Ceritasilat Novel Online

Pendekar Lembah Naga 5

Eps 5 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.

Kim Hong Liu-nio mengambil kayu papan berbentuk salib itu dan memperlihatkannya kepada Lee Siang.

"Inilah yang menjadi sumpahku."

Lee Siang menerima kayu papan salib itu dan membaca tiga huruf Cia, Tio, dan Yap, dan melihat banyak coretan-coretan di bawah tiga huruf itu.

Dia membalik-balikkan salib itu lalu memandang tidak mengerti.

"Apa artinya ini?"

Kim Hong Liu-nio menarik napas panjang dan dia lalu duduk di tepi pembaringan, bersanding dengan Lee Siang dan untuk menguatkan hatinya, dia memegang tangan panglima itu.

Mereka duduk berdekatan dan saling berpegang tangan, kemudian wanita itu mulai bercerita.

"Belasan tahun yang lalu, aku adalah seorang dayang di istana Raja Sabutai, dan ketika subo dari Sri Baginda Raja Sabutai terluka dan sakit parah setelah bertanding dengan musuh-musuhnya, aku ditugaskan untuk merawat nenek itu. Agaknya nenek itu suka kepadaku maka aku lalu diambil murid. Aku tentu senang sekali karena nenek itu adalah seorang yang sakti dan memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, apalagi dengan menjadi muridnya berarti aku juga menjadi sumoi dari Sri Baginda Raja Sabutai sendiri."

"Siapakah nama subomu itu?"

"Namanya Hek-hiat Mo-li..."

"Ahh...! Sudah kudengar nama itu, pernah menggemparkan ketika terjadi peristiwa penawanan Kaisar dahulu. Jadi engkau adalah sumoi dari Raja Sabutai sendiri? Hebat!"

"Tidak hebat, ciangkun, karena untuk menjadi murid subo aku harus bersumpah dan sumpah itulah yang kini mengikatku, yang membuat aku terpaksa menolak keinginanmu, bahkan menekan gelora hatiku sendiri."

Lee Siang merangkul pundaknya dan mencium pipinya.

"Aku akan memakluminya, moi-moi, cintaku kepadamu melarang aku untuk membikin susah padamu. Lanjutkan ceritamu, apakah sumpah itu?"

"Aku bersumpah bahwa aku tidak akan menikah sebelum aku membunuh tiga orang musuh dari subo dan membunuh orang-orang yang mempunyai tiga she itu. Setelah aku berhasil membunuh tiga orang musuh besar subo itu barulah aku diperbolehkan menikah. Dan titik hitam di daguku ini adalah buatan subo, sebagai tanda keperawananku. Sekali saja aku menyerahkan diriku kepada seorang pria maka tanda ini hilang dan subo tentu akan membunuhku, bahkan kalau subo sudah tidak ada, suhengku, Raja Sabutai yang telah diserahi tugas mewakili subo dan membunuhku."

Lee Siang mengangguk-angguk.

"Pantas... pantas engkau memaksa diri menolakku tadi, moi-moi. Dan aku tidak bisa menyalahkan engkau. Akan tetapi, siapakah musuh-musuh dari subomu itu? Siapa tahu barangkali aku dapat membantumu sehingga pelaksanaan sumpahmu itu dapat segera terpenuhi."

"Mereka adalah Cia Bun Houw, Yap Kun Liong dan Tio Sun."

Seketika wajah panglima itu menjadi pucat.

"Ahhh...?"

Dia memandang wajah kekasihnya dengan mata terbelalak.

"Kau mengenal mereka?"

"Tentu saja! Siapa yang tidak mengenal nama pendekar-pendekar sakti itu? Cia-taihiap dan Yap-taihiap amat terkenal, tidak ada seorangpun tidak pernah mendengar nama mereka, sedangkan Tio Sung kalau tidak salah, bukankah dia itu putera Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan bekas panglima pengawal di istana?"

Kim Hong Liu-nio mengangguk.

"Tahukah engkau di mana mereka tinggal?"

"Cia-taihiap dan Yap-taihiap entah berada di mana, akan tetapi aku tahu di mana tinggalnya Tio Sun. Akan tetapi, moi-moi, bagaimana mungkin engkau dapat melawan mereka itu, terutama Cia-taihiap dan Yap-taihiap? Mereka amat sakti! Bahkan kabarnya mendiang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, subomu itu sendiri, tidak mampu menandingi Cia Bun Houw taihiap!"

Kim Hong Liu-nio mengangguk dengan tenang.

"Akan tetapi subo telah membekali aku dengan ilmu yang khas untuk menghadapi mereka itu, ciangkun."

"Moi-moi, kenapa engkau masih menyebutku ciangkun?"

Kim Hong Liu-nio yang tadinya sudah bersikap dingin ketika membicarakan musuh-musuhnya, kini tersenyum dan wajahnya menjadi hangat kembali.

Dia merangkul panglima itu dan berkata manja.

"Koko yang baik, kau bantulah aku. Di mana mereka tinggal? Kalau aku dapat membunuh mereka, tentu tidak ada halangan bagi kita..."

Lee Siang mencium mulut dengan dagu yang bertahi lalat manis itu.

Sejenak mereka tenggelam ke dalam keasyikan gelora nafsu mereka, kemudian teringat akan sumpah itu, Lee Siang menarik napas dan melepaskan rangkulannya yang hanya akan menambah gelora gairahnya yang akhirnya toh tidak akan dapat tercurahkan dan hanya akan mendatangkan kekecewaan belaka.

"Di mana adanya Cia-taihiap tidak ada yang tahu, akan tetapi aku dapat menyebar penyelidik-penyelidik, moi-moi. Kalau Tio Sun, tadinya dia tinggal di Yen-tai, di bekas rumah mertuanya, akan tetapi sudah tiga bulan ini dia dan keluarganya pindah ke kota raja."

"Di sini?"

Kim Hong Liu-nio memandang wajah kekasihnya dengan berseri.

"Bagus sekali, di mana? Biar aku ke sana sekarang juga."

"Jangan tergesa-gesa...!"

"Mengapa tidak? Biar berkurang satu tiga orang musuh besar subo itu, tinggal mencari yang dua lagi."

"Moi-moi, Tio Sun adalah putera dari mendiang Ban-kin-kwi, seorang yang amat tinggi ilmu kepandaiannya dan kabarnya Tio Sun bahkan tidak kalah lihai oleh ayahnya itu. Juga isterinya memiliki kepandaian tinggi. Apa kau merasa yakin bahwa kau akan mampu menandinginya?"

Kim Hong Liu-nio mengangguk.

"Tapi, jangan sekarang. Biar malam ini kau beristirahat di sini, besok saja kau pergi mencari dia."

Lee Siang tetap menahannya.

"Moi-moi, kalau kau pergi aku khawatir sekali..."

Panglima yang sudah kegilaan itu merangkul lagi.

Akan tetapi tiba-tiba Kim Hong Liu-nio mendorongnya agak keras dan sebelum panglima itu lenyap rasa kagetnya, wanita itu telah meloncat ke pintu kamar itu dan mendorongnya terbuka.

Akan tetapi tidak nampak siapa-siapa di situ, hanya nampak sebatang hui-to (pisau terbang) yang menancap di pintu kamar itu, masih tergetar dan di bawah pisau itu terdapat sehelai surat.

Kim Hong Liu-nio mencabut pisau itu dan membawa pisau dan surat ke dalam kamar kembali.

"Dari... dari mana pisau itu?"

Tanya Lee Siang.

"Dilemparkan oleh seorang yang berkepandaian tinggi, berikut suratnya,"

Jawab Kim Hong Liu-nio dengan tenang.

Lee Siang adalah seorang panglima pengawal yang juga memiliki kepandaian, maka dia menjadi marah sekali.

"Biar kukejar dia, kusiapkan pengawal-pengawal!"

"Percuma, koko. Dia sudah pergi jauh. Dia telah melemparkan pisau itu dengan tenaga sin-kang yang amat tinggi sehingga pisau itu bisa mencari sasarannya sendiri ke pintu ini, orangnya tentu berada di atas genteng dan sekarang sudah pergi jauh."

Akan tetapi Lee Siang merasa penasaran.

Belum pernah rumahnya ada yang berani ganggu, maka dia lalu berlari keluar, hanya dipandang saja oleh wanita itu sambil tersenyum, Kim Hong Liu-nio tidak mengikuti kekasihnya, hanya membuka kertas berlipat itu yang ternyata adalah sehelai surat.

Tak lama kemudian Lee Siang sudah masuk kembali dengan alis berkerut dan wajah penasaran.

"Engkau benar, moi-moi, tidak ada tanda sedikitpun juga. Eh, surat apakah itu?"

Kim Hong Liu-nio sudah membaca surat itu dan dengan tenang dia menyerahkan sehelai surat itu kepada Lee Siang yang segera membacanya di bawah penerangan lampu dalam kamar itu.

Kim Hong Liu-nio, Kalau dalam waktu tiga hari engkau belum datang ke hutan pertama di sebelah utara pintu gerbang kota raja untuk bertanding satu lawan satu dengan aku, terpaksa aku akan datang mengunjungimu di gedung Lee-ciangkun pada malam ke empat.

Hwa-i Kai-pangcu "Ahhh...!

Sungguh berani dia!"

Lee Siang berseru sambil mengepal tinju dan meremas surat itu.

"Akan kukerahkan pasukan untuk..."

"Jangan, koko. Lihat, dia menantangku secara gagah untuk bertanding satu lawan satu. Kalau engkau mengerahkan pasukan, bukankah sama halnya dengan aku menjadi takut dan hendak bersembunyi di balik keangkeran pasukanmu? Sungguh mencemarkan namaku kalau begitu, koko."

"Habis, bagaimana?"

"Besok pagi-pagi aku akan pergi ke hutan untuk membunuhnya!"

"Kau kira siapa dia itu? Ketua kai-pang itu amat lihai!"

"Aku tidak takut."

Tiba-tiba Lee Siang memandang kekasihnya dengan wajah berseri.

"Ah? Kenapa tidak? Dia akan datang ke sini pada malam ke empat. Bagus, kita adu domba mereka dan engkau akan dapat melenyapkan seorang musuh besarmu tanpa menimbulkan keributan."

Dengan girang panglima itu lalu merangkul kekasihnya dan hendak menciumnya.

"Nanti dulu, koko."

Kim Hong Liu-nio mengelak.

"Katakan dulu apa maksudmu?"

"Begini, moi-moi,"

Panglima itu menuntun kekasihnya dan mereka kembali duduk berdampingan di tepi pembaringan.

"Aku akan mengundang Tio Sun untuk membantuku. Kukatakan bahwa aku diancam oleh seorang penjahat lihai. Dan kalau pada malam ke empat itu pangcu itu datang, biarlah dia bertanding melawan Tio Sun. Nah, di situ kau turun tangan membunuh musuh subomu itu. Kemudian kita menyiarkan bahwa Tio Sun terbunuh oleh Hwa-i Kai-pang. Bukankan itu baik sekali, berarti sekali tepuk memperoleh dua ekor lalat?"

Kim Hong Liu-nio mengangguk-angguk.

"Aih, ternyata engkau hebat dan pandai bersiasat koko."

Demikianlah, semalam suntuk dua orang laki-laki dan wanita yang sudah lebih dari dewasa ini seperti pengantin baru di dalam kamar itu, Hanya mereka tidak melampaui garis yang akan mengakibatkan lenyapnya tahi lalat di dagu wanita itu.

Bagaikan api yang diberi umpan, nafsu yang ditahan-tahan akan menjadi makin berkobar ganas.

Dan orang yang sudah dicengkeram nafsunya sendiri akan menjadi seperti buta.

Lee Siang, seorang panglima pengawal istana yang selalu menjunjung kegagahan, karena cengkeraman nafsunya, kini hanya mempunyai satu tujuan, yaitu menyingkirkan penghalang-penghalang agar dia dapat segera memiliki wanita itu menjadi isterinya, dan dalam usaha menyingkirkan penghalang-penghalang ini tentu saja dia tidak lagi memperhitungkan baik buruknya!

Orang yang mabok akan keinginan mengejar sesuatu, mana mungkin ada yang mau memperdulikan baik buruk dari caranya mengejar untuk memperoleh itu?

Tio Sun adalah seorang pendekar yang tidak terkenal karena memang pendekar ini tidak pernah menonjolkan dirinya dan semenjak dia menikah dengan isterinya yang tercinta, dia tidak pernah mau mencampuri urusan kang-ouw sehingga namanya tidak begitu menonjoi dan tidak dikenal umum, kecuali hanya oleh orang-orang kang-ouw tertentu saja.

Padahal, Tio Sun adalah seorang pendekar yang lihai sekali.

Usianya sudah tiga puluh tiga tahun, melihat pakaiannya yang sederhana dan dia suka dengan warna kuning, orang tidak akan menyangka bahwa dia adalah putera tunggal mendlang Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, jagoan istana yang pernah menjulang tinggi namanya.

Tio Sun bukan seorang pria yang tampan, akan tetapi dia memiliki sifat gagah dan jantan, pendiam, halus budi, berhati mulia, bersikap tegas dan jujur.

Kedua matanya yang sipit itu seperti orang yang mengantuk selalu, akan tetapi dari balik mata sipit itu bersinar pandang mata yang tajam dan penuh kewaspadaan.

Sudah kurang lebih sebelas tahun pendekar ini menikah dengan Souw Kwi Eng, seorang gadis yang luar biasa cantiknya, yang memiliki kecantikan yang khas, karena Souw Kwi Eng ini seorang gadis peranakan, ibunya pribumi dan ayahnya seorang asing, yaitu seorang berbangsa Portugis yang bernama Yuan De Gama.

Souw Kwi Eng ini juga mempunyai nama Portugis, yaitu Maria De Gama.

Para pembaca cerita Si Dewi Maut tentu sudah mengenal baik suami isteri Tio Sun dan Souw Kwi Eng ini, karena keduanya juga merupakan tokoh-tokoh penting dalam cerita Si Dewi Maut itu.

Seperti telah diceritakan dalam cerita Dewi Maut, Souw Kwi Eng adalah seorang anak kembar, yaitu dengan saudaranya atau kakaknya yang bernama Souw Kwi Beng alias Ricardo De Gama.

Karena ayah mertuanya adalah seorang pedagang yang kaya, sedangkan dia sendiri sudah sebatangkara, maka setelah menikah, Tio Sun tinggal di kota Yen-tai di pelabuhan Po-hai di mana ayah mertuanya tinggal dan di situ dia membantu pekerjaan ayahnya bersama iparnya, yaitu Souw Kwi Beng.

Dia tinggal di Yen-tai dengan tentram dan hidup saling mencinta dengan istrinya, sampai anak tunggal mereka lahir dua tahun setelah mereka menikah.

Tentu saja kelahiran Tio Pek Lian, anak perempuan mereka itu, makin membahagiakan suami isteri itu, bahkan anak ini amat disayang oleh kakek dan neneknya, juga oleh pamannya yang tinggal serumah.

Kemudian, setelah Tio Pek Lian berusia sembilan tahun, terjadilah perubahan.

Yuan De Gama bersama isterinya, yaitu bekas pendekar wanita Souw Li Hwa yang menjadi murid dari panglima sakti The Hoo yang merasa sudah tua dan rindu kepada tanah airnya di Eropa, lalu mengajak isterinya itu untuk pulang ke Portugis.

Semua pekerjaan ditinggalkan kepada Souw Kwi Beng yang tetap tinggal di Yen-tai.

Kemudian, perdagangan itu membutuhkan perwakilan di kota raja, maka Tio Sun dan isteri serta puterinya lalu pindah ke kota raja sebagai cabang dari perusahaan iparnya di Yen-tai itu.

Demikianlah, tanpa banyak ribut dan tanpa diketahui orang, Tio Sun pendekar putera mendiang seorang jagoan istana itu kini tinggal di kota raja dengan diam-diam, bersama dengan isterinya dan puterinya yang telah berusia sembilan tahun.

Di kota raja Tio Sun membuka toko dan menjual dagangan-dagangan yang didatangkan dari luar negeri oleh iparnya di Yen-tai.

Hidupnya cukup tentram dan suami isteri ini mulai mendidik puteri mereka dengan ilmu silat karena selain Tio Sun sendiri adalah seorang pendekar yang pandai, juga isterinya, Souw Kwi Eng, adalah seorang pendekar wanita yang lihai pula.

Tentu saja di samping pendidikan ilmu silat, Tio Sun tidak melupakan pendidikan ilmu baca tulis kepada puterinya, sedangkan Souw Kwi Eng juga tidak melupakan untuk memberi pelajaran segala macam kepandaian puteri kepada Pek Lian.

Segala sesuatu berjalan lancar dan keluarga ini sama sekali tidak mengira bahwa perpindahan mereka dari Yen-tai ke kota raja itu diam-diam diketahui oleh para tokoh di istana, termasuk pula Panglima Lee Siang.

Betapapun juga, nama mendiang ayah Tio Sun, yaitu Ban-kin-kwi (Iblis Selaksa Kati) Tio Hok Gwan, terlampau terkenal untuk melewatkan putera tunggalnya begitu saja.

Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan adalah pembantu yang dipercaya oleh mendiang Panglima Besar The Hoo, maka tentu tentu saja biarpun dia sudah tidak ada, namun puteranya masih diperhatikan oleh para tokoh di istana, sungguhpun pendekar ini tidak diganggu karena dia telah menjadi seorang pedagang.

Baru tiga bulan semenjak Tio Sun pindah ke kota raja, pada suatu pagi muncullah Panglima Lee Siang yang berpakaian seperti penduduk biasa ke rumah pendekar ini.

Tio Sun tidak mengenal Lee Siang, maka dia memandang heran ketika tamu itu memperkenalkan diri sebagai panglima pengawal Lee Siang!

Sebagai seorang yang sopan dan ramah, Tio Sun lalu mempersilakan tamunya duduk di ruangan tamu.

Setelah saling memberi hormat dan duduk berhadapan, Lee Siang lalu berkata.

"Harap Tio-taihiap suka memaafkan saya kalau kedatangan saya ini mengganggu. Saya datang bukan sebagai panglima pengawal istana, melainkan sebagai seorang sahabat yang amat menghormat dan mengagumi mendiang ayah taihiap."

Tio Sun merasa seperti pernah mengepal wajah itu, maka dia lalu teringat kepada Panglima Lee Cin, juga Panglima Kim-i-kwi dari istana.

"Maafkan saya, akan tetapi rasanya saya belum pernah berkenalan dengan ciangkun."

"Nama saya Lee Siang..."

"Ah, apakah masih ada hubungan dengan Panglima Lee Cin?"

"Lee Cin adalah kakak saya."

"Ahh...!"

Tio Sun tersenyum girang.

"Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa saya menerima kunjungan dari Lee-ciangkun. Tidak tahu ada urusan apakah yang membawa ciangkun datang ke tempat kami ini?"

"Sekali lagi maaf, taihiap. Kedatanganku ini hanya mengganggu saja, akan tetapi karena saya sudah merasa putus asa dan gelisah sekali, maka mendengar bahwa taihiap kini tinggal di kota raja, maka saya teringat akan mendiang ayah taihiap yang berjiwa pendekar dan selalu menolong siapa saja yang sedang menghadapi kesukaran. Karena saya sedang terancam bahaya mohon pertolongan taihiap untuk menyelamatkan saya."

Tio Sun tersenyum tenang, menganggap omongan itu seperti kelakar saja.

"Aih, Lee-ciangkun, harap jangan main-main. Ciangkun adalah seorang Panglima Kim-i-wi siapakah yang berani main-main dengan ciangkun? Bagaimana mungkin keselamatan ciangkun terancam bahaya sedangkan ciangkun menguasai pasukan Kim-i-wi yang terkenal kuat?"

Lee Siang menarik napas panjang.

"Itulah susahnya, taihiap. Karena saya seorang panglima, maka saya tidak mau membawa-bawa nama Kim-i-wi, karena kalau hal itu diketahui oleh Sri Baginda Kaisar, tentu saya akan mendapat hukuman. Urusan ini adalah urusan pribadi, maka saya datang kepada taihiap juga dengan pakaian preman, sebagai Lee Siang yang pernah mengagumi ayah taihiap dan yang hendak minta tolong kepadamu, bukan sebagai seorang Panglima Kim-i-wi."

Karena Lee Siang menyebut-nyebut nama mendiang ayahnya, dan mengingat bahwa panglima ini adalah adik dari Panglima Lee Cin yang dikenalnya dan dihormatinya, maka Tio Sun lalu berkata.

"Harap ciangkun ceritakan apakah sebenarnya urusan itu? Mungkin tanpa bantuanku juga engkau akan dapat membereskannya."

"Urusan ini adalah urusan pribadi, yang mula-mulanya timbul dari urusan seorang wanita, taihiap. Karena itulah maka saya tidak berani memberitahukan orang lain, karena malu, dan apalagi kalau harus menggunakan Kim-i-wi! Mungkin taihiap sudah mendengar tentang seorang pangeran putera dari Sri Baginda Kaisar dari utara yang baru saja datang bersama seorang wanita pengawalnya dan yang telah menyelamatkan Kaisar dari pengkhianatan, bukan?"

Tio Sun tersenyum.

Dia sudah mendengar akan hal itu dan dia tahu pula siapa pangeran itu.

Siapa lagi kalau bukan putera Ratu Khamila di utara?

Dahulu, bersama Souw Kwi Beng yang belum menjadi iparnya, dia pernah pergi ke utara dan menjadi tamu dari Sabutai, dan dia telah bertemu Ratu Khamila yang minta dia menyampaikan pesan ratu cantik itu setelah menjenguk puteranya, agar diberitakan kepada Kaisar bahwa puteranya itu mempunyai tahi lalat merah di sebelah kanan pusarnya (baca cerita Si Dewi Maut).

Tentu saja dia sudah menduga bahwa putera Ratu Khamila itu adalah keturunan Kaisar ketika Kaisar ditawan dahulu.

Dan kini, putera Kaisar itu sudah hampir dewasa, malah bersama pengawal wanitanya yang kabarnya lihai itu telah menyelamatkan Kaisar, ayah kandungnya.

"Saya sudah mendengar tentang itu, Lee-ciangkun."

Lee Siang menarik napas panjang.

Mudah bicara dengan pendekar ini yang pendiam akan tetapi penuh pengertian.

"Nah, wanita itu bernama Kim Hong Liu-nio, pengawal dari sang pangeran. Sebelum menghadap ke istana, Kim Hong Liu-nio telah salah faham dengan Hwa-i Kai-pang sehingga terjadi pertempuran dan fihak Hwa-i Kai-pang kalah. Akan tetapi, fihak Hwa-i Kai-pang tidak menerima kekalahan itu dan ketika Kim Hong Liu-nio hendak keluar kota raja, dia dikepung dan dikeroyok. Untung saya datang dan saya melerai mereka, lalu menyelamatkan Kim Hong Liu-nio ke rumah saya. Dan kami... eh, mungkin taihiap belum mendengar bahwa sudah beberapa lama saya hidup menduda setelah isteri saya meninggal tanpa mempunyai keturunan. Saya dan Kim Hong Liu-nio... eh, kami saling tertarik dan saya bertekad melindunginya dari ancaman Hwa-i Kai-pang."

Tio Sun mengangguk-angguk.

Panglima ini biarpun usianya sudah kurang lebih empat puluh tahun, akan tetapi masih tampan gagah dan duda, berkedudukan baik pula, maka tidaklah mengherankan kalau panglima ini main asmara dengan seorang wanita.

"Lalu apa hubungannya semua itu dengan saya, ciangkun?"

"Beberapa hari yang lalu, kami menerima surat ini, dilempar dengan pisau yang menancap di pintu kamar saya."

Lee Siang mengeluarkan sehelai surat itu dan menyerahkannya kepada Tio Sun.

Pendekar itu dengan tenang membacanya.

Itu adalah surat tantangan yang ditulis oleh Hwa-i Kai-pangcu dan ditujukan kepada Kim Hong Liu-nio itu.

Setelah membaca surat tantangan itu dan maklum bahwa malam nanti adalah malam ke empat yang dimaksudkan itu, Tio Sun mengerutkan alisnya dan memandang wajah panglima itu dengan tajam menyelidik.

"Saya masih belum mengerti apa hubungannya surat tantangan itu dengan saya, Lee-ciangkun."

"Saya gelisah sekali, taihiap. Saya tidak ingin dia... dia yang saya harapkan menjadi isteri saya... melakukan sesuatu yang menggegerkan kota raja. Dan terutama sekali saya khawatir kalau dia celaka, karena saya mendengar bahwa ketua Hwa-i Kai-pang adalah seorang yang amat lihai."

"Ciangkun, saya sudah mendengar bahwa Kim Hong Liu-nio, pengawal pangeran dari utara itu berkepandaian tinggi apalagi yang perlu dikhawatirkan?"

"Saya takut kalau-kalau dia celaka dalam pertemuan itu, dan andaikata dia menang dan ketua Hwa-i Kai-pang yang tewas, juga tentu hal itu menimbulkan geger. Maka saya telah mencegah dia pergi keluar kota raja, dan saya lalu teringat kepadamu dan tergesa-gesa saya mohon pertolonganmu, taihiap."

"Hemm, apakah yang dapat saya lakukan dalam urusan permusuhan pribadi ini?"

Tanya Tio Sun.

Tentu saja dia tidak dapat membantu satu fihak karena dia tidak tahu urusannya.

Dia mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang adalah perkumpulan pengemis yang besar dan berpengaruh sekali, dan belum pernah terdengar melakukan kejahatan-kejahatan di kota raja, sungguhpun di kalangan kang-ouw juga tidak mempunyai nama yang harum.

Sebaliknya, dia tidak kenal sama sekali kepada wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio itu, dan kalau hanya karena wanita itu adalah kekasih Lee Siang lalu dia membantu wanita itu, sungguh hal ini sama sekali tidak mungkin.

"Begini, taihiap. Saya hanya mohon kepada taihiap sudilah kiranya menerima kedatangan ketua Hwa-i Kai-pang itu dan mendamaikan. Mungkin melihat taihiap, apalagi kalau tahu bahwa taihiap adalah putera mendiang Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, saya percaya bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu mau menyudahi saja urusan permusuhan yang tak berarti itu."

Tio Sun mengerutkan alisnya, berpikir-pikir.

Permintaan itu sudah sepatutnya.

Tiba-tiba dia tertarik dan sebagai orang penengah tentu saja dia tidak berkeberatan, akan tetapi sebagai penengah dia harus mengetahui pula apakah yang menimbulkan permusuhan itu.

"Mengapa Kim Hong Liu-nio sampai bermusuhan dengan Hwa-i Kai-pang?"

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini, Lee Siang agak terkejut juga.

Akan tetapi urusan ini memang sebelumnya telah dia rencanakan, maka untuk itu diapun sudah menyediakan jawabannya.

Dia menarik napas panjang dan kemudian berkata.

"Aahh, sesungguhnya hanya urusan sepele saja, taihiap. Dan bersumber kepada pangeran dari utara itu. Terjadinya di kota Huai-lai ketika Kim Hong Liu-nio mengantarkan Pangeran Ceng Han Houw ke kota raja. Di kota itu, mereka bertemu dengan seorang pengemis kotor yang minta sedekah ketika mereka sedang makan di restoran. Pangeran Ceng Han Houw merasa jijik melihat pengemis yang kakinya luka dan dirubung lalat itu, maka Kim Hong Liunio lalu mengusirnya. Akan tetapi ternyata pengemis itu adalah seorang yang memiliki kepandaian dan dia malah mengeluarkan kata-kata menghina sehingga terjadilah pertempuran antara mereka. Dan engkau tahu, taihiap, jika dua orang yang memiliki ilmu silat sudah bertanding dengan marah, maka tentu seorang di antaranya menjadi korban. Pengemis itu roboh dan tewas. Kim Hong Liu-nio lalu mengajak sang pangeran cepat-cepat ke kota raja, mengira bahwa urusan itu sudah tidak berekor lagi karena pengemis itu tidak memakai pakaian sebagai anggauta Hwa-i Kai-pang. Akan tetapi ternyata ada tiga orang tokoh Hwa-i Kai-pang yang mengejar dan membikin ribut, minta kepada Kim Hong Liu-nio untuk menyerahkan tangannya. Terjadilah lagi pertempuran dan tiga orang pengemis itu dapat diusir. Lalu panjanglah akibatnya sampai wanita itu dikepung di luar kota raja dan saya kebetulan lewat lalu melerai. Nah, itulah sebabnya sehingga kini ketuanya mengirim surat tantangan itu."

Tio Sun menarik napas panjang.

Biasa sudah, urusan orang kang-ouw yang semua didasari keangkuhan, tidak mau saling mengalah, mengandalkan kepandaian, lalu kalau sudah ada yang menjadi korban, timbul dendam dan balas-membalas!

Betapa dia sudah bosan dengan semua itu dan karena itu pulalah maka dia dan isterinya, biarpun keduanya merupakan pendekar-pendekar lihai, semenjak menikah sudah mengundurkan diri dan tidak mau mencampuri urusan kang-ouw.

Melihat pendekar itu termenung, Panglima Lee Siang cepat berkata.

"Bagaimana, taihiap? Harap taihiap sudi menaruh kasihan kepada kami dan sudi menolong kami."

"Lee-ciangkun, sebenarnya hal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan saya, akan tetapi kalau hanya menjadi orang penengah saja, tentu saya tidak keberatan. Akan tetapi, bagaimana kalau dia, ketua Hwa-i Kai-pang itu, tidak mau didamaikan?"

"Kalau begitu, terserah kepada mereka berdua, hanya saya harap taihiap sudi melindungi saya karena siapa tahu ketua pengemis itu, kalau-kalau mendendam pula kepada saya yang menyelamatkan Kim Hong Liu-nio ketika dikeroyok. Saya tidak mungkin dapat menggunakan pasukan untuk urusan pribadi ini, taihiap. Dan pula... saya minta dengan hormat sudilah kiranya taihiap merahasiakan urusan pribadi saya dengan Kim Hong Liu-nio! Saya tidak ingin didesas-desuskan, sesungguhnya saya mengharapkan dia menjadi calon isteri saya kelak."

Tio Sun tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, ciangkun."

Lee Siang cepat bangkit berdiri dan menjura sampai dalam, sehingga Tio Sun juga segera membalasnya.

"Terima kasih, Tio-taihiap, terima kasih. Saya harap setelah lewat senja taihiap benar-benar datang ke gedung saya, dan kepada hujin (nyonya) sekalipun, harap taihiap jangan menceritakan urusan pribadi saya itu. Saya malu..."

"Saya mengerti, ciangkun. Nanti begitu malam tiba, saya mengunjungi ciangkun."

Panglima itu lalu berpamit dengan wajah girang, dan Tio Sun lalu masuk ke dalam rumahnya.

Isteri dan puterinya menyambutnya dan Tio Sun lalu memondong puterinya yang sudah berusia sembilan tahun itu.

Pek Lian tertawa girang dan isterinya mengomel.

"Ih, anak sudah begini besar dipondong, bikin dia tambah manja saja!"

"Ah, Pek Lian tidak manja, ya? Ayah menggendong karena sayang, bukan memanjakan!"

Pek Lian mengangguk-angguk dan mengerling kepada ibunya.

"Aku tidak minta dipondong, ibu. Ayah sendiri yang memondongku, apa tidak boleh?"

Dikeroyok dua begini, Souw Kwi Eng atau nyonya Tio Sun itu tersenyum saja, lalu dia bertanya.

"Siapa sih orang tadi? Kulihat dia bukan seorang pedagang langganan atau kenalan kita, akan tetapi kalian bicara demikian serius!"

"Oh, dia? Dia adalah Panglima Lee Siang, adik dari Panglima Kwi-i-wi Lee Cin. Masih ingatkah kau kepada Panglima Lee Cin?"

"Ah, Panglima? Kenapa dia berpakaian preman, dan apa pula maksudnya mengunjungi kita?"

Kwi Eng bertanya dengan curiga.

Selama ini mereka hanya mengurus perdagangan, kenapa ada Panglima Kim-i-wi mengunjungi suaminya dan bicara demikian serius?

Diam-diam Tio Sun memasukkan surat tantangan yang tadi lupa tidak dibawa pergi oleh Lee Siang dan masih digenggamnya itu ke dalam saku bajunya tanpa sepengetahuan isterinya, kemudian sambil duduk memangku Pek Lian dia berkata.

"Dia datang minta tolong kepadaku untuk mendamaikan urusan. Dia mempunyai sedikit salah paham dengan ketua Hwa-i Kai-pang dan minta kepadaku untuk mendamaikan urusan itu."

"Ketua Hwa-i Kai-pang? Ihh, perkumpulan itu tidak berbau harum. Suamiku, urusan apakah yang perlu kau damaikan itu?"

Tio Sun sudah menduga bahwa tentu isterinya akan mendesak terus, dan tidak ada gunanya bagi dia untuk berbohong.

Maka dia lalu menceritakan urusan itu, yaitu betapa ketua Hwa-i Kai-pang merasa tidak senang karena Panglima Lee Siang telah menolong seorang musuh Hwa-i Kai-pang ketika para pengemis di luar pintu gerbang.

Dan kini ketua Hwa-i Kai-ipang mengancam, maka Panglima Lee Siang yang tidak ingin menimbulkan keributan lalu minta kepada dia untuk menjadi orang penengah.

"Mengapa justeru kau yang dimintainya tolong? Bukankah dia itu panglima dan banyak mengenal orang pandai di sini?"

"Dia adalah pengagum mendiang ayah. Maklumlah sama-sama panglima pengawal. Kukira tidak ada jahatnya kalau hanya menjadi penengah saja, isteriku. Urusan kecil ini tidak perlu kau khawatirkan."

Hatinya lega karena isterinya tidak tertarik tentang orang yang dikeroyok oleh para pengemis dan yang menjadi biang keladi urusan itu.

Setelah mandi, tukar pakaian dan makan malam, Tio Sun lalu berpamit kepada isterinya dan dengan tenang dia lalu pergi ke rumah gedung Panglima Lee Siang yang mudah saja ditemukannya di antara rumah-rumah para pembesar istana.

Rumah itu sunyi saja dan lampu-lampu telah menyambut datangnya malam.

Panglima Lee Siang sendiri menyambut kedatangannya dan agaknya memang panglima itu telah menanti di rumah depan.

Dari wajahnya nampak betapa panglima itu sedang gelisah dan begitu menyambut Tio Sun, dia lalu menggandeng tangan pendekar itu dan diajaknya masuk ke dalam, langsung memasuki sebuah ruangan yang agaknya sengaja dikosongkan, dan di situ hanya terdapat sebuah meja dengan dua bangku untuk mereka berdua.

Ketika Lee Siang menyuruh pelayan mengeluarkan hidangan, Tio Sun cepat mencegah dengan mengatakan bahwa dia sudah makam malam sebetum berangkat.

Panglima Lee Siang lalu menyuruh pelayannya mengambilkan dua cawan dan seguci arak.

"Ah, hati saya lega bukan main, Tio-taihiap!"

Kata panglima itu sambil menuangkan arak ke dalam cawan dengan tangan gemetar.

Melihat ini, Tio Sun yang bersikap tenang itu tersenyum menghibur.

"Tenanglah, ciangkun, mengapa gelisah? Bukankah kita akan menawarkan perdamaian dan bukan hendak menyambut orang dengan kekerasan? Akan tetapi sunyi benar gedungmu ini?"

"Saya sengaja menyuruh para pelayan menyingkir agar percakapan kita nanti tidak sampai terdengar orang. Akan tetapi jangan khawatir, diam-diam saya sudah mempersiapkan pasukan pengawal, kalau-kalau tamu kita nanti menggunakan kekerasan. Akan tetapi talhiap berjanji akan melindungi saya, bukan?"

Tio Sun mengangguk dan menerima cawan arak yang disuguhkan tuan rumah, lalu meminumnya.

"Saya kira tidak perlu, karena saya yakin ketua itu tidak akan menggunakan kekerasan kepadamu, ciangkun. Akan tetapi... eh, mana dia wanita pengawal dari utara itu? Bukankah dia yang dicari?"

"Ah, saya suruh dia bersembunyi dulu, taihiap. Kalau melihat dia, salah-salah urusan menjadi panas dan sukar didamaikan. Kalau sudah buntu jalan, barulah dia akan muncul. Sebaiknya tidak mempertemukan dulu dua orang yang saling marah dan mendendam, bukan?"

Tio Sun mengangguk, setuju.

Lee Siang yang kelihatan selalu gelisah itu lalu hendak menutupi kegelisahannya dengan membicarakan urusan dahulu, di waktu Tio Sun masih terjun di dunia kang-ouw, bersama-sama dengan pendekar-pendekar sakti seperti Cia Bun Houw, Yap Kun Liong, Yap In Hong, dan yang lain-lain.

Secara cerdik dan sepintas lalu seolah-olah tidak sengaja dan hanya ingin mengisi waktu yang menegangkan itu dengan percakapan, Lee Siang mencari keterangan tentang pendekar-pendekar yang lainnya itu.

Mula-mula dia menanyakan tentang pendekar tua Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai.

Kemudian dia dengan hati-hati menanyaka di mana adanya putera ketua Cin-ling-pai itu, yaitu pendekar Cia Bun Houw dan pendekar Yap Kun Liong!

"Setahu saya, Yap Kun Liong taihiap tinggal di Leng-kok, akan tetapi tentang Cia-taihiap, entah dia berada di mana.

Semenjak kembali dari utara, dia menghilang bersama Yap In Hong lihiap, entah mereka berada di mana."

Diam-diam giranglah hati Lee Siang karena dia sudah mendapat keterangan di mana adanya Yap Kun Liong, seorang di antara musuh-musuh yang harus dibasmi oleh kekasihnya!

Dan pada saat itu, Tio Sun menaruh telunjuk di depan bibirnya nambil memasang telinga dan matanya yang sipit itu seperti terpejam, Seluruh panca inderanya ditujukan ke atas karena pendengarannya yang terlatih dan lebih tajam daripada pendengaran tuan rumah itu menangkap suara yang tidak wajar.

Wajah Lee Siang menjadi pucat.

Jelas bahwa dia kelihatan gelisah sekali!

Diam-diam Tio Sun merasa heran mengapa tuan rumah ini, adik dari Panglima Lee Cin yang gagah berani, juga seorang Panglima Kwi-i-wi, ternyata demikian kecil nyalinya!

Dan pada saat itu, terdengarlah suara dari atas, suara yang jelas sekali akan tetapi perlahan, seolah-olah orangnya yang bicara itu berada dekat di dalam kamar itu!

Seperti setan tidak kelihatan yang bicara!

Akan tetapi Tio Sun terkejut karena dia maklum bahwa orang itu telah menggunakan ilmu Coan-im-jip-bit, yaitu ilmu khi-kang, dengan tenaga sakti di dalam pusar telah mendorong keluar suara menjadi getaran yang mampu menempuh jarak jauh biarpun hanya diucapkan dengan lirih!

"Kim Hong Liu-nio, keluarlah dan jangan bersembunyi di balik perlindungan seorang panglima!"

Tio Sun mengerutkan alisnya.

Dari suaranya saja sudah dapat diduga bahwa orang yang mengeluarkan suara itu adalah seorang yang tinggi hati, angkuh dan merasa tidak perlu menghormati seorang panglima istana!

Bahkan ada nada mengejek di dalam suara itu terhadap Lee-ciangkun tanpa menyebut nama!

Akan tetapi dia diam saja, menanti perkembangan lebih lanjut, karena bukankah tugasnya hanya melerai dan menengahi, kalau mungkin mendamaikan kedua fihak yang sedang bersengketa.

Tiba-tiba terdengar Lee Siang berkata, suaranya cukup nyaring, tidak nampak lagi sisa ketegangan dan kegelisahannya yang tadi.

"Apakah yang datang itu adalah Hwa-i Kai-pangcu?"

Suaranya nyaring dan sudah pasti terdengar oleh orang yang berada di atas.

Kembali terdengar suara lirih tadi, namun jelas sekali, penuh kewibawaan.

"Kami adalah ketua Hwa-i Kai-pang, dan kami datang hanya untuk berurusan dengan wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio!"

Sebelum Tio Sun dapat memikirkan harus berkata apa, kembali Lee Siang sudah berkata nyaring.

"Pangcu, harap kau turun saja. Kami sudah menanti di ruangan ini! Marilah kita bicara!"

Suara panglima itu kini terdengar keras, tegas dan galak, bahkan seperti orang menantang sehingga Tio Sun kembali merasa heran dan ketika dia mengerling, dia melihat panglima itu sama sekali tidak kelihatan takut lagi!

Diam-diam dia merasa geli juga.

Tadi sebelum orangnya datang panglima itu kelihatan begitu ketakutan, akan tetapi sekarang setelah orangnya datang dan telah mendemonstrasikan Ilmu Coan-im-jip-bit yang membayangkan kepandaian tinggi, panglima ini malah berkaok-kaok menantang!

Sungguh tak tahu diri!

Akan tetapi dia tidak memperhatikan lagi kepada panglima itu karena seluruh perhatiannya dicurahkan untuk menangkap gerakan yang kini terdengar.

Angin menyambar dan bagaikan seekor burung saja, berkelebatlah sesosok bayangan orang dan tahu-tahu di dalam ruangan itu telah berdiri seorang kakek.

Aneh sekali kakek ini, terutama pakaiannya karena dia memakai pakaian baru yang penuh tambal-tambalan belang-bonteng dan berkembang-kembang, menyolok sekali.

Tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut.

Pakaiannya yang penuh tambalan itu masih baru, dan memang sengaja ditambal-tambal, juga sepatunya baru.

Tubuhnya pendek kecil, rambutnya digelung ke atas dan mukanya seperti muka tikus karena selain kecil sempit juga agak meruncing ke depan, di bagian mulutnya merupakan ujungnya, dan sepasang matanya yang kecil itu tiada hentinya bergerak-gerak.

Berbeda dengan tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang lainnya yang menandai tingkat atau kedudukan mereka dalam perkumpulan itu dengan banyaknya buntalan di punggungnya, kakek ini sama sekali tidak menggendong buntalan.

Justeru inilah tanda bahwa dia adalah tokoh nomor satu atau ketua dari Hwa-i Kai-pang!

Dan seperti semua ketua Hwa-i Kai-pang, setelah menjadi ketua maka dia meninggalkan nama sendiri, dan hanya menggunakan nama Hwa-i Sin-kai (Pengemis Sakti Baju Kembang).

Usia kakek ini sudah enam puluh tahun lebih.

Sepasang mata yang liar dan amat tajam sinarnya itu hanya menyapu saja dua orang laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya, karena pandang mata itu mencari-cari di sekeliling ruangan itu, dan tanpa memperdulikan dua orang pria itu, bahkan seolah-olah menganggap mereka itu tidak ada, kakek ini berseru.

"Kim Hong Liu-nio, keluarlah untuk mengadu kepandaian!"

Sikap ini memang angkuh sekali, dan diam-diam Tio Sun merasa menyesal mengapa seorang ketua perkumpulan sebesar Hwa-i Kai-pang bersikap demikian congkak.

Lee Siang melangkah maju dengan sikap marah.

"Lo-kai (pengemis tua), betapa kurang ajarnya engkau! Rumah ini adalah rumahku, dan kau sama sekali tidak memandang mata kepada tuan rumah!"

Mendengar itu, pengemis tua itu memandang kepada Lee Siang dan alisnya berkerut, sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat.

"Lee-ciangkun, kami tidak akan datang ke rumah ini kalau engkau tidak menyembunyikan Kim Hong Liu-nio di sini! Kami selamanya tidak pernah ada urusan dengan seorang Panglima Kim-i-wi, maka harap lekas kau suruh wanita iblis itu keluar, dan kami akan menganggap bahwa antara kami dan ciangkun tidak pernah ada urusan apa-apa!"

Lee Siang menjadi marah mendengar ucapan yang terus terang itu.

"Kalau aku melarang kalian pengemis-pengemis jahat Hwa-i Kai-pang mengganggu Kim Hong Liu-nio yang menjadi penyelamat Kaisar, engkau mau apa?"

Pengemis yang bertubuh pendek kecil itu membusungkan dadanya dan berkata.

"Kami selamanya tidak pernah menentang Kaisar dan pasukan Kim-i-wi, akan tetapi kalau ciangkun melindungi wanita itu, berarti ciangkun secara pribadi memusuhi kami dan tentu kami tidak akan memandang pangkat ciangkun lagi!"

"Jembel tua busuk, kau sungguh kurang ajar. Kau kira aku takut kepadamu?"

Setelah berkata demikian, Lee Siang sudah menerjang maju dengan pedangnya yang memang sudah dia persiapkan lebih dulu!

Dengan dahsyat panglima yang bertubuh tinggi tegap ini menyerang dan memang tenaganya besar, sehingga pedangnya berdesing dan mengeluarkan sinar kilat.

"Ciangkun, jangan...!"

Tio Sun berseru kaget.

Semua itu terjadi demikian cepatnya sehingga dia yang memang berwatak pendiam dan tidak pandai bicara, tidak sempat untuk melerai.

Akan tetapi Lee Siang tidak memperdulikan atau tidak mendengar cegahannya itu karena panglima itu sudah menyerang dengan tusukan pedangnya ke arah pengemis tua itu!

"Lee-ciangkun, jangan mencampuri urusan kami!"

Pengemis itu membentak dan dengan mudah saja dia menghindarkan tusukan itu dengan miringkan tubuhnya.

Akan tetapi Lee Siang sudah menggerakkan pedangnya yang luput menusuk tadi, disabetkan ke samping mengarah leher kakek itu!

Dan pada saat itu juga kakinya juga bergerak menendang ke arah pusar lawan.

"Hemm, engkau terlalu sombong dan perlu diberi hajaran!"

Pengemis tua itu membentak, tongkatnya bergerak menangkis dan kakinya juga diangkat memapaki tendangan itu.

"Tranggg... dukk...!"

Tubuh Lee Siang terguling dan pedangnya terlepas dari pegangan.

Dia mengaduh dan terpincang karena kakinya yang digares oleh kaki kecil pengemis itu terasa nyeri seperti dipukul dengan linggis besi saja!

Akan tetapi, Lee Siang menjadi makin marah dan dia sudah menubruk ke depan, menyerang dengan kedua tangan kosong secara nekat!

Tio Sun maklum bahwa dia harus turun tangan, karena kalau tidak, panglima itu dapat terancam bahaya.

Kakek pengemis itu lihai bukan main, dan juga ganas.

Ketika Panglima Lee Siang menyerbu, kakek itu sudah menggerakkan tongkatnya, maksudnya hanya akan menotok roboh panglima itu.

Akan tetapi Tio Sun mengira lain, menyangka bahwa kakek itu akan menurunkan tangan kejam, maka dia sudah menerjang ke depan dan menggunakan tangan untuk mencengkeram tongkat itu!

"Aihh...!"

Hwa-i Sin-kai terkejut menyaksikan gerakan Tio Sun, apalagi dari tangan pendekar ini menyambar hawa yang amat kuat.

Kakek pengemis ini menyangka bahwa tentu orang ini adalah pengawal pribadi Lee-ciangkun, maka diapun makin marah.

Kiranya panglima ini sudah bersiap untuk menghalanginya menantang Kim Hong Liu-nio dan menerimanya dengan serangan-serangan.

Dia sudah marah kepada Lee Siang ketika dilapori anak buahnya betapa Lee Siang telah menyelamatkan Kim Hong Liu-nio di luar pintu gerbang dan kini, melihat sendiri betapa panglima itu menyerangnya, bahkan dibantu oleh seorang pengawal lihai, kemarahannya memuncak dan tanpa bertanya lagi dia sudah menggerakkan tongkat yang akan dicengkeram itu, menariknya kembali dan tidak jadi menyerang Lee Siang melainkan menotok ke arah leher Tio Sun!

"Ahhh...!"

Tio Sun terkejut sekali dan juga marah.

Totokan ke arah lehernya itu adalah serangan maut yang mengarah nyawa!

Betapa ganas dan kejamnya kakek pengemis ini!

Dan memang Hwa-i Sin-kai bermaksud membunuh "pengawal"

Itu sungguhpun dia masih berpikir dua kali untuk melukai Panglima Lee secara parah.

Hwa-i Sin-kai juga terkejut sekali ketika melihat betapa pengawal itu menangkis tongkatnya dengan tangan kosong dan telah membuat tongkatnya menyeleweng dan luput!

Inilah hebat, pikirnya!

Jarang ada orang dapat menangkis tongkatnya dengan tangan kosong saja!

Di lain fihak, Tio Sun juga terkejut karena tangkisannya tadi membuat dia terdorong dan lengannya terasa nyeri bukan main, tanda bahwa kakek itu memang amat lihai.

"Bagus! Pengawal busuk, kau anjing penjilat pembesar, harus mampus!"

Bentak kakek itu sambil menggerakkan tongkatnya.

"Nanti dulu, pangcu! Aku tidak bermaksud memusuhimu..."

Akan tetapi dari samping, Lee Siang sudah menerjang lagi dengan marah.

"Hantam dia, kakek jembel ini memang jahat!"

Melihat Lee Siang kembali terjungkal oleh tendangan kaki pengemis itu, Tio Sun menjadi marah.

"Tar-tar-tar!"

Bunyi ledakan ini adalah ujung senjata dari pendekar ini, yaitu sabuk yang digerakkan seperti sebatang pecut dan dimainkan seperti orang memainkan joan-pian, dan tahu-tahu ujung cambuk ini sudah menotok ke arah tengkuk kakek pengemis itu.

"Bagus!"

Kakek itu berseru kaget dan juga kagum.

Dia memang tahu bahwa di kota raja banyak pengawal pandai, akan tetapi tidak disangkanya dia akan bertemu dengan seorang pengawal sepandai ini di gedung Panglima Lee Siang.

Tongkatnya cepat diputar menyambut dan dalam belasan jurus saja Tio Sun terdesak hebat!

Kiranya kakek yang menjadi ketua Hwa-i Kai-pang itu memang luar biasa lihainya.

Ilmu tongkatnya yang disebut Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai) sudah mencapai puncaknya sehingga tongkat itu lenyap bentuknya dan berubah menjadi lima gulungan sinar yang makin lama makin lebar, dan dari sinar gulungan itu kadang-kadang mencuat ujung tongkat yang menotok ke arah jalan darah yang berbahaya!

"Hebat...!"

Tio Sun berseru kaget setelah baru saja dia terbebas dari totokan amat berbahaya.

"Pangcu, tahan dulu..."

Dia melompat ke belakang dan mencabut pedangnya.

"Aku tidak bermaksud memusuhimu, aku hanya datang untuk menjadi orang penengah!"

"Pengawal busuk, keluarkan kepandaianmu kalau memang kau lihai!"

Kata kakek pengemis itu yang salah duga melihat Tio Sun mencabut pedang pula di samping sabuknya yang lihai padahal pendekar itu mencabut pedang hanya untuk menjaga diri setelah terdesak hebat oleh tongkat yang amat lihai itu.

Tio Sun menjadi marah juga dan menggerakkan pedang menusuk setelah sabuknya menangkis dan berusaha melibat ujung tongkat.

"Prakkkk!"

Tio Sun terkejut bukan main karena kakek itu menggunakan tangan kiri yang telanjang untuk menangkis pedangnya!

Memang tadi kakek itu belum mengeluarkan ilmunya yang paling hebat, yaitu Ta-houw-sin-ciang-hoat (Tangan Sakti Pemukul Harimau), Dan baru sekarang kakek itu menggunakan tangan saktinya untuk menangkis pedang dan terus memukul dan dari pukulannya itu menyambar angin dingin yang dahsyat.

Tio Sun mengeluarkan suara kaget, mengeluh dan terjengkang roboh dan tidak bergerak lagi!

Kakek pengemis itu terkejut bukan main.

Dia tadi sudah menduga bahwa Tio Sun tentu bukan pengawal, melainkan seorang sahabat dari panglima itu, maka dia ingin mencoba kepandaiannya dan merobohkan tanpa membunuhnya.

Akan tetapi mengapa orang gagah itu kini roboh terjengkang dan tidak berkutik lagi?

Dia memandang wajah orang itu dan makin terkejut mendapat kenyataan bahwa benar-benar orang gagah itu telah tewas!

Padahal dia tahu benar bahwa pukulannya Ta-houw-sin-ciang-hoat tadi belum mengenai tubuh lawannya, hanya menangkis pedang saja!

"Tangkap pembunuh!

Tangkap penjahat!"

Tiba-tiba Lee Siang berteriak-teriak dan muncullah belasan orang pengawal dari segenap penjuru dan terutama sekali, secara tiba-tiba ada sinar merah panjang menyambar dan dalam sekali serangan saja ujung sinar merah itu telah melakukan totokan bertubi-tubi sampai tujuh kali ke arah jalan darah maut di sebelah depan tubuh Hwa-i Sin-kai!

Kakek itu terkejut bukan main dan dia terdesak mundur, terpaksa memutar tongkatnya dan setelah menangkis tujuh totokan bertubi-tubi yang amat hebat itu, bahkan yang membuat tangannya tergetar keras, dia memandang dan melihat seorang wanita cantik jelita telah berdiri di depannya sambil memegang sehelai sabuk sutera merah!

"Kau Kim Hong Liu-nio!"

Bentak kakek itu. Wanita itu tersenyum, manis sekali.

"Dan engkau tua bangka tak tahu diri, datang mengantarkan nyawa!"

Bentaknya halus dan kembali dia menerjang, kini dengan kedua tangan kosong sambil mengalungkan sabuknya di lehernya, seperti seorang penari yang sedang beraksi melakukan tarian yang amat indah.

"Bedebah kau!"

Hwa-i Sin-kai membentak dan tongkatnya menyambar.

"Cring-cring-cringgg...!"

Tiga kali tongkat itu bertemu dengan lengan halus yang memakai gelang, dan kakek pengemis itu makin terkejut merasa betapa tangkisan lengan halus itu membuat kedua tangannya sampai kesemutan, tanda bahwa wanita cantik ini benar-benar lihai sekali, cocok dengan laporan para anak buahnya.

Pantas semua anak buahnya tidak ada yang sanggup menandingi wanita ini!

"Menyerahlah kau, pembunub kejam!"

Lee Siang membentak.

"Engkau telah membunuh Tio Sun taihiap, putera dari mendiang Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan. Tangkap dia!"

Bukan main kagetnya Hwa-i Sin-kai mendengar disebutnya nama itu.

Terbelalak dia memandang ke arah tubuh yang rebah terlentang tak bergerak dari Tio Sun itu, dan karena terkejut ini, hampir saja lambungnya kena dicengkeram oleh tangan yang halus dari wanita itu.

Dia cepat meloncat ke belakang sambil mengelebatkan tongkatnya, dan dengan jantung tegang dia berkata.

"Ah, tidak...!"

Dan melihat semua pengawal mulai menerjangnya, dia maklum bahwa kalau dia melawan, biarpun belum tentu dia kalah walaupun di situ terdapat wanita yang amat lihai itu, namun dia tentu akan dicap sebagai pemberontak yang berani melawan pasukan pengawal!

Maka sambil mengeluh panjang kakek itu lalu meloncat keluar dari ruangan itu, Seperti terbang saja melalui atas kepala para pengawal yang mengepungnya, lalu berloncatan ke atas genteng dan melarikan diri dari tempat itu.

Lee Siang memerintahkan orang-orangnya mengejar, namun sia-sia saja karena gerakan pengemis tua itu amat cepat, sebentar saja sudah lenyap dari pandang mata.

Dia lalu memeriksa Tio Sun yang ternyata telah tewas!

Maka dia lalu menyuruh para pengawal mengantarkan mayat itu pulang ke rumah keluarga Tio, sedangkan dia sendiri mengikuti dari belakang dengan wajah muram.

Dapat dibayangkan betapa terkejut rasa hati Souw Kwi Eng ketika melihat sebuah kereta dikawal oleh sepasukan pengawal berhenti di depan rumahnya, apalagi ketika melihat tamunya siang tadi, yang oleh suaminya dikatakan adalah Panglima Kim-i-wi Lee Siang, tiba-tiba memasuki rumahnya dan menjura di depannya sampai dalam sekali, penuh dengan tanda duka.

"Tio-hujin..."

Suara Lee Siang terhenti oleh isak tertahan.

"Saya datang membawa berita duka... Tio-taihiap..."

"Ada apa? Apa yang terjadi? Mana suamiku?"

Tiba-tiba Souw Kwi Eng bertanya dan matanya yang agak kebiruan itu memandang terbelalak, mencari-cari.

"Dia... dia... telah mati terbunuh orang... jenazahnya kami bawa dalam kereta..."

Terdengar jerit mengerikan dan nyonya muda itu terhuyung, lalu berlari menuju ke kereta, seperti orang gila dia merenggut tirai kereta terbuka dan melihat jenazah suaminya menggeletak tak bergerak di dalam kereta.

Souw Kwi Eng kembali menjerit, jerit yang melengking nyaring menyayat hati.

Dia menubruk jenazah itu, memeluki suaminya dan menangis tersedu-sedu!

Para pelayan berlarian dengan bingung dan ada yang sudah ikut menangis.

Dari dalam rumah keluar Tio Pek Lian berlari-lari karena anak ini mendengar jerit ibunya yang mengejutkan itu.

Ketika dia melihat ibunya menangis di kereta yang berhenti di halaman rumah, dia berlari menghampiri ibunya, merangkul ibunya dari belakang, menarik-narik bajunya dan bertanya dengan suara ketakutan.

"Ibu, ada apakah, ibu...? Kenapa ibu menangis?"

Dia masih belum dapat melihat jenazah ayahnya karena pintu kereta itu terhalang oleh tubuh ibunya.

Mendengar suara anaknya, Souw Kwi Eng tersentak dan tertahan tangisnya, lalu perlahan dia memutar tubuh memandang anaknya melalui genangan air mata, kemudian dia menubruk anaknya dan merangkulnya.

"Pek Lian, anakku... ah, ayahmu... ayahmu...!"

Dan kalau saja dia tidak merasa bahwa ada anaknya dalam pelukannya tentu nyonya muda ini sudah roboh pingsan.

Semua sudah kelihatan gelap dan berputar, cepat-cepat dia memejamkan mata dan menahan napas, mengerahkan kekuatan batinnya sehingga semuanya menjadi terang kembali.

"Ibu, ada apakah...? Ayah mengapa...?"

Lapat-lapat terdengar suara anaknya. Souw Kwi Eng membuka mata.

"Ayahmu? Ah, ayahmu... telah meninggal dunia, anakku..."

Dia terisak, lalu membalik, memasuki kereta, dan pada saat itu Lee Siang dan para pengawal mendekati kereta dan hendak mengangkat jenazah itu.

Akan tetapi Souw Kwi Eng melarangnya.

"Biarkan aku yang mengangkatnya sendiri!"

Tenang sekali wanita itu.

Air matanya masih bercucuran, dia masih terisak-isak, akan tetapi dengan tenang dia lalu mengangkat tubuh suaminya yang masih hangat itu, dipondongnya, lalu dia melangkah perlahan-lahan ke dalam rumah, diikuti oleh Pek Lian yang memandang pucat dan matanya terbelalak.

Anak ini belum mengerti benar, bagaimanakah kematian itu dan mengapa ayahnya mati.

Semua orang memandang dengan sinar mata diliputi keharuan dan kekaguman, jantung mereka seperti ditusuk-tusuk menyaksikan nyonya muda yang cantik itu memondong jenazah suaminya, Melangkah satu-satu menuju ke dalam rumah dengan sikap penuh khidmat.

Semua orang menundukkan muka ketika jenazah yang dipondongnya itu lewat di depan mereka.

Kwi Eng meletakkan jenazah itu di atas pembaringan di kamar suaminya dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut di dekat pembaringan, memeriksa suaminya.

Tidak ada luka di tubuh suaminya, akan tetapi jelas bahwa suaminya telah tewas.

Maka dia lalu memeluk dan menangis lagi, tangis mengguguk dan (Lanjut ke

Jilid 16) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16 akhirnya nyonya muda ini tidak dapat menahan dirinya lalu terguling roboh pingsan di atas lantai.

Kwi Eng siuman mendengar tangis anaknya yang memanggil-manggilnya.

Dia bangkit duduk dan ternyata dia telah diangkat oleh para pelayan di atas pembaringan.

Dan ketika dia duduk, dia melihat jenazah suaminya rebah di atas pembaringan yang lain, maka kembali air matanya bercucuran.

"Ibu...!"

"Pek Lian...!"

Dia merangkul anaknya dan mendekap kepala anaknya.

"Tio-hujin... kami sungguh menyesal sekali..."

Kwi Eng mengangkat mukanya mcmandang melalui air matanya.

Lalu dia memondong puterinya, turun dari pembaringan dan memandang kepada Panglima Lee Siang yang berdiri dengan muka menunduk.

Sampai beberapa lamanya Kwi Eng memandang panglima itu, air matanya turun perlahan ke atas sepasang pipinya yang pucat dan suasana dalam kamar itu hening, kecuali suara isak tertahan dari para pelayan yang semua menangis.

Kemudian terdengar suara nyonya muda itu, suaranya menggetar dan parau, kadang-kadang tertahan isak.

"Sekarang katakanlah, siapa yang membunuh suamiku? Siapa...?"

Pertanyaan itu, terutama kata terakhir itu mengandung ancaman hebat, mengandung dendam dan kemarahan yang terasa oleh semua orang hingga semua yang mendengarnya merasa bulu tengkuk mereka maremang.

Dengan muka pucat Lee Siang yang masih menunduk itu menjawab.

"Yang membunuhnya adalah ketua dari Hwa-i Kai-pang."

"Ketua Hwa-i Kai-pang?"

Kwi Eng seolah-olah hendak menanamkan nama ini di dalam benaknya, kemudian dia bertanya lagi, perlahan.

"Apa yang terjadi? Mengaoa suamiku sampai terbunuh olehnya?"

Lalu dia teringat akan cerita suaminya, maka dia menambahkan.

"Bukankah suamiku ke sana hanya untuk menjadi orang penengah?"

Lee Siang menarik napas panjang.

"Sesungguhnya begitulah. Akan tetapi, ketua Hwa-i Kai-pang itu mendesaknya, mereka bertanding, kami sudah berusaha membantu dengan pasukan pengawal, akan tetapi terlambat. Tio-taihiap... sudah roboh dan tewas, dan... sungguh menyesal sekali kami tidak mampu mencegahnya..."

"Dan ketua Hwa-i Kai-pang itu? Ke mana dia..."

"Dia melarikan diri, kami tidak mampu melawannya, tidak mampu menangkapnya."

Souw Kwi Eng menghampiri pembaringan suaminya, berlutut, dan menyentuh lengan suaminya.

"Tenanglah, aku bersumpah untuk membalas kematianmu!"

Lalu dia merangkul dan menangis lagi.

Pek Lian juga menghampiri, dengan agak takut-takut memandang jenazah ayahnya, kemudian setelah memandang wajah ayahnya yang biasanya amat mencintanya itu, diapun menubruk ayahnya dan berteriak-teriak.

"Ayahhh... ayaaaah..."

Dan menangislah anak itu bersamanya.

Setelah mengucapkan keprihatinannya, maafnya dan hiburannya yang sama mekali tidak ada artinya, Panglima Lee Siang lalu berpamit dan meninggalkan rumah itu bersama para pengawalnya, naik kereta yang tadi dipakai untuk mengangkut jenazah Tio Sun.

Semalam itu Souw Kwi Eng dan anaknya menangisi jenazah suaminya, dan para pelayan dan pegawal sibuk mengurus keperluan sembahyang, peti mati dan sebagainya.

Juga ada yang cepat-cepat malam itu juga pergi ke kota Yen-tai untuk memberi kabar kepada Souw Kwi Beng, kakak kembar dari nyonya Tio.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Souw Kwi Beng sudah berangkat meninggalkan rumahnya dengan hati penuh kedukaan ketika dia mendengar berita kematian iparnya itu.

Dia membalapkan kudanya dan lewat tengah hari tibalah dia di kota raja dan langsung menuju ke rumah adiknya.

Kakak beradik kembar ini berangkulan sambil menangis.

Kwi Beng sedapat mungkin menghibur adiknya dan keduanya lalu berlutut di depan peti mati Tio Sun.

Dia mendengarkan cerita adik kembarnya tentang kematian Tio Sun, sambil memangku keponakannya, Pek Lian yang sudah tidak menangis lagi.

Memang hanya anak-anak saja yang mempunyai watak yang wajar, tidak terus menerus dicengkeram oleh suka maupun duka.

Suka dan duka bagi anak-anak hanya merupakan peristiwa selewat saja, tidak seperti kita orang-orang dewasa yang paling suka menyimpan suka dan duka di dalam batin sampai berlarut-larut.

Pek Lian hanya mulai menangis lagi kalau melihat ibunya, begitu berduka, melihat ibunya menangis.

Akan tetapi dia belum begitu merasa kehilangan atas kematian ayahnya, dan memang batin anak-anak lebih bebas daripada batin orang dewasa yang sudah terikat oleh berbagai hal dan benda sehingga kalau sewaktu-waktu ikatan itu dicabut lepas, mendatangkan luka parah di dalam batin.

"Aku akan membantumu, Eng-moi. Aku akan membantumu menghadapi jambel-jembel busuk yang kejam itu!"

Berkali-kali Kwi Beng menghibur adiknya di depan peti mati adik iparnya.

Perkumpulan Hwa-i Kai-pang sebenarnya tidak mempunyai sarang tertentu karena para anggautanya berkeliaran dan tersebar di seluruh daerah kota raja dan seluruh Propinsi Ho-pak.

Akan tetapi karena ketuanya yang sekarang, yaitu Hwa-i Sin-kai, memilih sebuah kuil tua di dalam hutan kecil di dekat pintu gerbang sebelah utara kota raja, maka tempat itu boleh dibilang menjadi sarang dari Hwa-i Kai-pang.

Hal ini adalah karena para tokoh biasanya berkumpul di tempat tinggal ketuanya, maka hampir setiap hari di kuil tua yang dijadikan tempat tinggal Hwa-i Sin-kai itu ramai dikunjungi tokoh-tokoh dari perkumpulan itu, selain untuk melayani ketua mereka juga untuk membawa laporan-laporan mengenai perkumpulan mereka yang memiliki banyak anggauta yang tersebar luas itu.

Tentu saja yang berdatangan ke tempat tinggal ketuanya hanyalah tokoh-tokoh kai-pang yang bertingkat yaitu yang bertingkat lima ke atas.

Setelah terjadi peristiwa permusuhan antara mereka dengan Kim Hong Liu-nio yang berkepanjangan, bahkan yang merambat kepada seorang tokoh Panglima Kim-i-wi, maka para tokoh Hwa-i Kai-pang menjadi khawatir akan serbuan-serbuan, maka mereka mulai melakukan panjagaan den mempergunakan kuil tua di dalam hutan itu sebagai tempat berkumpul dan bertahan.

Hwa-i Sin-kai merasa menyesal dan juga terkejut bukan main setelah terjadinya periatiwa kematian Tio Sun di dalam godung Panglima Lee Siang itu.

Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa Tio Sun yang lihai itu adalah putera mendiang Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan seorang panglima jagoan istana yang juga merupakan seorang tokoh besar di dunia kang-ouw.

Kalau dia tahu, sudah pasti dia tidak akan melawan orang muda itu sebagai musuh.

Dia menyesal mengapa dia tidak lebih dahulu bicara dengan orang muda itu, dan sudah menuruti kemarahan yang ditimbulkan oleh Panglima Lee Siang.

Den dia juga merasa heran mangapa orang muda yang segagah itu demiklan mudah tewas, hanya setelah dia mengeluarkan pukulan Ta-houw-sin-ciang, padahal menurut perasaannya, pukulannya itu belum mengenai tubuh lawan!

Betapapun juga, ketua Hwa-i Kai-pang ini tidak merasa bersalah!

Kalau putera Ban-kin-kwi itu sampai tewas dalam pertandingan melawan dia, maka hal itu adalah karena salahnya sendiri.

Mengapa pula pendekar muda itu melindungi Lee Siang, panglima yang telah mencampuri urusan pribadi antara Hwa-i Kai-pang dan iblis betina Kim Hong Liu-nio?

Dia sebagai ketua Hwa-i Kai-pang hanys mempunyal permusuhan pribadi dengan Kim Hong Liu-nio yang selain telah membunuh seorang anggauta pengemis juga telah menghina dan melukai beberapa orang tokoh Hwa-i Kai-pang.

Maka dia tidak merasa salah kalau sampai dia bentrok dengan orang-orang yang membela atau melindungi iblis betina itu, seperti halnya Lee Siang dan Tio Sun!

Akan tetapi beberapa hari semenjak terjadi peristiwa di rumah gedung Panglima Kim-i-wi itu, tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada pasukan Kim-i-wi yang menyerbu ke dalam hutan itu seperti yang dikhawatirkan oleh Hwa-i Sin-kai.

Yang dikhawatirkan hanyalah campur tangan pemerintah, karena tentu saja kalau harus melawan pasukan pemerintah, Hwa-i Kai-pang tidak akan berdaya banyak, dan adalah berbahaya kalau sampai Hwa-i Kai-pang dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah.

Juga mata-mata yang disebar di dalam kota raja oleh Hwa-i Kai-pang memberi laporan bahwa tidak terjadi gerakan apa-apa di fihak pasukan Kim-i-wi.

Hal ini melegakan hati ketua Hwa-i Kai-pang.

Akan tetapi suatu pagi, dua orang laki-laki dan wanita muda, yang mengenakan pakaian serba putih, pakaian orang yang sedang berkabung, berjalan dengan tenang dan sedikitpun tidak mengeluarkan suara, memasuki hutan itu.

Beberapa orang tokoh Hwa-i Kai-pang yang diam-diam melakukan penjagaan, mengikuti gerak-gerik dua orang ini dengan penuh perhatian.

Keadaan dua orang laki-laki dan wanita itu memang amat menarik hati dan juga mencurigakan.

Hanya pakaian dan gerak-gerik mereka saja yang membedakan satu sama lain, yang membuat orang dapat membedakan bahwa mereka adalah seorang pria dan seorang wanita.

Akan tetapi selain perbedaan kelamin ini, wajah kedua orang itu benar-benar mirip satu sama lain, bahkan serupa!

Wajah yang amat tampan dan amat cantik.

Dan rambut mereka yang agak kekuning-kuningan, mata mereka yang agak kebiruan!

Dua orang ini bukan lain adalah Souw Kwi Beng atau Ricardo de Gama dan adik kembarnya, Souw Kwi Eng atau Maria de Gama.

Setelah mengurus pemakaman jenazah Tio Sun sampai beres, Kwi Eng lalu menitipkan puterinya pada para pelayan, kemudian dia mengajak kakak kembarnya untuk mencari sarang Hwa-i Kai-pang!

Tidaklah sukar bagi mereka untuk menemukan sarang itu di dalam hutan di luar pintu gerbang utara dari kota raja, dan pada pagi hari itu, dengan hati penuh geram kakak beradik kembar ini menuju ke hutan itu dengan hati bulat untuk membalas dendam atas kematian Tio Sun kepada ketua Hwa-i Kai-pang!

Dengan cepat para tokoh pengemis itu memberi laporan kepada ketua mereka akan kedatangan dua orang muda itu, sedangkan Lo-thian Sin-kai, kakek pengemis kurus tokoh tingkat dua dari Hwa-i Kai-pang, cepat menghadang di tengah jalan sebelum kedua orang muda ini tiba di kuil tua.

Kakek ini melintangkan tongkatnya di depan tubuhnya, memandang tajam dan segera berkata.

"Maafkan, dua orang muda yang gagah perkasa. Kami dari Hwa-i Kai-pang minta dengan hormat agar ji-wi sudi mengambil jalan lain kalau hendak melewati hutan ini."

Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng saling pandang, lalu Kwi Beng yang berkata kepada kakek pengemis yang dia tahu adalah tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat dua itu, melihat dari buntalan di atas punggungnya.

Lalu Kwi Beng yang mewakili adiknya menjawab.

"Memang kami berdua hendak memasuki sarang Hwa-i Kai-pang, mengapa harus mengambil jalan lain?"

Mendengar jawaban ini, Lo-thian Sin-kai mengerutkan alisnya dan tiba-tiba saja tempat itu penuh dengan pengemis-pengemis dari tingkat lima sampai tingkat tiga, ada sepuluh orang banyaknya!

Namun, dua orang muda itu tetap tenang saja, biarpun setiap urat syaraf di tubuh mereka sudah menegang dan siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

"Ahh, begitukah?"

Tiba-tiba suara kakek kurus itu berubah dan sinar matanya memandang penuh selidik.

Dia melihat dua orang laki-laki dan wanita seperti kembar itu memang telah menunjukkan sikap mencurigakan, apalagi melihat betapa keduanya telah siap dengan senjeta pedang di punggung, dan kantong hui-to, yaitu pisau-pisau kecil yang dipergunakan sebagai senjata rahasia, tergantung di pinggangnya masing-masing.

Pendeknya, dua orang muda itu jelas memperlihatkan kesiapan orang yang hendak bertarung!

Dan pakaian mereka adalah pakaian orang berkabung!

"Siapakah kalian berdua?

Dan ada keperluan apakah kalian memasuki sarang Hwa-i Kai-pang?"

Souw Kwi Beng memandang kepada kakek pengemis kurus itu.

"Kami melihat bahwa engkau adalah seorang tokoh tingkat dua dari Hwa-i Kai-pang. Ketahuilah bahwa kami datang bukan untuk berurusan dengan Hwa-i Kai-pang, melainkan dengan pancu dari perkumpulan kalian. Maka bawalah kami bertemu dengan dia, karena urusan kami adalah urusan pribadi dengan Hwa-i Kai-pangcu!"

Lo-thian Sin-kai memandang tajam dan menduga-duga siapa gerangan adanya kedua orang kembar ini!

"Siapakah kalian berdua?

Dan apa keperluan kalian mencari pangcu kami?"

"Tidak akan kuberitahukan kepada siapapun, kecuali ketua Hwa-i Kai-pang si jahanam keparat!"

Tiba-tiba Kwi Eng yang sudah tidak sabar lagi itu membentak dengan marah sekali.

"Ahh...!"

Lo-thian Sin-kai memandang kepada nyonya muda itu dan kecurigaannya timbul.

"Apakah toanio mempunyai hubungan dengan orang she Tio...?"

"Jembel busuk! Orang she Tio yang dibunuh ketua kalian itu adalah suamiku, mengerti? Nah, ketuamu hutang nyawa kepadaku, harus membayarnya sekarang juga!"

Sambil berkata demikian, Kwi Eng sudah mencabut pedangnya dengan gerakan cepat sehingga pedang itu mengeluarken sinar berkilauan.

"Dan kalau pangcu kalian terlalu pengecut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, aku akan mencarinya sampai dapat!"

"Dan harap kalian para tokoh Hwa-i Kai-pang tidak mencampuri karena urusan ini adalah urusan pribadi!"

Sambung Kwi Beng yang sudah mencabut pedangnya.

"Orang-orang muda yang tinggi hati! Aku telah berada di sini!"

Tiba-tiba terdengar suara halus dan dari jauh muncullah seorang kakek pendek kurus yang mukanya seperti tikus, memegang sebatang tongkat dan kakek ini berjalan seenaknya ke tempat itu.

Ternyata sebelum orangnya tiba, suaranya sudah terdengar dengan halus dan jelas.

Itulah dia Hwa-i Sin-kai, pangcu dari Hwa-i Kai-pang sendiri.

Kwi Eng dan Kwi Beng memandang kepada kakek yang baru datang ini dan melihat betapa semua tokoh Hwa-i Kai-pang membungkuk dengan hormat lalu mundur, memberi ruang kepada kakek kecil pendek yang baru datang.

Maka tahulah Kwi Eng bahwa kakek ini adalah Hwa-i Kai-pangcu, musuh besarnya yang telah membunuh suaminya.

Tak terasa lagi dua titik air mata berlinang keluar dari sepasang matanya yang memandang dengan penuh dendam dan kebencian.

"Engkaukah orangnya yang telah membunuh suamiku yang bernama Tio Sun?"

Kwi Eng bertanya, suara menggetar dan sepasang matanya berlinang air mata.

Kakek itu menarik napas panjang.

Dia menyesal bukan main bahwa urusan kai-pang dengan iblis betina itu ternyata telah merembet sampai jauh.

Dari sikap kedua orang ini saja dia sudah tahu bahwa kedua orang ini adalah pendekar-pendekar yang gagah, dan tentu datang terdorong oleh api dendam yang hebat dan hendak mengadu nyawa dengan dia!

"Apakah kami berhadapan dengan Tio-hujin?"

Tanyanya dengan suara halus.

"Benar, aku adalah isteri dari Tio Sun yang telah kau bunuh tanpa dosa itu. Sekarang aku datang hendak menebus kematian suamiku, kau bersiaplah!"

"Dan orang muda ini siapa?"

"Aku adalah kakak kembar dari adikku ini, dan akupun menyediakan selembar nyawaku untuk membalas dendam ini!"

"Ahh, sungguh aku orang tua merasa menyesal sekali. Akan tetapi tahukah kalian berdua mengapa Tio-taihiap itu sampai tewas? Karena dia membantu Panglima Lee Siang yang di lain fihak membantu iblis betina Kim Hong Liu-nio, musuh pribadi kami. Dan sesungguhnya, aku sendiri tidak mengerti bagaimana Tio-taihiap dapat tewas, padahal pukulan sakti yang kupergunakan belum juga menyentuh tubuhnya!"

Ucapan itu keluar dari hati yang sungguh-sungguh, akan tetapi bagi Kwi Eng dan Kwi Beng terdengar seperti ejekan atas kelemahan mendiang Tio Sun!

Memang hati kalau sudah diracuni dendam, adanya hanya benci dan kalau sudah benci, apapun yang diucapkan atau dibuatnya oleh orang yang dibencinya tentu saja selalu salah!

"Keparat keji, tua bangka sombong!"

Kwi Eng sudah menerjang ke depan den pedangnya menyerang dengan cepat dan kuat, disusul oleh kakak kembarnya yang juga sudah menyerang dengan pedangnya.

"Ah, terpaksa aku melayani kalian orang-orang muda yang tidak mau berpikir panjang!"

Ketua Hwa-i Kai-pang itu berkata penuh sesal sambil menggerakkan tongkatnya menangkis dan balas menyerang.

Dia sudah kesalahan tangan membunuh Tio Sun dalam suatu pertandingan yang jujur, dan kalau sekarang dia sekalian membunuh isteri pendekar itu dan kakak kembarnya dalam pertandingan yang jujur, bahkan dia membiarkan dirinya dikeroyok maka dia tidak khawatir akan mendapat teguran dan penyesalan dari tokoh-tokoh kang-ouw.

Dia dipaksa oleh mereka ini, bukan dia yang mencari permusuhan!

Apa boleh buat!

Dua orang kakak beradik kembar itu adalah putera-puteri dari pendekar wanita sakti Souw Li Hwa, akan tetapi mereka berdua itu tidak memiliki bakat yang terlalu baik sehingga kepandaian silatnya tidak menonjol.

Sedangkan mendiang Tio Sun saja yang lebih lihai dari isterinya dan adik iparnya masih belum mampu menandingi kakek yang amat lihai ini, apalagi kakak beradik kembar itu!

Maka dalam dua puluh jurus lebih saja, pedang mereka telah dibikin terpental oleh kakek sakti itu yang masih merasa segan dan tidak tega untuk membunuh mereka!

Melihat kelihaian kakek itu dan karena pedangnya sudah terpental, dua orang kakak beradik ini maklum bahwa lawan mereka terlalu tangguh, maka sambil berteriak nyaring Kwi Eng lalu mengeluarkan hui-to (pisau terbang) yang menjadi kepandaiannya yang istimewa, dan berkelebatanlah hui-to yang dilepasnya, beterbangan cepat menyambar ke arah tubuh ketua Hwa-i Kai-pang.

Melihat ini, Kwi Beng tidak mau tinggal diam dan diapun latu melepaskan pisau-pisau terbangnya.

"Hemmm...!"

Hwa-i Sin-kai berseru keras dan tongkatnya diputar sedemikian rupa sehingga tongkat itu berbentuk sinar yang bergulung-gulung sehingga merupakan benteng sinar yang melindungi tubuhnya.

Terdengar suara nyaring berkali-kali dan pisau-pisau terbang itu terlempar ke kanan kiri dan kesemuanya runtuh oleh tangkisan sinar tongkat itu.

Sampai habis seluruh pisau-pisau di kantung kedua orang kakak beradik itu, namun tidak ada sebatang pisaupun yang mengenai sasaran.

"Kakek iblis, kalau begitu biar aku mengadu nyawa denganmu!"

Kwi Eng berseru dengan putus asa dan dia lalu menyerang dengan kedua tangan kosong!

Sebetulnya, kakak beradik ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat tinggi, warisan dari Panglima The Hoo melalui ibu mereka, yaitu ilmu It-ci-san, semacam ilmu totok menggunakan sebuah jari tangan yang amat lihai, dan selain itu, juga mereka telah mewarisi ilmu silat tangan kosong Jit-goat Sin-ciang dan telah mengusai penggabungan tenaga Im dan Yang.

Akan tetapi, karena bakat mereka tidak terlalu besar, maka mereka hanya mampu menguasai sebagian saja dari ilmu-ilmu ini, maka biarpun kini keduanya menggunakan ilmu-ilmu itu untuk mengeroyok Hwa-i Sin-kai, mereka ini tidak dapat banyak berdaya.

Bahkan dalam waktu belasan jurus saja ujung tongkat di tangan kakek itu telah menghajar pinggul Kwi Beng sehingga pemuda ini bergulingan dan menotok pundak kiri Kwi Eng sehingga nyonya muda itupun terguling roboh.

"Iblis tua kejam, kau mampuslah!"

Kwi Beng membentak dan tiba-tiba tangan kanannya telah mencabut sebuah pistol peninggalan ayahnya.

Memang dia sudah mempersiapkan senjata api ini karena Kwi Beng bukanlah seorang yang bodoh, dan dia sudah menduga bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu tentu seorang yang berilmu tinggi sekali sehingga seorang pendekar seperti kakak iparnya itupun sampai tewas bertanding melawan kakek itu.

Maka ketika berangkat, dia sudah mempersiapkan senjata api ini, biarpun ayahnya meninggalkan pesan agar dia jangan sembarangan mempergunakan senjata maut itu kalau tidak terpaksa dan terancam keselamatannya.

Sekarang, dia memang agaknya tidak terancam keselamatannya, karena kakek itu agaknya tidak hendak membunuh dia dan adiknya, akan tetapi dia maklum bahwa adiknya tentu akan melawan terus sampai mati.

Daripada adiknya yang mati, lebih baik kakek itu!

"Dar-darrr...!"

Pistol itu meledak dua kali dan robohlah seorang kakek pengemis tingkat tiga dengan pundak dan lengan terluka.

Ternyata ketika tadi pemuda itu mencabut pistol, seorang kakek tingkat tiga segera menubruk ke depan pemuda itu sehingga pada saat pistol meledak, yang roboh adalah kakek ini dan bukan Hwa-i Sin-kai.

Kakek itu terkejut dan marah, tubuhnya menyambar ke depan dan begitu tongkatnya bergerak pistol di tangan Kwi Beng sudah terlempar jauh dan tangan pemuda itu berdarah!

Akan tetapi, Kwi Eng sudah datang menerjang dan Kwi Beng juga bangkit dan terus menerjang lagi dengan nekat.

Kakek itu mendengus dan kembali tongkatnya membuat keduanya roboh terguling.

"Orang-orang muda yang tak tahu diri! Kepandaian kalian terlalu rendah untuk berani kurang ajar terhadap kami!"

Kata Lo-thian Sin-kai.

"Lebih baik kalian pergi dan jangan membikin marah pangcu kami!"

Para pengemis kelihatan marah melihat betapa kakek pengemis yang kena tembakan tadi terluka parah, namun tidak membahayakan nyawanya.

"Biarlah, mereka ini perlu dihajar sampai tobat!"

Bentak Hwa-i Sin-kai sambil berdiri menanti dengan muka marah.

Dua orang muda itu bangkit lagi, menerjang lagi dan roboh lagi!

Sampai tiga empat kali mereka roboh dan kini para tokoh Hwa-i Kai-pang menertawakan mereka.

Mereka itu hanya seperti anak kecil yang nakal melawan ketua Hwa-i Kai-pang yang sakti.

Kalau ketua itu mau, tentu saja dengan amat mudahnya dia dapat membunuh kedua orang muda itu.

Muka Kwi Eng sudah bengkak terkena tamparan dan mulut Kwi Beng bahkan mengeluarkan darah karena bibirnya pecah, akan tetapi untuk ke sekian kalinya, kedua orang muda yang sudah nekat dan mata gelap itu menyerang lagi.

"Plakk! Dukk!"

Kini dua orang kakak beradik itu terjungkal karena tamparan dan hantaman tongkat dari kakek itu ditambah tenaga.

Kwi Eng terbanting keras dan kepalanya pening, sedangkan Kwi Beng terpukul tongkat kakinya sehingga ketika dia hangkit berdiri, dia terpincang.

Namun mereka berdua masih belum mau sudah.

Tekat mereka adalah untuk melawan sampai mati!

Pada saat itu, terdengar suara merdu dan nyaring, suara seorang wanita muda.

"Sungguh tidak tahu malu, kakek-kakek tua bangka menghina orang-orang muda mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa!"

Semua orang terkejut dan menengok.

Yang bicara itu adalah seorang gadis yang berwajah cantik manis, berpakaian ringkas sederhana, namun wajahnya cerah dan sinar matanya lincah, mulutnya yang manis tersenyum mengejek ketika dia memandang kepada para kakek pengemis tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang itu.

Di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang tubuhnya tinggi tegap, wajahnya serius dan agaknya pemuda ini adalah adik dari dara itu.

Dara itu tidak remaja lagi, tentu usianya sudah kurang lebih dua puluh lima tahun, sedangkan pemuda itu berusia antara dua puluh tiga tahun.

Seperti juga si gadis, pemuda ini berpakaian ringkas sederhana tidak membawa senjata, dan kelihatannya seperti seorang pemuda petani biasa saja, hanya sepasang matanya yang tenang itu mengeluarkan sinar tajam mengejutkan.

Mendengar ucapan gadis itu, seorang tokoh pengemis tingkat tiga menjadi marah.

Kakek pengemis tingkat tiga ini tadi secara diam-diam sudah memperhatikan gerakan dua orang yang bertempur melawan ketuanya itu dan dia tahu bahwa tingkat kepandaian kedua orang itu belum begitu tinggi, bahkan dia sendiripun berani menghadapi seorang di antara mereka.

Dia merasa penasaran mengapa ketuanya maju sendiri melayani segala macam lawan selemah itu, tidak mewakilkan kepada para tokoh yang lebih rendah tingkatnya.

Kini, melihat gadis yang berani mengatakan bahwa mereka mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa, dia menjadi marah sekali, menganggap kata-kata itu menghina.

Kini dia memperoleh kesempatan untuk mewakili ketuanyan, mendahului ketuanya itu dia menegur.

"Bocah bermulut lancang, mau apa kau buka mulut mencampuri urusan kami?"

Gadis itu tersenyum dan melirik kepada pengemis tingkat tiga ini.

"Aku telah mendengar dalam perjalanan bahwa kakek jembel dari Hwa-i Kai-pang ditandai tingkatnya dengan tumpukan buntalan di punggungnya. Agaknya yang lebih banyak tumpukan buntalannya berarti lebih pandai mengemis, dan kau ini mempunyai buntalan tiga. Lumayan juga kepandaianmu mengemis, akan tetapi kalau engkau mengemis kepadaku, aku tidak akan sudi memberi apa-apa karena wajahmu tidak menimbulkan iba seperti pengemis tulen!"

Pengemis tingkat tiga itu marah bukan main.

Dia adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, yaitu bukan lain adalah Hek-bin Mo-kai, tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang yang berangasan itu.

Dia dihina terang-terangan oleh gadis ini, maka dia menjadi marah sekali.

Kulit tubuhnya yang lain, yang biasanya berwarna putih itu menjadi merah, sedangkan mukanya yang hitam menjadi makin hitam ketika dia mengetukkan tongkatnya ke atas tanah.

Semua orang memandang tegang, bahkan Kwi Eng dan Kwi Beng yang masih nanar itu juga memandang, tidak tahu siapa adanya wanita dan pria yang datang ini.

"Bocah lancang mulut! Kalau tidak ingat bahwa engkau seorang wanita muda yang lemah tentu kelancangan mulutmu itu akan kautebus mahal sekali!"

Gadis itu ternyata lincah den jenaka sekali.

Dia tersenyum manis dan memandang kepada si muka hitam dengan sinar mata berseri-seri.

"Ah, kaum pengemis agaknya mengenal harga juga, ya? Berapa mahalkah tebusan kelancanganku? Sebungkus sayuran sisa? Ataukah beberapa keping uang tembaga?"

Bukan hanya Hek-bin Mo-kai yang marah, akan tetapi semua tokoh Hwa-i Kai-pang menjadi marah sekali.

Mereka telah berkali-kali mengalami penghinaan wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio itu, bahkan Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai, Dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat tiga itu, juga Lo-thian Sin-kai tokoh tingkat dua, telah tidak berhasil mengalahkan seorang wanita muda cantik.

Kini muncul seorang wanita muda cantik lain yang datang-datang telah mengejek dan memandang rendah, tentu saja hati mereka menjadi panas sekali.

Lebih-lebih Hek-bin Mo-kai yang memang berwatak berangasan.

Dia pernah dikalahkan oleh Kim Hong Liu-nio.

Kekalahan pahit sekali karena dia sebagai tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang yang tersohor, sampai kalah oleh seorang wanita muda!

Sungguh merupakan suatu hal yang membikin merosot kebesaran namanya, bahkan mencemarkan namanya sebagai seorang tokoh.

Maka kini, menghadapi seorang wanita muda lagi yang berani bersikap lancang dan memandang rendah, tentu saja dia menjadi marah bukan main.

"Perempuan kurang ajar dan lancang! Apakah kau bosan hidup? Siapakah engkau?"

Bentaknya.

Akan tetapi gadis cantik itu tersenyum dan melirik ke arah Hwa-i Sin-kai yang sejak tadi hanya berdiri memandang, lalu dia, berkata.

"Aku tidak ada waktu untuk bicara dengan segala macam jembel rendahan. Eh, engkau kakek pengemis yang tidak menggendong buntalan, agaknya engkau yang menjadi kepala di sini. Benarkah?"

Melihat sikap gadis itu bicara seperti itu kepada ketua mereka, semua pengemis menjadi makin marah, akan tetapi Hwa-i Sin-kai mengangkat tangan kirinya ke atas dan semua suara bising dari para pengemispun terhenti sama sekali.

Suasana menjadi hening dan menegangkan, sedangkan Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng hanya memandang dengan heran.

"Nona, benar dugaanmu bahwa aku adalah pangcu dari Hwa-i Kai-pang. Nona siapakah dan..."

"Pangcu, anggap saja aku dan adikku ini adalah orang-orang yang kebetulan lewat di sini dan menyaksikan perbuatan yang tidak bagus dari Hwa-i Kai-pang! Engkau adalah ketua kai-pang dari perkumpulan pengemis yang sudah tersohor di daerah ini, yang menurut kabar adalah sebuah perkumpulan pengemis terbesar. Akan tetapi melihat betapa seorang pangcu yang besar menghina dua orang muda yang tidak berdaya, sungguh merupakan kenyataan yang sebaliknya, bahwa Hwa-i Kai-pang hanyalah merupakan sekumpulan jembel yang suka meghina orang di belakang layar, akan tetapi di atas panggung pura-pura mohon belas kasihan orang dengan mengemis!"

Kembali terdengar suara berisik ketika para pengemis itu menjadi marah mendengar ucapan ini, akan tetapi pangcu itu mengangkat tangan dan semua pengemis itu menjadi diam.

Pangcu ini bukan orang sembarangan dan berbeda dengan para pembantu dan anak buahnya, dia yang berpemandangan tajam dapat mengenal bahwa pemuda dan gadis yang datang ini bukan orang-orang muda sembarangan maka berani bersikap seperti itu.

Jangan-jangan mereka ini, seperti juga Kim Hong Liu-nio, adalah orang-orang muda sakti yang diutus oleh Kim Hong Liu-nio untuk mengacau, pikirnya.

"Nona muda, mengambil kesimpulan dan mengeluarkan pendapat atas sesuatu hal yang belum diselidiki lebih dulu keadaannya merupakan tindakan yang amat coroboh. Ketahuilah bahwa dua orang muda ini datang sendiri ke sini untuk menantang dan mengacau. Setelah mercka manantang kami dan aku maju memenuhi permintaan mereka sehingga terjadi pertandingan ini, bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kami menghina mereka? Kaulihat sendiri tadi, bukankah mereka berdua yang mengeroyok aku seorang tua?"

Gadis itu agaknya tidak dapat membantah hal ini.

Memang tadi dia melihat betapa kakek ini dikeroyok dua, hanya saja tingkat kepandaian dua orang muda itu jauh sekali di bawah tingkat kakek ini sehingga jangankan baru dikeroyok oleh mereka berdua, biar ditambah lagi sepuluh orang yang tingkat kepandaiannya seperti kedua orang muda itupun tak mungkin akan dapat menandingi kakek itu.

Maka dia lalu menoleh dan memandang kepada Kwi Eng sambil tersenyum.

"Enci yang baik, mengapa kalian berdua yang belum memiliki kepandaian berani menandingi ketua jembel ini dan mencari celaka sendiri?"

Pertanyaan itu lebih menyerupai teguran dan Kwi Beng yang sejak tadi sudah melihat dan mendengarkan dengan hati panas, menjadi makin penasaran.

Dalam percakapan itu dia merasa betapa dia dan adiknya amat direndahkan orang, dan diapun memiliki keangkuhan, dia tidak mengharapkan bantuan siapapun juga dalam urusan pribadi ini, apalagi karena dia sama sekali tidak mengenal dara yang cantik dan pemuda yang pendiam itu.

"Kami tidak membutuhkan bantuan siapapun! Hayo, tua bangka kejam, lanjutkan pertempuran kita tadi, kami tidak akan berhenti sebelum nyawa kami putus!"

Dan Kwi Beng sudah menyerang lagi dengan nekat, mengirim pukulan dari jurus It-goat Sin-ciang yang cukup dahsyat.

"Wuuuuuttt... plak!"

Betapapun dahsyatnya pukulan itu, akan tetapi karena tenaga sin-kangnya jauh di bawah tingkat kakek itu, maka sekali tangkis saja, ketua yang lihai itu kembali membuat tubuh Kwi Beng terguling!

Pemuda yang nekat ini sudah bergerak lagi, kini melakukan penyerangan dengan Ilmu Totok It-ci-san, yaitu kedua tangannya mengeluarkan jari telunjuk untuk menotok jalan darah lawan.

Akan tetapi, kembali kakek itu meggerakkan tangan kirinya, menangkis den mendorong dan tubuh Kwi Beng terjungkal, kini terbanting agak keras sehingga ketika bangkit kembali terhuyung-huyung!

Melihat ini, Kwi Eng bergerak hendak menerjang, akan tetapi gadis cantik itu sudah memegang lengannya.

"Enci, tidak ada perlunya membunuh diri! Dan orang muda ini benar-benar amat gagah, akan tetapi keberanian yang hanya nekat den membabi-buta, dipakai tanpa perhitungan sudah bukan merupakan kegagahan lagi melainkan merupakan suatu ketololan! Mundurlah kau, orang muda yang berhati baja!"

"Nona, suamiku telah dibunuh mati tanpa kesalahan oleh ketua para jembel ini. Apakah kau menganggapnya tidak benar kalau aku dan kakakku ini mengadu nyawa untuk membalas dendam?"

Kwi Eng berusaha melepaskan tangannya yang dipegang, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia merasa betapa lengannya yang dipegang oleh gadis cantik itu sama sekali tidak dapat dia gerakkan, apalagi hendak melepaskan diri dari pegangan itu.

Mendengar ini, sepasang mata gadis cantik itu mengeluarkan sinar berkilat ketika dia memandang kepada Hwa-i Sin-kai, sedangkan pemuda pendiam yang diakuinya sebagai adiknya tadi kinipun memandang kepada kakek pengemis itu dengan alis berkerut.

"Ah, kiranya begitukah? Pangcu, kau tadi mengatakan bahwa dua orang saudara ini datang untuk menantang dan mengacau, akan tetapi engkau sama sekali tidak mengatakan mengapa mereka berbuat demikian. Kalau engkau telah membunuh suami enci ini secara sewenang-wenang, tidak mengherankan kalau mereka kini datang untuk membelas dendam. Dan engkau mengandalkan kepandaian silatmu yang tidak seberapa itu, apakah kau juga ingin membunuh mereka ini?"

Mendengar ucapan yang memandang rendah kepada ketuanya itu, Hek-bin Mo-kai tidak dapat menahan kesabarannya lagi.

"Bocah lancang dan kurang ajar, engkau benar-benar bosan hidup! Pangcu, ijinkan aku menghajarnya!"

Dan tanpa menanti ijin dari ketuanya, Hek-bin Mo-kai sudah menggerakkan tongkatnya menotok ke arah leher gadis cantik itu dengan kecepatan yang luar biasa sekali sehingga tongkatnya mengeluarkan bunyi mengiuk.

Kwi Beng adalah seorang pemuda yang berwatak gagah.

Biarpun keadaan dirinya sudah babak-belur dan luka-luka, namun melihat gadis yang datang untuk membela dia dan adiknya itu diserang secara demikian hebatnya dan dia lihat berada dalam bahaya, maka dia lalu meloncat dan memapaki serangan kakek pengemis bermuka hitam itu untuk melindungi gadis yang diserangnya.

"Wuuuuttt... plakkk... desss!"

Kakek bermuka hitam ini terhuyung ke belakang dan hampir saja Kwi Beng terbanting kalau saja lengannya tidak cepat disambar oleh gadis cantik itu.

Tadi ketika dia menerjang dan memapaki tongkat yang menyerang gadis itu, dia memang berhasil menangkisnya, akan tetapi tangkisan tangannya itu membuat lengannya terasa nyeri bukan main dan tongkat yang tadinya menyerang gadis itu dan tertangkis, kini membalik dan dengan kemarahan meluap, pengemis bermuka hitam itu meluncurkan ujung tongkatnya menusuk ke arah dada Kwi Beng.

Akan tetapi pada saat itu, gadis yang ditolong oleh Kwi Beng menggerakkan tangannya mendorong dan kakek bermuka hitam itu terhuyung ke belakang sedangkan Kwi Beng yang juga terhuyung dan hampir terbanting itu diselamatkan oleh tangan kecil halus yang telah menangkap lengannya.

"Saudara Souw Kwi Beng, tenanglah, dan serahkan jembel-jembel ini kepadaku."

Tiba-tiba gadis itu berkata halus.

Kwi Beng terkejut bukan main dan membelalakkan mata, memandang tajam.

Memang tadi dia merasa seperti mengenal gadis ini, akan tetapi dia sudah lupa lagi di mana dan dalam keadaan marah dan sedang berhadapan dengan ketua kai-pang itu, dia tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan gadis ini.

Sekarang, setelah dia memandang dengan penuh perhatian, barulah dia teringat.

"Adik Mei Lan...!"

Katanya meragu, seperti bertanya apakah benar gadis ini adalah Mei Lan, gadis cilik yang pernah dijumpainya sebelas tahun yang lalu, ketika gadis itu berusia empat belas tahun dan ketika itupun gadis ini pernah menolongnya, yaitu ketika dia, Tio Sun dan yang lain-lain sedang berada di Lembah Naga dan tertawan oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li beserta anak buah mereka (baca cerita Dewi Maut).

Gadis cantik itu memandang kepadanya, tersenyum dan mengangguk membenarkan.

Memang gadis itu adalah Yap Mei Lan, puteri tunggal dari pendekar sakti Yap Kun Liong.

Di dalam cerita Dewi Maut telah dituturkan bagaimana Mei Lan sampai berpisah dari ayahnya.

Yap Mei Lan adalah puteri tunggal dari Yap Kun Liong bersama isterinya yang bernama Pek Hong Ing.

Akan tetapi, sesungguhnya ibu kandung Mei Lan bukanlah Pek Hong Ing, melainkan seorang wanita bernama Liem Hui Sian.

Rahasia ini tidak diketahui oleh Mei Lan yang menganggap Pek Hong Ing adalah ibu kandungnya.

Pada suatu hari, dalam percekcokan mulut antara Cia Giok Keng, puteri dari ketua Cin-ling-pai, dan Pek Hong Ing, Mei Lan mendengar akan rahasia itu dan larilah dia meninggalkan rumah ibunya itu.

Dalam pelariannya karena kecewa dan berduka ini, bertemulah dia dengan kakek sakti Bun Hoat Tosu dan menjadi murid kakek sakti yang sudah tua renta itu.

Kemudian, ketika kakek Bun Hoat Tosu meninggal dunia, dia "dioperkan"

Oleh kakek itu kepada seorang kakek lain yang sakti dan aneh, yaitu Kok Beng Lama sehingga dia menjadi murid Kok Beng Lama yang telah ditinggali ilmu-ilmu oleh Bun Hoat Tosu untuk disampaikan kepada Mei Lan sesuai dengan "taruhan"

Antara dua orang kakek sakti ini ketika mereka berdua bertanding catur!

Demikianlah, Mei Lan lalu menjadi murid Kok Beng Lama bersama pemuda pendiam itu yang bukan lain adalah Lie Seng, putera dari mendiang Lie Kong Tek dan Cia Giok Keng, puteri ketua Cin-ling-pai.

Semua ini telah diceritakan dalam cerita Dewi Maut.

Selama sebelas tahun lebih, Mei Lan dan Lie Seng pergi meninggalkan keluarga dan dunia ramai, dibawa oleh Kok Beng Lama ke Pegunungan Himalaya di dunia barat, di mana kedua orang anak ini digembleng oleh kakek sakti itu.

Karena mewarisi ilmu-ilmu dari mendiang Bun Hoat Tosu dan Kok Beng Lama, maka kedua orang muda itu kini menjadi orang-orang yang memiliki kepandaian luar biasa sekali, hampir semua kepandaian Kok Beng Lama diwarisi oleh mereka, demikian pula ilmu-ilmu yang paling hebat dari Bun Hoat Tosu telah mereka warisi melalui Kok Beng Lama.

Mereka berdua baru saja tiba dari Pegunungan Himalaya karena guru mereka menyatakan bahwa tiba saatnya bagi mereka untuk turun gunung dan mencari keluarga mereka.

Dan secara kebetulan, mereka melihat ribut-ribut di dalam hutan itu lalu cepat menghampiri.

Tentu saja begitu melihat Kwi Beng, Mei Lan segera teringat kepada pemuda ini.

Tidak sukar untuk mengenal Kwi Beng, pemuda yang tampan, gagah dan juga memiliki ciri-ciri khas pada mata dan rambutnya.

Maka, tentu saja tanpa diminta, Mei Lan lalu turun tangan membantu Kwi Beng dan Kwi Eng yang belum dikenalnya, akan tetapi melihat persamaan antara wanita ini dengan Kwi Beng, dia dapat menduga bahwa wanita itu tentulah saudara kembar dari Kwi Beng, seperti yang pernah didengarnya dahulu.

Setelah Kwi Beng kini mendapat kenyataan bahwa gadis cantik itu adalah Yap Mei Lan, puteri dari pendekar sakti Yap Kun Liong, tentu saja dia menjadi girang sekali dan tentu saja dia tidak lagi merasa enggan dibantu, karena Yap Mei Lan bukanlah "orang luar", maka cepat dia berkata.

"Adik Mei Lan, jembel tua bangka itu telah membunuh ipuku, suami dari adikku yang bernama Tio Sun!"

"Apa...?"

Mei Lan terkejut bukan main.

Tentu saja dia masih ingat kepada Tio Sun, pendekar yang gagah perkasa, yang dahulu pernah menyerbu di Lembah Naga bersama Kwi Beng dan juga telah tertawan di Lembah Naga.

Jadi, Tio Sun telah menjadi suami adik kembar dari Kwi Beng dan Tio Sun telah terbunuh oleh ketua Hwa-i Kai-pang?

Tentu saja berita ini membuatnya terkejut bukan main.

"Pangcu, benarkan apa yang dikatakan oleh sahabatku itu? Bahwa engkau telah membunuh seorang pendekar seperti Tio Sun?"

Mei Lan bertanya sambil melangkah maju mendekati ketua Hwa-i Kai-pang itu.

Ketua Hwa-i Kai-pang menegakkan kepalanya dan sambil memandang tajam dia menjewab.

"Mendiang Tio-taihiap mencari kematiannya sendiri. Kami bermusuhan dengan seorang iblis betina di rumah Panglima Lee Siang, akan tetapi dia membela iblis betina itu sehingga bentrok dengan kami. Dalam pertempuran antara dia dan kami, dia kalah dan tewas, sama sekali kami tidak bermaksud membunuhnya karena antara dia dan kami tidak ada permusuhan apa-apa."

Mei Lan mengerutkan alisnya.

Dia sudah mendengar berita tentang pengaruh Hwa-i Kai-pang yang tentu saja menjadi agak sewenang-wenang, seperti dimiliki oleh semua golongan yang berpengaruh dan ditakuti.

Akan tetapi kalau memang Tio Sun tewas dalam pertandingan yang adil, maka tewas dalam pertandingan merupakan hal yang lumrah bagi seorang pendekar.

Betapapun juga, dia sudah mengenal siapa Tio Sun, seorang pendekar gagah perkasa yang budiman, maka andaikata terdapat perselisihan faham antara pendekar itu dengan para pengemis ini, sudah dapat dipastikan bahwa para pengemis inilah yang bersalah.

Betapapun juga, dia harus membela Kwi Beng!

Tiba-tiba Lie Seng, pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang sejak tadi diam saja, menyentuh lengan Mei Lan sambil berkata.

"Lan-ci, biarkan aku bicara sebentar dengan dia."

Mei Lan memandang heran karena adik seperguruannya ini jarang sekali mau bicara kalau tidak penting, maka kini tentu mempunyai alasan kuat untuk bicara.

Dia mengangguk.

Lie Seng yang bersikap tenang sekali itu melangkah maju, memandang kepada kakek yang bertubuh pendek kurus itu, lalu berkata.

"Pangcu, aku pernah mendengar banwa pangcu adalah seorang kenalan baik dari ketua Cin-ling-pai. Benarkah itu?"

Sepasang mata pangcu itu terbelalak.

"Tentu saja! Bahkan kami telah berhutang budi kepada Cia-locianpwe, pangcu dari Cin-ling-pai. Orang muda, mengapa engkau bertanya demikian?"

"Ketahuilah bahwa aku adalah cucu luar dari ketua Cin-ling-pai."

"Ahh...!"

"Bukan itu saja, akan tetapi mendiang Tio Sun yang kau bunuh itupun merupakan sahabat baik dari kakekku. Mendiang Tio Sun terkenal sebagai seorang pendekar yang gagah dan budiman, oleh karena itu, sungguh amat mengherankan mengapa engkau, yang mengaku kenal dengan kakekku sampai membunuhnya!"

Kakek itu menarik napas panjang.

"Aku sendiri masih bingung memikirkan. Ketika aku menantang wanita iblis itu, yang kutantang tidak muncul, sebaliknya yang muncul adalah Tio-taihiap, dan kami memang bertanding, akan tetapi sebelum aku menyentuhnya, dia telah roboh dan tewas..."

"Jembel sombong! Engkau terlalu menghina suamiku! Suamiku tidak selemah itu!"

Kwi Eng berteriak.

"Mari kita mengadu nyawa, aku tidak akan berhenti sebelum dapat membalas kematian suamiku!"

Hwa-i Sin-kai adalah seorang pangcu, maka karena sejak tadi orang-orang muda itu menghinanya, dia menjadi marah juga.

"Aku sudah bicara, dan bagaimanapun juga, tidak kusangkal bahwa aku telah bertanding melawan Tio Sun dan dia roboh dan tewas dalam pertandingan itu. Sekarang, aku siap mempertanggungjawabkan perbuatanku dan kalau ada yang hendak menuntut balas, tentu saja akan kulayani dengan baik!"

"Bagus!"

Mei lan berseru.

"Kalau begitu, dengarlah baik-baik, pangcu dari Hwa-i Kai-pang. Aku datang mewakili keluarga Tio untuk menuntut balas. Majulah dan mari kita main-main sebentar, hendak kulihat sampai di mana kelihaian orang yang suka mengandalkan kepandaian untuk menghina dan membunuh orang lain yang tidak berdosa."

"Kalian bocah-bocah yang sombong dan tidak tahu diri!"

Hek-bin Mo-kai yang sejak tadi sudah menahan kemarahannya itu kini membentak dan meloncat ke depan.

"Siapa sih yang takut kepada kalian? Jelas bahwa orang she Tio itu bersalah kepada ketua kami dan kalau dia mampus, hal itu adalah kesalahannya sendiri. Kalau kalian mau menuntut balas, atau mau mengikutinya pergi ke neraka, majulah!"

Dengan sikapnya yang galak, pengemis bermuka hitam tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang itu telah berdiri di depan Mei Lan, dengan tongkatnya melintang di depan dadanya, matanya kemerahan dan mukanya makin hitam karena marah.

Mei Lan sudah ingin menandinginya, akan tetapi Lie Seng melangkah maju dan berkata.

"Suci, biarlah aku menghadapinya."

Mei Lan mengangguk dan melangkah mundur.

Lie Seng lalu mendekati pengemis muka hitam itu dan dengan kedua tangan kosong pemuda ini berdiri seenaknya, sama sekali tidak memasang kuda-kuda seperti orang hendak bertanding.

"Mulailah, lo-kai!"

Hek-bin Mo-kai yang sudah marah itu ingin sekali membersihkan mukanya dan menebus kekalahan-kekalahan yang pernah dideritanya, maka kini dia tanpa sungkan-sungkan lagi sudah menggerakkan tongkatnya dan menerjang dengan dahsyatnya, menghantamkan ujung tongkatnya itu ke arah kepala pemuda yang tenang itu.

Gerakannya demikian dahsyat sehingga tongkat itu mengeluarkan suara dan angin menyambar ke arah Lie Seng sebelum tongkatnya tiba.

Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng kini sudah berdiri di pinggir sambil menonton dengan hati tegang.

Mereka berdua melihat betapa tongkat itu menyambar dahsyat dan kelihatan pemuda itu masih enak-enak saja sampai tongkat sudah menyambar dekat sekali dengan kepalanya.

"Wuuuttt...!"

Sedikit saja Lie Seng miringkan kepalanya dan tongkat itu menyambar 1uput.

Melihat ini, Hek-bin Mo-kai terkejut.

Pemuda ini tenang bukan main dan gerakannya yang hanya sedikit sekali itu, namun cukup berhasil, membuktikan bahwa pemuda itu benar-benar seorang ahli silat tingkat tinggi.

Makin tinggi tingkat ilmu silat seseorang, makin tenanglah gerakannya karena dia tidak lagi mempergunakan kembangan-kembangan gerakan yang tidak ada gunanya, dan setiap gerakannya telah diperhitungkan dengan masak-masak sehingga setiap gerakan selalu mendatangkan hasil.

"Sambutlah ini!"

Hek-bin Mo-kai membentak dan kini tongkatnya diputar cepat sehingga lenyaplah bentuk tongkatnya, berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung dan bagaikan ombak samudra, sinar bergulung-gulung ini menyerbu ke arah Lie Seng.

Namun pemuda ini tidak menjadi bingung menghadapi serbuan yang hebat itu.

Dia tidak terpengaruh oleh sinar yang bergulung-gulung itu, melainkan memandang tajam dan dia dapat melihat di mana tongkat bersembunyi di dalam serangan itu.

Dia tidak memperdulikan bayangan tongkat yang banyak dan membentuk gulungan sinar, melainkan memandang ke arah tongkat yang dapat dia ikuti gerakannya, maka ketika tongkat itu menusuk ke arah lambungnya, dia menggeser kaki dan miringkan tubuh sehingga tongkat lewat di dekat lambungnya, kemudian secepat kilat menyambar, tangan kirinya yang dibuka membacok dari atas ke arah tongkat lawan itu.

"Krakkkk!"

Tongkat itu patah menjadi dua potong!

Wajah hitam dari Hek-bin Mo-kai menjadi agak pucat, matanya terbelalak memandang tongkat di tangannya yang tinggal sepotong, sedangkan telapak tangannya berdarah!

Tak pernah dia dapat membayangkan betapa tongkatnya yang dianggapnya sebagai senjata pusaka itu dapat dipatahkan lawan hanya dengan hantaman telapak tangan miring!

Padahal, senjata tajampun tidak akan mampu mematahkannya.

Kekagetan dan keheranannya berubah menjadi kemarahan dan sambil mengeluarkan suara gerengan, dia menubruk lagi dengan tongkat sepotong.

Tongkat yang menjadi pendek itu menghantam kepala, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar.

Serangan maut!

"Plak!

Desss...

bruuukkk!"

Cepat sekali terjadinya hal itu.

Serangan kakek muka hitam itu disambut dengan elakan dan tangkisan yang dilanjutkan dengan cengkeraman pada tengkuk kakek itu dan sekali dia membuat gerakan melemparkan, tubuh Hek-bin Mo-kai terlempar sampai jauh, tidak kurang dari sepuluh meter dan terbanting di atas tanah!

Semua orang memandang bengong, karena tidak mengira bahwa pemuda itu akan dapat mengalahkan Hek-bin Mo-kai sedemikian mudahnya.

Akan tetapi, Hek-bin Mo-kai yang terbanting itu tidak mengalami luka berat, hanya agak nanar saja dan pinggulnya terasa nyeri.

Dia cepat meloncat berdiri dengan muka yang makin hitam, dan pada saat temannya, Tiat-ciang Sin-kai, juga tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang, menerjang maju dengan tongkatnya menyerang Lie Seng, dia sendiripun sudah lari menghampiri dan membantu temannya ini mengeroyok Lie Seng!

"Jembel-jembel busuk!

Pengecut yang main keroyok!"

Kwi Beng memaki-maki melihat betapa Lie Seng yang bertangan kosong itu dikeroyok dua, dan dia sudah maju hendak membantu.

Akan tetapi, Mei Lan mencegahnya.

"Biarkan saja, saudara Souw. Sute tidak akan kalah."

Dan memang apa yang dikatakan oleh Mei Lan ini merupakan kenyataan.

Lie Seng masih tetap tenang saja, berdiri tanpa bergerak, bahkan tidak memasang kuda-kuda karena dia berdiri tegak dengan kedua tangan tergantung di kanan kirinya, hanya matanya saja dengan tajam memandang kepada dua orang pengemis tua yang sudah datang menyerangnya dari kanan kiri itu.

Tiat-ciang Sin-kai maklum akan kelihaian pemuda yang dengan mudah mengalahkan temannya itu, Maka kini dia menyerang dengan tongkatnya di tangan kanan, ditusukkan ke arah dada lawan sedangkan tangan kirinya yang ampuh dan keras seperti besi sehingga dia mendapat julukan Tiat-ciang (Si Tangan Besi), telah menyambar pula dengan pukulan dahsyat ke arah pelipis kanan lawan.

Dan pada saat itu pula, Hek-bin Mo-kai yang sudah menyambar sebatang tongkat dari seorang pengemis yang berada di dekatnya, telah menyerang pula sambil menggerakkan tongkatnya dengan jurus dari Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat.

Tongkatnya membentuk lingkaran-lingkaran.

Seperti tadi, Lie Seng hanya bergerak sedikit saja dan serangan Tiat-ciang Sin-kai telah dapat dielakkan, sedangkan serangan si muka hitam itu dibiarkannya saja, hanya setelah dekat, sekali pemuda itu menggerakkan kakinya, dia telah meloncat dan tubuhnya lenyap dari depan kedua orang pengeroyoknya itu!

Dua orang kakek pengemis itu terkejut dan karena merasa betapa angin loncatan pemuda tadi menyambar ke arah belakang mereka, keduanya cepat membalikkan tubuh dan benar saja, pemuda itu telah berada di belakang mereka, berdiri tegak dan tenang.

Kembali mereka menyerbu dengan gerakan yang lebih dahsyat lagi karena mereka sudah menjadi marah sekali.

Akan tetapi sekali ini, Lie Seng tidak mengelak, melainkan dia malah maju memapaki!

Dua pasang kaki dan tangannya bergerak secara aneh dan semua orang melihat betapa dua orang kakek pengemis itu terpelanting seperti disambar petir, roboh ke kanan kiri terdorong oleh hawa pukulan dan tendangan yang amat cepat itu!

Melihat ini, Lo-thian Sin-kai, tokoh tingkat dua dari Hwa-i Kai-pang, menjadi marah sekali.

"Bocah sombong, sambut ini!"

Bentaknya dan dia menyerang dengan tangan kirinya yang menampar keras.

Tamparan ini bukanlah tamparan biasa, melainkan tamparan yang dilakukan dengan pengerahan sin-kang sehingga mengeluarkan angin keras dan tenaga pukulannya amat ampuh.

Melihat ini, Lie Seng tidak mengelak melainkan mengangkat tangan menangkis.

"Dukkk!"

Dua lengan bertemu dan Lo-thian Sin-kai mengeluarkan seruan kaget karena kuda-kuda kakinya tergempur, membuat dia hampir terpelanting kalau saja dia tidak cepat menggunakan tongkatnya ditekan di atas tanah sehingga dia dapat memulihkan keseimbangan tubuhnya.

Marahlah kakek ini, juga dua orang kakek tingkat tiga itu sudah bangkit kembali.

Tanpa banyak cakap lagi, Lo-thian Sin-kai menggerakkan tongkatnya menyerang dengan Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat, sedangkan Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai juga sudah maju.

Kini Lie Seng dikeroyok tiga!

Akan tetapi pemuda itu tetap tenang saja dan Mei Lan juga masih menonton sambil tersenyum.

Gadis ini berpikir bahwa yang menjadi musuh-musuh dari dua orang saudara kembar she Souw ini adalah Hwa-i Sin-kai pribadi, tidak ada sangkut-pautnya dengan perkumpulan Hwa-i Kai-pang, akan tetapi ternyata kini pangcu itu diam saja dan membiarkan anak buahnya yang turun tangan.

Oleh karena itu, dia mengerling ke arah ketua itu yang memandang dengan alis berkerut melihat betapa pembantu-pembantu utamanya jelas bukan tandingan pemuda perkasa itu.

"Seorang gagah selalu mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya, akan tetapi sungguh aneh, seorang pangcu dari perkumpulan besar dan terkenal seperti Hwa-i Kai-pang ternyata berlindung kepada anak buahnya!"

Merahlah wajah ketua Hwa-i Kai-pang mendengar ucapan ini.

Memang sejak tadi dia sudah hendak turun tangan sendiri, akan tetapi melihat para pembantunya sudah turun tangan untuk membelanya, dia mendiamkannya saja karena diapun ingin melihat sampai di mana kelihaian dua orang muda yang datang membantu dua orang saudara kembar yang nekat itu.

Terkejutlah dia tadi melihat gerakan-gerakan Lie Seng dan selagi dia melihat tiga orang pembantu utamanya mengeroyok pemuda itu, kini gadis cantik yang menjadi suci dari pemuda itu telah menyindirnya.

Maka dia lalu melangkah maju.

"Nona, kalau kau hendak mewakili keluarga Tio, majulah. Siapa takut kepadamu?"

Mei Lan tersenyum.

"Bagus, sudah kutunggu-tunggu ini, pangcu. Nah, aku sudah siap menghadapi tongkat bututmu. Mulailah!"

"Sambutlah, gadis sombong!"

Kakek itu menggerakkan tongkatnya dan terdengar suara mencicit nyaring keluar dari sinar tongkat yang menyambar gadis itu.

Mei Lan terkejut juga dan cepat mengelak.

"Trakk!"

Batang pohon yang berada di belakang gadis itu patah terkena sambaran hawa pukulan tongkat itu!

Maklumlah Mei Lan bahwa ketua ini benar-benar seorang jagoan yang lihai, maka diapun dengan tenang lalu menghadapinya dengan waspada.

Memang Hwa-i Sin-kai, ketua dari perkumpulan pengemis itu sudah marah sekali melihat para pembantunya kalah, Maka begitu menyerang, dia telah mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa dan mengerahkan sin-kangnya sehingga sambaran tongkatnya mendatangkan angin pukulan yang amat ganas.

Akan tetapi, serangan pertama tadi dapat dihindarkan oleh gadis itu secara mudah saja, maka dia menjadi penasaran dan sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor singa, dia sudah menerjang lagi dengan dahsyat.

Dan terjadilah pertandingan yang membuat Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng melongo penuh kekaguman.

Gadis cantik itu tiba-tiba saja lenyap tubuhnya dan berubah menjadi bayangan yang sukar diikuti pandang mata, bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar tongkat kakek itu yang sudah menyerang dengan hebatnya, karena kakek itu mengeluarkan ilmunya Ta-houw-sin-ciang yang mengeluarkan hawa dingin, pukulan-pukulan tangan kiri yang amat ampuh, Untuk membantu Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Namun, gadis itu seperti bertubuh kapas saja, begitu ringan dan setiap kali disambar tongkat, seolah-olah angin sambaran itu sudah mendorongnya sehingga selalu tongkat itu sendiri tidak dapat mengenai tubuhnya.

Dan hebatnya, setiap kali tangan yang kecil dan halus itu menangkis pukulan Ta-houw-sin-ciang yang dingin sekali, nampak uap putih keluar dari pertemuan kedua tangan mereka, dan kakek itu merasa betapa tangan kirinya menjadi panas seperti dibakar!

Bukan itu saja, malah kakek itu selalu merasa lengannya tergetar hebat pada setiap pertemuan tangan.

Hwa-i Sin-kai sesungguhnya bukanlah orang sembarangan.

Dia memiliki ilmu kepandaian yang sudah amat tinggi tingkatnya, sehingga dia boleh dibilang merupakan seorang datuk ilmu sliat di dunia kang-ouw.

Namanya dikenal luas oleh semua jago-jago silat, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam.

Ilmu tongkatnya yang disebut Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai) amat terkenal dan sukar dilawan, karena kalau dia mainkan ilmu tongkat ini, sama saja dengan lima batang tongkat yang dimainkan oleh lima orang.

Lebih lagi ilmu pukulannya yang disebut Ta-houw-sin-ciang itu, diberi nama demikian karena kabarnya dengan sekali pukul saja kakek ini dulu pernah menewaskan seekor harimau yang menjadi pecah kepalanya!

Ta-houw-sin-ciang (Ilmu Tangan Sakti Pemukul Harimau) digerakkan dengan sin-kang yang mengandung hawa dingin menusuk tulang, maka lihainya bukan kepalang.

Inilah sebabnya, karena merasa bahwa dia adalah seorang cabang atas, seorang datuk persilatan, Hwa-i Sin-kai merasa marah sekali dengan adanya gangguan dari Kim Hong Liu-nio yang berani memusuhi perkumpulannya, seolah-olah berani menentang dirinya.

Akan tetapi, setelah bertanding selama hampir tiga puluh jurus kakek itu menjadi terheran-heran dan kaget setengah mati melihat betapa gadis itu benar-benar luar biasa sekali!

Gin-kang dari gadis itu membuat tubuh si gadis ini seperti dapat menghilang saja, bahkan dapat berkelebatan di antara sinar-sinar tongkatnya yang telah mengurung rapat.

Dan lebih hebat lagi, gadis itu berani dan kuat menangkis pukulan Ta-houw-sin-ciang!

Bukan hanya berani dan kuat, bahkan dapat membuat dia merasakan hawa panas yang luar biasa menyerang lengannya.

Padahal seingatnya, belum pernah ada tokoh persilatan yang dapat menghadapi Ta-houw-sin-ciang seperti ini!

Diam-diam kakek ini menjadi bingung dan khawatir karena tidak pernah mengira bahwa di dunia persilatan akan muncul seorang gadis yang begini lihai bersama adiknya atau sutenya yang juga lihai bukan main!

Dia lalu mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan seluruh kepandaiannya karena bagaimanapun juga, dia tidak boleh kalah oleh seorang gadis muda seperti ini.

Kekalahan itu tentu akan menghancurkan nama besarnya.

Biarpun dia dikeroyok tiga orang kakek lihai, namun dibandingkan dengan sucinya, Lie Seng menghadapi lawan yang lebih lunak.

Dengan enaknya pemuda ini menghadapi serbuan-serbuan itu seperti seekor kucing mempermainkan tiga ekor tikus.

Dia hanya kadang-kadang mendorong dan membuat tiga orang pengeroyoknya terhuyung atau terpelanting, tanpa menjatuhkan tangan keras untuk melukai mereka, apalagi membunuh mereka.

Akan tetapi, begitu dia melihat sucinya sudah bertanding melawan ketua Hwa-i Kai-pang dan mendapat kenyataan betapa kakek itu amat lihai, Lie Seng ingin berjaga-jaga dan kalau perlu melindungi sucinya, maka dia lalu berseru keras, dan gerakannya berubah menjadi cepat bukan main.

Pada saat itu, dia baru saja menghindar dari sambaran tongkat Lo-thian Sin-kai yang jauh lebih lihai daripada dua orang kakek pengemis yang lain.

Begitu tongkat itu luput, kakek tingkat dua ini sudah menghantam dengan tangan kirinya yang mengandung tenaga sin-kang dahsyat.

Akan tetapi Lie Seng yang ingin cepat menyelesaikan pertempuran itup tidak lagi mengelak, melainkan menggerakkan tangannya, dengan sengaja dia memapaki hantaman itu dengan sambutan tangan kanannya.

"Plakkk...!"

Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya tubuh Lo-thian Sin-kai terguling dan kakek ini roboh lemas, tidak dapat bangkit kembali karena tubuhnya terasa lumpuh semua.

Dua orang kakek tingkat tiga yang melihat ini menjadi terkejut dan menubruk dari kanan kiri, namun Lie Seng memapaki mereka dengan tamparan-tamparan yang ampuh sehingga dua orang inipun terpelanting dan tidak mampu bangun kembali karena sekali ini Lie Seng mempergunakan tenaga yang agak besar sehingga mereka yang kena ditampar itu roboh pingsan!

Biarpun tubuhnya seperti lumpuh, Lo-thian Sin-kai masih dapat berseru kepada para pengemis lainnya.

"Maju semua! Keroyok dia...!"

Dan bergeraklah semua anggauta Hwa-i Kai-pang maju menyerbu dan mengeroyok Lie Seng!

"Hemm, kalian benar-benar jahat!"

Lie Seng berseru dan pemuda ini lalu mengamuk, merobohkan para pengeroyok dengan tamparan tangan dan tendangan kakinya.

Melihat ini, Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng juga tidak mau tinggal diam, mereka ini lalu mengamuk pula, tidak memperdulikan tubuh mereka yang sudah sakit-sakit karena dihajar oleh ketua Hwa-i Kai-pang tadi.

Kini mereka dapat melampiaskan kemarahan dan sakit hati mereka kepada anggauta kai-pang itu, bertempur bahu-membahu dengan Lie Seng yang gagah perkasa.

Sementara itu, pertempuran antara Mei Lan dan Hwa-i Sin-kai juga makin hebat.

Melihat betapa sutenya dan dua orang saudara kembar itu dikeroyok oleh para anggauta Hwa-i Kai-pang, Mei Lan berkata mengejek.

"Jembel-jembel busuk benar-benar tak malu!"

Dan diapun lalu menggerakkan tubuhnya dengan cepat sekali dan lenyaplah bentuk tubuh dara ini, berubah menjadi bayangan yang banyak dan yang mengeluarkan angin menyambar-nyambar ke arah kakek ketua kai-pang itu.

Inilah Pat-hong Sin-kun, ilmu silat tangan kosong yang amat sakti dari mendiang Bun Hoat Tosu!

Hwa-i Sin-kai terkejut bukan main, mengenal ilmu silat yang amat tinggi dan biarpun dia sudah memutar tongkatnya dengan cepat dan kuat, tetap saja angin menyambar ke arah lehernya dan dia cepat miringkan tubuhnya.

"Brettt...!"

Angin itu masih menyambar leher bajunya yang menjadi robek seketika! (Lanjut ke

Jilid 17) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17

"Uhhh...!"

Kakek itu meloncat jauh ke belakang dengan muka pucat.

Maklumlah dia bahwa kalau dia melanjutkan pertempuran, akan terjadi pertempuran adu nyawa dengan dara yang ternyata luar biasa lihainya itu.

Dia tidak mau memperpanjang urusan dan permusuhan, apalagi tadi dia mendengar bahwa pemuda itu adalah cucu luar dari ketua Cin-ling-pai!

Dan kini dia melihat betapa anak buahnya sudah kocar-kacir dan dihajar habis-habisan oleh pemuda perkasa itu yang dibantu oleh sepasang saudara kembar.

Dia merasa menyesal sekali dan cepat kakek ini berseru nyaring.

"Semua saudara pengemis, mundur!"

Dan dia mendahului meloncat dan melarikan diri.

Mendengar seruan ini, para pengemis terkejut.

Belum pernah selama mereka menjadi anggauta Hwa-i Kai-pang, ada perintah mundur dari ketua mereka, apalagi melihat ketua mereka melarikan diri.

Tentu saja hal ini membuat nyali mereka menjadi kecil dan tanpa diperintah dua kali, para pengemis itu lalu meninggalkan gelanggang pertempuran, melarikan diri sambil menyeret tubuh teman-teman mereka yang terluka atau pingsan.

Sebentar saja sunyilah di depan kuil kosong itu, tidak nampak seorangpun pengemis.

Banyak pengemis yang roboh oleh amukan Lie Seng, namun tidak seorangpun tewas karena pemuda ini tidak membunuh, hanya merobohkan mereka sehingga ada yang patah tulang, salah urat dan pingsan karena pening.

Setelah semua pengemis pergi, Kwi Eng teringat kepada suaminya dan dia segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil menangis.

Melihat keadaan adiknya ini, Kwi Beng cepat menghampiri akan tetapi tiba-tiba pemuda ini terguling roboh dan pingsan!

"Ahh...!"

Mei Lan dengan sekali loncatan saja sudah menyambar tubuh pemuda itu sehingga kepala Kwi Beng tidak sampal terbanting.

Cepat Mei Lan merebahkan tubuh Kwi Beng dan memeriksa luka-lukanya.

Memang keadaan pemuda ini lebih parah daripada adiknya, akan tetapi dengan hati lega Mei Lan mendapat kenyataan bahwa luka-luka itu hanyalah luka-luka luar saja dan tidak ada yang berbahaya bagi keselamatan nyawanya.

Diam-diam Mei Lan mengakui bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu bukanlah seorang yang kejam karena kalau memang dikehendakinya tentu dengan mudah kakek itu dapat membunuh dua orang, kakak beradik kembar itu.

Dengan bantuan Lie Seng, Mei Lan lalu mengobati kakak beradik kembar itu dan perlahan-lahan Kwi Beng siluman.

Ketika dia melihat dirinya sendiri rebah terlentang dan di dekatnya nampak gadis cantik dan gagah perkasa tadi sedang berlutut, Kwi Beng memandang.

Dua pasang mata bertemu, bertaut dan melekat penuh dengan macam perasaan haru.

Akhirnya, Mei Lan menundukkan mukanya dan Kwi Beng merasa mukanya agak panas.

Dia tidak tahu betapa mukanya menjadi merah sekali dan dia lalu bangkit duduk memegangi kepalanya.

"Bagaimana rasanya kepalamu?"

Tanya Mei Lan.

Gadis ini biasanya lincah jenaka dan tidak pernah sungkan terhadap siapapun, akan tetapi dia sendiri tidak mengerti mengapa kini setelah berhadapan dengan pemuda yang bermata biru dan rambutnya agak menguning keemasan ini, dia merasakan suatu hal yang luar biasa, yang membuatnya merasa agak malu-malu.

"Tidak apa-apa... agak pening sedikit. Agaknya engkau telah menolongku ketika aku roboh pingsan, adik Mei Lan. Ah, seperti baru kemarin saja engkau menolongku, melepaskan aku dari ikatan di Lembah Naga dahulu itu..."

"Kalian berdua sungguh terlalu berani menentang Hwa-i Kai-pang."

Mei Lan menegur.

"Pangcu itu lihai sekali. Sebetulnya apakah yang telah terjadi dan bagaimana saaudara Tio Sun sampai tewas di tangan mereka?"

Mendengar pertanyaan ini, Kwi Eng menangis dan Kwi Beng menarik napas panjang berulang kali.

Kemudian Kwi Beng yang mewakili adiknya yang tidak mampu bicara karena menangis dan berduka itu, bercerita kepada Lie Seng dan Mei Lan.

"Kami sendiri tidak tahu bagaimana asal mulanya. Iparku itu hanya berpamit kepada isterinya untuk pergi mengunjungi Panglima Kim-i-wi yang bernama Lee Siang, katanya dimintai tolong oleh panglima itu untuk menjadi orang penengah atau pendamai. Akan tetapi, tahu-tahu dia telah diantar pulang oleh panglima itu, sudah tewas dan menurut cerita Panglima Lee, iparku dibunuh oleh pangcu Hwa-i Kai-pang tanpa sebab, diserang setelah iparku berusaha untuk mendamaikan mereka. Demikianlah penuturan dari Panglima Lee Siang."

Kwi Beng berhenti bercerita dan menarik napas panjang, berduka teringat akan kematian iparnya sehingga adiknya yang masih muda telah menjadi janda.

"Lalu kalian mendatangi ketua Hwa-i Kai-pang dan menantangnya?"

Mei Lan bertanya. Kwi Beng mengangguk.

"Tentu saja kami berdua tidak mau menerima begitu saja. Sepanjang pengetahuan kami, keluarga kami tidak pernah bermusuhan dengan Hwa-i Kai-pang, dan iparku itu bukannya membela Panglima Lee, melainkan hendak menjadi orang penengah yang mendamaikan. Ketika kami bertemu dengan ketua Hwa-i Kai-pang, dia berkata bahwa dia tidak bermusuhan dengan iparku, tidak sengaja membunuhnya, dan dia bertempur dengan iparku karena iparku hendak melindungi Kim Hong Liu-nio yang dibela oleh Panglima Lee Siang. Dan dia mengatakan bahwa kalau ada yang menuntut balas, dia siap untuk melayani karena dia merasa tidak bersalah."

Mei Lan mengerutkan alisnya.

"Hemm, kurasa dia tidak berbohong."

Kakak beradik kembar itu mengangkat muka memandang dengan heran.

"Tidak berbohong? Jembel tua itu...!"

Kwi Eng berseru, penasaran. Mei Lan membuat gerakan dengan tangan menyabarkan.

"Harap kalian berdua ingat bahwa kalau kakek itu mempunyai niat jahat, tentu kalian berdua sudah dibunuhnya. Apa sukarnya bagi ketua itu yang dibantu oleh anak buahnya? Tidak, dia tidak membunuh kalian, dan ini saja sudah membuktikan bahwa dia tidak bermaksud buruk, tidak berniat memusuhi keluargamu dan karena itu maka kematian saudara Tio Sun perlu diselidiki lebih lanjut lagi. Yang menjadi biang keladi adalah panglima she Lee itu, dan siapakah gerangan wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio, yang dimusuhi oleh ketua Hwa-i Kai-pang itu?"

Kwi Eng menjawab.

"Menurut penuturan suamiku yang mendengar dari Panglima Lee, wanita itu adalah seorang yang berjasa besar terhadap Kaisar, bahkan penyelamat nyawa Kaisar ketika terjadi pemberontakan. Dia adalah utusan dari Raja Sabutai."

Kwi Eng lalu bercerita tentang Kim Hong Liu-nio seperti yang didengarnya dari penuturan suaminya.

"Ahh...!"

Mei Lan terkejut sekali mendengar semua itu, lalu dia mengangguk-angguk.

"Urusan menjadi makin berbelit. Dan mengapa pula Kim Hong Liu-nio bermusuhan dengan pangcu dari Hwa-i Kai-pang?"

"Kabarnya, wanita itu telah bentrok dengan seorang anggauta Hwa-i Kai-pang sehingga anggauta perkumpulan itu tewas, kemudian dia mengalahkan beberapa orang tokoh Hwa-i Kai-pang sehingga pada suatu hari dia dikepung oleh semua anggauta Hwa-i Kai-pang di luar pintu gerbang di utara. Pada waktu itulah Lee-ciangkun menyelamatkannya,"

Kata pula Kwi Eng.

"Hemm, urusan dendam-mendendam!"

Mei Lan kembali mengangguk-angguk.

"Kini kita mengerti bahwa agaknya saudara Tio terlibat dalam urusan dendam pribadi antara pangcu Hwa-i Kai-pang dan Kim Hong Liu-nio. Dia dimintai tolong untuk melerai akan tetapi timbul kesalahfahaman dan terjadi pertempuran sehingga saudara Tio tewas di tangan pangcu itu. Tewas dalam suatu pertempuran yang adil memang menjadi resiko orang gagah, dan sesungguhnya tidak ada yang patut dibuat sakit hati."

"Akan tetapi, jembel tua itu telah membikin sengsara kehidupan adikku yang kehilangan suaminya dan keponakanku yang kehilangan ayahnya. Bagaimana mungkin kami dapat mendiamkannya saja?"

Bantah Kwi Beng penasaran.

"Dan iparku tewas bukan karena urusan pribadi, melainkan sebagai seorang penengah yang mendamaikan. Bukankah itu menimbulkan penasaran sekali?"

Mei Lan yang merupakan seorang gadis muda berusia dua puluh lima tahun itu menarik napas panjang dan keluarlah kata-kata yang padat dan penuh pengertian.

"Penasaran selalu timbul kepada fihak yang merasa dirugikan, akan tetapi orang bijaksana memandang persoalan sebagaimana kenyataannya tanpa dipengaruhi oleh rugi untung bagi dirinya sendiri. Urusan ini menyangkut fihak-fihak yang berpengaruh, Hwa-i Kai-pang adalah sebuah perkumpulan besar yang berpengaruh sekali dan tentu mempunyai banyak sekutunya. Di lain fihak, kalau benar Kim Hong Liu-nio itu adalah utusan Raja Sabutai bahkan penyelamat jiwa Kaisar, maka tentu saja diapun memiliki kedudukan yang kuat dan pengaruhnya besar. Maka, jika kalian berdua tidak berkeberatan, marilah kalian ikut bersama kami ke Cin-ling-san. Kami hendak menghadap Cia-locianpwe, kongkong dari sute Lie Seng dan mengingat bahwa Cia-locianpwe mengenal pula ketua Hwa-i Kai-pang, maka tentu nasihat beliau amat berharga untuk dipertimbangkan."

"Baik, aku setuju. Mari kita ikut pergi ke Cin-ling-san, Eng-moi,"

Kata Kwi Beng seketika.

Dengan cepat seperti tanpa dipikirkannya lagi dia sudah menyetujui, karena memang hatinya membisikkan bahwa dia tidak ingin berpisah dengan gadis cantik yang amat lihai itu, yang sejak tadi telah begitu menarik hatinya!

Di lain fihak, setelah mendengar ajakannya sendiri, Mei Lan juga terheran dan bahkan terkejut mengapa dia mengajak kedua orang kembar itu untuk melakukan perjalanan bersamanya ke Cin-ling-san!

Mukanya menjadi merah sekali dan diam-diam dia harus mengakui bahwa selamanya belum pernah dia merasakan hal seperti ini, dan dia tahu bahwa dia tidak ingin berjauhan dari pemuda tampan dan gagah yang mengagumkan hatinya itu!

Berangkatlah empat orang muda yang gagah perkasa itu menuju ke Cin-ling-san, dan di dalam perjalanan ini tumbuh perasaan yang mesra di dalam dada Kwi Beng dan Mei Lan.

Hal ini tentu saja dimengerti pula oleh Kwi Eng yang diam-diam, dalam kedukaannya kehilangan suami tercinta, merasa girang dan senang sekali kalau kakak kembarnya itu mungkin dapat berjodoh dengan seorang gadis seperti Yap Mei Lan yang demikian gagah perkasa.

Lie Seng yang juga sudah cukup dewasa itupun dapat merasakan adanya kemesraan antara sucinya dan pemuda bermata kebiruan dan berambut kekuningan itu, akan tetapi karena dia seorang pendiam yang tentu saja merasa sungkan kepada sucinya, dia pura-pura tidak tahu saja.

Ui-eng-piauwkiok dengan tandanya berupa bendera piauwkiok yang dasarnya merah dengan lukisan seekor burung garuda kuning sudah amat terkenal di seluruh Propinsi Ho-pei sebagai perusahaan ekspedisi yang boleh dipercaya.

Tentu saja setiap perusahaan apapun dapat maju atau mundur, jatuh atau bangun tergantung dari kebijaksanaan sang pimpinan.

Dan dalam hal ini, Na Ceng Han termasuk seorang yang pandai berusaha di samping kejujuran dan kegagahannya yang membuat perusahaan ekspedisinya sampai terkenal dan dipercaya orang.

Na-piauwsu memang pandai bergaul dan hubungannya luas sekali dengan para tokoh dunia persilatan, baik dengan golongan pendekar atau golongan putih maupun dengan golongan hitam atau kaum perampok dan bajak.

Karena hubungannya yang luas inilah maka barang-barang yang dikawal oleh perusahaannya tidak pernah diganggu penjahat karena hampir semua golongan liok-lim dan kang-ouw merasa enggan untuk mengganggu barang-barang yang dikawal oleh piauwsu yang mereka kenal sebagai seorang yang ringan tangan dan suka membantu itu, selain ini, juga setiap orang pendekar tentu akan membantu kalau mendengar betapa piauwsu ini diganggu orang.

Akan tetapi, biarpun Na Ceng Han tidak pernah memusuhi orang lain, hal itu bukan berarti bahwa tidak ada orang lain yang memusuhinya!

Kita ini hidup di dalam dunia di mana masyarakat telah diracuni oleh iri hati!

Di segala lapangan nampak jelas iri hati ini yang hampir mengotori setiap orang manusia.

Na Ceng Han tidak terluput dari incaran mata orang lain yang mengandung iri hati seperti itu, bahkan juga mengandung dendam.

Yang mengincar dari jauh itu adalah mata Ciok Khun, juga seorang piauwsu yang tinggal di kota Kun-ting itu.

Ciok Khun adalah piauwsu yang membuka piauwkiok yang bernama Gin-to-piauwkiok (Perusahaan Ekspedisi Golok Perak).

Nama ini diambil dari senjatanya yang terkenal, yaitu sebatang golok dari perak.

Bendera piauwkioknya berdasar hitam dengan lukisan sebatang golok putih.

Sudah menjadi penyakit umum di antara manusia untuk saling bersaing di dalam kehidupan.

Penyakit ini memang sudah dipupuk sejak kecil.

Di waktu manusia masih menjadi kanak-kanakpun para orang tua dan gurunya sudah selalu menekankan agar dia "tidak kalah"

Dari orang lain, penekanan yang memupuk jiwa persaingan itulah, yang dilakukan oleh kita semua tanpa kita sadari bahwa kita telah menanamkan benih-benih yang menimbulkan sengketa dan kekerasan dalam diri anak-anak kita!

Sejak kecil, Setiap orang anak telah dirangsang oleh orang tua, guru-guru, dan masyarakat yang menerima hal itu sebagai kehormatan dan kebudayaan, untuk menonjolkan dirinya sendiri, agar tidak kalah oleh siapapun juga.

Di dalam kelas saja sudah terdapat penekanan ini berupa angka-angka tertinggi untuk nilai-nilai kepandaian, pujian bagi yang pintar dan celaan-celaan bagi yang bodoh, penghormatan-penghormatan bagi yang kaya dan penghinaan-penghinaan bagi yang miskin, memandang tinggi bagi yang berkedudukan tinggi dan memandang rendah kepada yang berkedudukan rendah.

Inilah, yang membentuk jiwa seseorang sehingga seperti keadaan kita sekarang ini!

Kita bersaing dalam apapun juga.

Dalam perdagangan, dalam perusahaan, dalam kedudukan, dalam olah raga, dalam semua kehidupan kita.

Persaingan ini, dalam bentuk apapun juga, tidak mungkin tidak menimbulkan kekerasan dan konflik, Biarpun dengan seribu macam alasan kita mau memperhalus persaingan dengan tambahan kata "sehat".

Persaingan sehat!

Mana mungkin ini?

Persaingan itu sendiri adalah sama sekali tidak sehat!

Keinginan menonjolkan diri agar "tidak kalah"

Oleh orang lain ini menimbulkan persaingan, menimbulkan konflik, menimbulkan iri hati.

Iri hati timbul karena perbandingan, kalau kita membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain yang lebih pandai, lebih kaya, lebih tinggi kedudukannya, dan segala macam lebih lagi.

Hidup akan menjadi sesuatu yang lain sama sekali dari pada sekarang ini kalau tidak ada perbandingan, tidak ada persaingan, tidak ada keinginan menonjolkan diri.

Dapatkah kita hidup bebas dari persaingan?

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, kita harus menghayatinya, bukan hanya sekedar memikirkan dan berteori lalu berbantahan dengan kata-kata kosong belaka.

Penghayatan dapat dilakukan kalau kita mengenal diri sendiri setiap saat, mengenal iri hati diri sendiri, mengenal keinginan menonjolkan diri sendiri, mengenal kesukaan diri sendiri untuk bersaing dan menang!

Demikianlah, tanpa disadari sendiri oleh Na Ceng Han, diam-diam terdapat seorang yang amat membencinya, bukan hanya terdorong oleh iri hati dan persaingan dalam perusahaan yang sama sifatnya, melainkan juga kebencian yang terdorong oleh dendam dan sakit hati!

Ciok Khun ini sebelum menjadi piauwsu, tadinya adalah seorang perampok tunggal.

Tentu saja hubungannya dengan para penjahat di dunia liok-lim lebih erat dibandingkan dengan hubungan Na-piauwsu dengan mereka.

Dan setelah Ciok Khun menjadi piauwsu, dia melihat kesempatan-kesempatan baik.

Bukan hanya dia dapat mengawal barang-barang dengan aman karena tidak akan diganggu teman-temannya, Atau, bekas rekan-rekannya, melainkan juga dia dapat bersekongkol dengan para penjahat itu untuk memeras para pengirim barang yang dipercayakan kepadanya!

Beberapa kali sudah terjadi apabila ada kiriman barang-barang berharga yang dikawalnya, Ciok Khun bersekutu dengan teman-temannya dan di tengah jalan teman-temannya itu mengganggu dan merampas barang-barang yang berharga di bawah pengetahuan si pemilik barang sendiri.

Kalau sudah begitu, Ciok Khun menawarkan jasa-jasa baiknya dan barang-barang itu tentu akan dapat diambilnya kembali asal si pemilik barang suka "menyogok"

Para perampok yang dikenalnya itu.

Padahal, yang mengatur kesemuanya itu tentu saja adalah Ciok Khun sendiri!

Praktek-praktek pemerasan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh orang-orang seperti Ciok Khun yang memang tadinya adalah seorang perampok, Melainkan dilakukan oleh kebanyakan orang yang memiliki kedudukan atau juga yang memiliki banyak kesempatan untuk melakukannya.

Betapa banyaknya dapat dilihat, semenjak jaman kuno sampai sekarang, orang-orang yang bertugas menjadi penjaga dan pelindung keselamatan, bahkan melakukan pemerasan kepada mereka yang dijaga atau dilindungi keselamatannya!

Justeru penjagaan atau perlindungan itulah yang dijadikan sebagai jalan untuk melakukan pemerasan.

Keadaan seperti ini sungguh amat mengherankan dan menyedihkan namun kenyataannya memang demikianlah.

Dan kesemuanya itu, seperti juga bentuk kemaksiatan atau kejahatan apapun juga, didorong oleh keinginan manusia untuk mencari kesenangan sendiri.

Jadi sumbernya adalah pada diri kita sendiri!

Kitalah yang harus berubah, bukan keadaannya, bukan sekeliling kita, bukan masyarakat, bukan dunia, melainkan kita sendirilah, Masing-masing harus berubah seketika!

Tanpa adanya perubahan dalam diri masing-masing jangan mengharapkan keadaan sekeliling atau masyarakat akan dapat berubah.

Biarpun diatur bagaimana juga, selama diri kita tidak berubah, maka peraturan itu hanya akan menjadi alat baru untuk saling memperebutkan kesenangan bagi kita sendiri dan karenanya pasti timbul pelbagai bentuk kemaksiatan dan kejahatan baru.

Kalau kita sudah berubah, maka akan terjadilah perubahan dalam segala hal.

Harta, kedudukan, pendeknya segala macam antar hubungan akan mempunyai arti yang lain sama sekali.

Mengapa Ciok Khun menaruh dendam dan sakit hati terhadap Na-piauwsu?

Kalau dia merasa iri hati, hal itu sudah jelas karena dalam hal persaingan pekerjaan sebagai piauwsu, Ciok Khun kalah jauh.

Para pedagang besar dan para pembesar lebih suka mengirimkan barang-barang berharga mereka di bawah lindungan bendera Ui-eng-piauwkiok daripada dilindungi oleh bendera Gin-to-piauwkiok.

Akan tetapi, dendam dan sakit hati di hati Ciok Khun timbul karena urusan pribadi, yaitu karena pernah Na-piauwsu menentang praktek-prakteknya yang memeras seorang pedagang yang mengirim barangnya di bawah perlindungannya.

Na-piauwsu yang menghentikan pemerasan itu dan yang dengan terang-terangan mendatanginya dan menegurnya karena pedagang itu adalah seorang kenalan baik dari Na-piauwsu yang datang menceritakan pemerasan yang ditimpakan kepadanya itu.

Ciok Khun tidak berani menentang secara berterang dan pada lahirnya dia menurut, akan tetapi diam-diam timbul ganjalan di dalam hatinya, melahirkan dendam dan setiap hari dia mencari kesempatan untuk dapat membalas kepada Na-piauwsu yang dianggapnya musuh besarnya itu.

Hanya karena dia tahu bahwa dalam hal ilmu kepandaian, dia tidak akan mampu menandingi Na-piauwsu, maka dia masih belum turun tangan dan menanti saat sampai bertahun-tahun lamanya.

Kesempatan yang dinanti-nantikan itu akhirnyapun tibalah.

Dia berkenalan dengan seorang yang bernama Lu Seng Ok, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang memiliki kepandaian tinggi.

Lu Seng Ok ini adalah seorang bekas tokoh Hwa-i Kai-pang yang murtad dan telah dikeluarkan dari Hwa-i Kai-pang karena ketahuan telah melakukan kejahatan dengan jalan minta-minta secara paksa kepada para penghuni sebuah dusun.

Hwa-i Kai-pang, biarpun hanya merupakan sebuah perkumpulan pengemis, akan tetapi memiliki peraturan keras terhadap para anggautanya.

Mereka dilarang untuk melakukan pencurian atau perampokan, Maka perbuatan Lu Seng Ok yang menjadi tokoh tingkat tiga itu dianggap perampokan dan diapun dikeluarkan dari Hwa-i Kai-pang oleh ketua Hwa-i Kai-pang sendiri.

Setelah keluar dari perkumpulan itu, tentu saja Lu Seng Ok menjadi seorang penjahat yang suka mempergunakan kekerasan dan ilmu silatnya yang tinggi.

Akhirnya, bertemulah Lu Seng Ok dengan Ciok Khun dan menjadi sahabat baik.

Pada suatu malam yang gelap dan sunyi.

Hujan turun sejak sore tadi, dan biarpun kini hujan tinggal rintik-rintik kecil, namun hawa yang dingin membuat orang merasa enggan untuk keluar dari pintu, apalagi air hujan membuat jalan di luar rumah menjadi becek dan berlumpur.

Toko-toko sudah tutup sejak tadi ketika hujan turun deras karena dibukapun percuma saja, tidak ada pembeli, bahkan jalan-jalan sunyi tidak ada orang lewat.

Hawa udara yang sejuk nyaman membuat orang sore-sore sudah memasuki kamar mereka, dan membuat orang merasa betah tinggal di rumah.

Di rumah keluarga Na juga sudah sepi sekali.

Na Ceng Han dan isterinya sudah memasuki kamar, bercakap-cakap dan mereka berdua membicarakan tentang diri Sin Liong yang sudah satu setengah tahun berada di rumah mereka.

Suami isteri ini merasa suka kepada Sin Liong yang tahu diri dan rajin membantu pekerjaan rumah dan juga rajin sekali berlatih silat dan belajar membaca dan menulis, mendalami kitab-kitab kuno, dan selain kerajinan ini, juga Sin Liong adalah seorang anak yang patuh dan tidak banyak bicara.

Para pembantu rumah tangga, juga para piauwsu yang berada di kantor, semua sudah beristirahat di tempat masing-masing.

Bhe Bi Cu sudah tidur di dalam kamarnya, sedangkan Na Tiong Pek, putera tunggal Na-piauwsu, sejak sore tadi memanggil Sin Liong ke dalam kamarnya dan mengajak anak itu bermain catur.

Kini, Tiong Pek sudah rebah di atas pembaringan sedangkan Sin Liong masih membaca kitab di kamar Tiong Pek.

Suasana amat sunyi dan dari celah-celah jendela kamar itu dapat terdengar hembusan angin malam yang kadang-kadang mengeluarkan bunyi yang menyeramkan, seperti iblis meniup-niup di luar rumah, di antara pohon-pohon yang gelap.

Dan kalau saja pada saat itu ada penghuni rumah keluarga Na yang mengintai keluar, mungkin dia akan dapat melihat keadaan yang menyeramkan di sekitar rumah keluarga Na itu.

Beberapa bayangan orang berkelebat cepat dan sebentar saja ada bayangan tujuh orang berada di sekitar tempat itu, menyelinap di antara pohon-pohon dan bayangan-bayangan gelap.

Suara angin yang bertiup keras pada daun-daun pohon di luar rumah menyelimuti suara golok seorang di antara mereka yang mencokel daun pintu sehingga terbuka dan bagaikan bayangan-bayangan iblis mereka itu berloncatan masuk dari pintu samping yang telah mereka bongkar.

Ternyata bahwa mereka itu adalah tujuh orang laki-laki yang bermuka bengis dan di tangan mereka tampak golok atau pedang yang berkilauan tertimpa sinar api lampu yang tergantung di tempat itu.

Seorang di antara mereka adalah seorang laki-laki yang bermuka bengis, dengan alis tebal dan dia memegang sebatang golok yang berkilauan putih.

Inilah Si Golok Perak Ciok Khun sendiri yang memimpin penyerbuan diam-diam itu.

Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, mukanya kecil seperti tikus dan orang ini memegang sebatang toya baja yang kelihatan berat sekali, Orangnya tinggi kurus dan mukanya seperti tikus dengan sepasang mata yang agak menjuling itu sudah membayangkan adanya watak yang culas dan curang.

Orang ini bukan lain adalah Lu Seng Ok, bekas tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang yang murtad dan telah dikeluarkan dari perkumpulan itu.

Adapun lima orang lainnya adalah para pembantu Ciok Khun, yaitu para piauwsu dari Gin-to-piauwkiok.

Mereka ini ada yang memegang golok, akan tetapi ada pula yang berpedang, sesuai dengan kepandaian masing-masing.

Malam itu memang dipergunakan oleh Ciok Khun untuk melaksanakan niatnya yang sudah ditahan-tahan sampai bertahun-tahun, yaitu melampiaskan dendamnya kepada Na Ceng Han!

Dan tentu saja dia dibantu oleh sahabat barunya, yaitu Lu Seng Ok yang diandalkannya untuk dapat menandingi Na-piauwsu yang lihai.

"Lepaskan api sekarang!"

Bisik Ciok Khun setelah mereka semua berhasil membongkar daun pintu dan menyelinap masuk.

Sebelumnya memang telah mereka rencanakan untuk melepaskan api agar mengacaukan keadaan dan memancing keluar Na Ceng Han, juga untuk membuat bingung dan berpencaran para piauwsu yang berada di situ.

Dua orang anak buahnya yang bertugas untuk melepas api mengangguk lalu berpencar ke kanan kiri dan mereka lalu mengeluarkan alat-alat untuk menimbulkan kebakaran, yaitu minyak, kain dan api.

Sebentar saja terjadilah kebakaran di kanan kiri.

Api menjilat-jilat dan asap mengepul tinggi.

"Api...! Kebakaran...!"

Terdengar teriakan seorang pelayan yang lebih dulu melihat api.

Kamar Na Ceng Han terbuka dan piauwsu itu dengan mata terbelalak berseru.

"Di mana kebakaran?"

Akan tetapi dia segera meloncat kembali ke dalam kamarnya ketika ada sinar senjata berkelebat.

Ketika dia meloncat ke dalam dan memandang ternyata yang menyerangnya adalah Ciok Khun yang tadi begitu melihat munculnya musuh besar ini telah menerjang dengan golok peraknya.

"Ah, kiranya engkau, penjahat keji!"

Bentak Na Ceng Han sambil meloncat ke dekat pembaringan dan menyambar pedangnya.

Isterinya yang sudah tidur terkejut dan turun dari pembaringan, mukanya pucat ketika melihat ada dua orang asing di dalam kamarnya.

"Lu-twako, inilah dia orangnya!"

Kata Ciok Khun kepada laki-laki yang memegang toya.

Biasanya, ketika masih menjadi tokoh Hwa-i Kai-pang Lu Seng Ok tentu saja bersenjata sebatang tongkat seperti semua tokoh perkumpulan pengemis itu.

Akan tetapi setelah dia dikeluarkan dari Hwa-i Kai-pang dan tidak lagi berpakaian pengemis, tentu saja diapun tidak mau mempergunakan tongkat dan sebagai gantinya dia lalu membeli sebatang toya baja yang kokoh kuat dan berat itu.

Mendengar seruan Ciok Khun, Lu Seng Ok sudah menggerakkan toyanya dan berdesirlah angin yang kuat ketika toya itu menyambar ke arah kepala Na Ceng Han!

Na Ceng Han marah sekali.

Tak pernah disangkanya bahwa Ciok Khun, kepala dari Gin-to-piauwkiok yang dia tahu adalah bekas perampok dan melakukan pemerasan kepada para pengirim barang itu, akan berani melakukan penyerbuan secara pengecut seperti perampok-perampok.

Cepat dia menggerakkan pedangnya menangkis serangan toya dari orang tinggi kurus yang tidak dikenalnya itu.

"Tranggg...!"

Bunga api berpijar dan terkejutlah Na Ceng Han karena tangkisan itu membuat pedangnya terpental dan telapak tangannya terasa nyeri.

Tahulah dia bahwa orang yang memegang toya ini lihai dan memiliki tenaga yang kuat bukan main.

"Siapakah kau? Mengapa engkau memusuhi aku?"

Bentaknya dengan heran sambil memandang tajam. Lu Seng Ok tertawa mengejek.

"Orang she Na, siapa adanya aku tidak perlu kau ketahui, diberitahukan juga apa artinya karena engkau akan mampus!"

Toyanya menyambar lagi dengan amat dahsyat sehingga Na Ceng Han cepat meloncat ke belakang, kemudian menggerakkan pedangnya untuk membalas dengan tusukan kilat.

Akan tetapi, ternyata pemegang toya itu lihai sekali dan dengan mudah dapat pula mengelak.

Terjadilah pertandingan yang amat seru dan hebat antara Na-piauwsu dan bekas tokoh Hwa-i Kai-pang itu.

Ciok Khun juga tidak tinggal diam dan dia sudah menerjang maju membantu kawannya mengeroyok Na-piauwsu.

"Ihhh... tolooonggg...!"

Nyonya Na berteriak ketika melihat api dari pintu kamarnya dan melihat suaminya dikeroyok dua.

Dia teringat kepada puteranya dan kepada Bi Cu maka saking khawatirnya, nyonya ini menjerit-jerit di atas pembaringannya untuk memanggil para pembantu suaminya yang berada di kamar.

Mendengar jeritan ini, Ciok Khun cepat meloncat dan goloknya digerakkan dengan cepat.

Melihat ini, Na Ceng Han membentak keras.

"Orang she Ciok, jangan ganggu isteriku!"

Namun terlambat sudah. Golok itu sudah membacok.

"Crokkk...!"

Dada dan leher nyonya itu terobek, darah menyembur keluar dan tubuh nyonya itu roboh menelungkup, dari pinggang ke bawah masih berada di atas pembaringan, akan tetapi dari pinggang ke atas berada di bawah pembaringan, tergantung dan darah membasahi lantai di bawahnya.

"Jahanam keji...!"

Na Ceng Han terbelalak melihat isterinya terbunuh dan dia meloncat meninggalkan Lu Seng Ok, tidak memperdulikan lagi kepada lawan bertoya ini karena saking marahnya, dia hanya melihat Ciok Khun dan pedangnya menyambar.

Akan tetapi kemarahannya yang meluap ini mencelakakan dia.

Karena dia hanya memandang kepada Ciok Khun, dan tidak memperdulikan lawan yang lebih lihai itu, ketika dia meloncat, toya di tangan Lu Seng Ok menyambar dan menyodok punggungnya.

"Dukkk...!"

Tubuh Na Ceng Han yang sedang meloncat dan menyerang Ciok Khun itu terhuyung dan saat itu dipergunakan oleh Ciok Khun untuk membalik dan menggerakkan goloknya yang baru saja membunuh nyonya Na itu untuk membacok!

Na Ceng Han merasa punggungnya nyeri bukan main dan melihat bacokan golok, dia mencoba untuk miringkan tubuhnya, akan tetapi biarpun dia berhasil mengelak dari bacokan golok itu sebelum dia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, dari belakangnya kembali toya yang berat itu menyambar, kini membabat ke arah kedua kakinya.

Na Ceng Han masih sempat meloncat ke atas, membalikkan tubuh dan pedangnya meluncur untuk membalas serangan musuh.

Akan tetapi pada saat itu, golok Ciok Khun membacok dari belakang, sedangkan toya di tangan Lu Seng Ok menyambar dari depan.

Na-piauwsu sudah terluka parah di sebelah dalam tubuhnya oleh hantaman toya pada punggungnya tadi, maka gerakannya menjadi kaku dan lambat.

Dia dapat menangkis toya, akan tetapi golok Giok Khun mengenai bahu kirinya sampai hampir putus!

Dia terguling roboh dan ketika terguling, tangan kanan yang memegang pedang bergerak.

Pedang itu meluncur ke arah Lu Seng Ok di depannya.

Bekas tokoh Hwa-i Kai-pang ini terkejut dan menangkis dengan toyanya, akan tetapi demikian cepatnya luncuran pedang itu sehingga biarpun tertangkis, masih saja meleset dan mengenai pangkal pahanya, menyerempet merobek celana dan kulit sehingga pangkal paha itu berdarah.

Akan tetapi, Ciok Khun sudah meloncat ke depan dan sekali goloknya berkelebat, leher Na-piauwsu terbacok hampir putus.

Darah muncrat-muncrat membasahi lantai kamar dan tubuh Na Ceng Han tidak bergerak lagi, tewas seperti juga isterinya yang telah mendahuluinya.

"Keparat...!"

Lu Seng Ok mengomel sambil memeriksa luka di pangkal pahanya, akan tetapi hatinya lega karena luka itu tidak hebat.

"Mari kita bantu teman-teman di luar!"

Kata Ciok Khun dengan wajah berseri.

Hatinya lega sekali karena dia telah berhasil membunuh musuh besarnya itu bersama isterinya.

Mereka berdua cepat berloncatan keluar.

Ternyata lima orang piauwsu dari Gin-to-piauwkiok sedang bertempur melawan tiga orang anak yang dibantu oleh tujuh orang piauwsu dari Ui-eng-piauwkiok.

Ketika para piauwsu dari Ui-eng-piauwkiok melihat munculnya Ciok Khun dan seorang pemegang toya yang lihai, yang dalam beberapa gebrakan saja telah merobohkan dua orang piauwsu Ui-eng-piauwkiok, maka mereka menjadi jerih dan segera melarikan diri!

Hanya tiga orang anak itu yang masih terus melawan dengan gigih dan nekat.

Tiga orang anak kecil itu adalah Sin Liong, Na Tiong Pek, dan Bhe Bi Cu.

Sin Liong mempergunakan senjata sebatang toya sedangkan Na Tiong Pek bersenjata pedang, juga Bhe Bi Cu memegang sebatang pedang.

Ketika tadi Sin Liong yang masih membaca kitab di dalam kamar Tiong Pek mendengar ribut-ribut, dia cepat berlari keluar dan dia melihat kebakaran-kebakaran itu.

Cepat dia menyambar sebatang toya dan membantu para pelayan untuk memadamkan api, memukuli barang-barang yang terbakar agar tidak menjalar naik.

Sedangkan Tiong Pek yang juga terkejut karena baru saja akan pulas, cepat berlari ke luar dan dia melihat beberapa orang asing yang berada di halaman belakang.

Maka dia lalu menggerakkan pedangnya menyerang.

Tak lama kemudian muncul Bi Cu yang segera membantu suhengnya.

Akan tetapi, dua orang di antara para piauwsu Gin-to-piauwkiok tentu saja memandang rendah kepada dua orang anak itu dan mereka ini hanya menghadapi mereka dengan tangan kosong sambil mentertawakan.

Melihat ini, Bi Cu lalu menjerit minta tolong, maksudnya minta tolong kepada paman Na dan para piauwsu lainnya.

Yang pertama kali muncul adalah Sin Liong!

Anak ini mendengar jerit Bi Cu cepat berlari ke ruangan belakang dan segera dia membantu dan menyerang seorang musuh dengan toyanya.

Akan tetapi, lima orang pembantu Ciok Khun adalah orang-orang pilihan yang memiliki kepandaian, maka tentu saja Sin Liong bukanlah lawan seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar.

Dengan mudah saja Sin Liong ditampar dan ditendang sampai berkali-kali roboh.

Akan tetapi anak ini tidak pernah mengenal takut.

Dia bangun kembali dan biarpun bajunya sudah robek-robek, dia tetap menyerang terus.

Demikian pula dengan Tiong Pek dan Bi Cu yang terus memutar pedang mereka dengan nekat.

Akhirnya muncullah tujuh orang piauwsu Ui-eng-piauwkiok dan terjadilah pertempuran kecil yang hebat itu.

Sayangnya, para piauwsu ini menjadi jerih melihat munculnya Ciok Khun dan Lu Seng Ok, dan mereka segera melarikan diri untuk minta bantuan dan melaporkan kepada para penjaga keamanan kota.

Tinggal Sin Liong, Tiong Pek, dan Bi Cu yang tidak pernah mau menyerah, apalagi melarikan diri!

Ciok Khun yang sudah berhasil membunuh musuh besarnya, segera berkata.

"Mari kita pergi, jangan layani anak-anak!"

Dia bersama Lu Seng Ok sudah mendahului meloncat keluar, dan lima orang pembantunya sudah berlarian keluar pula.

"Penjahat-penjahat busuk, kalian hendak lari ke mana?"

Sin Liong membentak dan anak ini cepat mengejar, diikuti pula oleh Tiong Pek dan Bi Cu.

Setelah tiba di depan rumah, kembali Sin liong, Tiong Pek, dan Bi Cu menyerang tiga orang di antara mereka yang menjadi marah.

"Kalian ini anak-anak setan, sudah bosan hidupkah?"

Bentak seorang diantara mereka yang cepat memukul ke arah kepala Sin Liong.

Akan tetapi Sin Liong mengelak dan menggerakkan toyanya untuk balas menyerang.

Tiong Pek juga meloncat seperti seekor burung garuda, pedangnya digerakkan menusuk seorang di antara mereka pula.

Demikian pula Bi Cu juga menyerang seorang musuh.

"Cepat robohkan mereka, jangan main-main. Kita harus lekas pergi!"

Ciok Khun berseru karena dia tidak ingin orang-orang melihat bahwa dialah yang menyerbu rumah Na-piauwsu.

"Baik!"

Kata tiga orang pembantunya yang menghadapi tiga orang anak itu dan kini mereka memperlihatkan kepandaian.

Terdengar teriakan bergantian, tiga kali berturut-turut dari tiga orang itu roboh dengan tubuh berkelojotan, lalu diam dan tewas!

Ciok Khun dan Lu Seng Ok terkejut setengah mati.

Juga tiga orang anak itu terkejut karena mereka sendiri tidak tahu mengapa tiga orang lawan mereka itu tiba-tiba saja roboh dan berkelojotan lalu mati!

Bahkan Bi Cu menjadi ngeri melihat bekas lawannya berkelojotan itu, dia melempar pedang dan menutupi kedua mata dengan tangan mengira bahwa pedangnyalah yang membunuh orang itu.

Akan tetapi Lu Seng Ok tadi melihat menyambarnya sinar merah dan tahulah dia bahwa ada orang yang datang membantu fihak tuan rumah.

Cepat dia membalik dan benar saja dugaannya.

Di situ telah berdiri seorang wanita yang luar biasa cantiknya, seorang wanita yang berdiri tegak sambil tersenyum, sinar lampu di depan rumah yang muram itu hanya menggambarkan garis muka yang manis, yang memiliki sepasang mata jeli dan tajam, dan tangan wanita itu mempermainkan sehelai sabuk merah yang sebagian masih mengikat pinggangnya yang kecil ramping!

Dia tidak mengenal wanita itu, akan tetapi maklum bahwa wanita itu adalah seorang pandai, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu memutar toya bajanya dan menyerang dengan dahsyat.

Pada saat itu, Ciok Khun yang melihat betapa dua orang pembantunya tewas, menjadi marah sekali dan diapun segera memutar goloknya menyerang dan mengeroyok.

Akan tetapi, wanita cantik itu dengan tenang-tenang saja menyambut serangan mereka berdua sambil tersenyum dan membentak dengan suara halus.

"Kalian dua orang jahat tak tahu malu yang suka menyerang anak-anak kecil layak mampus!"

Sambil berkata demikian, tangannya bergerak, sabuk merah berubah menjadi sinar merah menyambar-nyambar dan terdengar pekik mengerikan ketika dua orang penyerang itupun roboh dan tewas!

Semua piauwsu dari Gin-to-piauwkiok menjadi terkejut bukan main.

Kepala mereka dan pembantu mereka yang lihai itu dalam segebrakan saja roboh dan tewas!

Tentu saja nyali mereka terbang dan mereka berusaha untuk melarikan diri, akan tetapi para piauwsu dari Ui-eng-piauwkiok tentu saja tidak membiarkan mereka lari dan sisa tiga orang piauwsu dari Gin-to-piawkiok itu akhirnya roboh dan tewas semua oleh pengeroyokan para anak buah Ui-eng-piauwkiok.

Ketika semua orang mencari-cari wanita cantik yang menolong mereka tadi mereka melongo karena wanita itu telah lenyap dan bersama dia lenyap pula Sin Liong!

Tiong Pek dan Bi Cu memanggil-manggil Sin Liong, akan tetapi pada waktu mereka berdua masih mencari-cari, terdengarlah jerit-jerit dan tangis di sebelah dalam rumah.

Mereka dan para piauwsu yang sudah merasa terheran-heran mengapa Na-piauwsu tidak muncul dalam keributan itu, cepat lari masuk dan dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hati mereka ketika melihat bahwa Na-piauwsu dan isterinya ternyata telah tewas dalam keadaan yang amat mengerikan!

Tiong Pek dan Bi Cu menubruk mayat-mayat itu sambil menjerit-jerit menangis, dan gegerlah di dalam rumah keluarga Na itu.

Siapakah adanya wanita cantik yang lihai sekali dan yang telah menyelamatkan tiga orang anak dari ancaman maut di tangan para piauwsu Gin-to-piauwkiok itu?

Dia bukan lain adalah Kim Hong Liu-nio.

Seperti kita ketahui, dengan bantuan Panglima Lee Siang, wanita ini berhasil membunuh Tio Sun, seorang di antara musuh-musuh besar gurunya yang harus dibunuhnya dengan jalan meminjam nama Hwa-i Kai-pangcu.

Pada waktu keluarga Tio bertangis-tangisan dan berkabung, Kim Hong Liu-nio dan Panglima Lee Siang merayakan kemenangan dan hasil siasat mereka itu dengan pesta dalam kamar di mana mereka berdua saling mencurahkan rasa kasih sayang antara mereka.

Akan tetapi tetap saja Kim Hong Liu-nio masih bertahan dan tidak mau menyerahkan diri sebelum semua musuhnya terbasmi habis, yaitu tinggal dua orang lagi, Cia Bun Houw dan Yap In Hong.

Panglima Lee Siang tidak berani memaksa karena hal itu membahayakan keselamatan wanita yang dicintanya, Maka diapun berjanji akan membantu dan menyebar mata-mata untuk menyelidiki di mana adanya dua orang musuh besar itu.

Setelah mencurahkan kasih sayang mereka dengan mesra namun terbatas, dan saling berjanji untuk bersetia sampai kelak terbuka kesempatan bagi mereka untuk menjadi suami isteri, pergilah Kim Hong Liu-nio ke utara untuk melapor kepada Raja Sabutai tentang segala yang dialaminya dan tentang keadaan Pangeran Oguthai atau Ceng Han Houw kepada raja dan permaisuri yang mendengarkan dengan hati gembira.

Akan tetapi, Raja Sabutai masih merasa sangsi dan curiga untuk berkunjung ke selatan.

Di dalam istana Kaisar, satu-satunya orang yang dipercayanya hanyalah Kaisar Ceng Tung seorang, Dan kini Kaisar itu telah meninggal dunia, maka dia merasa sangsi dan mengkhawatirkan keselamatannya.

Juga para menteri pembantunya menasihatkan agar raja ini jangan lengah dan membiarkan dirinya terancam bahaya jika mengunjungi selatan.

Oleh karena itu, Raja Sabutai tidak datang menghadiri hari penobatan Kaisar baru, yaitu Kaisar Ceng Hwa dan mengutus Kim Hong Liu-nio untuk kembali ke selatan, membawa barang sumbangannya kepada Kaisar dan mewakilkan kehadirannya kepada puteranya, pangeran Oguthai.

Sebelum berangkat, Kim Hong Liu-nio menghadap subonya, Hek-hiat Mo-li, menceritakan tentang hasilnya membunuh seorang di antara musuh-musuh itu, yaitu Tio Sun.

Nenek tua renta itu terkekeh senang, dia berkata.

"Bagus, muridku.

Hanya sayang bahwa yang kau bunuh itu adalah orang yang paling lemah di antara musuh-musuhku.

Kau harus cepat mencari yang dua orang lagi itu.

Dan aku sendiri akan ikut pergi ke selatan, muridku, karena aku sangsi apakah engkau akan mampu menanggulangi mereka.

Giranglah hati Kim Hong Liu-nio karena dengan bantuan subonya, dia merasa yakin akan dapat dengan cepat membunuh dua orang musuh besar yang lain itu sehingga dia akan dapat segera bebas untuk melangsungkan pernikahannya dengan Panglima Lee yang telah menjatuhkan hatinya itu.

Maka berangkatlah guru dan murid itu meninggalkan utara.

Raja Sabutai ketika mendengar bahwa Hek-hiat Mo-li hendak merantau ke selatan untuk mencari musuh-musuh besarnya, merasa tidak tega karena gurunya itu sudah tua sekali, Maka dia lalu mengutus seorang panglima membawa sepasukan pilihan yang mengawal nenek itu secara diam-diam, dengan menyamar.

Jumlah pasukan yang membantu nenek ini ada selosin orang-orang pilihan yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi.

Setelah menghadiri perayaan di istana Ketika Kaisar Ceng Hwa dinobatkan sebagai Kaisar baru, Kim Hong Liu-nio lalu mulai dengan penyelidikannya mencari musuh-musuh besar gurunya.

Subonya sendiri yang sudah tua itu tentu saja tidak ikut mencari hanya menanti di dalam sebuah gedung di kota raja, menanti sampai muridnya berhasil menemukan musuh-musuh besar itu.

Dalam usaha mencari jejak musuh-musuhnya ini, Kim Hong Liu-nio dibantu oleh kekasihnya, Panglima Lee Siang yang menyebar kaki tangannya untuk menyelidiki di mana adanya pendekar Cia Bun Houw dan pendekar wanita Yap In Hong.

Demikianlah, pada hari itu, secara kebetulan Kim Hong Liu-nio lewat di kota Kun-ting, di sebelah selatan kota raja dalam penyelidikannya dan dia melihat keributan yang terjadi di dalam rumah keluarga Na-piauwsu.

Wanita ini pada hakekatnya bukanlah orang jahat, bahkan dia condong untuk bersikap sebagai pendekar wanita yang tidak suka menyaksikan penindasan.

Dia dapat bersikap kejam hanya terhadap musuh-musuhnya, atau musuh-musuh gurunya yang harus dibasminya, sesuai dengan sumpahnya.

Maka begitu melihat tiga orang anak kecil diserang oleh orang-orang dari Gin-to-piauwkiok, dia menjadi marah dan segera turun tangan menghajar, bahkan membunuh Ciok Khun, Lu Seng Ok, dan tiga orang anak buah mereka itu.

Kemudian, dalam keributan itu, Kim Hong Liu-nio yang sudah berhasil membunuh Ciok Khun dan Lu Seng Ok, melihat Sin Liong dan wanita ini terkejut bukan main!

Anak setan itu masih hidup!

Padahal dia telah memasukkan racun Hui-tok-san ke tubuh anak itu.

Dan anak itu dahulu telah ditawan oleh ketua Jeng-hwa-pang yang kejam, maka dia menyangka bahwa anak itu tentu telah tewas.

Akan tetapi, sekarang dia melihat bocah itu masih segar bugar!

Dan anak ini menurut pengakuannya adalah putera Cia Bun Houw, tokoh utama yang menjadi musuh besar subonya.

Tentu saja hati wanita itu meniadi girang sekali.

Tak disangkanya dia akan bertemu dengan bocah ini yang tentu akan dapat menunjukkan jalan ke tempat musuh besarnya she Cia itu!

Maka, dia tidak lagi memperdulikan segala keributan di tempat itu dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah menangkap Sin Liong dan menotok bocah itu sebelum Sin Liong mampu berteriak atau bergerak, kemudian sekali berkelebat lenyaplah wanita itu bersama Sin Liong dari situ!

Begitu tubuhnya ditangkap dan dibawa lari seperti terbang, Sin Liong memandang dan tahulah dia bahwa dia terjatuh ke dalam tangan musuh lamanya!

Tadi ketika Kim Hong Liu-nio membunuh tiga orang penyerbu rumah keluarga Na, diapun sudah mengenal wanita itu dan saking heran dan terkejutnya dia sampai tidak mampu berkata apa-apa.

Kini, melihat dirinya ditawan, dia tidak berusaha meronta karena diapun tahu bahwa dia telah tertotok dan tidak akan mampu membebaskan diri dari cengkeraman wanita yang amat lihai ini.

Akan tetapi, sekali ini Sin Liong tidak menjadi marah, bahkan diam-diam dia berterima kasih kepada wanita ini.

Dia tahu bahwa tanpa adanya wanita aneh ini, tentu Tiong Pek dan Bi Cu telah tewas, juga dia sendiri.

Wanita aneh ini telah menyelamatkan nyawa mereka bertiga, maka kalau sekarang menawannya dan hendak membunuhnya sekalipun, dia tidak akan merasa penasaran!

Cepat bukan main larinya Kim Hong Liu-nio dan dia membawa Sin Liong ke puncak pegunungan yang tandus dan kering, sunyi seperti kuburan.

Setelah tiba di atas puncak yang amat sunyi dan panas, Kim Hong Liu-nio melemparkan tubuh Sin Liong ke atas tanah.

Sin Liong rebah terlentang tanpa mampu bergerak dan ketika wanita itu menotoknya dan membebaskan dirinya, dia bangkit duduk dan memandang kepada wanita itu dengan mulut tersenyum dan mata berseri lalu dia mengelus-elus bagian tubuhnya yang terasa nyeri karena luka-luka bekas pukulan lawan dalam perkelahian tadi.

Melihat anak itu tersenyum kepadanya, Kim Hong Liu-nio mengerutkan alisnya.

Senyum anak itu demikian terbuka dan sekiranya dia tidak begitu benci kepada anak ini sebagai putera musuh besarnya, tentu dia tidak ingin mencelakai seorang anak laki-laki seperti ini.

Dan sepasang matanya demikian tajam.

"Uhh...!"

Kim Hong Liu-nio mengusap peluh di dahinya dan diam-diam dia memaki dirinya sendiri mengapa tiba-tiba saja dia merasa begitu lemah.

Dia tidak tahu bahwa setelah dia menjadi korban asmara, setelah dia jatuh cinta terjadi perubahan dalam dirinya dan dia sebenarnya mendambakan kehidupan yang damai dan tenteram, jauh dari kekerasan dan penuh dengan cinta kasih dan kebahagiaan.

Ada sesuatu yang mendorongnya untuk hidup akur dan damai dengan siapapun juga, mengajak senyum dan bergembira kepada siapapun juga.

"Kenapa kau pringas-pringis seperti itu?"

Bentaknya marah. Senyum di bibir Sin Liong melebar.

"Bibi yang baik, engkau telah menyelamatkan nyawa Tiong Pek dan terutama Bi Cu, maka aku merasa girang sekali dan berterima kasih kepadamu. Ternyata engkau bukanlah iblis betina seperti yang selama ini kukira, melainkan orang yang gagah perkasa dan baik, yang kadang-kadang berpura-pura jahat dan kejam."

"Hemm, apa maksudmu? Siapa itu Tiong Pek dan Bi Cu?"

Bentak Kim Hong Liu-nio.

"Tiong Pek dan Bi Cu adalah dua orang anak yang telah kau selamatkan nyawanya tadi, bibi yang baik..."

"Aku bukan bibimu!"

Bentak wanita itu marah.

"Tentu saja bukan, akan tetapi... ah, agaknya kau tidak suka kusebut bibi? Baiklah, kusebut kau enci juga boleh!"

"Huh, kau anak ceriwis!"

Bentaknya lagi dan Sin Liong ini diam saja.

Sampai lama mereka berdua tidak berkata-kata, dan wanita itu duduk di atas batu besar, matanya memandang jauh seperti orang melamun.

Sin Liong juga memandang ke sana-sini.

Keadaan amat sunyi dan tiba-tiba Sin Liong melihat betapa tempat itu penuh dengan burung-burung gagak.

Ada yang beterbangan di atas dan ada pula yang hinggap di atas pohon, di atas batu-batu.

Bulu mereka yang hitam itu mengkilap tertimpa sinar matahari pagi.

Hari itu masih belum siang benar, akan tetapi panas matahari telah menyengat.

Dan ternyata dia telah dilarikan selama semalam suntuk oleh wanita itu, wanita yang luar biasa.

"Luar biasa...!"

Tanpa disadarinya, kata-kata ini keluar dari mulutnya.

Ucapan itu agaknya menyadarkan Kim Hong Liu-nio dari lamunannya.

Dia sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia banyak melamun.

Dia terkejut dan menoleh.

"Apa katamu?"

Bentaknya.

Sin Liong juga terkejut karena dia sendiri tidak sadar bahwa jalan pikirannya keluar dari mulutnya.

"Eh, apa...? Ok, aku hanya ingin tahu apakah yang akan kau lakukan kepadaku, enci? Mengapa kau mengajak aku ke tempat yang sunyi ini?"

Tiba-tiba terdengar bunyi burung gagak.

Seekor berbunyi, yang lain lalu menjawab dan mereka berkaok-kaok saling bersahutan.

Sin Liong merasa serem.

Bunyi burung gagak selalu menimbulkan serem di dalam hatinya, mengingatkan dia akan kematian.

Kematian?

Ibunya telah mati!

Ibu kandungnya telah mati dibunuh oleh wanita ini!

Dan tiba-tiba saja Sin Liong meloncat dengan penuh kemarahan, langsung saja dia menyerang Kim Hong Liu-nio dengan jurus ilmu silat yang selama ini dipelajarinya dari Na Ceng Han!

Ketika Sin Liong menyerangnya wanita itu masih duduk di atas batu dan dia hanya memandang saja ketika Sin Liong menyerangnya.

Setelah anak itu tiba dekat, kaki Kim Hong Liu-nio bergerak.

"Bukkk!"

Tubuh Sin Liong terlempar dan terbanting dengan keras sekali, Sin Liong memang sudah menderita luka-luka, dan tubuhnya masih lelah dan sakit-sakit, maka bantingan itu membuat dia seketika merasa pening.

Akan tetapi dia sudah bangkit lagi, dan dengan hati terbakar kemarahan karena mengingat betapa wanita ini telah membunuh ibu kandungnya yang tercinta, dia menerjang lagi dengan nekat.

"Iblis betina, kau telah membunuh ibuku!"

Bentaknya. Sekali ini, Kim Hong Liu-nio menggerakkan tangannya menotok.

"Brukkk!"

Untuk kedua kalinya tubuh Sin Liong roboh dan sekali ini dia tidak mampu bergerak lagi.

"Aku memang telah membunuh ibumu, dan aku akan segera membunuh ayahmu juga!"

Kim Hong Liu-nio menghardik, kini kebenciannya timbul karena diapun seperti Sin Liong sudah teringat bahwa anak ini adalah putera dari musuh besarnya.

Biarpun tubuhnya sudah lumpuh tak mampu bergerak, namun Sin Liong masih dapat bicara.

Dengan suara mengejek dia berkata.

"Huh, manusia macam engkau ini beraninya hanya menghina yang lemah. Kalau kau bertemu dengan ayah kandungku, dalam sepuluh jurus saja engkau tentu akan mampus!"

Sin Liong memang sengaja mengeluarkan ucapan ini untuk mengejek dan menghina, satu-satunya hal yang mampu dilakukannya untuk melampiaskan kemarahan dan sakit hatinya.

Akan tetapi ucapan itu diterima girang oleh Kim Hong Liu-nio.

"Ah, jadi ayahmu berada di sini? Lekas katakan, di mana dia? Kalau kau memberi tahu di mana adanya Cia Bun How, aku akan mengampuni nyawamu!"

Sin Liong adalah seorang anak yang luar biasa sekali.

Wataknya keras dan dia tidak pernah mengenal takut.

Kalau orang bersikap baik dan halus kepadanya, dia akan menjadi lunak dan tunduk.

Akan tetapi kalau ada orang bersikap keras kepadanya, biar dia diancam maut, biar dia disiksa, dia tidak akan sudi tunduk.

Maka, mendengar ucapan itu, matanya yang bersinar tajam itu memandang dengan mendelik, dan mulutnya tersenyum mengejek.

"Aku tidak sudi mengatakan!"

Padahal, tentu saja dia sendiripun tidak tahu di mana adanya ayah kandungnya itu, akan tetapi dia memang sengaja ingin membikin panas hati wanita pembunuh ibunya ini.

Dan memang Kim Hong Liu-nio menjadi marah sekali.

Kini dia yakin bahwa anak itu tentu tahu di mana adanya Cia Bun Houw, dan dia sudah mengambil keputusan untuk memaksa anak ini memberi tahu di mana adanya musuh besarnya itu.

"Katakan di mana Cia Bun Houw!"

Kembali dia membentak sambil mencengkeram tengkuk Sin Liong.

"Tidak sudi!"

Anak itu balas membentak.

"Hemm, kau agaknya ingin kusiksa sampai setengah mati!"

"Huh, apa artinya siksaanmu? Dahulupun kau meracuni tubuhku, dan aku tidak takut!"

Ucapan ini mengingatkan Kim Hong Liu-nio dan cepat dia memeriksa tubuh anak itu, meraba pergelangan tangannya dan dadanya.

Mata wanita itu terbelalak heran.

Anak itu sudah bebas sama sekali dari Hui-tok-san!

"Siapa yang mengobatimu?

Ayahmu itu?"

Sin Liong yang diangkat ke atas sehingga mukanya berdekatan dengan muka wanita itu, tersenyum mengejek.

"Kau tidak akan dapat mengetahui!"

"Bress!"

Kim Hong Liu-nio membanting dan untuk ketiga kalinya tubuh Sin Liong terbanting ke atas tanah.

"Hayo katakan, di mana ayahmu itu! Di mana Cia Bun Houw!"

Kembali dia berteriak-teriak penuh kemarahan.

Sin Liong merasa kepalanya pening dan tubuhnya sakit-sakit tanpa mampu bergerak.

Akan tetapi nyalinya tidak pernah berkurang besarnya.

Dia memandang wanita itu dan berkata.

"Hemmm, kau ternyata lebih curang daripada seekor ular, lebih ganas daripada seekor serigala dan lebih jahat daripada ketua Jeng-hwa-pang atau iblis sekalipun!"

"Hayo katakan di mana ayahmu!"

"Tidak sudi! Kau mau apa?"

"Keparat, hendak kulihat apakah engkau masih tetap akan membandel!"

Dengan marah Kim Hong Liu-nio, menyambar tubuh Sin Liong, yang dibawanya kepada sebatang pohon dan dia menggunakan akar pohon untuk mengikatnya pada batang pohon itu, diikat dari kaki sampai ke leher.

Setelah itu, dia lalu membebaskan totokan di tubuh anak itu agar Sin Liong merasakan sepenuhnya siksaan itu.

"Kau mau bunuh sekalipun jangan harap aku akan sudi mengaku kepada orang jahat macam engkau!"

Sin Liong memanaskan hati wanita itu.

"Aku tidak akan membunuhmu. Kaulihat burung-burung itu? Nah, merekalah yang akan membunuhmu perlahan-lahan, mencabik-cabik dagingmu sedikit demi sedikit. Aku tidak akan pergi jauh, dan kalau kau berteriak memanggilku apabila engkau sudah mengubah sikap kepala batumu itu, tentu aku akan mendengarmu!"

Setelah berkata demikian, Kim Hong Liu-nio tersenyum, senyum yang manis sekali, akan tetapi senyum yang membuat Sin Liong bergidik karena anak ini sudah mulai mengenal musuhnya yang dapat melakukan hal yang teramat keji.

Dengan sekali berkelebat saja, wanita itu lenyap dari situ, meninggalkan Sin Liong terikat pada batang pohon dengan muka menghadap ke matahari yang sudah mulai naik agak tinggi dan sinarnya yang terik itu sepenuhnya menimpa muka dan tubuh Sin Liong.

"Gaooookkk...!"

Seekor burung gagak hitam melayang turun dan hinggap di atas batu di mana tadi Kim Hong Liu-nio duduk.

Burung itu memandang ke arah Sin Liong, kepalanya dimiringkan ke kanan kiri seperti hendak memandang lebih teliti atau mendengarkan sesuatu.

Tak lama kemudian, nampak bayangan hitam menyambar turun dari atas dan seekor burung gagak lain telah hinggap di atas tanah, di depan Sin Liong.

Anak itu memandang tajam, heran melihat burung-burung itu berani mendekatinya dan dia belum mengerti apa maksudnya Kim Hong Liu-nio meninggalkannya terikat di situ.

Dia tidak tahu bahwa burung-burung ini adalah burung-burung pemakan bangkai yang sudah kelaparan karena sudah lama tidak makan, dan betapa mereka itu sudah tidak sabar menanti adanya bangkai yang boleh mereka makan.

Agaknya burung-burung lain tertarik oleh dua ekor burung yang berkaok-kaok di dekat Sin Liong itu karena kini banyak burung melayang turun dan mengurung tempat di mana Sin Liong diikat pada batang pohon itu.

Sin Liong masih belum tahu akan datangnya bahaya mengerikan mengancamnya, bahkan dia memandang tanpa bergerak-gerak.

Inilah salahnya.

Kalau saja dia bergerak atau mengeluarkan suara, tentu burung-burung itu akan menjadi takut.

Tiba-tiba seekor burung gagak terbang dan hinggap di atas pundak kiri Sin Liong.

Anak ini barulah merasa terkejut, apalagi karena kuku-kuku jari kaki burung yang mencengkeram pundaknya itu menembus baju melukai kulitnya.

"Hehhh....!"

Dia membentak dan burung itu terbang dengan kaget, akan tetapi segera hinggap di atas tanah karena melihat anak itu tidak dapat bergerak.

Keringat dingin mulai membasahi dahi dan leher Sin Liong.

Kini dia memandang dengan mata terbelalak kepada burung-burung yang bergerak-gerak di depannya dan bagi pandang matanya, burung-burung itu seperti berubah menjadi iblis-iblis hitam yang menakutkan.

Kembali ada dua ekor burung terbang atau meloncat dan mereka ini menerkam.

Sin Liong membentak lagi dan dua ekor burung itu terbang turun, hanya untuk mengulang kembali perbuatan mereka.

Sin Liong membentak-bentak, akan tetapi dua ekor burung yang hinggap di pundak dan lengannya tidak mau pergi bahkan kini mereka mulai mematuk-matuk ke arah mata Sin Liong!

Anak itu terkejut dan ngeri, cepat dia memejamkan mata, akan tetapi tidak mampu mengelak karena lehernya tercekik kalau dia menggerakkan kepalanya.

Dia mendengus-dengus dan agaknya suaranya inilah yang membuat dua ekor burung itu meragu dan tidak mematuknya, hanya sayap mereka yang bergerak-gerak dan mengibas-ngibas, sedangkan paruh mereka itu mengeluarkan bunyi berkaok yang terdengar nyaring sekali di dekat telinga Sin Liong!

Sin Liong tidak berani membuka matanya dan hanya mendengus-dengus sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri untuk mengusir burung-burung itu.

Namun dua ekor burung gagak itu tidak mau pergi, sungguhpun mereka belum menyerang karena mereka masih meragu dan agaknya hendak menanti sampai calon mangsa mereka itu sama sekali tidak mampu bergerak.

Sin Liong merasa ngeri bukan main.

Baru sekarang dia merasakan kengerian yang mencekiknya, lebih mengerikan daripada ketika dia dilempar ke dalam sumur ular oleh ketua Jeng-hwa-pang.

Hampir dia berteriak minta tolong, akan tetapi kalau dia teringat kepada wanita yang membunuh ibunya itu, dia tidak jadi berteriak bahkan dia mengatupkan mulutnya dan mengambil keputusan untuk tidak sudi berteriak sampai mati.

Lebih baik mati dicabik-cabik burung-burung ini daripada dia berteriak, mengaku kalah dan tunduk kepada iblis betina itu, demikian tekad hatinya.

Matahari naik makin tinggi.

Sinarnya makin panas dan hampir Sin Liong tidak kuat untuk menahannya lagi.

Anak ini merasa bahwa kalau sampai dia pingsan dan tidak bergerak, tentu burung-burung ini akan menyerangnya.

Maka, biarpun panasnya membuat dia hampir tidak kuat bertahan, Kepalanya pening dan matanya yang dipejamkan itu melihat warna merah, lehernya seperti dicekik oleh kehausan, namun dia mempertahankan diri sekuatnya.

Dia merasa tubuhnya kering sama sekali, diperas habis airnya yang menguap menjadi peluh.

Dari jauh, Kim Hong Liu-nio mengintai.

Wanita ini merasa kagum bukan main.

Kembali timbul rasa sayangnya kepada anak itu di balik kebenciannya.

Anak itu benar-benar hebat sekali!

Selama ini, hanya kepada sutenya sajalah dia kagum dan menganggap sutenya seorang anak laki-laki yang paling hebat.

Akan tetapi, melihat sikap Sin Liong, dia benar-benar merasa heran dan kagum dan harus mengakui bahwa anak itu benar-benar luar biasa, lebih hebat daripada sutenya.

Akan tetapi, rasa sayang ini diusirnya dengan ingatan bahwa anak itu adalah putera Cia Bun Houw, musuhnya yang terbesar.

"Gaoookkkk...!"

Kembali burung yang hinggap di pundak kanan anak itu mengeluarkan bunyi tak sabar lagi.

Kim Hong Liu-nio melihat betapa burung itu menggerakkan paruhnya, mematuk ke arah mata kanan yang terpejam itu.

Akan tetapi, pada saat itu, ada debu mengebul dari sebelah kanan anak itu dan ketika dia memandang, ternyata tiga ekor burung yang tadi hinggap di kedua pundak dan lengan, kini telah jatuh dan mati di dekat kaki Sin Liong yang masih memejamkan matanya!

Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main dan cepat dia meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan langsung dia mploncat dan lari ke tempat itu.

Juga Sin Liong yang merasa betapa di pundaknya tidak ada lagi burung yang mencengkeramnya, membuka mata dan terheranlah dia melihat bangkai tiga ekor burung di lekat kakinya.

Akan tetapi pandang matanya berkunang ketika dia membuka mata, dan dia melihat wanita itu datang berlari-lari.

Habislah harapannya dan dia memejamkan matanya kembali.

Akan tetapi, Sin Liong terkejut dan merasa heran ketika mendengar suara Kim Hong Liu-nio membentak marah.

"Iblis dari mana yang berani bermain gila dengan Kim Hong Liu-nio?"

Mendengar ini, Sin Liong cepat membuka matanya dan dia mengusir kepeningannya dan bintang-bintang yang menari-nari di depan matanya itu dengan goyangan kepalanya.

Akhirnya dia melihat seorang kakek tua berjalan perlahan menuju ke tempat itu.

Seperti juga Kim Hong Liu-nio, Sin Liong membuka matanya lebar-lebar dan memandang kakek yang mendatangi itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Sin Liong masih tidak tahu bagaimana burung-burung itu mati secara aneh.

Tadinya dia menyangka bahwa Kim Hong Liu-nio yang membunuh binatang-binatang rakus itu, akan tetapi melihat munculnya kakek ini, dia meragu dan hatinya tertarik sekali.

Sebaliknya, Kim Hong Liu-nio juga memandang penuh selidik dan hatinya menduga-duga.

Benar kakek inikah yang membunuhi tiga ekor burung gagak secara aneh itu?

Dia masih belum tahu bagaimana burung-burung itu mati.

Melihat adanya debu mengebul, tentu orang telah (Lanjut ke

Jilid 18) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18 mempergunakan pukulan jarak jauh, akan tetapi, burung-burung itu hinggap di tubuh Sin Liong dan memukul mati burung-burung itu dengan hawa pukulan jarak jauh tanpa mengenai anak itu sendiri, sungguh merupakan ilmu yang luar biasa.

Dia masih meragu dan memandang tajam penuh selidik.

Kakek itu sudah tua sekali, sedikitnya tentu sudah tujuh puluh lima tahun usianya.

Rambutnya yang halus dan terpelihara rapi dan bersih, sudah putih semua dan digelung ke atas dengan rapi, diikat dengan kain kuning yang bersih.

Pakaiannya sederhana sekali, seperti pakaian petani, akan tetapi pakaiannya juga bersih.

Wajah itu dihias kumis dan jenggot yang halus dan sudah putih pula.

Namun, wajah kakek ini masih kelihatan sehat dan segar kemerahan, keriput di pipinya hampir tidak nampak.

Wajah yang manis budi dan sabar, akan tetapi sinar matanya membayangkan wibawa dan kekerasan hati seorang pendekar!

Kakek ini berpakaian polos, agaknya tidak membawa senjata apapun.

Setelah tiba di tempat itu, kakek yang mendatangi dengan langkah ringan dan perlahan, sejenak memandang kepada Sin Liong, kemudian dia menoleh dan memandang kepada wanita cantik itu.

Kim Hong Liu-nio merasa betapa jantungnya berdebar tegang ketika melihat sepasang mata tua itu menyambar ke arahnya dengan ketajaman pandangan yang menyeramkan.

Lalu terdengar suara kakek itu, halus dan lembut akan tetapi mengandung teguran dan wibawa.

"Mengganggu orang yang tidak mampu melawan merupakan perbuatan yang pengecut, apalagi menyiksa seorang bocah yang tak dapat melawan merupakan perbuatan keji. Bagaimanakah seorang wanita muda dan cantik seperti engkau ini dapat melakukan perbuatan keji dan pengecut?"

Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang memiliki tingkat kepandaian tinggi dan dia tidak pernah mengenal takut.

Biarpun dia dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang yang pandai, namun tentu saja dia sama sekali tidak merasa jerih dan kini mendengar kakek itu mencelanya, tentu saja dia menjadi marah sekali.

"Kakek yang lancang tangan dan lancang mulut! Apakah orang setua engkau ini masih belum tahu bahwa mencampuri urusan orang lain adalah perbuatan hina yang takkan dilakukan oleh seorang kang-ouw?"

"Menyelamatkan siapapun dari perbuatan keji bukanlah berarti mencampuri urusan orang lain, melainkan sudah menjadi tugas setiap orang manusia yang waras. Bahkan andaikata anak ini anak kandungmu sekalipun yang akan kau siksa, pasti aku akan turun tangan menyelamatkannya dan mencegah perbuatanmu yang keji itu."

Tentu saja Kim Hong Liu-nio menjadi makin marah.

Pertama karena kakek itu mengatakan anak itu anak kandungnya!

Padahal dia adalah seorang perawan.

Dan ke dua, dengan terang-terangan kakek itu menyatakan akan menentangnya!

"Tua bangka yang bosan hidup!"

Bentaknya marah, mulutnya tersenyum, tanda bahwa kemarahannya sudah mencapai puncaknya dan dia sudah siap untuk membunuh, dengan tenang dia lalu mengenakan sarung tangannya.

"Apakah engkau belum mendengar siapa aku? Tentu engkau tidak mengenal Kim Hong Liu-nio maka engkau berani bersikap seperti ini."

"Hemm, tentu saja aku tahu siapa engkau. Engkau adalah seorang wanita yang sudah berhasil mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi akan tetapi gurumu adalah seorang jahat sehingga tidak mendidik batinmu. Ilmu tinggi yang terjatuh ke tangan seorang yang kejam, hanya akan mendatangkan bencana di dunia ini."

"Keparat, terimalah ini!"

Kim Hong Liu-nio yang sudah marah itu tidak dapat bertahan lagi dan dia sudah mencelat ke depan dengan kecepatan kilat dan melakukan serangan pukulan dengan kedua tangannya.

Pukulan maut yang datangnya cepat dan mengeluarkan suara angin bercuitan mengerikan.

Karena menduga bahwa lawannya lihai, begitu menyerang Kim Hong Liu-nio telah mengerahkan sin-kangnya dan pukulan itu merupakan pukulan maut yang sukar dilawan!

Akan tetapi, kakek itu malah membalikkan tubuhnya dan dengan kedua tangannya dia membuka ikatan tangan yang membelenggu Sin Liong!

Melihat ini, Kim Hong Liu-nio menahan pukulannya dan alisnya berkerut.

Demikian hebatkah kakek ini sehingga tidak memandang sebelah mata kepada serangannya?

Ketika dia melihat bahwa kakek ini sudah membebaskan ikatan Sin Liong yang segera jatuh terduduk dengan lemas dan anak itu menggosok-gosok kedua pergelangan tangan dan terengah-engah, Kim Hong Liu-nio membentak keras dan sekarang dia benar-benar menyerang ke arah kakek itu dengan pukulan maut yang mengarah pelipis dan ulu hati kakek itu.

Diam-diam kakek itu tersenyum.

Ternyata dugaannya tadi agak keliru.

Wanita ini tidak memiliki watak curang, buktinya serangan pertama tadi ditundanya ketika dia sedang membuka ikatan anak itu.

Akan tetapi dugaannya bahwa wanita ini memiliki ilmu tinggi adalah benar karena melihat serangan itu saja tahulah dia bahwa wanita ini benar-benar lihai sekali.

Untuk mencoba kekuatan wanita itu, dia sengaja menggerakkan kedua tangannya menangkis.

Dua kali dua pasang tangan bertemu.

"Dukk! Plak!"

Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main.

Tubuhnya terdorong mundur oleh tangkisan-tangkisan itu!

Di lain fihak, kakek itu makin kagum karena ternyata bahwa serangan wanita ini mampu membuat kedua lengannya tergetar!

Maklum bahwa dia kalah kuat dalam hal sin-kang oleh kakek aneh yang tak dikenalnya ini, Kim Hong Liu-nio menjadi penasaran dan marah.

Dia mengeluarkan suara melengking panjang dan tiba-tiba tubuhnya sudah menerjang dengan gerakan cepat bukan main yang membuat dia seperti lenyap berubah menjadi bayang-bayang yang luar biasa cepatnya.

Kaki tangannya menyerang bertubi-tubi ke arah bagian tubuh berbahaya dari kakek itu, setiap serangan mcrupakan serangan maut!

Sementara itu, kakek yang ternyata amat luar biasa kepandaiannya itu, dengan alis putih berkerut memperhatikan gerakan lawan dan diam-diam diapun merasa terheran-heran karena dia tidak mengenal ilmu silat yang dimainkan oleh wanita itu.

Padahal, dia hampir mengenal semua dasar ilmu silat tinggi dari semua partai-partai besar!

Akan tetapi, diapun harus mengimbangi kecepatan wanita itu dan selalu dapat menghindarkan diri atau menangkis.

Kembali Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main.

Kakek petani ini ternyata hebat sekali!

Bukan saja dapat menandingi sin-kangnya, bahkan tidak terdesak oleh gin-kangnya!

Diam-diam dia lalu mencabut tiga batang hio dan dengan kuku jari tangannya menyentik batu api, muncratlah batu api membakar ujung tiga batang hio itu.

Hio-hio ini sebenarnya dia sediakan untuk membunuh musuh-musuh gurunya, Seperti yang telah dilakukannya kepada beberapa orang yang telah berhasil dibunuhnya.

Akan tetapi menghadapi seorang lawan tangguh seperti kakek ini, dia akan mempergunakannya juga karena senjata hio itu merupakan senjata istimewa pula.

Kakek itu hanya memandang sambil mengelak ke sana-sini ketika wanita itu sambil menyerang mengeluarkan dan menyalakan tiga batang hio.

Dia tidak tahu apa artinya dan tertarik sekali, menduga bahwa agaknya wanita ini adalah seorang ahli ilmu hitam yang hendak mempergunakan ilmu sihirnya.

Dia tidak takut, melainkan tertarik sekali dan ingin melihat bagaimana wanita itu hendak menggunakan sihir atas dirinya!

Akan tetapi, tiba-tiba wanita itu mengeluarkan bentakan nyaring sekali dan kakek itu melihat sinar-sinar keemasan kecil menyambar ke arah tiga jalan darah di tubuhnya!

Tahulah dia bahwa hio-hio menyala itu sama sekali bukan dipergunakan untuk main sulap atau sihir, melainkan untuk dipergunakan sebagai senjata rahasia yang menyerangnya!

Kakek itu mengeluarkan seruan panjang, tiba-tiba tubuhnya bergerak cepat ke atas dan ketika dia melayang turun kembali, tiga batang hio menyala itu telah disambarnya dan berada di tangannya.

Sekali dia melempar, tiga batang hio itu menancap di atas tanah dan asapnya bergulung-gulung kecil ke atas!

Kim Hong Liu-nio terkejut, juga makin penasaran dan marah.

Tiba-tiba dia bergerak, didahului oleh sinar merah dan ternyata wanita ini telah menyerang lagi dengan menggunakan sabuk merahnya.

Dengan gerakan seperti seekor ular hidup, ujung sabuk merah itu secara bertubi telah menotok ke arah tujuh jalan darah kematian di sebelah depan tubuh kakek itu!

"Hemm, keji...!"

Kakek itu mencela dan cepat dia menggunakan telapak kanan untuk menangkap ujung sabuk merah.

Akan tetapi, begitu melihat lawan hendak menangkap ujung sabuk, Kim Hong Liu-nio menggerakkan tangan dan kini ujung sabuk itu meluncur dan menotok ke arah telapak tangan itu secara langsung, untuk menotok jalan darah antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan yang terbuka itu.

Akan tetapi, kakek itu agaknya tidak tahu akan serangan ini dan tetap saja membuka tangan hendak menangkap ujung sabuk itu, Kim Hong Liu-nio menjadi girang sekali dan menambah tenaganya ketika ujung sabuk bertemu dengan telapak tangan lawan.

"Plakk...!"

Ujung sabuk itu tepat mengenai telapak tangan dan melekat di situ.

Tiba-tiba wajah cantik itu birubah pucat, matanya terbelalak lebar memandang kepada kakek itu ketika Kim Hong Liu-nio merasa betapa tenaga sin-kangnya memberobot keluar dari tangannya yang ujungnya menempel pada telapak tangan kakek itu.

"Thi-khi-i-beng...!"

Dia berteriak kaget dan membuat gerakan tiba-tiba menarik sabuk merahnya.

"Pratttt...!"

Sabuk merah itu terputus di tengah-tengah! "Ahhh...!"

Kakek itu berseru kagum sekali.

Kim Hong Liu-nio masih memandang terbelalak.

Dia mengenal Thi-khi-i-beng seperti yang pernah diceritakan oleh subonya.

Thi-khi-i-beng adalah ilmu yang aneh, sesuai dengan namanya yang berarti Curi Hawa Pindahkan Nyawa, ilmu itu dapat menyedot hawa sin-kang lawan sampai habis!

Untung dia telah mempelajari ilmu untuk melepaskan diri dari sedotan Thi-khi-i-beng yang ampuh itu!

"Siapakah engkau...?"

Tanyanya, suaranya membayangkan awal kejerihan menghadapi kakek yang hebat itu.

Kakek itu melemparkan sabuk merah yang putus itu ke atas tanah lalu menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara lirih dan seperti orang membaca sajak.

"Namaku tidak lebih terkenal daripada sebatang pedang, akan tetapi pedangku adalah pedang kayu yang tidak keras, juga tidak berbau darah kering melainkan harum semerbak. Ah, sampai terpaksa aku menggunakan Thi-khi-i-beng, menandakan bahwa kepandaianmu hebat sekali, nona."

Kim Hong Liu-nio makin terkejut dan hatinya makin gentar.

Dalam kata-kata perkenalan dari kakek itu terkandung kata-kata pedang kayu dan harum.

Pedang Kayu Harum, Siang-bhok-kiam!

Dia cepat membuat gerakan membungkuk.

"Sudah kuduga..."

Bisiknya.

"kiranya... maafkan saya..."

Dan tanpa bicara apa-apa lagi, Kim Hong Liu-nio membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dengan cepat seperti terbang.

"Nona, tunggu dulu...!"

Kakek itu berseru, akan tetapi Kim Hong Liu-nio menjawab tanpa menoleh.

"Lain kali kita akan saling berjumpa kembali!"

Cia Keng Hong, atau ketua dari Cin-ling-pai, pendekar sakti yang amat terkenal dengan pedang kayu harumnya itu, memandang dan tidak mengejar.

Dia merasa kagum sekali karena setelah puluhan tahun tidak bertemu lawan, Baru sekarang dia bertemu tanding seorang wanita yang masih muda akan tetapi juga memiliki kepandaian yang tinggi sekali, bahkan dia tidak mengenal dasar ilmu silat yang dimainkan oleh wanita itu!

Para pembaca dari cerita Siang-bhok-kiam, lalu cerita Petualangan Asmara, dan Dewi Maut, tentu tidak asing lagi dengan pendekar sakti Cia Keng Hong ini.

Dia adalah seorang pendekar sakti yang namanya terkenal sekali di dunia kang-ouw, sebagai ketua dari Cin-ling-pai di Pegunungan Cin-ling-san, di mana dia hidup bersama isterinya yang tercinta seorang bekas pendekar wanita yang lihai pula.

Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Cia Keng Hong telah meninggalkan keramaian dunia kang-ouw dan dia yang sudah tua hidup tentram di Pegunungan Cin-ling-san sampai cerita ini terjadi.

Pada waktu sekarang, Cia Keng Hong, dalam usia yang sudah tujuh puluh tahun lebih, pendekar sakti ini merasa betapa hidupnya penuh dengan duka.

Isterinya, satu-satunya manusia di dunia ini yang paling dicintanya, telah meninggal dunia dua tahun yang lalu, meninggal dunia dalam usia yang sudah cukup tinggi, kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi sayangnya meninggal dalam keadaan duka pula karena kematiannya tidak ditunggui oleh puteranya yang terkasih, yaitu Cia Bun Houw.

Diam-diam di dalam hati pendekar sakti ini timbul penyesalan besar.

Dia tidak dapat menyalahkan Bun Houw yang sampai sepuluh tahun lebih lamanya belum pernah pulang itu.

Dia sendirilah yang menyebabkannya.

Dia yang seolah-olah mengusir puteranya itu karena puteranya itu nekat hendak hidup sebagai suami isteri bersama Yap In Hong, adik dari pendekar Yap Kun Liong.

Dia melarang dan tidak setuju, akan tetapi Bun Houw nekat sehingga puteranya itu lalu pergi bersama In Hong dan sampai kini tidak ada kabar ceritanya.

Hiburan satu-satunya bagi Cia Keng Hong setelah isterinya meninggal dunia adalah cucunya yang digemblengnya sejak kecil di Pegunungan Cin-ling-san itu.

Cucu perempuan ini bukan lain Lie Ciaw Si, puteri dari Cia Giok Keng dan mendiang Lie Kong Tek.

Dengan tekun pendekar sakti itu menurunkan kepandaiannya kepada cucunya ini, dan biarpun Ciauw Si tidak memiliki bakat yang terlalu menonjol, akan tetapi dara ini telah mewarisi banyak ilmu tinggi kakeknya sehingga dia menjadi seorang dara yang hebat juga dan jarang akan ada yang mampu menandinginya.

Betapapun juga, setelah neneknya meninggal, dara yang kini berusia dua puluh tahun itu sering kali melihat kakeknya termenung duka, Bahkan sering kali kakeknya itu seperti seorang pikun turun gunung dan merantau di kaki Pegunungan Cin-ling-san, lupa makan lupa tidur dan baru pulang kalau sudah disusul dan dibujuknya.

Kemudian Ciauw Si mendengar penuturan ibunya yang masih tinggal di Sin-yang di rumah mendiang suaminya, tentang pamannya, adik ibunya, yaitu Cia Bun Houw dan bahwa kedukaan kakeknya itu disebabkan oleh kepergian Bun Houw yang sampai sekarang tidak pernah ada beritanya itu.

Mendengar ini, Ciauw Si yang mencinta kakeknya itu merasa kasihan dan pada suatu pagi pergilah dia meninggalkan Cin-ling-san dengan meninggalkan surat untuk kakeknya, memberi tahu bahwa dia pergi untuk mencari pamannya, Cia Bun Houw!

Akan tetapi, kejadian ini sama sekali tidak menggirangkan hati kakek pendekar itu.

Sebaliknya malah.

Dia merasa prihatin dan khawatir.

Biarpun cucunya itu sudah memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi cucunya adalah seorang wanita muda dan kurang pengalaman, padahal dia tahu betul betapa bahayanya merantau di dunia kang-ouw seorang diri bagi seorang wanita muda.

Kekhawatiran ini membuat hatinya tidak tenang, maka kakek inipun lalu turun gunun untuk mencari cucunya!

Demikianlah keadaan singkat dari kakek pendekar Cia Keng Hong yang usianya sudah tujuh puluh lima tahun itu.

Dalam perantauannya mencari cucunya itulah secara kebetulan dia melihat Sin Liong yang sedang tersiksa oleh Kim Hong Liu-nio dan dia lalu turun tangan menolongnya.

Biasanya, kakek yang sedang merantau ini menyembunyikan diri dan kepandaiannya, dan kalau sekarang dia memperlihatkan kepandaiannya, adalah karena dia terpaksa sekali oleh kelihaian Kim Hong Liu-nio.

Kakek itu merasa amat kagum menyaksikan sikap anak yang disiksa itu, dan diam-diam dia memperhatikan, bahkan ketika dia membebaskan belenggu itu jari-jari tangannya mengusap dan dia memperoleh kenyataan bahwa anak itu benar-benar memiliki tulang yang baik sekali.

Kini kakek itu menghampiri Sin Liong yang sudah bangkit berdiri dengan bibir pecah-pecah.

Biarpun anak itu lebih patut dikatakan setengah hidup dalam keadaan payah sekali, namun anak itu sudah bangkit berdiri dan memandang kepada kakek itu dengan mata merah, mata yang tadi disiksa oleh panasnya matahari.

Setelah kakek itu datang dekat, tiba-tiba Sin Liong tak dapat bertahan lagi dan dia terhuyung dan tentu terguling kalau tidak cepat disambar oleh tangan kakek itu.

Sin Liong roboh pingsan, hal yang ditahan-tahannya sejak tadi.

Sin Liong mengecap-ngecap bibirnya yang basah.

Dia membuka mata dan melihat bahwa dia sedang rebah di bawah pohon yang teduh sedangkan kakek itu membasahi mukanya dan memberi minum air jernih yang dingin dan nikmat sekali terasa olehnya.

Cepat dia bangkit duduk dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Sin Liong maklum bahwa tanpa adanya kakek ini, dia tentu sudah mati dalam keadaan mengerikan, dirobek-robek dagingnya oleh burung-burung gagak pemakan bangkai!

Biarpun tadi kepalanya pening dan pandang matanya berkunang, namun dia masih dapat menyaksikan betapa kakek yang sederhana ini ternyata mampu menandingi Kim Hong Liu-nio, bahkan wanita iblis itu melarikan diri!

Maka Sin Liong yang cerdik mengerti bahwa kakek tua renta ini adalah seorang manusia sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

"Saya menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan locianpwe."

Cia Keng Hong mengurut jenggotnya yang putih dan memandang kepada bocah itu penuh perhatian.

Ketika dia merawat Sin Liong dari pingsannya tadi, kembali dia meraba-raba dan makin yakin dia akan bakat yang terpedam dalam diri anak ini.

"Anak yang baik, siapakah namamu?"

"Nama saya Sin Liong..."

Tercengang juga hati kakek itu mendengar nama yang gagah itu.

Nama anak ini berarti Naga Sakti!

"Engkau she apakah, Sin Liong?"

Sin Liong tahu bahwa dia adalah she Cia.

Akan tetapi dia tidak mau membawa-bawa nama ayahnya yang belum pernah dijumpainya itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab.

"Locianpwe, sejak kecil saya tidak tahu apakah she saya. Saya hanya bernama Sin Liong, tanpa she."

Cia Keng Hong tercengang, alisnya berkerut.

"Kalau begitu, siapakah ayah bundamu?"

Sin Liong menggeleng kepalanva.

"Saya hidup sebatangkara, tidak mempunyai ayah dan bunda. Saya bekerja sebagai pelayan dari Na-piauwsu yang tinggal di Kun-ting. Akan tetapi beberapa hari yang lalu Na-piauwsu serumah dibunuh orang-orang yang menjadi musuhnya. Lalu muncul wanita iblis itu yang berbalik membunuhi semua orang yang telah membasmi keluarga Na-piauwsu, akan tetapi wanita itu lalu membawa saya ke sini."

Kakek itu mengelus jenggotnya yang putih dan alis matanya tetap berkerut.

Sungguh aneh cerita anak ini.

"Dan mengapa kau dibawanya ke sini dan akan disiksanya sampai mati? Apakah dia memaksamu untuk menceritakan sesuatu?"

Sin Liong menggeleng kepala.

"Saya sendiri tidak tahu, locianpwe."

Cia Keng Hong adalah seorang kakek bijaksana.

Dia sudah mengenal seorang anak yang luar biasa dan dia menduga bahwa tentu ada rahasia di balik diri anak ini dan bahwa anak ini sengaja tidak mau menceritakan tentang dirinya.

Maka diapun tidak mau mendesak.

Hatinya merasa kasihan sekali dan entah mengapa, dia merasa amat tertarik kepada Sin Liong, merasa seolah-olah wajah anak ini tidak asing baginya.

"Sin Liong, setelah keluarga Na itu dibasmi orang, lalu sekarang engkau akan tinggal di mana?"

Tanyanya. Sin Liong tidak mampu menjawab, akan tetapi akhirnya dia berkata.

"Locianpwe, dunia begini luas, saya tidak merasa khawatir untuk tidak kebagian tempat tinggal. Bukankah di manapun bisa ditinggali, misalnya di hutan ini sekalipun?"

Cia Keng Hong terharu. Anak ini masih wajar, masih polos dan murni, belum dikotori "kebudayaan"

Dunia di mana setiap orang manusia bergulat untuk memperoleh kemuliaan dan kesenangan, kalau perlu dengan jalan mendorong dan menginjak orang lain.

Anak ini agaknya belum membutuhkan apa-apa!

"Sin Liong, apakah engkau suka belajar ilmu silat?"

Sejenak wajah anak itu berseri gembira.

"Tentu saja, locianpwe."

"Bagus! Kalau begitu marilah kau turut bersamaku dan aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu."

Sin Liong memang sudah merasa kagum dan suka sekali kepada kakek ini.

Pelindungnya, Na-piauwsu telah tewas, maka tidak ada tempat lain baginya dan kakek ini ternyata jauh lebih lihai daripada Na-piauwsu, bahkan agaknya lebih lihai atau setidaknya pun tidak kalah oleh Kim Hong Liu-nio!

Maka dia lalu berlutut lagi.

"Terima kasih atas kebaikan locianpwe."

Cia Keng Hong membangunkan anak itu dengan wajah berseri.

Baru sekarang semenjak dia pergi menyusul dan mencari cucunya, dia merasa girang.

"Bangunlah dan mari kita berangkat sekarang juga, Sin Liong. Aku tidak ingin terjadi banyak keributan dan kalau wanita itu kembali lagi, tentu akan terjadi keributan."

Berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu dan Cia Keng Hong mengambil keputusan untuk kembah ke Cin-ling-san dengan jalan memutar karena dia masih ingin mendengar-dengar dan mencari jejak cucunya yang pergi meninggalkan Cin-ling-san tanpa pamit itu.

Hati Cia Keng Hong makin merasa suka kepada Sin Liong.

Di sepanjang perjalanan, anak ini memperlihatkan sikap yang pendiam, tidak cerewet, tidak pernah mengeluh, kuat dan tahan uji, juga amat cerdik.

Pernah dia mencobanya dengan mengajaknya berjalan semalam suntuk.

Namun Sin Liong tidak pernah mengeluh, sungguhpun ketika berjalan semalam suntuk itu beberapa kali dia terhuyung dan kedua kakinya membengkak, dan ketika diajak berpuasa itu pendengaran telinga kakek pendekar yang amat tajam itu dapat menangkap bunyi perut anak itu berkeruyuk berkali-kali.

Pada suatu hari, tibalah kakek dan anak tanggung ini di sebuah batu karang.

Ketika mereka tiba di kaki bukit, dari jauh saja keduanya sudah melihat serombongan orang berjalan terhuyung-huyung dan mereka semua itu luka-luka seperti serombongan pasukan kecil yang baru saja pulang dari medan pertempuran dengan menderita kekalahan.

Cia Keng Hong yang tidak ingin mencampuri urusan orang lain, menggandeng tangan Sin Liong hendak diajak mengambil jalan lain karena sekelebatan saja dia tahu bahwa orang-orang itu adalah orang-orang kang-ouw atau orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan yang telah luka-luka karena pertempuran.

Orang-orang seperti itu tentulah orang-orang yang selalu mengandalkan kepandaian sendiri dan suka mencari permusuhan dan suka mencari kekerasan, maka dia hendak menjauhkan Sin Liong dari mereka.

"Locianpwe...!"

"Ah, agaknya Thian yang menuntun ciangbunjin (ketua) dari Cin-ling-pai ke sini untuk menolong kami...!"

Tiba-tiba belasan orang itu semua menjatuhkan diri berlutut di depan Cia Keng Hong!

Tentu saja kakek ini menjadi kaget dan tahulah dia bahwa mereka itu telah mengenalnya sehingga tak mungkin dia menyingkir lagi.

Maka diapun memandang kepada mereka penuh perhatian.

Akhirnya dia teringat bahwa dia mengenal beberapa orang di antara mereka sebagai pendekar-pendekar yang gagah dan bukanlah kaum kasar, melainkan pendekar-pendekar yang suka menolong orang.

Maka dengan sikap halus diapun mendekati dan bertanya kepada mereka.

"Cu-wi sicu (sekalian orang gagah) mengapa menderita luka-luka? Apakah yang telah terjadi?"

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang pundaknya terluka, bajunya robek dan kulit pundak itu kelihatan biru dan lumpuh sebelah lengannya, segera menjawab.

"Di puncak bukit ini terdapat seorang gila yang merampas kambing, kuda, sapi, anjing dan binatang apa saja milik penduduk dusun-dusun di sekitar bukit ini untuk dibunuh dan diganyang mentah-mentah! Orang-orang dusun yang datang kepadanya semua dilukai. Kami yang mendengar ini lalu pergi untuk mengusirnya, akan ternyata orang gila itu lihai dan jahat sekali sehingga kami semuapun kalah dan terluka. Oleh karena itu, demi kepentingan para penghuni dusun di sekitar tempat ini, kami mohon kebijaksanaan dan keadilan locianpwe untuk mengusir orang gila itu dari daerah ini."

Setelah bercerita, kakek itu bersama teman-temannya segera amat tergesa-gesa bangkit berdiri dan menjura, lalu meninggalkan tempat itu dengan terhuyung dan terpincang-pincang, seolah-olah mereka masih merasa jerih dan khawatir kalau-kalau orang gila itu mengejar mereka!

Cia Keng Hong mengerutkan alisnya.

Dia tidak tertarik untuk menguruskan orang gila!

Berapa banyak sih binatang yang dapat dimakan habis oleh seorang manusia, betapa gilapun dia?

Dan biasanya, seorang gila tidak akan mengganggu orang lain kalau tidak lebih dulu diganggu!

Mungkin anak-anak penggembala ternak itu yang lebih dulu mengganggu si gila sehingga menjadi marah-marah.

Kalau para pendekar itu tidak mendatangi si gila di atas bukit, jelas bahwa si gila itu tidak akan melukai mereka.

Dia tidak boleh hanya mendengarkan laporan sefihak lalu membela mereka.

"Sin Liong, mari kita pergi..."

Dia menoleh dan pandang mata kakek itu mencari-cari.

Sin Liong tidak ada lagi di tempat itu.

Tadi anak itu berada di belakangnya ikut mendengarkan, akan tetapi ternyata secara diam-diam anak itu telah pergi!

"Sin Liong...!"

Dia berseru memanggil, biarpun seruannya itu tidak keras, akan tetapi karena digerakkan oleh khi-kang, maka gemanya sampai terdengar dari tempat jauh, bahkan terdengar sampai ke puncak bukit batu karang itu!

Sunyi saja tidak ada jawaban dari Sin Liong, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara tertawa.

"Ha-ha-ha-ha!"

Cia Keng Hong terkejut bukan main.

Itu bukanlah suara ketawa biasa, melainkan suara ketawa yang juga mengandung khi-kang amat kuatnya dan suara itu datang dari atas puncak bukit itu.

Dia menjadi khawatir dan pendekar sakti yang sudah tua ini cepat mendaki bukit menuju ke puncak.

Setelah tiba di puncak, dia melihat hal yang membuat mukanya berubah pucat dan matanya terbelalak.

Di atas puncak itu, di atas batu-batu besar yang permukaannya halus, dikelilingi oleh puncak-puncak batu karang lain yang menjulang tinggi, Dia melihat Sin Liong duduk bersila, berhadapan dengan seorang kakek tua renta tinggi besar yang kepalanya gundul, kakek yang membuat pendekar sakti ini memandang bengong karena dia mengenal baik kakek itu yang bukan lain adalah Kok Beng Lama!

Para pembaca cerita Petualang Asmara dan cerita Dewi Maut tentu mengenal baik siapa adanya kakek gundul ini.

Kok Beng Lama adalah seorang pendeta Lama dari Tibet yang memiliki kesaktian hebat, dan dia pernah menjadi kepala dari para pendeta Lama Jubah Merah di Tibet.

Akan tetapi, semenjak puterinya yang bernama Pek Hong Ing, yang menjadi isteri dari pendekar Yap Kun Liong, tewas dibunuh orang (baca cerita Dewi Maut), Kok Beng Lama merasa demikian marah dan dukanya sampai dia menjadi tidak waras, otaknya menjadi agak miring!

Kemudian dia dapat sembuh, Bahkan dia lalu mewariskan ilmu-ilmunya kepada Lie Seng, cucu dari ketua Cin-ling-pai itu, dan Yap Mei Lan, puteri dari Yap Kun Liong, masih terhitung cucu tirinya sendiri karena Yap Mei Lan bukanlah anak Pek Hong Ing, melainkan anak yang lahir dari hubungan gelap antara Yap Kun Liong dan Lim Hui Sian (baca cerita Petualang Asmara).

Akan tetapi, ketika Lie Seng dan Yap Mei Lan, dua orang muridnya yang terakhir itu sudah tamat belajar dan meninggalkan dia, Kok Beng Lama merasa kesepian dan kumat lagi gilanya, maka dia lalu merantau seperti orang gila dan akhirnya pada hari itu dia berada di atas bukit batu karang, menimbulkan geger dan sampai dia bertemu dengan Cia Keng Hong dan Sin Liong!

Cia Keng Hong memandang bengong ketika melihat kakek gundul itu duduk bersila berhadapan dengan Sin Liong sambil tertawa-tawa dan kedua orang itu ternyata sedang bercakap-cakap dengan asyiknya!

"Kakek yang baik, kenapa kau lukai orang-orang itu?"

Terdengar Sin Liong bertanya. Kok Beng Lama meraba-raba kepala dan pundak Sin Liong sambil tertawa.

"Ha-ha-ha, mereka itu jahat! Mereka itu hendak menghina seorang tua seperti aku. Mereka datang dengan senjata di tangan. Ha-ha, untung bertemu dengan aku yang masih mengampuni mereka. Manusia memang jahat dan palsu, tidak seperti binatang yang wajar dan lebih baik."

"Memang binatang lebih baik, kakek,"

Jawab Sin Liong yang teringat akan monyet-monyet besar yang menjadi teman-temannya.

"Ha-ha, bagus, bagus! Engkau binatang cilik yang baik sekali."

"Dan engkau seperti monyet tua yang pernah merawatku."

"Hu-huh-huh, memang aku monyet. Monyet gundul. Dan kau... ehhh, siapa namamu?"

"Sin Liong."

"Bagus! Kau seekor naga. Bukan ular, naga lain lagi. Kalau ular sih seperti manusia, kadang-kadang licik dan curang. Kalau naga tidak, kau naga cilik yang menyenangkan. Semua orang takut padaku, tapi kau tidak, naga cilik."

"Aku kasihan kepadamu, kek."

"Kenapa kasihan, hee, hayo katakan, kenapa kasihan kau, naga cilik?"

"Karena semua orang menghinamu, mengatakan kau gila."

"Memang aku gila! Apakah kau tidak gila?"

"Aku... aku..."

Sin Liong menjadi bingung, akan tetapi dia benar-benar merasa kasihan kepada kakek yang seperti dia ini, yang hidup sebatangkara, maka dia ingin menyenangkan hatinya.

"Aku juga gila."

"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Kita berdua orang-orang gila! Persetan dengan mereka yang menganggap diri sendiri tidak gila!"

Kakek itu bangkit berdiri, kedua tangannya yang berlengan panjang menyambar tubuh Sin Liong dan melontar-lontarkan tubuh anak itu ke atas sampai tinggi sekali!

Sin Liong maklum akan kesaktian kakek itu, maka diapun tidak mau mengeluh, tidak mau memperlihatkan rasa takut.

Cia Keng Hong khawatir kalau-kalau kakek gila itu akan mencelakai Sin Liong, maka sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah meloncat tinggi dan menyambar tubuh Sin Liong ketika untuk ke sekian kalinya dilontarkan ke atas Kok Beng Lama!

Setelah menurunkan Sin Liong yang berdiri di belakangnya, Cia Keng Hong kini berdiri berhadapan dengan Kok Beng Lama dan ketua Cin-ling-pai itu menjura dengan hormat.

"Sahabat baik Kok Beng Lama, apakah selama ini engkau baik-baik saja?"

Cia Keng Hong berkata.

Kakek gundul itu memandang dengan matanya yang lebar terbelalak, kelihatan dia terkejut dan tercengang, lalu menjura dengan kaku dan berkata.

"Aih... kiranya... Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai! Silakan duduk."

Dan kakek gundul inipun lalu duduk bersila di atas batu, dan melihat ini, tentu saja Cia Keng Hong juga duduk bersila, berhadapan dengan kakek Lama dari Tibet itu.

Sin Liong berdiri dan kini dia memandang bengong kepada kakek sakti yang selama ini membawanya melakukan perjalanan itu.

Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai?

Dia teringat akan pesan ibu kandungnya, Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai adalah kakeknya, ayah dari Cia Bun Houw, ayahnya, ayah kandungnya!

Jadi kakek yang menolongnya dari tangan iblis betina Kim Hong Liu-nio ini, yang kemudian membawanya, adalah kakeknya sendiri!

Tiba-tiba Sin Liong yang berdiri bengong itu terkejut melihat perubahan pada wajah si kakek gundul, matanya menjadi merah dan mulutnya yang bersembunyi di balik kumis dan jenggot putih itu menyeringai.

Agaknya kakek gundul itu kumat lagi gilanya!

Cia Keng Hong juga melihat ini, maka dia cepat-cepat bertanya, suaranya tetap halus.

"Kok Beng Lama, di manakah cucuku Lie Seng dan Yap Mei Lan? Kenapa aku tidak melihat mereka?"

Sungguh tidak disangka sama sekali oleh Cia Keng Hong bahwa pertanyaannya itu merupakan minyak bakar disiramkan kepada api kegilaan yang mulai bernyala di dalam otak Kok Beng Lama itu.

Kegilaan kakek gundul ini menjadi kumat setelah dua orang muridnya itu pergi karena dia merasa kesepian dan rindu, dan kini kata-kata ketua Cin-ling-pai itu justeru mengingatkan dia kepada dua orang yang dicintanya itu!

Maka makin merahlah mata itu, makin melotot dan kini ditujukan kepada Cia Keng Hong penuh kebencian.

Tiba-tiba kakek gundul itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai! Anakku tercinta mati karena puterimu, dan aku masih saja mendidik puteramu mendidik cucumu! Wah, sekarang cucumu juga pergi meninggalkan aku! Aku menderita sengsara dan berduka karena kau, maka kau harus bertanggung jawab sekarang! Ha-ha-ha, aku paling suka mengadu ilmu dan di dunia ini siapa yang dapat menandingi aku kecuali ketua Cin-ling-pai? Hayo, Cia Keng Hong, hari ini kita membuat perhitungan terakhir, ha-ha!"

Cia Keng Hong terkejut sekali dan mengerutkan alisnya.

Celaka, pikirnya, kakek gundul ini sudah gila.

Tentu saja dia menolak dan mengangkat kedua tangan ke atas, menggoyang-goyangnya.

"Jangan, Kok Beng Lama, jangan! Di antara kita tidak terdapat permusuhan, bahkan terikat persahabatan dan persaudaraan yang kekal, bukan?"

"Ha-ha-ha, justeru aku ingin mati dalam tangan seorang yang ternama seperti kau, bukan di tangan segala macam anjing busuk seperti belasan orang tadi. Hayo, sambutlah seranganku ini, Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba kakek gundul itu sambil tertawa lalu menggerakkan kedua tangannya ke depan dan angin pukulan yang amat hebatnya menyambar dahsyat ke depan, menyerang ke arah Cia Keng Hong!

Kakek ketua Cin-ling-pai ini memang sudah mengangkat kedua tangan ketika menggoyang-goyang tangan untuk mencegah itu.

Melihat serangan yang dapat mencabut nyawanya itu, dia terkejut sekali dan cepat diapun mendorongkan kedua lengannya ke depan untuk menyambut.

Hebat sekali pertemuan dua tenaga sakti itu.

Jarak antara tangan kedua orang kakek ini masih ada setengah meter, namun tenaga yang bertemu antara kedua pasang tangan itu sedemikian dahsyatnya sehingga segala sesuatu di sekitar tempat itu seperti tergetar hebat.

Bahkan Sin Liong sendiri sampai terpental dan bergulingan ke belakang.

Akan tetapi, anak ini sudah cepat bangkit kembali dan berdiri menonton dengan mata terbelalak.

Kalau tadinya dia merasa suka kepada Kok Beng Lama dan diam-diam mengasihani kakek itu, kini dia berfihak kepada kakeknya itu.

Dia merasa khawatir sekali.

Dia tidak tahu apa yang telah dan sedang terjadi, akan tetapi dia dapat menduga bahwa antara kedua orang kakek yang duduk bersila dan meluruskan kedua lengan itu pasti sedang terjadi pertandingan yang amat aneh dan hebat.

Dia melihat betapa wajah Kok Beng Lama kelihatan gembira dan mulutnya menyeringai seperti hendak mentertawakan ketua Cin-ling-pai itu, sebaliknya Cia Keng Hong kelihatan prihatin sekali.

Dia tahu bahwa kakek gundul itulah yang memaksa kakeknya untuk bertanding.

"Jangan berkelahi...!"

Sin Liong berseru.

Akan tetapi dua orang kakek itu sama sekali tidak memperdulikannya.

Kok Beng Lama yang sedang dilanda kegembiraan besar karena dia dapat mengadakan pertandingan melawan seorang yang amat lihai itu tentu saja sudah melupakan Sin Liong, sebaliknya, biarpun Cia Keng Hong mendengar seruan Sin Liong, akan tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.

Tidak mungkin dia menghentikhn perlawanannya, karena hal itu berarti bahwa dia akan tewas.

Juga membagi perhatian kepada Sin Liong amat membahayakan dirinya.

Dia merasa betapa tenaga sakti kakek gundul itu makin lama makin kuat menghimpitnya dan beberapa kali mencoba untuk mendesak tenaga perlawanannya.

Oleh karena itu, Cia Keng Hong lalu cepat mengerahkan tenaga mujijat Thi-khi-i-beng!

"Ha-ha, Thi-khi-i-beng, ya?

Bagus, aku memang ingin merasakan kehebatannya!"

Kok Beng Lama berseru sambil tertawa.

Hal ini amat mengejutkan hati Cia Keng Hong karena pendekar ini maklum betapa berbahayanya bagi Kok Beng Lama yang berani bicara dalam keadaan mengadu tenaga seperti itu.

Ternyata kakek gundul itu sudah tidak lagi memperhitungkan bahaya.

"Kok Beng lama, perlu apa kita bertanding? Hentikanlah!"

Serunya.

Akan tetapi jawaban kakek gundul itu hanya suara tertawa dan desakan tenaga yang lebih kuat lagi.

Terpaksa Cia Keng Hong juga mengerahkan tenaganya dan tidak berani bicara lagi karena yang dibadapinya adalah bahaya maut, bukan main-main.

"Hentikan! Jangan berkelahi!"

Sin Liong kini melangkah menghampiri dua orang kakek yang sedang mengadu tenaga sakti itu.

Melihat ini, Cia Keng Hong merasa khawatir sekali, akan tetapi karena tenaga lawan amat kuat mendesak maka diapun tidak berani membagi perhatian dan diam saja, mencurahkan perhatian dan tenaganya untuk mempertahankan dan melindungi dirinya sendiri.

Karena berkali-kali dia berteriak tanpa diperdulikan orang, dan melihat betapa kini dari kepala dua orang kakek itu mengepul uap putih, Sin Liong menjadi makin khawatir dan dengan nekat dia lalu meloncat ke tengah-tengah antara kedua orang kakek itu untuk memisahkan mereka!

Baca Juga: Istana Pulau Es 4

Baca Juga: Suling Emas 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert