Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Bangau Putih 5

Eps 5 Kisah Si Bangau Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Si Bangau Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Si Bangau Putih - Kho Ping Hoo.

Ia menahan jeritnya, bangkit duduk dan menarik selimut menutupi tubuhnya, rambutnya terurai lepas menutupi kulit pundak dan dada yang mulus, matanya terbelalak memandang kepada Siangkoan Liong.

Oleh jerit ditahan dan gerakan gadis itu, Siangkoan Liong juga terbangun.

Dia memandang dan tersenyum, lalu bangkit duduk juga.

Dadanya yang bidang nampak berkeringat dan biarpun rambutnya kusut dan dia baru bangun tidur, tetap saja dia merupakan seorang pria yang jantan dan menarik.

"Selamat pagi, Hwa-moi, kekasihku!"

Katanya dan tangannya meraih, hendak merangkul dan mencium. Akan tetapi Ci Hwa menggeser pinggulnya, menjauh dan matanya terbelalak.

"Kongcu....! Engkau....kita....?"

Bisiknya, seolah-olah baru melihat kenyataan yang sungguh teramat mengejutkan hatinya.

Melihat ini, Siangkoan Kongcu tidak menjadi gugup, bahkan sambil tersenyum dia menyentuh lengan gadis itu.

Begitu merasa lengannya disentuh tangan pria, Ci Hwa merasa bulu tengkuknya meremang dan ia cepat menarik lengannya dan menjauh.

"Tenanglah, Hwa-moi, tenanglah kekasihku. Lupakah engkau? Kita memang telah berkasih-kasihan, kita telah tidur di sini sejak kemarin siang dan kita....kita telah saling mencurahkan kasih sayang. Engkau memang seorang wanita hebat....!"

"Tidak! Oohhh....tidak....!"

Ci Hwa menutupi mukanya dengan kedua tangan dan dari celah-celah antara jari-jari tangannya mengalir air mata.

"Ci Hwa, tenangkan dirimu. Kita memang telah melakukan hubungan, dengan suka rela, karena saling menyayang, saling menyukai. Apa salahnya itu? Dan aku merasa ber-bahagia sekali."

"Tidak....! Engkau....engkau tentu telah menjebakku...."

"Hwa-moi, apakah engkau mimpi? Lihat ini dadaku, leherku, masih merah-merah bekas gigitanmu. Gigitan manja! Ingat, Hwa-moi, aku tidak memaksamu dan engkau tidak memaksaku. Kita melakukan dengan suka rela, karena saling mencinta. Beberapa kali engkau membisikkan kata cinta kepadaku, kenapa sekarang tiba-tiba engkau menangis dan menyesal dan menuduh yang bukan-bukan?"

Ci Hwa menurunkan kedua tangannya.

Air matanya masih mengalir turun dan matanya basah.

Sejenak ia memandang wajah pemuda itu melalui air matanya dan ia pun teringatlah semuanya.

Ia merasa malu sekali, akan tetapi segalanya telah terjadi.

"Aku....aku agaknya sudah gila,"

Ratapnya.

"Aku....tergila-gila kepadamu, Kongcu. Akan tetapi, apakah engkau cinta padaku?"

Siangkoan Liong merangkul dan mencium bibir itu dengan mesra dan Ci Hwa hanya setengah meronta saja.

"Cinta padamu? Kalau tidak cinta padamu, untuk apa aku melakukan ini? Aku bukan pria yang kegilaan perempuan! Aku tentu saja cinta padamu, Hwa-moi."

Sinar terang memenuhi batin Ci Hwa dan ia pun balas merangkul.

"Aih, Kongcu, terima kasih. Kalau begitu, sekarang juga, hari ini juga, engkau harus ikut bersamaku ke Ban-goan."

"Ehhh?"

Siangkoan Kongcu mengerutkan alisnya dan memandang heran.

"Ikut denganmu ke Ban-goan?"

Tanyanya ragu.

"Mau apa?"

Ci Hwa yang terbelalak.

"Mau apa lagi? Bukankah engkau sudah menggauli diriku, bukankah aku telah menyerahkan diriku kepadamu dan kita seperti sudah menjadi suami isteri? Tentu saja untuk menghadap ayahku dan untuk melamarku menjadi isterimu. Apa lagi!"

"Ah, ini tidak mungkin!"

Seketika pucat wajah Ci Hwa.

Kemudian mukanya merah sekali dan ia pun menyambar pakaiannya dan mengenakan pakaianya sejadinya.

Hal ini diturut pula oleh Siangkoan Kongcu dan kini mereka berdiri di kamar itu, berdiri saling berhadapan.

"Siangkoan Kongcu, setelah apa yang kau lakukan semalam...."

"Engkau juga, bukan aku sendiri!"

"Benar, setelah apa yang kita lakukan bersama semalam, apakah engkau masih berani mengatakan bahwa engkau tidak akan melamarku dan mengambil aku sebagai isterimu?"

Pemuda itu memandang tajam, lalu menarik napas panjang. Dalam keadaan seolah-olah dia terdesak itu, dia masih bersikap tenang dan halus.

"Kwee Ci Hwa, dengarlah baik-baik. Engkau datang ke sini tanpa diundang. Aku menyambutmu dengan baik, bahkan untuk keselamatanmu dan harga dirimu, aku telah membunuh dua orang anggauta perkumpulan kami. Kemudian kita saling mencinta, dan saling menumpahkan perasaan cinta dan kasih sayang, tanpa paksaan dan dengan suka rela. Akan tetapi sekarang engkau menuntut aku agar mengambil engkau sebagai isteri!"

"Bukankah itu sudah pantasnya dan seharusnya?"

Ci Hwa membantah dengan suara mendesak. Siangkoan Liong menggeleng kepala.

"Tidak ada paksaan dalam hubungan kita. Engkau tahu bahwa aku seorang pangeran, seorang keturunan bangsawan dan tidak mudah mengikatkan diri menikah begitu saja. Kita saling suka, dan aku pun cinta padamu. Mengapa kita tidak tetap seperti sekarang saling mencinta dan melakukan hubungan setiap kali kita inginkan? Apa perlunya ikatan pernikahan? Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu itu, Ci Hwa."

Wajah gadis itu berubah pucat, matanya terbelalak dan kembali air mata bercucuran keluar.

"Kongcu, setelah apa yang kau lakukan setelah engkau meniduriku, merenggut keperawananku....ah, bagimu sebagai pria memang mungkin tidak apa-apa, akan tetapi aku seorang wanita! Seorang wanita, seorang gadis! Tahukah engkau akibatnya? Aku akan dikejar aib, namaku akan rusak dan hina, lebih hebat daripada kematian!"

Siangkoan Liong menggeleng kepala dan tersenyum.

"Bodoh kau! Tetap saja menjadi kekasihku seperti sekarang, dan aku akan melindungimu."

"Tidak! Engkau harus melamarku, harus mengambilku sebagai isterimu, kalau tidak...."

"Hemmm, kalau tidak mengapa?"

Siangkoan Liong kini bertanya dengan alis berkerut dan pandang matanya mencorong marah.

"Kalau tidak, engkau atau aku harus mati!"

Dan tiba-tiba Ci Hwa yang sudah merasa putus asa itu lalu menyerang dengan hebatnya, menghantam ke arah dada pria yang pernah membahagiakannya selama sehari semalam itu.

Serangannya dilakukan dengan sepenuh tenaga karena kini, perasaan cintanya sudah berubah seketika menjadi kebencian yang bernyala-nyala.

Kini baru terbuka matanya orang macam apa adanya pemuda yang tampan, halus dan perkasa itu.

Ia telah terjebak dan tahulah ia bahwa semua sikap baik, kehalusan, bahkan pertolongan itu, ditambah dengan makan minum dan terutama sekali minuman anggur merah itu, hanya merupakan perangkap saja untuknya.

Ia telah terperangkap, telah menjadi korban.

Pemuda ini sama sekali tidak mencintanya, tidak menginginkannya menjadi isteri, melainkan mempermainkannya saja!

Oleh karena kesadaran ini, ia pun menyerang dengan sekuatnya, serangan dahsyat walaupun tubuhnya masih terasa lemas karena malam tadi menghabiskan tenaga dan kurang tidur.

Akan tetapi, tingkat kepandaian Siangkoan Liong jauh lebih tinggi dibandingkan Ci Hwa, maka serangan itu dengan mudah dihadapinya dan begitu pemuda itu menggerakkan kedua tangannya, bukan dia yang terserang, bahkan Ci Hwa sudah dapat ditangkap dan ditelikungnya.

Kedua lengan gadis itu dipuntir ke belakang, dipegang dengan satu tangan dan tangan lain merangkul, Ci Hwa hendak meronta, namun sekali jari tangan pemuda itu menekan, tubuh Ci Hwa menjadi lemas dan ia pun terkulai dalanm pelukannya tanpa dapat melawan lagi kecuali menangis.

"Sayang, jangan menangis. Bukankah kita saling mencinta? Ingatlah betapa mesra dan bahagianya kita semalam, dan aku masih saja rindu padamu, belum juga puas aku minum madu darimu."

Siangkoan Liong memondongnya dan membawanya kembali ke pembaringan.

Ci Hwa menangis.

Menangis dalam batin.

Kini, biarpun dibelai dan dihujani pernyataan dan pencurahan cinta kasih yang mesra, sama sekali ia tidak merasa senang.

Sebaliknya ia merasa tersiksa tanpa mampu menolak, tanpa mampu meronta.

Ia merasa diperkosa, dihina sampai sehebat-hebatnya oleh pria yang kini amat dibencinya itu.

Seperti bumi dan langit bedanya dengan hubungan antara mereka mulai kemarin siang sampai semalam, begitu penuh dengan kemesraan dan perasaan cinta kedua pihak.

Kini ia merasa diperkosa dan ditekan, dihancurkan dipatah-patahkan.

Hubungan sex antara pria dan wanita sesungguhnya merupakan hubungan puncak kemesraan yang indah dan suci apabila dilakukan oleh kedua pihak karena dorongan cinta kasih.

Hubungan sex merupakan puncak kemesraan pernyataan sayang, saling mengisi, Saling membahagiakan melalui perasaan yang paling halus dan paling dalam, di mana masing-masing sudah bebas dari keakuan masing-masing, melebur menjadi satu dan tidaklah mengherankan kalau saat yang amat suci dan indah itu menjadi sarana penciptaan seorang manusia baru!

Sex adalah suatu hubungan antara dua jenis mahluk berlawanan kelamin yang indah, suci dan nikmat.

Akan tetapi, betapa kenikmatan itu selalu berubah menjadi kesenangan!

Kenikmatan adalah suatu pengalaman perasaan pada saat itu, detik itu, dan kalau sudah disimpan di dalam ingatan, dijadikan kenangan, lalu diharapkan dan dikejar sebagai suatu kesenangan!

Alangkah jauh bedanya antara kenikmatan dan kesenangan!

Kenikmatan datang seketika, pada saat itu, tanpa adanya aku yang mengecamnya, tanpa adanya aku yang mencatatnya.

Sebaliknya, kesenangan adalah suatu bayangan yang digambarkan oleh si aku yang selalu mengejar-ngejarnya.

Kalau sudah begini, maka terjadilah penyelewengan yang timbul dari pengejaran itu!

Cinta kasih bukanlah sex semata, walaupun sex merupakan sebagian dari cinta kasih, merupakan kembangnya yang indah.

Kalau sex sudah menjadi alat bersenang diri, dikejar, maka ia berubah menjadi nafsu yang akan membakar diri lahir batin.

Sex merupakan suatu hubungan yang suci di mana terdapat cinta kasih.

Tanpa cinta kasih, sex hanya merupakan suatu permainan untuk memuaskan nafsu yang tak kunjung padam, tak kunjung habis, dan nafsu ini kalau dituruti akhirnya akan membakar diri sampai hangus!

Bagi seorang wanita yang lebih halus perasaan ketimbang pria, sikap cinta kasih jauh lebih berkesan di dalam hati sanubarinya daripada sekedar hubungan sex yang baik saja.

Pada umumnya, wanita mendambakan kasih sayang dalam sikap, pandang mata, tutur kata, dan perbuatan yang pada puncaknya akan menuju kepada hubungan sex.

Sebaliknya, pria kurang peka terhadap sikap ini, dan biasanya, pria lebih condong minta bukti melalui hubungan sex dan kepatuhan, dan kesetiaan.

Dapat dibayangkan betapa hancurnya hati Ci Hwa ketika ia digelut oleh Siangkoan Liong pada pagi hari itu.

Ia merasa malu, terhina, tersiksa namun tidak berdaya walaupun pemuda itu berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan tubuhnya.

Hanya air matanya saja yang menjadi saksi kehancuran hatinya.

Bercucuran membasahi bantal.

Setelah merasa puas, Siangkoan Liong membebaskan totokan pada tubuh Ci Hwa.

Gadis itu terisak dan mengenakan pakaiannya, kepalanya pening dan ia tidak tahu harus berbuat atau berkata apa.

"Kwee Ci Hwa, engkau seorang gadis yang tidak tahu diri dan tidak mengenal budi. Gadis-gadis lain akan saling berebutan agar dapat tidur dengan aku. Aku bukan hanya tidur bersamamu, bahkan aku telah menyelamatkanmu, aku suka dan cinta padamu, akan tetapi engkau tidak mau menerimanya. Nah, sekarang tinggal kau pilih, tinggal di sini sebagai kekasihku, bukan isteri, atau engkau boleh pergi."

Ci Hwa sudah selesai mengenakan sepatunya.

Kini ia mengangkat mukanya yang pucat dan matanya yang merah itu seperti hendak membakar wajah Siangkoan Liong.

Kedua tangannya dikepal.

"Kalau aku mampu, tentu aku akan membunuhmu, keparat! Biar Tuhan mengutukmu!"

Setelah berkata demikian, Ci Hwa lalu meloncat keluar dari dalam kamar itu, terus melarikan diri keluar.

Masih ia mendengar suara tawa pemuda itu mengikutinya sampai ia jauh meninggalkan perumahan Tiat-liong-pang.

Ia berlari sambil menangis, tanpa suara, hanya terisak dan air matanya terus berjatuhan di sepanjang jalan.

Ia tidak tahu harus pergi ke mana, satu-satunya keinginannya hanya menjauhi tempat laknat itu sejauh dan secepat mungkin.

Tubuhnya terasa nyeri semua, terutama karena perbuatan Siangkoan Liong tadi yang diterimanya dengan batin yang meronta.

Ci Hwa memasuki sebuah hutan yang penuh dengan semak belukar dan pohon-pohon liar dan akhirnya kakinya terantuk akar pohon dan tubuhnya pun terpelanting jatuh ke atas rumput.

Ia tidak bangun dan sekaranglah baru ia menangis sesenggukan seperti anak kecil, menangis sampai mengguguk sambil menelungkup di atas tanah itu.

Kedua tangannya dikepal dan ia memukuli tanah juga kakinya menendang-nendang tanah.

Penyesalan demi penyesalan datang bagaikan gelombang samudera yang maha dahsyat, melanda dirinya, menyeretnya sehingga ia gelagapan dalam tangisnya, kehilangan pegangan.

Ia merasa menyesal sekali mengapa ia telah bertindak demikian bodoh, kurang waspada, mudah terbujuk rayu sampai ia mengorbankan keperawanannya, kehormatannya, bahkan ia telah diilas-ilas, dihina tanpa daya sama sekali.

Andaikata ia diperkosa saja, kiranya penyesalannya tidak sehebat ini.

Akan tetapi tidak, ia sama sekali tidak diperkosa untuk pertama kalinya, ia menyerah dengan suka rela, bahkan menikmatinya, meneguk minuman beracun.

Betapa memalukan!

Betapa rendah dirinya.

"Aku layak mampus! Aku tidak berharga lagi untuk hidup!"

Teriaknya ketika teringat akan itu semua.

Ia meninggalkan rumah dengan cita-cita untuk mencuci nama ayahnya yang ternoda karena dituduh membunuh, akan tetapi ia sendiri, apa yang dilakukannya?

Menjadi perempuan hina, lebih hina dari pelacur.

Seorang pelacur menyerahkan diri dengan harapan imbalan.

Akan tetapi ia?

Menyerah secara membuta, tak tahu bahwa ia dipermainkan orang!

"Aku harus mampus!"

Dan gadis itu pun menanggal-kan ikat pinggangnya, memasangnya di atas cabang sebatang pohon, mengalungkan ujung yang lain di lehernya dan ia pun meloncat turun dari cabang itu.

Tali itu mengikat dan menjerat lehernya yang berkulit halus mulus, dan tubuhnya tergantung!

Ci Hwa merasa betapa kulit lehernya nyeri dan perih, napasnya terhenti, akan tetapi ia tidak meronta dan siap menerima kematian dengan tenang.

Matanya yang terpejam nampak cahaya kuning, lalu merah api, lalu kabur agak kelabu, mulai menghitam.

"Anak bodoh!"

Tiba-tiba saja tubuhnya terlepas dan ia tidak tergantung lagi!

Ci Hwa yang sudah hampir pingsan itu merintih, lehernya tidak terikat lagi dan ia roboh di atas tanah, merasakan ada jari tangan menekan pundak dan tengkuknya, pernapasannya yang terengah itu kembali normal.

Ia lalu membuka mata dan melihat seorang pemuda sudah berlutut di dekatnya!

Hampir ia memaki karena mengira bahwa pemuda itu Siangkoan Liong, akan tetapi setelah pandang matanya dapat melihat jelas, ia melihat bahwa pemuda itu sama sekali bukan Siangkoan Liong!

Pemuda itu jelas lebih tua daripada Siangkoan Liong, usianya tentu sedikitnya dua puluh enam tahun.

Ia mengerutkan alis, mengingat-ingat dan merasa tak pernah bertemu dengan pemuda ini.

Dia seorang pemuda yang mengenakan pakaian kebiruan sederhana, mukanya berkulit bersih, cerah dan dapat dibilang tampan.

Sinar matanya lembut, seperti sinar mata Siangkoan Liong, akan tetapi terdapat kejujuran pada sinar mata dan mulut yang tersenyum lembut itu.

Sepasang mata itu kini mengamati wajahnya seperti orang yang menyesal dan menyalahkannya.

Alis itu agak berkerut, dan pada pandang matanya yang lembut itu, jelas nampak penasaran dan juga keheranan.

Siapa orangnya takkan heran melihat seorang gadis semuda ia berada dalam hutan sedang berusaha membunuh diri dengan menggantung?

Akan tetapi, perasaan hati Ci Hwa yang sudah dipenuhi perasaan dendam kebencian kepada pria, segera membuat ia memandang pria ini sebagai seorang musuh, seperti setan yang tentu juga berniat jahat terhadap dirinya!

Pertama kali ia terjatuh ke tangan lima orang pemburu, semuanya laki-laki yang berniat buruk memperkosanya, kemudian berganti jatuh ke tangan dua orang anggauta Tiat-liong-pang, sama saja, mereka juga hendak memperkosanya.

Terakhir kali ia terjatuh ke tangan Siangkoan Liong, yang disangkanya sebaik-baiknya orang, ternyata juga ia malah terperangkap.

Sekarang, ketika ia sudah di ambang pintu maut, ia diselamatkan seorang laki-laki muda pula.

Orang macam apalagi ini kalau bukan seorang calon pemerkosa berikutnya?

"Engkau sama busuknya dengan mereka!"

Teriak Ci Hwa dan tiba-tiba saja ia pun sudah meloncat dan langsung saja menyerang dengan pukulan tangannya ke arah dada laki-laki yang sedang berlutut di dekatnya itu.

Pemuda itu sama sekali tidak pernah menyang-kanya dan dari jarak sedemikian dekat, tanpa menduga akan diserang, maka tentu saja pukulan tangan Ci Hwa tepat mengenai dadanya.

"Dukkk....!"

Tubuh laki-laki itu terjengkang dan bergulingan, akan tetapi dia meloncat bangun dan tidak terluka, hanya memandang dengan mata terbelalak dan agaknya bingung, mengira bahwa gadis yang malang yang ditolongnya itu mungkin sudah menjadi gila!

"Eih, Nona....

kenapa....

kenapa kau memukulku?"

Tanyanya, suaranya tetap tenang dan pandang matanya jelas memancarkan belas kasihan karena dia menduga bahwa gadis ini tentu gila atau tergoncang jiwanya.

"Engkau menolongku, mencegah aku mati, tentu hanya dengan satu niat yang keji dan buruk! Karena itu, akan kubunuh engkau lebih dulu sebelum aku membunuh diri!"

Ci Hwa berteriak-teriak dan ia pun sudah lari maju dan menerjang kalang kabut!

Akan tetapi sekali ini, pemuda, itu sudah siap siaga.

Dari pukulan gadis itu tadi, dia pun tahu bahwa gadis itu bukanlah seorang wanita sembarangan, bahkan wanita lemah dan pukulannya tadi merupakan pukulan gaya ilmu silat dan mengandung tenaga dalam yang cukup ampuh.

Dia pun tertarik sekali dan kini, menghadapi serangan bertubi-tubi itu dia pun mengelak dan berloncatan ke kanan kiri sambil memperhatikan gerakan silat penyerangnya itu.

Setelah lewat dua puluh jurus, dia mendapat kenyataan bahwa gadis ini dapat bersilat dengan baik sekali, dan cukuplah kepandaian itu untuk membela diri dalam perjalanan, sehingga tidak aneh kalau gadis itu berani melakukan perjalanan seorang diri.

Akan tetapi mengapa di sini hendak bergantung diri?

Dan pakaian atasnya itu terobek, rambutnya kusut, matanya merah, jelas bahwa gadis itu menderita kedukaan dan penekanan batin yang amat hebat.

Sementara itu, Ci Hwa semakin terkejut, dan semakin marah karena kembali ia bertemu dengan seorang pemuda yang jauh lebih lihai darinya.

Semua serangannya, yang dilakukan sepenuh hati terdorong dendam dan kemarahan, sama sekali tidak pernah menyentuh tubuh pemuda itu, padahal pemuda itu sama sekali tidak pernah menangkis, hanya mengelak saja dengan gerakan aneh dan amat lincahnya.

Timbul dugaan bahwa tentu ia akan ditangkap lagi, dipermainkan lagi dan mengingat ini, ia merasa khawatir sekali.

Lebih baik mati kalau ia harus mengalami lagi penderitaan diperkosa orang seperti tadi!

Pikiran ini membuat ia putus asa.

Tak mungkin ia menang dan ketika ia melihat batang pohon di mana tadi ia bergantung diri, tiba-tiba ia memperoleh akal dan ia pun melompat untuk membenturkan kepalanya pada batang pohon itu, sekuat tenaganya.

"Bukkk!"

Kepalanya tidak membentur benda keras, bahkan tidak membentur apa-apa karena tubuhnya tertahan ketika dua buah tangan menerima kedua pundaknya dengan lembut.

Ketika Ci Hwa melihat, ternyata pemuda itu telah mendahuluinya berdiri di depan batang pohon dan menerima tubuhnya tadi!

Dengan sendirinya ia semakin marah dan penasaran.

"Kau.... kau berani menghalangiku!"

Bentaknya dan kini ia memukul, mencakar, menendang kalang kabut, tidak memakai gerakan silat lagi melainkan gerakan seekor harimau betina yang marah.

Terdengar bunyi kain robek ketika cakarannya mengenai baju pemuda itu.

Pemuda itu cepat menotok pundaknya dan Ci Hwa terkulai lemas.

Dengan sopan dan hati-hati, pemuda itu membaringkan tubuh Ci Hwa di bawah pohon dan kembali ia berlutut seperti tadi.

Diusapnya kulit dada yang agak berdarah terkena cakaran kuku Ci Hwa.

"Nona, engkau telah bersikap keliru sama sekali. Kenapa engkau bertekad untuk membunuh diri? Sudah demikian burukkah kehidupan ini sehingga seorang gadis semuda engkau sudah putus asa dan lebih memilih mati saja?"

Ci Hwa hanya tertotok tak mampu bergerak, akan tetapi masih dapat bicara dan ia membentak ketus.

"Apa urusannya denganmu? Apa pedulimu kalau aku hidup atau mampus?"

"Nona, agaknya hatimu sudah penuh prasangka buruk terhadap manusia lain. Agaknya hatimu telah disakitkan orang, maka setiap kali bertemu orang lain, engkau selalu menyangka buruk. Memang tidak ada hubungannya mati hidupmu dengan diriku, akan tetapi manusia mana yang dapat membiarkan orang lain membunuh diri begitu saja? Nona, dengar baik-baik. Ketika engkau dilahirkan oleh ibumu, apakah ada engkau minta kepadanya atau kepada Tuhan agar engkau dilahirkan?"

Mendengar pertanyaan seperti itu, Ci Hwa terbelalak.

Kaget dan heran.

Gilakah orang ini, bertanya seperti itu?

Memikirkannya saja tentang itu belum pernah ia lakukan!

"Ibuku sudah tidak ada."

"Ah, maaf, engkau tidak mempunyai ibu lagi? Akan tetapi, kuulangi pertanyaanku tadi, ketika engkau dikandung dan dilahirkan, apakah hal itu terjadi atas permohonanmu kepada Tuhan atau kepada mendiang ibumu atau ayahmu?"

Ci Hwa mengerutkan alisnya.

"Tentu saja tidak! Mana bisa! Apa engkau ini orang gila, bertanya seperti itu?"

Pemuda itu tersenyum lembut dan tidak ada sedikit pun tanda bahwa dia terpikat oleh kewanitaan Ci Hwa.

"Kalau engkau tidak pernah minta dilahirkan, tidak pernah minta dihidupkan, berarti engkau tidak berhak pula untuk memaksa kehidupan terhenti dengan bunuh diri! Rasakan saja, bukankah detak jantungmu bekerja tanpa kau rasai? Bukankah pernapasanmu juga berjalan tanpa kau sengaja? Dan setiap anggauta tubuhmu, rambut, kuku, bulu badan, semuanya bertumbuh tanpa kau sengaja? Semua itu bukan milikmu, bukan milik pikiranmu, dan engkau berani hendak melenyapkan semua itu yang sesungguhnya bukan hakmu? Seperti juga hidupmu, matimu pun bukan berada dalam kekuasaanmu, bukan milikmu. Kalau yang berkuasa akan hidup matimu menghendaki, biar kau usahakan bagaimana-pun, engkau takkan mati, sebaliknya kalau sudah tiba saatnya engkau harus mati, biar ada seribu orang dewa sekali pun takkan mampu menghidupkanmu!"

Ci Hwa termenung. Belum pernah selama hidupnya ia mendengar ucapan seperti itu, dan ia menjadi bingung.

"Apa kau kira kalau menghadapi kesulitan maka kesulitan itu akan berakhir dengan kematian, Nona? Ingat, yang kesulitan itu bukanlah badannya, melainkan batinnya, dan kau kira kalau sudah mati, batinmu tidak akan terus berkelanjutan menjadi setan penasaran?"

Ci Hwa semakin terpukul dan kini air matanya mengalir, tubuhnya terkulai lemas "....aku tidak tahu.... ah, aku tidak tahu...."

Melihat keadaan gadis ini, pemuda itu lalu mengurut pundaknya dan terbebaslah Ci Hwa dari totokannya.

Akan tetapi, begitu dapat bergerak, Ci Hwa lalu teringat akan nasibnya dan ia pun menangis, meraung-raung seperti anak kecil sambil duduk dan menutupi mukanya.

Ia megap-megap seperti ikan dilempar ke daratan.

Pemuda itu tiba-tiba memegang kedua pundaknya, mengguncangnya keras-keras beberapa kali sampai kepala Ci Hwa terguncang ke kanan kiri, kemudian pemuda itu melayangkan tangannya ke arah pipi Ci Hwa, dua kali.

"Plak! Plakkk!"

Tentu saja Ci Hwa terkejut bukan main.

Seperti ia diseret kembali kedunia kenyataan oleh dua kali tamparan yang membuat kedua pipinya terasa panas, perih dan nyeri itu.

Ia memandang terbelalak.

"Kau.... kau jahanam, berani memukulku!"

Katanya dan ia pun membalas dengan dua kali tamparan ke arah pipi pemuda itu.

"Plak! Plakkk!"

Pemuda itu tidak mengelak, membiarkan pipinya ditampar dan Ci Hwa melihat bekas tangannya nampak jelas di kedua pipi itu, bekas tangan yang membuat tanda merah di situ.

Ia terbelalak dan terheran memandang pemuda aneh itu.

Akan tetapi pemuda itu tersenyum girang.

"Nah, engkau sudah waras kembali. Ditampar balas menampar. Baru ditampar saja membalas, kenapa bodoh amat membunuh diri? Tidak ada persoalan di dunia ini yang tidak dapat diatasi! Iba diri terlalu besar membuat orang kehilangan kesadaran. Dan ingat, di dunia ini tidak semua orang jahat, Nona. Aku tidak berani mengaku bahwa aku ini orang baik, akan tetapi setidaknya aku selalu berjaga dalam hidupku agar. tidak melakukan kejahatan. Karena itu, jangan takut kepadaku, Nona. Aku tidak akan mengganggumu, dan dalam keadaan seperti ini engkau membutuhkan seorang kawan yang jujur dan beriktikad baik. Bagaimana kalau engkau anggap aku ini kakakmu saja?"

Sejak tadi Ci Hwa memandang dengan mata terbelalak, mata yang masih basah, akan tetapi sinar matanya penuh selidik, seolah-olah hendak menjenguk isi hati orang ini melalui matanya.

Orang itu kembali tersenyum dan mengembangkan kedua lengannya.

"Namaku Gu Hong Beng dan selama hidupku, aku tidak pernah mau mengganggu orang lain."

Sikap ini diterima oleh Ci Hwa dan ia pun tiba-tiba menangis dan menubruk pemuda itu, merangkul lehernya dan gadis itu menangis di atas pundak Hong Beng, merasa seperti menangis di dada ayahnya sendiri atau seorang kakaknya sendiri.

Dan pemuda itu tersenyum, mengelus rambut itu penuh belas kasihan.

"Menangislah, menangislah sepuas hatimu, itu cara terbaik untuk mencairkan segala yang membeku dalam hatimu,"

Katanya lirih dan kata-kata ini seperti mendorong Ci Hwa untuk menangis lebih hebat lagi sampai sesenggukan.

Para pembaca Suling Naga tentu masih ingat siapa adanya Gu Hong Beng ini.

Dia seorang pemuda sederhana, putera seorang tukang kayu sederhana pula, di kota Siang-nam di Propinsi Hunan.

Dia sudah kehilangan ayah bundanya dan hidup sebatang kara, kemudian dia beruntung diambil murid seorang pendekar sakti keluarga Pulau Es, yaitu Suma Ciang Bun!

Banyak sudah dialami oleh Gu Hong Beng sebagai seorang pendekar muda, bekerja sama dengan para pendekar lainnya untuk menentang kejahatan.

Dia pernah jatuh cinta kepada seorang pendekar wanita Can Bi Lan, Akan tetapi cintanya bertepuk tangan sebelah karena pendekar wanita Can Bi Lan itu memilih Sim Houw sebagai suaminya.

Sim Houw yang terkenal sebagai Pendekar Suling Naga.

Namun Gu Hong Beng dapat menerima kenyataan pahit ini dan sudah lama dia dapat melupakan kepahitan itu, juga dia pernah diikat perjanjian ketika dia membantu nenek Teng Siang In, yaitu ibu kandung pendekar Suma Ceng Liong yang bertempur melawan seorang datuk jahat.

Sai-cu Lama.

Nenek sakti itu tewas dan cucunya, yaitu puteri Suma Ceng Liong yang bernama Suma Lian, dilarikan Sai-cu Lama.

Dalam keadaan menghadapi maut inilah nenek Teng Siang In mengikat janji agar Hong Beng kelak memperisteri Suma Lian!

Karena dia menghadapi pesan seorang nenek yang menjelang mati, terpaksa Hong Beng menyanggupi.

Hal ini amat mengganggu hatinya dan akhirnya, melalui gurunya, Suma Ciang Bun yang masih saudara sepupu Suma Ceng Liong, disampaikanlah pesan itu.

Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng menyerahkan keputusan itu kepada yang bersangkutan kelak, yaitu puteri mereka kalau sudah dewasa.

Semua ini diceritakan dalam kisah Suling Naga!

Hong Beng sudah hampir melupakan semua itu.

Melupakan wanita yang pernah dicintanya, yang kini telah menjadi isteri orang lain, dan juga dia berusaha melupakan janjinya kepada mendiang nenek Teng Siang In.

Dia hanyalah seorang pemuda miskin, tidak punya apa-apa, keturunan tukang kayu, bahkan tidak lagi memiliki ayah bunda.

Bagaimana mungkin dia berjodoh dengan puteri seorang pendekar seperti Suma Ceng Liong?

Suma Lian adalah cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es!

Dan dia hanyalah cucu murid saja!

Pula dia belum pernah bertemu lagi dengan Suma Lian selama bertahun-tahun ini.

Yang pernah ditemuinya adalah Suma Lian yang baru berusia tiga belas tahun.

Bagaimana dia dapat menentukan jodohnya dengan gadis itu?

Andaikata dia mau, bagaimana dengan gadis itu?

Dia pun sama sekali tidak pernah memikirkan soal jodoh, sampai kini berusia dua puluh enam tahun!

Gu Hong Beng meninggalkan gurunya yang kini menjadi seorang pertapa.

Sudah dua tahun dia meninggalkan gurunya, Suma Ciang Bun yang kini lebih suka bersembunyi dalam sebuah gubuk kecil di lereng Pegunungan Tapa-san, tak jauh dari situ di antara sumber air Sungai Han-sui di Propinsi Shen-si.

Kalau orang mengenal Gu Hong Beng beberapa tahun yang lalu, kini dia akan terheran melihat Hong Beng telah menjadi seorang pemuda yang matang, tenang dan sabar, berpikiran luas dan mendalam, tidak lagi seperti dulu di mana dia mudah tersinggung dan amat pencemburu!

Tubuhnya agak kurus, namun sepasang matanya memancarkan kelembutan seorang yang berjiwa besar.

Ketika Ci Hwa menangis di dadanya, diam-diam keharuan menyelinap di dalam hati Hong Beng.

Keharuan dan kelegaan.

Gadis ini tertolong, pikirnya, tertolong secara batiniah karena telah mampu melepaskan semua duka yang menghimpit kalbu.

Dan dia terharu karena pernah dia sendiri merasakan hal seperti yang dirasakan gadis itu.

Kosong, berduka, merana, kecewa dan kesepian, di mana sudah tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat diharapkan, ditengok, merasa seperti sepotong batang pohon kering di tengah gurun yang kering.

Dia mendekap kepala itu dan mengelus rambutnya, merasa seperti mendapatkan sesuatu, merasa berguna karena dia sudah dapat menjadi tempat seorang menumpahkan kesedihannya.

"Menangislah.... menangislah sampai terkuras habis semua kedukaan itu...."

Bisiknya, lebih ditujukan kepada hatinya sendiri daripada gadis yang tidak dikenalnya itu.

Duka selalu timbul dari iba diri.

Tanpa adanya pikiran yang mengenangkan keadaan dirinya sendiri yang dianggap sengsara, tidak akan timbul rasa iba diri dan takkan timbul duka.

Iba diri adalah pembengkakan daripada gambaran si aku, dan si aku ini memang selalu ingin meraih yang menyenangkan dan menghindarkan yang tidak menyenangkan.

Selain iba diri, si aku ini pun menjadi sumber dari segala iri hati, cemburu, kemarahan, kebencian dan selanjutnya.

Si aku memang diperlukan untuk kehidupan lahiriah, di mana diatur ketentuan dan norma kehidupan bermasyarakat, ada punyaku dan punyamu, hakku dan hakmu, akan tetapi seyogianya cukup sampai di situ saja.

Lahiriah!

Kalau sampai menyusup ke dalam, menjadi batiniah, maka si aku selalu mengadakan ikatan-ikatan sebanyaknya.

Dan ikatan inilah yang menimbulkan iba diri, menimbulkan duka.

Senang kalau mendapatkan, dan susah kalau kehilangan.

Senang kalau diuntungkan, dan susah kalau dirugikan, demikian seterusnya.

Dapatkah kita hidup tanpa bayangan si aku secara batiniah?

Dapatkah batin ini bebas daripada kemilikan?

Lahiriah mempunyai namun batin tidak memiliki?

Mungkinkah itu?

Takkan terjawab melalui teori dan pendapat yang masih bersumber daripada akal si aku, yaitu pikiran yang selalu mempertimbangkan rugi untung.

Jawabannya hanya terdapat dalam penghayatan, penelitian, dan pengamatan secara waspada, mawas diri lahir batin tanpa pendapat.

Ci Hwa menemukan hiburan bagi kesedihannya yang tadi hampir tak tertahankan lagi.

Hidup bukan hanya urusan hilang atau tidaknya keperawanan!

Hidup, ini masih panjang, dan beraneka ragam isinya!

Orang ini, benar!

Tidak ada kesulitan yang tak dapat diatasi.

Ia memang sudah diperkosa orang, sudah tidak perawan lagi, akan tetapi apakah hal itu harus berarti bahwa ia tidak penting lagi hidup, tidak berhak lagi untuk hidup dan menikmati hidup ini?

Betapa bodohnya.

Enak saja kalau ia mati tanpa hukuman bagi orang yang menjadikan ia begini!

Enak, terlalu enak bagi Siangkoan Liong!

Tidak, ia bahkan harus hidup, dan satu di antara tujuan hidupnya adalah membalas penghinaan ini kepada Siangkoan Liong!

Air matanya sudah habis.

Tangisnya pun terhenti dan ia pun sadar bahwa secara tidak pantas ia telah bersandar di dada orang sekian lamanya, sampai baju biru itu basah kuyup oleh air matanya.

Ci Hwa menarik kepalanya ke belakang, melepaskan dirinya dan mundur tiga langkah, lalu mengangkat muka memandang.

Mukanya pucat sekali, pipinya masih basah, akan tetapi matanya yang membendul merah itu tidak menitikkan air mata lagi.

Sinar matanya memandang penuh selidik dan karena Hong Beng juga memandang kepadanya, mereka saling pandang dan barulah tampak oleh Ci Hwa bahwa wajah pemuda di depannya ini sama sekali berbeda dengan wajah Siangkoan Liong.

Bukan hanya bentuknya yang berbeda, namun bayangan yang terkandung dalam pandang mata itu, senyum itu sama sekali berbeda.

Pandang mata dan senyum Siangkoan Liong penuh daya tarik memabukkan, kelembutannya seperti besi berani yang dingin dan membetot.

Akan tetapi kelembutan pada wajah pemuda ini seperti kelembutan langit biru.

Dan ia pun merasa malu kepada diri sendiri.

"Maafkan aku.... sekali lagi maafkan aku. Aku tadi telah gila barangkali. Engkau benar, aku telah gila dan aku hanya menuruti dorongan hati saja. Maafkan aku."

Katanya. Hong Beng tersenyum. (Lanjut ke

Jilid 11) Kisah Si Bangau Putih (Seri ke 14 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11

"Namaku Gu Hong Beng, seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalku. Boleh aku mengetahui namamu?"

"Namaku Kwee Ci Hwa, aku datang dari Ban-goan. Jawabannya yang singkat membuat Hong Beng maklum bahwa gadis ini tentu ingin menyembu-nyikan persoalan dirinya, maka dia pun tidak mendesak.

"Aku tidak ingin minta kepadamu untuk menceritakan segala urusanmu, nona Kwee akan tetapi...."

"Nanti dulu, kalau aku tidak salah ingat, engkau tadi menyuruh aku menganggap engkau seorang kakak sendiri. Benarkah?"

"Benar, lalu kenapa?"

Hong Beng memandang, tersenyum ramah.

"Aku memang belum pernah mempunyai seorang adik perempuan."

"Aku belum pula mempunyai seorang kakak laki-laki, bahkan tidak mempunyai saudara. Boleh aku memanggilmu Bengko (kakak Beng)?"

"Tentu saja, Hwa-moi (adik Hwa), tentu saja dan aku merasa terhormat sekali!"

Kata Hong Beng.

"Nah, sekarang legalah hatiku. Aku mempunyai seorang kakak dan pelindung, akan tetapi maaf, aku tidak mungkin dapat menceritakan mengapa aku tadi hendak membunuh diri."

"Jangan khawatir aku selalu menghargai rahasia seseorang. Akan tetapi, tentu boleh aku mengetahui keadaan dirimu, keluargamu, ke mana dan apa maksud perjalananmu, bukan?"

Gadis itu mengangguk dan keduanya duduk di atas akar pohon besar, saling berhadapan.

Ci Hwa lalu menceritakan keadaan dirinya.

Menceritakan bahwa ayahnya, Kwee Tay Seng atau Kwee Piauwsu, seorang duda, telah tertuduh melakukan pembunuhan terhadap seorang rekannya, piauwsu lain dan segala yang terjadi kemudian di Ban-goan.

"Karena aku merasa penasaran, nama baik ayah ternoda, maka aku pun lalu pergi hendak melakukan penyelidikan kepada perkumpulan Tiat-liong-pang yang disebut-sebut oleh orang she Lay itu. Itulah sebabnya aku berada di sini."

Gu Hong Beng mengangguk-angguk, sama sekali tidak mau menduga-duga mengapa hal itu menyebabkan Ci Hwa hendak membunuh diri tadi.

"Dan engkau sudah melakukan penyelidikan?"

"Sudah, Tiat-liong-pang terletak di bukit sana itu, akan tetapi perkumpulan itu amat besar, amat berpengaruh dan amat kuat, juga dekat dengan keluarga istana sehingga rasanya sedikit kemungkinan mengapa perkumpulan itu sampai membunuh piauwsu di Ban-goan. Tidak ada hubungan dan kepentingannya sama sekali."

"Hemmm, siapa tahu ada rahasianya yang lain. Kadang-kadang kebakaran besar dimulai dari bunga api kecil, peristiwa besar dimulai dari urusan sepele.

"Mungkin benar, akan tetapi seorang seperti aku bagaimana mungkin dapat menyelidiki perkumpulan besar itu lebih mendalam lagi? Di sana gudangnya orang pandai sedangkan ilmu silatku hanya terbatas sekali. Dan engkau sendiri, Koko, ceritakanlah keadaan dirimu dan bagaimana engkau dapat berada di sini."

Hong Beng tersenyum.

Kalau hendak menceritakan pengalamannya, tentu tidak cukup sehari (baca kisah Suling Naga), maka dia pun hanya menceritakan keadaan dirinya secara singkat saja.

"Aku seorang yang sebatangkara. Aku tidak mempunyai ayah ibu lagi, dan selama bertahun-tahun ini aku hidup bersama guruku. Akan tetapi, sejak dua tiga tahun ini guruku bertapa, tidak mau diganggu dan tidak mau mencampuri urusan dunia. Karena itu, aku diijinkan untuk mengembara, tanpa tujuan, ikut saja keinginan hati dan kaki meluaskan pengalaman dan pengetahuan. Dan di dalam perjalanan itu, aku mendengar akan kebangkitan para datuk sesat yang katanya membuat persekutuan di utara ini. Karena sejak dahulu guruku selalu membawaku menentang para datuk kaum sesat, maka aku tertarik sekali dan aku pun mendengar bahwa Tiat-liong-pang yang menjadi pusat persekutuan itu. Dan di sinilah aku, kebetulan bertemu denganmu tadi."

Wajah Ci Hwa agak berseri....

"Ahhh, jadi engkau pun hendak menyelidiki Tiat-liong-pang?"

Hong Beng mengangguk.

"Apakah barangkali dari engkau aku dapat mendengar sesuatu tentang Tiat-liong-pang? Bukankah engkau sudah menyelidiki ke sana?"

Ci Hwa mencabut sebatang kembang rumput dan menggigit-gigit tangkai kembang rumput itu.

Manis sekali gadis ini kalau sedang begitu asyik dan juga memiliki daya tarik besar.

Ia berpikir-pikir, mengingat apa yang pernah dialaminya dan apa yang pernah didengarnya dari Siangkoan Lohan.

"Memang aku pernah ke sana, akan tetapi tidak banyak yang kuketahui. Aku hanya tahu bahwa penjagaan di sana ketat bukan main. Pernah aku melihat betapa lima orang pemburu binatang yang memasuki wilayah itu, dibunuh begitu saja oleh dua orang anggauta Tiat-liong-pang. Dan mereka berdua itu lihai bukan main, dalam waktu sebentar saja lima orang pemburu itu tewas. Kemudian aku mendengar bahwa Tiat-liong-pang selain besar dan memiliki banyak anak buah pandai, juga dekat dengan istana. Kabarnya, ketuanya, yang bernama Siangkoan Tek atau disebut Siangkoan Lohan, dahulu beristeri seorang puteri istana...."

Ci Hwa teringat akan Siangkoan Liong dan menghentikan ceritanya, kemudian disambungnya.

"selain itu, aku tidak tahu apa-apa lagi."

Hong Beng bukanlah seorang bodoh.

Gadis in hendak melakukan penyelidikan tentang Tiat-liong-pang untuk membersihkan nama baik ayahnya.

Setelah tiba di situ dan melakukan penyelidikan, tiba-tiba saja hendak membunuh diri.

Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat menimpa dirinya.

Akan tetapi dia tidak berani bertanya tentang hal itu.

"Ceritamu tentang perkumpulan itu semakin menarik, Hwa-moi. Biarlah aku akan melakukan penyelidikan yang mendalam, dan kalau benar berita yang kuterima bahwa Tiat-liong-pang menghimpun persekutuan kaum sesat, aku harus menentang mereka. Bahkan kabarnya, seorang iblis betina yang berjuluk Sin-kiam Mo-li bergabung pula di situ, padahal iblis betina itu adalah musuh besarku sejak bertahun-tahun yang lalu, bersama para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Selama mereka itu masih berkeliaran, sepak terjang mereka selalu hanya membikin kacau dan mengganggu keamanan rakyat belaka."

Ci Hwa memandang kagum.

Pemuda ini kelihatannya demikian sederhana.

Ia sudah membuktikannya sendiri tadi.

Semua serangannya yang dilakukan dengan marah, sedikit pun tidak pernah dapat menyentuh ujung bajunya, dan kini pemuda itu menyatakan sebagai musuh datuk-datuk sesat yang lihai.

"Beng-koko, engkau tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Bolehkah aku mengetahui, siapa gerangan gurumu?"

Hong Beng tidak pernah menyembunyikan sesuatu, akan tetapi dia pun bukan orang yang suka menyombongkan diri dan gurunya.

Akan tetapi, melihat pertanyaan yang polos itu, dia pun menjawab sederhana.

"Suhuku bernama Suma Ciang Bun, seorang pendekar keluarga Pulau Es"

"Aihhh....!"

"Kenapa?"

"Ayahku pernah mendongeng tentang keluarga pendekar Pulau Es yang memiliki ilmu kepandaian seperti dewa saja! Engkau tentu lihai sekali, Koko!"

Pandang mata itu sekali ini tidak menyembunyikan kekaguman mendalam sehingga wajah Hong Beng menjadi kemerahan.

"Sudahlah, Hwa-moi, tidak perlu memuji. Pertemuan kita ini kebetulan saja, akan tetapi agaknya Tuhan telah mempertemukan kita sehingga kita dapat saling bantu dan seperti telah menjadi kakak beradik. Akan tetapi, aku hendak melanjutkan penyelidikanku, dan bagaimana dengan engkau, Hwa-moi?"

"Aku biarpun aku hanya seorang gadis lemah, akan tetapi aku pun masih ingin mencuci nama baik ayahku. Kalau boleh, aku akan membantumu, Beng-ko."

"Baiklah, asal engkau berhati-hati dan melaksa-nakan semua petunjukku. Yang pertama, engkau harus sudah mengusir jauh-jauh kenekatan dan kebodohanmu tadi. Engkau berjanji?"

Ada perasaan perih menusuk ulu hati Ci Hwa, akan tetapi ia harus membantu Hong Beng menyelidiki dan menentang Tiat-liong-pang.

Bukan sekedar mencuci nama baik ayahnya, melainkan juga mencuci noda pada dirinya dengan darah dan nyawa Siangkoan Liong!

"Aku berjanji dan bersumpah tidak akan melakukan lagi kebodohan itu, Koko."

Keduanya lalu meninggalkan tempat itu, menyusup di antara hutan-hutan lebat untuk menyelidiki keadaan Tiat-liong-pang.

Setiap orang manusia hidup takkan terluput daripada peristiwa yang menimpa dirinya, baik peristiwa itu biasa saja, agak hebat, hebat atau bahkan sangat hebat seperti yang dialami Ci Hwa.

Peristiwa hebat yang diterima sebagai suatu malapetaka dapat menghancurkan perasaan, melenyapkan harapan, bahkan dapat membuat orang menjadi mata gelap, ada pula yang ingin menghentikan semua derita dan siksa batin dengan jalan membunuh diri!

Akan tetapi, sesungguhnya bunuh diri bukanlah jalan pemecahan yang tepat, melainkan hanya merupakan suatu pelarian yang mata gelap,.

Peristiwa yang telah terjadi pun terjadilah, merupakan sesuatu yang telah lalu.

Kalau peristiwa itu terus dikeram di dalam sanubari, maka tentu saja hanya akan menjadi siksaan yang timbul dari kenangan.

Kenangan ini menimbulkan iba diri, dendam, duka.

Mengapa kita suka menyimpan suatu peristiwa sebagai kenangan?

Mengapa tidak kita biarkan .saja peristiwa itu lenyap, bagaikan sebuah mimpi buruk?

Hidup adalah saat ini, bukan kemarin!

Kemarin itu sudah mati, baik maupun buruk.

Kenangan akan masa lalu hanya mendatangkan dua hal, yaitu penyesalan dan duka, juga kerinduan dan harapan akan mengulang pengalaman lalu yang menyenangkan.

Hanya kalau kita mampu menghapus semua kenangan peristiwa masa lalu, baik, maupun buruk, maka batin kita akan menjadi bersih, bebas dan siap menghadapi peristiwa yang terjadi di saat ini, dalam keadaan sehat, tanpa dendam, tanpa prasangka, tanpa kebencian.

Peristiwa adalah kejadian yang telah terjadi, sesuatu fakta yang tak dapat diubah pula, karena sudah terjadi.

Baik buruknya hanya tergantung daripada penilaian kita sendiri.

Di dalam menghadapi setiap peristiwa yang terjadi, yang terpenting bukanlah penilaian, melainkan kewaspadaan.

Kewaspadaan mendatangkan kebijaksanaan dan kesadaran, sehingga kita dengan sepenuhnya dapat menghadapi dan menanggulangi-nya, sepenuh akal budi yang ada pada kita.

Perbuatan menghadapi sesuatu yang diliputi penilaian selalu mengandung pamrih, dan tentu tidak bijaksana lagi.

Cin-san-pang adalah perkumpulan orang gagah yang bermarkas di lembah Sungai Cin-sa.

Kita telah mengenal ketuanya, yaitu Ciok Kim Bouw, seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih yang gagah perkasa dan bersemangat baja.

Perkumpulan ini sekarang memiliki anggauta tidak kurang dari seratus orang banyaknya, bekerja sebagai nelayan, Juga sebagai pengawal perahu-perahu para pedagang yang melakukan pelayaran di sungai itu dengan berupa imbalan sekedarnya.

Seperti banyak perkumpulan gagah di jaman itu, merasa tidak suka akan penjajahan yang dilakukan bangsa Mancu sejak ratusan tahun, akan tetapi mereka pun tidak berdaya.

Mereka tidak memberontak terhadap pemerintah yang teramat kuat, namun mereka pun enggan menjadi kaki tangan penjajah, dan hidup sebagai kelompok orang gagah yang suka membela kepentingan rakyat dari penindasan atau kejahatan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan.

Ciok Kim Bouw, ketua Cin-sa-pang, ikut pula diundang dan menjadi tamu dari perkumpulan Tiat-liong-pang dengan para datuk sesat sehingga hampir saja dia menjadi korban.

Sejak lama dia memang telah bermusuhan dengan Sin-kiam Mo-li (baca kisah Suling Naga), Maka melihat betapa Tiat-liong-pang bersekutu dengan Sin-kiam Mo-li dan segala pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw dia menentang dan akibatnya, hampir dia terbunuh ketika dalam perjalanan pulang dia dihadang oleh Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya.

Untung muncul seorang pemuda sakti yang tidak dikenalnya akan tetapi berhasil menyelamatkannya dari ancaman maut di tangan musuh-musuhnya.

Dia merasa menyesal sekali mengapa tidak sempat mengenal nama pemuda itu yang begitu menolongnya dan mengobati lukanya, terus pergi begitu saja.

Ciok Kim Bouw tidak tahu bahwa di antara semua tamu yang tidak menyetujui persekutuan itu, hanya dia seoranglah yang selamat!

Ciok Kim Bouw adalah seorang yang gagah, dengan tubuh tinggi besar dan muka hitam seperti tokoh Thio Hwi dalam dongeng Sam Kok.

Keistimewaannya adalah mempergunakan senjata golok besarnya.

Dan, dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki yang kini telah berusia dua puluh lima tahun, bernama Ciok Heng.

Pemuda ini memiliki tubuh tinggi besar seperti ayahnya, dan wajahnya tidak berkulit hitam, bahkan tampan gagah dengan sepasang mata lebar yang penuh dengan kejujuran dan keterbukaan.

Sejak kecil dia digembleng ayahnya dan setelah berusia dua puluh lima tahun, dia telah mewarisi semua ilmu ayahnya dan menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa.

Ketika Ciok Kim Bouw pulang dalam keadaan marah dan kecewa, puteranya segera dapat menduga bahwa tentu pertemuan itu tidak menyenangkan hati ayahnya, maka dia pun langsung bertanya.

Ciok Kim Bouw menceritakan sejujurnya apa yang telah terjadi di sana.

"Tiat-liong-pang telah dibawa menyeleweng oleh Siangkoan Lohan!"

Katanya sambil menggebrak meja.

"Dia mengajak sekongkol datuk-datuk sesat. Bayangkan saja, iblis-iblis macam Sin-kiam Mo-li, para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-wa-kauw, menjadi sekutunya!"

"Ahhh....!"

Ciok Heng terkejut bukan main mendengar ini.

"Bukan mereka saja,"

Sambung ayahnya.

"Masih banyak lagi orang-orang dari golongan hitam menjadi sekutunya, dan para tamu yang tidak setuju akan persekutuan itu pasti dimusuhi. Aku terang-terangan menyatakan tidak setuju dan aku dihina di depan umum oleh putera Siangkoan Lohan yang amat lihai. Bahkan ketika aku pulang, aku dihadang oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong. Nyaris aku tewas. Kalau tidak muncul seorang pemuda sakti yang tidak mau mengaku namanya, tentu aku tidak dapat pulang dan sudah mati konyol di sana."

Selanjutnya dia menceritakan apa yang telah terjadi kepada, puteranya, juga kepada para pembantunya yang setia.

"Brakkk!"

Ciok Heng menggebrak meja dan mukanya menjadi marah sekali.

"Tiat-liong-pang menyeleweng, kita tidak boleh mendiamkannya saja. Ayah, biarkan aku menggerakkan teman-teman untuk menyerbu dan menghancurkan Tiat-liong-pang!"

Ayahnya mengangkat tangan ke atas.

"Ciok Heng, jangan bersikap bodoh seperti anak kecil yang hanya menurunkan dorongan hati marah. Tiat-liong-pang itu kuat sekali, Siangkoan Lohan amat sakti, puteranya agaknya tidak kalah hebatnya oleh ayahnya dan di sana berkumpul datuk-datuk sesat yang berilmu tinggi. Belum lagi diingat betapa anak buah mereka mungkin lebih banyak daripada jumlah teman-teman kita. Kalau engkau dan teman-teman menyerbu ke sana, akan sama artinya dengan segerombolan nyamuk menyerbu api. Memang kita harus menentangnya, akan tetapi dengan cara halus, bukan menggunakan kekerasan dan untuk itu kita harus berunding dan mengadakan kontrak dengan para pendekar."

Ciok Heng mengangguk-angguk membenarkan ayahnya.

"Kalau begitu, aku dan kawan-kawan akan menyebarkan berita itu kepada para pendekar, Ayah dan mengajak mereka untuk turun tangan karena persekutuan itu akan berbahaya sekali kalau didiamkan saja."

Ciok Kim Bouw menyetujui.

"Baiklah, kalau mungkin, undang para orang gagah untuk mengadakan perundingan di sini."

Ciok Heng segera mempersiapkan teman-temannya dan mereka pun lalu tersebar, memberitahukan kepada para pendekar yang mereka anggap patut mengetahui perubahan di dunia kaum sesat yang sedang mengadakan persekutuan dengan pimpinan Tiat-liong-pang yang agaknya kini hendak melakukan penyelewengan itu.

Memang tidak diadakan perjanjian dan ketentuan harinya untuk mengadakan perundingan, namun di antara para pendekar yang menaruh perhatian akan berita ini, berjanji akan berkunjung untuk bercakap-cakap bahkan ada pula yang mengatakan hendak langsung pergi menyelidiki urusan itu di Tiat-liong-pang.

Sementata itu, Dengan penuh semangat Ciok Kim Bouw dan puteranya mulai melatih anak buah mereka dengan tekun agar mereka memperoleh kemajuan sehingga sewaktu-waktu tenaga mereka dibutuhkan untuk menghadapi musuh, mereka sudah berada dalam keadaan yang kuat.

Barisan golok dibentuk dan setiap hari mereka berlatih, juga golok mereka semua selalu tajam terasah.

Dua bulan lewat dengan cepatnya sementara itu berita tentang persekutuan Tiat-liong-pang yang disebarkan oleh orang-orang Cin-sa-pang itu sudah terdengar sampai ke beberapa propinsi.

Berita itu disambut oleh para orang gagah di dunia persilatan dengan sikap yang bermacam-macam.

Ada pula yang menanggapinya dengan senang karena bukankah sudah sepatutnya kalau orang gagah mengumpulkan kekuatan untuk menentang pemerintah penjajah Mancu?

Ada pula yang merasa tidak senang karena mendengar betapa persekutuan Tiat-liong-pang itu merangkul tokoh-tokoh sesat, apalagi Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai disebut dalam persekutuan itu.

Biarpun niatnya baik, yaitu menentang penjajah, akan tetapi kalau harus bekerja sama dengan golongan hitam, banyak diantara para pendekar yang tidak mau.

Pendeknya, berita yang disebarluaskan Cin-sa-pang di dunia persilatan itu cukup menimbulkan kegemparan dan banyak di antara para pendekar meragukan kepatriotannya, apalagi kalau mereka mendengar dan mengingat bahwa Tiat-liong-pang tadinya adalah kaki tanggn pemerintah penjajah!

Betapapun juga, peristiwa ini menarik perhatian banyak kaum pendekar untuk meninggalkan tempat mereka dan menuju ke selatan untuk melakukan penyelidikan sendiri.

Pada suatu pagi yang cerah nampak seorang pemuda memasuki perkampungan perkumpulan Cin-sa-pang di lembah Sungai Cin-sa.

Semua orang yang bersua di jalan dengan pemuda ini pasti menengok dan merasa kagum.

Pemuda itu usianya sekitar dua puluh tujuh tahun, tubuhnya tinggi besar dan nampak kokoh kuat, mukanya agak hitam akan tetapi bentuk muka itu gagah, dengan hidung mancung, mata tajam dan mulut membayangkan kekerasan hati dan keberanian.

Sikapnya pendiam dan dia tidak pernah menengok ke kanan kiri, hanya lurus memandang ke depan sambil melangkahkan kedua kakinya dengan mantap.

Ketika melangkah, tubuhnya bergerak seperti seekor harimau berjalan.

Pakaiannya sederhana, terbuat dari kain tebal, dan di balik jubahnya terdapat sebatang pedang yang tergantung di pinggang, tersembunyi namun ujung gagang pedang masih nampak tersembul di bawah jubah.

Tanpa melihat pedangnya pun, baru melihat perawakannya, mudah diduga bahwa dia tentu seorang pemuda gemblengan, seorang jago silat yang tangguh.

Dugaan ini tepat karena dia adalah Cu Kun Tek, jago silat muda dari Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya.

Orang tua pemuda itu juga merupakan pendekar-pendekar yang lihai.

Ayahnya bernama Cu Kang Bu, pewaris Lembah Naga Siluman dengan ilmu silat keluarga Cu yang amat tinggi, yaitu Koailiong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) dan Cu Kang Bu ini terkenal pula dengan julukan Ban-kin-sian (Dewa Bertenega Selaksa Kati).

Adapun ibunya juga seorang pendekar wanita yang lihai dengan ilmu-ilmu pukulan Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok), dan Pat-liong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin)!

Tentu saja Cu Kun Tek mewarisi ilmu-ilmu dari ayah bundanya.

Cu Kun Tek meninggalkan tempat tinggal keluarga ayahnya ketika dia mendengar berita yang disebar oleh Cin-sa-pang itu.

Sebagai seorang pendekar, hatinya tergerak dan dia tidak akan tinggal diam begitu saja, maka dia pun pergi dan berkunjung ke tempat perkampungan Cin-sa-pang untuk mendengar sendiri kebenaran berita itu.

Dia pernah berjumpa dengan Ciok Kim Bouw ketua Cin-sa-pang yang dianggapnya seorang yang cukup gagah dan perkumpulannya juga merupakan perkumpulan orang-orang gagah.

Ketika para anggauta Cin-sa-pang melaporkan kepada ketua mereka akan datangnya seorang tamu dan Ciok Kim Bouw cepat keluar, dia menjadi girang sekali melihat pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu.

"Aih, kiranya Cu-enghiong yang datang!"

Katanya sambil membalas penghormatan pemuda itu.

"Bagaimana kabarnya, Ciok Pang-cu? Mudah-mudahan baik-baik saja."

"Terima kasih, Cu-eng-hiong. Mari silakan duduk di dalam!"

Mereka masuk ke ruangan dalam dan bercakap-cakap.

Dalam kesempat-an ini Cu Kun Tek bertanya tentang berita yang dia dengar tentang Tiat-liong-pang dan ketua Cin-sa-pang itu segera menceritakan semuanya tentang pengalamannya ketika dia menghadiri undangan Tiat-liong-pang, yaitu pada pesta ulang tahun ke enam puluh tahun dari Siangkoan Lohan.

"Bayangkan saja, hati siapa tidak menjadi geram melihat betapa di antara para tamu kehormatan itu terdapat orang-orang Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, bahkan di sana aku melihat pula iblis betina Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek. Jelaslah bahwa Tiat-liong-pang hendak merencanakan sesuatu pemberontakan!"

Cu Kun Tek mendengarkan penuh perhatian, alisnya berkerut dan dia pun berkata.

"Akan tetapi, bukankah sudah menjadi idaman semua orang gagah untuk membantu usaha mengusir pemerintah penjajah dari tanah air, Pangcu?"

Ciok Kim Bouw menghela napas panjang.

"Kalau ada gerakan seperti itu, gerakan para patriot sejati dengan tujuan membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu, percayalah, kami seluruh anggauta Cin-sa-pang akan berdiri di belakangnya, akan bergabung dan siap mempertaruhkan nyawa untuk membantu gerakan itu! Akan tetapi, bagaimana mungkin orang-orang Tiat-liong-pang merupakan patriot-patriot sejati? Mereka bahkan berjasa terhadap penjajah Mancu, bahkan Siangkoan Lohan dihadiahi banyak harta dan seorang puteri dari istana kaisar! Kini, dia mengadakan persekutuan dengan para pemberontak, akan tetapi pemberontak macam Pek-lian-kauw, dan bersekutu pula dengan orang-orang dari kaum sesat! Bagaimana mungkin gerakan seperti itu mengandung niat bersih dan gagah untuk membebaskan rakyat jelata?"

Dia lalu menceritakan apa yang telah terjadi dalam pesta itu, tentang kecabulan dan lain-lain, kemudian menceritakan betapa dia secara terang-terangan mengatakan tidak senangnya dengan hadirnya tokoh-tokoh sesat sehingga dia dianggap menghina dan dikalahkan oleh Siangkoan Liong, putera Siangkoan Lohan.

"Ketika aku pergi meninggalkan pesta, masih banyak di antara teman-teman sepaham yang juga meninggalkan tempat itu, sebagai protes dan pernyataan tidak suka karena Tiat-liong-pang bersekutu dengan orang-orang golongan sesat. Dan tahukah engkau apa yang terjadi setelah aku pergi meninggal-kan tempat itu? Di tengah perjalanan, aku dihadang oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong dan mereka itu sengaja hendak membunuhku!"

Lalu diceritakan betapa dia nyaris tewas kalau tidak muncul seorang pemuda lihai yang berhasil mengusir kedua orang itu, bahkan menyelamatkan nyawanya dari ancaman racun di lengannya akibat serangan Siangkoan Liong.

"Nah, melihat perkembangan itu, kami merasa amat khawatir, Cu-enghiong. Tadinya puteraku, Ciok Heng, berkeras hendak memimpin anak buah menyerbu ke Tiat-liong-pang, akan tetapi kularang dia karena hal itu sama dengan membunuh diri. Di sana berkumpul banyak orang pandai dan agaknya Tiat-liong-pang sudah menyusun kekuatan. Maka, kami lalu menyebarkan berita itu agar terdengar oleh para pendekar dan orang gagah sehingga gerakan yang berbahaya dari Tiat-liong-pang dapat dicegah."

Cu Kun Tek diam-diam merasa heran juga mendengar semua cerita itu.

Dia.

sudah mendengar perkumpulan macam apa adanya Tiat-liong-pang, sebuah perkumpulan yang pernah membuat jasa terhadap serbuan orang Mancu sehingga perkumpulan itu dianggap pro pemerintah Mancu.

Akan tetapi kenapa kini mendadak saja perkumpulan itu hendak memberontak, bahkan bersekutu dengan orang-orang golongan hitam?

Hal ini perlu diselidiki secara teliti sebelum dia mempercayai begitu saja keterangan Ciok Pangcu.

Hanya satu hari Cu Kun Tek berdiam di Cin-sa-pang sebagai tamu, bercakap-cakap dengan ketua Cin-sa-pang dan puteranya, Ciok Heng yang gagah perkasa.

Kemudian dia minta diri karena dia hendak melanjutkan perjalanannya ke utara, untuk melakukan penyelidikan kepada perkumpulan yang katanya bersekutu dengan para penjahat hendak memberontak itu.

Di dalam perjalanan ini, Kun Tek mengenangkan masa lampaunya, tujuh delapan tahun ketika dia baru berusia sembilan belas tahun, ketika dia bersama para pendekar lain seperti Gu Hong Beng, Can Bi Lan, Sim Houw dan yang lain-lain menghadapi musuh-musuh yang amat kuat seperti Kim Hwa Nio-nio, Sai-cu Lama, dan Sam Kwi yang amat lihai itu menjadi kaki tangan Thai-kam Hou Seng yang menjadi kekasih Kaisar dan yang hendak merajalela dengan kekuasaannya.

Dengan demikian, para datuk sesat itu seolah-olah bekerja sama dengan pemerintah, sehingga para pendekar kadang-kadang berhadapan dengan pasukan pemerintah (baca kisah Suling Naga).

Akan tetapi kini keadaan berbalik.

Tiat-liong-pang yang tadinya juga menjadi perkumpulan yang pro pemerintah penjajah, kini kabarnya tiba-tiba membalik dan hendak memberontak, akan tetapi, melihat betapa perkumpulan itu bersekongkol dengan datuk kaum sesat, Kun Tek meragukan kebersihan usaha pemberontakan mereka itu.

Tentu mereka bukan ber-maksud berjuang untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman kaum penjajah, melainkan hendak memberontak dan merebut kekuasaan, untuk mengangkat diri menjadi golongan pimpinan baru!

Kalau benar demikian, maka gerakan itu harus ditentangnya!

Dia hanya akan membantu perjuangan yang benar-benar ditujukan untuk membebaskan rakyat dari tindasan kaum penjajah.

Bagaimanapun juga, harus diakuinya bahwa Kaisar Kiang Long yang sekarang ini masih jauh lebih baik dan bijaksana daripada kaisar-kaisar Mancu yang lalu, dan dia tidak dapat membayangkan bagaimana akan jadinya kalau sampai kendali pemerintahan terjatuh ke dalam tangan para datuk sesat yang jahat dan kejam melebihi iblis itu.

Teringat akan masa lalunya, dada yang bidang itu menghembuskan napas panjang.

Dia pernah jatuh cinta kepada Can Bi Lan, cinta sepihak, karena akhirnya wanita itu menikah dengan Sim Houw, yang masih keponakannya sendiri biarpun usia Sim Houw lebih tua empat belas tahun darinya, dan semenjak itu dia kembali ke Lembah Naga Siluman dan tidak pernah memasuki dunia ramai.

Dia tidak merasa patah hati, bahkan sudah melupakan peristiwa itu.

Namun, kegagalan cintanya itu membuat dia malas dan segan untuk mencari jodoh seperti yang selalu dianjutkan kedua orang tuanya.

Sekarang, setelah kembali dia melakukan perjalanan seorang diri, baru dia dapat membayangkan betapa selama ini dia mengecewakan hati ayah bundanya, bahwa membuat mereka berduka dan kecewa merupakan suatu perbuatan yang tidak berbakti.

Pula, kenapa dia seolah-olah menjadi putus asa dan tidak pernah mempunyai keinginan untuk berumah tangga?

Ah, siapa tahu, sekali ini Thian akan menunjukkan jalan baginya, akan mempertemukan dia dengan jodohnya, atau mungkin juga dia akan gugur dalam menunaikan tugasnya sebagai seorang pendekar, menyelidiki Tiat-liong-pang.

Bagaimana nanti sajalah!

Keberuntungan atau kegagalan di masa depan, aku siap menghadapimu, demikian dia menyongsong masa depannya dengan hati lapang dan gagah.

Cu Kun Tek memang keturunan keluarga Cu yang sudah ratusan tahun tinggal di Lembah Naga Siluman sebagai keluarga sakti yang mengasingkan diri.

Keluarga Cu ini memiliki ilmu silat keluarga yang sukar dicari bandingannya di dunia persilatan, dan nama besar keluarga Cu sudah dikenal oleh hampir semua tokoh dunia persilatan, baik dari golongan putih maupun golongan hitam.

Dan kini, Cu Kun Tek, keturunan terakhir mereka, mengubah kebiasaan nenek moyangnya, dia keluar dari lembah untuk mencampuri urusan dunia ramai.

Tentu saja sebagai seorang pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan, siap untuk melindungi yang lemah dan tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang, kalau perlu dengan taruhan nyawa!

Juga diam-diam dia mengharapkan mudah-mudahan sekali ini dia akan bertemu dengan jodohnya karena bagaimanapun juga dia merasa kasihan kepada ayah dan ibunya yang sudah ingin sekali mempunyai seorang mantu dan terutama sekali menimang cucu!

Semenjak Siangkoan Liong membunuh dua orang anggauta Tiat-liong-pang yang hendak memperkosa Kwee Ci Hwa, para anggauta Tiat-liong-pang kini tidak berani lagi berbuat jahat dan sembarangan saja.

Mereka semua maklum betapa kejam dan tanpa ampun adanya putera ketua mereka itu dan mereka kini patuh akan semua perintah atasan.

Siangkoan Lohan juga sudah mendengar akan hal itu dan dia sempat menegur puteranya mengapa membunuh dua orang anak buah sendiri.

"Ayah, apa yang akan dapat diharapkan dari anak buah yang suka berbuat sewenang-wenang tanpa menurut peraturan? Akhirnya mereka takkan dapat dikendalikan dan kalau sudah begitu, mungkin kelak mereka akan berani membalik dan melawan kita. Mengendalikan orang-orang itu harus dengan tangan besi. Mereka harus takut dan tunduk, taat sepenuhnya kepada kita, barulah kita dapat mempergunakan mereka dengan baik. Apalagi, bukankah kita mempunyai tujuan yang tinggi dan membutuhkan disiplin yang kuat? Kalau mereka tidak berdisiplin, tidak sangat taat seperti sepasukan tentara yang terkendali baik, bagaimana mungkin usaha kita akan berhasil?"

Siangkoan Liong yang biasanya pendiam itu kini bicara penuh semangat dan Siangkoan Lohan menjadi girang sekali.

Benar kata-kata Ouwyang Sianseng, pikirnya, puteranya ini memang ada bakat untuk menjadi kaisar!

Sikapnya saja sudah nampak jelas.

Maka, mulai hari itu, Siangkoan Lohan lalu mengadakan peraturan-peraturan yang membuat para anak buahnya tidak lagi berani berbuat sewenang-wenang tanpa perintah atasan.

Setiap hari mereka dilatih oleh Siangkoan Lohan sendiri, kadang-kadang dibantu oleh para sekutunya, yaitu Sin-kiam Mo-li, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek, bahkan kadang-kadang Siangkoan Lohan turun tangan sendiri memberi gemblengan sehingga pasukan Tiat-liong-pang yang kini ditambah jumlahnya itu terbentuk sebagai pasukan yang cukup kuat, dengan jumlah hampir tiga ratus orang!

Pada suatu hari, pasukan itu dilatih perang-perangan, dipimpin oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong.

Pasukan dibagi dua, dengan pakaian seragam yang berbeda pula, yang setengah dipimpin Sin-kiam Mo-li dan yang sebagian lagi dipimpin oleh Toat-beng Kiam-ong.

Pasukan yang dipimpin Toat-beng Kiam-ong bertugas untuk menyerbu Tiat-liong-pang sedangkan yang dipimpin oleh Sin-kiam Mo-li bertugas mempertahankan benteng perkumpulan itu.

Penjagaan dilakukan dengan ketat, bahkan sebelum tiba saatnya pasukan "musuh"

Datang menyerbu.

Benteng Tiat-liong-pang dianggap sebagai beteng kota raja yang harus diserbu dan diduduki.

Tentu saja ada disebar mata-mata dari pihak penyerbu untuk menyelidiki pertahanan benteng, juga dari pihak yang diserbu untuk mengetahui gerak-gerik musuh.

Sampai malam pun masih dilakukan penjagaan ketat, dan pasukan penyerbu yang dipimpin Toat-beng Kiam-ong belum juga melakukan penyerbuan.

Latihan itu dilakukan secara besar-besaran.

Diam-diam Siangkoan Lohan telah memerintahkan kepada Toat-beng Kiam-ong sebagai penyerbu untuk berhubungan dengan Cia Tai-ciangkun, komandan pasukan pemerintah di perbatasan utara yang juga sudah bersekutu dengan mereka, demikian pula menghubungi Agakai dan dari dua orang sekutu itu, diterima bantuan pasukan yang akan menyergap Tiat-liong-pang dari berbagai jurusan!

Siangkoan Lohan dan puteranya, Siangkoan Liong sendiri merencanakan bagaimana sebaiknya kelak kalau mereka sudah menyerbu kota raja, untuk menyusupkan dan menyelundupkan kawan-kawan yang berkepandaian tinggi, dari golongan hitam, dari Pek-lian-pai dan Pat-kwapai, ke dalam benteng kota raja dan dapat melakukan pengacauan dan bantuan dari dalam.

Pagi harinya nampak sunyi di sekitar bukit di luar kota San-cia-kou yang menjadi benteng Tiat-liong-pang itu.

Seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi.

Padahal, mata-mata dari kedua pihak sudah berkeliaran, bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak belukar.

Tiba-tiba muncul seorang gadis dari kaki bukit.

Ketika gadis itu tadi melewati Sang-cia-kou dan bertanya tentang letak Tiat-liong-pang, jejaknya sudah selalu diikuti orang dari jauh.

Namun, gadis itu acuh saja walaupun ia tahu bahwa ada beberapa orang selalu mengamati dan membayanginya.

Ketika dahulu ia berkunjung ke Tiat-liong-pang bersama ayahnya, mereka naik kereta dan tentu saja ia sudah lupa akan jalannya, apalagi hal itu sudah terjadi sangat lama, di waktu ia masih kecil.

Dengan langkah santai ia mendaki bukit.

Seorang gadis yang amat menarik perhatian orang, apalagi melakukan perjalanan seorang diri di tempat sunyi itu.

Ketika ia sudah tiba di lereng, Tentu saja kehadirannya segera menimbulkan kecurigaan para mata-mata yang bertugas mempertahankan benteng Tiat-liong-pang.

Seorang gadis cantik dan sikapnya halus, gerak-geriknya pun halus, naik seorang diri ke bukit ini!

Tentu mata-mata musuh!

Akan tetapi kalau mata-mata musuh, mengapa naik ke bukit secara terang-terangan begitu saja, mudah dilihat dari manapun juga?

Tiba-tiba muncullah lima orang anggauta pasukan Tiat-liong-pang yang bertugas jaga di lereng itu.

Kalau pasukan penyerbu mengenakan seragam kuning, pasukan yang bertahan ini mengenakan seragam biru, hampir sama dengan seragam pasukan pemerintah karena memang Tiat-liong-pang pada waktu itu dianggap sebagai benteng kota raja yang hendak diserbu.

Lima orang pasukan itu muncul dan mengepung gadis itu sambil menodongkan tombak mereka, sikap mereka galak.

"Berhenti!"

Bentak kepala pasukan yang berkumis jarang itu.

"Siapa engkau dan menyerahlah, engkau tentu mata-mata musuh!"

Gadis itu bukan lain adalah Pouw Li Sian.

Seperti telah kita ketahui, gadis ini baru saja datang dari kota raja di mana ia menyelidiki keadaan keluarganya.

Dengan hati berduka ia memperoleh berita bahwa selain ayah ibunya, juga semua keluarganya, kakak-kakaknya telah ditawan dan tewas, kecuali seorang kakaknya yang sulung, bernama Pouw Ciang Hin, yang kabarnya diampuni, bahkan kini menjadi seorang perwira yang bertugas di perbatasan utara.

Karena Pouw Ciang Hin kini merupakan satu-satunya anggauta keluarganya, maka dengan nekat ia pun menyusul ke utara.

Ia teringat akan Siangkoan Tek atau Siangkoan Lohan, ketua dari Tiat-liong-pang yang pernah menjadi sahabat baik ayahnya.

Ayahnya dahulu seorang Menteri Pendapatan, sedangkan Siangkoan Lohan amat berjasa terhadap pemerintah sehingga mendapat kekuasaan dan dikenal semua pembesar tinggi.

Pernah ia diajak ayahnya berkunjung ke Tiat-liong-pang dan karena ia tahu betapa sulitnya mencari seorang perwira di antara pasukan yang berjaga di tapal batas utara, maka ia ingin minta bantuan ketua Tiat-liong-pang agar dapat diselidiki, di mana kakaknya itu ditugaskan.

Kini, tiba-tiba saja ia ditodong tombak, oleh lima orang perajurit!

Ia tidak merasa gentar, bahkan dengan wajahnya yang manis itu berseri gembira, ia balas bertanya.

"Apakah kalian ini perajurit kerajaan yang berjaga di tapal batas utara?"

Lima orang perajurit itu saling pandang.

Mereka jelas anak buah Tiat-liong-pang, akan tetapi pada saat itu mereka bertugas sebagai pasukan yang harus mempertahankan benteng "kota raja", oleh karena itu, ketika ditanya apakah mereka perajurit kerajaan, mereka menjadi bingung.

"Kalau benar kami perajurit kerajaan, lalu engkau mau apa, Nona?"

Lima orang perajurit itu memandang kagum.

Mereka adalah orang-orang kasar yang biasanya bersikap kasar dan kurang ajar terhadap wanita, apalagi secantik ini, akan tetapi semenjak ada dua orang kawan mereka dibunuh oleh Siangkoan Kongcu karena meng-ganggu wanita, mereka kini harus menahan diri dan tidak berani mengulangi perbuatan itu.

Dengan wajah tetap gembira penuh harap, Pouw Li Sian berkata.

"Aku bernama Pouw Li Sian dan aku datang ke sini untuk mencari kakak sulungku yang bernama Pouw Ciang Hin. Dia menjadi seorang perwira kerajaan yang bertugas di tapal batas utara...."

Mendengar bahwa gadis ini adik seorang perwira kerajaan, berarti musuh, tentu saja berubah sikap lima orang itu.

Tombak-tombak itu dipegang semakin erat dan pemimpin mereka membentak.

"Kalau begitu, menyerahlah engkau, karena engkau harus menjadi tawanan kami dan akan kami hadapkan kepada pimpinan kami!"

Li Sian adalah seorang gadis yang berwatak halus.

Biarpun ia telah menjadi murid seorang sakti seperti Bu Beng Lokai dan kini telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun ia tetap berwatak halus, bahkan belum pernah ia berkelahi mempergunakan ilmu kepandaiannya.

Sikapnya jauh berbeda dengan Suma Lian yang menjadi sucinya.

Suma Lian galak, keras dan pemberani di samping lincah jenaka.

Akan tetapi Li Sian pendiam dan penyabar.

Ia tahu bahwa berurusan dengan lima orang perajurit biasa ini tidak ada gunanya, bahkan hanya akan menimbulkan keributan saja, maka ia pun mengangguk dan senyumnya masih melekat di bibir.

"Baiklah, aku tidak akan melawan, dan bawalah aku kepada pemimpin kalian agar aku dapat bicara dengan dia."

Lima orang itu dengan masih menodongkan tombak mereka, memberi isyarat agar Li Sian berjalan memasuki hutan.

Hemmm, pikir mereka.

Kalau saja mereka tidak takut kepada Siangkoan Lohan apalagi Siangkoan Kongcu, tentu gadis yang cantik ini sudah menjadi korban mereka.

Takkan ada orang yang tahu!

Tak lama kemudian, di dalam hutan yang menjadi markas besar sementara dari Sin-kiam Mo-li yang bertugas sebagai komandan yang mempertahankan benteng, Li Sian digiring masuk ke dalam sebuah pondok besar di mana duduk Sin-kiam Mo-li dan beberapa orang pembantunya yang menjadi perwira-perwira dalam pasukan mereka.

Jumlah para perwira itu ada lima orang dan mereka sedang merundingkan siasat pertahanan menggunakan sebuah peta yang mereka bentangkan di atas meja.

Melihat masuknya lima orang perajurit yang menggiring seorang gadis cantik, Sin-kiam Mo-li mengangkat muka dan mengerutkan alisnya.

Lima orang perajurit itu memberi hormat dan pimpinan mereka lalu melapor kepada Sin-kiam Mo-li dengan sikap seperti seorang perajurit melapor kepada atasannya.

"Li-ciangkun (Panglima Wanita), kami berlima telah menangkap seorang wanita yang kami curigai sebagai mata-mata, dan menurut pengakuannya ia bernama Pouw Li Sian yang hendak mencari kakaknya yang katanya menjadi seorang perwira kerajaan yang bertugas di perbatasan."

Kerut di antara alis mata Sin-kiam Mo-li makin dalam dan sinar matanya membayangkan kemarahan, Hemmm, tentu ini seorang mata-mata yang dilepas oleh Toat-beng Kiam-ong, pikirnya.

Dan laki-laki macam Toat-beng Kiam-ong mana mau melepaskan seorang gadis secantik ini?

Tentu gadis ini seorang di antara kekasihnya, pikirnya dengan hati penuh cemburu.

Memang, sejak ia berkasih-kasihan dengan Toat-beng Kiam-ong, di antara keduanya terdapat rasa cemburu besar karena keduanya saling menemukan pasangan yang cocok sekali.

Tentu saja Toat-beng Kiam-ong juga membatasi rasa cemburunya sehingga biarpun dia tahu bahwa Sin-kiam Mo-li juga bermain cinta dengan Siangkoan Liong, dia tidak berani mencampuri.

"Tinggalkan ia di sini dan kalian boleh ke luar lagi, berjaga yang hati-hati dan jangan ijinkan siapa pun juga masuk!"

Perintah Sin-kiam Mo-li kepada lima orang itu yang cepat memberi hormat dan keluar lagi.

Kini Pouw Li Sian yang masih tegak itu beradu pandang dengan Sin-kiam Mo-li.

Ia tidak memperhatikan lima orang laki-laki berpakaian perwira yang juga duduk di situ memandangnya, karena ia tahu bahwa agaknya pimpinan di sini adalah wanita cantik itu.

Diam-diam Li Sian merasa heran dan juga kagum melihat Sin-kiam Mo-li, wanita yang sudah setengah tua akan tetapi nampak cantik lemah lembut akan tetapi juga gagah perkasa dan memiliki wibawa besar itu.

Teringatlah ia akan cerita gurunya, mendiang Bu Beng Lokai, yang pernah menceritakan tentang isteri gurunya itu.

Isteri gurunya juga seorang panglima wanita yang amat terkenal, bernama Panglima Milana, yang kabarnya memimpin laksaan pasukan menundukkan pemberontakan di mana-mana.

Juga ibu dari isteri gurunya itu bernama Puteri Nirahai, isteri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, pernah menjadi seorang panglima wanita yang gagah perkasa.

Seperti inikah mereka itu?

Karena membayangkan isteri dan ibu mertua gurunya, Li Sian cepat melangkah maju dan memberi hormat kepada Sin-kiam Mo-li.

"Harap Ciangkun suka memaafkan kalau kedatangan saya ini merupakan gangguan. Sesungguhnya, seperti dilaporkan oleh para perajurit tadi, saya datang untuk mencari kakak kandung saya, kakak sulung yang bernama Pouw Ciang Hin yang kabarnya menjadi seorang perwira pasukan kerajaan yang bertugas di perbatasan utara. Semenjak berusia dua belas tahun saya berpisah darinya dan sekarang saya mencarinya."

Sin-kiam Mo-li masih memandang dengan sikap tidak senang karena ia masih curiga.

"Kalau mencari kakakmu, kenapa di sini? Apakah di sini tempat pasukan kerajaan bertugas? Tahukah engkau tempat ini, bukit ini?"

Tanya Sinkiam Mo-li.

Biarpun pertanyaan itu diajukan dengan kaku, namun Li Sian tidak menjadi marah.

Dianggapnya bahwa memang harus tegas seperti itulah sikap seorang panglima perang!

"Maaf, Ciangkun Saya tahu bahwa bukit ini adalah tempat pusat perkumpulan Tiat-liong-pang.

Saya memang hendak mencari ketua Tiat-liong-pang untuk bertanya barangkali dia dapat membantu saya memberi tahu di mana adanya kakak saya itu."

Sin-kiam Mo-li menjadi semakin curiga.

Tak salah, lagi, tentulah seorang mata-mata yang dikirim oleh Toat-beng Kiam-ong, dan wanita secantik ini siapa lagi kalau bukan seorang di antara kekasih laki-laki mata keranjang itu?

"Jangan berbohong!"

Bentaknya.

"Engkau tentu mata-mata yang dikirim Toat-beng Kiam-ong! Mengakulah saja!"

Li Sian terkejut, dan cepat ia menggeleng kepala.

"Saya bukan mata-mata dan tidak mengenal siapa itu Toat-beng Kiam-ong. Saya datang untuk mencari kakak saya dan bertanya kepada ketua Tiat-liong-pang!"

Sin-kiam Mo-li tersenyum.

"Mana ada mata-mata mau mengaku? Kalau mengaku bukan mata-mata yang baik dan melihat engkau berani memasuki wilayah ini seorang diri, tentu engkau memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Nah, engkau menyerahlah, kami tangkap untuk menjadi tawanan perang!"

Tentu saja Li Sian menjadi semakin kaget dan mulailah ia merasa curiga dan penasaran.

Jangan-jangan ia masih dianggap musuh oleh pasukan pemerintah, sebagai keturunan keluarga Pouw!

Akan tettapi, mengapa kakaknya sudah diampuni bahkan di jadikan perwira?

"Ciangkun, kalau tadi saya ikut lima orang perajurit itu menghadap ke sini adalah karena saya yakin akan dapat bicara lebih baik dengan pimpinan pasukan.

Akan tetapi saya datang bukan untuk menyerahkan diri ditangkap begitu saja tanpa bersalah!"

Sin-kiam Mo-li bangkit dan matanya memancarkan sinar mencorong.

"Apa? Engkau seorang mata-mata biasa berani membantah? Tentu engkau mata-mata istimewa dari Toat-beng Kiam-ong maka berani menentang aku. A Sam, tangkap wanita ini!"

Perintahnya kepada seorang di antara lima perwira yang duduk di situ.

Yang dipanggil A Sam ini seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang tubuhnya gendut seperti babi dikebiri.

Perutnya besar dan kepalanya kecil, akan tetapi ketika dia meloncat dari tempat duduknya, dia memiliki kegesitan sehingga mudah diduga bahwa tubuh yang gembrot ini memiliki ketangkasan seorang ahli silat.

Dia tersenyum senang, membayangkan bahwa setidaknya dia akan dapat merangkul dan mendekap tubuh gadis cantik manis di depannya itu!

"Baik, Li-ciangkun!"

Katanya dan dia pun menubruk ke depan, agaknya dengan kedua lengannya yang panjang dan besar itu, dia hendak sekali tubruk sudah dapat menempelkan mukanya pada muka yang cantik itu!

"Hemmm....!"

Li Sian berseru lirih dengan hati penuh penasaran, sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa ia akan mendapatkan sambutan seperti itu!

Tentu saja baginya, gerakan A Sam itu terlalu lambat dan dengan teramat mudahnya, sekali menggeser kaki, tubrukan A Sam itu mengenai angin kosong saja dan begitu Li Sian menggerakkan kaki menotok pinggiran lutut, tanpa dapat dicegah lagi, tubuh yang perutnya membengkak itu terjerumus ke depan, ketika terbanting ke atas lantai, perutnya yang lebih dulu menghantam lantai mengeluarkan bunyi "ngekkk!"

Dan orang itu pun terengah-engah sukar bernapas!

Melihat ini, Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya, tak senang hatinya dan diam-diam ia memaki pembantu yang tidak becus itu.

Juga ia tahu bahwa gadis ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada yang diduganya.

Akan tetapi tentu saja ia masih memandang rendah.

Seorang mata-mata dari Toat-beng Kiam-ong, sepandai-pandainya, Tentu masih jauh kalau dibandingkan dengan tingkatnya merasa malu kalau harus turun tangan sendiri menandingi seorang mata-mata!

Memang dalam latihan perang-perangan ini, tidak boleh saling membunuh atau melukai dengan berat tentu saja karena mereka semua adalah satu golongan.

Bahkan sudah direncanakan bahwa kalau sampai terjadi pertempuran, semua senjata harus dibuang dan hanya mempergunakan kaki tangan saja, ini pun dengan larangan keras saling membunuh atau melukai dengan parah.

Dan melihat betapa gadis itu tadi hanya menotok tepi lutut A Sam dengan ujung sepatunya, yang hanya mengakibatkan A Sam jatuh telungkup, ia lebih yakin bahwa tentu gadis ini mata-mata yang sudah tahu pula akan peraturan itu sehingga tidak sampai melukai A Sam.

"Tangkap gadis ini!"

Bentaknya kepada empat orang perwira yang lain.

Empat orang itu pun penasaran melihat betapa kawan mereka, dalam segebrakan saja sudah roboh oleh gadis cantik itu.

Mendengar perintah ini, mereka berempat lalu bangkit dan mengurung Li Sian dari empat penjuru.

Pondok itu cukup besar dan karena kosong dan hanya ada meja kursi yang mereka duduki tadi, tempat itu cukup luas untuk suatu perkelahian walau dikeroyok empat sekali pun.

Li Sian tidak merasa gentar, hanya menyayangkan bahwa penyelidikannya harus bertumbuk pada halangan perkelahian seperti ini.

"Ciangkun, aku datang bukan untuk berkelahi!"

Katanya, kini suaranya agak marah.

"Aku datang mencari kakakku. Kalau kalian tahu, beritahulah, kalau tidak, tidak mengapa, aku akan pergi lagi dari sini!"

"Engkau harus menyerah, Nona. Itu peraturannya. Menyerah atau kalau dapat mengalahkan kami dan dapat meloloskan diri, cobalah!"

Kata empat orang perwira itu yang sudah mengurungnya dan kini mereka berempat sudah menerjang maju sambil mengulur tangan hendak menangkap gadis yang cantik manis itu, ada yang mencoba untuk menangkap lengannya, pundaknya, pinggangnya, bahkan ada yang langsung merangkulnya.

Karena gerakan mereka itu datang dari empat penjuru, Agaknya tidak ada jalan keluar lagi bagi Li Sian, demikian pendapat empat orang perwira atau sebenarnya merupakan murid-murid atau anggauta Tiat-liong-pang yang tingkatnya sudah agak tinggi itu.

Akan tetapi, betapa heran dan kaget hati mereka ketika tiba-tiba saja gadis itu lenyap berkelebat ke atas dan mereka hanya dapat saling menangkap lengan masing-masing!

Mereka kebingungan, akan tetapi Sin-kiam Mo-li dapat melihat dengan jelas betapa gadis cantik itu tadi ketika ditubruk dari empat penjuru, telah meloncat dengan gerakan seperti seekor burung walet cepatnya, sehingga luput dari tubrukan itu dan tubuhnya sudah melayang keluar dari pintu pondok.

Ia terkejut dan sekali melompat ia pun sudah meluncur keluar pondok dan menghadang di depan gadis itu.

"Berhenti!"

Bentaknya.

Lima orang perwira itu kini berlarian keluar dan mereka memandang kepada Li Sian penuh kagum.

Baru kini mereka mengerti bahwa Li Sian bukanlah seorang gadis biasa, melainkan seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Sin-kiam Mo-li kini berhadapan dengan Li Sian.

Gadis ini mengerutkan alisnya, merasa semakin tidak senang.

Kenapa ia dianggap musuh dan hendak ditangkap, pikirnya penuh dengan perasaan yang penasaran.

"Hemmm, Ciangkun, apa kesalahanku maka engkau agaknya hendak memaksa dan menangkap aku?"

Tanyanya, kini sepasang matanya yang biasanya bersinar halus penuh kesabaran itu mencorong.

Melihat sinar mata ini, Sin-kiam Moli juga terkejut dan tahulah ia bahwa gadis ini benar-benar hebat, seorang yang berilmu tinggi, hal yang sama sekali tidak pernah diduganya.

Apakah kekasih Toat-beng Kiam-ong?

Agaknya bukan, pikirnya dan biarpun ia tidak merasa cemburu lagi, namun ia merasa penasaran.

Alangkah akan malunya kalau tersiar kemudian bahwa ia, sebagai komandan pasukan yang mempertahankan benteng, tidak mampu menahan seorang wanita asing yang kesalahan masuk ke tempat itu!

Kemudian ia teringat akan sesuatu!

Ketika dirayakan ulang tahun Siangkoan Lohan, terjadi keributan di tempat ini dan belasan orang tamu, yaitu para pendekar yang tidak sudi menggabungkan diri, telah dibunuh.

Jangan-jangan gadis ini mempunyai seorang kakak yang ikut pula terbunuh di waktu itu dan kini ia datang untuk mencari dan menyelidiki!

"Bocah yang tak tahu diri!"

Bentak Sin-kiam Mo-li sambil menuding dengan telunjuknya ke arah wajah Li Sian.

"Engkau seorang asing berani datang ke wilayah kami tanpa ijin, dan kami masih menerimamu dengan baik-baik dan hanya akan menahanmu menanti sampai para pimpinan berkumpul untuk menentukan keputusan atas dirimu, dan engkau berani memamerkan kepandaian di depanku?"

Wajah Li Sian berubah merah.

Baru kini ia melihat bahwa wanita cantik ini sama sekali tidak mengagumkan sikapnya, walaupun ia menjadi seorang panglima wanita.

Isteri gurunya tentu tidak seperti ini sikapnya, tinggi hati dan memandang rendah orang lain.

"Ciangkun, aku datang bukan untuk berkelahi, aku datang dengan baik-baik akan tetapi disambut dengan kekerasan. Sudah menjadi hak setiap orang untuk membela diri. Aku sudah banyak mengalah dan hendak pergi saja, kenapa engkau masih juga berkeras hendak menghalangi aku?"

Sin-kiam Mo-li tersenyum mengejek. Memang cantik sekali kalau ia tersenyum, akan tetapi kecantikan yang membayangkan kekejaman.

"Engkau masih muda sudah lihai mulutmu dan ilmumu, coba aku ingin melihat apakah engkau akan mampu melawan aku."

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Li Sian, Sin-kiam Mo-li sudah menyerang gadis itu dengan cepat dan ganas sekali.

Sin-kiam Mo-li adalah seorang datuk sesat yang sudah tinggi ilmu silatnya, amat lihai.

Banyak ilmu silat kaum sesat ia kuasai, akan tetapi selain kebutan gagang emas dan pedang yang keduanya beracun, Ia pun memiliki ilmu silat tangan kosong yang ampuh karena kedua tangannya berubah kehitaman dan terutama sekali ujung kuku jari-jari tangannya berubah hitam sekali dan mengandung racun jahat.

Sekali tergores kuku saja sudah cukup membuat kulit yang terluka menjadi bengkak, apalagi kalau sampai terkena tamparan tangan yang penuh mengandung hawa beracun itu.

Ilmunya ini diberi nama Hek-tok-ciang dan kini, begitu maju menyerang, ia sudah mengerahkan Hek-tok-ciang!

Li Sian memang belum berpengalaman dalam hal perkelahian.

Namun, gadis ini sejak berusia dua belas tahun telah digembleng dengan hebat dan tekun oleh seorang sakti dan mewarisi ilmu-ilmu silat yang hebat-hebat selain juga telah berhasil menghimpun tenaga sin-kang yang tinggi seperti Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang dari keluarga Pulau Es, juga tenaga Inti Bumi yang luar biasa kuatnya.

Pula, ia sudah banyak mendengar nasihat kakek Gak Bun Beng tentang jahatnya ilmu-ilmu yang dikuasai para datuk sesat, maka kini melihat betapa kedua tangan wanita itu berubah kehitaman, ia pun dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan lawan dari golongan hitam yang memiliki ilmu pukulan sesat dan curang.

Ia pun berlaku hati-hati dan cepat menggeser kakinya untuk mengelak, tidak berani sem-barangan menangkis.

Sin-kiam Mo-li merasa penasaran sekali ketika serangannya yang dilakukan dengan cepat dan kuat itu dengan amat mudahnya dielakkan oleh gadis muda itu.

Ia mengeluarkan suara melengking dan kini tubuhnya bergerak cepat sekali, menghujankan serangan secara bertubi-tubi dan setiap serangan, mengarah bagian yang berbahaya dari tubuh lawan.

Diam-diam Li Sian menjadi marah sekali.

Tak disangkanya bahwa wanita cantik ini, yang semula disangkanya gagah perkasa seperti mendiang isteri gurunya, ternyata hanya seorang wanita yang berhati kejam dan serangannya itu ganas sekali, juga jelas menunjukkan gejala bahwa wanita ini adalah dari golongan sesat!

Maka, ia pun cepat memainkan Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun yang sudah dilatihnya dengan baik.

Ilmu Silat Lothian Sin-kun (Silat Sakti Pengacau Langit) adalah ilmu silat yang memiliki kecepatan, juga didukung tenaga Inti Bumi, maka kini ia berani untuk menangkal dan balas menyerang.

Ketika sebuah cengkeraman kuku dan tangan menghitam itu menyambar ke arah dadanya, Li Sian menangkisnya dengan memutar lengannya dari samping.

"Dukkk!"

Keduanya tergetar dan melangkah mundur.

Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa gadis itu sedemikian lihai dan kuatnya sehingga mampu menangkis serangan pukulan Hek-tok-ciang, bahkan membuat lengannya tergetar hebat!

Ia menyerang lagi, namun kini Li Sian bukan hanya menjaga diri, melainkan juga membalas dengan tamparan dan totokan dari ilmu silat Lo-thian Sin-kun, karena ia pun maklum akan kelihaian lawan sehingga kalau saja ia hanya membiarkan diri diserang terus dan hanya bertahan, Besar kemungkinan ia akan celaka dan terkena tangan hitam yang jahat itu.

Serang-menyerang terjadi dengan hebatnya sampai dua puluh jurus lebih, dan hal ini dianggap keterlaluan oleh Sin-kiam Mo-li.

Menghadapi seorang gadis muda, sampai dua puluh jurus Hek-tok-ciang kedua tangannya tidak mampu merobohkannya, jangankan merobohkan, baru mendesak pun tidak mampu.

Padahal di situ telah berkumpul belasan orang perwira atau anggauta Tiat-liong-pang yang sudah tinggi tingkatnya menjadi saksi.

Sin-kiam Mo-li yang selalu membanggakan kepandaiannya itu merasa malu sekali dan kemarahannya pun berkobar.

Kalau tadi ia hanya menggertak dan hendak membuat gadis itu menyerahkan diri, maka kini timbul niatnya untuk merobohkan, kalau perlu membunuh gadis muda yang dianggapnya telah membuat malu ini.

"Keparat, engkau tidak boleh dikasih hati!"

Bentaknya dan tiba-tiba saja kedua tangannya sudah mengeluarkan sepasang senjatanya yang ampuh.

Tangan kiri sudah memegang sebuah kebutan berbulu merah bergagang emas, dan tangan kanannya memegang sebatang pedang.

Inilah sepasang senjatanya yang amat ampuh, dan selain ia ahli bersilat pedang sehingga mendapat julukan Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti), juga kebutannya itu tidak kalah berbahaya daripada pedangnya karena bulu-bulu kebutan berwarna merah itu mengandung racun yang jahat.

Setelah membentak demikian, tanpa malu-malu lagi melihat bahwa gadis muda yang diserangnya itu bertangan kosong, Sin-kiam Mo-li sudah menggerakkan kedua senjatanya, menyerang dengan dahsyatnya.

Melihat ini, Li Sian terkejut.

Namun, gadis ini memang memiliki ketenangan luar biasa dan ia pun tahu apa yang harus dilakukannya.

Cepat ia memainkan Ilmu San-po Cin-keng, yaitu ilmu langkah ajaib dan bersilat dengan Kong-jiu Jip-tin (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan).

Langkah-langkah atau geseran-geseran kedua kakinya dengan indah dan lembutnya membuat tubuhnya berkelebatan seperti bayangan yang sukar diserang!

Biarpun pedang dan kebutan itu mengepung dan menyambarnya dari semua jurusan, namun Li Sian tetap saja dapat menghindarkan diri dengan langkah ajaibnya!

Namun, melihat kehebatan lawan, kalau hanya terus mengelak pun ia masih terancam bahaya, maka kedua tangannya tidak tinggal diam, kadangkadang ia pun melayangkan tamparan yang mengandung Hui-yang Sin-kang di tangan kanan dan Swat-im Sin-kang di tangan kiri.

Kembali Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main.

Sambaran tangan kanan yang mengandung hawa panas dan tangan kiri mengandung hawa dingin itu amat mengejutkannya.

"Bocah setan! Apakah engkau murid Pulau Es?"

Bentaknya tanpa mengurangi serangannya, kebutannya membabat ke arah muka sedangkan pedangnya menusuk dada.

Li Sian menggeser kaki memutar tubuh sehingga kedua serangan itu luput dan ia pun mendorong dengan tangan kanannya sambil mengerahkan Hui-yang Sin-kang.

Hawa panas menyambar ke arah dada Sin-kiam Mo-li yang terpaksa harus meloncat ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan yang cukup berbahaya itu.

"Tidak ada hubungannya denganmu!"

Jawab Li Sian dan gadis ini melihat sebatang ranting tak jauh dari situ, maka cepat kakinya membuat langkah-langkah aneh dan ia sudah berhasil menyambar ranting itu.

Sebatang ranting kayu sebesar ibu jari kaki yang panjangnya kurang lebih empat kaki, Tepat sekali untuk dipakai sebagai pengganti pedang dan ia pun kini memutar ranting itu sambil memainkan Ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut, menghadapi sepasang senjata lawan!

Kini lebih mudah bagi Li Sian untuk melindungi dirinya, akan tetapi karena maklum akan lihainya sepasang senjata lawan, tetap saja ia mengandalkan langkah-langkah ajaib San-po Cin-keng untuk mengelak dan membalas dengan tusukan ranting yang dimainkan sebagai pedang!

Terjadilah perkelahian yang amat seru.

Gerakan mereka itu cepat dan aneh sehingga para murid Tiat-liong-pang menjadi penonton, memandang dengan mata kabur dan kepala pening.

Mereka tidak berani turun tangan membantu tanpa diperintah karena hal ini tentu akan membuat Sin-kiam Mo-li marah.

Tiba-tiba terdengar suara orang melerai.

"Tahan senjata!"

Mendengar suara Siangkoan Lohan ini, terpaksa Sin-kiam Mo-li menahan serangannya, Li Sian juga melompat mundur dan mengangkat muka memandang.

Ia melihat munculnya seorang laki-laki yang usianya sekitar enam puluh tahun, tinggi kurus dengan muka merah dan jenggot panjang sampai ke dada.

Yang seorang lagi adalah seorang pemuda tampan yang berpakaian indah seperti seorang pelajar kaya raya atau seorang pemuda bangsawan.

Melihat kakek itu, hatinya berdebar girang karena ia masih mengenal bahwa kakek ini adalah Siangkoan Lohan yang pernah dilihatnya belasan tahun yang lalu.

"Apakah yang telah terjadi di sini?"

Tanya Siangkoan Lohan, diam-diam kagum sekali melihat betapa seorang gadis muda, dengan hanya sebatang ranting di tangan, mampu menandingi Sin-kiam Mo-li yang mempergunakan sepasang senjatanya.

"Ia datang secara mencurigakan sekali, tentu ia seorang mata-mata pihak musuh!"

Kata Sin-kiam Mo-li kepada Siangkoan Lohan, agak malu karena tuan rumah dan puteranya itu melihat betapa ia tadi belum mampu merobohkan seorang gadis yang hanya bersenjata ranting.

Kini Siangkoan Lohan menghadapi gadis itu, memandang penuh perhatian, lalu bertanya.

"Nona, siapakah engkau dan apa maksudmu datang ke wilayah kami?"

Li Sian melangkah maju menghampiri kakek itu, memberi hormat setelah melepaskan ranting dari tangannya dan berkata.

"Bukankah saya berhadapan dengan paman Siangkoan Tek, pangcu dari Tiat-liong-pang?"

Siangkoan Lohan memandang semakin tajam, akan tetapi betapapun dia mengingat-ingat, dia tidak dapat mengingat siapa adanya gadis yang cantik manis dengan tahi lalat di dagunya ini.

"Maaf, Nona, mungkin penglihatanku sudah tidak terang lagi. Aku memang benar Siangkoan Tek, akan tetapi siapakah engkau?"

"Paman Siangkoan, lupakah engkau kepada saya? Saya bernama Pouw Li Sian. Pernah belasan tahun yang lalu saya bersama ayah datang berkunjung ke sini!"

"Pouw....?"

Siangkoan Lohan mengulang nama keturunan itu dengan heran.

"Benar, Paman. Mendiang ayahku adalah Pouw Tong Ki."

"Ahhhhh....! Ayahmu dahulu Menteri Pendapatan, seorang sahabatku itu? Dan engkau puterinya? Bukankah seluruh keluarga Pouw sudah...." (Lanjut ke

Jilid 12) Kisah Si Bangau Putih (Seri ke 14 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12

"Tidak semua binasa, Paman. Ketika rumah kami diserbu, saya sempat melarikan diri. Sekarang, setelah saya menjadi dewasa, saya ke kota raja dan menyelidiki keadaan keluarga saya. Empat orang kakak saya ditahan, tiga orang tewas dan saya mendapat kabar bahwa kakak sulung saya, Pouw Ciang Hin, diampuni bahkan sekarang menjadi seorang perwira yang bertugas di tapal batas utara. Oleh karena itulah, saya menyusul ke utara dan teringat kepada Paman, saya berkunjung ke sini untuk minta bantuan Paman. Siapa tahu Paman dapat memberitahu di mana adanya kakak sulung saya itu. Akan tetapi, ketika tiba di sini, saya ditahan dan hendak ditangkap, terpaksa saya melawan dan maafkan saya Paman."

Siangkoan Lohan memandang penuh kagum.

"Ah sekarang aku ingat. Engkau adalah nona kecil yang pernah ikut dengan Pouw Tai-jin dahulu itu. Aih, sungguh penasaran sekali. Ayahmu adalah seorang pejabat yang baik dan setia, akan tetapi, keluarganya kena fitnah karena dia berani menentang pembesar laknat Hou Seng. Kerajaan Mancu memang tidak mengenal budi!"

Siangkoan Lohan mengepal tinju lalu berkata kepada Sin-kiam Mo-li.

"Mo-li, Nona ini adalah orang sendiri, keluarganya terbasmi oleh kerajaan penjajah! Dan nona Pouw, ini adalah Sin-kiam Mo-li, seorang di antara kawan-kawan kita yang siap untuk menentang pemerintah penjajah!"

Biarpun di dalam hatinya merasa penasaran karena tadi belum dapat mengalahkan gadis ini, terpaksa Sin-kiam Mo-li tersenyum, menyimpan sepasang senjatanya dan ia mengangguk-angguk.

"Engkau masih begini muda akan tetapi sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, nona Pouw. Engkau tadi memperguna-kan sin-kang panas dan dingin, mengingatkan aku akan ilmu dari Pulau Es. Apakah engkau murid dari keluarga Pulau Es?"

"Mendiang guruku adalah mantu dari sucouw Pendekar Super Sakti Pulau Es,"

Jawab Li Sian sejujurnya.

Mendengar ini terkejutlah semua orang, termasuk Siangkoan Lohan.

Pantas gadis ini demikian lihainya.

Akan tetapi diam-diam dia pun girang sekali.

Bagaimanapun juga, gadis ini telah disudutkan oleh kerajaan, menjadi musuh kerajaan karena keluarganya dibasmi oleh kerajaan sehingga dapat diharapkan gadis ini akan suka membantunya.

"Mari kita bicara di dalam, nona Pouw. Ah, ya, apakah engkau lupa kepada anakku ini? Bukankah ketika engkau bersama ayahmu dahulu berkunjung ke sini, kalian sudah saling berkenalan? Ini adalah Siangkoan Liong. Anakku, apakah engkau sudah lupa kepada nona Pouw?"

Mereka saling pandang dan Li Sian merasa kagum.

Pemuda ini tampan dan halus, nampak ramah sekali dan juga sopan ketika menjura dengan hormat kepadanya.

"Tentu saja aku tidak lupa kepada nona Pouw Li Sian, biarpun dahulu hanya menjadi tamu beberapa hari saja di sini,"

Katanya.

Li Sian juga teringat, walaupun hanya samar-samar bahwa Siangkoan Lohan dahulu memang mempunyai seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya.

Ia pun balas menjura.

"Aku pun masih ingat kepadamu, saudara Siangkoan Liong."

Mereka lalu masuk ke dalam rumah.

Sin-kiam Mo-li tidak ikut masuk, namun diam-diam ia merasa tidak enak.

Gadis itu lihai, dan agaknya pihak tuan rumah menghormatinya.

Kenyataan bahwa gadis itu masih keturunan murid keluarga Pulau Es, membuat hatinya merasa tidak enak.

Gadis itu berbahaya, pikirnya, kecuali kalau sinar matanya mencorong gembira, benar.

Itulah satu-satunya jalan.

Gadis itu harus dapat ditaklukkan oleh Siangkoan Liong, menjadi kekasihnya atau isterinya, barulah diharapkan gadis itu akan benar-benar setia membantu gerakan persekutuan mereka!

Ia akan membicarakan hal ini dengan Siangkoan Liong dan dengan bantuannya, mustahil gadis itu tidak akan dapat ditundukan oleh Siangkoan Liong!

Sementara itu, Li Sian diajak bercakap-cakap di sebelah dalam, diterima dengan ramah dan hormat oleh Siangkoan Lohan dan puteranya, dijamu dan di dalam percakapan itu, pihak tuan rumah mulai menanamkan rasa permusuhan dan sakit hati terhadap Kerajaan Mancu yang telah membasmi keluarga Pouw.

"Kaum penjajah Mancu memang keterlaluan sekali,"

Antara lain Siangkoan. Lohan berkata.

"Bayangkan saja. Pihak kami, Tiat-liong-pang, kurang bagaimana dahulu membantu mereka dan kami telah mengorbankan segalanya untuk membantu mereka. Akan tetapi ternyata mereka itu merupakan bangsa yang tidak mengenal budi dan mudah melupakan jasa orang. Ayahmu sendiri, nona Pouw, adalah seorang di antara pembesar tinggi yang setia dan baik. Akan tetapi apa jadinya? Keluarga ayahmu dibasmi, hanya karena ayahmu berani menentang Hou Seng, padahal ayahmu menentang Hou Seng justeru untuk menyelamatkan negara dan kerajaan!"

Sedikit demi sedikit, hati Li Sian dibakar.

Akan tetapi gadis ini masih ragu-ragu.

Gurunya selalu memberi wejangan agar ia tidak menyimpan dendam terhadap siapapun juga, dan hidup sebagai seorang pendekar harus bebas dari api dendam karena dendam akan melenyapkan pertimbangan adil.

Seorang pendekar haruslah bertindak adil, membela kebenaran dan keadilan tanpa memilih bulu.

Sebaliknya dendam membutakan mata akan kebenaran dan keadilan, semata-mata hanya untuk melampiaskan nafsu dendam saja.

"Saya masih bingung, Paman. Saya ingin sekali berjumpa dengan kakak sulung saya, oleh karena itu saya mohon bantuan Paman, sukalah membantu saya mencari di mana adanya kakak saya itu bertugas agar saya dapat bertemu dengan anggauta keluarga yang tinggal satu-satunya itu."

"Tentu, tentu sekali, Nona, kami akan membantumu dan sementara ini, tinggallah di sini sebagai tamu kehormatan, ah, tidak, sebagai anggauta keluarga kami sendiri, sebagai keponakanku!"

Kata Siangkoan Lohan dengan ramah sekali.

Li Sian merasa terharu.

Kakek ini dan puteranya sungguh baik, menerimanya sedemikian ramahnya, bahkan menganggapnya sebagai anggauta keluarga.

Ia pun bangkit berdiri dan memberi hormat.

"Paman sungguh melimpahkan budi kebaikan kepada saya, entah bagaimana saya akan mampu membalasnya. Akan tetapi, harap Paman jangan menyebut saya nona, membuat saya merasa kikuk saja, Paman."

Siangkoan Lohan tertawa.

"Ha-ha-ha, baiklah, Li Sian, baiklah. Engkau kuanggap keponakanku sendiri, karena mendiang ayahmu dahulu amat cocok denganku, seperti saudara pula. Nah, anak Liong, engkau mendengar sendiri. Sekarang, erigkau harus bersikap seperti seorang kakak terhadap Li Sian."

Siangkoan Liong bangkit berdiri dan Siangkoan Liong bangkit berdiri dan membalas penghormatan Li Sian sambil tersenyum.

"Aku merasa girang sekali dapat menjadi kakak misanmu, Sian-moi (adik Sian)."

Kedua pipi Li Sian berubah agak merah mendengar sebutan Sian-moi itu, akan tetapi, kalau ia dianggap sebagai keponakan dari Siangkoan Lohan, sudah sepatutnya pemuda itu menyebutnya adik.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Liong-toako (kakak Liong),"

Jawabnya.

Mereka lalu duduk kembali dan melanjutkan makan minum.

Semenjak hari itu, Li Sian memperoleh sebuah kamar di rumah besar itu, diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat.

Bahkan ketika ia diperkenalkan kepada para murid Tiat-liong-pang, juga kepada Sin-kiam Mo-li, Semua orang tidak berani bersikap kurang ajar kepadanya, maklum bahwa gadis itu selain lihai sekali, juga diterima sebagai keponakan Siangkoan Lohan.

Bahkan Li Sian ikut pula.

dalam latihan perang-perangan itu, membantu Sin-kiam Mo-li untuk mempertahankan "benteng kota raja"

Yang diserbu oleh pasukan yang dipimpin oleh Toat-beng Kiam-ong.

Setelah latihan itu selesai, Li Sian diperkenalkan kepada para sekutu yang lain, kepada Toat-beng Kiam-ong, juga kepada Agakai kepala suku Mongol, dan kepada Song Ciangkun, tangan kanan Coa Tai-ciangkun yang menjadi komandan pasukan pemerintah yang bertugas jaga di utara.

Song Ciangkun inilah yang berjanji kepadanya untuk menyelidiki di mana adanya Pouw Ciang Hin, kakak sulung Li Sian sehingga gadis ini merasa gembira sekali.

Hubungannya dengan Siangkoan Liong juga akrab sekali karena pemuda itu memang pandai mengambil hati, ramah, sopan dan memiliki pengertian yang mendalam tentang sastra dan silat.

Bahkan pemuda itu, untuk melakukan penyelidikan, beberapa kali mengajak gadis itu berlatih silat dan dengan lega dia mendapat kenyataan bahwa betapapun lihai Li Sian, namun dia mampu mengatasi gadis itu walaupun selisihnya tidak berapa jauh!

Sebaliknya, Li Sian kagum sekali akan pengertian pemuda itu tentang sastra, dan tentang pengetahuan lain yang membuat ia merasa bodoh ketinggalan dan ia dapat banyak belajar dari pemuda itu.

Dalam hal ilmu silat, ia pun dapat melihat bahwa Siangkoan Liong ini bahkan jauh lebih lihai dari Sin-kiam Mo-li dan sungguhpun belum pernah mereka mengadu ilmu untuk menentukan siapa yang lebih unggul, Namun ia sendiri merasa bahwa agaknya tidak akan mudah baginya untuk dapat menang menandingi ilmu kepandaian pemuda yang tampan itu.

Tidaklah mengherankan kalau hati Li Sian mulai terpikat!

Kita tinggalkan dulu Pouw Li Sian yang tanpa disadarinya telah terjatuh ke tempat yang amat berbahaya baginya, dan mari kita melihat keadaan Suma Lian.

Gadis ini setelah pulang ke rumah orang tuanya, segera menambah kepandaiannya dengan gemblengan ayah ibunya.

Dari ayahnya, Suma Ceng Liong, ia tekun berlatih Ilmu Coa-kun-ci, semacam ilmu totokan yang ampuh sekali karena jari tangannya yang sudah dilatih secara istimewa itu bukan hanya mampu menotok jalan darah dan menghentikan aliran darah, Bahkan dapat menembus tulang sesuai dengan namanya, yaitu Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang)!

Ilmu ini memang mengerikan dan agak kejam, karena ayahnya dahulu menerimanya dari seorang datuk sesat yang bernama Hek I Mo-ong (Raja Iblis Baju Hitam).

Adapun dari ibunya, Kam Bi Eng, Suma Lian menerima ilmu yang hebat, yaitu ilmu pedang gabungan yang dimainkan dengan sebatang suling, diberi nama Koai-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Siluman), gabungan dari Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman).

Kini ia sudah memiliki sebuah suling emas yang dapat dimainkan dengan hebatnya sehingga suling emas itu bagaikan sebatang pedang saja dapat bergulung-gulung dengan hebatnya sambil mengeluarkan suara melengking-lengking.

Hanya karena ia sudah memiliki dasar yang amat kuat berkat gemblengan mendiang, kakek Gak Bun Beng atau Bu Beng Lokai, maka gadis ini mampu mempelajari kedua ilmu yang hebat itu dalam waktu yang tidak berapa lama.

Ayah bundanya gembira sekali melihat kemajuan puteri mereka.

Akan tetapi, ada suatu hal yang membuat suami isteri ini agak gelisah, yaitu melihat betapa puteri mereka kini telah berusia dua puluh tahun lebih, hampir dua puluh satu dan puterinya itu bertunangan pun belum!

Semenjak puteri mereka pulang, suami isteri itu hampir setiap malam membicarakan hal ini, akan tetapi mereka merasa ragu untuk mengajak puteri mereka bicara karena melihat betapa puteri mereka memiliki watak keras, dan puteri mereka demikian lincah jenaka dan gembira.

Mereka khawatir kalau-kalau usul mereka akan diterima dengan hati yang tidak senang dan membuat puteri mereka menjadi murung.

"Bagaimanapun juga, kita harus memberitahunya, isteriku,"

Kata Suma Ceng Liong.

"Usia dua puluh tahun lebih sudah terlalu dewasa untuk seorang gadis! Sampai kapan kita harus menanti untuk menikahkan anak kita yang tunggal itu? Biarpun untuk gadis kang-ouw, urusan pernikahan tidak boleh disamakan dengan gadis biasa, akan tetapi bagaimanapun juga, seorang wanita haruslah membentuk rumah tangga dan mempunyai keturunan hidup sebagai seorang isteri atau ibu yang berbahagia. Dan kita menjadi kakek dan nenek yang bahagia pula."

"Baiklah, besok akan kuajak ia bicara. Mudah-mudahan saja, selama ini sudah ada pemuda yang menjadi pilihan hatinya."

"Aku meragukan hal itu. Bukankah baru saja ia meninggalkan tempat tinggal paman Gak Bun Beng setelah orang tua itu meninggal dunia? Aku jadi teringat akan cerita kakak Suma Ciang Bun dulu itu...."

"Hemmm, tentang muridnya, Gu Hong Beng itu?"

Tanya Kam Bi Eng.

Memang, Suma Ciang Bun pernah berterus terang kepada mereka bahwa ketika nenek Teng Siang In, ibu Suma Ceng Liong, akan meninggal dunia, ditunggu oleh Gu Hong Beng, nenek itu pernah minta Hong Beng berjanji agar kelak menjadi suami Suma Lian dan karena permintaan itu merupakan permintaan atau pesan terakhir seorang yang akan mati, pemuda itu tentu saja tidak sampai hati untuk menolaknya.

Baru setelah nenek itu meninggal, Gu Hong Beng menjadi bingung dan tidak berani mengaku kepada Suma Ceng Liong dan isterinya, hanya berani menceritakannya kepada gurunya, yaitu Suma Ciang Bun.

Gurunya inilah yang kemudian memberitahukannya kepada Suma Ceng Liong berdua.

Akan tetapi ketika itu, Suma Lian sedang belajar silat kepada kakek Gak Bun Beng dan baru berusia tiga belas tahun, oleh karena itu ayah ibunya menjawab bahwa karena anak itu masih belum dewasa, Maka urusan pernikahan ini sebaiknya ditunda pembicaraannya dan kelak akan diserahkan kepada Suma Lian sendiri.

Mereka memberi tahu kepada Suma Ciang Bun bahwa tentang perjodohan puteri mereka, mereka menyerahkan kepada, pilihan Suma Lian sendiri dan kalau kelak Suma Lian suka menjadi jodoh Gu Hong Beng seperti yang diusulkan oleh mendiang nenek Teng Siang In, tentu mereka pun tidak berkeberatan.

Kini, setelah puteri mereka dewasa dan mereka memikirkan perjodohan puteri mereka, tentu saja suami isteri itu teringat kepada Gu Hong Beng!

Sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu dengan Gu Hong Beng atau pun gurunya, Suma Ciang Bun.

Akan tetapi mereka pernah mendengar bahwa kakak mereka itu kini tinggal sebagai pertapa di lereng Gunung Tapa-san, di dekat sumber air Sungai Han-sui di Propinsi Shensi.

"Hemmm, entah berapa usianya sekarang. Kalau tidak keliru kakak Ciang Bun membicarakan urusan perjodohan itu, Hong Beng berusia sembilan belas tahun dan Lian-ji baru berusia tiga belas tahun. Kalau sekarang Lian-ji berusia dua puluh tahun, berarti Hong Beng sudah berusia dua puluh enam tahun,"

Kata Suma Ceng Liong mengingat-ingat.

"Pemuda itu cukup baik, gagah perkasa dan sederhana dan tentang ilmunya, walaupun mungkin tidak setinggi yang dikuasai Lian-ji, namun tentu selama ini dia telah memperoleh. banyak pengalaman dan kemajuan."

"Hanya kita tidak tahu apakah dia masih belum memperoleh jodoh, dan kita lebih tidak tahu lagi keadaan anak kita sendiri. Sebaiknya, biarlah besok kutanyai Lian-ji, apakah selama ini ia sudah bertemu dengan seorang pemuda yang cocok untuk menjadi calon suaminya."

"Kalau sudah ada?"

Tanya suaminya.

"Kita desak ia agar segera diada-kan kontak dan kita sebagai orang tua akan membicarakan dengan pihak sana."

"Bagaimana kalau ia belum mempunyai pandangan?"

"Wah, kalau begitu aku sendiri pun bingung,"

Kata Kam Bi Eng.

"Begini saja, kalau memang benar ia masih bebas, kita suruh saja ia pergi berkunjung ke tempat pertapaan kakak Suma Ciang Bun. Kasihan Bun-toako, hidup seorang diri. Biarlah Lian-ji berkunjung ke sana dan menyampaikan permintaan kita agar Bun-toako suka tinggal bersama kita di sini. Dengan demikian, memberi kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan Hong Beng dan kita nanti bicarakan urusan jodoh itu, kalau-kalau Lian-ji menyetujuinya."

Kam Bi Eng menyetujui usul suaminya.

Bagaimana-pun juga, sebagai seorang ibu tentu saja ia pun ingin sekali melihat puterinya menikah dan biarpun usianya baru empat puluh tahun, karena tidak mempunyai anak lain kecuali Suma Lian, maka Kam Bi Eng juga mendambakan adanya seorang cucu yang mungil.

Demikianlah, pada keesokan harinya, Kam Bi Eng mengajak puterinya bercakap-cakap.

Dipancingnya puterinya itu tentang pembicaraan mengenai perjodohan, Suma Lian tersenyum memandang ibunya.

"Aih, Ibu ini! Pagi-pagi bicara tentang perjodohan! Siapa sih yang memikirkan soal jodoh?"

Katanya sambil tertawa. Kam Bi Eng adalah seorang yang juga berwatak lincah jenaka, akan tetapi ia memiliki ketegasan.

"Hentikan main-main itu, anakku. Ingat, berapa usiamu sekarang?"

"Berapa, ya? Dua puluh tahun lebih kukira."

"Nah, biasanya, seorang wanita berusia dua puluh tahun lebih sudah menggendong seorang anak. Apakah engkau sama sekali belum memikirkan urusan perjodohan? Ayahmu dan aku menyerahkan pemilihan calon suami kepadamu, maka aku ingin sekali tahu apakah selama ini engkau sudah bertemu dengan seorang pria yang kau anggap cocok untuk menjadi calon suamimu?"

"Wah, Ibu ini ada-ada saja. Selama ini aku tekun berlatih silat, mana ada kesempatan untuk memikirkan soal itu? Tidak, Ibu, aku belum mempunyai pilihan siapapun juga."

"Sudahlah kalau begitu. Sekarang, ayahmu dan aku minta agar engkau suka mengundang paman tuamu Suma Ciang Bun. Kasihan dia, hidup seorang diri dan mengasingkan diri. Engkau kunjungi dia dan atas nama kami, undanglah dia ke sini. Sebentar, kupanggil ayahmu!"

Kam Bi Eng lalu memanggil suaminya yang berada di ruangan belakang. Suma Ceng Liong datang dan dia pun membenarkan apa yang dikatakan isterinya.

"Benar, Lian-ji. Kami merasa kasihan kepada Bun-toako. Engkau pergilah ke sana dan katakan bahwa kami mengundang ia untuk datang dan tinggal di sini bersama kita."

"Akan tetapi, di manakah paman Ciang Bun tinggal?"

"Dia bertapa di lereng Pegunungan Tapa-san, di dekat sumber air Sungai Han Sui, di Propinsi Shensi. Carilah dia sampai dapat, anakku, dan bujuklah dia agar suka ikut bersamamu ke sini. Kami sudah rindu padanya dan katakan bahwa kami ingin sekali agar dia tinggal bersama kami di sini, sedikitnya untuk beberapa waktu lamanya, syukur kalau dapat selamanya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi, Lian-ji."

Suma Lian mengangguk.

Memang tidak enak rasanya tinggal di rumah saja, dan ia pun tidak mengira sama sekali bahwa selain mengundang paman tuanya, juga kedua orang tuanya itu mengharapkan ia bertemu dengan Gu Hong Beng yang sudah ditunangkan dengannya secara diam-diam oleh mendiang neneknya!

Beberapa hari kemudian, setelah membawa bekal pakaian dan uang secukupnya, berangkatlah Suma Lian meninggalkan rumah orang tuanya.

Kini ia sudah berbeda lagi dengan ketika ia pulang, karena ia sudah dibekali dua macam ilmu yang membuat dirinya menjadi semakin lihai.

Dan di pinggangnya kini terselip sebatang suling emas!

Seperti juga sumoinya, Li Sian, ia mampu mempergunakan setiap ranting kayu untuk menjadi pedang dan memainkan ilmu Lo-thian Kiam-sut, akan tetapi dengan suling emas itu, ia merasa lebih mantap dan lebih percaya akan kemampuan diri sendiri.

Perjalanan yang dilakukan Suma Lian cukup jauh, menuju ke barat melalui Propinsi Honan dan Shensi.

Kalau pulangnya, akan lebih mudah mengambil jalan air, yaitu naik perahu mengikuti aliran Sungai Kuning, akan tetapi berangkatnya, ia mengambil jalan darat.

Namun, bagi seorang gadis perkasa seperti Suma Lian, perjalanan itu bahkan amat menggembirakan dan ia sama sekali tidak khawatir akan adanya gangguan di dalam perjalanan karena ia sudah membawa bekal ilmu kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi, baru beberapa hari ia meninggalkan Cin-an dan tiba di perbatasan Propinsi Hopei karena dara ini mengambil jalan lurus ke barat, ia memasuki sebuah kota kecil, di perbatasan itu dan karena hari sudah mulai gelap, ia mengambil keputusan untuk bermalam di kota itu dan tidak disangkanya, di tempat itu ia bertemu dengan pengalaman yang berbahaya!

Sore hari itu, setelah memasuki kota Bun-koan yang tidak berapa besar, Suma Lian segera menoleh ke kanan kiri untuk mencari rumah penginapan.

Hari itu ia melakukan perjalanan sehari penuh melalui jalan berdebu dan ia merasa tubuhnya lelah, panas dan kotor.

Ia ingin mandi, lalu mencari makan malam yang enak sebelum beristirahat semalam suntuk agar tenaganya pulih kembali dan besok dapat melanjutkan perjalanan pagi-pagi dengan tubuh segar.

Kota itu tidak besar dan ternyata hanya mempunyai sebuah rumah penginapan yang tidak berapa besar.

Keadaan rumah penginapan itu terlalu kotor bagi Suma Lian, akan tetapi, gadis ini pernah hidup dalam keadaan yang serba sederhana bahkan sangat kekurangan ketika ia mengikuti gurunya hidup sebagai orang yang miskin, maka ia tidak dapat terlalu banyak memilih dan tidak pula merasa jijik ketika ia akhirnya memperoleh sebuah kamar yang tidak besar dan agaknya jarang dibersihkan.

Ia hanya minta agar kain alas tempat tidur dan bantalnya diganti dengan yang bersih, dan untuk itu ia harus mengeluarkan beberapa uang kecil untuk pelayan.

Hanya dengan mengeluarkan uang persenan tambahan pula maka ia akhirnya bisa memperoleh cukup air untuk mandi.

Tubuhnya terasa segar dan nikmat setelah mandi bersih dan mengenakan pakaian pengganti, dan atas petunjuk pelayan yang sudah dua kali menerima hadiah uang kecil darinya itu, ia memperoleh keterangan di mana ia dapat membeli makan malam yang enak.

Benar saja, restoran kecil itu ternyata dapat menyuguhkan makanan yang cukup lezat, terutama sekali masakan udang kegemarannya.

Dan harganya pun tidak mahal.

Dengan puas Suma Lian kembali ke kamar di rumah penginapannya, siap untuk tidur.

Selagi ia berjalan melalui lorong menuju ke kamarnya, tiba-tiba ia mendengar suara anak laki-laki yang merengek, datangnya dari kamar di sebelahnya.

"Aku mau pulang! Ah, antarkan aku pulang, atau aku mau pulang sendiri. Aku tidak mau lagi melanjutkan perjalanan dan ikut denganmu!"

Suara itu jelas suara seorang anak laki-laki dan suaranya terdengar seperti anak yang ketakutan.

Karena tertarik, dan lorong di mana kamar-kamar berjajar itu sepi, Suma Lian menghentikan langkahnya dan mendengarkan.

"Hushhhhh, jangan ribut-ribut."

Terdengar suara seorang laki-lagi, suaranya membujuk.

"Kalau sampai terdengar olehnya dan ia menyusul ke sini, tentu kita akan dibunuh, terutama sekali engkau."

"Ah, kenapa wanita itu hendak membunuh aku? Kenapa?"

Anak itu membentak.

"Ssttt, ia adalah musuh ibumu. Dan hanya ibumu yang dapat melawannya, dapat melindungimu, karena itu aku akan mengantar pada ibumu, ia berada di kota So-tung, tak jauh dari sini. Besok pagi-pagi kita ke sana dan sekarang diamlah, kita sembunyi di sini...."

Anak itu tidak terdengar merengek lagi.

Suma Lian tentu saja merasa heran mendengar ucapan laki-laki itu.

Siapakah yang ingin membunuh seorang anak kecil dan mengapa?

Akan tetapi, jangan-jangan laki-laki itu hanya menakut-nakuti saja dan karena bukan urusannya, maka ia pun melangkah menuju ke kamarnya dan merebahkan diri setelah membuka sepatunya.

Akan tetapi, percakapan di kamar sebelah itu membuat ia tidak mudah untuk pulas.

Perhatiannya tetap saja tertuju ke kamar sebelah dan kewaspadaannya tetap berjaga-jaga, siap untuk turun tangan menolong kalau-kalau benar ada bahaya mengancam anak di sebelah itu!

Akhirnya, karena tidak terjadi sesuatu sampai jauh hampir tengah malam, Suma Lian mulai mengantuk.

Ketika ia hampir tertidur, tiba-tiba saja telinganya yang masih dalam keadaan waspada, menangkap sesuatu yang mencurigakan, Suara gerakan di atas genteng!

Sedikit suara ini saja sudah cukup baginya untuk terbangun.

Cepat disambarnya sepatunya, dipakainya dan ia pun membuka daun jendela, lalu tubuhnya sudah meluncur keluar dari jendela kamarnya.

Pada saat itu, dia melihat seorang laki-laki yang menggendong seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tujuh tahun, juga melompat keluar dari jendela kemudian melarikan diri.

Itulah orang yang tinggal di kamar sebelah, pikirnya.

Agaknya laki-laki itu pun sudah mendengar akan suara mencurigakan di atas genteng dan dia mengajak anak itu melarikan diri.

Dan benar saja, pada saat itu, dari atas genteng menyambar turun bayangan orang yang berseru dengan halus.

"Hemmm, engkau hendak lari ke mana?"

Mendengar ini laki-laki yang menggendong anak itu mempercepat larinya dan terkejutlah Suma Lian melihat bahwa laki-laki itu ternyata dapat berlari cepat sekali, bukan larinya orang sembarang melainkan larinya orang yang menguasai ilmu berlari cepat dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup hebat!

Akan tetapi wanita itu, bayangan yang membentak tadi, juga dapat berlari cepat melakukan pengejaran.

Melihat ini, Suma Lian juga mengerahkan tenaganya dan mengejar pula.

Untung baginya bahwa malam itu bulan bersinar terang sehingga ia dapat melihat jelas dua bayangan yang saling berkejaran itu.

Laki-laki yang menggendong anak itu dapat berlari cepat sekali, akan tetapi pengejarnya agaknya lebih lihai lagi sehingga jarak di antara mereka menjadi semakin dekat.

Suma Lian yang khawatir kalau-kalau dua orang itu terkejar dan terbunuh, mempercepat larinya dan ketika laki-laki itu meng-hilang ke dalam sebuah hutan kecil, pengejarnya meragu dan berhenti sebentar di luar hutan.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Suma Lian untuk mempercepat larinya dan membentak.

"Hai, engkau yang berniat jahat, tunggu dulu!"

Bentakannya nyaring dan membuat wanita yang tadi melakukan pengejaran itu terkejut, lalu membalikkan tubuhnya.

Kini mereka berdiri berhadapan, dalam jarak antara dua meter.

Sinar bulan cukup terang sehingga walaupun tidak sangat jelas, mereka dapat saling melihat dan keduanya diam-diam merasa heran.

Suma Lian melihat bahwa wanita itu sama sekali bukan nampak seperti seorang penjahat.

Sebaliknya malah ia seorang wanita muda, seorang gadis yang cantik jelita, matanya lebar dan sikapnya gagah sekali.

Akan tetapi, wanita itu agaknya marah oleh gangguan-nya dan begitu mereka berhadapan, ia menegur Suma Lian, suaranya nyaring dan ketus.

"Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan orang lain dengan lancang? Mau apa engkau mengejar aku?"

Suma Lian tidak marah, hanya ia merasa heran mengapa ada seorang gadis secantik dan segagah ini berhati kejam hendak membunuh seorang anak kecil.

"Aku mengejar untuk mencegah engkau melakukan suatu kejahatan, Sobat! Mengapa pula engkau mengejar orang yang membawa seorang anak kecil tadi? Tak usah kau lanjutkan niatmu yang jahat itu...."

"Lancang kau! Kalau aku mengejar mereka, engkau mau apa? Apamukah laki-laki itu?"

"Bukan apa-apa, aku kebetulan bermalam di kamar dekat kamar mereka dan mendengar bahwa mereka takut kepadamu yang hendak membunuh, maka aku lalu ikut pula mengejar. Kalau engkau lanjutkan pengejaranmu, terpaksa aku turun tangan menghalangimu."

"Hemm, manusia sombong dan lancang yang hendak mencampuri urusan orang! Atau mungkin engkau kaki tangannya, ya? Kalau begitu perlu kuhajar dulu engkau!"

Gadis itu sudah menerjang dengan tamparan ke arah muka Suma Lian.

Tentu saja Suma Lian cepat mengelak dan balas menyerang dengan tak kalah cepatnya.

Namun, gadis itu meloncat ke samping dan kini ia menerjang lagi sambil menghujankan serangan dengan kaki tangannya, seolah-olah ingin cepat merobohkan Suma Lian agar ia dapat cepat melakukan pengejaran terhadap laki-laki yang melarikan bocah tadi.

Menghadapi serangan yang luar biasa cepatnya ini, Suma Lian terkejut.

Tak disangkanya bahwa gadis yang menjadi lawannya ini benar-benar lihai sekali.

Serangannya bukan saja amat cepat, akan tetapi juga hawa pukulan yang keluar dari gerakan kaki tangannya amat kuat, tanda bahwa gadis itu memiliki sin-kang yang sudah tinggi tingkatnya.

ia pun melindungi dirinya dengan langkah-langkah ajaib Sam-po Cin-keng sehingga dengan mudah ia dapat menghindarkan semua serangan lawan.

Gadis itu menjadi semakin penasaran.

"Hemmm, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian, ya?"

Bentaknya.

"Nah, terimalah ini!"

Tangan kanannya menyambar cepat dan ada hawa yang panas sekali menyambar dari tangan kanannya itu, dan kehebatan serangan ini sukar untuk dielakkan lagi oleh Suma Lian.

Ia terkejut, maklum akan hebatnya pukulan lawan, maka ia pun menggerakkan tangan kirinya sambil mengerakkan tenaga Swat-im Sin-kang untuk menyambut pukulan yang mengandung hawa panas itu.

"Dukkk!"

Dua lengan yang berkulit putih halus itu saling bertemu dan keduanya terdorong ke belakang dan keduanya memandang dengan mata terbelalak.

"Swat-im Sin-kang....!"

Teriak gadis yang menyerang itu.

"Hui-yang Sin-kang....!"

Suma Lian juga berseru heran. Gadis itu memandang marah, lalu menudingkan telunjuk ke arah muka Suma Lian.

"Engkau dari mana mencuri ilmu dari Pulau Es?"

Bentaknya. Suma Lian tersenyum mengejek.

"Sobat, engkaulah yang mencuri ilmu dari keluargaku. Aku bernama Suma Lian, keturunan langsung dari penghuni Pulau Es!"

"Aihhhhh....!"

Gadis itu berseru dan memandang dengan mata terbelalak.

"Kau kau.... Suma Lian, puteri dari paman Suma Ceng Liong?"

"Benar, dan siapakah engkau?"

"Aku Kao Hong Li...."

"Aihhh....! Engkau puteri bibi Suma Hui....?"

Seru Suma Lian dan mereka maju saling berangkulan.

"Enci Hong Li, maafkan aku, maafkan kelancanganku tadi."

"Sudahlah, adik Lian. Sering aku datang berkunjung ke rumah paman Suma Ceng Liong, akan tetapi engkau belum juga pulang. Tentu ada sebabnya mengapa engkau tadi mencegah aku mengejar orang yang menculik anak itu."

Suma Lian merasa kaget setengah mati.

"Apa? Dia.... dia itu menculik anak itu? Wah, kalau begitu aku yang bersalah, enci Hong Li. Lalu ia menceritakan bahwa tadi ia mendengar anak itu merengek minta pulang, dan laki-laki itu mengatakan bahwa mereka harus melarikan diri darimu yang hendak membunuh mereka, terutama membunuh anak itu. Maka, ketika melihat betapa mereka melarikan diri dan engkau mengejarnya, aku pun langsung saja turun tangan mencegahmu. Maafkan aku...."

"Hemmm, penculik itu telah menipu si anak dan engkau pun ikut pula tertipu, adik Lian. Aku melihat dia melarikan anak laki-laki itu yang berteriak minta dilepaskan dan minta dipulangkan, maka aku melakukan pengejaran sejak kemarin. Aku kehilangan jejaknya dan baru aku temukan mereka di rumah penginapan ini."

"Akan tetapi siapakah dia, Enci? Dan mengapa pula dia menculik anak laki-laki itu? Siapa pula anak laki-laki itu?"

"Aku juga tidak tahu siapa mereka dan mengapa pula dia menculik anak itu. Ketahuilah, adik Lian, aku sedang melakukan perjalanan menuju ke rumah orang tuamu, untuk memberi kabar tentang meninggalnya kakek dan nenek di gurun pasir...."

"Ahhh! Penghuni Gurun Pasir....?"

"Benar, kakek dan nenekku tewas setelah istana itu diserbu banyak datuk sesat, dan setelah memberitahukan kepada orang tuamu, aku akan pergi mencari siapa para datuk yang pernah menyerbu ke sana. Dan engkau sendiri, engkau sudah berapa lama pulang dan sekarang hendak ke mana?"

"Aku diutus oleh orang tuaku untuk mengundang paman tua Suma Ciang Bun agar suka datang ke rumah kami."

"Aih, paman Suma Ciang Bun? Dia bertapa di Tapa-san dan agaknya sudah tidak mau lagi mencampuri dunia ramai. Aku pernah beberapa kali berkunjung ke sana. Ah, sungguh tidak kusangka kita akan saling bertemu seperti ini, adik Lian!"

"Aku pun girang sekali dapat bertemu denganmu, enci Hong Li. Akan tetapi, setelah mendengar keteranganmu tentang laki-laki yang bercaping lebar tadi bahwa dia menculik anak itu, biarlah aku akan melakukan pengejaran dan menolong anak itu!"

"Tapi, ke mana engkau akan mencarinya, adik Lian? Dan aku pun belum yakin benar, baru mencurigainya menculik anak, belum ada bukti nyata, bahkan aku tidak tahu siapa dia dan siapa anak itu."

"Biarlah, Enci. Aku akan menyelidiki. Terpaksa kita berpisah di sini, Enci. Engkau melanjutkan perjalanan ke rumah orang tuaku menyampai-kan berita duka itu, dan aku akan pergi berkunjung kepada paman Suma Ciang Bun setelah menyelidiki penculik itu."

Kao Hong Li merangkul lagi, merasa sayang untuk saling berpisah.

"Aih, kita baru saja bertemu secara tidak sengaja. Kalau kita tidak sama-sama menggunakan Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang, entah bagaimana jadinya dengan kita yang saling hantam sendiri. Akan kuceritakan ini kepada orang tuamu. Ah, aku masih ingin sekali bersamamu dan bercakap-cakap lama, adik Lian."

"Aku pun begitu, Enci. Akan tetapi karena kita berdua sama-sama mempunyai tugas, biarlah lain kali masih banyak kesempatan bagi kita untuk saling berjumpa dan bercakap-cakap sepuasnya."

"Baiklah, adik Lian. Nah, selamat berpisah. Akan tetapi kalau engkau mengejar orang bercaping lebar itu, berhati-hatilah. Melihat gerakannya ketika lari, kurasa dia bukanlah seorang yang lemah."

"Engkau benar, enci Hong Li. Akan tetapi aku pun belum yakin benar bahwa dia seorang penjahat yang menculik anak itu. Mungkin hanya timbul kesalahpahaman saja antara dia dan engkau. Aku tahu ke mana harus mencarinya karena ketika dia bicara dengan anak itu di dalam kamarnya, dia ada menyebutkan bahwa mereka akan pergi ke kota So-tung. Aku akan menyusul ke sana."

"Aku tidak khawatir, engkau tentu akan mampu mengatasinya, Lian-moi."

Kedua orang gadis itu yang masih saudara misan, saling peluk lagi kemudian Kao Hong Li meninggalkan tempat itu, berkelebat lenyap di kegelapan bayangan pohon.

Suma Lian juga cepat masuk kembali ke dalam kamarnya dan setelah menggendong buntalan pakaiannya, ia pun meninggalkan kamar rumah penginapan itu tanpa pamit karena ia sudah membayar sewa kamar itu sore tadi.

Tidak sukar bagi Suma Lian untuk menemu-kan kota So-tung yang letaknya kurang lebih tiga puluh li dari kota di mana ia bermalam itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi ia telah memasuki kota So-tung.

Sayang ia tertinggal jauh sehingga ia tidak lagi melihat bayangan laki-laki bercaping lebar bersama anak laki-laki itu.

Namun, Suma Lian tidak putus asa dan ia pun segera berputar-putar melakukan penyelidikan di seluruh kota.

Ketekunannya berhasil baik.

Ketika ia berjalan tiba di dekat pintu gerbang barat, ia melihat bayangan orang berkelebat dan ternyata bayangan itu adalah laki-laki berpakaian serba hijau yang mengenakan caping lebar, yang semalam melarikan diri bersama anak laki-laki yang dikejar oleh Kao Hong Li itu!

Akan tetapi, kini laki-laki itu berjalan seorang diri tanpa menggendong anak laki-laki dan nampaknya tergesa-gesa hendak keluar dari kota melalui pintu gerbang barat.

Melihat ini, Suma Lian juga mempercepat langkahnya keluar dari pintu gerbang itu.

Pagi itu masih sunyi sekali, belum nampak seorang pun manusia di luar pintu gerbang dan Suma Lian melihat betapa laki-laki bercaping itu menoleh, kemudian melarikan diri!

"Hei, tunggu....!"

Suma Lian berseru dan ia pun mempergunakan ilmu berlari cepat melakukan pengejaran.

Melihat gadis itu melakukan pengejaran, laki-laki itu mempercepat larinya.

Hal ini membuat Suma Lian semakin curiga dan ia pun mengerahkan seluruh kepandaiannya sehingga tak lama kemudian ia dapat menyusul dan bahkan mendahului, lalu membalik dan menghadang.

"Tunggu dulu!"

Bentaknya lagi.

Laki-laki itu terkejut bukan main, akan tetapi, ketika melihat bahwa gadis yang larinya melebihi kijang cepatnya ini bukanlah gadis yang kemarin membayanginya, wajahnya menjadi agak lega.

"Ah, kukira tadinya engkau adalah orang yang jahat itu, Nona,"

Katanya, dan sepasang matanya mengamati wajah Suma Lian penuh perhatian, dan penuh kagum pula.

Sebaliknya, Suma Lian juga memperhatikan orang ini.

Seorang laki-laki muda, usianya tentu paling banyak tiga puluh tahun, agak kurus dan kedua pipinya nampak peyot seperti orang yang pemadatan, akan tetapi sepasang matanya tajam mencorong menandakan bahwa dia seorang yang "berisi", dan sinar mata itu tajam, juga mengandung kekejaman dan kelicikan.

Mulutnya tersenyum dan nampak giginya yang agak menghitam karena banyak yang sudah rusak.

Wajah yang sebetulnya tampan itu nampak tidak menarik lagi ketika dia tersenyum dan diam-diam Suma Lian bersikap waspada.

Orang seperti ini tidak boleh dipercaya, demikian bisik hatinya.

Sementara itu, pria yang kurus itu ketika melihat bahwa yang mengejarnya seorang gadis yang teramat cantik menarik, memperlebar senyumnya dan melangkah maju sambil menjura dengan sikap sopan.

"Aih, ada urusan apakah engkau mengejar dan menahan aku, Nona? Siapakah nama Nona dan ada keperluan apakah dengan aku?"

Suma Lian mengerutkan alisnya.

Orang ini biasa mempergunakan topi caping lebar untuk menyembunyikan mukanya, akan tetapi sekarang dia mengangkat topi itu tinggi-tinggi sehingga nampak wajahnya yang sebenarnya tampan namun kurus sekali itu.

Dan sepasang mata yang tajam itu, selain mengandung kelicikan dan kekejaman, juga Suma Lian merasakan adanya kekuatan yang tidak wajar, seperti dimiliki orang yang biasa mempergunakan ilmu sihir.

Hal ini diketahuinya semenjak ia dilatih ilmu sihir oleh ayahnya, sepulangnya dari perguruan.

Oleh karena itu, ia pun bersikap hati-hati.

"Tidak ada urusan antara kita, dan tidak ada perlunya aku memperkenalkan nama. Akan tetapi, semalam aku melihat engkau melarikan seorang anak laki-laki sehingga timbul keinginan tahuku apa yang terjadi dengan anak itu? Di mana adanya anak laki-laki itu sekarang dan mengapa engkau melarikannya malam-malam dari rumah penginapan itu?"

Pria itu terbelalak.

"Tapi.... tapi.... kulihat engkau bukanlah wanita yang membayangi dan mengejarku kemarin...."

"Memang bukan! Aku yang bermalam di kamar sebelah dan mendengarmu melarikan diri. Hayo katakan, siapakah anak itu dan mengapa pula engkau melarikannya dan di mana dia sekarang?"

"Bukan urusamu, Nona, dan kunasihatkan agar engkau tidak mencampuri urusanku yang sama sekali tidak ada sangkutpautnya dengan dirimu."

"Hemmm, setiap kali hidungku mencium sesuatu yang busuk, tak mungkin aku tinggal diam begitu saja sebelum aku tahu betul bahwa tidak ada kejahatan dilakukan orang! Bawa aku pada anak itu agar aku dapat bicara sendiri dengan dia baru aku percaya bahwa engkau tidak melakukan sesuatu yang jahat terhadap dia!"

Laki-laki ini mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Nona, engkau masih muda dan cantik, akan tetapi sombong amat. Engkau tidak memandang sebelah mata kepada orang lain, agaknya engkau belum mengenal siapa diriku. Aku Liok Cit tidak percuma mempunyai julukan Tokciang Hui-moko (Iblis Terbang Bertangan Racun), dan tidak biasa aku diperintah orang lain! Pergilah sebelum terlambat!"

Suma Lian belum pernah mendengar nama julukan itu dan ia tersenyum.

Ia seorang gadis yang lincah jenaka dan pemberani, maka mendengar nama julukan itu ia merasa geli.

"Wah-wah, julukanmu demikian hebatnya, seolah-olah engkau pandai terbang dan seolah-olah tanganmu beracun. Kulihat mungkin hanya hatimu saja yang beracun, mukamu seperti orang berpenyakit keracunan yang sudah mendekati liang kubur. Kalau engkau tidak mau membawaku kepada anak itu, sekali dorong engkau tentu akan masuk liang kubur!"

"Bocah sombong!"

Liok Cit, laki-laki itu, memaki dan tiba-tiba dia pun menyerang dengan terkaman tangan kanan ke arah pundak Suma Lian, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah perut.

Serangan ini ganas dan berbahaya sekali, namun dengan mudahnya Suma Lian mengelak sambil mundur dan kakinya mencuat dengan tendangan menyamping, mengarah lambung lawan.

"Dukkk!"

Liok Cit menangkis tendangan itu dan balas menyerang dengan lebih dahsyat lagi, tubuhnya mendoyong ke depan, kedua tangannya terbuka dan dipergunakan sebagai golok, yang kanan membacok leher, yang kiri menusuk ke arah dada.

Melihat gerakan orang, Suma Lian maklum bahwa lawan ini memang bukan orang sembarangan, memiliki gerakan yang cepat dan dari sambaran kedua lengannya pun dapat dilihat bahwa dia memiliki tenaga sinkang yang kuat.

Akan tetapi ia tidak takut.

Ia melindungi kedua tangannya dengan tenaga Inti Bumi yang dapat menolak semua hawa beracun, dan menangkis sambil mengerahkan Swat-im Sin-kang.

"Plak! Plak!"

Kedua pasang lengan bertemu dan tubuh Liok Cit terdorong ke belakang dan dia agak menggigil karena ketika lengannya bertemu dengan lengan gadis itu, ada hawa dingin melebihi salju menyusup ke tubuhnya melalui lengan yang beradu dengan lengan gadis itu.

"Ihhhhh....!"

Dia menggun-cang tubuhnya untuk mengusir hawa dingin dan pada saat itu, Suma Lian sudah datang menyerangnya dengan totokan ke arah pundaknya.

Cepat sekali gerakan gadis itu, akan tetapi lebih cepat lagi gerakan Si Iblis Terbang, karena tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat jauh ke belakang.

Suma Lian terkejut dan maklum bahwa orang ini memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang istimewa dan kiranya pantas memakai julukan Iblis Terbang.

Ia mendesak lagi dengan serangan-serangannya, untuk memaksa orang itu agar membawanya ke tempat anak yang semalam dibawanya pergi.

Kini ia percaya akan keterangen Hong Li.

Orang ini tentulah seorang penjahat lihai yang melakukan penculikan terhadap anak itu.

Buktinya anak itu merengek minta pulang dan tentu kini disembunyikan di suatu tempat.

Liok Cit mengelak sambil berloncatan ke sana-sini dan mempergunakan kecepatan gerakannya, namun dia tidak mampu melepaskan diri dari desakan Suma Lian.

Hanya dengan cara berloncatan yang amat cepat dia selalu dapat menjauh lagi setiap kali sudah terdesak hebat.

"Engkau masih tidak mau menyerah dan membawaku kepada anak itu?"

Bentak Suma Lian dan tiba-tiba ia menotok dengan ilmu totok Coan-kut-ci yang baru saja dipelajarinya dari ayahnya.

Ilmu totokan ini adalah ilmu yang berasal dari golongan hitam, merupakan ilmu yang keji dan dahsyat bukan main.

Baru hawa totokannya saja sudah terasa oleh lawan dan Liok Cit juga merasa terkejut.

Tadi ketika gadis itu menggunakan tenaga yang berhawa dingin, dia sudah terkejut dan jerih, kini gadis itu menyerangnya dengan totokan yang demikian dahsyatnya.

Kembali dia menyelamatkan diri dengan ilmu ginkangnya, tubuhnya terjengkang ke belakang seperti dilemparkan akan tetapi dia selamat dari totokan yang amat dahsyat itu.

Tahulah dia bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya dia akan celaka, akan tetapi susahnya, kalau hendak melarikan diri pun pasti dapat dikejar karena ilmu berlari cepat gadis itu pun hebat sekali.

Diam-diam dia berkeringat dingin, menduga-duga siapa adanya gadis muda yang demikian lihainya.

Sementara itu, Suma Lian sendiri juga menjadi penasaran.

Jelaslah bahwa dalam hal ilmu silat, ia tidak kalah oleh si baju hijau ini, akan tetapi orang ini sungguh licin bagaikan belut, dan memiliki gin-kang yang istimewa sehingga selalu dapat menghindarkan diri pada detik terakhir kalau serangannya sudah hampir menge-nai sasaran.

Dengan marah ia lalu mencabut suling emas dari ikat pinggangnya dan menyerang dengan suling emasnya yang diputar dengan cepat.

Suling itu mengeluarkan gaung merdu seperti ditiup dan berubah menjadi gulungan sinar emas yang menyilaukan mata, menyambar-nyambar ke arah Liok Cit.

Orang ini pun cepat mencabut pedangnya dan melihat gulungan sinar emas menyambar-nyambar, dengan gugup dia lalu menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.

"Cringgg...."

Pedang itu seperti terlibat gulungan sinar dan Liok Cit tidak mampu mempertahankan pegangan gagang pedangnya yang terlepas dari tangannya.

Mana dia mampu menandingi Ilmu Koai-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Siluman) yang baru saja dipelajari gadis itu dari ibunya.

Akan tetapi begitu sinar emas menyambar ke arah dadanya, sambil mengeluarkan teriakan melengking tahu-tahu tubuh Liok Cit sudah mencelat ke atas sebatang pohon tak jauh dari situ.

Hebat memang gerakan ini, cepat seperti setan terbang saja!

Suma Lian menudingkan sulingnya ke arah lawan yang berada di puncak pohon itu.

"Engkau masih belum mau menyerah? Biar engkau melarikan diri ke neraka sekali pun, jangan harap dapat terlepas dari sulingku ini! Cepat turun dan tunjukkan aku di mana adanya anak itu!"

Tok-ciang Hui-moko Liok Cit menghela napas panjang.

Dia maklum bahwa dia kalah, akan tetapi dia masih mempunyai suatu andalan untuk menundukkan gadis ini.

Dia adalah seorang yang lama berkecimpung di dunia hitam dan menjadi sahabat baik dari para tosu Pek-lian-kauw sehingga pernah dia mempelajari ilmu sihir.

Tentu saja ilmu ini selalu dipergunakannya untuk melakukan kejahatan dan kini dia hendak mempergunakan ilmu ini untuk menundukkan gadis yang membahayakan dirinya itu.

"Baiklah, Nona aku menyerah kalah. Aku bukan musuhmu, bukan orang jahat dan tidak bermaksud jahat kepadamu. Biarkan aku turun dan mari kita bicara baik-baik, Nona."

"Turunlah. Tak usah banyak bicara, asal engkau membawa aku kepada anak itu dan membiarkan aku bicara sendiri dengan dia, cukuplah. Kalau memang engkau tidak melakukan kejahatan, aku pun tidak suka mengganggu orang yang tidak berdosa,"

Kata Suma Lian sambil menyimpan kembali suling emasnya di ikat pinggang, tertutup bajunya.

Dengan gerakan seperti seekor burung melayang turun, Liok Cit meloncat turun dari atas puncak pohon itu dan berdiri di depan Suma Lian.

Diam-diam gadis ini kagum dan memujinya.

Gin-kang orang ini memang hebat, pikirnya, dan ia sendiri masih kalah setingkat dalam hal meringankan tubuh.

Untunglah bahwa dalam hal ilmu silat dan tenaga, ia masih menang jauh sehingga tadi ia mampu membuat orang ini tidak berdaya.

Akan tetapi, kini Liok Cit merangkapkan kedua tangannya seperti orang menyembah di depan dadanya, matanya memandang tajam penuh wibawa dan suaranya terdengar halus, namun mendesis dan mengandung pengaruh yang kuat pula.

"Aku seorang sahabat, Nona, bukan musuh. Aku bermaksud baik kepadamu. Lihat, mukamu penuh keringat, usaplah dulu keringatmu baru kita bicara."

Otomatis, Suma Lian mengusap sedikit keringat di dahinya dengan ujung lengan baju dan tiba-tiba saja gadis ini maklum.

Keparat, pikirnya di dalam hati, orang ini mempergunakan kekuatan sihir!

Tentu saja ia mengerti dan dapat merasakan karena bukankah baru saja ia dilatih ilmu sihir oleh ayahnya sendiri?

Baca Juga: Bu Kek Siansu 7

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert