau, kau yang menunggang kuda!"

Kata Pun Hui berkeras.

"Apa kata orang lain nanti kalau melihat aku tak mengalah?"

Tiba tiba Siauw Yang tertawa geli. Pun Hui yang tidak mengerti mengapa gadis itu tertawa, ikut pula tersenyum, akan tetapi senyumnya masam, karena merasa bahwa dia yang ditertawai.

"Mengapa tertawa, sumoi?"

Tanyanya ketika gadis itu masih saja tertawa terus.

"Aku tertawa karena geli teringat akan sebuah cerita yang lucu. Cerita itu sama benar dengan keadaan kita sekarang ini."

"Cerita? Bagaimanakah cerita itu, sumoi?"

"Begini, suheng. Di jaman dahulu ada dua orang kakak beradik. Kakaknya seorang wanita dewasa dan adiknya seorang laki laki berusia belasan tahun. Mereka melakukan perjalanan dan hanya mempunyai seekor kuda. Si adik mendesak kakaknya agar supaya menunggangi kuda itu dan dia sendiri rela berjalan kaki. Menurutlah si kakak dan ia menunggang kuda, dituntun oleh si adik. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan orang lain yang mencela si kakak, mengatakan bahwa sebagai orang yang lebih besar harus mengalah kepada adiknya. Maka turunlah kakak itu dan si adik kini menggantikannya. Maka turunlah kakak itu dan si adik kini menggantikannya naik kuda. Akan tetapi, belum lama, bertemu pulalah mereka dengan orang lain yang mencela adik itu, mengapa tidak mau mengalah kepada kakaknya seorang wanita. Kedua kakak beradik kebingungan, lalu keduanya menunggangi kuda itu!"

Pun Hui tertawa."Kalau begitu, kuapun bisa menunggangi kuda itu berdua."

Merahlah wajah Siauw Yang mendengar ini.

"Cih, suheng! Apa kau tidak malu bicara begitu?"

Pun Hui teringat bahwa kelakarnya tadi tentu menimbulkan rasa malu kepada Siauw Yang, maka katanya.

"Maaf sumoi. Kau teruskanlah ceritamu tadi. Bagaimana selanjutnya? Setelah naik kuda berdua, tentu tidak ada orang lain yang mencela mereka lagi, bukan?"

"Keliru dugaanmu!"

Kata Siauw Yang yang kini menjadi gembira lagi, wajahnya berseri, matanya bersinar sinar dan mulutnya tersenyum.

Pun Hui memandang seperti terkena pesona.

Demikian cantiknya gadis remaja itu ketika bercerita.

Kuda itu kurus kering dan kebetulan sekali kakak beradik itu orangnya gemuk gemuk dan tubuhnya amat berat.

Oleh karena itu, punggung kuda itu menjadi melengkung seperti batang pikulan keberatan muatan.

Belum lama kuda itu berjalan perlahan, seorang lain yang bertemu dengan mereka di jalan mencela, menyatakan bahwa dua orang itu tidak mengenal kasihan, menyiksa kuda seperti itu."

"Lalu bagaimana?"

Tanya Pun Hui tertarik sekali.

"Dua orang kakak beradik itu tentu bingung sekali sekarang. Tidak ada jalan lain untuk memecahkan persoalan itu."

"Demikianlah karena kaupun berpendirian sama dengar kedua orang kakak beradik itu. Seperti mereka, kau terlalu takut akan celaan dan usul lain orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu. Mendengar celaan orang ke tiga ini. kakak dan adik itu buru buru turun dari kuda dan mereka lalu berunding. Tidak ada jalan lain, mereka lalu mencari bambu, mengikat empat kaki kuda itu lalu memikulnya bersama."

Setelah menyelesaikan ceritanya, dara itu tertawa geli. Pun Hui tak dapat menahan gelak tertawa membayangkan keadaan kakak beradik itu memikul kuda. Benar benar lucu sekali.

"Ha, ha, ha! Lucu sekali ceritamu itu, sumoi. Lalu bagaimana? Setelah mereka memikul kuda itu, jadi dibalikkan sekarang, kuda menunggangi manusia, apakah tidak ada celaan lagi?"

"Siapa bilang? Kini bahkan setiap orang yang bertemu dengan mereka di jalan, baik wanita maupun laki laki, baik kakek kakek maupun anak anak, mencela mereka dan menganggap mereka itu gila. Di sepanjang jalan banyak anak yang mengikuti mereka, mentertawakan. Akan tetapi, kakak beradik itu sekarang tidak perduli lagi. Mereka sudah kehabisan akal dan menulikan telinga, membutakan mata terhadap setiap celaan orang lain. Namun sayang sekali, sikap mereka yang tepat ini dilakukan setelah terlambat. Kalau tadi mereka tidak memperdulikan ocehan orang lain, tentu tidak terjadi hal seperti itu, tentu mereka tak usah memikul kuda. Nah, bukankah cerita ini cocok sekali dengan keadaan kita, suheng? Kalau kita berebut, tidak mau mengalah dan saling memaksa untuk menunggang kuda, akhirnya kita pun bisa seperti mereka itu, yakni memikul kuda ini."

Pun Hui tertawa makin geli.

Ia dapat membayangkan betapa lucunya kalau dia dan Siauw Yang memikul kuda itu di sepanjang jalan, disoraki oleh anak anak dan dianggap gila oleh orang orang lain Akan tetapi di dalam kegeliannya ini, ia sadar bahwa cerita lucu itu sebenarnya mengandung nasehat yang amat baik, yakni bahwa di dalam melakukan sesuatu usaha, orang tidak usah mendengarkan terlalu sungguh sungguh akan celaan dan kritik orang lain yang biasanya hanya suka mencela karena iri belaka.

"Nah, kalau begitu, untuk apa kita berebut? Kau naiklah, sumoi dan aku yang berjalan. Kutanggung takkan ada orang mencela. Andaikata ada, kita akan menulikan telinga membutakan mata saja."

Mendengar betapa pemuda yang cerdik ini bahkan menggunakan cerita itu untuk mencuri kemenangan, yakni memaksanya menunggang kuda, Siauw Yang menjadi gemas.

"Suheng, kau terlalu sekali. Mempergunakan senjataku untuk mengalahkan aku sendiri. Ketahuilah, dalam hal kita ini lain lagi soalnya. Aku memiliki kepandaian dan kaularikan kuda itu sekuatmu, aku pasti akan dapat menyusul dan mendahuluimu. Kalau aku yang menunggang kuda, tentu kau takkan dapat menyusul dan perjalanan akan menjadi lebih lambat. Ingat, perjalanan kita ini jauh sekali, suheng. Akan memakan waktu amat lama."

"Bagiku lebih baik lagi kalau lama, sumoi. Melakukan perjalanan bersamamu, makin lama makin baik."

Kembali wajah Siauw Yang merah sekali dan ia melirik dengan mulut cemberut.

"Suheng, aku tidak main main. Kau naiklah, kalau tidak, aku bisa marah kepadamu!"

Melihat gadis itu mau marah. Pun Hui tersenyum dan mengangguk angguk.

"Baiklah, baiklah.... jangan marah, sumoi."

Ia lalu menunggangi kuda itu lalu berkata.

"Betapapun juga, aku akan merasa lebih senang kalau kau juga naik kuda lain sehingga kita bisa melakukan perjalanan berbareng di atas kuda."

"Tentu, suheng. Akan tetapi aku lebih suka berjalan kaki daripada naik kuda yang tidak mencocoki hatiku. Kalau kita bertemu dengan penjual kuda yang mempunyai kuda baik dan mencocoki hatiku, tentu aku akan membeli seekor lagi untukku."

Barulah puas hati Pun Hui, namun ia lalu minta buntalan pakaian gadis itu agar ditaruh di atas kuda.

"Kau yang berjalan kaki jangan membawa apa apa, biarlah semua barang barangmu aku yang membawanya. Ini baru adil namanya."

Sambil tersenyum manis Siauw Yang memberikan buntalannya dan diam diam ia makin suka kepada pemuda yang berwatak baik ini.

Pun Hui mula mula tidak berani melarikan kudanya cepat cepat, khawatir kalau kalau akan membikin gadis itu lelah sekali untuk mengejarnya.

Hal ini membuat Siauw Yang tidak sabar lagi.

"Suheng, kau berpegang baik baik pada kendali kuda!"

Katanya dan ia segera menepuk punggung belakang kuda itu. Sambil meringkik, kuda itu melompat maju dan berlari cepat sekali.

"Eh, sumoi. kau akan tertinggal jauh!"

Pun Hui berseru sambil menoleh ke belakang Akan tetapi, segera ia menjadi terheran heran dan kagum sekali karena terlihat olehnya tubuh dara itu bagaikan bayangan saja meluncur cepat sekali dan tahu tahu telah berada di depan kuda, berlari mendahului kuda.

"Siapa yang ketinggalan?"

Tanya Siauw Yang sambil tertawa tawa dan Pun Hui segera membedal kudanya, kini dialah yang berusaha mengejar gadis luar biasa itu.

Kini perjalanan dapat dilakukan lebih cepat lagi.

Namun masih kurang cepat bagi Siauw Yang, oleh karena setiap kali Pun Hui memaksa gadis itu untuk beristirahat.

Dia sendiri tidak lelah, akan tetapi pemuda ini khawatir kalau kalau gadis itu terlalu lelah.

Biarpun berkali kali Siauw Yang menyatakan bahwa dia tidak lelah, namun Pun Hui tetap saja memaksa agar supaya mereka beristirahat dulu.

Dua hari kemudian mereka tiba di kota Kwan cin di dekat perbatasan Tiongkok utara.

Kota ini kecil saja, namun di situ banyak terdapat pedagang pedagang dari selatan, juga banyak orang menjual kuda kuda Mongol.

Kembali Pun Hui memaksa kepada Siauw Yang untuk memilih seekor kuda yang terbaik dan untuk membelinya.

Akan tetapi alangkah kecewanya ketika gadis itu menyatakan bahwa di antara semua kuda itu tidak ada yang mencocoki hatinya.

"Masa kuda ratusan ini tidak ada seekorpun yang baik?"

Tanya Pun Hui kecewa. Siauw Yang tersenyum.

"Suheng, kalau kau melihat kuda ayah di rumah yang bernama Pek hong ma, kau akan kagum sekali. Kuda itu dapat melakukan perjalanan ratusan li setiap hari tanpa merasa lelah dan tenaganya kuat sekali. Aku tidak rewel dan tentu saja tidak ingin mencari kuda seperti Pek hong ma, asal baik dan kuat saja sudah cukup bagiku. Kiranya di dunia ini tidak akan ada kuda sebaik Pek hong ma kepunyaan ayahku...."

Tiba tiba gadis itu menoleh ke arah barat dan memegang tangan Pun Hui tanpa disadarinya.

"Tunggu dulu.... ! Lihat kuda itu.... mari kita mengejarnya, suheng!"

Sambil berkata demikian, gadis ini lalu berjalan cepat sekali sehingga Pun Hui terpaksa membalapkan kudanya untuk mengejar.

Ketika Pun Hui tiba di tempat gadis itu, ia melihat Siauw Yang tengah bercakap cakap dengan seorang laki laki pendek kurus yang menuntun seekor kuda.

Kuda ini berbulu kemerah merahan dengan keempat kaki putih di bagian bawah.

Bukan main tingginya kuda ini sehingga penuntunnya hanya sampai di dadanya, akan tetapi kuda ini buruk sekali dan kurus bukan main sehingga seperti kerangka kuda terbungkus kulit saja.

Juga baunya apek dan tidak enak sekali, agaknya sudah berbulan bulan tidak pernah tersentuh sikat dan air.

Pun Hui melompat turun dari kudanya dan dengan kendali kuda di tangan ia menghampiri gadis itu.

Kuda tunggangan Pun Hui ketika dekat kuda bulu merah itu, nampak pendek sekali akan tetapi lebih gemuk, dan juga dalam pandangan pemuda itu, kudanya jauh lebih baik dan bersih.

Apakah benar benar gadis itu hendak membeli kuda ini?

Pun Hui benar benar tidak mengerti.

"Tak bisa kurang setahilpun lagi, nona!"

Pun Hui mendengar pedagang kuda itu berkata.

Pedagang kuda inipun menarik perhatian.

Orangnya kurus kecil dan pendek, akan tetapi sepasang matanya bersinar sinar dan pakaiannya bukan seperti pedagang kuda, lebih pantas sebagai seorang guru silat.

Bahkan gagang goloknya kelihatan dari balik punggungnya.

"Aku tidak membawa demikian banyak uang tunai,"

Kata Siauw Yang dengan suara menyatakan penyesalannya, seperti suara orang yang ingin sekali membeli barang namun terlampau mahal untuknya.

"Berapa sih dia mau menjual kuda buruk ini?"

Pun Hui bertanya dan mendengar orang menyebut kudanya buruk, orang itu menyandang kepada Pun Hui dengan mata marah.

"Limaratus tail,"

Jawab Siauw Yang.

"dan uangku bekal hanya ada tigaratus tail saja."

Pun Hui membuka lebar matanya dan mulutnya celangap.

"Limaratus tail perak?? Gila sekali, sumoi, apakah kau sudah mabok? Kuda yang kutunggangi ini jauh lebih baik, lebih bersih dan lebih gemuk daripada tengkorak ini dan dibelinya hanya untuk limapuluh tail perak! Gila betul, hati hati sumoi, orang ini mau menipumu!"

Orang kecil pendek itu marah sekali.

"Kongcu, kaulah yang harus berhati hati dengan ucapanmu, karena dengan ucapan ucapan seperti itu kau takkan dapat mencapai perjalanan jauh! Ketahuilah, kuda ini yang disebut Ang in ma ( Kuda Awan Merah), termasuk paling baik di antara kuda kuda pilihan di dunia ini. Di selatan dengan mudah aku akan menerima seribu tail untuk kuda ini, akan tetapi karena aku tidak ingin pergi ke Selatan, maka hendak ku jual untuk limaratus tail tidak boleh kurang setailpun."

"Gila betul...."

Pun Hui hendak ribut ribut lagi, akan tetapi sambil tersenyum Siauw Yang berkat.

"Suheng, mengapa harus ribut ribut? Dalam hal jual beli, hanya berani atau tidak yang menjadi soal. Pemilik barang berhak menawarkan milik nya untuk berapa saja, dan si pembeli hanya tinggal berani atau tidak."

"Akan tetapi harganya gila gilaan...."

"Namun aku berari membeli limaratus tail perak."

Siauw Yan memotong kata katanya.

"Sayangnya uangku tidak cukup."

Ia lalu berpaling kepada tukang kuda itu dan berkata.

"Sahabat, bagaimana kalau kubayar tigaratus lail dan kutambah dengan perhiasan ini?"

Sambil berkata demikian ia mengeluarkan sebuah tusuk konde emas yang dihias dengan mata batu batu kumala indah sekali. Tusuk konde ini dahulu kubeli dengan harga tiga ratu limapuluh tail."

Setelah menerima dan melihat tusuk konde itu, penjual kuda berkata sambil mengangguk angguk.

"Tusuk konde tiada artinya bagiku, akan tetapi biarlah. Aku lebih menghargai pandangan nona yang tajam sehingga dapat mengenal kuda baik!"

Siauw Yang lalu menyerahkan kantong uangnya yang segera dibuka dan dihitung baik baik penjual kuda itu, kemudian ia lalu menyerahkan, kendali kuda kepada Siauw Yang.

"Jual beli sudah jadi,"

Katanya sederhana.

"Ya, sudah jadi, kuda ini milikku dan uang serta tusuk konde itu menjadi milikmu,"

Jawab Siauw Yang sambil mengelus elus kepala kuda.

Tanpa menghaturkan terima kasih, akan tetapi setelah satu kali melirik ke arah Pun Hui dengan pandang mata membenci, penjual kuda itu lalu pergi dan situ dengan tindakan kaki cepat.

"Gila betul! Dia telah menipumu, sumoi. Bagiku, ditukar saja dengan kuda yang kutunggangi ini, aku tidak sudi! Untuk apa kuda tinggal kulit dan kerangka itu? Ditunggangi belum sepuluh li saja, dia akan roboh dan mampus!"

Melihat Pun Hui marah marah itu, Siauw Yang hanya mentertawakannya.

"Suheng, kau tidah tahu. Kuda ini malahan lebih bagas daripada kuda Pek hong ma milik ayah! Ah, kalau ayah melihat kuda ini, tentu ia akan girang sekali. Agaknya kalau ayah tahu, membeli duaribu tail pun ia akan berani."

Pun Hui tertegun.

Ia makin tidak mengerti kepada gadis ini dan mengira bahwa Siauw Yang berkelakar.

Akan tetapi, kuda itu kini diperiksa baik baik oleh Siauw Yang.

Dibuka mulutnya seakan akan gadis itu hendak menghitung giginya diraba raba tulang tulang yang menonjol itu, dan diperiksa telapak kakinya satu demi satu.

Yang aneh, kalau kuda lain seringkah mengangguk angguk kepala dan menjulurkan kepalanya ke bawah, adalah kuda buruk itu selalu mengangkat kepala tinggi tinggi dengan tegaknya.

"Kaulihat, suheng, ia memenuhi semua syarat bagi seekor kuda yang sempurna. Giginya masih kuat, belum ada yang rusak. Ujung hidungnya tajam dan tipis, kepalanya panjang dan agak membentuk segi tiga. Matanya penuh perasaan dan tidak berair. Lehernya panjang dan kuat lurus tidak bengkok. Dadanya menggembung, tanda napasnya kuat sekali. Perutnya kecil dan tubuh belakangnya tinggi dengan ekor yang kuat dan bulu ekornya tak mudah dicabut. Pahanya penuh otot dan kakinya mengecil ke bawah, tidak dibebani daging dan lemak, akan tetapi tulang tulangnya besar dan sambungan sambungan tulangnya sempurna. Tulang tulangnya berisi, tidak keropos. Inilah tanda tanda kuda sempurna."

Pun Hui menggeleng gelengkan kepala.

"Aku tidak mengerti. Yang kulihat hanyalah kuda ini buruk sekali bulunya kotor dan baunya tidak enak. Terlalu kurus seperti kurang makan."

"Memang harus diakui bahwa dia tidak terurus baik, Suheng, Akan tetapi, kaulihat saja sebentar lagi."

Setelah berkata demikian.

Siauw Yang lalu menuntun kudanya itu, diikuti oleh Pun Hui.

Nona itu memasuki sebuah hutau kecil di mana terdapat air sungai kecil, di situ Siauw Yang menggulung lengan bajunya dan mencari batu karang yang tajam untuk memandikan kudanya.

Digosoknya semua tubuh kuda itu dan pekerjaan ini memakan waktu lama sehingga Pun Hui yang tidak sabar dan tidak mengerti mengapa nona cantik itu mau melakukan pekerjaan seperti itu hanya untuk seekor kuda buruk, lalu duduk di bawah pohon dan mengantuk.

Tak lama kemudian, ia dikejutkan oleh suara Siauw Yang yang terdengar bangga dan girang.

"Suheng, jangan tidur, lihat kudaku ini!"

Pun Hui membuka matanya dan menengok.

Hampir ia tidak percaya bahwa kuda yang dituntun oleh Siauw Yang adalah kuda buruk tadi, kini tubuh kuda itu telah bersih.

Kulit dan bulunya mengkilat, berwarna merah bertotol totol kuning, amat indahnya.

Nampak urat urat menggembung pada pangkal paha dan leher, nampaknya kuat sekali.

"Sekarang kaulihat larinya, suheng!"

Dengan gerakan yang amat cekatan sehingga membuat Pun Hui melongo keheranan, gadis itu tahu tahu telah berada di atas kuda dan sekali ia menggeprak kuda itu, binatang ini meringkik nyaring sehingga mengagetkan kuda tunggangan Pun Hui yang diikat pada sebatang pohon, kemudian kuda merah itu melompat jauh ke depan dan berlari bagaikan angin saja cepatnya!

Sebentar saja kuda itu hanya kelihatan sebagai titik merah yang jauh dan tak lama kemudian lenyap dari pemandangan mata.

Selagi Pun Hui masih bengong, tiba tiba nampak pula titik merah yang makin lama makin membesar.

Ternyata itu adalah kuda merah tadi yang ditunggangi oleh Siauw Yang dan yang kini membalap datang.

Setelah dekat nampaklah keindahan kuda ini.

Keempat kakinya seperti tak menginjak tanah, dan bulu tengkuknya yang panjang itu beriapan ke atas tertiup angin.

Juga ekornya menjulang ke atas seperti tiang dengan bendera merahnya.

"Hebat!"

Kata Pun Hui dengan amat kagum."Dia seperti nyala api merah yang terbang cepat sekali!"

"Api merah? Bagus, suheng, kau telah memberi nama yang bagus dan tepat sekali untuk kuda ini. Dia mulai sekarang bernama Kuda Api Merah (Ang ho ma)."

Kemudian kedua orang muda ini melanjutkan perjalanan dan sehari itu mereka mencapai jarak yang jauh.

Kini barulah Pun Hui percaya penuh, karena kalau kudanya sudah berpeluh dan jalannya tak dapat cepat lagi setelah menempuh jarak beberapa puluh li, adalah Ang ho ma nampaknya masih ayem saja dan tidak lelah sama sekali.

Juga kalau ia membedal kudanya cepat cepat, Ang ho ma dengan gerakan lambat saja sudah dapat menyusulnya.

Benar benar kuda pilihan!

Makin kagumlah pemuda ini terhadap Siauw Yang.

Setelah hari mulai gelap, sampailah mereka di sebuah dusun dan kebetulan sekali di situ terdapat sebuah penginapan yang cukup bersih.

Di daerah utara ini, karena banyaknya pedagang pedagang keliling dari selatan, restoran restoran dan hotel hotel hidup subur dan selalu tidak kekurangan langganan, maka biarpun di dusun yang tidak berapa besar, selalu ada sebuah dua buah hotel dan restoran.

Mereka menyewa dua buah kamar dan menyerahkan kuda mereka kepada pelayan untuk diurus.

Akan tetapi Siauw Yang sengaja memilihkan makanan yang cocok untuk kudanya, dan sampai lama ia memberi petunjuk kepada pelayan bagaimana harus memelihara kudanya.

Gadis ini bahkan memberikan sehelai mantelnya kepada pelayan untuk dipergunakan sebagai selimut kudanya.

Melihat ini.

Pun Hui menggeleng geleng kepala!

Mana ada orang memberikan mantelnya yang terbuat dari bulu yang indah itu untuk dipakai menyelimuti tubuh kuda di waktu malam?

Akan tetapi kini pemuda itu tidak berapa heran, karena ia sendiri sudah menyaksikan bahwa Ang ho ma memang benar benar seekor kuda yang luar biasa sekali.

Dalam perjalanan yang baru beberapa hari ini, perhubungan antara dua orang muda ini sudah erat sekali.

Pun Hui mengajar gadis itu tentang membuat sajak sajak yang indah, dan juga mengajarnya bermain catur.

Sebaliknya, Siauw Yang mulai membentangkan dan membuka rahasia dasar dasar ilmu silat yang diperhatikan dan dipelajari baik baik oleh Pun Hui.

Malam itu, sehabis makan, mereka duduk menghadapi meja di ruang tengah dan bermain catur.

Tentu saja dalam permainan ini, kalau Pun Hui menghendaki, dalam waktu singkat ia akan dapat menghabiskan biji catur Siauw Yang dan dengan mudah akan dapat mengalahkan lawannya.

Akan tetapi, hatinya yang baik tidak mengijinkan hal ini.

Ia sengaja bermain lambat dan banyak melewati kesempatan untuk memperoleh kemenangan.

Bahkan ia sengaja memberi "makanan"

Kepada biji biji catur Siauw Yang.

Dengan demikian, gadis itu tidak menjadi jemu dan dapat bermain dengan gembira, sungguhpun gadis yang cerdik ini bukan tidak tahu bahwa pemuda itu telah banyak mengalah.

Makin lama, Siauw Yang makin tertarik dan suka kepada pemuda ini, karena dalam pandangannya, pemuda ini benar benar seorang yang dapat menguasai keadaan dan dapat menyesuaikan diri sehingga menjadi kawan yang menyenangkan hati.

"Sayang, ia tidak pandai silat,"

Diam diam Siauw Yang berkata kepada hatinya sendiri.

"akan tetapi kalau ia sudah menjadi murid Yap supek, tentu kelak ia akan maju. Kalau sudah berhasil mendapatkan Sam liong to untuk memuaskan hatiku, aku akan segera mencari Yap supek agar dia cepat menerima latihan latihan. Atau dapat juga... aku melatih dia...."

Demikianlah, dalam bermain catur, Siauw Yang banyak melamun sehingga beberapa kali Pun Hui harus memberi peringatan karena ia menjalankan biji catur secara ngawur!

"Eh, sumoi, masa kuda jalannya begitu?

Ini kuda biji catur, bukan Ang ho ma!

Bagaimana sih?"

Setelah mendapat teguran barulah Siauw Yang sadar dan dengan muka merah ia membetulkan gerakan biji caturnya sambil tersenyum senyum dan mengerling.

Pun Hui merasa bahwa tentu di dalam hati gadis ini "ada apa apa"

Karena sikapnya berbeda dari biasanya dan pendiam pula, akan tetapi ia tidak tahu apakah yang menjadi isi hati Siauw Yang di saat itu.

Pada malam hari itu, di ruang tengah dari rumah penginapan.

Pun Hui dan Siauw Yang asyik bermain catur.

Siauw Yang yang baru saja bisa bermain catur, amat tertarik dan ia mencurahkan seluruh perhatiannya pada papan dan biji biji catur, lupa akan waktu dan segala di sekitarnya.

Adapun Pun Hui, perhatiannya sebagian besar terbang ke arah wajah Siauw Yang.

Tiada bosannya ia memandang kepada wajah itu, yang hanya beberapa dim jauhnya dari dia sehingga ia dapat melihat nyata rambut yang menghias jidat yang halus putih itu.

Melihat dengan nyata bulu bulu alis mata yang hitam kecil dan melengkung rata.

Kulit halus di antara mata itu berkerut, tanda bahwa dara itu tengah memeras otak menjalankan pikiran untuk mencari gerakan yang baik dan menguntungkan bagi biji biji caturnya.

Sepasang mata yang bentuknya indah itu jarang berkedip, memandang ke arah papan catur.

Kedua tangannya terletak di atas meja dan Pun Hui tiada habisnya mengagumi sepasang tangan dengan jari jari tangan yang berkulit halus dan putih kemerahan ini, yang nampaknya lemah sekali, mengandung tenaga hebat dan dapat mainkan pedang secara lihai sekali?

Sinar mata Pun Hui melayang layang dan meraba raba jidat yang halus, hidung yang mancung, bulu mata yang lentik dan mulut yang luar biasa manis itu.

Tak puas matanya menjelajah, menikmati kecantikan Siauw Yang dan di dalam hatinya ia jatuh bertekuk lutut!

Kedua orang muda itu tidak bergerak seperti patung.

Keduanya mengerahkan seluruh perhatian, sungguhpun berbeda sasaran.

Tiba tiba terdengar sesuatu yang memecah kesunyian malam dan yang menyadarkan keduanya dan dunia lamunan dan pengerahan tenaga otak.

Suara itu keras sekali, terdengar seperti suara iblis malam sendiri keluar dari neraka.

Begitu menyeramkan sehingga Pun Hui menjadi pucat.

Akan tetapi, Siauw Yang segera melompat bangun dari bangkunya.

"Celaka, itu suara Ang ho ma.... !"

Setelah berkata demikian, Siauw Yang lalu melompat keluar dan ia lupa bahwa tangan kirinya masih memegang tiga buah biji catur, yakni biji catur hitam yang tadi "dimakan"

Oleh biji caturnya.

"Suara Ang ho ma.... ?"

Pun Hui berkata heran karena menurut dia, suara tadi bukanlah suara kuda.

Akan tetapi karena Siauw Yang sudah berlari keluar melalui pintu belakang rumah penginapan itu, iapun lalu mengejar ke belakang.

Ketika Pun Hui tiba di belakang, ia mendengar derap kaki kuda menjauh dan disusul oleh suara Siauw Yang.

"Maling kuda, lepaskan kudaku!"

Tubuh gadis ini berkelebat cepat mengejar, namun keempat kaki Ang ho ma memang betul betul cepat sekali sehingga Siauw Yang yang telah memiliki ilmu lari cepat itupun tertinggal jauh.

Dengan gemas sekali dara ini lalu mengayun tangan kirinya yang tadi memegang tiga buah biji catur.

Terdengar jerit kesakitan di sebelah depan akan tetapi suara kuda makin menjauh lalu lenyap.

"Kurang ajar! Kalau aku dapat memegangmu, akan kupatahkan batang lehermu!"

Terdengar Siauw Yang menyumpah nyumpah.

Sementara itu, Pun Hui melihat tubuh seorang laki laki menggeletak di depan kandang kuda.

Ia mengenal tubuh orang ini bukan lain adalah pelayan yang sore tadi berkewajiban mengurus kuda dan melihat ia menggeletak miring tak bergerak ia segera berseru.

"Sumoi, lihat ada orang mati!"

Siauw Yang melompat menghampiri dan ia pun melihat bahwa orang itu adalah pelayan yang mengurus kuda.

"Dia tidak mati, hanya berada dalam pengaruh totokan yang lihai,"

Katanya setelah memeriksa orang itu. Kemudian dengan dua kali menotok punggung dan pundak orang itu, pelayan tadi mengeluh dan dapat bergerak lagi.

"Aduh, siauw ong ya (raja muda) benar benar keterlaluan...."

Ia mengeluh, akan tetapi begitu melihat Pun Hui dan Siauw Yang, ia menjadi pucat dan berlutut.

"Kongcu.... nona.... celaka kuda itu dicuri orang,"

Katanya gagap.

"Aku sudah tahu."

Jawab Siauw Yang.

"Hayo lekas ceriterakan bagaimana terjadinya pencurian itu!"

"Saya sendiri tidak tahu dengan jelas. nona. Ketika saya sedang menutup pintu kandang hendak beristirahat, tiba tiba dari atas genteng melayang turun bayangan orang yang langsung menyerang saya. Saya mencoba melawan, akan tetapi entah bagaimana, tahu tahu saya merasa pundak saya sakit lagi dan selanjutnya saya rebah tak dapat bergerak dan tidak dapat berteriak. Hanya dapat saya melihat penyerang itu melepaskan ikatan kuda merah dan membawanya pergi."

"Bohong!"

Pun Hui membentak."Kau sudah mengenal pencuri itu. Hayo katakan siapa dia!"

"Tidak, kongcu... saja tidak mengenalnya...."

Siauw Yang yang sependapat dengan Pun Hui bahwa pelayan ini tentu sudah mengenal pencuri kuda, segera mengetuk pundak orang itu.

Penjaga itu mengeluh kesakitan dan merasa betapa seluruh tubuhnya sakit sakit.

"Hayo lekas mengaku saja. Siapa pencuri itu dan siapa pula orangnya yang tadi kau sebut siauw ong ya!"

Kata Siauw Yang.

"Sungguh mati, nona. Saja tidak tahu siapa pencuri itu. Di dalam gelap mana saja dapat mengenalnya? Adapun yang saya sebut siauw ong ya.... dia.... dia itu adalah pangeran muda yang mempunyai banyak sekali kuda bagus bagus seperti kuda nona yang hilang itu dan.... dan...."

"Hayo ceritakan yang benar, kalau tidak kupatahkan batang lehermu!"

Bentak Siauw Yang yang sudah tak sabar lagi.

"Biasanya di daerah ini, setiap kali terjadi keributan tentang kuda, dapat dipastikan bahwa tentu siauw ong ya campur tangan. Maka ketika terjadi pencurian malam ini, tanpa saya sadari saya teringat kepada siauw ong ya dan menyebut namanya....."

"Di mana tempat tinggal pangeran itu?"

Tanya Siauw Yang. Ia percaya akan keterangan ini, karena maklum bahwa pada waktu itu, pengaruh para bangsawan amat besar dan bukan tidak mungkin apabila kudanya dicuri oleh kaki tangan pangeran itu.

"Dia tinggal di kota Ceng te, tak jauh dari sini, nona."

Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa mengejek.

Siauw Yang marah sekali, mencabut pedang dan hendak melompat mengejar ke arah suara itu.

Akan tetapi tiba tiba sesosok bayangan hitam melayang turun dan menyambarnya.

Siauw Yang menggerakkan pedangnya ke arah bayangan itu dan "breet!!"

Pedangnya telah menembus sehelai kain yang terobek.

Ketika ia merenggut kain itu ternyata bahwa bayangan tadi adalah mantelnya sendiri yang tadinya dipergunakan untuk menyelimuti kuda Ang ho ma.

Rupanya orang yang memiliki tenaga lweekang cukup besar telah melontarkan mantel itu kepadanya.

Dengan marah Siauw Yang membentak.

"Maling jahanam, jangan lari!"

Tubuhnya melesat ke atas genteng, akan tetapi setelah ia tiba di atas genteng, keadaan di situ sunyi saja dan gelap pula.

Sukar mengejar atau mencari orang yang melarikan diri di dalam gelap, pikirnya dengan jengkel sekali maka ia lalu melayang turun lagi.

"Lihat, sumoi! Mantelmu ditulisi orang!"

Siauw Yang segera menghampiri Pun Hu yang memeriksa mantel itu di bawah sinar lampu di depan kandang kuda.

Benar saja, di atas mantelnya yang berwarna merah jambu itu, kini terdapat coretan coretan hitam yang merupakan pesanan atau lebih tepat tantangan.

"Kalau hendak mencari kuda Besok pagi ditunggu di pintu utara Ahli catur boleh perlihatkan kepandaian Kuda merah menjadi taruhan."

"Kurang ajar! Sekarang juga aku akan menyusulmu ke sana, bangsat jahanan!"

Teriak Siauw Yang gemas sekali.

"Nanti dulu, sumoi. Kurang sempurna kalau kau berlaku secara sembrono"

Pun Hui mencegah, kemudian pemuda ini bertanya kepada pelayan yang masih meringis ringis.

"Sekarang kauceriakan sejelasnya, siapakah sebetulnya siauw ong ya itu? Ceritakan yang jelas dan kalau memang kau tidak bersalah, kami tidak akan mengganggumu lebih lama lagi."

Mendengar ini, dengan suara gemetar dan kadang kadang memandang ke kanan kiri seakan akan ia khawatir kalau kalau ada orang yang mendengar penuturannya, pelayan itu bercerita.

Di kota Ceng te, termasuk dalam Propinsi Hopei, di sebelah utara, di lembah sebuah sungai yang lebar, tinggal seorang pangeran dari Kerajaan Goan Tiauw.

Pangeran ini amat berkuasa dan biarpun pada waktu itu ia tidak menduduki sesuatu pangkat, namun pengaruhnya besar sekali, tidak saja ia disegani oleh karena kaya raya namun terutama sekali karena pangeran ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Dikabarkan orang bahwa pangeran ini pernah mendapat latihan ilmu silat tinggi dari Pat Jiu Giam ong Liem Po Coan sendiri, yakni seorang tokoh besar yang bergelar Pat jiu Giam ong atau Iblis Maut Tangan Delapan yang masih menjadi sute dan Lam hai Lo mo, Seng Jin Siansu sendiri.

Di samping kekayaannya yang luar biasa dan kepandaiannya yang amat tinggi, pangeran ini pun mempunyai banyak kaki tangan yang rata rata memiliki kepandaian silat tinggi.

Semua orang yang dianggap jagoan di daerah utara, sebagian besar menjadi kaki tangannya atau setidaknya amat tunduk kepadanya, karena pangeran ini amat royal membagi bagi hadiah kepada mereka yang mau membantunya.

Pangeran ini bernama Ciong Pak Sui, usianya sudah kurang lebih empatpuluh tahun, namun tubuhnya masih nampak kuat sekali dan karena selain berpakaian indah dan kesehatannya terawat, maka ia nampaknya masih muda.

Ia tidak mempunyai isteri akan tetapi di dalam gedungnya terdapat banyak selir yang muda lagi cantik, yakni gadis yang didatangkan dari beberapa daerah, terutama dari selatan, karena wanita Tiongkok di daerah selatan terkenal lebih cantik daripada wanita daerah utara.

Kegemaran khusus dari Ciong Pak Sui atau lebih terkenal dengan sebutan Ciong siauw ong (Raja Muda Ciong) adalah binatang peliharaan kuda yang bagus bagus.

Entah sudah berapa banyak ia mengeluarkan uang untuk membeli ratusan ekor kuda kuda yang baik di daerah ini.

Seringkali Pangeran Ciong mengadakan perlombaan kuda dan selalu kuda kudanya memperoleh kemenangan.

Namun, dasar ia memiliki watak yang tidak mau kalah dan selalu keinginan hatinya harus dipenuhi, tiap kali ia menghendaki seekor kuda siapaun juga yang mempunyainya, ia harus mendapatkan kuda itu.

Baik dengan jalan membelinya dengan harga amat tinggi ataupun dengan jalan kekerasan!

Siapakah orangnya yang berani melawan kehendaknya?

Kalau kiranya tidak takut akan pengaruhnya yang besar, tentu segan pula menghadapi kekerasan kaki tangannya yang amat banyak jumlahnya.

Dan kalaupun orang tidak takut menghadapi kaki tangannya, tentu takut menghadapi kelihaian pangeran ini yang memiliki kepandaian tinggi.

Sebegitu jauh belum pernah ada orang yang berani melawannya tanpa menderita kekalahan hebat.

Sekali ada orang melawannya, tentu orang itu akan kehilangan kuda dan masih untung kalau ia tidak kehilangan nyawanya.

"Demikianlah, kongcu. Siapa lagi orangnya di daerah ini yang begitu berani mencuri kuda seorang tamu di penginapan? Biarpun hanya dugaan saja, namun kiranya kalau bukan kaki tangannya, tidak akan ada orang yang begitu berani mati mencuri kuda, karena kejahatan yang terbesar di daerah ini ialah mencuri kuda. Orang berani mencuri harta kekayaan orang lain, akan tetapi mencuri kuda? Akan dianggap kejahatan yang paling hebat dan orang itu takkan diampuni oleh orang banyak. Akan tetapi kalau pencurian itu dilakukan atas perintah Ciong siauw ong ya.... yah siapa berani menghalanginya?"

Mendengar keterangan ini, merah muka Siauw Yang dan gadis ini marah bukan main.

"Raja muda bangsat! Kiranya dia berani main gila kepadaku? Lihat saja, sekarang juga akan kudatangi dia dan kalau dia tidak mengembalikan kudaku dan minta maaf sambil berlutut, pasti kepalanya akan kubikin bakso!!"

Mendengar ini, pelayan itu menjadi pucat dan berkata dengan ketakutan.

"Nona.... lihiap.... harap jangan bicara seperti itu apalagi.... di depanku.... !"

"Pergi kau, pengecut!"

Bentak Pun Hui dan pelayan itu seperti mendapat ampun saja, dengan muka girang ia lalu berlari pergi, terus pulang ke rumahnya dan bersembunyi di dalam kamarnya.

Agaknya sampai tiga empat hari orang ini takkan berani keluar dari kamarnya!

"Sumoi, kau bersabarlah.

Jangan bertindak malam ini.

Bukankah orang itu telah menantangmu untuk bertemu besok pagi di pintu gerbang sebelah utara?

Kalau orang sudah menantang, kitapun harus menghadapinya dengan aturan, apa pula, andaikata kau nekat mendalangi gedung pangeran itu, bagaimana kalau ternyata kemudian bahwa pencurian ini dilakukan bukan atas perintahnya?

Juga misalnya dia yang mencuri, tentu tempatnya terjaga amat kuat dan mendatangi tempatnya di malam hari merupakan tindakan yang amat sembrono dan berbahaya."

Mendengar ucapan in Siauw Yang tak dapat membantah.

Memang, biarpun dia tidak takut akan penjagaan yang kuat, akan tetapi, bagaimanakah andaikata benar benar bukan pangeran itu yang menyuruh mencuri kudanya?

Bukankah berarti bahwa ia telah berlaku lancang dan mengganggu orang yang tidak berdosa?

Bukankah itu hanya akan menimbulkan permusuhan dan kekacauan dengan dia berada di fihak salah?

Ayahnya tentu akan marah kalau mendengar betapa dia mengacaukan rumah seorang pangeran hanya dengan tuduhan mencuri kuda!

"Baiklah, suheng.

Aku akan menahan sabar dan mari kita lihat orang macam apa yang akan kita temui besok pagi,"

Akhirnya ia berkata.

Pada keesokan harinya, pagi pagi sekali Siauw Yang dan Pun Hui berjalan menuju ke pintu gerbang bagian utara.

Kuda tunggangan Pun Hui dititipkan kepada pelayan rumah untuk diurus.

Sepasang orang muda ini berjalan dengan tenang dan Siauw Yang menyembunyikan pedangnya di bawah baju luarnya.

Wajah gadis ini berseri dan mulutnya tetap tersenyum gembira, namun sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi api, karena sesungguhnya ia marah sekali dan semenjak malam tadi ia menahan nahan gelora batinnya hendak cepat cepat bertemu dengan pencuri kudanya.

Pintu gerbang sebelah utara merupakan jalan besar yang menuju ke kota lain di sebelah utara, bahkan beberapa puluh li di sebelah utaranya terdapat tapal batas antara Tiongkok dengan daerah Mongol.

Pada saat kedua orang muda itu tiba di pintu gerbang, di situ masih sunyi dan tidak kelihatan orangpun.

Pintu gerbang sudah dibuka dan para penjaga pintu gerbang sedang meronda, agak jauh dari situ.

Pun Hui dan Siauw Yang melewati pintu gerbang, akan tetapi mereka tidak melihat ada orang lain, Siauw Yang sudah mulai merasa mendongkol, mengira bahwa pemuda penulis surat di atas mantelnya itu sengaja mempermainkannya.

Selagi ia hendak membuka mulut menyatakan k mendongkolannya, tiba tiba dari jurusan utara terdengar bunyi derap kaki kuda dan debu mengebul.

"Ada penunggang kuda datang,"

Kata Pun Hui dan biarpun pemuda ini tabah sekali, namun ia masih berdebar menghadapi orang yang begitu berani, telah mencuri kuda masih menantang pula.

Namun Siauw Yang berdiri dengan tegak, kedua kakinya berdiri terpentang, kedua tangan bertolak pinggang dan kepalanya dikedikkan ke belakang.

Sepasang matanya memandang tajam ke depan dan seluruh urat urat di tubuhnya siap sedia menghadapi pertempuran besar.

Setelah rombongan itu datang dekat, ternyata bahwa yang datang adalah dua orang, seorang wanita dan seorang laki laki.

Mereka ini sudah setengah tua agaknya empatputuh lahun lebih usianya.

Masing masing menunggang kuda sambil menuntun seekor kuda lain di belakang dan mereka membalapkan kuda dengan cepat sekali.

Ketika mereka tiba di depan Pun Hui dan Siauw Yang, kedua orang itu menahan kendali kuda dan kuda kuda yang mereka tunggangi itu tiba tiba berhenti seperti tertahan oleh tenaga yang kuat.

"Bagus, penunggang penunggang kuda yang pandai dan kuda kuda yang baik,"

Kata Siauw Yang memuji.

Memang, tidak mudah untuk menghentikan kuda secara begitu tiba tiba setelah kuda itu tadinya berlari cepat sekali.

Juga kuda kuda yang ditunggangi oleh dua orang itu, demikian pula yang dituntun, adalah kuda kuda yang tinggi besar dan baik, nampaknya kuat dan liar.

Terutama sekali dua ekor kuda yang mereka tuntun, jelas sekali bahwa dua ekor kuda ini masih amat liar, karena mereka selalu meronta ronta dan meringkik ringkik, namun ketika berlari tadi, mereka dapat lari amat cepatnya.

"Bukankah ji wi ini ahli ahli catur yang hendak memenuhi undangan?"

Tanya pendatang yang wanita sambil memandang tajam kepada Siauw Yang.

"Kami datang untuk bertemu dengan pencuri kuda dan mengambil kuda kami kembali!"

Jawab Siauw Yang yang sengaja bicara keras, sikapnya galak dan sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut.

"Jangan sembarang bicara tentang pencuri!"

Tiba tiba orang laki laki itu berkata.

"Kami diutus untuk datang mengundang ahli ahli catur."

Mendengar ini, Siauw Yang marah sekali dan kedua tangannya sudah gatal gatal hendak menyerang dua orang ini. Akan tetapi Pun Hui mencegahnya dengan kata kata yang ditujukan kepada laki laki itu.

"Sahabat yang baik, kau tadi bilang diutus untuk mengundang kami bermain catur. Memang, biarpun bukan ahli, kami suka bermain catur. Akan tetapi, siapakah dia yang mengutusmu?"

"Kami diutus oleh Ciong Siauw ong ya untuk menjemput ji wi di sini dan kami sudah membawakan dua ekor kuda yang baik untuk ji wi,"

Jawab laki laki itu.

"Baik, kami akan pergi,"

Kata Pun Hui, akan tetapi Siauw Yang masih penasaran dan bertanya.

"Apakah tuanmu itu mengundang untuk bermain catur dengan taruhan Ang ho ma?"

"Begitulah kiranya kalau tidak salah,"

Jawab pesuruh wanita sambil tersenyum mengejek.

"Tugas kami hanya menjemput dan tentang hal hal lain lebih baik kalian tanyakan sendiri kepada siauw ong ya nanti."

"Baiklah kalau begitu, lepaskan kuda itu,"

Kata Siauw Yang sambil menghampiri kuda yang dituntun dan yang kelihatan liar sekali.

"Kuda ini mungkin terlampau jinak untuk kalian, akan tetapi terus terang saja, bagi kami amat sukar diurusnya, maka kami tidak berani melepaskannya, takut kalau kalau mereka akan lari minggat,"

Kata pesuruh wanita itu sambil memegangi tali kendali kuda itu erat erat di tangannya.

Siauw Yang mengerti bahwa mereka sengaja membawa kuda liar untuk menguji kepandaiannya.

Dia sendiri tidak takut menghadapi kuda yang bagaimana liarpun, akan tetapi bagaimana dengan Pun Hui?

Dapatkah pemuda lemah itu bertahan di atas punggung kuda yang liar?

Ia mendapat sebuah pikiran baik lalu cepat sekali ia melompat dan tahu tahu sudah berada di atas punggung kuda yang dituntun oleh wanita setengah tua tadi.

Melihat gerakan ini, kedua orang pesuruh itu terbelalak lebar matanya dan mereka saling pandang dengan penuh arti.

Kuda yang ditunggangi oleh Siauw Yang itu memang kuda liar.

Begitu merasa punggungnya diduduki orang, ia lalu meringkik keras dan melompat ke atas, berdiri pada dua kaki belakangnya dan menggoyang goyangkan tubuh, bahkan berusaha untuk menggigit orang di punggungnya itu dengan buas sekali.

"Celaka,"

Pikir Pun Hui sambil memandang dengan penuh kekhawatiran.

"Celaka,"

Pikir Siauw Yang.

"kalau kuda yang satunya lagi seliar ini, tentu Pun Hui akan dilemparkan jatuh dalam waktu pendek."

Setelah berpikir demikian, gadis ini menggunakan ilmu dan tenaganya, menepuk nepuk punggung kuda yang ditungganginya itu, akan tetapi diam diam ia menggunakan jarinya untuk menotok urat punggung kuda.

Siauw Yang yang semenjak kecil suka sekali menunggang kuda telah diberi pelajaran khusus oleh ayahnya bagaimana caranya menjinakkan kuda yang amat liar, yakni dengan jalan menggunakan ilmu tiam hwat yang istimewa.

Seketika itu juga kuda yang ditungganginya itu menjadi jinak.

Tidak meringkik ringkik lagi, dan tidak berloncat loncatan lagi.

Hal ini sebetulnya tidak aneh, karena dengan urat punggung setengah lumpuh, bagaimana kuda itu bisa menjadi liar?

Siauw Yang melompat turun lagi dan sambil tersenyum manis sekali ia berkata kepada Pun Hui,"Suheng, kuda ini terlalu liar dan buas untukku, harap suheng suka naik kuda ini saja, biar aku memilih yang satunya itu, tentu tidak seliar ini."

Pun Hui memang seorang pemuda berwatak tabah dan berhati besar.

Biarpun ia tidak mengerti akan maksud Siauw Yang dan juga biarpun ia tadi merasa ngeri melihat kebuasan dan keliaran kuda yang ditunggangi Siauw Yang itu namun kini melihat Siauw Yaug melompat turun dan memilih kuda yang satunya lagi, ia mengangguk.

"Baiklah, sumoi. Kau berhati hatilah naik kuda ke dua itu, karena kulihat dia juga seperti kuda setan hitam."

Memang kuda yang ke dua itu adalah seekor kuda hitam yang kelihatannya bahkan lebih baik daripada kuda pertama yang tadi dinaiki oleh Siauw Yang dan yang bulunya berwarna kelabu.

"Kau naiklah dulu, suheng!"

Kata Siauw Yang dengan nada suara seakan akan menghormat kepada seorang saudara seperguruan yang lebih tua.

Padahal maksud dara ini hanya untuk menjaga dan melihat Pun Hui menunggangi kuda liar itu dengan selamat.

Dengan tabah dan hati hati.

Pun Hui lalu naik ke atas kuda yang telah dibikin tidak berdaya oleh Siauw Yang, diikuti oleh pandang mata dua orang pesuruh itu.

Mereka ini ingin sekali melihat sampai di mana kelihaian pemuda ini naik kuda.

Tadi mereka telah melihat betapa lincah gerakan Siauw Yang ketika melompat ke atas kuda dan betapa kuat gadis itu mempertahankan diri ketika kuda liar itu mengamuk dan mereka menjadi amat kagum.

Sekarang pemuda yang dipanggil "suheng"

Oleh gadis itu, sudah dapat diduga tentu memiliki kepandaian yang lebih tinggi lagi.

Akan tetapi, kedua orang pesuruh itu menjadi amat heran dan juga geli hati, karena pemuda yang tampan dan halus itu menaiki kuda dengan cara seperti seorang yang tidak memiliki kepandaian apa apa.

Bukan dengan gerakan meloncat seperti yang dilakukan oleh gadis tadi atau oleh semua ahli ahli silat tinggi, melainkan dengan jalan menaruh kaki kiri pada injakan kaki kemudian naik dengan gerakan biasa saja.

Sungguh mengherankan, pikir mereka.

Mengapa suhengnya bahkan kelihatan begini lemah?

Apakah orang selemah ini akan mampu mempertahankan diri di atas punggung kuda yang liar itu?

Namun begitu Pan Hui sudah duduk di atas punggung kuda, dua orang pesuruh itu menjadi bengong terlongong saking heran dan takjubnya.

Kalau kuda kelabu ini tadi mengamuk hebat begitu merasa punggungnya dinaiki oleh Siauw Yang, kini sampai Pun Hui menduduki punggungnya, kuda ini tidak bergerak sedikitpun juga, bahkan meringkik pun tidak, hanya menggerak gerakkan kaki depannya seperti kuda yang sudah terlatih baik dan jinak sekali, sabar dan tidak ingin segera berlari.

Hal ini sebetulnya adalah karena pengaruh totokan dan tepukan tangan Siauw Yang tadi, akan tetapi kedua orang itu tidak mengerti dan sambil memandang terheran heran mereka mengira bahwa pemuda sasterawan itu tentu memiliki kepandaian yang tak terukur tingginya sehingga dengan "kepandaiannya"

Itu ia dapat membuat kuda liar menjadi jinak dan tak mampu memberontak!

Sebaliknya, dasar hatinya tabah, semenjak tadipun Pun Hui nampak tenang tenang saja.

Apalagi setelah sekarang ia melihat kuda yang tadi nampak liar itu begini jinak, maka ia menjadi amat lega dan berkata kepada Siauw Yang.

"Sumoi, kuda ini begini jinak dan penurut, mengapa kau bilang liar?"

Siauw Yang tersenyum, lebih manis dari tadi karena hatinya juga lega sekali.

"Suheng, bagiku dia liar akan tetapi terhadapmu, bagaimana ia bisa berdaya??"

Kata kata ini dikeluarkan dengan sengaja oleh Siauw Yang untuk "membanggakan"

Kepandaian suhengnya kepada dua orang pesuruh itu.

Entah mengapa, dara ini ingin sekali melihat Pun Hui dikagumi orang dan ia ikut bangga!

Memang tak salah dugaannya, kata katanya ini membuat dua orang pesuruh itu menjadi makin kagum dan terheran heran sampai sampai pesuruh yang wanita berkata.

"Hebat sekali, belum pernah aku menyaksikan orang dapat menundukkan kuda liar ini sedemikian rupa. Benar benar membuat aku merasa takluk!"

Siauw Yang lalu melompat naik ke atas punggung kuda hitam dan seperti tadi, kuda inipun meringkik ringkik dan meronta ronta, namun begitu Siauw Yang menepuk nepuk pundaknya, kuda inipun lalu diam dan menjadi tenang seperti kuda jinak.

"Mari kita berangkat,"

Kata Siauw Yang kepada dua orang utusan itu.

"akan tetapi, pemandangan di daerah ini bagus sekali dan kami mau menikmatinya. Maka tak perlu tergesa gesa."

"Baiklah, nona,"

Kata utusan yang laki laki, sama sekali tidak menduga bahwa gadis ini sengaja menjaga agar supaya perjalanan tidak dilakukan cepat sekali karena ia teringat akan keadaan Pun Hui yang boleh dibilang belum begitu mahir untuk berpacu kuda.

Dua orang petugas yang menjemput mereka ini setelah menyaksikan kelihain Siauw Yang dan terutama sekali Pun Hui yang pendiam dan bagi mereka seperti seorang pemuda yang "berpura pura"

Bodoh itu, menjadi tunduk dan mati kutunya, tidak bersikap keras dan sombong seperti tadi.

Tak lama kemudian, sampailah mereka di kota Ceng te dan dua orang utusan itu langsung membawa mereka pada sebuah bangunan yang amat besar dan mewah.

Pada pintu gerbang kelompok bangunan yang terdiri dan beberapa buah rumah besar ini, kedua orang utusan itu melompat turun dan minta kepada dua orang muda itu untuk turun pula.

Siauw Yang dan Pun Hui juga melompat turun dan empat ekor kuda yang tadi mereka tunggangi, diurus oleh para penjaga pintu.

Siauw Yang melihat betapa para penjaga itu berlaku amat hormat kepada dua orang utusan itu, dan tahulah ia bahwa dua orang utusan itu mempunyai kedudukan yang paling penting juga agaknya di antara para kaki tangan Pangeran Ciong Pak Sui.

Di depan pintu gerbang di ruang depan, juga kelihatan serombongan penjaga berdiri dengan golok telanjang di tangan, nampaknya angker sekali seperti para penjaga di depan benteng saja.

"Siauw ong ya menanti di lian bu thia (ruang main silat), harap langsung datang ke sana,"

Kata seorang di antara para penjaga kepada utusan itu. Utusan wanita tadi mengangguk, lalu berkata kepada Siauw Yang "Siauw ong ya telah menaati di lian bu thia, mari kita langsung menghadap ke sana."

Siauw Yang merasa mendongkol melihat segala aturan ini, maka ia berkata lantang.

"Siapa mau menghadap dia? Aku datang untuk mengambil kembali kudaku Ang ho ma, hayo bawa kami ke kandang kuda agar aku dapat mengambil kuda itu!"

Dua orang utusan itu terkejut, akan tetapi Pun Hui segera berkata.

"Sumoi, harap kau bersabar. Biarlah kita bertemu dengan pangeran itu dan mendengar apa yang ia kehendaki. Kurasa dia tidak begitu kukuh mempertahankan kuda orang lain, kalau betul kuda itu berada di sini."

Siauw Yang dengan penasaran dan tidak puas memandang kepada Pun Hui, akan tetapi melihat sinar mata pemuda itu begitu halus dan tulus kepadanya, disertai senyum yang sabar dan tenang tiba tiba ia merasa kalah dan insyaf bahwa sikapnya tadi tidak benar.

Kalau masih ada jalan lunak jangan sekali kali mempergunakan kekerasan, pesan ayahnya dahulu berkali kali.

Dan sifat pemuda ini cocok sekali dengan semua nasehat ayahnya.

Entah mengapa menghadapi pemuda ini, Siauw Yang yang tahu bahwa dia memiliki kepandaian silat yang kalau dibandingkan dengan pemuda lemah ini sudah amat tinggi, namun selalu kekerasan hatinya mencair dan ia sama sekali tidak bisa menganggap bahwa pemuda ini kalah berkuasa atau kalah kuat olehnya.

Bahkan ia mendapatkan sesuatu yang amat kuat dan berpengaruh dalam sikap yang luaak dan tenang dari Pun Hui.

"Baiklah, baiklah,"

Katanya."Asal saja orang tidak berlaku curang kepada kita."

Maka pergilah kedua orang muda ini, mengikuti dua orang utusan yang membawanya melalui beberapa ruang yang besar dan indah sekali.

Siauw Yang dan Pun Hui sampai kelihatan seperti seorang gunung baru masuki kota besar.

Tiada hentinya mereka mengagumi semua perabot perabot yang berada di setiap ruangan, dan mereka memandang ke kanan kiri dengan bengong.

Rumah tempat tinggal Siauw Yang juga bukan kecil dan ayahnya juga mempunyai banyak perabot perabot rumah yang cukup baik, akan tetapi kalau dibandingkan dengan keadaan di gedung ini, rumah ayahnya itu kelihatan seperti rumah miskin keadaannya.

Akan tetapi, segera perhatian mereka tertarik oleh suara orang orang bercakap cakap diselingi gelak tertawa yang terdengar dari balik sebuah pintu gerbang yang tertulis dengan huruf huruf emas.

LIAN BU THIA.

Dua orang utusan itu berhenti di depan pintu ini dan berkata.

"Harap ji wi (tuan berdua) suka menunggu sebentar, kami hendak melaporkan kedatangan ji wi lebih dulu."

Mendengar kata kata ini, kembali sepasang alis yang kecil panjang di wajah Siauw Yang berkerut, ia makin gemas melihat segala aturan ini, seakan akan orang menghadap kaisar saja.

Akan tetapi kembali Pun Hui berkata.

"Baiklah, kami akan menanti di sini."

Pintu dibuka dan dua orang itu masuk.

Dalam sekejap ketika daun pintu terbuka tadi, Siauw Yang dapat melihat sedikitnya tujuh orang duduk di dalam ruang main silat yang amat lebar di balik pintu itu.

Akan tetapi daun pintu segera ditutup kembali dan terpaksa menanti di luar bersama Pun Hui.

Gadis ini memadi amat tidak sabar dan ia kelihatan murung.

Pun Hui yang lebih tenang, sekelebatan saja tahu akan isi hati gadis perkasa ini, maka ia berusaha untuk menghiburnya.

"Sumoi, kaulihat, bukankah lukisan ini indah sekali?"

Katanya sambil menudingkan telunjuknya ke arah sebuah di antara banyak lukisan yang tergantung di dinding tempat menunggu itu.

Siauw Yang menengok dan ia melihat sebuah lukisan yang memang indah sekali.

Dalam Lukisan itu nampak seorang kakek yang sedang duduk seorang diri sambil minum arak dan cawan arak di tangan kanannya, ia memandang ke arah bulan yang bercahaya teduh di antara awan.

Tumbuh tumbuhan di sekitarnya yang dilukis dengan tipis dan hampir tidak kelihatan.

Namun bayangan hitam dari kakek itu kelihatan nyata sekali berada di belakangnya.

Inti daripada lukisan itu, yang amat ditonjolkan, hanyalah si kakek itu sendiri, cawan arak, bulan dan bayangan kakek.

Siauw Yang mengerti tentang keindahan lukisan dan ia dapat membaca arti sebuah lukisan, karena ayah ibunya juga penggemar lukisan lukisan.

Di rumahnya banyak tergantung lukisan lukisan kenamaan dan sering kali ia diberi petunjuk oleh ayah bundanya tentang arti sebuah lukisan.

Maka Siauw Yang dapat menduga perasaan seorang pelukis dalam lukisannya.

Karena biasanya, perasaan dari pada pelukis dicurahkan ke dalam hasil karyanya.

Akan tetapi, menghadapi lukisan ini, Siauw Yang kurang mengerti.

Ia tahu bahwa pelukisnya sengaja menonjolkan tri tunggal, yakni bulan, kakek dan bayangan.

Akan tetapi apakah maksud pelukis dengan penonjolan ini?

"Suheng, lukisan ini memang indah, akan tetapi apakah maksudnya?

Mengapa penonjolan bulan, kakek dan bayangan seakan akan berlomba, memperkuat keadaan masing masing, dan akhirnya toh cawan arak itu yang paling menonjol, sungguhpun seakan akan hendak dikesampingkan oleh yang tiga ini?"

Pun Hui menoleh dan memindang kepada nona itu.

Pandang matanya penuh kekaguman dan kasih sayang.

Dua pasang mata bertemu dan melihat sinar kagum dalam mata pemuda itu, tiba tiba Siauw Yang merasa wajahnya panas dan tanpa ia ketahui, mukanya telah menjadi merah.

"Eh, kau tidak menjawab pertanyaanku malah memandang seakan akan aku ini setan saja,"

Siauw Yang berkelakar melenyapkan perasaan jengah pada hatinya.

"Apakah kau tidak mengerti artinya pula?"

Pun Hui sadar dan juga mukanya terjalar warna merah.

"Sumoi, kau benar benar hebat. Tidak saja ilmu silatmu lihai, tetapi juga kau pandai sekali membaca lukisan ini. Dan kau akan mengerti artinya. Ketahuilah, bahwa pelukisnya melukiskan isi daripada sajak yang ditulis oleh pujangga Li Po."

"Bagaimana bunyi sajak itu, suheng?"

Tanya Siauw Yang gembira tidak saja karena ia ingin mendengar bunyi sajak yang dilukis oleh pelukis secara indah ini, akan tetapi terutama sekali gembira karena kagum bahwa pemuda ini agaknya mengerti akan segala hal.

"Sajak itu kalau tidak salah demikian bunyinya,"

Kata Pan Hui sambil meramkara kedua matanya dan mengingat ingat akan bunyi sajak kuno tulisan pujangga Li Po itu.

Di antara bunga minum arak tanpak kawan Ku angkat cawan arak menghadap bulan "Bulan ciptakantah bayangan Agar kita menjadi tiga sekawan!"

Sayang, bulan tak dapat minum arak Dan bayangan hanya kosong bergerak gerak Namun, aku mempunyai kedua kawan ini Untuk menemaniku menikmati musim semi.

Aku benyanyi, bulan berlenggang di antara mega Aku menari bayangan berlenggang jenaka.

Kemudian aku mabok dan kamipun berpisah!

Ah, dapatkah kemauan baik bertahan selalu?

Aku memandang seribu bintang yang tetap membisu.

"Bagus sekali!"

Siauw Yang memuji kagum.

"Suheng, setelah mendengar sajak itu, lukisan ini nampak makin indah. Sekarang kelihatan olehku mengapa cawan arak itu akhirnya mengusai keadaan, mengapa persatuan bulan-kakek-bayangan itu kalah olehnya. Sekarang tampak olehku. Lihat, bukankah titik yang merupakan bintang di angkasa itu seakan akan tersenyum dan mentertawakan ketololan si pemabok yang ditimbulkan oleh kesunyiannya?"

Jilid XXII "MEMANG sumoi. Dan yang paling membikin aku kagum sekali adalah ketajaman perasaanmu, yang dapat mengupas lukisan itu demikian jelasnya. Kau berbakat seni, sumoi."

Siauw Yang tertawa.

"Ayahku pernah berkata, bahwa hidup ialah seni abadi. Perwujudan manusia inilah seni yang paling agung. Bentuk bentuk bunga, daun, batu, mega dan lain lain itulah seni terindah yang tiada taranya. Seni buatan manusia hanyalah, jiplakan belaka!"

Pun Hui memandang kepada gadis itu dengan mata terbelalak.

"Sumoi, kau merendahkan kaum seniman!"

Siauw Yang tersenyum geli.

"Eh, eh, suheng jangan lantas ngamuk! Aku hanya mengulangi ucapan ayah saja."

"Kalau demikian anggapan ayahmu, tentu kau telah mendengar pula mengapa ayahmu berpendapat seperti itu."

"Memang, akupun sudah bertanya penjelasannya dan ia telah pula menjelaskannya."

"Bagaimana penjelasannya?"

"Nanti dulu, kau harus berjanji jangan marah marah seperti itu, karena aku hanya seorang bodoh dan yang akan kusampaikan ini hanya pandangan ayah. Pula, kau tidak boleh marah kepada ayahku, karena di dunia ini tidak ada orang yang lebih baik, lebih sempurna, dan lebih pandai melebihi ayahku, yakni menurut pendapaku."

Pun Hui tersenyum kembali dan mengangguk angguk.

"Memang seharusnya demikianlah pikiran seorang anak yang berbakti. Baiklah, sumoi. aku akan mendengarkan penjelasanmu dengan tenang. Nah, katakan mengapa ayahmu menganggap bahwa seni buatan manusia itu hanya jiplakan belaka?"

"Misalnya lukisan ini. Memang indah sekali lukisan ini, bukan? Dan tanpa ragu ragu aku sendiri berani menyatakan bahwa lukisan ini adalah hasil seni manusia yang amat indah dan baik. Akan tetapi, lukisan ini takkan jadi apabila pujangga Li Po tidak menciptakan sajaknya MINUM ARAK BERSAMA BULAN DAN BAYANGAN yang kau bacakan tadi. Si pelukis ini bukan menciptakan lukisan atas hasil ciptanya sendiri, melainkan ia menjiplak dan isi sajak pujangga Li Po, Bukankah ini termasuk jiplakan?"

"Hm, aku mengerti maksudmu. Akan tetapi, bukankah ciptaan Li Po yang merupakan sajak indah itu tidak menjiplak dari siapapun juga?"

Bantah Pun Hui.

"Bukan demikian anggapan ayah. Betapapun indahnya sajak itu, tetap saja ia jiplakan. Keindahannya hanya sebagai cukilan tak berarti daripada keindahan keadaan yang sudah ada, daripada keindahan bulan, kakek, dan bayangan yang sudah ada dan sudah memiliki keindahan sepenuhnya! Coba kaukatakan, kalau tidak ada bulan, tidak ada bayangan dan tidak ada kakek itu mungkinkah Li Po menciptakan sajak tadi? Bukankah ia hanya meminjam saja daripada keindahan alam dan isinya yang sudah ada? Nah, itulah maka ayah berani mengatakan bahwa segala hasil seni manusia hanya jiplakan belaka daripada seni alam yang diciptakan tanpa contoh dan tanpa meniru oleh Thian Yang Kuasa!"

Pun Hui tertegun. Di dalam semua kitab yang pernah dibacanya, ia belum pernah mendengar tentang filsafat seperti ini. Sampai lama ia termenung lalu menghela napas dan berkata.

"Sumoi, ayahmu itu orang luar biasa. Aku ingin sekali bertemu dengan dia!"

Siauw Yang tertawa girang, akan tetapi ketika ia menoleh ke kiri dan membaca tulisan sajak yang tergantung di itu, ditulis dengan tulisan yang bergaya indah tiba tiba wajahnya menjadi muram.

Pun Hui menjadi heran dan cepat membaca sajak itu dengan suara lantang.

Disaksikan barisan gunung biru di utara kota, Dan di timur nampak memutih air samudera.

Di sini kau harus tinggalkan aku dan mengalir pergi Seperti tangkai bunga hanyut di air sungai.

Akan kukenang kau seperti awan berarak di angkasa Yang harus berpisah dengan matahari di barat sana.

Tangan melambai selamat berpisah....

Kudaku meringkik ringkik, merintih sudah.....

Sehabis membaca ini, tiba tiba Pun Hui meraja seakan akan kerongkongannya tersumbat.

Teringatlah ia bahwasanya iapun akan mengalami perpisahan menyedihkan ini.

Akan tiba saatnya bahwa iapun harus melepas Siauw Yang pergi meninggalkannya!

Dengan perlahan ia menengok dan alangkah terharunya ketika ia melihat betapa sepasang mata gadis itu menjadi merah, kemudian tiba tiba gadis itu membalikkan tubuh membelakanginya, ia dapat menduga bahwa Siauw Yang melakukan hal ini untuk menyembunyikan dua butir air mata yang melompat keluar dari pelupuk matanya.

"Pujangga Li Po memang seorang perengek!"

Tiba tiba Pun Hui berkata keras dengan maksud menghibur hati siauw Yang.

"Di dalam sajak sajaknya selalu terbayang kelemahan hatinya, selalu ia merengek dan mengeluh. Apa gunanya semua keluh kesah itu? Tidak ada persatuan yang tak pernah berakhir, seperti juga tidak ada perceraian yang kekal. Ah, jemu aku kepada si perengek itu!"

Pada saat itu, keadaan yang amat berkesan di dalam hati mereda itu lenyap oleh terbukanya pintu.

Baru mereka ingat bahwa semenjak tadi mereka sedang menunggu di luar pintu dan baru teringat oleh mereka bahwa kedua orang pesuruh tadi telah masuk lama sekali.

Tentu saja Siauw Yang tidak tahu bahwa dua orang pesuruh tadi mence ritakan keadaan mereka, juga kelihaian gadis itu dan terutama sekali kelihaian pemuda yang dianggap luar biasa, kepada Siauw ong ya Ciong Pak Sui.

"Selamat datang di rumahku yang buruk. Sungguh menggembirakan sekali bahwa ji wi suka datang memenuhi undanganku untuk bermain catur. Aku mendengar bahwa ji wi asyik sekali bermain di rumah penginapan, maka aku sengaja mengundang kepada ji wi untuk datang main main di sini dan bermain catur yang juga menjadi kegembiraanku,"

Kata seorang laki laki yang membuka pintu dan yang menjura kepada mereka.

Siauw Yang dan Pun Hui memandang tajam.

Orang laki laki ini berusia kurang lebih empatpuluh tahun, berwajah gagah dengan cambang melintang dan bertubuh kekar.

Pakaiannya amat mewah, dengan baju sulam benang emas.

Mulutnya selalu tersenyum mengejek dan yang membuat senyum itu lebih kuat adalah lekuk di tengah tengah dagunya.

Ia melayangkan pandang matanya kepada Siauw Yang, dengan kagum sekali.

Siauw Yang meniru Pun Hui yang membalas penghormatan tadi, kemudian gadis ini mendahului Pun Hui dengan ucapan yang terdengar halus penuh sindiran.

"Memang, kami berdua sedang bermain catur dengan asyik dan sepanjang pengetahuan kami, permainan catur kami tidak mengusik seorangpun. Akan tetapi sayang, permainan itu terganggu oleh datangnya pencuri jahanam yang membawa lari kudaku Ang ho ma, bahkan ia telah membawa lari pula tiga biji catur sehingga kami tidak dapat melanjutkan permainan catur kami."

Mendengar ucapan ini, pangeran muda itu tertawa gembira dan berkata.

"Ha, ha, ha, kau jenaka sekali, nona. Mari, mari, silahkan masuk di ruang ini dan kita dapat bicara dengan enak."

Ia membuka pintu itu lebar lebar dan mempersilakan dua orang muda itu masuk.

Dengan tenang dan tabah, Pun Hui dan Siauw Yang memasuki ruang lian bu thia itu.

Enam orang laki laki lain yang rata rata memiliki sifat gagah, berdiri dari tempat duduk mereka dan memberi hormat yang dibalas dengan sederhana oleh Siauw Yang dan dengan hormat oleh Pun Hui.

Kemudian dua orang muda ini menduduki bangku yang disediakan oleh tuan rumah, duduk mereka menghadapi tujuh orang itu.

Di atas meja yang berada di depan dua orang muda ini, benar saja sudah tersedia papan catur yang lebar dan indah, terbuat daripada kain sutera putih yang diberi gambar kotak kotak untuk bermain catur.

Di dekat papan catur ini terdapat sebuah peti kecil terbuat daripada emas, sudah terbuka tutupnya dan nampak biji biji catur yang mengkilat dan indah sekali, terbuat daripada gading!

Inilah seperangkat alat catur yang amat indah dan luar biasa harganya.

Sebagai seorang ahli catur, tentu saja Pun Hui merasa suka sekali dan tak terasa pula tangannya menyentuh papan dan biji biji catur sambil memuji.

"Benar benar indah sekali!"

Pangeran muda Ciong Pak Sui tertawa, lain ia cepat cepat berkata.

"Hanya seorang ahli catur yang pandai saja yang dapat menghargai barang barang ini. Saudara muda, mari kita bertanding catur. Memang aku mengundang kalian ini untuk diajak bertanding catur!"

"Apa taruhannya?"

Siauw Yang bertanya dengan suara tegas "Apakah kudaku sendiri yang tercuri akan dipertaruhkan oleh orang lain?"

"Sabar, nona,"

Ciong siauw ong berkata sambi menggerakkan tangannya.

"Kudamu terpelihara baik baik dan kami hanya ingin membuktikan apakah benar benar kuda itu tak terkalahkan. Tak tahunya, hanya kuda biasa saja, siapa yang mau mencurinya? Baiklah sekarang kita bertaruh. Kalau aku kalah bermain catur dengan suhengmu ini, aku hendak memberikan seperangkat alat catur ini, sebaliknya kalau dia kalah, kau harus tinggalkan kuda merah mu di sini."

Siauw Yang berdiri dengan marah.

Ia menggebrak meja dan terdengar suara keras.

Biarpun papan meja yang amat tebal itu tidak tergetar sama sekali, namun ketika ia mengangkat kedua tangannya dari atas meja, nampak dua lubang bekas tangannya tadi.

Ternyata bahwa meja itu di bagian yang terpukul telapak tangannya, telah berlubang!

"Enak saja orang bicara!

Mana ada orang orang gagah bertaruh dalam bermain catur?

Memalukan!

Pertaruhan boleh tetap menggunakan alat catur dan kudaku, karena suhengku agaknya suka melihat alat catur ini.

Akan tetapi bukan dengan bermain catur, melainkan dengan mengukur kepandaian silat!"

Mendengar ucapan ini dan melihat sikap Siauw Yang, enam orang kawan pangeran itu bangkit berdiri dan seorang di antaranya berseru.

"Bagus! Nona muda hendak mengagulkan kepandaian disini!"Akan terapi, pangeran itu tertawa dan dengan isarat tangannya, ia menyuruh enam orang kaki tangannya itu duduk kembali. Lalu ia tertawa tawa mengadapi Siauw Yang sambil berkata.

"Bun (setera) dan bu (ilmu silat) tak boleh dipisah pisahkan, suhengmu ini memberi contoh yang baik sekali nona. Lihat saja, sungguhpun ia lihai, pakaiannya seperti sasterawan dan ia suka bermain catur. Sungguh cocok dengan aku sendiri! Tentu saja, dalam penemuan yang menggembirakan ini, harus tedengar suara pedang beradu dan bunga api berpijar. Marilah kita atur seadil adilnya. Suhengmu ini suka bermain catur dan kau agaknya lebih suka bermain silat. Maka biarlah pertandingan dilakukan dua babak, sebabak permainan catur dan sebabak lagi pertandingan silat. Untuk permainan catur suheng itu yang maju dan untuk pertandingan silat, kau yang maju. Dalam pertandingan catur, kau tidak boleh membantu suhengmu, sebaliknya dalam pertandingan silat, suhengmu tak boleh membantu. Bagaimana, apakah kau setuju, nona?"

Siauw Yang tersenyum, ia dapat melihat isi hati tuan rumah ini yang hendak berlaku cerdik, ia tahu bahwa mungkin sekali tuan rumah ini menganggap bahwa kepandaian silat Pun Hui tentu lebih lihai dari padanya.

Hal ini memang sudah semestinya, karena tentu saja kepandaian seorang suheng tentu lebih lihai daripada kepandaian seorang sumoi.

Oleh karena itu, pangeran muda itu hendak berlaku cerdik, yakni mengajak Pun Hui bermain catur dan mengajak dia bertanding silat.

"Baiklah,"

Kata Siauw Yang cepat cepat ketika melihat wajah Pun Hui nampak khawatir ketika mendengar ia ditantang silat.

"Akan tetapi, bagaimana kalau terjadi seri? Kepandaian catur suhengku amat tinggi, aku tidak khawatir dia akan kalah, akan tetapi ilmu silatku masih rendah sekali. Bagaimana kalau dalam pertandingan catur suheng menang dan dalam pertandingan silat aku kalah?"

Ciong Pak Sui tertawa lagi.

"Ha, ha, ha, nona, kau benar benar berpandangan luas dan jauh. Memang betul sekali apa yang kaukatakan tadi. Ada kemungkinan kita berhasil seri dalam dua pertandingan. Oleh karena itu, baik diatur begini saja. Kalau ternyata berhasil seri yakni satu kali kalah satu kali menang, maka diadakan pertandingan ke tiga untuk menentukan hasilnya, yakni adu balap."

"Berpacu kuda maksudmu?"

Tanya Siauw Yang.

"Benar, berpacu kuda. Kau menaiki kuda merahmu dan aku akan menaiki kudaku sendiri, bagaimana?"

"Baik, jadilah. Akan tetapi, oleh karena pertandingan silat merupakan pertandingan yang paling menentukan, kuminta supaya penandingan catur didahulukan, kemudian pertandingan pacu kuda. Setelah terjadi seri, barulah pertandingan silat yang akan menentukan menang kalahnya. Ucapan ini diterima salah oleh pangeran muda she Ciong itu. Ia mengira bahwa gadis ini agak jerih kepadanya, maka ia tertawa gembira dan menyatakan persetujuannya. Padahal ucapan Siauw Yang tadi dilakukan dengan pemikiran yang amat masak. Gadis ini memang cerdik sekali, ia pikir bahwa permainan catur suhengnya itu memang benar benar sudah amat lihai dan ketika memberi pelajaran catur kepadanya, pemuda ini dapat menjelaskan seluruh gaya permainan berikut tehnik dan taktiknya secara terperinci. Pengetahuannya dalam permainan ini amat mendalam dan luas. Oleh karena itu, banyak harapan pertandingan akan dimenangkan oleh Pun Hui. Adapun tentang pertandingan kedua, yakni berpacu kuda, ia percaya penuh akan kecepatan Ang ho ma. Menurut ayah nya, kuda putih milik ayahnya sudah merupakan seekor kuda yang jarang tandingannya, akan tetapi setelah ia mendapatkan Ang ho ma ia mendapat kenyataan bahwa kecepatan Ang ho ma agaknya masih melebihi Pek hong ma, milik ayahnya. Maka kalau dia yang menunggang Ang ho ma, agaknya ia takkan mungkin dikalahkan oleh pangeran itu. Hal ini bukan karena ia meragukan kemenangannya dalam pertandingan pibu (adu kepandaian silat). Akan tetapi ia hanya seorang diri, Pun Hui tak dapat diandalkan sama sekali dalam pertandingan silat. Kalau dalam pertandingan ke dua itu ia menang, setidaknya lawan sudah dapat mengukur sampai di mana batas kepandaiannya dan tentu akan mengatur siasat yang curang. Sebaliknya, kalau pertandingan pibu dilakukan terakhir, ia akan mengerahkan seluruh kepandaian dan akan menawan pangeran itu, sehingga ia dapat memaksanya menyerahkan kuda dan memberi jalan keluar untuk dia dan suhengnya. Pertandingan pertama sudah disiapkan. Meja untuk bermain catur dipasang di tengah ruangan itu, dan meja ini spesial untuk bermain catur, yakni agak rendah ukurannya. Dua buah bangku yang memakai kasur rumput di atasnya, dipasang berhadapan di belakang meja itu. Papan catur sudah dipasang di atas meja dan peti terisi biji biji catur pun sudah disediakan.

"Silahkan, saudara muda, mari kita mulai pertandingan catur!"

Kata pangeran itu sambil memberi tanda kepada Pun Hui untuk menduduki bangku sebelah selatan. Sebelum penandingan dimulai, sudah selayaknya kalau aku mengetahui lebih dulu nama lawanku!"

"Siauwte bernama Liem Pun Hui, dan nama siauw ong ya sudah siauwte ketahui, yakni Ciong Pak Sui siauw ong. Betul atau tidaknya, masih mengharapkan penjelasan."

Jawab Pun Hui dengan sikapnya yang hormat sebagai seorang sasterawan terpelajar. Ciong Pak Sui tertawa.

"Benar benar hebat seekor harimau berkulit domba. Siapa tahu kalau di balik sikap dan tutur sapamu yang ramah dan sopan santun itu bersembunyi kelihaian silat yang luar biasa? Ha, ha, Liem siucai, dugaan mu itu benar. Aku adalah Pangeran Ciong Pak Sui."

Sebelum pertandingan dimulai, pangeran ini menerima sebatang huncwe panjang dari seorang wanita, lalu ia mengisi tembakau pada huncwe itu dan menyalakannya.

Asap hitam mengebul keluar dari huncwe itu dan baunya bukan main kerasnya.

Melihat betapa pangeran itu tidak mengisap asap itu ke dalam dada, hanya dari mulut, Siauw Yang menjadi terkejut sekali.

Ia adalah puteri seorang tokoh kang ouw dan telah banyak mendengar dari ayahnya betapa lihai dan jahat serta curangnya orang orang di dunia kang ouw, maka melihat hal ini ia sudah mendapat dugaan bahwa dengan asap tembakau yang keras itu, pangeran itu hendak membikin Pun Hui terpengaruh oleh asap itu dua menjadi pening kerena baunya.

Dan dengan demikian, tentu pemuda itu akan menjadi kacau pikirannya, dan tak dapat bermain dengan baik.

Setelah berpikir sebentar, Siauw Yang lalu mengeluarkan saputangannya yang disimpan di balik baju di bagian dada, yaitu sehelai saputangan hijau dari sutera.

Dengan cepat ia mencabut saputangan itu dan menyerahkannya kepada Pon Hui sambil berkata.

"Suheng, pakailah saputangan ini untuk menghapus peluh nanti."

Merah sekali wajah Pun Hui ketika ia menerima saputangan itu.

Ia melihat sendiri betapa saputangan itu dikeluarkan dari balik pakaian di bagian dada, dan kini diberikan kepadanya di depan banyak orang.

Pada saat itu, Ciong Pak Sui mengebulkan asap tembakaunya ke depan dan tentu saja ada sebagian asap yang mengenai hidung Pun Hui.

Hampir saja pemuda ini terbangkis bangkis ketika ia mencium bau tembakau yang amat keras itu.

Tanpa disadarinya ia lalu membekap hidangnya dengan tangan yang memegang saputangan hijau dan alangkah harumnya saputangan itu.

Selain harum, juga mengandung keharuman yang menghilangkan bau tidak enak dan tembakau tadi.

Pikirannya yang cerdik bekerja cepat dan....

ia memandang kepada Siauw Yang dengan mata penuh terima kasih dan pengertian, namun hatinya agak kecewa!

Ia berterima kasih karena sekarang ia tahu akan maksud dara itu memberi saputangan itu kepadanya, yakni untuk menolak hawa busuk dari tembakau itu.

Dan ia kecewa karena ternyatalah sekarang olehnya bahwa pemberian saputangan itu bukan sekali kali sebagai pernyataan suara hati seperti yang tadi disangkanya, melainkan untuk menolongnya itulah!

Jadi bukan sekali kali untuk menghapus peluh, melainkan untuk ditutupkan di depan hidung sehingga asap tembakau yang keras itu takkan mengganggunya dalam permainan catur yang akan dilangsungkan ini.

Pertandingan segera dimulai.

Ciong Pak Sui yana memandang rendah lawannya, mempersilakan Pun Hui memilih biji putih dan menyuruhnya bermain lebih dulu.

Pun Hui mulai bermain dengan amat hati hati dan sekejap kemudian perhatiannya dicurahkan seluruhnya pada biji biji catur dan kotak kotak catur.

Ia tahu bahwa pertandingan ini amat penting, untuk mendapatkan kendali kuda Ang ho ma yang amat disayang oleh Siauw Yang, sekali kali ia tidak ingat lagi akan biji biji catur gading yang indah ini.

Ia tidak bermain untuk mencari kemenangan dan merebut seperangkat alat catur, melainkan untuk mempertahankan kuda Siauw Yang.

Ketika melihat cara Pun Hui mengajukan bji bij caturnya, Ciong Pak Sui mulai terkejut sekali.

Gerakan gerakan itu bukanlah sembarangmu gerakan, melainkan gerakan seorang ahli benar benar.

Setiap langkah diperhitungkannya baik baik, berisi tenaga serangan dahsyat namun di situ bersembunyi pula daya tahan yang amat kokoh kuat!

Pangeran ini lalu melakukan serangan besar besaran dalam bentuk serangan cara Mongol.

Dan sayap kanan kiri dan juga dari tengah, barisan caturnya menyerang dengan bergelombang, mengancam pertahanan Pun Hui dan selalu mengincar raja catur dari pemuda itu.

Sekali saja Pun Hui salah mengajukan biji catur, tentu benteng pertahanannya akan bobol dan ia akan kalah!

Sementara itu, huncwe bertembakau hitam itu tiada hentinya mengebulkan asap hitam dan makin banyak pula sekarang asap hitam itu menyambar ke arah muka Pun Hui, seakan akan asap hitam ini ikut pula bertanding dalam gelanggang pertempuran di papan catur!

Memang inilah siasat eurang daripada pemain catur yang sudah kawakan.

Namun Siauw Yang selalu memandang penuh perhatian dan dengan cemas.

Setelah ia melihat betapa saputangannya kini selalu dipergunakan untuk menutupi hidung pemuda itu dan ternyata bahwa minyak wangi sari kembang culan dan obat pemberian ayahnya penolak racun yang sudah dipergunakan untuk merendam saputangan itu ternyata dapat menolak serangan asap hitam, hatinya menjadi lega dan ia terenyum senyum pula.

Biarpun belum lama ia belajar permainan catur, namun kini iapun asik menonton.

Adapun Pun Hui selelah menghadapi serangan lawannya yang ganas dan galak, segera dapat menyelami taktik permainan lawan.

Diam diam ia merasa girang karena di dalam permainan catur, orang yang mainkan serangan terlampau bernafsu, biasanya pertahanannya sendiri menjadi lemah.

Oleh karena ini, sambil mempertahankan diri dan membuat benteng yang amat kokoh, diam diam Pun Hui mengincar dan mencari cari lowongan yang memungkinkan ia menyerobot dan menyerbu lawan dengan gerakan mematikan.

Mulailah ia memancing mancing dan sedikit demi sedikit mengurangi pertahanannya, membiarkan biji biji catur lawan memasuki daerahnya dan meninggalkan daerah sendiri sehingga sang kaisar catur tidak terlindung kuat.

Melihat betapa keadaan pemuda itu amat terdesak.

Siauw Yang mulai menjadi cemas sekali.

Sebaliknya, sambil tersenyum senyum Pangeran Ciong Pak Sui mendesak makin bernafsu, ingin segera mengalahkan lawan dan membuat kaisar catur putih tak berdaya.

Untuk menjaga rajanya, Pun Hui sengaja memasang perdana menterinya di belakang kuda, sehingga merupakan penahanan yang biarpun kuat namun kedudukannya buruk sekali.

Akan tetapi, sebetulnya ini merupakan pancingan yang lihai.

Ketika dengan amat bernafsu pangeran itu menyerang raja dan tertawa tawa karena tidak lama lagi lawannya pasti kalah, tiba tiba Pun Hui menggerakkan kudanya ke belakang melindungi raja dan karenanya perdana menterinya terbuka dan langsung merupakan ancaman pada raja hitam yang terbuka kedudukannya.

Terkejutlah pangeran itu.

Ia cepat menggerakkan biji catur lainnya mundur untuk melindungi raja.

Namun kini giliran Pun Hui untuk menyerang.

Pemuda ini menggerakkan biji biji caturnya dengan tepat sekali dan setiap gerakan merupakan ancaman maut bagi kaisar hitam.

Lima kali gerakan pula dan matilah raja hitam, tiada jalan untuk lari lagi.

"Kau menang, Suheng,"

Kata Siauw Yang dengan gembira sekali dan dara ini lalu berlompat lompat seperti anak kecil dan memegang tangan Pun Hui, ditariknya keluar dari bangkunya.

Bagi orang lain, juga bagi Pun Hui, sikap gadis ini amat mengherankan.

Akan tetapi sesungguhnya amat tepat karena tanpa diketahui oleh Pun Hui namun sudah diduga oleh Siauw Yang, ketika melihat kekalahannya, dengan muka merah pangeran itu lalu mengirim tendangan dan bawah meja, mengarah anggauta tubuh berbahaya dari pemuda itu.

Kalau saja pun Hui tidak ditarik oleh Siauw Yang, tentu ia akan menjadi mayat terkena tendangan itu.

Andaikata ia memiliki kepandaian tinggi pun belum tentu ia akan dapat mengelak dari serangan menggelap yang tiba tiba ini, apalagi memang ia belum belajar ilmu silat sama sekali.

Karena dara itu keburu membetot lengan Pun Hui, maka Pangeran Ciong Pak Sui menarik kembali tendangannya dan ia bangkit dengan muka merah.

"Hebat sekali kepandaianmu bermain catur,"

Katanya sambil menjura kepada Pun Hui.

"Aku terima kalah, Liem siucai."

"Hal itu hanya mungkin terjadi karena kau memang sengaja berlaku murah hati dan mengalah. Siauw ong ya,"

Kata Pun Hui merendah, akan tetapi ia merasa bangga sekali kepada Siauw Yang, karena bukankah kemenangannya ini berarti memungkinkan gadis itu menerima kembali kudanya?

"Sekarang giliranku untuk mencoba kepandaianmu naik kuda,"

Kata Siauw Yang kepada pangeran itu dengan sinar mata mengejek.

"Baik, baik, nona. Jangan kau girang girang dulu, masih ada satu pertandingan lagi. Akan tetapi aku sudah mengetahui nama suhengmu, akan tetapi kau sendiri, siapakah namamu, nona?"

"Namaku Siauw Yang. Sudahlah, soal nama tak perlu diributkan benar. Lebih baik lekas kau keluarkan Ang ho ma dan mari kita segera mulai pertandingan ini."

Pangeran itu tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha, jangan khawatir, nona. Kudamu telah dipersiapkan di tegal sebelah barat kota. Marilah kita ke sana dan segera kita mulai berlumba."

Mendengar ini, hati Siauw Yang girang sekali.

Tadinya ia masih merasa khawatir karena kalau sampai terjadi pertempuran yang ia duga pasti akan terjadi di dalam bangunan ini, ia merasa kurang leluasa.

Pangeran itu tentu mempunyai banyak anak buah dan kalau sampai terjadi pengeroyokan, di tempat tertutup itu ia akan merasa rugi, apalagi kalau harus melindungi Pun Hui.

Akan tetapi di luar, di udara terbuka, ia akan merasa lebih leluasa.

Karena ini ia merasa lega, dan mengambil keputusan apabila ia sampai kalah dalam pacuan kuda, ia akan mendesak pangeran itu untuk melanjutkan pibu di tempat pacuan kuda itu saja.

Ketika mereka tiba di lapangan rumput di sebelah barat kota, tempat yang amat sunyi, benar saja di situ sudah berkumpul sedikitnya duapuluh orung anak buah pangeran itu dan dua ekor kuda sudah berada di tempat itu pula.

Enam orang kaki tangan pangeran itu memang semenjak tadi mengikuti rombongan ini, seakan akan mereka ini tidak mau terpisah dan Pangeran Ciong Pak Sui.

Sebetulnya enam orang ini adalah pengawal pribadi dari pangeran itu.

Melihat bahwa seekor di antara dua kuda itu adalah Ang ho ma, Siauw Yang menjadi girang sekali dan ia berlari cepat menghampiri kudanya, terus memeluk leher dan menepuk nepuk punggung kuda itu.

Memang benar kata kata pangeran tadi, Ang ho ma kelihatan terawat baik bulunya bersih mengkilap dan agaknya ia sudah kenyang.

Hanya sedikit yang menarik perhatian Siauw Yang, yakni kudanya ini kelihatan pendiam dan amat jinak, bahkan matanya yang biasanya bersinar penuh perasaan, kini nampak seperti mata yang muram.

Akan tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk menyelidiki keadaan kudanya lebih lama, karena Pangeran Ciong Pak Sui telah melompat ke atas punggung kudanya, yakni seekor kuda berwarna coklat yang tinggi besar dan nampaknya kuat sekali.

Kuda ini tingginya melebihi Ang ho ma dan sekali pandang saja tahulah Siauw Yang bahwa kuda itupun seekor kuda yang amat baik dan kuat.

Namun ia tidak gentar dan bahkan di dalam hatinya ia merasa yakin bahwa kuda merahnya pasti akan menang dalam pacuan ini.

"Mari kita mulai!"

Kata pangeran itu.

"Kau lihat lapangan rumput ini, nona? Nah, kita berpacu mengelilingi lapangan rumput ini sejauh lima kali putaran. Kita mulai dari sini dan berakhir di sini pula."

Siauw Yang dengan tenang lalu melompat ke atas punggung Ang ho ma. Gerakannya yang lincah dan riagan sekali membuat kugum semua orang.

"Pangeran, bagaimana kita hendak berpacu? Dengan cara bebas ataukah dengan syarat syarat tertentu?"

Tanya Siauw Yang dengan suara tenang pula.

Mendengar ini Pangeran Ciong tertegun.

Tak pernah disangkanya, bahwa dara ini agaknya seorang ahli berpacu kuda yang mengerti tentang peraturan berpacu pula.

Akan tetapi ia masih ragu ragu dan hendak mengukur sampai di mana pengertian gadis itu, maka ia bertanya, pura pura tidak mengerti.

"Nona, apakah yang kau maksudkan dengan acara bebas?"

Siauw Yang tersenyun sindir.

"Pangeran Ciong, benar benarkah kau yang terkenal sebagai ahli kuda tidak mengerti ini? Yang disebut berpacu dengan acara bebas, orang yang berpacu boleh mempergunakan segala cara dan daya untuk mencapai kemenangan, ia boleh menghadang perjalanan kuda lawan, boleh memukul kuda, merampas kendali bahkan boleh memukul lawan yang duduk di atas kudanya. Apakah kau menghendaki acara ini? Ataukah kau hendak memakai lain acara?"

Pangeran Gong merasa heran di dalam hatinya. Ah, tidak tahunya gadis ini benar benar seorang ahli dalam pacuan kuda. Akan tetapi di luarnya, ia tertawa.

"Ha, ha, ha, nona Siauw Yang, kaukira aku ini seorang kasar yang biadab? Tidak, aku ingin berpacu mengadu kecepatan kuda dan kesigapan penunggangnya. Tidak boleh menyerang lawan, juga tidak boleh menggunakan akal busuk lain."

"Jadilah!"

Kata Siauw Yang.

"Hayo beri tanda mulai!"

Seorang anak buah pangeran itu telah memegangi sehelai bendera merah dan ia memang sudah siap semenjak tadi.

Setelah mendapat isyarat dari pangeran itu, ia mengebutkan bendera merah itu dan pacuanpun dimulailah.

Siauw Yang memeluk leher kudanya dan menggentak dengan kakinya.

Ang ho ma melompat ke depan bagaikan terdorong oleh tenaga yang besar sekali dan mulailah dua ekor kuda itu berlari cepat sekali.

Namun baru seputaran saja sudah dapat dilihat bahwa Ang ho ma benar benar dapat berlari lebih cepat daripada lawannya.

Apalagi kalau Siauw Yang yang menungangnya, gadis itu seakan akan tidak menginjak tanah.

"Bagus!"

Teriak Pun Hui girang melihat nona itu telah menang beberapa tombak jauhnya, baru dalam satu kali putaran saja.

"Ang ho ma, terbanglah! Terbanglah cepat!"

Ia berteriak teriak seperti laku seorang pecandu pacuan kuda yang menjagoi kudanya dalam taruhan uang besar.

Biarpun ia sudah mencambuki kudanya dan berusaha sedapat mungkin untuk mengejar, namun Pangeran Ciong harus mengakui keunggulan kuda merah itu, ia masih saja kelihatan tertawa tawa, seakan akan tidak khawatir kalah sama sekali.

Tiga putaran sudah dilalui dan selalu kuda Ang ho ma mendahului lawannya, kini sampai setengah putaran jauhnya.

Dan kuda coklat masih terus mengejar cepat.

Pada putaran ke empat, tiba tiba Ang ho ma terhuyung huyung dan kalau Siauw Yang tidak cepat melompat turun dan memegangi kendali kuda itu, tentu Ang ho ma akan terjungkal ke depan.

Kuda itu terengah engah, meringkik ringkik, tubuhnya gemetar peluhnya membasahi seluruh tubuh dan ia tak kuat lari lagi.

Anak buah Pangeran Ciong bersorak sorak melihat betapa kuda pangeran itu dapat menyusul dan bahkan terus berlari cepat satu kali lingkaran lagi, berarti sudah lima putaran dan kuda nona itu masih saja berdiri muntah muntah.

Pun Hui mengerti gelagat dan untuk mencegah jangan sampai nona itu mendapat malu serta hendak menghiburnya, ia lalu berlari menghampiri Siauw Yang.

Ternyata gadis itu wajahnya pucat sekali dan melihat Pun Hui, ia berkata marah.

"Akan kuhancurkan kepala pangeran jahanam itu,"

Katanya perlahan.

"Ia telah meracun Ang ho ma."

Mendengar ini Pun Hui menjadi pucat. Ia melihat Siauw Yang menggerakkan tangan hendak mencabut pedangnya, maka ia cepat memegang lengan tangan gadis itu.

"Sumoi, jangan berlaku bodoh."

"Suheng, aku bukan pengecut. Kejahatan harus dibalas dengan kekerasan yang adil!"

"Nanti dulu, sumoi. Salah sekali pikiranmu itu. Kalau kau menyerang mereka, kau akan rugi besar. Pertama tama kau akan menimbulkan keributan dan permusuhan sehingga Ang ho ma yang terkena racun takkan mendapat obat. Ke dua, kau berarti akan melanggar peraturan sehingga kau berada di fihak salah. Ke tiga, kalau kau menyerang dengan kekerasan, tentu kau akan dikeroyok. Ke empat, penyeranganmu itu akan berarti bahwa kita sudah kalah dalam pertandingan dan pertaruhan ini dan kalau kita memaksa mereka menyerahkan kuda, namamu akan rusak di dunia kang ouw sebagai seorang gagah yang tidak memegang janjinya."

Siauw Yang tertegun. Tak pernah ia berpikir sejauh itu. Bukan main luasnya pandangan pemuda ini. Ia mengangguk angguk dan bertanya.

"Habis, bagaimana baiknya, suheng? Mereka telah meracun kudaku, apakah aku harus diam saja? "Tentu saja tidak,"

Kata Pun Hui berbisik.

"kau pura pura tidak tahu tentang kuda ini dan mengaku kalah. Kemudian kau tentu akan menghadapi dalam pertandingan terakhir, yakni pertandingan silat. Nah, di dalam pertandingan ini, aku mengharap saja sepenuh hatiku agar kau dapat mengatasinya, kau mengalahkan dia, akan tetapi jangan sekali kali membunuhnya, hanya kalau bisa membikin dia tidak berdaya dan mengancam agar supaya ia mau mengobati dan mengembalikan kuda serta berjanji takkan mengganggu kita. Bukankah ini lebih halus dan lebih baik lagi daripada menghadapi keroyokan mereka? Bukankah lebih baik menghadapi seorang lawan daripada kulihat sedikitnya ada duapuluh tujuh orang lawan?"

Mau rasanya Siauw Yang memeluk pemuda itu saking girang dan kagumnya, juga karena ia berterima kasih sekali.

Memang siasat ini jauh lebih sempurna daripada kalau ia menurutkan nafsu amarah dan mengamuk seperti seorang pengacau yang tidak tahu aturan.

Ia lalu menuntun kudanya, menghampiri Pangeran Ciong yang sudah turun dan kuda dan dengan bangga menanti kedatangan Siauw Yang dan Pun Hui.

"Nah, kali ini aku lebih beruntung dan menang!"

Katanya.

"Kita masih seri, dan menurut perjanjian...."

Sampai di sini ia memandang tajam kepada Pun Hui.

"menurut perjanjian, yang akan maju sebagai wakil kalian untuk menghadap pibu, adalah nona ini, bukan kau, Liem siucai."

Pun Hui tersenyum geli, mentertawakan dalam hati atas ketololan pangeran ini yang mengira ia lebih lihai daripada Siauw Yang.

"Kami tahu,"

Katanya.

"dan orang gagah takkan menarik kembali omongannya."

"Memang tadi aku kalah karena sedang sial,"

Kata Siauw Yang, menahan amarah sedapat mungkin dan senyumnya masih manis dan makin lebar saja, akan tetapi matanya makin bercahaya tajam.

"kudaku tiba tiba saja menderita sakit. Biarlah, untuk penghabisan kali aku mengharapkan petunjuk dari Pangeran Ciong. Dalam pertandingan terakhir ini aku minta agar supaya dilakukan di sini saja, tempatnya lebih luas. Bagaimana yang kau kehendaki, pangeran? Dengan senjata atau bertangan kosong?"

"Dengan senjata,"

Kata Pangeran Ciong Pak Sui cepat, karena ia tidak melihat nona ini membawa senjata maka segera mencari keuntungan oleh kenyataan ini.

"akan tetapi jangan di sini lebih baik di lian bu thia di rumahku. Di sana banyak tersedia segala macam senjata dan kau boleh memilih sebuah di antaranya."

Siauw Yang menggeleng kepalanya.

"Aku menerima permintaanmu untuk menggunakan senjata dalam pibu ini, akan tetapi tidak di sana harus di tempat ini juga. Tentang senjata, terima kasih, aku tidak perlu pinjam senjatamu."

"Akan tetapi kau tidak bersenjata."

"Biarlah, aku akan mencari di sini saja."

"Akan tetapi, tidak boleh kau meninggalkan tempat ini lebih dulu untuk mencari senjata,"

Pangeran itu berkata dengan licin sekali.

"Tak perlu pergi dari sini, pangeran. Kalau kau sudah siap, lekaslah kau keluarkan senjatamu. Aku akan menghadapimu sekarang juga!"

Senyum gadis ini makin lebar saja.

"Bagus!"

Pangeran itu berkata girang sambil menoleh kepada para pengawalnya.

"Kalian menjadi saksi. Nona ini hendak menghadapiku di sini tanpa pergi mencari senjata."

Sambil berkata demikian, Ciong Pak Sui menerima senjatanya yang diberikan kepadanya dari seorang pengawal yakni senjata tombak dengan ronce ronce merah.

Tombak ini panjang dan besar, kelihatannya berat sekali, namun di tangan pangeran itu, kelihatan amat ringan.

"Aku siap, nona. Apakah kau hendak menghadapiku dengan tangan kosong saja?"

"Sabar dulu. Pangeran Ciong, jangan kira bahwa aku akan menghadapimu dengan tangan kosong. Lihat pedangku!"

Begitu tangan gadis ini menyambar ke bslik bajunya, berkelebat sinar kuning mas dan tahu tahu Kim kong kiam telah berada di tangan kanannya.

Ciong Pak Sui terkejut sekali melihat pedang yang bercahaya itu.

Ia maklum bahwa lawannya ini mempergunakan sebatang po kiam (pedang mustika).

Akan tetapi ia tidak merasa gentar dan segera membentak keras.

"Nona, awas senjata!"

Sambil berkata demikian, tombaknya menyerang dengan ilmu tombak yang disebut Sauw jeng kun Jio hoat (Ilmu Tombak Untuk Menyerampang Ribuan Tentara).

Gerakan tombaknya cepat dan kuat sekali, sehingga ketika tombak itu bergerak gerak, terdengar bunyi mengaung dan ujung tombak berpecah pecah, seakan akan menjadi beberapa batang banyaknya.

Siauw Yang cepat menangkis dan mengerahkan Kim kong kiam untuk merusak tombak itu.

Akan tetapi ketika pedangnya beradu dengan tombak, hanya suara keras terdengar namun tombak itu tidak rusak sama sekali, tanda bahwa tombak itupun terbuat daripada bahan logam yang keras dan baik.

Dan hebatnya, setiap kali tombaknya ditangkis, tombak itu berbalik dan melanjutkan serangannya dengan gagang yang tidak kurang berbahayanya, karena gagang logam itu dipergunakan untuk menotok jalan darah.

Baru belasan jurus saja, tahulah keduanya bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang tangguh.

Diam diam pangeran itu merasa menyesal sekali mengapa ia tidak bisa melihat orang dan berani mencari gara gara kepada nona ini yang ternyata memiliki kepandaian luar biasa sekali.

Pedang nona ini lenyap berobah menjadi segulung sinar kuning emas dan kemana saja tombaknya menyambar, selalu dihalau pergi oleh gulungan sinar itu.

Baru nona ini saja sudah begitu lihai apalagi suhengnya itu kalau turun tangan!

Sementara itu, Siauw Yang juga mendapat kenyataan bahwa lawannya ini memang benar benar lihai sekali ilmu silatnya, ia pernah menghadapi Bu beng Sin kai dan Sam thouw liok ciang kai dua orang pembantu dari Sin tung Lo kai si raja pengemis, akan tetapi kalau dibandingkan dengan mereka berdua ini, kepandaian Pangeran Ciong masih jauh lebih lihai.

Bahkan, harus ia akui bahwa kepandaian pangeran ini masih lebih tinggi daripada kepandaian Thio Leng Li, puteri raja pengemis itu!

Oleh karena ini, Siauw Yang berlaku hati hati sekali dan setiap gerakannya ia lakukan dengan pengerahan tenaga serta kelincahan yang sudah terlatih hebat, ia kalah tenaga namun menang lincah serta dalam hal ilmu silat, ilmu pedangnya tak perlu menyerah kalah terhadap ilmu tombak dari pangeran itu.

Sama sekali Siauw Yang tidak tahu bahwa ilmu tombak yang dimainkan oleh pangeran itu adalah ilmu tombak yang dipelajarinya dari Pat jiu Giam ong Liem Po Cuan yang pernah ia dengar namanya dari ayah bundanya.

Sebaliknya, Pangeran Ciong Pak Sui juga tidak menduga bahwa ia berhadapan dengan puteri dari Thian te Kiam ong Song Bun Sam.

Biarpun ia belum pernah bertemu dengan pendekar besar ini dan tidak mengenal pedang Kim kong kiam yang dimainkan oleh Siauw Yang, namun nama besar Thian te Kiam ong sudah lama ia dengar.

Setelah ia bertempur tigapuluh jurus lebih dan keadaan mereka masih berimbang, Siauw Yang menjadi penasaran sekali.

Tadinya ia hanya mainkan Kim kong Kiam sut saja, akan tetapi setelah mendapat kenyataan bahwa lawannya terlalu tangguh, ia lalu membentak keras dan tiba tiba Pangeran Ciong Pak Sui menjadi terkejut dan matanya silau.

Pedang di tangan gadis itu kini menyambar nyambar dengan gerakan yang luar biasa sekali, bukan lagi merupakan segulung sinar pedang yang masih dapat ia hadapi dengan tombaknya, melainkan tiba tiba terpecah menjadi enam gulung sinar pedang yang kecil kecil dari yang mengurung serta menyerangnya dan enam jurusan, kanan kiri, depan belakang, bawah dan atas!

Inilah Tee coan Liok kiam sut, raja dari sekalian ilmu pedang!

Pangeran Ciong Pak Sui mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, lalu memberi tanda dengan suitan mulutnya agar kawan kawannya maju mengeroyok lawan!

Akan tetapi, Siauw Yang begitu melihat hal ini, mengkhawatirkan keadaan Pun Hui, maka ia mendapat akal dan berkata.

"Suheng, kalau tikus tikus itu bergerak maju, kauwakililah aku menghancurkan kepala pangeran busuk ini dan biarkan aku yang memberi hajaran kepada para tikus itu!"

Gertakan ini berhasil.

Menghadapi gadis ini saja Pangeran Ciong sudah sibuk sekali, apalagi kalau harus menghadapi suhengnya!

Ia lalu membentak kepada orang orangnya supaya mundur kembali dan pada saat itu, terdengar suara keras dibarengi dengan terpentalnya tombaknya yang ternyata terbabat putus di bagian leher gagang tombak itn memang terbuat daripada logam yang berbeda dengan kepala tombak, mana dapat menahan sabetan Kim kong kiam?

Ciong Pak Sui biarpun merasa kaget dan gentar, namun tidak mau menyerah kalah begitu saja.

Ia masih dapat mempergunakan gagang tombaknya sebagai toya dan masih mengamuk hebat.

Namun, dengan enaknya, berturut turut pedang di tangan Siauw Yang membabat putus gagang tombak itu sehingga akhirnya tinggal pendek saja.

Pangeran Ciong mandi keringat.

Permainan silatnya sudah kacau dan ngawur sehingga sebuah tendangan kilat melayang ke dadanya tanpa dapat ia elakkan pula.

Tubuhnya terlempar ke atas lalu terbanting jauh.

Siauw Yang tidak mau berhenti sampai di situ saja, karena ia teringat akan nasehat Pun Hui.

Maka cepat ia melompat dan sedetik kemudian, ujung pedangnya telah ditodongkan ke arah tenggorokan pangeran itu dan ia berkata dengan suara dingin.

"Pangeran yang curang! Kalau suhengku tidak mempunyai hati yang penuh welas asih dan sabar, tentu pedangku ini sekarang sudah kulanjutkan menusuk lehermu agar kau mampus!"

"Eh, eh, nona. Bagaimanakah ini? Aku sudah kalah, ini aku terima dan kau boleh mengambil taruhannya. Bawalah kudamu dan alat catur itu, akan tetapi mengapa kau masih menghinaku? Apakah ini laku seorang gagah?"

Kata pangeran itu dengan wajah pucat. Siauw Yang tertawa menyindir.

"Bangsat rendah! Kau masih berpura pura bersikap seakan akan kau seorang tokoh kang ouw yang terhormat dan gagah. Akan tetapi apa kaukira aku tidak tahu bahwa kudaku Ang ho ma itu telah kau beri makanan beracun? Dan apakah kaukira aku tidak tahu bahwa kau memang selain bermaksud merampas kuda, juga mau menjatuhkan kami berdua dengan jalan curang?"

"Apa... apa kehendakmu sekarang, nona?"

Pangeran itu memotong bicara Siauw Yang karena merasa malu, bingung, dan juga takut.

"Kau harus dapat menyembuhkan kudaku, memberikan alat catur itu kepada kami dan berjanji takkan mengganggu kami lagi! Kalau kau tidak lekas melakukan semua permintaan ini, tentu lehermu akan tertembus pedang dan semua orangmu akan dihancurkan oleh suhengku."

Pangeran Crong Pak Sui pernah diberi tahu oleh mendiang suhunya, yakni Pat jiu Giam ong Liem Po Coan, bahwa ilmu tombak yang telah dipelajarinya itu sudah amat tinggi.

Kecuali murid murid tokoh besar dunia persilatan, yakni empat yang lain seperti Mo bin Sin kun, Kim Kong Taisu, Lan hai Lo mo dan Bu tek Kiam ong, agaknya sukar untuk mengalahkannya.

Akan tetapi sekarang ia jatuh oleh pedang seorang gadis yang baru belasan tahun usianya!

"Nona Siauw Yang, kau benar benar berani sekali menghina aku, seorang pangeran!"

Bentaknya marah.

"Dunia orang gagah tidak membedakan pangkat atau harta! Yang ada hanya dua golongan, yakni yang baik dan yang jahat harus dibasmi,"

Kata Siauw Yang dengan suara lantang.

"Akan tetapi, aku adalah murid dari Pat jin Giam ong! Apa setelah mendengar nama ini kau tidak memandang muka mendiang orang tua itu?"

"Kebetulan sekali, gurumu itu memang musuh besar ayahku, Thian te Kiam ong!"

Mendengar nama ini, pucatlah wajah Pangeran Ciong.

"Celaka! Orang orangku bermata buta! Hayo kalian penuhi semua permintaan lie taihiap (nona pendekar besar) ini!"

Serunya kepada semua orangnya.

Kuda Ang ho ma lalu diberi minum obat penawar racun, kemudian seperangkat alat catur diberikan kepada Pun Hui.

Bahkan setelah dilepaskan oleh Siauw Yang, pangeran itu memberi hormat dengan sopan dan memberi persembahan sekantong uang emas sebanyak limapuluh tail lebih.

Siauw Yang tidak sudi menerima persembahan ini, akan tetapi Ciong Pak Sui berkata.

"Harap lie taihiap sudi menerimanya, biarlah ini sebagai tanda penghargaan dan pernyataan maaf dariku yang telah berlaku sembrono."

Akhirnya diterima jugalah pemberian ini oleh Siauw Yang dan kedua orang muda itu lalu berpamit pergi.

Mereka menuju ke rumah penginapan, mengambil kuda tunggangan Pun Hui dan buntalan pakaian mereka, lalu mereka melanjutkan perjalanan pada hari itu juga.

"Sumoi, kau benar benar amat mengagumkan. Kalau tidak karena kepandaian mu yang luar biasa itu tentu kita telah mengalami bencana hebat di tangan pangeran itu,"

Kata Pun Hui di tengah perjalanan.

"Suheng, semua berjalan dengan baik berkat adanya kau."

"Eh, jangan kau menyindir, sumoi. Aku sudah merasa malu sekali karena disangka orang memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripadamu."

"Siapa menyindir, suheng. Memang aku bicara terus terang, kalau tadi kukatakan bahwa memang kaulah yang telah menolong kita terbebas daripada bahaya. Kalau saja aku menurutkan nafsu marah, tidak mentaati nasehatmu, mungkin akan terjadi sebaliknya. Di samping itu persangkaan mereka bahwa kau memiliki kepandaian tinggi bukanlah hal yang memalukan, bahkan hal itu patut dibuat bangga, karena hal itulah yang membuat mereka itu takut untuk mengangkat tangan."

"Akan tetapi, kalau kelak mereka bertemu lagi dengan aku dan melihat bahwa sebetulnya aku tidak bisa apa apa, bukankah aku yang akan malu sekali?"

"Mengapa kau mengkhawatirkan hal itu? Bukankah kau adalah murid dari Yap supek dan akan menjadi seorang gagah kelak?"

Mendengar ini, Pun Hui tersenyum dan berkata.

"Aku mengharapkan pertolonganmu untuk kelak memintakan ampun kepada suhu dan untuk sedikit mengisi kekosongan dalam diriku sehingga tidak terlalu memalukan kelak kalau bertemu lagi dengan mereka."

Siauw Yang mengangguk angguk.

Pengalaman yang dialami oleh dua orang muda itu membuat hubungan mereka menjadi makin erat saja dan biarpun keduanya maklum bahwa kepandaian Pun Hui masih jauh sekali untuk patut menjadi suheng, namun Siauw Yang merasa bahwa pemuda itu memang suhengnya sendiri dan iapun selalu taat akan semua nasihat.

Sebaliknya, Pun Hui menganggap Siauw Yang seperti sumoinya sendiri dan ia tidak ragu ragu untuk mengemukakan pandangannya tentang hidup yang tentu lebih masak karena pemuda ini telah banyak mempelajari filsafat dari kitab kuno.

Perjalanan dilakukan dengan cepat sekali karena kini kuda Ang ho ma sudah sembuh sama sekali, dan kuda yang ditunggangi oleh Pun Hui juga bukan kuda lemah.

Siauw Yaug memang sengaja mengambil jalan dari utara karena gadis ini bermaksud hendak mengunjungi kota raja lebih dulu sebelum menuju ke Pulau Sam liong to.

Ia mendengar dari penuturan Tek Hong bahwa pulau itu termasuk dalam Kepulauan Couwsan di sebelah selatan pelabuhan Sianghai.

Keterangan ini cocok dengan petunjuk yang ia dapat dari Pun Hui, maka kini mereka bermufakat untuk menuju ke timur dan setelah tiba di pantai laut, hendak menggunakan perahu berlayar di sepanjang pantai timur daratan Tiongkok, terus ke selatan menuju ke Sianghai, sengaja gadis ini mengambil jalan memutar, bukan tanpa maksud.

Telah lama sekali ia ingin mengembara dan selalu dihalangi dan tidak diperbolehkan oleh orang tuanya.

Sekarang ia mempunyai keinginan hendak mencari pembuat peta yang dianggapnya sengaja memancing datang ayahnya, dan dalam kesempatan ini ia hendak menjelajah semua propinsi lebih dahulu.

Iapun berpikir bahwa banyak kemungkinan ayah bundanya atau kakaknya akan menyusulnya.

Kalau ia langumg menuju ke Kepulauan Couwsao, tentu ia akan tersusul dan maksudnya untuk merantau akan gagal.

Demikianlah setelah tiba di pantai, Siauw Yang lalu dibawa oleh Pun Hui mengunjungi seorang sahabatnya di Tang Sin yang berada di pantai Laut Po Hai.

Sahabatnya ini seorang she Tan dan pernah menjadi kawan sekolahnya ketika Pun Hui menempuh ujian di kota raja dahulu.

Tan siucai seorang laki laki setengah tua yang mewarisi sebuah rumah gedung dan beberapa bidang sawah.

Orangnya peramah sekali dan terpelajar, dan kedatangan Pun Hui bersama Siauw Yang diterima dengan gembira.

Kepada Tan siucai inilah kuda Ang ho ma dan kudanya sendiri dititipkan dengan pesan agar di rawat baik baik dan kelak akan diambil kembali.

Setelah menghaturkan terima kasih.

Siauw Yang dan Pun Hui lalu mencari nelayan yang banyak tinggal di tepi pantai, Dengan beberapa tail emas pemberian dari Pangeran Muda Ciong, Siauw Yang membeli sebuah perahu yang kecil namun yang diperlengkapi dengan dua buuh dayung yang kuat dan seperangkat layar yang msaih baru.

Maka berangkatlah dua orang muda ini berlayar di sepanjang pantai, terus menuju ke selatan.

Perjalanan hanya ditunda kalau keduanya ingin makan dan beristirahat.

Di waktu matahari amat teriknya, keduanya lalu mendayung perahu dan mendarat, mencari tempat yang teduh.

Diam diam kesempatan seperti inilah Pun Hui tidak menyia nyiakan waktunya dan mulai mempelajari ilmu silat dari Siauw Yang.

Sebaliknya gadis itu banyak mendengar sajak sajak indah dan mempelajari atau memperdalam pengetahuannya tentang kesusasteraan dan filsafat.

Sepasang orang muda ini diam diam makin terikat erat satu kepada yang lain.

Sikap keduanya saling sopan dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda saling mengasihi, namun hubungan mereka benar benar seperti seorang suheng terhadap sumoinya.

Makin sukalah hati Siouw Yang ketika mendapat kenyataan bahwa memang pemuda sasterawan itu sopan sekali, tidak pernah berlaku atau bicara secara kurang ajar.

Sebaliknya Pun Hui makin kagum kepada Siauw Yang yang merupakan seorang gadis pilihan, seorang gadis yang cerdik sekali, periang dan memiliki ilmu silat yang tinggi.

Perjalanan melalui air lebih cepat dan tidak melelahkan.

Kalau angin baik mereka tidak usah keluar tenaga, dan mengandalkan lancarnya perantauan itu kepada layar dan angin.

Adapun di waktu angin diam, Siauw Yang merupakan seorang pendayung yang kuat dan agaknya tak kenal lelah.

Hubungan antara dua orang muda ini makin akrab, dan biarpun dari mulut mereka tak pernah terdengar kata kata yang menyatakan isi hati mereka, namun pandang mata yang mesra kadang kadang menyatakan seribu satu ucapan yang membawa suara hati masing masing.

Setelah keluar dan Laut Po Hai dan memasuki Laut Kuning, perahu bergerak maju cepat sekali.

Berpekan pekan mereka tiba di Laut Tiongkok Timur.

Kepulauan Couwsan sudah nampak berkelompok dan jauh.

"Sumoi, itulah pulau pulau yang menjadi tujuan kita,"

Kata Pun Hui sambil menunjuk ke arah pulau pulau kecil di sebelah timur.

Mereka mendarat dan berteduh di bawah pohon pohon yang tumbuh di tepi pantai, karena hawa amat panasnya.

Siauw Yang memandang dengan hati tertarik.

"Yang manakah Pulau Sam liong to, suheng?"

"Kita akan selidiki, tentu takkan jauh dari pulau kosong yang dijadikan sarang bajak bajak laut. Akan tetapi, sumoi, bajak bajak laut itu ganas dan kejam sekali, bagaimana kalau kita nanti bertemu dengan mereka?"

Siauw Yang meraba pedangnya sambil tersenyum.

"Apa kau takut?"

Pun Hui menggeleng kepala.

"Takut sih tidak hanya aku merasa khawatir apakah kau akan dapat bertahan menghadapi keroyokan manusia buas itu."

Siauw Yang menjadi merah mukanya.

"Suheng, kau memang aneh sekali. Kalau andaikata aku tidak dapat bertahan, apa kau kira kau juga takkan tertimpa bencana? Kau hanya mengkhawatirkan aku, akan tetapi lupa kepada dirimu sendiri."

Pun Hui menghela napas.

"Mengapa aku harus memusingkan soal diriku, sumoi? Bagiku sendiri, aku tidak khawatir. Nasibku sudah cukup buruk, dan terserahlah apa yang akan menimpa diriku selanjutnya. Hanya bagimu..... akan sakit hatiku kalau melihat kau menderita."

Makin merah muka Siauw Yang.

"Sudahlah, kau memang terlalu baik. Mari kita berangkat, sudah cukup kita beristirahat."

Mereka lalu menaikkan guci air yang mereka isi penuh dan darat, masuk ke dalam perahu dan segera perahu kecil itu bergerak menuju ke Kepulauan Couwsan.

Karena Pun Hui memberi tahu bahwa laut antara pulau pulau itu terdapat banyak ikan buas, Siauw Yang tidak lupa untuk membawa batu batu kecil sebesar ibu jari kaki, yakni batu batu karang yang putih dan keras.

Baiknya angin tenang tenang saja sehingga perahu mereka meluncur cepat tanpa gangguan.

Setelah perahu mendekati kelompok pulau, tiba tiba Siauw Yang menunjuk ke depan dan berkata tenang.

"Agaknya itulah ikan ikan hiu yang kaukatakan tadi, suheng,"

Pun Hui memandang dan biarpun ia seorang tabah, namun apa yang dilihatnya membuat ia merasa ngeri juga.

Dari depan nampak barisan ikan yang membuat air laut bergelombang dan barisan ikan ini nampak kehitaman, kadang kadang timbul di permukaan air dan kelihatan mulut ikan yang mengerikan.

Pernah ia melihat barisan ikan seperti ini, akan tetapi ia melihat dari sebuah kapal besar yang aman, tidak dari perahu kecil seperti yang mereka naiki sekarang ini, perahu yang besarnya mungkin kalah oleh seekor di antara ikan ikan itu!

"Tenang, suheng!"

Kata Siauw Yang dan gadis ini menggerakkan tangan kinnya berulang ulang ke arah barisan ikan itu.

Terdengar air bergelombang dan di antara barisan ikan itu menjadi kacau.

Ternyata bahwa beberapa butir batu yang disambalkan oleh Siauw Yang mengenai sasaran.

Tiap butir yang mengenai kepala ikan, merupakan peluru peluru yang menembus tulang kepala dsn cukup membuat ikan itu bergulingan.

Darah yang keluar dari luka menjadi sasaran ikan ikan lain dan ikan ikan yang luka segera dikeroyok, dijadikan mangsa.

"Sumoi, celaka, dari kanan itu "

Kata Pun Hui. Siauw Yang menengok, dan betul saja, dari sebelah kanan datang pula serombongan ikan dengan cepatnya.

"Biar kuberi bagian kepada mereka!"

Kata Siauw Yang dan dara perkasa ini segera membagi bagikan batu batunya dengan kedua tangan.

Terjadilah hal yang sama seperti kelompok ikan di depan tadi.

Beberapa ekor ikan yang terluka oleh "peluru"

Batu yang disambitkan oleh Siauw Yang, menjadi korban keroyokan kawan sendiri dan dijadikan mangsa. Akan tetapi, tiba tiba Pun Hui berkata.

"Lihat, sumoi, beberapa ekor ikan menuju ke sini!"

"Siauw Yang memandang dan benar saja. Beberapa ekor ikan hiu berenang cepat dan kanan kiri menyerang perahu, ia berpikir cepat. Kalau ia menyerang dengan batunya dan membuat ikan ikan itu terluka di dekat perahu, akan berbahayalah keadaan mereka. Tentu ikan ikan lain akan datang mengeroyok ikan ikan yang terluka dan kalau hal ini terjadi di dekat perehu, maka perahu mereka dapat terguling dan sekali mereka terlempar keluar perahu, tak dapat diragukan lagi tentu mereka akan menjadi mangsa ikan ikan liar ini.

"Suheng, kesinikan dayungmu dan kau berpeganglah kuat kuat pada pinggiran perahu!"

Seru Siauw Yang.

Lalu dengan kedua dayung di tangan kanan kiri, gadis ini melompat ke atas dan tahu tahu ia telah menggunakan kedua kakinya untuk menunggang badan perahu seperti orang menunggang kuda, kemudian setelah ikan ikan itu datang dekat, ia menggunakan dua batang dayungnya menekan kepala ikan di kanan kiri.

Pun Hui hampir berseru kaget ketika tiba tiba perahu yang mereka tunggangi itu dapat terbang ke atas.

Memang perahu itu telah terbang.

Ketika Siauw Yang menekan kepala kepala ikan dengan sepasang dayungnya, gadis ini mengerahkan tenaga lweekang.

Sambil meminjam kepala ikan ikan itu, gadis ini menekan tiba tiba dan tubuhnya dienjot ke atas.

Perahu berikut Pun Hui terbawa oleh kempitan betisnya dan perahu ini meluncur ke atas permukaan air melewati kepala kepala ikan itu dan turun lagi di depan.

Siauw Yang cepat mendayung perahunya dan melihat beberapa ekor ikan mengejarnya, ia lalu menyambit, membunuh empat ekor ikan yang segera menjadi mangsa yang lain.

Namun dengan adanya halangan ini, perahu mereka dapat meluncur cepat ke arah kiri tanpa ada gangguan yang menghadangnya.

Setelah jauh dari rombongan ikan itu, baru Pun Hui sempat bernapas lega.

"Sumoi, kalau tidak menyaksikan dengan mata sendiri, aku takkan percaya. Kau hebat sekali, seakan akan main sulap saja yang kaulakukan tadi."

Siauw Yang tersenyum.

"Ayah sering kali berkata, bahwa segala sesuatu memang kelihatan aneh dan mentakjubkan bagi orang yang belum mengerti dan belum dapat. Kalau kau sudah mempelajari ilmu. tentu hal tadi kauanggap biasa saja, suheng. Yang diperlukan hanya ketabahan, kesigapan dan perhitungan yang tepat."

"Akan tetapi, tenagamu tadi benar benar luar biasa. Siapa orangnya yang dapat melompat sambil menjepit perahu seperti itu? Hampir aku tidak percaya !"

"Bukan tenagaku yang besar sekali, melainkan berat badan ikan ikan tadilah. Tenaga mereka yang besar, suheng, karena tadi aku hanya meminjam tenaga mereka melalui tekanan dayungku."

Sambil mendayung perahu, Siauw Yang memberi keterangan tentang penggunaan tenaga lweekang dan tentang cara meminjam tenaga.

"Demikianlah siasat siasat dalam penggunaan tenaga bagi seorang ahli silat tinggi, suheng. Tak perlu kita menghabiskan tenaga sendiri, karena lawan merupakan sumber tenaga yang kita pinjam dan kita pergunakan untuk mengalahkannya."

Pun Hui memang belum pernah melihat Pulau Sam liong to, hanya dapat menduga bahwa pulau tempat tinggal nona Siang Cu tentu berada di dekat pulau yang dijadikan sarang para bajak laut.

Melihat deretan pulau pulau itu, Siauw Yang tertarik kepada sebuah pulau kecil yang nampak dari jauh seperti bukit kecil kehijauan.

Ia lalu mendayung perahu mendekati pulau itu.

Bukan main girangnya ketika ia melihat pulau itu ditumbuhi pohon pohon yang mengandung buah buah yang enak dimakan di antara daun daun pohon yang segar kehijauan.

"Kita mendarat di sini saja!"

Kata Siauw Yang sambil mendayung perahu ke pinggir. Akan tetapi tiba tiba pun Hui berseru.

"Celaka, sumoi. Itu mereka datang!"

"Siapa?"

"Bajak bajak laut itu!"

Siauw Yang menengok dan benar saja, dari jauh nampak layar layar hitam mengambang. Beberapa buah perahu dengan cepat sekali meluncur ke arah mereka.

"Bagus sekali baiknya kita bertemu dengan mereka di sini. Lebih leluasa bagiku untuk menghadapi mereka di darat,"

Kata Siauw Yang.

Gadis ini cepat menarik perahu mereka ke darat, kemudian berkata kepada pemuda itu untuk duduk saja di dekat perahu.

Rombongaa perahu bajak mendekat dan segera kelihatan para bajak yang bertubuh pendek pendek itu melompat turun sambil berteriak teriak dan mengacungkan golok dan pedang.

Semua ada duapuluh orang dan mereka ini berlompatan mendekat dengan sikap mengancam.

Namun orang orang kate ini tidak menarik perhatian Siauw Yang.

Sebaliknya, ia memandang tajam kepada dua orang yang turun paling akhir dari perahu, akan terapi yang cepat mendahului semua bajak dengan jalan mereka yang amat cepat.

Melihat cara mereka berjalan, tahulah Siauw Yang bahwa dua orang ini memiliki kepandaian tinggi sekali.

Dan orang laki laki ini adalah seorang tua bertubuh tinggi yang membawa tongkat kepala raga dan seorang pemuda berusia duapuluhan yang amat tampan dan gagah, juga bertubuh tinggi.

Mereka berdua memakai pakaian yang mewah dan sikap mereka angker sekali.

"Nona Siang Cu, kau pulang dari manakah?"

Dari jauh orang muda itu berseru dan mendengar suara yang dikirim dari jauh ini, Siauw Yang makin heran. Tak salah lagi, benar benar seorang lawan yang berat.

"Itulah Tung hai Sian jin dan puterenya sumoi,"

Kata Pun Hui perlahan dengan suara penuh kekhawatiran.

"Mereka itu lihai sekali. Kau berhati hatilah!"

Siauw Yang berdebar, ia pernah mendengar nama Tung hai Sian jin dari ayahnya dan tahu bahwa kakek itu lihai sekali.

Akan tetapi ia tidak takut dan dengan cepat mencabut pedang dan berdiri dengan tenang, menanti kedatangan mereka.

Sebentar saja Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat sudah tiba di hadapannya, sedangkan para anak buah bajak laut masih berlari lari mendatangi.

Ketika melihat bahwa nona cantik yang berdiri dengan pedang di tangan ini sama sekali bukan Ong Siang Cu seperti yang tadi disangkanya, Eng Kiat memandang dengan terheran heran.

Apalagi ketika ia mengenal Siauw Yang sebagai puteri Thian te Kiam ong yang pernah dilamar dan dirindukannya, ia berdiri seperti paiurg.

"Kau...? Kau...?"

Katanya gagap. Sebaliknya Siauw Yang lalu tersenyum dan berkata kepada kakek itu "Tung hai Sian in, sungguh tak tersangka sama sekali kita saling bertemu di tempat ini."

Seperti juga puteranya, Tung hai Sian jin bengong dan terheran heran.

Teringat olehnya betapa dahulu, dua tahun yang lalu, puteranya tergila gila kepada gadis ini di Tit le, akan tetapi lamarannya ditolak oleh Thian te Kiam ong sehingga ia dan puteranya bertempur melawan Raja Pedang itu dan puterinya ini.

Dan ia menderita kekalahan.

Sekarang gadis ini berada di sini, tentu saja timbul marahnya dan sakit hatinya.

"Bagus! Puteri Thian te Kiam ong sengaja datang di sini, memudahkan aku untuk membalas dendam,"

Kata Tung hai Sian jin sambil menggerakkan tongkatnya.

"Ayah, jangan lukai dia, aku masih cinta kepadanya,"

Kata Eng Kiat. Mendengar seruan puteranya ini Tung hai Sian jin tertawa.

"Anak manja! Sudah berobah lagi hatimu? Bukankah kau suka kepada murid Lam hai Lo mo dan ingin mengambil dia menjadi isitrimu?"

"Tidak, ayah. Aku lebih suka kepada nona ini. Kalau tidak bisa mendapatkan nona ini sebagai isteri, baru aku mau mengambil Siang Cu."

"Jadi, kau suka kepada keduanya?"

"Kalau keduanya mau, lebih baik ayah."

Tung hai Sian jin tertawa bergelak. Akan tetapi Siauw Yang sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Bangsat rendah bermulut kotor,"

Makinya dan sinar kuning emas melayang menuju ke tenggorokan Eng Kiat.

Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian ilmu pedang gadis ini dan dahulu di Tit le iapun hampir saja tewas di ujung pedang kalau saja gadis ini tidak dicegah oleh Tian te Kiam ong.

Maka cepat ia mempergunakan siang kiamnya (sepasang pedangnya) untuk menangkis sambil melompat mundur.

Dalam kemarahannya, Siauw Yang mendesak terus, akan tetapi tiba tiba tongkat kepala naga di tangan Tung hai Sian jin bergerak menghadangnya sehingga gadis ini terpaksa melayani kakek yang sakti itu.

Tung hai Sian jin pernah menghadapi Thian te Kiam ong Song Bun Sam ayah gadis ini dan ia menderita kekalahan oleh ilmu pedang yang luar biasa dan raja pedang itu.

Kini ia menghadapi puteri nya dan biarpun ilmu pedang yang dimainkan oleh Siauw Yang sama dengan ilmu pedang ayah nya dan hanya tingkatnya kalah sedikit namun tenaga dan pengalaman gadis ini jauh di bawah tingkat ayahnya.

Oleh karena itu, pertempuran berjalan ramai sekali.

Tung hai Sian jin dengan tongkatnya yang berat dan ilmu tongkatnya yang lihai sekali, mengamuk dan bernafsu sekali mengalahkan puteri musuhnya ini.

Akan tetapi ilmu pedang dari Siauw Yang benar benar amat mengagumkan.

Pedangnya merupakan gulungan sinar kuning emas yang menyilaukan mata dan ke manapun juga tongkatnya menyambar, selalu dapat ditangkis oleh sinar pedang.

Sebaliknya, biarpun dengan kelincahannya dan dengan ilmu pedangnya, Siauw Yang seakan akan berada di fihak yang mendekat, namun tiap kali pedangnya beradu dengan tongkat kakek itu, Siauw Yang merasa telapak tangannya tergetar, tanda bahwa tenaga kakek ini masih lebih besar daripada tenaganya sendiri.

Pertempuran ini berjalan seimbang dan sukarlah untuk diduga lebih dulu siapa yang akan menang.

Berpuluh jurus telah berlalu dan bayangan Tung hai Sian jin dan Siauw Yang telah lenyap diselimuti gundukan sinar pedang dan sinar tongkat.

Gulungan sinar pedang demikian ringannya seakan akan sepucuk api beterbangan, sebaliknya gerakan tongkat mendatangkan angin dan tenaga sehingga debu mengebul tinggi dan daun daun pohon terkena sambaran angin bergoyang goyang.

Agaknya pertempuran ini akan berjalan lama sekali.

Melihat ini, Eng Kiai menjadi khawatir, ia tahu bahwa kini tidak mungkin bagi ayahnya untuk mengalahkan gadis itu tanpa melukainya, maka ia segera menggerakkan sepasang pedangnya sambil berkata.

"Ayah, mari kita bersama menangkap gadis liar yang cantik ini. Jangan lukai dia, ayah!"

Ia melompat dan mulai bergeraklah sepasang pedangnya membantu ayahnya.

Ilmu pedang dan Eng Kiat juga sudah tinggi dan kepandaiannya tidak kalah jauh kalau dibandingkan dengan Siauw Yang, hanya kekalahannya terletak pada ilmu pedang.

Melihat pemuda itu maju, Pun Hui menjadi marah, ia bangkit dari tempat duduknya dan berkata keras.

"Sungguh tak tahu malu. Dua orang laki laki mengeroyok seorang gadis muda. Mana ada aturan seperti ini?"

Mendengar ini, Eng Kiat membentak keras dan berkata kepada anak buahnya.

"Beri dia limapuluh kali cambukan biar dia menutup mulutnya!"

Seorang algojo bajak menyeringai dan maju Mengayun cambuknya ke arah Pun Hui yang segera jatuh.

"Jangan ganggu dia!"

Siauw Yang menjerit sambil melompat hendak menyerang algojo itu, akan tetapi Tung hai Sian jin dan Eng Kiat mencegahnya turun tangan.

Terpaksa gadis ini dengan marah sekali memutar pedangnya menghadap keroyokan ayah dan anak ini.

Hatinya serasa disayat sayat ketika ia mendengar bunyi cambuk berkali kali menimpa tubuh Pun Hui.

Biarpun tidak terdengar satu kalipun keluhan atau ratapan dari mulut Pun Hui, namun pemuda yang lemah itu mana kuat menghadapi hukuman cambuk sampai limapuluh kali?

Ia telah menjadi pingsan dan selanjutnya tidak merasai lagi perihnya ujung cambuk memecah kulit.

Menghadapi Tung hai Sian jin seorang saja keadaannya sudah seimbang, apalagi sekarang Eng Kiat maju mengeroyok.

Agaknya Siauw Yang masih akan dapat melakukan perlawanan mati matian dan nekad kalau saja ia tidak melihat keadaan Pun Hui yang membuat kedua kakinya gemetar saking kasihan dan terharunya.

Ia mendengar betapa Pun Hui tadi memaki Eng Kiat dan hendak membelanya, dan sekarang pemuda yang lemah namun gagah perkasa itu dicambuki sampai pingsan tanpa mengaduh sedikitpun juga.

Melihat betapa Pun Hui sudah telentang tak bergerak dengan muka pucat dan pakaian penuh darah, lemaslah Siauw Yang.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Tung hai Siang jin untuk mengirimkan tusukan dengan gagang tongkatnya yang tepat mengenai jalan darah di pangkal lengan gadis itu.

Siauw Yang mengeluh, pedangnya terlepas dan pegangan lalu ia roboh lemas tak berdaya lagi.

Tung hai Sian jin menyuruh anak buahnya cepat cepat meninggalkan pulau itu dan ia tertawa berkelak ketika melihat puteranya dengan wajah girang memondong tubuh Siauw Yang dibawa ke perahu bajak.

Sambil tertawa tawa kakek ini memungut pedang Kim kong kiam yang tadi terlepas dan tangan Siauw Yang, lalu mengikuti puteranya menuju ke perahu.

Sebentar saja, perahu perahu bajak itu sudah berlayar pergi, meninggalkan Pulau Sam liong to yang kosong dan meninggalkan tubuh Pun Hui yang menggeletak di atas tanah dalam keadaan setengah mati.

Seorang pemuda yang gagah mendayung perahunya dengan cepat sekali.

Ia memandang ke kanan kiri dengan heran.

Banyak sekali ikan hiu di laut itu, yang mengherankan adalah beberapa ikan hiu yang mati dan mengambang di atas laut, menjadi keroyokan ikan ikan lain.

"Aneh,"

Pikirnya.

"Ikan ikan ini tidak bisa mati begitu saja, agaknya ada orang telah turun tangan ketika dikeroyok oleh ikan ikan ini."

Pemuda gagah ini bukaa lain adalah Song Tek Hong, putera dari Thian te Kiam ong Song Bun Sam.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, pemuda ini meninggalkan Tit le atas perintah ayah bundanya untuk menyusul adiknya, Siauw Yang.

Ia merasa gemas dan mendongkol sekali kepada Siauw Yang, adiknya yang terkenal keras kepala itu.

Gadis itu pergi tanpa meninggalkan jejak, hanya memberi tahu hendak pergi ke Sam liong to, ke mana ia harus mencari?

Ayahnya menduga bahwa Siauw Yang tentu akan merantau dan sangat boleh jadi Siauw Yang pergi ke kota raja yang sudah lama ingin dilihatnya.

Tek Hong menyusul ke kota raja, akan tetapi tetap saja ia tidak dapat menemukan jejak adiknya.

Hatinya menjadi mendongkol akan tetapi tercampur rasa gelisah.

Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada adiknya yang amat dikasihinya itu?

Semenjak kecil Tek Hong amat sayang kepada Siauw Yang, dan sungguhpun berkali kali Siauw Yang amat nakal dan mengganggunya, namun ia tetap sabar dan mencinta.

"Bocah bengal, sekali aku bertemu denganmu, akan kujewer telingamu sampai merah!"

Tek Hong mengomel panjang pendek sambil melanjutkan perjalanannya keluar dari kota raja.

Ia melakukan perjalanan sambil berhenti di setiap kota untuk melakukan penyelidikan, kalau kalau adiknya pernah lewat di situ.

Oleh karena inilah maka biarpun Siauw Yang melakukan perjalanan lebih dulu, dara ini lebih cepat tiba di Sam liong to.

Akhirnya Tek Hong tiba di pantai timur dan dengan sebuah perahu ia mencari Pulau Sam liong to di antara Kepulauan Couwsan.

Ia telah memeriksa dan memnaca peta palsu yang dibawa oleh Coa Kiu, maka ia segera mencari Pulau Kura kura dan mencari pulau ke tujuh dari pulau ini.

Ketika melihat bangkai bangkai ikan yang terapung dan dijadikan mangsa oleh ikan ikan lain, pemuda yang cerdik ini telah dapat menduga bahwa tentu ikan ikan itu sebetulnya dibunuh oleh adiknya sendiri.

Tidak tahu pula bahwa di saat ia mendayung perahu menuju ke Sam liong to, adiknya telah bertempur mati matian melawan keroyokan Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat sehingga kemudian tertawan.

Ia sedang mengira ngira di mana letaknya Pulau Sam liong to, ketika tiba tiba ia melihat beberapa buah perahu layar hitam muncul dari pantai sebuah pulau yang penuh dengan pohon.

Perahu perahu ini bergerak dengan cepat sekali.

Tek Hong mendayung perahunya hendak mengejar, akan tetapi sebentar saja perahu perahu itu telah meninggalkannya sehingga pemuda itu membatalkan niatnya, sebaliknya lalu memutar perahu menuju ke pulau yang baru saja ditinggalkan oleh perahu perahu itu.

Tek Hong menaksir bahwa perahu perahu itu tentulah bukan perahu orang baik baik, dan tentu perahu perahu bajak laut karena cat dan layarnya hitam serta bentuknya tidak seperti perahu nelayan atau perahu pedagang.

Pemuda ini mendayung perahunya ke pantai pulau dan setelah menarik perahu ke darat, ia melihat tubuh seorang pemuda menggeletak di atas tanah seperti mayat.

Pakaian pemuda ini robek semua, mukanya pucat dan badannya penuh darah.

"Terkutuk bajak bajak itu,"

Seru Tek Hong marah.

"orang ini tentu telah menjadi korban mereka."

Segera ia menghampiri dan berlutut di dekat tubuh pemuda yang bukan lain adalah Pun Hui yang masih pingsan.

Ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu masih hidup, Tek Hong cepat mengeluarkan seguci arak dari buntalan pakaiannya da n memberi minum sedikit arak.

Pun Hui mengeluh dan siuman kembali.

Dengan lega Tek Hong mendapat kenyataan, setelah memeriksa tubuh korban ini, bahwa tidak terdapat luka yang berat melainkan luka luka di kulit yang pecah pecah akibat cambukan yang kejam.

Pun Hui membuka matanya.

Melihat seorang pemuda tampan dan gagah berlutut di dekatnya sambil memegang guci arak, ia segera bangun, tahu bahwa orang ini telah menolongnya.

"Saudara, kau siapakah dan mengapa kau rebah terluka di tempat ini?"

Tanya Tek Hong.

Pun Hui mengeluh.

Tubuhnya terasa sakit sakit dan perih sekali.

Kalau tadi ketika dicambuki ia tidak mau mengeluh, hanyalah karena selain ia tidak sudi memperlihatkan kelemahan di hadapan para bajak, juga ia tidak ingin membuat Siauw Yang menjadi gelisah.

Kini karena di situ hanya ada pemuda yang asing baginya ini, ia mengeluh.

"Aduh... mereka bekerja kepalang tanggung. Mengapa tidak dihabiskan saja nyawaku?"

"Selama orang masih hidup, ia tidak boleh mengharapkan kematian,"

Kata Tek Hong, dan pemuda ini mengeluarkan seperangkat pakaian dari buntalannya.

"Kaupakailah pakaian ini untuk mengganti pakaianmu yang robek robek!"

Pun Hui memandang dan ia merasa suka melihat wajah penolongnya yang gagah itu.

"Heran sekali,"

Katanya.

"di tempat seperti ini aku masih dapat bertemu dengan seorang manusia yang berbudi mulia. Saudara yang budiman, siauwte adalah Liem Pun Hui, seorang kutu buku yang lemah dan bodoh, yang membiarkan dirinya dicambuki bajak tanpa dapat membalas, lebih lebih lagi yang membiarkan sumoinya tertawan oleh bajak laut. Kasihan sumoi... Siauw Yang, bagaimana nasibmu...?"

Ucapan ini dikeluarkan oleh Pun Hui dengan suara berduka sekali.

Terkejut hati Tek Hong mendengar pemuda ini menyebut nama adiknya.

Akan tetapi ia pikir bahwa tentu yang dimaksudkan itu adalah seorang gadis lain, karena mana mungkin adiknya menjadi sumoi dari orang ini.

"Sumoi mu itu, mengapakah dia?"

Tanyanya.

"Aku mengantar sumoi ke pulau ini dan bertemu dengan bajak laut yang dipimpin oleh Tung hai Sian Jin dan puteranya. Dengan gagah perkasa sumoi melawan mereka dan aku..... aku yang lemah dan bodoh tak berdaya menolong, bahkan aku lalu dicambuki oleh bajak dan sumoi.... sumoi tentu tertawan oleh mereka karena sekarang aku tidak melihat dia dan para bajak itu."

Jilid XXIII KEMBALI Tek Hong terkejut. Nama Tung hai Sian jin telah didengar sebagai nama tokoh besar yang lihai sekali. Dan sumoi dari orang ini berani melawannya.

"Sumoimu yang gagah perkasa itu, siapakah dia? Siapa nama keturunannya dan dia murid siapa sehingga berani melawan seorang lihai seperu Tung hai Sian jin?"

Tanyanya dengan hati berdebar. Sumoi adalah seorang gadis yang paling gagah di dunia ini, tiada duanya. Dia she Song dan dia adalah puteri dari Thian te Kiam ong yang terkenal "

Sampai di sini, Tek Hong tak dapat menahan hatinya lagi. Ia melompat berdiri dan memandang dengan mata tajam serta sikap mengancam.

"Kau....penipu bohong!"

Pun Hui juga terkejut.

Mengapa pemuda tampan dan gagah ini tiba tiba marah kepadanya?

"Saudara, aku selama hidup tak pernah berbohong.

Memang Siauw Yang adalah sumoiku.

Kau siapakah berani menuduh aku sebagai penipu?"

"Kepada orang lain kau boleh membohong sesuksmu, akan tetapi kepadaku tak mungkin,"

Jawab Tek Hong.

"Karena Song Siauw Yang adalah adik kandungku sendiri dan dia tidak punya suheng. Kau ini seorang lemah bagaimana berani mati mengaku padaku sebagai sumoimu?"

Tertegun Pun Hui mendengar ini.

"Jadi. ... jadi kau adalah Song Tek Hong? Sumoi seringkah bicara tentang kau. Kalau begitu kau adalah suteku sendiri."

Pun Hui lalu menceritakan kepada Tek Hong yang terheran heran itu tentang segala pengalamannya, bagaimana ia diambil murid oleh Sin pian Yap Thian Giok dan bagaimana ia telah tertolong oleh Siauw Yang dan melakukan perjalanan bersama ke Pulau Sam liong to, kemudian bertemu dengan Tung hai Sian jin.

Baru mengertilah Tek Hong setelah mendengar penuturan ini dan ia menjadi amat gelisah mendengar betapa adiknya tertawan oleh Tung hai Sian jin yang lihai.

"Aku harus tolong adikku! Ke manakah mereka membawanya? Aku tadi melihat beberapa perahu hitam berlayar pergi dari sini, apakah mereka itu rombongan bajak laut yang dipimpin oleh Tung hai Sian jin? "Memang itulah mereka. Aku tahu di mana letak pulau yang dijadikan sarang oleh bajak laut akan tetapi aku tidak tahu apakah sumoi dibawa ke sana."

"Liem suheng, apakah kau cukup kuat untuk mengantarkan aku ke sana?"

"Aku tidak apa apa, sute. Hanya kulit saja yang luka dan perih, akan tetapi luka lukaku terlalu kecil tak berarti kalau dibandingkan dengan bahaya yang mengancam sumoi. Mari kuantar kau ke sana!"

Tek Hong lalu mendesak kepada Pun Hui supaya berganti pakaian pemberiannya dan kedua orang pemuda ini lalu naik perahu yang di dayung oleh Tek Hong, menuju kepulau bajak di mana dahulu Pun Hui tertawan dan hampir dibunuh kalau tidak tertolong oleh Siang Cu murid La m hai Lo mo.

Dalam pelayaran ini, Pun Hui menceritakan semua pengalamannya itu dan Tek Hong mendengar dengan penuh keheranan bahwa Lam hai Lo mo musuh besar ayahnya itu benar benar masih hidup, bahkan mempunyai seorang murid perempuan yang lihai.

Akan tetapi pikirannya segera melupakan hal ini.

karena ia lebih mencurahkan seluruh perhatian dan pikiran kepada Tungkai Sian jin dan Bong Eng Kiat yang kini menawan adiknya, ia tahu bahwa keadaan adiknya amat berbahaya.

Bukankah dahulu Eng Kiat tergila gila kepada adiknya dan mengajukan lamaran yang ditolak oleh ayahnya?

Mungkin mereka akan membatas dendam dan ia merasa ngeri kalau mengingat akan hal ini.

Diam diam ia juga kagum atas kecerdikan adiknya yang menduga tepat sekali bahwa peta palsu yang dibawa oleh Coa Kiu itu adalah sebuah pancingan dari searang musuh besar ayahnya, dan dalam hal ini tak salah lagi tentulah Lam hai Lo mo yang memancing ayahnya datang ke tempat itu untuk membalas dendamnya yang dahulu.

Karena Tek Hong amat bernafsu untuk segera tiba di pulau bajak, maka didayungnya perahunya dengan sekuat tenaga sehingga tak lama kemudian sampailah mereka di pulau itu.

Hari telah menjadi senja dan keadaan mulai gelap.

Namun dengan nekat kedua orang muda itu men darat di pulau itu Akan tetapi, alangkah kecewa hati Tek Hong karena pulau itu ternyata kosong, hanya kelihatan bekas bekas pondok para bajak laut yang telah ditinggalkan.

Bahkan di sekeliling pulau itupun tidak kelihatan ada sebuahpun perahu bajak.

Agaknya para bajak telah meninggalkan pulau ini dan telah pergi ke mana.

Malam itu mereka bermalam di pulau bajak yang kosong.

Tek Hong merasa gelisah sekali, bahkan pemuda sasterawan ini nampak amat berduka.

Diam diam Tek Hong menduga bahwa pemuda ini tentu jatuh hati kepada adiknya.

Pemuda manakah yang takkan jatuh hati melihat Siauw Yang, adiknya yang mania itu?

Tek Hong merasa bangga dan iapun suka melihat Pun Hui, hanya kecewa melihat pemuda ini amat lemah.

Dalam percakapan, ia mendapat kenyataan bahwa dalam ilmu kesusasteraan, Pun Hui jauh lebih tinggi kepandaiannya daripadanya.

Akan tetapi, ia anggap bahwa pemuda ini tidak patut menjadi jodoh adiknya yang gagah perkasa.

Heran ia mengapa supeknya.

Sin pian Yap Thian Giek, mau mengambil murid seorang pemuda sasterawan yang begini lemah.

Ketika Tek Hong mengeluarkan bungkusan dan mengisi perut dengan bekal makanan kering.

Pun Hui yang ditawannya tidak mau makan.

Tek Hong tidak memaksa dan malam itu mereka duduk di dekat api unggun yang mereka buat di dalam sebuah pondok bekas tempat tinggal bajak laut.

Menjelang tengah malam, terdengarlah suara sayup sayup dari luar pondok.

"Song Tek Hong, katakan kepada ayahmu bahwa adikmu akan mendapat kehormatan menjadi mantu Tung hai Sian jin. Permusuhan antara kita lelah lenyap oleh hubungan kekeluargaan ini."

Mendengar suara ini, Tek Hong melompat ke luar pondok dengan pedang di tangan.

"Tung hai Sian jin tua bangka siluman. Mari kita bertempur seribu jurus untuk menentukan siapa yang lebih unggul!"

Serunya sambil mengejar ke pantai dari mana suara tadi datang.

Ia melihat bayangan dalam malam yang suram diterangi bintang.

Bayangan ini berlari ke arah sebuah perahu dan dan bentuk tubuh bayangan itu, tahulah ia bahwa yang dalang bukanlah Tung hai Sian jin, melainkan Bong Eng Kiat, Bayangan itu tertawa bergelak.

"Iparku yang baik, kau bersikap tidak patut sekali terhadap moi hu (adik ipar)!"

Kata bayangan itu sambil tertawa tawa.

"Eng Kiat, jahanam pangecut! Jangan lari kalau kau memang laki laki,"

Kata Tek Hong yang mengejar terus.

Akan tetapi yang dikejarnya telah melompat ke dalam perahu dan sebentar saja perahu itu lenyap di ualani gelap.

Tek Hong yang hendak mengejar dengan perahunya, tahu bahwa usahanya akan sia sia belaka, maka ia berdiri di pantai sambil membanting banting kakinya.

"Bangsat Bong Eng Kiat, kalau kau mengganggu adikku, aku bersumpah takkan mau berhenti sebelum aku dapat menghancurkan kepalamu! Teriaknya berulang ulang Akan tetapi yang menjawabnya hanyalah suara air laut yang memukul batu karang di pantai. Dengan leuas dan kecewa Tek Hong kembali ke dalam pondok. Ia bertemu dengan Pun Hui yang sudah keluar dari pondok pula "Siapa yang datang?"

Tanya Pun Hui.

"Bangsat Eng Kiat itu yang datang. Sayang aku tak dapat mencekik batang lehernya kata,"

Tek Hong.

Pada keesokan harinya, Tek Hong dan Pun Hui naik perahu dan mencari cari di seluruh Kepulauan Couwsan.

Namun tidak ada jejak dari bajak laut yang agaknya sudah pergi jauh dari tempat itu.

Tek Hong menjadi bingung sekali.

Ia tidak berdaya dan memikirkan n asi D adiknya, ia menjadi gelisah dan khawatir.

"Aku harus pulang untuk melaporkan hal ini kepada orang tuaku,"

Katanya kepada Pun Hui.

"Kami sekeluarga takkan berhenti mencari sebelum kami dapat menolong Siauw Yang dan tangan mereka. Apakah Liem suheng mau turut?"

Pun Hui menggeleng kepalanya dengan lemas.

"Tidak, sute. Kalau tidak dapat sertaimu kembali dengan Song sumoi dan melihatnya, aku bersumpah takkan mau pergi dan kepulauan ini!"

Kata kata ini keluar dengan suara tegas dan membayangkan cinta kasih dan kesetiaan yang amal besar sehingga Tok Hong menjadi terbaru juga.

Ia tahu kalau pemuda ini amat lemah, namun bersemangat gagah.

Kalau sampai para bajak itu datang, tentu pemuda ini akan celaka.

Akan tetapi ia tidak dapat memaksa Pun Hui untuk ikut pergi.

Lagi pula, kalau Pun Hui ikut, ia takkan dapat melakukan perjalanan dengan cepat, padahal ia ingin sekali segera bertemu dengan orang tua nya untuk melaporkan tentang keadaan Siauw Yang yang terjatuh ke dalam tangan Tung hai Siap jin dan Bong Eng Kiat.

Setelah meninggalkan pesan agar berhati hati menjaga diri di tempat berbahaya itu, Tek Hong lalu berlayar pergi dan situ Pun Hui berdiri di pantai memandang sampai perahu itu lenyap dari pandangan mata, kemudian Pun Hui lalu menyeret perahu yang dulu dipakai oleh Siauw Yang, menurunkannya ke dalam air dan mendayungnya.

Ia mengambil keputusan untuk mencari Siauw Yang seorang diri Ia hendak mengunjungi semua pulau pulau kosong itu sekali lagi, dan biarpun tadi sudah ternyata bahwa tidak terlibat bayangan siapapun juga di dalam pulau pulau itu, namun ia tidak putus asa.

Ia ingin mencari terus sampai ia bisa mendapatkan Siauw Yang atau sampai ia tewas di tempat itu.

Setelah menghadapi gadis itu dalam ancaman bahaya, baru ia insaf betul betul bahwa ia mencintai Siauw Yang, mencintai dengan sepenuh hati dan jiwanya.

"Siauw Yang !"

Teriaknya berkali kali sambil mendayung perahunya, Tek Hong melakukan perjalanan secepat mungkin menuju ke Tit Ie.

Ia hendak segera bertemu dengan aahnya dan kemudian bersama ayah bundanya akan pergi mencari Siauw Yang untuk melanjutkan usahanya mencari seorang diri, ia merasa kurang kuat.

Untuk menghadapi Tung hai Sian jin, tidak ada lain orang yang lebih tepat selain ayahnya sendiri.

Musuh terlampau kuat, dan di samping Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat yang lihai, di sana masih ada Lam hai Lo mo.

Kalau Lam hai Lo mo masih hidup, maka hal ini bukan main main lagi.

Ayahnya sudah menyatakan kepandaian Lam hai Lo mo amat mengerikan dan hebat Ayahnya harus turun tangan sendiri.

Akan tetapi, biarpun Tek Horg melakukan perjalanan yang amat cepat, ia ternyata telah terlambat.

Ketika tiba di Tit le, ia mendapatkan rumah orang tuanya telah menjadi tumpukan puing terbakar habis sama sekali, rata dengan bumi, tiga orang pelayan orang tuanya telah tewas dalam keadaan mengerikan, yakni lehernya putus dan mayatnya terbakar hangus.

Para penduduk Tit Ie tak seorangpun yang tahu mengapa rumah itu terbakar dan siapa yang membunuh para pelayan itu.

Apakah yang terjadi tiga hari sebelum Tek Hong tiba di Tit le?

Mari kita mengikuti peristiwa aneh itu yang tak terlibat oleh seorangpun.

Pada malam hari, tiga hari yang lalu, dua sosok bayangan yang gesit sekali berlompatan di atas genteng rumah rumah di Tit le.

Yang seorang tinggi bongkok dengan kaki hanya sebelah, dan orang ke dua bertubuh kecl langsing dengan gerakan seperti seekor burung saja gesitnya.

Mereka ini adalah Lam hai Lo mo Seng Jin Siang su dan muridnya yakni Ong Siang Cu, Seperti telah dituturkan di bagian depan, guru dan murid ini meninggalkan Sam Iiong to untuk mengejar dua orang tosu yang minggat dan membawa lari banyak emas dari Pulau Tiga Naga itu.

La m hai Lo mo marah sekali dan karena toso kedua yang membawa lari hartanya, yakni Siauw giam ong Lie Chit adalah anak murid Go bi pai, maka ia langsung mengajak muridnya menyusul ke Go bi san.

Perjalanan ke Pegunungan Go bi san bukanlah perjalanan yang mudah Go bi san merupakan daerah pegunungan yang penuh dengan tanah tandus dan padang pasir.

Akan tetapi, bagi Lam hai Lo mo dan Siang Cu yang memiliki kepandaian tinggi, perjalanan itu tidak terasa sukar dan dapat dilakukan dengan amat cepat.

Pada waktu itu, Go bi pai merupakan sebuah partai persilatan yang terkenal dan besar, mempunyai murid yang banyak sekait jumlahnya.

Karena selain ilmu silat, di pusat partai persilatan Go bi pai ini juga diajarkan ilmu batin menurut ajaran Nabi Buddha, maka sebagian besar anak murid Go bi pai adalah orang orang gagah yang menjunjung tinggi peri kebajikan.

Tentu saja bukan merupakan jaminan bahwa semua murid Go bi pai tentu baik.

Ada juga beberapa orang anak murid yang menyeleweng, silau oleh godaaa duniawi dan buta karena bujukan nafsu ibls.

Bahkan banyak pula yang mengganti agama seperti halnya Siauw g ia m ong Lio Chit yang tadinya berkepala gundul lalu merobah diri menjadi penganut Agama To dan memelihara rambut, ia melakukan hal ini terutama sekali agar jangan sampai guru guru besar Go bi pai tahu bahwa dia adalah anak murid Go bi pai.

Go bi pai diketuai oleh tiga orang hwesio tua yang disebut Go bi Sam thaisu (Tiga orang guru besar Go bi pai).

Mereka ini adalah tiga orang hwesio seperguruan yang berusia kurang lebih enam puluh tahun dan hidup sebagai orang suci dan pertapa pertapa yang saleh, di samping bekerja sebagai ketua partai persilatan dan memberi pelajaran kepada murid murid di Pegunungan Go bi san.

Hwesio pertama bernama Thian Seng Hwesio, terkenal dengan senjata toyanya yang bernama Ouw liat pian (Tongkat Besi Hitam).

Hwesio ke dua bernama Thian Beng Hwesio, lihai sekali dengan senjata kipasnya yang terbuat dan pada daun daun alang alang dan yang disebut kipas Ngo heng san (Kipas Lima Zat).

Hwesio ke tiga bernama Thian Lok Hwesio dan senjatanya yang hebat adalah seikat tasbeh dari perak yang selalu dipegangnya dan dipergunakannya di waktu ia berdoa.

Tiga orang ketua Go bi pai ini jarang sekali memperlihatkan ilmu kepandaian sitat mereka dan dalam memberi pelajaran ilmu silat kepada para anak murid, mereka menyerahkan pekerjaan ini kepada murid murid kepala yang jumlahnya ada tujuh orang hwesio yang sudan tinggi ilmu silatnya.

Para murid dari tujuh orang murid kepala ini sebaliknya mengajar pula kepada murid murid yang lebih rendah tingkatnya.

Dengan demikian maka tiga orang ketua Go bi pai ini hanya menjadi pengawas saja dan kalau merasa turun tangan sendiri, hanyalah di waktu memberi wejangan ilmu batin kepada para anak murid, terutama sekali mengenai pelajaran Agama Buddha.

Selain mengurus partai Go bi pai yang lebih bersifat perkumpulan Agama Buddha daripada partai persilatan, juga tiga orang Go bi Sam Thaisu ini sering kali turun gunung untuk memperluas dan memperkembangkan Agan a Buddha yang mereka bertiga pelajar!

dari seorang pendeta Buddha dari India.

Apabila mereka turun gunung maka segala sesuatu diserahkan kepada tujuh orang murid kepala itu, yang diketuai oleh Giok Seng Hosiang hwesio berusia limapuluh tahun yang mempunyai kesabaran besar dan juga mempunyai ilmu silat tinggi.

Dalam keadaan demikian, enam orang sutenya yang semuanya juga hwesio, menjadi pembantu pembantunya.

Pada waktu itu, perkembangan Agama Buddha mendapat tentangan banyak dari agama agama lain, terutama sekali di bagian Go bi san mendapat tentangan dari sebuah perkumpulan agama yang disebut Pek in kauw (Perkumpulan Agama Mca Putih), Perkumpulan ini sebetulnya adalah pemecahan atau boleh disebut juga penyelewengan daripada Agama To yang timbul dori pelajaran Nabi Lo Cu.

Intisari pelajaran agama Pek in kauw irn, para anak muridnya diusahakan untuk dapat hidup aman dan tenteram penuh damai seakan akan keadaan mega mega putih di angkasa.

Selain ilmu batin, juga Pek in kauw merupakan agama yang kuat sekali karena dipimpin oleh orang orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Tidak jarang terjadi bentrokan antara Go bi pai dan Pek in kauw, dan semenjak itu, maka Gi bi pai selalu menjaga diri kuat kuat.

Apalagi kulan Go bi Sam Thaisu sedang turun gunung, maka murid kepala di bawah pimpinan Giok Sang Hosiang lalu mengadakan penjagaan yang kuai.

Puncak Go bi san di mana terdapat sebuah kelenteng besar tempat bertapa ketua Go bi pai, dijaga dan bawah dengan lapisan lapisan penjaga yang k lini sekali.

Pada suatu hari, ketika Go bi Sam 1 hai ju sedang tuiun gunung, datanglah Lam hai Lo mo Seng Jin siansu dan Ong Siang Cu di lereng gunung iiu.

Mereka hendak mencari Siauw giam oug Lie Chit dan hendak menuntut para pengurus Go bi pai untuk mempertanggung jawabkan perbuatan anak murid Go bi pai itu.

Tentu saja mereka bertemu dengan penjaga lapisan pertama yang terdiri dari duapuluh orang anak murid Go bi pai.

"Ji wi siapakah dan ada keperluan apakah hendak naik ke puncak?"

Tanya seorang diantara penjaga itu dengan normal sebagai lajim nya sikap seorang alim. Lambai Lo mo hanya tertawa terkekeh kekeh, daa Siang Cu yaag menjawab dengan suara dingin.

"Kami berdua datang untuk mencari bangsal kecil yang bernama Siauw giam ong Lie Chit, anak murid Go bi pai yang jahat. Lekas kalian panggil dia keluar untuk menerima hukuman!"

Mendengar ucapan ini, para penjaga itu menjadi tidak ienaug karena merasa bahwa Go bi pai dihina.

"Ji wi siapakah?"

"Tidak perlu tahu kami siapa. Yang penting lekas panggil keluar Lie Chit."

Melihat sikap Siang Cu yang galak, seorang penjaga menjawab dengan suara dingin pula.

"Kahan tentulah dan Pek in kauw yang sengaja hendak mencari kekacauan. Di kuil ini tidak ada seorang bernama Lie Chit."

Siang Cu memang berwatak keras, ia sudah sering kali mendengar dari suhunya bahwa pendeta pendeta adalah orang orang yang paling pabu di dunia ini.

Kepeudetaannya hanya merupakan kedok untuk menyembunyikan watak yang sebenarnya jahat.

Lebih baik berhadapan dengan seorang penjahat kasar daripada seorang penjahat yang bersembunyi di balik kependetaan, begitu nasihat Lam hai Lo mo.

Hal ini telah terbukti pula dengan adanya kecurangan dan Siauw giam oug Lie Chit dan Ouw bin cu Tt.ng Kwat.

Bukankuh Gua orang ini juga pendeta pendeta yang ternyata berwatak curang?

"Jangan bohong!

Siauw giam ong Lie Chit adalah anak murid Go bi pai, tak mungkin ia tidak berada di sini.

Ia telah mencuri emas kami dan karenanya kami hendak menangkapnya!"

Memang sebenarnya para penjaga itu tidak kenal akan nama Siauw giam ong Lie Chit, karena semua anak murid Go bi pai yang berada di situ mendapat nama sebagai seorang hwesio.

Demikian pula Lie Chit yang dahulu mendapat nama hwesio, hanya setelah u menyeleweng, maka ia raengguua kan nama lain.

"Nona, harap kau jangan menghina kami. Pembohongan merupakan pantangan besar bagi kami. Memang benar benar di sini tidak ada orang bernama Lie Chit atau Siauw giam ong. Harap kau pergi dan mencarinya di lain tempat.

"Kami hendak mencari dan memeriksa ke atas,"

Kata Siang Cu.

"Nona, kau tidak boleh mengotorkan kelenteng kami"

Kata para penjaga sambil maju menghadang.

"Kalau begitu, kalian mencari penyakit sendiri,"

Ketika beberapa orang penjaga bergerak maju Siang Cu meaggerakkan kaki dan tangannya dan empat orang penjaga terjungkal.

Gadis ini hanya menjatuhkan mereka saja, akan tetapi ia tidak tega untuk melukai mereka.

Beberapa om n g maju pula namun mereka ini juga terjungkal roboh oleh kaki dan tangan Siang Cu yang amat cekatan.

Tiba tiba terdengar suara terkekeh kekeh yang mencela gadis itu.

"Siang Cu, kau terlalu membuang buang waktu!"

Kata kata ini disusul oleh pekik mengerikan dan lima orang hwesio penjaga telah roboh tewas dengan kepala pecah.

Ternyata bahwa Lam hai Lo mo telah turun tangan yang mendatangkan akibat amat mengerikan.

Para penjaga lain melihat bal ini mundur dengan ketakutan.

"Suhu, mengapa harus membunuh....?"

Baca Juga: Mutiara Hitam 1

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert