Eps 8 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.
Dia justru ingin lewat di jalan sepi, karena dia harus tetap waspada terhadap siapa saja, termasuk kepada Au-yang Goanswe dan anak buahnya.
Menurut penuturan Kong-sun Goanswe,-jendral tua itu sangat licik dan berbahaya.
Yo Keng mengambil jalan kecil ke arah barat.
Ia ingin lewat di bagian selatan Propinsi Sian-su, menyusuri daerah perbukitan di sebelah kota Lia-feng dan selanjutnya meneruskan perjalanan menuju kota kecil Leng-fu di tepian Sungai Huang-ho.
Dan jika tidak ada hambatan atau rintangan, dia akan sampai di kota itu menjelang matahari terbenam.
Dan menurut rencana ia akan berjumpa dengan para pengawalnya di sana.
Kuda Yo Keng memang kuda pilihan.
Kuda itu tahan berlari disegala medan.
Selama tiga hari berjalan menuju ke Kotaraja kemarin, Yo Keng hanya sempat memberi istirahat kudanya itu pada malam hari.
Sementara pagi sampai sore terus mereka berjalan tanpa mengenal lelah.
Tiba-tiba kuda tunggangan itu berhenti dan mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi.
Yo Keng mencabut pedangnya.
Kuda itu memberi firasat bahwa ada orang di sekitar tempat itu.
Benar saja.
Dari balik semak pepohonan sekonyong-konyong muncul belasan orang bertopeng menghadang di tengah jalan.
Ketika Yo Keng menoleh, ternyata di belakangnyapun telah berloncatan pula orang-orang yang sama.
Dia telah dikepung dari segala jurusan.
Tanpa bertanya lagi Yo Keng menghentakkan tali kekang kudanya, sehingga kuda itu menerjang ke depan dengan garangnya.
Pedangnya berkelebat melindungi badannya.
"Berhentiiiii...!"
"Traaang...! Traaaang! Traaaaaang!"
Orang-orang bertopeng itu beramai-ramai menyerang Yo Keng yang bertahan di atas pungung kudanya.
Dan pertempuran brutalpun segera berlangsung dengan sengitnya.
Orang-orang berto-peng itu mengeroyok dengan senjata mereka.
Beberapa orang di antara mereka mulai terluka akibat sabetan pedang Yo Keng.
Perwira dari perbatasan itu memang tidak bisa dianggap enteng.
Pengalamannya dalam pertempuran sangat banyak.
Dan tampaknya orang-orang itu han yalan perampok-perampok jalanan.
Mereka berkeliaran akibat situasi keamanan yang buruk.
Kini menghadapi Yo Keng, seorang perwira yang biasa berlaga di medan pertempuran, mereka tidak dapat berbuat banyak.
Walaupun mereka berjumlah banyak, tetapi Yo Keng sendiri hampir tak bisa disentuh.
Di atas punggung kuda yang biasa membawanya dalam setiap pertempuran, Yo Keng benar-benar seperti garuda yang terbang di atas awan.
Sesekali dia menyambar ke kanan dan ke kiri untuk merobohkan mangsanya.
Beberapa saat kemudian para perampok mulai tampak kebingungan.
Kuda perang yang dinaiki Yo Keng itu semakin garang mengobrak-abrik mereka.
Korban mulai berjatuhan, Bukan karena pedang Yo Keng, tapi karena tendangan kaki kuda gila itu.
Akhirnya mereka tak tahan lagi.
Mereka lalu lari berserabutan menyelamatkan diri.
Mereka lari sambil membawa teman-temannya yang terluka.
"Gila! Siang hari bolong begini ada juga perampok berkeliaran! Kurang ajar!"
Begitu musuh-musuhnya hilang, Yo Keng menggeram kesal.
Ketika sampai di sebuah sungai kecil Yo Keng turun dari kuda dan dibiarkannya kudanya itu beristirahat.
Dia sendiri lalu duduk di bawah pohon rindang.
Hembusan angin segar hampir membuatnya terlena, kalau tiba-tiba tidak terdengar suara.
jeritan meminta tolong.
Yo Keng bangkit dengan cepat.
Kudanya juga kaget dan melompat keluar dari da-lam air.
Kemudian Yo Keng bergegas memanjat pohon.
Matanya nyalang mencari asal suara tadi.
Tiba-tibaJ dia melihat serombongan wanita berlarian dikejar oleh belasan lelaki kasar.
Mereka berkejaran di pinggir hutan.
"Gila! Tampaknya ada perampok lagi! Benar-benar rusak negeri ini!"
Yo Keng menggeram marah.
Tanpa memikirkan rasa lelahnya lagi Yo Keng memacu kudanya untuk menolong wanita-wanita itu.
Tapi ketika sampai di pinggir hutan itu, semuanya sudah hilang.
Orang-orang itu tidak keli-hatan lagi.
Bahkan di atas tanah juga tidak ada bekas-bekasnya pula.
"Eh, kemana mereka? Masa mereka bisa menghilang?"
Tapi Yo Keng tidak segera menyerah.
Dia malah menjadi penasaran, sehingga tempat itu justru diaduknya dengan teliti.
Tidak sejengkal tanahpun luput dari pengamatannya.
Dan akhirnya ia dapatkan juga apa yang dia inginkan.
Tepat di tengah-tengah semak belukar, tak jauh dari tempat itu, Yo Keng menemukan sebuah lubang gua.
Tidak begitu besar, tapi manusia dapat masuk dengan mudah.
Dan dari bekas-bekas yang ada, Yo Keng yakin bahwa orang-orang itu benar-benar lewat melalui lubang tersebut.
Setelah mengikat kudanya di tempat yang tersembunyi, Yo Keng nekad masuk ke dalam lubang itu.
Sungguh menakjubkan.
Beberapa saat kemudian ujung terowongan itu menembus ke lereng te-bing curam, di mana di bawahnya mengalir sungai deras.
"Ah, sungai di bawah itu tentu meru-pakan kepanjangan dari sungai tempat aku beristirahat tadi. Tapi... Kemana orang-orang itu tadi? Apa ada jalan setapak ke bawah?"
Ketika Yo Keng melongok ke bawah, di bawah tebing tampak belasan buah tenda didirikan berjajar di tepian sungai.
Puluhan lelaki bertubuh tegap tampak berjalan hilir-mudik di antara tenda-tenda itu.
Sepintas lalu mereka kelihatan seperti kawanan perampok yang membangun sarang di lembah sempit itu.
Tempat itu memang strategis sekali.
Selain tersembunyi, juga sulit dijangkau orang.
Jalan keluarnyapun hampir tidak ada pula.
Bagian samping dibatasi oleh tebing yang tinggi, sementara di bagian depan dan belakang merupakan aliran sungai yang terjal bertingkat-tingkat.
Sehingga satu-satunya jalan hanya dari lubang gua itu.
"Tempat ini memang sangat baik untuk bersembunyi, tapi berbahaya untuk sebuah pasukan. Memang sulit untuk ditemukan, namun mudah diserang dan dihancurkan lawan. Heran, siapakah mereka?"
Yo Keng lalu mencari akal untuk menuruni tebing itu.
Tapi belum juga cara itu dia temukan, telinganya mendengar langkah orang memasuki terowongan itu.
Cepat dia bersembunyi di tempat gelap.
Tujuh orang lelaki lewat di depannya.
Masing-masing membawa perempuan dipundaknya.
Mereka kelihatan tergesa-gesa sehingga tidak memperhatikan keadaan di sekeliling mereka.
Mereka melangkah dengan terburu-buru.
Begitu pula ketika menuruni tebing itu.
Kebetulan lelaki yang paling belakang agak sedikit ketinggalan dari kawan-kawannya.
Dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Yo Keng.
Sekali sodok dengan sarung pedangnya, lelaki itu ro-boh tak berkutik.
Dan perempuan yang ada dalam pelukan orang itu cepat disambarnya serta ditaruh pula di atas pundaknya.
Lalu dengan cekatan orang itu diseretnya ke tempat yang tersembunyi.
Selanjutnya, seperti tak pernah terjadi apa-apa, ia berjalan di belakang rombongan tersebut.
Dia sengaja memperlambat langkahnya.
Kemudian buru-buru menyelinap pergi, begitu rombongan tersebut menginjakkan kaki di bawah tebing.
Yo Keng menyuruk ke dalam semak-semak.
"Hei, mau apa sebenarnya kau? Kenapa kau gantikan orang itu dengan kekerasan? kau... siapa?"
Tiba-tiba terdengar bisikan di belakang Yo Keng. Suaranya kecil. Bukan main kagetnya Yo Keng! Otomatis tubuhnya berbalik, sehingga perempuan di atas pundaknya itu hampir saja terjatuh.
"Sia-siapakah... Kau?"
Mata Yo Keng jelalatan mencari lawannya. Tapi tak seorangpun di sekitarnya.
"Celaka...! Bagaimana kau ini? kau sekarang sedang menggendong aku! Wah, gobloknya!"
Suara itu terdengar kembali, bahkan lebih keras dan berkesan jenaka.
Suaranya berubah besar seperti suara lelaki.
Yo Keng terkejut.
Dan lebih kaget ketika jalan darah tong-tie-hiat di lehernya telah dicengkeram oleh perempuan itu.
"Hei, awas! Jangan dibanting! Nanti suaranya akan terdengar oleh mereka!"
Suara itu lagi-lagi memperingatkan. Yo Keng menggeram. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Orang yang menyamar menjadi wanita itu telah mencengkeram jalan darah kematian di lehernya.
"Si-siapa kau...? Mengapa kau menyamar menjadi perempuan dan membiarkan diri dibawa oleh lelaki kasar itu?"
Yo Keng menggeram dengan suara tertahan.
"Wah, jangan bertanya sekarang! Nanti saja setelah kita benar-benar aman. Kini turunkanlah aku dulu dan jangan banyak bicara!"
Untunglah kedatangan rombongan itu tidak begitu diperhatikan oleh yang lain, sehingga penyusupan Yo Keng berjalan dengan mulus.
Hanya seorang saja di antara ketujuh lelaki tadi yang berteriak mencarinya.
"Hei...? kemana Ogilai tadi? Apakah ia masih di atas?"
"Aaa, sudahlah! Biarkan saja ia berbuat sekehendak hatinya. Paling-paling berada di antara semak-semak itu! Hehehehe!"
Sementara itu di Kotaraja, Au-yang Goanswe sudah mengirimkan pasukan rahasianya untuk mengejar Yo Keng.
Pasukan yang amat terlatih itu menyamar seperti rombongan penduduk biasa.
Mereka bergerak di dalam beberapa kelompok.
Semula mereka bermaksud menghadang Yo Keng di kota Lia-feng.
Namun rencana mereka berubah lagi karena Yo Keng tidak menuju ke kota itu.
Mereka lalu menuju ke kota berikutnya, yaitu kota Leng-fu di tepian Sungai Huang-ho.
Untuk itu mereka membagi rombongan menjadi dua bagian.
Sebagian melewati perbukitan di selatan Lia-feng dan sebagian lagi menerobos terus ke barat melalui Tai-bong-sui, daerah rawa-rawa berbahaya.
Demikianlah, pada saat matahari mulai bergeser turun ke barat, beberapa kelompok di antara pasukan itu telah ti ba di kota Leng-fu.
Mereka segera berkumpul di luar pintu gerbang kota bagian selatan.
Mereka dipimpin oleh Tongkat Bocor Ho Bing, yang kini telah berhasil menjadi orang kepercayaan Au-yang Goanswe.
"Heran! Mengapa Ciang Ciangkun belum juga datang? Dia seharusnya tiba di sini. Jarak yang mereka tempuh lebih pendek daripada kita."
Lelaki bermuka kelimis itu menggerutu, karena Ciang Kwan Sit, pemimpin rombongan mereka, belum juga tiba di tempat itu. Padahal rombongan Ciang Kwan Sit lewat Tai-bong-sui.
"Biarlah kita bersabar sedikit."
Salah seorang di antara temannya yang berkepala gundul mendinginkan hatinya.
"Tapi... Kita tidak mempunyai banyak waktu, Tiat-tou (Kepala Besi)! Sebentar lagi Yo-Ciangkun akan tiba. Kita belum mengatur rencana untuk menghadapinya..."
"Kalau begitu, mengapa tidak kau saja yang menyusun rencana? Bukankah Ciang Ciangkun telah memberi wewenang kepadamu?"
Si Gundul itu menjawab enteng.
"Hei, mengapa aku...?"
Ho Bing berteriak.
"Mengapa...? Hehehee, sudah kukatakan, selain lebih cerdik dan lebih banyak akal, kau sudah diberi wewenang oleh Ciang Ciangkun. Mau apa lagi? Ayolah...!"
"Tapi ilmu silat kalian banyak yang lebih tinggi daripada ilmu silatku."
"Waah... Itu tidak menjadi soal. Sekarang yang penting adalah rencananya, bukan pertempurannya. Ayolah!"
Ho Bing tidak dapat menolak lagi.
Terpaksa dia mengambil alih pimpinan rombongan itu.
Dia lalu membagi rombongan tersebut menjadi tiga kelompok kecil.
Kelompok pertama dipimpin oleh Tiat-tou dan tetap berada di tempat itu.
Kelompok ke dua, dipimpin Siang-kim-eng (Sepasang Elang Emas), menunggu di pintu gerbang kota sebelah timur.
Sedang Ho Bing bersama lima orang sisanya, masuk ke dalam kota.
Mereka bersiap-siap untuk membantu kelompok yang nanti berhadapan dengan Yo Keng.
"Dengan pembagian kelompok seperti ini kita berharap tidak akan kehilangan buruan kita. Kelompok yang menerima kedatangan Yo Keng harus segera memberi tanda kepada yang lain. Bagaimana?"
"Baiklah... Kita semua sependapat. Mari kita berangkat!"
Tiat-tou mewakili teman-temannya.
Demikianlah mereka lalu berpencar bersama kelompok mereka masing-masing Mereka tidak sempat lagi menunggu kedatangan rombongan Ciang Kwan Sit.
Sama sekali mereka tidak menyangka kalau rombongan Ciang Kwan Sit mendapat rintangan di tengah jalan.
Begitu melewati rawa-rawa Tai-bong-sui, rombongan itu bertemu dengan sebagian kecil dari iring-iringan pasukan Raja Mo Tan yang menyusup ke Propinsi Siangsi.
Dan tanpa berbasa-basi lagi pasukan itu mengepung dan menyerang rombongan Ciang Kwan Sit.
Kelompok kecil pasukan Raja Mo Tan yang tidak mengenakan seragam peraju-rit itu dipimpin oleh Sogudai, seorang keturunan Mongol yang mengabdi kepada Raja Mo Tan.
Rombongan itu merupa-kan sebagian dari pasukan besar Raja Mo Tan yang mulai menyusup ke wilayah Tionggoan.
Ternyata berita tentang Pangeran Liu Wan Ti itu telah diketahui pula oleh Raja Mo Tan.
Bahkan raja dari berbagai suku bangsa liar di luar Tembok Besar itu sudah menyusun rencana untuk menyerbu Kerajaan Han.
Demikianlah, selagi Jenderal Au-yang sendiri sibuk dengan rencana pengkhianatannya, Raja Mo Tan justru mulai menabuh genderang perangnya.
Panglima Solinga dengan pasukan besarnya telah berangkat menuju ke benteng Kong-sun Goanswe.
Sedangkan panglima-panglima Raja Mo Tan yang lain, seperti Panglima Yeh Sui dan Huang Yin, berangkat ke timur dan ke selatan.
Mereka berdua diperintahkan untuk memotong bala bantuan yang datang dari Tionggoan.
Dan di dalam rombongan pasukan yang menuju ke timur itulah kelompok pasukan Sogudai berada.
Seperti halnya Panglima Solinga, Panglima Yeh Sui dan Panglima Huang Yin merupakan jago-jago yang handal.
Bahkan seperti halnya Panglima Solinga, mereka berdua juga memiliki kesaktian yang hebat pula.
Perbedaan mereka hanyalah dalam usia.
Panglima Yeh Sui dan Huang Yin adalah jago-jago tua yang berusia lebih dari lima puluh tahun, sementara Panglima Solinga yang anak keturunan suku Mongol itu masih sangat muda.
Di dalam penyamarannya ini Panglima Yeh Sui membawa lima ribu orang perajurit.
Dan untuk mengurangi kesan sebagai sebuah barisan besar ataupun arak-arakan prajurit, Panglima Yeh Sui membagi pasukannya menjadi kelompok-kelompok kecil.
Setiap kelompok terdiri dari empat puluh atau lima puluh orang dan dipimpin oleh seorang pemimpin kelompok.
Mereka sengaja menyamar seperti rakyat biasa, agar perjalanan itu tidak terlalu menarik perhatian orang.
Mereka berjalan berombongan, kelompok demi kelompok, seakan-akan rombongan pengungsi yang melarikan diri dari daerah perbatasan.
Namun di sepanjang jalan pasukan itu banyak membuat kesengsaraan penduduk, apalagi tingkah laku mereka sering tidak terkendali.
Mereka merampas dan menjarah rayah persediaan pangan penduduk, bahkan mereka berlaku kasar terhadap wanita, sehingga acapkali timbul kerusuahan diantara mereka dengan penduduk setempat dan kadangkala kerusuhan yang mereka timbulkan itu berkembang menjadi pertempuran-pertempuran kecil di sepanjangan perjalanan mereka, akibatnya bisa diduga, banyak penduduk yang tidak tahu memegang senjata menjadi korban kebrutalan mereka.
Penduduk desa menganggap pasukan itu sebagai gerombolan pengungsi yang bertindak brutal karena kelaparan, sehingga mereka terpaksa menjadi perampok.
Sama sekali mereka tidak menduga kalau gerombolan itu adalah pasukan asing yang hendak menduduki negeri mereka.
Akhirnya situasi seperti itu mengundang simpati para pendekar di seluruh negeri, tanpa diundang mereka datang dari propinsi kiangsu, siang si, ho pak, san tung dan sekitarnya, mnereka mencoba membantu penduduk mengatasi gerombolan tersebut.
Bahkan beberapa waktu kemudian muncul beberapa kelompok kekuatan yang lebih tersusun rapi dan memiliki pandangan lain terhadap kemelut di daerah itu, mereka terdiri dari kelompok para pendekar yang dianggap mampu memimpin mereka.
Demikianlah belasan orang dari rombongan Ciang Kwaan Sit itu harus menghadapi pasukan Sogudai yang berlipat ganda banyaknya, meskipun demikian karena mereka rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, maka untuk sementara mereka dapat bertahan dengan baik.
Mereka tetap melawan dengan semangat tinggi.
Tapi bagaimanapun juga jumlah mereka terlalu sedikit, satu banding empat dalam sebuah pertempuran tetap merupakan masalah yang serius.
Walaupun mereka rata-rata memiliki ilmu silat yang baik, namun di pihak Sogudai terdapat pula jago-jago gulat yang tangguh.
Bahkan beberapa saat kemudian Sogudai dan dua orang pengawalnya telah menunjukkan keunggulannya.
Beberapa orang anak buah Ciang Kwan Sit terlempar dari arena pertempuran.
Peristiwa itu semakin membesarkan hati anak buah Sogudai.
Mereka lalu mengamuk dan berkelahi seperti serigala haus darah.
Apalagi sebagai suku-suku liar dari padang rumput, mereka memang sangat mahir berkelahi dalam kelompok.
Di daerah mereka, mereka sudah terbiasa bertarung dalam kelompok melawan harimau ataupun kuda-kuda liar.
Dan kini mereka mulai bersikap seperti itu pula.
Mereka berkelahi seperti kawanan serigala yang sedang mengepung binatang mangsanya.
Ciang Kwan Sit menjadi marah.
Di kalangan keprajuritan dia merupakan seorang perwira menengah yang disegani.
Ilmu cambuknya tidak ada duanya di jajaran pasukan rahasia.
Kini melihat anak buahnya terdesak, kemarahannya tak bisa ditahan lagi.
Tangannya segera mengurai cambuk baja yang terbelit d pinggangnya.
Lalu dengan garang ie menghentakkan ujungnya!
"Thaaaaaar!
Taaaaar...!"
Dua orang anak buah Sogudai terjungkal roboh! "Gila! Kubunuh kau...!"
Sogudai menjerit marah. Tubuh Sogudai yang tinggi besar itu meloncat ke atas melampaui kepala anak buahnya. Dari ujung lengan bajunya melesat sebuah belati ke arah Ciang Kwai Sit! "Siiiiiinggg"
Sekali lagi Ciang Kwan Sit menghentakkan cambuknya. Kini ditujukan ke arah datangnya belati.
"Taaaas!"
Ujung cambuknya menghantam badan belati tersebut sehingga arahnya melenceng ke kanan. (Lanjut ke
Jilid 21) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 21 Selanjutnya kedua orang itu berhadapan muka seperti ayam aduan.
Dan tampaknya mereka tak ingin saling berbicara lagi, karena kemudian senjata mereka ternyata lebih bersemangat daripada mulut mereka.
Ciang Kwan Sit tetap memegang cambuk, sementara tangan Sogudai telah memegang belati besar sepanjang siku tangannya.
Belati itu bersinar biru karena tajamnya.
Dan di tangan Sogudai benda itu benar-benar mengerikan.
Mereka segera terlibat dalam pertempuran yang sengit.
Sogudai yang kasar dan kuat itu berkelahi dengan liar dan ganas...
Belati besarnya melayang-layang mengejar lawan.
Sementara Ciang Kwan Sit menghadapinya dengan tenang, namun penuh dengan perhitungan.
Dia sama sekali tidak melayani kegarangan Sogudai.
Dia lebih banyak menghindar dan menjauhi lawannya.
Bahkan untuk menahan desakan Sogudai, ia sering melecutkan ujung cambuknya keras-keras.
Beberapa kaii senjata mereka beradu di.
udara.
Dan dengan sifatnya masing-masing, kedua senjata itu berusaha untuk menekan lawannya.
Ciang Kwan Sit dengan cambuknya yang lemas dan pan-jang itu selalu mencoba memotong dan menahan gerakan lawan.
Sementara Sogudai dengan belati besarnya, tetap merangsak ke depan dengan kekuatan besarnya.
Keduanya memang bukan orang sem-barangan.
Seperti halnya keturunan suku Mongol lainnya, Sogudai memiliki tubuh yang kokoh dan kuat.
Ditambah dengan ilmu silatnya yang tinggi, maka kekuatannya semakin menjadi dahsyat sekali.
Sebaliknya Ciang Kwan Sit juga mempunyai ilmu silat yang hebat pula.
Di kalangan Pasukan Rahasia ilmu cambuknya sangat terkenal.
Rekan sepasukannya, mendiang Su Hiat Hong dan Lim Kok Liang, amat segan terhadap ilmu cambuknya.
Begitulah, semakin lama pertempuran mereka menjadi semakin seru.
Demikian sengitnya, sehingga masing-masing tidak ada waktu lagi untuk melihat sekelilingnya.
Mereka tidak sempat pula melihat anak buah mereka.
Apalagi arena pertempuran semakin menebar ke segala penjuru.
Bahkan sebagian dari mereka kembali memasuki rawa-rawa.
Tapi jumlah mereka memang tidak seimbang.
Pasukan Sogudai berlipat lebih banyak, sehingga dengan menebarnya arena itu semakin membuat pasukan Ciang Kwan Sit terpecah-belah.
Akhirnya setiap prajurit Ciang Kwan Sit harus melawan enam atau tujuh orang lawan.
Akibatnya bisa diduga.
Satu persatu mereka mati terbunuh.
"Lihat! Teman-temanmu sudah mati semua! Mengapa kau tidak menyerah saja?"
Sogudai berseru gembira melihat lawannya tinggal Ciang Kwan Sit seorang. Ciang Kwan Sit menggerakkan giginya.
"Bangsat! Dari mana kau menda-patkan pasukan sedemikian banyaknya, heh? kau tentu bukan gerombolan perampok biasa! Anak buahmu amat terlatih dalam pertempuran! Jangan-jangan kau mau memberontak, ya?"
"Gerombolan perampok? Kurang ajar...! kau kira kami siapa, heh? Jangankan cuma kau dan kawan-kawanmu itu, bala tentara dari negerimupun takkan mampu melawan pasukan kami, hohohehe!"
"Hei, kalian...? Jadi kalian ini... pasukan asing?"
Ciang Kwan Sit tersentak kaget, sehingga pertahanannya m sedikit mengendor.
Akibatnya belati Sogudai menyerempet bahunya.
Membuat bahu itu tergores dalam dan hampir memutuskan uratnya.
Darah mengucur membasahi pakaian Ciang Kwan Sit.
Dan lengan itu terasa lemas dan sulit digerakkan.
"Gila! kau benar-benar gila!"
Ciang Kwan Sit mengumpat.
Tapi Sogudai tidak meladeni sumpah serapah Ciang Kwan Sit.
Melihat lawannya terluka, sepak-terjangnya justru semakin ganas.
Matanya melotot penuh hawa pembunuhan, membuat Ciang Kwan Sit semakin turun semangat tempurnya.
"Aduuuuh...!"
Sekali lagi Ciang Kwan Sit menjerit ketika belati besar itu menghunjam lengannya. Otomatis cambuknya terlepas dari pegangan.
"Mati kau sekarang...!"
Sogudai bersorak kegirangan. Belatinya menyambar ke arah tenggorokan.
"Traaaaang!"
Tiba-tiba belati besar itu terlempar ke udara!
Sebutir kerikil menghantam badan belati tersebut!
Namun pada saat terakhir ujung belati itu masih sempat menyayat leher Ciang Kwan Sit!
Perwira itu terjungkal pingsan dengan darah mengalir dari luka barunya!
"Aaaah!"
Sogudai juga menggeram kesakitan.
Dengan muka merah padam Sogudai melihat ke sekelilingnya, mencari orang yang telah mengganggu perkelahiannya.
Dan di tepi rawa, di atas sebuah cabang pohon, dilihatnya seorang lelaki setengah baya tertawa ke arahnya.
Sogudai tidak segera mengenalnya.
Tetapi suara tertawa itu cepat mengingatkannya kembali kepada musuh bebuyutannya selama ini, Bun-bu Siucai (Si Pelajar Serba Bisa) Liu Wan.
Dan seperti halnya lima tahun lalu, pemuda itu masih juga menyamar sebagai tabib keliling.
Bahkan pakaian dan buntalan obatnya juga masih memakai yang dulu pula.
"Sogudai! kau masih ingat kepadaku?"
Pemuda itu menyapa dan sama sekali tidak peduli pada kawan-kawan Sogudai yang mengepung di bawah pohonnya.
"Bun-bu Siucai!"
Sogudai berdesah dengan suara gemetar.
"Hahaha"
Sogudai...
ternyata dugaanku selama ini memang benar.
Kedatanganmu ke Tionggoan dulu adalah untuk mencari jalan bagi pasukan Raja Mo Tan.
Kini saat untuk menyerbu tampaknya sudah tiba.
kau benar-benar dikirim bersama pasukan perangmu menyeberangi Tembok Besar!"
Pemuda yang tidak lain adalah Liu Wan itu berseru dari atas. pohon.
"Bunuh dia...!"
Sogudai berteriak marah.
Belasan anak panah melesat menuju ke tempat Liu Wan berada.
Namun dengan cepat pemuda itu melompat ke cabang yang lain, kemudian berjumpalitan ke bawah, sehingga anak panah itu gagal memburunya.
Begitu berdiri di atas tanah, Liu Wan tidak segera melayani Sogudai dan anak buahnya.
Sebaliknya dengan tenang pemuda itu menghampiri tubuh Ciang Kwan Sit dan memeriksa luka-lukanya.
Baru setelah yakin Ciang Kwan Sit masih hidup, dia berdiri menghadapi lawannya.
"Sekarangpun belum terlambat! Katakan kepada Rajamu, bahwa kami telah mencium maksudnya! Katakan pula, bahwa bangsa Han tidak akan membiarkan tanah ini diinjak oleh orang seperti dia! Para pendekar telah besatu, menyusun kekuatan untuk menghadapi serbuannya. Lihatlah...! Pasukan para pendekar telah siap bertempur denganmu!"
Kata Liu Wan berapi-api. Telunjuknya menuding ke tengah rawa, di mana puluhan kepala tersembul di antara semak dan alang-alang.
"Gila! Sejak dulu kau selalu merintangi jalanku!"
Liu Wan tertawa panjang.
"Sudah kukatakan dari dulu, bahwa aku paling tidak suka melihat orang asing menginjak-injak dan merusak negeriku!"
"Bagus! Tampaknya kau memang telah menunggu kedatangan kami. Nah, mari kita selesaikan saja secepatnya! Prajurit, cepat lepaskan panah berapi! Kita undang pasukan yang lain ke tempat ini!"
Liu Wan terkejut.
Otomatis otaknya bekerja.
Kalau Sogudai benar-benar mengundang bantuan, berarti kekuatan mereka akan bertambah.
Dan bila jumlah bantuan itu sama banyaknya dengan jumlah kekuatan Sogudai sekarang, berarti para pendekar persilatan yang dibawanya takkan menang melawan mereka.
Liu Wan cepat memanggil tiga orang kawannya yang bersembunyi di dalam semak di pinggir rawa.
Salah seorang di antara mereka berbadan kecil, namun.
lengannya tampak lebih panjang dari ukurannya.
Orang itu berjalan seperti kera.
Tapi ketika sebuah anak panah melesat ke arahnya, tiba-tiba tubuhnya melenting ke udara dengan gesitnya.
Dan di lain saat anak panah itu telah berada dalam cengkeraman jarinya.
"Si Pencuri Sakti Ang Jit Kun!"
Sogudai yang sudah terbiasa berkeliaran di Tionggoan itu segera mengenali orang berbadan kecil itu.
"Ang-heng, pilihlah lima orang berkepandaian tinggi di antara teman-teman kita! Bawalah mereka ke belakang untuk menjaga jalan ke dalam rawa! Kita tidak tahu persis, berapa jumlah musuh yang akan tiba nanti. Kita harus siap untuk mundur bila diperlukan!"
Liu Wan berbisik kepada Ang Jit Kun.
"Baik, Ciok-heng!"
Pencuri Sakti itu lalu berkelebat cepat memasuki rawa-rawa kembali. Gerakannya cepat bukan main.
"Ciok-heng! Apa yang harus kami kerjakan?"
Dua orang yang datang bersama Ang Jit Kun tadi bertanya kepada Liu Wan.
"Saudara Un dan saudara Lo, kita bertiga tetap di sini. Kita pimpin rekan-rekan kita menghadapi mereka! Tapi ingat...! Kita harus tetap menjaga, agar kawan-kawan kita tidak keluar dari garis pertempuran! Kita tidak boleh menerobos ke dalam lingkungan musuh! Kita harus tetap berada dalam satu baris tempur."
Un Kao dan Lo Su Ti, dua pendekar yang tampaknya merupakan pembantu utama Liu Wan, menganggukkan kepala.
"Baik, kami tahu maksud Ciok-heng. Kita harus segera bisa menyelamatkan diri kalau terdesak. Tetapi, sebelum bala bantuan mereka datang, kita harus secepatnya mengurangi jumlah mereka. Siapa tahu bala bantuan mereka tidak banyak, sehingga kita bisa menumpasnya? Begitu bukan?"
Liu Wan mengangkat ibu jarinya.
"Bagus! Jiwi memang berpandangan tajam! Marilah! Mereka sudah tidak sabar lagi!"
Demikianlah pertempuran tak bisa dielakkan lagi.
Masing-masing berusaha membunuh lawan sebanyak-banyaknya.
Anak buah Sogudai menyerang dengan ganas dan penuh semangat, sementara para pendekar yang dipimpin oleh Liu Wanpun melayani mereka dengan penuh semangat pula.
Meski secara perorangan para pendekar itu memiliki kepandaian lebih tinggi, tapi dalam pertempuran besar mereka tetap harus waspada dan dapat menempatkan diri dalam kelompoknya.
Sekejap saja dia terlepas dari kelompoknya dan terjebak dalam kepungan lawan, maka akan sangat sulit untuk meloloskan djri.
Betapapun lihai ilmu silat seorang perajurit, namun siasat dan cara bertempur tetap diperlukan dalam setiap arena.
Walaupun demikian kemampuan perorangan juga tak bisa diabaikan.
Seorang jago silat tetap lebih berbahaya daripada prajurit biasa.
Tanpa senjatapun mereka masih lebih berbahaya daripada prajurit bersenjata.
Korban mulai berjatuhan, sehingga jumlah mereka semakin berkurang pula.
Tempat yang licin berlumut itu kini mulai tampak kemerahan.
Sogudai yang sedang berhadapan dengan Liu Wan juga mulai gelisah pula.
Bantuan belum datang, sementara anak buahnya banyak yang telah menjadi korban.
Tapi wajah itu segera berseri kembali ketika tiba-tiba terdengar sorak-sorai mendatangi.
Benar juga, dari balik pepohonan tiba-tiba muncul belasan orang bersenjata yang segera menceburkan diri ke dalam pertempuran.
Datangnya bala bantuan yang tidak kecil itu membuat perubahan kekuatan di arena.
Pasukan Sogudai yang tadi terdesak, kini berbalik mendesak lawan.
Apalagi bala bantuan yang datang masih tetap bermunculan tiada putusnya.
Mereka langsung menggempur pasukan pimpinan Liu Wan.
Liu Wan cepat memberi isyarat kepada Un Kao dan Lo Su Ti.
Perlahan-lahan mereka mundur sambil membawa teman mereka yang terluka.
Ang Jit Kun bersama lima orang kawannya segera menebar membuka jalan.
Karena mereka memang tak pernah meninggalkan jalan masuk ke dalam rawa, maka pasukan para pendekar itu dengan mudah dapat meloloskan diri.
Pasukan Sogudai yang tidak tahu keganasan rawa itu mencoba mengejar mereka.
Namun beberapa orang "di antara mereka segera tenggelam-ke dalam lumpur.
"Jangan masuk ke dalam rawa! Hujani mereka dengan panah!"
Sogudai berteriak.
Berpuluh-puluh anak panah meluncur mengejar para pendekar itu.
Tapi sudah terlambat.
Selain gerakan para pendekar itu sangat cepat, kondisi rawa-rawa itu benar-benar sangat membantu mereka Sebentar saja mereka telah lenyap ke dalam rimbunnya semak belukar.
Dan di lain saat rombongan para pendekar itu telah menaiki sampan masing-masing dan pergi dari tempat itu.
Sogudai berteriak marah.
Musuh lama yang telah berada dalam genggaman, ternyata lepas begitu saja.
* * * Sementara itu Liu Wan membawa kawan-kawannya ke kota Lau-ying, sebuah kota kecil di sebelah utara Tai-bong-sui.
Mereka langsung menuju ke markas darurat mereka, di sebuah kuil kosong di luar kota.
Kedatangan mereka disambut oleh kawan-kawan mereka yang lain.
"Ciok-heng, kita mendapat tamu dari kota Ling-fu. Sekarang ia berada di dalam bersama kawan-kawan."
Seorang lelaki bersenjata golok memberi laporan.
Liu Wan mengangguk.
Setelah mengatur dan menugaskan beberapa orang kawannya untuk mengurusi yang luka, Liu Wan mengajak si Pencuri Sakti Ang Jit Kun ke dalam untuk menemui tamunya.
"Ahh...?"
Liu Wan berdesah ketika melihat tamunya. Tapi rasa kaget itu cepat disembunyikannya. Dia sedang menyamar sebagai Tabib Ciok sekarang.
"Selamat bertemu, Ciok Sinshe! Perkenalkan... aku yang rendah bernama Tan Sin Lun, dari Aliran Im-yang-kauw. Mungkin Sinshe masih ingat padaku, karena aku pernah datang mengunjungi pondokmu di kota Hang-ciu lima tahun lalu..."
Tamu itu memperkenalkan diri.
"Ah, tentu saja... tan Siau-heng. Meskipun sudah tua ingatanku masih tetap baik. Hemm, apakah sumoimu yang hilang itu sudah kau temukan?"
Liu Wan tetap berusaha bersikap wajar, walaupun hatinya tetap berdebar-debar.
Bagaimanapun juga ia harus berhati-hati, sebab sebagai Liu Wan maupun sebagai Tabib Ciok ia sama-sama telah mengenal Tan Sin Lun.
Ia harus pandai membawakan perannya.
Tan Sin Lun menghela napas panjang.
"Belum. Malah aku juga kehilangan kakaknya pula. Dan sampai sekarang... Kedua sumoiku itu tak pernah kembali."
Mereka lalu duduk di ruangan tengah. Sebelum menanyakan maksud kedatangan tamunya, Liu Wan memperkenalkan kawan-kawannya. Setelah itu baru dia menanyakan keperluan Tan Sin Lun.
"Ciok Sinshe, rasanya kita semua sudah tahu bahwa suku bangsa Hun bermaksud mencaplok negeri kita. Bertahun-tahun mereka mempersiapkan diri. Dan tampaknya niat itu benar-benar mereka laksanakan sekarang. Mereka melintasi Tembok Besar secara diam-diam!."Liu Wan tidak segera menyahut. Dia tetap berdiam diri menunggu habisnya ucapan Tan Sin Lun.
"Tapi... gerakan mereka tetap saja tercium oleh para pendekar persilatan. Banyak tokoh-tokoh persilatan yang datang ke daerah ini. Semuanya ingin menghadapi para penyerbu itu. Dan kami dengar... ciok Sinshe berhasil mempersatukan para pendekar itu."
Tan Sin Lun melanjutkan kata-katanya.
"Ah, hanya sebagian kecil saja. Di kota-kota lain juga banyak perkumpulan-perkumpulan seperti ini."
Liu Wan merendah.
"Benar, Ciok Sinshe. Di kota Leng-fu, kami juga mendirikan perkumpulan seperti ini. Kami memberi nama Pek-lian-eng (Pendekar Teratai Putih)."
Tan Sin Lun melanjutkan kata-katanya.
"Ya, kami juga sudah mendengarnya, Tan-heng. Bahkan kami pernah bertemu pimpinannya, Huang-ho Siang-kiam Ma Sing."
Tan Sin Lun tersenyum gembira.
"Nah, Ciok Sinshe... Kedatanganku ke sini justru atas perintah Ma Susiok itu. Beliau mengharapkan bantuan Ciok Sinshe."
"Bantuan? Bantuan apa?"
Liu Wan mengerutkan keningnya.
"Tan Siau-hiap...! Selain memimpin Pek-lian-eng, Ma Taihiap adalah ketua cabang Aliran Im-yang-kauw di bagian utara. Ilmu silat Ma Taihiap jauh lebih tinggi di atas kami. Lalu... bantuan apa lagi yang dapat kami berikan kepadanya?"
Ang Jit Kun ikut berbicara. Tan Sin Lun memperbaiki letak duduknya, kemudian merogoh saku dan mengeluarkan segulung kain putih selebar saputangan.
"Ciok Sinshe...! Sekarang Pangeran Liu Wan Ti berada di dalam benteng Kong-sun Goanswe. Di mana Pangeran Liu mencoba mengajak para pendekar untuk memerangi Raja Mo Tan. Beliau mulai mengumpulkan orang-orang yang betul-betul dapat dipercaya untuk mewujudkan maksudnya itu. Dan kebetulan Ma Susiok terpilih sebagai salah seorang yang mendapat kepercayaan tersebut. Sekarang Ma Susiok juga mulai mengumpulkan kawan-kawan pula. Nah, salah seorang yang sangat dipercaya oleh Ma Susiok adalah... ciok Sinshe! Dan kedatangan kami ke mari untuk menyerahkan undangan. dari Ma Susiok kepada Ciok Sinshe. Silakan diterima...!"
Liu Wan menerima kain yang disodorkan Tan Sin Lun dan membacanya.
Isinya antara lain mengajak Ciok Sinshe dan kelompoknya untuk bergabung dengan barisan Pangeran Liu.
Dan dalam waktu dekat Pangeran Liu ingin merundingkan cara mewujudkan rencana mereka.
Selesai membaca Liu Wan meminta pendapat rekan-rekannya.
Terutama kepada si Pencuri Sakti Ang Jit Kun.
"Kalau memang benar demikian maksud Pangeran Liu, maka tidak ada masalahnya kita bergabung dengan mereka. Semakin besar dan terarah, maka kekuatan kita akan semakin kokoh pula. Rasanya Pangeran Liu memang Cbcok untuk memimpin kita."
"Baiklah, Tan-heng. Rasanya kami juga tidak keberatan untuk bergabung. Katakan kepada Ma Taihiap, bahwa kami semua siap bergabung dengan Pangeran Liu!"
Akhirnya Liu Wan menjawab. Tan Sin Lun bangkit dan merangkapkan kedua tangannya.
"Terima kasih, Ciok Sinshe. Ma Susiok tentu akan senang sekali mendengarnya."
Matahari mulai terbenam.
Mereka makan minum sekedarnya.
Ketika akhirnya Tan Sin Lun meminta diri, maka matahari benar-benar sudah tenggelam.
Sebelum berangkat pemuda itu masih sempat bercerita pula tentang utusan Kong-sun Goanswe yang telah sebulan lamanya belum kembali.
Utusan itu bernama Yo Keng, seorang perwira, diutus ke Kotaraja untuk menghadap Menteri Kui Hua Sin.
"Utusan itu belum juga kembali?"
Liu Wan mengerutkan dahinya.
"Ah, mungkin dia mendapat kesulitan di Kotaraja..."
"Tampaknya memang demikian. Semua orang memang harus berhati-hati di Kotaraja. Kata orang suasana di sana sudah tidak sehat lagi. Ibu Suri dalam keadaan sakit, sementara keluarga Kaisar yang lain juga tidak ada yang dapat diharapkan lagi. Bahkan para pejabat kera-jaan juga tidak ada yang peduli pula. Mereka saling mencari kepuasannya sendiri."
"Benar. Oleh karena itu dengan munculnya Pangeran Liu Wan Ti, rasanya kita semua harus bergembira..."
Ang Jit Kun berkata pelan. Setelah Tan Sin Lun pergi, Liu Wan memanggil si Pencuri Sakti Ang Jit Kun.
"Saudara Ang, tampaknya situasi semakin gawat. Aku akan pergi dalam beberapa hari. Tolong kau pimpin kawan-kawan kita. Apabila saat bulan purnama aku belum datang, bawalah kawan-ka-kawan kita ke rawa Tai-bong-sui. Para pendekar akan mengadakan pertemuan di tempat itu. Mereka akan merundingkan jalan yang hendak kita tempuh bersama. Aku akan pergi ke Kotaraja untuk melihat keadaan. Siapa tahu aku mendapatkan sesuatu yang penting bagi perjuangan kita."
"Ciok Sinshe akan berangkat malam ini juga?"
Ang Jit Kun bertanya kaget.
"Benar. Situasi sudah semakin gawat. Pasukan asing sudah masuk ke negeri kita, sementara di Kotaraja malah saling cakar-cakaran sendiri. Kita harus segera berbuat sesuatu."
"Ciok Sinshe hendak berbuat apa...?"
Ang Jit Kun berdesah tak mengerti.
Tapi Liu Wan tak menjawab.
Selesai membenahi bekalnya ia segera berangkat meninggalkan tempat itu.
Dia berkuda ke arah timur.
Dua hari kemudian Liu Wan sudah melewati kota An-yang.
Ia terkejut ketika berjumpa dengan barisan prajurit dari Kotaraja.
Demikian panjang barisan itu sehingga Liu Wan terpaksa menyelinap ke dalam hutan dan kebun untuk menghindari mereka.
"Ah! Tampaknya Au-yang Goanswe sudah mencium juga kedatangan pasukan Mo Tan. Pasukan ini sangat lengkap dan dipersiapkan untuk perang yang panjang."
Hampir setengah hari barisan prajurit itu baru habis.
Liu Wan menyeka debu dan keringat yang mengotori wajahnya.
Sambil meneruskan perjalanan ia sibuk berpikir.
Dua atau tiga hari lagi perang besar akan berkecamuk di sepanjang aliran Sungai Huang-ho.
Dan perang itu akan membuat penderitaan dan kesengsaraan rakyat kecil.
Malam itu Liu Wan menginap di kota An-sing, sebuah kota kecil di sebelah tenggara An-yang.
Walaupun kecil tapi kota itu sangat ramai.
Anak Sungai Huang-ho di bagian selatan kota, memberi banyak kesuburan pada sawah ladang, sehingga daerah itu tampak lebih makmur daripada daerah sekitarnya.
Tapi barisan prajurit yang lewat di kota itu telah meresahkan hati mereka.
Bagaimanapun juga perang tidak pernah mereka sukai.
"Maaf, Tuan... Meja ini sudah dipesan orang. Sebentar lagi mereka datang. Kalau Tuan ingin makan, Tuan dapat pergi ke rumah makan sebelah. Di sana masih banyak tempat kosong..."
Pelayan mem-beri tahu ketika Liu Wan bermaksud duduk di ruangan makan penginapan itu. Liu Wan menarik napas kecewa. Tapi ketika hendak berbalik, seorang lelaki berseru kepadanya.
"Ciok-heng, marilah kita duduk bersama...! Masih ada kursi kosong di mejaku!"
Liu Wan menoleh.
Dilihatnya seorang lelaki tua berpakaian sederhana duduk di dekat jendela.
Ketika Liu Wan memperhatikan, dia segera mengingatnya.
Orang itu adalah Ui Tiam Lok, kepala kampung Ui-thian-cung di Hang-ciu.
Orang tua itu duduk bersama dua orang putera-nya, Ui Kong Tee dan Ui Kong Lam, yang pandai bermain barongsai itu.
Sebagai penduduk yang pernah tinggal satu kota tentu saja mereka mengenal satu sama lain.
"Ah, apakah aku yang sudah tua ini bertemu dengan keluarga Ui dari Ui-thian-cung...?"
Liu Wan menyapa ramah.
Ui Tiam Lok berdiri sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada.
Begitu pula dengan kedua puteranya.
Mereka saling memberi hormat.
Liu Wan menerima undangan mereka.
Mereka lalu saling menanyakan kabar dan pengalaman masing-masing.
Dan akhirnya mereka juga saling menanyakan keperluan masing-masing di tempat itu.
"Ciok Sinshe...! kau tentu masih ingat peristiwa lima tahun yang lalu, bukan? Pada waktu itu muncul beberapa tokoh aneh di dunia persilatan, yang memperkenalkan diri sebagai utusan dari Pondok Pelangi. Kepandaian mereka begitu tinggi, sehingga tokoh-tokoh besar seperti Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan Keh-sim Thai-hiap Kwe Tiong Lipun tidak mampu menandingi mereka. Bahkan keduanya ditaklukkan dengan mudah, Iflernudian dibawa pergi entah ke mana. Dan sampai sekarang mereka berdua belum kembali. Usaha kaum persilatan untuk mencari mereka juga tidak pernah berhasil. Tidak seorangpun tahu, di mana Pondok Pelangi itu berada."
Ui Tiam Lok bercerita perlahan.
Liu Wan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Matanya menerawang jauh keluar jendela.
Peristiwa di dunia persilatan pada lima tahun lalu memang tidak dapat dilupakan begitu saja.
Terutama bagi dirinya sendiri.
Banyak peristiwa mengesankan yang tidak mungkin bisa dia lupakan, Kedatangan anak-anak Raja Mo Tan yang memiliki kesaktian seperti iblis di daerah Tionggoan.
Kemudian lenyapnya Tio Ciu In, gadis yang baru saja dikenalnya, namun telah mampu mengusik hatinya.
Dan yang terakhir adalah munculnya beberapa orang tokoh Pondok Pelangi yang sempat membikin geger dunia persilatan.
Lima tahun telah berlalu, namun semua peristiwa itu seperti masih terbayang di pelupuk mata.
"Yaaah, tentu saja aku masih ingat, Ui-heng. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan peristiwa itu? Ilmu silat yang telah kupelajari selama puluhan tahun ini ternyata tidak berarti apa-apa diban-dingkan ilmu silat mereka. Cuma dengan tiga jurus, orang-orang dari Pondok Pelangi itu telah mengalahkan aku. Aku benar-benar kecewa dan malu sekali pada waktu itu."
Ui Tiam Lok tersenyum arif. Usianya yang sudah mencapai tujuh puluh lima tahun itu membuatnya matang luar dalam.
"Ciok-heng, kau tak perlu merasa malu dan patah semangat. Tidak hanya kAu-yang mengalami hal itu..."
"Yah, tapi... rasanya mengganjal juga di dalam hati. Apalagi mereka datang dan pergi begitu saja, seolah-olah tidak ada seorang manusiapun di Tionggoan ini yang mampu mengusik mereka. Rasa-rasanya kita ini seperti anak-anak yang tak bisa berbuat apa-apa. Benar-hjwajp sebuah mimpi buruk dalam kehidupan kita..."
Pelayan yang mengusir Liu Wan tadi datang membawa makanan yang mereka pesan.
Dengan sikap sopan dan ramah pelayan itu menaruh makanan di atas meja.
Gerakannya sangat cekatan.
Bebe-rapa kali tangan itu menyambar dan meletakkan mangkok kuah ke atas meja.
Dan yang sangat mengherankan, kuah yang ada di dalam mangkok itu sama sekali tidak bergetar, apalagi memercara sembarangan pula.
Tak seorang.
pun melihat keanehan itu.
Liu Wan juga baru menyadari ketika pelayan tersebut sudah meninggalkan mereka.
"Eh...???"
"Ciok-heng, ada apa?"
Ui Tiam Lok bagai tersengat lebah. Liu Wan memandang kembali mangkok kuah di depannya. Tak ada getaran. Tak ada percikan.
"Ah, tidak apa-apa...Ui-heng. Aku hanya sedikit terkejut. Rasa-rasanya pernah melihat pelayan itu. Tapi aku lupa di mana?"
Liu Wan cepat mengalihkan pembicaraan.
Dia tak ingin dianggap terlalu berprasangka dan curiga.
Sambil makan mereka lalu berbicara lagi.
Ui Tiam Lok bercerita tentang beberapa kejadian yang menimpa keluarganya, yang akhirnya membuat dia keluar dari kampungnya.
"Ciok-heng... dalam satu bulan ini beberapa orang nelayanku telah empat kali melihat orang-orang misterius itu. Mereka naik sampan kecil terbuat dari tulang-tulang ikan paus."
"Orang-orang dari Pondok Pelangi...?"
Ui Tiam Lok mengangguk.
"Aku sudah memberitahukan hal itu kepada tokoh-tokoh persilatan yang kukenal, agar mereka bersiap-siap menghadapi kedatangan mereka. Siapa tahu mereka ingin menculik beberapa orang di antara kita lagi?"
Liu Wan menghela napas panjang.
"Perang besar akan segera meletus. Pasukan Raja Mo Tan telah menyeberangi Tembok Besar. Tapi, dunia persilatan justru bergolak sendiri..."
"Ciok-heng, kau benar... tampaknya perang besar memang segera meletus. Aku juga sudah melihatnya. Bahkan pasukan yang dikirim dari Kotaraja sudah melewati kota ini pula."
"Tapi bukan itu yang kuprihatinkan. Sebenarnya kita dapat mengusir musuh bila bersatu. Baik prajurit, rakyat, maupun para pendekar persilatan. Tapi tampaknya Mo Tan memang tahu kelemahan kita. Sudah beberapa tahun ini rakyat hidup dalam kerusuhan dan ketidak-adilan. Di Istanapun para pejabat saling berebut pengaruh. Kini para pendekar juga diteror pula oleh kemunculan orang-orang Pondok Pelangi. Nah... Lengkap sudah!"
"Oh...?!"
Ui Tiam Lok seakan-akan baru terjaga dari tidurnya.
"Benar! Jangan-jangan semua itu memang berkaitan satu sama lain. Nah, Ciok-heng! Apa yang sebaiknya kita lakukan?"
Mata Liu Wan berkilat-kilat.
"Tentu saja yang terpenting adalah... Mempersatukan semua kekuatan kita! Mereka harus kita galang menjadi satu kekuatan untuk menghadapi pasukan Mo Tan!"
Ui Tiam Lok tersenyum.
"Ya, tapi... bagaimana caranya?"
Liu Wan melirik ke sekitarnya. Setelah yakin tak seorangpun memperhatikan mereka, ia berbisik perlahan.
"Mudah. Kita harus dapat mencari seorang pemimpin yang benar-benar mam pu menguasai semua kekuatan itu. Seorang pemimpin yang sangat disegani dan dihormati oleh kekuatan kita itu!"
"Siapa...?"
Ui Tiam Lok menatap tajam. Sekali lagi Liu Wan mengedarkan pandangannya.
"Ada dua tokoh! Mereka adalah... pangeran Liu yang kun dan bekas Panglima Besar Yap Kim! Menurut pendapatku hanya mereka berdua yang mampu mempersatukan kekuatan itu!"
Mata Ui Tiam Lok yang sudah berkeriput itu terbelalak. Namun sinar kegembiraan tampak di dalamnya.
"Benar, Ciok-heng. Aku sependapat denganmu. Tapi rasanya... Hanya tokoh ke dua saja yang bisa diharapkan. Itupun harus ada yang dapat membebaskan dia dari Benteng Langit."
"Bagaimana dengan Pangeran Liu yang kun...?"
Ui Thian Lok menggelengkan kepalanya.
"Aku tak yakin beliau masih hidup. Dua puluh tahun bukanlah waktu yang pendek. Kalau masih hidup, tidak mungkin dia melupakan keluarganya."
"Bukankah isteri dan anak-anaknya telah mati semua?"
"Ya, tapi masih ada adik-adiknya. Bukankah mereka juga keluarganya?"
Liu Wan menghela napas dalam sekali. Wajahnya yang tertutup kumis dan jenggot palsu itu tampak gelap.
"Kau benar. Memang akulah yang terlalu berharap."
Akhirnya Liu Wan bergumam seperti ditujukan kepada dirinya sendiri. Ui Tiam Lok memandang tamunya.
"Maaf, Ciok-heng. Bukannya aku merendahkan nama Pangeran Liu yang kun, tetapi kita memang tidak mungkin mengharapkannya lagi. Kita harus berpijak pada kenyataan. Dan kenyataannya, Pangeran Liu yang kun sudah tidak mungkin diharapkan lagi. Kini tinggal Panglima Besar Yap Kim saja yang dapat kita harapkan. Sayang sekali... beliau terkurung dalam penjara. Apa daya kita...?"
Wajah Liu Wan yang tertutup cambang itu tiba-tiba menjadi cerah kembali.
"Ui-heng, aku punya rencana...!"
"Rencana...? Rencana apa?"
"Ah, nanti saja! Belum saatnya dikatakan..."
Liu Wan tidak meneruskan ucapannya, karena pelayan yang menghidangkan kuah tadi datang kembali.
Dan Liu Wan baru menyadari, betapa gagahnya pelayan itu.
Tubuhnya tinggi dan besar.
Raut mukanya yang keras dan penuh keyakinan itu membuat usianya kelihatan lebih dewasa.
Penampilannya sama sekali tidak sesuai dengan seragam kacungnya.
"Maaf, Tuan. Tuan Muda yang duduk di pojok ruangan itu ingin mengundang cuwi semua. Apakah cuwi bersedia...?"
Liu Wan dan Ui Tiam Lok melihat ke pojok ruangan.
Mereka melihat seorang Pemuda berpakaian pelajar duduk sendirian di mejanya.
Bajunya yang longgar berwarna putih, sementara topinya berwarna hitam seperti rambutnya.
Kumis tipis menempel di atas bibirnya, membuat pemuda itu kelihatan ganteng sekali.
Liu Wan saling pandang dengan Ui Tiam Lok.
Masing-masing mengangkat pundaknya.
Keduanya tidak mengenal pemuda itu.
"Siapa dia? Mengapa dia mengundang kami?"
"Tuan Muda itu mengaku saudara Pangeran Liu yang kun dari Istana kaisar.
"Apakah cuwi belum mengenalnya?"
Tidak hanya Liu Wan yang kaget mendengar jawaban itu, tapi-juga Ui Tiam Lok beserta putera-puteranya.
Bagaimana tidak?
Mereka baru saja berbicara tentang Pangeran Liu yang kun, kini tiba-tiba saja ada orang yang mengaku sebagai saudara pangeran itu.
Liu Wan dan Ui Tiam Lok berembug sebentar.
"Baiklah, kami tidak berkeberatan."
Mereka lalu berdiri mengikuti pelayan itu. Pemuda ganteng itu menyambut kedatangan mereka.
"Oh, terima kasih atas kesediaan cuwi memenuhi undanganku. Perkenalkanlah, aku bernama Souw Hong Lam. Silakan duduk...!"
Mereka lalu saling memperkenalkan diri. Meskipun demikian Liu Wan dan Ui Tiam Lok tetap berhati-hati.
"Maaf...! siauwte telah berani mengganggu ketenangan cuwi berempat. cuwi tentu merasa kaget, curiga dan bingung. Kita memang belum pernah saling mengenal sebelumnya. Tapi, apa boleh buat... tidak ada cara lain. siauwte ingin sekali berbicara tentang orang-orang Pondok Pelangi itu dengan cuwi berempat. Kudengar cuwi baru saja bercerita tentang mereka."
Souw Hong Lam berkata panjang lebar.
Liu Wan maupun Ui Tiam Lok terkejut.
Jarak antara meja mereka dengan meja pemuda itu sangat jauh, bahkan di selingi oleh beberapa meja yang pemuh tamu pula.
Bagaimana pemuda itu dapat mendengarkan percakapan mereka?
Liu Wan saling pandang dengan Ui Tiam Lok.
Mereka semakin berhati-hati.
Kalau memang benar apa yang diucapkan pemuda itu, berarti pemuda itu memiliki tenaga dalam yang hebat.
"Maaf, Souw-heng. Kata pelayan rumah makan ini, kau masih memiliki hubungan keluarga dengan Pangeran Liu yang kun. Hmm, benarkah...?"
Liu Wan bertanya hati-hati.
Pemuda itu tertawa.
Dan Liu Wan harus mengakui bahwa pemuda itu benar-benar tampan sekali.
Giginya tersusun rapi, sementara bibirnya yang tertutup kumis tipis itu merekah seperti bibir wanita.
"Ah! Kalau mau dianggap masih keluarga, yah... bisa saja, karena salah seorang keluargaku adalah menantu Kaisar Liu Pang. Tapi kalau hal itu dianggap bukan keluarga, yaaa... Memang bukan apa-apa!"
Liu Wan tersentak. Putera Kaisar Liu Pang yang sudah menikah hanya Pangeran Liu yang kun. Dan kedua isteri pangeran itu adalah Souw Lian Cu dan Han Tui Lan.
"Salah seorang isteri Pangeran Liu yang kun adalah puteri pendekar Souw Thian Hai. Apakah saudara dari keluarga pendekar ternama itu?"
Liu Wan bertanya kaget.
"Benar. Tapi aku tidak berani mengaku terlalu dekat dengan mereka. Aku hanya keluarga jauh. Namun demikian kepergianku ini juga untuk mencari Pendekar Souw Thian Hai. Kata orang dia di culik utusan dari Pondok Pelangi. Nah, apakah jiwi Lo-Cianpwe tahu letak Pondok Pelangi itu?"
Ui Tiam Lok menelan ludah. Sambil bergeser di tempat duduknya, ia berkata pelan.
"Souw-heng...! Kami memang baru saja membicarakan orang-orang dari Pondok Pelangi itu. Aku mengatakan kepada Ciok Sinshe ini, bahwa beberapa orang nelayan di kampungku telah melihat lagi kedatangan mereka di Laut Utara. Tapi para nelayan itu tidak ada yang tahu dari mana mereka datang..."
"Laut Utara...? Oh! Apakah mereka datang dari seberang lautan? Bukan dari daratan kita ini?"
Souw Hong Lam ber gumam.
"Dugaan Tuan memang benar..."
Tiba-tiba pelayan muda itu datang lagi membawa botol arak pesanan Souw Hong Lam.
Bibirnya tersenyum kepada Souw Hong Lam.
Tentu saja ucapan pelayan itu sangat mengejutkan mereka.
Bahkan Liu Wan yang sudah bercuriga sejak tadi sampai melongo mendengarnya.
Tapi pelayan muda itu dengan tenang melanjutkan kata-katanya.
"Maaf. Bukan maksudku untuk mencampuri pembicaraan Tuan. Tapi, orang-orang dari Pondok Pelangi itu memang bertempat tinggal jauh di seberang lautan sana. siauwte pernah berkunjung ke tempat itu. Pada musim panas begini, tempat tinggal mereka memang sangat indah. Tapi pada musim dingin, seluruh tanah mereka diselimuti oleh salju. Bahkan permukaan laut di sekitar tanah merekapun dilapisi oleh es pula. Liu Wan cepat berdiri sambil merangkapkan tangannya.
"Maaf, bolehkah kami tahunama jfewidara? Sejak tadi aku memang tidak percaya bahwa saudara adalah seorang pelayan biasa."
"Wah, Sinshe salah duga. siauwte memang seorang pelayan. Sudah lima hari siauwte bekerja di sini. siauwte bernama A Liong. Dan siauwte memang berasal dari Lautan Es itu..."
Tiba-tiba tangan Souw Hong Lam menyambar ke depan, ke arah pergelangan tangan A Liong.
Gerakannya cepat bukan main, sehingga mata Liu Wan hampir tidak bisa mengikutinya.
Tapi A Liong sekarang bukanlah ALiong lima tahun lalu.
Gerak tangannya ternyata jauh lebih cepat daripada gerakan Souw Hong Lam!
Bagaikan main sulap, lengan pemuda itu tiba-tiba lenyap dari tempatnya.
Dan tangan Souw Hong Lam hanya mampu meraup asap tipis yang tiba-tiba mengepul di tempat lengan A Liong tadi berada.
Asap itu segera buyar tertiup angin, meninggalkan bau amis menyentak hidung.
"Gila...!"
Liu Wan mengumpat di dalam hati.
"Pelayan ini jelas lihai sekali! Jikalau aku yang mendapat serangan itu, aku tidak mungkin bisa mengelakkannya. Paling-paling aku hanya bisa mengadu tenaga!"
Ternyata Souw Hong Lam sendiri juga tidak kalah kagetnya. Dia tidak meneruskan gerakannya. Matanya yang jernih dan tajam itu menatap lawan lekat-lekat.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyerang, Saudara. Aku hanya ingin mengetahui, siapakah. saudara ini sebenarnya..."
A Liong tersenyum.
"Ah, tidak apa-apa. siauwte hanya bergurau pula. siauwte ingat, waktu masih kecil dahulu sering bermain "tangkap tangan"
Dengan teman-temanku. Melihat gerakan tangan Tuan tadi, otomatis tanganku menghindar."
"Tapi... asap itu?"
Liu Wan menyela. Lagi-lagi A Liong tersenyum.
"Ah, bukankah asap itu keluar dari arak yang kubawa? Arak itu baru saja dipanaskan!"
"Tapi baunya amis sekali..."
A Liong tidak menjawab. Dia cepat membungkukkan badan dan melangkah mundur untuk kembali ke tempatnya.
"Tunggu...!"
Souw Hong Lam berseru.
Tapi A Liong tetap melangkah ke dalam, sehingga Souw Hong Lam terpaksa bangkit dan mengejarnya.
Liu Wan dan keluarga Ui mengikut di belakangnya.
Namun mereka tidak menemukan A Liong.
Pelayan lainnya mengatakan bahwa A Liong baru saja keluar untuk membeli daging.
Tampaknya Souw Hong Lam tidak mau kehilangan.
Setelah membayar semua makanan, ia berlari keluar.
Liu Wan dan keluarga Ui tidak mau ketinggalan pula.
Mereka berlari-lari kecil di jalan raya.
"Ah! cepat sekali dia menghilangi Padahal kita hanya terlambat beberapa langkah saja di belakangnya...!"
Souw Hong Lam bersungut-sungut.
Mereka berdiri di perempatan jalan.
Ui Tiam Lok tiba-tiba menunjuk ke sebuah kereta yang berjalan lambat dari arah selatan.
Dua orang petugas keamanan tampak berdiri di atas kereta, sementara beberapa petugas lain membunyikan tambur untuk menarik perhatian orang.
Dua petugas itu meneriakkan sebuah seruan tentang hadiah bagi siapa saja yang dapat menemukan Pangeran Liu Wan Ti.
"Eh, katanya Pangeran Liu berada di Benteng Kong-sun Goanswe. Mengapa para petugas itu meneriakkan pengumuman itu? Apakah berita itu belum didengar oleh pemerintah?"
Ui Tiam Lok berbisik. Souw Hong Lam menoleh. Dahinya berkerut.
"Apa...? Pangeran Mahkota itu masih hidup?"
Liu Wan mengangkat pundaknya.
"Berita yang terdengar memang begitu. Malah kabarnya beliau sekarang sedang mengumpulkan kekuatan untuk melawan Raja Mo Tan di benteng Kong-sun Goanswe."
"Lhoh? Mo Tan menyerang Tionggoan?"
Lagi-lagi Souw Hong Lam berseru tak percaya.
"Wah, Siau-ya benar-benar ketinggalan jaman!"
Entah dari mana datangnya tiba-tiba A Liong telah berada di belakang mereka.
"Kau...???"
Semuanya berdesah kaget.
"Oh, maaf! siauwte telah mengagetkan cuwi sekalian! siauwte dari pasar untuk membeli daging, tapi ternyata sudah habis. Jadi, siauwte terpaksa... eh, mengapa cuwi berada di sini? Bukankah cuwi sedang minum arak?"
A Liong pura-pura terkejut. Souw Hong Lam menelan ludah.
"Maaf, kami memang mencari Saudara. Kami bersungguh-sungguh tentang Pondok Pelangi itu sehingga kami menginginkan beberapa keterangan lagi dari Saudara."
"Oh, ya-ya...! Tapi sekarang siauwte sedang sibuk. Bagaimana kalau kita bertemu saja di kuil San-hong-bio besok pagi?"
"Baiklah, Saudara... a Liong. Kami akan menunggu di depan Kuil San-hong-bio besok pagi."
Liu Wan mengiyakan ketika dilihatnya Souw Hong Lam tidak segera menjawab.
Entah mengapa, tapi pelayan itu benar-benar menarik perhatian Liu Wan.
Ada sesuatu yang disembunyikan oleh pemuda gagah itu.
Sikapnya sangat aneh.
Sama anehnya dengan Souw Hong Lam, yang juga baru dikenalnya itu.
Diam-diam Liu Wan ingin tahu, siapa sebenarnya mereka itu.
Demikianlah hari berikutnya mereka bertemu di halaman San-hong-bio.
Liu Wan te"ap dalam penyamaran sebagai Tabib Ciok, sementara A Liong tidak berpakaian seperti pelayan lagi.
Pemuda itu datang dengan pakaian longgar berwarna biru tua.
Di atas pungungnya terikat sebuah bungkusan kain.
"Maaf, hari ini siauwte akan pergi ke suatu tempat, sehingga tak dapat menemani cuwi terlalu lama. Kita langsung saja berbicara tentang Pondok Pelangi itu..."
Begitu datang A Liong berkata lantang. Souw Hong Lam maju ke depan.
"Aku sependapat denganmu, saudara A Liong! Aku juga tidak ingin berbelit-belit. Kedatanganku ke mari adalah untuk mengajakmu pergi ke Pondok Pelangi."
"Ke Pondok Pelangi? Mau apa Siau-ya ke sana?"
A Liong kaget.
"Saudara A Liong! Jangan panggil aku... siau-ya! kau bukan seorang pelayan lagi! Panggil saja aku Hong Lam! Dan aku memanggilmu A Liong! Kita tak perlu berbasa-basi."
"Baiklah...!"
Tak terduga A Liong mengiyakan.
"Nah, A Liong... aku ingin mencari Souw Thian Hai! Dia masih keluargaku. Kata orang dia bersama isterinya dibawa oleh utusan dari Pondok Pelangi lima tahun lalu."
"Souw Thian Hai dan isterinya? Dia bertubuh tinggi besar berambut putih? Dan usianya kira-kira sama dengan...Ui Lo-Cianpwe ini?"
Mendadak A Liong berteriak gembira.
"A Liong! Apa maksudmu?"
Cepat bagai kilat A Liong menyambar lengan Souw Hong Lam.
Dan pemuda ganteng itu mengelak.
Tapi sia-sia.
Jari tangan A Liong yang kokoh kuat itu lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.
Souw Hong Lam berontak.
Asap tipis berwarna kemerahan tiba-tiba mengepul di atas topinya.
Dan kekuatan yang maha besar segera menghentakkan tangannya dari cengkeraman A Liong.
Demikian besar kekuatan tersebut, sehingga getaran anginnya dapat dirasakan oleh Liu Wan maupun Ui Tiam Lok.
A Liong melepaskan tangannya.
Bibirnya tersenyum.
"Bagus! kau memang dari keluarga Souw. Ketahuilah, Souw Taihiap memang berada di Pondok Pelangi selama lima tahun ini. Tapi beliau sudah kembali ke Tionggoan sebulan lalu."
"Benarkah...?"
Souw Hong Lam berseru gembira.
"Lalu ke manakah mereka sekarang?"
A Liong mengangkat pundaknya.
"Entahlah, aku tidak tahu. Aku cuma berjumpa saja di perjalanan. Mungkin dia langsung kembali ke kampungnya..."
"Ke rumahnya? Ah, tidak! Aku baru saja dari sana! Eh... Mengapa kau tahu benar keadaannya? Apakah kau dari... pondok Pelangi juga?"
Tiba-tiba mata Souw Hong Lam terbelalak. A Liong kembali tersenyum.
"Benar, aku memang datang dari daerah itu. Walaupun bukan dari Pondok Pelangi."
Liu Wan dan Ui Tiam Lok terkejut.
Otomatis mereka bersiaga.
Namun dengan tenang A Liong menerangkan bahwa dia bukanlah orang Pondok Pelangi.
Seperti halnya pendekar Souw dan iste-rinya, dia juga seorang pendatang pula di tempat itu.
"Ah, tampaknya misteri tentang orang-orang dari Pondok Pelangi akan segera terkuak..."
Tak terasa Liu Wan berdesah perlahan.
"Wah, kalau begitu... orang yang dilihat oleh para nelayan itu tidak lain adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Bahkan kemungkinan juga malah... saudara A Liong ini."
Ui Tiam Lok tiba-tiba berseru. A Liong tertawa.
"Mungkin juga, Ui Lo-Cianpwe. Sebab banyak juga nelayan, yang kutemui di perjalanan. Rata-rata mereka merasa aneh melihat perahuku yang terbuat dari tulang-tulang ikan paus."
"A Liong, menurut pendapatmu ke "Mana kira-kira tujuan pendekar Souw Thian Hai?"
Souw Hong Lam mendesak. A Liong tidak menjawab. Pemuda itu memang tidak tahu arah dan tujuan Souw Thian Hai beserta isterinya. Tiba-tiba Ui Tiam Lok memegang tangan Souw Hong Lam.
"Souw-heng, rasanya saudara A Liong ini memang benar-benar tidak tahu! Tapi Souw-heng juga tidak perlu khawatir! Pendekar Souw sangat terkenal di dunia persilatan. Semua orang tahu dia. Maka kedatangannya kali ini tentu tidak akan lepas dari perhatian banyak orang. Sebaiknya kita berangkat ke Tai-bong-sui saja. Tempat itu akan menjadi ajang pertemuan para pendekar persilatan. Aku yakin kita akan mendapatkan keterangan dari sana. Bagaimana...?"
"Bagus, Ui Lo-Cianpwe! Pendapat Loci-anpwe benar sekali. Di sana akan berkumpul para pendekar dari segala penjuru. Siapa tahu ada salah seorang yang pernah melihat Souw-Taihiap? Kebetulan sekali aku juga hendak ke sana pula."
A Liong bersorak gembira.
Demikianlah, dua hari kemudian para pendekar persilatan yang berdiam di sekitar aliran Sungai Huang-ho, berkumpul di tengah rawa Tai-bong-sui.
Mereka datang secara rahasia.
Dan undangan hanya diberikan kepada orang yang sudah dikenal dan dipercaya.
Namun demikian tamu yang datang ternyata lebih banyak dari yang diperkirakan.
Mereka berkumpul di sebuah pulau gundul di tengah rawa.
Tempat itu sangat cocok sekali untuk berkumpul.
Selain tempatnya lapang, kebetulan pula air di sekitarnya amat lebar dan dalam.
Ketika rombongan Liu Wan datang, tempat itu telah ramai sekali.
Ada rombongan dari Pek-lian-eng, Sin-hou-pang, Kong-sim-pang, Liong-gi-eng dan banyak pendekar lainnya.
Rata-rata mereka datang dari daerah sekitar aliran Sungai Huang-ho.
Termasuk pula perkumpulan para pendekar yang didirikan oleh Liu Wan.
Mereka dipimpin si Pencuri Sakti Ang Jit Kun.
Sebagai Tuan rumah adalah Perkumpulan Pek-lian-eng, karena mereka pula yang mendapat kepercayaan dari Pangeran Liu Wan Ti.
Maka tidak mengherankan bila anggota mereka banyak yang tersebar di sekeliling arena itu.
Mereka mengawasi dan meneliti semua undangan yang datang.
Mereka juga meronda dengan sampan-sampan kecil di rawa-rawa itu.
Mereka juga menyiapkan petugas-petugas rahasia di tempat-tempat tersembunyi, seperti di semak-semak, pepo-, honan dan sebagainya.
Bahkan beberapa orang di antaranya ada juga yang berbaur dengan tamu-tamu yang datang.
Liu Wan dan rombongannya segera bergabung dengan rombongan si Pencuri Sakti Ang Jit Kun.
Setelah saling berkenalan, Liu Wan bertanya tentang Souw Thian Hai.
"Ah! Benarkah pendekar itu sudah muncul lagi? Wah, kalau begitu benar juga ucapan Huang-ho Siang-kiam. Dia tadi mengatakan bahwa salah seorang anak buahnya telah melihat suami-isteri Souw Thian Hai menyeberangi Sungai Huang-ho di kota Liang-an."
"Di kota Liang-an...?"
Souw Hong Lam bergumam lirih. Liang-an adalah kota kecil di Propinsi San-tung. Sebuah kota pelabuhan sungai yang cukup ramai, sehingga penduduknya cukup padat dan sibuk.
"Jangan khawatir, Souw-heng! Nanti kubantu mencarinya. Kebetulan aku juga hendak ke San-tung setelah pertemuan ini."
Liu Wan berkata pelan.
"Ah, aku tak berani merepotkan Lo-Cianpwe..."
Ketika bulan purnama menyibak kabut yang menggenang di tengah rawa itu, Huang-ho Siang-kiam Ma Sing tampil di tengah arena.
Ketua Cabang lm-yang-kauw bagian utara itu diapit oleh orang murid utamanya.
Meskipun usianya telah mencapai enam puluh lima tahun, namun orang tua itu masih tampak gesit dan lincah.
Setelah mengucapkan rasa terima kasih dan selamat datang kepada tamu-tamunya, Ma Sing lalu menjelaskan maksud dan arti daripada pertemuan itu.
Maksudnya yang utama adalah membentuk wadah bersama dalam menanggulangi kekuatan Raja Mo Tan.
"Wadah ini akan membuat kekuatan kita menjadi satu kesatuan yang kokoh kuat. Di dalam satu wadah dan satu perintah, kekuatan kita tidak akan terpecah-belah. Aku telah berbicara dengan Pangeran Liu Wan Ti. Beliau setuju dengan niat tersebut, tapi beliau tidak ingin terlalu turut campur. Sebagai pangeran mahkota beliau tidak ingin terjun langsung dalam gerakan seperti ini. Beliau khawatir hal itu akan berbuntut jelek di kemudian hari. Beliau tidak ingin ada yang menyalah-tafsirkan keterlibatannya itu. Siapa tahu ada yang berprasangka jelek dan menuduhnya yang bukan-bukan. Karena mengumpulkan kekuatan besar di kalangan rakyat dapat dianggap sebagai pemberontak yang hendak merongrong kekuatan kaisar."
Ma Sing berhenti untuk mengambil napas. Kemudian lanjutnya dengan kata-kata yang tegas dan berwibawa.
"Tapi saya harap saudara jangan salah sangka. Ucapanku ini bukan lalu berarti bahwa aku... Ingin menggantikannya menjadi ketua. Sama sekali aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya ingin seluruh kekuatan di ini. Tentang ketuanya, sila-pilih saja yang lain!"
Semuanya menyambut baik gagasan Ma Sing itu. Tapi banyak juga yang memprotes karena Ma Sing tidak bersedia menjadi ketua. Bahkan sebagian dari mereka justru ingin memilihnya.
"Sekali lagi aku mohon maaf. Keputusanku tidak dapat diubah lagi. Di sini banyak tokoh yang lebih patut menyandang kedudukan itu. Biarlah aku yang tua ini berdiri sebagai penopangnya saja."
Ma Sing menegaskan lagi.
"Wah, aku tidak setuju!"
Ang Jit Kun tiba-tiba berseru. Ang Jit Kun berkata sambil berdiri, sehingga semua orang dapat melihat dia.
"Perkumpulan kita berdiri di atas keadilan bagi seluruh anggotanya. Tidak ada yang diistimewakan ataupun dibedakan dari yang lain. Ma-Taihiap juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita semua. Bukankah demikian, saudara-saudara?"
Ang Jit Kun melanjutkan lagi.
Semuanya bertepuk tangan.
Mereka sependapat dengan ucapan si Pencuri Sakti Ang Jit Kun.
Akibatnya Ma Sing tidak dapat menghindar atau menolak lagi.
Namun demikian Ma Sing tetap berkeberatan bila menjadi calon tunggal.
Dia ingin agar semua ketua perkumpulan yang hadir dicalonkan pula untuk dipilih.
"Hahaha, baiklah... Kami juga tidak keberatan. Tapi bagaimanapun juga kami sudah sepakat untuk memilih Ma-Taihiap. Hahahahahaha...!"
Ang-bin Kuai-jin, Ketua Perkumpulan Sin-hou-pang menanggapi permintaan itu dengan tertawa menggelegar.
"Yah, benar...! Sebenarnya kita tak perlu lagi mengadakan pemilihan. Namun Huang-ho Siang-kiam sudah lebih dari cukup bagi kita semua."
Gobi Sam-ci dari Kong-sim-pang berseru pula dari tempat duduknya.
Anak buahnya segera bertepuk tangan tanda setuju.
Ketua rombongan Liong-gi-eng bangkit dari tempat duduknya.
Pendekar bertubuh tinggi besar bercambang lebat itu tampak lebih menyeramkan dengan kulitnya berbercak-bercak putih bekas luka bakar.
"Ayolah, kita tidak usah bertele-tele lagi! Kita mulai saja pemilihan ketua ini! Nah, Ma-Taihiap... cara manakah yang paling sesuai kita pergunakan?"
Pendekar yang dijuluki orang Harimau Putih atau Pek Hou itu berteriak lantang.
Belum juga pertanyaan itu dijawab oleh Ma Sing, tiba-tiba sesosok bayangan kecil meloncat ke tengah arena.
Gerakannya lincah dan cepat luar biasa, seperti belalang yang melenting dari pucuk-pucuk ilalang.
Sekejap saja bayangan itu telah berdiri tegak di tengah arena.
Semua tamu yang hadir segera membelalakkan matanya.
Bayangan yang bergerak lincah seperti belalang itu ternyata seorang perempuan muda, berkulit hi-tam-legam bak pantat kuali.
Begitu hi-tamnya, sehingga wajah itu tak dapat dilihat dengan jelas dalam keremangan malam.
Di bawah redupnya sinar rembulan hanya bola matanya saja yang kelihatan.
"Nanti dulu, rasanya kurang adil kalau calon yang dipilih hanya dari kalangan lelaki. Seharusnya kaum wanitapun diberi hak untuk dipilih pula. Bukankah di sini juga banyak pendekar wanita yang hadir?"
Perempuan muda itu berseru nyaring.
"Selain daripada itu, acara dalam pertemuan ini rasanya juga terlalu tergesa-gesa! Eh, maaf...! Aku tidak bermaksud mengacau atau mau membikin onar pertemuan ini. Tapi ketika dibuka tadi, Ma-Taihiap belum berembug dengan kita semua tentang pembentukan wadah perkumpulan itu. Kita langsung saja berbicara tentang siapa ketuanya. Seharusnya kita bicarakan dulu niat tersebut dengan para tamu yang datang. Maksudku... apakah tidak perlu ditanyakan dulu pendapat para pendekar yang hadir di sini? Yah, siapa tahu, mungkin ada yang kurang setuju, atau... Mungkin justru mempunyai pendapat yang berbeda?"
Semua tertegun.
Ucapan wanita berkulit hitam itu seperti dentang lonceng di tengah malam.
Mengejutkan, tapi juga menyadarkan hati dan pikiran mereka.
Mereka mengakui kebenaran ucapan itu, walaupun terasa kurang enak di dalam hati.
"Wanita itu memiliki tenaga dalam yang tinggi!"
Souw Hong Lam bergumam perlahan.
"Ya, benar! Tapi... rasanya kulit itu bukanlah kulit aslinya."
Liu Wan menganggukkan kepalanya.
"Maksud Sinshe...?"
Ang Jit Kun tertegun.
"Tampaknya wanita muda itu berusaha untuk menyamar..."
"He, benarkah?"
A Liong berdesah pendek. Wanita berkulit hitam itu bertepuk tangan.
"Nah, bagaimana dengan pendapat cuwi semua?"
"Benar! Benar! Ucapan Lihiap memang benar!"
Entah darimana datangnya, tiba-tiba serombongan lelaki kasar telah berdiri di pinggir arena.
Mereka berseru dan bertepuk tangan menanggapi ucapan wanita tersebut.
Terdengan suara menggerutu di sana-sini.
Apa yang dikatakan perempuan itu memang mengandung kebenaran, namun karena ucapan tersebut keluar dari mulut seorang perempuan muda, maka rasanya menjadi kurang menyenangkan bagi para pendekar.
Ma Sing berdiri seraya mengangkat kedua tangannya.
"Baiklah! Ucapan Lihiap memang benar. Kami memang terlalu tergesa-gesa. Maafkanlah...! Nah, saudara-saudara...! Adakah di antara saudara yang mempunyai pendapat lebih baik?"
Tak ada yang menyahut, semuanya diam. Namun sebaliknya, mereka bersorak dan bertepuk tangan gembira tatkala Ma Sing menawarkan pembentukkan sebuah wadah perkumpulan bagi kegiatan mereka.
"Nah, Lihiap... tampaknya semua orang memang menginginkan perkumpulan itu. Kalau begitu tinggal melaksanakan usul Lihiap yang kedua tadi, calon dari kalangan pendekar wanita! Nah, kira-kira... siapakah pendekar wanita yang pantas dicalonkan dalam pertemuan ini? Mungkin... Lihiap sendiri?"
"Yayaya, kami setuju! Biarlah Lihiap itu yang mewakili kaumnya! Hehehehe-he...!"
Rombongan lelaki kasar tadi kembali berteriak-teriak dan bertepuk tangan. Akhirnya Liu Wan bangkit pula dari duduknya. Dengan hati-hati ia berkata kepada perempuan berkulit hitam itu.
"Lihiap maafkanlah kami! Rasanya kami belum pernah melihat Lihiap, atau mendengar nama Lihiap di dunia persilatan. Selain daripada itu kami juga merasa heran, bagaimana Lihiap dapat hadir dalam pertemuan rahasia ini. Apakah Lihiap mewakili Gurumu, atau mewakili ketua perkumpulanmu?"
Perempuan muda itu membalikkan tubuhnya. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Liu Wan. Dan matanya yang bulat lebar itu menatap Liu Wan dengan tajamnya.
"Oh, tampaknya Lo-Cianpwe menaruh curiga kepadaku! Baiklah, namaku... tiau Hek Hoa! Aku mewakili Ketua Aliran Beng-kauw."
"Thuuuuuuuuoooot...!"
Tiba-tiba terdengar suara kentut keras sekali.
Sekejap pertemuan itu menjadi gaduh.
Banyak yang tertawa,.
tapi ada pula yang menggeram dan mengumpat-umpat.
Perempuan itu kelihatan mendongkol pula, biarpun dia telah berusaha meredamnya.
Bagaimanapun juga dia tak ingin memancing keributan, yang akibatnya akan menyulitkan dirinya sendiri.
"Tampaknya ada yang tidak menyukai kehadiranku..."
Katanya perlahan sambil menarik napas panjang.
Tak seorangpun menjawab keluhan itu.
Orang yang kentutpun ternyata juga tidak mau keluar untuk memperlihatkan diri.
Sekali lagi perempuan itu menghela napas panjang, lalu kembali meng-hadapi Liu Wan.
Sebaliknya Liu Wan justru sedang berusaha memeras otaknya.
Ternyata setelah berhadapan langsung dengan perempuan itu, Liu Wan seperti pernah melihat wajahnya.
Namun dia lupa siapa dan di mana.
"Nah, Lo-Cianpwe... aku sudah mengatakan asal-usulku. Apakah Lo-Cianpwe masih mencurigaiku? Apakah kedatangaku ini tidak diinginkan."
Tiau Hek Hoa bertanya dengan suara bergetar.
"Ah, jadi Lihiap mewakili Aliran Beng-kauw yang besar itu? Wah! Tapi rasanva... Kami tidak mengundang Aliran Bengkau."
Liu Wan tidak menjawab secara langsung. Perempuan itu terdiam, tapi sesaat kemudian bibirnya yang hitam kebiruan itu berkata pula.
"Memang! Aku tidak mempunyai undangan! Namun demikian sebagai orang Han, aku juga berhak untuk ikut mempertahankan tanah ini. Apalagi sejak dulu Aliran Beng-kauw selalu berjuang untuk menegakkan keadilan di negeri ini. Nah, apakah kedatanganku tidak diterima?" (Lanjut ke
Jilid 22) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 22 tentu saja kami terima dengan senang hati. Siapapun akan bergembira menerima kunjungan tokoh Beng kau. Bukankah demikian, Ma-Taihiap?"
Liu Wan menyahut dengan nada yang semakin berhati-hati.
"Benar, Ciok Sinshe."
Ma Sing yang dapat merasakan keraguan sahabatnya itu mengangguk sambil mengedipkan matanya.
"Terima kasih! Emm, tapi... aku tidak melihat kehadiran Pangeran Liu Wan di tempat ini. Apakah Beliau tidak datang?"
Tiau Hek Hoa merangkapkan kedua tangannya.
"Tentu saja tidak, Lihiap. Perkumpulan ini merupakan keinginan kami sendiri dan tidak melibatkan Pangeran Liu..."
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing menjawab dengan berhati-hati pula.
"He, Ma-Taihiap!"
Tiba-tiba terdengar teriakan Pek Hou.
"Kapan pemilihan akan dimulai? Sudah hampir pagi, nih!"
Terdengar suara tertawa di sana-sini. Ma Sing kembali mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Baiklah. Pemilihan akan kita mulai. Supaya bisa adil maka setiap perkumpulan hanya memilih satu suara. Demikian pula dengan kelompok saudara-saudara kita yang mencalonkan Taihiap tadi. Sehingga akan ada enam suara yang berhak memilih nanti. Nah, sekarang... silakan setiap perkumpulan mengirimkan wakilnya ke depan!"
Enam orang maju ke depan.
Mereka adalah wakil dari Pek-lian-eng, Sin-hou-pang, Kong-sim-pang, Liong-gi-eng, Bu-lim-eng dan kelompok lelaki kasar tadi.
Ma Sing lalu menancapkan lima batang kayu di tengah-tengah arena.
Setiap kayu diberi tulisan nama para calon ketua yang hendak mereka pilih.
"Nah, saudara berenam! saudara tentu telah mendapatkan pesan dari kelompok saudara. Sekarang pilihlah batang kayu yang sudah diberi nama para calon ketua itu! Dan pemenangnya adalah calon yang paling banyak pemilihnya! Dia berhak diangkat menjadi ketua perkumpulan kita!"
Enam orang itu bergegas memilih kayu yang diinginkan.
Ternyata hampir semuanya memilih kayu bertuliskan nama Ma Sing!
Hanya seorang yang memegang kayu bertuliskan Tiau Hek Hoa, yaitu wakil dari rombongan lelaki kasar tadi.
Semuanya bersorak gembira.
Ma Sing tidak bisa menolak lagi.
Ketua Pek-lian-eng itu kini resmi menjadi Ketua Perkumpulan Pendekar di sepanjang Sungai Huang-ho!
"Sekarang kita rayakan penobatan ketua kita ini dengan berpesta seadanya!
Setuju...?"
Gobi Sam-ci berseru dari tempat duduknya. Setujuuuuuu...!"
"He! Nanti dulu...! Kita masih melupakan sesuatu! Kita belum memberi nama perkumpulan kita!"
Tiba-tiba Tiau Hek Hoa berteriak melengking.
Semuanya terdiam.
Lagi-lagi gadis berkulit hitam itu menyadarkan mereka.
Tetapi keadaan itu tidak berlangsung lama.
Seseorang berteriak dari bagian belakang.
"Mudah saja! Kita namakan... Huang-ho Eng-hiong! Bukankah kita berasal dari daerah sepanjang aliran Sungai Huang-ho?"
"Setuju! Setujuuuuuu...!"
"Setujjjuuuuu...!"
Demikianlah sisa malam itu mereka pergunakan untuk berpesta pora.
masing dengan gaya dan cara sendiri.
Ada yang bergerombol sambil minum arak yang telah mereka sediakan.
Ada pula yang bersantap-ria membakar daging buruan atau daging ikan yang banyak terdapat di tempat itu.
Ma Sing bersama dengan bekas ketua-ketua perkumpulan lama saling berbicara di sekeliling api unggun.
Ikut duduk di antara mereka itu, si Pencuri Sakti Ang Jit Kun, Ui Tiam Lok, A Liong dan Souw Hong Lam.
"Kita harus segera membuat rencana bagi perkumpulan kita. Kita tidak boleh terlambat. Pasukan Mo Tan sudah menyusup ke selatan..."
Gobi Sam-ci berkata dengan suara bergetar.
"Benar, Ma Taihiap! Mari kita susun rencana kita! Mumpung kita masih berkumpul di sini..."
Pek Hou mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ma Sing menghela napas panjang.
Matanya yang kecil namun tajam luar biasa itu memandang ke kanan dan ke kiri.
Dan pandangannya.
segera berhenti wajah hitam legam yang saat itu mengawasinya pula.
Ma Sing menarik napas panjang.
Ternyata Tiau Hek Hoa duduk tidak jauh dari tempat itu.
Bahkan mata Ma Sing juga melihat seorang pemuda jangkung berdiri tak jauh dari gadis itu.
Pemuda itu sebentar-sebentar memandangi gadis itu.
"Ahhh...!"
Ma Sing berdesah sambil memalingkan mukanya.
"Sebenarnya aku sudah mempunyai rencana. Tapi... aku tidak berani mengatakan. Rencana itu sangat berbahaya bagi perkumpulan kita."
"Cepat katakan, Ma-Taihiap! Apa rencanamu? Kita bisa mengaturnya nanti..."
Ang-bin Kuai-jin yang tidak sabaran itu mendesak. Ui Thian Lok menggamit Liu Wan. Sambil mendekatkan bibirnya dia berbisik di telinga pemuda itu.
"Ciok Sinshe, kau juga punya rencana yang belum jadi kau beritahukan kepadaku!"
Liu Wan tersenyum. Seolah-olah ingin bercanda pemuda itu juga berbisik di telinga Ui Tiam Lok.
"Ah, mudah saja kalau begitu. Akan kukatakan sekarang juga. Heem, kalau aku menjadi ketua, perkumpulan ini, aku akan membawa para pendekar ke Benteng Langit untuk membebaskan Yap Tai-Ciangkun! Hehe-hehe...!"
Ui Tiam Lok terbelalak, namun segera tersenyum pula. Dia tahu Ciok Sinshe yang dikenalnya itu sedang bercanda. Sementara itu Ma Sing juga menjawab desakan rekannya.
"Kita tak akan berhasil menghalau pasukan Mo Tan tanpa seorang ahli siasat perang di antara kita. Kita membutuhkan seorang ahli perang seperti... yap Tai-Ciangkun!"
"Hah...???"
Semuanya terkejut. Tak terkecuali Liu Wan dan Ui Tiam Lok sendiri yang baru saja menyebut nama itu. Huang-ho Siang-kiam Ma Sing memandang wajah rekan-rekannya.
"Memang, rencanaku ini sangat tidak masuk akal dan amat berbahaya! Kita dapat dituduh sebagai pemberontak! Tapi apa boleh buat, memang tidak ada jalan yang lain lagi! Di medan perang memang butuh seorang jendral yang baik! Tanpa pimpinan seorang ahli perang, maka ribuan atau laksaan prajurit takkan dapat berbuat banyak!"
Tak seorangpun memberi komentar.
Apa yang diucapkan oleh Huang-ho Siang-kiam Ma Sing itu memang benar.
Dan apa yang direncanakan itu sebenarnya juga baik sekali.
Cuma pelaksanaannya saja yang sulit!
Yap Tai-Ciangkun adalah tawanan pemerintah, bahkan di-anggap sebagai pengkhianat negara.
Jadi memberontak terhadap negara!
"Ah, mudah saja!
Kalau memang hanya itu jalan keluarnya, kita lakukan saja rencana itu.!
Kita tidak perlu banyak berpikir tentang salah-benarnya!
Kata para cerdik-pandai, seorang budiman lebih banyak menurutkan naluri dan perasaannya, daripada oleh pikirannya!
Kalau jalan itu kita anggap paling benar bagi kita semua, yah...
Kita laksanakan saja!
Adapun akibatnya, kita hadapi saja dengan dada terbuka!"
Tiba-tiba A Liong berkata tegas dan mantap.
Semuanya tertegun.
Sebenarnya jawaban seperti itu sudah bergema di hati mereka masing-masing.
Namun untuk mengucapkannya mereka tidak berani.
Kini melihat seorang pemuda berusia dua puluhan tahun berani mengucapkannya, hati mereka terasa bergetar!
"Saudara kecil, boleh aku mengetahui namamu?"
Ang-bin Kuai-jin bertanya dengan suara bergetar pula.
"Aku yang sudah tua ini sebenarnya sependapat denganmu. Cuma, hehehe... bagaimana cara melaksanakannya? Semua orang mengetahui, bahwa Benteng Langit dijaga ketat oleh lebih dari seribu orang prajurit pilihan. Selain itu Benteng Langit merupakan bangunan besar, terdiri dari ratusan kamar dan lorong bangunan. Bagaimana kita dapat menemukan kamar penjara Yap Tai-Ciangkun?"
Gobi Sam-ci menatap A Liong sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa yang dikatakan Ang-bin Kuai-jin itu memang benar, Anak Muda, Kita tak mungkin menyerbu benteng di atas pulau karang itu dengan segenap kekuatan kita. Selain kita tidak punya perahu, kedatangan kitapun akan"
Mudah mereka ketahui. Sebelum kita dapat memanjat dinding tembok, kita akan dihujani panah dan tombak!"
A Liong tersenyum. sombong pada sikap dan cara berbicaranya.
"Tentu saja kita tak perlu mengerahkan pasukan besar hanya untuk mengetahui di mana Yap Tai-Ciangkun itu ditawan, Lo-Cianpwe! Apalagi kita juga belum tahu, apakah Beliau masih hidup atau tidak!"
"Jadi, bagaimana menurut saran saudara A Liong?"
Liu Wan mulai tertarik mendengar cara berbicara pemuda itu.
"Kita kirimkan beberapa orang petugas pilihan untuk menyusup ke dalam benteng itu. Setelah kita tahu tempat di mana Yap Tai-Ciangkun ditawan, kita baru dapat mengatur siasat yang tepat untuk membebaskannya!"
Mereka saling pandang dengan kening berkerut.
Saran itu sebenarnya sederhana sekali, tapi sungguh tepat dan bagus.
Untuk membebaskan Yap Tai-Ciangkun memang tidak boleh dilakukan secara terang-terangan.
Apalagi oleh perkumpulan para pendekar seperti mereka.
"Bagus! Nah, kalau begitu... siapa kira-kira yang harus pergi ke benteng itu?"
Ma Sing menjadi tertarik pula dengan rencana tersebut. A Liong menunduk sambil memegangi dagunya.
"Tentu saja yang pergi adalah mereka yang memiliki kepandaian tinggi. Tapi yang jelas mereka bukan... Lo-Cianpwe sekalian! Lo-Cianpwe sekalian sudah dikenal orang banyak, termasuk petugas kerajaan, sehingga tugas itu sangat berbahaya bagi nama dan martabat Lo-Cianpwe. Sungguh berbahaya dan sangat tidak enak dituduh sebagai pemberontak."
Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Apa yang diucapkan pemuda itu memang benar serta masuk akal.
Mereka memang tak berani menanggung resi-ko dicap sebagai pemberontak, yang berakibat akan selalu dikejar-kejar oleh petugas kerajaan.
"Lalu... Kalau bukan para ketua perkumpulan, siapa lagi...?"
Liu Wan bertanya lirih. A Liong mengangkat wajahnya.
"Lo-Cianpwe harus memilih empat atau lima orang di antara para pendekar yang hadir malam ini! Dan mereka itu harus memiliki kepandaian tinggi! Paling tidak harus sejajar atau syukur lebih tinggi dari Lo-Cianpwe sekalian! Selain daripada itu mereka harus siap untuk mati demi tugas ini!"
Ucapnya kemudian dengan suara tegas dan bersemangat.
"Aaaaaah...!"
Semuanya berdesah.
"Bagus! Aku setuju!"
Tiba-tiba Tiau Hek Hoa berseru seraya melangkah menghampiri tempat itu.
"Rencana saudara A Liong itu sangat baik. Aku mendukungnya."
"Hmmh...!"
Pemuda jangkung yang berada di belakang Tiau Hek Hoa tadi menggeram dan terbatuk-batuk.
"Ah, Lihiap juga mendengarkan percakapan kami?"
Huangjio Siang-kiam. Ma Sing berkata kaget. Tiau Hek Hoa berdiri di depan A Liong. Sorot api unggun menerpa wajahnya yang hitam legam bak pantat kuali itu.
"Maaf, Ma-Lo-Cianpwe. saudara A Liong ini berbicara dengan keras dan bersemangat sehingga telingaku juga mendengarnya."
Ma Sing menarik napas panjang.
"Baiklah, tidak apa-apa. Semua orang memang boleh mendengarnya, asal dapat menyimpan dan merahasiakannya. Nah, bagaimana pendapat cuwi sekalian dengan rencana saudara A Liong tadi?"
Katanya kemudian kepada para ketua perkumpulan itu.
"Aku setuju!"
Liu Wan dengan cepat menjawab.
"Lohu juga sependapat! Rencana itu memang hebat! Kalau boleh... Lohu juga mau berangkat!"
Ang-bin Kuai-jin yang berangasan itu berseru pula.
"Wah, tentu saja tidak boleh, Kuai-jin! Wajahmu banyak dikenali orang. Begitu para perajurit kerajaan itu tahu, maka seluruh anggota Huang-ho Eng-hiong kita akan diburu dan dimusnahkan oleh bala tentara kerajaan! Kita memang harus memilih orang seperti yang diusulkan oleh saudara A Liong tadi."
Pek-hou tertawa sambil mmengelus-elus jenggotnya.
"Sudahlah! Cepat kita pilih orang yang akan berangkat ke benteng itu! Nah, Ma Taihiap... beberapa orang yang hendak kita pilih? Satu, dua, atau... sepuluh orang?"
Gobi Sam-ci menyela tak sabar. Setelah berpikir sebentar, Ma Sing menjawab perlahan.
"Sebaiknya memang tidak boleh terlalu banyak. Tetapi juga tidak boleh terlalu sedikit. Terlalu banyak justru akan menyulitkan kerjasama mereka. Tapi terlalu sedikit juga akan mengurangi kemungkinan keberhasilan tugas itu. Yah, tampaknya yang baik memang... empat atau lima orang itu! Mudah diatur, gampang menyusupnya dan apabila terlihat oleh lawan, maka salah seorang tentu dapat menyelamatkan diri. Dan hal itu sudah cukup bagi kita untuk mendapatkan keterangan."
"Bagus! Sekarang tinggal menentukan cara memilihnya!"
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing berdiri sambil mengangkat tangannya. Sikapnya kelihatan serba salah.
"Mencari orang terbaik berarti harus memilih calon yang ada. Dan untuk menentukan pilihan, harus dilihat dulu kemampuannya. Untuk melihat kemampuan mereka, terpaksa harus diadu. Nah... Ini lah yang kurang kusukai!"
Katanya sambil berpantun.
Hiruk-pikuk di tengah rawa terpencil itu tiba-tiba berhenti!
Semuanya memandang Huang-ho Siang-kiam Ma Sing.
Mereka tidak tahu, apa yang sedang dibicarakan oleh para pimpinan mereka.
Namun yang jelas Ma Sing baru saja berkata tentang pemilihan adu silat.
Mereka berbisik satu sama lain.
Dan sesaat kemudian sorak-soraipun kembali bergema di tempat itu.
Pengaruh arak telah membakar kegembiraan mereka.
"Bagus! Bagus! Mari kita pilih jago kita malam ini...!"
Mereka bersorak dan berteriak kegirangan.
"Apa pendapatmu, Ciok-heng? Ma Sing yang tidak menyukai pertandingan silat itu meminta pendapat Liu Wan.
"Waaah...! Repot juga!"
Liu Wan bergumam melihat kegembiraan para pendekar itu. A Liong melangkah ke depan.
"Lo-Cianpwe! Bagaimana kalau diatur saja dengan cara yang lebih aman? Para calon tidak perlu bertanding! Masing-masing hanya diminta untuk menunjukkan kemampuannya! Dan Lo-Cianpwe berlima yang akan menjadi juri. Lo-Cianpwe tentu akan dapat memilih jago yang dikehendaki!"
Ma Sing dan para ketua lainnya memandang A Liong dan Liu Wan bergantian.
Sejak semula mereka memang tidak begitu memperhatikan A Liong.
Mereka percaya bahwa semua teman Ciok-Sinshe adalah kawan seperjuangan mereka pula.
Namun sebenarnya mereka juga bertanya-tanya di dalam hati.
Apalagi anak yang masih sangat muda itu kelihatannya amat disegani oleh yang lain.
Memang repot bagi Liu Wari untuk memberi penjelasan.
Di satu pihak dia sudah percaya penuh kepada pemuda asing itu, tapi di lain pihak dia memang tidak tahu banyak tentang asal-usulnya.
"Saudara A Liong... semua orang mempunyai hak untuk mengemukakan pendapatnya! Silakah! Siapa tahu saranmu benar-benar memberi jalan keluar yang baik?"
Akhirnya Liu Wan berkata perlahan. Ma Sing mengerutkan keningnya.
"Tapi... setiap ilmu silat memiliki rahasia dan keistimewaannya sendiri-sendiri. Kadang-kadang ilmu silat baru menunjukkan kedahsyatannya setelah berhadapan dengan lawan. Bagaimana mungkin kita bisa menilainya?"
A Liong tersenyum pahit.
"Benar, Lo-Cianpwe. Usulku memang bukan yang terbaik, karena usul itu hanya berpijak pada keinginan untuk menghindari korban di antara kita. Sebab, apa yang kita perlukan hanyalah memilih beberapa orang yang pantas menerima tugas itu. Bukan mencari siapa yang paling sakti di antara kita!"
"Ah, kau benar, saudara A Liong! Maafkan aku...!"
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing tergagap.
Usul A Liong itu sungguh tepat dan cocok dengan keinginannya.
Hilang semua kecurigaannya kepada pemuda itu.
Segera dimintanya pemuda itu menjelaskan usulnya lebih lanjut.
A Liong menunjuk ke sebuah batu karang besar yang tersembul di tengah-tengah rawa.
Tempat itu kira-kira sepuluh tombak jauhnya dari tempat itu.
Air tak terlalu dalam.
Paling hanya sepuluh lutut orang dewasa.
Persis di bagian atas batu karang itu terdapat pecahan karang sebesar kambing.
Berwarna hijau lumut.
Entah sudah berapa ratus tahun batu itu bertengger di sana.
Namun yang jelas, guyuran air hujan serta hembusan angin di setiap musim, belum mampu menggesernya darri tempat itu.
"Bagaimana kalau masing-masing calon diminta untuk mengambil batu karang itu dan membawanya ke sini, tanpa harus mempergunakan perahu atau sampan?"
A Liong mengutarakan pendapatnya. Para ketua perkumpulan itu memandang A Liong dengan wajah tak mengerti.
"Maaf, aku kurang paham maksud saudara A Liong. Bukankah mudah sekali untuk membawa batu itu ke mari? Walaupun besar, tapi setiap pendekar tentu dapat mengangkatnya. Apalagi air rawa ini juga tidak terlalu dalam."
Gobi Sam-ci berkata perlahan.
"Ah, bukan begitu maksudku."
A Liong buru-buru menerangkan.
"Mereka tidak boleh masuk ke dalam air. Mereka harus berloncatan di atas lima buah patok kayu, yang akan kita tancapkan di dalam rawa. Nah, selanjutnya... tinggal para penguji yang menilai kemampuan mereka."
Pek-hou dan Ang-bin Kuai-jin bertepuk. tangan. Mereka berdua merasa bahwa ujian itu benar-benar berat. Bahkan mereka sendiri belum tentu dapat melakukannya.
"Bagus! Rencana yang bagus sekali! Kita akan menyaksikan kehebatan ilmu silat para anggota perkumpulam kita."
Akhirnya semua orang menyetujui usul itu. Liu Wan dan Ma Sing tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala mereka. Bahkan Liu Wan segera menggamit lengan A Liong.
"Kau juga ikut bukan?"
"Harus! Dia yang mengusulkan, maka dia harus dapat pula melakukannya!"
Para ketua perkumpulan itu menyahut berbareng.
"Lhoh? Ini... Ini...?"
A Liong gelagapan.
Demikianlah, Ma Sing lalu mengumumkan niatnya untuk memilih lima orang jago silat di antara mereka.
Dikatakan pula bahwa para jago yang terpilih nanti akan mendapatkan tugas penting dari perkumpulan mereka.
Para pendekar itu kembali bersorak gembira.
Walaupun syarat.
atau ujian itu sangat berat, tetapi pertandingan itu akan benar-benar menyemarakkan suasana.
Bagi mereka tiada kegembiraan lain selain pertandingan silat.
Begitu Ma Sing memberi tanda, maka beberapa orang segera maju ke depan.
Bergantian mereka mencoba menyeberangi rawa tersebut.
Dan orangpun segera tergelak-gelak ketika satu persatu mereka terjungkal ke dalam air.
Tak seorangpun yang mampu mencapai sebe-rang.
Meski berkepandaian tinggi, tetapi mereka tidak biasa berloncatan di atas patok kayu.
Semakin malam suasana pertandingan menjadi semakin seru.
Ada beberapa pendekar yang memiliki ginkang tinggi, sehingga dapat mencapai seberang.
Tapi mereka segera tenggelam begitu kembali dengan batu karang itu, namun terpeleset, tetapi ada pula yang langsung tercebur ke dalam rawa dan mereka harus segera mengambalikan batu tersebut ke asalnya.
"Ang-heng cobalah...!"
Pek hou yang mengetahui kehebatan ginkang Ang Jit Kun mencoba mendesaknya.
"Yaaah, kalau tidak membawa beban apa-apa... Memang mudah berlompatan diatas kayu itu! Tapi kalau harus membawa beban berat, waah... ya sulit"
Si pencuri sakti Ang Jit Kun menggerutu.
"Waduh! Kalau saja kau tidak mampu lalu... siapa lagi yang akan dapat melakukannya?"
Ketua Liong Gi Eng itu mengeleng-gelengkan kepalanya.
Ang Jit Kun melirik ke arah Liu Wan, sebagai pembantu dekat tokoh itu tahu banyak tentang tingkat kesaktian Liu Wan.
Tapi Liu Wan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ah! Aku juga tdak dapat melakukannya, Ang-heng! Perguruanku lebih mengutamakan Iweekang daripada ginkang, kalau aku dapat membawa batu itu kemari, maka cara yang kupergunakan tidak akan memenuhi syarat."
"Apa maksud Ciok heng?"
Go bi sam-ci bertanya bingung.
"Ah, lihatlah... ada yang ingin mencoba lagi!"
Liu Wan buru-buru mengalihkan perhatian.
Ditepi rawa telah berdiri seorang pemuda jangkung kurus, berpakaian serba hitam dan masing segera mengenalnya sebagai pemuda asing yang tadi berdiri tidak jauh di belakang Tiau Hek Hoa.
, Wajahnya tampan, namun kelihatan muran dan tidak gembira, bahkan sorot matanya berkesan dingin menakutkan seperti mata srigala di kegelapan malam.
Setelah diam sejenak, pemuda itu lalu melompat tinggi ke udara, patok kayu pertama dilewatinya, tubuhnya tetap melayang ke depan, pada saat melayang turun ke patok berikutnya, ia berjungkir balik beberapa kali untuk mengurangi berat tubuhnya.
Ternyata pada patok kayu yang ke dua, pemuda itu juga tidak mendaratkan kakinya.
Pada saat tubuhnya melayang turun, pemuda itu dengan tenang justru mencopot ikat pinggangnya!
Sebuah ikat pinggang terbuat dari kain putih sepanjang satu tombak lebih.
"Taaaar...!"
Tiba-tiba pemuda itu menyabetkan ujung ikat pinggangnya ke patok kayu!
Dan...
Huuuup!
Tubuh yang hampir menyentuh air itu sekonyong-konyong melenting ke atas lagi seperti bola karet!
Bahkan daya luncurnya menjadi lebih cepat lagi, sehingga patok kayu yang ke tigapun terlewati pula!
Ketika tubuhnya mulai menukik ke patok yang ke empat, pemuda itu bergegas mengayun kembali ikat pinggangnya ke bawah!
"Taaaarrrr...!"
Pemuda itu kembali melenting ke depan, menuju ke patok yang ke lima dan selanjutnya dengan tumpuan patok kayu tersebut dia melesat ke batu karang!
Tidak terasa semuanya menahan napas.
Ilmu meringankan tubuh pemuda itu sungguh hebat sekali.
Jauh lebih baik dari ginkang para ketua perkumpulan mereka.
Maka tak mengherankan kalau sesaat kemudian terdengar suara gemuruh tepuk tangan dan teriakan mereka!
"Huuuuraaaa!
Hurrra...!"
Tak seorangpun yang tidak takjub melihat gerakan itu.
Bagi mereka, pemuda itu tak ubahnya seekor burung elang yang terbang rendah di atas air.
Di mana pada saat-saat tertentu kukunya menghunjam ke dalam air untuk menyambar ikan.
"Bukan main!"
Para ketua perkumpulan itu berdesah kagum.
"Siapakah dia...?"
Ma Sing hampir tidak percaya pula.
Belum juga pertanyaan tersebut terjawab, sorak-sorai di tempat itu terhenti!
Ternyata pemuda itu telah mulai memperlihatkan kesaktiannya lagi!
Batu karang yang diperlombakan itu telah berada di dalam pelukannya.
Ketika semua orang masih menduga-duga, apa yang hendak dilakukan oleh pemuda itu, ternyata pemuda tersebut sudah lebih dulu melemparkan batu karang itu ke patok kayu yang terdekat.
"Wus...!"
Dan pemuda itu bergegas mengejarnya!
Namun dengan mengerahkan segala kemampuannya, ternyata pemuda itu bergerak jauh lebih gesit dan lebih cepat dari.
pada batunya.
Ternyata pemuda itu lebih dulu mendaratkan kakinya di patok kayu.
Kemudian sebelum batu itu menimpa kepalanya, pemuda itu lebih dulu menyongsongnya dengan sabetan tali ikat pinggangnya!
"Srrrt!"
Batu karang itu terbelit ujung ikat pinggang!
Selanjutnya dengan sekali hentak, maka batu tersebut kembali terlempar ke atas melewati kepalanya!
Pemuda itu cepat berbalik dan melesat mengejarnya.
Dan seperti tadi, maka diapun lebih dulu mendarat di patok kayu berikutnya.
Kemudian dia mengulangi pula caranya tadi.
Dan beberapa saat kemudian dia telah berhasil membawa batu karang itu ke depan Huang-ho Siang-kiam Ma Sing!
Sekali lagi tempat itu gemuruh dengan suara tepuk tangan!
Gobi Sam-ci melesat ke depan.
Sambil merangkapkan kedua telapak tangannya bekas ketua Kong-sim-pang itu mengawasi tamunya.
"Tampaknya saudara telah berhasil lulus dari ujian ini. Namun demikian kami perlu mengetahui asal-usul saudara dulu, sebelum kami berlima menetapkan sebagai pemenang..."
Pemuda jangkung kurus itu tidak segera menjawab.
Sebaliknya dari balik kerumunan tamu yang datang, tiba-tiba muncul seorang lelaki separuh baya yang berlari ke arah mereka.
Lelaki itu mengenakan pakaian sederhana, yang biasa dipakai oleh orang-orang di daerah pedalaman.
Meskipun demikian Gobi Sam-ci maupun para ketua yang lain segera me-ngenal orang itu, karena dia tidak lain adalah Yo Keng, utusan Kong-sun Goanswe!
"Yo-Ciangkun...!"
Semua orang yang hadir di tempat itu bergumam pendek.
"Gobi Sam-ci, jangan khawatir! Aku yang membawa pemuda ini. Kita semua dapat mempercayainya!"
Yo Keng berkata lantang. Kemudian Yo Keng mendekati Ma Sing.
"Ma-heng, kau juga tidak perlu meragukan pemuda ini. Dia seorang pendekar pengembara. Namanya Chin Tong Sia. Dia telah menyelamatkan aku dari keganasan pasukan Mo Tan. Bahkan dia juga telah menyelamatkan, aku dari perangkap si Tongkat Bocor Ho Bing di kota Leng-fu!"
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing tersentak kaget.
"Si Tongkat Bocor Ho Bing? Bukankafi dia sering terlihat di Istana Au-yang Goanswe? Mengapa pengemis itu ingin menangkap Yo-Ciangkun? Apakah dia mau memberontak?"
"Ah, entahlah, Ma-Taihiap. Tampaknya memang ada sesuatu yang tak beres di kota raja. Suasananya tidak seperti dulu lagi. Pengaruh Au-yang Goanswe terasa di mana-mana. Tidak hanya di kalangan prajurit pengawal Istana, tapi di kalangan para pejabat kerajaanpun pengaruhnya sangat kuat. Aah... tampaknya kecurigaan Kong-sun Goanswe selama ini memang benar. Kota raja telah dikuasai para pengikut Au-yang Goanswe!"
Para ketua partai persilatan itu menghela napas. Huang-ho Siang-kiam Ma Sing menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Yo-Ciangkun. Nanti kita bicarakan lebih lanjut masalah itu. Sekarang kita lihat dulu kemampuan para pendekar muda kita. saudara Chin, silakan beristirahat dulu! kau kami nyatakan berhasil..."
"Bagus! Kalau begitu aku juga ingin mencobanya! Hih...!"
Tiba-tiba Tiau Hek Hoa berseru nyaring.
Tubuhnya yang mungil itu melesat ke depan, lalu menyambar batu karang hijau di tengah arena.
Sebelum semuanya mengetahui apa yang terjadi, gadis berkulit hitam itu telah terbang ke dalam rawa!
Gerakan gadis itu memang lebih tepat disebut terbang daripada melompat.
Dengan memeluk batu karang tersebut di dadanya, dia berloncatan di atas patok kayu, laksana seekor lebah betina yang pulang membawa hasil buruannya!
Sekejap saja batu karang itu telah bertengger kembali di tempatnya semula!
Maka tidaklah mengherankan kalau sedetik kemudian tempat itu seperti diguncang oleh suara riuh tepuk-tangan para pendekar yang hadir!
Pemuda jangkung yang tidak lain adalah Put-tong-sia atau Chin Tong Sia dari Beng-kauw itu merah padam melihatnya.
Hampir saja ia melompat dan menerjang gadis yang berani mengaku orang dari Beng-kauw itu.
Untunglah dia segera dapat meredam perasaannya.
"Lebih baik kubiarkan saja ia ikut ke Benteng Langit. Akan kuselidiki apa maksud dan tujuannya ia menyamar sebagai orang Beng-kauw..."
Put-tong-sia berkata di dalam hatinya.
Tampaknya kehebatan ilmu silat Put-tong-sia dan Tiau Hek Hoa tadi sangat menggelitik hati Souw Hong Lam pula.
Terbukti pemuda ganteng itu cepat berdiri begitu Tiau Hek Hoa kembali ke tempatnya!
Liu Wan dan A Liong menoleh.
Terlambat!
Mereka hanya melihat bayangan Souw Hong Lam berkelebat.
Di lain saat pemuda ganteng itu telah melayang di atas permukaan air.
Mantel hitamnya yang lebar itu berkibar indah di belakangnya.
Sepintas lalu bagaikan sayap burung rajawali yang berkepak melawan angin.
Dia hanya memanfaatkan sebuah patok saja di antara lima buah patok kayu itu.
Jarak sejauh itu hanya ditempuh dalam dua kali lompatan!
Sebelum orang-orang di tempat itu sadar apa yang terjadi, Souw Hong Lam telah berada di seberang.
Dan ketika semuanya tersentak kaget melihat ulahnya, Souw Hong Lam telah melesat kembali dengan batu karang di dalam pelukannya.
Tubuhnya melayang seperti induk rajawali pulang ke sarangnya.
Batu besar itu seakan-akan tak berbobot sama sekali di tangannya.
Kedatangan Souw Hong Lam disambut lebih meriah daripada Chin Tong Sia maupun Tiau Hek Hoa.
Mereka merasa telah mendapatkan seorang jago sakti lagi.
Sementara itu para ketua perkumpulan tampak saling lirik lagi.
Mereka merasa heran karena tak terduga hari itu muncul jago-jago muda yang berkepandaian sangat tinggi.
Bahkan mereka merasa bahwa ginkang ketiga anak muda itu boleh dikatakan di atas mereka.
"Heran! Rasanya hanya Ketua Pusat Im-yang-kauw saja yang mampu berbuat seperti itu!"
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing yang juga Ketua Cabang Im-yang-kauw bagian utara itu bergumam pelan. Liu Wan bertepuk tangan pula.
"Bagus! Sudah tiga jago yang kita dapatkan Nah, saudara A Liong... sekarang giliranmu!"
"Benar! Ayoh, saudara A Liong...! kAu-yang memilin permainan ini! kAu-yang harus menyelesaikannya!"
Pek Hou berteriak keras, diikuti pula oleh yang lain.
"Ayolah, saudara A Liong!"
Ma Sing ikut mendesak pula.
A Liong tidak dapat menghindar lagi.
Menolak permintaan mereka berarti mengecewakan banyak orang.
Terpaksa dia melangkah ke rawa.
Sebenarnya berloncatan di atas patok kayu itu merupakan pekerjaan mudah bagi A Liong.
Bersama kedua gurunya, Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong, dia sudah biasa bermain-main di atas ombak hanya dengan alas kaki dari tulang ikan paus.
Tapi sekarang, di depan para pen-dekar persilatan, dia tak mau menyombongkan diri.
Dia akan mjenyeberang dan mengembalikan batu itu ke tempatnya, tapi dengan cara biasa.
Tanpa mengeluarkan ilmunya yang aneh-aneh.
A Liong bersiap-siap.
Setelah mengerahkan sebagian dari tenaga saktinya, dia mengangkat batu karang yang dibawa Souw Hong Lam tadi ke pundaknya.
Gerakannya berkesan lamban dan kurang bertenaga.
Bahkan ketika berloncatan di atas patok kayu, tubuhnya tampak limbung serta nyaris jatuh ke dalam air.
Namun demikian sampai juga pemuda itu ke seberang dengan selamat.
Kembalinya lebih mudah daripada perginya.
Tanpa beban batu karang itu, A Liong dengan cepat menyeberang dan kembali di tempat semula.
Dan kedatangannya disambut dengan tepuk tangan riuh.
"Bagus...!"
Walaupun kurang puas dengan penampilan A Liong, tapi Ma Sing tetap gembira dengan hasilnya.
Karena jago yang diinginkan baru empat orang, padahal yang dibutuhkan lima orang, maka ujian terus dilaksanakan.
Namun hingga bulan melorot ke barat, tiada lagi orang yang mampu menyeberangkan batu karang itu.
Ang Jit Kun, yang terkenal memiliki ginkang tinggi, ternyata juga gagal menyelesaikan permainan tersebut.
Kakinya tergelincir pada saat membawa batu karang.
"Sudahlah. Tampaknya tiada lagi yang dapat menyeberangkan batu itu. Bagaimana pendapatmu, Ciok-heng?"
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing meminta pendapat Liu Wan.
"Kalau memang demikian, yaaa... apa boleh buat! Rasanya empat orangpun sudah dapat berjalan pula. Bagaimana pendapat rekan-rekan yang lain?"
"Aku mempunyai usul! Bagaimana kalau Ciok Sinshe ikut dalam rombongan itu...?"
Ang-bin Kuai-jin yang sejak tadi jarang sekali bersuara, tiba-tiba memotong.
"Maksud Kuai-jin...?"
Pek Hou dan Gobi Sam-ci bertanya hampir bersamaan... ang-bin Kuai-jin menarik napas sambil mengawasi jago-jago muda yang baru saja terpilih itu.
"Maaf! Lohu tidak bermaksud memandang rendah kemampuan para pendekar muda ini. Tapi kurasa... Mereka perlu seorang pendamping yang memiliki pengalaman dan wawasan luas. Lohu percaya, ilmu silat mereka, sulit dicari bandingannya. Tapi untuk menghadapi rintangan dan jebakan di dalam benteng itu perlu adanya seorang pendamping yang berpengalaman."
"Bagus. Lohu juga sependapat. Tapi... Mengapa harus Ciok Sinshe dan bukan yang lain?"
Pek Hou menyela.
"Ah, rasanya aku bisa menebak jalan pikiran Ang-bin Kuai-jin. Selain banyak pengalaman, Ciok Sinshe juga mahir ilmu pengobatan. Eeee, siapa tahu ada yang terluka dalam tugas itu nanti?"
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing memotong.
"Waaaah...!"
Liu Wan pura-pura mengeluh, padahal di dalam hati dia memang ingin berangkat pula.
Demikianlah Ma Sing lalu melakukan perundingan rahasia dengan para pembantu dekatnya.
Dan pada malam itu juga rombongan penyelidik ke Benteng Langit diberangkatkan.
Mereka terdiri atas Chin Tong Sia, Tiau Hek Hoa, Souw Hong Lam, A Liong dan Liu Wan!
Rombongan itu berangkat secara diam-diam.
Mereka menggunakan dua buah sampan kecil.
A Liong bertiga dengan Chin Tong Sia dan Tiau Hek Hoa, sedangkan Liu Wan berdua dengan Souw Hong Lam.
Ketika fajar mulai menyingsing mereka telah meninggalkan rawa Tai-bong-sui itu.
Sekarang mereka berada di perbatasan Propinsi Shan-si dan Ho-nan.
Mereka berjalan ke selatan, menyusuri hutan cemara yang terbentang luas sampai di Sungai Huang-ho.
Di sepanjang jalan Liu Wan mengakrabkan jalinan persaudaraan mereka.
Tapi usahanya agak sedikit mengalami kesulitan.
Mereka terdiri dari anak-anak muda yang belum saling mengenal sebelumnya.
Maka tak mengherankan kalau mereka masih saling curiga-mencurigai.
Hanya A Liong saja yang kelihatan santai dan acuh.
Mereka berhenti ketika matahari mulai memperlihatkan kekuatannya.
Kebetulan mereka berada di sebuah kota kecil yang cukup ramai.
Bahkan mereka melihat banyak toko dan warung makan di pinggir jalan.
"Ciok Sinshe, sebaiknya kita makan dahulu di kota ini. Atau paling tidak kita singgah sebentar untuk mencari bekal. Perjalanan kita masih panjang dan rasanya kita takkan dapat lagi menemukan tempat seperti ini."
Tiau Hek Hoa berkata kepada Liu Wan.
"Kau benar, Lihiap. Aku juga pernah melewati jalan ini. Perjalanan selanjutnya memang hanya lewat di hutan dan tanah gersang. Padahal kita masih membutuhkan waktu dua hari lagi untuk mencapai Sungai Huang-ho..."
Demikianlah, mereka lalu masuk ke sebuah warung kecil yang hanya menyediakan empat buah meja.
Di mana salah satu mejanya telah terisi oleh tiga orang tamu lain.
Kulit Tiau Hek Hoa yang hitam itu segera menarik perhatian mereka.
Kulit gadis itu memang terlalu hitam, sehingga tidak mengherankan bila orang merasa aneh melihatnya.
Sebaliknya Tiau Hek Hoa sendiri seperti tidak peduli terhadap mereka.
Dia justru mendahului kawan-kawannya untuk memilih meja.
Liu Wan, Souw Hong Lam, Chin Tong Sia dan A Liong juga tidak peduli pula.
Mereka berempat berjalan dengan tenang di belakang Tiau Hek Hoa.
Meskipun demikian perhatian Chin Tong Sia tak pernah lepas dari sekelilingnya.
"Silakan masuk...!"
Pemilik warung menyambut kedatangan mereka sambil melirik ke wajah Tiau Hek Hoa.
Tiau Hek Hoa tetap acuh.
Sambil melangkah ia melemparkan beberapa keping uang tembaga ke atas nampan si pemilik warung itu.
"Hidangkan masakan yang"
Paling enak untuk kami berlima! Uang itu sebagai ongkos pelayananmu! Cepatlah...!"
Gadis itu berkata datar tanpa memalingkan mukanya.
Pemilik warung itu terbelalak.
Tapi sekejap kemudian wajahnya berubah menjadi gembira bukan main.
Seperti orang yang baru mendapatkan lotere, ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan hidangan.
"Lihiap...?"
Liu Wan mengerutkan dahinya melihat keroyalan gadis itu. Tapi Tiau Hek Hoa cepat merangkapkan kedua tangannya di depan dada.
"Maaf, Ciok Sinshe. Biarlah aku yang membayar makanan. Tampaknya orang itu lebih menghormati uang daripada perempuan jelek seperti aku ini."
"Tiau-lihiap...! Jangan berprasangka begitu...!"
Liu Wan berkata kikuk.
"Waduh perutku sudah keroncongan. Ciok Sinshe, Tiau-lihiap, ayolah...! Kita duduk sambil berbicara tentang rencana kita nanti!"
A Liong tiba-tiba menyela untuk menghilangkan suasana yang kurang menyenangkan itu.
Ternyata Souw Hong Lam dan Chin Tong Sia juga sependapat dengan ucapan A Liong.
Mereka segera duduk mengitari meja.
A Liong lalu mengangguk kepada Liu Wan, yang mereka anggap sebagai pimpinan rombongan itu.
"Nah, Ciok Sinshe. Bagaimana rencana kita? Berilah kami keterangan dan penjelasan, agar semua tindakan kita selalu terpadu dan tidak bertindak menurut keinginan masing-masing."
Liu Wan tertegun sebentar, lalu tersenyum.
Dia benar-benar kagum melihat sikap dan penampilan pemuda bertubuh kekar itu.
Usianya masih amat muda, tapi pikiran dan pembawaannya sungguh sangat tenang dan matang.
"Kau benar, saudara A Liong! Kita memang harus merundingkan dulu rencana kita..."
Liu Wan mengangguk.
Demikianlah, sambil menantikan hidangan, Liu Wan lalu memberitahukan rencana perjalanan mereka nanti.
Pertama, mereka menuju ke desa Luang-cung di tepi Sungai Huang-ho.
Dari sana mereka akan menempuh perjalanan melalui sungai.
Mereka akan berperahu menyusuri Sungai Huang-ho sampai ke Benteng Langit.
"Nanti kita rundingkan lagi cara memasuki benteng itu setelah kita dapat melihat dan mengetahui keadaannya..."
Liu Wan mengakhiri keterangannya.
Sementara itu makanan telah dihidangkan.
Mereka lalu bersantap bersama.
Dan A Liong yang tidak pernah belajar tata cara makan bersama itu segera menyerbu hidangan tanpa malu-malu lagi.
Sejak kecil sampai berada di bawah bimbingan kedua gurunya pemuda itu tidak pernah belajar tata krama.
Dia hanya tahu tentang baik buruk, serta menghormati orang lain, terutama orang yang lebih tua.
Tetapi pemuda itu tak pernah belajar tentang cara berprilaku dan bertatakrama dalam menghadapi orang lain.
Cara makan A Liong yang bebas dan seenaknya itu memang sedikit mengganggu Tiau Hek Hoa.
Kaki A Liong yang diangkat ke atas kursi serta cara melahap makanan dengan jari tangan itu, berkesan liar dan urakan.
Sebagai gadis terpelajar dan terhormat, gadis itu me-rasa risih juga melihatnya.
Tapi apa boleh buat, A Liong sendiri seperti tidak pernah merasa bersalah atau peduli dengan sikapnya.
Begitu pula dengan anggota rombongan lainnya.
Semuanya juga bersikap acuh saja melihat cara makan A Liong, sehingga Tiau Hek Hoa terpaksa berdiam diri pula.
Sikap A Liong sungguh amat berbeda dengan Souw Hong Lam.
Pemuda ganteng itu bersikap halus, tenang, sopan dan penuh tatakrama.
Caranya makanpun amat sopan dan berhati-hati.
Bahkan terlihat lebih sopan daripada Tiau Hek Hoa.
Ketika pemilik warung itu lewat di dekat mereka, Tiau Hek Hoa menghentikannya.
"Paman...! Di mana kami dapat membeli kuda?"
"Kuda...? Apakah cuwi hendak membeli kuda? Wah, banyak sekali pedagang kuda di sini. Kebetulan sekali daerah ini memang daerah peternakan kuda. Tetapi kalau Nona menginginkan kuda yang bagus, sebaiknya pergi saja ke peternakan Kim Wangwe!"
"Kim Wangwe...? di mana tempatnya?"
"Peternakannya berada di sebelah selatan kota ini. Tapi hati-hati dengan para centengnya, Mereka galak-galak. Apalagi Kim Wangwe jarang berada di rumahnya. Dia lebih sering berada di kota."
"Di kota Lu-fan maksudmu?"
Pemilik warung itu mengangguk. Liu Wan memandang Tiau Hek Hoa.
"Lihiap hendak membeli kuda? Tapi... Kita tidak boleh berangkat sendiri-sendiri. Rombongan ini harus selalu bersama-sama!"
Gadis itu balik menatap wajah Liu Wan yang tertutup oleh penyamarannya.
"Sinshe, aku tidak bermaksud berangkat sendiri. Kebetulan aku ada uang. Aku akan membeli lima ekor kuda sekaligus untuk kita."
"Ah, maafkan aku. Tapi rasanya Lihiap tak perlu membuang-buang uang sebanyak itu. Harga kuda terlalu mahal. Apalagi harus membeli lima ekor..."
"Benar. Kita berjalan kaki saja. Aku tak biasa naik kuda. Malah repot nanti..."
A Liong yang belum pernah naik kuda itu juga berseru.
Mulutnya masih penuh dengan makanan.
Tiba-tiba salah seorang dari tiga tamu yang duduk di dekat mereka bangkit berdiri.
Dia memberi hormat kepada Tiau Hek Hoa.
"Maaf. Nona hendak membeli kuda? Kami, eh... Kami kebetulan juga mau menjual kuda. Mungkin Nona berminat membelinya?"
Tiau Hek Hoa bangkit pula dari tempat duduknya. Tanpa rasa curiga ia membalas penghormatan orang itu.
"Cuwi ingin menjual kuda? Bagus! Boleh aku melihatnya dulu...?"
Ketiga orang tamu itu cepat membayar makanannya, lalu mengajak Tiau Hek Hoa keluar. Dan tanpa sungkan-sungkan lagi gadis itu segera mengikuti pula.
"Ciok Sinshe, aku akan melihat kuda mereka. Sebentar saja!"
Gadis itu berkata kepada Liu Wan.
"Nona, kau belum selesai makan, bukan? Mengapa tidak kau habiskan dulu?"
Pemilik warung itu tiba-tiba berseru dari mejanya.
Wajahnya kelihatan pucat.
Tiau Hek Hoa tidak menjawab.
Dia tetap melangkah keluar mengikuti pedagang kuda itu.
Chin Tong Sia mengerutkan keningnya.
Dia tak mau kehilangan gadis itu.
Dia harus tahu siapa gadis yang mengaku anggota Aliran Beng-kauw tersebut.
"Nona Tiau, kubantu kau memilih kuda. Aku mempunyai banyak pengalaman soal kuda..."
Chin Tong Sia berseru dan bangkit pula dari kursinya.
Tiau Hek Hoa menoleh, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Dia juga tidak peduli ketika Chin Tong Sia mengikutinya.
Wajah yang hitam itu benar-benar sulit ditebak hatinya.
Mereka masuk ke dalam pasar.
Dan kebetulan hari itu merupakan hari besar, sehingga pedagang dari luar kotapun datang membanjiri pasar itu.
Maka tidak mengherankan kalau tempat itu menjadi ramai sekali.
Begitu berjejalnya sehingga Chin Tong Sia mendapat kesulitan mengikuti langkah Tiau Hek Hoa.
Malah sebentar kemudian bayangan gadis berkulit hitam itu telah hilang bersama tiga orang yang diikutinya.
"Wah, cepat benar! kemana mereka tadi?"
Karena kehilangan jejak maka Chin Tong Sia lalu berjalan sekenanya.
Matanya tajam mengawasi orang-orang di sekelilingnya.
Namun bayangan Tiau Hek Hoa dan para pedagang kuda itu sama sekali tak kelihatan.
Demikianlah setelah berputaran kesana-kemari tanpa hasil, Chin Tong Sia Lalu keluar dari pasar.
Perlahan-lahan dia melangkah kembali ke tempat di mana kawan-kawannya menunggu.
Sambil berjalan matanya masih tetap melirik kesana-kemari, mencari gadis bermuka hitam itu.
Tiba-tiba matanya terbelalak.
Jauh di ujung jalan matanya menangkap berkelebatnya bayangan Tiau Hek Hoa di antara para pejalan kaki yang lain.
Gadis itu berjalan bersama seorang pemuda.
Ketika Chin Tong Sia mencoba melongok lebih jelas lagi, bayangan gadis itu telah berbelok ke sebuah gang kecil.
Chin Tong Sia berlari secepatnya, sehingga orang-orang di sekitarnya hanya melihat bayangan hitam dan hembusan angin yang amat kuat melewati mereka.
Namun demikian, ketika Chin Tong Sia sampai di gang kecil itu, bayangan Tiau Hek Hoa telah hilang pula.
"Gila! permainan apa yang sedang ia lakukan? Jelas tadi aku melihatnya berjalan bersama seorang lelaki di sini? kemana dia?"
Sambil menggeram Chin Tong Sia masuk ke dalam gang kecil itu.
Di depan sebuah rumah besar bercat putih dan berhalaman luas dia berhenti.
Pintu gerbang halaman rumah itu masih terbuka sedikit, seakan-akan baru saja dibuka orang.
Chin Tong Sia melongok ke dalam.
Dan ia segera melihat lelaki yang berjalan bersama Tiau Hek Hoa itu di sana.
Lelaki itu berdiri di halaman bersama tiga orang temannya.
"Hei? Tiga orang itu...? Bukankah mereka para pedagang kuda itu? Bagus! Jadi... aku memang tidak salah masuk!"
Tanpa berpikir dua kali Chin Tong sia segera menerobos masuk.
Dan tanpa berbasa-basi pula ia menghadapi lelaki muda itu.
Sebagai orang Beng-kauw, Chin Tong Sia memang tidak pernah mempe-dulikan aturan dan sopan santun.
"Maaf, aku sedang mencari temanku Kulihat dia masuk ke sini. Di mana dia?"
Namun sungguh mengherankan. Keempat orang itu sama sekali tidak kaget melihat kedatangan Chin Tong Sia. Bahkan mereka kelihatan tenang sekali, seolah-olah memang sedang menantikan Chin Tong Sia.
"Orang inikah yang telah mempecun-dangimu, Ho Bing?"
Lelaki yang ternyata masih sebaya A Liong itu menoleh ke pendapa.
Chin Tong Sia melihat ke pendapa.
Hatinya berdegup keras.
si Tongkat Bocor Ho Bing yang telah gagal menghadang Yo Keng dan dirinya di kota Lu-feng itu tampak berdiri geram memandangnya.
Di sebelahnya juga berdiri Tiat-tou dan Siang-kim-eng, pembantunya.
"Benar, Kongcu. Dialah orangnya! Huh! Di mana perwira yang kau lindungi itu?"
Ho Bing menghardik ke arah Chin Tong Sia.
Chin Tong Sia sadar bahwa dia telah terperangkap dalam sarang musuh.
Dan melihat sikap Ho Bing yang garang, dia yakin orang itu telah memiliki sandaran kokoh di tempat tersebut.
Chin Tong Sia bersiap-siap.
Perasaannya mengatakan bahwa pemuda tampan di depannya itulah yang menjadi sandaran Ho Bing.
Dan dari sikapnya Chin Tong Sia yakin, bahwa pemuda itu merupakan lawan yang tangguh.
Bahkan dari getaran suaranya, Chin Tong Sia juga yakin bahwa pemuda itu memiliki tenaga dalam amat sempurna.
"Anak muda berpakaian bagus ini tentu lihai sekali..."
Chin Tong Sia berkata di dalam hatinya. Pemuda tampan itu melangkah mendekati Chin Tong Sia.
"Bagus. Kalau begitu orang ini harus dibunuh karena telah berani mengganggu tugasmu."
"Tahan! Siapa kau ini? Apakah kau seorang pangeran dari kota raja? Atau... Kau masih keluarga dari Au-yang Goanswe?"
Melihat pemuda itu datang bersama Ho Bing, maka Chin Tong Sia menyangka lawannya itu berasal dari kota raja.
"Au-yang Goanswe? Huh! Tak ada sangkut pautnya aku dengan manusia tamak dan licik itu! Aku adalah Mo Hou, putera Mo Tan, raja suku bangsa Hun yang besar!"
Bukan main terkejutnya Chin Tong Sia.
Tak disangka-sangka dia berjumpa dengan putera Raja Mo Tan di tempat itu.
Otomatis seluruh urat-urat Chin Tong Sia menegang.
Dia sering mendengar bah-j wa putera-puteri Mo Tan memiliki ilmu silat yang tinggi sekali.
"Oh, jangan-jangan Tiau Hek Hoa itu juga... puteri Mo Tan!"
Tiba-tiba Chm Tong Sia membatin. Tapi sebelum pemuda itu bertanya lebih lanjut, Mo Hou telah lebih dahulu menyerang. Mo Hou mengibaskan lengan kirinya ke depan,"
Menyerang wajah Chin Tong Sia.
"Ho Bing mengatakan bahwa kau bernama Chin Tong Sia atau Put-tong-sia dan berasal dari aliran Beng-kauw! Orang selalu bercerita bahwa ilmu silat aliran Beng-kauw sangat tinggi! Tapi, aku tidak percaya! Coba, kau perlihatkan ilmumu kepadaku!"
Angin tajam menyambar kepala Chin Tong Sia.
Tapi dengan sigap Chin Tong Sia menarik kepalanya ke belakang.
Kemudian dalam waktu yang hampir bersamaan dia bergeser ke kanan sambil melontarkan pukulan lurus ke belakang kepala Mo Hou.
Chin Tong Sia tak mau berbasa-basi pula.
Tiga perempat dari tenaga saktinya membanjir keluar mendorong pukulannya.
Perbawanya sungguh menggetarkan hati.
Mo Hou kaget bukan main.
Putera Raja Mo Tan yang terlalu percaya akan kehebatan ilmunya itu sama sekali tidak percaya kalau lawannya memiliki kece patan dan tenaga dalam sedahsyat itu.
Pukulan itu hampir saja mengenai kepala Mo Hou.
Untunglah pada saat-saat terakhir pemuda itu masih dapat menghindarinya.
Namun demikian tali pengikat rambutnya tetap saja terlepas bersama beberapa helai rambutnya, sehingga rambut yang panjang itu terurai lepas menutupi bahu.
Bahfcn butir-butir mutiara yang menghias tali pengikat rambut itu juga ikut terlempar entah ke mana.
Wajah Mo Hou menjadi merah padam.
Karena terlalu memandang rendah lawan, hampir saja dia kehilangan kepalanya.
Sementara itu ketiga orang kawan Mo Hou tadi telah berpencar di sekeliling mereka.
"Gila! Kubunuh kau...!"
Mo Hou berteriak marah.
"Kongcu, biarlah kami bertiga yang menangani bocah ini!"
Seorang dari ketiga teman Mo Hou melompat ke depan sambil melepaskan pukulan. Mo Hou terpaksa menunda kemarahannya. Sambil mendengus ia melangkah mundur.
"Bayan Tanu, hati-hati! Ucapan Ho Bing memang benar. Orang ini tidak boleh dipandang ringan. Engkau bertiga belum tentu dapat mengatasinya."
"Chin Tong Sia mengelakkan pukulan Bayan Tanu dengan mudah. Dalam keadaan marah pemuda itu masih tetap mempergunakan akal sehatnya, dia cuma sendirian di rumah itu, sementara lawannya berjumlah banyak. Dia tidak boleh gegabah mengumbar tenaga. Dia harus mampu keluar dan menyelamatkan diri dari halaman tersebut. Tampaknya Mo Hou mengetahui maksud Chin Tong Sia. Sambil menggeram pemuda tampan itu bertepuk tangan dan beberapa saat kemudian belasan orang segera muncul dari segala penjuru rumah itu. Mereka mengepung halaman itu dengan senjata lengkap. Ho Bing yang tadi berdiri di atas pendapa juga turun bersama para pembantunya.
"Kau harus mati!"
Ho Bing yang telah dipermalukan oleh Chin Tong Sia di kota Leng-fu itu berseru marah.
"Bagus! Tampaknya kau telah bersekongkol dengan kekuatan musuh untuk menghadapi aku!"
"Huh! Akulah lawanmu! Bukan dia!"
Bayan Tanu yang telah siaga di depan Chin Tong Sia itu tiba-tiba berteriak sambil mendiang.
"Wuuuuuuuush...!"
Tentu saja Chin Tong Sia tidak ingin terjungkal pada jurus-jurus pertama.
Dengan ginkangnya yang hebat dia melenting ke samping, kemudian sambil memba likkan badannya dia mengayunkan tangannya dengan jari-jari terbuka.
Tujuannya adalah tenggorokan Bayan Tanu.
Serangan ini hanya mempergunakan separuh dari tenaga dalamnya.
Namun demikian pengaruhnya telah mengejutkan lawan-lawannya.
Bayan Tanu menangkis dengan sisi tangannya.
"Duuuug!"
Dua buah kepalan bertemu di udara, menyebabkan keduanya terpental ke belakang.
Chin Tong Sia terdorong mundur selangkah ke samping, sementara Bayan Tanu terhuyung mau jatuh.
Orang kepercayaan Mo Hou itu marah sekali.
Sebagai orang Mongol, yang ilmu silatnya lebih banyak bertumpu pada ilmu gulat, ia memiliki otot-otot yang kuat dan liat.
Meskipun tenaganya juga lebih terpusatkan pada tenaga luar (gwakang), namun kecepatan tangan juga tidak dapat dipandang ringan.
Orang seperti Bayan Tanu dengan mudah dapat menangkap lalat yang terbang di sekitarnya.
Benturan kedua tangan itu sama sekali tak menyakitkan Bayan Tanu.
Bahkan dengan kelincahannya Bayan Tanu kembali menerjang Chin Tong Sia.
Kali ini dengan kekuatan kakinya.
Demikianlah, kedua orang itu segera terlibat dalam pertempuran seru.
Chin Tong Sia dengan tenang dan santai melayani Bayan Tanu yang marah dan ingin segera memperoleh kemenangan.
Dan pertarungan itu semakin lama semakin cepat.
Saling memukul dan menangkis, sehingga halaman yang luas itu bagaikan sebuah ajang pertarungan silat yang menegangkan.
Tapi beberapa jurus kemudian segera terlihat siapa yang lebih unggul di antara mereka.
Napas Bayan Tanu yang lincah dan kuat itu mulai tersengal-sengal, sementara napas Chin Tong Sia masih kelihatan teratur seperti sedia kala.
Merasa kalah dalam hal tenaga Bayan Tanu segera mengurai senjatanya yang selalu melingkar di pinggangnya.
Yaitu sebuah rantai baja sepanjang satu-setengah depa dengan mata tombak di salah satu ujungnya.
Begitu diputar maka rantai baja itu mengeluarkan suara mengaung panjang.
Dan Chin Tong Sia terpaksa harus berloncatan kesana-kemari untuk menghindarinya.
Debu mengepul tinggi ketika beberapa kali rantai itu menghantam tanah, sehingga Mo Hou dan para pembantunya terpaksa mundur sampai ke tangga pendapa.
Dari tempat itu mereka harus menyaksikan, bagaimana sulitnya Bayan Tanu menyentuh lawannya.
Sebagai jago silat yang memiliki ginkang hampir sempurna, Mo Hou dapat melihat, betapa jauh perbedaan ilmu meringankan tubuh mereka.
Bayan Tanu yang hanya mengandalkan kelincahan dan kekuatan otot-ototnya, sama sekali tidak mampu mengejar kecepatan gerak Chin Tong Sia.
Ilmu meringankan tubuh murid aliran Beng-kauw itu benar-benar sudah mendekati puncaknya, sehingga ia sendiri sering tersilap dan terlambat mengikutinya.
"Tidak heran kalau Ho Bing kalah. Sepuluh orang Ho Bingpun belum tentu dapat menundukkannya. Mungkin hanya Mo Goat atau Panglima Solinga yang dapat menandingi dia."
Semakin lama gerakan rantai Bayan Tanu semakin melemah.
Serangan ujung tombaknya juga tidak akurat lagi.
Sementara gerakan Chin Tong Sia masih tetap lincah dan tegar seperti sedia kala.
Tampaknya pemuda itu memang mengulur-ulur waktu untuk mencari kesempatan meloloskan diri.
"Ho Bing, Tiat-tou, Siang-kim-eng, majulah...!"
"Bantu Bayan Tanu!"
Akhirnya Mo Hou berteriak tidak sabar lagi, Tanpa diulang lagi perintah Mo Hou tersebut segera dilaksanakan oleh Ho Bing dan kawan-kawannya.
Ketiganya segera terjun ke arena dengan senjata masing-masing.
Begitu masuk mereka segera menyerang Chin Tong Sia tanpa ampun.
Sekarang Chin Tong Sia terpaksa harus bersungguh-sungguh.
Sekaligus menghadapi empat orang jago silat berkepandaian tinggi, bukanlah pekerjaan enteng.
Meskipun dia telah menguasai hampir seluruh ilmu silat aliran Beng-kauw, namun dia juga merasa bahwa dia belum sampai pada puncaknya.
Sementara itu di pihak lain ternyata Mo Hou sendiri memang bermaksud melihat dan menjajagi ilmu silat Chin Tong Sia.
Peristiwa lima tahun lalu di pantai timur Hang-ciu ternyata masih amat membekas di hati Mo Hou.
Betapa dahsyatnya ilmu silat Put-pai-siu Hong-jin sehingga dia harus digotong pulang oleh Lok-kui-tin (Barisan Enam Hantu).
(Lanjut ke
Jilid 23) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 23 Menurut penuturan Ho Bing, Chin Tong Sia adalah adik seperguruan Put-pai-siu Hong-jin.
Sementara Mo Goat, yang kini sedang menyamar sebagai Tiau Hek Hoa, juga mengatakan bahwa Chin Tong Sia memiliki ilmu silat yang tidak kalah dengan tingkatan mereka.
"Tampaknya pemuda ini memang benar-benar berbahaya. Kemampuannya. sama dengan sepuluh orang panglima ayahku. Sayang sekali dia belum dapat disingkirkan sekarang. Nyawanya merupakan jaminan bagi keselamatan Mo Goat."
Mo Hou berdesah di dalam hati melihat kehebatan Chin Tong Sia.
Memang benar juga kekhawatiran Mo Hou.
Sepuluh orang panglima suku bangsa Hun belum tentu dapat menandingi kesaktian Chin Tong Sia.
Apa lagi hanya tokoh semacam Ho Bing dan Bayan Tanu.
"Kisah lucu si Kera Bodoh, Ingin menangkap Burung Kenari. Walau Kenari lemah dan kecil, Kera Bodoh tetap tak berdaya."
Sambil bertempur sesekali Chin Tong Sia menyelipkan senandung kesukaannya.
Bagi anggota Aliran Beng-kauw berkelahi sambil mengoceh merupakan sebuah ciri tersendiri.
Turun-temurun mereka telah terbiasa bernyanyi dan berpantun dalam menjalankan agamanya.
Sampai pada saat berlatih silatpun mereka juga latah melantunkan pantunnya.
Dan kelatahan tersebut semakin parah pada saat mereka memainkan Ilmu Silat Cou-mo-ciang (Tangan Menangkap Setan)!
Tentu saja ocehan "Ngawur"
Itu membuat Ho Bing dan Bayan Tanu menjadi berang sekali.
"Tutup mulutmu! kau anggap kami kera besar? Kurang ajar!"
Bayan Tanu menjerit marah.
"Lihat Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah)...!"
Ho Bing berteriak pula sambil memencet tongkatnya.
Tapi Chin Tong Sia merupakan tokoh paling berbakat di antara angkatan muda Beng-kauww.
Sebagai murid bungsu Put-ceng-li Lojin (Orang Tua yang Tidak Tahu Aturan), yaitu mendiang ketua Beng-kauw lama, ilmu silatnya justru lebih hebat dari semua kakak seperguruannya.
Bahkan selapis lebih tinggi daripada Put-sim-sian (Si Dewa Tak Punya Perasaan), kakak seperguruannya yang kini menjabat sebagai Ketua Beng-kauw.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau serangan Bayan Tanu dan Ho Bing sama sekali tidak menyulitkan dia.
Hanya dengan mengandalkan kecepatan tangan dan kekuatan lweekangnya, mata tombak Bayan Tanu dengan mudah disambarnya.
Bahkan semua itu dilakukan sambil meraup jarum Ho Bing ke dalam lengan bajunya.
Dan pada saat itu pula, tiba-tiba pintu halaman depan terbuka dari luar.
Enam orang penunggang kuda menerobos masuk.
Chin Tong Sia melihat peluang yang baik untuk meloloskan diri.
Cepat ia meompat ke belakang.
Mata tombak Bayan Tanu yang ada di tangannya segera ia lemparkan ke arah Mo Hou.
Sementara kumpulan jarum yang ada di dalam lengan bajunya diayunkan pula ke arah musuhnya itu.
Ternyata kedua macam senjata itu menjadi lebih dahsyat dalam tangan Chin Tong Sia.
Demikian cepat dan kuatnya ayunan mata tombak itu, sehingga Bayan Tanu yang tetap masih memegangi ujung rantainya, ikut terlempar pula ke arah Mo Hou.
Demikian pula halnya dengan jarum-jarum Ho Bing.
Benda kecil itu melesat bagai curah hujan ke tubuh Mo Hou.
"Bangsat...!"
Mo Hou mengumpat kasar.
Putera Raja Mo-tan itu menghindar dengan cepat.
Begitu cepatnya sehingga tubuhnya seperti hilang begitu saja.
Tahu-tahu pemuda itu telah berada di atas pendapa.
Chin Tong Sia benar-benar kaget menyaksikan kegesitan lawan.
Terlintas dalam ingatannya, cerita yang pernah dikatakan oleh suhengnya.
Put-pai-siu Hong-jin pernah bercerita tentang seorang pemuda yang mampu bergerak seperti angin.
Lima tahun yang lalu suhengnya berkelahi dengan pemuda itu dan hampir saja dikalahkan.
Untunglah Put-pai-siu Hong-jin dapat meloloskan diri dengan cara menceburkan diri ke dalam laut.
"Saat itu suheng dalam. keadaan mabuk. Oh! Jangan-jangan pemuda yang dia maksudkan itu adalah... Mo-Hou, putera Raja Mo Tan ini!"
Chin Tong Sia tapi Chin Tong Sia tak ingin kehilangan kesempatan. Sebelum mereka sadar apa yang terjadi, dia cepat-cepat melesat ke pintu halaman.
"Wuuuuuus!"
Tubuhnya melejit seperti kijang cepatnya! Hampir-hampir seperti gerakan Mo Hou! "Lok-kui-tin! Tangkap dia!"
Sambil mengelak Mo Hou masih sempat berteriak kepada penunggang kuda yang baru saja datang itu.
"Baik, Kongcu!"
Dua di antara enam orang penunggang kuda itu melompat, turun untuk menyongsong kedatangan Chin Tong Sia.
"Awaaaas! Jangan sembrono...!"
Mo Hou berteriak memperingatkan mereka.
Terlambat.
Pek-kui dan Ang-kui, yang tidak menyadari akan kehebatan ilmu silat Chin Tong Sia, sudah terlanjur mengayunkan tangannya, menyongsong kedatangan pemuda tersebut.
"Dhuuuuuuar...!!"
"Aaaarrgghh...!"
Terdengar Ang-kui dan Pek-kui mengeluh pendek.
Mereka terbanting ke tanah dengan mata terbelalak.
Terpantul perasaan tak percaya di mata mereka.
Tetapi Chin Tong Sia juga tidak lolos dari pengaruh benturan itu.
Tubuhnya tergetar mundur dengan kuatnya.
Dia merasa seperti menerjang tembok besi.
Begitu kuatnya sehingga dalam sekejap aliran darahnya terasa kacau.
Bahkan dari dalam mulutnya mengalir darah segar.
Anggota Liok-kui-tin memang bukan tokoh sembarangan.
Mereka berenam merupakan tokoh-tokoh persilatan yang sangat ditakuti di luar Tembok Besar.
Kekuatan mereka berenam bagaikan kekuatan sepuluh ekor gajah menjadi satu.
Chin Tong Sia cepat mengatur pernapasannya kembali.
Percikan darah yang menetes di bawah dagunya, dia bersihkan dengan lengan bajunya.
Perasaannya mulai ragu.
"Gila! Siapa pula orang-orang ini?"
Pemuda itu menggeram. Demikianlah, ternyata Chin Tong Sia tak mampu memanfaatkan kesempatan itu. Kini Mo-Hou dan Lok-kui-tin telah mengelilinginya. Mo Hou kelihatan ram sekati.
"Baru saja aku berteriak untuk memperingatkan kalian"
Tapi kalian main gempur saja! Untunglah nyawa kalian masih ada! kau kira siapa lawan kalian itu? Ketahuilah, dia adalah adik seperguruan Put-pai-siu Hong-jin!"
Mo Hou memarahi pengawal-pengawal ayahnya itu.
"Aaaah...!"
Semuanya tersentak kaget. Termasuk pula Chin Tong Sia yang menyangka telah dikenal oleh lawan-lawannya.
"Hek-kui! Bawa Ang-kui dan Pek-kui ke pendapa! Biarlah aku yang menangkap bocah ini!"
Akhirnya Mo Hou memberi perintah.
Chin Tong Sia kembali mengerahkan segala kekuatannya.
Dia merasa bahwa tingkatan ilmu silat lawannya, tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Bahkan ilmu silat Mo Hou kelihatan lebih matang dan lebih sempurna dari dugaannya.
Cing-kui, Ci-kui dan Ui-kui melangkah ke depan.
Ui-kui memberi hormat.
"Kongcu, biarlah kami bertiga yang membereskan pemuda ini. Belum saatnya Kongcu turun tangan sendiri. Kekalahan Ang-kui dan Pek-kui merupakan kesalahan mereka sendiri. Mereka kurang waspada melihat kekuatan lawan. Bahkan kami semua juga lengah akibat kegembiraan yang berlebihan. Tugas untuk menangkap Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan isterinya, telah kami laksanakan dengan baik."
"Bagus! Kalian berhasil meringkus pendekar itu? Lalu di mana mereka sekarang...?"
"Kami kurung di ruang bawah tanah."
Diam-diam hati Chin Tong Sia bergetar juga.
Dia memang belum pernah berjumpa dengan Souw Thian Hai, tapi kesaktian tokoh besar itu sudah sering ia dengar sejak kecil.
Benarkah mereka mengalahkan pendekar ternama itu?
"Baik, kalau begitu...
ringkuslah pemuda ini!
Jangan dibunuh!
Aku ingin mengorek keterangan dari mulutnya."
Akhirnya Mo Hou memberikan perintahnya.
Selesai berkata pemuda itu melesat pergi meninggalkan halaman tersebut.
Ia kelihatan begitu percaya pada kemampuan anak buahnya.
Hek-kui memapah Ang-kui dan Pek-kui ke pendapa, sementara Ui-kui, Ci-kui dan Cing-kui menghadapi Chin Tong Sia.
"Bagus! Jadi, kau... adik seperguruan Orang Gila itu? Siapa namamu?"
Ui-kui yang berbaju kuning itu membentak Chin Tong Sia yang sedang berusaha memulihkan aliran darahnya.
"Hmmh...! Apa perlunya namaku bagi kalian? Sebentar lagi kita akan saling membunuh di sini! Kita tak perlu tahu nama masing-masing! Kalian atau aku yang mati! Habis perkara!"
Chin Tong Sia yang mudah tersinggung itu balas menggertak.
"Hohoho, agaknya namamu yang aneh dan lucu itu takut ditertawakan orang, heh?"
Cing-kui yang berbaju hijau mengejek. Wajah Chin Tong Sia menjadi merah. Nama orang Beng-kauww memang aneh dan terasa lucu di telinga orang kebanyakan.
"Kurang ajar! kau kira namamu lebih bagus daripada namaku? Dengar, Boneka Katak Hijau! Namaku... chin Tong Sia, atau Put-tong-sia! Dan aku akan membunuhmu lebih dulu daripada kawan-kawanmu yang lain!"
Chin Tong Sia menjerit marah.
Lalu tanpa menanti jawaban lagi, Chin Tong Sia menerjang Cing-kui!
Kedua telapak tangannya mendorong dengan kekuatan penuh!
Sekarang tak seorangpun dari ketiga orang itu yang berani menyongsong pukulan Chin Tong Sia.
Dalam keadaan belum bersiaga penuh, lebih baik mereka menghindari pukulan pemuda itu.
Demikian pula yang mereka lakukan sekarang.
Mereka cepat mengelak, lalu berpencar mengelilingi Chin Tong Sia.
Secara berbareng mereka menyerang.
"Wuuush!"
Chin Tong Sia melambung tinggi ke udara, kemudian berjumpalitan mendekati Cing-kui.
Dengan tubuh masih menggeliat di udara, jari-jari tangan kanannya mencakar ke wajah Hantu Berbaju Hijau tersebut.
Terdengar suara mendesis ketika jari tangan itu mengeluarkan asap tipis!
"Awaaaas, Cing-kui!"
Ui-kui berseru sambil memukul punggung Chin Tong Sia dengan kedua kepalannya.
Terdengar suara mencicit ketika kepalan itu menerjang menuju sasarannya.
Ternyata sejak dini Chin Tong Sia telah menyadari kedudukannya.
Orang-orang yang sedang dia hadapi adalah jago-jago silat kelas satu.
Satu lawan satu, dia yakin bisa menang.
Satu lawan dua, mungkin dia masih bisa bertahan.
Tetapi kalau harus menghadapi tiga orang sekaligus, jelas ia akan kewalahan.
Oleh karena itu begitu menyerang dia langsung mengeluarkan jurus Cuo-mo-ciangnya.
Siapa tahu lawan kembali terkecoh, sehingga dalam gebrakan pertama dia dapat mengurangi satu lawan lagi.
Tetapi ternyata Lok-kui-tm tidak dapat dijebak untuk yang kedua kali.
Begitu Chin Tong Sia mencakar ke wajah Cing-kui, Ui-kui cepat membokong punggung pemuda itu dengan pukulan ganasnya.
Terpaksa Chin Tong Sia berbalik sambil menyambut pukulan itu!
Dan kali ini masing-masing benar-benar telah bersiap dengan segala kekuatannya!
"Thuuaaaas...!
Plak!"
Tubuh Chin Tong Sia yang masih terapung di udara itu terlempar ke samping, sementara Ui-kui jatuh terduduk di atas tanah.
Ternyata selisih kekuatan mereka memang tidak terpaut banyak.
Mungkin cuma selapis saja.
Setelah berjumpalitan beberapa kali, Chin Tong Sia mendaratkan kakinya di luar kepungan.
Beberapa saat masih terasa getaran pukulan Ui-kui di dalam dadanya, sehingga ia semakin yakin akan kemampuan lawan-lawannya.
Demikianlah halaman itu kembali disibukkan oleh pertempuran yang amat seru.
Satu lawan tiga.
Memang pertempuran yang tidak seimbang, karena kekuatan dari masing-masing anggota Lok-kui-tin itu hampir sejajar dengan Chin Tong Sia.
Semakin lama Chin Tong Sia semakin dipaksa untuk memeras keringatnya.
Ketiga hantu itu benar-benar lihai bukan main.
Bahkan mereka bertiga mulai mendesaknya.
Mereka mengambil keuntungan dengan kelebihan jumlah kekuatan mereka.
Mereka memancing Chin Tong Sia untuk beradu tenaga secara bergantian, sehingga kekuatan pemuda itu semakin cepat surut.
"Gila! Mereka benar-benar licik! Aku... aaaah!"
Karena kurang cepat, sebuah tendangan dari Ui-kui telah mengenai pundak Chin Tong Sia.
Begitu kuatnya sehingga lengan kanan pemuda itu serasa lumpuh dan sulit digerakkan.
Dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh ketiga lawannya.
Mereka cepat mengejar dan memberondong pukulan secara berbareng.
Mereka ingin meringkus Chin Tong Sia dalam satu gebrakan.
Tapi dengan cepat Chin Tong Sia menjatuhkan diri ke tanah, kemudian berputar seperti baling-baling.
Pemuda itu tidak memikirkan lagi kalau pakaiannya menjadi kotor oleh debu.
"Meski dihempas badai! Digulung oomaw! Dihantam petir! Digilas karang! Namun, Batu dan pasir tetap bertahan! Hancur satu, muncul seribu..."
Sambil berputar tidak lupa pemuda itu berpantun dengan suara tinggi.
Bahkan sangat bersemangat!
Ternyata dalam keadaan sulit, pemuda itu justru mengeluarkan gerakan yang aneh, yaitu Menggali Liang Ubur-ubur!
Salah satu dari jurus Cuo-mo-ciangnya yang aneh dan membingungkan!
Sekejap ketiga lawannya benar-benar menjadi bingung.
Otomatis mereka melompat menjauhi Chin Tong Sia.
Namun betapa kagetnya mereka ketika baling-baling itu mendesak melenting ke arah Cing-kui si Hantu Hijau!
Cepat bukan main!
Bagaikan baling-baling patah yang terhempas ke udara!
Lebih cepat dari kilatan halilintar!
"Deessss!"
Tubuh Cing-kui terlempar bagaikan layang-layang putus.
Dan dia tentu akan terbanting tanah, apabila Hek-kui yang baru saja keluar dari dalam gedung tidak segera menyambarnya!
Demikianlah, dalam waktu yang tidak terlalu lama, separuh dari barisan Lok-kui-tin telah menjadi korban keganasan Cuo-mo-ciang!
Walau tidak terlalu berat, namun mereka harus segera dirawat, sehingga untuk sementara mereka tidak dapat berkelahi lagi.
Setelah membawa Cing-kui ke pinggir, Hek-kui melangkah ke dalam arena.
Wajahnya tampak merah padam menahan marah.
"Ui-kui! Ci-kui! Ayoh kita ringkus bocah ini!"
Chin Tong Sia bersiap siaga kembali menghadapi segala kemungkinan.
Dia sadar bahwa lawannya memiliki ilmu yang dahsyat.
Meskipun Cuo-mo-ciang merupakan ilmu yang mentakjubkan, namun kemenangan-kemenangannya tadi lebih banyak disebabkan oleh faktor keberuntungan!
Mendadak pemuda itu bergetar dengan hebat.
Perasaan ngeri tiba-tiba mencekam hatinya.
Dia melihat bola mata lawannya seolah-olah mengeluarkan sinar cahaya kemerahan, bagaikan mata iblis yang hendak membakar dirinya.
"Kami bertiga adalah utusan Iblis Neraka. kau menyerahlah!"
Tiba-tiba Hek-kwi menggeram dengan suara berat seakan-akan suaranya itu datang dari liang kubur. Getaran magis seperti membelenggu jiwa dan pikiran Chin Tong Sia. Sekejap kesadaran pemuda itu terusik.
"B-ba-baik, a-aku... Mmm-menyerah!"
Tak terasa bibirnya bergetar.
"Bagus! Nah, sekarang acungkan kedua lenganmu ke depan! Kami akan mengikatmu..."
Hek-kui memberi perintah.
"Ya-ya, eh-oh...? Apa pula ini? Kurang ajar!"
Ternyata Chin Tong Sia cepat menyadari keadaannya.
Lweekangnya yang sangat tinggi itu segera bertahan dan melawan gempuran kekuatan sihir tersebut.
Dalam keadaan kaget pemuda itu menyerang Hek-kui!
Kedua tangan yang teracung ke depan itu sekonyong-konyong berputar dan menyambar dada Hek-kui dengan jari-jari terbuka.
"Wuuut...!"
Seperti bermain sulap, jari tangan itu sudah menyentuh pakaian Hek-kui.
"Aaaaaaaa...??"
Hek-kui menjerit ketika kain bajunya yang tersentuh jari Chin Tong Sia itu hancur berkeping-keping.
"Kurang ajar! Bocah ini memang pantas dibunuh!"
Si Hantu Hitam Hek-kui memberi aba-aba dan mereka berpencar mengelilingi Chin Tong Sia.
Mereka dalam keadaan siaga penuh, sehingga Chin Tong Sia tidak berani sembarangan menyerang salah seorang dari mereka.
Begitu dia berani menerjang salah seorang dari mereka, maka yang lain akan segera menggempur dirinya habis-habisan.
Dan hal itu sangat berbahaya sekali.
Chin Tong Sia tetap saja menunggu, ketika lawannya berputaran di sekelilingnya.
Semakin lama langkah mereka semakin cepat.
Namun ketika Chin Tong Sia mulai bersiap hendak menyerang, langkah mereka tiba-tiba berubah pelan.
Semakin pelan.
Namun sejalan dengan itu, Chin Tong Sia merasakan adanya perubahan yang mengejutkan.
Ototnya terasa kaku dan berat untuk bergerak.
Sementara udara terasa semakin tebal dan kental, sehingga paru-parunya terasa sulit untuk bernapas.
"Gila! Ilmu apa lagi, nih?"
Chin Tong Sia terkesiap.
Pemuda itu bergegas mengerahkan lweekangnya untuk melawan pengaruh ilmu silat lawannya yang aneh itu.
Sambil menghentakkan tenaga saktinya, Chin Tong Sia menerjang Hek-kui yang berada di depannya.
Kedua tangannya mendorong dengan kekuatan penuh.
"Whhhuuuuuuaaas!"
Dalam keadaan biasa dorongan tangan Chin Tong Sia yang penuh tenaga sakti itu akan dapat merubuhkan seekor kerbau jantan.
Tapi dalam pengaruh ilmu yang aneh dari ketiga lawannya itu, ternyata kekuatannya menjadi hambar.
Kekuatan yang dahsyat itu seperti tertahan oleh kepadatan udara yang berputar di sekelilingnya.
Tentu saja Hek-kui mengelak dengan mudah.
Bahkan Hantu Hitam itu memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk menambah kekuatan ilmu mereka.
Chin Tong Sia semakin sulit bergerak.
Pemuda itu seperti berenang dalam lumpur yang kenyal.
Dan dalam keadaan yang sulit itu tiba-tiba matanya terbelalak.
Dilihatnya kepala Hek-kui, Ci-kui dan Ui-kui berubah menjadi kepala singa yang menakutkan.
"Ah, aku tidak boleh terpengaruh. Mereka cuma menciptakan bentuk-bentuk semu. Tidak mungkin seorang manusia berkepala singa. Mereka hanya mau mengelabuhi penglihatanku. Mereka ingin mempengaruhi perasaanku."
Sambil bertempur Chin Tong Sia mencoba melawan pengaruh aneh itu dengan segala kemampuannya.
Tetapi semakin dilawan, pengaruh aneh itu menjadi semakin kuat mencekam pikiran dan perasaannya.
Bahkan ia semakin menjadi bingung pula ketika lawannya mulai berputar mengelilinginya.
Ketiga orang berkepala singa itu tiba-tiba menjadi banyak sekali.
Mereka berputaran di sekitarnya.
"Gila...! Aduh!"
Chin Tong Sia mengumpat keras sekali ketika jalan darah "tia-ping-hiat"
Di bawah punggungnya disambar siku Hek-kui!
Begitu kuatnya sehingga separuh badannya menjadi lumpuh seketika!
Maka tiada ampun lagi tubuh Chin Tong Sia terjerembab ke tanah!
Pemuda itu bangkit lagi.
Tapi sebuah pukulan kembali menghajar perutnya.
Dan kali ini benar-benar telak, sehingga dia tak dapat bangun pula.
Pingsan.
"Hebat sekali kepandaiannya. Baru sekali ini Lok-kui-tin dibikin kalang kabut oleh seorang pemuda tak ternama. Hmmh...! Ayoh, kita bawa dia ke ruang bawah tanah!"
Hek-kui menggeram. Chin Tong Sia dibawa masuk ke dalam gedung. Mereka langsung membawanya ke ruang bawah tanah. Dan majikan mereka, Mo Hou, ternyata sudah berada di sana pula.
"Bagus! Akhirnya kalian dapat juga meringkusnya...!"
"Ucapan Kongcu benar. Anak ini memang hebat sekali. Walaupun berhadapan dengan kami bertiga, dia masih dapat melukai Cing-kui. Orang ini sebaiknya dibunuh saja. Dia dapat merepotkan kita di kemudian hari..."
Mo Hou tersendat kaget.
"Cing-kui terluka? Jadi... tiga di antara Barisan Lok-kui-tin yang tersohor itu... terjungkal olehnya? Sungguh memalukan! Bagaimana kita akan dapat menaklukkan negeri ini, kalau orang-orang kita gampang dikalahkan oleh bocah ingusan seperti dia?"
Mo Hou mendengus marah.
"Maafkan kami, Kongcu. Kami sudah berusaha dengan baik. Tetapi bocah ini memang memiliki ilmu silat yang amat tinggi."
"Sudahlah! Rantai kaki dan tangannya! Kurung di ruang Pendekar Souw dan isterinya!" * * * Sementara itu. di rumah makan, Liu Wan dan yang lain-lain masih tetap menunggu kedatangan Tiau Hek Hua. Mereka menjadi lega ketika gadis berkulit hitam itu datang membawa empat ekor kuda.
"Eh, mengapa datang sendirian? Di mana saudara Chin tadi?"
A Liong menyambutnya dengan tergesa-gesa. Mo Goat yang sedang menyamar itu turun dari kudanya. Air muka tampak kesal sekali.
"Kita tak usah memikirkannya lagi. Dia telah berangkat lebih dulu. Katanya dia tahu jalan yang lebih cepat. Huh!"
"Begitukah...?!?"
Liu Wan berdesah. Wajahnya menampilkan rasa kurang percaya. Ditatapnya wajah Tiau Hek Hoa yang hitam itu tanpa berkedip.
"Apakah Sinshe tidak percaya kepadaku?"
Gadis itu berteriak kesal. Liu Wan berpaling ke arah Souw Hong Lam.
"Bagaimana pendapatmu, saudara Souw? Lohu sama sekali tidak menyangka kalau saudara Chin pergi mendahului kita..."
Souw Hong Lam mengangkat pundaknya.
"Kemanakah Tiau Lihiap dan saudara Chin tadi? Apakah para penjual kuda itu anak buah Kim Wangwe? Jangan-jangan saudara Chin dipengaruhi tengkulak kuda itu..."
"Mereka memang anak buah Kim Wangwe. Kuda-kuda ini memang dari peternakannya. Tapi semua itu tak ada hubungannya dengan kepergian saudara Chin. Dia pergi begitu saja, setelah mendapatkan kuda. Huh, sudahlah...! Terserah kalau kalian tetap ingin menunggu dia. Aku akan berangkat lebih dulu..."
Tiau Hek Hoa melompat ke atas punggung kudanya dan melangkah meninggalkan teman-temannya.
"Nona Tiau, tunggu...! Aku percaya padamu!"
Souw Hong Lam memilih salah seekor dari kuda itu dan mengendarainya di belakang Tiau Hek Hoa. A Liong memandang Liu Wan yang ia anggap sebagai pimpinan rombongan mereka.
"Bagaimana, Ciok Sinshe? Rombongan ini bisa terpecah belah sebelum tiba di tempat tujuan."
"B-baiklah...! lupakan saja keadaan saudara Chin. Apa boleh buat. Mari... Kita berangkat bersama mereka! Hemmmm..."
Liu Wan berkata dengan suara berat.
Liu Wan segera naik ke punggung kuda dan mengejar Tiau Hek Hoa.
Tapi sungguh celaka bagi A Liong.
Sejak kecil pemuda itu tak pernah mengenal kuda.
Jangankan harus menaikinya, menuntunpun dia belum pernah.
Lebih celaka lagi, dia justru mendapatkan kuda yang paling besar dan paling liar.
"Lo-Cianpwe! Ini... Ini, wah... bagaimana aku harus menaikinya?"
Ia berteriak gugup.
Tapi semuanya telah hilang dari pandangan.
Mereka telah berbelok ke jalan yang lebih besar.
Dalam keadaan bingung pemuda itu terpaksa nekad melompat ke punggung kuda.
Hupp!
Karena terlalu kasar, kuda itu menjadi kaget.
Otomatis kedua kaki depannya terangkat tinggi ke atas sambil meringkik keras sekali!
Tentu saja A Liong terlempar ke udara.
ALiong menjadi malu sekali.
Meskipun dengan ginkangnya dia tidak terbanting ke tanah, tapi keadaannya memang sangat menggelikan bagi setiap orang.
Sambil meringis A Liong kembali melompat ke punggung kuda.
Kali ini ia mengerahkan ginkangnya.
Namun karena gugup dan malu, dia lupa bagaimana harus menaikinya.
Bukan pantatnya yang mendarat di atas pelana, tapi...
Kakinya!
Sehingga dia mengendarai kuda itu dengan berdiri, seperti pemain akrobat yang sedang menunjukkan kebolehannya!
Dan kuda itu berlari kencang meninggalkan orang-orang yang kini berubah takjub menyaksikan kelihaian pemuda itu.
Di sebuah tikungan jalan, A Liong berhasil mengejar rombongannya.
Tetapi mereka menjadi heran dan geli melihat cara berkuda A Liong.
Apalagi ketika di tikungan kuda itu berlari tanpa mengendorkan langkahnya.
A Liong seperti dilemparkan dari punggung kudanya!
"Hehehe!
saudara Liong!
Apa-apaan kau ini?
Masa naik kuda seperti itu"
Liu Wan terkekeh Souw Hong Lam juga tersenyum. Tapi pemuda tampan itu tak berkata apa-apa. Justru Tiau Hek Hoa atau Mo Goat yang berdesis agak kurang senang.
"Tampaknya bisul di pantatnya sedang kumat, sehingga tidak dapat duduk dengan baik!"
Tidak terduga A Liong berteriak marah!
Sambil menyambar rambut kudanya, dia berjumpalitan di udara, kemudian kembali mendaratkan kakinya-di atas pelana!
"Siapa bilang aku bisulan?
Sudah kukatakan bahwa aku tak dapat naik kuda!"
Pertunjukan ginkang pemuda itu sepintas lalu tidak mengesankan kehebatannya.
Tapi ketika kemudian mereka melihat sepatu pemuda itu seolah-olah lengket di atas pelana yang licin, mereka baru merasa kaget sekali!
"Hmmh, tampaknya kerbau dungu ini memiliki tenaga dalam yang cukup hebat!
Aku harus berhati-hati terhadapnya!"
Tiau Hek Hoa atau Mo Goat mencatat di dalam hati.
Akhirnya A Liong dapat juga menguasai kudanya.
Dia duduk seperti kawan-kawannya, walaupun masih terasa kaku.
Mereka menerobos hutan dan bukit-bukit gundul yang jarang dilalui orang, sehingga malam harinya mereka sudah sampai di tepian Sungai Huangho.
Mereka langsung menuju ke dusun Luan-cung.
Dusun itu bagaikan sebuah kota kecil saja ramainya.
Walau hari telah menjadi gelap, namun suasana di pinggiran sungai itu masih ramai dengan para nelayan, pedagang, maupun penduduk yang mencari nafkah di tempat tersebut.
Warung-warung minum ataupun warung-warung makan juga penuh dengan para pembeli.
Mereka rata-rata adalah para pekerja atau para nelayan yang kelelahan setelah sehari penuh bekerja keras.
Tiau Hek Hoa mengajak Liu Wan ke tempat penitipan kuda.
"Ciok-Lo-Cianpwe...! Kita langsung mencari tumpangan perahu, atau... Istirahat dulu di tempat ini?"
Liu Wan menoleh ke arah Souw Hong Lam dan A Liong untuk meminta pendapat mereka. Tapi kedua pemuda itu menyerahkan keputusan kepada Liu Wan.
"Baiklah. Tampaknya kita harus bermalam di tempat ini. Selain kita harus mencari perahu yang baik, berlayar dalam gelap juga sangat berbahaya bagi keselamatan perahu kita. Marilah kita mencari penginapan dulu!"
Dusun itu memang menyediakan banyak penginapan. Dari yang sangat sederhana sampai yang cukup baik. Setelah mendapatkan tempat menginap, mereka[ lalu keluar mencari tempat untuk menyewa perahu.
"Silakan Anda bertiga mencari tempat makan dahulu, sementara Lohu akan ke tempat penyewaan perahu."
Liu Wan berkata sambil menunjuk ke arah timur.
"Ah, mengapa kita tidak pergi bersama-sama? Kita tinggal empat orang lagi. Bagaimana kalau Ciok-sinshe nanti kabur pula?"
A Liong bergurau sambil tertawa.
"Hehehe! Lohu sudah tua. Langkah Lohu gampang dikejar oleh anak-anak muda seperti kalian..."
Liu Wan tertawa pula.
Tapi di tempat penyewaan perahu mereka menjadi kecewa.
Mereka hanya mendapatkan perahu yang sudah agak tua.
Kata pemilik perahu telah ada beberapa rombongan yang lebih dulu menyewa perahunya.
"Oh, siapakah mereka itu? kemana tujuan mereka...?"
Liu Wan berdesah kaget.
"Entahlah. Tampaknya mereka orang-orang dari rimba persilatan pula seperti cuwi sekalian. Semuanya menuju ke hilir. Ada empat rombongan yang menyewa perahu di sini. Lainnya menyewa di tempat Lou Pai..."
"Heran. Tampaknya ada yang tak beres. Jangan-jangan..."
Liu Wan mengerutkan keningnya.
"Eeh, apakah saudara tahu... atau mengingat salah seorang dari mereka?"
Pemilik perahu itu mengusap rambut kepalanya yang mulai memutih, lalu menggeleng.
"Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya. Tapi mereka benar-benar garang dan suka berkelahi. Hanya satu rombongan yang masih kuingat dengan baik, yaitu seorang lelaki tua bersama puterinya. Orang itu menggeser perahu besar hanya dengan tongkat kecilnya..."
"Orang tua? Siapa dia...?"
Tiau Hek Hoa berdesah pendek. Matanya yang tajam itu menerawang jauh.
"Baiklah. Terima kasih atas keterang-anmu. Kami jadi menyewa perahu ini besok pagi. Sekali lagi terima kasih."
Liu Wan berterima kasih, kemudian mengajak kawan-kawannya pergi.
"Menggeser perahu hanya dengan sebatang tongkat kecil. Amboi! Sungguh sakti sekali."
A Liong bergumam pelan.
"Huh! Apa anehnya menggeser perahu di atas pasir?"
Tiau Hek Hoa mencibirkan bibirnya.
A Liong tertawa.
Meskipun kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda gagah perkasa, namun wataknya yang lugas dan suka bergurau itu masih tetap melekat pada diri pemuda yatim piatu tersebut.
"Apakah kau juga mampu? Kalau begitu... biarlah kAu-yang menjadi tukang kemudinya besok pagi. Setuju...?"
Tiba-tiba wajah hitam itu menjadi beringas.
"Setan! kau kira semua orang takut pada badanmu yang besar seperti raksasa itu? Huh, walaupun kecil... aku bisa membantingmu sampai lumat! Lihatlah!"
Gadis itu menjerit marah.
Entah bagaimana caranya bergerak, tapi tahu-tahu gadis itu sudah bergeser di belakang A Liong.
Cepat bukan main.
Bahkan bayangan gadis itu rasanya masih tertinggal di tempat semula.
"Weeesssh! Siiiing... siiing... siiiing.!"
Dan dalam jarak yang begitu dekat, tiba-tiba gadis itu membokong dengan lemparan pisau terbangnya! Bahkan dengan tiga buah pisau sekaligus! "Oh...!?"
Semua terpekik kaget.
Liu Wan menjadi pucat.
A Liong tentu akan binasa, karena tidak seorangpun di dunia ini yang akan mampu menyelamatkan diri dari serangan seperti itu.
Kecuali dia mengenakan baju besi.
"Hei, kau...?"
A Liong berteriak keras sekali.
Ternyata A Liong sama sekali juga tidak menduga kalau Tiau Hek Hoa bisa seganas itu.
Namun dalam keadaan yang tidak memungkinkan seperti itu, A Liong masih sempat menggeliatkan tubuhnya.
Dan selanjutnya terdengar suara kain robek, disertai denting pisau tiga kali pula.
"Brett...! Ting! Ting! Tiiiing...!"
Kali ini semua orang melongo!
Mereka tidak tahu apa yang terjadi.
Semuanya berlangsung dengan begitu cepatnya!
Mereka hanya bisa melihat pisau-pisau itu sudah berserakan di atas pasir.
Dan dalam sekejap tadi mereka juga masih dapat menyaksikan, asap tipis berwarna-warni, menghilang dari tubuh A Liong.
Kini di depan kaki A Liong terlihat sebilah pedang pendek, tergeletak utuh dan masih tetap berada di dalam sarungnya.
Dan pemuda itu dengan cepat memungutnya, kemudian menyelipkan kembali ke dalam bajunya.
Baju yang kini tampak menganga lebar akibat terpotong di bagian perutnya.
"Kau...!!?"
Tiau Hek Hoa memekik berang. Siap untuk menyerang lagi.
"Tahan...!"
Liu Wan berseru sambil meloncat di tengah-tengah mereka.
"Akan kubunuh bocah ini!"
Gadis bermuka hitam itu tetap menjerit-jerit. Tapi Souw Hong Lam dengan tangkas menghalanginya.
"Sabar, Lihiap! Bersabarlah...!"
Pemuda ganteng itu membujuk.
Liu Wan segera membujuk pula.
Dengan panjang lebar pemuda itu mengingatkan tugas penting mereka.
Rombongan itu tinggal empat orang lagi.
Selanjutnya tidak boleh berkurang pula.
Tiga orang tidak akan cukup untuk memasuki Benteng Langit.
Mereka akan gagal tanpa keikutsertaan salah seorang dari mereka.
Demikianlah, mereka lalu kembali ke penginapan setelah melihat keadaan perahu yang mereka sewa.
Sama sekali mereka tidak menduga bahwa gerak-gerik mereka tadi selalu diikuti oleh seseorang.
Keesokan harinya mereka sudah berlayar mengikuti arus sungai.
Tiau Hek Hoa masih kelihatan geram terhadap A Liong, walaupun A Liong sendiri seperti sudah melupakan peristiwa kemarin.
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 16
Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 7