Eps 7 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.
Akan tetapi, alangkah girang dan juga heran hatinya ketika Tek Kong menghampirinya dan menyerahkan bungkusan peta itu kepadanya sambil berkata.
"Ouw bin cu, kau menghendaki peta inikah? Nah, kau terimalah dan mudah mudahan kau akan dapat menemukan harta pusaka itu! Sekarang tak usah banyak tanya dan cakap lagi lekas kau pergi dari sini!"
Hal ini tentu saja membikin Ouw bin cu menjadi terheran heran dan juga girang sekali.
Cepat ia mengambil pedangnya yang dilempar ke bawah oleh Siauw Yang, lalu menjura sampai dalam mengucapkan terima kasih, kemudian pergi melarikan diri secepat mungkin sebelum pemuda aneh itu berobah lagi pikirannya.
Tidak hanya Ouw bin cu yang terheran heran, bahkan Siauw Yang sendiri menjadi heran dan penasaran sekali.
Tanpa berkata sesuatu, dara ini melompat dan dalam beberapa lompatan saja, ia telah dapat menyusul Ouw bin cu dan menarik leher bajunya terus diseret tubuh tosu itu ke dekat kakaknya kembali.
Tentu saja Ouw bta cu menjadi pucat dan gemetar seluruh tubuhnya.
"Hayo bilang sejujurnya, apakah kau mempunyai seorang anak perempuan?"
Tanya Siauw Yang membentak marah.
Tentu saja Ouw bin cu menjadi melongo dan tak dapat menjawab untuk beberapa lama atas pertanyaan yang dianggapnya luar biasa anehnya itu.
Adapun Tek Hang yang merah sekali mukanya beberapa kali mencela adiknya.
"Hush, moi moi, kurang ajar jangan main gila."
Akan tetapi Siauw Yang tidak perdulikan engkonya, sebaliknya lalu menyentil dengan telunjuknya ke arah telinga Ouw bin cu.
Hampir saja Ouw bin cu menjerit karena kuku telunjuk dara itu ternyata telah merobek sedikit daun telinganya.
"Hayo jawab, apakah kau mempunyai seorang anak perempuan?"
"Ti.... tidak, Siocia. Isteripun tidak punya bagaimana bisa punya anak perempuan?"
Ouw bin cu menjawab dengan semangat tinggal setengahnya karena mengira bahwa ia akan dibunuh oleh dara yang galak ini.
"Betul betul kau tidak ingin mengambil mantu kepada kakakku ini?"
"Tdak, tidak...."
"Kalau begitu, hayo mengaku mengapa kakakku begitu baik hati terhadap seorang jahat seperti engkau, apakah ada udang di balik batu?"
"Pinto tidak tahu. Siocia... barangkali...."
"Barangkali apa?"
Siauw Yang membentak tak sabar.
"Song taihiap terkenal sebagai seorang yang murah hati dan budiman, tentu saja kongcu juga seperti ayahnya suka berlaku murah hati kepada pinto...."
Tersindir jugalah dara yang cerdik ini oleh ucapan Ouw bin cu, maka ia melepaskan genggaman pada leher baju tosu itu.
Dengan ucapan itu, tosu ini memuji ayah dan kakaknya, sama halnya dengan mencela dia yang dianggap berbeda dengan ayah dan kakaknya yang berbudi.
Sebetulnya Siauw Yang hanya ingin menggoda kakaknya, karena hatinya benar benar pena saran sekali melihat peta yang menarik hatinya itu diberikan begitu saja kepada Ouw bin cu setelah diterima dari Coa Kiu.
"Hong ko, sebetulnya mengapakah kau memberikan peta itu kepada tosu siluman ini?"
"Sabar dan tenanglah, Yang moi. Dia ini bukan tosu siluman melainkan manusia biasa, namanya Ouw bin cu Tong Kwat. Dia ingin mencari harta dan peta ini dan aku hanya menurut pesan ayah saja. Kalau kau mau tahu sebabnya, baiklah nanti kita bertanya kepada ayah. Sekarang lepaskan dia, kasihan dia ketakutan setengah mati."
Siauw Yang menjadi sabar kembali.
"Enyahlah, kura kura."
Ouw bin cu berkali kali mengomel panjang pendek dan menyesali diri sendiri yang berkepandaian rendah dibandingkan dengan dua orang putera puteri Thian te Kiam ong itu.
Setelah Ouw biu cu pergi jauh, barulah Tek Hong tertawa geli.
Siauw Yang cemberut dan mengancam kakaknya.
"Kalau kau tidak mau memberi tahu mengapa kau tertawa, aku takkan mau bicara denganmu selama hidupku!"
Ia mengira bahwa kakaknya mentertawakannya.
"Aku memertawakan tosu itu, moi moi. Kau tidak tahu, peta itu adalah peta palsu. Ayah dan aku mengetahui hal ini."
Ia lalu menceritakan kedatangan Coa Kiu.
"Karena itulah, maka kuterima peta itu dan kuberikan kepada Ouw bin cu. Biar tosu muka hitam itu bersusuh payah mencari harta dari peta palsu!"
Mendengar ini, Siauw Yang tertawa berkikikan karena geli hatinya.
"Kau pintar sekali, Hong ko. Benar benar aku bangga mempunyai kakak seperti kau!"
Senang hati Tek Hong mendengar ini.
Keduanya bercakap cakap sambil sebentar sebentar tertawa.
Memang dua orang saudara ini saling mengasihi.
Amat cocok pemuda dan pemudi yang elok ini berjalan berendeng.
Siauw Yang menuntun kudanya dan Tek Hong menggandeng tangan kiri adiknya.
Akan tetapi, di antara senyumnya, sepasang alis Siauw Yang yang melengkung dan hitam kecil panjang itu berkerut, seakan akan ada yang dipikirkannya.
Gadis ini mempunyai kecerdikan luar biasa dan biarpun ayah dan kakaknya menganggap pemberian peta itu sebagai lelucon belaka, namun pikiran gadis ini lain lagi.
Tentu ada apa apanya, pikirnya, ia tahu bahwa ayahnya mempunyai banyak musuh yang hanya karena takut terhadap pedang ayahnya maka tidak berani bertingkah.
Kini terjadi peristiwa ini, siapa tahu kalau ada musuh yang sengaja mengatur umpan untuk menjebak ayahnya?
Ayahnya tidak terkena pancingan, itu baik sekali.
Akan tetapi hati dara ini tidak puas.
Penolakan ayahnya itu seakan akan menunjukkan bahwa ayahnya takut menghadapi perangkap musuh.
Dia tidak!
Lebih baik berpura pura tidak tahu akan adanya jebakan musuh, dan maju dengan berani.
Dengan cara demikian, akan terlihatlah siapa orangnya yang herani main gila!
"Hong ko, apakah kau tadi sudah melihat peta itu?"
"Peta palsu itu? Sudah, sudah kupelajari dengan ayah."
"Ceritakanlah kepadaku, Hong ko."
"Untuk apa? Peta itu palsu!"
"Palsu atau tidak, aku ingin juga mengetahui isinya. Kau dan ayah sudah mengetahui, aku sendiri belum. Adilkah ini?"
Tek Hong maklum akan kekerasan hati adiknya dan kalau ia tidak dituruti permintaannya, tentu adiknya ini akan merengek terus dan setiap hari akan mengganggunya.
Maka ia lalu mengajak Siauw Yang duduk di tempat yang teduh kemudian dengan sebatang ranting ia menggambar peta itu di atas tanah.
Memang pemuda ini memiliki ingatan yang amat kuat, pula ia memang ahli tentang lukisan dan tulisan, oleh kareua itu ia masih hafal semua isi peta itu.
"Nah, menurut peta itu, di sebelah kiri dari pulau yang berbentuk kura kura, pulau ketujuh sebelah kiri kalau kita datang dari darat, adalah pulau rahasia yang menyimpan harta pusaka. Nama pulau itu Pulau Tiga Naga (Sam liong to), merupakan sebuah di antara Pulau Seribu,"
"Menarik sekali!"
Kata Siauw Yang dan matanya yang jeli seperti mata burung Hong itu berseri.
"Menarik apanya? Peta itu palsu dan mungkin pulau itu tidak ada, kalau adapun tentu pulau kosong. Ini hanya perbuatan seorang badut yang main gila. Hayo kita pulang, ayah menanti nanti."
Siauw Yang tidak puas, akan tetapi ia tidak membantah dan pulanglah mereka.
Thian te Kiam ong dan isterinya yang masih duduk bercakap cakap, ketika mendengar cerita Tek Hong tentang pemberian peta itu kepada Ouw bin cu dan tentang kenakalan Siauw Yang, tertawa geli sampai keluar air mata.
Maka bergemalah suara ketawa ayah ibu dan dua orang anaknya ini penuh kegembiraan, tanda sebuah rumah tangga yang berbahagia.
Di atas Pulau Sam liong to, kakek buntung Lam hai Lo mo membanting banting kaki saking jengkelnya ketika ia memaksa Ouw bin cu untuk menceritakan bagaimana peta itu sampai terjauh ke tangan si muka hitam ini.
Ternyata bahwa Thian te Kiam ong terlalu cerdik untuk dapat dipancing datang, ia harus menggunakan siasat lain.
Adapun Siang Cu yang mendengar penuturan Siauw gam ong bahwa Thian te Kiam ong mempunyai dua orang anak yang kepandaiannya tinggi, menjadi tertarik sekali.
"Suhu, mengapa kita tidak datang saja ke Tit le? Teecu ingin sekali bertemu dengan mereka dan mencoba sampai di mana kepandaian musuh musuh kita itu. Pcrcayakanlah kepada teecu, akan teecu robohkan mereka itu seorang demi seorang."
Akan tetapi kakek buntung ini menggeleng kepalanya.
"Belum waktunya, Cu ji, belum waktunya. Aku tidak ingin melihat rencana yang sudah kuatur belasan tahun lamanya ini hancur berantakan, digagalkan oleh darah mudamu yang kurang sabar."
Kemudian, teringat akan cerita Siauw giam ong tentang keadaan pemerintah Goan tiauw yang makin lemah karena rakyat di mana mana mulai melakukan pemberontakan, timbul pikiran gila dalam otak kakek buntung ini.
Ia tertawa bergelak dan berkala kepada Siang Cu.
"Cita cita hidupku bukan hanya melihat musuh musuh besarku binasa, Siang Cu. Masih ada lagi yang lebih penting, yakni aku harus melihat kau menjadi Ratu di Tiongkok! Ha, ha, ha, itulah seharusnya. Kau memang pantas dan berhak menjadi ratu di sana."
Siang Cu tidak heran mendengar omongan suhunya ini, memang sudah sering kali gurunya bicara tidak karuan dan menyebut nyebut tentang kerajaan di mana dia akan dijadikan raja perempuan.
"Impian suhu terlalu muluk. Kerajaan memiliki bala tentara yang besar sekali, bagaimana kita dapat merebutnya demikian mudah?"
Kakek buntung ini tertawa terkekeh kekeh.
"Jangan khawatir! Kalau kaisar dan pangeran pangeran berada di dalam tangan kita, apa susahnya memaksa mereka mengangkatmu sebagai raja? Dan tentang bala tentara, ha, ha, ha! Mudah dicari, Cu ji, mudah dicari!"
Selanjutnya Lam hai Lo mo mengoceh seorang diri, tidak memperdulikan lagi kepada muridnya dan kepada dua orang pembantunya.
Ternyata gilanya sudah kumat lagi dan akhirnya kakek ini terpincang pincang masuk ke dalam pondoknya.
Siang Cu menarik napas panjang dan berkata perlahan.
"Kasihan sekali suhu....dia sudah terlalu tua."
Adapun Ouw bin cu dan Siauw giam ong yang mendengar semua ini, saling pandang tanpa berani membuka mulut.
"Kalau boleh pinto bertanya, siocia ini puteri siapakah?"
Akhirnya Ouw bin cu memberanikan hatinya kepada Siang Cu yang masih berdiri termenung.
Mendengar pertanyaan ini, dara itu nampak kaget dan hendak marah, akan tetapi melihat wajah Ouw bin cu yang tidak mengandung maksud buruk ia menjawab singkat.
"Aku yatim piatu, semenjak kecil dididik oleh suhu. Sudahlah, tidak ada artinya bicara tentang itu. Kalian jaga suhu baik baik, uruslah segala keperluannya. Aku hendak mencari ikan."
Gadis ini lalu berlari pergi, menuju ke sebelah perahu yang disembunyikan di dekat pantai.
Adapun dua orang tosu itu lalu masuk ke dalam pondok untuk menanti perintah Lam hai Lo mo dan untuk melayani segala keperluannya.
Siang Cu berlari lari ke pantai.
Hatinya masih penasaran sekali karena suhunya tidak mau menerima usulnya untuk pergi ke daratan Tiongkok dan mencari langsung musuh musuh besar mereka itu.
Ketika ia tiba di sebuah rumpun, dibukanya rumput rumput tebal itu dan dikeluarkannya sebuah perahu yang kecil, ramping, dan runcing kedua ujungnya.
Di dekat perahu itu terdapat sebuah dayung dari kayu yang sudah menghitam seperti besi.
Ia lalu memegang ujung perahu dan sekali mengerahkan tenaga, perahu itu terlempar ke atas dalam keadaan terputar cepat.
Ketika perahu itu meluncur kembali ke bawah, Siang Cu menggunakan dayung untuk menerimanya dan kini perahu itu tetap terputar di atas dayung, makin lama makin cepat sehingga kini merupakan bundaran.
Dilihat dari jauh, gadis itu seperti sedang memegang sebuah payung.
Dengan enaknya.
Siang Cu ini membawa perahu itu ke laut.
Di dekat pantai ia melompatkan perahu itu ke air dan tepat sekali jatuhnya perahu itu di atas air, terlentang dan mengambang, seperti diletakkan dengan hati hati saja.
Kemudian tubuh gadis itu menyusul dengan loncatan yang indah sekali.
Dari atas tepi yang agak curam itu, Siang Cu meloncat dengan mengembangkan kedua lengan seperti burung terbang.
Dayung di tangan kanan ia gerak gerakkan untuk mengatur luncuran tubuhnya sehingga ia tepat tiba di atas perahunya.
Memang indah sekali dilihat, apalagi ketika kedua kakinya sudah menginjak perahu, sedikitpun perahu itu tidak bergoyang goyang, hanya meluncur ke depan seperti di dorong.
Dari ini aaja sudah dapat diukur sampai di mana tingginya kepandaian Siang Cu dan betapa hebat ilmu ginkangnya Air laut sedang tenang sekali dan ketika Siang Cu menggerakkan dayungnya, perahu itu meluncur dengan cepat sekali menuju ke timur.
Sebetulnya ia ingin sekali mendarat di daratan Tiongkok yang berada di sebelah barat pulaunya, akan tetapi kalau ia teringat kepada suhunya yang sudah tua dan betapa suhunya akan marah dan gelisah sekali, serta teringat pula bahwa merantau seorang diri mencari musuh musuh besar itu bukan pekerjaan mudah karena ia masih asing dengan daerah Tiongkok, maka ia membatalkan niatnya ini.
Memang ia sering kali dibawa oleh gurunya ke daratan Tiongkok, akan tetapi hanya sampai di kota kota yang berdekatan dengan tepi laut saja.
Itupun secara bersembunyi karena suhunya agaknya masih takut untuk bertemu di daratan Tiongkok dengan musuh musuh besarnya.
Kalau ia teringat akan keadaan suhunya yang menjadi seorang bercacat dalam keadaan demikian mengerikan, ia merasa benci dan marah sekali kepada musuh musuh besar yang disebut oleh suhunya.
Terutama sekali kepada Thian te Kiam ong, karena tokoh inilah yang paling ia benci oleh suhunya, yang dikatakan amat jahat.
Apalagi karena di samping kebenciannya, gurunya kelihatan segan dan takut takut, sering kali memuji ilmu pedang Thian te Kiam ong.
Hal ini membuat hati Siang Cu penasaran sekali dan ingin sekali ia mencoba ilmu pedang musuh ini.
Tiba tiba renungannya dibuyarkan oleh gerak air laut di sebelah kanannya.
Wajahnya yang tadinya muram menjadi berseri girang.
Di sebelah kanannya nampak serombongan kura kura berenang seakan akan berlomba lomba.
Kadang kadang kepala kura kura kelihatan di permukaan air kadang kadang menyelam lagi dan hanya kelihatan punggungnya saja bergerak ke sana ke mari.
Inilah yang dicari carinya.
Kura kura berpunggung segi empat.
Daging kura kura macam ini amat digemari suhunya, juga ia sendiri amat suka akan daging ini yang memang gurih, manis dan lezat.
Cepat ia mendayung perahunya ketempat rombongan kura kura itu dan setelah memilih yang terbesar, ia cepat menggerakkan dayungnya dengan dibalikkan, yakni gagangnya dipergunakan untuk menusuk ke dalam air.
Tepat sekali gagang dayung itu mengenai tengah tengah punggung kura kura dan terdengar suara "krak", maka gagang dayung itu memecahkan batok punggung yang kuat dan menembus terus ke bawah!
Ketika ia mengangkat dayung itu, si kura kura telah tertusuk dan disate oleh dayung itu.
Sambil tertawa tawa gembira.
Siang Cu lalu naikkan korbannya ke dalam perahu.
Begitu dilepaskan dari dayung, kura kura biarpun sudah pecah batok punggungnya dan sudah berlobang parutnya, masih saja hendak melarikan diri Namun sekali ketok dengan gagang dayung, pecahlah kepala kura kura itu dan tidak berkutik lagi, tergeletak di dalam perahu.
Kura kura ini cukup besar, beratnya ada empatpuluh kati, cukup untuk dimakan oleh empat orang.
Pada taat Siang Cu hendak mendayung perahunya kembali ke Pulau Sam liong to, tiba tiba angin laut datang bertiup dan terdengar olehnya suara hiruk pikuk seperti orang bersorak bergerak yang datangnya dari jurusan timur.
Matanya tak dapat melihat sesuatu di jurusan itu karena cahaya matahari membuat pemandangan menyilaukan mata.
Namun, angin agaknya membawa datang suara ini, dan tergeraklah hati Siang Cu.
Ia pernah mendengar dan suhunya bahwa di sekitar laut ini terdapat bajak bajak laut yang seringkali mengganggu kapal para pedagang dan pelancong yang lewat di dekat pulau pulau kosong.
Bahkan pernah ada sebuah perahu bajak laut yang berani mendarat di Pulau Sam liong to akan tetapi baru saja dua belas orang penumpangnya mendarat, mereka dihajar oleh Lam hai Lo mo dan Siang Cu.
Namun mereka ini dilepaskan lagi dan diancam jangan berani mencoba coba mendarat di Sam liong to dan semenjak itu, benar saja tak pernah ada perahu bajak yang berani muncul.
Siang Cu masih ingat betapa bajak bajak itu bertubuh pendek pendek dan nampak lucu lucu sekali.
Ketika hal itu terjadi, ia baru berusia empat belas tahun, jadi sudah tiga tahun yang lalu.
Kini mendengar sorak sorak itu, hatinya tertarik sekali dan ingin ia mengetahui apa yang terjadi di sebelah timur.
Dengan cepat ia mendayung perahunya ke timur.
Beberapa lama kemudian, ia melihat layar layar perahu hitam dan setelah dekat, ternyata bahwa ada lima buah perahu berlayar hitam mengurung sebuah perahu berlayar putih.
Kemudian, nampak orang orang turun melalui tambang dan membawa barang, bahkan ada juga orang yang dipondong masuk ke dalam perahu berlayar hitam.
Tahulah Siang Cu bahwa lima buah perahu berlayar hitam itu tentu para bajak laut yang sedang merampok perahu berlayar putih itu.
Ia mempercepat dayungnya mendekati, akan tetapi tiba tiba perahu berlayar putih itu terbakar dan perahu perahu hitam bergerak ke sebuah pulau yang kelihatan dari situ.
Siang Cu tentu saja tak dapat mengejar perahu perahu yang digerakkan oleh tiupan angin pada layar, namun ia tetap mengejar.
Ketika perahunya lewat di dekat perahu yang terbakar, ia melihat mayat mayat menggeletak di dalam perahu dan ikut terbakar pula.
Hatinya merasa ngeri dan timbul marah nya kepada bajak laut bajak laut yang kejam.
Perahunya digerakkan makin cepat dan kalau sekiranya ada lima orang nelayan laki laki yang kuat kuat mendayung dalam sebuah perahu, agaknya takkan dapat menyusul kelajuan perahu yang didayung oleh Siang Cu.
Ketika dara ini mendaratkan perahu pada pulau yang asing baginya itu, perahu perahu bajak yang ditinggalkan di pantai telah kosong dan keadaan di situ sunyi saja.
Siang Cu membuang bangkai kura kura yang dibunuhnya tadi ke dalam air karena takut mendatangkan bahu busuk kalau tidak lekas lekas dipanggang, kemudian ia berlari naik ke atas pulau yang penuh oleh pohon pohon berdaun hijau.
Dan situ sayup sayup ia mendengar suara orang bergelak tertawa.
Memang betul dugaan Siang Cu.
Lima buah perahu hitam itu adalah perahu perahu bajak laut yang malang melintang di sekitar kepulauan kecil kecil yang berada di Laut Tiongkok Timur.
Mereka ini sebagian besar adalah Bangsa Jepang, Korea, dan ada juga Bangsa Tiongkok Timur.
Perahu besar berlayar putih yang mereka rampok tadi adalah perahu pedagang yang datang dari Cing tao, pelabuhan Propinsi Santung dan menuju ke Sang hai.
Karena terserang oleh badai yang mengamuk, perahu ini dan Laut Kuning terbawa sampai di Laut Timur dan menjadi korban serangan para bajak laut yang ganas.
Barang barang berharga dirampok.
Laki laki dibunuh, demikianpun wanita wanita tua dan kanak kanak.
Wanita wanita muda yang jumlahnya ada lima orang dibawa turun ke dalam perahu bajak, dijadikan tawanan.
Ada juga tiga orang laki laki muda yang mereka culik dan tawan dengan maksud tertentu yang akan disaksikan oleh Siang Cu.
Ketika Siang Cu mendekati perkampungan bajak laut, ia mengintai sambil bersembunyi.
Di lihatnya bajak bajak laut yang jumlahnya ada empatpuluh orang lebih itu menari nari kegirangan, tertawa tawa dan minum arak.
Lima orang wanita tawanan entah berada di mana, sesungguhnya mereka ini tentu saja menjadi bagian para pemimpin bajak.
Orang orang yang sebagian besar bertubuh pendek dan kate itu kini menari nari mengelilingi tiga orang laki laki yang diikat pada batang pohon.
Mereka inilah tiga orang yang ditawan dari atas perahu, tidak dibunuh karena memang hendak dijadikan korban di atas pulau, dijadikan bahan ejekan dan dibunuh setelah disiksa lebih dahulu!
Tiba tiba semua tari tarian dan kelakuan yang menggila dari para anak buah bajak itu terhenti ketika terdengar aba aba dalam bahasa yang tak dimengerti oleh Siang Cu, Semua orang mundur dan dari dalam sebuah pondok kayu yang besar, keluarlah tiga orang laki laki pendek gemuk.
Tiga orang ini hampir sama besar dan pendeknya, bulat dengan perut gendut.
Mereka bertiga ini nampaknya begitu lucu sehingga hampir saja Siang Cu bergelak ketawa kalau gadis ini tidak lekas lekas mendekap mulutnya sendiri dengan tangan.
Kemudian keluarlah seorang pemuda dan biarpun tubuhnya agak pendek, namun tampan dan gagah wajahnya.
Pinggangnya kecil dan dadanya membusung, kedua lengannya berotot akan tetapi juga pendek hanya tergantung sampai di pangkal paha.
Melihat sikapnya yang tidak merendah terhadap tiga orang bulat itu, agaknya ia memiliki kedudukan cukup tinggi.
Seorang di antara tiga pemimpin bajak itu memberi aba aba dan diseret keluarlah lima orang wanita muda yang menjadi tawanan.
Rambut mereka awut awutan dan muka mereka pucat, namun Siang Cu melihat jelas bahwa mereka adalah perempuan perempuan muda yang berwajah cantik, ia tidak memperdulikan keadaan mereka ini dan terus memandang ke depan.
Di antara tiga orang laki laki yang diikat pada pohon, seorang yang diikat paling kiri menarik perhatian Siang Cu.
Dia ini masih amat muda.
paling banyak berusia delapanbelas tahun, berpakaian seperti orang sasterawan.
Pemudi ini tampan sekali, mukanya berkulit halus dan putih, hidung mancung, dan alis yang menghias mata yang jeli itu hitam dan tebal.
Yang menarik perhatian Siang Cu bukanlah kegagahan atau ketampanan wajah pemuda ini, melainkan sikapnya.
Dara ini merasa jemu dan muak melihat dua orang laki laki lain yang diikat menangis dan minta ampun seperti kambing hendak disembelih.
Demikian pula lima orang wanita yang ditawan itu menangis dan menggigil ketakutan.
Akan tetapi sebaliknya, pemuda saterawan itu nampak tenang tenang saja sama sekali tidak memperlihatkan kengerian hati atau rasa takut.
Tempat di mana tiga orang pemimpin itu duduk di atas bangku merupakan lingkaran luas dan para anak buah bajak duduk di luar lingkaran.
Lalu pemimpin bajak yang paling gemuk berdiri dan berkata kepada tiga orang tawanan yang diikat itu dalam bahasa Tionghoa yang kaku.
"Kami kawanan Garuda Laut berterima kasih atas sumbangan kalian bertiga berupa barang barang berharga dan lima orang bidadari ini!"
Ia menoleh kepada lima orang wanita yang berlutut ketakutan sambil tertawa bergelak, diikuti pula oleh para bajak yang menganggap kelakar kepala mereka itu amat lucu.
"Oleh karena itu, untuk membalas budi, kami tidak mau membunuh kalian begitu saja. Kalian dberi hak untuk menghadapi seorang lawan, dan siapa yang dapat memenangkan lawan nya, boleh pergi meninggalkan pulau ini tanpa diganggu!"
Kembali terdengar orang orang bersorak dan tertawa mengejek, dan karena bahasa yang mereka pergunakan untuk mengejek adalah bahasa asing, maka Sian Cu tidak mengerti maksudnya.
Namun gadis ini berotak cerdik sekali dan ia tahu bahwa para bajak laut ini benar benar berhati curang dan kejam.
Andaikata ada yang menang, bagaimanakah ia dapat pergi dari pulau ini tanpa perahu?
Perahu mereka telah dibakar, maka jelaslah bahwa menang atau kalah, nasib mereka sudah pasti yakni maut.
Orang yang diikat di pohon paling kanan, dibuka ikatannya.
Dia ini seorang laki laki yang bertubuh kuat dan pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang pelaut.
Namun semangatnya lemah dan belum apa apa kedua kakinya sudah menggigil ketakutan.
Ia dihujani ejekan dari kanan kiri dan baru ejekan dan sorakan terhenti ketika kepala bajak mengangkat tangan dan berkata.
"Siapa yang akan menghadapi jago ini?"
Tanyanya kepada anak buahnya.
"Yang memenangkan jago ini akan diberi hadiah bidadari yang berbaju kuning!"
Sambil berkata demikian, si gendut menunjuk salah seorang di antara lima orang tawanan wanita yang berbaju kuning dan yang menangis sedih.
Melompatlah seorang laki laki yang agak tinggi, berkulit hitam dan mulutnya lebar sekali, ia ini menjura kepada pemimpinnya dan berkata.
"Hamba yang akan menghancurkan kepalanya!"
Katanya, ia diberi ijin dan segera si mulut lebar ini menghadapi tawanan itu.
Karena tahu bahwa tidak ada lain jalan keluar lagi, nelayan ini terpaksa berlaku nekat.
Ia hendak melawan sedapat dapatnya dan segera memasang kuda kuda, kemudian setelah diberi tanda, ia lalu memukul ke arah dada si mulut lebar itu.
Melihat gerakannya, Siang Cu tahu bahwa nelayan itu pernah mempelajari sedikit ilmu silat.
Akan tetapi, tanpa menghiraukan pukulan, si mulut lebar menerima pukulan itu dengan dadanya.
Terdengar suara berdebuk dan pukulan itu ternyata tidak dapat merobohkan si mulut lebar yang sebaliknya cepat menangkap tangan pemukulnya dan dengan gerakan memutar, tubuh nelayan itu diangkat dan dibanting keras sekali!
Sorak sorai terdengar ramai ketika nelayan itu mengaduh aduh dan merayap lalu berlutut di depan si mulut lebar, minta minta ampun!
Siang Cu menjadi merah mukanya dan ia merah muak sekali melihat sikap nelayan itu.
Gadis ini paling benci melihat orang yang bersikap pengecut dan penakut.
Kalau nelayan ini melawan terus mati matian, agaknya gadis itu tentu akan turun tangan membantunya.
Akan tetapi karena nelayan ini berlutut dan minta minta ampun mana ia sudi menolong?
Si mulut lebar ketika melihat kelunakan lawannya, tertawa terbahak bahak, menangkap orang itu, dibanting keras, ditangkap lagi, dibanting lagi berkali kali sehingga orang itu tewas dengan kepala pecah pecah!
Setelah mendapat kemenangan, si mulut lebar lalu menubruk wanita tawanan baji kuning itu diangkatnya tinggi tinggi dan dibawa ia tanpa memperdulikan jerit tangis korbannya itu.
Semua orang tertawa tawa melihat pemandangan ini yang dianggapnya amat lucu!
Hati Siang Cu bergolak saking marahnya.
Namun ia masih ragu ragu untuk turun tangan.
Gurunya berkali kali menyatakan bahwa ia tidak boleh mencampuri urusan orang lain yang tiada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri.
Pula, ia melihat sifat pengecut dan penakut dan para tawanan, hatinya menjadi lemah untuk turun tangan.
Juga jumlah bajak laut itu banyak sekali, nampaknya kuat kuat.
Belum tentu ia kuat menghadapi keroyokan orang sebanyak itu.
Ia tidak mau mengorbankan diri hanya untuk membela pengecut pengecut itu pikirnya.
Tawanan ke dua dilepaskan ikatannya.
Makin muak hati Siang Cu melihat betapa laki laki yang masih muda dan bertubuh kuat juga ini, agaknya seorang pedagang, belum apa apa telah menangis.
Yang menghadapinya adalah seorang pendek sekali, jauh lebih kecil dari dia sendiri.
Tawanan ini berusaha melawan, namun laki laki pendek yang menjadi lawannya itu ternyata tangkas sekali.
Siang Cu melihat bahwa laki laki pendek itu mempergunakan ilmu silat yang hampir sama dengan Ilmu Silat Kin na hwat, yakni ilmu silat menangkap dan mencengkeram.
Dalam beberapa gebrakan saja, kaki tawanan itu dapat ditarik sehingga tergulinglah tubuhnya, kemudian si pendek itu menubruk dan menjepit leher tawanan itu dengan kedua kakinya sampai lawannya tercekik dan tewas karena tak dapat bernapas.
Pemandangan yang menyeramkan ini disambut dengan sorak sorai dan wanita baju hijau yang dijadikan hadiah jatuh pingsan ketika ia dipondong pergi oleh si pendek kate.
Tibalah giliran sasterawan muda itu.
Siang Cu memandang penuh perhatian, hendak melihat bagaimana sikap pemuda yang menarik hatinya itu.
"Kalian ini orang orang gila yang hidup seperti binatang buas!"
Kata pemuda itu dengan suara lantang, tanpa takut sedikitpun juga ambil menentang pandangan tiga orang pemimpin yang gendut.
"Kalau hendak membunuh, bunuhlah aku. Aku tidak takut mati. Jangan harap kalian akan dapat memaksakan berkelahi seperti badut hanya untuk menyenangkan hati kalian! Siapa yang hendak maju melawanku, majulah dan bunuhlah! Aku tidak mau melawan! Hanya pengecut yang berhati rendah saja yang mau menjatuhkan tangan kepada orang yang tidak mau melawannya!"
Mendengar ini, tiga orang pemimpin itu marah sekali. Lebih lebih pemuda pendek yang gagah tadi, yang duduk di dekat tiga orang pemimpin gendut, ia melompat berdiri dan berkata.
"Biar aku sendiri yang memecahkan kepala cacing buku ini!"
Bentaknya dan sekali ia melompat, ia lelah berada di depan pemuda sasterawan. Sasterawan itu memandang dengan bibir tersenyum mengejek.
"Kalau kau berada di daratan Tiongkok, orang macam kau ini pantasnya hanya menjadi tukang pukul murah!"
Pemuda itu mengerti juga Bahasa Tionghoa, maka ia marah dan membanting banting kaki.
"Aku akan bikin mampus kutu ini dan hadiah untukku boleh dibagi bagi antara semua anak buahku!"
Kata kata ini disambut dengan sorakan riuh rendah.
Kasihanlah wanita ketiga yang dijadikan taruhan dalam pertandingan ini, karena orang orang kasar telah mendekatinya, siap memperebutkannya setelah pertandingan berakhir.
"Siaplah untuk mampus, binatang!"
Pemuda tegap pendek itu berseru dan hendak menyerang.
"Kau bunuhlah, aku tidak takut mati dan tidak akan membalas,"
Sasterawan muda itu berkata, tetap tersenyum tenang, sedikitpun tidak kelihatan takut.
Dihadapi dengan dingin, pemuda pendek itu marah sekali.
Tangannya menampar kepala sasterawan itu dan tubuh sasterawan itu terguling.
Namun ia bangun kembali dan menyusut bibirnya yang berdarah, ia masih tersenyum dan sama sekali tidak takut.
Si kate menjadi makin marah, ia tidak puas kalau membunuh orang ini tanpa melihat korbannya ketakutan.
Dicabutnya sebatang golok itu di dekat leher pemuda sasterawan.
"Berlututlah dan minta ampun! Mungkin kau tidak kubunuh!"
Bentaknya.
"Siapa takut senjatamu? Aku mati sebagai seorang gagah. Mau bunuh boleh bunuh, aku siap meninggalkan ragaku yang terlahir lemah tidak memiliki kepandaian kasar,"
Jawab sasterawan itu.
Si pendek kate makin marah dan ia mengangkat goloknya ke atas.
Akan tetapi pada saat ia membacokkan goloknya ke arah kepala pemuda itu, hendak membelah kepala itu menjadi dua, tiba tiba menyambar benda hitam yang tepat mengenai pergelangan tangannya.
Si kate menjerit dan goloknya terlepas dari pegangan.
Semua orang terkejut dan lebih heran lagi ketika tiba tiba melayang bayangan merah dan tahu tahu seorang gadis muda yang cantik jelita berdiri di depan si kate tadi.
"Pemuda ini tidak memiliki kepandaian silat, tidak adil kalau memaksa ia berkelahi. Aku sengaja datang mewakilinya. Hayo, siapa saja boleh maju menghadapiku!"
Bentak Siang Cu, karena memang gadis inilah yang telah menolong pemuda sasterawan tadi.
Ia amat kagum melihat betapa seorang pemuda yang begitu lemah, memiliki semangat dan keberanian sehingga tersenyum saja menghadapi lawan yang sudah siap menerkam nyawanya.
Pemuda kate tertegun, ia tidak mengerti mengapa goloknya terlepas dan tangannya sakit.
Bahkan sekarangpun ia masih belum mengira bahwa gadis baju merah yang turun bagaikan bidadari dari surga inilah yang tadi telah menggunakan batu kecil menyambit tangannya.
Untuk sesaat ia tak dapat berkata apa apa, demikian pula semua orang yang berada di situ.
Kemudian ia tertawa girang dan berpaling kepada tiga orang pemimpin yang gendut sambil berkata "Kurobah taruhan atas pertandingan ini.
Kalau aku menang, aku akan membunuh cacing lemah itu dan akan rnengambil nona ini sebagai hadiahku."
Semua orang tertawa mendengar ini dan Siang Cu tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Sekali tangan kirinya dengan jari jari terbuka berkelebat ke arah kepala pemuda pendek kate, terdengar jerit ngeri sekali dan pemuda itu roboh di atas tanah, berkelojotan dan mati.
Jidatnya telah berlobang lobang terkena tutukan jari jari tangan Siang Cu yang mempergunakan tenaga lweekang.
Geger di tempat itu.
Siang Cu siap sedia menghadapi keroyokan.
Tiga orang pemimpin yang gendut itu melangkah maju menghampirinya dan memandangnya penuh keheranan.
Kemudian orang di antara mereka teringat.
"Aha, bukankah kau ini murid kakek buntung yang berada di pulau Sam liong to?"
Mendengar pertanyaan ini, semua orang kembali terdiam dan nampak ketakutan.
Nama kakek buntung memang merupakan nama yang ditakuti seperti takut kepada setan laut yang mendatangkan gelombang dan taufan.
"Tak perlu diributkan aku siapa!"
Siang Cu membentak dengan sikap menantang.
"Pendeknya aku datang untuk menolong sasterawan muda ini. Bebaskan dia, kalau perlu, boleh jago jagomu diajukan pula untuk melawanku!"
"Aduh sombongnya!"
Seorang di antara tiga orang pemimpin itu tiba tiba menubruk maju.
Siang Cu mengelak, akan tetapi karena tubrukan itu hebat sekali, terpaksa gadis ini menggunakan tangan kanan menangkis.
Alangkah terkejutnya ketika tiba tiba tangannya itu terpegang erat erat dan sebelum ia dapat menghindarkan, tubuhnya itu telah melayang ke atas dilempar secara aneh dan luar biasa oleh si gendut itu!
Tiga Orang pemimpin itu girang sekali, akan tetapi senyum mereka yang lebar itu tiba tiba lenyap ketika mereka melihat betapa nona baju merah yang cantik jelita itu sama sekali tidak terlempar jatuh, bahkan di atas udara dapat berjungkir balik dan kini melayang kembali ke atas mereka seperti seekor burung garuda menerkam kurbannya.
Siang Cu marah sekali karena tadi kurang hati hati sehingga dapat dilempar ke atas.
Kini ia menyerang dari atas ke arah si gendut yang tadi menangkapnya.
Orang itu cepat mengulur tangan hendak menyambut tubuh Siang Cu yang kecil, akan tetapi tiba tiba terdengar suara "krak!"
Dan orang gemuk ini menjerit jerit seperti babi disembelih ketika kedua tangannya berkenalan dengan sabetan pedang yang bercahaya kehijauan.
Sepuluh jari tangannya putus pada ujungnya.
Dengan muka merah Siang Cu berdiri, tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan memegang pedang.
"Hayo siapa lagi yang berani main gila dengan aku?"
Dua orang pemimpin bajak ketika melihat betapa dua orang saudaranya telah dirobohkan, menjadi marah sekali.
Mereka mencabut senjata ruyung yang besar dan berat, lalu serentak menyerang Siang Cu.
Gadis ini mengeluarkan suara ketawa menyeramkan, dan begitu pedangnya bergerak, lenyaplah pedang dan tubuhnya.
Yang tampak hanyalah bayangan tubuhnya yang merah dan gulungan sinar pedang yang kehijauan.
Dalam beberapa gebrakan saja, dua orang pemimpin yang gemuk itu memekik kesakitan dan roboh dengan tubuh terluka pedang.
Anak buah perampok itu segera maju mengeroyok dan mengurung gadis itu sambil berteriak teriak.
Namun Siang Cu tidak gentar sedikitpun juga.
Ia menyuruh pemuda sasterawan itu berdiri di belakangnya dan pedangnya lalu diputar sedemikian rupa sehingga jangankan baru senjata para pengeroyoknya atau bajak laut, biarpun datang hujan lebat agaknya tak setetes airpun akan dapat membasahi pakaiannya.
Sebaliknya beberapa kali sinar pedangnya meluncur panjang tentu terdengar jerit kesakitan dan roboh seorang pengeroyok.
"Nona, kau gagah sekali. Benar berar manusiakah kau?"
Berkali kali terdengar pemuda sasterawan itu bertanya kagum.
Suara pemuda ini menambah semangat Siang Cu yang mengamuk makin hebat lagi.
Sudah bertumpuk tubuh para bajak laut yang terluka, bergelimpangan dan keluh kesah mengaduh aduh terdengar riuh.
Pada saat itu terdengar suara keras.
"Tahan semua senjata!"
Mendengar suara ini, para bajak laut mundur dan menarik kembali senjata mereka. Terdengar mereka berseru takut.
"Sian jin datang.... !"
Siang Cu memandang ke depan dan melihat dua orang mendatangi dengan tindakan cepat sekali.
Mereka ini adalah seorang tua bertubuh tinggi bersama seorang laki laki muda berusia kurang lebih duapuluh tahun.
Kedua orang ini pakaiannya indah dan mewah, yang tua angker berpengaruh memegang sebatang tongkat kepala naga dan yang muda memegang sepasang pedang di kedua tangan, sikapnya gagah, wajahnya tampan, dan tubuhnya juga tinggi seperti yang tua.
Melihat gadis manis dan perkasa ini, yang muda lalu melompat maju dan tersenyum senyum.
"Alangkah gagahnya nona ini,"
Katanya.
Siang Cu paling benci kepada laki laki yang sifatnya pengecut dan laki laki yang ceriwis.
Melihat pemuda ini senyum senyum dan memandang kepadanya dengan mata kagum dan kurang ajar, timbul kemarahannya.
Ia tahu bahwa dua orang ini tentulah kawan dari para bajak laut, maka dengan marah sekali ia lalu menyerang dengan pedangnya, menusuk cepat ke arah dada pemuda itu.
"Eng Kiat, awas!"
Teriak orang tua yang memegang tongkat itu kepada pemuda yang diserang, ia melihat kehebatan serangah ini, maka cepat memberi peringatan.
Pemuda itupun terkejut sekali karena tahu tahu ujung pedang nona itu telah meluncur kearah dadanya.
Ia cepat menggerakkan kedua pedangnya dari kanan kiri, menjepit pedang Siang Cu dengan gerakan Ji liong jio ou (Sepasang Naga Berebut Mustika) dan dengan tepat pedang nona itu terjepit oleh sepasang pedangnya.
Melihat gerakan ini, terkejut jugalah Siang Cu.
Gerakan yang dapat dilakukan dengan tepat sekali dalam keadaan berbahaya ini hanya dapat dilakukan apabila orang memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi.
Bagaimana di tempat seperti ini terdapat orang pandai?
Ia berusaha menarik kembali pedangnya dan lebih lebih kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa pedangnya seperti terpaku dan sukar dicabut.
Siang Cu adalah murid dari Lam hai Lo mo yang sakti, tentu saja ia menjadi penasaran sekali.
Apalagi ketika dilihatnya pemuda mewah dan pesolek itu mesem mesem dengan ceriwisnya.
Sambil membentak nyaring tangan kirinya mengirim pukulan Tin san ciang (Pukulan Menggetarkan Gunung) yang hawa pukulannya cukup kuat untuk merobohkan lawan dari jarak jauh.
Pemuda itu tidak mengira sama sekali bahwa nona yang begini muda dan jelita dapat memmiliki ilmu silat sehebat ini, maka tadi ia kurang hati hati.
Setelah hawa pukulan menyambar ke arah dadanya, barulah ia merasa terkejut dan cepat melepaskan jepitan pedangnya, mengerahkan tenaga lweekang ke arah dada untuk menolak bawa pukulan itu.
Namun tetap saja ia merasa dadanya sakit seperti terpukul oleh benda keras dan berat, maka sambil berseru kaget ia melempar diri ke belakang, berjungkir balik dan melompat turun di tempat yang agak jauh.
Ia terhindar dari luka berat di dalam tubuh, akan tetapi ia mengalami kekagetan luar biasa sehingga mukanya menjadi agak pucat dan keringat mengalir dari keningnya.
Jilid XVIII "HA, lihai sekali murid Lam hai Lo mo. Sayang sekali suka mencampuri urusan lain orang,"
Berkata orang tinggi kurus dan bertongkat itu sambil melangkah maju.
"Kalau aku mencampuri urusan orang, kalian mau apakah?"
Siang Cu membentak dengan sikap menantang.
Setelah tadi ia berhasil memukul mundur pemuda yang lihai itu, semangatnya timbul kembali dan ia merasa cukup tangguh untuk menghadapi dua orang ini sungguhpun ia belum tahu sampai di masa kelihaiannya yang tua.
Kakek itu tertawa bergelak.
"Hebat, hebat. Dari mana Lam hai Lo mo mendapatkan muridnya ini? Apakah dari neraka? Dia hidup kembali sudah aneh, sekarang mempunyai murid seperti ini, ah, hal ini jauh lebih aneh."
Mendengar ini, Siang Cu merasa tak enak hati juga. Mendengar omongannya, agaknya orang tua ini sudah kenal baik dengan suhunya.
"Orang tua, kau siapakah?"
Tanya Siang Cu. Orang tua itu tersenyum.
"Nona, kalau betul kau murid Lam hai Lo mo, jangan kau mengira bahwa puteraku Eng Kiat ini tadi sudah kalah olehmu, ia hanya mengalah, bukan kalah."
"Kalau masih penasaran, boleh maju lagi. Aku tidak takut,"
Siang Cu memotong pembicaraan orang. Kakek itu tersenyum dingin.
"Tiada gunanya. Kalau dia menang, gurumu akan mengira bahwa kami berlaku curang. Hayo bawa kami menghadap suhumu, dia tentu girang bertemu dengan aku."
"Tidak bisa, orang tua. Sebelum kau mengaku siapa adanya kau dan anakmu, dan sebelum aku menolong semua korban yang dirampok oleh kawan kawanmu, aku takkan pergi dari sini."
Kakek itu menoleh kepada puteranya dan tertawa geli melihat puteranya memandang kepada Siang Cu dengan kekaguman yang tak disembunyikan lagi.
"Sudah sepatutnya kau kagum dan suka kepadanya, Eng Kiat. Memang sukarlah menentukan seorang dara perkasa seperti ini apalagi di tempat ini."
"Hebat, ayah. Bahkan lebih hebat daripada puteri Thian te Kiam ong,"
Kata pemuda itu terus terang sambil matanya terus mengincar gadis itu.
Tadinya Siang Cu akan marah sekali mendengar percakapan mereka, akan tetapi setelah mendengar disebutnya puteri Thian te Kiam ong, hatinya tertarik sekali dan ia diam saja, tidak jadi marah.
"Nona, ketahuilah bahwa aku adalah Tung hai Sian jin (Dewa Laut Timur) dan ini adalah puteraku, Bong Eng Kiat. Jangan kau khawatir tentang para korban, sekarang juga akan kuperintahkan kepada mereka untuk mengantarkan para korban kembali ke pantai Tiongkok,"
Kakek itu lalu bicara dalam bahasa asing kepada para bajak, memerintahkan mereka mengantar semua korban dengan perahu bajak kembali ke daratan Tiongkok.
Ketika lima orang wanita itu dan si sasterawan muda hendak berangkat, sasterawan itu menghampiri Siang Cu dan berkata hormat.
"Siocia, aku Liem Pun Hui selama hidup takkan melupakan budi dan kegagahanmu yang luar biasa. Sudilah kiranya memberi tahu nama siocia apabila tidak menganggap itu terlalu kurang ajar bagiku."
"Aku bernama Ong Siang Cu, dan tentang budi dan pertolongan, harap kau suka melupakannya saja."
Jawab gadis itu dan wajahnya menjadi agak merah karena jengah, ia sendiri merasa heran mengapa pujian pemuda pesolek yang bernama Bong Eng Kiat itu memanaskan telinganya dan membuatnya marah, akan tetapi sebaliknya pujian pemuda sasterawan yang sederhana ini membuatnya senang dan malu.
Setelah para korban diantar ke dalam perahu, kakek itu lalu mengajak Siang Cu.
"Marilah nona kita kembali ke tempat suhumu."
Siang Cu tidak suka berdekatan dengan dua orang ini, akan tetapi diam diam iapun merasa ingin tahu sekali akan keadaan dua orang yang ternyata memiliki ilmu tinggi ini.
Pula yang menarik hatinya adalah disebutnya puteri Thian te Kiam ong tadi, maka iapun ingin membawa mereka ke suhunya untuk mendengar penjelasan terlebih jauh.
Siang Cu membawa mereka ke perahunya dan dengan bantuan Eng Kiat yang biarpun matanya amat kurang ajar namun mulurnya diam saja, meluncurlah perahu itu cepat sekali menuju ke Pulau Sam liong to.
Sudah lama aku tahu bahwa di atas pulau itu tinggal suhumu, nona.
Siapa lagi kalau bukan Lam hai Lo mo yang bisa tinggal di tempat seperti itu?
Akan tetapi aku merasa sungkan untuk datang menengok ke sana, karena aku tahu akan keanehan watak suhumu itu.
Sekarang kebetulan sekali ada kau yang menjadi orang perantara, kebetulan sekali!"
Siang Cu tidak menjawab, hanya termenung membayangkan bagaimana sikap suhunya kalau melihat ia membawa datang dua orang tamu.
Ia tidak takut suhunya akan marah kepadanya karena ia cukup maklum betapa besar rasa sayang suhunya kepadanya.
Akan tetapi suhunya memiliki watak yang aneh dan kadang kadang seperti orang gila, dan dua orang ini selain aneh dan mencurigakan, juga memiliki kepandaian amat tinggi.
Ia merasa seakan akan bakal terjadi hal yang hebat adalah mata pemuda pesolek itu, karena tiada hentinya mata itu memandang kepadanya dengan penuh gairah, ia merasa seakan akan mata Eng Kiat memandang sampai menembusi pakaiannya dan mata itu menjalari seluruh tubuhnya dari kepala sampai ke kaki.
Menghadapi pandangan mata ini.
Siang Cu sebentar menjadi merah dan sebentar pucat mukanya.
Setelah tiba di dekat pantai Pulau Sam liong to, ia tidak tahan lagi dan mendamprat marah "Manusia kotor!
Tahan matamu yang liar dan menyebalkan!"
Tung hai Sian jin tertawa bergelak, demikian pula Eng Kiat yang segera menjawab dengan jenaka.
"Nona manis yang galak, apaku sih yang membuat kau memaki kotor? Lihat pakaian dan kulitku begini bersih! Adapun tentang mataku, apakah dayaku, nona? Kau terlalu cantik bagaikan kembang, mataku hanya seperti kumbang,"
"Tutup mulutmu kalau tidak akan kugulingkan perahu ini!"
Siang Cu kembali membentak sambil mengancam untuk menggulingkan perahu.
Sebagai seorang gadis yang semenjak kecil hidup di atas pulau kecil, apalagi sebagai murid dari Lam hai Lo mo yang ahli dalam gerakan di air, Siang Cu pandai sekali berenang dan amat kuat bertahan di dalam air.
Namun Eng Kiat tetap tersenyum senyum saja, bahkan dengan mata nakal ia berkata.
"Asal bersama kau, jangankan terguling di laut, biarpun terguling di neraka sekalipun, aku rela, nona!"
Tak tahan pula kemarahan hati Siang Cu.
Dengan tangannya ia menekan pinggir perahu sambil mengerahkan tenaga dan tergulinglah perahu itu, terus terbalik membawa ketiga penumpangnya.
Siang Cu girang sekali dan mengharap akan dapat memberi hajaran kepada Eng Kiat dan kakek yang mendiamkan saja puteranya berlaku kurang ajar itu.
Akan tetapi alangkah herannya ketika ia timbul ke permukaan air, ia melihat kakek itu sudah duduk enak enak di atas perahu yang terbalik, pakaiannya sama sekali tidak basah.
Hanya mulutnya saja yang berkali kali memaki.
"Anak setan, kau nakal sekali. Patut menjadi murid Iblis Tua Laut Selatan!"
Tiba tiba Siang Cu mendengar suara ketawa dan melihat Eng Kiat timbul di permukaan air pula di sebelah belakang.
Ternyata pemuda itupun pandai sekali berenang dan agaknya tanpa menggerakkan tangan kaki, pemuda itu tidak tenggelam dan memandangnya dengan mata penuh cinta kasih!
"Nona, biarpun basah kuyup, kau makin manis saja!"
Bukan main marahnya Siang Cu.
Ia tidak hanya marah, akan tetapi juga malu dan kecewa.
Tanpa banyak cakap ia lalu berenang ke pinggir, karena memang tepi pulau sudah dekat.
Setelah mendarat ia cepat berlari menuju ke pondok suhunya, meninggalkan dua orang itu.
Tentu saja Siang Cu tidak tahu bahwa dalam hal kepandaian di air, Eng Kiat tidak kalah olehnya.
Dia adalah putera dari kakek yang berjuluk Dewa Laut Timur, tentu saja ia pandai ilmu di dalam air.
Sesungguhnya di daratan Tiongkok, nama Tung hai Sian jin tidak begitu dikenal orang.
Bahkan orang orang kang ouw yang mengenal nama ini hanyalah tokoh tokoh besar seperti Lam hai Lo mo, Kim Kong Taisu, Mo bin Sin kun.
dan lain lain.
Hal ini adalah karena semenjak mudanya, Tung hai Sian jin telah meninggalkan daratan Tiongkok dan merantau ke lain negeri, ia menikah dengan puteri di Jepang dan setelah mempunyai seorang putera dan isterinya yang tercinta itu meninggal, ia menjadi begitu sedih sehingga pikirannya seperti terpengaruh hebat dan menjadi luar biasa dan kadang kadang amat jahat.
Dengan membawa puteranya yang masih kecil, Tung hai Sian jin meninggalkan negeri isterinya dan merantaulah ia bersama puteranya itu sampai di tempat tempat yang jauh.
Ilmu kepandaiannya yang amat tinggi ia turunkan kepada putera tunggalnya yang diberi nama Bong Eng Kiat.
Ia sendiri dahulu bernama Bong Liang, akan tetapi nama ini sudah lama tidak pernah dipakai dan orang hanya mengenalnya sebagai Tung hai Sian jin atau Dewa Laut Timur.
Karena hanya mendapat pendidikan dari ayahnya yang berwatak ganjil dan tidak normal, apalagi selalu dibawa merantau tak tentu tempat tinggalnya, jiwa Eng Kiat tumbuh dengan watak yang aneh dan ganjil pula.
Satu sifat amat menyolok pada diri anak muda ini adalah sifat gila wanita!
Dan celakanya, ayahnya tak pernah menegur sifat ini, bahkan hanya mentertawakan dan menganggap hal ini lucu dan menyenangkan!
Kadang kadang Tung hai Sian jin membawa puteranya mendarat di Tiongkok dan merantau sampai jauh.
Namun karena mereka jarang sekali melakukan hal yang menggemparkan dan jarang pula mengganggu orang kang ouw, maka nama Tung hai Sian jin tetap terasing dan tak terkenal.
Kemudian secara kebetulan sekali, ketika berlayar di dekat Kepulauan Seribu, Tung hai Sian jin dan puteranya diganggu oleh bajak bajak yang merajalela di sekitar tempat itu.
Tentu saja para bajak yang kasar ini bukan lawan Tung hai Sian jin.
Mereka ditundukkan bahkau mengangkat Tung hai Sian jin dan puteranya sebagai raja besar atau guru besar, dan memberikan sebuah pulau kecil yang indah, lengkap dengan rumah dan segala macam alat keperluan yang serba mahal dan indah.
Mereka berjanji akan melayani segala keperluan dua orang ini asalkan Tung hai Sian jin dan puteranya tidak mengganggu pekerjaan mereka sebagai bajak laut.
Demikianlah, Tung Hai Sian jin dan Bong Eng Kiat hidup dengan mewah dan serba cukup, dan penghidupan yang enak ini membuat mereka malas.
Pakaian mereka kini bagus bagus dan terutama sekali Eng Kiat dihinggapi penyakit pesolek!
Ketika mendengar tentang bajak yang dihajar oleh kakek buntung di Pulau Sam liong to, Tung hai Sian jin mendengarkan penuturan mereka dengan penuh perhatian, ia mengenal tokoh tokoh besar di dunia kang ouw di daratan Tiongkok dan menurut penuturan para bajak, agaknya hanya Lam hai Lo mo yang memiliki kepandaian tinggi seperti itu.
Adapun tentang keadaan badan Lam hai Lo mo yang sudah rusak itu, iapun dapat menduga, karena Lam hai Lo mo sudah dikhabarkan mati, kalau sekarang hidup kembali, tentu saja tubuhnya sudah berobah.
Biarpun ia menduga bahwa kakek buntung yang tinggal di Pulau Tiga Naga itu Lam hai Lo mo, namun ia tidak mau mengganggu dan merasa malas untuk mencoba membuktikan sendiri.
Hidup di pulau dan dilayani oleh para bajak benar benar membuat ia malas sekali.
Tung hai Sian jin memang sudah merasa kapok untuk berurusan dengan tokoh tokoh besar dunia kang ouw, yakni semenjak dua tahun yang lalu ia bertemu dengan Thian te Kiam ong dan hampir saja mendapat malu besar.
Hal ini akan dituturkan di lain bagian, dan sekarang baiklah kita melanjutkan perjalanan Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat yang ditinggalkan oleh Siang Cu.
Melihat Siang Cu si nona baju merah yang cantik jelita itu melarikan diri naik ke bukit di atas pulau, Eng Kiat hendak mengejar sambil tertawa tawa girang.
Akan tetapi ayahnya mencegahnya.
"Jangan, Eng Kiat Tak boleh main gila dan sembrono di pulau ini! Kita harus menanti sampai kakek buntung itu muncul, baru kita akan mengambil tindakan kalau perlu. Main sembrono saja di tempat ini hanya akan mendatangkan bencana belaka."
Eng Kiat biarpun amat dimanja semenjak kecil, namun ia paling takut kepada ayahnya, karena kalau ayahnya ini sudah marah, bukan main ganasnya.
Pernah dahulu ketika ia masih kecil, ia dilempar ke dalam laut dan baru diangkat kembali oleh ayahnya setelah pingsan dan hampir tenggelam.
Sementara itu, Siang Cu berlari cepat ke bukit melihat gurunya duduk di depan pondok sambil bernyanyi nyanyi dan mengetuk ngetukkan tongkat bambunya di atas tanah.
"Ketika terlahir, manusia lunak dan lemah, Di waktu mati, ia keras dan kaku. Benda benda yang hidup lunak dan halus, Pabila mati berobah kasar dan kering Demikianlah, kekerasan dan kekasaran sahabat kematian kelemahan dan kehalusan sahabat kehidupan, Aku bercacad, tubuhku lemah. Biarlah! Mereka yang kuat pasti akan binasa olehku! Sudah sering kali Siang Cu mendengar nyanyian ini. Sejak pertama ia kenal sebagai pelajaran dalam To tek kheng atau kiab pelajaran tentang To dari Pujangga Lo cu, akan tetapi lanjutannya adalah buatan suhunya sendiri. Gadis yang cerdik ini tentu saja mengerti bahwa nyanyian itu timbul dari rasa dendam kepada musuh musuh besar yang membuat suhunya menjadi bercacad seperti itu. Ia merasa kasihan sekali dan kalau suhunya bernyanyi seperti itu, ia tidak berani mengganggunya. Setelah berhenti bernyanyi, Lam hai Lo mo mengangkat kepalanya dan ia terheran melihat Siang Cu berdiri dengan rambut basah dan pakaian juga basah.
"Eh, Siang Cu, apakah kau mandi di laut?"
"Tidak, suhu. Teecu baru saja menghajar para bajak laut yang telah membajak dan membakar sebuah perahu. Kemudian teecu bertemu dengan dua orang yang kini ikut dengan teecu di dalam perahu. Kata mereka hendak bertemu dengan suhu."
Berkerut kening kakek ini. Ia selalu merasa curiga kepada orang lain dan kembali ia bertanya dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Mengapa pakaian mu basah?"
Siang Cu lalu duduk di depan suhunya, memeras meras rambutnya yang basah.
"Karena perahunya teecu gulingkan."
"He? Perahu kaugulingkan? Dan orang orang itu? Siang Cu lalu menuturkan sejelasnya perihal Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat, tidak menyembunyikan sesuatu, bahkan ia mengatakan kepada gurunya betapa mata Eng Kiat amat kurang ajar dan bahwa dia tidak suka kepada pemuda itu. Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu mengangguk angguk.
"Aku kenal dia .... aku kenal dia..... Dia bisa tahu aku berada di pulau ini, sungguh cerdik."
Setelah berkata demikian, Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu lalu berdiri di atas sebelah kakinya, dibantu oleh tongkatnya.
Kemudian ia mengerahkan khikangnya dan berseru ke arah pantai "Tung hai Sian jin, kau dan anakmu pergilah!
Aku si kaki buntung tidak bisa menyambut!"
Suara Lam hai Lo mo biarpun tidak diucapkan keras, namun berkat tenaga khikang, suara ini terkumpul dan dapat dikirim gema suaranya ke pantai sehingga terdengar dengan baik oleh orang yang berada di pantai.
Ilmu seperti ini disebut Coan im jip bit (Mengirim Suara Dari Jauh) yang tentu saja dapat dilakukan oleh ahli ahli silat tinggi, hanya sempurna atau tidaknya tergantung tinggi rendahnya tenaga khikang masing niasing.
Tak lama kemudian, dari arah tepi laut, terdengar suara orang menjawab, suara ini panjang dan kecil, akan tetapi jelas sekali, tanda bahwa orangnya telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
"Lam hai Lo mo. Orang orangmu telah datang menyambut, bagaimana kau bisa bilang tidak menyambut?"
Mendengar ini, Lam hai Lo mo terheran, akan tetapi Siang Cu berkata cepat.
"Teecu Ouw bin cu dan Siauw giam ong."
Setelah berkata demikian, Siang Cu lalu berlari menuju ke pantai.
Biarpun Lam hai Lo mo hanya berkaki satu, namun ketika ia menggerakkan tubuhnya, ia telah bergerak cepat sekali dan dapat menyusul Siang Cu.
Keduanya lalu berlari seperti terbang ke arah pantai di mana tadi Siang Cu meninggalkan dua orang tamu yang tak diundang itu.
Memang tepat dugaan Siang Cu.
Ketika Tung hai Sian jin dan puteranya mendarat di Pulau Sam liong to sambil membawa perahu Siang Cu ke darat, mereka disambut oleh dua orang tosu yang bukan lain adalah Ouw bin cu dan Siauw giam ong.
Dua orang tosu ini ketika melihat seorang kakek dan seorang pemuda datang sambil tertawa tawa, tentu saja menjadi terkejut sekali.
Mereka telah mendapat perintah dan Lam hai Lo mo bahwa siapapun juga tidak boleh mendarat di Pulau sam long to.
Ouw bin cu yang berwatak keras segera hendak turun tangan, akan tetapi Siauw giam ong mencegahnya karena melihat bahwa yang datang adalah seorang tosu juga bersama seorang pemuda.
"Sahabat, harap kau suka cepat cepat tinggalkan pulau ini, karena tak boleh seorangpun mendarat di sini,"
Kata Siauw giam ong. Ucapan ini diterima oleh Tung hai Sian jin dengan tersenyum senyum saja, lalu tanyanya.
"Apakah kalian ini orang orang Lam hai Lo mo?"
"Benar sekali dugaanmu, toheng. Maka lebih baik kalian lekas pergi sebelum terjadi sesuatu yang amat tdak baik bagimu dan pemuda ini."
Kalau Tung hai Sian jin masih bersabar dan Suka melayani dua orang tosu yang menyambutnya itu, adalah Eng Kiat yang sudah tak sabar lagi. Ia melangkah maju dan membentak.
"Jangan banyak cerewet! Kami datang bersama murid Lam hai Lo mo dan lebih baik kalian cepat melaporkan kedatangan kami kepada kakek buntung itu."
"Eh, kau bocah ini ternyata lancang mulut dan kurang ajar!"
Kara Ouw bin cu dan ia mengulur tangannya hendak mendorong pergi Eng Kiat.
Namun, bukan pemuda itu yang terdorong pergi, bahkan secepat kilat Eng Kiat menggerakkan tangannya dan sebelum Ouw bin cu sempat mengelak pundaknya telah kena ditotok dan seketika itu juga tubuh Ouw bin cu menjadi kaku dan berdiri seperti patung!
Bukan main kagetnya Siauw giam ong ketika melihat hal ini.
Apakah pemuda itu menggunakan ilmu sihir?
Ia tahu bahwa kawannya itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dan memiliki latihan yang matang, akan tetapi mengapa berhadapan dengan pemuda ini, segebrakkan saja sudah tertotok?
Benar benar ia tidak mengerti.
Seakan akan Ouw bin cu berobah menjadi seorang anak kecil yang tidak tahu akan ilmu sialt sama sekali ketika berhadapan dengan pemuda ini.
Karena penasaran, ia lalu melompat maju.
"Orang muda, kau benar benar hebat, akan tetapi kau telah berani turun tangan terhadap suhengku. Awas pukulan!"
Siauw giam ong mengeluarkan ilmu silat Go bi pai yang tinggi.
Dengan jari tangan ditekuk setengahnya ia memainkan ilmu pukulan Hun kai ciang (llmu Pukulan Memecah dan Membuka), ia mengerahkan kepandaian dan menggunakan semua tenaganya.
Namun, ia kecele.
Seperti juga Ouw bin cu, ketika ia menyerang, pemuda itu sambil tersenyum menggerakkan tangan kiri menangkis dan aneh sekali.
Tangan Siauw giam ong yang menempel pada lengan pemuda pesolek ini seakan akan terpegang erat erat dan tak dapat dilepaskan lagi dan tahu tahu tangan pemuda itu memasuki lambungnya dan tanpa dapat bersuara lagi Siauw giam ong juga menjadi kaku tubuhnya.
Demikianlah ketika Lam hai Lo mo dan Siang Cu tiba di tempat itu, mendaratkan dua orang pembantu atau pelayan itu berdiri kaku seperti patung.
"Orang orangmu lucu dan kurang dapat menghormat tamu, Lam hai Lo mo!"
Kata Tung hai Sian jin sambil menjura kepadi Lam hai Lo Mo. Si kakek buntung lunya menggerakkan tangan sebagai pembalasan hormat, kemudian berkata dengan suara yang parau.
"Mereka ini setia akan tetapi tolol"
Dengan tongkatnya ia menotok punggung Ouw bin cu dan Siauw giam ong yang segera terbebas dari totokan.
"Pergilah, dan sediakan hidangan bagi tamu tamu kita,"
Kata Lam hai Lo mo kepada dua orang tosu ini yang segera pergi tanpa berani berkata sesuatu.
Di arts Pulau Sam liong to ini, Ouw bin cu dan Siauw giam ong yang di daratan Tiongkok amat ditakuti orang, kini ternyata tak berdaya sesuatu dan merasa dirinya amat bodoh dan berkepandaian amat rendah.
Sementara itu dua orang kakek yang sakti ini saling berhadapan dan untuk beberapa lama tidak mengeluarkan kata kata.
Hanya sinar mata mereka saja saling menatap seakan akan sedang bertempur atau sedang menyelidiki isi hati masing masing.
Kemudian Tung hai Sian jin mendahului berkata.
"Lam hai Lo mo, agaknya kau mempunyai nyawa cadangan! Kalau tidak demikian halnya, bagaimana aku hari ini bisa bertemu dengan kau yang sudah dikhabarkan tewas di sungai Hoang ho? Atau barangkali pukulan Thian te Kiam ong kurang keras dan tendangan Mo bin Sin kun kurang kuat? Haa, ha, ha!"
"Tung hai Sian jin, sebelum aku melayanimu sebagai tuan rumah, lebih dulu katakan apakah kau berfihak kepada Kim Kong Taisu, Mo bin Sin kun dan Thian te Kiam ong? Ketahuilah bahwa aku menganggap musuh semua kawan kawan Thian te Kiam ong, dan menganggap saudara kepada semua musuh musuhnya. Nah, kaujawablah sebelum percakapan kita dilanjutkan."
"Kalau aku bersahabat dengan Thian te Kiam ong, apa kau kira aku sudi datang ke sini? Thian te Kiam ong terhitung musuhku karena ia telah berani menghinaku,"
Jawab Tung hai Siao jin dan teringat akan pengalamannya dengan Thian te Kiam ong, merahlah mukanya saking marahnya.
"Bagus!"
Kata Lam hai Lo mo.
"kalau begitu kau termasuk sahabat baikku. Akan tetapi, mengapa kau bermusuhan dengan Thian te Kiam ong?"
"Aku dan puteraku datang ke Tit le dan kebetulan sekali puteraku melihat anak perempuan Thian te Kiam ong. Ia merasa suka sekali dan kami mengajukan lamaran. Akan tetapi apa jawaban Than te Kiam ong? Ia mengeluarkan kata kata menghina, mencela puteraku sehingga akhirnya aku bertempur dengan dia dan puteraku bertempur dengan puterinya,"
"Lalu bagaimana? Menangkah? Atau kalah? Bagaimana kepandaiannya?"
Tanya Lam hai Lo mo penuh gairah.
"Ah, kepandaiannya sih tidak seberapa hebat,"
Tung hai Sian jin membohong.
"hanya kami sengaja mengalah."
Siang cu menutup mulutnya agar tidak ke lihatan ketawa.
"Bocah setan, mengapa kau tertawa?"
Tung hai Sian jin membentak dara itu.
"Orang tua, selama hidupku belum pernah aku mendengar orang bertempur lalu mengalah. Kalau kalah itu berarti memang kepandaiannya kurang tinggi, kalau tidak demikian, mengapa mengalah?"
"Siang Cu, jangan memutuskan penuturan Tung hai Sian jin. Sahabat, kau teruskanlah, dan terangkan mengapa mengalah."
"Kami datang ke sana sebagai pelamar. Kalau sampai terjadi pertempuran, tentu orang orang kang ouw mengira kami sengaja memaksa orang untuk dijadikan isteri. Hal itu tentu memalukan sekali dan merendahkan nama kami. Oleh karena itu kami sengaja tidak mau melanjutkan pertempuran dan pergi meninggalkan mereka,"
"Aku juga tidak jadi suka kepada puteri Thian te Kiam ong,"
Kata Eng Kiai bersungut sungut.
"Gadis itu terlalu galak, kakaknya terlalu sombong, dan ayahnya terlalu jahat! Di dunia masih banyak terdapat gadis gadis cantik dan gagah perkasa, di antaranya terutama sekali yang tinggal di Pulau Sam liong to. Ha. ha, ha!"
"Apakah ini juga lamaran?"
Lam hai Lo mo bertanya dan sinar matanya berkilat. Melihat ini, Tung hai Sian jin merasa tidak enak, cepat ia mencela puteranya.
"Eng Kiat, jangan sembrono. Lam hai Lo mo, puteraku memang suka berkelakar, maafkan dia. Tentu saja kau katanya tadi bukan bermaksud meminang muridmu, akan tetapi alangkah baiknya kalau hubungan kita ini diikat oleh perjodohan orang orang muda."
"Oh, siapa sudi menerima?"
Kata Siang Cu yang cepat membalikkan tubuh dan berlari pergi dan situ, kembali ke pondok. Adapun Lam hai Lo mo yang melihat sikap muridnya itu, berkata kepada tamu tamunya.
"Muridku masih muda dan paling benci kalau orang membicarakan tentang perjodohan. Pula, aku tidak hendak bicarakan perjodohan sebelum musuh musuh besarku terbasmi habis. Tung hai Sian jin, kau mengaku sahabatku, apakah kau dapat memberi keterangan tentang Mo bin Sin kun, Kim Kong Taisu, dan Thian te Kiam ong?"
"Tentu saja dapat, belum lama aku kembali dari pedalaman Tiongkok "
"Kalau begitu, silahkan datang ke pondokku. Kita bercakap cakap sambil menghadapi hidangan sekedarnya."
Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat lalu mengikuti Lam hai Lo mo menuju ke pondok, di mana telah menanti Ouw bin cu dan Siauw giam ong yang sudah menyiapkan hidangan.
Sambil makan minum, mereka bercakap cakap.
Dan penuturan Tung hai Sian jin.
Lam hai Lo mo mendengar berita bahwa Mo bin Sin kun telah lama tidak muncul dan wanita sakti itu entah menyembunyikan atau mengasingkan diri di mana.
Adapun Kim Kong Taisu atau juga disebut Kim Kong Sian jin telah meninggal dunia karena memang sudah tua sekali.
"Thian te Kiam ong Song Bun Sam tinggal di Tit le, bersama isteri dan dua orang anaknya. Ia telah menurunkan semua kepandaiannya kepada putera dan puterinya karena itu mereka sekeluarga merupakan lawan yang tangguh, Tung hai Sin jin berkata terus terang. Selanjutnya Tung hai Sian jin menuturkan tentang perkembangan di daratan Tiongkok, tentang tokoh tokoh kang ouw yang baru muncul dan tentang pembentukan partai partai persilatan baru. Eng Kiat jemu mendengar percakapan ini maka ia berpamitan untuk melihat lihat keadaan Pulau Sam liong to, lalu keluar dari pondokan itu. Sebetulnya, pemuda ini ingin sekali bertemu dengan Siang Cu, karena semenjak tadi gadis itu tidak muncul lagi. Ia melihat Ouw bin cu dan Siauw giam ong bercakap cakap perlahan di sebelah luar pondok dan kedua orang tosu ini menghentikan percakapan mereka ketika melihat pemuda ini. Akan tetapi, Eng Kiat tidak memperdulikan mereka, bahkan pura pura tidak melihat mereka, lalu melanjutkan perjalanan mencari Siang Cu. Eng Kiat mendapatkan Siang Cu tengah duduk di pinggir pantai, memancing ikan di tempat yang dalam dari batu karang yang curam. Melihat pemuda itu sambil tersenyum senyum datang menghampirinya lalu duduk tak jauh di sebelah kirinya, gadis itu berkata merengut.
"Mau apa kau datang ke sini? Bukankah kau dan ayahmu datang untuk bertemu dengan suhu?"
"Suhumu sudah ada ayah yang mengajaknya mengobrol. Kau seorang diri saja, maka aku datang untuk bercakap cakap. Biar yang tua sama tua yang muda sama muda, bukankah itu sudah cocok sekali?"
"Adik yang baik. Dari suhumu aku mendengar bahwa namamu Ong Siang Cu, sungguh indah nama itu, cocok dengan orangnya. Akan tetapi harap kau tidak terlalu galak. Aku datang sebagai sahabat baik."
"Cih, siapa sudi mempunyai sahabat baik dan siapa ingin bercakap cakap denganmu? Pergilah dan jangan mengganggu aku!"
Akan tetapi Eng Kiat hanya tertawa tawa saja dan tidak berkisar dari tempat duduknya. Sebaliknya ia lalu membaca ujar ujar dari Nabi kiong Cu.
"Membalas kejahatan dengan kebaikan menandakan watak yang budiman, membalas kebaikan dengan kejahatan menunjukkan watak penjahat. Eh, adik Siang Cu, aku berlaku baik kepadamu, apakah kau hendak membalasnya dengan kejahatan? Menemukan seorang dara seperti engkau ini di atas pulau kosong, benar benar merupakan keganjilan alam. Siapa yang takkan gembira dan tertarik? Adikku, marilah kita bersahabat dan bercakap cakap dengan manis. Kau mau bicara tentang apa? Tentang ilmu silat? Tentang kesusasteraan? Agaknya di dunia ini kau takkan dapat menemukan orang yang lebih pandai daripada aku Bong Eng Kiat."
Mendengar ini, sambil tersenyum mengejek Siang Cu menjawab dengan ujar ujar dan Khong Cu juga.
"Biarpun orang memiliki kebajikan seperti Pangeran Cou, apabila dia sombong, dia tak patut dilihatnya! Siapa sih yang tertarik kepadamu? Bagiku, kau hanya sebagai kain rombeng disulam benang emas! Pergilah!"
Namun sambil cengar cengir. Eng Kiat memandang wajah dara itu dengan penuh kekaguman.
"Kalau benar benar seperti bidadari, nona. Terutama sekali tanda hitam di dekat bibir itu, hmm, belum pernah aku melihat seorang dara semanis engkau. Biar kau memburukkan aku sesuka hatimu, asal kau suka menjadi sahabatku, aku rela menerima semua hinaan,"
"Orang ceriwis! Pergilah kau!"
Siang Cu membentak marah.
"Kau tidak melihat bahwa kau membikin takut ikan ikan sehingga mereka tidak mau mendekati umpan pancingku?"
"Ikan ikan itu bukannya takut, adik Sian Cu. Mereka itu tahu diri dan sengaja menjauhkan diri agar jangan mengganggu percakapan dua orang muda di pinggir laut."
Kemarahan Sing Cu tak dapat ditahan lagi, ia membanting pancingnya dan melompat berdiri. Matanya bersinar sinar dan ia mengigit gigit bibirnya.
"Kalau bukan tamu dari suhu, sudah kulemparkan kau ke laut! Sudah dua kali kau kusuruh pergi, sekarang kuulangi lagi, pergi kau dari sini! Kalau tidak, jangan dianggap aku yang keterlaluan kalau pedangku bicara!"
Sambil berkata demikian.
Siang Cu mencabut pedangnya dan berkelebatlah sinar kehijauan dari pedang ini.
Bong Eng Kiat wataknya sombong sekali, ia memang selalu memandang rendah kepada siapa saja, juga ia memandang rendah kepada Siang Cu.
Melihat gadis ini mencabut pedang, ia juga bangun berdiri akan tetapi masih tersenyum senyum.
"Sudah cantik, lagi perkasa. Benar benar kau lebih menang daripada puteri Thian te Kiam ong,"
"Keparat busuk! Kau tidak mau pergi berarti kau mencari mampus!"
Sambil berkata demikian Siang Cu lalu menyerang dengan pedangnya menusuk secepat kilat.
Tadinya Eng Kiat mengira bahwa gadis ini hanya menggertak saja, karena masakan sebagai nona rumah hendak membunuh seorang tamunya?
Akan tetap, alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa serangan ini benar benar dapat membuat dadanya tertembus pedang!
ia cepat mengelak dan masih memandang rendah.
Ia melompat lomoat ke sana ke mari sambil tersenyum senyum, memamerkan ginkangnya yang tinggi.
Siang Cu merasa penasaran sekali.
Belum pernah ada orang berani mempermainkannya seperti pemuda ini, maka ia lalu mempercepat gerakan pedangnya sehingga yang nampak hanya sinar hijau bergulung gulung bagaikan seekor naga hijau mencari korban.
Baru sekurang Eng Kiat terkejut sekali.
Tak mungkin lagi baginya untuk menghadapi pedang nona ini dengan hanya mengelak dan mengandalkan ginkangnya.
Terpaksa ia lalu mencabut siang kiamnya (sepasang pedang) dan menangkis sambil berseru.
"Sudah, sudah, adik yang manis.... baiklah aku pergi, jangan serang lagi !"
Akan tetapi, omongan ini terutama sekali sebutan adik yang manis, membuat Siang Cu makin marah dan ia menyerang lebih ganas lagi!
Sibuk juga Eng Kiat menggerakkan sepasang pedangnya untuk menangkis.
Biarpun ia amat terdesak, namun ia sama sekali tidak mau balas menyerang.
Sementara itu, selagi dua orang kakek sakti bercakap cakap di dalam pondok dan dua orang muda itu mengadu pedang, dua bayangan orang bekerja dengan cepat sekali, mengangkut banyak emas dari peti di dalam gua, kemudian diam diam mereka lalu membawa emas itu ke dalam perahu dan berlayar meninggalkan Pulau Sam liong to!
Mereka ini bukan lain adalah Ouw bin cu dan Siauw giam ong.
Memang sudah lama mereka bersepakat untuk melarikan diri dari situ membawa pergi emas sebanyak banyaknya, akan tetapi, mereka sama sekali tak pernah berani mencobanya karena kalau hal ini diketahui oleh Siang Cu atau Lam hai Lo mo, hal ini berarti nyawa mereka akan melayang.
Akan tetapi, mereka tiada jemunya mencari kesempatan baik dan akhirnya kesempatan itu tiba.
Melihat betapa dua orang kakek itu amat asyik bercakap cakap dan kini Siang Cu yang marah marah menyerang pemuda itu, Ouw bin cu dan Siauw giam ong lalu cepat mengerjakan rencana mereka yang sudah diatur.
Adapun Lam hai Lo mo dan Tung hai Sian jin, sebagai tokoh tokoh kang ouw yang bertemu di tempat itu, banyak hal yang mereka bicarakan sehingga mereka tidak memperhatikan lain hal yang mungkin terjadi di luar pondok.
Akan tetapi pendengaran mereka luar biasa tajamnya.
Biarpun tempat di mana Siang Cu dan Eng Kiat bertanding agak jauh dari situ, namun suara beradunya pedang selalu merupakan suara yang menarik perhatian ahli ahli silat tinggi.
"Ada yang bertempur,"
Kata Lam hai Lo mo.
"Kau betul, akupun mendengar suara pedang beradu."
Tanpa banyak cakap lagi, seperti sudah berjanji, keduanya lalu melompat ke luar pondok dan ketika mereka mengeluarkan kepandaian ternyata mereka dapat bergerak maju berbareng dengan cepat sekali.
Pada saat itu, Siang Cu sudah mendesak Eng Kiat dengan hebat sekali dan ketika ia menggerakkan pedangnya dengan gerakan memutar, menyerang bertubi tubi dan kaki terus naik sedikit sedikit, Eng Kiat benar benar sibuk sekali.
Serangan sedikit demi sedikit naik ini adalah ilmu pedang yang disebut Pedang Angin Puyuh yang mula mula menyerang kaki lawan, kemudian dilanjutkan bertubi tubi ke atas.
Beberapa kali ujung pedang bersinar hijau itu melukai Eng Kiat namun pemuda ini dengan susah payah masih dapat menangkis.
Ketika serangan pedang itu sudah tiba di lehernya, ia tak tahan lagi dan karena kurang cepat mengelak maka pundaknya terbabat pedang.
Baiknya Siang Cu masih ingat bahwa selama pertempuran pemuda itu tak pernah membalas, maka ia sengaja menyelewengkan pedangnya sehingga pundak pemuda itu tidak terbabat semua, hanya baju di bagian pundak dan sedikit kulit pundak saja yang terkupas dan mengeluarkan darah.
"Siang Cui Mana kesopananmu?"
Lam hai Lo mo membentak marah dan ia malu sekali terhadap Tung hai Sian jin.
"Kau melukai seorang tamu kita? Benar benar kurang ajar."
Eng Kiat buru buru melompat menghampiri Lam hai Lo mo dan berkata.
"Locianpwe, harap jangan marah kepada adik Siang Cu. Dia tidak bersalah. Kami berdua tadi memang sengaja mencoba kepandaian masing masing untuk menambah pengetahuan dan teecu berlaku kurang hati hati sehingga terbabat pedang. Apakah artinya luka dan sedikit mengalirkan darah bagi seorang gagah? Harap Locianpwe tidak marah."
Mendengar ini, Siang Cu merasa heran.
Ah, benar benar aneh pemuda itu, telah dilukainya masih saja membelanya dan kemarahan suhunya.
Lam hai Lo mo bukanlah searang bodoh.
Dari jauh ia tadi melihat betapa pemuda tamunya itu sama sekali tidak membalas serangan muridnya, maka ia berkata.
"Bong hiante kalau betul muridku berlaku kurang ajar, kau berhak memberi pengajaran ke padanya."
"Ah, tidak, tidak, locianpwe. Muridmu amat baik kepadaku, dan kami tadi bermain main di tepi laut. Karena kegembiran itulah maka kami main main dengan pedang untuk mempererat perkenalan."
Sambil berkata demikian, Eng Kiat mengerling penuh arti kepada Siang Cu.
Bukan main mendongkolnya hati gadis ini dan tanpa berkata sesuatu ia lalu lari pergi dari situ.
Lam hai Lo mo tertawa bergelak.
Lalu menoleh kepada Tung hai Sian jin "Puteramu patut dipuji, sahabatku.
Sayang sekali muridku itu keras kepala dan sukar diurus."
"Tidak apa,"
Kata Tung hai Sian jin tertawa.
"aku masih mengharapkan mereka kelak menjadi suami isteri."
Bukan main girangnya hati Eng Kiat mendengar kata kata kedua orang kakek ini.
Memang, terhadap Siang Cu ia jatuh hati betul betul.
Kepada gadis gadis lain, biasanya ia menyatakan cinta kasihnya dengan kasar dan tak segan mempergunakan kekerasan, namun terhadap Siang Cu, ia lemah dan bahkan sampai dilukai pundaknyapun ia tidak merasa sakit hati sama sekali.
Agaknya tai lalat kecil di pinggir mulut Siang Cu telah menawan hatinya.
Tadi di dalam pondok, dua orang kakek itu telah bersepakat untuk bersama sama menjatuhkan Thian te Kiam ong sekeluarga.
Bukan itu saja, bahkan mereka mempunyai cita cita untuk menggerakkan bajak bajak laut dan menyerang Kerajaan Goan tiuw.
Bukan sekali kali dengan maksud membela rakyat yang tertindas melainkan untuk memenuhi cita cita mereka, yakni menguasai kerajaan.
Selagi dua orang kakek itu membicarakan tentang kemungkinan perjodohan antara Siang Cu dan Eng Kiat tiba tiba gadis itu datang berian lari dan pada mukanya terbayang bahwa telah terjadi sesuatu yang hebat.
"Suhu, dua orang tosu itu telah pergi, mencuri perahu dan membawa serta isi peti di dalam gua."
"Apa???"
Lam hai Lo mo marah sekali.
Dengan tongkatnya ia hajar pohon yang tumbuh di dekatnya.
Terdengar suara keras dan pohon itu tumbang!
Kakek buntung itu masih belum puas, sambil memaki maki dan berteriak teriak ia menggunakan tongkatnya mengamuk dan banyak pohon ditumbangkan seperti seekor gajah mengamuk saja!
Tung hai Sian jin memandang dengan kagum, adapun Eng Kiat memandang dengan muka pucat.
Alangkah hebatnya kakek ini kalau sudah mengamuk, pikirnya dan ada perasaan takut dalam hatinya terhadap kakek buntung ini.
"Tangkap mereka! Kejar mereka! Akan kuhancurkan benak mereka!"
Teriaknya berulang ulang.
"Suhu, mereka sudah tidak kelihatan bayangannya lagi dan kita tidak tahu ke jurusan mana ia pergi. Bagaimana bisa mengejar?"
"Tidak berduli! Biar ke dalam neraka sekalipun, aku akan mendapatkan meraka, anjing anjing terkutuk itu! "Lam hai Lo mo marah benar benar. Tadi i menjanjikan kepada Tung hai Sian jin bahwa untuk membiayai pengumpulan pasukan bajak laut, ia telah bersedia banyak sekali emas, akan tetapi sekarang emas itu telah dicuri dua orang pelayannya sendiri! Sementara itu, ketika Tung hai Sian jin mendengar ini, ia tertawa bergelak mentertawakan Lam hai Lo mo.
"Ha, ha, ha! Iblis Tua Laut Selatan kena ditipu mentah metah oleh dua ekor kacoa yang berbau busuk. Sungguh lucu sekali. Lam hai Lo mo, setelah emas itu lenyap, tak perlu lagi kita bicara tentang pasukan yang banyak makan biaya. Nah sampai jumpa kembali."
"Nanti dulu, Tung hai Sian jin!"
Tubuh kakek kaki buntung ini berkelebat dan ia sudah menghadang di depan Tung hai Sian jin, sikapnya mengancam, cambang bauknya berdiri kaku.
"Kau mau apa, Lam hai Lo mo?"
Dewa Laut Timur ini melintangkan tongkat kepala naganya di depan dada.
"Katakan bahwa kau takkan membatalkan kerja sama kita!"
Lam hai Lo mo menuntut.
"Ha, ha, ha! Anjing tak dapat disebut anjing lagi kalau kepalanya sudah tidak ada? Eh, Lam hai Lo mo, bagaimana lagi janji kerja sama kita? Sahamku berupa usaha mengumpulkan tenaga bantuan, dan sahammu berupa emas untuk membiayai mereka itu. Sekarang emasmu dicuri orang, bagaimana mungkin kau mau bekerja sama tanpa saham? Lebih baik kau lekas mencari emasmu yang hilang, baru kelak kita bicara lagi tentang kerja sama."
Untuk beberapa lama, kedua orang kakek itu berhadapan dengan sikap seperti siap untuk saling menghantam. Akan tetapi, tiba tiba Lam hai Lo mo tertawa bergelak gelak dan berkata.
"Pergilah, pergilah, siapa butuh pertolongan seorang seperti kamu? Ha, ha, ha, di dunia ini memang tidak ada orang baik. Di mana ada kesetiaan? Pelayan pergi mencuri emas, sahabat baru datang karena melihat emas. Ha, ha, ha!"
Tung hai Sian jin juga tertawa bergelak.
"Eng Kiat, mari kita pergi. Untuk apa melayani kaki buntung yang miskin ini. Mari pulang!"
Pemuda itu melihat bahwa antara ayahnya dan si kakek buntung terjadi pertentangan hebat pada saat itu, maka ia tidak berani bercakap lagi dan segera mengikuti ayahnya pergi ke pantai, lalu menggunakan sebuah perahu, berlayar kembali ke pulaunya sendiri.
Sepeninggal mereka, Lam hai Lo mo tertawa lalu menangis.
"Dunia ini palsu, manusia manusia juga palsu! Semua kotor, semua buruk! Yang bersih dan bagus itu hanya palsu belaka hanya kulit, isinya busuk!"
Berkali kali kakek buntung ini mengeluh dan menangis.
Siang Cu yang sudah mengenal akan watak suhunya yang kukoai (ganjil), mendiamkan saja, menanti sampai orang tua itu menjadi tenang kembali.
Setelah agak tenang, ia mendekati suhunya dan bertanya dengan suara mengandung iba.
"Suhu, ke mana kita harus menyusul anjing anjing busuk Ouw bin cu dan Siauw giam ong itu?"
Untuk beberapa lama suhunya tidak menjawab, kemudian ia berkata sambil tertawa.
"Aha, mengapa bodoh amat kita ini? Tentu saja ke Go bi san! Siauw giam ong adalah murid Go bi pai dan kalau kita menyerbu ke sana dan memaksa supaya mereka mencari Siauw giam ong, bukankah keduanya akan dapat ditangkap!"
"Dan kita sekalian pergi ke Tit le untuk mencari Thian te Kiam ong!"
Kata Siang Cu girang. Ketika melihat gurunya ragu ragu. Siang Cu berkata gagah.
"Tanpa bantuan manusia seperti Tung hai Sian jin dan puteranya yang ceriwis, teecu sanggup menghadapi Thian te Kiam ong, suhu. Mengapa kita berkecil hati sebelum berhadapan dengan lawan?"
Terbangun semangat Lam hai Lo mo mendengar ucapan muridnya ini.
"Ha, ha, ha, kau benar! Kita berdua sanggup menghancurkan keluarga Song Bun Sam! Kecil hati? Aku Lam hai Lo mo! Ha, ha, ha, kuhancurkan mereka semua. Kuhancurkan!"
Sambil terpincang pincang, kembali Lam hai Lo mo menghajar pohon pohon yang berdekatan dengannya sehingga kembali banyak pohon tumbang.
Sementara itu, Siang Cu lalu berkemas untuk melakukan perjalanan jauh, ke daratan Tiongkok, melalui gunung gunung, sungai sungai, dan kota kota.
Tempat yang sudah amat lama dirindukannya, dijadikan bahan mimpi setiap malam.
Memang sesungguhnya dara yang sudah dewasa ini mulai merasa amat bosan untuk tinggal saja di pulau kosong, berdua dengan suhunya yang kadang kadang kumat gilanya.
Kerajaan Goan adalah kerajaan penjajah yang datangnya dari Mongol.
Kaisar pertama yang mula mula menyerang Tiongkok dan menghancurkan Kerajaan Cin di Tiongkok Utara, adalah Jenghis Khan yang namanya amat termashur, tidak saja di Tiongkok, bahkan terkenal sampai ke dunia barat.
Setelah Kaisar Jenghis Khan meninggal dunia, kedudukannya digantikan oleh puteranya yang ke tiga, yakni Kaisar Ogudai, yang seperti juga ayahnya, amat gemar akan perang dan meluaskan daerahnya dengan menyerbu negara negara tetangga.
Setelah Ogudai meninggal dunia dengan tiba tiba, dan tahta kerajaan terjatuh ke dalam tangan Kaisar Mongka, cucu Jenghis Khan, barulah tentara Mongol yang luar biasa kuatnya itu menyerbu ke selatan, di bawah pimpinan Kubilai, saudara Kaisar Mongka, dan menundukkan Kerajaan Sung Selatan, bahkan terus menyerang sampai di Indo cina dan merampok Hanoi habis habisan!
Hanya sembilan tahun Mongka menjadi kaisar karena iapun meninggal dunia dan kini pemerintahan terjatuh ke dalam tangan Kublai Khan.
Dalam jaman inilah cerita Sam liong to ini terjadi.
Kublai Khan yang mendirikan Wangsa Goan tiauw dan ia bahkan memindahkan ibu kotanya ke Peking.
Kublai Kban tidak mau berhenti sampai di sini saja ia belum merasa puas kalau seluruh wilayah Tiongkok belum terjatuh ke dalam tangannya, maka terus terusan ia mengirim pasukan untuk menyerang daerah Sung selatan yang amat luas.
Namun, sungguhpun keadaan tentara Kerajaan Sung selatan pada waktu itu amat lemah berhubung dengan kelaliman kaisarnya, perebutan daerah selatan ini tidak berlangsung dengan mudah.
Pasukan pasukan berkuda Bangsa Mongol yang dapat bergerak secepat kilat dalam menggempur musuh di daerah utara, agaknya di daerah pertanian di sebelah selatan Sungai Yang ce, tidak dapat bergerak dengan cepat lagi.
Perlawanan terjadi di mana mana, bahkan enam belas tahun kemudian ketika Kaisar Kerajaan Sung selatan tertawan dan ibu kotanya, Hangkouw direbut, masih saja para jenderal dan panglima melakukan perlawanan sampai bertahun tahun.
Baru setelah sembilanbelas tahun kemudian semenjak Kublai Khan menjadi kaisar, seluruh wilayah Sung selatan dapat direbut dan mulailah dalam tahun 1279 ini berdirinya sejarah Wangsa Goan.
Kublai Khan tidak saja seorang kaisar yang gemar akan peperangan namun ia juga amat memperhatikan pembangunan demi kepentingannya sendiri.
Di Kota Raja Peking, ia mendirikan istana yang luar biasa indahnya, juga istana istana peristirahatan yang mewah.
Kublai Khan juga memerintahkan agar supaya terusan air yang telah digali pada jaman Sui dan Sung yakni terusan antara Sungai Yang ce dan Huang ho, kini digali terus sampai ke Peking.
Hal ini dilakukan untuk memudahkan hubungan antara Yang ce dan Peking, karena perlu untuk mengangkut beras yang terbanyak terdapat di lembah Sungai Yang ce.
Untuk pekerjaan ini, puluhan ribu tenaga kaum tani dipaksa dengan secara kejam, diharuskan bekerja melebihi binatang, sehingga banyak yang meninggal dalam kerja paksa ini.
Kekacauan dan penindasan merajalela.
Yang celaka tak lain hanyalah rakyat kecil atau kaum tani.
Mereka dipaksa bekerja menggali terusan, dan apabila mereka meninggal dalam pekerjaan ini, maka tanah sawah mereka jatuh ke dalam tangan tuan tanah yang jahatnya melebihi lintah darat.
Pada jaman itu, kekayaan bertimbun timbun di tangan tuan tuan tanah yang hidupnya seperti raja kecil di dusun dusun.
Bagi orang orang kaya ini, pemerintahan Bangsa Mongol tidak merugikan, bahkan menguntungkan, karena dengan jalan menyuap dan menyogok para pembesar Mongol, mereka ini seakan akan dilindungi dan dapat melakukan pemerasan dan penghisapan seenaknya terhadap kaum tani yang lemah.
Di kalangan rakyat jelata, mulailah timbul api pemberontakan yang menyala nyala di dalam dada.
Tentu saja mereka ini tidak berdaya dan tidak berani memberontak secara berterang, karena memang kedudukan tentara Mongol luar biasa kuat nya.
Apa lagi kini dibantu oleh orang orang Han (Tiongkok aseli) sendiri yang berwatak menjilat.
Rakyat amat benci kepada penjajah Mongol akan tetapi lebih benci kepada tuan tuan tanah yang mengambil muka kepada musuh dan tidak segan segan menginjak injak bangsa sendiri.
Gerombolan perampok timbul di mana mana mengganggu keamanan.
Kublai Khan bukan tidak tahu akan perasaan anti di kalangan rakyat, maka ia memerintahkan untuk membasmi orang orang yang memihak rakyat, ia tahu bahwa rakyat kecil takkan dapat berbuat sesuatu tanpa ada pemimpinnya, dan pemimpin rakyat tentulah orang orang pandai.
Mengawasi rakyat kecil yang banyak jumlahnya tidak mudah, akan tetapi mengawasi orang orang pandai yang hanya dapat dihitung banyaknya, amat mudah, ia lalu menyebar barisan penyelidik untuk mengawasi orang orang terpelajar terpelajar, para sasterawan, orang orang gagah yang terkenal di dunia Kang ouw, dan orang orang berpengaruh yang kiranya patut menjadi pemimpin rakyat.
Orang orang yang diselidiki ini, apabila ternyata tidak anti kepada pemerintah Goan tiauw, bahkan ditarik dan diberi kedudukan, diberi kehidupan mewah.
Sebaliknya apabila nampak gejala gejala anti pemerintah Goan, orang ini tentu terus saja ditangkap dengan tuduhan memberontak!
Liem Kwan Ti, seorang siucai yang tinggal di kota raja, tak terkecuali terkena aksi pembersihan dari kaisar ini.
Ia tinggal di kota raja dalam keadaan cukup karena peninggalan dari ayahnya cukup banyak untuk dapat dimakan sekeluarganya, yakni seorang isteri dan seorang anak perempuan yang sudah berusia limabelas tahun.
Semenjak dahulu, keluarga Liem ini adalah keturunan orang terpelajar yang berjiwa besar dan cinta kepada bangsa.
Akan tetapi, Liem Kwan Ti bukan seorang kasar dan bodoh yang tidak melihat keadaan, ia tinggal diam saja dan biarpun hatinya sering kali terbakar melihat betapa pemerintah penjajah memeras rakyat, namun ia maklum bahwa ia tak berdaya dan bahwa sedikit saja ia membuka mulut berarti bencana menimpa keluarganya.
Akan tetapi, nasib baik atau buruk tak dapat ditolak.
Ada ada saja kalau orang sudah dinasibkan mengalami bencana.
Di dalam kota raja tinggal seorang komandan Busu (pengawal istana) yang mempunyai seorang putera bernama Souw Sit.
Biarpun seorang Han namun karena memiliki kepandaian tinggi dan pandai menjilat, ayah Souw Sit menerima pangkat sebagai komandan pengawal dan hidupnya mewah.
Souw Sit sendiri sebagai pemuda, terkenal sebagai seorang pemogoran dan mata keranjang.
Banyak sudah anak bini orang menjadi korban gangguannya.
Pada suatu hari, dalam sebuah kelenteng ketika orang orang datang bersembahyang, Souw Sit yang memang seperti burung alap alap mengintai korban, dapat melihat puteri dari Liem Kwan Ti yang cantik.
Gadis ini bernama Liem Kwei dan memang ia cantik manis dna baru berusia limabelas tahun.
Biarpun hanya melihat sekelebatan saja, wajah Liem Kwei cukup membuat Souw Sit menjadi jatuh bangun hatinya dan rindu, ia tidak berani berlaku sembarangan terhadap gadis seorang siucai (sasterawan), tidak seperti kalau ia menghendaki gadis puteri petani.
Maka gelisahlah hatinya.
Akhirnya ia menyuruh orang mengajukan pinangan kepada Liem Kwan Ti.
Sasterawan ini sudah cukup kenal dan tahu macam apa pemuda itu, maka dengan halus ia menolak pinangan tersebut.
Hal iai menyakitkan hati Souw Sit yang segera mengada kepada ayahnya bahwa ia dihina oleh keluarga Liem.
Inilah bibit bencana yang menimpa keluarga Liem.
Ketika diadakan pembersihan, Souw Busu sendiri, yakni ayah Souw Sit, mengepalai pemeriksaan di rumah Liem Kwan Ti dan akhirnya di temukan buku terisi sajak sajak yang menyerang dan mencela pemerintah Goan tiauw.
Tanpa banyak cakap lagi Liem Kwan Ti dan anak isterinya lalu ditangkap!
Di depan pengadilan, Liem Kwan Ti bersumpah bahwa ia tidak pernah menyimpan buku seperti itu, namun bukti sudah cukup jelas dan pengadilan tentu saja tidak menerima alasan ini, sama sekali tidak mau menyelidiki dari mana datangnya buku itu ke kamar Liem Kwan Ti.
Putusan mati dijatuhkan!
Sebetulnya, seperti sudah dapat diduga, buku yang sifatnya memberontak itu memang sengaja dibawa oleh Siauw Busu dan ketika mengadakan pemeriksaan, dikeluarkan dan dikatakan bahwa buku itu didapatkan dari kamar sasterawan Liem!
Sebelum hukuman mati dijatuhkan, Souw Sit mendatangi Liem Kwan Ti di tahanan dan dibujuknya bahwa apabila sasterawan itu mau memberikan puterinya ia tanggung akan dapat menolong para tawanan ini sekeluarga.
Tentu saja Liem Kwan Ti menjawab dengan makian sehingga pemuda itu menjadi marah sekali.
Malamnya dengan kekerasan Liem Kwei dibawa pergi, dipisahkan dari ayah bundanya.
Dan pada keesokan harinya, Liem Kwan Ti hanya mendengar bahwa puterinya itu telah membunuh diri dengan jalan membenturkan kepala sampai pecah pada dinding kamar tahanan!
Bukan main hancurnya hati ayah dan ibu ini Liem Kwan Ti berteriak teriak, memaki maki pemerintah Goan, memaki maki orang orang Han yang menjadi penjilat bangsa penjajah seperti Souw Busu dan Souw Sit.
Sampai datang saat hukuman mati dijatuhkan, Liem Kwan Ti dan isterinya tetap memaki maki dan sedikit pun tidak takut menghadapi golok algojo yang memancung kepada mereka!
Peristiwa seperti ini sudah terlalu sering terjadi sehingga pada masa itu, kejadian seperti ini dianggap biasa saja.
Apa komentar orang yang lemah semangat?
"Salah Liem Kwan Ti sendiri, mengapa ia sampai memancing permusuhan dengan orang berkuasa seperti Souw Sit dan ayahnya ia bodoh dan kebodohannya yang membawa keluarganya binasa."
Adapun orang orang yang bersemangat dan cinta bangsa, hanya mengucurkan air mata dengan diam diam, menyesali nasib bangganya yang celaka.
Apakah daya mereka?
Tanpa kekuatan balatentara yang besar tak mungkin bangsanya dapat bangkit melawan penjajah.
Sedangkan kaum penjajah sudah mencengkeram semua orang sampai ke dusun dusun.
Tak seorangpun dapat bergerak bebas.
Kurang lebih sebulan kemudian semenjak terjadi peristiwa itu, seorang pemuda yang berpakaian seperti seorang pelajar, berusia belum dua puluh tahun, berwajah tampan dan bersikap halus, datang di kota raja dan langsung menuju ke rumah Liem Kwan Ti.
Orang orang di sekitar rumah itu sudah hampir melupakan peristiwa itu, dan kini mereka semua terheran melihat datangnya pemuda ini.
Rumah itu masih ditutup dan dinyatakan menjadi hak milik pemerintah.
Ketika pemuda ini melihat rumah tertutup ia lalu bertanya kepada sebelah tetangga, seorang pemilik toko obat.
"Maaf, lopek. Bolehkah saya bertanya, kemana gerangan perginya pamanku Liem Kwan Ti dan keluarganya sehingga rumahnya ditutup?"
Pemilik toko obat itu juga seorang Han, she Kwa. Ia lalu mengajak pemuda itu masuk dan setelah duduk ia bertanya perlahan.
"Kau siapakah, hiante?"
"Saya bernama Liem Pun Hui dari Propinsi Cekiang. Jauh jauh saya datang ke sini untuk mengunjungi pamanku Liem Kwan Ti, tidak tahu dia berada di manakah? Menurut keterangan yang saya dapat, tempat tinggalnya adalah di sini."
"Memang betul, dia dahulu tinggal di sini. Sayang kau terlambat kurang lebih satu bulan Ah.... bukan, bukan sayang, kumaksudkan, kau beruntung sekali terlambat. Karena kalau kau datang sebulan di muka, kiranya kaupun takkan selamat."
"Eh, apakah yang terjadi, lopek?"
Liem Pun Hui bertanya terkejut.
Orang tua pemilik toko obat itu memandang kekanan kiri, lalu memegang tangan pemuda itu, diajaknya masuk ke dalam kamarnya.
Sebelum bicara, ia menutupkan pintu kamar itu rapat rapat, dilihat dengan mata terheran heran dan dada berdebar oleh Pun Hui.
"Orang muda, kau beruntung sekali bahwa yang kautanyai tentang pamanmu itu adalah aku sendiri. Kalau orang lain yang menerimamu, ah.... aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganmu, ah.... aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mu, karena siapa dapat menyelami hati orang pada dewasa ini? Pamanmu Liem Kwan Ti itu, sebulan yang lalu telah tewas bersama isteri dan puterinya."
"Tewas ? Mengapa, lopek?"
Pun Hui menjadi pucat.
"Mereka ditangkap dan dituduh memberontak."
Kemudian pemilik toko obat itu menuturkan sejelasnya tentang peristiwa itu.
Sebagai seorang tetangga yang mempunyai hubungan baik dengan Liem Kwan Ti, orang she Kwa ini tahu sampai jelas apa yang menjadi sebab sebab maka bencana itu menimpa keluarga sasterawan Liem.
Wajah Pun Hui sebentar pucat sebentar merah mendengar penuturan ini, ia merasa marah, sakit hati, dan sedih.
"Paman, bibi.... dan anak mereka menjadi korban keganasan seorang pengkhianat bangsa, sekarang penjilat she Souw itu.... Jahanam benar mereka !"
Katanya sambil mengusap air mata yang jatuh berlinang di atas kedua pipinya.
"Hush.... Liem hiante, kau tenanglah. Apa daya kita terhadap keadaan seperti ini? Kau jangan khawatir, kau tinggallah di sini bersamaku. Akupun tidak mempunyai anak dan kau...... kulihat kau baik sekali untuk membantuku di sini, asal saja kau mengganti she mu menjadi Kwa, orang orang takkan ada yang tahu bahwa kau masih ada hubungan keluarga dengan Liem Kwan Ti yang dianggap pemberontak. Akan tetapi, tiba tiba sikap yang lemah lembut dari pemuda itu berubah, ia menggigit bibir dan mengepalkan kedua tinjunya, lalu berkata keras keras.
"Tidak, tidak! Biar orang akan membunuhku, aku harus mengutuk pengkhianat bangsa she Souw itu!"
Setelah berkata demikian, ia berlari keluar.
Orang she Kwa itu hendak mencegah, akan tetapi karena pemuda itu sudah berian keluar dan kalau ia memaksa takut kalau kalau pemuda itu berteriak teriak di depan tokonya dan membuat ia sendiri rembet rembet, maka ia hanya memandang pemuda itu pergi dan menggoyang goyang kepala nya.
"Negeriku mempunyai banyak orang bersemangat gagah seperti pemuda itu, akan tetapi apa daya seorang anak lemah seperti dia terhadap orang orang seperti Souw Busu? Sayang , sayang.... pemuda yang baik seperti dia takkan lama lagi hidupnya...."
Memang Liem Pun Hui bersemangat gagah biarpun ia dilahirkan sebagai seorang siucai yang bertubuh lemah.
Para pembaca sudah mengenal anak muda ini ketika ia ditawan oleh bajak laut dan kemudian ditolong oleh Ong Siang Cu sehingga ia dibebaskan, bahkan diantar oleh para bajak mendarat kembali di tepi pantai Tiongkok.
Dengan hati penuh dendam dan marah meluap luap, Pun Hui lalu bertanya tanya di mana adanya tempat tinggal Souw busu.
Setelah mendapat tahu, ia lalu menggunakan sisa uangnya untuk membeli alat tulis dan tintanya, kemudian dengan langkah lebar ia menuju ke rumah gedung yang besar dan megah dari Souw Busu.
Pemuda ini sudah mengambil keputusan nekat ia rela dihukum mati asal saja sudah dapat melampiaskan dendam dan marahnya kepada Souw busu dengan jalan memaki makinya dengan tulisan di muka umum untuk menelanjangi pengkhianatan dan kejahatannya yang oleh orang lain, seperti halnya pemilik toko obat itu, disembunyi sembunyikan dan tidak berani dibicarakan.
Memang tidak mengherankan apabila Liem Pun Hui hendak berlaku nekat.
Orang tuanya adalah petani petani miskin di Propinsi Cekiang dan ayahnya terkena pula kerja paksa sehingga meninggal di tempat kerja.
Ketika itu ia tidak berada di dusun, sedang menuntut pelajaran di kota.
Ketika ia pulang, ia mendapatkan ayahnya sudah tidak ada, tanahnya dirampas oleh tuan tanah dan ibunya menderita sakit payah.
Akhirnya ibunya meninggal dunia pula oleh sakit itu, maka hati pemuda ini remuk redam dan penuh dendam kepada pemerintah Goan.
Kemudian harapan satu satunya hanya pamannya sasterawan Liem yang tinggal di kota raja itu.
Dengan harapan besar ia berangkat ke kota raja, dan apa yang didapatkannya?
Pamannya juga mengalami bencana akibat fitnah dari orang jahat, maka ia kini mengambil keputusan berlaku nekat.
Hatinya penuh dendam dan putus asa.
Dengan langkah tetap ia lalu menghampiri pagar tembok yang putih dari gedung Souw busu, kemudian dikeluarkannya pit dan tinta dan setelah berpikir sejenak, ia lalu menuliskan huruf huruf besar pada tembok putih itu.
Orang orang yang lewat di situ, tentu saja menjadi tertarik sekali melihat seorang pemuda berpakaian sasterawan menuliskan huruf huruf besar di tembok Souw busu, maka sebentar saja orang makin banyak berdiri di belakang sasterawan muda ini hendak membaca apa yang akan ditulisnya.
Syarat hidup sebuah pemerintahan.
Terutama rakyat harus percaya kepadanya.
Ke dua, rakyat harus mendapat cukup sandang pangan.
Ke tiga baru memiliki angkatan perang yang kuat!
Namun pemerintah sekarang tak dipercaya rakyat, Membiarkan rakyat menderita dan kelaparan.
Memelihara pembesar pembesar busuk seperti Souw, Penjilat yang lebih rendah daripada anjing.
Pemakan dan penindas bangsa sendiri, Bagaimana pemerintah dapat bertahan?
Setelah membaca tulisan ini, orang orang yang berada di situ menjadi gempar.
Ada yang menjadi pucat dan cepat cepat pergi dari situ, ada pula yang marah marah, akan tetapi sebagian besar diam diam membenarkan ketepatan tulisan ini.
Orang orang yang pernah mempelajari kesusasteraan tahu bahwa empat baris pertama adalah ujar ujar dari Khong Hu Cu dan baris baris selanjutnya merupakan caci maki terhadap pemerintah Goan tiauw.
Alangkah beraninya pemuda ini!
Sebentar saja beberapa belas orang serdadu penjaga yang mendengar tentang ini, tergesa gesa menyerbu ke situ.
Setelah membaca tulisan ini mereka berseru.
"Pemberontak yang harus mampus!"
Beberapa kali pukulan membuat muka Pun Hui berdarah dan tubuh pemuda itu terguling lalu diborgol kedua lengannya, para penjaga tidak segera membunuhnya, karena hendak menyeretnya ke depan Souw busu menanti perintah selanjutnya.
Pada saat itu.
di antara penonton terdengar suara orang berkata nyaring.
"Benar benar pemuda bersemangat dan mengagumkan !"
Ketika semua orang menengok dengan heran untuk melihat orang yang begitu lancang berani memuji pemuda pemberontak itu, mereka melihat seorang laki laki setengah tua yang berwajah gagah, berpakaian ringkas dan di pinggangnya tergantung joan pian, senjata ruyung lemas terbuat dari batu kumala putih.
Dengan tenang namun cepat sekali, laki laki ini melangkah maju dan sekali dorong saja, tiga orang serdadu yang memegangi Pun Hui kena dibikin terpental.
Kemudian, sekali tangan kirinya meraba belenggu, ikatan tangan pemuda itu mengeluarkan bunyi keras dan patah patahlah belenggu besi tadi.
Para serdadu marah sekali.
Dengan ruyung dan golok di tangan mereka menyerbu laki laki gagah ini.
Namun, dengan menggerakkan tangan kiri dan kaki kanan, beberapa orang serdadu yang paling depan terpental jauh, terkena pukulan dan tendangan yang demikian hebat sehingga mereka tak dapat bangun kembali.
"Gentong gentong macam kalian ini mau berlagak galak? Pergi semua!"
Bentak laki laki itu yang cepat menyambar tubuh Pun Hui dan di kempitnya dengan ringan sekali.
Akan tetapi, sebelum ia membawa pergi Pun Hui dan tempat itu dari dalam gedung busu keluarlah tiga orang tinggi besar dan gagah.
Mereka ini adalah Souw busu sendiri dan dua orang suwi (pengawal kaisar) yang berkepandaian tinggi.
Mereka telah menerima laporan tentang pemuda sasterawan yang menulis sajak memaki maki Souw busu dan kaisar, maka cepat mereka menuju ke tempat itu.
Ketika Souw busu melihat laki laki setengah tua itu mengempit tubuh Pun Hui dan dibawa pergi, ia tertegun.
"Bukankah kau ini Yap taihiap yang kemarin hendak bertemu dengan mendiang Pangeran Kian Tiong?"
Orang itu mengangguk tenang dan menjawab.
"Benar, dan dari luaran aku tahu bahwa kau ini Souw busu telah banyak membikin celaka bangsa sendiri. Sungguh tak bermalu!"
"Orang she Yap! Kau menghina orang. Lepaskan pemberontak itu, apakah kau hendak membela seorang yang telah berani menulis sajak seperti ini? Apakah kau hendak membela pemberontak?"
Orang gagah itu tertawa bergelak, lalu berkata dengan suara menyindir.
"Pemuda ini jauh lebih bersih, bersemangat dan gagah daripada kau! Bagiku dia bukan pemberontak, bahkan berjasa terhadap kaisar yang telah salah menggunakan orang orang seperti kau ini. Kalau kaisar memperhatikan dan mau menurut tulisannya itu, menggantikan pembesar pembesar macam kau dengan orang lain yang lebih baik, tentu pemerintah Goan akan panjang usia."
"Bangsat bermulut lancang!"
Souw busu tak dapat menahan marahnya lagi dan cepat menyerang dengan golok besarnya, membacok ke arah kepala orang gagah itu Namun, orang ini yang bukan lain adalah seorang pendekar besar bernama Yap Thian Giok, mencabut senjatanya yang tergantung di pinggang, yakni senjata ruyung lemas yang di sebut Pek giok joan pian, dan sekali ia mengayun senjatanya itu, bagian tengahnya menangkis golok yang menyerangnya, sedangkan bagian ujungnya terus menyambar ke arah kepala lawan!
Souw busu berkepandaian tinggi, namun dia terkejut bukan main ketika tiba tiba senjata lawan yang menangkis itu berbareng bisa mengirim serangan balasan yang amat berbahaya, ia cepat menarik kembali goloknya dan melompat mundur.
Melihat dua orang kawannya telah pula maju menyerang dengan pedang, Souw busu besar hati dan kembali goloknya diayun cepat melakukan serangan hebat ke arah orang gagah yang tangan kirinya masih memondong tubuh Pun Hui itu.
Namun Yap Thian Giok tidak mau membuang banyak waktu lagi.
Bagaikan kilat menyambar, Pek giok joan pian di tangannya bergerak dan terdengar suara "trang!
trang!
trang!"
Tiga kali dan disusul oleh teriakan terkejut dan Souw busu dan kawan kawannya karena pedang dan golok mereka telah terpukul patah! "Aku tidak ada waktu untuk melayani kutu kutu macam kalian!"
Seru Yap Thian Giok dan sekali berkelebat, ia telah melompat jauh dan sebentar saja menghilang di antara orang orang banyak!
Souw busu menyumpah nyumpah dan cepat mengumpulkan anak buahnya untuk mengejar, akan tetapi orang gagah itu tidak kelihatan bayangannya lagi.
Siapakah orang gagah ini?
Dan bagaimana ia bisa muncul di kota raja?
Yap Thian Giok adalah putera dari bekas Jenderal Yap Bouw dari Kerajaan Cin yang sudah hancur lebih dulu oleh tentara Jengis Khan.
Yap Bouw mempunyai dua orang anak, yakni sepasang anak kembar.
Yang laki laki adalah Yap Thian Giok sedangkan yang perempuan adalah Yap Lan Giok yang tewas oleh Pat jiu Giam ong Liem Po Coan, sute dari Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu.
Kemudian, Yap Thian Giok ikut dengan gurunya, yakni si wanita Sakti Mo bin Sin kun yang juga pernah menjadi guru dari Thian te Kiam ong Song Bun Sam, untuk memperdalam ilmu silatnya di puncak Bukit Sian hoa san.
Setelah menamatkan pelajarannya dan dapat mewarisi seluruh ilmu silat dari Mo bin Sin kun yang lihai, Mo bin Sin kun lalu menyuruh muridnya turun gunung dan merantau memenuhi tugas sebagai seorang pendekar silat.
Adapun Mo bin Sin kun sendiri menyatakan kepada muridnya bahwa ia hendak bertapa dan mengasingkan diri dari dunia ramai, tidak mau memberitahukan ke mana perginya.
"Thian Giok, pinni (aku) sudah jemu akan keramaian dunia dan akan kepalsuan kehidupan di dunia. Oleh karena itu, semua tugas kebajikan kuserahkan kepadamu. Hubungilah orang orang gagah di dunia dan pergunakan semua ilmu yang kau pelajari dariku untuk menolong sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. Usahakanlah agar setiap perbuatanmu sesuai dengan tuntutan kebajikan. Hasil atau tidaknya usahamu bukan menjadi soal, yang penting adalah bahwa kau selalu bertindak di atas jalan kebenaran. Kalau sudah demikian, maka tidak percumalah kau menjadi muridku, tidak percuma kau menjadi putera mendiang ayah bundamu, dan tidak percuma kau dilahirkan di dunia ini."
Demikianlah, semenjak perpisahan ini, Thian Giok tak pernah lagi bertemu dengan gurunya yang tidak diketahui ke mana perginya, karena memang Mo bin Sin kun tidak mau mengabarkan tentang dirinya lagi.
Thian Giok merantau sampai jauh.
Sudah dijelajahinya seluruh negeri, dan banyak sudah ia melakukan hal hal yang amat gagah perkasa dan baik.
Karena senjatanya Pek giok joan pian amat terkenal dan amat lihai, maka di dunia kang ouw ia dijuluki Sin pian (Ruyung Sakti).
Beberapa kali ia mengunjungi Thian te Kiam ong Song Bun Sam yang menjadi sahabat baiknya semenjak muda, dan tiap kali mereka bertemu, dua orang sahabat ini dengan ditemani oleh anak isteri Song Bun Sam, bercakap cakap dengan sangat akrab dan asyik.
Kedua orang putera puteri Thian te Kiam ong juga amat sayang kepada paman Giok ini.
Yang amat mengherankan adalah keputusan yang diambil oleh Thian Gok bahwa ia tidak mau menikah selama hidupnya, Hanya kepada Song Bun Sam yang membujuknya agar ia suka menikah, ia berterus terang bahwa ia tidak dapat melakukan pernikahan karena ia selalu teringat kepada adik kembarnya, Lan Giok yang sudah tewas terlebih dulu.
Memang, hubungan antara saudara kembar lebih mendalam.
Ada sesuatu dalam batin dan jiwa mereka yang mempunyai hubungan dekat sekali sehingga boleh dibilang sukar terpisahkan legi.
Kalau Thian Giok bukan seorang laki laki gagah perkasa yang selain ahli dalam ilmu silat juga sudah banyak mempelajari kebatinan sehingga memiliki jiwa yang kuat, mungkin ia takkan dapat lama tahan hidup di dunia ini jauh daripada adik kembar nya, ia dapat bertahan untuk hidup terus tanpa adiknya di dunia, namun untuk kawin....
ia tidak sampai hati kepada adik kembarnya yang sudah meninggal dunia.
Demikianlah, sampai berusia empatpuluh tahun, ia masih tetap membujang dan tidak menikah.
Ketika ia dalam perantauannya melalui Peking, ia teringat akan Pangeran Kian Tiong dan puteri Luilee yang baik hati, orang orang besar yang berjiwa besar pula, kawan kawan baik dari Song Bun Sam.
Tertariklah hatinya untuk mengunjungi mereka ini karena pernah ia diperkenalkan kepada mereka ini oleh Song Bun Sun ketika sahabatnya ini datang ke kota raja.
Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika ia mendengar berita bahwa Pangeran Kian Tiong dan isterinya telah terbunuh oleh seorang penjahat yang menculik puteri mereka.
Keluarga istana menceritakan hal ini dan ketika mereka mengetahui bahwa orang gagah ini adalah sahabat baik dari Thian to Kiam ong Song Bun Sam, mereka lalu menyerahkan surat peninggalan Pangeran Kian Tiong untuk Song Bun Sam, yang sudah mereka simpan sampai sepuluh tahun lebih karena pendekar pedang itu tak pernah datang ke kota raja, sedangkan menurut pesan Pangeran Kian Tiong, surat itu hanya disuruh memberikan kepada pendekar itu apabila ia datang ke kota raja.
Demikianlah maka Souw busu mengenal Yap Thian Giok yang datang mencari Pangeran Kian Tiong.
Kebetulan sekali ketika Sin pian Yap Thian Giok keluar dari istana hendak melanjutkan perjalanannya ke tempat tinggal Thian te Kiam ong untuk menyerahkan surat peninggalan Pangeran Kian Tiog itu kepada sahabatnya, ia melihat pemuda Liem Pun Hui yang berani menulis sajak di tembok memaki maki Souw busu.
Hatinya amat tertarik dan kagum, maka tanpa ragu ragu lagi ia lalu menolong pemuda itu.
Setelah berhasil mematahkan senjata dari Souw busu dan dua orang kawannya, Yap Thian Giok lalu memondong tubuh Pun Hui dan dibawanya lari cepat sekali keluar dan Kota raja.
Liem Pun Hui menjadi bengong ketika ia merasa betapa tubuhnya dibawa lari secepat terbang oleh orang tua yang luar biasa itu.
Ia hanya pernah membaca cerita tentang orang orang gagah, tentang hiapkek hiapkek (Pendekar pendekar) yang hidupnya merantau sebagai seorang petualang, tak berkeluarga tak berumah, yang tujuan hidupnya hanya mencari pengalaman dan membela orang orang lemah tertindas.
Sering kali ia tertarik dan ingin sekali bertemu dengan seorang pendekar, karena ia sendiri mendapat semangat dari membaca watak dan kehidupan seorang pendekar dalam cerita.
Cerita cerita inilah yang memberi semangat dan kegagahan kepada pemuda ini, sungguhpun ia sendiri semenjak kecilnya hanya mempelajari kesusasteraan belaka.
Orang inikah yang disebut pendekar?
Setelah tiba di luar kota raja, Yap Thian Giok menurunkan Pun Hai dari pondongannya.
Pemuda itu terus saja menjatuhkan diri berlutut di depan orang gagah itu sambil berkata.
"Menyaksikan sepak terjang dan kegagahan lo taihiap (pendekar tua), hatiku penuh kekaguman. Saya yang bodoh Liem Pun Hui merasa berbahagia sekali dapat bertemu dengan taihiap. Mohon tanya siapakah nama taihiap yang mulia."
Yap Thian Giok mengerutkan bening.
Tak sepatahpun kata kata dari pemuda ini menyatakan terima kasih dan kegirangan hati telah ia tolong dari bahaya maut!
"Anak muda, tidakkah kau tahu berterima kasih?
Apakah kau tidak berterima kasih telah ku tolong dan bahaya?"
Pertanyaan ini bukan karena Yap Thian Giok seorang yang mengharap terima kasih orang, melainkan timbul karena herannya terhadap pemuda ini.
"Sesungguhnya, tidak ada sebab yang mengharapkan saya berterima kasih kepadamu, lo taihiap. Karena saya tidak mengharapkan pertolongan."
"Hem, jadi kau tidak girang karena aku telah menolongmu?"
"Tidak, terus terang saja, saya tidak bergiring karena tidak tertangkap atau terbunuh."
"Eh, pemuda aneh. Mengapa demikian?"
"Saya telah mengambil keputusan tetap untuk mencela pembesar jahat itu dan mengorbankan nyawa. Untuk apakah hidup bagi saya yang tidak berdaya melihat keadaan yang amat tidak adil dan sewenang wenang? Lebih baik mati sebagai seorang yang berani menentang ketidakadilan itu!"
"Hm, kau nampaknya bodoh tapi pintar. Kata katamu berisi akan tetapi sesungguhnya amat bodoh! Eh, anak muda yang sudah putus asa, mengapa kau berlaku nekad?"
Sambil menahan turunnya air matanya, Liem Pun Hui lalu menceritakan keadaannya, betapa orang tuanya dan pamannya sekeluarga tewas karena keganasan pemerintah Goan tiauw lebih tepat lagi karena keganasan kaki tangan pemerintah yang bertindak sewenang wenang.
Jilid XIX YAP THIAN GIOK mengangguk anggutkan kepalanya.
"Tindakan nekad dan putus asa hanya dilakukan oleh orang orang yang bodoh dan tak berakal. Apakah untungnya kalau kau mengorbankan nyawa secara sia sia? Apakah dengan perbuatanmu itu, keadaan akan berobah dan keadaan rakyat akan menjadi baik? Apa kaukira dengan perbuatanmu itu kau akan dapat merobah pemerintah menjadi baik? Daripada melakukan usaha karena dorongan putus asa, lebih baik kau berusaha untuk dapat meringankan beban rakyat dan menolong mereka yang tertindas."
"Apakah daya seorang bodoh dan lemah seperti saya ini, taihiap?"
"Itulah, karena kau kurang ilmu. Setelah bertemu dengan aku, apa sukarnya kalau kau memang betul betul mau mencari kemajuan dan mau belajar ilmu?"
Tiba tiba wajah Pun Hui berseru gembira.
"Betul betulkah taihiap mau menerima teecu (saya) sebagai murid ?"
Yap Thian Giok tertawa.
"Mau atau tidak, setelah melihat keadaanmu ini, aku terpaksa menerimamu. Kau sebatang kara seperti aku pula, semangatmu besar seperti seorang pendekar dan mengenai kegigihan seperti seorang pahlawan, sudah sepatutnya menjadi muridku."
Pun Hui lalu mengangguk anggukkan dan memberi hormat sambil berlutut.
"Suhu, teecu berterima kasih sekali Semoga teecu dapat menjadi murid yang baik."
"Pun Pui, ketahuilah. Yang kauangkat menjadi guru ini adalah Yap Thian Giok murid Sian hou san, yang di kalangan kang ouw dijuluki Sin pian. Selamanya aku melakukan perbuatan gagah sesuai dengan petunjuk dan pesan guruku. Oleh karena itu aku tidak ingin melihat kau kelak merusak namaku dan nama guruku, yakni Mo bin Sin kun. Nah, kau bersumpahlah bahwa kelak kau hanya akan mempergunakan ilmu kepanduan yang kaupelajari dariku demi kebaikan."
"Di depan suhu Yap Thian Giok, disaksikan oleh bumi dan langit, teeeu Liem Pun Hui bersumpah bahwa segala macam ilmu yang akan teecu pelajari, segala macam petunjuk yang akan teecu dengar dari suhu, akan teecu pergunakan untuk melakukan kebajikan dan kebaikan, membela yang lemah tertindas dan memberantas yang jahat dan tidak adil. Kalau teecu melanggar sumpah ini biarlah teecu tewas di ujung senjata orang gagah lain!"
Yap Thian Giok menjadi girang dan puas.
Ia lalu membawa muridnya itu ke dalam sebuah hutan yang liar di sebelah barai kanal (terusan) yang menuju ke Peking, di sebelah selatan dari kota raja.
Setelah tiba di tengah tengah hutan itu, Thian Giok berkata.
"Pun Hui, aku hendak pergi ke Tit le untuk sebuah urusan penting. Kau tinggallah seorang diri di tengah hutan ini sambil melatih siulian (samadhi) dan mengatur pernapasan agar memperkuat dasar mu untuk kelak menerima latihan silat. Tentang makan dan minum, kau usahalah sendiri di dalam hutan ini. Sengaja aku tinggalkan kau untuk kira kira satu bulan sebagai ujian bagimu. Berani dan sanggupkah kau?"
Dengan wajah berseri Pun Hui menjawab.
"Suhu, teecu sudah bersumpah untuk mentaati segala macam petunjuk dari suhu. Menghadapi kematian teecu tidak takut, apalagi hanya untuk tinggal seorang diri di dalam hutan yang liar ini. Apa yang teecu takutkan?"
"Bagus! Itulah jawaban yang kuharapkan. Kalau datang binatang buas, kau naiklah ke pohon dan selanjutnya kau harus dapat menjaga diri sendiri."
"Jangan khawatir, suhu. Pergilah suhu dengan hati aman. Teecu sanggup menjaga diri sendiri."
Yap Thian Giok lalu memberi petunjuk petunjuk dan pelajaran tentang cara bersemadhi dan mengatur napas, kemudian ia tinggalkan muridnya itu, berlari cepat menuju ke Tit le untuk mencari Thian te Kiam ong Song Bun Sam, menyerahkan surat peninggalan dari mendiang Pangeran Kian Tiong.
Thian te Kiam ong dan isteri nya di rumahnya sedang gelisah.
Berhari hari kedua suami isteri ini duduk termenung dan di rumah yang biasanya penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan itu kini nampak sunyi.
Bahkan jarang sepasang suami sedikit isteri ini bercakap cakap, masing masing merenungi jalan pikirannya sendiri.
Apa yang terjadi ?
Yang membikin mereka binging dan gelisah adalah karena mereka memikrkan kepergian kedua orang anak mereka.
Mula mula kurang lebih dua bulan yang lalu, semenjak peristiwa penyerahan peta palsu oleh Coa Kui, kemudian peta itu diberikan kepada Ouw bin cu Tong Kwat, pada keesokan harinya pagi pagi sekali Siauw Yang telah pergi meninggalkan rumah dengan meninggalkan sepotong surat dikamarnya menyatakan bahwa anak ini hendak menyusul Ouw bin cu ke pulau Sam liong to.
Dalam suratnya Siauw Yang menyatakan bahwa gadis itu merasa m erasa curiga akan pemberian peta palsu itu, menyangka bahwa tentu ada tersembunyi maksud tertentu maka orang memberikan peta palsu kepada ayahnya, seakan akan memancing ayahnya untuk pergi ke pulau itu.
Dan dia menyatakan hendak mewakili ayahnya menghadapi pancingan itu.
Thian te Kiam ong Song Bun Sam terkejut dan menggeleng geleng kepalanya, ia sudah kenal baik akan walak putrinya yang keras dan sukar mengalah.
Sungguhpun ia percaya penuh bahwa kepandaian puterinya sudah cukup tinggi hingga dapat menjaga diri dengan baik, namun kekhawatiran hati seorang ayah membuatnya menyuruh Tek Hong puteranya untuk segera menyusul adiknya itu.
Namun, sudah dua bulan dua orang anak itu pergi, belum juga mereka kembali, bahkan sedikit berita pun tidak kunjung datang.
Berkali kali Sia Hwa isteri Thian te Kiam ong menyatakan kegelisahan hatinya dan mengajak suaminya untuk menyusul dua orang anak muda itu, akan tetapi Bun Sam selalu menghiburnya.
"Untuk apa disusul! Mereka sudah besar dan dapat menjaga diri. Aku tidak mengkhawatirkan keadaan mereka, hanya ingin tahu mengapa mereka begitu lama pergi. Kalau kita susul, bagaimana kalau kita berselisih jalan dengan mereka? Bukankah kita semua bahkan saling mencari tidak karuan? Biarlah kita menanti di rumah dengan sabar, dan biar mereka itu mendapat pengalaman dalam hidup di dunia kang ouw. Hanya kuharap saja Tek Hong dapat bertemu dengan adiknya. Berdua mereka akan lebih kuat, karena berbeda dengan Tek Hong yang baik hati dan tenang. Siauw Yang terlalu manja dan terlalu sembrono."
"Akan tetapi dia lebih cerdik dari kakaknya, aku lebih percaya kepadanya,"
Membantah isterinya.
Pada suatu hari, selagi sepasang suami isteri ini duduk di ruang depan menanti kedatangan anak anak mereka, datanglah seorang laki laki gagah memasuki halaman depan.
Mereka mengangkat kepala memandang dan berserilah wajah Thian te Kiam ong ketika ia mengenal laki laki ini.
"Ah, kau.... Thian Giok,"
Katanya sambil melompat berdiri dan menyambut tamu itu. Sin pian Yap Thian Giok juga gembira sekali dan mereka saling berpelukan.
"Thian Giok, apakah sampai sekarang kau belum juga dapat memperkenalkan isierimu kepadaku?"
Tanya Bun Sam berkelakar. Memang dua orang sahabat baik ini setiap kali bertemu masih seperti anak anak muda dan bergembira sambil berkelakar.
"Bun Sam, kau baik baik saja? Ah, sudah tetua aku ini siapa orangnya sudi menjadi isteriku? Aku sudah terlambat untuk itu dan takkan menikkah, Bun Sam. Bagaimana isierimu, baik baik sajakah?"
Sian Hwa juga menyambut dengan gembira. Thian Giok memberi hormat.
"So so (kakak ipar), harap kau baik baik saja selama ini. Mana keponakan keponakanku Tek Hong dan Siauw Yang yang nakal?"
"Itulah yeng membuat kami kehilangan kegembiraan untuk beberapa pekan."
Kata Bun Sam menarik napas panjang.
"Telah, dua bulan mereka pergi merantau."
"Apa salahnya? Merantau baik sekali sewaktu waktu dilakukan oleh orang orang muda, menambah pengalaman,"
Kata Thian Giok menghibur sahabatnya. , Bun Sam mempersilahkan tamunya duduk dan pelayan lalu dipanggil untuk menghidangkan minuman.
"Kalau hanya merantau biasa saja, kami takkan ribut ribut,"
Kata Song Bun Sam.
"akan tetapi ada persoalannya."
Ia lalu menceritakan pada Thian Giok tentang pemberian peta palsu itu. Mendengar semu penuturan itu, Thian Giok mengerutkan kening mengangguk angguk.
"Puterimu cerdas sekali, Bun Sam, Memang hal itu mencurigakan sekali. Sudahkah kau menyelidiki keadaan Coa Kui yang memberi peta itu?"
"Sudah, dan dia sudah pergi, kata tetangganya ia pindah dengan tergesa gesa, tak seorangpun tahu di mana pindahnya."
"Nah, benar dugaan puterimu. Tentu ada udang di balik batu dengan pemberian peta palsu itu. Baiklah nanti aku membantumu menyelidiki keadaan dua orang putera puterimu itu. Kalau mereka berpesiar, tak bisa lain tentu di tempat indah seperti di telaga Barat atau di kota kota besar seperti di kota raja."
"Terima kasih, Thian Giok. Memang kami pun sudah mengambil keputusan untuk pergi menyelidiki dan mencari mereka sendiri kalau hari ini mereka tidak pulang."
Mereka lalu bercakap cakap.
Juga Sian Hwa tidak ketinggalan, ikut menanyakan tentang pengalaman pengalaman Thian Giok selama ini, karena sudah lama mereka tidak saling bertemu dan terhadap Thian Giok, Sian Hwa tidak malu malu lagi dan sudah biasa, bahkan menganggap orang gagah ini sebagai saudara sendiri.
Kemudian Thian Giok menceritakan pengalamannya, juga pengalamannya di kota raja dan menceritakan tentang nasib Pangeran Kian Tiong dan isterinya yang terbunuh oleh seorang penjahat.
Mendengar ini, Bun Sam terkejut sekali dan Sian Hwa tak tertahan lagi menumpahkan air mata saking terharu dan kasihan.
"Aduh, jahanam benar! Siapakah orang yang berani sekali membunuh Pangeran Kian Tiong yang bijaksana dan berhati mulia? Kalau hendak membunuh, mengapa tidak membunuh kaisar atau pembesar yang jahat, sebaliknya membunuh orang baik baik?"
Kata Bun Sam marah sekali.
"Bukan itu saja, Bun Sam. Bahkan penjahat itu telah menculik anak perempuannya yang baru berusia lima tahun dan sampai sebarang tidak ada kabar lagi bagaimana nasib anak itu."
Bun Sam menggigit bibirnya.
"Keparat, kalau aku tahu siapa orangnya, tentu takkan kuberi ampun. Siapa dia pembunuhnya?"
"Itulah sukarnya. Tak seorangpun mengetahui, hanya ada kabar bahwa pembunuhnya adalah seorang kakek berkaki satu yang wajahnya seperti iblis. Dan sebelum menghembuskan nafas terakhir. Pangeran Kian Tiong meninggalkan surat untukmu."
"Kau bilang hal itu terjadi sepuluh tahun lebih yang lalu, mengapa suratnya tidak juga sampai ke tanganku? "Memang begitulah. Pangeran Kian Tiong barpesan kepada keluarganya bahwa surat itu hanya boleh diserahkan kepadamu apabila kau datang mengunjunginya di istana. Karena itu surat disimpan saja oleh keluarganya. Baru setelah aku datang dengan maksud hendak mengunjungi Pangeran Kian Tiong, orang memberikan surat ini kepadaku untuk disampaikan kepadamu."
Sambil berkata demikian, Thian Giok mengeluarkan dan memberikan surat itu kapada Bun Sam.
Ketika menerima surat itu, Bun Sam tak segera membukanya.
Terbayang di depan matanya pengalamannya ketika masih muda, penemuannya di dalam taman istana dengan Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee.
Juga Sian Hwa terkenang akan kebaikan sepasang bangsawan muda itu.
Bun Sam merasa matanya panas dan sedapt mungkin ia menahan jatuhnya air matanya.
"Kasihan sekali Puteri Luilee yang baik hati...."
Kata Sian Hwa sambil mengeringkan air mata dengan saputangannya.
"Suamiku, kita harus membalaskan dendamnya ini, kalau tidak selama hidupku aku akan selalu merasa penasaran."
"Tentu saja! Aku takkan tinggal enak saja sebelum aku menghancurkan dada Jahanam kejam itu,"
Kata Bun Sam yang segera membuka surat itu. Berdua dengan isterinya, ia membaca surat itu.
"Song taihiap, sahabat baik, Kalau surat ini kau terima, aku sudah tak berada di dunia lagi, menyusul isteriku yang tercinta. Kami berdua menjadi korban keganasan seorang kakek kaki satu yang luar biasa dan lihat sekali. Soal matiku, tidak membuat aku penasaran karena aku pergi menyusul isteriku yang tercinta. Hanya tentang anakku.... kau harus tolong kami, taihiap. Cari dan tolonglah puteri kami Kian Gwat Eng, kasihan dia berada dalam tangan seorang iblis gila yang jahat. Ada tanda pengenal yang takkan hilang sampai ia dewasa pada anak kami itu, yakni tai lalat merah di betis kaki kirinya. Carilah, doaku bersama kau dan isteri serta anak anakmu. Carilah sampai bertemu anak kami itu, sahabatku yang baik. Selamat tinggal. Kian Tiong Basah juga mata Bun Sam setelah ia membaca habis surat itu ia memberikan surat itu kepada Thian Giok, sambil berkata.
"Kau bacalah Thian Giok, agar kaupun bisa membantu mencari jejak penjahat ini. Kasihan kalau anak Gwat Eng itu tidak dapat dicari."
Tanpa berkata apa apa, Thian Giok lalu membaca surat itu dan iapun merasa amat terharu.
"Aku akan membantu mencarinya. Akan tetapi karena hal ini sudah terjadi sepuluh tahun lebih yang lalu, amat meragukan apakah anak itu masih hidup dan apakah penculik yang sudah tua itu masih hidup pula. Kalau anak itu misih hidup tentulah ia telah menjadi seorang gadis dewasa."
Sampai lama tiga orang gagah ini membicarakan tentang hal ini dan masing masing berjanji untuk menyelidiki sedapat mungkin.
"Akan kutanya tanyakan kepada orang orang kang ouw di seluruh penjuru, siapa tahu kalau kalau di antara mereka ada yang mengenal seorang kakek buntung yang lihai. Selamanya aku belum pernah mendengar adanya seorang kang ouw yang buntung kakinya,"
Kata Thian Giok.
"Siapa tahu, di dunia ini memang banyak sekali orang orang pandai bersembunyi, baik yang berwatak budiman maupun yang berwatak rendah,"
Kata Sian Hwa dan suaminya serta Thian Giok membenarkan kata kata tadi.
Pada keesokan harinya, setelah bermalam di rumah sahabatnya, Thian Giok berpamitan karena ia hendak medatangi muridnya yang ditinggal di dalam hutan, ia sekali lagi berjanji bahwa ia akan menyelidiki halnya Kian Goat Eng dan akan memberi kabar cepat cepat apabila ia mendengar sesuatu tentang kakek kaki buntung itu.
Sepeninggal Thian Giok, Song Bun Sam dan isterinya juga meninggalkan rumah, berangkat merantau untuk mencari dua orang anak mereka dan sekalian melakukan penyelidikan hal penculik puteri sahabat mereka, Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee.
Kita ikuti perjalanan Song Siauw Yang, gadis lincah jenaka yang berkepandaian tinggi itu.
Malam hari itu semenjak ia bertemu dengan Coa Kiu dan Ouw bin cu, ia tak dapat tidur.
Pikirannya bekerja keras, ia merasa curiga sekali dengan adanya peristiwa peta palsu itu.
Tidak saja ia hendak menyelidiki ke pulau Sam liong to, akan tetapi juga gadis ini sudah lama ingin pergi merantau seorang diri untuk menambah pengalaman.
Kalau ia mengemukakan kehendaknya, selalu ia mendapat tentangan dari orang tuanya, terutama ibunya yang selalu melarangnya.
"Tidak patut seorang gadis melakukan perjalanan seorang diri. Di dunia ramai banyak sekali orang orang jahat dan kurang ajar, kau hanya akan menghadapi godaan dan gangguan belaka, anakku. Kalau kau hendak melakukan perjalanan boleh asalkan bersama ayah ibumu atau dengan kakakmu,"
Demikian ibunya selalu memberi nasihat.
Akan tetapi Siauw Yang tidak puas dengan cegahan ibunya ini.
Karena ia merata kurang tenang kalau harus pergi dengan kakaknya, apalagi dengan ayah bundanya.
Pergi dengan mereka hanya, akan menghadapi larangan dan celaan belaka.
Sekarang ada alasan baginya.
Peristiwa peta palsu itu amat kebetulan.
Dengan adanya peristiwa itu ia dapat mengadakan alasan untuk menyelidiki hal itu sekalian untuk merantau di dunia bebas, bebas seperti burung terbang di udara.
Kapan lagi kalau tidak sekarang melakukan perjalanan jauh seorang diri, pikirnya.
Kalau aku sudah menikah....
sampai di sini merahlah mukanya, aku takkan bebas lagi dan tak mungkin sebagai seorang isteri aku pergi seorang diri untuk melakukan perjatlanan ke luar rumah!
Oleh karena itu, setelah membolak balik pikirannya sampai setengah malam ia lalu berkemas, mempersiapkan pakaian pakaiannya yang paling baik dan ringkas dibungkus merupakan buntalan besar, membawa serta pedang ayahnya, yakni pedang Kim kong kiam yang tergantung di kamar senjata dan yang diam diam ia ambil di luar tahu ayahnya, lalu ia meninggalkan sepucuk surat dan setelah menanti sampai menjelang pagi di mana ia tahu seluruh isi rumah sedang tidur pulas, gadis yang tabah ini lalu pergi meninggalkan rumahnya.
Tidak lupa ia membawa bekal uang dan barang perhiasan untuk menjaga kalau kalau ia kehabisan bekal di tengah perjalanan.
Ketika matahari mulai bersinar, ia telah pergi jauh sekali dari rumah dan dusunnya.
Memang semenjak subuh ia melakukan perjalanan cepat sekali, mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat sehingga sebentar saja ia telah melakukan perjalanan puluhan li jauhnya.
Sikapnya yang gagah dan pedangnya yang tergantung di pinggang membuat Siauw Yang tak pernah mendapat gangguan.
Sekelebatan saja orang orang di kalangan kang ouw yang ulung sudah dapat menduga bahwa dara ini adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Ditambah pula oleh sikap Siauw Yang yang ramah tamah dan manis budi maka begitu jauh ia belum pernah mengalami hal hal yang tidak enak baginya.
Cocok seperti dugaan Thian Giok ketika bercakap cakap dengan Bun Sam tentang kepergian anak anak Thian te Kiam ong Siauw Yang pertama tama hendak pergi ke kota raja.
Sudah lama sekali ia amat rindu menyaksikan kota yang disohorkan amat indah ini, yang penuh dengan istana istana indah bangunan baru dan kaisar, ia merencanakan untuk mengunjungi kota raja lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan menyeberang laut mencari Pulau Sam liong to.
Gadis ini sengaja melakukan perjalanan di sepanjang saluran air yang menuju ke Peking, saluran yang telah digali oleh tenaga rakyat dan yang telah banyak mengorbankan jiwa rakyat jelata.
Pemandangan di sekitar saluran ini memang indah.
Banyak perahu perahu pedagang dan perahu perahu nelayan hilir mudik di sepanjang saluran itu dan pedagang nampak ramai sekali.
Pada suatu hari, tibalah gadis ini di sebuah hutan yang luas di selatan kota raja, ia mempercepat larinya dan mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan secepatnya agar sore hari itu dapat tiba di kota raja.
Ketika ia tengah berlari cepat, tiba tiba di tengah hutan itu ia mendengar suara ribut tibut.
Cepat ia menuju ke tempat suara itu dan ia melihat puluhan orang pengemis tengah mengurung seorang pemuda dengan sikap mengancam.
Yang mengherankan hati Siauw Yang, para pengemis ini semuanya memegang sebatang tongkat merah, maka tahulah gadis yang sudah banyak mendengar penuturan ayah bundanya tentang keadaan di dunia kang ouw bahwa pengemis pengemis ini bukanlah pengemis pengemis biasa, melainkan anggota anggota sebuah perkumpulan pengemis yang bertanda tongkat merah.
"Kalau dia menolak, pukul saja dengan tongkat wasiat kita sampai nyawanya meninggalkan badan!"
Terdengar beberapa orang pengemis berseru marah.
Mereka sudah mengangkat tongkat tongkat merah mereka tinggi tinggi, siap untuk menjatuhkan pukulan kepada pemuda yang mereka kurung itu.
Karena para pengemis itu menghalangi penglihatannya sehingga ia tidak dapat melihatnya pemuda yang dikurung maka Siauw Yang lalu melompat ke atas sebatang pohon dan melihat ke tengah.
Ternyata bahwa pemuda yang dikurung oleh para pengemis itu adalah seorang pemuda berpakaian seperti pelajar yang sederhana, seorang pemuda yang berwajah halus dan tampan, bersikap ramah akan tetapi sedikitpun tidak kelihatan takut menghadap ancaman para pengemis yang marah itu.
Dengan sikap tenang dan suara yang tabah serta manis, pemuda itu mengangkat kedua tangannya dan berkata kepada para pengepungnya.
"Cu wi sekalian harap suka berlaku sabar dan tenang. Orang orang pandai berkata bahwa mengurus sesuatu perkara, harus dilakukan dengan hati panas dan kepala dingin, baru dapat selesai dengan baik. Cu wi harus pikir masak masak sebelum mengambil sesuatu keputusan, apalagi keputusan untuk mengangkat seorang pangcu (ketua perhimpunan). Siuwte ini orang apakah? Lemah dan bodoh, lagi masih muda kalau dibandingkan dengan cu wi (saudara saudara sekalian), bagaimana mungkin siauwte dapat menjadi seorang pemimpin?"
Para pengemis itu nampaknya masih tidak puas dengan jawaban ini dan melihat sikap mereka, jelas bahwa mereka hendak memaksa pemuda itu.
Siapakah adanya pemuda ini dan mengapa ia dikurung oleh para pengemis tongkat merah itu?
Pembaca tentu sudah dapat menduga bahwa pemuda ini bukan lain adalah Liem Pun Hui.
pemuda yang diterima menjadi murid oleh Sin pian Yap Thian Giok dan yang kemudian ditinggalkan di dalam hutan itu sebagai ujian selagi Thian Giok pergi mengujungi sahabatnya, yakni Thian te Kiam ong Song Bun Sam di Tit le.
Beberapa hari kemudian setelah suhunya pergi, selagi melatih siulian dan mengatur pernapasan.
Pun Hui melihat beberapa orang pengemis berjalan lewat di situ.
Mereka berjalan tanpa bicara dan bahkan sama sekali tidak memperdulikan keadaan pemuda yang duduk bersila di bawah pohon itu.
Tadinya Pun Hui merasa kasihan melihat mereka ini, pengemis pengemis yang memakai baju butut dan bertambal tambal, ia menarik napas panjang dan diam diam ia mengutuk pemerintah asing yang ia anggap menjadi biang keladi sehingga di Tiongkok banyak terdapat orang orang gelandangan dan pengemis yang hidup amat sengsara, dan yang menurut anggapan merupakan noda yang memalukan bagi bangsa.
Akan tetapi segera timbul rasa herannya ketika tak lama kemudian, datang lagi serombongan pengemis dan baru sekarang kelihatan oleh pemuda ini bahwa setiap orang pengemis itu membawa sebatang tongkat yang sama bentuknya dan sama pula warnanya, yakni berwarna merah.
Dan juga bahwa semua pengemis itu tidak ada yang kelihatan seperti orang kelaparan atau sengsara.
Mereka itu melangkahkan kaki dengan tegap dan tubuh mereka nampak kuat.
Tak mungkin persamaan tongkat itu hanya kebetulan saja.
Pun Hui menjadi tertarik dan setelah beberapa kali ia melihat beberapa orang pengemis lagi lalu di hadapannya menuju ke tengah hutan, ia tertarik sekali dan tak dapat lagi ia bersiulian karena pikirannya tak dapat dikumpulkan.
"Siapakah orang orang ini dan mereka hendak melakukan pekerjaan apakah? Tak mungkin sekali para pengemis hendak minta minta di dalam hutan, karena tempat ini sunyi tidak ada orang."
Dengan pikiran ini, pemuda itu lalu berdiri dan diam diam ia mengikuti ke arah pengemis tadi pergi.
Pun Hui bersembunyi di balik batang pohon dan mengintai.
Para pengemis itu nampak duduk merupakan lingkaran di tempat terbuka di tengah hutan itu, duduk di atas rumput dan keadaan sunyi sekali karena mereka sama sekati tidak bergerak dan tidak bicara.
Di tengah tengah lingkaran itu nampak sebuah meja besar di atas mana mengebul asap hio yang tertancap di sebuah hiolouw (tempat hio) besar berwarna kuning berkilauan, tanda bahwa hiolouw itu terbuat daripada emas.
Meja itu sendiri memakai hiasan kain bersulam indah sekali dan semua pengemis memandang atau menghadap kepada meja ini penuh khidmat.
Pun Hui menjadi bengong karena upacara apakah itu?
Meja itu meja sembahyang, hal ini sudah pasti, akan tetapi siapa yang di sembahyangi di situ dan mengapa para pengemis yang kelihatannya jembel dan miskin ini bisa mempunyai hiolouw yang terbuat daripada emas dan begitu besar?
Kalau hiolouw itu dijual, agaknya uangnya dapat dipergunakan untuk membeli lima stel pakaian untuk setiap orang pengemis.
Kemudian terdengar seorang pengemis tua berkata.
"Sam lojin (Tiga Orang Tua) sudah hampir datang, lilin dapat dinyalakan sekarang!"
Suaranya tidak keras, akan tetapi oleh karena keadaan di situ amat sunyi, maka terdengar berpengaruh dan penuh upacara.
Dua orang pengemis yang juga sudah berusia lanjut, lalu melangkah maju.
Mereka mengeluarkan lilin lilin putih yang besar dari buntalan yang menggemblok di punggung, lalu memasang sembilan batang lilin itu di atas meja, didirikan dengan jajaran tiga kali tiga.
Kemudian dinyalakan sembilan lilin itu yang segera bernyala dengan anteng karena memang pada saat itu tidak ada angin meniup sedikitpun juga.
Kemudian suasana sunyi dan semua orang masih tetap duduk mengitari meja sembahyang itu.
Tak seorang pun bercakap cakap, semua seakan akan dalam sikap menanti.
Pun Hui menjadi makin terheran heran dan ia pun menanti dengan dada berdebar, ingin sekali tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tak lama kemudian, kembali orang tua yang tadi bicara, satu satunya orang yang semenjak tadi pernah membuka mulut berkata.
"Sam lojin datang semua memberi hormat!"
Pun Hui benar benar merasa heran.
Siapakah Sam lojin atau Tiga Orang Tua yang dikatakan datang itu?
Ia tidak melihat seorangpun atau juga tidak mendengar suara orang datang.
Akan tatapi orang tua yang agaknya memimpin para pengemis itu menyatakan bahwa ada Sam lojin yang dikatakan datang.
Pun Hui makin lama makin terheran heran, dan lebih heran dan terkejutnya ketika tiba tiba api lilin yang menyala di atas meja sembahyang itu bergoyang goyang seperti tertiup angin besar.
Padahal pada saat itu tidak bertiup angin sama sekali.
Dan keheranannya bertambah lagi ketika tiba tiba ia melihat bayangan tiga orang memasuki lingkaran itu dan tahu tahu di depan meja sembahyang telah berdiri tiga oranng!
Karena kebetulan sekali tempat di mana Pun Hui bersembunyi berada di belakang meja sembahyang, maka ia dapat melihat wajah tiga orang yang datang datang seperti siluman dengan jelas.
Kembali terjadi keanehan dan Pun Hui menjadi bengong terlongong memandang kepada tiga orang yang disebut Sam lojin atau Tiga Orang Tua itu dengan mata terbelalak.
Orang pertama dari tiga orang pendatang itu adalah seorang kakek yang usianya sudah limapuluh tahun lebih, bertubuh jangkung kurus dengan jenggot seperti kambing bandot dan mata juling dengan kedua manik mata mendekati hidung, ia mengenakan pakaian seperti pengemis pula, tambal tambalan dan kotor.
Di tangan kanannya terlihat tongkat merah seperti yang dipegang oleh para pengemis itu.
Orang ke dua juga sudah tua, agak lebih muda daripada orang pertama, akan tetapi sudah termasuk tua, dengan tubuhnya yang agak gemuk dan perutnya gendut, tertutup oleh kain kepala hitam dan seluruh wajah orang ini selalu nampak berseri dan tertawa, dari matanya yang bersinar sinar jenaka sampai mulutnya yang tersenyum senyum selalu.
Pakaiannya tambal tambalan pula bahkan di bagian perut berlubang sehingga nampak perutnya yang tergantung ke depan.
Ia juga memegang tongkat merah yang nampaknya berat di tangan kanannya.
Dua orang ini memang patut disebut Lojin (orang tua) karena usia mereka sudah kurang lebih limapuluh tahun, biarpun orang ke dua yang gendut itu mukanya kelimis tidak terhi sehelai rambutpun.
Akan tetapi yang membuat Pun Hui terlongong keheranan adalah keadaan orang ketiga.
Orang ke tiga adalah seorang wanita, seorang dara malah, usianya paling banyak sembilanbelas tahun, wajahnya bundar dan manis, matanya jeli bersinar tajam dan bibirnya yang merah dan manis itu selalu nampak bersungut sungut, mendekati sifat galak.
Rambutnya panjang, digelung ke atas dan diikat dengan saputangan sutera hijau.
Pendeknya, seorang gadis yang manis dan cantik, lagi gagah.
Tubuhnya juga baik dan padat langsing, cukup menarik.
Hanya pakaiannya yang lucu karena biarpun terbuat dari kain yang bersih dan mahal, namun tambal tambalan pula!
Dara inipun memegang sebatang tongkat merah yang kecil dan ujungnya meruncing.
Hampir saja Pun Hui tak dapat menahan gelak tawanya.
Bagaimana seorang gadis muda cantik jelita seperti ini, betapapun gagah kelihatannya, disebut Lojin atau Orang Tua??
Gadis ini sama sekali belum tua, bahkan masih lebih muda dari dia sendiri!
ia mencoba untuk mencari cari dengan pandangan matanya kalau kalau masih ada orang tua ke tiga yang belum datang akan tetapi jelas tidak ada lain orang lagi, jadi sudah terang bahwa yang disebut Sam lojin (Tiga Orang Tua) itu tentulah tiga orang kakek dan gadis muda ini!
Tentu saja Pun Hui tidak tahu bahwa gadis ini termasuk salah seorang Tiga Orang Tua bukan karena usianya, melainkan karena kepandaian dan kedudukannya!
Tingkatnya dalam perkumpulan pengemis yang disebut Ang kai tung (Tongkat Pengemis Merah) ini sama dengan dua orang yang kini berdiri di dekatnya dan mereka bertiga ini hanya lebih rendah setingkat daripada ketua perkumpulan itu sendiri yang disebut Lo pangcu.
Gadis itu adalah puteri dari ketua perkumpulan pengemis yang namanya pada waktu itu menggemparkan kalangan kang ouw, sebagai seorang diantara para tokoh yang menggantikan kedudukan Lima Tokoh Besar yang sudah mengundurkan diri.
(Lima Tokoh Besar itu, yakni Pat jiu Giam ong Liem Po Cuan yang tewas oleh Thian te Kian ong Song Bun Sam, ke dua Mo bin Sin kun atau guru dan Yap Thian Giok, ke tiga Kim Kong Taisu tokoh Oei san yang sudah meninggal dunia karena usia tua, ke empat Lam hai Lo mo Seng jin Siansu dan ke lima Bu tek Kiam ong guru dari Song Bun Sam yang sudah meninggal dunia lebih dahulu).
Ketua Ang kai tung ini bernama Thio Houw dan berjuluk Sin tung lokoai (Manusia Aneh Tongkat Sakti) ia hanya hidup berdua dengan puterinya yang bernama Thio Leng Li, yang telah mewarisi kepandaiannya dan amat lihai di samping kecantikannya yang menggiurkan.
Beberapa tahun yang lalu, Sin tung lokoai ini menundukkan sebuah perkumpulan pengemis yang yang dikepalai oleh dua orang pengemis tua yang cukup lihai yakni yang bertubuh jangkung bernama Bu beng Sin kai (Pengemis Sakti Tiada Nama), dan seorang adik seperguruannya.
yakni pengemis tua yang gendut itu yang berjuluk Sam thouw liok ciang kai (Pengemis Tiga Kepala Enam Tangan).
Melihat bahwa perkumpulan ini memiliki banyak sekali anggauta dan kedudukannya kuat sekali, maka Thio Houw lalu membentuknya menjadi sebuah perkumpulan Ang kai tung Kai pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Merah) dan ia menjadi ketuanya.
Sebagai pembantunya, ia mengangkat Bu beng Sin kai, Sam thouw liok ciang kai, dan puterinva sendiri, yakni Thio Leng Li yang seperti ayahnva, diberi julukan Sin tung (Tongkat Sakti), akan tetapi kalau ayahnya d juluki Manusia Aneh Tongkat Sakti, maka dia dijuluki Bi sin tung atau Tongkat Sakti yang Cantik!
Demikianlah penjelasannya dan di samping kedua orang kawannya yang boleh dibilang menjadi pembantu atau wakil dari ayahnya, Thio Leng Li juga termasuk Orang Tua, sebutan yang lajim dipergunakan dalam perkumpulan pengemis itu dengan maksud menghormat orang yang lebih tinggi kedudukannya atau orang yang menjadi pemimpin dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada mereka!
Mengapa mereka berkumpul di situ?
Dan apa artinya meja sembahyang itu?
Baiklah kita melanjutkan cerita iini dan melihat sendiri apa yang akan terjadi di situ, seperti yang disaksikan oleh Pun Hui.
Ketika tiga orang Sam lojin ini sudah datang dengan cara yang luar biasa sekali, yakni dengan mempergunakan kepandaian ginkang mereka yang tinggi sehingga tahu tahu telah berdiri di hadapan meja sembahyang dan orang orang yang duduk di sekitarnya telah memberi hormat dengan mengangkat tongkat tinggi tinggi di atas kepala.
Thio Leng Li lalu mengangkat tangan, memutar tubuh dan menghadapi semua anggauta perkumpulan.
"Seperti sudah dikabarkan kepada saudara saudara sekalian, kedatangan kita kali ini untuk berkumpul di sini, ialah pertama untuk menyembahyangi arwah dari ayahku yang tercinta dan bersumpah menuntut balas atas kematian orang tua itu,"
Sampai di sini merahlah mata gadis itu yang dengan gagah berusaha sedapat mungkin menahan jatuhnya air matanya, kemudian dengan suara yang lantang, nyaring dan bening, ia melanjutkan.
"dan kedua kalinya untuk mengadakan pemilihan ketua baru sesuai dengan peraturan dalam perkumpulan kita. Akan tetapi, lebih dulu kita harus mengundang datang orang yang dengan lancang berani mengintai pertemuan ini!"
Semua anggauta pengemis yang duduk di sekitar meja itu terkejut dan saling pandang, tidak tahu siapa yang dimaksudkan oleh gadis itu sebagai tamu yang tak diundang.
Akan tetapi, Bu beng Sin kai si jangkung kurus dan Sam thouw liok ciang kai si gendut, cepat menengok ke arah pohon, di belakang mana, Pun Hui semenjak tadi bersembunyi!
Bukan main kagetnya Pun Hui mendengar ini.
Ternyata bahwa gadis muda itu benar benar lihai sekali sehingga kehadirannya yang semenjak tadi tidak terlihat oleh seorangpun anggauta perkumpulan pengemis, kini sekaligus terlihat oleh gadis itu!
Dengan malu malu dan muka merah, Pun Hui mendahului mereka melangkah ke luar dari balik pohon dan menjuri ke arah mereka sambil berkata.
"Mohon maaf sebanyaknya apabila siauwte mengganggu pertemuan cu wi sekalian. Sesungguhnya bukan maksud siauwte untuk berlaku kurang patut dan mengintai, hanya karena tadi siauwie tertarik sekali oleh kedatangan cu wi di tempat ini, maka siauwte datang ke sini dan setelah tiba di sini, siauwte takut kalau kalau mengganggu, maka aiauwte bersembunyi. Sekali lagi maaf dan kalau kehadiran siauwte tidak dikehendaki, ijinkan siauwte pergi lagi."
Ia menjura sekali lagi dangau sikap hormat.
Para pengemis memandang dengan bengong, kemudian meledaklah suara ketawa mereka saking geli hati.
Belum pernah mereka sebagai pengemis pengemis yang biasanya dianggap hina diperlakukan dengan kasar dan rendah oleh orang orang lain, kini mendapat perlakuan demikian penuh hormat oleh seorang pemuda yang bicaranya amat sopan santun dan teratur, tanda seorang pemuda terpelajar.
Adapun Leng Li juga tertegun ketika melihat siapa orangnya yang mengintai di balik pohon, ia tadi hanya tahu bahwa ada orang mengintai di balik pohon, akan tetapi sama sekali tidak pernah menyangkanya bahwa yang mengintai adalah seorang pemuda terpelajar yang demikian sopan santun dan tampan.
Maka untuk beberapa lama ia tidak dapat mengeluarkan suara apa apa.
Si pengemis gendut tertawa senang.
"Di jaman dahulu, para sasterawan dan seniman hidup tiada bedanya dengan pengemis, maka aku tidak keberatan kalau kau ikut hadir sebagai tamu dan saksi."
Namun Leng Li tidak berani mengambil keputusan sebelum mendengar pendapat Bu beng Sin kai sebagai orang tertua di situ.
Maka ia menengok dan memandang kepada si jangkung kurus ini dengan mata mengandung penuh pertanyaan.
"Dia sopan dan tahu diri, tiada jeleknya hadir. Bagaimana pendapat nona?"
Dengan suara tantang Leng Li berkata.
"Dia sudah melihat keadaan kita semua, asalkan dia sanggup menutup mulut boleh saja dia melanjutkan pendengaran dan penglihatannya di sini."
Kemudian nona ini menoleh kepada Pun Hui dan berkata.
"Sahabat, silahkan kau duduk di tempat kami yang sederhana ini."
Dengan girang sekali Pun Hai lalu melangkah maju dan tanpa ragu ragu lagi lalu mengambil tempat duduk di atas rumput, di antara para pengemis yang pakaiannya berbau apek.
Tentu saja hal ini menggirangkan hati para pengemis, karena biasanya orang kota yang pakaiannya bersih selalu merasa jijik kalau berdekatan dengan mereka, apa lagi duduk berdampingan.
Pemuda ini benar benar menarik perhatian mereka dan membuat mereka merasa senang.
Setelah semua orang tenang kembali, Leng Li lalu mengeluarkan bungkusan kain putih dan ketika dibuka, ternyata bungkusan itu adalah sebatang tongkat merah yang bentuknya seperti seekor ular, Melihat itu, terdengar suara keluh kesah di antara semua pengemis seperti orang berduka.
Pun Hui yang tidak mengerti apa artinya tongkat itu hanya memandang dengan hati penuh pertanyaan, apakah tongkat itu bukan seekor ular yang sudah kering.
Leng Li lalu menaruh tongkat itu di atas meja sembahyang, kemudian ia menyalakan tiga batang hio, demikian pula kedua orang Lojin yang berdiri di sampingnya dan mereka mulai bersembahyang.
Setelah selesai bersembahyang, tiga orang itu lalu berlutut di depan meja sembahyang dan menangis.
Tangis mereka mendatangkan suasana mengharukan dan juga menggelikan karena suara si jangkuug kurus itu kecil sekali seperti tangis seorang anak kecil, sedangkan si gendut suaranya besar seperti kerbau menguak.
Di antara dua suara tangis yang berlainan, terdengar isak tangis Leng Li.
Suara tangis yang wajar dari seorang wanita, amat menyedihkan sehingga diam diam Pun Hui merasa amat kasihan kepada gadis muda itu.
Ia belum tahu siapa adanya gadis ini dan setelah gadis itu berkata kata dengan suara nyaring dalam tangisnya, tahulah ia bahwa yang ditangisi itu adalah kematian ayah gadis itu sendiri.
"Ayah, kami seluruh anggauta Ang kai tung Kai pang menyatakan duka atas kematianmu dan percayalah bahwa anakmu, didukung oleh semua kawan yang berada di sini, bersumpah hendak membalas dendammu kepada kakek buntung itu. Demi tongkat keramatmu yang berada di sini, kami bersumpah takkan berhenti berusaha sebelum dapat membunuh musuh besarmu, ayah!"
Setelah berkata demikian, kembali gadis itu menangis, kini diturut oleh semua pengemis yang hadir di situ sehingga keadaan menjadi riuh rendah.
Hanya Pun Hui seorang yang berdiri menengok ke kanan kiri, merasa asing.
Kemudian Leng Li dan dua orang kawannya bangun berdiri dan gadis ini berkata kepada semua orang yang berada di situ.
"Kawan kawan sekalian. Mungkin di antara kalian ada yang belum jelas persoalan kematian ayahku atau juga ketua kalian. Dengarlah baik baik, Ji suheng (kakak ke dua) Sam thouw liok ciang kai baru saja datang membawa tongkat keramat dari ayah. Dia melihat sendiri betapa ayah telah bertempur melawan seorang kakek buntung kakinya yang amat lihai dan ayah telah kena dikalahkan sehingga tubuhnya terlempar ke dalam Sungai Huang ho dan tongkatnya terbawa air, Ji suheng mencoba untuk mencari jenazah ayah, namun sia sia dan ia hanya dapat menemukan tongkat keramat ini, lalu cepat membawanya ke sini dan mengabarkan kepadaku. Maka ingatlah baik baik, apabila ada yang melihat seorang kakek bermuka iblis dengan kaki kanan buntung dan bersenjata tongkat bambu, lekas beri tahu kepadaku atau cobalah untuk mengeroyok dan membunuhnya. Dialah yang telah menewaskan ayah."
Semua pengemis menjawab dengan suara menyatakan marah kepada musuh besar ini. Kemudian Leng Li melanjutkan kata katanya.
"Sekarang, sesuai dengan peraturan dan pesan ayah, perkumpulan kita tidak boleh dibiarkan kosong tak berketua. Oleh karena itu, kini setelah ayah meninggalkan kita, kita harus mengadakan pemilihan ketua baru sebagai pengganti ayah dan yang bertugas untuk memegang pucuk pimpinan. Tanpa kepala, apapun di dunia ini takkan dapat bergerak maju. Oleh karena itu, terserah kepada kawan kawan sekalian untuk memilih seorang ketua baru."
Leng Li tidak dapat menahan kesedihan hatinya lagi, maka ia lalu menghentikan kata katanya dan sambil menangis ia lalu memeluk tongkat merah yang tadi diletakkan di atas meja, kemudian duduk bersimpuh di depan meja sembahyang sambil memeluki tongkat itu.
Bu beng Sin kai lalu menghadapi para anggauta dan berkata dengan suaranya yang kecil tinggi seperti tubuhnya.
"Kawan kawan sekalian, untuk menjadi ketua menggantikan kedudukan mendiang pangcu kita, tidak ada orang yang lebih tepat melainkan nona Leng Li sendiri, mengingat bahwa biarpun masih muda namun ia telah dapat mowarisi kepandaian pangcu kita dan di antara kita memiliki tingkat kepandaian yang paling tinggi!"
Sorak sorai menyatakan tanda setuju menyambut ucapan ini. Leng Li berdiri dan air matanya mengucur deras. Dengan suara terputus putus ia berkata.
"Saudara saudaraku sekalian yang tercinta. Terima kasih banyak atas penghargaan kalian terhadap diriku yang muda, bodoh, dan yatim piatu."
Ia berhenti sebentar untuk menyusut air matanya, kemudian ia dapat mengerahkan hatinya yang berguncang.
"Kepandatanku tidak jauh selisihnya dengan kepandaian ji wi suheng. Dan kalau dibandingkan tentang pengalaman, aku jauh kalah oleh ji suheng yang sudah amat terkenal di kalangan kang ouw. Untuk memimpin perkumpulan kita ini amat diperlukan pengalaman dan hubungan yang luas dengan dunia kang ouw, dan kiranya ji suheng Sam thouw liok ciang kai paling tepat untuk menjadi ketua kita karena dia sudah amat luas hubungannya."
Si gendut itu cepat cepat menggerak gerakkan kedua tangannya mencegah si nona bicara lebih lanjut. Kedua tangannya yang bundar itu berputar putar dan senyumnya makin lebar sehingga hampir mewek.
"Tidak bisa, tidak bisa! Mana ada aturan seperti itu? Di atasku masih ada suheng Bu beng Sin kai, bagaimana meminta aku yang bodoh dan tidak tahu apa apa ? Tdak, tidak, untuk menjadi ketua orang harus memiliki kebijaksanaan, kesabaran dan pemandangan yang luas. Tidak ada orang lain yang lebih cakap kecuali suheng Bu beng Sin kai. Aku sama sekali tidak bijaksana, tidak sabar dan pemandanganku cupat. Apa artinya hubungan dan pengalaman luas?"
Akan tetapi sebaliknya, Bu heng Sin kai berkukuh memilih Leng Li dan Leng Li memilih si gendut yang sebaliknya juga tidak mau mengalah dan memilih Bu beng Sin kai!
Tiga orang ini saling tunjuk dan saling tidak mau mengalah sehingga suasana menjadi tegang di depan meja sembahyang.
Para anggota perkumpulan pengemis itu tidak ada yang berani campur bicara, hanya saling pandang dengan menggerakkan pundak dan menggeleng kepala.
Leng Li lalu menghadapi para anggauta dan berseru keras.
"Mengapa kalian diam saja? Sebagai anggauta anggauta perkumpulan kita, kalian berhak untuk menjatuhkan pilihan!"
Akan tetapi oleh karena tiga orang Lojin yang dianggap mewakili pimpinan itu sudah ribut ribut dan tidak mau mengalah, para anggauta tidak ada yang berani mengangkat tangan menunjuk!
Leng Li menjadi gemas sekali dan membanting banting kaki.
"Twa suheng tidak mau menerima, ji suheng juga menolak, apakah kalian ini hendak memaksa aku memikul tugas dan tanggung jawab seberat ini? Apakah ji wi suheng tidak ingat bahwa aku hanya aeorang gadis berusia delapanbelas tahun yang sudah tak berayah ibu, yang hidup sebatangkara dan tidak dapat dibayangkan betapa akan jadi nya dengan nasib hidupku selanjutnya? Apakah ji wj suheng hendak mengikat aku dan menanam aku di sini sehingga selama hidupku sampai menjadi nenek nenek aku akan terus menjadi seorang ketua perkumpulan kita? Tidak kasihankah ji wi kepadaku?"
Kembali air mata mengalir deras ke luar dan kedua mata nona itu.
Dua orang pengemis tua itu menjadi terharu, akan tetapi betapapun juga.
karena menganggap bahwa kepandaian gadis itu masih lebih tinggi dari pada kepandaian mereka, keduanya masih ragu ragu dan tidak berani menerima jabatan ketua.
Keadaan menjadi kalut dan tiba tiba terdengar suara nyaring dan Pun Hui pemuda sasterawan yang untuk sementara waktu itu dilupakan orang, telah berdiri tegak dan bicara dengan lantang.
"Cu wi sekalian. Maafkan kalau siauwte berani bersikap lancang, karena siauwte memang tahu bahwa seharusnya siauwte tidak berhak untuk bicara di sini sebagai seorang luar yang tidak tahu persoalannya. Akan tetapi mendengar pembicaraan sam wi bertiga, dan melihat keadaan tak menjadi baik dan kalut, perkenankan siauwte menyumbang sedikit pendapat siauwte."
Tiga orang Lojin itu memandang kepadanya tanpa berkata kata, dan ini dianggap sebagai tanda oleh Pun Hui bahwa ia boleh bicara terus.
"Biarpun siauwte seorang bodoh yang tak pernah mencampuri urusan perkumpulan, namun dari kitab kitab, siauwie pernah membaca banyak tentang perkumpulan dan tahu sedikit akan pera turan dan syarat syaratnya. Pendapat sam wi bertiga tadi memang tepat sekali. Menjadi ketua harus memiliki kebijaksanaan dan ini dimiliki oleh Twa lo eng hiong (Orang tua gagah pertama). Juga harus memiliki pengalaman dan pergaulan yang luas dalam dunia, dan hal ini dimiliki oleh Ji lo eng hiong. Syarat ke tiga memang seorang ketua harus memiliki kepandaian yang sesuai dengan sifat perkumpulan dan dalam perkumpulan ini, ialah kepandaian bu (silat) dan menurut pendengaran siauwte tadi, hal ini dimiliki oleh siocia (nona). Maka apa sukarnya untuk mengaturnya? Daripada bertengkar dan saling tunjuk tidak mau mengalah, bukankah lebih baik kalau sekarang dibentuk ketua gabungan yang terdiri dan tiga orang? Sam wi bertiga dapat memegang jabatan sebagai ketua gabungan ini, selain lebih kuat, juga memperlambangkan kesatuan dan kerja sama yang baik dalam perkumpulan, memberi tauladan kepada semua anggota. Bagaimana pikiran sam wi dan cu wi sekalian? Maaf kalau sekiranya kata kata siauwte ini tidak berharga dan ngawur."
Semua orang saling pandang, mengangguk angguk dan kemudian meledaklah sorak sorai dari para anggauta.
"Akur! Akur! Inilah jalan yang terbaik Hidup Sam wi pangcu (Tiga Ketua)!"
Otomatis sebutan Sam lojin (Tiga Orang Tua) berobah menjadi Sam pangcu (Tiga Ketua).
Leng Li dan kedua orang tua itupun saling pandang dan wajah mereka berobah lega.
Memang inilah jalan terbaik bagi mereka bertiga.
Dengan penuh rata terima kasih mereka memandang ke arah pemuda sasterawan itu dan tiba tiba Bu beng Sin kai mengangkat kedua tangannya ke atas sehingga semua sorak sorai itu tiba tiba berhenti.
"Kongcu,"
Kata Bu beng Sin kai sambil menjura ke arah Pun Hui.
"pendapat kongcu tadi benar dan dapat kami terima dengan baik. Banyak terima kasih atas nasihat dari kongcu yang amat berharga. Mendengar kongcu bicara dan sekaligus dapat menguasai pikiran dan kecocokan hati kami membuat kami teringat akan mendiang pangcu kami. Oleh karena itu, sekarang kami bertiga mohon bertanya siapakah nama kongcu dan dimana tempat tinggalnya!"
Pun Hui merasa jengah dan malu sekali menerima penghormatan besar ini. Ia cepat membalas penghormatan itu dan menjawab sederhana.
"Ah, lo enghiong. Pendapatku tadi hanya kebetulan saja cocok dengan pendapat cu wi sekalian, apa sih anehnya dan kiranya belum patut mendapat penghargaan. Siauwte bernama Liem Pun Hui, seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara, tiada tempat tinggal, tegasnya seorang perantau yang hidup dari belas kasih para sahabat."
"Bagus, bagus! Tepat sekali kalau begitu!"
Kata Bu beng Sin kai.
"Kalau begitu, kami bertiga mengangkat kongcu sebagai ketua perkumpulan kami menggantikan pangcu kami yang telah tewas, sedangkan kami bertiga tetap membantu di belakang."
Kalau ada kilat menyambar kepalanya, agaknya Pun Hui takkan begitu terkejut seperti ketika ia mendengar ucapan ini. Matanya terbelalak dan ia cepat cepat menjawab.
"Eh, eh, mana bisa begini? Siauwte ini orang macam apakah maka lo enghiong berkata seperti itu? Harap saja sudi menghentikan lelucon yang ditujukan kepada diri siauwte."
"Kami bersungguh sungguh kongcu. Seperti kongcu lihat sendiri tadi, untuk membereskan persoalan kecil saja kami bertiga tidak becus dan bahkan saling menunjuk. Oleh karena itu, kami memerlukan seorang pemimpin yang cerdik dan berpemandangan luas untuk memberi petunjuk dan keputusan terakhir. Dan kongculah orangnya yang tepat. Bukankah begitu saudara saudara?"
"Betul, cocok sekali!"
Terdengar teriakan para pengemis yang memang suka kepada pemuda ini.
Tidak saja suka akan kesopanannya, juga suka bahwa pemuda ini tidak memandang rendah kepada para pengemis dan terutama sekali karena tadi pemuda itu telah memberi jalan yang amat baik dalam pemilihan ketua.
"Celaka tigabelas,"
Pikir Pun Hui yang menjadi merah dan sebentar pucat mukanya. Ia cepat menjura ke sekeliling dan berkata.
"Cu wi, harap sudi maafkan siauwte! Bagaimanakah siauwte dapat menjadi ketua? Siauwte amat lemah, tidak bisa ilmu silat sehingga untuk menepuk lalatpun takkan kena. Bagaimana kalau datang bahaya dan bencana? Siauwte tidak mengerti sama sekali tentang perkumpulan, bagaimana kalau timbul kesulitan? Dan siauwte orang yang asing, sama sekali tidak mengenal dunia kang ouw, tidak tahu siapa adanya orang orang gagah di dunia kang ouw dan siapa pula perkumpulan perkumpulan ternama. Ah, siauwie benar benar tidak tepat kalau menjadi ketua, harap dipikir masak masak jangan nengambil keputusan serampangan belaka sehingga kelak akan menyesal."
"Kalau datang bahaya, ada aku dan tongkatku yang menghadapinya,"
Kata Leng Li dengan gagah dan sepasang matanya yang jeli dan bening itu menatap wajah Pun Hui dangan tajam.
"Kalau datang kesulitan dalam perkumpulan, ada aku yang akan membereskan,"
Kata pula Bu beng Sin kai cepat cepat.
"Ha, ha, dan kalau ada bubungan dengan orang orang kang ouw akupun orangnya yang akan maju ke depan."
Pun Hui merasa terdesak dan tak dapat bergerak lagi.
Ia menjadi bingung sekali dan hanya menoleh ke sana ke mari seakan akan minta bantuan orang lain.
Akan tetapi setiap wajah yang berada di situ memandangnya dengan menyatakan kebulatan tekad mengangkat dia sebagai ketua.
Tiba tiba tubuh Bu beng Sin kai dan Sam Thouw liok ciang kai bergerak dan tahu tahu mereka telah berada di depan Pun Hui.
Seorang memegang lengan pemuda itu dan sekali melompat mereka telah membawa Pun Hui ke depan meja sembahyang.
"Kongcu kau lihat sendiri bahwa kami semualah yang kali ini betul dan tidak salah pilih. Maka harap kau jangan menolak lagi, karena penolakan terhadap para anggauta kami berarti penghinaan dan kau akan berada dalam keadaan berbahaya. Harap kau suka berlutut dan bersumpah di depan meja sembahyang mendiang Lo pangcu."
Pun Hui masih ragu ragu dan bingung, akan tetapi sekali saja menekan pundaknya, Bu beng Sin kai telah dapat membuat tubuhnya menjadi lemas dan tak teras pula ia berlutut.
Bu bong Sin kai memang sengaja memaksa pemuda ini menerima jabatan itu dan berada di tengah tengah mereka karena diam diam orang tua ini mempunyai maksud tertentu, ia suka kepada pemuda ini dan bermaksud menjodohkan pemuda ini dengan puteri mendiang ketuanya, yakni Leng Li.
Leng Li segera menyalakan tiga batang hio dan memberikan kepada pemuda itu sambil tersenyum manis.
Pun Hui hendak menolak, akan tetapi melihat pandang mata semua pengemis yang kini tertuju kepadanya, ia menjadi ngeri dan terpaksa ia bersembahyang.
"Hidup ketua! Hidup Sam lojin !"
Teriak para anggauta setelah Pun Hui selesai bersembahyang, setelah kini mempunyai ketua baru, kembali tiga orang gagah itu mereka sebut Sam lojin lagi.
"Ah, bagaimana ini? Siauwte benar benar tak dapat menerima pengangkatan yang berat ini."
Kata Pun Hui yang hampir menangis karena tidak tahu harus berbuat apa.
Baru kali ini selama hidupnya ia benar benar merasa gelisah dan gugup, bukan takut .Akan tetapi penolakannya ini tenggelam dalam sorak sorai para anggauta pengemis.
Kemudian Bu beng Sin kai berkata kepada orang banyak.
"Kami bertiga hendak berusaha mencari musuh besar mendiang lo pangcu. Oleh karena itu harap kalian suka memberi petunjuk dan keterangan kepada pangcu kita yang baru ini dan jagalah dia baik baik!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat dari situ, Bu beng Sin kai, Sam thouw liok ciang kai dan Leng Li lenyap dari situ, meninggalkan Pun Hui di tengah tengah para pengemis.
"Pangcu, tongkat keramat di atas meja itu harus dibawa selalu oleh pangcu ke mana juga pangcu pergi. Pangcu tidak boleh terpisah dari tongkat itu, karena itulah tanda kedudukan pangcu,"
Kata seorang pengemis.
Pun Hui menandang ke arah tongkat merah yang setelah didekatinya ternyata adalah seekor ular merah yang kering.
Tentu saja ia menjadi mengkirik dan tidak berani menjamahnya.
Akan tetapi melihat pandang mata para pengemis, ia melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan lagi.
Maka dipaksanya mengambil tongkat itu dan di pegangnya di tangannya.
Ternyata ular kering itu telah mengeras dan dingin sekali.
Para pengemis bersorak.
"Nanti dulu, sahabat sahabat sekalian. Sesungguhnya, Sam lojin tadi terlalu sembrono dan gegabah memilih siauwte sebagai ketua. Siauwte tidak mengerti apa apa dan kalian hanya akan menemukan kekecewaan belaka kalau memilih siauwte sebagai pangcu. Oleh karena itu, harap kalian sudi menerima kembali tongkat keramat ini dan biarkan siauwte pergi."
Akan tetapi, alangkah kaget hati pemuda itu ketika melihat akibat dari ucapannya ini. Semua mata memandangnya dengan marah sekali.
"Dia menghina tongkat keramat kita."
"Apakah maksud cu wi? Siauwte sama sekali tidak menghina tongkat ini!"
"Tidak menghina? Kau sudah menerima pengangkatan pangcu, sudah sembahyang di depan arwah mendiang pangcu kami, sekarang setelah tongkat keramat berada di tanganmu, kau hendak memberikan itu kepada kami? Itu penghinaan namanya!"
Kata seorang pengemis tua.
"Kalau dia kukuh menolak, pukul saja dia sampai tewas dengan tongkat keramat kita!"
Teriak pengemis pengemis muda dan melangkah maju dengan sikap mengancam.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, pada saat Lim Pun Hui terancam bahaya dan ia menghadapi dengan sabar dan tenang, datanglah Siauw Yang di hutan itu.
Siauw Yang benar benar merasa kagum melihat Pun Hui.
Jelaslah bahwa pemuda itu adalah seorang yang tidak mengerti ilmu silat, namun pemuda itu menghadapi para pengemis yang hendak mengeroyok dan membunuhnya dengan bibir tersenyum tenang dan sepasang mata tak pernah berkedip sama sekali tidak kelihatan takut takut.
"Cu wi sekalian benar benar tidak adil dan tidak mau berpikir secara luas. Kalian memaksa orang menjadi pangcu, aturan manakah ini? Kalau siauwte menerima dan memaksa diri manjadi pangcu, kebaikan apakah yang dapat siauwte lakukan? Tentu hanya akan membikin kacau keadaan dan perkumpulan cu wi takkan dapat maju. Oleh karena itu, kalau cu wi memaksa dan hendak membunuh, nah, ini tongkat keramatnya, bunuhlah. Matinya seorang seperti siauwte takkan berarti apa apa bagi dunia."
Seorang pengemis muda mengulur tangan hendak merampas tongkat itu dari tangan Pun Hui, akan tetapi tiba tiba orang ini memekik dan roboh pinggan di depan pemuda itu!
Hal ini membuat semua orang terkejut sekali.
Mereka mengira bahwa pemuda sasterawan ini tentu lihai sekali.
Untuk beberapa lama mereka tertegun dan tak berani bergerak.
Akan tetapi, melihat Pun Hui masih berdiri tegak dan pemuda inipun terheran melihat betapa pengemis muda yang tadi hendak merampas tongkat merah di tangannya tahu tahu terguling, tiga orang pengemis lain, kini yang tua tua dan yang memiliki kepandaian silat lumayan, menubruk maju hendak menangkapnya dan merampas tongkat merahnya.
Mereka menggerakkan tongkat di tangan dan siap menyerang pemuda yang disangkanya memiliki kepandaian tinggi itu.
Pada saat itu, dari atas pohon, melayang turun tubuh Siauw Yang.
Dengan gerakan indah dan cepat yang disebut Burung Walet Menyambar Air, tubuhnya melayang dan benar benar seperti seekor burung walet cepatnya, ia menyambar ke arah tiga orang pengemis yang menyerang Pun Hui.
Terdengar teriakan kesakitan dibarengi seruan seruan kaget ketika tiga batang tongkat merah yang dipakai menyerang Pun Hui itu melayang terlepas dari pegangan dan tubuh tiga orang kekek pengemis itu terlempar dan bergulingan pula.
Kini Siauw Yang telah berdiri bertolak pinggang di depan para pengemis, membelakangi pemuda itu seakan akan menjadi pelidungnya.
"Mengandalkan banyak orang mengeroyok seorang sasterawan yang lemah. Hmm, aturan manakah ini?"
Bentak Siauw Yang sambil tersenyum mengejek Di antara para pengemis itu terdapat seorang pengemis bartubuh tinggi besar bermuka hitam, usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun.
Dia ini terkenal dengan sebutan Hek bin kai (Pengemis Muka Hitam), bukan terkenal karena mukanya yang hitam, akan tetapi lebih terkenal karena ia memiliki ilmu silat tinggi.
Hek bin kai ini adalah murid dari Sam thouw liok ciang kai, yakni pemimpin pengemis yang bertubuh gendut.
Boleh dibilang di antara para anggauta Ang sin tung Kai pang di bawah tiga Sam lojin yang menjadi wakil ketua, kepandaian Hek bin kai ini yang paling tinggi.
Selain ilmu silatnya memang sudah cukup tinggi dengan latihan belasan tahun lamanya, juga Hek bin kai memiliki tenaga besar.
Pernah ia menimbulkan kegemparan di kota Kui cu ketika di sana terdapat seorang hartawan yang terkenal jahat, pelit, dan suka mengganggu anak bini orang mengandalkan kekayaannya dan pengaruhnya karena ia selalu dekat dengan para pembesar tinggi.
Ketika Hek bin kai mendengar tentang hartawan ini, ia lalu datang ke tempat itu, membawa sebuah arca singa yang tadinya berada di depan pintu gerbang rumah gedung hartawan itu, dan meletakkan patung yang beratnya ada seribu kati itu di ambang pintu hartawan tadi.
Ia menuntut uang sedekah sebanyak atau seberat patung itu.
Tentu saja hartawan itu tidak mau memberinya sehingga Hek bin kai lalu mengamuk, merobohkan tiang tiang ruangan dan menghajar para pelayan hartawan itu yang mencoba untuk menyeretnya keluar.
Akhirnya hartawan itu terpaksa membayar delapan ribu tail uang perak kepada Hek bin kai yang lalu menyebar nyebarkan uang itu di sepanjang jalan sehingga para petani dan rakyat miskin menjadi girang bukan main.
Inilah Hek bin kai, pengemis muka hitam yang selain berkepandaian tinggi dan bertenaga besar seperti gajah, juga memiliki watak yang jujur, kasar, terus terang bicaranya tanpa tedeng aling aling lagi, akan tatapi juga keras kepala dan tidak mau mengaku kalah.
Ketika tadi ia melihat Pun Hui akan dikeroyok ia diam saja karena mana mau ia turun tangan terhadap seorang sasterawan lemah?
Ia tidak begitu perduli tentang peraturan perkumpulannya dan membiarkan saja kawan kawannya yang mengatur urusan dengan pemuda lemah itu.
Akan tetapi ketika melihat kawan kawannya roboh dan melihat di sana tiba tiba muncul seorang gadis cantik dan gagah sekali, tergeraklah hatinya dan perutnya mulai terasa panas.
Kawan kawannya roboh oleh seorang wanita muda yang melindungi sasterawan muda yang hendak menghina perkumpulannya, bagaimana ia tinggal diam saja sedangkan hal itu terjadi di depan hidungnya?
Hek bin kai menggunakan kedua lengannya mendorong kawan kawannya ke kanan kiri sambil berkata.
"Biarkan aku menghadapi mereka!"
Biarpun ia hanya bermaksud mendorong ke kanan kiri para kawannya itu agar mereka minggir dan tidak menghalanginya memasuki lingkaran itu, namun beberapa orang kawannya yang terdorong itu terlempar ke kanan kiri seperti batang padi tertiup angin keras.
"Perempuan liar dari mana dan siapakah kau begitu berani menghina kami anggauta anggauta Ang sin tung kai?"
Suara Hek bin kai memang keras dan parau menyakitkan telinga, apalagi dipergunakan untuk mengeluarkan kata kata yang kasar.
Merahlah wajah Siauw Yang.
Namun gadis ini tidak puas kalau tidak membalas ucapan yang menghina dan memandang rendah ini, maka sambil tersenyum senyum mengejek ia berkata.
"Hek gu (Kerbau hitam), apakah kau yang menjadi kepala dari segerombolan anjing kelaparan ini? Kau bilang aku berani menghina kawan kawanmu, sebalik nya kau diam saja tidak menyatakan sesuatu ketika kawan kawanmu menghina dan mengeroyok seorang siucai seperti dia ini !"
Ia menunjuk ke arah pemuda itu sambil memutar tubuh nya, dan pada saat itu, barulah Siauw Yang dapat melihat pemuda itu dengan jelas.
Juga Pun Hui baru sekarang setelah Siauw Yang memutar tubuhnya, dapat melihat wajah gadis gagah yang menolongnya ini.
Seakan akan ada sesuatu yang pecah di dalam jatung masing masing, yang membuat pipi mereka menjadi merah dan yang membuat mereka tak sanggup melanjutkan bertemu pandang!
Siauw Yang cepat cepat memutar tubuhnya lagi menghadapi si muka hitam.
"Bocah ingusan! Urusan sasterawan muda ini dengan perkumpulanku, bukanlah urusanmu, mengapa kau turut campur? Apakah dia itu saudaramu, ataukah barangkali tunanganmu, tentu kau jatuh cinta kepadanya maka kau datang datang campur tangan dan menghina kawan kawanku tanpa bertanya dulu sebab sebab keributan ini terjadi!"
Kalau saja Hek bin kai memakinya dan mengeluarkan kata kata kasar yang lain, agaknya Siauw Yang takkan begitu marah karena sekali pandang saja Siauw Yang sudah tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang berangasan, kasar dan jujur.
Akan tetapi karena orang kasar ini menuduhnya melindungi pemuda itu karena ia mencintanya, tersinggunglah perasaan halus kewanitaan dari gadis ini.
Hampir saja ia kehilangan ketenangannya dan akan marah sekali.
Baiknya ia teringat akan nasehat ayah bundanya yang sering kali menekankan kepadanya bahwa dalam menghadapi seorang lawan, pantangan pertama yang terpenting adalah nafsu amarah.
"Kemarahan adalah musuh terbesar dari kewaspadaan dan ketenangan,"
Kata ayahnya berkali kali.
"oleh karena itu hati hatilah, jangan mudah dibakar oleh lawan, kerena orang orang kang ouw yang berpengalaman akan selalu berusaha membangkitkan kemarahan lawannya sebelum bertempur."
Teringat akan nasehat ini, Siauw Yang lalu menekan kemarahannya, lalu tersenyum senyum kepada si muka hitam itu.
"Muka hitam yang buruk rupa. Kita kesampingkan dulu urusan dengan anjing anjing kelaparan ini. Kau merasa bahwa aku menghina dan sebaliknya kata katamu yang kotor telah amat menghinaku. Hal ini hanya dapat diselesaikan dengan adu kepandaian. Apakah kau yang kasar ini masih memiliki keberanian untuk melawanku? Ataukah kata katamu yang kasar itu hanya gertak sambal belaka, akan tetapi sebetulnya hatimu bersifat pengecut besar?"
"Bocah lancang, kau mencari penyakit sendiri. Kau belum mengenal kelihaian Hek bin kai, majulah!"
"Hek bin gu (Kerbau Muka hitam), perlihatkan kepandaianmu!"
Kata Siauw Yang sambil tertawa mengejek.
Sementara itu, para pengemis lalu sengaja mundur untuk memberi lapangan kepada dua orang yang hendak mengadu kepandaian ini.
Mereka tadi telah menyaksikan kelihaian Siauw Yang sehingga banyak diantara mereka menjadi jerih.
Akan tetapi mereka lebih percaya akan kelihaian Hek bin kai yang akan membalaskan hinaan yang dilakukan oleh dara cantik itu.
Adapun Pun Hui ketika melihat betapa gadis muda itu hendak bertanding melawan Hek bin kai yang kelihatannya begitu kuat dan ganas, menjadi khawatir sekali.
"Lihiap (nona pendekar), harap kau jangan layani mereka itu, hanya untuk membelaku. Pergilah jangan mencampuri urusan ini sebelum terlambat,"
Katanya. Mendengar ini, Siauw Yang makin merah mukanya.
"Siapa membelamu? Aku hanya tidak suka melihat anjing anjing ini main jago jagoan dan hendak merajalela, seakan akan tak ada orang lain berani menentang mereka. Hayo, muka hitam pengecut kau majulah!"
"Awas pukulan!"
Seru Hek bin kai dan ia menubruk maju sambil mengayun pukulan tangan kanannya ke arah muka nona itu yang berdiri sembarangan saja.
Melihat gerak pukulan tangan kanan sambil memperhatikan kedudukan kaki dan tangan kiri lawan, tahulah Siauw Yang bahwa pukulan tangan kanan itu hanya pancingan belaka, ia pura pura mengelak, akan tetapi sebetulnya ia memperhatikan serangan susulan yang pasti akan tiba.
Benar saja dugaannya, karena Hek bin kai cepat sekali menarik kembali tangan kanannya yang memukul tadi, dan kini secepat kilat ia majukan sebelah kaki dan tangan kirinya terulur maju, memukul ke arah lambung lawannya.
Inilah serangan yang disebut Pai in jut sui (Dorong Awan Keluar Puncak) yang dilakukan dengan tenaga sepenuhnya.
Siauw Yang melihat gerakan lawan dan merasai sambaran angin pukulan, maklum bahwa lawannya ini hanya memiliki tenaga besar dan kecepatan yang dipaksakan, maka ia memandang ringan.
Sebetulnya pukulan Pai in jut sui itu dilakunkan dengan pukulan ke arah dada.
Kini dengan sengaja si muka hitam memukul agak ke bawah dan mengarah lambungnya menandakan bahwa si kasar ini masih mempunyai kesopanan dan merasa malu untuk memukul dada lawannya, karena lawannya seorang wanita.
Mengingat ini, diam diam Siauw Yang merasa kasihan kepada si muka hitam dan gelora hatinya yang tadi agak mereda, ia tidak jadi berniat membunuh lawannya, hanya ingin mempermainkannya belaka.
Dengan gerakan kaki Tut po lian hoan (Menggerakkan Kaki Melangkah Mundur Secara Berantai) Siauw Yang dapat mengelakkan diri dengan mudah sekali dari setiap pukulan yang menyambar ke arahnya.
Hek hin kai penasaran sekali melihat betapa lawannya yang masih muda itu mengelak dengan gerakan seperti orang menari saja.
Demikian lemas, lincah dan mudah gadis itu membuat setiap serangannya mengenai angin.
Semua pengemis, terutama sekali yang ilmu silatnya sudah lumayan, mengeluarkan seruan memuji ketika menyaksikan betapa gadis itu gesit sekali gerakannya.
Adapun Pun Hui juga memuji gadis itu karena ia melihat gadis itu seperti sedang menari nari dengan gerakan amat Indah.
Diam diam ia memperhatikan gadis ini dan ia harus akui bahwa gadis itu selain gagah, juga cantik jelita sekali, ia teringat akan Siang Cu, gadis gagah yang dulu menolongnya dari korban bajak laut dan diam diam ia membandingkan kegagahan kedua orang gadis ini.
Siang Cu gagah dan berani, juga cantik sekali Demikian pula gadis ini, bahkan dalam pandangannya, masih lebih cantik menarik daripada Siang Cu.
Tentang kepandaian silatnya, ia tidak dapat mengetahui siapa yang lebih tinggi, hanya agaknya perbedaan yang menyolok sekali adalah dalam watak mereka.
Biarpun baru bertemu satu kali, Pun Hui dapat melihat betapa Siang Cu berwatak keras dan galak, sedangkan gadis pembelanya ini adalah seorang dengan watak lincah dan lucu.
Siauw Yang memang sengaja mempermainkan dan hendak menguji sampai di mana tingginya kepandaian lawannya si muka hitam itu.
Oleh karena itu, gadis itu tidak mengeluarkan ilmu silatnya yang paling lihai, sebaliknya melayani lawannya dengan Ilmu Silat Thai lek kim kong jiu pada bagian Bian kua (Ilmu Silat Tangan Kapas).
Dengan ilmu silat ini, setiap kali ia mendorong dan menyampok pukulan lawannya, Hek bin kai hanya merasa betapa pukulannya itu tergeser dan menyeleweng dan ia merasa tangannya bertemu dengan sesuatu yang empuk seperti kapas, namun yang mengandung tenaga aneh.
Makin lama ia menjadi makin marah dan penasaran.
Apalagi ketika Siauw Yang mulai membalas serangannya, bukan dengan memukul atau menendangnya roboh, melainkan hanya menowel dan menampar bagian bagian sambungan pundak, sambungan siku, atau pergelangan tangannya yang mendatangkan rasa sakit seperti ditusuk tusuk jarum.
"Kerbau muka hitam, apakah kau belum mengaku kalah??"
Seru Siauw Yang.
Gadis ini yang hendak mentaati pesan ayahnya bahwa ia tidak boleh menanam bibit permusuhan dengan orang orang kang ouw terutama sekali dengan golongan pengemis, tidak mau menjatuhkan tangan kejam.
"Bocah sombong! Hek bin kai hanya mengaku kalah kalau ia sudah roboh tak dapat bangun kembali !"
Seru si muka hitam yang memang wataknya tidak mau kalah, apalagi terhadap seorang gadis muda seperti ini, ia merasa amat malu kalau harus mengaku kalah.
Padahal ia sudah tahu bahwa gadis ini memiliki kepandaian yang luar biasa lihainya.
Menghadapi kebandelan Hek bin kai, Siauw Yang menjadi gemas juga.
Ketika si muka hitam itu menubruk maju, Siauw Yang lalu mulai mengeluarkan kepandaiannya dan tiba tiba saja ia lenyap dari depan Hek bin kai.
Si muka hitam terkejut sekali, karena ia hanya melihat bayangan berkelebat di pinggirnya.
Ia memutar tubuh sambil mengayun kaki dan menendang.
Benar saja dugaannya, dengan gerakan ginkang yang luar biasa Siauw Yang tadi bukannya menghilang, melainkan melompat dan berada di belakang lawannya.
Kini menghadapi tendangan Hek bin kai yang memutar tubuhnya, jadi tendangan ngawur saja tanpa mengetahui di mana kedudukan lawan, Siauw Yang mengulur tandannya dan secepat kilat dengan gerakan Ciang to thian bun (Telapak Tangan Menyangga Pintu Langit), ia menangkap pergelangan kaki dari bawah dan sambil meminjam tenaga tendangan yang keras sekali itu, ia mengerahkan tenaga lweekang mendorong ke atas dan....
tubuh Hek bin kai mencelat ke atas, tinggi sekali dan jatuh di tengah tengah pohon besar yang tumbuh tak jauh dari tempat pertandingan itu.
Hanya terdengar suara Hek bin kai berteriak saking kagetnya dan tahu tahu daun daun pohon bergoyang ketika tubuh itu menyangsang di antara ranting ranting dan daun daun.
Di dekat puncak pohon yang tinggi itu, Hek bin kai dengan kedua tangannya memegangi cabang dan tubuhnya bergoyang goyang karena cabang itu terlalu kecil untuk dapat menahan tubuhnya.
Celakanya, biarpun ia telah mempunyai kepandaian tinggi, namun Hek bin kai paling anti tempat tinggi.
Hatinya berdebar ketakutan dan semangatnya melayang ketika ia memandang ke bawah, tubuhnya gemetar.
"Kawan kawan, tolonglah aku turun...."
Katanya tanpa malu malu lagi.
Kemudian ia teringat betapa keadaannya itu benar benar amat memalukan dan merendahkan namanya maka ia lalu berseru kepada Siauw Yang yang masih berdiri di bawah pohon sambil bertolak pinggang.
"Bocah curang, tunggulah sampai aku turun. Tongkatku pasti akan dapat membikin benjut kepalamu dan kau akan minta minta ampun kepadaku."
Siauw Yang tertawa geli dan berkata.
"Eh, kerbau hitam kau sekarang lebih cocok kalau disebut lutung hitam."
Sekalian pengemis, ketika melihat betapa Hek bin kai tak dapat turun, lalu sibuk mencoba untuk menolongnya.
Beberapa orang telah mulai memanjat pohon itu, akan tetapi setelah dua orang tiba di dekat cabang di mana Hek bin kai bergantungan, cabang itu menjadi makin bergoyang goyang keras dan hampir patah.
"Berhenti! Berhenti... kalau tidak patahlah cabang ini!"
Teriak Hek bin kai ketakutan.
Melihat ini, Pun Hui tak dapat menahan gali hatinya, namun ia merasa khawatir kalau kalau si muka hitam itu jatuh ke bawah dan mati.
Maka ia lalu berkata kepada Siauw Yang dengan penuh kepercayaan akan kepandaian gadis itu yang sudah disaksikannya sendiri.
"Lihiap, kau dapat melontarkannya ke atas, tentu dapat menurunkannya kembali. Tolonglah dia sebelum cabang itu patah. Kalau ia mati karenanya, akulah yang merasa berdosa karena itu tolonglah, lihiap !"
Siauw Yang tertegun.
Tak disangkanya bahwa pemuda ini demikian luhur budinya, memohon pertolongan untuk pengemis yang tadinya hendak membunuhnya.
Ia memandang dan dalam pandangan sekilas ini, keduanya dapat melihat kekaguman terbayang dalam pandang mata masing masing.
Siauw Yang tidak menjawab permohonan ini, akan tetapi ia lalu berdongak keatas dan berkata.
"Eh, lutung hitam. Kau mau turun? Nah, turunlah !"
Tiba tiba tubuh gadis ini berkelebat dan melayang ke atas dengan pedangnya tercabut di tangan kanan.
Sekali ia mengayun pedang ke arah cabang pohon yang digantungi tubuh Hek bin kai, terdengar suara hiruk pikuk.
suara ini adalah suara patahnya cabang pohon, gemerisiknya daun daun terlanggar oleh cabang dan tubuh Kek bin kai dan seruan kaget dari para pengemis.
Juga Pun Hui berseru.
"Celaka...!"
Akan tetapi, sebelum tubuh tinggi besar itu jatuh berdebuk di atas tanah dengan bahaya kepala pecah, tiba tiba ia merasa lehernya tercekik dan kedua kakinya menyentuh tanah dengan lambat dan ringan.
Ia selamat dan ternyata bahwa leher bajunya telah disambar oleh Siauw Yang sehingga leher bajunya itu mencekik lehernya namun ia terbebas duri cengkeraman maut.
"Hebat!"
Seru para pengemis melihat betapa tadi setelah membabat cabang pohon, gadis itu melayang turun menyusul cabang yang membawa tubuh Hek bin kai, kemudian bagaikan seekor garuda menyambar kelinci, ia telah dapat menangkap leher baju si muka hitam itu.
Muka Hek bin kai yang sudah hitam itu, kini menjadi makin hitam karena darah mengalir naik ke arah mukanya, ia merasa malu, marah dan mendongkol sekali.
Saking marahnya dan malunya, ia tidak dapat berkata kata lagi, hanya serentak ia mengambil tongkat merahnya dari atas tanah dan berseru keras kepada Siauw Yang.
"Bocah sombong, cabut pedangmu dan mari kita bertempur mengadu kepandaian. Jangan takut, aku takkan membinasakanmu, hanya ingin memperkenalkan ilmu tongkat kami !"
Tentu saja kata kata ini hanya terdorong oleh kekerasan kepala dan sifat yang tidak mau kalah.
Bagaimana ia bicara besar kalau tadi sudah terang terangan ia tak dapat melawan gadis lihai itu?
"Orang tak tahu diri, kau masih belum kapok?
Baiklah, sekali ini nonamu akan memberimu tahu rasa.
Majulah, jangan kira aku takut menghadapi tongkatmu itu.
Karena aku masih kasihan melihat kedogolanmu, maka tak perlu pedangku ikut bekerja."
"Kau mau menghadapiku dengan tangan kosong?"
Hek bin kai melebarkan matanya dan mengangkat alisnya, benar benar ia merasa heran atas keberanian gadis ini.
Jarang sekali ada orang kang ouw yang berani menghadapinya kalau ia sudah memegang tongkatnya, apalagi dengan tangan kosong seperti yang sekarang dilakukan oleh gadis muda itu.
Siauw Yang menjadi habis sabar.
"Monyet hitam, sudahlah jangan banyak cakap. Kalau dalam sepuluh jurus aku tidak mampu merampas tongkatmu, aku terima kalah!"
"Betul betulkah?"
Hek bin kai marah bukan main dan perutnya terasa panas.
"Nah, awaslah!"
Ia mulai menyerang dengan tongkatnya, ditusukkan ke arah leher Siauw Yang dengan gerak tipu Ang hong kan cu (Naga Merah Mengejar Mustika).
Gerak tipu ini selain amat cepat dan lihai, juga berbahaya sekali karena dilanjutkan dengan serangan ujung tongkat yang membayangi tubuh lawan dan selalu mengarah jalan darah.
Akan tetapi, dasar ginkang dari si muka hitam kalah jauh oleh Siauw Yang dan dasar ilmu silatnya memang kalah tinggi tingkatnya, maka sekali saja miringkan tubuh dan menggerakkan kedua tangan, Siauw Yang telah dapat mengelak dan berbareng tangan kirinya menotok ulu hati dan tangan kanannya merampas tongkat.
-oo0dw0ooo-
Jilid 20 HEK BIN KAI terkejut sekati karena tiba-tiba saja dengan gerakan yang tak dapat ia ikuti dengan pandangan mata, ulu hatinya hampir "termakan"
Tusukan jari tangan lawan.
Cepat ia menangkis, akan tetapi sebelum ia mengerahui dengan jelas bagaimana terjadinya, tahu-tahu tongkatnya telah terlepas dan pegangan dan berada di tangan Siauw Yang yang berdiri sambil memandangnya tertawa-tawa.
Siauw Yang merasa cukup memperlihatkan kepandaiannya dan kini ia merasa yakin bahwa tentu si muka hitam sudah percaya akan kelihaiannya dan sudah mau tunduk, maka tanpa banyak cakap, ia mengembalikan tongkat itu kepada pemiliknya.
Hek-bin-kai menerima kembali tongkatnya, akan tetapi di luar dugaan Siauw Yang, karena tiba-tiba Hek-bin-kai setelah menarik kembali tongkatnya, tiada terduga-duga melakukan serangan yang hebat sekali kepada Siauw Yang.
Kali ini ia menyerang dengan gerak tipu yang disebut Lut kong poa-thian-te (Malaikat Geledek Menyambar Langit-Bumi) Tongkat merahnya menyambar gesit dari kanan dan kiri ke arah kepala Siauw Yang dan kemudian diteruskan dengan sambaran dari kiri ke kanan ke arah kedua kaki nona itu.
Serangan ini, biarpun sambaran pertama dapat, dielakkan, belum tentu lawan akan dapat menghindarkan diri dari gambaran ke dua yang datangnya tak terduga-duga Namun Siauw Yang adalah puteri terkasih dari Thian-te Klam-ong yang berkepandaian tinggi bahkan ibunya juga seorang ahli silat murid orang sakti, maka tentu saja ia tahu akan sifat serangan lawannya ini.
Ketika sambaran pertama tiba, ia sengaja rrengelak untuk memberi kesempatan kepada lawannya melanjutkan sambaran ka dua, yakni ke arah kakinya, akan tetapi ia mendahului tongkat itu dan sebelum tongkat bergerak menyambar kaki, ia telah mengangkat kakinya dan dengan gerakan luar biasa cepatnya, ia telah menginjak tongkat itu ke atas tanah!
Hek-bin-kai amat terkejut dan sekuat tenaga ia membetot tongkatnya dengan maksud melepaskan senjatanya itu dari injakan Siauw Yang.
Akan tetapi nona Itu telah mempergunakan tenaga Iwee-kang dan tongkat itu seakan akan berakar di tanah tak mungkin tercabut kembali.
Sebelum Hek-bin-kai dapat mengelak.
Jari tangan aona Itu cepat sekali mengirim pukulan dengan ilmu liam hwat, Terkena totokan jalan darahnya bagian seng sin hiat, tiba tiba tubuh Hek bin kai menjadi kaku seperti patung batu la masih memegangi tongkatnya dengan kedua tangan dalam sikap membetot, sehingga dilihat oleh orang lain, ia seperti sebuah patung de batu wi yang lucu sekali Mulutnya masih terbuka ketika tadi melepaskan napas saking lelahnya dan kini mulut itupun masib tetap terbuka.
Siauw Yang melompat mundur sambil tertawa "Nah, demikianlah hukuman seorang lancang mulut.
Masih adakah di antara kalian yang mau kurang ajar dan musih ada pulakah niat kalian untuk membunuh siucai (pelajar) ini?"
Kini semua pengemis maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis pendekar yang tinggi kepandaianpya, maka tak seorangpun berani bergerak Bahkan beberapa orang, pengemis tua yang juga memiliki kepandaian lumayan dan maklum bahwa Hek-bin-kai telah kena ditotok, segera melangkah maju dan seorang di antaranya berkata.
"Mohon lihiap sudi memaafkan kami dan terutama sekali memaafkan kelancangan Hek-bin-kal, saudara kami itu. Harap lihiap suka membebaskannya dari keadaannya itu. Kelak kalau Sam lojin datang, kami akan membuat laporan selengkapnya dan tentu Sum lojin akan menghaturkan terima kasih kepada lihiap"
Melihat sikap para pengemis ini, Siau Yang tidak mau bersikap keras lagi.
Akan tetapi ia masih mendongkol kalau teringat betapa berkait-kali Hek-bin-kai membandel, bahkan menyerangnya secara kasar dan tiba-tiba.
"Aku juga bukan datang untuk mencari permusuhan dengan kalian, karenanya akupun tidak mau menumpahkan darah. Akan tetapi kawanmu si muka hitam ini benar-benar jahat dan kurung ajar. Terhadapku saja ia berani bersikap seperti tadi, apalagi terhadap orang orang yang lebih lemah Karenanya ia perlu diberi pelajaran."
Sambil berkata demikian, cepat kedua tangan gadis itu bergerak ke arah tubuh Hek bin-kai yang masih berdiri seperti patung.
Jari tangan kirinya membebaskan totokan seng-sin-hiat tadi, akan tetapi jari tangan kanannya menyusul cepat, menotok ke arah jalan darah siauw-jauw-hiat.
Dan akibatnya membuat semua pengemis terlongong longong karena tiba-tiba saja tubuh yang tinggi besar dari Hek-bin-kai itu dapat bergerak, akan tetapi gerakan pertama adalah menekan perut dan kemudian terdengar suaranya ketawa terbahak-bahak.
Suara ketawa amat mempengaruhi orang lain dan boleh dibilang menyerupai penyakit menular yang keras sekali.
Mendengar suara ketawa yang demikian wajar dan keras seakan-akan Hek-bin kai tiba tiba menjadi kegirangan atau amal geli memikirkan sesuatu yang lucu, beberapa orang pengemis ikut pula tertawa bergelak.
Bahkan Pun Hui sendiri ketika mendengar Hek-bin kai tertawa terbahak-bahak dan diikuti pula oleh beberapa orang pengemis sehingga suasana seakan akan berada dalam pesta yang menggembirakan iapun ikut tertawa.
Hanya orang orang tua yang tadi mintakan ampun, mengerti bahwa suara ketawa dari Hek bin kai itu bukanlah ketawa sewajarnya, melainkan ketawa terpaksa karena jalan darahnya terpengaruh oleh totokan yang luar biasa lihainya.
Mereka cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut menghadapi Siauw Yang dan berkata dengan suara memohon.
"Harap lihiap sudi mengampuni Hek-bin-kai. Kami akan menjaga agar lain kali Hek-bin-kai tidak akan berlaku kasar dan kurang ajar kepada lain orang lagi."
"Dia tidak pernah tertawa secara terbuka, selalu ketawanya mentertawakan orang dan menyombongkan kepandaian, maka biarkan ia tertawa sepuasnya dan belajar tertawa dengan gembira."
Mendengar percakapan ini barulah semua pengemis yang tadi ikut tertawa, menghentikan suara ketawa mereka, demikian pula Pun Hui.
Semua orang memandang kepada Hek bin-kai yang masih tertawa terpingkal pingkal sambil memegangi perutnya dengan hati masih merasa geli melihat hal yang lucu ini, akan tetapi dengan pandang mata kasihan.
Mereka beramai-ramai lalu berlutut.
"Ampun, lihiap, ampun........."
Meteka ikut memohon. Tiba tiba Pun Hui berlari menghadapi Siauw Yang dan dengan muka merah ia berkata.
"Lihiap, kau masih begini muda dan lihai, akan tetapi kau kejam dan suka main-main seperti anak kecil saja. Hayo lekat sembuhkan dia"
Mendengar Ini, Siauw Yang mengaggukkan kepalanya dan mukanya lebih merah daripada muka Pun Hui.
"Kau Ini pemuda lemah, masih hendak memberi teguran kepadaku? Kalau aku tidak keburu datang, agaknya kau akan tinggal nama saja."
"Lebih baik meninggalkan nama bersih daripada hidup dengan nama kotor,"
Jawab Pun Hui angkuh.
"Lagi pula nama Liem Pun Hui tidak ada artinya, siapa perduli, baik aku mau atau hidup? Akan tetapi melihat kau menyiksa orang hanya karena urusanku benar benar membikin aku mati penasaran."
Biasanya, Siauw Yang mempunyai watak yang sukar ditundukkan, baik oleh ayah bundanya maupun oleh kakaknya sendiri.
Akan tetapi, kini mendengar teguran seorang pemuda sasterawan yang remah, entah bagaimana, ia merasa malu kepada diri sendiri dan tak terasa pula matanya membasah, ia merasa jengkel terhadap pemuda ini, namun diam-diam ta harus mengakui kebenaran kata-katanya.
Tanpa banyak cakap lagi, ia lalu menghampiri Hek-bin kai Akan tetapi pada saat itu, berkelebat tiga bayangan orang dan seorang di antara tiga.
orang yang datang itu, melompat ke dekat Hek -binkau yang masih tertawa-tawa dan dengan sekali tendang, tubuh si muka hitam itu terlempar dan roboh, akan tetapi ia tidak tertawa lagi, hanya memandang ke arah Siauw Yang densan mata terbuka tebar dan memandang mata penuh kekaguman dan menyerah.
Yang menolongnya adalah Bi-si-tung Thio Leng Li, sedangkan yang dua orang lagi adalah dua orang kawannya.
Ketiga Sam lojin dan Ang-sin tung Kai-pang telah datang kembali Mereka kini memandang kepada Siauw Yang dengan mata bersinar marah.
Bagaimanakah tiga orang yang tadinya sudah pergi hendak mencari musuh besar, yakni kakek berkaki buntung, kini tiba-tiba bisa muncul di situ?
Mengapa mereka kembali ke tempat ini?
Seperti diketahui, Sam-lojin (Tiga Orang Tua) ini melakukan perjalanan cepat keluar dari hutan itu.
Akan tetapi baru saja mereka tiba di luar hutan, tiba-tiba terdengar suara keras dan nyaring yang datangnya dari tempat jauh.
"Kalian bertiga mengapa meninggalkan perkumpulan?"
Mendengar suara ini, Bu-beng Sin-kai si pengemis tinggi kurus dan Sam-thouw-liok-ciang kai si pengemis gendut, cepat menjatuhkan diri dengan muka pucat sekali.
"Lo-pangcu.......* kata mereka setengah berbisik.
"Ayah..."
Thio Leng Li juga berkata dan gadis ini berdiri seperti patung, kedua matanva segera mengucurkan air mata.
Hampir saja ia tidak percaya kepada kedua telinganya sendiri.
Apakah ayahnya yang sudah meninggal dunia itu mengirim suaranya dari alam baka?
Tak mungkin!
Tak salah lagi, pasti ayahnya masih hidup.
"Ayah......."
Teriaknya sambil mengerahkan tenaga khikang, karena ia maklum bahwa pada saat itu, kalau benar masih hidup, ayahnya berada di tempat jauh dan tadi mengirim suaranya dengan pengerahan tenaga khikang yakni dengan penggunaan Ilmu Coan-im-jip-bit.
"Kau orang tua benar-benarkah masih hidup? Anakmu mendengar bahwa ayah telah tewas! Ayah di manakah kau, ayah?"
Hening sesaat, kemudian terdengar suara ketawa yang tinggal dari jauh.
Yakin lah kim Leng 1i bahwa memang yang tertawa itu adalah ayah-nya, maka berserilah wajahnya yang semenjak tadi muram dan berduka.
Ayahnya masih hidup "Ha.
ha, ha, Leng Li Agaknya kau telah menemukan tongkatku yang hanyut di sungai.
Kumpulkan kawan-kawan, bersiaplah karena tak lama lagi ayahmu akan datang"
"Baik ayah!"
Jawab Leng U dengan suara girang sekali dan dengan bergembira ria, tiga orang tokoh perkumpulan pengemis ini lalu cepat cepat berlari kembali ke dalam hutan untuk menyampaikan warta menggembirakan ini kepada para anggauta.
Demikianlah, maka mereka tiba di saat yang tepat sekali, yakni ketika Siauw Yang tengah memberi hajaran kepada Hek-bin-kai.
Tentu saja, biarpun belum mengetahui persoalannya, tiga orang ini merasa penasaran dan tidak tenang sekali melihat seorang nona muda mempermainkan Hek bin-kai.
"Sam-lojin datang......."
Para pengemis itu Serentak berseru dan memberi hormat.
Sementara itu, mendengar seruan ini, Siauw Yang memandang dengan penuh perhatian.
Melihat cara nona yang datang itu membebaakan Hek-bin-kai dari totokan, kaget jugalah dia dan maklum babwa nona itu tentu memiliki kepandaian tinggi, demikian pula dua orang kakek pengemis yang datang dengan gerakan demikian gesitnya.
Gerakan menendang dari nona tadi membuktikan bahwa nona ini telah mahir mempergunakan Iimu Tendangan Liong cu twi-hwat yang amat sukar.
Tendangan ini adalah tendangan khusus yang ditujukan kepada jalan darah di anggota tubuh lawan dan untuk memiliki kepandaian ini, orang harus memiliki kepandaian yang sudah tinggi tingkatnya.
Kemudian, melihat pandang mata tiga orang itu kepadanva, Siauw Yang dapat menduga bahwa ia telah menimbulkan marah kepada mereka bertiga.
Ia tidak menghendaki permusuhan dengan perkumpulan yang ternyata dipimpin oleh orang orang pandai ini, namun sebagai orang muda yang bersemangat gagah Siauw Yang sama sekali tidak takut.
"Sam-wi tentu menganggap bahwa aku datang sebagai seorang pengacau,"
Ia mendahului mereka sambil menjura.
"akan tetapi sesungguhnya, anak buahmulah yang berlaku tidak benar setelah sam wi tidak berada di sini."
"Benar atau salah dapat diputuskan setelah kami mendengar duduknya perkara,"
Kata Bu-beng Sin kai singkat, kemudian kakek pengemis jangkung kurus ini bertanya kepada Hek-bin-kai.
"Hek-bin-kai (si Muka Hitam), mengapa kau sampai terlibat dalam pertempuran dengan nona ini? Apakah lagi lagi kau telah mengumbar nafsu dan kekasaranmu ?"
Menghadapi suhunya, Hek-bin kai hilang keberaniannya, ia lalu berlutut dan berkata.
"Suhu, mohon ampun kalau tecu telah melakukan pelanggaran. Sesungguhnya, tadi kawan-kawan sudah siap menghajar ketua baru karena ketua baru itu hendak mengembalikan tongkat keramat yang berarti penghinaan bagi perkumpulan kita. Akan tetapi sebelum kami turun tangan, datanglah nona ini yang mengandalkan kepandaiannya mencampuri urusan kita dan merobohkan beberapa orang kawan. Teecu tentu saja tak tinggal diam dan mengajaknya mengadu kepandaian, akan tetapi...... tecu terlau bodoh sehingga dapat dikalahkan"
Bu-beng Sin-kai menghadapi Siauw Yang. Sikapnya halus, akan tetapi pandang matanya menyatakan ketidaksenangan hatinya.
"Nona muridku yang bodoh telah memberi keterangan tantang keributan-d ini. Namun kami masih menanti keterangan dari fihakmu karena kami tidak biaaa berlaku berat sebelah"
Sebetulnya Siauw Yang meraba mendongkol sekali.
Harus ia akui bahwa-e keterangan dari Hek-bin-kai itu memang tidak dusta.
Yang membuat ia mendongkol adalah sikap tiga orang yang disebut Sam lojin ini, karena seakan-akan memandang-w rendah kepadanya dan menganggap dia sebagai seorang terdakwa di depan pengadilan.
Timbul keangkuhannya dan-i timbul pula keinginannya untuk mencoba kepandaian tiga orang ini, terutama sekali kepandaian nona itu yang nampaknya pendiam dan kini memandangnya dengan sikap kereng.
Ia menaksir usia nona itu sebaya dengannya, dan kecantikan nona itu harus ia akui terutama kesederhanaannya yang membuat kecantikannya nampak lebih wajar lagi..
Yang paling menarik hati Siauw Yang adalah cara nona itu menggelung rambutnya yang hitam panjang.
Itulah gelung model utara dan ia ingin sekali mempelajari cara menggelung rambut seperti itu.
"Orang tua"
Katanya kepada Bu beng Sin kai sambil tersenyum manis.
"jadi kau hendak mendengar keterangan dariku? Aku merasa seakan akan menjadi seorang terdakwa di depan hakim. Baiklah, namun sebelum aku mengakui dosa-dosa ku, aku harus tahu lebih dulu siapa-siapakah sebenarnya tiga orang hakim yang hendak memberi pengadilan kepadaku.?"
Mendengar kelancaran bicara nona muda yang cantik ini, Bu-beng Sin kai dapat menduga bahwa nona ini tentulah seorang kang-ouw, murid orang pandai.
Maka iapun tidak mau berlaku sembrono sebelum mendengar keterangannya, maka ia menjawab sabar.
"Aku disebut Bu beng Sin-kai, ini suteku disebut Sam thouw-hok ciang kai, dan nona itu adalah Bi-sin-tung Thio Leng Li, puteri dari pangcu (ketua) kami. Kami bertiga mewakili pangcu mengurus perkumpulan kami dan karenanya kami bertiga disebut Sam lojin oleh para anggauta perkumpulan kami. Nah. aku sudah memperkenakan keadaan kami, sekarang giliranmu untuk bicara sejujurnya, karena kamipun bukan orang orang yang suka berlaku sewenang wenang."
Mendengar nama-nama itu, Siauw Yang sama sekali tidak mengacuhkan, akan tetapi ketika ia mendengar bahwa nona itupun termasuk dalam sebutan Sam-lojin, diam-diam ia menjadi geli dan juga kaget.
Kalau demikian, pikirnya, tentu kepandaian nona itu setingkai dengan yang dua ini.
"Namaku Siauw Yang,"
Katanya sederhana tanpa memperkenalkan she nya (nama keturunannya) "Memang apa yang dikatakan oleh si muka hitam itu tidak salah.
Kau tadi menghendaki jawaban jujur maka aku mengaku bahwa memang aku sengaja mencampuri urusan anak buahmu, dan tentu saja aku mengandalkan kepandaianku.
kalau tidak, bagaimana aku bisa mencampurinya?
Memang aku telah merobohkan beberapa orang anggautamu ketika mereka hendak memukul siucai itu, dan kemudian aku mengalahkan muridmu sii muka hitam ini dalam pertandingan yang jujur"
Mendengar jawaban ini, ketiga orang yakni Sam-lojin menjadi merah mukanya.
Sungguhpun mereka bertiga maklum bahwa sebagai seorang kangouw, memang besar kemungkinan gadis itu tak dapat tinggal diam saja melihat seorang siucai dihajar oleh anggauta perkumpulan mereka.
Akan tetapi cara Siauw Yang menyatakan pengakuannya ini sungguh memandang rendah sekali kepada mereka dan terang-terangan gadis cantik itu tidak menyatakan penyesalan maupun maaf.
"Nona, agaknya memang ada kesalahpanaman di antara orang-orang kami dan kau, akan tetapi yang terang adalah fihakmu yang salah karena kau mencampuri urusan lain. Akan tetapi, mengingat bahwa kau masih muda sekali, pelanggaran itu tidak terlalu berat. Asalkan kau suka menyatakan penyesalanmu dan minta maaf kepada kami, akan kami habisi saja urusan ini."
Siauw Yang senang mendengar dan melihat sikap tiga Sam-lojin ini yang dianggapnya cukup cengli ( menurut aturan ), akan tetapi dasar dara ini paling suka mengadu kepandaian silatnya, mana ia mau menghabisi sampai di situ saja?
Siauw Yang ingin sekali mencoba kepandaian Sam-lojin yang nama julukannya serem-serem itu.
Sambil tersenyum ia menjawab.
"Bagiku mudah saja minta maaf kalau aku merasa bersalah Akan tetapi bukan main sukarnya kalau aku merasa tidak bersalah. Sayangnya, Sam-lojin, pada saat ini aku tidak merasa bersalah! Melihat seorang pemuda lemah dikeroyok oleh orang banyak lalu menolong, bagaimana bisa disebut salah?"
Pada saat itu, Pun Hui yang merasa amat khawatir melihat percekeokan itu, segara berlari maju dan berkata.
"Cu-wi sekalian harap sudi saling mengalah. Sebenarnya, siauwtelah yang bersalah dalam hal ini. Harap saja cu-wi sekalian tidak bertempur lagi hanya karena kesalahan siauwte Kalau mau menghukum siauwte, hukum lah"
Melihat pemuda itu masih saja membawa tongkat keramat ayahnya, Leng Li maju hendak merampasnya.
Akan tetapi, Siauw Yang semenjak tadi memang sudah berlaku hati hati dan waspada sekali, maka setiap gerakan fihak lawan telah dilihat dan diawasinya baik-baik.
Kini menyaksikan Leng Li bergerak cepat sambil mengulur tangan hendak merampas tongkat merah yang berada di tangan pemuda itu, ia cepat melompat dan sekali gerakan saja sudah cukup membuat tubuhnya berdiri menghadang di depan-Pun Hui "Kau mau apa?"
Bentak Leng Li sambil memandang tajam.
"Kau sendiri mau apa?"
Siauw Yang balas membentak sambil tersenyum.
"Tongkat yang dibawanya itu adalah tongkat milik ayahku yang harus dipegang oleh setiap orang pangcu dari perkumpulan kami. Sekarang ayah ternyata masih hidup, maka dia harus mengembalikan tongkat itu kepadaku."
"Bagus!"
Pun Hui berkata dengan suara seperti bersorak girang. Wajahnya yang tampan berseri-seri, matanya bersinar-sinar gembira.
"Nona, aku menghaturkan selamat bahwa ternyata arahmu masih hidup. Benar-benar ini merupakan warta yang amat menggirangkan. Nah, dengan senang aku mengembalikan tongkat keramat ini kepadamu dan semenjak saat ini aku bukan pangcu dari Ang-sin-tung Kai-pang lagi!"
Leng Li melihat pemuda itu menjura kepada-nya sebagai penghormatan dan pernyataan selamat, cepat membalas penghormatan dengan menjura pula dan berkata dengan muka merab.
"Terima kasih dan harap kongcu sudi memaafkan kami yang telah banyak membikin capai dan kaget kepada kongcu."
Pun Hui telah mengulur tangannya yang memegang tongkat dan pada saat Leng Li hendak menerimanya tiba-tiba dari samping menyambar tangan lain dan tahu-tahu tongkat itu telah terampas dari tangan Pun Hui dan telah berada di tangan Siauw Yang!
Gadis puteri Thian-te Kiam-ong ini ketika melibat betapa pemuda sasterawan itu dan Bi sin-tung Thio Leng Li bicara manis dan tak memperdulikannya, menjadi amat mendongkol.
Dia merasa disampingkan dan tidak dipandang sebelah mata.
Maka dalam kemendongkolannya ia sengaja merampas tongkat itu mendahului Leng Li "Nanti dulu,"
Katanya dengan gaya angkuh dan mengedikkan kepala membusungkan dada.
"Baik sekait ada tongkat merah yang bagus ini, memang aku sedang mencari sebuah barang yang patut dipertaruhkan. Pihak kalian menganggap aku bersalah karena mencampuri urusan kalian, sedangkan aku sendiri menganggap kalian bersalah karena tidak becus mendidik anak buahmu sehingga mereka berlaku sewenang-wenang. Nah, tongkat ini....."
Sambil berkata demikian, ia menggerak-gerakkan tongkat itu dan ketika terdengar sambaran angin Siauw Yang terkejut sekali dan tanpa disengaja ia berseru "Aduh, bagus sekali tongkat ini!
Senjata yang hebat!"
"Itu adalah tongkat keramat ayah, jangan kau main-main!"
Leng Li membentak sambit menggerakkan tangan hendak merampasnya dari Siauw Yang, Namun dengan lincah sekali Siauw Yang melompat mundur dan melanjutkan kata-katanya.
"Siapa mau merampas tongkat? Aku hanya hendak menggunakan benda ini sebagai sakti". la lalu menancapkan tongkat itu pada sebuah batu besar dan tongkat itu amblas ke dalam batu sampai setengahnya. Semua orang menguji kehebatan tenaga itu dan sebaliknya Siauw Yang memuji kekuatan tongkat keramat itu.
"Aku menantang kepada Sam lojin untuk mengukur kepandaian dan andaikata aku kalah aku bersedia minta maaf atas kelancanganku mencampuri urusan kalian. Akan tetapi sebaliknya, apabila kalian yang kalah, kalian harus minta maaf kepadaku dan kepada siucai itu atas kekurangajaran anak buah kalian Bukankah ini adil sekali? Senjata tongkat ini menjadi saksi!"
"Kau sombong sekali!"
Seru Sam-thouw-liok-ciang-kai yang segera melompat ke hadapan Siauw Yang.
"Cabutlah pedangmu itu, hendak kulihat sampai di mana kepandaian mu maka kau menjadi sesompong ini."
Siauw Yang tersenyum girang. Tercapai juga keinginannya untuk menguji kepandaian sendiri terhadap orang-orang yang agaknya memiliki kepandaian tinggi ini.
"Orang tua, kau yang tadi berjuluk Sam-thouw hok-ciang kai (Pengemis Berkepala Tiga Bertangan Enam)? Hebat sekali! Belum pernah selama hidupku aku menghadap seorang lawan dengan tiga kepala dan enam tangan. Majulah, jangan khawatir tentang pedangku, dia itu takkan mau keluar sebelum anu terdesak betul-betul. Pergunakan tongkatmu dan tak perlu sungkan-sungkan, orang tua"
Sam thouw-hok ciang-kai sudah dapat menduga bahwa gadis ini tentu murid seorang pandai, maka tanpa sungkan-sungkan lagi ia lalu menggerakkan tongkat merahnya, diputar-putarnya di atas kepalanya dan setelah berseru "Awas serangan'"
La menyerang dengan sambaran tongkat pada kepala Siauw Yang.
Berbeda dengan ketika menghadapi Hek-bin-kai tadi, kini Siauw Yang tidak berani main-main.
la tahu bahwa kepandaian lawannya tak boleh dipandang ringan, maka cepat ia mempergunakan ginkangnya dan mengelak bagaikan seekor burung saja ringan dan cepat.
Kakek pengemis gendut itu merasa penasaran dan sekejap mata kemudian tongkatnya telah berputar dan menyambar secara hebat sekali.
Memang si gendut ini hendak lekas-lekas mendesak lawannya agar gadis yang menjadi lawannya ini terpaksa mempergunakan pedang la merasa malu dilawan oleh seorang gadis muda bertangan kosong.
Oleh karena itu, ia mengeluarkan ilmu tongkat ajaran dari ketua perkumpulannya dan mengurung tubuh lawannya dengan gulungan sinar merah dari tongkatnya.
Siauw Yang diam-diam memuji.
Ia melihat permainan tongkat lawannya ini seperti permainan toya dan pengemis gendut itu memegang tongkat dengan kedua tangan.
Gerakannya selain cepat juga amal bertenaga Namun ai tidak mau kalah dan segera memperlihatkan kepandaiannya yang benar-benar hebat.
Mula-mula ia memperlihatkan ginkangnya yang masih jauh lebih tinggi daripada lawannya.
Ketika tongkat menyambar kepalanya, ia miringkan kepala iu dan tongkat melayang lewat di atas kepalanya.
Akan tetapi segera disusul oleh tusukan ujung tongkat di tangan kiri lawan menyerang ke arah pusar.
Siauw Yang mempergunakan ilmu gerakan kaki yang disebut Jiau-pouw-soan, yakni dengan tindakan kaki berputaran dan selalu ia dapat mengelak dari setiap serangan tawan.
Dengan sedikit miringkan tubuhnya saja, ia dapat mengelak dari setiap tusukan, sedikit merendahkan tubuh dapat mengelak dari sambaran tongkat pada kepala dan kedua kakinya yang amat ringan itu mudah saja melompat untuk menghindarkan sabetan atau serampangan ujung tongkat.
Setelah belasan jurus ia memperlihatkan kemahirannya dalam hal ginkang atau ilmu meringankan tubuh, lalu ia merubah gerakannya dan kini gadis itu memperlihatkan tenaga dan kejelian matanya.
Kini ia menghadapi semua serangan tongkat lawan itu dengan Ilmu Silat Kwan Im Sin-pek-to (Kwan lm Menyambut Ratusan Golok), sedangkan kedua kakinya melakukan loncatan loncatan yang sesuai dengan Toa-su siang-hong wi (Kedudukan Empat Penjuru Angin).
Dengan enaknya, gadis itu sambil tersenyum-senyum menghadapi setiap pukulan, tusukan, atau sambaran tongkat lawannya dengan telapak tangan dari telapak kaki saja.
Setiap kali tongkat menyambar, ia mempergunakan telapak tangannya untuk menyambut, dipergunakan sebagai perisai yang lunak dan lemas namun kuatnya luar biasa.
Bukan main terkejutnya hati kakek pengemis gendut itu karena setiap kali tongkatnya bertemu dengan telapak tangan atau kaki gadis lawannya itu, tongkat itu terpental seakan-akan bertemu dengan baja yang keras, padahal terasa oleh tangannya betapa telapak tangan lawannya itu empuk dan lunak sekali.
Hatinya menjadi jerih karena ia maklum bahwa tenaga Iweekang dari nona muda ini tidak kalah oleh suhengnya ataupun oleh nona Leng Li sendiri!
la putar tongkatnya lebih cepat lagi dan kini ia benar-benar berusaha merobah diri menjadi berkepala tiga dan bertangan enam seperti julukannya.
Gerakannya demikian cepat sehingga bagi penglihatan orang yang tidak mengerti ilmu silat, boleh jadi ia akan terlihat berkepala tiga dan berlengan tangan enam pada saat itu.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga, kegesitan dan kepandaiannya ini, Sam-thouw-hok-ciang kai mengharapkan untuk mendesak dan membingungkan lawannya.
Akan terapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba terdengar suara gadis itu tertawa perlahan dan tahu-tahu tubuh lawannya itu lenyap berubah menjadi bayangan yang menyambar nyambar di sekeliling dirinya!
Kakek gendut itu terkejut dan bingung, tongkatnya dipergunakan untuk menghantam bayangan itu, akan tetapi ia seperti seorang yang berlawan dengan bayangan sendiri saja.
Kemanapun tongkatnya menyambar, selalu mengenai angin kosong belaka dan hal ini melelahkannya.
Apalagi Siauw Yang sengaja bergerak mengelilinginya sehingga ia sendiripun harus berputaran yang membuat kepalanya menjadi pening sekali.
"Aku mengaku kalah...... kau lihai sekali.....I"
Akhirnya kakek pengemis yang gendut itu melompat keluar lapangan dengan napas terengah-engah.
Ketika ia memandang ke arah tongkatnya, karena ketika hendak melompat tadi ia merasa tongkatnya tergetar hebat, ia menjadi pucat melibat ujung tongkatoya itu telah remuk "Hebat......hebat"
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memandang kepada Siauw Yang yang berdiri sambil tersenyum saja dengan pandang mata kagum sekali.
Bu-beng Sin kai melangkah maju menghadapi Siauw Yang dan menjura "Melihat cara nona ita menghadapi suteku, sudah dapat kami ukur betapa tinggi dan lihai kepandaianmu, nona.
Akan tetapi karena kau sudah datang ke tempat kami yang buruk dan sudah berkenan memberi pelajaran dan membuka mata kami, maka marilah kita main-main sebentar agar aku yang tua ini tidak terlallu melamun menyombongkan kelandaian sendiri"
Kata-kata ini saja sudah cukup memberi kesan betapa hebat pengaruh ilmu kepandaian yang tadi diperlihatkan oleh Siauw Yang.
Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 11
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 14