Ceritasilat Novel Online

Pedang Kayu Harum 13

Eps 13 Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo.

Suara hiruk-pikuk beradu senjata menarik perhatiannya dan ke tempat itulah Keng Hong meloncat secepat kilat.

Dugaannya benar.

Di dalam sebuah kamar tahanan lain, dia melihat Biauw Eng, Yan Cu dan Cong San mengamuk dikeroyok banyak tokoh musuh.

Biauw Eng bersenjatakan pedang, Yan Cu juga agaknya sudah berhasil merampas pedang perkasa ini juga mengamuk menggunakan kaki tangannya.

Ketika tadi dibebaskan Keng Hong, Biauw Eng berhasil menemukan Yan Cu yang sedang merawat Cong San di dalam kamar tahanan.

Biauw Eng merobohkan beberapa orang penjaga dan dengan senjata rampasannya ia berhasil pula mematahkan belenggu kaki tangan kedua orang teman itu.

Akan tetapi mereka segera dikurung dan dikeroyok oleh Gu Coan Kok, Hok Ku, keempat Pak-san Su-liong yaitu murid-murid Pak-san Kwi-ong yang bersenjata rantai tengkorak, dan kemudian datang pula Thian-te Siang-to bersama tokoh-tokoh anak buah Pat-jiu Sian-ong sehingga di dalam kamar tahanan itu terjadi pertempuran yang hebat dan mati-matian.

Melihat keadaan tiga orang kawannya yang masih selamat biar pun telah terdesak hebat, Keng Hong menjadi lega hatinya.

Ia mengeluarkan pekik melengking tinggi dan tubuhnya menerjang maju.

Bobollah kepungan itu dan beberapa orang terpelanting oleh terjangan pemuda sakti ini yang terus melompat ke dalam sambil berseru.

"Kita terjang keluar! Cepat...!"

Namun pada saat itu Cui Im, Pak-san Kwi-ong dan Pat-jiu Sian-ong sudah datang, dalam pengejarannya terhadap Keng hong sehingga jalan keluar melalui pintu telah terhalang oleh tiga orang yang lihai ini.

Pat-jiu Sian-ong menggeluarkan suara bersuit nyaring dan semua orang yang mengeroyok berloncatan keluar dari kamar itu.

"Awas jebakan...!"

Keng Hong memperingatkan teman-temannya, akan tetapi mereka berada di dalam kamar yang dipagari musuh dengan senjata siap menyerang kalau mereka keluar, maka jalan keluar pada saat itu sama sekali tertutup.

Terdengar suara keras dan tiba-tiba lantai kamar tahanan itu turun ke bawah!

Keng Hong, Biauw Eng, Cong San dan Yan Cu terkejut sekali, namun betapa pun tinggi kepandaian empat orang muda ini, mereka sama sekali tidak berdaya menyelamatkan diri dan terpaksa tubuh mereka ikut terbawa turun oleh lantai kamar itu.

Ketika mereka memandang ke atas, ternyata lubang di atas telah tertutup dan mereka terjebak ke dalam sumur yang amat dalam dan gelap!

Cui Im membanting-banting kaki.

"Sialan! Mereka telah menimbulkan kekacauan besar sehingga kita telah kehilangan tiga orang pembantu!"

"Hanya dua orang, Lian Ci Sengjin dan Thai-lek Sin-mo, bukan tiga orang,"

Kata Pat-jiu Sian-ong menghibur.

"Kita masih cukup kuat."

"Tiga orang,"

Bantah Cui Im.

"Yang dua orang tewas, yang seorang, yaitu Sian Ti Sengjin tenggelam dalam kedukaan seperti orang kehilangan semangat."

"Kedukaannya akan dapat diatasinya,"

Kata Pak-san Kwi-ong.

"Yang patut disayangkan adalah terlepasnya harapan kita mendapat bantuan Go-bi Thai-houw."

"Lebih baik sekarang juga kita bergerak ke puncak. Siapa tahu akan terjadi perubahan yang merugikan. Pat-jiu Sian-ong, harap dipersiapkan barisan sekarang juga. Kita gempur mereka di puncak!"

"Mereka itu, bagaimana? Tanya tuan rumah yang menudingkan telunjuknya ke arah sumur jebakan di bawah kamar tahanan di mana empat orang muda itu terjeblos.

"Bunuh mereka! Hujani anak panah!"

Kata Pak-san Kwi-ong. Cui Im menggeleng kepala.

"Percuma. Mereka adalah orang-orang lihai. Mana mungkin anak-anak panah membunuh mereka? Sian-ong, apakah di dalam lubang itu tidak ada alat rahasia yang dapat membunuh mereka?"

Pat-jiu Siang-ong menggeleng kepala.

"Tempat itu dibuat khusus untuk menjebloskan tawanan, bukan dimaksudkan untuk membunuh."

"Hemmm, kalau begitu kita pergunakan cara yang paling menyakitkan, biar pun agak lama akan tetapi pasti Keng Hong tidak mampu melawannya, yaitu membiarkan mereka mati kelaparan dan kehausan. Akan tetapi, tempat ini harus diteliti agar tidak sampai mereka bobol."

Pat-jiu Sian-ong tertawa.

"Ha-ha-ha! Jangankan manusia, biar gajah sekali pun kalau sudah terjeblos di situ takkan mampu lolos. Dindingnya terbuat dari baja, dan tidak ada cara untuk meloncat ke atas karena bagian atas tertutup pula oleh lapisan baja yang tebal."

Demikianlah setelah mengadakan perundingan, Cui Im dan kawan-kawannya lalu memimpin pasukan untuk menyerang ke puncak tai-hangsan di mana berkumpul tokoh-tokoh partai besar yang menetang mereka.

Sian Ti Sengjin memerintahkan anak buah Phu-niu-san yang ikut bersama dia dan mendiang sutenya, akan tetapi dia sendiri tinggal di benteng itu, pertama untuk mengabungi kematian sutenya, ke dua untuk membantu penjagaan kalau-kalau para tawanan akan meloloskan diri.

Cui Im menyetujui permintaannya, pertama karena kepandaian bekas tokoh Kun-lun-pai ini pun baginya tidaklah amat dibutuhkan, ke dua karena memang perlu ada orang pandai yang membenci Keng Hong ikut pula menjaga agar tawanan tidak sampai lolos.

Dan dia tahu betapa bencinya bekas tokoh Kun-lun-pai ini kepada Keng Hong, karena bukankah pemuda itu yang telah menyeret kedudukannya yang tinggi di Kun-lun-pai?

Menjelang pagi, rombongan ini berangkat dan mereka yang ditinggalkan di benteng melakukan penjagaan di sekitar benteng, dan Sian Ti Sengjin sendiri tidak pernah meninggalkan bekas kamar tahanan yang kini menjadi sumur atau kuburan bagi empat orang muda yang terjeblos.

Keng Hong dan tiga orang temannya tidak mudah putus asa.

Di bawah pimpinan Keng Hong, mereka melakukan segala usaha untuk mencari jalan keluar.

Mereka memeriksa dinding, mencoba untuk meloncat ke atas mendobrak penutup di bagian atas.

Namun semua usaha sia-sia belaka dan akhirnya mereka berempat harus mengakui bahwa sekali ini mereka benar-benar tidak berdaya.

"Agaknya kita akan terkubur hidup-hidup di tempat ini sampai mati,"

Kata Biauw Eng dengan suara tenang.

"Kalau benar Tuhan menghendaki demikian, aku tidak menyesal, Biauw Eng. Hidup atau pun mati, aku tetap akan merasa bahagia karena ada engkau di sampingku."

Hening sejenak di tempat gelap dekat itu, kemudian terdengar suara Biauw Eng lirih.

"Setelah mendengar penuturan Cui Im, baru aku sadar betapa engkau amat baik kepadaku, Keng Hong. Engkau terlalu baik untukku..."

Ia menahan ucapannya seolah-olah baru teringat bahwa ada dua pasang telinga lain yang mendengarkan percakapan mereka.

Maka Biauw Eng diam saja dan hanya menyambut jari-jari tangan Keng Hong yang dalam gelap itu mencengkeram tangannya dan membalas dengan tangan yang menggetarkan perasaan kasih mesra.

Di sudut lain dari sumur itu, Cong San memegang tangan Yan Cu dan berbisik.

"Aku sependapat dengan Keng hong, Moi-oi. Aku tidak menyesal, biar sampai mati sekalipun, asal bersama engkau."

"Ssttt... Didengar orang. Malu...!"

Bisik Yan Cu akan tetapi ia tidak melepaskan tangannya.

Tanpa berkata-kata, dua pasang orang muda itu saling berpegang tangan di dalam gelap.

Cong San berbahagia karena sungguhpun gadis yang dicintanya belum melakukan pengakuan dengan mulut, namun dia merasa yakin bahwa Yan Cu sendiri masih ragu-ragu, mencari-cari, karena hatinya masih bimbang apakah dia mencinta Cong San ataukah mencinta Keng Hong.

Keduanya merupakan pemuda yang sepenuhnya memenuhi syarat untuk dicinta, keduanya sama berharga, akan tetapi mengingat bahwa Keng Hong jelas mencinta Biauw Eng, agaknya terpaksa harus menjatuhkan pilihan hatinya kepada murid Siauw-li-pai yang perkasa ini.

Adapun Keng Hong dan Biauw Eng yang duduk sambil berpegang tangan, mengenang semua peristiwa yang mereka alami.

Masing-masing mengaku betapa mulia hati orang dicinta sehingga timbul perasaan aneh, yaitu baik diri sendiri kurang berharga untuk menjadi jodoh masing-masing.

Diam-diam Biauw Eng merasa betapa orang seperti Keng Hong lebih tepat menjadi suami seorang gadis cantik jelita dan bersih seperti Yan Cu, tidak seperti dia, seorang puteri tokoh dunia hitam, seorang yang pernah menerima cinta kasih laki-laki, yaitu Sim Lai Sek.

Di lain fihak, Keng Hong juga menyesal sekali atas semua kelakuannya yang sudah-sudah, merasa betapa dia sama sekali tidak berharga untuk mempersunting seorang gadis sehebat Biauw Eng!

Demikanlah, di dalam sumur maut ini, di mana nyawa mereka tergantung di ujung rambut, tidak ada jalan keluar dan tidak ada harapan untuk hidup, hanya menanti datangnya maut entah secara bagaimana, terjadi getaran-getaran dari perasaan empat orang muda itu, empat orang muda yang dibuai oleh cinta kasih.

Mereka itu sama sekali tidak memikirkan akan keadaan mereka, tidak ingat bahwa mereka akan mati, sehingga sia-sia belaka segala cita-cita mereka.

Maka terbuktilah kekuatan cinta yang maha hebat, yang mengalahkan maut sendiri.

Dengan senjata cinta kasih di hati, manusia sanggup menghadapi maut dengan senyum ikhlas di mulut!

Tan Hun Bwee melakukan perjalanan dengan susah payah, kadang-kadang terhuyung, kadang-kadang merangkak, dalam keadaan terluka parah, dengan anak panah masih menancap di perutnya dan darah menetes-netes sepanjang jalan.

Namun mulutnya tak pernah berhenti berbisik.

"Aku harus menolong mereka... harus menyelamatkan mereka..."

Ketetapan hati untuk dapat menolong empat orang muda terutama sekali Keng Hong dan Biauw Eng inilah agaknya yang memperkuat tekadnya, yang menimbulkan daya tahan luar biasa sehingga gadis yang terluka parah ini masih mampu merayap dan mendaki puncak Tai-hang-san selama tiga hari tiga malam tanpa mengaso!

Di puncak Tai-hang-san, bertempat di pondok yang dahulu dibangun oleh seorang pertapa yang kini telah meninggal dan merupakan pondok kosong yang tidak terpakai lagi, berkumpullah tokoh-tokoh partai persilatan dan tokoh-tokoh kang-ouw untuk membicarakan keadaan pemerintahan Kerajaan Beng-tiauw yang kini mengalami perubahan besar.

Sementara Kaisar Yung Lo merebut kekuasaan mengalahkan keponakannya sendiri dan naik tahta kerajaan sebagai Kaisar Beng-tiauw pada tahun 1403, dan dipindahkan kota raja ke utara, maka terjadilah perubahan besar dan perang saudara terhenti.

Akan tetapi, melihat betapa kaum sesat kini mulai mengulurkan tangannya mencari pengaruh di antara para pembesar kerajaan, bahkan ada yang menyusup ke istana kaisar, para tokoh partai besar dan orang-orang gagah di dunia kang-ouw merasa gelisah.

Munculnya tokoh-tokoh kaum sesat ini sudah pasti akan menimbulkan kekacauan, apalagi kalau mereka itu ditunggangi oleh kaum pemberontakan, yaitu mereka yang diam-diam masih bersetia kepada raja yang dikalahkan.

Biarpun pada lahirnya mereka ini tidak bergerak, namun diam-diam mereka dapat melakukan gerakan di bawah tanah dan bersekongkol dengan tokoh tokoh kaum sesat.

Inilah yang menyebabkan para tokoh partai besar mengadakan perundingan dan pertemuan di puncak Tai-hang-san.

Pada waktu itu, banyak sudah tokoh kang-ouw yang hadir, tidak kurang dari lima puluh orang wakil-wakil partai besar dan perorangan yang bersepakat untuk mengirim utusan menghadap kaisar agar berhati-hati dan tidak mempergunakan tenaga tokoh-tokoh sesat.

Di dalam pertemuan ini, hadirnya utusan-utusan yang merupakan tokoh-tokoh penting.

Dari Siauw-lim-pai hadir Thian Kek Hwesio yang berwatak kasar dan jujur bersama tiga orang tokoh-tokoh lebih muda, dari Hoa-san-pai hadir kedua kakak beradik Coa Kiu dan Coa Bu mewakili ketua Hoa-san-pai.

Dua orang kakek ini terkenal sebagai Hoa-san Siang-sin-kiam.

Adapun dari partai Kong-thong-pai hadir empat orang kakek yang telah berjumpa dengan Keng Hong ketika mereka ini mendaki puncak, yaitu Kok Sian-cu, Kok Liong-cu, Kok Kim-cu dan Kok Seng-cu, keempat orang di antara Kong-thong Ngo-lojin.

Seperti telah diketahui, orang termuda dari mereka ini.

Kok Cin-cu telah tewas dalam pertandingan melawan Biauw Eng.

Dari Tiat-ciang-pang hadir ketuanya, Ouw-pangcu bersama tiga orang pembantunya, sedangkan dari Kun-lun-pai hadir pula empat orang sute dari Kiang Tojin yang menjadi ketua Kun-lun-pai.

Di samping mereka ini masih terdapat belasan orang tokoh-tokoh kang-ouw yang kesemuanya menentang kaum sesat dan mempunyai jiwa patriot pembela negara dan bangsa.

Memang harus diakui bahwa dahulu, ketika terjadi perang saudara antara para pengikut Raja Muda Yung Lo dan keponakannya, Banyak kaum kang-ouw menjauhkan diri dan tidak mau mencampuri karena mereka segan untuk berusuhan dengan bangsa sendiri hanya untuk mendukung orang besar yang memperebutkan kedudukan.

Akan tetapi sekarang lain lagi.

Kaisar Yung Lo telah menjadi satu-satunya kaisar yang memimpin negara, maka kalau ada kaum sesat yang mengancam negara, mereka serentak bangkit untuk menentang kaum sesat.

Karena partai-partai besar lainnya hanya mengirim wakil sedangkan yang ketuanya hadir di situ hanya Kiang Tojin ketua Kun-lun-pai sebagai ketua yang besar dan terhormat, apalagi karena mereka semua tahu bahwa di antara yang hadir, Kiang Tojin kakek tua ini memiliki tingkat kepandaian yang paling tinggi, maka dialah yang menjadi pemimpin pertemuan itu.

Pada pagi hari itu merupakan pertemuan atau perundingan terakhir untuk memilih utusan dan (Lanjut ke

Jilid 39) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 39 membagi-bagi tugas.

Selagi mereka itu berkumpul di depan pondok karena pondok itu sendiri terlalu kecil, dan duduk bersila di atas rumput membentuk lingkaran, tiba-tiba Kiang Tojin yang paling tajam pendengarannya mendengar suara yang luar biasa.

Ia meloncat bangkit dan mengangkat tangan memberi isyarat agar semua orang diam.

Kini jelas terdengar suara rintihan dari bawah puncak.

Mendengar ini, Kiang Tojin meloncat dan lari ke arah suara itu, menuruni puncak, diikuti oleh tokoh-tokoh lainnya.

Yang merintih itu adalah Hun Bwee.

Gadis yang terluka parah ini sambil memegangi batu dan mendekap perutnya, terengah-engah.

Empat orang kakek Kong-thong-pai mengenal gadis ini yang mereka temui bersama Biauw Eng, maka cepat mendekat dan berseru.

"Bukankah Nona yang berjalan bersama Song-bun Siu-li tempo hari?"

Hun Bwee mengangguk, tubuhnya telah diangkat oleh Kiang Tojin dan diletakkan di atas rumput.

Kakek ketua Kun-lun-pai ini maklum bahwa gadis itu tak mungkin dapat ditolong lagi, bahkan dia merasa heran mengapa dalam keadaan seperti itu, gadis itu agaknya masih mampu mendaki puncak.

"Lekas... tolong mereka... mereka tertawan oleh Ang-kiam Bu-tek dan kawan-kawannya..."

"Mereka siapa, Nona?"

Kiang Tojin bertanya dengan sikap tenang setelah menotok beberapa jalan darah untuk mengurangi penderitaan gadis itu.

"Keng Hong... Biauw Eng... Yap Cong San dan Gui Yan Cu ... cepat tolong mereka... ditawan oleh Cui Im, Pat-jiu Sian-ong, Pak-san Kwi-ong". Dan banyak sekali anak buah dan kawan mereka... cepat..."

Kaget bukan main mereka semua mendengar keterangan ini, akan tetapi setelah mengeluarkan kata-kata yang sudah sekian lamanya ia tahan-tahan di hatinya, Hun Bwee menjadi lemas.

Kiang Tojin terkejut mendengar bahwa Keng Hong ditawan, juga Thian Kek Hwesio dan teman-temannya terkejut mendengar nama Yap Cong San disebut-sebut.

"Di mana mereka? Di mana ditawannya?"

Banyak mulut menghujankan pertanyaan ini, akan tetapi Kiang Tojin mengangkat tangannya dan mengurut leher dan dada gadis yang pingsan itu, atau lebih tepat lagi sudah sekarat.

Hun Bwee membuka matanya, bibirnya bergerak lemas akan tetapi yang keluar hanya bisikan lirih sekali.

"...benteng... benteng..."

Kemudian ia menghembuskan napas terakhir! "Ahhh.... kiranya mereka yang menyelundup ke istana telah keluar semua dan berada di sini...!"

Kata Kiang Tojin kaget. Akan tetapi pada saat itu, ratusan batang anak panah menyambar ke arah sekumpulan orang gagah itu dari empat jurusan.

"Awas senjata rahasia...!"

Kiang Tojin berseru dan semua orang gagah itu cepat mengelak, menangkis dan menangkap anak-anak panah yang menyambar.

Kalau hanya diserang anak panah saja, mereka semua mampu melindungi diri.

Ketika anak-anak panah berhenti menyambar, tampak oleh mereka betapa tempat itu telah dikurung oleh banyak sekali orang dan di sebelah depan muncul tokoh-tokoh kaum sesat yang mengejutkan mereka karena mereka itu adalah tokoh-tokoh terkenal yang amat lihai.

Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im tersenyum-senyum menghampiri mereka, didampingi oleh Pak-san Kwi-ong, Pat-jiu Sian-ong, Thian-te Siang-to kedua murid Pat-jiu Sian-ong, empat orang tinggi besar Pak-san Su-liong, Gu Coan Kok si iblis cebol dan Hok Ku si raksasa bongkok!

Kiang Tojin yang bermata tajam maklum bahwa keadaan mereka terkurung dan terancam bahaya, namun dengan tenang dia lalu melangkah maju menghadapi Cui Im sambil berkata.

"Nona Bhe Cui Im, telah lama pinto mendengar akan nama besarmu sebagai Ang-kiam Bu-tek. Apakah maksud kedatanganmu yang datang-datang menyerang kami?"

Cui Im tertawa dan menunjuk kepada Thian Kek Hwesio.

"Hi-hi-hik, Kiang Tojin, kau tanyalah kepada Hwesio Siauw-lim-pai itu, apakah dia tidak akan menyerangku kalau aku tidak mendahului menyerang."

"Iblis betina, pinceng akan mengadu nyawa denganmu!"

Thian Kek Hwesio yang marah sekali melihat musuh besarnya sudah meloncat maju dan menyerang dengan jubahnya.

"Plak! Plak!"

Dua kaki Cui Im menangkis dengan lengannya dan hwesio Siauw-lim-pai itu terhuyung mundur.

Kiang Tojin memegang lengan Hwesio itu, menyuruhnya bersabar, kemudian dia menghadapi Cui Im lagi dan bertanya.

"Engkau belum menjawab pertanyaan pinto."

"Kiang Tojin engkau bertanya apa maksud kedatanganku? Jawablah dahulu apa maksud kalian berkumpul dan berunding di sini? Bukankah untuk menentang kami? Dari pada kalian susah-susah mencari kami di istana, kami mendahului kalian datang ke sini untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara kami yang kalian yang mengangkat diri menjadi orang-orang gagah. Hi-hi-hik! Lihat baik-baik, kalian telah terkurung. Anak buah kami lebih dari dua ratus orang jumlahnya dan dengan mudah kami akan dapat membasmi kalian semua!"

"Hemmm, mengapa belum kau lakukan itu?"

Kiang tojin bertanya, sikapnya masih tenang, karena tosu tua ini dapat menduga bahwa kalau kini Cui Im mengajak mereka bicara, tentu tersembunyi maksud-maksud tertentu dari wanita muda yang amat cerdik ini.

"Aku tidak tergesa-gesa, Kiang Tojin. Aku akan menerima baik kalau saja kalian semua ini berjanji untuk tidak mencampuri urusan kami, bersumpah tidak akan menentang kami. Nah, bukankah hal ini berarti bahwa aku masih memandang persahabatan antara kaum persilatan. Kami hanya membutuhkan janji dan sumpah kalian untuk ditukar dengan nyawa kalian!"

Para orang gagah yang hadir di situ menjadi merah mukanya dan terdengar bentakan-bentakan marah menentang permintaan Cui Im itu.

Bagi mereka semua, nama lebih berharga daripada nyawa dan tentu saja mereka tidak sudi untuk merendahkan nama mereka dengan tunduk dan bersekutu dengan golongan sesat hanya untuk menolong keselamatan mereka.

Pula, biarpun dikurung, mereka tidak menjadi gentar dan bersedia untuk melawan mati-matian.

Kiang tojin dapat memaklumi pendirian para sahabatnya maka dapat ragu-ragu dia pun berkata.

"Nona, kami berkumpul di sini bukan bermaksud untuk mengadakan perang karena kalau demikian halnya, kiranya kami akan dapat dengan mudah mengumpulkan orang seratus kali jumlah orang-orangmu sekarang. Akan tetapi, biarpun demikian, kalau engkau menghendaki hal seperti yang kau kemukakan tadi, tanpa dijawab sekalipun tentu engkau sudah mengenal atau setidaknya mendengar jiwa orang-orang gagah yang tidak mungkin menukar kehormatannya dengan nyawa! Hanya sedikit yang pinto ingin ketahui, mungkinkan tokoh-tokoh seperti engkau yang memakai julukan Ang-kiam Bu-tek, dan tokoh-tokoh itu seperti Pat-jiu Sian-ong dan Pak-san Kwi-ong yang terkenal sebagai datuk-datuk persilatan, tidak malu mempergunakan siasat rendah berupa penggeroyokan jumlah besar terhadap jumlah yang jauh lebih kecil?"

Kiang Tojin memang seorang yang cerdik dan juga seorang yang berpengalaman, maka sengaja dia mengeluarkan ucapan yang memanaskan hati ini, ucapan yang merupakan pantangan bagi jagoan yang mana pun juga, yaitu kalau dipandang tidak mempergunakan kegagahan melainkan menggunakan kecurangan.

"Kiang Tojin engkau manusia sombong!"

Pak-san Kwi-ong menggereng marah.

"Biarpun engkau telah menjadi ketua Kun-lun-pai, siapa sih yang takut menghadapimu? Biarpun terhadap Thian Seng Cinjin gurumu, dahulu aku tidak pernah merasa takut, apalagi terhadap engkau!"

Sambil berkata demikian, kakek ini menggerakkan senjatanya sepasang tengkorak di ujung rantai sehingga dua buah tengkorak itu seperti hidup bergerak-gerak dan dari tenggorokan kakek tinggi besar kulit hitam itu keluar gerengan yang mendatangkan getaran sedemikian hebatnya sehingga sebagian besar anggauta rombongan orang gagah cepat-cepat menahan napas dan mengerahkan sinkang untuk bertahan.

Namun masih ada beberapa orang di antara mereka yang tidak kuat sehingga cepat mereka duduk bersila memejamkan mata untuk mengelak dari getaran itu dengan mengerahkan hawa murni sebanyaknya.

Memang hebat sekali gerengan penuh tenaga dahsyat yang timbul dari khikangnya yang amat kuat!

"Bagus sekali!

Demikianlah suara seorang laki-laki sejati yang tidak sudi berlaku curang dan mencari kemenangan dengan jalan mengandalkan pengeroyokan jumlah banyak,"

Kata Kiang Tojin, suaranya nyaring melengking melawan getaran dari gerengan Pak-san Kwi-ong itu.

"Ang-kiam Bu-tek, pinto melihat bahwa agaknya engkaulah yang mewakili rombongan kami, maka sekarang bagaimana kau akan mengatur setelah mendengar bahwa kami menolak usulmu yang menghina itu? Dengar jawaban kami. Selama kami masih hidup, dan selama golongan sesat masih melanjutkan perbuatan-perbuatannya yang jahat dan kotor untuk menimbulkan kekacauan, selama itu pula kami akan menentangnya! Ada jahat tentu ada baik, ada hitam tentu ada putih, ada gelap pasti ada terang. Kalau ada golongan yang menghambur nafsu jahat melakukan penindasan dan mengakibatkan kekacauan, pasti ada pula golongan yang menentangnya. Kalau kalian yang mewakili golongan hitam tidak melakukan perbuatan jahat, tentu saja kami pun tidak mempunyai alasan untuk mencari permusuhan. Akan tetapi, selama kalian masih merajalela dengan perbuatan jahat, kami akan selalu menentang!"

Cui Im diam-diam merasa marah sekali.

Dia pun seorang wanita yang biar pun masih muda namun memiliki kecerdikan luar biasa, maka ia pun tahu akan siasat Kiang Tojin tadi yang ternyata sudah berhasil dengan panasnya hati Pak-san Kwi-ong sehingga mengucapkan kata-kata menantang tadi.

Namun karena dia mengandalkan kepandaian sendiri dan mengandalkan bantuan kedua datuk hitam itu, tentu saja ia tidak khawatir dan bibirnya yang manis tetap tersenyum.

"Kiang Tojin, engkau mengatakan bahwa kalian tidak ingin berkelahi, demikian pula kami kalau tidak perlu sekali, tidak ingin bentrok dengan kalian. Akan tetapi oleh karena di antara kita tidak terdapat kecocokan, maka marilah kita mengadakan pertandingan antara jago-jago kita untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Tentu saja fihak yang kalah dinyatakan harus tunduk akan perintah fihak yang menang, ini merupakan hukum kalangan kang-ouw. Bagaimana?"

Kiang Tojin terpaksa mengangguk, dan diam-diam berpikir bahwa kalau fihaknya kalah sekali pun, para orang gagah tentu akan memilih mati daripada harus tunduk dan melakukan hal-hal yang menyeleweng daripada kegagahan dan kebenaran.

"Baiklah, memang sebaiknya begitu. Kami siap!"

Diam-diam Kiang Tojin memilih-milih, siapa kiranya yang akan patut dia jadikan jago dalam pertandingan ini.

Kalau saja di situ terdapat orang-orang muda yang lihai seperti Keng Hong, atau seperti Yap Cong San murid ketua Siauw-lim-pai yang dia dengar dari Thian Kek Hwesio merupakan tokoh yang paling kuat di antara murid-murid ketua itu.

Akan tetapi menurut penuturan gadis yang tewas tadi, kedua orang muda itu telah ditawan!

Cui Im sejak tadi melihat mayat Hun Bwee, dan ia merasa tidak senang, akan tetapi karena ia disitu tidak terdapat Go-bi Thai-houw, Dan pula mengingat bahwa empat orang muda yang lihai masih terkurung dalam sumur, tak mungkin mereka itu dapat keluar, menjadi lega hatinya dan ia tidak mempedulikan.

"Kiranya tidak perlu mengajukan jago-jago yang tidak memiliki kepandaian Kiang Tojin. Mari kita mengajukan masing-masing tiga orang jago dari fihak kita. Aku mengajukan tiga orang jagoan dan engkau pun mengajukan tiga orang jago. Jumlah kemenangan dalam pertandingan ini menentukan siapa yang menang siapa kalah. Beranikah engkau?"

Cui Im menggunakan siasat balasan yang sama, ia menanyakan berani atau tidak sehingga terpaksa Kiang Tojin tidak dapat memilih jawaban lain kecuali menerima tantangan itu.

"Terserah kepadamu, Ang-kiam Bu-tek! Katakanlah siapa jago-jagomu agar pinto dapat pula mengimbangi dengan jago-jago kami."

Cui Im tersenyum lebar.

"Hi-hi-hik, jangan kau main akal-akalan menghadapi aku, Kiang Tojin. Aku tahu bahwa fihak yang terakhir mengajukan jagonya dapat menilai dan menentukan tandingan, akan tetapi sekali ini, engkau bolak-balikkan semua jagoanmu akan sia-sia, hi-hi-hik! Tiada halangan bagiku untuk mengajukan nama ketiga jagoku. Pertama adalah aku sendiri, ke dua Pak-san Kwi-ong dan ke tiga Pat-jiu Sian-ong. Nah, siapa jago-jagomu?"

Kiang Tojin memang sudah menduga lebih dulu dan sejak tadi dia pun diam-diam merasa gelisah dan bingung.

Akan tetapi dia menenangkan hatinya dan menjawab.

"Engkau memang licik, Ang-kiam Bu-tek. Andaikata semua ketua partai berada di sini, pinto rasa engkau tidak sesombong ini! Akan tetapi jangan dikira pinto takut, karena seorang gagah mendasarkan keberanian bukan di atas perhitungan menang kalah, melainkan di atas kebenaran. Baiklah, dari fihak kami yang akan maju adalah kami sendiri, kemudian Thian Kek Hwesio dari Siauw-lim-pai, dan seorang di antara Hoa-san Siang-sin-kiam. Seperti kau tentu tahu, Siauw-lim-pai mempunyai urusan denganmu atas kematian ThianTi Hwesio, dan Hoa-san-pai juga mempunyai urusan denganmu atas kematian murid Hoa-san-pai. Kami siap!"

Thian Ti Hwesio sudah menggereng dan meloncat maju, demikian pula Coa Kiu, kakek Hoa-san-pai yang lihai.

Biarpun mereka berdua ini maklum bahwa mereka tidak akan menang menghadapi seorang di antara ketiga musuhnya yang sakti itu, namun keduanya siap melawan sampai mati!

"Hi-hi-hik!"

Cui im terkekeh mengejek.

"Biarlah semua orang gagah yang hadir di sini menyaksikan pertunjukan yang menarik. Kita maju seorang demi seorang agar dapat dinikmati pertandingan antar puncak! Siapakah di antara kalian yang akan maju lebih dulu?"

"Pinto yang akan maju dulu."

Kata Kiang Tojin kemudian menoleh kepada dua orang jagonya.

"Harap Ji-wi bersabar dan menanti giliran,"

Kemudian dia berkata Kok Sian-cu, orang tertua dari Kong-thong Ngo-lojin.

"Jika pinto tewas dalam pertandingan, harap Lo-enghiong sudi mewakili pinto memimpin para saudara."

Setelah dua orang jagonya mundur dan Kok Sian-cu mengangguk, Kiang Tojin melangkah maju, mencabut pedangnya dan melintang pedang di depan dada, sikapnya tenang.

"Ang-kiam Bu-tek, pinto telah siap, Majulah!"

Kiang Tojin yang sudah mendengar betapa wanita itu kini telah memiliki ilmu kepandaian yang dahsyat sehingga membunuh banyak tokoh pandai, di antaranya malah mebunuh bekas gurunya sendiri, yaitu Lam-hai Sin-ni yang lihai, menduga bahwa wanita inilah yang paling kuat maka dia hendak menandinginya sendiri.

Akan tetapi, Cui Im adalah seorang yang licik dan juga cerdik.

Dia pun maklum bahwa Kiang Tojin yang kini menjadi ketua Kun-lun-pai amat lihai, kalau dia sampai kalah, selain dia rugi, juga ia khawatir fihaknya akan kalah.

Adapun kalau dia maju melayani seorang di antara dua jago lawan, sudah dipastikan dia akan menang di samping harapan bahwa seorang di antara kedua datuk kawannya belum tentu pula kalah oleh Kiang Tojin.

Maka ia menoleh dan bertanya kepada dua orang kawannya.

"Sian-ong dan Kwi-ong, siapa di antara kalian yang berani menghadapi ketua Kun-lun-pai?"

Pak-san Kwi-ong meloncat maju sambil tertawa bergelak.

"Siapa sih yang takut? Ha-ha-ha-ha-ha, sudah lama aku ingin mencoba kelihaian ketua Kun-lun-pai!"

Kakek tinggi besar ini lalu menggerakkan rantai dan dua buah tengkoraknya berputaran mengeluarkan angin bersiutan mengerikan.

Cui Im tersenyum dan mundur, juga Pat-liu Sian-ong mundur sambil mengebut-ngebutkan hudtimnya mengusir hawa panas.

Dia tentu saja memandang rendah calon lawannya dan maklum bahwa hanya pertandingan antara ketua Kun-lun-pai dan Pak-san Kwi-ong ini yang akan menarik dan paling berharga untuk ditonton.

Menghadapi Pak-san Kwi-ong yang dia tahu amat lihai, Kiang Tojin segera memasang kuda-kuda Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut.

Biarpun dia sudah tua, namun gerakannya masih kuat dan mantap, pedang yang dipegangnya tidak sedikit pun bergoyang.

Tiba-tiba Pak-san Kwi-ong mengeluarkan gerengan keras dan sepasang senjata tengkorak itu dan fihak orang-orang gagah menjadi cemas.

Bukan main hebatnya gerakan senjata mengerikan itu.

Namun dengan lincah Kiang Tojin meloncat untuk menghindarkan sambaran pada kakinya sambil menarik kepalanya miring untuk mengelak sambaran tengkorak ke dua pada kepalanya, berbareng pedangnya meluncur, berubah menjadi sinar terang menusuk dada lawan.

Akan tetapi, dengan gerakan pergelangan tangan, rantai di tangan kanan raksasa hitam itu menangkis pedang sehingga terdengar suara nyaring dan keduanya merasa betapa lengan mereka tergetar.

Pak-san Kwi-ong sudah memutar senjatanya lagi dan kini sepasang senjata tengkorak itu berubah bentuknya, menjadi gulungan sinar abu-abu yang melingkar-lingkar dan mengeluarkan suara bercuitan dibarengi gerengan-gerengan seperti srigala, namun mengandung khikang yang menggetarkan semangat lawan.

Gulungan sinar yang membentuk lingkaran-lingkaran lebar ini menerjang ke arah Kiang Tojin.

Dahsyat bukan main serangan datuk kaum sesat dari utara ini.

Kiang Tojin dengan tenang namun cepat sekali dia menggerakkan pedangnya, melawan dengan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Baru sinar pedang yang mengeluarkan bunyi berdesingan itu saja dapat memenggal leher lawan yang kurang kuat!

Terjadilah sebuah pertandingan yang amat seru dan menegangkan.

Kedua orang itu sama-sama kuat, sama-sama memiliki banyak pengalaan dan keduanya merupakan tokoh-tokoh tingkat tinggi di masa itu, namun sekali ini Kiang Tojin kalah ampuh senjatanya.

Senjata di tangan Pak-san Kwi-ong adalah senjata yang khusus untuk dia sendiri, senjata yang khusus untuk dia sendiri.

Senjata yang dapat diputar cepat dan selain itu, dua buah tengkorak itu pun bukan tengkorak itu pun bukan tengkorak biasa, melainkan tengkorak yang mengandung racun jahat.

Di dalam jurang jurus terdapat gerakan liar dan ganas luar biasa sehingga setelah lewat lima puluh jurus lebih, Kiang Tojin terdesak karena dia harus lebih banyak melindungi tubuhnya sehingga kurang mendapat kesempatan untuk menyerang.

Fihak anak buah Pat-jiu Sian-ong yang tentu saja kurang tinggi tingkatnya tidak dapat mengikuti jalannya pertandingan yang terlalu cepat untuknya sehingga hanya melihat betapa bayangan ketua Kun-lun-pai itu mundur-mundur terdesak, maka mereka mulai tertawa-tawa girang karena jago mereka akan menang.

Tidak demikian dengan Cui Im dan Pat-jiu Sian-ong.

Dua orang sakti ini tiba-tiba terkejut sekali menyaksikan perubahan dalam gerangan Kiang Tojin.

Masih memainkan Kun-lun Kiam-sut, akan tetapi ada terselip perubahan pada gerak kaki dan tangan yang mengingatkan Cui Im akan gerakan-gerakan aneh dari Keng Hong.

Gerakan yang seperti merupakan perjodohan antara Pat-sian-kun dan Ngo-heng-kun, akan tetapi juga bukan itu.

Gerakan yang kelihatan lemah dan sederhana namun mengandung pengaruh yang amat kuat, yang seolah-olah mengunci gerakan-gerakan lawan dari yang kini memungkinkan Kiang tojin untuk mengirim serangan balasan, makin lama makin sering sehingga keadaan mereka kembali berimbang, bahkan berkali-kali terdengar Pak-san Kwi-ong mengeluarkan seruan kaget di antara gerengan-gerengannya karena secara aneh pedang lawan hampir mengenai tubuhnya dalam jurus-jurus yang dia tidak kebal!

Kakek yang menjadi Datuk Hitam di utara ini mengenal gerakan Kun-lun Kiam-sut, akan tetapi setelah kini Kiang Tojin mengubah permainannya, dia menjadi bingung.

Disebut bukan Kun-lun Kiam-sut, mengapa begini aneh?

Apakah ketua baru dari Kun-lun-pai ini telah menciptakan ilmu pedang baru?

Suara angin sambaran pedang yang berdesing mengaung makin nyaring dan kini mulai mengurung lingkaran sinar senjata rantai tengkorak.

Sebetulnya Kiang Tojin tidak menciptakan ilmu pedang baru, melainkan dia kini mencampurkan unsur-unsur ilmu silat sakti Thai-lek Sin-kun yang dia pelajari dari kitab itu yang dia terima dari Keng Hong.

Setelah dia mempergunakan dasar dari ilmu pedang yang hebat ini, maka dia dapat mengimbangi gerakan lawan sampai dua ratus jurus lebih dan mulailah pedangnya mengurung dan menindih senjata lawan!

Akan tetapi sayang sekali.

Kiang Tojin sudah tua dan dia sudah banyak kehilangan daya tahan dan daya tempurnya.

Kalau dia memiliki watak yang liar dan ganas seperti lawannya, tentu dia dapat memperoleh kemenangan.

Sebagai seorang dari golongan bersih, tentu saja dia tidak mau menyimpang daripada tata tertib persilatan dan hanya mau merobohkan lawan dengan gerak silat yang teratur.

Apalagi Kiang Tojin adalah seorang ketua partai persilatan besar, tentu saja dia harus menjaga "gengsi"

Perkumpulannya!

Setelah lewat tiga ratus jurus yang memakan waktu hampir dua jam, mulailah desakan Kiang Tojin berkurang, bahkan kini tangkisan dan serangannya kurang tenaga.

Sebaliknya Pak-san Kwi-ong yang menggereng-gereng itu masih kuat sekali dan ulailah dia yang sebaliknya terdesak lagi.

Kalau saja usia ketua Kun-lun-pai ini masih muda seperti Keng Hong, tentu tidak akan terjadi hal demikian karena Ilmu Silat Thai-lek Sin-kun yang dia pelajari adalah ilmu yang benar-benar dahsyat dan yang pada masa itu belum dikenal orang rahasianya.

Akan tetapi dia sudah tua dan ketika memperlajari ilmu silat sakti itu sama sekali tidak ditujukan untuk menghadapi pertempuran, melainkan hanya untuk menambah pengetahuan silat belaka.

Oleh karena hasilya pun tidak sehebat Keng Hong.

"Robohlah!"

Tiba-tiba Pak-san Kwi-ong membentak keras sekali, tengkorak di tangan kanannya meluncur ke depan, menyerang ke arah muka Kiang Tojin.

Ketua Kun-lun-pai ini yang merasa betapa tenaganya berkurang dan kalau dilanjutkan dia akan kehabisan tenaga, segera mengambil keputusan untuk mencari kemenangan dengan cepat, yaitu mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya untuk merusak senjata lawan.

Melihat tengkorak itu menyambar ke arah mukanya, Kiang Tojin lalu membacokkan pedang sambil mengerahkan tenaga sekuatnya, bukan ke arah tengkorak yang menyambar, melainkan ke arah rantai yang mengikat tengkorak itu.

"Cringgggg!!"

Terdengar suara keras di antara bunga api yang berhamburan menyilaukan mata.

Tengkorak manusia itu jatuh menggelinding di atas tanah, akan tetapi pedang Kiang Tojin telah terlibat rantai di tangan kanan Pak-san Kwi-ong yang menjadi marah sekali.

Tiba-tiba terdengar suara meledak dan Kiang Tojin terhuyung-huyung tubuhnya.

Yang meledak dan menghaburkan asap dan jarum baracun adalah tengkorak yang terbabat buntung dari rantainya tadi sehingga kaki Kiang Tojin terkena jarum berbisa.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Pak-san Kwi-ong untuk menggerakkan tengkorak ke dua di tangan kirinya.

Tengkorak itu berputar-putar kemudian menukik dan menyerang Kiang tojin dari arah belakang tosu ini!

Pada saat itu, Kiang Tojin tengah berusaha menarik kembali pedangnya yang terbelit rantai lawan, dan baru saja tubuhnya terguncang oleh ledakan tengkorak yang mengandung asap dan jarum beracun, maka terhadap serangan hebat yang aneh karena tengkorak itu menyerangnya dari belakang, dia hanya dapat mengelak senjata berarti kalah.

Maka tentu saja elakannya kurang tepat dan tengkorak ke dua itu masih saja mengenai punggungnya.

"Bukkk!"

"Dessssss!"

Pada detik yang hampir bersamaan, tangan kiri Kiang Tojin juga mengirim pukulan sinkang ke arah dada lawan pada saat dia dihantam tengkorak.

Pukulannya dengan telapak tangan ini, sama sekali tidak disangka-sangka oleh Pak-san Kwi-ong yang sudah kegirangan menyaksikan serangannya berhasil.

Tubuh Kiang tojin terlempar ke belakang seperti sebuah layang-layang putus talinya, akan tetapi tubuh Pak-san Kwi-ong juga terhuyung ke belakang.

Kedua orang kakek ini menyemburkan darah segar dari mulut, kemudian tanpa mempedulikan apa-apa lagi mereka berdua itu sudah menjatuhkan diri bersila dan mengatur napas karena dalam keadaan terluka hebat seperti itu, Yang terpenting adalah mengobati diri sendiri melalui pernapasan mengumpulkan hawa murni.

Bahkan mereka berdua tidak peduli lagi akan senjata masing-masing yang tadi ketika mereka terpental telah terlepas dari libatan dan kalau Kiang tojin kini masih memegang pedangnya sambil bersedakap, adalah Pak-san Kwi-ong masih memegangi rantai tengkorak yang tinggal sebuah itu, disampirkan di pundaknya.

Kok Sian-cu, tosu tua yang mata kirinya buta, tokoh utama Kong-thong-pai segera lari menghampiri Kiang tojin dan cepat memeriksa punggung ketua Kun-lun-pai itu Ternyata pukulan tengkorak itu menimbulkan warna hitam bundar pada punggung maka tahulah dia bahwa pukulan itu mengandung racun.

Sambil menahan kemarahan Kok Sian-cu bangkit berdiri menghadapi Cui Im, suaranya terdengar penuh wibawa.

"Ang-kiam Bu-tek, bagaimana pendapatmu atas hasil pertandingan pertama ini?"

Cui Im mengerti bahwa Pak-san Kwi-ong telah menerima pukulan yang hebat dan menderita luka di sebelah dalam tubuhnya, akan tetapi ia pun tahu bahwa ketua Kun-lun-pai itu pun menderita luka yang lebih berbahaya karena tengkorak itu mengandung racun di samping jarum beracun yang menusuk kakinya, maka ia lalu berkata sambil tertawa.

"Kalau aku mengakui bahwa fihakku menang, tentu kau akan menganggap bahwa aku takut kalah! Hi-hi-hik, tosu buta sebelah! Biarlah kita anggap saja tidak ada yang kalah tidak ada yang menang karena kedua fihak terluka. Sekarang, kami mengajukan dua orang jago kami, aku sendiri dan Pat-jiu Sian-ong. Hayo, suruh jago-jagomu maju karena kami berdua akan merobohkan mereka dalam sepuluh jurus, hi-hi-hik!"

Coa Kiu tokoh Hoa-san-pai dan Thian Kek Hwesio sudah marah sekali.

Mereka sudah bergerak maju hendak menyambut tantangan itu akan tetapi tiba-tiba berkelebat dua ekor burung walet menyambar, dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda tampan dan seorang dara jelita yang bukan lain adalah Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng!

"Cui Im perempuan curang, akulah lawanmu!"

Bentak Keng Hong.

Cui Im dan Pat-jiu Sian-ong terkejut bukan main, apalagi ketika tak lama kemudian muncul pula Yap Cong San Gui Yan Cu di tempat itu!

Bagaimana mungkin ini?

Empat orang muda ini telah terjebak di dalam sumur, bagaimana tahu-tahu telah berhasil meloloskan diri dan menyusul ke sini?

Siapakah yang telah menolong mereka?

Memang sesungguhnyalah, tanpa pertolongan dari luar, biarpun empat orang itu merupakan orang-orang muda yang berilmu tinggi tidak mungkin mereka akan dapat lolos dari dalam sumur itu.

Dan pertolongan ini memang datang dari orang yang sama sekali tidak pernah mereka duga dan harapkan.

Yang menolong mereka adalah Sian Ti Sengjin bekas tosu tokoh Kun-lun-pai!

Telah terjadi perang besar dalam batin Sian Ti Sengjin semenjak kakek ini mendapat kenyataan bahwa sutenya, Lian Ci Sengjin benar-benar telah melakukan perbuatan keji dan terkutuk, yaitu memperkosa Tan Hun bwee.

Semenjak dia tahu akan hal itu, mulailah timbul rasa penyesalan besar di hatinya.

Barulah dia sadar betapa jauh dia menyeleweng dari pada jalan benar dan betapa dia telah membela sutenya yang ternyata telah menjadi hamba nafsu yang jahat.

Mulailah dia teringat akan gemblengan batin yang telah puluhan tahun dia pelajari dan latih.

Kalau tadinya dia masih mempertahankan keadaannya dan diam saja adalah karena dia mengharapkan sutenya akan insyaf.

Maka dia membujuk-bujuk sutenya agar mereka berdua kembali saja ke Phu-niu-san karena dia tahu bahwa dia telah terjerumus makin dalam dengan menggabungkan diri dengan orang-orang golongan sesat.

Namun sutenya selalu menolak dan akhirnya dia menerima pukulan batin terhebat ketika menyaksikan sutenya tewas dengan tubuh hancur lebur oleh Hun Bwee.

Timbul penyesalan besar dan dia mulai memikirkan cara untuk menebus dosa-dosanya.

Demikianlah, begitu Cui Im memimpin rombongan untuk menyerbu ke puncak Tai-hang-san, dia mencari alasan untuk tinggal menjaga di dalam benteng.

Kemudian, tidak lama setelah rombongan berangkat, Sian Ti Sengjin cepat memasuki kamar Cui Im, membongkar barang-barang wanita itu dan berhasil mengumpulkan barang-barang pusaka yang dirampas oleh Cui Im dari tangan Keng Hong, yaitu benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong.

Setelah itu, dia cepat mencari tambang, membuka lantai kamar tahanan yang kini menjadi sumur tertutup dan menurunkan tambang itu kebawah.

Keng Hong dan tiga orang temannya terkejut melihat betapa ada sinar terang dari atas menyorot ke bawah, dan ternyata bahwa penutup sumur itu terbuka.

Makin heranlah hati mereka ketika melihat dari bawah betapa Sian Ti Sengjin menurunkan sehelai tali tambang ke dalam sumur.

"Thian Yang Maha Adil!"

Keng Hong berbisik.

"Kiranya Thian akhirnya menggerakkan hatinya untuk menyadari kesesatannya. Biarlah aku yang naik lebih dulu, siapa tahu ini merupakan jebakan pula.

"Cepat pemuda ini lalu menyambar tali dan merayap naik sambil menggigit Siang-bhok-kiam untuk bersiap-siap kalau di atas ada bahaya menantinya. Akan tetapi setelah tiba di atas dan meloncat ke lantai, dia melihat Sian Ti Sengjin memandangnya dengan wajah pucat dan bekas tosu yang amat dikenalnya sejak dia menjadi kacung di Kun-lun-pai ini berbisik.

"Keng Hong, lekas suruh teman-temanmu cepat naik!"

Bukan main girangnya hati Keng Hong. Ia menjenguk ke dalam sumur dan berkata.

"Naiklah semua!"

Tiga orag muda yang menanti dengan hati penuh ketegangan di dalam sumur itu pun menjadi girang sekali dan mereka cepat merayap naik melalui tali.

Setelah tiba di atas, Keng Hong menjatuhkan diri berlutut di depan bekas tosu itu dan berkata.

"Sian Ti Totiang, terimalah ucapan terima kasih kami."

Sian Ti Sengjin cepat membangunkan Keng Hong dan menarik napas panjang.

"Jangan begitu, engkau membikin aku malu saja, Keng Hong. Terimalah ini, bukankah ini benda-benda pusaka yang dirampas Cui Im?"

Keng Hong makin girang melihat bahwa semua benda pusaka peninggalan gurunya, yaitu sebatang pedang Hoa-san-pai, sebuah kitab dari Go-bi-pai, dan kitab-kitab tulisan Sin-jiu Kiam-ong sendiri, sabuk sutera dan senjata-senjata rahasia Biauw Eng berupa bola-bola putih berduri dan tusuk konde bwee, pedang milik Yan Cu, dan sepasang Im-yang-pit milik Cong San, semua telah berada dalam buntalan yang dibawa tosu itu.

Ketika dia hendak berlutut kembali, dengan terharu Sian ti Sengjin memegang kedua pundaknya dan berkata.

"Tak usah berterima kasih karena kalian telah menjadi pendorong pinto, menyesali diri dan bertobat. Sekarang kalian cepat mengejar mereka yang menyerbu ke puncak Tai-hang-san untuk membasmi mereka yang sedang mengadakan pertemuan di sana. Pinto sendiri akan pergi mencari bala bantuan pasukan pemerintah di Tai-goan!"

Setelah berkata demikian, bekas tosu Kun-lun-pai yang telah insyaf itu lalu berlari keluar dengan cepat.

Keng Hong tidak membuang waktu lagi.

Dia menyimpan benda-benda pusaka itu, kemudian bersama Biauw Eng, Cong San dan Yan Cu dia lari keluar.

Dengan mudah saja mereka berempat merobohkan para penjaga yang mencoba menghalangi mereka dan dengan berlari cepat mereka menuju ke puncak Tai-hang-san.

Demikianlah, mereka berempat dapat datang tepat pada saat Kiang Tojin dan Pak-san Kwi-ong menyelesaikan pertandingan mereka yang mengakibatkan mereka keduanya terluka.

Keng Hong dan Biauw Eng yang lari di depan dapat mendengar tantangan Cui Im, maka mereka berdua segera menyambut tantangan itu.

Kini dua pasang orang sakti yang bermusuhan itu memandang dengan mata bersinar-sinar, sebaliknya Cui Im dan Pat-jiu Sian-ong memandang dengan kaget sekali.

Kiang Tojin yang sedang bersamadhi untuk memulihkan tenaga dan mengobati lukanya, membuka mata dan tersenyum lemah.

"Thian selalu berfihak kepada yang benar, siancai... siancai...! Ang-kiam Bu-tek, karena di fihak kami telah datang tenaga-tenaga baru, maka pinto menunjuk Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng untuk menjadi jaog-jago kami yang ke dua dan ke tiga!"

"Heh-heh-heh, beginikah sikap tokoh-tokoh yang menamakan dirinya golongan bersih? Tidak dapat dipegang janjinya! Bukankah tadi kau mengajukan Thian Kek Hwesio dan seorang di antara Hoa-san Siang-sin-kiam sebagai jago? Di mana letak kegagahanmu, Kiang Tojin?"

Cui Im tertawa mengejek.

"Cui Im!"

Keng Hong membentak marah.

"Orang macam engkau masih mau bicara tentang kegagahan dan pemenuhan janji? Berapa kali sudah engkau menipuku? Kalau engkau tidak mau menghadapiku sebagai wakil yang diajukan oleh Kun-lun-pai, tetap saja engkau harus kuhadapi sekarang juga untuk menebus semua kejahatan dan kecuranganmu!"

"Dan engkau pun harus menebus kecuranganmu ketika menjebak kami, Pat-jiu Sian-ong!"

Bentak pula Biauw Eng yang sudah siap dengan sabuk suteranya seperti Keng Hong yang sudah mempersiapkan Siang-bhok-kiam untuk menghadapi lawan.

Pat-jiu Sian-ong menggerak-gerakkan kebutannya dengan lagak seorang dewa lalu berkata halus.

"Binatang kerbau diikat hidungnya, akan manusia diikat kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kiang Tojin seorang manusia atau seekor kerbau? Jangan dikira bahwa aku jerih menghadapi seorang bocah seperti puteri Lam-hai Sin-ni, hanya hatiku belum puas kalau belum memaki Kiang Tojin."

Pak-san Kwi-ong juga sudah melompat bangun, menyeringai menahan rasa nyeri dan sesak di dadanya, lalu menuding ke arah Kiang Tojin sambil berkata.

"Kiang Tojin, di antara kita masih belum ada yang kalah atau menang. Marilah kita lanjutkan pertandingan untuk menentukan siapa yang lebih unggul, kalau engkau berani!"

Kiang Tojin menghela napas panjang.

"Siancai...!"

Pinto bukan seorang yang takut menghadapi kematian, Kwi-ong, Marilah!"

Ia pun bangkit dengan cepat akan tetapi agak terhuyung.

Sekali pandang saja maklumlah Keng Hong bahwa Pak-san Kwi-ong telah terluka hebat di dalam dadanya, akan tetapi Kiang Tojin juga telah terluka parah, maka dia cepat benyanyi.

"Tiga puluh buah ruji berpusat pada poros roda di tempat yang kosonglah terletak kegunaannya! Dengan tanah liat membuat mangkok bundar Di tempat yang kosonglah terletak kegunaannya! Membobol pintu jendela pada sebuah rumah Di tempat yang kosonglah terletak kegunaannya! Yang ada hanya sebagai pegangan Yang kosong itulah yang berguna!"

Sajak yang dinyanyikan Keng Hong itu adalah ayat-ayat dalam kitab To-tik-keng yang menggambarkan keadaan To dan sifat-sifatnya.

Dilihat kosong namun justeru yang kosong itulah yang menciptakan kegunaannya.

Akan tetapi tentu saja Keng Hong mempunyai maksud tertentu dengan nyanyian ini yang dia harapkan akan ditangkap maknanya oleh Kiang Tojin.

Cui Im adalah seorang yang cerdik, akan tetapi dia tidak mengenal ayat-ayat seperti itu.

Ia khawatir kalau-kalau Keng Hong membantu dengan nyanyian yang tak dimengertinya itu, maka sambil melengking keras ia sudah menerjang Keng Hong dengan pedang merahnya.

Sambil tersenyum Keng hong menangkis dengan Siang-bhok-kiam dan kedua orang yang sama saktinya ini sudah bertanding hebat.

Juga Pat-jiu Sian-ong biarpun mengenal nyanyian itu namun tidak tahu mengapa pemuda aneh ini menyanyikannya dalam saat seperti itu, sudah menggerakkan senjata hudtimnya menyerang Biauw Eng yang menghadapinya dengan sambaran sabuk sutera putih.

Kiang Tojin adalah seorang ahli Agama To, tentu saja mengenal sajak itu.

Kalau saja dia belum mempelajari kitab Thai-kek Sin-kun yang belum lama ini dia terima dari Keng Hong, agaknya dia pun akan sukar sekali menangkap apa yang dimaksudkan oleh pemuda itu.

Akan tetapi kini dia mengerti dan diam-diam dia kagum sekali karena melihat akan tepatnya "nasihat"

Yang diberikan pemuda lihai itu untuk memberi petunjuk kepadanya menghadapi lawan.

Pak-san kwi-ong adalah seorang tokoh utara yang memiliki kepandaian dahsyat namun liar dan ganas, mengandalkan senjata ampuh dan tenaga kuat.

Kini, seperti juga Kiang Tojin, dia sudah terluka hebat.

Kalau saja kakek hitam ini tidak yakin benar bahwa Kiang Tojin sudah terluka parah, tentu dia tidak berani menantang dengan nekat.

Kini melihat keadaan lawan yang kelihatan lebih lemah, dia sudah menerjang cepat dengan mengayun tengkoraknya yang tinggal sebuah.

Kiang Tojin cepat mengelak dengan gerakan ringan sekali dan sebentar saja tosu ini sudah terdesak hebat oleh lawan yang kelihatannya tergesa-gesa hendak cepat merobohkan dan membunuh lawan agar dia dapat beristirahat dan melanjutkan usahanya mengobati luka di dalam dadanya.

Namun semua serangannya dapat dihindarkan oleh Kiang Tojin dengan mudah dan pada serangan ke tiga, Kiang Tojin menangkis dengan pedangnya.

"Tranggg..."

Semua orang gagah terkejut menyaksikan betapa pedang di tangan Kiang tojin terpental lepas dari tangan tosu itu.

Pak-san Kwi-ong tertawa girang dan memutar senjatanya lebih dahsyat lagi untuk merobohkan Kiang Tojin yang kini bertangan kosong.

Akan tetapi Keng Hong yang melayani Cui Im sempat melirik dan diam-diam dia menjadi girang karena ketua Kun-lun-pai itu dapat menangkap maksudnya ketika memberi petunjuk melalui sajak tadi.

Kini Kiang tojin hanya mengandalkan kelincahan tubuh berkat ginkang yang tinggi, mengelak ke sana-sini untuk menghindarkan sambaran tengkorak yang rantainya diputar-putar kuat-kuat oleh lawan.

Dengan hati lega dan tidak mengkhawatirkan keadaan Kiang Tojin seperti para orang gagah yang memandang gelisah, Keng Hong melirik ke arah Biauw Eng dan dia menjadi kagum bukan main.

Ternyata Biauw Eng sekarang jauh bedanya dengan Biauw Eng dahulu!

Gerakan sabuk suteranya mengandung tenaga hebat, gerakannya lebih ringan dan jurus-jurus serangannya amat aneh.

Pat-jiu Sian-ong sudah tidak berani memandang rendah lagi dan pertandingan antara mereka ini seru sekali dalam keadaan berimbang.

Betapa Pat-jiu Sian-ong takkan menjadi bingung kalau melihat gerakan sepasang ujung sabuk sutera yang berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung dan membentuk lingkaran-lingkaran itu dan kadang-kadang menyerang tanah, Kadang-kadang malah bermain di atas kepala gadis itu sendiri seperti hendak menotok tubuh sendiri, akan tetapi tiba-tiba melejit dan menotok ke arah jalan darah kematian kalau dia menjadi lengah dan heran?

Sementara itu, Cui Im mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengimbangi Keng Hong, namun dengan hati panas dan penasaran ia mendapat kenyataan bahwa gerakan-gerakan pemuda itu seluruhnya mengatasi gerakannya sendiri.

Ia seolah-olah dihadapkan dengan benteng baja amat kuat yang tak mungkin ia tembusi dengan penyerangannya, sebaliknya dari dalam "benteng baja"

Itu keluar sinar-sinar yang menyerangnya secara tiba-tiba dan tak terduga-duga! Mulailah Cui Im marah-marah dan memaki-maki.

"Keng Hong, kau curang! Agaknya dahulu engkau tidak membaca sungguh-sungguh semua kitab itu! Banyak yang kau sembunyikan dariku!"

Ia memaki-maki dan menyerang terus kalang kabut.

Akan tetapi Keng Hong hanya tersenyum saja dan melayaninya seenaknya.

Keng Hong tidak dapat cepat mengalahkan Cui Im, karena selain memang wanita ini amat lihai dan rapat menjaga tubuh, juga Keng Hong membagi sebagian perhatiannya kepada Biauw Eng untuk melindungi gadis itu kalau-kalau terancam bahaya di tangan Pat-jiu Sian-ong yang dia tahu amat lihai.

Maka dia selalu memancing Cui Im untuk bertanding dekat kekasih hatinya itu.

Tepat seperti telah diperhitungkan oleh Keng Hong, terjadilah perubahan hebat dalam pertempuran antara Pak-san Kwi-ong dan Kiang Tojin.

Sebetulnya tidak patut disebut pertempuran karena dalam pertandingan ini, Kiang Tojin sama sekali tidak pernah membalas serangan.

Kelihatannya saja seolah-olah dia sudah terlalu lemas sehingga terdesak dan tidak sempat membalas, padahal memang tosu ini sengaja tidak mau balas menyerang, Hanya mengandalkan ginkangnya untuk mengelak terus, membiarkan lawan menyerangnya makin hebat.

Inilah petunjuk yang diberikan oleh Keng Hong dalam sajaknya tadi.

Yaitu agar Kiang Tojin menggunakan kekosongan.

Ketua Kun-lun-pai ini segera dapat menangkap maksud Keng Hong.

Mereka berdua sudah luka parah, luka di sebelah dalam tubuh dan pantangan besar bagi orang terluka di dalam tubuhnya untuk mempergunakan tenaga, apalagi tenaga sinkang karena tenaga ini akan membuat luka di dalam tubuh makin parah.

Karena itu, maka Keng Hong menganjurkan agar Kiang Tojin menggunakan kekosongan, berarti tidak menggunakan tenaga dan membiarkan lawan yang mempergunakan tenaga sebanyaknya dan dia sendiri hanya mengandalkan kegesitannya untuk mengelak tanpa mengerahkan tenaga.

Kini mulai tampak perubahan.

Biarpun Kiang Tojin kelihatan didesak terus, namun dia masih tetap seperti semula, sebaliknya Pak-san Kwi-ong makin lama makin limbung, wajahnya yang hitam menjadi pucat sekali, matanya merah, mulutnya mengeluarkan buih dan kepalanya mengepulkan uap, kedua kakinya mulai menggigil dan serangan-serangannya mulai ngawur!

Pak-san Kwi-ong bukanlah seorang bodoh.

Dia tahu bahwa dia telah menggunakan tenaga terlalu banyak sehingga luka di dadanya makin parah, napasnya sesak sekali dan seluruh isi dada dan perut terasa nyeri.

Akan tetapi di samping kecerdikannya, dia memiliki watak yang kasar, liar dan ganas, watak seekor binatang buas.

Ia penasaran melihat lawan yang seakan-akan tinggal injak saja begitu sukar dirobohkan, Maka makin lama dia makin bernafsu sampai akhirnya dia terlambat menyadari kesalahannya.

Sambaran tengkoraknya makin lemah dan tiba-tiba dia merasa betapa kepalanya berdenyut-denyut, matanya gelap dan jantungnya seperti akan meledak.

Ia masih menubruk maju dan menghantamkan tengkoraknya sekuat tenaga sehingga Kiang Tojin terkejut dan terpaksa meloncat ke belakang.

Tubuh Pak-san Kwi-ong terjelungup ke depan dan robohlah raksasa hitam itu.

Biarpun demikian, dia masih melakukan serangan dari bawah, tengkorak itu menyambar ke arah perut Kiang Tojin.Ketua Kun-lun-pai ini cepat memutar tubuh, kakinya bergerak mendorong tengkorak dari samping.

Tengkorak itu meluncur kembali ke bawah, ke arah muka Pak-san Kwi-ong seolah-olah hendak mencium muka raksasa hitam itu.

"Prokkk!"

Tengkorak pecah berantakan dan kepala Pak-san Kwi-ong juga pecah sehingga dia tewas seketika.

Kiang Tojin meloncat ke belakang menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarum yang meluncur dari dalam tengkorak, kemudain dia terhuyung dan cepat mundur ke rombongan, lalu duduk bersila dan memejamkan mata.

Melihat tewasnya Pak-san Kwi-ong, barulah Cui Im mengerti dan dengan marah ia berseru.

"Keng Hong, engkau manusia curang!"

Dan ia mempercepat serangan pedangnya.

Pat-jiu Siang-ong juga kaget menyaksikan tewasnya Pak-san Kwi-ong yang diandalkan.

Ia mengeluarkan suara bersuit keras dan kini majulah semua pembantunya, menyerbu, bukan hanya pembantu tokoh-tokoh persilatan, juga pasukan yang menjadi anak buahnya mulai menyerbu dan memperketat pengurungan!

Cong San dan Yan Cu berseru keras, mencabut senjata dan menerjang ke depan menyambut lawan, diikuti oleh semua tokoh kang-ouw yang memang sejak tadi sudah siap-siap untuk bertempur dan membela diri.

Maka terjadilah perang tanding yang dahsyat dan tidak teratur lagi.

Cong San dan Yan Cu mengamuk dan sebentar saja sudah merobohkan dua orang lawan, akan tetapi mereka segera dihadapi oleh Gu Coan Kok dan Hok Ku, dua orang iblis tembok besar yang lihai.

Menghadapi Coan Kok, Yan Cu terdesak, sebaliknya Cong San dapat membikin Hok Ku sibuk melindungi dirinya maka Cong San yang selalu memperhatikan Yan Cu segera bertanding sejajar dengan Yan Cu untuk melindungi gadis yang dicintanya itu.

Maka ramailah pertandingan antara empat orang itu, gerakan mereka cepat dan dahsyat sehingga yang lain-lain tidak sempat untuk mencampuri pertempuran ini.

Dari fihak orang gagah, mengamuklah Thian Kek Hwesio, kedua Hoa-san Siang-sin-kiam, keempat orang kakek tokoh Kong-thong-pai, ketua Tiat-ciang-pang Ouw Kian, dan empat orang tosu menjadi sute Kiang Tojin.

Mereka ini dihadapi oleh kawan-kawan Pat-jiu Sian-ong yaitu Thian-te Siang-to keempat Pak-san Su-ong dan masih banyak tokoh kaum sesat dibantu oleh ratusan orang anak buah Pat-jiu Sian-ong.

Melihat betapa fihak Kiang Tojin terdesak hebat karena memang jauh kalah besar jumlahnya, Keng Hong menjadi khawatir.

Untuk cepat-cepat mengalahkan Cui Im bukan merupakan hal yang mudah, maka tiba-tiba tubuhnya melesat mengirim serangan ganas dengan Siang-bhok-kiam.

Cui Im menangkis akan tetapi ia terpekik dan mencelat ke belakang karena tenaga sinkangnya jauh kalah kuat.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Keng Hong untuk meloncat ke dekat Biauw Eng yang masih bertanding ramai sekali melawan Pat-jiu Sian-ong.

Keng Hong langsung menyerang dengan tusukan Siang-bhok-kiam sehingga terdengar suara bercuit nyaring dan tampak sinar hijau yang amat terang dan cepat menyambar leher Pat-jiu Sian-ong.

Kakek ini mendengus, dengan gugup melihat cepat dan kuatnya serangan ini telah mengebutkan hudtimnya menangkis Siang-bhok-kiam dan terus membelit ujung pedang itu untuk merampasnya.

Akan tetapi saat yang hanya seteangah detik itu dipergunakan dengan tepat oleh Biauw Eng,.

Sabuk suteranya berubah kaku dan menusuk perut Pat-jiu Sian-ong.

"Crottt!"

Sabuk sutera yang telah berubah kaku oleh tenaga sinkang itu menembus perut kakek kate itu.

Pat-jiu Sian-ong mengeluarkan teriakan kaget, matanya terbelalak seolah-olah tidak percaya ke arah perutnya, akan tetapi tiba-tiba Keng Hong yang sudah berhasil menarik pedangnya, menusukkan Siang-bhok-kiam menembus dada kakek itu.

"Aihhhhh...!!"

Pat-jiu Sian-ong memekik dan hudtimnya menyambar ke arah Biauw Eng.

Namun gadis ini sudah menarik kembali ujung sabuk pada hudtim sehingga bulu kebutan itu tertarik pedang Siang-bhok-kiam berkelebat lagi dan hudtim itu patah menjadi dua!

Putusnya kebutan itu agaknya berbareng dengan putusnya napas Pat-jiu Sian-ong, tubuhnya terkulai, roboh dan dari perut dan dadanya keluar darah yang memancar deras.

Cui Im menjerit.

"Keng Hong, manusia curang!"

Wanita ini sudah menerjang lagi dengan ganas. Keng Hong menangkis dengan pedang kayunya dan berkata kepada Biauw Eng.

"Kau bantulah teman-teman!"

Tanpa diperintah dua kali, Biauw Eng lalu mengamuk dan membantu Cong San dan Yan Cu.

Keng Hong melanjutkan pertempurannya melawan Cui Im.

Diam-diam harus dia akui bahwa andaikan dia tidak mempelajari Thai-kek Sin-kun, agaknya amat sukar baginya untuk mendapatkan kemenangan melawan Cui Im yang benar-benar amat ganas pedang merahnya ini.

Pantas saja gadis ini berani menamakan diri Ang-kiam Bu-tek Pedang Merah Tanpa Tanding, karena memang pada masa itu, agaknya sukarlah dicari lawan yang dapat menandingi ilmu pedang gadis ini.

Bahkan sekarang pun agaknya tidak akan mudah baginya untuk merobohkan Cui Im tanpa membunuhnya.

Dan sukarnya Keng Hong tidak tega untuk membunuh Cui Im!

Dia bukannya tidak ingat akan semua perbuatan jahat wanita ini terhadap dirinya, akan tetapi ada beberapa hal yang tak dapat dilupakan Keng Hong dan yang membuatnya tidak tega untuk membunuhnya, Yaitu pertama mengingat akan cinta kasih wanita ini terhadap dirinya.

Ke dua, karena betapapun juga, setelah sama-sama mempelajari ilmu peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, sedikitnya Cui Im boleh dikatakan saudara seperguruan dengannya.

Ketiga, kalau saja Cui Im tidak menipunya di dalam tempat rahasia di batu pedang, belum tentu dia akan dapat menemukan dan mempelajari kitab peninggalan Thai Kek Couwsu sehingga secara tidak langsung, Cui Imlah yang berjasa!

Oleh karena itu, Keng Hong hanya mau merobohkan Cui Im tanpa membunuhnya dan hal ini benar-benar amat sukar karena serangan-serangan biasa saja mana mampu mengalahkan Cui Im?

Maka dia lebih banyak bertahan dan membela diri sambil menanti kesempatan baik untuk merobohkan lawannya yang tangguh ini tanpa membunuhnya.

Hebat bukan main perang tanding yang terjadi di puncak Tai-hang-san itu.

Betapapun lihainya para tokoh kang-ouw dan betapa nekat mereka mempertahankan diri, namun karena jumlah mereka jauh kalah banyak sehingga setiap orang terpaksa harus menghadapi empat lima orang lawan, maka mulailah fihak mereka terdesak dan keadaan mereka berbahaya sekali.

Korban kedua fihak sudah mulai berjatuhan dan perang itu penuh dengan suara gaduh, teriakan-teriakan kesakitan, maki-makian kemarahan dan diseling bertemunya senjata tajam yang mengeluarkan bunyi nyaring.

Tiba-tiba terdengat bunyi terompet disusul sorak-sorai dan menyerbulah pasukan pemerintah yang terdiri dari ratusan orang, dipimpin oleh seorang perwira dan didampingi oleh Sian Ti Sengjin!

Itulah pasukan yang didatangkan oleh bekas tokoh Kun-lun-pai ini dari tai-goan dan kalau tadi pertandingan terjadi berat sebelah dengan keuntungan fihak pemberontak, kini sebaliknya menjadi berat sebelah dengan kerugian mereka!

Kini fihak pemberontak kalah banyak jumlahnya dan mulailah terjadi penyembelihan yang mengerikan Perang tanding yang terjadi selama setengah hari di puncak Tai-hang-san itu bagi golongan sesat merupakan sejarah hitam di mana lebih dari dua ratus orang terbunuh.

Tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat lolos, semua tewas termasuk tokoh-tokohnya, sungguh pun di fihak orang kang-ouw juga jatuh korban yang tidak sedikit.

Yang hebat adalah pertandingan antara Keng Hong dan Cui Im.

Masih juga Keng Hong belum dapat merobohkan Cui Im pada perang telah terhenti karena musuh telah terbasi habis.

"Keng Hong, aku bersumpah untuk membunuhmu sekarang juga!"

Cui Im meloncat maju mengirim tusukan maut.

"Trang-trang-cringgg!"

Keng Hong menangkis dan melanjutkan dengan membacokkan pedang Siang-bhok-kiam ke arah paha lawannya.

"Wuuutttttt!"

Cui Im melompat ke belakang sehingga bacokan itu luput.

"Keng Hong, engkau selamanya menjadi penghalang untukku. Engkau manusia satu-satunya di dunia yang paling kubenci!"

Kembali Cui Im menerjang maju.

Wajahnya pucat sekali, keringatnya membasahi seluruh tubuh, akan tetapi matanya sama sekali tidak memperlihatkan kelelahan, bahkan mata itu memancarkan cahaya seperti api menyala-nyala.

"Cui Im, kau menyerahlah. Aku takkan membunuhmu,"

Kata Keng Hong sambil memutar pedangnya menangkis.

"Menyerah? Lebih baik mati!"

Cui Im kembali menerjang maju.

Keng Hong tahu bahwa teman-temannya sudah mengurung tempat pertandingan itu, menonton penuh perhatian.

Di antara mereka terdapat Biauw Eng yang menonton dengan alis berkerut.

"Keng hong, kenapa engkau ragu-ragu merobohkan dia?"

Tiba-tiba Biauw Eng bertanya, di dalam suaranya terkandung penasaran besar.

Keng Hong kaget dan maklum bahwa dia menjadi pusat perhatian.

Mungkin bagi orang-orang lain mereka tidak tahu betapa dia mengalah dan tidak mau membunuh lawan, akan tetapi pandang mata tajam dari orang-orang yang ilmunya sudah tinggi seperti Biauw Eng, Cong San, Yan Cu dan beberapa orang lain akan mudah melihatnya.

Maka dia menjadi bimbang dan ketika pedang merah itu berkelebat menyambar lehernya, dia mengerahkan seluruh sinkangnya dan menangkis sekuat tenaga.

"Trakkk!"

Pedang merah itu patah manjadi dua dan ujung Siang-bhok-kiam masih menyerempet pundak Cui Im.

"Aihhhhhh!!"

Cui Im terhuyung dan roboh, pundaknya terluka lebar dan darah bercucuran.

Sinar putih berkelebat menyambar ke arah kepala Cui Im yang masih rebah miring.

Itu adalah sabuk sutera yang digerakkan Biauw Eng untuk membunuh bekas sucinya.

Agaknya gadis ini hendak membalas dendam atas kematian ibunya di tangan Cui Im.

"Takkk!"

Ujung sabuk sutera tertangkis oleh pedang Siang-bhok-kiam sehingga luput mengenai sasaran.

"Keng Hong...!"

Biauw Eng berseru kaget. Keng Hong menarik napas panjang.

"Biauw Eng, maafkan aku. Perlukah kita membunuhnya? Dia bekas sucimu dan kalau kuingat-ingat secara adil, dia pun masih terhitung sumoiku sendiri karena dia telah mempelajari pusaka warisan suhu. Dia sudah kalah, kehabisan sagala-galanya, perlukah kita membunuhnya begitu saja. kurasa hatimu tidak akan sekejam itu, Biauw Eng."

"Tapi... Tapi... dia telah membunuh ibuku!"

"Benar, akan tetapi apakah untungnya balas-membalas karena dendam? Memang ibumu terbunuh olehnya dalam pertandingan, akan tetapi sekiranya baik kita ingat betapa banyaknya orang yang telah tewas di tangan ibumu juga, Biauw Eng, kalau bukan engkau yang hendak membunuhnya, aku masih tidak peduli. Akan tetapi aku tidak ingin melihat engkau melibatkan diri dalam ikatan dendam-mendendam. Kalau dia melakukan dosa biarlah dia yang akan memikul hukumannya yang pasti akan ia rasakan sendiri. Kekalahannya yang berkali-kali pun merupakan peringatan dan hukuman baginya. Biauw Eng, kuharap engkau suka memenuhi permintaanku, yaitu kita bebaskan lawan yang sudah kalah, jangan membunuh orang yang sudah tidak mampu melawan lagi."

Biauw Eng meragu, memandang kepada Keng Hong kemudian kepada Cui Im yang sudah merangkak bangun dengan wajah kerut-kerut menahan sakit.

"Akan tetapi, andaikata dia tidak kubunuh, kurasa banyak saudara di sini yang tentu akan membunuhnya!"

"Aku tidak percaya mereka mau melakukannya, Biauw Eng. Setelah begini banyak manusia terbunuh...?"

Dengan gerakan kedua lengan dikembangkan ke arah tumpukan mayat, Keng Hong memandang sedih.

"Cia-taihiap benar! Tiba-tiba terdengar suara keras dan Thian Kek Hwesio yang masih memegangi jubahnya yang penuh darah lawan, berkata dan melangkah maju.

"Pinceng memang bersakit hati atas tewasnya suheng Thian Ti Hwesio di tangan iblis betina itu, akan tetapi setelah mendengar kata-kata Cia-taihiap tadi pinceng... merasa malu untuk membunuh lawan yang sudah tidak berdaya. Pinceng membebaskan dia!"

"Pinto juga tidak akan membunuhnya, mengingat dia itu bekas suci Nona, dan masih sumoi dari Cia-taihiap. Pinto tidak akan membunuh orang yang sudah tidak mampu melawan,"

Kata Coa Kiu tokoh Hoa-san-pai.

"Biarlah dia pergi, biarlah iblis betina terkutuk itu pergi!"

Berkata Kok Sian-cu mewakili saudara-saudaranya dari Kong-thong-pai. Biauw Eng menunduk dan tidak membantah lagi.

"Cui Im, kau dengarlah pendirian orang-orang sedunia! Mudah-mudahan ucapan mereka itu akan membikin engkau bertobat dan menebus kejahatan-kejahatanmu dengan perbuatan baik, dengan demikian, tidak percuma mendiang suhu meninggalkan pusaka-pusaka yang kau pelajari pula,"

Kata Keng Hong. Cui Im bangkit berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang, rambutnya riap-riapan, wajahnya pucat.

"Keng Hong, keparat busuk! Ucapan-ucapan itu lebih hebat dari pembunuhan. Hayo, kau bunuh saja aku... Hi-hi-hik... kau bunuh aku atau kelak engkau yang akan kubunuh...!"

Kemudian Cui Im pergi terhuyung-huyung sambil terkekeh-kekeh, akan tetapi suara ketawanya menyeramkan semua orang karena di dalam suara ketawa itu terkandung isak tangis!

Setelah bayangan wanita itu lenyap ke bawah puncak, Keng Hong menarik napas panjang, kemudian dia mengeluarkan semua pusaka yang disimpan di kantungnya, menyerahkan pedang pusaka Hoa-san-pai kepada Coa Kiu, kemudian berkata kepada semua orang.

"Setelah semua pusaka suhu kuambil dan sebagian sudah kuserahkan kepada yang berhak, maka kumohon para Locinapwe sudilah memaafkan semua perbuatan suhu dahulu. Hanya sebuah kitab dari Go-bi-pai yang masih berada padaku dan kelak pasti akan kukembalikan kepada yang berhak."

Coa Kiu dan Cou Bu girang sekali menerima pusaka Hoa-san-pai itu dan menyatakan terima kasihnya dan semua orang gagah merasa kagum terhadap Keng Hong yang mereka saksikan sepak terjangnya tadi.

Mereka lalu mulai mengurus semua korban tewas, baik fihak sendiri maupun fihak lawan, menguburkan mereka di puncak Tai-hang-san.

Hanya Kiang tojin seorang yang menjadi amat kagum kepada Keng Hong dan ketika pemuda ini berlutut menghampirinya untuk memeriksa lukanya bersama Biauw Eng, Kiang Tojin menggeleng kepala dan memegang pundak pemuda itu.

"Pinto tidak apa-apa, Keng Hong. Betapa gembira hati pinto menyaksikan engkau, bukan hanya karena kepandaianmu, terutama sekali karena sikapmu terhadap Ang-kiam Bu-tek. Sikapmu tepat sekali, Keng Hong dan pinto menyatakan tunduk kepadamu. Memang semua manusia ini dan pada dasarnya sama, hanya ada yang sedang menderita sakit seperti Cui Im dan yang lain-lain dan mengakibatkan. Ah, semua pembunuhan antar manusia ini..."

Tosu itu kelihatan menyesal sekali.

Tiba-tiba Biauw Eng mengeluh dan meloncat berdiri lari ke sebelah kiri kemudian berlutut dan menangis di depan mayat Tan Hun Bwee.

Melihat ini, Keng Hong menarik napas panjang dan membiarkan saja gadis itu menumpahkan kesedihannya, karena memang nasib Hun Bwee amat menyedihkan.

Melihat kesibukan semua orang dan dia hanya berada dengan Kiang Tojin, Keng Hong tak dapat menahan keinginan tahu hatinya untuk bertanya kepada kakek yang dia kenal sebagai seorang yang arif bijaksana itu.

"Totiang, mengapa manusia saling berbunuhan karena terbagi menjadi dua golongan? Mengapa ada yang baik dan ada yang buruk? Apakah yang menyebabkan terjadinya dosa?"

Kiang Tojin memejamkan mata, akan tetapi mulutnya berkata dengan lirih namun jelas, seperti orang berbisik dan yang terdengar oleh Keng Hong seperti suara yang datang dari angkasa.

"Perbuatan yang dianggap jahat dan berdosa tercipta dari pengetahuan manusia tentang baik dan buruk itulah! Karena manusia membagi perbuatan menjadi dua, baik dan buruk, maka terciptalah pantangan-pantangan atau larangan-larangan yang menjadi hukum. Manusia menciptakan hukum dan karena pengetahuan tentang baik dan buruk ini sudah mengisi hati, maka setiap pelanggaran hukum menjadi perbuatan jahat dan berdosa. Kalau di dunia ini tidak ada hukum, di dunia ini tidak ada pengetahuan tentang baik dan buruk, maka tidak akan ada pula pemisahan perbuatan yang baik atau jahat."

"Mohon penjelasan, Totiang, teecu masih kurang mengerti."

"Anak-anak kecil yang hati dan pikirannya belum mengenal pengetahuan antara baik dan buruk, yang belum menerima hukum pantangan dan larangan, adalah manusia yang bersih, tidak baik dan juga tidak jahat. Dia akan mengambil barang orang lain, akan tetapi karena dia belum tahu akan hukum yang menentukan bahwa perbutan itu terlarang dan disebut pencuri, maka dia tidak merasa mencuri. Kalau orang tidak mengenal kata-kata mencuri, bagaimana dia bisa menjadi pencuri? Karena anak itu belum mengenal pengetahuan antara baik dan buruk, maka perbuatannya mengambil barang orang lain itu pun baginya tidak baik tidak buruk, hanya wajar dan tidak bisa kita katakan dia mencuri atau berdosa. Setelah dia nanti tahu dan mengenal hukum itu, tahu bahwa perbuatan seperti itu terlarang, kemudian dia melanggar, barulah dia melakukan perbuatan dosa. Jadi yang berdosa bukanlah perbuatannya melainkan pelanggarannya terhadap hukum yang sudah dikenalnya. Di dalam hati sudah tahu bahwa perbuatan itu termasuk tidak baik namun tetap di lakukannya, maka berdosalah dia. Manusia terbelenggu oleh pengetahuan antara baik dan buruk, terkurung oleh hukum-hukum yang yang diciptakannya sendiri, maka penuhlah dunia ini oleh dosa. Sungguh menyedihkan..."

Keng Hong mengangguk-angguk.

"Kalau begitu, kita yang hidup di dalam dunia yang penuh dengan larangan-larangan yang timbul dari pengatahuan antara baik dan buruk ini, apa yang harus kita lakukan, Totiang?"

"Kita sudah terlanjur mengenal baik dan buruk, tentu saja kita harus selalu mengabdi kebaikan, hanya dengan hati besar kita harus dapat mengampuni mereka yang kita angap melakukan perbuatan jahat setelah kita tahu bahwa perbuatannya itu merupakan pelanggaran bagi hukum yang sudah dikenalnya, berarti bahwa dia itu lemah, atau sedang sakit, terdorong oleh nafsunya sendiri sehingga melakukan hal-hal yang sebenarnya berlawanan dengan pengenalan hukum dalam sanubarinya sendiri." (Lanjut ke

Jilid 40) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 40

"Terima kasih atas petunjuk Totiang yang bijaksana."

Kiang Tojin membuka matanya dan tersenyum kepada pemuda itu.

"Semua orang bijaksana, orang muda yang baik. Di dunia tidak ada orang pandai atau bodoh. Yang sudah mengerti disebut pandai. Padahal yang sudah mengerti itu pun tadinya tidak mengerti, sebaliknya yang belum mengerti itu pun kelak akan mengerti. Karena itu, adalah menjadi, kewajiban kita untuk belajar mengerti, setelah mengerti lalu sadar, setelah sadar lalu menjadikan pengertian sebagai dasar setiap perbuatan."

Demikianlah, menggunakan kesempatan itu Keng Hong menerima wejangan-wejangan dari ketua Kun-lun-pai itu, sedangkan orang-orang kang-ouw yang lain bersama pasukan dari Tai-goan mengadakan pembersihan terhadap mayat-mayat yang berserakan.

Pembicaraan Keng Hong dan Kiang Tojin terhenti Sian Ti Sengjin datang berlutut di depan ketua Kun-lun-pai sambil berkata.

"Suheng..., Sute yang penuh dosa datang menghadap."

Kiang tojin memandang, sejenak pandang matanya penuh teguran dan keren, akan tetapi kemudian melunak dan dia berkata.

"Sute, jauh lebih baik seorang yang sadar dan bertobat, menyesali dan mencuci kekotorannya daripada seorang yang menyombongkan kebersihannya. Pinto telah mendengar semua tentang dirimu dan merasa berbahagia dapat menerimamu kembali sebagai seorang murid Kun-lun-pai yang baik."

Keng Hong lalu meninggalkan kedua kakak beradik seperguruan yang sudah rujuk kembali untuk membantu orang-orang lain mengurus mayat-mayat yang amat banyak.

Kembali dia bersama Biauw Eng, Cong San dan Yan Cu mengubur mayat Tan Hun Bwee di tempat terpisah.

Pada keesokan harinya, barulah pasukan pemerintah kembali ke Tai-goan dan para rokoh kang-ouw meninggalkan puncak Tai-hang-san.

Biauw Eng tidak mau meninggalkan tempat itu karena dia hendak berkabung selama tiga hari di situ.

Keng Hong menemaninya dan Cong San juga berpamit kepada suhengnya, Thian Kek Hwesio, untuk menemani Keng Hong dan Biauw Eng.

Tentu saja Yan Cu tidak mau ketinggalan menemani Biauw Eng di puncak yang menyeramkan itu.

Setelah semua orang pergi, sunyilah puncak Tai-hang-san, sunyi menyeramkan.

Di tempat bekas pertempuran tampak banyak sekali gundukan tanah kuburan baru, dan untuk memudahkan pekerjaan, ada satu lubang yang diisi sampai lima mayat manusia.

Hanya kuburan para tokoh besar saja yang dipisahkan, termasuk kuburan Pak-san Kwi-ong dan Pat-jiu Sian-ong.

Biauw Eng merasa kasihan dan terharu sekali mengenang nasib sucinya, Tan Hun Bwee, yang pada akhir hidupnya mengorbankan nyawa dan berusaha untuk menolong mereka, duduk bersila di depan makam sucinya dengan wajah berduka.

Keng Hong tidak mau mengganggunya, malah pemuda ini lalu mengukir nama-nama para tokoh di atas batu-batu dan memasang batu nisan sederhana ini kuburan masing-masing.

Juga Cong San dan Yan Cu tidak berani mengganggu Biauw Eng.

Sepasang orang muda ini tampak rukun dan sering kali bicara bisik-bisik sehingga diam-diam Keng Hong merasa girang sekali hatinya, mengharapkan agar sekali ini Yan Cu yang lincah itu benar-benar dapat menemukan cintanya!

Tak seorang pun di antara orang muda ini mengira bahwa urusan di puncak itu belumlah habis sampai di situ saja.

masih ada bahaya besar mengancam mereka.

Bahaya yang merupakan diri seorang nenek tua renta, yang berlari cepat seperti terbang sambil kadang-kadang tertawa atau menangis tanda bahwa otaknya tidak waras.

Nenek ini adalah Go-bi Thai-houw!

Secara kebetulan saja Go-bi Thai-houw yang melakukan perjalanan mencari kedua orang muridnya, bertemu dengan Cui Im di kaki Gunung Tai-hang-san.

Andaikata tidak bertemu dengan Cui Im, tentu nenek ini tidak akan mendaki puncak sambil berlari secepat terbang.

Dia sedang berjalan seenaknya ketika mendengar suara rintihan dicampur isak tangis.

Ketika melihat bahwa yang merintih-rintih dan menangis itu adalah seorang wanita muda cantik yang pundaknya terluka besar, nenek ini menghampiri, berdiri di depan Cui Im kemudian tertawa terkekeh-kekeh sambil menudingkan telunjuknya kepada Cui Im!

"Ha-ha-ha, heh-heh, sungguh bocah lucu engkau!

Lelah, setengah mati dan terluka, kenapa malah menangis?"

Nenek itu lalu meletakkan telunjuk ke depan dahinya yang penuh keriput dan bertanya.

"Eh, bocah lucu, apakah engkau begini?"

Cui Im mengangkat mukanya dan biar pun dia sudah terluka lahir batin, kemarahannnya memuncak ketika ia diejek dan dianggap gila.

Cepat ia meloncat dan memukul dada nenek itu.

"Dessssss!"

Cui Im terkejut karena dada yang dipukulnya itu lunak seperti kapas, maka maklumlah ia bahwa tentu nenek ini seorang yang lihai luar biasa.

"Nenek gila! Siapa kau...?"

Tiba-tiba ia teringat. Nenek yang gila dan amat lihai. Siapa lagi kalau bukan Go-bi Thai-houw? "Engkau... engkau Go-bi Thai-houw?"

"Hi-hi-he-he-heh! Engkau benar gila tapi matamu tajam. Benar aku Go-bi Thai-houw, dan mengapa engkau menangis di sini?"

Tiba-tiba Cui Im tertawa, tertawa didorong kecerdikannya yang pada saat seperti itu masih mempunyai akal untuk membalas kekalahannya.

"Hi-hi-hik, nenek gila. Sekarang kau boleh mentertawakan aku yang menangis, akan tetapi engkau takkan bisa tertawa lagi kalau mendengar penuturanku tentang muridmu!"

Biarpun otaknya miring, mendengar tentang muridnya, nenek itu cepat bertanya nafsu.

"Di mana murid-muridku?"

"Muridmu bernama Tan Hun Bwee dan Sie Biauw Eng, bukan? Muridmu Tan Hun Bwee itu pun gila seperti engkau?"

"Setan kau! Muridku keduanya waras seperti aku, tidak gila seperti engkau?"

Cui Im tidak mau berbantahan dengan seorang gila, cepat ia berkata.

"Percuma saja kau mencari. Muridmu Tan Hun Bwee sudah dibunuh oleh Cia Keng Hong, tuh mayatnya masih menggeletak di atas puncak!"

Cui Im sengaja berkata demikian padahal sudah sehari semalam ia sampai di kaki gunung ini dalam perjalanannya setengah merangkak.

"Bedebah!"

Tanpa bertanya lagi Go-bi Thai-houw lalu melompat dan lari seperti terbang cepatnya menuju ke puncak Tai-hang-san.

Cui Im tertawa-tawa dan melanjutkan perjalanannya dengan terhuyung-huyung.

Demikianlah, pada siang hari itu secara tiba-tiba Go-bi Thai-houw muncul di puncak dan begitu melihat Biauw Eng bersama tiga orang berada di situ, cepat ia berseru.

"Mana Hun Bwee? Mana yang bernama Cia Keng Hong?"

Semua orang terkejut dan menengok karena kedatangan nenek itu tidak mereka ketahui sama sekali, tahu-tahu nenek itu telah berada di situ! "Subo...!"

Biauw Eng lari dan berlutut di depan Go-bi Thai-houw sambil menangis.

"Subo... suci telah tewas...!"

"Eh, Biauw Eng, apakah kau mendadak telah menjadi gila? Ha-ha-ha, Hun Bwee mati, kenapa engkau malah menangis?"

Tentu saja Keng Hong, Cong San dan Yan Cu terkejut dan terheran-heran mendengar ucapan yang aneh ini.

Biauw eng tahu bahwa bagi nenek ini, orang berduka harus tertawa, kalau senang barulah menangis.

Betapa selama dia menjadi murid nenek itu dia dan Hun Bwee selalu harus ikut menggila.

Akan tetapi kini dia tidak bernafsu untuk bermain sandiwara dan tangisnya mengguguk.

"Subo... dia... Tewas...

"Aku sudah tahu?"

Nenek itu membentak.

"Mana murid Sin-jiu Kiam-ong? Mana dia yang bernama Cia Keng Hong yang membunuh Hun Bwee?"

Keng Hong terkejut. Dia sudah mendengar bahwa nenek sakti ini miring otaknya, maka cepat dia menghampiri, memberi hormat dan berkata.

"Locianpwe, sayalah yang bernama Cia Keng Hong, murid Sin-jiu Kiam-ong dan tentang nona Tan..."

"Wuuuuuttttt!"

Nenek itu telah menghantamnya dengan gerakan yang cepat bukan main.

Keng Hong terkejut, mengelak sambil menangkis, akan tetapi dia masih terpelanting.

Nenek itu memiliki kekuatan yang mujijat!

"Bagus, murid Sie Cun Hong engkau mampuslah!"

Nenek itu menyerang lagi lebih hebat daripada tadi. Keng Hong kembali mengelak.

"Locianpwe, tunggu dulu...! Bukan saya yang membunuhnya..."

"Cerewet! Membunuh atau tidak, murid Sie Cun Hong harus mampus!"

Kini serangan Go-bi Thai-houw benar-benar hebat dan gerangannya membingungkan Keng Hong yang terpaksa harus mengerahkan kecepatannya untuk mengelak sambil meloncat ke sana-sini.

"Heh-heh-heh, engkau pandai juga, keparat!"

Kini nenek itu mengeluarkan serangan dengan gerakan aneh dan lucu tampaknya kacau-balau akan tetapi setiap gerak tangannya mengeluarkan angin yang menyambar-nyambar seperti badai mengamuk.

Keng Hong terkejut, maklum bahwa membantah pun percuma saja terhadap nenek gila yang amat lihai ini.

Dia cepat mainkan Thai Kek Sin-kun dan menjaga dirinya rapat-rapat, mengelak sambil menangkis dengan kedua tangan, namun dalam belasan jurus saja dia sudah terdesak hebat dan dipaksa mundur terus.

"Subo...!"

Biauw Eng meloncat ke depan nenek itu menghalangi nenek itu menyerang Keng Hong.

"Subo, jangan menyerang Keng Hong...!"

"Apa kau bilang? Kau sudah gila? Dia murid Sie Cun Hong, hayo kau bantu aku membunuhnya!"

Nenek itu membentak-bentak.

"Tidak, Subo! Aku tidak akan menyerangnya, aku cinta kepadanya!"

Nenek itu tertawa.

"He-he-heh, justeru kalau cinta harus membunuhnya, tolol!"

Keng Hong memandang penuh keharuan kepada Biauw Eng, penuh kemesraan.

Terbayanglah dia dahulu ketika dia hendak dibunuh Lam-hai Sin-ni, gadis itu pun membelanya dan seperti juga sekarang, secara terang-terangan penuh ketulusan hati, gadis ini mengaku cinta kepadanya!

Ah, Biauw Eng...

hatinya menjerit.

"Tidak Subo. Engkau tidak boleh menyerangnya, dan dia tidak membunuh suci Tan Hun Bwee!"

"Apa? Engkau hendak membela Cia Keng Hong? Hendak membela murid Sin-jiu Kiam-ong? Engkau tidak mau membantu memusuhi Sie Cun Hong?"

"Tidak mungkin, Subo, Sie Cun Hong itu adalah mendiang ayahku."

"Heh...???"

Agaknya untuk detik itu, kegilaan meninggalkan hati dan pikiran nenek itu dan ia memandang terbelalak.

"Bukankah kau puteri Lam-hai Sin-ni?"

"Ibuku memang Lam-hai Sin-ni, akan tetapi ayahku Sie Cun Hong yang berjuluk Sin-jiu Kiam-ong, karena itu tidak mungkin aku memusuhinya dan apalagi aku cinta kepada murid ayahku..."

"Iblis!"

Nenek itu menendang dan tubuh Biauw Eng mencelat sampai lima meter jauhnya. Gadis itu roboh berguling-guling akan tetapi cepat meloncat bangun lagi.

"Keparat, kau puteri Sie Cun Hong, he-he-heh! Kalau begitu engkau pun harus mampus. Kau puterinya, dan Lam-hai Sin-ni sainganku, ha-ha-ha!"

Nenek itu meloncat maju hendak menyerang Biauw Eng, akan tetapi Keng Hong sudah menghadangnya.

"Locianpwe, harap sabar...!"

"Mampus kau!"

Go-bi Thai-houw menghantam kedua tangannya dan tampaklah uap hitam menyambar dari sepasang telapak tangannya.

Keng Hong terkejut bukan main dan cepat dia membuang diri ke belakang, namun tetap saja dia masih merasa hawa yang amat dahsyat menyerempet pundaknya sehingga biarpun dia sudah berjungkir balik, tetap saja dia terbanting jatuh.

Biauw Eng yang menyaksikan ini, cepat meloncat dan mengirim pukulan dari samping ke arah lambung nenek itu.

Go-bi Thai-houw berusaha mengelak, namun kepalan tangan Biauw Eng masih masih menyerempet pinggulnya sehingga kuda-kudanya tergempur dan ia meloncat ke belakang sambil memasuki.

"Aku tidak mengaku engkau sebagai murid, engkau musuhku!"

"Terserah! Aku hanya berhutang budi setahun lamanya padamu, akan tetapi aku telah berhutang budi selamanya terhadap orang tuaku, terutama ibuku. Tak mungkin aku mendiamkan saja engkau memaki-maki orang tuaku, terutama ibuku!"

Biauw Eng juga membentak arah dan kembali ia menyerang.

Hampir saja lengannya dapat ditangkap oleh nenek yang lihai itu kalau saja Keng Hong tidak cepat menyambar tubuh Biauw Eng ke samping dan mengirim tendangan yang dapat ditangkis oleh Go-bi Thai-houw.

Pada saat itu, Cong San dan Yan Cu juga maju membantu dan mengeroyok nenek itu.

Dikeroyok empat orang muda yang memiliki ilmu silat tinggi, nenek itu kewalahan juga, memaki-maki dan menyeling tangis dan tawa.

Menyaksikan kehebatan si nenek gila, Cong San dan Yan Cu mencabut pedang, juga Biauw Eng telah melolos sabuk suteranya, akan tetapi Keng Hong berseru.

"Jangan pergunakan senjata!"

Cong San dan Yan Cu segera menyimpan pedang mereka kembali, akan tetapi Biauw Eng memandang penasaran.

"Kenapa, Keng Hong? Dia gila dan jahat!"

"Justeru karena dia tidak waras pikirannya kita harus dapat memaafkannya Biauw Eng. Pula, sedikitnya dia adalah gurumu. Kau tidak boleh membunuhnya."

Nenek itu mengamuk dengan hebat dan karena Keng Hong melarang teman-temannya membunuh, mereka berempat menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan nenek itu sehingga berganti-ganti empat orang muda itu terpelanting dan terlempar.

Pukulan-pukulan empat orang muda itu jika mengenai tubuh si nenek hanya membuat nenek itu bergoyang tubuhnya.

Hanya pukulan Keng Hong yang membuat ia terhuyung dan hampir roboh.

Kalau saja Keng Hong menggunakan seluruh tenaganya, agaknya dibantu tiga orang muda yang lihai itu tentu dia dapat memukul tewas lawannya.

Namun pemuda yang bijaksana ini tidak menghendaki demikian.

Untuk ke sekian kalinya, ketika nenek itu sibuk menangkis serangan Biauw Eng, Cong San dan Yan Cu, Keng Hong dapat menampar punggungnya dari belakang.

Nenek itu menggeluarkan keluhan dan tubuhnya terpelanting, akan tetapi sambil bergulingan ia berhasil menyambar pinggang Yan Cu, terus mengempit tubuh dara ini dan mengayun tangan memukul ke arah ubun-ubun Yan Cu!

"Celaka...!"

Cong San berseru kaget dan dengan nekat dia menubruk nenek itu, menangkap tangannya dan menelikung ke belakang.

Juga Biauw Eng sudah menubruk dan menarik tangan satunya yang mengempit pinggang Yan Cu, sedangkan Keng Hong maju pula menotok pundak untuk membuat nenek itu roboh lemas.

Akan tetapi, betapa kaget hati Keng Hong ketika jari tangannya menotok jalan darah yang seolah-olah kering dan kaku seperti kawat baja!

Nenek itu tertawa, tubuhnya bergoyang seperti seekor anjing mengeringkan bulu dan...

tubuh Yan Cu, Cong San dan Biauw Eng terlempar dan terbanting keras ke kanan kiri!

Tiga orang muda ini bergulingan dan meloncat bangun, tidak terluka akan tetapi amat kaget dan sedikitnya kulit tangan kaki mereka babak-bundas!

Nenek itu mendengus-dengus, tertawa-tawa bercampur isak, dikurung seperti seekor anjing gila digoda empat orang anak nakal.

Tiba-tiba terdengar suara halus namun nyaring berwibawa.

"Hian Wi...!"

Apa yang kau lakukan ini...??"

Go-bi Thai-houw kelihatan terkejut sekali, wajahnya pucat, matanya terbelalak dan tubuhnya cepat membalik ke arah suara halus itu.

Ketika ia melihat seorang nenek tua lain berdiri tak jauh dari situ dengan sikap agung dan angkuh memandangnya, Go-bi Thai-houw menjadi makin ketakutan, tubuhnya gemetar dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut!

"Ahhhhh...

Nyonya...

am...

Ampunkan hamba..

hamba tidak apa-apa...!"

Nenek yang berdiri dengan sikap angkuh dan agung bukan lain adalah Tung Sun Nio.

Sejenak ia memandang nenek gila itu, kemudian berkata dengan suara dingin.

"Hemmm... kalau begitu, pergilah, Hian Wi!"

"Baik.. baik... Nyonya!"

Nenek gila itu memberi hormat dengan berlutut, kemudian sekali tubuhnya bergerak, ia sudah mencelat dan lari turun dari puncak seperti dikejar setan!

"Subo...!"

Keng Hong dan Yan Cu lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Tung Sun Nio yang masih menengok ke arah larinya Go-bi Thai-houw.

"Subo, sungguh menakjubkan! Go-bi Thai-houw itu lihai bukan main, kepandaiannya seperti iblis, akan tetapi dia begitu takut kepada Subo. Mengapakah?"

Yan Cu yang memang berwatak jenaka bertemu gurunya sudah bertanya dengan ramah.

Agaknya pertemuannya dengan Go-bi Thai-houw itu menimbulkan kenang-kenangan yang amat mempengaruhi batin Tung Sun Nio sehingga sejenak ia seperti lupa akan segala urusan yang dihadapi, melainkan terbayang kembali semua pengalaman masa dahulu.

Seperti orang mimpi ia menjawab pertanyaan Yan Cu.

"Mengapa? Dia bernama Oh Hian Wi, semenjak kecil menjadi pelayan ibuku, bahkan setelah aku menikah dengan Sie Cun Hong, dia lalu ikut bersamaku, menjadi pelayanku. Biarpun pelayan, dia kami perlakukan dengan baik, malah diberi pelajaran ilmu silat sesuai dengan pelayan keluarga ahli silat. Akan tetapi... Nenek itu menarik napas panjang.

"dia tergila-gila kepada suamiku, ketahuan olehku, merasa bersalah dan melarikan diri. Sungguh tidak nyana dia sekarang menjadi Go-bi Thai-houw yang gila, ilmu kepandaiannya jauh melebihi aku, akan tetapi rasa bersalah masih menggores hatinya maka dia ketakutan berjumpa denganku..."

Keterangan ini membuat Keng Hong, Biauw Eng, Cong San dan Yan Cu tercengang.

Pantas saja nenek gila itu lari seperti seekor anjing diancam penggebuk!

Dan untung nenek itu lari karena sesungguhnya nenek itu memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah manusia!

Tung Sun Nio agaknya masih terharu dan perjumpaannya dengan bekas pelayan itu membuat ia termenung, tenggelam dalam lamunan sehingga keadaan menjadi sunyi sejenak.

Tiba-tiba nenek itu sadar kembali dan kini pandang matanya ditujukan kepada Yan Cu dan Keng Hong, kemudian terdengar suaranya dingin dan keras.

"Keng Hong! Yan Cu! Apa yang telah kalian lakukan? Mengapa kalian melarikan diri?"

"Subo, teecu ingin mencari pengalaman, maka teecu mengajak suheng untuk pergi merantau,"

Kata Yan Cu.

"Maaf, Subo. Teeculah yang mengajak Sumoi pergi untuk meluaskan pengalaman, teecu yang bersalah dalam hal ini."

"Tidak, Subo, Suheng tidak bersalah, teecu yang bersalah dan kalau Subo hendak menjatuhkan hukuman, teecu siap menerimanya,"

Bantah Yan Cu.

"Sumoi tidak bersalah, teecu yang harus dihukum."

Keng Hong tidak mau mengalah. Tung Sun Nio yang biasanya berwajah dingin dan ura itu tersenyum.

"Bagus, agaknya sekarang kalian sudah saling membela dan saling melindungi. Itu artinya kalian saling mencinta! Anak-anak nakal, aku memaafkan kalian. Mari kita pulang dan akan kurayakan pernikahan kalian!"

"Tidak...!"

Teriakan ini terdengar hampir berbarengan dari mulut Keng Hong dan Yan Cu sehingga mengejutkan hati Tung Sun Nio.

Nenek ini seketika kehilangan senyum dan seri wajahnya, memandang tajam penuh kemarahan.

"Apa kalian bilang? Sekarang juga kalian harus ikut aku pulang dan menikah. Hayo jawab!"

"Tidak, Subo!"

Kembali kedua orang muda itu menjawab serempak dan wajah nenek itu menjadi merah.

Cong San dan Biauw Eng hanya mendengarkan sambil menonton dengan hati tegang.

"Keng Hong! Mengapa kau berani membangkang?"

"Maaf, Subo. Teecu tidak mungkin dapat menikah dengan Yan Cu Suoi karena teecu mencinta gadis itu!"

Keng Hong menunjuk ke arah Biauw Eng yang tiba-tiba menundukkan mukanya dengan wajah kemerahan.

"Setan! Engkau mewarisi watak gurumu! Siapa gadis ini?"

"Dia bernama Sie Biauw Eng dan dia... Dia... dia adalah puteri suhu sendiri."

"Apa??"

Mata nenek itu terbelalak memandang ke arah Biauw Eng.

"Puteri ... Sie Cun Hong?"

"Benar, Subo. Ibunya adalah mendiang Lam-hai Sin-ni. Teecu dan dia sudah saling mencinta semenjak dahulu, mengharapkan kebijaksanaan Subo."

Wajah nenek yang masih cantik itu kerut-merut tanda bahwa hatiya terguncang. Kemudian ia menunduk, memandang Yan Cu membentak.

"Dan engkau, Yan Cu?"

"Teecu tidak dapat menikah dengan Suheng karena... karena... Dara itu tiba-tiba menjadi merah mukanya dan melirik ke arah Cong San, kemudian menggigit bibir seolah-olah hendak menambah ketabahannya dan berkata lantang.

"Karena teecu mencinta pemuda lain..."

"Siapa dia?"

Bentak gurunya, tercengang mendengar semua ini.

"Dia itulah...!"

Yan Cu menuding ke arah Cong San dan pemuda ini memandang dengan wajah berseri penuh kebahagiaan.

Baru sekarang Yan Cu menyatakan cinta kasih dengan kata-kata, bahkan pengakuan ini dilakukan di depan banyak orang!

Hampir Cong San menari-nari kegirangan dan tiba-tiba sinar matahari makin gemilang baginya, dunia tampak seperti sorga!

Seperti tadi, nenek itu memandang Cong San dengan sinar mata penuh selidik bercampur kemarahan.

"Siapa pemuda ini?"

"Dia bernama Yap Cong San, murid ketua Siauw-lim-pai. Kami sudah saling mencinta, Subo, maka hanya dengan dialah teecu mau menikah."

Hening sejenak, keheningan yang mencekam hati empat orang muda penuh ketegangan. Tiba-tiba nenek itu membanting kakinya dan menjerit.

"Tidak...!! Kalian tunduk kepadaku. Kalian harus pulang sekarang juga dan melangsungkan pernikahan!"

"Teecu tidak mau, Subo!"

Yan Cu berkata dengan isak tertahan.

"Murid celaka!"

Tung Sun Nio menggerakkan kakinya menendang.

"Desss!"

Tubuh Yan Cu terlempar jauh dan bergulingan.

"Moi-moi...!"

Cong San menubruk dan memeluk gadis itu, membantunya bangun.

"Subo, jangan...!"

"Kau pun murid celaka!"

Kakinya menendang lagi.

Kalau Keng Hong menghendaki, tentu saja akan mudah baginya untuk mengelak atau menangkis, akan tetapi dia tidak berani melakukan perlawanan.

"Desss!"

Tubuhnya pun terlempar.

"Keng Hong...!"

Biauw Eng menubruknya. Dua pasang orang muda itu berpelukan dan memandang kepada nenek itu yang menjadi makin marah.

"Keparat, kubunuh kalian kalau tidak mau menurut!"

Bentaknya dan sekali ia sudah mendekati Keng Hong yang berpelukan dengan Biauw Eng, menendang lagi.

Biauw Eng menggerakkan tangan menangkis, akan tetapi tangannya cepat dipegang Keng Hong yang membiarkan dirinya ditendang.

"Desss!!"

Kini tubuh Keng Hong dan Biauw Eng keduanya terpental dalam keadaan masih berangkulan dan bergulingan di atas rumput.

Nenek yang sudah marah itu meloncat dan menendang Yan Cu dan Cong San yang juga terlempar dalam keadaan saling berpelukan.

Sungguh sial empat orang muda itu.

Baru saja mereka dihajar oleh Go-bi Thai-houw si nenek gila sampai babak bundas, kini dihajar oleh Tung Sun Nio sampai dua kali terguling-guling dan kulit mereka bertambah lecet-lecet!

"Subo, pernikahan tak dapat dipaksakan!"

Keng Hong berseru.

"Apa artinya perjodohan tanpa cinta kasih? Apakah Subo hendak mengulang kembali peristiwa antara Subo dengan mendiang Suhu?"

Nenek itu tiba-tiba berhenti dan tubuhnya seperti kaku mendengar seruan Keng Hong ini.

Wajahnya menjadi makin merah dan matanya seperti mengeluarkan api yang akan membakar empat orang muda itu.

Bibirnya menggigil dan sukar sekali ia mengeluarkan kata-kata, kemudian ia menjerit.

"Apa...??"

Tangannya meraba gagang pedang dan sinar maut membayangi pandang matanya!

"Omitohud...!

Tepat sekali ucapan orang muda ini.

Sun Nio, mengapa engkau belum insyaf?"

Tiba-tiba terdengar suara yang halus.

Nenek itu terpekik dan membalikkan tubuhnya.

Sejenak ia berdiri terbelalak memandang hwesio tua yang berdiri di situ dengan wajah tenang dan sinar mata penuh kebijaksanaan.

Nenek itu seolah-olah telah berubah menjadi arca, menatap hwesio itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

"Suhu...!"

Cong San yang masih memeluk Yan Cu melepaskan gadis itu dan menjatuhkan diri berlutut di tempatnya memberi hormat kepada hwesio yang bukan lain adalah gurunya sendiri, Tiong Pek Hosiang ketua Siauw-lim-pai!

Kalau Tung Sun Nio dapat tiba di puncak Tai-hang-san untuk mencari dan menyusul dua orang muridnya, adalah ketua Siauw-lim-pai ini yang merasa tidak tenteram hatinya ingin menghadiri pertemuan puncak menyusul murid-muridnya yang mewakilinya.

"Tiong-koko...!"

Nenek itu akhirnya menjerit, lari menghampiri hwesio itu dan berlutut di depannya, merangkul kedua kakinya dan menangis terisak-isak.

"Tiong-koko... Puluhan tahun aku mencarimu... Betapa kejam hatimu meninggalkan aku. Siapa kira... Ketua Siauw-lim-pai adalah engkau... Hu-hu-huuuk... Kiranya engkau menjadi hwesio..."

"Omitohud.. tenangkan hatimu, Sun Nio. Aku menjadi hwesio untuk menebus dosaku yang amat besar terhadap mendiang suamimu, Sie Cun Hong Taihiap. Dan untuk melupakanmu."

Nenek itu menangis makin mengguguk di depan kaki Tiong Pek Hosiang, sedangkan empat orang muda itu memandang dengan melongo.

Kembali mereka disuguhi pemandangan yang aneh dan tidak terduga-duga.

"Kalian dengarlah penuturan pinceng, orang-orang muda, agar dapat kalian jadikan contoh. Memang tadi pinceng kagum mendengar bantahan orang muda murid Sin-jiu Kiam-ong dan memanglah, jodoh yang dipaksakan tanpa cinta kasih hanya akan mengakibatkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Contohnya adalah Tung Sun Nio ini sendiri. Tanpa cinta kasih dijodohkan orang tuanya dengan Sie Cun Hong, padahal dia mencinta Ouw-yang Tiong, yaitu pinceng sendiri! Kalau saja Sie Cun Hong bersikap bijaksana dalam hubungan suami isteri, agaknya Sun Nio perlahan-lahan akan dapat melupakan pinceng. Akan tetapi sayang, Sie Cun Hong mempunyai watak romantis, suka berenang dalam lautan nafsu sehingga Sun Nio menderita batin dan makin condong hatinya terhadap pinceng! Malapetaka menimpa ketika pinceng yang memang sejak dahulu bersahabat dengan Sie-taihiap, mengunjungi mereka. Cinta kasih lama kambuh, getaran perasaan meluap sehingga Sun Nio dan pinceng lupa diri, menjadi hamba nafsu melakukan pelanggaran!"

Hwesio tua itu menghela napas panjang.

"Menyesal pun sudah kasep, pinceng melarikan diri dan tekun menjadi hwesio di Siauw-lim-si sehingga akhirnya terangkat menjadi ketua. Sungguh menyesal sekali bahwa rumah tangga Sie-taihiap menjadi berantakan, Sie-taihiap makin menggila dan Sun Nio.. Ah, sungguh kasihan dia...!"

"Tiong-koko.. hu-huuuuukkkk...!"

Nenek itu menangis tersedu-sedu dan hati empat orang muda yang mendengarkan penuturan ini menjadi terharu sekali.

Bahkan Biauw Eng dan Yan Cu tak dapat menahan mengalirnya air matanya.

Yan Cu terisak dan menubruk subonya, menangis berpelukan dengan gurunya yang bernasib malang menjadi korban cinta kasih.

"Demikiankahlah, anak-anak. Cinta adalah perasaan yang suci dan gaib, kekuasaannya besar sekali mempengaruhi kehidupan manusia. Cinta yang murni membutuhkan kesadaran dan kebijaksaan karena memiliki cabang-cabang yang dapat membingungkan manusia dan kalau tidak hati-hati dapat dikotori nafsu berahi semata sehingga menyeret manusia menjadi hamba nafsu. Cinta bukan hanya meminta, melainkan lebih banyak memberi, tidak hanya menuntut disenangkan, melainkan terutama sekali harus menyenangkan orang dicintanya. Cinta suci telah diberikan oleh Thian kepada manusia, tengoklah sekelilingmu, sedemikian besar dan suci cinta kasih dari Thian Yang Maha Kasih, menciptakan alam dan memberikan seluruhnya kepada manusia tanpa menuntut sesuatu! Ingatlah akan cinta orang tua terhadap terhadap anaknya, terutama cinta seorang ibu kepada anaknya, hanya memberi, memberi dan memberi! Kalau cinta antara pria dan wanita, yang dibahayakan oleh nafsu yang menjadi cabangnya, mencontoh cinta kasih murni itu, memberi, menyenangkan, pinceng kira cinta kasih itu akan menjadi sumber kebahagiaan suami isteri."

Yan Cu memandang kepada hwaseio itu dengan terharu dan wajah berseri.

Kini dia telah mendapatkan cinta yang dicari-carinya, dalam diri...

Cong San!

"Sun Nio.

Engkau telah banyak menderita karena cinta.

Apakah engkau sekarang ingin melihat muridmu menderita pula seperti engkau karena cinta?

Muridmu mencinta muridku Cong San.

Nah, sekarang pinceng mempergunakan kesempatan ini untuk mengajukan pinangan atas diri muridmu yang menjadi jodoh muridku.

Bukankah ini pemecahan yang amat baik, Sun Nio?

Sewaktu kita berdua masih berada di ambang pintu kematian, sudah sama-sama tua, kita masih dapat melanjutkan ikatan di antara kita, menjadi besan!

Muridmu menjadi isteri muridku, bukankah hal ini amat membahagiakan?"

Nenek itu menyusut air matanya, lalu perlahan bangkit berdiri, masih merangkul Yan Cu. Ia menganggung-angguk, kemudian dengan suara serak bertanya.

"Yan Cu, engkau kusayang seperti anakku sendiri. Benarkah engkau mencinta Cong San?"

"Benar, Subo."

"Baiklah, Tiong-koko.. Eh, bukankah sekarang namamu Tiong Pek Hosiang? Aku menerima pinanganmu, akan tetapi pernikahan harus dirayakan di tempatku."

Tiba-tiba Keng Hong yang masih berlutut.

"Subo, teecu sudah tidak mempunyai orang tua, tidak mempunyai wali. Subo sebagai isteri mendiang Suhu merupakan satu-satunya orang yang dapat teecu anggap sebagai wali. Sudikah Subo memberi ijin kepada teecu untuk berjodoh dengan Sie Biauw Eng?"

Biauw Eng yang cerdik cepat pula berkata.

"Locianpwe adalah isteri pertama dari ayahku, maka Locianpwe juga merupakan ibu tiriku, maka aku mohon doa restu Locianpwe."

"Ha-ha-ha-ha-ha...!"

Tiong Pek Hosiang tertawa.

"Omitohud...!"

Betapa besar berkah yang dilimpahkan oleh Thian kepada kita semua!

Sun Nio, tidak dapatkah kau melihat betapa membahagiakan peristiwa ini?

Cia Keng Hong adalah murid Sie Cun Hong, Sie Biauw Eng adalah puterinya dan anak tirimu.

Gui Yan Cu adalah muridmu, dan Yap Cong San adalah murid pinceng.

Dahulu, cinta segi tiga antara kita orang-orang tua menimbulkan derita, kini keturunan kita mengakhiri derita itu dengan penggabungan kembali keturunan kita bertiga, menjadi satu!

Terima kasih kepada Thian yang memberi kebahagiaan ini kepada kita!"

Tung Sun Nio tersenyum dan sinar terang membuat wajahnya yang dahulu selalu muram itu menjadi berseri.

Ia mengangguk-angguk memandang Biauw Eng, bulu matanya basah dan air matanya mengalir turun ketika Biauw Eng bangkit dan memelukya sambil menangis.

"Kita rayakan bersama! Bagus sekali, dua pasang pengantin kita rayakan pernikahannya secara besar-besaran!"

Kata Tiong Pek Hosiang.

"Akan pinceng undang semua sahabat kang-ouw! Bukan pernikahan kecil-kecilan karena yang menikah adalah puteri Sie Cun Hong, murid Tung Sun Nio, dan murid Ouwyang Tiong. Ha-ha-ha-ha-ha! Marilah, Sun Nio, dan kalian anak-anak yang baik, mari kita turun dari puncak ini."

Maka turunlah dua pasang orang muda dan sepasang kakek nenek itu dari puncak Tai-hang-san, meninggalkan gundukan-gundukan tanah yang dalam kebisuan mengajak manusia bahwa segala keributan yang dibuat manusia di dunia sewaktu masih hidup, sebenarnya hanya keributan kosong belaka karena kesemuanya itu akan berakhir dengan tiada dan sunyi tanpa bekas!

Bahwa segala macam kesenangan, kedukaan dan permainan perasaan yang menguasai manusia sewaktu hidup, hanya seperti angin lalu yang mempermainkan daun-daun dan bunga-bunga pohon tiada hentinya sampai berakhir dengan gugur dan rontoknya daun-daun dan bunga-bunga itu dari tangkainya.

Keng Hong bergandeng tangan dengan Biauw Eng.

Cong San bergandeng tangan dengan Yan Cu.

Dua pasang orang muda ini berjalan di lereng belakang nenek dan kakek.

Mereka tersenyum-senyum, kadang-kadang saling pandang dengan sinar mata berseri-seri penuh kebahagian hidup.

Mereka bergembira, memang.

Hasrat hati yang tercapai menimbulkan kegembiraan, bukan kebahagian.

Kebahagian sejati tidak dapat di capai dengan jangkauan, hanya kesenangan yang dapat dicari dan didapatkan.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat dicapai dengan jangkauan, hanya kesenangan yang dapat dicari dan didapatkan.

Kebahagiaan sejati sudah ada dalam diri setiap orang manusia.

tenggela di dasar telaga hati, tergantung pada tali kesadaran.

Kalau air telaga menjadi keruh karena getaran gelombang nafsu, maka takkan tampaklah dia.

Hanya hati yang hening jernih saja yang akan membuat dia tampak melalui kesadaran.

Kota kecil Sun-ke-bun terletak di tepi Sungai Fen-ho di sebelah selatan kota besar Tai-goan dan masih termasuk wilayah kaki Gunung Tai-hang-san.

Pagi hari itu kota kecil Sun-ke-bun diselimuti kabut dingin yang bergerak perlahan turun dari arah lereng-lereng Gunung Tai-hang-san, akan tetapi Sungai Fen-ho sendiri mengepulkan kabut yang hangat.

Perang saudara yang berkobar karena perebutan kekuasaan antara Raja muda Yung Lo dan keponakannya yang menjadi kaisar Kerajaan Beng telah padam.

Perang selesai dengan kemenangan di fihak Raja Muda Yung Lo yang kemudian naik tahta Kerajaan Beng di tahun 1403.

Setelah memindahkan pusat pemerintahan di Peking yang dijadikan ibu kota.

Pemerintah yang baru ini masih sibuk membangun kerusakan-kerusakan akibat perang sehingga belum sempat mengatur daerah-daerah yang jauh dari ibu kota.

Seperti lajin terjadi di dunia ini, kalau kedudukan pemerintah belum teratur, maka keamanan pun belum dapat terjamin penuh dan muncullan kekuasaan-kekuasaan liar sehingga terjadi hukum rimba.

Siapa kuat dia menang dan berkuasa.

Dalam keadaan sekacau itu, rakyat yang tinggal di dusun-dusun dan di kota-kota kecil yang jauh dari ibu kota, di cekam rasa ketakutan dan terpaksa tunduk kepada kekuasaan liar yang merajalela.

Bajak, rampok dan golongan hitam (penjahat) berpesta-pora, melakukan segala macam perbuatan maksiat tanpa ada yang berani melarangnya.

Bahkan para pembesar setempat yang masih belum tentu keadaannya dan kedudukannya berhubung dengan peralihan kekuasaan di pemerintah pusat, terpaksa lunak dan mengalah terhadap orang-prang golongan hitam.

Kota Sun-ke-bun tidak terkecuali dari keadaan itu.

Kota kecil ini seakan-akan dikuasai dan diperintah oleh para pembesar lemah bersama kaum hitam!

Betapa pun juga, rakyat yang selalu tunduk akan keadaan karena terpaksa itu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan kota itu tetap ramai dan seolah-olah di situ tidak terdapat penindasan dan kekacauan.

Pagi hari itu toko-toko dan warung-warung makan belum buka, bahkan pintu-pintu rumah penduduk banyak yang belum buka karena mereka sibuk dengan pekerjaan di dalam dan di belakang rumah.

Hawa amat dinginnya, membuat orang segan keluar rumah.

Jalan-jalan rumah-rumah penduduk masih sunyi sekali.

Orang-orang segan bermandi kabut dingin di luar rumah.

Akan tetapi, sesosok bayangan orang yang hampir tak tampak ditelan kabut dingin, berjalan memasuki kota Sun-ke-bun dari pintu timur.

Ia berjalan terseok-seok terhuyung-huyung dan keadaannya seperti orang kehabisan tenaga, kadang-kadang berhenti dan menyandarkan diri di luar dinding rumah orang untuk mengatur napas.

Diselimuti kabut yang tebal, sukar menentukan siapa orang itu, laki-laki atau wanita, tua atau muda, hanya yang sudah pasti orang itu tentu dalam keadaan menderita kelelahan atau mungkin dalam keadaan sakit.

Tiba-tiba kesunyian dipecahkan suara derap kaki kuda yang datang dari selatan.

Serombongan orang berkuda lewat di jalan itu, akan tetapi mereka tidak melihat orang yang bersandar pada dinding rumah di pinggir jalan.

Mereka terdiri dari tujuh orang laki-laki yang berpakaian seperti orang-orang kang-ouw, dengan senjata di pinggang atau punggung.

Sikap mereka kasar dan mereka kini menjalankan kuda perlahan sambil tertawa-tawa dan bercakap-cakap.

"Setan! Malas-malas benar penduduk kota ini, seperti babi!"

"Kalau kita bakar rumah-rumah mereka, hendak kulihat apakah mereka akan tetap berpelukan dengan isteri mereka di bawah selimut. Ha-ha-ha!"

"Sialan! Semua masih tutup dan perutku sudah lapar sekali! Seekor lembu pun bisa habis kuganyang pada saat ini!"

"Itu ada rumah makan. Gedor saja, paksa pemiliknya suruh buka melayani kita!"

"Bagaimana kalau dia belum membeli daging?"

"Ha-ha-ha! Koki restoran mesti gemuk, kita sembelih saja dia dan masak dagingnya!"

Mereka tertawa-tawa dan menghentikan kuda di depan sebuah rumah makan "Arak Merah"

Yang masih tertutup daun pintunya, berloncatan turun, mengikatkan kendali kuda pada tempat yang disediakan untuk itu di luar, kemudian sambil tertawa-tawa mereka berteriak-teriak kasar dan parau sambil menggedor pintu rumah makan "Arak Merah".

"Duk-duk-brukkk! Buka pintu, babi malas! Cepat... kalau tidak kuhancurkan pintu ini!"

Dari dalam terdengar suara bakiak terdaruk-saruk dan terdengar suara orang tergesa-gesa.

"Baik...baik...! Harap sabarlah...akan saya buka pintunya!"

Tujuh orang laki-laki itu tertawa bergelak dan daun pintu terbuka lebar-lebar oleh seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh gemuk sekali, pakaiannya masih tidak karuan, bercelana akan tetapi tidak berbaju sehingga daging dadanya yang bulat seperti buah dada wanita dan perutnya yang berlipat lima itu tampak.

Munculnya pemilik restoran yang amat gemuk ini memancing ketawa tujuh orang tadi.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Benar-benar babi gemuk yang sudah sepatutnya disembelih!"

"Tentu tebal gajihnya!"

"Wah, Sam-can (potongan daging lemak kulit) yang lezat nih, apalagi kalau dipanggang setengah matang!"

"Akan tetapi harus banyak jahe dan mericanya, kalau tidak... wah minta ampun bau keringatnya! Ha-ha-ha!"

"Buntutnya untuk aku saja..."

"Bodoh, makin besar babinya, makin kecil buntutnya,ha-ha-ha!"

Pemilik restoran itu sudah terbiasa akan sikap kasar orang-orang seperti ini, maka dia tidak menjadi takut.

Dia maklum bahwa orang-orang kang-ouw yang kasar ini tidak akan mengganggunya, hanya suka menggodanya, dan paling-paling mereka ini datang karena membutuhkan makan dan minum.

Maka dia tertawa lebar, menyeringai seperti babi menguap dan berkata.

"Wah, wah, tentu Chit-wi Taihiap (Ketujuh Pendekar Besar) hanya main-main saja. Babi gemuk yang tua seperti saya ini tentu alot dan nyinyir!"

Seorang di antara ketujuh orang yang tertawa-tawa mendengar ini, yang jenggotnya dipotong pendek sehingga merupakan sikat kawat dan bermata bundar, melotot sambil membentak.

"Kami boleh main-main, akan tetapi perut kami yang lapar dan golok kami yang haus darah tidak main-main. Lekas sediakan masakan yang paling lengkap, arak merah yang paling keras dan wangi. Kalau tidak ada kayu bakar, kami akan cabut daun pintu restoranmu untuk kayu bakar, kalau tidak ada air, darahmu pun boleh dibuat pengganti dan kalau tidak ada daging... hemmm..."

Si brewok menusukkan telunjuknya perlahan ke perut pemilik restoran.

"...biar alot, dagingmu pun boleh kau panggang untuk kami!"

Pemilik restorang bergelak bersama mereka sambil mengangguk-angguk.

"Ada, semua siap. Chit-wi tunggu sebentar, akan saya masakan sop buntut naga, kuah telinga harimau, dan panggang paha burung hong!"

"Babi tua penipu! Nama masakanmu selalu sepeti dewa, siapa tidak tahu bahwa nagamu itu hanya ular sawah, harimaumu hanya kelinci dan burung hong itu hanya ayam!"

"Hayo cepat, kami sudah lapar sekali, jangan-jangan kawan-kawanku tidak sabar lagi dan mengganyang dagingmu hidup-hidup! Ha-ha-ha!"

Si pemilik restoran yang gendut itu berlari anjing ke dalam sambil berteriak-teriak nyaring.

"Heh, kucing betina! Hayo cepat berpakaian dan masak air, panaskan arak. Tidur saja kerjanya!"

Tujuh orang itu yang sudah melepaskan pedang dan golok di atas meja dan menyeret-nyeret kursi, tertawa.

"Babi tua, kalau binimu itu sudah mogok tidur, engkau yang berkaok-kaok ketagihan, ha-ha-ha!"

Tak lama kemudian muncullah isteri si pemilik restoran yang tubuhnya kurus sekali, berlawanan dengan suaminya, disusul pula oleh dua orang kacung pelayan restoran yang masih menggosok-gosok mata yang penuh tahi mata.

"Kalian semua cuci muka dulu dan mencuci tangan bersih-bersih!"

Teriak si brewok yang agaknya menjadi pemimpin tujuh orang berkuda itu.

Selagi si pemilik restoran dibantu isteri dan dua orang kacungnya sibuk di dapur untuk menyiapkan masakan dan arak, tujuh orang itu bercakap-cakap.

Mereka duduk seenaknya di tempat yang masih kosong itu.

Ada yang menaruh kedua kakinya di atas meja dan menyandarkan leher di sandaran kursi sambil melenggut karena lelah dan mengantuk, ada yang duduk metongkrong di atas meja.

Si brewok mengeluarkan sebatang huncwe dan mulailah mengisap tembakau yang baunya memenuhi ruangan restoran yang cukup luas itu.

"Twako, apakah kantung itu tidak perlu dibawa ke sini?"

Seorang di antara mereka yang termuda, usianya tiga puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan, berbeda dengan enam orang kawannya yang lebih tua dan yang semua berwajah kasar buruk, bertanya kepada si brewok.

Si brewok menghembuskan asap tembakaunya dan mendengus sambil membuang kerling keluar restoran di mana tampak kuda mereka tertambat.

"Phuah Siapa berani mengganggu milik kita? Biar saja di sana. Siauw-ong tentu belum bangun sepagi ini, nanti dari sini kita langsung ke gedungnya dan menyerahkan hasil kita semalam."

"Wah, sungguh menjemukan. Hanya perhiasan dan benda mati yang kita dapat! Tiga orang perempuan yang di kapal itu hanya nenek-nenek. Sialan! Biasanya tentu ada gadis-gadis cantik di kapal pesiar itu!"

Berkata seorang yang dahinya codet bekas goresan senjata tajam.

"Boan-te, mengapa mengomel? Setelah selesai menghadapi Siauw-ong, apa sukarnya mencari perempuan cantik di kota ini? Tentu banyak persediaan untuk kita, dan Siauw-ong tentu takkan melupakan jasa kita semalam. Ha-ha-ha!"

Kata seorang yang matanya juling.

Tak lama kemudian pemilik restoran yang gendut dibantu isterinya yang kurus dan dua orang kacungnya keluar membawa hidangan yang masih mengepul panas dan mengeluarkan bau sedap, membuat tujuh orang yang kelaparan itu menitikkan air liur.

Si mata juling dengan gerakan kurang ajar mencubit pinggul isteri pemilik restoran yang sudah setengah tua itu sambil berkata.

"Eh, Gendut, isterimu begini kurus dan engkau begini gendut, bagaimana bisa? Ha-ha-ha!"

Pemilik restoran itu tertawa bersama para penunggang kuda, sedangkan isterinya tersipu-sipu malu dan lari masuk.

"Ha-ha-ha! Bodoh engkau!"

Kata si brewok.

"Gendut dan kurus itulah yang cocok sekali, betul tidak, Paman Gendut?"

"Aaaaahhh, Taihiap bisa saja, ha-ha-ha!"

Si pemilik restoran tertawa, akan tetapi di dalam hatinya dia menyumpah-nyumpah dan memaki orang-orang kurang ajar itu.

Tujuh orang itu mulai menyerbu masakan dan si pemilik restoran bersama dua orang kacungnya mulai membereskan meja-meja lain, membersihkannya dan membuka semua pintu restoran.

Sesosok tubuh orang yang tadi berjalan terhuyung-huyung telah tiba di depan restoran itu.

Hidungnya kembang kempis mencium bau masakan sedap dan dia lalu memasuki rumah makan.

Begitu orang ini muncul di pintu dan disambut oleh si pemilik restoran dengan pandang terbelalak, tujuh orang yang sedang makan itu menghentikan makan mereka dan semua menoleh ke arah pintu dengan pandang mata terbelalak dan sinar mata liar.

Makin lama, sinar mata liar itu menjadi makin mengandung gairah.

Mereka adalah sekumpulan laki-laki kasar dan orang yang muncul di pintu restoran itu memang benar-benar dapat membuat setiap mata pria terbelalak penuh gairah.

Dia adalah seorang wanita berusia kurang tiga puluh tahun, cantik sekali, amat manis dan mempunyai daya tarik yang luar biasa karena sinar matanya yang penuh tantangan, Bibirnya yang setengah terbuka, kemerahan dan seolah-olah mengajak pria yang memandangnya untuk mencumbu!

Biarpun wajahnya di saat itu pucat dan menunjukkan tanda kelelahan dan penderitaan, biarpun rambutnya yang hitam halus dan panjang itu terurai lepas, namun kejelitaannya menonjol sekali.

Apalagi ketika mata ketujuh orang laki-laki itu menjelajahi ke arah tubuh wanita ini, mereka diam-diam menelan ludah dan si juling menjadi makin juling berkumpul di dekat hidung karena dia mempergunakan semua tenaga matanya untuk menelan tubuh itu!

Tubuh yang padat, montok denok dengan kulit yang putih kuning bersih tanpa cacat!

Sungguh pun pakaian wanita ini agak kotor berdebu, bahkan di bagian pundaknya terobek dan ternoda banyak darah dari luka di pundaknya, Namun bahkan menonjolkan keindahan bentuk tubuhnya, pinggang yang ramping, pinggul dan dada yang penuh membulat dan membusung!

Wanita ini maklum akan pandang mata ketujuh orang laki-laki kasar itu, namun dia tidak peduli dan langsung berjalan dengan langkah perlahan ke arah meja di ujung kiri, hanya empat meter jauhnya dari meja kumpulan penunggang kuda itu.

Pemilik rumah makan mengikutinya dengan pandang mata meragu, hatinya tidak nyaman karena selain wanita yang terluka ini kelihatannya sakit dan lemah serta belum tentu mempunyai uang, juga dari pandang mata ketujuh orang laki-laki itu dia dapat menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang membuatnya tidak enak.

Maka dia lalu menghampiri dan membungkuk di depan wanita itu sambil berkata diiringi senyum.

"Maaf, Toanio. Toanio memerlukan apakah? Sebenarnya, restoran kami belum buka dan belum siap, maka jika Toanio menghendaki sesuatu lebih baik.."

"Keluarkan arak hangat dan nasi serta masakan seadanya..."

Wanita itu mengerling ke arah meja tujuh orang laki-laki lalu menyambung.

"Seperti yang kau hidangkan kepada mereka itu!"

Biarpun suara wanita ini merdu dan halus, namun mengandung tekanan mengancam dan nadanya keras serta terdengar dingin, membuat pemilik restoran itu menggigil.

"Akan tetapi... kami..."

"Brukkkkk!"

Wanita itu menjatuhkan sebuah pundi-pundi di atas meja, membuka talinya dan mengambil sepotong perak yang besarnya cukup untuk membeli masakan tiga meja penuh!

"Apa kau kira aku tidak akan membayar?

Nih uangnya, sisanya untukmu!"

Melihat sepotong perak besar itu, sepasang mata si gendut terbelalak berseri-seri.

Cepat dia mengambil uang itu dan tersenyum-senyum sambil membongkok-bongkok.

"Baik-baik... Toanio... tunggu sebentar, akan saya sediakan masakan paling lezat untuk Toanio."

Tujuh orang laki-laki itu dengan terang-terangan memandang kepada wanita cantik ini dan mereka kagum bukan main.

"Aduhhhhh... bukan main... putihnya!"

Si juling berkata, tidak lirih dan memang dia sengaja bicara agar terdengar oleh wanita itu yang duduk sambil menundukkan mukanya, sikapnya tidak peduli sama sekali.

"Bukan putihnya yang membuatku terpesona, halusnya kulit itu...! bukan main...!"

Kata seorang kawannya.

"Dan harumnya tercium dari sini.. apalagi kalau dekat... waduhhh, mimpi apa kita semalam...?"

Kata si brewok yang biar pun tidak semata keranjang si codet atau si juling, namun sekali ini dia benar-benar tertarik dan timbul berahinya menyaksikan wanita luar biasa itu.

"Amboiiiii.. bidadari dari mana gerangan yang muncul menghibur kita?"

Kata si codet, mengendus-endus dengan hidungnya seperti seekor anjing mencium tahi.

Wanita itu tetap diam saja, bergerak pun tidak, melirik pun tidak.

Ketika seorang kacung membawa arak hangat, cepat seperti orang kehausan ia menuangkan arak dalam cawan terus diminumnya sekali tenggak.

Melihat ini, tujuh orang laki-laki kasar itu menjadi makin berani.

Sikap minum arak seperti yang diperlihatkan wanita itu bukanlah sikap seorang nona simpanan, maka si juling segera berkata.

"Minum arak sendirian mana enak? Kami siap menerima bidadari kesepian untuk bersama-sama minum dan makan sambil mengobrol!"

Akan tetapi wanita itu tetap tidak peduli, malah sampai tiga kali ia menenggak habis cawan arak sekali teguk.

Kemudian ia menarik napas panjang, agaknya merasa lega dan dirabanya pundak yang terluka dengan bibir agak terbuka seperti menahan rasa nyeri.

"Ssttt, biarkan dia makan dulu,"

Si brewok berbisik kepada teman-temannya.

"Dia kelihatan luka, lelah dan kelaparan, mana akan mampu melayani kita bertujuh? Kalau sudah makan kenyang tentu pulih kembali tenaganya..."

Mendengar bisikan pimpinan mereka ini, mereka tertawa-tawa dan menyatakan setuju, bahkan keenam orang kasar itu mulai mengadu untung dengan jari tangan untuk menentukan siapa yang menang dulu berhak mendapatkan wanita itu setelah sang pemimpin yang tentu saja mempunyai hak pertama!

Biar pun mereka itu bicara perlahan, namun karena sikap mereka, wanita yang luka itu mendengar dan mengetahui semua perbuatan mereka, namun ia sama sekali tidak memperlihatkan sikap mengacuhkan, malah ketika hidangan datang ia lalu mulai makan dengan lahapnya.

Tujuh orang laki-laki yang sudah selesai lebih dahulu, kini semua memutar kursinya menghadap ke arah si wanita sambil memandang dengan sikap terbuka, terang-terangan menjadikan wanita itu seperti tontonan sampai wanita itu selesai menghabiskan hidangannya dan menenggak arak lagi.

"Tanpa dipameri emas pun dia tentu mau melayani kita,"

Kata si codet.

Si brewok tertawa, mengangguk dan mulai melangkah ke arah meja wanita itu diikuti enam orang kawannya.

Tiba-tiba wanita itu mengangkat muka memandang mereka.

Si brewok tiba-tiba berhenti melangkah.

Baru sekali ini wanita itu langsung memandang mereka dan melihat sinar mata yang berkilat seperti halilintar menyambar itu, si brewok kaget sekali.

"Inikah yang kalian cari-cari?"

Wanita ini berkata lirih namun jelas terdengar dan biar pun suaranya merdu, penuh dengan ejekan.

Tangannya bergerak merobek pundi-pundi uang di atas mejanya dan berhamburan potongan perak dan emas di atas meja itu karena kantung itu telah pecah terobek.

Tujuh orang itu memandang dengan mata terbelalak ke arah potongan perak dan emas yang berserakan itu.

Kiranya wanita itu yang mencopet kantung uang mereka dari atas kuda!

Bukan main marahnya hati ketujuh orang itu.

Mereka adalah pimpinan bajak Sungai Fen-ho dan tidak ada orang yang berani main gila terhadap mereka.

Kini, kantung berisi emas dan perak itu dicuri seenaknya oleh seorang wanita terluka, diambilnya dari depan hidung mereka begitu saja!

Adapun si pemilik restoran, isterinya dan dua orang kacung mereka, begitu mendengar disebutnya nama Fen-ho Chit-kwi, telah menggigil ketakutan dan cepat-cepat keluar dari dalam restoran mereka karena maklum bahwa tentu akan terjadi huru-hara di restoran mereka itu!

Mereka hanya menonton dari luar melalui pintu dengan muka pucat dan tubuh gemetar.

"Perempuan rendah! Berani engkau main gila dengan Fen-ho Chit-kwi? Untung engkau cantik molek, kalau tidak tentu kubunuh sekarang juga. Akan tetapi kami akan mempermainkan tubuh sampai engkau mampus!"

Bentak si brewok dan mereka bertujuh sudah melangkah maju dengan sikap penuh ancaman.

Tiba-tiba wanita itu tertawa.

Suara ketawanya merdu akan tetapi nyaring melengking seperti suara ketawa kuntilanak dari dalam kuburan, membuat tujuh orang itu kembali menghentikan langkah dan bulu tengkuk mereka meremang, terasa dingin.

"Kalian hendak mengambil kembali emas dan perak ini? Nah, terimalah!"

Tangan kiri wanita itu meraih ke atas meja, gerakannya cepat sekali dan begitu tangannya bergerak, tampak sinar putih dan kuning berkelebatan dibarengi suara bercuitan.

Potongan-potongan emas dan perak tadi telah menyambar ke arah tujuh orang itu seperti peluru-peluru dengan kecepatan mengejutkan dan mengarah bagian-bagian tubuh yang mematikan!

"Aihhh...!"

"Hiaaattt...!"

"Hayaaa...!"

Tujuh orang Fen-ho Chit-kwi bukan orang sembarangan.

Ilmu silat mereka tinggi, bahkan mereka adalah orang-orang yang ahli dalam penggunaan senjata rahasia.

Akan tetapi kini menyaksikan perak dan emas beterbangan meyambar mereka sedemikian cepatnya, benar-benar membuat mereka terkejut bukan main.

Hanya dengan membuang diri, berloncatan ke kanan kiri dan atas, ketujuh orang itu dapat menghindarkan diri dari ancaman maut.

"Cet-cet-cettt...!"

Semua perak dan emas itu menyambar lewat dan menancap masuk ke dalam dinding restoran sampai tidak kelihatan lagi, hanya kelihatan tembok tebal itu berlubang-lubang!

Wanita itu masih duduk dan sambil menenggak arak dari cawannya, ia menaruhkan tangan kanan yang terluka pundaknya di atas meja.

Kemudian ia mengangguk-engguk dan berkata lirih.

"Kalian lumayan juga, dapat mengelak dan masih hidup. Biarlah kumaafkan."

Melihat sikap wanita cantik itu, si brewok menjadi marah bukan main.

Ketika mengelak tadi, kedua tangannya dapat menangkap dua potong perak yang menyambar, kini dia meremas dua potong perak itu di tangannya sehingga menjadi hancur!

Ia membuka kedua tangan, memperlihatkan hancuran perak kepada wanita itu sambil membentak.

"Perempuan sombong! Kalau belum menghancurkan tubuhmu seperti ini, aku belum mau sudah!"

Perempuan itu menghela napas panjang dan tersenyum. Senyumnya manis sekali, senyum penuh memikat yang dapat meruntuhkan hati setiap orang pria.

"Begitukah? Kalau begitu berarti kalian minta mati sendiri."

"Perempuan sombong!"

Teriakan ini terdengar dari semua mulut ketujuh orang itu.

Mereka adalah Fen-ho Chit-kwi dan selamanya belum pernah dipandang rendah orang, apalagi hanya oleh seorang wanita terluka seperti ini!

Bahkan Mo-kiam siauw-ong (Raja Muda Pedang Iblis) yang menjadi "datuk"

Kaum hitam di daerah Fen-ho dan yang bertempat tinggal di kota Sun-ke-bun, sudah menaruh kepercayaan kepada mereka untuk menguasai Sungai Fen-ho dan mengirimkan semua hasil kepada datuk itu untuk kemudian mereka mendapat bagian.

Mo-kiam Siauw-ong sendiri tidak memandang rendah kepada mereka, akan tetapi kini perempuan ini sama sekali tidak memandang mereka sebagai jagoan-jagoan yang jarang tandingnya!

"Cuat!

Cuat!

Sing!

Sing!"

Tampak sinar golok dan pedang berkelebat ketika tujuh orang itu menyambar senjata mereka dari atas meja dan mencabutnya.

Mereka tertegun menyaksikan betapa wanita itu sama sekali tidak mengacuhkan, bahkan melihat mereka mencabut senjata, wanita itu kini malah menuangkan lagi arak ke dalam cawannya sambil tersenyum-senyum, dan minum arak itu tanpa melirik ke arah mereka!

Kesombongan yang melewati takaran ini tak dapat mereka tahan lagi.

Tadinya mereka memang timbul gairah dan berahi menyaksikan wanita yang berwajah cantik manis dan bertubuh denok itu, akan tetapi kini kemarahan mengalahkan berahi mereka dan nafsu satu-satunya yang berkobar di dalam dada mereka hanyalah mencincang hancur tubuh wanita itu!

(Lanjut ke

Jilid 41) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 41

"Hiaaaaattt!"

Tujuh orang itu menerjang berbareng dengan teriakan dahsyat, pedang dan golok menyambar dari tujuh jurusan ke arah tubuh si wanita yang sedang minum arak.

"Crok-crok-krak-kerakkk!"

Kursi yang tadinya diduduki wanita itu hancur berkeping-keping, bahkan mejanya terbang diterjang tujuh orang yang marah itu.

Akan tetapi mereka terbelalak kaget karena si wanita itu sendiri lenyap dari atas kursi, hanya tampak bayangannya berkelebat ke atas dengan kecepatan yang mentakjubkan.

"Hi-hi-hik!"

Mendengar suara ketawa terkekeh itu ketujuh orang yang kehilangan lawan mengangkat muka memandang dan ternyata wanita itu telah berada di langit-langit sambil tetap minum araknya!

Tiba-tiba wanita itu menyemburkan arak dari mulutnya ke bawah.

Tujuh orang Fen-ho Chit-kwi cepat mengelak akan tetapi tetap saja tubuh mereka terkena percikan arak yang rasanya seperti jarum-jarum menusuk.

Mereka memekik kaget dan makin marah, biar pun maklum bahwa wanita cantik itu memiliki kepandaian yang hebat, mereka tidak menjadi jerih malah dengan serentak tubuh mereka melayang ke atas didahului senjata mereka yang semua menusuk ke arah tubuh yang menempel di langit-langit ruangan itu.

"Cep-cep-cep-ceppp!"

Tujuh batang senjata runcing itu menancap pada langit-langit.

"Celaka..!"

Si brewok berseru akan tetapi seruannya disusul jerit mengerikan dan tubuhnya roboh ke bawah, disusul jerit kawan-kawannya dan berjatuhanlah enam tubuh di antara mereka dalam keadaan tak bernyawa lagi karena punggung mereka kena tampar tangan kiri wanita itu yang berloncatan seperti gerakan seekor burung terbang.

Hanya seorang di antara mereka yang dapat meloncat turun dan tidak terpukul, yaitu laki-laki berwajah tampan.

Dia meloncat turun setelah mencabut pedangnya yang menancap di langit-langit, matanya terbelalak memandang mayat keenam orang kawannya yang telah tewas, kemudian memandang kepada wanita yang telah berdiri di depannya dan memandangnya sambil tersenyum-senyum.

"Perempuan siluman!"

Si wajah tampan berseru marah dan menerjang dengan tusukan pedang ke arah tenggorokan wanita itu.

Namun sambil tersenyum-senyum wanita ini menggerakkan tangan kirinya dan tahu-tahu kedua jari kiri, telunjuk dan jari tengah, telah menjepit ujung pedang.

Laki-laki tapan itu kaget sekali, berusaha mencabut pedangnya, namun sedikit pun tidak bergeming!

Sampai terbelalak dia saking kagetnya menyaksikan kelihaian yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya ini.

"Hi-hi-hik, tampan, apa kau kira engkau masih dapat hidup sampai saat ini, kalau tadi aku menghendaki kau mampus bersama kawan-kawanmu? Aku kesepian, terluka, aku perlu kawan yang baik dan mesra. Hemmm, kalau kau ingin mati apa sukarnya bagiku?"

Berkata demikian, wanita itu mengerahkan tenaganya dan..."Krakkk!"

Pedang itu patah!

Sebelum laki-laki itu lenyap kagetnya tahu-tahu tangan kiri wanita itu telah menyambar ke depan, ke arah dadanya.

Laki-laki itu mengeluh dan maklum bahwa dia tentu akan mati, maka dia sudah menyerah untuk mati menyusul keenam orang kawannya.

Akan tetapi tangan kiri yang berjari kecil meruncing dan halus itu tidak memukulnya, melainkan mencengkeram bajunya dan sekali tarik...

"Brettttt!"

Baju laki-laki itu terobek dan terlepas dari tubuhnya berikut baju dalam sehingga tubuh atasnya telanjang sama sekali!

Wanita itu membuang baju tadi, kini tangannya meraba-raba dan mengelus-elus dada laki-laki yang bidang dan berotot itu, dada yang penuh kejantanan dan pandang mata wanita itu berseri, mulutnya yang main tersenyum dan berkata lirih.

"Hemmm... engkau mengairahkan... engkau temani aku hari ini dan kau bantu merawat lukaku, Tampan!"

Laki-laki yang tadinya sudah yakin akan kematiannya itu, terbelalak.

"Aku... aku tidak bisa mengobati.."

"Hi-hi-hik, bodohnya! Hanya mencuci dan menaruh obat lalu membalut dan hemmm, mengusir kesepian yang mencekam hatiku. Aku mempunyai obatnya. Lihat lukaku ini, apakah engkau tidak kasihan melihat seorang wanita terluka seperti ini?"

Berkata demikian, wanita itu menggunakan tangan kirinya merenggut pakaiannnya sendiri bagian pundak kanan yang bernoda darah.

"Bretttttt!"

Robeklah pakaian di bagian pundak kanan, robek lebar bukan hanya membuka pakaian luar dalam memperlihatkan pundak yang terluka lebar, akan tetapi juga memperlihatkan sebagian besar buah dada kirinya yang membusung penuh!

Laki-laki tampan itu melongo, menatap bagian yang menarik itu dan menelan ludah!

"Hi-hi-hik!

Bagaimana, kau memilih mati atau menjadi teman baikku?"

Laki-laki itu mengangguk-angguk.

"Engkau lihai dan cantik, aku lebih suka menemanimu."

Tangan itu menyambar ke depan dan mengelus dagu laki-laki itu.

"Tampan, kau pondonglah aku, bawa ke kamar dalam restoran ini, lukaku perlu dirawat."

Laki-laki itu kini sudah tunduk benar, karena dia maklum bahwa wanita yang cantik jelita ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa dan dia tahu bahwa selain lihai, wanita ini pun kejam bukan main dan juga agaknya gila laki-laki.

Kalau kini dia berkenan di hati wanita itu, hemmm, bukan hal yang merugikan.

Maka dia lalu memondong tubuh itu yang terasa ringan sekali, ringan hangat dan tercium olehnya bau harum yang amat aneh, harum yang memabukkan dan sekaligus membakar hati jantannya, membuat jantungnya berdebar tidak karuan dan seluruh tubuhnya menjadi panas.

"Heh, babi gendut!"

Wanita yang dipondong dan merangkul leher laki-laki itu dengan sikap manja dan mesra, berseru kepada si pemilik restoran yang masih berdiri di luar pintu dengan wajah pucat.

Diam-diam dia tadi telah menyuruh seorang kacungnya pergi berlari untuk melaporkan peristiwa itu kepada Siauw-ong karena dari percakapan tadi dia dapat menduga bahwa tujuh orang yang amat terkenal sebagai pimpinan bajak Sungai Fen-ho itu tentulah anak buah atau sekutu Siauw-ong.

Kini mendengar panggilan si wanita yang lihai seperti iblis itu, dengan tubuh menggigil dia terpaksa memasuki restoran, hati-hati malangkah menghindari enam buah mayat yang bergelimpangan di dalam restorannya.

"Toanio hendak memerintah apakah ?"

Tanyanya dengan suara gemetar.

"Malam ini aku sewa kamarmu, dan jangan ganggu kami. Sekarang, lempar enam ekor anjing itu keluar, kemudian suruh orangmu memasakkan air sepanci untuk mencuci lukaku. Cepat Emas dan Perak memenuhi dindingmu boleh kau ambil kalau kau mentaati kalau tidak, perutmu yang gendut itu akan kurobek dan kukeluarkan isi perutmu!"

Dengan seluruh tubuh menggigil si gendut ini menganggu-angguk, kerongkongannya sampai terasa kering saking takutnya sehingga dia tidak dapat mengeluarkan jawaban.

Wanita itu tersenyum, kemudian mendekatkan mukanya, mencium mulut laki-laki tampan yang memondongnya dengan mesra dan tanpa malu-malu sehingga laki-laki itu menjadi merah mukanya dan seperti diayun di sorga ke tujuh.

"Tampan, lekas bawa aku ke kamar.."

Bisik wanita itu.

Setelah laki-laki tampan yang memondong wanita itu menghilang ke dalam kamar pemilik restoran, barulah si pemilik restoran, barulah si pemilik restoran dapat bergerak lagi.

Dia cepat berlari keluar, menyeret isterinya, kacungnya dan beberapa orang tetangganya untuk menyingkirkan enam buah mayat dan dia sendiri cepat-cepat memasak air di dapur dengan tubuh masih menggigil dan kadang-kadang matanya melirik ke arah kamarnya dari mana dia mendengar suara ketawa terkekeh wanita itu.

Dengan hati kebat-kebit pemilik restoran yang gendut itu membawa air yang sudah mendidik ke dalam kamar.

"Ini airnya, Toanio.."

Katanya tanpa berani mengangkat muka.

"Letakkan di atas meja, kemudian engkau siapkan arak guci dan masakan-masakan yang paling lezat, antarkan ke kamar ini, kemudian jangan ada yang berani memasuki kamar ini. Mengerti?"

Si gendut mengangkat muka dan dia melihat betapa wanita yang mengerikan hatinya itu duduk di atas tempat tidurnya, membelai-belai dan menciumi laki-laki tampan yang dipangku oleh wanita itu.

"Baik, Toanio."

Ia tergesa-gesa keluar dari kamar dan di dalam hatinya dia terheran-heran.

Bukan main, gerutunya dalam hati.

Seorang wanita yang demikian lihai dan kejam membunuh orang seperti membunuh ayam saja, dan...

dalam bercumbu, malah memangku seorang pria!

Celaka, tentu dia itu sebangsa siluman!

Sering dia mendengar dongeng dan membaca cerita bahwa ada siluman rase yang menjelma menjadi manusia, menjadi seorang wanita cantik.

Kalau bukan siluman rase tentu siluman ular dan laki-laki yang tampan itu tentu akan disedot habis darah dan sum-sumnya!

Mengerikan!

Besok pagi-pagi tentu dia akan mendapatkan laki-laki itu sudah menjadi mayat yang kering di atas pembaringan!

Celaka!

Siapa mau berbelanja di restorannya lagi?

Dia bakal bangkrut!

Akan tetapi..

Emas dan perak yang tertanam di dinding restorannya itu banyak sekali.

Dia akan mengambil harta itu dan mengajak isterinya pindah, pindah kota.

Kurang lebih satu jam kemudian, terdengar suara hiruk-pikuk di depan restoran dan tampak lima orang lebih berkerumun di depan restoran di pimpin oleh seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang berpakaian mewah, dibantu oleh lima orang yang agaknya menjadi pembantu-pebantu utamanya.

Si gendut cepat keluar dan serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan laki-laki berpakaian mewah itu.

"Ong-ya... tolonglah saya.. Harap Ong-ya suka bekuk siluman rase itu..."

Laki-laki itulah yang berjuluk Mo-kiam Siauw-ong.

Dia adalah seorang tokoh kang-oow yang berilmu tinggi dan di daerah lembah Sungai Fen-ho, dia terkenal sebagai datuk golongan hitam yang dianggap seperti "raja"

Oleh kaum petualang dan penjahat.

Setelah dia menjadi sekutu para pembesar di kota Sun-ke-bun, dia hidup makmur dan biar pun semua urusan pemerintahan dijalankan oleh para pembesar daerah, namun sesungguhnya dialah yang berkuasa karena para pebesar tunduk kepadanya.

Apa lagi ketika Mo-kiam Siauw-ong yang hidup sebatangkara dan tidak beristeri itu oleh pembesar setempat diambil mantu sebagai taktiknya, untuk mengambil hati orang pandai ini, kedudukan Mo-kiam makin menanjak.

Dia menikah dengan puteri kepala daerah yang baru berusia delapan belas tahun hidup mewah dan terhormat, akan tetapi sebagai imbalan kebaikan sang kepala daerah, Mo-kiam Siauw-ong yang menjamin kekuasaan sang mertua, bahkan karena datuk golongan hitam ini selalu menerima semacam upeti dari perampok dan bajak sungai, sebentar saja dia menjadi kaya raya, bahkan sang mertua juga ikut ambil bagian!

Dengan adanya Mo-kiam Siauw-ong sebagai mantu, kedudukan kepala daerah menjadi makin kuat sehingga dia tidak khawatir lagi kalau-kalau kedudukannya akan ada yang berani menggulingkan dalam masa peralihan pemerintahan itu.

Mo-kiam Siauw-ong memang bukan orang sembarangan.

Dia adalah murid dari tiga orang datuk hitam yang amat terkenal dengan julukan Thian-te Sam-lo-mo (Tiga Iblis Tua Bumi Langit) yang pernah menggegerkan dunia kang-ouw.

Mereka itu berjuluk Kai-ong Lo-mo, Bun-ong Lo-mo dan Thian-te Lo-mo, tiga orang yang berilmu tinggi sekali.

Ketika Thian-te Sam-lo-mo ini akhirnya tewas di dalam tangan pendekar sakti Cia Keng Hong, kepandaian mereka diwarisi oleh Mo-kiam Siauw-ouw inilah.

Dapat dibayangkan betapa marah Mo-kiam Siauw-ong ketika dia mendengar kacung restoran tentang tewasnya Fen-ho Chit-kwi yang dia tahu tentu datang untuk menyerahkan hasil pembajakan.

Fen-ho Chit-kwi merupakan anak buahnya yang paling kuat dan boleh diandalkan.

Kini mendengar bahwa mereka itu roboh di tangan seorang wanita cantik, dia menjadi penasaran dan marah sekali.

Namun, di samping kepandaiannya yang tinggi dan yang membuatnya jumawa, Mo-kiam Siauw-ong adalah seorang yang cerdik dan hati-hati.

Oleh karena itu, dia tidak sembrono turun tangan seorang diri menurutkan kemarahannya, melainkan minta kepada ayah mertuanya untuk membawa sepasukan penjaga kota untuk menangkap penjahat yang mengacau kota Sun-ke-bun!

Dengan bantuan lima puluh orang pasukan, apa sukarnya menangkap seorang wanita?

Dia mendengar wanita itu cantik sekali, maka sudah dia bayangkan betapa akan senangnya menangkap wanita itu hidup-hidup dan sebelum membunuhnya, akan mempermainkan lebih dulu sepuasnya.

Dengan demikian, baru impaslah kematian Fen-ho Chit-kwi yang merupakan sebuah pukulan dan kerugian baginya.

Penduduk banyak yang datang melihat dari jauh.

Restoran itu sudah ditinggalkan pemiliknya, dan di dalam restoran yang kelihatan kosong itu kini tinggallah si wanita bersama laki-laki tampan, seorang di antara Fen-ho Chit-kwi yang menjadi "tawanannya"!

"Siluman betina!

Keluarlah menghadap Mo-kiam Siauw-ong!"

Tiga kali Mo-kiam Siauw-ong berteriak dari pintu restoran, menantang wanita yang sedang dibalut lukanya oleh tawanannya.

"Celaka.. Dia.. dia datang...."

Laki-laki tampan yang selesai membalut pundak yang sudah diobati itu berkata dengan muka pucat.

"Ihhh... takutkah engkau, Tampan?"

Wanita ini merangkul dan menciumi pipinya. Akan tetapi, laki-laki itu kini tidak membalas ciumannya seperti tadi, bahkan tidak tampak lagi gairahnya.

"Dia.. Dia berbahaya sekali, amat lihai.., celakalah kita.."

Wanita itu mengerutkan alisnya yang hitam kecil dan melengkung panjang lalu menghentikan belaiannya.

"Siapakah dia?"

"Dia... Mo-kiam Siauw-ong, kiam-hoatnya (ilmu pedangnya) luar biasa lihainya.. dan tentu membawa pasukan yang banyak jumlahnya."

"Hi-hi-hik! Tikus-tikus busuk macam itu perlu apa ditakuti? Jangan hiraukan mereka, kita mempunyai urusan yang lebih penting, hi-hi-hik! Ayolah!"

Wanita itu merangkul lagi dan membawa muka laki-laki itu ke dadanya.

Akan tetapi, tubuh atas yang tak berpakaian itu, yang tadi membuat pria itu bergelora darahnya oleh gairah dan nafsu berahi, kini agaknya tidak menarik lagi, tertutup oleh rasa takutnya.

Melihat betapa laki-laki itu sama sekali tidak terangsang, wanita itu menghentikan usaha menggumulinya, bangkit duduk, menggelung rambutnya dan wajahnya keruh.

"Apa kau lebih senang kubunuh?"

Laki-laki itu menggigil dan berusaha memeluk wanita itu, berusaha membangkitkan lagi gairahnya, akan tetapi sia-sia dan akhirnya dia terisak seperti orang akan menangkis.

"Maafkan aku... aku... takut sekali.."

"Pengecut!"

Pada saat itu, Mo-kiam Siauw-ong yang sudah tak sabar lagi, menggapai dan menyuruh sepuluh orang anggauta pasukan menyerbu ke dalam.

Sepuluh orang itu mencabut golok lalu memasuki restoran, kemudian mereka menyerbu kamar karena sudah mendapat keterangan dari si gendut pemilik restoran bahwa "siluman rase"

Itu berada dalam kamar bersama laki-laki tampan seorang di antara Fen-ho Chit-kwi.

Ketika laki-laki tampan melihat sepuluh orang anggauta pasukan menyerbu, dia tidak berani bergerak karena maklum bahwa mereka adalah anak buah Mo-kiam Siauw-ong yang amat ditakutinya.

Akan tetapi, dia melihat wanita itu menggerakkan tangan kiri.

Tampaklah sinar merah berkelebat dan terdengar jerit-jerit mengerikan disusul robohnya sepuluh orang itu bertumpang tindih di pintu kamar.

Tepat di dahi mereka, di antara kedua mata, ditembusi jarum merah yang dilepas oleh wanita itu!

"Hi-hi-hik!

Engkau masih takut?

Lempar-lemparkan bangkai mereka keluar!"

Wanita itu terkekeh.

Bukan main kagetnya hati laki-laki tampan menyaksikan kelihaian si wanita melepas jarum merah yang dia tahu merupakan jarum-jarum beracun yang amat lihai.

Ia bergidik.

Belum pernah selama hidupnya dia melihat orang dapat melepas jarum setepat itu, sekali gerak merobohkan sepuluh orang dan semua jarum tepat mengenai dahi di antara kedua mata!

Hatinya menjadi besar.

Berteman dengan seorang wanita secantik dan selihai ini, agaknya memang tidak perlu lagi takut terhadap Mo-kiam Siauw-ong!

Ia melangkah maju dan kedua tangannya yang kuat sekaligus menyeret empat orang yang sudah menjadi mayat, kemudian dia melemparkan mereka itu keluar.

Tiga kali dia melemparkan sepuluh buah mayat itu melayang keluar rumah makan!

Kemudian dia membalik dan matanya terbelalak melihat bahwa wanita itu telah membuka semua pakaiannya dan mengembangkan kedua lengan yang berkulit putih halus.

Ia mengeluarkan suara seperti gerengan harimau, lalu menubruk maju disambut oleh wanita itu yang tertawa cekikikan.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hati mereka yang melihat sepuluh buah mayat orang melayang keluar.

Mo-kiam Siauw-ong cepat menghampiri dan mengerutkan alisnya ketika melihat luka di dahi para anak buahnya, luka merah sekali dan masih tampak ujung merah yang menancap sampai hampir tidak kelihatan lagi.

"Ong-ya, biar saya membawa semua pasukan menyerbu ke dalam!"

Seorang pembantunya mengajukan usul.

Marah melihat betapa anak buahnya tewas sedemikian mudahnya.

Akan tetapi Mo-kiam Siauw-ong mengenal bekas tangan orang pandai dan mengangkat tangan kiri mencegah.

"Pergunakan api, bakar restoran ini agar siluman itu terpaksa keluar!"

Si gendut pemilik restoran sampai jatuh berlutut hampir pingsan ketika dia melihat betapa restorannya dikelilingi pasukan yang membawa minyak, kemudian dia benar-benar roboh pingsan dirangkul isterinya ketika restorannya mulai terbakar.

Para penduduk yang menyaksikan menjadi makin tegang dan ngeri, diam-dia mereka sudah bersiap-siap untuk mengangkat langkah seribu kalau siluman rase yang muncul itu mengamuk!

"Restoran terbakar...!"

Laki-laki tampan itu bangkit duduk dan terbelalak memandang asap yang memasuki kamar.

"Sialan!"

Si wanita menyumpah.

"Tikus-tikus itu ingin mampus semua!"

Dengan tenang namun jelas memperlihatkan wajah kecewa karena merasa kesenangannya terganggu, ia mengenakan pakaiannya lagi yang didahului oleh si laki-laki yang kembali menjadi ketakutan.

"Hayo ikuti aku keluar!"

Mengandalkan kepandaian wanita itu, laki-laki ini terpaksa mengikutinya keluar dengan hati berdebar-debar tegang.

Kini dia harus berhadapan dengan datuk golongan hitam yang ditakutinya itu sebagai lawan!

Betapapun juga, dia tidak dapat mundur karena lawan wanita ini berarti mati, kalau bersekutu dengannya masih ada harapan si wanita lihai ini akan menyelamatkannya dan di masa depan tampak harapan yang amat menyenangkan menjadi sahabat dan terutama kekasihnya!

Namun dia bersikap cerdik, tidak mau memperlihatkan sikap bermusuh kepada Mo-kiam Siauw-ong dan akan melihat gelagat dahulu.

Kalau wanita ini tewas di tangan Mo-kiam Siauw-ong, dia masih dapat menggunakan alasan bahwa dia dipaksa dan tidak berdaya menjadi tawanan si wanita lihai!

Maka dia mengikuti wanita itu dari belakang, menuju ke pintu rumah makan yang sudah terbakar.

"Jangan bergerak, aku akan membawamu keluar melalui api!"

Wanita itu berkata dan tiba-tiba laki-laki itu merasa pinggangnya dipeluk dan tubuhnya melayang keluar.

Ia makin kagum dan terheran-heran.

Manusia ataukah iblis wanita ini?

Kepandaiannya benar-benar luar biasa sekali.

Bagaimana orang selihai ini sampai terluka pundaknya?

Ia hanya merasa panas sedikit ketika tubuhnya meluncur cepat menerjang api di luar restoran, berdiri di samping wanita itu yang tersenyum-senyum memandang Mo-kiam Siauw-ong dan anak buahnya yang sudah siap mengepungnya.

Mo-kiam Siauw-ong tercengang.

Tak disangkanya bahwa orang yang amat lihai itu hanyalah seorang muda yang amat cantik, melebihi isterinya sendiri cantiknya dan berdiri tersenyum tenang tanpa ada senjata menempel di tubuh!

Para pasukan juga bengong, demikian pula para penonton, hampir tidak percaya karena siluman rase itu ternyata tidak menggiriskan, hanya seorang wanita yang cantik dan agaknya seorang manusia biasa!

Ataukah memang penjelmaan siluman?

Biarpun hatinya marah sekali, Mo-kiam Siauw-ong terpesona dan tertarik, merasa sayang kalau sampai wanita itu dibunuh begitu saja.

"Wanita siluman, menyerahlah sebelum aku turun tangan!"

Bentaknya.

"Hi-hi-hik, aku keluar bukan untuk menyerah, melainkan untuk membunuh kalian yang sudah mengganggu kesenanganku!"

"Serbu...!"

Pembantu Mo-kiam Siauw-ong tak sabar lagi dan menyerbulah pasukan yang tinggal empat puluh orang itu.

Akan tetapi tiba-tiba tubuh wanita itu berkelebat lenyap dan terdengar jerit di sana-sini disusul robohnya enam orang pasukan sendiri.

Gerakan wanita itu sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata.

Yang menusuknya, tahu-tahu goloknya membalik dan menusuk perutnya sendiri.

Yang membacoknya pun demikian dan tahu-tahu wanita itu telah berada di depan Mo-kiam Siauw-ong!

Datuk golongan hitam itu dapat mengikuti gerakan si wanita itu benar-benar memiliki ginkang yang dia sendiri tidak akan mampu menandinginya.

Akan tetapi, sebagai seorang ahli tidak takut dan pedangnya menyambar ganas.

"Bagus! Kiam-hoat lumayan juga!"

Wanita itu mengejek dan mengelak, tangan kirinya tahu-tahu menyambar ke depan, mengirim pukulan dengan telapak tangan terbuka kepada lawannya.

Mo-kiam Siauw-ong cepat miringkan tubuh akan tetapi hawa pukulan tangan itu tetap saja menyambar dan menyerempetnya.

Dia terhuyung dan merasa pundaknya seperti dilanggar benda yang panas.

Makin terkejutlah dia.

Ginkang wanita ini juga luar biasa hebatnya.

Dia mengerahkan kepandaiannya sehingga pedang di tangannya berubah menjadi segulungan sinar yang berkilauan dan yang menggunakan tubuh wanita itu.

Para pasukan berbesar hati melihat pimpinan mereka sudah turun tangan maka mereka pun cepat mengurung dan menyerbu.

Wanita itu berada dalam keadaan terluka, lengan kanannya tidak dapat dipergunakan untuk bertanding sehingga dia hanya melawan dengan gerakan tangan kiri saja.

Namun, ia cepat meloncat menjauhi Mo-kiam Siauw-ong yang benar-benar lihai ilmu pedangnya itu, dan dengan mudah tangan kirinya merobohkan setiap anak buah pasukan yang menyerangnya.

Apalagi kini tangan kirinya mulai menyebar jarum-jarumnya sehingga kembali ada lima orang pasukan roboh dan tewas!

"Heh-heh-heh-hi-hi-hikkk!

Ang-kiam Bu-tek benar-benar tak boleh dipandang ringan!"

Tiba-tiba terdengar suara yang lembut dan muncullah seorang nenek tua sekali berdiri di barisan depan para penonton.

Wanita itu terkejut, merobohkan dua orang lagi dengan dua kali tendangan kaki yang menghancurkan anggauta rahasia tubuh mereka, menoleh ke arah nenek itu dan dia cepat berkata.

"Go-bi Thai-houw, harap kau orang tua tidak mencampuri urusan ini. Tikus-tikus ini tidak ada gunanya. Biarlah lain kali aku Ang-kiam Bu-tek menghaturkan terima kasih dan mengangkat guru kepadamu!"

"Heh-heh-hi-hi-hik! Punya murid macam engkau ini menyenangkan juga!"

Nenek itu menjawab kemudian tiba-tiba saja ia lenyap dari situ.

Mendengar disebutnya nama Ang-kiam Bu-tek dan Go-bi Thai-houw, Mo-kiam Siauw-ong seperti mendengar halilintar menyambar di atas kepalanya dan cepat-cepat dia berseru.

"Pasukan mundur semua..!"

Pasukan yang sudah merasa gentar sekali cepat lari mundur dan kini Mo-kiam Siauw-ong melangkah maju, menekuk sebelah lututnya dan mengangkat kedua tangan depan dada ke arah wanita itu sambil berkata.

"Mohon kebijaksanaan Sianli untuk mengampunkan saya yang bermata akan tetapi seperti buta tidak mengenal Sianli, tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di depan mata."

Melihat sikap Mo-kiam Siauw-ong, anak buah pasukan menjadi terkejut dan mereka yang belum pernah mendengar nama Ang-kiam Bu-tek, cepat-cepat mengikuti mereka yang mengenalnya dan yang sudah menjatuhkan diri berlutut.

Sebagian besar mengenal nama itu dengan hati penuh rasa takut.

Wanita yang berjuluk Ang-kiam Bu-tek (Pedang Merah Tanpa Tanding) itu tersenyum mengejek, memandang kepada Mo-kiam Siauw-ong dan bertanya.

"Hemmm..., siapakah engkau sebenarnya?"

"Harap Sianli memandang kepada mendiang ketiga orang suhu saya, yaitu Thian-te Sam-lo-mo"

Kata pula laki-laki berpakaian mewah itu.

Ang-kiam Bu-tek mengangguk-angguk dan otaknya yang amat cerdik itu membuat perhitungan.

Dia membutuhkan sekutu di saat itu dan setelah lawan menyerah dan ternyata adalah murid yang merupakan orang segolongan dengannya, memang tidak perlu lagi membunuh mereka.

"Kiranya engkau adalah murid tiga orang iblis tua itu? Baiklah, aku mengampunkan engkau dan anak buahmu."

"Terima kasih, Sianli!"

Mo-kiam Siauw-ong menjadi girang sekali dan meloncat bangun.

Bersahabat dengan Ang-kiam Bu-tek merupakan hal yang amat menguntungkan, pula dia maklum kalau pertandingan dilanjutkan, jangankan baru dia dan pasukannya, biar ditambah tiga orang gurunya yang sudah meninggal sekalipun takkan menang!

"Karena saya melihat Sianli terluka dan perlu beristirahat, saya perlihatkan Sianli beristirahat di dalam rumah saya."

"Baiklah, Eh, Tampan, kau gendong aku ke rumah Mo-kiam Siauw-ong!"

Kata Ang-kiam Bu-tek sambil tersenyum kepada kekasihnya.

Laki-laki tampan, seorang di antara ketujuh Fen-ho Chit-kwi yang sebenarnya bernama Ma Kiat Su itu menjadi girang dan lega bukan main.

Tanpa malu-malu lagi, ditonton begitu banyak orang, dia lalu memondong tubuh Ang-kiam bu-tek yang merangkul lehernya.

Mo-kiam Siauw-ong cepat menyerahkan seekor kuda.

Ma Kiat Su membungkuk dengan hormat kepada Mo-kiam Siauw-ong kemudian melompat ke atas punggung kuda sambil memondong tubuh wanita cantik itu, kemudian mereka di iringkan oleh Mo-kiam Siauw-ong sendiri menuju ke gedung kepala daerah.

Para pasukan sibuk mengurus mayat-mayat para kawan mereka dan para penonton kini sibuk memadamkan api yang membakar restoran.

Siapakah wanita cantik itu dan mengapa seorang datuk golongan hitam seperti Mo-kiam Siauw-ong sampai begitu ketakutan mendengar namanya?

Dan siapa pula nenek tua renta yang agaknya lebih aneh dan menyeramkan lagi sehingga Ang-kiam Bu-tek sendiri sampai bersikap hormat, bahkan berjanji untuk berguru kepadanya?

Mereka berdua merupakan tokoh-tokoh besar, bahkan Ang-kiam Bu-tek merupakan seorang tokoh penting.

Semenjak kecil, wanita cantik ini yang bernama Bhe Cui Im, adalah murid nenek Lam-hai Sin-ni, seorang di antara Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding) yang puluhan tahun lamanya menjadi tokoh-tokoh utama kaum sesat.

Sebagai murid Lam-hai Sin-ni, kepandaiannya sudah amat tinggi dan karena semenjak muda dia merupakan seorang wanita yang haus akan laki-laki dan besar nafsu, lihai ilmu pedangnya dan lihai pula senjata rahasianya yang beracun, ia terkenal dengan julukan Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Beracun Berpedang Mera).

Akan tetapi, setelah dia bersama Cia Keng Hong berhasil menemukan tempat rahasia penyimpanan kitab-kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong dan mempelajari kitab-kitab itu selama bertahun-tahun, dia keluar dari gua rahasia sebagai seorang wanita yang sukar dicari tandingannya lagi.

Ia bahkan membunuh bekas gurunya, Lam-hai Sin-ni, Membunuh banyak sekali tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw sehingga julukannya yang ia ubah menjadi Ang-kiam Bu-tek menjulang tinggi di dunia kang-ouw dan dikenal oleh semua tokoh dengan hati penuh rasa ngeri dan takut.

Itulah dia wanita cantik yang pagi hari itu menimbulkan keributan di dalam restoran di kota kecil Sun-ke-bun, menyebar maut seperti menyebar pasir saja!

Bhe Cui Im, berusia dua puluh sembilan tahun, cantik jelita dan memiliki daya tarik yang amat kuat, membuat hati pria terangsang apabila melihatnya, dan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Ketika ia terhuyung-huyung dalam keadaan terluka pundaknya, baru saja dia melarikan diri dari puncak Tai-hang-san di mana terjadi pertemuan puncak antara tokoh-tokoh besar yang dilanjutkan dengan pertandingan-pertandingan hebat, Di mana dia terluka oleh Cia Keng Hong, si pendekar sakti yang biarpun usianya baru dua puluh empat tahun, namun dapat disebut adalah suhengnya, karena Cia Keng Hong adalah murid langsung dan tunggal dari mendiang Sin-jiu Kiam-ong.

Karena kekalahannya terhadap Cia Keng Hong inilah yang membuat Cui Im tidak membunuh Mo-kiam Siauw-ong.

Dia tidak membutuhkan bantuan orang-orang pandai, membutuhkan bantuan tokoh yang anak buahnya itu.

Dan karena cintanya yang berubah kebencian amat mendalam terhadap Cia Keng Hong pulalah yang membuat ia berjanji untuk berguru kepada nenek Go-bi Thai-houw karena ia maklum bahwa nenek itu memiliki kesaktian yang luar biasa, memiliki banyak ilmu yang dapat ia pelajari untuk kelak dipergunakan menghadapi Keng Hong dan terutama sekali, Untuk dapat mengajak nenek itu bersama-sama menghancurkan kehidupan Keng Hong yang amat dibencinya!

Ketika Coa-taijin, yaitu kepala daerah kota Sun-ke-bun mendengar dari mantunya akan kesaktian Ang-kia bu-tek, dia menyambut dengan ramah, bahkan mempersilakan Cui Im menempati sebuah kamar kehormatan di dalam gedungnya, sebuah kamar yang mewah sekali.

Kepala daerah yang cerdik ini tahu bahwa makin banyak orang pandai membantunya, makin kuatlah kedudukannya!

Cui Im merasa girang bukan main.

Dia langsung mengajak Ma Kiat Su memasuki kamar mewah itu, menutupkan daun pintunya dan tenggelamlah dia dan Ma Kiat Su dalam lautan nafsu yang membuat laki-laki itu mabuk dan merasa beruntung sekali karena selama hidupnya baru sekali ini dia bertemu dengan seorang wanita hebat seperti Cui Im!

Selama tiga hari tiga malam Cui Im tidak meninggalkan kamarnya, tidak memperbolehkan kekasihnya keluar pula.

Mereka dilayani oleh pelayan-pelayan Coa-taijin seperti sepasang pengantin baru, seperti tamu-tamu terhormat.

Pada malam hari ke tiga, tiba-tiba pintu kamar itu dibuka orang dari luar, daun pintunya tertolak perlahan dan muncullah seorang pemuda di ambang pintu.

Cui Im yang sedang membelai tubuh Ma Kiat Su yang tidur kelelahan, mengangkat muka dan seketika wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak memandang pemuda yang juga berdiri seperti terpesona menyaksikan wanita cantik setengah telanjang yang rebah menelungkung di atas pebaringan itu.

Pemuda itu tampan sekali, pakaiannya indah dan sikapnya tenang.

Yang membuat Cui Im terkejut adalah wajah pemuda ini, sehingga tak terasa lagi bibirnya bergerak dan terdengar suaranya lirih.

"Cia Keng Hong..!"

Pemuda itu tidak mendengar suara lirih ini, dianggapnya Cui Im menegur dan mencelanya, maka dia cepat menjura dan berkata, suaranya halus sekali dan sopan.

"Harap Sianli sudi memaafkan saya karena kesalahan masuk ke kamar ini.."

Cui Im menarik napas lega, cepat ia bangkit duduk, menurunkan kedua kakinya dari atas pembaringan tanpa mempedulikan baju dalamnya yang tidak lengkap menutupi tubuh atasnya, tersenyum manis dan bertanya.

"Kongcu siapakah..."

Ia masih memandang heran akan persamaan wajah pemuda itu dengan wajah Keng Hong, bahkan bentuk tubuhnya hampir sama besarnya.

Kembali pemuda itu menjura.

"Saya Coa Kun, putera dari Coa-taijin pemilik rumah ini. Saya baru datang dari luar kota, sudah mendengar bahwa Sianli bertamu di sini, sudah mendengar akan nama Sianli yang sakti dan mulia. Akan tetapi saya mengira Sianli berada di kamar tamu sebelah, tidak menyangka bahwa kamar saya yang diberikan oleh ayah untuk Sianli, maka saya lancang membuka pintu kamar ini. Maafkan, saya..."

Pemuda itu menjura, membalikkan tubuh dan hendak pergi.

"Coa-kongcu, tunggu...!"

Cui Im sudah meloncat turun, kakinya telanjang dan ia melangkah menghampiri pemuda yang sudah membalikkan tubuh lagi memandang dengan kedua pipi kemerahan karena keadaan Cui Im benar-benar membuat dia merasa jengah dan kikuk.

Wanita cantik itu lebih telanjang daripada berpakaian!

"Kongcu, masuklah dan mari kita bicara dulu.

Engkaulah yang harus memaafkan aku karena kamarmu kupakai!

Ahhh, aku menganggu saja padamu.

Kalau aku tahu bahwa aku akan menganggu seorang yang begini...

hemmm...

ganteng seperti engkau, aku lebih suka tidur di dapur!"

Coa Kun menjadi makin merah mukanya.

"Ah, harap Sianli jangan berkata demikian. Dengan senang hati aku menyerahkan kamarku untukmu. Sudahlah, saya tidak berani menganggu lebih lama..!"

Kembali dia hendak pergi. Cui Im melangkah maju dan memegang tangan pemuda itu.

"Nanti dulu, Kongcu, mari duduklah, kita bicara dulu.. Atau... engkau tidak sudi bicara dengan orang seperti aku?"

Dia tersenyum dan memandang penuh tantangan.

Pemuda itu makin tersipu, akan tetapi dia tidak berani menarik tangannya yang kini dituntun oleh Cui Im.

Dia terpaksa memasuki kamar dan dia melirik ke arah tubuh Ma Kiat Su yang tidur dengan perasaan tidak sedap.

Laki-laki itu pun tidak berpakaian, hanya berselimut sebagian tubuhnya yang kekar.

"Tidak baik, Sianli. Dia... dia..."

Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena keadaan di tepat itu benar-benar membuatnya malu dan kikuk. Cui Im tersenyum lebar.

"Memang babi itu menganggu saja. Tunggu kulempar dia keluar!"

Tanpa menanti jawaban, sekali bergerak tubuh Cui Im sudah meloncat ke atas pembaringan dan sekali kakinya menendang, tubuh Ma Kiat Su terlempar ke bawah pembaringan.

"Aehhhhh.. ada apa... apa yang terjadi...?"

Ma Kiat Su terbangun, merangkak dan meloncat berdiri.

Akan tetapi tiba-tiba dia mengeluh ketika tangan kiri Cui Im bergerak dan dua buah jari tangannya menusuk dan mengenai pelipisnya.

Ia roboh tak bernyawa lagi, di pelipis kanannya terlihat bekas dua jari tangan yang membiru!

Cui Im kembali menendang dan...

mayat laki-laki yang selama tiga tiga malam menjadi kekasih dan kawan bermain cinta itu terlempar keluar melalui pintu kamar.

Dia cepat menghampiri daun pintu dan ditutupnya, kemudian ia membalikkan tubuh dan seperti tak pernah terjadi sesuatu, dia melangkah maju menghampiri Coa Kun yang duduk dengan muka pucat dan mata terbelalak penuh kengerian.

"Kenapa.... kenapa kau membunuhnya...?"

"Ah, aku sudah bosan dan jemu dengan dia. Apalagi dia hanyalah seorang anak buah rendah saja, tidak tepat menjadi sahabatku. Coa-kongcu, engkaulah orang yang paling patut menjadi sahabat baikku dan kamar ini adalah kamarmu."

Sambil tersenyum manis sekali dengan pandang mata panas membakar hati, Cui Im menghampiri pemuda itu dengan langkah dan lenggang memikat, kemudian merangkulkan kedua lengannya pada leher pemuda itu.

Coa Kun memandang dengan mata terbelalak, hidungnya mencium keharuman yang aneh dari tubuh wanita itu, jantungnya berdebar ketika merasa betapa hangat tubuh yang menempel rapat di dadanya.

"Eh, Sianli... Ah, apa artinya ini?"

Ia tergagap, karena biarpun sebelum salah mamasuki kamar itu dia sudah mendengar cerita tentang Ang-kiam Bu-tek yang sakti seperti iblis dan cabul seperti siluman rase namun tak mengira sama sekali bahwa wanita ini akan membunuh kekasihnya begitu kemudian mengalihkan cintanya kepadanya!

Tiba-tiba Cui Im meraih ke atas dan memaksa muka pemuda itu tunduk, kemudian mencium mulut Coa Kun yang membuat pemuda itu makin mabuk kepayang dan makin terheran-heran.

Setelah melepaskan ciumannya, Cui Im berbisik halus.

"Kongcu, apakah engkau tidak suka aku menemanimu di kamarmu ini? Apakah engkau tidak suka menjadi sahabat baikku?"

Coa Kun dapat mendengar ancaman hebat bersembunyi di balik bisikan halus penuh getaran berahi itu dan dia bergidik. Ia mengangguk dan cepat menjawab.

"Tentu saja aku suka sekali, Sianli, tapi..."

"Kongcu yang tampan dan halus, engkau mengingatkan aku akan seseorang. Ahhh, jangan engkau khawatir, terhadap engkau, aku tidak akan menganggu. Kalau kau memang suka, mengapa tidak memondongku ke ranjangmu?"

Coa Kun adalah seorang pemuda yang biarpun sudah berusia dua puluh tahun lebih dan sebagai putera kepala daerah, biarpun belum menikah namun sudah memiliki beberapa orang selir dan bukan tidak berpengalaman menghadapi wanita, namun dibandingkan dengan Cui Im dia hanyalah seorang pemuda yang masih hijau!

Kini, berada dalam cengkeraman Cui Im, menghadapi rayuan Cui Im yang merupakan seorang ahli dalam permainan cinta, mana mungkin dia dapat bertahan?

Menghadapi rayuan Cui Im yang luar biasa, dalam waktu singkat saja dia sudah bertekuk lutut dan menyambut serta melayani segala kehendak wanita itu!

Biarpun Cui Im memang seorang wanita yang haus akan cinta kasih laki-laki dan mata keranjang, selalu ingin memeluk pria tampan, pembosan dan ingin selalu berganti teman bercinta, namun Cui Im memilih Coa Kun bukan semata-mata karena pemuda ini tampan.

Terutama sekali karena kemiripan wajah Coa Kun dengan wajah Keng Hong amat menarik hatinya dan otaknya yang cerdik segera sudah mendapatkan siasat untuk sewaktu-waktu mempergunakan pemuda ini untuk membantunya menghancurkan penghidupan Keng Hong, satu-satunya laki-laki di dunia ini yang pernah meruntuhkan hatinya, pernah dicintanya dengan cinta murni, akan tetapi yang kini telah berubah menjadi satu-satunya orang yang paling dibencinya di dunia ini!

Sementara itu, ketika Mo-kiam Siauw-ong mendengar pelaporan para penjaga akan adanya mayat Ma Kiat Su di depan pintu kamar tidur, hanya tersenyum dan dia menyuruh anak buahnya membawa pergi mayat itu dan menguburnya.

Ia mengangguk-angguk dan menggosok kedua tangannya.

Kalau Ang-kiam Bu-tek jatuh hati kepada Coa-kongcu, hal itu amat baik sekali.

Lebih baik lagi kalau Ang-kiam Bu-tek suka menjadi isteri putera kepala daerah itu, pikirnya.

Hati Cui Im gembira sekali karena pemuda putera Coa-jin itu sebentar saja sudah benar-benar jatuh hati dan kepadanya dan dapat memuaskan hatinya.

Ia senang tinggal di gedung itu, selain menerima penghormatan berlebihan, menerima pelayanan yang menyenangkan, ditemani seorang kongcu yang halus dan tampan mirip Cia Keng Hong, Juga ternyata luka di pundaknya oleh pedang Siang-bhok-kiam di tangan Keng Hong tidaklah merupakan luka parah dan dalam beberapa hari saja tentu akan sembuh.

Akan tetapi malam hari itu, selagi dia asyik bercumbu dengan kekasihnya yang baru, tiba-tiba terdengar suara terkekeh dari arah jendela kamarnya.

Mendengar dan mengenal suara ini, Cui Im melompat turun dari atas pembaringan, secepat kilat menyambar pakaiannya dan ketika ia membalik dengan pakaian yang belum lengkap, ia melihat Go-bi Thai-houw telah melayang masuk dari jendela yang dibuka dari luar dan berada di kamar itu, tertawa-tawa.

Bukan main kagetnya Coa Kun melihat munculnya seorang nenek yang amat tua dan menyeramkan itu.

Ia cepat-cepat menutupi tubuhnya dengan selimut dan hanya berani mengintai dari balik selimut.

Cui Im cepat maju dan berlutut menyambut Go-bi Thai-houw.

"Subo telah datang"."

"Heh-heh-hi-hi-hik! Benar-benarkah engkau mengangkat aku sebagai gurumu, Ang-kiam Bu-tek?"

"Subo adalah seorang yang paling sakti di dunia ini, tentu saja teecu (murid) akan senang sekali menjadi murid Subo. Apalagi dengan adanya Subo. Kita dapat bekerja sama untuk membalas sakit hati terhadap Cia Keng Hong."

"Hemmmmm..!"

Nenek itu mendengus, keningnya yang sudah putih itu mengkerut, dahinya yang sudah penuh keriput itu makin mendalam garis-garisnya.

"Cia Keng Hong manusia busuk! Aku harus bunuh dia.. Akan tetapi.. Di sana ada isteri Sin-jiu Kiam-ong.."

"Takut apa, Subo? Kalau kita bekerja sama, dibantu oleh Mo-kiam Siauw-ong dan anak buahnya, tentu kita akan dapat membasmi mereka! Mo-kiam Siauw-ong dan anak buahnya, tentu kita akan dapat membasmi mereka! Mo-kiam Siauw-ong adalah murid dari mendiang Thian-te Sam-lo-mo, masih segolongan sendiri. Marilah teecu perkenalkan Subo dengan Mo-kiam Siauw-ong dan mertuanya, Coa-taijin kepala daerah Sun-ke-bun, pemilik gedung ini."

Nenek itu melirik ke arah Coa Kun yang masih memandang ketakutan di atas pembaringan, kemudian tertawa lebat memperlihatkan mulut yang tiada giginya lagi.

"Ha-ha-ha, engkau cocok sekali dengan aku muridku. Aku pun dahulu seperti engkau ketika muda, mengejar kesenangan, setelah cintaku ditolak oleh Sie Cun Hong (Sin-jiu Kiam-ong) si keparat! Besok saja aku berkenalan dengan mereka. Kau lanjutkan permainanmu dengan Kongcu ini, aku ingin menonton."

"Subo..!"

"Hi-hi-hik! Aku sudah terlalu tua, tidak bisa main sendiri, akan tetapi menonton menimbulkan kesenangan yang besar pula. Hayolah, anggap saja aku tidak berada di sini!"

Nenek itu lalu duduk di atas sebuah bangku, duduk tegak tak bergerak seperti arca.

Semenjak ia bertemu dengan bekas majikan wanitanya, yaitu Tung Sun Nio isteri mendiang Sin-jiu Kiam-ong, Gilanya menjadi sembuh karena pertemuan itu mendatangkan guncangan batin yang hebat.

Dia tidak gila lagi, akan tetapi setelah menjadi waras, timbul kembali wataknya yang seperti iblis, watak yang sama dengan watak Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im di waktu dia masih muda.

Watak yang amat cabul dan keji!

Dan terjadilah perbuatan maksiat yang tiada keduanya di dunia ini, yang dapat dilakukan oleh wanita.

Cui Im melanjutkan permainan cintanya dengan Coa Kun yang makin lama makin hilang rasa ngerinya terhadap nenek itu, ditonton oleh nenek itu!

Bagi manusia-manusia yang mengenal kesusilaan, yang telah hidup di dalam jaman yang beradab, perbuatan mereka bertiga itu benar-benar merupakan perbuatan yang amat cabul tak mengenal susila dan rasa malu lagi!

Coa Kun, putera seorang pembesar yang terpelajar, Yang sejak kecil telah membaca kitab-kitab dan tahu akan tata susila dan sopan santun, sedikit banyak mengenal pula ilmu silat, kini terseret dan terguling ke dalam jurang kehinaan, terseret melakukan perbuatan yang patutnya hanya dapat dilakukan oleh golongan hitam tingkat paling rendah!

Dan pada keesokan harinya, setelah ketiga orang ini merasa Coa Kun merasa puas karena merasa diayun ke sorga oleh cumbu rayu dan permainan cinta Cui Im yang merupakan seorang ahli berpengalaman dalam hal itu, Cui Im puas karena selain mendapatkan seorang kekasih baru yang tampan juga diterima menjadi murid Go-bi thai-houw dan nenek itu puas karena sudah lama ia kehilangan seperti yang dinikmatinya semalam dengan menoton pertunjukan yang menggairahkan hati tuanya, diadakan pertemuan yang dia sambung dengan perundingan?

Sebuah perundingan yang tujuannya hanya satu, yaitu menghancurkan penghidupan Cia Keng Hong!

Go-bi Thai-houw membenci Keng Hong karena dianggap sebagai biang keladinya sehingga dia kehilangan dua orang muridnya yang tercinta, yaitu mendiang Hek-sin-kiam Tan Hun Bwee dan Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng.

Cui Im membenci Keng Hong, benci yang timbul karena cinta yang tak terbalas dan karena banyak hal lagi.

Mo-kiam Siauw-ong juga membenci Keng Hong karena pendekar sakti itu telah membunuh ketiga orang gurunya, Thian-te Sam-lo-mo.

Hanya Coa-taijin dan Coa Kun yang hadir dalam perundingan itu saja yang tidak membenci Keng Hong karena mengenal pun tidak, akan tetapi mereka terbawa karena hubungan mereka dengan Mo-kiam Siauw-ong dan dengan Cui Im.

Benci!

Perasaan ini merupakan nafsu manusia yang menjadi pokok penyebab utama daripada timbulnya segala kekacauan di dunia ini oleh manusia.

penyebab timbulnya nafsu kebencian bersumber kepada rasa sayang diri dan iba diri (egoisme), terdorong oleh iri hati.

Kalau merasa diri dirugikan, maka timbullah bibit yang menjadi benih nafsu kebencian.

Kalau sudah bertunas bibit kebencian dalam hati, maka si manusia yang dicengkeram kebencian itu akan tertutup mata batinnya dan muncullah perbuatan-perbuatan kekejaman.

Kebencian menimbulkan pertentangan dan permusuhan.

Kebencian menciptakan perbuatan yang merugikan dan merusak, akan tetapi sebenarnya yang paling di rugikan dan dirusak adalah diri si pembenci sendiri.

Kebencian merupakan sifat yang paling buruk yang harus dijauhi oleh setiap orang manusia, karena kebencian ini bertentangan dengan sifat alam.

Tidak ada sifat benci pada alam yang hanya mempunyai satu sifat, yaitu Kasih!

Yang tidak mau menyadari akan hal ini, yang tidak mau berusaha sekuat tenaga kemauan untuk mengenyahkan sifat benci dari hatinya, merupakan orang yang sungguh patut dikasihani, karena perasaan bencinya akan menyeretnya ke dalam segala macam kesengsaraan batin.

Orang yang percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih, tentu akan mudah melenyapkan dan menjatuhkan perasaan benci kepada siapa pun juga.

Karena orang ini akan menyadari bahwa segala yang menimpa dirinya, tidak terkecuali apakah hal itu menguntungkan atau merugikan, adalah hal yang sudah dikehendaki oleh Tuhan!

Di luar kehendak Tuhan, segala tidak akan terjadi!

Tuhan Maha Kuasa, kuasa untuk memberi, kuasa untuk mengambil.

Kalau hanya merasa senang apabila diberi, akan tetapi mengomel apabila di ambil, dia adalah seorang yang kurang tebal kepercayaannya akan kekuasaan Tuhan.

Di dalam memberi maupun mengambil tentu saja ada yang menjadi lantarannya.

Kalau kepercayaan akan kekuasaan Tuhan sudah menjadi keyakinan bijaksana ini tentu tidak akan membenci yang menjadi lantarannya, karena lantaran itu hanyalah dipergunakan atau dipilih oleh Tuhan untuk pelaksanaan kehendak-Nya.

Misalnya, seseorang kehilangan seorang anaknya tercinta.

Anak itu tidak akan mati kalau tidak dikehendaki oleh Tuhan untuk pelaksanaan kehendak-Nya ini, tentu saja ada lantarannya.

Bermacam-macamlah yang bisa menjadi sebab, karena terbunuh, karena penyakit, karena kecelakaan dan sebagainya.

Kelirulah kalau orang yang kehilangan anaknya itu menimpakan kesalahan dan timbul kebencian terhadap penyebab atau yang menjadi lantaran, karena kejadian itu baru saja bisa terjadi oleh kehendak Tuhan!

Tanpa dikendaki Tuhan biar segala iblis dan setan di dunia ini tentu tidak akan mampu mencabut nyawa anak itu!

Demikian pula dengan kerugian dan kehilangan lainnya, atau sebaliknya, demikian pula dengan keuntungan dan hal yang menyenangkan lainnya.

Segala yang dikehendaki oleh Tuhan, akan terjadilah!

Hal ini mutlak, tiada kekuasaan yang dapat menentangnya semenjak dahulu, sekarang dan kemudian yang penting bagi manusia hanyalah berikhtiar, berusaha yang sudah menjadi kewajibannya untuk menghindarkan diri daripada hal-hal yang tidak dikehendaki hatinya.

Namun, bukanlah ikhtisar yang menentukan melainkan kehendak Tuhan juga!

Berikhtiar dengan kesungguhan hati sebagai kewajiban, berlandaskan penyerahan akan kekuasaan Tuhan, dengan pasrah, dengan penerimaan, maka orang ini akan selalu merasa tenang dan dapat mengatasi segala hal yang menimpanya tanpa terseret nafsu kebencian yang akan menjadi awal rantai panjang tak berkeputusan yang berupa kesengsaraan batin.

Orang-orang seperti Mo-kiam Siauw-ong, Go-bi Thai-houw dan terutama Bhe Cui Im adalah orang-orang yang telah menjadi hamba nafsu dan tidaklah amat mengherankan kalau mereka itu mabuk oleh kebencian sehingga mereka berunding, mengatur rencana dan siasat untuk menghancurkan hidup orang yang mereka benci, yaitu Cia Keng Hong.

"Mereka itu tentu akan melangsungkan pernikahan. Aku akan menyelidikinya dan perayaan pernikahan mereka merupakan kesempatan baik bagi kita. Kita serbu mereka, kita kacaukan perayaan itu dan kalau dapat kita bunuh Cia Keng Hong, Sie Biauw Eng, dan kawan-kawan mereka.dalam hal ini aku mengharapkan bantuan Mo-kiam Siauw-ong untuk mengerahkan pasukan yang kuat dan banyak."

Cui Im berkata.

"Saya siap membantu, Sianli, harap jangan khawatir!"

Mo-kiam Siauw-ong cepat berkata. Coa-taijin mengerutkan alisnya dan berkata.

"Maaf, Sianli. Saya percaya penuh bahwa Cia Keng Hong itu tentulah bukan manusia baik maka Sianli memusuhinya dan di dalam hati, saya memihak Sianli sepenuhnya dan andaikata saya memilliki kepandaian, tentu saya akan ikut pergi membantu untuk membasmi Cia Keng Hong da kawan-kawannya yang telah merugikan dan melukai Sianli dan juga yang dimusuhi oleh Locianpwe."

"Thai-houw, sebut aku Thai-houw, aku adalah ratu di Go-bi, tahu?"

Tiba-tiba Go-bi Thai-houw berkata. Coa-taijin terkejut dan cepat berkata.

"Maaf, Thai-houw, maaf."

"Lanjutkan kata-katamu, Taijin. Apa yang hendak kauusulkan?"

"Sianli tentu maklum kedudukan saya sebagai kepala daerah, maka saya dan para pasukan penjaga kota ini adalah orang-orang dari pemerintah. Maka, kalau pasukan saya dipergunakan untuk urusan pribadi, hal itu tentu amat tidak baik bagi saya, karena tentu akan ada teguran dari pemerintah pusat."

Cui Im mengerutkan alisnya dan memandang Mo-kiam Siauw-ong. Orang ini cepat berkata.

"Apa yang dikatakan oleh mertua saya memang benar, Sianli. Akan tetapi harap Sianli tidak usah khawatir. Saya tidak begitu bodoh untuk menggunakan pasukan penjaga kota Sun-ke-bun karena pasukan penjaga iru biarpun banyak, tidaklah boleh diandalkan. Saya akan mengerahkan semua anak buah kaum liok-lim dan kang-ouw di daerah lembah Fen-ho dan percayalah, saya akan dapat mengumpulkan pasukan yang sudah jauh lebih kuat dan lebih banyak jumlahnya daripada pasukan penjaga kota."

Wajah Cui Im berseri lagi mendengar ini. Ia mengangguk-angguk dan berkata dengan senyum manis.

"Bantuan Taijin dan Siauw-ong yang amat berharga tentu tidak akan kulupakan."

"Aihhh, Niocu, setelah kita menjadi orang sendiri, mengapa masih sungkan? Katakanlah, apa yang dapat aku kulakukan untuk membantumu? Aku siap membantu dengan taruhan nyawa!"

Tiba-tiba Coa Kun berkata. Pemuda ini sekarang tidak lagi menyebut "sianli"

Melainkan menyebut niocu kepada kekasihnya itu.

Cui Im dengan kepandaiannya yang tinggi dapat membuat kedua pipinya kemerahan seperti wanita biasa kalau merasa malu dan lengah, kemudian ia mengerling ke arah kekasihnya itu sambil berkata.

"Terima kasih, Kongcu. Memang aku amat membutuhkan bantuanmu, akan tetapi kelak kalau usahaku yang pertama ini tidak berhasil. Engkau bersiap-siap sajalah, dan dalam penyerbuan yang kita rencanakan ini, harap kau tidak ikut...."

"Ah, mana bisa? Mana bisa aku berpisah darimu? Aku akan ikut, Niocu!"

Biarpun berada di depan banyak orang, bahkan di depan ayahnya sendiri, namun pemuda yang sudah tergila-gila ini tidak malu-malu lagi menyatakan perasaannya yang tidak mau berpisah dari wanita yang membuatnya mabuk itu.

Cui Im tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, akan tetapi engkau tidak boleh ikut menyertai penyerbuan. Kalau engkau terluka atau tewas, aku yang kehilangan! Keng Hong adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian hebat, aku sendiri tidak kuat menandinginya."

"Hi-hi-hik, jangan takut muridku. Aku pernah membuat dia dan bekas muridku Sie Baiuw Eng, dibantu dua orang temannya, jungkir-balik dan kalau tidak muncul isteri sin-jiu Kiam-ong, mereka sudah mati di tanganku!"

Kata Go-bi Thai-houw.

Diam-diam Cui Im terkejut.

Dia mengenal siapa kedua orang teman itu, tentulah Yap Song Can urid ketua Siauw-lim-pai yang lihai dan Gui Yan Cu.

Kedua orang muda itu lihai bukan main, ditambah lagi dengan Sie Biauw Eng yang kini memiliki ilmu kepandaian hebat di samping Keng Hong.

Benarkah nenek ini dapat emperainkan mereka?

Diam-diam ia pun girang karena orang seperti nenek ini tentu tidak perlu membohong dan menyombongklan diri.

"Dan aku dapat mencari bantuan orang-orang pandai di lembah Fen-ho,"

Kata [ula Mo-kiam Siauw-ong yang sudah bertekad bulat, mempergunakan kesempatan baik itu, selagi dia dibantu dua orang sakti seperti Go-bi Thai-houw dan Ang-kiam Bu-tek, untuk membalas kematian ketiga orang gurunya di tangan Cia Keng Hong.

Sampai jauh malam mereka melakukan perundingan dan mengatur siasat, perundingan yang diseling dengan makan minum yang serba mahal dan mewah.

Mo-kiam Siauw-ong, atas petunjuk Cui Im, pada hari itu juga mengirim kaki tangannya untuk melakukan penyelidikan ke siauw-lim-pai dan ke tempat tinggal Tung Sun Nio atau isteri sin-jiu Kiam-ong, yaitu di lereng Pegunungan Cin-ling-san sebelah timur.

Mereka mengadakan persiapan dan tinggal menanti berita dari para penyelidik yang melakukan perjalanan cepat dengan berkuda.

Sambil menanti, Cui Im tidak membuang waktu dengan sia-sia, melainkan dia mempererat hubungan cintanya dengan coa Kun sehingga semua penduduk kota itu kini tahu bahwa wanita cantik yang sakti seperti dewi itu adalah kekasih atau selir baru putera kepala daerah, Bahkan didesas-desuskan menjadi calon isteri Coa-kongcu.

Di lereng Pegunungan Cin-lin-san yang sunyi, tempat pertapaan nenek Tung Sun Nio, kini menjadi amat ramai dan meriah karena akan dirayakan pernikahan dua pasang pengantin.

Dua pasang orang muda yang saling mencinta, yang sudah bersama-sama mengalami suka duka penuh bahaya.

Perayaan pernikahan dua pasang mempelai diadakan di tempat itu, memenuhi permintaan nenek Tung Sun Nio.

Dan memang nenek itu berhak menentukan tempat perayaan, karena orang-orang muda yang menjadi pengantin, sebagian besar adalah keluarganya.

Cia Keng Hong yang akan menikah dengan Sie Biauw Eng, adalah muridnya, juga murid utama mendiang suaminya, Sin-jiu Kiam-ong, Sie Biauw Eng adalah puteri mendiang suaminya yang dilahirkan oleh Lam-hai Sin-ni, jadi adalah anak tirinya sendiri.

Adapun Gui Yan Cu yang akan menikah dengan Yap Song Can, adalah muridnya yang disayang seperti anak sendiri.

Hanya Yap Cong San seorang yang tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan nenek ini.

Akan tetapi Yap Cong San adalah murid ketua Siauw-lim-pai yaitu Tiong Pek Hosing dan ketua Siauw-lim-pai ini dahulu adalah kekasih Tung Sun Nio.

Karena itu, bukan sama sekali tidak ada hubungan dengannya!

Maka, pernikahan dua pasang mempelai itu benar-benar merupakan peristiwa yang besar dan menggembirakan bagi Tung Sun Nio.

Sudah puluhan tahun lamanya Tung Sun Nio mengasingkan diri sehingga dia tidak dikenal orang di dunia kang-ouw.

Adapun Cia Keng Hong sendiri, biarpun akhirnya dapat membersihkan nama gurunya dan telah menyadarkan nama gurunya dan telah menyadarkan para tokoh kang-ouw akan niatnya mengakhiri permusuhan yang ditimbulkan mendiang gurunya dengan hampir semua tokoh kang-ouw masih merasa segan untuk mendekat pemuda itu.

Karena inilah maka perayaan itu hanya dihadiri oleh beberapa orang tokoh kang-ouw yang memiliki hubungan baik dengan Cia Keng Hong dan Yap Cong San.

Adapun Gui Yan Cu yang sejak kecil ikut gurunya tidak mempunyai kenalan pula, sedangkan Sie Biauw Eng sebagai puteri Lam-hai Sin-ni, tentu saja hanya dikenal oleh para tokoh golongan hita yang sekarang bahkan menjadi musuh-musuhnya karena wanita cantik jelita yang lihai ini telah mengubah cara hidupnya semenjak dia bertemu dan jatuh cinta kepada Cia Keng Hong.

Di antara para tokoh kang-ouw yang hadir tampak dua orang wakil dari Hoa-san-pai, lima orang wakil Kun-lun-pai yang diutus sendiri oleh ketua Kun-lun-pai yaitu Kiang Tojin yang menjadi sahabat baik Cia Keng Hong.

Ouw Kian yang menjadi ketua tiat-ciang-pang bersama dua orang pembantunya, dan belasan orang tokoh kang-ouw lain yang merasa kagum kepada Cia Keng Hong.

Biarpun tidak banyak tokoh kang-ouw yang hadir, namun suasana pesta meriah karena dipenuhi oleh penduduk dusun-dusun di kaki Pegunungan Cin-lin-san yang banyak mengenal Gui Yan Cu.

Yap Cong San sebagai pengantin pria dari Siauw-lim-pai, diantar oleh lima orang hwesio tokoh Siauw-lim-pai ini tidak datang sendiri karena dia adalah sebagai orang yang punya kerja"

Di fihak pengantin pria dan dikuil Siauw-lim-si sudah diadakan upacara tersendiri sebelum Yap Cong San berangkat.

Semua tamu sudah berkumpul, meja sembahyang sudah diatur dan dua pasang empelai sudah diarak keluar untuk melakukan upacara sembahyang pengantin.

Mengagumkan dan menyenangkan sekali kalau melihat dua pasang pengantin ini karena memang merupakan pasangan yang amat setimpal.

Sie Biauw Eng berwajah cantik manis dan agung, seperti puteri istana, bayangan dingin yang dahulu kini telah berubah penuh kehangatan dan gairah.

Gui Yan Cu berwajah cantik jelita seperti bidadari, cerah dan memandang wajah dara ini seperti memandang matahari pagi.

Adapaun dua orang pengantin prianya juga tapan dan gagah.

Cia Keng Hong berwajah tampan dengan sinar mata tajam seperti berkilat, sikap tenang dan biarpun usianya baru dua puluh empat tahu, namun wajahnya sudah membayangkan kematangan batin, Sinar matanya penuh pengertian dan sikapnya seperti sebuah telaga yang amat dalam.

Yap Cong San juga tampan sekali, gerak-geriknya halus sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang ahli sastra, karena di samping ilmu silatnya yang tinggi juga pemuda ini merupakan seorang sastrawan yang pandai.

Dua pasang pengantin itu bersembahyang, dipimpin oleh seorang hwesio Siauw-lim-pai yang masih terhitung suheng dari Yap Cong San sendiri.

Memang sebagai seorang hwesio, tentu saja suhengnya itu ahli dala urusan upacara sembahyang maka dialah yang ditunjuk untuk memimpin upacara sembahyang pengantin.

Tung Sun Nio menyaksikan dengan air mata membasahi pipinya saking terharu.Terkenanglah nenek ini akan masa dahulu, sebagai isteri Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong.

Menyesallah hatinya kalau mengenang masa mudanya, di mana ia mengalami penderitaan dalam rumah tangganya.

Teringat ia betapa ketika ia menikah dengan Sie Cun Hong, mereka berdua pun bersembahyang seperti yang dilakukan dua pasang mempelai ini, akan tetapi kenyataannya kemudian amat menyakitkan hati.

Dia sudah menjatuhkan cinta hatinya kepada Ouwyang tiong, akan tetapi oleh orang tuanya dia diharuskan menikah dengan Sie Cun Hong.

Karena Sie Cun Hong adalah seorang yang tampan dan gagah perkasa, ia masih mengharapkan dapat hidup bahagia di samping suaminya itu.

Akan tetapi, ternyata Sie Cun Hong yang sudah terkenal sebagai seorang laki-laki yang gila wanita itu, tidak berubah dan bermain cinta dengan wanita mana saja yang mau melayaninya!

Bahkan pelayannya sendiri, Oh Hian Wi, pelayan yang setia, dilayani pula oleh suaminya itu dan mereka melakukan hubungan gelap ketika gadis pelayan itu ikut bersamanya untuk melayaninya.

Padahal, dia baru saja menikah belum sebulan lamanya, masih dalam suasana pengantin baru!

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 7

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert