Ceritasilat Novel Online

Pedang Penakluk Iblis 1

Eps 1 Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.

Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01.

"SINCHUN Kionghi Thiam-hok Thiam Siu! Selamat tahun baru, panjang umur banyak rejeki!"

Ucapan ini bergema di seluruh Tiongkok.

di dusun dan kota, di mana saja manusia berada.

Ucapan yang menjadi inti dari pada perayaan hari Tahun Baru yang telah menjadi tradisi di seluruh Tiongkok semenjak tahun diperhitungkan, berapa orang takkan gembira ria menyambut hari itu?

Tidak saja sebagai hari pertama dari tahun yang baru, akan tetapi juga hari pertama dari musim semi yang gilang-gemilang, yang memberi harapan baik bagi semua manusia, baik ia pedagang, petani, maupun buruh, pendeknya rakyat jelata.

Tanaman akan tumbuh subur, hawa udara segar dan bersih, pemandangan alam indah permai.

Olch karena inilah maka upacara selamat menjadi Sin-chun Kionghi yang berarti Selamat Musim Semi Baru.

Semua orang merayakannya.

Besar kecil kaya, miskin mereka bergembira menyambut datangnya musim semi dengan cara dan kebiasaan masing-masing.

Orang-orang mengadakan pesta, segala mata pertunjukan, seni budaya rakyat muncul meramaikan pesta tari-tarian, nyanyi, tari, barongsai, kilin, hong dan lain-lain memenuhi sepanjang jalan besar.

Anak-anak lebih gembira lagi.

Mereka pergi ke sana ke mari, menghaturkan selamat kepada keluarga dan tetangga yang lebih tua, menerima angpauw (bungkusan merah berisi uang atau hadiah) menonton pertunjukan dan di hari itu mereka akan terbebas daripada hukuman dan omelan orang tua.

Di sana-sini mengebul asap hio mengharum, karena orang-orang pada mengadakan sembahyang untuk memperingati nenek moyang mereka yang telah meninggal dunia.

Suara petasan menambah kegembiraan penduduk.

Tiadi hentinya suara mercon ini susul-menyusul seakan-akan berlomba.

Kadang-kadang kelihatan di udara meluncur roket-roket kecil dari kertas.

Pendeknya, semua orang menabung setahun penuh untuk menghabiskan uang tabungannya di hari-hari tahun baru itu, berpakaian baru, makan minum sampai mabok dan menghamburkan uang tak mengenal sayang.

Pada pagi hari tahun baru itu seorang laki-laki tinggi besar berwajah tampan dan gagah akan tetapi seperti orang yang menanggung banyak penderitaan batin, berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, bcrjalan perlahan-lahan memasuki kota Keng-sin-bun yang berada di kaki Bakit Hoa-san.

Laki-laki yang gagah ini berjalan sambil menuntun seorang anak kecil berusia kurang lebih tujuh tahun.

Pakaian mereka jauh berbeda dengan pakaian orang-orang yang sedang merayakan tahun baru.

Kalau semua orang besar kecil memakai serba baru, adalah dua orang ini berpakaian amat sederhana dan sudah kotor, bahkan laki-laki itu sudah ada tambalan pada bajunya.

"Gi-hu, semua orang merayakan hari musim semi, mengapa kita tidak?"

Suara anak ini lemah lembut dan kata-katanya teratur rapi seperti ucapan seorang anak yang mempelajari bun (sastra) dan tata susila, akan tetapi terdengar nyaring bersemangat. Ia menyebut "gi-hu"

Yang berarti ayah angkat kepada laki-laki itu. Orang gagah itu memandang dan senyum sedih muncul di bibirnya.

"Hong-ji (Anak Hong), kita sedang dalam perjalanan, bagaimana bisa merayakan hari tahun baru? Sebentar lagi kalau kita sudah sampai di tempat tinggal Sucouwmu (Kakek Gurumu) barulah kita bisa merayakan hari baik ini. Atau barang kali kau ingin merayakannya di kota ini? Kalau demikian, kita bisa mampir di rumah makan dan berpesta berdua, bagaimana pikiranmu?"

Pada saat itu mereka telah memasuki kota dan bocah itu memandang ke kanan kiri dan melihat setiap rumah memasang meja sembahyang dengan segala macam masakan di atas meja dan hio mengebulkan asap harum.

"Gi-hu aku tidak ingin makan minum, aku ingin dapat menyembahyangi Ayah Ibuku..."

Suara anak ini terputus-putus dan biarpun matanya tetap bening dan tajam, namun suaranya menunjukkan bahwa ia menahan isak tangis yang naik mendesak dari dada ke lehernya.

Mendengar ini, hati orang gagah itu merasa perih sekali saking terharunya.

Ia menghentikan tindakan kakinya dan membawa anak itu ke pinggir jalan di mana ia berdiri sambil mengelus-elus kepala anak itu.

Ia termenung dan terbayanglah semua pengalamannya.

Laki-laki tinggi besar yang gagah perkasa ini bukan lain adalah Lie Bu Tek, seorang gagah yang dijuluki Hui-liong (Naga Terbang) karena kalau ia mengamuk, pedangnya berkelebatan laksana seekor naga terbang yang menyambar leher para penjahat.

Adapun anak kecil itu sebagai-mana dapat diketahui dari cara ia memanggil Lie Bu Tek, adalah Wan Sin Hong anak angkat dari Lie Bu Tek.

Kata-kata anak tadi membuat Lie Bu Tek termenung dan terbayang akan semua pengalamannya.

"Baiklah, Hong-ji. Mari kita menyembahyangi Ayah Bundamu secara sederhana saja."

Dengan girang dan berterima kasih Sin Hong ikut ayah angkatnya itu menuju ke sebuah toko yang menjual lilin, hio, dan segala keperluan sembahyang.

Setelah membeli alat-alat untuk bersembahyang secukupnya, Lie Bu Tek lalu mengajak anak angkatnya pergi ke sebuali tempat yang sunyi.

Di tempat ini Lie Bu Tek memasang alat-alat sembahyang, menyalakan membakar hio dan bersembahyanglah dua orang itu dengan cara masing-masing.

Bu Tek memegang hio di tangan sambil berdiri seperti patung, bibirnya tidak bergerak, akan tetapi dua titik air mata yang menurum pipinya menyatakan bahwa hatinya amat terharu.

Wan Sin Hong berlutut di depan lilin dan mulutnya bergerak-gerak mengeluarkan bisikan.

"Ayah dan Ibu yang tak pernah kukenal, aku anakmu Wan Sin Hong menghaturkan hormat dan selamat tahun baru. Mohon restu Ayah Ibu agar aku kelak menjadi seorang gagah dan pandai seperti Gi-hu...."

Lie Bu Tek ikut berlutut dan memeluk anak angkatnya itu.

Entah mengapa, begitu dipeluk Sin Hong merasa sesuatu yang amat menyedihkan hatinya sehingga tak tertahankan lagi la menangis terisak-isak di dada ayah angkatnya.

Sampai api hio habis dan lilin kecil itu padam baru mereka berdiri lagi.

"Mari kita melanjutkan perjalanan, Sin Hong. Sucouwmu di Puncak Hoa san sudah menanti-nanti."

"Apakah Sucouw sudah tahu akan kedatangan kita?"

Tanya Sin Hong.

"Tahu sih belum, akan tetapi sebagai orang tentu dia mengharapkan kedatangan orang-orang muda di hari tahun baru."

Kembali mereka melalui jalan-jalan besar yang ramai sekali.

Karena saat itu memang tiba waktunya menyalakan asap, hio mengepul memenuhi kota.

Sambil berjalan di sebelah ayah angkatnya Sin Hong memandang ke kanan kin, melihat orang-orang yang sedang bersembahyang.

Tiba-tiba sambil menarik-narik tangan Bu Tek, ia mengajukan pertanyaan.

"Gihu biarpun aku sudah membaca dan mengerti tentang peraturan sembahyang akan tetapi maksudnya aku masih belum tahu. Mengapakah nenek moyang yang sudah mati disembahyangi? Mengapa disediakan hidangan dan masakan enak-enak bagi orang yang sudah mati? Apakah mereka itu benar-benar mempunyai roh, dan kalau benar, apakah roh-roh itu dapat datang untuk makan hidangan-hidangan itu?"

Lie Bu Tek tersenyum dan diam-diam ia memuji kecerdasan otak anak angkatnya yang dalam usia sekecil itu sudah dapat mempergunakan pertimbangan akal budinya.

"Tentu saja roh halus tidak bisa makan hidangan-hidangan itu, Hong-ji. Akan tetapi, bukan itulah maksud daripada menyembahyangi nenek moyang kita. Orang bersembahyang untuk menyatakan cinta kasih dan penghormatan, sebagai tanda bakti kepada nenek moyang, bakti yang tak kunjung padam, baik moyang yang masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Seorang anak yang berbakti dan mencinta orang tuanya, tentu selalu akan membikin senang hati orang tuanya, dan jalan satu-satunya untuk menyenangkan hati orang tua adalah menjaga baik-baik nama keluarganya. Untuk dapat melakuan hal ini, orang itu harus berperilaku baik, karena seorang yang melakukan kejahatan tak mungkin dapat menjaga nama baik keluarga. Kebaktian yang sesungguhnya takkan lenyap bersama dengan matinya orang tua, biarpun orang tua sudah mati, tetap saja anak yang berbakti menghormat dan mencinta orang tuanya dan selalu ia akan menjaga perilaku hidupnya untuk menjaga nama baik orang tuanya yang sudah mati itu. Karena itulah maka setiap orang meyembahyangi nenek moyangnya, untuk mempertebal rasa kebaktian ini sehingga mereka selalu takut untuk melakukan kejahatan karena tidak ingin mencemarkan nama orang tuanya."

Sin Hong memang seorang anak yang cerdik luar biasa, maka kata-kata ini dapat ditangkap artinya dan ia mengangguk-angguk.

"Aku pun selalu akan mengingat orang tuaku yang sudah mati dan mengingat kepada Gi-hu yang masih hidup agar selama hidup aku takkan melakukan perbuatan buruk yang dapat mencemarkan nama baik Ayah Bunda dan Gi-hu."

Lie Bu Tek girang sekali dan ia mengelus-elus kepala anak angkatnya.

"Bagus sekali prasetyamu ini, Hong-ji. Memang sudah menjadi kenyataan bahwa nama baik orang tua akan terbawa-bawa kalau anaknya berbuat. Bahkan nama baik orang tua yang sudah meninggal akan terseret pula karena sekali menyebut nama anaknya, berarti menyebut pula nama ayahnya. Sebaliknya, kalau anaknya menjadi seorang manusia yang berprilaku balk, nama ayahnya akan terangkat baik dan menjadi harum."

Ini pun Sin Hong dapat mengerti karena ia sudah tahu bahwa she (nama keturunan) orang tua selalu dibawa-bawa oleh anaknya.

Percakapan mereka terhenti ketika tiba-tiba serombongan anak-anak kecil berlan-lari ke arah barat sambil berteriak-teriak girang.

"Ang-bwe-sai (Singa Buntut Merah) datang ... !!"

Benar saja serombongan pemain barongsai mendatangi di jalan raya itu dari barat.

Suara gembreng dan tambur sudah ditabuh ramai sekali dan dari jauh sudah terlihat barongsai yang besar dan indah sekali berlenggang-lenggok di sepanjang jalan raya.

Orang-orang hartawan, pemilik-pemilik toko segera menyambutnya dengan mercon (petasan) dan sebagian pula menggantungkan "angpauw" (bungkusan merah terisi uang atau hadiah) di depan pintu.

Barongsai itu berlagak, main di depan pintu setiap rumah dan dengan cara amat indah menyambar angpauw itu dan memberi hormat kepada tuan rumah sambil mendekam-dekam dan berlutut.

"Di rumah Gan-wangwe (Hartawan Gan) disediakan angpauw besar yang dipasang tinggi sekali!"

Terdengar beberapa orang berteriak dengan girang.

Sebagai seorang anak-anak, Sin Hong tentu saja ikut gembira.

la menarik tangan ayah angkatnya untuk mendekati barongsai itu dan mengagumi cara orang mainkan tari barongsai.

Karena anak ini sudah menerima latihan dasar ilmu silat dari Lie Bu Tek, maka ia dapat mengagumi jurus permainan kaki dari pemain barongsai yang bergerak menurut jurus-jurus permainan silat.

Sekali pandang saja, Lie Bu Tek tahu bahwa pemain barongsai ini tentulah murid dari Siauw-limpai.

Ketika ia memandang ke arah rumah gedung Hartawan Gan, diam-diam ia menjadi gembira juga.

Ang-pauw dari hartawan Gan ini benar-benar besar, tentu terisi uang banyak atau hadiah yang amat berharga.

Akan tetapi hartawan itu sengaja memasang ang-pauw di tempat yang amat kurang lebih tiga tombak tingginya.

Padahal, biasanya kalau ang-pauw digantungkan di atas pintu, barongsal akan meloncat dan menyambar ang-pauw.

Apakah Barongsai Buntut Merah itu sanggup melompat setinggi itu?

Tiba-tiba dari timur terdengar suara gembreng dan tambur yang lain lagi.

Anak-anak dari timur berlarian datang dan terdengar anak-anak berterlak.

"Pek-bwe-sai (Singa Buntut Putih) datang...!"

Riuh rendah suara gembreng dan tambur kedua barongsai itu dipukul pada saat yang sama dan di jalan raya yang sama pula.

Kini kedua barongsai yang bermain di depan setiap rumah, mulai mendekati gedung Hartawan Gan, serombongan dari barat dan rombongan Barongsai Buntut Putih dari timur!

Melihat suasana dan cara kedua pihak memukul tambur seperti tambur perang.

Lie Bu Tek berdebar hatinya.

Dapat diramalkan bahwa tentu akan terjadi keributan di jalan raya ini.

Tidak biasa dua Barongsai bertemu di jalan raya pada saat yang sama.

Biasanya diadakan perundingan lebih dulu dan diatur jalannya sehingga tidak sampai bertemu di jalan.

Akan tetapi dua rombongan ini agaknya sengaja hendak bersaing dan mencari keributan.

Ketika rombongan Pek-bwe-sai sudah dekat, Lie Bu Tek menjadi gelisah karena dari gerak kaki pemain-pemain barongsai ini, tahulah ia bahwa mereka adalah anak murid dari Bu-tong pai.

Akan tetapi para penduduk yang sedang berpesta pora itu tidak ada yang mempunyai dugaan seperti Bu Tek.

Mereka bahkan bergembira sekali, karena sekaligus ada dua rombongan barongsai yang berlumba memperlihatkan permainan mereka yang indah menarik.

Terutama sekali anak-anak kecil bukan main senangnya.

Di sana-sini orang melempar lemparkan petasan ke arah dua barongsai yang datang dari dua jurusan yang berlawanan itu.

Suara tambur dan gembreng bercampur-baur dengan suara petasan dan teriakan-teriakan anak-anak serta gelak tawa orang dewasa, benar-benar menambah kegembiraan suasana.

Tanpa disengaja para penonton memperbesar api persaingan di antara kedua rombongan itu dengan kata-kata demikian.

"Pek-bwe-sal lebih bagus. Lihat matanya berkilauan seperti hidup""

"Tidak. Ang-bwe-sai lebih indah, mulutnya bergerak-gerak dan rambutnya lebih panjang""

"Pek-bwe-sai lebih bagus mainnya, kakinya berloncatan dan ekornya bergoyang-goyang, seperti singa hidup""

"Benar, akan tetapi Ang-bwe-sai mempunyai pemain-pemain yang pakaiannya lebih indah dan orang-orangnya lebih tegap dan gagah."

Demikianlah, suara orang-orang yang menilai dua rombongan barongsai itu seakan-akan menambah sakit hati dan kebencian di antara kedua pihak.

Apalalagi ketika ada yang menyatakan bahwa permainan Pek-bwe-sai lebih indah dan permainan Ang-bwe-sai, pihak Ang-bwe-sai tentu saja menjadi marah dan penasaran.

Memang mereka harus akui bahwa permainan barongsai Pek-bwe-sai lebih indah mainnya, karena memang permainan anak murid Butong-pai itu mengutamakan gerakan indah, sedangkan anak murid Siauw-lim-pai mengutamakan gerakan-gerakan yang kuat.

Sebetulnya masing-masing memiliki gaya dan keindahan sendiri, den kalau ditinjau oleh orang ahli silat, tentu saja permainan anak murid Siauw lim-pai lebih baik.

Kini dua rombongan barongsai itu telah tiba di depan gedung Gan-wangwe.

Mereka agaknya sengaja mengatur agar supaya tiba di tempat itu dalam waktu yang bersamaan.

Orang-orang yang menonton dua rombongan itu kini berkumpul menjadi satu, keadaan ramai bukan main.

Gan-wangwe sudah menyuruh para pelayan untuk menghujankan petasan ke arah dua barongsai itu yang seakan-akan kini menjadi "keranjingan"

Dan bermain dengan hebat penuh semangat.

Karena kedua barongsai itu bermain di bawah gantungan ang-pauw, maka kelihatan seolah-olah mereka adalah dua ekor singa yang hendak berkelahi, bukan main bagusnya.

Apalagi, dua rombongan itu sengaja pada saat memasuki gedung itu, menyerahkan barongsai kepada ketua atau guru masing-masing yang tentu saja lebih pandai bermain barongsai daripada anak buahnya.

Pada saat yang telah tepat di bawah gantungan ang-pauw, Barongsai Buntut Putih melakukan gerakan melompat ke atas.

Barongsal Buntut Merah tidak tinggal-diam melihat ang-pauw itu hendak "dimakan"

Lawannya, maka ia pun melompat cepat.

Indah sekali dua gerakan itu, akan tetapi karena mereka melakukan gerakan hampir berbareng, mulut barongsai itu saling beradu dan tidak berhasil mencapal ang-pauw.

"Duk!"

Dan keduanya kembali turun ke bawah menari-nari lagi dengan berangnya.

"Duk-duk-ceng! Duk-duk-ceng! Duk-duk ceng!"

Tambur dan gembreng kedua rombongan dipukul gencar seakan-akan mereka memberi semangat kepada barongsai masing-masing.

"Dar-dar-dor-dor! Blung...!"

Suara petasan juga tidak kalah gencarnya dilepas oleh keluarga dan pelayan Gan-wangwe yang tentu saja menjadi gembira sekali melihat pertunjukan istimewa ini.

"Bagus! Hayo berlumba, siapa yang lebih pandai!"

"Pek-bwe-sat, tangkap ang-pauw itu lebih dulu!"

Demikian terdengar sorak sorai penonton. Tahun baru kali ini benar-benar luar biasa dan ramai dengan adanya pertunjukan yang menarik dari dua barongsai yang bersaingan ini. Lie Bu Tek menahan napas.

"Sin Hong, sebentar lagi mereka akan bertarung. Alangkah bodoh dan memalukan orang-orang ini, memperebutkan ang pauw dan lupa akan peraturan kang-ouw dan persahabatan!" . Akan tetapi Sin Hong tidak menjawab, karena anak ini juga amat tertarik, memandang permainan kedua barongsai itu dengan wajah berseri dan sepasang mata bersinar-sinar. Lie Bu Tek menunduk dan memandang kepada anak angkatnya, dan ia tersenyum. Ia ikut girang melihat bocah ini bergembira. Tiba-tiba para penonton yang berada di luar sendiri berseru.

"Kim-gan-sai (Barongsai Mata Emas) datang...!"

"Aduh, bakal ramai Ini...!"

Teriak seorang penonton lain.

Lie Bu Tek menoleh.

Ia melihat rombongan pemain barongsai baru datang dengan cepat ke tempat itu.

Rombongan ini berbeda dengan dua rombongan yang saling berebut ang-pauw.

Lebih garang dan indah.

Barongsai ini besar dan berat.

Gembreng dan tamburnya besar-besar dan suaranya amat nyaring sehingga setelah dekat mengalahkan suara tambur dan gembreng dari dua rombongan terdahulu.

Juga para pemainnya kelihatan gagah dan angker.

Melihat gerak kaki pemain yang menjalankan barongsai mata emas ini, diam-diam Lie Bu Tek terkejut.

Bukan orang sembarang yang memainkan barongsai ini, akan tetapi orang yang memiliki kepandaian silat yang berarti.

"Benar-benar bakal ramai sekarang!"

PIkir Lie Bu Tek karena ia maklum bahwa rombongan baru ini tentu bukan kebetulan datang di tempat itu pada saat yang sama.

Apalagi rombongan ini tidak bermain di depan rumah-rumah yang dilalui melainkan langsung menuju ke rumah Hartawan Gan!

Yang menarik hati Lie Bu Tek adalah ketika ia melihat betapa dua rombongan yang sedang berebut ang-pauw itu rata-rata kelihatan pucat dan gelisah.

Apalagi para pemukul tambur dan gembreng mata mereka tertuju ke arah barongsai mata emas yang baru datang sehingga mereka menabuh asal bunyi saja, sama sekali tidak mengikuti gerak-gerik barongsai masing-masing sehingga keadaan menjadi makin ramai dan lucu!

Pada saat itu Barongsai Mata Emas telah tiba di tempat itu.

Para penonton otomatis memberi jalan dan dengan sebuah lompatan yang amat dahsyat sehingga menakutkan sebagian penonton, barongsai ini telah tiba di bawah tempat gantungan angpauw di mana dua barongsai buntut putih dan merah sedang berlumba mendapatkan ang-pauw yang dipasang di tempat tinggi itu.

Sekarang para penonton disuguhi pemandangan yang benar-benar hebat, akan tetapi mereka kini agak merasa takut, sungguhpun tak seorang juga mau meninggalkan tempat itu untuk melihat pertandingan barongsai yang benar-benar tak pernah terjadi.

Barongsai Mata Emas yang lebih besar ini ternyata dapat bergerak jauh lebih gesit.

Dengan gerakan kaki yang amat kuat, ia menyeruduk ke kanan dan Barongsai Buntut Putih terkena serudukan ini menjadi terjengkang ke belakang!

Hampir saja pemegang kepala barongsai jatuh kalau saja ia tidak cepat-cepat ditolong oleh pemegang ekor barongsai.

Kemudian dengan gerakan yang serupa, sambil membalikkan tubuh dengan indahnya.

Barongsai Mata Emas menyeruduk Barongsai Buntut Merah dan kembali barongsai ini terjengkang ke belakang.

Pengurus rombongan Barongsai Putih dan Barongsai Merah menjadi penasaran, lalu mereka maju memprotes.

Akan tetapi, pemimpin rombongan Barongsai Mata Emas, seorang yang usianya ada lima puluh tahun dan bertubuh jangkung kurus, melangkah maju dengan sikap tenang akan tetapi mulut tersenyum mengejek.

"Mengapa ribut-ribut?"

Katanya.

"Marilah kita sama lihat, siapa di antara tiga barong barongsai yang sanggup mengambil ang-pauw itu."

Agaknya pemimpin Barongsai Mata. Emas ini sudah dikenal baik oleh rombongan Barongsai Putih dan Merah, mereka menjura dengan sikap takut-takut lalu seorang di antara mereka berkata.

"Ciok-loya, harap maafkan kami, akan tetapi kami dengan rombongan kami yang datang lebih dulu."

"Hm, begitukah. Kalau begitu, mengapa kalian berebut? Sekarang begini saja, kita adukan tiga barongsai kita dan siapa yang terjatuh dianggap kalah dan tidak berhak mengikuti perlumbaan mengambil ang-pauw dari Gan-wangwe!"

Sambil berkata demikian, tanpa menanti jawaban ia lalu memberi tanda kepada kawan-kawannya penabuh gembreng dan tambur.

Mereka ini agaknya sudah berunding lebih dulu karena tiba-tiba tambur dan gembreng itu dipukul gencar, melagukan tambur perang.

Tentu saja dua barongsai yang lain maklum akan tanda ini, apalagi karena pihak mereka juga memainkan tambur dan gembreng tanda bertempur, maka tiga barongsai itu lalu siap sedia dengan gaya dan aksi masing masing.

Para penonton menjadi gembira bukan main.

Sudah banyak mereka menonton pertandingan pibu (adu kepandaian) antara ahli-ahli silat di panggung luitai (panggung tempat adu silat), akan tetapi mengadu barongsai?

Sungguh kejadian yang amat aneh dan tak pernah terjadi!

Gan-wangwe adalah seorang yang gembira dan juga tabah.

Ini tidak mengherankan karena dia adalah seorang harlawan besar yang selain mempunyai hubungan dengan para jagoan juga ia menjadi kesayangan para pembesar setempat.

Juga dia sendiri memelihara jago-jago dan tukang-tukang pukul.

Melihat betapa tiga barongsai itu akan "bertanding", ia lalu memberi perintah kepada para pelayan untuk mengeluarkan lebih banyak petasan lagi dan sebentar saja tempat bertanding tiga barongsai itu dihujani petasan.

Benar-benar luar biasa sekali tahun baru ini!

Lie Bu Tek sendiri, biarpun ia seorang yang banyak pengalaman dan sudah menghadapi hal yang aneh-aneh, selama hidupnya baru kali ini melihat barongsai bertanding tiga buah banyaknya sekaligus!

la maklum bahwa pertandingan macam ini jauh lebih sulit daripada pertandingan pibu biasa, karena sebagaimana diketahui, pemain barongsai terdiri dan pada dua orang, seorang pemegang kepala dan seorang memegang ekor.

Keduanya tertutup oleh kain yang merupakan "tubuh"

Barongsai sehingga sukar sekali melihat ke depan.

Pemegang kepala yang selalu di depan, tak dapat menggerakkan kedua tangan untuk bertempur, karena kedua tangannya sudah dipergunakan untuk memegang kayu pegangan di dalam kepala barongsai.

Hanya kedua kaki mereka yang bebas, sedangkan pandangan mata mereka pun amat terbatas dan terhalang yakni melalui mulut barongsai.

Dengan berdebar dan tegang Lie Bu Tek menonton dengan asyiknya, bahkan ia lalu memanggul Wan Sin Hong di pundaknya agar bocah ini dapat menonton dengan leluasa, tidak terhalang oleh lain orang penonton.

Maka terjadilah "pertempuran"

Yang hebat.

Kalau saja pertempuran itu hanya merupakan permainan tiga barongsai sekaligus, biarpun sudah amat indah, agaknya tidak menimbulkan suasana yang demikian tegangnya.

Tambur dan gembreng dipukul sekeras-kerasnya, petasan hujan di atas kepala tiga barongsai itu.

"Hem, pertempuran yang curang,"

Kata Lie-Bu Tek dalam hatinya.

"Terang sekali barongsai Mata Emas dikeroyok dua."

Memang demikianlah keadaannya.

Barongsai bermata emas yang kepalanya lebih besar dan berat dan gerakan-gerakan kakinya demikian teratur tanda bahwa yang memainkannya memiliki ilmu silat yang tinggi dikeroyok dua oleh barongsai Pek-bwe-sai dan Ang-bwe-sai.

Agaknya dua orang yang memainkan Barongsai Buntut"

Putih dan Buntut Merah ini tahu aka kelihatan lawan, muka mereka yang tadinya berebut ang-pauw kini menjadi kawan mengeroyok Barongsai Mata Emas.

Namun, sebentar saja pertandingan itu berakhir.

Ketika Barongsai Buntut Putih dan Barongsai Buntut Merah menyerang dari kanan kiri, menyecruduk ke arahb pemain Barongsai Mata Emas, tiba-tiba Barongsai ini melompat keras sekali ke belakang sehingga dua barongsat yang mengeroyoknya saoling beradu kepala sendiri.

Tiba-tiba pemain Barongsai Mata Emas menggerakkan kakinya susul-menyusul.

Terdengar suara "tak!

tak!"

Dan, dan pemain-pemain barongsai yang mengeroyok itu roboh sambil berteriak kesakitan.

Ternyata bahwa tulang kering mereka telah patah oleh tendangan lawan tadi.

Baiknya mereka cepat-cepat melepaskan kepala barongsai masing-masing, karena pemain Barongsai Mata Emas itu cepat menghampiri kepada Barongsai Buntut Putih dan sekali ia menendang, pecahlah kepala barongsai ini.

Setelah itu, ia menggerakkan barongsai dan memukulkan kepala barongsai ini ke atas Barongsai Buntut Merah, terdengar suara keras dan kepala barongsai ini pun hancur!

Otomatis penabuh-penabuh gembreng, tambur dan barongsai-barongsai yang terkalahkan menghentikan permainan mereka.

Semua orang menjadi pucat dan semata yang terdengar hanyalah permainan tambur dan gembreng dari Barongsai Mata Emas, dipukul perlahan-lahan sedangkan barongsai itu sendiri menari-nari dengan gaya sombong sekali.

Kepala barongsai diangkat tinggi-tinggi, diputar ke kanan kiri seakan-akan seekor singa hidup mencari lawan baru!

Dalam mengangkat barongsai ini kelihatanlah muka si Pemain, dan terkejutlah Lie Bu Tek.

la mengenal muka ini, muka seorang penjahat besar di daerah selatan Sungai Huang-ho yang bernamu Lee Kan Sek, berjuluk Thiat-say atau Singa Besi!

Agaknya dua rombongan yang dikalahkan juga mengenal orang ini karena mereka menjadi makin ketakutan dan gelisah sekali.

Hartawan Gan, seorang, yang gemuk pendek dan bermuka periang, merasa hawatir juga melihat kesudahan dari permainan ketiga barongsai ini.

la lalu keluar dan dengan suara ramah-tamah berkata.

"Cuwi sekalian, kami merasa terima kasih sekali bahwa cuwi dan ketiga rombongan telah sudi meramaikan rumahku dengan permainan barongsai yang amat indah. Karena sudah jelas bahwa rombongan Kim-gan-sai menang ia berhak mencoba untuk mengambil ang-pauw yang saya gantungkan di atas. Agar dapat diketahui oleh umum, di dalam ang-pauw itu terisi emas sebanyak lima tail. Akan tetapi, bagi rombongan yang barongsai yang dikalahkan, saya akan menyumbang masing-masing dua tail emas untuk memperbaiki barongsai mereka yang rusak. Harap saja urusan ini dibikin habis sampai di sini saja."

Para penonton bersorak girang memuji kebaikan hati hartawan itu, yang sesungguhnya melakukan sumbangan bukan karena kebaikan hatinya, akan tetapi untuk mencegah terjadinya kerilbutan dan terutama sekali untuk mencari nama baik dengan sumbangan-sumbangannya yang royal atau tegasnya, sebagai reklame saja!

Tiba-tiba Tiat-sai Lee Kam Sek berseru keras dan sekali ia melompat, barongsainya telah berhasil "menggigit"

Ang-pauw yang tergantung setinggi tiga tombak itu."

"Gerakan Pek liong-seng-thian (Naga Putih Naik ke Langit) yang indah!"

Tak terasa pula Lie Bu Tek memuji.

Mendengar ini, dari lubang mulut barongsai Lee Kan Sek mencari-cari siapa orangnya yang mengeluarkan pujian ini, akan tetapi oleh karena tempat itu penuh dengan penonton, ia tidak dapat mencarinya.

Dengan gerakan yang kuat sekali, ia melontarkan barongsai ke atas setinggi tombak sambil berseru.

"Cong-te (Adik Cong), terimalah!"

Dan rombongan pemain Kim-gan-sai melompat seorang laki-laki bertubuh kate dan dengan cekatan sekali ia menerima kepala barongsai itu, demikian pula seorang pemain lain menggantikan kedudukan pemain buntut barongsai.

Demontrasi ini disambut dengan tepuk tangan riuh oleh penonton.

Tiat-sai Lee Kan Sek lalu menghampiri rombongan Pek-bwe-sal dan Ang hwe-sai sambil berkata sombong.

"Kalian sudah menjadi pecundang, dan lekaslah enyah dari sini! Sebelum kami berhenti bermain di kota ini, kalian tidak boleh muncul, juga tidak boleh menerima sumbangan dan siapapun juga. Karena itu sumbangan dan Gan-wangwe juga boleh kalian terima. Ada yang tidak setuju?"

Kata-kata ini merupakan tantangan terbuka.

Akan tetapi rombongan Pek-bwe-sai dan Ang-bwe-sai yang sudah tahu bahwa perkumpulan yang mengeluarkan Kim-gan-sai amat kuatnya, juga di situ terdapat pula jagoan ini menjadi gentar dan dengan kepala tunduk mereka bersiap-siap untuk pergi.

Gan-wangwe yang melihat ini diam saja, karena hal itu dianggap bukan urusannya.

Juga hartawan ini tahu diri, ia tidak mau menanam bibit permusuhan dengan perkumpulan Bu-cin-pang yang mengeluarkan Kim gan-sai itu.

Akan tetapi pada saat itu tiga orang pengemis yang berpakaian baru akan tetapi penuh dengan tambalan melompat maju sambil berkata.

"Tidak adil! Tidak adil"

Dari pada emas dan sumbangan diberikan kepada jagoan-jagoan sombong yang pada hakekatnya tak lain daripada perampok-perampok keji, lebih baik disumbangkan kepada jembel-jembel seperti kami!"

Sambil berkata demikian, seorang di antara mereka yang bertubuh jangkung bermuka kuning bergerak cepat sekali dan tahu-tahu ia telah merampas ang-pauw yang tadi disambar oleh barongsai Kim-ga sai!

Bungkusan ang-pauw ini telah dipegang oleh seorang anggauta rombongan sebagai bendahara dan orang ini tidak dapat mengelak lagi karena gerakan pengemis itu benar-benar cepat sekali.

Bukan main marahnya rombongan Kim-gan-sai dan orang-orang yang tadinya menonton, cepat-cepat menyingki karena maklum bahwa tentu akan terjadi keributan hebat.

Semua orang kini mencurahkan perhatian mereka kepada tiga orang pengemis aneh itu.

Keadaan mereka benar-benar aneh.

Perampas ang-pauw tadi bertubuh kurus jangkung, bermuka kuning dan biarpun pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi terbuat dari kain yang baru semua!

Demikian juga dua orang kawannya memakai pakaian penuh tambalan, yang seorang kurus kecil seperti orang cacingan, yang kedua bertubuh gemuk dan bundar seperti katk dan mulutnya selalu tersenyum lebar.

Ketika Lie Bu Tek ikut memandang, menjadi tertegun dan heran.

"Hemm, mereka ini dari Hek in-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Hitam), mengapa muncul di sini?"

Pikirnya. Sementara itu, pengemis kurus yang meraumpas ang-pauw, lalu membuka bungkusan itu dan memberi dua tail kepada Pek-bwe-sai dan Ang-bwe-sai, katanya tertawa.

"Gan-wangwe telah berbaik hati mengganti kerugian kalian, nah, terimalah bagian kalian dan segera pergilah. Sisanya yang satu tail untuk kami jembel-jembel miskin."

Dua rombongan yang barongsainya rusak, menerima dengan takut-takut, akan tetapi mereka tahu diri dan cepat-cepat pergi dan tempat itu.

Hanya sebagian yang tabah saja diam-diam mencampurkan diri dengan penonton untuk mengetahui bagaimana kelanjutan pertengkaran itu.

Tiat-sai Lee Kan Sek menjadi merah mukanya.

Alisnya berdiri dan giginya dikerutkan.

Kalau tadi ia tidak segera turun tangan, adalah karena ia mengenaI pula pengemis-pengemis yang pada pinggangnya diikat sabuk hitam.

Ia menjura kepada Si Jangkung sambil berkata.

"Tuan-tuan dari Hek-in-kaipang mengapa mencampuri urusan permainan barongsai? Kalau Cuwi hendak mencari nafkah di saat tahun baru ini, mengapa tidak mengambil jalan lain?"

Pengemis jangkung itu tertawa.

"Sudah lama kami mendengar nama perkumpulan Bu-cin-pang di kota Keng-sin-bun yang tersohor galak dan mempunyai banyak pengurus yang gagah perkasa. Bahkan sudah lama kami kagum akan nama ketuanya, yakni Ma Ek Lo-eng-hiong yang berjuluk Siang-pian Giam-ong (Raja Maut Bersenjata Sepasang Pian). Akan tetapi tidak tahunya pada hari baik ini kami menyaksikan perbuatan yang amat galak dari Bu-cin-pang. Perbuatan sewenang-wenang, tapi apakah tanggung jawab Bu-cin-pang ataukah kau orang she Lee yang sengaja hendak membusukkan nama Bu-cin-pang dan memperlihatkan kegagahan?"

Thiat-sai Lee Kan Sek marah sekali, mukanya yang sudah merah itu menjadi makin merah, matanya mendelik.

"Kalau aku orang she Lee memandang muka Nona Kiang Cun Eng yang menjadi Pangcu (Ketua) Hek-in-kaipang, apa kalian kira aku dapat menahan sabar lagi? Hai, orang-orang Hek-in kaipang! Kalau kalian perlu sumbangan, tidak apa uang lima tail emas itu kalian ambil, akan tetapi jangan kalian menghina nama Bu-cin-pang! Hinaan harus dibayar dengan pukulan kecuali kalau si penghina minta maaf sambil berlutut. Pilih saja sekarang, minta maaf atau dihajar?"

Pengenns jungkung itu tertawa terbahak-bahak.

"Aku Hek-lo-kai (Pengemis tua Hitam) selamanya memang menjadi pangemis, akan tetapi minta maaf kepada seorang pencoleng? Aha, hal ini selamanya aku tidak pernah dan tak sudi lakukan! Bagaimana dengan kalian!"

Ia bertanya kepada dua orang kawannya.

"Pengemis makan pun dari seorang pencoleng aku Siauw-mo-kai (Pengemis Setan Cilik) tak sudi lakukan, apalagi minta maaf?"

Jawab pengemis yang bertubuh kurus kecil.

"Ha, ha, ha, perutku penuh makanan dari orang-orang yang menaruh hati kasihan kepadaku. Akan tetapi aku belum pernah minta apa-apa dari pencoleng, apalagi minta maaf, jangan harap Oei-bin-kai (Pengemis Muka Kuning) sudi lakukan!"

Jawab pengemis gendut yang memang bermuka kuning itu sambil tertawa-tawa.

"Kurang ajar, kalau begitu kalian sudah bosan hidup!"

Bentak Tiat-sai Lee Kan Sek dan di lain saat ia telah mencabut sebatang golok besar sambil memberi tanda kepada kawan-kawannya.

Sebentar saja tiga orang pengemis itu sudah dikurung oleh sebelas orang Bu-cin-pang yang memegang senjata tajam.

Akan tetapi tiga orang pengemis itu tidak gentar biarpun mereka hanya memegang sebatang tongkat hitam yang tidak karuan macamnya, ada yang bengkok-bengkok ada yang lurus.

"Serang!"

Lee Kan Sek memberi aba-aba sambil menerjang pengemis jangkung dengan goloknya.

Hek-lo-kai menangkis dan membalas dengan totokan tongkatnya.

Ternyata ia lihai sekali dan begitu menangkis dapat membalas serangan lawannya.

Akan tetapi Lee Kan Sek juga lihai ilmu goloknya, cepat dapat menangkis dan terus membabat.

Kawanan Bu-cin-pang sudah serentak maju dan terjadilah pertempuran yang hebat dan mato-matian.

Suara senjata beradu dengan tongkat menerbitkan suara nyaring, tanda bahwa ternyata tongkat-tongkat itu pun terbuat daripada logam keras seperti baja.

Gan-wangwe cepat memasuki gedungnya, mempersiapkan orang-orangnya untuk menjaga pintu depan, sedang dia sendiri lalu naik ke loteng untuk menonton pertempuran itu dari atas.

Orang-orang yang tadi mengerumuni tempat itu lalu bubar dan hanya menonton dari jauh dengan hati berdebar-debar.

Kalau pertempuran sudah demikian hebat berarti akan ada nyawa melayang dan tentu saja mereka merasa ngeri.

Hanya Lie Bu Tek memondong Wan Sin Hong masih berdiri tenang.

"Gihu, aku benci pemain-pemain barongsai itu. Mereka orang-orang jahat. Mengapa Gi-hu tidak membantu para pengemis yang dikeroyok?"

Kata Sin Hong penasaran.

"Tak perlu, Kepandaian tiga orang pengemis Hek-kin-kaipang itu tak boleh dibuat main-main dan mereka tak kan kalah kalau hanya dikeroyok oleh sebelas orang itu,"

Jawab Lie Bu Tek dan melihat pada pengemis anggauta Hek-in-kaipang itu teringatlah ia akan semua pengalamannya dahulu dengan Nona Kiang Cun Eng, ketua dari Hek-kin-kaipang yang cantik dan genit.

Tak terasa lagi merahlah mukanya saking malu dan jengah.

Di dalam cerita Pendekar Budiman (Hwa I Enghiong) telah diceritakan, bagaimana Lie Bu Tek pernah terjatuh dibawah pengaruh kecantikan Kiang Cun Eng dan menjadi seorang tak berdaya, dipermainkan seperti boneka.

Baiknya akhirnya ia dapat melepaskan diri dari pengaruh Nona Ketua Perkumpulan Hek-kin-kaipang itu.

Sekarang tak terduga-duga ia bertemu dengan anggauta-anggauta Hek-kin-kaipang, tentu saja semua pengalaman itu terbayang kembali dan ia merasa malu kepada diri sendiri.

Akan tetapi ucapan Lie Bu Tek tadi ternyata tidak keliru.

Kepandaian tiga orang pengemis itu benar-benar lihai.

biarpun dikeroyok oleh sebelas orang, mereka tidak terdesak, bahkan berturut-turut telah berhasil merobohkan enam orang!

Yang masih dapat mengimbangi kepandaian mereka hanya Tiat-sai Lee Sek dan empat orang kawannya, akan tetapi Singe Besi ini dengan kawan-kawannya juga sudah mulai terdesak oleh permainan tongkat yang lihai dari tiga orang pengemis itu.

Pada saat pertempuran sedang ramai-ramainya, tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang laki-laki tinggi kurus yang bermuka pucat.

Laki-laki memandang marah dan membentak.

"Berhenti! Tahan semua senjata!"

Bagi Lee Kan Sek dan kawan-kawannya yang mengenal suara ini sebagai suara ketua mereka, tentu saja tidak berani membantah dan cepat melompat ke belakang, Adapun tiga orang pengemis itu pun terkejut karena bentakan nyaring sekali, tanda bahwa orangnya memiliki lweekang yang tinggi.

Mereka cepat melompat mundur dan memandang.

Orang itu mengeluarkan kata-kata yang tegas.

"Selamanya Bu-cin-pang tidak pernah ada urusan dengan Hek-kin-kaipang. Pada hari baik ini mengapa orang Hek-kin-kai-pang sengaja menghina kami? Apakah orang Hek-kin-kaipang sudah tidak memandang mukaku lagi ataukah sengaja hendak mencari permusuhan?"

Hek-lo-kai yang agaknya menjadi wakil dua orang kawannya, segera maju dan berkata.

"Ma-lo-enghiong harap suka memaafkan kami bertiga. Sesungguhnya bukan kami yang "

Mencari permusuhan, tetapi karena kami melihat sepak-terjang orang she Lee dan kawan-kawannya amat jahat dan sewenang-wenang, terpaksa kami berlancang tangan, membantu Lo-enghiong untuk memperingatkan mereka.

Harap Lo-enghiong suka menegur mereka itu agar mereka tidak menyeret nama Bu-cin-pang yang harum ke lembah pecomberan."

Orang itu memang Siang-pian Ciam, Ma Ek, ketua Bu-cin-pang yang tadi menerima laporan dari seorang anak buahnya tentang peristiwa yang terjadi di depan gedung Gan-wanggwe.

Mendengar pengemis tinggi itu bukan minta maaf atas kesalahan mereka akan tetapi sebaliknya menjelekkan nama baik para anggautanya, bahkan menyuruh ia menegur anggauta-anggautanya sendiri, bukan main marahnya.

Kumisnya yang pendek itu seakan-akan berdiri dan sekali tangannya bergerak tahu-tahu ia telah memegang siang-pian (senjata ruyung lemas) yang arnanya kchijauan.

"Hm, hem, memang aku harus menegur mereka yang tidak punya guna, mudah saja terhina oleh tiga orang pengemis sombong. Biarlah aku yang akan menebus kebodohan mereka itu. Sambutlah!"

Tiga orang pengemis itu terkejut sekali ketika melihat dua sinar hijau menyambar. Mereka cepat mengangkat tongkat untuk menangkis.

"Krak! Krak! Krak!"

Tiga batang tongkat itu patah pada tengah tengahnya! Tiga orang pengemis itu menjadi terkejut sekali dan melompat mundur dengan muka pucat.

"Kami orang orang Hek-kin-kaipang hari ini menerima pelajaran dari Ma Ek Lo-enghlong dan mengaku kalah. Biar lain kali ketua kami akan datang menghaturkan terima kasih,"

Kata Hek-lo-kai sambil menjura. Akan tetapi sekali menggerakkan kakinya, Siang-pian Giam-ong sudah melompat menghadapi mereka.

"Enak saja kalian ini, sudah menghajar orang-orangku akan angkat kaki dengan mudah! Agar ketuamu Nona Kiang Cim Eng percaya akan penuturanmu, kalian harus meninggalkan sebelah telinga di sini."

Setelah berkata demikian, sepasang piannya bergerak cepat hendak menghancurkan sebelah telinga tiga orang itu.

"Traaang! Traaang!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pian itu beradu dengan sebatang pedang yang menangkis serangan dua senjata pian itu.

Lie Bu Tek ketika melihat bahaya meugancam tiga orang pengemis itu, telah melemparkan tubuh Sin Hong ke atas lapangan pertempuran sedangkan ia sendiri lalu melompat dan menangkis sepasang pian itu.

Selagi Siang-pian Giam-ong yang kaget melompat ke belakang, Lie Bu Tek berseru keras.

"Turunlah, Hong-ji!"

Tubuh Sin Hong tadi dilontarkan ke atas dan kini meluncur ke bawah dan Anak yang sudah terlatih baik ini dapat meluncur turun dengan kedua kakinya di bawah.

Akan tetapi, melihat ayah angkatnya hendak menyambut kedua kakinya ia merasa kurang ajar sekali kalau ia membiarkan kedua tangan ayah angkatnya menerima telapak kakinya yang kotor.

Maka dengan gerakan loh-be (semacam salto) atau poksai di tengah udara sehingga kini ia meluncur dengan kepala di bawah.

Para penonton yang melihat hal ini menahan napas, khawatir kalau-kalau anak itu akan mendapat bencana.

Akan tetapi dengan tenang Sin Hong menggunakan kedua tangannya ke bawah, diterima oleh kedua tangan Bu Tek yang sudah menancapkan pedang di atas tanah dan sekali gerakan tangan orang gagah ini membuat Sin Hong berjumpalitan dan tiba di atas tanah dalam keadaan berdiri tegak, sedikit pun tidak bergoyang atau kehilangan keseimbangan badan.

"Lie Bu Tek Taihiap...!"

Hek-lo-kai mengenaI pendekar ini yang dulu pernah menjadi kekasih Kiang Cun Eng ketua Hek-kin-kaipang.

"Kalian pulanglah, biarkan aku menghadapi Bu-cin-pang dan mintakan maaf untukmu."

Kata Lie Bu Tek.

Pertemuan dengan anggauta-anggauta Hek-kin-kai-pang tidak menyenangkan hatinya karena mengingatkan ia akan pengalamannya yang memalukan dengan ketua perkumpuim pengemis itu.

Hek-lo-kai dan kawan-kawannya menjura menghaturkan terima kasih, lalu berjalan pergi menyelinap di antara ratusan orang yang berkumpul di tempat itu.

Lie Bu Tek mencabut pedangnya dari tanah, lalu menjura kepada Siang-pian Giam-ong Ma Ek yang memandang dengan mata merah.

"Siang-pian Gian-ong Ma Ek Lo-enghiong siauwte Lie Bu Tek mohon dengan hormat, sukalah Lo-enghiong menghabiskan urusan ini sampai di sini saja dan suka memaafkan tiga orang tua dari Hek-kin-kaipang itu. Mengingat akan hari baik ini, tentu Lo-enghiong sudi memandang muka siauwte dan memaafkan mereka."

Siang-pian Giam-ong tahu bahwa orang yang menangkis siang-piannya ini memiliki kepandaian tinggi, maka ia berlaku hati-hati dan biarpun ia marah sekali, bertanya.

"Kau ini dan golongan mana dan murid siapakah berani mencampuri urusa Bu-cin-pang?"

Kalau Bu Tek ingin mencari perkara, tentu ia takkan memperkenalkan perguruannya, akan tetapi oleh karena ia benar-benar mengharapkan perdamaian, ia lalu menjawab terus terang.

"Siauw te adalah anak murid Hoa-san pai. Sehingga kita boleh dibilang masih tetangga dekat. Sekali lagi, kalau Lo-enghiong tidak mau memandang muka siauwte, harap mengingat perhubungan dengan guruku, Liang GI Tojin."

Mendengar bahwa Lie Bu Tek adalah anak murid Hoa-san-pai, Siang pian Giam-ong Ma Ek lalu tertawa bergelak dengan suara menghina sekali.

"Aha, tidak tahunya murid Hoa-san pai. Sudah lama aku mendengar murid-murid Hoa-san-pai banyak yang melakukan perbuatan memalukan. Saudara Lie Bu Tek, tidak tahu apakah benar berita-berita yang kudengar tentang anak murid Hoa-san-pai yang tidak tahu main? Kabarnya ada seorang murid perempuan yang telah menikah dengan seorang pangeran bangsa Kin. Menikah dengan pangeran musuh pada saat rakyat sedang berjuang mati-matian mengusir bangsa Kin, benar-benar luar biasa sekali. Ada lagi yang selalu menimbulkan kerusuhan, memusuhi tokoh-tokoh dari lain partai persilatan, mengandalkan kepandaiannya sendiri."

"Ma-enghiong, harap kau jangan menghina kami orang-orang Hoa-san!"

Kata Lie Bu Tek menahan marahnya. TeIinganya sudah panas mendengar betapa perbuatan saudara-saudara seperguruannya dikecam demikian pedas.

"Siapa menghina aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya belaka, bagaimana dianggap menghina? Kaulah yang, menghina kami, kau berlancang mencampuri urusan kami. Sekarang aku percaya bahwa memang anak murid Hoa-san-pai sombong-sombong. Agaknya Liang Gi To-jin sudah tak dapat mengajar murid-muridnya lagi."

"Tutup mulutmu!"

Lie Bu Tek membentak marah mendengar nama suhunya dibawa-bawa.

"Tarik kembali omonganmu menghina Suhu, kalau tidak aku akan memaksamu!"

"Bocah sombong sambutlah siang-pian ku!"

Sambil berkata Ma Ek tertawa mengejek.

"Hendak kulihat bagaimana kehendak memaksaku?"

Demikian Ma Ek lalu menggerakkan kakinya maju dan mainkan siang-pian melakukan serangan hebat.

"Hong-ji, mundur kau!"

Seru Lie Bu Tek kepada putera angkatnya.

Anak ini melompat mundur, akan tetapi tidak terlalu jauh karena ia ingin sekali melihat bagaimana ayah angkatnya memberi hajaran kepada manusia sombong itu.

Sementara itu, dengan pedangnya, Lie Bu Tek menangkis datangnya siang-pia lalu membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Selama beberapa tahun ini, kepandaian Lie Bu Tek telah meningkat cepat karena segala pengalamannya yang sudah lalu mengingatkannya bahwa kepandaiannya masih amat rendah tingkatnya.

Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat memang indah dan cepat.

Sungguhpun sepasang pian di tangan Ma Ek bergerak cepat dan kuat, namun ia masih kalah kalau dibandingkan dengan Lie Bu Tek.

Pertempuran hebat terjadi dan beberapa kali terdengar suara nyaring kalau pedang bertemu dengan pian, dan bunga api berpijar ke sana ke mari.

Dalam pertemuan senjata ini, Ma Ek selalu merasai tangannya tergetar dan piannya tertolak kembali.

Memang Lie Bu Tek adalah seorang murid Hoa-san-pai yang memiliki tenaga lweekang paling tinggi.

Ia langsung menerima latihan dari Liang Gi Tojin, tokoh pertama dari Hoa-san-pai.

Lie Bu Tek tahu bahwa kalau ia memperoleh kemenangan, akhirnya ia tentu akan dikeroyok oleh orang-orang Bu-cin-pang.

Pengeroyokan ini tentu saja tidak ia takuti kalau saja ia tidak mengingat bahwa ia berada di situ bersama Wan Sin Hong putera angkatnya.

Kalau sampai terjadi pengeroyokan, tentu keselamatan puteranya itu akan terancam dan ia belum tentu dapat melindungi dengan baik.

"Lepaskan senjata!"

Lie Bu Tek tiba-tiba berseru keras sambil mengerahkan seluruh tenaganya, menghantam pian kanan lawannya dengan pedang.

Terdengar suara nyaring dibarengi pekik Siang-pian Giam-ong Ma Ek yang benar-benar tak dapat menahan hantaman ini dan pian di tangan kanannya telah terlepas dari pegangan!

Lie Bu Tek cepat menjura dan berkata.

"Ma-lo-enghiong, harap maafkan sauwte dan terima kasih bahwa kau orang tua sudah mengalah!"

Tanpa menanti jawaban lagi, Lie Bu Tek menyambar tubuh Sin Hong dengan tangan memondong anak itu dan melompat pergi cepat sekali.

Tepat seperti dugaannya, Ma Ek tidak mau sudah sampai di situ saja dan kalau sekiranya Lie Bu Tek tidak lekas-lekas lari tentu ia akan dikeroyok.

Kini Ma-Ek hanya dapat menyambitkan tiga batang piauw ke arah punggung Lie Bu Tek.

Pendekar ini sudah menduga akan hal itu, maka ia belum menyimpan pedangnya.

Tanpa menoleh, ia menggerakkan pedang ke belakang dan berhasil menyampok runtuh tiga batang piauw itu.

Di lain saat ia telah lenyap dan sebuah tikungan jalan dan cepat-cepat ia lari keluar kota, terus mempergunakan ilmu lari cepat mendaki Bukit Hoa-san.

"Gi-hu, kau menang mengapa melarikan diri?"

Tanya Wan Sin Hong dengan suara mengandung penasaran.

"Kalau tak lari mereka akan mengeroyokku, Hong-ji."

"Lebih balk lagi! Kau bisa menghajar semua buaya darat itu Gihu. Membasmi penjahat harus sampai dengan akar-akarnya. Lie Bu Tek tersenyum. Kata-kata yang diucapkan oleh Sin Hong ini adalah kata-katanya sendiri yang pernah diajarkan kepada anaknya itu. Memang Lie Bu iek telah banyak menjejalkan sifat-sifat pendekar kepada anaknya ini dan ternyata bahwa otak anak ini luar biasa tajamnya, dapat mengingat setiap pelajaran, baik pelajaran bun maupun bu.

"Mereka belum tentu penjahat-penjahat yang harus dibasmi, Hong-ji. Keributan yang baru saja terjadi hanya disebabkan oleh persoalan kecil belaka, tak perlu menanam bibit permusuhan hebat karena persoalan kecil."

"Akan tetapi Ma Ek tadi telah menghina Hoa-san-pai seperti yang Gi-hu katakan sendiri! Penghinaan bukanlah kecil. Dia mengatakan fitnah yang keji-keji terhadap anak murid Hoa-san-pai!"

"Bukan fitnah Hong-ji, memang yang ia katakan tadi semua betul dan pernah terjadi."

"Apa? Murid perempuan Hoa-san-pai menikah dengan pangeran bangsa Kin? Tak mungkin! Bukankah menurut Gi-hu, semua murid Hoa-san-pai membantu perjuangan mengusir orang-orang Kin? Betulkah itu? Murid Hoa-san-pai yang mana yang telah menikah dengan pangeran bangsa Kim?"

Lie Bu Tek menahan napas.

Apa yang harus ia jawabkan?

Anak ini sudah mulai besar dan telah dapat mempergunakan akal budi dan pikirannya.

Lebih baik ia berterus terang.

Ia lalu menurunkan anak itu dan mengajaknya duduk di bawah pohon.

"Jangan kau kaget Hong-ji. Murid perempuan yang menikah dengan Pangeran Kim itu bukan lain adalah mendiang ibumu sendiri, Thio Ling In sumoi!"

Sin Hong melompat berdiri seperti diserang ular. Wajahnya yang tampan Menjadi pucat sekali dan matanya memandang kepada Lie Bu Tek seperti memandang iblis yang muncul di tengah hari.

"Gihu... kalau begitu... kalau begitu mendiang ayahku... dia...."

Lie Bu Tek mengangguk.

"Mendiang ayahmu adalah pangeran Kin itulah, namanya Wan-yen Kan dan telah menikah dengan Ibumu, menjadi Wan Kan dan menjadi seorang Han."

"Tak mungkin! Gi-hu bilang bahwa orang-orang Kin jahat. Tak mungkin orang Kin jahat menjadi Ayahku!"

Anak ini mengeluarkan kata-kata sambil berteriak-teriak marah, mukanya merah sekali sekarang dan dua titik air mata mengalir ke atas pipinya, dua tangannya yang dikepalkan erat-erat.

Lie Bu Tek menangkap tangan anak itu dan menariknya ke atas pangkuannya lalu ia mengelus-elus rambut itu penuh kasih sayang.

"Tidak semua orang Kin jahat, anakku, seperti juga tidak semua bangsa kita baik. Ada orang jahat tentu ada orang baik, demikian sebaliknya. Ayahmu, biarpun seorang pangeran Kin, namun ia benar-benar seorang gagah yang berbudi mulia. Kau tak usah kecewa atau malu mempunyai seorang ayah seperti dia, biarpun dia seorang pangeran musuh."

Tak tertahankan lagi menangislah Wan Sin Hong di atas pangkuan ayah angkatnya.

"Hong-ji, tak baik seorang laki-laki menangis."

Kata Lie Bu Tek setelah ia membiarkan anak itu menangis beberapa lamanya. Wan Sin Hong cepat menyapu matanya dengan ujung bajunya dan memandang kepada ayah angkatnya dengan mata memohon.

"Gihu, ceritakanlah semua tentang mendiang Ayah Bundaku, ceritakanlah tentang Hoa-san-pai dan anak-anak muridnya."

"Baiklah, Sin Hong. Kau akan kubawa menghadap kepada Sucouwmu, memang baik kalau kau mendengar tentang keadaan Hoa-san-pai agar kau tahu jelas segala persoalannya."

Kemudian Lie Bu Tek menceritakan semua kejadian yang lalu sebagaimana yang telah dituturkan di dalam cerita "Pendekar Budiman".

Akan tetapi bagi para pembaca yang belum pernah membaca cerita Pendekar Budiman, baiklah kita rnendengarkan penuturan singkat dari Lie Bu Tek.

"Tokoh Hoa-san-pai ada empat orang."

Lie Bu Tek mulai bercerita.

"Pertama adalah guruku sendiri yakin Liang Gi Tojin, ke dua Liang Bi Suthai yang sudah gugur dalam pertempuran. Liang Bi Suthai seorang murid wanita, yakni Thio Ling In sumoi."

"Ibuku?"

Tanya Sin Hong.

"Ya, Ibumu. Tokoh ke tiga adalah ang Siang Tek Sianseng yang mempunyai murid Gan Hok Seng sute."

"Kau maksudkan Paman Hui-houw (Macan Terbang) yang tinggal di Kanglam?"

"Benar, dialah Hui-houw Gan Hok Seng yang sekarang menjadi kepala Piauwsu di Kanglam. Kemudian, tokoh ke empat adalah Tan Seng. Dia ini membawa seorang anak perempuan bernama Liang Bi Lan yang kemudian menjadi murid dari semua tokoh Hoa-san, memiliki kepandaian paling tinggi, bahkan kemudian menjadi murid orang pandai dan akhirnya menikah dengan pendekar besar Go Ciang Le."

"Apakah kau maksudkan Hwa I Enghiong (Pendekar Baju Kembang))"

"Benar dia. Sayang sudah lama aku tidak bertemu dengan dia dan lebih sayang lagi kau belum pernah melihatnya. Dialah pendekar yang sudah menggemparkan dunia kang-ouw beberapa tahun yang lalu. Kelak tentu aku akan membawamu menghadap pendekar besar itu, karena kalau kau bisa menerima bimbingan ilmu silat dari dia, kau akan beruntung sekali."

"Lalu bagaimana dengan Ibuku? Bagaimana dia bisa menikah dengan seorang pangeran Kin?"

"Pada masa itu, kami semua anak murid Hoa-san pai berjuang untuk menggulingkan pemerintah Kin. Akan tetapi ibumu bertemu dengan seorang pemuda, yakni Ayahmu yang pada waktu itu mempergunakan nama Han yakni Wan yen Kan. Dalam pertemuan ini mereka saling mencintai. Ibumu sama sekali tidak tahu bahwa Wan Kan adalah Pangeran Wanyen Kan. Setelah mereka menikah, barulah Ibumu tahu. Hampir saja ayahmu dibunuh oleh Ibumu sendiri, akan tetapi baiknya cinta kasih mereka terlalu mendalam sehingga hal itu tidak pernah terjadi."

Lie Bu Tek menarik napas panjang dengan terharu sekali mengenangkan nasib sumoinya yang ia cintai itu.

"Memang Ayah salah! Mengapa tidak secara laki-laki mengaku bahwa dia seorang pangeran Kin? Dia menipu Ibu""

"Tidak boleh kau berkata demikian, Hong-ji. Ayahmu benar-benar seorang baik dan biarpun dia pangeran Kin, namun ia tidak suka akan pemerintahnya sendiri. Oleh karena itulah maka ia rela meninggalkan kedudukan sebagai pangeran, hidup sebagai orang biasa menikah dengan lbumu. Bahkan ia boleh dibilang diusir oleh kaisar karena nekad hendak mengawini seorang wanita Han. Namun Ayahmu lebih memberatkan Ibu mu dari pada kedudukan dan harta benda. Dia seorang mulia!"

Untuk beberapa lama keduanya berdiam diri. Di dalam hati Sin Hong, kalau tadi ia membenci ayahnya, kini diam-diam merasa bangga karena ayahnya dipuji-puji oleh ayah angkatnya.

"Mengapa kemudian Ayah Bunda mati Gi-hu? Mereka tentu masih muda mengapa mati keduanya?"

Lie Bu Tek menarik napas panjang, masih berduka kalau mengingat akan keburukan nasib Thio Ling In, sumoinya yang amat dicintainya itu.

"Ayahmu dibunuh oleh gurunya sendiri yang bernama Ba Mau Hoatsu. Ibumu juga."

"Mengapa, Gi-hu? Mengapa Ba Mau Hoatsu membunuhi muridnya sendiri?"

"Ba Mau Hoatsu termasuk seorang pembela pemerintah Kin dan memusuhi para pejuang rakyat. Melihat muridnya yang sebetulnya seorang pangeran Kin telah lari menyeberang, yakni menikah dengan seorang wanita pihak musuh. Ba Mau Hoatsu menjadi marah dan juga merasa malu. Oleh karena itu, ketika kau masih berusia setahun. Ba Mau Hoatsu datang ke rumah orang tuamu dan membunuh mereka. Baiknya kau sedang keluar bersama inang pengasuh sehingga kau terluput daripada bahaya maut."

Sampai lama anak itu diam saja, tangannya terkepal dan matanya mengeluarkan sinar. Kemudian ia berkata, (Lanjut ke

Jilid 02) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02

"Gi-hu pada suatu hari, aku pasti akan dapat menewaskan Ba Mau Hoatsu itu untuk membalas dendam Ayah-bundaku."

Suaranya tenang dan tetap, biarpun diucapkan oleh anak kecil, namun mendatangkan keseraman.

"Bagus kalau kau mempunyai pikiran demikian, Nak. Akan tetapi kau harus belajar ilmu silat sampai tinggi. Harus jauh lebih tinggi darit kepandaianku, malah lebih tinggi daripada kepandaian Sucouwmu, karena ilmu kepandaian dari Ba Mau Hoatsu amat lihai. Hanya Tayhiap (Pendekar Besar) Go Ciang Le dapat mengalahkannya, oleh karena itu kalau saja kau dapat menghadapi Ba Mau Hoatsu."

Mendengar ini Sin Hong kecewa dan mengerutkan kening.

"Begitu lihaikah Ba Mau Hoatsu? Pantas saja Ayah dan Ibu kalah dan tewas. Gi-hu, kalau dia lebih lihai daripada Gi-hu atau Sucouw, habis untuk apakah Gi-hu membawaku ke Hoa-san-pai?"

"Sin Hong, biarpun tingkat kepandaian Ba Mau Hoatsu amat tinggi dan memang dia akan dapat mcngalahkan Sucouwmu, akan tetapi, kepandaian Sucouwmu juga hebat. Untuk tingkat pertama kau cukup menerima pelajaran daripadaku kemudian kau menerima pula petunjuk-petunjuk dan Sucouwmu. Selain daripa itu Ayah Bundamu dahulu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian bun di bu, apalagi Ayahmu. Maka kau pun harus menjadi seorang yang pandai ilmu silat dan ilmu surat. Di Puncak Hoa-san-pai. Masih ada Liang Gi Tojin yang dapat melatih ilmu silat padamu, Juga ada Paman Guruku, yakni Liang Tek Sianseng, seorang sasterawan yang pandai. Dari Susiokku (Paman Guruku) inilah kau menerima pelajaran ilmu surat."

Girang hati Sin Hong mendengar bahwa ia akan menjadi murid Hoa-san-pai.

Bagaimanapun juga, ia telah melihat sepak terjang ayah angkatnya dan merasa kagum.

la menganggap Lie Bu Tek gagah perkasa dan ia pandai, maka kalau ia menjadi murid dan Liang Gi Tojin, tentu ia akan menerima pelajaran ilmu-ilmu silat yang hebat.

Apalagi di sana ada Liang Tek Sianseng yang akan mengajarnya tentang kesusasteraan, gembira hatinya.

"Kalau begitu, hayo kita melanjutkan perjalanan, Gi-hu!"

Lie Bu Tek dan Sin Hong melanjutkan perjalanan mereka mendaki Bukit Hoa-san.

Karena pemandangan alam di pegunungan itu amat indahnya, Sin Hong merasa senang sekali.

Beberapa kali mereka berhenti di jalan untuk menikmati tamasya alam.

Lie Bu Tek yang sudah beberapa tahun tinggal di pegunungan ini ketika ia belajar di Hoa-san-pai, menunjukkan tempat-tempat yang indah kepada anak angkatnya.

"Di lereng depan itu terdapat tanah datar yang amat baik untuk berlatih silat. Dahulu aku dan Ibumu, juga saudara saudara seperguruan lain sering kali berlatih ilmu silat di situ."

Sin Hong tertarik.

"Mari kita ke sana, Gi-hu."

Lie Bu Tek membawa anak itu ke tempat yang membangkitkan kenang-kenangan lama.

karena sesungguhnya hubungannya dengan Thio Ling In, paling mesra adalah kalau mereka bertanding ilmu pedang sebagai latihan di tanah datar itu.

"Gi-hu, ada orang bertempur!"

Tiba-tiba Sin Hong berseru sambil menudingkan telunjuknya ke arah tanah datar itu.

Memang betul, di sana terdapat dua orang yang sedang bertempur hebat.

Orang pertama adalah seorang tosu setengah tua, dan orang ke dua adalah seorang laki-laki bertubuh kecil yang usianya tiga puluh lebih.

Keduanya bertempur mempergunakan sebatang pedang.

Akan tetapi betapapun gesit dan lihai permainan pedang laki-laki itu, ia masih terdesak hebat oleh lawannya.

"Ah, dia adalah Liok San!"

Kata Lie Bu Tek setelah ia memandang penuh perhatian.

"Yang mana, Gi-hu?"

Tanya Sin Hong.

"Dan siapakah Liok San itu?"

"Yang terdesak itulah Liok San, tak salah lagi. Dia anak murid dari Kwan-im-pai. Pernah dia berjuang melawan penjajah bersama dengan kami. Aku harus membantunya!"

Setelah berkata demikian Lie Bu Tek lalu mencabut pedangnya dan melompat ke kalangan pertempuran.

"Lie Bu Tek Toako...! Bagus kau datang, bantulah aku membunuh anjing Im-yang-bu-pai ini!"

Seru Liok San gembira ketika melihat Bu Tek.

Lie Bu Tek sudah mendengar tentang perkumpulan baru yang bernama Im-yang-bu pai ini.

Di Tiongkok terdapat aliran yang menganut pelajaran atau filsafat Im-yang, sebuah pelajaran filsafat atau kebatinan yang bersumber pada pelajaran Lo Cu.

Menurut apa yang di dengar oleh Lie Bu Tek, pada tahun-tahun terakhir ini, sifat dari Im-yang-bu-pai sudah banyak berbeda dengan dahulu, bahkan kalau dulu nama perkumpulannya Im-yang-kauw (Perkumpulan Agama Im Yang) sekarang diubah menjadi lm-yang-bu-pai atau Perkumpulan Silat Im Yang.

Buruknya bahwa perhimpulan ini setelah menjadi perkumpulan yang amat kuat, lalu berubah tinggi hati dan memandang rendah kepada golongan lain, apalagi terhadap perkumpulan-perkumpulan agama lain mereka amat menghina dan memandang rendah.

Oleh karena inilah, maka begitu mendengar Liok San minta tolong tanpa ragu-ragu lagi Lie Bu Tek lalu menyerbu dan menangkis pedang tosu itu dengan pedangnya sendiri.

Beradunya dua pedang menerbitkan suara nyaring dan tahulah Lie Bu Tek bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Maka ia segera mainkan pedangnya dan mengeluarkan jurus-jurus ilmu pedang Hoa-san-pai yang paling lihai.

Liok San tidak tinggal diam dan membantunya.

Adapun tosu itu, setelah merasa bahwa kepandaian Lie Bu Tek tak boleh dipandang ringan dan ia takkan dapat menang menghadapi dua orang ini, lalu tertawa dan berkata.

"Bagus. Hoa-san-pai memang tukang mencampuri urusan orang! Biarlah, Pinnie memberi ampun kali ini. akan tetapi tunggu saja hukuman dari Im -yang-bu-pai."

Setelah berkata demikian ia melompat mundur dan lari pergi dari situ. Liok San hendak mengejar akan tetapi lengannya dipegang oleh Lie Bu Tek.

"Saudara Liok, musuh yang sudah lari tak perlu dikejar."

Liok San menghela napas.

"Sayang kita tak dapat bikin mampus keparat itu. Sekarang aku telah membawa-bawa Hoa-san-pai sehingga dimusuhi oleh Im-yang-bu-pai, sungguh membuat hatiku tidak enak sekali terhadap Liang Gi Totiang."

"Saudara Liok, jangan kau berkata begitu. Sejak lama kami mendengar keburukan nama Im-yang-bu-pai, kalau sekarang mereka memusuhi partai kami itu sudah sewajarnya. Akan tetapi, siapakah tosu tadi dan bagaimana kau dapat bertempur dengan dia di lereng Bukit Hoa-san ini?"

Kembali Liok San menarik napas panjang.

"Kalau diceritakan sungguh membikin hati sakit sekali. Aku telah mengantarkan keponakanku untuk belajar di Hoa-san-pai dan telah diterima oleh Liang Gi Totiang. Bahkan aku tinggal di puncak Hoa-san-pai selama satu pekan. Ketahuilah, Saudara Lie, Kakakku perempuan telah tewas bersama suaminya dalam pertempuran, dikeroyok oleh orang-orang Im-yang-bu-pai. Mula-mulanya terjadi bentrokan antara anggauta-anggauta Kwan-im-pai kami dan anggauta-anggauta Im-yang-bu-pai sehingga tak dapat dielakkan lagi terjadinya pertempuran hebat. Kami dipukul hancur, Kakakku dan suaminya tewas dan aku sendiri dikejar-kejar. Untuk menjaga keselamatan keponakanku, putera tunggal dari Kakakku, aku membawanya kepada Liang Gi Totiang untuk belajar ilmu silat. Keselamatan anak itu terancam karena selama masih ada orang Kwan-im-pai, tentu pihak Im yang-bu-pai tidak akan mau sudah begitu saja. Buktinya, ketika tadi aku turun gunung aku telah diserang oleh seorang di antara mereka dan tentu aku akan tewas kalau kau tidak datang menolong. Karena itu Lie Toako, harap kau merahasiakan adanya Liok Kong keponakanku itu di Puncak Hoa-san. Nah, sekarang selamat tinggal, aku harus mengumpulkan lagi kawan-kawanku yang cerai-berai. Betapapun juga, Kwan-im-pai harus dibentuk lagi dan memperkuat diri."

Liok San menjura lalu pergi dari situ dengan langkah cepat, Lie Bu Tek menggeleng-geleng kepalanya.

"Kasihan sekali. Aku masih ingat akan Kakaknya yang bernama Liok Hui seorang wanita yang gagah perkasa."

"Gi-hu, siapakah ketua dari Kwan-im-pai?"

Tanya Sin Hong.

"Dahulu ketuanya adalah Sin-kun Liu-toanio, seorang nenek yang gagah perkasa dan yang membantu perjuangan merobohkan pemerintah Kin, akan tetapi nenek itu gugur oleh seorang tosu bernama Giok Seng Cu, murid dari seorang tokoh besar dari Tibet yang bernama Pak Hong Siansu. Setelah Sin-kun Liu toanio meninggal dunia, perkumpulan dipimpin oleh dua orang muridnya yakni kakak beradik Liok Hui dan Liok San tadi. Sepak terjang kaum Kwan-im-pai selama ini amat baik dan nama mereka harum di dunia kang-ouw, sekarang mereka dihancurkan oleh Im-yang-bu-pai maka dapat dinilai betapa jahatnya orang-orang Im-yang-bu-pai itu."

Lie Bu Tek lalu membawa Sin Hong naik ke puncak.

Perjalanan kali ini amat sukarnya.

Tidak saja tanah yang diinjak terdiri dari batu karang yang amat tajam, akan tetapi juga jalan yang naik amat terjal, licin dan terhalang oleh banyak jurang-jurang yang dalam.

Kepandaian Sin Hong dalam ilmu silat masih amat rendah, maka tentu saja ia tidak sanggup melalui jalan yang demikian sukar dan berbahayanya.

Biarpun ia memaksa untuk terjalan di dekat Lie Bu Tek sehingga sepatunya pecah dan kakinya berdarah, amkhirnya ia harus menyerah dan tak anggup berjalan lebih jauh lagi.

"Gi-hu, aku tidak kuat lagi....."

Keluhnya.

Liu Bu Tek tertawa.

Ia amat kagum melihat kekerasan hati anak ini, baru menyerah kalah setelah kedua kakinya berdarah dan tak dapat berjalan lagi.

Kalau sekitranya kedua kaki yang kecil itu tidak terluka dan biarpun sudah amat lelah, ia percaya anak ini tentu takkan mau menyerah begitu saja.

Semenjak kecilnya, Sin Hong yang pada luarnya kelihatan lemah-lembut ini memang mempunyai kekerasan hati yang amat luar biasa.

"Mari kau kupondong biar cepat kita tiba di puncak."

Katanya.

Tanpa menanti jawaban, ia menyambar tubuh anak angkatnya dan berlarilah Lie Bu Tek cepat-cepat ke puncak.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi dan dengan pengerahan ilmu lari cepat Cho-sang-hiu (Terbang di Atas Rumput), tanpa banyak`susah Bu Tek telah melalui bagian yang paling sukar dari puncak Hoa-san.

Ketika mereka tiba di puncak Hoa-san, Bu Tek melihat seorang anak laki tengah duduk melamun di depan pondok suhunya.

Anak ini usianya kurang lebih sepuluh tahun, berwajah bersih dan bermata cerdik.

Akan tetapi.

melihat keadaan anak itu, Bu Tek mengerutkan keningnya.

Ia dapat menduga bahwa anak itu tentulah Liok Kok Ji, putera dari Liok Hui yang dibawa oleh Liok San ke atas Hoa-san.

Yang membuat hati Bu Tek tak senang adalah karena ia melihat anak itu duduk melamun saja di dekat ladang sayur tanaman suhunya, sedangkan cangkul dan keranjang digeletakkan saja di atas tanali, itulah tanda kemalasan, pikir Bu Tek.

"Kau sedang bikin apa di situ?"

Bu Tek menegur keras.

Anak itu terkejut sekali karena memang Bu Tek sengaja meringankan tindakan kakinya sehingga tahu-tahu telah berada dekat dengan anak itu.

Dalam kekagetan serta kegugupannya, anak itu cepat-cepat memegang cangkul dan keranjang dan hendak mulai bekerja!

Bu Tek tersenyum dan menegur lagi.

"Bukankah kau yang bernama Liok Kong Ji?"

Anak itu kini melihat bahwa yang menegurnya tadi bukanlah Liang Gi Tojin seperti yang tadi dikiranya.

Pada wajahnya yang tampan kelihatan tanda kemendongkolan hatinya, akan tetapi ia pandai menyembunyikan perasaan dan balas menegur.

"Kau ini siapakah berani datang tempat suci! Kalau Suhu melihatmu mengotori tempat ini, kau tentu akan mendapat marah. Tidak tahukah bahwa kau berada di tempat kediaman tokoh besar Hoa-san-pai. Guruku Liang Gi Tojin? Melihat mata yang bersinar-sinar dan tabah itu, diam-diam Lie Bu Tek memuji bahwa anak ini betapapun juga memiliki semangat besar dan keberanian yang cukup. Sebelum ia menjawab, tiba tiba terdengar suara halus.

"Kong-Ji, jangan kau kurang ajar terhadap Suhengmu!"

Maka muncullah seorang tosu tua di dalam pondok.

"Suhu...!"

Bu Tek lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek ini sambil menurunkan Sin Hong dari pondongannya.

"Bu Tek, alangkah lamanya kita berpisah. Selama ini, apa saja yang kau alami?"

Liang Gi Tojin, kakek itu yang menjadi tokoh pertama dari Hoa-san-pai maju dan memegang kedua pundak muridnya.

Adapun Liok Kong Ji ketika mendengar bahwa orang yang datang bersama anak kecil tadi adalah Lie Bu Tek, suhengnya yang pernah ia dengar namanya dari Liang Gi Tojin segera maju memberi hormat dan berkata.

"Suheng, harap maafkan siauw-te yang bodoh dan tak mengenal kakak seperguruan sendiri."

"Tidak apa, Siauw sute."

Kemudian Bu Tek memperkenalkan Sin Hong kepada suhunya dan menuturkan semua pengalamannya. Pada akhir penuturannya ia berkata.

"Wan Sin Hong ini adalah putera tunggal dari Sumoi Thio Ling In dan Wan-yen Kan."

"Di mana mereka sekarang?"

Tanya Liang Gi Tojin.

"Mereka telah dibunuh oleh Ba Mau Hoatsu. Baiknya anak ini sedang dibawa keluar oleh pelayannya. Karena teecu menganggap bahwa anak ini harus mendapat pendidikan sebaiknya, maka teecue membawanya pergi dan sekarang dia sudah cukup besar untuk menerima latihan dari Suhu, oleh karena itu teecu mohon sudilah suhu membimbingnya."

Liang Gi Tojin mengangguk-angguk dan memandang tajam kepada Sin Hong yang berdiri di hadapannya.

Mata kakek yang tajam ini dapat melihat bakat yang amat baik dalam diri anak itu.

Ia menghela napas panjang.

"Sudah dapat dibayangkan bahwa nasib Ling In akan menghadapi banyak rintangan dan bahaya dalam perjodohannya dengan Pangeran Wan yen Kan. Ternyata kekhawatiranku terbukti dan guru suaminya sendiri yang datang membunuh mereka. Ah...."

Kakek itu memandang kepada Sin Hong.

"Anak, apakah kau suka belajar ilmu silat di sini, belajar dari pinto?"

"Locianpwe adalah Suhu dari Gi-hu dan Supek dari mendiang Ibuku, jadi adalah Sucouwku sendiri. Bagaimana teecu tidak suka belajar ilmu silat di sini? teecu suka sekali!"

"Sin Hong, kau ingin belajar ilmu silat untuk apakah?"

Tiba-tiba kakek itu bertanya sambil memandang tajam. Tanpa ragu-ragu Sin Hong menjawab sambil mengangkat kepalanya.

"Seperti seringkali teecu dengar dari Gi-hu, teecu mempelajari ilmu silat untuk dipergunakan menolong orang-orang yang mcmbutuhkan pertolongan. Akan tetapi terutama sekali agar teecu kelak dapat mencari musuh besar Ayah Bundaku dan memhalas dendam!"

Liang Gi Tojin tersenyum kemudian menarik napas panjang lagi.

"Aah, Sin Hong, musuh besarmu itu adalah Ba Mau Hoatsu yang kepandaiannya amat tinggi. Pinto sendiri takkan sanggup mengalahkannya, apalagi engkau. Dengan menguras seluruh pengertianku, kau masih jauh untuk dapat mengalahkannya."

Kata-kata ini memang sesungguhnya dan Bu Tek juga mengerti bahwa suhunya berkata benar.

Oleh karena itu ia memandang kepada putera angkatnya dengan hati duka.

Tiba-tiba di dalam keadaan sunyi itu, terdengar Liok Kong Ji berkata riang.

"Suhu, mengapa putus asa? Adik Hong setelah tamat belajar dari Suhu dapat melanjutkan pelajarannya, dan teecu akan membantunya, mencari guru-guru yang pandai agar kelak dapat merobohkan Ba Mau Hoatsu!"

Sin Hong melirik ke arah Kong Ji dan melihat pandang mata Kong Ji penuh harapan, ia menjadi girang dan berkata.

"Teecu merasa cocok dengan pernyataan tadi. Teecu takkan berhenti belajar untuk kemudian mencari Ba Mau Hoatsu yang sudah membunuh Ayah Bundaku."

"Bagus, bagus, pinto berjanji akan menghabiskan waktu hidup yang tinggal sedikit ini untuk mendidik kalian anak-anak yang malang,"

Kata Liang Gi Tojin dengan girang.

Demikianlah, semenjak hari itu, Kong Ji dan Sin Hong menerima latihan-latihan ilmu silat Hoa-san-pai dari Liang Gi Tojin, dibantu dengan penuh perhatian oleh Lie Bu Tek.

Empat tahun kemudian, tanpa ada gangguan sesuatu, dua orang anak itu menerima gemblengan dari kakek ini dan memperoleh kemajuan pesat sekali.

Yang menggirangkan hati Liang Gi Tojin adalah kecerdikan mereka yang luar biasa sehingga kalau dibandingkan dengan murid Hoa-san-pai yang dahulu, mereka berdua menang banyak.

Adapun Lie Bu Tek juga tidak menyia-nyiakan waktunya di gunung itu.

Ia menerima pelajaran lanjutan dari gurunya sehingga dalam waktu empat tahun, semua ilmu silat Hoa-san-pai telah ia miliki.

Liang Gi Tojin sengaja menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Bu Tek dan kelak kalau ia sudah meninggal dunia, Lie Bu Tek yang berhak menjadi ketua Hoa-san-pai.

Tiga orang laki-laki dengan gerakan kaki seakan-akan terbang naik ke Hoa-san.

Yang seorang adalah Siang-pian Giam-ong Ma Ek yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka pucat.

Orang kedua dan ketiga adalah kakek-kakek berjubah putih.

Yang pertama adalah seorang kakek bongkok yang memegang tongkat hitam di tangan kanan dan tongkat putih di tangan kiri, sedangkan orang kedua adalah seorang kakek botak yang pada punggungnya tergantung sepasang pedang.

Yang bongkok itu adalah tokoh ketiga Im-yang-bu-pai, bernama Kwa Siang berjuluk Thian-te Siang-tung (Sepasang Tongkat Langit Bumi).

Yang kedua dan bertubuh besar pendek adalah tokoh kedua dari Im-yang-bu-pai bernama Lai Tek berjuluk Siang-mo-loam (Sepasang Pedang Iblis).

Mereka ini memiliki kepandaian yang amat tinggi dan tidak saja di perkumpulan Im-yang-bu-pai mereka menduduki tempat ke dua dan ke tiga dari perkumpulan Im-yang-bu-pai juga di dunia kang-ouw nama mereka amat terkenal karena mereka memiliki kepandaian yang amat tinggi.

"Kenapa keadaannya begini sunyi?"

Tanya Thian-te Siang-tang Kwa Siang sambil berlari.

"Di dalam dunia ini, yang paling miskin anggauta dan boleh dibilang sudah hampir bangkrut adalah partai Hoa-san-pai."

Kata Giam-ong Ma Ek ketua Bu-cin-pai.

"Dahulu memang Hoa-san-pai termasuk partai yang besar dan berpengaruh, ketika empat orang tokohnya masih hidup, yakni Liang Gi Tojin, Liang Bi Suthai, Liang Tek Sian-seng, dan Tan Seng Lo-enghiong. Akan tetapi sekarang di antara empat orang tokoh itu hanya tinggal Liang Gi Tojin seorang. Dahulu empat orang tokoh itu pun mempunyai banyak sekali anak murid, akan tetapi sekarang para murid itu banyak yang sudah tewas, dan hanya ada beberapa gelintir orang saja yang tinggal jauh dari Hoa-san-pai. Agaknya Liang Gi Tojin tidak mau mengumpulkan murid-muridnya dan kalau tidak salah, sekarang orang tua itu hanya tanggal bersama muridnya, yaitu Hui-hong Lie Bu Tek.

"Hm, sudah hampir bangkrut masih saja sombong dan suka mencampuri urusan orang lain."

Siang-mo-kiam Lai Tek tokoh ke dua dari Im-yang-bu-pai berkata kurang senang.

"Itulah sebabnya maka mereka harus dibasmi sama sekali agar kelak tidak menyusahkan partai kami saja,"

Kata Giam-ong Ma Ek.

Orang tua ini memang menaruh hati dendam kepada Hoa-san-pai setelah ia kena dikalahkan oleh Lie Bu Tek dalam keributan di hari tahun baru sebagaimana telah dituturkan di bagian depan.

Adapun dua orang tokoh 1m yang bu-pai itu karena mendengar dari anak murid mereka bahwa Liok San tokoh Kwan-im-pai melarikan diri ke Hoa-san dan dibantu oleh Lie Bu Tek, kini datang untuk membalas dendam pula.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Giam-ong Ma Ek, maka ia lalu mengajak mereka untuk bersama pergi naik ke Hoa-san.

Memang betul apa yang diceritakan oleh Ma Ek tadi.

Liang Bi Suthai tokoh ke dua dari Hoa-san-pai telah tewas oleh tokoh-tokoh pembantu pemerintah Kin, Liang Tek Sianseng juga telah meninggal dunia karena sakit.

Sedangkan Tan Seng meninggal dunia karena usia tua.

Tinggal Liang Gi Tojin seorang diri, yang tiada nafsu lagi untuk berurusan dengan keramaian dunia.

Memang kakek ini lebih mengutamakan ilmu batin.

Banyak hal-hal yang menyakitkan hati membuat ia makin tidak mempunyai semangat untuk membangun kembali partai Hoa-san-pai.

Harapan satu-satunya hanya tergantung kepada mitridn}a, Lie Bu Tek, maka setelah Lie Bu Tek datang membawa Wan Sin Hong, kakek ini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk mewariskan kepandaiannya kepada murid tunggal ini, juga tentu saja ia memberi bimbingan kepada dua orang murid cilik yang baru, yakni Wan Sin Hong dan Liok Kong Ji.

Pada saat tiga orang kakek yang mempunyai maksud tidak baik terhadap Hoa-san-pai itu berlari-lari naik bukit, melompati jurang-jurang dengan gerakan laksana burung terbang, Liang Gi Tojin sedang duduk di luar pondok bersama Lie Bu Tek dan dua orang murid cilik.

Kini Liok Kong Ji telah berusia empat belas tahun dan Wan Sin Hong sudah dua belas tahun, mereka kelihatan bersikap gagah.

Akan tetapi, biarpun Sin Hong lebih muda, ia ternyata lebih halus sikapnya dan lebih luas pandangannya.

Hanya dalam kecerdikan ia tidak lebih unggul daripada Kong Ji, bahkan dalam latihan ilmu silat, ia ketinggalan oleh suhengnya ini.

Sebaliknya, kalau Sin Hong amat tertarik dan suka mempelajan ilmu surat dan kebatinan, adalah Kong Ji sama sekali tidak mempunyai bakat untuk kepandaian ini.

Empat orang itu sedang menikmati hawa udara yang amat sejuk dan segar di waktu pagi itu, dan menikmati sinar matahan yang menyehatkan tubuh.

Liang Gi Tojin bermain catur bersama Sin Hong adapun Kong Ji mendengarkan keterangan tentang ilmu silat dari Lie Bu Tek.

Tiba-tiba Lie Bu Tek berkata.

"Ada tamu datang!"

Liang Gi Tojin mengangguk-angguk karena kakek ini juga sudah tahu, adapun dua orang pemuda cilik itu celingukan mencari-cari, karena mereka belum mengetahui akan hal ini.

Baru saja Sin Hong hendak bertanya, berkelebat tiga bayangan orang dan sekejap kemudian tiga orang kakek berdiri di pinggir lapangan di depan pondok sambil tersenyum menyindir.

"Aha, tak kusangka bahwa nama besar Hoa-san-pai akan berakhir di tangan seorang kakek tiada guna tukang main catur dengan seorang bocah,"

Giam-ong Ma Ek berkata mengejek.

Dua orang tokoh lm-yang-bu-pai tidak berkata apa-apa, akan tetapi mereka lalu menggerakkan lengan baju dan bagaikan dua ekor burung garuda saja mereka melayang ke atas pondok, menginjak pecah genteng dan mengintai ke dalam, juga melihat dari tempat tinggi ke sekeliling pondok.

Mereka mencari Liok San yang disangkanya berada di situ.

Kemudian mereka melayang kembali ke bawah dan berdiri di belakang Siang-pian Giam-ong Ma Ek.

Melihat gerakan dua orang kakek tadi, diam-diam Lie Bu Tek terkejut sekali demiklan pula Liang Gi Tojin.

Menghadapi ketua Bu-cin-pai tidak mengkhawatirkan hati Lie Bu Tek, akan tetapi gerakan yang diperlihatkan oleh dua orang tadi benar-benar hebat sekali.

Liang Gi Tojin berdiri dan menjura ke arah Ma Ek.

"Selamat datang di puncak Hoa-san, Sam-wi Bengyu (Tiga Sahabat). Pinto mengenaI Siang-pian Giam-ong Ma Ek ketua Bu-cin-pai sebagai orang gagah perkasa, akan tetapi pinto yang sudah tua dan kurang awas pandangan mata, belum pernah berkenalan dengan Jiwi-enghiong (Dua Orang Gagah) yang ikut datang pula. Keperluan apakah gerangan yang membawa Sam-wi datang di sini?"

Mata Siang-pian Giam-ong Ma Ek menyapu tempat itu dan akhirnya ia memandang kepada Lie Bu Tek dengan mendelik.

"Lebih baik kau bertanya kepada muridmu itu, karena dialah yang memaksa. kami datang menagih hutang kepada Hoa-san-pai."

Liang Gi Tojin tak perlu bertanya karena sesungguhnya ia telah mendengar dari Lie Bu Tek tentang pertempuran antara muridnya itu dengan Siang-pian Giam-ong Ma Ek, dan kemudian betapa Lie Bu Tek menolong Liok San dan serangan anak murid Im-yang-bu-pai.

Mengertilah tokoh Hoa-san-pai ini bahwa mereka memang sengaja hendak mencari keributan dan dengan dalih menagih hutang mereka hendak merusak nama baik dan menghacurkan Hoa-san-pai.

Sebelum gurunya sempat menjawab, Lie Bu Tek yang merasa bertanggungjawab penuh atas semua perbuatannya, melangkah maju dan berkata kepada ketua Bu-cin-pang itu.

"Siang pian Giam-ong, untuk peristiwa kecil dahulu itu, aku yang bodoh membantu pihak Hek-kin-kaipang yang diperlakukan sewenang-wenang oleh murid-muridmu, dan untuk itu aku pun sudah minta maaf kepadamu. Apakah kau masih penasaran dan hendak menarik panjang perkara itu? Kalau demikian kehendakmu marilah aku bersedia memenuhi kehendakmu dan untuk perkara ini aku Lie Bu Tek yang bertanggung jawab, jangan kau membawa-bawa nama Guruku dan Hoa-san-pai."

Ma Ek tertawa bergelak dengan lagak mengejek sekali.

"Ha, ha, ha, kalau buahnya pahit, pohonnya pun buruk. Kalau muridnya tidak baik, gurunya tentu tidak benar. Membasmi pohon busuk harus mencabut sampai dengan akar-akarnya.

"Ma Ek! Kau orang tua tidak putus menerima penghormatan yang muda! Tutup mulutmu yang kotor, sekarang kau sudah datang, mau apakah?"

Lie Bu Tek tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, tangannya bergerak, pedang dicabut dan ia berdiri dengan pedang melintang di depan dada.

"Lihat, Jiwi-cianpwe, betapa sombongnya orang Hoa-san-pai!"

Kata Siang pian Giam-ong Ma Ek kepada dua orang tokoh Im-yang-bu-pai. Siang-mo-kiam Lai Tek berkata dengan muka marah.

"Ma enghiong, mengapa banyak cakap dengan orang muda ini. Lekas bereskan dia agar jangan memerahkan telinga."

Lie Bu Tek maklum bahwa ketua Bu-cin-pai ini sengaja hendak minta pertolongan dua orang Im-yang-bu-pai itu maka ia menyindir.

"Betul, Ma Ek. Mengapa kau seperti anak kecil merengek-rengek, tidak mau turun tangan sendiri? Apakah kau takut padaku?"

Diejek demikian itu, Ma Ek menjadi marah dan ia mencabut siang-piannya.

Semenjak kalah oleh Lie Bu Tek, ia memperdalam ilmu silatnya, dari tadi kalau ia sengaja membakar hati dua orang tokoh Im-yang-bu-pai, adalah karena ia merasa gentar melihat Liang Gi Tojin yang sikapnya demikian agung dan tenang.

"Bangsat kecil, kaurasakan pembalasanku!"

Bentaknya dan sepasang pian di tangannya bergerak ganas menyerang Lie Bu Tek.

Jago dari Hoa-san-pai ini tidak menjadi gentar dan menangkis dengan pedangnya.

Terdengar suara nyaring dan bunga api beterbangan ketika dua senjata bertemu.

Ma Ek terkejut sekali.

Dibandingkan dengan empat tahun yang lalu, tenaga lweekangnya sudah meninigkat tinggi, akan tetapi mengapa kini tangkisan Lie Bu Tek membuat tangannya tergetar?

Ia tentu saja tidak tahu bahwa selama empat tahun itu.

kalau ia memperdalam ilmu silatnya dengan tekun, musuhnya ini bahkan telah menguras semua ilmu silat dari Hoa-san-pai dan kini telah memiliki kepandaian yang amat tinggi, bahkan hampir setaraf dengan kepandaian Liang Gi Tojin sendiri.

Akan tetapi ia cepat dapat menguasai hatinya dan sepasang pian tangannya diputar cepat sekali, melakukan serangan yang mematikan ke arah bagian tubuh yang berbahaya dari lawannya.

Sepasang pian itu bergerak dari jurusan yang berlawanan sehingga merupakan dua gulung sinar yang membungkus tubuhnya, angin sambaran senjata berkesiur mendatangkan hawa dingin.

Namun Lie Bu Tek tidak menjadi gentar.

Ila mengimbangi serangan lawan dengan gerakan pedangnya yang lihai.

Jurus jurus yang tersulit dan paling berbahaya dari ilmu pedang Hoa-san Kiam hoat ia keluarkan untuk mendesak lawan yang lihai ini.

Diam-diam Bu Tek harus akui bahwa kalau saja selama empat tahun ini ia tidak memperdalam kepandaiannya dengan berlatih secara rajin dari suhunya, agaknya ia takkan mampu menghadapi ketua Bu-cin-pai ini.

Karena tahu bahwa pihak lawan masih ada dua orang yang kelihatannya amat tangguh, Lie Bu Tek tidak mau membuang banyak tenaga agar dapat menghadapi lain lawan dengan tenaga masih kuat.

Ia segera menggerakkan pedangnya dengan kecepatan luar biasa serta mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya.

"Gi-hu pasti menang!"

Teriak Sin Hong penuh semangat.

Kong Ji yang berdiri di dekatnya tidak berkata apa-apa, hanya diam-diam ia memandang pertempuran itu dan kadang-kadang ia melirik ke arah dua kakek yang pakaiannya hitam itu dengan pandang mata penuh kekhawatiran.

Baru saja Sin Hong mengeluarkan kata-kata itu, terdengar suara keras disusul oleh teriakan Ma Ek yang tubuhnya terguling roboh.

Ternyata bahwa pedang Bu Tek telah berhasil membabat putus pian di tangan kanannya dan kaki pendekar Hoa-san-pai ini telah mampir di dadanya sehingga tak dapat dicegah lagi kena dikalahkan.

Akan tetapi, sebagai ketua dari sebuah perkumpulan yang berpengaruh dan besar.

Siang-pian Giam-ong Ma Ek tidak mau kalah muka dan cepat ia melompat berdiri dengan meringis karena dadanya telah terluka lumayan juga.

Dengan siang-pian yang tinggal satu, yakni yang dipegang oleh tangan kiri.

ia menyerang lagi!

Tiba-tiba tubuhnya terhenti di tengah serangan ini karena lengan kanannya dipegang orang dari belakang pegangan yang amat kuat dan juga membuat ia tidak berdaya.

"Cukup, Saudara Ma Ek, biarkan pinto yang berkenalan dengan pedang Hoa-san-pai yang ganas!"

Kata orang yaitu memegang tangannya dan ternyata orang itu adalah tokoh ketiga dari Im-yan bu pai, yakni Thian-te Siang-tung Kwa Siang.

Ma Ek diam-diam menarik napas lega.

tadi pun ia telah merasa bahwa ia bukan tandingan jago dari Hoa-san pai itu, dan kini biarpun ia mengundurkan diri, namun ia masih dapat menjaga mukanya, karena ia berhenti bertempur bukan karena takut, melainkan karena dibujuk oleh Thian-te Siang-tong Kwa Siang.

Sementara itu, tokoh ketiga dari Im-yang-bu-pai ini segera melepaskan pegangannya dan sekali ia menggerakkan tubuh, ia telah berhadapan dengan Lie Bu Tek.

Dengan tongkat kanan yang hitam, serta tubuhnya membongkok-bongkok menjadi rendah sekali, kakek ini menuding ke arah muka Lie Bu Tek.

"Orang Hoa-san-pai, ketahuilah bahwa aku Thian-te Siang-tung Kwa Siang dan suhengku Siang-mo-kiam Lai Tek datang untuk menagih hutang. Kau telah berani membela keparat Liok San dan pukul anak murid kami. Sungguh perbuatan yang amat sombong! Bukankah selamanya Im-yang-bu pai tak pernah pagganggu Hoa-san-pai? Agaknya kau amt menyomhongkan kepandaianmu, maka cobalah kauterima sepasang tongkatku ini!"

Sebelum Lie Bu Tek sempat menjawab, kakek ini sudah menggerakkan tongkat kirinya yang berwarna putih menotok jalan darah Tai-hwi-hiat di tubuh Bu Tek.

Tentu saja Lie Bu Tek tidak mudah diserang begitu saja dan cepat mengelak.

Akan tetapt tiba-tiba berkelebat sinar hitam dan tongkat hitam tangan kanan lawannya sudah menyerang dengan tusukan ke arah lambungnya.

Inilah serangan yang amat lihai dan berbahaya sekali dan tahulah dia bahwa kakek ini menyerang dengan maksud membunuh.

"Kwa-lo-enghiong, kau menghendaki pertempuran mati-matian? Baiklah, bukan aku yang mulai lebih dulu""

Bentaknya dan sekali lagi Bu Tek mainkan pedangnya dengan hebatnya.

Namun kali ini ia menghadapi lawan yang memiliki kepandaian amat lihai.

Begitu terbentur dengan tongkat putih ia merasa telapak tangannya dingin.

terkejutlah hati Lie Bu Tek.

Ia tahu bahwa lawannya itu adalah seorang ahli lwee-keh yang sudah pandai membagi tenaga lweekeh antara keras dun lembek.

Tongkat hitam di tangan kanan itu mengandung tenaga lweekang yang keras dan panas, yakni tenaga Yang, sedangkan tongkat kiri yang putih itu mengandung tenaga Im yang lembek.

Akan tetapi bahayanya sama saja karena kalau tongkat hitam Itu dapat merusak kulit daging, adapun tongkat putih itu dapat memutus urat dan jalan darah"

"Pergunakan Ngo-heng Kiam-hoat!"

Liang Gi Tojin berseru kepada muridnya, karena ia maklum bahwa dengan ilmu pedang biasa saja muridnya tak mungkin dapat membuat kemenangan.

Bu Tek segera merubah ilmu pedangnya dan kini pedangnya bergerak-gerak dari lima jurusan dan tenaganya juga berubah-ubah.

Baru beberapa belas jurus saja ia dapat mengakui keunggulan lawannya yang benar-benar lihai sekali.

Sepasang tongkat hitam dan putih itu memiliki gerakan yang amat aneh dan dua macam hawa sambaran tongkat yang berlawanan benar-benar membingungkan hati Bu Tek.

Ngo-heng Kiam-hoat ternyata tidak dapat menahan datangnya desakan dari ilmu tongkat Thian-te Siang-tung, betapapun cepat Bu Tek menggerakkan pedangnya, namun pada jurus ke tiga puluh tongkat putih di tangan kiri lawannya dengan tepat telah menotok dada kanannya di bagian jalan darah besar.

Bu Tek mengeluarkan seruan kesakitan dan separuh tubuhnya seperti lumpuh, pedangtnya terlepas dari pegangan.

Sebelum ia roboh, tongkat hitam lawannya menotok lambungnya dan tubuh Bu Tek terkulai!

"Jangan bunuh Gi-hu!"

Sin Hong berseru marah dan melompat ke depan sebelum gurunya sempat mencegahnya.

Dengan kepalan tangannya yang kecil ia menerjang dan menyerang Thian-te Sian Tung Kwa Siang, yang tertawa-tawa dan sekali ia menendang, tubuh anak itu terpental dan bergulingan sampai empat tombak jauhnya!

Namun Sin Hong biar pun sakit-sakit tubuhnya, melompat lagi dan hendak menyerang, akan tetapi Liang Gi Tojin membentaknya.

"Sin Hong, mundur!"

Setelah membentak muridnya, kakek Hoa-san-pai ini lalu melangkah maju dan berkata kepada Thian-te Siang tung.

"Setelah kau berlaku kejam kepada muridku, terpaksa pinto harus meIupakan usia tua dan minta pelajaran dari Im yang-bu-pai."

"Sute, biar aku menghadapinya."

Kata Siang-mo-kiam Lai-Tek yang sudah mencabut sepasang pedangnya. Seperti juga tongkat yang dipegang oleh Kwa-Siang, pedang ini ternyata adalah pedang hitam dan putih dan berkilauan cahayanya.

"Liang Gi Tojin, dilihat dari sepak terjang Hoa-san-pai yang semenjak dahulu hanya mengacau dan mencampuri urusan orang lain, mudah diduga bahwa kalau kau bukan seorang tolol, tentu seorang yang tidak bersih. Oleh karena itu setelah Im-yang-bu-pai muncul menjagoi dunia kang-ouw, kami tak dapat membiarkan partai persilatan seperti Hoa-san-pai hidup terus."

Luang Gi Tojin tersenyum, lalu mencabut pedangnya. Dengan tenang ia berkata.

"Biarpun kepandaian Hoa-san-pai tidak seberapa, namun dalam pengertian tentang perikebajikan kiranya tidak akan kalah oleh Im-yang-bu-pai. Sejak dahulu punto sudah mendengar tentang lm-yang-kauw (Agama Im Yang), yang sesungguhnya masih merupakan cabang daripada To-kauw, jadi sealiran dengan kebatinan yang kami pelajari. Akan tetapi, semenjak Im-yang-kauw merubah nama menjadi Im-yang-bu-pai, kiranya perkumpulan agama ini berubah menjadi perkumpulan tukang pukul dan ahli-ahli berkelahi yang suka membunuh orang. karena kalian sudah datang di puncak Hoa san pai dan sudah mencelakai muridku, marilah kita main-main sebentar."

Siang-mo-kiam Lai Tek tertawa mengejek.

Ia menggerakkan pedang kanan yang hitam terdengar suara mengaung seperti harimau mengaum.

Pedang kirinya yang putih digerakkan, terdengar suara angin mengiuk yang amat tajam menusuk telinga.

Dengan dua kali gerakan ini saja tokoh Im-yang-bu-pai sudah memperlihatkan kelihaiannya dan diam-diam Liang Gi Tojin terkejut.

Ia makum bahwa tenaga dari orang besar pendek ini besar sekali dan juga sepasang pedang itu merupakan pasangan pedang mustika.

Yang putih terbuat daripada pek-kim (emas putih) dan yang hitam terbuat daripada batu hitam yang lebih keras daripada besi.

Namun ia tidak menjadi gentar.

"Kau lihai Siang-mo-kiam akan tetapi untuk membela nama Hoa san-pai sampai mati pun pinto takkat melangkah mundur."

"Ha-ha-ha, kau sudah bosan hidup dan ingin mampus? Baiklah, mari kuantar kau menghadap Giam-kun (Raja Maut)!"

Kata Siang-mo-kiam Lai Tek yang menyerang dengan cepatnya.

Sepasang pedangnya berubah menjadi dua gulung sinar hitam dan putih, yang putih bergerak dari atas dan yang hitam bergerak dari bawah atau sebaliknya.

Inilah ilmu pedang berdasarkan ilmu pedang Lo-hai-kiam-hoat (Ilmu Pedang Mengamuk Lautan) dari Kun-lun-pai yang telah dioper dan dijiplak oleh Im-yang-bu-pai dan diubah setelah dtsesuaikan dengan ilmu silat Im yang-kiam-hoat mereka.

Liang Gi Tojin sebagai seorang tokoh yang kenamaan tentu saja mengenal Ilmu Pedang Lo-hai-kiam-hoat dari Kun-lun pai ini, akan tetapi oleh karena ilmu pedang ini sudah disatukan dengan Im-yang kiam-hoat serta tokoh ke dua dari Im yang-bu-pai ini memang memiliki kepandaian amat tinggi, kakek Hoa-san-pai ini menjadi kewalahan sekali.

Biarpun ia mengerahkaii tenaga dan kepandaian, mainkan Hoa-san-kiam-hoat yang paling tersembunyi dan lihai, namun tetap saja ia tidak berdaya menahan gelombang desakan sepasang pedang lawan yang amat luar biasa.

Dengan nekat kakek Hoa-san-pai ini lalu membarengi serangan lawan.

Ketika pedang hitam di tangan kanan lawannya menusuk ke arah perutnya, ia cepat mengelak, miringkan tubuhnya sambil membarengi membabat ke arah leher lawan.

Gerakan ini adalah gerakan nekad, karena kalau lawan melanjutkan serangannya, tentu ia akan mati akan tetapi di lain pihak pedangnya tentu akan mengenai sasaran pula!

Siang-mo-kiam Lai Tek tentu saja tidak sudi mengadu nyawa.

Cepat sekali menarik pulang pedang hitamnya dan pedangnya yang putih menangkis dengan tenaga "menempel".

Dua pedang itu menempel menjadi satu dan tak dapat dipisahkan lagi!

Liang Gi Tojin cepat menggerakkan tangan kiri menonjok dada lawan.

Akan tetapi ternyata Siang-mo kiam Lai Tek lihai luar biasa.

Dengan membagi tenaga lweekangnya, ia menerima pukulan ini dan membarengi mengayun pedang hitamnya.

"Duk!"

Tubuh Lai Tek terpental setombak lebih akan tetapi tangan kiri kakek Hoa-san-pai itu putus sebatas sikunya!

Darah mengalir dengan semburan mengerikan.

Sin Hong menjerit ngeri melihat suhunya putus lengannya.

Namun kakek Hoa-san-pai ini benar-benar hebat.

Tanpa memperlihatkan sedikit pun rasa sakit, ia mengempit pedangnya dan menggunakan tangan kanan untuk menotok pangkal lengannya, menghentikan darah yang mengalir keluar.

Pada saat itu, Lai Tek sudah dapat berdiri kembali dengan wajah pucat.

Biar pun ia, telah mengerahkan lweekangnya untuk menahan pukulan tadi, namun masih merasa betapa dadanya sakit dan sukar untuk bernapas.

Setelah napasnya normal kembali, dengan amat marah menyerbu lagi!

Kasihan sekali Liang Gi Tojin.

Dengan dua tangan masih utuh saja ia sudah terdesak hebat.

Apalagi kini ia telah kehilangan tangan kirinya.

Biarpun sambil menggigit bibir mempertahankan diri dengan pedangnya, namun dalam jurus ke sepuluh, pedang hitam menusuk dadanya dan pedang putih amblas ke dalam perutnya.

Tanpa mengeluarkan sedikit pun suara, kakek ini roboh tak bernyawa lagi.

"Kau... kau membunuh Suhu dan mencelakakan Gi-hu...!"

Sambil menangis Sin Hong lalu melompat dan menyerang Lai Tek.

Akan tetapi sebelum anak itu dekat dengan Lai Tek, Kwa Siang telah menendangnya lagi dan kini tendangannya jauh lebih keras daripada tadi sehingga tubuh Sin Hong terlempar jauh sekali, bergulingan seperti sebuah bal karet.

Namun anak ini tabah sekali.

Tanpa memperdulikan rasa sakit ia bangkit lagi dan dengan air mata berlinangan, ia lari menyerbu lagi sambil mengepalkan dua tangannya yang kecil.

"Kubunuh kalian!"

Serunya, dan kini ia menyerang Kwa Siang.

Dengan tingkat kepandaiannya yang sekarang, anak yang usianya baru dua betas tahun ini dengan mudah akan dapat merobohka seorang dewasa biasa.

Akan tetapi ia menghadapi Thian-te Siang-tung Kwa Siang, tokoh ke tiga dari Im-yang bu-pai, tentu saja ia tidak berdaya sama kali.

Sebuah totokan yang dilakukan dengan sebuah jari, yakni ilmu totok It-ci tiam-hoat (Totokan Satu Jari) dari Go-bi-pai, Sin Hong seketika menjadi kaku dan berdiri seperti patung.

totokan itu ditujukan pada jalan darah yang tidak saja dapat membikin orang menjadi kaku, akan tetap, juga mendatangkan rasa sakit yang menusuk jantung.

Tiga orang tamu yang menghancurkan Hoa-san-pai itu menduga bahwa mereka akan melihat anak bandel ini menjerit-jerit kesakitan dan minta ampun, akan tetapi, aneh sekali.

Anak itu berdiri seperti patung dan sepasang matanya yang masih dapat bergerak, memandang dengan mendelik dengan bibirnya digigit sampai berdarah tanda bahwa anak ini, menahan rasa sakit yang amat hebatnya!

Totokan tadi dilakukan pada pusat jalan darah di pundak kanan, di bagian tai-hiat yang melumpuhkan kaki tangan akan tetapi dari leher ke atas masih dapat digerakkan.

"Kau tidak minta ampun?"

Tanya Lai Tek dengan heran dan kagum sekall. Sin Hong tidak menjawab, hanya mendelikan matanya.

"Ha, ha, ha! Biar kita lihat saja sampai di mana dapat bertahan!"

Kata Kwa Siang.

"Sebelum minta ampun kau tak-kan kubebaskan."

"Monyet tua, jangan harap aku minta ampun!"

Kata Sin Hong.

Semua orang tercengang.

Akibat totokan ini, kalau orang menutup mulut masih kurang hebat, akan tetapi begtu orang yang tertotok bicara, rasa sakit luar biasa sekali.

Akan tetapi anak ini masih berani memaki!

Adapun Thian-te Siang-tung Kwa-siang yang dimaki monyet tua oleh Wan Sin Hong, menjadi marah sekali.

"Bocah setan kau harus mampus!"

Kayanya sambil menggerakkan tongkat hitamnya ke arah kepala Sin Hong.

"Sute jangan...!"

Lam Tek mencegah sambil memegang pundak kakek bongkok itu.

"Suheng, mengapa kau melarang membunuhnya?"

"Anak ini mempunyai keberanman luar biasa, patut ia menjadi anggauta dan calon jago Im yang-bu-pai!"

Sambil berkata demikian, Lam Tek memberi isyarat dengan matanya kepada Kwa Siang.

Thian-te Siang-tung Kwa Siang maklum akan maksud suhengnya.

Memang perkumpulan mereka selalu memandang tinggi orang-orang gagah dan anak ini kalau sampai bisa menjadi anggauta perkumpulan mereka, berarti akan bertambah kuatlah perkumpulan lm-yang bu-pai.

Ia pun dapat melihat bahwa dalam diri anak kecil ini terdapat bakat yang luar biasa sekali.

"Kau betul, Suheng."

Kemudian menotok bebas tubuh Sin Hong sambil berkata.

"Anak baik, aku tadi hanya main-main saja."

Rasa sakit lenyap dari tubuh Sin Hong, akan tetapi anak ini sekarang menjadi lemas dan tidak dapat mengeluarkan suara.

Memang Kwa Siang sengaja menawannya agar anak ini mudah dibawa, tidak gaduh dan rewel di tengah jalan.

Selama itu, Liok Kong Ji hanya berdiri dengan muka pucat.

la dapat melihat bahwa para tamu tak diundang ini benar-benar lihai sekali dan ia pun merasa gelisah.

Biarpun ia masih kecil sekali ketika ayah bundanya tewas dalam pertempuran melawan Im-yang-bu-pai, namun ia masih ingat dengan baik bahwa musuh-musuh besar ayah bundanya adalah orang-orang inilah.

Mereka tentu akan membunuhnya kalau mengetahui bahwa dia adalah putera dari ketua Kwa-im-pai.

"He, kau... siapakah namamu? Apakah kau juga murid Liang Gi Tojin?"

Tanya Lam Tek kepada Kong Ji.

Diam-diam Sin Hong memandang dan hendak melihat sikap suhengnya itu.

Alangkah heran clan kagetnya ketika ia melihat Kong Ji tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Lam Tek sambil menangis.

"Locianpwe, teecu adalah seorang anak sebatangkara yang dipaksa oleh bangsat Lie Bu Tek dibawa naik ke gunung ini dan dijadikan pelayan! Orang tua teecu bahkan dibunuh olehnya. Dendam teecu setinggi langit, maka sekarang Samwi Locianpwe datang ke sini membasmi Hoa-san-pai berarti teecu terbebas dari kesengsaraan! Teecu mohon sudilah Locianpwe menerima teecu sebagai murid Im-yang-bu-pai. Teecu berjanji untuk belajar dengan baik dan kelak dapat menjunjung tinggi nama baik Im-yang-bu-pai!"

Sin Hong hampir tak dapat mempercayai telinganya sendiri. Kalau saja dapat bicara tentu akan memaki Kong Ji.

"Hmm, begitukah?"

Kata Lai Tek sambil memandang tajam.

Ia dapat melihat pula bahwa Kong Ji mempunyai tubuh yang amat baik dan bakat besar untuk menjadi ahli silat, terutama sekali sepasang mata anak itu membayangkan kecerdikan luar biasa.

"Siapa namamu?"

"Teecu bernama Kong Ji, she Lui. Ayah telah dibunuh oleh Lie Bu Tek yang tergila-gila kepada lbu teecu. Akhirnya, karena Ibu tidak sudi menuruti kehendaknya, Ibu pun dibunuh...."

Kembali Kong Ji menangis sedih.

Tiba-tiba Lai Tek mencabut pedangnya.

Sin Hong sudah merasa girang karena mengira bahwa Lai Tek tentu tahu akan kebohongan Kong Ji dan hendak membunuh anak durhaka itu.

Akan tetapi Kong Ji tidak takut sama sekali dan memandang dengan matanya yang tajam.

Lai Tek bukan hendak membunuhnya, bahkan memberikan pedang itu yang berwarna hitam kepada Kong Ji sambil berkata.

"Kau benar-benar telah dibikin sengsara oleh Lie Bu Tek. Nah, ambil pedang ini dan balaslah sakit hatimu. Kau boleh membunuhnya!"

Kong Ji menerima pedang itu dan berjalan menghampiri tubuh Lie Bu Tek yang masih menggeletak dalam keadaan tidak berdaya lagi.

Setelah terkena totokan-totokan tongkat Kwa Siang, Lie Bu Tek tak dapat bangun kembali dan biarpun pancainderanya masih bekerja, ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya.

Ia pun mendengar akan semua yang dikatakan oleh Kong Ji dan kini ia melihat anak itu mendekati sambil membawa pedang hitam dari Lai Tek!

Sin Hong membuka matanya dan mukanya pucat.

Apakah yang akan dulakukan oleh Kong Ji?

la melihat Kong Ji mendekati Lie Bu Tek dan mengangkat pedang hitam!

Kemudian pedang itu digerakkan dengan cepat dan kuat ke bawah dan...

lengan kanan Lie Bu Tek terbabat putus pada pangkalnya dekat pu dak!

Lie Bu Tek tak mengeluarkan suara akan tetapi rasa sakit membuatnya jatuh pingsan.

Wan Sin Hong merasa begitu kaget, marah, dan sakit hati sampai-sampai ia pun roboh tak sadarkan diri, melihat peristiwa hebat yang mengerikan hatinya itu.

Lai Tek melompat dan sekali tangannya bergerak, ia telah merampas pedang dari tangan Kong Ji.

"Kong Ji, mengapa kau tidak menebas batang lehernya dan hanya memotong lengannya?"

Bentaknya menegur. Kong Ji cepat berlutut di depan Siang-mo-kiam Lai Tek.

"Mohon ampun sebanyaknya, Locianpwe. Ada dua hal yang memaksa teecu tidak mau membunuh jahanam itu. Pertama karena teecu merasa malu dan tidak sampai hati membunuh seorang yang sudah tak berdaya biarpun dia musuh besarku. Ke dua, karena teecu selamanya akan masih merasa penasaran kalau teecu membunuhnya sekarang karena ia roboh bukan karena oleh teecu. Teecu ingin belajar ilmu kepandaian yang kelak akan dapat teecu pergunakan untuk membalas dendam dan mengalahkannya dengan kedua tangan teecu sendiri."

"Ha-ha-ha-ha! Lai-suheng, kau benar. anak ini amat mengagumkan. Aku sendiri yang akan membimbingnya agar ia dapat memiliki kepandaian yang melebihi semua orang Hoa-san-pai. Lagi pula, kalau satu-satunya keturunan Hoa-san-pai dibinasakan, siapa kelak yang akan menggembirakan hati kita? Biarkan Lie Bu Tek hidup dan kita sama lihat saja apakah kelak dia masih berani menjual kepandaian. Ha-ha-ha! Akan luculah kalau. Lie Bu Tek yang tinggal sebelah tangan itu berani mencari kita untuk membuat perhitungan terakhir!"

"Sute, urusan sudah beres. Mari kita segera kembali!"

Kata Lai Tek yang segera menjura ke arah Siang-pian Giam-ong Ma Ek.

"Ma-enghiong, kita berpisah di sini saja. Pulanglah ke Keng-sin-bun dan setiap kali perkumpulan Bu-can-pang hendak mengadakan atau melakukan sesuatu, jangan lupa memberi laporan kepada kami!"

Di dalam hatinya Ma Ek merasa mendongkol sekali.

Bu-cin-pai atau Bu-cin pang adalah perkumpulannya yang besar dan ternama, sekarang eleh pihak Im-yang-bu-pai dipandang sebagai perkumpulan kecil saja.

Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat apa-apa melainkan membalas dengan penghormatan dan menganggukkan kepala.

Kemudian ia pergi dari situ dengan hati puas, karena ia telah berhasil membasmi Hoa-san-pai, yang takkan mungkin ia lakukan tanpa bantuan dua orang tokoh Im-yang-bu pai ini.

Thian-te Siang-tung Kwa Siang memondong Kong Ji sedangkan Lai Tek juga mengempit tubuh Sin Hong dan kedua orang kakek yang lihai ini cepat berlari seperti terbang turun dari Hoa-san, meninggalkan Liang Gi Tojin yang sudah tewas dan Lie Bu Tek yang berada dalam keadaan setengah mati.

Lie Bu Tek menderita kesakitan hebat.

Baiknya tubuhnya telah terlatih baik sehingga tak lama kemudian ia dapat siuman kembali sebelum darahnya habis mengalir keluar dari luka di pangkal lengannya.

Ia menahan napas dan mengerahkan tenaga dalam.

Dengan amat susah payah barulah ia berhasil membebaskan diri dari totokan yang lihai dari sepasang tongkat Thian-te Siang-tung Kwa Siang.

Sambil menggigit bibir, ia menggerakkan tangan kirinya dan menotok jalan darah di pundak kanan untuk nienghentikan darahnya yang terus mengalir keluar.

Dengan jalan ini barulah ia dapat mencegah darahnya mengalir habis.

Kemudian dengan susah payah ia bangun dan duduk bersila, mengatur pernapasannya untuk mengobati luka yang dideritanya di dalam tubuh.

Ia berusaha sekeras mungkin untuk melupakan keadaan suhunya yang mati berbaring di atas tanah tidak jauh dari tempat ia duduk.

Pada saat seperti itu ia harus dapat melapangkan dada dan mengosongkan pikiran.

Ia harus hidup bukan saja untuk membalas penghinaan dari Im-yang-bu-pai, akan tetapi juga untuk mencari Sin Hong yang dibawa lari oleh musuh.

Tak lama kemudian sesosok bayangan yang gesit dan ringan sekali berlari-lari naik ke puncak Hoa-san.

Bayangan ini adalah seorang wanita yang berusia kurang lebih empat puluh tahun akan tetapi masih nampak nyata kecantikannya.

Ketika melihat keadaan di tempat pertempuran tadi, wanita itu mengeluarkan seruan tertahan dan cepat-cepat ia berlari menghampin Lie Bu Tek.

"Lie Bu Tek Taihiap... kau kenapakah?"

Bu Tek membuka matanya dan melihat wanita ini, wajahnya berubah.

"Kiang Cun Eng, kau datang mau apakah. Apa kau juga hendak memusuhi Hoa-san-pai?"

Kiang Cun Eng mengerutkan kening melihat betapa tangan Bu Tek tinggal sebelah, ketika ia mengikuti pandang mata pendekar itu, ia lebih terkejut lagi lihat mayat Liang Gi Tojin di atas tanah.

"Taihiap...!"

Apakah yang terjadi? Siapa yang begitu kurang ajar melakukan semua ini? Siapa yang memhunuh Liang Gi Tojin dan melukaimu? Katakan, aku bersumpah untuk mengejar dan membinasakannya""

Seru wanita itu yang bukan lain adalah Kiang Cun Eng ketua dari Hek-kin Kaipang. Bu Tek menggelengkan kepalanya.

"Takkan ada gunanya. Mereka amat lihai. Yang datang adalah Siang-pian Giam-ong Ma Ek ketua Bu-cin-pang. Akan tetapi, yang lebih lihai adalah dua orang kawannya, yakni Thian-te Siang-tung Kwa-Siang dan Siang-mo-kiam Lai Tek, tokoh kedua dan ketiga dari Im yang-bu pai."

"Keparat! Aku akan mengerahkan kawan-kawan untuk membalas dendam ini!"

Seru Kiang Cun Eng, kemudian wanita ini berlutut dan memegang pundak Bu Tek sambil berlinang air mata.

"Taihiap, alangkah buruk nasibmu"". Sudah bertahun-tahun aku mencarimu tanpa hasil. Baru-baru ini aku mendengar dari anggauta-anggauta Hek-kin-kaipang bahwa kau menolong mereka dari tangan orang-orang Bu-cin-pang. Oleh karena itu aku segera menyusul ke sini untuk menyatakan terima kasihku. Tak tahunya aku terlambat... kau telah dicelakai orang. Aku bcrsumpah untuk membalaskan sakit hatimu ini, Taihiap..."

Melihat orang menangis sambil megangi pundaknya, Bu Tek terharu sekali.

Teringatlah ia akan semua pengalamannya di waktu mudanya.

Pernah ia terlibat dalam urusan asmara dengan ketua Hek-kin-kaipang ini, dan biarpun wanita ini mempunyai watak yang buruk dan mata keranjang, namun belum pernah Kiang Cun Eng melakukan perbuatan jahat.

Sekarang ia tidak berdaya, dan orang satu-satunya yang dapat diminta tolong hanya Hwa I Enghiong Go Ciang Le.

Akan tetapi ia tidak tahu di mana adanya pendekar besar itu, maka sekarang harapan satu-satunya tinggal pada ketua Hek-kin kaipang ini.

"Cun Eng, sudahlah jangan menangis. Apakah benar-benar kau sudi menolongku?"

"Tentu saja! Tidak saja aku mengingat perhubungan kita yang lalu,"

Sampai di sini merahlah mukanya dan biarpun ia sudah setengah tua akan tetapi masih kelihatan cantik.

"akan tetapi juga pihakku kini sudah menjadi musuh Bu-cin-pang dan lm-yang bu-pai. Katakan saja cara bagaimana aku dapat menolongmu, Taihiap. Apakah aku harus merawatmu dan mengurus jenazah Gurumu?"

"Bukan, Cun Eng. Kautinggalkan saja, aku sendiri akan sanggup mengurus jenatah Suhu. Akan tetapi... yang amat menggelisahkan hatiku, adalah nasib Wan Sin Hong, anak angkatku. Dia dibawa pergi oleh orang-orang Im-yang-bu-pai. Kuakejarlah mereka, akan tetapi jangan kau turun tangan, karena kau takkan menang. Mereka amat lihai. Pergunakan akal agar supaya kau dapat rampas kembali anak itu. Kasihan dia..."

"Balk. Taihiap. Akan kulakukan sekarang juga. Akan tetapi Kau perlu dirawat..."

"Tak usah, kau pergilah, Cun Eng. Aku Lie Bu Tek akan berterima kasih sekali kepadamu kalau kau dapat menolong Wan Sin Hong. Setelah kau berhasil merampasnya dari tangan orang-orang, Im-yang-bu-pai, kau bawalah dia ke Gunung Lu-liang-san, hadapkan dia kepada Luliang Sam Lojin (Tiga Kakek dari Gunung Luliang), mohon perlindungan kepada tiga Locianpwe itu. Hanya di sanalah Sin Hong akan selamat dan terbebas dari ancaman orang-orang Im-yang-bu-pai."

Mendengar disebutnya Luliangsan, Kiang Cun Eng kelihatan terkejut.

"Kesana...? Taihiap, tidak tahukah kau bahwa sekarang ini Luliangsan sedang menjadi buah bibir semua tokoh kang-ouw? Bahwa kukira tak lama lagi semua orang gagah akan menyerbu ke sana untuk mencari dan merampas kitab peninggalan Pak Kek Siansu?"

Bu lek mengangguk.

"Aku sudah mendengar akan hal itu. Menurut desas-desus, mendiang Pak Hong Siansu membuka rahasia bahwa Pak Kek Siansu meninggalkan sebuah pedang yang disebut Pak-kek-sin-kiam (Pedang Sakti daei Kutub Utara) dan sebuah kitab pelajaran Ilmu Pedang Pak-kek Kitam-sut dan Ilmu Silat Pak kek Sin-ciang. Akan tetapi hal itu kebetulan sekali. Kalau kau membantu Sin Hong ke sana. tidak saja ia berada di tempat yang aman karena kepanddian ketiga Luliang Sam-lojin amat tinggi. Juga kalau Luliang-san diserang orang, tentu Taihiap Go Ciang Le akan melindungi gunung itu dan karenanya. Kalau ia melihat Sin Hong tentu ia akan membela anak itu."

"Lie Bu Tek Taihiap, kau tadi katakan bahwa anak yang bernama Wan Sin Hong itu adalah anak angkatmu. Sebenarnya putera siapakah?"

"Dia itu putera sumoiku yang telah tewas oleh musuh. Sudahlah, Cun Eng, kalau memang berkemauan baik, lekas susul orang-orang Im yang-bu-pai itu dan tolonglah Sin Hong...."

Kiang Cun Eng lalu bangkit berdiri dan berkata perlahan.

"Lie Bu Tek Tai-hiap, mengingat hubungan kita dahulu, aku akan menolong anak itu dan kalau perlu akan menyediakan nyawaku untuk menolong dia memenuhi permintaanmu. Selamat tinggal...."

"Cun Eng, kau benar-benar mulia. Semoga Thian melindungi...."

Kata Lie Bu Tek terharu sambil memandang tubuh wanita itu yang mulai berlari cepat turun gunung.

Kiang Cun Eng adalah ketua dari Hek kin-kaipang, sebuah perkumpulan pengemis yang amat besar dan berpengaruh.

Anggauta-anggauta Hek-kin-kaipang tersebar luas di seluruh kota dan jumlah mereka sampai ribuan orang.

Oleh karena itu, begitu turun dari Hoa-san, Cun Eng dapat mengumpulkan orang-orangnya.

Mudah saja baginya untuk mencari tahu ke jurusan mana orang orang Im-yang-bu-pai itu lari, dan cepat ia lalu mempergunakan seekor kuda yang baik untuk mengejar.

Di samping ini ia pun memberi perintah kepada anak buahnya untuk melakukan persiapan dan menyelidiki keadaan dua orang tokoh besar itu.

Ia maklum bahwa kalau sampai dua orang tokoh besar itu membawa Sin Hong ke kota Lam-si di kaki Bukit Kim-san yang menjadi pusat perkumpulan Im-yang bu-pai, akan sukarlah baginya merampas anak itu.

Jalan satu-satunya adalah berusaha merampasnya di tengah perjalanan.

Tanpa mengingat lelah, siang malam Kiang Cun Eng membalapkan kudanya, bertukar-tukar kuda di tiap kota di mana anak buah Hek-kin-kaipang sudah siap untuk membantu ketua mereka.

Dengan cara inilah ketua Hek-kin-kaipang ini berhasil mendahului perjalanan Thian-te Siang-tung Kwa Siang dan Siang-mo-kiam Lai Tek yang membawa dua orang anak dan sedang menuju ke Lam-si.

Kiang Cun Eng menyebar mata-mata di setiap kota dan gerak-gerik kedua orang ini diawasi baik-baik oleh semua pengemis anggauta Hek-kin kaipang.

Dari penyelidikan ini tahulah Kian Cun Eng, yang (Lanjut ke

Jilid 03) Pedang Penakluk Iblis/Sin Kiam Hok Mo (Seri ke 02 -Serial Pendekar Budiman) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 mana adanya Wan Sin Hong, karena tadinya ia ragu-ragu melihat bahwa dua orang tokoh itu membawa dua orang anak kecil.

Ketika mendengar pelaporan dari para penyelidiknya, terharulah hati Cun Eng.

Di sepanjang jalan, Sin Hong diperlakukan buruk sekali.

Hal ini adalah karena sikap yang keras kepala dari anak ini, sama sekali tidak sudi memperlihatkan sikap tunduk.

Biarpun disiksa, tidak diberi makan dan diancam, tetap saja memperlihatkan sikap bermusuhan kepada dua orang tokoh 1m yang-bu-pai itu.

Apa lagi terhadap Kong Ji, Sin Hong memperlihatkan sikap membenci dan menghina sekali.

Tak pernah ia mau bicara dengan Kong Ji, dan pandang matanya seakan-akan ia hendak menghancurkan kepala Kong Ji.

Sebaliknya, Kong Ji amat cerdik.

Ia pandai mengambil hati dua orang tokoh Im-yang-bu-pai itu sehingga ia makin disayang.

Bahkan atas bujukan Kong Ji, Sin Hong amat dibenci oleh kedua orang tua itu sehingga kalau saja Lui Tek tidak sayang melihat keberanian Sin Hong, ia tentu sudah dibunuh di tengah perjalanan.

"Kalian boleh lakukan apa yang kalian suka kepadaku, akan tetapi dengarkanlah. Aku Wan Sin Hong bersumpah bahwa aku akan membalas kejahatan Im yang-bu-pai, Bu-cin-pang dan anjing hina dina ini yang mengaku bernama Lui Kong Ji!"

Suara ini adalah makian yang keluar dari mulut Wan Sin Hong ketika untuk ke sekian kalinya Kong Ji memukul sesuka hati atas perintah kedua orang tokoh Im-yang-bu-pai.

Mereka berempat telah tiba di dalam sebuah hutan di sebelah barat daerah gunungan Kim-san dan bermalam di sebuah kuil tua yang sudah kosong.

Seperti biasa, Sin Hong memperlihatkan sikap bermusuhan dan kali ini secara main-main Lai Tek menyuruh Kong Ji yang mencoba untuk memaksa Sin Hong hertekuk lutut dan minta ampun.

Akan tetapi, biarpun pukulan-pukulan Kong Ji telah membuat darah keluar dari bibirnya yang pecah-pecah, hasilnya malahan membuat Sin Hong naik darah dan ia memaki-maki serta menyumpah nyumpah.

"Ha-ha-ha, Sin Hong. Kau benar-benar tak tahu diri. Sebentar lagi akan mampus, bagaimana kau masih dapat bersumpah untuk membalas dendam,"

Kata Kong Ji tak kenal malu.

Anak ini benar-benar cerdik, ia tak khawatir kalau-kalau Sin Hong akan membuka rahasianya bahwa dia adalah keturunan ketua Kwan-im-pai, karena ia tahu akan kejantanan hati Sin Hong.

Pantang bagi Sin Hong untuk mengkhianatinya, biarpun ia telah berlaku jahat kepada Sin Hong.

Hal ini ia yakin betul apalagi kalau dipikir bahwa ia telah berhasil merebut hati kedaua orang tokoh Im yang-bu-pai sehingga kalau sekiranya Sin Hong membuka mulut membongkar rahasianya, dua orang itu tak mau percaya kepada murid termuda dari Hoa-san-pai itu.

"Kong Ji, baik masih hidup maupun sudah mati, aku selalu akan mengejarmu dan membalas dendam. Kalau masih hidup, kelak kedua tanganku sendiri yang akan merenggut nyawamu, kalau aku sudah mati nyawaku akan menjadi setan penasaran yang akan mengejarmu selama kau masih hidup!"

Pucat wajah Kong Ji mendengar ini.

Biarpun kata-kata ini dikeluarkan oleh seorang anak kecil, akan tetapi kehebatannya membuat bulu tengkuknya merenung saking seramnya.

Juga dua orang tokoh Im-yang-bu-pai saling pandang dan merasa mengkirik.

Hebat sekali keteguhan hati anak ini dan mereka mau tidak mau memandang kagum kepada anak kecil yang usianya paling banyak baru dua belas tahun itu.

Sin Hong dengan muka benjol-benjol dan bibir berdarah, berdiri dengan kedua kaki dipentang lebar, dalam bayangan api lilin ia kelihatan amat gagah dengan sepasang mata bersinar-sinar, kedua tangan dikepal.

"Suheng, kalau tidak dihabiskan, anak ini benar-benar merupakan bahaya besar di kemudian hari,"

Kata Kwa Siang samhil menundukkan muka, tidak kuat menentang pandang mata Sin Hong yang berapi-api dari sepasang mata kecil yang jarang berkedip itu. Siang-mo-kiam Lai Teak menarik napas panjang.

"Sayang bahan yang sebaik ini terpaksa harus dilenyapkan. Tunas begini baik terpaksa harus dicabut. Tak kusungka hatinya sekeras baja, pendiriannya sekokoh bukit. Memang tidak ada jalan lain kecuali melenyapkannya, karena dia ini kelak memang merupakan bahaya besar bagi Im-yang-bu-pai."

"Jiwi Locianpwe, biarkan teecu membunuh tikus bermulut jahat ini!"

Kata Kong Ji girang.

Anak ini memang akan -merasa amat lega dan gembira kalau Sin Hong sampai tewas, karena bahaya satu-satunya bahwa rahasianya akan terbongkar berada di tangan Sin Hong.

Kalau Sin Hong mati, tentu ia akan aman dan dapat melanjutkan cita-citanya, yakni ilmu silat dari Im-yang-bu-pai, yang mempunyai banyak orang pandai.

Kwa Siang mengangguk.

"Lakukanlah!"

Biarpun Kwa Siang sudah amat biasa membunuh orang tanpa berkedip mata, -melihat kegagahan Sin Hong yang sedemikian rupa ia menjadi lemah dan tidak tega untuk menjattuhkan tangan maut kepada anak luar biasa ini.

Kong Ji pernah belajar ilmu silat, tidak saja dari orang tuanya, juga pamannya yaitu Liok San, dan paling akhir ia belajar dari Liang Gi Tojin, oleh karena ini, tanpa sebuah senjata pun di tangan, tentu saja ia tahu bagaimana harus mengirim pukulan tangan kosong untuk merenggut nyawa.

Selama ini ia berhati-hati sekali sehingga dalam setiap gerakannya, tidak terlihat ilmu dari Kwan-im-pai dan ia hanya memperlihatkan ilmu silat Hoa-san-pai yang memang tidak mengherankan orang karena ia sudah berada empat tahun di puncak Gunung Hoa-san.

Sambil tersenyum mengejek dan matanya yang tajam itu berapi dan kejam sekali, Kong Ji berjalan perlahan menghampiri Sin Hong.

Sebaliknya, Wan Sin Hong berdiri dengan tenang dan tabah.

Ia maklum bahwa kalau saja ia tidak menderita luka-luka akibat siksaan yang diterimanya selama ini, akan dapat menghadapi dan melawan Kong Ji.

Ia tak usah kalah oleh Kong Ji dalam hal ilmu silat sungguhpun tidak dapat memastikan apakah ia akan menang.

Akan tetapi, pada waktu itu tubuhnya sudah amat lemah.

Tidak saja menerima siksaan dan luka-luka, juga ia tidak diberi makan sudah dua hari sehingga tubuhnya lemah sekali.

"Anjing tak berjantung, kau mau membunuh aku? Bunuhlah, sama saja bagiku, hidup atau mati aku tetap akan membalasmu kelak!"

Kata Sin Hong samhil berdiri tegak.

Kong Ji menjadi semakin marah mendengar makian ini.

Dengan tangan kanan dikepalkan sambil mengerahkan semua tenaganya, ia menghantam ke arah pelipis Sin Hong.

Kalau pukulan ini tepat mengenai sasaran, tak dapat diragukan lagi Sin Hong tentu akan putus nyawanya.

tidak saja pukulan ini mengandung tenaga yang dahsyat, juga yang dipukul adalah bagian kepala yang paling lemah dan yang menjddi pusat semua urat syarat.

Sin Hong maklum pula bahwa ia tidak berdaya melawan, namun tentu saja tidak mau mampus begitu saja.

biarpun ia tidak mengenal takut dan tidak takut mati, namun ia akan membela diri sedapat mungkin.

Melihat datangnya pukulan ke arah pelipisnya, ia menggerakkan kepalanya ke belakang sehingga pukulan itu melayang di depan matanya dan menyambar tempat kosong.

Kong Ji marah sekali dan untuk kedua kalinya ia melayangkan pukulannya kini ia menonjok ke arah dada kiri Sin Hong.

Pukulan ini pun merupakan pukulan maut karena kalau mengenai sasaran jantung anak itu akan tergoncang dan dapat menyebabkan kematiannya, Sin Hong miringkan tubuhnya, akan tetapi karena tubuhnya sudah lemas kurang bertenaga, maka gerakannya itu kurang cepat sehingga pukulan yang dahsyat itu masih mengenai lengannya di atas siku.

"Krak...!"

Patahlah tulang lengan dari Sin Hong.

Anak ini meringis kesakitan dan air mata terloncat keluar saking hebatnya rasa sakit yang dideritanya.

Namun tidak sedikit pun keluhan keluar dari mulutnya dan biarpun kedua kakinya gemetar, ia masih dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dan tidak roboh terguling.

Pada saat itu, sebelum Kong Ji menyerang lagi untuk menewaskan Sin Hong, terdengar suara halus dari luar.

"Tahan...! Jangan mendahului kami membunuh musuh besar kami!"

Kong Ji kaget dan menengok, demikian pula dua orang tokoh Im yang bu-pai memandang ke arah luar kuil bobrok.

Ternyata bahwa yang datang adalah Kiang Cun Eng, anggauta-anggauta Hek-in-kaipang!

Kuil itu telah dikurung oleh seratus orang pengemis Hek-kin-kaipang dan kedatangan ketua perkumpulan pengemis itu benar-benar tepat sekali, karena terlambat satu menit saja, tentu nyawa Sin Hong sudah melayang akibat serangan serangan Kong Ji yang ganas dan keji.

Ketika mengenal siapa orangnya yang menahan Kong Ji membunuh Sin Hong, dua orang tokoh Im-yang-bu-pai itu saling pandang dan muka mereka menjadi merah.

Lalu melompat berdiri dan tangan kanan mereka meraba gagang senjata.

"Biarpun perkumpulan kami jauh lebih tinggi kedudukannya daripada Hek-kin-kai-pang, namun kami masih mengingat bahwa Hek-kin-kaipang adalah perkumpulan tua yang ternama juga, maka kami tidak pernah mengganggu. Sekarang Kek kin-kaipang dengan puluhan orang anggautanya mengepung dan mengganggu kami, apakah artinya ini?"

Kiang Cun Eng memberi hormat dan tersenyum manis.

"Jiwi Locianpwe, mohon maaf sebanyaknya. Kalau tidak ada setan cilik ini di situ, mana kami berani mengganggu Jiwi? Perkenalkanlah, aku adalah Kiang Cun Eng ketua Hek-kit kaipang yang bodoh dan rendah. Kami telah mendatangi Hoa-san-pai untuk membasmi partai yang telah berkali-kali menghina kami dan menjadi musuh besar kami, akan tetapi ternyata kami didahului oleh Jiwi Locianpwe yang gagah perkasa. Oleh karena setan cilik ini adalal ahli waris terakhir dari Hoa-san-pai, maka kami mohon kepada Jiwi sudilah memberikan anak ini kepada kami untuk kami bikin korban sembahyang, guna menyembahyangi roh-roh para anggauta kami yang ditewaskan oleh orang-orang Hoa-san pai. Bagi Jiwi, kiranya membunuh Liang Gi Tojin dan Lie Bu Tek saja sudah cukup. Harap sudi mengalah kepada kami dan memberi kesempatan kepada kami untuk membalas dendam kami kepada keturunan Hoa-san-pai yang terakhir ini."

Thian-te Siang-tung Kwa Siang yang tadi menegur, memandang kepada suhengnya dan mereka berdua merasa curiga.

Sudah lama mereka mendengar nama Kiang Cun Eng sebagai ketua Hek-kin-kaipang yang lihai ilmu silatnya dan banyak akal.

Tentu saja mereka berdua tidak takut menghadapi ilmu silat ketua Hek-kin-kai-pang ini, akan tetapi mereka merasa curiga kalau-kalau mereka akan ditipu.

"Hm, siapa percaya omonganmu?"

Kata Siang-mo-kiam Lai Tek sambil, memandang tajam. Di bawah sinar api penerangan yang suram, wajah Kiang Cun Eng masIh nampak cantik jelita seperti gadis berusia remaja saja.

"Bagaimana kalau kami menolak permintaanmu?"

Kiang Cun Eng menjura.

"Locianpwe, bagi aku sendiri, ditolak masih tidak apa-apa, akan tetapi para anggauta Hek-kin-kaipang yang seratus orang banyaknya ini sudah tidak sabar lagi. Mereka semua haus darah anak Hoa-san-pai itu, maka terserah kepada Locianpwe apakah hendak mengalah atau tidak. Akan tetapi, aku tidak tanggung kalau semua kawanku ini tidak mau menerima begini saja dan ramai-ramai akan menyerbu untuk berebut membinasakan anak itu."

Kwa Siang hendak marah akan tetapi Lai Tek memberi isyarat dengan matanya.

Tokoh ke dua dari Im-yang-pai ini bukan orang bodoh.

Ia pikir tidak ada untungnya untuk memperebutkan tentang siapa yang akan membinasakan anak Hoa-san-pai itu.

Alangkah bodohnya kalau tidak mau mengalah dan kemudian bentrok dengan Hek-kin-kaipang yang pada saat itu terdiri dari seratus orang.

Siepa saja yang membunuh anak ini, apa bedanya?

Pihak Im-yang-bu-pai hanya ingin melihat anak ini binasa agar kelak tidak menimbulkan bencana.

"Kiang-kaipangcu, biarlah kami mengalah. Akan tetapi kau harus membinasakan anak ini di tempat ini juga, disaksikan oleh kami!"

Katanya. Mendengar ucapan ini, Kwa Siang mengangguk-angguk menyatakan setuju. Memang kalau anak itu dibunuh di sini, apa bedanya? "Baik dan terima kasih!"

Kata Kiang Cun Eng sambil membentak.

"Anak setan, kau ke sinilah!"

Sekali saja ia menjambret, ia telah dapat menjambak rambut Sin Hong dan diseretnya anak itu mendekat. Sin Hong menggigit bibirnya menahan rasa sakit dan pedas pada kulit kepalanya.

"Siluman perempuan, kau hendak membunuh lekas bunuh! Siapa takut mampus?"

Ia balas membentak sambil iiendelikkan matanya.

"Bocah setan, pernah apa kau dengan Lie Bu Tek ?"

Tanya Kiang Cun Eng memperkeras jambakannya sehingga dua orang tokoh Im-yang-bu-pai menjadi girang dan hilang kecurigaannya.

Ternyata bahwa ketua dari Pek-kin-kaipang ini lebih keras hati lagi dan mereka tentu akan melihat kematian yang amat menarik hati dari anak kecil itu!

"Lie Bu Tek adalah ayah angkatku, kau siluman perempuan tanya-tanya ada perlu apakah?"

"Bagus, kalau begitu kau harus mampus?"

Bentak Kiang Cun Eng sambil mencabut pedang di tangan kanan.

Akan tetapi bukannya ia menggunakan pedang untuk menabas batang leher Sin Hong, sebaliknya ia lalu menyambar tubuh anak itu dengan lengan kirinya, memondongnya lalu meloncat cepat sekali keluar dari kuil!

"Celaka, kita tertipu!"

Teriak Kwa Siang dan cepat menggerakkan tangan kanannya yang sejak tadi telah memegang tiga pelor besi.

Tiga buah senjata rahasia itu menyambar ke arah Kiang Cun Eng, akan tetapi wanita gagah ini memutar pedangnya.

Terdengar suara nyaring dan tiga buah"

Pelor besi itu terpental.

Akan tetapi Cun Eng merasa betapa telapak tangannya yang memegang pedang tergetar dan kesemutan!

Kwa Siang dan Lai Tek mencabut senjatanya dan meloncat untuk mengejar.

Akan tetapi baru saja tiba di depan pintu, mereka telah dihadang oleh seratus orang anggauta Hek kin-kaipang.

"Bagus mulai hari ini Im-yang-bu-pai akan membasmi Hek-kin-kaipang!"

Teriak Kwa Siang marah sekali dan bersama suhengnya ia lalu mainkan senjata dan mengamuk hebat.

Kepandaian dua orang kakek ini memang lihai sekali.

Andaikata Kiang Cun Eng ikut mengeroyok, ketua Hek-kin-kaipang ini pun takkan menang menghadapi mereka.

Apalagi sekarang Hek-kin-kaipang telah banyak kehilangan jago-jagonya.

Dahulu Kiang Cun Eng masih mempunyai pembantu-pembantu yang amat sakti ketika Cun Eng masih muda.

Akan tetapi para pembantunya itu telah tua sekali dan sekarang semua anggauta Hek-kin-kaipang pandai ilmu silat, namun menghadapi dua orang tokoh Im-yang-bu pai yang amat lihai itu, mereka roboh seorang demi seorang bagaikan rumput dibabat.

Naintin para anggauta Hek-kin-kaipang sudah amat terkenal sebagai orang-orang yang setia sampai mati kepada perkumpulan dan ketua mereka.

Biarpun maklum bahwa dua orang itu sama sekali bukan lawan mereka, namun mereka taat akan perintah yang dikeluarkan oleh Kiang Cun Eng untuk menghalangi dua orang musuh itu melakukan pengejaran terhadap ketua mereka.

Biarpun banyak sekali kawan-kawan mereka yang roboh binasa, namun mereka sama sekali tidak mau memberi jalan dan terus mengepung Kwa Siang dan Lai Tek.

Dua orang tokoh Im-yang-bu-pai itu menjadi makin marah.

Benar-benar mereka tak berdaya untuk mengejar Cun Eng, dan terpaksa mereka mengamuk terus sehingga puluhan orang anggauta Hek-kin-kaipang roboh, terluka atau tewas.

Baiknya mereka bertempur di luar kuil dan keadaan malam hari itu gelap sehingga hal ini mengurangi banyakn)a korban yang jatuh.

Setelah mengurung dan mengeroyok dua orang Im-yang-bu-pai itu cukup lama dan yakin bahwa ketua mereka sudah melarikan dan cukup jauh hingga tak mungkin akan tersusul oleh pengejar-pengejarnya, para anggauta Hek-kin-kaipang tiba-tiba melenyapkan diri di dalam gelap.

Hebatnya dan rapinya barisan pengemis ikat pinggang hitam ini adalah ketika mereka melenyapkan diri, tiap orang menyambar tubuh seorang kawan yang terluka atau tewas sehingga ketika lenyap, mereka yang jadi korban juga lenyap dari tempat itu!

Akan tetapi, seorang anggauta Hek-kin-kaipang tak dapat melarikan diri cukup cepat karena ia berada di dekat Lai Tek.

Sekali saja Siang-mo-kiam Lai lek menggerakkan tangannya, ia telah dapat menangkap pundak orang ini yang segera dibantingnya ke bawah.

Pengemis itu mengeluh dan tak dapat berdiri lagi.

"Hayo katakan ke mana perginya ketuamu Kiang Cun Eng,"

Kata Lei Tek tiambil mengancam dengan pedangnya. Akan tetapi pengemis itu diam saja tidak menjawab dan tidak bergerak.

"Bangsat rendah, kau ingin disiksa?"

Kwa Siang ikut mengancam dengan marah sekali.

"Sahabat, kalau kau mengaku dan memberi tahu kepada kami ke mana perginya ketuamu, kami akan mengampuni nyawamu,"

Kata pula Lai Tek. Namun pengemis tetap menutup mulutnya.

"Jiwi locianpwe, mengapa tidak memanggang hidup-hidup agar dia suka mengaku?"

Tiba-tiba Liok Kong Ji yang sudah keluar dari kuil memberi usulnya. Melihat tiga musuh besar ini, pengemis yang tertangkap itu tersenyum mengejek.

"Kau kira aku orang macam apa? Biar kau akan membunuhku, aku takkan mengkhianati perkumpulan dan pangcu. Mau bunuh boleh bunuh, tak sudi aku mengobrol lebih lama dengan anjing-anjing besar kecil screndah kalian!"

"Krak!!"

Kepala pengemis itu pecah dan isi kepalanya hancur berantakan ketika tongkat Kwa Siang melayang dan menghantam kepalanya. Kwa Siang yang berhati keras dan berangasan itu tak dapat menahan sabar lagi.

"Ah, mengapa kau terburu nafsu, Sute? Ke mana kita harus mengejar ketua Hek-kin-kaipang?"

Lai Tek menyesal.

"Apa sih perlunya dikejar-kejar, Suheng? Kelak apa sukarnya bagi kita untuk memenggal leher ketua Hek-kin-katpang untuk membalas dendam atas hinaannya kali ini. Tentang setan cilik yang dibawanya pergi, andaikata Kiang Cun Eng menipu kita dan tidak membunuhnya, apa sih yang patut ditakuti? Lebih baik kita lekas pulang ke Lam-si melaporkan semua hal ini kepada bengcu (pemimpin) kita."

Siang-mo-kiam Lai Tek menarik napas panjang.

Ia tahu akan watak suhengnya yang selain keras juga amat berani.

Lagi pula, kalau dipikir-pikir, memang mereka tidak mempunyai lain jalan untuk mengejar Kiang Cun Eng.

Kalau mereka berusaha mencarinya, tentu berarti akan terlambat tiba di kota Lam-si yang sudah dekat dan hal ini amat berbahaya.

Bengcu mereka adalah seorang yang jauh lebih keras hati daripada Kwa Siang.

Sekali ia marah, ia mampu membunuh seorang anggauta atau murid seketika itu juga kalau si murid ini salah atau melanggar perintahnya!

"Baiklah, Sute.

Marl kita langsung ke Lam-si saja.

Bengcu tentu sudah menunggu-nunggu kita."

Demikianlah, Thian te Siang-tung Kwa Siang, Siang-mo-kiam Lai Tek, dan Liok Kong Ji atau sebaiknya kita sebut Lui Kong Ji karena anak yang berhati keji dan khianat ini sudah mengganti she (nama keturunan), berangkat cepat-cepat ke kota Lam-si di kaki bukit Kim-san.

Pada keesokan harinya, tibalah mereka di kota Lam-si.

Kong Ji merasa kagum melihat sebuah gedung yang kokoh kuat dan besar sekali di sebelah barat kota.

Di depan gedung ini tergantung papan nama perkumpulan Im-yang-bu-pai dengan tulisan yang merah, besar dan gagah.

Di depan pintu gerbang duduk beberapa orang penjaga yang pakaian aneh, yakni seperti yang dipakai oleh Kwa Siang dan Lai Tek, setengah hitam setengah putih"

Melihat Kwa Siang dan Lai Tek, semua penjaga berdiri tegap memberi hormat.

"Di mana bengcu?"

Tanya Lai Tek.

"Bengcu sedang berlatih silat di lian-bu-thia (ruang berlatih silat), melarang orang mendekati tempat itu,"

Seorang penjaga memberi keterangan. Lai lek maklum bahwa larangan ini berlaku untuk semua anggauta kecuali dia dan Kwa Siang yang merupakan "tangan kanan kiri"

Dari ketua Im-yang-bu-pai.

Maka ia mengajak Kong Ji dan sutenya memasuki gedung, terus menuju ke lian-bu-thia.

Ruangan ini lebar dan dikurung oleh empat pintu tertutup daun pintunya.

Tiba-tiba mereka mendengar sambaran-sambaran angin yang dahsyat sekali sehingga daun-daun pintu tergetar seakan-akan didorong dari sebelah dalam.

Dua orang tokoh lm yang-bu-pai itu saling pandang dengan heran dan kagum.

"Kong Ji, kau tinggal di sini saja, sekali-kali tak boleh ikut masuk ke dalam,"

Kata Lai Tek kepada anak itu yang tidak mengerti apa yang terjadi di sebelah dalam ruangan lian-bu-thia atau di balik empat pintu itu.

Adapun Lai Tek dan Kwa Siang berlutut di luar sebuah pintu kemudian Lai Tek berseru.

"Bengcu yang mulia, hamba berdua datang menghadap."

Sambaran angin pukutan makin menghebat dan tiba-tiba pintu di depan dua orang tokoh Im-yang-bu-pai itu terpentang lebar dan angin pukulan masih menyerang keluar, membuat Kwa Siang dan Lai Tek jatuh bergulingan!

Dapat dibayangkan betapa hebatnya pukulan itu yang anginnya saja dapat membuat pintu terpentang dan dua orang lihai seperti Lai Tek dan Kwa Siang sampai tak dapat menahan dan bergulingan.

Lai Tek dan Kwa Siang terkejut bukan main.

Mereka bangkit dan duduk lagi dengan muka pucat, akan tetapi keduanya tersenyum girang.

"Bengcu telah berhasil melatih ilmu pukulan dengan tenaga Tin-san-kang (Tenaga Menggetarkan Gunung)!"

Kata Lai Tek.

Terdengar suara ketawa menyeramkan dari balik pintu dan tiba-tiba bagaikan bayangan seorang iblis, di depan dua orang tokoh Im-yang-bu-pai itu telah berdiri seorang kakek yang menyeramkan.

Kakek ini rambutnya panjang terurai ke pundak, matanya lebar dan tubuhnya tinggi besar.

Pakaiannya seperti pakaian seorang tosu, bertangan lebar dan amat longgar nienutupi tubuhnya.

Inilah bengcu atau ketua dari Im-yang bu-pai atau boleh juga disebut pendiri dari Im-yang-bu-pai karena sebelum dia datang yang ada hanya Im yang-kauw.

Setelah kakek yang sakti ini datang dan mengusai Im-yang-kauw, dia lalu mendirikan Im-yang-bu-pai yang amat berpengaruh.

Bagi pembaca yang sudah membaea cerita Pendekar Budiman, orang ini tidak asing lagi, karena ia sesungguhnya adalah Giok Seng Cu, tosu yang nenjadi murid dari Pak Hong Siansu tokoh terbesar dari Tibet.

Ilmu kepandatan Giok Seng Cu amat tinggi, apalagi akhir-akhir ini ia selalu memperdalam ilmu silatnya setelah ia kena dikalahkan Go Ciang Le yang berjuluk Hwa I Enghiong.

Sebetulnya pendekar besar Go Ciang Le masih terhitung saudara seperguruannya.

Karena guru dan Go Ciang Le adalah Pak Kek Siansu yang menjadi suheng dari Pak Hong Siansu.

Hanya bedanya, kalau Pak Kek Siansu, menjadi seorang pertapa suci, adalah Pak Hong Siansu tersesat jauh, memasuki hek-to (jalan hitam).

Melihat kedatangan dua orang kaki tangannya, Giok Seng Cu tertawa.

Ia merasa girang sekali bahwa ilmu pukulan yang sedang dilatihnya itu berhasil baik.

"Masih jauh daripada memuaskan. katanya berulang-ulang.

"Sedikitnya naik dua tingkat lagi baru dapat menghadapi Hwa I Enghiong!"

Dua orang tokoh lm-yang-bu-pai terkejut mendengar ini.

Ketua mereka sudah demikian dahsyat kepandaiannya hingga kalau dibandingkan dengan kepandaian mereka, mereka bukan apa-apa.

Masa sekarang ketua ini harus naik dua tingkat kepandaiannya baru dapat menghadapi Hwa I Enghiong?

Hampir mereka tak dapat percaya.

"Sesungguhnyakah?"

Kwa Siang yang kasar menyatakan keheranannya.

"Sampai dimanakah lihainya Go Ciang Le?"

Giok Seng Cu tertawa terbahak, suara ketawanya memecahkan telinga rasanya sehingga Kong Ji tak terasa lagi menutup kedua telinganya dengan tangan, baru berani membukanva kembali setelah orangtua itu menghentikan ketawanya.

"Kau tahu apa? Go Ciang Le telah mewarisi kepandaian Pak Kek Siansu, ilmu silatnya lihai luar biasa. Kalau aku tidak dapat merampas pedang Pak-kek-sin-kiam dan kitab rahasia dari Supek yang ditinggalkan di Luliang-san, aku masih belum mampu mengalahkannya. Namun menghadapi Luliang Sam-lojin pun bukan hal yang amat mudah. Setahun lagi kalau Tin-san-kang yang kulatih sudah sempurna, barulah aku akan menyerbu ke Luliang-san!"

Kemudian kakek berambut panjang ini menahan kata-katanya dan merasa bahwa ia telah bicara terlalu hanyak, maka sambungnya.

"Eh, Lai Tek dan Kwa Siang, bagaimana dengan tugas kalian menghukum Hoa-san pai? Dan siapa anak setan ini?"

"Hoa-san-pai telah hamba basmi, Liang Gi Tojin dapat ditewaskan, dan Lie Bu Tek menjadi orang cacad tiada guna selama hidupnya. Adapun anak bernama Lui Kong Ji, Ayah Bundanya tewas dalam tangan Lie Bu Tek. Karena melihat dia berbakat, hamba lalu membawanya untuk menjadi murid hamba,"

Kata Kwa Siang.

Adapun anak itu ketika tadi melihat Giok Seng Cu bertanya tentang dia, menjadi ketakutan dan siang-siang sudah berlutut tanpa berani mengangkat mukanya.

Kwa Siang dan Lai Tek lalu menuturkan semua pengalaman mereka, juga tentang anak angkat dari Lie Bu Tek yang tadinya mereka bawa akan tetapi kemudian dirampas oleh Kiang Cun Eng.

"Mengapa kalian menguruskan anak kecil itu? Hek-kin-kaipang tak boleh dipandang ringan, anggautanya banyak sekali. Belum waktunya bagi kita untuk menanam permusuhan dengan mereka."

Giok Seng Cu menegur setelah mendengar semua penuturan mereka.

"Menurut keterangan Kong Ji, anak itu bukan orang sembarangan, melainkan keturunan dari Wan-yen dan murid wanita Hoa-san-pai, kalau tidak dibinasakan, tentu kelak akan mendatangkan bencana,"

Kata Lai Tek. Giok Seng Cu menggerakkan tangannya.

"Hah, takut apa menghadapi bocah itu? Biar dia dibawa oleh Kiang Cun Eng, biar ada seratus Kiang Cun Eng melatihnya, dia akan bisa berbuat apa terhadap kita?"

Kemudian kakek berambut panjang yang menyeramkan itu memandang ke arah Kong Ji.

"Angkat mukamu!"

Bentaknya. Kon Ji terkejut dan menurut.

"Kwa Siang, kau tidak salah, anak ini berbakat. Akan tetapi kita tidak tahu akan wataknya. Kau boleh mendidiknya, akan tetapi kalau kelak kulihat dia berbahaya, aku akan melenyapkannya."

Kwa Siang menyatakan baik dan Kong Ji yang tahu diri segera mengangguk-anggukkan kepalanya, menghaturkan terima kasih kepada kakek berambut panjang yang galak itu.

Anak ini cerdik sekali, maka ia menjaga sedapat mungkin untuk menarik hati semua orang dan beberapa bulan kemudian ia telah dapat mengambil hati Giok Seng Cu sendiri sehingga ia diakui sebagai murid termuda dari lm-yang-bu-pai.

Gunung Luliang-san menjulang tinggi, puncaknya tertutup oleh mega-mega putih.

Akan tetapi kalau orang berada di puncak itu, ia akan melihat mega yang berwarna semu hijau.

Oleh karena puncak Luliang-san ini oleh mendiang Pak Kek Siansu, dinamakan Jeng in-thia (Ruangan Mega Hijau).

Di puncak ini terdapat sebuah bangunan pondok sederhana dan kuat, pondok yang sudah kosong.

Di halaman pondok terdapat dua makam yang letaknya berhadapan, kurang lebih lima tombak jarak antara dua makam ini.

Itulah makam Pak Kek Siansu dan sutenya, Pak Hong Siansu yang tewas dalam pertandingan ilmu kepandaian secara hebat di depan pondok.

Setelah keduanya tewas Go Ciang Le mengubur jenazah kedua orang tua sakti itu.

Semenjak Pak Kek Siansu tewas, Jeng-in-thia tidak pernah ditinggali orang.

Adapun ketiga murid Pak Kek Siansu yang juga merangkap menjadi pelayan-pelayannya, kini tinggal di lereng gunung, dan hanya sekali waktu datang ke Jeng-in-thia untuk membersihkan bekas tempat tinggal guru mereka.

Tiga murid ini adalah Luliang Sam to-jin, tiga orang kakek dari Gunung Luliang san.

Yang tertua adalah Luliang Ciangkun atau Panglima Luliang-san, kedua Luliang Siu-cai atau Sasterawan Luliang-san, sedangkan ke tiga adalah Luliang Nungjin atau Petani Luliang-san.

Mereka telah berusia lanjut, telah menjadi kakek-kakek, namun mereka dianggap sebagai locianpwe yang dihormati dan disegani oleh semua golongan dalam dunia persilatan.

Namun, mereka telah lama mengasingkan dirie selalu tinggal di lereng Luliang-san dan tidak pernah turun ke dunia ramai.

Bahkan watak mereka amat aneh, Sama sekali mereka tidak mau berhubungan dengan manusia.

Kalau ada yang berani mendaki bukit Luliang-san, setiba di lereng tempat tinggal mereka, pasti orang itu akan mereka usir, secara halus maupun kasar!

Oleh karena inilah maka tidak ada orang kang-ouw yang berani naik ke sana, karena mereka segan menghadapi Luliang Sam-lojin yang memiliki kepandaian amat tinggi.

Ketika Pak Hong Siansu menyerbu Luliang-san (diceritakan dalam Pendekar Budiman), tiga orang kakek ini terluka hebat oleh Pak Hong Siansu yang menjadi susiok (paman guru) mereka sendiri, Luliang Ciangkun patah-patah lengan kanannya sehingga kini lengan kanan itu menjadi bengkok dan tak dapat dipergunakan untuk mainkan pedangnya yang lihai dan ia terpaksa bermain pedang dengan tangan kiri.

Luliang Siu-cai patah tulang pundaknya sehingga kini tulisannya yang biasa indah sekali menjadi coret-coretan jelek, juga menyebabkan gerakan ilmu silatnya kaku, Luliang Nungjin patah-patah kakinya sehingga kini kalau berjalan menjadi terpincang-pincang.

Akan tetapi, biarpun telah menjadi orang-orang bercacad, kepandaian mereka tidak berkurang, bahkan kini makin matang dan berisi.

Mereka memang sudah memisahkan diri dari dunia ramia, akan tetapi oleh karena pengalaman yang dulu-dulu membuat mereka maklum bahwa pengasingan diri itu belum tentu berarti mereka terbebas daripada gangguan orang-orang jahat, maka mereka tidak lupa untuk melatih diri dan memperdalam ilmu kepandaian mereka.

Luliang Sam-lojin maklum bahwa suhu mereka meninggalkan sebatang pedang pusaka dan kitab pelajaran ilmu silat yang disembunyikan di puncak Luliang-san.

Suhu mereka pernah berpesan sebelum meninggal dunia kepada mereka.

"Pedangku Pak-kek-sin-kiam dan kitab ilmu silat Pak-kek-sin-kiamsut serta Pak kek-sin-ciang kusembunyikan di sekitar Jeng-in-thia. Akan tetapi kalian takkan dapat mempelajarinya, karena untuk mempelajari ilmu itu, harus ada seorang yang masih bersih lahir batinnya, seorang anak yang berbakat baik dan bertulang pendekar budiman. Kiranya hanya Ciang Le yang akan dapat mewarisinya. Akan tetapi biarlah kita serahkan jodoh pedang dan ilmu itu kepada Thian. Jangan beritahukan kepada siapapun juga, biarkan orang yang berjodoh menemukannya sendiri. Akan tetapi hati-hati dan jagalah jangan sampai dua benda itu terjatuh ke dalam tangan orang jahat."

Pesanan ini ditaati betul oleh mereka.

Memang mereka pernah mencarI di dalam pondok, akan tetapi tidak dapat menemukan pedang dan kitab itu dan akhirnya mereka hanya menjaga di lereng bukit dengan penuh kewaspadaan.

Bagi mereka yang sudah tua, memang sudah kurang nafsu untuk memiliki pedang pusaka dan kitab rahasia itu, karena untuk apakah?

Luliang Ciangkun sudah cukup berbahagia kalau ia bisa bersilat pedang di tangan kiri pada malam terang bulan sambil diselingi minum arak sampai mabok.

Luliang Siu-cai biar pun tulisannya sudah buruk, cukup berbahagia untuk menulis sajak-sajak indah sambil minum arak di bawah sinar bulan purnama.

Adapun Luliang Nungjin dapat tertawa sepuas hatinya kalau ia melihat hasil pertaniannya amat subur dan baik, melihat ladang tanamannya menghijau dan berombak seperti lautan teduh kalau tertiup angin gunung.

Memang beberapa kali sute mereka yakni Go Ciang Le, datang mengunjungi mereka dan bersembahyang di depan makam Pak Kek Siansu, namun Ciang Le tidak pernah bertanya tentang pedang dan kitab, juga tak pernah menemukan benda-benda itu.

Maka mereka juga diam saja, taat akan perintah suhu mereka.

Pada suatu pagi sejuk dan bersih, dari kaki Gunung Luliang-san berjalan seorang wanita yang menuntun seorang anak laki-laki, mendaki gunung.

Mereka ini adalah Kiang Cun Eng dan Wan Sin Hong.

Setelah berhasil merampas Wan Sin Hong dari tangan dua orang tokoh Im-yang-bu-pai, Kiang Cun Eng langsung membawa anak itu menuju ke Luliang-san, untuk memenuhi pesan Lie Bu Tek, yakni menghadapkan anak itu kepada Luliang Samlojin.

Kiang Cun Eng telah merawat luka-luka Sin Hong di dalam perjalanan.

Tulang lengan kiri yang patah akibat pukulan Kong Ji, telah disambung dan diobati.

Karena Sin Hong masih anak-anak dan tulangnya masih dalam masa pertumbuhan, maka penyambungan itu mudah dilakukan dan setelah bersambung, menjadi putih seperti sediakala.

Kalau saja luka itu terjadi setelah ia dewasa, agaknya ia akan menderita cacad untuk selamanya.

Sin Hong tadinya membenci Kiang Cun Eng yang dikiranya juga seorang jahat seperti yang lain-lain.

Akan tetapi betapa wanita itu merawatnya, memperlakukan dengan sikap manis dan baik dan ternyata bahwa perampasan itu dilakukan dengan maksud menolongnya, menjadi amat berterima kasih dan terharu.

Apalagi setelah ia mendengar laporan pengemis Hek-kin-kaipang yang bertemu di jalan bahwa ketika menghadapi dua orang tokoh im-yang-bu-pai, tiga puluh orang anggauta Hek-kin-kaipang tewas dan luka-luka, hati Sin Hong menjadi perih sekali.

"Kiang-pangcu, mengapa kaulakukan semua uni untukku? Mengapa Hek "kin-kaipang membelaku sampai mengorbankan puluhan nyawa orang?"

Tanya Hong ketika ia mendengar akan laporan anggauta perkumpulan itu dan Cun Eng sedang mengobati luka-lukanya. Cun Eng mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang, lalu menarik napas sambil berkata.

"Anak yang baik, agaknya memang aku harus menebus semua dosa dengan jalan menolongmu, biarpun harus mengorbankan nyawaku sendiri. Aku lakukan semua ini untuk memenuhi permintaan Ayah angkatmu dan aku sudah berjanji akan memenuhi permintaannya itu biarpun dengan taruhan nyawaku dan nyawa kawan-kawanku."

Berlinang air mata anak itu mendengar keterangan ini.

"Budimu besar sekali, Pangcu, Aku Wan Sin Hong bersumpah akan membalas budi terhadap Hek-kin-kaopang ".."

"Hush... kalau ada persoalan budi, terima kasihmu harus kau tujukan kepada Lie Bu Tek. Dia sekarang menjadi manusia bercacad dan hidup sengsara di Hoa-san....."

"Gi hu...!"

Sin Hong menangis ketika diingatkan kepada ayah angkatnya yang ia lihat dirobohkan oleh musuh-musuhnya.

"Apakah... apakah Gihu tidak mati"..?"

Cun Eng menggelengkan kepalanya.

"la tidak mati,"

Lalu menuturkan perjumpaannya dengan Lie Bu Tek di puncak Hoa-san.

"Kalau Gi-hu belum tewas, aku mau kembali saja ke sana. Kasihan dia terluka hebat, siapa yang merawatnya?"

Kata Sin Hong yang segera bangun dari pembaringannya. Cun Eng, memegang pundaknya.

"Tenanglah, Sin Hong. Ayah angkatmu tidak apa-apa biarpun ia telah terluka namun pihak Im yang-bu-pai sudah puas dan kiranya takkan mengganggunya. Kau menurutlah saja padaku, karena seperti sudah kukatakan tadi, aku melakukan semua ini untuk memenuhi pesanan Ayah Angkatmu itu. Kau tentu seorang anak yang patuh kepada kehendak Gihu-mu itu, bukan?"

Sin Hong mcngangguk sambil menahan air matanya, dan demikianlah, ia ikut dengan Cun Eng menuju ke Luliang-san.

Karena kesehatannya telah pulih kembali, ia dapat melakukan perjalanan berlari-lari cepat sambil dituntun oleh Cun Eng.

Melihat gunung besar di mana Cun Eng mengajaknya naik, Sin Hong tak dapat menahan keinginan tahunya, maka bertanyalah dia.

"Kiang-pangcu, kita sedang menuju ke manakah?"

Kiang Cun Eng menghentikan perjalanan dan menjawab.

"Sin Hong, kiranya perlu kau ketahui akan rencana dari Ayah angkatmu dan mengapa kita berada di sini. Menurut kehendak Ayah angkatmu, aku harus membawamu ke Gunung Luliang-san ini dan menyerahkan kau ke dalam perlindungan Luliang Sam-lojin, tiga orang kakek yang berilmu tinggi. Hanya dalam perlindungan merekalah kau akan aman dan pihak Im yang-bu-pai takkan berani mengganggumu lagi"

"Siapakah Luliang Sam-lojin?"

Tanya Sin Hong.

"Mari kita lanjutkan perjalanan dan sambil berjalan akan kuceritakan padamu."

Mereka berjalan lagi dan sedapat mungkin Cun Eng menuturkan tentang keadaan Luliang Sam-lojin.

Tentu saja penuturannya kurang jelas karena sesungguhnya Kiang Cun Eng sendiri belum pernah bertemu muka dengan tiga orang kakek itu, hanya mendengar saja nama mereka yang terkenal.

Namun mendengar tentang Luliang Sam lojin yang oleh Cun Eng dituturkan memiliki kepandaian yang luar biasa lihainya sehingga orang-orang Im-yang-bu-pai takkan berani mengganggunya, Sin Hong merasa senang sekali.

Ia memang ingin belajar ilmu silat tinggi dan kiranya hanya tiga orang kakek itulah yang boleh diharapkan untuk membimbungnya sehingga tercapai cita-citanya.

Sejak dari kaki gunung, mereka tidak melihat dusun atau orang yang tinggal di daerah itu.

Keadaannya amat sunyi hanya diramaikan oleh suara burung.

Perjalanan makin sukar, menanjak, dan melalui jalan yang licin dan juga berbahaya.

Terpaksa Cun Eng menggendong Sin Hong di punggungnya, karena amat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki ilmu silat tinggi untuk melalui jalan seperti itu.

Sekali saja terpeleset orang akan terguling ke dalam jurang!

Ketika mereka mendekati lereng gunung, jalan mulai penuh batu karang dan di kanan kiri menjulang tinggi dinding-dinding batu karang, tiba-tiba Sin Hong berseru.

"Kiang-pangcu, lihat. Batu karang ini penuh tulisan yang aneh"

Kiang Cun Eng menghentikan kakinya dan menengok ke kiri.

Betul saja, dinding batu karang itu penuh dengan coretan huruf-huruf yang menggores dalam-dalam seperti dipahat.

Ketika menengok ke kanan, di situ pun terdapat banyak tulisan.

Heranlah ia bagaimana orang dapat menuliskan huruf-huruf di tempat seperti itu.

Selain batu karang itu keras sekali sehingga untuk memahat huruf itu tentu akan memakan waktu lama sekali, juga tulisan-tulisan itu ada yang terdapat di dinding bagian atas.

Kalau tiada mempergunakan tangga yang tinggi bagaimana menuliskannya?

"Alangkah buruknya tulisan itu......"

Kata Kiang Cun Eng. Sebagai seorang wanita, biarpun ia pernah mempelajari sastera yang diperhatikan hanya dari pandangan sudut keindahan.

"Hebat sekali tulisan itu"

Hampir berbareng Sin Hong berseru.

"lh, apanya yang hebat? Hurufnya petat-petot, coretannya mcncong dan tidak rata, apanya yang indah?"

Kiang Cun Eng mencela.

"Tulisannya memang buruk, Pangcu. Akan tetapi coba baca!"

Kiang Cun Eng menurunkan Sin Hong dari gendongan dan membaca tulisan yang berada paling dekat. Tulisan itu demikian buruknya sehingga Cun Eng membaca lambat dan penuh perhatian.

"Menyerah berarti akan terpelihara. Bengkok berarti akan menjadi lurus. Kosong berarti akan menjadi penuh. Rusak berarti akan diperbaiki. Sedikit berarti akan menjadi cukup. Mempunyai banyak berarti akan menjadi bingung. Maka orang bijaksana menggenggam Kesatuan. Dan menjadi tauladan bagi manusia di dunia. Ia tidak menonjolkan diri. maka jelas kelihatan. Ia tidak membenarkan diri. maka kebenarannya terkenal. Ia tidak menyomhongkan diri, maka dihargai orang. Ia tidak memuji diri. maka terpuji. Justru ia tidak pernah bermusuh. Maka tiada orang di dunia dapat bermusuh padanya. Tepat sekali ujar-ujar kuno bahwa. Menyerah berarti akan terpelihara. Yang menyerah akan terpelihara sepenuhnya. Dan dunia akan memuji tinggi padanya."

"Sajak apakah ini, begini sulit dimengerti?"

Kiang Cun Eng kembali mencela.

Memang, ketika mempelajari ilmu surat, ketua Hek-kin-kaipang ini tidak pernah membaca kitab-kitab kuno karena ia memang tidak suka akan isi kitab yang dianggapnya hanya memusingkan otaknya belaka.

"Pangcu, bagaimana kau tidak mengenalnya? Itulah sebuah sajak dari dalam kitab To Tek Kheng!"

Kata Sin Hong.

"To Tek Kheng? Hm, pernah aku mendengar nama kitab ini, akan tetapi tak pernah aku membaca isinya, Nah, kalau sajak yang di sana itu, baru baik namanya,"

Kata Cun Eng.

Sin Hong menengok ke kanan dan melihat sajak yang ditulis atau lebih tepat diukir di dinding kanan.

Tulisannya tetap buruk sekali, akan tetapi susunan sajaknya benar-benar indah, dan romantis, sungguhpun isinya hanya merupakan pujian terhadap sinar bulan, air telaga, arak dan wanita cantik sebagaimana seringkali ditulis oleh penyair dan pujangga kuno.

"Sin Hong kau mengerti bahwa tulisan yang kubaca tadi dari kitab To Tek Kheng. Apakah juga kau mengerti juga artinya yang demikian sulit?"

Tiba-tiba Cun Eng bertanya. Merah wajah Sin Hong, seorang anak kecil seperti dia, bagaimana dapat menyelami arti daripada ujar-ujar yang demikian sulit? Ia tersenyum dan menjawab.

"Kiang-pangcu aku sendiri sesungguhnya amat bodoh. Aku hanya mengerti dari keterangan guru-guru sastera yang pernah mengajarkan isi dari semua sajak itu yang pada pokoknya hanya nasihat dari Pujangga Besar Lo Cu yang menyuruh orang mengosongkan diri, menyerah, merendah dan tunduk kepada Hukum Alam atau To, membiarkan diri bersikap seperti air pula yang mencari jalan kembali ke samudera, atau yang terkenal dengan istilah mencari diri pribadi. Maksudnya entahlah, aku sendiri belum mengerti."

Sesungguhnya, biarpun masih kecil namun otak Sin Hong cerdik sekali dan ia sudah dapat menangkap maksud daripada filsafat ini, hanya ia tidak berani menyatakan kepada Cun Eng.

Baginya ia lebih tertarik akan ujar-ujar dari Guru Besar Khong Hu Cu, karena baginya, ujar-ujar Lo Cu terlalu dalam dan terlalu muluk, di luar daripada kenyataan hidup yang membutuhkan dorongan semangat dan kemajuan menurut jalan yang benar dan baik.

Mereka melanjutkan perjalanan.

"Heran sekali, siapakah yang begitu iseng menuliskan segala macam sajak kuno di tempat seperti itu?"

Sin Hong berkata perlahan.

"Dia itu biarpun tulisannya buruk, tentulah seorang saterawan besar."

Mendengar ini, kembali Cun Eng menghentikan kakinya.

"Ah, sekarang aku ingat. Penulisnya tentulah Luliang Siucai!"

"Siapa dia?"

"Dialah orang ke dua dari Luliang Sam lojin. Yang pertama adalah Luliang Ciangkun, ke dua Luliang Siucai, dan ke tiga Luliang Nungjin."

Sin Hong menjadi heran dan kagum.

Benar-benar aneh, pikirnya.

Tiga kakek Luliang-san itu memakai nama Panglima, Sasterawan, dan Petani.

Tak lama kemudian, jalan batu karang telah dilalui dan mereka tiba di lereng bukit yang hijau dan penuh tanaman segar.

Jauh sekali bedanya dengan daerah yang baru saja dilalui.

"Pangcu, di lereng ini tinggal banyak sekali petani!"

Tiba-tiba Sin Hong yang berpemandangan awas itu berseru.

"Mengapa kau berkata demikian?"

"Lihat sawalt-sawah itu!. Demikian lebar dan luas. Kalau bukan banyak petani rajin yang mengerjakannya, siapa lagi?"

Kiang Cun Eng mumbenarkan pendapat ini. Akan tetapi mereka memandang ke sara ke mari, di daerah itu sunyi sepi tidak kelihatan sebuah pun rumah orang. Di manakah tinggalnya para petani itu?"

Tiba-tiba entah dari mana datangnya, seorang berpakaian petani jalan mendatangi sambil memanggul cangkul.

Kiang Cun Eng dan Sin Hong memandang dengan mata menyatakan kaget dan heran.

Mereka sama sekali tidak tahu dari mana datangnya orang itu dan yang amat mengherankan mereka adalah pacul yang dipanggul oleh orang itu.

Pacul itu gagangnya hanya sebatang akan tetapi amat panjang dan ujung gagangnya itu ada cabangnya sebanyak enam dan di setiap ujung cabang terdapat sebuah pacul!

Jadi pada hakekatnya pacul yang segagang itu mempunyai mata cangkul sebanyak enam buah yang jauhnya dari satu kepala yang lain ada tiga kaki.

Benar benar pacul yang amat aneh.

Petani yang sudah tua itu berjalan terpincang-pincang, ternyata kakinya bengkok-bengkok.

Hal ini dapat dilihat nyata karena celananya hanya sebatas lutut dan kedua kakinya berkulit putih bersih, berbeda dengan petani biasa.

Tanpa menoleh, petani itu lalu masuk ke dalam sawah berlumpur dan cepat mengerjakan paculnya yang aneh.

"Hebat sekali orang itu"..!"

Kiang Cun Eng berseru perlahan ketika ia melihat bagaimana petani itu bekerja.

Ayunan cangkulnya cepat dan keras dan tiap kali ia menarik paculnya, enam mata cangkul itu telah mencabut atau memacul rumput-rumput liar yang mengganggu sayur-sayuran yang ditanamnya.

Biarpun sayur-sayuran itu tumbuh dekat, namun ke enam mata cangkul itu mengenai tepat pada sasarannya, yakni rumput-rumput liar dan sama sekali tidak mengganggu tanamannya sendiri!

Biarpun Cun Eng bicara perlahan sekali, namun tiba-tiba petani itu menunda pekerjaannya dan sekali ia melompat ia telah berdiri di hadapan Cun Eng dan Sin Hong!

Gerakan ini luar biasa sekali cepatnya, dan jarak antara mereka lebih dri lima tombak, namun sekali melompat kakek pincang itu telah berada di situ.

Dan yang lebih mengagumkan hati Cun Eng dan Sin Hong adalah kaki kakek itu masih bersih dan sama sekali tIdak terkena lumpur padahal kalau orang menginjak sawah berlumpur itu, kedua kakinya tentu akan amblas sedikitnya sampai pergelangan kaki!

"Kalian ini siapakah?

Apakah datang hendak mencuri sayur mayur yang kutanam?"

Tegur kakek petani pincang itu. Ia memandang kepada Cun Eng hanya sebentar saja akan tetapi matanya kini menatap wajah Sin Hong penuh perhatian.

"Penghuni gunung ini benar amat aneh,"

Kata Sin Hong sebelum Cun Eng menjawab, membikin kaget kepada ketua Hek-kin-kaipang itu.

"Lopek yang baik, kau menanam begini banyak sayur-mayur, dimakan sendiri takkan habis. Mengapa demikian pelit dan takut orang mengambilnya? Apakah sekian banyaknya sayur dapat kau makan habis?"

Kalau Kiang Cun Eng amat terkejut dan khawatir, adalah petam itu tertawa berkakakan mendengar pertanyaan Sin Hong.

"Ha, ha, ha, kau tahu apa, bocah? Tentu saja aku tidak makan habis sayuran ini, aku menanamnya hanya untuk melihat hasil kerjaku. Asal tanamanku hidup subur dan indah, aku sudah puas, siapa menginginkan hasilnya untuk dimakan?"

Sin Hong melongo.

"Jadi sayur-sayuran yang ditanam ini akhirnya akan membusuk begitu saja?"

"Tentu saja! Tidak ada sesuatu yang takkan tua layu dan mati di dunia. Akan tetapi itu yang menyenangkan hatiku, kalau sudah mati, aku dapat mencangkul dan menanam lagi, bukankah itu amat menggembirakan hati? Soal mencuri, biarpun hanya mencuri sayur, namanya tetap mencuri dan aku paling benci kejahatan!"

Cun Eng tak sangsi lagi dengan siapa ia berhadapan, maka ia membentak Sin Hong.

"Jangan kurang ajar, Sin Hong""

Setelah itu ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan petani itu sambil berkata.

"Locianpwe, mohon maaf sehanyaknya atas kelancangan teecu berdua."

Kakek petani itu nampak kaget lalu tersenyum.

"Eh, apa-apaan sih ini? Aku seorang petani bodoh yang hanya bisa mencangkul dan menanam mengapa kausebut locianpwe segala""

"Mohon Locianpwe sudi memaafkan kalau tadi teecu buta tidak tahu bahwa teecu berhadapan dengan Luliang Nungjin yang mulia."

Mendengar sebutan ini, Sin Hong tercengang dan perlahan-lahan ia lalu menjatuhkan diri berlutut pula, akan tetapi ia mengangkat mukanya memandang kepada kakek petani itu penuh selidik.

Kakek petani itu memang Luliang Nungjin.

la tertawa, kemudian memandang tajam kepada Cun Eng.

"Siapakah kau yang bermata tajam? Kita belum pernah bertemu dan sudah lama sekali aku tak meninggalkan gunung, bagaimaa kau bisa mengenalku?"

Sebelum Cun Eng menjawab, kembali Sin Hong saking herannya mengeluarkan kata-kata yang keras.

"Aneh, aneh! Para Locianpwe di Luliang-san memang orang-orang aneh. Tadi aku sudah melihat hasil pekerjaan Luliang Siucai, yang menggunakan pahat mengukir huruf huruf jelek menuliskan sajak-sajak indah. Sekarang Locianpwe ternyata adalah Luliang Nungjin, petani yang menanam banyak sekali sayur mayur tanpa memakan hasil sawah ladangnya!"

Melihat kejujuran dan ketabahan Sin Hong, Luliang Nungjin gembira sekali.

"Anak goblok, Luliang Siucai tak pernah memegang pahat. Ia menulis huruf-huruf itu dengan coretan jari telunjuknya!"

Mendengar ini Sin Hong menjulurkan lidahnya dan menjadi bengong.

Bahkan Cun Eng sendiri bergidik memikirkan betapa lihainya orang yang menggunakan jari tangan mencoret-coret di dinding batu karang setinggi itu!

Buru-buru ia mengangguk-anggukkan kepala dengan hormat dan berkata.

"Sekali lagi mohon Locianpwe memaafkan kami, terutama atas kelancangan mulut anak ini. Teecu adalah Kiang Cun Eng".."

"Hm, Jadi kau ketua Hek-kin-kaipang"

Luliang Nungjin memotong kata-kata orang.

"Benar demikian, Locianpwe."

"Hm, kau tentu menghadapi kesulitan. Makin besar perkumpulannya, makin pusing mengurusnya."

"Memang betul seperti yang dikatakan Locianpwe, teecu datang ini hendak memohon pertolongan. Teecu...."

"Stop...! Tak perlu menceritakan urusanmu. Urusanmu bukan urusanku. Aku tidak ingin mendengar lebih lanjut. Kau dan bocah ini lekas-lekas turun gunung. Kami tidak membolehkan siapa juga mengganggu ketenteraman di Luliang-san."

"Locianpwe, mohon belas kasihan dari Locianpwe, teecu bukan datang untuk keperluan teecu sendiri, melainkan...."

"Sudah, sudah! Kalau aku membiarkan kau bicara juga, tentu dua orang Suhengku takkan mau membiarkan."

"Locianpwe...."

"Diam, lihat mereka sudah datang! Kau boleh mendengar sendiri."

Tanpa dapat diketahui sebelumnya, tahu-tahu dua orang kakek telah berada di situ.

Cun Eng dan Sin Hong memandang.

Yang seorang adalah seorang kakek bertubuh tinggi besar yang berpakalan seperti panglima perang.

Jenggotnya panjang dan wajahnya yang gagah membuat ia kelihatan seperti Kwan In Tiang atau Kwan Kong tokoh besar di jaman Sam Kok.

Orang ke dua adalah seorang yang halus gerak-geriknya, berpakaian sebagai seorang sasterawan dengan kuku tangan terpelihara baik-baik.

"Sute, siapakah mereka ini?"

Luliang Ciangkun bertanya dengan suara yang besar.

"Kiang Cun Eng ketua Hek-kin-kai-pang dan bocah ini... entah siapa,"

Jawab Luliang Nungjin.

Tiba-tiba tubuh tinggi besar dari Panglima Bukit Luliang itu bergerak dan ia telah menubruk Kiang Cun Eng!

Wanita ini kaget sekali dan hendak mengelak karena mengira bahwa kakek itu menyerangnya.

Akan tetapi, tahu-tahu ia merasa sesuatu bergerak di punggungnya dan ketika ia merabanya ternyata bahwa pedang yang tadinya tergantung di punggungnya telah dirampas oleh Luliang Ciangkun!

Cun Eng terkejut sekali, akan tetapi Luliang Siucai dengan suaranya yang halus berkata.

"Orang yang datang di Luliang-san tidak boleh membawa-bawa senjata."

Sementara itu, Luliang Ciangkun memandang pedang rampasan dengan senyum mengejek.

"Pedang apa ini? Ha percuma saja dibawa-bawa!"

Ia lalu bersilat dengan pedang itu.

Bukan main cepatnya gerakan pedangnya dan angin dingin menyambar-nyambar dari gerakan pedang.

Cun Eng dan Sin Hong melongo menyaksikan ilmu pedang yang hebat ini.

Tiba-tiba pedang itu meluncur menyambar batu karang dan menimbulkan suara keras sekali.

Batu karang sebesar dua tubuh orang itu terbelah akan tetapi pedangnyapun patah menjadi dua!

"Pedang buruk, pedang tiada gunanya..."

Luliang Ciangkun berkata sambil melemparkan gagang pedang dengan gaya jijik dan tidak senang.

"Hebat,"

Pikir Cun Eng.

Tiga orang kakek ini benar-benar lihai.

Sasterawan itu dapat menulis di batu karang dengan mencorat-coretkan telunjuknya, tanda bahwa lweekangnya sudah tinggi sekali.

Petani itu pun dapat mempergunakan pacul sedemikian rupa sehingga pacul itu dapat menjadi senjata luar biasa lihainya.

Sedangkan Panglima ini sudah tak dapat disangsikan lagi kelihalan ilmu pedangnya dan besarnya tenaga.

"Sam-wi Locianpwe mohon sudi meng-ampunkan teecu yang bodoh. Sesungguhnya teecu berani datang ke tempat ini untuk memenuhi permintaan Lie Bu Tek dari Hoa san-pai."

"Hoa-san-pai? Apa yang terjadi dengan Hoa-san-pai?"

Luliang Ciangkun melangkah maju.

Tiga orang kakek ini memang mempunyai hubungan yang amat baik dengan Hoa-san-pai dan di antara semua partai persilatan hanya kepada Hoa -san pai mereka menaruh hati suka.

Hal ini adalah karena sute mereka yang terkasih, yaitu Go Ciang Le, termasuk keturunan dari Hoa san-pai, bahkan isteri dari Go Ciang Le yang bernama Liang Bi Lan juga seorang anak murid Hoa-san-pai yang terkasih.

Mendengar pertanyaan ini, Cun Eng Ialu menuturkan pengalamannya.

Baca Juga: Pendekar Sakti 4

Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert