Eps 3 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.
"Jadi kalian inilah yang mengirim surat tantangan agar aku datang ke tempat ini?"
"Suci, apakah mereka ini jagoan-jagoan kang-ouw?"
Anak laki-laki itu bertanya setelah memandang kepada lima orang itu penuh perhatian.
Wanita itu mendengus dan bibirnya berjebi.
"Sute, di dunia kang-ouw, orang-orang seperti mereka ini hanya merupakan cacing-cacing busuk yang tiada artinya."
Kakek pendek besar yang membawa golok besar di pinggangnya itu membentak marah.
"Perempuan sombong! Aku Twa-sin-to Kui Liok selamanya tidak pernah bermusuhan denganmu! (Lanjut ke
Jilid 08) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 Akan tetapi, tanpa dosa sama sekali, dua orang keponakanku telah kaubunuh, hanya karena mereka itu she Tio!"
"Semua orang she Cia, Yap dan Tio harus mampus di tanganku!"
Kata wanita itu sambil memperlihatkan papan kayu salib yang diamblinya dari punggung.
"Siluman betina, engkau juga telah membunuh sute kami yang she Yap!"
Tiga orang laki-laki yang memegang pedang melangkah maju dengan sikap mengancam.
"Dan engkau membunuh ibuku yang she Cia!"
Kata orang ke lima, juga marah sekali.
"Sute, apakah engkau jadi ingin menghadapi cacing-cacing in!?"
"Benar, suci. Aku ingin mencoba apa yang telah kupelajari dari subo dan darimu."
Anak itu lalu melangkah maju, menghadapi lima orang itu dengan sikap tenang.
Lima orang itu saling pandang dengan ragu-ragu.
Tentu saja mereka tidak sudi mengeroyok scorang anak laki-laki yang usianya belum dewasa ini.
Mereka adalah orang-orang yang terkenal di perbatasan utara ini.
Bahkan Twa-sin-to Kui Liok adalah seorang perampok tunggal yang amat terkenal di selatan.
"Kim Hong Liu-nio, suruh anak ini minggir! Kami hanya ingin membalas dendam kepadamu dan menagih nyawa!"
Bentak kakek itu sambil melangkah maju.
"Twa-sin-to, biarlah aku yang mewakili suci. Cabutlah golok besarmu dan kalian boleh maju semua, aku akan menghadapi kalian dengan tangan kosong saja,"
Kata anak laki-laki itu dengan sikapnya yang halus, namun senyum di bibirnya penuh ejekan dan penuh ketinggian hati.
Selagi Twa-sin-to Kui Liok meragu, seorang di antara mereka, yang termuda, kurang dari empat puluh tahun usianya, bermuka hitam, telah melangkah maju dan membentak.
"Biariah aku melemparkan setan cilik yang sombong ini!"
Laki-laki itu bertubuh tinggi besar, bermuka hitam menyeramkan dan karena kedua lengan bajunya tergulung sampai ke atas siku, maka nampak kedua lengannya yang berotot dan amat kuat.
Kini, menghadapi anak itu, dia menyimpan lagi pedangnya di sarung pedang yang tergantung di pinggangnya dan dia menghadapi anak itu dengan dua tangan kosong yang telah dikembangkannya ke kanan kiri, siap untuk menubruk.
"Nanti dulu!"
Kata anak yang tampan itu.
"Apakah engkau juga seorang jagoan kang-ouw dan mempunyai nama julukan? Lebih baik kau beritahukan nama julukanmu itu agar aku dapat mencatat namamu sebagai jagoan kang-ouw pertama yang kurobohkan."
Muka yang hitam itu menjadi makin hitam, matanya melotot.
"Bocah sombong, setan cilik yang bosan hidup!"
Bentaknya dan dengan cepat, seperti seekor harimau kelaparan, si muka hitam ini sudah menerjang ke depan, menubruk dengan tangan kiri mencengkeram ke arah pundak anak itu dan tangan kanan mencekik ke arah leher!
"Hemm...
kasar sekali, suci!"
Anak itu berseru dan sekali tubuhnya bergerak, dengan langkah kaki indah sekali, serangan orang itu mengenai tempat kosong, dan sambil mengelak itu kaki kanannya diangkat sedikit menyentuh lutut kiri lawan.
"Dukk...!"
Perlahan saja tendangan itu, akan tetapi karena tepat mengenai sendi lutut tak dapat dicegah lagi si muka hitam jatuh berlutut!
"Wah, dia tahu aturan juga, suci.
Lihat, belum apa-apa dia sudah berlutut minta ampun!"
Anak itu berkata mengejek.
Tentu saja si muka hitam menjadi makin marah dan malu.
Dia adalah seorang jagoan yang telah terkenal memiliki kepandaian tinggi dan nama besar.
Sekarang, dalam segebrakan saja dia telah dihina oleh seorang anak kecil belasan tahun!
"Bocah keparat!"
Dia meloncat dan kini dia mengirim serangan hebat, bukan lagi serangan biasa karena memandang rendah seperti tadi, melainkan serangan yang berdasarkan ilmu silat, kedua tangannya secara bergantian menghantam ke arah leher dan pusar, sedangkan kaki kanannya menyusul dengan tendangan maut ke arah dada.
Cepat sekali terjangan yang dilakukan oleh si muka hitam ini.
Akan tetapi baru saja dia bergerak, anak itu telah berseru.
"Wah, suci, bukankah ini jurus Go-houw-pok-sit (Macan Kelaparan Menyambar Makanan)? Kalau kutangkis begini, tentu dia menyusul dengan tendangan, nah baiknya kutangkap kakinya dari bawah dan kudorong terus ke atas, ya?"
Sambil bicara demikian, dia melaksanakan kata-katanya.
Serangan pukulan kedua tangan si muka hitam itu berhasil ditangkisnya dan ketika kaki si muka hitam menyambar, dia cepat meloncat ke samping, lalu secepat kilat tangannya menyambar kaki yang lewat, menyangga dari bawah dan mendorongnya terus ke atas.
Tanpa dapat dicegah lagi tubuh si muka hitam itu terjengkang dan terbanting berdebuk ke atas tanah sampai mengeluarkan debu mengepul!
"Bagus, sute, memang tepat perhitunganmu!"
Wanita cantik itu memuji sambil mengangguk-angguk.
"Akan tetapi jangan terlalu lama main-main dengan dia, masih ada empat ekor lagi yang lain!"
Si muka hitam itu menjadi marah bukan main.
Marah dan malu sekali.
Jagoan seperti dia sampai dua kali dirobohkan oleh seorang anak kecil dalam dua gebrakan saja!
Saking marahnya sampai dia lupa diri, lupa bahwa yang dihadapinya adalah seorang anak laki-laki yang belum dewasa.
Dia sudah bangkit berdiri, mukanya makin menghitam dan matanya mendelik lalu dia membungkuk seperti seekor kerbau marah, mendengus-dengus.
"Wah, tadi berlutut sekarang menjura. Sudahlah, muka hitam, jangan menggunakan terlalu banyak peradatan dan sopan santun. Aku tidak bisa menerima penghormatanmu!"
Anak itu yang ternyata selain lihai juga memiliki lidah tajam dan pandai mengejek, menggerak-gerakkan kedua tangan ke depan seperti orang menolak.
Melihat kehebatan anak laki-laki ini, diam-diam Siong Bu menjadi kagum bukan main.
Akan tetapi terkejutlah dia ketika melihat tiba-tiba si muka hitam itu mengeluarkan suara gerengan seperti harimau, lalu tubuhnya sudah menerjang ke depan dengan kepala di depan, menyeruduk seperti seekor kerbau gila!
Siong Bu terkejut bukan main.
Dia pernah mendengar dari pamannya tentang ilmu menyeruduk seperti ini, yang mengandalkan latihan lwee-kang yang dipusatkan di kepala, dan ilmu ini amat berbahaya karena lawan yang kena diseruduk tentu akan remuk tulang-tulang dadanya.
Biarpun dia belum pernah menyaksikan kehebatan ilmu aneh ini, namun mendengarkan penuturan pamannya dia merasa ngeri dan kini melihat anak yang dikaguminya itu diserang dengan ilmu aneh ini, Dia terbelalak dan merasa tegang.
Juga empat orang laki-laki yang menjadi teman si muka hitam merasa tegang dan mereka hampir merasa yakin bahwa kini anak kecil itu tentu akan celaka.
Anehnya, wanita cantik yang menjadi suci anak itu memandang dengan sikap tenang saja, sama sekali tidak merasa kaget atau gelisah.
Bagaikan seekor gajah atau seekor kerbau gila, si muka hitam menyeruduk dan nampaknya anak yang menjadi lawannya itupun tidak tahu harus berbuat apa.
Dia sama sekali tidak mengelak dan berdiri tegak saja.
Ketika kepala yang mengancamnya itu sudah meluncur dekat tiba-tiba anak itu menggerakkan tanga kanannya, dengan jari-jari terbuka dia menusuk ke depan, menyambut kepala itu dengan tusukan jari-jari tangannya.
"Crokk...!"
Tubuh anak itu terhuyung ke belakang bergoyang-goyang dan mukanya agak pucat, akan tetapi tubuh si muka hitam terguling dan dari kepalanya mengalir darah merah bercampur cairan otak putih!
Dia tewas seketika!
Empat orang temannya menjadi kaget bukan main dan memandang dengan mata terbelalak.
Akan tetapi, wanita cantik itu tidak memperdulikan mereka, cepat menghampiri sutenya dan dua kali dia mengurut dada sang sute yang menjadi tenang dan pulih kembali.
"Ah, sute, kenapa kau begitu ceroboh? Kau harus ingat bahwa orang yang menggunakan serangan dengan kepala adalah yang yang memiliki lwee-kang kuat, apakah kau lupa lagi? Dan melawan kekerasan dengan kekerasan merupakan kecerobohan besar. Untung bahwa lwee-kangnya tadi belum kuat benar, kalau lebih kuat setingkat saja, bukankah engkaupun akan menderita luka biarpun kau berhasil membunuhnya?"
Anak laki-laki itu mengangguk.
"Aku telah keliru, suci, mengharapkan petunjukmu."
"Lihat baik-baik. Nah, kau lontarkan dia dalam kedudukan menyerang seperti tadi kepadaku!"
Anak itu mengangguk, lalu menghampiri mayat si muka hitam.
Dicengkeramnya baju di tengkuk dan di belakang pinggul mayat itu dan sambil mengerahkan tenaga, dilontarkannya mayat itu ke arah sucinya.
Mayat itu meluncur dengan cepat ke arah wanita tadi dengan kepala di depan, seperti ketika dia menyeruduk anak itu.
Dan seperti juga sikap anak tadi, wanita ini tenang saja, baru setelah serudukan itu dekat, tiba-tiba dia menggeser kakinya, tubuhnya sudah berputar ke kiri dan ketika kepala yang menyeruduk itu lewat, secepat kilat jari-jari tangannya bergerak seperti gerakan anak tadi, menusuk ke arah pelipis kanan mayat yang lewat.
"Crokkk!"
Mayat itu terbanting dan pelipis kanannya nampak berlubang-lubang bekas jari tangan, sedangkan wanita itu tetap berdiri tegak.
"Nah, kau lihat, sute? Kalau kau memapaki dari depan, selain melawan tenaga lwee-kangnya, juga tenaganya itu ditambah lagi dengan tenaga luncuran tubuhnya, tentu saja menjadi amat kuat. Sebaliknya, kalau kau menusuk dari samping, engkau tidak memapaki tenaga lawan secara langsung."
Tadinya empat orang teman si muka hitam itu hanya memandang dan mendengarkan dengan mata terbelalak, akan tetapi kini mereka telah sadar dan menjadi marah sekali.
"Bocah setan, berani kau membunuh teman kami?"
Bentak Twa-sin-to Kui Lokg kakek berusia enam puluh tahun lebih yang pendek gemuk itu.
Goloknya yang besar panjang tahu-tahu telah berada di tangan kanannya dan begitu dia menggerakkan tangan, terdengar suara berdesing dan golok itu lenyap berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata.
"Jangan lawan dengan tangan kosong, gunakan pedangmu!"
Tiba-tiba wanita cantik itu berseru setelah melihat gerakan Kui Lok. Srattt...!"
Nampak sinar berkeredepan dan tahu-tahu anak itupun telah mencabut pedangnya, sebatang pedang yang amat indah, gemerlapan dan mengkilat sekali seperti perak kebiruan, gaganngya berukir tubuh naga dan ronce-ronce merah berbentuk lidah yang keluar dari kepala naga yang terukir di ujung gagang.
Twa-sin-to Kui Lok yang dihadapi oleh anak itu, merasa dipandang rendah sekali, maka dia terus saja menggerakkan goloknya dengan dahsyat.
Si pendek gemuk ini berjuluk Twa-sin-to (Si Golok Besar Sakti) maka tentu saja ilmu goloknya amat hebat dan dengan goloknya itu dia telah membuat nama besar di selatan.
Kini dia dihadapi oleh seorang anak yang usianya baru empat belas tahun, tentu saja dia marah sekali dan ingin dia cepat membunuh anak ini agar dapat mencurahkan seluruh perhatian dan memusatkan tenaga dan kepandaian untuk menghadapi Kim Hong Liu-nio yang menjadi musuh besarnya itu.
Dia tidak berlaku sungkan-sungkan lagi, maka goloknya yang berubah menjadi sinar bergulung-gulung itu kini seperti gelombang samodera datang menerjang anak yang telah melintangkan pedang di depan dada dan memandang permainan lawan dengan penuh perhatian.
"Awas, yang dimainkan itu adalah pecahan dari Lo-han-to yang tidak aseli lagi, namun masih memiliki dasar-dasar Lo-han-to!"
Tiba-tiba wanita cantik itu berseru ketika melihat gerakan golok Twa-sin-to Kui Lok.
Diam-diam si gemuk pendek ini kaget bukan main, kaget dan juga marah.
Dia merasa telah menguasai Lo-han-to, ilmu golok yang amat hebat dari cabang persilatan Siauw-lim-pai itu dengan baik, kini disebut pecahan yang tidak aseli lagi!
Memang dia bukan murid langsung dari Siauw-lim-pai, akan tetapi dia mengira telah menguasai Ilmu Golok Siauw-lim-pai itu.
Lo-han-to (Golok Orang Tua Gagah) memang merupakan Ilmu Golok Siauw-lim-pai yang hebat, gerakannya gagah bersemangat dan biarpun digerakkan dengan lambat, namun mengandong lwee-kang yang amat kuat dan sinarnya bergulung-gulung seperti ombak.
Akan tetapi, Kui Lok tidak mau perhatiannya terpecah oleh kata-kata wanita itu, dia sudah menerjang ke depan, gerakannya ringan dan goloknya menyambar-nyambar seperti kilat dari atas, mengarah tubuh atas anak itu.
"Itulah jurus Yan-cu-tiak-sui (Burung Walet Menyambar Air), engkau tahu sifatnya, sute, jaga yang atas jangan lupakan yang bawah!"
Kembali wanita itu berseru.
Anak itu menggerakkan pedangnya menangkis.
Terdengar bunyi trang-tring-trang-tring nyaring sekali dan kemanapun golok itu menyambar dari atas, selalu bertemu dengan bayangan pedang.
Kui Lok terkejut juga dan cepat kakinya bergerak.
Memang tendangan merupakan imbangan dari serangan golok jurus itu, karena itulah maka wanita itu tadi mengingatkan sutenya untuk tidak melupakan yang bawah!
Maka begitu kakinya bergerak menendang, tiba-tiba anak itu membalikkan pedangnya menyambut kaki yang menendang.
"Ehhh!"
Si gemuk pendek cepat menarik kembali kakinya dan meloncat ke belakang sehingga dia agak terhuyung.
Mukanya berubah dan keringat dingin membasahi leher karena dia mengingat betapa hampir saja dalam satu gebrakan kakinya dibikin buntung oleh bocah lihai ini.
Dengan kemarahan meluap dia lalu menerjang lagi dengan kecepatan yang lebih dari tadi, dan sekali ini dia sengaja mengeluarkan ilmu golok simpanannya yang biasanya hanya dia pergunakan kalau menghadapi lawan tangguh.
"Sute, itulah Ngo-houw-toan-bun-to (Lima Harimau Menjaga Pintu) yang terkenal itu. Akan tetapi ini lebih palsu lagi, hanya tinggal gayanya saja, akan tetapi hati-hati terhadap tangan kirinya!"
Kembali wanita itu berseru dan makin marahlah hati Kui Lok.
Tadi, Lo-han-to yang dikuasainya dikatakan tidak aseli, kini Ngo-houw-toan-bun-to yang dibanggakan itu dikatakan tinggal gayanya saja dan lebih palsu lagi!
Maka goloknya sampai mengeluarkan suara berdesing-desing dan bersuitan ketika dia menyerang dengan dahsyat.
Anak itu ternyata hebat sekali.
Dengan lincah anak itu bergerak dengan kedua kakinya digeser ke sana-sini, melangkah ke depan belakang, kanan kiri dengan cara yang aneh, dan semua sambaran sinar golok selalu mengenai tempat kosong.
Kalau Kui Lok sudah merasa yakin bahwa goloknya akan mengenat tubuh lawan, ternyata kemudian bahwa yang diserangnya hanya bayangan saja dan anak itu sudah mengelak dengan cepat dan tak terduga-duga.
Anak itu lebih mengandalkan gerak kakinya menghindarkan semua serangan-serangan daripada menangkis, Sungguhpun kadang-kadang dia menangkis juga dengan pedangnya.
Agaknya dia seperti orang sedang berlatih, melatih kelincahan atau melatih langkah-langkah kakinya menghadapi hujan serangan golok itu.
Kui Lok yang memainkan goloknya sampai menjadi makin heran dan penasaran karena telah tiga puluh jurus dia menyerang, sama sekali goloknya belum mampu mengenai tubuh lawan, bahkan mencium ujung bajunya belum pernah!
Sementara itu, tiga orang saudara seperguruan yang tadi mengatakan hendak menuntut balas atas kematian sute mereka she Yap, kini telah mencabut pedang mereka dan menyerang ke depan untuk membantu Kui Lok merobohkan anak itu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring disusul berkelebatnya sinar merah dan teguran suara halus wanita itu.
"Jangan kalian berani mengganggu sute yang sedang berlatih!"
Sinar merah itu bergulung-gulung menyambar ke arah tiga orang pemegang pedang itu.
Mereka terkejut sekali melihat sinar yang panjang seperti seekor naga itu, dan cepat mereka menggerakkan pedang untuk membacok putus sinar yang ternyata adalah sehelai sabuk merah itu.
"Wuut-wuut-wuuttt...!"
Pedang itu bertemu dengan sinar merah dan otomatis sinar merah itu melibat tiga batang pedang.
"Ouhhhh...!"
Tiga orang itu terkejut bukan main ketika tahu-tahu pedang mereka terlibat sabuk merah dan ketika wanita itu menggerakkan tangan, sabuk itu menyendal dan tiga batang pedang itu sudah terampas biarpun mereka tadi sudah mengerahkan tenaga untuk mempertahankan.
Mereka hanya melongo melihat tiga batang pedang mereka terbang ke atas terbelit sabuk merah dan beberapa kali tiga pedang itu beterbangan di atas kepala wanita itu.
"Terimalah!"
Tiba-tiba wanita itu berseru dan ketika dia menggerakkan tangan, tiga batang pedang yang tadi terbelit sabuk itu meluncur ke depan, menuju ke arah pemiliknya masing-masing!
Tiga orang itu terkejut bukan main dan berusaha untuk mengelak, akan tetapi lontaran pedang dan belitan sabuk merah itu cepat bukan main dan pedang-pedang itu telah menembus tubuh mereka, ada yang terkena dadanya, ada yang tertembus perutnya.
Mereka roboh berkelojotan dan tewas!
Wanita cantik itu sudah tidak memperhatikan mereka lagi sebelum mereka roboh, kini sudah memperhatikan lagi sutenya yang "berlatih"
Di bawah hujan sinar golok.
Ilmu golok dari Kui Liok memang hebat.
Biarpun ilmu atau jurus Ngo-houw-toan-bun-to yang dimainkannya itu tidak aseli, Namun karena sudah sering dilatihnya, maka memiliki daya serang yang hebat dan lihai.
Setiap serangan yang luput dari sasaran selalu disambung dengan serangan lain, tusukan disambung tikaman, bacokan disambung bacokan membalik.
Dan sampai lima jurus lamanya anak itu dapat selalu menghindarkan diri.
Akan tetapi apa yang diperingatkan oleh wanita tadi tidak kunjung tiba, yaitu tangan kiri Kui Liok.
Wanita itu tadi memperingatkan sutenya agar berhati-hati terhadap tangan kiri si pemegang golok itu, akan tetapi setelah lewat lima puluh jurus, tetap saja Kui Liok belum pernah mempergunakan tangan kirinya.
Hal ini sama sekali bukan karena peringatan itu keliru, melainkan karena Kui Liok sengaja tidak mau mempergunakan tangan kirinya yang belum apa-apa sudah diterka oleh wanita itu!
"Sute, sekarang latih serangan pedangmu!"
Tiba-tiba wanita yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertandingan itu berseru.
Anak itu tidak menjawab, melainkan mengubah gerakannya dan kini pedangnya mengeluarkan suara berdengung yang naik turun nadanya, seperti orang bersenandung!
Kui Liok terkejut melihat pedang itu tahu-tahu telah berada di dekat lehernya.
"Tranggg...!"
Dia menangkis dengan keras.
Pedang terpental akan tetapi tahu-tahu telah hinggap dekat pundaknya.
Pundaknya tentu akan putus kalau pedang itu membabat turun, maka cepat dia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik sambil bergulingan dan memainkan ilmu golok yang dinamakan Tee-tong-to (Ilmu Golok Bergulingan).
Tubuhnya berguling dan dari gulingan itu goloknya menyambar, membabat ke arah kaki lawan.
Kalau tadi dia bergulingan untuk menghindarkan diri dari ancaman pedang, kini tubuhnya bergulingan mengejar lawan untuk balas menyerang!
Namun, dengan cekatan anak itu melompat dan tahu-tahu pedangnya telah menusuk dari belakang ke arah tengkuk Kui Liok.
Orang gemuk pendek ini merasa tengkuknya dingin, cepat dia meloncat dan menyapok ke belakang.
Akan tetapi, anak itu menarik kembali pedangnya dan kini tahu-tahu pedang telah menodong lambung lawan!
Kembali Kui Liok menahan jeritnya dan cepat dia meloncat ke belakang sambil menangkis.
Bulu tengkuknya benar-benar meremang saking ngerinya menghadapi ilmu pedang yang amat aneh ini dan telinganya terus mendengar bunyi pedang bersenandung dan nampak sinar pedang putih bergulung-gulung dengan ujung pedang secara aneh dan tiba-tiba berada di sekitar tubuhnya, sudah menempel tinggal menusuk saja!
Twa-sin-to Kui Liok maklum bahkan biarpun yang dihadapinya itu masih kanak-kanak, namun ternyata telah memiliki kepandaian yang amat luar biasa.
Maka dia cepat menangkis pedang dengar goloknya sambil mengerahkan tenaga sin-kang menyedot sehingga pedang dan golok melekat.
Saat itu dipergunakannya untuk menggerakkan tangan kirinya, secepat kilat tangan itu terbuka dan menghantam ke arah dada anak itu.
Itulah pukulan Ang-see-jiu yang amat hebat.
Pukulan beracun yang telah dilatih dengan pasir merah beracun dan yang sejak tadi tidak dipergunakan karena telah didahului oleh peringatan wanita itu.
"Awas, sute!"
Wanita itu memperingatkan, akan tetapi anak itu agaknya memang sejak tadi tidak pernah melupakan peringatan sucinya.
Melihat sinar merah dari telapak tangan kiri lawan, dia lalu membuka mulut dan mengeluarkan bentakan nyaring.
"Huiiiihhh!"
Dari mulut anak itu menyambar sinar putih ke arah tenggorokan Twa-sin-to Kui Liok.
"Aughhh...!"
Tubuh yang pendek gemuk itu terjengkang, matanya terbelalak, di tenggorokannya menancap sebatang jarum putih yang amblas sampai lenyap.
Akan tetapi Kui Liok masih dapat melanjutkan pukulan tangan kirinya ke arah dada anak itu.
"Desss...!"
Wanita itu mendorong dari samping dan biarpun tangannya tidak sampai menyentuh tubuh Kui Liok, namun angin pukulannya yang kuat membuat tubuh itu terpelanting roboh, pukulan Ang-see-jiu tadi tidak sampai mengenai dada anak itu dan begitu roboh, Kui Liok sudah tegang kaku dan tewas seketika!
Anak itu menyimpan kembali pedangnya dan memandang mayat Kui Liok.
Ada sedikit peluh di dahinya dan sucinya cepat menghampiri dan menyusut peluh itu dengan saputangannya yang halus dan berbau harum.
"Sute, latihanmu berhasil dan baik sekali. Akan tetapi sayang, ketika engkau menyerangnya dengan pek-ciam (jarum putih) tadi, sasaran kurang tepat. Kalau sasaranmu kautujukan ke dahinya, tepat di antara kedua alisnya, tentu pukulan Ang-see-jiu dari tangan kirinya itu tidak dapat dilanjutkan. Karena kau memilih tenggorokan sebagai sasaran, maka hampir saja engkau terkena pukulan. Harap lain kali engkau lebih cermat lagi."
Anak itu mengangguk.
"Suci memang benar, dan akupun tadi sudah berpikir demikian. Akan tetapi aku merasa sangsi untuk menyerang antara sepasang keningnya, karena kupikir bagian itu lebih keras. Dengan sin-kang yang belum kuat seperti yang kumiliki ini, aku khawatir jarumku tidak akan dapat menembus tulang kepalanya dan tentu hal itu malah berbahaya sekali."
"Ah, engkau kurang percaya kepada diri sendiri, sute. Sekarang engkau boleh mencoba!"
Dia lalu menggunakan kakinya mencokel pundak mayat Kui Liok dan tiba-tiba mayat itu mencelat ke atas, berdiri dan seperti hendak menyerang anak itu.
Anak itu tiba-tiba membuka mulut dan mengeluarkan seruan "Huuihhh...!"
Seperti tadi.
Sinar putih menyambar, kini ke arah dahi mayat itu yang segera roboh kembali.
Anak itu membungkuk dan memeriksa dahi yang ditembusi jarumnya dan dia tersenyum.
"Engkau benar, suci. Jarum itu masuk hampir seluruhnya!"
"Nah, engkau harus mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, sute. Kepercayaan kepada diri sendiri akan menambah kesanggupanmu dan menenangkan hatimu apabila engkau bertemu dengan lawan yang pandai. Akan tetapi jangan sekali-kali kepercayaan kepada diri sendiri itu berbalik menjadi kesombongan tanpa perhitungan. Sekarang, cabutlah pedangmu. Aku melihat ada beberapa gerakan inti yang kurang tepat tadi, maka sebaiknya kauperhatikan seranganku dan lawanlah dengan pedangmu sebaik mungkin!"
Tanpa memberi kesempatan sutenya menjawab, wanita itu telah menggerakkan sabuknya.
"Wirrr... suitttt...!"
Sabuk itu melayang ke udara, bergulung-gulung dan menukik ke bawah dan ujungnya sudah menotok ke arah ubun-ubun kepala sutenya.
"Wessss...!"
Anak itu tahu-tahu sudah mencabut pedang dan cepat menangkis dengan niat untuk membabat sabuk itu.
Namun sabuk lemas itu sudah bergerak lagi ke atas, seperti burung terbang dan berlatihlah dua orang kakak beradik seperguruan itu dengan cepat sekali.
Siong Bu yang masih mendekam di balik semak-semak merasa silau dan terpaksa memejamkan matanya yang menjadi berair karena kecepatan gerakan sinar-sinar bergulung itu benar-benar amat hebat.
Dia tidak dapat melihat lagi dua orang itu, melainkan hanya dua sinar putih dan merah bergulung-gulung amat cepatnya.
Jantungnya seperti berhenti berdetik ketika dia mendengar suara bersuitan dan angin menyambar sampai ke atas semak-semak itu dan dia melihat ujung semak-semak itu, daun-daun muda jatuh berhamburan seperti dibabat pisau tajam!
Tiba-tiba terdengar bunyi melengking dari dalam hutan sebelah utara.
Sinar putih dan merah yang bergulung-gulung itu berhenti dan wanita itu telah berdiri tegak bersama anak laki-laki, sambil menoleh ke utara.
Terdengarlah suara nyaring seorang pria.
"Maaf, toanio. Saya hanyalah seorang utusan dari Jeng-hwa-pang, mohon menghadap toanio untuk menyampaikan undangan dari ketua kami!"
Wanita itu mencibirkan bibir dan mendengus.
"Merangkaklah ke sini!"
Katanya dengan nada merendahkan.
Nampak bayangan berkelebat cepat dan seorang laki-laki berusia empat puluh tahun tinggi kurus berpakaian sederhana, di dada kirinya terhias setangkai bunga hijau terbuat daripada kertas dan lilin, membawa sebuah bungkusan yang besar, bentuknya persegi, kurang lebih tiga puluh sentimeter setiap seginya.
Siong Bu melihat betapa sebelum laki-laki ini muncul, wanita cantik itu telah mengenakan sepasang kaus tangan yang warnanya sama dengan kulitnya sehingga setelah dipakai, sama sekali tidak kentara.
Kini, wanita itu memandang pria yang membawa bungkusan, lalu bertanya.
"Selain menyerahkan undangan, engkau disuruh apalagi?"
Orang itu menjura dengan hormat.
"Hanya menyampaikan undangan ini lalu diharuskan pergi agar jangan mengganggu toanio lebih lama."
"Hemm, kalau begitu lemparkan undangan itu ke sini dan segera menggelindinglah pergi!"
Bentaknya.
Orang itu lalu melontarkan bungkusan itu ke arah anak laki-laki tadi.
Anak itu cepat menggerakkan tangan hendak menyambut, akan tetapi ia didahului oleh sucinya yang meloncat dan menyambar bungkusan itu dengan kedua tangannya.
"Eh? Kenapa, suci?"
Tanya anak itu, heran sekali melihat sucinya berbuat seperti itu.
"Bungkusan ini pasti mengandung racun, sute."
"Ah, keparat!"
Anak itu menjadi marah dan begitu melihat di situ terdapat sebuah batu besar sekali, sebesar perut kerbau bunting, dia lalu menyambarnya dengan kedua tangan dan melontarkannya ke arah laki-laki yang sudah membalik dan pergi itu.
"Sute, jangan...!"
Wanita itu sempat menepuk lengan sutenya sehinggi lontaran itu menyeleweng.
Akan tetapi tetap saja masih dapat melampaui laki-laki tadi dan jatuh berdebuk tidak jauh di depannya, melesak dalam sekali ke dalam tanah.
Laki-laki itu terbelalak dan mukanya berubah pucat.
Kalau dia tertimpa batu sebesar itu, tentu akan remuk tubuhnya!
Dia menoleh dengan ngeri, akan tetapi melihat anak yang luar biasa itu tidak mengejarnya, dia cepat-cepat lari dari tempat itu.
"Suci, mengapa pula engkau mencegah aku membunuh keparat curang itu?"
"Dia hanya utusan dan engkau tentu lebih tahu bahwa kita sama sekali tidak boleh membunuh seorang utusan, sute. Bukan dia yang menaruh racun di bungkusan ini, melainkan orang yang menyuruhnya. Hemm, Jeng-hwa-pangcu sudah mengirim undangan, agaknya dia tidak main-main lagi sekarang. Hendak kulihat sampai di mana kelihaiannya!"
Wanita ini lalu meletakkan bungkusan di atas batu besar.
"Jangan menyentuhnya, sute, dan kau lihat saja, jangan mendekat. Harap mundur lima langkah dari sini."
Biarpun alisnya berkerut, anak itu menurut juga, melangkah mundur dan melihat dengan penuh perhatian.
Juga Siong Bu menonton dengan jantung berdebar penuh ketegangan.
Sejak tadi dia sudah merasa ngeri melihat orang-orang yang dibunuh itu, kini dia melihat hal lain yang lebih aneh membuat dia makin ketakutan.
Wanita cantik itu memandang kepada kedua telapak tangannya yang telah terbungkus sarung tangan, lalu tersenyum mengejek.
"Kau lihat, sute."
Dia menggunakan kedua tangannya meraba rumput-rumput di dekatnya dan rumput-rumput itu seketika menjadi layu dan agak gosong seperti dibakar!
"Racun yang dioleskan di bungkusan ini saja sudah cukup untuk membuat kulit tangan terbakar hebat."
Kemudian, dengan hati-hati sekali dia membuka tali bungkusan itu.
Ternyata isinya adalah sebuah doos merah.
Dibukanya tutup doos merah dan hampir saja Siong Bu menjerit kalau dia tidak cepat mendekap mulutnya.
Dari doos merah itu muncul seekor ular yang tiba-tiba saja menyerang ke arah leher wanita itu!
"Capppp!"
Bagaikan sepasang gunting yang amat tajam, dua jari telunjuk dan jari tengah wanita itu bagian kiri telah menangkap leher ular dan sekali mengerahkan tenaga, leher ular itu putus!
"Hemm, kiranya hanya begini saja kepandaian orang Jeng-hwa-pang!"
Wanita itu mengejek dan dia menarik keluar sebuah doos yang lebih tebal kecil dari dalam doos besar itu.
Doos inipun tertutup.
"Suci, hati-hati. Mereka itu terlalu curang!"
Anak itu berseru, tadi kaget menyaksikan ular yang demikian ganasnya.
Dia tahu bahwa ular merah seperti itu amat berbahaya karena bisanya dapat membunuh orang dengan sekali gigit saja.
Wanita itu menengok dan hanya tersenyum penuh kepercayaan kepada diri sendiri, lalu tanpa ragu-ragu lagi tutup doos yang lebih kecil itu dibukanya.
Nampak asap mengepul tiba-tiba dari dalam doos itu dibarengi suara mendesis.
Wanita itu terkejut dan cepat sekali dia meloncat ke belakang, tepat pada saat terdengar ledakan keras.
Banyak sekali paku dan jarum menyambar ke empat penjuru dan wanita yang sedang meloncat itupun terserang sambaran paku dan jarum.
Akan tetapi, dengan cekatan kedua tangannya menyampok dan menangkap dan ketika dia meloncat turun, kedua tangannya penuh dengan jarum dan paku yang dapat ditangkapnya tadi.
Asap masih mengepul dan doos itu pecah, memperlihatkan sehelai kertas yang sebagian hangus.
Wanita cantik itu lalu menghampiri batu dan melemparkan jarum dan paku yang beracun itu ke dalam doos yang telah hangus dan pecah-pecah, lalu dia mengambil kertas merah itu dan membaca huruf-huruf hitam yang tertulis di situ.
JENG HWA PANG MENGUNDANG KIM HONG LIU ?
NIO UNTUK MEMBUAT PERHITUNGAN.
Demikianlah bunyi huruf-huruf besar yang tertulis di kertas merah.
Wanita itu meremasnya hancur dan biarpun mulutnya masih tersenyum mengejek, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi karena marahnya.
Sutenya telah mendekatinya, terbelalak memandang ke arah jarum-jarum dan paku-paku yang mengeluarkan sinar kehijauan itu.
"Sungguh berbahaya..."
Katanya ngeri.
"Jeng-hwa-pang memang terkenal dengan caranya yang kotor, suka main racun. Akan tetapi aku akan membalas semua ini, sute. Memang aku sudah bersiap-siap sehingga aku menggunakan sarung tangan. Betapapun kebal tangan kita, kalau terkena racun yang berada di kertas pembungkus, atau tergigit oleh ular merah tadi, apalagi racun hijau di paku dan jarum itu, tentu kita celaka. Racun hijau pada puku dan jarum ini lebih lihai lagi, sute. Itulah racun jeng-hwa (bunga hijau) yang menjadi keistimewaan mereka sehingga nama perkumpulan merekapun memakai nama Jeng-hwa-pang (Perkumpulan Bunga Hijau)."
"Siapakah mereka itu, suci?"
Wanita itu menarik napas panjang.
"Menurut penuturan subo, pendirinya adalah mendiang Jeng-hwa Sian-jin, seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw yang lihai dan selain tinggi ilmu silatnya, juga mahir ilmu sihir. Akan tetapi, kakek itu telah tewas dan kini perkumpulannya dipegang dan dipimpin oleh muridnya yang ahli dalam soal racun. Mereka bersarang di daerah perbatasan, di dekat tembok besar."
"Mengapa perkumpulan itu memusuhi suci?"
Wanita itu melepaskan sarung tangannya yang melindunginya dari racun tadi.
Sarung tangan itu memang istimewa sekali, bukan hanya dapat melindungi kulit tangan dari racun, akan tetapi juga segala macam racun yang tersentuh oleh sarung tangan itu menjadi hilang dayanya, dan di samping ini, juga sarung tangan itu dapat menahan bacokan senjata-senjata tajam.
Setelah menyimpan sarung tangannya, wanita itu lalu menurunkan papan kayu salib dari punggungnya, mengangkatnya tinggi-tinggi dan berkata.
"Seperti juga halnya lima orang tolol ini, Jeng-hwa-pang memusuhi aku karena ini."
Anak itu sudah tahu akan maksud kayu salib yang ditulisi tiga huruf itu.
Dia tahu bahwa tiga huruf itu adalah tiga nama keturunan yang menjadi musuh besar subo mereka dan sucinya telah bersumpah kepada subo mereka untuk membasmi semua orang yang bershe Yap, Cia dan Tio.
Untuk tugas inilah maka subo mereka menurunkan seluruh kepandaiannya kepada sucinya ini sehingga sucinya menjadi seorang wanita yang bukan main saktinya.
"Suci, apakah ketua Jeng-hwa-pang itu she Yap, Cia, ataukah Tio?"
"Bukan, akan tetapi isterinya she Tio dan sembilan orang keluarga isterinya yang she Tio telah kubunuh semua. Itulah sebabnya dia memusuhi aku,"
Jawab sucinya dengan sikap tak perduli.
Anak laki-laki itu memandang ke arah papan kayu salib dan melihat betapa sucinya menggunakan kuku jari telunjuknya yang panjang terpelihara rapi untuk membuat guratan lima kali di bagian bawah papan salib itu.
Itulah tanda bahwa sucinya telah membunuh lima orang.
Setiap guratan menandakan satu nyawa dan hanya mereka yang dibunuh karena urusan permusuhan itu saja yang dicatat di papan kayu salib ini.
Palang kiri untuk korban she Tio, papan atas untuk yang she Cia dan papan kanan untuk she Yap, sedangkan papan bagian bawah untuk orang-orang she lain yang membela tiga she itu dan terlibat dalam permusuhan ini.
Anak itu melihat betapa yang banyak sekali coretannya justeru papan bawah di bagian she Tio lebih banyak dari papan bagian Cia dan she Yap.
Akan tetapi di baglan papan atas, untuk yang she Cia, baru ada dua guratan saja.
Anak itu termenung.
Dia selalu tertarik kalau membicarakan urusan permusuhan pribadi subonya yang aneh itu, dan yang pembalasannya diwakili oleh sucinya, karena subonya kini telah menjadi pikun dan lemah.
"Suci, sudah berapa lamakah suci mulai melaksanakan perintah subo untuk membasmi orang-orang dari tiga she itu?"
"Sudah belasan tahun, sute, sejak aku berusia dua puluh tahun kurang."
"Dan sampai kapan berakhirnya? Apakah selama hidupmu suci akan terus mencari orang-orang dari tiga she itu untuk dibunuh?"
Anak itu merasa betapa tugas ini benar-benar gila! Wanita itu menggeleng kepala.
"Tugasku baru sempurna dan berakhir kalau musuh yang sesungguhnya dari subo telah dapat kubunuh. Mereka itu adalah Cia Bun Houw, Yap In Hong, dan Tio Sun. Mereka bukan orang-orang lemah, melainkan pendekar-pendekar yang berkepandaian tinggi sekali, akan tetapi aku sudah bersumpah tidak akan menikah sebelum berhasil membunuh mereka bertiga. Oleh karena itu, sekarang aku mengantarmu ke kota raja sambil bendak menyelidiki mereka, sute."
"Aku akan membantumu, suci."
Sucinya menggeleng kepala.
"Engkau baik sekali, sute, dan biarpun usiamu baru empat belas tahun, namun kepandaianmu sudah boleh diandalkan. Akan tetapi mereka itu lihai sekali, terutama Cia Bun Houw itu. Subo pernah terluka ketika menghadapinya. Akan tetapi... aku telah mempelajari ilmu-ilmu khusus yang diciptakan oleh subo, istimewa untuk menghadapi mereka bertiga. Aku tidak takut."
Tiba-tiba wanita itu lalu bersuit nyaring.
Suaranya melengking bergema di seluruh hutan, dan Siong Bu yang mengintai hampir saja terjengkang.
Dia cepat menutupi kedua telinganya dan menahan napas.
Terdengar suara derap kaki kuda dan roda kereta, dan tak lama kemudian nampaklah sebuah kereta yang amat indah, ditarik oleh empat ekor kuda dan di belakang kereta itu nampak belasan orang penunggang kuda, semuanya gagah perkasa, tinggi besar dan berpakaian sebagai perwira-perwira.
Mereka semua turun dari kuda dan memberi hormat secara militer kepada anak itu, dengan berlutut sebelah kaki.
Anak itu mengangkat tangan ke atas sebagai tanda menerima salut mereka dan wanita itu lalu berkata.
"Kalian antar kami sampai perbatasan, di sana harus berganti kuda. Akan tetapi kita singgah dulu di Istana Lembah Naga karena aku ada urusan dengan penghuninya."
Para perwira itu mengangguk dan wanita tadi lalu memasuki kereta bersama sutenya.
Kereta berderak-derak meninggalkan tempat itu diikuti oleh tujuh belas orang pengawal yang membuang ludah ketika melihat mayat lima orang tadi.
Setelah mereka pergi, barulah Siong Bu berani bernapas.
Akan tetapi jantungnya berdebar tegang.
Wanita itu mengatakan hendak singgah di Istana Lembah Naga!
Ke rumah pamannya!
Dan dia, teringat ketika dia mengintai ke kamar Sin Liong di dekat kandang kuda, ketika anak monyet itu menangis di pangkuan bibinya dan teringat dia betapa bibinya mengatakan bahwa Sin Liong adalah seorang she Cia, bahkan menyebutkan nama ayahnya, yaitu Cia Bun Houw!
Dan bukankah Cia Bun Houw ini merupakan musuh utama dari wanita tadi?
Siong Bu lalu menyelinap di antara semak-semak, menuju pulang dengan jantung berdebar penuh ketegangan.
Siapakah wanita cantik dan anak laki-laki yang tampan dan lihai itu?
Pernah diceritakan di bagian depan cerita ini bahwa sepuluh tahun yang lalu, ketika diadakan pesta pernikahan di Istana Lembah Naga, pernikahan antara Liong Si Kwi dan Kui Hok Boan, muncul wanita cantik ini di dalam pesta di mana secara mengerikan dia telah membunuh enam orang di antara para tamu yang mempunyai she Tio, Yap, dan Cia.
Wanita ini adalah yang menjadi utusan Sabutai itu, seorang wanita cantik yang mengaku bernama Kim Hong Liu-nio, yang memiliki ilmu kepandaian amat mengerikan.
Sekarang dia masih nampak cantik sekali, biarpun usianya sudah kurang lebih tiga puluh lima tahun sekarang, masih cantik dan agung, seperti seorang puteri raja saja, sikapnya angkuh, dingin, akan tetapi tahi lalat kecil di dagunya itu membuat dia nampak manis sekali.
Siapakah sebenarnya Kim Hong Liu-nio ini?
Melihat wajahnya dan suaranya ketika bicara tadi, jelas bahwa dia adalah seorang wanita bersuku Han.
Akan tetapi mengapa dia menjadi utusan raja liar Sabutai?
Kim Hong Liu-nio adalah seorang dayang atau pelayan wanita yang amat disayang oleh Permaisuri Khamila, yaitu isteri Raja Sabutai.
Dia adalah seorang wanita Han yang ketika kecilnya menjadi tawanan perang, yaitu ketika pasukan Raja Sabutai menyerbu ke selatan (baca cerita Dewi Maut).
Karena Raja Sabutai tertarik melihat kecantikan anak yang ketika itu baru berusia belasan tahun, maka dia tidak dibunuh, tidak pula dijadikan korban perkosaan oleh para perajurit dan perwira seperti yang menjadi nasib para wanita tawanan perang.
Bahkan dia ditarik ke dalam istana dan dijadikan dayang.
Karena ternyata dia cerdik, setia, dan cekatan, akhirnya sang permaisuri suka kepadanya dan diangkatlah dia menjadi dayang yang melayani sang permaisuri yang amat tercinta itu.
Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Raja Sabutai mempunyai dua orang guru yang memiliki kepandaian luar biasa, merupakan orang-orang sakti yang sukar dicari bandingannya pada waktu itu.
Mereka berdua itu adalah Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, dua orang kakek dan nenek iblis yang tadinya berasal dari Negara Sailan.
Dalam pertempuran mereka menghadapi para pendekar sakti, Pek-hiat Mo-ko tewas dan Hek-hiat Mo-li terluka parah.
Raja Sabutai mengandalkan kekuasaannya, berhasil menyelamatkan subonya itu dari kematian dan membawa subonya itu untuk dirawat, meninggalkan Istana Lembah Naga di mana tadinya kakek dan nenek iblis itu tinggal.
Karena Hek-hiat Mo-li telah tua, pikun, berwatak aneh, suka marah dan mudah membunuh orang begitu saja, maka sukarlah untuk merawat dan melayaninya.
Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio yang cerdik sekali itu dapat merawatnya dengan baik sehingga amat menyenangkan hati nenek itu dan akhirnya dayang inilah yang ditugaskan untuk merawat Hek-hiat Mo-li.
Kim Hong Liu-nio memang cerdik bukan main.
Semenjak dia menjadi tawanan kemudian menjadi dayang, Dia selalu mencari jalan untuk dapat meningkatkan kedudukannya dan akhirnya dia berhasil menjadi dayang kesayangan permaisuri, dan hal ini tentu saja sudah merupakan kemajuan besar karena kedudukannya menjadi jauh lebih tinggi daripada dayang-dayang istana yang biasa.
Namun dia belum juga puas.
Dia tahu bahwa nenek seperti iblis itu adalah guru dari Sri Baginda sendiri, maka tentu saja merupakan seorang yang amat terhormat dan disegani semua orang.
Dan dia sendiri selama ini telah rajin berlatih silat dari para pelatih silat yang biasa melatih para pengawal di istana.
Dia sendiri suka akan ilmu silat, maka melihat nenek itu terluka dan dirawat di istana, melihat betapa jarang ada yang berani dan mampu melayaninya, dia lalu "memperlihatkan"
Kesetiaannya, menawarkan diri untuk merawatnya!
Dan dia berhasil!
Kim Hong Liu-nio melihat kesempatan baik sekali baginya.
Bukan saja kesempatan untuk membikin senang hati nenek itu dan Sri Baginda, akan tetapi juga kesempatan untuk mempelajari ilmu kesaktian karena dia tahu bahwa Hek-hiat Mo-li adalah seorang nenek luar biasa yang memiliki ilmu kepandaian seperti dewa!
Memang harus diakui bahwa wanita muda itu memang cerdik bukan main.
Bukan hanya ilmu silat yang menariknya mendekati Hek-hiat Mo-li, sungguhpun memang dia ingin sekali menjadi seorang yang berilmu tinggi.
Akan tetapi lebih dari itu, apabila dia bisa menjadi murid nenek itu, berarti dia menjadi adik seperguruan Sri Baginda Sabutai sendiri dan hal ini tentu saja akan mengangkat derajatnya, dari seorang dayang menjadi adik seperguruan raja!
Dan dia memang berhasil menyenangkan hati nenek itu.
Hek-hiat Mo-li adalah seorang nenek yang sudah pikun, maka melihat dayang yang merawatnya penuh ketekunan, melayaninya dan merawatnya ketika dia masih menderita sakit sehingga dia berak dan kencing di atas pembaringan, dibersihkan dan dicuci, dimandikan oleh dayang ini, hatinya tertarik sekali dan dia menjadi suka kepada dayang itu.
Nenek pikun ini mulailah mengajaknya bercakap-cakap, bahkan menceritakan tentang sakit hatinya terhadap para musuhnya.
Menyatakan betapa dia sudah terlalu tua sehingga sakit hatinya itu tentu akan dibawanya sampai mati tanpa terbalas, karena muridnya yang hanya seorang, yaitu Sabutai, adalah seorang raja yang tidak mungkin mengurus urusan pribadi.
Mendengar ini, secara cerdik sekali Kim Hong Liu-nio lalu menawarkan diri untuk mewakili nenek itu membalas musuh-musuhnya!
"Kau...?
Hi-hi-hi-hi!
Tiga orang musuh besarku itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Orang macam engkau mana mampu mewakili aku untuk membunuh mereka?"
Nenek itu mentertawakan. Kim Hong Liu-nio menjatuhkan diri berlutut.
"Kalau locianpwe mendidik saya dan menurunkan semua kepandaian locianpwe kepada saya, apa sukarnya bagi saya untuk membunuh mereka sehingga kelak locianpwe boleh naik ke alam baka dengan hati tenang?"
Hek-hiat Mo-li terbelalak, berpikir dan akhirnya dia mengangguk-angguk.
"Hendak kulihat dulu bakatmu!"
Dia lalu mencoba dan menyuruh wanita itu mainkan ilmu silat yang pernah dipelajarinya.
Hatinya girang sekali ketika mendapatkan kenyataan bahwa Kim Hong Liu-nio ternyata memiliki bakat yang amat baik!
"Baik!
Kau berlututlah dan bersumpahlah!
Aku menerimamu menjadi muridku!"
Akhirnya dia berkata.
Kim Hong Liu-nio ketika itu berusia dua puluh tahun lebih dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut di depan pembaringan nenek itu.
Hek-hiat Mo-li terkekeh, lalu mengelus kepala muridnya dan tiba-tiba bertanya.
"Engkau masih perawan?"
Pertanyaan ini tentu saja amat mengejutkan dan mengherankan hati gadis itu, dan juga membuat pipinya menjadi merah sekali karena malu.
Akan tetapi dia mengangguk.
"Bagus! Aku telah menciptakan beberapa ilmu yang hanya dapat dipelajari dengan sempurna oleh perawan-perawan dan jejaka-jejaka. Sekarang engkau harus bersumpah bahwa kelak engkau akan membunuh semua orang she Yap, Tio, dan Cia yang kau temukan, dan kau tidak akan berhenti melakukan pembunuhan terhadap keturunan tiga she itu sebelum engkau berhasil membunuh tiga orang musuh besarku, yaitu Yap In Hong dan kakaknya Yap Kun Liong, Cia Bun Houw, dan Tio Sun. Hayo bersumpahlah...!"
Sambil berlutut, Kim Hong Liu-nio lalu bersumpah menurutkan kata-kata nenek itu.
Kemudian tiba-tiba gadis itu merasa dagunya sakit sekali ketika tangan nenek itu menyambar, kepalanya pening dan dia roboh pingsan!
Ketika dia siuman kembali, dia merasakan dagunya masih amat sakit.
Dia merabanya dan ternyata dagunya terluka.
"Biarkan saja, sudah kuobati. Nanti akan tumbuh sebuah tahi lalat kecil di situ, dan itu adalah tanda bahwa engkau masih perawan. Sekarang bersumpahlah lagi bahwa sebelum kau berhasil membunuh tiga orang musuh besarku itu, engkau tidak boleh menikah! Dan awas, sekali saja engkau melanggar pantangan itu dan keperawananmu lenyap, tentu tahi lalat di dagumu itupun akan lenyap dan aku akan membunuhmu!"
Bukan main kagetnya hati gadis itu.
Akan tetapi dia tahu bahwa nenek ini memang amat sakti luar biasa dan keji.
Dengan suara tenang dia lalu mengucapkan sumpahnya lagi bahwa dia tidak akan menikah sebelum berhasil membunuh tiga orang musuh besar dari gurunya.
Hek-hiat Mo-li tertawa terkekeh-kekeh dengan hati senang.
"Hi-hi-hik, sekarang kau menjadi muridku, akan tetapi jangan kira bahwa engkau akan dapat melepaskan diri dari sumpahmu. Hayo lekas panggil suhengmu ke sini."
"Su... suheng...?"
"Raja Sabutai itu! Siapa lagi dia kalau bukan suhengmu?"
Bentak nenek itu.
"Hayo lekas minta supaya datang ke sini, sekarang juga."
Bukan main girang dan bangganya rasa hati gadis itu.
Raja Sabutai adalah suhengnya!
Dia mengangguk lalu berlari ke luar, terus memasuki istana Raja Sabutai.
Akan tetapi tentu saja dia tidak berani selancang itu dan setelah tiba di depan Sri Baginda tetap saja dia bersikap hormat seperti biasanya.
"Eh, Kim Hong, mengapa engkau meninggalkan subo dan datang menghadap tanpa diundang?"
Sri Baginda berkata dengan halus.
"Harap paduka sudi memaafkan hamba. Hamba diutus oleh... lo-thai-thai (nyonya tua) untuk minta paduka suka datang kepadanya beliau sekarang juga..."
Tentu saja dia tidak berani lancang menyebut "subo"
Kepada nenek itu.
Raja Sabutai mengenal watak gurunya yang aneh, maka diapun bergegas pergi bersama Kim Hong Liu-nio memasuki kamar subonya.
Begitu dia masuk, Hek-hiat Mo-li lalu berkata.
"Eh, Sri Baginda, sekarang engkau mempunyai seorang sumoi."
"Sumoi...?"
"Heh-heh, dia itulah sumoimu!"
"Kim Hong...?"
Sabutai terbelalak.
Kim Hong Liu-nio merasa jantungnya berdebar tegang.
Dia takut kalau raja marah dan merasa terhina, maka cepat-cepat dia menjatuhkan diri berlutut dan tanpa berani mengangkat muka dia lalu berkata.
"Mohon paduka sudi memberi ampun kepada hamba. Hamba mendengar penuturan... lo-thai-thai..."
"Ih, kau menyebut nyonya tua kepadaku? Murid apa kau ini?"
Tiba-tiba nenek itu membentak. Kim Hong Liu-nio terkejut dan melanjutkan kata-katanya.
"...subo bercerita tentang musuh-musuh beliau dan hamba merasa kasihan, maka hamba menawarkan diri untuk mewakili subo membalas sakit hati itu... lalu subo mengangkat hamba menjadi murid..."
Raja Sabutai menoleh kepada nenek itu.
"Subo, apakah dia pantas menjadi murid subo? Apakah kelak dia tidak akan mengecewakan dan memalukan kita?"
"Huuh-Huh-He-Heh! Sri Baginda lihat saja, beberapa tahun lagi kepandaiannya sudah akan melampaui tingkat kepandaianmu sendiri, hi-hik! Dan pula dia sudah bersumpah akan membunuh tiga empat orang she Yap, Cia dan Tio itu. Sri Baginda saya panggil ke sini untuk menjadi saksi. Lihatlah tahi lalat di dagunya itu, sekarang merupakan luka, beberapa hari lagi akan tumbuh tahi lalat di situ sebagai tanda keperawanannya. Dia bersumpah tidak akan menikah sebelum berhasil membunuh musuh-musuh kita dan kalau aku sudah mati, harap Sri Baginda mengawasinya. Kalau musuh-musuh belum mati dan tahi lalat itu lenyap, berarti dia melanggar sumpah dan harus dibunuh!"
Raja Sabutai mengangguk-angguk.
"Jangan khawatir, subo, aku akan mengamatinya."
Diam-diam Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main.
Ketika dia tadi bersumpah, memang timbul perasaan mengejek di dalam hatinya.
Nenek itu sudah tua mana bisa mengawasi dia terus?
Dan tentang tahi lalat tanda keperawanan itu tentu tidak akan ada orang lain yang tahu.
Siapa kira, nenek iblis itu kini membuka rahasia ini kepada Raja Sabutai, bahkan memesan kepada raja itu untuk mewakilinya menghukum kalau dia berani melanggar sumpahnya.
Demikianlah, mulai hari itu Kim Hong Liu-nio menjadi murid Hek-hiat Mo-li dan ternyata dia memang berbakat baik sekali.
Dia masih bersikap hormat kepada raja, dan hanya di depan gurunya saja dia berani menyebut suheng kepada raja.
Di tempat biasa, dia masih bersikap sebagai seorang dayang terkasih.
Akan tetapi, semua orang dari pelayan terendah sampai panglima tertinggi tahu belaka, bahwa dayang ini adalah murid Hek-hiat Mo-li, adik seperguruan raja dan kepandaian yang amat hebat, maka tentu saja semua orang menghormatinya dan tidak ada yang memperlakukannya sebagai seorang dayang.
Apalagi setelah putera dari Raja Sabutai, mulai dilatih ilmu silat, maka pengaruh Kim Hong Liu-nio lebih besar lagi.
Dialah yang diserahi tugas untuk mendidik anak laki-laki itu!
Anak laki-laki itu bukan lain adalah Ceng Han Houw, putera tunggal dari Raja Sabutai.
Nama Ceng Han Houw adalah nama pemberian dari Khamila, ibu kandung anak itu, sedangkan nama pemberian ayahnya adalah Pangeran Oguthai!
Mengapa Permaisuri Khamila memberi nama Ceng Han Houw kepada puteranya?
Hal ini ada rahasianya yang hanya diketahui oleh Permaisuri Kharmila dan suaminya sendiri, yaitu Raja Sabutai.
Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan peristiwa itu yang terjadi belasan tahun yang lalu.
Ketika itu, Raja Sabutai dan isterinya yang tercinta, yang masih amat muda dan cantik jelita, belum mempunyai keturunan.
Pada waktu itu, Kaisar Ceng Tung dari Kerajaan Beng, yang baru berusia dua puluh tiga tahun, dijebak oleh kecurangan dan pengkhianatan seorang pembesar.
Di waktu melakukan perjalanan ke utara, Kaisar muda ini telah menjadi tawanan raja liar, yaiti Raja Sabutai dan ditahan di daerah liar di utara.
Kaisar Ceng Tung yang muda itu memperlihatkan sikap gagah perkasa, dan hal ini amat menarik dan mengagumkan hati Raja Sabutai.
Kaisar Ceng Tung tidak dibunuh oleh Sabutai karena memang hendak dijadikan sandera kalau dia menyerbu ke selatan.
Ketika itu, Raja Sabutai merasa berduka dan kecewa karena dari permaisurinya yang amat cantik dan tercinta itu, dia belum juga memperoleh keturunan.
Karena sejak dahulu sebelum menikah dengan isteri tercinta inipun belum pernah ada selirnya yang memperoleh keturunan, maka dia dapat menduga bahwa dialah yang tidak dapat memberikan keturunan kepada permaisurinya yang tercinta itu.
Padahal dia ingin sekali mempunyai anak dari permaisurinya terkasih ini.
Ketika dia kelihat kegagahan Kaisar Ceng Tung yang menjadi tawanannya, timbullah rencananya yang amat luar biasa.
Dia hendak menggunakan Kaisar yang dikaguminya itu agar dapat meninggalkan keturunan dalam rahim permaisurinya, keturunan yang kelak akan menjadi anaknya secara resmi!
Dia tidak akan malu mempunyai anak yang sebetulnya mempunyai darah Kaisar yang besar dan gagah perkasa itu.
Bahkan kedudukan Kaisar itu masih jauh lebih tinggi daripada kedudukannya sebagai raja liar.
Demikianlah, dengan sepengetahuannya, bahkan atas perintahnya, Sang Permaisuri Khamila yang muda dan cantik jelita itu mendekati tawanan terhormat itu.
Kemudian terjadilah hal yang tidak mengherankan mengingat bahwa keduanya masih sama muda dan keduanya merupakan pria dan wanita yang tampan dan cantik.
Kedua orang muda itu saling jatuh cinta!
Kemudian, tepat seperti yang diharapkan oleh Raja Sabutai, permaisurinya mengandung, bahkan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan tampan.
Sementara itu, Kaisar Ceng Tung telah dapat lolos dari tawanan dan kembali ke Tiong-goan untuk menjadi Kaisar lagi.
Demikianlah cerita ringkas dari peristiwa itu yang dituturkan dengan jelas dalam cerita Dewi Maut.
Rahasia tentang diri anak yang kini bernama Pangeran Oguthai alias Ceng Han Houw itu hanya diketahui oleh ayah dan ibunya sendiri.
Raja Sabutai memberi nama Oguthai kepada puteranya, diambil dari nama seorang pangeran gagah perkasa bangsa Mongol, putera ke tiga dari raja besar Jenghis Khan yang termashur itu.
Akan tetapi atas perinintaan Permaisuri Khamila, anak itu diberi nama Ceng Han Houw.
She Ceng diambilnya dari nama Kaisar Ceng Tung yang sesungguhnya adalah ayah kandung dari anak itu, dan nama Han Houw adalah nama pemberian Kaisar Ceng Tung sendiri yang diam-diam disampaikan kepada bekas kekasihnya itu.
Hal itu membuktikan bahwa sampai saat itupun sang permaiskiri itu masih belum dapat melupakan kekasihnya, ayah kandung dari anaknya.
Biarpun dia seorang raja, namun Sabutai adalah seorang yang suka akan kegagahan, maka tentu saja dia ingin melihat putera tunggalnya itu meniadi seorang gagah perkasa dan berilmu tinggi.
Oleh karena itu, semenjak masih kecil, Oguthai atau Ceng Han Houw itu oleh Raja Sabutai diserahkan kepada subonya untuk digembleng, dan dengan sendirinya anak itu dekat sekali dengan sucinya, Kim Hong Liu-nio yang kadang-kadang mewakili gurunya untuk melatih sang pangeran ini.
Demikianlah keadaan anak laki-laki berusia empat belas tahun yang tampan dan lihai itu, yang bukan lain adalah Ceng Han Houw, dan Kim Hong Liu-nio yang kini telah menjadi seorang wanita yang luar biasa lihainya, Dan tepat seperti apa yang pernah dijanjikan oleh Hek-hiat Mo-li kepada Sabutai, kepandaian Kim Hong Liu-nio kini sedemikian hebatnya sehingga sudah melampaui tingkat kepandaian Raja Sabutai sendiri!
Banyak ilmu-ilmu baru ciptaan nenek yang sudah tua renta itu dikuasai oleh Kim Hong Liu-nio, ilmu-ilmu yang sengaja diciptakan oleh Hek-hiat Mo-li bagi muridnya ini untuk menghadapi musuh-musuh besarnya, ilmu yang bahkan Hek-hiat Mo-li sendiri tidak mampu menguasainya karena tidak sempat lagi melatih diri.
Pada hari itu, Kim Hong Liu-nio diutus kembali oleh Raja Sabutai untuk pergi ke Lembah Naga dan dalam kesempatan ini, Khamila diam-diam memanggil Kim Hong Liu-nio menghadap.
Setelah wanita yang masih bersikap sebagai dayang di depan permaisuri itu menghadap.
Permaisuri Khamila lalu memegang tangannya dan berkata.
"Kim Hong, sebagai murid Hek-hiat MO-li, kurasa engkau telah tahu akan rahasia yang meliputi diri anakku, Oguthai. Benarkah dugaanku?"
Permaisuri yang masih kelihatan cantik sekali itu memandang wajah Kim Hong Liu-nio dengan penuh selidik.
Wajah ini masih cantik dan muda, bahkan kelihatan lebih muda daripada wajah sang permaisuri, sungguhpun usia Kim Hong Liu-nio pada waktu itu sudah tiga puluh lima tahun sedangkan usia sang permaisuri baru tiga puluh tahun lebih sedikit.
Hal ini adalah karena Kim Hong Liu-nio menguasai suatu ilmu mujijat yang diajarkan oleh gurunya, ilmu yang akan membuat dia tidak akan pernah nampak tua!
Kim Hong Liu-nio yang dulu sebelum menjadi murid Hek-hiat Mo-li bersifat riang itu kini menjadi seorang yang pendiam sekali, pendiam dan dingin akan tetapi terhadap permaisuri dia masih tetap menghormat.
Dia berlutut dan menjawab.
"Hamba ada mendengar sedikit tentang hubungan sang pangeran dengan Kaisar Kerajaan Beng di selatan, akan tetapi mana hamba berani untuk mengetahui lebih banyak?"
Khamila tertunduk sejenak, lalu berkata lagi.
"Kim Hong, engkau adalah seorang yang amat setia, bahkan engkau masih terhitung saudara seperguruan dari Sri Baginda sendiri dan juga engkaulah yang membantu gurumu mendidik anakku, oleh karena itu tidak perlu lagi aku merahasiakannya. Ketahuilah bahwa Han Houw adalah keturunan Kaisar Ceng Tung dari Kerajaan Beng."
Akan tetapi Kim Hong Liu-nio tidak kelihatan kaget mendengar ini, karena memang dia telah dapat menduganya.
Karena menduga itulah maka dia selalu menyebut "sute"
Kepada Han houw, bahkan selalu mengajarkan Han Houw untuk berbahasa Han sehingga anak itu selain pandai limu silat, juga pandai pula berbahasa Han dan pandai membaca dan menulis pula!
"Hamba telah mendengarkan dan terima kasih atas kepercayaan paduka.
Apakah maksud paduka dengan membuka rahasia ini?
Perintah apakah yang hendak paduka berikan kepada hamba?"
"Aku mendengar bahwa engkau diutus ke selatan, ke Lembah Naga. Benarkah?"
"Memang benar demikian, apakah ada sesuatu yang harus hamba lakukan?"
"Engkau diperintahkan apa oleh sri beginda?"
"Hamba disuruh menyampaikan kepada penghuni Lembah Naga bahwa dalam waktu setengah tahun mendatang ini, Lembah Naga harus dikosongkan karena Istana Lembah Naga akan dipakai oleh Sri Baginda."
"Ehh? Untuk apa istana tua yang sudah bobrok itu?"
"Setengah tahun lagi usia sang pangeran sudah genap lima belas tahun. Sri Baginda berniat mengundang kepada seluruh tokoh di dunia kang-ouw dan di dalam undargan itu nanti setelah mereka berkumpul, Sri Baginda akan memilih orang yang paling pandai di antara mereka, yaitu yang dapat mengalahkan hamba, untuk selanjutnya mendidik ilmu silat kepada sang pangeran."
"Ihhh... Apa perlunya itu? Kepandaianmu dan kepandaiannya sendiri sudah hebat, dan masih ada Hek-hiat Mo-li yang mendidik puteraku. Mau dijadikan apa puteraku maka harus menerima pendidikan orang yang paling pandai di antara jagoan-jagoan itu?"
"Sri Baginda ingin melihat sang pangeran menjadi jagoan nomor satu di dunia, dan hamba yakin melihat bakatnya, bahwa hal itu pasti akan terlaksana,"
Kata Kim Hong Liu-nio yang ikut merasa gembira dan bangga karena sesungguhnya dialah yang selama ini mendidik Han Houw.
(Lanjut ke
Jilid 09) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09
"Aahhh, aku tidak mau tahu segala urusan tetek bengek itu! Dengar, Kim Hong, aku mempunyai urusan vang lebih penting lagi dan aku minta engkau suka melaksanakan perintahku ini. Aku telah memberi tahu kepada Sri Baginda dan beliau hanya setuju saja. Sanggupkah kau melaksanakan perintahku?"
"Paduka tentu telah memaklumi bahwa hamba akan melaksanakan segala perintah paduka dengan taruhan nyawa hamba."
"Bagus, aku percaya kepadamu, Kim Hong. Begini, setelah engkau mengunjungi Istana Lembah Naga, bersama Han Houw yang harus kau ajak serta, kau antarkanlah anakku itu melintasi Tembok Besar dan mengunjungi Kota Raja Kerajaan Beng."
"Ahhh...!"
Kim Hong Liu-nio benar-benar terkejut bukan main karena sama sekali tidak disangkanya bahwa tugas yang akan diserahkan kepadanya demikian hebatnya.
"Hamba... hamba... mendengarkan..."
Katanya.
"Aku mendengar bahwa waktu ini, Kaisar sedang menderita sakit. Hatiku merasa tidak enak sekali dan aku selamanya tentu akan menderita tekanan batin kalau puteraku itu belum sempat melihat wajah ayah kandungnya. Maka ajaklah dia menghadap dan pertemukan dia dengan Kaisar sebelum... terjadi apa-apa dengan Kaisar, Kim Hong."
"Hamba siap melaksanakan tugas! Akan tetapi... hamba kira tidak akan mudah untuk dapat menghadap Kaisar begitu saja, dan untuk menggunakan kekerasan... ah, rasanya hal itu tidak mungkin. Tenaga hamba seorang mana mampu melakukan hal seperti itu?"
Permaisuri Khamila tersenyum lembut, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil.
"Kau bawalah ini, di dalamnya terdapat suratku dan sebuah benda yang pasti akan dikenal di sana dan akan membuka semua pintu istana untuk puteraku."
Kim Hong Liu-nio menerima sambil berlutut, tidak banyak bertanya.
Hati wanita ini merasa lega ketika Sri Baginda sendiri datang dan dengan wajah yang keras mengatakan.
"Kim Hong, aku serahkan keselamatan Oguthai kepadamu. Engkau adalah sumoiku sendiri, bahkan Oguthai adalah sutemu juga. Maka, engkaulah yang bertanggung jawab atas keselamatan puteraku!"
"Akan hamba lindungi dengan pertaruhan nyawa hamba. Nyawa hamba yang menjadi tanggungannya, Sri Baginda!"
Jawab Kim Hong Liu-nio dengan tegas dan penuh dengan kebanggaan.
Demikianlah, pada hari itu Kim Hong Liu-nio berangkat bersama Ceng Han Houw menunggang kereta yang mewah menuju ke selatan dikawal oleh tujuh belas orang pengawal pilihan, yang bertindak sebagai anak buah dan juga melayani segala keperluan sang pangeran.
Dan seperti diceritakan di bagian depan, perjalanan itu dihadang oleh orang-orang yang merasa sakit hati terhadap Kim Hong Liu-nio yang sudah banyak membunuhi orang-orang she Yap, Tio, dan Cia.
Kim Hong Liu-nio mengajak sutenya untuk meninggalkan kereta karena dia ingin "melatih"
Sutenya itu menghadapi orang-orang yang dianggapnya tidak terlalu berbahaya itu dan seperti telah diceritakan di bagian depan, lima orang itu dengan mudah dapat mereka tewaskan dan setelah itu mereka menerima undangan dari Jeng-hwa-pang yang mengirim surat beracun yang berbahaya itu.
Seperti tidak pernah terjadi sesuatu kini Kim Hong Liu-nio bersama Han Houw telah menunggang kereta lagi, menuju ke Lembah Naga.
Karena rombongan ini menggunakan kereta, maka mereka harus mengambil jalan raya yang lebar, jalan memutar, tidak seperti Siong Bu yang tadi mengintai dari tempat persembunyiannya dan kini anak ini dapat mendahului pulang ke Istana Lembah Naga melalui jalan yang jauh lebih dekat namun tidak mungkin ditempuh oleh kereta itu.
"Sin Liong...!"
Hok Been memanggil-manggil dengan suara marah.
Dia sudah membawa sebatang cambuk rotan yang sudah dipersiapkannya untuk menghajar anak itu.
Hatinya menjadi makin marah ketika dia tidak melihat anak itu dan tidak mendengar jawabannya, maka dia lalu mencari ke belakang kandang kuda.
"Sin Liong, di mana kau? Hayo cepat ke sini...!"
Kembali Hok Boan berteriak.
Tiba-tiba terdengar jawaban Sin Liong dari atas sebatang pohon di tepi hutan dekat kandang itu.
"Gi-hu memanggil saya? Saya berada di sini..."
Hok Boan lari ke bawah pohon itu, bertolak pinggang dan memandang ke atas.
Dia melihat Sin Liong duduk di cabang pohon itu.
"Hayo lekas turun kau, anak jahat dan kurang ajar!"
Sin Liong terkejut dan cepat dia merayap turun dari atas pohon dan berdiri di depan ayah angkatnya itu dengan kepala ditundukkan.
Dia tahu bahwa ayah angkat ini kelihatan marah tentu berhubung dengan peristiwa perkelahiannya dengan Siong Bu pagi tadi.
"Engkau berani melawan Kwan-kongcu, ya?"
Bentak Hok Boan.
"Bagaimanakah pesan dan laranganku dahulu itu? Engkau berani melanggarnya, ya. Hayo katakan, siapa yang kauandalkan? Hayo siapa??"
Kemarahan Hok Boan sebenarnya tertuju kepada isterinya yang menurut pengaduan Siong Bu telah menampar anak itu, akan tetapi karena dia tidak mau ribut-ribut langsung dengan isterinya, maka kemarahan itu kini ditimpakan kepada Sin Liong dan ingin dia mendengar anak ini mengandalkan ibu angkatnya!
Akan tetapi Sin Liong tidak menjawab.
Dia tahu ayah angkatnya ini amat memanjakan dua orang keponakannya itu, maka tentu akan percuma saja kalau dia membela diri dengan kata-kata.
Dia adalah seorang anak keras hati, maka kini dia berdiri menunduk sambil menggigit bibir.
"Kau tidak lekas berlutut minta ampun?"
Kembali Hok Boan menghardik, makin marah melihat anak itu berdiri dengan bandelnya.
Akan tetapi Sin Liong hanya melirik ke arah wajah ayah angkatnya itu sebentar, lalu menunduk lagi.
Bagaimana dia mau minta ampun kalau dia tidak bersalah apa-apa?
Dalam urusan antara dia dan Siong Bu, kalau mau bicara tentang minta ampun, sepatutnya Siong Bu yang harus minta ampun, karena anak itulah yang mulai lebih dulu menyerangnya.
Maka dia mengeraskan hatinya dan tidak menjawab, juga tidak berlutut, apalagi minta ampun.
"Hayo kau minta ampun kepada Kwan-kongcu!"
Hok Boan membentak dan dia mencengkeram pundak anak itu dan ditariknya kembali ke dalam rumah.
Hok Boan mendorong-dorong sehingga tubuh Sin Liong terhuyung, bahkan ketika dia mendorong melangkahi anak tangga, dia terjatuh.
Akan tetapi Hok Boan menyeretnya bangun dan menariknya memasuki ruangan samping di mana Lan Lan, Lin Lin, dan Beng Sin memandang dengan mata terbelalak!
Memang Hok Boan sengaja mengajak Sin Liong kembali ke rumah, untuk dihajar di rumah, bukan saja untuk minta ampun kepada Siong Bu, akan tetapi juga agar dilihat semua isi rumah sehingga Sin Liong akan merasa malu dan bertobat benar-benar.
"Di mana Siong Bu?"
Tanya Hok Boan kepada tiga orang anak itu dengan suara membentak.
"Suruh dia ke sini!"
"Dia tidak ada ayah,"
Jawab Lan Lan dan Lin Lin hampir berbareng.
"Dia tadi lari ke dalam hutan sambil menangis, paman,"
Kata Beng Sin dengan mata terbelalak ketakutan.
Mendengar ini, makin kasihanlah rasa hati Bok Hoan kepada Siong Bu, dan makin marahlah dia kepada Sin Liong.
"Anak liar, hayo kau berlutut dan minta ampun!"
Bentaknya dan cambuk rotan di tangan kanannya mulai dikerjakannya.
Terdengar bunyi cambuk menyambar lalu menimpa punggung Sin Liong, nyaring sekali suaranya, bertubi-tubi.
"Hayo berlutut!"
Bentak Hok Boan.
Akan tetapi Sin Liong hanya berdiri menghadap jendela, kedua tangannya menekan tembok, mukanya pucat, bibirnya digigitnya sendiri untuk mencegah dia menangis.
"Tar-tar-tar-tar!"
Kembali cambuk itu menghantam punggung dan pinggulnya.
Sin Liong memejamkan mata dan menggigiti bibir makin keras karena rasa nyeri menggigit tubuhnya bagian belakang.
Namun, dia sama sekali tidak menangis, tidak mengeluh, apalagi berlutut minta ampun!
"Tar-tar-tar-tar-tarrr...!"
Hok Boan menjadi makin marah menyaksikan kebandelan ini, merasa seolah-olah dia ditantang!
Tiba-tiba Lan Lan dan Lin Lin menjatuhkan diri berlutut menghadap ayah mereka.
"Ayah... jangan pukul dia...!"
Lan Lan berkata dengan suara terisak.
"Ayah, dia... dia tidak bersalah... ampunkan dia, ayah!"
Lin Lin juga berkata dan anak perempuan ini sudah menangis.
Melihat itu, Beng Sin juga berlutut.
Anak yang gemuk ini merasa kasihan sekali kepada Sin Liong, apalagi melihat betapa permintaan kedua anak perempuan itu agaknya belum menggerakkan pamannya yang masih terus mencambuki punggung Sin Liong.
Dia melihat warna merah dari balik baju Sin Liong, tanda bahwa kulit punggung itu tentu sudah pecah-pecah berdarah!
"Paman...
harap paman sudi mengampuninya...
sesungguhnya Sin Liong tidak bersalah...
paman ampunkanlah dia..."
Anak gendut itupun minta ampun sambil berlutut.
Hok Boan terengah-engah, bukan karena lelah, melainkan karena dibakar oleh kemarahannya sendiri.
Dia tadi tidak mendengar suara kedua orang anak perempuan itu, akan tetapi ketika Beng Sin juga mintakan ampun, dia agak merasa heran dan ragu, menghentikan cambukannya dan menoleh.
Terbelalak dia memandang ke arah tiga orang anak yang berlutut itu.
Mereka mintakan ampun untuk Sin Liong?
Dia tertegung terheran dan agak bingung.
"Pamaaaann...! Celaka..., lekas... wah, celaka...!"
Hok Boan terkejut, juga tiga orang anak yang sedang berlutut terkejut bukan main lalu mereka cepat menoleh.
Siong Bu memasuki ruangan itu sambil terengah-engah, wajahnya pucat sekali, matanya terbelalak ketakutan.
Hanya Sin Liong yang masih bersikap tenang, bahkan masih berdiri seperti tadi, menghadap jendela, tidak memperdulikan segala yang terjadi, juga tidak memperdulikan apakah dia akan dicambuki lagi ataukah tidak.
"Siong Bu! Ada apa...?"
Hok Bow bertanya dengan kaget sekali.
Juga tiga orang anak itu sudah bangkit berdiri dan menghampiri Siong Bu dengan kaget dan heran.
"Paman, celaka... mereka datang... dan dia... siluman wanita itu... dia mau membunuh orang... mereka sudah membunuh banyak orang di hutan sana..."
Siong Bu berkata dengan gagap dan dia kelihatan amat ketakutan.
Hok Boan mengerutkan alisnya.
Dia tidak senang melihat Siong Bu yang disayangnya itu kelihatan begini ketakutan.
Tidak patutlah kalau keponakannya, atau lebih tepat lagi muridnya atau anak kandungnya sendiri, puteranya sendiri, bersikap begini penakut!
"Bicaralah yang jelas!"
Bentaknya dan kini dia sudah melupakan Sin Liong, bahkan dia sudah membuang cambuk rotan itu ke atas lantai.
"Apakah yang telah terjadi?"
Beberapa kali Siong Bu menelan ludah untuk menenteramkan hatinya yang terguncang.
Memang anak ini tadi menyaksikan sepak terjang wanita cantik dan anak laki-laki yang membunuhi orang seenaknya itu.
Setelah agak tenang hatinya karena teringat bahwa dia berada dalam perlindungan ayahnya, Siong Bu lalu berkata.
"Di dalam hutan saya melihat seorang wanita yang seperti siluman, sakti dan kejam sekali, bersama seorang anak laki-laki yang seperti bangsawan. Mereka membunuhi orang-orang dan akhirnya mereka menunggang kereta yang amat indah, dikawal oleh belasan orang perajurit, katanya hendak ke sini! Dan wanita itu menyeramkan sekali, paman... dia cantik seperti puteri, akan tetapi kejam seperti iblis..."
Diam-diam Hok Boan terkejut juga, alisnya berkerut.
Teringatlah dia akan wanita utusan Raja Sabutai sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, yang muncul ketika dia merayakan pernikahannya dengan isterinya sekarang.
Maka tiba-tiba dia bertanya.
"Apakah wanita itu membawa salib kayu yang ada tulisannya tiga macam she...?"
"Benar, paman...! She Yap, Tio, dan Cia...! Itulah celakanya, dia bilang mau membunuh semua orang dengan tiga macam she itu dan dia... dia bilang mau datang ke Lembah Naga ini...!"
Kini yakinlah Hok Boan bahwa memang benar wanita lihai utusan Raja Sabutai itulah yang dimaksudkan oleh Siong Bu.
Akan tetapi tentu saja dia tidak merasa khawatir, dan dia berkata sambil menarik napas panjang, menekan kengeriannya membayangkan wanita itu agar terlihat oleh anak-anak itu bahwa dia tidak takut.
"Mengapa engkau ketakutan seperti itu? Wanita itu bukanlah musuh kita, dia mencari orang-orang she Yap, Tio, dan Cia. Apakah yang mesti dikhawatirkan? Di sini tidak ada seorangpun yang mempunyai she Yap, Tio, atau Cia. Jangan kau mudah sekali ketakutan, Siong Bu..."
"Tapi, paman, bukankah dia itu she Cia?"
Hok Boan terkejut ketika melihat Siong Bu menudingkan telunjuknya kepada Sin Liong yang masih berdiri di depan jendela.
"Apa katamu...?"
Bentaknya.
"Dia... dia adalah she Cia... maka celakalah kalau wanita itu datang..."
Pada saat itu, terdengarlah suara halus dan nyaring.
"Siapakah she Cia...?"
Hok Boan cepat menoleh dan bulu tengkuknya meremang ketika dia melihat wanita itu yang segera dikenalnya.
Biarpun sudah lewat sebelas tahun, akan tetapi seolah-olah baru kemarin saja dia melihat wanita ini datang ke dalam ruangan pesta pernikahannya dan membunuhi orang.
Tidak ada perubahan sama sekali pada wanita itu, wajahnya masih kelihatan cantik jelita seperti dulu, cantik dan agung, seperti seorang puteri raja, sikapnya dingin, angkuh, dan tahi lalat hitam kecil di dagunya membuatnya nampak makin manis.
Masih kelihatan muda belia seperti dulu, padahal dibandingkan dengan kemunculannya yang pertama, tentu usianya kini sudah bertambah sebelas tahun!
Cepat!
Hok Boan melangkah maju dan menjura dengan hormat sekali, lalu tersenyum dan berkata lembut.
"Aih, kiranya kouwnio (nona) yang datang mengunjungi kami. Selamat datang, kouwnio, dan mudah-mudahan selama ini kouwnio dalam keadaan baik-baik saja. Silakan masuk dan mari duduk di dalam, kouwnio!"
Akan tetapi, wanita itu seolah-olah tidak mendengar penyambutan yang amat menghormat itu.
Sepasang matanya yang jeli dan tajam itu menyambar ke sekeliling, ke arah wajah lima orang anak itu, sejenak menatap wajah Sin Liong karena anak ini juga sudah membalikkan tubuh menghadap dan memandang kepadanya.
"Siapakah yang she Cia?"
Kembali terdengar pertanyaannya, pertanyaan yang singkat, lirih, terdengar satu-satu dan membawa suasana dingin dan tegang sekali karena di dalam suara ini terkandung ancaman maut!
Hok Boan merasa mulutnya kering dan diam-diam dia mengerling ke arah Sin Liong.
Baru tadi dia mendengar dari Siong Bu bahwa Sin Liong she Cia, hal ini sungguh amat mengherankan hatinya dan tidak dimengertinya.
Akan tetapi tentu saja dia tidak bisa menunjukkan Sin Liong kepada wanita itu bahwa anak itu she Cia karena sekali wanita itu tahu, tanpa banyak cakap lagi tentu Sin Liong akan dibunuhnya.
Dan Hok Boan maklum bahwa dia tidak boleh melakukan hal itu.
Dia tahu betapa isterinya amat sayang kepada Sin Liong.
Biarpun dia agak membenci Sin Liong karena dianggapnya terlalu disayang Si Kwi dan dianggapnya nakal dan bandel, akan tetapi dia tidak ingin melihat anak angkat isterinya itu dibunuh orang begitu saja.
Maka dia cepat mengalihkan pandang matanya dari Sin Liong dan memandang kembali kepada wanita itu masih menanti dengan alis berkerut.
"Tidak... tidak ada yang she Cia..."
Kata Hok Boan sambil menggelengkan kepalanya.
"Hok Boan, berani engkau membohong kepadaku?"
Tiba-tiba wanita itu suaranya dingin, amat menyeramkan.
"Tidak..., mana saya berani membohong, kouwnio?"
"Aku sendiri mendengar kalian tadi bicara tentang seorang she Cia di sini. Hayo mengaku, siapa she Cia di antara kalian?"
Sejak tadi Sin Liong diam saja dan hanya memandang dengan matanya yang terbelalak lebar.
Dia tidak takut kepada wanita ini, dan dia tahu bahwa dialah she Cia.
Kini dia merasa heran mengapa ayah angkatnya yang membencinya itu tidak mau menyerahkan dia kepada wanita iblis itu.
Bukankah wanita ini yang tadi diceritakan oleh Siong Bu dan yang hendak membunuh semua orang she Yap, Tio dan Cia?
Kenapa ayah angkatnya tidak mau mengaku terus terang saja agar dia dibunuh oleh wanita itu?
Dan dia melirik ke arah Siong Bu.
Juga anak ini sama sekali tidak membuka mulut!
"Hayo katakan, kalau tidak, akan kusiksa kalian seorang demi seorang!"
Wanita itu kembali melayangkan pandang matanya, dari Hok Boan yang pucat mukanya sampai kepada semua anak yang tertunduk dan ketakutan.
Hanya Sin Liong seorang yang berdiri dengan tegak, memandangnya dengan penuh keberanian.
Kim Hong Liu-nio merasa heran dan mengerutkan alisnya, hatinya tidak senang dan tidak puas melihat seorang anak laki-laki yang tidak kelihatan takut kepadanya!
Padahal anak inilah yang tadi dirangket oleh Hok Boan, dicambuki dan sedikitpun anak itu tadi tidak mengeluh, padahal dari baju anak itu dapat dilihat bahwa punggungnya pecah-pecah kulitnya dan berdarah!
Lalu dia menoleh kepada Siong Bu yang tertunduk dan matanya melirik ke arah pamannya.
Melihat wajah anak ini tampan dan mirip dengan wajah Hok Boan, Kim Hong Liu-nio mendapatkah akal.
"Hayo katakan, kalau tidak, anak ini akan kusiksa lebih dulu!"
Katanya sambil menghampiri Siong Bu.
Anak laki-laki yang tadinya memang sudah merasa ngeri dan ketakutan menyaksikan sepak terjang wanita iblis ini, kini menggigil kedua kakinya den mukanya menjadi pucat sekali.
"Bukankah engkau tadi yang bilang tentang orang she Cia? Hayo katakan, di mana dia, kalau tidak, telingamu ini akan kucabut putus!"
Berkata demikian, Kim Hong Liu-nio mencubit telinga kiri Siong Bu.
Anak itu makin ketakutan dan menggeleng-geleng kepala tak mampu mengeluarkan suara.
Diam-diam Sin Liong merasa makin heran dan juga terharu.
Biasanya, Siong Bu begitu kasar dan jahat terhadap dirinya, dianggap selalu memusuhinya, akan tetapi mengapa sekarang, biarpun diancam secara hebat, Siong Bu tidak mau mencelakainya dengan menunjukkan she-nya kepada wanita iblis itu?
Dia tidak tahu bahwa dalam batin Siong Bu juga terdapat benih kegagahan yang tidak mau berbuat khianat!
"Harap jangan ganggu dia...!"
Tiba-tiba Hok Boan berseru dan melangkah maju menghampiri wanita itu.
Kim Hong Liu-nio melepaskan Siong Bu, lalu membalikkan tubuhnya dengan perlahan, tersenyum dan mengangguk-angguk kepada Hok Boan.
"Hemmm, jadi engkau berani menentangku, ya? Kau kira sukar bagiku untuk membasmi kalian sekeluarga kalau aku menghendaki? Kalau aku membunuh anak ini, kau mau apa?"
"Kouwnio, harap jangan mengganggu kami sekeluarga. Percayalah, kami tidak mempunyai hubungan dengan musuh-musuhmu..."
"Kalau aku tetap hendak mengganggu keluargamu, kau mau apa, Kui Hok Boan?"
Hok Boan adalah orang yang biasanya amat mengandalkan kepandaian sendiri, bahkan biasanya dia memandang rendah orang lain karena percaya bahwa ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan jarang menemui tanding.
Biarpun dia tahu bahwa wanita ini amat lihai dan mungkin sekali dia tidak akan mampu menandinginya, akan tetapi karena dia didesak dan diejek terus, ditantang secara terang-terangan seperti itu, mukanya yang pucat tadi kini perlahan-lahan berubah memerah.
"Apa yang akan dilakukan orang kalau keluarganya diganggu? Tentu saja dia akan melawan sedapatnya!"
Katanya dengan sikap gagah, dan dadanya agak diangkat sedikit.
"Bagus! Sudah lama aku mendengar bahwa ilmu silat yang kau warisi dari Go-bi-pai itu amat lihai. Nah, coba kau hadapi seranganku, apakah engkau dapat bertahan sampai sepuluh jurus?"
"Kouwnio, kami menyambut kedatangan kouwnio sebagai tamu yang kami hormati, dan saya sama sekali tidak hendak bermusuhan dengan kouwnio..."
"Cukup! Kau lekas katakan siapa orang she Cia itu atau kau harus menghadapi aku sampai sepuluh jurus!"
Melihat sikap wanita itu yang mendesak pamannya, Beng Sin diam-diam lalu merangkak ke pintu, hendak lari keluar dan melapor kepada bibinya.
Dia tahu bahwa bibinya juga lihai, kabarnya tidak kalah lihai daripada pamannya, maka kalau bibinya itu membantu pamannya dan mereka berdua maju menghadapi wanita iblis ini, agaknya tidak akan kalah.
"Ke mana kau?"
Tiba-tiba wanita itu membentak, tangannya bergerak ke arah pintu dan...
aneh sekali, tanpa disentuh, tubuh Beng Sin yang gemuk itu terjengkang seperti ditarik dan bergulingan masuk kembali ke dalam ruangan itu.
Melihat ini, terdengar Lan Lan dan Lin Lin menjerit.
Akan tetapi ternyata Beng Sin hanya kaget saja dan sedikit sakit karena terbanting, selain itu dia tidak terluka apapun.
"Kouwnio, engkau terlalu mendesak orang!"
Hok Boan berseru marah melihat keponakannya, yang sebetulnya juga puteranya, yang gemuk itu dirobohkan, maka dia lalu menerjang dengan kepalan tangannya, menyerang wanita itu.
"Hemm, ini adalah Hek-wan-hian-ko... (Lutung Hitam Memberi Buah) dari Go-bi-pai, bukan? Tidak terlalu jelek... tidak terlalu jelek..."
Kim Hong Liu-nio berkata sambil melangkah mundur dan menangkis serangan itu.
Hok Boan terkejut karena baru saja bergerak ternyata lawan telah dapat mengenal jurus ilmu silatnya, akan tetapi karena memang dia dapat menduga wanita ini lihai sekali, dia tidak perduli dan menyerang terus dengan jurus selanjutnya.
Dan karena tahu lawan lihai sekali, diapun segera mengeluarkan jurus-jurus pukulan yang paling ampuh.
"Ehh? Berani kau menggunakan Hok-thian-hok-te (Membalikkan Langit dan Bumi) untuk membunuh aku? Hemm, kau harus dihajar!"
Memang Hok Boan telah menggunakan ilmu silat yang ampuh dari Go-bi-pai itu untuk menghadapi lawan tangguh ini.
Akan tetapi, kembali lawannya telah mengenal ilmunya dan tiba-tiba, ketika kedua tangannya memukul ke arah kepala dan ke arah pusar dengan berbareng secara hebat sekali, dia merasa kedua tangannya itu bertemu dengan hawa pukulan yang merupakan benteng yang menghentikan gerakannya, dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, wanita itu telah menampar punggungnya dari samping.
"Plakk!"
"Aughh...!"
Hok Boan terguling roboh dan dari mulutnya dia muntahkan darah segar! "Berani kau melukai suamiku?"
Teriakan ini keluar dari mulut Si Kwi yang baru saja datang.
Si Kwi tadinya berada di dalam kamarnya, karena dia masih mendongkol sehabis cekcok sedikit dengan suaminya.
Dia tahu bahwa Sin Liong tentu akan dihajar, akan tetapi diapun tidak mau sampai bentrok dengan suaminya hanya demi anak itu, Dan memang dia juga tahu bahwa Sin Liong keras kepala dan bandel, mungkin perlu diberi sedikit hajaran pula.
Maka dia diam saja di dalam kamarnya.
Akan tetapi ketika tiba-tiba dia mendengar jerit Lan Lan dan Lin Lin, dia terkejut dan cepat melompat keluar sambil membawa pedangnya.
Jerit dua orang anak perempuan yang terdengar oleh ibu mereka itu adalah ketika mereka melihat Beng Sin dirobohkan oleh wanita tadi.
Ketika Si Kwi memasuki ruangan itu dan melihat Kim Hong Liu-nio, dia terkejut dan segera mengenal wanita itu karena wanita itu memang sama sekali tidak berubah semenjak dilihatnya untuk pertama kali sebelas tahun yang lalu.
Akan tetapi ketika dia melihat wanita itu merobohkan Hok Boan, Si Kwi menjadi marah sekali.
Tidak perduli wanita itu utusan Raja Sabutai, kalau kini mengganggu keluarganya, harus dilawannya.
Maka dia sudah membentak marah dan menerjang wanita itu dengan pedangnya!
Ilmu pedang dari Si Kwi amat hebat.
Dahulu dia adalah seorang ahli menggunakan siang-kiam, yaitu sepasang pedang.
Akan tetapi, sejak tangan kirinya buntung, dia hanya mempergunakan pedang tunggal, akan tetapi dengan menguasai Ilmu Im-yang Lian-hoan-kun maka dia dapat memainkan pedang tunggalnya secara hebat.
Apalagi karena Si Kwi terkenal dengan gin-kangnya sehingga dahulu dia pernah mendapat julukan Ang-yan-cu (Si Walet Merah) karena gerakannya yang amat cepat seperti walet terbang dan kegemarannya mengenakan pakaian merah.
Maka kini serangannya terhadap Kim Hong Liu-nio juga hebat sekali.
Namun, wanita cantik itu menghadapi serangan ini dengan sikap tenang bahkan mulutnya berkata mengejek.
"Hemm, ilmu pedang apa ini yang kau pergunakan?"
Dengan amat mudahnya, Kim Hong Liu-nio mengelak.
Akan tetapi ilmu pedang dan gerakan Si Kwi luar biasa cepatnya, tahu-tahu sinar pedangnya sudah menyambar lagi ke arah leher lawan dengan kecepatan tinggi.
"Bagus! Kiranya diambil dari Im-yang Lian-hoan-kun, ya?"
Wanita cantik itu tidak mengelak dari sambaran pedang yang mengancam lehernya, melainkan mengangkat sedikit tangan kirinya.
"Cringgg...!"
Tubuh Si Kwi tergetar dan terhuyung mundur.
Pedangnya hampir saja terlepas dari pegangannya ketika tadi tertangkis oleh lengan wanita itu, lengan kiri yang memakai gelang emas kecil-kecil belasan buah banyaknya.
Gelang-gelang kecil inilah yang tadi menangkis pedang dan membuat Si Kwi terhuyung.
Bukan main!
Maklum bahwa dia bukan tandingan wanita itu, melihat bahwa suaminya sudah tidak lagi mengalami luka parah, hatinya lega dan diapun menghentikan serangannya.
"Kenapa kau menyerang suamiku?"
Demikian tanyanya sebagai pembelaan diri telah berani menyerang wanita itu.
Dia teringat bahwa wanita ini adalah utusan Raja Sabutai, maka kalau saja tidak melihat wanita itu tadi merobohkan suaminya, dia akan berpikir panjang lebih dulu sebelum berani menyerangnya.
"Kouwnio, harap kouwnio suka memaafkan kami dan harap jangan mengganggu kami sekeluarga yang tidak mempunyai kesalahan terhadap kouwnio,"
Kini Hok Boan berkata karena dia maklum bahwa dia dan isterinya sama sekali tidak akan mampu menghadapi wanita ini.
Pula, memusuhi utusan Raja Sabutai sama saja dengan membunuh diri karena mereka berada di daerah kekuasaan raja liar itu.
Maka lebih baik mengalah dan melupakan penghinaan tadi, bersikap merendah.
Kim Hong Liu-nio kembali memandangi mereka itu satu demi satu dengan sinar matanya yang tajam dan dingin mengerikan.
Lalu katanya, seperti tadi, lirih dan satu-satu namun penuh desakan dan ancaman.
"Siapakah orang she Cia?"
Si Kwi terkejut mendengar pertanyaan ini.
"Orang she... Cia...? Apa maksudmu dengan pertanyaan itu, kouwnio?"
Tanyanya dengan wajah berubah pucat.
Kim Hong Liu-nio memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik, sinar mata yang seolah-olah hendak menjenguk ke dalam isi hati wanita itu.
"Nyonya buntung, siapakah orang she Cia di sini?"
Tanyanya, suaranya penuh ancaman.
Dalam keadaan biasa, tentu Si Kwi akan marah disebut nyonya buntung.
Akan tetapi pada saat itu, disebutnya she Cia membuat jantungnya berdebar tegang sehingga dia tidak memperdulikan sebutan itu.
"Aku tidak tahu, di sini tidak ada yang she Cia!"
Jawabnya tegas.
Sejenak Kim Hong Liu-nio beradu pandang dengan Si Kwi, kemudian wanita cantik itu menoleh kepada Kui Hok Boan, dengan suara seperti tadi, suara yang menyeramkan itu, dia mengajukan pertanyaannya kepada sasterawan itu.
"Siapakah orang she Cia di sini?"
Hok Boan cepat menggeleng kepalanya.
"Tidak ada... tidak ada yang she Cia!"
Jawabnya dengan suara tegas pula.
Juga kepada laki-laki ini, Kim Hong Liu-nio memandang dengan tajam.
Kemudian dia menoleh kepada Lan Lan yang memandangnya dengan mata terbelalak.
"Adik manis, siapakah orang she Cia di sini?"
Lan Lan menjawab sambil menggeleng kepala, suaranya tidak jelas.
"Tidak tahu... tidak ada she Cia..."
Kim Hong Liu-nio berpaling kepada Lin Lin, yang menundukkan muka.
"Dan kau, nona cilik, tahukah kau siapa orang she Cia di sini?"
Lin Lin mengangkat muka memandang wanita itu, lalu menunduk kembali dan menjawab.
"Tidak tahu, tidak ada she Cia."
Kim Hong Liu-nio terus memutar tubuhnya.
Di samping Lin Lin berdiri Sin Liong akan tetapi dia tidak bertanya kepada anak itu.
Percuma saja, pikirnya, dan anak ini agaknya tidak disayang oleh suami isteri itu maka tidak ada harganya bagi dia.
Dipandangnya Beng Sin dan bertanyalah dia kembali.
"Kau, bocah gemuk. Siapa orang she Cia di sini?"
"Tidak tahu! Tidak tahu! Tidak ada orang she Cia!"
Beng Sin menjawab gagap dan tegas, lalu menundukkan mukanya.
Kini tiba giliran Siong Bu, Sin Liong yang sejak tadi terus mengikuti gerak-gerik wanita itu, kini ikut pula memandang kepada Siong Bu dan jantungnya berdebar penuh dugaan ketika mendengar wanita itu bertanya.
"Sekarang engkau, yang tadi kudengar suaramu, hayo katakan siapakah orang she Cia di sini?"
Siong Bu mengangkat muka memandang, lalu menoleh kepada yang lain, akan tetapi dia melewati muka Sin Liong, lalu menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu. Di sini tidak ada orang she Cia!"
Setelah berkata demikian, cepat dia menundukkan muka pula agar jangan sampai menoleh kepada Sin Liong.
Kembali Sin Liong merasa terharu.
Baru sekarang dia melihat kenyataan bahwa betapapun juga, keluarga ini tidak rela melihat dia terancam bahaya maut dan hal ini mendatangkan perasaan sedemikian gembira dan lega di dalam dadanya sehingga dia agak tersenyum dan wajahnya berseri-seri, rasa nyeri di punggungnya lenyap tak terasakan lagi!
Keadaan menjadi makin menegangkan dan Hok Boan bersama isterinya sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan kalau-kalau wanita itu akan memperlihatkan kemarahan dan kekecewaannya karena semua keluarga itu menjawab tidak tahu.
Akan tetapi, wanita cantik itu tersenyum!
Tersenyum manis sekali, senyum yang amat mengherankan hati Hok Boan akan tetapi membuat bulu tengkuk Si Kwi meremang karena dia yang sejak dahulu sudah biasa bergaul dengan tokoh-tokoh golongan sesat yang berwatak aneh-aneh, sudah mengerti senyum yang mengerikan ini.
Manis memang, mungkin memikat bagi hati pria, akan tetapi di balik senyum itu terkandung ancaman maut mengerikan.
Senyum itu melebar sehingga nampak sekilas pandang gigi putih kemilau di balik belahan bibir merah basah itu, lalu bibir itu bergerak-gerak dan berkatalah dia.
"Bagus sekali, agaknya memang harus ada seorang di antara kalian yang disiksa, baru kalian mau mengaku. Baik, anak manis ini tidak akan menjadi manis lagi kalau ujung hidungnya kupotong...!"
Cepat bagaikan kilat, tahu-tahu tangannya telah mencengkeram pundak Lan Lan dan diangkatnya tubuh anak itu ke atas.
Lan Lan menjerit, Si Kwi dan Lin Lin juga menjerit.
"Akulah orang she Cia!"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan keras.
Semua orang terbelalak dan memandang kepada Sin Liong yang mengeluarkan kata-kata itu dengan suara lantang tadi.
Anak ini berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, dada diangkat dan sepasang matanya memandang wajah Kim Hong Liu-nio dengan penuh kemarahan.
"Lepaskan dia, jangan ganggu orang-orang yang tidak bersalah. Akulah orang she Cia yang kau cari-cari!"
Perlahan-lahan tangan yang mencengkeraman pundak Lan Lan itu mengendur sehingga tubuh Lan Lan terlepas dan terhuyung.
Anak perempuan ini terisak dan cepat dirangkul ibunya.
Kim Hong Liu-nio kini memandang kepada Sin Liong lengan mata bersinar-sinar seperti kilat, penuh keheranan, kekagetan, dan juga kekaguman.
Anak ini memang bukan anak biasa, pikirnya, ngeri juga menentang pandang mata yang mencorong seperti mata anak naga itu.
"Liong-ji...!"
Si Kwi berkata lirih dengan muka pucat sekali.
Timbul niat di dalam hatinya untuk melindungi anak itu, anak kandungnya sendiri itu, dengan taruhan nyawa.
Sin Liong menoleh kepada Si Kwi dan agaknya dia maklum akan niat dari ibu angkatnya itu.
Dia masih kecil akan tetapi dia tahu bahwa wanita iblis itu lihai bukan main dan baik ibu angkatnya maupun ayah angkatnya bukanlah tandingan wanita itu.
"Ibu, harap jangan mencampuri. Ibu hanyalah ibu angkatku, tidak perlu mempertaruhkan nyawa untuk aku."
Setelah berkata demikian, dia lalu melangkah maju menghampiri Kim Hong Liu-nio dengan sikap gagah sekali sehingga Si Kwi terbelalak dan tengkuknya meremang karena sikap Sin Liong itu membuat dia teringat kepada Cia Bun Houw.
Anak ini benar-benar Cia Bun Houw kecil!
Sinar matanya itu, keberaniannya, dan kegagahannya!
Juga Kim Hong Liu-nio menjadi tertegun sehingga dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap anak kecil yang mengaku she Cia dan amat pemberani itu.
Dan anak ini tadi dihajar oleh Kui Hok Boan, sedikitpun tidak mengeluh, bahkan dimintakan ampun oleh anak-anak lain!
"Benarkah engkau she Cia?"
Kim Hong Liu-nio bertanya, diam-diam merasa sayang kalau anak ini she Cia dan dia terpaksa harus membunuhnya.
Dia kagum melihat keberanian anak ini.
"Seorang gagah tidak akan mengingkari perbuatannya dan aku melihat bahwa engkau adalah seorang wanita yang berkepandaian tinggi sehingga ibu dan ayah angkatku sendiri tidak mampu menandingimu!"
Sin Liong berkata dengan lantang, membuat ayah dan ibu angkatnya benar-benar merasa terkejut karena biasanya Sin Liong pendiam dan tidak banyak bicara.
"Maka engkau tentu mau mengatakan pula mengapa engkau mencari orang she Cia?"
"Akan kubunuh! Semua orang she Cia harus kubunuh!"
Jawab Kim Hong Liu-nio.
"Mengapa? Apa salahnya orang-orang she Cia?"
Tanya pula Sin Liong.
"Anak kecil mau mampus kau tahu apa! Bersiaplah untuk mampus!"
"Membunuh seorang anak kecil seperti aku tentu saja mudah bagimu dan perbuatanmu itu tidak akan mengharumkan namamu. Kau membunuh aku sama dengan aku membunuh seekor semut, perbuatan itu mana dapat dibanggakan? Kalau kau memang gagah berani, hayo kau hadapi ayahku dan juga she Cia, barulah seimbang!"
"Monyet kecil, siapa ayahmu?"
Kim Hong Liu-nio membentak marah.
Dia tidak tahu bahwa Sin Liong paling benci kalau dimaki monyet kecil, karena memang dia suka bergaul dengan monyet, akan tetapi dia tahu bahwa dia manusia bukan monyet.
Mendengar makian itu, dia melotot dan balas memaki.
"Dan kau srigala betina besar! Kau mau tahu ayahku? Ayahku adalah pendekar paling hebat di dunia ini dan kalau kau bertemu dengan ayahku, tentu dia tidak akan memberi ampun kepada srigala betina yang kejam seperti engkau ini!"
Kim Hong Liu-nio hampir tak dapat menahan kemarahannya.
Sinar merah menyambar dan terdengar bunyi "prakk!"
Ternyata meja di dekat Sin Liong hancur berkeping-keping terkena sambaran sinar merah itu yang bukan lain hanyalah ujung sabuk merah dari sutera yang diikatkan di pinggang wanita itu dan yang ujungnya masih berjuntai panjang.
Hanya menggunakan ujung sabuk merah saja mampu menghancurkan meja batu, kepandaian ini benar-benar membuat Si Kwi dan Hok Boan menjadi pucat dan tubuh mereka mengeluarkan keringat dingin.
"Liong-ji, jangan banyak bicara!"
Si Kwi memperingatkan anaknya.
"Bocah bermulut lancang! Kau layak mampus seribu kali, akan tetapi sebelum mampus, katakan dulu siapa ayahmu dan di mana dia!"
"Huh, karena berada di sini maka kau enak saja mengancam hendak membunuh aku, coba kalau ada ayah, mengganggu seujung rambutkupun engkau takkan mampu. Aku menantangmu untuk bertanding dengan ayahku, dan kalau ayah sampai kalah olehmu, biarlah tanpa kau turun tangan, aku akan menggorok leherku sendiri di depanmu. Kalau engkau sekarang membunuh aku tanpa berani memenuhi tantanganku, maka engkau ini tidak ada bedanya dengan seekor srigala pemakan bangkai yang beraninya hanya menyerang bangkai, dan kau beranimu hanya mengganggu orang-orang lemah seperti anak-anak kecil. Huh, sungguh memalukan sekali!"
"Liong-ji...!"
Si Kwi mengeluh.
Anak itu seperti bunuh diri saja, berani bicara seperti itu di depan wanita ini!
Dan Kim Hong Liu-nio sendiri sampai tercengang, seolah-olah dia tidak percaya apa yang didengarnya.
Selama hidupnya, belum pernah ada orang berani bicara seperti itu kepadanya, bahkan Sri Baginda Sabutai sendiri tidak pernah menghinanya seperti itu.
Saking herannya, dia sampai lupa akan kemarahannya, atau mungkin juga saking marahnya, dia sampai tidak tahu lagi harus berbuat apa!
"Katakan siapa ayahmu, anak setan!
Kalau aku tidak dapat membunuh ayahmu dan nenek moyangmu, aku tidak mau memakai nama Kim Hong Liu-nio lagi!"
Wanita itu akhirnya menjerit seperti seorang anak perempuan yang digoda sampai mengkal sekali hatinya dan Kim Hong Liu-nio juga sampai lupa diri, dia membanting kakinya ke atas lantai, seperti anak perempuan sedang berang.
"Bres!"
Kaki wanita itu kecil mungil, akan tetapi begitu dibantingnya di atas lantai dengan pengerahan sin-kang, kaki itu amblas sampai hampir selutut dalamnya!
Kembali Si Kwi dan Hok Boan menelan ludah.
Bahkan Siong Bu dan Beng Sin terang-terangan mengulurkan lidah mereka saking heran, kaget dan kagum.
Kepandaian wanita itu benar-benar seperti siluman!
"Ayahku adalah pendekar sakti Cia Bun Houw, putera dari ketua Cin-ling-pai kalau kau mau tahu!"
Kata Sin Liong sambil mengangkat dada, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.
Dia maklum bahwa di tangan wanita iblis ini, ayah dan ibu angkatnya tidak mungkin akan dapat menyelamatkannya, maka dia hendak menghadapi kematian dengan gagah dan mengangkat tinggi-tinggi nama ayahnya yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya itu.
"Ahhhhh...!"
Seruan ini bukan hanya terdengar dari mulut Kim Hong Liu-nio, akan tetapi juga dari mulut Kui Hok Boan yang menjadi kaget setengah mati dan terheran-heran bukan main mendengar pengakuan Sin Liong.
Tentu saja dia sudah mendengar nama pendekar sakti Cia Bun How, dan membayangkan betapa bocah ini yang tadinya dikenal sebagai anak peliharaan monyet mengaku putera Cia Bun Houw, meremang bulu tengkuknya.
"Bohong!"
Kim Hong Liu-nio berseru.
"Macam engkau ini anak Cia Bun Houw? Huh, siapa percaya omonganmu? Jangan kira engkau akan boleh menakut-nakuti orang dengan nama Cia Bun Houw yang kau akui sebagai ayahmu!"
Sin Liong melangkah maju menghadapi wanita itu dengan kedua tangan bertolak pinggang, sikapnya sungguh penuh keberanian.
"Dan kau bilang bohong untuk menutupi rasa takutmu! Aku adalah Cia Sin Liong, anak kandung dari Cia Bun Houw! Engkau mau percaya atau tidak adalah urusanmu, akan tetapi aku menantangmu untuk melawan ayah kandungku itu! Sekarang, mau bunuh, mau siksa, mau bakar, kau orang dewasa boleh berlaku sesuka hatimu terhadap anak kecil seperti aku. Akan tetapi awas, aku mati penasaran dan rohku akan selalu mengejar-ngejarmu sampai kau berani berhadapan dengan ayahku. Rohku baru tidak akan penasaran kalau kau sudah menggelinding mampus di depan kaki ayahku!"
Diam-diam Kim Hong Liu-nio merasa curiga dan ragu-ragu.
Kalau benar anak Cia Bun Houw, sungguh mengherankan mengapa bisa berada di Lembah Naga?
Bukankah anak ini katanya menjadi anak angkat Kui Hok Boan?
Akan tetapi melihat sikapnya, anak ini jelas bukan anak sembarangan, dan memang ada pantasnya kalau menjadi anak seorang yang luar biasa.
Membunuh anak ini memang mudah, akan tetapi hatinya akan selalu merasa penasaran, dan memang seperti dikatakan anak ini tadi, membunuh anak ini sama sekali bukan hal yang dapat dibanggakan, bahkan menodai nama besarnya sebagai seorang gagah perkasa.
Tangan kirinya sudah diangkat, siap untuk mengeluarkan tamparan maut, akan tetapi tangan itu turun kembali.
Bohwat (kehabisan akal) juga dia menghadapi anak yang luar biasa ini.
Akan tetapi dia teringat akan sesuatu, lalu dia mengambil keputusan untuk menyelidiki keadaan anak ini sampai dia yakin betul sebelum dia turun tangan.
"Eh, anak setan! Kalau benar engkau putera Cia Bun Houw seperti yang kau akui itu, katakan siapa ibumu!"
Kim Hong Liu-nio mendengar bahwa musuh besar utama gurunya itu, yaitu musuh utama yang bernama Cia Bun Houw, berjodoh dengan seorang pendekar wanita sakti yang menjadi musuh besar gurunya pula, yaitu yang bernama Yap In Hong.
Akan tetapi dia tidak tahu apakah mereka itu terus menjadi suami isteri ataukah tidak karena kabarnya belum pernah mereka itu menikah, atau belum pernah pernikahan antara mereka itu dirayakan karena pernikahan mereke itu tidak direstui oleh ayah pendekar Cia Bun Houw itu.
Akan tetapi jawaban Sin Liong benar-benar mengejutkan Kim Hong Liu-nio.
Anak itu dengan suara lantang berkata.
"Aku tidak tahu siapa nama ibuku, akan tetapi ibu kandungku itu meninggal dunia dan dia juga seorang pendekar wanita yang sakti karena dia dahulu adalah murid mendiang Hek I Siankouw."
"Ahhh...!"
Sekali ini Kim Hong Liu-nio berseru kaget dan memandang kepada Si Kwi dengan mata terbelalak lebar.
Wanita yang biasanya bersikap dingin dan angkuh itu sekali ini tidak mampu menyembunyikan perasaan herannya sehingga dia memandang bengong kepada Si Kwi seperti seorang yang tolol.
Si Kwi menundukkan mukanya dan seperti kepada diri sendiri dia berbisik-bisik tanpa ada suara keluar dari mulutnya.
Kim Hong Liu-nio masih tetap menatap wajah Si Kwi dan tanpa mengalihkan pandang matanya, akan tetapi dia menujukan pertanyaannya kepada Sin Liong.
"Anak setan, kau bohong! Bagaimana kau tahu akan semua itu? Siapa yang memberi tahu kepadamu?"
"Kau berani bilang bohong? Yang memberi tahu kepadaku adalah ibu angkatku sendiri! Jangan menuduh yang bukan-bukan, kalau kau takut terhadap ayahku, katakanlah saja terus terang!"
Kini wanita itu melangkah maju menghadapi Si Kwi dan terdengar suaranya aneh sekali, agaknya seperti orang terheran-heran.
"Liong Si Kwi, benarkah itu?"
Si Kwi menundukkan mukanya dan muka itu kini menjadi merah sekali. Dengan suara lirih dia berkata.
"Benar... ibu kandungnya... sudah mati..."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring sekali dan Hok Boan bersama anak-anaknya yang berada di situ terkejut bukan main.
Wanita itu kini tertawa, suara ketawanya aneh, merdu dan nyaring akan tetapi mendekati suara tangis!
Wanita itu agaknya geli bukan main, tertawa-tawa sampai ada beberapa butir air mata membasahi pipinya dan dia masih tertawa seperti orang terisak ketika dia menggunakan ujung sabuk merah menghapus air matanya!
"Hi-hi-hik, Liong Si Kwi, kau kira rahasia busuk bisa ditutupi selamanya?
Jadi, ketika engkau berjina dengan Cia Bun Houw dahulu itu, sampai tangan kirimu dibuntungi sebagai hukuman, ternyata hasilnya adalah bocah ini?
Ah, kiranya engkau melahirkan keturunan Cia Bun Houw!"
"Ehhh...?"
Kui Hok Boan terkejut bukan main.
Rahasia itu sama sekali tidak pernah didengarnya dari isterinya, maka diapun memandang kepada isterinya dengan mata terbelalak.
Liong Si Kwi merasa bahwa dia tidak perlu menyangkal pula karena rahasia itu telah terbuka oleh pengakuan Sin Liong tadi.
Pengakuan anak itu tentu tidak akan membuka rahasianya kalau didengar corang lain.
Akan tetapi wanita ini adalah utusan Raja Sabutai, tentu saja telah mendengar akan semua peristiwa yang dialaminya belasan tahun yang lalu di Lembah Naga, ketika Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li menawan pendekar sakti Cia Bun Houw (baca cerita Dewi Maut).
Mukanya menjadi merah dan karena sudah kepalang bahwa rahasianya telah diketahui orang, dia lalu berkata.
"Benar, anak ini adalah anak kandungku dari pendekar sakti Cia Bun Houw!"
"Ibu...!"
Sin Liong berseru, akan tetapi pada saat itu nampak segulung sinar merah berkelebat dan Sin Liong terguling roboh ketika dia hendak lari kepada ibunya, karena dia telah terdorong oleh sambaran ujung sabuk yang menyentuh pundaknya.
Agaknya wanita itu tidak bermaksud membunuhnya, maka sentuhan ujung sabuk merah itu hanya membuat anak itu terguling.
Lalu kelihatan asap mengepul dan ternyata wanita itu telah menyalakan sebatang hio (dupa biting) dan mengangkat kayu salib ke atas kepalanya.
"Liong Si Kwi, karena engkau telah melahirkan anak keturunan Cia Bun Houw, maka engkau terhitung keluarga dari Cia Bun Houw, maka bersiaplah engkau untuk menebus dendam guruku, Hek-hiat Mo-li dengan nyawamu!"
"Tidak...! Jangan...!"
Kui Hok Boan berteriak dan menerjang ke depan, akan tetapi kembali sinar merah berkelebat dan saterawan itu terpelanting.
Si Kwi maklum bahwa percuma saja mencoba untuk menyelamatkan dirinya dengan kata-kata terhadap wanita iblis ini, juga melarikan diri tidak akan ada gunanya, maka karena dia masih memegang pedangnya, dia lalu berteriak nyaring dan tiba-tiba saja tangan kanan yang memegang pedang itu bergerak menyerang dengan tusukan kilat ke arah dada wanita yang menyeramkan itu.
"Bagus, dengan begini kau patut mati sebagai keluarga Cia!"
Kata Kim Hong Liu-nio dengan suara girang sekali karena memang dia akan merasa terhina dan kecewa kalau membunuhi musuh-musuh gurunya tanpa perlawanan, seperti yang dikatakan oleh anak setan tadi.
Kalau musuhnya melawan, berarti dia membunuh musuh yang dapat melawan, bukan sebagai srigala yang menggerogoti bangkai!
"Cringgg...!"
Kembali pedang itu ditangkis oleh lengan kirinya yang memakai gelang.
"Ihhh...!"
Si Kwi menjerit karena tertangkis oleh gelang di lengan wanita itu, dia merasa pergelangan targannya tertotok oleh ujung biting, nyeri sekali rasanya dan tanpa dapat dicegahnya lagi, jari-jari tangannya yang seperti lumpuh sesaat itu melepaskan gagang pedangnya yang jatuh berdenting ke atas lantai!
Terdengar wanita itu tertawa, akan tetapi Si Kwi sudah cepat menggerakkan tangannya.
Terdengar suara angin bersiutan dan sinar-sinar kecil hitam menyambar ke arah tujuh jalan darah di depan tubuh wanita itu.
Itulah Hek-tok-ting (Paku Hitam Beracun), senjata rahasia yang ampuh dari Liong Si Kwi.
Setiap paku merupakan ancaman maut dan tujuh batang paku itu menyambar dengan kecepatan yang amat hebat karena dilepaskan dari jarak yang hanya tiga meter jauhnya!
"Hemm...!"
Wanita cantik itu benar-benar hebat bukan main.
Dia tidak kelihatan gugup sama sekali, bahkan memandang rendah.
Tangan kiri yang memegang sebatang hio itu tidak bergerak, akan tetapi tangan kanan yang memegang kayu salib bergerak cepat ke atas dan menyambar ke bawah.
Dan ternyata bahwa paku-paku itu semua menancap di atas papan kayu berbentuk salib itu, dan hebatnya, semua paku-paku itu menancap di bagian ujung kayu yang bertuliskan huruf Cia!
Wanita itu bukan hanya mampu menangkis semua paku, akan tetapi lebih daripada itu, dia mampu membuat semua paku itu menancap di tempat yang sama, yaitu di ujung yang ditulisi huruf Cia, seolah-olah menjadi tanda bahwa calon korbannya itu adalah keluarga marga atau she Cia!
Bukan main kagetnya hati Si Kwi.
Dia tadi mendengar bahwa wanita ini adalah murid Hek-hiat Mo-li, akan tetapi dia yang pernah menyaksikan kesaktian Hek-hiat Mo-li, Kini harus mengakui bahwa wanita iblis ini agaknya malah lebih lihai daripada gurunya.
Akan tetapi dia telah nekat.
Rahasianya telah dibuka dan tentu hal itu akan mempengaruhi hubungan antara dia dan suaminya.
Selain itu, dia harus mencoba untuk membela Sin Liong, anak kandungnya sendiri, di samping itu, kini terancam bahaya maut dalam mempertahankan nama Cia Bun Houw, pria pertama yang pernah merebut kasih sayangnya, dia teringat akan pendekar itu dan hatinya dipenuhi oleh perasaan mesra dan bangga karena dia diperbolehkan membela nama pendekar sakti itu sebagai keluarganya!
Maka dengan teriakan nyaring dia lalu menubruk ke depan, menggunakan tangannya untuk mencengkeram ke arah kepala lawan, sedangkan tangan kirinya yang buntung itu dipergunakannya untuk menotok ke arah ulu hati!
"Robohlah engkau, ibu dari anak keturunan Cia Bun Houw!"
Tiba-tiba Kim Hong Liu-nio membentak dan sinar api kecil meluncur ke depan ketika tubuhnya mencelat mundur.
Itu adalah sinar api dupa biting yang masih bernyala dan yang kini melesat ke depan, meluncur seperti anak panah cepatnya.
Si Kwi pernah menyaksikan wanita ini membunuh orang dengan sebatang hio, maka dia terkejut sekali dan berusaha mengelak, namun dia kurang cepat karena dia tadi sedang dalam keadaan menyerang.
"Cuss...!"
Dupa biting itu menyambar dahinya dan tepat sekali menusuk di antara kedua alisnya sampai semua gagang hio itu lenyap!
Si Kwi mengeluarkan jeritan lirih dan tubuhnya terjengkang, roboh terlentang dan tewas seketika dengan hio masih menancap di dahinya dan hio itu masih membara, mengeluarkan asap ke atas!
Seolah-olah nyawa wanita itu melayang melalui asap yang keluar dari dahinya itu!
Kui Hok Boan terbelalak pucat dan terdengar jerit-jerit memilukan dari Lan Lan, Lin Lin yang menubruk ibu mereka sambil menangis.
Terdengar suara gerengan liar seperti seekor monyet marah dan Sin Liong sudah meloncat, loncatan yang dilakukan menurutkan nalurinya sebagai binatang, yang diperolehnya dalam pergaulan dengan para monyet, dan dia sudah menubruk ke arah Kim Hong Liu-nio!
Wanita ini sedang memandang mayat lawannya dengan senyum penuh kepuasan ketika Sin Liong menubruk.
Tentu saja dia tahu akan serangan anak itu dan dia sudah menggerakkan tangan kirinya untuk memapaki kepala anak itu dengan tamparannya.
Akan tetapi dia teringat akan maki-makian dan tantangan anak itu tadi, maka dia menahan tangannya karena merasa malu kalau harus membunuh seorang bocah yang sudah berani menantangnya seperti itu.
Karena dia menahan tangannya dan karena dia memandang rendah kepada Sin Liong, maka Sin Liong berhasil menubruknya dari belakang dan seperti seekor monyet marah atau seekor harimau kelaparan, Sin Liong mencengkeram dengan kedua tangannya.
Tanpa disadarinya, kedua tangan itu memeluk Kim Hong Liu-nio dan kedua tangan itu yang mencengkeram sekenanya telah mencengkeram buah dada wanita itu!
Kemudian Sin Liong membuka mulutnya dan menggigit tengkuk!
"Ihhhh...!"
Kini Hong Liu-nio menjerit, bukan karena gigitan pada tengkuknya, melainkan karena cengkeraman pada kedua buah dadanya itu.
Tiba-tiba dia merasa seluruh tubuhnya menggigil, jantungnya berdebar keras kepalanya menjadi pening!
Patut diketahui bahwa Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang masih perawan, yang selama hidupnya belum pernah bersentuhan dengan pria walaupun sudah sering dia mimpi akan hal itu.
Kini, merasa betapa tubuhnya dipeluk dan dadanya diraba tangan seorang laki-laki, biarpun laki-laki yang masih anak-anak, dia seperti kemasukan getaran halilintar, tubuhnya menjadi panas dingin dan tak terasa lagi dia menjerit.
Akan tetapi, hanya sebentar saja dia dikuasai perasaan aneh itu.
Sekali wanita sakti ini menggoyang tubuhnya, Sin Liong terlempar dan terbanting keras ke dinding ruangan itu.
Sin Liong roboh dan pingsan!
Kui Hok Boan kini bangkit dan dengan terpincang-pincang dia berdiri menghadang di depan anak-anak itu, khawatir kalau-kalau anak-anaknya akan dibunuh semua oleh wanita iblis itu.
Akan tetapi Kim Hong Liu-nio tersenyum dan menggeleng kepala.
Kemudian menyimpan kembali kayu salib yang telah dicoretnya satu kali di bawah nama Cia, memasangnya di punggung dan dia lalu memandang kepada Kui Hok Boan.
"Jangan khawatir, karena engkau benar-benar tidak tahu-menahu tentang keluarga Cia, maka biarlah kau dan anak-anakmu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga Cia, kuampuni. Akan tetapi anak itu akan kubawa dia keturunan musuh besarku!"
Kim Hong Liu-nio menuding ke arah tubuh Sin Liong yang masih pingsan.
Kui Hok Boan adalah seorang yang pada dasarnya memang mempunyai watak pengecut, yaitu kalau sudah terancam bahaya maut barulah sifatnya ini menonjol.
Tadinya, dia masih berwatak gagah melindungi isterinya dan melindungi pula Sin Liong, akan tetapi kini semua kegagahannya itu luntur dan lenyap dan dia berubah menjadi seorang yang rendah diri.
"Terima kasih atas pengampunan kouwnio..."
Katanya lirih sambil menundukkan mukanya.
"Sekarang dengarlah, Kui Hok Boan. Aku diutus oleh Sri Baginda Sabutai untuk memberi tahu kepadamu bahwa sebelum enam bulan, engkau harus sudah meninggalkan Istana Lembah Naga ini, dan semua penghuni dusun-dusun yang berada di sekitar tempat inipun semua harus pergi. Kalau sudah lewat enam bulan dan masih ada orang yang berada di sekitar sini, jangan salahkan kami kalau kami akan membunuhnya. Mengertikah kau?"
Kui Hok Boan terkejut sekali dan cepat dia mengangguk-angguk.
"Baik... baik... akan saya taati..."
Melihat betapa Kui Hok Boan yang tadi gagah seperti harimau kini menjadi jinak seperti domba, padahal mayat isterinya masih hangat rebah di depannya, Kim Hong Lim-nio mengeluarkan suara mengejek.
"Huh!"
Lalu dia membalikkan tubuhnya menyambar lengan Sin Liong yang diseretnya dan dibawanya keluar dari ruangan itu, tanpa menoleh sedikitpun ke belakang lagi.
"Sin Liong...!"
Tiba-tiba Lin Lin menjerit dan bangkit berdiri, hendak lari mengejar agaknya.
"Lin Lin...!"
Hok Boan membentak dan cepat dia menyambar lengan anaknya.
Kim Hong Liu-nio berhenti melangkah ketika sampai di pintu, menoleh dan melihat betapa empat orang anak-anak itu memandang ke arah Sin Liong sambil menangis.
Maka berkatalah dia.
"Orang she Kui, empat orang anak itu jauh lebih baik daripada engkau!"
Lalu sekali berkelebat lenyaplah bayangan wanita itu dari situ.
Maka terdengarlah tangis dan ratap di dalam ruangan itu, dan tak lama kemudian, ratap tangis itu makin riuh ketika para pelayan melihat bahwa nyonya majikan mereka telah tewas.
Istana Lembah Naga diliputi suasana berkabung.
Lan Lan dan Lin Lin menangis tiada hentinya, dan Kui Hok Boan termenung dengan penuh penyesalan.
Baru terhadap Si Kwi dia benar-benar pernah mencinta dan setelah menikah dengan Si Kwi, sifatnya yang mata keranjang menjadi reda.
Akan tetapi kini Si Kwi telah tewas dan meninggalkan dia seorang diri bersama empat orang anak!
Akan tetapi, kemudian dia teringat bahwa biarpun dia harus pindah dari Lembah Naga, dan dia memang bermaksud kembali ke selatan, namun dia telah menemukan harta karun dan kini telah menjadi seorang yang kaya raya, maka dia tidak merasa khawatir.
Hanya sedikit kebimbangan mengganggu hatinya.
Di selatan dia mempunyai banyak musuh!
Jeng-hwa-pang sekarang jauh berbeda dengan Jeng-hwa-pang belasan tahun yang lalu ketika perkumpulan itu dipimpin oleh Jeng-hwa Sian-jin.
Dahulu, perkumpulan itu tidak sehebat sekarang ini, setelah Jeng-hwa Sian-jin meninggal dan perkumpulan itu dipimpin dan dibangun kembali oleh muridnya.
Kalau Jeng-hwa Sian-jin sebagai bekas tokoh-tokoh Pek-lian-kauw selain berilmu silat tinggi juga ahli dalam ilmu sihir, Maka muridnya ini yang menuruni kepandalan ilmu silatnya tanpa menuruni ilmu sihirnya, ternyata memiliki keahlian lain yang bahkan melebihi mendiang gurunya, yaitu dalam hal ilmu tentang racun.
Jeng-hwa-pang sendiri mendapatkan namanya dari julukan Jeng-hwa Sian-jin, dan kakek itu dijuluki Jeng-hwa Sian-jin karena dia telah menemukan kembang hijau yang hanya bisa ditemukan orang di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Himalaya.
Kembang hijau ini mengandung racun yang amat hebat, yang boleh dibilang rajanya kembang-kembang beracun.
Akan tetapi, kalau Jeng-hwa Sian-jin mempergunakan khasiat kembang mujijat itu untuk melatih dan memperdalam ilmu sihirnya, sebaliknya muridnya itu mempergunakan kembang hijau itu untuk memperdalam ilmu tentang racun-racun!
Maka kini terkenallah perkumpulan Jeng-hwa-pang sebagai perkumpulan orang-orang yang ahli dalam mempergunakan racun sehingga tentu saja amat ditakuti oleh golongan lain.
Akan tetapi, ketika Kaisar Ceng Tung memperoleh kembali tahta kerajaannya yang tadinya diserahkan kepada adiknya ketika dia menjadi tawanan Raja Sabutai (baca cerita Dewi Maut), Kaisar ini telah mengerahkan orang-orang pandai, mempergunakan tangan besi untuk menekan dan mengendalikan perkumpulan-perkumpulan golongan hitam yang suka menimbulkan kekacauan.
Oleh karena itu, Jeng-hwa-pang yang termasuk sebagai perkumpulan yang diawasi dan dibatasi gerakannya, lalu mengungsi ke luar tembok besar dan untuk sementara mendirikan sarang di dekat tembok besar di utara.
Ketua Jeng-hwa-pang bernama Gak Song Kam dan karena keahliannya bermain racun, dia dikenal orang sebagai Tok-ong (Raja Racun)!
Nama julukannya sebagai Tok-ong ini sama terkenalnya dengan nama Jeng-hwa-pang yang tersohor.
Dahulu, ketika Jeng-hwa-pang masih dipimpin oleh mendiang Jeng-hwa Sian-jin, perkumpulan ini lebih condong mempelajari ilmu-ilmu sihir yang keji dan cabul.
Jeng-hwa Sian-jin "ketemu batunya"
Ketika sedang melaksanakan praktek keji dan cabul itu muncul seorang kakek sakti yang membuatnya tewas dan anak buahnya menyerah dan bertobat.
Kakek sakti itu bukan lain adalah Bun Hoat Tosu (baca cerita Dewi Maut).
Untuk sementara perkumpulan itu benar-benar telah bubar.
Akan tetapi setelah Gak Song Kam berhasil memperdalam ilmu-ilmunya di Pegunungan Himalaya dan mempelajari ilmu-ilmu tentang racun dari seorang pertapa di sebuah puncak pegunungan itu, Dia lalu mengumpulkan kembali bekas anggauta Jeng-hwa-pang dan dia membangun kembali perkumpulan itu.
Akan tetapi, tindakan tangan besi oleh Kaisar Ceng Tung membuat dia terpaksa membawa para anggautanya yang jumlahnya ada seratus orang itu untuk sementara waktu mengungsi ke perbatasan di utara, dekat tembok besar.
Jeng-hwa-pangcu she Gak ini telah menikah dengan seorang wanita she Tio, akan tetapi dia tidak mempunyai keturunan.
Isterinya membawa beberapa orang sanak keluarganya yang juga she Tio ketika mengungsi ke utara dan mereka ini ikut hidup senang sebagai keluarga isteri ketua perkumpulan besar, dan di antaranya ada pula yang menjadi anggauta Jeng-hwa-pang.
(Lanjut ke
Jilid 10) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 Para anggauta Jeng-hwa-pang semua diberi pelajaran tentang racun oleh ketuanya sehingga mereka rata-rata selain pandai ilmu silat, juga pandai mempergunakan racun untuk mengalahkan lawan.
Mungkin karena mengandalkan kepandaian sendiri dan mengandalkan nama besar perkumpulan mereka, setelah pindah ke perbatasan di utara, dalam beberapa tahun saja, Jeng-hwa-pang telah dikenal dan ditakuti, malang melintang di perbatasan itu karena mereka merasa terlepas dari jangkauan tangan besi Kaisar.
Akan tetapi, pada suatu hari terjadilah malapetaka menimpa keluarga ketua Jeng-hwa-pang, yaitu pada suatu malam ketika ketua Jeng-hwa-pang sedang pergi bersama beberapa orang pembantunya menangkap beberapa ekor ular gurun pasir, muncullah seorang wanita yang mengaku bernama Kim Hong Liu-nio dan wanita ini secara kejam telah membunuh isteri ketua Jeng-hwa-pang dan juga sembilan orang keluarga wanita itu, kesemuanya she Tio!
Tentu saja Jeng-hwa-pang menjadi geger, Apalagi ketika para anak buah Jeng-hwa-pang yang mengeroyok dibuat kocar-kacir oleh wanita yang amat lihai itu.
Ketika Gak Song Kam pulang dan mendapatkan isterinya dan sembilan orang keluarga isterinya tewas semua, dengan cara kematian yang aneh, yaitu dahi atau bagian tubuh lain yang berbahaya tertancap oleh sebatang hio yang membara, Tentu saja dia menjadi marah sekali.
Akan tetapi segera tersiar berita bahwa wanita bernama Kim Hong Liu-nio itu telah merajalela, membunuh-bunuhi semua orang she Tio, Yap, dan Cia yang dapat ditemukan di daerah itu, yang tentunya tidak banyak karena yang dicari adalah orang-orang Han, sedangkan daerah itu lebih banyak didiami oleh orang-orang suku bangsa lain.
Tentu saja Gak Song Kam merasa sakit hati dan berusaha untuk mencari wanita itu.
Dia merasa menyesal sekali mengapa dia pergi mengajak lima orang pembantunya yang pandai sehingga ketika wanita itu datang membunuh isterinya, Jeng-hwa-pang sedang kosong dari semua tokoh yang terpandai.
Dia percaya bahwa kalau dia berada di situ, tentu Kim Hong Liu-nio tidak akan begitu mudah membunuh orang, apalagi membunuh isterinya!
Akan tetapi, betapa kaget rasa hati Gak Song Kam ketika dia menyebar anak buahnya untuk mencari dan menyelidiki wanita itu, dia mendengar kabar bahwa wanita itu adalah seorang tokoh terkenal di utara, bahkan masih saudara seperguruan Raja Sabutai!
Lemaslah rasa tubuh ketua Jeng-hwa-pang itu mendengar ini.
Tidak mungkin baginya untuk menyerbu istana Raja Sabutai yang dilindungi ribuan orang pasukan itu dengan seratus orang anak buahnya!
Akan tetapi, kematian isterinya harus dibalas!
Oleh karena itu, Gak Song Kam ini selalu mencari kesempatan untuk menantang Kim Hong Liu-nio, menantangnya secarg pribadi, bukan sebagai keluarga Raja Sabutai!
Tantangan yang lajim dilakukan oleh orang-orang di dunia persilatan dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kerajaan atau perkumpulan.
Demikianlah, kesempatan itu tiba ketika Kim Hong Liu-nio melakukan perjalanan menuju Lembah Naga bersama sutenya, yaitu Ceng Han Houw, hanya dikawal oleh tujuh belas perajurit pengawal.
Kesempatan ini tidak disia-siakan dan cepat Gak Song Kam menyuruh seorang di antara pembantu-pembantunya yang pandai untuk mengirim surat tantangan kepada wanita itu.
Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, pembantu itu berhasil mengirimkan surat tantangan istimewa itu yang merupakan senjata-senjata maut berbahaya bagi penerimanya, namun yang dapat diterima dengan baik oleh Kim Hong Liu-nio.
Setelah mendengar berita dari pembantunya bahwa surat tantangannya telah diterima oleh wanita itu yang akan datang bersama seorang sutenya dalam kereta indah yang dikawal oleh tujuh belas orang pengawal, Jeng-hwa-pang menjadi sibuk mempersiapkan penyambutan terhadap musuh istimewa itu.
Sementara itu, Kim Hong Liu-nio yang menyeret tubuh Sin Liong telah tiba di dalam hutan di luar Lembah Naga, di mana Ceng Han Houw sedang menanti dengan tidak sabar dalam keretanya sambil meniup seruling.
Han Houw amat suka meniup seruling.
Ketika melihat sucinya datang menyeret tubuh seorang anak laki-laki, Han Houw menyimpan sulingnya dan memandang heran.
Apalagi ketika dia melihat anak laki-laki yang usianya lebih muda beberapa tahun darinya itu telah membuka mata, telah siuman akan tetapi sedikitpun anak itu tidak mengeluarkan kata keluhan, bahkan memandang dengan mata melotot, dia menjadi makin terheran-heran.
Dia melihat sucinya melemparkan tubuh anak itu ke atas tanah dan memandang penuh kebencian.
Sin Liong terguling, akan tetapi lalu merangkak dan bangkit berdiri.
Kedua kakinya menggigil, tanda bahwa dia lelah dan menahan nyeri akan tetapi matanya melotot dan sikapnya angkuh!
"Eh, suci.
Siapakah bocah ini?"
Tanyanya heran melihat betapa sucinya yang biasanya tenang itu kini kelihatan marah-marah dan mendongkol.
"Bocah setan dia! Anak iblis dari neraka!"
Kim Hong Liu-nio memaki-maki sambil memandang dengan mata mendelik kepada Sin Liong.
Anak itu juga membalas, memandangnya dengan melotot lebar.
"Wah, anak setan dan iblis?"
Han Houw bertanya, matanya terbelalak dan dia memandang Sin Liong dari atas sampai ke bawah.
"Kulihat tidak ada apa-apanya, kenapa disebut anak setan dan iblis?"
"Dia adalah anak dari Cia Bun Houw, musuh besar dari subo, musuh yang paling besar dari subo!"
Kata Kim Hong Liu-nio.
"Musuh yang paling besar dan paling ditakuti!"
Tiba-tiba Sin Liong berkata.
Dia mendongkol sekali, dia tidak akan dapat mampu membalas semua siksaan, akan tetapi biarlah dia membalas dengan kata-kata menghina agar menyakiti hati wanita ini!
"Ah, begitukah?
Kenapa anaknya hanya begini saja?"
Han Houw bertanya penuh keheranan.
Kalau ayahnya menjadi musuh utama yang kabarnya memiliki kepandaian hebat tentu anaknyapun hebat.
"Eh, kenapa kau bilang bahwa suci takut kepada ayahmu?"
Tanya Han Houw yang mulai tertarik akan sikap bandel dan sama sekali tidak takut dari anak itu.
Sepasang mata Sin Liong memandang anak laki-laki yang berpakaian amat mewah itu dan kembali Han Houw terkejut.
Mata anak ini seperti mata harimau saja, pikirnya.
Hatinya makin tertarik.
"Sudah jelas takut! Beraninya hanya mengganggu aku, anak ayah yang masih kecil, tidak berani langsung berhadapan dengan ayahku!"
Han Houw tersenyum.
"Dan apakah kau tidak takut kepada suci?"
"Aku? Takut? Huh, paling-paling dia bisa membunuhku, akan tetapi dia pasti tidak akan lolos dari tangan ayahku. Anak harimau bisa saja dibunuh oleh kumpulan srigala, akan tetapi anak harimau tidak akan merasa takut."
"Wah, wah, sombongnya! Kau menganggap dirimu anak harimau dan kami berdua kau namakan srigala? Wah, bukankah srigala itu anjing hutan? Celaka, suci, dia berani memaki kita anjing hutan!"
"Itulah! Dia memang anak setan!"
Kim Hong Liu-nio mengomel.
"Kenapa tidak bunuh saja dia agar mulutnya tidak banyak mengoceh lagi?"
"Hemm, sute. Kalau kita membunuh dia, maka makiannya itu terbukti, kita menjadi seperti srigala membunuh seekor anak harimau seperti yang dikatakannya itu."
"Eh, maksudmu...?"
"Dia lemah akan tetapi penuh keberanian, dan kita berarti hanya membunuh dan mengganggu anak-anak lemah saja."
Han Houw menggangguk-angguk, kini dia menoleh dan memandang kepada Sin Liong dengan pandang mata baru, penuh kagum.
Bocah ini luar biasa, pikirnya.
"Eh, siapa namamu?"
Dia bertanya, agak tersenyum dan suaranya ramah.
Diam-diam Sin Liong juga mengagumi anak laki-laki ini.
Demikian tampan dan gagah, pikirnya, dan sekecil itu telah menjadi sute dari wanita iblis ini!
"Namaku Sin Liong...
eh, Cia Sin Liong!"
Tambahnya, menekankan nama keturunan itu.
"Sin Liong? Naga sakti? Hemm, namamu sama sombongnya dengan sikapmu."
"Aku tidak sombong, hanya paling benci kalau dikatakan takut. Aku tidak takut apapun. Dan kau siapa? Benarkah kau masih sute dari Kim Hong Liu-nio ini?"
Ceng Han Houw mengangguk.
Hatinya senang.
Baru sekarang ada bocah yang bicara kepadanya dengan sikap biasa, seperti dua orang yang sama derajatnya, seperti teman.
Biasanya, semua orang yang bicara kepadanya, apalagi anak-anak, tentu kelihatan takut-takut dan bahkan dengan berlutut, memandang wajahnyapun tidak berani!
"Namaku Han Houw, aku she Ceng."
"Ceng Han Houw? Namamu juga gagah sekali. Apakah kau juga pandai silat seperti sucimu ini?"
Melihat dua orang anak itu bicara seperti dua orang sahabat saja, Kim Hong Liu-nio menjadi tak senang.
"Anak cerewet! Kau kira engkau ini siapa? Tawanan, tahu? Sute, jangan layani dia!"
Akan tetapi Han Houw sudah seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru, merasa sayang untuk melepaskan begitu saja.
"Eh, Sin Liong, kau benar-benar tidak takut kepada kami?"
"Tidak, seujung rambutpun tidak. Paling-paling kalian akan dapat membunuhku."
"Kau tidak takut mati?"
Sin Liong menggeleng kepala.
"Apa kau takut?"
Dia balas bertanya. Han Houw terbelalak, berpikir sejenak, lalu mengangguk.
"Aku takut dan agak ngeri juga."
"Apa kau pernah tahu bagaimana mati itu?"
"Tentu saja belum!"
"Kalau begitu, bagaimana bisa takut?"
Han Houw tercengang, bingung, lalu menjawab ragu.
"Entahlah. Eh, kalau kau tidak takut kepada kami apakah kau berani bertanding melawan aku?"
Sin Liong memandang Han Houw dari atas sampai ke bawah.
Anak itu tentu lebih tua dua tahun daripada dia, lebih tinggi dan tegap.
Dan mengingat bahwa anak ini adalah sute dari Kim Hong Liu-nio, maka tentu ilmu silatnya juga hebat.
"Aku tidak ada urusan apa-apa dengan engkau, mengapa mesti bertanding?"
"Kau takut?"
"Takut sih tidak."
"Kalau begitu kau berani."
"Tentu saja berani, akan tetapi, aku tidak mau. Tidak ada persoalannya, mengapa berkelahi?"
"Ha-ha, itu hanya alasan. Kau tentu takut kalah."
"Mengapa takut kalah? Tentu saja aku kalah olehmu, akan tetapi aku tidak takut."
Dan melihat sinar mata penuh ejekan itu, Sin Liong melanjutkan.
"Kalau ada alasannya yang kuat, tentu aku akan menerima tantanganmu."
Tiba-tiba Kim Hong Liu-nio yang sejak tadi memang merasa mendongkol dan kini sedang duduk di atas batu dekat kereta sambil mendengarkan, berkata-kata dalam Bahasa Mongol kepada Han Houw.
Sin Liong tidak mengerti artinya, akan tetapi kemudian Han Houw lalu menghampirinya dan berkata.
"Ah, kiranya engkau ini anak monyet! Engkau anak gelap, anak haram!"
"Bohong! Keparat kau!"
Sin Liong membentak marah.
"Kalau benar kau bukan anak monyet dan anak haram, kau tentu akan berani melawan aku!"
"Ceng Han Houw, biar matipun aku tidak takut padamu!"
Kata Sin Liong dan anak yang sudah marah sekali ini lalu menyerang dengan ganas!
Han Houw tertawa, dengan mudah saja dia mengelak ke samping dan sekali kakinya bergerak, kaki Sin Liong sudah ditendangnya dari samping, membuat Sin Liong terpelanting roboh.
Akan tetapi, tanpa memperdulikan rasa nyeri akibat terbanting itu, Sin Liong sudah meloncat bangun lagi dan menyerang kembali.
Sin Liong menggunakan jurus ilmu silat akan tetapi tentu saja gerakannya itu masih kaku dan lemah bagi Han Houw dan kembali sambil mengelak Han Houw menggerakkan tangannya, menampar pundak Sin Liong dan membuat anak itu terbanting lebih keras lagi!
Namun berkali-kali Sin Liong bangun dan terus menyerang.
"Kau tidak mau mengaku kalah? Hayo mengaku kalah!"
Berkali-kali Han Houw mendesak, akan tetapi Sin Liong sama sekali tidak memperdulikannya dan terus dia menyerang dengan membabi-buta, biarpun kulit tubuhnya sudah lecet-lecet dan luka-luka di punggungnya yang dicambuki oleh ayah angkatnya itu terasa nyeri dan berdarah lagi.
Tadi Han Houw diberi tahu oleh sucinya dalam Bahasa Mongol bagaimana harus membangkitkan kemarahan dan perlawanan anak aneh itu dan benar saja setelah dia memaki anak monyet dan anak haram, Sin Liong melawannya mati-matian.
Dan kini, Han Houw kewalahan melihat kenekatan bocah itu, yang biarpun sudah dibuatnya jatuh bangun, namun sama sekali tidak pernah mau menyerah dan mengaku kalah.
Dia sebenarnya merasa kagum dan suka kepada anak ini dan tidak ingin melukainya hebat, apalagi membunuhnya.
Maka, melihat kenekatan Sin Liong, tiba-tiba Han Houw menggunakan jari telunjuknya menotok yang tepat mengenai pundak kanan, yaitu jalan darah Kian-keng-hiat dan seketika Sin Liong roboh dengan lemas karena tubuhnya menjadi lumpuh seketika!
Han Houw menghapus keringat di dahinya dengan saputangan.
"Wuuhhh, bocah ini benar-benar bernyali harimau!"
Katanya.
"'Suci, engkau menawan harimau cilik ini untuk apakah?"
"Untuk memaksa ayah kandungnya muncul dan menghadapiku."
"Hemm, untuk semacam sandera?"
"Begitulah."
"Wah, hal itu akan repot sekali. Dia buas dan ganas seperti harimau, tentu hanya akan menyusahkan saja dalam perjalanan,"
Kata Han Houw.
"Dan anak seperti ini, jika memperoleh kesempatan sedikit saja, tentu akan melarikan diri, suci."
Kim Hong Liu-nio tersenyum dan mengeluarkan sebatang jarum putih terbuat daripada perak.
"Aku mempunyai cara untuk memaksanya agar jangan meninggalkan kita, jangan melarikan diri."
Dari saku bajunya, Kim Hong Liu-nio mengeluarkan sebuah bungkusan kertas, membukanya dan nampaklah bubukan berwarna kuning.
Dia mengoleskan ujung jarum perak di bubukan kuning itu dan seketika ujung jarum itu berubah menjadi biru kehitaman, tanda bahwa bubukan itu mengandung racun.
Kemudian Kim Hong Liu-nio menghampiri tubuh Sin Liong yang masih rebah terlentang.
Anak ini tidak mampu bergerak karena tubuhnya seperti lumpuh, akan tetapi matanya masih memandang dengan mendelik penuh kemarahan, sama sekali tidak kelihatan takut.
"Biarlah dia melarikan diri kalau bisa. Andaikata bisapun, dia akhirnya akan mencari aku karena nyawanya berada di tanganku,"
Kata Kim Hong Liu-nio dengan tersenyum. Han Houw membelalakkan matanya.
"Suci hendak menggunakan Hui-tok-san (Bubuk Racun Api)?"
Kim Hong Liu-nio hanya tersenyum, lalu menghampiri Sin Liong.
Dengan gerakan cepat dia menusukkan jarum perak yang ujungnya biru menghitam itu ke arah betis kaki kanan Sin Liong.
Sin Liong merasa nyeri betis kanannya, akan tetapi dia tidak mengeluh, hanya memejamkan matanya.
Betisnya terasa panas sekali seperti digigit ribuan ekor semut, dan dia harus menggigit bibirnya untuk menahan perasaan yang amat menyiksa ini, rasa panas gatal tanpa dapat menggaruknya!
Han Houw lalu menotok pundaknya, membebaskan totokannya dan Sin Liong meraba betis kanannya, hendak menggaruk.
"Jangan garuk! Begitu kau garuk, kau akan mati konyol!"
Kim Hong Liu-nio berseru.
Sin Liong terkejut dan tidak jadi meraba betisnya.
Dia tidak takut mati, tetapi dia belum mau mati konyol.
Masih banyak hal yang harus dilakukannya di dunia ini, pertama mencari ayahnya dan ke dua, sekali waktu membalas kepada iblis betina ini.
Maka dia tidak mau membunuh diri secara konyol.
"Hui-tok-san telah berada di jalan darahnya."
Kim Hong Liu-nio berkata dengan suaranya yang merdu dan halus, bibirnya tersenyum akan tetapi kini Sin Liong mulai mengenal senyum seperti itu, senyum yang menyembunyikan kekejaman seperti iblis.
"racun itu berhenti di betismu dan tidak akan berbahaya kalau tidak kau garuk. Kalau kau garuk, maka racun itu akan berjalan cepat karena panasnya akibat garukan, dan makin cepat dia bergerak naik, makin cepat pula dia mencapai jantung dan mencabut nyawamu. Kalau kau diamkan saja, dalam waktu enam bulan barulah racun itu akan sampai di jantungmu dan mencabut nyawamu. Dan dalam waktu enam bulan itu, tentu aku sudah akan dapat berhadapan dengan ayah kandungmu!"
Han Houw bertepuk tangan memuji.
"Wah kau hebat, suci! Dengan demikian, dia tidak akan berani melarikan diri. Bukankah hanya engkau yang mempunyai obat penawarnya, suci?"
Kim Hong Liu-nio mengangguk.
"Mari kita berangkat ke Jeng-hwa-pang, sute!"
Wanita itu lalu mencengkeram tengkuk Sin Liong dan membawanya masuk ke dalam kereta, diikuti oleh Han Houw!
"Biarkan dia duduk bersamaku, suci.
Dia dapat menjadi teman seperjalananku."
Sin Liong lalu didudukkan di atas bangku kereta bersanding dengan Han Houw yang memandanginya penuh perhatian.
Sin Liong duduk seperti seorang raja, tegak dan tidak mau melirik ke sana-sini, mulutnya cemberut dan dia seolah-olah tidak perduli sama sekali kepada dua orang yang berada di dalam kereta bersamanya itu.
Kim Hong Liu-nio bersuit dan muncullah tujuh belas orang pengawal itu.
Dia mengeluarkan aba-aba dalam Bahasa Mongol dan bergeraklah kereta itu, ditarik oleh empat ekor kuda besar, berangkat menuju ke selatan, dikawal oleh para pengawal yang menunggang kuda.
Diam-diam Sin Liong merasa kagum dan heran juga.
Mulailah dia melirik ke arah Han Houw yang duduk di sebelah kirinya.
Dia menduga-duga siapa adanya pemuda ini yhng ternyata amat lihai ilmu silatnya, jauh lebih lihai daripada Siong Bu atau Beng Sin.
Dia mendengarkan wanita cantik itu berkata-kata kepada anak laki-laki ini, bicara dalam bahasa yang tidak dimengertinya.
Dia tidak tahu bahwa Kim Hong Liu-nio bercerita kepada Han Houw tentang dirinya.
Akhirnya percakapan mereka berhenti dan Han Houw menyentuh lengannya.
Dia menoleh.
Dua pasang mata yang sama tajam bersinar-sinar saling bertemu.
Han Houw tersenyum dan berkata.
"Kau memang hebat, adik kecil. Ayahmu patut dipuji."
"Dan kau memang jahat, kekejaman kalian patut dicela!"
Jawab Sin Liong, memandang berani. Han Houw tertawa.
"Ha-ha-ha, belum pernah selama hidupku bertemu dengan bocah seperti engkau ini. Namamu Cia Sin Liong? Eh, Sin Liong, setelah kita saling bertanding dan kini duduk sekereta, tentu engkau mau menjadi sahabatku bukan?"
"Persahabatan bukan hanya omong kosong belaka, tapi ditentukan oleh perbuatan dan perbuatanmu dan sucimu terhadap diriku sama sekali tidak bersahabat!"
Jawab pula Sin Liong.
Dia masih marah sekali dan tentu saja dia marah karena dia juga maklum bahwa di dalam tubuhnya telah mengeram racun jahat yang akan menewaskannya dalam waktu enam bulan, racun yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuhnya oleh wanita itu.
Perbuatannya itu demikian kejam dan anak ini bicara tentang persahabatan!
Akan tetapi, Han Houw yang tadi mendengar dari sucinya tentang keadaan Sin Liong, tidak menjadi marah oleh jawaban itu.
Dia amat tertarik lalu berkata.
"Engkau sejak kecil dipelihara oleh monyet-monyet besar? Betapa aneh, hebat, dan pengalamanmu itu sungguh luar biasa. Ingin aku mengalami hal seperti yang telah kaualami itu, Sin Liong. Dan engkau putera kandung Cia Bun Houw, pendekar yang kabarnya amat sakti itu. Bukan main! Aku ingin menjadi sahabatmu!"
Akan tetapi Sin Liong tidak mau menjawab lagi, bahken membuang muka memandang ke luar jendela kereta, melihat betapa kereta dijalankan cepat melintasi padang rumput yang agak tandus dan dari jauh di depan nampak dinding yang amat panjang naik turun gunung, berbelok-belok seperti ular atau naga besar.
Itulah agaknya Tembok Besar yang terkenal sebagai dongeng, yang pernah diceritakan kepadanya oleh Siong Bu dan Beng Sing, dua orang anak yang pernah menyeberangi tembok besar yang amat panjang itu.
Matahari telah mulai condong ke barat ketika rombongan itu memasuki sebuah butan di lereng bukit.
Tembok besar nampak jelas dari bawah, akan tetapi ketika mereka memasuki hutan, tembok panjang yang seperti naga itu lenyap tertutup oleh pohon-pohon yang memenuhi hutan dan yang tumbuh secara liar.
Tiba-tiba kereta berhenti dan pasukan pengawal segera menggerakkan kuda mereka mengurung kereta untuk melindungi.
"Mengapa berhenti?"
Han Houw bertanya.
"Apa yang terjadi?"
Kim Hong Liu-nio juga bertanya, nada suaranya tidak sabar.
Seorang pengawal mendekatkan kudanya dengan jendela kereta dan memberi laporan dalam Bahasa Mongol secara singkat.
"Hemmm, bagus! Mereka mencari mati di tempat ini? Sute, kau berdiam saja di sini dan lihat saja sucimu menghajar mereka!"
Kata Kim Hong Liu-nio dan tiba-tiba tubuhnya melesat keluar dari dalam kereta.
Han Houw membuka tirai-tirai kereta dan dari dalam kereta, dia dan Sin Liong dapat melihat apa yang terjadi di depan.
Kiranya perjalanan rombongan itu dihadang oleh serombongan orang yang jumlahnya tidak kurang dari tujuh puluh orang, yang kini semua berdiri seperti patung mengurung kereta itu.
Mereka bergerak tanpa mengeluarkan suara, dan tubuh mereka hanya bergeser secara teratur sehingga tahu-tahu tempat di mana kereta itu berhenti telah dikepung dalam jarak kurang lebih lima meter.
Para pengepung itu memakai pakaian seragam hijau muda dengan gambar bunga yang bentuknya aneh, berwarna hijau tua di dada baju masing-masing.
Karena pakaian yang berwarna serba hijau ini, maka pandang mata menjadi kabur karena warna pakaian mereka itu sama dengan warna di sekeliling tempat itu, warna daun dan semak-semak.
Dan karena mereka mengurung dengan berdiri tegak dan sama sekali tidak bergerak atau mengeluarkan suara, maka keadaan menjadi makin menyeramkan.
Akan tetapi Sin Liong melihat betapa Han Houw bersikap tenang saja, bahkan senyumnya mengandung ejekan dan memandang rendah sekali.
Diam-diam dia merasa kagum terhadap ketabahan pemuda cilik yang tampan dan berpakaiah mewah ini.
Sementara itu, tujuh belas orang pengawal telah berbaris rapi mengurung kereta dan membelakanginya, siap melindungi kereta itu dengan taruhan nyawa mereka.
Tujuh belas orang pengawal yang berpakaian seragam inipun kelihatan gagah dan tenang.
Semua ini membuat hati Sin Liong menduga-duga siapa adanya anak ini sesungguhnya.
"Han Houw, sebenarnya siapakah engkau ini? Apakah anak bangsawan Mongol?"
Akhirnya Sin Liong bertanya karena tidak dapat menahan lagi keinginan tahunya.
Han Houw menoleh kepadanya lalu tersenyum.
Dia telah dipesan oleh ayah bundanya, juga sucinya, agar tidak mengaku sebagai putera Raja Sabutai, agar melakukan perjalanan dengan menyamar, karena jika dia dikenal sebagai putera Raja Sabutai, tentu keadaannya akan menjadi berbahaya sekali.
Banyak kepala suku bangsa yang tentu saja akan mengincarnya, karena Sabutai mempunyai banyak sekali musuh di antara suku-suku bangsa di utara.
Kini, mendengar pertanyaan Sin Liong, Han Houw tersenyum dan menjawab.
"Kelak engkau akan mengetahui sendiri, Sin Liong."
Sin Liong memang berwatak keras dan angkuh.
Mendengar jawaban ini dia tidak sudi mendesak lagi, bahkan kini dia mengalihkan perhatiannya memandang ke luar jendela, ke arah Kim Hong Liu-nio yang telah berhadapan dengan para pimpinan gerombolan itu.
Wanita itu telah berdiri tegak menghadapi enam orang pimpinan gerombolan dengan sikap tenang dan mulut tersenyum-senyum yang menyembunyikan kemarahan hatinya karena gangguan gerombolan itu.
Tadi pimpinan pengawal telah memberi laporan kepadanya bahwa gerombolan Jeng-hwa-pang telah menghadang di tengah perjalanan dan dia menjadi marah sekali.
Setelah dia melompat turun dan melihat sekeliling, benar saja dia mengenal bahwa mereka itu adalah pasukan Jeng-hwa-pang!
Tentu saja dia merasa marah sekali dan cepat dia menghampiri enam orang yang ia duga tentulah merupakan pimpinan Jeng-hwa-pang.
Ketika dia pernah mengacau di Jeng-hwa-pang, membunuh-bunuhi orang-orang she Tio termasuk isteri ketua Jeng-hwa-pang, dia tidak bertemu dengan para pimpinan Jeng-hwa-pang yang kabarnya sedang pergi menangkapi ular-ular merah.
Akan tetapi dia mendengar bahwa pimpinan Jeng-hwa-pang adalah ketuanya yang dibantu oleh lima orang tokoh Jeng-hwa-pang yang berkepandaian tinggi.
Maka kini melihat ada enam orang berdiri tegak dengan sikap angkuh, mudah saja hati Kim Hong Liu-nio untuk menduga bahwa tentu mereka itulah para pimpinan Jeng-hwa-pang.
"Jeng-hwa-pang mengundang kami untuk datang ke sarangnya, akan tetapi sekarang di dalam hutan menghadang seperti kelakuan para perampok rendah!"
Kim Hong Liu-nio berseru dengan suara nyaring.
"Jeng-hwa-pang mengundang orang untuk mengadu kepandaian atau hendak melakukan pengeroyokan seperti pengecut-pengecut hina?"
Enam orang itu mengerutkan alis mereka dan memandang marah.
Tak mereka kira wanita secantik itu ternyata mempunyai lidah yang amat tajam.
Pria berusia lima puluh tahun yang bermuka merah dan bertubuh tegap gagah, yaitu Jeng-hwa-pangcu sendiri melangkah maju dan menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah muka Kim Hong Liu-nio.
"Kim Hong Liu-nio, baru sekarang kita ada kesempatan untuk saling bertemu! Engkau dan tujuh belas orang pengawalmu itu tidak ada artinya. Engkau telah dikurung oleh anak buah kami yang berjumlah tujuh puluh lima orang! Kekuasaan ada padaku dan kelemahan ada padamu, maka tidak perlu lagi kau bersikap sombong. Kamilah yang menentukan apakah akan membasmi kalian satu demi satu ataukah sekaligus! Dan..."
"Tunggu dulu!"
Kim Hong Li-nio menghentikan kata-kata lawannya itu dengan mengangkat tangan ke atas.
Tangan yang diangkat ke atas ini merupakan isyarat bagi para anggauta pasukan pengawalnya dan mereka itu cepat menurunkan busur dan anak panah dan siap dengan senjata itu di tangan mereka.
"Agaknya engkau ini Jeng-hwa-pangcu Gak Song Kam! Eh, orang she Gak, apakah engkau tidak melihat keadaan pasukan pengawal itu?"
Gak Song Kam dan lima orang pembantunya memandang dan melihat tujuh belas orang pengawal itu memegang busur dan anak panah, mereka tertawa, diikuti pula oleh puluhan orang anak buah mereka yang menyeringai.
Akan tetapi tidak ada suara ketawa keluar dari mulut mereka sehingga Sin Liong bergidik.
Amat menyeramkan melihat puluhan orang itu menyeringai sehingga nampak gigi mereka akan tetapi tidak ada suara yang keluar!
"Ha-ha-ha, Kim Hong Liu-nio, sungguh lucu sekali melihat gertakanmu ini!
Apa sih artinya tujuh belas orang pengawalmu yang memegang busur dan anak panah itu?
Apakah kau kira kami ini hanyalah kijang-kijang dan kelinci-kelinci yang lemah sehingga mudah saja ditakut-takuti dan ditodong dengan anak panah seperti itu?
Ha-ha-ha!"
"Jeng-hwa-pangcu, kalian bukan hanya kijang-kijang dan kelinci-kelinci lemah, akan tetapi malah adalah sekumpulan babi hutan yang tolol. Lihatlah baik-baik!"
Kim Hong Liu-nio memberi isyarat dengan jari tangannya ke atas, Ibu jari tangan kanannya diacungkan ke atas dan tujuh belas orang pengawal itu lalu menarik busur, dan para anggauta Jeng-hwa-pang sudah siap untuk menangkis atau mengelak.
Akan tetapi tiba-tiba anak panah itu dihadapkan ke atas dan begitu tali busur dilepas meluncurlah tujuh belas batang anak panah.
Setelah tiba di atas, anak-anak panah itu mengeluarkan ledakan dan nampaklah sinar merah bernyala di angkasa.
Kiranya anak-anak panah itu adalah anak panah berapi yang dipergunakan untuk mengirim berita!
Orang-orang Jeng-hwa-pang terkejut, heran dan tidak mengerti.
Akan tetapi tak lama kemudian mereka dikejutkan oleh suara gemuruh dari empat penjuru.
Kemudian, terdengarlah derap kaki kuda yang banyak sekali disertai sorak-sorai dari banyak sekali orang.
Dan tampaklah oleh mereka karena hutan itu berada di lereng bukit yang agak tinggi betapa dari empat penjuru berdatangan pasukan-pasukan yang masing-masing tidak kurang dari tiga ratus orang jumlahnya!
Gak Song Kam dan para pembantunya saling pandang dan muka Gak Song Kam yang biasanya berwarna merah itu kini menjadi agak pucat.
Melihat ini, Kim Hong Liu-nio tertawa dan kini terdengar suara berbisik ketika pasukan-pasukan itu mulai mendekat dan mengurung hutan itu, siap untuk menyerbu jika ada tanda dari Kim Hong Liu-nio.
Tempat itu termasuk daerah kekuasaan Raja Sabutai dan semua suku bangsa yang berada di sekitar tempat itu tentu saja merupakan bawahan-bawahan raja ini, maka begitu melihat tanda bahaya yang dilepas melalui anak panah tadi, berbondong-bondong mereka datang dari segenap jurusan ke hutan itu.
"Orang she Gak, kau masih mau bicara tentang siapa yang mengurung dan siapa yang dikurung, siapa yang kuat dan siapa yang lemah, siapa pula yang menentukan? Pengawalku memang hanya tujuh belas orang, akan tetapi anak buahmu hanya berjumlah tujuh puluh lima orang sedangkan pasukanku yang telah datang saja sudah lebih dari seribu orang, belum lagi yang sedang datang dari tempat yang agak jauh. Engkau mau bicara apa sekarang?"
Hati Gak Song Kam menjadi gentar.
Memang maksudnya hendak menghadapi wanita in sebagai musuh pribadi dan dia memang tidak berani membawa-bawa nama Raja Sabutai yang dia tahu memiliki pasukan-pasukan yang amat kuat dan tidak mungkin dilawan oleh anak buahnya itu.
Tadinya, melihat musuh besarnya itu hanya dikawal oleh tujuh belas orang pengawal, maka begitu mendengar berita ini, Dia cepat mengumpulkan anak buahnya dan melakukan penghadangan jalan karena dia bermaksud membalas dendam dan membasmi semua orang di tengah hutan agar kalau Raja Sabutai mendengar tentang pembasmian itu, dia tidak akan menyangka bahwa orang-orang Jeng-hwa-pang vang melakukannya.
Kalau Kim Hong Liu-nio tiba di sarang Jeng-hwa-pang, tentu saja Jeng-hwa-pang tidak memungkiri lagi dan berarti akan menanam bibit permusuhan dengan Raja Sabutai dan hal itu amatlah berbahaya.
Akan tetapi, siapa kira wanita ini benar-benar amat cerdik dan tidak dapat ditundukkan dengan mengandalkan banyak anak buah karena ternyata di belakang wanita itu berdiri pasukan yang ribuan orang jumlahnya.
Maka terpaksa Gak Song Kam tersenyum-senyum masam untuk menutupi rasa gentar dan kecewanya.
"Hemm, kiranya Kim Hong Liu-nio yang mengaku gagah perkasa itu hanya mengandalkan pasukan besar untuk menghadapi lawan!"
"Cih! Orang she Gak, sebaiknya engkau menelan kembali ludahmu itu! Engkaulah yang mengandalkan jumlah banyak! Sekarang katakanlah, engkau mengundang aku ke Jeng-hwa-pang kemudian menghadang di tengah jalan ini mempunyai maksud curang apakah?"
Gak Song Kam berdehem untuk menenangkan hatinya yang terguncang.
Kemudian dia menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan pula.
"Kim Hong Liu-nio, benarkah engkau yang telah membunuh isteriku dan sembilan orang keluarga isteriku beberapa bulan yang lalu?"
Kim Hong Liu-nio mengangguk, menurunkan papan salib dari punggungnya sambil memperlihatkan tulisan tiga huruf di atas papan.
"Bukan salahku, pangcu, akan tetapi salahnya isterimu dan salahmu sendiri. Kenapa isterimu she Tio? Kenapa engkau menikah dengan seorang she Tio dan di rumahmu tinggal sembilan orang she Tio itu?"
Tentu saja jawaban ini amat bo-ceng-li (kurang ajar) dan mau menang sendiri saja.
Wajah Gak Song Kam menjadi makin merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi, akan tetapi melihat keadaan yang tidak menguntungkan, dia tidak berani terlalu memperlihatkan kemarahannya.
"Kim Hong Liu-nio! Engkau tahu bahwa di dunia kang-ouw terdapat peraturan bahwa siapa hutang uang bayar uang, hutang budi bayar budi, dan hutang nyawa bayar nyawa,"
Kata orang she Gak itu dengan suara penuh ancaman dan tangan kanannya meraba gagang pedang di pinggangnya.
Wanita itu tersenyum mengejek.
"Hemm, kau maksudkan bahwa aku telah membunuh isterimu dan keluarganya, sekarang engkau hendak membunuhku?"
"Itu sudah merupakan kepantasan!"
Jawab ketua Jeng-hwa-pang. Kim Hong Liu-nio mengangguk-angguk.
"Memang pantas! Seorang suami tentu harus membalas kematian isterinya, atau mengikuti isterinya ke alam baka. Soalnya, engkau mampu membunuh aku ataukah sebaliknya. Dan apakah kau hendak mengandalkan pengeroyokan untuk membunuhku, pangcu?"
Diejek demikian, makin marahlah Gak Song Kam.
Kalau dia tidak ingat bahwa tempat itu telah dikurung oleh seribu lebih pasukan, tentu dia akan menggerakkan anak buahnya untuk membunuh iblis betina ini.
"Ataukah engkau akan bersikap pengecut dan curang, mempergunakan racun-racunmu?"
Kembali wanita itu mengejek.
"Apakah engkau takut?"
Ketua Jeng-hwa-pang itu berkesempatan balas mengejek.
Wanita itu tersenyum, manis sekali sehingga diam-diam Gak Song Kam merasa heran dan juga sayang mengapa wanita secantik itu berhati kejam seperti iblis dan harus dibunuhnya untuk membalas kematian isterinya dan sembilan orang keluarga isterinya.
"Racun-racunmu hanya permainan kanak-kanak, siapa takut? Akan tetapi kalau engkau hendak menggunakan pengeroyokan anak buahmu, terpaksa akupun akan menggerakkan pasukanku."
Tiba-tiba lima orang pembantu utama Gak Song Kam bergerak maju ke depan.
Seorang di antara mereka berkata.
"Tidak ada pengeroyokan! Pangcu kami mengundang untuk pibu. Kami berlima adalah pembantu-pembantu utamanya dan kami berlima biasa maju bersama. Biarlah kami mengawali pertandingan ini dan menjadi jago-jago fihak pangcu. Silakan kouwnio mengeluarkan jago kouwnio untuk menandingi kami!"
Kim Hong Liu-nio masih tersenyum dan memandang lima orang laki-laki itu.
Usia mereka itu kurang lebih empat puluh sampai lima puluh tahun, semua bertubuh tegap dan nampaknya kuat, berpakaian ringkas dan mereka berlima memegang lima macam senjata pula.
Ada yang memegang pedang, golok, tombak, toya dan ruyung.
Dia sudah mendengar dari para penyelidiknya bahwa lima orang pembantu dari Jeng-hwa-pang ini lihai sekali, apalagi kalau mereka maju bersama karena kelimanya merupakan ahli dalam barisan Ngo-heng-tin.
Dia sendiri banyak mempelajari ilmu-ilmu silat dari berbagai cabang persilatan, akan tetapi dia belum mengenal Ngo-heng-tin, maka hatinya tertarik sekali.
"Hemm, jadi kalian berlima ini pembantu-pembantu Jeng-hwa-pangcu yang terkenal dengan ilmu Ngo-heng-tin? Kabarnya kalian adalah perampok-perimpok dari Heng-san, benarkah?"
Wajah lima orang itu menjadi merah sekali.
Memang mereka dahulunya sebelum menjadi tokoh Jeng-hwa-pang, adalah lima orang perampok di Heng-san yang terkenal.
Ketika mereka dikalahkan dan ditundukkan oleh Jeng-hwa-pang, mereka lalu menggabung dan karena mereka itu lihai, maka kini mereka menjadi pembantu-pembantu utama dari Jeng-hwa-pangcu.
Kini, disinggung masa lalu mereka, tentu saja mereka menjadi malu dan marah.
"Kami adalah Heng-san Ngo-houw, kami sudah siap membela pangcu kami, silakan kouwnio mengeluarkan jago kouwnio."
"Suci, biarlah aku menghadapi mereka!"
Tiba-tiba terdengar Han Houw berteriak dan dia sudah meloncat keluar dari dalam kereta dan lari menghampiri tempat itu.
Melihat ini, Sin Liong merasa tertarik dan diapun meloncat keluar dan mengikuti Han Houw.
Kim Hong Liu-nio mengerutkan alisnya.
Sutenya ini paling suka bertanding silat!
Memang sudah pandai sutenya ini, sudah banyak menguasai ilmu-ilmu silat tinggi karena memang memiliki bakat yang amat hebat, akan tetapi sutenya yang baru berusia empat belas tahun ini tentu saja masih belum memiliki pengalaman bertempur dan juga belum dapat dikatakan matang ilmu-ilmunya, sedangkan dia dapat menaksir bahwa lima orang ini merupakan jago-jago yang sudah kawakan dan berbahaya.
"Lebih baik jangan sute. Mereka ini adalah orang-orang berbahaya."
"Biarlah, suci. Aku tidak takut."
"Dan aku akan membantu Han Houw!"
Tiba-tiba Sin Liong berkata.
Kim Hong Liu-nio terkejut dan menoleh, memandang Sin Liong sambil mengerutkan alisnya.
Anak ini sungguh lancang dan kurang ajar, menyebut sang pangeran dengan namanya begitu saja!
Dan berlagak hendak membantu segala.
"Minggirlah engkau!"
Bentaknya. Kemudian dia menghadapi lima orang Hengsan Ngo-houw sambil berkata.
"Kalian maju berbareng dengan berlima, sebaliknya suteku berani menghadapi kalian. Bagaimana kalau aku dan suteku maju bersama, jadi dua lawan lima? Aku ingin melatih suteku dan kalian merupakan lawan latihan yang baik sebelum aku membunuh kalian."
Tentu saja lima orang itu menjadi makin marah karena ucapan itu jelas mengandung pandangan rendah sekali terhadap mereka.
"Majulah!"
Bentak orang tertua di antara mereka.
"Majulah kalian berdua, ditambah beberapa orang lagipun tidak mengapa!"
"Suci, menurut suci, di antara mereka ini, pemegang senjata mana yang paling berbahaya?"
Han Houw bertanya, sikapnya tenang.
"Lima batang senjata itu mempunyai keistimewaan masing-masing, sute, seperti juga sute telah ketahui dan pelajari. Akan tetapi, kalau sute menghadapinya dengan pedang, tentu saja masing-masing mempunyai kelemahan sendiri. Engkau tentu masih ingat bahwa melawan pemegang senjata panjang harus merapat, sebaliknya menghadapi lawan bersenjata pendek harus merenggang."
"Tapi, senjata mereka ini lima macam, ada yang pendek ada yang panjang kalau mereka maju bersama..."
"Itulah lihainya Ngo-heng-tin, harap sute berhati-hati dan mengerahkan gin-kang..."
Lima orang itu sudah tidak sabar lagi.
Mereka dijadikan bahan pelajaran ilmu silat!
Maka mereka lalu bergerak mengurung wanita dan anak laki-laki itu, kemudian terdengar mereka berseru hampir berbareng.
"Lihat senjata!"
Dan mulailah lima orang itu menggerakkan senjata masing-masing melakukan serangan!
"Cring-cring-cring...!"
Nampak sinar terang berkelebatan dan ternyata Han Houw telah mencabut pedang dan menangkis tiga batang senjata lawan yang menyambar, sedangkan dua batang senjata lain telah dikebut oleh ujung sabuk merah Kim Hong Liu-nio!
Akan tetapi, lima orang itu sudah menyerang lagi lebih hebat dan gerakan mereka benar-benar amat luar biasa.
"Jangan tangkis, elakkan, pergunakan gin-kang dan lindungi diri dengan sinar pedang!"
Terdengar Kim Hong Liu-nio berseru dan dua orang ini segera berkelebatan dengan cepat sekali di antara sambaran lima batang senjata itu.
Han Houw mengerti bahwa sucinya menyuruh dia mengelak untuk dapat memperhatikan cara lima orang lawan itu melakukan penyerangan dengan tersusun dalam Ngo-heng-tin.
Dan memang demikianlah, Kim Hong Liu-nio diam-diam mempelajari gerakan lima orang itu dan dengan cepat dia sudah dapat menangkap inti dari kerja sama lima orang itu.
Kiranya memang ada unsur ngo-heng di dalam gerakan-gerakan mereka yang saling membantu dan saling melindungi, seperti juga sifat dari lima zat pokok yaitu api, air, kayu, logam, dan tanah.
Ilmu berdasarkan ngo-heng ini memang hebat bukan main, dan setelah saling melindungi maka menjadi amat kuat.
Akan tetapi segera Kim Hong Liu-nio melihat bahwa dasar dari tingkat ilmu yang dimiliki oleh lima orang itu tidak begitu kuat.
Inilah kelemahan mereka.
Andaikata mereka itu terdiri dari orang-orang yang memiliki dasar ilmu yang kuat, maka Ngo-heng-tin ini benar-benar amat sukar ditundukkan.
Setelah melihat kelemahan lawan, maka dia tersenyum dan berkata kepada sutenya.
"Sute, kau sekarang boleh serang mereka yang memegang pedang dan golok! Pergunakan gerakan Lian-cu Siang-kiam (Tikaman Ganda Berantai)!"
Han Houw mentaati perintah sucinya dan cepat pedangnya membuat gerakan berganda, melakukan serangan bertubi-tubi kepada pemegang pedang dan pemegang golok tanpa memperdulikan yang lain.
Tiga orang lainnya tentu saja berdasarkan silat Ngo-heng-tin, telah menggerakan senjata secara otomatis melindungi kedua orang itu, akan tetapi nampaklah sinar merah panjang berkelebatan dan sinar yang dibuat dari sabuk merah Kim Hong Liu-nio ini telah membentuk benteng yang menghadang tiga orang lainnya sehingga mereka terpisah dari si pemegang golok!
Terpaksa kedua orang ini menghadapi serangan pedang Han Houw, dan mereka terkejut bukan main menyaksikan sinar pedang yang berkeredepan dan amat cepat itu.
Mereka kini terdesak dan menangkis kalang-kabut, dan lebih kaget lagi hati mereka ketika mereka menangkis, pedang dan golok mereka menjadi patah ujungnya, tidak kuat bertemu dengan pedang pusaka di tangan Han Houw.
Apalagi karena anak itu memang mengerahkan sin-kang yang istimewa, yang dikuasainya di bawah gemblengan Hek-hiat Mo-li sendiri!
Sin Liong menonton dengan mata terbelalak penuh kagum.
Bukan main, pikirnya.
Kiranya Ceng Han Houw benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.
Pandang matanya sampai kabur menyaksikan anak itu mengamuk dikeroyok dua orang yang memegang pedang dan golok itu, Sedangkan tiga orang lainnya ditahan oleh sinar merah dari Kim Hong Liu-nio, membuat mereka bertiga bergerak bingung karena ujung sinar merah itu kini berubah banyak sekali dan melakukan totokan-totokan pada jalan-jalan darah maut mereka!
Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan si pemegang golok roboh terguling, dari lehernya mengucur darah karena tenggorokannya telah tertembus oleh ujung pedang Han Houw!
Dan kini si pemegang pedang dengan muka pucat berusaha untuk mempertahankan diri sambil memutar pedangnya yang telah buntung!
Semua ini tidak terlepas dari pandang mata Gak Song Kam.
Menyaksikan semua itu, ketua Jeng-hwa-pang ini terkejut bukan main.
Dia sendiri, setelah mengerahkan seluruh kepandaiannya, baru dapat mengimbangi Ngo-heng-tin.
Dan kini, Ngo-heng-tin menjadi kocar-kacir hanya menghadapi seorang bocah yang dibantu oleh wanita cantik itu, bahkan seorang di antara mereka telah roboh dan tewas, sedangkan yang empat orang lagi dia tahu tentu hanya tinggal menanti waktu saja.
Melihat gerakan sabuk merah dari Kim Hong Liu-nio, dia tahu bahwa kalau wanita itu menghendaki, tentu sudah sejak tadi tiga orang temannya itu dapat dirobohkan, akan tetapi agaknya wanita itu benar-benar hendak "melatih"
Sutenya dan membiarkan sutenya merobohkan lima orang itu dan dia hanya membantu hanya untuk mencegah tiga orang itu mengeroyok.
Dan melihat ini semua, tanpa bertandingpun tahulah ketua Jeng-hwa-pang ini bahwa dia sendiri bukan lawan Kim Hong Liu-nio dan usahanya membalas dendam akan sia-sia belaka, bahkan dia hanya akan menyerahkan nyawanya.
Maka timbullah akal yang curang di dalam benak Gak Song Kam.
Sejak tadi dia melirik ke arah Sin Liong.
Dia tidak tahu siapa anak itu, akan tetapi melihat gerak-geriknya, anak itu tidaklah selihai anak laki-laki yang memegang pedang itu, akan tetapi karena datang bersama Kim Hong Liu-nio, tentu anak itupun merupakan seorang anggauta keluarga atau anggauta rombongan.
Maka diam-diam dia lalu memberi isyarat kepada para anak buahnya.
Semua anggauta Jeng-hwa-pang adalah orang-orang yang telah bersumpah setia kepada Jeng-hwa-pang, maka begitu melihat isyarat itu, mereka lalu bergerak dan mencabut senjata, menyerang Kim Hong Liu-nio dan Ceng Han Houw!
Kim Hong Liu-nio terkejut dan marah sekali.
Dia mengeluarkan suara melengking nyaring untuk memberi aba-aba kepada pasukan yang mengurung tempat itu, Kemudian dia sendiri sudah mencabut pedangnya dan mengamuk sambil melindungi Han Houw.
Ketika dia mencari-cari dengan pandang matanya di antara pengeroyokan anak buah Jeng-hwa-pang, dia tidak lagi melihat Gak Song Kam.
Ke manakah perginya ketua Jeng-hwa-pang ini?
Orang yang cerdik ini setelah melihat anak buahnya menyerbu, lalu dia meloncat dan menyelinap di antara anak buahnya, bukan untuk mundur dan melarikan diri, melainkan untuk menghampiri kereta yang telah ditinggalkan oleh tujuh belas orang pengawal itu.
Para pengawal yang melihat betapa anak buah Jeng-hwa-pang telah turun tangan mengeroyok, tentu saja cepat menggerakkan senjata dan menghadapi mereka dengan sengit.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Gak Song Kam untuk menyerang ke depan dan menangkap Sin Liong.
"Eh, kau mau apa?"
Sin Liong membentak dan berusaha mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya telah kena dicengkeram oleh ketua Jeng-hwa-pang itu.
"Diam kau, dan kau ikut saja bersamaku!"
Bentak Gak Song Kam sambil mengangkat tubuh Sin Liong, mengempitnya dan mencengkeram tengkuknya, lalu ketua Jeng-hwa-pang ini melarikan diri.
Setiap kali bertemu dengan pasukan yang mulai berdatangan, dia mengancam.
"Biarkan aku lewat, kalau tidak, kubunuh lebih dulu anak ini!"
Para anggauta pasukan tidak mengenal Sin Liong, akan tetapi karena pengawal yang tadi melihat Sin Liong naik kereta bersama sang pangeran, cepat berseru agar Gak Song Kam yang telah menawan anak itu tidak diganggu!
Demikianlah, Gak Song Kam berhasil melarikan diri sambil mengempit tubuh Sin Liong.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Kim Hong Liu-nio yang nyaring.
"Tahan dia itu! Tangkap ketua Jeng-hwa-pang yang curang itu!"
Kiranya, setelah melihat lenyapnya Gak Song Kam, Kim Hong Liu-nio menjadi marah bukan main.
Sambil melindungi Han Houw, cepat dia merobohkan empat orang Heng-san Ngo-houw, kemudian dia mengajak Han Houw mundur, membiarkan tujuh belas orang pengawal itu menghadapi para anak buah Jeng-hwa-pang karena kini pasukan telah bergerak maju dan tentu puluhan orang Jeng-hwa-pang itu akan dibasmi habis.
Bersama Han Houw dia lalu mencari-cari Gak Song Kam dan akhirnya dia melihat orang itu yang melarikan diri sambil mengempit tubuh Sin Liong.
"Celaka, suci. Dia melarikan Sin long!"
Seruan Han Houw ini mengejutkan Kim Hong Liu-nio.
Kalau Han Houw pada saat itu mengkhawatirkan keselamatan Sin Liong yang terjatuh ke tangan ketua Jeng-hwa-pang, sebaliknya Kim Hong Liu-nio khawatir kalau-kalau dia kehilangan Sin Liong yang akan dijadikan sandera untuk menemukan musuh besarnya, ayah kandung anak itu, dan menundukkannya.
Jadi kekhawatiran kedua orang ini mempunyai dasar yang jauh berbeda.
Han Houw diam-diam mengagumi dan merasa suka sekali kepada Sin Liong yang dianggapnya jauh berbeda dari anak-anak biasa, apalagi sikap Sin Liong terhadap dirinya yang tidak menjilat-jilat seperti anak-anak lain, benar-benar menimbulkan kesan di hatinya dan dia merasa suka bersahabat dengan anak itu.
Melihat Gak Song Kam melarikan Sin Liong, Kim Hong Liu-nio lalu berteriak menyuruh pasukan yang berada di belakang untuk menahan orang, itu.
Akan tetapi pada saat itu, Gak Song Kam telah berhasil keluar dari kepungan dan kini mendengar seruan Kim Hong Liu-nio, kurang lebih tiga puluh orang perajurit anggauta pasukan kecil yang berada paling belakang, segera membalikkan tubuhnya dan mereka berlari-larl mengejar!
Melihat tiga puluh orang lebih mengejarnya dan melepaskan anak panah, Gak Song Kam cepat menggerakkan tangan kanannya dan tangan itu telah menyebar bubuk berwarna hitam di belakangnya.
Bubuk itu tertiup angin berserakan di sepanjang jalan dan juga terbawa angin tersebar sampai jauh.
Ketika tiga puluh orang lebih itu tiba di tempat itu tiba-tiba mereka itu menjerit dan robohlah tiga puluh lebih orang itu berkelojotan di atas tanah sambil kedua tangan mencekik leher sendiri.
Mereka telah terkena hawa beracun dari bubuk hitam yang ditaburkan oleh ketua Jeng-hwa-pang itu!
Melihat ini, pasukan lain dari sebelah kiri bergerak maju untuk menghadang dan pada saat itu, Gak Song Kam melempar-lemparkan beberapa benda-benda kecil, terdengar ledakan dan nampak asap kehitaman mengepul memenuhi jalan.
"Jangan kejar! Kembali...!"
Kim Hong Liu-nio berseru, namun terlambat karena belasan orang perajurit telah tiba di tempat itu dan kembali terdengar jerit-jerit mengerikan dan mereka itu terguling roboh.
Asap beracun itu seketika membunuh mereka dan muka mereka berubah menjadi kehijauan!
"Keparat!"
Kim Hong Liu-nio kini meninggalkan Han Houw.
"Sute, jangan ikut mengejar!"
Teriaknya kemudian tubuhnya melesat, ketika tiba di tempat di mana disebar racun, dia mengerahkan sin-kangnya menahan napas, lalu meloncat seperti seekor burung terbang melampaui tempat itu dan tiba di sebelah sana yang aman.
Akan tetapi, karena pada waktu itu senja telah datang dan di sebelah depan merupakan hutan yang gelap, dia tidak lagi melihat bayangan ketua Jeng-hwa-pang.
Kim Hong Liu-nio berdiri termangu-mangu.
Dia adalah seorang yang sakti dan jangankan baru menghadapi seorang seperti Gak Song Kam saja, Biar ada lima orang Gak Song Kam dia tidak akan takut menandinginya.
Akan tetapi, Gak Song Kam adalah seorang ahli racun, dan kini orang yang curang itu telah berada di dalam hutan gelap.
Menghadapi seorang curang seperti ketua Jeng-hwa-pang itu, di tempat gelap dan orang itu ahli racun, benar-benar merupakan bahaya besar dan Kim Hong Liu-nio bukanlah seorang bodoh.
Memang dia kehilangan Sin Liong, akan tetapi anak itu dalam waktu enam bulan akan mati juga.
Pula, untuk mencari Cia Bun Houw tanpa bantuan Sin Liongpun dia masih sanggup.
Maka setelah mengepal tinju memandang ke arah hutan gelap dan di dalam hatinya berjanji untuk kelak membunuh Gak Song Kam, dia lalu membalikkan tubuh kembali kepada sutenya yang telah menantinya di dalam kereta.
Ternyata bahwa tujuh puluh lebih anggauta Jeng-hwa-pang, tidak ada seorangpun yang dapat lolos.
Semua terbunuh oleh pasukannya, akan tetapi fihak pasukan juga kehilangan banyak orang, hampir dua ratus orang anggauta pasukan tewas karena orang-orang Jeng-hwa-pang tadi juga menggunakan racun-racun yang menjatuhkan banyak lawan.
Setelah memesan agar para komandan pasukan mengurus anak buah yang telah tewas, Kim Hong Liu-nio lalu memilih dua ekor kuda terbaik, kemudian bersama Han Houw dia melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda, menuju ke selatan, ke tembok besar untuk mulai dengan perjalanannya yang jauh dan penuh bahaya, menuju ke Kerajaan Beng, selain untuk memenuhi perintah permaisuri, yaitu mengusahakan agar Han Houw dapat berjumpa dengan Kaisar, Juga untuk mencari musuh-musuh besar gurunya, yaitu Cia Bun Houw, Yap In Hong, dan Tio Sun.
Sementara itu, Sin Liong terus dibawa lari oleh ketua Jeng-hwa-pang memasuki hutan lebat.
Anak ini berusaha meronta, namun cengkeraman tangan Gak Song Kam amat kuat.
Seorang dewasa yang bertenaga besarpun takkan dapat berkutik kalau dicengkeram oleh orang she Gak ini, apalagi seorang anak kecil seperti Sin Liong.
Malam telah tiba ketika Gak Song Kam berhenti berlari.
Dia menotok jalan darah di punggung Sin Liong, membuat anak itu lemas tak mampu bergerak, lalu melemparkan Sin Liong ke atas rumput sedangkan dia sendiri lalu menjatuhkan diri di atas rumput, lalu kakek bertubuh tinggi tegap yang kelihatan gagah perkasa itu menangis!
Menangis terisak-isak dan bercampur keluhan panjang pendek yang keluar dari kerongkongannya.
Air matanya bercucuran, diusapnya dengan kedua tangan, seperti seorang anak kecil yang menangis karena kecewa hatinya.
Semua ini daput dilihat oleh Sin Liong yang roboh terlentang karena ada sinar bulan yang cukup terang menerobos di antara celah-celah daun pohon dan menyinari muka kakek yang sedang menangis itu.
Watak anak itu memang aneh sekali.
Hatinya keras dan dia akan menentang segala ketidakadilan dengan penuh keberanian dan dia tabah sekali menghadapi ancaman apapun juga.
Akan tetapi di balik ini, dia memiliki watak yang mudah terharu, mudah menaruh iba kepada orang lain, maka begitu melihat kakek itu menangis demikian sedihnya, dia merasa terharu sekali dan kasihan, lupa bahwa kakek ini telah menangkapnya dan membuatnya tidak berdaya dengan totokan.
"Paman, mengapa engkau menangis demikian sedihnya?"
Tak tertahankan lagi dia bertanya, suaranya penuh keprihatinan.
Mendengat pertanyaan itu, Gak Song Kam menangis makin keras lagi, seolah-olah pertanyaan itu menggugah semua kenangan yang pahit dan dia merasa benar betapa dia kini hanya sendirian saja, kehabisan keluarga, kehabisan anak buah yang telah dibasmi musuh!
Akan tetapi, semua ini mengingatkan dia akan kekejaman Kim Hong Liu-nio dan tiba-tiba tangisnya terhenti, dia terbelalak menoleh ke arah Sin Liong dan membentak.
"Bocah setan! Mereka telah membasmi semua anak buahku dan keluargaku. Baik, biarpun aku belum dapat membalas kepada iblis betina itu, setidaknya aku sudah dapat memuaskan dendamku kepadamu!"
Dia lalu meloncat, menyambar kedua kaki Sin Liong dan diseretnya tubuh anak itu ke bagian yang lebih dalam dari hutan itu.
Tentu saja Sin Liong tersiksa sekali, tubuhnya lecet-lecet dan babak belur terkena duri-duri ketika dia diseret dan dia sama sekali tidak mampu bergerak karena tubuhnya masih tertotok.
Akhirnya, kakek itu berhenti di sebuah lereng bukit dan di bawah pohon-pohon besar itu terdapat sebuah lubang yang dalamnya ada dua meter, seperti sebuah sumur.
"Ha-ha-ha, akan kulihat engkau mengalami siksaan yang paling mengerikan! Sekarang ini bagianmu untuk menebus dosa itu, kelak baru akan kuseret iblis betina ke tempat ini!"
Seperti orang gila Gak Song Kam tertawa bergelak dan karena ketika tertawa itu dia mengangkat muka, maka sinar bulan persis menimpa mukanya, membuat wajah itu kelihatan kelam dan seperti muka setan!
"Paman, apa yang akan kau lakukan kepadaku?"
Sin Liong bertanya karena dia merasa tidak bermusuhan dengan orang ini akan tetapi kenapa orang ini menyiksanya?
"Ha-ha-ha, kau ingin tahu?
Ingin melihat?
Nah, kau lihatlah!"
Dia menyambar tubuh Sin Liong dan menggantung tubuh itu dengan kaki di atas kepala di bawah, lalu dia menggantung tubuh itu di sumur.
Dengan kepalanya tergantung itu, Sin Liong dapat melihat lubang sumur yang gelap menghitam, akan tetapi nampak olehnya beberapa ekor ular merah bergerak-gerak di dasar lubang sumur itu!
"Ha-ha-ha, sudah kau lihat?
Itulah lima ekor ular merah yang kami kumpulkan di sini, kami pelihara untuk diambil racunnya.
Lima ekor ular yang paling ganas di dunia ini, dan aku akan melemparmu ke dalam lubang itu!"
Setelah berkata demikian, Gak Song Kam kembali melemparkan tubuh Sin Liong ke atas tanah di dekat lubang sumur yang mengerikan itu.
Melihat ular-ular itu, Sin Liong bergidik.
Ngeri juga hatinya melihat ular-ular itu, dan teringatlah dia akan cerita ibunya bahwa di waktu kecilpun dia pernah digigit ular dan hampir mati.
Teringat akan hal itu, dengan sendirinya dia teringat akan ibunya dan terbayanglah di depan matanya betapa ibunya, yang tadinya dianggap sebagai ibu angkatnya akan tetapi kemudian ternyata adalah ibu kandungnya sendiri, telah tewas.
"Ibuuuu...!"
Sin Liong menjerit dan tiba-tiba saja anak ini menangis!
Tangisnya sesenggukan karena semenjak saat ibunya terbunuh sampai saat ini, dia selalu berada di dalam ketegangan dan dia belum memperoleh kesempatan untuk meluapkan kesedihannya.
Kini, teringat akan kematian ibunya, ibu kandungnya, tiba-tiba saja dia merasa begitu berduka sehingga dia menjerit dan menangis tersedu-sedu.
Air matanya bercucuran tak dapat diusapnya karena kaki tangannya lumpuh tertotok.
"Ha-ha-ha-haaaa...!"
Gak Song Kam girang bukan main. Terhibur juga hatinya yang berduka melihat "musuhnya"
Tersiksa seperti itu.
Dia mengira bahwa Sin Liong menangis karena ketakutan, maka memanggil-manggil ibunya!
"Ibuu...
ah, ibuuu...
bu-hu-huuuh...!"
"Ha-ha-ha-haahhh...!"
Suara tangis dan tawa itu berselang-seling seperti berlumba, dan makin Sin Liong mengingat ibunya, makin hebatlah tangisnya dan makin keras pula suara ketawa Gak Song Kam yang merasa terhibur oleh kedukaan anak yang dianggapnya musuh besar atau setidaknya keluarga dari musuh besarnya ini.
"Ha-ha-ha, sekarang menangislah engkau, menangis terus sampai arwahmu akan menjadi setan yang menangis. Ha-ha-ha!"
Gak Song Kam menepuk punggung Sin Liong membebaskan totokannya sehingga anak itu dapat bergerak lagi.
Kemudian sambil tertawa-tawa, ketua Jeng-hwa-pang itu lalu melemparkan tubuh Sin Liong ke dalam lubang sumur!
"Bukk!"
Tubuh Sin Liong terbanting ke atas tanah yang agak lembek dan Sin Liong terguling-guling sampai tubuhnya membentur dinding sumur.
Anak ini terlentang, pakaiannya berlepotan tanah lumpur.
Terdengar suara tertawa dan Sin Liong yang terlentang itu melihat kepala dan wajah yang menyeramkan dari Gak Song Kam di atas lubang sumur.
Kakek itu menjenguk ke bawah sambil tertawa.
Tiba-tiba hidung Sin Liong mencium bau yang harum bercampur amis dan mendengar suara mendesis.
Dia terkejut, teringat akan ular-ular merah tadi dan cepat dia meloncat bangun dan berdiri.
Akan tetapi pada saat itu, dia merasa betisnya digigit dari bawah.
"Aduhh...!"
Dia berseru kaget dan merasa betapa betisnya nyeri dan ada rasa "cess"
Seperti terkena sesuatu yang amat dingin, akan tetapi rasa dingin yang menyusup sampai ke tulang sumsum dan mendatangkan kenyerian hebat.
Saking nyerinya, seketika dia terjatuh dan meraba betis kirinya yang tergigit itu, tangannya mencengkeram seekor ular kecil, besarnya hanya seperti ibu jari kakinya dan (Lanjut ke
Jilid 11) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11 panjangnya hanya beberapa jengkal.
Akan tetapi tubuh ular yang membelit kakinya itu ketika dia mencengkeram, ternyata lemas dan ketika dia renggutkan terlepas dari kakinya, ternyata ular itu telah mati!
"Cesss...!
Aduhhh!"
Kini tiba-tiba pahanya tergigit sesuatu dan rasa dingin menyusup tulang membuatnya menggigil.
Seperti tadi, tangannya yang telah melempar bangkai ular merah itu menangkap ular yang menggigit paha kanannya, dan sungguh aneh!
Kembali dia hanya menangkap ular merah yang telah mati lemas, sungguhpun bangkai ular itu masih hangat, tubuh ular itu masih berkelojotan sedikit.
Di bawah sinar bulan purnama yang hanya sedikit memasuki sumur kering itu, dia melihat ular kedua yang kulitnya belang-belang merah itu, akan tetapi kembali ada ular yang telah menggigit lengan kirinya.
Sebelum dia menangkap ular ini, ada lagi yang menggigit pinggang dan ada yang menggigit pundaknya.
Rasa dingin yang amat hebat membuat Sin Liong terguling lagi dan mengaduh-aduh, Kedua tangannya mencengkeram ke sana-sini dan seperti dua ekor ular yang pertama, juga tiga ekor ular merah itu telah mati begitu menggigit tubuhnya.
Sin Liong merintih-rintih, rasa dingin membuat seluruh tubuhnya menggigil.
Dia tidak lagi memperdulikan suara ketawa di atas, suara Gak Song Kam yang menikmati pemandangan remang-remang di bawah itu, di mana dia hanya melihat anak itu jatuh bangun dan mengaduh-aduh.
Dia mengira bahwa tentu anak itu sedang dikeroyok oleh lima ekor ular yang dipeliharanya di dalam lubang itu.
Dan dia membuka mata lebar-lebar, ingin sekali melihat anak itu ditelan oleh ular hutan besar yang juga berada di dalam lubang, ular yang tidak beracun akan tetapi besarnya sepaha manusia dan tentu akan senang sekali melihat anak itu, atau mayatnya ditelan perlahan-lahan oleh ular besar ini.
Kalau saja Gak Song Kam dapat melihat dengan jelas, tentu dia akan terkejut setengah mati melihat betapa lima ekor ular merah itu telah mati seketika begitu menggigit tubuh Sin Liong!
Hal ini terjadi karena kebetulan saja.
Seperti telah kita ketahui, di dalam tubuh Sin Liong mengeram racun Hui-tok-san, yaitu racun yang amat hebat, yang akan membunuh anak itu sedikit demi sedikit.
Racun Hui-tok-san ini sifatnya panas dan jahat bukan main.
Sebaliknya, racun ular merah yang sama jahat dan berbahaya, justeru mempunyai sifat yang sebaliknya.
Racun ular merah jenis yang dipelihara oleh ketua Jeng-hwa-pang itu mempunyai sifat dingin dan sekali racun ini memasuki jalan darah manusia, dalam waktu sebentar saja manusia itu tentu akan mati.
Akan tetapi, darah Sin Liong sudah diracuni oleh Hui-tok-san, maka begitu ular-ular itu menggigit, mereka bertemu dengan lawan hebat, maka seketika ular-ular itu mati, tidak kuat menghadapi hawa panas yang menyerang dari dalam tubuh Sin Liong.
Kini Sin Liong yang tersiksa hebat sekali.
Biarpun lima ekor ular meran itu telah mati, akan tetapi di dalam tubuhnya masih terjadi perang yang amat hebat dan menimbulkan penderitaan yang sukar dilukiskan.
Seluruh tubuhnya sakit-sakit, sebentar seperti akan terbakar, kemudian berganti berubah dingin seperti membeku, seluruh kulit tubuhnya seperti ditusuk-tusuk, dan dari dalam seperti ada ribuan ekor semut yang menggigitnya!
Tanpa disadarinya, dia mengeluh dan jatuh bergulingan di atas dasar sumur yang berlumpur, tidak ingat dan tidak mendengar lagi akan suara ketawa dari atas sumur.
Memang agaknya belum waktunya bagi Sin Liong untuk tewas.
Dua macam racun yang menguasai tubuhnya itu justeru memiliki sifat yang berlawanan, dan keduanya adalah racun-racun yang paling ganas di dunia ini.
Kalau racun ular merah itu yang telah memasuki tubuhnya lebih banyak atau kurang sedikit saja, nyawanya tidak akan tertolong lagi!
Akan tetapi yang memasuki tubuhnya justeru tepat sekali, berimbang dengan racun Hui-tok-san, sehingga perimbangan yang tepat ini membuat dua macam racun itu saling serang dan akhirnya keduanya mati sendiri atau kehilangan dayanya, menjadi punah atau luntur sehingga tanpa disadari oleh anak itu kini Sin Liong terbebas dari ancaman maut.
Racun Hui-tok-san yang oleh Kim Hong Liu-nio dimasukkan ke dalam tubuhnya dan yang akan membunuhnya dalam waktu enam bulan, kini telah buyar dan punah, sebaliknya racun lima ekor ular merah itupun kehilangan dayanya karena punah oleh Hui-tok-san!
Akan tetapi, rasa nyeri akibat perang yang terjadi di dalam tubuhnya antara racun ular-ular merah dan Hui-tok-san, benar-benar amat menyiksa sehingga dalam keadaan setengah sadar Sin Liong bergulingan dan mengeluh.
Dan pada saat itu, terdengar suara mendesis-desis dan seekor ular yang besar dan panjangnya ada tiga meter, meninggalkan akar besar di mana dia melingkar di dinding sumur itu dan bergerak turun menghampiri Sin Liong yang masih bergulingan!
Tubuh anak itu memang kuat sekali berkat bertahun-tahun digembleng oleh kehidupan liar bersama monyet-monyet di atas pohon.
Maka, setelah dua macam racun itu mulai kehilangan kekuatan masing-masing karena saling memunahkan, dia mulai sadar dan telah bangkit berdiri dan terhuyung, lalu bersandar pada dinding sumur.
Dia membuka matanya dan pada saat itu dia melihat dua cahaya kecil mencorong, Yaitu mata dari seekor ular besar yang telah berada di depannya, kepalanya tergantung ke bawah, lidahnya menjilat-jilat keluar!
Sin Liong terkejut bukan main, terkejut, ngeri, juga marah karena tubuhnya tersiksa oleh rasa nyeri yang hebat.
Semua perasaan ini mendorong keluar nalurinya dan dia mengeluarkan pekik dahsyat, bukan pekik manusia lagi melainkan pekik seekor kera muda yang sedang marah.
Kemudian, terdorong oleh keliaran ini, dia bukannya menjauhkan diri dari kepala ular besar itu, melainkan sebaliknya malah.
Dia menubruk maju dan mencengkeram leher ular itu!
Ular itu mendesis dan membuka mulut akan tetapi dengan seluruh kekuatan Sin Liong mencekik leher ular.
Ular itu lalu membelitkan tubuhnya, membelit-belit pinggang dan leher Sin Liong.
Anak ini tentu saja tidak mampu bertahan dan dia terguling, Tubuhnya terbelit-belit ular itu dan terasa betapa lehernya tercekik.
Karena marah, Sin Liong lalu menggereng, membuka mulutnya dan menggigit leher ular itu.
Digerogotinya leher ular itu sekuat tenaga, penuh keganasan dan kemarahan dan dia segera merasa darah segar yang panas memasuki mulutnya.
Akan tetapi dia tidak perduli dan menggigit terus, menggigit terus!
Ular itu besar dan kuat sekali.
Seorang laki-laki dewasa sekalipun tidak akan mungkin dapat melawan tenaga lilitannya, apalagi Sin Liong.
Kalau saja dia tidak berlaku nekat dan menggigit leher ular itu, tentu lehernya sendiri sudah patah dililit oleh ular itu.
Karena gigitannya itulah, maka ular itu merasa kesakitan dan meronta, membuat lilitannya tidak teratur, tidak sampai mematahkan tulang leher atau punggung Sin Liong, akan tetapi tentu saja makin menyiksa anak itu.
Ketika mendengar suara pekik dahsyat yang keluar dari mulut Sin Liong tadi, Gak Song Kam terkejut bukan main, akan tetapi juga merasa gembira.
Dalam diri setiap orang manusia memang terdapat semacam nafsu yang buas ini, yaitu rangsangan yang menimbulkan ketegangan yang nikmat apabila menyaksikan suatu siksaan atau kekejaman berlangsung menimpa diri lain orang atau lain mahluk.
Nafsu yang mungkin diwarisi dari binatang inilah yang membuat manusia suka sekali nonton adu tinju, adu jengkerik, adu ayam, dan bunuh-membunuh, baik antar manusia maupun antar mahluk hidup.
Nafsu yang dikenal dengan sebutan sadisme ini menguasai orang-orang yang lemah batinnya, orang-orang yang menonjolkan iba diri sehingga dia akan merasa senang melihat orang lain atau mahluk lain lebih menderita daripada dirinya sendiri.
Nafsu inilah yang menimbulkan segala macam perbuatan keji dan kejam di antara manusia.
Gak Song Kam yang mendengar pekik itu mengira bahwa tentu penyiksaan atas diri anak di dalam lubang sumur itu sudah mencapai puncaknya dan dia tidak ingin kehilangan kesempatan menyaksikan pemandangan yang dianggapnya menegangkan dan menyenangkan itu.
Maka cepat dia lalu membuat api, membakar sebongkok kayu kering sebagai obor, lalu dengan penerangan itu dia membantu sinar bulan menerangi ke dalam lubang sumur untuk menonton.
Akan tetapi, selagi dia menjenguk ke dalam lubang dan menggunakan tangan kiri menutupi sinar obor yang terlalu menyilaukan pandangannya, tiba-tiba terdengar pekik-pekik seperti tadi, kini banyak dan berulang-ulang.
Bekas ketua Jeng-hwa-pang itu terkejut bukan main karena mendengar pekik-pekik itu bukan keluar dari lubang sumur, melainkan dari belakangnya.
Cepat dia membalikkan tubuh memandang dan mengangkat obornya dan hampir dia sendiri berteriak saking kagetnya.
Tempat itu penuh dengan monyet-monyet besar yang menyeringai marah, memperlihatkan gigi-gigi bertaring dan mata kecil-kecil yang tajam dan liar!
Sebetulnya, yang datang berloncatan dari atas pohon-pohon itu hanya ada belasan ekor monyet besar saja, akan tetapi karena cuaca remang-remang dan pekik dahsyat yang keluar dari kerongkongan rombongan monyet itu saling sahut, berloncatan dari segala penjuru, sedangkan hati Gak Song Kam terkejut bukan main, maka dia merasa seolah-olah yang muncul ada ratusan ekor monyet!
Dalam keadaan biasa, tentu saja orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini tidak takut menghadapi rombongan monyet-monyet itu.
Akan tetapi pada saat itu, Gak Song Kam adalah seorang pelarian yang baru saja meloloskan diri dari ancaman maut, maka melihat munculnya "ratusan"
Ekor monyet besar itu, seketika timbul dugaannya bahwa hal ini tentulah merupakan siasat dari Kim Hong Liu-nio, wanita iblis itu.
Maka, tanpa berpikir dua kali, dia lalu membuang obornya dan melarikan diri dari tempat itu dengan cepat sebelum wanita yang ditakutinya itu muncul!
Sin Liong merasa betapa darah bercucuran dari leher ular yang digerogotinya itu, membasahi seluruh mukanya dan membikin pedih kedua matanya.
Akan tetapi dia nekat, terus menggigit dan tidak mau melepaskan leher ular itu.
Lilitan tubuh ular pada lehernya makin mencekik dan dia tidak bernapas lagi, kepalanya terasa seperti mau meledak, hidungnya yang tadi mencium bau amis kini mencium bau hangus.
Sin Liong tidak tahu lagi betapa pada saat itu, beberapa ekor monyet besar berloncatan, masuk ke dalam lubang sumur dan seekor monyet betina besar menggereng, merenggut tubuh yang melilit tubuhnya itu dengan penuh kemarahan, dan menggigit kepala ular itu.
Beberapa ekor monyet membantu dan akhirnya tubuh ular itu mereka robek-robek.
Kemudian, monyet betina besar itu mengeluarkan suara menguik-nguik seperti menangis melihat tubuh Sin Liong yang terlentang pingsan, dipondongnya tubuh itu dan dibawanya merayap naik bersama teman-temannya.
Tak lama kemudian, belasan ekor monyet itu menghilang di antara daun-daun pohon.
Mula-mula pohon-pohon di sekitar tempat itu berkerosakan, dan cabang-cabangnya bergoyang-goyang, akan tetapi tak lama kemudian keadaan menjadi sunyi dan rombongan monyet itu telah pergi jauh.
Tidak sampai sepuluh hari lamanya, Sin Liong sudah sembuh kembali dari luka-lukanya.
Dia dirawat oleh monyet betina yang menjadi induknya ketika dia masih bayi, dan beberapa hari kemudian, dia telah dapat bergerak bebas dengan para monyet, berkejaran di pohon-pohon, mencari buah-buahan dan hidup bersama mereka dengan bebas.
Sin Liong sama sekali tidak merasa canggung hidup di antara binatang-binatang ini, bahkan dia merasa mendapatkan kembali dunianya yang amat dicintanya.
Begitu bebas, begitu wajar, begitu sehat!
Selama beberapa hari saja hidup di antara monyet-monyet itu, di dalam hutan lebat, dia telah melupakan semua kedukaannya, lupa akan kematian ibu kandungnya, lupa akan orang-orang yang tadinya dianggap musuh besarnya, lupa akan dendamnya dan dia benar-benar hidup dengan wajar dan bahagia.
Tidak pernah ada persoalan atau masalah yang timbul dari pikiran, yang ada hanyalah soal-soal yang wajar seperti perut lapar, tubuh lelah, panasnya matahari, dinginnya hawa malam, hujan, bahaya-bahaya yang muncul dari alam, dan segala masalah yang langsung dihadapinya dan langsung diatasinya pula.
Tidak ada masalah yang timbul dari pikiran, seperti dalam kehidupan masyarakat manusia, yang berisi kecewa, iri, benci, dendam, dan sebagainya yang kesemuanya menuntun kepada penderitaan dan kedukaan hidup.
Tak dapat disangkal pula bahwa manusia merupakan makluk yang paling pandai di antara semua makluk hidup dan sudah telah memperoleh kemajuan yang amat hebat dalam soal kebendaan, soal jasmaniah, soal lahiriah.
Kemajuan-kenajuan pesat yang mentakjubkan telah dicapai oleh manusia dengan segala keajaiban tehnik.
Akan tetapi, sungguh sayang, kemajuan jasmaniah ini tidak disertai kemajuan rohaniah, kemajuan lahiriah tidak diimbangi kemajuan batiniah.
Bahkan sebaliknya malah!
Justeru kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam bidang lahiriah ini seolah-olah menjadi penghambat kemajuan batiniah, bahkan telah membuat manusia mundur dalam bidang rohani.
Kalau kita bandingkan betapa beberapa ratus tahun yang lalu manusia masih mempergunakan gerobak yang ditarik kuda dan kini manusia mempergunakan kendaraan-kendaraan bermesin yang hebat-hebat, bahkan dapat terbang dengan kecepatan melebihi suara, jelaslah bahwa manusia telah memperoleh kemajuan yang amat hebat di bidang kebendaan di banding lahiriah.
Akan tetapi, kalau kita bandingkan pula keadaan batiniah manusia ketika masih berkendaraan gerobak dengan batin manusia sekarang, Jelas pula nampak bahwa di bidang ini kita mengalami kemunduran hebat!
Kejahatan makin merajalela.
Permusuhan antara manusia makin menghebat.
Perang makin mengganas.
Bunuh-membunuh makin menguasai seluruh negara di bagian dunia manapun juga.
Mengapa demikian?
Apakah justeru kemajuan lahiriah itu yang menyeret manusia mundur dalam bidang batiniah?
Apakah kemajuan di bidang kebendaan itu telah mendatangkan kebahagiaan kepada manusia?
Kita dapat membuka mata melihat kenyataan dan jawabannya jelas.
Tidak!
Kemajuan di bidang kebendaan jelas tidak mendatangkan kebahagiaan.
Bukan berarti bahwa kita tidak semestinya maju dalam bidang kebendaan.
Sama sekali tidak!
Akan tetapi kita tidak pernah mau meneliti dan menyelidiki tentang kehidupan batiniah kita.
Kita terlampau dibuai oleh kemajuan lahir yang kesemuanya ditujukan kepada pencapaian kesenangan yang sebanyak dan sebesar mungkin!
Kita lupa bahwa makin dikejar, kesenangan itu makin mencengkeram kita, makin membuat kita haus.
Nafsu tak pernah dapat dipuaskan, karena sekali dituruti, akan terus menyeret kita untuk mendapatkan yang lebih banyak dan lebih besar lagi.
Dan justeru pengejaran kesenangan inilah yang menjerumuskan kita ke dalam segala bentuk kejahatan!
Seluruh kehidupan kita telah dikuasai dan dipengaruhi oleh hasrat yang satu, yaitu ingin senang!
Hasrat ingin senang ini sampai-sampai menyelinap ke dalam soal-soal yang kita namakan bidang rohaniah, sehingga sebagian besar dari kita memasuki suatu agama, suatu partai, suatu golongan, suatu kelompok kebatinan, Hanya terdorong oleh hasrat INGIN SENANG inilah!
Marilah kita membuka mata meneliti dan mengamati diri sendiri.
Tidaklah di balik semua usaha kerohanian kita itu tersembunyi hasrat itu yang terselubung?
Hasrat ingin menjadi orang baik, ingin bebas, ingin menjadi saleh, yang kesemuanya merupakan bentuk terselubung dari hasrat INGIN SENANG.
Dan selama terdapat pamrih ingin senang, berarti semua tindakan yang berpamrih mementingkan diri sendiri sudah pasti akan mendatangkan konflik.
Karena itulah muncullah agamaKu, negaraKu, partaiKu, keluargaKu, kelompokKu, TuhanKu, dan selanjutnya yang semuanya hanya berdasarkan kepada kesenanganKu, oleh karena itu kalau kesenanganku sampai diganggut aku menjadi marah, benci, dan siap untuk membunuh atau dibunuh!
Perang!
Ingin senang!
Apakah hidup ini lalu harus menjauhi kesenangan, menolak kesenangan lalu hidup bertapa di gunung-gunung, di guha-guha, atau mengasingkan diri di biara-biara.
Sama sekali tidak demikian!
Kita lupa bahwa menjauhi kesenangan seperti itu, bertapa dan sebagainya, pada hakekatnya juga masih MENCARI KESENANGAN dalam bentuk lain, menginginkan kesenangan yang kita anggap lebih luhur!
Segala macam bentuk pencarian, segala bentuk daya upaya, pada hakekatnya terdorong oleh rasa ingin senang itu, bukan?
Baik kesenangan itu kita tingkat-tingkatkan sebagai kesenangan rendah, sedang atau tinggi atau luhur, tetap saja pada dasarnya kita ingin senang!
Dan selama ada KEINGINAN untuk senang, Maka sudah pasti timbul konflik, timbul pertentangan, karena keinginan yang dihalangi menimbulkan marah dan kebencian, keinginan yang tidak tercapai menimbulkan kekecewaan dan kedukaan, sebaliknya keinginan yang tercapai tidak akan mendatangkan kepuasan abadi, melainkan mendatangkan kepuasan sesaat saja yang kemudian ditelan oleh keinginan yang lebih besar lagi.
Kesenangan bukanlah hal yang jahat atau buruk.
Manusia hidup berhak untuk senang!
Kita mempunyai panca indra yang dapat merasakan kesenangan itu, dapat menikmati apa yang dinamakan kesenangan itu sehingga mata kita dapat menikmati keindahan setangkai bunga, telinga kita dapat menikmati kicau burung, hidung kita dapat menikmati keharuman bunga, mulut kita dapat menikmati asin, manis, gurih, dan sebagainya lagi.
Anugerah sudah berlimpah!
Akan tetapi, segala kesenangan yang sebenarnya bukan kesenangan, melainkan kebahagiaan hidup ini, akan berubah menjadi kesenangan yang ingin kita ulang-ulangi, ingin kita peroleh sebanyak dan sebesar mungkin kalau kita MENYIMPAN pengalaman yang nikmat itu ke dalam ingatan!
Maka lahirlah keinginan untuk senang, dan muncullah pengejaran kesenangan!
Semua ini dapat kita sadari sepenuhnya kalau kita waspada dan mau mengamati diri sendiri setiap saat tanpa penilaian, tanpa usaha mengubah, hanya mengamati saja penuh pengertian, penuh kewaspadaan, yaitu diri sendiri mengamati diri sendiri.
Sin Liong mengalami kebahagiaan karena hidup di antara para monyet itu, dia hidup saat demi saat, tidak lagi dibuai oleh pikiran yang mengingat-ingat dan mengenangkan segala hal yang telah lalu maupun yang akan datang.
Kalau lapar mencari makanan dan makan.
Kalau lelah beristirahat, kalau mengantuk tidur, kalau kepanasan atau kehujanan berteduh, habis perkara!
Yang ada hanya tantangan-tantangan hidup yang muncul seketika dan ditanggulangi seketika pula.
Tidak ada pikiran mengkhawatirkan masa depan dan tidak ada pikiran menyesali masa lalu.
Memang amat mengherankan kalau pada suatu pagi orang melihat seorang anak laki-laki yang tampan berkejaran dengan sekelompok monyet, berayun-ayun dan berloncatan tinggi sekali di puncak-puncak pohon dengan amat cekatan, ikut pula mengeluarkan suara teriakan-teriakan seperti monyet dan kadang-kadang melayang dari dahan yang tinggi ke dahan yang lebih rendah dengan luncuran tubuh yang menimbulkan rasa ngeri.
Tubuhnya sudah sembuh sama sekali dari pengaruh racun, sungguhpun hal ini sama sekali tidak disadarinya.
Dan tidak tahu bahwa racun Hui-tok-san yang dimasukkan ke dalam tubuhnya oleh Kim Hong Liu-nio itu kini telah lenyap dan musnah oleh racun gigitan ular-ular merah dan bahwa dia telah bebas dari ancaman maut.
Namun, Sin Liong sudah tidak memperdulikan lagi akan hal itu.
Pagi hari itu dia berloncatan dengan penuh kegembiraan, menuju ke bagian hutan di mana terdapat pohon-pohon yang berbuah.
Tiba-tiba terdengar pekik ketakutan dari seekor monyet, jauh di depan.
Suara itu demikian mengejutkan bagi rombongan monyet itu dan juga bagi Sin Liong sehingga mereka semua seketika berhenti bergerak dan semua dahan-dahan pohon yang tadinya bergoyang-goyang, Mendadak berhenti sama sekali, suara mereka yang tadinya ramai dan gembira itupun berhenti.
Suasana menjadi sunyi dan para monyet itu kelihatan ketakutan, bahkan ada yang menggigil dan memeluk dahan pohon seperti ingin berlindung.
Kembali terdengar pekik dahsyat itu, dan para monyet makin ketakutan.
Akan tetapi tiba-tiba Sin Liong mengeluarkan pekik dari kerongkongannya dan dia sudah meloncat dengan gerakan cepat sekali, berloncatan dari pohon ke pohon sambil memekik-mekik.
Melihat ini, timbul kembali keberanian para monyet itu dan merekapun bergerak cepat mengejar Sin Liong sambil memekik-mekik.
Biarpun semua binatang, termasuk monyet, tidak pandai bicara seperti manusia yang telah mengembangkan ilmu bercakap-cakap sehingga menjadi amat luas dan lengkap, Sehingga setiap benda telah diberi nama atau kata tertentu, namun binatang-binatang itupun mempunyai cara saling berhubungan melalui suara.
Oleh karena itu, setiap suara yang dikeluarkan oleh binatang apapun, sudah tentu mempunyai maksud tertentu bagi jenis mereka.
Demikian pula dengan suara-suara pekik monyet, suara itu mempunyai makna-makna tertentu dan karena sejak kecil sering kali bergaul dengan monyet-monyet, maka Sin Liong dapat menangkap makna dari suara-suara monyet itu.
Ketika tadi mereka mendengar pekik mengerikan dari seekor monyet, mereka maklum bahwa ada seekor monyet yang berada dalam ketakutan hebat, menghadapi bahaya besar, kemudian pekik-pekik selanjutnya memberi tahu kepada mereka bahwa monyet itu sedang berhadapan dengan musuh besar mereka yang amat ganas dan berbahaya, yaitu harimau!
Harimau merupakan raja hutan yang amat ditakuti oleh para monyet itu, karena sudah sering kali harimau menerkam dan membunuh seekor di antara mereka.
Kalau mereka sedang bergerombol dalam jumlah banyak, harimau-harimau itu tidak berani menyerang.
Akan tetapi begitu ada monyet yang terpencil sendirian, kalau bertemu harimau, tentu akan menjadi korban dan mangsanya.
Maka, begitu mendengar pekik itu, tentu saja para monyet tadi menjadi ketakutan.
Akan tetapi, tentu saja Sin Liong berbeda dengan mereka.
Anak ini sudah sering kali ditolong dan dlselamatkan oleh monyet-monyet itu, dan sebagai manusia yang memiliki daya ingatan kuat, tentu saja hal-hal ini membuat dia merasa berhutang budi dan timbul kesetiakawanan besar di dalam hati anak manusia ini.
Maka, begitu rasa kaget dan ngerinya mereda, Dia teringat bahwa ada seekor monyet terancam bahaya, maka dia melupakan segala rasa takutnya dan cepat lari menuju ke tempat itu.
Dan para monyet itu agaknya baru sadar bahwa mereka berjumlah banyak dan tidak usah takut menghadapi musuh besar itu, maka merekapun cepat mengejar dan mengikuti Sin Liong.
Sin Liong sudah meloncat turun dan benar saja, di depan terdapat seekor monyet besar yang sedang diserang oleh harimau.
Monyet itu sudah luka-luka, akan tetapi dia melawan dengan nekat, berloncatan ke sana-sini dan berusaha untuk balas menggigit.
Melihat ini, Sin Liong marah sekali, dia mengeluarkan suara gerengan keras dan meloncat ke depan, langsung menerjang harimau itu dengan penuh keberanian, menggunakan kakinya menendang ke arah perut harimau dan tangannya menyambar ke arah ekor harimau yang panjang.
"Bukkk!"
Biarpun tendangan itu cukup keras, namun mengenai perut harimau seperti mengenai sekarung beras saja.
Kaki anak itu membalik, akan tetapi Sin Liong sudah berhasil memegang ekor binatang itu dan membetotnya.
Harimau itu meraung, melepaskan monyet yang tadi sudah diterkamnya, lalu membalik, berusaha untuk mencakar manusia cilik yang memegangi ekornya.
Akan tetapi Sin Liong cukup cerdik, dia memegangi ekor harimau itu dengan kedua tangan sekuat tenaga, tidak mau melepaskannya dan kadang-kadang kakinya menendang-nendang sekenanya, mengenai pantat dan kedua kaki belakang harimau yang menjadi makin marah.
Harimau itu meraung-raung, menggereng-gereng, akan tetapi Sin Liong juga memekik-mekik nyaring.
Suara yang hiruk-pikuk itu agaknya menarik perhatian harimau lain.
Dari balik semak-semak muncul seekor harimau lain yang menggereng dan dengan loncatan tinggi, harimau ke dua ini menubruk dan menerkam Sin Liong dari belakang!
"Aughhh...!"
Sin Liong berteriak kaget sekali, kedua pundaknya kena dicakar, bajunya robek dan kulitnya pecah-pecah.
Akan tetapi dengan sigap dia lalu membalikkan tubuhnya, dan menyusup ke bawah sehingga terlepas dari terkaman itu.
Sin Liong telah menerjangnya dengan tendangan-tendangan dan pukulan secara membabi-buta.
Akan tetapi, tentu saja tendangan dan pukulannya tidak dapat merobohkan harimau yang buas dan kuat itu.
Kembali Sin Liong menjadi korban cakaran-cakaran kuku harimau sehingga bajunya makin robek-robek tidak karuan, berikut kulitnya sehingga pakaiannya mulai berlumuran darah.
Baiknya, pada saat itu, rombongan monyet telah tiba dan mereka berloncatan turun.
Kini jumlah mereka bertambah banyak karena tadi monyet-monyet lain yang sedang berada di lain tempat, mendengar suara-suara itu dan merekapun berdatangan.
Melihat di bawah ada dua ekor harimau yang sedang menyerang Sin Liong dan seekor monyet lain yang sudah luka-luka parah, mereka mengeluarkan suara gerengan dan berloncatan turun, lalu mulailah terjadi pengeroyokan terhadap dua ekor harimau itu.
Dua ekor binatang buas ini sudah menjadi ketakutan melihat munculnya begitu banyak monyet, maka ketika mereka diterkam dan dikeroyok, mereka meraung-raung, mencakar ke sana-sini, menggigit sana-sini, Akan tetapi akhirnya kedua ekor binatang buas itu terpaksa melarikan diri sambil menggeram marah karena musuh terlampau banyak bagi mereka yang memang sudah merasa ketakutan.
Sin Liong duduk dengan lemas.
Seperti beberapa ekor monyet lain, diapun menderita luka-luka dan pakaiannya robek-robek.
Dengan bantuan induk monyet besar, dapat juga dia memanjat pohon dan beristirahat di atas pohon, dirawat lagi oleh induk monyet besar dengan penuh kasih sayang, sedangkan monyet-monyet lain yang luka-luka dapat merawat diri sendiri.
Demikianlah, untuk ke sekian kalinya, kembali Sin Liong hidup di antara monyet-monyet.
Karena dia sudah pernah digembleng ilmu silat oleh ibunya, maka kini dia dapat menilai gerakan-gerakan para monyet itu yang amat cekatan dan gesit, Dan mulailah dia dapat mengambil intisari dari gerakan-gerakan itu untuk dipakai berlatih ilmu silat yang pernah dipelajarinya.
Mungkin karena anak ini dibesarkan dalam asuhan monyet, bahkan dihidupkan oleh air susu monyet, maka Sin Liong lebih dapat menangkap naluri monyet-monyet itu sehingga tanpa disadarinya sendiri, dia telah menciptakan ilmu silat monyet yang lebih mendekati aslinya daripada ilmu silat monyet yang telah ada dalam partai-partai persilatan besar.
Dia dapat bergerak dengan kecepatan laksana monyet aseli, cara mengelak, cara meloncat, ketajaman pandang mata dan telinga, kecekatan kaki tangan.
Dan yang lebih dari semua itu, dia kini hidup bebas dan berbahagia karena dia tidak lagi mengenal persoalan-persoalan yang selalu memenuhi kehidupan manusia.
Satu-satunya urusan baginya, seperti monyet-monyet lain, hanyalah menjaga dan memelihara diri, tubuh yang dimilikinya itu, dari ancaman luar, dan di dalam hubungan antara mereka dia memperoleh kebahagiaan.
Kini dia tidak hanya dapat mengerti, bahkan dapat merasakan mengapa seluruh binatang di dalam hutan, kalau sudah bergerombol, menjadi demikian gembiranya, mengapa burung-burung berkicau indah di pagi hari, kupu-kupu beterbangan berkejaran di antara kembang-kembang, kijang dan kelinci berloncat-loncatan lucu.
Mereka semua itu dapat bergembira, dapat hidup berbahagia, karena selain tubuh mereka sehat dan terasa enak, juga mereka tidak dibebani pikiran yang menimbulkan kekhawatiran, penyesalan, kebencian, iri hati, pengejaran bayangan kesenangan dan sebagainya lagi.
Kita tinggalkan dulu Sin Liong dalam dunianya yang menyenangkan itu, dan mari kita tengok keadaan para penghuni Istana Lembah Naga.
Seperti kita ketahui, keluarga Kui Hok Boan mengalami malapetaka besar ketika isterinya dari orang she Kui ini tewas di tangan Kim Hong Liu-nio secara mengerikan.
Biarpun hatinya merasa cemburu dan marah ketika mendengar kenyataan bahwa isterinya pernah bermain cinta dengan pendekar Cia Bun Houw sehingga kemudian melahirkan Sin Liong yang disangkanya benar ditemukan oleh isterinya itu, namun hati orang she Kui ini berduka sekali oleh kematian Liong Si Kwi.
Dia sudah jatuh cinta kepada isterinya yang tangan kirinya buntung itu.
Sebelum dia menikah dengan Si Kwi, Hok Boan adalah seorang petualang asmara yang belum pernah jatuh cinta.
Semua perbuatannya terhadap wanita manapun hanya terdorong oleh nafsu berahi belaka.
Oleh karena itu banyak wanita yang dia tinggalkan begitu saja setelah dia merasa puas kemudian menjadi bosan, dan di antara wanita itu terdapat dua orang wanita yang melahirkan keturunannya, Yaitu dua orang anak laki-laki yang dibawanya ke Lembah Naga dan diakuinya sebagai keponakan.
Dia belum pernah jatuh cinta dan hanya ketika dia bertemu dengan Liong Si Kwi maka dia benar-benar jatuh cinta.
Setelah dia menikah dengan Si Kwi dan mempunyai anak perempuan kembar itu, dia merasa betapa hidupnya telah aman tenteram dan makmur.
Keadaan ini menjinakkan sifat binalnya dan dia dapat hidup sebagai seorang laki-laki terhormat, sebagai seorang suami dan seorang ayah baik-baik.
Akan tetapi, siapa menduga akan datangnya malapetaka sehebat itu!
Isterinya tewas dalam tangan Kim Hong Liu-nio, seorang iblis betina yang amat lihai dan sampai bagaimanapun dia takkan mungkin melawannya.
Kini dia kehilangan isteri yang dicintanya dan kembali dia hidup sebatangkara, malah kini dibebani dengan empat orang anak tanpa ibu!
Kedukaan kehilangan isterinya itu agaknya tidak akan menjadi terlalu berat bagi Hok Boan yang tentu akan dapat menghibur hatinya dan menghilangkan kesepiannya dengan mencari wanita lain yang dapat melayaninya.
Apalagi sekarang dia merupakan seorang yang kaya dan terhormat, maka kiranya akan banyak gadis baik-baik yang cukup cantik untuk menjadi isterinya dengan senang hati.
Akan tetapi yang membuat Hok Boan bingung adalah perintah yang datang dari raja liar Sabutai melalui utusannya yang mengerikan, Kim Hong Liu-nio, bahwa dalam waktu enam bulan dia harus pergi meninggalkan Lembah Naga!
Inilah yang membuatnya menjadi agak bingung.
Tentu saja dia dapat mengungsi ke selatan dengan membawa empat orang anaknya dan hartanya, Akan tetapi dia tahu bahwa di selatan terdapat banyak musuh-musuhnya dan tentu kehidupannya akan berubah sama sekali, akan lenyaplah semua ketenteraman hidup yang selama ini dinikmatinya di dalam Lembah Naga.
Ikatan selalu menimbulkan duka.
Kita hidup terbelenggu ketat oleh ikatan-ikatan sehingga merupakan hal yang teramat sukar untuk dapat bebas.
Kita terikat dan menyamakan diri atau menyatukan diri dengah isteri atau suami kita, dengan keluarga kita, kekayaan kita, kesenangan-kesenangan kita, nama kita, negara kita dan sebagainya.
Dan sudah pasti bahwa kalau sewaktu-waktu kita harus berpisah dari semua itu, timbullah duka.
Bagaimanakah terjadinya ikatan itu?
Mengapa kita suka sekali untuk mengikatkan diri secara sadar maupun tidak kepada semua itu?
Ikatan timbul apabila kita menikmati suatu kesenangan dan menyimpan kesenangan itu di dalam ingatan, lalu ingin seterusnya memiliki kesenangan itu.
Kita mengalami kesenangan dalam hubungan dengan suami atau isteri, dengan keluarga, dengan kekayaan dan sebagainya sehingga kita ingin memiliki mereka itu untuk selamanya, tidak mau terpisah lagi.
Padahal, tiada yang kekal di dunia ini dan perpisahan pasti tiba, dan timbullah rasa takut, kekhawatiran akan kehilangan, kemudian timbullah duka kalau kehilangan.
Timbul pula rasa takut akan kematian, yaitu perpisahan terakhir di mana kita harus melepaskan semua yang telah mengikut kita itu!
Dapatkah kita hidup dengan mempunyai segala sesuatu secara lahiriah saja akan tetapi tidak memiliki sesuatu secara batiniah?
Punyaku, suara lahiriah.
Akan tetapi batin tidak memiliki apa-apa, bebas dan memberi kepada yang menjadi punya kita itu, tidak terikat.
Bukan berarti acuh tak acuh, sebaliknya malah.
Cinta kasih akan menjadi kotor dan palsu kalau disertai ikatan memiliki ini, karena ikatan ini timbul dari kesenangan yang kita dapat dari orang atau barang yang kita cinta itu!
Ikatan berarti bahwa kita hanya ingin memperalat yang kita cinta itu demi kesenangan kita sendiri.
Ikatan timbul dari pengejaran kesenangan dan seperti kita ketahui bersama, pengejaran kesenangan menimbulkan konflik, permusuhan, kekecewaan, kebosanan kebencian dan sebagainya.
Kalau sudah tidak ada lagi keinginan mengejar kesenangan, maka baru ada kemungkinan batin bebas dari ikatan!
Dan kalau batin bebas dari ikatan, baru nampak sinar cinta kasih yang sejati.
Kui Hok Boan mulai berkemas, mengumpulkan harta bendanya yang sekiranya dapat dibawanya.
Diapun mulai memberi tahu kepada semua penghuni di sekitar daerah Lembah Naga akan perintah pengosongan tempat itu dalam waktu enam bulan dari Raja Sabutai.
Para petani menjadi bingung, akan tetapi mereka tidak segelisah Hok Boan.
Mereka, para petani itu, adalah orang-orang miskin yang hidup sederhana.
Kesederhanaan hidup membentuk watak mereka menjadi sederhana pula, keinginan merekapun sederhana.
Mereka sudah biasa hidup serba kekurangan, maka perintah untuk pergi meninggalkan daerah Lembah Naga itu tidak amat menggelisahkan hati mereka.
Tanpa tergesa-gesa, mulailah para penghuni itu mencari-cari tempat lain untuk pindah.
Yang penting bagi mereka hayalah tanah-tanah yang subur karena di mana ada tanah subur, mereka tidak khawatir untuk hidup.
Dan tanah subur memang tidak banyak di utara, akan tetapi juga ada hal yang menguntungkan, yaitu bahwa tanah-tanah di utara itu masih belum dikuasai oleh pemilik-pemilik perorangan, masih merupakan tanah liar tak bertuan, sungguhpun merupakan daerah kekuasaan Raja Sabutai.
Pada sore hari itu, selagi Kui Hok Boan bercakap-cakap dengan beberapa orang tetangga yang datang untuk membicarakan perintah pengosongan Lembah Naga, empat orang anak itu berada di dalam taman.
Mereka itu, Lan Lan, Lin Lin, Siong Bu dan Beng Sin, juga bercakap-cakap akan tetapi yang mereka bicarakan adalah urusan kematian ibu kandung dua orang anak kembar itu dan terculiknya Sin Liong.
"Aku bersumpah kelak akan membunuh wanita iblis itu!"
Lan Lan berkata sambil mengepal tinjunya.
"Aku juga!"
Kata Lin Lin sambil menghapus air matanya karena kematian ibunya selalu memancing keluarnya air matanya kalau teringat olehnya.
Baca Juga: Si Tangan Sakti 4
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 13