Eps 4 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.
Hening sejenak.
Lan Lan dan Lin Lin menahan isak, sedangkan dua orang anak laki-laki yang melihat keadaan mereka itupun merasa berduka.
Akhirnya Siong Bu berkata.
"Jangan khawatir, Lan-moi dan Lin-moi, kelak aku akan membantu kalian. Aku akan memperdalam ilmu silatku dan kelak aku akan menghadapi iblis betina itu!"
Kata Siong Bu penuh semangat.
"Kasihan sekali Sin Liong,"
Beng Sin berkata pula.
"Entah bagaimana nasibnya di tangan iblis itu."
Disebutnya nama Sin Liong membuat empat orang anak itu kembali termenung.
Tak mereka sangka bahwa Sin Liong ternyata adalah anak kandung dari ibu Lan Lan dan Lin Lin!
Jadi "anak monyet"
Itu adalah saudara tiri kedua orang anak perempuan ini, saudara tiri seibu!
Siong Bu yang dulu sering kali memusuhi Sin Liong karena iri hati, menarik napas panjang dan dia berkata.
"Sin Liong benar-benar seorang yang gagah berani. Aku kagum sekali kepadanya."
"Dan dia putera pendekar sakti Cia Bun Houw yang menurut cerita bibi merupakan pendekar nomor satu saat ini di dalam dunia!"
Kata Beng Sin.
Kembali mereka diam dan tiba-tiba mereka berempat menengok ke kiri karena mendengar suara langkah kaki.
Mereka terkejut sekali melihat seorang kakek tinggi besar sudah berdiri di situ, entah dari mana datangnya.
Kakek ini tubuhnya tinggi besar, kelihatan kuat sekali, pakaiannya sederhana, sepatunya juga tua berdebu, kain penutup kepalanya berwarna hitam, mukanya penuh cambang bauk sehingga kelihatan gagah menyeramkan.
Akan tetapi, suara laki-laki itu lembut ketika dia memandang kepada empat orang anak itu dan bertanya.
"Apakah di antara kalian ada yang mempunyai ayah bernama Kui Hok Boan?"
Siong Bu hendak mencegah, akan tetapi sudah terlambat, karena Lan Lan dan Lin Lin sudah menjawab, hampir berbareng.
"Kui Hok Boan adalah ayah kami berdua!"
Kini Siong Bu cepat bertanya.
"Siapakah lopek ini dan kalau ingin bertemu dengan paman Kui Hok Boan, silakan masuk melalui pintu depan. Saya akan memberitahukan kepada paman bahwa lopok datang..."
"Heiii...!"
Beng Sin berseru kaget ketika tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak dan kedua langannya yang besar itu telah menyambar ke depan dan tahu-tahu tubuh Lan Lan dan Lin Lin telah ditangkapnya.
"Kalian ikut bersamaku!"
Katanya kepada dua orang anak perempuan yang menjadi kaget setengah mati dan tidak keburu mengelak itu.
"Lepaskan mereka!"
Siong Bu membentak dan menyerang kakek itu.
Kakek yang mengempit tubuh dua orang anak perempuan itu mendengus, kakinya yang besar dan panjang melayang ke depan, menyambut serangan Siong Bu.
Anak ini terkejut, berusaha untuk mengelak, akan tetapi dia kalah cepat dan tubuhnya sudah terkena tendangan sehingga terlempar ke belakang dan terbanting keras!
"Kau jahat...!"
Beng Sin berseru dan juga menyerbu, akan tetapi tendangan ke dua membuat tubuhnya yang gendut itu terguling-guling.
"Lepaskan aku...!"
"Ayah, tolonggg...!"
Lan Lan dan Lin Lin menjerit keras sekali.
Kakek itu terkejut dan cepat melepaskan mereka, menotok jalan darah mereka membuat kedua orang anak itu tidak mampu bergerak lagi, kemudian menyambar tubuh mereka, mengempit di kedua lengannya dan membawanya lari cepat sekali.
Melihat ini, Siong Bu dan Beng Sin berteriak-teriak dan berusaha mengejar.
"Paman...! Tolong cepat...! Lan-moi dan Lin-moi diculik orang...!"
Demikian mereka berteriak-teriak.
Kui Hok Boan yang sedang berada di dalam bersama beberapa orang penduduk dusun yang menjadi tamunya, terkejut bukan main mendengar teriakan-teriakan ini.
Dia cepat menyambar pedangnya dan melompat ke dalam taman.
"Apa yang terjadi? Mana Lan Lan dan Lin Lin?"
Teriaknya melihat kedua orang anak laki-laki itu menangis.
"Dilarikan orang... ke sana..."
Siong Bu menjawab.
"Seorang kakek brewok... dia menculik mereka..."
Beng Sin juga berkata dan mukanya yang bulat itu mewek-mewek.
Hok Boan tidak membuang waktu lagi, cepat dia lari keluar dari dalam taman, melakukan pengejaran.
Akan tetapi dia sudah tidak melihat bayangan orang itu.
Sampai cuaca menjadi gelap, dia tidak berhasil menemukan jejak orang yang menculik kedua orang anaknya, maka tentu saja hatinya menjadi gelisah bukan main.
Dia lalu cepat kembali ke Lembah Naga, mengumpulkan semua anak buahnya dan bersama anak buahnya, Kembali dia memasuki hutan, mencari-cari anaknya yang diculik orang.
Dua puluh orang lebih itu membawa obor di tangan, diangkatnya tinggi-tinggi dan berteriak-teriak memanggil-manggil nama Lan Lan dan Lin Lin, akan tetapi sampai semalam suntuk mereka mencari, mereka tidak berhasil menemukan jejak penculik yang melarikan dua orang anak perempuan itu.
Tentu saja hati Hok Boan menjadi gelisah bukan main dan dia terus mencari.
Siapakah sesungguhnya kakek gagah yang menculik dua orang anak perempuan itu?
Dia adalah scorang guru silat yang bernama Ciam Lok yang tinggal di kota Ceng-tek sebelah utara kota raja.
Nama Ciam Lok sebagai guru silat telah terkenal juga di daerah itu dan Ciam-kauwsu ini dipercaya para pembesar untuk mendidik anak mereka dengan ilmu silat.
Sebagai seorang tokoh di dunia persilatan, tentu saja Ciam-kauwsu terkenal pula di antara orang-orang kang-ouw, bahkan pergaulannya luas sekali, baik dengan fihak orang kang-ouw maupun liok-lim, kaum golongan sesat maupun golongan bersih.
Tidaklah aneh Ciam-kauwsu menjadi kenalan baik dari Kui Hok Boan ketika Hok Boan merantau dan sampai di kota Ceng-tek.
Ciam-kauwsu suka kepada orang muda yang selain lihai ilmu silatnya, juga ahli dalam hal kesusasteraan itu.
Memang Hok Boan merupakan seorang pemuda yang pandai bergaul dan pandai pula mengambil hati.
Karena dia memang memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu silat, maka Ciam-kauwsu amat suka bercakap-cakap dengan dia sehingga lambat laun pemuda itu menjadi sahabat baiknya.
Sering kali Hok Boan bermalam di rumah guru silat itu dan tidak asing pula dengan keluarga Ciam-kauwsu.
Ciam-kauwsu mempunyai seorang anak gadis yang bernama Ciam Sui Nio, seorang gadis yang cukup manis dan tentu saja kemanisan wajah gadis ini tidak terlepas begitu saja dari pandang mata Hok Boan yang mata keranjang itu.
Dan Hok Boan dengan amat mudah menundukkan hati gadis itu seperti dia telah menundukkan hati ayah dan ibu gadis itu.
Tidak aneh lagi kalau akhirnya terjadi hubungan cinta antara dia dan Sui Nio dan hal ini tidak ditentang oleh keluarga Ciam karena memang Ciam-kauwsu menaruh harapan menarik Hok Boan sebagai mantunya.
Akan tetapi, keluarga ini tidak tahu bahwa pemuda yang menarik hati mereka itu adalah seorang pemuda bengal, seorang pria yang memandang semua wanita sebagai bahan menyenangkan hatinya belaka.
Bujuk rayu dan pikatan Hok Boan mengena, akhirnya gadis itu lupa diri dan jatuh ke dalam pelukannya, mau saja diperbuat apapun oleh pemuda yang telah menjatuhkan hatinya itu.
Dan hasilnya sungguh hebat bagi keluarga Ciam.
Beberapa bulan kemudian, Sui Nio mengandung dan Hok Boan pergi tanpa diketahui lagi jejaknya!
Tentu saja keluarga Ciam menjadi geger.
Ciam-kauwsu cepat mencari Hok Boan, tidak ada seorangpun yang mengetahui ke mana perginya pemuda petualang asmara itu.
Sampai tiga hari lamanya Ciam-kauwsu pergi mencari pemuda itu tanpa hasil dan ketika dia pulang, dapat dibayangkan betapa kaget hatinya melihat betapa puterinya itu telah tewas karena menggantung diri!
Puterinya telah menebus aib yang menimpa keluarga Ciam itu dengan nyawanya!
Ciam-kauwsu berduka sekali dan di dalam hatinya tumbuh dendam yang hebat terhadap Hok Boan.
Dia maklum bahwa dalam hal ilmu silat, biarpun belum tentu dia kalah oleh pemuda she Kui itu, namun juga tidak akan mudah baginya untuk mengalahkannya.
Akan tetapi, dia tetap selalu melakukan penyelidikan untuk dapat menemukan tempat persembunyian pemuda itu dan akan ditantangnya untuk mengadu nyawa.
Namun, pemuda itu lenyap seperti ditelan bumi dan tidak meninggalkan jejak sama sekali.
Setelah dia hampir lupa akan dendamnya karena sudah belasan tahun tidak pernah mendengar berita tentang Hok Boan, dia menganggap pemuda itu tentu telah mati, tiba-tiba saja dia mendengar berita bahwa musuh besarnya itu kini telah hidup makmur di Lembah Naga, di luar Tembok Besar, sebagai seorang yang kaya raya, Memiliki istana kuno, mempunyai isteri cantik dan mempunyai pula anak.
Dendam yang hampir padam itu bernyala kembali, luka di hati yang sudah mulai sembuh oleh waktu itu berdarah kembali dan akhirnya Ciam Lok berangkat meninggalkan rumahnya, menuju ke utara, ke Lembah Naga.
Demikianlah, ketika dia melihat anak-anak di taman, kemudian mendengar bahwa dua orang gadis cilik kembar itu adalah anak-anak dari musuh besarnya, timbul akalnya untuk membalas dengan cara yang sama, yaitu dia hendak menculik anak-anak dari Hok Boan itu agar musuhnya itu dapat merasakan penderitaan hati seorang ayah yang kehilangan anaknya.
Diculiknya dua orang anak itu dan dibawanya lari memasuki hutan.
Ciam-kauwsu mendengar akan pengejaran terhadap dirinya.
Dia berada di daerah kekuasaan musuh.
Dia adalah seorang yang cerdik.
Dia tahu kalau dia melawan dengan kekerasan, kalau hanya menghadapi Hok Boan seorang, belum tentu dia kalah.
Akan tetapi kalau dia dikeroyok, belum tentu dia menang, bahkan mungkin sukar untuk meloloskan diri dan dia tidak akan berhasil membalas dendam.
Oleh karena itu, dia segera menyelinap dan tidak melanjutkan larinya ke selatan, melainkan membelok ke timur memasuki hutan yang lebih besar untuk menghindarkan diri dari musuh-musuhnya yang mengejar ke selatan.
Dia ingin membalas dendam kepada musuh-musuhnya dengan cara yang sama, yaitu memisahkan orang itu dari anak-anaknya!
Semalam itu, Ciam-kauwsu menghentikan larinya, bersembunyi di dalam hutan.
Dia melihat dari jauh betapa banyak sekali orang membawa obor mencari-cari.
Dia menyumbat mulut dua orang anak itu dengan saputangan dan menotok tubuh mereka sehingga mereka berdua tidak mampu bergerak.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah melanjutkan larinya, mengempit tubuh dua orang anak perempuan itu, terus ke timur.
Tubuhnya sudah terasa lelah akan tetapi hatinya lega karena dia tidak lagi melihat ada orang yang mengejarnya.
Akan tetapi, ketika dia melewati daerah yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, tiba-tiba terdengar pekik dahsyat dari atas pohon dan ketika dia menoleh, pada saat itu ada bayangan menyambar dari atas pohon, bayangan seorang anak laki-laki kecil yang pakaiannya compang-camping, rambutnya panjang dikelabang secara kasar.
Anak ini meloncat seperti seekor kera saja cepat dan sigapnya, dari atas dahan pohon dan langsung menerkam punggung Ciam-kauwsu!
"Ehhh...!"
Ciam-kauwsu yang sedang lari mengempit tubuh dua orang anak perempuan itu, tidak sempat mengelak dan tahu-tahu anak laki-laki itu telah menerkam punggungnya dan memiting leher guru silat itu dengan lengan kanan, kemudian dia menggigit tengkuk Ciam-kauwsu!
Siapakah anak laki-laki yang liar itu?
Dia bukan lain adalah Sin Liong!
Seperti telah kita ketahui, anak ini terhindar dari bahaya maut, tertolong oleh induk monyet besar yang menjadi pengasuhnya sejak dia masih bayi bersama gerombolan monyet-monyet itu.
Pakaiannya sudah compang-camping, Bahkan pembungkus kepalanya telah robek-robek sehingga dia membiarkan rambutnya terurai dan kadang-kadang dia menguncir rambutnya agar gerakannya menjadi leluasa.
Dia hidup seperti binatang liar, seperti kera-kera itu, namun karena pikirannya menjadi bebas dan hening, dia bahkan mengalami hidup yang amat berbahagia.
Pada pagi hari itu, Sin Liong masih tidur ketika ada seekor monyet muda yang mengguncang-guncangnya.
Dia terbangun, menggeliat dan menguap.
Monyet itu mengeluarkan suara mencicit dan menuding-nuding ke bawah.
Sin Liong maklum bahwa tentu ada sesuatu yang aneh dan tidak beres, maka dia lalu mengikuti monyet itu yang membawanya berloncatan dari dahan ke dahan.
Akhirnya, Sin Liong melihat laki-laki brewok yang mengempit dua orang anak perempuan itu.
Hampir saja dia berteriak karena dia mengenal dua orang anak perempuan itu yang bukan lain adalah Lan Lan dan Lin Lin!
Melihat dua orang anak perempuan itu, seolah-olah Sin Liong terseret ke dalam dunia lain, dunia lama yang sudah hampir dilupakannya dan dia tertegun sejenak.
Hampir saja dia lari pergi karena hatinya merasa enggan untuk kembali ke dunia lama itu.
Akan tetapi dia tidak mampu mengusir bayangan Lan Lan dan Lin Lin, dua orang anak perempuan yang selalu bersikap manis kepadanya!
Akhirnya, rasa kasihan kepada dua orang anak perempuan itulah yang menang dan dia lalu mengikuti laki-laki itu dari atas.
Kemudian, setelah memperhitungkannya dengan tepat, melihat bahwa laki-laki itu tentu tidak mempunyai niat yang baik terhadap Lan Lan dan Lin Lin yang kelihatan tidak mampu bergerak itu, dia lalu meloncat, menerkam punggung kakek itu, dan langsung menggigit tengkuknya!
"Ihhh...!"
Kakek itu terkejut sekali dan cepat dia membuang tubuh dua orang anak perempuan itu untuk melawan anak kecil yang liar dan ganas ini.
Tengkuknya terasa sakit juga digigit oleh anak itu.
Tubuh Lan Lan dan Lin Lin terlempar ke kanan kiri sampai bergulingan akan tetapi karena terbanting itu, sumbatan mulut mereka terlepas dan tubuh mereka dapat bergerak lagi karena ternyata pengaruh totokan itu telah habis.
Lin Lin lalu merangkak mendekati kakaknya.
Mereka menangis dan mengurut-urut kaki dan tangan sendiri yang terasa kaku, sambil memandang ke arah Sin Liong yang masih menggigit tengkuk kakek itu.
Tadinya, mereka tidak mengenal anak yang menolong mereka itu, akan tetapi tiba-tiba Lin Lin berseru.
"Sin Liong...!"
Maka keduanya lupa akan keadaan diri sendiri yang masih belum dapat bergerak dengan leluasa.
Melihat Sin Liong masih merangkul kakek itu dari belakang dan menggigit tengkuk, Lan Lin dan Lin Lin lalu meloncat bangun, terhuyung akan tetapi mereka berdua dengan marah sudah menyerang kakek itu dengan pukulan-pukulan tangan mereka yang kecil untuk membantu Sin Liong.
"Duk! Dukkk!"
Dua orang anak perempuan itu terlempar oleh tendangan-tendangan Ciam-kauwau yang tidak bermaksud membunuh, kemudian dia menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Akan tetapi anak laki-laki yang menggigit tengkuknya itu tidak terlepas, bahkan dari kerongkongannya keluar suara gerengan monyet marah!
Diam-diam Ciam-kauwsu bergidik juga.
Bagaimana tiba-tiba muncul anak liar ini, pikirnya dan tangannya merenggut ke belakang, berhasil menjambak rambut Sin Liong dam memegang lengan anak itu, lalu dia mengerahkan tenaganya.
Tentu saja Sin Liong kalah tenaga dan dia dapat diangkat lalu dibanting oleh kakek itu.
"Bresss!"
Tubuh Sin Liong bergulingan dan kepalanya menjadi pening.
Akan tetapi dia cepat bangun kembali, menggoyang-goyang kepala mengusir kepeningan, lalu sambil mengeluarkan pekik dahsyat dia sudah menerjang lagi, kini dengan pukulan-pukulan aneh seperti gerakan seekor monyet lincah!
"Anak liar, pergilah!"
Ciam-kauwsu menghantam dari samping, menampar ke arah pundak anak itu dengan maksud merobohkannya dan menakutkannya.
"Wuuut!"
Pukulan itu luput karena dengan mudahnya dielakkan oleh anak itu!
Ciam-kauwsu terkejut dan penasaran, cepat dia maju lagi menyerang dengan tendangan kakinya.
Kembali anak itu mengelak dan tendangan itu luput, Bahkan Sin Liong kini mulai mainkan limu silat aneh yang dilatihnya selama ini dengan mengambil inti sari dari gerakan monyet-monyet itu.
Gerakan monyet tentu saja tidak teratur, hanya menurutkan naluri, perasaan dan ketajaman atau kepekaan tubuh sehingga membuat monyet-monyet itu dapat bergerak dengan amat cekatan.
Akan tetapi Sin Liong telah mengambil inti dari gerakan-gerakan itu untuk dijadikan dasar dari gerakan silat, seperti yang pernah dia pelajari dari ibunya, maka gerakan Sin Liong bukan liar dan tidak teratur seperti gerakan monyet.
Dia meloncat, mengelak sambil menyerang, dan membalas dengan pukulan seperti pukulan manusia, mencakar seperti monyet, dan juga menendang.
Ketika beberapa kali tamparan dan tendangannya luput, bahkan anak itu dapat membalas dengan serangan yang aneh, kakek itu menjadi makin heran dan terkejut.
"Kau anak liar, pergilah jangan mencampuri urusanku!"
Bentaknya berkali-kali.
Kakek Ciam ini bukan seorang yang berhati kejam.
Dia tidak ingin membunuh anak liar yang tidak dikenalnya itu.
Dan kalau dia berhati kejam, tentu sudah dibunuhnya dua orang anak perempuan kembar yang menjadi anak musuh besarnya itu.
Tidak, dia tidak tega membunuh orang apalagi membunuh anak-anak.
Dia hanya ingin memisahkan dua orang anak itu dari Kui Hok Boan, Membalas dengan mendatangkan kedukaan dan kehilangan kepada musuh besarnya itu.
Kalau bertemu Hok Boan, mungkin saja dendamnya membuat dia akan sampai hati membunuh musuh itu, kalau dia dapat tentu saja.
Akan tetapi membunuh anak-anak yang tidak bersalah apa-apa, sungguh tak dapat dia lakukan.
Kini menghadapi serangan anak kecil yang gerakannya aneh, liar namun cekatan sekali itu, Ciam-kauwsu menjadi marah akan tetapi dia membujuk anak ini agar tidak mencampuri urusannya.
Namun Sin Liong tentu saja sama sekali tidak ada niat untuk mundur.
Dia harus membela dan melindungi Lan Lan dan Lin Lin dengan nyawanya!
Dua orang anak perempuan itu amat baik kepadanya, merupakan sahabat-sahabatnya yang manis budi, bahkan tidak begitu saja sekarang.
Dua orang anak perempuan itu adalah adik-adiknya sendiri!
Adik seibu berlainan ayah!
"Grrrr...!"
Sin Liong menggereng dan menerjang lagi sambil mengeluarkan teriakan yang memberi isyarat memanggil kawan-kawannya!
Ciam-kauwsu marah, dia membiarkan pundaknya dicengkeram oleh anak itu, lalu membarengi dengan tamparan dari samping.
"Brettt... plakkk!"
Baju Ciam-kauwsu di pundak robek oleh cengkeraman tangan Sin Liong, akan tetapi anak itu kena ditampar pipinya sehingga terpelanting!
Kembali Sin Liong kepalanya pening, akan tetapi dia sudah meloncat lagi dan pada saat itu terdengar gerengan-gerengan menyeramkan dan belasan ekor monyet berloncatan turun dari atas pohon, dipimpin oleh seekor biang monyet yang besar, yaitu monyet betina tua yang memandang Sin Liong sebagai anaknya!
Monyet betina inilah yang mendahului teman-temannya menubruk kakek Ciam dengan ganasnya ketika melihat betapa "anaknya"
Itu ditampar sampai terpelanting tadi.
"Ehhh...!"
Kakek Ciam terkejut bukan main melihat datangnya banyak monyet besar, apalagi ketika seekor induk monyet telah menyerangnya.
Dia maklum bahwa terdapat keanehan pada diri anak liar itu, yang ternyata kini dibantu oleh monyet-monyet besar dan dia melihat adanya bahaya.
Maka cepat kakek itu mencabut pedangnya, mengelak dari terkaman induk monyet sambil menusukkan pedang dari samping.
"Crotttt...!"
Pedang itu mengenai lambung induk monyet sampai tembus, ketika dicabut, darah muncrat dan induk monyet itu terguling roboh sambil mengeluarkan suara yang memilukan.
Melihat monyet betina yang disayangnya itu roboh tertusuk pedang, Sin Liong menggereng dan menyerang lagi, dibantu oleh monyet-monyet lain, sedangkan Lan Lan dan Lin Lin menjadi ngeri melihat datangnya banyak monyet.
Mereka menjadi ngeri dan ketakutan, tidak berani ikut membantu melainkan mundur dan saling peluk dengan tubuh menggigil di bawah pohon.
"Lan Lan...!"
Lin Lin...!"
Dua orang anak perempuan itu terkejut dan wajah mereka berseri, air mata mereka seketika mengalir turun.
Itulah suara ayah mereka!
Dan memang benar.
Tak jauh dari situ, Kui Hok Boan bersama belasan orang anak buahnya datang mencari anak-anaknya itu, setelah semalam suntuk mereka mencari tanpa hasil.
Suara Hok Boan sampai menjadi parau karena semalam suntuk dia terus-menerus memanggil.
"Ayahhhh...!"
Lan Lan dan Lin Lin menjerit-jerit.
"Ayah, cepat ke sinilah...!"
Kakek Ciam terkejut bukan main.
Tadinya timbul hati tidak tega untuk membunuhi semua monyet itu, dan mendengar suara dua orang anak itu yang memanggil ayah mereka, hatinya menjadi gelisah.
Kalau Kui Hok Boan datang bersama orang-orangnya dan di sini masih ada monyet-monyet ini yang mengeroyoknya dengan nekat dan buas, dia dapat celaka!
Dia mengeluh, karena usahanya untuk membalas dendam dengan menculik dan memisahkan dua orang anak perempuan itu dari samping Hok Boan ternyata gagal.
Dia lalu mengeluh dan meloncat ke belakang, cepat dia melarikan diri sambil membawa pedangnya, menyusup di antara semak-semak belukar!
Sin Liong dan monyet-monyet lain mengejar, meninggalkan Lan Lan dan Lin Lin.
Monyet betina tua itu merintih dan melihat ini, Lan Lan dan Lin Lin cepat menghampiri dan berlutut di dekat tubuh monyet betina itu dengan perasaan kasihan.
Mereka tadi melihat betapa monyet ini membantu Sin Liong dan terkena tusukan pedang.
Monyet itu bergerak perlahan dan merintih sambil memegangi lambungnya yang tertembus pedang dan mengucurkan darah.
"Lan-ji! Lin-ji!"
Hok Boan berteriak dan meloncat ke tempat itu dengan pedang di tangan.
Melihat kedua orang anaknya berlutut dekat seekor monyet besar, dia cepat menendang.
"Desss...!"
Tubuh monyet betina yang sudah terluka parah itu terlempar, terbanting dan nyawanyapun melayang.
"Ayahh...! Kenapa kau menendang dia...?"
Lan Lan menjerit.
"Ayah, monyet itu tewas karena menolong kami...!"
Lin Lin juga berteriak.
Hok Boan yang masih marah karena kegelisahan yang hampir membuatnya gila selama semalam itu terbelalak.
"Apa...? Apa maksudmu...?"
Akan tetapi saking girangnya melihat ayah mereka telah datang, dua orang anak itu menubruk ayah mereka sambil menangis.
Hok Boan memeluk kedua orang anaknya, hatinya juga penuh rasa gembira yang amat besar.
"Lan-ji, Lin-ji, ceritakan, apa yang terjadi...?"
Tanyanya dan pada saat itu muncul pula Siong Bu, Beng Sin, dan para anak buah Kui Hok Boan yang ikut mencari sampai semalam suntuk dan dilanjutkan pagi ini.
Siong Bu dan Beng Sin juga merasa girang sekali melihat betapa dua orang sumoi mereka itu telah ditemukan dalam keadaan selamat.
"Ayah, kami diculik kakek brewok... sampai di sini... muncul... Liong-ko (kakak Liong) yang menyerang penculik itu..."
Kata Lan Lan yang semenjak kematian ibunya dan tahu bahwa Sin Liong adalah putera ibunya, tidak ragu-ragu lagi menyebut Sin Liong dengan sebutan koko (kakak).
"Liong-koko kalah dan dibantu oleh monyet-monyet, akan tetapi monyet tua itu... dia terkena tusukan pedang si penculik..."
Sambung Lin Lin.
"Sin Liong...?"
Hok Boan terkejut bukan main dan juga merasa girang mendengar bahwa Sin Liong yang tadinya diculik oleh wanita iblis itu ternyata masih hidup, bahkan telah menolong kedua orang anaknya.
Dan lebih terkejut lagi hatinya mendengar bahwa monyet itu yang ditendangnya tadi, ternyata adalah seekor monyet yang telah membantu Sin Liong pula melawan penculik itu.
"Sekarang di mana Sin Liong?"
Tanya Hok Boan berusaha menutupi rasa tidak enak hatinya karena dia telah menendang monyet tua yang telah terluka tadi, monyet yang telah menolong anak-anaknya.
"Tadi dia mengejar si penculik brewok, agaknya bersama monyet-monyet itu,"
Kata Lan Lan.
"Itu dia...!"
Tiba-tiba Beng Sin berseru sambil menuding.
Semua orang menengok dan benar saja, tanpa ada yang melihat kedatangannya, kini tahu-tahu Sin Liong sudah berada di situ, berlutut dan memeluki tubuh monyet betina yang telah tewas itu.
"Sin Liong...!"
Siong Bu berseru.
"Sin Liong...!"
Hok Boan juga memanggil.
"Liong-koko...!"
Lan Lan dan Lin Lin berseru dan mereka semua menghampiri anak itu.
Kui Hok Boan memandang penuh perhatian dan diam-diam dia merasa kasihan juga kepada anak ini.
Pakaiannya compang-camping, mukanya matang biru bekas pukulan penculik, dan kini biarpun anak itu tidak menangis sesenggukan, akan tetapi dia memeluk tubuh monyet itu, jari-jari tangannya mengusap dan membelai kepala dan muka yang penuh bulu, matanya basah dengan air mata.
Siong Bu, Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin berlutut di sekeliling Sin Liong.
Lan Lan menyentuh lengan Sin Liong dan berkata lirih.
"Liong-ko, dia sudah mati..."
Tangan yang mengusap-usap kepala monyet itu berhenti, dua titik air mata menggelinding turun disusul oleh dua titik lagi dan terdengar berkata lirih, seperti bisikan kepada diri sendiri.
"Dia... dia ibuku..."
Kui Hok Boan yang sudah menghampiri tempat itu, terkejut mendengar kata-kata ini.
"Sin Liong, ibumu telah..."
Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena dia teringat akan isterinya yang tercinta itu, maka lehernya seperti dicekik rasanya.
Sin Liong menggangguk.
"Saya mengerti, ibu kandung saya telah tewas oleh iblis betina itu, akan tetapi dia ini... dialah yang menyusui dan merawat saya ketika saya masih kecil..."
Sin Liong menggunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap dua titik air matanya tadi.
"Ke mana larinya penculik itu, Sin Liong? Biar aku mengejar dan menghajarnya!"
Hok Boan teringat kepada penculik itu.
"Dia telah pergi jauh tidak dapat dikejar lagi..., sekarang saya hendak mengubur dia..."
Sin Liong lalu menggunakan tangannya untuk membongkar batu-batu dan tanah, agaknya dengan kedua tangannya, tanpa minta bantuan siapapun, anak ini hendak menggali sebuah lubang di tanah untuk mengubur bangkai monyet itu!
Melihat ini, Hok Boan cepat menyuruh anak buahnya untuk membantu Sin Liong, menggali sebuah lubang dan dikuburkanlah bangkai monyet itu oleh Sin Liong.
Sebelum menurunkan bangkai monyet itu ke dalam lubang, Sin Liong mencium muka monyet betina itu dan dengan menggigit bibir menahan tangis, anak ini talu mengubur bangkai itu dan dibantu oleh empat orang anak lain, lubang itu lalu diuruk.
Hok Boan lalu mengajak Sin Liong pulang ke istana tua di Lembah Naga.
Sin Liong menurut tanpa banyak cakap.
Di sepanjang jalan, Hok Boan hanya mendengarkan dua orang anaknya menceritakan pengalaman mereka ketika diculik, kemudian mendengarkan Lan Lan dan Lin Lin, dibantu pula oleh dua orang anak laki-laki itu, mendesak dan bertanya kepada Sin Liong bagaimana dia dapat lolos dari tangan iblis betina itu.
Hok Boan sendiri tidak banyak bertanya karena hati orang ini masih diliputi rasa menyesal dan duka atas terjadinya peristiwa yang susul menyusul ini, yang menimpa dirinya dan keluarganya.
Sama sekali dia tidak ingat lagi betapa tadi dia telah menendang monyet betina yang sudah terluka itu!
Memang begitulah watak seorang yang selalu mementingkan diri sendiri belaka.
Yang diperhatikan selalu hanyalah kepahitan-kepahitan yang menimpa dirinya, yang diprihatinkan hanyalah kesusahan yang diderita oleh diri sendiri dan keluarganya.
Orang seperti ini sama sekali tidak pernah mau melihat penderitaan orang lain, sehingga hatinya menjadi kejam.
Yang dicari hanya hal-hal yang dapat menyenangkan diri sendiri dan keluarganya, maka dalam mengusahakan kesenangan dan keselamatan bagi diri sendiri dan keluarganya, dia tidak segan-segan untuk melakukan apa saja, kalau perlu menyusahkan orang lain dengan perbuatan-perbuatannya yang (Lanjut ke
Jilid 12) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12 kejam.
Akan tetapi, jelaslah bahwa orang yang selalu mengejar kesenangan untuk diri sendiri itu adalah orang yang hidupnya selalu kecewa dan sengsara.
Karena orang demikian itu selalu merasa kasihan kepada diri sendiri, selalu mengeluh, Selalu menganggap bahwa di dunia ini dia seoranglah yang paling celaka, paling sengsara, paling patut dikasihani.
Dengan demikian, menghadapi halangan sedikit saja dalam hidup, dia akan merasa sengsara sekali!
Patut dikasihani orang seperti itu, karena dia belum mengerti, belum sadar bahwa sesungguhnya dia telah dicengkeram oleh batinnya sendiri, oleh pikirannya sendiri, dikuasai dan dipermainkan oleh nafsu-nafsunya sendiri yang timbul dari permainan pikiran.
Sin Liong tidak mau banyak bercerita.
Ketika didesak-desak oleh empat orang anak itu, dia hanya mengatakan, bahwa ketika dia dibawa pergi oleh Kim Hong Liu-nio, di tengah jalan wanita itu dihadang oleh orang-orang Jeng-hwa-pang.
Mendengar disebutnya Jeng-hwa-pang, muka Kui Hok Boan berubah dan jantungnya berdebar tegang dan takut.
"Jeng-hwa-pang...?"
Katanya mengulang nama itu dengan suara agak gemetar.
"Benarkah Jeng-hwa-pang yang menghadangnya, Sin Liong?"
Dia mendekat dan pertanyaannya itu terdengar lirih, seolah-olah dia merasa takut untuk membicarakan perkumpulan itu dengan suara keras, dan beberapa kali menengok ke kanan dan kiri dengan sikap jerih.
Melihat ini, empat orang anak itupun menjadi gelisah.
"Saya tidak tahu pasti, paman..."
"Sin Liong, engkau adalah anak kandung istriku, maka berarti engkau anakku pula, sungguhpun anak tiri. Aku adalah ayahmu, tidak semestinya kau menyebut paman."
Kata Hok Boan. Sin Liong menunduk dan tidak menjawab.
"Ayah, siapakah perkumpulan Jeng-hwa-pang itu?"
Tiba-tiba Lan Lan bertanya kepada ayahnya. Kembali sasterawan itu kelihatan gelisah.
"Sudahlah, nanti saja di rumah kuceritakan. Hayo kita cepat pulang!"
Dia lalu mengajak anak-anak itu dan para anak buahnya untuk mempercepat perjalanan pulang ke Istana Lembah Naga.
Setelah tiba di rumah, barulah Hok Boan kembali bertanya kepada Sin Liong tentang Jeng-hwa-pang.
Sebagai scorang yang sudah banyak merantau sebelum dia menetap di Istana Lembah Naga, tentu saja dia sudah mendengar tentang Jeng-hwa-pang, sebuah perkumpulan yang amat ditakuti orang karena perkumpulan itu merupakan perkumpulan orang-orang yang amat kejam dan pandai menggunakan segala macam racun yang mengerikan.
Sin Liong masih pendiam dan tidak banyak bercerita.
Dia hanya menceritakan betapa wanita iblis yang menculiknya itu di tengah jalan dikeroyok oleh orang-orang Jeng-hwa-pang, dan betapa dia lalu dilarikan oleh ketua Jeng-hwa-pang, meninggalkan anggauta-anggautanya yang dihajar oleh iblis betina itu.
"Jeng-hwa-pang juga tidak mampu mengalahkan dia?"
Hok Boan berkata dengan muka berubah pucat dan dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan main lihainya wanita itu...!"
Sin Liong tidak mau menceritakan betapa sute dari wanita itu, yang masih kecil, hanya selisih satu dua tahun saja dengan dia, telah mengalahkan pembantu-pembantu utama dari ketua Jeng-hwa-pang!
Kalau diceritakannya, tentu orang ini akan makin terheran-heran lagi, pikirnya.
Kini nampaklah olehnya betapa kepandaian suami dari ibu kandungnya itu, juga kepandaian dari mendiang ibunya, yang tadinya dianggap amat hebat dan lihai, kiranya tidak ada artinya sama sekali kalau dibandingkan dengan kepandaian ketua Jeng-hwa-pang, apalagi kalau dibandingkan dengan kepandaian Kim Hong Liu-nio dan sutenya.
Ternyata di luar Istana Lembah Naga ini terdapat banyak sekali orang pandai!
Hal ini membuat dia makin ingin untuk keluar, untuk mencari ayahnya, untuk menyaksikan sendiri betapa lihai ayahnya yang oleh ibunya dianggap sebagai pendekar nomor satu di dunia ini!
Ingin dia melihat ayahnya mengalahkan orang seperti iblis betina Kim Hong Liu-nio itu.
"Lalu apa yang terjadi denganmu ketika kau dilarikan ketua Jeng-hwa-pang, Liong-ko?"
Tanya Lin Lin yang seperti anak-anak lain, tertarik bukan main mendengar pengalaman Sin Liong yang amat menyeramkan itu.
"Aku dilempar ke dalam lubang penuh ular..."
"Ihh...!"
Lan Lan dan Lin Lin menjerit ngeri.
"Kau dilempar ke dalam lubang ular dan kau tidak apa-apa?"
Tanya Beng Sin, matanya yang lebar itu makin membesar, mulutnya melongo.
"Aku digigit ular-ular itu, akan tetapi aku diselamatkan oleh..."
Sampai di sini, Sin Liong menunduk dan kembali dia harus menggunakan ujung lengan bajunya yang robek-robek dan kotor untuk menghapus dua titik air matanya.
Lin Lin dapat menduga.
"Monyet betina itu yang menolongmu, Liong-ko?"
Sin Liong mengangguk.
"Dia dan teman-teman lain..., aku penuh luka dan dirawat sampai sembuh. Lalu tadi aku melihat kalian dilarikan penculik itu..."
Sejak tadi Siong Bu hanya mendengarkan saja, kini dia berkata.
"Ah, engkau hebat sekali, Sin Liong!"
Katanya penuh kagum dan juga mengandung iri karena kini dalam pandang mata Lan Lan dan Lin Lin, tentu Sin Liong merupakan seorang yang amat gagah perkasa dan hebat.
Betapapun hatinya tetap saja mengandung rasa tidak suka kepada anak itu, akan tetapi karena anak itu telah menyelamatkan Lan Lan dan Lin Lin, karena andaikata tidak ada Sin Liong dan monyet-monyet itu yang menyerang si penculik, kiranya dia dan anak buahnya tidak akan mampu menyusul penculik itu, Hok Boan lalu cepat memberi pakaian dan sepatu baru kepada Sin Liong dan bersikap manis kepada anak ini.
Akan tetapi, Sin Liong sudah tidak mempunyai semangat dan minat sama sekali untuk tinggal lebih lama di istana itu.
Setelah ibunya tidak ada, apalagi setelah kini induk monyet yang disayangnya itupun tewas pula, tidak ada apa-apa lagi yang menahannya di tempat itu.
Benar bahwa dia akan merasa kehilangan kalau berpisah dari Lan Lan dan Lin Lin, akan tetapi ikatan ini tidak cukup kuat untuk menahannya.
Demikianlah, pada suatu hari, pagi-pagi sekali, tanpa diketahui siapapun juga, dan tanpa membawa apa-apa kecuali pakaian yang menempel di tubuhnya, Sin Liong meninggalkan Istana Lembah Naga.
Dia tidak tahu betapa Siong Bu menaruh perhatian kepadanya semenjak Sin Liong kembali, dan anak ini melihat akan kepergian Sin Liong maka dia cepat-cepat memberi tahu kepada pamannya!
Sin Liong berjalan seorang diri melalui padang rumput, menuju ke dalam hutan di sebelah selatan Lembah Naga.
Belum pernah dia memasuki hutan sebelah selatan itu, karena selama tinggal di situ, dia selalu hanya bermain-main di dalam hutan-hutan yang dihuni oleh monyet-monyet yang menjadi teman-temannya, yaitu hutan di timur dan utara.
Dan biasanya, dia bermain-main ke selatan hanya sampai Padang Bangkai yang kini telah menjadi pedusunan.
Akan tetapi karena kini dia mengambil keputusan untuk merantau jauh ke selatan, untuk menyeberangi Tembok Besar dan mencari ayahnya yang kabarnya berada di selatan sebagai seorang pendekar besar, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menuju ke selatan.
Akan tetapi baru saja dia tiba di tepi hutan, mendadak terdengar suara orang memanggil namanya.
Dia menoleh dan dilihatnya Kui Hok Boan dan Siong Bu berlari cepat mengejarnya.
Dia mengerutkan alisnya dan berdiri tegak dengan sikap tenang.
Siapapun juga tidak boleh melarang dia pergi, pikirnya dan pikiran ini membuat anak itu memandang dengan sinar mata penuh membayangkan kekerasan hatinya.
Tentu Siong Bu, anak yang selalu jahat kepadanya itu yang memberi tahu pamannya, pikir Sin Liong, maka ketika mereka berdua sudah tiba di depannya, langsung saja dia menegur.
"Siong Bu, perlu apa engkau memberitahukan paman tentang kepergianku?"
Mendengar teguran ini, Siong Bu bertolak pinggang dan berkata.
"Sin Liong, engkau sungguh menyangka yang bukan-bukan. Aku memberi tahu paman demi kebaikanmu, karena aku khawatir engkau akan mengalami bencana lagi kalau engkau pergi!"
Wajah Siong Bu memperlihatkan penasaran karena "maksud baiknya"
Dianggap keliru oleh Sin Liong.
Sementara itu, Kui Hok Boan mengerutkan alisnya dan berkata kepada Sin Liong.
"Anak baik, mengapa engkau hendak pergi, lagi? Hendak kemanakah engkau? Ketahuilah bahwa setelah ibumu tidak ada, akulah yang bertanggungjawab terhadap dirimu, dan aku akan merasa menyesal sekali kalau terjadi sesuatu terhadap dirimu."
Sin Liong masih teringat akan semua perlakuan orang tua ini terhadap dirinya, maka kini dengan sinar mata tajam penuh penasaran dia berkata kepada orang tua itu.
"Paman, apakah paman melarangku pergi untuk diajak kembali dan dihajar seperti tempo hari?"
Mendengar itu, wajah sasterawan itu berubah dan dia kelihatan berduka dan menyesal sekali.
Dia menarik napas panjang dan berkata.
"Agaknya benar kata-kata Siong Bu bahwa engkau terlalu keras hati dan terlalu penuh prasangka kepada orang lain, Sin Liong. Memang aku pernah bersikap keras kepadamu, akan tetapi hal itu ditujukan untuk kebaikanmu. Engkau terlalu liar, maka aku hanya ingin menjinakkanmu agar engkau tidak sampai menyeleweng. Akan tetapi, yahh... katakanlah bahwa kami semua telah banyak bersalah kepadamu, banyak menduga secara keliru. Biarlah di sini aku minta maaf akan segala kesalahan yang sudah-sudah kepadamu, Sin Liong."
Orang tua itu berkata dengan sungguh-sungguh karena dia teringat kepada isterinya, teringat akan penderitaan isterinya dan dan betapa dia merasa kehilangan benar-benar setelah isterinya meninggal dunia.
Setidaknya, Sin Liong adalah anak kandung isterinya yang tercinta itu, maka dia ingin berbaik dengan anak ini, demi kenangan terhadap isterinya.
"Liong-ji, anakku... marilah kita pulang, nak. Percayalah, aku sendiri yang akan menjagamu agar jangan ada lagi orang atau siapa saja yang akan menghinamu. Aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu seperti juga kepada semua saudaramu."
Sin Liong adalah seorang anak yang mempunyai watak aneh sekali, berbeda dengan anak-anak lain.
Semenjak kecil dia tidak merasakan kasih sayang orang tua, bahkan mendiang ibunya juga karena tidak ingin rahasianya diketahui orang, tidak memperlihatkan kasih sayangnya kepadanya.
Oleh karena haus akan kasih sayang orang tua dan orang lain itulah maka dia dapat bergaul dengan mesra bersama monyet-monyet itu.
Dan keadaan sekelilingnya membentuk wataknya menjadi aneh.
Semua kepahitan hidup yang dideritanya semenjak kecil, maka wataknya kadang-kadang dapat menjadi keras, dan kadang-kadang menjadi amat perasa dan mudah terharu.
Kalau dia ditekan, dia akan melawan dan memberontak tanpa mengenal takut.
Akan tetapi kalau orang bersikap manis dan halus kepadanya, dia menjadi terharu sekali dan kini menghadapi Kui Hok Boan yang bersikap manis kepadanya, lupalah dia akan segala perbuatan orang tua itu yang sudah-sudah kepada dirinya dan dia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan sasterawan itu dan memejamkan mata untuk menahan tangisnya, akan tetapi tetap saja Sin Liong menangis!
Kalau dia ditekan, betapapun hebatnya derita yang dirasakannya, biarpun dia diancam oleh siksa dan kematian, dia tidak sudi mengeluh atau bersambat.
Akan tetapi begitu hatinya terharu, dia tidak dapat mencegah tangisnya dan kini air matanya yang sudah lama ditahan-tahannya itu bercucuran dan dia menangis terisak!
"Sudahlah, Sin Liong, jangan menangis,"
Kata Kui Hok Boan dengan sikap terharu, sedangkan Siong Bu juga berdiri dengan bengong.
Belum pernah dia melihat Sin Liong menangis, bahkan ketika dihajarpun anak ini tidak pernah menangis!
Dia masih bertolak pinggang, akan tetapi lenyap semua penasaran dan dia kini terheran-heran.
"Paman... selama ini sayalah yang selalu menyusahkan hati paman saja. Harap paman sudi memaafkan semua kesalahan saya. Kalau saya tinggal di istana, tidak lain saya pasti akan mendatangkan lebih banyak onar dan penyesalan hati paman saja. Oleh karena itu, saya sudah mengambil keputusan pasti untuk pergi mencari ayah kandung saya, paman."
"Akan tetapi, mana mungkin kau dapat mencarinya sampai jumpa, Sin Liong? Ke manakah engkau hendak mencarinya?"
"Menurut penuturan ibu dahulu, ayah berada di selatan, di sebelah sana Tembok Besar, saya akan menyusul ke sana, paman."
Diam-diam Hok Boan kagum juga akan keberanian anak ini, dan akan kekerasan hatinya yang luar biasa sehingga biarpun sudah ditegurnya, tetap saja sampai kini menyebutnya dengan panggilan paman.
Dia sendiri setelah diusir oleh Raja Sabutai, merasa ngeri untuk pergi ke selatan, akan tetapi anak ini hendak mencari ayahnya ke selatan biarpun dia belum tahu di mana adanya ayahnya itu.
Seolah-olah "selatan"
Itu hanya dekat saja, asal sudah melampaui Tembok Besar sudah sampai dan akan bertemu dengan orang yang dicarinya.
"Sin Liong, kau kira daerah selatan itu kecil saja dan mudah kau jelajahi? Ketahuilah, bahwa daerah selatan, di sebelah dalam Tembok Besar itu amat luasnya, biar engkau menjelajahi sampai selama hidupmu belum akan dapat kaudatangi semua! Dan kau tidak tahu di mana kau hendak mencari? Marilah kau ikut bersama kami pulang ke rumah, dan kelak aku akan membantumu mencari-cari keterangan perihal ayah kandungmu itu."
"Tidak, paman. Saya akan pergi sekarang juga mencari ayah sampai jumpa. Biar sampai mati sekalipun, sebelum dapat jumpa saya tidak akan berhenti mencarinya!"
Kui Hok Boan sudah tahu bahwa anak ini memiliki watak yang luar biasa kerasnya, tidak mungkin ditentang karena andaikata dapat dibujuknya pulang juga, tentu pada suatu hari akan pergi juga tanpa pamit.
Tidak mungkin baginya untuk terus-menerus menjaga anak ini dan mencegahnya pergi.
Dia sendiri menghadapi kesibukan harus pindah dari Istana Lembah Naga sebelum enam bulan.
"Kalau kau tidak dapat kutahan, Sin Liong, akupun tidak dapat menahan dan mencegahmu. Siong Bu, cepat ambil pakaian yang baik-baik, buntal dan ambilkan uang di dalam kamarku. Di laci meja terdapat sekantung uang perak, bawa ke sini. Cepat!"
Siong Bu cepat berlari kembali ke istana, sedangkan Kui Hok Boan lalu memberi nasihat kepada Sin Liong agar berhati-hati melakukan perjalanan ke selatan.
"Di sana banyak terdapat orang jahat yang amat pandai, Sin Liong. Lebih baik engkau tidak secara terang-terangan mengaku sebagai putera pendekar Cia Bun Houw, karena pengakuanmu itu hanya akan mendatangkan bencana dan bahaya. Dan juga sebaiknya kau tidak menyebut namaku. Ketahuilah, seperti juga pendekar Cia Bun Houw, akupun mempunyai banyak musuh di selatan, maka menyebut namanya atau namaku akan memancing bahaya kalau sampai terdengar oleh mereka yang memusuhi ayah kandungmu atau aku."
Sin Liong mendengarkan penuh perhatian tanpa bantahan di dalam hatinya karena sekali ini dia merasa betapa orang tua itu memberi nasihat dengan setulusnya hati.
Dan diapun dapat merasakan kebenaran ucapan itu, karena baru sekali saja dia mengaku sebagai putera Cia Bun Houw, nyawanya hampir melayang dalam tangan Kim Hong Liu-nio!
Tak lama kemudian datanglah Siong Bu berlari-lari dan anak ini membawa sebuntalan pakaian dan sekantung uang.
Kui Hok Boan lalu menyerahkan buntalan pakaian dan kantung uang itu kepada Sin Liong, sedangkan Siong Bu sendiri tadi membawa pisaunya yang amat disayang, yaitu pisau belati berbentuk golok kecil yang amat tajam dan selama ini dibanggakan.
"Aku tidak dapat memberi apa-apa kecuali pisauku ini, Sin Liong."
Sin Liong menerima buntalan, kantung uang dan pisau itu dengan terharu sekali.
"Akan tetapi... engkau suka sekali kepada pisaumu ini, Siong Bu..."
Siong Bu tersenyum.
"Karena itulah maka kuberikan kepadamu, Sin Liong. Sebagai tanda... persahabatan, maukah kau menerimanya?"
"Terima kasih... terima kasih...!"
Dan sejak saat dia menerima buntalan dan pisau itu, maka lenyaplah seluruh rasa tak senang di dalam hatinya terhadap Kui Hok Boan dan Siong Bu, lenyaplah seluruh anggapan bahwa mereka itu jahat kepadanya, bahkan kini berganti dengan anggapan bahwa mereka itu baik sekali kepadanya!
Tidak anehlah apa yang dirasakan oleh hati Sin Liong itu.
Demikianlah adanya kita semua ini!
Kita sudah terbiasa sejak kecil untuk terombang-ambing di antara pendapat yang menjadi hasil dari PENILAIAN.
Kita memandang segala sesuatu dengan penilaian, maka muncullah pendapat baik dan buruk, baik dan jahat, dan sebagainya.
Segala macam kebalikan-kebalikan di dunia ini mempermainkan kita, membentuk pendapat-pendapat yang tidak lain hanya akan mendatangkan konflik saja dalam batin.
Penilailan ini selalu tentu didasari oleh pengukuran atau pertimbangan yang merupakan kesibukan yang bersumber kepada kepentingan diri pribadi.
Kita mengukur sesuatu, atau seseorang, dengan dasar menguntungkan atau merugikan diri kita sendiri.
Kalau menguntungkan lahir atau batin, kalau menyenangkan hati, maka keluarlah pendapat kita bahwa orang itu adalah baik!
Sebaliknya kalau merugikan lahir atau batin, kalau tidak menyenangkan hati, maka pendapat kita terhadap orang itu tentu buruk!
Jadi jelaslah bahwa baik ataupun buruk itu hanya merupakan pendapat yang didasari oleh kepentingan si aku yang ingin memperoleh kesenangan selalu!
Dan sudah jelas pula bahwa pendapat demikian ini adalah palsu dan tidak benar!
Pendapat ini hanya merupakan penilaian yang bertiraikan kepentingan pribadi kita, dan tentu hanya akan mendatangkan pertentangan batin belaka.
Betapapun jahat seseorang menurut pendapat umum, kalau dia itu baik kepada kita, menyenangkan kita, maka kita akan menganggap dia itu baik!
Sebaliknya, dunia boleh menganggap seseorang itu amat baik, akan tetapi kalau dia tidak baik kepada kita, kalau dia tidak menyenangkan kita, maka tak mungkin kita menganggapnya baik, dan kita pasti akan menganggap dia jahat!
Begitulah kenyataannya!
Maka dapatkah kita memandang segala sesuatu tanpa penilaian?
Memandang segala sesuatu, memandang orang lain, seperti apa adanya, seperti keadaannya yang sesungguhnya tanpa menilai yang didasarkan menyenangkan kita atau tidak?
Karena hanya dengan memandang sesuatu seperti itu sajalah yang membebaskan kita dari penilaian, dan setelah kita terbebas dari penilaian, maka kita bebas pula dari rasa suka atau tidak suka.
Seni memandang seperti ini merupakan seni tersendiri yang hanya nampaknya saja sukar akan tetapi tidaklah sukar apabila kita memiliki perhatian sepenuhnya, Dan kalau kita sadar benar-benar bahwa sudah semestinya terjadi perubahan dalam kehidupan kita yang banyak sengsaranya daripada bahagianya ini.
Sin Liong lalu berpamit meninggalkan Kui Hok Boan dan Kwan Siong Bu yang masih memandang kepada anak yang berjalan pergi itu dengan penuh kagum dan khawatir.
Anak itu masih terlalu kecil untuk menempuh hidup yang penuh bahaya di sebelah dalam Tembok Besar.
Ketika Sin Liong memasuki hutan di luar Tembok Besar, tiba-tiba dari jauh dia mendengar suara pertempuran.
Suara teriakan-teriakan orang berkelahi itu diseling dengan suara berdencingnya senjata yang beradu.
Sin Liong merasa tertarik, akan tetapi dia cukup berhati-hati mengingat akan nasihat pamannya agar dia tidak suka mencampuri urusan orang orang lain, apalagi urusan orang-orang kang-ouw.
Betapapun juga, karena hatinya tertarik sekali, dia tidak mungkin pergi begitu saja tanpa menonton!
Memang pada dasarnya, anak ini suka sekali menyaksikan kegagahan, dan paling suka melihat orang mengadu kepandaian dengan ilmu silat.
Maka dia lalu mengikatkan buntalannya di pundak dan cepat dia meloncat ke atas, menyambar cabang pohon paling rendah kemudian bagaikan seekor monyet saja dia memanjat dan berloncatan naik dari cabang ke cabang, berayun-ayun dari pohon ke pohon menuju ke tempat terjadinya perkelahian itu.
Biarpun dia bersepatu, namun dia tidak kehilangan kegesitannya, sungguhpun tentu saja kakinya yang terbungkus sepatu itu dirasakannya amat mengganggu gerakannya di atas pohon-pohon di antara cabang-cabang dan daun-daun.
Akhirnya, tibalah dia di tempat pertempuran itu dan dia duduk di atas cabang pohon.
Karena tepat seperti dugaannya, pertempuran itu dilakukan oleh orang-orang yang menggunakan golok dan pedang, dan dilakukan dengan gerakan silat yang amat cepat dan indah, maka hatinya tertarik sekali dan duduklah dia di cabang pohon yang dekat agar dia dapat menonton dengan enak.
Saking tertariknya, Sin Liong tidak tahu bahwa ada bayangan-bayangan lain di atas pohon-pohon yang berayun-ayun dan mendekati tempat itu.
Dia tidak tahu bahwa ada beberapa ekor monyet besar yang mengenalnya dan monyet-monyet ini lalu bersama kawan-kawan mereka datang mendekati anak itu.
Sin Liong amat tertarik menonton pertempuran itu.
Seorang laki-laki berusia kira-kira lima puluh tahun, bertubuh tinggi agak kurus namun kelihatan gagah sekali, wajah tampan membayangkan kegagahan dan keramahan, Sedang mainkan pedangnya dengan cepat untuk menahan pengeroyokan tiga orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan yang mengeroyoknya dengan menggunakan golok besar.
Tiga orang tinggi besar itu memiliki gerakan yang liar dan ganas, golok mereka menyerang dengan dahsyat dari tiga jurusan dan kedudukan mereka selalu segi tiga ketika mengepung kakek berpedang itu.
Tadinya Sin Liong masih mengingat akan nasihat pamannya dan tidak hendak mencampuri, hanya ingin menonton saja.
Akan tetapi tiba-tiba dia teringat bahwa tiga orang itu adalah anggauta-anggauta Jeng-hwa-pang!
Hal ini dapat dikenalinya bukan hanya karena pakaian mereka yang tak berlengan itu, akan tetapi juga dia mengenal seorang di antara mereka yang berkumis pendek kaku tanpa jenggot.
Maka begitu dia mengenal tiga orang itu sebagai orang-orang Jeng-hwa-pang, Teringatlah dia akan ketua Jeng-hwa-pang yang jahat bukan main, yang pernah menyiksannya dan melemparkannya ke dalam lubang yang penuh ular.
Maka seketika hatinya sudah berfihak kepada kakek berpedang itu yang tidak dikenalnya akan tetapi yang memiliki wajah yang gagah dan menyenangkan hatinya.
Apalagi ketika dia melihat betapa kakek itu makin lama makin terdesak hebat, dia makin berfihak kepada kakek itu.
Dan penglihatannya memang tidak keliru.
Seorang yang berkumis pendek kaku itu memang seorang anggauta Jeng-hwa-pang tingkat atas yang pernah dilihatnya.
Ternyata bahwa ada pula anggauta Jeng-hwa-pang yang dapat lolos dari tangan maut Kim Hong Liu-nio dan dua orang yang lain itu adalah tokoh-tokoh Jeng-hwa-pang yang baru datang.
Mereka tidak ikut dalam rombongan Gak Song Kam, yaitu pangcu (ketua) dari Jeng-hwa-pang, Dan mereka itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi karena mereka bertiga ini menerima latihan langsung dari pangcu mereka sehingga tingkat mereka tidaklah lebih rendah daripada tingkat Heng-san Ngo-houw yang menjadi pembantu-pembantu pangcu dari Jeng-hwa-pang itu.
Ketika Sin Liong melihat dengan lebih teliti, maka tahulah dia bahwa kakek berpedang itu telah terluka di betis kirinya.
Pantas saja gerakannya menjadi kaku dan tidak leluasa.
Biarpun demikian, tetap saja pedangnya dapat menangkis tiga batang pedang yang menyerangnya seperti hujan itu.
Sin Liong tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Kalau tidak dibantu, kakek gagah itu akhirnya pasti akan roboh, pikirnya.
Dia lupa akan keadaan dirinya sebagai seorang anak-anak yang belum memiliki kepandaian berarti.
Terdorong oleh rasa penasaran dan kasihan kepada kakek itu, tiba-tiba Sin Liong meloncat turun dan membentak nyaring.
"Tiga orang mengeroyok satu orang, sungguh pengecut!"
Dan diapun sudah menerjang maju dan menyerang ke arah dada dan perut seorang di antara para pengeroyok itu seperti seekor kera marah!
Orang itu terkejut, akan tetapi melihat bahwa yang menerjangnya hanyalah seorang anak kecil, dia tertawa mengejek, melompat ke kiri dan pedangnya menyambar ke arah leher Sin Liong.
"Singgg...!"
Dan orang itu terkejut karena sambaran pedangnya luput!
Boleh jadi Sin Liong belum memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi jelas bahwa dia telah memiliki ketangkasan yang luar biasa, kegesitan seekor monyet, kecepatan yang wajar dan yang hanya dapat dikuasai karena kebiasaan, bukan karena latihan.
Juga dia memiliki naluri perasaan yang tajam sekali, maka hal inilah yang menjadikan kelebihan dari Sin Liong daripada orang-orang lain, dan membuat dia dengan mudah mengelak dari sambaran golok itu.
Dan pada saat itu, tidak kurang dari sepuluh ekor monyet-monyet besar sudah berloncatan turun dan dengan mengeluarkan gerengan dan suara riuh rendah, mereka ikut menyerbu dan mengeroyok secara membabi buta dan ngawur.
Mereka itu menyerang empat orang itu, termasuk kakek berpedang.
Hanya Sin Liong saja yang tidak mereka keroyok!
Tentu saja monyet-monyet itu tidak tahu siapa musuh Sin Liong yang sebenarnya!
Melihat munculnya bocah aneh itu dan sekawanan monyet, tiga orang yang sejak tadi belum juga mampu mengalahkan kakek yang gagah perkasa itu menjadi jerih, mereka lalu bersuit nyaring dan meloncat pergi, terus melarikan diri secepatnya dari tempat itu.
Melihat betapa kini monyet-monyet itu hendak mengeroyok si kakek gagah, Sin Liong cepat mengeluarkan bunyi pekik monyet yang nyaring dan monyet-monyet itu segera mundur, hanya masih memandang ke arah kakek berpedang dengah mata marah dan memperlihatkan taring.
Kakek itu yang juga terkejut, kini dengan pedang di tangan memandang kepada Sin Liong penuh keheranan.
Sin Liong segera berkata.
"Paman, setelah mereka pergi, harap paman cepat meninggalkan tempat ini sebelum mereka itu datang kembali."
Kakek itu memandang dengan bengong.
"Jadi kau... dan monyet-monyet itu... kalian telah menolongku tadi...?"
Tanyanya, masih bingung karena heran bagaimana di dalam hutan dapat muncul seorang bocah tampan yang berani mati membantunya bersama sekawanan monyet liar itu.
"Maafkan, mereka itu tadi tidak tahu aturan, tidak mengenal mana kawan mana lawan. Melihat paman dikeroyok, aku melupakan kebodohan sendiri dan membantu."
Laki-laki itu makin heran.
Anak hutan yang berkawan dengan monyet-monyet ini pandai membawa diri, sikapnya halus dan sopan pula!
Sungguh ajaib!
"Anak baik, aku berterima kasih sekali kepadamu.
Engkau siapakah?
Apakah tinggal di sini?"
Sin Liong menggeleng kepalanya.
"Saya tidak mempunyai tempat tinggat, paman, tempat tinggal saya di dalam hutan, di atas pohon-pohon bersama monyet-monyet itu."
"Ah...? Dan engkau membawa buntalan pakaian, agaknya hendak pergi?"
"Benar, paman. Saya hendak pergi menyeberang Tembok Besar..."
"Kau? Seorang diri pula? Anak baik, siapa namamu?"
"Nama saya Sin Liong..."
Dia tidak mau menyebutkan shenya.
"Nama keluargamu?"
Kakek itu mendesak. Sin Liong menggeleng kepala.
"Saya tidak tahu."
"Ayah ibumu?"
"Tidak ada..."
"Luar biasa sekali! Sin Liong, ketahuilah bahwa aku adalah seorang piauwsu, bernama Na Ceng Han, tinggal di Propinsi Ho-pei, sebelah selatan kota raja. Aku datang ke tempat ini dalam perjalananku menuju ke kaki Pegunungan Khing-an-san mencari seorang sahabatku bernama Bhe Coan, seorang pandai besi. Akan tetapi ternyata sahabatku itu telah tewas dibunuh orang! Maka aku hendak kembali dan setibanya di hutan ini bertemu dengan tiga orang jahat yang tanpa sebab lalu menyerangku tadi. Untung ada engkau yang menolongku. Sin Liong, anak baik yang aneh sekali. Jangan kau takut kepadaku, ceritakanlah saja terus terang, siapakah orang tuamu dan ke mana engkau hendak pergi?"
Sin Liong mengerutkan alisnya dan menatap wajah kakek itu.
Na-piauwsu atau Na Ceng Han terkejut bukan main.
Anak itu memiliki sinar mata yang tajam luar biasa, menyambar seperti kilat ketika memandang kepadanya!
Memang Sin Liong merasa tidak senang ketika didesak seperti itu.
"Paman Na, di antara kita tidak ada urusan apa-apa. Setelah tiga orang itu pergi, harap paman suka pergi saja."
"Jangan marah, Sin Liong. Aku bertanya karena merasa heran sekali di tempat seperti ini bertemu dengan seorang anak seperti engkau. Engkau mengaku tidak ada ayah bunda, sebatangkara dan tidak ada tempat tinggal, akan tetapi pakaianmu baik dan engkau membawa buntalan pakaian..."
"Saya dapatkan dari orang-orang dusun yang memberi kepada saya,"
Jawab Sin Liong secara, singkat.
"Benarkah kau sebatangkara dan hendak ke selatan?"
"Paman, saya tidak biasa membohong!"
"Bagus! Kalau begitu, marilah kau ikut bersamaku ke selatan, anak baik."
"Akan tetapi, saya tidak mau terikat kepada paman..."
Tiba-tiba Na Ceng Han tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, engkau seorang anak berjiwa gagah, akan tetapi agaknya belum tahu siapa orang yang boleh dipercaya dan siapa tidak. Aku selamanya tidak mau mengikat orang, anakku. Marilah!"
Dia membalik dan hendak berjalan, akan tetapi mengeluh dan hampir saja jatuh terguling kalau Sin Liong tidak cepat menangkap tangan kakek itu.
"Paman, engkau terluka!"
"Ah, keparat itu...!"
Na Ceng Han memaki dan cepat dia duduk di atas tanah dan merobek celananya di bagian betis kiri.
Di situ nampak tanda membiru dan lapat-lapat masih nampak ujung sebatang jarum yang menancap sampai dalam.
"Celaka! Engkau telah terkena jarum rahasia yang beracun, paman!"
Sekali pandang saja Na Ceng Han memang sudah menduga bahwa jarum yang mengenai betisnya itu beracun, akan tetapi dia heran bagaimana anak itu bisa tahu.
Tanpa berkata apa-apa dia lalu mencabut pedangnya yang tadi telah disarungkan dan hendak membuka kulit betis yang terluka itu dengan pedang.
"Paman, pergunakanlah ini saja!"
Sin Liong segera mengeluarkan pisaunya, pemberian Siong Bu karena menggunakan pedang yang panjang itu untuk membedah betis tentu saja amat canggung.
"Terima kasih, kau baik sekali!"
Kata Na Ceng Han dan dia menerima pisau yang baru dan mengkilap tajam tanpa karat sedikitpun itu, lalu tanpa ragu-ragu lagi kakek ini merobek kulit betis yang terluka dengan pisau itu.
Sin Liong memandang dan diam-diam anak ini juga kagum sekali akan kegagahan kakek itu yang berkejappun tidak ketika pisau itu ditusukkan ke dalam dagingnya dan merobeknya, membukanya sampai darah menguncur keluar.
Dan memang benar dugaan Sin Liong, darah yang keluar itu berwarna agak kehijauan!
"Darahnya harus disedot keluar, paman,"
Kata pula Sin Liong dan karena agaknya tidak mungkin bagi orang itu untuk menyedot sendiri betisnya, maka dia melanjutkan dengan cepat.
"Biar kulakukan itu, paman!"
Na Ceng Han terkejut bukan main dan hendak mencegah, akan tetapi anak itu telah memegang betisnya dan tanpa ragu-ragu telah menempelkan mulutnya pada betis yang terluka lalu menyedotnya kuat-kuat.
Sin Liong meludahkan darah yang disedotnya, lalu menyedot lagi sampai berulang lima kali dan baru setelah yang keluar berwarna merah, dia berhenti menyedot.
Na Ceng Han lalu memegang pundak anak itu yang membersihkan mulutnya dengan ujung lengan bajunya.
Dia terharu bukan main.
Anak ini tidak dikenalnya sama sekali, baru saja bertemu telah menyelamatkan nyawanya dan dengan nekat membantu dia mengundurkan para perampok lihai tadi, dan kini, dengan suka rela anak ini telah menyedot racun dari luka di betisnya!
Bukan main anak ini!
Kedua mata orang tua itu menjadi basah karena hampir dia tidak percaya bahwa dia bertemu dengan seorang anak seperti ini.
"Sin Liong, apa yang kau lakukan ini takkan dapat kulupakan selama hidupku!"
Katanya.
Akan tetapi Sin Liong tidak menjawab, melainkan segera menghampiri monyet-monyet besar dan dengan suara memekik-mekik dia minta kepada para monyet itu untuk mencarikan daun obat luka untuk Na Ceng Han.
Kembali Na Ceng Han terbelalak memandang dan melihat para monyet itu berloncatan pergi dan tak lama kemudian datang membawa semacam daun berwarna kecoklatan.
Sin Liong lalu mencuci daun-daun itu dengan air jernih yang mengalir tidak jauh dari situ, lalu dia meremas-remas daun-daun itu perlahan sampai daun-daun itu menjadi lunak dan mengeluarkan lendir.
Dengan hati-hati dia lalu menutupkan daun-daun itu sampai lima enam tumpuk di atas luka di betis Na Ceng Han, kemudian membalut luka yang ditutupi daun-daun obat itu dengan sehelai saputangan.
Na Ceng Han merasa betapa luka yang tadinya panas itu kini menjadi dingin sekali.
"Sin Liong, sungguh engkau seorang anak ajaib sekali! Bagaimana kau dapat berhubungan dengan monyet-monyet itu dan dapat memerintahkan mereka?"
Tanya Na Ceng Han dengan pandang mata penuh kagum.
"Tidak ada yang aneh, paman. Sejak kecil saya sudah bergaul dengan mereka dan tahu akan cara hidup mereka, bahkan aku pernah luka-luka akibat cakaran dan gigitan harimau, dan mereka itulah yang mengobatiku, menjilati luka-lukaku dan menaruhkan daun obat ini."
"Bukan main! Dan bagaimana kau tahu bahwa aku terkena jarum beracun? Memang tadi ketika tiga orang lihai itu muncul, mereka menyerangku dengan jarum-jarum dan agaknya ada sebatang yang mengenai betisku. Aku hanya merasa agak kaku di kaki ini akan tetapi tidak sempat memeriksanya karena mereka sudah mengepung dan menyerangku."
Sin Liong tidak ingin menceritakan keadaan dirinya secara selengkapnya karena dengan demikian dia harus mengaku siapa orang tuanya dan mengaku pula tentang Istana Lembah Naga, maka dia hanya berkata.
"Saya dapat menduganya setelah melihat luka itu, karena saya mengenal tiga orang tadi, paman. Mereka itu adalah orang-orang Jeng-hwa-pang dan sudah tentu saja mereka menggunakan racun dalam senjata rahasia mereka."
Akan tetapi ucapannya itu bahkan amat mengejutkan Na Ceng Han sampai dia terlonjak dan bangkit berdiri, tidak merasakan kenyerian betisnya ketika dia berdiri saking kagetnya.
Bahkan, wajahnyapun berubah, persis seperti keadaan Kui Hok Boan ketika untuk pertama kali mendengar disebutnya Jeng-hwa-pang.
"Jeng-hwa-pang...?"
Kakek ini bertanya, suara agak menggetar karena ngeri dan jerih.
"Mereka... mereka orang-orang Jeng-hwa-pang? Ah, Sin Liong, bagaimana kau bisa tahu?"
"Saya... saya pernah melihat dan mendengar mereka dari atas pohon ketika mereka lewat dan bercakap-cakap, paman."
"Kalau benar demikian, mari kita cepat pergi dari sini, Sin Liong!"
Sin Liong mengangguk dan pergilah dua orang itu menuju ke selatan.
Biarpun agak terpincang, akan tetapi Na Ceng Han tidak lagi merasakan kakinya kaku seperti tadi, maka mereka dapat melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa ke selatan.
Sebetulnya kita tidak perlu khawatir dan tergesa-gesa, pikir Sin Liong, karena Jeng-hwa-pang sudah dibasmi oleh Kim Hong Liu-nio, dan mungkin tiga orang tadi hanya sisanya saja.
Akan tetapi mulutnya tidak berkata sesuatu dan diam-diam dia merasa bersyukur bahwa dia dapat bertemu dengan kakek ini karena kalau dia harus melakukan perjalanan seorang diri, mungkin dia akan sesat jalan dan akan makan waktu lebih lama untuk melewati Tembok Besar.
Sebaliknya Na Ceng Han melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa dan dengan hati diliputi kekhawatiran besar.
Seperti juga lain orang yang sudah banyak merantau dan banyak pengalamannya di dunia kang-ouw, tentu saja Na Ceng Han pernah mendengar nama perkumpulan Jeng-hwa-pang yang amat ditakuti itu, Maka ketika mendengar tiga orang penyerangnya tadi adalah orang-orang Jeng-hwa-pang, dia terkejut sekali dan ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu karena takut kalau-kalau orang-orang Jeng-hwa-pang akan mengejarnya.
Dia masih merasa heran dan tidak mengerti mengapa secara tiba-tiba orang-orang Jeng-hwa-pang memusuhinya tanpa bertanya-tanya, padahal tiga orang itu tadinya disangkanya hanya perampok-perampok biasa saja.
Pantas kepandaian mereka begitu hebat!
Dan diam-diam diapun dapat menduga bahwa di dalam diri anak yang berjalan dengan gagahnya di sampingnya itu tentu tersembunyi rahasia yang amat hebat.
Tak mungkin ada anak biasa saja seperti Sin Liong ini.
Mengakunya hidup sebatangkara di dalam hutan, akan tetapi memiliki pakaian yang cukup baik, mengenal tata susila dan sopan santun seperti anak kota yang terpelajar, Dan jelas memiliki kepandaian silat yang aneh, keberanian luar biasa dan pandai memerintah monyet-monyet, mengenal orang-orang Jeng-hwa-pang dan tahu tentang jarum-jarum beracun!
Diam-diam hatinya girang juga bahwa dia bertemu dengan seorang anak seperti ini, apalagi ketika mendapat kenyataan betapa selama melakukan perjalanan dari pagi sampai sore ini anak itu tidak pernah mengeluh, sungguhpun keringatnya telah membasahi seluruh badan dan napasnya agak memburu.
Tidak minta minum, tidak mengeluh sama sekali.
Benar-benar anak ajaib!
Na Ceng Han adalah seorang piauwsu yang cukup terkenal di kota Kun-ting di Propinsi Ho-pei, sebelah selatan kota raja.
Dia bukan saja terkenal sebagai seorang yang pandai ilmu silatnya, akan tetapi terutama sekali terkenal sebagai seorang piauwsu (pengawal barang kiriman) yang amat jujur, setia dan boleh dipercaya.
Sudah puluhan tahun Na-piauwsu ini bekerja sebagai piauwsu dan belum pernah barang yang dikawalnya itu tidak sampai di tempatnya dengan selamat.
Dia melindungi barang kiriman yang dipercayakan kepadanya dengan taruhan nyawanya.
Akan tetapi yang membuatnya selalu berhasil dalam melaksanakan tugasnya adalah karena hubungannya yang amat luas, baik dengan golongan para pendekar, maupun dengan golongan hitam.
Dia tidak segan-segan untuk membagi hasil jerih payahnya mengawal barang itu dengan fihak-fihak kaum sesat yang berkuasa di sepanjang jalan sehingga fihak kaum sesat juga merasa segan karena Na-piauwsu ini lihai dan banyak sekali sahabatnya di antara pendekar-pendekar ternama, juga karena Na-piauwsu bersahabat baik dengan banyak tokoh kaum sesat.
Seperti pernah diceriterakan di bagian depan, pandai besi ahli pembuat pedang Bhe Coan yang tinggal di dusun di kaki Pegunungan Khing-an-san, juga termasuk seorang sahabat baik Na Ceng Han.
Sebelum Bhe Coan menikah dengan janda Leng Ci yang genit, dia telah kematian isterinya yang melahirkan seorang anak perempuan.
Setelah menikah dengan janda genit dan cantik itu, si janda membujuknya untuk menyingkirkan anaknya, maka dia teringat kepada sahabatnya itu dan dia lalu memberikan anaknya perempuan itu kepada Na Ceng Han.
Na-piauwsu menerimanya dengan senang, bukan hanya karena Bhe Coan adalah seorang sahabat baiknya, akan tetapi juga karena dia dan isterinya hanya mempunyai seorang anak laki-laki saja dan mereka berdua memang ingin sekali mempunyai seorang anak perempuan.
Pada hari itu, ketika pekerjaannya agak sepi, yang ada hanya barang-barang kiriman yang tidak begitu penting sehingga cukup diantar dan dikawal oleh para pembantunya saja, Na-piauwsu teringat akan sahabat baiknya itu.
Dia ingin mengunjunginya, bukan hanya karena sudah merasa rindu dan ingin tahu bagaimana keadaan sahabatnya yang dia tahu amat jujur dan agak bodoh, akan tetapi amat ahli dalam pembuatan pedang itu, akan tetapi juga untuk mengabarkan tentang keadaan Bi Cu, yaitu puteri dari sahabatnya itu, dan untuk minta dibuatkan sebatang pedang yang baik untuk Bi Cu!
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan dukanya ketika dia mendengar bahwa Bhe Coan sahabatnya itu telah tewas bersama isteri barunya, tewas dibunuh orang tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya!
Bahkan dia mendengar dari para tetangga betapa banyak orang gagah yang datang untuk memesan pedang, juga terkejut dan marah, ingin tahu siapa pembunuhnya.
Akan tetapi sampai sekian lamanya tidak ada yang pernah mengetahuinya karena memang tidak ada orang yang menyaksikan pembunuhan atas diri suami isteri itu.
Demikianlah, dalam perjalanannya pulang dari tempat tinggal sahabatnya, tanpa disangka-sangkanya Na Ceng Han bertemu dengan Sin Liong dan kini dia melakukan perjalanan pulang bersama Sin Liong.
Di tengah perjalanan, beberapa kali Na Ceng Han memancing kepada anak itu untuk menceritakan riwayatnya.
Akan tetapi Sin Liong lebih banyak tutup mulut daripada bicara dan bagaimanapun didesak, tetap saja Sin Liong mengatakan bahwa namanya Sin Liong dan dia tidak tahu siapa nama ayahnya dan siapa ibunya.
Dia mengatakan bahwa sejak kecil dia hidup di antara monyet-monyet yang merawatnya.
"Akan tetapi engkau memiliki gerakan silat yang luar biasa anehnya. Dari siapakah engkau mempelajari itu, Sin Liong?"
Tanya Na Ceng Han ketika pada suatu malam mereka berhenti melewatkan malam di Tembok Besar.
"Saya hanya ikut-ikut latihan dengan anak-anak dusun, paman dan saya meniru-niru gerakan monyet-monyet kalau berkelahi,"
Jawab Sin Liong secara singkat.
Melihat anak itu memang pendiam sifatnya dan kelihatannya amat keras hati, Na Ceng Han tidak mau mendesak lagi, sungguhpun keterangan itu tidak dipercaya sepenuhnya.
"Maafkan aku kalau aku cerewet, Sin Liong. Akan tetapi aku amat tertarik kepadamu, dan sekarang aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan lagi harap kau suka jawab sejujurnya. Engkau yang hidup di dalam hutan, tanpa sanak kadang tanpa keluarga, mengapa engkau secara tiba-tiba saja hendak pergi ke selatan? Engkau tahu akan sopan santun, agaknya engkau tahu pula baca tulis, siapakah yang mengajarkan itu semua dan dari siapa kau tahu bahwa di sebelah sana Tembok Besar terdapat dunia yang amat luas?"
"Ah, paman. Di dusun banyak juga orang yang pandai baca tulis dan saya ikut-ikut belajar. Tentang maksudku berkunjung ke selatan Tembok Besar... ah, saya ingin meluaskan pengetahuan, paman..."
Setelah berkata demikian, Sin Liong menunduk dan jelas nampak dari wajahnya bahwa dia tidak ingin banyak bicara tentang dirinya sendiri lagi.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka telah melanjutkan perjalanan mereka, menyeberangi Tembok Besar menuju ke selatan.
Jantung Sin Liong berdebar penuh ketegangan ketika dia memasuki dusun pertama dari daerah selatan ini.
Betapa jauh bedanya keadaan di selatan dengan di utara.
Di sini mulai nampak padat dengan penduduk, dar ingatan bahwa dia makin dekat dengan ayah kandungnya, membuat dia merasa tegang dan gembira.
Dia tidak tahu atau belum dapat membayangkan bahwa dunia selatan ini amat luasnya, lebih luas daripada langit yang dapat nampak olehnya, dan betapa mencari satu orang di antara ratusan juta orang bukan merupakan hal yang mudah!
Akan tetapi dia mempunyai satu keuntungan, yaitu bahwa yang dicarinya itu bukanlah orang biasa, melainkan seorang pendekar yang namanya pernah menjulang tinggi sekali di dunia kang-ouw pada belasan tahun yang lalu.
Bahkan pada waktu itu juga, tidak ada seorangpun kang-ouw yang tidak mengenal nama Cin-ling-pai di mana kakeknya, yaitu ayah dari Cia Bun Houw, menjadi ketuanya!
Melihat kegembiraan anak itu, diam-diam Na Ceng Han merasa terharu sekali.
Anak ini patut dikasihani, pikirnya.
Melakukan perjalanan selama beberapa hari ini bersama Sin Liong, dia makin terkesan dan tertarik oleh anak ini yang benar-benar amat luar biasa.
Pendiam, keras hati, tabah, sopan, dan amat cerdik.
Apalagi anak ini telah menolongnya, bahkan kini luka di betisnya telah sembuh berkat perawatan Sin Liong yang membawa banyak daun obat untuk mengganti obat di luka itu setiap hari.
Na Ceng Han merasa berbutang budi kepada anak ini maka dia mengambil keputusan untuk melakukan apa saja bagi anak ini.
Dia lalu mengajak Sin Liong singgah di kota raja, tak lain hanya untuk menyenangkan hati anak ini.
Dan Sin Liong memang senang bukan main.
Dia merasa takjub melihat gedung-gedung indah, jembatan-jembatan besar yang indah, taman-taman yang seperti dalam dongeng saja di kota raja!
Tiada habisnya dia mengagumi segala apa yang dilihatnya dan dia amat berterima kasih kepada Na Ceng Han.
Akhirnya tibalah mereka di kota Kun-ting.
Ternyata rumah Na-piauwau cukup besar, merupakan sebuah gedung yang biarpun tidak amat mewah, akan tetapi cukup bagus karena selama bekerja puluhan tahun sebagai piawsu, Na Ceng Han dapat mengumpulkan kekayaan sekedarnya.
Kantor piauw-kiok (perusahaan ekspedisi) yang diberi nania Ui-eng-piauw-kiok.
Nama Ui-eng (Garuda Kuning) berasal dari nama julukan ayah dari Na Ceng Han yang kini telah meninggal dunia.
Ayah dari Na Ceng Han juga seorang piauwsu dan karena ayahnya itu suka sekali memakai pakaian kuning dan sepak terjangnya seperti seekor garuda, maka dia mendapatkan julukan Garuda Kuning.
Maka ketika ayahnya itu membuka piauw-kiok, julukan ini lalu dipakai.
Maka terkenallah Ui-eng-piauw-kiok sampai menurun kepada Na Ceng Han.
Bendera berlatar belakang merah dengan gambaran seekor garuda kuning amat dikenal oleh seluruh kaum liok-lim dan kang-ouw sehingga baru benderanya itu saja yang berkibar di atas gerobak pengangkut burang yang dikawal oleh Ui-eng-piauw-kiok, sudah merupakan jaminan keamanan gerobak itu.
Kedatangan Na Ceng Han disambut oleh isterinya, seorang wanita yang berusia empat puluh lima tahun, bersikap lemah lembut dan ramah, lalu nampak seorang anak laki-laki sebaya dengan Sin Liong.
Anak ini adalah Na Tiong Pek, putera tunggal dari keluarga Na.
Dan di belakang Tiong Pek ini muncul seorang perempuan yung manis sekali, yang mengingatkan Sin Liong kepada Lan Lan dan Lin Lin, akan tetapi anak perempuan ini sifatnya lemah lembut dan pendiam, Bahkan agak malu-malu tidak seperti Lan Lan dan Lin Lin.
Anak perempuan ini berusia kurang lebih dua belas tahun, memandang kepada Sin Liong dengan mata terbuka lebar keheranan.
Anak ini adalah Bi Cu, puteri dari Bhe Coan yang sejak bayi dititipkan kepada Na Ceng Han.
Bhe Bi Cu tidak diaku anak oleh Na Ceng Han, maka masih memakai she Bhe, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari, anak ini tidak dianggap orang lain oleh suami isteri Na, dianggap anak sendiri, bahkan amat disayang oleh mereka.
Betapapun juga, Bhe Bi Cu selalu "tahu diri", merasa dia bukanlah anak mereka dan hanya seorang yang menumpang hidup!
Inilah agaknya yang membuat Bi Cu selalu bersikap pendiam dan malu-malu.
Keluarga Na menyambut Na Ceng Han dengan penuh kegembiraan.
Apalagi setelah piauwsu itu mengeluarkan oleh-olehnya.
Kain sutera halus untuk isterinya, hiasan rambut dari emas untuk Bi Cu, dan gendewa beserta anak panahnya yang terukir dan dicat indah untuk Tiong Pek.
Semua benda ini dibelinya di kota raja dan hanya di kota raja sajalah ada yang menjual benda-benda seindah itu.
Tentu saja anak-anak dan isterinya itu gembira sekali dan barulah isterinya bertanya siapa adanya anak laki-laki yang ikut bersama suaminya.
Sejak tadi Sin Liong memandang pertemuan itu dengan hati perih dan pula rasa iri di dalam hatinya.
Belum pernah dia mengalami pertemuan seperti itu, begitu asyik dan mesra!
Belum pernah dia merasakan betapa akan gembira hatinya kalau menyambut pulangnya seorang ayah yang membawa oleh-oleh!
Akan tetapi dia hanya menunduk dan membiarkan ayah dan keluarganya itu bertemu melepaskan rindu tanpa berani mengganggu, bahkan dia mundur di sudut.
"Siapakah anak itu?"
Tanya nyonya Na dan kini dua orang anak itupun yang tadinya bergembira dengan barang-barang mereka menoleh dan memandang kepada Sin Liong.
Karena semua mata kini memandang kepadanya, Sin Liong yang tadinya menunduk kini malah mengangkat mukanya membalas pandang mata mereka dengan tenang.
Dia melihat betapa wajah nyonya itu peramah sekali, betapa sepasang mata anak laki-laki itu memandangnya penuh curiga dan anak perempuan yang manis itu memandang kepadanya dengan sepasang mata terbuka lebar, agaknya terheran-heran.
Na Ceng Han tertawa, lalu menghampiri Sin Liong dan menaruh tangannya di atas pundak anak itu dan berkatalah dia kepada keluarganya.
"Anak ini bernama Sin Liong dan ketahuilah, kalau tidak ada anak ini, aku sudah tidak akan bertemu lagi dengan kalian, aku tentu telah tewas di utara sana tanpa ada yang mengetahui."
"Ihh...?"
Nyonya Na berseru dengan muka berubah pucat.
"Ahh...!"
Bi Cu juga berseru dan matanya makin terbelalak memandang kepada Sin Liong.
"Ayah, apakah yang telah terjadi?"
Tiong Pek juga berseru kaget.
Na Ceng Han menarik napas panjang, lalu dengan halus mendorong Sin Liong maju menghampiri keluarganya.
"Marilah kuperkenalkan dulu. Sin Liong, dia ini adalah bibimu, dan ini adalah anakku, Na Tiong Pek dan ini adalah keponakanku, Bhe Bi Cu."
Sin Liong yang sejak kecil sudah diajar sopan santun oleh ibunya, cepat memberi hormat kepada nyonya itu sambil menyebut.
"Bibi..."
Nyonya Na cepat mengulurkan tangan memegang pundak anak itu dan berkata.
"Anak baik, duduklah."
Mereka semua duduk mengelilingi meja dan mulailah Na Ceng Han menceritakan pengalamannya ketika dia dihadang oleh tiga orang perampok lihai dan dia sudah terluka kakinya, kemudian betapa Sin Liong muncul bersama rombongan monyet dan menyelamatkannya dari bahaya maut.
"Dia tidak hanya membantuku mengusir tiga orang itu, akan tetapi bersama teman-temannya, rombongan kera itu, dia telah mengobati luka di kakiku sampai sembuh!"
Na-piauwsu mengakhiri ceritanya tanpa menyebut-nyebut tentang kematian Bhe Coan.
Nyonya dan dua orang anak itu mendengarkan dengan mata terbuka lebar, penuh perhatian dan penuh keheranan.
"Luar biasa sekali...!"
Seru nyonya itu sambil memandang kepada Sin Liong.
"Seolah-olah Thian sendiri yang mengutus dia turun dari kahyangan untuk menolongmu, suamiku!"
Na Ceng Han tertawa.
"Ha-ha, memang tadinya aku sendiripun terheran-heran dan mengira dia seorang dewa sebangsa Lo-cia! Akan tetapi dia seorang manusia biasa yang ingin ke selatan, maka aku membawanya sampai ke sini."
"Muncul bersama rombongan monyet?"
Tiong Pek berseru heran sambil memandang kepada Sin Liong.
"Apakah... apakah dia mengenal monyet-monyet itu...?"
"Ha-ha-ha, mengenal mereka? Tiong Pek, sayang kau tidak melihat sendiri betapa dia ini telah memerintahkan monyet-monyet untuk mundur ketika mereka itu salah duga dan hendak mengeroyokku, kemudian betapa dia menyuruh monyet-monyet itu mencarikan daun obat untuk mengobati luka di betisku!"
"Ah...! Benarkah itu? Kalau begitu engkau bisa bercakap-cakap dengan monyet!"
Tiong Pek bertanya kepada Sin Liong, sinar matanya penuh kagum dan Sin Liong melihat betapa anak ini memiliki watak yang jujur.
Maka dia mengangguk tanpa menjawab.
"Bagus, kau harus ajari aku bicara monyet!"
Tiong Pek berseru sambil memegang tangan Sin Liong.
"Dan kau boleh memilih benda-benda mainanku, mana yang kau suka boleh kau ambil!"
Tiong Pek lalu menarik tangan Sin Liong.
"Marilah. Sin Liong, mari kita bermain di belakang!"
Sin Liong hanyut oleh kegembiraan anak itu.
Anak ini berbeda dengan Siong Bu, dan biarpun tidak selucu Beng Sin, akan tetapi anak ini jujur dan terbuka, tidak seperti Beng Sin yang tidak berani terang-terangan bersikap manis kepadanya.
Akan tetapi dia tidak mau bersikap kurang hormat dan dia memandang kepada Na Ceng Han.
Na-piauwsu tersenyum dan mengangguk.
"Kau bermainlah bersama Tiong Pek dulu, Sin Liong, aku hendak bicara dengan bibimu dan dengan Bi Cu."
Maka pergilah Sin Liong, setengah ditarik oleh Tiong Pek, menuju ke ruangan belakang dari rumah yang besar itu.
Bi Cu mengikuti mereka dengan pandang matanya.
Agaknya diapun ingin bicara dengan Sin Liong, ingin bertanya tentang kehidupan anak itu yang aneh, yang pandai memerintah monyet-monyet, dan terutama sekali, yang datang dari utara, dari mana diapun datang ketika masih bayi.
Akan tetapi sebagai seorang anak perempuan, dia tidak mau menyatakan keinginannya itu, apalagi dia tadi mendengar bahwa pamannya hendak bicara dengan dia.
Dia tahu betapa pamannya pergi ke utara untuk mengunjungi ayahnya, yang kabarnya menjadi pandai besi, ahli pembuat pedang di utara sana, maka kini dia ingin mendengar tentang ayahnya itu dari Na-piauwsu.
"Lalu sudahkah kau berjumpa dengan Saudara Bhe Coan?"
Na-hujin bertanya.
Hatinya sudah merasa tidak enak karena kepergian suaminya ke utara itu adalah untuk mengunjungi sahabat suaminya itu, akan tetapi sejak tadi suaminya tidak pernah bicara tentang orang she Bhe yang menjadi ayah kandung Bi Cu itu.
Kini Bi Cu memandang kepada paman dan bibinya, lalu menatap wajah pamannya untuk mendengar tentang orang yang menjadi keluarga terdekat baginya akan tetapi yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya itu karena dia masih bayi ketika berpisah dari ayahnya, sedangkan ibunya telah meninggal dunia ketika melahirkan dia.
Na-piauwsu menarik napas panjang dan memandang kepada Bi Cu dengan penuh perasaan kasihan.
Dia mencinta anak ini seperti anaknya sendiri, demikian isterinya mencinta Bi Cu seperti anak sendiri.
Biarpun Bi Cu tidak pernah berdekatan dengan ayah kandungnya sehingga tentu saja tidak ada pertalian rasa kasih sayang, akan tetapi menceritakan tentang kematian ayah kandung anak itu dia merasa ragu-ragu dan tidak enak juga.
Betapapun, dia tidak boleh merahasiakan hal itu dan harus dia ceritakan kepada Bi Cu.
"Ah, berita tentang saudara Bhe Coan yang kubawa amatlah buruknya..."
Kembali dia menarik napas panjang "...sudah lama terjadinya, sudah bertahun-tahun, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu...
bahkan belum lama setelah Bi Cu berada di sini..."
"Apa yang terjadi dengan dia?"
Tanya Na-hujin dengan wajah berubah dan dia memandang kepada Bi Cu yang hanya mendengarkan dengan alis berkerut.
"Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, saudara Bhe Coan telah dibunuh orang..."
"Ahhh...!"
Nyonya Na menjerit dan melihat Bi Cu memandang suaminya dengan wajah yang tiba-tiba menjadi pucat sekali, nyonya ini lalu merangkul Bi Cu dan menangislah nyonya Na karena dia merasa kasihan sekali kepada Bi Cu.
Akan tetapi, Bi Cu sendiri tidak menangis, hanya memandang dengan muka pucat kepada Na Ceng Han!
Anak ini sama sekali tidak merasa berduka!
Hal ini tidaklah aneh.
Dia tidak pernah melihat wajah ayah kandungnya, hanya tahu bahwa dia mempunyai seorang ayah kandung.
Karena tidak pernah bertemu, tentu saja tidak ada ikatan dalam hatinya, tidak ada dia merasa kehilangan ketika mendengar bahwa ayah kandungnya itu meninggal dunia.
Memang ada perasaan nyeri mendengar ayah kandungnya dibunuh orang, akan tetapi duka sama sekali tidak dirasakannya.
"Paman, siapakah yang membunuh ayahku?"
Tanyanya dengan suara lirih. Na Ceng Han menarik napas panjang.
"Dia tewas bersama isterinya, yaitu ibu tirimu, di dalam kamar. Begitulah menurut cerita para tetangganya. Akan tetapi tidak ada seorangpun yang melihat pembunuhnya, tidak ada yang tahu siapa yang membunuh Bhe Coan dan isterinya. Bahkan sebelum aku datang ke sana, selama beberapa tahun ini para pendekar yang datang ke sana untuk memesan pedang, yang telah mengenal baik ayahmu, merasa penasaran dan juga menyelidiki, akan tetapi sampai sekarang agaknya tidak ada orang yang dapat menemukan siapa pembunuh Bhe Coan dan isterinya itu."
Bi Cu melepaskan rangkulan bibinya.
"Aku... aku mau mengaso ke kamarku..."
Katanya.
Paman dan bibinya mengangguk dan memandang kepada anak yang pergi dengan kepala tunduk itu dengan hati kasihan.
Mereka merasa kasihan sekali dan merasa makin sayang kepada Bi Cu.
"Kasihan dia..."
Nyonya itu terisak.
"Baiknya dia tidak sampai terpukul oleh berita ini,"
Kata Na Ceng Han.
"Sebaiknya dia kita jadikan anak kita saja..."
Isterinya menggeleng dan berkata lirih.
"Lebih baik begini. Bukankah kita juga sudah memperlakukan dia tiada bedanya dengan anak sendiri? Biarlah dia menyebut kita paman dan bibi, karena aku... aku mempunyai niat... dia dan Tiong Pek..."
Wajah Na Ceng Han berseri.
"Ah, begitukah? Baik sekali pikiran itu, dan aku setuju sepenuhnya!"
Suami isteri itu membayangkan betapa akan bahagia mereka kalau Bi Cu kelak menjadi isteri Tiong Pek.
Tidak akan keliru lagi pilihan ini karena merekalah yang mendidik Bi Cu sejak kecil!
Dan mereka berdua membayangkan betapa mereka akan sayang sekali kepada cucu yang terlahir dari Bi Cu dan Tiong Pek!
Sementara itu, Sin Liong mengagumi main-mainan yang dimiliki oleh Tiong Pek.
Anak ini memang amat ramah setelah berkenalan, bahkan Tiong Pek lalu memamerkan ilmu silatnya yang dia latih bersama Bi Cu di bawah pimpinan ayahnya sendiri.
"Kau tahu, Sin Liong. Kepandaian kami adalah kepandaian warisan. Ilmu silat keluarga Na amat terkenal di daerah ini dan ayah sudah turun-temurun menjadi piauwsu. Kelak akupun ingin menjadi seorang piauwsu yang baik. Nama Ui-eng-piauw-kiok telah terkenal semenjak kakek masih hidup!"
Sin Liong memandang kagum ketika melihat Tiong Pek bersilat dengan cekatan sekali.
Dia melihat betapa Tiong Pek sungguh tidak kalah dibandingkan dengan Siong Bu atau Beng Sin.
Bahkan Tiong Pek yang hendak memamerkan kepandaiannya kepada sahabat barunya ini dapat pula mainkan bermacam-macam senjata!
Terutama pedang dapat dia mainkan dengan indah karena memang senjata utama dari keluarga Na adalah sebatang pedang.
"Sin Liong, kau tinggallah saja di sini! Kau menjadi murid ayah dan kita dapat berlatih bersama-sama!"
Sin Liong hanya tersenyum.
"Eh, mana sumoi?"
"Siapakah sumoimu?"
"Tadi engkau sudah melihatnya. Bi Cu adalah sumoiku. Murid ayah hanya dua orang aku sendiri dan Bi Cu." (Lanjut ke
Jilid 13) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13
"Akan tetapi bukankah dia itu keponakan ayahmu?"
"Hanya keponakan luar belaka, bukan keluarga Na. Dia adalah puteri dari paman Bhe Coan. Ibu kandungnya, adik ayahku, meninggal ketika melahirkan dia. Ayahnya kawin lagi maka dia dirawat oleh ayah dan ibuku sejak bayi. Mari, kita cari dia. Dia harus memperlihatkan ilmu silatnya kepadamu. Wah, dia juga lihai sekali. Dalam hal kecepatan, aku tidak pernah dapat menandinginya!"
Tiong Pek lalu mengajak Sin Liong mencari Bi Cu.
Akan tetapi anak itu tidak berada di dalam kamarnya.
Ketika mereka mencari ke dalam taman, ternyata Bi Cu menangis di atas bangku yang terpencil di dekat empang ikan.
Melihat ini, Tiong Pek terkejut bukan main.
"Sumoi tidak pernah kulihat menangis! Ada apakah?"
Dia lalu berlari-lari menghampiri sumoinya, diikuti oleh Sin Liong dari belakang.
Di dalam hatinya, Sin Liong merasa kasihan sekali.
Dia sudah mendengar dari Na-piauwsu bahwa ayah kandung Bi Cu yang bernama Bhe Coan itu telah dibunuh orang.
Agaknya tentu anak yang sudah tidak beribu lagi itu telah mendengar akan kematian ayahnya.
Kini Bi Cu sudah tidak lagi mempunyai ayah dan ibu!
Ketika tiba di depan Bi Cu yang menangis sambil menutupi muka dengan kedua tangannya, Tiong Pek cepat duduk di samping sumoinya, memegang lengan sumoinya dan berkata dengan sikap cemas.
"Sumoi, ada apakah? Kenapa kau menangis?"
Melihat sikap ini Sin Liong berdiri agak jauh dan memandang saja.
Dia kini tahu bahwa Tiong Pek adalah seorang anak yang baik dan jelas nampak bahwa Tiong Pek amat sayang kepada sumoinya itu.
Hal ini memang tidaklah aneh.
Semenjak mereka berdua masih anak-anak yang kecil, keduanya telah bermain bersama-sama dan tentu saja timbul rasa sayang di dalam hati masing-masing.
Bi Cu mengangkat mukanya yang basah air mata.
Melihat Tiong Pek yang memandang kepadanya penuh kegelisahan itu, tangisnya makin mengguguk!
"Sumoi, katakanlah, apa yang terjadi?
Kenapa kau menangis?"
Tanya Tiong Pek makin gugup dan gelisah.
"Suheng... ibu... ibuku telah mati sejak melahirkan aku... dan sekarang... sekarang ayahku..."
"Ayahmu kenapa?"
"Ayahku telah mati pula dibunuh orang sepuluh tahun yang lalu..."
Dan anak perempuan itu menangis makin sedih.
"Ahhh!"
Tiong Pek bangkit berdiri, mengepal tinju, matanya berapi-api, akan tetapi dia lalu duduk kembali.
"Siapa bilang? Ayah?"
Dara cilik itu mengangguk.
"Siapa yang membunuhnya?"
"Paman... paman juga tidak tahu, tidak ada yang tahu siapa yang membunuh ayahku sepuluh tahun yang lalu..."
"Sudahlah, sumoi, jangan berduka. Hal itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu, akan tetapi percayalah, kelak aku yang akan membantumu mencari siapa pembunuh ayahmu itu!"
Tiong Pek bicara penuh semangat sehingga terhibur juga hati Bi Cu.
Ketika dilihatnya bahwa Sin Liong juga berada di situ, tangisnya segera terhenti karena dia merasa malu untuk menangis di depan anak yang baru datang ini.
Ketika dibujuk oleh keluarga Na, dan melihat betapa keluarga itu amat baik kepadanya, akhirnya Sin Liong menerima juga untuk tinggal di situ dan mempelajari ilmu silat dari Na Ceng Han.
Na-piauwsu maklum bahwa di dalam diri Sin Liong terdapat rahasia yang luar biasa, dan bahwa anak ini tentu bukan anak sembarangan, maka dia tidak berani menjadi guru anak itu.
Dalam bujukannya yang meyakinkan hati Sin Liong sehingga anak itu mau menerima tawarannya, dia berkata.
"Sin Liong, ketahuilah bahwa di dunia ini banyak sekaii orang-orang yang amat pandai akan tetapi juga amat jahat. Oleh karena itu, mengandalkan perantauan seorang diri di dunia ramai ini haruslah membawa bekal sedikit ilmu untuk melindungi diri sendiri dari marabahaya. Aku tidak berani menjadi gurumu, akan tetapi berilah kesempatan kepadaku untuk membalas budimu dengan menurunkan sedikit ilmu pembelaan diri kepadamu. Kau mempelajari ilmu dan mengenal keadaan dunia kang-ouw, sehingga satu dua tahun kemudian engkau boleh melanjutkan perantauanmu tanpa meninggalkan rasa khawatir di dalam hati kami."
Demikianlah, mulai hari itu, Sin Liong tinggal di rumah Na-piauwsu dan setiap hari anak ini dilatih ilmu silat oleh Na Ceng Han, Diam-diam Na Ceng Han terkejut karena ternyata olehnya bahwa anak ini telah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi yang aneh.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa memang ibu kandung anak ini telah mengajarkan dasar ilmu silat tinggi dan ibu anak ini adalah murid terkasih mendiang Hek I Siankouw, maka tidak mengherankan kalau Sin Liong telah mempelajari dasar-dasar ilmu silat tinggi!
Karena tidak memperoleh banyak kesempatan untuk mempelajari ilmu silat ketika dia tinggal di Istana Lembah Naga, maka ketika dilatih ilmu silat oleh Na Ceng Han, gerakan-gerakannya amat kaku sehingga Tiong Pek dan Bi Cu yang menonton kadang-kadang tertawa.
Akan tetapi mereka bukan mentertawakan untuk mengejek, Hanya karena geli hati mereka melihat gerakan yang kaku itu.
Betapapun, ketika mereka mengadakan latihan bersama, segera nampak jelas oleh Na Ceng Han betapa dalam hal kecepatan, Sin Liong memiliki kecepatan yang wajar dan luar biasa sekali, kecepatan yang didapatkan dari kehidupannya bersama para monyet sehingga Bi Cu yang memiliki bakat baik sekali untuk ilmu gin-kang sehingga tidak dapat ditandingi oleh suhengnya itupun masih kalah cepat dibandingkan dengan Sin Liong yang sudah sejak kecil mengandalkan tenaga untuk melindungi diri di hutan, dengan berayun-ayun, bahkan masih mengatasi Tiong Pek.
Dengan demikian, kalau anak ini sudah dilatih ilmu silat dan sudah menguasai ilmu itu, sudah pasti bahwa dia akan lebih cepat dari Bi Cu dan lebih kuat dari Tiong Pek, berarti lebih lihai daripada mereka!
Pergaulannya dengan Tiong Pek dan Bi Cu akrab sekali karena dalam pergaulan itu tidak ada sesuatu yang menghalangi, seperti pergaulannya dengan anak-anak di Istana Lembah Naga.
Dan ternyata bahwa Na Ceng Han dan isterinya benar-benar merupakan suami isteri yang berbudi dan ramah sehingga Sin Liong merasa suka sekali kepada keluarga ini dan betah tinggal di rumah mereka.
Dia bahkan kadang-kadang ikut rombongan piauwsu mengawal barang, dan hal ini memang atas anjuran Na Ceng Han yang ingin agar anak ini dapat memiliki pandangan luas dan pengalaman sebagal bekal niatnya untuk merantau.
Dia dapat menduga bahwa tentu ada sesuatu yang mendorong anak ini untuk merantau, akan tetapi dia tahu bahwa membujuk anak itu untuk mengaku akan percuma belaka, maka diapun tidak pernah bertanya.
Sin Liong berlatih rajin.
Dia tidak memanggil suheng atau sumoi kepada Tiong Pek dan Bi Cu, dan juga sebaliknya dua orang anak itu tidak menyebutnya saudara seperguruan.
Hal ini memang kehendak dari Na-piauwsu yang tidak berani menerima anak ajaib itu sebagai muridnya.
Dia tidak mau mengikat Sin Liong, dan tentu saja kalau anak itu sendiri yang mengangkat dia sebagai guru, maka dia tentu akan menerimanya.
Akan tetapi karena dia tidak tahu benar siapa adanya anak itu, maka dia tidak berani mengambil anak itu menjadi muridnya.
Dan ternyata agaknya Sin Liong juga tidak mau terikat, maka anak itupun diam saja, tetap memanggil "paman Na"
Kepada piauwsu itu, walaupun dia berlatih silat dengan amat tekun sehingga dua orang anak itupun terseret dan ikut pula menjadi tekun.
Hal ini amat menggirangkan hati Na-piauwsu.
Istana Kaisar sedang dalam keadaan prihatin karena Kaisar Ceng Tung sedang menderita sakit keras.
Tidak nampak senyum di wajah semua orang yang berada di istana, dari penjaga sampai pelayan dalam istana, dari pengawal sampai para panglima yang keluar masuk untuk menjenguk keadaan Kaisar.
Semua ahli pengobatan istana dikerahkan, bahkan juga didatangkan ahli-ahli pengobatan dari luar, tidak ketinggalan pula para ahli "mengusir setan"
Untuk membuat persembahan dan memasang benda-benda yang dinamakan "hu"
Yang dianggap sebagai tumbal atau jimat penolak bahaya!
Namun, penyakit yang diderita oleh Kaisar tidak menjadi makin ringan, bahkan makin hari makin berat saja.
Pada suatu hari, ketika kota raja mulai sibuk dengan arus manusia yang berlalu-lalang dan kesibukan para pedagang yang mulai dengan perlombaan mereka mencari untung hari itu, nampak dua orang yang mau tidak mau menarik perhatian banyak orang dari pintu gerbang sebelah utara kota raja.
Di antara banyak pintu gerbang kota raja, pintu gerbang sebelah utara merupakan pintu yang terbesar dan dijaga paling kuat.
Dua orang ini bukan lain adalah Pangeran Oguthai atau Ceng Han How, putera dari Raja Sabutai yang memasuki kota raja bersama dengan Kim Hong Liu-nio.
Tentu saja banyak orang tertarik melihat seorang wanita yang cantik sekali dan berpakaian mewah, tata rambutnya seperti seorang puteri, akan tetapi langkahnya begitu tegap dan tenang seperti langkah seorang ahli silat yang biasa melakukan perantauan.
Dan keadaan Ceng Han Houw juga menarik perhatian orang karena pemuda ini bertubuh tinggi tegap, tampan dan halus gerak-geriknya sedangkan sepasang matanya memiliki sinar yang tajam penuh wibawa.
Akan tetapi karena banyaknya bermacam-macam orang memasuki kota raja, keadaaan mereka itu tidak menimbulkan kecurigaan, apalagi karena Kim Hong Liu-nio bersikap hati-hati sekali setelah memasuki daerah kota raja yang diketahuinya terdapat banyak orang pandai itu.
Dia tidak lagi menonjolkan papan kayu salib yang bertuliskan nama-nama marga musuh besar gurunya seperti biasa, bahkan diapun lebih banyak berdiam dan tidak melayani pandang mata banyak pria yang memandangnya dengan penuh kagum.
Ceng Han Houw tiada hentinya mengagumi keadaan kota raja.
Wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar ketika dia menyaksikan jalan-jalan raya yang rata dan bersih, rumah-rumah besar dan istana-istana yang indah dan megah.
Diapun merasa sekali betapa sucinya tiba-tiba menjadi "alim"
Dan pendiam semenjak memasuki wilayah kota raja, padahal sebelum itu, semenjak di penyeberangan Tembok Besar, ketika melalui dusun dan kota, sudah belasan orang menjadi korban sucinya itu yang tidak mau mengampuni setiap orang yang kebetulan memiliki nama keturunan atau marga Cia, Yap dan Tio.
Tentu saja perbuatannya itu amat menggemparkan dan sebentar saja nama Kim Hong Liu-nio dikenal orang sebagai nama yang amat ditakuti seperti iblis.
Akan tetapi, setelah tiba di perbatasan kota raja, Ceng Han Houw melihat betapa sucinya itu tidak pernah lagi bertanya-tanya orang apakah ada di situ orang-orang yang memiliki tiga macam nama marga itu.
"Suci, benarkah banyak orang lihai di sini?"
Bisiknya kepada sucinya ketika mereka berjalan di sepanjang jalan raya di kota raja.
Pertanyaan itu dia ajukan dengan menggunakan bahasa Mongol.
"Ssttt, jangan bicara yang bukan-bukan, sute,"
Wanita itu menjawab dalam bahasa Han.
"Bicaralah dengan bahasa Han agar tidak menarik perhatian orang, dan mari kita langsung saja pergi ke istana."
Semenjak dia berusia sepuluh tahun, Han Houw telah mendengar dari ibunya bahwa Kaisar yang maha besar di selatan adalah ayah kandungnya!
Rahasia ini dibuka oleh ibunya karena dia dianggap sudah cukup besar untuk dapat menyimpan rahasia dan diam-diam Han Houw mempunyai rasa bangga yang amat besar.
Ayahnya sendiri di utara adalah seorang raja, akan tetapi kalau dibandingkan dengan Kaisar, Maka kedudukan ayahnya itu sama sekali tidak ada artinya.
Ayahnya hanya menguasai tanah-tanah yang masih liar, dan mempunyai pasukan yang hanya ribuan orang banyaknya, sedangkan menurut buku-buku yang dibacanya, Kaisar di selatan adalah seorang yang amat berkuasa, menguasai daerah yang tak terukur luasnya dan orang-orang serta pasukan yang tidak terhitung banyaknya.
Bahkan raja-raja kecil yang banyak sekali tunduk kepada kekuasaan Kaisar.
Dan orang ini adalah ayah kandungnya!
Maka mendengar ucapan sucinya, dia mengerutkan alisnya dan memandang kepada pakaiannya.
Pakaiannya memang cukup baik, akan tetapi sudah agak kotor berdebu karena perjalanan terakhir memasuki kota raja.
Dan dia tidak ingin menghadap ayahnya yang amat berkuasa itu dalam pakaian kotor!
"Aku harus berganti pakaian lebih dulu, suci."
Ketika dia hendak berangkat, ibunya sendiri yang memesan kepadanya agar kalau menghadap Kaisar dia mengenakan pakaian terbaik yang sengaja dipersiapkan oleh ibunya, dan bahkan ibunya mengajarkannya bagaimana dia harus bersopan santun di dalam istana sebagai seorang pangeran putera Kaisar!
Kim Hong Liu-nio menoleh dan memandang wajah sutenya.
Tidak biasa sutenya ini membantah kata-katanya, karena sutenya menganggap dia seperti guru juga.
Biarpun sutenya ini murid dari Hek-hiat Mo-li juga, akan tetapi dialah yang lebih banyak membimbing sutenya ini dalam berlatih ilmu silat.
Han Houw tahu bahwa sucinya memandang kepadanya, maka dia berkata.
"Untuk pergi menghadap Kaisar, aku harus mengenakan pakaian bersih, demikian pesan ibu kepadaku."
Kim Hong Liu-nio mengangguk.
Dan tahu bahwa betapapun juga, sutenya ini adalah seorang junjungannya yang harus ditaatinya, maka dalam hal-hal tertentu, dia sama sekali tidak boleh dan tidak berani membantah.
"Kalau begitu, kita mencari sebuah rumah penginapan lebih dulu,"
Katanya singkat.
Mereka lalu pergi mencari rumah penginapan dan tentu saja amat mudah mencari rumah penginapan di kota raja yang besar dan ramai itu.
Setelah tiba di rumah penginapan dan memesan dua buah kamar besar, Kim Hong Liu-nio mempersilakan Pangeran Oguthai atau Ceng Han Houw untuk mandi dan bertukar pakaian sedangkan dia sendiri juga membersihkan diri dan menukar pakaian yang bersih.
Setelah selesai, Han Houw mengajak wanita itu untuk makan dulu.
"Siapa tahu, di istana kita harus menanti sampai lama,"
Kata Han Houw.
"Menurut cerita ibu, di istana kita harus sopan dan sama sekali tidak boleh bergerak, berkata atau berbuat apa saja sebelum diperintah. Kalau di sana kita harus menunggu lama dan perutku lapar tanpa berani minta makan atau pergi mencari makan, wah, bisa kelaparan aku! Mari kita makan dulu sekenyangnya, baru kita pergi menghadap ke istana, suci. Dan menurut ibu, kabarnya di kota raja ini kita bisa makan apapun juga! Bahkan segala macam dagingpun bisa pesan. Kata ayah di sini orang-orangnya pandai sekali masak seperti dewa, bisa menyulap daging-daging ular, buaya, harimau, biruang, dan lain-lain menjadi masakan-masakan sedap. Bahkan kalau mau memesan daging paha burung hong, atau lidah naga laut, kabarnya bisa juga."
Kim Hong Liu-nio tersenyum mendengar omongan sutenya itu, dan begitu dia tersenyum, lenyaplah sifat dingin menyeramkan dari wanita ini.
Sesungguhnya Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang berwajah cantik dan manis sekali, apalagi kalau tersenyum seperti itu, karena selain dia memiliki bentuk bibir yang indah, juga giginya putih dan rapi.
"Sute, di jaman sekarang ini, mana ada segala macam burung hong, naga ataupun kilin? Itu hanya pandainya para pemilik restoran saja. Yang dimaksudkan dengan paha burung hong bukan lain adalah paha burung dara, dan lidah naga adalah lidah ular tertentu yang memang lezat dimasak, kalau yang masaknya pandai. Harimau itu paling-paling daging kucing, dan biruang itu tak salah lagi tentu daging anjing. Tidak salah bahwa memang di sini banyak terdapat ahli masak yang pandai dan memang segala macam daging itu yang enak apanya sih? Tanpa bumbu, mana bisa enak? Yang enak adalah bumbunya!"
Mereka lalu pergi ke sebuah restoran yang besar dan banyak tamunya.
Karena Han Houw ingin melihat keadaan di luar restoran di mana terdapat arus lalu lintas yang cukup ramai, maka dia memilih tempat duduk paling pinggir, di sebelah luar menghadapi pintu dan jendela terbuka.
Selain di sini, tidak begitu panas karena jauh dari api dapur dan memperoleh hawa langsung dari luar yang terbuka, juga dia dapat melihat-lihat keadaan di luar restoran.
Benar saja, ketika mereka membaca menu masakan, terdapat istilah-istilah masakan yang amat hebat dan muluk-muluk seperti sop jantung harimau, jari kaki biruang masak kecap, goreng otak kilin, masak ca jamur dewa, dan sebagainya sehingga Han Houw tertawa geli membacanya.
Sebagai seorang pangeran, tentu saja dia berwatak royal dan dia memesan hampir semua masakan yang namanya aneh-aneh itu sehingga lebih dari dua belas macam masakan!
Tentu saja pelayan memandang dengan mata terbelalak melihat betapa hanya dua orang saja memesan masakan sedemikian banyaknya, yang cukup banyak untuk dimakan oleh enam orang!
"Ramai sekali di sini!"
Kata Han Houw ketika sucinya menuliskan pesanan di atas kertas.
Pelayan yang melayani mereka itu membungkuk-bungkuk.
Dari pakaian dua orang tamu ini saja dia dapat menduga bahwa mereka ini tentulah keluarga bangsawan atau hartawan dari luar kota raja yang datang berkunjung ke kota raja, maka dia bersikap menghormat.
"Biasanya jauh lebih ramai lagi, kongcu. Sebetulnya, biasanya pada bulan seperti ini tentu ada pesta di lapangan belakang pasar, di kuil besar dan di jembatan kuning. Akan tetapi semenjak Sri Baginda Kaisar yang mulia menderita sakit, semua pesta untuk sementara dibatalkan..."
"Sri Baginda Kaisar sakit...?"
Han Houw bertanya, terkejut.
"Eh, kongcu belum tahu? Seluruh penduduk kota raja berprihatin karena sakit beliau itu agak berat..."
Pelayan lalu menerima catatan pesanan dan tidak berani lagi banyak membicarakan Kaisar yang pada waktu itu dianggap sebagai seorang manusia yang setingkat dengan utusan atau wakil Tuhan sehingga tidak boleh banyak disebut-sebut!
Han Houw saling berpandangan dengan sucinya.
Kaisar sakit?
"Ah, kalau begitu kita terpaksa menunda sampai beberapa hari, sampai beliau sembuh, sute.
Kalau beliau sakit, mana mungkin kita diperbolehkan menghadap?"
Bisik Kim Hong Liu-nio kepada sutenya.
Han Houw hanya mengangguk, akan tetapi diam-diam hatinya khawatir sekali.
Memang ibunya sudah mendengar berita bahwa Kaisar sakit, akan tetapi tidak disangkanya bahwa penyakitnya berat sehingga sampai sekarangpun masih sakit sehingga semua penghuni kota rajapun sampai berprihatin dan segala macam pesta ditiadakan!
Berita itu mengurangi kegembiraan Han Houw, sungguhpun dia masih dapat menikmati hidangan masakan yang memang benar-benar lezat dan yang belum pernah dirasakannya itu.
Ketika mereka sedang asyik makan minum, tiba-tiba pandang mata Han Houw tertarik oleh tiga orang kakek pengemis yang berpakaian menyolok sekali.
Tiga orang kakek itu usianya tentu kurang lebih lima puluh tahun, namun tubuh mereka masih tegap dan sehat kuat.
Yang menyolok adalah pakaian mereka, karena tiga orang kakek pengemis itu memakai pakaian tambal-tambalan yang terbuat dari kain-kain berkembang yang beraneka warna!
Sehingga dari jauh nampak mereka itu seperti tiga orang yang aneh sekali, pakaian mereka dari baju sampai celana semua berkembang-kembang dan bertotol-totol dengan warna-warna menyolok.
Mereka itu dapat dikenal sebagai pengemis-pengemis karena mereka itu memegang tongkat dan tempat makanan dari kayu, sedangkan sepatu mereka berlubang-lubang, juga pakaian yang aneh itu biarpun warnanya menyolok sekali akan tetapi tambal-tambalan!
Di punggung mereka nampak tumpukan buntalan, entah buntalan apa, warnanya kuning.
"Suci, orang-orang apakah mereka itu?"
Tanya Han Houw sambil menunjuk dengan gerakan dagunya.
Kim Hong Liu-nio yang duduknya berhadapan dengan Han Houw, kini menoleh dan sejenak matanya menyambar dan memandang kepada tiga orang kakek yang berjalan mendatangi itu dengan tajam dan penuh perhatian.
Diam-diam dia terkejut juga melihat cara tiga orang kakek itu melangkahkan kaki mereka.
Begitu ringan dan penuh tenaga!
Jelaslah bahwa mereka itu bukan orang-orang sembarangan dan pakaian mereka itu jelas pula merupakan tanda golongan mereka!
Dia mengingat-ingat.
Mereka itukah yang disebut-sebut sebagai orang-orang Hwa-i Kai-pan (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) yang kabarnya amat berkuasa di daerah kota raja?
Agaknya tidak salah lagi.
Akan tetapi melihat lima tumpuk buntalan kuning di punggung tiga orang kakek itu, Kim Hong Liu-nio memandang tak acuh karena dia tahu bahwa mereka itu hanyalah tokoh-tokoh tingkat rendahan saja, tingkat lima!
"Sute, jangan perdulikan mereka.
Agaknya mereka adalah tokoh-tokoh kai-pang,"
Bisiknya kepada sutenya.
"Haii, Sam-wi Lo-sin-kai (Tiga Orang Pengemis Tua Sakti)! Sam-wi hendak ke manakah?"
Tiba-tiba terdengar teriakan orang yang duduk di dalam restoran itu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh tegap yang sedang menghadapi meja penuh masakan bersama tiga orang lain yang juga memandang gembira melihat tiga orang pengemis itu.
"Ah, kiranya Yu-kamsu (guru silat Yu) dari Cin-an dan tiga orang saudara dari Sin-houw-piauw-kiok!"
Kata seorang di antara tiga kakek pengemis itu sambil berhenti melangkah di depan restoran, di luar jendela di mana empat orang itu duduk.
"Mari silakan duduk makan minum bersama kami!"
Kata pula guru silat she Yu itu dengan sikap ramah dan gembira, menandakan bahwa mereka itu adalah kenalan-kenalan baiknya.
"Terima kasih, Yu-kauwsu, kami masih harus menyelesaikan urusan penting. Nanti saja kalau sudah selesai urusan kami, kami tergesa-gesa!"
"Ha-ha-ha, kalau begitu biarlah dari sini saja aku menyuguhkan masakan dan arak!"
Setelah berkata demikian, sambil tertawa-tawa Yu-kauwsu bersama tiga orang piauwsu yang menjadi temannya itu melempar-lemparkan mangkok yang penuh masakan dan juga seguci arak ke luar jendela, ke arah tiga orang pengemis tua itu!
Han Houw memandang penuh perhatian dan diam-diam juga kagum.
Tiga orang kakek itu, benar seperti yang diduga sucinya, adalah tokoh-tokoh yang berkepandalan tinggi.
Masing-masing telah menangkap dua buah mangkok masakan yang terbang ke arah mereka, dan kakek pertama malah dapat menerima guci arak dengan sundulan kepalanya sehingga guci itu berdiri tegak di atas kepalanya.
Semua ini mereka lakukan dengan cekatan dan tidak ada arak atau kuah masakan yang tumpah.
Sambil tertawa-tawa mereka makan masakan itu dari mangkok begitu saja tanpa sumpit, kemudian mereka melempar-lemparkan mangkok kosong ke dalam jendela.
Mangkok-mangkok itu berputaran dan kemudian hinggap di atas meja depan kauwsu itu tanpa menimbulkan banyak suara bising, dan tidak pecah!
Demikian pula guci arak setelah araknya mereka teguk bergantian sampai habis.
Tiga orang kakek pengemis itu kelihatan girang sekali karena banyak orang menonton demonstrasi mereka dengan penuh kagum.
Nama Hwa-i Kai-pang memang sudah amat terkenal dan di manapun mereka berada, tentu akan terjadi sesuatu yang menarik karena mereka itu rata-rata memiliki kepandaian silat yang tinggi.
"Wah, terima kasih, Yu-kauwsu dan sam-wi piauwsu. Dengan suguhan itu, kami tidak perlu lagi minta sumbangan dari para tamu restoran ini, kecuali terhadap seorang tamu yang datang dari tempat jauh."
Mereka mengusap-usap perut mereka, kemudian melangkah maju menghampiri meja Han Houw!
Pangeran dari utara ini, biarpun masih muda, namun dia telah memiliki kepandaian tinggi, maka pertunjukkan tadi biarpun membuatnya kagum, akan tetapi dianggapnya bukanlah ilmu yang aneh.
Sedangkan Kim Hong Liu-nio sama sekali tidak memperdulikan mereka, dan ketika tiga orang pengemis itu tiba-tiba berhenti melangkah di depan jendela mereka dan mereka bertiga memandang kepadanya dengan mata tidak pernah berkedip, dengan sinar mata yang tajam dan mengandung kemarahan, Kim Hong Liu-nio masih mengambil sikap tidak perduli!
"Toanio, kasihanilah kami tiga orang pengemis tua..."
Kata yang seorang.
"Kami bertiga mohon dermaan dari toanio..."
Sambung yang ke dua.
"Semoga Thian memberkahi kebaikan toanio..."
Sambung pula yang ke tiga.
Melihat sucinya bersikap tak acuh, Han Houw cepat mengeluarkan tiga keping uang perak dan menyerahkan tiga keping uang itu kepada mereka sambil berkata.
"Ini sedikit sumbangan dari kami harap diterima dengan senang."
Tiga orang kakek pengemis itu menerima tiga keping uang perak itu masing-masing sekeping, akan tetapi mata mereka mendelik dan seorang di antara mereka berkata.
"Kongcu menganggap kami ini orang apa maka memberi sumbangan uang perak?"
Dan tiba-tiba mereka melemparkan tiga keping uang perak itu di atas meja depan Han How.
"Cep! Cep! Cep!"
Tiga keping uang perak itu menancap ke dalam papan meja sampai hampir rata dengan permukaan meja.
Tiga orang pengemis tua itu mengira bahwa tentu pemuda cilik yang tanpa disengaja telah menghina tiga orang tokoh tingkat lima dari Hwa-i Kai-pang akan menjadi terkejut, setidaknya tentu akan pucat mukanya karena lontaran uang perak itu saja sudah menunjukkan kehebatan mereka.
Akan tetapi, tiga orang kakek pengemis itu saling lirik ketika melihat pemuda yang berpakaian mewah itu sama sekali tidak terkejut, bahkan lalu tersenyum!
"Ah, kiranya sam-wi tidak membutuhkan uang perak lagi.
Terpaksa kusimpan kembali!"
Setelah berkata demikian, Han Houw menggerakkan tangan kanannya ke arah tiga keping uang perak yang menancap dan berjajar di atas meja itu, menjepit tiga keping uang perak itu di antara jari-jari tangannya, mengerahkan sin-kang dan dengan enak saja dia telah mencabut keluar tiga uang perak itu dan mengantonginya!
Kemudian pemuda itu melanjutkan makan tanpa memperdulikan lagi kepada mereka!
"Waspadalah, sute.
Di kota raja ini banyak sekali srigala bertopeng domba, dan di depan restoran ini terlalu banyak lalat hijau!
Sungguh menjijikkan!"
Kata Kim Hong Liu-nio.
Merahlah wajah tiga orang kakek itu.
Tadi mereka terkejut bukan main menyaksikan betapa anak laki-laki itu begitu mudahnya mencabut uang perak dari atas meja.
Maklumlah mereka bahwa anak laki-laki itu lihai sekali.
Maka kini mereka tidak lagi mau berpura-pura, dan yang tertua di antara mereka segera berkata.
"Toanio, kami mohon sumbangan untuk menyembahyangi arwah seorang pengemis she Tio di kota Huai-lai sebelah utara yang mati beberapa hari yang lalu. Perkabungan dengan sebatang hio saja masih belum mencukupi!"
Diam-diam Kim Hong Liu-nio terkejut.
Ah, kiranya pengemis yang dibunuhnya di kota Huai-lai itu juga merupakan anggauta Hwa-i Kai-pang?
Akan tetapi mengapa pakaiannya tidak berkembang?
Dia tidak tahu bahwa Hwa-i Kai-pang merupakan perkumpulan pengemis yang amat besar kekuasaannya sehingga seluruh pengemis, baik yang berkelompok dalam perkumpulan lain maupun tidak memasuki perkumpulan, semua menganggap Hwa-i Kai-pang sebagai induk perkumpulan yang dapat mereka andalkan untuk membela kaum pengemis, dan sebaliknya Hwa-i Kai-pang juga menganggap seluruh pengemis dari manapun juga sebagai "umat"
Mereka!
Itulah sebabnya ketika pengemis she Tio yang kebetulan bertemu dengan Kim Hong Liu-nio di Huai-lai dan dibunuh oleh wanita ini, Maka hal itu terdengar oleh para anggauta Hwa-i Kai-pang dan tiga orang pengemis tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat lima itu segera melakukan pengejaran dan pengintaian sampai ke kota raja.
Kim Hong Liu-nio maklum bahwa dia tidak mungkin dapat menghindarkan diri dari bentrokan.
Akan tetapi diapun tidak ingin mendapat gangguan, dan tidak ingin pula mengikat permusuhan dengan Hwa-i Kai-pang, maka diambilnya keputusan untuk menghajar tiga orang kakek pengemis ini tanpa membunuh mereka, sekedar memperingatkan mereka agar tidak main-main dengan dia.
Diambilnya sekeping uang emas dari dalam saku bajunya, karena ia bermaksud untuk menyumbang sekeping uang emas, sumbangan yang luar biasa besarnya, untuk membuat para pengemis puas dan tidak mengganggunya lagi.
"Pengemis itu sial karena dia she Tio,"
Katanya.
"Akan tetapi kalau kalian hendak berkabung, biarlah aku menyumbang ini!"
Dia lalu melemparkan sekeping uang emas tadi ke arah pengemis tertua.
Pengemis itu menyambar kepingan uang emas itu dengan tangannya, lalu dipandangnya uang emas di atas telapak tangannya sambil menyeringai.
"Heh-heh, selembar nyawa dibeli dengan sekeping uang emas! Betapa murahnya engkau menghargai selembar nyawa pengemis, toanio. Tidak, tidak cukup!"
Dan pengemis itu mengepalkan tangan, mengerahkan tenaga lalu mengembalikan uang itu dengan melemparkannya ke atas meja di depan Kim Hong Liu-nio.
Terdengar suara berdencing dan kepingan uang emas itu kini telah menjadi gepeng!
Kim Hong Liu-nio mengerutkan alisnya.
"Tidak cukup? Apa yang kalian kehendaki, orang-orang yang tamak?"
Tanyanya, mulai kehilangan kesabarannya.
"Jiwa seorang pengemis memang tidak ada harganya, akan tetapi kiranya pantas untuk ditukar dengan sebatang jari tangan pembunuhnya. Serahkan jari telunjuk atau jari tengahmu dan kami akan pergi tanpa banyak tingkah lagi."
Tentu saja Kim Hong Liu-nio menjadi marah bukan main. Disambarnya uang emas itu dan dia berkata.
"Sekali bicara tidak biasa menarik kembali, sekali menyerahkan sumbangan tidak akan diambil kembali. Terimalah sumbangan ini dan pergi!"
Dan wanita itu melontarkan kepingan emas kepada si pengemis tua yang cepat menyambutnya karena lontaran itu kuat sekali.
"Crottt... ahhh...!"
Pengemis tua itu menyeringai kesakitan ketika telapak tangannya yang menyambut kepingan emas itu ditembusi oleh kepingan emas yang sudah gepeng itu sehingga menembus ke punggung tangannya!
Darah mengalir dari telapak dan punggung tangan, sedangkan kepingan uang emas itu terjatuh ke atas tanah!
Dapat dibayangkan betapa nyerinya tangan ditembusi benda seperti itu, akan tetapi pengemis tua itu menahan rasa nyerinya dan memandang kepada Kim Hong Liu-nio dengan melotot.
Dua orang pengemis yang lainnya menjadi terkejut dan marah.
Mereka lalu menggerakkan tongkat mereka hendak menyerang ke dalam.
Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio yang setelah melontarkan uang emas tadi lalu mengambil tim ikan emas dan makan ikan itu dengan enaknya, ketika melihat dua orang pengemis lainnya menggerakkan tongkat, dia sudah menoleh dan mulutnya menghardik.
"Tidak lekas pergi?"
Ketika dia membentak itu, dari mulutnya yang kecil meluncur beberapa batang duri ikan emas yang menyambar dengan luar biasa cepatnya ke arah dua orang pengemis yang sedang menggerakkan tongkatnya itu.
Dua orang kakek itu terkejut bukan main, dan cepat berusaha untuk mengelak.
Akan tetapi, jarak antara mereka dan wanita itu terlalu dekat, dan duri-duri itu merupakan benda ringan yang bergerak cepat bukan main tanpa suara, maka yang nampak hanya sinar berkelebat dan tahu-tahu mereka berdua merasakan wajah mereka sakit bukan main seperti ditusuk jarum, terutama di tepi mata mereka.
Ketika mereka meraba, ternyata bahwa beberapa batang duri ikan telah menancap sampai dalam di bawah bola mata, di pipi dan di hidung mereka sehingga terasa nyeri dan tidak dapat dicabut karena sudah masuk semua!
Kedua orang kakek itu menggunakan tangan menutupi mata kiri mereka dan darah mulai menetes keluar dari beberapa tempat di wajah mereka yang terkena duri ikan.
Melihat ini, kakek yang tangannya ditembus uang emas itu maklum bahwa wanita itu terlalu lihai bagi mereka.
Sejenak dia memandang tajam, kemudian menghela napas, memungut uang emas yang menembus lengannya tadi, memasukkannya di dalam saku, kemudian membalikkan tubuh dan menyentuh tangan seorang temannya dengan tongkat.
Teman ini memegang tongkat itu, lalu dia menyentuh teman di belakangnya dengan tongkat.
Kakek ke tiga juga memegang tongkat itu dan dengan saling tuntun karena yang dua orang tidak dapat membuka mata, mereka meninggalkan tempat itu dengan berjalan terseok-seok seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu dengan mereka.
Tidak banyak orang menyaksikan peristiwa aneh dan hebat ini.
Akan tetapi, guru silat dan tiga orang piauwsu yang tadi menyapa kakek-kakek pengemis itu dapat melihat karena selain kebetulan mereka juga duduk di luar, juga mereka sejak tadi memperhatikan tiga orang kakek itu dan agaknya mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat maka mereka dapat menyaksikan semua itu.
Setelah tiga orang kakek pengemis itu tidak nampak lagi, laki-laki yang berpakaian seperti guru silat itu cepat bangkit dan menghampiri meja Han Houw dan Kim Hong Liu-nio.
Sute dan suci ini bersiap-siap akan tetapi bersikap tenang-tenang saja.
"Lihiap, kepandaian lihiap sungguh amat tinggi. Akan tetapi sebaiknya lihiap cepat meninggalkan tempat ini karena mereka tadi adalah tokoh-tokoh ke lima dari Hwa-i Kai-pang dan setelah peristiwa tadi, tentu tokoh-tokoh yang jauh lebih tinggi tingkatnya akan datang. Jumlah mereka banyak sekali, mereka berpengaruh besar dan dipimpin oleh orang-orang yang amat pandai, maka kalau lihiap tidak segera pergi, tentu akan menghadapi bencana!"
Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang berhati keras, pemberani, dan tidak biasa dinasihati orang, mendengar kata-kata orang itu, dia mengangkat muka memandang.
Orang itu terkejut bukan main menyaksikan wajah cantik itu dingin bukan main dan sepasang mata wanita itu seperti ujung dua batang pedang yang hendak menusuknya, sehingga dia mundur selangkah.
"Kami datang atau pergi sesuka hati kami, tidak ada setanpun yang boleh memaksa atau mencegah kami!"
"Ah, maaf...!"
Guru silat itu menjadi merah mukanya.
"Kulihat tadi engkau adalah sahabat-sahabat tiga orang kakek pengemis itu, mengapa sekarang tiba-tiba saja memberi nasihat kepada kami?"
Kim Hong Liu-nio bertanya dengan suara yang nadanya menegur atau sebagai alasan akan sikapnya yang ketus tadi.
"Ah, lihiap tidak tahu rupanya. Siapakah yang tidak akan bersikap bersahabat dengan para tokoh Hwa-i Kai-pang? Tadi menyaksikan kelihaian lihiap, maka saya merasa khawatir dan lancang bicara, akan tetapi saya telah cukup banyak bicara dan maafkan kalau saya lancang menasihati lihiap."
Guru silat itu lalu menjura dan kembali ke mejanya.
Tak lama kemudian empat orang yang tidak terdengar bicara lagi itu meninggalkan restoran, agaknya mereka berempat merasa jerih setelah tadi guru silat itu menasihati Kim Hong Liu-nio.
Wanita cantik ini tidak memperdulikan mereka.
Wataknya memang aneh dan hatinya keras dan dingin sekali, maka sikap guru silat tadipun tidak membuatnya merasa menyesal sama sekali.
Dia melanjutkan makan minum seenaknya bersama sutenya sampai mereka selesai.
"Sute, kau lihat betapa banyak bahaya di kota raja dan betapa banyaknya orang pandai. Oleh karena itu, lebih baik kita sekarang juga pergi menghadap ke istana."
"Akan tetapi, suci, mana bisa... kalau Kaisar sedang menderita sakit..."
"Kurasa malah lebih baik lagi, kita dapat menggunakan alasan untuk menengok. Biarpun Kaisar, tetap saja seorang manusia dan menengok orang yang sedang sakit adalah perbuatan yang layak, tentu lebih mudah bagi kita untuk memasuki istana."
Han Houw tidak membantah lagi dan mereka lalu meninggalkan restoran, berkemas lalu berangkatlah mereka menuju ke istana Kaisar yang tentu saja dapat mudah mereka cari di kota raja itu.
Gentar juga rasa hati Kim Hong Liu-nio melihat keagungan dan kemegahan istana yang dikurung pagar tembok, dijaga ketat oleh pasukan pengawal yang amat kuat.
Dari balik pintu gerbang nampak bangunan istana yang amat besar, megah dan indah, yang membayangkan keindahan, keagungan dan kekuasaan besar itu.
Bukan hanya di pintu gerbang istana itu saja yang penuh dengan pasukan penjaga yang bersenjata lengkap dan melakukan penjagaan ketat, akan tetapi juga nampak berkilauannya senjata dan pakaian penjaga yang melakukan penjagaan di atas tembok, dan Kim Hong Liu-nio maklum bahwa makin dalam tentu istana itu makin dijaga dengan ketat oleh pengawal-pengawal yang berkepandaian tinggi.
Oleh karena itu, hanya orang gila sajalah kiranya yang akan berani memasuki istana itu tanpa ijin.
Betapapun pandainya seseorang, kiranya tidak mungkin akan dapat menembus penjagaan-penjagaan yang amat ketat itu, apalagi kalau diingat bahwa di sebelah dalam lingkungan tembok istana itu tentu terdapat pengawal-pengawal yang amat tinggi ilmu kepandaiannya.
Ketika para penjaga melihat seorang wanita cantik dan seorang pemuda tanggung, keduanya berpakaian mewah dan indah berhenti di pintu gerbang, tentu saja mereka menaruh perhatian dan sebentar saja suci dan sute itu telah dikurung oleh para penjaga!
Ketika dengan sikap tenang dan suara halus Kim Hong Liu-nio menyatakan bahwa mereka ingin menghadap Kaisar, tentu saja para penjaga itu menjadi curiga sekali dan juga terheran-heran dan dengan keras keinginan itu ditolak.
"Ah, apakah dikira mudah saja hendak pergi menghadap Kaisar?"
Kata kepala penjaga sambil memandang wajah cantik itu dengan tajam dan penuh selidik.
"Jangankan selagi Sri Baginda Kaisar sakit dan tidak boleh diganggu sama sekali, sedangkan andaikata beliau sedang sehat sekalipun, tidak akan mudah memasuki istana menghadap beliau begitu saja tanpa tanda-tanda khusus untuk itu."
"Kami adalah utusan dari utara, dari Sri Baginda Raja Sabutai!"
Kata Kim Hong Liu-nio yang mulai merasa tidak sabar.
Semua penjaga tertegun.
Mereka tentu saja sudah mendengar nama Raja Sabutai di utara yang pernah menggegerkan kota raja dengan penyerbuan-penyerbuannya itu.
Akan tetapi tentu saja merekapun tidak percaya bahwa raja besar yang ditakuti atau pernah ditakuti itu mengirim utusan berupa seorang wanita cantik dan seorang pemuda tanggung!
"Toanio, engkau tentu saja boleh mengaku utusan dari manapun, akan tetapi apa tandanya dan bagaimana kami bisa tahu bahwa kalian adalah utusan raja?
Apakah kalian mempunyai kenalan seorang pembesar di kota raja?
Hanya dengan perantaraan pembesar yang memang mempunyai kekuasaan saja kami dapat mempercaya."
"Suci, perlihatkan benda pemberian ibu itu,"
Tiba-tiba Han Houw berkata dalam bahasa Mongol kepada sucinya.
Diapun merasa terhina dan tidak senang.
Katanya Kaisar adalah ayah kandungnya, jadi dia adalah seorang pangeran, akan tetapi kini penjaga-penjaga biasa saja melarangnya untuk memasuki istana ayah kandungnya!
Kim Hong Liu-nio mengerutkan ailsnya.
"Harap kalian suka memanggil komandan pengawal agar kami dapat bicara dengan dia sendiri!"
Ketika itu, Kaisar sedang sakit, semua penjaga mengalami suasana yang sunyi dan tertekan karena mereka tidak diperkenankan untuk bergembira seperti biasa.
Suasana ini menegangkan dan mencekam hati, membuat mereka menjadi muram dan mudah bercuriga.
Akan tetapi melihat pakaian wanita dan pemuda tanggung itu, mereka menduga bahwa dua orang ini tentu bukan orang kang-ouw yang hendak menyelundup sebagai mata-mata atau hendak melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap Kaisar.
Betapapun juga, mereka tidak kehilangan kewaspadaan dan setelah kini wanita cantik itu minta dihadapkan kepada komandan, seorang di antara mereka segera lari ke sebelah dalam untuk melaporkan kepada komandan jaga yang berada di dalam kantor.
Komandan jaga itu adalah seorang perwira gemuk pendek dan galak, akan tetapi di samping kegalakannya ini, dia juga mempunyai watak mata keranjang.
Ketika mendengar laporan bahwa ada seorang wanita cantik yang minta menghadap Kaisar, maka dia cepat-cepat menghampiri cermin, mengurut kumisnya dan membereskan pakaiannya, kemudian bergegas keluar menuju ke pintu gerbang di mana dua orang itu masih dikepung oleh anak buahnya.
Cuping hidung perwira gemuk itu kembang-kempis ketika dia melihat bahwa wanita yang datang dan hendak bertemu dengan dia benar-benar adalah seorang wanita yang cantik manis sekali!
Dia menyeringai, kemudian dengan suaranya yang sudah biasa menghardik dan membentak bawahannya dia berkata.
"Minggir semua! Biarlah aku memeriksanya!"
Para anak buah pasukan penjaga lalu minggir dan mundur menjauh.
Perwira gendut itu menghampiri Kim Hong Liu-nio, matanya yang berminyak itu mengamati wajah wanita itu, kemudian sinar matanya meraba-raba dari atas ke bawah seperti hendak menggerayangi wajah dan tubuh yang padat di balik pakaian yang mewah itu.
Menyaksikan sikap ini saja, diam-diam Kim Hong Liu-nio sudah merasa mendongkol bukan main.
Akan tetapi dia maklum bahwa di tempat ini dia harus dapat menahan kesabarannya dan tidak boleh menimbulkan keributan.
Maka dia segera berkata.
"Ciangkun, kami berdua adalah utusan dari utara, dari Raja Sabutai untuk menghadap Sri Baginda Kaisar,"
Perwira itu agaknya baru sadar bahwa wanita itu mengajak dia bicara.
Tadi dia memandang seperti orang terpesona karena memang dia tertarik sekali oleh kecantikan wanita itu.
"Apa? Ah, menghadap Sri Baginda Kaisar? Mana bisa, beliau sedang sakit dan..."
"Justeru karena mendengar beliau sakit maka Sri Baginda Raja Sabutai mengutus kami untuk menengok dan melihat keadaan Sri Baginda Kaisar,"
Jawab Kim Hong Liu-nio cepat-cepat. Perwira itu berpikir sejenak, lalu berkata.
"Hal ini tidak dapat dilakukan secara begitu mudah dan sembarangan. Akan saya laporkan dulu ke dalam, kepada kepala pengawal dan sementara itu kalian harus menanti di dalam kantorku untuk pemeriksaan. Kalian harus diperiksa."
"Diperiksa?"
Kim Hong Liu-nio bertanya.
"Ya, diperiksa kalau-kalau kalian membawa senjata. Aku sendiri yang harus memeriksa, karena setiap orang yang ingin memasuki istana tanpa ada surat ijin atau surat perintah resmi, harus dicurigai dan diperiksa."
"Akan tetapi, aku tidak membawa senjata dan dia ini... tentu saja dia membawa pedang karena dia adalah seorang pangeran, dia putera Sri Baginda Raja Sabutai!"
Agaknya perwira itu tidak percaya dengan keterangan ini, akan tetapi karena pikirannya sudah membayangkan betapa dia akan "memeriksa"
Atau menggeledah tubuh wanita ini untuk mencari senjata, padahal tentu saja maksudnya agar memperoleh kesempatan untuk menggerayangi tubuhnya dengan kedua tangannya dan kalau mungkin, siapa tahu, membujuk wanita itu agar suka melayaninya di kamar kantornya, maka dia tidak begitu menaruh perhatian.
"Pangeran atau bukan, harus diperiksa dulu. Marilah, nona, mari ikut bersamaku ke dalam kantorku untuk digeledah, baru aku akan melaporkan ke dalam apakah kalian dapat diperkenankan masuk ataukah tidak."
Sambil berkata demikian, tanpa ragu-ragu lagi perwira itu lalu mengulurkan tangan hendak menggandeng tangan yang kecil halus berkulit putih itu.
Akan tetapi dia tidak tahu bahwa Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang selama hidupnya belum pernah bermesraan dengan pria, belum pernah disentuh pria, maka melihat dia mengulurkan tangan hendak menggandeng, hampir saja tangannya bergerak membunuh perwira itu dengan sekali pukul.
Untung bahwa dia masih teringat dan cepat dia menarik tangannya sehingga pegangan perwita itu luput dan Kim Hong Liu-nio melangkah mundur sambil mengerutkan alisnya.
"Ciangkun, kami adalah orang-orang terhormat yang tidak selayaknya digeledah. Kalau memang engkau hendak melaporkan keadaan kami ke dalam istana, silakan, kami akan menunggu di sini!"
Kata Kim Hong Liu-nio dengan suara tegas.
"Hemm, tidak bisa! Kalian harus kugeledah. Mari, kalian ikutlah aku memasuki kantorku."
Melihat sikap keras ini, Kim Hong Liu-nio menjadi makin marah.
"Kalau kami tidak sudi digeledah?"
"Hemm, kalau begitu kalian harus ditahan!"
"Bagus! Dengan tuduhan apa pula?"
"Tuduhan bahwa kalian mungkin sekali mata-mata musuh!"
Hampir saja Kini Hong Liu-nio tidak dapat menahan lagi kesabarannya, akan tetapi pada saat itu muncul seorang laki-laki berpakaian panglima yang datang dari dalam istana dengan langkah kaki tergesa-gesa.
Panglima ini adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian sebagai panglima yang gagah, sikapnya gagah dengan wajah jantan, sepasang matanya yang lebar itu berpandangan tajam dan jujur, tubuhnya tinggi besar tegap dan kelihatan jelas bahwa dia memiliki tenaga yang besar.
Seorang panglima yang benar-benar gagah perkasa, perutnya kecil, dadanya bidang, tidak seperti kebanyakan panglima yang perutnya besar-besar.
Semua orang, termasuk perwira pendek gemuk, cepat bersiap dan memberi hormat kepada panglima yang keluar ini.
Panglima itu membalas penghormatan mereka dan ketika dia melihat wanita cantik berpakaian indah dan seorang pemuda tanggung berdiri di situ, dia tercengang.
Apalagi ketika dia menatap wajah Han Houw, dia kelihatan terkejut dan cepat dia bertanya.
"Apakah yang terjadi di sini? Siapakah adanya nona dan orang muda ini?"
Si perwira tadi cepat menjawab.
"Mereka ini adalah orang-orang mencurigakan yang katanya hendak mohon menghadap Sri Baginda Kaisar."
Panglima itu kelihatan kaget dan kini kembali ia memandang dua orang itu penuh perhatian, sambil dia bertanya kepada perwira gendut.
"Dan kau sudah melaporkannya ke kantor pengawal di dalam?"
"Be... belum..."
"Kenapa belum?"
Panglima itu menghardik.
"Karena... karena... saya curiga dan hendak menggeledah mereka dulu..."
Panglima itu kelihatan marah.
Dia sudah tahu praktek-praktek kotor yang pernah didengarnya dilaksanakan oleh para penjaga pintu gerbang, gangguan-gangguan terhadap wanita cantik, uang-uang sogokan bagi mereka yang ingin masuk, dan sebagainya.
Akan tetapi sebelum dia memperlihatkan kemarahannya kepada perwira gendut itu, Kim Hong Liu-nio yang melihat sikap panglima ini segera melangkah maju.
"Ciangkun, kami berdua datang dari utara, saya adalah utusan dari Sri Baginda Sabutai..."
"Ahh...!"
Panglima itu terkejut sekali.
"Dan dia ini adalah pangeran dari kerajaan kami."
Makin kagetlah panglima itu dan cepat dia menjura.
"Maafkan kami dan maafkan sikap para penjaga kami,"
Dia mengerling penuh kemarahan kepada perwira gendut yang melangkah mundur dengan sikap jerih.
"Akan tetapi, hendaknya nona memahami peraturan kami bahwa yang hendak memasuki istana harus memiliki tanda pengenal diri yang sah. Nona sebagai utusan tentu saja membawa tanda kuasa atau surat perintah Raja Sabutai sebagai utusan beliau."
"Ciangkun, kami hanya membawa ini, yang memberikan adalah sang permaisuri dari kerajaan kami sendiri."
Kim Hong Liu-nio mengeluarkan kotak kecil dan membuka tutupnya dengan sikap hormat.
Ketika panglima itu melihat sebuah kalung di dalamnya dan sesampul surat, dia makin terkejut.
Tentu saja dia mengenal benda pusaka kerajaan itu, kalung Kaisar yang tidak ada ke duanya!
Dan pembawa atau pemegang benda pusaka ini berarti telah memperoleh kekuasaan dari Sri Baginda Kaisar sendiri!
Maka cepat-cepat dia memberi hormat dan untuk kedua kalinya dia melirik penuh kemarahan kepada perwira gendut yang menjadi pucat mukanya.
"Saya panglima pengawal Lee Siang menghaturkan selamat datang dan mohon maaf sebesarnya atas penyambutan yang tidak layak ini karena kami tidak tahu sebelumnya akan kedatangan paduka. Silakan masuk bersama saya untuk melapor kepada pengawal dalam istana."
Kim Hong Liu-nio tersenyum dan Ceng Han Houw juga bernapas lega.
Dengan muka manis wanita itu menghaturkan terima kasih kepada panglima yang gagah itu, kemudian bersama sutenya dia melangkah masuk diiringkan oleh panglima itu.
Panglima itu bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang kepercayaan Kaisar karena dia bersama kakaknya yang bernama Lee Cin, sejak muda telah menjadi panglima pengawal Kim-i-wi (Pasukan Pengawal Baju Emas).
Dalam usia empat puluh tahun itu, Panglima Lee Siang telah menjadi duda, kematian isterinya tanpa meninggalkan seorangpun anak keturunan.
Dan biarpun isterinya telah meninggal lima tahun yang lalu, sampai sekarang dia belum juga mau beristeri lagi.
Kim Hong Liu-nio melihat betapa penjagaan amat ketat, makin ke dalam istana, Makin hebat dan kuatlah penjagaannya sehingga sepasukan besar musuhpun akan sukar menembus istana yang dijaga kuat ini.
Dia tidak tahu bahwa hal ini berbeda dari biasanya.
Dia tidak tahu pula bahwa di dalam istana terjadi ketegangan-ketegangan, bukan hanya karena Kaisar menderita penyakit yang agak berat, akan tetapi terutama sekali karena adanya desas-desus bahwa akan timbul pemberontakan di dalam istana!
Karena itulah, maka para panglima pengawal, termasuk Lee Siang dan kakaknya, Lee Cin, nampak sibuk selalu mengatur penjagaan untuk mencegah terjadinya desas-desus tentang pemberotakan itu.
Panglima Lee Siang mengajak mereka berhenti sebentar di ruangan dalam yang luas, di mana berkumpul beberapa orang berpakaian panglima yang sudah berusia tua, Dan ada pula yang berpakaian sebagai pembesar sipil.
Akan tetapi semua menunjukkan bahwa mereka itu adalah pembesar-pembesar tinggi.
Kim Hong Liu-nio dan Han Houw hanya berdiri di tempat agak jauh ketika mereka melihat betapa Panglima Lee Siang bercakap-cakap lirih dengan mereka itu, memperlihatkan isi kotak kecil dan mereka itupun kelihatan terkejut dan tegang.
Mereka semua memandang kepada Han Houw dan akhirnya Panglima Lee mengajak mereka berdua untuk melanjutkan lagi perjalanan melalui lorong-lorong dan ruangan-ruangan indah, agaknya telah memperoleh persetujuan para pembesar itu.
Ceng Han Houw menjadi kagum bukan main melihat kemewahan dan keindahan di dalam istana ini.
Bukan main besarnya istana itu, dan di setiap ruangan terdapat perabot-perabot ruangan yang amat indah dan megah.
Di setiap ruangan atau lorong tentu terdapat pengawal-pengawal yang berjaga dengan berdiri tegak dan sikap waspada, dan di sana-sini terdapat pula dayang-dayang istana yang cantik-cantik, sutera-sutera beraneka warna bergantungan di mana-mana dan tidak nampak sedikit pun debu di dalam ruangan-ruangan itu.
Akhirnya tibalah mereka di depan sebuah kamar besar dan kembali di depan kamar ini terdapat sepasukan pengawal yang amat gagah karena pakaian mereka semua terdiri dari baju bersulam benang emas.
Inilah pasukan Kim-i-wi yang terkenal, pasukan pengawal pribadi Kaisar yang terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa.
Ketika melihat dua orang ini dikawal oleh panglima mereka sendiri, para pengawal itu cepat memberi hormat dan memberi jalan.
Dua orang dayang cantik membukakan pintu dan Panglima Lee mengawal dua orang tamu itu memasuki kamar.
Kamar itu indah sekali dan amat luas.
Kaisar nampak rebah terlentang dengan bantal tinggi mengganjal kepala dan punggung, wajahnya pucat akan tetapi sikapnya tenang.
Banyak orang berlutut di atas lantai menghadap ke pembaringan Sri Baginda, terdapat beberapa orang laki-laki tua berpakaian sipil, ada juga yang berpakaian panglima, dan ada pula seorang laki-laki muda berpakaian mewah.
Pemuda ini adalah Pangeran Ceng Su Liat, seorang di antara pangeran-pangeran yang ada di kerajaan itu.
Juga di dalam kamar besar ini terdapat sembilan orang pengawal yang selalu memegang tombak di tangan, siap untuk melindungi Kaisar apabila terjadi sesuatu.
Dayang-dayang cantik dan muda berkumpul di sudut, siap melakukan segala perintah Kaisar.
Suasana dalam ruangan itu sunyi dan agaknya semua orang tidak berani bergerak karena Kaisar sedang beristirahat.
Akan tetapi Kaisar tidak tidur karena ketika melihat masuknya Kim Hong Liu-nio dan Ceng Han Houw yang dikawal oleh Panglima Lee Siang, Sri Baginda Kaisar mengangkat muka memandang.
Lee Siang lalu mengajak dua orang itu berlutut begitu memasuki pintu, kemudian menggeser kaki mendekat ke pembaringan.
Akan tetapi sejak tadi, perhatian Kaisar sudah tercurah kepada Han Houw yang beberapa kali mengangkat muka memandang, akan tetapi begitu bertemu dengan pandangan Kaisar, dia segera menunduk kembali.
Keadaan yang amat angker di dalam kamar itu membuat jantung berdebar tegang juga.
Segala sesuatu di dalam kamar itu penuh wibawa yang menakutkan!
"Mohon beribu ampun dari paduka Sri Baginda Kaisar atas kelancangan hamba mengawal masuk dua orang utusan dari Sri Baginda Sabutai yang mohon menghadap,"
Kata Panglima Lee Siang dengan suara halus agar tidak mengejutkan Kaisar.
Akan tetapi Kaisar yang sejak tadi memperhatikan Han Houw, menjadi tertarik sekali mendengar disebutnya nama Sabutai, dan Kaisar segera miringkan tubuhnya menghadapi Han Houw yang masih berlutut.
"Utusan Sabutai...?"
Kim Hong Liu-nio cepat memberi hormat lalu mengeluarkan kotak itu, mengangkatnya tinggi di atas kepala sambil berkata dengan kepala menunduk.
"Hamba Kim Hong Liu-nio diutus oleh yang mulia Permasuri Khamila untuk menghaturkan isi kotak ini kepada paduka yang mulia Sri Baginda Kaisar!"
"Kha... Khamila...?"
Kaisar terbelalak dan wajahnya berseri sejenak, kemudian dia mengangguk kepada panglima pengawal lain yang sudah berusia enam puluh tahun dan yang berlutut di dekat pembaringan.
Panglima ini adalah panglima pengawal Lee Cin yang setia.
Panglima ini lalu menghampiri Kim Hong Liu-nio, menerima kotak itu dan membukanya untuk meneliti bahwa isinya tidak mengandung sesuatu yang membahayakan Kaisar.
Setelah melihat bahwa kalung dan sampul surat itu tidak mengadung sesuatu dan yang mencurigakan, dia lalu menyerahkan kotak yang sudah dibukanya kepada Kaisar.
Kaisar mengambil kalung dan sampul surat itu.
Sejenak Kaisar Ceng Tung yang dibantu oleh dua orang dayang duduk dan bersandar dengan bantal di punggung, memandang kalung itu.
Wajahnya termenung karena memang Kaisar ini terkenang akan Khamila, permaisuri Sabutai yang menjadi kekasihnya, wanita yang sesungguhnya berkenan merampas hatinya dan amat dicintanya.
Dia teringat bahwa dia telah memberikan kalung itu kepada Khamila ketika mereka harus saling berpisah.
Dibelainya kalung itu di antara jari-jari tangannya, kalung yang dia percaya selama ini tentu telah tergantung di leher yang panjang, berkulit putih halus dan amat dikenalnya itu.
Kemudian Kaisar teringat bahwa dia tidak berada seorang diri di dalam kamar, maka kalung itupun digenggamnya erat-erat dan dia lalu membuka sampul surat dan dibacanya huruf-huruf tulisan Khamila!
Sri Baginda Kaisar Ceng Tung pujaan hamba!
Perkenankardah hamba memperkenalkan anak Ceng Han Houw kepada paduka, dan sudilah paduka memberkahi anak yang haus akan doa restu dan kasih sayang ayahandanya itu.
Hamba yang rendah, Khamila Kaisar Ceng Tung memejamkan matanya dan surat itu terlepas dari jari-jari tangannya, melayang turun ke atas dadanya.
Sejenak terbayanglah wajah yang cantik jelita dan lembut, terngiang-ngiang di telinganya suara yang merdu halus itu.
Kemudian dia membuka mata dan menoleh, sepasang mata Kaisar itu agak basah ketika dia memandang kepada Han Houw.
"Namamu Han Houw...?"
Tanyanya. Ceng Han Houw terkejut, cepat dia memberi hormat sampai dahinya membentur lantai.
"Kau angkat mukamu dan pandang padaku!"
Kata Kaisar dengan halus.
Han Houw mengangkat mukanya memandang dan dia melihat wajah seorang yang amat tampan dan pucat, yang memandang kepadanya dengan penuh perasaan haru.
"Majulah ke sini!"
Perintah Kaisar. Ceng Han Houw merasa takut, akan tetapi dari belakangnya, sucinya berbisik.
"Majulah...!"
Dia lalu menggeser kakinya maju menghampiri pembaringan.
Kaisar lalu menggerakkan tangannya, menyentuh kepala anak laki-laki yang usianya sudah hampir dewasa itu, kemudian dia mengambil kalung pusaka kerajaan itu dan mengalungkan ke leher Han Houw.
Semua orang terkejut melihat ini, karena kalung itu adalah benda yang biasanya hanya dipakai oleh para pangeran sebagai tanda bahwa dia adalah keturunan darah keluarga Kaisar!
"Ketahuilah kalian semua yang hadir.
Ini adalah Ceng Han Houw, Pangeran Ceng Han Houw, seorang puteraku!
Ibunya adalah puteri yang mulia dari utara, hendaknya dia diperlakukan sebagai seorang pangeran, puteraku!"
Semua orang menyatakan setuju dan memberi hormat dengan berlutut.
Pada saat itu, dari pintu muncul pula seorang pemuda dan ketika Kim Hong Liu-nio menoleh, dia terkejut bukan main.
Pemuda yang baru muncul ini seperti pinang dibelah dua saja kalau dibandingkan dengan sutenya.
Wajah mereka begitu mirip!
"Pangeran mahkota datang menghadap Sri Baginda!"
Seorang dayang memberitahukan dengan suara halus.
Kaisar mengangkat muka dan Panglima Lee Siang lalu menarik tangan Han Houw agar mundur dan bersama Kim Hong Liu-nio berlutut di pinggir untuk memberi jalan kepada pangeran mahkota yang baru tiba.
Pangeran muda ini bukan lain Pangeran Ceng Hwa, yaitu pangeran yang telah dipilih untuk menjadi pangeran mahkota, calon pengganti Kaisar!
Tentu saja semua orang menghormat calon Kaisar ini dan Pangeran Ceng Hwa melangkah maju dengan tenang menghampiri pembaringan ayahnya setelah dia melempar kerling ke kanan kiri dan tersenyum kepada semua orang yang amat dikenalnya dengan baik sebagai orang-orang yang dekat dengan ayahnya itu.
Hanya dia agak heran melihat Han Houw dan Kim Hong Liu-nio, akan tetapi dia tidak menyatakan keheranannya dan langsung menghampiri pembaringan ayahnya dan duduk di tepi pembaringan.
"Semoga Thian memberkahi ayahanda Kaisar dengan kebahagiaan dan usia panjang sampai selaksa tahun,"
Kata pangeran itu dengan ucapan yang sungguh-sungguh dan penuh hormat, ucapan yang menjadi kebiasaan atau kesopanan di dalam istana.
Kaisar tersenyum mendengar ini dan dengan tangannya dia menyentuh pundak puteranya yang disayangnya itu seolah-olah menjadi pengganti rasa terima kasihnya.
"Bagaimanakah keadaan paduka? Semoga sudah lebih baik,"
Kata sang pangeran.
"Aku gembira hari ini!"
Kata sang Kaisar.
"Lihat, dia itu adalah saudaramu! Dia adalah Ceng Han Houw, ibunya adalah puteri di utara!"
Ceng Hwa bangkit berdiri dan memandang.
Pada saat itu, Han Houw juga mengangkat muka memandang sehingga kini semua orang dapat melihat betapa miripnya dua orang pangeran ini!
Agaknya Sri Baginda sendiri melihat kemiripan ini, maka dia tersenyum lebar dan berseru dengan girang, (Lanjut ke
Jilid 14) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14
"Betapa miripnya kalian! Ahh... sungguh mirip seperti kembar...!"
Agaknya kegembiraan itu sedemikian besarnya sehingga tidak dapat tertahan oleh jantung yang sudah lemah itu.
Sri Baginda Kaisar terguling dan dari keadaan duduk itu dia terguling.
Cepat Pangeran Mahkota Ceng Hwa merangkul ayahnya dan pada saat itu terjadilah hal-hal luar biasa yang mengejutkan semua orang.
Pada saat Kaisar terguling dan dipeluk oleh Pangeran Ceng Hwa itu, melompatlah seorang yang berpakaian panglima, berusia lima puluh tahun, dengan muka penuh brewok.
Panglima itu berseru.
"Sekarang...!"
Dan dengan pedang yang sudah dicabutnya dia telah menubruk ke depan, menyerang Pangeran Mahkota Ceng Hwa dengan tusukan pedangnya dari belakang!
Semua orang terperanjat dan saking kagetnya sampai tidak mampu berbuat sesuatu.
Akan tetapi pada saat itu, Ceng Han Houw sudah berteriak nyaring dan tubuhnya mencelat ke depan, menerjang kepada panglima yang menyerang pangeran mahkota itu!
Dengan tangkisan nekat, Han Houw mengejutkan panglima tua itu sehingga pedangnya menyeleweng dan melukai lengan kiri Han Houw lalu terus meluncur dan melukai pundak kanan pangeran mahkota!
Dan pada saat itu, Kim Hong Liu-nio telah bergerak dan nampak sinar merah meluncur dan menyerang panglima itu ketika dia menggerakkan sabuk merahnya!
Pada saat itu, tujuh di antara sembilan orang pengawal pribadi Kaisar telah bergerak, tombak mereka berkelebatan dan mereka telah mulai menyerang ke arah pangeran mahkota dan Kaisar yang masih berpelukan di atas pembaringan!
Akan tetapi Han Houw sudah menerjang dan menyambut mereka dengan pedangnya dan pemuda cilik ini mengamuk hebat, sedangkan di fihak lain Kim Hong Liu-nio sudah mendesak sang panglima pemberontak dengan sabuk merahnya.
Barulah para panglima dan pembesar yang berada di situ menjadi geger dan sadar bahwa telah terjadi pemberontakan.
Kiranya pemberontakan yang didesas-desuskan itu, yang kemudian hendak dicegah dengan penjagaan ketat, Tidak datang dari luar, melainkan dari dalam, bahkan komplotan pemberontak itu telah berkumpul di dalam kamar Kaisar!
Panglima Lee Cin dan Lee Siang cepat bergerak pula membantu Han Houw menghadapi tujuh orang pengawal pemberontak.
Dengan adanya Kim Hong Liu-nio di situ, bersama juga Han Houw yang biarpun lengan kirinya sudah terluka namun masih mengamuk dan sebentar saja dia telah merobohkan dua orang pengawal pemberontak, maka akhirnya pemberontak itu dapat dihancurkan sebelum menjalar keluar.
Dengan sabuk suteranya, Kim Hong Liu-nio berhasil menotok leher dan kedua lengan panglima pemberontak sehingga panglima itu roboh pingsan sedangkan Han Houw yang dibantu oleh dua orang Panglima Lee telah dapat menewaskan tujuh orang pengawal itu.
"Jangan bunuh panglima khianat itu!"
Kata Panglima Lee Siang kepada Kim Hong Liu-nio maka wanita inipun tidak bergerak untuk membunuhnya.
Dia tahu bahwa tentu panglima ini akan dipaksa mengaku siapa penggerak pemberontakan.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dan orang muda yang sejak tadi telah berada di situ, yaitu Pangeran Ceng Su Kiat, telah roboh dengan dada tertusuk pedang pendek yang dipegang oleh tangan kanannya.
Kiranya pangeran ini telah membunuh diri di situ setelah melihat betapa usaha pemberontakan itu gagal!
Semua mayat dan panglima yang tertawan itu telah dibawa keluar dengan cepat, dan tempat itu dibersihkan.
Akan tetapi Sri Baginda Kaisar minta pindah ke kamar lain mengajak pangeran mahkota yang sudah diobati pundaknya, Han Houw yang juga telah dibalut lengannya, dan ditemani pula oleh Kim Hong Liu-nio, Panglima Lee Siang dan para panglima lain.
Di dalam kamar ini Sri Baginda Kaisar dan pangeran mahkota menyatakan kekaguman dan terima kasih mereka kepada Ceng Han Houw dan Kim Hong Liu-nio, karena harus diakui bahwa kalau tidak ada mereka, keadaan pangeran dan Kaisar sungguh bisa terancam bahaya maut.
Apalagi Pangeran Ceng Hwa, dia tahu betul bahwa serangan tiba-tiba dari panglima tadi tentu akan menewaskannya kalau tidak ada Han Houw yang cepat menangkis dengan mengorbankan lengannya sendiri terluka itu.
Panglima pemberontak yang tentu saja dijatuhi hukuman mati itu sebelum mati telah mengaku bahwa pemberontakan itu diatur oleh Pangeran Ceng Su Liat.
Sesungguhnya bukanlah merupakan pemberontakan umum yang besar-besaran, melainkan hanya merupakan niat untuk membunuh pangeran mahkota agar Pangeran Ceng Su Liat memperoleh kesempatan untuk menggantikan pangeran mahkota kalau pangeran ini tewas.
Maka tadi ketika melihat Sri Baginda Kaisar terguling karena serangan jantung, panglima pengkhianat itu mengira bahwa Sri Baginda telah meninggal dunia, maka dia melihat kesempatan baik sekali untuk turun tangan, sesuai dengan perintah Pangeran Ceng Su Liat yang menjanjikan pengampunan bahkan kedudukan tinggi apabila usaha itu berhasil!
Tentu saja Ceng Han Houw dan Kim Hong Liu-nio menjadi orang-orang yang berjasa besar di dalam istana Kaisar!
Mereka menjadi orang-orang terhormat yang dikagumi, dan karena Ceng Han Houw telah diumumkan oleh Kaisar sendiri sebagai pangeran, maka tentu saja dia diterima di mana-mana dengan terhormat dan Kim Hong Liu-nio yang dikenal sebagai pengasuh atau pengawalnya, juga dikagumi orang karena selain cantik jelita dan bersikap agung pendiam, juga semua orang kagum bahwa wanita cantik ini berhasil menundukkan seorang yang demikian terkenal sebagal seorang panglima yang pandai ilmu silat seperti Panglima Boan yang membantu pemberontakan atau pengkhianatan Pangeran Ceng Su Liat itu.
Akan tetapi, peristiwa di dalam kamar Kaisar itu membuat penyakit yang diderita Kaisar menjadi makin berat.
Perbuatan puteranya sendiri yang hampir saja membunuh pangeran mahkota dan dia sendiri, mendatangkan kedukaan hebat sehingga setelah menderita serangan jantung berkali-kali, akhirnya sebulan kemudiang Kaisar Ceng Tung meninggal dunia!
Seluruh istana berkabung, bahkan seluruh rakyat diharuskan untuk berkabung.
Setelah ikut hadir dalam pemakaman Kaisar dan ikut pula berkabung, Han Houw yang merasa kehilangan ayah kandungnya dan merasa bahwa tidak ada perlunya lagi baginya untuk lebih lama tinggal di istana Kerajaan Beng.
Juga sucinya membujuk kepadanya untuk segera berpamit dan kembali ke utara, Karena sucinya merasa tidak enak hati selalu kalau teringat akan ancaman orang-orang kang-ouw kepadanya, seperti yang telah terjadi sebelum mereka memasuki istana, yaitu ketika mereka bertemu dengan tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang.
Han Houw lalu menghadap Pangeran Ceng Hwa untuk mohon diri pulang ke utara.
Akan tetapi, Pangeran Ceng Hwa yang merasa suka sekali kepada Han Houw, yang biarpun hanya seorang pangeran kelahiran utara, di daerah setengah liar itu, namun ternyata tidak mengecewakan menjadi seorang Pangeran Beng, karena selain pandai ilmu silat, juga pangeran muda ini cukup luas pengetahuannya yang didapatnya dari kitab-kitab yang dipelajarinya di utara, menahannya.
Pangeran Ceng Hwa menahan Han Houw agar suka tinggal di kota raja sampai hari penobatannya sebagai Kaisar pengganti ayah mereka yang telah meninggal dunia.
"Sebaiknya Kim Hong Liu-nio biar kembali dulu ke utara memberi laporan dan menyampaikan undangan kami kepada Raja Sabutai untuk menghadiri hari penobatan kami sebagai Kaisar."
Demikian Pangeran Ceng Hwa berkata.
Akhirnya diputuskan bahwa Kim Hong Liu-nio akan kembali dulu ke utara dan Ceng Han Houw untuk sementara tinggal di istana.
Kim Hong Liu-nio tidak merasa keberatan karena sutenya itu tentu saja akan terjamin keamanannya berada di dalam istana Kerajaan Beng.
Maka berpamitlah dia dan berangkatlah wanita perkasa yang cantik jelita itu keluar dari istana, di mana dia hidup terhormat sampai lebih dari satu bulan lamanya.
Kita tinggalkan dulu keadaan Ceng Han Houw yang tinggal di istana, dan Kim Hong Liu-nio yang melakukan perjalanan kembali ke utara, dan mari kita menengok keadaan Sin Liong untuk memperlancar jalannya cerita.
Seperti kita ketahui, Sin Liong kini tinggal di rumah Na-piauwsu, yaitu Na Ceng Han yang gagah perkasa dan ramah sekali itu.
Pada waktu itu, tanpa terasa lagi, Sin Liong sudah hampir satu tahun tinggal di dalam rumah keluarga Na.
Setiap hari dia berlatih ilmu silat dari Na Ceng Han, bersama-sama dengan Na Tiong Pek dan Bhe Bi Cu.
Dia bersahabat akrab sekali dengan dua orang yang disebut sumoi dan suheng itu.
Usia Sin Liong kini telah empat belas tahun, sebaya dengan Tiong Pek, sedangkan Bi Cu telah berusia dua belas tahun.
Bi Cu memang manis sekali.
Biarpun usianya baru dua belas tahun, namun jelas nampak sudah bahwa dia merupakan seorang dara yang amat manis.
Dan Sin Liong dapat melihat betapa Tiong Pek selalu bersikap manis kepada Bi Cu, agak berlebih malah, membuktikan bahwa pemuda tanggung itu agaknya amat suka dan mencinta sumoi mereka!
Bahkan kadang-kadang nampak Tiong Pek bermanis-manis muka, membujuk rayu, sehingga kalau melihat hal ini, Sin Liong cepat menjauhkan diri karena dia merasa malu sendiri.
Diakuinya bahwa Tiong Pek amat ramah dan baik, akan tetapi dia melihat bahwa sikap Tiong Pek terhadap Bi Cu agaknya terlalu mendesak dan selalu mencoba untuk mengambil hati anak perempuan itu.
Dan dia melihat betapa Bi Cu selalu bersikap hormat dan manis kepada Tiong Pek, bahkan demikianlah sikap Bi Cu kepada seisi rumah keluarga Na.
Hal ini dimengerti oleh Sin Liong karena tentu dara kecil itu merasa betapa dia adalah seorang yang menumpang hidup di dalam rumah keluarga Na!
Diam-diam Sin Liong merasa kasihan kepada anak perempuan ini karena merasa betapa mereka berdua mempunyai nasib yang hampir mirip.
Memang benar bahwa dia tidak seperti Bi Cu, hanya ditinggal mati ibu dan masih mempunyai seorang ayah, akan tetapi dia tidak tahu di mana ayahnya berada dan selamanya belum pernah bertemu dengan ayahnya, sehingga dibandingkan dengan Bi Cu yang kematian ayahnya, agaknya tidaklah begitu banyak bedanya.
Pada suatu hari, Sin Liong yang sudah selesai melakukan pekerjaan sehari-hari di rumah itu, ingin sekali berlatih silat dan dia lalu mencari-cari dua orang suheng dan sumoinya itu.
Rumah itu nampak kosong karena keluarga wanita sibuk di belakang, di dapur, sedangkan Na-piauwsu sedang pergi ke luar kota untuk mengawal sendiri barang kiriman yang penting.
Maka rumah itu kelihatan sunyi.
Sin Liong merasa heran mengapa suheng dan sumoinya itu tidak nampak.
Padahal, tadi mereka masih kelihatan di ruangan depan.
Dia tidak berani memanggil-manggil, karena takut menimbulkan bising dan mengganggu seorang bibi keluarga yang tidur di kamarnya karena bibi tua ini sedang tidak enak badan.
Maka dia terus mencari dan akhirnya dia pergi mencari ke kamar Bi Cu.
Ketika dia tiba di luar kamar itu, dia mendengar sesuatu di dalam kamar.
Dia mendekati pintu kamar dan mendengarkan.
"Jangan... suheng..."
Terdengar Bi Cu berkata lirih dan menahan tangis.
"Sumoi, kenapa kau tidak mau bersikap manis kepadaku? Kurang baik apakan aku kepadamu? Kurang banyakkah budi yang dilimpahkan oleh kami sekeluarga kepadamu?"
Terdengar Bi Cu terisak.
"Aku berterima kasih... uh-uhh... aku berterima kasih kepada kalian... tapi... tapi..."
"Aku tidak akan mengganggumu, aku tidak ingin menyakitimu, aku ingin engkau tahu bahwa aku suka sekali kepadamu, sumoi..."
Sin Liong tidak dapat menahan lagi ketegangan hatinya dan dia mendorong pintu kamar itu dengan keras.
Dia melihat Tiong Pek memegangi kedua tangan Bi Cu dan hendak memaksa untuk merangkul dara cilik itu, sedangkan Bi Cu kelihatan menolak halus.
Mereka bersitegang sampai Bi Cu jatuh berlutut di atas lantai dan Tiong Pek berusaha untuk mendekatkan mukanya, untuk mencium wajah yang manis akan tetapi agak pucat ketakutan itu.
"Tiong Pek!"
Sin Liong membentak dan mencengkeram baju pundak Tiong Pek sambil menariknya ke belakang.
Memang Sin Liong tidak pernah menyebut suheng dan sumoi kepada Tiong Pek dan Bi Cu, karena memang dia tidak dianggap sebagai murid oleh Na Ceng Han, sungguhpun dia dilatih ilmu silat dan dia selalu berlatih bersama dengan dua orang anak itu.
Mereka bertiga itu seperti teman-teman baik, bukan seperti kakak beradik seperguruan.
Tiong Pek terkejut sekali dan menengok dengan alis berkerut.
Dia melepaskan kedua lengan tangan Bi Cu yang tadi dipegangnya, lalu dia menggerakkan tangan kanannya menangkis ke belakang.
"Dukk!"
Tangan itu menyampok tangan Sin Liong yang mencengkeram baju pundaknya sehingga terlepas dan bajunya robek.
Tiong Pek meloncat bangun dan berdiri dengan muka merah menandakan bahwa dia marah sekali.
Akan tetapi Sin Liong juga sudah menentang pandang matanya dengan bengis.
"Sin Liong!"
Tiong Pek berseru marah sekali.
"Engkau berani lancang mencampuri urusan orang lain? Sungguh tidak tahu malu engkau hendak menghalangi cinta orang? Apakah engkau merasa iri hati?"
Diserang dengan kata-kata seperti itu, tiba-tiba saja muka Sin Liong menjadi merah dan dia menjadi bingung.
"Akan tetapi kau... kau..."
Sukar baginya untuk melanjutkan karena hatinya masih menilai-nilai apakah artinya perbuatan yang dilakukan Tiong Pek terhadap Bi Cu tadi.
"Aku cinta kepada Bi Cu sumoi, kau mau apa? Aku siap untuk bertanding melawan siapapun juga untuk memperebutkan sumoi! Hayo, apakah kau ingin memperebutkan sumoi dengan aku?"
Pemuda tanggung itu mengepal tinju dan siap untuk berkelahi!
Sin Liong menjadi semakin bingung.
Kalau tadi dia bersikap kasar terhadap Tiong Pek adalah karena dia melihat seolah-olah Tiong Pek hendak melakukan pemaksaan terhadap Bi Cu, akan tetapi sekarang dia menjadi bingung ketika ditantang dan ditanya apakah dia hendak memperebutkan Bi Cu dengan pemuda itu!
"Ah, siapa yang akan memperebutkan siapa?"
Katanya masih bingung, akan tetapi dia dapat menekan dan menenangkan perasaannya, lalu memandang kepada Tiong Pek dengan sikap lebih tenang, sungguhpun kemarahannya belum mereda karena dia melihat Bi Cu kini berdiri dengan kepala menunduk dan masih kadang-kadang menahan isak.
"Tiong Pek, Bi Cu bukanlah sebuah benda yang boleh diperebutkan siapapun juga. Dalam hal rasa suka... hal itu Bi Cu berhak menentukan sendiri, jangan kau memaksa-maksanya seperti itu."
"Bi Cu juga cinta kepadaku! Kau mau apa?"
Tiong Pek yang masih marah itu menyerang lagi dengan kata-katanya yang penuh tantangan.
Dia memang marah sekali karena merasa terganggu.
Kalau Sin Liong tidak datang mengganggu, tentu dia sudah dapat mencium Bi Cu, hal yang sudah sering kali direnungkan dan diimpikan itu!
Mendengar ucapan ini, Sin Liong memandang kepada Bi Cu penuh keraguan.
Benarkah itu?
Kalau Bi Cu benar mencinta Tiong Pek, kenapa tadi bersikap seperti menentang?
Dan apa gerangan yang hendak dilakukah oleh Tiong Pek terhadap Bi Cu tadi?
Sin Liong sudah berusia empat belas tahun, atau hampir, akan tetapi dia belum tahu benar tentang cinta kasih antara pria dan wanita.
Melihat Bi Cu menunduk dan kini mukanya tidak sepucat tadi, bahkan menjadi agak kemerahan, dia lalu melangkah menghampiri.
"Bi Cu, apakah Tiong Pek... eh hendak berlaku jahat kepadamu?"
Dia tidak tahu bagaimana harus menanyakan urusan tadi.
Bi Cu mengangkat muka dan ketika dia bertemu pandang dengan Sin Liong, dia cepat menunduk kembali, jari-jari tangannya bermain dengan ujung rambutnya yang panjang terurai, lalu kepalanya digelengkannya sebagai jawaban pertanyaan Sin Liong tadi.
"Dan kau... kau... cinta kepada Tiong Pek?"
Bi Cu menjadi merah sekali mukanya dan kepalanya makin menunduk.
Sekali ini dia sama sekali tidak mau menjawab.
"Bagaimana, Bi Cu? Jawablah, apakah kau cinta kepada Tiong Pek?"
Sin Liong mendesak.
Dara cilik itu mengangkat muka dengan gugup, memandang kepada Sin Liong sebentar, lalu memandang kepada Tiong Pek, dan menunduk kembali tanpa menjawab, hanya ada dua titik air matanya yang turun mengalir di sepanjang kedua pipinya yang merah.
Melihat ini, kembali timbul rasa kasihan di dalam hati Sin Liong dan teringatlah dia akan percakapan yang didengarnya tadi.
Dia kembali menghadapi Tiong Pek dan berkata dengan alis berkerut.
"Tiong Pek, sungguh tidak patut sekali kalau engkau hendak menggunakan kekerasan. Apakah kau ingin menjadi penjahat hina? Aku tadi mendengar engkau membujuk dan melihat engkau menggunakan kekerasan. Engkau menonjolkan jasa-jasa dan budi keluargamu yang kau limpahkan kepada Bi Cu. Apakah itu kebaikan namanya kalau kau tonjolkan dan kalau engkau minta imbalan dari pertolongan yang kalian berikan kepada Bi Cu?"
"Sin Liong, kau ini siapa bermulut selancang ini?"
Tiong Pek marah sekali dan dia menerjang dengan pukulan ke arah mulut Sin Liong.
Akan tetapi Sin Liong cepat mengelak dan ketika Tiong Pek menerjang lagi, dia menangkis dan bersiap untuk melawan.
Akan tetapi, sambil menangis Bi Cu cepat melerai dengan meloncat di tengah-tengah antara mereka.
"Jangan berkelahi... ah, harap jangan berkelahi...!"
Tentu saja Sin Liong cepat meloncat mundur, dan Tiong Pek juga tidak mendesak setelah melihat Bi Cu menangis sambil melerai itu.
Kedua orang pemuda tanggung itu kini memandang kepada Bi Cu yang menangis sesenggukan di tengah-tengah antara mereka, menutupi muka dengan kedua tangannya.
Mereka berdua menjadi bingung.
"Sumoi, jangan menangis, sumoi. Maafkan kalau aku bersalah..."
Akhirnya terdengar Tiong Pek berkata halus.
"Aku tadi hanya ingin menciummu... jahatkah perbuatan itu... padahal aku hanya ingin membuktikan cintaku...?"
Mendengar ucapan itu, diam-diam Sin Liong menjadi jengah dan juga terheran-heran bagaimana Tiong Pek berani bicara terang-terangan seperti itu!
Bi Cu menahan isaknya dan tangisnya agar mereda, kemudian terdengar kata-katanya lirih di antara isaknya.
"Aku tidak tahu... aku tidak tahu apa itu cinta! Aku... aku suka kepada suheng karena suheng baik sekali, dan seluruh keluarga suheng baik kepadaku, menganggap aku seperti keluarga sendiri. Aku berhutang budi besar sekali kepada suheng sekeluarga, akan tetapi... aku tidak tahu tentang cinta, dan aku tidak tahu... jahat atau tidak di... dicium, akan tetapi aku takut sekali..."
Diam-diam Sin Liong tersenyum.
Biarpun usia mereka berdua ini sebaya dengan dia, Bi Cu berusia dua belas tahun dan Tiong Pek empat belas tahun, namun mereka berdua ini seperti anak-anak yang masih kecil saja!
Anak-anak kecil yang ingin memasuki permainan orang-orang dewasa!
"Tiong Pek, kalau engkau tahu bahwa Bi Cu takut, kenapa kau hendak memaksanya?
Kalau engkau memang kasihan dan suka kepadanya, tidak mungkin engkau main paksa membikin dia takut dan menangis..."
Tiong Pek menarik napas panjang, kini dia melihat bahwa dia telah benar-benar membuat Bi Cu berduka, takut dan malu.
Baru sekarang dia merasa seolah-olah sadar, setelah gairah aneh yang membuat seluruh tubuhnya panas, membuat dia ingin sekali mencium Bi Cu itu kini mendingin dan lenyap.
Baru dia tahu bahwa dia memang bersalah.
"Maafkan aku, Bi Cu. Kau benar, Sin Liong, aku memang layak dipukul karena telah membikin sumoi ketakutan dan menangis. Sumoi, sekali lagi, kau maafkanlah aku."
Bi Cu menghapus air matanya dan kini baru dia dapat memandang suhengnya itu dengan senyum yang mulai berkembang mengusir kedukaannya.
"Tidak mengapa, suheng, kita lupakan saja hal tadi."
"Seorang yang dapat menyadari kesalahannya sendiri barulah patut disebut orang gagah, Tiong Pek,"
Kata Sin Liong.
"Ah, benarkah itu?"
Tiong Pek berkata girang, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar penuh kenakalan.
"Akan tetapi jangan hal itu membuat engkau keenakan dan setiap kali ingin menjadi orang gagah lalu melakukan kesalahan lebih dulu untuk kemudian disadari!"
Sambung Sin Liong.
Tiong Pek tertawa, Bi Cu juga tertawa dan mereka berbaik kembali.
Lenyaplah semua dendam dan kemarahan.
"Eh, kalau kalian berdua benar-benar sudah memaafkan aku, harus kalian buktikan!"
Tiba-tiba Tiong Pek berkata.
"Buktikan bagaimana?"
Sin Liong menuntut dan memandang tajam.
Jangan-jangan bocah nakal ini minta bukti aneh-aneh, seperti cium dari Bi Cu misalnya!
Kalau begitu dia tentu tidak akan ragu-ragu untuk menjotosnya!
"Buktinya adalah bahwa kalian tidak akan mengatakan sesuatu tentang urusan tadi kepada ayah."
"Kau tahu bahwa aku tidak akan berkata apa-apa kepada paman, suheng,"
Kata Bi Cu cepat.
"Akan tetapi aku hanya mau berjanji tidak akan menyampaikan kepada paman Na asal engkaupun berjanji tidak akan mengulangi perbuatan sesat tadi!"
Kata Sin Liong.
"Sesat? Ah, memang salah akan tetapi jangan namakan itu sesat, Sin Liong. Baiklah, dengarkan kalian. Aku berjanji tidak akan mencoba untuk mencium Bi Cu kecuali kalau memang sumoi Bi Cu mau kucium!"
Tentu saja mendengar janji yang seperti itu, seketika wajah Bi Cu kembali menjadi merah sekali.
"Dasar engkau setan!"
Sin Liong menegur sambil tertawa dan Tiong Pek juga tertawa.
Bi Cu terpaksa ikut pula tertawa dan ketiga orang anak itu lalu memasuki lian-bu-thia (ruangan berlatih sliat) di mana mereka berlatih silat dengan tekunnya.
Wanita cantik itu melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara.
Para penjaga di pintu gerbang itu cepat berdiri dengan sikap menghormat ketika wanita itu berjalan keluar dari pintu gerbang.
Bahkan komandan jaga yang bertubuh tinggi besar itu memberi hormat dan berkata.
"Selamat jalan, lihiap!"
Wanita itu bukan lain adalah Kim Hong Liu-nio.
Semenjak terjadi peristiwa pemberontakan di dalam istana yang bermaksud membunuh pangeran mahkota dan Kaisar dan usaha jahat itu digagalkan oleh Kim Hong Liu-nio dan Ceng Han Houw, wanita ini menjadi seorang tokoh yang terkenal di kota raja, terutama di lingkungan istana dan di antara para pengawal.
Oleh karena itu, ketika dia keluar dari pintu gerbang, semua penjaga memberi hormat, bahkan komandan jaga menghaturkan selamat jalan.
Seperti kita ketahui, Kim Hong Liu-nio terpaksa berangkat pulang ke utara seorang diri saja, meninggalkan sutenya di istana karena Pangeran Mahkota Ceng Hwa, calon Kaisar, atau juga saudara tiri dari Han Houw, menahan pemuda tanggung itu untuk tidak meninggalkan istana sampai hari penobatannya sebagai Kaisar.
Maka Kim Hong Liu-nio pulang seorang diri untuk melaporkan semua peristiwa yang dialami oleh sutenya itu kepada Raja Sabutai dan Permaisuri Khamila, Dan selain itu juga menyampaikan undangan pangeran mahkota kepada Raja Sabutai untuk menghadiri hari penobatannya sebagai Kaisar pengganti ayahnya.
Hati Kim Hong Liu-nio lega karena sutenya itu berada dalam keadaan aman, maka dia melakukan perjalanan cepat, tidak memperdulikan orang-orang yang memandangnya dengan heran.
Siapa orangnya tidak akan terheran-heran melihat seorang wanita cantik berjalan sedemikian cepatnya seperti terbang saja?
Sebentar saja dia sudah keluar dari pintu gerbang itu diikuti oleh pandang mata semua penjaga sampai bayangannya lenyap.
Akan tetapi ketika dia tiba di padang rumput di sebelah utara pintu gerbang utara kota raja itu, tiba-tiba dia memandang ke depan dengan alis berkerut karena jauh di depannya dia melihat banyak orang sudah berdiri menghadangnya, Dan dari jauh saja dapat dilihat pakaian mereka yang berkembang-kembang dan tangan mereka yang memegang tongkat dengan punggung memanggul buntalan-buntalan kuning.
Orang-orang Hwa-i Kai-pang!
Dan setelah agak dekat Kim Hong Liu-nio melihat bahwa di antara mereka terdapat mereka yang memanggul buntalan sedikit saja.
Ada dua orang yang memanggul tiga buah buntalan kuning, bahkan ada seorang yang memanggul dua buntalan, berarti bahwa di antara mereka itu ada dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat tiga dan bahkan ada seorang tokoh tingkat dua!
Jantung Kim Hong Liu-nio berdebar tegang.
Dia maklum bahwa yang menghadangnya adalah tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat tinggi!
Dan selain tiga orang tokoh yang tinggi tingkatnya itu, dia melihat tokoh-tokoh tingkat empat dan lima yang jumlahnya ada tujuh belas orang!
Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio adalah murid terkasih dari Hek-hiat Mo-li, dan dia sama sekali tidak pernah mengenal arti takut.
Dengan sikap tenang penuh kewaspadaan dia berjalan terus dengan cepat tanpa mengurangi pengerahan gin-kangnya dan sebentar saja dia sudah berhadapan dengan belasan orang yang sengaja menghadang memenuhi jalan itu.
Terpaksa Kim Hong Liu-nio berhenti dan memandang mereka dengan sinar mata mengejek, tidak memperdulikan pandang mata belasan orang itu yang ditujukan kepadanya dengan penuh kemarahan.
Yang menjadi perhatiah Kim Hong Liu-nio adalah tiga orang kakek di depan itu, yaitu dua orang tokoh tingkat tiga dan seorang yang bertingkat dua, karena dia tidak memandang sebelah mata kepada mereka yang bertingkat empat dan lima.
"Perlahan dulu, nona!"
Berkata pengemis baju kembang yang memanggul dua buah buntalan kuning di punggungnya.
Pengemis ini usianya tentu mendekati enam puluh tahun, tubuhnya kurus kering seperti cecak mati saking kurusnya sehingga tubuh yang tingginya biasa saja itu kelihatan jangkung.
Pakaiannya sederhana, akan tetapi bersih dan berpakaian tambal-tambalan dari kain-kain berkembang dan berwarna itu nampak lucu karena banyak merahnya, mungkin menjadi tanda bahwa pemakainya memang mempunyai kesukaan akan warna merah.
"Hemm, kulihat kalian ini tentulah tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang,"
Jawab Kim Hong Liu-nio sambil mengerling ke arah tiga orang kakek pengemis yang pernah dikalahkannya tempo hari, yaitu mereka yang bertingkat lima.
"Apakah kini orang-orang Hwa-i Kai-pang yang tersohor itu telah berubah menjadi segerombolan perampok yang suka menghadang orang lewat di jalan raya?"
Kakek kurus kering itu tersenyum lebar.
Biarpun dia marah sekali, akan tetapi kakek ini dapat menguasai kemarahannya dan menghadapi wanita yang dia dengar amat lihai itu dengan tenang.
"Andaikata kami menjadi perampok sekalipun, kami tidak akan merampok nyawa orang yang tidak berdosa seperti yang telah kau lakukan kepada seorang pengemis she Tio di kota Huai-lai."
Kim Hong Liu-nio sudah tahu mengapa para pengemis itu menghadangnya, maka dengan jujur dan penuh keberanian dia berkata.
"Memang aku telah membunuh pengemis she Tio itu."
Mendengar jawaban yang berani itu, para pengemis kelihatan makin marah dan terdengar mereka mengeluarkan suara sehingga keadaan menjadi bising, akan tetapi Kim Hong Liu-nio sama sekali tidak memperdulikan mereka.
"Kenapa?"
Bentak tokoh kedua Hwa-i Kai-pang.
Kakek ini berjuluk Lo-thian Sin-kai(Pengemis Sakti Pengacau Langit).
"Setiap orang merasa kasihan kepada seorang pengemis yang hidup serba kekurangan, akan tetapi kenapa engkau membunuh pengemis tidak berdosa itu?"
"Karena dia she Tio! Baik dia pengemis maupun seorang raja, karena dia she Tio, maka berjumpa dengan aku dia harus mati! Dia yang she Tio atau yang she Cia dan yang she Yap!"
Kata Kim Hong Liu-nio dan dia sudah mengeluarkan papan kayu sallb yang bertuliskan nama keluarga Tio, Yap, dan Cia itu.
"Apa?"
Lo-thian Sin-kai terbelalak.
"Kau hendak membunuh semua orang yang memiliki she seperti itu? Jadi engkau membunuh pengemis she Tio itu tanpa ada permusuhan pribadi sama sekali?"
"Kenalpun tidak aku kepadanya, hanya aku mendengar dia she Tio maka dia harus mati."
"Iblis betina keji!"
Terdengar bentakan marah dan dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat tiga yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, agaknya sudah tidak dapat menahan kemarahan mereka dan kini mereka berdua sudah menerjang maju, menggerakkan tongkat mereka dari kanan dan kiri menyerang Kim Hong Liu-nio.
Yang memaki itu adalah kakek pengemis yang punggungnya agak bongkok.
"Hutang nyawa bayar nyawa!"
Bentak kakek pengemis ke dua yang mukanya hitam sekali, agaknya hitam karena bekas penyakit karena melihat leher dan tangannya, sebetulnya dia berkulit putih.
Kakek bongkok dan kakek muka hitam ini berusia kurang lebih lima puluh tahun dan mereka adalah tokoh-tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang, maka tentu saja mereka memiliki kepandaian silat yang tinggi.
Yang punggungnya bongkok itu terkenal dengan julukannya Tiat-ciang Sin-kai (Pengemis Sakti Tangan Besi), sedangkan yang bermuka hitam berjuluk Hek-bin Mo-kai (Pengemis Iblis Muka Hitam).
Karena mereka berdua maklum dan mendengar dari tiga orang pengemis tingkat lima betapa lihainya wanita itu, maka mereka maju berbareng dan serentak telah menyerang dengan senjata tongkat mereka.
Melihat cara menyambarnya tongkat-tongkat itu maklumlah Kim Hong Liu-nio bahwa dia menghadapi lawan yang cukup tangguh dan cepat dia menggerakkan tubuhnya mengelak ke belakang.
Dua sinar hitam dari tongkat itu menyambar dahsyat di dekat tubuhnya.
"Wuuut! Wuuutt!"
Ujung-ujung tongkat itu sebelum menyentuh tanah, telah ditahan oleh para pemegangnya dan kelihatan ujung tongkat itu menggetar hebat sampai mengeluarkan suara "wrrrrr!"
Saking kerasnya sambaran itu dan kini ditahan oleh dua orang kakek pengemis.
Kemudian tongkat itu menyambar lagi dan Kim Hong Liu-nio sudah didesak dan dihujani serangan bertubi-tubi yang kesemuanya mengandung tenaga kuat sekali.
"Hemm, kalian mencari penyakit!"
Bentak wanita itu dan begitu kedua tangannya bergerak, nampak sinar merah yang panjang bergulung-gulung dan ternyata wanita ini dengan tenang namun cepat bukan main telah menggerakkan sabuk merahnya dan sambil mengelak dia telah balas menyerang!
"Wirrrr...
syuuuuttt...
plakk!"
Sabuk merah itu hebat bukan main, menyambar dahsyat menyilaukan mata dan hampir saja leher Hek-bin Mo-kai kena totok.
Untung dia dapat menangkis dengan cepat dan kini tongkatnya terlibat ujung sabuk merah yang bergerak seperti ular itu.
Selagi Hek-bin Mo-kai bersitegang untuk melepaskan tongkat dari libatan sabuk, Tiat-ciang Sin-kai sudah menghantamkan tongkatnya dari samping ke arah kepala wanita itu.
"Cringgg...!"
Tiat-ciang Sin-kai terkejut bukan main.
Tongkatnya yang menghantam kepala itu ditangkis oleh lengan kecil halus yang bergelang kerincing.
Anehnya lengan kecil dan gelang-gelang emas kecil itu tidak saja mampu menangkis tongkatnya, malah dia sendiri sampai terhuyung ke belakang saking kuatnya tangkisan itu!
Dengan marah dia lalu mengatur keseimbangan tubuhnya dan menubruk lagi, kini tongkatnya menusuk ke arah lambung dari sebelah kanan wanita itu.
Pada saat itu, ujung sabuk merah masih melibat ujung tongkat di tangan Hek-bin Mo-kai dan agaknya Kim Hong Liu-nio tidak akan dapat menghindarkan diri dari tusukan tongkat kakek pengemis bongkok.
Akan tetapi tiba-tiba Kim Hong Liu-nio mengeluarkan bentakan nyaring dan bentakan ini disusul teriakan Hek-bin Mo-kai yang tidak dapat menguasai tongkatnya lagi.
Tongkatnya yang terlibat itu terbetot sehingga dia tidak mampu mempertahankan ketika tongkatnya itu bergerak ke kiri.
"Takkkkk...!"
Keras sekali pertemuan antara tongkat Hek-bin Mo-kai itu yang menangkis tongkat Tiat-ciang Sin-kai yang menusuk tadi sehingga keduanya merasa betapa telapak tangan mereka nyeri dan senjata mereka itu hampir terlepas dari tangan.
Keduanya memang memiliki tenaga yang seimbang dan tadi mereka telah mempergunakan seluruh tenaga, yang seorang ingin menarik kembali tongkatnya sedangkan yang ke dua sedang menyerang.
"Wuuuttt...!"
Baru saja kedua tongkat itu bertemu tiba-tiba sinar merah menyambar dan tahu-tahu ujung sabuk telah melibat kedua batang tongkat itu dengan eratnya!
"Iblis jahat...!"
Tiat-ciang Sin-kai berseru marah dan dia menerjang maju dengan tangan kanannya, mengirim pukulan yang dahsyat.
Kakek bongkok ini berjuluk Tiat-ciang (Si Tangan Besi) maka tentu saja dia memiliki tangan gemblengan yang amat hebat, kuat seperti besi dan ketika dia melancarkan pukulan itu tangannya berubah agak kehitaman!
Akan tetapi, melihat datangya pukulan itu, Kim Hong Liu-nio sama sekali tidak mengelak, bahkan dia lalu mengangkat tangan kirinya menerima pukulan itu dengan tangkisan, gerakannya seenaknya saja seolah-olah dia tidak tahu bahwa pukulan itu adalah pukulan ampuh, bukan sembarang pukulan.
Melihat ini, giranglah kakek pengemis bongkok itu.
Remuk tulang tanganmu sekarang, pikirnya girang, dan dia mengerahkan seluruh tenaga Tiat-ciang-kang ke dalam tangannya itu.
"Desss...!"
Hebat sekali pertemuan ke dua tangan itu dan terdengar Tiat-ciang Sin-kai berteriak kesakitan dan tubunya terhuyung ke belakang, Dia melepaskan tongkatnya yang masih terlibat menjadi satu dengan tongkat Hek-bin Mo-kai dan pada saat yang sama, Kim Hong Liu-nio membetot sabuknya dengan kuat dan ketika Hek-bin Mo-kai mempertahankan, tiba-tiba dia melepaskan libatan sabuknya sehingga si muka hitam inipun terhuyung seperti temannya!
Tiat-ciang Sin-kai menyeringai karena tangan kanannya terasa nyeri bukan main, seperti patah-patah rasa tulang-tulang tangannya.
Dia tidak tahu bahwa wanita cantik yang tadi telah melindungi tangannya yang kecil berkulit halus itu dengan sarung tangannya yang istimewa, yaitu sarung tangan halus dengan warna sama dengan kulitnya.
Sarung tangan ini dapat dipakai untuk menyambut senjata tajam, apalagi hanya pukulan tangan kosong, biarpun tangan itu sama kerasnya dengan besi!
"Wanita kejam, engkau boleh juga!"
Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan si kakek kurus kering, Lo-thian Sin-kai, tokoh tingkat dua dari Hwa-i Kai-pang, telah menerjang dan menyerang Kim Hong Liu-nio dengan tongkatnya.
Terdengar suara berdesir-desir dan tongkat yang digerakkan secara istimewa itu telah membentuk lingkaran-lingkaran yang lima buah banyaknya.
Itulah Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat yang amat hebat!
Lima lingkaran sinar tongkat itu bergerak-gerak dan dari setiap lingkaran menyambar-nyambar ujung tongkat yang mengeluarkan suara berdesing tanda bahwa tongkat itu yang kelihatan seperti kayu ternyata menyembunyikan benda logam keras di dalamnya dan tenaga yang dipergunakan untuk menggerakkan tongkat itu amat kuatnya!
"Hemm!
Kalian behar-benar hendak memusuhi aku?
Majulah!"
Bentak Kim Hong Liu-nio dan menghadapi ilmu tongkat lawan ini, dia sama sekali tidak merasa jerih, bahkan dia gembira sekali.
Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang suka sekali akan ilmu silat.
Telah banyak dia mengumpulkan dan mempelajari ilmu-ilmu silat dari semua aliran yang ada di dunia persilatan, dan kalau bertemu dengan suatu ilmu baru yang belum dikenalnya, dia merasa gembira sekali dan ingin mengenal serta mempelajarinya.
Maka begitu dia melihat ilmu tongkat dari kakek pengemis kurus kering ini, dia melihat ilmu tongkat yang amat hebat sehingga timbul kegembiraannya dan dia cepat menghadapi ilmu tongkat itu dengan kedua tangan kosong sambil mainkan sabuk merahnya.
Terjadilah kini pertandingan yang amat hebat.
Tongkat yang dimainkan oleh Lo-thian Sin-kai memang luar biasa sekali.
Ujung tongkat itu nampak menjadi lima buah, seolah-olah kakek kurus itu mainkan lima batang tongkat, dan setiap ujung tongkat membentuk lingkaran-lingkaran yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.
Sedangkan Kim Hong Liu-nio juga memutar sabuk merahnya sehingga nampak gulungan sinar merah yang amat indah dan kuat menyelimuti dirinya yang menghalau setiap sambaran tongkat.
Kadang-kadang wanita perkasa ini menggunakan tangannya untuk menangkis tongkat, karena tangannya telah terlindung oleh sarung tangan mujijat itu, dan kadang-kadang dia membalas dengan serangan kilat, Menggunakan ujung sabuknya untuk menotok ke arah jalan darah di tubuh lawan yang berbahaya.
Diam-diam kakek pengemis itu terkejut bukan main.
Ketika dia mendengar bahwa tiga orang murid keponakannya, tokoh-tokoh tingkat lima dari Hwa-i Kai-pang dikalahkan oleh seorang wanita cantik yang telah membunuh seorang pengemis she Tio di Huai-lai, dia mengira bahwa wanita itu adalah seorang wanita kang-ouw yang hanya memiliki kepandaian lumayan saja.
Akan tetapi ketika tadi dia melihat dua orang pengemis tingkat tiga dikalahkan, dia merasa penasaran.
Dan kini dia terkejut setelah memperoleh kenyataan betapa lihainya wanita ini.
Selama lima puluh jurus, nampaknya pengemis tua kurus ktu dapat mendesak wanita itu, buktinya, Kim Hong Liu-nio lebih banyak menghindarkan serangan atau menangkis daripada membalas.
Karena mengira bahwa jagoan mereka akan menang, maka para pengemis itu hanya menonton saja, mengharapkan dalam waktu singkat wanita itu akan dirobohkan.
Padahal, sesungguhnya tidak demikianlah.
Kim Hong Liu-nio memang sengaja membiarkan dirinya diserang dan dia hanya mempertahankan diri karena memang dia ingin memancing keluar semua jurus limu tongkat yang menarik hatinya itu.
Biarpun dia tidak mungkin dapat menguasai atau menghafal semua gerakan yang dilihatnya dalam pertandingan itu, namun setidaknya dia dapat mengenal ilmu ini dan dapat mengingat inti-intinya yang penting.
Setelah lewat lima puluh jurus, dia merasa cukup menonton ilmu tongkat orang, maka kini dia mengeluarkan lengking panjang yang nyaring sekali, kemudian tubuhnya berkelebat cepat dan terjadilah perubahan hebat dalam pertandingan itu!
"Wiirrrr...
plak-pkakk!"
"Ahh...!"
Lo-thian Sin-kai berseru kaget karena hampir saja ubun-ubun kepalanya kena disambar ujung sabuk yang disusul oleh tamparan tangan kilat ke arah ulu hatinya.
Untung dia masih sempat mengelak lalu menangkis berkali-kali.
Dia dapat selamat dari ancaman maut akan tetapi dia terhuyung ke belakang dan pada saat itu Kim Hong Liu-nio menerjang maju dan menghujani kakek itu dengan serangan-serangan dahsyat!
Baru sekarang tahulah kakek kurus itu bahwa tadi lawannya belum sungguh-sungguh, Dan baru sekarang mengeluarkan serangan-serangannya yang dahsyat sehingga repotlah dia memutar tongkatnya untuk membentuk benteng pertahanan melindungi dirinya dari ancaman maut.
Semua pengemis terkejut melihat perubahan ini.
Jagoan mereka terdesak hebat dan mundur terus.
Melihat ini, Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai berteriak keras dan mereka sudah maju membantu jagoan mereka itu dengan memutar tongkat.
Gerakan ini diikuti pula oleh semua pengemis yang sudah mengepung Kim Hong Liu-nio dan mulailah terjadi pengeroyokan yang ketat.
Akan tetapi wanita itu tidak menjadi jerih dan sabuk merahnya membentuk gulungan sinar yang lebar dan panjang, bukan hanya untuk menahan semua tongkat yang menyambar dari sekeliilingnya, akan tetapi juga untuk membagi-bagi totokan.
Dalam beberapa jurus saja dia sudah merobohkan tiga orang pengemis tingkat lima.
Akan tetapi karena dia tidak ingin menanam permusuhan yang hebat dengan perkumpulan pengemis yang besar dan berpengaruh ini, Kim Hong Liu-nio tidak membunuh orang, hanya merobohkan mereka untuk membikin mereka tidak dapat mengeroyoknya lagi dengan totokan-totokan di bagian jalan darah yang tidak mematikan.
Betapapun juga, Kim Hoing Liu-nio mulai terdesak hebat.
Para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi, terutama sekali desakan dari Lo-thian Sin-kai yang dibantu Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai, amatlah berbahaya baginya sehingga Kim Hong Liu-nio sudah mengambil keputusan untuk kabur dan melarikan diri saja.
Akan tetapi pengemis itu agaknya maklum akan niatnya ini dan pengepungan dilakukan makin rapat, gerakan tongkat-tongkat mereka menutup semua jalan keluar.
Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dari depan dan tak lama kemudian muncullah seorang penunggang kuda.
Dia ini seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang perkasa, berpakaian indah, pakaian seorang panglima pengawal Kim-i-wi yang mentereng, dengan bajunya yang disulam benang emas, kepalanya yang memakal topi berhiaskan bulu burung dewata, dengan tanda pangkatnya di dada kiri yang berkilauan.
Melihat wanita cantik itu dikepung oleh para pengemis, panglima itu cepat melompat turun dari pelana kudanya dan sambil mengangkat kedua tangan ke atas dia berteriak-teriak.
"Tahan senjata...! Hentikan perkelahian...! Para tokoh Hwa-i Kai-pang dengarkan dulu penjelasanku!"
Lo-thian Sin-kai menoleh dan ketika mengenal panglima itu adalah Lee Siang, Panglima Kim-i-wi yang gagah dan telah dikenalnya, dia lalu meloncat mundur dan berteriak kepada para temannya untuk menahan senjata.
Kim Hong Liu-nio juga mengenal panglima itu, ialah panglima pengawal yang pertama kali menerimanya di istana, bahkan yang mengawalnya sampai menghadap Kaisar.
Maka diapun menahan gerakannya dan menyimpan kembali sabuk merahnya, lalu mengusap sedikit peluh di dahinya dengan saputangan dan wajahnya menjadi merah ketika dia bertemu pandang dengan panglima yang gagah perkasa itu.
Sejak pertemuannya yang pertama dengan Panglima Lee Siang ini, dia memang sudah tertarik dan diam-diam dia mengakui bahwa panglima ini merupakan seorang pria gagah yang pertama kali menarik hatinya dan membuatnya merasa kagum.
"Locianpwe Lo-thian Sin-kai, harap locianpwe dan para sahabat dari Hwa-i Kai-pang mengetahui bahwa lihiap Kim Hong Liu-nio ini bukanlah seorang musuh, sebaliknya malah, dia adalah seorang pendekar wanita yang telah berjasa, telah menyelamatkan mendiang Sri Baginda Kaisar dan pangeran mahkota."
Lo-thian Sin-kai tentu saja tidak akan memandang kepada Panglima Lee Siang kalau saja tidak mengingat bahwa pria ini adalah seorang panglima pasukan pengawal Kim-i-wi yang amat kuat!
Tentu saja akan merupakan bunuh diri bagi perkumpulan Hwa-i Kai-pang kalau berani menentang seorang panglima Kim-i-wi seperti panglima gagah ini.
Maka dia menjura dan berkata dengan suara halus.
"Harap Lee-ciangkun mengetahui bahwa wanita ini telah membunuh seorang di antara anak buah kanni sehingga terpaksa kami menuntut balas."
Lee Siang terkejut.
Dia sudah mendengar akan kesetiakawanan para pengemis, dan dia tahu pula bahwa Hwa-i Kai-pang, adalah perkumpulan pengemis yang paling berpengaruh di daerah kota raja dan mempunyai anggauta yang ribuan orang banyaknya.
Dia menoleh kepada Kim Hong Liu-nio dengan pandang mata bertanya.
Kim Hong Liu-nio tersenyum kepada panglima yang dikaguminya itu.
"Lee-ciangkun, harap jangan percaya omongan mereka ini. Benar bahwa aku telah membunuh seorang pengemis she Tio di Huai-lai, akan tetapi pengemis itu kukira bukanlah anggauta Hwa-i Kai-pang karena sama sekali tidak memakai pakaian berkembang. Pula, aku membunuh dia sama sekali bukan karena dia pengemis, bukan pula karena dia ada sangkut pautnya dengan Hwa-i Kai-pang atau kai-pang dari manapun juga, melainkan karena urusan pribadi ying tidak ada sangkut pautnya dengan jagoan-jagoan tukang keroyok dari Hwa-i Kai-pang ini."
Kata-kata itu sekaligus merupakan tamparan kepada tokoh Hwa-i Kai-pang sehingga Lo-thian Sin-kai menjadi merah mukanya.
Memang memalukan sekali orang-orang seperti mereka ini terpaksa mengeroyok seorang wanita dibantu oleh belasan orang anak buah mereka lagi!
Lee Siang merasakan ketegangan yang timbul dari sikap kedua fihak, maka untuk melenyapkan ketegangan itu dia tertawa.
"Nah, para locianpwe dan sahabat dari Hwa-i Kai-pang telah mendengar penjelasan lihiap Kim Hong Liu-nio bahwa lihiap tidak sekali-kali memusuhi Hwa-i Kai-pang dan peristiwa ini hanya timbul karena salah sangka belaka. Mengingat bahwa lihiap ini adalah sahabat pangeran mahkota, bahkan telah berjasa besar, maka aku percaya bahwa Hwa-i Kai-pang suka menghabiskan perkara ini dan tidak menimbulkan keributan yang hanya akan mengacaukan keadaan!"
Jelas bahwa di dalam ucapan itu terkandung ancaman bagi Hwa-i Kai-pang dan panglima itu berdiri tegak penuh wibawa!
Lo-thian Sin-kai menarik napas panjang.
"Biarlah sekali ini kami anggap bahwa Kim Hong tidak bermaksud menghina Hwa-i Kai-pang. Kawan-kawan, hayo kita pergi!"
Kakek ini lalu menjura kepada panglima itu."Lee-ciangkun, maafkan kami dan terima kasih atas peringatanmu."
Para pengemis itu lalu pergi dari situ meninggalkan Kim Hong Liu-nio yang kini berdiri berhadapan dengan Lee Siang.
Sejenak mereka saling berpandangan dan jantung wanita itu berdegup tegang ketika dia melihat jelas betapa sepasang mata dari panglima itu memancarkan sinar penuh kagum kepadanya.
Dia sendiri merasa terheran-heran.
Bagi dia, sudah biasa melihat sinar mata kaum pria ditujukan kepadanya dengan kagum dan penuh gairah seperti itu, dan biasanya hal ini kadang-kadang mendatangkan rasa muak dan marah di dalam hatinya, akan tetapi entah mengapa dia sendiri tidak mengerti mengapa kini jantungnya girang dan bangga yang aneh menyaksikan betapa sinar mata pria ini begitu penuh kagum ketika memandangnya!
Setelah sinar mata mereka saling bertaut dan melekat untuk beberapa lamanya, Kim Hong Liu-nio merasa betapa mukanya menjadi panas dan ada perasaan jengah dan malu yang aneh, yang membuat dia tersipu dan cepat-cepat menutupi perasaan ini dengan senyum manis.
"Ah, kembali Lee-ciangkun yang telah menyelamatkan aku dari keadaan yang tidak enak,"
Katanya halus, lalu tanpa disadarinya dia menundukkan mukanya, menahan senyum dan dari bawah menyambar sinar matanya dalam kerlingan tajam!
Inilah ciri-ciri seorang wanita yang tergerak hatinya oleh seorang pria!
Malu-malu, hendak mengelak, hendak menyembunyikan perasaan, akan tetapi tanpa disadarinya senyum dan kerling mata yang menyambar itu mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya!
"Ciangkun sudah dua kali menolongku, sebaliknya aku tidak pernah melakukan sesuatu untukmu."
"Dua kali?"
Panglima yang merasa senang dan bangga itu pura-pura bertanya.
Kim Hong Liu-nio mengangkat muka.
Kembali mereka berpandangan dan wanita itu tersenyum.
Sungguh, andaikata Ceng Han Houw pada saat itu melihat keadaan sucinya ini, dia tentu akan merasa heran bukan main.
Selamanya dia melihat sucinya ini sebagai seorang wanita yang dingin dan keras, jarang tersenyum dan kalau tersenyum, maka senyumnya itu itu boleh jadi merupakan tanda maut bagi lawan.
Akan tetapi sekarang, seperti seorang dara remaja yang malu-malu, bersikap memikat, matanya bermain-main dan suaranga halus.
Pendeknya, terjadi perubahan yang luar biasa anehnya pada diri wanita ini!
"Ah, Lee-ciangkun memang selalu merendahkan diri dan tidak mengingat akan jasa sendiri, sebaliknya mengangkat jasa orang lain sehingga tadi menyebut-nyebut tentang jasaku.
Kalau tidak ada ciangkun, mana mungkin aku dan sute dapat memasuki istana?
Dan tadi, kalau tidak ada ciangkun, mana aku dapat membebaskan diri sedemikian mudahnya dari pengeroyokan pengemis liar itu?"
Lee Siang tertawa dan memang pria ini amat gagah.
Biarpun usianya sudah empat puluh tahun, namun usia ini tidak mengurangi ketampanannya, bahkan membuat dia nampak gagah dan matang, seorang jantan yang menarik hati kaum wanita.
"Ha-ha, lihiap terlalu memuji. Tanpa adanya akupun, sudah kulihat betapa tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang itu tidak berdaya menghadapi lihiap. Ah, sudahlah, aku merasa girang kita dapat saling jumpa di sini dan pertemuan ini dapat saling mempererat persahabatan antara kita. Tidak tahu, lihiap hendak pergi ke manakah maka berada di luar pintu gerbang kota raja?"
"Aku hendak meninggalkan kota raja, sudah mendapatkan ijin dari pangeran mahkota, untuk kembali te utara melaporkan segala peristiwa kepada Sri Baginda raja, juga menyampaikan undangan pangeran mahkota kepada Sri Baginda agar dapat hadir di hari penobatan pangeran mahkota nanti."
"Ahh... lihiap hendak kembali ke utara...?"
Wajah panglima itu kelihatan kecewa dan terkejut.
"Karena melaksanakan tugas selama belasan hari, aku tidak tahu akan hal itu dan sekarang, begitu berjumpa, tahu-tahu lihiap sudah akan pergi. Padahal, mengingat akan persahabatan antara kita, sudah sepatutnya kalau aku menjamu kepergian lihiap untuk menghaturkan selamat jalan. Akan tetapi, kuharap saja masih belum terlambat bagiku untuk mengundang lihiap singgah sebentar ke rumahku untuk menerima secawan dua cawan arak ucapan selamat jalan dariku. Marilah, lihiap, aku mengundang lihiap dengan hormat dan sangat, demi persahabatan kita, untuk singgah sebentar di rumahku. Aku tidak ingin melihat lihiap pergi dan kita saling berpisah tanpa kesan, hanya berpamit di tengah jalan seperti ini!"
Pandang mata panglima itu penuh permintaan, penuh keharuan dan penuh kemesraan dan hati yang dingin dan keras dari wanita itu seketika mencair dan dia mengangguk sambil tersenyum!
Dengan girang sekali Panglima Lee Siang lalu menuntun kudanya dan pergilah mereka berdua kembali ke selatan, menuju ke pintu gerbang di mana para penjaga menyambut mereka dengan sikap hormat dan juga dengan penuh keheranan mengapa Kim Hong Liu-nio yang baru saja pergi meninggalkan pintu gerbang kini sudah datang kembali, berjalan bersama Panglima Lee yang duda itu dalam keadaan begitu mesra seperti dua orang sahabat lama.
Tak lama kemudian kedua orang ini sudah duduk saling berhadapan di dalam ruangan besar di gedung Panglima Lee.
Sebuah meja melintang menghalang di antara mereka, meja yang penuh dengan hidangan masakan-masakan yang masih mengepulkan uap panas dan tercium bau harum arak yang baik.
Setelah para pelayan mempersiapkan hidangan-hidangan itu di atas meja, dengan gerak tangannya Panglima Lee Siang lalu memberi isyarat mengusir mereka semua.
Kini Lee-ciangkun dan Kim Hong Liu-nio hanya berdua saja di dalam ruangan itu dan Panglima Lee segera menuangkan arak dan mengajak wanita itu minum arak.
Tanpa hanyak cakap mereka lalu mulai makan minum.
Keduanya merasa canggung!
Sungguh amat mengherankan hati mereka sendiri masing-masing mengapa mereka kini tiba-tiba saja menjadi pemalu sekali dan canggung, jantung mereka berdebar seperti dua orang pemuda dan dara remaja saja!
"Silakan minum demi persahabatan kita lihiap!"
Kata Lee Siang sambil mengangkat cawan araknya yang sudah dipenuhinya bersama cawan tamunya itu.
Sambil tersenyum, Kim Hong Liu-nio mengangkat cawan dan meminumnya.
"Kini aku yang minta agar ciangkun suka minum sebagai pernyataan terima kasihku atas pertolongan dua kali itu!"
Kim Hong Liu-nio menuangkan arak ke dalam cawan mereka dan sambil tersenyum Lee Siang meminum habis arak itu.
"Dan sekarang aku persilakan lihiap minum sebagai ucapan selamat jalan... ah, tidak! Belum! Jangan lihiap pergi dulu...!"
Kata panglima itu yang sudah mulai merah mukanya.
Biarpun Lee Siang juga seorang gagah yang memiliki kepandaian tidak rendah sebagai seorang Panglima Kim-i-wi, akan tetapi, dalam hal minum arak, dia masih kalah kuat dibandingkan dengan Kim Hong Liu-nio yang memiliki tenaga sin-kang yang sudah mencapai tingkat amat tinggi itu.
Tiba-tiba panglima itu nampak berduka begitu teringat bahwa wanita itu sebentar lagi akan pergi meninggalkannya.
"Lihiap, harap jangan pergi sekarang..., harap lihiap menunda keberangkatan itu sampai besok pagi... dan aku mempersilakan lihiap untuk bermalam di sini, dan anggaplah rumah ini sebagai rumah lihiap sendiri..."
Kim Hong Liu-nio memandang tajam, akan tetapi karena dia tidak melihat sikap kurang ajar ketika panglima itu mengeluarkan kata-kata itu, dia tidak jadi marah dan malah tersenyum.
Makin heranlah rasa hatinya.
Kalau saja yang mengucapkan kata-kata itu pria lain, tentu dia sudah menggerakkan tangan membunuhnya!
Akan tetapi aneh, ucapan itu sama sekali tidak membuat dia marah, bahkan sebaliknya, jantungnya berdebar aneh dan ada rasa girang yang amat besar memenuhi hatinya!
Dan rasa girang ini membuat mukanya menjadi merah sekali.
Dia menjadi gugup dan untuk menyembunyikan perasaannya itu, dia menoleh ke kiri.
"Sunyi sekali di ruangan yang besar ini, ciangkun. Kalau aku boleh mengetahui, mengapa begini sunyi? Di mana keluarga ciangkun? Aku ingin berkenalan dengan mereka."
"Ahh...!"
Dan wajah panglima itu menjadi muram sekali. Sejenak dia menunduk tanpa dapat menjawab.
"Mengapa, ciangkun? Maafkan kalau pertanyaanku tadi menyinggung. Bukan maksudku untuk menyinggung, akan tetapi..."
"Tidak, engkau tidak bersalah, lihiap. Karena engkau tidak tahu. Ketahuilah bahwa aku hanya tinggal seorang diri saja di gedung ini, tentu saja hanya bersama para pengawal dan pelayanku. Tentang keluarga... ah, aku hidup seorang diri, hidup sebagai seorang duda kesepian. Isteriku telah meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan dan semenjak itu, aku hidup dalam dunia yang sepi dan... dan baru sekarang inilah, baru saat ini aku merasa... betapa senangnya hidup..."
"Aihh..., maafkan aku ciangkun."
Kim Hiong Liu-nio berkata dan tidak dapat melanjutklan kata-katanya lagi.
Hatinya terharu dan dia merasa makin malu.
Kiranya panglima ini adalah seorang duda, tanpa isteri dan tanpa keluarga!
"Kim Hong Liu-nio...!"
Tiba-tiba terdengar suara panglima itu, suaranya menggetar dan agak parau, berbeda sekali dengan tadi, dan dalam menyebutkan nama itu, terdapat kemesraan yang mengejutkan.
Wanita itu mengangkat muka memandang.
Dua pasang mata bertemu menyeberang meja, sampai lama mereka saling pandang seperti hendak menjenguk isi hati masing-masing.
Wanita itu tidak menjawab, melainkan memandang dengan penuh penantian, kedua pipinya merah, matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum malu-malu seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan didengarnya dari mulut panglima itu.
"Kim Hong Liu-nio, ketahuilah bahwa aku Lee Siang sejak dahulu suka berterus terang, suka bersikap sebagai laki-laki sejati dan tidak ingin menyimpan rahasia yang akan mendatangkan derita. Oleh karena itu, sebelumnya, maafkanlah kalau aku terlalu terus terang kepadamu karena aku mengenalmu sebagai seorang wanita perkasa yang tentu juga menghargai kegagahan dan kejujuran..."
"Katakanlah, dan jangan ragu-ragu, ciangkun, akupun suka akan kejujuran..."
Hampir wanita itu tidak mengenal suaranya sendiri!
Suaranya menjadi gemetar dan agak parau, padahal belum pernah selama hidupnya dia merasakan ketegangan seperti ini.
Dan hampir dia tidak berani menatap wajah panglima yang duduk amat dekat di depannya itu, hanya terhalang sebuah meja yang kecil saja, meja yang kini sudah bersih karena mangkok piring telah disingkirkan oleh pelayan.
Wajah yang begitu gagah dan tampannya dalam pandang mata Kim Hong Liu-nio, yang membuat jantungnya berdebar tegang dan membuat dia merasa terheran-heran karena seolah-olah dia telah mengenal wajah tampan itu selama hidupnya!
Sebaliknya, panglima itu tanpa pernah berkedip menatap wajah yang cantik manis di depannya itu, terutama sekali titik hitam, tahi lalat di dagu bawah bibir itu, membuat wanita itu kelihatan cantik bukan main.
"Liu-nio, aku cinta padamu!"
Ucapan itu dikeluarkan dengan ketegasan seorang panglima perang!
Demikian tiba-tiba sehingga Kim Hong Liu-nio cepat mengangkat mukanya dan sejenak mereka berpandangan, pandang mata mereka saling melekat dan agaknya sukar untuk dipisahkan lagi.
"Aku cinta padamu, dan perasaan ini timbul semenjak pertama kali aku melihatmu di pintu gerbang istana itu. Tadinya kutahan-tahan, mengingat bahwa aku hanyalah seorang panglima kasar yang sudah duda dan engkau seorang pendekar wanita yang berjasa terhadap Sri Baginda, akan tetapi makin lama tidak dapat aku menahannya dan kebetulan sekali kita bertemu di luar dinding kota raja. Maka sebelum terlambat, sebelum engkau pergi, kukatakan ini, Liu-nio, bahwa aku cinta padamu!"
Perlahan-lahan Kim Hong Liu-nio tersenyum, lalu menundukkan mukanya, kedua pipinya menjadi merah sekali.
Dia merasa betapa hatinya nyaman dan senang sekali, perasaan yang belum pernah dialaminya sebelumnya.
Biasanya, pandang mata pria yang terang-terangan terpesona kepadanya menimbulkan muak dan marah, apalagi kalau sampai ada yang menyatakan cinta dengan kata-kata seperti itu.
Tentu akan dibunuhnya, tanpa ampun lagi pria yang berani berlancang mulut mengatakan hal itu kepadanya.
Akan tetapi sekali ini, dia merasa diayun ke sorga ke tujuh ketika mendengar pengakuan cinta Panglima Lee Siang.
Tiba-tiba seluruh tubuh Kim Hong Liu-nio terasa panas dingin dan kakinya menggigil ketika dia merasa betapa tangan kanannya yang tadi berada di atas meja telah dipegang oleh sebuah tangan yang besar dan kuat hangat.
Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang selain masih perawan, juga selama hidupnya belum pernah dia berdekatan dengan seorang pria, apalagi sampai dipegang tangannya dengan cara yang demikian mesra dan penuh perasaan!
Dia mengangkat mukanya.
Akan tetapi begitu bertemu pandang dengan sepasang mata Lee Siang yang memandangnya dengan penuh perasaan, dia lalu membuang muka dengan malu, akan tetapi dia tidak menarik tangan kanannya yang digenggam oleh panglima itu.
"Liu-nio kau... sudilah kiranya engkau minum secawan arak ini..."
Suara panglima itu gemetar dan juga jari-jari tangannya yang menggenggam tangan kecil wanita itu mengeluarkan getaran-getaran yang terasa sampai ke dalam lubuk hati Kim Hong Liu-nio.
Wanita ini menjadi gugup dan malu bukan main, dia tidak berani memandang, tidak berani bicara, hanya menggunakan tangan kirinya untuk menolak cawan yang disodorkan kepadanya.
"Liu-nio, aku tahu betapa lancangnya mulutku dan betapa sukarnya bagi seorang wanita terhormat seperti engkau menjawab pertanyaanku. Maka, biarlah arak dalam cawan ini sebagai lambang cintaku kepadamu, kuhaturkan kepadamu. Kalau engkau menerima cintaku, terima dan minumlah arak ini, kalau engkau menolak berarti engkau menolak cintaku."
"Aihhh...!"
Kim Hong Liu-nio terkejut mendengar itu dan dia menjadi serba salah.
Diangkatnya mukanya memandang dan begitu melihat pandang mata panglima itu, dia tahu bahwa dia tidak akan mampu menolaknya!
Dia tahu bahwa seluruh jasmaninya, seluruh hatinya, condong kepada panglima itu dan seolah-olah menanti dan rindu akan cinta kasih Panglima Lee Siang!
Maka dengan tangan gemetar diterimanya cawan itu lalu sekali tenggak kosonglah cawan itu.
"Kekasihku...!"
Lee Siang berseru girang bukan main dan dia cepat bangkit berdiri, memutari meja dan di lain saat dia telah menarik tubuh Kim Hong Liu-nio, ditariknya berdiri, dipeluknya dan seperti ada besi sembrani yang menarik keduanya, tiba-tiba saja mereka telah berciuman!
"Ohhh...
ciangkun...!"
Kim Hong Liu-nio terisak ketika ciuman itu dilepaskan dan dia lalu menyembunyikan mukanya di dada yang bidang tegap itu.
Sambil memeluk dan mendekap kepala itu, Lee Siang berdongak ke atas.
"Terima kasih, Liu-nio, terima kasih atas sambutanmu terhadap cintaku! Akan tetapi di sini tidak leluasa, setiap saat pelayanku dapat masuk. Mari kuantar engkau ke kamarmu, sayang. Malam ini engkau bermalam di sini!"
Seperti orang yang kehilangan semangat dan seluruh tubuhnya lemas seperti tak bertulang lagi, setengah dipondong Kim Hong Liu-nio membiarkan dirinya dibawa ke dalam sebuah kamar, dan ternyata itu adalah kamar panglima itu sendiri!
Lee Siang masih merangkul leher Kim Hong Liu-nio dan hanya menggunakan kakinya untuk menutupkan pintu kamar, lalu dia membawa wanita itu ke atas tempat tidur dan mereka terguling di atas pembaringan dalam keadaan saling merangkul.
"Sayangku, kekasihku,, dewiku..."
Lee Siang berbisik-bisik dan memeluk, menciumi, membuat Kim Hong Liu-nio seperti mabok dan lupa segala.
Akan tetapi ketika merasakan jari-jari tangan itu di tubuhnya, tiba-tiba dia sadar dan dia memegang lengan panglima itu.
"Jangan...! Lee-ciangkun, jangan...!"
Katanya dan tiba-tiba wanita itu terisak!
Sungguh luar biasa sekali.
Semenjak menjadi murid Hek-hiat Mo-li, belum pernah Kim Hong Liu-nio menangis, dan agaknya merupakan pantangan bagi wanita dingin dan ganas itu untuk menangis, menangis terisak-isak seperti seorang perawan di malam pengantin!
"Maafkan aku, Liu-nio.
Kenapakah?
Bukankah kita sudah saling mencinta dan besok pagi-pagi akan kuumumkan tentang pertunangan kita, dan kita boleh cepat cepat-cepat mengatur hari pernikahan kita.
Ah, Liu-nio, kekasihku, aku menghendaki bukti dari cinta kita, aku tidak ingin gagal..."
Kembali (Lanjut ke
Jilid 15) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 panglima itu memeluk dengan penuh kemesraan, akan tetapi Kim Hong Liu-nio menolak dengan halus.
"Ciangkun, kalau kau kasihan kepadaku, jangan...!"
Rintihnya.
Lee Siang memegang kedua pundak wanita itu, memaksanya menghadapinya dan mereka kini saling memandang, wanita itu masih terisak dan menggunakan saputangan di tangan kiri untuk menutupi mulut dan hidungnya, akan tetapi matanya yang basah kemerahan itu menentang wajah Lee Siang penuh permohonan.
"Kim Hong Liu-nio, katakanlah, engkau tadi telah menerima cintaku, bukankah itu berarti bahwa bukan aku saja yang cinta kepadamu, akan tetapi engkau juga cinta kepadaku, bukan?"
Wanita itu mengangguk dengan gerakan kepala tegas.
"Nah, lalu mengapa pula engkau menolak pencurahan cintaku? Liu-nio, lihatlah baik-baik. Aku bukanlah seorang muda lagi. Usiaku sudah empat puluh tahun dan aku sudah menjadi duda! Dan engkau sendiri, sungguhpun engkau kelihatan seperti seorang dara remaja, akan tetapi aku dapat menduga, bahwa engkaupun bukanlah seorang dara ingusan! Maka apa salahnya perbuatan kita ini kalau kita lakukan dengan dasar cinta dan suka sama suka, apalagi setelah kita besok akan bertunangan dan disusul dengan pernikahan? Liu-nio kekasihku, setelah kita saling cinta, apakah engkau masih tidak percaya kepadaku? Kalau aku berlaku curang dalam hubungan kita ini, apa sukarnya engkau dengan kepandaianmu yang tinggi itu membunuhku setiap waktu? Sayang marilah..."
Dan dia sudah merangkul lagi dan menciumi bibir wanita itu.
Karena gelora nafsunya sendiri, untuk beberapa lamanya Kim Hong Liu-nio tidak menolak, bukan hanya menyerah, bahkan secara halus diapun menunjukkan perasaannya terhadap panglima itu dengan gerakan bibirnya yang membalas ciuman.
Akan tetapi kembali dia menolak ketika panglima itu hendak bertindak lebih jauh.
"Lee-ciangkun, sabarlah dulu dan dengarkan baik-baik kata-kataku. Kalau sekarang aku menyerahkan diri kepadamu, kalau aku menuruti permintaanmu, sekali saja, berarti kau tidak akan melihat aku lagi, ciangkun, berarti aku akan mati..."
"Ehhh...!"
Lee Siang terkejut bukan main sehingga tiba-tiba dia melepaskan rangkulannya dan bangkit berdiri, memandang wanita cantik yang masih duduk di atas pembaringan dengan rambut dan pakaian kusut itu.
"Apa... apa maksudmu...?"
Wajah panglima ini berubah pucat dan pandang matanya gelisah sekali.
Ucapan kekasihnya itu benar-benar mengejutkan dan membuatnya cemas sekali.
"Ketahuilah, ciangkun,"
Kata wanita itu setelah menghapus air matanya dan dia menjadi tenang kembali.
"Biarpun usiaku sekarang telah tiga puluh lima tahun, akan tetapi sesungguhnya aku masih seorang... perawan yang belum pernah dijamah seorang pria. Selama hidupku baru sekaranglah aku jatuh cinta kepada seorang pria. Dan kau lihatlah ini, apa yang terdapat di daguku ini?"
Mendengar bahwa wanita ini masih seorang perawan, biarpun begitu cantik jelita dan usianya sudah tiga puluh lima tahun, bahkan baru sekarang jatuh cinta, Lee Siang merasa bangga sekali dan dia mengelus dagu itu.
"Aku melihat sebuah titik hitam, sebuah tahi lalat yang membuat engkau kelihatan lebih manis, sayang!"
"Akan tetapi titik itu adalah titik tanda maut bagiku, ciangkun!"
"Eh?"
Seperti meraba api, tangan yang menjamah dagu itu cepat ditarik kembali.
"Kenapa begitu?"
"Ketahuilah, titik ini adalah titik tanda keperawananku dan begitu aku menyerahkan diri seorang pria, titik ini akan lenyap dan akupun akan mati di tangan subo atau di tangan suheng. Aku sudah bersumpah demikian, oleh karena itulah maka betapapun aku... aku juga cinta padamu, namun aku tetap tidak dapat menyerahkan diri kepadamu sebelum terpenuhi sumpahku. Kalau sekali saja kulanggar, biarpun aku bersembunyi di seberang lautan sekalipun, aku tidak akan mampu lolos dari tangan maut subo atau suheng."
"Ah, sungguh penasaran sekali!"
Lee Siang menepuk kepalanya sendiri dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar itu.
"Penasaran sekali! Mana di dunia ini ada aturan seperti itu? Mana ada subo dan suheng sekejam itu?"
"Kau tunggu sebentar, ciangkun, akan kuambilkan barang buktinya dan kau akan mendengarnya nanti."
Wanita itu cepat keluar dari kamar, mengambil buntalannya yang tadi ditaruh di ruangan di mana mereka makan, kemudian dengan cepat dia sudah kembali ke dalam kamar di mana Lee Siang masih kelihatan penasaran sekali.
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 13
Baca Juga: Istana Pulau Es 8