Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pedang Pelangi 7

Eps 7 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.

"Kami adalah pengemis-pengemis hina dari Tiat-tung Kai-pang. Aku adalah Jeng-bin Lokai dan di sebelahku ini... pek-bi-kai. Dan kalau tidak salah lihat kami sedang berhadapan dengan Ketua Tai-bong-pai. Benarkah?"

Yok si Ki mengerutkan keningnya.

Dia juga pernah mendengar nama-nama itu.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki nama besar di dunia persilatan.

Walaupun demikian ia tidak peduli.

Yang perlu diwaspadai adalah sahabat-sahabat mereka, karena para pengemis itu bersahabat dengan tokoh-tokoh persilatan ternama.

"Benar, Lokai. kau memang tidak salah lihat. Aku memang Yok si Ki dari Tai-bong-pai. Lalu... apa kehendak Lokai menghentikan aku?"

Tiba-tiba Jeng-bin Lokai mengalihkan pandangannya ke arah Ho Bing.

"Maaf Yok Ciangbun. Kami mempunyai urusan penting dengan kawan Yok Ciangbun ini. Salah seorang anggota kami melihat dan mendengar bahwa kawan Yok Ciangbun ini mengaku sebagai anggota Tiat-tung Kai-pang, bahkan mengaku sebagai tangan kananku. Padahal setiap orang tahu, bahwa Ho Bing si Tongkat Bocor bukan anggota kami lagi. Dia kami keluarkan dari Tiat-tung Kai-pang karena telah berbuat kesalahan besar terhadap perkumpulan... Nah, Yok Ciangbun, ijinkanlah kami bertanya kepadanya. Apakah yang ia inginkan dengan kebohongannya itu? Apakah karena soal wanita lagi seperti dulu?"

Yok si Ki menghela napas lega.

"Oh! Jadi Lokai ingin berurusan dengan dia? Aha, silakan kalau begitu. Sebenarnya kami bukan sahabat atau kawan. Kebetulan saja kami punya urusan kecil di sini. Nah, silakan! Aku akan pergi dulu...!"

"Jeng-bin Lokai...! Jehg-bin Lokai, tolong...!"

Tiba-tiba Tio Ciu In berteriak begitu tahu siapa yang mencegat mereka.

Yok si Ki dan Ho Bing terkejut.

Mereka lupa bahwa tawanan mereka sudah terlepas dari totokan gagunya.

Namun hal itu justru sangat menggembirakan hati Ho Bing, karena tidak mungkin para pengemis itu membiarkan Yok si Ki pergi.

"Hei, Nona Tio Ciu In rupanya! Ah, Yok Ciangbun... jangan pergi dulu!"

Benar juga. Pengemis tua itu buru-buru menghentikan Yok si Ki.

"Kurang ajar! Apa sebenarnya kemauanmu, Pengemis Tua? Bukankah kau ingin berurusan dengan Ho Bing? Mengapa tiba-tiba berubah pikiran? Apakah kau ingin melihat darah anak buahmu berceceran di tempat ini?"

"Ah, ternyata benar juga dugaanku. Tidak ada masalah lain bagi Ho Bing selain masalah wanita. Bahkan kali ini masalahnya menjadi besar dengan ikut campurnya ketua Tai-bong-pai. Nah, Yok Ciangbun, kami semua memang bukan lawan yang setimpal bagimu. Tapi mengingat gadis itu adalah kawan kami, kami memberanikan diri memohon kepadamu. Lepaskanlah dia...!"

Tak terduga Yok si Ki tertawa panjang.

"Ah-ah-ah... tampaknya kalian lebih menyukai kawan daripada nyawa kalian sendiri. Baiklah, kalian boleh mengeroyokku untuk merebut gadis ini. Aku siap melayani. Tapi jangan salahkan aku kalau nama-namamu nanti akan tinggal kenangan bagi sahabat-sahabatmu yang lain, ho-ho-hoh-ha-ha."

"Jadi Yok Ciangbun tetap tidak mau melepaskan gadis itu?"

Jeng-bin Lokai berdesah.

"Jangan banyak bicara! Majulah!"

Jeng-bin Lokai tahu, Yok si Ki merupakan tokoh paling terkemuka dari golongan ilmu hitam.

Selain ilmu silatnya yang berbau ilmu hitam itu sangat tinggi, dia juga seorang ketua partai persilatan besar yang mempunyai banyak anggota di dunia kang-ouw.

Walau ilmu silatnya tidak seganas dan sekeji ilmu silat orang-orang dari Lembah Tak Berwarna, tapi Yok si Ki sangat ditakuti orang.

Namun demi menyelamatkan teman Kwe Tek Hun, putera sahabat mereka, Jeng-bin Lokai rela menyabung nyawa.

Sebelum maju ke depan pengemis tua itu memberi isyarat kepada Pek-bi-kai.

"Baiklah, Yok Ciangbun. Aku si Pengemis Tua ini minta pelajaran darimu."

Katanya kemudian sambil melangkah ke depan.

Jeng-bin Lokai lalu mengangkat tongkatnya.

Tongkat besi sepanjang satu setengah depa, yang selama ini telah mengangkat namanya di dunia persilatan.

Setelah memberi peringatan, orang tua itu lalu memancing reaksi lawan dengan menyodokkan tongkat itu ke arah ulu hati.

Sambil menyodok kakinya siap bergeser ke kiri apabila lawannya menghindar.

Sebaliknya ia juga siap dengan jurus berikutnya apabila lawan menangkis serangan itu.

Tapi apa yang dilakukan oleh Yok si Ki sungguh di luar perkiraan Jeng-bin Lokai.

Tokoh ilmu hitam itu ternyata tidak menangkis atau menghindari sodokannya.

Pada saat yang paling kritis, orang itu justru balas menyerang dengan cengkeraman jari-jarinya.

"Wus!"

Jeng-bin Lokai segera mengendus bau bangkai dari hembusan tangan itu!

Dan pada saat yang bersamaan pula, Pek-bi-kai tiba-tiba bersiul keras sekali!

Suara siulan itu segera disambut dengan suara suara siulan yang lain di kejauhan.

Bahkan di beberapa tempat kemudian tampak panah berasap meluncur ke udara.

Yok si Ki dan Ho Bing terkejut.

Otomatis jari tangan Yok si Ki yang telah mencengkeram ujung tongkat Jeng-bin Lokai itu dilepaskan kembali.

Tokoh ilmu hitam itu mundur selangkah sambil mengamati tongkatnya yang telah melengkung dan penyot di ujungnya.

Ujung tongkat itu bagaikan meleleh dibakar api.

"Bukan main! Besi saja menjadi penyok begini, apalagi kulit dan daging manusia!"

Jeng-bin Lokai berkata di dalam hati. Yok si Ki mendengus dengan suara di hidung.

"Huh! kau mau mengundang seluruh anggota Tiat-tung Kai-pang ke tempat ini? Silakan kalau memang itu keinginanmu. Tempat ini akan menjadi kuburan masal bagi Tiat-tung Kai-pang!"

Ho Bing yang dari tadi hanya diam di tempatnya, tiba-tiba melangkah maju.

"Tuan, mereka memberikan isyarat tanda bahaya kepada semua orang, kepada semua sahabat-sahabat mereka yang kebetulan berada di sekitar tempat ini. Lebih baik kita segera pergi, karena sebentar lagi mereka akan datang. Mungkin sepuluh, dua puluh, atau lebih banyak lagi. Kita berdua tak mungkin melawan mereka."

Bisiknya dengan suara khawatir. Sekali lagi Yok si Ki mendengus.

"Bagus! Biarlah mereka datang! Biar mereka saksikan di sini, suatu kejadian yang takkan mereka lupakan seumur hidup mereka. Musnahnya sebuah perkumpulan pengemis yang terkenal sejak dulu!"

"Tapi kalau hal itu benar-benar terjadi, justru Tuanlah yang tak bisa tidur nyenyak setiap hari. Harap Tuan memikirkannya juga."

Ho Bing yang tidak ingin mendapat kesulitan di kemudian hari, mencoba membujuk Yok si Ki.

"Apa katamu? Aku tak bisa tidur nyenyak? Mengapa?"

"Tuan memang dapat membantai mereka. Tapi selanjutnya seluruh kaum persilatan akan memusuhi Tuan, bahkan memusuhi Tai-bong-pai. Semua orang akan datang mencari Tuan..."

Ho Bing berhenti sebentar, lalu lanjutnya pula.

"Mungkin Tuan tidak takut menghadapi mereka. Tapi tak mungkin Tuan melayani mereka terus menerus. Satu kalah, tentu yang lain akan datang. Dua kalah maka berpuluh-puluh yang lain akan datang pula. Belum lagi kalau mereka bersatu, beramai-ramai menghadapi Tuan. Apakah Tuan tidak akan menjadi kewalahan nanti?"

"Apa...?"

Ketua Tai-bong-pai itu mendelik, namun kata-kata itu termakan juga di hatinya.

"Ingatlah, Tuan. Tuan tentu tahu juga, bahwa Tiat-tung Kai-pang selalu bersahabat dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan Keh-sim Taihiap Kwe Tiong Li. Bagaimana kalau salah seorang di antara mereka juga mencari Tuan? Apakah Tuan juga sudah siap menghadapi mereka?"

"Aku tidak takut! Mereka tidak akan bisa mengalahkan aku."

Yok si Ki berteriak, tapi tampak sekali perubahan wajahnya ketika Ho Bing menyebutkan nama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

Ho Bing menarik napas panjang.

Matanya menatap para pengemis yang mengepung tempat itu.

"Baiklah! Kalau begitu, silakan Tuan bertempur dengan mereka! Lebih baik aku pergi menyelamatkan diri! Nah, selamat tinggal...!"

Sekonyong-konyong Ho Bing membalikkan tubuhnya, kemudian melesat masuk kembali ke dalam rumah. Gerakannya cepat sekali dan tak dapat terduga oleh siapapun juga.

"Hei! Mau kemana kau? Tunggu...!"

Yok si Ki berteriak, lalu menjejakkan kakinya mengejar.

Gerakannya juga tidak kalah cepat pula.

Bahkan tampak lebih ringan dan lebih lincah meskipun di pundaknya ada Tio Ciu In!

"Lepaskan aku!

Lepaskan...!"

Tio Ciu ln menjerit.

"Yok Ciangbun jangan lari! Lepaskan Nona Tio...!"

Jeng-bin Lokai berseru keras seraya melompat ke depan. Namun Pek-bin Lokai segera menahannya.

"Jangan masuk, Lo-heng! Kedua orang itu sangat licik! Kita jangan sampai terperangkap oleh akal bulus mereka. Biarlah mereka di dalam. Rumah ini sudah kita kepung. Kita tunggu dulu bantuan yang datang. Nanti kita gempur bersama-sama."

Pengemis beralis putih itu menasehati Jeng-bin Lokai.

"Benar. Hampir saja aku terkecoh oleh kelicikan Ho Bing."

Sementara itu Ho Bing melesat ke ruang bawah tanah kembali.

Yok si Ki yang tak ingin kehilangan Ho Bing cepat menyusup ke dalam pula sebelum pintu itu tertutup kembali.

Sambil berlari menuruni tangga Ho Bing menoleh.

"Tuan beruntung mau menerima saranku. Sebentar lagi tempat ini akan terkepung oleh puluhan, bahkan mungkin malah ratusan pendekar persilatan. Tuan tentu tahu, bahwa peristiwa pembantaian prajurit dan para pemenang sayembara itu membuat pendekar-pendekar persilatan datang ke daerah ini."

"Lalu... Mau kemana kita? Bersembunyi di ruang ini?"

Ho Bing berdiri di tengah ruangan. Air mukanya yang kelimis, walaupun rambutnya terpotong pendek, tampak berseri-seri. Pandang matanya menunjukkan kegembiraan.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku...!"

Tio Ciu In yang menjadi ketakutan karena dibawa kembali ke dalam ruangan itu, berteriak dan menjerit-jerit. Gadis itu benar-benar ketakutan.

"He-he-he, Yok Ciangbun. Tentu saja kita bersembunyi di tempat ini. Mau kemana lagi?"

Pengemis licik itu tertawa senang. Tampak sekali kalau dia amat yakin akan keselamatannya.

"Apa maumu, heh?"

Yok si Ki membentak berang.

Tiba-tiba saja Ketua Tai-bong-pai itu menyambar dada Ho Bing.

Cepat bagai kilat.

Ho Bing yang sudah bersiaga itu mengelak dan berteriak mengancam lawannya.

Di tangannya tergenggam botol berisi cairan berwarna merah.

"Berhenti, Yok Ciangbun! Atau... Kau dan gadis itu akan mati di ruangan ini!"

"Apa maksudmu...?"

Yok si Ki menggeram sambil membuang sobekan kain baju Ho Bing yang tersambar oleh tangannya tadi.

Diam-diam hati Ho Bing menjadi kecut juga.

Dalam puncak kesiagaannya, ternyata tetap saja ia hampir mati disambar tangan Yok si Ki.

Gerakan orang itu benar-benar seperti setan cepatnya.

(Lanjut ke

Jilid 18) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 18 Tapi keadaan itu justru membuat hati Ho Bing semakin mantap. Dia sudah siap untuk mati bersama kalau perlu.

"Yok Ciangbun, kau tidak punya kesempatan untuk lari lagi sekarang. Di atas tentu sudah berkumpul ratusan pendekar yang hendak menangkapmu. Di sinipun kau juga tidak mempunyai pilihan lain. kau memang gampang membunuh aku. Tapi kalau botol yang kubawa ini jatuh dan pecah, hehehe... ruangan ini akan penuh asap beracun yang mematikan!"

Ho Bing mengancam. Yok si Ki mendengus.

"Huh! kau kira aku takut menghadapi mereka? Hehe, sekarangpun aku juga siap untuk kembali ke atas lagi. Aku mengejarmu karena aku tak ingin kehilangan kau. kau harus mati dulu sebelum aku bertempur dengan mereka."

Keringat dingin mengalir membasahi punggung Ho Bing. Tampaknya Yok si Ki benar-benar ingin membunuh semua lawannya.

"Baiklah, kalau memang itu yang Tuan inginkan..."

Ho Bing berdesah sambil mengangkat botol itu ke atas kepalanya.

"He! Tunggu!"

Yok si Ki tiba-tiba berteriak khawatir.

"Tidak peduli! Lebih baik kita mati bersama!"

"Jangan! Jangan! Aku... aku...? Baiklah, aku menyerah! Katakan apa maumu, nanti kita rundingkan lagi."

Ternyata Yok si Ki menjadi takut juga.

Ruangan itu kedap udara, sementara pintu keluarnya juga terbuat dari besi yang hanya bisa digerakkan dengan kunci rahasia pula.

Kalau asap beracun itu benar-benar ditebarkan oleh Ho Bing, maka dalam waktu singkat dia tak mungkin bisa mendobrak pintu tersebut.

Ho Bing menahan tangannya.

Matanya memandang Yok si Ki.

"Baiklah, Yok Ciangbun. Aku tak akan membanting botol ini asal kau memberikan gadis itu dan mengembalikan uang tadi kepadaku."

Wajah Yok si Ki menjadi merah.

"Kau memang patut mati!"

Ia menggeram dengan suara tertahan. Tapi Ho Bing seperti tak mempeduli-kan lawannya. Botol racun itu segera diangkat kembali ke atas kepalanya.

"Silakan! Kita mati bersama-sama."

Ucapnya sambil mengayunkan tangannya ke bawah.

"Baik! Baik! Bangsat! Terimalah ini! Aku kembalikan semuanya kepadamu!"

Saking khawatirnya Yok si Ki melemparkan tubuh Tio Ciu In begitu saja, sehingga gadis itu jatuh berdebam di atas lantai.

Kemudian dengan tergesa-gesa pula tangannya mengeluarkan uang pemberian Ho Bing tadi dan melemparkannya kepada pengemis itu.

"Aduh...! Kalian semua manusia jahat dan keji! Lepaskan aku!"

Tio Ciu In melengking kesakitan. Ho Bing tidak jadi membanting botolnya.

"Bagus. Ternyata Yok Ciangbun masih dapat berpikir jernih juga. Sekarang silakan Yok Ciangbun keluar! Aku akan membuka pintunya dari sini."

Tapi Yok si Ki tidak beranjak dari tempatnya. Ketua Tai-bong-pai itu justru melipat lengannya di depan dada. Sikapnya menjadi tak acuh.

"Huh!"

Dia berdesah melalui hidungnya.

"Jangan dikira hanya kau yang cerdik dan tidak takut mati. Kini keadaanku sama dengan keadaanmu tadi. Tidak ada pilihan lain selain tergantung pada keinginan lawan. Dan... aku juga siap pula menghadapinya seperti engkau tadi. Terserah kepadamu, kau pilih yang mana. Kalau pilih mati, yah... banting saja botolmu itu! Dan aku segera akan membunuhmu sebelum racun itu menghentikan detak jantungku! Tapi kalau kau ingin tetap hidup, hehehe... terpaksa kita harus saling bahu-membahu keluar dari tempat ini! Nah, bagaimana? Pikirkanlah dengan baik, karena nyawa kita saling bergantung satu sama lain. Kalau salah satu ingin mati, yah... Matilah semuanya! Keputusan kuserahkan kepadamu!"

"Maksud Yok Ciangbun...?"

Keringat dingin semakin deras mengalir dari punggung Ho Bing. Yok si Ki tertawa dingin.

"Aku tahu bahwa sebenarnya kau masih ingin tetap hidup kalau diberi kesempatan. Begitu pula dengan aku saat ini. Sebenarnya aku ingin sekali membunuhmu. Tapi kalau aku membunuhmu, maka kau tentu akan segera meledakkan botol racunmu itu sehingga akupun tidak akan dapat menyelamatkan diri. Maka aku memilih tidak membunuhmu agar aku juga tetap hidup pula. Bahkan aku rela menyerahkan kembali gadis dan uangmu. Tapi..."

"Tapi... apa?"

Yok si Ki tertawa dingin.

"Tapi... jangan kau anggap aku ini bodoh dan mudah ditipu. Hehehe, kulihat kau sangat yakin bisa menyelamatkan diri di ruangan ini, padahal pintunya cuma terbuat dari besi yang mudah dirusakkan. Para pengemis itu akan mudah sekali menjebolnya. Aku curiga kau mempunyai jalan rahasia lain di ruangan ini, hehehe."

Ho Bing benar-benar kaget melihat kecerdikan lawannya.

"Yok Ciangbun, aku..."

Serunya gugup.

"Nah, melihat roman mukamu dan suaramu yang gemetar, aku semakin yakin bahwa kau memang menyembunyikan pintu rahasia itu!"

Ho Bing semakin pucat.

"Yok Ciangbun, ini... Ini..."

Yok si Ki menggeram.

"Ayoh, cepatlah! Orang-orang itu sudah berada di ruang tengah. Sebentar lagi mereka akan tiba di depan pintu. kau tidak ingin mati, bukan?"

"Tapi... tapi... Maukah Yok Ciangbun berjanji? Berjanji tidak akan... Membunuh aku dan mengambil gadis itu?"

Dalam keadaan tegang dan terburu-buru Ho Bing masih mencoba untuk menekan lawannya. Yok si Ki memandang geram.

"Bodoh! Tentu saja aku takkan membunuhmu! Kalau aku memang ingin membunuhmu, buat apa harus bertele-tele begini? Bunuh saja dan habis perkara! Masa aku tak bisa mencari sendiri pintu rahasiamu itu? Kalaupun tidak bisa, masa aku juga tidak dapat meloloskan diri dari kepungan mereka?"

"Dok! Dok!"

Tiba-tiba pintu ruangan itu digedor dari luar! Ho Bing terkejut. Pintu itu memang kuat, tapi tak mungkin bertahan kalau digedor terus menerus dengan benda yang kuat.

"Ayoh cepat! Sebentar lagi pintu itu akan jebol!"

Yok si Ki menghardik. Akhirnya Ho Bing menurut juga.

"Baiklah, Yok Ciangbun... aku percaya ucapanmu!"

Katanya menyerah sambil menyambar tubuh Tio Ciu In, lalu melompat ke pojok ruangan.

Yok si Ki tak mau lepas dari Ho Bing.

Melihat pengemis kelimis itu meloncat, ia segera menempel di belakangnya.

Pengemis itu menyodokkan ujung tongkatnya ke susunan batu-bata paling bawah dan dinding itu sekonyong-konyong bergeser dengan suara gemuruh.

Lalu beberapa saat kemudian diantara dua dinding itu terbuka sebuah celah sempit selebar tubuh manusia.

"Yok Ciang-bun, marilah...Waktunya tidak banyak! Celah ini akan segera tertutup kembali."

Benar juga.

Begitu Yok si Ki masuk ke dalam celah, dinding itu berderak keras menutup lagu Lorong rahasia itu benar-benar gelap sekali.

Jangankan melihat lawan, memandang tangan sendiripun tak bisa.

Tapi, bagi jago silat seperti mereka, hal itu bukanlah halangan.

Apalagi bagi Yok si Ki, dengan naluri dan perasaannya yang terlatih, ketua Partai Tai-bong-pai itu mampu membaca keadaan di sekitarnya dengan baik.

Dan Ho Bing tahu benar akan hal itu.

Sementara itu untuk menghilangkan rasa takutnya Tio Ciu In mulai menyanyi lagi.

Meskipun suaranya menjadi kacau karena tubuhnya terguncang dalam pondongan Ho Bing, namun ia tidak peduli.

Dia terus menyanyi sebisanya.

"Diam kau!"

Yok si Ki membentak.

"Biar saja Yok Ciangbun! Lorong ini berada di bawah tanah dan sudah jauh dari pondok itu, tak seorangpun dapat mendengar suaranya. Biarkan saja...! Hitung-hitung dapat hiburan."

"Huh!"

Yok si Ki mendengus, lalu diam kembali. Sepeminuman teh kemudian, setelah berbelak-belok kesana-kemari, akhirnya lorong itu mulai terasa lembab dan agak basah. Lapat-lapat mulai terdengar suara air.

"Nah, sekarang berhentilah bernyanyi! Kalau tidak... Hmm, akan kucium bibirmu sampai tak bisa bernapas!"

Tiba-tiba Ho Bing mengancam Tio Ciu In.

Ancaman itu lebih menakutkan daripada ancaman mati.

Kontan saja Tio Ciu menghentikan nyanyiannya.

Ketika Yok si Ki melihat cahaya samar-samar di ujung terowongan, wajahnya tampak lega dan gembira.

"Kita hampir sampai di atas tanah lagi?"

"Belum, Yok Ciangbun. Itu hanya cahaya kunang-kunang..."

"Kunang-kunang?"

Sama saja! Kunang-kunang juga hidup di udara terbuka."

"Bukan, maksudku bukan kunang-kunang, tapi... serangga lain yang tubuhnya bersinar seperti kunang-kunang."

Ho Bing buru-buru menerangkan.

Benar juga.

Keluar dari lorong itu, mereka belum juga sampai di atas.

Mereka justru masuk ke dalam lorong yang lebih luas dan lebih lebar lagi.

Dan Yok si Ki menjadi kaget ketika kakinya mengijak air yang mengalir.

"Hati-hati, Yok Ciangbun! Jangan terlalu ke tengah! Kita berada di sungai bawah tanah! Berpeganglah terus pada dinding gua ini!"

Ho Bing memperingatkan.

"Gila! Akan sampai di mana lubang gua ini?"

Ternyata timbul juga perasaan khawatir di hati Yok si Ki.

Walaupun bangunan partai Tai-bong-pai juga didirikan di sebuah kuburan kuno, di mana di dalamnya juga memiliki lorong-lorong rahasia seperti liang tikus, tapi lorong gua yang diinjaknya sekarang tetap saja membuatnya ngeri dan kecut.

Apalagi jika melihat cahaya-cahaya kebiruan yang bertebaran di sekelilingnya.

Cahaya yang timbul dari tubuh serangga-serangga kecil di dalam gua itu bagaikan mata kawanan iblis yang sedang mengintai mereka.

"Sungai ini akan bermuara di laut, di Pantai Sarang Lebah."

Ho Bing menjawab tanpa menghentikan langkahnya.

"Kau maksudkan Gua Seribu Jalan itu...?"

Ho Bing berhenti sehingga Yok si Ki hampir saja menabraknya.

"Oh, Yok Ciangbun juga sudah pernah ke sana... ? Memang benar, pantai itu banyak dikenal orang karena keanehannya. Selain memiliki tebing yang curam dan batu karang besar-besar, pantai itu juga memiliki ratusan lubang gua, sehingga orang menyebutnya... pantai Sarang Lebah... gua Seribu Jalan dan sebagainya. Dan lorong ini memang bermuara di sana. Yok Ciangbun dapat melihatnya nanti. Tapi sebelum itu, lorong gua ini akan terpecah dan bercabang-cabang seperti liang semut..."

Apa yang dikatakan Ho Bing memang benar.

Di dalam keremangan cahaya ratusan atau ribuan serangga tadi, Yok si Ki melihat bahwa sungai itu beberapa kali berbelok dan berpecah menjadi beberapa jurusan.

Begitu seringnya aliran sungai itu bercabang menjadi beberapa jurusan, sehingga Yok si Ki tak bisa mengingat lagi, berapa kali mereka telah berbelok dan berganti arah.

"Gila! Jangan-jangan kita terjebak di lorong ini, berputar-putar sampai tua! Ho Bing...! Bagaimana kau dapat memilih arah yang benar? Apakah kau pernah melewatinya?"

Yok si Ki menggeram. Suaranya sedikit bergetar oleh rasa ngeri.

"Jangan khawatir, Yok Ciangbun! Aku sudah dua kali melewati terowongan ini. Kelihatannya memang membingungkan, tapi sebenarnya sangat mudah. Asalkan kita selalu mengikuti arus air ini, kita tentu akan sampai juga di laut. Pokoknya jangan sekali-kali melawan arus."

"Benar juga..."

Yok si Ki membatin.

Namun demikian suara gemuruh di terowongan itu tetap saja mengejutkan hati Yok si Ki.

Apalagi ketika dasar sungai itu menjadi semakin dalam, sehingga air itu rasanya merambat naik dan hendak menelan mereka.

Ternyata rasa ngeri tersebut juga dirasakan pula oleh Tio Ciu In.

Dalam keadaan tertotok lemas seperti sekarang, gadis itu merasa seperti burung tak bersayap, yang tak mampu berbuat apa-apa bila bahaya datang.

Beberapa kali terlintas di benak gadis-itu...

Kalau tiba-tiba mereka terperosok ke dalam air dan dia terlepas dari gendongan Ho Bing!

Kalau hal itu sungguh-sungguh terjadi, maka tiada lain nasibnya selain tenggelam secara mengenaskan!

"Lepaskan aku...!

Biarlah aku berjalan sendiri!"

"Benar, Ho Bing. Biarlah dia berjalan sendiri agar langkahmu menjadi lebih cepat."

Yok si Ki berkata pula. Ho Bing yang merasa lelah juga menggendong Tio Ciu In, akhirnya mau juga menurunkan gadis itu dan memunahkan totokannya.

"Tapi ingat..., Nona! kau jangan terlalu jauh dariku! Sekali kakimu salah menginjak lubang sumur, maka arus air akan menyeretmu ke dalam sumur-sumur gelap tak berujung! Ketahuilah, di tengah-tengah sungai ini banyak lubang sumur yang dihuni ular berbisa."

Suasana di gua itu tetap gelap gulita. Namun demikian Tio Ciu In tetap saja menutup dadanya yang terbuka itu dengan wajan merah padam.

"Oo-ouh...!"

Gadis itu menjerit kecil ketika tiba-tiba kakinya menginjak bagian yang agak dalam.

Bayangan lubang sumur berisi ular berbisa segera membuat Tio Ciu In menjadi ketakutan, sehingga air yang mengalir di sela-sela kakinya terasa seperti gesekan tubuh ular yang hendak membelit tubuhnya.

"Bagaimana kalau seandainya... permukaan air sungai ini menutupi seluruh lubang gua...?"

Yok si Ki tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Ho Bing tersenyum, meskipun senyum itu tak bisa terlihat oleh lawan-lawannya.

"Yah, apa boleh buat, kita terpaksa kembali lagi ke tempat semula untuk mencari lubang yang lain."

"Huh...!?"

Yok si Ki menggerutu.

Sebenarnya menyesal juga Yok si Ki mengikuti Ho Bing ke dalam lubang neraka itu.

Rasanya lebih mudah baginya menghadapi keroyokan para pengemis tadi daripada harus melewati bahaya seperti itu.

Paling tidak, di dalam pertempuran, kesempatannya untuk tetap hidup akan lebih banyak daripada mengadu nasib di tempat itu.

Waktu rasanya berjalan terlalu lambat dan mereka merasa seperti berputar-putar di tempat yang sama.

Begitu banyaknya lubang yang mereka hadapi, sehingga mereka tak tahu lagi berapa banyak mereka berganti arah.

Tentu saja semuanya menjadi tegang dan takut.

Takut salah jalan dan mati sia-sia di tempat yang mengerikan itu.

"A-aku... ta-takut! Bo-bolehkah aku menyanyi lagi... agar rasa takutku berkurang?"

Tiba-tiba Tio Ciu In yang melangkah di samping Ho Bing berdesah pelan. Pelan sekali, namun sudah cukup untuk mengejutkan Yok si Ki yang sedang kalut pikirannya.

"Apa katamu?"

Yok si Ki membentak, sehingga Tio Ciu In tersentak ketakutan.

"Aaaah, mengapa berteriak-teriak begitu, Ciangbun? Suaramu justru akan membangunkan Hantu Penunggu Gua ini..."

Ho Bing cepat menengahi.

"Biarlah gadis ini menyanyi. Dalam saat begini, rasanya kita memang membutuhkan hiburan untuk mengurangi ketegangan."

Yok si Ki tak menjawab dan untuk beberapa saat mereka tak berbicara. Mereka berjalan sambil berpegangan nada dinding gua.

"Baiklah! Menyanyilah sesukamu...!"

Akhirnya Yok si Ki berkata dengan suara rendah.

"B-benarkah...?"

Tio Ciu In bertanya Wajahnya berseri penuh harapan.

"Menyanyilah...!"

Ho Bing tertawa.

"Jangan khawatir, aku takkan mencium bibirmu! Hohohoho!"

Entah mengapa, Tio Ciu In masih tetap berharap akan datangnya pertolongan dari Pendekar Buta itu.

Bahkan Tio Ciu In juga percaya bahwa pendekar sakti itu akan menepati janjinya, menolong dia dari tangan penjahat-penjahat tersebut.

Oleh karena itu dengan sangat bersemangat dia bernyanyi lagi.

Apabila di malam gelap gulita Tiba-tiba muncul Bulan Purnama, Malampun bagai tersentak dari tidurnya Menyambut hangatnya Sang Pelita Malam!

Kekasihku...?

Aku selalu mengharap kedatanganmu!

Selesai menyanyikan bait pertama, Tio Ciu In lalu meneruskan lagi dengan bait selanjutnya.

Semalam penuh aku duduk sendiri, Mengenang wajahmu dalam bayangan, Kutanya Sang Bulan bila ada pesanmu, Jatuhkan saja ke dalam pangkuanku!

Kekasihku.

Aku selalu mengharapkan kedatanganmu.

Suara Tio Ciu In memang lembut.

Meskipun gemetaran, namun nada suara-ya benar-benar cocok untuk lagu itu ramanya terdengar sendu dan menyedihan, sehingga Yok si Ki dan Ho Bing seperti terhanyut dalam kesepian pula.

"Wah, kau pandai benar menyanyi."

Yok si Ki memuji.

"Benar. Dan rasanya... suasana juga tidak menjadi tegang lagi."

Ho Bing meambahkan sambil tertawa.

Tio Ciu In mengambil napas dalam-dalam, siap untuk mengulang kembali lagunya.

Tapi ketika lagu itu hampir terepas dari bibirnya, sekonyong-konyong dari arah depan terdengar suara suling melengking menyayat hati!

Suaranya mengalun tinggi dalam lagu yang sama, lagu "Menanti Kekasih!"

Yok si Ki dan Ho Bing tersentak kaget! Di dalam gua bawah tanah seperti itu ada orang meniup suling? Siapakah dia? Hantu? Tiba-tiba Yok si Ki menyambar leher Ho Bing.

"Wuuuuut!"

Dan Ho Bing sama sekali tak bisa menghindar! Jalan darah Hong-to-hiat di leher pengemis itu telah dicengkeramnya.

"Kau punya teman di sini? Huh!"

Mata Ho Bing mendelik ketakutan, Jangan! Ja-jangan lakukan! Ciangbun... Kau keliru! kau salah sangka! Aku tidak tahu siapa dia!"

Pekiknya dengan suara. parau.

"Bohong...! Siapa orang yang mau berada di tempat ini selain orang sendiri?"

Menambahkan sambil tertawa. Ho Bing terbatuk-batuk hampir kehabisan napas. Keringat dingin segera membanjir membasahi dahinya.

"Nanti dulu...! Tempat ini sudah dekat dengan pantai sarang lebah! Si-siapa t-t-tahu... suara itu terbawa angin darisana dan masuk ke dalam gua ini?,"

Sambil berbicara Ho Bing mencoba melepaskan diri, tapi tak bisa.

Cengkeraman itu seperti menyumbat seluruh saIuran tenaga saktinya, membuat kekuatannya hilang entah ke mana.

Cengkeraman itu mengendor sedikit.

"Apa? Sudah dekat dengan pantai?"

Yok si Ki menggeram.

"Be-benar! Satu tikungan lagi kita akan tiba di Gua Besar! Dari tempat ini sudah kelihatan lubang keluarnya...!"

"Benarkah...?"

Yok si Ki melepaskan tangannya.

"Awas kalau kau berbohong!"

"Oough...!"

Ho Bing berdesah sambil mengusap lehernya yang kemerah-merahan bekas jari.

Di pihak lain suara suling itu bagaikan air kehidupan yang menetes ke dalam jiwa Tio Ciu In.

Begitu lega rasanya.

Begitu gembira hatinya.

Siapa lagi yang meniup suling itu selain si Pendekar Buta?

Tapi untuk menghindari kecurigaan lawannya, Tio Ciu In sengaja berpura-pura tidak tahu.

Dia tetap menyanyi, seolah-olah tidak mendengar suara suling tersebut.

"Diam... Kau!"

Yok si Ki membentak.

"Ho Bing, mari kita lihat siapa orang itu. Mereka lalu bergegas menyusuri lorong gua itu lagi. Dan beberapa saat kemudian lorong itu benar-benar menikung ke kiri.

"Yok Ciangbun, lihat! Bau air laut sudah terasa, bukan? Tuh, di depan...! Kita sudah sampai di Gua Besar!"

Ho Bing yang berada di depan berseru lega.

Yok si Ki menyusul.

Pandangannya segera terbentur pada sebuah gua besar bercahaya remang-remang, di mana pada dinding-dindingnya terdapat banyak lubang besar yang mengalirkan air dari dalamnya.

Dan jauh di ujung sana, beberapa buah lubang kosong tampak menyorotkan sinar yang menyilaukan.

"Itu dia lubang keluarnya!"

Ho Bing bersorak gembira.

Jarinya menunjuk ke arah lubang yang menyilaukan itu.

Aliran sungai itu ternyata tidak memenuhi permukaan lantai di Gua Besar.

Airnya hanya mengalir di tengah-tengah gua, di antara bongkahan batu-batu besar yang berserakan di tempat itu.

Suaranya gemericik menyejukkan hati.

Sementara di bagian atas gua itu banyak sekali kelelawar bergelantungan.

Binatang-binatang malam itu mengeluarkan suara mencicit tak henti-hentinya.

"Heran? kemana suara suling tadi? Mengapa tiba-tiba menghilang?"

Ho Bing bergumam heran.

Tak ada jawaban.

Semuanya memasang mata dan telinga.

Yok si Ki juga mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memeriksa tempat itu.

Tempat yang sangat sulit, karena selain gelap juga banyak batu besar berserakan.

Sangat sulit mencari sosok manusia di tempat seperti itu.

"Tampaknya orang itu memang berada di luar gua..."

Yok si Ki membatin.

Ketika mereka bertiga bergeser ke depan, sebuah benda hitam yang sejak semula mereka sangka batu karang, mendadak bergerak dan berdiri di depan mereka!

Begitu mengejutkan sehingga gadis seperti Tio Ciu In sampai terpekik saking kagetnya!

"Apakah cuwi ingin mendengarkan suara sulingku lagi...?"

Benda hitam yang tiada lain adalah seorang manusia mengenakan mantel kehitaman itu tiba-tiba berkata pelan.

"K-kau... siapa?"

Ho Bing buru-buru menyapa. Tapi Tio Ciu In segera mengenali orang itu. Tubuh yang tinggi kurus, dengan rambut panjang menutupi bahu, siapa lagi kalau bukan si Pendekar Buta? "Lo-Cianpwe...?"

Tio Ciu In berbisik. Orang itu tidak menjawab. Dia malah mengangkat sulingnya. Tapi sebelum suling itu ditiup, Yok si Ki sudah lebih dulu melesat ke depan orang itu.

"Tahaaaaan...!"

Teriak Ketua Tai-bong-pai itu keras. Orang itu tak lain adalah si Pendekar Buta itu, menurunkan sulingnya kembali.

"Tuan siapa? Apakah Tuan ingin meniup sulingku juga?"

"Jangan bergurau! Aku Yok si Ki, Ketua Partai Tai-bong-pai angkatan ke tujuh! Siapakah kau? Rasanya aku belum pernah melihatmu di dunia persilatan..."

Tak terduga Pendekar Buta itu berdesah panjang sekali.

Wajahnya yang tertutup rambut itu mendongak ke atas, sehingga dari kejauhan penampilannya benar-benar seperti kembar dengan Yok si Ki.

Sama-sama jangkung, kurus dan berambut panjang.

Perbedaan mereka hanya pada warna rambut dan warna kain yang mereka pakai.

Kalau Yok si Ki berambut hitam dan berpakaian serba putih, sebaliknya Pendekar Buta mengenakan pakaian serba gelap dan rambutnya sudah bercampur putih.

"Aku memang jarang keluar dari pertapaanku! Tentu saja Tuan tidak mengenal aku! Orang biasa menyebutku... si Buta!"

"Kau... buta?"

Yok si Ki terperanjat. Pendekar Buta itu mengangguk.

"Apakah Tuan merasa kaget? Kaget menyaksikan orang bermata buta seperti aku bisa sampai di tempat ini? Ah, maaf... tuan tak usah kaget! Aku memang tinggal di sini. Gua ini... tempat tinggalku."

"Namamu si Buta? kau tinggal di sini? Hmmh, jangan main-main! Katakan saja terus terang... siapa namamu sebenarnya?"

"Maaf Aku sudah lama tidak berhubungan dengan orang lain. Aku sudah melupakan namaku. Tapi sejak aku keluar lagi, orang memanggilku si Buta dan aku menerimanya. Jadilah namaku sekarang si Buta!"

Sementara itu, Tio Ciu In yang sejak tadi merasa belum diperhatikan oleh Pendekar Buta, segera melangkah ke depan.

"Lo-Cianpwe...? kau... Kau mendengar suara nyanyianku tadi, bukan?"

Tio Ciu In berbisik dan mencoba mendekat. Tapi Ho Bing segera membentak.

"Mau kemana kau? Cepat... Ke sini!"

Namun entah bagaimana cara bergeraknya, tiba-tiba si Pendekar Buta itu telah berada di antara Tio Ciu In dan Ho Bing!

Demikian cepatnya sehingga tokoh seperti Yok si Kipun sampai kecolongan!

Pada saat menangkap gerakan lawan, Ketua Tai-bong-pai itu cepat mengangkat kakinya, namun terlambat.

Orang buta itu telah berdiri di dekat Tio Ciu Ih.

Bahkan Ho Bing yang hanya tiga langkah jaraknya dari gadis itu tak mampu berbuat banyak.

"Gila...! Karena terlalu meremehkan orang, maka aku jadi kehilangan selangkah di belakangnya!"

Yok si Ki menggeram. Pendekar Buta membawa Tio Ciu In ke samping.

"Ya, Nona Tio... burung elangku memang mendengar suaramu dan memberitahukannya kepadaku. Emm... aku tidak terlambat, bukan?"

"Tidak Lo-Cianpwe... aku tidak apa-apa."

"Syukurlah...!"

Orang tua itu berdesah lega.

"Burung elang...? Oh-oh, jadi burung elang putih itu kepunyaanmu?"

Ho Bing tersentak kaget.

"Awas, Yok Ciangbun! Tampaknya orang ini adalah Pendekar Buta yang dikatakan oleh pelayan rumah makan itu!"

Tiba-tiba si Buta itu menoleh ke arah Ho Bing. Keningnya yang tertutup itu berkerut.

"Pelayan rumah makan? Apakah hubungannya pelayan itu dengan jiwi berdua? Ah, ya-ya... aku tahu. jiwi tentu kawan si pengacau dari luar Tembok Besar itu, bukan?"

Tak terduga Pendekar Buta itu memotong ucapan Ho Bing. Tio Ciu In cepat meraih lengan penolongnya.

"Lo-Cianpwe, kau benar. Pengemis jahat ini memang orang upahan Mo Goat, gadis dari luar Tembok Besar itu. Dia mau membunuhku!"

"Sudahlah, Nona Tio. kau tak perlu khawatir. Yok si Ki adalah tokoh terkemuka di dunia persilatan. Dia seorang ke tua partai persilatan yang dihormati orang. Tentu saja dia takkan mau menghina seorang gadis muda seperti engkau. kau akan..."

"Cukup!"

Yok si Ki berteriak.

"Kau tidak perlu mengejek aku! Aku memang tidak berniat mengganggunya! Aku lebih tertarik kepada kepalan tanganmu!"

"Sudahlah Yok Ciangbun... aku tidak ingin bertentangan denganmu. Aku sudah bosan berkelahi. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Kekerasan hanya akan menimbulkan rasa sakit. Sakit di badan ataupun sakit di hati. Tak ada kedamaian dan kebahagiaan yang diperoleh dari jalan kekerasan!"

Bukan main berangnya hati Yok si Ki.

"Aku tidak butuh ceramahmu! Aku butuh pukulan dan tendanganmu! Nah, apakah kau takut berhadapan dengan aku?"

Ternyata Pendekar Buta tidak goyah oleh tantangan lawan. Pendekar itu justru menarik lengan Tio Ciu In dan mengajaknya pergi. Tio Ciu In memandang penolongnya dengan perasaan kagum.

"Kau memang hebat, Lo-Cianpwe! Dari sikapmu aku bisa melihat bahwa sebenarnya kau tidak takut kepadanya. Namun demikian ternyata kau tidak melayani tantangannya! Kata Guruku, sikap seperti itu baru bisa dicapai orang setelah dia bisa mengalahkan dirinya sendiri."

Pendekar itu tersenyum kecut, lalu mengeleng.

"Kau keliru, Nona Tio. Aku bukan manusia seperti itu. Aku memang benar-benar sudah bosan berkelahi."

"Hei! Berhenti...! Enak saja kau membawa gadisku!"

Tiba-tiba Ho Bing meloncat dan berteriak lantang. Tio Ciu In dan Pendekar Buta berhenti melangkah, lalu dengan berani gadis itu menghadapi Ho Bing.

"Pengemis jahat, kau mau apa? Minta digebuk...?"

Sekarang di bawah perlindungan Pendekar Buta, Tio Ciu In menjadi galak dan tidak takut lagi kepada lawan-lawannya.

Ho Bing terkejut.

Sesaat ada juga rasa keder melihat orang buta di belakang gadis itu.

Namun menyaksikan Yok si Ki juga melesat datang dan berdiri di sebelahnya, hatinya menjadi besar kembali.

"Hohoho... Kau menjadi galak sekarang! Tapi... tidak apa-apa. Aku justru senang menghadapi gadis bersemangat! Marilah, sayang...!"

Ho Bing mengembangkan lengannya dan maju ke depan. Tangan Pendekar Buta menyentuh bahu Tio Ciu In dari belakang.

"Nona, kau siap menghadapi dia...?"

Dia berbisik perlahan. Tio Ciu In mengangguk.

"Aku akan mencobanya..."

"Baiklah. Tapi... Kau harus berhati-hati! Dari suara langkah kakinya, dia tentu memiliki ilmu silat tinggi. Tapi, terserah kau. Aku... akan menjaga orang yang bernama Yok si Ki itu. Tampaknya dia lebih berbahaya daripada temannya. Nah, demi keamananmu... bawalah sulingku ini! Selipkan di pinggangmu! Suaranya bisa menjadi pedoman bagiku untuk mengikuti gerakanmu."

Pendekar Buta itu berbisik lagi di telinga Tio Ciu In.

Tio Ciu In menerima suling itu dan menyelipkannya di balik tali pinggang.

Setelah itu kakinya melangkah ke depan sambil mengayunkan tangan kiri, menyongsong kedatangan Ho Bing.

Entah kapan ia mencabut senjatanya, tapi yang jelas tangan itu telah memegang sepasang pedang pendek.

"Bagus...!"

Ho Bing memuji sambil mengayunkan tongkatnya untuk menangkis.

"Traaaaang!"

Bunga api muncrat berhamburan menerangi gua itu.

Keduanya bergetar mundur.

Ho Bing tergetar selangkah ke belakang, sementara Tio Ciu In terdorong empat langkah lebih banyak.

Seperti tahu saja, Pendekar Buta itu berbisik dengan ilmu Coan-im-jib-bit.

"Jangan terlalu sering mengadu tenaga! Lebih baik kau mengambil keuntungan dengan pedang pendekmu. Dia memang lebih kuat, tetapi tidak segesit gerakanmu. Pedangmu dapat meluncur lebih cepat daripada tongkat besinya. Lawanlah dari jarak dekat. Jangan terlalu jauh. Nah, apabila beruntung kau akan bisa mengalahkannya."

Tio Ciu In melirik heran.

Rasanya orang tua itu seperti tidak buta saja dan bisa melihat apa yang terjadi.

Nah demikian apa yang dikatakan orang juga.

Demikianlah, sekejap kemudian terjadilah pertempuran seru di dalam gua itu.

Tio Ciu In dengan dukungan Pendekar Buta, berusaha mendesak Ho Bing yang lebih berpengalaman.

Dan sesuai petunjuk penolongnya itu, Tio Ciu In merangsak terus, tanpa memberi kesempatan pada lawannya untuk mengambil jarak.

Bertempur di tempat gelap, di antara bebatuan besar yang berserakan, memang membutuhkan kemampuan tersendiri.

Untunglah dalam penggemblengannya selama ini, Tio Ciu In bersama suheng dan adiknya, juga mendapatkan pelajaran tentang cara bergerak berdasarkan perasaan nalurinya.

"Traaaaang! Traaanng...!"

Beberapa kali pedang Tio Ciu In membentur tongkat lawan, sehingga lengannya terasa linu.

Namun dengan semangatnya yang tinggi gadis itu tetap menerjang dan bertempur terus dalam jarak dekat.

Ho Bing memang menjadi kewalahan dengan gaya tempur seperti.

itu.

Tongkat panjangnya sama sekali tidak mendapatkan ruang gerak untuk berkembang.

Dalam ruang gerak yang sempit, tongkatnya hanya bisa dipergunakan untuk menangkis dan membela diri.

Meskipun demikian gaya tempur seperti itu juga amat berat bagi Tio Ciu In.

Tanpa didukung dengan tenaga dalam yang lebih kuat dan ilmu silat yang lebih tinggi daripada lawan, gaya tempur seperti itu akan segera berbalik menjadi bumerang yang akan menyulitkan diri sendiri.

Sejak semula Pendekar Buta mengira bahwa Tio Ciu In telah mempelajari Ilmu Silat Kulit Domba, yang merupakan ilmu andalan Im-yang-kauw.

Dengan ilmu silat pilihan itu Pendekar Buta berharap Tio Ciu In mampu menggebrak dan mengacaukan lawannya.

Bahkan dengan kelebihan ilmu silatnya itu, Tio Ciu In mampu melukai lawannya lebih dulu.

Namun harapan itu tidak terwujud.

Tampaknya Tio Ciu In memang belum mencapai tataran yang tertinggi dalam ilmu silat Im-yang-kauw itu.

Malah beberapa jurus kemudian gadis itu mulai kelihatan keteter dan terdesak mundur.

Ho Bing memang bukan tokoh sembarangan.

Sebenarnya lelaki pesolek itu bukanlah pengemis sungguhan.

Dia adalah orang kepercayaan Au-yang Goanswe yang ditanam di daerah itu untuk mengawasi kepentingan mereka di sana.

Dan pondok di tengah-tengah rawa itu adalah markas mereka di daerah pantai timur kota Hang-ciu.

Begitulah, karena sebelumnya memang sudah ada jalinan rahasia antara Au-yang Goanswe dan Mo Tan, maka tidak mengherankan kalau Mo Goat bisa berhubungan denga Ho Bing.

Ketika Mo Goat yang amat asing di daerah itu, membutuhkan orang yang bisa membantu dia mencari Tio Ciu In dan kawan-kawannya, dia segera menghubungi orang-orang Au-yang Goanswe di daerah itu.

Mo Goat lalu bertemu dengan Ho Bing dan selanjutnya mengupah pengemis itu untuk melampiaskan dendamnya.

Sementara itu Ho Bing sendiri sebelum menjadi orang kepercayaan Au-yang Goanswe, merupakan tokoh yang amat ditakuti di daerah Barat.

Dengan tongkatnya yang berlubang-lubang seperti suling, tokoh itu malang-melintang sebagai jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga).

Berkali-kali para pendekar dari golongan putih mencarinya, namun tak seorangpun mampu mengatasinya.

Ilmu tongkatnya memang sulit dicari tandingannya.

Selain kuat dan ganas, jurus-jurusnya juga penuh dengan gerakan-gerakan licik dan berbahaya.

Apalagi di dalam tongkat itu juga dipasangi berbagai macam jebakan dan senjata rahasia mematikan.

"Hohoho, bidadariku...! Menyerah sajalah! kau bukan lawan yang setimpal buatku! Jangan-jangan pukulanku malah bisa merusakkan kulitmu nanti...!"

Begitu merasa kemenangan telah berada di tangannya, Ho Bing mulai mengejek dan tertawa.

Sebenarnyalah Tio Ciu In mulai terdesak di bawah angin.

Dengan makin seringnya mengadu senjata, maka tenaga simpanan gadis itu juga semakin berkurang pula.

Dan akhirnya tenaga itu benar-benar terkuras habis.

Begitulah, setelah Tio Ciu In kehabisan tenaga, maka tongkat Ho Bing mulai melebarkan sayapnya.

Dalam medan tempur yang lebih luas, tongkat berbahaya itu segera menampakkan kehebatannya.

Terdengar suara mengaung panjang, meliuk-liuk tinggi rendah, ketika lubang-lubang di dalam tongkat itu diterobos angin.

Meskipun demikian ternyata sulit juga untuk segera menjatuhkan Tio Ciu ln.

Walaupun kalah segala-galanya, tapi ilmu silat gadis itu juga bukan ilmu silat pasaran.

Dengan segala keuletan dan latihannya selama ini, Tio Ciu In cukup bisa menjaga dirinya.

Akhirnya habis juga kesabaran Ho Bing.

Ketika Tio Ciu ln menangkis sabetan tongkatnya, Ho Bing cepat memencet salah satu lubang tongkatnya.

"Buuuuuushh...!"

Dari ujung tongkat yang berada tidak jauh dari wajah Tio Ciu In itu tersebar bubuk kehijauan, yang kemudian menyelimuti kepala gadis itu.

"Huk-huk-huk... ah, h-h-huk-hukk-huuuuk!"

Tio Ciu In tersedak, kemudian terbatuk-batuk.

"Nona Tio! Apa yang terjadi? kau kenapa...?"

Tiba-tiba Pendekar Buta menghambur ke depan. Kesepuluh jari-jari tangannya yang terkembang itu mendorong ke tubuh Ho Bing.

"Wussh!"

Hembusan angin tajam berbau amis menerjang dengan dahsyatnya, sehingga Ho Bing maupun Yok si Ki menjadi terperanjat bukan main! "Ho Bing, menghindarlah...!"

Yok si Ki menjerit. Sambil memberi peringatan Yok si Ki melesat ke depan. Sisi tangannya menahan ke arah pukulan Pendekar Buta.

"Taaaas!"

Hembusan angin berbau amis itu menghantam sisi telapak tangannya dan membias ke segala penjuru.

"Aaaaah...!"

Pendekar Buta mengeluh perlahan dan tubuhya bergoyang-goyang mau jatuh. Tebasan tangan Yok si Ki yang mengandung tenaga bias itu ternyata bisa membalikkan kekuatannya.

"Lo-Cianpwe...?"

Tio Ciu In yang terbebas dari semburan bubuk beracun itu segera menubruk penolongnya.

Pendekar Buta mengambil napas panjang untuk meluruskan kembali pernapasan dan jalan darahnya.

Setelan semuanya kembali normal, dia baru mengerah kan perhatian ke sekelilingnya.

Dicobanya untuk mendengarkan keadaan lawannya.

"Jangan khawatir, Nona Tio. Aku tidak apa-apa. Cuma... penyakit lamaku kelihatannya kambuh kembali. Aku juga tidak menyangka penyakit itu akan kambuh pada saat-saat begini. Tapi... sudahlah, aku bisa mengatasinya. Eh, bagaimana dengan Ketua Tai-bong-pai itu? Apakah dia juga baik-baik"

Tio Ciu In melirik. Dilihatnya Yok si Ki berdiri tegak di tempatnya. Orang itu tampak garang dan seperti tidak mengalami gangguan apa-apa.

"Dia... dia berdiri tegak di depan kita. Tampaknya dia segera akan menyerangmu lagi."

"Aaah, dia memang hebat sekali! Sayang penyakitku tiba-tiba kambuh..."

"Lo-Cianpwe... sakit?"

Tio Ciu In berdesah ketakutan.

"Benar. Sebenarnya aku butuh istirahat untuk memulihkannya kembali. Tapi dalam keadaan begini... yah, apa boleh buat! Oleh karena itu kalau aku tidak bisa menolongmu nanti, kau harus cepat-cepat menerobos ke dalam gua lagi! Jangan keluar dari gua sebelum mereka pergi! Di luar kau akan mudah ditangkap mereka."

"Lo-Cianpwe...?"

"Sudahlah, kau ikuti saja kata-kataku!"

Sementara itu Yok si Ki melangkah mendekati Pendekar Buta. Matanya yang tajam dan dingin seperti mata burung hantu menatap lawannya. Ada rasa heran dan kurang percaya dalam sorot matanya.

"Sungguh dahsyat sekali pukulanmu! Tidak kusangka orang tak dikenal seperti engkau, memiliki tenaga dalam sehebat itu. Sekarang aku benar-benar menjadi curiga. Siapakah sebenarnya engkau ini...?"

Yok si Ki memuji dengan suara menyelidik.

"Sudahlah, Yok Ciangbun. Aku benar-benar tidak ingin berkelahi denganmu. Lepaskan saja kami berdua dan biarkan kami pergi."

"Uh, enaknya...! Jangan biarkan mereka lolos, Ciangbun! Mereka telah berada di bawah kekuasaan kita. Orang buta ini tidak kuat menahan pukulan sisi tanganmu. Dan... gadis ini juga sudah terkena pengaruh bubuk laba-labaku. Sebentar lagi dia akan roboh dengan sendirinya, hehehe!"

Ho Bing berseru sambil melangkah mendekati Tio Ciu In.

Tapi sebagai orang yang sangat berpengalaman, Yok si Ki tidak percaya begitu saja apa yang dilihatnya.

Ia melihat beberapa keanehan pada lawannya.

Semula ia melihat kedahsyatan pukulan orang buta itu.

Rasanya kekuatan orang itu mampu meruntuhkan sebuah bukit.

Tapi anehnya, ketika arus pukulan itu membentur pukulannya, tiba-tiba saja kekuatan itu menyusut dan hilang.

Ada sesuatu yang tidak dia ketahui.

Mungkin jebakan, tapi kemungkinan juga bukan.

"Orang ini sangat mencurigakan. Satu-satunya Jalan untuk membongkar kedoknya cuma mengalahkannya..."

Yok si Ki bergumam dalam hati.

"Bagaimana, Yok Ciangbun? Bolehkah kami berdua meninggalkan tempat ini?"

Pendekar Buta bertanya perlahan. Yok si Ki memandang tajam.

"Boleh, tapi... dengan satu syarat..."

"Syarat...? Apakah syaratnya?"

"Mudah saja, yaitu... Kau kalahkan aku dulu!"

Sekonyong-konyong tubuh Pendekar Buta bergoyang-goyang lagi. Tio Ciu In menjerit dan buru-buru melompat mendekati. Namun seperti halnya Pendekar Buta, gadis itu mendadak juga terhuyung-huyung.

"Nona Tio...?"

Pendekar Buta menyambar pinggang Tio Ciu In dan menotok beberapa jalan darah di punggungnya untuk menahan pengaruh racun yang tampaknya mulai menyerang gadis itu.

Akan tetapi Yok si Ki tidak memberi kesempatan lagi.

Selagi Pendekar Buta itu sibuk menolong Tio Ciu In, tangannya segera melayang, menghantari tengkuk pendekar itu.

"Lihat pukulan"

Dia memberi peringatan.

Pendekar Buta terperanjat.

Dengan keadaannya sekarang ia tidak mungkin berkelahi dengan siapapun juga.

Jangankan melawan Yok si Ki ataupun Ho Bing, menghadapi Tio Ciu In saja ia takkan mampu.

Tapi ia tak bisa menghindar lagi.

Sambil mendorong tubuh Tio Ciu In, ia membalik dan terpaksa menangkis pukulan Yok si Ki.

Meskipun dia tak yakin bisa mengerahkan kekuatannya kembali, tapi ia tetap mencobanya pula.

"Dieees!"

Dua kekuatan yang maha dahsyat saling berlaga di udara!

Dan kali ini mereka berdua sama-sama tergetar mundur!

Hanya bedanya, Yok si Ki tampak biasa-biasa saja, sementara Pendekar Buta tampak mengalirkan darah segar dari sudut bibirnya.

"Yok Ciangbun...! Tampaknya kau telah berhasil mempelajari Tenaga Sakti Inti Roh atau Tenaga Sakti Inti Seribu Nyawa, ciptaan mendiang Kwa Eng Ki."

Pendekar Buta berdesis dengan suara terengah-engah. Ternyata kekuatannya dapat keluar juga, walaupun baru sebagian saja. Yok si Ki terbelalak kaget. Kakinya melangkah mundur.

"Dari mana kau tahu tentang ilmu rahasia itu? kau...? Hmm, siapakah kau sebenarnya?"

"Sudah kukatakan, aku hanya seorang lelaki buta yang tak punya nama. Tak ada gunanya kau membunuh aku. Lebih baik kau biarkan aku pergi dan aku akan sangat berterima kasih kepadamu."

Yok si Ki mendengus.

Hatinya makin penasaran karena orang buta itu ternyata telah mengenal ilmunya, yang berarti orang itu sudah pernah mengenal atau berhadapan dengan ilmu tersebut.

Padahal sepengetahuannya baru dia sendiri yang berhasil mempelajari ilmu tersebut.

"Lalu dengan siapa dia pernah berhadapan? Mendiang ketua Tai-bong-pai lama, Kwa Eng Ki? Atau... jangan-jangan dia bertemu dengan Tai-bong-pai Kui-bo, yang telah bisa memecahkan kunci rahasia ilmu itu di buku Tai-bong Pit-kip...!"

Yok si Ki membatin.

Begitu ingat Tai-bong Kui-bo, ketua Tai-bong-pai itu seperti tersentak dari tidurnya.

Hatinya menjadi curiga.

Jangan-jangan orang buta di depannya itu memang pernah bertemu dengan Tai-bong Kui-bo dan merampas bukunya.

"Kau... Kau? Apakah kau kenal dengan Tai-bong Kui-bo?"

Tak terasa mulutnya terbuka. Pendekar Buta mengerutkan dahinya.

"Apa? Tai-bong Kui-bo? Siapakah dia?"

Katanya tak mengerti. Yok si Ki tertegun. Ia melihat kejujuran pada wajah lawannya.

"Baiklah, kalau memang tidak tahu... ya, sudah! Sekarang kita selesaikan saja persoalan kita dengan kaki tangan."

Selesai berkata Yok si Ki benar-benar menyerang Pendekar Buta.

Kedua telapak tangannya mendorong ke depan dengan kekuatan penuh.

Dari kedua tangannya itu tersebar bau wangi menusuk hidung.

Pendekar Buta buru-buru melangkah ke samping.

Meskipun lawannya belum mempergunakan Tenaga Sakti Inti Roh, tetapi Hio-yen Sinkang (Tenaga Sakti Asap Dupa) yang ia hadapi sekarang juga tidak kalah berbahaya pula.

Tenaga Sakti yang menjadi tumpuan para anggauta Tai-bong-pai itu sangat terkenal di dunia persilatan.

Namun pada saat yang sama, rasa sakit itu tiba-tiba kambuh lagi!

Begitu sakitnya sehingga Pendekar Buta kembali terhuyung-huyung mau jatuh.

Akibatnya serangan Yok si Ki tak bisa dihindari sepenuhnya!

"Sreeet...!"

Angin pukulan Yok si Ki menyerempet bahu Pendekar Buta, sehingga tubuh orang tua itu terpelanting menabrak dinding!

Yok si Ki tak mau memberi kesempatan lagi.

Sesuai dengan wataknya yang ganas dan kejam, maka serangan berikutnya segera tertuju pada jantung lawannya.

"Wuuuuuus...!"

Dan kali ini Yok si Ki benar-benar mempergunakan Tenaga Sakti Inti Roh! Pasir dan kerikil tampak bertebaran di sekelilingnya, sehingga ketua Tai-bong-pai itu seperti dikurung pusaran pasir.

"Lo-Cianpwe...!"

Tio Ciu In menjerit dan mencoba menolong Pendekar Buta yang jatuh terlentang di lantai gua.

"Nona Tio, jangan mendekat..."

Pendekar Buta berseru.

Terlambat.

Tio Ciu In yang berada di garis pukulan Yok si Ki tak mampu mengelak lagi.

Disertai dengan suara jeritannya yang keras gadis itu terpental dan tubuhnya menimpa Pendekar Buta.

"Nona Tio...!?!"

Pendekar Buta yang tidak bisa melihat bagaimana keadaan gadis itu berteriak ketakutan.

Orang tua itu cepat meraba seluruh tubuh Tio Ciu In.

Ketika kemudian tersentuh oleh jarinya darah yang mengalir dari mulut gadis itu, kemarahannya tak bisa dibendung lagi.

Bergegas gadis itu diletakkan di dekatnya, lalu tiba-tiba tubuhnya melenting berdiri dan mengaum keras sekali!

"Aaaaaaarrrrrgghh...!!!"

Begitu kuat dan keras getarannya sehingga gua itu bagaikan digoyang oleh gempa.

Dan getaran itu semakin menjadi-jadi ketika dalam kemarahannya Pendekar Buta itu menjebol sebuah batu besar dan membantingnya kuat-kuat!

"Dhuuuuuuaaaaaar...!"

Pecahan batu kerikil dan pasir berhamburan disertai suara gemuruh memekakkan telinga.

Akibatnya gua itu bergetar hebat seolah mau runtuh.

Bahkan getaran itu juga menyebabkan batu dan debu di atas langit-langit gua berhamburan ke bawah.

Ribuan kelelawar penghuni gua itu mencicit ketakutan.

Mereka mencoba menyelamatkan diri dengan terbang keluar gua.

Begitu kacau dan ributnya suasana sehingga banyak yang saling bertabrakan di udara, atau jatuh menggelepar tertimpa pecahan batu.

Suasana di dalam gua itu benar-benar seperti neraka.

Debu dan pasir bertebaran, disertai jatuhnya bongkahan-bongkahan batu yang retak dan copot dari langit-langit gua.

"Yok Ciangbun! Cepat kita keluar sebelum gua ini benar-benar runtuh!"

Ho Bing berteriak dan lebih dulu meloncat ke arah pintu gua.

Yok si Ki tidak menjawab, tapi dengan tangkas tubuhnya berloncatan di antara hujan batu.

Mereka sama sekali tak memikirkan nasib Pendekar Buta dan Tio Ciu In lagi.

Bagi mereka yang penting adalah menyelamatkan diri mereka sendiri.

Dalam situasi demikian, maka tingkat kesaktian seseorang akan tampak dengan jelas.

Ho Bing yang tangkas dan memiliki tenaga dalam cukup tinggi, tetap bisa bergerak dengan cepat dan lincah.

Tubuhnya dapat meliuk-liuk, ke kanan dan ke kiri, menghindari batu-batu besar yang berjatuhan dari langit-langit gua.

Tongkatnya berputar seperti gasing di atas kepalanya, bagaikan lembaran kain payung melindungi badan dari guyuran debu dan kerikil tajam.

Gerakan Ho Bing benar-benar hebat.

Ketika kemudian kakinya menginjak pintu gua, tubuhnya sama sekali tidak terluka.

Bahkan pakaian yang dia kenakan masih tetap bersih dan rapi.

Hanya sepatu dan ujung celananya saja yang tampak kotor terkena debu.

Namun apa yang dilakukan Ho Bing tersebut ternyata belum sehebat apa yang dikerjakan oleh Yok si Ki.

Dalam keadaan hiruk-pikuk seperti itu, ternyata gerakan yang dilakukan oleh Yok si Ki benar-benar sulit diterima akal sehat.

Seperti saat mengerahkan Tenaga Sakti Inti Roh tadi, maka sambil berloncatan tubuh Yok si Ki seperti mengeluarkan angin berputar yang membiaskan segala macam benda yang datang kepadanya.

Tubuhnya seakan-akan terlindung oleh tabung kaca yang tak kelihatan oleh mata.

Sebentar saja tubuh ketua Tai-bong-pai itu telah berada di luar gua, mendahului Ho Bing yang sebenarnya sudah lebih dulu menyelamatkan diri.

Ho Bing benar-benar semakin keder melihat kesaktian Yok si Ki.

Orang itu seperti setan saja, tahu-tahu telah berdiri di luar gua.

Sementara itu hiruk-pikuk di dalam gua itu masih saja berlangsung dengan hebatnya.

Bahkan debu tebal bercampur pasir juga menyembur sampai ke luar gua, sehingga lubang-lubang mulut gua itu bagaikan kepundan gunung berapi yang sedang menyemburkan asapnya.

Ho Bing dan Yok si Ki terpaksa melompat ke belakang menjauhi lubang gua itu.

"Bagaimana... dengan gadis itu, Yok Ciangbun? Apakah si Buta mampu menyelamatkannya?"

Di dalam ketegangannya Ho Bing masih juga memikirkan Tio Ciu In. Yok si Ki menghela napas panjang.

"Entahlah...! Rasanya sulit untuk keluar dari gua rtu kalau kita harus menggendong orang lain."

"Lalu... apa yang akan kita perbuat? Menunggu sampai reda dan mencari mereka?"

Yok si Ki mengangguk.

"Kita harus tahu, bagaimana keadaan mereka. Mati atau hidup. Kalau sudah mati, kita tinggalkan saja tempat, ini. Tetapi kalau ternyata mereka masih hidup, kita harus membunuhnya lebih dulu. Aku tidak ingin menanam bibit kesulitan di kemudian hari."

Akan tetapi sampai matahari hampir terbenam, reruntuhan di dalam gua itu belum juga tuntas.

Sekali-sekali masih terdengar suara gemuruh jatuhnya bebatuan dari langit-langit gua.

Tentu saja Yok si Ki dan Ho Bing tak ingin mengambil resiko masuk ke dalam.

"Lihat, Yok Ciangbun! Aliran sungai dari dalam gua itu tidak mengalir ke luar lagi. Tampaknya alur sungai itu telah tertimbun tanah dan bebatuan. Dan hal itu berarti terowongan-terowongannya akan penuh terisi air. Oleh karena itu kalau mereka masih hidup, mereka akan tetap sulit pula untuk menyelamatkan diri."

Sekali lagi Yok si Ki menganggukkan kepalanya.

"Tampaknya memang demikian. Kalau begitu kita tinggalkan saja tempat ini!"

Demikianlah, mereka berdua lalu meninggalkan pantai itu dan kembali ke kota Hang-ciu.

Sama sekali mereka tak menduga kalau lawan-lawan mereka masih tetap hidup di antara reruntuhan gua itu.

Ternyata pada saat bencana itu terjadi, Pendekar Buta dengan sisa-sisa tenaganya, masih dapat menyeret tubuh Tio Ciu In ke dalam lubang terowongan yang dikenalnya.

Kemudian sambil menunggu redanya bencana tersebut, Pendekar Buta mencoba mengobati luka-luka dalam yang diderita oleh gadis itu.

Namun karena luka-lukanya memang terlalu parah, sementara Pendekar Buta sendiri juga dalam keadaan lemah, maka usaha tersebut kurang membawa hasil.

Gadis itu tetap tergolek pingsan di tempatnya, meskipun nyawanya masih bisa diselamatkan.

Ketika hari semakin gelap dan hawa malam mulai terasa mengalir dalam gua, Pendekar Buta merasakan tubuhnya mulai membaik.

Sementara itu Tio Ciu In juga mulai siuman dari pingsannya.

Gadis cantik itu mulai membuka matanya.

"Lo-Cianpwe...??"

Jeritnya lirih tatkala melihat Pendekar Buta itu duduk di dekatnya.

"Syukurlah... Kau telah siuman kembali, Nona. Aku benar-benar khawatir melihat keadaanmu. Pukulan Ketua Tai-bong-pai tadi sungguh dahsyat sekali. Pukulannya menyebabkan jalan darahmu menjadi kacau. Bahkan beberapa dianta-ranya tertutup. Beruntung aku segera dapat memperbaiki dan membukanya kembali. Namun demikian kau tetap harus beristirahat penuh dalam beberapa hari ini. Engkau harus berlatih dan membiasakannya lagi secara hati-hati."

"Terima kasih, Lo-Cianpwe. kau telah menolong jiwaku. Aku tidak tahu bagaimana jadinya bila Lo-Cianpwe tidak ada."

"Oooohh!!"

Tio Ciu In bangkit dan merangkapkan dua tangannya di depan dada.

Tapi mulutnya segera menjerit kecil ketika sadar tubuhnya tidak mengenakan pakaian sama sekali.

Otomatis kulit mukanya menjadi merah sekali.

Meskipun tidak bisa melihat, tetapi Pendekar Buta bisa menebak apa yang terjadi.

Tergopoh-gopoh ia meminta maaf.

"Maaf, Nona Tio. Aku terpaksa membuka pakaianmu. Tidak ada jalan lain untuk menolongmu, selain harus cepat-cepat membenahi jalan darah yang kacau itu. Keadaanmu tadi benar-benar sangat mengkhawatirkan. Celakanya, setelah pengobatan selesai dan keadaanmu telah menjadi baik, aku justru tidak berani mengenakan pakaianmu kembali. Aku memang orang tua yang canggung. Sekali lagi, maafkanlah aku..."

Orang tua itu berkata dengan rasa sesal yang dalam.

Sebenarnya Tio Ciu In sudah hampir menangis.

Namun melihat kesungguhan orang tua itu, hatinya menjadi sadar kembali.

Bagaimanapun juga orang tua itu telah menolong jiwanya.

Apalagi orang tua itu menolong dengan sungguh-sungguh.

Tidak ada tanda-tanda buruk yang menyatakan bahwa orang tua itu berniat jelek terhadapnya.

Tio Ciu In segera mengenakan pakaiannya kembali.

Rambutnya yang kusut ia rapikan kembali, walaupun tanpa tali pita, karena talinya telah hilang entah ke mana.

Begitu pula dengan sepasang sepatunya.

Barang itu juga hilang.

Kemudian sambil memasang ikat pinggangnya, dia melirik ke arah penolongnya.

Tio Ciu In hanya terbelalak.

Dilihatnya orang tua itu mengcengkeram perut dan dadanya.

Mulutnya meringis menahan sakit, sementara tubuhnya tampak bergetar seperti orang kedinginan.

Bahkan dahinya sudah penuh keringat.

"Lo-Cianpwe...??"

Tio Ciu In menjerit kaget.

Namun orang tua itu tak menjawab.

Dia sedang sibuk melawan rasa sakit yang menyerangnya.

Ketika tubuhnya kemudian bergetar dengan hebat dan bergoyang-goyang mau jatuh, Tio Ciu In menubruk.

Ternyata pendekar tua itu telah pingsan.

Matanya terpejam, sementara pakaiannya basah oleh keringat.

"Lo-Cianpwe...? Lo-Cianpwe...!"

Tio Ciu In berteriak-teriak memanggil sambil mengguncang tubuh tua itu. Beberapa saat kemudian mata itu terbuka kembali. Tetapi selain sangat pucat, orang tua itu tampak lemah sekali.

"Maaf, Nona Tio... penyakit lamaku benar-benar kambuh lagi. Untuk beberapa hari aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kaki dan tanganku lumpuh. Aku hanya dapat menggerakkan kepalaku saja."

"Lumpuh...? Lo-Cianpwe lumpuh?"

Tio Ciu In berdesah tak percaya.

"Benar. Aku akan menderita lumpuh untuk beberapa hari, sampai penyakit itu pergi..."

Tio Ciu In memandang wajah yang hampir tertutup oleh kumis dan jenggot panjang itu.

Dia benar-benar tak mengerti, penyakit apa yang diderita orang tua itu, sehingga harus menderita sedemikian hebatnya.

Tampaknya Pendekar Buta tahu apa yang dipikirkan Tio Ciu In.

"Nona Tio, aku menderita penyakit "Salah Jalan."

Belasan tahun yang lalu ketika sedang berlatih menghimpun tenaga sakti, seorang musuh telah membokong aku, sehingga latihanku menjadi "salah jalan."

Lebih celaka lagi, dalam situasi yang tidak menguntungkan itu, musuh-musuhku yang lain juga datang dan mengeroyok aku.

Terpaksa dalam keadaan lemas dan hampir lumpuh aku menghadapi mereka.

Ketika akhirnya aku bisa juga meloloskan diri, keadaanku benar-benar sudah hancur luar-dalam.

Badanku penuh darah, sementara luka di bagian dalam tubuhku juga parah sekali.

Boleh dikatakan keadaanku saat itu seperti mayat hidup.

Hidup tidak, tapi matipun juga belum."

Orang tua itu berhenti sebentar untuk mengambil napas. Kulit mukanya tampak semakin pucat.

"Akhirnya luka-luka itu memang bisa kusembuhkan. Tapi akibat dari "salah jalan"

Itu masih kuderita sampai sekarang. Apabila penyakit itu datang, aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Badanku akan lumpuh untuk beberapa hari."

Tio Ciu In menganguk-angguk. Gurunya memang pernah bercerita, bahwa dalam ilmu silat sering terjadi "salah jalan."

Semakin tinggi dan rumit ilmu yang dipelajari, semakin banyak pula resiko untuk menderita "salah jalan."

Bahkan kesalahan itu sering membawa kematian.

"Lalu... di mana keluarga Lo-Cianpwe? Tentunya mereka yang merawatmu jika penyakit itu datang."

Orang tua itu menarik napas dalam-dalam. Dan jawabannya sungguh mengejutkan Tio Ciu In.

"Aku tidak memiliki keluarga lagi, Nona. Semuanya telah tiada. Ayahku, Ibuku, isteriku, anak-anakku, semuanya telah mati mendahului aku. Kini aku hanya sebatang kara saja di dunia ini."

"Sendirian...? Lalu... siapa yang merawatmu selama ini kalau penyakit itu datang? Bukankah kau tidak bisa apa-apa?"

Orang tua itu tersenyum kecut.

"Sudah lama aku ingin mati, agar arwahku bisa segera berkumpul dengan keluargaku. Maka di saat-saat kambuh seperti ini, aku justru berharap segera bisa mati. Tapi sampai sekarang penyakit itu belum juga bisa mencabut nyawaku. Meskipun berhari-hari perutku tak diisi, tergolek di tanah dikerumuni semut dan nyamuk, aku tetap masih hidup."

"Aaaah...!"

Tio Ciu In menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bahkan penyakit ini pernah kambuh di saat aku sedang mandi di sungai bawah tanah itu. Begitu mendadak, sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri. Aku tergolek tak berdaya di dalam air dingin itu selama berhari-hari. Celakanya, kepalaku masih tersangkut diantara dua batu, sehingga aku masih tetap bisa bernapas."

"Aaah! Lalu, berapa hari biasanya penyakit itu menyerang?"

"Yah, tergantung keadaan. Kadang-kadang tiga hari... Lima hari, atau... sepuluh hari. Tapi biasanya cuma lima hari."

"Lima hari? Lama juga..."

Tio Ciu In bergumam.

"Ah, biarkan saja. Aku juga tidak pernah memikirkannya lagi. Aku malah senang kalau bisa mati. Semuanya berakhir dan aku segera bisa bertemu dengan isteriku... anak-anakku. Mereka sudah terlalu lama menungguku."

"Lo-Cianpwe...?"

"Sudahlah, Nona. kau tak perlu berpikir apa-apa. Yang penting kini adalah mengembalikan tenagamu. Berlatihlah dengan tekun agar kesehatanmu cepat pulih kembali. Setelah itu kau bisa keluar dari gua ini."

Tio Ciu In terdiam.

Matanya memandang orang tua itu dengan penuh perasaan haru dan sedih.

Orang tua yang memiliki ilmu silat sangat tinggi itu ternyata sangat menderita dalam hidupnya.

Entah mengapa, tiba-tiba timbul perasaan kasihan di dalam hatinya.

"Lo-Cianpwe, kau juga tidak perlu khawatir. Sementara aku di sini, aku akan merawatmu. Kita sama-sama memulihkan kesehatan."

Demikianlah, untuk membalas budi orang tua itu Tio Ciu In merawatnya dengan baik.

Atas petunjuk orang tua itu Tio Ciu In membawa penolongnya itu ke gua tempat tinggalnya.

Gua itu dapat dicapai melalui lorong-lorong kecil di dalam tanah.

Karena Tio Ciu In sendiri juga masih lemah, maka perjalanan itu membutuhkan waktu yang lama.

Gua itu bersih dan nyaman.

Hembusan udara yang mengalir lewat aliran sungai di depan pintu gua, membuat tempat tersebut tidak panas dan pengap.

Sementara di dalam ruang gua telah diatur dan ditata seperti sebuah kamar besar.

Ada tempat memasak, mencuci, serta tempat untuk istirahat.

Malam itu angin laut bertiup dengan kencangnya, sehingga udara segar juga berhembus pula dengan kuatnya ke dalam gua.

Tio Ciu In mengambil selimut yang ada di rak batu dan menutupkannya di atas tubuh Pendekar Buta.

Tiba-tiba gadis itu menarik napas panjang.

Entah mengapa, pikirannya melayang kepada Liu Wan, pemuda yang selalu berbaik hati menolongnya.

Pemuda itu tentu sedang mencarinya sekarang.

Mungkin pemuda itu bersama Jeng-bin Lokai dan kawanan pengemisnya sedang mengobrak-abrik pondok kecil di tengah rawa itu.

* * * Sama sekali tidak terpikirkan oleh Tio Ciu In, bahwa pada saat itu Liu Wan justru sedang menghadapi maut.

Dalam keadaan tertotok lemas pemuda itu harus menghadapi api yang berkobar hebat di sekelilingnya.

(Lanjut ke

Jilid 19) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 19 Ketika dinding pondok itu mulai terkoyak api, maka satu persatu kayu penahan gentingpun mulai berjatuhan pula.

Sementara itu di bagian bawah, tiang penyangga rumah juga sudah mulai goyah digerogoti api.

Liu Wan terbatuk-batuk.

Matanya hampir tak bisa dibuka lagi.

Ruangan itu penuh asap tebal yang menyesakkan napas.

Mendadak lantai ruangan itu berderak patah.

Ternyata lidah api benar-benar telah membakar balok penyangga lantai, sehingga lantai papan di atasnya langsung rontok pula ke bawah.

Otomatis semua orang yang ada di dalam ruangan itu terjeblos ke bawah.

"Byuuuuur...!"

Dalam keadaan lumpuh dan terikat mereka tak mungkin dapat bergerak atau berenang menyelamatkan diri.

Apalagi ketiga tokoh Aliran Im-yang-kauw itu terikat menjadi satu.

Yang bisa mereka lakukan hanya berusaha untuk tetap mengambang dan menempatkan hidung mereka di atas air.

Tapi untuk melakukan hal itu juga sulit bukan main.

Terutama bagi orang-orang Im-yang-kauw itu.

Selain guncangan air membuat mereka selalu bergerak timbul-tenggelam, mereka harus bisa saling bergantian mengambil napas di permukaan air.

Dan usaha itu semakin sulit dengan adanya kayu-kayu yang berjatuhan dari rumah.

Untunglah mereka berempat merupakan jago-jago silat yang sudah terbiasa melakukan latihan bernapas di dalam air.

Sehingga dengan kemampuan dan kecerdikan mereka, mereka bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.

Bahkan dengan memanfaatkan alunan gelombang air, mereka dapat menghindari kayu dan api yang berjatuhan di sekitar mereka.

Karena pondok itu memang terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk, maka tak seorangpun mengetahui kebakaran tersebut.

Sampai pondok itu habis roboh ke dalam air, tidak seorangpun datang melawat ke tempat itu.

Akhirnya dengan memanfaatkan gelombang air, mereka berempat dapat mendarat di tepian empang.

Mula-mula yang dapat membebaskan diri dari pengaruh totokan adalah Lojin-Ong.

Orang tua itu segera melepaskan diri dari ikatan dan keluar dari dalam air.

Kemudian berturut-turut ia menolong Tan Sin Lun, Giam Pit Seng dan Liu Wan.

Dan begitu selesai mengeluarkan mereka, orang tua itu lalu duduk bersamadi untuk memulihkan tenaga lebih dulu.

Beberapa saat kemudian orang tua itu menarik napas panjang.

Lalu tubuh yang bongkok itu berdiri.

Wajah tua renta itu sudah berseri-seri kembali.

Liu Wan memandang kagum.

Orang tua itu benar-benar memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Hanya dalam waktu singkat dia bisa memunahkan totokan lawan.

Padahal dengan segala kepandaiannya Liu Wan masih tetap belum bisa melepaskan diri.

Bahkan usahanya itu justru membuat otot-ototnya menjadi sakit.

"Lo-Cianpwe, tolonglah aku. Bukalah totokanku ini..."

Akhirnya pemuda itu memohon perlahan. Orang tua itu menoleh. Mulutnya yang ompong tak bergigi itu tersenyum lebar.

"Anak muda, ilmu silatmu tadi benar-benar hebat. kau bisa melayani Bocah Gila itu dalam beberapa saat lamanya. Aku lantas teringat kepada sahabatku, yang memiliki gerakan seperti ilmu silatmu itu. Dia bernama Hong-lui-kun Yap Kiong Lee Hemmm, kau kenal dengan dia?"

Liu Wan tak segera menjawab.

Selama ini ia selalu menyamar karena tak ingin dikenal orang, sehingga pertanyaan itu sulit dijawabnya.

Untunglah pada saat yang bersamaan terdengar suara ramai mendatangi.

"Apakah itu...?"

Liu Wan pura-pura kaget.

Lojin-Ong menoleh.

Dilihatnya beberapa orang penduduk berlari ke tempat itu.

Karena hari sudah gelap, mereka membawa obor di tangan.

Ternyata ada juga seorang penduduk yang melihat kebakaran itu.

Kebetulan sore tadi ia ingin berobat ke rumah Tabib Ciok.

Melihat pondok itu dimakan api, dia cepat kembali memberi tahu tetangga-tetangganya.

Tapi karena kampung mereka cukup jauh, maka kedatangan mereka sudah terlambat.

Namun demikian kedatangan orang-orang itu cukup memberi pertolongan kepada Liu Wan dan kawan-kawannya.

Mereka membawa Liu Wan dan rombongan orang Im-yang-kauw itu ke kampung mereka.

Mereka bergantian menggotong Liu Wan, Giam Pit Seng dan Tan Sin Lun.

Hanya Lojin-Ong yang bisa berjalan sendiri.

Ternyata mereka tidak mengenal Liu Wan.

Wajah pemuda itu sama sekali tidak mirip Tabib Ciok, karena penyamarannya telah dicopot dan dipereteli oleh Mo Hou.

Apalagi alat penyamarannya yang lain, seperti bantal pengganjal punggung, gigi palsu dan lain-lainnya, juga copot di dalam empang.

Orang-orang itu tinggal di dekat kuil Pek-hok-bio, yang semalam baru saja diobrak-abrik oleh kawanan pengemis dari Tiat-tung Kai-pang.

"Para pendeta kuil itu memang tidak pernah mengganggu penduduk kampung ini. Tapi kami sering bertanya-tanya di dalam hati kalau kebetulan banyak tamu asing yang datang. Logat bicara mereka seperti orang-orang dari luar Tembok Besar."

Salah seorang penduduk itu bercerita.

"Benar. Dandanan merekapun lain dengan dandanan orang-orang di sini. Sikap merekapun kasar-kasar. Pernah beberapa orang diantara mereka berkelahi dengan pemuda kami. Untung para pendeta kuil itu cepat melerai."

Yang lain ikut berbicara pula.

"Yaaaah, akhirnya ketahuan juga bahwa kuil itu dipergunakan oleh para perusuh dari utara."

Pemilik rumah yang dipakai untuk merawat Liu Wan dan kawan-kawannya berkata pelan.

"Siapa yang mengatakan itu?"

Lojin-Ong bertanya.

"Para pengemis itu."

Orang-orang itu menjawab serentak. Lojin-Ong tersenyum.

"Apakah pengemis-pengemis itu tidak berbohong? Jangan-jangan mereka hanya memfitnah saja, karena permintaan derma mereka ditolak oleh para pendeta kuil itu."

"Wah, Loheng ini ada-ada saja. kau belum tahu siapa mereka. Pengemis-pengemis itu adalah anggota Tiat-tung Kai-pang, yang sangat terkenal di daerah selatan ini. Mereka bukan pengemis-pengemis biasa. Mereka memiliki kepandaian silat tinggi. Segala sepak-terjang mereka juga diatur dan diawasi oleh perkumpulannya."

"Wah, hebat sekali...!"

Lojin-Ong pura-pura kagum.

Beberapa orang lalu bertanya tentang kebakaran di rumah Tabib Ciok.

Mereka juga menanyakan Tabib Ciok dan pembantunya.

Lojin-Ong menjadi bingung juga untuk menjawab.

Apalagi ketika ia melirik ke arah Liu Wan.

Pemuda yang menyamar sebagai Tabib Ciok itu masih tampak lemah tak berdaya.

Tentu ada sesuatu yang disembunyikan pemuda itu dan ia tak ingin mencampurinya.

Selain mereka belum pernah saling mengenal, hati tuanya merasakan bahwa pemuda itu tak bermaksud jahat.

Oleh karena itu ia menjawab pertanyaan orang-orang itu sesuai dengan apa yang dialaminya, tanpa menyinggung atau melibatkan Liu Wan.

"Entahlah. Semula kami hanya ingin mencari tempat aman untuk mengobati luka, karena kami baru saja bertempur dengan perampok di jalan. Eeeeh, tak tahunya para perampok itu masih tetap mengejar kami. Nah, di dalam pondok itulah kami bertempur lagi. Mereka berjumlah banyak, sehingga kami kewalahan. Kami diringkus dan diikat menjadi satu, lalu dibakar bersama-sama pondok kayu itu."

"Oh, begitu. Lalu... apakah Loheng tidak bertemu dengan Tabib Ciok, pemilik rumah itu?"

Lojin-Ong menggelengkan kepalanya.

"Ketika kami datang, rumah itu kosong tidak ada penghuninya."

"Ah, kalau begitu Tabib Ciok masih hidup."

Orang-orang itu tersenyum gembira.

Tampaknya mereka sangat hormat dan suka kepada tabib itu.

Sekali lagi Lojin-Ong melirik ke arah Liu Wan.

Ketika dilihatnya pemuda itu mulai bisa menggerakkan tangan dan kakinya, dia segera menghampiri.

"Wah, tampaknya kau sudah bisa membebaskan diri dari pengaruh totokan itu. Bukan main. Orang muda zaman sekarang memang hebat-hebat."

Ia berbisik di telinga Liu Wan. Liu Wan tersenyum kikuk. Orang tua itu seperti tahu segalanya. Oleh karena itu ia segera mengalihkan pembicaraan.

"Wah, Lo-Cianpwe kejam sekali. Membiarkan kami semua lemas tak berdaya."

Lojin-Ong tersenyum maklum.

"Ah, tidak mudah memunahkan totokan itu. Terus terang aku tak mampu melakukannya. Dibutuhkan seorang yang memiliki tenaga dalam sempurna untuk dapat memunahkan totokan itu. Bocah kejam itu benar-benar hebat sekali. Semuda itu usianya, ternyata ilmu silatnya sudah mendekati kesempurnaan. Lohu (aku) yang telah belajar dan mendalami ilmu silat lebih dari tiga perempat abad, rasanya cuma sedikit saja di atasnya. Bahkan Ilmu Memindah Jalan Darah, yang telah kupelajari selama puluhan tahun sama sekali tidak dapat menangkal kekuatan jarinya. Yah, apa boleh buat... Kita terpaksa harus menunggu totokan itu punah sendiri."

Lojin-Ong tidak melanjutkan kata-katanya, karena orang-orang kampung itu segera mendekati Liu Wan pula.

Mereka bertanya macam-macam, yang dijawab seadanya oleh pemuda itu.

Demikianlah, beberapa saat kemudian Giam Pit Seng dan Tan Sin Lun juga bisa bergerak kembali.

Giam Pit Seng segera mengucapkan terima kasih kepada para penolongnya.

Sedangkan Liu Wan bergegas mendekati Tan Sin Lun yang pernah berkunjung ke pondoknya.

Dengan berbisik Liu Wan minta agar penyamarannya tidak dibeberkan kepada penduduk itu.

Setelah berbicara panjang lebar dengan orang-orang kampung itu, Liu Wan lalu memberitahukan keadaan Tio Ciu In dan Tio Siau In kepada Giam Pit Seng.

Dia juga bercerita tentang kepergian Tio Ciu In ke markas Tiat-tung Kai-pang ketika mereka berpisah.

"Anak muda! Siapakah tokoh Tiat-tung Kai-pang yang berada di Hang-ciu sekarang? Kudengar Tiat-tung Hong-kai dan Tiat-tung Lokai sudah lama meninggal?"

Lojin-Ong berbisik kepada Liu Wan.

"Entahlah, Lo-Cianpwe. Tapi pimpinan Tiat-tung Kai-pang yang ada di Hang-wi sekarang adalah Jeng-bin Lokai."

Ternyata berita itu sangat mencemaskan hati Giam Pit Seng. Dengan suara agak gemetar ia meminta pendapat Lojin-Ong.

"Bagaimana kalau kita segera menjumpai anak itu, Lojin-Ong? Siapa tahu anak itu butuh pertolongan? Dia telah kehilangan adiknya, tentu pikirannya sangat kacau."

"Mungkin kita tak perlu ke markas Tiat-tung Kai-pang, Lo-Cianpwe. Hari sudah malam, mungkin Nona Tio sudah kembali ke penginapan. Kita tengok dulu di sana."

Liu Wan memotong.

"Baiklah. Kita pergi ke penginapan dulu. Kalau belum kembali, kita pergi ke markas Tiat-tung Kai-pang. Ayoh, sekarang kita berpamitan dulu kepada para penolong kita!"

Lojin-Ong mengangguk-angguk, lalu melangkah ke depan untuk meminta diri kepada tuan rumah.

Demikianlah, malam itu juga mereka mencari Tio Ciu In.

Tan Sin Lun yang sangat mengkhawatirkan keadaan sumoinya, tampak sangat tegang di sepanjang jalan.

Dan sikap pemuda pendiam itu tak pernah lepas dari penglihatan Liu Wan.

"Tampaknya memang ada perhatian khusus dari pemuda ini untuk Tio Ciu In."

Katanya di dalam hati.

Sampai di penginapan mereka mendapat keterangan bahwa Tio Ciu In belum kembali.

Tentu saja semuanya menjadi heran dan khawatir.

Bahkan Tan Sin Lun mulai berpikir yang bukan-bukan.

Jangan-jangan sumoinya mendapat kesulitan di markas Tiat-tung Kai-pang.

Lalu dengan tergesa-gesa mereka menuju keluar kota, ke markas Tiat-tung Kai-pang.

Namun di tempat itu mereka benar-benar memperoleh berita yang mengejutkan.

Tio Ciu In hilang diculik Yok si Ki dan Ho Bing!

"Yok si Ki...?

Gila...!

Mengapa iblis itu sampai di Pantai Timur ini?

Apa yang sedang dicarinya?"

Giam Pit Seng tersentak kaget. Nama Yok si Ki memang menyeramkan dan sangat ditakuti orang di mana-mana.

"Siapakah Yok si Ki itu, Suhu?"

Tan Sin Lun bertanya. Lojin-Ong kelihatan kesal pula.

"Manusia iblis itu bukan tokoh sembarangan. Dia adalah Ketua Partai Tai-bong-pai. Ilmu silatnya sangat hebat. Terkenal karena kekejamannya dan kesukaannya mempermainkan wanita. Siapapun juga harus berhati-hati bila bertemu dengan orang itu."

Tan Sin Lun semakin kelabakan mendengar keterangan itu.

"Lalu... Lalu apa yang mesti kita lakukan, Suhu?"

Teriaknya ketakutan.

Giam Pit Seng juga tidak kalah khawatirnya.

Namun demikian dia masih dapat mengendalikan dirinya.

Dia segera meminta pendapat Lojin-Ong, orang yang amat dihormatinya.

Sesepuh aliran Im-yang-kauw itu mengelus-elus jenggotnya.

Sebelum menjawab ia bertanya lebih dulu kepada Jeng-bin Lokai.

"Lo-heng, benarkah anak itu dibawa oleh Yok si Ki?"

"Lohu tidak tahu pasti, siapa sebenarnya yang membawa Nona Tio. Seingatku si Tongkat Bocor Ho Bing tidak pernah berkawan dengan ketua Tai-bong-pai. Tapi kenyataannya mereka berdua memang berkomplot untuk menculik gadis itu. Lohu menyaksikan sendiri mereka membawa masuk Nona Tio ke dalam rumah. Ketika Lohu bersama kawan-kawan yang lain mengepung dan mengejar mereka, mereka telah hilang tidak tentu rimbanya. Kami lalu menggeledah rumah itu. Tapi kami tetap tak bisa mendapatkan mereka. Kedua orang itu benar-benar hilang..."

"Kau tidak menyelidiki rumah itu dengan teliti? Siapa tahu mereka lewat pintu rahasia?"

Jeng-bin Lokai mengangguk.

"Benar. Kami memang curiga, jangan-jangan mereka lari lewat pintu rahasia. Celakanya, kami tidak pernah bisa menemukan pintu rahasia itu. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari mereka di rawa-rawa itu. Tetapi mereka tetap tidak dapat kami temukan..."

Jeng-bin Lokai memberi keterangan.

"Benar. Tidak biasanya Yok si Ki berkawan dengan orang lain. Dia selalu bertindak sendirian. Dia terlalu percaya pada kemampuannya sendiri. Tentu ada sesuatu yang membuat mereka saling membutuhkan."

Lojin-Ong menduga-duga.

"Lalu... apa yang akan kita perbuat, Lojin-Ong?"

Giam Pit Seng mendesak.

"Yah, sebaiknya kita melihat rumah di tengah rawa itu lagi. Siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk di sana?"

"Benar, Lojin-Ong."

Jeng-bin Lokai mengiyakan.

"Satu-satunya petunjuk yang bisa kita cari memang hanya di tempat itu. Marilah... akan kutunjukkan tempatnya."

"Wah, kami cuma mengganggu Jeng-bin Lokai saja..."

Giam Pit Seng berdesah kikuk.

"Ah, saudara Giam... jangan terlalu sungkan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling membantu. Apalagi musibah itu disebabkan oleh keinginan Nona Tio untuk mengunjungi markas kami."

Pengemis tua itu menjawab dengan suara ikhlas. Demikianlah, mereka lalu pergi bersama-sama ke pondok Ho Bing. Hari benar-benar telah menjadi gelap ketika mereka sampai di daerah rawa-rawa itu.

"Itulah rumahnya...!"

Jeng-bin Lokai menunjuk ke sebuah pondok kecil agak menjorok ke tengah rawa.

Mereka meniti jembatan bambu, melangkah menuju halaman pondok.

Rumah itu masih tetap terbuka pintunya.

Bahkan lampunya juga belum dinyalakan, sehingga dari luar tampak gelap gulita.

Tampaknya Ho Bing belum kembali, atau kemungkinan memang benar-benar sudah menghilang dari tempat itu.

"Bagaimana, Lojin-Ong? Kita langsung masuk ke dalam atau kita ketuk dulu pintunya?"

Giam Pit Seng meminta pendapat pimpinannya. Lojin-Ong mengerahkan tiga bagian dari seluruh tenaga saktinya, kemudian melangkah mendekati pintu.

"Tampaknya penghuni rumah ini memang belum pulang. Tetapi kita tidak boleh lengah. Siapa tahu ada orang lain di dalam? Atau mungkin juga ada... jebakan?"

"Benar! Kalau begitu... biarlah Lohu yang masuk lebih dahulu!"

Jeng-bin Lokai berkata lantang.

Lalu tanpa persetujuan kawan-kawannya Jeng-bin Lokai masuk.

Lojin-Ong dan Giam Pit Seng cepat mengikuti di belakangnya.

Begitu pula dengan yang lain.

Mereka masuk ke pondok itu dalam keadaan siap tempur.

Pondok kecil itu mempunyai lima buah ruangan, yaitu ruang depan, ruang tengah, ruang samping dan ruang belakang.

Mereka memeriksa ruangan tersebut satu persatu dengan teliti.

Bangkai serigala masih berserakan di segala tempat, sementara bau anyir juga masih tercium di dalam pondok itu.

"Semuanya belum berubah. Keadaannya masih tetap seperti siang tadi..."

Jeng-bin Lokai bergumam perlahan.

"Bagus! Kalau begitu tempat ini belum dijamah orang lain selain kita sendiri. Nah, sekarang... di manakah tempat menghilangnya Yok si Ki dan Ho Bing?"

Lojin-Ong berbisik.

"Kami tidak tahu pasti. Mereka menghilang setelah masuk ke Ruang Belakang. Padahal ada tiga buah pintu di dalam ruangan itu. Kami tidak bisa menentukan, pintu mana yang dipakai oleh mereka. Tapi yang jelas semua pintu dapat mereka pergunakan untuk melarikan diri, karena semuanya menuju ke halaman belakang."

Mereka berdiri di ruang belakang. Giam Pit Seng menyalakan lampu yang tergantung di dekat pintu keluar menuju dapur. Di dalam keremangan lampu minyak, suasana di dalam pondok itu sungguh menyeramkan.

"Lihat...! Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya pintu rahasia di tempat ini. Kesimpulannya... Mereka memang benar-benar lari lewat halaman belakang, menerobos semak-semak, kemudian menyeberangi rawa-rawa. Kami tidak bisa mengikuti mereka, karena mereka lebih paham dan lebih kenal tempat ini."

Lojin-Ong, Giam Pit Seng dan yang lain, mencoba meneliti seluruh perabot yang ada di dalam ruangan itu.

Mereka mencoba mendapatkan pintu rahasia yang mungkin digunakan oleh Yok si Ki.

Namun ternyata tak seorangpun menemukannya.

Pintu itu benar-benar tersembunyi.

Demikianlah, mereka lalu keluar ke halaman belakang.

Dalam temaramnya cahaya bulan yang tampak hanyalah rawa dan semak belukar.

Begitu luasnya rawa itu sehingga batasnyapun tidak kelihatan oleh mereka.

Suasananya tampak lengang, sunyi, serta mengerikan!

"Lihat...!

Rawa ini sudah memakan banyak korban.

Baik penduduk di sekitarnya, maupun para pendatang yang belum paham seluk beluk rawa ini."

Jeng-bin Lokai menerangkan.

"Lalu... sampai di mana para anggota Tiat-tung kai-pang tadi menyusuri rawa ini?"

Lojin-Ong bertanya. Jeng-bin Lokai tersenyum malu.

"Wah, maafkanlah kami. Kami hanya sampai pada jarak satu lie dari sini. Kami terpaksa kembali karena keadaan rawa semakin berbahaya dan sulit dilalui. Di malam hari semua binatang melata akan keluar dari sarangnya. Padahal sebagian besar dari binatang itu memiliki racun yang sangat berbahaya. Terutama racun ular rawa berjengger merah. Sekali patuk racunnya akan membuat orang menjadi buta dan gila."

"Oh... sedemikian berbahayanya? Wah, benar-benar mengerikan!"

Giam Pit Seng mengerutkan dahinya.

"Baiklah! Kalau begitu biarlah kami menunggu di sini sampai besok pagi. Kami akan mencoba sekali lagi menyusuri rawa ini pada siang hari. Siapa tahu kami dapat menemukan orang-orang itu. Nah, terima kasih atas bantuan Jeng-bin Lokai. Untuk selanjutnya, biarlah kami yang menangani sendiri. Kami tidak berani terus-terusan mengganggu para sahabat dari Kai-pang..."

Lojin-Ong berkata pelan. Tiba-tiba wajah pengemis tua itu berubah.

"Apa yang kau katakan itu, Lojin-Ong? Jangan katakan bahwa kami para pengemis ini adalah orang-orang yang takut mati. Kalau tadi kami harus menunda pencarian di dalam rawa, hal itu bukan karena kami takut. Tapi semua itu kami lakukan demi keselamatan orang-orang kami pula. Kami tak ingin asal berani saja. Kami juga harus memperhitungkan keselamatan kami sendiri pula."

"Ah, maafkan kami! Maafkan...! Kami tidak bermaksud begitu. Kami benar-benar tidak ingin mengganggumu. Itu saja, lain tidak!"

Lojin-Ong cepat-cepat menjelaskan.

"Benar, Lo-Cianpwe. Kami sangat berterima kasih sekali atas bantuanmu. Namun demikian kami juga sangat sungkan kalau harus selalu merepotkan orang..."

Giam Pit Seng ikut berbicara.

"Tidak! Lohu tidak merasa terganggu sama sekali. Oleh karena itu kami akan tetap tinggal pula sampai besok."

Jeng-bin Lokai berkata tegas.

Mereka lalu masuk ke dalam pondok lagi.

Lojin-Ong dan Jeng-bin Lokai segera bersila dan bersamadhi di pojok ruangan.

Begitu pula dengan Giam Pit Seng, setelah mengatur penjagaan ia lalu bersamadi pula di belakang sesepuhnya itu.

Sementara itu Liu Wan dan Tan Sin Lun merasa kegerahan di dalam pondok.

Keduanya melangkah keluar mencari udara segar.

"Nona Tio juga datang ke pondokku beberapa hari yang lalu."

Liu Wan membuka percakapan. Tan Sin Lun menoleh. Matanya memandang Liu Wan, kemudian menghela napas panjang.

"Dia juga menanyakan Siau In, adiknya?"

Liu Wan mengangguk.

"Benar. Dan jawabku sama dengan jawaban yang kuberikan kepada Tan-heng. Nona Siau In memang tidak pernah dibawa ke tempatku."

Sin Lun berdesah panjang. Sambil memandang bintang-bintang di langit ia bergumam.

"Heran. kemana sebenarnya anak itu? Apabila tidak ada apa-apa, tentunya sudah kembali menemui Suhu."

"Yah, kita hanya bisa berdoa, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang jelek padanya."

Liu Wan mencoba membesarkan hati pemuda itu.

Keduanya lalu berbincang-bincang sambil berjaga.

Semakin lama Liu Wan semakin yakin bahwa pemuda itu memang amat mencintai Tio Ciu In.

Dan entah mengapa, kenyataan itu benar-benar sangat memukul hatinya.

Malam semakin larut, udarapun terasa semakin dingin pula.

Rasa kantuk mulai menyerang Liu Wan dan Tan Sin Lun, sehingga untuk menghilangkannya Liu Wan lalu berdiri dan berjalan menuju ke halaman depan.

"Mau ke mana...?"

Tan Sin Lun bertanya.

"Berjalan-jalan saja. Mataku mengantuk sekali. Aku...? Hei, awas! Aku seperti melihat bayangan di jembatan!"

Tiba-tiba Liu Wan berbisik dan berlindung di bawah rimbunnya dedaunan.

"S-s-siapa...?"

Tan Sin Lun tergagap kaget.

"Entahlah! Tolong kau beritahu yang lain bahwa ada orang datang ke tempat ini! Aku akan mengawasi orang itu..."

Tanpa membantah Tan Sin Lun menyelinap masuk, kemudian melaporkan kecurigaan Liu Wan itu kepada gurunya. Sementara itu Liu Wan mencoba memotong gerak bayangan itu.

"Berhenti...!"

Liu Wan menghardik begitu bayangan tersebut kelihatan lagi.

Bayangan itu tersentak kaget dan berhenti dengan tiba-tiba.

Di dalam kegelapan malam tampak bayangan mengkilap panjang terpegang di dalam tangannya.

"Kau siapa? Mengapa berkeliaran di sini? Apa yang kau cari?"

Tak terduga bayangan itu justru membentak Liu Wan.

"Gila! Aku yang bertanya kepadamu! Jawab dulu!"

Liu Wan berseru marah.

"Persetan! kau... yang gila! Enak saja memaksa orang! kau pikir ini rumahmu, heh?"

Ternyata bayangan itu menjadi berang pula. Bahkan sambil berteriak dia menyerang dengan benda mengkilap itu.

"Wuuuuuut!"

Terdengar suara mencicit ketika benda yang tidak lain adalah sebatang tongkat besi itu menerjang ke arah ulu hati Liu Wan! "Traaaaaang!"

Liu Wan menangkis dengan kursi yang ada di dekatnya, sehingga kursi itu pecah berantakan!

Liu Wan melompat mundur.

Dia tetap tak bisa mengenali lawannya.

Malam memang terlalu gelap untuk melihat wajah orang.

Tetapi yang jelas orang itu bersenjatakan tongkat besi seperti halnya kaum pengemis.

Begitulah, karena tak ada yang mau mengalah, maka mereka berdua segera terlibat dalam pertempuran sengit.

Bayangan itu menyerang Liu Wan dengan ganas.

Tongkatnya menyambar-nyambar seperti burung elang melihat mangsa.

Begitu cepat dan kuat ayunannya sehingga Liu Wan dibuat repot untuk menghindarinya.

Liu Wan terpaksa mengurai sabuknya, sebuah sabuk terbuat dari kulit ular berbandul perak.

Sabuk itu segera dia pergunakan untuk melayani lawannya.

"Siiiuuut! Traaaaaang! Thiiiiing...!"

Berkali-kali kedua macam senjata itu berbenturan di udara. Bunga api memercik kemana-mana. Semakin lama semakin sering, sehingga lengan mereka menjadi kesemutan dibuatnya.

"Bagus! Ternyata orang ini boleh juga! Siapa dia...?"

Liu Wan berkata di dalam hati.

Sebaliknya orang itu benar-benar kaget melihat kemampuan Liu Wan.

Permainan tongkatnya yang selama ini sangat disegani orang, ternyata mendapat perlawanan sengit dari sabuk kulit lawannya.

Sementara itu Lojin-Ong dan Jen-bin Lokai telah berlari ke halaman depan.

Giam Pit Seng dan Tan Sin Lun mengikut di belakang mereka.

Melihat Liu Wan telah bertarung dengan seseorang, mereka berempat segera bersiap-siap untuk membantu.

Melihat lawan berjumlah banyak, Orang itu diam-diam menjadi keder juga hatinya.

"Kurang ajar! Ternyata kau membawa banyak orang untuk merampok rumahku!"

Orang itu berteriak geram.

"Rumahmu...? kau? kau... si Tongkat Bocor Ho Bing?"

Liu Wan berseru kaget. Orang itu tertawa panjang.

"Hehehe... tampaknya kau terkejut mendengar namaku, ya? Bagaimana? Masih mau merampok juga?"

Tiba-tiba Jeng-bin Lokai melangkah ke depan.

"Kami para pengemis Tiat-tung Kai-pang tidak pernah menjadi perampok! Bahkan menjadi penipu atau pembohongpun belum pernah! Nah, Ho Bing... Katanya kau juga menjadi anggota kami pula! Benarkah...?"

Bukan main terkejutnya Ho Bing.

Dia berbohong ketika berhadapan dengan Liu Wan dan Tio Ciu In pagi tadi.

Semua itu dia lakukan hanya untuk menjebak Tio Ciu In.

Tak terduga tokoh Tiat-tung Kai-pang yang ia catut namanya itu sekarang berada di depannya.

Sekejap timbul maksud Ho Bing untuk melarikan diri.

Tetapi keinginannya menjadi batal ketika Jeng-bin Lokai dan pengawalnya bergerak mengepungnya.

"Bagus!"

Ho Bing justru menggertak.

"Aku memang bukan orang Tiat-tung Kai-pang! Aku... Ho Bing si Tongkat Bocor!"

Jeng-bin Lokai tertawa mengejek.

"Ho Bing! kau jangan terlalu sombong di depanku. Meskipun ilmu silatmu terkenal hebat, tapi tenaga murnimu kau hambur-hamburkan di segala tempat. kau hanya seperti harimau kertas, tampaknya saja garang dan menakutkan, tapi sebenarnya kropos tak berdaya. Menghadapi lawan bertenaga dalam tinggi, kau takkan bisa berbuat apa-apa."

Ucapan pengemis tua itu laksana peluru meriam yang menghantam dada Ho Bing.

Dia memang merasa lemah dalam hal tenaga dalam.

Melawan Jeng-bin Lokai dia tidak takut, tapi yang perlu dia perhitungkan justru pemuda yang baru saja bertempur dengan dirinya tadi.

Terasa olehnya pemuda itu belum mengeluarkan semua kepandaiannya.

"Sayang Yok si Ki sudah pergi..."

"Hei! Mengapa kau diam saja? Ayoh, katakan... di mana sumoiku? Jawab!"

Tan Sin Lun berteriak tak sabar. Ho Bing mendelik.

"Bangsat! kau... siapa?"

"Aku kakak seperguruan Tio Ciu In! Ayoh, cepat katakan!"

Sambil menjerit Tan Sin Lun menyerang Ho Bing. Pemuda itu tidak bisa mengekang hatinya lagi. Kekhawatirannya terhadap keselamatan Tio Ciu In membuatnya mata gelap.

"Tan-heng, jangan...!"

Liu Wan yang sudah merasakan kehebatan tongkat Ho Bing berseru.

Terlambat.

Hanya dengan miringkan tubuhnya, Ho Bing mampu meloloskan diri dari serangan Tan Sin Lun.

Sebaliknya, pada saat yang hampir bersamaan tongkat Ho Bing menusuk ke arah dada Tan Sin Lun dengan cepatnya.

Wajah Giam Pit Seng menjadi pucat seketika.

Muridnya yang belum berpengalaman itu benar-benar dalam bahaya.

Untuk menolong jelas tidak bisa.

Jaraknya terlalu jauh.

Sesuatu yang dapat ia lakukan hanyalah menyerang Ho Bing dengan bintang terbangnya!

"Siiiiiing!

Taaaaassh!

Tuuuk!

Gedubrak!

Bruk!"

Ternyata tidak hanya Giam Pit Seng yang kaget atas serangan Ho Bing tadi.

Dalam kagetnya ternpata^"-jin-ong dan Liu Wan juga menyerang pula.

Masing-masing dengan ilmu andalannya.

Lojin-Ong dengan Ilmu Silat Kulit Dombanya, melempar tongkatnya ke lengan Ho Bing.

Sedang Liu Wan dengan Hong-lui-kun-hoat juga berusaha menghalau tongkat pengemis hidung belang itu.

Ketika serangan itu datang pada saat yang sama.

Mula-mula tongkat Ho Bing yang sudah menyentuh baju Tan Sin Lun itu tergetar hebat, akibat tangan yang memegangnya tak mampu mengelakkan terjangan tongkat Lojin-Ong.

Na-mun pada saat itu juga jari Ho Bing sudah memencet tombol rahasianya, sehingga asap tebal berwarna kuning menyambar ke wajah Tan Sin Lun.

Tapi pada saat asap kuning itu menyembur keluar, maka pukulan petir Liu Wan juga persis datang menyambar tongkat itu.

Terdengar sebuah letupan kecil ketika tongkat tersebut terpental dari tangan Ho Bing.

Namun demikian tongkat itu sempat merobek baju Tan Sin Lun dan menggores kulit dadanya.

Bahkan asap kuning itu sudah terhisap pula oleh hidung Tan Sin Lun.

"Bruuuuk!"

Tubuh Tan Sin Lun terbanting pingsan di atas tanah!

Sementara itu senjata rahasia bintang terbang milik Giam Pit Seng juga mengenai punggung Ho Bing dengan telak, bahkan persis pada jalan darah Tai-hung-hiat di bawah pundak.

Akibatnya tubuh pengemis hidung belang itu juga tersungkur pula di samping Tan Sin Lun.

Giam Pit Seng segera menghambur ke depan untuk menolong muridnya.

Kedua jari telunjuknya beberapa tempat.

Kemudian tangannya bergegas mengambil beberapa ramuan obat serta memasukkannya ke dalam mulut Tan Sin Lun.

"Bagaimana? Lukanya parah?"

Lojin-Ong bertanya khawatir.

"Lukanya memang tidak seberapa, karena tongkat itu hanya menggores sedikit saja. Tapi asap kuning itulah yang berbahaya. Anak ini terlanjur menghisapnya, walaupun tidak banyak."

Mereka lalu membawa Tan Sin Lun ke dalam pondok dan meletakkannya di atas lantai. Liu Wan dan Jeng-bin Lokai juga meringkus Ho Bing yang sudah terluka itu dan membawanya ke dalam rumah pula.

"Kurang ajar! Lepaskan aku...!"

Pengemis hidung belang itu mengumpat-umpat.

"Jangan khawatir! Aku akan melepaskanmu kalau kau sudah mengatakan di mana Tio Ciu In berada..."

Liu Wan menggeram dengan suara kesal.

"Persetan! Perempuan hina itu sudah mati!"

Plok! Plok! Telapak tangan Liu Wan menampar pipi Ho Bing beberapa kali, meskipun tidak sampai merontokkan giginya.

"Aduh...! Bangsat! Keparat! Lepaskan tanganku!"

Ho Bing menjerit-jerit.

Setelah mengobati Tan Sin Lun, Giam Pit Seng menghampiri Ho Bing.

Dengan suara tertahan pendekar Aliran Im-yang-kauw itu bertanya tentang murid perempuannya.

Dari sikap dan roman mukanya, kelihatan sekali kalau dia menahan rasa marahnya.

"Aku tidak tahu! Tanyakan sendiri kepada Yok si Ki! Orang itu yang membawa muridmu!"

Liu Wan menyambar leher baju Ho Bing.

"Jangan coba-coba melibatkan orang lain! Aku tahu sendiri, kau lah yang membawa gadis itu! kau ingat Tabib Ciok yang datang bersama gadis itu? Akulah tabib itu!"

Ho Bing terperanjat. Matanya terbelalak memandang Liu Wan. Tiba-tiba mulutnya berdesis.

"Kau... siapa?"

"Namaku Liu Wan. Tapi banyak yang menyebutku Bun-bu Siucai. Tabib Ciok adalah penyamaranku di kota Hang-ciu ini..."

Jawaban itu benar-benar mengejutkan Ho Bing.

Bahkan tidak cuma Ho Bing, tapi juga semua tokoh yang ada di situ.

Nama Bun-bu Siucai sangat terkenal di pantai timur Tiongkok.

Namun demikian tak seorangpun di antara mereka yang pernah melihat wajahnya.

Lojin-Ong mengangguk-anggukkan kepalanya.

Bayangan wajah Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, orang yang pernah dikenalnya, kembali terbayang di depan matanya.

Dan dia semakin yakin, bahwa pemuda ini tentu mempunyai hubungan dengan orang itu.

"Oh, jadi kaulah pendekar ternama itu? Bagus! Kalau begitu, siapa orang tua bongkok ini? Gurumu?"

Ho Bing berkata lantang. Sama sekali tidak kelihatan takut menghadapi lawan banyak. Liu Wan tersenyum.

"Hari ini nasibmu memang kurang beruntung. Locianpwe ini adalah tokoh paling tinggi di dalam aliran Im-yang-kauw saat ini. Beliau adalah Lojin-Ong atau Toat-beng-jin!"

Ho Bing mengerutkan keningnya, kemudian tertawa panjang.

"Kau benar, Liu Wan. Nasibku memang kurang baik hari ini. Begitu mendapat lawan, sekaligus dari tokoh-tokoh ternama dari dunia persilatan. Hohoho, baiklah. Rasanya aku tidak perlu berbelit-belit lagi sekarang. Akan kukatakan apa yang kalian inginkan..."

"Jangan bertele-tele! Cepat katakan! Di mana Nona Tio sekarang?"

Jeng-bin Lokai membentak.

"Sabarlah, Hu-pangcu! Aku akan bercerita..."

Begitulah, Ho Bing lalu bercerita apa adanya. Bagaimana ia dan Yok si Ki meloloskan diri melalui pintu rahasia dan kemudian bertemu pendekar bermata buta di dalam Gua Seribu Jalan...

"Bohong! Dia tentu berbohong, Suhu!"

Tan Sin Lun yang sudah berangsur baik dan ikut mendengarkan cerita Ho Bing, tiba-tiba berteriak.

"Huh! Terserah kalian... Mau percaya atau tidak! Kalau kalian ingin mencoba kesaktian Pendekar Buta itu, akupun bersedia mengantarnya. Tapi... jangan salahkan aku, bila kalian mendapat celaka nanti! Harap tahu saja, pendekar itu mampu meruntuhkan atap gua... Hanya dengan getaran suaranya! kau dengar! Hanya dengan getaran suaranya!"

Ho Bing berteriak pula dengan suara mendongkol.

Semuanya terdiam di tempatnya.

Mereka tahu bahwa Ho Bing tidak berbohong atau ingin menakut-nakuti mereka.

Dari roman mukanya dapat dilihat bahwa pengemis hidung belang itu juga ketakutan pula ketika bercerita.

"Baiklah, antarkan kami ke gua itu! Kami juga ingin berkenalan dengan Pendekar Buta itu. Siapa tahu dia masih hidup dan dapat menyelamatkan Tio Ciu In? Kukira orang yang memiliki kemampuan meruntuhkan atap gua dengan getaran suaranya, tentu dapat pula mengatasi bencana yang terjadi..."

Akhirnya Lojin-Ong berkata pelan.

"Aku sependapat dengan ucapan Lojin-Ong. Ho Bing, cepat... antarkan kami ke gua itu!"

Seru Liu Wan tidak sabar.

"Baik, kalian mau lewat mana? Lewat pintu rahasia... atau lewat rawa-rawa di belakang itu?"

Jeng-bin Lokai mendengus dengan suara di hidung.

"Huh! Aku tahu rencanamu. Manusia licik seperti kamu tentu mempunyai rencana-rencana busuk untuk mencelakakan kami dalam usahamu meloloskan diri. Bagimu, lewat terowongan di bawah tanah ataupun lewat rawa-rawa, sama saja. kau akan berusaha menyesatkan kami, bahkan menjebloskan kami ke tempat-tempat berbahaya, kemudian menyelinap pergi meninggalkan kami. Begitu, bukan? Hoho... jangan harap kau bisa mengelabuhi aku! Aku akan menjagamu seperti seorang ibu menjaga bayinya!"

Ho Bing menyeringai senang, seolah-olah tidak peduli dengan ucapan Jeng-bin Lokai.

"Bagaimana? Kalian pilih lewat mana...?"

Giam Pit Seng mendekati Lojin-Ong.

"Sebaiknya kita lewat rawa-rawa saja, Lojin-Ong. Lebih aman serta lebih cepat sampai, karena kita selalu tahu di mana kita berada. Di dalam terowongan kita sulit menentukan arah."

Dia berbisik perlahan.

"Baiklah! saudara Ho, kami ingin lewat rawa-rawa saja."

Lojin-Ong memberi kepastian.

Demikianlah, Giam Pit Seng lalu mengatur rencana keberangkatan mereka.

Tan Sin Lun tidak diperkenankan ikut.

Pemuda itu tetap tinggal bersama para pengawal Jeng-bin Lokai di rumah itu.

Sementara itu karena sampan yang tersedia hanya dua buah, maka Jeng-bin Lokai dan Lojin-Ong berada satu sampan dengan Ho Bing.

Sedang Liu Wan dan Giam Pit Seng berada dalam sampan yang lain.

Untuk menjaga agar Ho Bing tidak lari, Jeng-bin Lokai sengaja menotok beberapa jalan darah di pangkal paha pengemis palsu itu.

Bahkan demi keamanan mereka, Ho Bing ditempatkan di tengah-tengah.

Malam semakin larut, sementara bintang di langit telah jauh bergeser ke arah barat.

Kedua sampan kecil itu bergeser perlahan di antara semak-semak belukar yang banyak terdapat di tengah rawa itu.

Selain berpedoman pada bintang-bintang, mereka juga mengandalkan pengalaman dan daya ingat Ho Bing, yang telah biasa bertualang di tempat itu.

Rawa itu seperti tidak ada ujungnya.

Semakin jauh sampan mereka melaju, maka semakin bingung pula mereka menentukan arah.

Rasanya sampan itu hanya berputar-putar saja di antara gerumbul perdu dan alang-alang.

Tapi dengan tenang dan penuh keyakinan, Ho Bing menunjukkan jalan yang harus mereka lalui.

Dengan berpedoman pada letak bintang di langit, Ho Bing membawa rombongan itu ke arah yang benar.

Akhirnya ketika sinar kemerahan mulai semburat di ufuk timur, rombongan tersebut sampai juga di seberang.

Mereka menyembunyikan sampan mereka, kemudian naik ke daratan.

Lojin-Ong kembali membebaskan totokan Ho Bing.

Sementara itu udara bertiup dengan kencang menerpa tubuh mereka, sebagai bukti bahwa mereka telah berada di dekat pantai.

"Bagus Ho Bing! Tampaknya kau memang benar-benar tahu cara melintasi rawa-rawa ini. Kata orang, rawa ini penuh dengan binatang-binatang berbahaya, yang setiap saat bisa membunuh orang. Tapi sejak berangkat tadi, kita tidak menemuinya sama sekali. Bagaimana kau bisa menghindari mereka? Apakah cerita tentang binatang-binatang berbahaya itu hanya bohong belaka?"

Jeng-bin Lokai bertanya sambil berdecak kagum. Tiba-tiba Ho Bing tertawa.

"Kalau kukatakan apa yang ada di tengah perjalanan tadi, mungkin kita belum sampai di tempat ini."

"Apa katamu...?"

Liu Wan tersentak tak paham.

"Sebenarnya kita baru saja lolos dari dua kali kematian. Pertama, kita lolos dari keroyokan ular berjengger merah. Kedua, kita lolos dari pusaran maut."

Semuanya mengerutkan dahi.

"Jangan berbelit-belit! Jelaskan kata-katamu!"

Mereka berdesis hampir berbareng. Ho Bing kembali tertawa.

"Ketahuilah, ular rawa berjengger merah itu hidup di tempat yang banyak ditumbuhi pohon bunga. Turun-temurun ular itu selalu beristirahat pada saat pohon bunga sedang mekar. Dan waktunya tidak lama. Mungkin cuma sepeminuman teh saja. Setelah itu mereka akan keluar lagi..."

"Oh, begitukah...? Sungguh berbahaya sekali! Untung kita tidak ribut selama berada di tempat itu..."

Jeng-bin Lokai berdesah ngeri.

"Benar, Hu-pangcu. Sedikit saja kita membangunkan mereka, hohoho... tempat itu akan penuh dengan ular bercengger merah! Dan bila sudah demikian keadaannya, maka cuma manusia bersayap saja yang mampu keluar dari tempat itu."

Liu Wan menarik napas lega.

"Lalu... di mana bahaya kematian yang ke dua itu berada?"

Kami tidak melihat pusaran Ho Bing menatap pemuda tampan itu dengan perasaan puas. Puas karena memiliki pengalaman lebih baik daripada mereka.

"Liu-heng, kau masih ingat ketika hendak mengayuh sampan... Ke daerah yang terbuka tadi?"

"Maksudmu... bagian yang tidak ada tumbuh-tumbuhan dan semak-belukar itu? Airnya sangat dalam?"

Sekali lagi pengemis hidung belang itu tertawa lepas.

"Jadi Liu-heng berpendapat demikian? Oho...untunglah aku cepat-cepat membawa Liu-heng menghindari tempat itu. Kalau tidak...wah, kau dan Giam Lo-Cianpwe sudah bertemu dengan Giam-lo-ong (Dewa Kematian) sekarang."

"Mengapa begitu, saudara Ho?"

Lojin-Ong yang jarang sekali berbicara itu mendesak menyela pembicaraan mereka.

"Ah, Lo-Cianpwe... biasanya orang yang belum tahu tentang rawa ini, cenderung memilih lewat di tempat yang terbuka. Selain tidak ada tumbuh-tumbuhan yang menghalangi pandangan, bahaya yang datangpun segera bisa dilihat. Namun... justru di sanalah tempat yang paling berbahaya pada rawa-rawa ini."

"Paling berbahaya? Mengapa?"

Karena memang belum tahu, Lojin-Ong minta penjelasan.

"Seharusnya orang merasa curiga. Paling tidak... berpikir tentang keanehan itu. Mengapa di tempat itu tidak ada tanaman, sementara di perairan di sekitarnya penuh dengan semak belukar?"

"Yaya... cepat katakan! Apanya yang berbahaya? Heh?!"

Jeng-bin Lokai membentak tak sabar. Tapi dengan tenang Ho Bing melanjutkan keterangannya. Sama sekali tak terpengaruh oleh bentakan Jeng-bin Lokai.

"Seperti yang diduga oleh saudara Liu tempat itu memang dalam airnya. Tapi bukan itu yang ditakuti orang. Yang ditakuti adalah... pusaran airnya! Pada waktu-waktu tertentu terjadi pusaran air yang dahsyat, yang akan menelan benda apa saja ke dalam dasarnya. Apabila sampan kita berada di sana, kemudian muncul pusaran air tersebut, maka kita semua akan tersedot ke bawah dan hilang entah ke mana. Kata orang di dasar rawa itu terdapat lobang, yang berhubungan dengan sungai di bawah tanah."

Semuanya termangu-mangu mendengar keterangan pengemis hidung belang itu.

"Tapi... Mengapa baru sekarang hal itu kau katakan? Mengapa tak kau beritahukan pada saat kita berada di sana?"

Jeng-bin Lokai mendongkol.

"Oh-oh, aku tak ingin mati bersamamu, Lokai. kau tidak mungkin percaya kepadaku. Kalau saat itu aku berkata demikian, engkau akan menuduhku bohong. kau tentu berprasangka bahwa aku hanya merancang jalan untuk melarikan diri. Dan yang paling kutakutkan, ketidak percayaanmu itu akan membuahkan keputusan untuk memaksa lewat di tempat itu. Bukankah hal itu sangat mengerikan?"

"Sudahlah, saudara Ho. Mari kita lanjutkan perjalanan kita!"

Lojin-Ong menghentikan pembicaraan mereka.

Demikianlah bersamaan dengan terbitnya matahari, mereka menjejakkan kaki mereka di pantai Gua Seribu.

Sorot matahari yang merah kekuningan itu seolah-olah melapis permukaan laut dengan hamparan emas berlikauan.

Kebetulan pula angin yang bertiup tidak begitu kencang, sehingga gelombangpun tidak segarang biasanya.

"Itulah gua-gua itu!"

Ho Bing menunjuk ke tebing pantai yang memanjang jauh ke selatan, di mana lubang-lubang gua itu bertaburan bagai sarang tawon.

Begitu banyaknya, sehingga sulit untuk menghitung, apalagi mencari lubang gua yang dikehendaki.

"Ah! Bagaimana kau mencari lubang gua di mana kau berada tadi malam?"

Giam Pit Seng mulai ragu. Ho Bing melangkah maju, diikuti oleh Jeng-bin Lokai yang tak pernah lekang barang seujung rambut pun.

"Tidak sulit, Lokai. Kita tak usah mencari lubang gua yang berada di tebing atas, Kita cari saja lubang gua yang sejajar dengan permukaan laut, karena lubang gua yang kita cari itu merupakan muara sebuah sungai bawah tanah. Nah, setelah itu kita lihat di dalamnya. Bila di situ terdapat bekas reruntuhan tadi malam, maka lubang itulah gua yang kita cari..."

Liu Wan mengangguk-angguk.

"Baik! Marilah kita mulai mencarinya...!"

Meskipun lubang gua yang berada di bawah sangat banyak dan setiap saat harus melongok ke dalam, namun lubang gua yang mereka cari akhirnya ketemu juga.

Bahkan jejak-jejak sepatu Ho Bing dan Yok si Ki banyak terdapat di sana.

"Nah, lihatlah! Reruntuhanya masih baru..."

Ho Bing berkata lantang.

Semua berebut masuk.

Mereka melihat batu-batu besar berserakan di mana-mana.

Dari pecahan-pecahan batu yang ada, mereka percaya bahwa kejadiannya memang belum lama.

Bahkan batu-batu itu banyak yang runtuh begitu tersentuh tangan mereka.

Semakin dalam mereka masuk, keadaannya semakin porak poranda.

Rasanya tidak mungkin kalau hal itu disebabkan oleh getaran suara manusia.

Kerusakan itu lebih pantas disebabkan oleh goncangan gempa yang hebat.

"Bukan main! Benarkah semua ini disebabkan oleh kekuatan seorang manusia? Hmm, jangan-jangan hanya kebetulan, saja..."

Lojin-Ong tak henti-hentinya berdecak heran.

"Apa maksud Lo-Cianpwe?"

Liu Wan bertanya tak mengerti.

"Hmm... jangan-jangan memang ada gempa bumi di tempat ini. Atau... Mungkin keadaan gua ini memang sudah rapuh sebelumnya, sehingga getaran sedikit saja sudah membuat batu-batu di atas berguguran ke bawah... Hal seperti itu memang banyak terjadi di gua-gua berusia ribuan tahun."

Lojin-Ong menerangkan.

"Benar, Lojin-Ong. Aku berpikir demikian. Rasanya sulit dipercaya kalau hal ini diakibatkan oleh manusia."

Giam Pit Seng memberikan tanggapannya pula.

Jeng-bin Lokai menyentuh batu yang melekat di dinding gua.

Ketika tangannya mencoba mendorong, batu tersebut tak bergerak sedikit pun.

Begitu pula ketika ia mencoba menggoyang batu lainnya.

"Tapi batu-batu di gua ini tampak kokoh kuat..."

Dia bergumam kurang percaya. Liu Wan menoleh. Ketika matanya tak melihat Ho Bing, ia berteriak.

"He...? Di mana Ho Bing tadi?"

Semuanya tersentak kaget. Pengemis hidung belang itu benar-benar tidak ada di antara mereka.

"Kurang ajar...! Sekejap saja aku berpaling, orang itu sudah menghilang!"

Jeng-bin Lokai mengumpat-umpat.

"Jangan-jangan dia juga berbohong tentang semua ini. Mungkin Tio Ciu In tak pernah dibawa ke sini. Dia hanya mencari jalan untuk melepaskan diri dari kita."

Giam Pit Seng semakin ragu. Tiba-tiba Liu Wan meloncat ke depan dan mendorong sebongkah batu besar. Dengan sebat tangannya menarik sesuatu dari bawah batu tersebut.

"Lo-Cianpwe, lihat...! Bukankah ini sepatu Tio Ciu In?"

Pemuda itu berseru keras sekali. Lojin-Ong dan Giam Pit Seng bergegas melihat sepatu itu.

"Benar. Sepatu ini memang milik Tio Ciu In. Anak itu sendiri yang membuatnya setiap kali menyelesaikan latihan silatnya..."

Giam Pit Seng mengangguk-angguk. Matanya berkaca-kaca.

"Ciu In...!!"

Lojin-Ong berseru dengan kekuatan tenaga dalamnya.

Suaranya bergema, bergulung-gulung, menembus lorong-lorong gua itu.

Begitu kuat getarannya sehingga lapisan tanah dan bongkahan batu kecil yang masih tersisa di atap gua berguguran ke bawah.

"Lojin-Ong, awaaaas...! Susunan batu di dalam gua ini masih belum mantap benar. Semuanya masih mudah runtuh."

Liu Wan memperingatkan.

"Benar. Aku memang kurang memperhitungkannya. Aku terlalu khawatir terhadap keselamatan Tio Ciu In."

Mereka lalu masuk lebih ke dalam lagi.

Ketika mereka mendapatkan lubang-lubang yang lain, mereka mulai bingung.

Apalagi ketika mereka masuk ke dalam salah satu lubang di antaranya, mereka kembali mendapatkan sebuah gua besar yang memiliki beberapa buah lubang terowongan lagi.

"Awassss...! Gua ini memiliki terowongan yang berbelit-belit seperti sarang laba-laba! Sebelum kita berjalan lebih dalam dan kehilangan arah, kita harus mencari cara agar tidak tersesat. Kita tidak boleh kehilangan jalan untuk kembali ke gua besar tadi. Nah, bagaimana pendapatmu... jeng-bin Lokai?"

Lojin-Ong menghentikan langkahnya dan bertanya kepada wakil ketua Tiat-tung Kai-pang.

"Kau benar, Lojin-Ong. Sekali kita kehilangan arah, maka kita semua akan berputar-putar di dalam gua-gua ini sampai mati. Sudah banyak cerita yang kudengar tentang hal itu. Hemmmmm, menurut pendapatku... Kita harus memberi tanda setiap memasuki lubang gua yang lain. Bagaimana...?"

"Baiklah. Mari kita mencobanya..."

Kemudian setiap kali berbelok dan masuk ke dalam gua yang lain mereka memberi tanda dengan goresan-goresan pada dindingnya.

Mereka melakukannya berkali-kali, hingga suatu saat mereka menjadi kaget ketika tiba-tiba telah berada di tempat semula.

Padahal mereka yakin bahwa mereka tidak merasa berputar atau berbalik arah.

"Gila! Gua ini benar-benar membingungkan. Bagaimana kita bisa kembali ke tempat ini? Bukankah kita tadi maju terus ke dalam tanpa mengambil jalan ke kiri atau ke kanan?"

Liu Wan bingung.

"Benar, Liu-heng. Tapi kita keluar dari lubang yang lain lagi. Jadi benar dugaan Lojin-Ong, bahwa lubang terowongan di dalam tanah ini berbelit-belit seperti sarang laba-laba."

Giam Pit Seng membenarkan. Lojin-Ong mendekati mereka. Sambil menepuk pundak Liu Wan dia mengajak keluar dari gua tersebut.

"Sebaiknya kita keluar dulu. Kita rundingkan cara yang baik untuk mengatasi hal ini. Selain daripada itu kita perlu makan pula, bukan? Nah, mari kita keluar...!"

Ternyata matahari telah sepenggalah tingginya.

Panasnya memancar, mengusap dinding-dinding karang yang tinggi, seolah-olah mau menghangatkan suasana yang kaku di siang hari itu.

Mereka mencoba mencari ikan apa saja untuk mengisi perut.

Sungai-sungai di bawah tanah itu memang menyediakan ikan yang biasa mereka ambil.

Demikianlah, selama enam hari mereka mencoba terus mencari Tio Ciu In.

Pada hari ke tiga Giam Pit Seng menemukan tali rambut muridnya itu, sehingga mereka menjadi bersemangat kembali.

Tapi penemuan itu ternyata merupakan petunjuk mereka yang terakhir.

Selanjutnya mereka tak pernah menemukan apa-apa lagi.

Hingga pada hari yang ke tujuh mereka mulai putus asa.

"Bagaimana menurut pendapat Lojin-Ong? Apakah Tio Ciu In masih hidup atau mati?"

Giam Pit Seng bertanya kepada sesepuhnya.

"Entahlah, Pit Seng. Sama sekali tak ada gambaran yang dapat menjadi petunjuk untuk meramalkan hal itu. Pikiran dan perasaanku serasa gelap dan buntu. Tetapi kecil rasanya kemungkinan untuk hidup bagi anak itu..."

"Hmmh, si Keparat Ho Bing itu juga tidak muncul pula. Dialah yang menjadi gara-gara semua ini. Ah, Lo-Cianpwe... apa yang harus kita kerjakan sekarang?"

Liu Wan berdesah dengan suara tersendat-sendat.

"Apa boleh buat, kita telah berusaha selama enam hari di sini. Kami terpaksa pulang."

Liu Wan duduk termangu-mangu.

Semua bayangan Tio Ciu In selama ini kembali terbayang biji matanya.

Senyumnya.

Cara bicaranya.

Demikianlah, seperti apa yang dikatakan oleh Lojin-Ong, walaupun sangat berat mereka terpaksa meninggalkan tempat itu.

Mereka harus kembali, karena banyak tugas yang harus mereka lakukan selain itu.

Liu Wan sendiri selama hampir sebulan masih tetap mondar-mandir di pantai tersebut.

Pemuda itu masih berharap dapat bertemu kembali dengan Tio Ciu In.

Tapi setelah sekian lamanya tidak juga bersua, akhirnya pupus juga harapannya.

Dengan sedih dia pergi melanjutkan pengembaraannya.

Kenangan tentang gadis ayu itu dibawanya kemanapun dia pergi.

* * * Lima tahun kemudian...

Waktu lima tahun memang tidak terlalu lama.

Namun selama kurun waktu yang tidak terlalu lama itu ternyata telah banyak sekali perubahan yang terjadi di negeri Tiongkok.

Pasukan Mo Tan dengan panglima-panglimanya yang gagah berani telah banyak menyusup ke selatan.

Mereka melewati Tembok Besar, kemudian menyerang dan menguasai beberapa kota kecil di sepanjang Sungai Ho-ang-ho.

Sementara itu pemberontakan suku-suku kecil di hulu Sungai Yang-tse juga semakin merajalela.

Begitulah, hanya dalam waktu lima tahun semenjak Au-yang Goanswe memperoleh kepercayaan penuh dari Permaisuri Li, maka suasana di dalam negeripun mulai berubah buruk.

Cita-cita untuk mencapai negeri yang aman dan nyaman, yang telah dirintis oleh Permaisuri Li semenjak wafatnya Kaisar Liu Pang, mulai goyah dan siap untuk runtuh kembali.

Dengan kekuasaannya yang besar, Au-yang Goanswe menguasai para menteri dan penasehat kerajaan.

Dengan siasat dan kelicikannya pula, Au-yang Goanswe memfitnah Panglima Besar Yap Kim, sehingga pahlawan yang berjasa besar terhadap negara itu justru dibuang dan dipenjarakan oleh Permaisuri Li.

Oleh karena secara diam-diam di kotaraja sendiri terjadi persaingan dan permusuhan di antara para penguasanya, maka di daerahpun suasananya juga semakin jelek dan rusuh.

Para Gubernur atau Raja Muda yang berkuasa di luar Kotaraja, seolah-olah tidak terkendali lagi.

Dengan longgarnya pengawasan dari pusat, maka kekuasaan mereka benar-benar penguasa di daerahpun tidak kalah buruknya daripada mereka.

Rakyat kecil menjadi ketakutan, karena merekalah yang akhirnya menjadi korban kebrutalan itu.

Para petani tidak berani sembarangan turun ke sawah.

Selain banyak penjahat yang mengancam mereka, hasil sawah merekapun belum tentu dapat mereka nikmati dengan baik.

Kalau bukan perampok yang menjarah-rayah hasil panenan mereka itu, para penguasa lalimpun sering mengambilnya dengan dalih untuk negara.

Begitulah, mereka yang bermandi keringat, tetapi orang lain yang berpesta pora.

Bagi mereka cukup diberi jatah sebagian kecil saja dari hasil sawah ladang mereka itu.

Suasana negeri yang demikian itu juga menimbulkan pelecehan terhadap wanita secara semena-mena.

Penculikan, perkosaan dan segala tindak kekerasan terhadap wanita terjadi di mana-mana.

Tentu saja keadaan itu menimbulkan gelombang kemarahan dari para pendekar persilatan.

Muncullah dewa-dewa penyelamat yang berusaha melindungi rakyat banyak.

Meraka secara sendiri-sendiri atau berkelompok, memburu para penjahat itu dan berusaha untuk mengenyahkan mereka.

Maka bentrokanpun tidak bisa dielakkan lagi.

Dunia persilatan menjadi gempar oleh pertempuran-pertempuran-mereka.

Korban segera berjatuhan di antara dua golongan itu.

Mereka tidak mengindahkan peraturan dan hukum negara lagi.

Hanya hukum alam yang berlaku di kalangan mereka.

Siapa yang lebih kuat, dialah yang menang.

Sementara itu suasana prihatin terasa mengambang di seluruh negeri.

Ibu Suri Li, yang pada tahun-tahun pertama memegang kekuasaan sangat disukai rakyat, kini sedang menderita sakit.

Oleh karena Pangeran Mahkota Liu Wan Ti, yang seharusnya menggantikan kedudukannya belum juga ditemukan, maka untuk sementara waktu kekuasaan negeri terpaksa dilimpahkan kepada tujuh menteri.

Mereka dibantu oleh Dewan Penasehat kerajaan yang terdiri dari sepuluh orang.

Aturan yang berlaku memang tertulis demikian, namun diantara aturan yang tertulis dan kenyataan yang ada ternyata sangat berlainan, resminya saja kekuasaaan ada pada tujuh menteri dan sepuluh dewan penasehat kerajaan, tapi kenyataannya mereka sama sekali tidak punya kekuatan apa-apa.

Au-yang Goanswe yang sekarang memiliki kekuatan yang sangat besar, justru lebih berkuasa daripada tujuh menteri itu, dengan dukungan pasukan Kim-i-wi dan Gin-i-wi, ditambah lagi dengan bantuan sebagian besar panglima kerajaan yang terbujuk oleh rayuannya, maka kekuasaannya justru lebih menentukan daripada mereka.

Sebagai seorang pembesar yang mendapat kepercayaan dari Ibu Suri atau bekas Permaisuri Li, apalagi kini memiliki kedudukan sebagai Panglima besar bala tentara kerajaan, maka jenderal Au-yang merupakan orang terkuat di Kotaraja dan semua yang didapatnya tersebut memang merupakan cita-cita semenjak dulu.

Melalui jalan yang sangat panjang, disertai dengan segala macam cara dan tipu daya, Jendral yang menyimpan dendam kesumat terhadap dinasti Han itu, akhirnya berhasil menyingkirkan hampir semua lawannya.

Impian dan cita-citanya untuk mengembalikan pamor keluarga Beng, serta melampiaskan dendam ayahnya terhadap keluarga Kaisar Liu Pang, tinggal beberapa langkah lagi.

Dua puluh tahun lalu, pada permulaan langkahnya, Au-yang Goanswe berhasil menyingkirkan pangeran Liu yang kun dari lingkungan Istana, walaupun tidak dapat membunuh pangeran mahkota yang tersohor sangat sakti itu, namun dengan segala tipu dayanya Au-yang Goanswe mampu menyingkirkannya, bahkan juga sekalian melenyapkan seluruh keluarganya.

Setelah langkah pertama itu terlaksana, Au-yang Goanswe lalu mengincar Pangeran Liu Wan Ti, adik Pangeran Liu yang kun.

Tetapi sebelum rencana tersebut dilaksanakan, pangeran muda itu sudah keburu meloloskan diri dari Istana.

Pergi entah ke mana.

(Lanjut ke

Jilid 20) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 20 Namun kepergian Pengeran Liu Wan Ti tidak mempengaruhi kelangsungan rencana Au-yang Goanswe selanjutnya.

Jendral tua yang sudah teracuni dendam kesumat itu segera meneruskan rencananya.

Dan langkah berikutnya, langkah yang paling berat dan sulit dilakukan, yaitu menyingkirkan Panglima Besar Bala Tentara Kerajaan, Panglima Yap Kim beserta para perwira kepercayaannya.

Namun sekali lagi dengan tipu daya dan kelicikannya, Au-yang Goanswe juga berhasil menjatuhkan dan menyingkirkan mereka pula.

Bahkan salah seorang di antara perwira tinggi yang ikut tersingkir bersama Panglima Yap Kim itu adalah Kong-sun Goanswe, Komandan Pasukan Rahasia Kerajaan, yang menjadi saingan beratnya selama ini.

Panglima Yap Kim dituduh berkhianat dan dianggap bersalah terhadap kerajaan, sehingga ibu suri Li lalu mencopot jabatannya dan membuangnya ke benteng langit yaitu sebuah bangunan kuno yang didirikan di atas pulau karang kecil ditengah-tengah aliran sungai Huangho, ketika Liu Pang naik tahta, bangunan kokoh kuat seperti benteng tersebut diubah fungsinya menjadi sebuah penjara.

Sedangkan jendral Kong Sun yang sebelumnya menjadi komandan pasukan rahasia kerajaan yang dianggap bersalah karena tidak mengetahui penghianatan panglima Yap Kim, dipindah tugaskan ke daerah perbatasan bagian utara.

Jendral Kong Sun yang mahir ilmu perang itu hanya ditugaskan sebagai komandan pasukan kecil yang mengawasi suku bangsa liar di luar tembok besar.

Selama lima tahun itu pula, Au-yang Goanswe masih selalu menyelenggarakan "Perlombaan Mengangkat Arca"

Disetiap peringatan tahun baru, dengan cara yang sangat rahasia ia masih tetap mencari pemuda bertato naga yang dicurigainya sebagai keturunann Kaisar Liu Pang harus dilenyapkan.

Namun dengan dalih perlombaan tersebut dia juga berhasil mengumpulkan jago-jago silat kelas tinggi untuk diangkat menjadi pengawalnya.

Persahabatan rahasia dengan Raja Mo Tan juga masih tetap dilakukan oleh Au-yang Goanswe, meskipun persahabatan tersebut terasa mulai mengendor setelah Au-yang Goanswe merasa dirinya kuat dan tidak memerlukan bantuannya lagi.

Demikianlah setelah semua lawannya tersingkir, maka perjalanan cita-cita Au-yang Goanswe tinggal beberapa langkah lagi.

Rencananya sekarang adalah menunggu kematian Ibu Suri Li, setelah pemangku kekuasaan negeri yang sedang sakit berat itu meninggal dunia, maka Au-yang Goanswe merencanakan untuk mengangkat dirinya menjadi Wali Kerajaan, dengan kekuasaan dan dukungan para pengikutnya, Jendral Au-yang yakin bahwa rencananya itu akan mudah dilaksanakan.

Kemudian pada suatu saat yang tepat nanti, ia akan mengangkat dirinya sendiri menjadi Kaisar.

Dan pada saat itu dia akan menggunakan nama marga Beng kembali.

Begitulah, dalam suasana penuh keprihatinan itu, Au-yang Goanswe beserta para pendukungnya justru tidak sabar lagi dalam menunggu berita kematian dari Istana.

Di dalam Istananya yang besar dan megah, yang dibangun di atas puing-puing reruntuhan Istana Pangeran Liu yang kun, Au-yang Goanswe terus mengikuti semua perkembangan di Istana Kaisar.

Tiba-tiba seorang prajurit kelihatan berlari melintasi halaman Istananya.

Prajurit itu berlari ke gardu jaga dan melaporkan maksudnya kepada perwira yang berada di sana.

Perwira tua itu mengerutkan keningnya, lalu bergegas masuk ke ruang dalam.

"Goanswe...! Ada berita dari Istana bahwa Menteri si Sun Ong dan Kui Hua Sin memasuki Ruang Pertemuan. Bahkan di ruang itu juga sudah siap pula beberapa orang dari Dewan Penasehat Kerajaan. Beng Goanswe menduga, mereka akan membicarakan sesuatu yang sangat penting..."

Perwira tua itu melapor. Au-yang Goanswe yang sedang minum teh bersama para pembantu dekatnya, cepat meletakkan cangkirnya. Wajahnya berseri-seri.

"Bagaimana dengan... Ibu Suri? Apakah... sudah ada kabar tentang dia?"

Au-yang Goanswe berdiri dan bertanya penuh semangat. Perwira tua itu memberi hormat dengan cepat.

"Sama sekali belum ada berita, Goanswe."

Jenderal Au-yang menggeram dengan suara kesal.

"Lalu... apa maksud pertemuan mereka? Apakah mereka ingin menyusun rencana untuk melawan aku, heh? Lao Cing, pergilah ke Istana menemui Beng Cun! Selidiki, apa maksud pertemuan itu!"

Seorang perwira Kim-i-wi yang sedang tidak berdinas dan sedari tadi berada di dekat Au-yang Goanswe, segera berdiri dan bergegas meninggalkan tempat itu.

Di luar pendapa perwira Kim-i-wi itu memanggil para pengawalnya, kemudian bersama-sama meninggalkan Istana itu dengan naik kuda.

Di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang perwira berseragam lusuh, naik kuda diiringkan sekelompok prajurit penjaga pintu gerbang kota.

Perwira itu tampak sangat kusut dan kelelahan.

Baju seragamnya tampak kotor penuh debu, sementara topi kebesarannya hanya digantungkan pula di belakang punggungnya.

Rambutnya yang tebal dibiarkan lepas tertiup angin.

Dilihat dari penampilannya bisa diduga bahwa usia perwira itu tentu belum ada empat puluh tahun.

Namun kalau dilihat dari sikap dan penampilannya, maka dapat ditebak bahwa perwira itu tentu telah banyak mengarungi ganasnya medan pertempuran.

Apalagi kalau dilihat dari beberapa luka yang tergores di wajah dan tangannya.

"Siapa perwira yang datang berpapasan dengan kita itu, Prajurit?"

Perwira berpakaian lusuh itu bertanya kepada prajurit yang mengawalnya.

"Beliau... jendral Lao Cing, Wakil Komandan Pasukan Kim-i-wi, Yo-Ciangkun!"

"Jendral Lao Cing? Ah, sudah belasan tahun aku di perbatasan sehingga tak mengenal lagi rekan-rekanku di Kotaraja. Hmm! Semua sudah berubah. Dia telah menjadi jendral sekarang."

"Ciangkun pernah bertemu dengan Lao-Goanswe?"

Prajurit itu bertanya pula.

Yo-Ciangkun yang berseragam lusuh itu tersenyum kecil kemudian menggebrak kudanya agar berjalan lebih cepat.

Ketika berpapasan dengan rombongan Lao-Goanswe, Yo-Ciangkun cepat mengangkat tangannya.

Karena terlalu lama di perbatasan, maka sopan-santun keprajuritannya juga tidak sekuat dulu lagi.

Apalagi yang dia jumpai adalah bekas teman dekatnya.

Tangannya tetap teracung untuk memberi hormat, namun mulutnya berkata seenaknya.

"Wah, saudara Lao! Apa khabar? Tidak kusangka kita bisa bertemu lagi."

Jendral Lao kelihatan tersentak di atas kudanya.

Pandangan matanya berkilat tegang, sementara dahinya berkerut melihat ke arah Yo-Ciangkun.

Melihat sikapnya mudah diduga bahwa hatinya merasa kurang senang menyaksikan kelancangan Yo-Ciangkun.

Mereka berhadapan dalam jarak yang amat dekat.

Dan baru beberapa saat kemudian Jendral Lao dapat mengingat wajah Yo-Ciangkun.

Namun wajah jendral itu tidak berubah ketika membalas sapaan Yo-Ciangkun.

Bahkan suaranya berkesan acuh dan dingin.

"Ah... Kau Yo Keng, mengapa kamu berada disini?"

Yo-Ciangkun terkesiap.

Namun demikian dia segara menyadari kekeliruannya.

ini semuanya telah berubah dan keadaannya tidak seperti dulu lagi.

Sekarang Lao Cing telah menjadi jendral, bahkan selah menjadi Wakil Komandan Pasukan Cim-i-wi yang termashur itu.

Tentu saja dia bukan apa-apa dibandingkan Lao-Goanswe.

Apakah arti seorang perwira rendah dari daerah perbatasan seperti dia.

"Aaah, celaka! Bodoh benar aku!"

Geramnya menyesali diri. Yo Keng cepat turun dari kudanya. Sambil membungkuk dia memberi hormat.

"Maafkan aku, Lao-Goanswe. Terimalah hormatku."

Ucapnya tergesa... untuk memperbaiki kekeliruannya. Wajah Lao-Goanswe justru semakin keruh. Apa yang dilakukan Yo Keng tersebut malah berkesan meledek atau mengolok-olok dirinya.

"Yo Keng, jangan bergurau! Katakan saja apa keperluanmu di tempat yang daerah tugasmu ini?"

Ganti Yo Keng yang kaget.

Tidak terduga langkah pertamanya di Kotaraja justru jatuh di bara api yang berbahaya.

Padahal kedatangannya ke Kotaraja membawa persoalan penting bagi pasukannya di perbatasan.

"Aku... ah, maafkanlah aku. Aku menjadi gugup sekali, karena aku harus segera menemui Menteri Kui Hua Sin."

Yo Keng menjadi bingung dan salah tingkah. Lao Cing tetap berada di atas punggung kudanya. Sama sekali ia tak mau turun menyambut kedatangan teman dekatnya itu.

"Mengapa harus menemui Menteri Kui Hua Sin? Apakah tidak dapat disampaikan kepada orang lain?"

"Ah, bukan begitu maksudku."

Yq Keng buru-buru menjelaskan.

"Persoalan yang kubawa ini bukan persoalan biasa. Tapi menyangkut persoalan negara. Aku akan dianggap bersalah, bahkan bisa dianggap membocorkan rahasia kerajaan, kalau persoalan yang kubawa ini kukatakan kepada orang lain. Jadi, hanya kepada Pemangku Kekuasaan Negeri saja hal ini harus kukatakan. Maafkanlah aku..."

Mata Jendral Lao Cing yang sipit itu tampak berkilat-kilat lagi. Namun kali ini mengandung sinar keji dan licik. Hal itu dapat dilihat dari sikapnya yang mendadak berubah ramah dan bersahabat.

"Baiklah. Aku takkan mencampuri urusanmu. Tapi ketahuilah, hari ini Menteri Kui Hua Sin dan Menteri-menteri lainnya sedang mengadakan pertemuan di Istana. Bahkan mereka sedang mengadakan pertemuan dengan Dewan Penasehat Kerajaan. Lebih baik kau datang nanti sore saja. Percuma kau datang ke sana. Tak seorangpun diperbolehkan masuk ke Istana..."

Yo Keng semakin bingung.

"Tapi... apa yang harus kuperbuat? Laporan itu tidak boleh ditunda-tunda lagi. Kong-sun Goanswe akan marah sekali kalau laporan itu sampai terlambat."

"Yaa, kalau begitu... Kau bisa mencobanya. Mudah-mudahan Beng Goanswe mengijinkan niatmu. Nah, selamat jalan. Kuharap kita bisa bertemu lagi."

Selesai berbicara, Lao-Goanswe menghentakkan tali kudanya, sehingga kudanya melompat ke depan dengan garangnya. Para pengawal cepat memacu kuda mereka pula, takut ketinggalan.

"Lao-Goanswe...!!!"

Yo Keng berseru gugup, tapi Lao Cing dan anak buahnya tak ada yang peduli lagi.

Mereka tetap memacu kuda dengan kencang.

Yo Keng menundukkan mukanya.

Sekarang dia benar-benar memaklumi ucapan Kong-sun Goanswe tentang keadaan di Kotaraja.

Kotaraja sekarang memang sudah berubah dan amat berbeda dengan keadaan lima atau enam tahun lalu.

Orang tidak dapat lagi membedakan mana kawan dan mana lawan.

Istana Kaisar penuh dengan serigala-serigala berbulu angsa, yang setiap saat bisa berubah wujud untuk menikam kawan sendiri dari belakang.

"Benar juga kata-kata Kong-sun Goan swe. Semuanya sudah berubah. Ternyata akupun tak bisa mengenali kawanku pula. Sungguh tak kusangka. Padahal aku benar-benar mengenalnya di masa-masa yang lalu. Hemmmm...!"

"Yo-Ciangkun, kau tidak apa-apa bukan? Mengapa Yo-Ciangkun tidak sekalian minta tolong kepada Jendral Lao? Dia dapat membawa Yo-Ciangkun masuk ke Istana..."

Tiba-tiba Yo Keng terkejut mendengar suara prajurit pengawalnya. Yo Keng menghela napas panjang.

"Kau benar, Prajurit. Bagaimana aku bisa lupa bahwa dia adalah Wakil Koman-na."

"Lalu... apa yang akan Yo-Ciangkun lakukan sekarang?"

"Apa boleh buat. Aku terpaksa ke Istana untuk menemui Lao-Goanswe lagi. Biarlah aku akan sedikit mengalah kepadanya. Dalam keadaan begini, kepentingan negara di atas segala-galanya."

"Kalau begitu kami akan mengantar Yo-Ciangkun ke Istana."

Prajurit itu berkata pula.

Demikianlah, Yo Keng lalu meneruskan perjalanannya ke istana.

Prajurit-prajurit penjaga Pintu Gerbang Kota itu mengantarnya sampai di depan pintu halaman istana.

Di sana mereka diterima oleh para pengawal istana berbaju emas, yang biasa disebut pasukan Kim-i-wi (Pasukan Baju Emas).

"Aku Yo Keng, perwira dari pasukan ke tiga di perbatasan utara. Aku diperintahkan Kong-sun Goanswe untuk menghadap Menteri Kui Hua Sin, yang saat ini sedang mengadakan pertemuan dengan Dewan Penasehat Kerajaan. Antarkan aku menghadap Beliau. Penting sekali. Inilah tanda pengenalku dari Pasukan Perbatasan."

Yo Keng mengeluarkan selembar perak sebesar tapak tangan bertuliskan huruf "SENG"

Dari emas, yang merupakan tanda kebesaran pasukan Kong-sun Goanswe di perbatasan.

"Baiklah, Ciangkun. Kami akan melaporkan masalah ini ke atasan kami. Kebetulan Beng Goanswe sedang berbincang-bincang dengan Lao-Goanswe di Gedung Bendera."

"Tunggu! Mengapa aku tidak kalian bawa langsung ke Ruang Pertemuan itu? Laporan yang hendak kusampaikan kepada Menteri Kui Hua Sin ini tidak boleh terlambat. Tolonglah...!"

"Maaf, kami tidak bisa, Ciangkun. Pada saat-saat seperti ini tak seorangpun boleh masuk ke tempat itu. Hanya Beng Goanswe dan Lao-Goanswe yang berhak mengijinkan orang ke sana."

Yo Keng berdesah.

Hatinya mulai kecewa dan ragu.

Ragu akan keberhasilan tugasnya.

Sebelum dia berangkat, Kong Sun Goanswe sudah mengatakan bahwa tugasnya ini akan banyak menghadapi rintangan.

Terutama dari orang-orang yang kini berkuasa, yang pada lima tahun lalu telah memfitnah Panglima Yap Kim dan Kong-sun Goanswe.

Dan ramalan itu ternyata benar.

Kini hidungnya sudah mulai mencium bahaya yang akan tiba.

"Baiklah. Sekali lagi aku akan mencoba untuk membujuk dan memberi pengertian kepada Beng Goanswe dan Lao-Goanswe. Kalau mereka masih tetap tidak memberikan ijin, yaaaa... aku terpaksa nekad masuk ke dalam, walaupun taruhannya adalah nyawa."

Sambil menunggu Yo Keng bergumam di dalam hati.

Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan Yo Keng.

Utusan Jendral Kong-sun itu melihat Jendral Beng sendiri yang keluar menemuinya.

Sedang Lao-Goanswe, yang dikatakan sedang berbicara dengan jendral itu, tidak tampak batang hidungnya.

Mungkin menunggu di ruangan dalam.

"Yo-Ciangkun...? Ayoh, masuklah!"

Dengan ramah Beng Goanswe mempersilakan Yo Keng masuk.

Yo Keng dibawa Beng Goanswe ke Ruang Bendera.

Beberapa orang prajurit Kim-i-wi tampak berjaga-jaga di dalam ruangan itu.

Namun demikian Yo Keng tidak melihat Lao-Goanswe di sana.

"Yo-Ciangkun, duduklah! Jangan khawatir! Sebentar lagi kau akan diantar ke Ruang Pertemuan. Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk memberita-hukankan kedatanganmu kepada Men teri Kui. Sekarang bersihkan dulu badanmu, agar penampilanmu tidak memalukan di hadapan Beliau...!"

Yo Keng tidak dapat menolak sambutan yang ramah tersebut.

Dia menurut saja ketika dibawa ke Ruangan Belakang dan diberi sepasang pakaian bersih.

Bahkan dia juga tidak bisa menghindar pula ketika diajak minum teh lebih dahulu.

Sama sekali Yo Keng tidak menyada ri akan tipu muslihat dan kelicikan lawan-lawannya.

Begitu teh di dalam cangkirnya habis, tiba-tiba kepalanya terasa berputar.

Semakin cepat, sehingga tubuhnya seperti mengambang di udara.

Dan sebentar kemudian semua yang dilihatnya menjadi gelap.

"Bagus! Nah, prajurit... geledah tubuhnya!"

Tiba-tiba Lao-Goanswe muncul dari ruangan dalam dan memberi perintah kepada para prajurit pengawalnya.

"Kau yakin dia membawa surat rahasia Kong-sun Goanswe?"

Beng Goanswe bertanya kepada Lao-Goanswe, wakilnya. Lao-Goanswe mengangguk.

"Ya! Lihatlah sarung pedangnya itu! Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu di sana. Sejak bertemu di jalan tadi, kulihat dia tak pernah melepaskan benda itu."

"Benar, Goanswe. Ada surat di sini."

Prajurit yang menggeledah Yo Keng tiba-tiba berseru sambil memperlihatkan gulungan kain berwarna putih.

"Apa isinya?"

Beng Goanswe yang tidak sabar menunggu cepat mendesak. Lao Cing memberikan gulungan kertas itu setelah membaca isinya. Dia tampak puas walaupun masih kelihatan tegarjg.

"Nah, Beng Goanswe... dugaanku benar, bukan? Aku mengenal Yo Keng sudah puluhan tahun lamanya. Aku tahu betul siapa dia. Turun-temurun keluarganya adalah prajurit. Jangan harap bisa mempengaruhi atau memaksa dia. Orang seperti dia bersedia mati atau berkorban apa saja demi keyakinannya. Dan prajurit tangguh seperti dia, selalu mempersiapkan tindakannya dengan cermat dan telituTampaknya saja dia sendirian, tapi sebenarnya tidak. Aku yakin beberapa orang pengawalnya berkeliaran mengawasinya dari jauh. Kalau tadi kita bersikap keras dan main paksa kepadanya, yaah... jangan harap surat ini bisa jatuh ke tangan kita. Sebelum kita dapat meringkusnya, dia akan memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Dan sebelum kita menggeledahnya, dia akan lebih dulu menghancurkan surat ini dengan pedangnya..."

Beng Goanswe mengangguk-angguk-kan kepalanya.

"Kau benar. Yo Keng membawa berita buruk bagi kita. Kong-sun Goanswe melaporkan bahwa Pangeran Liu Wan Ti sudah ditemukan dan sekarang berada dalam lingkungan pasukannya. Wah, gawat! Seharusnya orang itu kita buang saja sejak dulu, sehingga tidak menimbulkan kesulitan seperti sekarang. Hmmm, kita harus cepat-cepat memberitahukan hal ini kepada Au-yang Goanswe. Berita ini sangat berbahaya bila sampai di tangan Dewan Penasehat Kerajaan. Lao-Goanswe... apa rencana kita selanjutnya"

"Tenang, Beng Goanswe. Jangan panik. Jangan berbuat sesuatu yang menimbulkan kecurigaan orang di sekitar kita. Ingat...! Siapa tahu ada kawan Yo Keng berada di tengah-tengah kita?"

"Tidak mungkin!"

Beng Goanswe melotot. Tapi Lao-Goanswe cepat menyentuh lengan rekannya.

"Goanswe, jangan memandang enteng lawan. Apalagi orang seperti Kong-sun Goanswe dan Yo-Ciangkun ini."

Beng Goanswe terdiam.

"Baiklah. Lalu... apa tindakan kita selanjutnya?"

Lao-Goanswe berbisik di telinga atasannya.

"Kita berbuat seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Anggap saja Yo Keng tertidur sekejap karena terlalu lelah. Sementara itu isi surat itu kita ubah isinya. Bagaimana?"

Beng Goanswe menatap wakilnya dengan gembira.

"Jadi Yo Keng tetap kita biarkan menghadap Menteri Kui Hua Sin, tapi... dengan membawa surat yang telah diubah isinya? Wah, kau benar-benar hebat dan cerdik luar biasa! Bagus! Mari kita laksanakan! Tapi... apa yang harus kita tulis di dalam surat itu?"

Lao Cing tersenyum licik.

"Mudah saja. Kita tulis saja, seakan-akan Kong Sun Goanswe minta prajurit untuk memperkuat pasukannya, karena mendapat gempuran pasukan Mo Tan. Kini pasukannya dalam keadaan porak poranda."

Beng Goanswe menepuk pundak rekannya.

"Yah, benar. Dengan demikian akan terjadi salah pengertian di antara mereka. Menteri Kui setelah membaca surat itu tentu minta kepada Au-yang Goanswe untuk mengirimkan pasukan, sementara Yo Keng menerimanya sebagai bantuan untuk Pangeran Liu Wan Ti nanti. Padahal pasukan itu justru akan membereskan Pangeran Liu Wan Ti di sana. Bagus! Tapi kita harus berusaha agar Yo Keng tidak berbicara langsung dengan Menteri Kui Hua Sin."

Katanya gembira.

"Tentu saja. Suasana tegang dalam pertemuan ini justru membuat Menteri Kui tidak punya waktu untuk menemui Yo Keng. Paling-paling dia hanya memanggil Beng Goanswe untuk menyampaikan pesannya kepada Au-yang Goanswe."

Demikianlah ketika Yo Keng sadar kembali, Beng Goanswe seakan-akan menggoyang-goyang lengannya.

"Yo-Ciangkun! Yo-Ciangkun! Wah, tampaknya kau lelah sekali! Masa berbicara sambil memejamkan mata! Marilah, Menteri Kui telah memanggilmu!"

Yo Keng terkejut. Matanya menatap tajam ke sekitarnya. Dan diam-diam tangannya meraba sarung pedangnya. Perasaannya menjadi lega melihat benda itu masih tetap di tempatnya.

"Beng Goanswe...? Apakah aku tertidur tadi?"

"Tertidur sih... tidak! Hanya tampaknya kau sangat lelah, sehingga berbicara sambil terantuk-antuk."

Beng Cun berbohong.

"Aaaah...!"

"Ayolah, Yo-Ciangkun! Menteri Kui Hua Sin telah menunggumu. Mari, kuantar kau ke sana...!"

"Sekarang...? Beng Goanswe sendiri yang akan mengantarku? Ah, jangan! Biarlah prajuritmu saja, atau... di manakah Lao-Goanswe sebenarnya? Tadi aku bertemu dia di jalan. Dia mengatakan bahwa hendak ke mari pula..."

Beng Goanswe berdiri dan menarik lengan Yo-Ciangkun.

"Marilah, kebetulan aku juga akan ke Ruang Pertemuan. kau tentu bertemu dengan Lao-Goanswe di sana. Dia memeriksa semua pos penjagaan Istana setiap hari. Ayoh...!"

Tanpa menyadari kelicikan orang, Yo-Ciangkun menurut saja ketika dibawa masuk halaman dalam Istana.

Mereka menuju ke Ruang Pertemuan, di mana sepanjang jalan Yo Keng tak habis-habisnya mengagumi keindahan bangunan Istana.

Walaupun dia seorang perwira, tapi selama hidupnya Yo Keng belum pernah menginjakkan kakinya di halaman Istana.

Sementara itu Lao-Goanswe buru-buru mengirimkan surat pemberitahuan kepada Au-yang Goanswe.

Lalu memberi pesan kepada para perajurit jaga, dia segera berangkat menuju ke Ruang Pertemuan pula.

Dia harus mendampingi Beng Goanswe agar rencananya berjalan dengan baik.

Dan memang benar pula, bahwa pada saat itu Menteri Kui Hua Sin sedang mengadakan pertemuan dengan menteri menteri lainnya.

Bahkan Menteri Kui Hua Sin juga mengundang seluruh anggota Dewan Penasehat Kerajaan pula, karena kali ini Menteri Kui Hua Sin benar-benar ingin membicarakan keadaan negeri mereka.

Hal itu dilakukan Menteri Kui karena keadaan di luar tembok kora raja benar-benar semakin memburuk.

Menteri Kui menerima banyak laporan tentang situasi di daerah.

Baik laporan tentang masuknya pasukan Mo Tan ke selatan, maupun laporan tentang kerusuhan dan ketidak amanan di seluruh pelosok negeri.

Bahkan Menteri Kui juga menerima laporan tentang semakin jauhnya wibawa dan pengaruh kerajaan atas propinsi dan daerahnya.

Terutama propinsi-propinsi yang jauh dari Kotaraja.

Dan semua itu sangat menyedihkan hati Menteri Kui.

Dia bersama enam menteri lainnya hampir tak bisa berbuat apa-apa semenjak mendapatkan mandat itu.

Sekarang Menteri Kui sudah nekad.

Dia harus menyelamatkan kerajaan, sebelum terlambat.

"Apabila keadaan ini kita biarkan berlarut-larut, niscaya negeri ini akan runtuh. Lebih celaka lagi kalau Mo Tan menguasai negeri kita. Kita semua akan dijadikan budak-budaknya. Harta dan ke-kayaan kita akan dijarah rayah dan dirampok. Lalu... apa jadinya dengan anak keturunan kita nanti?"

Menteri Kui membuka pertemuan itu dengan suara lantang.

"Benar. Tahun ini sudah ada empat kota yang jatuh ke tangan Mo Tan. Dan sekarang pasukannya sudah mulai mengalir ke arah selatan. Menurut laporan, mereka mulai menuju ke perbatasan Se-cuan, Kang-su dan Cing-hai. Kalau kita tidak segera mengambil tindakan, maka pasukan Mo Tan akan segera menguasai Propinsi Si-kang. Apabila hal itu benar-benar terjadi, maka jalan perdagangan kita ke barat akan putus, suatu yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup negeri kita."

Menteri si Sun Ong yang duduk di sebelah Kui Hua Sin tak terduga juga berkata pula dengan berani.

Sekejap para menteri dan para Penasehat Kerajaan lainnya, terpaku diam di tempat masing-masing.

Diam-diam semuanya melirik ke arah pintu dan jendela Ruang Pertemuan yang tertutup rapat.

Mereka tahu bahwa di luar ruangan banyak prajurit Kim-i-wi, anak buah Au-yang Goanswe, sementara masalah yang mereka bicarakan itu adalah tanggung jawab Au-yang Goanswe sebagai Panglima Bala Tentara Kerajaan.

"Baiklah, semua ini memang menjadi tugas Bala Bantuan Kerajaan. Namun kita sebagai penerima mandat dari Ibu Suri, berhak pula meminta pertanggungjawaban Panglima Bala Tentara Kerajaan. Panglima Kerajaan harus bisa mengatasi masalah ini. Apa jadinya kalau serbuan Mo Tan itu tidak secepatnya ditanggulangi?"

Akhirnya Menteri Kui memecah kesunyian mereka.

"Memang benar apa yang diucapkan oleh Menteri Kui. Kita tidak boleh diam saja melihat hal ini. Kita wajib menanyakan kepada Panglima Kerajaan. Sampai di mana tindakan yang telah dilaku-kannya untuk menangani masalah itu?"

Lagi-lagi Menteri si Sun Ong memberi dukungan kepada rekannya.

"Tapi...?"

Menteri Go Hak tiba-tiba menyela, namun segera terdiam kembali.

Wajahnya tampak pucat.

Go Hak adalah Menteri Bendahara Kerajaan.

Sebagai menteri yang bertanggung jawab atas kekayaan dan harta benda kerajaan, dia paling sering berurusan dengan petugas-petugas kerajaan.

Dan dalam masalah yang mereka bicarakan itu, dia pula yang paling banyak mendapat tekanan dari Au-yang Goanswe.

"Apakah yang ingin kau katakan, Menteri Go? Maksudmu terlalu berbahaya bagi kita untuk menanyakan hal tersebut kepada Au-yang Goanswe. Begitukah?"

Menteri Kui mendesak dengan suara gemas.

"Bukan! Bukan itu! Kukira... Kalau kita hanya menghubungi panglima saja, tidak segera menyelesaikan masalah ini. Kita perlu mengusahakan jalan lain selain hal itu... Misalnya... Kita perlu segera menemukan kembali Pangeran Liu Wan Ti atau... pangeran Liu yang kun! Saat ini kita membutuhkan sosok penguasa yang berwibawa serta disegani orang untuk membangkitkan kekuatan rakyat!"

"Benar. Aku sependapat dengan Menteri Go. Pada saat-saat seperti ini baru kita ingat akan kebutuhan seorang kaisar yang kuat dan bijaksana."

Menteri Liang Wei memberikan suaranya. Sebagai Menteri Urusan Hukum dan Keadilan Liang Wei memang selalu mendambakan sandaran yang kuat. Kui Hua Sin dan si Sun. Ong terperangah.

"Bagus. Pendapat kalian memang benar sekali. Rasanya kami berdua juga sependapat pula dengan kalian."

Menteri Kui makin bersemangat.

"Ada saran yang lain?"

Menteri si Sun Ong memandang Menteri Gan Jit Kong dan Kiat Peng To yang belum mengeluarkan pendapatnya sejak tadi.

"Aku pribadi juga setuju dengan pendapat Menteri Go. Tapi bagaimana kita harus melaksanakan hal itu? Kita semua tahu, bahwa selama ini sudah diusahakan untuk mencari Pangeran Liu Wan Ti. Namun selama itu pula kita tidak dapat menemukannya. Lalu... tindakan apalagi yang harus kita usahakan?"

Menteri Gan Jit Kong berkata pelan.

"Benar. Selama ini kita sudah menyebar petugas rahasia ke seluruh negeri, bahkan juga sudah menghubungi para Kepala Daerah pula. Tapi ternyata Pangeran Liu Wan Ti tetap belum ditemukan. Oleh karena itu kita harus mencari jalan lain. Eemm... aku punya usul. Bagaimana kalau kita menawarkan hadiah besar bagi orang yang bisa memberi petunjuk tempat tinggal Pangeran Liu Wan Ti...?"

Menteri Kiat Peng To mengajukan sarannya.

"Usulmu memang bagus. Tapi... apakah hal itu tidak membikin malu kita sendiri? Bagaimana bisa terjadi seorang putera mahkota sampai hilang dari Istana?."

Menteri Gan Jit Kong memotong ucapan Menteri Kiat Peng To. Menteri Kiat Peng To tersenyum.

"Menteri Gan, kukira kita tidak perlu merasa malu lagi. Penduduk di selurur pelosok negeri ini rasanya sudah tahu semua akan hilangnya Pangeran Mahkota. Kita tidak dapat menutup-nutupi lagi. Kita justru harus bisa segera menemukannya, karena hal seperti ini akan meresahkan rakyat banyak. Bagaimana, Menteri Kui?"

Menteri Kui Hua Sin mengerutkan dahinya.

Pendapat Menteri Kiat Peng To memang masuk akal juga.

Bahkan usul itu tampaknya memang paling mengena.

Tapi karena usul tersebut berkaitan dengan kehormatan negara, Menteri Kui tidak bisa memutuskan begitu saja.

"Bagaimana menurut pendapat para menteri yang lain?"

Demikianlah, karena semua juga sependapat dengan usul Menteri Kiat Peng To, maka Menteri Kui Hua Sin lalu meminta nasehat serta pendapat sepuluh anggota Dewan Penasehat Kerajaan.

Dan akhirnya para anggota dewan itu menyetujui niat mereka.

Kemudian Menteri Kui membagi tugas yang harus mereka kerjakan.

Menteri Go Hak diminta untuk menyiapkan hadiahnya, sedangkan Menteri Liang Wei diminta untuk menyiapkan orang yang bertugas menyiarkan pengumuman itu keseluruh negeri.

Menteri Gan Jit Kong dan Kiat Peng To bertugas menyiapkan orang yang akan melihat dan meneliti propinsi-propinsi mana yang perlu dicurigai.

Sementara Menteri Kui dan si Sun Ong akan menghubungi Au-yang Goanswe.

Di tengah kesibukkan pertemuan itu, tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar.

Beng Goanswe masuk disertai Yo-Ciangkun.

Mereka berdiri di dekat pintu.

Untuk sesaat semua menteri terkejut.

Mereka baru saja membicarakan Au-yang Goanswe, kini tahu-tahu tangan kanan jendral yang sangat berpengaruh itu telah berada di depan mereka.

"Beng Goanswe, ada perlu apa?"

Menteri Kui cepat menyapa.

"Maaf, Kui Taijin. Yo-Ciangkun dari perbatasan utara ingin menghadapmu. Dia membawa berita dari Kong-sun Gon-swe."

Menteri Kui Hua Sin terkesiap.

"Silakan masuk! Apa yang hendak kau lapor-kan kepadaku?"

Yo Keng cepat mengambil surat rahasia yang dia sembunyikan di dalam sarung pedangnya.

Surat itu buru-buru diberikan kepada Beng Goanswe untuk dihantarkan ke tangan Menteri Kui.

Setelah itu dia kembali berdiri tunduk di tempatnya.

Menteri Kui menerima surat tersebut dan membukanya.

Wajahnya sedikit berubah.

Yo Keng berdebar-debar ketika tidak melihat sinar kegembiraan di wajah menteri tua itu.

Apakah penemuan Pangeran Liu Wan Ti itu tidak disukai mereka?

Surat itu dibaca secara bergilir oleh para menteri.

Dan rata-rata wajah mereka menjadi masam dan kurang gembira malah.

Yo Keng semakin bingung dan penasaran.

Jangan-jangan semua pejabat di Kotaraja memang telah berubah pikiran.

"Bagaimana, Taijin?"

Yo Keng tak kuasa menahan hatinya.

"Baiklah, Yo-Ciangkun. Kami telah mengerti kesulitan Kongsun Goanswe. Kami akan memikirkannya. Jangan khawatir. Biarlah kami berbicara dulu dengan Panglima Kerajaan. Nah, Beng Goanswe...! Tolong kirimkan prajurit untuk mengundang Au-yang Goanswe ke mari! Kami ingin merundingkan situasi negara dengan dia..."

Menteri Kui menghela napas panjang.

"Tapi Taijin, Kong-sun Goanswe..."

Yo Keng mencoba melaporkan maksud kedatangannya. Tapi entah sejak kapan Lao-Goanswe datang, tahu-tahu ia telah berada di samping Yo Keng.

"Sudahlah, Yo Keng. Menteri Kui akan berbicara dulu dengan Au-yang Goanswe. Kita tunggu keputusannya di luar. Ayolah...!"

Wakil Komandan Kim-i-wi.

itu cepat-cepat menarik lengan Yo Keng keluar dari ruangan itu.

Yo Keng tak bisa berkata apa-apa lagi.

Ia terpaksa menurut saja apa yang diperintahkan Lao-Goanswe.

Bahkan dia juga tak dapat menolak pula ketika dibawa ke Istana Au-yang Goanswe.

Sebagai seorang prajurit dia tidak bisa membantah perintah atasannya.

Demikianlah Yo Keng terpaksa menunggu di Istana Au-yang Goanswe.

Ketika sampai malam hari jendral itu juga belum kembali dari Istana, Yo Keng terpaksa menginap pula.

Dia baru merasa curiga ketika esok harinya dipanggil Au-yang Goanswe ke pendapa.

Ketika menerima tugas dari Kong-sun Goanswe, Yo Keng telah dipesan dengan sungguh-sungguh agar menghadap langsung kepada Menteri Kui Hua Sin.

Dia tidak boleh percaya kepada siapapun juga selain kepada menteri itu.

Dan dia harus berhati-hati bila berhadapan dengan Au-yang Goanswe beserta anak buahnya.

Termasuk di antaranya adalah para anggota Pasukan Kim-i-wi dan Gin-i-wi, karena merekalah sebenarnya yang berkhianat terhadap kerajaan dan kemudian memfitnah Panglima Yap Kim ke dalam penjara.

Tapi apa dayanya sekarang.

Dia justru beradadalani ceugkeraman Au-yang Goanswe begitu datang di Kotaraja.

Sebagai perajurit dia tak bisa menolaknya.

"Selamat pagi, Goanswe...!"

Yo Keng menyapa dengan cara dan sikap seorang prajurit.

"Aha, kau kah... perwira yang datang dari perbatasan itu? Bagus. Mari kita minum teh dulu. Setelah itu aku akan menyampaikan kehendak dan perintah Menteri Kui Hua Sin kepadamu."

"Terima kasih, Goanswe."

"Yo Keng! Aku mendapat perintah dari Menteri Kui Hua Sin untuk mengirim empat ribu orang prajurit ke benteng Kong-sun Goanswe. Tapi aku tidak diberitahu maksudnya. Nah, sekarang katakan padaku... apa sebenarnya yang terjadi di sana? Apakah Raja Mo Tan menyerang bentengmu?"

Au-yang Goanswe bertanya dengan suara menyelidik.

Yo Keng terkejut.

Sekejap matanya berkilat ke arah jendral itu.

Dan dalam sekejap itu pula pikirannya menjadi tegang.

Pertanyaan itu memojokkan dirinya dan mengandung bisa yang sangat berbahaya.

Begitu jawabannya salah, jiwanya tak mungkin tertolong lagi.

"Bagaimana Yo Keng? Mengapa kau diam saja?"

Au-yang Goanswe mendesak.

Matanya mulai kemerahan.

Sebagai prajurit yang biasa bertempur di medan perang, maka naluri keprajuritan Yo Keng segera timbul.

Dalam situasi demikian, otaknya segera bekerja, menghitung untung-ruginya.

"Tampaknya dia belum tahu isi surat itu dan sekarang ingin mengorek kete-rangan dari aku. Kalau aku mengatakan apa adanya, bahwa Pangeran Liu berada di dalam benteng, maka dia bisa kalap dan mengirimkan pasukan sandinya untuk membunuh Pangeran Liu. Tapi kalau aku berbohong dan tepat pada sasarannya, dia akan menjadi penasaran, sehingga... Kematianku dapat tertunda."

Sama sekali Yo Keng tidak menyangka bahwa jendral itu telah tahu semuanya.

Kalaupun sekarang dia pura-pura dia tidak tahu dan bertanya kepada Yo Keng, hal itu hanya untuk mengetahui hasil dari pada tipu daya Jendral Lao Cing.

Sekalian juga untuk mengetahui, kepada siapa saja berita tentang Pangeran Liu itu disampaikan.

"Yo Keng! kau dengar pertanyaanku?"

Au-yang Goanswe membentak, sehingga prajurit yang bertugas di halaman Istana itu terkejut mengawasi mereka.

"Ah! Maaf, Goanswe! Aku... aku memang sulit untuk menjawab pertanyaan Goanswe itu!"

Tiba-tiba Yo Keng mendapatkan jalan. Benar juga. Au-yang Goanswe menjadi penasaran.

"Kenapa mesti sulit, heh? kau mau merahasiakan sesuatu dari aku?"

"Bukan! Bukan begitu, Goanswe! Bukan...! Goanswe tentu tahu bahwa pasukan di daerah perbatasan tidak selalu terkumpul menjadi satu. Mereka terdiri dari beberapa kelompok besar yang selalu berkeliling dan berpindah tempat di sepanjang perbatasan itu. Hanya Kong-sun Goanswe saja yang secara resmi selalu berkedudukan di dalam benteng, meskipun pada kenyataannya beliau juga selalu berkeliling pula..."

"Ayoh, jawab saja pertanyaanku! Jangan melingkar-lingkar!"

"Baik! Baik, Goanswe! Terus terang saja aku... aku sebenarnya tidak begitu tahu apa yang terjadi di dalam benteng. Kebetulan... Kebetulan kami sudah lebih dari tujuh bulan meninggalkan benteng-itu. Dan selama itu pula kami tidak pernah bertemu dengan Kong-sun Goanswe. Oleh karena itu kami kaget sekali ketika seorang kurir Kong-sun Goanswe tiba-tiba datang ke tempat kami. Ternyata dia membawa surat yang harus kuantar sendiri kepada Menteri Kui. Tugasku adalah tugas rahasia, yang tak seorangpun boleh tahu. Dan lagi... surat itu hanya boleh kuserahkan kepada Menteri Kui."

Akhirnya Yo Keng dapat juga berbohong.

Au-yang Goanswe memandang Yo Keng dengan tajamnya.

Roman mukanya kelihatan lega.

Tampaknya dia percaya apa yang dituturkan Yo Keng.

Tapi sebaliknya Yo Keng sendiri justru tidak menyadari bahwa ceritanya semakin mengu-ajjcan niat jendral ^U^ttl^L menyingkirkan dia.

"Mumpung berita tentang keberadaan Pangeran Liu Wan Ti di benteng Kong-sun Goanswe belum tersebar kemana-mana, aku harus cepat-cepat melenyapkan dia! Besok akan kukirim pula sepuluh ribu orang prajurit, secara terpisah dari beberapa tempat, untuk menghancurkan Pangeran Liu Wan Ti dan Kong-sun Goanswe! Akan kubuat seolah-olah benteng itu telah diduduki musuh. Biarlah Lao-Goanswe yang menghubungi Raja Mo Tan."

Au-yang Goanswe membuat rencana di dalam hatinya. Kemudian seolah-olah memahami penuturan Yo Keng, Au-yang Goanswe mengangguk-angguk.

"Kalau begitu, bersiaplah! Pasukan akan berangkat besok pagi. kau bisa berjalan bersama mereka"

Yo Keng cepat-cepat membungkukkan badannya.

"Terima kasih, Goanswe! Tapi... bersama sebuah pasukan besar akan menghambat perjalananku. Sementara itu kedatanganku akan sangat dinan-tikan oleh Kong Sun Goanswe. Oleh karena itu, Goanswe... biarlah aku berangkat lebih dulu"

Diam-diam wajah Au-yang Goanswe menjadi gembira.

Dengan berjalan seorang diri justru lebih mudah untuk membunuh Yo Keng.

Demikianlah, pada hari itu juga Yo Keng berangkat meninggalkan Kotaraja.

Au-yang Goanswe memberinya bekal dan pakaian karena ia harus berjalan selama, tiga hari penuh untuk mencapai benteng Kong-sun Goanswe.

Sama sekali tidak di sadari oleh Yo Keng bahwa Au-yang Goanswe telah mempersiapkan lubang kuburan bagi dirinya.

Jendral tua itu telah memerintahkan Beng Goanswe untuk mengirim pasukan rahasia untuk membunuhnya.

Yo Keng harus mati sebelum tiba di perbatasan.

Ketika matahari mulai condong ke barat, perlahan Yo Keng sudah mendekati kota An-yang.

Sejak dari -Kotaraja sampai di An-yang, Yo Keng selalu mem beri tanda di tempat-tempat yang mudah terlihat.

Seperti dugaan Lao-Goanswe, kepergiannya ke.

Kotaraja memang selalu diawasi oleh beberapa orang pengawalnya.

Tapi Yo Keng tidak ingin singgah di kota An-yang.

Selain kota itu penuh dengan prajurit kerajaan, Yo Keng juga tak mau berjumpa dengan banyak orang.

Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 4

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert