Ceritasilat Novel Online

Pedang Kayu Harum 4

Eps 4 Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo.

Keng Hong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Permintaanmu ini sukar sekali untuk dapat saya terima, Locianpwe, karena apa pun yang telah terjadi, saya berbuat demi kebenaran dan kebaikan, sedikitpun tidak mengandung dasar yang jahat dan buruk, sedikit pun tidak merasa salah. Karena itu, saya tidak dapat menghadap Tiat-ciang-pangcu (ketua) untuk menerima hukuman. Harap Locianpwe suka memaafkan."

Sinar mata yang tadinya sabar dan penuh kagum itu menjadi marah.

"Eh, orang muda,boleh jadi engkau lihai, murid seorang sakti, akan tetapi ketahuilah bahwa engkau berhadapan dengan seorang tua seperti aku yang telah mengejar ilmu sebelum engkau lahir! Kami orang-orang Tian-ciang-pang mengutamakan keadilan, setelah nanti didengar semua keteranganmu, tentu pangcu kami tidak akan menjatuhkan hukuman sewenang-wenang! Kalau engkau menolak, sunguh menyesal sekali bahwa aku terpaksa harus memaksamu!"

"Ah, ternyata Locianpwe hanya ingin mencari benar sendiri!"

Kata Keng Hong.

"Hemmm, apakah bukan engkau yang hendak mencari benar sendiri, orang muda? Engkau telah membunuh murid kami, dan kami sekarang hendak menangkapmu. Siapakah yang salah dan siapa benar dalam hal ini? Siapa yang jahat dan siapa yang baik?"

Tiba-tiba terdengar suara ketawa, suara ketawa yang mengakak seperti suara burung gagak (goak) atau suara seekor ular besar.

Mendengar suara ketawanya, sepatutnya orang yang tertawa seperti itu tentulah seorang yang tinggi besar.

Akan tetapi ternyata sebaliknya.

Ketika semua orang memandang ke atas karena suara ketawa itu terdengar dari atas, mereka melihat seorang kakek yang amat lucu duduk dengan kedua kaki telanjang ongkang-ongkang di atas dahan pohon tak jauh dari tempat itu.

Kakek ini tubuhnya kecil dan bongkok berpunduk, rambut, kumis dan jenggotnya panjang terurai akan tetapi bagian atas kepalanya botak dan kelimis.

Mukanya membayangkan kegembiraan total, sehingga tampak seperti wajah seorang bocah nakal yang tertawa-tawa selalu, pakaiannya bersih sekali dan baru, akan tetapi kedua kakinya telanjang.

Tangan kirinya memegang sebuah guci arak, dan setelah tertawa dia lalu menuangkan isi guci ke mulut.

Bau arak wangi memenuhi tempat itu.

"Ha-ha-ha-ha-ha!"

Ia tertawa lagi setelah minum arak.

"Semua salah, semua benar, tidak ada yang baik tidak ada yang buruk. Sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha! Yang tinggi yang pendek ya sama saja! Yang gemuk yang kurus ya sama saja! Yang salah yang benar, yang buruk yang baik, yang cantik yang bopeng, semua ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha!"

Kalau semua orang merasa geli dan juga jengkel mendengar kata-kata tdak karuan sikap seperti orang gila itu, Keng Hong sebaliknya menjadi tertarik sekali.

Dia dapat menangkap inti sari ucapan yang tidak karuan itu maka lalu menjura ke atas terhadap kakek itu sambil berkata.

"Kebetulan sekali Locianpwe yang arif bijaksana muncul di saat ini. Mohon petunjuk Locianpwe siapakah yang salah dan siapa yang benar dalam urusan antara saya dan fihak Tiat-ciang-pang ini?"

"Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain an kami tidak membutuhkan pendapat orang lain,"

Kata Kim-to Lai Ban yang tentu saja merasa direndahkan kalau sebagai wakil ketua Tiat-ciang-pang dia harus mendengarkan pendapat orang luar untuk mengambil keputusan atas urusan yang mengenai perkumpulannya.

"Lai-pangcu,"

Kata Keng Hong dengan wajah tidak senang.

"dalam setiap urusan antara kedua fihak, selalu harus ada fihak ke tiga yang dimintai pertimbangan agar dapat dipertimbangkan siapa salah siapa benar. Kalau tidak, bagaimana kedua fihak yang bertentangan itu akan dapat menyelesaikan urusan secara musyawarah?"

Kemudian dia menoleh lagi kepada kakek bongkok di atas dahan itu sambil berkata.

"Mohon petunjuk Locianpwe."

Kakek bongkok itu tertawa lagi.

"Bocah, kau awas dan berbakat sekali! Di dunia ini mana ada baik dan buruk? Mana ada salah dan benar? Yang ada hanyalah pandangan manusia, disesuaikan dengan selera masing-masing, disesuaikan dan didasari oleh nafsu mementingkan diri sendiri masing-masing! Mana ada manusia baik atau manusia jahat? Manusia ya manusia, tidak baik tidak jahat. Baik atau buruknya tergantung dari pendapat masing-masing, pendapat yang diuntungkan atau dirugikan. Pendapat manusia didasari sifat mementingkan diri pribadi. Contohnya? Biar orang sedunia menganggap seseorang itu baik, kalau orang itu merugika dirinya, dia tentu menganggapnya jahat! Sebaliknya, biar orang sedunia menganggap seseorang jahat, kalau orang itu menguntungkan dirinya, dia tentu akan menganggapnya baik! Demikian pula perbuatan. Perbuatan ya perbuatan. Salah atau benarnya, baik atau buruknya, selalu diciptakan manusia yang terkena akibat perbuatan itu. Kalau menguntungkan, dianggapnya benar, kalau merugikan, salahlah perbuatan itu! Buktinya sekarang ini. Perbuatan bocah ini merugikan fihak Tiat-ciang-pang, tentu saja oleh fihak Tiat-ciang-pang dianggap salah dan jahat! Padahal, bagaimanakah sifat perbuatan itu sesungguhnya? Tanyakan kepada pihak murid-murid Hoa-san-pai yang oleh perbuatan bocah ini diuntungkan terhindar dari kekalahan, tentu saja perbuatan ini dianggapnya benar dan baik! Mana yang benar? Baik atau jahat? Salah atau benar? Ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha-ha!"

Wakil ketua Tiat-ciang-pang dan anak buahnya menjadi marah dan mendongkol.

Akan tetapi diam-diam Keng Hong terkejut dan kagum.

Kata-kata yang kedengarannya tidak karuan artinya itu sekaligus mencakup segala rahasia pertentangan dan keributan yang selalu timbul tiada henti-hentinya di atas bumi di antara manusia!

Rahasia daripada timbulnya segala bentuk pertentangan telah tercakup dalam kata-kata kakek bongkok itu, ialah bahwa semua pertentangan timbul karena manusia memperebutkan "kebenaran"

Yang sesungguhnya selalu didasari oleh sifat mementingkan diri pribadi.

"Maafkan saya, Locianpwe yang bijaksana. Kalau kebenaran dan kebaikan sepalsu yang Locianpwe katakan, bagaimanakah sesungguhnya yang aseli?"

"Heh-heh-heh, tidak ada yang aseli tidak ada yang palsu! Yang benar dan baik bagi diri sendiri bukanlah kebenaran, yang benar dan baik bagi orang lain tanpa dipaksakan dalam pengakuannya barulah mendekati kebenaran!"

"Ah, amat dalam dan sukar dimengerti wejangan Locianpwe. Mohon petunjuk bagaimana saya harus menghadapi kemarahan Tiat-ciang-pang?"

"Ha-ha-ha, sikap terbaik adalah seperti air! Kebijaksanan tertinggi seperti air, tidak memaksa tidak mendesak, sepenuhnya mematuhi kekuasaan yang ada.........!"

Jantung Keng Hong berdebar.

Dia sudah banyak membaca kitab-kitab kuno, sudah banyak menghafal ayat-ayat dalam kitab-kitab suci, maka dia tentu saja dapat menangkap inti sari ucapan kakek ini, ialah bahwa dia harus bersikap wajar, tidak dibuat-buat, seperti gerakan air yang wajar mengalir ke bawah.

Akan tetapi bukan maknanya yang mendebarkan jantungnya, melainkan disebutnya kalimat itu.

Kebijaksanaan tertinggi seperti air!

Bukankah itu merupakan kalimat pertama daripada huruf-huruf yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam?

Hanya kebetulan saja, ataukah mungkin sekali kakek bongkok ini dapat memecahkan rahasia huruf-huruf di pedang itu?

"He, orang tua yang lancang mulut!

Jangan mencampuri urusan kami!"

Bentak Lai Ban yang menjadi marah karena pemuda itu mengobrol dengan si kakek bongkok demikian asiknya seolah-olah puluhan orang Tiat-ciang-pang itu dianggap seperti segerombolan pohon saja!

Karena kakek itu tidak menjawab dan hanya tersenyum-senyum sambil tetap duduk di atas dahan pohon dengan kedua kaki bergantungan, Keng Hong menoleh kepada Lai Ban dan berkata dingin.

"Lai-pangcu, salah-menyalahkan dalam urusan ini memang tidak ada habisnya dan tidak akan dapat membereskan persoalan. Aku tidak memusuhi Tiat-ciang-pang, dan aku tiak merasa bersalah dalam peristiwa antara anak murid Tiat-ciang-pang dengan anak murid Hoa-san-pai, dan karena tidak merasa bersalah, aku tidak mau kalau diharuskan menghadap ketua Tiat-ciang-pang untuk menerima hukuman. Jika Ji-pangcu hendak menggunakan paksaan dan kekerasan, silahkan."

Sekali ini ketua dua Tiat-ciang-pang itu benar-benar hilang sabar dan menjadi marah sekali.

"Orang muda! Engkau benar-benar tidak tahu tingginya langit dalamnya lautan! Boleh jadi engkau lihai, akan tetapi engkau masih seorang muda remaja, masih seorang bocah! Sebetulnya aku merasa sungkan untuk turun tangan menandingi seorang yang sepantasnya menjadi cucu muridku kalau melihat usianya......"

"Ha-ha-ha! Pintar dan bodoh tidak mengenal tua atau muda. Yang makin tua makin tolol amat banyak, yang muda-muda sudah pintar seperti orang muda ini pun tidak jarang! Siapa sih orangnya yang tahu akan tingginya langit dan dalamnya lautan? Heh-heh-heh!"

Kakek bongkok itu tertawa-tawa lagi sambil memberi komentar, seolah-olah dia sedang menonton pertunjukan yang lucu.

Kim-to Lai Ban menjadi makin marah.

"Eh, kakek tua yang lancang mulut! Pergilah engkau dari sini, jangan mencampuri urusan orang lain! Kalau tidak, akan kuseret turun engkau!"

"Wah-wah-wah, ini aturan mana, ya? Sebelum kalian datang aku sedang enak-enakan tidur di pohon ini. Kalian datang membikin ribut sampai aku terkejut dan terjaga dari tidurku. Menurut patut, aku yang menegur kalian. Kalau kalian mengenal malu, pergilah dari sini dan carilah tempat lain untuk main ribut-ribut agar tidak mengganggu orang!"

Kim-to Lai Ban membentak kepada dua orang sutenya.

"Seret dia turun dan tendang dia jauh-jauh dari sini!"

Dua orang sutenya itu adalah orang-orang yang sudah memiliki kepandaian tinggi.

Di dalam perguruan Tiat-ciang-pang, terdapat sebuah ilmu yang dipakai ukuran tinggi murid-muridnya, Yaitu ilmu Tiat-ciang-kang (Tangan Besi).

Kedua tangan atau sebelah tangan saja, digembleng dan dilatih sedemikian rupa sehingga tangan itu menjadi kuat dan kebal seperti besi.

Makin hebat latihannya, makin kuat tenaga sinkang si murid, makin kebal dan kuat tangan besinya.

Kekuatan tangan besi inilah yang dijadikan ukuran tingkat.

Tingkat pertama tentu saja diduduki oleh ketuanya yang bernama Ouw Beng Kok, adapun tingkat kedua diduduki oleh Kiam-to Lai Ban.

Kini, kedua orang sute yang menghampiri pohon di mana duduk kakek bongkok dan yang menerima tugas untuk menyeret turun kakek itu, adalah orang-orang tinggi besar dan kuat sekali, apalagi karena mereka telah menduduki tingkat ke empat di Tiat-ciang-pang yang menandakan bahwa ilmu "tangan besi"

Mereka sudah amat hebat.

"Orang tua bongkok, engkau sudah mendengar permintaan Ji-pangcu kami, harap lekas turun dan pergi karena kami merasa tidak enak sekali kalau harus menggunakan kekerasan terhadap orang kakek tua seperti engkau,"

Kata seorang di antara dua murid Tiat-ciang-pang tingkat empat itu.

"Heh-heh-heh, apakah sih artinya kekerasan? Kalian hendak menggunakan kekerasan seperti apa? Aku sejak tadi duduk di sini dan hanya tertawa bicara, hanya menggunakan kelemasan, duduk mengandalkan kelemasan kaki, bicara mengandalkan kelemasan lidah, akan tetapi kalian ini agaknya suka sekali akan barang yang serba keras. Agaknya, lebih baik lagi kalau Tiat-ciang (Tangan Besi) ditambah dengan Tiat-sim (Hati Besi)!"

"Kekerasan seperti inilah!"

Seorang di antara mereka tiba-tiba menghantamkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka ke arah bantang pohon itu.

"Kraaakkkkk.......!"

Hebat bukan main hantaman tangan yang penuh dengan hawa Tiat-ciang-kang itu.

Batang pohon yang besarnya sepelukan orang itu, sekali kena dihantam tangan besi itu, menjadi patah dan tumbang!

Tentu saja tubuh kakek bongkok yang duduk di dahan pohon itu ikut pula terbawa roboh ke bawah!

Akan tetapi, ketika dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu siap hendak menubruk dan menyeret kakek cerewet itu pergi, tiba-tiba hanya tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek bongkok itu sudah berjongkok lagi di atas dahan pohon lain sambil terkekeh-kekeh.

"Heh-heh-heh, itukah yang kalian sebut kekerasan? Bagiku, lebih tepat disebut pengrusakan! Pengrusakan ciptaan alam, sungguh besar dosanya!"

Karena merasa bahwa mereka diejek dan ditertawakan dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu menjadi makin marah.

Mereka berlari menghampiri pohon besar di mana kakek itu kini berjongkok di atas dahan, Lalu mereka berdua secara berbareng memukul batang pohon yang amat besar itu.

Kembali terdengar suara yang lebih keras daripada tadi dan batang pohon itu tumbang, membawa dahan-dahan dan daun-daun berikut tubuh si kakek bongkok.

Seperti tadi pula, bagaikan seekor burung saja, kakek itu telah meloncat seperti terbang melayang dan "hinggap"

Di atas pohon lain.

Cara dia bergerak meloncat benar-benar amat mengagumkan, selain cepat dan ringan, juga aneh gerakannya karena dalam meloncat, kakek ini mengembangkan dan menggerak-geraka kedua lengan seperti sayap burung!

Dua orang tokoh Tiat-ciang-pang makin penasaran sehingga mereka terus mengejar dan memukul tumbang semua pohon yang dijadikan tempat "mengungsi"

Kakek itu sehingga dalam waktu tak berapa lama, belasan batang pohon telah tumbang!

"Wah-wah-wah, kalian berdua ini dapat menjadi tukang-tukang penebang pohon yang amat baik dan menguntungkan sekali, heh-heh-heh!"

Kakek bongkok itu tertawa-tawa.

"Sute, tahan......!"

Tiba-tiba Kim-to Lai Ban berseru.

Kedua orang sutenya itu lalu mundur, akan tetapi muka mereka merah dan mata mereka melotot ke arah kakek bongkok yang kini masih duduk ongkang-ongkang di atas dahan sebuah pohon lain, agak jauh dari situ karena pohon-pohon yang berdekatan telah tumbang semua.

"Asal kakek itu tidak mencampuri urusan secara langsung, biarkan dia menggoyang lidahnya, setidaknya dia sudah tahu bahwa Tiat-ciang-pang tak boleh dibuat bermain-main."

Kemudian Lai Ban menghadapi Keng Hong dan berkata.

"Orang muda, engkau sudah melihat sendiri kehebatan pukulan Tiat-ciang-kang dari kedua suteku. Aku tidak ingin menggunakan kekerasan terhadapmu. Kalau kau menyerahkan diri tanpa perlawanan, kami pun akan membawamu ke hadapan pangcu tanpa kekerasan."

Semenjak tadi, Keng Hong memandang kakek bongkok dengan penuh perhatian.

Dia dapat menduga bahwa kakek itu bukan sembarang orang, akan tetapi yang paling menarik hatinya adalah bunyi kalimat yang merupakan kalimat yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam.

Ingin dia bertanya tentang kalimat itu kepada si kakek bongkok, akan tetapi dia masih menghadapi urusan dengan orang-orang Tiat-ciang-pang ini, maka dia harus dapat membereskan urusan ini lebih dulu.

Tadi dia melihat kehebatan pukulan dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu dan dia maklum bahwa orang-orang ini benar-benar amat lihai dan memiliki pukulan maut yang amat kuat.

Dalam hal ilmu silat, tentu saja dia masih kalah jauh, akan tetapi dalam hal sinkang, mereka itu tidak ada artinya baginya.

Juga dia memiliki kecepatan gerakan yang jauh melampaui mereka.

"Lai-pangcu, kedua orang sutemu telah mendemonstrasikan kelihaian dan hal ini hendak kau pergunakan untuk menundukanku, apa bedanya itu dengan kekerasan? Tidak, Pangcu, karena aku tidak merasa bersalah, aku tetap tidak mau kau bawa pergi menghadap ketua kalian di Tiat-ciang-pang."

"Bocah, kau benar-benar keras kepala!"

Teriak seorang di antara dua orang sute Lai Ban yang tadi mengejar-ngejar si kakek bongkok.

Mereka masih terlalu pensaran dan marah karena merasa dipermainkan si bongkok, kini mereka seolah-olah hendak menimpakan kemarahan mereka kepada Keng Hong.

"Ji-suheng, serahkan saja bocah ini kepada kami, tidak perlu kiranya Ji-suheng turun tangan sendiri!"

Kim-to Lai Ban adalah seorang cerdik.

Kalau tadi dia menyuruh kedua orang sutenya mundur adalah karena pandang matanya yang awas dapat menduga bahwa kakek bongkok itu bukan orang sembarangan.

Kalau pemuda yang lihai ini saja belum dapat ditundukkan, sungguh tidak menguntungkan kalu menambah seorang lawan lagi yang belum dapat diukur sampai di mana kelihaiannya.

Kini, dia harus mengawasi gerak-gerik si bongkok yang dia duga tentu akan membantu Keng Hong, maka dia mengambil keputusan untuk "menyerahkan"

Keng Hong kepada anak buahnya dan dia sendiri yang akan turun tangan kalau kakek bongkok itu mencampuri urusan ini.

Anak buahnya ada puluhan orang, masa tidak akan mampu menangkap Keng Hong.

Maka dia lalu mengganggukkan kepala dan berkata.

"Baik, tangkaplah bocah sombong ini!"

Dua orang tokah Tiat-ciang-pang yang tinggi besar itu lalu bergerak dari kanan kiri Keng Hong sambil membentak keras.

"Bocah, engkau ikutlah dengan kami!."

Mereka mencengkeram ke arah pundak keng Hong dari kanan kiri dengan niat menangkap dan sekaligus membuat pemuda itu tidak berdaya dalam cengkeraman tangan besi mereka.

Keng Hong dapat merasakan sambaran angin pukulan tangan mereka itu yang amat kuat dan mantep.

Dia tidak takut menghadapi cengkeraman itu karena kalau dia mengerahkan sinkang ke arah sepasang pundaknya, kulit pundaknya akan menjadi kebal dan agaknya tidak perlu takut menghadapi cengkeraman mereka.

Akan tetapi setidaknya, bajunya tentu akan menjadi robek-robek dan dia tidak menghendaki ini.

Pula, dia pun harus memperlihatkan kelihaiannya, maka cepat dia mengangkat kedua tangan ke kanan kiri, mengerahkan tenaga dan menangkis dengan tolakan dari samping mengadu pergelangan kedua tangannya dengan lengan kedua orang lawannya.

"Plak! Plak!"

Dua orang tokoh tiat-ciang-pang itu berteriak kaget dan tubuh mereka terdorong ke belakang ke belakang, lengan mereka yang tertangkis terasa nyeri dan panas sekali.

Hanya dengan pengerahan tenaga saja mereka dapat mencegah tubuh mereka terguling, dan kini mereka memandang dengan kemarahan berkobar, sejenak mengelus pergelangan tangan yang terasa senut-senut.

Orang-orang Tiat-ciang-pang menjadi marah sekali dan tanpa menanti komando, mereka sudah menerjang maju dengan senjata di tangan mengeroyok Keng Hong.

Hal ini bukan hanya menunjukkan bahwa orang-orang Tiat-ciang-pang suka main keroyok, melainkan karena mereka ini terlatih dalam perang melawan pasukan-pasukan kerajaan sehingga mereka memiliki jiwa setia kawan yang tebal dan setiap melihat seorang kawannya, apalagi pimpinan, terdesak atau terpukul, tanpa dikomando mereka lalu maju menerjang.

Hal ini menimbulkan rasa marah di hati Keng Hong.

Tadinya dia tidak marah, hanya ingin berpegang kepada kebenaran menurut faham dan pendapatnya sendiri dalam urusannya dengan orang-orang Tiat-ciang-pang, maka dia pun tidak berniat untuk menurunkan tangan maut.

Akan tetapi, sekarang melihat betapa puluhan orang itu bergerak seperti semut menggeroyoknya, dia menjadi marah dan menbentak keras.

"Kalian manusia-manusia curang tak tahu malu!"

Dan tubuhnya lalu menerjang ke depan, sambil mengerahkan tenaga pada kedua lengannya, Keng Hong menangkis, mencengkeram dan memukul.

Karena para pengeroyoknya hanyalah para anggota Tiat-ciang-pang rendahan, maka berturut-turut robohlah enam orang yang mengeroyok dari sebelah depan!"

Tiba-tiba angin pukulan yang amat dahsyat menghantam dari arah belakang dari kanan kiri menuju ke punggung Keng Hong.

Pemuda ini terkejut karena angin pukulan ini hebat bukan main.

Ia maklum bahwa dua orang tokoh Tiat-ciang-pang tukang robohan pohon tadi telah menyerangnya dari belakang, menggunakan kesempatan selagi dia sibuk menghadapi penggeroyokan banyak orang dari depan.

Keamarahan Keng Hong memuncak dan dia mengeluarkan suara pekik melengking sambil mengerahkan sinkang ke tubuh bagian belakng.

"Buk...! Buk...!"

Dua kepalan tangan yang amat kuat telah menghantam punggung Keng Hong di kanan kiri.

Akan tetapi pada saat itu, keng Hong yang sedang marah sekali telah mengerahkan tenaganya dan tenaga mujijatnya timbul di luar kehendaknya sehingga begitu dua kepalan itu sehingga melekat pada punggung tak dapat dilepaskan pula.

Dua orang itu adalah ahli-ahli pukulan Tiat-ciang-kang, sungguhpun belum mencapai tingkat paling tinggi, namun sudah cukup hebat dan tenaga sinkang mereka pun sudah amat kuat.

Kini, menghadapi kenyataan mengerikan bagi mereka itu, Kepalan tak dapat dilepas dari punggung dan tenaga sinkang mereka molos keluar seperti air membanjir karena tanggulnya bobol, tanpa dapat mereka tahan, mereka menjadi kaget dan juga panik.

Cepat mereka menggunakan tangan kiri mereka, mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, kini mereka memukul ke kanan kiri lambung.

Pukulan ini adalah pukulan maut, karena selain yang memukul adalah kepalan-kepalan tangan yang penuh dengan hawa sakti Tiat-ciang-kang, juga yang dipukul adalah lambung yang biasanya merupakan tempat yang lemah.

Akan tetapi, justru bagian tubuh Keng Hong yang dekat pusar merupakan bagian-bagian yang paling "peka"

Dan aktif sekali kalau tenaga mujijat yang menyedot itu sedang bekerja, maka begitu dua pukulan itu menyentuh lambung, kontan saja tersedot dan melekat!

Dua orang tokoh tiat-ciang-pang itu kini menjadi seperti dua ekor lintah yang melekat, tak dapat terlepas pula dan tenaga sinkang mereka terus menerobos keluar melalui kedua tangan mereka memasuki tubuh keng hong yang menjadi makin lamban gerakan-gerakannya akan tetapi menjdai makin hebat tenaga sinkangnya.

Dia hanya melangkah perlahan-lahan ke depan, kedua lengannya bergerak perlahan pula, akan tetapi kedua tangannya itu mengeluarkan angin bersuitan dan setiap orang pengeroyok yang terdorong oleh angin pukulan ini tentu roboh terjengkang!

Hal ini tidaklah aneh kalau dipikir bahwa pada saat itu, yang memang sudah amat kuat, melainkan ditambah lagi oleh tenaga Tiat-ciang-kang dari kedua orang yang menempel yang di tubuhnya dari belakang itu!

"Pemuda iblis"!!"

Kim-to lai ban menjadi marah sekali.

"Lepaskan dua orang suteku!"

Ia marah dan juga ngeri menyaksikan betapa dua orang sutenya itu kini telah bergantung pada tubuh Keng Hong dengan lemas, wajah mereka pucat separti mayat.

Sebetulnya hal ini adalah kesalahan dua orang itu sendiri.

Tenaga mujijat yang bergerak di seluruh tubuh Keng Hong adalah tenaga yang hanya mengenal dan menyedot tenaga sinkang dari luar.

Andaikata seorang manusia biasa yangtidak pernah berlatih sehingga tenaga sakti dalam tubuh mereka tidak bangkit, membuat mereka itu hanya bertenga biasa dari otot-otot saja, maka tenaga mujijat di tubuh Keng hong takkan dapat berbuat apa-apa, Dan orang yang tidak bersinkang itu tidak akan dapat terlekat dan tersedot.

Demikian pula bagi mereka yang memiliki tenaga sakti seperti dua orang Tiat-ciang-pang itu, andaikata mereka tidak mempergunakan tenaga sinkang, tentu mereka akan terlepas dengan sendirinya dari tubuh Keng Hong.

Tadi mereka memukul dengan tangan kanan, disusul dengan tangan kiri, mempergunkan Tiat-ciang-kang, pukulan yang sepenuhnya didasari tenaga sinkang, tentu saja mereka terlekat dan tersedot.

Setelah demikian, mereka meronta dan mengerahkan tenaga pula untuk berusaha melepaskan diri.

Tentu saja usaha pengerahan tenaga ini merupakan "makanan"

Bagi tenaga mujijat di tubuh Keng Hong yang bekerja sehingga makin hebat mereka berusaha untuk melepaskan diri makin hebat pula mereka tersedot dan melekat terus!

"Aku...

aku tidak bisa melepaskan mereka...!"

Kata Keng Hong gugup.

Peristiwa seperti ini terulang kembali dan selalu dia menjadi gugup.

Apalagi sekarang bukan hanya dua orangitu yang melekat dan tersedot sinkangnya, juga ada dua orang lain yang tadinya berusaha embantu kawan mereka, kini menempel dan tersedot sinkangnya.

Yang menjemukan, dua orang ini menjerit-jerti seperti dua ekor babi disembelih!

Ingin Keng Hong melepaskan dari mereka, akan tetapi dia sendiri pun tidak tahu bagaimana caranya!

Jawabannya yang memang sesungguhnya itu diterima salah oleh Kim-to Lai Ban, dia menjadi makin marah dan dicabutlah golok emasnya.

"Terpaksa aku membunuhmu, pemuda iblis!"

Serunya dan dia menerjang maju, lalu meloncat ke atas dan berteriak keras menyerang Keng Hong.

Pemuda ini maklum betapa hebat dan berbahayanya serangan Kim-to Lai Ban itu.

Maka dia pun mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah mencelat ke atas, membawa empat tubuh yang menempel di sebelah belaknang tubuhnya sendiri itu ke udara.

Menghadapi serangan golok lawan yang demikian dahsyatnya, yang beruabah menjadi sinar keemasan yang melengkung panjang, Keng Hong sudah mengerahkan tenaga dan menggunakan jurus In-keng-hong-wi (Awan menggetarkan Angin dan Hujan), yaitu jurus kedelapan atau jurus terakhir, jurus yang paling dahsyat daripada ilu silatnya, San-in-kun-hoat (Ilmu Silat Tangan Kosong Awan Gunung) yang hanya terdiri dari delapan jurus itu.

Jurus ini amat sukar dimainkan, namun juga amat hebat gerakannya, karena selagi berada di udara menyambut terjangan lawan yang juga meloncat ke udara itu, kaki kiri Keng Hong bekerja susul menyusul dalam rangkaian yang selain cepat tak terduga, juga amat aneh dalam kerja sama yang rapi sekali.

Kedua kakinya sudah susul menyusul melakukan tendangan ke arah pergelangan tangan Kim-to Lai Ban yang memegang golok dan ke arah pusar, sedangkan kedua tangannya susul menyusul pula melakukan serangan, yang kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala sedangkan yang kanan mengikuti gerakan golok yang ditarik ke belakang karena tendangannya sedetik yang lalu!

"Hayaaaaa..!!"

Selama hidupnya baru sekali ini Kim-to Lai Ban menjadi gugup.

Tadinya dia memutar goloknya dan melompat ke atas melakukan serangan dengan jurus yan paling ampuh dari ilmu goloknya.

Ia harus menyelamatkan dua orang sutenya, maka dia tidak segan-segan lagi menurunkan serangan maut, goloknya membentuk lingkaran dan sasarannya adalah leher lawan, sedangkan tangan kirinya yang terbukajarinya mencengkeram ke arah lehar Keng Hong.

Akan tetapi, siapa kira, lawannya itu malah meloncat pula dan menyambut serangannya secara terbuka di udara!

Tentu saja tubuh mereka bertemu di udara dan dalam beberapa detik ini telah terjadi beberapa gebrakan hebat.

Kim-to Lai ban terpaksa menarik goloknya karena pergelangan tangannya yang menbacok itu dipapaki tendangan dari bawah, akan tetapi tangan kirinya berhasil "masuk"

Dan mengcengkeram leher Keng Hong karena dia menang dulu.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika jari-jari tangannya yang mengcekeram leher itu seperti mencengkeram daging yang amat lunak dan sekaligus tenaganya tersedot dan tangannya melekat!

Sebelum hilang rasa kagetnya, pusarnya terancam tendangan yang cepat dia elakkan, akan tetapi tiba-tiba goloknya terampas oleh tangan Keng Hong dan ubun-ubunnya juga terancam oleh cengkeraman sebelah tangan pemuda luar biasa itu!

"Celaka..!"

Lai Ban berseru keras, berusaha membetot tangannya dan pada detik lain, dia mengirim tusukan dengan dua buah tangannya ke arah mata Keng Hong dan hal ini sama sekali tak dapat dielakkan maupun ditangkis oleh pemuda itu!

Dalam detik itu, nyawa Lai Ban terancam maut oleh cengkeraman pada ubun-ubunnya sedangkan keselamatan mat Keng Hong terancam kebutaan oleh dua jari tangan Kim-to Lai Ban.

"Heh-heh-heh, sayang.. sayang..!"

Terdengar kakek yang duduk nongkrong di atas pohon itu tertawa dan dari tangannya menyambar dua butir buah mentah dari pohon itu.

Yang sebutir menyambar siku lengan Lai Ban yang menusuk jari tangannya ke arah mata Keng Hong, adapun yang sebutir lagi melayang ke arah siku lengan Keng Hong yang mencengkeram ke arah ubun-ubun lawannya.

Biarpun buah mentah itu tidak keras, namun ternyata tenaga luncur dan tenaga totokannya dahsyat sekali sehingga tiba-tiba kedua lengan yang tertotok buah-buah entah itu menjadi lumpuh dan kedua orang itu meloncat turun ke bawah.

Untung bagi Lai Ban bahwa ketika dia tertotok oleh buah mentah yang melayang tadi, kelupuhannya membuat dia terlepas dari tenaga mujijat keng Hong yang menyedot dan menempelnya sehingga dia dapat meloncat ke bawah.

Ia terkejut bukan main dan hanya dapat memandang kepada Keng hong dengan mata terbelalak dan mulutnya menggumamkan bisiskan.

"Iblis....!"

Kemudian dia terbelalak kaget ketika tubuh dua orang sutenya dan dua orang anak buahnya, mereka berempat yang tadi melekat di belakang Keng Hong seperti lintah, kini telah menggeletak tak bernyawa lagi!

Kiranya tadi karena terlalu lama mereka tersedot sinkangnya dan mereka sama sekali tidak berdaya, hawa sakti tubuh mereka tersedot sampai habis sama sekali sehingga mereka dengan sendirinya terlepas dan jatuh ke atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Melihat ini, Kim-to Lai Ban menjadi makin marah dan selagi dia bersiap untuk mengerahkan anak buahnya yang saat banyak dan mengeroyok mati-matian untuk menebus kematian dua orang sutenya, tiba-tiba Keng Hong meloncat pergi, melempar golok rampasannya ke atas tanah sambil berseru.

"Locianpwe, tunggu dulu.....!"

Ketika Lai Ban memandang teliti kiranya pemuda iblis itu telah lari mengejar kakek bongkok yang juga sudah melarikan diri amat cepatnya .

Kim-to lai Ban menggeget giginya sabil memandang jauh ke depan sampai dua bayangan itu lenyap, kemudian menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas dengan penuh duka.

Sungguh tak dia sangka bahwa hari ini nama besarnya, juga nama besar Tiat-ciang-pang akan hancur hanya oleh seorang bocah yang tak ternama!

Dengan hati penuh penasaran dan dendam terhadap Keng Hong, Kim-to Lai Ban lalu menyuruh anak buahnya mengangkut empat jenazah itu dan membawa pergi dari tempat itu.

Dia maklum bahwa mengejar pemuda itu takkan ada gunanya.

Sudah dia saksikan betapa ilmu lari cepat pemuda itu amat hebatnya ketika mengejar si kakek bongkok, seperti terbang saja.

Dan ilmu kepandaiannya pun mujijat.

Belum lagi diingat kakek bongkok itu yang juga memiliki kesaktian.

Biarlah, untuk sekali ini Tiat-ciang-pang boleh mengaku kalah, akan tetapi urusan ini takkan habis sampai disitu saja!

Pada suatu saat, dendam ini harus terbalas!

Demikianlah tekad hati Lai Ban sambil mengiring jenazah ke empat orang kawan, atau lebih tepat, dua orang sute dan dua orang anak buah itu kembali ke pusat Tiat-ciang-pang yang berada di sebuah di antara puncak-puncak pegunungan Bayangkara.

Kakek kecil pendek yang bongkok itu ternyata dapat lari cepat sekali.

Tadinya kakek itu menggunakan ilmu berlari cepat secara melompat-lompat sepert katak, sekali melompat ada sepuluh meter jauhnya dan begitu kakinya tiba di atas tanah terus melompat lagi ke depan.

Akan tetapi Keng Hong yang oleh mendiang gurunya di gembleng terutama sekali untuk tenaga dan kecepatan, dapat bergerak lebih cepat lagi.

Tubuh peuda yang kini terlalu penuh dengan hawa sinkang "rampasan"

Dari orang-orang Tiat-ciang-pang tadi, ringan seperti sebuah balon karet penuh hawa, maka dia dapat berlari cepat dan ringan sekali mengejar, makin lama makin dekat sabil berteriak.

"Locianpwe, tunggu dulu...!"

Mendengar ini, kakek itu berlari makin cepat lagi.

"Heiii, Locianpwe yang bongkok, tunggu...!"

Suara Keng Hong makin keras dan ketika kakek itu menoleh dan melihat betapa pemuda itu mengejarnya dengan cara yang sama, yaitu melompat-lompat seperti katak, akan tetapi dengan lompatan yang lebih jauh daripada lompatannya, dia kaget kaget sekali dan cepat mengubah caranya berlari.

Kini dia tidak berlompatan lagi, melainkan berlari dengan gerakan yang luar biasa cepatnya sehingga kedua kakinya itu lenyap bentuknya dan tampak seperti kitiran berputar sehingga kelihatannya seperti roda.

Langkah-langkahnya pendek-pendek, sesuai dengan kedua kakinya yang pendek-pendek, namun gerakannya cepat sekali sehingga tubuhnya meluncur ke depan seperti seekor kuda membalap.

"Heh-heh-heh, tak mungkin kau dapat mengejarku lagi, bocah bandel!"

Kakek itu terkekeh dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari secepat mungkin.

Beberapa lamanya kakek itu berlari sampai dia merasa yakin bahwa pemuda itu kini tentu telah tertinggal jauh dan kalau dia teruskan, napasnya mungkin akan putus meninggalkan tubuhnya yang sudah amat tua.

Selagi dia hendak memperlambat larinya, tiba-tiba dekat sekali di belakangnya terdengar teriakan Keng Hong.

"Heiii, Locianpwe, mengapa melarikan diri? Saya hendak bicara..!"

Kakek bongkok itu menengok dan alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa kini pemuda itu pun berlari cepat seperti dia, cepat sekali seperti terbang melayang saja.

Karena merasa bahwa lari pun tidak ada gunanya, kakek itu berhenti dan membalikkan tubuh menanti sampai Keng Hong tiba di depannya.

Pemuda itu masih merah sekali mukanya, sampai matanya pun masih merah sebagai akibat daripada kebanjiran sinkang di tubuhnya, akan tetapi dia sudah tenang karena tadi kelebihan hawa sakti itu telah banyak dia pergunakan untuk melakukan pengejaran terhadap kakek yang amat cepat larinya itu, dan di sepanjang jalan Keng Hong menggunakan tangannya mendorong roboh beberapa batang pohon besar.

"Ehhh, bocah yang keji seperti setan. Apakah engkau masih belum kenyang, mengejarku untuk menyedot habis sinkangku dengan ilmu sesatmu Thi-khi-i-beng ?"

Ia bertanya sambil memandang tajam.

"Seekor lintah hanya menyedot darah sampai kenyang baru puas, akan tetapi engkau menyedot hawa orang sampai empat orang mati masih belum puas, sungguh jauh lebih keji daripada seekor lintah!"

Keng Hong mengerutkan alisnya dengan hati risau.

"Locianpwe, benarkah ada itu ilmu yang dinamai Thi-khi-I-beng? Apakah benar tenaga menyedot yang keluar dari tubuhku itu tadi Ilmu Thi-khi-I-beng?"

Kakek itu membusungkan dada menegakkan kepala dan memandang Keng Hong dari bawah dengan sikap seorang guru memandang muridnya, kemudian dia menunjuk hidung sendiri sambil berkata.

(Lanjut ke

Jilid 11) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11

"Aku Siauw-bin kuncu (Budiman Berwajah Ramah) selamanya tidak suka membohong. Seorang kuncu (budiman) tidak akan membohong! Terang bahwa kau tadi menggunakan ilmu menyedot sinkang lawan, apalagi namanya kalau bukan Thi-khi-I-beng yang kabarnya sudah lenyap dari permukaan bumi dan dibawa lari untuk dijadikan ilmu para iblis dan setan ? Akan tetapi sekarang ternyata kau memilikinya. Hih, sungguh mengerikan, sungguh keji menakutkan!"

Setelah berkata demikian, dia bergidik dan mengangkat guci araknya, terus dituangkan isi guci ke dalam mulutnya sambil terdengar bunyi menggelogok.

Kemudian dia menutup mulut guci, mukanya menjadi merah dan wajahnya tertawa-tawa lagi.

"Heh-heh-heh, seteguk arak mengusir semua kerisauan hati! Biarpun engkau memiliki ilmu iblis, tentu takkan kau pergunakan untuk menyedot hawa dari tubuhku, bukan ?"

Keng Hong menggeleng kepalanya.

"Locianpwe telah menolong saya, telah menyelamatkan nyawa saya dengan sambitan tadi, mengapa saya hendak menganggu locianpwe yang budiman ? Tidak sama sekali, saya mengejar locianpwe untuk menghaturkan terima kasaih atau pertolongan itu dan.."

"Tidak ada tolong menolong! Siapa suka menolong orang yang semuda ini telah memiliki ilmu begitu keji sehingga tidak segan-segan membunuh orang? Seekor lintah menyedot darah hanya secukupnya saja, setelah kenyang melepaskan diri. Akan tetapi engkau menyedot hawa orang sampai orang-orang itu mati. Aku tidak menolong siapa-siapa, hanya tidak suka melihat pembunuhan-pebunuhan."

"Ah, akan tetapi saya tidak sengaja membunuh mereka, Locianpwe..."

"Bohong! Ingat, tidak baik membohong dan aku, Siauw-bin Kuncu selamanya tidak sudi membohong! Kebohongan itu berantai, sekali berbohong engkau harus selalu membohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang terdahulu."

Keng Hong menahan senyumnya.

"Saya tidak perlu berpura-pura, Locianpwe. Sekali waktu, kalau perlu saya akan membohong. Saya tidak pernah mempunyai niat di hati untuk membunuh siapapun juga. Dan ilmu Thi-khi-i-beng yang Locianpwe sebut-sebut itu sama sekali saya tidak mengerti dan tidak pernah mempelajarinya. Tenaga sedotan yang berada di tubuh saya ini bukan saya pelihara dan bergerak di luar kesadaran saya."

"Eh, eh, eh, mengapa begitu? Aku melihat engkau seorang bocah yang baik, maka aku condong memihakmu ketika engkau ribut-ribut dengan orang-orang Tiat-ciang-pang. Akan tetapi aku kecewa melihat engkau mempergunakan ilmu yang sesat itu. Dan sekarang kau mengatakan tidak sadar akan ilmu itu ? sungguh luar biasa...."

"Sudahlah, Locianpwe. Sesungguhnya selain hendak menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe, saya hendak mohon penjelasan, hendak bicara dengan Locianpwe.."

"Hemmm, boleh. Bicara tentang apa ?"

"Tentang air!"

Kakek itu melongo.

Mulutnya masih tersenyum akan tetapi karena terbuka lebar kelihatan lucu, matanya terbelalak, tangan kirinya perlahan-lahan diangkat ke atas dan menggaruk-garuk bagian atas kepalanya yang botak kelimis.

"Eh, orang muda, apakah kau gila ?"

Tanyanya, pertanyaan yang sungguh-sungguh dengan wajah serius, bukan main-main atau memaki.

Timbul kegembiraan di hati Keng Hong.

Pemuda ini memang memiliki dasar watak gembira, maka biarpun kelihatannya pendiam, setiap kali bertemu dengan orag yang bersikap riang dan lucu,tentu dia akan mudah terbawa riang pula.kakek ini selain aneh, lihai, juga amat lucu dan gembira.

Melihat sikap sungguh-sungguh ketika kakek yang nama julukannya saja sudah aneh itu bertanya apakah dia gila, Keng Hong tak dapat menahan kegelian hatinya dan dia tertawa bergelak, membuat kakek itu makin curiga, makin keras mengira bahwa pemuda ini benar-benar telah gila!

"Tidak, Locianpwe.

Aku belum gila dan mudah-mudahan tidak akan gila,"

Jawab Keng Hong.

"Yang kumaksudkan dengan air adalah kalimat yang Lociapwe berikan kepada saya sebagai nasihat menghadapi orang-orang Tiat-ciang-pang. Kalimat yang amat menarik hati saya dan yang ingin sekali saya tanyakan kepada locianpwe tentang artinya."

"Kalimat apa ?"

"Yang seperti bunyi ujar-ujar kuno yang suci, mengenai air."

Keng Hong sengaja memancing.

"Sangat banyaknya ujar-ujar suci yang membawa-bawa air sebagai wejangan. Yang mana yang kau maksudkan? Nasihat apa yang kuberikan tadi? Aku sudah tidak ingat lagi. Pertanyaan-pertanyaanmu aneh dan membikin aku bingung. Eh, benar-benarkah engkau tidak miring otak, ya?"

"Tidak, Locianpwe. Kalau locianpwe lupa, biarlah saya mengulang kalimat yang locianpwe ucapkan tadi. Begini bunyinya . Kebijaksanaan tertinggi seperti air."

"Heh-heh-heh! Betul sekali! Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Lengkapnya begini . Kebijaksanaan tertinggi seperti air yang memberi manfaat kepada segala sesuatu mengalir ke tempat rendah yang tak disukai orang karena itu, sifatnya berdekatan dengan Too.."

"Eh bukankah itu ayat di kitab Too-tik-khing bagian ke delapan ?"

Keng Hong berseru girang dan heran. Sebaliknya, kakek bongkok itu memandang Keng Hong dengan mata beerseri.

"Hayaaaaa. Engkau ini benar-benar bocah yang kukoai (aneh) sekali! Mengerti dan hafal pula ayat-ayat di kitab Too-tik-khing ?"

"Tentu saja hafal karena saya sudah berkali-kali menghafalnya, Locianpwe. Tadi saya lupa dan... ah, hal ini tidak perlu. Yang penting sekarang apakah Locianpwe mengenal pula kalimat yang berbunyi seperti ini . Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan."

"Kau maksudkan tulus dan sungguh mengabdi kebajikan seperti air keluar dari sumbernya? Dan sewajarnya seperti munculnya matahari dan bulan atau sewajarnya seperti empat musim yang datang bergantian? Ujar-ujar itu lengkapnya berbunyi begini . Phouw Phek Yan Coan, Ji Si Chut Ci."

"Wah, itu adalah ujar-ujar pasal tiga puluh satu ayat dua dari kitab Tiongyeng!"

Kembali Keng Hong berseru girang sekali karena mengenal ujar-ujar itu yang pernah dihafal seluruh isi kitabnya di luar kepala.

Sekali lagi kakek bongkok itu bengong dan kagum.

"Kau juga pandai ujar-ujar Nabi Khongcu ? Wah, bocah apakah engaku ini ? Kalau gila terang belum! Akan tetapi, engaku menguasai ilmu sesat Thi-khi-I-beng, ginkangmu luar biasa sekali dapat menandingi aku, sinkangmu menakjubkan, dan engkau hafal akan kitab-kitab Too-tik-khing dan Tiong-yong! siapakah sesungguhnya engkau ini bocah aneh?"

Akan tetapi Keng Hong yang sudah mengenal dua di antara tiga baris kalimat yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam, menjadi begitu girang sehingga dia tidak mempedulikan lagi pertanyaan kakek itu, melainkan cepat dan menahan napas ketika dia berkata lagi.

"Satu lagi, Locianpwe. Satu lagi mohon bantuanmu. Dengarkanlah kalimat ini . Tukang saluran mengalirkan airnya kemana dia suka"

Tiba-tiba sikap kakek itu berubah.

Dia selamanya tidak bisa marah, akan tetapi sekarang berpura-pura marah, atau memasang muka seperti orang marah.

Betapapun juga, karena mukanya itu muka lucu, memasang muka marah tidak kelihatan menyeramkan atau menakutkan, malah menggelikan!

"Bocah sombong!

Apakah engkau hendak menantang aku ?

Apakah engkau tidak percaya akan julukanku Siauw-bin-Kuncu?

Aku berjuluk Kuncu, tentu saja aku seorang bijaksana yang sudah mengenal seluruh ayat di permukaan bumi ini!

Apakah engkau sengaja hendak mengujiku?

Sekaligus kau mengeluarkan tiga ayat dari tiga macam agama, apa kau kira aku berjuluk kuncu hanya untuk main-main dan palsu belaka?

Kalau memang kau hendak menantangku berdebat tentang filsafat agama-agama di dunia ini, bilang saja terus terang, dan akan kulayani sampai mengaku keok!"

Keng Hong menahan kegelian hatinya, ia maklum bahwa kakek ini seorang tokoh yang amat aneh dan agaknya memang seorang ahli kitab-kitab suci.

Kalau dipaksa dan dibujuk, biar dia menyembah-menyembahnya tentu takkan sudi memenuhi permintaannya, maka jalan satu-satunya hanya menantangnya!

"Ha-ha-ha, kusangka tadinya julukanmu hanya kosong belaka, siapa kira ternyata lebih kosong daripada yang kosong!"

Kata Keng Hong untuk memanaskan hati kakek itu.

"Memang aku menantangmu berdebat tentang filsafat. Kalimat terakhir tadi tentu tidak kau kenal, maka engkau mencari-cari alasan, kakek bongkok!"

Anehnya kakek itu tidak marah malah tertawa-tawa.

"Heh-heh-heh, engkau memujiku terlalu tinggi, orang muda. Siapa namamu tadi? Cia Keng Hong? Ah, aku mulai suka kembali kepadamu. Di dalam to-kauw terdapat paham bahwa yang kosong itu lebih berguna daripada yang isi, maka kau menyebut aku lebih kosong daripada ynag kosong. Pujian apa lagi yang lebih hebat daripada ini?"

Celaka, pikir Keng Hong.

Kakek ini benar angin-anginan dan mencampur-adukkan isi filsafat dengan ucapan-ucapan biasa.

Akan tetapi dia tidak kekurangan akal.

"Locianpwe, ada maksud saya dengan menjajarkan tiga ayat itu, karena dua ayat terdahulu sudah dapat Locianpwe tebak, harap tidak berlaku kepalang dan suka mengenal ayat terakhir tadi. Saya ulangi lagi. Tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka."

Kakek itu tertawa lalu bersenandung.

"Tukang-tukang pembuat saluran air mengalirkan airnya ke mana mereka suka; para pembuat panah meluruskan anak panahnya; tukang kayu melengkungkan sebatang kayu; para bijaksana mengendalikan diri pribadi!". Keng Hong meloncat dan berjingkrak-jingkrak saking senangnya.

"Ha-ha-ha! Itulah ayat ke delapan puluh dari kitab Jalan Suci Kebajikan (Dhammapada).!"

Kakek itu melangkah dekat dan menantang.

"Tak perlu mengejek! Kalau engkau memang seorang ahli dalam filsafat dari isi kitab suci dari tiga agama, mari berdebat dengan aku. Kalau aku kalah, aku akan membuang julukan Kuncu dan akan mengaku engkau sebagai guru!"

Keng Hong yang tadinya menari-nari kegirangan karena merasa dapat memecahkan arti tiga baris kalimat yang terukir di atas pedang Siang-bhok-kiam, tiba-tiba berdiam dan mengasah otaknya.

Kalau sudah mengenal, lalu bagaimana lanjutannya?

Bagaimana artinya yang berhubungan dengan rahasia penyimpanan pusaka-pusaka peninggalan gurunya?

Ia mendapat akal dan ingin mempergunakan perngertian yang mendalam dari kakek yang berjuluk Siauw-bin Kuncu itu untuk mencoba membongkar rahasia yang tersembunyi di balik tiga baris kalimat itu.

"Baiklah, Locianpwe. Akan tetapi karena Locinpwe yang menantang, harap Locianpwe yang lebih dahulu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang sulit-sulit.Kalau Locianpwe tidak dapat menjawab berarti Locianpwe kalah satu angka. Nanti kita saling perhitungkan, siapa yang mendapat angka terbanyak dia menang."

"Akur! Dapat menjawab mendapat satu angka, aku dapat menjawab dipotong satu angka. Majukan pertanyaanmu, bocah yang menyenamgkan hati!"

"Pertanyaan pertama. Apakah bedanya antara ketiga pelajaran yang Locianpwe sebutkan tadi, yaitu mengenai kalimat-kalimatnya yang saya sebutkan. Untuk jelasnya, apa bedanya antara tiga kalimat ini. Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan! Tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka!"

"Heh-heh-heh, pertanyaan kanak-kanak. Amat mudahnya, lebih baik kau tanyakan yang lain dan yang lebih sulit. Baiklah kujawab. Ketiganya tidak ada perbedaannya dan ketiganya mengandung nasihat agar manusia meniru sifat dari air yang amat bijaksana. Mengapa air disebut bijaksana dalam ayat-ayat suci itu? Pertama karena air bergerak secara wajar, tidak memaksa sesuatu tidak menentang sesuatu, menurut sifat alam, keluar dari sumbernya dan mengalir menuju ke tempat rendah, menyerahkan diri untuk segala macam benda yang membutuhkannya dan memanfaatkannya, tanpa pamrih, dan selalu menempatkan diri di tempat yang paing rendah. Itulah inti pelajaran itu dan ketiganya menggunakan sifat air sebagai contoh."

"Tepat sekali, Locianpwe dan biarlah untuk jawaban ini Locianpwe mendapatkan angka satu. Sekarang pertanyaan kedua. Ada hubungan apakah antara ketiga ayat itu?"

Kakek itu mengernyitkan alisnya.

Pertanyaan ini sulit sekali karena tidak mengandung maksud pemecahan filsafat, Lebih condong kepada pertanyaan teka-teki.

Akan tetapi dia tidak mau kalah karena kalau dia tidak dapat menjawab berarti dia kehilangan nilai satu angka!

Memang Keng Hong sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk memecahkan rahasia Siang-bhok-kiam.

Ia maklum bahwa tiga kalimat di pedang itu diambil dari tiga bagian ayat Too-tik-khing., Tiong-yong dan Dhammapada, dan jika di dalam kalimat-kalimat itu terdapat rahasia yang sifatnya filsafat, maka sudah tentu akan dapat dipecahkan oleh kakek bongkok yang ternyata seorang ahli dalam segala macam agama.

Kalau kakek bongkok ini tidak mampu memecahkannya, apalagi dia yang dahulu hanya menghafal saja segala kitab itu, belum dapat menyelami maknanya yang amat dalam.

Kalau tidak memiliki maksud tersembunyi yang dalam, juga akan dapat dia pelajari dari jawaban kakek itu.

"Hubungannya hanya penggunaan air sebagai contoh nasihat. Tidak ada hubungan apa-apa lagi kecuali persamaan yang menyebut air itu. Kalau dipaksakan hubungannya, tiada lain hanya air dan memang oleh air, seluruh dunia ini dipersatukan dan jika mengingat akan air, tidak ada lagi yang terpisah-pisah, segala sesuatu di dunia ini sambung-menyambung dan sesungguhnya hanya satu, seperti air samudera, biarpun terdiri dari titik-titik air, namun tak dapat dibedakan karena merupakan kesatuan yang tiada bedanya."

Keng Hong menganguk-angguk, akan tetapi sesungguhnya di dalam hatinya dia menjadi bingung.

Agaknya, ketika menuliskan kalimat-kalimat itu, gurunya maksudkan AIR!

Akan tetapi, apa artinya air yang hendak ditunjukkan gurunya itu?

Air di puncak Kiam-kok-san?

Apa maksudnya?

Air selalu mengalir ke tempat rendah!

Dan di puncak itu ada sebuah kolam kecil yang menampug semua air yang jatuh dari langit, baik air hujan maupun air dari embun dan dari kolam ini, air mengalir ke bawah seperti sebuah sungai kecil, hanya dua kaki lebarnya, terus ke bawah melalui celah-celah batu karang.

"Bagus sekali jawabanmu, Locianpwe. Biarlah aku kalah dua nilai. Sekarang pertanyaan ketiga. Kalau ada orang menuliskan tiga buah kalimat tadi bersambung, dengan niat untuk memberitahukan sesuatu yang rahasia, yaitu hendak menunjukkan sesuatu tempat rahasia, apakah maksudnya?"

Mata kakek itu terbelalak.

"Eh, orang muda. Benar-benarkah engkau tidak gila?"

Keng Hong tersenyum lebar.

"Masih belum, Locianpwe. Kalau kelak sudah gila, akan kuberi tahu kepada Locianpwe. Sekarang aku belum gila!"

"Kita berdebat tentang filsafat, akan tetapi kau selalu mengajukan pertanyaan seperti anak-anak penggembala kerbau bermain teka-teki! Aku tidak sudi menjawab kalau kau hendak mempermainkan aku orang tua!"

"Ah, sungguh mati saya tidak mempermainkan Locianpwe. Pertanyaan saya ini amatlah penting bagi saya. Percayalah, Locianpwe, hanya satu pertanyaan itu lagi saja. Setelah itu, saya akan bertanya kepada Locianpwe tentang filsafat yang amat tinggi dan yang belum tentu bisa dijawab oleh dewa sekalipun, yaitu tentang mati dan hidup dan isinya!"

"Bagus! Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang seharusnya kudengar! Hayo lekas ajukan pertanyaan-pertanyaan tentang mati atau hidup itu."

"Nanti dulu Locianpwe. Saya minta Locianpwe menjawab lebih dulu pertanyaan saya tadi. Apa kira-kira yang dimaksudkan oleh orang yang merangkai tiga kalimat itu untuk menunjukkan sebuah tempat rahasia?"

Kakek itu meraba-raba dagunya, kemudian menggaruk-garuk botaknya.

"Hemmm, kau keras kepala. Akan tetapi agaknya orang yang meninggalkan tanda seperti itu adalah seorang yang suka bergurau, seorang yang merasa kesepian sehingga melihat air pun lalu timbul pikiran yang bukan-bukan untuk mempermainkan orang lain. Tentu dia maksudkan air yang mengalir. Mungkin tempat yang dia rahasiakan itu dapat dicapai menurutkan air yang mengalir ke bawah. Dan karena dalam kalimat itu tidak terdapat angka-angka, maka mungkin sekali angka-angka sebagai ukuran tempat itu diambil dari nomor-nomor ayat dan bagian dari ketiga ayat suci itu. Kebijaksanaan tertinggi seperti air, terdapat dalam Too-tik-khing bagian ke delapan. Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan adalah sifat-sifat kuncu seperti dinasihatkan dalam kitab Tiong-yong bagian tiga puluh satu ayat dua, adapun yang terakhir tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka terdapat dalam kitab Dhammapada pasal enam ayat delapan puluh. Kalau diambil angka-angka dalam ketiga ujar-ujar itu, maka terdapat angka delapan, tiga puluh satu, dua, enam, dan delapan puluh. Jika dijumlahkan, menjadi seratus dua puluh tujuh. Mungkin itulah rahasianya, tempatnya mengikuti aliran air, dan jumlah ukurannya seratus dua puluh tujuh!"

Keng Hong hampir berjingkrak-jingkrak dan menari-nari lagi.

Itulah agaknya!

Tidak ada lain tafsiran dan perhitungan lagi.

Itu tentu yang dimksudkan mendiang suhunyal.

Rahasia Siang-bhok-kiam!

Rahasia tempat penyimpanan pusaka!

Rahasia tiga baris kalimat di Pedang Kayu Harum itu!

"Terima kasih, Locianpwe.

Sungguh budi Locianpwe amat besar bagi saya!"

Setelah berkata demikian, Keng Hong membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan tempat itu.

"Eh, eh, eh, nanti dulu, orang muda! Seeokor kerbau diikat hidungnya, akan tetapi seorang manusia yang diikat mulutnya yang sudah berjanji! Engkau tadi berjanji akan mengajukan pertanyaan tentang mati atau hidup. Hayo penuhi janji out lebih dulu, kemudian aku yang akan balas mengajukan pertanyaan-pertanyaan."

Dalam kegembiraannya, Keng Hong tadi hampir lupa akan janjinya, maka sambil tertawa dia lalu berhenti dan menghadapi kakek itu lagi.

Ia mengerutkan alisnya, berpikir dan mengingat-ingat.

Banyak filsafat hidup yang dia ketahui, dan di dalam kesempatan itu, dia akan mengajukan pertanyaan yang dia sendiri belum dapat menjawabnya dan yang jawaban kakek itu akan dapat menambah pengertiannya tentang hidup dan mati.

"Pertanyaan pertama, Locinpwe. Untuk apa manusia hidup harus melakukan kebajikan?"

"Heh-heh-heh, baru pertanyaanmu itu saja sudah tidak tepat, orang muda. Pertanyaanmu itu menyatakan bahwa seolah-olah kebajikan harus dilakukan UNTUK sesuatu. Padahal, sesuatu yang dilakukan dengan parih, bukanlah kebajikan lagi namanya. Seharusnya pertanyaan itu berbunyi . Mengapa manusia hidup harus melakukan kebajikan? Nah, untuk pertanyaan ini kujawab begini dan dengarlah baik-baik karena setiap orang manusia perlu mengetahui dan sadar akan hal ini."

Keng Hong mengangguk-angguk dan mendengarkan penuh perhatian.

"Kebajikan merupakan kewajiban manusia hidup karena hidup itu sesuai dan selaras dengan alam, maka untuk menyesuaikan diri dengan alam yang memberi manfaat pada setiap benda, manusia pun harus memnafaatkan diri sebagai sebagian daripada alam. Adapun pemanfaatan diri inilah yang mengharuskan manusia berkewajiban untuk mengisi hidupnya dengan kebajikan. Kebajikan berarti segala perbuatan baik yang ditujukan kepada orang lain atau sesama hidup. Perbuatan baik dalam arti kata berbuat demi keuntungan dan kesenangan orang lain. Karena itu harus tanpa pamrih karena dengan begitu barulah kebajikan ini wajar, seperti alam sendiri yang memberi tanpa meminta, tanpa pamrih. Kebajikan yang dilakukan dengan pamrih berarti palsu, hanya merupakan kedok untuk menutupi nafsu sendiri. Contohnya, kalau engaku menolong seseorang dengan pamrih rahasia dalam hati sendiri yaitu agar supaya engkau memperoleh pujian, maka perbuatanmu menolong itu sesungguhnya bukanlah kebajikan karena dasarnya bukan untuk menolong melainkan melakukan daya upaya agar memperoleh pujian! Andaikata di sana tidak ada harapan untuk memperoleh pujian, tentu saja engaku takkan suka melakukan perbuatan itu. Kebajikan sejati yang tanpa pamrih, adlah kebajikan yang dilakukan dengan kesadarnn bahwa itu adalah sebuah kewajiban mutlak dalam hidup. Kalau manusia sudah membiasakan diri meletakkan kebjaikan sebagai kewajiban hidup, maka pamrihnya akan lenyap karena perbuatan itu tidak dianggapnya baik atau buruk lagi, melainkan pelaksanaan tugas kewajiban hidup. Dan sebagaimana biasa, setiap kewajiban jika dilakukan dengan baik, akan mendatangkan rasa lega di hati dan lapang di dada."

Keng Hong mengangguk-angguk.

Banyak sudah dia membaca uraian tentang kebajikan yang harus dilaksanakan manusia hidup di dunia ini, ada yang muluk-muluk uraiannya, ada yang berbelit-belit.

Uraian kakek ini sederhana sekali dan gamblang, mudah dimengerti dan juga mudah diterima oleh akal.

Benda apakah yang tidak ada guna atau manfaatnya di dunia ini?

Semua ada manfaatnya bagi makhluk lain, memberi, memberi dan memberi tanpa pamrih.

Buah-buahan pada pohon, bunga-bunga indah, tanah dan air, angin dan hujan, matahari dan bulan, binatang-binatang.

Manusia berakal budi, masa kalah oleh yang lain dala mengusahakan agar dirinya bermanfaat bagi dunia dan isinya?

Tentu saja manfaat yang ditimbulkan oleh perbuatan yang berguna dan menguntungkan sesamanya.

Tidak melakukan kebajikan berarti sudah mengabaikan kewajiban hidup, apalagi melakukan hal yang menjadi lawannya, yaitu kejahatan!

"Bagus sekali uraian Locinpwe dan sudah membuka mata dan pikiran saya.

Sekarang pertanyaan terakhir, Locianpwe.

Bagaimanakah sikap manusia selagi hidup dan apa yang harus dilakukan sesudah mati?"

Kakek itu terkekeh.

"Ha-ha-ha, jangan engkau memasukkan dirimu ke dalam kelopok mereka yang merasa ngeri menghadapi kematian, orang muda. Patut dikasihani mereka itu yang takut menghadapi pengalaman yang belum pernah dialaminya itu, ketakutan karena bayangan-bayangan sendiri. Aku lebih condong kepada pelajaran Nabi Khong-cu yang mengingatkan murid-muridnya mengapa ingin mengetahui tentang kematian sedangkan tentang hidupnya sendiri saja belum tahu artinya dan belum dapat mengisinya dengan sempurna? Seperti lahir bukan kehendak manusia, matipun bukan kehendak manusia, oleh karena itu lebih baik tentang kematian kita serahkan saja pada Pengurusnya karena itu bukanlah urusan atau wewenang manusia yang masih hidup. Yang terpenting sekarang adalah mengisi hidup, memepelajari tentang soal perikehidupan dan lika-likunya, seluk-beluknya karena kita adalah manusia hidup selaras dan sesuai dengan kehendak ala, kita harus dapat MENYESUAIKAN DIRI dengan apa yang ada disekeliling kita. Menyesuaikan diri terhadap manusia lain yang kita hadapi. Menyesuaikan kedalam lingkungan masyarakat dimana kita tinggal. Menyesuaikan diri dengan keadaan. Dengan menyesuaikan diri berarti tidak menentang karena hanya pertentangan yang akan menimbulkan keretakan dan kehancuran. Penyesuaian diri tentu akan meenimbulkan kerukunan, kecocokan dan dalam keadaan seperti ini, akan lebih mudah memanfaatkaan diri seperti yang telah kusinggung-singgung tadi tentang kewajiban manusia untuk mengisi hidup dengan kebajikan."

Keng hong yang hatinya masih diliputi ketegangan dan kegembiraan karena marasa dapat memecahkan rahasia Siang-bhok-kiam, menganggap sudah cukup mengobrol tentang hal yang amat tinggi dan sukar itu, maka ia cepat menjura dengan hormat dan berkata.

"Locianpwe, saya menghaturkan banyak terima kasih atas semua wejangan Locianpwe yang amat berharga bagi saya. Harap Locianpwe maafkan bahwa saya tidak dapat melayani Locianpwe lebih lama lagi."

"Eh-eh-eh, nanti dulu, orang muda. Engkau sudah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang semua sudah kujawab. Sekarang tiba giliranku untuk bertanya tentang".."

"Saya mengaku kalah, Locianpwe. Memang Locianpwe hebat sekali dalam soal filsafat dan saya patut menjadi murid Locianpwe.bagaimana saya berani berdebat dengan Locianpwe? Sudahlah, saya mengaku kalah dan kelak kalau kita ada kesempatan bertemu lagi, tentu saya akan menyediakan lebih banyak waktu untuk mendengarkan wejangan-wejangan Locianpwe yang amat berharga. Selamat tinggal!"

Keng Hong tidak memberi kesempatan lagi kepada kakek itu untuk membantah karena dia sudah cepat berkelabat melarikan diri sambil mengerahkan tenaganya.

Ia mendengar kakek itu memanggil-manggil, namun dia tidak peduli dan berlari terus secepatnya.

Dia kagum akan pengetahuan kakek itu tentang kitab-kitab suci dan ayat-ayatnya, kagum akan pandangan kakek itu tentang hidup.

Akan tetapi dia merasa sangsi apakah kakek itu sudah dapat mengetrapkan semua teori dalam praktek, Apakah kakek itu sudah dapat menyesuaikan tiga serangkai yang tak boleh dipisah-pisahkan dalam ilmu kebatinan, yaitu sesuainya hati, kata, perbuatan.

Dia belum pernah menyaksikan sepak terjang kakek itu, akan tetapi orang telah berani memakai julukan Kuncu (Budiman Bijaksana) sungguh amat meragukan!

Akan tetapi setelah berlari jauh dan tidak melihat kakek itu mengejarnya, Keng Hong sudah melupakan lagi kakek itu.

Pikirannya penuh dengan pemecahan rahasia Siang-bhok-kiam.

Semenjak turun dari Kiam-kok-san, dia selalu bertemu dengan peristiwa-peristiwa hebat, bertemu dengan orang-orang yang berkepandaian tinggi dan beberapa kali terancam bahaya maut.

Memang benar seperti pesan suhunya, kepandaiannya sendiri masih jauh daripada mencukupi untuk melindungi dirinya terhadap ancaman orang-orang sakti di dunai kang-ouw yang selalu membayanginya, Yang amat tamak hendak merampas pusaka yang tersembunyi di balik rahasia Siang-bhok-kiam.

Dia kini sudah dapat membuka rahasia itu.

Dia harus kembali ke Kiam-kok-san mencari pusaka suhunya dan menggembleng diri dengan ilmu-ilmu gurunya.

Setelah kepandaiannya cukup, mewarisi ilmu-ilmu gurunya, baru dia akan turun dari Kiam-kok-san dan dia akan dapat menghadapi lawan manapun juga dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, seperti sikap gurunya ketika menghadapi begitu banyak lawan.

Dari pegunungan Bayangkara, Keng Hong terus lari ke barat dan beberapa hari kemudian dia telah memasuki daerah Pegunungan Kun-lun-san.

Sesungguhpun Kun-lun-san dianggap sebagai pusat atau markas besar para tosu Kun-lun-pai, akan tetapi hal ini sebetulnya hanyalah anggapan dunia kang-ouw saja.

Kun-lun-san adalah daerah pegunungan yang amat luas dan besar, sedangkan Kun-lun-pai hanyalah sebuah partai persilatan yang dibentuk oleh sekelompok tosu yang kemudian berkembang biak dengan murid-murid mereka, juga akhir-akhir ini kesemuanya tosu belaka.

Biarpun jumlah mereka banyak, dan yang berdiam di puncak Kun-lun tidak kurang dari dua ratus orang, namun jumlah yang sedemikian itu tidak ada artinya bagi Pegunungan Kun-lun-san yang amat luas itu.

Di sepanjang kaki Pegunungan Kun-lun-san, juga di lereng-lereng, terdapat pedusunan dan di bagian-bagian yang sunyi terdapat banyak pula pertapa-pertspa yang menyembunyikan diri.

Hanya karena mereka ini memnag bersembunyi di tempat sunyi untuk bertapa dan tidak pernah mencampuri urusan dunia, maka fihak Kun-lun-pai juga tidak pernah mau menganggap mereka.

Bahkan para tosu Kun-lun-pai itu sering kali turun tangan membantu para penduduk dusun-dusun di situ.

Karena pengaruh Kun-lun-pai pula maka tidak seorang pun perampok berani mengacau di daerah Kun-lun-san.

Keng Hong terpaksa menghentikan perjalanannya dalam sebuah hutan ketika malam tiba.

Ia merasa amat lelah karena selama beberapa hari melakukan perjalanan terus-menerus dan hanya berhenti kalau malam tiba.

Makannya tidak teratur, kadang-kadang selama dua hari baru bertemu makanan.

Malam ini dia lelah sekali dan begitu membuat api unggun dan merebahkan diri di bawah pohon, dia segera jatuh pulas.

Malam itu gelap, tiada bulan dan angkasa hanya diterangi bintang-bintang yang sinarnya terlampau suram untuk dapat menembusi celah-celah daun pohon yang lebat.

Menjelang tengah malam, dalam keadaan setengah sadar setengan mimpi, dia merasa betapa dia diberi minum orang.

Dalam keadaan setengah sadar itu dia merasa betapa lengan yang halus lunak dan hangat memeluk lehernya, mengangkat kepalanya dan ketika pundaknya menyentuh dada yang menonjol, Keng Hong diam-diam tersenyum.

Ada wanita yang bentuk tubuhnya halus lunak dan padat wanita muda, mencoba untuk meminumkan sesuatu kepadanya.

Dia tidak takut akan segala macam racun karena dia sudah kebal terhadap racun, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menurut saja dan minum dari cawan yang ditempelkan di bibirnya.

Bibir cawan yang halus, rasa anggur yang ahrum dan manis, mengingatkan dia akan bibir Sim Ciang Bi, gadis Hoa-san-pai yang belum lama ini telah melayaninya dalam cinta kasih yang mesra, maka setelah minum habis anggur itu, dia berbisik.

"Ciang Bi.. Kekasihku.."

Akan tetapi tiba-tiba lengan yang halus itu merangkulnya lebih erat dan sepasang bibir yang hangat menyumbat mulutnya dalam sebuah ciuman yang membuat Keng Hong bergidik.

Kalau Ciang Bi, betapapun mencintainya, tak mungkin dapat memberinya ciuman seberani dan sepenuh nafsu seperti ini.

Hanya Cui Im yang akan dapat melakukan ciuman seperti ini.

Akan tetapi Keng Hong tidak peduli melainkan menerima hal itu sebagai suatu kenikmatan, pelipur hati gelisah dan lelah setelah mengalami banyak hal yang berbahaya.

Dia tidak minta, dia tidak mengajak, melainkan gadis itu sendiri yang datang dan "memperkosanya".

Bukan, bukan memperkosa karena dia menerima dengan senang hati!

Watak gurunya menurun kepadanya!

Cinta kasih wanita dianggapnya sebagai semacam "rejeki"

Yang tidak boleh ditolaknya, apalagi kalau wanita itu seperti ini, muda jelita, halus, hangat dan haru seperti serangkai bunga mawar pagi.

Segar menggairahkan!

Keng Hong membiarkan dirinya dihanyutkan permainan cinta kasih yang menggelora.

Ia berada dalam keadaan setengah sadar.

Arak yang diminumnya tidak mempengaruhinya karena gumpalan hawa beracun yang wangi ia kumpulkan di dada dan kini perlahan-lahan dia hembuskan keluar kembali.

Ia teringat bahwa arak semacam ini adalah arak yang pernah diminumnya dari Ang-kiam Tok-sian-li Bhe-Cui-Im.

Cui-Im-kah gadis ini?

"Keng Hong...

akulah kekasihmu....

hanya akulah yang mencintaimu"""

Suara Cui-Im-kah ini?

Atau suara Biauw Eng?

Sukar bagi Keng Hong untuk mengenal gadis ini karena malam itu sangat gelap dan api unggun yang tadi dinyalakannya telah padam.

Namun dia tidak peduli dan hanya menyelamkan diri dalam lautan cinta yang memabukkan.

Keng Hong sadar dari tidurnya.

Mimpikah dia semalam?

Ia meraba ke kiri dan membuka mata, meraba tubuh yang menggairahkan yang semalam rebah di sampingnya.

Akan tetapi kosong!

Tangannya hanya meraba rumput yang masih hangat.

Ia membuka matanya.

Cuaca tidak segelap malam tadi.

Kiranya sudah menjelang fajar.

Ia mendegar suara kaki di sebelah kanan, cepat menoleh dan masih tampak olehnya Sie-Biauw-Eng dengan pakaian serba putihnya yang mudah dikenal itu berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Aihhhhh!

Biauw Eng kiranya gadis yang begitu mesra kepadanya semalam!

Jantung Keng Hong berdebar dan dia meloncat bangun, berteriak.

"Nona Biauw Eng"..!"

Akan tetapi bayangan putih itu lenyap dalam halimun pagi yang memenuhi tempat itu.

Keng Hong bangun duduk, tidak mengejar, lalu mengenakan pakaiannya untuk melawan hawa yang amat dingin itu.

Dilihatnya sebuah cawan kosong menggeletak di situ, dan sebuah tusuk konde berkepala bunga bwee.

Lagi-lagi sebuah di antara senjata rahasia Sie Biauw Eng, agaknya jatuh tercecer.

Ia melamun, bermacam perasaan mengaduk hatinya.

Kemudian dia tersenyum pahit dan entah mengapa, hatinya merasa kecewa sekali.

Sie Biauw Eng gadis itu!

Gadis yang semalam menggerumutnya, yang ternyata tiada bedanya dengan Bhe Cui Im!

Gadis yang menjadi hamba nafsu birahi, yang tidak kuat hatinya sehingga mudah tunduk ke dalam cengkeraman nafsu.

Kiranya tiada bedanya antara Biauw Eng dan Cui Im, bahkan Biauw Eng lebih jahat lagi.

Tidak hanya menjadi haba nafsu birahi, juga hati Biauw Eng amat kejam.

Gadis itu telah membunuh Sim Ciang Bi gadis Hoa-san-pai itu secara keji sehingga gadis Hoa-sa-pai yang dia tahu benar-benar mencintainya, bukan hanya oleh dorongan hawa nafsu birahi itu tewas dalam pelukannya!

Rasa kagum dan juga rasa aneh yang pernah dia kandung terhadap diri Biauw Eng, Mungkin karena Biauw Eng adalah puteri suhunya, yang mungkin juga merupakan perasaan cinta kasih yang sesungguhnya, bukan cinta nafsu yang mempengaruhi hatinya ketika dia melayani Cui Im, bahkan ketika dia bercinta dengan Sim Ciang Bi sekalipun perasaan itu kini berubah menjadi perasaan muak dan benci.

Muak dan benci terhadap Biauw Eng yang timbul dari kecewa dan sesal.

Mengapa puteri suhunya macam itu?

Karena Biauw Eng membunuh banyak orang Tiat-cang-pang dengan senjata rahasianya, maka dia makin dibenci orang-orang Tiat-ciang-pang.

Karena Biauw Eng membunuh Sim Ciang Bi secara keji, tentu saja dia akan dimusuhi oleh Hoa-san-pai dengan hebat!

Dan kini secara tak tahu malu, di malam buta, Biauw Eng agaknya tak dapat menahan gelora nafsu birahinya dan menggerumutnya seperti seorang pelacur.

"Terkutuk! Engkau tidak patut menjadi puteri mendiang suhu! Engkau puteri lam-hai Sin-ni nenek iblis itu, akan tetapi aku tidak percaya engkau puteri guruku. Engkau iblis betina yang keji dan jahat!"

Ia memaki sambil bangun berdiri, menendang pergi cawan kosong dengan jijik.

Kalau dia tahu benar bahwa gadis semalam itu adalah Biauw Eng, betapapun mesranya sikap gadis itu, betapapun indah menggairahkan tubuhnya, dia tentu akan menendangnya pergi!

Baru sekarang, Keng Hong merasa sebal dan menyesal sekali telah menuruti hati mengejar kenikmatan dalam menyambut cinta kasih seorang gadis.

Kemudian, dengan hati panas dan penuh kebencian, dia lalu berlari-lari pergi dari situ menuju ke barat.

Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia peduli akan semua yang dilakukan Biauw Eng?

Padahal, Cui Im juga jahat dan keji, namun dia sama sekali tidak menyesal telah bermain cinta dengan murid Lam-hai Sin-ni yang seperti iblis itu.

Mengapa dia merasa menyesal mendapat kenyataan bahwa Biauw Eng bukan seorang gadis baik-baik yang patut menjadi puteri gurunya?

Mengapa menyesal mendapat kenyataan bahwa gadis pakaian putih itu ternyata juga seorang hamba nafsu birahi dan seorang yang keji, yang membunuh orang lain yang tak berdosa tanpa berkedip mata?

Dia sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan hatinya yang ditujukan kepada perasaannya itu.

Hatinya agak lega setelah dia mengenal daerah yang sudah termasuk daerah Kun-lun-san ini.

Memasuki daerah Kun-lun-san berarti berada di wilayah yang dikuasai Kun-lun-pai, daerah aman.Dia tentu takkan menghadapi gangguan-gangguan para tokoh kang-ouw lagi setelah berada di sini.

Akan tetapi tidak mungkin dia pergi menghadap tokoh-tokoh Kun-lun-pai, karena para tokoh-tokoh kun-lun-pai mengetahui dia berada di situ, tentu dia akan ditangkap dan tidak ada harapan lagi baginya untuk naik ke Kiam-kok-san.

Dia harus dapat mencapai Kiam-kok-san dengan diam-diam, tanpa diketahui tokoh-tokoh Kun-lun-pai.

Kalau dia sudah berada di puncak Kiam-kok-san, biarpun diketahui juga, takkan ada yang berani menyusulnya ke tempat itu.

Akan tetapi dugaannya ini ternyata keliru karena baru saja dia keluar dari hutan itu, dia melihat banyak orang menghadang di sebelah depan!

Ia tadinya mengira bahwa mereka tentulah tokoh Kun-lun-pai, akan tetapi dugaannya keliru karena ketika dia sudah tiba dekat dengan mereka, dia mengenal tosu tua yang berdiri di depan itu adalah seorang di antara para tokoh yang pernah mengeroyok suhunya, yaitu Kok Cin Cu tosu termuda dari Kong-thong Ngo-iojin, seorang tokoh Kong-thong-pai yang amat lihai!

Dan di sebelah belakang tosu ini berdiri sepuluh orang, delapan orang pria dan dua orang wanita yang rata-rata berusia tiga puluh tahun, bersikap gagah dan galak, sedangkan dua orang wanita itu pun kelihatan gagah, berwajah cantik dan bermata tajam.

Ia dapat menduga bahwa sepuluh orang itu tentulah murid-murid Kong-thong-pai.

Karena dia sendiri belum pernah bentrok secara hebat dengan fihak Kong-thong-pai, kecuali dengan sembilan orang murid Kong-thong-pai yang beberapa orang di antaranya juga seorang di antara dua wanita cantik itu kini berada di situ, maka dia masih mempunyai harapan untuk membebaskan diri dari keadaan tidak enak dalam perjumpaannya dengan tokoh besar Kong-thong-pai yang memimpin sepuluh orang murid itu.

Ketika dia bentrok dengan sembilan orang murid Kong-thong-pai yang bercampur dengan empat orang murid Hoa-san-pai dan tiga orang murid Siauw-lim-pai, yang bertempur sesungguhnya adalah Cui Im dan Biauw Eng dan biarpun ada yang terluka di antara beberapa orang Kong-thong-pai, namun tidak ada yang sampai tewas.

Ia cepat menjura penuh hormat kepada tosu itu sambil berkata.

"Selamat pagi, Totiang dan para Twako dan Cici dari Kong-thong-pai yang mulia!"

Kok Cin Cu, tosu yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih itu, memandang penuh perhatian.

Dia sudah mendengar cerita para muridnya tentang pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong ini, yang kabarnya memiliki ilmu mujijat, yaitu menyedot hawa sinkang muridnya.

Mendengar itu dia menjadi penasaran dan tertarik sekali, lalu mengajak mereka dan beberapa orang murid lain untuk menghadang di kaki Kun-lun-san karena merasa yakin bahwa sekali waktu pemuda itu tentu akan kembali ke Kun-lun-san.

Dia tercengang melihat bahwa pemuda ini seorang bocah biasa saja, tampan dan memiliki sinar mata yang cemerlang, sikap yang sopan santun danwajah yang berseri gembira.

Juga dia terheran melihat pemuda ini seperti mengenalnya.

"Hemmm, engkau telah mengenal pinto?"

Keng Hong tersenyum.

"Tentu saja saya mengenal Totiang. Bukankah Totiang yang disebut Kok Cin Cu, tokoh termuda dari Kong-thong Ngo-Lojin?"

"Siancai...! Agaknya Sin-jiu Kiam-ong tidak menyimpan sesuatu rahasia terhadap murid tunggalnya. Bukankah engkau murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong?"

"Benar, Totiang. Saya Cia Keng Hong, murid dari suhu Sin-jiu Kiam-ong dan betul pula bahwa saya mendengar segala hal tentang Kong-thong-pai dari mendiang suhu."

"Hal apa saja kau dengar?"

"Bahwa Kong-thong-pai adalah sebuah partai persilatan besar yang mengutamakan kebajikan berdasarkan kegagahan, keadilan dan kebenaran. Bahwa Kong-thong Ngo-iojin merupakan lima tokoh besar yang menjadi tulang punggung Kong-thong-pai dan banwa suhu bersahabat baik dengan pimpinan Kong-thong-pai,"

Kata Keng Hong, sengaja menambah untuk mendinginkan suasana.

"Bersahabat baik apanya? Dia telah membunuh lima orang murid Kong-thong-pai dan engkau masih mengatakan bersahabat baik ? Kalau dia bersahabat baik, tentu dia tidak akan begitu pelit untuk memberikan siang-bhok-kiam kepada pinto sebagai tebusan kesalahannya kepada pihak kami. Pinto hanya mengharapkan agar engkau sebagai muridnya, dapat melihat kekeliruan gurumu dan dapat menebus semua kesalahan agar persahabatan akan terpelihara."

Keng Hong menghela napas panjang.

Tak lain tak bukan, ke situ juga larinya.

Alangkah tamaknya kaum kang-ouw ini dalam mengejar ilmu.

Mereka itu seolah-olah tidak ada puasnya dalam mencari ilmu-ilmu yang tinggi, seolah-olah berlumba agar menjadi jagoan nomor satu di dunia, lupa bahwa semua itu akan musnah dan habis digerogoti waktu dan usia, akhirnya ditelan oleh kematian.

Bahkan kakek yang begini tua masih begitu tak untuk memperebutkan pusaka peninggalan suhunya.

Apakah kakek ini masih mempunyai waktu untuk mempelajari dan kemudian mempunyai kesempatan pula untuk mempergunakan ilmu yang dipelajarinya?

Sungguh manusia-manusia merupakan badut-badut yang tidak lucu, bahkan menjemukan, selalu menjadi hamba daripada nafsu dan ketamakannya.

Ada yang tamak dalam mengejar kedudukan tinggi, Mengejar nama besar, mengejar kemuliaan duniawi, mengejar wanita, atau seperti orang-orang kang-ouw ini, mengejar ilmu agar menjadi orang yang paling hebat di dunia ini!

Benar gurunya!

Gurunya tidak mengejar, melainkan menerima segala sesuatu sebagai suatu berkah, suatu nikmat hidup, suatu kesenangan!

Gurunya yang melakukan segala sesuatu demi kesenangan hidup, tidak menyia-nyiakan hidupnya untuk mengejar sesuatu.

Tentu saja Keng Hong tidak tahu keadaan gurunya seperti itu pun adalah sebagai akibat daripada suatu sebab, yaitu sebab patah hati oleh cinta kasih yang ternoda.

Dia masih terlalu muda, masih belum berpengalaman untuk dapat meneropong sepak terjang gurunya yang dianggapnya sebagai pengganti orang tua, merupakan satu-satunya manusia di permukaan bumi yang dianggapnya paling baik.

"Maaf, Totiang. Menurut cerita guru saya, bentrokan yang terjadi antara suhu dan anak murid Kong-thong-pai adalah bentrokan antara orang-orang ada yang sedang bermain judi, artinya merupakan bentrokan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Kong-thong-pai. Kalah menang dalam perkelahian sudah wajar, terluka atau mati juga hanya merupakan resiko-resiko dalam sebuah pertandingan. Kebetulan murid-murid Kong-thong-pai yang kalah dan tewas. Bagaimana kalau suhu yang ketika itu kalah dan tewas? Saya rasa urusan seperti itu saja tidak perlu diperpanjangan, apalagi diperpanjang, apalagi kedua fihak, baik lima orang murid Kong-thong-pai yang kalah maupun suhu yang menang, telah meninggal dunia. Saya menganggap bahwa urusan itu sudah!"

"Aha, kulihat engkau seorang muda yang berpemandangan luas. Tentu engkau akan dapat mengerti pula akan kesediaan pinto menghapus semua luka lama dengan sebuah tangan murid Sin-jiu Kiam-ong yang akan memenuhi permintaan pinto."

Diam-diam Keng Hong menjadi jengkel juga.

"Kalau saya tidak salah artikan tentu Totiang maksudkan pedang Siang-bhok-kiam, bukan?"

Tosu itu tersenyum dan mengangguk.

"Engkau seorang muda yang gagah dan cerdik, tentu maklum apa yang kami kehendaki."

"Tentu Totiang sendiri juga sudah tahu jelas bahwa Siang-bhok-kiam telah saya serahkan kepada Kun-lun-pai."

Tosu tua itu meraba-raba jenggotnya yang panjang.

"Tentu saja pinto tahu. Akan tetapi pinto juga tahu bahwa fiahak Kun-lun-pai telah kena dibohongi, telah terkena tipuanmu. Aha engkau benar-benar menuruni sifat Sin-jiu Kiam-ong yang nakal, orang muda. Masa para pimpinan Kun-lun-pai sampai kena kau bohongi, kau beri sebuah pedang kayu yang palsu. Ha-ha-ha! Sungguh amat lucu sekali."

Keng Hong terkejut.

"Ah, jadi""

Mereka sudah tahu"""."

"Sudah, rahasiamu telah terbuka dan engkau berada dalam bahaya aut yang hebat. Maka mengingat persahabatan pinto dengan gurumu, sebaiknya engkau serahkan pedang itu atau memberitahukan tempatnya kepada pinto, dan pinto beserta semua pimpinan Kong-thong pai akan melindungimu. Percayalah, Kong-thong Ngo-Iojin masih memiliki cukup wibawa untuk melindungi murid Sin-jiu-kiam-ong."

Keng Hong maklum bahwa kini dia telah menambah ancaman baru bagi dirinya, menambah musuh baru yang amat hebat, yaitu pihak Kun-lun-pai!

Ternyata pihak Kun-lun-pai telah mengetahui akan kepalsuan pedang yang dia berikan kepada Kiang Tojin!

Akan tetapi, untuk menyerahkan diri berlindung kepada Kong-tong-pai, dia tidak sudi.

Dia sudah berbuat, dan dia sendiri pula yang harus bertanggung jawab, demikian ajaran yang dia terima dari gurunya.

Bukan sengaja dia hendak menipu Kun-lun-pai, adalah Kun-lun-pai sendiri tidak benar, yang hendak memaksa minta pedang Siang-bhok-kiam darinya.

"Terima kasih atas atas kebaikan Totiang akan tetapi saya tidak dapat memberikan pedang itu kepada Totiang, karena pedang itu telah lenyap dan saya sendiri tidak tahu berada di mana."

Wajah tosu itu menjadi merah.

"Bohong kau!"

"Terserah penilaian Totiang, akan tetapi yang jelas, saya tidak dapat memberikan pedang itu kepada siapapun juga."

"Cia Keng Hong, bocah masih ingusan seperti engkau ini berani menentang pinto?"

"Totiang, agaknya menurut kenyataannya, baik mendiang suhu maupun saya sendiri tidak pernah menentang siapa-siapa, tidak menentang Totiang juga tidak memusuhi Kong-thong-pai. Adalah Totiang sendiri dan para tokoh kang ouw yang dahulu mendesak-desak suhu dan sekarang setelah suhu meninggal dunia, mendesak-desak saya. Memang soal kebenaran tidak bisa diperebutkan, Totiang, karena setiap orang selalu melihat kebenaran dari sudut demi kepentingan pribadi. Yang penting adalah buktinya. Sekarang kita bertemu dijalan kalau kita masing-masing jalan sendiri, bukankah tidak akan timbul pertentangan? Saya hendak membuktikan bahwa saya tidak menentang siapa-siapa, yaitu saya hendak mengambil jalan sendiri, tidak mengganggu Totiang sama sekali. Hendak saya lihat, siapakah diantara kita yang mencari pertentangan."

Setelah berkata demikian, Keng Hong melangkah pergi dan hendak melewati orang-orang yang menghadangnya itu dengan jalan memutar.

"Mau atau tidak, engkau harus ikut bersama kami ke Kong-thong-pai! Di sana, dihadapan Kong-thong Ngo-lojin, baru kau boleh bicara membela diri"

Kata Kok Cin Cu sambil melangkah dan menghadang Keng Hong.

Pemuda itu menjadi penasaran dan marah sekali.

Diantara banyak watak gurunya, sebuah watak yang diwarisinya adalah watak tidak takut menghadapi apapun asal merasa benar.

Ia maklum akan kelihaian kakek ini, maklum dari penuturaan gurunya bahwa kelima orang tua Kong-thong Ngo lojin memiliki ilmu pukulan Ang-liong-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Naga Merah) dan amatlah ampuhnya, mengandung tenaga panah melebihi api membara dan merupakan kesaktian yang amat sukat dikalahkan.

Ia pun mendengar pula bahwa selain Ang-liong-jiauw-kang, kelima orang kakek itu mempunyai senjata keistimewaan sendiri-sendiri dan Kok Cin Cu ini memiliki senjata sabuk baja yang dipergunakan sebagai pecut.

Akan tetapi melihat betapa kakek ini mendesak dan memaksanya, timbul sifat keras kepalanya dan dia menjawab dengan tegas.

"Sebaliknya, Totiang. Dengan cara apa pun juga, Saya tidak mau ikut ke Kong-thong-pai karena tidak mempunyai urusan dengan siapapun juga di sana!"

"Bagus, engkau berani menentang pinto, ya?""

"Saya bukan menentang orangnya melainkan perbuatan dan sikapnya yang tidak benar yang saya tentang!"

"Bocah sombong! Kau kira pinto takkan dapat menangkapmu?"

Tosu tua itu menjadi marah.

Dia bukan seorang pemarah, di depan murid-murid dan keponakan-keponakan muridnya, dia selalu di desak omongan oleh pemuda ini, Tentu saja dia menjadi malu dan menganggap Keng Hong tidak memandang mata kepadaya.

Dia suka berlaku sungguh sungkan dan mengajak pemuda itu ke Kong-thong-pai sehingga keputusan akan dijatuhkan terhadap pemuda ini bukan keputusan dia sendiri, melainkan keputusan kelima orang Kong-thong Ngo-Lojin.

Hal ini saja sudah dia lakukan secara banyak mengalah terhadap seorang pemuda, kini di tambah oleh bantahan-bantahan Keng Hong, benar-benar membuat kakek ini kehilangan kesabaran dan lupa diri.

Ia sudah melangkah maju dan cepat mencengkeram untuk menangkap pundak Keng Hong dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya sudah melolos sabuk baja dari pinggangnya.

Keng Hong menjadi marah dan tidak mau diam saja.

Dia mengerahkan sinkang dari pusarnya, mengangkat tangan kiri menagkis cengkeraman itu.

"Plakkk!"

Tangan Kok Cin Cu tertangkis secara hebat, akan tetapi kakek ini lihai bukan main.

Cengkeraman pada pundak yang ditangkis itu berbalik menjadi cengkeraman pada pergelangan tangan Keng Hong dan gerakannya amat cepat dan kuat sehingga sebelum Keng Hong tahu apa yang terjadi, tahu-tahu pergelangan tangan kanannya sudah kena di cengkeraman lima buah jari tangan yang panas dan kuat sekali.

"Hayaaaaaaa".! Teriakan ini keluar dari mulut Kok Cin Cu ketika kakek ini merasa betapa tenaga singkang yang terkandung dalam tangan kanannya membanjir keluar memasuki pergelangan tangan pemuda itu.. Maklumlah dia kini akan cerita kepada muridnya betapa pemuda ini memiliki ilmu "menyedot sinkang lawan."

Ia memang sudah bersiap-siap untuk ini, dan untuk penjagaan inilah dia tadi mencabut sabuk baja, maka kini cepat menggerakkan tangan kirinya, menggunakan sabuk itu menotok siku tangan kiri Keng Hong.

Totokan itu mengenai jalan darah dengan tepat sekali sehingga seketika tangan kiri Keng Hong menjadi lumpuh dan otomatis tangan Kok Cin Cu yang mencengkeram tadi telah melekat dapat direnggutnya terlepas.

Kok Cin Cu melompat ke belakang sambil berseru.

"Bocah keji! Engkau benar-banar memiliki ilmu iblis Thi-khi-I-beng itu?"

Kakek ini dia-diam merasa kagum dan juga iri hati sekali.

Ilmu yang telah ratusan tahun dikabarkan lenyap itu, yang tentu saja diinginkan oleh semua tokoh tentu saja diinginkan oleh semua tokoh kang-ouw, dan bahkan Lam-hai Sin-ni sendiri, tokoh datuk hitam yang paling lihai, hanya mengerti sedikit saja tentang ilmu ini, kini dimiliki oleh bocah yang masih hijau!

Ia lalu menggerakkan sabuk baja itu yang meledak-ledak di udara seperti sebatang cambuk dan berubahlah cambuk itu menjadi sinar melingkar-lingkar seperti naga beterbangan di atas kepala Keng Hong!

Keng Hong menjadi pening kepalanya memandang sinar hitam melingkar-lingkar ini akan tetapi dia tidak menjadi gentar dan sambil melengking keras tubuhnya sudah meloncat itu.

Akan tetapi, tubuhnya yang meloncat itu bertemu dengan ujung sabuk baja di udara.

Ujung sabuk yang lemas itu telah mengait lehernya.

Keng Hong yang tercekik itu kaget dan marah, sekali sabut itu sudah ditarik dengan gentakan keras sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terpelanting dan bergulingan diatas tanah.

Ia meloncat bangun, mendengar suara ketawa dan ternyata sepuuh orang murid Kong-thong-pai iitu telah mentertawakannya.

Kemarahannya makin menjadi dan cepat Keng Hong sudah membalikkan tubuh menghadapi kakek itu lagi.

Kok Cin Cu merasa tidak enak sendiri harus menghadapi seorang lawan muda dengan senjata di tangan.

Akan tetapi dia pun maklum betapa bahayanya kalau dia bertangan kosong saja, mengingat pemuda itu memiliki ilu Thi-khi-I-beng.

Dia tentu sja tidak tahu bahwa sesunguhnyanya dalam hal ilmu silat, kepandaian keng Hong masih dangkal sekali.

Bahkan dalam hal itu pukulan, dia hanya mengenal ilmu pukulan sakti San-im-kun-hoat di samping ilmu Pedang Siang-bhok-Kiam-sut yang hanya bisa dimainkan dengan pedang kayu itu!

Kakek itu mengira bahwa peuda yang sudah memiliki Thi-khi-I-beng tentu memiliki pula ilmu-ilmu silat yang amat tinggi.

Dan dia tidak berniat merobohkan pemuda ini dengan membunuhnya, melainkan hendak menangkapnya yang tentu saja lebih sukar daripada kalau membunuhnya.

"Totiang, engkau jahat!"

Keng Hong berseru dan kini dia menerjang maju sambil mainkan jurus ke tiga Ilmu Silat San-in-kun-hoat.

Jurus ini disebut Siang-in-twi-san (Sepaang Mega Mendorong Gunung), dilakukan dengan pukulan mendorong ke arah lawan mengunakan sepasang lengan yang dilonjorkan sambil melompat maju.

Untuk melakukan serangan ini, Keng Hong menggunakan sinkang sehingga angin pukulannya dari jauh sudah menyambar ke arah dada Kok Cin Cu.

Tokoh Kong-thong-pai ini sendiri adalah seorang ahli Iweekeh, seorang yang mahir mempergunakan sinkang untuk melakukan Ilmu Ang-liong-jiauw-kang, juga sinkangnya sudah kuat sekali.

Akan tetapi, ketika angin pukulan kedua tangan pemuda itu mendorongnya dan dia merasa betapa tenaga itu amat dahsyat dan kalau dia lawan agaknya dia tidak akan kuat, dia menjadi terkejut bukan main, Cepat dia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik ke samping, kemudian pecutnya disabetkan ke depan mengarah tubuh Keng Hong yang masih meloncat datang.

Ujung cabuk ini melibat kedua kaki Keng Hong terpelanting keras ke atas tanah.

Kembali dia terjatuh dan terguling-guling dan kembali dia mendengar suara ketawa anak murid Kong-thong-pai yang baginya lebih menyakitkan daripada bantingan itu sendri.

Keng Hong melompat bangun lagi, bajunya robek pada bagian siku dan pundak, akan tetapi dia tidak peduli akan keadaan dirinya, bahkan tidak peduli akan rasa nyeri pada pinggul dan paha ketika terbanting tadi.

Kemarahannya membuat dia tidak mau mengeluarkan suara, melainkan siap untuk menyerang lagi.

Melihat sikap pemuda ini yang agaknya nekat dan sama sekali tidak mengenal takut, Kok Cin Cu menjadi makin tidak enak.

"Orang muda, lebih baik engkau menyerah saja. Pinto hanya ingin mengajaku ke Kong-thong-pai, pasti sukarnya bagimu? Mengapa harus menantang pinto ? Pinto sunggah tidak ingin menghina orang muda, tidak ingin menyakitimu."

"Tosu palsu, tak perlu banyak bicara manis lagi karena bicara manis itu menyembunyikan kepahitan yang memuakkan. Engkau menghendaki Siang-bhok-kiam dan aku tidak ingin memberikan. Mau bunuh atau mau apakan aku, terserah, aku tidak takut!"

Jawab Keng Hong.

"Ah, bocah keras kepala, kau memang perlu dihajar!"

Bentak Kok Cin Cu yang benar-benar tidak berdaya untuk mebujuk.

Sabuk bajanya menyambar dan meledak-ledak ke atas kepala Keng Hong, lalu meluncur ke bawah mencambuk ke arah leher pemuda itu.

Keng Hong cepat mengelak, akan tetapi cabuk itu seolah-olah bermata, karena begitu juga mengejar dan dengan suara keras cambuk telah menghanntam pangkal bahunya.

"Tarrr..!"

Untung Keng Hong cepat sekali mengerahkan lweekangnya sehingga ujung cabuk itu mental kembali dan hanya berhasil menggigit robek baju di bagian bahunya.

Betapapun juga, kulit bahu terasa pedas dan panas.

Adapun kok Cin Cu yang melihat betapa kulit bahu tidak lecet sedikitpun, diam-diam makin kagum dan harus memuji pemuda ini yang benar-benar telah memiliki tenaga sinkang yang amat hebat.

Diam-diam dia harus mngakui pula bahwa jika pemuda itu memiliki ilmu silat yang tinggi dan terlatih, kiranya sukarlah baginya untuk dapat menandingi pemuda ini.

Untung baginya, pemuda ini agaknya hanya mewarisi sinkang yang amat dahsyat, namun belum mewarisi ilmu silat Sin-jiu Kiam-ong yang tinggi.

Biarpun gerakan serangannya tadi luar bisa anehnya dan dahsyatnya, namun gerakannya masih kaku, tanda bahwa pemuda ini kurang terlatih dalam ilmu silat.

"Tarr.! Tarrr!!! Tarrrrrrrrr!!!"

Cambuk itu melecut-lecut dengan ganasnya, menghujani tubuh Keng Hong dari segala jurusan dan datangnya dari jarak jauh sehingga pemuda itu tidak ada kesempatan untuk balas menyerang.

Memang benar bahwa dengan sikangnya Keng Hong dapat menolak lecutan tiba, sehingga mulaillah darahnya mengalir keluar dari kulit paha dan kulit punggung yang ikut robek bersama pakaiannya.

Melihat darahnya sendiri dan merasa betapa nyeri punggung dan pahanya, Keng Hong bukan menjadi jerih bahkan menjadi makin marah.

Ia kini berusaha menerima lecutan cambuk dengan kedua tangannya dan setelah kedua lengannya penuh luka oleh ujung cabuk, akhirnya dia berhasil menangkap ujung cambuk dengan tangan kanannya.

Keng Hong mengerahkan tenaga membetot untuk merampas, Kok Cin Cu mengerahkan dengan susah payah.

Untung bagi Tosu ini bahwa Keng Hong memegang ujung cambuk baja itu yang kecil, licin dan keras, Berbeda dengan tosu itu yang memegang gagangnya yang tentu saja lebih enak sehingga sampai beberapa lama Keng Hong belum juga berhasil merampasnya.

Sementara itu, anak murid Kong-thong-pai mulai mengurung dengan senjata di tangan siap menghujankan senjata pada tubuh Keng Hong belum juga berhasil merampsnya.

Sementara itu, anak murid Kong-thong-pai mulai mengurung dengan senjata di tangan, siap menghujankan senjata pada tubuh Keng Hong.

Pemuda ini terancam bahaya, terutama sekali dari Kok Cin Cu yang mulai menggerahkan tangan kirinya dengan Ilmu Ang-liong-jiauw-kang sehingga perlahan-lahan tangan kirinya itu berubah merah sekali, tanda bahwa tenaga Ang-liong-jiauw-kang telah terkumpul.

Kini tosu itu siap dengan tangan kirinya dan agaknya begitu Keng Hong dapat menang dalam perebutan cambuk, tentu dia akan mengirim pukulan mautnya.

"Suhu, biar teecu serampang kakinya dengan tombak teecu!"

Seru seorang di antara murid-murid Kok Cin Cu.

"Biar teecu tusuk dari belakang,"

Kata yang lain.

Teriakan-teriakan mereka itu dibarengi dengan pengurungan yang makin ketat dan tangan mereka sudah bergerak-gerak penuh semangat karena begitu ada komando dari guru mereka, tentu mereka itu akan berlumba untuk menyerang Keng Hong.

"Jangan..turun tangan...."

Terdengar Kok Cin Cu berkata lirih dan cepat kakek ini mengerahkan tenaga lagi karena begitu dia bicara sedikit saja, cambuk terbetot dan hampir dapat terampas oleh Keng Hong.

Pemuda ini pun agak berkurang kemarahannya, bahkan kalau tadi dia bernafsu membunuh kakek ini, sekarang nafsunya hilang dan dia sadar bahwa betapapun juga, Kakek ini bukanlah seorang para tokoh kang-ouw lainnya, haus akan pusaka simpanan gurunya.

Kakek ini masih mengenal sifat gagah buktinya dia melarang murid-muridnya turun tangan padahal kalau hal itu terjadi, sudah jelas bahwa kakek itu tentu akan dapat mengalahkannya, menangkapnya atau pun membunuhnya.

Pada saat itu terdengar suara melengking tinggi dan suara ini disusul teriakan-teriakan kesakitan dan robohlah empat murid Kong-thong-pai.

Mereka roboh bergulingan lalu berkelojotan karena pelipis mereka masing-masing telah tertusuk sebatang tusuk konde berkepala bunga bwee!

Pada saat itu, bayangan putih berkelebat dan Sie Biauw Eng telah meloncat dengan gerakan ringan.

Ketika tangannya bergerak, sebuah sinar putih melayang ke depan dan ujungnya menyambar ke arah mata Kok Cin Cu!

"Hayaa....!!"

Tosu itu berseru kaget melihat menyambarnya sabuk sutera putih yang amat cepat seperti ular hidup ini.

Terpaksa dia melepaskan cambuknya sehingga tertinggal di tangan Keng Hong sedangkan dengan gerakan cepat kakek itu meraih ke arah ujung sabuk sutera putih dengan cengkeraman tangan kirinya untuk merampas senjata wanita baju putih ini, Sie Biauw Eng sudah menyendal kembali sabuk suteranya karena niatnya hanya hendak menolong Keng Hong daripada bahaya tadi.

Akan tetapi Kok Cin Cu tidak mengerti akan niat wanita cantik yang baru datang ini.

Melihat gerakan sabuk sutera putih, Kok Cin Cu yang juga seorang ahli memainkan senjata lemas, maklum bahwa wanita muda ini merupakan seorang lawan lihai yang sama sekali tidak boleh di pandang ringan, maka dia pikir bahwa sebelum di keroyok dua orang muda lihai ini, lebih baik turun tangan dulu membunuh Keng hong, baru menghadapi wanita itu.

Pikiran inilah yang membuat Kok Cin Cu tiba-tiba meloncat ke depan menubruk ke arah Keng Hong dan mengirim serangan dengan ke dua tangannya mencengkeram ke arah kepala dengan Ilmu Ang-liong-jiauw-kang yang luar biasa dahsyatnya!

"Keng Hong....

awas...!"

Sie Biauw Eng menjerit ngeri menyaksikan dahsyatnya serangan tokoh Kong-thong-pai ini dari tangannya meluncur sinar putih.

Keng Hong juga maklum akan kelihaian Ang-liong-jiauw-kang, maka dia pun lalu mengerahkan sinkangnya dan karena dia tidak ingin membunuh kakek ini, dia menggunakan tenaga sinkangnya untuk mendorong agar tubuh kakek itu terpental.

Kini dia tidak marah kepada kakek itu, maka otomatis tenaga sedot yang mujijat di tubuhnya pun tidak bekerja!

"Dessss...!"

Dua tenaga raksasa yang tidak tampak bertemu di udara.

Tubuh Keng Hong tergetar dan bergoyang-goyang kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang.

Akan tetapi Kok Cin Cu (Lanjut ke

Jilid 12) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 mengeluarkan keluhan tertahan, tubuhnya terbanting ke belakang dan kakek itu roboh tak berkutik lagi! "Kau.. perempuan keji..!!"

Keng Hong menoleh ke arah Biauw Eng karena dia dapat melihat jelas betapa ujung sabuk sutera Biauw Eng tadi menotok ke arah jalan darah di belakang kepala tosu itu, sebuah totokan maut yang tak mungkin dapat dielakkan oleh tosu yang sedang mengadu tenaga dahsyat dengan dia tadi.

Gerakan sabuk sutera di tangan Biauw Eng sedemikian cepatnya sehingga hanya dia yang melihatnya, sedangkan sisa murid Kong-thong-pai tidak ada yang mengetahuinya, mengira bahwa guru mereka itu tewas di tangan Keng Hong.

Biauw Eng memandang heran.

"Keng Hong ..., aku hanya membantumu...!"

"Perempuan rendah! Perempuan tak tahu malu! Siapa membutuhkan bantuanmu? Pergi, muak perukku melihatmu!"

"Kau... Kau...!"

Biauw Eng terisak dan mukanya pucat sekali, kemudian gadis itu membalikkan tubuhnya lalu berkelebat cepat melarikan diri dari tempat itu menginggalkan isak tertahan.

Keng Hong menghela nafas panjang, memandang ke arah mayat Kok Cin Cu dan mayat empat orang murid Kong-thong-pai, kemudian dia berkata, suaranya berat.

"Heh, kalian murid-murid Kong-thong-pai, semua ini salahku.

Aku telah membunuh Kok Cin Cu totiang dan empat orang saudara kalian .Nah, tangkaplah aku, belenggu tanganku.

Bawa aku ke Kong-thong-pai menghadap para pimpinan kalian agar aku menerima hukumannya secara adil.

Empat orang laki-laki gagah dan dua wanita cantik itu sejenak memandang kepadanya dengan perasaan jerih, benci, marah dan juga heran.

Kemudian mereka meloncat maju dan menelikung kedua tangan Keng Hong ke belakang.

Seorang di antara mereka mempergunakan cambuk baja ilik Kok Cin Cu untuk mengikat kedua lengan pemuda itu ke belakang, kemudian mereka mengiring Keng hong sambil membawa lima jenazah itu.

Mereka menuju ke sebuah dusun dan dengan bantuan penduduk di situ, kelima buah jenazah itu dikubur secara sederhana.

Ketika enam orang murid Kong-thong-pai itu berlutut sambil menangis di depan gundukan kuburan itu, Keng Hong yang terbelenggu kedua lengannya ikut pula menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan Kok Cin Cu dan berbisik lirih.

"Totiang tentu mengerti bahwa bukan niatku membunuh Totiang berlima."

Enam orang Kong-thong-pai itu menjadi heran melihat Keng Hong berlutut pula sabil berkemak-kemik di depan kuburan guru mereka, Akan tetapi mereka diam saja.

Mereka membenci pemuda ini yang telah menewaskan guru mereka, akan tetapi mereka tidak berani bersikap kasar karena mereka tahu diri dan mengerti bahwa pemuda itu dapat mereka belenggu karena pemuda itu sengaja menyerahkan driri.

Kewajiban mereka hanya menggiring pemuda ini ke Kong-thong-pai, menyerahkannya kepada para pimpinan Kong-thong-pai.

Mereka tahu bahwa biarpun kedua lengannya dibelenggu, kalau pemuda itu memberontak, agaknya mereka berenam bukanlah lawannya.

Dua orang wanita anak murid Kong-thong-pai itu, disamping rasa benci dan dendam karena kematian gurunya, ada perasaan lain yang amat mengganggu hati mereka dan yang sekaligus menghapus rasa benci dari hati mereka.

Mereka berdua merasa saat kagum kepada Keng Hong.

Kagum akan kelihaian pemuda itu, kagum akan sikapnya yang tenang, gagah, kagum pula akan ketampanan wajahnya dan kebagusan bentuk tubuhnya.

Apalagi bagi Kiu Bwee Ceng, wanita cantik baju kuning yang sudah dua kali bertemu dengan Keng Hong, yaitu pertama kalinya ketika ia dan para saudara sepergurunnya dan murid-murid Siauw-liam-pai dan Hoa-san-pai menghadang pemuda ini, bahkan dia pernah mengalami tersedot sinkangnya oleh pemuda yang aneh ini.

Dia kagum sekali akan kegagahan Keng Hong.

Kiu Bwee Ceng ini adalah seorang janda muda, usianya mendekati tiga puluh tahun.

Suaminya telah meninggal dunia dan dahulu suaminya adalah murid kepala dari Kok Cin Cu, maka tentu saja ilmu kepandaiaanya paling tinggi di antara para suheng-suhengnya.

Setelah suaminya tewas dalam pertempuran melawan gerombolan penjahat, Bwee Ceng menjadi janda.

Sukar baginya untuk menemukan seorang pria yang dapat menandingi suaminya.

Bagaimana hatinya takkan menjadi tertarik?

Apalagi karena ia dapat menduga bahwa dua orang gadis cantik jelita murid La-hai Sin-ni yang amat lihai itu agaknya tergila-gila pula kepada Keng Hong.

Ketika tadi melihat betapa Keng Hong menbentak dan mengusir Song-bun Siu-li yang kelihaiannya terkenal sebagai seorang iblis betina yang mengerikan, ia menjadi makin tertarik.

Adapun wanita ke dua yang berpakaian biru adalah Tang Swat Si, sumoinya.

Wanita ini masih gadis sungguhpun usianya sudah dua puluh lima tahun.

Swat Si memiliki wajah cantik dan bentuk tubuh yang indah sehingga banyak pria yang jatuh cinta kepadanya.

Banyak pula datang lamaran, kan tetapi gadis ini selalu menolaknya karena tidak ada seorangpun di antara para pelamar itu yang menggerakkan hatinya.

Kini bertemu dengan Keng Hong, tiba-tiba saja hatinya menjadi tidak karuan rasanya.

Berkali-kali gadis ini mencuri pandang, mengerling ke arah tubuh belakang Keng Hong, melihat pinggulnya, punggung dan paha yan telanjang sebagian karena pakainnya robek-robek termakan oleh pecut baja Kok Cin Cu tadi.

Mereka kulit putih halus yang membayangkan otot-otot yang kuat, karena dia tadi menyaksikan betapa di balik kulit putih halus itu tersembunyi tenaga sinkang yang saat hebat sehingga gurunya sendiri pun tidak kuat menghadapinya, hati gadis ini menjadi tegang, mukanya menjadi merah dan pipinya terasa panas, jantungnya berdebar tidak karuan.

Bwee Ceng agaknya maklum akan gerak-gerik sumoinya.

Sebagai seorang wanita yang pernah bersuami, dia lebih berpengalaman dan melihat gerak-gerik sumoinya, ia dapat menduga bahwa sumoinya terserang penyakit yang sama dengan dia sendiri.

Diam-diam dia mendekatinya sumoinya sehingga mereka berjalan berendeng, agak jauh dari empat orang suheng mereka.

Bwee Ceng menowel lengan sumoinya dan berbisik-bisik sambil kadang-kadang memandang ke arah tawanan mereka tiu.

Kelihatan Swat Si terbelalak memandang sucinya, kemudian menundukkan muka dengan kedua matanya mengeriling tajam membayangkan rasa jengah dan malu-malu.

Kemudian mereka berbisik-bisik dan tidak ada orang lain yang dapat mendengar mereka, kecuali Keng Hong!

Pada saat itu, Keng Hong sedang berjalan sambil melamun, memikirkan Sie Biauw Eng.

Kebenciannya dan penyesalan hatinya terhadap gadis itu makin menghebat.

Ia mengerti bahwa gadis itu saat mencintainya, entah cinta hanya terdorong nafsu berahi belaka, seperti yang terbukti dari pengalamannya malam itu ketika Biauw Eng mendatanginya dan mencurahkan segala kemesraan terhadap dirinya, entah cinta yang lain lagi sifatnya karena buktinya secara diam-diam gadis itu selalu mengikutinya dan membantunya.

Betapapun sifatnya, dua macam cinta kasih ini tentu saja dapat dia terima dengan hati senang dan puas, akan tetapi yang membuat dia menyesal dan membenci adalah bahwa setiap kali Biauw Eng turun tangan,tentu terjadi pembunuhan keji dan akibatnya dialah yang dimusuhi orang!

Yang terakhir ini sudah keterlaluan.

Kalau saja Biauw Eng tidak turun tangan, tak mungkin empat orang tokoh murid Kong-thong-pai tewas dan seorang tokoh di antara Kong-tong Ngo-Iojin tewas pula!

Dan yang paling memanaskan hatinya karena kekejian gadis itu adalah kematian Sim Ciang BI, gadis Hoa-san-pai yang lemah lembut, yang sama sekali tidak berdosa.

Hanya karena gadis Hoa-san-pai itu mencintainya lalu dibunuh secara keji oleh Biauw Eng.

Hemmm..

demikian kejikah hati seorang wanita yang sudah mencinta?

Apakah kalau melihat setiap orang wanita lain mencintanya, lalu turun tangan tangan membunuhnya?

Ah, ingin dia melihatnya!

Kalau betul demikian, dia harus dapat menangkap basah Biauw Eng, dan menyeretnya untuk menerima hukuman dari partai persilatan yang bersangkutan!

Betapapun dia mempunyai perasaan sayang yang amat aneh di sudut hatinya terhadap Sie Biauw Eng, namun mengingat akan kekejian gadis itu, dia ingin menangkap basah Biauw Eng dan menyerahkannya kepada Hoa-san-pai atau Kong-thong-pai!

Ketika dia termenung sampai di situ, tiba-tiba dia mendengar bisikan-bisikan dua orang wanita yang berjalan agak jauh di sebelah belakangnya.

Pada saat itu, Keng Hong sedang termenung dan keadaan orang yang termenung hampir sama dengan keadaannya kalau sedang bersamadhi.

Begitu telinganya dapat menangkap bisikan-bisikan itu, dia menghentikan renungannya dan mencurahkan perhatianya pada bisikan-bisikan tadi sehingga terdengar cukup jelas oleh Keng Hong yang memang memiliki sinkang yang amat kuat itu.

Muka Keng Hong menjadi merah ketika dia menangkap bisikan-bisikan itu dan dia mengerling ke kanan kiri, ke arah empat orang murid pria Kong-thong-pai yang berjalan di kanan kirinya, akan tetapi hatinya lega melihat mereka ini tidak mendengar apa-apa.

"Suci apa yang kau katakan ini? Jangan menuduh yang bukan-bukan.."

Terdengar jelas oleh Keng Hong gadis baju biru, Tang Swat Si, berbisik.

"Hi-hi-hik, tak perlu bepura-pura lagi, Sumoi. Aku pun amat tertarik kepadanya. Dia seorang jantan pilihan, dan kalau saja kita dapat menerima cintanya untuk semalam saja.. ah, selamanya kita tidak akan penasaran..."

Balas Kiu Bwee Ceng sambil menghela napas.

"Ihhh..! Suci, apa yang kau katakan ini? Sungguh memalukan.."

"Memalukan apa? Sumoi, kita sama-sama wanita dan sama-sama jatuh hati kepadanya. Dia memiliki sinkang yang luar biasa. Siapa tahu, kalau.. satu kali saja dia suka melimpahkan cintanya kepada kita.., sinkangnya yang kuat itu akan menular kepada kita..."

"Hina dan rendah sekali, Suci.."

"Benarkah? Kurasa tidak demikian isi hatimu. Atau, kalau engkau tidak mau, biarlah aku yang mencobanya asal engkau dapat menutup rahasia. Kulihat matanya penuh gairah ketika memandang kita. Mata seperti itu hanya dimiliki oleh pria yang bersemangat dan yang selalu suka kepada wanita. Malam ini.... kalau ada kesempatan, kalau engkau mau, lebih baik lagi..., maukah engkau, Sumoi?"

"Ihhhhh, aku... aku malu, Suci. Engkau lebih dulu..."

"Baik, aku lebih dulu dan engkau menjaga. Kalau berhasil, akan kubujuk dia agar suka melayanimu."

Keng Hong tersenyum dalam hatinya, tersenyum geli.

Alangkah banyaknya wanita cantik seperti mereka itu di dunia ini.

Seperti Cui Im!

Bahkan Biauw Eng, yang tadinya dia sangka lain daripada yang lain, bukan penghamba nafsu berahi, kiranya juga sama saja!

Ah, dia tidak peduli lagi.

Kalau memang mereka menghendaki dia tidak akan menolak.

Mereka itu manis-manis dan apakah kata gurunya?

Uluran cinta kasih wanita merupakan anugerah nikmat yang tidak semestinya dibiarkan sia-sia, tentu saja kalau engkau sendiri tertarik kepadanya.

Kalau tidak sekalipun, jangan menolak secara kasar karena hal itu akan menyakiti perasaannya yanghalus.

Tidak ada sakit hati yang lebih parah bagi seorang wanita daripada di tolak cintanya oleh seorang pria.

Dia akan melayani mereka bahkan akan membuka jalan.

Hal ini bukan sekali-kali karena dia sudah tergila-gila kepada mereka atau sudah terlalu mendesak keinginnya untuk bermain cinta dengan mereka.

Sama sekali bukan.

Terutama sekali karena dia kini mendapat jalan untuk memancing Biauw Eng.

Bukankah Biauw Eng membunuh Sim Ciang Bi karena gadis Hoa-san-pai itu memncintainya?

Nah, biarlah dua orang murid wanita Kong-thong-pai ini bermain cinta dengannya agar Biauw Eng turun tangan pula membunuh mereka.

Akan tetapi sekali ini dia akan waspada, tidak akan tertidur pulas dan akan selalu menjaga agar dia dapat menangkap Biauw Eng kalau gadis itu berusaha membunuh mereka, dan tentu saja dia akan berusaha mencegah pembunuhan atas diri ke dua orang murid Kong-thong-pai ini.

Malam itu, rombongan murid Kong-thong-pai bermalam di sebuah dusun.

Karena mereka tidak ingin mengganggu penduduk dusun itu, didalam dusun kecil itu tidak terdapat rumah penginapan, terpaksa mereka lalu berada dalam sebuah kuil tua yang sudah kosong.

Hati para murid Kong-thong-pai itu sedang risau dan berduka berhubung dengan kematian guru mereka, dan Keng Hong merupakan seorang tawanan yang suka rela, tidak perlu di jaga lagi karena andaikata mau melarikan diri, Biar di jaga sekalipun akan percuma dan tetap akan dapat lari, maka empat orang murid pria dan dua orang murid wanita itu segera merebahkan diri mengaso di lantai kuil setelah mereka makan malam dan lantai itu disapu bersih oleh Bwee Ceng dan Swat Si.

Tentu saja, seperti biasa, Bwee Ceng dan Swat Si memisahkan diri.

Biarpun empat orang itu adalah suheng-suheng mereka, namun sebagai wanita tentu saja mereka merasa tidak leluasa untuk tidur dalam suatu ruangan dengan mereka, apa lagi di situ terdapat Keng Hong dan lebih-lebih lagi karena mereka berdua diam-diam mempunyai rencana rahasia!

Malam itu, menjelang tengah malam, Bwee Ceng berindap memasuki ruangan belakang di mana Keng Hong tidur.

Pemuda ini emang sengaja memilih ruangan terpisah untuk tidur.

Dengan suara gemetar Bwee Ceng berbisik.

"Keng Hong.."

Keng Hong memang belum tidur, dia masih duduk bersandar tembok kuil.

"Ah, engkaukah itu? Apakah kehendakmu?"

"Aku... aku ingin membuka belenggumu. Amat tidak enak tidur dengan kedua tangan terbelenggu."

Keng Hong tersenyum dan mengangkat kedua tangannya yang sudah bebas. Dia telah membuka sendiri belenggu tangannya yang dia taruh di atas lantai.

"Aku sudah bebas dan siap menantimu, nona. Ataukah.. Perasaan cintamu yang kau bisikkan siang tadi sudah berubah?"

Bwee ceng makin kaget.

"Kau.. kau dapat mendengarkan percakapan itu...?"

"Tentu saja, dan aku merasa girang sekali. Kalian adalah nona-nona yang cantik manis. Akan tetapi, kita harus keluar dari kuil ini. Tidak enak rasanya kalau kita bersenang-senang disini, dimana para suhengmu tidur. Dan ajak sumoimu. Kita bertiga berjalan-jalan di kebun belakang kuil. Bagaimana, maukah?"

Dengan kedua pipi kemerahan Bwee Ceng hanya mengangguk-angguk, tanpa dapat mengeluarkan suara, kemudian tertawa kecil dan berlari-larian pergi untuk memanggil sumoinya.

Keng Hong sudah melangkah keluar dari kuil menuju ke kebun bunga yang berada di belakang kuil.

Seperti kuil itu sendiri, kebun itupun tidak terpelihara, namun masih banyak bunga-bunga liar tumbuh di situ dan ditumbuhi rumput tebal.

Keng Hong yang hendak mempergunakan pertemuannya dengan dua orang murid wanita Kong-thong-pai ini sebagai "pancingan"

Kepada Biauw Eng, memilih tempat terbuka dan duduklah dia di atas tanah yang bertilang rumput hijau tebal.

Tak lama dia menanti dan tampaklah Bwee Ceng, janda muda ini yang begitu tiba di tempat itu, lalu menarik sumoinya duduk di dekat Keng Hong, kemudian sambil tersenyum ia merangkul Keng Hong yang balas memeluknya.

"Ah, engkau begini tampan, begini gagah..."

Bwee Ceng berbisik.

Karena memang sudah memiliki dasar batin lemah terhadap godaan nafsu, biarpun tadinya sungkan dan malu, atas desakan Bwee Ceng dan keramahan Keng Hong, akhirnya Swat Si mulai berani pula membalas rangkulan Keng Hong.

Pemuda ini melayani kedua orang murid Kong-thong-pai yang di mabuk nafsu itu dengan penuh kesediaan dan keramahan, akan tetapi dia hanya mencurahkan perhatiannya setengah saja untuk itu, karena sebagian perhatiannya lagi dia kerahkan untuk meneliti keadaan sekeliling kebun itu, dan untuk dapat "menangkap basah"

Apabila Biauw Eng turun tangan melakukan serangan kejam terhadap dua orang nona dalam pelukannya.

Menjelang fajar, Swat Si sudah tertidur kelelahan, dan Bwee Ceng masih membelai dan memeluk Keng Hong.

Janda ini benar-benar tergila-gila kepada pemuda perkasa itu dan dia berbisik-bisik mesra.

"Keng Hong, kekasihku.. Engkau jangan khawatir, kelak di depan para supekku, aku akan membelamu akan kuceritakan bahwa bukan engkau yang membunuh suhu dan empat orang suheng, melainkan Song-bun Siu-li. Aku akan bersumpah dan.. Dengan segala daya akan kubela engkau, kekasihku."

Keng Hong menciumnya sambil tersenyum.

"Engkau baik sekali, Bwee Ceng. Terima kasih."

Pada saat itu, Keng Hong cepat melepaskan pelukan Bwee Ceng dan tubuhnya bergerak ke depan, menangkap dua benda yang mengeluarkan sinar putih dan yang menyambar cepat ke arah pelipis Bwee Ceng dan Swat Si.

Tepat seperti dugaannya, Biauw Eng turun tangan menyerang dengan senjata rahasianya, yatiu bola-bola putih berduri!

"Biauw Eng, perempuan keji...!"

Keng Hong meloncat ke arah dari mana datangnya senjata-senjata rahasia itu, tidak peduli bahwa tubuhnya bertelanjang.

Akan tetapi tak tampak bayangan seorang pun manusia.

Keng Hong cepat-cepat kembali dan mengenakan pakaian, sedangkan dua orang wanita itu sudah cepat kembali ke dalam kuil.

Karenan tidak berhasil menangkap Biauw Eng, Keng Hong dengan hati panas kembali ke ruangan belakang kuil, lalu tertidur sampai pagi.

Pada keesokkan harinya, dengan wajah berseri dan kedua pipi kemerahan, Bwee Ceng dan Swat Si telah memasak makanan.

Pagi-pagi benar mereka telah membeli beberapa ekor ayam dan gandum dari penduduk dusun, bahkan Bwee Ceng membawa pula seguci arak.

Keng Hong yang melihat betapa wajah mereka berseri, diam-diam harus mengakui bahwa mereka itu cantik-cantik dan manis, maka hatinya menjadi makin girang.

Apalagi melihat Swat Si yang menahan senyum dan dengan malu-malu kadang-kadang mengerling ke arahnya, dia mengakui gadis ini dan membandingkannya dengan Ciang Bi.

Untung bahwa dia bersikap waspada, kalau tidak, tentu dua orang wanita cantik ini sekarang telah menjadi mayat, pelipis mereka pecah oleh dua bola putih berduri, korban keganasan Biauw Eng.

Ia makin marah dan benci kepada Biauw Eng.

"Wah, Ji-wi Siocia (Nona Berdua) sungguh rajin, sepagi ini sudah mendapatkan makanan pagi yang lengkap!"

Keng Hong berseru gembira sambil mendekati seorang murid Kong-thong-pai minta dibukakan belenggunya.

Murid Kong-thong-pai itu membuka belenggu tangannya untuk memberi kesempatan Keng Hong ikut makan pagi.

"Eh, ada araknya pula. Dari mana Ji-wi bisa mendapatkan arak?"

Swat Si tidak dapat mengeluarkan suara.

Ia masih merasa malu dan jengah dan sehingga khawatir kalau-kalau suaranya akan gemetar.

Bwee Ceng tersenyum dan menjawab.

"Kebetulan sekali ada seorang wanita petani membawa hendak ditawarkan kepada kita. Aku lalu membelinya dan araknya baik sekali, wangi."

Setelah masakan gandum dan ayam matang, makanlah Keng Hong bersama enam orang murid Kong-thong-pai itu dan kalau melihat keadaan mereka itu, Keng Hong sama sekali bukan seperti seorang tawanan, melainkan seorang sahabat baik.

Bahkan empat orang murid laki-laki Kong-thong-pai kini sudah mulai mengajaknya bercakap-cakap dan berkelakar.

Ketika Bwee Ceng membagikan arak dan menuangkan arak pada cawan masing-masing yang diambilnya dari bungkusan perbekalan mereka, tercium bau arak yang wangi dan sedap sekali.

Mereka menjadi gembira dan segera mengangkat cawan arak dan minum arak yang ternyata manis dan enak sekali.

Akan tetapi, tiba-tiba Keng Hong mengerutkan aslinya ketika arak itu melalui lidahnya.

Mulutnya yang sudah amat kuat berada di dalam arak, racun yang sama sekali.

Akan tetapi lidahnya begitu tersentuh racun itu sudah dapat merasai dan tahulah dia bahwa dia hendak di racun!

Keng Hong tersenyum ketika dia mengerling ke arah Swat Si yang kebetulan mengerling ke arahnya pula dari balik cawannya.

Hem, tentu cawan untuknya itu yang diberi racun.

Diam-diam dia mengeluh hatinya.

Agaknya kedua orang wanita itu, ataukah Bwee Ceng itu karena dia tidak percaya bahwa Swat Si yang begitu halus dan mesra akan suka meracuninya, sengaja hendak membunuhnya karena khawatir kalau-kalau peristiwa semalam akan terbongkar dan diketahui orang lain.

Kalau Keng Hong mati, tentu rahasia itu takkan pernah dapat terbongkar lagi.

Begini kejamkan wanita?

Keng Hong hanya mengeluh dalam hati akan tetapi terus meneguk habis araknya karena baginya, racun itu tidak akan ada bahayanya.

Tiba-tiba Keng Hong meloncat bangun ketika melihat perubahan pada wajah enam orang itu.

Mendadak saja wajah enam orang itu.

Mendadak saja wajah mereka yang tadinya duduk di atas lantai.

"Aduhhh.... Keng Hong..!"

Swat Si mengeluh dan hati Keng Hong penuh keharuan dan kekhawatiran.

Ia cepat meloncat dekat dan merangkul leher gadis itu.

Wajah gadis itu menjadi agak menghitam, tubuhnya berkelojotan, akan tetapi matanya memandang wajah Keng Hong, mulutnya agak tersenyum sungguhpun giginya yang kecil rata dan putih mengkilap itu menggigit bibir bawah menahan rasa nyeri yang menusuk-nusuk perut.

"Swat Si... kenapa..."

Keng Hong yang mendekapnya bertanya khawatir.

"Keng Hong ... jangan lupakan aku.."

Swat Si berbisik dan tubuhnya menjadi lemas, matanya mendelik.

Tak salah lagi, tentu arak itu!

Dan Bwee Ceng yang membelinya!

Ia lepaskan tubuh Swat Si yang sudah sekarat lalu membalik menubruk Bwee Ceng, mengangkat tubuh itu yang lalu di rangkulnya.

Seperti juga Swat Si, ketika memandangnya, Bwee Ceng berusaha untuk tersenyum.

"Keng Hong... arak...itu... ada racun.. aku tidak penasaran... setelah semalam..."

Ia tidak dapat melanjutkan karena tubuhnya berkelojotan dan matanya mendelik pula.

Keng Hong melepaskan Bwee Ceng dan memeriksa ke empat orang murid pria Kong-thong-pai.

Semua sama keadaannya, merela sekarat dan dalam perjalanan maut.

Arak beracun!

Seorang wanita petani menjual seguci arak kepada Bwee Ceng!

Seperti kemasukan setan Keng Hong meloncat dan lari memasuki dusun.

Hari masih pagi sekali akan tetapi seperti kebiasaan dusun-dusun, sepagi itu para penduduk telah bangun.

Melihat Keng Hong berlari-lari, mereka semua terkejut dan heran.

Bukankah pemuda ini yang kemarin menjadi tawanan enam orang gagah yang bermalam di dalam kuil?

Pemuda tampan ini tentu seorang penjahat, maka menjadi tawanan enam orang pendekar itu.

"Siapa yang telah menjual seguci arak kepada kami?"

Keng Hong berteriak-teriak seperti orang gila. Seorang wanita setengah tua dengan muka pucat dan mata terbelalak melangkah maju dan berkata.

"Saya yang menjual seguci arak kepada mereka tadi pagi. Ada apakah orang muda? Arakku hanya ada seguci itu, kalau mau tambah lagi harus pergi ke kota..!"

Wanita itu menghentikan kata-katanya dan mengaduh-aduh karena Keng Hong sudah mencekeram lengannya.

Tadinya pemuda ini mengira bahwa nenek yang telah meracuni mereka tentu memiliki kepandaian lihai, akan tetapi ketika memegang lengannya dan mendapat kenyataan bahwa wanita ini tidak bisa apa-apa dan amat lemah, dia lalu mengendurkan cengkeramannya dan membentak.

"Lekas katakan! Dari mana engkau mendapat arak itu? Awas kalau membohong, ku bunuh kau!"

Para penduduk dusun itu menjadi marah menyaksikan kekasaran KengHong terhadap seorang wanita.

Mereka itu, yang laki-laki, telah menyerbu sambil memaki.

"Orang gila! Mengapa datang-datang mengamuk ? Engkau adalah seorang tawanan, tentu seorang jahat! Melayanglah pukulan dan tendangan ke tubuh Keng Hong. Namun pemuda ini tidak memperdulikan mereka semua dan tetap memegangi lengan wanita setengah tua yang menggigil ketakutan. Terdengar suara bak-bik-buk ketika serangan itu mengenai tubuh Keng Hong, disusul teriakn-teriakan mengaduh-ngaduh para penyerang itu sendriri karena kaki tangan mereka bertemu dengan tubuh yang kerasnya seperti baja! "Dia setan....!"

"Siluman.....!"

Teriakan-teriakan mereka yang mengaduh-ngaduh ini membuat suasana di situ menjadi gaduh sekali.

"Saudara-saudara jangan bertindak sembrono!"

Keng Hong berteriak tentang arak kepada wanita ini "karena semua sahabatku yang meminum itu arak itu kini mati semua!"

Mendengar ini, orang-orang dusun itu menjadi pucat mukanya dan otomatis mereka melangkah mundur memandang ke arah wanita dengan mata terbelalak.

Wanita itu sendiri lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.

"Aku tidak tahu apa-apa.... Aku tidak tahu tentang arak dan tentang racun. Seguci arak itu ku terima dari seorang puteri dengan pesan agar ku berikan kepada rombongan yang menginap di kuil.... Dan.. karena niocu (nona) itu berbaik hati memberi hadiah uang......, tentu ku terima.."

Keng Hong melepaskan cengkeraman tangannya dan mendorong tubuh wanita setengah tua itu yang terhuyung ke belakang sambil memegangi pergelangan tangan yang terasa nyeri, menangis dengan muka pucat.

"Lekas katakan, seperti apa macamnya nona yang memberi arak kepadamu itu?"

"Dia masih muda cantik sekali seperti dewi". pakaiannya serba putih, suaranya halus dan..."

Akan tetapi Keng Hong sudah meloncat pergi dan sebentar saja lenyap dari depan para penduduk yang melongo leheranan.

Keng Hong tidak menjadi heran mendengar keterangan wanita dusun itu karena memang sudah disangkanya..Tangan keji Biauw Eng lagi!

Siapa lagi kalau bukan Biauw Eng yang menggunakan racun membunuh enam orang Kong-thong-pai itu?

Pagi tadi, menyaksikan dua orang gadis Kong-thong-pai dilayani bercinta kasih oleh Keng Hong, dalam cemburunya gadis berwatak iblis itu menyerang dengan senjata rahasia.

Kemudian, karena ada Keng Hong yang menghalangi niat kejinya, ia lalu menggunakan racun secara keji dan cerdik sekali.

Tentu gadis itu tahu bahwa Keng Hong kebal akan racun, akan tetapi enam orang Kong-thong-pai tidak!

"Biauw Eng, engkau sungguh jahat!"

Keng Hong berkata dengan hati penuh duka dan penyesalan ketika dia tiba di dalam kuil dan berdiri memandang ke arah enam sosok mayat murid-murid Kong-thong-pai itu.

Dengan perasaan berat Keng Hong lalu menggali lubang di pekarangan kuil dan mengubur mayat-mayat itu.

Setelah selesai dia meninggalkan kuil dan baru mendapat kenyataan bahwa banyak penduduk menonton dari jauh dan secara sembunyi-sembunyi.

Ketika dia melangkah dekat mereka itu melarikan diri dan terdengar suara mereka.

"pembunuh". pembunuh keji.."

Keng Hong menghela napas panjang.

Murid-murid Kong-thong-pai dibunuh Biauw Eng semua, dan kembali dialah yang tertuduh.

Dia tidak menyalahkan orang-orang dusun itu yag menuduhnya, dan dia merasa tidak ada gunanya untuk memberi penjelasan kepada mereka.

Makin keras hasrat hatinya untuk cepat kembali ke Kiam-kok-san, di mana dia takkan berhubungan lagi dengan dunia ramai, takkan terlibat urusan manusia yang hanya membuat kegetiran-kegetiran dan permusuhan ia berjalan terus mendaki lereng Pegunungan Kun-lun-san.

Keng Hong berhenti melangkahkan kakinya dan memandang ke kiri dengan kagum.

Gadis itu, dia berani menduga bahwa bayangan tubuh lamping gesit itu tentu seorang gadis, berlari dengan cepat sekali.Tadinya jantung berdebar dan mukanya terasa panas karena mengira bahwa gadis itu Biauw Eng.

Akan tetapi setelah agak dekat dan pakaian gadis itu hijau muda, tidak putih seperti pakaian Biauw Eng, dia menduga-duga.

Jelas bukan Biauw Eng, bukan pula Cui Im, sungguhpun gerakan gadis itu menunjukkan ginkang yang sudah tinggi.

Yang jelas berbeda dan tampak dari jauh adalah cara gadis ini menyanggul rambutnya, disanggul tinggi di atas kepala seperti sebuah menara yang bergoyang-goyang ketika dia berlari cepat.

Di punggungnya tampak sebatang pedang dalam sarung pedang merah.

Ketika gadis itu yang ternyata cantik manis dengan pandang mata tajam dan penuh gairah hidup tiba di dekat Keng Hong yang duduk di bawah pohon, gadis itu kelihatan kaget, akan tetapi dia bahkan langsung menghampiri Keng Hong.

Sejenak gadis itu memandang tajam kemudian mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan ketika dia bertanya.

"Maafkan kalau aku yang sesat jalan menggangu Twako dengan pertanyaan."

Keng Hong tersenyum.

Senang hatinya menyaksikan sikap gadis yang membayangkan kegagahan ini ternyata amat peramah dan sopan santun.

Ia cepat bangkit berdiri dan membalas penghormatannya, kemudian menjawab.

"Sudah sewajarnya kalau dua orang yang saling jumpa di tempat sesunyi ini saling bertanya. Nona hendak bertanya tentang apakah?"

Gadis itu kembali tertegun.

Agaknya ia sama sekali tidak mengira bahwa pemuda tampan yang duduk mengaso di pohon itu adalah seorang yang demikian halus tutur sapanya, membayangkan seorang yang tahu akan kebudayaan dan sama sekali bukanlah seorang penduduk pegunungan yang buta huruf.

Maka pandang matanya menjadi makin tajam dan penuh selidik.

"Aku hendak bertanya jalan yang menuju ke Kiam-kok-san.."

Kini Keng Hong yang merasa terkejut sekali.

Akan tetapi hanya sebentar karena dia segera dapat menekan perasaannya dengan pengertian bahwa sekarang ini agaknya Kiam-kok-san menjadi mercusuar bagi orang-orang kang-ouw, menjadi seperti sebuah lampu yang menarik datangnya laron dan kupu-kupu.

Ia menarik nafas panjang, kemudian mencari jalan untuk mengetahui siapakah gerangan nona muda ini yang ikut-ikutan memperebutakan pusaka Kiam-kok-san.

Karena hanya orang yang ingin mendapatkan pusaka-pusaka suhunya sajalah yang bertanya-tanya tentang Kiam-kok-san!

"Pertanyaanmu mengejutkan hati Nona.

Kim-kok-san bukanlah sebuah tempat yang dikenal semua orang.

Bolehkah aku mengetahui namamu dan keperluannya mencari tempat seperti itu?

Perkenalkan, aku she Cia..."

"Harap engkau suka berbaik hati menunjukkan jalan itu kalau kau mengetahuinya.. eh, Cia-twako. Namaku adalah Tan Hun Bwee dan tentang keperluanku dengan Kiam-kok-san adalah urusan pribadiku. Kalau engkau mengetahui tempat itu dan dapat menunjukkan jalan untukku, aku akan berterima kasih sekali. Kalau engkau mengetahui, biarlah aku pergi mencari sendiri, tidak perlu terlalu lama disini.."

Keng Hong tersenyum.

"Aku tahu pula mengapa Nona datang mencari Kiam-kok-san. Bukankah Nona puteri Ketua Hek-houw-piawkiok bernama Tan Kai Sek?"

Nona itu terkejut sekali dan tangannya bergerak secara otomatis hendak meraba pedangnya sambil bertanya dengan suara nyaring.

"Engkau siapakah?"

Apakah engkau murid Kun-lun-pai dan hendak menghalangi aku mencari Kiam-kok-san?"

Keng Hong tersenyum, lalu membalikkan tubuh membelakangi nona itu, menghampiri pohon dan duduk kembali di bawah pohon yang teduh.

Setelah duduk menghadapi nona itu dia berkata.

"Tenanglah, Nona dan tak perlu mencabut pedang itu. Aku bukan murid Kun-lun-pai dan juga tidak akan menghalangi orang. Marilah duduk di sini dan dengarlah dulu kata-kataku, baru ku tunjukkan padamu jalan ke Kiam-kok-san."

Tan Hun Bwee, gadis itu, menjadi curiga, akan tetapi karena dia percaya akan kepandaiannya sendiri, dia tidak takut dan menghampiri lalu duduk agak jauh di atas sebuah batu, menghadapi pemuda yang ia dapat menduga tentu bukan orang sembarangan itu.

Orang yang tahu akan adanya Kiam-kok-san kiranya bukan sembarangan orang.

"Siapakah engkau dan bagaimana engkau dapat mengenal ayahku?"

"Sudah kukatakan bahwa aku she Cia dan tentang ayahmu, pernah aku bertemu berkenalan. Aku tahu bahwa ayah dan ibu pernah mendatangi Kiam-kok-san untuk memusuhi Sin-jiu Kiam-ong akan tetapi gagal dan dikalahkan oleh kakek itu. Apakah kedatangan Nona ini ada hubungannya dengan urusan itu?"

Kembali gadis itu terkejut dan terheran-heran.

Bagaimana pemuda tampan dan halus tutur sapanya ini mengetahui akan hal itu?

Ia tidak suka urusan pribadi orang tuanya dibicarakan orang lain, maka ia menjawab singkat.

"Dendam besar antara keluarga kami dengan Sin-jiu Kiam-ong adalah urusan pribadi, tidak perlu aku membicarakannya dengan orang lain. Kalau engkau mengetahui jalan ke Kiam-kok-san dan suka menunjukkannya kepadaku, harap katakan sekarang juga."

"Nanti dulu, Nona. Mengapa Nona berkeras hendak mendatangi Kiam-kok-san? Kakek berjuluk Sin-jiu Kiam-ong itu telah meninggal dunia, dengan demikiam maka urusan yang ada antara beliau dan orang tua sudah terhapus.."

Sepasang alis menjelirit hitam itu bergerak-gerak, indah sekali dalam pandangan Keng Hong, bibir yang merah itu bergerak cepat.

"Terhapus bagaimana? Enak saja! Dia seorang yang amat jahat, seorang manusia sombong dan keji, yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarga ayahku!"

"Ah, terlalu keras engkau menjatuhkan keputusan, Nona. Aku pun telah mengetahui akan urusan antara Sin-jiu Kiam-ong dan orang tuamu. Bukankah dahulu orang tuamu sebagai piauwsu dari Hek-houw-piauwkiok pernah dirampok oleh kakek itu dan dirampas benda-benda perhiasaan milik seorang pembesar tinggi?"

"Bukan itu saja! Bahkan dia berani mengganggu puteri dari menteri..."

"Hemmm, bukan menganggu, hanya karena keduanya sama suka. Puteri itu tadinya di tawan dengan maksud dimintakan uang tebusan dan Sin-jiu Kiam-ong melakukan hal ini sebagai pengajaran karena sang menteri adalah seorang pejabat tinggi yang selain korup juga menindas rakyat mengandalkan kekuasaan. Akan tetapi puteri itu jatuh cinta kepada Sin-jiu Kiam-ong sehingga terjadilah hubungan cinta kasih antara mereka. Urusan itu ada sangkut pautnya dengan orang tuamu?"

"Piauwkiok ayahku menjadi tercemar namanya, dan menyeret pula nama besar ayahku. Pendeknya, aku tidak terima! Biarpun Sin-jiu Kiam-ong telah meninggal, dia masih berhutang kepada ayahku, dan aku harus mendapatkan kembali harta pusaka yang dia rampok karena itu menjadi hakku, di samping pusaka lainnya yang ditinggalkannya. Aku akan menggeledah Kiam-kok-san!"

Keng Hong tersenyum lebar.

"Nona, berpikirlah masak-masak. Dendam digerakkan oleh benci, dan siapa yang membenci orang lain berarti membenci diri sendiri. Sin-jiu Kiam-ong telah meninggal dunia, mengapa engkau masih menaruh denda? Padahal, engkau sendiri tidak mempunyai urusan dengan dia, mengenalpun tidak. Perlukah dendam dibawa sanpai menurun dari ayahmu kepadamu? Menurutkan dendam, berarti engkau mengikatkan dirimu dengan tali-temali karma yang amat ruwet, Nona. Bukankah dengan demikian engkau akan menyia-nyiakan waktu hidupmu? Perlukah engkau memenuhi permintaan orang tuamu yang begitu tega menyuruh seorang gadis muda seperti Nona menempuh bahaya besar, hendak mendatangi Kiam-kok-san yang tak dapat didatangi oleh orang-orang sakti di dunia kang-ouw? Orang tuamu benar-benar berpemandangan picik..."

"Ayah ibuku telah meninggal dunia..!"

"Ah, maaf..... aku tidak tahu..."

"Mereka telah meninggal dunia, meninggalkan aku seorang diri. Mereka meninggal karena tekanan batin, karena tidak mampu membalas kepada musuh besar kami. Aku sebagai puterinya harus melanjutkannya, harus dapat merampas kembali benda-benda berharga yang dahulu dirampas Sin-jiu Kiam-ong. Aku akan..eh, engkau ini siapakah yang tahu akan segala hal?"

"Tentu saja aku tahu, Sin-jiu Kiam-ong adalah mendiang guruku.."

"Bagus..! Ada yang mewakili menerima pembalasan keluarga Tan...!"

Sambil berkata demikian, gadis itu sudah meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya.

Gerakannya cepat sekali maka Keng Hong dapat menduga bahwa tentu gadis itu telah mewarisi ilmu kepandaian ayah bundanya.

Ia dia saja, hanya duduk sambil memandangi gadis itu dengan wajah tenang.

"Hayo bangkitlah engkau murid Sin-jiu Kiam-ong! Bangkitlah agar segala perhitungan lama dapat dibereskan saat ini!"

Gadis itu menodongkan ujung pedangnya ke arah hidung Keng Hong yang masih duduk tenang tak bergerak dari tempatnya.

"Mendiang guruku tidak pernah merasa menjadi musuh orang tuamu, apalagi musuhmu, Nona. Dan aku pun tidak pernah merasa menjadi musuh keluarga Tan piauw su, maka bagiku tidak ada perhitungan apa-apa yang harus di bereskan. Dan aku yakin bahwa seorang gadis perkasa seperti Nona tidak akan membunuh orang yan tidak mau melawannya, apalagi kalau orang itu selama hidupnya tidak pernah ada urusan dengan Nona maupun orang tua Nona. Akan tetapi kalau keliru dugaanku dan ternyata Nona bukan seorang wanita yang berhati keji dan haus darah, boleh saja Nona tusuk dada ini sampai tembus, aku pun tidak akan melawanmu!"

Pedang di tangan gadis itu menggigil akan tetapi tidak turun dari depan hidung Keng Hong.

"Aku mendengar penuturan orang tuaku bahwa Sin-jiu Kim-ong adalah seorang laki-laki yang bermulut tajam, pandai membujuk dan menipu. Siapa tahu kalu muridnya pun mewarisi kepandaian itu!"

Keng Hong bukanlah seorang bodoh yang membiarkan dirinya terancam maut begitu saja sehingga dia mengeluarkan ucapan tadi.

Melihat sikap gadis itu, mendengar ucapan-ucapannya, dia merasa yakin bahwa gadis ini tidak ungkin mau membunuhnya begitu saja kalau dia tidak mau melawan, Kini dia tertawa dan menjawab.

"Nona, biarpun kau buka dada ini, engkau takkan mendapatkan niat buruk dalam hatiku terhadapmu. Aku tidak membujuk, hanya bicara sesungguhnya bahwa aku tidak pernah memusuhiu dan tidak suka bermusuhan denganu karena memang tidak ada sebab yang mengharuskan kita salign berusuhan. Apalagi setelah sekarang suhu tidak ada, juga kedua orang tuamu tidak ada, mengapa kita harus melanjutkan sikap bermusuhan orang tuamu, percayalah bahwa kelak kalau aku berhasil menemukan simpanan suhu, tentu benda-benda itu akan ku kembalikan kepadau. Bukan hanya benda-benda dari orang tuamu, bahkan benda milik semua orang yang pernah diambil suhu akan ku kembalikan. Dengan jalan itu aku hendak menebus semua perbuatan suhu yang telah menimbulkan sikap bermusuhan dari orang-orang gagah terhadap suhu."

Ujung pedang yang menodong itu menurun, perlahan-lahan.

Lalu tubuh gadis yang menegang itu menjadi agak lemas ketika ia berkata perlahan, seperti mengeluh.

"Ah, mengapa engkau tidak mau bangkit melawan saja? Agar terpenuhi kebaktianku kepada orangtuaku. Mengapa engkau tidak menjadi murid berbakti dari gurumu dan mempertahankan nama gurumu dengan menghadapi musuhnya?"

Keng Hong menggelengkan kepala.

"Engkau keliru dalam mengartikan sikap berbakti, Nona. Melanjutkan perbuatan orang tua baru dapat dikatkan berbakti kalau perbuatan itu sendiri benar. Akan tetapi kalau perbuatan itu tidak benar, maka kewajiban seorang berbakti adalah membetulkan perbuatan itu, tidak melanjutkannya. Mengerti engkau, Nona?"

Gadis itu menunduk, perlahan-lahan menyimpan kembali pedangnya.

"Biarpun aku tidak suka mengakui, namun aku percaya kepadamu."

Tiba-tiba Keng Hong mengangkat muka memandang ke kanan dan terdengarlah suara.

"Siancai..! Bocah keparat ini sama sekali tidak boleh dipercaya!"

Tan Hun Bwee cepat memutar tubuh memandang ke arah suara itu dan tahu-tahu di situ muncul dua tosu yang usianya sekitar lima puluh tahun.

Mereka ini bukan lain adalah Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin, dua orang tokoh Kun-lun-pai untuk mencari dan menangkap Keng Hong yang menipu Kun-lun-pai dengan menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam palsu.

Melihat dua orang tosu ini, Keng Hong terkejut dan cepat dia maju, menjatuhkan diri berlutut.

"Kiranya Ji-wi Totiang yang datang, harap menerima penghormatan teecu,"

Katanya penuh hormat.

Sejak kecil Keng Hong hidup di Kun-lun-pai dan tak pernah dia kehilangan rasa terima kasihnya dengan kepada Kun-lun-pai, terutama kepada Kiang Tojin yang telah menolong nyawanya dan telah memeliharanya.

Dua orang tosu ini adalah adik seperguruan Kiang Tojin, tentu saja dia bersikap amat hormat.

"Cia Keng Hong! Tahukah engkau akan dosamu terhadap Kun-lun-pai?"

Bentak Sian Ti Tojin sambil menggerakkan ujung lengan nya yang panjang dan sikapnya keren.

"Teecu telah banyak menerima budi kebaikan Kun-lun-pai dan belum sempat membalasnya. Hal itu sudah merupakan dosa."

"Tak usah memutar lidah!"

Bentak Lian Ci Tojin yangseperti suhengnya, amat marah kalau mengingat betapa Kun-lun-pai sampai bentrok antara saudara sendiri, dan betapa Kun-lun-pai didatangi banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang menganggu.

Apalagi kalau teringat akan penipuan pedang palsu.

"Engkau telah menipu kami, menipu guru kami dengan menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam palsu. Apakah kau hendak menyangkal dosa besar ini?"

Keng Hong menundukkan mukanya dalam keadaan masih berlutut.

"Teecu tidak menyangkal, dan memang hal itu benar telah teecu lakukan. Teecu bersedia untuk menghadap Kiang Tojin dan para locianpwe di Kun-lun-pai untuk mohon pengampunan atas perbuatan teecu yang tidak patut itu."

"Enak saja kau bicara tentang minta ampun setelah kekacauan yang kau ciptakan di Kun-lun-pai!"

Bentak Sian Ti Tojin sambil melangkah maju dan tangan kirinya menampar.

"Plakk!"

Pipi kanan Keng Hong ditamparnya keras sekali sehingga tubuh pemuda itu terguncang miring dan hampir roboh.

"Kalau kami tidak menerima perintah untuk menangkapmu hidup-hidup dan menyeretmu ke depan kaki suhu, tentu sekarang juga pinto membunuhmu, bocah keparat!"

Ucapan ini keluar dari mulut Lian Ci Tojin yang juga menggerakkan tangan ke depan, menampar pipi kiri Keng Hong.

"Plakkk!"

Tamparan ini lebih keras lagi, sesuai dengan watak Lian Ci Tojin yang berangasan, apalagi karena tosu ini amat benci kepada Kiang Tojin sehingga kemarahannya dia timpakan kepada anak yang dipungut dan ditolong oleh Kiang Tojin itu.

Kembali tubuh Keng Hong terguncang dan dari kedua ujung bibirnya menitik darah.

"Pendeta-pendeta berhati kejam!"

Tiba-tiba Tan Hun Bwee memaki dan meloncat ke depan.

"Kalian sungguh tak tahu malu, memukul orang yang sama sekali tidak mau melawan."

Lian Ci Tojin dan suhengnya mengangkat muka memandang gadis itu. Lian Ci Tojin tersenyum dan mengejek.

"Cia Keng Hong, apakah engkau sudah mewarisi watak mata keranjang suhumu dan gadis ini menjadi seorang di antara pacarmu?"

"Lian Ci totiang harap jangan bicara sembarangan. Nona ini adalah seorang gadis terhormat adalah puteri Tan-piauwsu dan sama sekali bukan pacar teecu.."

"Tosu bau, mulutmu busuk!"

Tan Hun Hwee sudah tak dapat menahan kemarahannya dan pedangnya dia sudah dia cabut dan secepatnya kilat dia menyerang Lian Ci Tojin.

Akan tetapi dengan mudah Lian Ci Tojin mengelak.

Tosu ini adalah murid ke lima dari ketua Kun-lun-pai, tentu saja merupakan seorang di antara tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang termasuk golongan atas.

"Hemmm, kalau bukan pacar bocah keparat ini, setidaknya tentu mata-mata musuh yang hendak menyelidiki Kun-lun-pai. Mengakulah, mau apa kau datang ke wilayah Kun-lun-pai?"

Bentak tosu itu.

"Tosu keparat, tosu palsu, lihat pedang!"

Tan Hun Bwee sudah menyerang lagi dan ternyata gadis ini memiliki ilmu pedang yang cukup lihai sehingga kembali Lian Ci Tojin terpaksa meloncat ke belakang mengelak sambil meraba punggungnya dan di lain saat pedangnya sudah berada di tangan.

"Engkau hendak menggunakan kekerasan? Baik, majulah!"

Ketika gadis itu menyerang lagi, Lian Ci Tojin sudah menggerakkan pula pedangnya menangkis dan mereka segera bertanding dengan hebat.

"Sute, jangan membunuh orang!"

Sian Ti Tojin memperingatkan sutenya.

"Ha-ha-ha, menghadapi bocah seperti ini, masa perlu membunuhnya, Suheng? Dia harus ditangkap, mungkin dia mata-mata musuh yang berbahaya."

Tan Hun Bwee boleh jadi lihai dan jarang terdapat seorang gadis muda memiliki keahlian bermain pedang seperti dia, akan tetapi berhadapan dengan seorang tokoh besar Kun-lun-pai seperti Lian Ci Tojin, ia masih kalah jauh.

Setelah bertanding mati-matian selama tiga puluh jurus, dalam pertemuan pedang, Lian Ci Tojin mengerahkan tenaganya dan gadis itu berteriak kaget, pedangnya terlepas dari pegangan dan sempat ia mengelak, tangan kiri tosu itu telah menotok pundaknya, membuat ia roboh lemas tak dapat berkutik lagi!

"Ha-ha-ha, bocah-bocah sekarang banyak yang tak tahu diri, seperti bocah keparat Keng Hong ini dan gadis galak ini.

Suheng, keadaan gadis ini amat mencurigakan, dia datang bersama Keng Hong, siapa tahu di belakangnya ada orang-orang lain.

Biar dia kubawa dulu menghadap suhu agar diselidiki.

Harap Suheng mengantar Keng Hong ke atas, menyusul."

Sian Ti Tojin hanya mengangguk sambil berkata kepada Keng Hong..

"Hayo berdiri dan ikut dengan pinto ke puncak Kun-lun-pai."

Keng Hong tadi hanya menonton saja ketika nona Tan bertanding melawan Lian Ci Tojin.

Hatinya gelisah tidak karuan, akan tetapi bagaimana dia dapat turun tangan melindungi nona itu atau mencegah Liaan Ci Tojin?

Kalau dia melakukaan hal ini berarti bahwa dosanya terhadap Kun-lun-pai akan menjadi bertambah.

Apalagi dia dapat melihat bahwa tosu itu tidak akan membunuh Tan Hun Bwee, Dan hanya akan menangkapnya dan membawanya ke Kun-lun-pai untuk diselidiki.

Kalau memang gadis itu tidak bersalah, dan benar hanya ingin mencari pusaka di Kiam-kok-san, dia percaya akan kebijaksaan para pimpinan Kun-lun-pai yang tentu akan membebaskannya.

Akan tetapi pada saat dia hendak bangkit memenuhi permintaan atau perintah Sian Ti Tojin dan mengerling ke arah Tan Hun Bwee yang sudah tertotok, dia melihat Lian Ci Tojin secara kasar dan sembarangan mengempit tubuh gadis itu dan dibawa pergi.

Pada saat itu dia melihat sinar mata Lian Ci Tojin dan jantungnya berdebar tidak karuan.

Ia berusaha menekan-nekan debar jantungnya, akan tetapi tidak berhasil sehingga ketika dia bangkit berdiri, kakinya gemetar dan mukanya menjadi berubah dan keningnya berkerut.

Melihat ini, Sian Ti Tojin mengira bahwa pemuda ini hendak menbangkang.

Ia sudah maklum akan kelihaian bocah ini yang memiliki ilmu aneh, pernah menggegerkan Kun-lun-pai.

Tentu saja dia tidak takut dan merasa dapat mengatasi bocah ini karena dia tahu bahwa Keng Hong hanya memiliki tenaga sedot mujijat itu sedangkan dalam hal ilmu silat, pemuda ini masih rendah ilmunya.

Adapun tentang ilmu sedot itu, setelah dahulu Keng Hong menggegerkan Kun-lun-pai, suhunya telah menberi penjelasan kepada para murid, dan kini sudah tahu bagaimana caranya menolong diri sendiri apabila dia kena "disedot".

Betapapun juga, dia tidak menghendaki pemuda ini membangkang sehingga dia tidak usah menpergunakan kekerasan.

"Cia Keng Kong, mengapa kau? Apakah kau hendak membangkang?"

Keng Hong tadinya memandang ke arah bayangan Lian Ci Tojin yang membawa lari Hun Bwee dan kini bayangan itu telah lenyap di tikungan lereng.

Ia menghela nafas panjang dan memutar tubuhnya mneghadapi Sian Ti Tojin adalah murid ke dua dari Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai, sehingga dalam hal ilmu silat, tosu ini hanya berada di bawah suhengnya yang tertua, yaitu Kiang Tojin.

"Totiang, mengapa Totiang membiarkan Lian Ci Tojin membawa pergi nona Tan? Mengapa tidak bersama-sama saja?"

"Hemmm, engkau lancang sekali. Ada sangkut pautnya apakah denganmu? Sute hendak membawa gadis itu lebih dulu karena menaruh curiga kepadanya. Sebetulnya apakah keperluannya berada di tempat ini bersamamu?"

"Totiang, dia itu orang baik-baik, tidak ada kesalahan terhadap Kun-lun-pai. Dia sengaja datang ke sini untuk mencari Kim-kok-san."

"Apa? Mengapa?"

"Dia adalah puteri dari Tan-piauwsu yang dahulu pernah bermusuhan dengan mendiang suhu. Ada beberapa buah barang berharga dari ayah ibunya dirampas suhu dan dia hendak mencari barang-barang itu. Dia sama sekali tidak bermaksud buruk terhadap Kun-lun-pai. Mengapa ditangkap?"

Sian Ti Tojin menggeleng kepala.

"Tidak bermaksud buruk akan tetapi dia menyerang sute. Sudahlah, kalau memang dia tidak bersalah, tentu akan dibebaskan kembali. Mari kita naik menghadap suhu dan jangan banyak tingkah agar pinto tidak perlu menggunakan kekerasan terhadapmu."

Keng Hong menghela napas panjang dan melangkah pergi diikuti kakek itu dari belakang. Akan tetapi baru beberapa ratus langkah, dia berhenti lagi.

"Totiang...."

"Kenapa kau berhenti? Hayo jalan terus."

"Totiang, hati saya merasa tidak enak sekali. Amat berbahaya nona Tan dibawa pergi Lian Ci Tojin. Tidakkah Totiang dapat melihat betapa sinar mata Lian Ci Tojin berapi-api? Adakah patut dia mengempit tubuh seorang gadis? Lebih baik kita susul dia."

"Ah, engkau benar-benar kurang ajar dan patut dipukul, Keng Hong. Berani benar engkau mengeluarkan fitnahan-fitnahan menghina sute. Kami adalah tosu-tosu yang menyucikan diri dan batin, masa terhadap seorang wanita akan timbul pikiran kotor seperti mendiang suhumu? Uhhh, sekali lagi kau mengeluarkan ucapan seperti itu, terpaksa akan pinto pukul sebagai hajaran."

Kembali Keng Hong menghela napas lalu berjalan lagi.

Ia menganggap bahwa alasan tosu tua ini benar.

Masa Lian Ci Tojin akan melakukan hal yang amat rendah terhadap gadis itu?

Bukankah para tosu Kun-lun-pai.

Bukan sembarangan tosu melainkan tosu murid langsung Thian Seng Cinjin!

Kembali sinar mata Lian Ci Tojin yang ditangkapnya ketika tosu itu mengempit tubuh Hun Bwee menggoda hatinya.

Betapapun percaya dia akan alasan Sian Ti Tojin tadi, namun sinar mata itu!

Seperti mata orang kehausan melihat air, mata orang melihat makanan, mata seekor anjing melihat daging, mata yang penuh memancarkan nafsu berahi!

Kalau benar seperti yang dikhawatirkannya, celakalah nasib Hun Bwee di tangan tosu itu yang sudah begitu baik kepadanya, jelas tampak kebaikannya ketika gadis itu membelanya melihat dia dipukuli kedua orang tosu Kun-lun-pai.

Betapa beraninya membelanya dari dua orang tosu yang lihai!

Gadis yang berwatak pendekar, gagah perkasa.

Dan kini terancam bahaya yang lebih hebat daripada maut bagi seorang gadis!

"Totiang, terpakasa teecu harus menyusul non Tan..."

"Cia Keng Hong, berhenti! Kalau tidak, terpaksa kupukul kau!"

Namun Keng Hong sudah meloncat pergi hendak mengejar Lian Ci Tojin.

"Keng Hong, kalau tidak berhenti, pinto memukulmu!"

Kembali teriakan Sian Ti Tojin menggema dibelakangnya dan tosu itu telah mengejarnya.

Keng Hong berpikir cepat.

Kalau dia menggunakan ginkangnya, dia hanya akan menang sedikit karena para tosu Kun-lun-pai tentu saja memiliki ginkang yang hebat.

Dan kalau dikejar-kejar, bagaimana dia dapat mencari Hun Bwee?

Setelah berpikir, dia lalu berlari terus, sengaja memperlambat larinya.

"Peringatan terakhir, Keng Hong. Berhentilah!"

Keng Hong berlari terus.

"Siancai! Pinto terpaksa memukulmu!"

Angin pukulan dahsyat menyambar dari belakang.

Keng Hong cepat membalikkan tubuhnya, mengerahkan sinkangnya ke lengan dan menangkis pukulan itu terus mendorong ke samping.

"Dukk!!"

Tubuh Sian Ti Tojin terpental ke belakang seperti disambar angin yang amat kuat sehingga dia berseru kaget.

Untung bahwa dia telah memiliki lweekang yang amat kuat sehingga dia dapat mencegah tubuhnya terbanting, namun dia merasa betapa tenaga lweekang yang amat kuat sehingga dia dapat mencegah tubuhnya terbanting, naun dia merasa betapa tenaga lweekang dalam pukulannya tadi membalik dan membuat dadanya sesak.

Ia tahu bahwa kalau dia mengerahkan tenaga lagi, dia akan terluka, maka cepat dia duduk bersila mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan keadaanya dan tentu saja dia harus membiarkan pemuda yang luar biasa itu pergi.

Keng Hong berlari terus secepatnya.

Memang dia telah melakukan hal yang membuat hatinya menjadi makin tidak enak terhadap Kun-lun-pai akan tetapi karena dia hanya menangkis dan yang memukul adalah Sian Ti Tojin, dia menekan kekhawatirannya.

Mengejar dan menolong Tan Hun Bwee lebih penting lagi.

Ia tadi melihat bayangan Lian Ci Tojin yang membawa lari nona itu naik ke atas, maka kini diaapun mengejar, belum juga dia dapat menyusul.

Hatinya menjadi penasaran dan gelisah.

Dari sebuah puncak dia telah dapat mmelihat dinding tinggi dari Kun-lun-pai dan tidak tampak bayangan tosu itu.

Kalau Lian Ci Tojin membawa Hun Bwee ke Kun-lun-pai, dia tidak usah khawatir.

Akan tetapi dia merasa curiga dan menduga bahwa tentu nona itu tidak dibawa ke sana.

Maka dia lalu membelok dan kembali menuruni puncak, lalu mencoba untuk mencari ke dalam sebuah sebuah hutan besar yang berada di lereng.

Kalau tosu itu yang sinar matanya penuh nafsu berniat melakukan kekejian, tidak ada tempat yang lebih baik daripada dalam hutan itu.

Setibanya di dalam hutan, dia mencari-cari.

Keadaan dalam hutan sunyi senyap.

Tiba-tiba keng Hong menghentikan langkahnya dan membungkuk, mengambil sehelai pita sutera hijau yang berbau harum.

Agaknya pita rambut atau pita pelindung leher dan tak salah lagi, warna hijau muda ini menyatakan bahwa pita ini milik Tan Hun Bwee.

Tentu orangnya berada tak jauh dari tempat ini.

Hatinya makin tidak enak dan berdebar.

"Tan-siocia (nona Tan)..!"

Ia memanggil.

Tiada jawaban.

Ia meneliti dan akhirnya melihat tapak kaki di atas tanah yang agak basah.

Namun cukup baginya.

Kaki itu menuju ke arah serumpun alang-alang atau rumput tinggi di sebelah kirinya.

Cepat dia menerobos semak-semak itu dan akhirnya dia melihat Tan Hun Bwee menggeletak di atas rumput, tersembunyi di balik semak-semak yang tebal.

Gadis itu dalam keadaan pingsan, agaknya tertotok dan melihat keadaan pakaiannya, hati Keng Hong seperti di tusuk pisau.

Gadis ini telah diperkosa!

Dengan hati penuh iba, dia membereskan pakaian itu sedapat mungkin, kemudian dia mengurut tengkuk dan punggung Tan Hun Bwee.

Gadis itu mengeluh, membuka matanya dan berteriak kaget sambil meloncat berdiri.

Sepasang mata yang tajam itu sejenak menunduk, meneliti keadaan dirinya, kemudian wajah itu diangkat memandang Keng Hong, pucat sekali dan matanya liar.

"Kau.... kau.. laki laki jahat.. apa yang telah kau perbuat atas diriku....?"

Air mata deras mengalir di sepasang pipi yang makin pucat dan mata itu makin beringas.

"Tenanglah, Nona. Aku mendapatkan Nona menggeletak di sini, dan....."

"Bohong! Engkau telah melakukan kekejian kepadaku! Aihhhhh, engkau murid Sin-jiu Kiam-ong...., keparat busuk!"

Hun Bwee tiba-tiba menerkam ke depan dan menyerang Keng Hong dengan pukulan ke arah dada pemuda itu.

Saking kaget dan menyesal menyaksikan kesalahfahaan ini, Keng Hong sampai tidak sempat mengelak.

Akan tetapi begitu dadanya terpukul, otomatis sinkang di tubuhnya bergerak.

"Dukkkk...!"

Dan tubuh gadis itu terjengkang roboh sendiri.

"Aah, Nona, sungguh mati, aku tidak..."

"Laki-laki jahanam! Pengecut hina dina! Sudah berani berbuat tidak berani bertangung jawab, malah menyangkal keparat!"

Kembali Hun Bwee membuat gadis ini lemah, selain berduka dan malu, juga air matanya membuat kedua matanya sukar melihat.

Serangan-serangannya ngawur dan asal pukul saja.

Keng Hong merasa kasihan, akan tetapi juga bingung menghadapi gadis yang mengamuk tidak karuan itu.

Akhirnya dia berhasil menangkap kedua pergelangan tangan gadis itu sehingga tak dapat bergerak lagi, lalu berkata.

"Dengarlah Nona, aku tidak melakukan sesuatu kepadamu, kudapati engkau telah menggeletak pingsan disini.."

"Bohong! Bohong...!"

Gadis itu meronta-ronta sehingga terpaksa Keng Hong melepaskan pegangannya.

Karena maklum bahwa terhadap pemuda ini dia tidak akan dapat menang, gadis itu lalu membalikkan tubuh dan lari-lari dari tempat itu sambil menangis terisak-isak, meninggalkan Keng Hong yang berdiri bengong.

Setelah bayangan gadis itu lenyap, Kenghong menunduk, melihat ke tempat di mana seorang tosu Kun-lun-pai yang terhormat melakukan perbuatan biadab yang sama sekali tidak terhormat.

Ia mengeluarkan pita hijau yang tadi dia masukkan saku, memandang pita itu dan berkata perlahan.

"Lian Ci Tojin.... akan tiba saatnya engkau menyesali perbuatanmu yang terkutuk ini..."

Tak lama kemudian dia mengantongi pita hijau itu kembali dan meninggalkan tempat itu, berjalan dengan kepala tunduk menuju ke Kun-lun-pai.

Hatinya makin berduka karena kembali dia menjadi korban perbuatan jahat orang lain yang ditimpakan kepadanya.

Berkali-kali Biauw Eng melakukan pembunuhan-pembunuhan keji dan selalu dialah yang menanggung akibatnya, dan kini dia merasa yakin bahwa Lian Ci Tojin telah memperkosa Tan Hun Bwee dalam keadaan pingsan dan akibatnya dia pula yang dituduh oleh gadis itu!

"Suhu, mengapa nasib teecu tidak sebaik nasib suhu yang selalu mengalami kegembiraan?

Apakah karena teecu masih terlalu bodoh dan perlu menyempurnakan ilmu peninggalan suhu?"

Demikian keluh hatinya terhadap mendiang gurunya.

Biarpun Keng Hong hidup, namun dia belum banyak pengalaman dan jiwanya belum matang, sehingga dia pula bahwa senang maupun susah bukan datang dari luar melainkan akibat terhadap segala yang menimpa hidupnya.

Seorang yang sudah matang seperti Sin-jiu Kiam-ong, tentu akan menerima segala yang menimpa hidupnya.

Seorang yang sudah matang seperti Sin-jiu Kiam-ong, tentu akan menerima segala macam derita hidup dengan tertawa geli dan seolah-olah menyaksikan sebuah lelucon.

"Lian Ci Tojin, engkau benar-benar lebih jahat daripada seorang jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita). Seorang jai-hwa cat melakukan kejahatannya dengan berterang, sebaliknya engkau bersebunyi dalam kependetaan. Alangkah hina dan jahat engkau!"

Begitu teringat akan tosu itu, di dalam hatinya Keng Hong memaki-maki.

Kemudian dia teringat kepada Biauw Eng dan sedetik timbul rasa rindu yang membuat kedua kakinya lemas.

Akan tetapi begitu mengingat perbuatan-perbuatan Biauw Eng, dia memaki-maki pula di dalam hatinya.

"Aku benci kepadamu! Kau perempuan hina, kejam, curang! Tak tahu malu engkau, aku tidak cinta kepadamu, melainkan benci...benci...!"

Keng Hong menghentikan langkahnya dan terpaksa menutupkan kedua tangan di depan muka karena biarpun mulutnya menyebutkan benci sampai (Lanjut ke

Jilid 13) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 berulang kali, Namun dia maklum bahwa di dalam hatinya dia tak pernah dapat membenci Biauw Eng!

Keng Hong berlari terus secepatnya dengan hati tertekan dan wajah muram.

Kalau menurutkan hatinya, ingin dia langsung saja naik ke Kiam-kok-san untuk menjauhkan diri daripada segala urusan dunia yangmenimbulkan kepahitan.

Akan tetapi dia harus mentaati kesadaraannya bahwa dia harus lebih dulu menghadap Kiang Tojin dan mohon maaf akan kedosaannya telah menipu tosu itu dengan menyerahkan Siang-bhok-kiam palsu.

Tosu itu adalah penolongnya, dan semua tosu di Kun-lun-pai telah bersikap baik kepadanya ketika dia masih kecil.

Kalau dia tidak pergi menghadap, tentu selamanya dia akan menyesal dan berdosa.

Biarlah dia akan menanggung segala akibatnya.

Apapun yang akan terjadi, akan dia hadapi dan kalau perlu dia aka membela diri di depan semua tosu bahwa dialah sesungguhnya satu-satunya manusia yan berhak memiliki Siang-bhok-kiam sehingga dia terpaksa menipu mereka, menyerahkan pedang kayu yang palsu.

Bahkan peristiwa itu akan dapat merupakan tamparan bagi tokoh-tokoh sakti dunia kang-ouw yang amat tamak, secara tak bermalu memperebutkan benda milik orang lain!

Biarpun hatinya tertekan oleh semua peristiwa yang dialami, oleh kekecewaan melihat perbuatan Biauw Eng, oleh kemarahan karena perbuatan Lian Ci Tojin, namun dengan penuh semangat Keng Hong mendaki lereng yang menuju ke puncak di mana berdiri markas Kun-lun-pai dengan megahnya.

Puncak itu masih jauh, masih membutuhkan perjalanan setengah hari pun dindingnya sudah tapak dari lereng.

Ketika melalui sebuah tikungan, tiba-tiba Keng Hong berhenti dan matanya memandang terbelalak ke depan.

Maklum dia bahwa nyawanya terancam bahaya maut ketika dia mengenal orang-orang yang telah menghadangnya di tengah jalan itu.

Pertama-tama dia mengenal Sim Lai Sek, pemuda remaja adik mendiang Sim Ciang Bi yang terbunuh oleh Biauw Eng.

Sim Lai Sek berdiri dengan muka merah saking marahnya, berdampingan dengan dua orang kakek yang dikenal Keng Hong sebagai tokoh-tokoh Hoa-san, yaitu Hoa-san Siang-sin-kiam yang amat lihai!

Di samping tiga orang Hoa-san-pai ini, dia melihat empat orang tosu tua yang bersikap angker penuh wibawa dan yang belum pernah dikenalnya.

Karena belum mengenal empat orang tosu tua itu, maka perhatiannya tertarik kepada dua orang yang lain yang berdiri dengan alis berdiri saking marahnya.

Mereka berdua ini bukan lain adalah Kim-to Lai Ban wakil ketua Tiat-ciang-pang dan seorang laki-laki tua yang mukanya licin seperti muka anak-anak, akan tetapi sepasang matanya bundar seperti mata ikan bandeng raksasa!

Melihat sikap kakek bermuka halus itu Keng Hong menjadi berdebar dan menduga bahwa agaknya dia itu adalah ketua Tiat-ciang-pang!

Memang dugaannya benar.

Laki-laki tua yang datang bersama Kim-to Lai ban itu bukan lain adalah Ouw Beng Kok, pangcu (ketua) dari Tiat-ciang-pang.

Kakek yang hebat ini tangan kirinya merupakan tangan kiri palsu terbuat daripada logam kehijauan yang mengerikan sekali, seperti cakar iblis!

Adapun empat orang tosu tua yang tidak di kenal keng Hong itupun bukan orang-orang sembarangan, melainkan empat orang di antara Kong-thong Ngo-lojin, tokoh-tokoh utama Kong-thong-pai!

Keng hong menenangkan hatinya lalu menjura dengan hormat kepada semua orang sambil berkata.

"Para Locianpwe berada di sini apakah sengaja menghadang saya dan ada urusan apakah? Eh, adik Sim Lai Sek juga berada di sini? Apakah kau baik-baik saja?"

"Manusia keparat! Siapa sudi menjadi adikmu? Engkau telah mencemarkan kehormatan ciciku kemudian masih tega membunuhnya! Nah, untuk perbuatanmu yang terkutuk itulah aku datang bersama Ji-wi Supek untuk membunuhmu!"

Bentak Sim Lai Sek penuh kebencian.

"Celaka, bocah ini lebih jahat dari pada gurunya, Sin-jiu Kiam-ong. Patut dilenyapkan dari muka bumi!"

Kata Coa Kiu orang tertua dari Hoa-san Siang-sin-kiam. Keng Hong mengangguk-angguk.

"Cukup sudah kuketahui maksud Ji-wi Locianpwe dari Hoa-san-pai yang hendak membunuhku berdasarkan fitnah memperkosa dan membunuh. Bagaimana dengan para Locianpwe yang lain? Ada urusan apakah?"

Sikap Keng Hong tenang saja karena memang sesungguhnya dia tidak merasa berdosa terhadap orang-orang ini.

Sikapnya ini mengingatkan semua tokoh kepada sikap Sin-jiu Kiam-ong dan membuat mereka makin marah.

"Lai-pangcu, aku menyesal sekali akan peristiwa yang terjadi antara kita, dan Lai-pangcu sebagai seorang tua yang berkedudukan tinggi telah memaksaku sehingga terjadi bentrokan dan jatuh korban. Sejak semula sudah kunyatakan bahwa aku tidak bermusuhan dan tidak ingin bermusuhan dengan Tiat-ciang-pang. Mengapa sekarang Lai-pangcu datang lagi menghadang perjalankanku?"

"Bocah iblis! Engkau mengandalkan ilmu iblis membunah murid-murid Tiat-ciang-pang, masih banyak bicara lagi? Kami datang untuk membinasakanmu!"

Jawab Kim-to Lai ban, sedangkan Ouw Beng Kok, ketua Tiat-ciang-pang masih berdiri memandang penuh keheranan.

Hampir saja dia tidak bisa percaya bahwa bocah ini yang telah merobohkan banyak anak muridnya dan bahkan hampir saja membunuh Lai Ban, sutenya!

"Sungguh sayang bahwa omongan Siauw bin Kun-cu mengenai Tiat-ciang-pang tepat sekali, bukan hanya mengandalkan Tiat-ciang (Tangan Besi), bahkan memiliki Tiat-sim (Hati Besi) pula.

Dan bagaimana dengan para Locinpwe ini?

Apakah para Totiang ini juga hendak mencariku?"

Ia memandang ke arah empat orang tosu yang bersikap galak dan sejak tadi memandangnya dengan sinar mata tajam.

Tosu tertua di antara Kong-thong Ngo-lojin adalah seorang kakek tinggi kurus bermata buta sebelah kiri, memegang tongkat bambunya, ditudingkan ke arah Keng Hong sambil berkata.

"Cia Keng Hong, engkau telah membunuh sute termuda kami dan sepuluh orang murid kami, sekarang terpaksa kami orang-orang tua dari Kong-thong-pai melupakan malu dan harus mencabut nyawa seorang muda yang berbahaya seperti engkau!"

Keng Hong terkejut.

Kiranya empat orang ini adalah para suheng dari Kok Cin Cu yang terkenal dengan sebutan Kong-thong Ngo-lojin!

Wah, sekali ini dia menghadapi ancaman lawan berat, orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi!

Betapa mungkin dia dapat melawan mereka?

Akan tetapi, kalau tidak dapat melawan dan membela diri dengan mulut.

Dia tidak merasa bersalah, maka sebelum mereka turun tangan, dia harus membela diri, menyatakan kebersihannya.

"Aku telah mendengar semua tuduhan, akan tetapi cu-wi Locianpwe sesungguhnya telah keliru menjatuhkan tuduhan-tuduhan palsu. Tuduhan yang tidak benar berarti fitnah, merupakan hal yang keji melebihi pembunuhan. Aku tidak bersalah. Pertama-tama tuduhan dari Hoa-san-pai yang mengatakan bahwa aku telah meemperkosa dan membunuh nona Sim Ciang Bi. Memang benar ada hubungan cinta antara aku dan mendiang nona Sim, akan tetapi bukan perkosaan. Adapun kematian nona itu yang berada dalam pelukanku bukanlah karena aku yang membunuhnya!"

"Aku melihat dengan mata kepala sendiri engkau masih berani menyangkal?"

Bentak Sim Lai Sek setengah menjerit.

"Apakah engkau melihat aku membunuh, adik Sim Lai Sek?"

Tanya Keng Hong dengan sikap tenang.

"Aku melihat engkau...engkau ..memperkosanya... kemudian melihat dia mati di pelukanmu. Siapa lagi kalau bukan engkau atau perempuan iblis temanmu yang yang membunuhnya?"

"Kesaksianmu lemah. Aku tidak memperkosanya dan tidak pula membunuhnya. Sekarang tuduhan dari Tiat-ciang-pang. Ketika itu aku membantu nona Sim dari desakan orang-orang Tiat-ciang-pang. Aku tidak beraksud membunuhi anak buah Tiat-ciang-pang, kemudian datang Lai pangcu yang memaksaku dengan kekerasan sehingga terjadi bentrok dan di dalam pertempuran jatuh pula korban di fihak Tiat-ciang-pang. Jelas bahwa bukan aku sengaja memusuhi Tiat-ciang-pang karena aku hanya membela diri. Hal ini disaksikan oleh seorang Locianpwe yang patut dipercaya, yaitu Siauw-bin Kuncu Locianpwe."

"Bocah berilmu iblis! Engkau berbahaya sekali, memiliki ilmu iblis, tukang merayu wanita, pandai memutar lidah. Engkau sudah selayaknya dilenyapkan dari muka bumi agar jangan membikin kotor dunia!"

Bentak Kim-to Lai Ban marah.

"Terserah wawasan Ji-pangcu dan Tiat-ciang-pang. Sekarang urusan dengan Kong-thong-pai yang menuduh aku membunuh Kok Cin Cu totiang dan sepuluh orang muridnya. Bagaimana aku dapat mebunuh seorang lihai seperti Kok Cin Cu totiang? Ada orang lain yang membunuh, akan tetapi bukan aku. Adapun pertempuran sepuluh orang anak murid Kong-thong-pai yang tewas dalam pertempuran yang sudah sewajarnya dan sebagian..."

"Sebagian lagi kau bunuh dalam kuil setelah kau perkosa dua orang murid wanita!"

Bentak Kok Seng Cu, tosu ke empat dari Kong-thong Ngo-lojin.

Keng Hong terkejut dan menduga bagaimana tosu ini tahu akan hubungannya dengan Kiu Bwee Ceng dan Tang Swat Si?

Dia tidak tahu bahwa empat orang tokoh Kong-thong-pai ini menerima pemberitahuan dari coretan yang dilakukan dengan tusuk konde bungan bwe yang ditinggalkan menancap di pondok setelah melakukan coretan peberitahuan bahwa Kiu Bwee Ceng dan Tang Swat Si telah diperkosa oleh murid Sin-jiu Kiam-ong dan bahwa kedua orang gadis itu bersama para saudara seperguruannya telah dibunuh pula.

"Aku tidak memperkosa, kami berhubungan secara suka sama suka dan aku tidak membunuh siapa-siapa.."

"Manusia keji!"

Kok Sian Cu, orang pertama dari Kong-thong Ngo-lojin sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi.

Tubuhnya bergerak maju mengirim pukulan ke arah ubun-ubun kepala Keng Hong.

Sebuah pukulan maut yang didahului angin pukulan dahsyat sekali.

Keng Hong terkejut dan cepat dia mengelak dengan jalan meloncat ke kiri dan mengangkat tangan menjaga kepalanya.

Akan tetapi, dari sebelah kiri pundaknya disambar lagi oleh hantaman tangan yang lebih ampuh lagi daripada pukulan pertama tadi, terbuat daripada logam.

Hebat bukan main datangnya pukulan ini karena Ouw Beng Kok dijuluki Tiat-ciang (Tangan Besi), bahkan mendirikan perkumpulan Tiat-ciang-pang adalah karena kehebatan tangan kirinya yang palsu inilah.

Tangan itu bukan terbuat dari besi sebarangan, melainkan besi yang mengandung racun hebat, dan karena ketua Tiat-ciang-pang ini memiliki lweekang yang amat kuat maka pukulannya benar-benar merupakan pukulan maut yang sukar dihindarkan.

Untung bagi Keng Hong bahwa sebelum suhunya meninggal dunia, kakek sakti itu telah "mengoperkan"

Hawa sinkang mujijat ke dalam tubuh muridnya sehingga otomatis Keng Hong memiliki sinkang kuat sekali seperti mendiang suhunya dan tanpa dia sadari pula dia telah memiliki ginkang yang membuat tubuhnya seolah-olah dapat bergerak di luar kesadarannya.

Datangnya pukulan Ouw Beng Kok cepat, namun tubuh pemuda itu lebih cepat lagi, membuang diri ke belakang lalu bergulingan menjauhi lawan.

Orang-orang yang menyerangnya adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi, sedikit banyak merasa malu dan sungkan untuk menggeroyok seorang pemuda, maka mereka itu begitu menyerang dan luput, merasa sungkan untuk mendesak, membiarkan orang lain yang lebih dekat untuk turun tangan.

"Bukk..!"

Ketika tubuh Keng Hong sedang bergulingan, kaki Kok Liong Cu, tosu ke dua dari Kong-thong Ngo-lojin ini selain ilmu pukulan Ang-liong-jiauw-kang yang dimiliki oleh mereka berlima, juga terkenal lihai dalam ilmu tendangannya.

Datangnya tendangan cepat dan tak terduga sehingga tubuh Keng Hong terlempar ketika dicium ujung sepatunya.

Keng Hong merasa napasnya seolah-olah berhenti, namun dengan pengerahan sinking dia dapat melindungi tubuh dan tidak terluka, hanya merasa nyeri di punggung.

Ia melompat bangun lagi hanya untuk menghadapi sinar berkeredepan menyambar dari depan dibarengi bentakan Coa Bu orang kedua dari Hos-san Siang-sin-kiam yang menusukkan pedangnya sambil membentak.

"Bocah iblis, mampuslah!"

Keng Hong kaget bukan main, cepat dia membuang diri lagi ke kanan menghindarkan diri dari sambaran pedang.

Sinar pedang itu menyeleweng lewat dan membabat rumput sehingga rumput-rumput itu terbabat habis tanpa tergerak, menandakan betapa tajam dan lihainya pedang kakek ini!

Keng Hong sudah meloncat bangun lagi, wajahnya pucat, napasnya terengah dan ketika dia mengerling, kiranya dia sudah dikurung!

"Aku tidak bersalah, dan aku akan mempertahankan nyawaku dari kalian orang-orang tua yang tidak adil!"

Teriaknya.

Ia maklum bahwa sekali ini sukar bagi dia untuk lolos, karena yang megepungnya adalah orang-orang yang sakti dan jumlah mereka, tanpa menghitung Sim Lai Sek yang tidak ada artinya, adalah delapan orang.

Baru menghadapi seorang di antara mereka saja sudah berat, apalagi delapan orang sekaligus!

Baiknya mereka itu masih sungkan untuk mengeroyok, hanya menjaga agar dia tidak melarikan diri dan siap-siap menerjang jika pemuda itu mendekat.

Dalam keadaan marah dan penasaran, Keng Hong merasa betapa seluruh tubuhnya menggetar dan teringatlah dia bahwa apabila tubuhnya menggetar seperti ini berarti dia dapat menyedot hawa sinkang lawannya.

Ia mengerling dan melihat bahwa di antara mereka, yang bersenjata dan yang sukar untuk dihadapi dengan sinkang adalah dua orang Hoa-san-pai yang berpedang itu, Coa Kiu dan Coa Bu, orang tertua dari Kong-thong Ngo-lojin, yaitu Kok Sian Cu yang memegang tongkat bambu, dan Thiat-ciang Ouw Ban Kok yang bertangan palsu.

Maka dia lalu sengaja menggeser kakinya mendekatkan diri dengan Kok Liong Cu dan Kok Kim Cu, dua orang kakek Kong-thong-pai yang tidak bersenjata.

Pancingannya berhasil karena kedua orang ini sudah mengulur tangan hendak mencengkeram dan memukulnya.

Keng Hong mengeluarkan teriakan keras dan menggerakkan lengan menangkis, sekaligus menangkis dua lengan mereka.

"Plak! Plak!"

Kedua tangan orang tua itu berhasil dia tempel dengan tangkisannya dan benar saja, begitu menempel, hawa sinkang dari dua orang kakek itu menerobos keluar memasuki tubuhnya melalui lengannya yang menangkis tadi!

Dua orang kakek Kong-thong-pai itu terkejut dan makin besar mereka mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri, makin lekat tangan mereka dan makin banyak tenaga mereka tersedot keluar!

"Ilmu keji!"

Kok Sian Cu yang menyaksikan keadaan dua orang sutenya itu telah menggerakkan tongkatnya, cepat seperti kilat menusuk mata Keng Hong!

Pemuda ini terkejut dan miringkan kepala, akan tetapi ternyata serangan itu hanya merupakan gertakan belaka karena tahu-tahu ujung tongkat telah menotok sikunya, membuat lengannya lumpuh dan otomatis daya tempel atau daya sedotnya lenyap untuk sementara sehingga dua orang kakek Kong-thong-pai itu dapat membebaskan diri.

Ujung tongkat terus menyambar ke arah lehernya.

Keng Hong kembali menelak dan "brettt!"

Ujung tongkat itu menusuk pecah baju di pundaknya.

"Desss!"

Pada saat itu pula, kaki Kok Liong Cu sudah mengirim tendangan yang amat keras dan yang tepat mengenai lambung Keng Hong, membuat pemuda itu roboh terguling-guling dengan dengan kepala pening.

Melihat betapa pemuda itu kembali mempergunakan ilmu yang mujijat dan yang mereka sangka adalah ilmu hitam Thi-khi-i-beng (Mencuri Hawa Memindahkan Nyawa), para tokoh kang-ouw itu menjadi marah dan mengambil keputusan untuk turun tangan sekaligus membunuh bocah berbahaya itu.

Sepasang pedang di tangan Hoa-san Siang-sin-kiam meluncur ke arah leher dan dada Keng Hong yang masih bergulingan di atas tanah.

Pemuda ini cepat menekan kedua tangan di atas tanah dan mengerahkan tenaga, dan...

tubuhnya mencelat ke atas sedemikian cepatnya sehinga dua sinar pedang itu tidak mendapatkan sasarannya.

"Dukkk!"

Keng Hong terbanting roboh kembali ketika tangan besi Ouw Beng Kok menghantamnya dengan cara memapakinya pada saat tubuhnya mencelat ke atas tadi.

Pukulan berat ini tidak sempat ditangkis atau dielakkan lagi oleh Keng Hong sehingga terpaksa pemuda ini menerimanya dengan pengerahan sinkang melindungi tubuhnya.

Ia masih belum terluka parah, namun seluruh tubuhnya terasa nyeri dan kepalanya makin pening.

Dan begitu tubuhnya terbanting ke atas tanah, dua sinar pedang dari Hoa-san Siang-Sin-Kiam dan sinar hijau tongkat bambu ditangan Kok Sian Cu menyambar.

Keng Hong tidak melihat jalan keluar lagi, mengelak tak mungkin apalagi menangkis, maka dia membelalakkan mata menanti maut sambil mengerahkan sinkangnya secara untung-untungan untuk mengadu kekebalan tubuh yang penuh tenaga sinkang itu dengan tiga senjata lawan yang ampuh.

"Cring-cring-traaakkk..!"

Kedua orang kakek Hoa-san Siang-Sin-Kiam, juga Kok Sian Cu, terkejut dan cepat menarik kembali senjata mereka ketika tiba-tiba ada sinar putih menyambar dan tepat sekali menangkis senjata mereka disusul dengan berkelebatnya sinar putih panjang yang mengancam mereka.

Terpaksa mereka meloncat mundur dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang gadis berpakaian serba putih yang cantik jelita dan sikapnya agung dan penuh wibawa.

Kiranya yang menangkis senjata-senjata yang sudah mengancam nyawa Keng Hong tadi adalah tiga buah senjata rahasia berbentuk bola-bola putih berduri dan sinar panjang berwarna putih adalah sabuk sutera yang sudah berada di tangan gadis itu.

"Sungguh tidak malu, golongan tua tokoh-tokoh partai besar mengeroyok seorang pemuda yang tidak melawan! Cih, beginikah watak dan sikap golongan yan patut disebut locianpwe?"

Gadis itu berkata, suaranya dingin sekali dan pandangan matanya menyapu mereka yang mengurung Keng Hong dengan pandang mata menghina.

"Siancai.. bukankah nona ini Song-bun Siu-li, puteri Lam-hai Sin-ni?"

Kok Sian Cu orang tertua dari Kong-thong Ngo-lojin berseru heran dan kaget, akan tetapi juga penasaran.

"Nona, harap jangan mencapuri urusan kami seperti juga kami tidak pernah mencapuri urusan Lam-hai Sin-ni. Harap nona membuka mata dan melihat bahwa urusan dengan pemuda ini menyangkut Kong-thong-pai, Hoa-san-pai, dan Thiat-ciang-pang!"

Dari ucapannya ini saja orang tertua dari Khong Thong Pai itu jelas menyatakan jerihnya terhadap Lam-hai Sin-ni, bukan terhadap putrinya ini dan hendak mempergunakan nama ketiga partai besar untuk menakuti-nakuti.

Akan tetapi Sie Biauw Eng atau Song-bun Siu-li (Dara Jelita Berkabung) hanya memandang air muka dingin dan mata bersinar lebih dingin lagi.

"Tidak bisa, selama ada aku di sini, kalian tidak boleh menyentuhnya, apalagi membunuhnya!"

Tiat-ciang Ouw Beng Kok menjadi amrah di dalam hati, akan tetapi karena dia sendiri sudah mendengar akan nama besar Lam-hai Sin-ni sebagai tokoh paling lihai di antara para datuk hitam, maka dia tidak berani menyatakan kemarahannya, hanya berkata dengan suaranya yang besar.

"Nona, karena nona adalah puteri Lam-hai Sin-ni, maka kami bersikap sungkan dan mengharap dengan halus hendaknya nona suka mundur dan jangan melindungi pemuda iblis ini. Bukankah dia itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan ibu nona yang terhormat Lam-hai Sin-ni?"

"Dengan ibuku memang tidak, akan tetapi dia adalah satu-satunya pria di dunia ini yang kucinta dan akan kubela dengan seluruh tubuh dan nyawaku!"

Ucapan yang dikeluarkan dengan suara polos jujur ini sejenak membuat semua orang menjadi tertegun.

Akan tetapi dengan sikap wajar nona itu lalu mengeluarkan sebatang pedang dan menyerahkan pedang itu kepada Keng Hong sambil berkata.

"Keng Hong, kau pergunakanlah pedangku ini dan mari kubantu kau menghadapi manusia-manusia haus darah ini!"

Keng Hong menerima pedang yang diberikan itu, memegangnya dengan kedua tangan dan megerahkan tenaga.

"Krekkkk!"

Pedang yang terbuat daripada baja pilihan itu patah menjadi dua potong lalu dilemparkannya ke atas tanah dengan muka merah dan pandang mata penuh kemarahan kepada Biauw Eng.

"Aku tidak sudi pertolonganmu! Kau perempuan kejam, kau telah menyeretku ke dalam lembah permusuhan! Engkaulah orangnya telah membunuh gadis itu karena karena cemburu, engkau curang, kejam dan... aku benci kepadamu!"

Semua orrang yang memandang peristiwa itu membelalakan mata, akan tetapi terutama sekali Biauw Eng yang menjadi pucat dan memandang Keng Hong dengan mata seekor kelinci ketakutan, kemudian bibirnya bergerak-gerak.

"Tidak...., aku tidak melakukan hal itu... ah, Keng Hong, aku hanya ingin membantumu, membelamu, karena aku cinta padamu...."

"Aku tidak butuh bantuanmu, tidak butuh pembelaanmu, tidak membutuhkan cintamu yang keji dan kotor....!"

"Keng Hong...., uuuuhhhhhhhh... Keng Hong....."

Gadis itu tak dapat menahan air matanyaa yang jatuh berderai, kemudian ia menyusut air matanya dan mengangkat mukanya sambil berkata tegas.

"Kalau begitu, baiklah, kita mati bersama!"

Sabuk sutera putih di tangannya bergerak meluncur ke depan menyerang para pengurung yang terdekat.

"Perempuan iblis! Patut dibasmi kalian!"

Teriak Kok Kiam Cu yang dengan susah payah baru dapat menyelamatkan diri dari sambaran sabuk ini ke arah lehernya dengan jalan menggulingkan diri ke tanah karena sinar sabuk itu benar-benar cepat bukan main, tidak sempat lagi dia menangkis.

Kini majulah para pengeroyok yang banyak jumlahnya itu.

Dua orang Hoa-san Siang-sin-kiam memutar pedangnya, bersama Kok Sian Cu, Kok Kim Cu, Ouw Beng Kok dan Lai Ban!

Pertandingan terpecah menjadi dua rombongan, namun keduanya merupakan pertandingan yang tak seimbang, atau boleh dikatakan bukan merupakan pertandingan, melainkan pengeroyokkan dan usaha pembunuhan.

Mereka yang mengeroyok itu adalah orang-orang sakti yang berkepandaian tinggi.

Betapapun lihainya permainan sabuk sutera putih di tangan Biauw Eng, namun dia bukanlah lawan tiga orang kakek tokoh-tokoh besar Hoa-san-pai itu.

Sepasang pedang Hoa-san Siang-sin-kiam masih dapat ia menahannya dengan gulungan sinar sabuk putih yang membentuk lingkaran-lingkaran, akan tetapi desakan tongkat babu di tangan Kok Sian Cu, kakek pertama yang buta mata kirinya dari Kong-thong Ngo-lojin benar-benar membuat Biauw Eng sibuk bukan main.

Sudah dua kali ia terkena senjata lawan, pertama kali ujung pedang Coa Kiu menyerempet pundaknya, menimbulkan luka pada kulit dan sedikit dagingnya, tidak parah namun cukup mengakibatkan pakaiannya yang putih bersih.

Kedua kalinya, ujung tongkat babu di tangan Kok Sian Cu merobek kulit paha dirinya sehingga celana putihnya ikut robek dan tampak bagian kulit pahanya yang berdarah.

Namun, gadis ini tak pernah mengeluh dan permainan sabuk suteranya malah menjadi makin cepat dan ganas.

Keng Hong juga amat repot menghadapi para pengeroyoknya.

Keadaannya tidak lebih baik daripada keadaan Biauw Eng, Bahkan lebih buruk lagi.

Dia dikeroyok oleh lima orang kakek sakti, yaitu ketiga orang dari Kong-thong-pai dan dua orang dari pimpinan Tiat-ciang pang.

Biarpun dia sudah mempergunakan ginkangnya untuk berkelebatan ke sana ke mari dan mengerahkan sinkang untuk menangkis, namun tetap saja berkali-kali tubuhnya terpaksa menerima gebukan-gebukan yang kalau mengenai tubuh orang lain tentu mendatangkan maut.

Dia memiliki tubuh yang secara otomatis telah menggerakkan tenaga sakti untuk melawan pukulan yang datang dari luar, akan tetapi biarpun dia tidak sampai terluka dalam, tetap saja tubuhnya terasa sakit-sakit seperti rontok semua tulang-tulangnya dan kepalanya menjadi pening.

Namun pemuda ini juga tidak pernah mengeluh dan dalam daya tahan dan kekerasan hati, belum tentu dia kalah oleh Sie Biauw Eng.

Hanya ada satu hal yang membuat hati Keng Hong tidak enak, yaitu adanya Biauw Eng yang membelanya mati-matian.

Ia menbenci gadis ini akan tetapi dia pun tidak menghendaki gadis ini tewas karena dia.

Sayang dan benci bercampur aduk di dalam hatinya, membuat hatinya terasa lebih sakit daripada pukulan-pukulan yang diterimanya.Yang paling berat baginya dalam pertandingan ini adalah tangan besi hijau dari Ouw Beng Kok, ketua Tiat-ciang-pang.

Hebat bukan main ilmu kepandaian kakek ini, dan tangan besinya itu bertemu dengan tangan besi, dia merasa tangannya panas dan sakit, sungguhpun dalam hal tenaga, dia tidaklah dapat dikatakan kalah karena Tiat-ciang Ouw Ban Kok juga tidak berani mengadu tenaga dengan pemuda ini.

Biauw Eng yang mengamuk dengan nekat itu kembali terkena tusukan pedang, sekali ini di tangan Coa Bu.

Karena ia sedang menahan desakan tongkat bambu Kok Sian Cu yang berbahaya dengan sabuk suteranya, maka tusukan dari samping kanan itu sukar untuk dapat ia hindarkan lagi.

Ia hanya dapat meloncat ke atas untuk menghindarkan tusukan maut yang mengarah lambungnya, namun tetap saja ujung pedang itu menancap daging paha kanannya.

Biauw Eng mengeluarkan jeritan, bukan jerit karena nyeri melainkan jerit kemarahan.

Ketika tubuhnya roboh, tangan kirinya bergerak cepat sekali dan sinar-sinar putih menyambar ke arah tiga orang kakek yang mengeroyoknya itu.

Hebat bukan main sambaran senjata rahasia bola-bola putih berduri yang kesemuanya mengarah ulu hati, leher dan pelipis lawan dan jumlahnya belasan buah karena disambitkan secara cepat dan susul menyusul.

"Aihhhh"..!"

Coa Bu yang kegirangan karena berhasil merobohkan gadis yang lihai itu, berteriak kaget dan cepat miringkan tubuhnya, namun tetap saja bola putih yang menyambar ulu hati menyeleweng dan mengenai pundaknya, menimbulkan rasa nyeri dan seketika pundak berikut lengannya seperti lumpuh.

Karena maklum bahwa senjata rahasia itu bagian duri-durinya tentu mengandung racun, cepat kakek Hoa-san ini meloncat mundur, merobek luka dengan ujung pedang mengeluarkan darahnya lalu mengobatinya dengan obat bubuk yang disimpan di sakunya.

Coa kiu dan Kok Sian Cu dapat menangkis runtuh semua senjata rahasia, bahkan ketika gadis itu menguras seluruh senjata bola putih dan tusuk konde bunga bwe, mereka dapat menyampok semua am-gi (senjat gelap) itu ke atas tanah.

"Gadis keji...!"

Kok Sian Cu menggerakkan tongkat bambunya di tusukkan ke arah perut gadis itu yang sudah rebah di atas tanah.

Akan tetapi Biauw Eng tidak mau menyerah begitu saja.

Ia menggunakan kegesitannya untuk bergulingan ke atas tanah sehingga sampai empat lima kali ujung tongkat bambu itu hanya menusuk tanah.

Melihat robohnya Biauw Eng, Keng Hong menjadi marah sekali.

Ia mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan pukulan Kok Liong Cu ke arah dadanya dia terima begitu saja sambil mengerahkan sinkang dan.....

tangan itu melekat di dadanya terus disedot sinkangnya!

Namun, seperti juga tadi setiap kali Keng Hong berhasil menyedot singkang seorang lawan, kakek yang lain cepat menotoknya sehingga terpaksa dia tidak dapat mempertahankan kekuatan sinkangnya dan lawan itu terlepas lagi.

Kalau saja yang menotok bukan tokoh-tokoh sakti seperti itu, tentu yang menotoknya pun akan tersedot sekalian!

"Dess..!"

Begitu tangan Kok Liong Cu tertempel di dadanya dan Kok Seng Cu cepat menotok pundaknya sehingga tubuhnya seperti lumpuh dan tangan Kok Liong Cu terlepas, sebuah pukulan kilat datang dari belakang, yaitu tangan besi ketua Tiat-ciang-pang, amat keras menghantam tengkuk Keng Hong.

Pukulan ini adalah pukulan maut yang amat kuat dan jarang sekali ada tokoh kang-ouw sanggup menerima pukulan ketua Tiat-ciang-pang seperti itu.

Keng Hong terdorong sebuah pukulan kilat datang dari belakang, yaitu tangan besi ketua Tiat-ciang-pang, amat keras menghantam tengkuk Keng Hong ke depan dan roboh menelungkup dalam keadaan pingsan!

"Keng Hong..!"

Biauw Eng yang tadinya sibuk bergulingan menghindarkan tusukan ujung tongkat bambu Kok Sian Cu, menubruk ke arah Keng Hong ketika dilihatnya pemuda itu roboh dan disangkanya tentu tewas.

Kekhawatirannya membuat dia kurang waspada dan selagi tubuhnya masih meloncat dan hendak menubruk Keng Hong, dari kiri melayang kaki Kok Liong Cu yang menendang keras, tepat mengenai lambungnya dan tubuh Biauw Eng terlempar pula, terguling-guling dan rebah miring dalam keadaan pingsan.

"Kita habiskan saja mereka. Dua orang muda ini benar-benar berbahaya sekali!"

Kata Kok Sian Cu yang sudah menggerakkan tongkat bambu ke arah Biauw Eng yang pingsan, Sedangkan Ouw Ban Kok sudah menghampiri Keng Hong hendak mengirim pukulan terakhir.

Ketua Tiat-ciang-pang ini merasa penasaran dan malu sekali bahwa pukulan tadi tak cukup kuat untuk membunuh Keng Hong...

padahal dia maklum bahwa pukulannya itu benar-benar hebat bukan main, dan kiranya orang-orang sakti yang berada di situ tak seorang pun yang akan dapat menerima pukulan itu dan hanya pingsan seperti Keng Hong.

Detik-detik menegang itu agaknya merupakan detik-detik penentuan bagi Keng Hong dan Biauw Eng.

Sekali saja tokoh Tiat-ciang-pang menjatuhkan pukulan maut pada dua tubuh orang muda yang pingsan itu, tentu mereka akan tewas dan takkan tertolong lagi.

Akan tetapi, kalau Thian belum menghendaki seseorang mati, ada saja sebabnya yang mencegah datangnya maut.

"Tahan, jangan bunuh dia....!"

Bentakan ini keras dan nyaring sekali, penuh wibawa dan tampaklah bayangan empat orang yang cepat bukan main sehingga tahu-tahu telah berada di tengah-tengah mereka, bahkan dua di antara mereka langsung menghadang di depan tubuh Keng Hong dalam keadaan siap untuk mencegah siapapun juga membunuh pemuda itu.

Karena sesunguhnya yang mereka musuhi adalah Keng Hong, melihat ada orang datang melindungi Keng Hong otomatis Kok Sian Cu juga menarik tongkat bambunya dan menggurungkan niatnya membunuh Biauw Eng.

Ketika mereka semua memandang empat orang yang baru muncul, mereka menjadi terkejut sekali dan juga terheran-heran mengapa empat orang itu mencegah mereka membunuh Keng Hong.

Mereka itu bukan lain adalah Kiu-bwe Toanio Lu Sian Cu, nenek berpakaian hitam yang memegang senjata pecut sembilan ekor berujung kaitan, dua orang hwesio Siauw-lim-pai tingkat dua, yaitu Thian Ti Hwesio yang memegang senjata Liong-cu-pang dan Thian Kek Hwesio yang bersenjata jubahnya, adapun orang ke empat adalah Sin-to Gi-hiap tokoh ahli golok yang sudah berusia delapan puluh lima tahun namun kelihatan gagah dan tampan.

Munculnya empat orang tokoh besar kang-ouw ini tentu saja menimbulkan keheranan, apalagi karena mereka itu seolah-olah hendak melindungi Keng Hong, padahal baik tokoh-tokoh Hoa-san-pai maupun Kong-thong-pai maklum bahwa mereka berempat itu pun merupakan musuh-musuh mendiang Sin-jiu Kiam-ong karena dulu pernah menyerbu Kiam-kok-san.

"Siancai..! Apa sebabnya keempat orang sahabat datang-datang melarang kami membunuh bocah setan ini? Hendaknya diketahui bahwa dia membunuh banyak murid Khong-thong-pai, di antaranya bahkan sute Kok Cin Cu telah dibunuhnya!"

Kata Kok Sian Cu, suaranya halus akan tetapi mengandung penasaran dan dan tuntutan.

"Dia telah memperkosa dan membunuh murid Hoa-san-pai!"

Kata pula Coa Kiu sambil melintangkan pedangnya di depan dada, tanda bahwa dia siap untuk menghadapi siapa saja demi mempertahankan nama Hoa-san-pai.

"Dan dia telah membunuh banyak anak murid Tiat-ciang-pang!"

Kata Ouw Beng Kok, marah.

"Dia sama sekali tidak boleh dibunuh. Belum boleh!"

Kata Kiu-bwe Toanio dengan suaranya yang nyaring.

"Kami menghalangi kalian bukan karena kami membela bocah itu, sama sekali tidak. Kami tidak bermusuhan dan juga tidak bersahabat dengan dia.."

Akan tetapi kami bermusuhan dengan mendiang gurunya.

Kami telah bersepakat untuk memaksa dia menyerahkan pusaka-pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, dan kalau kalian berlaku cerdik, sebaiknya menyetujui kehendak kami agar kelak pusaka yang amat banyak itu dapat dibagi-bagi dengan adil.

Setelah pusaka berada di tangan kami, terserah apa yang hendak kalian lakukan terhadap bocah ini!"

"Omithoud, Siauw-lim-pai tidak menginginkan benda lain kecuali dua buah kitab pusaka yang dicurinya dari Siauw-lim-pai."

Kata Thian Ti Hwesio.

"Akan tetapi mereka ini amat berbahaya, kalau tidak dibunuh sekarang selagi mereka tak berdaya, kelak tentu akan mendatangkan banyak kekacauan, dan pula, sampai kapan sakit hati kami dapat terbalas?"

Kata pula Ouw Beng Kok. Ucapannya ini mendapat tanda setuju dari mereka yang ingin sekali membunuh Keng Hong untuk membalas dendam.

"Siapa yang hendak membunuhnya sekarang, berarti akan berhadapan dengan kami berempat!"

Bentak Kiu-bwe Toanio sambil menggerak-gerakkan cambuknya.

Thian Ti Hwesio, Thian Kek Hwesio dan Sin-to Gi-hiap yang memang telah berunding terlebih dahulu untuk menangkap Keng Hong dan memaksa pemuda ini menunjukkan tempat persembunyian pusaka, kini mengurung pemuda yang masih rebah pingsan itu, siap untuk melawan siapa yang ingin membunuh pemuda itu.

Sejenak ke dua golongan ini saling pandang dan keadaan menjadi makin tegang.

Fihak yang hendak membunuh terdiri dari delapan orang ditambah Sim Lai Sek yang tentu saja tak dapat dimasukkan hitungan, sedangkan fihak yang menentang pembunuhan adalah empat orang, akan tetapi karena empat orang itu, terutama sekali Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap terkenal sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian amat tinggi, fihak yang hendak membunuh menjadi ragu-ragu.

Apalagi kalau mereka ingat bahwa Keng Hong dan Biauw Eng hanya pingsan saja.

kalau mereka siuman, tentu saja mereka itu akan menjadi lawan yang berat pula.

Melihat keadaan ini, Sim Lai Sek menjadi penasaran, marah dan khawatir kalau-kalau kematian cicinya tidak akan terbalas.

Maka dia lau berteriak-teriak.

"Dia harus dibunuh! Cia Keng Hong si keparat harus di bunuh!"

Tiba-tiba bertiup angin dari atas puncak dan terdengar suara yang perlahan namun amat jelas terdengar oleh semua orang.

"Siancai! Di wilayah Kun-lun-pai, siapa berani bicara tentang pembunuhan? Apakah kami tidak boleh berkuasa di wilayah kami sendiri?"

Semua orang terkejut dan memandang.

Ternyata dari atas puncak Kun-lun-pai tampak bayangan beberapa orang tosu yang menuruni puncak dengan gerakan cepat seperti terbang.

Jumlah mereka ada tujuh orang dan dibelakang tujuh orang ini kelihatan serombongan tosu yang jumlahnya ada lima puluh orang tentu saja semua orang menjadi jerih, Bukan hanya menyaksikan jumlah tosu-toosu Kun-lun-pai yang demikian banyak melainkan terutama sekali Kiang Tojin dan enam orang sutenya yang merupakan tujuh orang pimpinan Kun-lun-pai yang disegani.

Baru mendengar suara Kiang Tojin yang digemakan dari atas tadi saja sudah menbayangkan betapa hebatnya sinkang dan khikang dari tosu itu!

Mereka itu memang benar adalah para tosu Kun-lun-pai yang dipimpin oleh Kiang Tojin sendiri bersama enam orang sutenya.

Setelah tiba ditempat itu, pandangan mata Kiang Tojin dan para ssutenya menyapu kearah para tamu tak diundang itu dan kearah tubuh Keng Hong dan Biauw Eng yang masih menggeletak pingsan.

Di lubuk hatinya, Kiang Tojin merasa kasihan kepada Keng Hong.

Memang tosu ini selalu merasa suka dan kasihan kepada bocah yang dahulu dia tolong dari bencana maut itu.

Kini, didalam hati tosu ini timbul pertanyaan-pertanyaan yang menbikin perasaannya perih, yaitu apakah bukan dia yang menyeret bocah itu kedalam jurang kesengsaraan?

Karena dia menolong Keng Hong dan menbawa ke Kun-lun-san, maka bocah itu bertemu dengan Sin-jiu Kiam-ong dan menjadi muridnya kemudian karena dia menjadi murid Si Raja Pedang maka dia dimusuhi semua orang kang-ouw, dijadikan rebutan dan nasibnya selalu sengsara karena dimusuhi orang-orang pandai sehingga akhirnyakini menggeletak pingsan di bawah kakinya!

Kiang Tojin menghela napas panjang dan merasa betapa semua itu diakibatkan oleh pertolongannya kepada Keng Hong.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 5

Baca Juga: Istana Pulau Es 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert