Ceritasilat Novel Online

Suling Emas Dan Naga Siluman 7

Eps 7 Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo.

Sementara itu, Cu Pek In memang diam-diam cinta kepada suhengnya itu, kepada Sim Hong Bu dan walaupun dia tidak pernah menyatakannya dengan kata-kata, namun dalam hubungan mereka yang akrab itu nampak jelas bahwa dara ini memang jatuh cinta.

Maka, dapat dibayangkan betapa dara itu merasa kesepian setelah pemuda yang dicintanya itu "bertapa"

Di luar lembah dan tak pernah dapat dijumpainya.

Bahkan ketika dia minta kepada ayahnya untuk menjenguk suhengnya, ayahnya melarangnya dan mengatakan bahwa Sim Hong Bu tidak boleh diganggu untuk waktu sedikitnya satu tahun!

Inilah yang membuat dara itu menjadi kesepian dan gelisah, juga jengkel sehingga kejengkelannya itu nampak ketika dia bertemu dengan Ci Sian.

Ketika mereka tiba di tepi jurang lebar yang dijadikan tempat penyeberangan ke lembah, Cu Kang Bu mengeluarkan pekik melengking nyaring untuk memberi tanda kepada para penjaga di seberang sana untuk menarik tambang yang kalau tidak akan dipergunakan lalu diturunkan sehingga lenyap di dalam kabut tebal yang memenuhi jurang.

Tak lama kemudian, nampaklah tambang itu dari bawah, makin lama makin naik dan akhirnya menegang, merupakan jembatan yang aneh dan mengerikan.

"Maaf, hanya inilah jembatan yang akan membawa kita ke Lembah Gunung Suling Emas!"

Kata Cu Kang Bu kepada Kam Hong.

"Harap saja Saudara Kam Hong dan Nona tidak merasa sungkan untuk menyeberang dengan menggunakan tambang ini."

Di dalam hatinya, Ci Sian merasa ngeri.

Kalau hanya berjalan di atas tambang, tentu saja bukan hal sukar baginya.

Disuruh lari pun dia sanggup.

Akan tetapi, kalau tambang itu menyeberang di atas jurang yang tak nampak dasarnya seperti itu, penuh kabut, tak dapat diukur betapa dalamnya, tentu saja hatinya terasa ngeri bukan main dan dia merasa mulutnya kering!

"Tidak mengapa, jembatan ini cukup baik."

Kata Kam Hong dengan tenang.

Mendengar ucapan ini, Ci Sian lalu me-narik napas panjang dan menenteramkan jantungnya yang berdebar penuh ketegangan dan kengerian itu.

"Cukup baik.... cukup baik...."

Katanya dan dia tidak berani bicara banyak-banyak, takut kalau-kalau suaranya terdengar menggigil!

Akan tetapi tetap saja dia khawatir.

Bagaimana kalau dia dan Kam Hong menyeberang tambang itu dan tiba di tengah-tengah lalu pihak tuan rumah membikin putus tambang itu?

Ngeri dan membayangkan peristiwa ini, membayangkan dia dan Kam Hong meluncur turun ke bawah jurang!

Teringat dia akan pengalamannya ketika terjatuh ke dalam jurang dan nyaris nyawanya melayang kalau saja tidak ada See-thian Coa-ong yang menyelamatkannya.

Dara itu merasa jantungnya berdebar, tengkuknya dingin dan rasa takut mencekam hatinya.

Rasa takut memang selalu menguasai kehidupan manusia dari masa kanak-kanak sampai sudah tua sekalipun.

Darimanakah timbulnya rasa takut ini?

Mengapakah hidup ini penuh dengan rasa takut atau khawatir, cemas dan tidak menentu sehingga kebanyakan dari kita lalu hendak melarikan diri dari rasa takut ini, mencari perlindungan, mencari keamanan, mencari hiburan agar rasa takut atau khawatir terlupa?

Takut akan setan, takut tidak lulus ujian sekolah, takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan orang-orang yang dicinta, takut menderita, takut sengsara, takut sakit, takut mati dan selanjutnya.

Mengapa kita selalu dikelilingi oleh rasa takut ini?

Dapatkah kita hidup bebas dari rasa takut yang seolah-olah menjadi bayangan kita ini?

Dapatkah kita menghentikan sumber dari mana timbul rasa takut yang terus-menerus ini?

Mengalahkan, rasa takut satu demi satu tidaklah mungkin, karena selama sumber itu masih terus menciptakan rasa takut, maka tidak akan ada habisnya selama kita hidup dan kita akan harus bergulat mengatasi rasa takut itu satu demi satu.

Akan tetapi kalau sumbernya sudah diketahui sehingga sumber itu tidak lagi menciptakan rasa takut, maka kita tidak perlu lagi mengalahkan rasa takut satu demi satu.

Apakah rasa takut itu dan bagaimana timbulnya?

Rasa takut adalah bayangan pikiran akan sesuatu yang mungkin akan mendatangkan kesusahan kepada kita atau akan sesuatu yang mungkin akan merampas kesenangan kita.

Rasa takut adalah bayangan pikiran akan sesuatu yang belum ada atau belum terjadi.

Jadi, rasa takut atau khawatir, gelisah, cemas dan sebagainya adalah permainan dari pikiran sendiri.

Pikiran selalu mengenang masa lalu, memisah-misahkan pengalamanpengalaman masa lalu antara yang menyenangkan dan yang menyusahkan.

Kemudian pikiran selalu berusaha untuk mengejar kesenangan, untuk mengulang semua kesenangan yang pernah dialaminya, dan berusaha untuk menolak segala kesusahan yang pernah dialaminya.

Dan apabila pikiran melihat masa depan, membayangkan bahwa dia akan ditimpa hal yang tidak menyenangkan, lalu timbul rasa takut!

Hal ini dapat kita lihat kalau kita mau membuka mata memandang diri sendiri, kalau sewaktu timbul, rasa takut kita mau menghadapi rasa takut itu TANPA MELARIKAN DIRI, menyelidiki dan mempelajarinya.

Jadi, jelaslah bahwa pikiran itu sendiri yang menjadi pencipta rasa takut.

Tanpa adanya pikiran yang membayang-bayangkan hal yang belum terjadi, takkan ada rasa takut itu.

Mungkin ada yang bertanya, apakah kita lalu harus acuh sehingga kita menjadi lengah terhadap sesuatu yang mengancam di masa depan?

Tanpa memba-yangkan hal-hal yang belum terjadi, mana mungkin kita dapat bersiap-siap menjaga diri dan menghindarkan bencana?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu timbul dari rasa takut itu sendiri!

Sama sekali bukan menjadi tidak acuh.

Bahkan kita selalu waspada, bukan waspada yang timbul dari rasa takut, bukan waspada terhadap sesuatu yang mengancam, melainkan waspada setiap saat akan diri sendiri lahir batin dan akan keadaan sekeliling.

Sebaliknya, rasa takut yang mencekam hati akan membuat kita melakukan hal-hal yang menyeleweng, membuat kita mungkin saja menjadi pengecut saking takutnya, dan tidak jarang membuat kita menjadi kejam karena dalam usaha melenyapkan hal yang mendatangkan rasa takut itu dapat terjadi perbuatan-perbuatan kejam!

Banyak sekali orang-orang yang melakukan hal-hal kejam terhadap manusia lain sebenarnya didorong oleh rasa takut yang mencekam hatinya!

Dia selalu merasa terancam dan oleh karena itu, untuk menghalau semacam itu dia tidak segan-segan mendahului dan melenyapkan orang lain yang dianggap menjadi sumber atau penyebab rasa takutnya.

Atau karena rasa takut, maka kita lalu melarikan diri mencari hiburan dan dari sinilah timbulnya segala pelarian kepada ilmu klenik dan ramalan-ramalan.

Sebaliknya, kalau kita menghadapi rasa takut itu sebagaimana adanya, bukan ingin mengendalikan atau mengalahkannya, melainkan menghadapinya dan mengamatinya di waktu rasa takut timbul, mempelajarinya, akan nampak jelas bahwa rasa takut itu hanyalah permainan pikiran yang ingin mengulang kesenangan dan ingin menjauhi kesusahan belaka!

Dan tanpa permainan pikiran yang mengenang-ngenang masa lalu dan membayang-bayangkan masa depan, yang ada hanyalah kewaspadaan dan kesadaran setiap saat terhadap segala sesuatu yang terjadi!

Dan di dalam kewaspadaan ini, perhatian sepenuhnya ini, tidak ada rasa takut, yang ada hanyalah tindakan yang timbul dari kecerdasan dan kewajaran.

Jadi, setiap saat timbul rasa takut, khawatir dan sebagainya, kita mengamatinya, menyelidikinya, mempelajarinya.

Cobalah!

"Sebagai pihak tuan rumah, silakan Saudara menyeberang lebih dulu."

Kata Kam Hong dengan nada suara halus kepada Cu Han Bu dan hati Ci Sian lega bukan main.

Kiranya Kam Hong juga cerdik, pikirnya.

Cu Han Bu memandang dan tersenyum.

"Agaknya sobat Kam Hong masih curiga?"

Tanyanya akan tetapi dia pun lalu meloncat ke atas tali itu.

"Bukan curiga hanya berhati-hati."

Jawab Kam Hong tersenyum pula dan dia pun lalu meloncat ke atas tali di belakang Cu Han Bu.

Ci Sian juga melangkah ke depan dan menginjak tali itu, melangkah hati-hati di belakang Kam Hong dan dia melihat bahwa di belakangnya melangkah pula pihak tuan rumah.

Hatinya lega karena kalau tali putus, mereka semua yang akan jatuh, bukan hanya dia dan Kam Hong!

Lihatlah betapa besar si Aku menguasai batin manusia!

Setiap kali tertimpa malapetaka atau tercekam rasa takut, manusia akan merasa terhibur kalau melihat ada orang lain juga tertimpa hal yang sama!

Seolah-olah melihat orang lain tertimpa malapetaka, apalagi kalau lebih besar daripada malapetaka yang menimpa dirinya, hal itu menjadi hiburan yang amat manjur!

Tangis karena menyedihi malapetaka yang menimpa diri bisa saja berobah tawa ketika melihat orang lain mengalami hal yang sama atau lebih parah!

Sebaliknya, si Aku ini selalu tidak rela kalau dalam menerima keuntungan lalu ada orang lain yang juga menerima keuntungan yang sama, apalagi yang lebih besar.

Iri hati timbullah!

Ah, kalau saja kita mau mengamati diri setiap saat, akan nampaklah segala kekotoran, kemunafikan, kepalsu-an, kebencian, iri hati, dalam diri sendiri, dalam si Aku ini!

Sayang, kita hanya suka mengamati orang lain, mencela orang lain, tidak pernah mau mengamati diri sendiri, atau kalau mau pun kita hanya mau melihat kebaikan-kebaikan diri sendiri belaka dan itu bukanlah pengamatan namanya!

Mereka semua dapat menyeberang dengan selamat sampai di seberang dan setelah semua orang melompat ke tepi jurang di daerah lembah, tali itu lalu dikendurkan lagi sehingga menghilang tertutup kabut.

"Mari silakan, sobat!"

Cu Han Bu mempersilakan ketika mereka tiba di depan sebuah gedung yang cukup megah di tengah-tengah lembah.

Dengan tenang Kam Hong bersama Ci Sian mengikuti tuan rumah memasuki gedung itu dan mereka lalu dipersilakan untuk duduk di ruangan dalam yang luas dan di sinilah dua orang tamu ini dijamu oleh pihak tuan rumah.

Mereka semua mengelilingi sebuah meja panjang.

Kam Hong dan Ci Sian duduk bersanding di tempat kehormatan, kemudian berturut-turut duduk Cu Han Bu, Cu Seng Bu, Cu Kang Bu, lalu Yu Hwi dan Pek In sendiri duduk di dekat ayahnya.

Mereka duduk makan minum sambil bercakap-cakap atau lebih tepat, yang bercakap-cakap adalah Kam Hong dan Cu Han Bu berdua saja, karena yang lain hanya diam mendengarkan.

Ci Sian melihat betapa kadang-kadang Yu Hwi mengerling ke arah Kam Hong dan dia menangkap pandang mata penuh kagum dari wanita itu kepada bekas tunangannya.

Hati Ci Sian merasa puas.

Hemm, perempuan tolol, pikirnya, menolak Kam Hong dan memilih pria tinggi besar itu sama dengan menolak batu intan dan memilih batu karang!

Tentu saja dia tidak tahu bahwa sebetulnya tidaklah demikian.

Yu Hwi sudah jatuh cinta kepada Kang Bu dan tentu saja baginya tidak ada pria yang lebih hebat daripada kekasihnya itu.

Dia memandang kagum kepada Kam Hong adalah karena kekaguman yang sungguh-sungguh, mengingat bahwa dahulu bekas tunangannya ini hanya setingkat dia kepandaiannya, bahkan lebih rendah mungkin.

Akan tetapi, sekarang ternyata bukan hanya mampu menandingi Kang Bu, bahkan kini berani memasuki Kim-siauw San-kok dengan sikap demikian tenangnya.

Betapa bedanya dibandingkan dengan Siauw Hong dahulu!

Setelah mereka selesai makan minum dan semua mangkok piring telah dibersihkan dari meja, Cu Han Bu lalu berkata kepada Kam Hong.

"Nah, sekarang kami harap sudilah kiranya engkau menceritakan tentang nenek moyangmu, keluarga Pendekar Suling Emas, sobat Kam Hong."

Kam Hong tersenyum.

"Saudara Cu, bukan aku yang sengaja datang, melainkan karena kalian yang mengundangku, oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau engkau lebih dulu menceritakan keadaan keluargamu dan mengapa ada hubungan di antara keluarga kita seperti yang kau katakan. Apa pula sebabnya tempat ini memakai nama Suling Emas, dan bagaimana puterimu dapat memiliki sebatang suling emas yang serupa dengan sulingku, sungguhpun lebih kecil."

Cu Han Bu juga tersenyum, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Hemm, rahasia keluarga kami tidak boleh diceritakan begitu saja kepada siapapun juga."

"Demikian pun keadaan keluarga nenek moyangku bukan untuk diceritakan kepada pihak lain."

"Betapapun juga, kita berdua mem-punyai hubungan melalui suling emas, oleh karena itu terpaksa kita harus saling menceritakan keadaan kita. Dan karena tidak ada jalan untuk menentukan siapa yang harus bercerita lebih dulu, mari kita tentukan dengan menguji kepandai masing-masing, sobat Kam Hong. Adikku telah kalah olehmu, maka aku ingin sekali untuk mengukur sendiri kehebatanmu, dan biarlah ini dijadikan penentu siapa yang lebih dulu menceritakan keadaannya."

"Hemm, aku tidak ingin bertanding, akan tetapi kalau pihak tuan rumah meminta, aku sebagai tamu tidak berani menolak."

"Bagus, sikapmu amat mengagumkan hatiku, sobat!"

Kata Cu Han Bu yang tadinya khawatir kalau-kalau tamunya akan menolak.

Ketika dia melihat adiknya kalah, hatinya sudah dipenuhi rasa penasaran dan ingin sekali dia maju untuk menandingi pemuda itu.

Akan tetapi oleh sikap dan kata-kata Ci Sian, pula karena baru saja adiknya kalah, apa pula ditonton oleh See-thian Coa-ong, dia merasa sungkan juga untuk langsung menantang Kam Hong.

Juga melihat adanya senjata suling emas itu amat mengejutkan hatinya maka dia tidak berani lancang menantang di tempat itu, di luar lembah.

Kini mereka berada di dalam lembah dan dia memperoleh kesempatan untuk menantang Kam Hong dengan cara yang lebih "lunak"

Dalam suasana persahabatan, sebagai seorang tuan rumah menghidangkan sesuatu kepada tamunya yang terpaksa harus diterimanya.

Dalam pertandingan "persahabatan"

Ini, kalau sampai kalah, tidaklah begitu menjatuhkan nama, tidak seperti dalam pi-bu yang sengaja diadakan untuk menentukan siapa kalah siapa menang, siapa lebih pandai.

Kini meja itu disingkirkan dan semua orang duduk di atas kursi yang ditarik ke pinggir dekat dinding sehingga ruangan itu menjadi sebuah tempat terbuka yang cukup luas.

Cu Han Bu sudah mengeluarkan sabuk emasnya dan sambil tersenyum dia melangkah maju ke tengah ruangan yang luas itu.

"Silakan, sobat Kam Hong!"

Katanya.

Kam Hong juga melangkah maju dan tanpa sungkan lagi dia pun mencabut suling emasnya.

Melihat lawan hanya memegang sebatang senjata, dia pun tidak mengeluarkan kipasnya, sungguhpun dibantu oleh kipasnya, dia akan menjadi semakin lihai.

Kemudian Cu Han Bu berkata lagi.

"Saling uji kepandaian ini selain untuk menentukan siapa yang harus lebih dahulu menceritakan keadaan keluarganya, juga biarlah untuk menentukan siapa yang berhak memakai nama Suling Emas."

Kam Hong mengerutkan alisnya, memandang dengan mata mencorong tajam lalu berkata dengan suara lambat namun mengandung tekanan kuat.

"Saudara Cu Han Bu, apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

"Sobat, engkau memakai julukan Pendekar Suling Emas, atau setidaknya mengaku sebagai keturunan keluarga Pendekar Suling Emas, sedangkan kami mengaku sebagai keluarga penghuni Lembah Suling Emas dari mana datangnya suling emas yang asli. Oleh karena itu, biarlah kita mengeluarkan ilmu warisan keluarga kita masing-masing untuk menentukan siapa yang aseli dan siapa yang kalah berarti tidak boleh lagi mempergunakan julukan Suling Emas, baik bagi namanya maupun bagi tempat tinggalnya. Jelaskah?"

Suling Emas mengangguk-angguk.

Tentu saja di dalam hatinya dia tidak setuju dengan taruhan gila ini, akan tetapi dia pun terpaksa tidak dapat menolak karena seorang pendekar amat memegang kehormatan dan nama.

"Kalau demikian kehendakmu, baiklah."

Jawabnya.

"Bagus, sikapmu memang amat mengagumkan. Nah, kau sambutlah, sobat Kam Hong"

Cu Han Bu sudah mulai menyerang dan begitu menyerang, Dia sudah mengeluarkan seluruh kepandaian dan menge-rahkan semua tenaganya.

Sabuk emas yang lemas itu tiba-tiba menjadi kaku seperti sebatang pedang dan ketika Cu Han Bu bergerak menyerang, hampir Kam Hong berseru kaget karena dia mengenal bahwa gerakan itu mirip sekali dengan Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut yang telah dipelajarinya dari catatan jenazah kuno!

Memang gerakan itu tidak serupa benar, perkembangan selanjutnya bahkan berbeda, akan tetapi gerakan dasar dan permulaannya tak dapat diragukan lagi adalah Kim-siauw Kiam-sut!

Dan bukan main hebat dan dahsyatnya, tenaganya amat besar dan sabuk itu mengeluarkan suara berdesing kemudian mengaung-ngaung dan mengeluarkan suara seperti suling ditiup, sungguhpun tidak melengking terlalu tinggi!

Lenyaplah tubuh Cu Han Bu, terbungkus sinar keemasan yang bergulung-gulung!

Kam Hong maklum bahwa dia tidak boleh main-main, maka dia pun lalu menggerakkan sulingnya dengan gerakan panjang dari kanan ke kiri lalu memutar seluruh tubuhnya, dan mulailah dia mainkan Kim-siauw Kiam-sut seperti yang dipelajarinya selama hampir lima tahun ini!

Dan begitu dia bergerak dan tubuhnya pun lenyap dibungkus sinar keemasan yang lebih gemilang lagi, Han Bu tak dapat menahan seruan kagetnya.

Apalagi ketika mereka berdua sudah saling menyerang dengan hebatnya, keheranan Han Bu makin meningkat.

Ternyata pemuda lawannya itu mampu memainkan ilmu silat keturunan keluarganya dengan demikian hebat dan lengkap, dengan perkembangan-perkembangan aneh yang belum pernah dilihat atau didengarnya!

Sementara itu, para penonton, yaitu tiga orang gadis yang tingkat kepandaiannya belum setinggi Cu Han Bu dan dua orang adiknya, segera menjadi agak pening dan tidak dapat mengikuti jalannya perkelahian itu dengan pandang mata mereka.

Mereka melihat betapa dua orang itu bergerak terlalu aneh dan terlalu cepat sehingga tubuh mereka terbungkus dua sinar yang sama-sama keemasan dan gilang-gemilang, sedangkan suara mendengung-dengung dari sabuk emas di tangan Han Bu itu kini ditambah lagi dengan suara suling melengking-lengking aneh sehingga terdengar amat luar biasa.

Suling di tangan Kam Hong itu seolah-olah tidak sedang digerakkan seperti sebatang senjata melainkan sedang ditiup dengan lagu yang aneh melengking-lengking, kadang-kadang tinggi kadang-kadang rendah dan mendatangkan kepeningan kepada yang mendengarnya.

Memang hebat luar biasa perkelahian antara dua orang pendekar sakti itu.

Bagi Kam Hong, semenjak dia meninggalkan gurunya dan pewaris ilmu-ilmu keluarga Suling Emas, yaitu Sin-siauw Seng-jin, Cu Han Bu ini merupakan lawan yang paling lihai sesudah Yeti!

Dan sebaliknya bagi pihak tuan rumah, Kam Hong merupakan lawan paling lihai yang pernah dijumpainya!

Setiap serangan mereka disertai sin-kang yang amat kuat, dan setiap jurus serangan dibalas dengan jurus serangan lain.

Dasar-dasar gerakan ilmu silat mereka sama, dan biarpun yang seorang mempergunakan senjata sabuk emas dan yang lain menggunakan suling emas, namun mereka menggunakan senjata-senjata itu seperti orang memegang sebatang pedang dan ilmu silat yang mereka mainkan juga ilmu silat pedang!

Akan tetapi perkembangan gerakan itu yang berbeda dan diam-diam Cu Han Bu harus mengakui bahwa ilmu silat lawan ini benar-benar luar biasa, merupakan ilmu silat pusaka keluarganya akan tetapi lebih ampuh dan lengkap.

Juga dalam hal sin-kang, dia merasa tidak mampu menandingi kekuatan pemuda sastrawan ini.

Akan tetapi, keluarga Cu ini sudah terlampau lama, mungkin sudah beberapa keturunan, merasa bahwa mereka adalah keluarga yang tidak dapat dikalahkan, yang memiliki kepandaian tinggi turun-temurun, maka mereka tidak biasa dengan kekalahan.

Hal itu membuat mereka dalam mengasingkan diri selalu memandang rendah orang lain sungguh pun diam-diam keluarga ini amat memperhatikan dan mempelajari orang-orang kang-ouw yang terkenal, Bukan hanya mengenal bentuk-bentuk mereka, julukan dan keistimewaan mereka, akan tetapi juga mempelajari keistimewaan mereka itu dan tiga orang saudara itu selalu mencari kelemahan mereka.

Akan tetapi mereka belum pernah mendengar tentang Kam Hong ini dan begitu pemuda wang tidak terkenal di dunia kang-ouw ini maju, mereka harus kalah!

Tentu saja Cu Han Bu tidak dapat menelan ini, dan dengan penasaran memuncak dia pun melakukan perlawanan mati-matian dalam pertandingan itu.

Setelah lewat hampir dua ratus jurus, tahulah Kam Hong bahwa kalau pertandingan ini dilanjutkan, akhirnya tentu seorang di antara mereka akan roboh dengan luka parah, kalau tidak tewas.

Dan dia tidak ingin sampai menewaskan tuan rumah, apalagi karena memang tidak terdapat permusuhan apa pun di antara mereka.

Di dalam ilmu yang dipelajarinya dari catatan di tubuh jenazah itu, terdapat jurus yang dinamakan Tiang-khing-toan-san (Bianglala Memecahkan Bukit) dan jurus ini khusus untuk mematahkan senjata lawan yang bagaimanapun ampuhnya.

Akan tetapi untuk ini dia harus mengerahkan seluruh tenaga khi-kang yang dihimpunnya dari latihan meniup suling.

Kalau tidak berhasil, berarti dia akan menghamburkan banyak sekali tenaga dalam.

Akan tetapi melihat bahwa itu merupakan jalan satu-satunya untuk mengakhiri pertandingan ini tanpa merobohkan lawan, maka dia lalu mulai memainkan jurus ini.

Cu Han Bu terkejut sekali ketika tiba-tiba gulungan sinar emas dari lawan itu berobah memanjang dan melengkung, dan terdengarlah suara melengking tinggi sekali sampai hampir tidak tertangkap oleh telinga, Namun yang mengandung getaran yang luar biasa, membuat jantungnya terasa perih dan kedua kakinya menggigil!

Semua orang yang berada di situ agaknya terpengaruh juga, karena Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu cepat duduk bersila menghimpun tenaga untuk melawan getaran itu, sedangkan Cu Pek In, Yu Hwi, dan Ci Sian cepat-cepat menggunakan kedua telapak tangan untuk menutup telinganya rapat-rapat karena mereka merasa telinga mereka seperti ditusuk-tusuk!

Kam Hong maklum akan hal ini, maka begitu tenaganya sudah terhimpun, dia meluncurkan sulingnya ke atas, seolah-olah hendak menyerang kepala lawan.

Cu Han Bu cepat mengangkat sabuk emasnya untuk melindungi kepala dan pada saat itu, dengan gerakan melengkung seperti bianglala, suling emas di tangan Kam Hong melayang dan menghantam ke arah sabuk emas itu.

"Cringggg....! Trakkkk!!"

"Aiihhhh....!"

Cu Han Bu meloncat jauh ke belakang, berdiri dengan muka pucat memandang ke arah sabuk emasnya yang telah patah menjadi dua, yang tinggal di tangannya hanya sepotong pendek sedangkan patahannya berada di atas tanah, di bawah kaki lawan.

Cu Han Bu boleh jadi adalah seorang yang berhati keras dan tidak pernah mau kalah oleh orang lain, akan tetapi dia memiliki kegagahan dan tahu bahwa dalam pertandingan ini, betapapun sukar dipercaya, dia telah kalah oleh Kam Hong!

Mukanya yang pucat itu menjadi merah sekali dan dia lalu melempar sisa sabuk emas itu ke atas lantai dan dengan sikap terpaksa sekali dia menjura ke arah Kam Hong sambil berkata.

"Aku Cun Han Bu harus mengakui bahwa dalam hal ilmu silat, engkau lebih unggul daripada aku, sobat Kam Hong, sungguhpun aku sama sekali tidak mengerti bagaimana engkau dapat mainkan ilmu pusaka keturunan keluarga kami. Akan tetapi biarlah hal itu nanti kita bicarakan. Dalam ilmu silat aku kalah, akan tetapi sesuai dengan nama Suling Emas yang dipakai oleh kedua pihak, biarlah sekarang kita memperlihatkan siapa di antara kita yang lebih tepat memakai nama itu dengan cara meniup suling. Engkau yang membawa-bawa pusaka suling emas dan keluargamu memakai julukan Suling Emas tentu pandai sekali meniup suling. Maukah engkau melayaniku mengadu ilmu meniup suling, sobat Kam?"

Karena tantangan ini pun mengenai nama keluarganya, maka tentu saja Kam Hong tidak menolak, apalagi karena memang dia ingin melihat sampai di mana kepandaian keluarga yang mengaku sebagai keluarga Suling Emas dan yang ternyata mampu pula memainkan ilmu yang mirip dengan Kim-siauw Kiam-sut itu.

"Baik, aku sebagai tamu hanya melayani kehendak tuan rumah."

Cu Han Bu lalu minta suling emas yang dibawa oleh Pek In, kemudian dia mempersilakan Kam Hong duduk sedangkan dia sendiri lalu duduk bersila di atas lantai.

Melihat tuan rumah duduk bersila menghadapinya, hanya dalam jarak kurang lebih empat meter mereka duduk bersila saling berhadapan.

Sejenak, kedua orang yang sama-sama memegang suling emas yang bentuknya serupa benar itu, hanya suling di tangan Kam Hong agak lebih besar, saling pandang dengan penuh perhatian.

Cu Han Bu menggunakan ujung baju lengan kirinya untuk mengusap keringat di dahi dan lehernya.

Pertandingan selama dua ratus jurus yang mempergu-nakan banyak tenaga itu tadi membuat dia merasa lelah sekali dan tubuhnya basah oleh keringat.

Akan tetapi sebaliknya, Kam Hong hanya berkeringat sedikit saja.

"Saudara Kam Hong, aku kagum sekali kepadamu,"

Akhirnya Cu Han Bu berkata, ucapan yang sejujurnya sungguhpun kekagumannya itu bercampur dengan rasa penasaran.

"Kalau ternyata engkau juga mampu mengalahkan aku dalam hal meniup suling, biarlah aku mengaku kalah. Engkau bersiaplah menerima permainan sulingku."

Cu Han Bu lalu menoleh kepada puterinya dan berkata kepadanya.

"Pek In, bagikan pelindung telinga kepada Nona tamu dan Yu Hwi."

"Baik, Ayah."

Jawab Cu Pek In dan dia mengeluarkan benda-benda kecil penyumbat telinga berwarna putih terbuat dari karet lalu memberikan sepasang kepada Yu Hwi kemudian dia menghampiri Ci Sian dan diberinya pula sepasang kepada dara ini.

Akan tetapi Ci Sian tersenyum mengejek dan menggeleng kepalanya.

"Aku tidak perlu memakai pelindung telinga."

Katanya.

Tentu saja wajah Pek In menjadi merah oleh penolakan ini dan dia sudah menjadi marah, akan tetapi ketika dia memandang kepada ayahnya, Cu Han Bu menggeleng sedikit kepalanya sehingga dia mundur lagi, duduk di tempat semula dan dia pun lalu mengenakan sepasang penyumbat telinga.

"Nona, kau harus memakai pelindung telinga, kalau tidak akan berbahaya bagi keselamatanmu."

Tiba-tiba Cu Seng Bu berkata karena tokoh ini merasa tidak enak kalau sampai pihak tamu yang tidak ikut mengadu ilmu kena celaka.

Ci Sian masih tersenyum ketika dia menggeleng kepala.

"Mengapa celaka? Andaikata perlu melindungi telinga, bukankah aku masih mempunyai kedua tangan untuk menyumbat kedua telingaku?"

Cu Seng Bu tidak bicara lagi dan bersama Cu Kang Bu, dia pun menyumbat kedua telinganya dengan pelindung telinga karena dia maklum bahwa kakaknya akan mengeluarkan ilmu meniup suling yang mujijat, yang suaranya dapat merobohkan lawan, bahkan dapat membunuhnya!

Sementara itu, Kam Hong terkejut bukan main ketika melihat Ci Sian menolak pemberian pelindung telinga itu.

Dia makin menghargai pihak tuan rumah yang ternyata demikian baik hati untuk menawarkan pelindung telinga kepada Ci Sian, akan tetapi celakanya, dara yang keras hati itu menolak dan dia tahu bahwa hal ini berarti bahaya besar bagi Ci Sian, mungkin bahaya maut karena suara tiupan suling yang dilakukan oleh orang yang amat kuat tenaga khi-kangnya dapat merusak telinga atau bahkan membunuhnya.

Akan tetapi karena Ci Sian sudah terlanjur menolak, dia pun tentu saja tidak mau memaksa gadis itu menarik kembali penolakannya karena hal itu sampai mati pun kiranya tidak akan dilakukan oleh Ci Sian yang keras hati.

Maka dia pun lalu mengambil keputusan untuk melindungi Ci Sian dari bahaya ancaman suara suling Cu Han Bu.

Kini Cu Han Bu sudah mulai menempelkan ujung suling pada bibirnya dan mulailah dia meniup suling emas itu.

Mula-mula terdengar suara suling yang merdu naik turun, akan tetapi kemudian suara suling itu terus menaik dan mulailah Ci Sian merasa tersiksa karena kedua telinganya seperti dikilik-kilik rasanya.

Suara suling itu makin meninggi saja dan rasa yang mula-mula hanya geli itu makin nyeri dan telinganya seperti dimasuki semut dan digigit!

Ci Sian tadinya hendak mempertahankan, akan tetapi akhirnya dia tidak kuat lagi dan dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi lubang telinganya!

Akan tetapi betapa kaget rasa hati Ci Sian bahwa suara itu masih saja terus mengiang di dalam telinganya, makin lama makin hebat sehingga kini terasa seperti telinganya ditusuk-tusuk jarum!

Tubuhnya mulai menggigil dan matanya terbelalak memandang ke arah Kam Hong seolah-olah hendak minta tolong.

Pada saat itu, Kam Hong sudah mendekatkan suling di bibirnya dan meniup sulingnya sambil menutup semua lubang suling.

Dia tahu bahwa kalau dia menggunakan sulingnya untuk balas menyerang, dia akan dapat membuat lawan celaka, akan tetapi juga Ci Sian akan ikut celaka, maka kini dia meniup sulingnya dengan lembut sekali.

Terdengar suara lembut dari sulingnya, suara yang bergelombang halus akan tetapi dapat menggulung suara melengking lirih yang mengandung getaran berbahaya dari suara suling Cu Han Bu dan Ci Sian merasa betapa perlahan-lahan kenyerian di telinganya lenyap, dan dia berani membuka kedua tangannya dan kini yang terdengar olehnya hanya suara suling lembut yang amat merdu dan mendatangkan rasa nikmat!

Makin lama, makin lembut suara suling Kam Hong dan akhirnya Ci Sian tidak dapat menahan lagi, tubuhnya terguling dan dia tertidur pulas di atas lantai!

Suara suling dari suling emas yang ditiup Kam Hong itu semakin kuat saja, dan kini setelah dia meilhat Ci Sian tidur pulas, Dia menambah kekuatan tiupannya dan suara suling itu menggetar halus, biarpun kedua telinga orang-orang yang berada di situ telah ditutup penyumbat telinga dari karet, namun getaran itu masih terus menyerang melalui urat saraf di atas telinga dan pelipis sehingga akhirnya, berturut-turut Cu Pek In dan Yu Hwi juga terguling dan roboh pulas!

Melihat ini, Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu terkejut sekali.

Mereka berdua kini duduk bersila di atas lantai dan mengerahkan tenaga sin-kang mereka untuk melawan serangan suara suling dari suling Kam Hong.

Sementara itu, Cu Han Bu juga memperhebat suara sulingnya untuk menyerang lawan.

Namun semua serangan suara sulingnya itu tenggelam di dalam kelembutan itu seperti bara api yang berkobar dijatuhkan ke dalam kubangan air dingin saja.

Sedangkan alunan suara suling dari Kam Hong terus bergetar menyerang ketiga orang kakak beradik Cu itu yang kini makin hebat melakukan perlawanan dan mengerahkan sin-kang mereka.

Dari ubun-ubun kepala Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu sampai mengepul uap putih dan muka mereka menjadi merah sekali karena keduanya telah mengerahkan sin-kang sekuatnya untuk menahan rasa kantuk hebat yang menyerang mereka.

Syaraf mereka seperti diayun atau dibelai oleh suara itu, suara yang mengandung kekuatan mujijat dan yang membuat seluruh tubuh terasa lemas dan satu-satunya hal yang mereka inginkan saat itu hanyalah tidur, lain tidak!

Memang hebat sekali kekuatan yang terkandung dalam suara suling yang ditiup secara istimewa oleh Kam Hong itu.

Suara itu selain dapat menembus pelindung telinga, juga langsung menyerang dan merangsang syaraf-syaraf di kepala menembus kulit kepala yang perasa seperti di pelipis dan bagian lain, terutama sekali merangsang syaraf di pusat pendengaran.

Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu yang merupakan orang-orang yang memiliki kesaktian dan memiliki tenaga sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi dan amat kuat itu.

Mereka telah mengerahkan sin-kang untuk melawan pengaruh suara itu.

Akan tetapi lambat laun wajah mereka yang merah menjadi semakin pucat, uap putih yang mengepul di kepala mereka semakin menipis dan akhirnya keduanya tertidur pulas dalam keadaan masih duduk bersila!

Kini tinggal Cu Han Bu seorang yang masih terus melawan sambil meniup sulingnya.

Cu Han Bu juga merasa betapa tenaga suara sulingnya itu kini sama sekali tidak dapat menembus suara suling lawan yang seolah-olah merupakan benteng yang amat kuatnya, dan dia pun bahkan mulai merasa betapa gelombang yang hebat menggulung dirinya, membuainya dengan nikmat sekali.

Diam-diam dia terkejut, maklum bahwa suara suling Kam Hong benar-benar memiliki kekuatan yang amat dahsyat.

Dia berusaha melawan terus, kadang-kadang meniup sulingnya amat tinggi, kadang-kadang amat rendah, namun semua usahanya itu gagal karena semua perlawanannya itu membalik dan bahkan agaknya menambah kedahsyatan gelombang getaran dari suara suling Kam Hong.

Akhirnya tanpa disadari sendiri, Cu Han Bu juga jatuh pulas dalam keadaan bersila dan sulingnya masih berada dalam genggaman dan masih menempel di bibirnya yang tidak bergerak lagi.

Dia seolah-olah telah berobah menjadi patung orang menyuling!

Setelah melihat lawannya tertidur, barulah Kam Hong menghentikan tiupan sulingnya.

Wajahnya agak pucat dan seluruh tubuhnya basah oleh peluh!

Kiranya dia pun telah mengerahkan banyak tenaga tadi dan baru setelah dia mengeluarkan semua tenaganya dia dapat menyelamatkan Ci Sian dan sekaligus membuat tidur semua orang, termasuk lawannya yang kuat itu.

Dia menyimpan sulingnya lalu menggunakan saputangan untuk menyusuti peluhnya.

Setelah kini suara suling terhenti dan getaran suara yang amat kuat itu lenyap, berturut-turut terjagalah mereka semua yang tertidur pulas itu.

Pertama-tama adalah Cu Han Bu dan dua orang adiknya yang terjaga.

"Ahhhh....!"

Cu Han Bu mengeluh dan terbelalak, lalu teringat akan segala yang telah terjadi, maka dia pun meloncat bangun lalu cepat-cepat dia menjura ke arah Kam Hong yang juga telah bangkit dengan tenang.

"Saudara Kam Hong, sungguh engkau luar biasa sekali dan aku Cu Han Bu benar-benar mengakui keunggulanmu, baik dalam hal ilmu silat maupun dalam hal ilmu meniup suling. Engkau memang berhak memakai julukan Suling Emas!"

Juga Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu tidak ragu-ragu lagi untuk memberi hormat kepada pendekar yang jelas memiliki tingkat kepandaian di atas mereka itu.

Kam Hong cepat-cepat membalas penghormatan mereka dan dia pun berkata.

"Harap Sam-wi tidak merendahkan diri karena terus terang saja, baru sekaranglah saya menemukan keluarga yang memiliki kepandaian sehebat yang dimiliki Sam-wi. Saya percaya bahwa tentu ada hubungannya antara Sam-wi dengan Suling Emas."

Pada saat itu, tiga orang dara juga telah terjaga dan mereka mula-mula merasa bingung dan terheran-heran, akan tetapi setelah teringat dan melihat betapa sikap tiga orang she Cu itu amat menghormat Kam Hong, mereka maklum bahwa Kam Hong telah menangkan pertandingan aneh itu.

Yu Hwi memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan, akan tetapi dia telah bangkit dan menghampiri Cu Kang Bu, kekasihnya.

Sedangkan Ci Sian lari menghampiri Kam Hong.

"Paman, engkau telah menang?"

Kam Hong hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Tentu saja Ci Sian me-rasa penasaran dan dia lalu menoleh kearah Cu Han Bu, dan bertanya dengan lantang.

"Paman Cu Han Bu, apakah engkau mau bersikap jantan mengakui bahwa Paman Kam Hong telah memperoleh kemenangan dalam pertandingan ini?"

Cu Han Bu menarik napas panjang. Dara itu sudah berkali-kali membikin sakit perasaan, akan tetapi dia tidak dapat mengelak lagi.

"Benar, Saudara Kam Hong telah mengalahkan kami."

"Nah, apa kubilang? Dialah Pendekar Suling Emas yang sejati!"

"Sssst, Ci Sian, menyombongkan diri di atas kemenangan adalah perbuatan yang bodoh."

Kam Hong mencela dan Ci Sian mengerutkan alisnya, bersungut-sungut dan tidak banyak cakap lagi.

Dia seringkali ditegur Kam Hong dan setiap kali ditegur, dia merasa tidak senang, apalagi kini ditegur di depan banyak orang, di depan Yu Hwi terutama sekali.

Dia ingin marah, akan tetapi tidak berani karena dia tahu bahwa kalau dia marah terhadap Kam Hong di depan banyak orang, hal itu akan merendahkan nama Kam Hong yang baru saja keluar sebagai pemenang.

Maka dia pun lalu duduk diam saja di dekat Kam Hong, bibirnya yang merah mungil itu agak meruncing.

"Saudara Cu, kiranya sudah sepatutnya kalau sekarang Sam-wi menceritakan kepadaku tentang keluarga Cu yang tinggal di Lembah Suling Emas ini...."

Kam Hong berkata kepada Cu Han Bu karena memang dia ingin sekali mendengar riwayat keluarga yang amat lihai ini dan ingin tahu apa hubungan mereka dengan Suling Emas.

"Setelah itu, baru saya akan menceritakan tentang keluarga Pendekar Suling Emas."

Cu Han Bu mengangguk, lalu dia memandang ke arah Yu Hwi dan Ci Sian.

"Riwayat keluarga kami adalah rahasia kami, tidak boleh didengar oleh orang lain. Engkaulah orang pertama yang akan mendengarnya, Saudara Kam Hong, Yu Hwi, biarpun engkau seorang luar, namun mengingat akan hubunganmu dengan Kang-te, berarti engkau merupakan calon keluarga juga, maka engkau boleh mendengarnya. Hanya Nona ini...."

Dia memandang Ci Sian dengan ragu-ragu.

"Dia adalah keponakanku dan juga boleh dianggap adik seperguruanku, maka kalau aku boleh mendengar, dia pun berhak mendengar pula."

Kam Hong berkata cepat-cepat karena dia tahu bahwa kalau sampai dara ini dilarang ikut mendengar, Ci Sian tentu akan marah dan entah apa yang akan dilakukan kalau dia marah.

Dalam tempat seperti itu, dia tidak ingin membiarkan Ci Sian berpisah dari sampingnya, karena hal itu akan amat membahayakan keselamatannya.

Mendengar ini, lenyaplah sama sekali rasa tidak senang dari hati Ci Sian oleh teguran Kam Hong tadi.

Dia tersenyum dan memandang kepada pihak tuan rumah dengan sinar mata menantang!

Cu Han Bu menarik napas panjang.

"Kalau begitu baiklah, karena dia Saudara Kam Hong yang menanggung. Nah, dengarkanlah cerita singkat dari keadaan keluarga kami, terutama yang bersangkutan dengan Suling Emas."

Mulailah pendekar yang menyembunyikan diri di lembah itu bercerita tentang keluarganya.

Menurut cerita turun-temurun dalam keluarga itu, Cu Han Bu dan keluarganya mendengar bahwa seorang di antara nenek moyang mereka pada seribu tahun lebih yang lalu adalah seorang pangeran bernama Cu Keng Ong yang melarikan diri dari kota raja karena berselisih dengan kaisar.

Cu Keng Ong ini mengasingkan diri ke lembah Kongmaa La di Pegunungan Himalaya itu bersama keluarganya dan hidup sebagai pertapa dan petani di tempat ini.

Cu Keng Ong adalah seorang pangeran yang berilmu tinggi, selain pandai ilmu silat juga ahli dalam hal kerajinan tangan, terutama mengukir dan membuat benda-benda dari pada emas.

Ketika berada dalam pengasingan ini, Cu Keng Ong bahkan memperdalam ilmu-ilmunya dari para pertapa di Himalaya sehingga akhirnya dia menjadi seorang manusia yang amat lihai, akan tetapi yang selalu menyembunyikan diri dan hidup tenteram dalam lembah itu.

Karena kehidupan di lembah itu sama sekali tidak memerlukan emas, maka Cu Keng Ong lalu mengumpulkan semua emas yang mereka bawa sebagai bekal, kemudian dia melebur emas itu dan dibuatlah sebatang suling emas yang amat baik, bukan saja indah bentuknya akan tetapi terutama sekali dengan ukuran-ukuran sempurna sehingga akan mengeluarkan bunyi yang amat indah kalau dimainkan.

Karena Cu Keng Ong seringkali bertiup suling di lembah itu, dengan suling emasnya, dan suara sulingnya terdengar sampai jauh ke luar lembah, maka mulailah lembah itu diberi nama Lembah Suling Emas!

"Demikianlah asal-usul nama lembah ini menurut dongeng keluarga kami."

Cu Han Bu melanjutkan.

"Akan tetapi sayang, menurut dongeng keluarga turun-temurun itu, tidak ada lanjutan tentang nenek moyang kami yang bernama Cu Keng Ong itu dan suling emas itu pun tidak ada pada keluarga kami lagi. Yang ada hanyalah suling emas ini yang dibuat oleh seorang nenek moyang kami kemudian yang bernama Cu Hak dan yang juga ahli dalam pembuatan benda-benda dari emas dan baja. Kakek buyut Cu Hak itu kabarnya hanya membuat suling ini disesuaikan dengan cerita keluarga itu tentang bentuk suling emas aseli buatan Cu Keng Ong. Dan di samping suling ini, juga keluarga kami mewarisi ilmu silat yang menjadi pasangan dari suling ini, yaitu ilmu silat yang disebut Kim-siauw Kiam-sut dan yang telah kumainkan dengan sabuk emas karena saya lebih biasa berlatih dengan sabuk emas itu. Akan tetapi ternyata Saudara Kam Hong juga mainkan ilmu itu dengan suling emasnya, bahkan lebih sempurna daripada saya!"

Han Bu menarik napas panjang.

Diam-diam Kam Hong terkejut sekali dan saling lirik dengan Ci Sian.

Kedua orang ini setelah mendengar riwayat keluarga Cu, dapat menduga bahwa kakek kuno yang jenazahnya mereka temukan itu tak salah lagi tentulah Cu Keng Ong adanya!

Akan tetapi mereka diam saja dan mendengarkan terus.

Cu Han Bu melanjutkan ceritanya.

Nenek moyang yang bernama Cu Keng Ong itu menurut berita keluarganya telah lenyap, dan ada berita bahwa kakek itu mengawetkan jenazahnya dan jenazah itu mengandung rahasia ilmu keluarga mereka yang paling tinggi.

Sejak turun-temurun, keluarga Cu berusaha mencari jenazah kakek Cu Keng Ong ini, akan tetapi tanpa hasil.

Juga suling emas buatan Pangeran Cu Keng Ong itu lenyap dari keluarga Cu.

Hanya bentuk-bentuk suling dan warisan turun-temurun sampai tiga orang kakak beradik Cu ini.

"Karena merasa khawatir bahwa suling pusaka itu akhirnya lenyap sama sekali, kami pernah melakukan penyeli-dikan. Dan kami mendengar bahwa suling itu terjatuh ke tangan Pendekar Suling Emas beberapa ratus tahun yang lalu. Kami berusaha untuk mendapatkan keturunannya, namun usaha kami sia-sia saja, seolah-olah keluarga Suling Emas itu sudah musnah dan bersama namanya terbawa lenyap pula, agaknya Saudara Kam Hong telah mempelajari ilmu-ilmu keluarga kami dengan lebih sempurna daripada yang kami warisi sendiri!"

Ucapan terakhir itu keluar dengan nada penuh rasa penasaran.

Kam Hong dapat merasakan ini dan dapat mengerti mengapa pihak tuan rumah merasa penasaran dan diam-diam dia pun merasa kasihan.

Kini mengertilah dia mengapa keluarga Cu ingin sekali mengalahkan dia dan merasa amat penasaran ketika tidak berhasil, karena itu berarti bahwa keluarga itu dikalahkan orang dengan mempergunakan senjata pusaka dan ilmu pusaka keluarga mereka sendiri!

Biarpun dia tahu bahwa hal itu bukan kesalahannya, namun dia merasa sedikit bahwa dia seolah-olah menjadi pencuri pusaka dan ilmu keluarga Cu.

"Nah, demikianlah riwayat keluarga kami yang berhubungan dengan suling emas, Saudara Kam. Sekarang harap Saudara ceritakan tentang keluarga Saudara yang mempergunakan nama Suling Emas, agar kami mengerti bagaimana duduk perkaranya."

Kata Han Bu.

Kam Hong menghela napas.

Dia harus menceritakan semuanya agar mereka ini tidak merasa penasaran dan menganggap bahwa keluarganya adalah pencuri-pencuri pusaka dan ilmu!

Setelah memandang ke arah wajah tiga orang kakak beradik she Cu yang duduk dihadapannya itu, Kam Hong lalu berkata.

"Julukan Suling Emas dipakai oleh nenek moyangku yang bernama Kam Bu Song dan beliau pulalah yang pertama-tama memiliki suling emas ini yang menurut cerita keluarga kami diterimanya dari sastrawan besar Ciu Bun di Pulau Pek-coa-tho (Pulau Ular Putih). Kemudian suling emas ini secara turun-temurun dimiliki oleh keluarga Kam dan memang pada akhir-akhir beberapa keturunan ini sampai kepada saya, keluarga kami menyembunyikan diri. Demikianlah riwayat suling emas ini dan dapat kujelaskan bahwa suling emas ini kumiliki dari warisan nenek moyang yang sudah tujuh ratus tahunan lamanya, dan kakek besar Kam Bu Song itu pun menerima dari pemberian yang syah, bukan mencuri. Dan sekarang tentang ilmu yang baru saja kupergunakan untuk menghadapi Saudara Cu Han Bu."

Tiga orang kakak beradik itu mendengarkan dengan penuh perhatian.

Mereka dapat percaya keterangan itu dan mereka menduga bahwa tentu suling yang hilang itu akhirnya, entah secara bagaimana tak ada seorang pun mengetahui, terjatuh ke tangan sastrawan Ciu Bun itu dan diberikan kepada Pendekar Suling Emas.

Dengan demikian, keluarga pendekar itu memang berhak memilikinya.

Kini mereka ingin sekali mendengar bagaimana Kam Hong dapat mainkan Ilmu Silat Kim-siauw Kiam-sut dan ilmu meniup yang merupakan ilmu pusaka keluarga mereka dengan demikian baiknya, lebih baik daripada yang mereka miliki.

"Tadinya saya hanya mewarisi ilmu-ilmu pusaka keluarga kami yang tidak Sam-wi kenal, yaitu ilmu-ilmu yang saya pakai ketika menghadapi Saudara Cu Kang Bu tadi. Sedangkan ilmu Kim-siauw Kiam-sut yang saya mainkan dengan suling ketika menghadapi Saudara Cu Han Bu tadi, juga ilmu meniup suling baru saja saya pelajari selama kurang lebih empat tahun baru-baru ini, yaitu kupelajari dari catatan terdapat pada jenazah kuno yang kami temukan...."

"Ahhhh....!"

Tiga orang gagah itu bangkit berdiri dan muka mereka pucat, mata mereka terbelalak karena kaget.

"Jadi engkau malah yang telah menemukan jenazah Kakek Cu Keng Ong leluhur kami itu....?"

Cu Kang Bu bertanya dengan suara yang mirip bentakan. Kam Hong mengangguk tenang.

"Munkin saja jenazah itu jenazah Cu Keng Ong seperti yang kalian ceritakan tadi. Saya tidak tahu benar, hanya saya tahu dari catatan di tubuhnya bahwa dia adalah pembuat suling emas dan siapa yang dapat menemukan jenazahnya dianggap berjodoh untuk mewarisi ilmunya...."

"Celaka....!"

Cu Seng Bu berseru nyaring dan penuh dengan penyesalan, dan dia sudah meloncat ke depan.

Akan tetapi Cu Han Bu cepat memegang lengannya dan memandang adiknya dengan sinar mata tajam penuh teguran.

"Seng-te, bukan demikian sifat keluarga kita! Kita harus dapat mengendalikan diri dan tidak memalukan leluhur kita!"

Kemudian Cu Han Bu menoleh kepada Kam Hong sambil berkata.

"Sungguh aneh sekali mengapa suling pusaka dan ilmu pusaka keluarga kami dapat terjatuh semuanya kepadamu, Saudara Kam Hong. Maukah kau menceritakan tentang jenazah leluhur kami itu?"

"Terjadinya secara kebetulan. Saya dan Ci Sian diserang gunung salju longsor sehingga kami hampir saja tewas. Di antara gumpalan-gumpalan salju longsor itu, kami menemukan jenazah kuno itu dan setelah kami selidiki, jenazah mengandung tulisan-tulisan yang mewariskan ilmu-ilmu itu kepada kami. Karena kami dianggap sebagai jodoh yang berhak mewarisi Ilmu, dan karena di situ tidak disebut-sebut tentang keluarga di sini, maka tentu saja saya mempelajari ilmu-ilmu itu dan saya tidak merasa bersalah sedikit pun. Apalagi diingat bahwa suling emas buatan kakek itu juga telah menjadi milik keluarga sejak ratusan tahun! Nah, kupelajari ilmu-ilmu itu selama hampir lima tahun, dan sekarang saya ketahui siapa guru saya yang ternyata bernama Cu Keng Ong dan menjadi leluhur penghuni lembah ini...."

"Dan kau pergunakan pusaka dan ilmu itu untuk mengalahkan kami!"

Cu Kang Bu berteriak lalu menutupi muka dengan kedua tangan.

Pendekar tinggi besar yang gagah perkasa ini menangis tanpa bersuara!

Yu Hwi yang duduk di sampingnya lalu memegang tangannya dari kedua tangan mereka saling genggam.

Melihat ini, diam-diam Kam Hong merasa terharu juga dan dia merasa terheran-heran mengapa sebelum dia bertemu dengan Yu Hwi, seringkali dia amat merindukan dara itu, seringkali membayangkan wajahnya yang manis dan membayangkan kemesraan bersama calon isterinya itu!

Akan tetapi sekarang, setelah bertemu dengan Yu Hwi, melihat Yu Hwi bermesraan dengan pria lain, dia tidak merasa cemburu atau sakit, walaupun pada pertama kalinya dia merasa penasaran dan marah.

Apakah yang menyebabkan kedinginan terhadap Yu Hwi itu, dan perbedaan yang amat jauh antara dahulu ketika dia masih merindukan Yu Hwi dan sekarang?

Tiba-tiba dia merasa ada tangan halus menyentuh lengannya.

Dia menoleh dan memandang wajah Ci Sian yang jelita dan pada saat dua pasang mata mereka saling bertemu sinar pandangan, Kam Hong melihat kenyataan yang amat mengejutkan hatinya.

Bayangan Yu Hwi itu kiranya telah lama lenyap dari lubuk hatinya, terganti sepenuhnya oleh bayangan Ci Sian!

Dia telah jatuh cinta kepada Ci Sian semenjak lama, semenjak Ci Sian masih merupakan seorang dara tanggung empat tahun yang lalu!

Dan kini, Ci Sian telah menjadi seorang dara cantik jelita berusia tujuh belas tahun!

Kenyataan yang nampak jelas olehnya itu membuat jantungnya berdebar tegang.

"Paman, mari kita pergi dari sini...."

Ci Sian berkata halus dan ucapannya itu membuyarkan dunia mimpi aneh dan Kam Hong yang tadi seperti terpesona oleh kenyataan itu.

"Baik, mari kita pergi...."

Kata Kam Hong yang memegang tangan Ci Sian dan bangkit berdiri. Sejenak Kam Hong memandang ke arah Yu Hwi, lalu berkata.

"Nona Yu, demi untuk kebaikan namamu sendiri, seyogianya kalau engkau pulang dan menerangkan kepada Suhu Yu Kong Tek akan keputusan yang kau ambil agar pertalian jodoh antara kita itu dapat dibatalkan atau diputuskan secara resmi."

Yu Hwi membalas pandang mata Kam Hong, lalu menoleh kepada kekasihnya yang masih menunduk, kemudian dia berkata dengan suara lembut kepada Kam Hong, tidak berani lagi memandang rendah bekas tunangan itu yang ternyata telah menjadi seorang yang memiliki kesaktian hebat.

"Baiklah, sekali waktu aku akan mengunjungi Kong-kong."

Setelah menerima janji ini, Kam Hong lalu menarik tangan Ci Sian diajak keluar dari gedung itu.

Tidak ada seorang pun yang bergerak menghalangi, dan dengan langkah-langkah tenang mereka keluar dari dalam gedung.

Akan tetapi ketika mereka tiba di pintu gerbang depan, nampak bayangan tiga orang berkelebat dan ternyata tiga orang kakak beradik she Cu itu telah berdiri di depan mereka, wajah mereka pucat.

"Hemm, apa lagi yang kalian kehendaki?"

Kam Hong bertanya dengan berkerut, siap untuk menghadapi mereka kalau saja mereka hendak menggunakan kekerasan.

Cu Han Bu melangkah maju dan menjura sambil berkata.

"Saudara Kam Hong, kami hanya hendak bertanya di mana kau temukan jenazah nenek moyang kami itu. Kiranya itu adalah hak kami untuk menanyakan di mana adanya jenazah leluhur kami."

"Tentu saja, akan tetapi sayang sekali, jenazah kuno itu telah kubakar...."

"Dibakar....?"

Terdengar Seng Bu dan Kang Bu berteriak.

"Benar, sesuai dengan tulisan pesanan terakhir pada tubuh beliau. Jenazah itu telah kubakar menjadi abu dan kukubur di tempat itu."

"Ahhhh....!"

Tiga orang itu saling pandang dengan muka putus asa.

Tadinya mereka mempunyai harapan untuk menemukan jenazah leluhur itu untuk dapat mempelajari ilmu pusaka keluarga mereka, akan tetapi harapannya itu hancur sama sekali mendengar betapa jenazah itu telah dibakar oleh Kam Hong.

Dengan hati duka penuh kekecewaan Cu Han Bu mengepal tinjunya, lalu berkata dengan suara mengandung geram kekecewaan dan kemarahan.

"Nenek moyang kami Cu Keng Ong itu telah mewariskan suling emas dan ilmu pusakanya kepadamu. Baiklah, mulai sekarang kami tidak akan memakai lagi nama Lembah Gunung Suling Emas, melainkan kami ganti menjadi Lembah Gunung Naga Siluman! Dan kau tunggulah, Kam Hong, biarpun engkau telah mewarisi ilmu yang tadinya menjadi milik keluarga kami, akan tetapi kami masih mempunyai ilmu pusaka yang lain, yang diciptakan oleh Toa-pek kami sendiri. Kelak akan tiba saatnya bahwa Ilmu Kim-siauw Kiam-sut itu akan dikalahkan oleh ilmu keluarga kami, yaitu Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman)!"

Kam Hong menarik napas panjang dan menjura.

"Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga. Perkenankanlah kami pergi dari sini."

Cu Han Bu dapat mengatasi kekecewaannya.

Melihat sikap tamunya yang cukup hormat dan tidak merasa tinggi hati oleh kemenangannya itu, dia pun menarik napas panjang dan balas menjura.

"Saudara Kam Hong, maafkan sikap kami yang kecewa karena nasib telah mempermainkan kami yang kehilangan benda pusaka dan ilmu pusaka ini. Mari kuantar kalian sampai ke jembatan tambang."

Setelah berkata demikian, Cu Han Bu seorang diri saja lalu menemani Kam Hong dan Ci Sian menuju ke tepi jurang yang amat curam itu.

Ketika mereka tiba di tepi jurang, Cu Han Bu memandang ke arah para penjaga jembatan itu dan bertanya dengan tegas.

"Apakah kalian tadi melihat Nona di sini?"

Para penjaga nampak ketakutan mendengar pertanyaan itu. Seorang di antara mereka, kepala jaga, lalu memberi hormat dan menjawab.

"Harap ampunkan kami.... tadi Cu-siocia (Nona Cu) memaksa kami untuk memasang tambang dan dia telah menyeberang. Kami tidak berani menolak permintaannya."

Dalam keadaan biasa, tentu Cu Han Bu akan menjadi marah dan melakukan mengejaran kepada puterinya.

Akan tetapi saat itu hatinya sedang kesal dan murung, maka dia pun tidak peduli lalu memberi tanda agar jembatan tambang itu diangkat dan membiarkan dua orang tamunya menyeberang.

"Silakan, Saudara Kam Hong."

Cu Han Bu mempersilakan ketika jembatan tambang itu sudah diangkat dan membentang lurus menyebe-rang jurang.

Melihat tambang itu dan membayangkan betapa dia dan Kam Hong berdua harus menyeberang meninggalkan tuan rumah yang berada dalam keadaan marah, kecewa dan penasaran itu, hati Ci Sian tentu saja merasa ngeri sekali.

"Nanti dulu, Paman Kam Hong"

Katanya menahan lengan pendekar itu yang sudah siap menyeberang.

"Berbeda dengan ketika kita datang sebagai tamu, kini kita pergi sebagai orang-orang yang dimusuhi dan tidak disukai, dan kalau ketika datang kita menyeberang bersama mereka, kini kita harus menyeberang berdua saja. Bagaimana kalau selagi tiba di tengah-tengah jembatan, tambang ini lalu dibikin putus olehnya?"

Kam Hong terkejut sekali mendengar kelancangan ucapan Ci Sian ini, akan tetapi tiba-tiba Cu Han Bu sudah mengeluarkan teriakan nyaring dan pendekar itu mengangkat tangan kanan ke atas.

Kam Hong sudah siap untuk melindungi Ci Sian, akan tetapi pria yang kini matanya melotot dan mukanya menjadi merah itu menurunkan tangan kanannya dan mencengkeram jari kelingking tangan kirinya sendiri.

Terdengar bunyi tulang patah dan darah mengucur ketika jari kelingking tangan kirinya sendiri itu telah remuk dan lenyap setengahnya!

Ci Sian terbelalak memandang dengan muka pucat.

"Nona.... kau.... kau sudah berkali-kali terlalu menghina kami!"

Cu Han Bu berkata, matanya masih melotot dan napasnya agak terengah menahan marah.

"Kalau tidak melihat muka Saudara Kam Hong, aku tentu sudah membunuhmu! Akan tetapi kalau lain kali kita bertemu kembali, aku takkan dapat mengampunimu lagi!"

Ci Sian merasa ngeri, bukan hanya melihat sikap orang itu, akan tetapi juga melihat jari kelingking yang hancur dan masih meneteskan darah segar itu.

Akan tetapi pada saat itu, Kam Hong sudah menarik tangannya dan mengajaknya meloncat ke atas tambang dan dengan cepat berlari ke seberang.

Setelah mereka dengan selamat meloncat ke daratan di seberang, tambang itu lalu diturunkan kembali dan lenyap di dalam kabut.

Legalah rasa hati Ci Sian setelah mereka selamat sampai ke darat.

"Ci Sian, mengapa engkau begitu lancang mulut sehingga membikin marah Cu Han Bu seperti itu? Lain kali engkau harus berhati-hati kalau bicara, jangan menurutkan hati dan pergunakan kebijaksanaan."

Ci Sian kaget, sejenak dia menatap wajah Kam Hong karena suara teguran itu benar benar dirasakan amat pedas dan menusuk, dan tiba-tiba dia menangis.

Bukan menangis manja, melainkan menangis sedih sekali.

Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, ayahnya yang diharapkannya itu ternyata mengecewakan hatinya dan dia tidak mungkin hidup di samping ayahnya yang telah mempunyai isteri begitu banyak.

Kini tinggal Kam Hong seoranglah yang dianggapnya sebagai pelindung dan orang terdekat, dan sekarang....

Kam Hong agaknya marah-marah dan tidak senang kepadanya.

Karena sedih, maka dia menangis.

Melihat Ci Sian menangis, Kam Hong menggeleng-geleng kepala, lalu menghampiri dan memegang pundaknya.

"Sudahlah, kenapa kau malah menangis?"

Akan tetapi Ci Sian menarik pundaknya dari sentuhan Kam Hong, lalu di antara isaknya dia berkata.

"Dia orang jahat.... hu-huuh, dia mengancam untuk membunuhku, kau.... kau peduli apa? Aku.... aku hanya membikin susah padamu saja...."

Kam Hong menyambar lengan dara itu dan menariknya dekat.

"Kau marah oleh teguranku tadi? Ci Sian, ingatlah, aku menegur demi kebaikanmu! Dan selama ada aku di sampingmu, takkan ada seorang pun yang boleh mengganggumu! Akan tetapi.... ada waktunya berkumpul tentu akan datang saatnya berpisah, dan karena itu engkau harus mempelajari ilmu yang kita temukan itu dengan tekun agar kelak engkau akan mampu menjaga diri sendiri kalau terancam oleh lawan yang lihai."

Ci Sian mengangkat muka memandang wajah itu.

"Kau.... kau tidak marah kepadaku, Paman?"

Terpaksa Kam Hong tersenyum dan menggeleng kepala.

"Aku tidak marah, aku menegur agar engkau sadar bahwa hal itu berbahaya bagimu sendiri."

Ci Sian merangkul pundak dan menyembunyikan mukanya di dada Kam Hong.

"Paman.....aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali engkau, maka janganlah kau marah padaku...."

Kam Hong mendekap dan sejenak hatinya merasa amat terharu, kemudian berdebar aneh ketika menyadari betapa dia mendekap dara remaja itu.

Teringat akan ini cepat-cepat dia dengan halus melepaskan dekapannya dan mendorong tubuh dara itu menjauh sambil berkata, (Lanjut ke

Jilid 21) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21

"Sudahlah, mari kita mulai berlatih. Engkau telah mulai maju dalam latihan gin-kang menurut ilmu penghimpunan khi-kang dari tiupan suling, maka mari kita lanjutkan latihan gin-kang itu. Mari kita lari ke puncak bukit di depan itu dan pergunakan semua tenagamu."

"Baik, Paman, mari kita berlumba!"

Ci Sian sudah melupakan kesedihannya.

Air matanya masih belum kering, kedua pipinya masih basah, akan tetapi bibirnya yang manis itu telah tersenyum lagi ketika dia mulai meloncat dan lari ke depan dengan cepat seperti seekor kijang betina muda yang bahagia.

Kam Hong tersenyum dan dia pun mengejar, maka berlarianlah dua orang itu menuju ke puncak bukit di depan.

Ketika dia berlari-lari di samping Ci Sian, Kam Hong seolah-olah mendengar suara nyanyian yang timbul dari perasaan hatinya sendiri, yang membuat dia merasa demikian senang.

Dia sendiri merasa heran sekali dan dia masih dalam keadaan meraba-raba dan menduga-duga apakah ini yang dinamakan cinta asmara?

Benarkah dia jatuh cinta kepada Ci Sian?

Pertanyaan ini selama ini selalu berbisik di dalam hatinya dan dia belum berani menentukannya.

Dahulu, sebelum dia bertemu dengan Ci Sian, dia selalu menganggap bahwa dia mencinta calon isterinya, Yu Hwi, sungguhpun antara dia dan Yu Hwi belum pernah terjadi perhubungan yang akrab, bahkan ketika Yu Hwi mendengar akan pertunangan itu, Yu Hwi lalu melarikan diri, hal itu juga membuktikan bahwa Yu Hwi tidak setuju dengan perjodohan itu dan berarti pula tidak cinta kepadanya.

Akan tetapi, karena adanya ikatan jodoh itu membuat dia selalu mengenangkan Yu Hwi, kenangan yang luar biasa karena dia mula-mula mengenal Yu Hwi sebagai seorang pemuda bernama Kang Swi Hwa (baca cerita JODOH SEPASANG RAJAWALI), dan dialah yang membuka rahasia Kang Swi Hwa itu sebagai seorang gadis ketika dia hendak mengobati "pemuda"

Itu dan melihat bahwa pemuda itu mempunyai dada seorang dara!

Kenangan inilah yang mengingatkan dia akan Yu Hwi sebagai seorang wanita, lebih lagi sebagai seorang calon isterinya, kenangan yang lucu, mesra dan aneh.

Ini pula agaknya yang membuat dia merasa selalu rindu kepada Yu Hwi dan ini pula yang membuat dia mengira bahwa dia mencinta Yu Hwi.

Akan tetapi, semenjak dia bertemu dengan Ci Sian beberapa tahun yang lalu, sejak Ci Sian hanya seorang dara cantik berusia tiga belas tahunan, ada sesuatu di dalam hatinya yang melekat kepada dara ini.

Kini, setelah berjumpai kembali dengan Ci Sian sebagai seorang dara yang sudah dewasa, dia merasa seolah-olah Yu Hwi hanya merupakan bayangan mati dan kini terganti oleh seorang dara yang benar-benar hidup dan yang membutuhkan perlindungannya!

Apalagi setelah dia berjumpa sendiri dengan Yu Hwi dan menyaksikan sikap calon isterinya itu, bayangan lama tentang Yu Hwi itu seketika lenyap sama sekali dan dia merasa gembira!

Kalau dulu dia tidak berani memikirkan bahwa dia tertarik kepada Ci Sian karena dia selalu ingat bahwa dia adalah seorang pria yang sudah mempunyai calon isteri, jodoh yang sudah ditentukan sehingga haram baginya untuk menoleh kepada wanita lain, kini dia merasa seolah-olah dia telah terbebas dari belenggu ikatan itu.

Dia telah bebas, sama bebasnya dengan Ci Sian.

Inilah agaknya yang mendatangkan rasa senang sekali di saat dia lari di samping Ci Sian itu.

Benarkah dia telah jatuh cinta kepada dara ini?

Dara yang memanggilnya paman, yang memang sepatutnya menjadi keponakannya?

Dia tahu bahwa usia Ci Sian kurang lebih baru tujuh belas tahun, sedangkan dia sendiri sudah berusia dua puluh tujuh tahun!

Pantaskah kalau dia jatuh cinta kepada dara remaja ini?

Akan tetapi, pada saat itu keraguan kecil ini segera lenyap seperti awan tipis terhembus angin.

Dia merasa gembira, bahkan dia ingin berloncatan dan bermain-main seperti kembali menjadi anak-anak, atau setidaknya kembali menjadi semuda Ci Sian.

Cinta asmara memang sesuatu pengalaman hidup yang amat luar biasa bagi setiap orang manusia.

Segala macam perasaan tercakup di dalamnya.

Ada dorongan-dorongan yang timbul dari dalam, bukan dari pikiran, yaitu membuat kita merasa amat mesra, ingin selalu berdekatan, ingin selalu memandang, ingin selalu menyenangkan hatinya, ingin selalu mendengar suaranya.

Ada sesuatu yang sukar diselidiki, yang timbul di luar kesadaran kita, sesuatu yang amat mengharukan, yang mendorong hati kita untuk condong bersatu dengan dia, takkan terpisah lagi, ada sesuatu yang lebih daripada sekedar kegembiraan, sekedar dorongan berahi belaka.

Akan tetapi, kalau kita tidak berhati-hati, pikiran yang selalu ingin mengejar kesenangan pribadi, baik kesenangan jasmani atau rohani, pikiran dapat menimbulkan bayangan-bayangan kenikmatan nafsu yang menjurus kepada nafsu berahi dan sekali nafsu menguasai batin, menjadi yang terpenting, maka akan cemarlah yang dinamakan cinta itu.

Berahi adalah soal yang wajar, tuntutan jasmani, daya tarik antara pria dan wanita, yang alamiah karena dari daya inilah lahirnya keinginan untuk bersatu dan dari sinilah pula datangnya rahasia perkembangbiakan manusia, anak beranak.

Daya tarik ini merupakan sesuatu yang wajar, tanpa ada unsur kesengajaan, karenanya alamiah dan gaib, dan hal itu tercakup pula dalam cinta.

Akan tetapi, begitu nafsu berahi dipupuk oleh pikiran dengan dasar mencari kepuasan atau kenikmatan, akan rusaklah segala-galanya dan cinta menjadi sesuatu yang mungkin saja menimbulkan segala macam kerusakan, kekerasan, konfllk dan kesengsaraan.

Cinta yang sudah dicengkeram dan dikuasai oleh nafsu berahi itu, yang pada hakekatnya adalah nafsu keinginan menyenangkan dirl sendiri belaka, akan menimbulkan cemburu, ingin menguasai, bahkan dapat berbalik menjadi benci kalau keinginan menyenangkan dirinya sendiri itu terhalang.

Akan tetapi, kalau pikiran membentuk nafsu keinginan menyenangkan diri sendiri itu tidak mencampuri, tidak mengotori, yang tinggal hanyalah kewajaran cinta yang amat indah, cinta yang sinarnya memenuhi seluruh jagat dan menembus ke lubuk hati setiap orang manusia, yang getarannya menghidupkan segala sesuatu yang nampak maupun yang tidak nampak.

Kalau sudah ada sinar dan getaran cinta itu, maka tidak ada lagi persoalan, segala sesuatu menjadi indah dan suci, bahkan berahi pun menjadi sesuatu yang indah dan suci, cinta asmara antara seorang pria dan seorang wanita pun menjadi sesuatu yang indah dalam sinar cinta kasih.

Pada saat Kam Hong berlari-larian dengan Ci Sian itu, sinar cinta kasih menerangi hatinya, mendatangkan perasaan yang amat luar biasa, kebahagiaan yang tidak terpisah dari alam, dari segala-galanya yang nampak, batinnya begitu penuh dengan kebebasan dan keheningan, yang ada hanya rasa bahagia itu saja, yang lain-lain tidak ada lagi!

Kiranya setiap orang pernah merasakan hal ini, namun sayang, hanya sekilas saja karena batin sudah diserbu lagi oleh keinginan-keinginan memuaskan diri dengan kesenangan-kesenangan.

Bahkan rasa bahagia itu pun lalu berubah menjadi kesenangan yang dikejar-kejar!

Sayang!

Ketika mereka tiba di puncak bukit, tiba-tiba Ci Sian yang agak terengah-engah karena memang tenaganya belum kuat benar dan dia tadi telah mengerahkan terlalu banyak tenaga, berhenti berlari dan menuding ke depan.

Keringat halus memenuhi leher dan dahinya.

Kam Hong ikut memandang ke depan dan nampaklah olehnya seorang pemuda di atas lereng bukit di depan, lalu pemuda itu berhenti dan muncul dua orang kakek.

Agaknya terjadi percekcokan dan pemuda itu berkelahi dengan dua orang kakek.

Akan tetapi hanya dalam waktu singkat, pemuda itu kena ditawan, agaknya pingsan lalu dipanggul oleh seorang di antara dua kakek itu dan dibawa pergi.

"Dia itu Cu Pek In....!"

Kata Kam Hong.

"Ci Sian, kau tunggu saja di sini, aku harus mengejar mereka dan menolong Nona Cu!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat saja Kam Hong telah pergi dan lenyap dari situ, mengejar ke depan, turun dari puncak bukit itu.

Ci Sian juga mengenal bahwa pemuda yang ditawan oleh dua orang kakek itu adalah Cu Pek In, gadis puteri majikan Lembah Suling Emas atau yang kini dirobah namanya menjadi Lembah Naga Siluman, merasa tidak enak ditinggal sendirian saja di puncak bukit yang sunyi itu.

Maka dia pun lalu mengerahkan tenaganya ikut lari mengejar turun dari puncak itu.

Akan tetapi, ternyata dua orang kakek itu sudah tidak nampak lagi bayangan mereka dan juga Kam Hong sudah lenyap sehingga Ci Sian menjadi bingung, Akan tetapi dia masih terus mengejar, lari turun bukit menuju ke bukit di mana tadi Pek In dan dua orang kakek itu nampak.

Dengan napas terengah-engah dan tubuh basah oleh keringat akhirnya Ci Sian terpaksa berhenti di lereng bukit itu karena dia merasa bingung.

Dia tidak tahu ke mana larinya dua orang kakek yang menawan Cu Pek In tadi, juga tidak lagi melihat bayangan Kam Hong yang mengejar mereka.

Dia juga tidak tahu apakah dia tidak tersesat jalan.

Dia merasa bingung dan khawatir.

Membayangkan bahwa dia akan terpisah selamanya dari Kam Hong, ingin rasanya dia menangis dan ingin dia berteriak-teriak memanggil nama Kam Hong.

Akan tetapi dia menahan diri.

Dia merasa malu kalau harus berteriak-teriak memanggil, apalagi baru saja Kam Hong telah menegurnya.

Dia tidak akan sembarangan lagi membuka mulut.

Pula, Kam Hong adalah seorang pendekar yang memiliki kesaktian hebat, apa sukarnya bagi pendekar itu untuk mencari dan menemukannya?

Dia harus bersikap tenang, seperti Kam Hong.

Bukankah dia juga diakui sebagai adik seperguruan?

Masa adik seperguruan Pendekar Suling Emas yang perkasa itu harus menjadi seorang gadis cengeng dan penakut?

Dengan pikiran itu yang merupakan hiburan baginya, pulih kemball semangat dan keberaniannya dan mulailah dia berjalan menuruni bukit itu dengan hati-hati sambil memasang mata, tidak lagi lari seperti tadi.

Hari telah makin menua, matahari mulai kebarat, dan biarpun dia mulai merasa khawatir lagi, namun diberani-beranikan hatinya dan dia melangkah terus.

Dia mendaki bukit penuh salju di depan karena dia melihat tapak kaki di atas salju tebal.

Ketika dia tiba di lereng bukit itu, tiba-tiba dia berhenti melangkah dan memasang telinga dengan penuh perhatian.

Ada suara berdengung-dengung atau mengaung-aung dari arah kiri.

Tadinya dia mengira bahwa itu suara suling dari Kam Hong, akan tetapi ternyata bukan, suara suling tidak seperti itu, mengaung dan kadang-kadang berdesing tajam itu lebih mirip suara gerakan pedang yang luar biasa sekali, akan tetapi dia pun meragu karena mana mungkin gerakan pedang biasa berdengung seperti itu, seperti berirama dan menyanyikan lagu aneh!

Betapapun juga, dia merasa yakin bahwa itu pasti bukan suara angin bertiup melalui lubang atau mempermainkan pohon karena di bukit itu semua pohon gundul tertutup salju.

Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa suara itu tentu ditimbulkan oleh manusia, dan siapa pun adanya manusia itu, Harus dia temui untuk ditanya kalau-kalau tadi melihat Kam Hong.

Dan siapa pun dia, lebih baik bertemu manusia lain daripada berkeliaran seorang diri saja di tempat yang lengang itu.

Dengan hati tabah dia lalu melanjutkan langkahnya, kini dengan langkah lebar menuju ke kiri, melalui bagian yang banyak batunya dan akhirnya dia tiba di depan sebuah batu besar sekali dan berhenti, memandang dengan bengong dan mau tidak mau bulu tengkuknya meremang karena kini jelas olehnya bahwa suara mengaung-aung itu keluar dari dalam batu besar itu!

Hampir dia tidak percaya!

Akan tetapi tak salah lagi, suara itu keluar dari dalam batu besar.

Dia menempelkan telinganya pada batu itu dan suara itu makin jelas, dan kini dia tidak salah lagi, suara itu pasti suara gerakan pedang yang memang amat luar biasa sekali.

Akan tetapi, mana mungkin pedang digerakkan orang di dalam sebuah batu yang amat besar, sebesar pondok?

Mulailah dia membayangkan siluman atau iblis penghuni batu besar itu.

Akan tetapi, selama hidupnya, biarpun dia seringkali mendengar dongeng tentang setan dan iblis, dia belum pernah bertemu dengan iblis!

Maka dia lalu mengambil sebuah batu dan mengetuk-ngetuk batu besar itu beberapa kali.

Dan tiba-tiba suara mengaung-aung itu pun berhenti!

Suasana menjadi sunyi sekali setelah suara itu berhenti, sunyi yang terasa amat tidak enak bagi Ci Sian.

Suara itu setidaknya meyakinkan dia bahwa dia tidak seorang diri saja di tempat yang lengang itu.

Dan menghilangnya suara itu membuat dia merasa ditinggalkan sendirian lagi.

Maka dia mengetuk-ngetuk lagi pada batu besar dan kini disusul teriakannya.

"Haiii! Adakah orang di dalam batu ini?"

Karena ketegangan hatinya takut di tinggalkan orang, Ci Sian sampai tidak sadar betapa lucunya pertanyaan yang dikeluarkannya itu.

Biasanya, kalau orang bertanya, tentu bertanya apakah ada orang di dalam rumah, tapi kini dia bertanya apakah ada orang di dalam batu!

Mana mungkin ada orang di dalam batu?

"Haiii!

Siapakah yang berada di dalam batu?"

Kembali dia berteriak dan memukul-mukulkan batu yang dipegangnya itu pada batu besar.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam batu!

Suara itu terdengar aneh, seperti mulut tersumbat, akan tetapi cukup dapat didengarnya.

"Sumoi, engkaukah itu?"

Bukan main girangnya hatinya.

Tentu Kam Hong itu!

Siapa lagi yang menyebutnya sumoi kalau bukan Kam Hong?

Biarpun biasanya Kam Hong menyebutnya Ci Sian, akan tetapi bukankah pendekar itu sudah mengakui dia sebagai sumoinya?

Dan kalau suara Kam Hong seperti itu, tidak aneh karena pendekar itu berada di dalam batu!

Tentu suaranya seperti tersumbat.

Dan di dunia ini mana ada manusia lain kecuali Kam Hong yang memiliki cukup kesaktian untuk masuk ke dalam batu besar?

"Benar, Suheng, ini aku!"

Teriaknya dengan nyaring.

Karena Kam Hong me-nyebutnya sumoi, mengapa dia tidak menyebutnya suheng?

Masa kalau dia dipanggil sumoi (adik seperguruan), lalu dia menjawabnya dengan sebutan paman?

Dan lagi, kalau diingat-ingat, dia memang jauh lebih senang menyebut suheng daripada menyebut paman kepada Kam Hong.

"Mau apa engkau datang menyusulku, Sumoi?"

Kembali terdengar suara itu, suara aneh karena tentu saja tidak leluasa keluarnya dari dalam batu itu.

"Mau apa menyusulmu?"

Ci Sian mulai terheran dan mendongkol!

Jangan-jangan Kam Hong telah menjadi miring otaknya, kalau tidak masa menyembunyikan diri di dalam batu besar seperti itu dan masih bertanya lagi kepadanya mengapa dia datang menyusul?

"Bukalah aku mau bicara!"

Katanya dengan nyaring karena tidak enak kalau berbantahan dari luar dan dalam batu! "Tunggu sebentar....!"

Ci Sian melangkah mundur.

Dia tidak dapat membayangkan bagaimana Kam Hong akan keluar dari dalam batu itu.

Jangan-jangan batu itu akan meledak dari dalam.

Yang lebih mengherankan lagi, bagaimana masuknya?

Dia menyabarkan diri karena kalau sudah keluar, tentu Kam Hong akan dapat menjawab semua keheranannya.

Tiba-tiba batu besar itu bergerak ke kanan!

Dalam keheranannya, Ci Sian hendak menegur, akan tetapi dia menahan diri ketika melihat betapa di balik itu kelihatan lubang hitam yang makin lama makin melebar.

Setelah lebarnya cukup, batu itu berhenti dan dari dalam guha yang tersembunyi di balik batu besar itu muncullah seorang pemuda yang langsung meloncat keluar.

Ci Sian terkejut, pemuda itu pun terkejut ketika mereka saling pandang.

Kemudian wajah mereka nampak berseri ketika mereka saling mengenal.

"Engkau....?"

"Engkau....?"

Pemuda itu pun berseru hampir berbareng.

"Bukankah engkau eh...., Siauw Goat dan kita pernah berjumpa lima tahun yang lalu?"

Suaranya penuh keraguan karena ketika dia bertemu dengan dara ini, belumlah sebesar ini, masih merupakan seorang gadis cilik, bukan seorang dara remaja yang cantik jelita seperti ini.

"Dan engkau tentu Sim Hong Bu, pemuda pemburu itu, bukan?"

Ci Sian menjawab.

"Kau tadi kusangka Sumoi...."

"Dan engkau kusangka Suheng...."

Keduanya diam dan segera keduanya tertawa karena baru terasa oleh mereka betapa pertemuan itu membuat mereka terkejut, heran dan juga girang sehingga mereka mengeluarkan kata-kata yang hampir berbareng dan bersamaan artinya, sehingga tidak terjadi tanya jawab se-bagaimana mestinya dan percakapan itu menjadi kacau!

"Hong Bu, ketika kita saling jumpa, kita masih belum dewasa, masih kecil.

Akan tetapi engkau dapat mengenalku dengan seketika, apakah aku masih sama saja dengan ketika masih kecil dahulu?"

Hong Bu yang sejak tadi memandang dengan bengong seperti orang penuh pesona, penuh kagum, mendengar pertanyaan yang jujur itu, lalu menjawab sejujurnya pula.

"Memang tidak ada bedanya dalam pandang matamu yang tajam, senyummu yang khas, akan tetapi engkau.... engkau sekarang, hemmm, cantik jelita sekali, Siauw Goat!"

Tiba-tiba wajah dara itu berubah merah, bukan merah karena marah melainkan karena malu, dan untuk menyembunyikan rasa malu ini dia cepat berkata.

"Jangan sebut aku Siauw Goat lagi, Aku bukan anak kecil lagi maka namaku bukanlah Bulan Kecil lagi, melainkan Ci Sian, Bu Ci Sian. Hong Bu, siapakah adanya Sumoimu yang kau sebut-sebut tadi?"

"Bu Ci Sian....? Sungguh nama yang indah sekali... tapi mengapa dulu namamu Siauw Goat....?"

Mendengar pujian ini dan betapa Hong Bu tidak menjawab pernyataannya bahkan bertanya tentang namanya, Ci Sian cemberut, akan tetapi menjawab juga.

"Siauw Goat hanya nama julukan yang diberikan orang kepadaku di waktu aku masih kecil saja, namaku yang sebenarnya adalah Bu Ci Sian, akan tetapi nama itu sama sekali tidaklah indah...."

"Siapa bilang tidak indah? Nama itu bagus sekali, Siauw.... eh, Ci Sian!"

"Sudahlah, sekarang jawab pertanyaanku, siapakah Sumoimu itu?"

"Sumoiku? Ah, Sumoiku bernama Cu Pek In...."

Hong Bu terhenti karena melihat betapa dara itu menjadi terkejut sekali dan wajah dara yang jelita itu berobah, alisnya berkerut dan pandang matanya tak senang.

Kemudian, semakin terkejutlah hati Hong Bu ketika dia melihat dara itu mengepal tinjunya dan melangkah maju mendekatinya dengan sikap mengancam.

"Bagus, jadi engkau adalah murid keluarga Cu yang jahat itu, ya? Engkau murid keluarga siluman itu? Nah, suatu kesempatan bagiku untuk membasmi muridnya lebih dulu sebelum membasmi guru-gurunya!"

Setelah berkata demikian, dengan cepat sekali Ci Sian lalu menerjang ke depan dan menyerang dada Hong Bu! "Eh, Ci Sian.... eh, ada apa ini....?"

Hong Bu terkejut akan tetapi dia hanya mengelak ke kanan kiri ketika dara itu menyerangnya secara bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan yang mengandung tenaga yang cukup dahsyat.

Akan tetapi Ci Sian tidak bicara lagi melainkan menyerang semakin ganas.

Harus diketahui bahwa pada waktu itu, tingkat kepandaian Sim Hong Bu telah mengalami perubahan yang amat hebat.

Selama hampir lima tahun dia telah digembleng oleh tiga orang kakak beradik Cu yang melatihnya dengan tekun dan keras, sesuai dengan pesan mendiang Ouwyang Kwan yang menjadi Yeti.

Dan karena Hong Bu memang seorang anak kecil yang amat berbakat, ditambah lagi semangatnya yang besar, maka dalam waktu empat tahun saja dia telah menguasai dasar-dasar ilmu silat tinggi keluarga itu dengan baiknya, Bahkan dalam hal penghimpunan tenaga sin-kang dan kematangan ilmu silat, dia telah jauh melampaui Cu Pek In, dan bahkan sudah mendekati tingkat Cu Kang Bu ataupun Cu Seng Bu.

Kini, dia mulai disuruh oleh guru-gurunya untuk mengasingkan diri di dalam guha di mana dia pernah diajak oleh Yeti, dan disuruh mematangkan ilmu-ilmunya yang telah dipelajarinya selama ini dan juga untuk mulai melatih diri dengan ilmu-ilmu yang ditinggalkan oleh Ouwyang Kwan terutama sekali Ilmu Pedang Koai-liong-kiam itu.

Oleh karena itu, kini menghadapi Ci Sian, kalau dia mau melawan, tentu tidak sukar baginya untuk merobohkan dara ini yang belum benar-benar menerima pelajaran Ilmu silat dari Kam Hong.

Akan tetapi, Sim Hong Bu sama sekali tidak tidak mau melawan.

Begitu berjumpa dengan Ci Sian, terjadi sesuatu yang aneh dalam hatinya.

Dia terpesona dan kagum, tertarik sekali kepada dara yang pernah dijumpainya lima tahun yang lalu itu, dan kini menghadapi serangan-serangan ganas dari Ci Sian, dia hanya merasa terkejut dan terheran-heran saja.

Sedikit pun dia tidak bermaksud untuk melawan, hanya mengelak terus dan kadang-kadang saja menangkis tanpa menggunakan terlalu banyak tenaga karena dia tidak ingin menyakiti lengan Ci Sian.

Akan tetapi, hal itu malah menambah kemarahan dan rasa penasaran di dalam hati Ci Sian.

Melihat betapa Hong Bu hanya selalu mengelak dan menangkis tanpa membalas sedikit pun, sedangkan dia sudah mengeluarkan semua kepandaian untuk menyerang dan semua tidak ada hasilnya sama sekali membuat dia penasaran dan hampir menangis.

"Balaslah! Hayo balaslah, kau pengecut, murid keluarga iblis!"

Bentaknya berkali-kali sambil terus menyerang.

Hong Bu yang merasa terkejut dan terheran-heran itu mengerti bahwa sikapnya yang tidak melawan itu agaknya malah menyinggung hati Ci Sian.

Dia tidak mengerti akan watak yang dianggapnya aneh dan lucu itu, akan tetapi dia pun merasa kasihan ketika mendengar betapa di dalam suara dara itu terkandung isak tertahan.

Maka ketika Ci Sian memukul lagi ke dadanya, dia sengaja berlaku lambat ketika mengelak.

"Dukkkk....!"

Tubuhnya terlempar ke belakang dan terpelanting.

Begitu melihat pukulannya mengenai sasaran, Ci Sian merasa girang akan tetapi juga berbareng merasa kaget bukan main.

Akan tetapi hatinya lega melihat Hong Bu tidak mati dan dia malah menjadi ragu-ragu untuk menyerang lebih lanjut ketika melihat Hong Bu bangkit kembali dengan wajah memperlihatkan rasa penasaran dan juga kedukaan itu.

"Ci Sian, harap kau bersabar.... mengapa engkau marah-marah dan benci kepadaku, menyerang tanpa alasan?"

Hong Bu bertanya sambil mengebut-ngebutkan bajunya yang kotor oleh debu ketika dia terjatuh tadi.

Tentu saja pukulan yang sengaja diterimanya dengan dada tadi sama sekali tidak melukainya dan tidak terasa nyeri karena dia sudah melindungi dadanya dengan sin-kang yang lemas sehingga dara itu pun tidak sampai terluka tangannya.

Ci Sian memandang ke arah dada kiri pemuda yang terpukul olehnya tadi.

Dia tadi mengerahkan tenaganya dan pukulannya tadi keras sekali, cukup keras untuk membunuh orang!

"Tidak....

tidak sakitkah dadamu yang kupukul?"

Mendengar pertanyaan ini, hampir saja Hong Bu tertawa.

Akan tetapi dia cukup cerdik untuk menahan rasa geli di hatinya itu dan juga dia merasa amat girang.

Kiranya Ci Sian bukanlah seorang dara kejam, buktinya begitu dia kena terpukul, gadis itu bertanya dengan nada suara penuh kekhawatiran!

Maka dia cepat-cepat meringis dan mengusap-usap dadanya yang tadi terpukul.

"Bukan main nyerinya.... pukulanmu kuat dan dahsyat sekali.... akan tetapi.... tidak mengapalah, biarlah sebagai hukumanku kalau aku memang bersalah. Akan tetapi, bersalahkah aku kepadamu, Ci Sian? Dan kalau ada salah, apakah kesalahanku itu maka engkau menjadi begitu marah dan memukulku?"

Setelah dia berhasil memukul dada Hong Bu, sudah lenyaplah rasa penasaran dan kemarahan dari hati Ci Sian dan timbul rasa kasihan kepada pemuda itu.

Bagaimanapun juga, pemuda itu sama sekali tidak mempunyai kesalahan apa pun terhadap dia.

Akan tetapi tentu saja dia tidak mau mengakui hal ini dan dengan muka tetap cemberut, biarpun suaranya tidak sekeras tadi dia berkata.

"Keluarga Cu itu gurumu, bukan? Benar, keluarga penghuni Kim-siauw San-kok (Lembah Gunung Suling Emas ) karena mulai sekarang mereka tidak berhak memakai lagi nama julukan Suling Emas. Mereka itu telah kalah oleh Suhengku dan sudah berjanji takkan lagi memakai nama Suling Emas."

"Eh, apakah yang telah terjadi, Ci Sian? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan itu, juga aku sama sekali tidak tahu mengapa engkau memusuhi keluarga Cu sehingga engkau marah-marah kepada aku yang menjadi murid mereka. Marilah, kita duduk dan bicara dengan tenang."

Mereka lalu duduk di depan batu besar yang menutupi guha itu.

Ci Sian sudah tidak marah lagi sungguhpun ada rasa kecewa dalam hatinya bahwa pemuda yang menyenangkan ini ternyata adalah murid dari musuh-musuhnya yang dibencinya.

Ya, dia membenci keluarga Cu, karena bukankah keluarga itu hendak membunuhnya, bahkan pada menjelang perpisahan, Cu Han Bu masih juga mengeluarkan ancamannya?

"Nah, sekarang ceritakanlah kepadanya apa artinya semua ini, Ci Sian?"

"Ceritakan dulu bagaimana engkau tiba-tiba saja menjadi murid mereka."

Kata Ci Sian.

Hong Bu tersenyum lalu menarik napas panjang.

Dara ini sungguh amat memikat hatinya, dan biarpun dara ini sedang berada dalam keadaan marah, namun tidak mengurangi daya tariknya yang amat kuat.

Dan dia merasa yakin bahwa kemarahan dara itu kepadanya secara tiba-tiba bukannya tidak ada alasannya yang kuat, oleh karena itu biarpun belum mendengarkan alasan itu pun dia sudah dengan rela memaafkan gadis itu!

"Aku menjadi murid mereka secara kebetulan saja."

Dia mulai menceritakan keadaan dirinya. Dia harus merahasiakan tentang mendiang Ouwyang Kwan yang menjadi Yeti.

"Secara kebetulan aku terbawa oleh rombongan orang-orang kang-ouw menjadi tamu di Lembah Suling.... eh, di lembah keluarga Cu itu dan karena ternyata bahwa pedang Koai-liong-kiam berada di tanganku, maka aku ditetapkan menjadi ahli waris pedang itu dan ilmunya, dan karena pedang itu berasal dari keluarga Cu, maka dengan sendirinya aku menjadi murid mereka. Selama hampir lima tahun aku belajar ilmu dari mereka, yaitu ketiga orang Suhuku she Cu itu. Nah, demikianlah pengalamanku mengapa aku menjadi murid mereka, Ci Sian. Dan sekarang, ceritakanlah mengapa engkau membenci mereka....?"

"Kalau engkau murid mereka, mengapa engkau sekarang berada di sini sehingga engkau tidak tahu apa yang terjadi di lembah?"

Ci Sian masih merasa tidak puas.

"Sejak tiga bulan yang lalu aku tidak pernah keluar dari dalam guha di balik batu ini, Ci Sian. Karena sudah tiba saatnya bagiku untuk mempelajari ilmu pedang yang diwariskan kepadaku. Kalau tidak engkau mengetuk-ngetuk pada batu tadi, sampai sekarang pun aku belum keluar dari dalam guha itu."

"Dan kau sangka.... aku.... Sumoimu.... hemm.... gadis yang berpakaian pria itu?"

"Ya, benar. Kau sudah mengenal Sumoi Cu Pek In?"

"Tentu saja, aku sudah bertemu dengan banci itu!"

"Banci?"

Sepasang mata Hong Bu terbelalak heran.

"Ya, banci. Seorang dara yang selalu mengenakan pakaian pria, apalagi kalau bukan banci namanya?"

Hong Bu tertawa geli dan Ci Sian memandang marah.

"Kenapa kau tertawa?"

"Karena kau lucu, Ci Sian. Dia bukan banci. Dia berpakaian pria semenjak kecil, karena dahulu, mendiang ibunya ingin sekali mempunyai seorang anak laki-laki. Maka dia menjadi terbiasa dan sampai sekarang suka sekali berpakaian pria. Mendengar bahwa ibu dari Pek In sudah tidak ada, diam-diam Ci Sian merasa berkurang bencinya kepada dara yang senasib dengan dia itu.

"Apakah yang telah terjadi di lembah dan mengapa engkau dapat datang ke tempat ini, Ci Sian?"

"Aku dan Suheng, kau tahu siapa Suheng, dia adalah Pendekar Suling Emas tulen Kam Hong, datang...."

"Ahhh.... ! Pendekar perkasa yang dulu pernah menolong kita itu? Yang mempergunakan suling emas dan kipas?"

"Benar, dialah orangnya!"

Kata Ci Sian bangga.

"Karena Suheng merasa penasaran dengan julukan Lembah Suling Emas yang menyamai julukannya, maka kami datang ke lembah dan di sana, untuk menentukan siapa yang lebih berhak memakai nama Suling Emas, Suheng mengalahkan tiga orang she Cu itu...."

"Ahh....!"

Hong Bu terkejut, di dalam hatinya hampir tidak dapat percaya bahwa ketiga orang gurunya dapat dikalahkan orang.

"Apa ahhh?"

Ci Sian menatap tajam.

"Tidak apa-apa, hanya aku teringat bahwa menurut penuturan para suhu, memang pusaka suling emas itu buatan nenek moyang keluarga Cu, seperti juga pedang Koai-liong-kiam. Oleh karena itulah maka lembah itu dinamakan Lembah Gunung Suling Emas."

"Andaikata benar begitu, suling itu telah ratusan tahun menjadi milik keluarga Suheng Kam Hong, dan secara gaib Ilmu Kim-siauw Kiam-sut juga oleh pencipta suling itu diwariskan kepada kami, maka Suhenglah yang berhak menyebut diri Suling Emas yang aseli.

"Lalu bagaimana, Ci Sian? Apakah dalam adu ilmu itu juga ada yang terluka atau tewas?"

Tanya Hong Bu dengan hati khawatir sekali. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi dan diam-diam dia mengkhawatirkan keselamatan keluarga Cu.

"Hemm, kalau Suheng tidak memberi ampun, apa sukarnya bagi Suheng untuk membasmi mereka yang sombong itu? Suheng hanya mengalahkan mereka dan memenangkan hak memakai nama Suling Emas. Kami lalu meninggalkan lembah...."

"Kalau begitu, mana Suhengmu itu? Dan mengapa engkau datang sendirian di sini? Jadi kau kira tadi aku Suhengmu itukah?"

"Ya, aku sedang menyusul Suheng, maka kukira tadi engkaulah Suheng Kam Hong. Semua adalah gara-gara Si Banci.... eh, Cu Pek In itulah."

"Gara-gara Sumoi? Mengapa? Apa yang terjadi?"

"Aku dan Suheng sedang meninggalkan lembah, setelah menyeberangi tambang. Ketika kami tiba di puncak bukit, kami melihat Cu Pek In berjalan seorang diri dan dari tempat jauh itu kami melihat betapa dia diserang dan ditawan oleh dua orang kakek...."

"Ahhh....!"

Sim Hong Bu terkejut bukan main mendengar penuturuan ini.

"Melihat itu, Suheng lalu lari melakukan pengejaran dan meninggalkan aku,"

Kata Ci Sian dengan suara tak senang.

"Maka aku lalu mengejar pula, akan tetapi tentu saja Suheng lenyap karena cepatnya gerakannya."

"Ah! Ke mana perginya kakek yang menculik Sumoi itu? Aku harus menolongnya!"

"Hemm, kalau aku tahu, apa kau kira aku berada di sini? Aku pun sedang mencari-cari Suheng yang melakukan pengejaran.

"Kalau begitu, biar aku mencarinya untuk membantu Suhengmu menghadapi dua orang kakek itu dan menolong Sumoi."

"Ke mana kau hendak mencarinya? Pula, kau pikir Suheng membutuhkan bantuanmu? Kita tunggu saja di sini, pasti Suheng akan datang membawa Sumoimu itu dalam keadaan selamat."

"Benarkah? Benarkah Suhengmu akan dapat menyelamatkannya? Apakah tidak perlu kucari mereka dan kubantu Suhengmu?"

"Hemm, bantuanmu itu hanya akan membikin Suheng repot saja dan mem-bantunya berarti menghinanya. Sudahlah, kita tunggu di sini, Suheng pasti akan dapat mencari aku di sini"

Sejenak Hong Bu merasa bimbang.

Akan tetapi kemudian menurut apa yang diusulkan oleh Ci Sian.

Pertama, kalau dia mencari, ke mana dia harus mencari kalau tidak tahu ke arah mana sumoinya dilarikan dua orang kakek itu, dan juga, bukankah pendekar Kam Hong yang sakti itu telah melakukan pengejaran?

Ke dua, kalau dia pergi, lalu bagaimana dengan Ci Sian yang seorang diri itu?

"Kalau begitu, marilah kita masuk ke dalam guha, Ci Sian.

Hari sudah hampir gelap dan hawa akan sangat dingin malam ini di luarsini.

Di dalam lebih hangat dan kita bisa menanti di dalam."

"Akan tetapi bagaimana kalau Suheng datang mencariku di sini?'"

"Hemm, bukankah Suhengmu sedang menolong Sumoi? Sumoi tahu akan tempat ini walaupun dia belum pernah memasuki guha ini. Dan andaikata sumoi langsung kembali ke lembah, besok pagi-pagi kita dapat menyusul ke lembah dan tentu kita akan mendengar segalanya dan engkau akan dapat bertemu dengan Su-hengmu."

Karena tidak ada lain jalan dan memang cuaca mulai menjadi gelap dan hawa menjadi dingin sekali, Ci Sian mengikuti Hong Bu memasuki guha itu dan dia melihat dengan penuh takjub betapa pemuda itu mendorong batu besar itu dengan tangan kirinya saja untuk menutup lubang guha itu!

Diam-diam dia merasa heran mengapa tadi ketika menangkisnya, dia tidak merasakan kedahsyatan tenaga tangan pemuda itu!Akan tetapi dia tidak sempat lagi memikirkan hal ini karena ketika Hong Bu menyalakan api penerangan, dia menjadi takjub bukan main menyaksikan keindahan guha itu yang seolah-olah merupakan sebuah dunia lain dengan dinding-dinding es yang kemilau dan runcing bergantungan dari langit.

Akan tetapi, untuk tidak membuka rahasia tempat itu, Hong Bu tidak mengajak Ci Sian ke sebelah dalam di mana terdapat mayat-mayat yang tidak rusak karena terbungkus oleh es.

Mereka hanya duduk di ruangan depan yang luas dan Ci Sian menerima dengan girang ketika Hong Bu menghidangkan roti kering dan air jernih untuk makan malam.

Mereka makan minum sambil mengobrol dan diam-diam Hong Bu harus mengakui bahwa dia tertarik sekali kepada Ci Sian, dan dia merasa khawatir karena menduga bahwa dia telah jatuh cinta kepada dara itu!

Segala gerak-gerik bibirnya ketika bicara, cara dara itu menggerakkan cuping hidung tanpa disadarinya, lesung pipit di tepi mulut sebelah kiri, cara dara itu memandang dengan kepala agak dimiringkan, cara dara itu mengusap anak rambut yang berjuntai di dahinya, pendeknya setiap gerak-gerik dara itu begitu menarik dan mempesonakan hatinya, membuatnya tergila-gila!

Di lain pihak, Ci Sian juga amat suka kepada Hong Bu karena semenjak pertemuan lima tahun yang lalu, dia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda yang berwatak mulia, gagah perkasa dan juga jujur.

Oleh karena itu, ketika malam telah larut dan dia telah mengantuk, dia tidak ragu-ragu sama sekali ketika Hong Bu mempersilakan dia mengaso dan tidur di atas setumpuk daun kering di sudut ruangan depan guha itu.

Dia tidak merasa takut dan khawatir sama sekali dan sebentar saja, dara yang sudah lelah ini tertidur pulas.

Hong Bu berjaga tak jauh di situ sambil menjaga api unggun agar tidak sampai padam untuk memberi hawa hangat kepada dara yang sedang tidur pulas.

Sambil menatap ke arah wajah dan tubuh yang tidur miring itu, berkali-kali Hong Bu menghela napas panjang.

Melihat betapa hawa amat dingin dan biarpun di situ tidak sedingin di luar, apalagi sudah ada api unggun yang bernyala, akan tetapi tetap saja dara itu tidur meringkuk kedinginan, dia lalu masuk ke dalam, mengambil baju mantelnya dan menyelimuti Ci Sian, kemudian duduk kembali dekat api unggun.

Sementara itu, Kam Hong yang melakukan pengejaran terpaksa harus mengerahkan tenaganya karena dua orang kakek yang menawan Pek In itu juga lihai sekali dan dapat melarikan diri dengan kecepatan luar biasa dan selain itu memang jarak di antara mereka cukup jauh.

Baiknya, dua orang kakek itu sama sekali tidak mengira bahwa kini mereka telah dikejar orang.

Karena inilah agaknya maka Kam Hong akhirnya dapat juga menyusul dua orang kakek itu.

Setelah kini dapat melihat jelas, diam-diam Kam Hong terkejut.

Dia belum pernah jumpa dengan dua orang kakek itu, akan tetapi melihat bentuk tubuh mereka, dia dapat menyangka bahwa dua orang kakek yang menawan Pek In itu tentulah dua orang di antara Im-kan Ngo-ok dan kalau dia tidak salah, kakek yang berpakaian seperti tosu yang tingginya luar biasa itu, sedikitnya dua setengah meter, tentulah Ngo-ok Toat-beng Sian-su, Sedangkan kakek yang berkepala gundul berpakaian hwesio, bertubuh gendut pendek sekali, hanya setengahnya Ngo-ok itu tentulah Su-ok Siauw siang-cu atau orang ke empat Im-kan Ngo-ok!

Kam Hong telah mendengar tentang mereka satu demi satu, akan tetapi belum pernah bertemu dengan mereka.

Kini, melihat betapa tubuh Pek In tak bergerak dipanggul di pundak kakek tinggi kurus itu, dia mempercepat larinya.

Akan tetapi, ternyata dua orang kakek itu lihai bukan main karena tiba-tiba mereka menengok dan melihat betapa ada orang mengejar mereka dengan amat cepatnya mereka pun segera mempercepat lari mereka!

Kam Hong terus mengejar dan ternyata dua orang itu melarikan diri ke sebuah kuil tua yang berada di kaki bukit, agaknya kuil kosong yang sudah ditinggalkan penghuni bertahun-tahun yang lalu karena kuil itu tidak terawat.

Mereka berdua lenyap memasuki kuil melalui pintu depan yang tidak berdaun pintu lagi dan keadaan amat sunyi di situ ketika Kam Hong tiba di pekarangan depan kuil yang tidak terawat, yang dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan liar yang dapat tumbuh di tempat dingin itu.

Tidak ada salju di sini, akan tetapi hawa udara bahkan lebih dingin daripada di puncak bukit yang tertiup salju.

Kam Hong tidak berani ceroboh memasuki kuil.

Dia tahu bahwa Im-kan Ngo-ok adalah datuk-datuk kaum sesat yang berkedudukan tinggi sekali, maka menghadapi mereka tidak boleh disamakan dengan menghadapi penjahat-penjahat biasa.

Sejenak dia meneliti keadaan dan setelah dia merasa yakin bahwa dari tempat dia berdiri itu dia akan dapat melihat apabila ada orang keluar dari dalam kuil itu baik melalui jurusan manapun juga, dia lalu berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua lengan bersilang di depan dada, kemudian dia berseru dengan suara tenang dan nyaring.

"Yang berada di dalam kuil, bukanlah Im-kan Ngo-ok? Silakan keluar, aku Kam Hong ingin bicara!"

Hening sejenak sampai gema suara Kam Hong itu menghilang. Kemudian terdengar teriakan dari dalam kuil.

"Mana keluarga Cu? Apakah orang yang datang ini utusan keluarga Lembah Gunung Suling Emas?"

Suara yang berteriak itu terdengar menggetar penuh dengan tenaga khi-kang yang amat kuat dan tahulah Kam Hong bahwa orang yang berteriak itu sengaja memamerkan kepandaian untuk menakutinya.

"Aku bukan utusan siapa pun, aku datang atas namaku sendiri karena melihat seorang gadis kalian tawan!"

Kata Kam Hong terus terang.

"Huh, apamukah Nona ini maka engkau lancang mencampuri?"

Terdengar suara orang membentak marah dari dari dalam kuil itu.

"Bukan keluarga bukan teman bukan apa-apa, akan tetapi melihat seorang gadis ditawan dengan paksa apakah kalian mengira bahwa aku akan diam saja? Im-kan Ngo-ok, sudah lama aku mendengar nama besar kalian sebagai datuk-datuk perkasa, apakah sekarang aku harus melihat kenyataan bahwa kalian hanyalah penculik-penculik gadis yang pengecut saja dan tidak berani menghadapi aku sebagai laki-laki?"

"Sombong....!"

Tiba-tiba sesosok bayangan seperti bola menggelundung dari pintu kuil dan tahu-tahu seorang pendek gendut seperti hwesio itu sudah mencelat ke depan dan menghantam ke arah dada Kam Hong setelah tadi menggelundung seperti seekor binatang trenggiling turun dari lereng.

Hantaman itu dahsyat bukan main sampai angin pukulan terasa menyambar oleh Kam Hong.

Melihat serangan maut ini, Kam Hong maklum betapa lihai dan kejamnya orang ini, maka dia pun mengerahkan tenaga pada lengan kirinya dan menangkis.

"Dukkk! Bresss!"

Tubuh yang pendek gendut itu terguling dan kembali tubuh itu bergulingan menjauh, lalu meloncat bangun dengan mata terbelalak memandang ke arah pemuda yang mampu menangkis serangannya sehebat itu.

Dugaan Kam Hong memang tepat karena pada saat itu, dari pintu kuil keluarlah empat orang lain dan dengan penuh perhatian Kam Hong memandang ke arah mereka, dan dia kini bertemu dengan lima orang yang gambarannya telah lama dia dengar sebagai Im-kan Ngo-ok.

Orang pertama adalah seorang kakek yang wajahnya mirip seekor gorila, gerak-geriknya halus dan biarpun wajahnya mengerikan seperti gorila, namun mulutnya selalu membayangkan senyum ramah!

Inilah Toa-ok Su Lo Ti, orang pertama dari Im-kan Ngo-ok.

Orang ke dua merupakan seorang nenek yang mukanya tertutup topeng tengkorak.

Tubuhnya kecil ramping seperti tubuh wanita muda.

Sepasang mata di balik tengkorak itu mencorong seperti mata setan, agak ke-merahan mengerikan.

Inilah Ji-ok Kui bin Nio-nio orang ke dua dari Lima Jahat Dari Akhirat ini.

Orang ke tiga merupakan seorang kakek raksasa yang berkepala botak, memakai mantel merah dan pakaiannya mewah, sikapnya penuh wibawa dan pandang matanya bengis.

Inilah Sam-ok Ban Hwa Sengjin, orang ke tiga.

Orang ke empat adalah Su-ok Siauw siang-cu yang tadi telah menyerang Kam Hong, seorang hwesio pendek gendut yang mukanya nampak gembira.

Sedang-kan orang ke lima, yang kini memanggul tubuh Pek In yang lemas, adalah Ngo-ok Toat-beng Sian-su yang jangkung seperti gila.

Kakek ke lima ini mukanya selalu nampak sedih dan matanya sipit hampir selalu terpejam.

Setelah yakin benar bahwa mereka ini adalah Im-kan Ngo-ok, Kam Hong lalu menjura dan berkata.

"Kiranya benar bahwa aku berhadapan dengan Im-kan Ngo-ok yang tersohor. Mengingat akan besarnya nama Ngo-wi, maka aku harap Ngo-wi akan bersikap sesuai dengan kedudukan dan suka membebaskan gadis ini, dan aku bersedia untuk minta maaf atas gangguanku ini."

Kam Hong tidak ingin menanam bibit permusuhan, apalagi dengan lima orang datuk kaum sesat ini.

Bukan dia merasa takut, akan tetapi dia merasa segan untuk mencari permusuhan yang berarti akan mendatangkan gangguan terus-menerus dalam kehidupannya.

Lima orang itu pun mengamati Kam Hong dengan penuh perhatian dan mereka pun merasa heran mengapa mereka belum mengenal pemuda ini, padahal, melihat betapa pemuda ini tadi menangkis serangan Su-ok, jelas membuktikan bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan!

"Siapakah engkau?"

Tanya Toa-ok Su Lo Ti, seperti biasa suaranya amat halus dan ramah.

"Namaku Kam Hong dan sekali lagi kuharap Ngo-wi suka membebaskan gadis ini."

"Hemmm, engkau sudah mengenal kami, akan tetapi masih berani mencampuri urusan kami? Apakah kau bosan hidup? Eh, bocah she Kam, kalau kami tidak mau membebaskan gadis ini, habis engkau mau apa?"

Tiba-tiba Su-ok yang merasa penasaran bertanya sambil mendekati Kam Hong.

"Kalau Ngo-wi memaksa, apa boleh buat, aku akan memberanikan diri untuk menyelamatkan gadis ini dengan menggunakan kekerasan."

Kata Kam Hong.

"Apa? Engkau menantang kami? Nah, mampuslah kalau begitu!"

Su-ok sudah menerjang dan gerakannya cepat bukan main karena memang demikian watak para datuk sesat ini, selalu tidak segan-segan menggunakan kecurangan demi untuk mencapai kemenangan.

Agaknya dari pertemuan tenaga pertama kali tadi, Su-ok maklum bahwa pemuda sastrawan itu bukan merupakan lawan yang lemah, maka kini begitu dia menyerang, dia telah mempergunakan ilmunya yang paling diandalkan, yaitu pukulan Katak Buduk.

Angin pukulan dahsyat menyambar disertai bau yang amis sekali, menyambar ke arah perut Kam Hong!

Namun pemuda ini sudah siap sejak tadi, maka pukulan itu pun sudah dihadapinya dengan tenang.

Cepat dia mengelak ke kiri dan mengambil keputusan untuk tidak memperpanjang waktu per-kelahian.

Yang terpenting bukanlah perkelahian itu, melainkan bagaimana dia harus menyelamatkan Pek In yang masih berada dalam pondongan Ngo-ok.

Kalau dia dapat merampas Pek In, dia dapat melarikan dara itu dan dia percaya bahwa dia akan dapat melarikan diri dengan selamat mengandalkan gin-kangnya yang kini sudah meningkat dengan hebat sekali sejak dia mempelajari ilmu dengan menghimpun khi-kang melalui Ilmu bertiup suling.

Maka, sekali mengelak ke kiri, dia sudah menu-bruk ke arah Ngo-ok yang berdiri tak jauh dari situ, tangan kiri mencengkeram ke arah muka Si Tinggi Kurus itu sedangkan tangan kanannya berusaha untuk merampas tubuh Cu Pek In.

Serangannya ini dilakukan dengan kecepatan kilat sehingga mengejutkan Ngo-ok.

Akan tetapi, sayang sekali bahwa justeru Ngo-ok ini merupakan orang yang paling tinggi gin-kangnya di antara para saudaranya, maka biarpun serangan itu amat hebat dan mengejutkan, Si Jangkung itu masih mampu melesat ke samping sehingga cengkeraman kedua tangan Kam Hong itu meleset dan saat itu Su-ok sudah datang lagi menubruk dan menghantamnya.

Terpaksa Kam Hong menangkis dan melayani Suok yang merupakan seorang lawan yang tidak boleh dipandang ringan.

Selagi dia mendesak Su-ok, tiba-tiba ada sambaran angin dari belakangnya.

Cepat dia membalik dan menangkis sambil balas memukul.

Kiranya Ngo-ok sudah datang mengeroyoknya!

Ketika Kam Hong melirik, ternyata bahwa Si Jangkung itu telah melepaskan Pek In ke atas tanah, akan tetapi dara itu berada dalam keadaan tertotok sehingga tidak mampu bergerak dan di sana masih ada tiga orang dari Im-kan Ngo-ok yang menjaganya!

Diam-diam Kam Hong merasa kecewa sekali.

Kalau begini caranya, akan lebih sukar untuk merampas Pek In dan agaknya jalan satu-satunya baginya adalah bahwa dia harus mengalahkan mereka lebih dulu!

"Baiklah kalau kalian menghendaki kekerasan!"

Bentaknya dan segera tubuhnya bergerak dengan aneh dan cepat.

Sedemikian, cepat gerakannya sehingga para pengeroyoknya itu tidak merasa mengeroyok satu orang lagi, bahkan mereka berhadapan dengan lebih dari dua orang!

Apalagi karena Kam Hong mengerahkan tenaga khi-kang sehingga setiap kali mereka beradu lengan, Su-ok dan Ngo-ok selalu terpental dan terhuyung, tanda bahwa mereka berdua itu kalah kuat!

Melihat betapa lihainya lawan, Ngo-ok mengeluarkan gerengan seperti seekor serigala dan tubuhnya sudah berjungkir balik dan dia sudah menyerang Kam Hong dengan kedua kakinya yang panjang dan berada di atas, dibantu oleh kedua tangan dari bawah.

Gerakannya bahkan lebih gesit dan lebih cepat dibandingkan kalau dia berdiri dengan kedua kaki di bawah!

Sedangkan Su-ok juga sudah mengirim pukulan-pukulan Katak Buduk yang amat dahsyat itu.

Akan tetapi, Kam Hong tidak gentar menghadapi mereka.

Dengan Khong-sim Sin-ciang, dibantu oleh tenaga khi-kang dahsyat yang disalurkan kepada seluruh tubuh, terutama kepada kedua lengannya, Dia masih dapat mendesak kedua orang lawan itu, bahkan dia telah berhasil menampar masing-masing satu kali kepada dua orang pengeroyoknya dan biarpun tamparan itu tidak mengenai dengan telak, namun cukup membuat mereka menjadi agak jerih dan selanjutnya terus didesaknya dua orang lawan itu dengan hebat.

Melihat ini, Toa-ok, Ji-ok dan Sam-ok terbelalak memandang penuh kagum.

Kalau saja yang dikeroyok oleh Su-ok dan Ngo-ok itu merupakan tokoh kang-ouw sakti yang sudah mereka kenal maka tentu saja mereka tidak akan merasa penasaran dan heran melihat betapa mereka terdesak.

Akan tetapi pemuda ini sama sekali belum mereka kenal.

Bagaimana mungkin kini pemuda yang agaknya baru muncul di dunia kang-ouw ini telah dapat memiliki ilmu kepandaian sedemikian lihainya?

"Tahan....!"

Tiba-tiba Sam-ok meloncat ke depan dan menahan pukulan Kam Hong yang mendesak Su-ok yang sudah bergulingan itu.

"Dukk!"

Sam-ok tergeser mundur oleh tangkisan itu dan diam-diam dia makin terkejut.

Ketika dia menangkis untuk menyelamatkan Su-ok dan juga untuk menghentikan perkelahian itu tadi, dia menggunakan tenaga sepenuhnya, akan tetapi pertemuan tenaga lewat lengan itu ternyata membuat dia terdorong dan kuda-kudanya tergeser!

Bukan main hebatnya kekuatan pemuda sastrawan ini, pikirnya.

Karena pihak lawan minta dihentikan perkelahian dan ingin bicara, Kam Hong tidak melanjutkan serangan dan dia pun berdiri tegak dan memandang dengan sikap tenang, namun dengan penuh kewaspadaan karena dia sudah mendengar akan nama Im-kan Ngo-ok yang tersohor sebagai datuk-datuk kaum sesat yang paling curang dan paling jahat.

"Orang she Kam, sesungguhnya kami tidak ingin bermusuhan dengan engkau yang tidak kami kenal. Biarpun engkau memiliki sedikit kepandaian, akan tetapi jangan harap engkau akan dapat menentang kami. Jangan kau mencampuri urusan kami yang tidak kau ketahui sama sekali.

"Hemm, apa artinya aku bersusah payah mempelajari ilmu kalau aku harus mendiamkan saja melihat seorang dara diculik orang?"

Jawab Kam Hong dengan suara dingin.

"Ahhh, kau salah paham, sobat muda."

Kata Sam-ok. dengan nada suara mengejek.

"Kami tidak bermaksud mengganggu anak perempuan ini. Kami hanya me-nahannya untuk memaksa ayahnya datang menemui kami...."

"Hemm.... sungguh cara yang curang untuk bertemu dengan penghuni Lembah Gunung Suling Emas. Kalau ada kepentingan, mengapa tidak langsung saja menemui keluarga Cu di sana?"

Kam Hong mencela.

"Mengapa harus menawan puterinya?"

Lima orang itu saling lirik.

"Aha, jadi engkau mengenal mereka, ya? Engkau sahabat mereka dan hendak membela mereka?"

"Aku bukan sahabat mereka dan aku hanya membela orang yang terancam bahaya, dalam hal ini adalah Nona inilah. Bebaskan dia dan aku tidak akan mencampuri urusanmu dengan keluarga Cu di sana."

"Engkau tidak tahu persoalannya, orang muda. Kami ingin keluarga itu menukar puteri mereka dengan pedang pusaka yang kami kehendaki...."

"Hemm, Koai-liong-pokiam yang diperebutkan itu, ya?"

Kam Hong sudah mendengar tentang ribut-ribut pedang pusaka itu yang dulu kabarnya dilarikan pencuri dari istana kaisar.

"Aku pun tidak peduli tentang pedang itu, akan tetapi rebutlah dengan cara yang jantan, bukan dengan menawan seorang gadis remaja."

"Bocah sombong, engkau sungguh bosan hidup!"

Sam-ok sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi dan dia sudah menerjang dengan dahsyatnya.

Kam Hong cepat mengelak dan balas menyerang, akan tetapi pada saat itu Su-ok dan Ngo-ok sudah mengeroyoknya pula.

Dikeroyok oleh tiga orang tokoh yang lihai ini, terutama sekali Sam-ok yang lebih lihai daripada Su-ok dan Ngo-ok, Kam Hong merasa repot juga.

Ilmu kepandaian tiga orang pengeroyoknya itu telah berada di tingkat yang amat tinggi dan jurus-jurus ilmu silat mereka aneh-aneh dan berbahaya sekali, maka Kam Hong menggerakkan tangan kirinya dan nampak sinar putih ketika dia mencabut kipasnya dan dia pun mulai melayani mereka dengan kipasnya.

Dengan ilmu silat Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) yang diwarisi dari peninggalan nenek moyangnya, dia melawan mereka, dibantu oleh tangan kanannya yang melancarkan tamparan-tamparan dan totokan-totokan dahsyat, dia berhasil menahan mereka bertiga.

Tentu saja Sam-ok merasa penasaran sekali melihat betapa mereka bertiga sama sekali tidak mampu mendesak lawan, bahkan dia sendiri pun harus berhati-hati karena gerakan kipas itu benar-benar amat dahsyatnya.

Semua serangan kandas oleh tangkisan-tangkisan gagang kipas yang sambil menangkis juga langsung menotok jalan darah di pergelangan tangan atau sikut, dan angin yang menyambar dari kipas yang dikembangkan kadang-kadang membuat dia bingung sehingga dua kali dia hampir tertotok oleh gagang kipas.

Harus diakuinya bahwa tanpa bantuan dua orang saudaranya, seorang diri saja dia akan sukar sekali dapat bertahan melawan pendekar muda yang belum dikenalnya itu!

Dia merasa semakin penasaran, akan tetapi juga geram mendengar betapa Ji-ok memuji-muji pemuda itu.

"Bagus, bagus! Ilmu kipas yang bagus! Wah, Sam-te, engkau dengan bantuan Su-te dan Ngo-te masih tidak mampu mengalahkan dia? Sungguh memalukan sekali!"

"Ji-ci, daripada banyak cerewet, lebih baik lekas bantu kami agar urusan kita dapat segera diselesaikan!"

Kata Sam-ok dengan marah karena ejekan itu.

"Hi-hik! Kalau aku sekali turun tangan, tentu bocah ganteng ini akan kehilangan kepala. Sungguh sayang!"

"Hemm, Si Mulut Besar! Hendak kulihat kenyataan bualanmu!"

Kata pula Sam-ok karena dia merasa yakin bahwa biarpun Ji-ok sendiri agaknya akan mengalami kesulitan untuk mengalahkan bocah ini.

Kepandaiannya sendiri tidaklah lebih rendah dibandingkan dengan Ji-ok, sungguhpun sampai sekaran dia belum mampu menandingi Kiam-ci (Jari Pedang) dari nenek itu yang benar-benar luar biasa hebatnya, namun pada umumnya kepandaiannya setingkat dibandingkan dengan Ji-ok.

"Hi-hik, kau lihat sajalah!"

Kata Ji ok dan dia pun menerjang ke depan.

"Singggg.... cuiiiiitttt...."

"Ehhh....!"

Kam Hong terkejut sekali dan cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sinar kilat ketika telunjuk tangan nenek itu menyambar dan mengeluarkan hawa dingin berkilat yang amat dahsyatnya.

"Hi-hi-hik, kau kaget, bocah ganteng? Nah, lekaslah berlutut minta ampun, Nenekmu akan mempertimbangkan."

Kata Ji-ok.

Akan tetapi Kam Hong sudah menjadi marah sekali.

Tak disangkanya bahwa nama besar Im-kan Ngo-ok yang tersohor sebagai datuk-datuk kaum sesat yang berkedudukan tinggi itu ternyata sekelompok orang yang berjiwa pengecut dan tidak segan-segan dan tidak malu-malu untuk melakukan pengeroyokan untuk mencapai kemenangan.

"Siapa takut padamu?"

Bentaknya dan di lain saat, empat orang pengeroyoknya itu menjadi silau dan terkejut melihat berkelebatnya sinar kuning emas yang cemerlang.

Ketika mereka melihat betapa kini pemuda yang mereka dikeroyok itu memegang sebatang suling emas yang berkilauan, mereka terkejut bukan main.

"Suling Emas....!"

Tiba-tiba Toa-ok berseru keras.

"Cepat rampas suling pusaka itu!"

Empat orang itu pun sudah mengenal suling emas yang pernah mereka dengar seperti dongeng itu, maka mereka serentak menerjang ke depan untuk menyerang dan berusaha merampas benda pusaka itu.

Akan tetapi, Kam Hong sudah mainkan ilmu silat sakti dengan mencorat-coretkan sulingnya di udara, membentuk huruf Thian (Langit).

Empat kali sulingnya membuat gerakan mencoret ke kanan dari kiri dua kali untuk menangkis serangan Ngo-ok dan Sam-ok, disusul coretan dari atas kanan ke kiri, disusul dari atas ke kanan memanjang dan Ji-ok tertangkis mundur sedangkan Su-ok terjungkal lalu bergulingan.

Ternyata dalam segebrakan itu saja, sebuah jurus dari ilmu sakti Hong-in-bun-hoat yang merupakan gerakan silat yang berdasarkan mencorat-coret atau "menulis"

Huruf di udara menggunakan suling, sekaligus telah menangkis serangan empat orang sakti bahkan telah melukai pundak Suok dan juga membuat tangan Ji-ok terasa nyeri bukan main!

Empat orang itu terkejut dan sejenak mereka merasa gentar.

"Hayo serang dia!"

Toa-ok memberi komando, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara lengking panjang bersama sinar emas bergulung-gulung, dan itulah sinar suling emas yang digerakkan oleh Kam Hong dengan Ilmu Silat Kim-siauw Kiam-sut yang baru saja dia pelajari sambil mengerahkan seluruh tenaga khi-kangnya sehingga suling yang dimainkan itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan semakin lama semakin tinggi sekali.

Empat orang itu kalang-kabut dan mengelak ke sana-ke sini, akan tetapi mereka terserang oleh suara melengking-lengking itu, makin tinggi suaranya makin menusuk telinga dan seolah-olah hen-dak menembus jantung!

Ketika lima orang itu menjauh dan sengaja mengerahkan sin-kang untuk melindungi diri dari ancaman suara khi-kang suling itu dan bersiap untuk mengepung, Tiba-tiba saja Kam Hong meloncat ke arah Pek In yang masih rebah di atas tanah, menyambar tubuh dara itu, memanggulnya dengan lengan kiri setelah menyimpan kipasnya, kemudian meloncat jauh dan terus berloncatan sambil mengerahkan gin-kangnya.

Sejenak Im-kan Ngo-ok tertegun, akan tetapi mereka segera menjadi marah sekali dan langsung saja mereka berloncatan melakukan pengejaran sambil memaki-maki karena merasa dipermainkan oleh pemuda itu.

Biarpun pada waktu itu Kam Hong telah memiliki kepandaian ilmu berlari cepat yang hebat berkat tenaga khi-kang yang terhimpun di dalam tubuhnya, namun para pengejarnya itu adalah datuk-datuk kaum sesat yang menduduki tingkat satu dan mereka, terutama sekali Ngo-ok, memiliki gin-kang yang amat hebat.

Apalagi Kam Hong harus memondong tubuh Cu Pek In dan senja mulai tiba, maka setelah berlari cukup lama, tetap saja lima orang itu masih terus mengejarnya.

Kam Hong berpikir bahwa kalau dia tidak lari ke bagian yang ditumbuhi pohon-pohon yang pada itu sebagian besar gundul, sukar baginya untuk membebaskan diri karena di daerah pegunungan salju itu dari jarak yang jauh pun dia masih akan nampak dan dapat terus dikejar.

Maka dia pun lalu melarikan diri ke sebuah bukit yang berbatu-batu dan ditumbuhi pohon-pohon.

Sementara itu, malam mulai tiba dan keadaan cuaca mulai gelap sehingga hal ini pun menyukarkan Kam Hong untuk dapat berlari cepat karena kegelapan akan memungkinkan dia salah langkah dan tergelincir ke dalam jurang.

Maka dengan hati-hati dia memasuki daerah yang tidak gundul itu.

Batang-batang pohon dan batu-batu dapat menyembunyikan dirinya dari penglihatan musuh.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa lima orang itu masih terus mengejarnya.

Dia teringat, bahwa biarpun dia tidak kelihatan, akan tetapi lima orang itu dapat mengikutinya dari jejak kakinya di atas tanah yang tertutup salju.

Dan pula dara ini bagi mereka amat penting untuk di jadikan sandera, guna ditukar dengan pedang pusaka, maka tentu lima orang itu tidak mau mengalah dan akan terus mengejarnya.

Karena itu, Kam Hong pun tidak pernah berhenti, mengharapkan bahwa setelah cuaca gelap benar, lima orang itu akan kehilangan jejak kakinya.

Harapannya itu memang tidak sia-sia.

Setelah cuaca menjadi gelap benar, Im-kan Ngo-ok terpaksa menghentikan pengejaran mereka.

Akan tetapi mereka sama sekali bukan berarti mundur dan menghentikan usaha mereka, karena Toa-ok berkata.

"Kita berhenti di sini. Besok pagi kita lanjutkan mengikuti jejak kakinya."

Dan Kam Hong pun terpaksa menghentikan langkahnya karena cuaca amat gelapnya dan amat berbahaya untuk melanjutkan perjalanan.

Dia menurunkan Pek In dan setelah meraba tengkuk, kedua pundak dan punggung dara itu, dia menotoknya dan membebaskannya dari totokan.

Dara itu mengeluh lirih, memijit-mijit kaki tangannya yang terasa lemas.

(Lanjut ke

Jilid 22) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22

"Kiranya engkau malah yang telah menolongku...."

Katanya lirih.

"Hemm, hanya kebetulan saja. Aku harus membebaskanmu dari mereka yang jahat."

"Im-kan Ngo-ok sungguh manusia-manusia busuk tak tahu malu. Mereka pernah berkunjung ke lembah sebagai tamu, dan sekarang malah hendak menawanku sebagai sandera. Kalau Ayah tahu, mereka pasti takkan diberi ampun. Eh, di mana dia?"

"Siapa?"

"Anak perempuan itu, eh, Ci Sian...."

"Kutinggalkan dia di puncak sebuah bukit. Tak kusangka bahwa aku akan berhadapan dengan Im-kan Ngo-ok dan memakan waktu lama untuk membebaskanmu, bahkan sekarang pun mereka tak jauh dari sini. Tentu mereka menanti dan besok pagi akan melanjutkan pengejaran. Kita sendiri tidak dapat melanjutkan perjalanan, begini gelap dan aku tidak mengenal jalan...."

"Aku mengenal tempat ini, akan tetapi malam gelap begini tidak mungkin kita melanjutkan perjalanan. Besok pagi-pagi kita dapat pergi dari sini.... dan tempat Suheng bertapa tidak jauh dari sini, kita bisa ke sana dan minta bantuannya."

"Suhengmu? Bertapa?"

"Ya, dan dia tentu akan dapat menghalau Im-kan Ngo-ok, dia tidak kalah lihai dibandingkan Ayah."

Kam Hong tidak bertanya lagi, akan tetapi diam-diam dia kagum sekali dan teringat akan pesan Cu Han Bu ketika mereka hendak saling berpisah.

Tokoh keturunan kakek pencipta suling emas itu mengatakan bahwa keluarga mereka masih mempunyai Ilmu pusaka yaitu Koali-liong Kiam-sut yang mereka harapkan kelak akan dapat mengalahkan Kim-siauw Kiam-sut yang diwarisinya.

Keluarga itu memang hebat, maka tidaklah aneh andaikata benar ucapan Pek In bahwa dara ini masih memiliki seorang suheng yang sedang bertapa dan bahwa suheng ini memiliki kepandaian tidak kalah lihai dibandingkan dengan kepandaian ayahnya.

Malam itu mereka terpaksa berdiam di tempat itu.

"Kau tidurlah Nona. Biar aku menjagamu di sini. Sayang bahwa kita tidak dapat menyalakan api unggun untuk membantu menghangatkan tubuh karena kalau kita lakukan Itu tentu mereka akan melihat dan akan datang."

Pek In merasa lelah dan baru saja mengalami ketegangan dan kini merasa lega, segera merebahkan diri miring dah tak lama kemudian dia tidur pulas dengan tubuh meringkuk kedinginan.

Melihat ini, hanya melihat dengan remang-remang saja karena yang membantu pandangan mata hanya sedikit sinar bintang di langit, Kam Hong lalu melepaskan jubahnya yang lebar dan menyelimutkan jubahnya pada tubuh dara itu.

Dia sama sekali tidak dapat menduga bahwa pada saat yang sama, di dalam sebuah gua, seorang pemuda lain sedang menyelimuti tubuh Ci Sian pula!

Sebetulnya, baik Ci Sian maupun Pek In sudah memiliki kepandaian dan tenaga sin-kang yang cukup kuat untuk melawan dingin saja.

Akan tetapi dalam keadaan tidur tentu saja mereka tidak dapat mengerahkan sin-kang dan hawa dingin membuat mereka dalam keadaan tidak sadar itu meringkuk seperti anak kecil kedinginan.

Adapun Kam Hong yang berilmu tinggi, tentu saja dapat menahan hawa dingin itu dengan penyaluran sin-kangnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pek In sudah terbangun dan dia cepat merenggut jubah itu dari tubuhnya ketika melihat betapa dirinya diselimuti jubah itu.

Dia bangkit dan melihat Kam Hong masih duduk bersila tak jauh dari situ.

Cuaca masih gelap remang-remang tertutup kabut.

"Engkau sudah bangun?"

Kam Hong yang peka sekali pendengarannya itu menoleh.

"Terima kasih untuk jubahmu ini, kata Pek In sambil mengembalikan baju itu kepada Kam Hong yang menerimanya.

"Kita harus berangkat sekarang, aku tahu jalannya."

"Masih agak gelap, sukar melihat jelas ke depan."

"Aku tahu jalannya, marilah."

Keduanya lalu bangkit dan berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu.

Biarpun Pek In sebagai penunjuk jalan berjalan di depan, akan tetapi Kam Hong tak pernah mengurangi kewaspadaan, diam-diam menjaga kalau-kalau Pek In terperosok ke dalam jurang atau mengalami halangan lain.

Matahari pagi telah mengusir kabut gelap ketika mereka keluar dari daerah berbatu itu dan tiba di kaki sebuah bukit.

"Tak jauh lagi dari sini, di lereng bukit itu tempat Suheng bertapa."

Kata Pek In dengan nada suara girang.

"Lihat, mereka sudah mengejar!"

Tiba-tiba Kam Hong berkata.

"Mari kita cepat lari!"

Pek In menengok dan benar saja, lima sosok bayangan sedang menuruni lereng dari mana mereka berdua datang tadi dan gerakan mereka amat cepat.

"Mari kupondong kau, Nona!"

Kata Kam Hong.

"Tidak, jangan sentuh aku!"

Tiba-tiba Pek In berkata dengan cepat dan wajah Kam Hong menjadi merah sekali ketika dia bertemu pandang dengan dara itu.

Dari pandang mata itu dia melihat kemarahan!

"Ahh, aku hanya bermaksud agar kita dapat melarikan diri lebih cepat, Nona, tiada maksud lain."

Katanya menghela napas. Sejenak mereka berpandangan, kemudian Pek In menunduk.

"Maafkan aku.... aku.... biarlah aku lari sendiri saja."

"Terserah."

Mereka lalu lari mendaki bukit itu.

Akan tetapi, Kam Hong maklum bahwa betapapun lihainya nona ini, namun dalam hal berlari cepat, dia masih kalah jauh dibandingkan dengan Im-kan Ngo-ok, maka kalau terlalu lama waktunya berlari, tentu akan dapat disusul oleh Im-kan Ngo-ok.

Dugaannya benar karena kini terdengar bentakan-bentakan dari belakang, tanda bahwa lima orang lawan itu sudah mengejar semakin dekat.

"Nona, mereka telah datang dekat."

Kata Kam Hong, tidak berani menawarkan lagi untuk memondong nona itu, sungguhpun dia ingin sekali untuk diperbolehkan memondongnya, karena dengan jalan itu dia masih sanggup untuk melarikan diri dari jangkauan lima orang itu.

Akan tetapi Pek In berkata, sambil menunjuk ke depan.

"Tempat Suheng sudah dekat!"

"Kalau begitu, cepat kau lari ke sana dan berlindung, biar aku menghalangi mereka mengejarmu, Nona."

Kata Kam Hong dan dia sudah berdiri tegak membalikkan diri, menanti datangnya lima orang itu dengan kipas di tangan kiri dan suling emas di tangan kanan.

Sikapnya amat gagah sehingga sejenak Pek In memandang penuh kagum, kemudian dia pun segera lari menuju ke lereng bukit di mana dia tahu terdapat guha tempat suhengnya "bertapa"

Dan melatih diri dengan Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut.

Dia belum pernah memasuki guha itu karena dilarang oleh ayahnya, akan tetapi dia sudah tahu tempatnya maka kini dia pun tidak ragu-ragu lari menuju ke situ.

Sementara itu, Kam Hong yang berdiri tegak itu, menghadang datangnya Im-kan Ngo-ok, kini sudah berhadapan dengan mereka.

"Im-kan Ngo-ok, kalau kalian berkeras, terpaksa aku melupakan bahwa kalian adalah tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw!"

Bentak Kam Hong dengan suara tegas dan penuh wibawa.

"Bocah lancang she Kam, lebih baik serahkan suling itu kepada kami!"

Bentak Sam-ok sambil memandang ke arah suling emas di tangan Kam Hong seperti seorang anak kecil melihat sebuah mainan yang amat menarik hatinya.

Tentu saja Im-kan Ngo-ok sudah pernah mendengar tentang keluarga Suling Emas yang meninggalkan pusaka suling emas dan ilmu-ilmu mujijat dan kini melihat pemuda ini, perhatian mereka bercabang, sebagian masing menginginkan Koai-liong Pokiam akan tetapi sebagian lagi menginginkan suling emas pusaka itu!

"Hemm, kalian ini orang-orang tua yang terlalu jauh tersesat."

Kata Kam Hong dan dia pun segera menggerakkan suling dan kipas untuk menerjang mereka.

Kini dia menerjang lebih dulu karena dia sedang berusaha untuk mencegah mereka mengejar Pek In yang sudah melanjutkan larinya.

Biarlah dara itu menyelamatkan diri lebih dulu karena kalau dara itu sudah terbebas dari ancaman lima orang ini, dia pun akan mudah meninggalkan mereka.

Akan tetapi sekali ini, lima orang Im-kan Ngo-ok agaknya sudah mempersiapkan diri.

Dan memang semalam mereka telah berunding bagaimana sebaiknya kalau mereka berhadapan lagi dengan pemuda yang amat lihai itu.

Kemarin sore, Ji-ok, Sam-ok, Su-ok dan Ngo-ok telah mengeroyoknya dan merasakan kelihaiannya yang luar biasa, dan kini mereka semua maju, dipimpin oleh Toa-ok mengeluarkan suara geraman aneh, mereka berlima sudah berlompatan mengurung Kam Hong.

Mula-mula Ngo-ok mengeluarkan gerengan serigala dan tubuhnya sudah berjungkir balik, berloncatan di atas kedua tangan dan kadang-kadang menggunakan kepalanya dengan gerakan yang gesit dan terlatih.

Su-ok sudah me-rendahkan tubuhnya yang sudah pendek sekali itu sehingga dia nampak seperti seekor katak yang siap hendak menerkam dan meloncat, perutnya menggembung mengumpulkan tenaga pukulan Katak Buduk.

Adapun Sam-ok Ban Hwa Sengjin, yang biarpun termasuk orang ke tiga dari mereka namun memiliki kepandaian yang setingkat dengan Ji-ok dan memiliki pengalaman yang paling luas, di antara para saudaranya, juga sudah memasang kuda-kuda kemudian tubuhnya mulailah bergerak berpusing perlahan-lahan seperti kitiran yang mulai digerakkan oleh angin lembut!

Inilah pembukaan dari Ilmunya yang paling dia andalkan, yaitu Ilmu Thian-te Hong-i (Hujan Angin Langit Bumi).

Ji-ok, nenek bertopeng tengkorak tulen itu sudah siap dengan ilmunya yang hebat, yaitu pukulan-pukulan dengan Ilmu Kiam-ci atau Jari Pedang, dengan kedua telunjuk tangan berobah berkilauan itu.

Dan orang pertama dari mereka, Toa-ok, juga sudah siap dengan kedua tangan panjang tergantung di kanan kiri, kelihatannya seperti tidak memasang kuda-kuda, akan tetapi kakek seperti gorila ini sesungguhnya amat berbahaya.

Melihat mereka berlima sudah siap dan mulai bergerak mengelilinginya dalam kepungan, Kam Hong menerjang ke arah Toa-ok sebagai orang pertama yang disangkanya tentu paling lihai, sulingnya berobah menjadi sinar kuning emas yang lebar, panjang dan terang, yang mengeluarkan suara melengking merdu.

Suara itu menyambar ke arah telinga sedangkan ujung suling menotok ke arah jalan darah di bawah telinga itu.

"Huhhh....!"

Toa-ok mendengus dan lengan kirinya yang panjang itu menyambar, lengannya menangkis suling sedangkan tangannya dilanjutkan mencengkeram ke arah leher lawan.

Namun Kam Hong sudah mengelak dan menggerakkan su-lingnya ke atas, siap melanjutkan serangannya dan kipasnya dibuka dan diputar ke kiri untuk menangkis serangan Ngo-ok dan Ji-ok sekaligus.

Kemudian, dengan mengeluarkan suara berdengung aneh, sulingnya membuat corat-coretan di udara secara aneh karena tubuhnya juga terbawa oleh gerakan suling dan ternyata dia menulis di udara, mencorat-coretkan huruf Tiong yang membuat sulingnya bergerak melingkar membentuk segi empat dan sekaligus setiap gerakan menyerang seorang lawan sehingga empat orang lawan di sekeliling itu disambar sinar suling semua, kecuali Toa-ok yang menerima serangan langsung sebagai penutup huruf Tiong itu, serangan mengerikan karena suling itu menyambar dari atas ke bawah seperti petir menyambar.

"Ohhhh....!"

Toa-ok menahan dengan kedua lengannya, dibantu oleh Ji-ok yang menahan suling itu dengan Kiam-ci.

"Dessas.... takkkk!"

Tubuh Toa-ok dan Ji-ok terpelanting.

Mereka tidak terluka hebat, akan tetapi tetap saja mereka terpelanting dan mengalami kekagetan hebat karena serangan suling tadi seolah-olah mereka rasakan seperti serangan petir sungguh-sungguh.

Mereka menjadi marah dan mulailah mereka menghujankan serangan bertubi-tubi dan secara teratur, satu demi satu namun saling berganti dan saling membantu sehingga serangan itu terus menerus dan sambung-menyambung.

Menghadapi penyerangan Im-kan Ngo-ok yang agaknya menggabungkan ilmu mereka itu, Kam Hong tidak berani berlaku lengah atau sembrono, maka dia pun mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan tiba-tiba gerakan sulingnya berobah.

Dia telah menyimpan kipasnya dan kini dia sepenuhnya mengandalkan sulingnya dalam permainan Kim-siauw Kiam-sut yang luar biasa hebatnya.

Nampaklah gelombang sinar dan suara, sinar kuning emas yang memenuhi tempat itu dan gelombang suara yang tinggi rendah, amat aneh dan menggetarkan jantung siapa yang mendengarnya.

Sementara itu, dengan lari secepatnya, akhirnya Cu Pek In telah tiba di daerah guha yang dijadikan tempat berlatih Sim Hong Bu, suhengnya.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika dia melihat suhengnya itu duduk di luar guha yang tertutup batu besar itu, duduk di atas sebongkah batu dan di depannya duduk pula seorang gadis cantik yang segera dikenalnya karena gadis itu bukan lain adalah Ci Sian!

Akan tetapi rasa girang dan lega hatinya mengalahkan keheranannya maka begitu Hong Bu bangkit berdiri dan memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan berseru.

"Sumoi....!"

Dia lalu menghampiri dan segera merangkul pundak suhengnya itu dan menangis! "Eh, ada apakah, Sumoi? Apa yang telah terjadi?"

Tanya Sim Hong Bu dengan kaget bukan main.

Dia tadi sudah merasa terheran-heran melihat Pek In berlari-lari mendatangi di pagi hari itu dan kini keheranannya bertambah dan dia terkejut melihat sumoinya menangis, hal yang amat jarang terjadi karena sumoinya adalah seorang dara perkasa yang gagah dan bahkan agaknya pantang menangis atau setidaknya juga tidak secengeng wanita biasa.

"Suheng.... aku.... aku baru saja terlepas dari bahaya.... Im-kan Ngo-ok telah menangkapku.... aku.... aku tertolong oleh...."

"Di mana mereka?"

Hong Bu sudah memotong kata-kata itu. Pada saat itu terdengarlah bunyi lengking suling itu.

"Penolongku sedang menghadapi mereka.... kau bantulah dia, Suheng...."

Kata Pek In dan mendengar suling itu, Ci Sian sudah melompat bangun.

"Itu.... itu suling Paman.... eh.... Suhengku Kam Hong....!"

Dan dia pun lalu lari ke arah suara suling itu.

Sementara itu, tahulah Hong Bu bahwa sumoinya telah tertolong oleh suheng dari Ci Sian seperti yang diceritakan oleh dara itu, maka dia pun cepat lari memasuki guha, mengambil pedangnya menutup kembali batu depan guha dan menarik tangan sumoinya.

"Mari kita bantu dia!"

Mereka pun berlari-lari menuju ke arah suara itu ke mana Ci Sian sudah lebih dulu lari.

Ketika Hong Bu dan Pek In tiba di tempat itu, mereka melihat Ci Sian sudah berada di situ dan mendengar dara ini mengeluarkan suara keras, memaki-maki dan mengejek lima orang pengeroyok itu.

"Cih, kalian ini lima ekor siluman tua bangka sungguh tak bermalu! Mau ditaruh ke mana muka kalian yang perot kempot itu, hah? Lima tua bangka mengeroyok seorang pemuda, sungguh tak tahu malu. Itukah namanya tokoh kang-ouw? Huh, pengecut curang, tak berharga! Malu! Malu!"

Diam-diam Hong Bu tersenyum geli dan tahulah dia bahwa Ci Sian adalah seorang dara yang penuh semangat dan gairah, jenaka, galak, keras, hangat dan beraninya luar biasa.

Akan tetapi dia pun amat kagum menyaksikan sinar kuning emas bergulung-gulung seperti gelombang dahsyat itu, dan karena memang sejak pertemuan pertama kali dia sudah amat kagum kepada Kam Hong, maka kini diam-diam dia merasa semakin kagum dan suka kepada pendekar sakti itu.

Akan tetapi dia pun terkejut karena maklum bahwa lima orang pengeroyok itu pun bukan orang sembarangan dan merupakan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi bukan main.

Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu lagi dia pun lalu meloncat ke depan, menghunus pedangnya dan berseru.

"Kam-taihiap, biar aku membantumu!"

Kam Hong sudah melihat munculnya Ci Sian dan hatinya merasa girang, akan tetapi juga mulai khawatir.

Tadi dia melindungi Pek In dan setelah nona itu dapat menyelamatkan diri, eh, kini muncul Ci Sian yang tentu saja harus dilindunginya!

Kemudian muncul pula Pek In dan seorang pemuda yang kelihatannya gagah perkasa sekali.

Ketika dia melihat pemuda itu mencabut pedang dan meloncat ke dalam pertandingan, dia merasa kaget dan kagum bukan main, juga sekarang dia mulai ingat bahwa dia agaknya, pernah bartermu dengan pemuda perkasa ini.

Namun dia tidak sempat bertanya atau mengingat-ingat karena dia sudah dibikin kagum bukan main menyaksi-kan gerakan pedang dari pemuda itu.

Gerakan pedang yang mengimbangi gelombang sinar suling-nya, dan pedang itu bahkan mengeluarkan pula suara mengaung-ngaung yang menandingi lengking suara sulingnya!

Sebatang pedang yang ampuh dan Ilmu pedang yang luar biasa.

"Ah, Koai-liong Po-kiam dan Suling Emas kedua-duanya diserahkan kepada kita, ha-ha!"

Sam-ok tertawa akan tetapi suara ketawanya ini sebetulnya hanya untuk menyembunyikan rasa khawatirnya menyaksikan permainan pedang sehebat itu yang membantu gelombang sinar suling yang sukar dilawan itu.

Dan memang kekhawatiran Sam-ok itu beralasan.

Hebat bukan main permainan suling dan pedang itu, bergulung-gulung seperti dua ekor naga bermain-main di angkasa, bergelombang seperti badai mengamuk sehingga tempat itu penuh dengan sinar pedang yang kebiruan dan sinar suling yang keemasan!

Indah bukan main sehingga baik Pek In maupun Ci Sian sampai memandang bengong terlongong.

Indah dan juga menggetarkan sampai debu salju bertebaran dan semua itu ditambah lagi dengan suara melengking dari suling dan suara mengaung dari pedang, seolah-olah ada dua suara saling sahut atau saling mengiringi dalam perpaduan suara yang aneh sekali.

Lima orang Im-kan Ngo-ok itu berusaha untuk mempertahankan diri, akan tetapi kini keadaannya berbalik sudah.

Bukan Im-kan Ngo-ok berlima yang mengeroyok, bahkan mereka berlima itulah yang terkurung dan terdesak oleh sinar pedang dan suling yang datang dari semua jurusan, seolah-olah mereka itu dikeroyok oleh belasan orang lawan!

Selama mereka hidup, baru sekarang Im-kan Ngo-ok mengalami hal seperti ini, bertemu dengan dua orang muda yang tak terkenal, Akan tetapi telah memiliki kepandaian yang luar biasa dahsyatnya dan masing-masing memegang pusaka-pusaka yang telah di jadikan perebutan oleh dunia kang-ouw.

Suling Emas dan Pedang Naga Siluman muncul bersama!

Bukan main!

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan susul-menyusul dan mula-mula tubuh Ngo-ok yang berjungkir balik itu roboh terguling disusul terlemparnya tubuh Su-ok dan keduanya memegangi pundak dan paha yang berdarah terkena sambaran pedang!

Kemudian disusul Toa-ok terjengkang terkena totokan ujung suling yang mengenai pundak kirinya, dan juga Ji-ok terkena hantaman suling pada punggungnya yang membuat nenek ini terguling.

Pada saat yang berikutnya, hanya berselisih beberapa detik saja, sinar pedang dan sinar suling menyambar ke arah Sam-ok!

Sam-ok sudah ternganga ketika sinar biru menyambar ke arah lehernya!

"Tak perlu membunuh!"

Terdengar Kam Hong berseru dan Sam-ok roboh terguling kena tertotok ujung suling yang mengenai tengkuknya, disusul suara "cringgg!"

Nyaring sekali disertai muncratnya bunga api ketika suling itu langsung menangkis pedang yang nyaris membabat leher Sam-ok.

Baik Kam Hong maupun Hong Bu meloncat ke belakang dengan tangan tergetar dan cepat mereka memeriksa senjata masing-masing dan merasa lega bahwa senjata mereka tidak rusak.

Lima orang Im-kan Ngo-ok itu tidak terluka parah dan mereka sudah bangkit kembali, sejenak memandang kepada dua orang muda itu bergantian, kemudian mereka lalu melompat dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata pun kata keluar dari mulut mereka.

"Tak usah dikejar, musuh yang sudah mengaku kalah dan melarikan diri."

Kata pula Kam Hong melihat Hong Bu hendak mengejar mereka.

Sim Hong Bu menyimpan pedangnya dan menghadapi Kam Hong, sinar matanya penuh kagum dan ia lalu menjura.

"Sungguh beruntung dapat bertemu dengan Kam-taihiap lagi di tempat ini, terutama dapat menikmati Ilmu Taihiap yang sungguh mengagumkan sekali."

Kam Hong menarik napas panjang.

Dia kini dapat mengerti bahwa pemuda inilah yang menjadi suheng dari Pek In dan kalau pemuda ini dengan pedang yang diandalkan oleh keluarga Cu, maka mereka itu bukanlah omong kosong belaka.

"Engkau pun memiliki kepandaian. yang amat mengagumkan hatiku, orang muda...."

"Taihiap, namaku adalah Sim Hong Bu, kita pernah saling bertemu beberapa tahun yang lalu...."

"Hong Bu pernah menolongku ketika Su-bi Mo-li muncul dahulu, Paman.... eh, Suheng....!"

Kata Ci Sian dan mendengar sebutan yang ragu-ragu ini, Kam Hong tersenyum.

Dia maklum akan isi hati dara ini, yang tentu telah bercerita kepada Hong Bu bahwa dia adalah suhengnya, maka kini menyebutnya suheng.

Dan memang sesungguhnyalah, bukankah Ci Sian itu sumoinya, mengingat bahwa mereka berdualah yang berhak menjadi murid kakek kuno yang mewariskan ilmu-ilmu itu.

Mereka berdua sajalah yang berhak menyebut diri sebagai pewaris-pewaris ilmu itu dan menjadi murid jenazah kuno yang bernama Cu Keng Ong itu.

Dan karena itu, maka sudah sepatutnyalah kalau mereka berdua saling menyebut suheng dan sumoi.

Untuk meng-hilangkan keraguan Ci Sian dan juga untuk memberi muka kepada dara itu, dia pun lalu menjawab.

"Ya, aku teringat akan hal itu, Sumoi. Memang Sim Hong Bu ini seorang yang gagah, dahulu menolongmu dan sekarang pun menolongku pula."

"Ah, Kam-taihiap harap jangan merendahkan diri, sesungguhnya bukan aku yang menolong Taihiap, melainkan Taihiaplah yang menolong Sumoiku...."

"Eh, Hong Bu, setelah kita saling mengenal seperti ini, perlu lagikah engkau menyebut-nyebut Taihiap kepada Suheng? Rasanya tidak enak benar."

Ci Sian mencela. Kam Hong tertawa.

"Benar apa yang dikatakan Sumoi. Hong Bu, mulai sekarang, jangan menyebut Taihiap, sebut saja Toako, cukuplah."

"Suheng, mari kita pergi dari sini.... Ayah tentu akan merasa gelisah sekali karena sejak kemarin aku belum pulang. Kau antarlah aku pulang agar Ayah dan para Paman percaya apa yahg telah terjadi."

Kata Pek In dan dia pun lalu memegang tangan Hong Bu dan menarik pemuda itu untuk pergi.

"Sumoi, engkau telah diselamatkan oleh Kam-tai.... Kam-twako, sepatutnya kita menghaturkan terima kasih."

"Aku.... aku....!"

Pek In memandang bingung dan membuang muka. Kam Hong maklum akan apa yang dirasakan oleh dara itu, maka dia pun tertawa.

"Sudahlah, di antara kita, perlukah bersikap sungkan dan pakai segala macam terima kasih segala?"

"Suheng, marilah!"

Pek In kembali menarik tangan Hong Bu.

Pemuda ini memandang kepada Ci Sian dengan pandang mata penuh kasih sayang dan kemesraan, juga penuh dengan perasaan kecewa dan duka karena mereka harus berpisah itu.

"Ci Sian.... kapankah kita dapat saling bertemu kembali?"

Suara pemuda remaja itu terdengar gemetar penuh perasaan, penuh harapan.

Sinar matanya dan suaranya ini tidak terlepas dari perhatian Kam Hong yang berpandangan tajam dan tahulah dia bahwa pemuda perkasa itu agaknya jatuh hati kepada Ci Sian!

Juga Pek In adalah seorang wanita dan biasanya, seorang wanita amat peka terhadap sikap pria dan seorang wanita akan mudah sekali mengetahui apabila melihat pria yang jatuh cinta, maka Pek In juga dapat melihat sinar mata penuh kasih dan suara yang menggetar mesra penuh harapan itu.

Pada saat yang sama itu, timbullah rasa cemburu yang amat menyakitkan hati di dalam diri Cu Pek In dan....

Kam Hong!

Pendekar ini terkejut sendiri dan cepat dia memejamkan mata dan menarik napas panjang untuk mengusir pikiran yang dianggapnya tidak benar itu.

Mengapa dia merasa cemburu kalau ada seorang pemuda jatuh cinta kepada Ci Sian, hal yang sudah sewajarnya itu?

Sementara itu, Ci Sian sendiri hanya merasa suka terhadap Hong Bu, pemuda yang selain amat baik, gagah perkasa, ternyata juga memiliki ilmu kepandaian yang hebat itu.

Dalam keadaan biasa, tentu dia pun akan bersikap biasa dan ramah saja.

terhadap pemuda itu.

Akan tetapi melihat betapa sikap Pek In amat mesra dan manja, melihat betapa dara itu kelihatan tidak senang ketika Hong Bu bicara dengannya, timbul perasaan panas di hati dara ini.

Maka dia pun tersenyum manis sekali kepada Hong Bu dan berkata.

"Hong Bu, kalau ada jodoh tentu kita kelak akan dapat saling bertemu kembali! Selamat berpisah Hong Bu."

Ucapan ini sebetulnya biasa, akan tetapi karena sikap Ci Sian sengaja dibuat menjadi amat mesra, maka tentu saja kata-kata itu bisa diartikan lain, yaitu memang dara ini mengharapkan dengan sangat akan pertemuan kembali antara mereka, bahkan memakai kata "jodoh"

Segala! Pek In menjadi semakin cemberut, menarik tangan suhengnya dan berkata.

"Marilah Suheng!", Karena ditarik tangannya, terpaksa Hong Bu pergi juga, akan tetapi sampai tiga kali dia menoleh ke arah Ci Sian yang berdiri sambil memandang dengan tersenyum manis.

"Dia memang seorang pemuda yang hebat!"

Mendengar ucapan Kam Hong ini, Ci Sian terkejut.

Dia tadi masih memandang ke arah lenyapnya bayangan dua orang itu, dan kini dia terkejut mendengar kata-kata Kam Hong, bukan terkejut karena isi kalimatnya, melainkan karena suaranya.

Suaranya amat berbeda, dan ketika dia menoleh dan memandang, dia merasa lebih berat lagi karena pada wajah yang tampan itu tampak bayangan kemarahan!

"Paman....

eh, Suheng....

bolehkan aku mulai sekarang menyebutmu Suheng saja?

Bukankah engkau telah menganggapku sebagai Sumoi karena kita sama-sama menjadi murid jenazah kuno....

eh, siapa namanya...., Cu Keng Ong itu?"

Baru saja hatinya penuh dengan cemburu, akan tetapi kini melihat wajah Ci Sian yang cerah dan mendengar ucapannya, lenyaplah rasa cemburu itu dan Kam Hong tersenyum, lalu mengangguk.

"Tentu saja boleh, bahkan engkau seharusnya menyebut aku Suheng, Sumoi."

Ci Sian juga sudah merasa lega melihat Kam Hong tersenyum.

"Eh, Suheng, engkau tadi kenapa sih?"

"Kenapa bagaimana?"

"Suaramu tadi kaku dan wajahmu.... ah, aku berani bersumpah bahwa engkau tadi, baru saja, sedang dilanda kemarahan besar. Kenapa sih?"

Kam Hong merasa betapa wajahnya menjadi panas, maka cepat-cepat dia mengerahkan sin-kang untuk menahan agar wajahnya tidak berubah merah.

Dia tersenyum lagi dan cepat mencari alasan untuk sikapnya tadi.

"Ah, aku hanya tidak setuju melihat sikap Nona Cu tadi, menarik-narik Hong Bu seperti itu...."

"Memang gadis banci itu amat menjemukan! Dia kelihatan begitu manja dan mesra kepada Hong Bu, seolah-olah...."

"Memang Nona itu amat mencinta Hong Bu, apakah engkau tidak dapat menduganya?"

Kam Hong berkata dengan cepat dan agaknya kata-kata ini merupakan berita menyenangkan yang harus disampaikan secepatnya kepada Ci Sian.

Dara itu memandang kepada Kam Hong dengan alis berkerut, agaknya berita itu tidak menyenangkan hatinya.

"Hemm, bagaimana engkau bisa tahu, Suheng?"

Tanyanya, tidak rela membayangkan bahwa di antara pemuda seperti Hong Bu itu terdapat cinta kasih dengan gadis seperti Cu Pek In.

"Ahh, sudah nampak dengan jelas sekali, bagaimana aku tidak akan tahu? Lihat sikapnya, ketika memandang kepada Hong Bu, ketika bicara, dan cara dia menggandeng tangan pemuda itu...."

"Huh dasar banci tak tahu malu! Akan tetapi, belum tentu kalau Hong Bu juga cinta padanya, Suheng."

Kini, Kam Hong mengerutkan alisnya.

Memang demiklanlah kenyataan yang dilihatnya.

Hong Bu agaknya tidak mencinta Pek In, sebaliknya dia khawatir kalau pemuda itu jatuh cinta kepada Ci Sian.

Akan tetapi dia tidak mau bicara tentang ini.

"Entah, Sumoi. Akan tetapi, harus kuakui bahwa Hong Bu memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali...."

"Aku sudah tahu, Suheng. Aku pernah mendengar suara pedangnya yang mengaung-aung ketika aku lewat di sini, suara itu keluar menembus batu besar yang menutup guha ini. Dan dia mendorong batu besar ini dengan satu tangan saja. Sekarang aku tahu bahwa dia.... sengaja membiarkan dirinya kena pukul olehku kemarin...."

"Engkau memukulnya?"

Ci Sian lalu menceritakan pertemuannya dengan Hong Bu yang mengira dia Pek In sedangkan dia sendiri menyangka Kam Hong yang berada di balik batu.

"Kami memang saling mengenal begitu bertemu muka, Suheng. Akan tetapi ketika dia mengaku bahwa dia adalah murid keluarga Cu, aku segera menganggapnya musuh dan menyerangnya. Dia tidak pernah melawan, akhirnya aku dapat memukul dadanya sampai dia terpelanting, dan lalu kami berbaik. Sekarang aku tahu bahwa dia agaknya kemarin sengaja membiarkan dirinya terpukul. Suheng, dia adalah murid keluarga Cu itu! Dialah yang mewarisi pedang pusaka itu, juga ilmu pedang pusaka...."

"Benar, sekali kuduga akan hal itu ketika aku tahu bahwa dia adalah suheng Nona Cu. Dan melihat cara dia bermain pedang, aku pun dapat menduga bahwa tentu itulah ilmu yang dimaksudkan oleh Cu Han Bu. Hemm.... Ilmu Koai-liong Kiam-sut itu memang hebat dan agaknya memang dapat merupakan lawan tangguh sekali dari Kim-siauw Kiam-sut kita, Sumoi."

"Tidak mungkin!"

"Apa maksudmu, Sumoi"

"Tidak mungkin Hong Bu mau memusuhi kita! Dia seorang yang baik, tidak seperti keluarga Cu."

Kam Hong menarik napas panjang lagi.

Kenapa hatinya merasa tidak enak mendengar dara ini memuji diri Hong Bu?

Padahal, dia sendiri pun harus mengakui kebenaran ucapan itu.

Hong Bu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa dan baik.

"Mungkin saja dia sendiri tidak, akan tetapi bagaimana kalau masih ada anggauta atau murid keluarga Cu yang lain, yang memiliki ilmu pedang itu dan kelak berusaha mengalahkan Kim-siauw Kiam-sut kita!"

"Akan kita hadapi! Kim-siauw Kiam-sut kita tidak harus kalah!"

"Bagus sekali semangat itu, Sumoi. Akan tetapi untuk membuktikan hal itu, ada syaratnya, yaitu bahwa kita harus mempelajarl ilmu kita sebaik mungkin sampai sempurna. Nah, mulai sekarang kau tekunlah berlatih, Sumoi."

"Baik, Suheng."

"Dan aku pun akan kembali ke timur, bagaimana.... bagaimana dengan engkau, Sumoi?"

"Ke timur....?"

Ci Sian terkejut karena tak pernah terpikirkan olehnya bahwa dia akan mendengar kata-kata ini.

"Kenapa Suheng?"

"Aih, Sumoi, apakah engkau lupa? Aku datang ke tempat ini sebetulnya adalah untuk mencari Yu Hwi, seperti pernah kuceritakan kepadamu. Sekarang setelah kutemukan dia dan engkau mendengar sendiri janjinya untuk pulang mengunjungi kakeknya agar urusan pertalian antara dia dan aku dapat diputuskan secara resmi dan terhormat."

"Ke manahah engkau hendak pergi, Suheng?"

"Ke Pegunungan Tai-hang-san. Di sana selalu tinggal kakek dari Yu Hwi yang pernah membimbingku sebagai guru, yaitu Sai-cu Kai-ong, juga kini tinggal pula Sin-siauw Sengjin, kakek tua yang seperti kakekku sendiri. Kakek inilah satu-satunya orang seperti keluargaku, sungguh pun antara kami tidak ada hubungan darah. Dia adalah keturunan dari orang yang pernah menjadi pembantu nenek moyangku, dan dia pulalah yang dengan setia menyimpan dan mewarisi ilmu-ilmu dari nenek moyangku untuk kemudian diturunkan kepadaku. Aku berhutang budi banyak sekali kepada dua orang kakek itu. Dan karena Kakek Sin-siauw Sengjin kini tinggal pula di Tai-hang-san, tidak berjauhan dengan Suhu Sai-cu Kai-ong, maka mudah bagiku untuk pergi mengunjungi mereka berdua."

"Selain mereka, engkau tidak mempunyai keluarga lainnya?"

Kam Hong menggeleng kepala.

"Aku tidak mempunyai keluarga lain lagi. Sumoi, aku hendak pergi meninggalkan daerah yang dingjn bersalju ini, ke timur di mana dunia penuh dengan sinar mata-hari. Maukah.... kau ikut bersamaku, Sumoi? Tidak! Bahkan aku akan senang sekali kalau engkau bersamaku, Sumoi. Ataukah.... engkau ingin mengunjungi orang tuamu.... aku boleh mengantarmu...."

"Tidak, aku tidak sudi bertemu dengan Ayahku! Aku akan ikut dengan Suheng, karena hanya engkau seoranglah yang kupunyai di dunia ini."

Wajah yang tampan dan biasanya te-nang itu nampak gembira sekali, sepasang matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum.

"Bagus, Sumoi! Dan kita akan berlatih silat di sepanjang jalan. Mari kita pergi!"

Demikianlah, dua orang itu, yang menjadi suheng dan sumoi secara kebetulan saja, yang mempunyai nasib yang sama, yaitu tidak mempunyai keluarga lagi di dunia ini yang boleh mereka tumpangi, Kini melakukan perjalanan menuju ke timur, meninggalkan barisan Pegunungan Himalaya yang penuh dengan keajaiban itu.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Ang Tek Hoat yang hidup secara amat menyedihkan, seperti seorang jembel yang sama sekali tidak mengurus diri, selalu hidup seperti keadaan seorang gelandangan, juga sikapnya membayangkan otak yang tidak waras atau yang oleh umum mungkin dianggap seperti orang yang gila.

Kehidupan manusia memang kadang-kadang nampak menyedihkan sekali karena perubahan-perubahan yang terjadi menimpa diri seorang manusia seolah-olah membuat manusia yang tadinya berada di puncak tertinggi kini berada di tempat yang paling rendah.

Si Jari Maut Ang Tek Hoat ini pernah menjadi calon mantu Raja Bhutan, di samping kedudukan panglima muda yang dipegangnya, menjadi calon suami seorang puteri cantik jelita seperti Syanti Dewi yang dicintanya.

Betapa tinggi kedudukannya ketika itu, betapa penuh bahagia hidupnya.

Dan dibandingkan dengan sekarang ini, sungguh orang takkan mau percaya bahwa jembel yang seperti orang gila itu adalah Si Jari Maut Ang Tek Hoat itu!

Orang akan melontarkan kesalahan kepada nasib.

Namun, benarkah nasib yang mempermainkan kehidupan manusia?

Apakah adanya nasib itu?

Nasib hanya sebutan yang dipakai orang untuk menyatakan keadaan seseorang dalam kehidupannya.

Dan kita tidak pernah mau membuka mata mempelajari suatu persoalan dengan penuh kewaspadaan, Apalagi kita tidak mau menjenguk ke dalamnya untuk melihat bahwa segala sesuatu itu bersumber kepada diri kita sendiri.

Melihat kesalahan diri sendiri merupakan hal yang tidak menyenangkan, juga mengerikan, maka kebanyakan dari kita lebih suka menutup mata dan melontarkan sebab-sebabnya kepada nasib!

Biarpun kelihatannya seperti orang gila, namun pria yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini tidak pernah menyesalkan nasib.

Dia tahu benar akan kesesatan-kesesatan, kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukannya di masa muda (baca cerita KISAH SEPASANG RAJAWALI dan JODOH RAJAWALI).

Hal ini dapat dibuktikan betapa seringkali dia termenung dan mengeluh panjang pendek, bahkan kadang-kadang terdengar kata-katanya seperti bicara kepada diri sendiri dan hal ini yang membuat orang-orang menyangka dia gila.

"Ijinkanlah aku bertemu dengan dia sekali lagi untuk minta ampun dan membuktikan bahwa aku telah bertobat....!"

Kata-katanya itu sebenarnya sama dengan doa yang ditujukan kepada Tuhan agar dia dapat dipertemukan sekali lagi dengan kekasihnya, dengan Syanti Dewi agar dia memperoleh kesempatan untuk meminta ampun atas semua kesalahannya kepada dara itu.

Baru sekarang ia sadar benar betapa dia telah banyak menyebabkan penderitaan hidup atas diri dara yang amat dicintainya itu!

Baru dia sadar betapa sebenarnya puteri itu amat mencintainya, mencintainya dengan murni, tidak seperti dia yang cintanya penuh dengan pementingan diri pribadi sehingga penuh dengan cemburu yang gila.

Hanya karena mencari Syanti Dewi maka Tek Hoat sampai terbawa arus orang-orang kang-ouw menuju ke Pegunungan Himalaya.

Di Bhutan dia sudah menyelidiki dan ternyata Sang Puteri itu tidak berada di Bhutan.

Jadi seolah-olah lenyap tanpa bekas!

Maka dia pun ikut berkeliaran di Himalaya, sampai-sampai dia terbawa oleh orang kang-ouw mengunjungi Lembah Gunung Suling Emas, kemudian bahkan terlibat dalam pertempuran membantu Jenderal Muda Kao Cin Liong, keponakannya sendiri, menghadapi pasukan-pasukan Nepal.

Tentu saja dia tidak mau menerima penawaran jenderal muda yang masih keponakannya sendiri itu untuk membantu terus, dan dia pun langsung meninggalkan Lhagat dan karena merasa yakin bahwa dia tidak akan dapat menemukan Syanti Dewi di Pegunungan Himalaya maka dia melakukan perjalanan kembali ke timur.

Biarpun dia sudah menjadi seorang yang berpakaian jembel dan hidupnya merana, tidak teratur, namun Tek Hoat sekarang jauh lebih mendekati kehidupan seorang manusia utama dibandingkan dahulu ketika dia masih menjadi hamba nafsu-nafsunya.

Kini dia merupakan orang yang sudah bertaubat benar-benar, tidak pernah mau melakukan hal-hal yang buruk, bahkan menghadapi siapapun juga, dia tidak mempunyai sedikit pun perasaan benci atau ingin mengganggu.

Namun, hal ini bukan berarti bahwa dia bersikap masa bodoh dan tidak peduli, karena setiap menghadapi hal-hal yang tidak patut, melihat kejahatan berlangsung di depan mata, sudah pasti dia turun tangan membela atau melindungi pihak lemah dan menentang mereka yang bertindak sewenang-wenang.

Akan tetapi lenyaplah sudah Si Jari Maut yang dulu mudah membunuh orang, karena kini dia cukup menggunakan kepandaiannya mengalahkan orang dan membuat orang itu takut untuk melanjutkan kejahatannya saja.

Paling hebat dia hanya merobohkan lawan dan melukainya, luka yang tidak berbahaya bagi keselamatan nyawa lawan itu.

Inilah Si Jari Maut Ang Tek Hoat atau juga Wan Tek Hoat sekarang, biarpun menjadi jembel miskin namun sepak ter-jangnya seperti seorang pendekar tulen!

Beberapa bukan kemudian setelah dia meninggalkan Lhagat, pada suatu hari dia sudah tiba di kota Kiu-kiang, sebuah kota yang cukup besar di ujung utara Propinsi Kiang-si.

Tujuannya adalah ke Telaga Wu-ouw, yaitu sebuah telaga besar sekali di Propinsi Kiang-su, di sebelah utara kota Hang-kouw karena dia mendengar bahwa telaga yang amat besar itu indah sekali pemandangannya.

Seperti biasa, ketika dia memasuki sebuah kota, Tek Hoat langsung mencari tempat penginapan, bukan hotel atau losmen, melainkan dia mencari rumah-rumah kosong, atau kuil kosong.

Akan tetapi sungguh sial baginya, kota Kiu-kiang itu merupakan kota yang ramai dan teratur sehingga dia tidak dapat menemukan sebuah pun rumah atau kuil kosong!

Akhirnya, karena hari sudah hampir malam, dia terpaksa memilih tempat bermalam di bawah sebuah jembatan besar di tepi kota.

Dia membersihkan tempat itu yang penuh batu-batu dan semak berduri, menumpuk rumput kering lalu dia pun merebahkan diri di bawah jembatan sambil melamun.

Asyik juga rebah di situ, melihat betapa jembatan itu agak bergerak-gerak kalau ada kuda atau kereta lewat, dan dari situ dia pun dapat mendengarkan orang-orang bercakap-cakap di atas jembatan itu tanpa yang bicara tahu bahwa di bawah jembatan ada orang mendengarkan percakapan mereka.

Bermacam-macam hal dibicarakan orang dan kadang-kadang Tek Hoat tersenyum sendiri kalau mendengar percakapan yang lucu-lucu baginya.

Dalam keadaan seperti itu, di mana kita bebas dari segala hal yang kita lihat atau dengar, baru kita dapat merasakan betapa lucunya dan juga menyedihkan adanya kehidupan manusia ini.

Percekcokan suami isteri akan terdengar lucu, karena sebelum mereka menjadi suami isteri, atau di waktu mereka masih pengantin baru, tentu suami isteri itu sendiri tak pernah membayangkan bahwa akan ada saat percekcokan diantara mereka, di mana kemarahan bahkan kebencian meracuni hati.

Kata-kata seseorang yang semanis madu terhadap orang lain tentu akan terdengar lucu karena kita akan melihat betapa kemanisan itu hanya merupakan kedok belaka, merupakan suatu jembatan untuk mencapai sesuatu yang menjadi pamrih.

Kepalsuan-kepalsuan dalam kehidupan kini nampak jelas oleh Tek Hoat, membuat dia makin merasa betapa kotornya dirinya, betapa dia telah melakukan segala macam kekotoran dan kepalsuan.

Karena kenyataan betapa palsunya dirinya dan semua manusia di sekelilingnya, betapa di balik setiap sikap, setiap senyum, kata-kata manis, bahkan hampir setiap perbuatan selalu bersembunyi sesuatu yang lain yang menjadi pamrih yang mendorong perbuatan palsu itu, maka mungkin saja inilah yang membuat Tek Hoat menjadi tidak peduli kepada diri sendiri.

Dia seperti orang yang merasa muak dengan dirinya sendiri dan seolah-olah membiarkan dirinya sedemikian untuk sekedar "menghukumnya"!

Tiba-tiba Tek Hoat bangkit duduk ketika dia mendengar percakapan yang amat menarik hatinya.

Dan kebetulan sekali yang bicara itu agaknya berhenti di atas jembatan!

Dia cepat mengerahkan pendengarannya untuk menangkap semua percakapan itu setelah kalimat pertama ini amat menarik hatinya.

"Kalau dia tidak mau seret saja sudah!"

Kalimat Inilah yang membangkitkan perhatian Tek Hoat karena membayangkan akan terjadinya tindakan sewenang-wenang terhadap orang lemah.

"Ah, orang macam dia mana bisa menggunakan kekerasan? Sebaiknya dibujuk saja."

Terdengar suara orang ke dua.

"Oleh karena itulah maka aku mencari kalian dan kebetulan sekali bertemu dengan kalian di sini. Thio-wangwe mengatakan bahwa dia bersedia membayar lima belas tail perak kepada pelukis itu kalau mau melukisnya."

"Lima belas tail?"

Seru suara pertama.

"Wah, sebuah lukisan untuk lima belas tail? Gila itu!"

"Bahkan dia masih menjanjikan untuk memberi hadiah dua tail perak kepadaku kalau aku dapat membujuknya."

Kata orang ke tiga.

"Wah, hebat! Dari mana dapat mencari uang semudah itu? Mari kita pergi dan kita bujuk dia sampai dia mau!"

"Kalau tidak mau dibujuk, biar kuancam dia."

"Aih, harus hati-hati, agar dia mau. Kalau dia sudah mau dan menerima uang itu.... heh-heh, mudah saja menggasak uang itu darinya. Pelukis tua kerempeng seperti itu mana bisa mempertahankan uang lima belas tail?"

Tiga orang itu lalu meninggalkan jembatan, tidak tahu bahwa tak jauh di belakang mereka terdapat seorang pengemis brewok yang berjalan seenaknya sambil membayangi mereka.

Pengemis ini bukan lain adalah Si Jari Maut!

Karena cuaca sudah mulai gelap, Tek Hoat lalu mendahului tiga orang itu ketika mereka lewat di bawah sinar lampu jalan dan dia melihat bahwa tiga orang itu berwajah licik dan kejam seperti wajah orang-orang yang biasa melakukan kecurangan-kecurangan dengan jalan apa pun untuk memperoleh uang.

Seorang di antara mereka bahkan membawa sebatang golok tergantung di pinggang dan selain bertubuh besar juga nampak bengis.

Mereka bertiga itu menuju ke sebuah losmen kecil di ujung kota yang letaknya agak terpencil dan sunyi.

Tiga orang itu menerobos masuk dan ternyata pengurus losmen itu agaknya sudah mengenal Si Tinggi Besar yang membawa golok karena begitu melihat orang ini pengurus itu kelihatan takut-takut dan menyambut dengan sikap menjilat.

Akan tetapi dengan bengis Si Tinggi Besar itu bertanya.

"Di mana kamar pelukis tua she Pouw itu?"

"Di.... di sana, paling belakang, akan tetapi kami harap.... mohon agar jangan mengggnggu tamu kami...."

Sementara itu, Tek Hoat sudah mendahului mereka dan mengintai dari atas genteng.

Mudah baginya menemukan kamar pelukis tua itu, karena memang tidak terlalu sukar menemukan seniman-seniman seperti pelukis, penyair dan sebagainya.

Seorang kakek kurus yang berada di dalam kamar sendiri, bernyanyi-nyanyi kecil membaca sajak atau menggubah sajak karena tangannya tidak memegang apa-apa!

Ketika dia tiba di atas kamar pelukis itu, dia mendengar orang tua itu sedang mendeklamasikan sajak yang agaknya tengah digubahnya.."....batin kosong tanpa isi....

....

alam pun sunyi sepi....

....hening....diam....suci....

....seniman tua asyik sepi sendiri....

"Tok-tok!"

Ketukan pintu kamarnya mengejutkannya dan menariknya kembali ke dunia kenyataan.

Dia bersikap tenang dan tanpa turun dari atas pembaringan di mana dia duduk bersila, dia menoleh ke pintu dan suaranya halus dan lirih, seolah-olah dia belum sepenuhnya kembali atau keluar dari dalam khayalnya.

"Siapa di luar?"

"Pouw-lo-siucai.... harap buka pintu, saya ada keperluan penting untuk dibicarakan dengan Lo-siucai!"

Kakek itu adalah sastrawan pelukis Pouw Toan.

Seperti Pernah kita mengenal sastrawan pelukis ini ketika dia mengunjungi Puteri Syanti Dewi di Pulau Kim-coa-to, Pouw Toan adalah seorang sastrawan perantau yang pandai sekali membuat sajak, menulis huruf indah dan melukis.

Selain ini, dia juga seorang sastrawan yang banyak merantau di dunia kang-ouw dan banyak mengenal orang-orang gagah di seluruh dunia, bahkan dia adalah seorang sahabat baik dari suami isteri pendekar sakti Gak Bun Beng dan isterinya yang amat terkenal, yaitu Puteri Milana.

Kakek Pouw Toan tersenyum pahit mendengar sebutan Lo-siucai itu.

"Hemm, siapakah menjadi siucai? Aku tidak pernah merebutkan titel, aku hanyalah rakyat kecil biasa, jangan sebut aku dengan Lo-siucai segala. Siapakah engkau yang berada di luar dan mengganggu orang yang sedang asyik sendiri?"

"Saya.... saya pelayan, ada perlu penting sekali!"

Kata suara di luar mendesak.

"Hemmm, aku ini seniman miskin, tidak takut maling dan rampok maka pintu kamarku tak perlu dikunci. Kalau ingin masuk dan bicara, dorong saja pintunya terbuka."

Kata Pouw Toan.

Daun pintu didorong dari luar dan diam-diam Tek Hoat sudah siap dengan pecahan genteng di tangan, siap melindungi kakek itu kalau-kalau tiga orang itu hendak menggunakan kekerasan.

Dia tahu bahwa dengan pecahan genteng itu saja dia akan mampu melindungi kakek di dalam kamar yang aneh itu.

Dia merasa amat tertarik kepada kakek itu, apalagi ketika mendengar sajaknya yang luar biasa tadi dan ingin sekali dia mengenal kakek itu lebih jauh, tentu saja mengenalnya dengan diam-diam karena selama bertahun-tahun ini dia tidak mau mengenal orang secara berdepan.

Ketika melihat bahwa yang masuk ada tiga orang yang memiliki wajah yang licik, Pouw Toan mengerutkan alisnya.

"Hemm, kalian datang mau apakah? Jangan katakan bahwa kalian ini pelayan losmen."

Seorang di antara mereka, yaitu orang yang diutus oleh Hartawan Thio dan yang membu-juk dua orang kawannya untuk membantunya, menjura kepada Pouw Toan dan berkata.

"Pouw-lo-siucai...."

"Sudah kukatakan aku bukan siucai segala! Lekas katakan apa keperluan kalian."

"Eh.... eh, begini, Pouw-sianseng...."

Katanya gagap karena biarpun kakek itu nampak kurus kerempeng, harus diakui bahwa dia amat berwibawa dan sikapnya seperti seorang pendekar gagah perkasa.

"Kedatangan saya ini adalah atas kehendak Thio-wangwe. Saya diutus untuk...."

"Sudahlah, katakan kepada Thio-wangwe bahwa saya bukan tukang gambar orang...."

"Tapi Sianseng kemarin melukis seorang bocah penggembala kerbau di luar kota itu. Dan karena tertarik melihat hasil lukisan Sianseng, maka Thio-wangwe ingin sekali dirinya dilukis oleh Sianseng."

"Beberapa kali sudah dia minta kepadaku untuk melukis dan aku sudah menolak. Aku hanya melukis apa yang ingin kulukis, biar dia itu penggembala kerbau atau benda berupa sampah sekalipun. Aku tidak mau dipaksa melukis seorang raja sekalipun, atau setangkai bunga indah sekalipun kalau aku tidak menghendakinya."

Si Tinggi Besar itu agaknya sudah tidak sabar lagi.

"Hei, pelukis tua sombong! Thio-wangwe hendak memberimu lima belas tail perak, tahukah engkau? Lima belas tail perak! Ingat, dalam waktu berbulan-bulan engkau takkan bisa memperoleh uang sebanyak itu!"

Pouw Toan mengangkat mukanya memandang wajah Si Tinggi Besar yang bersikap kasar itu, dan dia tersenyum sambil menggeleng kepalanya.

"Seorang tua bodoh seperti aku ini sudah tidak mem-butuhkan apa-apa, tidak butuh uang banyak, hanya butuh kebebasan untuk melukis, untuk bernyanyi, untuk apa saja yang mendatangkan kebahagiaan di hatiku. Apa artinya uang lima belas tail perak bagiku?"

"Bagimu tidak ada artinya, akan tetapi bagi kami ada!"

Bentak Si Tinggi Besar dengan marah dan tiba-tiba dia telah mencabut goloknya dan menodongkan ke arah dada kakek pelukis itu.

Tek Hoat hanya memandang dengan urat saraf menegang, akan tetapi dia belum turun tangan karena maklum bahwa Tinggi Besar itu hanya mengancam dan keselamatan Si Pelukis itu belum perlu dibela.

Dia ingin melihat bagaimanakah kakek lemah yang perkasa itu dan bagaimana perkembangan selanjutnya.

Dia ingin mengenal kakek itu, mengenal dari sikap dan gerak-geriknya dalam menghadapi ancaman itu.

Kakek Pouw Toan adalah orahg yang sudah puluhan tahun bertualang di dunia, sudah ribuan kali menghadapi ancaman malapetaka, maka tentu saja penodongan ini merupakan hal kecil saja baginya.

Sungguhpun dia seorang yang sama sekali tidak pernah belajar ilmu silat, akan tetapi dia telah memiliki keberanian dan kegagahan seorang pendekar tulen.

Maka dia hanya tersenyum saja memandang kepada penodongnya, lalu menarik napas panjang.

"Hemm, sungguh untung sekali kau!"

Katanya sambil tersenyum kepada penodongnya.

Tentu saja Si Tinggi Besar itu menjadi melongo keheranan.

Selama dia menjadi tukang pukul yang suka mempergunakan kekerasan dan ancaman untuk memaksakan kehendaknya, baru sekarang ini dia bertemu dengan seorang kakek lemah yang ditodong tidak memperlihatkan sedikit pun rasa kaget dan tak takut sebaliknya malah tersenyum dan mengatakan dia untung!

"Ah, sudah gilakah engkau?

Apa maksudmu?"

Bentaknya.

"Ha, untung bahwa dua orang muridku sedang pergi, kalau dia berada di sini, aku terpaksa akan menaruh kasihan ke-padamu."

Memang aneh sekali ucapan itu, akan tetapi nampaknya kakek itu tidak menggertak.

"Sudahlah, katakan, kau mau melukis Thio-wangwe atau tidak! Kalau mau, mari ikut dengan kami ke gedung Hartawan Thio, kalau tidak, golokku akan minum darahmu di sini juga!"

Si Tinggi Besar mengancam.

Pouw Toan menggerakkan pundaknya.

Dia tahu bahwa seorang penjahat cilik kasar macam ini memang berbahaya, mungkin saja membunuh hanya untuk soal dan uang kecil saja.

Maka dia menarik napas panjang dan bangkit berdiri.

"Yah, karena diancam golok, mau apa lagi? Baik, aku akan melukisnya, akan tetapi jangan salahkan aku kalau hasil lukisannya jelek."

"Siapa peduli baik atau jelek? Yang penting kau lukis dan menerima upah lima belas tail perak!"

Kata utusan Hartawan Thio itu dengan girang melihat hasil ancaman temannya itu berhasil.

"Mari kita berangkat!"

Tiga orang itu berhasil menggiring Pouw Toan keluar dari losmen itu dan pengurus losmen menarik napas lega melihat bahwa kedatangan tiga orang itu ternyata tidak menimbulkan keributan seperti yang dikhawatirkannya, Pouw Toan dengan sikap tenang-tenang saja mengikuti mereka dan sedikit pun tidak kelihatan takut seolah-olah dia bukan pergi sebagai seorang yang dipaksa dan diancam, melainkah sedang pergi "jalan-jalan"

Bersama tiga orang sahabatnya, bahkan di sepanjang perjalanan dia bersenandung!

Tak jauh di belakang mereka, seorang pengemis berjalan mengikuti dan pengemis ini tentu saja adalah Si Jari Maut yang semakin tertarik dan semakin kagum terhadap diri pelukis tua itu.

Thio-wangwe menerima kedatangan Pouw Toan dengan girang sekali.

Cepat dia sendiri menyambut Pouw Toan dan mempersilakan pelukis itu bersama tiga orang "pengantarnya"

Masuk ke dalam ruangan tamu di samping rumah dan segera hartawan itu berdandan dan mempersiapkan dirinya untuk dilukis, sedangkan pelayan-pelayannya menyediakan alat lukis seperti yang diminta oleh Pouw Toan karena pelukis ini hanya membawa "senjatanya"

Saja, yaitu sebuah mauw-pit (pena bulu) alat melukis.

Semua ini dilihat oleh Tek Hoat yang kembali sudah mengintai di atas wuwungan rumah gedung itu.

Untuk peristiwa luar biasa yang menggembirakan hatinya ini, Thio-wangwe membolehkan isteri dan para selirnya menonton dia dilukis dan hal ini malah mendatangkan kegembiraan, karena dia pun ingin agar gambarnya memperlihatkan wajah gembira dan bahagia.

Di antara para selirnya ada yang mengipasinya, ada yang menyuguhkan hidangan dan minuman dan hartawan ini duduk di atas kursi empuk, tersenyum-senyum memandang kepada Pouw Toan yang asyik melukisnya.

Dan pelukis itu pun nampak melukis dengan sungguh-sungguh, mencorat-coret ke atas kain yang dibentangkan di depannya sedangkan tiga orang pengantarnya tadi duduk di sudut, menghadapi hidangan dan minuman, memandang dengan wajah berseri karena mereka membayangkan upah yang besar dan juga mereka bermaksud untuk merampas uang yang akan dihadiahkan kepada pelukis itu!

Diam-diam Tek Hoat agak kecewa juga.

Biarpun pelukis itu bersikap gagah dan berani, namun ternyata dia pun hanya orang yang tunduk terhadap keadaan yang memaksanya sehingga kini, biarpun tidak memperlihatkan rasa takut, tetap saja pelukis itu memenuhi permintaan Si Hartawan, bukan karena uang, melainkan karena paksaan.

Kegagahan macam apa ini, pikirnya dengan kecewa.

Akan tetapi dia tetap menanti di atas wuwungan sambil memperhatikan keadaan.

Dari tempat dia bersembunyi, dia tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana hasil lukisan dari kakek itu.

Kurang lebih setengah jam Pouw Toan membuat corat-coret, kadang-kadang me-mandang ke arah tuan rumah, kadang-kadang kepada lukisannya dan akhirnya dia mengangkat lukisannya itu ke atas, memandangnya dan berkata dengan wajah berseri.

"Sudah selesai!"

Ketika dia mengangkat lukisannya itu, dari atas genteng Tek Hoat dapat melihat lukisan tadi dan hampir saja dia tertawa bergelak.

Dia melihat lukisan yang aneh dan lucu, lukisan seorang yang pakaiannya sama benar dengan pakaian hartawan itu, akan tetapi wajahnya yang biarpun semodel dengan wajah Thio-wangwe, namun mempunyai ciri-ciri seperti wajah seekor babi!

Dan orang bermuka babi itu sedang makan dengan lahapnya, air liurnya membasahi ujung bibir, tangan kiri memegang paha ayam, tangan kanan meraba dada montok seorang wanita setengah telanjang dan ada wanita-wanita cantik lain mengerumuninya.

Persis seperti gambar Ti Pat Kai, yaitu tokoh siluman babi menjelma manusia dalam cerita See-yu, yang sedang dirayu oleh sekumpulan siluman wanita.

Muka yang seperti babi itu membayangkan nafsu-nafsu angkara murka, penuh dengan gairah berahi dan kegembulan, muka seorang pelahap dan juga seorang yang gila perempuan!

Mendengar pelukis itu mengatakan bahwa lukisannya sudah selesai, Thio-wangwe cepat meloncat bangun berdiri, dengan wajah berseri-seri dia lalu lari menghampiri pelukis itu.

"Sudah selesai? Cepat amat! Wah, perlihatkan padaku....!"

Dan dia pun menyambar lukisan itu dari tangan Pouw Toan, dengan wajah yang gembira dia memandang dan....

seketika matanya terbelalak, mukanya berobah merah sekali.

"Kau.... kau.... sungguh kurang ajar sekali!"

Teriaknya dan dia merobek lukisan itu menjadi dua dan melemparkannya ke atas lantai. Pouw Toan bangkit, menjura dan berkata.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak mempunyai keinginan melukismu, Wangwe, oleh karena dipaksa, maka aku hanya melukiskan nafsu-nafsu yang bergelimangan memenuhi tempat ini. Maaf, aku tidak bermaksud menghinamu, Wangwe, akan tetapi aku melihat betapa Wangwe terkurung dalam kurungan emas, terbelenggu oleh nafsu-nafsu yang suatu saat nampak sebagai menyenangkan dan (Lanjut ke

Jilid 23) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 memuaskan, akan tetapi pada lain saat akan berobah menjadi menyusahkan dan mengecewakan, membosankan. Karena itu...."

"Pergi!"

Kau manusia tidak sopan, pergi dari sini! Hayo bawa dia pergi!"

Bentak hartawan itu kepada tiga orang yang mengantar Pouw Toan datang tadi.

Utusan Thio-wangwe tadi memberi isyarat kepada dua orang kawannya untuk mengantar Pouw Toan keluar dan dia sendiri tinggal di situ untuk minta upahnya.

Dengan uring-uringan Thio-wangwe melemparkan upahnya kepada orang itu yang cepat menyusul teman-temannya keluar.

"Sialan!"

Katanya kepada teman-temannya.

"Upahku diberikan dengan marah-marah, akan tetapi upah lukisan itu dia tidak mau berikan."

"Kenapa?"

Tanya Si Tinggi Besar.

"Kau tidak melihat lukisannya?"

Yang ditanya menggeleng.

"Lihat ini! Dia melemparkan lukisan ini pada mukaku ketika aku menuntut upah lukisan!"

Kata utusan itu dan Si Tinggi Besar bersama kawannya lalu melihat lukisan yang telah robek menjadi dua itu di bawah lampu luar gedung.

Ketika mereka berdua melihat lukisan itu, seorang di antara mereka tertawa.

"Heh, mirip memang!"

"Hushh!"

Bentak Si Tinggi Besar.

"Si Tua Bangka ini sengaja mempermainkan dan kita yang tidak memperoleh rejeki. Orang macam ini harus dihajar!"

Bentaknya dan dia menghampiri pelukis itu.

"Sabar, kawan."

Kata temannya.

"Sebaiknya kita antar dia kembali ke losmen. Tidak ada untungnya memukul orang tua lemah seperti dia."

Kembali Pouw Toan berjalan seenaknya dan dengan tenang saja diiringkan tiga orang yang kelihatan kecewa dan marah-marah itu.

Tak jauh di belakang mereka, Tek Hoat juga selalu membayangi dan diam-diam dia mulai kagum kepada Pouw Toan.

Kiranya Pouw Toan tidak mengecewakan hatinya.

Pelukis tua itu benar-benar hebat!

Karena dipaksa, dia mau melukis, akan tetapi lukisannya dilakukannya seenak sendiri saja sehingga menjadi lukisan yang mengejek dan menelanjangi hartawan yang berenang dalam lautan nafsu itu.

Sungguh tepat sekali lukisannya dan sepatutnya hartawan itu berterima kasih kepadanya karena telah disadarkan!

Setelah tiba di losmen, Si Tinggi Besar itu mengantar Pouw Toan ke kamarnya dan dengan suara keras memerintahkan pelukis itu untuk mengumpulkan seluruh barang bawaan dan miliknya yang berada di kamar itu, kemudian me-maksanya keluar lagi.

"Eh, kalian hendak membawaku ke mana lagi?"

Tanya Pouw Toan.

"Huh, kusuruh melukis!"

Bentak Si Tinggi Besar.

"Melukis apa?"

"Melukis neraka!"

"Ha-ha-ha, aku senang sekali melukis neraka. Coba katakan, neraka itu macam apa?"

"Tolol! Mana aku pernah melihat neraka?"

"Aku pun belum, ha-ha-ha!"

Pouw Toan tertawa senang.

"Mari ikut dengan kami, kau akan melihat neraka dan akan dapat melukisnya."

Kata Si Tinggi Besar yang mendorong kakek itu.

Mereka pergi lagi akan tetapi kini mereka membawa Pouw Toan ke luar kota dan di tempat yang sunyi, Si Tinggi Besar merampas buntalan Pouw Toan dari pundaknya.

"Eh, apa yang kau lakukan ini?"

"Aku ingin mengirim kau ke neraka agar engkau dapat melukisnya. Ha-ha-ha! Nah, buka pakaianmu itu!"

Si Tinggi Besar menodongkan goloknya. Akan tetapi pada saat itu tampak bayangan berkelebat.

"Desss! Aughhhhh.... !"

Si Tinggi Besar terpelanting ketika pundaknya ditampar oleh Tek Hoat yang tak dapat menahan kesabarannya lagi melihat betapa pelukis itu hendak dibunuh setelah barangnya dirampas, bahkan sebelum dibunuh pakaiannya disuruh buka!

Dua orang teman Si Tinggi Besar terkejut sekali melihat munculnya seorang pengemis yang berani memukul temannya, segera menyerang.

Akan tetapi, Tek Hoat menanti sampai tangan yang menyerangnya itu mendekat, kemudian dia mengangkat kedua lengannya menangkis.

"Krek! Krek!"

Lengan kedua orang itu patah tulangnya ketika bertemu dengan lengan Tek Hoat! Mereka mengaduh-aduh dan memegangi lengan yang patah tulangnya.

"Jembel busuk kau bosan hidup!"

Bentak Si Tinggi Besar yang sudah bangun dan kini dia menyerang dengan goloknya.

Akan tetapi Tek Hoat menerima golok itu dengan tangannya, menangkap golok itu dan sekali mengerahkan tenaga, golok itu patah-patah dan dia lalu menampar lengan Si Tinggi Besar dengan pecahan golok masih di tangan.

"Creppp!"

Kembali Si Tinggi Besar menjerit dan sekali ini, tangan kanannya hancur dengan pecahan goloknya sendiri menancap sampai ke dalam daging dan mengenai tulangnya yang hancur.

Dia merintih-rintih, kemudian bersama dua orang temannya dia melarikan diri tunggang-langgang setelah meninggalkan buntalan milik Pouw Toan.

Sejenak suasana menjadi sunyi dan dua orang itu berhadapan di tempat remang-remang karena kegelapan hanya dilawan oleh sinar bulan sepotong.

Kemudian terdengar Pouw Toan tertawa bergelak.

"Ha-ha, sejak tadi engkau selalu membayangi kami, Si Jari Maut!"

Bukan main kagetnya Tek Hoat mendengar ini.

Kakek lemah itu tidak saja tahu bahwa sejak tadi dia membayanginya, akan tetapi bahkan telah mengenalnya pula!

Akan tetapi dia, tidak peduli dan membalikkan tubuhnya, lalu pergi dari situ.

Dia tahu bahwa pelukis itu mengikutinya, akan tetapi dia pun tidak peduli akan hal ini dan Tek Hoat lalu kembali ke jembatan yang menjadi tempat bermalamnya itu.

Dia melihat kakek pelukis itu terus mengikutinya, akan tetapi dia pura-pura tidak melihat dan dia lalu turun ke bawah jembatan, lalu rebah melingkar lagi di tempatnya semula sebelum dia tertarik oleh percakapan orang di atas jembatan tadi.

"Ha-ha, sungguh tempat yang jauh lebih menyenangkan daripada losmen itu!"

Kata Pouw Toan.

"Wan Tek Hoat Taihiap, bolehkah aku ikut bermalam di sini?"

Kembali Tek Hoat terkejut.

Orang ini bukan saja mengenalnya sebagai Si Jari Maut, bahkan mengetahui she-nya yang sesungguhnya, padahal jarang ada yang tahu akan she Wan itu, kebanyakan hanya tahu bahwa she-nya adalah Ang!

"Ini tempat umum, siapa pun boleh pakai."

Jawabnya singkat, kemudian disambungnya.

"Dari mana kau tahu aku she Wan?"

"Ha-ha, Taihiap, aku tua bangka tak berguna ini mengenal hampir semua tokoh di dunia kang-ouw, maka begitu melihat Taihiap aku pun segera mengenalmu. Aku banyak mendengar tentang dirimu dari sahabatku yang teramat baik, yaitu pendekar sakti Gak Bun Beng dan isterinya, Puteri Milana yang masih terhitung bibimu sendiri, bukan?"

Tek Hoat mengerutkan alisnya.

Dia tidak senang mendengar dirinya dikenal, apalagi dihubungkan dengan orang-orang yang berkedudukan tinggi seperti Milana, biarpun harus diakuinya bahwa Milana adalah puteri Pendekar Super Sakti dan pendekar itu adalah kakek tirinya!

"Sudahlah, aku sendiri sudah lupa siapa diriku, apalagi engkau, seorang lain!"

Setelah berkata demikian, Tek Hoat lalu tidur dan sebentar saja dia sudah pulas.

Diam-diam Pouw Toan menghela napas panjang berkali-kali dan dia merasa kasihan sekali kepada pendekar ini.

Teringat dia akan pertemuannya dengan Puteri Syanti Dewi dan diam-diam dia merasa heran sekali bagaimana seorang puteri cantik seperti bidadari itu dapat begitu mendalam jatuh cinta kepada pendekar yang kini menjadi seperti jembel gila?

Akan tetapi dia pun dapat menduga bahwa mungkin keadaan pendekar ini sampai menjadi begini justeru karena Si Puteri itulah!

Dia tidak tahu dan tidak pernah mendengar akan rahasia yang terjadi di balik hubungan antara pendekar ini dengan Puteri Syanti Dewi, akan tetapi dia teringat akan pesan Sang Puteri untuk menyerahkan lukisan dirinya kepada pendekar ini kalau dia dapat menjumpainya dan kini secara kebetulan sekali dia bertemu dengan pendekar ini!

Lukisan itu masih selalu disimpan di dalam buntalannya dan tadi hampir saja terampas oleh orang jahat kalau tidak muncul Si Jari Maut, yang menyelamatkannya.

Bahkan nyaris dia terbunuh oleh penjahat itu.

Akan tetapi, dia bukan orang bodoh.

Tadi dia sudah dapat melihat bahwa ada seorang jembel terus mengikutinya dan dia dapat menduga bahwa Si Jembel ini tentulah Si Jari Maut, oleh karena itu dia bersikap tenang saja dan menurut saja dibawa keluar kota oleh tiga orang itu.

Andaikata dia tidak yakin bahwa jembel itu tentu pendekar sakti itu, tentu dia tidak mau dibawa keluar kota seperti seekor domba dituntun ke pejagalan begitu saja.

Melihat pendekar itu agaknya telah tertidur, Pouw Toan juga lalu merebahkan diri dan tak lama kemudian dia pun tertidur pulas dan bermimpi indah.

Pouw Toan adalah seorang manusia bebas yang selalu merasa bahagia, dimanapun juga dia berada.

Akan tetapi, begitu pelukis itu pulas, Tek Hoat terbangun dan dia duduk bersila.

Dari bawah jembatan itu kini nampak bulan yang condong ke barat, sinarnya gemilang karena tidak terhalang awan.

Agak jauh dari bulan sepotong itu nampak berkelap-kelipnya bintang dan jauh di timur nampak sebuah bintang terpencil sendirian, sunyi.

Teringat Tek Hoat akan bunyi sajak pelukis yang kini tertidur itu.

Dia masih hafal bunyinya karena amat tertarik.."Batin kosong tanpa isi alam pun sunyi sepi hening diam suci seniman tua asyik sepi sendiri"

Dia menarik napas panjang.

Membaca sajak itu, dia seperti dapat meraba kesunyian itu, keheningan yang maha luas, sebagai pencerminan dari kesepian di hatinya.

Akan tetapi, kalau pelukis itu agaknya menikmati kesunyian yang disebutnya keheningan yang diam dan suci, sebaliknya dia tersiksa oleh kesepian diri, karena kerinduannya yang tak kunjung henti terhadap Syanti Dewi.

Dia kini merasa seperti bintang yang terpencil di timur itu, bintang kecil tersendiri, miskin papa dan hina, seperti dia, tidak cemerlang, hidup sia-sia....

dan dia pun menarik napas panjang lagi.

Kalau saja dia sudah yakin bahwa Syanti Dewi sudah tidak ada lagi di dunia ini, tentu hal itu akan amat meringankan penderitaan hatinya.

Kalau begitu halnya, hanya ada dua pilihan, hidup dengan bebas atau mati.

Akan tetapi dia yakin bahwa pujaan hatinya itu masih hidup, entah di mana!

Dan andaikata dia dapat menjumpainya, dia pun sangsi apakah Syanti Dewi mau sekali lagi mengampunkannya.

Dosanya sudah bertumpuk-tumpuk terhadap Syanti Dewi pujaannya itu.

Apakah dia akan begini terus dan akhirnya seperti pelukis itu, yang menamakan dirinya sendiri seniman tua?

Dia hanya akan menjadi jembel tua kelak!

Hampir setiap orang pernah merasakan kesepian yang amat menyiksa dan menakutkan batin itu.

Rasa kesepian yang mencekam, sungguhpun kita dikelilingi keluarga, harta benda, dan segala milik kita lahir batin.

Rasa kesepian ini kadang-kadang muncul kalau kita melihat betapa sesungguhnya kita ini tidak memiliki apa-apa, betapa kita ini hidup terpisah dari semuanya itu, betapa pada suatu saat kita akan berpisah dari kesemuanya itu, apabila kematian datang menjemput kita.

Rasa kesepian ini, rasa betapa diri ini kosong tanpa isi, tiada arti, mendorong kita untuk mengikatkan diri kepada apapun juga yang kita anggap lebih berharga, lebih tinggi dan karena itu dapat mendatangkan hiburan yang membuat kita terhibur dan senang.

Kita yang merasa betapa diri sendiri ini kosong tak berarti, lalu mengikatkan diri.

Kepada keluarga, kepada kelompok, kepada suku atau agama, kepada kepercayaan, kepada negara, dan sebagainya lagi.

Namun pada hakekatnya, akar daripada pengikatan itu bersumber kepada pelarian diri, diri atau si Aku yang ingin lari daripada kesepian dan kekosongan yang mengerikan itu, si Aku yang ingin terhibur, yang ingin terjamin keamanan dan keselamatannya, si Aku yang selalu ingin dalam keadaan yang menyenangkan.

Karena itulah maka timbul pengukuhan dan jerih payah, daya upaya untuk mempertahankan kepada yang kita pentingkan itu di mana kita mengikatkan diri.

Yang penting lalu keluargaku, bangsaku, agamaku, Tuhanku, kepercayaanku.

Jelaslah bahwa yang penting itu adalah "ku"

Nya.

Peduli apa dengan agama orang lain, karena semua itu tidak ada hubungannya, tidak menyenangkan aku!

Yang penting adalah segala-gala yang menjadi punyaku, yang menjadi kepentinganku.

Kesepian berbeda dengan keheningan!

Kalau kita berada seorang diri, di lereng gunung yang sunyi, atau di tepi laut, atau di mana saja tidak terdapat seorang pun kecuali kita sendiri, kalau kita berada di tempat itu dengan batin kosong, dengan pikiran yang tidak mengoceh, dengan mata dan telinga terbuka, dengan kewaspadaan dan penuh kesadaran, maka akan terasalah adanya keheningan yang menyelubungi seluruh alam termasuk kita sendiri.

Keheningan yang menembus sampai ke lubuk hati dan seluruh lahir batin kita, yang tiada bedanya dengan keheningan yang berada di luar diri, keheningan yang mencakup seluruhnya di mana diri kita termasuk, keheningan yang tidak memisah-misahkan antara kita dengan pohon, dengan burung yang terbang, dengan embun di ujung daun atau rumput, dengan awan berarak di angkasa.

Di dalam keheningan seperti ini tidak terdapat rasa khawatir, tidak terdapat rasa takut, rasa sepi, tiada lagi pikiran yang membanding-bandingkan antara susah dan senang, puas kecewa, hidup mati dan sebagainya.

Akan tetapi, pikiran yang membentuk si Aku ini masuk dan mengacau keheningan dalam diri yang segera memisahkan diri dari keheningan yang menyelimuti seluruh alam, si Aku yang begitu masuk lalu menciptakan keinginan-keinginan.

Ingin terus memiliki dan menikmati keheningan itu tadi.

Ingin terbebas dari semua kesengsaraan!

Ingin ini dan ingin itu dan justeru keinginan inilah yang meniadakan segala-galanya, kecuali menda-tangkan kesenangan sekilas lalu saja, dan akhirnya akan mendatangkan kesepian karena semua kesenangan itu hanya selewatan belaka.

Maka, pikiran yang membentuk si Aku itulah yang menda-tangkan lingkaran setan yang tiada akhirnya!

Keheningan sebelum si Aku masuk adalah keheningan, yang menyeluruh, keheningan di mana tidak terdapat si Aku yang menikmati keheningan itu.

Segala macam suara tidak akan mengganggu karena tercakup di dalam keheningan itu.

Hanya pikiran dengan si Akunya sajalah yang mendorong kita keluar dari keheningan, membuat kita memisahkan diri, mengasingkan diri dalam kurungan nafsu kesenangan lahir batin.

Ada orang yang mengira bahwa keheningan menyeluruh itu dapat dicapai dengan daya upaya dan pengejaran.

Ada yang mengejarnya melalui meditasi, melalui pertapaan, melalui pengasingan diri di tempat-tempat sunyi, di dalam guha-guha atau di puncak-puncak gunung.

Padahal, bukan tempatnya yang penting, bukan caranya yang penting, melainkan kewaspadaan dan kesadaran akan dirinya sendiri.

Karena kebebasan itu baru ada apabila kita bebas, bebas dari segala ikatan apa pun.

Bebas berarti hening.

Tak dapat didayaupayakan, dicari dengan sengaja.

Dalam keadaan terikat, takkan mungkin bebas.

Kalau tidak terikat oleh apa pun, maka tanpa dicari kebebasan pun ada.

Selama masih terikat, oleh sesuatu, berarti masih dikuasai oleh nafsu keinginan, dan dalam keadaan begini, mencari kebebasan tiada artinya karena yang mencari itu adalah nafsu ingin senang, maka dicari-cari dan dikejar-kejar.

Mungkin saja bisa didapatkan apa yang dikejar-kejar, akan tetapi yang didapatkan itu bukanlah yang sejati.

Yang sejati tak dapat dikejar, melainkan akan me-masuki batin yang bebas dan terbuka, karena hanya batin yang terbebas sajalah yang terbuka dan bersih, yang dapat ditembus sinar cinta kasih.

Pada keesokan harinya, ketika Pouw Toan terbangun, dia melihat Si Jari Maut masih duduk bersila di situ.

Girang hati pelukis ini, karena tadinya dia khawatir kalau-kalau orang aneh itu telah pergi sebelum dia terbangun.

Dan memang Tek Hoat menantinya sampai terbangun.

Ada sesuatu yang menarik hati Tek Hoat dalam sajak itu, dan dia ingin bertanya tentang itu kepada si pembuat sajak.

"Selamat pagi, Wan-taihiap."

Kata Pouw Toan.

"Hemm...."

Tek Hoat hanya bergumam saja karena selama bertahun-tahun ini baru sekarang dia mendengar ada orang menyalam selamat pagi padanya.

"Bukan main indah sejuknya pagi ini!"

Pouw Toan bangkit berdiri, mengembangkan dadanya dengan membuka kedua lengannya dan menghirup hawa udara pagi yang masih sunyi itu sebanyaknya.

Mendengar suara yang terdengar amat gembira ini Tek Hoat menoleh dan me-mandang penuh perhatian.

Orang itu memang kelihatan gembira sekali.

Dia merasa heran karena dia tidak melihat sesuatu yang patut untuk membuat orang itu gembira!

Sungguh seorang manusia yang amat aneh!

"Siapakah namamu, Paman?"

Akhirnya dia bertanya.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 4

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert