Ceritasilat Novel Online

Pendekar Lembah Naga 2

Eps 2 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.

Orang ini terkenal dengan tenaganya yang besar dan disegani di antara kawan-kawannya.

Karena merasa bahwa orang muda berpakaian sasterawan ini memang keterlaluan, apalagi telah bersalah membakar padang ilalang yang merupakan pelindung bagi Padang Bangkai, Coa Lok mengangguk memberi ijin.

Semua orang mundur untuk memberi ruang kepada si brewok yang hendak menyembelih sasterawan itu.

Si brewok tinggi besar kini melangkah maju sambil menyeringai.

Tangan kanannya memegang sebatang golok besar yang tajam mengkilap.

Matanya yang lebar itu terbelalak penuh ancaman, dan hidungnya mendengus-dengus, dia seperti seekor harimau kelaparan haus darah dan agaknya tugas membunuh orang ini mendatangkan ketegangan yang menggembirakan hatinya!

Tentu saja Kui Hok Boan tidak merasa takut sama sekali.

Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan di pinggang dan berkata mengejek.

"Heh, babi gemuk, bukan aku yang akan menjadi korban golok pemotong babimu itu, melainkan engkau sendiri!"

Dimaki babi gemuk, si brewok itu menjadi marah, apalagi karena beberapa orang kawan-kawannya tertawa mendengar ini.

"Anjing kurus! Kau berani memaki aku? Huh, terlalu enak kalau kau disembelih begitu saja! Aku akan merobek-robek seluruh tubuhmu dengan kedua tanganku ini saja!"

"Cappp!"

Dia membanting goloknya ke bawah dan golok itu menancap di atas tanah sampai setengahnya, gagangnya bergoyang-goyang saking kerasnya bantingan itu.

"Bagus! Dengan melepaskan golok, berarti engkau menyelamatkan nyawamu sendiri, babi gemuk,"

Hok Boan berkata dan ketika si brewok itu menerjangnya dengan kedua lengan dikembangkan seperti biruang besar, tiba-tiba pemuda sasterawan itu menggerakkan kedua kakinya dan si brewok menjadi bingung karena pemuda itu tiba-tiba saja lenyap dari depannya!

Akan tetapi para anak buah perampok terkejut karena mereka melihat betapa tubuh sasterawan muda itu seperti seekor burung saja tadi telah melayang melalui atas kepala si brewok dan kini telah hinggap dengan kaki kirinya di atas gagang golok yang menancap di atas tanah itu!

Gagang golok itu masih bergoyang-goyang dan tubuh si sasterawan juga ikut bergoyang-goyang, akan tetapi dia masih bertolak pinggang dengan kedua tangannya sedangkan kaki kanannya diangkat ke lututnya!

"Dengarlah kalian semua!

Aku datang untuk memimpin kalian dan hanya kalau pemimpin lama kalian itu mau berlutut dan minta ampun, maka aku suka mengampuninya!"

Terdengar suara menggereng dan si brewok tadi sudah menubruk ke depan dengan kemarahan meluap.

Karena Hok Boan yang berdiri di atas gagang golok itu menghadapi kepala perampok, maka si brewok menyerangnya dari belakang.

Kedua tangan yang besar itu terbuka dan seperti cakar harimau hendak mencengkeramnya.

Tanpa menoleh, Hok Boan mengayun kaki kanan yang tadi ditekuk ke lutut kaki kiri, dengan gerakan yang cepat sekali.

"Wuuuuttt... desss...!"

Tubuh si brewok terpelanting ketika perutnya bertemu dengan tendangan yang tiba-tiba ini.

Kaki sasterawan itu telah lebih dulu mengenai perutnya sebelum kedua tangannya dapat menjamah tubuh lawan dan tendangan itu sedemikian kuatnya sehingga dia terpelanting dan terguling-guling.

Coa Lok sejak ditantang tadi sudah merah mukanya.

Kini matanya terbelalak dan tahulah dia bahwa sasterawan itu memang sengaja datang untuk mencari perkara, untuk memusuhinya dan ternyata bahwa sasterawan itu memang bukan orang biasa, melainkan seorang yang lihai.

Dipegangnya tombaknya erat-erat akan tetapi pada saat itu, si brewok yang merasa penasaran telah bangkit berdiri dan lari menerjang lawan yang masih berdiri di atas gagang golok.

Coa Lok mendiamkannya saja karena dia ingin melihat sampai di mana kelihaian lawan itu.

Para anggauta perampok yang lain kini juga memandang dengan penuh perhatian tidak lagi mentertawakan si pemuda sasterawan yang ternyata adalah seorang pandai itu.

"Haiiiitttt...!"

Si brewok itu mengeluarkan bentakan nyaring.

Sekali ini dia tidak lagi mau bertindak sembrono.

Dia sudah tahu bahwa lawannya memang amat pandai, maka dia tidak lagi menubruk secara membabi-buta seperti tadi, melainkan menyerang dengan gerakan ilmu silat, memukul bertubi-tubi dengan kedua tangannya yang berlengan panjang.

Pukulannya keras sehingga mengeluarkan bunyi angin bersiutan.

"Plak-plak-plakk!"

Semua pukulan dapat ditangkis dengan tenang saja oleh Hok Boan dan setiap kali tertangkis, lengan ii brewok yang amat kuat dan besar itu terpental dan mulutnya meringis karena tangkisan itu membuat lengannya terasa nyeri, tulangnya seperti akan pecah rasanya.

"Babi gendut, engkau masih juga belum jera? Nah, robohlah!"

Tiba-tiba Hok Boan meloncat turun dan sekali kakinya bergerak, kaki kiri itu melayang ke arah muka si brewok.

Tentu saja si brewok terkejut bukan main dan cepat mengangkat kedua tangan untuk menangkis dan menangkap kaki lawan, akan tetapi tiba-tiba dia morata kakinya lumpuh dan dia terguling roboh.

Kiranya tendangan kaki ke arah muka itu hanya pancingan belaka dan yang sungguh-sungguh menyerang adalah kaki yang sobelah lagi sambil melompat, kaki ini menendang lututnya sehingga dia roboh dengan sambungan tulang lutut terlepas!

Dia hanya dapat rebah memegangi lututnya sambil mengeluh panjang pendek.

Hok Boan membungkuk dan sekali cabut, golok itu telah berada di tangannya.

Dia memandang kepada si brewok dan berkata.

"Kalau aku mau, betapa mudahnya membunuhmu, babi! Akan tetapi sudah kukatakan, aku membutuhkan kalian untuk menjadi anak buahku, maka aku tidak akan membunuhmu!"

Setelah berkata demikian, dengan kedua tangannya, dia menekuk-nekuk golok itu.

Terdengar suara nyaring dan golok itu patah-patah menjadi beberapa potong yang kemudian dilemparkannya ke atas tanah.

Potongan-potongan golok itu menancap dan lenyap amblas ke dalam tanah, hanya tinggal gagangnya saja yang dibuangnya dengan sikap tidak perduli.

Semua anak buah perampok terkejut setengah mati.

Si brewok memandang pucat, lalu dia merangkak menjauhkan diri.

Coa Lok yang menyaksikan ini makin kaget dan tahu bahwa dia benar-benar menghadapi seorang lawan berat.

Maka timbullah kecurangannya dan dia lalu membentak.

"Hayo maju semua, keroyok dan bunuh pengacau ini!"

Para perampok itu sudah biasa dengan perintah Coa Lok, maka mendengar bentakan ini mereka lalu mengacungkan senjata masing-masing, siap untuk maju mengeroyok.

Hok Boan yang melihat hal ini, meloncat dan tubuhnya melayang ke dekat pohon di mana dia, menyimpan pedang dan buntalannya.

Sekali sambar dia telah mengambil pedangnya dan menghunusnya, pedang yang kelihatan masih kasar namun mengeluarkan sinar menyeramkan, pedang buatan ahli pedang Bhe Coan itu.

Dengan pedang melintang di depan dadanya, Hok Boan membentak dengan suara yang menggetarkan jantung karena dia membentak dengan pengerahan tenaga khi-kang dari pusar.

"Tahan semua! Dengar baik-baik! Aku datang untuk memimpin kalian dan aku menjanjikan penghidupan yang baik dan jauh lebih makmur daripada sekarang kepada kalian! Bukan berarti aku takut kepada kalian. Akan tetapi kalau kalian maju mengeroyok, terpaksa aku akan membunuh kalian semua dan aku harus susah payah mengumpulkan anak buah dari dusun-dusun. Biarkan aku berhadapan dengan kepala kalian dan kita lihat, siapa di antara kami berdua yang lebih patut menjadi pemimpin kalian, menjadi majikan Padang Bangkai!"

Ucapan itu berpengaruh dan semua perampok menjadi ragu-ragu.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Hok Boan yang cerdik, untuk mencari kedudukan yang menguntungkan.

"Hai, kau si muka berpenyakitan yang berlagak jagoan dengan tombakmu dan hendak memimpin sekelompok orang gagah ini! Dengar baik-baik! Kalau benar engkau jagoan, hayo kau maju melawan aku, dan aku akan menghadapi tombakmu itu dengan ranting ini saja. Pedangku tidak akan kupergunakan. Ha-ha, mukamu makin pucat dan engkau hanya seorang banci, seorang pengecut, seorang penakut yang beraninya hanya mengandalkan bantuan banyak anak buah saja. Engkau tidak patut menjadi pemimpin!"

Sin-jio Coa Lok menjadi pucat saking marahnya.

Kehormatannya tersinggung.

Dia bukanlah seorang lemah.

Sama sekali bukan.

Tombaknya ditakuti banyak orang, bahkan dia telah dijuluki, Si Tombak Sakti.

Kalau tadi dia hendak menggunakan pengeroyokan adalah karena dia ingin lebih yakin mengalahkan lawan ini.

Sekarang, ditantang seperti itu, tentu saja dia tidak sudi untuk memperlihatkan sikap takut.

"Mundur semua! Kerbau-kerbau tolol, mundur semua!"

Bentaknya marah kepada anak buahnya yang tidak cepat-cepat menyerang lawan sehingga memberi kesempatan kepada lawan untuk mengejeknya.

"Mundur dan lihat tombakku akan mengeluarkan ususnya yang busuk!"

Perintah ini tidak perlu diulang dua kali karena semua anak buah perampok sudah melangkah mundur.

Mereka ingin sekali melihat apakah kepala mereka itu benar-benar akan mampu membunuh pemuda sasterawan yang amat berani itu.

Janji yang diucapkan oleh pemuda sasterawan itu menarik hati mereka.

Juga mereka telah terkesan ketika melihat betapa pemuda itu tadi tidak membunuh si brewok tinggi besar yang menjadi teman mereka, padahal kalau pemuda itu mau, tentu si brewok itu telah tewas.

Pemuda itu tidaklah sekejam dan seganas Si Tombak Sakti, maka hal ini saja sudah menimbulkan kesan baik di hati mereka.

Sin-jio Coa Lok yang sudah marah sekali itu maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang tangguh, akan tetapi tentu saja dia sama sekali tidak merasa takut.

Dia terlalu percaya kepada tombaknya, maka dia sudah menubruk dengan kecepatan kilat, tombaknya digerakkan dan nampaklah sinar terang menyambar-nyambar ketika tombak itu membuat gerakan bergulung-gulung seperti ombak dahsyat menerjang ke arah Kui Hok Boan.

Orang she Kui ini tidak melanggar janjinya, dia sudah menyambar ranting yang tadi berada di bawah pohon.

Melihat gerakan lawan yang amat hebat itu, diam-diam dia terkejut dan cepat dia menggerakkan rantingnya untuk melindungi dirinya.

Akan tetapi dia maklum bahwa senjata rantingnya tidak mungkin dapat dipergunakan untuk menangkis tombak lawan yang terbuat dari baja kuat itu, maka dia hanya mengandalkan gin-kangnya, mengelak dari sambaran tombak dan menggerakkan ranting untuk menotok jalan darah lawan di beberapa bagian dengan kecepatan kilat yang bertubi-tubi.

Serangannya itu sudah merupakan penghambat bagi terjangan Coa Lok karena Si Tombak Sakti itu tentu saja maklum akan bahayanya totokan-totokan yang biarpun hanya dilakukan dengan sebatang ranting, namun didorong oleh tenaga sakti yang kuat.

Ilmu tombak yang dimainkan oleh Coa Lok adalah ilmu tombak keturunan yang amat hebat.

Semenjak nenek besarnya, Keluarga Coa telah secara turun-temurun mempelajari ilmu tombak itu dan selama beberapa keturunan, ilmu tombak itu telah mengangkat tinggi nama keluarga Coa.

Sebagai ilmu simpanan keluarga, maka ilmu tombaknya itu berbeda sifat dan gerakannya dengan ilmu silat yang diajarkan oleh partai-partai persilatan umum, maka menghadapi ilmu tombak yang tidak dikenalnya itu, Kui Hok Boan menjadi repot dan kewalahan juga.

Ujung tombak itu tergetar-getar menjadi beberapa batang banyaknya dan setiap batang seolah-olah bergerak sendiri-sendiri menyerang dari pelbagai jurusan.

Sebaliknya, Kui Hok Boan, anak murid Go-bi-pai itu, biarpun telah mempelajari permainan delapan belas macam senjata, namun memiliki keahlian dalam permainan pedang.

Padahal, tingkat kepandaiannya kalau dibandingkan dengan Coa Lok hanya lebih tinggi setingkat saja, Maka kini dengan menggunakan sebatang ranting sebagai senjata, tentu saja kemenangan tingkatnya tidak banyak artinya, karena kalau lawan menggunakan senjata yang menjadi keahliannya, sebaliknya dia menggunakan senjata yang sama sekali tidak dapat menonjolkan kepandaiannya.

Betapapun juga, Hok Boan memang patut dipuji.

Sampai hampir seratus jurus mereka bertanding, namun belum juga tombak di tangan Coa Lok mampu merobohkannya, biarpun kadang-kadang membuat sasterawan itu repot bukan main dengan elakan ke sana-sini dan nyaris saja perutnya tertembus tombak ketika dia mengelak dan bajunya yang tertembus dan robek.

Dia terkejut sekali dan terdengar suara tertawa mangejek dari para anak buah perampok yang menonton pertempuran mati-matian itu.

"Ha-ha, kutu buku sombong, bersiaplah kau untuk mampus!"

Sin-jio Coa Lok tertawa mengejek dan menubruk lagi dengan tombaknya, memutar-mutar tombaknya sehingga lenyaplah mata tombak itu dan berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung menerjang ke arah Hok Boan.

Hok Boan maklum bahwa kalau dia mempertahankan terus senjata rantingnya, akhirnya dia akan kalah dan celaka.

Dia tidak perlu menjaga kehormatannya terhadap orang-orang tidak terhormat ini, pikirnya.

Bahkan omongan besarnya untuk menghadapi kepala perampok ini dengan sebatang ranting, dapat dia pergunakan demi keuntungannya, pikirnya pula.

Dengan menggunakan ranting sehingga dia terdesak hebat, kepala perampok ini menjadi lengah oleh bayangan kemenangannya.

Maka dia sengaja memperlambat gerakannya sehingga dia terdesak makin hebat dan bermain mundur terus.

Seperti tidak disengaja, kakinya tergelincir dan dia jatuh ke atas tanah.

"Ha-ha, mampuslah kau...!"

Coa Lok mengejar dengan tombaknya.

Akan tetapi Hok Boan terus menggerakkan tubuhnya menggelundung dan menjauh.

Ketika Si Tombak Sakti itu mengejar terut sambil tertawa-tawa dan berusaha menusukkan tombaknya ke arah tubuh lawan yang bergulingan, tiba-tiba Hok Boan mengeluarkan bentakan nyaring, tangan kanannya bergerak dan ranting itu meluncur seperti anak panah menuju ke arah dada Coa Lok!

"Ehhh...!

Krekk-krekkk...!"

Coa Lok terkejut, cepat menangkis dengan tombaknya dan mematahkan ranting itu.

Akan tetapi pada saat itu nampak sinar berkelebat dari depan.

Coa Lok terkejut, melihat kecurangan lawan namun sudah terlambat karena pedang yang ditangkisnya itu masih meleset dan mcluncur memasuki perutnya.

"Blessss...!"

Pedang itu menembus perutnya, lalu oleh Hok Boan diputar ke atas sehingga perut kepala perampok itu robek.

Kepala perampok itu mengeluarkan teriakan mengerikan, tombaknya terlepas dan dia roboh terjengkang ketika Hok Boan mencabut pedang sambil menendangnya.

Para anak buah perampok memandang dengan mata terbelalak ke arah Coa Lok yang berkelojotan di atas tanah, kemudian memandang kepada Hok Boan yang berdiri tegak dengan pedang yang berlumuran darah itu di tangan kanan sambil tersenyum.

"Nah, kepala kalian telah mampus. Apakah di antara kalian ada yang ingin menemaninya ke neraka? Ataukah kalian mau mengangkat aku menjadi pemimpin kalian yang baru?"

Tantang Hok Boan.

Para perampok itu saling pandang.

Mereka merasa ngeri karena maklum bahwa sasterawan ini benar-benar amat lihai.

Beberapa orang di antara mereka yang termasuk tokoh-tokohnya lalu menjatuhkan diri berlutut, tentu saja segera diturut oleh yang lain dan mereka memberi hormat sambil berkata.

"Tai-ong... kami mentaati perintah tai-ong...!"

Kui Hok Boan tersenyum dan menyimpan pedangnya setelah membersihkan darah dari pedang itu ke atas tubuh Coa Lok yang sudah tidak bergerak lagi.

Dia berkata dengan suara halus namun penuh wibawa.

"Kalian tidak akan menyesal mengangkatku menjadi pemimpin kalian. Aku akan membuat Padang Bangkai ini menjadi tempat yang indah dan baik, juga makmur setelah kalian membantuku mencari harta pusaka yang terpendam di sini. Aku dapat menduga bahwa kalian tentulah gerombolan perampok, bukan? Nah, mulai sekarang kita tidak perlu merampok lagi. Untuk apa melakukan pekerjaan hina dan memalukan itu kalau kita dapat mencari kekayaan dengan cara lain yang lebih mudah? Sekarang perintahku yang pertama adalah, kalian tidak boleh menyebut tai-ong. Aku bukan perampok. Kalian harus menyebutku taihiap (pendekar besar), mengerti? Namaku Kui Hok Boan dan kalian menyebutku Kui-taihiap, tidak kurang tidak lebih! Dan ingat, siapa yang berani melanggar perintahku, akan kulemparkan ke lumpur maut!"

Setelah berkata demikian, Hok Boan menyambar tangan mayat Coa Lok lalu mengerahkan tenaga, melontarkan mayat itu yang terlempar jauh dan terjatuh ke atas rumput hijau yang menyembunyikan lumpur di mana kudanya menjadi korban kemarin dulu.

Lumpur itu menerima mayat Coa Lok dan karena mayat itu menimpa lumpur dengan kekuatan besar, seketika mayat itu lenyap ditelan lumpur.

Semua anggauta perampok itu mengangguk-angguk dengan muka pucat.

Pemuda sasterawan ini kelihatan halus, ramah dan tidak kasar, akan tetapi mempunyai sikap yang menyeramkan dan lebih menakutkan dari sikap Coa Lok yang kasar.

"Sekarang, tunjukkan aku jalan masuk ke dalam Padang Bangkai ini dan kita mulai dengan mencari harta pusaka yang tersimpan di suatu tempat yang sudah kuselidiki dari peta yang kudapat."

Tiga puluh orang itu bersorak girang lalu mengantar ketua mereka yang baru memasuki padang yang luas itu menuju sarang mereka, dusun yang dikelilingi air itu.

Memang tujuan Hok Boan datang ke Padang Bangkai dan Lembah Naga adalah untuk mencari harta-harta pusaka itu, yang dia dengar dari berita angin di antara para pasukan kerajaan.

Bahkan dia secara teliti melakukan penyelidikan, mengumpulkan berita-berita itu dan menemukan sebuah peta tua yang menunjukkan di mana kiranya harta-harta pusaka itu disimpan di kedua tempat yang penuh rahasia itu.

Sesungguhnya berita yang didengarnya dari mulut ke mulut itu bukanlah hanya dongeng belaka.

Harta pusaka itu adalah harta hasil perampokan dan rampasan dari pasukan-pasukan liar di bawah pimpinan Raja Sabutai ketika raja liar ini menaklukkan banyak suku bangsa Nomad di sekitar daerah padang dan gurun di utara.

Karena tidak mungkin bagi pasukan itu untuk membawa-bawa harta yang amat banyak dan berat dalam perjalanan mereka menaklukkan suku-suku lain, Maka sebagian dari harta itu mereka sembunyikan dan mereka tanam di beberapa tempat, di antaranya di Padang Bangkai dan lebih lagi di Lembah Naga.

Raja Sabutai sendiri tidak tahu akan hal ini, karena pekerjaan itu dilakukan oleh anak buahnya yang ingin menyembunyikan sebagian dari harta rampasan itu.

Dalam perang dan pertempuran-pertempuran selanjutnya, para penyimpan harta itu sudah gugur semua dan yang tinggal hanya cerita mereka yang diteruskan oleh teman-teman, dan akhirnya Hok Boan si petualang itulah yang berhasil menemukan penggambaran petanya dan yang percaya akan adanya harta itu dan kini benar-benar melakukan penyelidikan dan pencarian.

Orang lain, biarpun percaya akan adanya harta itu, merasa jerih untuk menyelidiki karena selain tempat itu berada di wilayah kekuasaan Raja Sabutai, Juga di situ banyak terdapat suku-suku liar dan kedua tempat itupun kabarnya merupakan daerah berbahaya yang tak mungkin dimasuki orang luar.

Dalam waktu setahun saja terjadilah perubahan besar-besaran di Padang Bangkai.

Dusun di tengah padang yang dikelilingi air sungai itu, yang tadinya hanya terdiri dari rumah-rumah petak sederhana, kini telah berubah menjadi bangunan besar dan megah, dikelilingi taman bunga dan dipasangi jembatan-jembatan indah di atas sungai itu.

Juga jalan menuju ke Padang Bangkai dibangun dan dibuat lebar dan tidak berbahaya.

Bahkan kini mulai ada penduduk tinggal di luar padang itu, tidak lagi takut seperti dulu sehingga Padang Bangkai kini bukan lagi menjadi daerah "angker"

Yang menyeramkan dan tidak ada orang berani mendekati.

Padang Bangkai kini berubah menjadi sebuah dusun makmur milik Kui-kongcu yang dikenal sebagai seorang hartawan yang ramah dan manis budi.

Semua perubahan ini diadakan oleh Kui Hok Boan yang ternyata berhasil menemukan harta pusaka itu di sebuah guha.

Harta pusaka yang amat banyak, terdiri dari emas permata yang mahal.

Maka dibangunlah tempat itu, bukan hanya rumah gedung untuk dia sendiri, juga rumah-rumah petak yang indah untuk para anak buahnya yang tiga puluh orang banyaknya itu, dan pakaian-pakaian untuk mereka.

Bahkan kini para anak buah itu ada yang mengambil isteri dan membentuk keluarga di Padang Bangkai.

Hidup mereka tentram dan tenang, tidak lagi harus merampok seperti dulu, melainkan mengusahakan tanah yang subur di daerah itu untuk bercocok tanam.

Selain dari hasil ini, juga secara halus Hok Boan mulai menentukan semacam "pajak"

Bagi para penghuni yang tinggal di sekitar Padang Bangkai, dengan dalih bahwa anak buah Padang Bangkai yang menjamin keselamatan mereka dari gangguan siapapun juga.

Karena sikap Hok Boan yang halus, juga anak buahnya yang tidak boleh menggunakan kekerasan, maka para penghuni itu dengan suka hati suka menyerahkan sebagian dari hasil mereka sebagai semacam pajak atau upah menjaga keamanan mereka!

Beberapa kali Hok Boan ingin pergi melakukan penyelidikan ke Lembah Naga karena memang dia ingin mencari pula harta pusaka yang terpendam di tempat itu.

Bahkan menurut kabar, harta yang berada di situ lebih banyak lagi di samping adanya sebuah istana di Lembah Naga itu sebagai peninggalan Raja Sabutai.

Akan tetapi, berkali-kali anak buahnya memperingatkan Hok Boan agar jangan sembarangan menyerbu atau memasuki Lembah Naga.

"Mendiang ketua kami yang dahulu, Coa Lok, dengan keras melarang kami untuk mendekati istana itu, taihiap. Dan memang kamipun sudah jera untuk memasuki daerah Istana Lembah Naga, setelah lima orang teman kami tewas secara mengerikan oleh iblis betina itu."

Demikian antara lain anak buahnya memperingatkan.

Hok Boan lalu mendengar cerita mereka tentang wanita cantik bertangan kiri buntung yang amat hebat kepandaiannya.

Betapa mendiang Coa Lok sendiri tidak mampu mengalahkannya, dan betapa lima orang di antara mereka tewas oleh wanita cantik itu.

"Kepandaiannya seperti iblis, taihiap, gerakannya cepat seperti pandai menghilang saja. Akan tetapi dia tidak pernah mengganggu kami selama ini. Oleh karena itu, apakah tidak sebaiknya kalau kita juga tidak mengganggunya? Kita sudah hidup senang dan makmur di sini berkat kebijaksanaan taihiap, dan kami sudah puas."

Biarpun mulutnya tidak berkata apa-apa, namun di dalam hatinya Kui Hok Boan merasa penasaran sekali.

Makin tertariklah hatinya untuk mengunjungi istana itu, di mana menurut cerita anak buahnya tinggal wanita cantik yang kepandaiannya seperti iblis betina itu, ditemani oleh lima orang pelayan wanita yang cantik-cantik pula.

Mendengar wanita-wanita cantik, jantung sasterawan muda ini sudah berdebar tegang dan gembira.

Sudah terlalu lama dia kesepian, semenjak dia meninggalkan Leng Ci yang cantik dan genit.

Memang di antara para penghuni dusun terdapat pula wanita-wanita mudanya, dan dia sudah mengunjungi dan menghibur dirinya dengan dua tiga orang di antara mereka, akan tetapi hatinya tidak puas.

Mereka adalah wanita-wanita dusun yang sederhana, bodoh dan juga berkulit kasar dan kehitaman karena kerja berat dan terbakar sinar matahari di sawah ladang.

Karena dia tidak ingin mengganggu ketentraman hidup para anak buahnya, maka dia mengambil keputusan untuk menyelidiki sendiri saja.

Dia tahu bahwa anak buahnya adalah bekas-bekas pe-rampok yang berjiwa kasar dan ganas.

Kini, oleh keadaan yang makmur dan tentram, anak buahnya itu bagaikan harimau-harimau yang kekenyangan dan tidur bermalas-malasan.

Kalau sampai digerakkan dan bangkit kembali keganasan mereka, maka akan repot jugalah dia untuk menanggulangi mereka.

Biarkanlah mereka menjadi harimau-harimau jinak karena memang dia tidak membutuhkan tenaga mereka.

Di tempat seperti itu, agaknya tidak akan ada musuh yang mengganggu.

Demikianlah, pada suatu pagi, tanpa diketahui oleh orang lain, diam-diam Kui Hok Boan memasuki daerah Lembah Naga dari selatan.

Daerah yang luas dan indah, tanahnya subur dan tak lama kemudian, ketika jalan itu mulai menanjak berat, dia sudah melihat genteng istana dari jauh, kemerahan dan tinggi.

Akan tetapi selagi dia melenggang seenaknya, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan merdu.

"Hei, berhenti! Tidak boleh memasuki tempat itu tanpa ijin!"

Dengan tenang Hok Boan menoleh dan melihat lima orang wanita bermunculan.

Melihat kaki dan tangan mereka yang masih berlepotan lumpur, tahulah dia bahwa mereka tadi sedang asyik bekerja di sawah ketika mereka melihat kedatangannya dan menghadang di sini.

Wanita-wanita itu tidak sangat cantik, akan tetapi dibandingkan dengan wanita-wanita dusun, mereka ini jauh lebib bersih menarik.

Bahkan ada seorang di antara mereka, yang berbaju hijau, tentu belum ada tiga puluh tahun usianya, dan wajahnya manis.

Dia sudah menduga bahwa tentu inilah mereka yang disebut pelayan-pelayan dari wanita cantik bertangan buntung itu, maka dia tersenyum manis dan memasang aksi yang ramah.

Kui Hok Boan memang berwajah tampan.

Apalagi pagi hari itu dia sengaja mengenakan pakaian baru yang indah dan bersih.

Ketika melihat pemuda itu tersenyum dan sikapnya yang sopan dan lemah lembut, lima orang itu tercengang, kemudian seorang di antara mereka, kebetulan yang muda berbaju hijau itu, berseru.

"Ah, bukankah Kui-taihiap... dari Padang Bangkai...?"

Seperti diketahui, kadang-kadang, untuk keperluan mereka, tentu ada di antara para pelayan dari istana lembah itu yang turun dari lembah dan pergi ke dusun-dusun untuk membeli keperluan mereka.

Oleh karena, itu maka mereka mendengar belaka akan semua perubahan yang terjadi di Padang Bangkai.

Mereka sudah melapor kepada majikan mereka, yaitu Liong Si Kwi, bahkan Padang Bangkai telah memiliki majikan atau pemimpin baru, Dan betapa Padang Bangkai kini dibangun dan banyak penghuni dusun yang berdatangan dan membuka dusun-dusun baru di luar Padang Bangkai.

Akan tetapi Si Kwi tidak mau mencampuri urusan itu.

Untuk apa dia mencampuri urusan para perampok di Padang Bangkai?

Biar berganti pimpinan seribu kalipun tetap saja perampok dan dia tidak sudi berurusan dengan para perampok.

Maka dia hanya berpesan kepada para pelayannya agar jangan berhubungan atau mencampuri urusan orang Padang Bangkai.

Dia tidak akan perduli selama orang-orang Padang Bangkai tidak mengganggu Lembah Naga.

Akan tetapi, lima pelayan itu telah mendengar bahwa kepala di Padang Bangkai sekarang adalah seorang pemuda sasterawan yang tampan dan halus, dan yang disebut Kui-taihiap oleh para anak buah Padang Bangkai dan oleh semua penduduk dusun di sekitarnya.

Dan ketika seorang dua orang di antara mereka pergi berbelanja, mereka mendengar penuturan para penduduk bahwa majikan Padang Bangkai itu amat ramah dan baik hati, sama sekali bukan bersikap sebagai kepala rampok, dan bahwa tidak pernah ada anggauta Padang Bangkai yang mengganggu dusun-dusun baru itu.

A Ciauw, pelayan berbaju hijau itu, sudah pernah satu kali melihat Kui Hok Boan dari jauh, maka kini dia mengenal pemuda itu.

Mendengar teguran A Ciauw, empat orang temannya memandang penuh perhatian, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, sungguhpun majikan mereka sudah berpesan bahwa tidak ada orang luar, siapapun juga dia itu, yang boleh masuk ke Lembah Naga.

Hok Boan memperlebar senyumnya sehingga nampak giginya yang putih, lalu dia memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

"Ah, kiranya cu-wi (anda sekalian) telah mengenal saya? Saya memang Kui Hok Boan, dari Padang Bangkai. Karena diantara kita adalah tetangga, maka saya ingin sekali datang mengunjungi Istana Lembah Naga, untuk berkenalan."

Biarpun hanya A Ciauw seorang saja di antara mereka yang pernah melihat majikan Padang Bangkai yang disohorkan orang itu, namun mereka semua telah lama mendengar nama sasterawan muda itu dan kini melihat orangnya dengan sikapnya yang demikian halus dan ramah, lima orang pelayan itu merasa tidak enak kalau harus bersikap kasar.

Bahkan untuk mengusirnya sekalipun mereka merasa malu hati.

Maka kini mereka hanya saling pandang atau menatap wajah tampan itu dengan bingung.

Akhirnya, A Ciauw yang merasa betapa pandang mata kongcu itu terutama ditujukan kepadanya dengan amat mesra, dengan kedua pipi berubah merah lalu menjura dengan hormat dan berkata.

"Maafkan kami, Kui-taihiap. Bukan keinginan kami untuk bersikap kurang hormat kepada taihiap. Akan tetapi kami berlima hanyalah pelayan-pelayan dari nona kami yang mentaati perintah beliau..."

"Ah, kiranya cici (kakak) berlima adalah pelayan-pelayan dari Istana Lembah Naga? Sungguh mati, siapa dapat percaya hal ini kalau tidak mendengar sendiri? Biarpun cici berlima berlepotan lumpur karena habis kerja di ladang, namun melihat wajah dan sikap kalian... ah, sudahlah, betapapun juga, saya merasa amat gembira dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian. Sekarang, cici berlima yang manis, tolonglah antar saya untuk menjumpai dan berkenalan dengan nona majikan kalian."

"Itulah yang kami tidak berani lakukan, taihiap. Bahkan kalau bukan taihiap yang bertemu dengan kami di sini, tentu sudah sejak tadi kami minta untuk segera meninggalkan tempat ini. Ketahuilah, Kui-taihiap, bahwa nona majikan kami sudah berulang kali memesan bahwa tidak boleh orang luar datang memasuki Lembah Naga, apalagi hendak bertemu dengan beliau. Oleh karena itu, demi kebaikan kita bersama, taihiap, kami mohon dengan hormat sukalah taihiap kembali saja ke Padang Bangkai dan kami akan menyampaikan kepada nona majikan kami betapa baiknya keadaan dan sikap taihiap terhadap kami."

Kui Hok Boan tersenyum dan memainkan matanya, lalu berkata.

"Aihh, cici yang manis, mengapa demikian? Telah setahun saya tinggal di Padang Bangkai dan sudah banyak saya mendengar tentang nona majikanmu yang kabarnya cantik seperti bidadari dan juga manis budi. Kami adalah tetangga, kenapa saya tidak boleh menjumpai dan berkenalan dengan dia? Tidak, sekarang juga saya harus menemuinya, kalau tidak maka saya Kui Hok Boan tentu akan mati penasaran, setidaknya malam ini saya tidak akah dapat tidur."

A Ciauw dan teman-temannya menjadi makin khawatir.

"Jangan, taihiap, harap taihiap jangan memaksa, harap taihiap suka kembali saja..."

"Hemm, kalau saya tidak mau kembali, bagaimana? Saya mendengar bahwa lima orang dayang Istana Lembah Naga memiliki kepandaian tinggi, apalah kalian hendak menghajar saya dan memaksa saya pergi dari sini?"

"Ah, mana kami berani? Akan tetapi, kalau kami membiarkan saja taihiap memasuki istana, kami tentu akan mendapat marah besar dari nona majikan kami..."

"Karena itu, jangan kalian biarkan, cobalah kalian menghalangiku. Tentu saja aku tidak ingin menyusahkan kalian, para enci yang manis."

Hok Boan berkata dengan sikap main-main dan lebih akrab.

A Ciauw dan teman-temannya saling pandang, kemudian A ciauw menarik napas panjang dan berkata.

"Apa boleh buat, Kui-taihiap. Kami hanyalah pelayan yang harus mentaati perintah nona majikan kami, kalau kami ingin selamat. Maafkan kami, terpaksa kami akan menghalangi taihiap. Harap saja taihiap menaruh kasihan kepada kami."

A Ciauw sudah memasang kuda-kuda diikuti oleh empat orang temannya.

"Mana aku sampai hati menyusahkan kalian?"

Jawab Hok Boan dan diapun lalu menerjang ke depan.

Lima orang wanita itu menubruknya dan membuat gerakan menyerang untuk menangkap atau merobohkan tamu yang nekat ini, akan tetapi tentu saja mereka itu sama sekali bukan tandingan Kui Hok Boan.

Dengan gerakan yang amat cepat, Hok Boan membagi-bagi totokan dan robohlah lima orang itu dalam keadaan lemas dan lumpuh tertotok!

Hok Boan tersenyum, lalu menghampiri A Ciauw, berlutut di dekatnya dan berkata.

"Aku menyesal sekali, harap kalian maafkan aku. Akan tetapi hal ini perlu agar kalian tidak sampai mendapat marah. Kau manis sekali!"

Berkata demikian, Hok Boan mendekatkan mukanya dan mencium mulut wanita berbaju hijau itu, tangannya mengusap dan membelai.

A Ciauw tidak mampu bergerak dan hanya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti orang merintih atau mengeluh, Matanya dipejamkan dan setelah lama pria itu pergi, A Ciauw masih rebah terlentang dengan mata terpejam dan pikiran melayang jauh entah ke mana!

Sementara itu, dengan ilmu berlari cepat, Hok Boan sudah meninggalkan lima orang wanita yang dirobohkannya dengan totokan yang untuk beberapa lamanya akan membuat mereka lumpuh tak berdaya akan tetapi tidak membahayakan keselamatan nyawa mereka itu.

Dia menuju ke istana, akan tetapi ketika mendengar suara anak kecil tertawa dan suara seorang wanita, dia tertarik dan mengalihkan langkahnya ke jalan kecil yang menuju ke dinding gunung penuh guha dari mana suara itu tadi datang.

Tak lama kemudian dia melihat seorang anak laki-laki kecil, usianya tentu antara dua dan tiga tahun, tubuhnya sehat dan kuat, sedang bermain-main di depan guha.

Tak jauh dari situ, nampak seorang wanita dan Kui Hok Boan tercengang dan terpesona!

Dia bukan seorang laki-laki yang hijau, sama sekali bukan.

Dia adalah seorang petualang asmara, seorang kongcu hidung belang dan mata keranjang yang sudah biasa mempermainkan wanita dan mengobral cintanya di antara banyak sekali wanita.

Dia sudah banyak bertemu, bahkan bercinta dengan wanita-wanita cantik.

Akan tetapi melihat wanita yang duduk di atas batu itu, jantungnya berdebar keras dan dia tertarik sekali.

Usia wanita itu belum ada tiga puluh tahun, wajahnya manis sekali dan di wajah itu terbayang watak seorang wanita yang mempunyai harga diri tinggi, yang memandang dunia dengan pandang mata seorang ratu, agung dan angkuh akan tetapi justeru sikap itulah yang bagi pandang mata Hok Boan kelihatan begitu menarik dan mempesona.

Dia sudah terlalu biasa bertemu dengan wanita yang "murahan"

Seperti sikap lima orang pelayan tadi, atau wanita yang "jual mahal"

Agar dapat dinilai lebih tinggi.

Namun wanita yang duduk di atas batu depan guha besar itu lain sama sekali, sikapnya wajar dan begitu agung, tangan kirinya yang buntung sebatas pergelangan itu tidak membuat dia menjadi buruk, bahkan menimbulkan rasa iba di hati Hok Boan.

Wanita itu wajahnya manis, berbentuk bulat dengan dagu meruncing dan mulut kecil, sepasang matanya tajam dan dingin namun mengandung kesuraman dan kesayuan.

Rambutnya digelung sederhana dengan hiasan tusuk konde dari perak terukir dan diikat dengan pita rambut yang berwarna kuning.

Pakaiannya juga sederhana bentuknya, akan tetapi terbuat dari sutera halus dengan baju warna merah darah.

Kombinasi warna pakaian yang menyolok sekali, dan anehnya, Kebetulan sekali warna merah memang paling disuka oleh Hok Boan untuk dipakai oleh wanita!

Dia sendiri merasa heran bukan main mengapa hatinya begitu tergetar dan tertarik sekali melihat wanita yang memiliki bentuk tubuh yang sudah matang itu, padat dan dengan lekuk lengkung yang sempurna!

Wanita itu bukan lain adalah Liong Si Kwi.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, semenjak wanita ini menemukan Sin Liong yang dia yakin adalah anak kandungnya sendiri, terjadi perubahan besar pada kehidupannya.

Dia tidak lagi melamun dan terpendam ke dalam kedukaan.

Timbul kembali gairah hidupnya, timbul pula kegembiraannya dan dia bahkan mendatangkan lima orang wanita sebagai pelayannya, untuk mengurus istana yang besar itu, melayaninya dan menjadi temannya tinggal di tempat yang sunyi itu.

Biarpun Sin Liong masih suka bermain-main dengan monyet-monyet besar, namun karena tahu bahwa monyet-monyet itu adalah kawan-kawan pertama Sin Liong semenjak lahir dan setelah dia (Lanjut ke

Jilid 05) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 yakin bahwa binatang-binatang itu sama sekali tidak pernah mengganggunya, maka diapun tidak pernah melarang lagi.

Kadang-kadang dia sendiri yang menemani Sin Liong bermain-main dan pagi hari itupun dia menemani anak itu bermain-main, suatu kesibukan yang mendatangkan kegembiraan besar di dalam hati wanita itu.

Biarpun Sin Liong belum pernah menerima gemblengan ilmu silat, namun nalurinya lebih tajam dari manusia biasa.

Hal ini agaknya dia dapatkan dari air susu monyet yang menghidupinya sejak dia masih kecil, maka kedatangan Hok Boan lebih dulu dia ketahui sebelum ibunya, wanita yang telah digembleng ilmu silat tinggi itu mengetahui.

"Eeehhh...?"

Sin Liong mengeluarkan teriakan dan menudingkan telunjuknya ke arah pria yang melangkah datang hati-hati itu.

Si Kwi cepat meloncat turun dari atas batu dan membalikkan tubuh.

Matanya berkilat bercahaya ketika dia melihat datangnya seorang laki-laki muda tampan berpakaian sasterawan dan diam-diam dia memperhatikan ke kanan kiri karena dia merasa heran mengapa lima orang pelayannya membiarkan orang asing ini memasuki Lembah Naga!

Kui Hok Boan sudah lebih dulu menggunakan senjatanya yang biasanya amat ampuh dalam menghadapi wanita.

Dia memainkan matanya, menggerakkan alisnya yang tebal dan tersenyum manis, lalu menjura dan merangkapkan kedua tangan di depan dada, memberi hormat dengan sikap sopan sekali.

"Harap nona sudi memaafkan kelancanganku kalau aku mengganggu."

Si Kwi mengerutkan alisnya, tidak menjawab dan dia menoleh ke kanan kiri, merasa makin heran dan penasaran, bagaimana lima orang pelayannya yang setia itu sama sekali tidak tahu akan kedatangan orang ini.

Melihat wanita yang mempesona itu mengerutkan ails dan dengan sikap angkuh tidak menjawab kata-katanya melainkan memandang ke kanan kiri jantung Hok Boan berdebar.

Bukan main cantik dan manisnya wanita ini, pikirnya heran.

Sudah banyak dia melihat wanita cantik, akan tetapi belum pernah ada yang menggerakkan hatinya seperti wanita bertangan kiri buntung ini!

Dia maklum atau dapat menduga apa yang dicari oleh wanita itu, maka dia kembali menjura dan berkata halus.

"Kalau nona mencari lima orang pembantumu itu, ketahuilah bahwa mereka tadi menghadang dan hendak menghalangiku untuk datang berkunjung ke Istana Lembah Naga, oleh karena itu secara terpaksa sekali aku menidurkan mereka secara lembut dengan totokan. Akan tetapi sama sekali tidak berbahaya, nona, sama sekali tidak berbahaya..."

Sinar mata itu berkilat menatap wajah Hok Boan, sinar mata itu merayap dari atas ke bawah, dalam sekejap saja telah meneliti keadaan jasmani pemuda itu, lalu sinar mata yang amat tajam itu kembali menentang wajah Hok Boan.

Bibir yang merah tipis dan manis itu terbuka, bergerak dan terdengar bentakan halus.

"Siapa engkau? Dan apa kehendakmu datang ke tempat ini secara memaksa?"

Pertanyaan yang mendesak dan mengandung teguran, biarpun hati Si Kwi sama sekali tidak merasa heran kalau pemuda ini dapat menotok roboh lima orang pelayannya karena mereka itu baru dua tahun dilatih silat.

Melihat keadaan pemuda yang lemah lembut ini, dia menduga bahwa tentu pemuda ini memiliki kepandaian tinggi.

Dia sudah terbiasa akan hal ini.

Sebagai orang muda yang berdarah panas, maka setiap pemuda yang memiliki kepandaian sedikit saja tentu akan bersikap sombong dan suka berkelahi.

Akan tetapi, seorang pemuda yang dapat membawa diri, bersikap tenang dan halus, tidak menonjolkan kepandaian, pemuda seperti itulah yang berbahaya, dan biasanya menyembunyikan kepandaian yang hebat.

Seperti Cia Bun Houw misalnya!

Teringat ini, kedua pipi Si Kwi menjadi merah dan cepat diusirnya bayangan pemuda itu dan nama pemuda itu.

Mendengar pertanyaan yang singkat dan penuh teguran itu, kembali Hok Boan menjura dan menjawab halus.

"Sekali lagi harap nona sudi memaafkan aku. Sesungguhnya, aku Kui Hok Boan sama sekali tidak mempunyai niat buruk terhadap nona atau semua penghuni Istana Lembah Naga. Seperti mungkin nona telah mengenal namaku..."

"Aku tidak mengenal namamu!"

Si Kwi memotong cepat dan ketus.

Hok Boan tidak merasa menyesal atau menjadi marah mendengar pemotongan kata-katanya yang ketus itu.

Dia tetap memandang dengan wajah berseri, lalu tersenyum dan berkata lagi.

"Maaf, agaknya aku lupa bahwa penghuni Istana Lembah Naga tentu saja tidak mengenal nama seorang yang tidak berharga seperti aku ini. Karena itu, baiklah dalam kesempatan ini aku memperkenalkan namaku. Aku she Kui bernama Hok Boan dan aku memimpin teman-teman di Padang Bangkai."

"Hemm, kiranya kepala perampok yang baru?"

Hok Boan mengerutkan alisnya.

"Nona boleh memandang rendah kepadaku, akan tetapi harap suka melihat dengan jelas dan dapat membedakan orang. Aku datang ke Padang Bangkai kurang lebih setahun yang lalu, dalam pertempuran membunuh kepala perampok Sin-jio Coa Lok dan karena kasihan kepada tiga puluh orang anak buahnya yang sudah menyerah maka aku memimpin mereka menuju ke jalan benar. Sekarang, mereka itu bukanlah perampok lagi, nona. Padang Bangkai telah mengalami perubahan besar dan bukan merupakan tempat angker dan menyeramkan lagi bagi manusia. Dusun-dusun baru telah mulai dibangun oleh mereka yang berdatangan."

Si Kwi merasa tersindir.

Memang dia sudah mendengar dari para pelayannya akan kemajuan Padang Bangkai dan betapa tempat itu kini mulai ramai dengan para penduduk baru yang membangun dusun-dusun, Lembah Naga masih saja merupakan tempat angker yang tidak boleh didatangi orang luar.

"Cukup, tidak perlu engkau memamerkan dan mempropagandakan Padang Bangkai. Sekarang katakan apa keperluannya datang ke sini!"

Kembali Hok Boan menjura dengan hormat.

"Tidak ada keperluan lain kecuali datang berkunjung sebagai tetangga, sebagai sahabat..."

"Seorang sahabat macam apa engkau ini! Begitu datang telah menotok roboh lima orang pelayanku."

"Akan tetapi mereka yang memaksaku, nona..."

"Hemm, agaknya setelah engkau berhasil merampas Padang Bangkai, engkau hendak main gila di sini mengandalkan kepandaianmu, ya? Kau kira aku takut menghadapimu. Kau kira akan mudah saja merampas Istana Lembah Naga seperti yang telah kaulakukan dengan Padang Bangkai?"

"Eh... ah... bukan begitu, nona..."

"Cerewet! Perlihatkan kepandaianmu!"

Si Kwi sudah menghardiknya dan seketika dia menerjang dengan tamparan tangan kanannya ke arah pipi Hok Boan.

Pemuda sasterawan ini terkejut bukan main.

Dia hanya melihat wanita itu menggerakkan tangan dan tahu-tahu ada angin menyambar dahsyat dan tangan itu telah menyambar dekat sekali dengan pipinya!

Hanya dengan jalan melempar tubuh atas ke belakang saja dia berhasil menghindarkan diri dari tamparan itu.

Angin tamparan itu masih menyambar pipinya, dingin dan kuat sekali.

Bukan main, pikirnya.

Pantas saja wanita ini ditakuti orang, kiranya memiliki gerakan yang sedemikian cepatnya.

Sementara itu, Si Kwi menjadi penasaran juga ketika tamparannya yang dilakukan cepat tadi dapat dielakkan lawan.

Dia merasa gemas dan sambil mengeluarkan lengking nyaring dia menyerang secara hebat dan bertubi-tubi.

Tubuhnya berkelebatan dan kadang-kadang meloncat tinggi sambil menerkam dan menyerang, kecepatannya seperti seekor burung walet terbang!

"Eh...

ohh...

nanti dulu, nona...!"

Hok Boan berseru kaget dan mengelak atau menangkis kalang kabut.

Nona itu hanya mempunyai satu tangan kanan saja, akan tetapi tangan kiri yang buntung itu ternyata dipergunakan pula untuk menyerang, dengan jalan menotok jalan darah!

Yang amat mengagumkan hati Hok Boan adalah kecepatan wanita itu, kecepatan yang luar biasa dan dia harus mengakui bahwa dalam hal limu gin-kang, agaknya dia sendiri tidak akan mampu menandingi nona ini.

Karena dia berseru dan berkali-kali menahan, hampir saja sebuah tendangan kilat yang dilakukan selagi tubuh wanita itu berada di atas mengenai dagunya.

Dia terkejut dan mengeluarkan keringat dingin ketika tubuhnya dia lempar ke belakang sambil berjungkir balik, membuat salto.

"Tahan, nona. Aku bukan musuh..."

"Tidak perduli. Engkau sudah merobohkan lima orang pelayanku, berarti engkau adalah musuhku!"

Si Kwi membentak dan menyerang lagi karena hatinya makin penasaran melihat betapa serangan-serangannya yang sudah dilakukan sebanyak belasan jurus itu tidak pernah mengenai sasarannya.

"Baiklah, agaknya engkau berpegang kepada kebiasaan kang-ouw bahwa sebelum bertanding tidak kenal!"

Hok Boan berkata dan mulailah dia membalas serangan Si Kwi.

Pemuda sasterawan ini amat tertarik kepada Si Kwi dan kini dia ingin mengukur sampai di mana tingkat kepandaian wanita yang amat menyentuh perasaan hatinya ini.

Perkelahian hebat terjadi di depan guha.

Melihat ini, Sin Liong mengeluarkan suara marah dan dia sudah melangkah maju perlahan-lahan, matanya mengeluarkan sinar berapi dan dia menyeringai, memperlihatkan giginya yang kecil-kecil seperti laku seekor monyet kalau marah!

Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan monyet besar dan biang monyet yang selama ini selalu membayangi dan menjaga Sin Liong, Cepat meloncat ke bawah dan menyambar tubuh Sin Long, dipondongnya dan dibawanya berloncatan naik melalui batu-batu di pinggir guha, terus dibawanya naik ke atas pohon di mana dia duduk nongkrong sambil memondong Sin Liong dan diajaknya anak itu menjadi penonton dari tempat yang aman itu.

Lega hati Si Kwi melihat ini.

Dia tadi sudah khawatir kalau-kalau Sin Liong yang masih mempunyai watak liar dan kadang-kadang seperti seekor monyet yang susah dijinakkan itu akan menjadi marah dan maju membantunya.

Hal itu kalau sampai terjadi, tentu saja membahayakan keselamatan anak itu sendiri.

Lawannya ini seorang yang pandai, dan siapa tahu apa yang akan dilakukan oleh ketua Padang Bangkai ini terhadap anak itu kalau Sin Liong berani maju membantunya.

Kini, melihat Sin Liong dalam keadaan aman di pohon tinggi, dijaga oleh monyet betina besar itu, Si Kwi dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada gerakan kaki tangannya dan mulailah dia menyerang dengan hebat.

Dia tidak membawa pedang ataupun senjata rahasianya yang amat lihai, yaitu paku Hek-tok-ting, akan tetapi karena dia melihat bahwa pemuda sasterawan itupun tidak membawa senjata apapun, maka dia tidak merasa khawatir.

Liong Si Kwi adalah murid seorang tokoh besar dunia kang-ouw, yaitu mendiang Hek I Siankouw, bahkan dia menerima banyak gemblengan ilmu silat tinggi pula dari kekasih gurunya itu, yaitu Hwa Hwa Cinjin.

Dari dua orang kakek dan nenek ini dia menerima ilmu silat gabungan yang diberi nama Im-yang Lian-boan-kung ilmu yang dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan senjata.

Selain itu, juga Si Kwi pandai sekali main silat dengan siang-kiam, yaitu sepasang pedang dan kini setelah tangan kirinya buntung, tentu saja dia tidak lagi dapat memainkan dua pedang, melainkan tinggal sebuah saja yang biasa dimainkan dengan tangan kanannya.

Dan di samping ilmu senjata rahasia Hek-tok-ting, paku beracun hitam yang amat berbahaya, juga dia adalah seorang ahli ilmu gin-kang.

Karena kecepatan gerakannya inilah maka di waktu dia belum bersembunyi di Istana Lembah Naga, di dunia kang-ouw dia dijuluki orang Ang-yang-cu (Burung Walet Merah) karena gerakannya seperti terbang dan pakaiannya selalu berwarna merah.

Kini, dalam keadaan marah dan penasaran, Liong Si Kwi menghadapi Hok Boan dan mainkan Ilmu Silat Im-yang Lian-hoan-kun yang hebat.

Tubuhnya seperti beterbangan menyambar-nyambar dan dalam serangkaian serangan selama tiga puluh jurus pertama, Hok Boan yang terkejut dan kagum itu terdesak hebat!

Namun, pemuda sasterawan ini adalah bekas murid Go-bi-pai yang pandai, ditambah lagi dengan pengalamannya yang banyak di dunia kang-ouw, maka dia masih berhasil mempertahankan diri dengan baik.

Tentu saja dia tidak dapat mengandalkan kegesitannya untuk bergerak.

Ketika dia menghadapi mendiang Sin-jio Coa Lok, dia kelihatan amat lincah dan gesit karena dia memang menang gesit dibandingkan dengan Coa Lok.

Akan tetapi sekarang, bertemu dengan Si Kwi, dia kelihatan lamban!

Dia kalah gesit, kalah cepat sehingga tidak mungkin dia dapat mengimbangi dan menandingi lawan ini kalau dia mengandalkan kecepatan.

Maka dia tidak mau banyak mengelak, khawatir kalau didahului lawan yang lebih cepat.

Dia lebih bersikap tenang dan mengandalkan pertahanannya yang kokoh kuat dengan jalan menangkis dan hanya kadang kala saja dia mengelak.

Setiap tangkisannya dilakukan dengan pengerahan tenaga karena pemuda yang cerdik ini segera mengerti bahwa biarpun dalam hal gin-kang dia kalah cepat, namun dalam hal sin-kang dia menang kuat.

Setelah tiga puluh jurus lewat dan selama itu Hok Boan hanya dapat mempertahankan diri selalu, kini mulailah dia balas menyerang!

Dan serangan-serangan Hok Boan amat kuatnya, mendatangkan angin bersuitan sehingga Si Kwi harus berhati-hati dan sebaliknya dari lawan, dia mengandalkan kecepatan gerakan ketika menghadapi serangan pemuda itu.

Diam-diam Si Kwi terkejut dan juga kagum.

Sasterawan muda yang bersikap sopan dan halus ini ternyata benar-benar hebat!

Dia teringat akan Cia Bun Houw, pendekar sakti pujaan hatinya yang juga kelihatan seperti seorang pemuda sasterawan lemah namun sesungguhnya memiliki kesaktian yang amat luar biasa.

Biarpun pemuda ini tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan pendekar muda yang sakti itu, namun keadaan pemuda yang menjadi ketua Padang Bangkai ini cukup menimbulkan rasa kagum di dalam hatinya.

Seratus jurus lewat dan pertandingan itu bertambah seru.

Kalau diam-diam Si Kwi kagum bukan main dan rasa penasaran di hatinya mulai lenyap karena memang harus diakuinya bahwa lawan ini berbeda dengan Coa Lok dan memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, sebaliknya Hok Boan juga kagum bukan main dan kekagumannya diucapkan berkali-kali oleh mulutnya.

"Hebat sekali!"

"Ah, engkau amat cepat, nona!"

Si Kwi tidak memperdulikan pujian-pujian ini, akan tetapi sebenarnya di dalam hati wanita ini telah timbul semacam perasaan yang aneh.

Tadi dia merasa penasaran dan membenci pemuda ini yang dianggap menghinanya.

Akan tetapi kini lenyap rasa penasaran di hatinya kerena dia mengakui kehebatan pemuda ini, dan perlahan-lahan rasa bencinya juga menipis mendengar betapa pemuda itu memuji-mujinya dengan suara bersungguh-sungguh, bukan pujian yang bersifat mengejek.

Apalagi ketika dia melihat munculnya lima orang pelayannya dalam keadaan sehat dan tidak mengalami cedera.

"Nona, cukuplah. Harap nona suka memaafkan aku, sungguh aku tidak berniat untuk memusuhi nona. Cukuplah, biar aku mengaku kalah!"

Berkali-kali Hok Boan berkata, akan tetapi Si Kwi masih terus mendesaknya.

Wanita ini merasa malu ketika lima orang pelayannya muncul dan melihat pertempuran itu, malu bahwa dia masih juga belum dapat merobohkan laki-laki ini.

Kalau tidak ada lima orang pelayan itu, agaknya dia akan mempertimbangkan permintaan Kui Hok Boan ini, akan tetapi di depan para pelayannya, dia tidak ingin dilihat bahwa dia memperoleh kemenangan karena lawannya telah mengalah dan mengaku kalah padahal sebenarnya tidak demikian!

"A Ciauw, kau cepat ambilkan pedangku!"

Teriaknya sambil terus menerjang.

Melihat A Ciauw mentaati perintah nona majikannya itu dan berlari-lari menuju ke istana, hati Hok Boan merasa tidak enak.

Dia tidak takut biarpun nona ini menggunakan pedang, akan tetap hal itu hanya akan membuat permusuhan makin menjadi-jadi, dan dia sama sekali tidak menghendaki ini.

Tidak, dia tidak bisa bermusuhan dengan nona yang telah mencuri hatinya ini!

Diam-diam dia telah jatuh hati, jatuh cinta kepada Si Kwi dan dia sendiri merasa heran mengapa dia begini tertarik kepada Si Kwi yang tangan kirinya buntung, dan yang biarpun cantik manis, Namun tidak lebih cantik dari pada kebanyakan wanita yang pernah dijumpai dan diperolehnya.

Dia tidak tahu mengapa dia begitu tertarik dan suka kepada nona majikan istana lembah itu!

Segala sesuatunya pada diri wanita itu menarik hatinya, bahkan buntungnya tangan kiri itu tidak menimbulkan jijik dan buruk, sebaliknya malah menimbulkan rasa iba dan juga kagum betapa dengan tangan kiri buntung nona itu masih demikian hebat!

Kalau sampai nona itu menggunakan pedang, maka tidak mungkin dia membiarkan dirinya terancam bahaya begitu saja, dan melawan orang yang bersenjata, apalagi kalau lawan itu selihai nona ini, akan memaksa dia menggunakan tangan besi pula dan sama sekali dia tidak menghendaki hal ini.

"Nona, mengapa engkau mendesak aku? Aku datang dengan niat baik, biarlah aku mohon maaf dan mohon diri, lain hari kalau hatimu sudah dingin kembali, aku akan datang berkunjung lagi. Selamat tinggal, nona."

Hok Boan lalu meloncat ke belakang, jauh sekali lalu melarikan diri dari tempat itu setelah melambaikan tangannya kepada Si Kwi sambil meninggalkan senyum dan lirikan matanya yang amat mesra dan memikat.

Si Kwi tidak mengejar dan sampai beberapa lamanya dia berdiri bengong memandang ke arah lenyapnya bayangan sasterawan muda itu.

A Ciauw datang membawa pedang, akan tetapi melihat lawan nonanya sudah pergi, dia lalu berkata.

"Memang sebaiknya kalau dia pergi. Kui-taihiap itu tidak berniat buruk maka tidak baik kalau sampai dia tewas di sini."

Ucapan itu ditujukan kepada teman-temannya atau kepada diri sendiri.

Si Kwi menoleh dan memandang kepada pelayan manis berbaju hijau itu.

Dia sudah menggerakkan bibirnya akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan mengambil pedangnya dari tangan A Ciauw dan mencari-cari Sin Liong dengan matanya.

Akan tetapi di atas pohon itu sudah tidak nampak Sin Liong yang tadi dipondong monyet besar, maka dia lalu kembali ke istana.

Ada rasa malu di dalam hatinya untuk bicara tentang pria itu dengan para pelayannya, dan tentang Sin Liong dia tidak khawatir karena kini dia maklum bahwa anak itu mempunyai dua dunia, yaitu dunia bersama monyet-monyet di atas pohon dan dunia bersama dia di dalam istana.

Dia tidak mengganggu lagi karena yakin bahwa nanti sebelum malam tiba, Sin Liong tentu akan pulang atau diantar pulang oleh monyet-monyet itu.

Dugaannya benar karena sore hari itu, selagi duduk termenung di dalam kamarnya, Sin Liong meloncat masuk melalui jendela!

Semenjak peristiwa pertempurannya dengan Hok Boan itu, sering kali Si Kwi nampak duduk termenung di dalam kamarnya atau kadang-kadang di taman bunga di belakang istana.

Apalagi semenjak hari itu, sering kali ada kiriman dari Padang Bangkai!

Kadang-kadang ada kiriman sutera halus, sepatu baru model terakhir, emas dan permata berbentuk hiasan rambut, bahkan kadang-kadang ada kiriman masakan yang masih panas!

Mula-mula, ditolaknya kiriman-kiriman yang datang dari Kui Hok Boan dan sengaja dikirim kepadanya itu, akan tetapi dibacanya surat terlampir yang berisi sajak-sajak indah yang memuji-muji kecantikannya, Menghibur kesunyiannya dan huruf-huruf indah itu mengandung rasa cinta dan iba yang amat mengharukan hatinya.

Akhirnya, diterimanya juga kiriman-kiriman itu, bahkan beberapa bulan kemudian, Kui Hok Boan yang datang berkunjung secara resmi itu, diterimanya sebagai seorang tamu terhormat!

Memang tidak terlalu mengherankah melihat kekerasan hati Liong Si Kwi mencair itu.

Dia adalah seorang wanita yang masih muda, belum tiga puluh tahun usianya.

Dia pernah jatuh cinta, pernah merasakan belaian cinta kasih seorang pria sungguhpun hal itu terjadi di luar kesadaran pria itu.

Dia mencinta Cia Bun Houw dan di dalam batinnya dia sudah menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada pemuda itu.

Namun, setelah Cia Bun Houw meninggalkannya (baca cerita Dewi Maut), dia melihat kenyataan yang mengerikan dan amat pahit.

Cintanya ditolak.

Hatinya hancur luluh.

Kemudian, hati itu menjadi dingin membeku.

Betapapun juga, dia adalah seorang wanita normal yang masih muda, yang di balik kebekuannya itu sebenarnya bernyala api gairah yang besar, bersembunyi kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria.

Keadaan di Istana Lembah Naga yang sunyi, jauh dari dunia ramai, jauh dari kaum pria, sedikit banyak menolong dan menghiburnya, mempertebal kebekuan hatinya terhadap pria.

Namun, kini muncul Kui Hok Boan, seorang pria yang masih muda, tampang halus dan juga lihai.

Biarpun tidak sesakti Cia Bun Houw, setidaknya merupakah pemuda yang keadaannya seperti Bun Houw.

Apalagi Hok Boan pandai merayu, pandai memuji-muji, dan dari sinar mata pemuda itu memancar kasih sayang yang besar dan mesra.

Maka, herankah kalau hati wanita itu menjadi terbakar, kalau kebekuan itu mencair dan jantungnya berdebar penuh gairah?

Anehkah itu kalau sebulan kemudian semenjak kunjungan resmi dari Hok Boan, dia mau pula membalas kunjungan pemuda itu, pergi ke Padang Bangkai dan mengagumi segala kemajuan yang dicapai oleh daerah itu dibawah pimpinan Kui Hok Boan?

Dan anehkah kalau dia tidak marah, melainkan tunduk dengan muka merah dan jantung berdebar ketika pada suatu hari Kui Hok Boan menyatakan cintanya dan mengajukan pinangan kepadanya?

Dia tidak mampu menjawab dan hanya menunduk, kedua pipinya merah sekali, bibirnya tersenyum malu-malu dan jari tangan kanannya memilin-milin rambutnya yang terlepas dari sanggul dan berjuntai ke depan dadanya.

"Liong-moi, engkau tahu bahwa lamaranku ini keluar dari hati yang tulus dan mencintamu, maka harap engkau bersikap jujur untuk menjawabku agar aku tidak tersiksa dalam kebimbangan."

Kui Hok Boan mengulang dan mendesak.

Setelah berkenalan kurang lebih dua bulan saja, dia sudah menyebut moi-moi (adik) kepada Si Kwi dan wanita itu menyebutnya ko-ko (kakak)!

Jantung di dalam dada Si Kwi berdebar.

Sungguh dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa akan ada seorang pria yang dapat jatuh cinta kepadanya, bahkan yang akan meminangnya sebagai isteri!

Apalagi seorang pria setampan dan selihai Kui Hok Boan!

Tentu saja hatinya menerima pinangan ini dengan rasa gembira dan terharu, akan tetapi dia bukanlah seorang wanita muda yang sembrono.

Dia maklum bahwa ikatan pernikahan adalah hal yang tidak boleh dipandang ringan, dan merupakan suatu ikatan selama hidup.

Oleh karena itu, sebelum diambil keputusan untuk mengikatkan diri dalam suatu pernikahan, dia harus bersikap terus terang, antara kedua fihak harus membuka diri sehingga tidak terdapat rahasia lagi di antara mereka yang kelak hanya akan menggagalkan ikatan itu.

Biarpun hal yang dikeluarkan itu amat sukar dan membuatnya merasa malu sehingga dia bicara sambil menundukkan terus mukanya, namun akhirnya dapat juga dia bicara.

"Kui-koko, sobelum aku menjawab, sebaiknya engkaulah yang harus lebih dulu mempertimbangkan pinanganmu itu dengan baik dan tidak tergesa-gesa karena engkau belum mengenal betul siapa adanya diriku."

"Liong-moi, apalagi yang harus kupertimbangkan? Biarpun baru dua bulan kita berkenalan, akan tetapi rasanya aku sudah mengenalmu bertahun-tahun lamanya. Aku tahu bahwa engkau adalah Liong Si Kwi, akan tetapi aku lebih tahu lagi bahwa engkau adalah seorang wanita yang hidup sebatangkara di tempat sunyi ini, hidup ditemani lima orang pelayan dan seorang anak angkat yang diasuh oleh monyet-monyet itu. Engkau belum mau menceritakan kepadaku mengapa engkau kehilangan tangan kirimu, akan tetapi agaknya hal itu yang membuat engkau merasa malu dan menyembunyikan diri di sini. Bagiku, engkau adalah seorang wanita yang pandai dan yang menimbulkan rasa iba di hatiku, yang membuat aku ingin menghibur hatimu yang seperti tertekan, melindungi dirimu yang seperti orang putus asa itu. Dan lebih dari semua itu, aku meminangmu karena aku cinta padamu, moi-moi."

Si Kwi memejamkan matanya.

Hatinya terharu sekali.

Pernyataan itu dahulu dia rindukan dari mulut Bun Houw, akan tetapi pernyataan itu tidak kunjung muncul, dan kini keluar dari mulut Hok Boan!

Selama hidupnya, baru sekali ini ada seorang pria mengaku cinta kepadanya, pengakuan yang dia tahu amat jujur dan setulus hati.

Hampir dia menangis.

"Kui-koko..."

Katanya dengan suara gemetar.

"Engkau belum tahu akan riwayatku, akan latar belakang hidupku..."

"Aku tidak perduli, moi-moi. Tidak perduli apapun latar belakang hidupmu, apapun riwayatmu yang telah lalu, yang kucinta bukanlah Liong Si Kwi yang dahulu, melainkan Liong Si Kwi sekarang ini, yang duduk di depanku ini!"

"Tapi, koko... aku... aku bukanlah seorang perawan seperti yang mungkin kau duga..."

Muka wanita itu menjadi pucat dan dia tidak berani mengangkat muka.

"Hemm, perawan atau bukan bagiku tidak ada bedanya, moi-moi. Akan tetapi... apakah engkau sudah menikah? Ataukah seorang janda?"

Liong Si Kwi menggeleng kepalanya, lalu mengangkat ,uka menatap wajah pria itu penuh selidik dan hatinya girang melihat bahwa pernyataan bahwa dia bukan perawan itu, agaknya tidak merobah sikap pria itu terhadap dirinya.

"Aku tidak pernah menikah, dan tentu saja bukan janda. Akan tetapi..."

Kembali dia menunduk.

"Aku bukan perawan, bahkan aku... aku pernah melahirkan anak..."

Hening sejenak setelah kata-kata ini.

Akan tetapi Hok Boan tidak terkejut.

Bagi seorang petualang asmara seperti dia, soal perawan atau bukan tidaklah penting, apalagi kini dia benar-benar jatuh cinta kepada wanita ini.

Dan diapun bukan seorang bodoh.

Dia sudah banyak pengalaman sehingga sekali jumpa saja diapun sudah tahu bahwa Si Kwi bukanlah seorang perawan.

Dan dia tidak perduli.

Akan tetapi, mendengar bahwa Si Kwi pernah melahirkan, membuat dia terkejut juga.

Bukan main-main kalau begitu hubungan antara Si Kwi dengan ayah dari anak yang dilahirkannya itu.

"Dan di mana sekarang dia? Ayah dari anak itu? Apakah masih ada ikatan antara engkau dan dia?"

Tanyanya meragu.

Si Kwi kembali mengangkat mukanya.

Terheran dia, juga girang karena kembali tidak ada perubahan sikap Hok Boan setelah mendengar bahwa dia pernah melahirkan!

Ah, dia tidak boleh bertindak terlalu jauh.

Pria ini hebat, penuh pcngertian dan penyabar!

Akan tetapi tentu ada batasnya, maka dia tidak boleh sekali-kali mengemukakan dugaannya Sin Liong adalah anak kandungnya yang dibesarkan oleh monyet.

Hat itu tentu kelak akan mendatangkan hal-hal yang tidak enak!

Pria ini baik sekali, akan tetapi dia tidak boleh terlalu mendesaknya, tidak boleh mengujinya terlalu berat.

"Dia? Dia masih hidup, entah di mana, akan tetapi, Kui-koko, bagiku dia telah mati."

"Apakah dia mencintamu?"

Si Kwi menggeleng kepalanya keras-keras.

"Sama sekali tidak! Seujung rambutpun tidak!"

"Hemm... dan kau? Cintakah kau kepadanya, moi-moi?"

Kembali Si Kwi menggeleng kepala, akan tetapi tidaklah begitu keras.

"Tidak, kukira tidak, aku menganggapnya telah mati."

"Baik sekali, kalau begitu berarti engkau bebas. moi-moi! Dan anak itu?"

"Dia... dia mati ketika terlahir."

"Ah, kalau begitu, tidak ada hal yang memberatkanmu untuk menerima pinanganku, Liong-moi!"

Si Kwi mengangkat mukanya, menatap wajah pemuda itu penuh selidik bercampur keheranan.

"Koko! Engkau sudah mendengar semua itu dan engkau masih melanjutkan pinanganmu kepadaku? Engkau seorang pemuda sasterawan yang pandai dalam hal bun dan bu, bahkan kau telah menjadi majikan Padang Bangkai yang terhormat, seorang pemuda pilihan dan yang akan mudah saja mencari isteri seorang dara cantik yang jauh lebih baik dari pada aku! Koko, berpikirlah dulu sebelum kelak engkau menyesal!"

"Ha-ha, engkau terlalu merendahkan diri, sayang. Aku sendiri, biarpun belum\ menikah dalam usia tiga puluh tahun lebih ini, mana berani mengaku perjaka? Ha-ha, apa sih artinya perjaka atau... atau bukan? Yang penting adalah kita saling mencinta. Dan aku cinta padamu, moi-moi, Dengan cintaku ini, aku menerimamu seperti apa adanya, aku menerimamu dengan keperawananmu, atau dengan kejandaanmu, dengan segala kebaikanmu berikut semua cacad-cacadmu. Nah, engkau sudah mendengar semua, Liong-moi, sekarang jawablah, maukah engkau menerima pinanganku? Bersediakah engkau menjadi isteriku?"

Sepasang mata itu tak dapat menahan lagi air mata yang bercucuran keluar membasahi kedua pipinya.

"Koko... engkau... engkau baik sekali... baik sekali..."

Hok Boan bangkit berdiri dan menghampiri wanita itu yang duduk sambil menangis dan menundukkan mukanya.

Dengan lembut dan mesra, Hok Boan memegang dagu wanita itu, mengangkat muka yang basah itu menghadap kepadanya, lalu dia bertanya.

"Jawablah, moi-moi, maukah kau...?"

Dengan air mata masih bercucuran, Si Kwi menggerakkan kepalanya mengangguk dan bibirnya hanya dapat berbisik serak.

"Aku mau... aku mau... ah, aku mau, koko..."

"Moi-moi...!"

Hok Boan sudah mencium mulut itu, menciumi muka yang basah air mata itu, kemudian mencium lagi mulut Si Kwi.

Si Kwi tersedu, lalu menggerakkan kedua lengannya, me-rangkul leher Hok Boan dan menariknya sehingga mereka berpelukan ketat.

Segala menjadi indah kalau cinta sudah berpadu.

Cinta tidak membedakan baik buruk, tidak membedakan derajat atau tingkat.

Cinta tidak memandang harta, kedudukan, kepandaian, kebangsaan, agama, kepercayaan, dan sebagainya lagi.

Semua itu hanyalah pakaian belaka.

Bagi cinta, yang mutlak adalah manusianya dan semua embel-embel itu sudah tercakup di dalamnya.

Bagi cinta, yang terpenting adalah si dia!

Apapun adanya dia, bagaimanapun adanya, karena dalam cinta, dia menjadi suatu kebutuhan dalam kehidupan, dan tanpa si dia yeng dicinta, hidup menjadi tidak lengkap!

Dengan cinta, kita menjadi bijaksana dan kebijaksanaan itu membuat kita dapat melihat bahwa tidak ada yang tanpa cacad di dunia ini.

Setiap kali kita menilai segi kebaikannya, sudah pasti muncul segi keburukannya karena baik dan buruk itu adalah saudara kembar, seperti senang dan susah.

Tiada sesuatu yang tanpa cacad, dan si dia yang kita cinta itupun termasuk di dalam segala sesuatu yang pasti ada cacadnya, itu kebaikannya dan juga ada keburukannya.

Padang Bangkai yang kini menjadi tempat yang indah dan tidak berbahaya untuk dikunjungi orang luar itu terhias meriah.

Semua anak buah Padang Bangkai sibuk, dibantu oleh para penghuni dusun di sekitar tempat itu dan suasana yang gembira dan meriah diramaikan oleh suara musik itu menandakan bahwa di tempat itu sedang diadakan pesta.

Memang benarlah.

Hari itu adalah hari yang gembira, semua orang bergembira karena hari itu adalah hari pernikahan antara majikan Padang Bangkai, Kui Hok Boan, dengan penghuni Istana Lembah Naga, Liong Si Kwi!

Dalam kesempatan ini, Kui Hok Boan memperlihatkan kepopulerannya di dunia kang-ouw dengan mengundang banyak tokoh kang-ouw!

Dengan harta pusaka besar yang ditemukan di Padang Bangkai, tentu saja dia dapat mengadakan pesta besar dengan mengundang tukang-tukang masak dari selatan.

Daerah kaki Pegunungan Khing-an-san yang biasanya amat sunyi dan jarang dikunjungi orang itu, pada hari itu menjadi ramai dan sejak kemarin sudah berdatangan tamu-tamu dari selatan yang sebagian besar adalah orang-orang kang-ouw yang bersikap gagah.

Dan memang hanya orang-orang kang-ouw sajalah yang berani dan sanggup mengadakan perjalanan sejauh dan sesukar itu.

Yang amat menggirangkan dan mengharukan hati Hok Boan adalah ketika dia melihat munculnya seorang hwesio tinggi besar bermuka hitam dan bermata lebar.

Hwesio ini adalah Lan Kong Hwesio, seorang tokoh Go-bi-pai.

Lan Kong Hwesio masih terhitung sute dari Kauw Kong Hwesio, guru Hok Boan yang telah meninggal dunia.

Ketika Hok Boan mengirim undangan kepada bekas gurunya, ternyata gurunya itu telah meninggal dunia dan sebagai wakilnya kini yang datang adalah Lan Kong Hwesio atau susioknya (paman gurunya).

Sebetulnya, kedatangan Lan Kong Hwesio, tokoh Go-bi-pai yang telah berusia enam puluh lima tahun ini, sama sekali bukan hanya untuk menghadiri pernikahan bekas murid keponakannya itu.

Akan tetapi sesungguhnya dia berkewajiban untuk menyelidiki, Apakah murid Go-bi-pai yang telah diusir oleh mendiang suhengnya dan tidak boleh mengaku sebagai murid Go-bi-pai itu telah berubah menjadi baik dan benar-benar tidak lagi mencemarkan atau menggunakan nama Go-bi-pai.

Dan giranglah hati Lan Kong Hwesio ketika mendapat berita betapa Kui Hok Boan yang dikenal sebagai Kui-taihiap di daerah Khing-an-san, sama sekali tidak pernah menyebut Go-bi-pai, dan lebih lagi, nama sasterawan muda itu cukup baik, bahkan berjasa dalam membangun Padang Bangkai yang tadinya merupakan daerah maut yang berbahaya itu menjadi daerah terbuka dan maju.

Maka hwesio ini memasuki ruangan pesta dengan hati gembira.

Selain tokoh Go-bi-pai ini, banyak pula terdapat wakil-wakil dari partai-partai persilatan lain, akan tetapi lebih banyak lagi adalah tokoh-tokoh dari golongan yang biasanya dinamakan golongan hitam atau golongan sesat!

Memang Kui Hok Boan mempunyai hubungan yang luas sekali di dunia kang-ouw sehingga pesta pernikahannya itu merupakan pertemuan antara dua golongan yang menamakan dirinya golongan putih dan golongan hitam sehingga di dalam pesta itu terdapat ketegangan-ketegangan yang berbahaya.

Namun karena mereka semua menghormat tuan rumah yang menjadi pengantin, dan juga karena kedua fihak bersikap hati-hati mengingat bahwa mereka bukan berada di daerah sendiri, melainkan daerah liar yang sebenarnya termasuk wilayah kekuasaan raja liar Sabutai, maka mereka tidak berani menimbulkan kekacauan dan bersikap sabar menanti dan berjaga-jaga saja.

Pesta berjalan dengan lancar dan hidangan-hidangan yang dikeluarkan adalah hidangan-hidangan pilihan karena memang Kui Hok Boan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk menjamu para tamunya.

Selagi para tamu menikmati hidangan yang disuguhkan, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan teriakan-teriakan kaget itu menjalar ke dalam dan suasana gembira menjadi geger ketika para tamu melihat puluhan ekor monyet besar kecil menyerbu tempat pesta dipimpin oleh seorang anak kecil yang usianya belum ada empat tahun!

Anak itu seperti juga monyet-monyet lainnya, berloncatan dengan gerakan yang amat cekatan dan mereka menyerbu makanan-makanan di atas meja sedangkah para tamu menjauhkan diri karena kaget dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Ketika para orang kang-ouw itu pulih kembali ketenangan mereka, tentu saja mereka menjadi marah ketika melihat bahwa yang menyerbu itu adalah monyet-monyet liar besar kecil, maka mereka sudah siap untuk menghajar binatang-binatang itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara merdu dan nyaring.

"Cu-wi sekalian harap jangan turun tangan mengganggu monyet-monyet itu!"

Semua orang terkejut dan menoleh.

Yang bicara pengantin wanita yang sudah bangkit berdiri di samping pengantin pria yang juga sudah berdiri.

Dari balik tirai manik yang bergantungan di depan muka pengantin wanita, nampak sepasang mata yang tajam bersinar, lalu terdengar suara nyaring yang ditujukan kepada anak kecil yang masih menikmati makanan di atas meja bersama monyet-monyet itu.

"Liong-ji (anak Liong), hayo kau lekas pergi ajak teman-temanmu! Lekas pergi!"

Anak itu memandang ke arah pengantin wanita, kelihatan penasaran dan marah, mengeluarkan gerengan dari kerongkongannya seperti seekor kera marah.

"Sin Liong, lekas pergi ajak teman-temanmu!"

Kembali Si Kwi membentak dan sekali ini di dalam suaranya terkandung kemarahan.

Anak itu menyambar sepotong paha ayam, kemudian meloncat turun, mengeluarkan teriakan dan berlari keluar, diikuti oleh monyet-monyet besar dan kecil itu.

Lucunya, ada monyet yang menyambar seguci arak, ada pula yang menyambar mangkok dan sumpit.

Melihat lagak monyet-monyet itu para tamu tertawa dan mereka terheran-heran memandang kepada pengantin wanita.

Pengantin itu menyebut anak yang memimpin monyet-monyet tadi "anak Liong"!

Apa artinya ini?

Apakah pengantin itu, yang bagi seorang pengantin usianya sudah tidak muda lagi, telah mempunyai anak?

"Cu-wi sekalian yang mulia,"

Terdengar suara Hok Boan sambil menjura ke arah para tamu sedangkan Si Kwi sudah duduk kembali sambil menundukkan mukanya.

"Harap cu-wi memaafkan kalau kedatangan rombongan monyet tadi mengejutkan dan mengganggu cu-wi. Hendaknya diketahui bahwa monyet-monyet itu adalah monyet-monyet yang tinggal di sekitar tempat ini dan dipimpin oleh seorang anak kecil. Ketahuilah, memang di sini terjadi hal aneh sekali. Anak itu dua tahun yang lalu ditemukan oleh isteri saya dalam keadaan luka-luka tergigit ular beracun dan dirawat oleh monyet-monyet besar. Isteri saya lalu menolongnya dan merawatnya sampai sembuh, kemudian mengangkatnya sebagai anak dan diberi nama Sin Liong. Akan tetapi, agaknya karena sejak kecil dirawat oleh monyet-monyet, anak itu masih suka bermain-main dengan rombongan monyet-monyet dan tidak kami sangka bahwa hari ini dia mengajak para monyet itu untuk ikut pesta!"

Keterangan yang lucu ini disambut suara ketawa, akan tetapi semua tamu menjadi terheran-heran dan suasana menjadi berisik karena membicarakan peristiwa aneh ini.

Seorang bocah yang jelas adalah seorang manusia cilik, dirawat oleh monyet-monyet dan hidup di antara monyet-monyet!

Akan tetapi, dengan cekatan para pelayan telah membereskan tempat-tempat yang dikacau oleh rombongan monyet tadi, mengganti semua hidangan masakan dan arak.

Pesta dilanjutkan lagi dan kini suasana menjadi lebih gembira karena mereka memperoleh bahan percakapan yang mengasyikkan, yaitu anak kecil pemimpin monyet-monyet tadi.

Mereka menduga-duga dan mengkhayal menurut perkiraan masing-masing.

"Hemm, anak angkatmu itu perlu dididik yang baik, kalau tidak kelak dia bisa menjadi binal,"

Bisik Hok Boan kepada isterinya. Dengan muka masih menunduk, Si Kwi menjawab dengan bisikan pula.

"Aku mengharapkan kebijaksanaanmu untuk mendidiknya."

"Jangan khawatir, anak angkatmu berarti juga anak angkatku. Karena dia anak angkat kita, maka harus dididik. Bukankah akan memalukan kalau anak angkat kita berwatak seperti monyet?"

Hok Boan berkelakar, akan tetapi isterinya hanya tersenyum di balik tirai manik sehingga dia tidak melihat betapa wajah isterinya agak pucat dan betapa jantung wanita itu berdebar tegang.

Di antara para tamu itu terdapat seorang guru silat dari kota Koan-sun-jiu, seorang yang bernama Tio Kok Le.

Dia mengenal baik Hok Boan maka dia datang pula, akan tetapi diam-diam dia merasa iri hati melihat kemakmuran hidup Hok Boan.

Dahulu, pernah dia bersama Hok Boan menjadi teman senasib, dalam keadaan yang kekurangan.

Kini, betapa Hok Boan menjadi majikan Padang Bangkai dan menikah dengan wanita cantik, dapat mengadakan pesta pernikahan yang demikian mewah, mengundang banyak tokoh kang-ouw, hatinya menjadi iri.

Dia tahu pula akan peristiwa di kota Koan-sui, di mana Hok Boan hampir dikeroyok oleh murid-murid guru silat yang juga dikenalnya, ketika Hok Boan berani main gila merayu anak perempuan guru silat itu.

Bahkan dialah yang membantu Hok Boan menyembunyikan diri ketika dikejar-kejar dan membantunya mencari jalan keluar dan lari ke utara.

Dia tahu pula siapakah Kui Hok Boan, tahu bahwa temannya ini adalah bekas murid Go-bi-pai yang telah diusir karena berjina dengan isteri petani dan ketahuan oleh gurunya.

Kini, melihat keadaan temannya dan melihat pula kehadiran seorang hwesio yang diketahuinya sebagai seorang tokoh Go-bi-pai, susiok dari temannya itu, dia memperoleh kesempatan untuk melampiaskan iri hatinya dengan jalan merusak suasana yang meriah dan tenang itu!

Keberaniannya diperbesar karena dia minum terlalu banyak arak untuk menutupi iri hatinya, dan kini dia bangkit berdiri, membawa guci dan cawan arak, agak terhuyung menghampiri tempat duduk kedua mempelai.

"Ha-ha-ha, Kui-hiante, apakah engkau sudah lupa kepadaku?"

Tio Kok Le berkata sambil tertawa, berdiri di depan pengantin pria yang masih duduk.

Kui Hok Boan tersenyum.

"Tentu saja tidak, Tio-twako. Duduklah dan nikmatilah hidangan kami seadanya."

"Cukup... cukup... aku hanya ingin memberi selamat kepadamu dengan secawan arak, Kui-hiante."

Biarpun dia agak limbung namun guru silat ini masih dapat menuangkan arak dalam cawan itu kepada Hok Boan.

Pengantin pria ini maklum bahwa bekas sahabat baiknya ini sudah mabok, maka dia menerima cawan itu dan berkata.

"Terima kasih atas ucapan selamatmu, twako."

Lalu dia minum cawan itu sampai kosong.

"Eh, mana walimu, Kui-hiante? Aku ingin memberi selamat kepada walimu."

Hok Boan mengerutkan alisnya.

"Tio-twako, agaknya engkau telah lupa bahwa aku tidak mempunyai ayah bunda lagi."

"Ha-ha-ha, yang kumaksudkan adalah gurumu, hiante."

Makin dalam kerut di antara kedua mata pengantin pria itu.

"Tio-twako, kau tahu aku tidak mempunyai guru."

"Ah, di hari baik begini mengapa membohong, hiante? Engkau adalah murid Go-bi-pai yang pandai dan terkenal! Engkau adalah Kui-taihiap, jagoan muda Go-bi-pai, seorang tokoh kang-ouw yang baru di bagian utara ini!"

Suaranya meninggi dan mengeras sehingga kini banyak tamu yang sudah menoleh dan memperhatikan guru silat itu.

"Tio-twako, sudahlah. Bekas suhuku juga telah meninggal dunia. Kembalilah ke tempat dudukmu, twako, dan terima kasih atas kebaikanmu,"

Hok Boan membujuk.

Akan tetapi tentu saja Tio Kok Le tidak mau berhenti sampai di situ, karena memang dia bermaksud untuk mengacau dan membongkar rahasia riwayat pengantin pria yang menimbulkan iri dalam hatinya itu.

Dia menoleh ke arah tempat duduk hwesio tinggi besar muka hitam itu dan tiba-tiba wajahnya berseri.

"Haaa, bukankah beliau itu Lan Kong Hwesio, tokoh Go-bi-pai yang menjadi susiokmu, hiante?"

Tio Kok Le lalu menghampiri tempat itu sambil membawa guci arak dan cawan kosong.

"Tio-twako, jangan...!"

Hok Boan mencoba untuk mencegah, akan tetapi guru silat itu telah menghampiri Lan Kong Hwesio dengan langkah lebar dan diikuti oleh pandang mata banyak tamu yang merasa tertarik, dia lalu menjura di depan hwesio bermuka hitam itu.

"Locianpwe, harap locianpwe sudi menerima pemberian selamat saya kepada locianpwe untuk hari yang berbahagia ini."

Tentu saja pendeta itu tidak menerima suguhan cawan arak itu dan dengan alis berkerut dia bertanya.

"Apakah maksudmu, sicu?"

Para tamu kini memandang ke arah mereka dengan penuh perhatian.

"Ah, bukankah locianpwe ini Lan Kong Hwesio tokoh Go-bi-pai?"

Tio Kok Le bertanya dengan suara nyaring sehingga terdengar oleh para tamu yang kini makin memperhatikan.

"Benar, pinceng seorang murid Go-bi-pai, bukan tokoh besar. Habis, mengapa?"

"Ha, kalau begitu saya tidak keliru. Kui Hok Boan adalah murid mendiang Kaw Kong Hwesio tokoh Go-bi-pai dan pengantin pria adalah keponakan locianpwe. Bukankah sepantasnya kalau locianpwe saya anggap sebagai walinya dan saya memberi selamat kepada locianpwe dengan secawan arak?"

Pendeta itu memandang dengan penuh selidik kepada wajah guru silat itu.

"Omitohud, pinceng tidak mengerti apa yang sicu maksudkan dengan sikap ini, akan tetapi ketahuilah bahwa sudah sejak lama Kui-sicu bukan lagi terhitung murid Go-bi-pai. Pinceng datang bukan sebagai paman gurunya, melainkan sebagai tamu biasa, karena itu tidak dapat menerima selamat itu."

"Wah, wah ini namanya penasaran!"

Guru silat itu berseru dengan muka merah, ditujukan kepada para tamu.

"Pengantin pria adalah seorang gagah perkasa dan berkedudukan tinggi sebagai majikan Padang Bangkai dan sudah jelas dia adalah tokoh Go-bi-pai, kenapa tidak diakui oleh golongan atasan dari Go-bi-pai sendiri? Locianpwe, agar tidak membikin para tamu yang terdiri dari kaum kang-ouw menjadi penasaran, sukalah locianpwe memberi tahu apa sebabnya pengantin pria tidak lagi dianggap sebagai murid Go-bi-pai?"

Wajah Kui Hok Boan menjadi pucat dan dia memandang kepada guru silat itu dengan marah.

Dia tidak tahu mengapa bekas sahabat baiknya itu secara tiba-tiba saja menyerangnya dengan ucapan seperti itu?

Kalau saja dia tidak sedang menjadi pengantin dan menjadi tuan rumah, tentu sudah diserangnya bekas sahabat yang kini berkhianat itu, agaknya berusaha untuk mencemarkan namanya di dalam pesta ini!

"Sicu, urusan Go-bi-pai adalah urusan kami sendiri, sicu sebagai orang luar tidak berhak mencampuri atau bertanya-tanya!"

Ucapan hwesio itu dilakukan dengan nada suara menegur dan menggeledek sehingga terdengar oleh semua orang.

Diam-diam Hok Boan kagum dan berterima kasih kepada bekas susioknya itu.

Tio Kok Le menyeringai ketika mendengar bentakan itu.

Dia tidak berani main-main di depan hwesio ini, akan tetapi dia merasa belum puas kalau belum berhasil menyeret nama teman atau bekas teman yang kini makmur itu ke lumpur penghinaan, maka dia berkata lantang.

"Cu-wi sekalian, apakah cu-wi ingin mendengar mengapa pengantin pria tidak diakui lagi sebagai murid Go-bi-pai? Apakah cu-wi ingin mendengar apa yang terjadi di kota Koan-sui ketika pengantin pria masih menjadi sahabat baikku senasib sependeritaan? Ha-ha, cu-wi akan tertawa kegelian mendengar cerita-cerita saya yang amat lucu..."

"Orang she Tio! Apakah engkau bermaksud mengacau hari baikku ini?"

Tiba-tiba terdengar Hok Boan berteriak karena dia sudah marah sekali.

"Siapa dia she Tio?"

Suara ini nyaring merdu dan mengandung getaran sedemikian hebatnya sehingga mengatasi semua suara yang ada dan memaksa semua muka menoleh dan memandang ke arah pintu luar.

Sepasang pengantin itu sendiri terheran-heran ketika melihat bahwa tahu-tahu dari luar berjalan masuk seorang wanita yang amat luar biasa.

Wanita ini kelihatan masih muda sekali, paling banyak dua puluh dua tahun agaknya, wajahnya mempunyai kecantikan campuran antara wajah orang Han dan wajah orang Mongol.

Kulitnya halus kuning seperti wanita Han.

Wajah yang cantik itu dirias dengan bedak dan yanci, juga bibirnya yang berbentuk indah itu dipermerah lagi dengan gincu.

Rambutnya digelung seperti model gelung puteri kerajaan dan agaknya rambutnya panjang sekali karena gelung itu malang melintang dan terhias hiasan rambut dari emas permata.

Pakaiannya juga merupakan kombinasi pakaian Han dan Mongol dan pantasnya dia adalah puteri bangsawan Mongol yang sudah "terpelajar", yaitu sudah mempelajari kebudayaan Han.

Dari hiasan pakaian, tata rambut dan sikapnya yang angkuh, dengan dagu terangkat dan dada dibusungkan, dapat diduga bahwa dia tentu tergolong wanita keluarga bangsawan atau hartawan.

Akan tetapi, sebatang pedang yang tergantung di punggungnya mendatangkan rahasia keanehan meliputi dirinya.

Lebih aneh lagi, wanita cantik ini membawa sebungkus hio (dupa bergagang) yang membuka bagian gagangnya.

Semua mata mengikuti gerakan wanita ini yang melangkah memasuki ruangan pesta dengan sikap angkuh.

Ketika dia menggerakkan tangan kiri yang memegang bungkusan hio itu, terdengar bunyi gelang-gelangnya berkerincing nyaring.

Biarpun dia cantik manis dan memiliki bentuk tubuh yang padat menggiurkan, namun terdapat sesuatu yang amat dingin menyelubungi seluruh pribadinya, yang membuat orang-orang merasa serem dan berhati-hati.

Di punggung wanita itu, selain sebatang pedang, juga tergantung sebatang kayu papan seperti salib bentuknya dan setelah tiba di tengah-tengah ruangan itu, mata yang berbentuk indah, lebar dan bersinar tajam itu memandang ke kanan kiri, lalu terdengar suaranya yang merdu dan nyaring seperti tadi.

"Siapa di antara kalian yang mempunyai nama keturunan ini?"

Tangan kanannya bergerak ke punggung melalui atas pundaknya dan tahu-tahu dia telah memegang papan kayu berbentuk salib tadi dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepalanya, membalikkan papan itu sehingga kini dapat terbaca tiga huruf besar yang tertulis di situ.

Di atas papan yang melintang, terdapat tiga huruf yang berbunyi, CIA-YAP-TIO, tiga macam she (nama keluarga) Bangsa Han.

Semua orang membaca tiga huruf itu, akan tetapi tidak ada yang mengerti apa maksud wanita itu menanyakan tiga buah nama keturunan atau nama keluarga itu.

"Siapa tadi yang mengaku she Tio?"

Terdengar lagi dia bertanya, suaranya merdu sekali, akan tetapi juga nyaring melengking sehingga terdengar oleh mereka yang duduk di bagian paling sudut dari ruangan pesta itu.

Tio Kok Le yang tadi sedang berada di puncak hendak menyeret turun pengantin pria yang membuat dia iri hati itu, sudah siap untuk mencemarkan nama Hok Boan di depan orang banyak, merasa mendongkol sekali dengan kemunculan wanita ini yang dianggapnya mengganggu dan menggagalkan usahanya melampiaskan isi hatinya.

Akan tetapi, melihat wanita ini cantik dan berpakaian mewah, dia cepat melangkah maju dengan guci arak masih di tangan, menyeringai dan memandang wanita itu dengan mata haus.

"Sayalah she Tio bernama Kok Le, nona. Apakah saya akan menerima nasib baik seperti sahabatku Kui Hok Boan itu? Ha-ha, percayalah, mutu diriku tidak kalah oleh sahabatku itu!"

Kok Le adalah manusia kasar, akan tetapi saat itu dia menjadi lebih kasar lagi karena pengaruh arak.

Akan tetapi suara ketawanya mendadak terhenti ketika tiba-tiba sinar mata wanita itu menyambar bagaikan kilat kepadanya.

Dan wanita itu berseru lagi.

"Siapa lagi yang she Cia, she Yap dan she Tio? Majulah yang merasa mempunyai she itu, jangan bersikap pengecut dan aku hendak bicara!"

Biarpun wanita itu memperlihatkan sikap luar biasa dan penuh rahasia, namun nampaknya dia hanyalah seorang wanita muda yang cantik, maka tentu saja tidak menimbulkan rasa takut kepada orang-orang kang-ouw itu.

Terdengar suara tertawa-tawa dan nampak beberapa orang laki-laki maju dan menghampiri wanita itu.

Dua orang mengaku she Tio dan tiga orang pula mengaku she Yap.

Tidak ada seorang pun she Cia.

"Hemm, hanya tiga orang she Tio dan tiga orang she Yap?"

Wanita cantik itu bertanya dengan suara kecewa.

"tidak seorangpun she Cia di sini?"

Tidak ada yang menjawab, dan agaknya memang tidak ada, atau kalaupun ada, tentu orang itu diam saja.

Dan memang ada seorang she Cia dan beberapa orang lagi she Yap dan she Tio yang tidak mau melayani panggilan wanita itu.

Enam orang laki-laki itu kini berdiri menghadapi si wanita, sikap mereka seperti anak-anak yang akan diberi hadiah, tersenyum-senyum agak malu-malu.

"He, nona manis. Engkau telah memanggil kami berenam di sini, sebenarnya hendak memberi apakah?"

Tanya seorang di antara mereka yang bernama keluarga Yap, orangnya tinggi besar dan kelihatan kuat sekali, di punggungnya terselip sebatang golok besar.

Selain Tio Kok Le dan orang she Yap tinggi besar ini, empat orang yang lain juga jelas memperlihatkan diri sebagai orang-orang kang-ouw yang memiliki kepandaian.

Bahkan seorang di antara mereka, she Tio yang bertubuh tinggi kurus, membawa sepasang senjata siang-kek (sepasang tombak cagak) dan orang yang mahir memainkan senjata ini tentu memiliki ilmu silat yang sudah tinggi.

Akan tetapi, wanita itu mencibirkan bibirnya dan makin tampak nyata sebuah titik tahi lalat hitam yang menghias dagunya sebelah kiri, menambah manis wajahnya.

Dia tidak menjawab, melainkan mengambil enam batang hio dari dalam bungkusan hio itu, kemudian menyelipkan sisa bungkusan di ikat pinggangnya.

Dengan sikap tenang sekali dia lalu membuat api dan menyalakan enam batang hio itu.

Gerak-geriknya dilakukan dengan sikap tenang dan dingin sehingga dalam kesunyian yang mencekam itu semua orang mengikuti semua gerak-geriknya dan di dalam hati masing-masing semua orang menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh wanita luar biasa ini.

Sementara itu, Kui Hok Boan sudah hendak bangkit dari tempat duduknya untuk menegur wanita yang aneh dan yang dianggapnya hendak mengacau pestanya itu, akan tetapi tiba-tiba tangannya disentuh oleh tangan kanan Si Kwi.

Dia menoleh dan melihat isterinya memandang dengan mata terbelalak ke arah papan salib yang bertuliskan tiga buah nama keluarga itu, bibirnya berbisik.

"Jangan bergerak..."

Kui Hok Boan terheran-heran, akan tetapi melihat sikap isterinya dan melihat wajah isterinya yang tiba-tiba berubah pucat itu, dia merasa serem dan tidak jadi melakukan sesuatu, hanya menonton saja dengan berdebar dan dengan urat syaraf siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak wajar.

Kini wanita cantik itu telah selesai membakar enam batang hio.

Enam orang she Tio dan she Yap itu sudah menjadi tidak sabar.

Mereka berdiri seperti anak wayang, menjadi tontonan orang akan tetapi didiamkan saja oleh wanita yang memanggil mereka, seolah-olah wanita itu sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada mereka.

"Heiii! Engkau memanggil kami mau bicara apakah?"

Bentak orang she Yap yang tinggi besar itu, nadanya kehilangan kesabaran dan sudah mulai marah.

"Nona yang baik, kalau aku akan kau ajak kawin, sebelum sembahyang harus memakai pakaian pengantin dulu!"

Tio Kok Le berkelakar dan terdengar suara tertawa di sana-sini karena kelakar ini setidaknya mengurangi ketegangan hati mereka yang penuh dengan dugaan-dugaan.

"Aku akan menyembahyangi roh yang baru saja meninggalkan badannya."

"Eh, dalam pesta pernikahan ini kenapa menyebut-nyebut orang mati? Siapa yang akan mati dan siapa yang akan kau sembahyangi?"

Tanya Tio Kok Le dengan mulut masih menyeringai dan menganggap ucapan wanita itu sebagai kelakar belaka.

"Hari ini yang kusembahyangi adalah enam orang, yaitu tiga orang she Tio dan tiga orang she Yap. Semua orang she Cia, Yap dan Tio harus mati!"

"Heiii...!"

Tio Kok Le membentak marah akan tetapi tiba-tiba nampak sinar-sinar api menyambar.

Orang she Yap yang tinggi besar itu cepat mencabut golok, demikian pula empat orang lain sudah siap, akan tetapi mereka itu tidak mampu menghindar ketika ada sinar-sinar api meluncur dan menyambar ke arah mereka.

"Oughhh...!"

"Aduhhh...!"

"Iiiihkkk...!"

Jerit-jerit mengerikan terdengar susul-menyusul dan enam orang itu roboh terpelanting, berkelojotan sebentar dan tak bergerak lagi.

Mereka itu tewas seketika dengan gagang-gagang hio menancap di ulu hati mereka, menancap sampai dalam sekali, menembus jantung dan yang nampak hanya sebagian hio yang masih terbakar dan mengepulkan asap.

Senjata-senjata mereka terlempar ke sana-sini dan guci arak di tangan Tio Kok Le yang masih dipegangnya erat-erat itu tumpah dan arak wangi berhamburan baunya.

Setelah suara berisik dari jerit mereka, jatuhnya senjata-senjata mereka, lalu disusul robohnya tubuh mereka, disusul pula oleh teriakan dari para tamu, kini keadaan menjadi sunyi sekali.

Sunyi yang menyeramkan dan semua wajah menjadi pucat, semua mata memandang kepada wanita itu dengan terbelalak dan kebanyakan dari para tamu merasa ngeri dan jerih.

Menggunakan hio-hio biting sekaligus membunuh enam orang yang tidak lemah, hanya dengan sekali serang, benar-benar membayangkan tenaga dan kepandaian seperti iblis!

Dan wanita cantik itu sama sekali tidak pernah berkedip menyaksikan hasil perbuatannya yang mengerikan.

Dia hanya mencibirkan bibirnya dan memandang ketika enam orang itu berkelojotan dan mati, kemudian dengan tenangnya dia menyimpan salib yang bertuliskan nama she tiga macam itu, diselipkannya di punggung dengan terbalik sehingga hurul-huruf itu tidak nampak.

Tentu saja kawan-kawan dari enam orang yang dibunuh secara mengerikan itu menjadi marah.

Mereka meloncat dan mencabut senjata mereka.

Ada delapan orang laki-laki yang meloncat dan menerjang wanita cantik itu dengan senjata mereka.

"Siluman betina...!"

"Bunuh iblis keji ini!"

Mereka menyerbu dengan senjata pedang, golok dan sebagainya.

Akan tetapi wanita itu dengan bibir masih tetap mencibir, bersikap tenang saja membiarkan mereka menerjangnya.

Ketika mereka sudah datang dekat, tiba-tiba tangan kanannya yang sudah mengeluarkan sehelai sabuk merah itu bergerak dan nampak sinar bergulung-gulung menyambar ke sekeliling tubuhnya.

Ter-dengar bunyi ledakan-ledakan seperti pecut, delapan kali dan delapan orang itu terhuyung ke belakang, senjata mereka terlepas dan mereka mengaduh-aduh, memegangi lengan tangan yang tersambar sinar merah itu, bahkan ada yang terbanting roboh dan ada pula yang lengannya berdarah, ada yang lepas sambungan tulang siku atau pergelangan tangan!

Delapan orang itu mundur semua dan memandang dengan mata terbelalak.

Wanita itu kini tersenyum mengejek.

Senyumnya dimaksudkan untuk mengejek, akan tetapi tahi lalat hitam di dagu itu benar-benar membuat dia nampak manis sekali ketika tersenyum, sungguhpun senyum itu dibuat-buat untuk mengejek.

"Untung bahwa kalian bukan orang-orang she Cia, Yap atau Tio, sehingga tidak perlu aku membunuh kalian!"

Setelah berkata demikian, dengan langkah ringan dia lalu melangkah ke depan, hendak menghampiri sepasang mempelai.

"Omitohud, dari mana datangnya wanita yang begini kejam?"

Seruan itu keluar dari mulut Lan Kong Hwesio dan kakek pendeta besar bermuka hitam tokoh Go-bi-pai itu sudah berdiri menghadang di depan wanita itu.

Lan Kong Hwesio adalah seorang tokoh Go-bi-pai dan sebagai hwesio, juga seorang ahli silat tingkat tinggi, tentu saja dia menentang segala bentuk kejahatan dan kekejaman, apalagi melihat wanita yang seperti iblis ini agaknya mengancam keselamatan sepasang mempelai.

Melihat hwesio tinggi besar itu menghadang dan menggerakkan ujung lengan baju yang menyambar dahsyat ke arah pinggangnya, ujung lengan baju yang dapat dipergunakan untuk menotok sehingga serangan itu dahsyat dan hebat bukan main, wanita itu mengeluarkan seruan marah dan ujung sabuk merahnya menyambar ke depan.

"Prakkk!"

Sabuk merah itu membalik keras, akan tetapi ujung lengan baju Lan Kong Hwesio juga pecah-pecah!

Hwesio tinggi besar itu terkejut bukan main.

Kiranya wanita yang masih amat muda ini telah memiliki tingkat tenaga sin-kang yang amat hebat, dan ujung sabuk itu merupakan senjata maut.

Kalau tadi wanita itu menghendaki, tentu delapan orang itu sudah menjadi mayat semua!

Akan tetapi, sebagai seorang tokoh besar, yang tentu saja tidak mau mendiamkan fihak yang jahat merajalela, Lan Kong Hwesio kembali menubruk kedepan.

Sekali ini dia menggunakan jurus pukulan tangan kosong yang amat lihai dari Go-bi-pai, yang bernama jurus Siang-liong-pai-hud (Sepasang Naga Memuja Buddha).

Kedua tangannya menyambar dari luar, dari kanan kiri dan menyambarlah angin dari dua jurusan yang amat dahsyat, gerakan ini membuat dua buah ujung lengan baju yang panjang itu seperti dua ekor ular menotok ke arah leher (Lanjut ke

Jilid 06) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 dan pinggang, atas dan bawah dengan kecepatan yang sukar diduga mana lebih dulu.

"Plak-plak! Aihh...!"

Wanita itu berhasil menangkis dua serangan itu dan meloncat ke belakang sambil melengking.

"Losuhu adalah seorang tokoh Go-bi-pai yang berjubah pendeta, mengapa begitu kejam untuk menggunakan jurus Siang-liong-pai-hud untuk membunuh orang?"

Ketika tertangkis tadi, Lan Kong Hwesio merasakan betapa kedua lengannya tergetar.

Dia kaget bukan main, apalagi ketika mendengar ucapan itu.

Gadis muda ini mengenal ilmu silatnya!

Padahal, jurus itu merupakan jurus simpanan dan hanya dikenal oleh tokoh-tokoh Go-bi-pai yang sudah tinggi ilmunya.

Seorang murid dengan tingkatan seperti Kui Hok Boan itupun tentu belum dapat mengenalnya!

Dan melihat betapa wanita itu dapat menangkis dengan tepat, dia tidak akan heran kalau wanita itu bukan hanya mengenal melainkan juga dapat memainkan jurus itu!

Akan tetapi, mendengar teguran itu, Lan Kong Hwesio menjadi makin penasaran.

"Omitohud...! Gadis muda yang kejam, engkau sendiri tanpa sebab membunuh enam orang yang tak berdosa, sekarang berani menegur pinceng yang hendak menentang kejahatahmu?"

Sementara itu, para tamu sudah bangkit semua dan kini mengurung gadis itu sambil meraba gagang senjata masing-masing.

Jumlah tamu ada kurang lebih dua ratus orang dan mereka kelihatan sudah marah semua, baik golongan putih maupun golongan hitam karena di antara mereka tidak ada yang mengenal wanita muda ini!

Mereka itu, kedua golongan yang biasanya saling bertentangan, sekali ini mempunyai niat yang sama, yaitu menentang wanita yang telah mengganggu kesenangan mereka berpesta.

"Losuhu, aku bukan orang gila yang membunuh orang tanpa sebab. Urusanku dengan semua orang she Cia, Yap dan Tio adalah merupakan urusan pribadi, merupakan permusuhan dan dendam turun-menurun yang seluas bumi, sedalam lautan dan setinggi langit. Apakah engkau hendak mencampuri urusan pribadi?"

Mendengar ini, hwesio itu tercengang. Dia menjadi ragu-ragu dan berkali-kali mengucapkan kata-kata.

"Omitohud... omitohud..."

Untuk memohon kekuatan batin dari Sang Buddha yang dipujanya.

Sementara itu, para tamu berbeda pendapat dengan Lan Kong Hwesio.

Mereka tidak ragu-ragu lagi dan mereka mulai berteriak-teriak.

"Bunuh siluman ini!"

"Tangkap iblis betina ini!"

"Kurung!"

"Serbu...!"

Akan tetapi tiba-tiba wanita itu mengangkat kedua tangannya dan terdengarlah bunyi ledakan keras bertubi-tubi empat kali dan terdengar suara berisik dari banyak sekali orang di empat penjuru mengurung gedung besar tempat pesta itu.

Semua orang terkejut dan menengok keluar dan nampaklah banyak sekali perajurit berpakaian seragam dan bersikap gagah telah mengurung tempat itu dengan rapat seperti tembok benteng yang kokoh kuat!

"Hemm, kalian adalah orang-orang yang telah memasuki wilayah yang mulia Sri Baginda Raja Sabutai tanpa ijin, dan kini masih ingin berlagak?

Tempat ini telah dikepung oleh tiga ratus orang perajurit-perajurit Sri Baginda, dan kalian masih hendak mengurung aku?

Aku adalah utusan Sri Baginda, hayo kalian semua mundur!

Ataukah kalian ingin dibasmi semua sebagai pelanggar-pelanggar wilayah kami?"

Semua orang terkejut.

Tentu saja mereka telah mendengar akan raja liar yang pernah menggemparkan Tiong-goan dengan serbuan-serbuannya itu (baca cerita Dewi Maut).

Kiranya wanita ini adalah urasan raja itu untuk membasmi mereka!

Para tamu yang berhati kecil menjadi panik, akan tetapi tiba-tiba Si Kwi bangkit berdiri, mengangkat tangan kanannya ke atas dan berkata dengan suaranya.

"Cu-wi, sekalian, silakan duduk kembali dan harap tenang! Cu-wi adalah tamu-tamu kami dan kalau ada sesuatu, kamilah yang bertanggung jawab karena kedatangan cu-wi adalah atas undangan kami!"

Kui Hok Boan terkejut dan kagum menyaksikan keberanian isterinya.

Dia sendiri sudah gemetar saking jerihnya menyaksikan kelihaian wanita itu yang dapat menandingi susioknya dan yang telah membunuh enam orang secara demikian mudah dan mengerikan.

Tentu saja dia tidak pernah menyangka, karena memang isterinya belum pernah bercerita kepadanya, betapa isterinya itu pernah membantu suhu dan subonya yang menjadi kaki tangan Raja Sabutai!

Karena itu, Si Kwi mengenal raja liar itu, juga, melihat tiga huruf yang menjadi nama keturunan tiga orang itu, Si Kwi segera mengerti siapa yang dimaksudkan dengan tiga huruf she itu.

Maka, dia berani bertindak menenangkan semua tamu dan hendak menghadapi sendiri wanita yang mengaku utusan Raja Sabutai.

Kini wanita cantik itu sudah melangkah maju, berhadapan dengan Si Kwi.

Pengantin wanita ini segera menjura dan membungkuk rendah sambil berkata.

"Kami tidak tahu akan kunjungan utusan Sri Baginda Sabutai yang terhormat, maka tidak cepat-cepat menyambut. Harap sudi memaafkan kami."

Wanita itu tersenyum, dan kini senyumnya ramah sekali, membuat wajahnya nampak makin manis saja.

Dia bertepuk tangan tiga kali dan dari luar masuklah seorang perajurit Mongol yang tinggi besar memanggul sebuah peti hitam berukir indah.

Atas isyarat wanita utusan Raja Sabutai itu, perajurit ini menurunkan peti di depan kaki sepasang mempelai, lalu mundur lagi dan keluar setelah memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki.

Wanita itu berkata lagi.

"Liong-kouwnio, kami diutus oleh Sri Baginda Raja Sabutai untuk menyampaikan ucapan selamat beliau dan mengirimkan hadiah untuk sepasang mempelai, harap diterima dengan baik."

Dia menuding ke arah peti itu.

Wajah di balik tirai pengantin itu berseri saking girangnya.

Sungguh tidak pernah disangka oleh Si Kwi bahwa Raja Sabutai masih ingat kepadanya, bahkan masih ingat untuk mengirim hadiah pernikahan.

Hal ini selain menggirangkan hatinya, juga mengejutkan karena menjadi bukti bahwa daerah yang ditempatinya bersama suaminya ini bukanlah daerah bebas, melainkan milik Raja Sabutai dan bahwa raja itu agaknya tahu akan segala gerak-geriknya di Lembah Naga dan Padang Bangkai!

"Ahh...!"

Dia cepat memberi hormat.

"Sungguh mulia sekali Sri Baginda! Harap sampaikan permohonan ampun dari kami berdua bahwa kami tidak berani mengundang Sri Baginda. Maka harap saja nona yang menjadi utusan beliau suka duduk sebagai tamu agung kami."

Akan tetapi wanita itu menggeleng kepala dan mengibaskan tangannya.

"Tugas saya hanyalah menyampaikan selamat dan hadiah ini. Selain itu, juga kami diutus menyampaikan pesan Sri Baginda kepada Liong-kouwnio dan Kui-sicu."

Sepasang mempelai itu saling pandang dengan hati berdebar tegang akan tetapi mereka sudah mendengarkan lagi suara wanita itu.

"Tadinya, Sri Baginda sudah akan turun tangan melihat Padang Bangkai ditempati orang tanpa perkenan beliau. Kalau Liong-kouwnio memang dianggap orang sendiri dan boleh saja mendiami istana yang kosong itu. Akan tetapi kemudian Kui-sicu muncul dan melihat usaha Kui-sicu memajukan Padang Bangkai, maka Sri Baginda memberi ampun, apalagi setelah beliau mendengar bahwa Kui-sicu hendak menikah dengan Liong-kouwnio. Maka beliau malah memberi ucapan selamat dan hadiah, dengan pesan agar ji-wi dapat hidup bahagia di sini dan selalu ingat bahwa daerah ini termasuk daerah kekuasaan Sri Baginda dan sewaktu-waktu kalau diperlukan agar ji-wi suka menyerahkan dengan baik-baik kepada Sri Baginda."

Si Kwi lalu memegang tangan suaminya dan menariknya sehingga mereka berdua berlutut.

"Harap sampaikan terima kasih kami kepada Sri Baginda dan tentu kami akan selalu mentaati perintah beliau."

Wanita itu menggangguk dan menjura ketika sepasang mempelai itu bangkit berdiri lagi.

"Nah, tugasku sudah selesai, saya mohon diri, Kui-sicu dan Liong-kouwnio."

Tanpa menanti jawaban dia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan sepasang mempelai itu menuju keluar.

Ketika tiba di tengah-tengah ruangan, dia berhenti, memandang sekeliling di antara tamu-tamu dan berkata, suaranya nyaring seperti tadi, penuh tantangan dan ancaman.

"Kalau cu-wi sebagai orang-orang kang-ouw di selatan masih merasa penasaran, dengarlah bahwa aku adalah Kim Hong Liu-nio. Katakan kepada semua orang she Cia, Yap dan Tio bahwa mereka harus menjaga kepala mereka baik-baik, karena akan tiba saatnya Kim Hong Liu-nio akan datang mengambil kepala mereka sampai di dunia ini tidak ada lagi keturunan she Cia, Yap, dan Tio!"

Setelah berkata demikian, wanita cantik yang mengaku bernama Kim Hong Liu-nio itu melangkah pergi, diikuti oleh pandang mata semua tamu sampai akhirnya dia lenyap di tengah-tengah pasukan Mongol yang berbaris pergi.

Kini sibuklah Kui Hok Boan menyuruh anak buahnya untuk menyingkirkan mayat-mayat itu, membersihkan tempat pesta dan melanjutkan pesta.

Akan tetapi, suasana pesta sudah berubah dan para tamu tidak dapat bergembira lagi.

Mereka semua menjadi tegang karena secara tak terduga-duga, di utara muncul seorang wanita yang demikian lihai, seorang wanita yang tidak saja memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, akan tetapi bahkan juga menjadi utusan dari Raja Sabutai sehingga tentu saja kedudukan wanita itu amat kuat.

Wanita itu telah memperlihatkan kepandaian di depan hidung mereka tanpa mereka mampu menentangnya, karena wanita itu dilindungi oleh ratusan orang perajurit Mongol.

Hal ini merupakan pukulan bagi orang-orang kang-ouw ini, baik golongan putih maupun hitam sehingga suasana pesta tidak lagi gembira.

Bahkan sebelum pesta selesai, sudah banyak yang berpamit kepada sepasang mempelai dan sebelum lewat hari itu, semua tamu telah meninggalkan Padang Bangkai!

Setelah sepasang mempelai berada berdua saja di kamar malam itu, barulah Si Kwi memperoleh kesempatan untuk bercerita kepada suaminya yang merasa terheran-heran.

Dia bercerita bahwa suhu dan subonya, yaitu mendiang Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw pernah membantu Raja Sabutai, bahkan membantu kakek dan nenek iblis yang menjadi guru dari Raja Sabutai, yaitu mendiang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li yang tinggal di Istana Lembah Naga.

Dan ketika itu dia sendiripun ikut dengan subonya, tinggal di Lembah Naga sampai tempat itu diserbu oleh para pendekar sakti yang memimpin pasukan kerajaan.

Kui Hok Boan sudah mendengar sedikit-sedikit tentang penyerbuan itu dari para anggauta pasukan kerajaan ketika dia menyelidiki tentang keadaan Lembah Naga dan Padang Bangkai, akan tetapi dia tidak tahu akan keadaan yang sebenarnya, maka dia merasa tertarik sekali.

"Kiranya Raja Sabutai diam-diam masih memperhatikan tempat kita ini dan menganggap tempat ini sebagai daerahnya,"

Katanya.

"Tentu saja,"

Jawab isterinya.

"Memang tempat ini bukan termasuk daerah kekuasaan kerajaan di selatan, akan tetapi aku tidak mengira bahwa beliau masih menaruh minat akan tempat-tempat kita ini."

"Isteriku, tahukah engkau tentang orang-orang she Cia, Yap dan Tio itu?"

Si Kwi mengangguk dan menarik napas panjang.

"Yang dimaksudkan adalah tiga orang pendekar yang memiliki kesaktian hebat. Tak kusangka bahwa Raja Sabutai menaruh dendam pribadi yang demikian mendalam terhadap mereka. Ataukah, barangkali bukan Raja Sabutai yang menyuruh Kim Hong Liu-nio itu memusuhi tiga pendekar itu?"

"Tiga pendekar? Siapakah mereka dan mengapa dimusuhi demikian hebat?"

"Pendekar she Cia itu adalah Cia Bun Houw, putera dari ketua Cin-ling-pai, pendekar sakti Cia Keng Hong..."

"Ahhh...!"

Kui Hok Boan terkejut bukan main sehingga dia tidak melihat betapa terjadi perubahan pada wajah isterinya ketika menyebutkan nama Cia Bun Houw tadi.

"Kenapa kau terkejut?"

Si Kwi bertanya, memandang wajah suaminya.

"Kenalkah kau dengan nama itu?"

"Kenal? Tentu saja orang seperti aku ini tidak mungkin dapat kenal secara pribadi dengan mereka, akan tetapi aku sudah mendengar nama Cia-taihiap tua dan muda itu. Ayah dan anak itu merupakan pendekar-pendekar sakti yang namanya menduduki deretan paling tinggi di dunia kang-ouw."

Si Kwi menggangguk dan menunduk.

Memang terlampau tinggi kedudukan Cia Bun Houw, terlampau tinggi sehingga tentu saja tidak mau memandang kepadanya.

Biarlah, dia yang duduk di tingkat rendah kini bertemu dengan suaminya yang juga mengaku sebagai seorang yang bertingkat rendah.

Teringat akan ini, hatinya gembira dan dia memegang tangan suaminya.

Gerakan ini disambut senyum oleh Hok Boan yang lalu merangkul.

Mereka berangkulan dan berciuman.

"Eh, nanti dulu, isteriku yang manis. Kau lupa untuk menceritakan dua she yang selanjutnya. She Yap dan Tio? Siapa mereka itu?"

"Yang she Yap itu adalah nona Yap In Hong, seorang pendekar wanita yang luar biasa lihainya, dan dia itu adalah adik kandung dari pendekar sakti Yap Kun Liong..."

"Wah, aku belum pernah mendengar nama Yap In Hong, akan tetapi nama Yap Kun Liong, sama tingginya dengan nama ketua Cin-ling-pai! Hebat sekali, mengapa orang berani memusuhi dua orang pendekar Cia dan Yap itu? Dan yang she Tio?"

"Yang dimaksudkan adalah Tio Sun, juga seorang pendekar muda, putera dari seorang bekas panglima pengawal kota raja yang bernama Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan."

"Wah-wah-wah...! Kakek bertenaga raksasa itupun amat terkenal! Heran sekali, mengapa mereka dimusuhi orang?"

"Merekalah yang dahulu selalu menentang orang-orang kang-ouw yang membantu Raja Sabutai, dan mereka pula yang mengobrak-abrik Istana Lembah Naga."

"Kalau begitu, mereka juga termasuk musuh-musuh mendiang gurumu?"

Si Kwi mengangguk.

"Jadi termasuk musuh-musuhmu juga?"

Si Kwi menghela napas panjang.

"Sudah sejak dahulu aku tidak setuju dengan sepak terjang subo yang membantu Raja Sabutai. Aku... aku tidak memusuhi mereka... karena aku tahu bahwa para pendekar itu adalah patriot-patriot sejati, orang-orang gagah yang berani di fihak yang benar."

"Ah, syukurlah, isteriku! Kalau engkau juga memusuhi mereka, sungguh... berbahaya sekali. Akan tetapi, membantu merekapun berbahaya! Wanita itu tadi sungguh amat lihai dan mengerikan. Engkau yang pernah mengenal para pembantu Raja Sabutai, mengapa tidak mengenal dia?"

"Entah, beberapa tahun yang lalu dia tidak ada, mungkin belum menjadi kaki tangan Raja Sabutai. Mungkin dia seorang pembantu baru. Bahkan nama Kim Hong Liu-nio pun baru sekarang aku mendengarnya."

Suami isteri pengantin baru ini lalu membicarakan soal mereka dan biarpun siang tadi terjadi hal yang amat menegangkan, namun penumpahan rasa cinta mereka pada malam pertama sebagai pengantin baru itu membuat mereka melupakan segala hal yang buruk dan mengkhawatirkan.

Mereka saling mencinta, dan ini sudah cukup bagi mereka, cukup kuat untuk menghadapi segala bahaya bersama-sama, sehidup semati, senasib sependeritaan.

Kedua orang itu menemukan kebahagiaan mulai malam itu.

Bahkan Kui Hok Boan yang benar-benar mencinta Si Kwi, merasa menyesal kalau dia teringat akan segala petualangan dan perbuatannya di masa lalu, dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadi suami yang mencinta dan baik dari isterinya.

Manusia selalu berubah.

Tidak ada kedukaan yang abadi seperti juga tidak ada kesenangan yang kekal.

Juga manusia tidak selalu baik atau selalu jahat, dalam diri manusia terdapat unsur kebaikan dan unsur kejahatan ini.

Sekali waktu kejahatannya menonjol, ada kalanya kebaikannya nampak.

Mengapa demikian?

Karena sesungguhnya, pikiran kita sendirilah yang menentukan, yang menguasai seluruh kehidupan, sehingga kita diombang-ambingkan antara susah dan senang, baik dan jahat, indah dan buruk, yang timbul dari pikiran yang menilai-nilai, Membanding-bandingkan semua merupakan permainan dari pikiran kita sendiri yang selalu mengejar kesenangan dan menolak kesusahan.

Karena perbandingan dan penilaian ini, maka terciptalah sifat-sifat kebaikan, susah senang, baik jahat, dan sebagainya.

Dan sifat-sifat kebaikan inilah yang menimbulkan adanya kebaikan tunggal, kebalikan abadi yang menguasai dan menyengsarakan kehidupan, yaitu kebalikan antara cinta dan benci.

Yang menyenangkan atau dianggap menyenangkan kita cinta, sebaliknya yang kita anggap menyusahkan kita benci.

Maka terjadilah pertentangan, permusuhan kelompok, bangsa, dan perang!

Dapatkah kita terbebas dari cengkeraman pikiran yang menilai dan membandingkan?

Mungkin dapat kalau kita bebas dari keinginan untuk mengejar kesenangan.

Segala macam KEINGINAN, dalam bentuk apapun juga, adalah MENYESATKAN.

Ingin baik, ingin bebas, ingin suka, ingin damai dan sebagainya, pada hakekatnya adalah INGIN SENANG!

Betapapun tinggi dan mulianya nampaknya yang diinginkan itu, tetap saja itu merupakan keinginan untuk mencapai kesenangan, baik kesenangan batin maupun kesenangan lahir.

Dan setiap pengejaran kesenangan, dalam bentuk apapun juga, pasti mendatangkan konflik dan ada yang menghalangi, ada yang merintangi, timbullah kekerasan dan pertentangan, timbullah rasa benci dan permusuhan.

Betapa banyaknya hal ini terjadi di sekeliling kita!

Betapa memang demikianlah hidup ini.

Contohnya, seorang pendeta bertapa untuk mencari kedamaian.

Ini merupakan suatu keinginan, ingin mencapai kedamaian.

INGIN SENANG!

Karena kalau dalam keadaan damai, dianggapnya akan senang.

Karena itu, setiap ada gangguan dalam pertapaannya, dia akan menentang si pengganggu ini dan terjadilah permusuhan.

Dengan sendirinya kedamaian yang dicari-cari itupun hancur lebur!

Betapa banyaknya hal ini dilihat dalam kehidupan kita sekarang ini!

Bangsa-bangsa berteriak-teriak mencari perdamaian, INGIN DAMAI, yang berarti ingin senang pula!

Bukan enggan perang, melainkan ingin damai, ingin senang.

Maka, dalam mengejar perdamaian ini, kalau perlu dengan jalan perang!

Dan kalau sudah perang, mana ada perdamaian?

Padahal, perdamaian tidak perlu dikejar, tidak perlu dicari.

Hentikan perang, jangan berperang, maka tanpa dicari sudah ada kedamaian itu!

Demikian pula dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita terlalu banyak MENGINGINKAN hal-hal yang tidak ada.

Kita tidak mau membuka mata akan kehidupan kita sehari-hari, tidak mau memandang keadaan kita setiap saat, lahir batin.

Kita INGIN sabar, padahal kita pemarah.

Sama seperti ingin damai tapi dalam keadaan perang tadi.

Kalau kita mengenal diri sendiri, melihat kemarahan sendiri, penglihatan ini menyandarkan dan menghentikan marah itu.

Kalau sudah tidak ada marah perlukah belajar sabar lagi?

Kita manusia sebagai perorangan, sebagai kelompok, sebagai bangsa, agaknya lupa bahwa segala sumber peristiwa berada di dalam diri kita sendiri.

Kuncinya berada dalam diri kita sendiri.

Akan tetapi kita selalu mencari ke luar.

Kita tidak mau mempelajari diri sendiri dalam hubungannya dengan kehidupan.

Kehidupan adalah kita, kitalah pokoknya, kitalah, ujung pangkalnya, kitalah dasarnya, kitalah sebab akibatnya.

Kita lebih suka mempelajari orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain dan mencari kesenangan untuk diri sendiri belaka selama hidup.

Maka tidaklah aneh kalau selama hidup kita diombang-ambingkan oleh gelombang kehidupan penuh suka-duka, jauh lebih banyak dukanya dari pada sukanya.

Maukah kita menyadari semua ini dan mulai meneliti diri sendiri.

Bercermin sepanjang hari setiap saat?

Bercermin lahir batin?

Kapan dimulai?

SEKARANG JUGA!

Sang waktu berlalu terus tanpa memperdulikan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Matahari timbul tenggelam setiap hari tanpa memperdulikan segala yang terjadi, bebas tanpa ikatan, melalui jalan kehidupan dengan wajar.

Itulah ABADI!

Apapun yang terjadi atas dirinya, ada maupun tidak ada, begini maupun begitu, tidak mempengaruhinya.

Tidak ada kemarin, tidak ada esok, yang ada hanya SEKARANG.

Dan sekaranglah abadi!

Tanpa terasa karena tidak diingat-ingat, sepuluh tahun telah lewat semenjak hari pernikahan di Padang Bangkai antara Liong Si Kwi dan Kui Hok Boan itu.

Sepuluh tahun telah lewat semenjak ter-jadinya peristiwa menggegerkan di dalam pesta pernikahan itu.

Dan selama sepuluh tahun itu, Liong Si Kwi hidup sebagai suami isteri yang saling mencinta dengan Kui Hok Boan.

Hidup rukun dan damai, menikmati kebahagiaan hidup suami isteri yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan.

Dan sdama sepuluh tahun itu, terjadi perubahan hebat di tempat itu.

Tempat yang dulu bernama Padang Bangkai dan merupakan tempat yang berbahaya dan menyeramkan, kini telah menjadi sebuah perkampungan besar.

Sudah banyak dibuka toko dan pasar di tempat itu.

Kui Hok Boan sendiri bersama isteri dan keluarganya telah pindah ke Istana Lembah Naga, dan kini Padang Bangkai hanya tinggal dongengnya saja.

Kini telah menjadi dusun-dusun yang makmur karena tanah di daerah itu memang subur.

Kui Hok Boan dan isterinya telah mempunyai dua orang puteri.

Dua orang anak perempuan kembar yang kini telah berusia sembilan tahun.

Dua orang anak kembar itu diberi nama Lan dan Lin.

Sukar sekali bagi orang lain untuk membedakan antara Kui Lan dan Kui Lin.

Wajah mereka sama benar.

Bahkan ayah bunda mereka sendiri kadang-kadang suka keliru memanggil dan hanya setelah melihat leher sebelah kiri dari seorang di antara mereka saja maka ayah bunda ini tahu mana yang Kui Lan dan mana yang Kui Lin.

Di leher kiri Kui Lan terdapat sebuah titik berwarna merah, tanda semenjak lahir.

Selain tanda itu, tidak ada lagi tanda lahiriah yang dapat membedakan antara dua orang anak kembar itu.

Segala-galanya samag dari ujung kaki sampai ke ujung rambut!

Akan tetapi kalau dua orang anak itu berbicara atau bergerak, terdapat perbedaan antara mereka.

Sejak kecil, Kui Lan atau yang biasa dipanggil Lan Lan selalu cerewet dan nakal, sedangkan Lin Lin lebih pendiam.

Lan Lan agak bandel dan pemberani, sebaliknya Lin Lin agak penakut dan cengeng.

Akan tetapi kalau keduanya duduk diam dan Lan Lan tidak memperilhatkan tanda titik merah di leher kirinya biar ayah bundanya sendiripun tidak akan dapat mengenal dan membedakan mereka.

Selain Lan Lan dan Lin Lin, di dalam Istana Lembah Naga yang menjadi tempat tinggal sasterawan Kui Hok Boan dan isterinya itu, terdapat pula dua orang anak laki-laki yang sebaya, berusia kurang lebih dua belas tahun.

Mereka ini adalah keponakan-keponakan dari Kui Hok Boan, yang oleh sasterawan itu diambil dari selatan untuk menjadi teman dua orang anak kembarnya.

Yang seorang bersikap gagah dan berwajah tampan dan angkuh, bernama Kwan Siong Bu.

Anak ini memang tampan dan biarpun usianya baru dua belas tahun, namun dalam segala hal dia meniru pamannya sehingga seperti juga pamannya, dia selalu berpakaian bersih dan rapi, rambutnya disisir rapi pula, muka, leher dan tangannya tidak pernah kotor.

Wajahnya tampan dan sikapnya halus meniru pamannya, sikap seorang kongcu hartawan, dan wajah yang tampan itu membayangkan keangkuhan, keangkuhan yang timbul dari kesadaran bahwa dia adalah keponakan penghuni Istana Lembah Naga yang disegani, kaya raya dan lihai ilmu silatnya.

Sedangkan anak ke dua sungguh jauh bedanya dengan Kwan Siong Bu.

Anak ini juga keponakan dari Kui Hok Boan, akan tetapi biarpun wajahnya juga tidak buruk, bahkan boleh dibilang tampan, namun wajahnya bulat dengan sepasang pipi yang gendut, matanya lebar penuh kejujuran, mulutnya selalu menyeringai lucu, tersenyum bukan untuk melucu, akan tetapi memang wajahnya mempunyai garis-garis yang lucu.

Tubuhnya juga kegemuk-gemukan sehingga cocok benar dengan wajahnya yang bulat dan bundar itu.

Anak ini bernama Tee Beng Sin, seorang anak yang tidak bisa membohong dan terlalu jujur sehingga menyenangkan hati siapapun juga yang berhadapan dengan dia.

Sejak berusia lima tahun, Kwan Siong Bu dan Tee Beng Sin dibawa oleh paman mereka ke Istana Lembah Naga, menjadi teman bermain Lan Lan dan Lin Lin.

Karena suaminya amat mencinta dua orang keponakan itu, dan karena dia sendiripun tidak mempunyai anak laki-laki dari suaminya, maka Si Kwi juga menyayang mereka.

Tentu saja Si Kwi sama sekali tidak pernah menduga bahwa kedua anak laki-laki itu sebetulnya sama sekali bukan keponakan dari Kui Hok Boan, melainkan anak-anak kandungnya sendiri!

Seperti diketahui, Kui Hok Boan di waktu mudanya adalah seorang petualang asmara, seorang yang gila perempuan dan entah sudah berapa ratus orang wanita yang dirayunya dan dijatuhkannya, menjadi kekasihnya.

Baik wanita itu sudah bersuami, janda maupun perawan, jarang ada yang dapat bertahan terhadap rayuan petualang asmara ini.

Dan tidak dapat dihindarkan lagi, di antara wanita-wanita yang telah dijatuhkannya itu, ada pula yang mengandung dan melahirkan anak keturunannya!

Kwan Siok Bu adalah anak keturunannya sendiri dari seorang janda bernama Kwan Sian Li, dan Tee Beng Sin adalah anak keturunannya dari seorang gadis yatim piatu bernama Tee Cui Hwa yang kini telah menjadi seorang nikouw.

Tentu saja Kui Hok Boan tidak berani mengakui mereka sebagai putera-puteranya sendiri, maka dia memakai she dari ibu anak masing-masing ketika dia mengajak Siong Bu dan Beng Sin ke Lembah Naga.

Dan bagaimanakah dengan keadaan Sin Liong?

Anak dari Si Kwi yang semenjak lahirnya dipelihara oleh monyet betina?

Kini Sin Liong sudah besar pula, sudah berusia kurang lebih dua belas tahun.

Tubuhnya tegap dan kuat karena anak ini semenjak kecil sering kali bergaul dengan monyet-monyet, berloncatan dari pohon ke pohon.

Ketika anak itu sudah berusia lima tahun, Kui Hok Boan mendesak kepada isterinya agar Sin Liong tidak lagi diperkenankan untuk hidup liar di hutan-hutan bersama para monyet.

"Anak itu bukan monyet, melainkan manusia,"

Kata sasterawan ini.

"Dan dia adalah anak angkat kita, maka sudah sepatutnya dididik menjadi calon manusia yang baik. Setidaknya, dia harus diajar baca tulis agar kelak menjadi manusia yang berguna."

Si Kwi yang masih merasa yakin bahwa anak itu adalah anak kandungnya, melihat betapa wajah anak itu mirip dengan pendekar sakti Cia Bun Houw, tidak membantah.

Memang dia setuju dengan pendapat suaminya.

Akan tetapi, melihat betapa suaminya amat mencintanya, amat baik terhadap dirinya dan dia menemukan kebahagiaan di samping suaminya dan dua orang anak kembarnya, Si Kwi sama sekali tidak berani membayangkan kepada suaminya bahwa Sin Liong adalah puteranya sendiri!

Maka, biarpun dalam hatinya dia kadang-kadang merasa kasihan, rindu dan pribatin melihat putera kandungnya ini, namun pada lahirnya dia tidak pernah memperlihatkan sesuatu yang melebihi sikap seorang ibu angkat!

Sin Liong amat taat kepada ibu angkatnya.

Maka ketika Si Kwi melarang dia berkeliaran di hutan lagi, dia menurut biarpun merasa berduka.

Hanya kalau semua orang sudah tidur saja, anak berusia lima enam tahun itu masih suka keluar dari kamarnya untuk menemani para monyet itu bergembira di bawah sinar bulan.

Dan diapun tidak pernah menolak ketika Kui Hok Boan memberi dia pekerjaan yaitu membersihkan rumah, menyapu halaman, dan menggembalakan sapi dan kuda.

Bahkan dia sayang sekali kepada kuda dan sapi yang dipelihara oleh ayah angkatnya sehingga pekerjaannya amat memuaskan.

Akan tetapi, karena sudah menjadi kebiasaan, dia tidak pernah dapat menjaga bersih pakaiannya sehingga pakaiannya selalu kotor.

Akhirnya, demi untuk menanamkan kerajinan kepada anak itu, Kui Hok Boan menyuruh isterinya mengajar anak itu menjahit dan menambal sendiri pakaiannya yang mudah robek karena dia tidak pernah menjaganya.

Demikianlah, setelah berusia dua belas tahun, Sin Liong bekerja di istana itu sebagai seorang jongos atau pelayan, berpakaian cukup bersih akan tetapi ada tambal-tambalannya, dan mempelajari membaca dan menulis huruf di bawah pimpinan Kui Hok Boan sendiri, bersama-sama dengan Lan Lan, Lin Lin, Siong Bu dan Beng Sin.

Biarpun di waktu sama-sama mempelajari ilmu bun (sastera) ini dia duduk di sudut terpisah, namun ternyata bahwa Sin Liong amat cerdas dan dapat lebih cepat menghafal dibandingkan dengan empat orang anak yang lain itu.

Juga dia telah memiliki bakat menulis baik, coretan-coretan tangannya ketika menulis huruf amat kuat dan mengandung keindahan dan gaya tersendiri yang mengagumkan.

Dia pandai pula menggambar dan suka membaca kitab-kitab kuno.

Anak ini berwatak sederhana, pendiam dan suka menyendiri.

Wajahnya tampan dan matanya mempunyai sinar yang tajam.

Dia lebih banyak mendengarkan daripada bicara, dan memiliki kekerasan hati yang amat luar biasa.

Anak ini tidak pernah menangis!

Atau setidaknya, tidak pernah kelihatan menangis oleh orang lain.

Agaknya, dia mempunyai pantangan menangis di depan orang lain!

Dalam segala hal kecuali pakaian dan pelajaran ilmu silat, Kui Hok Boan tidak membedakan sikapnya terhadap Sin Liong dengan sikapnya terhadap dua orang "keponakannya"

Itu.

Dia selalu bersikap baik dan manis terhadap anak angkatnya ini.

Hal ini kadang-kadang membuat Si Kwi merasa tidak puas.

Dia mengerti bahwa dalam hal pakaian, memang Sin Liong yang sembarangan itu patut memelihara pakaiannya sendiri, dan memang tidak mengapalah memakai pakaian sederhana karena seingatnya, ayah kandung anak ini, pendekar sakti Cia Bun Houw juga seorang pria berjiwa sederhana.

Akan tetapi dia tidak setuju kalau Sin Liong tidak diberi latihan ilmu silat.

Anak pendekar sakti Cia Bun Houw dan tidak belajar ilmu silat!

Akan tetapi, suaminya membantah.

"Isteriku, kita harus mencegah Sin Liong kelak menjadi seorang manusia yang mudah menyeleweng ke dalam kejahatan. Ingatlah, anak itu sejak kecil dipelihara monyet dan sampai sekarangpun dia masih memiliki watak aneh, penuh rahasia dan pendiam sekali, kadang-kadang seperti masih mengandung watak atau sifat liar. Bayangkan saja, anak sebesar itu sejak kecil belum pernah menangis! Aku khawatir sekali, kalau dia diberi pelajaran ilmu silat dan sudah menguasai ilmu itu, kelak akan muncul sifat liarnya dan dia tentu sukar untuk dikendalikan lagi. Lebih baik jejali dia dengan pelajaran bun dan kebudayaan, karena pelajaran ini tentu akan dapat menahan keliarannya. Dan aku melihat dia amat tekun dan berbakat mempelajari sastera. Kalau kelak dia sudah pandai dan menempuh ujian di kota raja sampai berhasil, alangkah baiknya."

Seperti biasa, Si Kwi tidak berani membantah lagi.

Dia amat tunduk kepada suaminya yang telah mengembalikan kebahagiaan dalam kehidupannya itu.

Dia tidak pernah dapat melupakan kebaikan suaminya, tiada habisnya dia berterima kasih kepada suaminya yang telah menuntunnya kembali ke dalam kehidupan yang berbahagia, setelah dia hampir kehilangan harapan untuk memperoleh kebahagiaan di dalam istana kuno yang sunyi itu.

Apalagi, dia tahu bahwa suaminya amat baik hati dan menyayangi Sin Liong.

Dan memang sesungguhnyalah.

Sama sekali tidak ada rasa benci dalam hati Kui Hok Boan terhadap anak itu.

Dia menganggap anak itu sebagai anak angkat isterinya, dan diapun merasa kasihan kepada anak yang aneh sekali riwayatnya ini, anak yang tidak mengenal siapa ayah bundanya, anak yang ditemukan isterinya dalam rawatan monyet-monyet.

Dia malah sudah mencoba untuk menyelidiki asal usul anak ini dengan bertanya-tanya kepada para penduduk dusun, namun tidak pernah dapat menemukan jejak orang tua anak itu.

Maka dia juga tidak keberatan memberikan she Kui kepada anak yang tidak mempunyai nama keturunan itu.

Hanya dia menekankan agar diketahui oleh Sin Liong bahwa she Kui hanyalah she "pinjaman"

Saja.

"Sin Liong, engkau tahu bahwa biarpun engkau memakai nama Kui Sin Liong, namun shemu itu bukanlah shemu yang sesungguhnya. Oleh karena itu, belajarlah yang tekun agar kelak engkau dapat memperoleh kedudukan yang tinggi dan engkau mendapat kesempatan untuk menyelidiki siapa orang tuamu yang sesungguhnya, atau kalau engkau memperoleh kedudukan, engkau tentu akan dihadiahi she oleh Kaisar."

Memang pada waktu itu terdapat kebiasaan aneh bahwa orang yang berjasa dan membuat pahala, dihadiahi she yang terhormat oleh Kaisar!

Sejak kecil sudah tertanam dalam hati Sin Liong bahwa dia bukanlah anak dari ayah dan ibu angkatnya.

Dia tahu diri dan tidak banyak minta.

Hanya satu hal yang membuat hati Sin Liong kadang-kadang merasa tidak senang, yaitu bahwa dia tidak pernah diajar ilmu silat!

Hanya satu kali saja dia pernah mengajukan permintaan dan pertanyaan ini kepada Hok Boan.

"Gihu (ayah angkat), kenapa saya tidak diberi pelajaran ilmu silat seperti yang gihu ajarkan kepada kedua siocia dan kedua kongcu?"

Sin Liong menyebut siocia (nona) kepada Lan Lan dan Lin Lin, sedangkan kepada dua orang "keponakan"

Dari Kui Hok Boan itu dia menyebut kongcu (tuan muda).

Hal ini adalah atas perintah dari Hok Boan dan ditaati oleh Sin Liong, juga tidak dibantah oleh Si Kwi.

Hok Boan, betapapun juga menganggap bahwa Sin Liong bukanlah darah dagingnya, juga bukan keluarga dari isterinya.

Sin Liong adalah seorang anak berdarah lain, maka sudah semestinya menyebut nona dan tuan muda kepada anak-anak kandungnya!

"Sin Liong, ilmu silat tidaklah tepat untuk kau pelajari.

Bakatmu lebih baik dalam ilmu bun saja, maka kau tekunlah menghafal kitab dan memperdalam pelajaranmu dalam kesusasteraan agar kelak engkau dapat menjadi seorang sasterawan yang berkedudukan tinggi."

Sekali saja bertanya dan meminta sekali ditolak, Sin Liong tidak mau minta lagi.

Akan tetapi, kadang-kadang dia termenung dan ingin sekali mempelajari ilmu silat, bahkan secara diam-diam dia selalu memperhatikan kalau empat orang anak itu berlatih ilmu silat di bawah pimpinan Kui Hok Boan.

Dan kadang-kadang juga dipimpin sendiri oleh Liong Si Kwi.

Wanita ini tidak lagi prihatin melihat anak kandungnya, Sin Liong, tidak diperbolehkan belajar ilmu silat, karena dia menganggap suaminya benar.

Lebih baik melihat Sin Liong kelak menjadi seorang sasterawan yang lemah lembut dan berhasil menjadi seorang yang berpangkat daripada anak itu terancam bahaya tersesat karena memiliki sifat keras dan liar setelah mempelajari ilmu silat.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Sin Liong sudah menyapu pekarangan belakang.

Tidak banyak kotoran di pekarangan ini karena musim rontok telah tiba, pohon-pohon banyak yang gundul tak berdaun.

Maka sebentar saja dia telah selesai menyapu.

Pada pagi hari itu, Kui Hok Boan melatih ilmu silat di pekarangan belakang ini kepada empat orang anaknya.

"Kalian kurang giat berlatih,"

Terdengar dia mengomel.

"Masa sudah hampir sebulan berlatih, jurus itu belum juga kalian kuasai dengan baik."

"Ayah, jurus Heng-pai-hud (Memuja Sang Buddha dengan Tangan Miring) itu memang sukar sekali, terutama perubahan dari tangan memukul lalu menangkis dalam satu gerakan sukar sekali, ayah,"

Kata seorang di antara dua anak kembar itu.

Baik ayah mereka sendiri maupun Siong Bu dan Beng Sin, tidak mungkin dapat yakin siapa yang bicara itu.

Lan Lan ataukah Lin Lin.

Akan tetapi Sin Liong yang berdiri di belakang dua orang anak kembar itu sambil memegang gagang sapunya, diam-diam dapat mengenal dan tahu bahwa yang bicara adalah Lan Lan.

Bagi anak ini, dia bukan hanya mengenal dan dapat membedakan antara dua orang anak kembar itu dari tahi lalat merah di leher atau sifat mereka, akan tetapi dari gerak-gerik mereka dia dapat membedakan mereka.

Kepekaan atau naluri ini didapatnya dari monyet-monyet itu.

Tadi dia melihat betapa kepala anak perempuan yang bicara itu agak bergoyang, maka tahulah dia bahwa yang bicara adalah Lan Lan.

Biarpun tidak diketahui orang lain, namun kewaspadaan Sin Liong yang didapat ketika dia hidup di antara monyet-monyet, dapat membuat dia mengenal kebiasaan dari gerakan yang sekecil-kecilnya.

Lan Lan biasa menggoyang-goyangkan kepala tanpa disadarinya, mungkin dari perasaan yang menggerakkan syarafnya kalau bicara, sedangkan kebiasaan Lin Lin kalau bicara adalah agak menundukkan muka.

"Memang benar, paman. Agak sukarlah gerakan jurus itu, harap paman suka mengulang lagi dan memberi contoh,"

Kata Siong Bu.

"Saya sudah melatih diri setiap hari, namun belum juga dapat bergerak dengan baik!"

Beng Sin juga berkata, matanya terbelalak dan sikapnya lucu. Kui Hok Boan menarik napas panjang.

"Ilmu silat bukan hanya membutuhkan ketekunan, akan tetapi juga membutuhkan bakat. Bagi yang berbakat, setiap gerakan akan terasa sampai di tulang sumsum, gerakan seperti menjadi otomatis dan berirama sehingga setiap jurus baru dapat dikuasai dengan mudah, seperti pada gerakan menari. Kalian jangan hanya menguasainya secara lahiriah saja, melainkan harus dapat menjiwai ilmu itu! Ah, memang tidak mudah! Ilmu kesusasteraan hanya pekerjaan otak, akan tetapi ilmu silat adalah pekerjaan seluruh tubuh, lahir batin, harus ada keserasian antara otak, otot, tulang dan syaraf. Nah, kalian lihat baik-baik, aku akan memberi contoh lagi bagaimana harus bergerak dalam jurus Heng-pai-hud."

Kui Hok Boan lalu bersilat, memainkan jurus itu.

Jurus ini adalah jurus serangan yang sekaligus juga merupakan jurus pertahanan.

Jadi, menggunakan jurus ini dapat saja orang menyerang atau menangkis serangan lawan.

Kedua tangan itu berganti gerakan, dari memukul ditarik ke depan dada dengan tangan miring untuk menghalau serangan lawan, dan dari menangkis ditarik ke pinggang lalu memukul lagi.

Memang harus ada keseimbangan antara memukul dan menangkis dengan tangan miring di depan dada ini agar dapat menjadi otomatis dan tidak kaku.

Jurus ini amat llhai, dalam keadaan diserang dapat membalas serangan dengan cepat, dan dalam keadaan menyerang selalu terjaga dan tidak terbuka.

"Nah, sekarang kaucoba lakukan jurus itu lebih dulu, Beng Sin!"

Kata Kui Hok Boan kepada si gendut itu.

Siong Bu menonton penuh perhatian dan dia duduk setengah berlutut di atas batu sambil menunjang dagunya, sedangkan dua orang anak perempuan kembar berdiri berdampingan sambil memperhatikan dengan kedua mata terbuka lebar.

Sin Liong masih berdiri di belakang mereka, memegang gagang sapunya dan juga menonton dengan hati tertarik.

Dia tadi memperhatikan gerakan ayah angkatnya dan mencatat di dalam ingatannya semua gerakan yang sekecil-kecilnya.

Apa sih sukarnya bergerak seperti itu, pikirnya.

Di dalam benaknya dia menirukan gerakan itu dan merasa sudah dapat meniru dengan sempurna!

Beng Sin mulai mainkan jurus itu.

Dengan penuh kesungguhan dia mencoha untuk menirukan gerakan pamannya.

Anak ini mempunyai gerakan yang mantap dan tenaganya besar, akan tetapi gerakannya terlalu lamban.

"Keluarkan bentakan dan atur napas!"

Kata Kui Hok Boan.

"Heiiiittt! Ahh...! Heiiittt! Ahh...!"

Anak gendut itu memukul dan menangkis sambil mengatur langkah, beberapa langkah maju ke depan setelah memukul dan menangkis, membalik dengan merubah kuda-kuda dan sekaligus memukul dan cepat menangkis, mulutnya terus mengeluarkan bentakan-bentakan.

Terlalu lamban, pikir Sin Liong dan ketika memukul, Beng Sin kurang memutar lengannya.

Seharusnya lengan itu cepat diputar, dengan kepalan menelungkup ketika tiba di ujung pukulan sehingga ketika disambung gerakan menangkis, dapat dilakukan tangkisan dengan tangan miring di depan dada secara tepat.

Nampak jelas olehnya kelemahan-kelemahan anak gendut itu.

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani mengeluarkan pendapatnya itu dan hanya menonton.

Kui Hok Boan juga kurang puas dengan hasil yang diperlihatkan Beng Sin.

Kadang-kadang dia menghentikan gerakan anak itu, dan memberi petunjuk-petunjuk.

Beng Sin mainkan jurus itu berulang-ulang tanpa mengenal lelah.

"Masih belum sempurna, kau harus banyak belajar,"

Kata Kui Hok Boan dan kini tiba giliran Siong Bu.

Siong Bu juga mainkan jurus itu di bawah petunjuk pamannya.

Gerakannya jauh lebih gesit daripada gerakan Beng Sin, dia lincah dan kuat, namun tidak semantap gerakan si gendut.

Kedudukan kedua tangan Siong Bu sudah banyak baik daripada Beng Sin, akan tetapi gerakan kedua kakinya masih kurang berirama dan kurang sesuai dengan gerakan tangan sehingga diapun mendapat teguran dan harus mengulang terus.

Demikian pula Lan Lan dan Lin Lin diharuskan melatih jurus itu dibawah petunjuk-petunjuk ayah mereka.

Agak jengkel hati Kui Hok Boan melihat betapa empat orang anaknya itu tidak mudah menguasai jurus Heng-pai-hud, maka ketika dia melihat Sin Liong sejak tadi berdiri saja menonton, kejengkelan hatinya membuat dia menegur ketus.

"Sin Liong, mau apa engkau berdiri di situ? Apakah tidak ada lagi pekerjaan yang lain?"

Sin Liong terkejut, menunduk dan melangkah pergi untuk mengurus kuda yang harus diberi makan dan sapi yang harus dibawa keluar.

Akan tetapi, jurus Heng-pai-hud itu tidak pernah terlupa olehnya dan ketika dia mengambil makanan kuda, Tanpa disadari kedua kakinya melakukan gerak langkah jurus itu, dari ketika dia sudah menaruh makanan kuda di depan lima ekor kuda itu, tanpa disadarinya pula kedua tangannya melakukan gerakan memukul dan menangkis dalam jurus Heng-pai-hud!

Diam-diam timbul iri di hatinya terhadap empat orang anak itu dan mulai saat itu dia mengambil keputusan untuk mengintai di waktu mereka berlatih dan menirukan gerakan-gerakan mereka.

Dengan cara demikian, dalam waktu tiga bulan Sin Liong telah dapat "mencuri"

Empat macam jurus dan telah dapat melakukan gerakan-gerakan itu dengan baiknya.

Dia selalu melihat gerakan itu dimainkan oleh ayah angkatnya, kemudian menirunya.

Dia tidak mau meniru gerakan empat orang anak itu yang dianggapnya kaku dan tidak sama dengan gerakan ayah angkatnya.

Di dalam pergaulan sehari-hari, Sin Liong seperti sahabat-sahabat biasa dengan empat orang anak itu.

Terutama sekali Lan Lan dan Lin Lin.

Kedua orang anak perempuan ini suka sekali kepada Sin Liong yang ringan tangan dan kaki, mau memenuhi segala permintaan mereka sungguhpun Sin Liong kurang pandai bergaul, tidak banyak bicara dan lebih suka menyendiri.

Beng Sin sering kali menggoda Sin Liong, akan tetapi diam-diam Sin Liong suka kepada anak gendut yang jujur dan suka melucu ini.

Satu-satunya anak yang menimbulkan rasa tidak senang di hati Sin Liong hanyalah Siong Bu karena anak ini agak angkuh dan bersikap seperti seorang majikan terhadap dirinya.

Bahkan kadang-kadang dia merasa sakit hati karena Siong Bu seringkali memakinya sebagai "anak monyet"!

Pada suatu hari, dengan tekun dan sungguh-sungguh Sin Liong berlatih "silat"

Yaitu gerakan-gerakan dari empat jurus yang dikenalnya dan dikuasainya dari hasil mengintai itu.

Dia tidak tahu bahwa Lan Lan, Lin Lin dan Beng Su, mengintai dengan mata terbelalak heran dari balik semak-semak.

Ketika itu, Sin Liong sedang menggembala sapi di padang rumput tak jauh dari taman istana.

Tiga orang anak ini bermain-main dan akhirnya tiba di tempat itu, melihat dari jauh betapa Sin Liong bergerak-gerak seperti orang bersilat maka dengan penuh keheranan mereka menghampiri dan bersembunyi, mengintai.

Ketika melihat Sin Liong bergerak dengan jurus Heng-pai-hud, Beng Sin tak dapat menahan keheranannya dan dia meloncat keluar dari balik semak-semak sambil berseru.

"Heii, itu adalah jurus Heng-pai-hud!"

Sin Liong terkejut sekali, cepat menghentikan gerakannya dan menengok.

Wajahnya berubah merah ketika dia melihat Beng Sin dan dua orang anak perempuan itu berlari-lari menghampirinya.

"Hei, Sin Liong, dari mana engkau dapat memainkan jurus-jurus itu?"

Beng Sin berkata dengan mata terbelalak.

"Apakah paman diam-diam mengajarmu?"

Sin Liong menggelengkan kepala.

"Ah, aku hanya main-main, Tee-kongcu."

"Ahaaaa, kalau di sini tidak ada paman, jangan menyebut kongcu-kongcuan segala. Namaku Beng Sin dan kau Sin Liong. Bukankah kita sahabat?"

"Terima kasih, Beng Sin. Akan tetapi lebih baik aku menyebutmu kongcu sesuai dengan perintah gihu."

"Sin Liong, aku melihat engkau tadi mainkan Heng-pai-hud. Dari mana kau dapat melakukan gerakan itu?"

Kui Lin bertanya.

"Li-siocia, aku hanya menonton kalian berlatih dan meniru-niru saja..."

"Ah, tapi gerakanmu tadi baik benar!"

Kui Lan juga memuji.

"Benar!"

Kata Beng Sin.

"Sebaliknya aku belum juga bisa melakukan gerakan jurus itu dengan baik."

"Gerakanmu sudah baik, hanya perlu dipercepat, kongcu. Terlalu lamban sehingga gerakan kedua tanganmu kalah cepat oleh kedua kakimu. Juga di waktu kau memukulkan tanganmu ke depan, engkau kurang memutar lenganmu sehingga ketika gerakan memukul itu disambung gerakan menangkis, kurang tepat."

Beng Sin membelalakkan matanya dan menjadi gembira.

"Ah, begitukah? Biar kucoba!"

Dan anak ini lalu bergerak melakukan jurus Heng-pai-hud dan mengubah gerakannya sesuai dengan petunjuk Sin Liong.

Dia merasa betapa setelah dia mempercepat gerakan kedua lengannya, dia dapat mengikuti gerakan kaki secara baik, dan ketika dia memukul, dia memutar lengannya dan mendapat kenyataan bahwa perubahan, dari memukul menjadi menangkis dapat dia lakukan dengan baik!

"Horeeee...!

Aku dapat melakukannya dengan baik!"

Dia bersorak girang sekali dan dua orang anak perempuan itupun ikut gembira, tertawa-tawa melihat si gendut itu bersorak dan menari-nari dengan pinggul megal-megol.

"Hei, apa-apaan kalian di situ?"

Tiba-tiba terdengar teguran Siong Bu yang datang berlari ke tempat itu.

"AH, Bu-ko, terjadi keajaiban di sini!"

Beng Sin berkata sambil tertawa dan menudingkan telunjuknya kepada Sin Liong.

"Kau lihat, Sin Liong ternyata pandai mainkan Heng-pai-hud, dan dia telah memberi petunjuk sehingga gerakanku menjadi baik sekarang!"

"Benar, Bu-ko, dan Sin Liong dapat pula mainkan jurus-jurus lain dengan baiknya, padahal dia hanya melihat dan meniru-niru kita saja!"

Lan Lan berkata.

Alis yang sudah kelihatan panjang tebal di atas sepasang mata Siong Bu berkerut ketika dia memandang kepada Sin Liong, akan tetapi dia memandang rendah anak angkat bibinya ini dan menganggap seorang bujang yang derajatnya lebih rendah daripada dia dan saudara-saudaranya.

"Sin Liong, bukankah paman sudah melarangmuu untuk belajar silat?"

Bentaknya. Sin Liong menundukkan mukanya.

"Aku tidak belajar, hanya melihat dan ingat gerakannya."

"Dia benar, Bu-ko. Dia hanya mengenal jurus yang pernah dilihatnya saja, akan tetapi gerakannya hebat. Dia bisa mainkan jurus Heng-pai-hud lebih baik daripada engkau, Bu-koko!"

Beng Sin berkata lagi dengan jujur, tidak tahu betapa kata-katanya itu membuat hati Siong Bu menjadi makin panas dan iri.

"Hemmm, golongan monyet mana bisa bermain silat?"

Dia mengejek.

"Ahh, jangan begitu, Bu-ko. Menurut penuturan paman, bukankah banyak ilmu silat diambil dari gerakan-gerakan binatang, seperti harimau, bangau, monyet dan lain-lain?"

Bantah Beng Sin.

"Ingat jurus-jurus seperti Hek-wan-hian-ko (Lutung Hitam Memberi Buah), Sin-kauw-pai-bwe (Kera Sakti Menggerakkan Ekor) dan lain-lain."

"Hemm, jurus-jurus itu ciptaan manusia. Mana ada anak monyet bisa bersilat?"

Kembali Siong Bu mengejek.

"Bu-koko, kenapa kau menghina Sin Liong? Dia tidak mempunyai kesalahan apa-apa,"

Tiba-tiba Lin Lin mencela Siong Bu.

"Benar, kau sengaja hendak memakinya anak monyet. Kau terlalu, Bu-ko, dan kau mengganggu kami yang sedang bergembira di sini!"

Lan Lan juga membela Sin Liong.

Melihat dua orang anak perempuan itu membela Sin Liong, makin panaslah rasa hati Siong Bu.

Akan tetapi dia adalah seorang anak yang cerdik.

Dia tidak mau mendesak lagi karena biarpun dia dapat memperolok Sin Liong, dia tidak mau kalau untuk itu dia menimbulkan rasa tidak suka di hati Lan Lan dan Lin Lin.

"Aku sebenarnya tidak menghina, hanya tidak percaya. Akan tetapi kalau Sin Liong mau berlatih silat bersamaku, baru aku percaya,"

Katanya sambil menghampiri Sin Liong. Beng Sin berseru girang.

"Bagus! Itu bugus sekali! Sin Liong, hayo layani Bu-ko berlatih. Dia baru akan percaya setelah melihat sendiri dan engkaupun akan memperoleh kemajuan kalau mau berlatih dengan dia."

Sin Liong tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksudkan.

Dia memang ingin sekali belajar silat, akan tetapi dia tidak berani belajar dari ayah angkatnya yang sudah melarangnya.

Kini dia meragu dan memandang kepada Lan Lan dan Lin Lin.

Dua orang anak perempuan itupun mengangguk, dengan gembira.

Mereka suka sekali belajar silat, dan melihat gerakan Sin Liong tadi, mereka mengira bahwa tentu Sin Liong sudah pandai pula, maka tiada buruknya untuk berlatih bersama Siong Bu.

Sin Liong adalah seorang anak yang keras hati.

Tadinya dia ingin meninggalkan mereka pergi, akan tetapi melihat Siong Bu berlagak menantang, hatinya menjadi panas.

Dia menatap wajah Siong Bu dan berkata.

"Kwa-kongcu, kau mau mengajarku?"

Siong Bu menyeringai.

"Kata mereka engkau pandai. Kalau engkau lebih pandai, berarti engkaulah yang mengajariku. Mungkin engkau mempunyai jurus-jurus monyet lain yang belum kukenal."

Ucapan ini tentu saja bermaksud mengejek dan Beng Sin mengerti juga akan ejekan itu.

Hati anak gendut ini berpihak kepada Sin Liong karena tidak jarang dia menjadi sasaran kenakalan dan ejekan-ejekan Siong Bu yang lebih tua beberapa bulan dari dia dan merasa lebih menang.

"Sin Liong, apakah kau takut? Aku tahu engkau kuat sekali, dan... hemmm, siapa tahu engkau benar-benar menyimpan jurus-jurus monyet sakti. Hayo, kaulayani Bu-ko!"

Dia mendesak.

"Benar, kauhadapi dia, Sin Liong!"

Kata Lan Lan.

"Aku ingin sekali melihatnya!"

Sambung Lin Lin.

Sin Liong merasa tersudut, apalagi kini Siong Bu sudah menghampirinya dekat, lalu menggunakan jari tangan mendorong dada Sin Liong, dengan lagak angkuh berkata.

"Kalau takut, kau berlutut saja minta ampun tiga kali!"

Marahlah Sin Liong.

"Kwa-kongcu, terhadap setanpun aku tidak takut, apalagi terhadap engkau!"

"Heh-heh, dia memakimu setan, Bu-ko!"

Kata Beng Sin tertawa kcras.

"Dia memaki engkau setan!"

Anak nakal ini sengaja mempergunakan kesempatan ini untuk memaki kepada Siong Bu yang sering memakinya tanpa dia berani membalas.

Merahlah wajah Siong Bu.

"Anak monyet! Berani kau!"

Dan tangannya lalu memukul ke arah muka Sin Liong.

Sin Liong terkejut, dan dengan gerakan otomatis dia memalingkan mukanya.

"Plakk!"

Bukan hidungnya yang kena dijotos, melainkan pipinya. Sin Liong terhuyung ke belakang.

"Eh, kenapa kau memukulktu?"

Tanyanya, matanya terbelalak heran.

"Itu namanya latihan silat, tolol! Habis apa lagi artinya silat kalau bukan saling pukul? Nah, kau jaga ini!"

Kembali Siong Bu menyerangnya dengan pukulan yang ditujukan ke arah dada Sin Liong.

Kini Sin Liong sudah siap.

Kalau tadi mukanya terkena pukulan adalah karena dia tidak menyangka bahwa "latihan"

Itu berarti saling pukul!

Kini diapun lalu teringat akan gerakan Heng-pai-hud, yaitu dengan tangan miring melakukan tangkisan, maka dia cepat memasang kuda-kuda seperti yang sering dilatihnya, melangkah mundur sambil miringkan tangan ke depan dada, menangkis pukulan itu.

"Desss!"

Karena cara Sin Liong memasang kuda-kuda tidak tepat, biarpun gerakannya benar namun dia tidak tahu untuk apa kuda-kuda itu, maka penanaman tenaga di kakinya tidak benar dan dia terhuyung oleh pertemuan lengannya dengan lengan lawan, dan sebelum dia tahu harus berbuat apa, tiba-tiba kaki lawan sudah membabatnya dari samping, tepat mengenai belakang lututnya.

"Bresss...!"

Tubuh Sin Liong terpelanting roboh.

"Hei, kenapa begitu mudah roboh?"

Lan Lan berseru heran.

"Hayo, Sin Liong, jangan mengalah. Serampangan kaki itu mestinya dapat dihindarkan dengan loncatan, dan kau boleh balas memukul!"

Beng Sin berseru.

Sin Liong bangkit berdiri dan pada saat itu Siong Bu sudah menerjang lagi dengan pukulan bertubi-tubi.

Sin Liong masih mencoba untuk bergerak dengan jurus-jurus yang pernah dilihat dan dilatihnya, akan tetapi tentu saja gerakan-gerakan itu biarpun amat baik akan tetapi tidak tepat, dipergunakan bukan pada saatnya maka mulailah dia menjadi bulan-bulanan pukulan tangan dan tendangan kaki Siong Bu.

Empat kali mukanya menerima pukulan keras sehingga kedua pipinya menjadi biru dan mata kanannya membengkak!

"Bu-koko, jangan memukul sungguh-sungguh!"

Lin Lin berseru marah.

"Sin Liong, kenapa kau tidak membalas? Kau boleh membalas! Latihan ini umpamakanlah kau sedang berkelahi! Kalau kau diserang harimau, masa diam saja?"

Beng Sin berteriak-teriak gemas melihat Sin Liong dijadikan bulan-bulanan.

Mendengar ucapan "diserang harimau", seketika bangkitlah kemarahan di hati Sin Liong.

Seperti terbayang olehnya pengalamannya di waktu kecil ketika dia hampir mati oleh harimau dan diselamatkan oleh teman-temannya, yaitu para monyet.

Kini dia tidak perduli akan latihan ilmu silat, tidak perduli akan jurus-jurus ilmu silat, akan tetapi menggunakan naluri dan tanggapan syarafnya terhadap ancaman dari luar.

Dengan cekatan dia meloncat ke sana-sini, seperti seekor monyet dan dia dapat menghindarkan semua pukulan lawan.

Ketika tangan kiri Siong Bu meluncur lewat, dengan cepat sekali dia menangkap tangan itu, memilinnya ke belakang sampai Siong Bu berteriak kesakitan, dan hampir saja dia lupa.

Hampir saja Sin Liong menggigit leher lawannya!

Akan tetapi dia masih teringat dan segera menggunakan kedua tangannya, mencengkeram pakaian lawan dan mengangkat tubuh Siong Bu ke atas dengan kedua tangan kemudian melemparkannya ke depan.

"Brukkk...!"

Debu mengepul ketika tubuh Siong Bu terbanting.

"Hebat...! Kau hebat, Sin Liong...!"

Beng Sin memuji dan bersorak, akan tetapi tiba-tiba Siong Bu yang sudah bangkit itu menerjang lagi dan sebuah tendangan mengenai perut Sin Liong, membuatnya terhuyung.

"Eh, kau curang, Bu-ko. Engkau sudah roboh dan latihan ini sudah berakhir,"

Kata Beng Sin.

Akan tetapi Siong Bu tidak perduli dan dia menerjang terus, menghujankan pukulan dan tendangan.

Akan tetapi, Sin Liong yang tidak bisa silat itu memiliki tubuh yang jauh lebih kuat, mempunyai daya tahan yang kuat, kegesitan sewajarnya yang didapatkan karena pergaulannya dengan monyet-monyet.

Dia dapat mengelak ke kanan kiri dan satu dua kali pukulan yang mengenai tubuhnya tidak dirasakannya.

Betapapun juga, mukanya sudah terasa panas dan nyeri karena pukulan-pukulan yang tadi, dan kemarahannya memuncak ketika Siong Bu sambil menyerang memaki-makinya.

"Anak monyet bocah hina!"

Dia mengeluarkan suara menggereng seperti binatang dan tiba-tiba dia maju menubruk.

"Bukk!"

Pukulan yang mengenai lehernya tidak dirasakannya dan kini kedua tangannya sudah mencengkeram pundak Siong Bu.

Anak ini biarpun sudah mempelajari ilmu silat, akan tetapi kepandaiannya masih belum matang, maka ketika merasa pundaknya dicengkeram dan sakit, diapun Ialu mencengkeram dan terjadilah pergulatan yang tidak memakai jurus ilmu silat lagi!

Mereka saling jambak, saling cengkeram dan saling cekik!

Sin Liong yang tadinya tidak ingin berkelahi sungguh-sungguh, ketika dijambak rambutnya, merasa nyeri sekali, maka dia lalu membuka mulut dan menggigit daun telinga Siong Bu!

Begitu keras gigitannya sehingga ujung daun telinga Siong Bu robek dan anak ini berteriak-teriak kesakitan!

"Heii, berhenti kalian!"

Terdengar bentakan keras dan tiba-tiba dua buah tangan yang kuat telah menarik tubuh Siong Bu dan Sin Liong ke kanan kiri dan mendorong mereka terpisah.

Siong Bu terisak menangis sambil memegangi telinga kanannya yang berdarah sambil berlutut di depan pamannya, sedangkan Sin Liong berdiri dengan kepala tunduk, mukanya bengkak-bengkak dan biru-biru, akan tetapi sedikitpun tidak ada tanda-tanda bahwa dia menderita kesakitan atau menangis!

Kui Hok Boan berdiri dengan muka merah dan mata terbelalak marah.

Tangannya sudah meraih sebatang ranting kayu dan dia menoleh kepada Siong Bu.

"Kenapa telingamu?"

"Di... digigit... monyet cilik itu... aduhhhh...!"

Siong Bu mengeluh ketika pamannya memeriksa telinga itu.

Ternyata hanya ujungnya yang robek bekas gigitan.

"Bocah liar! Berani kau berkelahi dengan kong-cu dan menggigit telinganya? Kalau tidak dihajar, engkau tentu akan menjadi monyet liar!"

Kui Hok Boan lalu menghampiri Sin Liong yang masih berdiri.

"Hayo berlutut kau!"

Sin Liong berlutut dan sasterawan yang marah itu lalu mengayun ranting itu yang meledak-ledak dan melecuti tubuh anak itu.

Kulit leher dan punggung Sin Liong pecah-pecah dan darah mulai mengalir keluar ketika ranting itu menyambar-nyambar ganas.

Akan tetapi, anak itu hanya menunduk dan memejamkan matanya, menahan rasa nyeri dan sedikitpun tidak mengeluarkan suara mengeluh.

Juga tidak nampak dia menangis.

"Prat-prat-prat-prat!"

Ranting itu menari-nari dan setelah melihat baju itu berdarah, baru Hok Boan menghentikan sabetannya.

Dia terengah-engah dan kemarahannya makin memuncak melihat anak itu sama sekali tidak mengeluh atau menangis.

Hal ini diterimanya sebagai tantangan!

"Kau bandel, ya?

Kau berkulit tebal, ya?

Ingin kuhajar sampai mampus?"

Teriak Hok Boan yang makin marah mengingat bahwa puteranya digigit daun telinganya sampai pecah dan melihat Sin Liong sama sekali tidak menangis atau mengeluh.

"Ayah... harap ampunkan dia, ayah...!"

Tiba-tiba terdengar suara Lin Lin meratap dan terdengar isak terkandung dalam suara itu.

Anak ini tidak tega dan merasa kasihan melihat keadaan Sin Liong.

Hok Boan tidak jadi mencambuki lagi dan menoleh kepada Beng Sin.

(Lanjut ke

Jilid 07) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07

"Beng Sin, hayo katakan apa yang terjadi!"

Bentaknya. Beng Sin berlutut dengan tubuh agak menggigil.

"Mereka... mereka berkelahi... dan..."

Dia melirik ke arah Siong Bu, melihat pandang mata kakaknya itu sehingga dia tidak berani untuk berterus terang.

"Dan... paman lalu datang."

Dia menutup mulut dan menunduk.

"Sin Liong, engkau tak tahu diri! Berani engkau berkelahi dengan seorang dari mereka? Apakah kerjamu di sini hanya untuk menentang dan berkelahi? Hayo jawab!"

Hok Boan membentak. Akan tetapi Sin Liong tetap menunduk, tidak mau menjawab.

"Kau sungguh bandel! Apa ingin dihajar lagi?"

"Ayah, Sin Liong tidak bersalah!"

Tiba-tiba Lan Lan berkata dengan suara lantang.

Hok Boan memandang puterinya itu, dan Lan Lan melanjutkan kata-katanya.

"Mula-mula kami bertiga di sini melihat Sin Liong berlatih silat seorang diri, dia pandai mainkan jurus Heng-pai-hud..."

"Ehhh...?"

Hok Boan terkejut bukan main.

"Dia menonton kami berlatih, ayah, lalu dia meniru-niru gerakan kami. Akan tetapi gerakannya baik sekali dan selagi kami bergembira, datang Bu-koko yang menantang Sin Liong."

"Dan Bu-koko memaki Sin Liong monyet,"

Sambung Lin Lin.

"Bu-koko menantang untuk berlatih silat, mereka berkelahi sungguh-sungguh,"

Sambung pula Lan Lan.

"Akan tetapi Sin Liong didesak maka dia melawan, kalau tidak Bu-koko mendesak dan memaksa, tentu dia tidak akan balas memukul dan menggigit."

Kui Hok Boan mengerutkan alisnya.

Soal perkelahian antara anak kecil tidak begitu aneh baginya, akan tetapi mendengar Sin Liong pandai bermain jurus Heng-pai-hud, benar-benar mengejutkan hatinya.

Dan kenyataan yang mengejutkan hatinya adalah bahwa Siong Bu yang sudah dilatihnya selama lima tahun ternyata kini tidak mampu mengalahkan Sin Liong biarpun muka Sin Liong matang biru dan kalau dia tidak datang, bukan tidak mungkin Siong Bu akan kalah!

"Sin Liong, benarkah engkau telah menonton jurus-jurus itu dan menirunya?"

Bentaknya kepada Sin Liong.

"Benar, gi-hu."

"Mulai sekarang, engkau tidak boleh lagi menonton dan meniru-niru. Mengerti?"

"Baik, gi-hu."

"Mulai malam nanti, engkau harus menuliskan kalimat "Saya tidak boleh melawan terhadap Kwa-kongcu dan Tee-kongcu"

Sampai seribu kali di atas kertas!"

"Ayah, Sin Liong tidak bersalah!"

Lan Lan dan Lin Lin berkata hampir berbareng.

"Diam kalian! Hayo semua pulang! Dan kau menjaga sapi-sapi itu baik-baik!"

Kata Hok Boan dengan bengis.

Empat orang anak itu bangkit dan mengikuti Kui Hok Boan meninggalkan Sin Liong yang masih berlutut di situ.

Setelah semua orang pergi, barulah Sin Liong menggunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap darah dan keringat dari lehernya, dan cepat-cepat menghapus dua titik air mata dengan kepalan tangannya.

Malam itu, ketika semua orang belum tidur, Sin Liong dengan tekun mulai menuliskan kalimat hukuman itu di atas kertas.

Akan tetapi setelah semua orang tidur, dia pergi menemui monyet-monyet, jauh tinggi di atas pohon dan monyet betina tua itu menjilati luka-luka bekas cambukan di leher, lengan dan punggungnya.

Akhirnya Sin Liong tertidur di atas pohon dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia telah kembali ke dalam kamarnya.

Semenjak terjadi peristiwa itu, sikap Siong Bu makin angkuh dan menghina Sin Liong.

Siong Bu masih merasa penasaran dan sakit hati karena daun telinganya digigit.

Biarpun kini lukanya telah sembuh, namun ujung telinganya masih berbekas, dan ini mengingatkan dia betapa dia hampir kalah oleh "anak monyet"

Itu!

Kekalahan inilah yang lebih menyakitkan daripada luka di daun telinganya.

Akan tetapi kini Sin Liong tidak pernah mau melayaninya biarpun dia sudah sering kali menghinanya dan memancing suatu perkelahian lagi.

Karena sikap Sin Liong yang mengalah ini, maka hal itu menimbulkan perasaan tidak senang di hati Beng Sin yang menganggap bahwa Sin Liong pengecut dan penakut.

Juga Lan Lan dan Lin Lin merasa tidak senang.

Rasa kagumnya terhadap Sin Liong yang berani melawan Siong Bu bahkan hampir menang, segera lenyap karena merekapun menganggap bahwa Sin Liong penakut.

Padahal, bukan demikian sesungguhnya.

Ada sebabnya mengapa Sin Liong tidak lagi mau melayani penghinaan Siong Bu yang merasa sakit hati kepadanya itu.

Bukan karena takut dihajar lagi oleh ayah angkatnya.

Pada keesokan harinya setelah perkelahian itu, dia dipanggil oleh Si Kwi.

Dalam pertemuan empat mata ini, Si Kwi menerimanya dengan alis berkerut dan memandang wajahnya dengan penuh perhatian.

"Sin Liong, aku mendengar bahwa kau berkelahi dengan Siong Bu?"

Tanya nyonya ini dengan suara halus.

Semalam dia diceritakan oleh suaminya betapa Sin Liong mencuri belajar silat dan berani berkelahi melawan Siong Bu dan dalam keliarannya menggigit telinga Siong Bu hampir putus!

Sin Liong menunduk dan mengangguk.

Satu-satunya orang yang dipandang dan dihormati serta dicintanya di dalam rumah itu hanyalah ibu angkatnya ini.

Dia tidak ingin membuat ibu angkatnya ikut berduka atau marah kepadanya.

"Dan engkau telah mencuri dan mempelajari ilmu silat mereka?"

"Ibu... saya... saya hanya menonton dan meniru-niru saja."

"Hemm, yang sudah lalu biarlah. Akan tetapi mulai sekarang jangan kau ikut mempelajari ilmu silat mereka, dan terutama sekali jangan engkau berkelahi dengan siapapun."

Sin Liong menundukkan mukanya, wajahnya kelihatan berduka sekali, tetapi dia tidak menjawab.

Melihat wajah itu, teringatlah Si Kwi kepada Cia Bun Houw dan dia menarik napas panjang.

Dia sendiri merasa heran mengapa anaknya ini, yang sejak kecil tidak pernah belajar ilmu silat, dapat bersilat hanya dengan menonton saja, dan yang lebih mengejutkan lagi, dapat melawan dan menandingi Siong Bu yang sudah memiliki kepandaian lumayan dan paling kuat di antara empat orang anak yang dipimpin suaminya!

"Sin Liong, mengapa kau ingin sekali belajar silat?"

Tiba-tiba dia bertanya, pertanyaan yang digerakkan karena teringat akan Cia Bun Bouw.

Tiba-tiba anak itu mengangkat mukanya dan Si Kwi merasa jantungnya tergetar ketika melihat sepasang mata yang mencorong dan tajam sekali itu!

"Ibu, katakan...

siapa yang membuntungi tangan kiri ibu?"

Wajah Si Kwi seketika menjadi pucat dan matanya terbelalak.

"Ahhhh...!"

"Saya ingin membalasnya, saya ingin memotong dan membuntungi kedua tangannya! Siapa dia, ibu?"

"Ohhh... Liong-ji...!"

Si Kwi merintih dan tak dapat menahan air matanya.

Dia cepat menggunakan saputangan untuk menyusuti air mata yang mengalir turun di atas kedua pipinya itu.

Melihat ini, Sin Liong cepat berlutut di depan kaki ibu angkatnya.

"Ibu, ampunkan saya... sakit sekali hati saya melihat ada orang berbuat demikian keji terhadap ibu. Saya ingin belajar silat karena ingin membalasnya!"

Si Kwi menggunakan tangan kanannya mengelus rambut kepala anak itu.

Sejenak tangannya membelai rambut itu dan jantungnya seperti diremas-remas.

Anak ini adalah anaknya!

Tidak salah lagi!

Anak Cia Bun Houw!

"Jangan salah mengerti, anak yang baik.

Tangan kiriku ini bukan dibuntungi oleh musuh, melainkan oleh mendiang guruku sendiri."

"Ahh...!"

Sin Liong memandang wajah ibu angkatnya dengan mata terbelalak.

"Betapa kejamnya! Mengapa ibu?"

"Itulah kalau orang belajar silat, anakku. Guru-guru yang mengajar ilmu silat memang biasanya keras. lbumu ini telah melakukan kesalahan maka hukumannya adalah potong tangan kiri! Oleh karena itu, jangan kau belajar ilmu silat, tidak ada gunanya, anakku. Ayah angkatmu masih lunak ketika menghajarmu dengan cambukan. Maka, kalau engkau suka mendengarkan kata-kata ibumu, mulai sekarang, jangan engkau layani siapapun untuk berkelahi. Belajarlah dengan tekun, anakku, agar kelak engkau menjadi seorang manusia yang baik dan berguna."

Sin Liong kecewa sekali, akan tetapi dia amat mencinta ibunya ini yang sejak dia kecil amat baik kepadanya, maka dia mengangguk.

Lalu bangkit dan meninggalkan kamar ibunya.

Sampai di pintu, dia menengok.

"Ibu, apakah sampai sekarang ibu belum juga mendengar siapa adanya ayah dan ibuku yang sesungguhnya?"

"Ahh...!"

Si Kwi merasa ditampar lalu dicekik lehernya.

Dia hanya memandang dengan wajah pucat.

Entah sudah berapa kali anak ini menanyakan hal itu, dan selalu dijawabnya bahwa dia tidak tahu, bahwa dia akan berusaha untuk menyelidikinya.

Dan sekarang anak itu kembali menanyakan hal itu.

Dia tidak mampu menjawab, hanya menggeleng kepalanya.

Sin Liong menunduk, memutar tubuh dan melangkah pergi.

"Liong-ji...!"

Sin Liong berhenti dan ibunya telah berada dekatnya.

Dengan sentuhan mesra Si Kwi membuka baju anaknya, melihat jalur-jalur merah di punggungnya.

Dia berkata.

"Mari kuobati luka-lukamu akibat cambukan itu dan... heii, sudah kering semua..."

"Tidak perlu, ibu. Semalam luka-luka itu telah dijilati oleh monyet betina tua dan sudah sembuh."

Setelah berkata demikian, Sin Liong melangkah pergi, menghilang di dalam gelap.

Nah, itulah sebabnya mengapa Sin Liong tidak pernah mau melayani godaan dan ejekan Siong Bu.

Dia selalu teringat akan pesan ibu angkatnya dan dia tidak ingin menyusahkan hati ibu angkatnya.

Maka ditelannya semua hinaan dan godaan, dan dia sama sekali tidak pernah mau melayani.

Akan tetapi, sesungguhnya Sin Liong menderita batin yang sukar dapat dipertahankannya.

Pada dasarnya dia memiliki watak keras dan tidak takut terhadap siapapun juga, maka ejekan, hinaan dan tantangan Siong Bu yang dilontarkan kepadanya dan tidak dijawabnya karena dia teringat akan ibu angkatnya, membuat hatinya sakit sekali.

Akhirnya dia tidak dapat menahan kemarahannya lagi, apa pula ketika melihat betapa Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin mulai tidak suka kepadanya dan menganggap sebagai seorang anak yang pengecut dan penakut.

Dia tahu bahwa tiga orang ini tadinya berfihak kepadanya dan tidak suka melihat dia dihina dan ditantang, mereka menghendaki agar dia melawan.

Akan tetapi, bukan dia takut kepada Siong Bu, bukan pula takut akan hukuman dari ayah angkatnya, melainkan dia tidak ingin menyusahkan hati ibu angkatnya, tidak ingin melanggar pesan ibu angkatnya.

Akan tetapi kekerasan hatinya membuat dia makin tidak kuat bertahan, apalagi setelah dia merasa kesepian karena anak-anak yang lain mulai menjauhkan diri darinya.

Maka pada suatu malam, diam-diam dia meninggalkan kamarnya, pergi menemui teman-temannya, yaitu para monyet besar dan bersama mereka dia memasuki hutan lebat dan tidak mau kembali lagi ke Istana Lembah Naga!

Pada keesokan harinya, semua orang di Istana Lembah Naga kehilangan.

Si Kwi menjadi bingung sekali.

"Biarlah,"

Kata suaminya.

"Sudah kuketahui bahwa dia terlalu banyak terpengaruh oleh monyet-monyet itu sehingga dia tidak betah lagi tinggal bercampur dengan manusia biasa. Kita sudah terlalu baik kepadanya, dan kalau kita lebih baik lagi, aku khawatir dia akan menjadi manja dan rusak. Ingat akan sifat-sifatnya yang liar."

Akan tetapi tentu saja Kui Hok Boan tidak tahu bahwa hati seorang ibu kandung mana mungkin bisa menegakan anaknya begitu saja?

Si Kwi juga tidak berani membuka rahasianya.

Kalau dia mau, tentu saja dia dapat mengerahkan tenaga para anak buah suaminya yang banyak jumlahnya.

Akan tetapi dia tahu akan kekerasan hati dan keanehan watak Sin Liong.

Kalau hanya mengandalkan para anak buah itu untuk mencari dan membujuknya sudah pasti anak itu tidak akan sudi pulang!

Maka dia lalu diam-diam mencari sendiri dan dia tahu ke mana dia harus mencari.

Si Kwi membawa seperangkat pakaian dan memasuki hutan.

Tepat dugaannya, lewat tengah hari dia tiba di tengah hutan dan dengan hati hancur dia melihat anaknya itu berloncatan dari dahan ke dahan di atas pohon-pohon yang amat besar dan tinggi bersama beberapa ekor monyet besar.

Yang mengharukan hatinya adalah melihat anak laki-laki itu sama sekali telanjang bulat!

Agaknya Sin Liong telah membuang semua pakaiannya dan bertelanjang seperti teman-temannya.

Dan dari tempat dia mengintai, Si Kwi melihat betapa wajah anak itu menjadi tampan berseri-seri, penuh keberuntungan dan kegembiraan, bebas dari kungkungan manusia dengan segala peraturannya, iri hatinya, kebenciannya dan permusuhannya!

Melihat wajah yang tampan gembira itu, hampir saja Si Kwi pergi lagi.

Tidak tega dia mengganggu kebahagiaan anak itu!

Akan tetapi dia lalu teringat bahwa anaknya itu adalah seorang manusia.

Dia akan merasa berdosa, berdosa terhadap Sin Liong, terhadap diri sendiri dan terhadap Cia Bun Houw kalau dia membiarkan saja anaknya menjadi monyet!

"Liong-ji...!"

Dia meratap, memanggil dan air matanya bercucuran.

"Grrrr... grrrr...!"

Monyet-monyet itu menggereng dan Sin Liong juga mengeluarkan suara gerengan seperti monyet.

Akan tetapi ketika dia melihat ibu angkatnya di bawah pohon, dia terkejut sekali.

Cepat dia meloncat ke dahan lain dan hendak melarikan diri.

"Sin Liong... kau... kau... tidak kasihankah kepada ibumu...? Sin Liong, anakku...!"

Mendengar seruan dan ratapan yang dikeluarkan dengan isak tangis ini, Sin Liong berhenti, termenung, kemudian dia berloncatan turun.

"Ibu...!"

Dia meloncat ke atas tanah lalu berlutut di depan kaki ibunya.

Sudah dua hari dua malam dia tinggal bersama monyet-monyet itu, dan kini ibunya menyusulnya.

Kalau saja ibunya tidak menangis dan keadaannya demikian menyedihkan, tentu dia tadi sudah melarikan diri.

"Liong-ji... mengapa kau meninggalkan ibumu? Apakah kau tidak suka lagi kepada ibumu, anakku?"

"Ibu..."

Sin Liong merasa lehernya seperti dicekik.

Dua hari dua malam tidak bicara, hanya mengeluarkan suara seperti monyet-monyet itu, membuat lidahnya kaku dan sukar baginya untuk bicara.

Akan tetapi akhirnya dapat juga dia berkata.

"Aku tidak meninggalkan ibu, aku meninggalkan mereka itu!"

Suaranya mengandung kemarahan.

"Akan tetapi, meninggalkan mereka berarti meninggalkan ibu, anakku. Marilah kita kembali, kau tidak boleh meninggalkan aku."

Sin Liong mengangkat mukanya, matanya mengeluarkan sinar berapi. Kemudian dia menggeleng kepalanya.

"Tidak, ibu! Tidak, aku tidak mau kembali ke sana untuk menerima hinaan mereka!"

Si Kwi merangkul dan memeluk anaknya, mengelus kepala anaknya.

"Salahku, Liong-ji, salahku. Sekarang aku berjanji bahwa tidak akan ada orang yang berani mengganggumu lagi. Aku akan melarang mereka! Ya, aku akan melindungi anakku!"

"Akan tetapi... mereka pandai silat dan aku tidak boleh..."

"Aku akan melatihmu, Liong-ji. Aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu."

"Benarkah?"

Sin Liong girang sekali.

"Menurut Lan-siocia dan Lin-siocia..."

"Mulai sekarang kau boleh menyebut mereka moi-moi, jangan menyebut siocia!"

"Ahhh...! Menurut mereka, kepandaian ibu tidak kalah oleh gi-hu..."

"Asal engkau rajin belajar, engkau tentu akan pandai, anakku, karena engkau memiliki bakat dan tenaga yang kuat."

"Akan tetapi, apa artinya belajar silat kalau aku tidak tahu siapa ayah dan ibuku?"

Si Kwi menarik napas panjang dan membantu anaknya memakai pakaian yang dibawanya dari rumah tadi.

"Pakailah ini dan mari kita pulang, nanti akan kuceritakan kepadamu siapa adanya ayahmu..."

Janji dan bujukan ini berhasil.

Wajah Sin Liong berseri, matanya terbelalak lebar penuh harapan.

Dia tidak membantah lagi, mengenakan pakaian itu, kemudian dia mengikuti ibunya pulang.

Mereka tiba di rumah di waktu senja.

Karena tidak ingin melihat Sin Liong merasa malu dan sungkan bertemu dengan anggauta keluarga lain, Maka dia langsung mengajak Sin Liong memasuki kamar anaknya itu di dekat kandang kuda.

Sin Liong lalu menyalakan lampu minyak sederhana yang berada di atas meja kasar di dalam kamarnya.

Semua gerak-geriknya diikuti oleh pandang mata Si Kwi dengan penuh keharuan.

Insyaflah wanita ini bahwa dia memang telah membiarkan anak kandungnya ini terlantar!

Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipinya ketika dia duduk di atas bangku dan melihat keadaan di kamar itu.

Dia telah memperlakukan anaknya sendiri seperti seorang bujang saja!

Hal itu dia terpaksa lakukan agar suaminya dan semua orang tidak akan ada yang menyangka bahwa Sin Liong adalah anak kandungnya.

Sin Liong menoleh.

Melihat ibunya menangis, dia lalu menubruk, menjatuhkan diri berlutut di depan ibunya dan berkata.

"Ibu... aku hanya tahu bahwa ibu merawatku sejak kecil, bahwa aku adalah anak angkat dari ibu... bahwa katanya ibu menemukan aku di antara monyet-monyet itu. Akan tetapi aku tahu, aku melihat perbedaan antara aku dengan mereka, aku tahu bahwa aku bukanlah anak monyet, melainkan anak manusia seperti juga kedua kongcu dan kedua siauw-moi. Hanya ibu yang tahu siapa ayah bundaku yang sesungguhnya..."

"Liong-ji..."

Si Kwi memejamkan mata, membelai kepala anaknya yang rebah di atas pangkuannya itu.

Biarpun anak itu lenyap sejak dilahirkan, biarpun dia tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa anak ini adalah anak yang dilahirkannya di dalam guha itu, namun dia yakin.

Inilah anaknya itu!

Wajah anak ini mengingatkan dia kepada Bun Houw, terutama matanya.

"Angkatlah mukamu anakku, lapangkan dadamu. Engkau bukan anak orang sembarangan saja, Sin Liong. Ayahmu adalah seorang pendekar sakti yang sukar dicari bandingannya di dunia ini."

Sin Liong mengangkat mukanya, memandang kepada wajah wanita yang selama ini dianggap sebagai ibunya itu.

"Ayah saya... siapa namanya, ibu?"

"Namanya adalah... Cia Bun Houw..."

"She Cia?"

Sin Liong yang merasa tegang hatinya itu tidak memperhatikan suara ibunya yang tergetar penuh keharuan ketika menyebut nama itu.

Ibunya mengangguk.

"Engkaupun sesungguhnya she Cia..."

"Dan ibuku...?"

"Ibumu... ibumu... dia sudah meninggal dunia, anakku."

"Ahhh...!"

Sin Liong tertegun, mukanya berubah agak pucat, akan tetapi dia tidak menangis lagi.

Tadipun dia hanya menitikkan beberapa butir air mata yang cepat diusapnya.

Setelah mendengar bahwa ayahnya adalah seorang pendekar sakti yang tiada keduanya atau tiada bandingannya di dunia ini, dia merasa malu untuk menangis!

"Ya, dia sudah meninggal dunia, dia, adalah murid seorang wanita sakti yang berjuluk Hek I Siankouw dan yang sudah meninggal pula..."

"Namanya, ibu? Siapa namanya?"

"Aku tidak tahu. Kelak engkau akan mengetahuinya dari ayahmu... kalau... kalau engkau ada jodoh bertemu dengan dia..."

"Di mana ayah kandungku itu tinggal, ibu?"

Si Kwi menggeleng kepalanya.

"Aku sendiri tidak tahu, anakku. Dia adalah putera dari ketua Cin-ling-pai di Pegunungan Cin-ling-san. Hanya itu saja yang kuketahui. Sudahlah, jangan kau bertanya lagi... mulai sekarang, kau belajarlah ilmu silat yang tekun dan kelak... siapa tahu, engkau akan dapat mencari ayahmu itu."

"Baik, ibu!"

Sin Liong berkata penuh semangat.

Dia lalu bangkit berdiri, memandang kepada Si Kwi dengan sepasang matanya yang lebar.

"Mulai sekarang, selain menjadi ibu angkatku, engkau juga menjadi guruku!"

Dan anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut dan memberi penghormatan dengan jalan menyentuhkan dahinya ke atas lantai di depan kali ibunya.

"Sin Liong..."

Si Kwi merangkulnya penuh keharuan.

Ibu dan anak ini tidak tahu bahwa di dalam keremangan senja, ada orang di luar jendela yang sejak tadi mengintai dan mendengarkan percakapan mereka.

Orang itu adalah Kwan Siong Bu yang memang sejak tadi sudah berada di dekat pondok itu sehingga dia tahu akan kedatangan ibu dan anak itu dan dengan mudah dia dapat mengintai tanpa diketahui oleh Si Kwi yang pandai.

Kalau anak itu banyak bergerak, atau kalau Si Kwi tidak sedang dilanda keharuan, tentu wanita yang lihai ini akan tahu bahwa ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka di luar jendela pondok itu.

Demikianlah, mulai saat itu, Sin Liong belajar silat di bawah asuhan ibunya sendiri.

Dan Si Kwi menegur kedua orang "keponakan"

Dari suamihya itu agar jangan lagi mengejek dan menghina Sin Liong.

Melihat pembelaan dan perlindungan yang diberikan oleh isterinya kepada anak angkat itu, Kui Hok Boan pun hanya mengangkat bahu saja.

Dia tentu saja tidak mau ribut-ribut dengan isteri yang dicintainya itu hanya karena urusan Sin Liong, si anak monyet.

Dengan amat rajin dan tekun sekali Sin Liong mulai mempelajari dasar-dasar ilmu silat dan ternyata memang dia amat berbakat sehingga pclajaran ilmu silat itu dapat dikuasainya dengan lancar sekali.

Hal ini membuat Si Kwi merasa girang.

Akan tetapi, di samping mempelajari ilmu silat dari ibunya, Sin Liong masih tetap melakukan pekerjaannya sehari-hari, tidak pernah dia kelihatan malas.

Anak ini tahu bahwa dia adalah seorang "luar"

Dalam keluarga itu, hanya seorang anak pungut atau anak angkat, maka diapun "tahu diri".

Karena sikapnya ini, biarpun di dalam hatinya Kui Hok Boan merasa tidak senang dengan anak ini, namun dia tidak menemukan alasan untuk memperlihatkan ketidaksenangannya itu dan Sin Liong dapat bekerja seperti biasa.

Setahun telah lewat tanpa terasa.

Pada suatu pagi yang cerah, terdengar suara nyaring dan merdu dari dua orang anak perempuan yang bermain-main di dalam taman indah Istana Lembah Naga.

Mereka adalah Kui Lan dan Kui Lin yang sedang bermain-main di situ.

Tadinya kedua orang anak perempuan kembar ini berlatih silat akan tetapi sebagai anak-anak yang baru berusia sepuluh tahun, mereka lalu merasa bosan dan bermain-main sambil tertawa-tawa.

Mereka berkejar-kejaran, mengumpulkan bunga-bunga, kadang-kadang mengejar kupu-kupu yang beterbangan di antara bunga-bunga yang sedang mekar.

Memang, musim bunga telah tiba dan taman itu penuh dengan bunga-bunga yang beraneka ragam dan warna.

"Ah, bunga di pohon itu indah sekali, Lin Lin,"

Kata Kui Lan sambil menuju ke puncak pohon besar yang tumbuh di tengah-tengah taman.

"Benar,"

Jawab Kui Lin.

"Ibu juga suka memakai kembang ini sebagai hiasan rambut. Nah, itu di sana ada beberapa tangkai yang gugur dari atas."

Kui Lin berlari dan mengambil bunga berwarna merah muda yang rontok, dari atas pohon.

"Ah, aku tidak suka bunga yang sudah gugur, sudah hampir layu dan kotor, Lin Lin. Kalau bisa mendapatkan yang masih segar di atas itu, baru indah!"

"Mana bisa, Lan Lan? Tempatnya begitu tinggi. Ngeri kalau harus memanjat pohon setinggi ini dan cabangnya banyak yang basah pula, licin dan sukar."

"Hei, Lin-moi! Kenapa engkau mulai lagi menyebut namaku begitu saja? Sudah berapa kali ibu mengharuskan engkau menyebut cici kepadaku?"

Kui Lan menegur. Kui Lin cemberut.

"Memangnya berselisih berapa sih usia kita? Tidak ada sehari, hanya beberapa menit!"

"Kau memang bandel! Sudahlah, kita mencari bunga lain saja, aku tidak suka bunga yang layu itu."

Tiba-tiba muncul Sin Liong yang tadi menyapu di pinggir taman.

Jalan menuju ke taman itulah yang harus selalu bersih dan harus disapu setiap pagi karena penuh dengan daun dan bunga gugur.

"Kalian menginginkan bunga merah di atas itu? Biar kuambilkan untuk kalian."

Katanya melihat dua orang anak perempuan itu kecewa karena tidak dapat memperoleh bunga-bunga yang mereka inginkan.

"Kau bisa mengambil bunga itu?"

Kui Lin menudingkan telunjuknya di atas.

"Tentu saja bisa! Dia ahli memanjat pohon! Lekas ambilkan, Sin Liong!"

Kata Kui Lan dengan girang.

"Lan Lan, bukankah ibu sudah memesan agar kita menyebut koko kepadanya?"

Kui Lin menegur kakaknya. Kini Kui Lan yang cemberut dan melotot kepada adiknya.

"Huh, kau sendiri tidak mau menyebut cici kepadaku!"

Sin Liong tersenyum.

"Sudahlah, segala sebut-sebutan itu apa bedanya sih? Lihat, aku akan mengambilkan bunga-bunga yang paling segar untuk kalian. Kuambilkan yang berada di paling puncak!"

Sebelum dua orang anak perempuan itu menjawab, Sin Liong sudah melompat dan bagaikan seekor kera saja, dengan cekatan dan cepat sekali dia sudah memanjat pohon besar itu.

Ketika tiba di atas, dia sengaja berayun-ayun di antara cabang-cabang pohon.

Dua orang anak perempuan kembar yang berada di bawah bertepuk tangan dan berteriak-teriak memuji, kadang-kadang mereka menjerit karena merasa ngeri merryaksikan tubuh Sin Liong berayun-ayun seperti itu.

Hati mereka merasa ngeri.

Semenjak kecil, manusia sudah mengenal pujian-pujian yang tentu saja mula-mula dimulai dengan timang dan puji dari ayah ibunya sendiri, lalu lama-kelamaan sifat suka dipuji ini dibentuk oleh keadaan sekeliling.

Makin besar pertumbuhan anak itu, makin besar pula sifat suka dipuji ini, dan agaknya sifat ini dibawa terus sampai tua dan sampai mati.

Betapa manusia ini selalu haus akan pujian.

Sifat haus akan pujian ini makin memperbesar gambaran kita tentang diri kita sendiri dan hal ini menambah sukar bagi kita untuk memandang dan mengenal diri sendiri seperti apa adanya.

Kita ini kerdil, namun gambaran-gambaran itu membuat kita melihat diri kita besar dan agung!

Kita ini kotor, namun gambaran-gambaran itu membuat kita melihat bayangan kita sebagai yang paling bersih!

Sehingga kekotoran kita sendiri itu tidak pernah nampak oleh kita, dan karena tidak pernah kelihatan maka tentu saja tidak pernah terjadi perubahan yang membersihkan kekotoran itu.

Sin Liong sebagai anak, baru berusia dua belas tahun, tentu saja tidak terlepas dari sifat ini.

Mendengar dua orang anak itu bersorak memuji, dan kadang-kadang menjerit karena merasa ngeri, dia lalu sengaja hendak memamerkan kepandaiannya!

Bagi dia, berayun-ayun dan bermain-main di pohon itu, betapapun tingginya, tiada bedanya dengan bermain-main dan berlarian di atas tanah saja.

Melihat Sin Liong berayun-ayun demikian cepatnya, melepaskan cabang dan meloncat ke cabang lain, memutar-mutar tubuhnya dengan tangan berpegang pada ranting, mengenjot-enjot ranting, dua orang anak perempuan itu bersorak memuji.

Akan tetapi tiba-tiba, pegangan Sin Liong terlepas dan tubuhnya melayang ke bawah!

"Aihhhh...!

Dua orang anak perempuan itu menjerit dengan berbareng.

Akan tetapi, tiba-tiba kaki Sin Liong mengait ranting dan tubuhnya terayun dengan kepala di bawah dan dia tertawa-tawa, lalu berjungkir balik dan telah memanjat naik kembali.

Dua orang anak perempuan itu juga tertawa, akan tetapi muka mereka berubah agak pucat.

Ketangkasan Sin Liong bermain-main di atas pohon itu memang tidak ada bedanya dengan seekor monyet.

Hal ini tentu saja tidak mengherankan kalau ingat bahwa sebelum dia dapat berjalan kaki, Sin Liong sudah pandai berayun-ayun di antara cabang-cabang pohon.

Tak lama kemudian Sin Liong sudah turun dari pohon itu membawa dua tangkai bunga merah segar yang indah.

Dia menggigit tangkai bunga-bunga itu.

Bunga-bunga itu segar dan masih basah oleh embun pagi.

"Engkau hebat, Sin Liong!"

Kata Kui Lin.

"Kembang itu indah sekali untuk hiasan rambut!"

Kata Kui Lan.

"Mari kupasangkan di rambut kalian, seorang satu,"

Kata Sin Liong.

Dua orang anak perempuan itu tertawa-tawa girang dan Sin Liong lalu memasangkan setangkai bunga pada rambut kepala Kui Lan, kemudian setangkai pula di rambut kepala Kui Lin.

Setelah kembang itu berada di atas kepala dua orang anak perempuan kembar ini, Sin Liong memandang mereka dengan kagum.

Cantik sekali mereka itu, cantik dan amat baik kepadanya.

Dan kembang-kembang itu membuat mereka nampak makin mungil.

"Kalian cantik sekali..."

Dia memuji.

"Ah, engkau yang hebat, Sin Liong. Tangkas sekali engkau memanjat pohon tadi, dan aku berani bertaruh bahwa kedua suheng kamipun tidak mungkin bisa memetik kembang ini seperti yang kau lakukan tadi!"

Kui Lan memuji.

"Dan sebagai hadiahnya, maka engkau boleh memasangkan kembang di rambut kami,"

Kui Lin menambahkan.

Mereka tidak tahu bahwa di balik sebatang pohon, Kwan Siong Bu mengintai dan melihat serta mendengar semua itu dengan mata terbelalak, muka merah dan tangan terkepal.

Dia merasa iri hati sekali.

Tadi di mendengar sorak dan jerit kedua orang anak perempuan itu, maka dia menghampiri dan mengintai dari balik pohon.

Kini hatinya menjadi panas oleh iri.

Akan tetapi apa yang dapat dibuatnya?

Untuk memanjat pohon dan bermain-main di atas pohon seperti yang dilakukan Sin Liong tadi, tentu saja dia tidak mampu.

Huh, kau anak monyet, tentu saja pandai memanjat pohon, pikirnya marah.

"Sin Liong, tangkapkan kupu-kupu kuning itu untukku!"

Tiba-tiba Kui Lan berkata sambil menudingkan telunjuknya kepada seekor kupu-kupu berwarna kuning yang gerakannya gesit sekali.

"Ya, untukku seekor, Sin Liong. Tadi kami mencoba-coba menangkapnya selalu gagal,"

Kata pula Kui Lin.

Mendengar ini, tentu saja Sin Liong ingin sekali menyenangkan hati dua anak perempuan itu.

Untuk sementara dia melupakan pekerjaannya menyapu dan dia berkata dengan wajah berseri.

"Baiklah, Lan-moi dan Lin-moi, kalian tunggu saja. Aku akan menangkap dua ekor kupu-kupu kuning untuk kalian!"

Dan diapun sudah berlari mengejar kupu-kupu yang terbang menjauh itu.

Mendengar betapa Sin Liong bermain-main dengan dua orang sumoinya itu, dan menyebut pula moi-moi, hati Siong Bu menjadi makin panas.

Huh, anak monyet, sombong kamu!

Demikian pikirnya.

Kalau selama setahun ini dia hanya menahan-nahan ketidaksenangan hatinya terhadap Sin Liong adalah karena dia takut kepada bibinya yang kini kelihatan melindungi Sin Liong.

Kini melihat Sin Liong pergi mengejar kupu-kupu, Siong Bu cepat mencari akal untuk mengganggunya.

Iri hati selalu menimbulkan benci dan dendam.

Benci dan dendam mendatangkan kecerdikan yang selalu didorong oleh kejahatan untuk mencelakakan orang lain dan menguntungkan diri sendiri.

Oleh karena itu, sepatutnya kalau kita waspada terhadap diri sendiri yang mudah dikuasai oleh iri hati.

Iri hati timbul dari perbandingan.

Kita suka membandingkan keadaan kita dengan orang lain, menganggap orang lain lebih beruntung dari kita, lebih senang dan lebih enak daripada kita, maka timbullah iba diri yang berkawan dengan iri hati.

Dua orang anak perempuan itu sedang tersenyum-senyum dan saling pandang.

Melihat saudaranya demikian cantik memakai kembang di kepala, mereka tahu bahwa merekapun masing-masing seperti saudaranya itulah.

Dan mereka merasa bangga dan girang.

"Wuutt... wuuttt...!"

Dua buah benda menyambar.

"Pratt! Prattt!"

Kui Lan dan Kui Lin menjerit dan cepat memegang kepala.

Bunga-bunga di kepala mereka tadi telah runtuh dan kepala mereka menjadi kotor terkena lumpur!

Entah dari mana datangnya mereka tidak tahu, akan tetapi ada tanah berlumpur yang menyambar bunga mereka sehingga bunga itu runtuh dari atas kepala mereka dan rambut mereka menjadi kotor.

Kui Lan dan Kui Lin adalah dua orang anak manja.

Melihat bunga itu jatuh rusak dan rambut mereka kotor, yang mereka ketahui dari melihat rambut saudara mereka keduanya lalu menangis.

Mendengar jerit itu yang disusul tangis, Sin Liong terkejut.

Kupu-kupu kuning tadi memang lincah sekali, kelihatan terbang rendah akan tetapi beberapa kali ditubruknya selalu gagal dan luput.

Ketika mendengar jerit kedua orang anak perempuan itu dia menoleh dan kagetlah hatinya melihat mereka menangis sambil memegangi kepala.

Cepat dia berlari menghampiri.

Napasnya sampai terengah-engah karena dia terkejut dan berlari cepat sekali.

Ketika melihat betapa bunga itu rontok dari kepala mereka dan rambut mereka kotor terkena lumpur, Sin Liong mengerutkan alis dan memandang ke kanan kiri.

Akan tetapi tidak nampak seorangpun di situ dan dia lalu membersihkan rambut kepala Kui Lan karena anak inilah yang lebih keras tangisnya, sambil menghibur.

"Sudahlah, biar nanti kucarikan lagi."

Sin Liong menggunakan ujung lengan bajunya untuk membersihkan rambut kedua orang anak perempuan itu.

"Heeei Sin Liong, kau berani kurang ajar terhadap dua orang sumoiku? Kau telah menggoda mereka dan mengotorkan rambut mereka, ya?"

Sin Liong terkejut dan menoleh.

Dia melihat Siong Bu tiba-tiba muncul dan selagi dia hendak membantah, Siong Bu telah menerjang dan menyerangnya dengan pukulan ke arah dadanya.

Sin Liong mundur-mundur, akan tetapi dia tidak mampu menghindarkan pukulan itu.

"Bukkk...!"

Dan dia terhuyung ke belakang.

"Heeeiii, aku aku tidak..."

"Pengecut! Beraninya hanya menggoda anak perempuan!"

Siong Bu menerjang lagi, kini mengirim tendangan ke arah perut Sin Liong.

Gaya serangan Siong Bu kini sudah makin berisi, berbeda dengan setahun yang lalu.

Sin Liong meloncat ke belakang mengelak, akan tetapi pemuda kecil yang tampan dan pemarah itu sudah mendesaknya dan mengirim pukulan bertubi-tubi.

Setahun yang lalu, biarpun Sin Liong belum pernah mempelajari ilmu silat, namun dia memiliki ketangkasannya karena hidup secara liar bersama para monyet.

Kini, karena dia sudah mempelajari ilmu silat, maka menghadapi serangan-serangan Siong Bu yang marah tentu saja dia bergerak menurut itu silat yang selama ini dilatihnya di bawah bimbingan ibunya.

Dan justeru hal inilah yang membuat dia menjadi bulan-bulanan serangan Siong Bu.

Siong Bu telah mempelajari ilmu silat sejak kecil, maka dibandingkan dengan Sin Liong yang baru belajar satu tahun itu, tentu saja Siong Bu jauh lebih menang, Maka kalau Sin Liong menghadapinya dengan mengandalkan gerak silat, tentu saja dia kalah jauh dan elakan-elakannya menurut gaya silat yang belum matang itu tidak berhasil menghindarkan dia dari serangan-serangan Siong Bu.

Dengan kepandaian silatnya yang masih mentah, namun yang dipakainya dalam gerakan, Sin Liong bahkan mengurangi kecepatannya sendiri, kehilangan ketangkasannya yang didapatnya secara wajar dan otomatis itu.

Andaikata dia tidak lagi terikat dengan gerak silat, kiranya dia akan dapat bergerak lebih cepat karena bebas, dan dia dapat mengandalkan nalurinya yang amat kuat untuk menghindarkan semua pukulan dan tendangan.

Namun, dia menangkis dan mengelak dengan gerak silat yang masih mentah sehingga berkali-kali dia terkena hantaman dan tendangan Siong Bu.

Beberapa kali dia terpelanting dan ter-banting roboh!

"Heii, suheng!

Sin Liong!

Jangan berkelahi...!"

Beng Sin datang berlari-lari ke tempat itu dan mencoba untuk melerai.

Akan tetapi hampir saja dia terkena sambaran tendangan kaki Siong Bu.

"Sudah... sudah... kenapa berkelahi?"

Beng Sin berseru lagi akan tetapi kini dia hanya berdiri dengan khawatir.

Akan tetapi, Sin Liong adalah seorang anak yang keras hati.

Biarpun hidungnya sudah mengeluarkan darah dan mukanya benjol-benjol membiru, pakaiannya koyak-koyak dan tubuhnya babak belur, dia masih terus melawan dan sekali dua kali ada juga pukulannya yang mengenai tubuh Siong Bu.

Akan tetapi, kembali dia terjengkang oleh tendangan kaki Siong Bu yang mengenai dadanya.

"Desss...!"

Sin Liong terjengkang dan terbanting keras.

"Sudah... sudah, jangan berkelahi...!"

Kui Lin berseru.

"Kwan-suheng, sudah jangan memukul dia lagi!"

Kui Lan juga berteriak.

Akan tetapi Siong Bu bukan hanya marah, akan tetapi juga ingin memamerkan kepandaiahnya di depan kedua orang sumoinya, untuk menonjolkan kelebihannya dari Sin Liong agar harga dirinya naik dalam pandangan dua orang sumoinya itu, juga untuk merendahkan Sin Liong di depan mereka.

"Hayo kau minta ampun, baru aku mau sudah!"

Bentak Siong Bu kepada Sin Liong yang sudah babak belur itu.

Akan tetapi, bagi anak ini, dia lebih baik dipukul mati daripada harus minta ampun kepada Siong Bu, minta ampun tanpa bersalah.

Maka dia sudah merangkak bangun lagi dan dengan gerengan di dalam kerongkongannya, dia menubruk ke depan.

Begitu terdengar gerengan ini, Sin Liong menyerang dengan ganas dan liar, tidak lagi menggunakan gerak silat.

Dia sudah lupa akan silatnya, kini berubah menjadi seekor monyet marah, matanya mendelik dan mulutnya menyeringai, tubrukannya dahsyat sekali.

"Plak! Dukk!"

Tendangan dan pukulan Siong Bu memapaki tubuhnya, akan tetapi kini Sin Liong seperti tidak mengenal rasa sakit lagi dan masih dia menubruk dan mencengkeram.

Rambut kepala Siong Bu dijambak dan ditarik sekuatnya sehingga anak itu menjerit dan berusaha melepaskan jambakan.

Namun, Sin Liong tetap mencengkeram rambut itu seperti seorang yang hanyut di sungai berpegang kepada ranting pohon penyelamat.

Siong Bu kesakitan dan berteriak-teriak, kakinya menendang-nendang dan ketika lutut Sin Liong tertendang, dia terguling, akan tetapi karena jari-jari tangannya masih mencengkeram rambut Siong Bus anak inipun terbawa pula terguling bersamanya.

Mereka kini bergulat dan bergulingan di atas tanah.

Tiba-tiba terdengar bentakan.

"Lepas...!"

Mendengar suara ibunya, Sin Liong terkejut sekali dan melepaskan cengkeramannya.

Juga Siong Bu melepaskan cekikannya dan kedua orang anak itu bangkit berdiri.

Pakaian mereka penuh debu dan mereka berdiri dengan muka tunduk karena takut.

Akan tetapi Sin Liong segera mengangkat mukanya dan memandang kepada ibunya.

Si Kwi terkejut bukan main melihat muka anaknya itu benjol-benjol biru dan berdarah di bibir dan hidungnya.

Jelas bahwa Sin Liong telah dihajar oleh Siong Bu karena pada muka anak ini tidak ada bekas pukulan Sin Liong.

Si Kwi adalah seorang wanita yang keras hati dan dia tidak mudah dipengaruhi oleh perasaan.

Biarpun hatinya marah melihat muka anaknya seperti itu, namun dia tidak menuruti hatinya dan ingin tahu apa yang terjadi sebelum dia menyalahkan.

"Sin Liong, mengapa kau berkelahi dengan Siong Bu?"

Sin Liong menentang pandang mata ibunya.

Sepasang matanya tajam menusuk dan diam-diam Si Kwi bergidik.

Mata anak ini serupa benar dengan mata Cia Bun How, akan tetapi kalau dalam pandang mata Cia Bun Houw selain ketajaman luar biasa juga terkandung kelembutan, sebaliknya ketajaman pandang mata anak ini bercampur dengan sinar liar dan ganas!

Dan anak itu sama sekali tidak menjawab, sebaliknya kini malah menunduk.

Si Kwi tahu akan watak aneh dari anaknya ini, maka dia menoleh kepada Siong Bu dan bertanya.

"Siong Bu, hayo cepat katakan apa yang terjadi! Kenapa engkau memukuli Sin Liong?"

Siong Bu yang sejak tadi menunduk, kini mengangkat mukanya dan sambil menoleh ke arah Sin Liong dengan pandang mata marah, dia berkata.

"Dia menggoda Lan-sumoi dan Lin-sumoi, mengotori rambut mereka dan membuat mereka menangis, maka saya lalu menghajarnya, bibi."

Si Kwi menoleh kepada Sin Liong yang masih berdiri dengan muka tunduk.

"Sin Liong, benarkah engkau menggoda Lan Lan dan Lin Lin?"

Tanyanya dengan alis berkerut.

Sin Liong mengangkat mukanya, memandang ibunya sejenak, lalu menunduk lagi tanpa menjawab!

Si Kwi maklum bahwa kalau sudah begitu, diapakanpun juga, Sin Liong tidak akan mau menjawab.

Dia menoleh kepada Beng Sin yang gemuk dan yang sejak tadi berdiri agak jauh tanpa berani ikut bicara.

Melihat bibinya memandang kepadanya, dia tersenyum ramah akan tetapi tidak berkata apa-apa.

Si Kwi tidak mau bertanya kepada Beng Sin, karena dia tahu bahwa Beng Sin tidak ikut-ikut dalam hal ini.

Yang paling tepat adalah menanyai anak-anaknya sendiri.

"Lan Lan dan Lin Lin, benarkah Sin Liong menggoda kalian dan mengotori rambut-rambut kalian?"

"Tidak, ibu. Sama sekali tidak!"

Kui Lin berkata.

"Hemm, kalau begitu mengapa mereka berkelahi?"

Si Kwi mendesak. Kui Lan yang kini menjawab karena Kui Lin memang tidak begitu pandai bicara.

"Sesungguhnya Sin Liong tidak menggoda kami, ibu. Sin Liong malah mencarikan bunga dan bermain-main dengan kami. Tahu-tahu Kwan-suheng datang dan menuduh Sin Liong menggoda kami lalu memukulnya."

Si Kwi menoleh dan memandang kepada Siong Bu dengan alis berkerut.

Melihat ini Siong Bu cepat berkata.

"Saya... saya melihat kedua sumoi menangis, maka tentu mengira Sin Liong menggoda mereka dan..."

"Kenapa kalian menangis?"

Si Kwi memotong dan memandang kepada dua orang anaknya.

"Kembang kami jatuh..."

Kui Lin berkata.

"Entah kenapa, ibu, kembang pemberian Sin Liong terjatuh dari rambut kami dan rambut kami menjadi kotor terkena tanah lumpur. Kami menangis, Sin Liong menghibur kami dan tahu-tahu Kwan-suheng muncul dan memukuli Sin Liong,"

Kata Kui Lan.

Si Kwi kini memandang Siong Bu dengan mata marah.

Dia dapat menduga apa yang terjadi dan dia lalu melangkah maju mendekati Siong Bu.

Tangannya bergerak ke depan menyambar ke arah muka anak itu.

"Plak! Plakk!"

Dua kali kedua pipi Siong Bu ditampar oleh nyonya itu, Siong Bu terpelanting, lalu berlari sambil menangis dan memegangi kedua pipinya.

Hemm, dia tentu akan mengadu kepada pamannya, pikir Si Kwi.

Lalu dia menegur Sin Liong dengan suara halus.

"Liong-ji, kenapa engkau mencari gara-gara? Kalau ada orang menyerangmu, mengapa engkau tidak pergi saja mencariku dan aku yang turun tangan. Mengapa engkau melawan sendiri sedangkan kepandaianmu masih amat rendah? Engkau mencari penyakit."

Akan tetapi Sin Liong tidak menjawab, bahkan lalu pergi meninggalkan ibunya untuk melanjutkan pekerjaannya menyapu lorong di taman itu.

Si Kwi menarik napas panjang, tidak berani dia memperlihatkan kasih sayangnya secara terbuka kepada Sin Liong, maka diapun lalu menggandeng tangan kedua orang anak perempuan itu dan mengajaknya kembali ke dalam rumah.

Dugaan Si Kwi memang ternyata terbukti benar.

Siong Bu yang merasa betapa pamannya amat menyayang dan memanjakannya, dan yang tahu pula bahwa pamannya itu tidak suka kepada anak angkat bibinya, sambil menangis lalu mengadu kepada pamannya bahwa dia ditampari oleh bibinya karena bibinya membantu Sin Liong.

Melihat kedua pipi keponakan yang sebenarnya adalah anaknya sendiri itu bengkak dan merah, marahlah Hok Boan.

Apalagi ketika mendengar pengaduan Siong Bu bahwa perkelahian antara anak itu dengan Sin Liong disebabkan karena Sin Liong dianggap menggoda dua orang anak perempuannya.

"Anak monyet itu memang tak tahu diri!"

Bentaknya dan cepat dia menemui Si Kwi dengan muka merah dan mata mengandung kemarahan besar.

"Niocu, perbuatanmu sekali ini sungguh tidak menyenangkan hatiku!"

Hok Boan berkata kepada isterinya yang sedang mencuci rambut kedua anaknya yang kotor terkena lumpur itu.

Si Kwi tahu bahwa suaminya marah dan tentu sudah terkena pengaduan Siong Bu, akan tetapi melihat betapa dalam kemarahannya Hok Boan masih bersikap halus kepadanya, diapun hanya memandang dan berkata dengan halus pula.

"Kui-long (kakanda), apakah aku sebagai isterimu tidak boleh mengajar keponakanmu?"

Hok Boan amat mencintai isterinya ini, maka biarpun marah, dia tidak dapat bersikap kasar.

Kini, ditanya seperti itu, pertanyaan yang mengandung teguran, dia menjadi gugup, lalu menarik napas panjang dan berkata.

"Tentu saja engkau berhak dan boleh sekali mengajarnya karena keponakanku adalah keponakanmu pula. Bukan pengajaranmu itu yang tidak menyenangkan hatiku, niocu. Biar engkau mengajar Siong Bu lebih keras lagi, aku tidak akan merasa menyesal bahkan bersyukur bahwa engkau sebagai isteriku ikut memperhatikan pendidikan untuk keponakanku. Akan tetapi kalau engkau mengajarnya sebagai pembelaan terhadap anak monyet itu, sungguh hal ini amat tidak tepat!"

"Kui-long, aku sama sekali bukan hanya membela Sin Liong. Kalau Sin Liong melakukan hal yang tidak patut, tentu dia akan kuajar pula. Akan tetapi aku melihat Sin Liong dipukuli oleh Siong Bu tanpa salah. Suamiku, ingatlah bahwa kita mendidik anak-anak bukan untuk menjadi tukang pukul dan menjadi orang yang berhati kejam! Engkau tahu bahwa baru saja aku mengajar silat kepada Sin Liong dan dia tentu saja tidak akan mampu membela diri terhadap Siong Bu. Kalau dia tidak diserang, mana dia berani terhadap Siong Bu? Urusan ini adalah urusan anak-anak, dan kita sebagai orang tua wajib mendidik mereka, kalau perlu menghajar mereka yang menyeleweng. Kalau kini engkau membela Siong Bu, bukankah terdapat bahaya bahwa kita seolah-olah membela murid masing-masing?"

Diam-diam Hok Boan terkejut. Benar juga, pikirnya.

"Tia (ayah), Sin Liong tidak bersalah apa-apa dan suheng salah sangka, lalu datang-datang memukulnya. Suheng mengira Sin Liong menggoda kami berdua, padahal tidak sama sekali."

Kui Lan berkata, membela Sin Liong dan membela ibunya.

Mendengar ini, Hok Boan makin tidak mampu berkata apa-apa.

Dia sendiripun tahu bahwa puteranya itu Siong Bu, memang berwatak keras.

Dia menarik napas panjang lalu berkata kepada isterinya.

"Maafkan aku, niocu. Aku tidak menyalahkan engkau karena memberi hajaran kepada keponakan kita itu. Aku hanya khawatir bahwa melihat engkau menampari di depan anak monyet itu, hal ini akan membuat dia besar kepala dan makin liar. Ingat, sejak kecil dia itu sudah terpengaruh oleh keliaran binatang buas, maka kalau dia merasa dimanja, bukan maksudku mengatakan kau memanjakannya, akan tetapi kalau dia merasa dimanja, dia bisa menjadi makir liar. Dia harus dididik secara keras seperti mendidik seekor monyet liar agar dia menjadi jinak sehingga kelak tidak akan mencemarkan nama baik kita sebagai orang tua angkatnya."

Mendengar ini, Si Kwi mengangguk dan dia membenarkan pendapat suaminya.

Dia mencinta Sin Liong yang diketahuinya adalah puteranya sendiri.

Akan tetapi tentu saja dia lebih mencinta sauaminya ini.

Suami yang sah, sedangkan Sin Liong bukanlah anaknya yang sah.

"Engkau memang benar, biar aku akan memperkeras pengawasanku terhadap Sin Liong."

"Hemm, kurasa sebaiknya sekarang aku memberi hukuman kepadanya agar dia tahu bahwa lain kali dia tidak boleh berkelahi dengan orang."

Setelah berkata demikian, Hok Boan pergi mencari Sin Liong yang biasanya pada waktu itu tentu masih bekerja di belakang memberi makan kuda.

Akan tetapi ketika Hok Boan tiba di kandang kuda, anak itu tidak berada di situ.

Hanya kuda yang makan makanan kuda dari bak yang nampak di dalam kandang.

"Sin Liong...!"

Hok Boan memanggil dengan suara marah.

Tidak ada jawaban.

Hok Boan sudah membawa sebatang ranting yang dipersiapkan untuk menghajar Sin Liong.

Hatinya menjadi makin marah ketika dia tidak melihat anak itu dan tidak mendengar jawabannya, maka dia lalu meninggalkan kandang kuda dan mencari ke tepi hutan di belakang kandang kuda itu.

"Sin Liong...!"

Suaranya memanggil-manggil menggema di dalam hutan.

Sementara itu, setelah mengadu kepada pamannya tentang dia ditampar oleh bibinya dan tentang Sin Liong, diam-diam Kwan Siong Bu menjadi takut sendiri.

Dia tahu bahwa sesungguhnya dia yang lebih dulu memukuli Sin Liong karena hatinya panas melihat anak yang dianggapnya anak monyet itu bermain-main demikian akrabnya dengan Kui Lan dan Kui Lin.

Biarpun dia disayang oleh pamannya, akan tetapi bibinya agaknya lebih menyayang Sin Liong, dan kalau pamannya mendengar akan semua yang terjadi, mungkin dia malah yang akan mendapat kemarahan pamannya itu.

Oleh karena itu, setelah melapor sambil menangis di depan pamannya dan melihat pamannya pergi dengan marah, Siong Bu lalu pergi pula meninggalkan rumah dan masuk ke dalam hutan.

Dia memasuki hutan besar itu dan duduk di bawah pohon besar, tersembunyi di balik semak-semak belukar.

Memang dia bermaksud untuk bersembunyi dan baru akan pulang kalau keadaan rumah sudah mereda, kalau paman dan bibinya tidak marah-marah lagi.

Kalau dia teringat kepada Sin Liong hatinya menjadi makin panas.

Terbayang dalam ingatannya ketika Sin Liong menangis dengan kepala di atas pangkuan bibinya, dibelai oleh bibinya.

Hal itulah yang sesungguhnya menimbulkan iri di dalam hati anak ini.

Dia sendiri tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.

Sejak kecil dia dibawa dengan paksa oleh pamannya ke Istana Lembah Naga.

Melihat Sin Liong yang dikenalnya hanya sebagai seorang anak angkat, tidak ada hubungan darah daging sama sekali dengan paman dan bibinya, Bahkan anak yang kabarnya ditemukan dari sekumpulan monyet, demikian disayang oleh bibinya, tentu saja dia merasa iri hati dan perasaan ini menimbulkan kebencian di dalam hatinya.

Kedua pipinya masih terasa panas dan nyeri.

Gara-gara anak monyet itu, pikirnya sambil mengusap kedua pipinya.

Bibinya telah menamparnya demi membela anak monyet itu!

Hatinya merasa penasaran dan sakit sehingga dua tetes air mata kembali menuruni pipinya.

Siong Bu merebahkan diri di atas rumput, berbantal lengan dan sebentar saja diapun tertidurlah.

Dia terkejut dan bangun mendengar suara-suara tak jauh dari situ.

Dengan heran Siong Bu bangkit duduk dan ketika mendengar suara orang bercakap-cakao, dia cepat merangkak dan mengintai dari balik semak-semak.

Jantungnya berdebar keras karena dia mendengar suara wanita, mengira bahwa bibinya yang datang mencarinya.

Akan tetapi setelah dia sadar benar, dia mendapat kenyataan bahwa suara itu bukanlah suara bibinya.

Timbul keberaniannya dan dia mengintai.

Ternyata wanita itu adalah seorang wanita yang berpakaian amat indah, usianya sepantar dengan bibinya akan tetapi wanita ini cantik sekali, cantik dan pakaiannya mewah.

Rambutnya digelung malang melintang dan membelit-belit seperti beberapa ekor ular saling belit dan rambut itu dihias dengan hiasan rambut yang gemerlapan.

Lengan kirinya memakai gelang emas kecil-kecil yang banyak sehingga setiap kali dia menggerakkan tangan kiri, terdengar suara gemerincing nyaring.

Wajah itu cantik dan manis, akan tetapi dingin sekali dan kelihatan angkuh sehingga menakutkan hati Siong Bu.

Siong Bu kini mengalihkan perhatiannya, memandang orang ke dua yang berdiri berhadapan dengan wanita itu.

Orang ini adalah seorang pemuda kecil, usianya kurang lebih empat belas tahun, akan tetapi perawakannya tinggi tegap, setinggi orang dewasa.

Seperti juga wanita itu, pemuda ini memakai pakaian yang amat mewah, topinya terhias mainan seekor naga dengan mata mutiara indah.

Wajahnya tampan dan gerak-geriknya halus, mulutnya selalu tersenyum.

Siong Bu merasa terheran-heran.

Memang banyak sudah orang tinggal di sekitar Lembah Naga, akan tetapi mereka itu semua adalah orang-orang dusun yang miskin dan berpakaian sederhana.

Dari mana datangnya dua orang yang berpakaian seperti bangsawan-bangsawan tinggi itu?

Dia mendengarkan percakapan mereka dengan penuh perhatian tanpa berani bergerak.

"Suci, kenapa kita harus meninggalkan kereta dan pengawal?"

Anak laki-laki itu bertanya kepada wanita yang disebutnya kakak seperguruan itu.

"Sute, di dunia kang-ouw, hal yang paling terpandang adalah keberanian dan kegagahan. Kalau kita datang bersama banyak pengawal, tentu orang akan mengira bahwa kita hanya mengandalkan kekuatan pasukan pengawal dan hal itu berarti mencemarkan nama sucimu ini."

Mendengar ucapan itu, Siong Bu terheran dan kini dia memandang wanita itu dengan makin penuh perhatian.

Tadi dia tidak berani memandang terlalu lama karena wajah wanita yang dingin dan angkuh itu menakutkan hatinya.

Baru sekarang dia melihat bahwa wanita yang cantik dan berpakaian indah itu ternyata membawa sebatang pedang yang tergantung di punggungnya.

Selain pedang ini, juga nampak sebuah kayu salib tergantung di punggung itu, kayu salib yang jelas kelihatan ada tulisan tiga huruf besar, yaitu CIA, YAP dan TIO.

"Suci, banyakkah jagoan-jagoan di dunia kang-ouw?"

Wanita itu menarik napas panjang.

"Banyak? Sampai tidak terhitung, sute. Dan masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri. Di dunia ini penuh orang pandai, oleh karena itu, dalam melakukan perjalanan ke kota raja di selatan nanti bersama sucimu, engkau harus berhati-hati dan selalu menurut bimbingan sucimu, jangan bertindak ceroboh, sute."

"Akan tetapi kenapa kita harus berhenti dulu di Lembah Naga, suci? Bukankah itu membuang-buang waktu belaka?"

Anak laki-laki itu mencela.

"Ayahmu Sri Baginda yang mengutus aku ke sini, sute. Selain itu, juga ada beberapa urusan pribadi yang harus kuselesaikan. Beberapa orang musuh menantang sucimu untuk mengadakan pertemuan di tempat ini."

"Apakah mereka lihai, suci?"

"Ah, tidak berapa lihai, hanya beberapa orang yang datang hendak mengantar nyawa saja."

"Suci, biarkan aku menghadapi mereka!"

"Bagaimana nanti sajalah..."

Pada saat itut terdengar bentakan nyaring.

"Kim Hong Liu-nio, perempuan sombong! Kami datang menagih nyawa saudara-saudara kami!"

Dan bermunculanlah lima orang laki-laki dari balik pohonpohon.

Namun wanita cantik itu hanya tersenyum mengejek, sedangkan anak laki-laki itupun memandang dengan wajah gembira dan dia tersenyum lebar.

"Suci, kenapa baru sekarang mereka muncul? Bukankah sejak tadi mereka itu bersembunyi di balik pohon-pohon itu?"

Siong Bu terkejut.

Kiranya anak laki-laki itu sudah tahu akan kedatangan lima orang ini!

Jangan-jangan suci dan sute itupun sudah tahu akan tempat dia bersembunyi!

Siong Bu makin ketakutan dan dia mengintai terus dengan hati penuh ketegangan.

Dia melihat bahwa lima orang yang baru datang itu kelihatan gagah dan kuat, dikepalai oleh seorang laki-laki berusia enam puluh lima tahun lebih yang bertubuh pendek besar dan di pinggangnya tergantung sebatang golok besar.

Orang ini pakaiannya serba hitam, dengan sabuk dan kain kepala berwarna kuning.

Empat orang lainnya agak lebih muda, antara empat puluh tahun usia mereka dan sikap mereka juga gagah, dengan memegang bermacam senjata, sikap mereka penuh ancaman dan kemarahan.

Kim Hong Liu-nio, wanita cantik itu, menghadapi mereka dengan sikap memandang rendah, lalu dia mengangkat muka memandang kakek pendek besar itu, bertanya dengan sikap tak acuh.

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 5

Baca Juga: Suling Naga 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert