Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pedang Pelangi 6

Eps 6 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.

"Ya, karena selama setengah abad kami berdiam di sini, kami telah mengenal betul semua lika-liku dan rahasianya. Sehingga kami bisa memilih dan menghindari bahaya-bahaya yang ada. Nah, kau lihat tempat yang kini sedang dilalui oleh Kakek Bok Kek Ong itu? Tempat itu justru tempat yang paling aman dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain. Tempat itu merupakan titik pertemuan antara arus laut dari arah barat dan arus laut dari arah selatan. Karena tempat itu adalah tempat bertemunya dua buah arus laut, maka di sekelilingnya banyak terbentuk pu-saran-pusaran maut yang berbahaya. Kami pernah menghitung, kira-kira ada sebelas pusaran besar dan kecil di tempat itu. Semua pusaran itu dapat menghisap dan menelan perahu sebesar apa pun."

"Menghisap dan menelannya?"

"Ya, pusaran itu berputar pada porosnya. Semakin mendekati porosnya, putarannya semakin cepat dan kuat. Dan pada porosnya itu terdapat lubang menganga, yang siap menelan semua mangsanya."

A Liong mengerutkan dahinya dengan perasaan ngeri.

Pikirannya \ segera membayangkan dasar laut yang gelap dan dalam di mana pusat dari pusaran itu berada.

Di sana tentu banyak barang-barang atau makhluk-makhluk yang pernah ditelan oleh pusaran itu.

"Ah!"

A Liong berdesah pendek.

"Tapi mengapa kita tidak menghindar saja sejauh-jauhnya, keluar dari aliran arus ini?"

"Waduh, tidak semudah itu melakukannya. Keluar dari arus ini berarti kita harus bertempur dengan rombongan ikan hiu dan ikan cucut yang haus darah. Kita tidak dapat melawan mereka dengan sampan sekeejj ini. Lubang mulut mereka mampu mencaplok dan menelan sampan ini berikut isinya."

"Lalu... Kenapa Lo-Cianpwe tidak berusaha membuat perahu yang lebih besar agar bisa keluar dari tempat ini?"

"Hai, bagaimana kami bisa membuat perahu besar kalau di pulau itu hanya ada tumbuhan jamur dan lumut? Coba kau lihat sampanku ini! Sampan ini hanya terbuat dari tulang rusuk ikan hiu. Ra-tusan batang tulang rusuk ikan hiu kami susun dan kami rekatkan dengan getah jamur. kau tahu, berapa tahun kami harus menyelesaikan pembuatan sampan ini? Lima belas tahun! A Liong terbelalak. Otomatis tangannya meraba pinggiran sampan itu. Memang benar, sampan itu terbuat dari jajaran tulang rusuk ikan hiu. Kotoran dan lumut tebal yang tumbuh di sela-selanya telah menyembunyikan bentuk aslinya.

"Bukan main..."

A Liong membatin.

Bok Kek Ong telah berhasil melewati daerah berbahaya itu.

Kini giliran sampan Kakek Soat Ban Ong yang harus melewati daerah tersebut.

*, Hati A Liong menjadi tega cangan air di bawah sampan m lai terasa.

Semakin lama semakin kuat Bahkan hantaman ombak datang dari segala jurusan.

Kadang kala dari depan, kemudian dari belakang dan di lain saat dari samping.

Akibatnya Soat Ban Ong menjadi sulit mengendalikan arahnya.

Namun demikian kakek itu tetap berusaha mengarahkan sampannya ke tempat pertemuan dua arus itu.

A Liong merasa ngeri menyaksikan deburan air yang semakin lama semakin menggila.

Semburan air yang melonjak ke atas membasahi udara di sekitarnya, membuat tempat itu bagaikan tertutup oleh kabut tebal.

Bagi yang belum tahu, tempat itu tentu akan dihindari dan dijauhi.

Padahal justru tempat itulah daerah yang paling aman untuk menyeberang Di luar daerah itu merupakan daerah berbahaya yang menyimpan seribu jebakan mengerikan.

Rasa takut justru membuat A Liong tidak bisa memejamkan matanya.

Begitu menembus kabut air itu ia merasakan goncangan-goncangan yang keras pada sampannya.

Tubuhnya yang terguyur semburan air itu merasakan adanya hawa panas dan dingin di sekitarnya.

Remang-remang A Liong melihat jilatan-jilatan lidah ombak menggapai ke udara.

Sepintas lalu bagaikan jin dan setan yang berloncatan gembira dalam semburan kabut tebal.

Kakek Soat Ban Ong mati-matian mengendalikan sampannya.

Namun demikian ia selalu berseru memperingatkan A Liong agar berpegangan dengan kuat.

Sekali terpental dari sampan dan jatuh ke dalam air, berarti jiwa A Liong tak bisa tertolong lagi.

Meskipun tak bisa melihat dengan jelas, tapi A Liong benar-benar kagum menyaksikan kehebatan Kakek Soat dalam mengemudikan sampannya.

Berkali-kali kakek itu harus melompat, berjum-palitan dan menjepit sampannya, untuk tetap menjaga agar sampan itu tidak terbalik.

"A Liong, pejamkan matamu! Jangan melihat apa-apa! Rasa ngeri-akan membuatmu mual dan pusing! Berpeganglah kuat-kuat pada pinggir perahu. Tapi mana bisa A Liong memejamkan matanya? Semakin dahsyat gempuran air laut menggoncang sampannya, justru semakin lebar pula pemuda itu membuka matanya. Rasa takut dan ngeri malah membuat pemuda itu semakin waspada. Matanya justru jelalatan kesana-kemari, berjaga-jaga bila ada sesuatu yang membahayakan dirinya. Semburan air yang tinggi, ditingkah oleh gemuruhnya suara air da angin, membuat suasana di tempat itu benar-benar menakutkan! Namun justru di tempat itulah A Liong melihat betapa he-batnya kepandaian Kakek Soat Ban Ong. Kakek tua yang bertubuh gemuk pendek itu bergerak lincah melebihi kemampuan anak muda. Untuk mengendalikan sampan agar tidak bergeser dari tujuannya; serta menjaga agar sampan itu tidak terbalik. Kakek itu benar-benar mengeluarkan se-gala kesaktiannya. Sampan kecil yang ditumpangi A Liong itu bagaikan sebuah barang mainan saja baginya. Kadang-ka-, dang sampan itu dijepit dengan kedua kakinya dan dibawa melenting ke atas seperti meninjing keranjang sampah atau suatu saat dayung kecilnya yang terbuat dari tulang itu menghantam lidah ombak yang hendak menggempur sampannya. Dan A Liong sampai melongo menyaksikan ombak itu meledak berhamburan seperti menerjang batu karang! "Siapa sebenarnya kakek ini? Rasanya aku belum pernah mendengar namanya di Dunia Persilatan..."

Mungkin ada sepeminuman teh lamanya mereka harus bertarung dengan tempat berbahaya itu.

Begitu terlepas dari tempat itu Kakek Soat masih harus mengendalikan sampannya agar tetap bera-da pada jalur arus laut yang membawanya.

Sedikit saja melenceng, maka kemungkinan hidup akan sangat kecil.

Kalau tidak ditelan oleh pusaran air, mereka tentu akan dikeroyok dan diperebutkan oleh kawanan ikan buas.

A Liong mendengar bermacam-macam gaung suara angin di sekitarnya.

Ada yang bernada rendah, tapi juga ada yang bernada tinggi.

Suara itu seperti suara-suara gasing di lomba permainan anak-anak.

"Suara apa itu, Lo-Cianpwe?"

Soat Ban Ong menarik napas lega. Setelah melewati daerah berkabut itu tugasnya menjadi lebih ringan, walaupun sebenarnya bahaya-bahaya yang lain masih banyak lagi.

"Itulah suara Pusaran Air yang kuceritakan tadi. Di kanan-kiri jalur perjalanan kita ini terdapat belasan Pusaran Air. Begitu kencangnya putaran air sehingga menimbulkan gesekan angin seperti itu."

Walaupun tidak merasa ngeri lagi, tapi wajah A Liong masih tampak pucat.

Pemuda itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan kakek itu.

Kakek Bok Kek Ong yang telah menunggu di depan, melambaikan tangannya begitu melihat Kakek Soat Ban Ong keluar dari tabir kabut.

Kakek Soat Ban Ong membalas lambaian itu dan memberi isyarat untuk meneruskan perjalanan mereka.

"Kau lihat gugusan pulau-pulau di garis cakrawala itu? Di sanalah tempat tinggal kami..."

Kakek Soat Ban Ong mengangkat jarinya ke depan.

"Oooo, indah sekali...!"

A Liong membelalakkan matanya.

Di depan matanya terbentang sebuah panorama alam yang luar biasa sekali.

Permukaan laut tampak berkilat-kilat kuning kemerahan.

Sementara kabut yang ter-cipta dari semburan air pusaran, bertebaran ke udara bagaikan mau menggapai langit.

Ditingkah oleh cahaya mentari maka semburan kabut itu menciptakan beberapa lembar pelangi, yang berkelak-kelok mempesonakan.

Benar-benar keindahan alam yang sangat mentakjubkan!

"Tempat ini memang selalu dikelilingi pelangi.

Kabut tipis yang ditimbulkan oleh pusaran air itu akan membiaskan cahaya matahari dalam bentuk warna yang indah-indah."

Tiba-tiba A Liong teringat ucapan Kakek Soat Ban Ong tadi malam, pada saat kakek itu melihat dia untuk pertama kali.

"Lo-Cianpwe... Kalau tidak salah tadi malam Lo-Cianpwe mengatakan bahwa aku datang dari Pondok Pelangi. Apa yang Lo-Cianpwe maksudkan? Apakah ada Pondok Pelangi di sekitar tempat ini? Di mana tempatnya?"

Sungguh mengherankan. Mendengar pertanyaan A Liong tentang Pondok Pelangi, wajah Kakek Soat Ban Ong tampak kaget. Tapi cuma sebentar, karena di lain saat orang tua itu telah tertawa kembali.

"Yah... jauh di sebelah utara sana memang ada sebuah gugusan pulau lagi. Namanya Kepulauan Pelangi, karena se-tiap hari tempat itu juga diselimuti pelangi. Berbeda dengan tempat tinggal kami, tempat itu sangat subur dan menyenangkan untuk tempat tinggal. Maka tidak mengherankan bila pulau-pulau itu telah dihuni orang sejak ribuan tahun lalu. Mereka hanya terdiri dari tiga buah keluarga besar, yaitu Keluarga Soat, Souw dan Bok. Karena tempat itu terpencil dan tidak bisa didatangi orang, maka mereka mendirikan kekuasaan sendiri, terlepas dari daratan Tiongkok. Mereka menyebut negeri mereka Kerajaan Pelangi. Mereka mendirikan sebuah Istana sederhana yang disebut Pondok Pela-ngi. Dan yang paling menonjol dari mereka adalah ilmu silat khusus yang hanya bisa dipelajari oleh masyarakat mereka sendiri..."

A Liong mengerutkan keningnya dan kakek itu tertawa melihatnya.

"Kau tak percaya?"

A Liong tersenyum kecut.

Ia memang tidak mempercayainya.

Bagaimana mungkin sebuah ilmu silat hanya bisa dipelajari oleh masyarakat tertentu?

Apakah ilmu silat itu menuntut sesuatu yang khusus dari orang yang ingin mempelajarinya?

Misalnya orang itu harus mempunyai empat tangan atau empat kaki?

Kakek Soat Ban Ong duduk di pinggiran sampan.

Mereka telah melewati daerah berbahaya dan kini tinggal mengikuti arus saja.

A Liong merasa lega.

Sambil lalu pemuda itu ikut-ikutan duduk di tepi sampan.

"Aaaaaaah...!"

A Liong menjerit. Sampan itu bergoyang miring begitu menerima beban tubuhnya. Untunglah Kakek Soat Ban Ong cepat menyambar lengannya.

"Lalala, kenapa kau ini? Mau bunuh diri, ya? Enak saja duduk di pinggiran sampan. kau kira tubuhmu itu enteng? Tubuh gembrot segede gajah begitu mau main goyang-goyangan, lalalalaaaa."

"Tapi... tapi... Lo-Cianpwe sendiri juga duduk di pinggiran sampan. Padahal Lo-Cianpwe... Malah lebih gemuk dari pada saya."

Dalam kegugupannya A Liong mencoba membela diri.

Tak terduga orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh.

Begitu geli hatinya sehingga matanya yang sipit itu sampai mengeluarkan air mata.

Selesai tertawa tiba-tiba orang tua itu melemparkan da-yungnya ke laut, lalu tubuhnya yang gemuk pendek itu melesat mengejarnya.

Dayung kecil dari tulang ikan yang panjangnya hanya satu lengan orang dewasa itu jatuh di atas permukaan air.

Dan sebelum benda itu hanyut dibawa gelombang, kaki kanan Soat Ban Ong lebih dulu mendarat di atasnya.

Selanjutnya bagaikan seorang pemain sulap kakek itu berayun-ayun di atas dayung kecil tersebut.

Sungguh sangat mengherankan sekali, dayung kecil itu sama sekali tidak amblas atau terbenam karenanya.

Tentu saja pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna itu benar-benar mengagumkan hati A Liong.

"Wah, seharusnya aku sudah tahu sejak tadi kalau orang tua ini memiliki kesaktian yang hebat."

Selesai mempertunjukkan kebolehannya Kakek Soat Ban Ong kembali meloncat ke dalam sampan. Tak lupa dayung kecilnya itu dibawa pula. Dengan mengulum senyum ia mengawasi A Liong.

"Nah, sebelum kau bisa berdiri di atas dayung ini... tak mungkin kau dapat duduk di pinggiran sampanku. Lalalaaaaa..."

"Wah, mana mungkin bisa..."

A Liong menyahut dengan cepat.

"He, kenapa tidak bisa? Asal mau belajar setiap orang pasti bisa."

A Liong tak menjawab.

Sebenarnya ingin sekali dia belajar Ilmu Meringankan Tubuh seperti orang tua itu, karena dia juga ingin bisa bergerak lincah seperti halnya Siau In.

Tapi bagaimana caranya?

Sebagai orang yang baru saja kenal, tak mungkin kakek itu mau mengajarinya.

"Tapi Lo-Cianpwe tadi mengatakan bahwa ilmu silat dari Kerajaan Pelangi tidak bisa dipelajari oleh sembarang orang."

A Liong menjawab sekenanya. Tak terduga wajah Soat Ban Ong berubah hebat mendengar jawaban tersebut. Matanya yang sipit berkilat-kilat memandang A Liong.

"Kau bilang apa? kau tahu ilmu silatku dari... dari Pondok Pelangi?"

A Liong menjadi kaget juga. Sebenarnya dia cuma bicara sembarangan, karena otaknya yang cerdas hanya menerka-nerka saja tentang siapa kakek itu.

"Maaf, Lo-Cianpwe. Aku hanya menduga-duga saja dari cerita Lo-Cianpwe tadi. Lo-Cianpwe mengatakan bahwa Pondok Pelangi hanya dihuni oleh keluarga Soat, Souw dan Bok. Sementara Lo-Cianpwe berdua dari keluarga Soat dan Bok..."

Kakek Soat Ban Ong termangu sebentar, tapi sesaat kemudian tawanya meledak lagi.

"Bukan main! kau sangat cerdas dan teliti sekali, lalalala."

Wajah A Liong menjadi merah oleh pujian itu. Dan kakek itu semakin senang melihatnya.

"Sudahlah! Kita sudah sampai. Lihat...! Pulau itu tak memiliki apa-apa, bukan?"

A Liong mengangkat mukanya.

Benar, pulau itu telah berada di depan matanya.

Sebuah gugusan pulau berpasir putih, dengan batu-batu karang berwarna putih pula, membuat pulau itu bagaikan lembaran kapas yang terapung di atas air.

Demikianlah, akhirnya mereka sampai juga di tempat Kakek Soat Ban Ong.

A Liong melihat Kakek Bok Kek Ong sudah mendaratkan sampannya di atas pasir.

Bahkan kakek itu telah menyeretnya jauh ke daratan.

Tampaknya kakek itu tak ingin sampannya yang sangat berharga itu terseret kembali ke tengah lautan.

Selesai menyimpan sampannya, Kakek Bok Kek Ong segera menyelinap pergi tanpa menunggu kedatangan mereka.

Namun Kakek Soat Ban Ong juga tidak peduli.

Setelah mengikat sampannya di tempat aman, Kakek Soat Ban Ong segera menggandeng lengan A Liong.

"Nah, A Liong... Marilah kita pergi ke rumahku dulu. Setelah menyiapkan makan kita bisa bercerita lagi. Ayoh...!"

Mereka berjalan ke tengah pulau, mengikuti jejak Bok Kek Ong yang telah berjalan lebih dulu.

Di sepanjang jalan A Liong tidak henti-hentinya mengagumi panorama di atas pulau itu.

Walaupun tidak ada tumbuh-tumbuhan besar, namun bebatuan yang ditumbuhi lumut dan ja-mur itu mampu menampilkan pemandangan tersendiri.

Di bawah pantulan cahaya matahari, batu-batu karang yang menonjol di sana-sini itu seperti memercikan sinar warna-warni.

Merah, biru, kuning, hijau.

Sungguh indah sekali.

Apalagi lumut dan jamur yang tumbuh di atasnya juga memiliki warna yang bermacam-macam.

Dari jauh tumbuh-tumbuhan kecil itu seperti rangkaian bunga yang mekar bersama-sama.

"Ah, suasananya benar-benar seperti di taman Istana saja!"

Tak terasa lidah A Liong berdecak kagum.

Kakek Soat Ban Ong mengajak A Liong ke suatu tempat di mana terdapat rimba batu karang yang menjulang tinggi ke udara.

Seperti halnya bebatuan di tepi pantai tadi, maka batu karang raksasa yang ada di tempat itu juga memiliki warna yang beraneka macam.

Berkilat-kilat gemerlapan seperti batu permata.

Kakek Soat Ban Ong memasuki sebuah gua kecil.

Di dalamnya tampak tertata rapi.

Ada bermacam-macam peralatan di pojok gua itu.

Ada peralatan masak, peralatan memancing dan sebagainya.

"Lo-Cianpwe tinggal di gua ini?"

Kakek Soat Ban, Ong mengangguk.

"Memangnya ada apa?"

A Liong tidak menjawab. Dia justru keluar dan melongok ke luar gua.

"Sejak tadi aku tidak melihat Bok Kek Ong Lo-Cianpwe. Ke manakah dia?"

"Alala aa... tentu saja dia berada di rumahnya sendiri. Eh, apakah kau ingin berkunjung ke sana, A Liong?"

"Oh? Jadi Lo-Cianpwe tidak tinggal bersama?"

"Wah, gawat! Jelek-jelek kami berdua ini lelaki semua. Masa kami harus tinggal bersama seperti suami-isteri, heh? kau pikir salah satu dari kami ini banci?"

A Liong cepat merangkapkan tangan di depan dada.

"Maaf, Lo-Cianpwe Bukan... bukan begitu maksudku. Locian-. pwe berdua tidak memiliki sanak saudara lagi. Bukankah lebih baik hidup berde-katan... agar dapat saling tolong-menolong satu sama lain?"

"Wah, siapa bilang kami tidak mempunyai sanak saudara lagi? kau salah! Keluarga kami sangat banyak. Cuma kami tak bisa bertemu dengan mereka, karena semuanya berada di Kepulauan Pela-ngi."

Kakek Soat Ban Ong menyela dengan suara tinggi.

"Sangat banyak?"

A Liong berdesah kaget.

"Tapi... Mengapa tak bisa ke sana? Bukankah Lo-Cianpwe dapat naik sampan?"

Kakek Soat Ban Ong menatap A Liong dengan tajamnya.

Mata itu seperti hendak berbicara banyak, tapi tak jadi.

Kakek itu membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam gua.

Wajah yang biasanya tampak gembira itu tertunduk lesu.

A Liong bergegas mengikutinya.

Tapi kini pemuda itu tak berani berkata sem-barangan lagi.

Dia segera duduk pula ketika kakek itu merebahkan tubuhnya di atas batu datar, yang selama ini di-pergunakan sebagai tempat tidur.

"Kau ingin tahu mengapa kami tidak dapat kembali ke Kepulauan Pelangi? Baiklah, aku akan bercerita. Tapi sebelumnya aku ingin tahu juga tentang kau. kau belum berkata sepatahpun tentang dirimu sendiri..."

Akhirnya Kakek Soat Ban Ong berkata pelan.

A Liong tersenyum kecut.

Setiap kali ditanya tentang dirinya atau riwayat hidupnya, pemuda itu selalu bingung dan salah tingkah.

Riwayat hidupnya yang kurang manis itu membuatnya tidak enak setiap kali harus diceritakan.

"Tak ada yang bisa diceritakan, Lo-Cianpwe. siauwte (aku yang hina ini) hanyalah anak keturunan pengemis gelandangan yang hidup dari mengais-ngais sisa makanan di jalanan. siauwte tidak tahu siapa orang tuaku, karena sejak kecil siauwte berada dalam lingkungan kelompok pengemis yang selalu berjalan dan berpindah-pindah dari kota ke kota."

Soat Ban Ong tersentak kaget.

Matanya memandang wajah A Liong hampir tak percaya.

Masa anak gelandangan yang hidup menjadi pengemis bisa memiliki tubuh kekar, kuat dan sehat seperti itu?

"Kalau begitu...

apa nama keluargamu?"

Kakek sakti itu bertanya ragu. A Liong cepat menggelengkan kepalanya.

"Jangankan nama keluarga, nama sendiripun siauwte tak punya. Nama A Liong hanyalah sebutan yang diberikan oleh kawan-kawan, karena ada gambar tato naga di dada Siauwte."

Jawaban itu benar-benar mencengangkan Soat Ban Ong. Orang tua itu sama sekali tak menduga kalau A Liong mempunyai riwayat hidup yang runyam seperti itu.

"Lalu... bagaimana kau bisa tercebur ke laut dan terseret ombak sampai ke Laut Utara? Apakah kau sudah bosan hidup dan berniat bunuh diri?"

A Liong tersenyum.

"Ah, Lo-Cianpwe ini ada-ada saja. Bagi siauwte hidup ini terasa nikmat dan menyenangkan. Bagaimana mungkin siauwte berniat untuk meninggalkannya?"

"Kalau begitu... yah, sudahlah! Ceritakan saja semua riwayatmu! Tentu saja sejauh yang kau ingat!"

A Liong menurut.

Dibeberkannya semua pengalaman dan riwayat hidupnya, seperti yang pernah dia ceritakan pula kepada Siau In.

Lalu diceritakannya juga perjalanannya ke rumah Tabib Tong Kiat Teng bersama gadis itu.

Hanya dalam hal terseretnya dia ke Laut Utara, dia benar-benar tak tahu.

Selain malam sangat gelap, suasana di lautpun sangat asing baginya, sehingga ia benar-benar tidak tahu bagaimana dia sampai di Laut Utara.

Soat Ban Ong benar-benar terkesan pada penuturan A Liong.

Terutama ketika A Liong menceritakan tragedi pembantaian di tepi pantai itu.

Walaupun pada saat itu A Liong dalam keadaan pingsan, tapi Siau In telah menceritakan semuanya, sehingga A Liong bisa menuturkannya dengan lancar.

Sebuah pertempuran yang amat dahsyat, yang melibatkan tokoh-tokoh kenamaan dari Beng-kauw, lm-yang-kauw dan orang-orang Hun.

Kakek Soat Ban Ong sama sekali tidak mengenal tokoh-tokoh dalam cerita itu.

Tapi cerita tentang kedahsyatan ilmu mereka benar-benar menggelitik hatinya.

Sebagai orang yang sangat menyukai ilmu silat, maka kaki dan tangannya menjadi gatal untuk menjajal ilmu kepandaian tokoh-tokoh dalam cerita itu.

"Kau bilang Orang Hun itu bisa bergerak... seperti ini?"

Orang tua itu berseru penasaran.

Telapak tangan Soat Ban Ong tiba-tiba menepuk batu di bawahnya.

Plaak!

Kontan tubuhnya yang gemuk itu mencelat ke atas bagaikan seekor belalang yang menyentakkan kaki belakangnya.

Gerakannya cepat bukan main, sehingga mata A Liong sama sekali tak bisa mengikutinya.

Tahu-tahu kakek sakti itu-sudah melekat di atas langit-langit gua, seperti seekor cecak yang sedang menanti mangsa.

Mulut A Liong ternganga menyaksikan kecepatan gerak orang tua itu.

Namun demikian A Liong tak bisa membandingkan, mana yang lebih cepat dan lebih tangkas antara Mo Hou dan Soat Ban Ong.

Seperti telah diketahui pada saat pertempuran itu berlangsung A Liong dalam keadaan pingsan.

Tapi yang jelas bagi A Liong kakek yang berada di depannya itu memang benar-benar hebat.

Gerakan kakek itu sama sekali tak bisa diikuti dengan matanya.

Bahkan kakek itu juga mampu menempelkan tubuhnya di langit-langit gua.

Tubuh yang gemuk itu melekat seperti cecak.

"Maaf, Lo-Cianpwe... siauwte tak bisa menilai. Pengetahuan siauwte tentang ilmu meringankan tubuh sama sekali tidak ada"

Jawab Aliong sambil tersenyum malu.

Sesaat Ban Ong tertawa, lalu kembali ke depan A Liong, ia tidak mendesak lebih lanjut, karena dari sinar mata A Liong saja dia bisa menduga apa yang ada di dalam pikiran pemuda itu.

"Jangan khawatir. Kami berdua sudah sepakat untuk mengajarkannya kepadamu. Meskipun kau tidak akan dapat mendalami rahasia ilmu Pondok Pelangi secara tuntas, tapi paling tidak kau dapat mengenal dan mainkan jurus-jurusnya. Dengan cara begitu tubuhmu akan selalu sehat dan cekatan, sehingga kau bisaber tahan seperti kami nanti."

"Apa...? Mengapa harus tinggal di sini? Apakah Lo-Cianpwe berdua hendak menyandera aku?"

A Liong menjerit ketakutan. Kakek Soat Ban Ong tertawa.

"Lala-la, tenang A Liong... tenang! Jangan menjerit-jerit begitu! Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku tidak bermaksud menyandera kamu. Apa gunanya? Tanpa kami sanderapun kau tak mungkin bisa keluar dari kawasan ini. Kau lihat kami berdua, aku dan kakek Bok Kek Ong itu apakah kami berdua tak ingin keluar dari pulau ini dan kembali ke Pondok Pelangi? Telah enam puluhan tahun kami berada di sini dan entah sudah berapa ribu kali kami mencobanya. Tapi hasilnya? Padahal ilmu yang kami pelajari rasa-rasanya juga sudah cukup untuk modal menghadapi segala macam kesulitan. Nah...!"

Ucapnya kemudian dengan suara renyah.

Sama sekali tak ada kesan sedih ataupun kesal di wajahnya.

A Liong lah yang kemudian tertunduk sedih.

Apa yang dikatakan orang tua itu tentu saja benar.

Mereka tentu sudah kembali ke keluarganya kalau memang mampu.

Mengapa harus susah-susah hidup sendirian di tempat terpencil seperti ini?

Ingat akan hal itu A Liong menjadi sedih sekali.

Tak terasa satu persatu wajah kawan-kawannya berkelebat di pelupuk matanya.

Mereka hidup susah dan selalu dalam kesulitan, namun mereka selalu bergembira.

Selalu berbagi rasa dan berbagi rejeki bersama-sama.

Bahkan setelah ia memisahkan diri, karena ingin bekerja dan mendapatkan uang sendiri, ia selalu menyempatkan diri menjumpai kawan-kawannya itu.

Dengan gaji yang diperolehnya, ia sering mentraktir atau membeli makanan untuk berpesta bersama.

Kawan-kawannya itu tentu akan merasa kehilangan apabila lama dia tidak muncul.

Pernah terjadi, gerombolannya itu berjalan berkeliling ribuan Lie jauhnya di daerah Tionggoan, dari kota yang satu ke kota yang lain, hanya untuk mencari dirinya.

Waktu itu secara diam-diam ia pergi ke utara, keluar dari Tembok Besar untuk mencari pengalaman.

"Sudahlah, A Liong. kau tidak perlu bersedih. kau tidak boleh berputus asa. Setiap orang memiliki keberuntungannya sendiri-sendiri. Kami berdua memang tidak mampu keluar dari tempat ini, tapi siapa tahu Thian mentakdirkan lain buatmu? Nah, kalau memang nasibmu baik dan memperoleh jalan keluar dari tempat ini, kau harus tetap memiliki badan dan semangat yang sehat. Jangan menjadi manusia yang loyo dan sinting. Tidak akan ada gunanya lagi kalau waktu keberuntungan itu datang, engkau telah berubah menjadi sinting dan loyo. Benar tidak?"

Nasihat sederhana itu ternyata sangat mengena di hati A Liong.

Ya, siapa tahu?

Selama ini ia selalu memiliki semangat yang tinggi.

Segala macam kesulitan dan kesengsaraan selalu diterimanya dengan penuh tawakal dan lapang dada.

Dia tak pernah mengeluh ataupun menyesali nasibnya.

Sebaliknya dia malah selalu pemberi semangat dan membesarkan hati teman-temannya.

Nah, kalau begitu mengapa sekarang dia harus bersedih?

Tidak seorangpun tahu, apa yang akan terjadi besok atau lusa.

Manusia .

hanya wajib berusaha dan berikhtiar.

Yah, siapa tahu nasibnya memang lain daripada kedua orang tua itu?

"Terima kasih, Lo-Cianpwe.

siauwte benar-benar beruntung bisa menjadi muridmu.

siauwte berjanji akan belajar dengan sepenuh hati.

Mudah-mudahan siauwte mampu menerimanya sehingga tidak mengecewakan Lo-Cianpwe berdua."

A Liong segera berlutut di depan Kakek Soat Ban Ong.

"Bagus! Bagus! Aku tahu kau anak yang baik. Lalalala..."

Orang tua itu merangkapkan kedua tangannya sambil menengadahkan kepalanya ke atas, ke langit-langit gua.

Sepasang matanya tampak berkaca-kaca.

Demikianlah pada hari berikutnya A Liong sudah mulai belajar ilmu silat dari Kakek Soat Ban Ong.

Karena A Liong pada dasarnya memang belum pernah belajar silat, maka Soat Ban Ong juga memulainya dari awal.

"Hari ini kau berlatih menggerak-gerakkan kaki tanganmu dulu, agar urat-uratmu menjadi lemas dan mapan. Cobalah dengan berlari mengelilingi pulau ini!"

"Baik, Lo-Cianpwe."

"Lalala, bagaimana kau ini? Panggil aku Suhu, dong!"

A Liong tertegun sebentar, namun segera menyadarinya. Bergegas ia menekuk lututnya.

"Baik, Suhu."

Ia memberi hornat dengan bersemangat.

"Murid akan segera berlari mengelilingi pulau ini."

"Bagus! Nah, mulailah!"

A Liong mengangguk, kemudian bergegas ke pantai.

Dengan bersemangat ia lalu berlari di atas pasir.

Karena sejak kecil dia sudah terbiasa melakukan cara-cara pernapasan yang diajarkan oleh orang tua tak dikenal itu, maka sekarangpun secara otomatis dia juga melakukannya pula.

Dengan hembusan dan tarikan napas yang teratur A Liong berlari perlahan.

Kadang-kadang juga di dalam air yang dangkal.

Karena pulau itu memang kecil dan berpantai pasir landai, maka A Liong tidak menemui kesulitan untuk mengelilinginya.

Bahkan sambil berlari dia sempat melihat-lihat panorama indah di sekitar pulau tersebut.

Memang benar.

apa yang dikatakan oleh gurunya kemarin, bahwa gugusan pulau itu terdiri-dari beberapa buah pulau kecil-kecil.

Malah antara pulau yang satu dengan pulau yang lain hampir melekat satu sama lain.

Masing-masing hanya dibatasi oleh air setinggi lutut saja.

"Kelihatannya Suhu Bok Kek Ong tidak tinggal di pulau ini, tapi di pulau seberang itu."

Sementara itu Soat Ban Ong mengambil beberapa macam jamur yang secara khusus ditanamnya di pulau itu.

Dia ingin menyiapkan makan siang untuk A Liong nanti.

Dia juga mengambil beberapa ekor ikan laut yang diternakkannya di dalam kolam.

Kakek Soat Ban Ong memang pandai memasak.

Ikan laut itu dioles dengan jamur yang telah dilumatkan, kemudian diberi bumbu dan dibakar di atas api.

Beberapa waktu kemudian asapnya yang berbau gurih itu telah berhembus kemana-mana, memenuhi udara di atas pulau kecil itu.

"Hei kura-kura gemuk! kau mau berpesta, ya?"

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Kakek Bok Kek Ong telah berdiri di dekat Soat Ban Ong.

"Lalalala, apa kataku? Mudah sekali untuk memanggilmu. Buat saja masakan yang enak, tanggung mukamu yang rusak itu akan segera muncul."

Soat Ban Ong tertawa meledek.

Tapi Bok Kek Ong tidak mempedulikan ejekan itu.

Bahkan tanpa berbasa-basi lagi dia memungut ikan yang telah masak dan mencicipinya.

Liurnya sampai menetes saking nikmatnya ia merasakan ikan laut bakar itu.

"Bukan main...! Enak sekali! Cek... cek... cek.! "Wah! Wah! Masakan ini bukan untuk kita, Cacing Kurus! Ini untuk murid kita! Apakah kau tak melihat dia sedang berlari melemaskan otot-ototnya mengelilingi pulau ini? Huh, kau ini!"

Tiba-tiba Bok Kek Ong menengadahkan wajahnya. Mulutnya berhenti mengunyah.

"Jadi... dia setuju menjadi murid kita?"

Katanya kemudian seperti tak percaya. Soat Ban Ong mengangguk. Bibirnya yang tertutup kumis dan jenggot lebat berwarna hitam legam itu tersenyum.

"Tapi kau tak memaksanya, bukan?"

Bok Kek Ong menegaskan lagi.

"Tentu saja tidak. kau ini ada-ada saja. Memangnya mudah mempelajari ilmu silat dari Pondok Pelangi? Apalagi tanpa keinginan dan semangat yang tinggi dari orang itu sendiri? Memaksa orang untuk belajar ilmu silat Pondok Pelangi, sama saja memaksa orang menjadi gila!"

Bok Kek Ong tertawa dan kembali mengunyah makanannya.

"Wah, aku juga cuma bertanya saja, kok! Siapa tahu karena sulitnya mencari ahli waris, engkau lantas jual murah ilmu silat kita? Apalagi selama ini juga baru sekali ini ada orang yang mampu keluar dari pusaran iblis itu. Dan kebetulan pula orang itu adalah seorang bocah yang bertulang amat bagus."

Soat Ban Ong ikut tertawa pula. sambil mengangkat pundak dia berkata santai.

"Yah, kita memang orang yang beruntung. Karena selalu sabar dan tawakal, jerih payah kita selama ini akhirnya membuahkan hasil pula. Memang untuk mendapatkan ikan besar, diperlukan umpan yang sepadan pula. Bukankah begitu Lo Kek Ong (Si Tua Kek Ong)?"

Bok Kek Ong tidak menjawab.

Tapi dia tersenyum, suatu hal yang tidak pernah dilakukannya selama ini.

Biasanya setiap kali berhadapan dengan Soat Ban Ong, mereka tentu bertengkar dan berdebat.

Bahkan kadang-kadang sampai berkelahi pula.

Kelihatannya kedatangan A Liong tersebut telah mengubah perangainya.

Karena Bok Kek Ong tidak menjawab, maka Soat Ban Ongpun tidak ambil pusing pula.

Diambilnya ikan-ikan bakar yang telah masak itu, ditaruhnya di dalam mangkuk batu, lalu dibawanya ke pantai.

Bok Kek Ong bangkit pula.

Seperti seekor kucing ia mengikuti dari belakang.

"A Liong...! A Liong...!"

Soat Ban Ong berseru.

Sampai di atas hamparan pasir tiba-tiba Soat Ban Ong tertegun.

Matanya terbelalak mengawasi bekas-bekas sepatu di atas pasir tersebut.

Hampir saja mangkuk batu yang dibawanya itu terlepas.

Bok Kek Ong cepat menghampiri.

"Ada apa, Lo Ban Ong (Si Tua Ban Ong)...?"

Ia menegur. Soat Ban Ong menunjuk ke bekas sepatu itu.

"Banyak benar bekasnya! Berapa puluh kali anak itu mengelilingi pulau ini?"

"Lhoh... Memangnya kau suruh bagaimana dia?"

Soat Ban Ong menghela napas panjang. Matanya segera melongok kesana-kemari mencari bayangan A Liong. Dan wajahnya menjadi lega begitu melihat pemuda itu berlari mendatangi.

"A Liong berhenti dulu!"

Dia berteriak memanggil.

Pemuda itu berhenti di depan Soat Ban Ong.

Namun serentak dilihatnya Bok Kek Ong juga ada di situ, A Liong cepat menghampiri dan berlutut di hadapannya.

Bok Kek Ong menyembunyikan perasaan gembiranya.

Tangannya meraih pundak A Liong dan ditariknya agar berdiri.

Mereka saling berpandangan.

Tiba-tiba Bok Kek Ong tertegun menyaksikan wajah A Liong yang tampan itu sama sekali tidak berkeringat.

Wajah pemuda itu masih tampak segar, seakan-akan tidak pernah berlari atau melakukan sesuatu yang menguras tenaganya.

Bahkan pernapasannyapun tetap halus dan teratur.

Sama sekali tidak tampak lelah atau tersengal-sengal.

Ternyata Soat Ban Ong menjadi heran melihat kenyataan tersebut.

Melihat bekas sepatu yang ada di atas pasir, bisa dikira-kira kalau A Liong lebih dari puluhan kali melewati tempat itu.

Tapi, mengapa pemuda itu sama sekali tidak kelihatan lelah?

Bahkan berkeringatpun tidak?

"Anak baik, duduklah!"

Akhinya Bok Kek Ong menyuruh A Liong untuk duduk di atas pasir.

"Benar, A Liong. Duduklah! Marilah kita kukuhkan secara resmi hubungan guru dan murid ini dengan berpesta ikan bakar..."

Soat Ban Ong berkata pula.

"Lo Ban Ong...?"

Bok Keng Ong berdesah. Ia tak tahu apa yang hendak dilakukan oleh Soat Ban Ong terhadap A Liong. Soat Ban Ong memberi tanda kepada kawannya itu.

"Kita berpesta dulu. Urusan yang lain kita bicarakan belakangan."

Demikianlah siang hari itu Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong meresmikan A Liong sebagai murid mereka.

Bok Kek Ong yang lebih tua daripada Soat Ban Ong disebut Toa-suhu, sedangkan Soat Ban Ong disebut dengan Ji-suhu.

Selesai melakukan upacara sederhana, mereka berpesta ikan bakar yang dimasak oleh Soat Ban Ong tadi.

"Hmmmh! Omong-omong... sudah berapa kali kau mengitari pulau ini?"

Selesai makan Soat Ban Ong segera bertanya kepada A Liong. A Liong mengangguk.

"Lima puluh kali, Suhu!"

"Lima... puluh kali?"

Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong berseru hampir berbareng. Mata mereka terbelalak seolah tak percaya.

"Benar, Suhu. Mengapa? Apakah masih harus ditambah lagi?"

A Liong bertanya dengan suara tegas.

"Ah, sudah cukup!"

Soat Ban Ong buru-buru menggoyangkan tangannya.

Namun diam-diam Soat Ban Ong saling pandang dengan Bok Kek Ong.

Sinar mata mereka menunjukkan perasaan heran, karena menurut cerita A Liong sendiri, pemuda itu belum pernah belajar ilmu silat.

Tapi kenyataannya berlari dari pagi hingga siang hari, pemuda itu masih tetap segar bugar dan tidak mengeluarkan keringat yang berarti.

Bahkan pernapasannyapun tetap biasa pula, tidak tersengal-sengal.

Apakah sebenarnya yang terjadi?

Apakah A Liong telah membohongi mereka?

Tapi, bagaimana dengan jejak-jejak sepatu di atas pasir itu?

Tidak mungkin jejak itu tiba-tiba tercipta sendiri, seolah-olah ada sepasukan hantu yang berbaris di tempat itu.

Satu-satunya kemungkinan memang hanya pada A Liong sendiri.

Mungkin pemuda itu memang telah menyembunyikan kepandaiannya.

Akhirnya Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong sepakat menanyakannya kepada A Liong.

"A Liong... tampaknya kau pernah belajar ilmu silat, ya? kau tidak merasa lelah meskipun telah berlari sekian lamanya. Napasmu juga tidak tersengal-sengal pula..."

Soat Ban Ong bertanya perlahan.

A Liong menatap kedua orang tua itu bergantian.

Alisnya berkerut.

Tapi sesaat kemudian otaknya yang cerdas segera menangkap kecurigaan mereka.

Pemuda itu masih ingat akan keheranan Siau In ketika tubuhnya mampu menahan pukulan dayung.

"Ah, maaf... suhu. Siauwte memang benar-benar belum pernah belajar ilmu silat. Tapi kalau yang Suhu maksudkan itu tentang cara-cara pernapasan untuk menguatkan tubuh, siauwte memang pernah mempelajarinya. Seorang kakek aneh mengajarkan kepada siauwte ketika siauwte masih kecil."

"Cara-cara pernapasan? Dapatkah kau perlihatkan cara pernapasan itu kepada kami?"

Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong berdesah hampir berbareng.

"Tentu saja, Suhu. Begini..."

A Liong lalu duduk bersila di atas pasir.

Punggungnya tegak lurus sampai kepala, sementara matanya menatap tajam ke arah ujung hidungnya sendiri.

Kedua buah telapak tangannya yang terbuka terkatup rapat di depan dada.

Kemu-dian dengan sikap yang amat tenang, serta penuh keyakinan, dia melakukan cara pernapasan seperti yang telah diajarkan oleh kakek aneh dulu.

Dan tak lama kemudian dari ubun-ubun A Liong mengepul asap tipis berwarna putih.

Asap itu tidak buyar tertiup angin.

Asap itu melayang ke atas perlahan-lahan, bagaikan ular kobra yang meliuk dan menari mengikuti irama suling.

Dan anehnya asap itu makin lama makin pekat, bahkan warnanyapun juga berubah.

Sedikit demi sedikit asap putih itu berubah menjadi merah.

Bukan main kagetnya hati Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong!

Cara dan bentuk ilmu pernapasan itu mirip sekali dengan ilmu pernapasan mereka!

Asap yang timbul di atas kepalapun nyaris sama pula.

Perbedaannya, asap A Liong itu jauh lebih pekat dan lebih kental daripada asap milik mereka!

Dan asap yang timbul di atas kepala A Liong cuma ada dua macam warna saja, yaitu merah dan putih.

Demikian pula dengan bentuk asapnya.

Asap milik A Liong cuma bergerak naik di atas kepalanya.

Sebaliknya asap yang mereka miliki bisa berubah-ubah dalam tujuh macam warna, sesuai dengan warna pelangi.

Bentuknyapun tidak hanya mengepul di atas kepala, tetapi bisa menebar lembut menyelimuti badan.

Akan tetapi bagaimanapun juga kenyataan itu telah membuka mata Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong, bahwa A Liong memiliki sebuah ilmu pernapasan yang mirip dengan ilmu pernapasan dari Pondok Pelangi.

Dan kenyataan itu benar-benar menggelitik hati mereka untuk menyelidikinya.

Dengan sangat hati-hati Soat Bari Ong mendekati A Liong.

"Baiklah, A Liong... Kau...?"

Ucapan Soat Ban Ong tiba-tiba terhenti ketika hidungnya mencium bau amis yang amat keras!

Demikian kuatnya bau amis itu sehingga perut mereka menjadi mual dan mau muntah!

"Bau keringat!

Kenapa bau keringat A Liong seperti ini?"

Bok Kek Ong berseru kaget.

A Liong menghentikan latihannya.

Wajahnya kelihatan bingung ketika Soat Ban Ong tiba-tiba mengulurkan tangannya dan meraba tempurung kepalanya.

Bahkan Bok Kek Ong yang berdiri di belakangnyapun ikut-ikutan memeriksa beberapa jalan darah di sepanjang tulang belakangnya.

"Aaaaaah...!"

Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong sama-sama berteriak kaget.

Keduanya saling memandang, kemudian bersama-sama menganggukkan kepala mereka.

Ternyata dalam waktu yang bersamaan tadi mereka telah memeriksa tubuh A Liong.

Soat Ban Ong meneliti bentuk tulang kepala A Liong, sedangkan Bok Kek Ong memeriksa susunan urat di sekitar tulang belakang.

Dan ternyata mereka berdua menemukan hal-hal yang aneh dan mustahil!

Ternyata beberapa buah urat penting di kanan-kiri tulang belakang A Liong, telah disusun secara khusus seperti halnya anak keturunan penghuni Pondok Pelangi.

Dan susunan tersebut telah dibentuk sejak A Liong lahir, sehingga tempurung A Liong telah tumbuh dalam bentuk yang khusus pula.

Soat Ban Ong memegang pundak A Liong dan menatap wajah pemuda itu dengan tajamnya.

Kalau semula mereka hanya berpendapat bahwa ilmu pernapasan A Liong sangat mirip dengan ilmu pernapasan mereka, kini mereka justru menjadi yakin bahwa ilmu yang dimiliki A Liong benar-benar ilmu dari Pondok Pelangi!

"A Liong!

Katakan yang sebenarnya!

Siapakah kau ini?

Bukankah engkau datang dari Pondok Pelangi juga?"

Perubahan sikap gurunya itu benar-benar membingungkan A Liong.

Dengan wajah pucat ia memandang Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bergantian.

Sinar matanya tampak bergetar, karena tidak mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh gurunya.

"Lo-cian... Lo-Cianpwe! A-ada apa sebenarnya? Bukankah Siauwte... sudah mengatakannya? siauwte anak seorang pengemis dan Siauwte... tidak tahu menahu soal Pondok Pelangi."

A Liong berkata dengan suara gemetar, menandakan ucapannya itu benar-benar keluar dari lubuk hatinya.

Dan sesungguhnya, baik Soat Ban Ong maupun Bok Kek Ong dapat merasakan juga.

Tapi tanda-tanda khusus yang mereka temukan pada tubuh A Liong itu tidak mungkin salah lagi.

Tanda-tanda itu persis seperti milik mereka!

Tanda-tanda khusus bagi keturunan warga Pondok Pelangi!

Mereka benar-benar pusing.

Di suatu pihak mereka percaya akan semua penuturan A Liong.

Tapi di pihak lain mereka juga yakin bahwa anak itu tentu anak keturunan dari warga Pondok Pelangi.

Hanya ada satu hal yang membuat mereka sedikit ragu akan kebenaran dugaan mereka itu, yaitu bau amis yang keluar dari badan A Liong.

Penghuni Pondok Pelangi rata-rata memiliki bau harum, bau khas yang timbul bila mereka menghentakkan tenaga sakti mereka.

"A Liong, ketahuilah! Kami berdua benar-benar bingung melihatmu... semula kami memang percaya pada riwayat hidupmu. Tapi setelah menyaksikan kemampuanmu dan meneliti keadaan tubuhmu, kepercayaan tersebut menjadi kabur lagi. Ternyata sejak lahir susunan urat darahmu telah dibentuk sesuai dengan ilmu warisan dari Pondok Pelangi. Nah, hal itu berarti kau memiliki hubungan dengan Pondok Pelangi, karena hal itu tidak mungkin dilakukan oleh orang lain. Kecuali orang tuamu atau salah seorang dari para pengemis itu tahu tentang ilmu warisan tersebut. Dan kalau memang demikian halnya, berarti orang itu adalah orang dari Pondok Pelangi pula."

Soat Ban Ong berkata dengan hati-hati.

"Tapi... jangan khawatir! Kami masih tetap percaya pada ceritamu. kau tentu takkan membohongi kami."

Bok Kek Ong ikut menambahkan. Soat Ban Ong tersenyum.

"Benar. Kami tetap percaya padamu. Tapi harap kau ingat juga, bahwa kami tetap berpendapat bahwa kau tentu seorang anak keturunan Pondok Pelangi. Hanya saja... Kami tak bisa menerka, apa yang dulu terjadi padamu. Mungkin kau memang keturunan seorang warga Pondok Pelangi yang terdampar di daratan Tiongkok."

"Namun demikian kami juga belum yakin pula pada dugaan itu, karena... tiba-tiba badanmu mengeluarkan bau amis yang amat menyengat! Padahal ilmu pernapasan dari Pondok Pelangi justru mengakibatkan bau harum pada pemiliknya, bukan bau amis seperti itu."

Bok Kek Ong menambahkan lagi. Soat Ban Ong mengangguk.

"Itulah sebabnya kami menanyakan lagi asal-usulmu. Tapi kalau kau memang benar-benar tidak tahu, kami berdua juga memakluminya. Mungkin kau memang anak keturunan warga Pondok Pelangi, yang ditemukan oleh kawanan pengemis, yang kemudian menjejalimu dengan makanan-makanan kotor, sehingga bau keringatmu menjadi amis"

Ketika mengerahkan tenaga Bok Kek Ong menepuk pundak A Liong.

"Tapi bisa juga kau bukan anak keturunan Pondok Pelangi. Mungkin memang anak pengemis, yang pada saat kelahiranmu mendapat pertolongan dari seorang warga Pondok Pelangi. Dan orang itu kebetulan menyukaimu, semua ingin mengangkatmu sebagai murid, sehingga ia mempersiapkan susunan urat-urat di dalam tubuhmu."

"Maksud Suhu... orang tua yang mengajariku ilmu pernapasan itu? Tapi... orang itu hanya sekali saja bertemu denganku."

A Liong mencoba mengikuti jalan pikiran gurunya.

"Mungkin juga. Yah, siapa tahu? kau bisa menanyakannya bila bertemu nanti! Lalalalala...! Kulihat riwayat hidupmu sangat aneh dan menarik. Kurasa masih ada suatu rahasia yang belum kau ketahui. kau kelihatan berbeda dangan anak-anak sebayamu. Dan kau tidak sesuai menjadi seorang anak pengemis. kau tentu bukan anak sembarangan. Tapi... yah, sebaiknya kau menyelidikinya sendiri nanti. Lalalalala...!"

Soat Ban Ong yang suka melucu itu tertawa.

A Liong tercenung diam.

Kata-kata gurunya itu benar-benar tercerna ke dalam hatinya.

Rahasia?

Benarkah masih ada rahasia yang belum diketahuinya?

Apakah itu?

Selama ini A Liong memang tidak pernah memikirkan siapa dirinya.

Dia sudah pasrah akan nasibnya dan ia tak pernah mempersoalkan siapa orang tuanya, la sudah menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok pengemis itu.

Tapi kata-kata gurunya itu masuk akal juga.

Selama ini nasibnya, jalan hidupnya, memang tampak berbeda dengan para pengemis yang lain.

Benarkah ia bukan keturunan mereka?

Lalu anak siapakah dia sebetulnya?

"Tapi...

apa yang telah siauwte ceritakan itu memang benar, Lo-Cianpwe.

siauwte tidak berbohong."

Akhirnya A Liong berkata dengan memelas.

"Yaya, kami tahu. Itulah sebabnya kami tetap menginginkan kau menjadi murid kami."

Soat Ban Ong mengiyakan.

"Sekarang kami akan menguji dululu. sebelum kami memberi pelajaran silat."

Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong lalu membawa A Liong ke tempat yang lebih datar. Mereka duduk melingkar saling berhadapan.

"Sekarang... coba kau kerahkan ilmu pernapasanmu tadi, lalu pukullah telapak tanganku ini!"

Soat Ban Ong mengangkat tangannya ke depan.

"Memukul? Tapi cara pernapasan itu hanya digunakan untuk melawan hawa dingin, Suhu."

"Sudahlah! kau turuti saja perintah kami!"

Bok Kek Ong menimbrung.

Meskipun agak ragu, tetapi A Liong melaksanakan juga perintah itu.

Setelah mengerahkan ilmu pernapasannya, sehingga uap putih mengepul di atas kepalanya, tangannya diayun ke depan, ke arah telapak tangan gurunya.

"Whuuuuuut... dhug!"

A Liong meringis kesakitan.

Buku tangannya bagaikan membentur sebongkah batu karang!

Sebaliknya Soat Ban Ong merengut karena kecele.

Dia terlanjur mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya, karena ia melihat pekatnya asap yang mengepul di ubun-ubun A Liong.

Namun pukulan yang terlontar dari tangan pemuda itu ternyata tak berisi apa-apa.

Bocah itu benar-benar tak tahu ilmu siat.

Tidak tahu cara menyalurkan tenaga sakti untuk menyerang lawan!

Orang tua itu memandang Bok Kek Ong untuk menanyakan pendapatnya.

"Baiklah! Kalau memang dia hanya membutuhkan ilmu itu untuk bertahan terhadap udara dingin, artinya dia bisa menggunakannya untuk mempertahankan diri. Sekarang... biarlah dia tetap bertahan! kau saja yang menyerangnya!"

Bok Kek Ong berkata.

"Menyerang dia? Hei, kau jangan main-main! Bocah ini bisa lumat oleh pukulanku!"

"Belum tentu! Apakah kau tidak melihat asapnya tadi? Asapmu belum tentu setebal itu!"

"Tapi...?"

Soat Ban Ong bergumam ragu.

"Yah, tentu saja kaupun harus melihat keadaan pula. Terlalu meremehkan, kau bisa celaka. Tapi terlalu bernafsu, kau juga bisa membunuhnya. Nah, lakukanlah!"

"Tidak! Kalau begitu kau saja yang menguji dia! Tenaga dalammu lebih baik daripada aku. kau lah yang bisa mengaturnya."

Bok Kek Ong yang kurus itu menarik napas panjang. Terpaksa dia mengambil alih ujian itu. Sambil menggeser badannya ia mengangguk kepada A Liong.

"Baiklah! Nah, A Liong... Kau lakukan lagi cara pernapasan itu! Berbuatlah seperti kalau kau bertahan terhadap udara dingin dan aku akan mencoba menghembuskan udara dingin kepadamu. Berusahalah untuk bertahan! Syukur kau bisa menolak atau menentangnya!"

"Baik, Suhu!"

Sekali lagi A Liong melakukan cara-cara pernapasannya.

Begitu uap putih yang keluar dari ubun-ubunnya berubah menjadi merah, maka Bok Kek Ong juga mengerahkan tenaga dalamnya.

Uap putih mengepul pula menyelimuti tubuh Bok Kek Ong, seakan-akan tubuh yang kurus itu telah berubah menjadi sebongkah es yang dingin.

Lalu perlahan-lahan tangan orang tua itu mendorong ke depan.

Serangkum udara dingin meluncur menuju ke dada A Liong.

Desau suaranya seolah-olah mengalahkan suara angin yang bertiup dari arah barat.

Untuk menguji kekuatan A Liong, Bok Kek Ong sengaja mengeluarkan sepertiga dari seluruh tenaga saktinya.

A Liong tidak bereaksi atau berbuat apa-apa, selain tetap meneruskan semadinya.

Di dalam hatinya hanya ada satu keinginan, yaitu melawan hawa dingin yang tiba-tiba membentur dadanya.

Dan apa yang terjadi kemudian benar-benar membuat kecut hati Bok Kek Ong.

Hentakan udara dingin dari telapak tangannya tiba-tiba terserap ke dalam aliran darah A Liong dan ikut berputar di dalam tubuh, kemudian keluar melalui ubun-ubun dalam bentuk asap putih yang semakin tebal.

Bok Kek Ong terkejut.

Dorongan tenaga saktinya itu cukup untuk membunuh seekor kerbau liar, namun kenyataannya tak selembar rambutpun tergoncang dari tubuh A Liong.

Bahkan dari raut wajahnya, pemuda itu sama sekali tak merasakan gangguan tersebut.

Bok Kek Ong menambah tenaganya.

Dan kali ini kedua telapak tangannya bersama-sama mendorong ke depan, meng gempur dada A Liong dengan dua pertiga bagian dari seluruh kekuatannya.

"Lo Kek Ong (Si Tua Kek Ong)...!"

Soat Ban Ong berseru kaget, karena kekuatan Bok Kek Ong itu dapat melemparkan seekor gajah dengan gampangnya.

Tapi kekuatan A Liong benar-benar mentakjubkan.

Begitu mendapat serangan yang lebih kuat, kekuatan yang terpendam di dalam tubuhnya tiba-tiba juga bereaksi dengan keras pula.

Segumpal hawa panas otomatis muncul dari bawah pusarnya, kemudian berputar dengan cepat ke arah seluruh jalan darah di tubuhnya, membentuk asap tipis yang membungkus kulitnya.

Tiupan angin dingin yang meluncur dari tangan Bok Kek Ong itu menggempur asap tipis yang menyelubungi badan A Liong!

Terdengar suara desis yang keras sekali, seperti suara bara api tersiram air.

Asap mengepul semakin tebal di sekeliling tubuh A Liong, namun pemuda itu seperti tak merasakan apa-apa.

Bahkan ketika Bok Kek Ong menjadi penasaran dan kemudian menghentakkan pukulan udara kosongnya, tiba-tiba timbul daya tolak yang hebat dari tubuh A Liong!

"Wuuuuuus...!

Blugh!"

Badan Bok Kek Ong yang kurus itu terlempar tinggi ke udara, kemudian terhempas kembali ke atas pasir!

Untunglah orang tua itu sudah menduganya lebih dahulu, sehingga tubuhnya tidak terbanting ke pasir, tapi mendarat dengan ringan bagaikan segumpal kapas tertiup angin!

Untuk sesaat air muka Bok Kek Ong menjadi merah padam.

Dia benar-benar tak mengira kalau A Liong memiliki tenaga simpanan sedahsyat itu!

Sementara itu A Liong telah membuka matanya, dengan penuh harap ia menunggu pendapat kedua orang tua itu sama sekali tak disadarinya, bahwa ia baru saja melemparkan Bok Kek Ong ke udara.

Soat Ban Ong buru-buru menghampiri sahabatnya.

"Kau tidak apa-apa?"

Bok Kek Ong menggelengkan kepalanya.

"Untung bukan engkau yang mengujinya. Kalau kau yang maju, niscaya salah seorang dari kalian akan mati di tepian pantai ini..."

"Ya-ya-ya, kulihat... Kulihat tenaganya hebat sekali!"

"Hebat sekali!"

Bok Kek Ong melirik ke arah A Liong, lalu mengangguk kuat-kuat.

"Anak itu... benar-benar mempunyai tenaga ajaib. Dan... Ia sama sekali tak menyadarinya. Yang dia ketahui... tenaga itu hanya dipergunakan untuk menolak hawa dingin. Wah, Lo Ban Ong... jangan-jangan dia masih menyimpan tenaga yang lebih besar lagi!"

Soat Ban Ong menatap sahabatnya mata melotot.

"Maksudmu... Maksudmu lwekangnya masih lebih tinggi lagi. Waduh kalau begitu kita harus mengujinya lagi, kita harus tahu sampai dimana kekuatannya agar kita dapat menyesuaikan dengan pelajaran silatnya nanti."

Bok Kek Ong mengerutkan keningnya. Kedua alisnya yang berbeda warna itu seolah-olah menumpuk jadi satu di tengah dahi.

"Baiklah...!"

"Bagaimana, Suhu?"

A Liong tidak sabar lagi menantikan jawaban gurunya.

"Aku belum selesai, A Liong. Coba, kau ulangi lagi cara pernapasanmu tadi! Aku akan mengujimu kembali."

A Liong berdesah pajang.

Ia kelihatan kurang bergairah untuk melaksanakan perintah itu.

Tapi apa boleh buat, ia terpaksa melakukannya juga.

Demikianlah, ketika asap putih di atas kepala A Liong sudah berubah menjadi merah, Bok Kek Ong segera mengerahkan lwekangnya pula.

Karena dengan dua pertiga bagian tenaganya belum dapat mengusik kekuatan A Liong, maka kini Bok Kek Ong mengerahkan hampir seluruh tenaga saktinya.

Terdengar suara gemeratak di dalam tubuh kurus itu, seolah-olah tulang-tulangnya pada berpatahan.

Untuk menguji kekuatannya, orang tua itu menepuk batu karang di sampingnya.

Perlahan-lahan saja.

"Plaaak...!"

Tapi batu karang sebesar kerbau itu tiba-tiba merekah dan terbelah menjadi dua bagian! Melihat demikian besar kekuatan yang dipersiapkan untuk menguji A Liong, Soat Ban Ong berteriak khawatir.

"Lo Kek Ong, hati-hati! Kalau anak itu sampai mati, kau harus bertanggung jawab!"

Bok Kek Ong tersenyum untuk menenangkan hati sahabatnya. Lalu perlahan-lahan tangannya terangkat ke atas.

"Wuuuuuus...!"

Sekonyong-konyong tangan itu menerkam ke bawah, menuju ke dada A Liong!

Angin dingin menyambar dengan dahsyatnya seolah-olah hendak membelah tubuh pemuda itu!

"Kek Ong, awas...

Kalau sampai cedera, kubunuh kau!"

Di dalam puncak kekhawatirannya Soat Ban Ong menjerit keras sekali.

"Thaaaaaas! Klaaaak!"

Tak ada benturan!

Tak ada suara kesakitan!

Tapi hanya suara tepukan yang lemah!

Namun apa yang terlihat di arena sungguh diluar dugaan!

Dalam posisi tetap berdiri Bok Kek Ong masih menempelkan telapak tangannya yang penuh tenaga itu di dada A Liong!

Sedang pemuda itu sendiri juga tetap dalam keadaan duduk bersamadhi seperti semula.

Bedanya, kalau wajah A Liong tetap tenang, segar dan bersih, sebaliknya wajah Bok Kek Ong tampak merah padam, kaku dan penuh keringat!

Bahkan mata orang tua itu tampak melotot menahan sakit!

Sekejap Soat Ban Ong tak tahu apa yang terjadi di antara mereka.

Tapi ke tika tampak olehnya sinar mata ketakutan di wajah sahabatnya itu, ia baru menyadari apa yang terjadi.

Bok Kek Ong mendapat kesulitan besar!

"A Liong...!

Hentikan!

Hentikan ilmu pernapasanmu!"

Sambil berteriak Soat Ban Ong melesat ke belakang Bok Kek Ong. Kemudian dengan cepat ia mengerahkan tenaga saktinya dan menepuk punggung sahabatnya itu.

"Plaaaak!"

Arus tenaga yang amat kuat mengalir dari dalam tubuhnya, membanjir ke dalam tubuh Bok Kek Ong, dan, berbaur menjadi satu.

Dengan tenaga gabungan itu mereka melawan daya sedot yang keluar dari dada A Liong!

Sedikit demi sedikit Soat Ban Ong meningkatkan penyaluran tenaga saktinya.

Tapi betapa kagetnya dia ketika seluruh kekuatan lwekangnya telah terhentak keluar, tenaga gabungan mereka tetap tak dapat mengatasi daya sedot yang keluar dari dalam tubuh A Liong!

Sekarang mereka benar-benar dalam kesulitan!

Mereka tak kuasa untuk mengalihkan perhatian lagi.

Sedetik saja mereka melepaskan konsentrasi, nyawa mereka akan melayang!

Yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah bertahan.

Bersama-sama mereka menghentakkan seluruh sisa-sisa tenaga mereka.

Keringat sampai membanjir membasahi pakaian mereka.

Bahkan sesaat kemudian tangan dan kaki mereka mulai bergetar.

Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong mulai berpikir untuk berdoa ketika daya sedot itu mendadak hilang.

Ternyata pada saat-saat terakhir A Liong telah menghentikan semadinya.

Teriakan Soat Ban Ong tadi telah menyadarkannya, meskipun agak lambat.

A Liong membuka matanya.

Melihat dua orang gurunya terlentang tumpang tindih di depannya, wajahnya segera menjadi pucat ketakutan.

Bergegas ia berlutut memohon maaf.

"Suhu! Apakah... apakah siauwte telah berbuat salah?"

Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bangkit dengan cepat.

Mereka saling pandang dengan wajah merah.

Mereka hampir-hampir tidak percaya akan kejadian itu.

Bagaimana mungkin seorang anak berusia lima belas tahun dapat mengalahkan tenaga gabungan, yang telah mereka himpun selama lima puluhan tahun?

Sungguh tidak masuk akal!

Kekuatan sedahsyat itu hanya bisa diperoleh setelah berlatih selama seratus tahun!

Mungkinkah A Liong seorang anak ajaib yang muncul setiap lima ratus tahun sekali?

Kalau memang demikian halnya, mereka benar-benar beruntung.

Mereka mendapatkan bibit unggul untuk mewarisi ilmu mereka.

Dan kenyataan itu sungguh sangat menggembirakan mereka.

(Lanjut ke

Jilid 16) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 16 Setelah membersihkan pasir yang mengotori pakaian mereka. Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong mendekati A Liong kembali. Kini cara mereka memandang kepada A Liong telah berubah.

"A Liong! kau tahu apa yang baru saja terjadi? Hmm, kau telah mengalahkan kami berdua! Rasa-rasanya kami tak mungkin lagi menjadi gurumu..."

Bok Kek Ong berkata tegas.

"Suhu...?"

A Liong berseru kecewa.

"Siauwte benar-benar tak tahu apa-apa. siauwte belum pernah belajar silat. Belum pernah berguru kepada siapapun juga. siauwte hanya pernah diajari cara bernapas untuk mengusir hawa dingin oleh seorang kakek asing. Itupun hanya sekali saja, ketika siauwte berumur lima atau enam tahun! Suhu, siauwte berkata sebenarnya! Jangan tolak aku! Berilah aku kesempatan untuk berguru kepadamu...!"

Sekali lagi kedua orang tua itu saling pandang satu sama lain. Mereka saling bertukar pendapat. Akhirnya Soat Ban Ong menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, A Liong. Kami memang percaya padamu. Kami menyadari bahwa hal-hal aneh dan ajaib itu, tentu bukan karena kehendakmu sendiri. Kami juga tahu bahwa sampai sekarangpun kau juga belum tahu apa yang telah terjadi pada dirimu. Ada suatu rahasia besar yang tampaknya menyelubungi kehidupanmu."

"Jadi...?"

"Yah! Kami tetap akan mengajarimu ilmu silat, agar kekuatanmu itu bisa dikendalikan dan dipergunakan dengan baik."

Betapa leganya hati A Liong!

Untuk beberapa saat dia menatap wajah kedua gurunya itu dengan air mata berlinang.

Kemudian dengan bersemangat ia berlutut dan menghentakkan dahinya berulang-ulang ke atas pasir.

"Sudahlah, silakan kau berdiri! Kami berdua akan meneliti keadaan tubuhmu dulu. Kami ingin tahu di mana letak keajaibanmu itu."

"Silakan, Suhu! Silakan...!"

A Liong melepas bajunya.

Demikian pula dengan celana luarnya, sehingga ia hanya mengenakan celana dalam saja.

Soat Ban Ong dan Kek Ong benar-benar kagum menyaksikan badan yang tegap dan penuh otot itu.

Sungguh seorang anak yang sehat dan berbakat untuk belajar silat!

Ketika tampak oleh mereka gambar "tato naga"

Di dada A Liong, mereka saling memandang dengan kening berkerut.

Ternyata mereka berdua, yang belum pernah menginjakkan kaki di daratan Tiongkok, tidak mengenal tanda itu.

Mereka juga belum pernah mendengar bahwa di dunia kang-ouw ada partai persilatan yang memiliki tanda khusus seperti itu.

Tak heran kalau akhirnya mereka menggeleng-gelengkan kepala tanda tak tahu.

Soat Ban Ong menarik napas panjang sambil memandang A Liong.

"A Liong! Apakah kau ingat, siapa yang melukis gambar tato naga di dadamu itu?"

A Liong menunduk, melihat gambar tato naga di dadanya kemudian menggeleng.

"Tidak, Suhu. Sejak kecil gambar ini sudah ada di sini. Semua orang yang mengenal aku juga mengatakan demikian. Itulah sebabnya orang memanggilku... a Liong (Si Naga)!"

Soat Ban Ong menatap mata Bok Kek Ong, demikian pula sebaliknya.

Keduanya sama-sama berpikir bahwa gambar itu tentu ada artinya.

Tapi, apakah itu?

"Bagaimana dengan pengemis-pengemis tua di kelompokmu?

Apakah mereka juga tidak tahu?"

Sekali lagi A Liong menggelengkan kepalanya.

"Mereka juga tidak tahu, Suhu. Ketika orang tua angkatku membawa aku ke dalam kelompok pengemis itu dan bergabung dengan mereka, gambar ini juga sudah ada. Tak seorangpun bisa menghapusnya, walaupun telah dibubuhi bermacam-macam obat penyembuh luka. Sampai orang tua angkatku tiada dan aku berkeliaran sendiri bersama kelompokku, gambar ini tetap menempel di sini. Bahkan semakin bertambah umur, gambarnya juga semakin jelas."

"Dan... Kau tak pernah berusaha untuk mencari tahu makna gambar itu? Setidak-tidaknya ingin tahu, siapa sebenarnya engkau ini?"

Bok Kek Ong bertanya.

A Liong terhenyak.

Matanya terbuka lebar, seolah-olah pertanyaan itu sangat aneh dan mengejutkannya.

Tapi rasa kaget itu hanya sekejap.

Di lain saat kepalanya telah tertunduk kembali.

"Siapa sebenarnya... aku? Ah, Suhu! Bukankah aku anak gelandangan yang tak punya ayah-ibu? Aku lahir di tempat sampah, seperti teman-temanku yang lain. Lalu, apa yang harus dicari?"

Bok Kek Ong tertawa sambil menggoyangkan tangannya.

"Aaah, pendapat itu terlalu picik dan tidak masuk akal, A Liong. Mungkin kawan-kawanmu memang anak keturunan pengemis yang lahir di tempat sampah. Tapi..., kau? Rasanya tak seorangpun mau percaya kalau kau katakan dirimu seorang tidak memiliki ayah-ibu, apalagi lahir di tempat sampah seperti katamu tadi. Sikap dari kepribadianmu sama sekali tak mencerminkan hal itu. Kami justru beranggapan bahwa kau memiliki asal-usul yang menarik. kau bukan keturunan manusia sembarangan. Dari gambar tato naga itu bisa diduga bahwa kau berasal dari keluarga atau golongan yang punya nama di tengah-tengah masyarakat ramai. kau... atau teman-temanmu seharusnya tahu atau berpikir tentang hal itu."

A Liong tertegun.

Matanya, terbelalak lebar menatap wajah gurunya.

Ucapan orang tua itu bagaikan kilatan petir yang tiba-tiba menyeruak menerangi otaknya.

Benarkah apa yang dikatakan orang tua itu?

"Maaf, Suhu.

Siauwte...

siauwte memang tak pernah memikirkannya.

Kami, anak-anak pengemis, tidak pernah berpikir tentang kehidupan.

Setiap hari kami hanya berjuang untuk tetap hidup dan tak pernah berpikir tentang asal-usul kami.

Apalagi harus berpikir tentang hari esok.

Kami sudah pasrah pada nasib yang telah diberikan kepada kami."

A Liong berhenti sejenak. Kemudian dengan nada yang agak bersemangat ia meneruskan.

"Tapi ucapan Suhu tadi, rasanya... ada benarnya juga. Kadangkala terlintas iuga dalam pikiran siauwte tentang hal itu. Benarkah aku ini anak seorang pengemis? Kalau benar, mengapa keadaanku banyak berbeda dengan anak-anak pengemis lainnya? Mengapa hanya aku yang memiliki gambar tato naga ini? Mengapa hanya aku pula yang memiliki benjolan di pusar. Dan... Mengapa hanya aku juga yang mempunyai tubuh sehat dan kuat? Suhu benar! Seharusnya aku sudah memikirkan sejak dulu dan tidak terlena oleh anggapan tentang anak sampah itu. Tidak mungkin manusia lahir dari sampah. Aku tentu mempunyai ayah-ibu..."

Soat Ban Ong beringsut mendekati A Liong dan menepuk pundaknya.

"Nah, kalau kau bisa keluar dari tempat ini, kau selidikilah asal-usulmu! Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari! Siapa tahu orang tuamu masih mencarimu sampai sekarang!"

"Suhu...???"

A Liong berseru dengan wajah pucat.

"Sudahlah! kau tak usah memikirkannya sekarang! Setelah tamat belajar silat nanti, kau boleh memikirkannya lagi! Sekarang duduklah! Biar kami meneliti keadaan di dalam tubuhmu. Mudah-mudahan kami bisa menemukan rahasia kehebatanmu tadi, sehingga kami dapat menemukan cara yang tepat dalam memberi tuntunan silat kepadamu."

"Benar, kau tak usah memikirkannya sekarang. Kini bersiap sajalah untuk kami periksa keadaan di dalam tubuhmu...!"

Bok Kek Ong menambahkan.

Demikianlah dengan sangat hati-hati, kedua orang tua itu mencoba mencari, di mana letak rahasia tenaga sakti A Liong.

Soat Ban Ong duduk di depan sambil menempelkan kedua telapak tangannya di dada A Liong.

Sedangkan Bok Kek Ong bersila di belakang dengan tangan melekat di punggung pemuda itu.

Masing-masing berusaha menyusupkan tenaga dalamnya ke tubuh A Liong dengan hati-hati.

Begitu ada perlawanan dari tenaga dalam A Liong, mereka cepat-cepat menariknya kembali dan berpindah ke bagian lain.

Keringat mulai menitik di dahi Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong.

Meskipun tidak sedang bertempur, namun cara mereka mengerahkan tenaga dalam secara khusus itu benar-benar menguras tenaga mereka.

Dan semakin turun mendekati pusar A Liong, loncatan tenaga balik yang diakibatkan oleh daya tolak pemuda itu semakin kuat.

Sedikit saja tenaga dalam kedua orang tua itu tersalur, maka sebuah kekuatan yang maha dahsyat segera menyembur keluar dari bawah pusar A Liong!

Terlambat sedetik saja menarik saluran tenaga mereka, nyawa merekalah taruhannya!

Untunglah dengan cara dari muka dan belakang, otomatis tenaga dahsyat itu terbelah menjadi dua jurusan.

Namun demikian tetap saja mereka berdua tak kuasa menghadapinya.

Ketika sampai di bawah pusar, dimana benjolan sebesar ibu jari itu berada, telapak tangan Soat Ban Ong bergetar dengan hebat.

Belum juga tenaga dalam orang tua itu tersalur, tempat itu sudah bergolak seperti kepundan gunung api!

Mata Soat Ban Ong terbeliak ketakutan!

Tangannya yang menempel di atas benjolan itu tiba-tiba seperti tersedot ke dalam perut A Liong!

Untunglah Bok Kek Ong yang berada di belakang A Liong, segera tanggap akan bahaya yang menimpa sahabatnya!

Kedua jari telunjuknya buru-buru ditekuk, kemudian menekan jalan darah keh-ping-hiat di kanan kiri tulang pinggul A Liong!

Untuk sedetik daya sedot dari perut A Liong seperti terhambat.

Dan kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Soat Ban Ong.

Kakek itu cepat menarik tangannya hingga terlepas!

Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bangkit berdiri sambil menyeka keringat mereka.

Hampir saja mereka mendapat kesulitan lagi.

Untung mereka bisa menyelamatkan diri.

Kedua orang tua itu memandang A Liong dengan kagum sekali.

Sekarang mereka sudah mengetahui rahasia kekuatan A Liong.

Pemuda itu memiliki sesuatu yang aneh di dalam perutnya, yang membuat tenaga dalamnya menjadi berlipat ganda kekuatannya.

Tapi mereka tidak tahu, benda apa yang tersimpan di sana.

Dan hal ini semakin meyakinkan mereka, bahwa asal-usul A Liong tidaklah seperti yang diceritakannya.

Tentu ada rahasia tersembunyi dalam asal-usulnya, yang tidak diketahui oleh anak muda itu sendiri.

"A Liong...! Sekali lagi kau membuat kaget kami berdua! Ternyata di dalam perutmu tersimpan barang aneh, yang membuat tenaga saktimu (sinkang) menjadi tidak terukur tingginya! Kami tidak tahu barang apa itu, tetapi yang jelas barang tersebut telan berada di dalam perutmu sejak kau lahir di dunia. Dan kami yakin benda itu tidak berada begitu saja di dalam badanmu. Tentu ada orang yang sengaja memasukannya. Dan Orang itu tentu mempunyai hubungan dekat denganmu. Mungkin orang tuamu yang aseli, atau keluargamu yang lain. Dan... Mereka tidak mungkin orang biasa, apalagi seorang pengemis atau gelandangan! Benda-benda langka seperti itu biasa dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti atau orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat!"

A Liong menatap gurunya dengan wajah kosong.

Semua yang dikatakan orang tua itu merupakan hal-hal baru yang belum pernah dipikirkannya.

Namun, demikian apa yang mereka katakan itu terasa mengandung kebenaran.

Bahkan pikiran dan perasaannya dapat menerimanya.

"Suhu maksudkan... suhu maksudkan benjolan di bawah pusarku ini? Memang dari sinilah bau amis itu bermula..."

Baik Soat Ban Ong maupun Bok Kek Ong menganggukkan kepalanya.

"Ya! Untunglah selama ini tak ada orang yang berusaha mengambilnya. Benda itu merupakan sumber bahaya bagimu, sebab setiap orang tentu ingin memilikinya. Terutama orang-orang dan dunia persilatan!"

"Aaah...!"A Liong berdesah ketakutan. Tapi Soat Ban Ong cepat mengelus pundak A Liong.

"Jangan khawatir, A Liong! Kami akan mengajarimu mengendalikan kekuatan itu. Setelah kau mampu mengendalikannya, hmmmmm... tak seorangpun di dunia ini dapat mengalahkanmu. Termasuk kami berdua, bahkan Ketua Pondok Pelangi sendiri! Meskipun ilmu silatnya sangat sempurna, tapi kekuatannya takkan bisa menandingimu!"

"Ketua Pondok Pelangi? Siapakah dia, Suhu?"

A Liong bertanya kaget.

Soat Ban Ong terbelalak.

Ternyata tanpa disadari mulutnya telah kelepasan omong.

Sebenarnya dia dan Bok Kek Ong tidak ingin bercerita tentang ketua Pondok Pelangi.

Tapi kata-kata itu telah terlanjur keluar dan tak bisa dijilatnya kembali.

Memang sebenarnya mereka enggan bercerita tentang Pondok Pelangi.

Selain mereka berdua berasal dari tempat itu, mereka juga memiliki keluarga dan sanak saudara di sana.

Bahkan mereka berdua mempunyai kedudukan tinggi dalam sistim pemerintahan di kepulauan kecil itu.

"Suhu, mengapa Suhu diam saja? Apakah dia musuhmu? Apakah dia pula yang mengasingkan Suhu ke mari?"

Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong tersentak.

"Ah, tidak...! Bukan begitu...!"

Mereka buru-buru menerangkan.

Demikianlah, karena tak ingin terjadi salah pengertian pada A Liong, maka kedua orang tua itu terpaksa berbicara tentang Pondok Pelangi!

Kepulauan kecil yang jauh terpencil dari dunia ramai itu hanya berpenduduk sekitar dua ribu orang.

Mereka hanya terdiri dari tiga nama keluarga, yaitu Soat, Souw dan Bok.

Masing-masing marga atau keluarga itu mempunyai seorang Kepala Marga, yang sangat dijunjung tinggi oleh marganya.

Mereka adalah orang yang paling dituakan dan paling tinggi ilmu silatnya di antara warganya.

Dan sebagai kepala pemerintahan atau Pemimpin dari Negeri Kepulauan itu dipilih salah seorang dari tiga Kepala Marga tersebut.

Orang itu akan bertindak sebagai raja di kepulauan kecil tersebut.

Hampir sepanjang tahun negeri itu dibalut oleh udara dingin.

Hanya beberapa bulan saja mereka melihat wajah matahari.

Mereka biasa beternak rusa dan anjing, sementara kaum wanitanya menanam rumput laut, jamur-jamur karang dan tanaman obat-obatan.

Penduduk kepulauan itu memiliki sebuah keistimewaan, yaitu ilmu silat keturunan yang hanya bisa diwarisi oleh kalangan mereka sendiri.

Ilmu silat keturunan itu telah berabad-abad diwariskan kepada mereka oleh nenek-moyang Keluarga Soat, Souw dan Bok.

Ilmu silat keturunan itu diciptakan berdasarkan kekhususan daerah itu, yaitu kabut pelangi yang selalu menyelimuti kepulauan tersebut.

Nenek-moyang mereka menyebut ilmu silat itu dengan Ilmu Silat Cahaya Pelangi!

Konon khabarnya ilmu silat itu merupakan sumber dari segala ilmu silat Tiongkok asli, sebelum Tat-mo Cou-su membawa ilmu silat baru dari India.

Sayang sekali, sekitar lima abad yang lalu salah seorang warga mereka melarikan diri dari kepulauan itu.

Warga mereka yang bernama Souw Gi itu menjadi nekad karena patah hati.

Cintanya ditolak oleh gadis dari Marga Bok.

Tapi kepergian Souw Gi itu ternyata dengan membawa Pedang Pusaka kaum mereka, yaitu Pedang Pelangi!

Semua itu bisa terjadi karena ayah Souw Gi adalah Kepala Marga Souw yang terpilih sebagai Ketua Pondok Pelangi!

Ayah Souw Gi membentuk pasukan khusus untuk mencari pedang pusaka serta anaknya.

Pasukan pilihan yang terdiri dari sepuluh orang itu berangkat dengan perahu-perahu kecil.

Mereka menyebar ke segala penjuru.

Namun bertahun-tahun kemudian, hingga ayah Souw Gi meninggal dan digantikan oleh ketua yang baru, pasukan pilihan itu tidak pernah kembali.

Begitu pula ketika Ketua yang baru membentuk pasukan pilihan lagi dan mengirimkan mereka keluar pulau, tidak seorangpun kembali pulang.

Sejak itu setiap pergantian Ketua, terjadi semacam tradisi untuk mengirimkan utusan khusus untuk mencari pedang pusaka tersebut.

Tapi seperti halnya yang terdahulu, utusan-utusan itu tidak pernah kembali pula.

Demikian pula halnya yang terjadi pada empat puluh tahun lalu.

Saat itu terjadi pergantian Ketua, karena ketua yang lama telah meninggal, Kebetulan terpilih sebagai utusan khusus adalah Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong!

Pada saat itu Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong baru berusia dua puluh tahun.

Keduanya memiliki bakat alam yang hebat, sehingga dalam usia muda meresa telah menyempurnakan ilmu silatnya.

Kebetulan pula mereka adalah putera Kepala Marga mereka masing-masing.

Sebenarnya tugas itu sangat menyedihkan keluarga mereka, apalagi masing-masing sudah menikah pula.

Tapi di lain pihak tugas itu juga membuat keluarga mereka merasa bangga.

Utusan khusus untuk mencari pedang pusaka itu merupakan tugas suci dari warga Pondok Pelangi.

Oleh karena itu sebelum berangkat mereka berpesan kepada keluarga masing-masing, agar supaya anak mereka yang belum lahir bisa dikawinkan satu sama lain bila ternyata lelaki dan perempuan.

Demikianlah, Soat Ban Ong dan B k Kek Ong berangkat dengan sebuah jukung kecil tanpa layar.

Mereka berlayar ke selatan, menuju ke daerah panas, karena mereka berpendapat bahwa seorang yang lari dari pulau mereka tentu menuju ke daerah panas.

Tidak mungkin menuju ke kutub atau ke laut lepas.

Namun seperti halnya pendahulu-pendahulu mereka, mereka berduapun ternyata tak kuasa melawan keganasan alam.

Belum juga keluar dari daerah pusaran air, jukung mereka telah dihantam gelombang laut hingga pecah dan terdampar di gugusan pulau itu.

Sudah empat puluh tahun Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bertahan di gugusan pulau karang itu.

Mereka terjebak di dalam lingkungan daerah berbahaya yang tidak mungkin bisa dilalui oleh manusia.

Daerah itu adalah daerah berbahaya, di mana beberapa arus laut lewat dan bertemu.

Badai lautpun setiap saat juga selalu melanda daerah itu.

Bahkan badai saljupun sering menyerang daerah itu pula.

Tanpa memiliki perahu besar tak mungkin bisa lewat di tempat itu.

Namun dengan ketekunan dan latihan keras, disertai pengamatan lingkungan yang teliti, akhirnya mereka berdua bisa bermain-main agak jauh dengan sampan buatan mereka.

Meskipun demikian mereka tetap belum dapat keluar dari daerah berbahaya itu.

Sampan kecil itu tak dapat bertahan terhadap badai laut.

Celakanya, di kawasan berbahaya itu juga banyak dihuni oleh ikan hiu dan cucut, yang besarnya sepuluh atau lima belas kali lipat besar sampan mereka.

Mudah saja bagi binatang itu untuk melahap mereka!

"Begitulah A Liong...!"

Empat puluh tahun kami hidup di tempat ini. Setiap hari yang kami lakukan hanyalah berlatih silat dan mencari jalan, keluar dari tempat ini."

"Dan... suhu berdua belum mendapatkan jalan itu?"

Soat Ban Ong saling pandang dengan Bok Kek Ong, lalu menganggukkan kepala.

"Kami hampir menemukannya. Tapi karena jalan keluar itu menuju ke timur, kami tak berani mencobanya. Kata orang di tempat matahari terbit itu tak ada kehidupan. Seluruhnya hanya terdiri dari air yang tak berujung pangkal. Tak mungkin manusia bisa hidup di sana, apalagi hanya dengan sampan kecil seperti milik kami."

"Kami lalu mencoba jalan yang lain lagi. Kami mencoba bersampan melawan arus menuju ke selatan..."

Bok Kek Ong meneruskan cerita sahabatnya.

"Semula memang sangat sulit sekali. Bayangkan! Arus itu deras sekali! Dengan segala kekuatanku aku bisa mengayuhnya maju. Tapi sekejap saja aku berhenti mengayuh, sampan itu sudah kembali ke tempat semula. Nah, akibatnya seharian penuh sampan itu hampir tak dapat bergerak maju..."

"Tapi... suhu bisa mengayuhnya sampai jauh ke selatan, ke tempat Suhu menemukan aku itu."

A Liong memotong cerita gurunya.

"Tentu saja, karena kami telah berlatih selama sepuluh tahun untuk melakukan hal itu. Latihan keras untuk menaklukkan arus itu membuat tenaga dalam kami tumbuh berlipat ganda. Kalau semula sekali kayuh kami hanya dapat maju setombak jauhnya, kini sekali kayuh kami bisa meluncur sepuluh atau dua belas tombak ke depan!"

Soat Ban Ong tersenyum bangga.

"Maka kami benar-benar kaget ketika tenaga gabungan kami tak dapat mengalahkanmu! Kami berdua benar-benar tak percaya, karena dengan tingkat kami sekarang, rasanya Ketua Pondok Pelangi sendiri takkan mampu mengalahkan kami!"

Tiba-tiba Bok Kek Ong menyela perkataan sahabatnya.

"Ah, Suhu... jadi Jiwi Suhu tetap yakin bahwa menentang arus itu merupakan jalan keluar satu-satunya?"

A Liong mengalihkan pembicaraan tentang dirinya itu dengan bertanya kepada Bok Kek Ong.

"Yah, hanya itu jalan keluarnya. Diluar jalur arus adalah daerah berbahaya. Mengikuti arus, sama saja pergi ke daerah tak berujung-pangkal alias... Mati. Maka menurut kami, hanya menentang aliran arus itulah satu satunya jalan kebebasan. Tapi sekarang niat itu kami tangguhkan dulu. Kami akan mengajarimu ilmu silat, agar kau juga bisa mengikuti kami keluar dari tempat ini."

A Liong cepat berlutut di depan Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong. Wajahnya sangat terharu.

"Terima kasih, Suhu..."

Betapa gembiranya hati A Liong mendengar kesanggupan gurunya.

Tak terasa terngiang kembali janjinya kepada Siau In, bahwa pada suatu saat dia akan menjadi jago silat nomer satu.

Dan tampaknya janji itu kini sudah mulai terasa di dalam genggamannya.

Demikianlah, hari itu A Liong selalu teringat kepada Siau In, gadis cantik yang telah menolongnya dari keganasan orang-orang Hun.

A Liong sama sekali tak menyangka bahwa gadis itu berada dalam cengkeraman penghuni kuburan.

* * * Kita kembali lagi ke kuburan tua di balik bukit itu.

Siau In yang dikurung di dalam ruangan gelap di bawah tanah masih saja merenungi nasibnya.

Ruangan itu sama sekali tak ada pintu keluarnya.

"Cici, maafkan aku."

Rintihnya perlahan.

"Aku... aku, hah? Bau apa ini?"

Tiba-tiba hidung Siau In terasa membaui asap masakan yang enak, sehingga otomatis perutnya menjadi lapar sekali.

"Nenek tua itu sedang memasak dan asapnya menjalar sampai di sini. Hmm, berarti ada ruangan lain di dekat ruangan ini. Baik, aku akan mencarinya..."

Seperti seekor anjing pelacak Siau In lalu menggunakan hidungnya untuk mencari asal asap masakan itu.

Dan ternyata kegigihannya membawa hasil pula.

Ketika ia menunduk di samping peti-peti yang paling ujung, bau asap itu terasa makin menyengat.

Siau In segera menggeser peti mati itu ke tengah.

Sinar terang tampak menyorot ke luar dari sebuah lobang besar di bawahnya.

Ternyata lobang itulah pintu keluarnya, tempat di mana nenek tua itu keluar masuk ke dalam ruangan tersebut.

Siau In menjenguk ke dalam.

Ia melihat sebuah gua besar di balik lubang itu.

Gua yang sudah ditata rapi dan diratakan lantainya.

Bahkan berbagai macam perabotan sederhana tampak tersusun pula dengan teratur.

Almari, tempat tidur, meja kursi, semuanya terbuat dari kayu kasar.

Sebuah lampu minyak terletak di atas meja.

Dengan hati-hati Siau In masuk ke dalam.

Bau masakan tetap menyengat hidung, tetapi tak seorangpun tampak di dalam ruangan itu.

Ruangan itu benar-benar bersih dan rapi.

Beberapa potong pakaian wanita tampak tergantung di dekat almari.

Pakaian model lama tapi masih kelihatan terawat baik.

Di dekat almari itu terlihat lobang besar, yang tampaknya adalah pintu keluar dari ruangan tersebut.

Dan dari lubang itulah datangnya bau masakan tadi.

Siau In bergegas menuju ke lubang besar itu.

Bau masakan makin menusuk hidung.

"Siapakah kau...? Mengapa kau bisa sampai ke sini?"

Tiba-tiba terdengar suara wanita menyapa di dalam ruangan itu.

Suaranya amat jelas dan nyaring, suatu tanda kalau orang itu memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.

Siau In hampir melompat saking kagetnya.

Otomatis seluruh uratnya menegang, siap menghadapi segala kemungkinan.

Matanya berputar, mencari arah suara itu.

Aneh, tak seorangpun dilihatnya.

"Aku... aku tidak melihatmu. Di manakah k-k-kau...?"

Siau In menjawab dengan suara gemetar. Bayangan nenek tua itu kembali menghantuinya.

"Jawab dulu pertanyaanku, baru aku keluar menemuimu!"

Siau In mulai ketakutan.

"Namaku... tio Siau ln, dari aliran Im-yang-kauw. Aku tersesat dan tidak dapat keluar dari tempat ini!"

"Tersesat? Siapa yang membawamu ke mari?"

"Lhoh...?"

Siau In tertegun.

Ternyata orang itu bukan si Perempuan Tua yang menculiknya itu.

Hening sejenak.

Berdebar hati Siau In menantikan jawaban orang itu.

Kalau bukan penculiknya, lalu siapakah orang ini?

Wah, jangan-jangan yang ini justru hantu sungguhan!

"Jawablah!

Mengapa diam saja?"

Suara itu kembali berdentang.

"Eh-oh... aku Tio Siau In, murid ketua Cabang Im-yang-kauw wilayah Timur. Guruku bernama Giam Pit Seng."

Siau In tersentak kaget dan buru-buru menjawab dengan suara gemetar.

"Anggota aliran Im-yang-kau?"

"Yah... Kau pernah mendengarnya?"

"Ya, tapi aku tidak mengenal tokoh-tokoh yang baru. Apakah Toat-beng-jin yang biasa disebut Lojin-Ong itu masih hidup?"

Siau In mengerutkan dahinya, lalu mengangguk. Perasaannya menjadi tidak enak karena orang itu menanyakan tokoh yang paling dihormati di dalam aliran Im-yang-kauw.

"Ah... tentu sudah tua sekali. Eeem, lalu... bagaimana dengan... Kauwcusi (Pengurus Agama) Tong Ciak?"

Tong Ciak merupakan orang kepercayaan mendiang Kaisar Chin si Hong-te, seperti halnya mendiang Jendral Beng Tian.

Setelah kaisar terakhir Dinasti Chin tersebut runtuh dan kerajaan jatuh ke tangan Kaisar Liu Pang, Tong Ciak kembali lagi ke tempat asalnya, yaitu ke aliran Im-yang-kauw.

Karena sejak semula tingkat kedudukannya memang sudah tinggi, maka ia segera diangkat menjadi Pengurus Agama.

Dan itu terjadi pada tiga puluhan tahun yang lalu, Ciak masih berumur tiga puluh tahun.

Hati Tio Siau In semakin kecut.

Ternyata orang itu juga sudah mengenal Tong Ciak pula.

Bahkan caranya menyebut seperti kepada sahabat atau orang yang memiliki kedudukan setingkat.

"Beliau juga dalam keadaan baik. Tapi... sekarang beliau menjabat sebagai Ketua, bukan sebagai Pengurus Agama lagi."

"Oh... ya? Sekarang Ilmu Silat Kulit Dombanya tentu telah mencapai puncaknya. Kata orang, lima belas tahun lalu dia sudah berada di tingkat ke sebelas."

Dada Siau In semakin berdebar-debar.

Orang itu juga mengenal ilmu silat Aliran Im-yang-kauw yang sangat dirahasiakan.

Padahal Ilmu Silat Kulit Domba hanya diketahui oleh tokoh-tokoh puncak mereka.

Gurunya sendiri yang sudah berkedudukan cukup tinggi, juga belum di ijinkan untuk mempelajari ilmu rahasia tersebut.

"Lo-Cianpwe... si-siapakah?"

Di dalam keraguannya Siau In bertanya. Ia tidak berani bersikap sembarangan lagi.

"Kau ingin tahu... siapa aku? Baik! Lihatlah...!"

Siau In tersentak dan hampir saja menjerit ketika tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang wanita yang sangat cantik.

Cantik dan matang!

Dilihat dari rambutnya yang telah bercampur uban, usianya tentu sudah lebih dari empat puluh tahun.

Tapi kalau dilihat dari kulit wajahnya yang tetap licin dan segar, orang takkan percaya kalau dikatakan umurnya lebih dari tiga puluh tahun.

Pakaiannya yang longgar dan panjang itu hampir menutupi seluruh tubuhnya yang tinggi langsing.

Hampir saja Siau In mengira bahwa ia sedang berhadapan dengan Souw Giok Hong, gadis ayu yang dijumpainya di atas pohon itu.

Wajah mereka sangat mirip satu sama lain.

Hanya umur dan penampilan mereka saja yang berlainan.

"Kau terkejut? Mengapa? kau pernah bertemu dengan aku?"

Wanita cantik itu bertanya. Suaranya nyaring berwibawa. Siau In menggeleng. Mulutnya belum bisa menjawab.

"Jangan takut! Aku tidak akan berbuat jahat kepadamu. Aku hanya ingin tahu, bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini. Hmm, siapakah namamu tadi? Tio Siau In? Benarkah?"

Siau In mengangguk. Mulutnya tetap terkunci.

"Baiklah! Tenangkanlah dulu perasaanmu! Atau... Kita keluar dulu? Marilah, akan kuperkenalkan kau dengan saudaraku!"

Wanita cantik itu lalu menggandeng lengan Tio Siau In dan membawanya keluar melalui lubang besar tadi.

Mereka menyusuri lorong panjang yang di kanan kirinya banyak dipasangi lampu minyak, sehingga tempat tersebut tampak terang-benderang.

Hembusan angin dingin menerpa tubuh Siau In, seolah-olah dinding gua itu mempunyai banyak lubang angin.

Lorong itu berbelok-belok, naik turun dan kadang-kadang menembus ke lubang gua yang lain.

Demikianlah, setelah beberapa saat lamanya mereka berjalan, akhirnya Siau ln melihat sinar terang di kejauhan.

Ternyata ujung lorong nembus ke permukaan tanah.

Begitu keluar yang terlihat oleh Siau In adalah air terjun.

Curahan air yang menebar panjang itu bagaikan selembar daun pintu yang menutupi pintu gua.

Dan persis di mulut gua itu terlihat seorang wanita yang tidak kalah cantiknya dengan wanita yang datang bersama Siau In.

Bahkan usia merekapun tampak sebaya pula.

Hanya bedanya, perawakan anita yang kini baru memasak itu lebih kecil dan agak lebih pendek.

Penampilannya juga tampak lebih sabar dan lembut.

"Lan-moi, lihatlah... siapa yang kubawa ini? Aku hampir saja salah lihat. Kukira kau yang berada di bilik Semadhi, ternyata... dia! Lihat wajahnya, mirip denganmu, bukan?"

Wanita cantik yang sedang memasak itu agak kaget juga melihat kehadiran Siau In.

Bibirnya tersenyum, tapi senyumnya segera hilang begitu melihat wajah Siau In.

Matanya terbuka lebar seolah-olah ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Tetapi kemudian mata itu kembali meredup, bahkan mulai berkaca-kaca.

"Kau benar... cici. Aku benar-benar terkejut melihatnya. Siapakah dia...? Ah, kalau saja Cu Hua masih hidup..."

Wanita berwajah lembut itu bergumam perlahan.

"Maafkan aku, Lan-moi. Aku tidak bermaksud membangkitkan ingatanmu pada Cu Hua."

Wanita yang datang bersama Siau In itu cepat meminta maaf.

Wanita berwajah lembut itu menghela napas panjang sekali.

Bahkan kepalanya menggeleng beberapa kali, seperti ingin melepaskan diri dari kabut kenangan yang menyedihkan.

"Tidak apa, Cici. Melihat sikapmu kepada anak itu, aku juga tahu... bahwa kaupun ingat kepada Han Sui pula. Anak ini memang sebaya dengan kedua anak kita itu. Sayang bocah-bocah manis itu telah mendahului kita."

Wanita cantik yang datang bersama Siau In itu tiba-tiba juga menarik napas panjang. Bahkan ia buru-buru berpaling untuk menyembunyikan matanya yang mulai memerah.

"Ah, Lan-moi... sudahlah. Bagaimana dengan masakanmu? Sudah siap belum? Ayolah, kita bersantap bersama. Kita jamu tamu kita ini sambil... Kita tanyakan asal-usulnya."

Katanya kemudian untuk mengalihkan suasana yang kurang menyenangkan itu.

Demikianlah, tiga orang wanita itu lalu makan bersama-sama.

Matahari sudah naik hampir di atas kepala, membuat ruangan sempit di mulut gua itu terasa segar dan nyaman.

Suasana itu membuat nafsu makan Siau In menjadi semakin bertambah, sehingga tanpa malu-malu lagi gadis itu menyerbu hidangan yang tersedia.

Tingkahnya yang bebas tanpa kendali, namun wajar serta alami itu, justru sangat menyenangkan tuan rumah.

Dan pada saat makan itulah Siau In baru menyadari kalau tangan kiri wanita cantik yang sudah mulai beruban rambutnya itu, hanya sebatas siku saja panjangnya.

Tampaknya lengan itu cacat atau terputus karena kecelakaan.

Namun demikian wanita cantik itu bergerak dengan leluasa.

Cacat tubuhnya sama sekali tidak membuatnya kikuk.

Sikapnya juga kelihatan biasa saja dan wajar.

"Tio Siau In, ketahuilah... Kami berdua telah lebih dari sepuluh tahun tinggal di guha ini. Riwayat hidup kami sangat menyedihkan sehingga kami tidak ingin mengingatnya lagi. kau boleh menyebutku Bibi Lian dan memanggil adikku itu... bibi Lan. kau boleh tinggal bersama kami... Kalau mau."

Siau In tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.

"Lan-moi, anak ini bernama Tio Siau In. Gurunya adalah Ketua Cabang Im-yang-kauw wilayah timur. Katanya dia diculik seorang wanita bongkok dan dibawa masuk ke lubang kuburan di atas sana."

"Im-yang-kauw...?"

Wanita cantik berwajah lembut yang disebut Bibi Lan itu tersedak. Matanya yang redup dan sayu menatap wajah Siau In dengan tajamnya.

"Apakah Bibi Lan juga sudah mengenal Lojin-Ong dan Tong Kauwcu?"

Tak terduga Siau In bertanya lebih dulu dengan suara lucu.

Dia berkata sambil melirik ke arah Bibi Lian.

Wanita yang disebut Bibi Lan itu tiba-tiba menundukkan wajahnya.

Bibirnya yang tipis bergumam perlahan.

"Tentu saja. Bukankah aku dan Bibi Lian bersaudara? Apa yang dia kenal, tentu aku ketahui pula. Aku mengenal Lojin-Ong seperti mengenal kakekku sendiri. Ah, apakah dia masih hidup?"

"Dia memang masih hidup, Lan-moi. Katanya tubuh Lojin-Ong sudah bongkok, tetapi masih tetap bersemangat mendampingi Kauwcusi Tong Ciak, yang kini telah diangkat menjadi Kauwcu."

"Benarkah...?"

Wanita berwajah lembut itu berdesah pendek, kemudian menundukkan mukanya kembali.

Matanya terpejam seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Mereka lalu terdiam untuk beberapa saat, sehingga kesempatan itu segera dipergunakan Siau In untuk menceritakan pengalamannya selama ini.

Dia bercerita tentang tugas yang diberikan gurunya, serta pengalamannya bersama A Liong, Kedua wanita cantik itu saling berpandangan.

Wajah mereka sedikit berubah.

Bahkan Bibi Lan bergumam, tapi tak jelas.

"Lojin-Ong mencari pemuda bertato. Pihak kerajaan juga mengumpulkan para pemuda bertato naga? Oh, apakah mereka masih tetap mencari keturunan Pangeran Liu yang kun?"

"Pangeran Liu yang kun? Siapakah dia, Bibi?"

Lagi-lagi kedua wanita cantik itu menarik napas panjang. Keduanya tidak segera menjawab. Tampaknya seperti ada sesuatu yang mereka pikirkan.

"Pangeran Liu yang kun adalah putera mendiang Kaisar Liu Pang yang lenyap ketika akan dinobatkan menjadi Kaisar. Ah, sudahlah! Lanjutkan saja ceritamu! Tak ada hubungannya dengan ceritamu."

Akhirnya Bibi Lian menerangkan dengan suara berat.

Meski tidak puas tapi Siau In tidak berani bertanya lebih lanjut.

Dia lalu meneruskan ceritanya.

Dia bercerita tentang Wanita Bongkok yang membawanya ke liang kuburan.

"Kau maksudkan... di atas Ruang Semadi itu ada Kamar Mayatnya? Eh, mengapa tidak kau katakan sejak tadi? Lan-moi, mari kita lihat!"

Bibi Lian tiba-tiba berseru.

Tiba-tiba saja kedua wanita cantik itu menghilang dari depan Siau In!

Sepintas hanya terlihat bayangan mereka, berkelebat masuk ke dalam gua!

Siau In sampai melongo saking kagumnya!

Gerakan mereka sama cepatnya dengan gerakan pemimpin rombongan orang Hun yang membantai prajurit kerajaan itu.

Siau In bangkit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Timbul perasaan kagum dan perasaan ingin dapat menjadi seperti mereka.

Alangkah bahagia hatinya bila dapat menjadi murid wanita-wanita sakti itu.

Sambil melamun Siau In melangkah mengikuti mereka.

Namun baru selangkah kakinya menapak, Siau In mendengar suara nyaring di balik tumpahan air terjun.

Dengan tangkas Siau In membalikkan tubuh dan berjalan keluar mendekati air terjun.

Sambil berlindung dari semburan air yang memercik kemana-mana, Siau In berusaha mengintip keluar.

Suara teriakan yang disertai desau angin pukulan terdengar semakin jelas.

Tapi Siau In tetap tak bisa melihatnya, karena curahan air menimpa bebatuan di depan gua itu amat deras sekali.

Percikan air seolah-olah menyelimuti tempat itu sehingga semuanya tampak remang-remang.

Kadang-kadang memang kelihatan bayangan di luar air terjun.

"Wah, tampaknya ada pertempuran di luar sana. Tapi lubang gua ini tidak ada jalan keluarnya. Jalan satu-satunya hanya menerobos air terjun itu..."

Siau In mengawasi batu-batu besar yang berserakan di depan gua, di mana air terjun itu tercurah dari atas.

Batu-batu itu kelihatan licin dan berbahaya, sementara air yang menimpanya tentu memiliki kekuatan yang dahsyat pula.

"Apa boleh buat... Kalau ingin keluar memang harus berani mencobanya!"

Tapi sebelum kakinya melangkah, tiba-tiba terdengar suara panggilan yang berdengung di lubang telinganya.

"Siau In...!"

Suara itu bergetar jelas melalui gelombang ilmu Coan-im-ji-bit.

"Wah, Bibi Lian memanggilku..."

Siau In bergumam dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk menerobos air terjun.

Siau In lalu masuk kembali ke lorong gua dengan tergesa-gesa.

Setelah beberapa kali berbelok, serta melewati beberapa buah gua, Siau In sampai ke sebuah lorong kecil yang menanjak ke atas.

Di tempat itu baru Siau In sadar bahwa dia tersesat.

Lorong itu bukan jalan menuju Ruang Semadi.

"Ah, seharusnya aku sudah sadar ketika tidak melewati lorong berlampu minyak itu...! Aduh, bagaimana sebaiknya? Oh, ada sinar terang di ujung lorong ini. Tentu ada lampu di sana. Baiklah, aku berjalan terus saja."

Karena lorong itu terlalu sempit, Siau In terpaksa merangkak. Beberapa saat kemudian telinga Siau In mendengar desau angin dan burung berkicau. Udara yang berhembuspun terasa lebih segar.

"Hei... Ini jalan keluar!"

Siau In bersorak gembira.

Otomatis Siau In menjadi bersemangat.

Dan benar juga dugaannya.

Sebentar kemudian mata Siau In menjadi silau oleh sorot matahari.

Siau In segera melompat keluar.

Ternyata lubang keluar itu berada di antara dua batu besar di tepi sungai.

Lubang itu hampir tidak kelihatan karena tertutup ilalang dan lebarnyapun hanya setebal tubuh manusia dewasa.

Siau In melesat ke kanan dan ke kiri.

Tempat itu benar-benar sepi.

Sungai di depannya juga besar dan lebar, di mana airnya mengalir dengan tenang tanpa riak yang berarti.

"Sungai ini tentu dalam sekali dan... aha, kalau aku mengikuti alirannya, tentu akan sampai di air terjun itu! Bagus, aku akan ke sana!"

Dengan wajah riang Siau In berlari di antara batu-batu yang berserakan di pinggir sungai. Sebentar saja ia sudah mendengar suara gemuruh itu.

"Nah, apa kataku? Lorong gua tadi memang berada di bawah sungai ini. Air terjun itu...wah!"

Tiba-tiba mulut Siau In ternganga.

Aliran sungai itu sekonyong-konyong terputus dan meluncur turun dengan derasnya.

Air sungai yang dalam dan lebar itu bagai ditumpahkan ke bawah begitu saja!

Dan ketika Siau In mencoba melongok ke bawah, kakinya buru-buru ditarik kembali ke belakang.

Ternyata air terjun itu cukup tinggi.

Mungkin ada tiga belas atau lima belas tombak tingginya.

Untuk menuruninya Siau In harus berjalan memutar cukup jauh, karena dinding tebing yang membatasi air terjun itu sangat terjal dan licin berlumut.

Sampai di bawah Siau In semakin berhati-hati.

Pengalamannya selama ini telah mengajarkan kepadanya, agar dia selalu waspada di manapun juga berada.

Dia belum tahu siapa yang sedang berkelahi, tapi mengingat suara teriakan mereka yang mampu menindih, bahkan dapat mengalahkan suara air terjun, Siau In yakin bahwa mereka bukan orang sembarangan.

Ternyata benar juga dugaan Siau In.

Dia segera mengenal orang-orang yang sedang berkelahi itu.

Mereka adalah orang-orang yang dilihatnya di kuburan pagi tadi, yaitu si Wanita Bongkok dan tiga orang aneh berkain belacu kasar itu.

Sendirian Wanita Bongkok itu melawan tiga orang lawannya.

Meskipun sudah tua namun gerakannya tetap luar biasa lincahnya.

Tubuhnya yang sudah melengkung itu melenting kesana-kemari.

Dia tidak membawa senjata apa-apa, tapi dari kedua telapak tangannya selalu tersembur angin tajam yang memburu lawan-lawannya.

Dan bau aneh seperti bau dupa wangi menyebar sampai ke tempat Siau In.

Tapi ketiga orang lawannya juga tidak kalah pula lincahnya.

Mereka justru bergerak dengan cara yang lebih aneh dan mengerikan.

Setiap kali kaki mereka menapak di tanah, tubuh mereka tampak terhuyung-huyung seperti orang mabuk berat.

Namun setiap kali hendak jatuh tubuh mereka segera melenting lagi dengan tangkasnya.

Demikianlah, pertempuran mereka benar-benar seru dan menegangkan.

Dibandingkan dengan pertempuran di tepi Pantai Hang-ciu, pertempuran itu memang belum seberapa.

Namun demikian pertempuran ini memiliki kesan tersendiri bagi Siau In.

Cara dan gaya mereka berkelahi sama sekali berbeda dengan ilmu silat kebanyakan.

Ternyata pada puncak pertempuran mereka, kedua pihak mempergunakan ilmu yang sama.

Mereka bergerak kaku dan selalu bergoyang, seperti layaknya orang yang berdiri di atas geladak kapal.

Entah mengapa, cara mereka bersilat yang aneh itu lama-lama menimbulkan perasaan seram dan ngeri di hati Siau In.

Gadis itu serasa melihat sebuah acara ritual para pengikut setan.

Bau dupa wangi serta kabut tipis tampak menyelimuti tubuh mereka, seperti halnya acara persembahan atau acara memanggil roh.

Bahkan suasana segar dan cerah tadi tiba-tiba juga berubah menjadi sunyi mencekam.

Suara gemuruh air yang mula terasa bising, mendadak mereda.

Sebaliknya telinga Siau In seperti mendengar suara nyamuk yang mendenging tiada henti-hentinya.

"Aduuuuh...!"

Sekonyong-konyong Siau In mendekap kepalanya.

Mulutnya meringis menahan sakit.

Ternyata suara mendenging itu semakin lama semakin kuat dan tajam, hingga telinga Siau In menjadi sakit.

Dan sebelum gadis itu sempat menutup telinganya, mendadak suara itu melengking makin kuat.

Akibatnya seperti ada ribuan jarum yang tiba-tiba menyusup ke dalam telinga Siau In dan menyerang otaknya!

"Hentikan...!!!"

Karena tidak tahan lagi, maka Siau In berteriak sambil meloncat keluar dari persembunyiannya.

Tapi apa yang dilakukan gadis itu benar-benar suatu kesalahan besar.

Rasa kaget membuat orang-orang itu cenderung untuk membela diri.

Otomatis semuanya bergerak menyerang Siau In.

Ada yang melontarkan jarum-jarum kecil.

Ada yang menghembuskan asap beracun.

Dan ada pula yang menerjang dengan pukulan penuh tenaga sakti!

Serangan tak terduga itu menyambar dengan cepat sekali dan tidak mungkin Siau In bisa mengelakkannya.

Apalagi kepandaian mereka rata-rata memang berada jauh di atas gadis itu.

Disertai jerit kesakitan tubuh Siau In terpental ke belakang.

Sesaat gadis itu mencoba untuk bangkit kembali, namun gagal.

Tubuhnya kembali terhempas ke tanah dan pingsan.

Semua serangan lawannya tidak ada yang meleset.

Semua mengenai tubuhnya.

Sejenak pertempuran itu berhenti.

Masing-masing melihat korban serangan mereka, tapi ketika tidak seorangpun diantara mereka yang mengenal Siau In, mereka saling bercuriga satu sama lain.

"Kukira Kwa Yung Ling, ternyata... bukan! Hmmm siapakah gadis ini, Tai-Bong Kui-bo?"

Salah seorang dari tiga lelaki berbaju putih itu bertanya kepada Wanita bongkok.

"Mana aku tahu? Aku juga mengira ia kawan yang kau bawa dari Tai-bong-pai, sejak dulu kalian, Giam-lo sam-kui tak pernah pergi sendirian, selalu saja bertiga atau membawa kawan yang lain."

Wanita bongkok itu mengejek. Orang tertua dari Giam-lo tai-bong itu mendengus, wajahnya yang pucat itu tampak semakin kusam.

"Kurang ajar, perempuan tua tak tahu diri! Sudah dekat liang kubur, masih juga bersikap sombong, mari kita teruskan lagi pertempuran kita! Jangan harap kau dan Kwa Yung Lin bisa melepaskan diri dari hukuman Tai-bong-pai. Lihat serangan...!"

"Bagus, kalau kalian memang bisa mengalahkan aku, akan kukatakan dimana Kwa Yu Ling berada!"

Maka pertempuranpun pecah kembali, masing-masing tak mau mengalah lagi, begitu bergebrak mereka segera mengeluarkan kemampuan sepenuhnya, sekali lagi tempat itu menjadi ajang pertempuran yang dahsyat.

Meskipun dari perguruan yang sama tapi kemampuan mereka memang berbeda, sejak kecil Tai-Bong Kui-bo ikut keluarga mendiang ketua Tai-bong-pai lama Kwa Eng Ki, meskipun tidak diambil murid tapi Kwa Eng Ki juga memberinya pelajaran silat.

Ketika Kwa Eng Ki meninggal dan diganti Kui Mo Siang, sutenya, Tai-Bong Kui-bo diangkat menjadi pengurus rumah tangga perguruan, meskipun Tai-Bong Kui-bo tetap berada di rumah keluarga Kwa Eng Ki, wanita itu tetap mengasuh Kwa Yung Ling, cucu perempuan Kwa Eng Ki.

Malapetaka timbul setelah Kui Mo Siang meninggal dunia...

Penggantinya Yok si Ki, murid Mo Siang sendiri.

Tapi watak mereka benar-benar bertolak belakang.

Yok si Ki sangat kejam dan licik.

Usianya yang masih terhitung muda, ditambah dengan ilmu silatnya yang tinggi membuat wataknya menjadi sombong dan sewenang-wenang.

Lebih celaka lagi Yok si Ki memiliki watak hidung belang dan suka main perempuan.

Banyak wanita dan gadis baik-baik yang menjadi korban kebiadabannya, di antaranya adalah Kwa Yung Ling, cucu Kwa Eng Ki sendiri.

Padahal saat itu Kwa Yung Ling masih terlalu muda.

Hanya karena menolak menjadi isteri mudanya, Kwa Yung Ling ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Dan di dalam penjara itu berkali-kali Kwa Yung Ling diperkosa dan dihina, sehingga akhirnya ia melahirkan seorang bayi perempuan.

Dua belas tahun lamanya Kwa Yung Ling terkurung bersama anaknya.

Dan selama itu pula pengasuhnya, Tai-bong Kui-bo, tak pernah kelihatan batang hidungnya.

Perempuan itu menghilang sejak dikalahkan oleh pengawal-pengawal Yok si Ki.

Selama dua belas tahun itu pula Yok si Ki selalu menyebar anak buahnya untuk mencari Tai-bong Kui-bo, karena wanita itu ternyata menghilang bersama buku pusaka Tai-bong Pit-kip.

Tetapi usahanya tak pernah berhasil.

Tak seorangpun di antara orang-orangnya yang dapat menemukan perempuan itu.

Tai-bong Kui-bo seakan-akan sudah lenyap ditelan tanah.

Maka Yok si Ki benar-benar tidak menduga ketika dua tahun yang lalu Tai-bong Kui-bo tiba-tiba muncul di gedung penjara, membunuh para penjaga, kemudian membawa pergi Kwa Yung Ling dan anaknya!

Bahkan ketika Tai-bong Kui-bo yang kini sudah tua dan bongkok itu kepergok dengan Hiat-tok Mo-li (Iblis Wanita Darah Beracun), dia masih bisa mengecoh dan meloloskan diri.

Padahal Hiat-tok Mo-li merupakan orang nomor tiga di partai Tai-bong-pai setelah Yok si Ki dan Mo-gan Wan-ong (Si Raja Kera Bermata Iblis).

Sebab itulah selama dua tahun ini Yok si Ki benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memburu Tai-bong Kui-bo.

Seluruh pelosok negeri diaduknya.

Puluhan orang kepercayaannya tersebar hampir di segala tempat.

Tak heran kalau akhirnya jejak perempuan tua itu dapat ditemukan juga.

Giam-lo Sam-kui, tiga orang Petugas Hukum dari Tai-bong-pai, berhasil mencium persembunyiannya dan sekarang ketiga iblis neraka itu mencoba meringkusnya.

Kepandaian Giam-lo Sam-kui memang masih di bawah Mo-gan Wan-ong maupun Hiat-tok Mo-li.

Tapi di dalam Partai Tai-bong-pai, kedudukan Giam-lo Sam-kui sangat dihormati.

Mereka bertiga adalah Pengawas Hukum di dalam Partai Tai-bong-pai.

Kedudukan mereka sejajar dengan Pengurus Partai, yang kini dipegang oleh Mo-gan Wan-ong.

Oleh karena itu tidak mengherankan bila mereka bertiga mampu melayani Tai-bong Kui-bo dengan baik.

Sebenarnya kepandaian Tai-bong Kui-bo sendiri juga sulit diduga pula.

Selama dua belas tahun bersembunyi, ditambah dengan dua tahun dalam pelariannya bersama Kwa Yung Ling, kesaktiannya benar-benar lain dengan Tai-bong Kui-bo dahulu.

Dengan mempelajari Buku Pusaka Tai-bong Pit-kip yang berisi rahasia Ilmu Silat Tai-bong-pai, ilmunya telah meningkat berlipat ganda.

Sayang sekali cacat pada tulang punggungnya, akibat keroyokan pengawal Yok si Ki lima belas tahun lalu, membuat dia tidak bisa mempelajari Tai-bong Pit-kip secara tuntas.

Itulah sebabnya dalam pertempuran sekarang, Tai-bong Kui-bo tampak sangat geram kepada Giam-lo Sam-kui, karena ketiga Iblis Neraka tersebut termasuk pula di antara para pengeroyoknya pada waktu itu.

Demikianlah, pada lima belas tahun lalu memang mudah bagi Giam-lo Sam-kui untuk mengalahkan Tai-bong Kui-bo.

Tapi sekarang mereka tidak dapat melakukannya lagi.

Kini ilmu silat Tai-bong Kui-bo telah sejajar dengan ilmu silat mereka.

Bahkan tenaga dalam perempuan tua itu juga sudah mencapai tingkatan tertinggi pula.

Oleh karena itu pertempuran mereka tidak mungkin selesai dalam waktu pendek.

Masing-masing sudah saling mengenal ilmu silat lawannya.

Mereka hanya bisa mengandalkan memujuran saja, siapa tahu lawan mereka lengah atau salah langkah.

Demikianlah, lima puluh jurus telah berlalu.

Dan mataharipun mulai bergeser ke arah barat.

Tubuh mereka telah mulai basah dengan keringat, sementara kekuatan mereka telah berimbang.

Namun menginjak jurus ke sembilan puluh, tiba-tiba perimbangan kekuatan mereka mulai berubah.

Sedikit demi sedikit gerakan Tai-bong Kui-bo kelihatan melemah.

Bahkan setiap kali beradu tenaga, mulut perempuan tua itu tampak menyeringai kesakitan.

Malah sesekali perempuan tua itu terhuyung seolah-olah kehilangan tenaga.

Ternyata perbedaan usia dan jumlah lawan berpengaruh juga pada daya tahan mereka.

Walaupun berkepandaian tinggi tetapi tulang dan otot Tai-bong Kui-bo tidak sekuat dan sesegar tubuh Giam-lo Sam-kui yang masih muda.

Apalagi Tai-bong Kui-bo memiliki cacat pada punggungnya, sehingga ia selalu merasa kesakitan setiap kali beradu kekuatan.

Semakin lama perimbangan kekuatan mereka juga semakin berat sebelah.

Pelan tetapi pasti perbedaan kekuatan itu membuat Tai-bong Kui-bo mulai terdesak.

Malah beberapa saat kemudian satu dua pukulan mulai mendarat pada tubuh bongkok itu.

"Iblis pengecut...!"

Perempuan tua itu menjerit-jerit.

"Sudahlah, Kui-bo! Lebih baik kau menyerah saja dan katakan di mana Kwa Yung Ling berada!"

"Persetan! Kalian tidak mungkin... aduuuh!"

Sebuah sabetan kaki mengenai pinggang perempuan itu sehingga tubuhnya terlempar jauh.

Tapi dengan ginkangnya yang tinggi Tai-bong Kui-bo mampu mendaratkan kakinya di atas tanah kembali.

Meskipun demikian tendangan itu tetap melukai bagian dalam perutnya.

"Ayoh, cepat katakan! Di mana Kwa Yung Ling, hah...?"

Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui membentak seraya menahan dua saudaranya untuk memberi kesempatan kepada lawannya.

Namun Tai-bong Kui-bo tak menjawab.

Matanya justru mendelik penuh hawa pembunuhan.

Dan itu sudah cukup bagi Giam-lo Sam-kui untuk segera mengakhiri pertempuran mereka.

Oleh karena itu Giam-lo Sam-kui segera mempersiapkan diri mereka untuk menggempur perempuan itu dengan kekuatan penuh.

Meski sedang goyah, tapi Tai-bong Kui-bo menyadari bahaya yang hendak menimpanya.

Dalam keadaan terdesak itulah timbul kenekatannya.

Lebih baik mati daripada jatuh ke tangan lawannya.

Tiba-tiba Tai-bong Kui-bo bergeser mundur, berbareng dengan itu kedua tangannya terayun ke depan dan belakang bergantian.

Serentak dari kedua telapak tangannya berhembus angin berputar mengelilingi tubuhnya, membentuk sebuah benteng untuk melindungi diri dari sergapan lawannya.

Pusaran angin yang keluar dari telapak tangan Tai-bong Kui-bo makin lama terasa semakin kuat, sehingga pengaruhnya mulai melanda pinggiran air terjun itu.

Semak-semak mulai bergoyang, sementara dedaunan juga mulai tanggal dan bertebaran ke segala penjuru.

Tapi ke tiga iblis itu hampir tak terpengaruh oleh kedahsyatan ilmu Tai-bong Kui-bo tersebut.

Mereka bertiga tetap menerjang ke depan, menerobos benteng angin itu.

Di dalam puncak ilmu mereka, Giam-lo Sam-kui benar-benar memiliki kekuatan seperti iblis.

Ketiga pasang tangan mereka bagaikan palu godam yang menggedor benteng pertahanan Tai-bong Kui-bo.

Dan akibatnya sungguh mendebarkan!

"Dhuuuuaaaaaarrrr!"

Tubuh Tai-bong Kui-bo terpental balik bagaikan layang-layang putus!

Sebaliknya salah seorang di antara lawannya juga jatuh terduduk di atas rumput!

Ternyata benturan kekuatan itu telah membawa korban!

"Kui-bo...!"

Tiba-tiba terdengar jeritan dari jauh.

"Kwa Yung Ling!"

Tiga Iblis dari Neraka itu menggeram bersama-sama.

Salah seorang dari Giam-lo Sam-kui yang jatuh tadi telah dapat berdiri kembali.

Sekejap kemudian seorang wanita cantik berusia tiga puluh satu atau tiga puluh dua tahun, datang ke tempat itu dan menubruk tubuh Tai-bong Kui-bo yang tergeletak lemah di atas tanah.

Darah segar tampak mengalir deras dari mulut perempuan tua itu.

"Kui-bo, bertahanlah! Aku akan mengobati lukamu...!"

Wanita yang tidak lain memang Kwa Yung Ling itu menangis di samping Tai-bong Kui-bo.

Dia sama sekali tidak mempedulikan Giam-lo Sam-kui yang berdiri garang di sekelilingnya.

Mata yang terpejam itu terbuka.

Ketika melihat kehadiran Kwa Yung Ling, mata yang telah mulai meredup itu tampak kaget.

Dengan segala kekuatan yang masih tersisa bibir itu dipaksakan untuk berkata.

"Ce-cepatlah... Laari!"

Bibir itu bergetar lemah, kemudian terkatup rapat kembali. Nyawa tua itu keburu lepas dari tubuhnya. -"Kui-bo...!!!"

Sekali lagi wanita yang baru tiba itu menjerit pilu dan memeluk tubuh Tai-bong Kui-bo.

"Diam! kau tidak perlu menangis lagi! Sekarang berikan buku itu dan ikut kami ke Tai-bong-pai!"

Tiba-tiba orang tertua dari Giam-lo Sam-kui menghardik dan menyambar lengan Kwa Yung Ling.

Tapi dengan tangkas wanita cantik itu menghindar.

Walau sedang menangisi pengasuhnya, namun Kwa Yung Ling tetap waspada terhadap lawan-lawannya.

Maka ketika tangan Giam-lo Sam-kui menyambar, dia buru-buru melompat ke samping.

Di lain saat ia telah berdiri tegak di hadapan lawan-lawannya.

Bahkan tangan kanannya telah memegang selendang putih yang tadi membelit di pinggangnya.

Di kedua ujung selendang itu terpasang gelang kecil dan besar.

"Kalian bertiga memang bukan manusia baik-baik. Kalian telah mengkhianati sumpah kalian terhadap Tai-bong-pai. Kalian mengabdi kepada si Iblis Yok si Ki, yang telah berbuat makar terhadap Tai-bong-pai. Sebagai pejabat Pengawas Hukum seharusnya kalian tahu bahwa Yok si Ki telah menginjak-injak peraturan dan adat istiadat Tai-bong-pai, yang selama ini dijunjung tinggi oleh leluhur kita."

Wajah Giam-lo Sam-kui yang putih pucat itu untuk sesaat berubah menjadi merah padam.

Namun rasa malu justru membuat mereka menjadi marah sekali.

Dengan pandangan mengerikan ketiga iblis itu mengangkat tangannya.

Terdengar suara berkerotokan ketika lengan itu mengeluarkan asap tipis berwarna kemerahan.

Sebagai seorang anggota partai Tai-bong-pai, Kwa Yung Ling segera tahu apa yang sedang dilakukan lawannya Cepat ia mengerahkan segala kemampuannya, semua ilmu yang diberikan mendiang Tai-bong Kui-bo selama dua tahun ini.

Selendang itu cepat direntangkan di depan dadanya.

Seluruh tenaga sakti dia kerahkan di kedua lengannya, karena ia tahu bahwa dia bukan tandingan Giam-lo Sam-kui.

Namun yang jelas ia tak mau menyerah begitu saja.

"Mulutmu sangat tajam, maka tiada jalan lain bagi kami selain membungkam mulutmu selama-lamanya! Nah, bersiaplah untuk mati!"

Orang tertua dari Gia lo Sam-kui menggeram, kemudian memberi aba-aba kepada saudaranya untuk menyerang.

"Wuuuuuus! Singgggg! Taaaaak"

Giam-lo Sam-kui tidak peduli lagi akan pandangan orang.

Sebagai seorang tokoh Tai-bong-pai mereka tidak malu-malu lagi mengeroyok seorang wanita muda.

Bagi mereka yang penting adalah menunaikan tugas yang diberikan oleh Jcetua mereka.

Mereka tidak ingin kehilangan kesempatan itu.

Mereka harus segera memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan buku Tai-bong Pit-kip itu kembali.

Mereka bertiga menyerang tanpa belas kasihan lagi.

Seluruh kemampuan mereka tercurah untuk secepatnya membunuh Kwa Yung Ling, kemudian mengeledahnya.

Kwa Yung Ling memang tidak bisa berbuat banyak.

Tai-bong Kui-bo saja kalah, apalagi dia.

Meskipun selendangnya yang berujung gelang itu sangat cepat dan bergerak lincah melindungi diri, tapi ketiga lawannya memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada dia.

Maka belasan jurus kemudian gerakan selendang itu justru menjadi kacau dan menyulitkan dirinya sendiri.

Beberapa kali gelang di ujung selendang itu malah berbalik menyerang dirinya.

Bahkan tangkai selendang itu sering membelit dan membelenggu tangannya sendiri.

"Hihihi, kelihatannya selendangmu justru ingin mengantung lehermu sendiri. Lihat saja...!"

Saudara termuda dari Giam-lo Sam-kui tertawa mengejek.

Benar juga.

Pertempuran selanjutnya ketiga Iblis Neraka itu selalu berusaha untuk mempengaruhi jalannya ujung selendang Kwa Yung Ling.

Mereka membuat gerakan agar selendang itu selalu berbalik menyerang kepada tuannya.

Dan hal itu tidak sulit mereka lakukan karena kepandaian mereka memang jauh lebih tinggi daripada Kwa Yung Ling.

Beberapa jurus kemudian wanita cantik itu benar-benar dalam kesulitan.

Beberapa kali ia ingin membuang selendangnya, tapi Giam-lo Sam-kui selalu mencegahnya.

Selendang itu selalu berbalik kembali ke dalam genggamannya.

Akhirnya dalam keputusasaannya Kwa Yung Ling nekat untuk mengadu jiwa.

Ia tidak lagi mempedulikan keselamatannya.

Selendang itu diputar di atas kepalanya, kemudian ia hentakan dalam jurus yang tak terduga.

Giam-lo Sam-kui memang terkejut bukan main.

Dalam gerakan ilmu silat Tai-bong-pai, tidak ada jurus memutar senjata sambil menghentak seperti itu.

Gerakan itu justru sangat membahayakan keselamatan sendiri, karena di dalam ajaran tenaga dalam Tai-bong-pai, gerakan tersebut justru akan memecah himpunan tenaga sakti di dalam tubuh, kemudian menutup seluruh jalan darah yang ada.

Menggunakan gerakan seperti itu sama saja dengan bunuh diri.

Tapi justru itu memang sengaja diciptakan oleh Tai-bong Kui-bo, yang kemudian diajarkan kepada Kwa Yung Ling, untuk sewaktu-waktu dipergunakan bila tidak ada jalan lain lagi.

(Lanjut ke

Jilid 17) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 17 Demikianlah, dalam keadaan kaget Giam-lo Sam-kui tidak menyangka kalau selendang yang berputar di atas kepala Kwa Yung Ling itu mendadak terputus menjadi beberapa bagian.

Dan mereka juga tidak menduga pula ketika potongan-potongan selendang itu tiba-tiba menerjang ke arah mereka.

Ternyata hentakan tenaga Kwa Yung Ling tadi telah memotong selendang itu menjadi beberapa bagian.

Mati-matian Giam-lo Sam-kui berusaha menghindar dari potongan selendang itu.

Mereka berjungkir balik sambil mengibaskan lengan baju mereka yang longgar.

Namun tetap saja beberapa potongan selendang melesat mengenai mereka.

Ketiganya meringis menahan sakit.

Ketika mereka berdiri tegak kembali, tampak baju mereka telah terbuka di sana-sini.

Bahkan darah mulai mengalir membasahi kain yang sobek itu.

Beruntung bagi mereka karena memiliki sinkang lebih tinggi, sehingga luka-luka itu tidak terlalu dalam.

"Keparat! Hampir saja dia membunuhku!"

Orang termuda dari Giam-lo Sam-kui mengumpat, karena dialah yang terparah lukanya.

Namun mereka tidak bisa menghukum Kwa Yung Ling lagi, karena sejalan dengan jurus terakhirnya itu maka seluruh jalan darah wanita itu telah tertutup, sehingga jantungnya juga berhenti berdenyut.

Wanita cantik itu telah mati mengikuti pengasuhnya.

Giam-lo Sam-kui bergegas mengobati luka-lukanya, kemudian cepat-cepat menggeledah tubuh kedua korbannya.

Dan sebuah buku kecil mereka dapatkan di balik pakaian Kwa Yung Ling.

"Ah, Tai-bong Pit-kip telah kita dapatkan kembali!"

Orang tertua dari Giam Lo Sam-kui berdesah kegirangan. Buku itu segera dimasukkannya ke dalam saku.

"Ji-te, Sam-te... ayoh, cepat kita tinggalkan tempat ini! Kita harus segera melaporkan penemuan ini kepada Yok Ciangbun (Ketua Yok)!"

Namun belum sempat mereka melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, segera seorang dara remaja berusia empat belas tahun menghambur datang.

Gadis itu berteriak setinggi langit begitu melihat mayat Kwa Yung Ling.

"Ibuuuuuu...!!!"

"Tahan! Bukankah anak ini... yok Ting Ting?"

Orang tertua dari Giam-lo Sam-kui tiba-tiba mencengkeram lengan kedua saudaranya.

"Kita tak usah pedulikan dia. Kita sudah membunuh kedua buruan itu dan sudah mendapatkan buku mereka pula. Kita tak usah membuang-buang waktu untuk mengurusi anak itu."

Orang kedua dari Giam-lo Sam-kui memperingatkan kakaknya.

"Benar, Twako. Perjalanan kita masih panjang. Kita tak usah mencari perkara yang lain. Biarlah anak itu mengurusi Ibu dan pengasuhnya."

Orang termuda dari Giam-lo Sam-kui berkata pula.

"Ah, bodoh benar kalian ini! Bagaimanapun juga dia adalah puteri Yok Ciangbun. Kedatangan anak ini akan menambah kegembiraan beliau. Hmm, ayoh... Kita bawa anak ini!"

Orang kedua dan ketiga dari Giam-lo Sam-kui tidak mau membantah lagi. Sambil saling memandang dan mengangkat pundaknya, mereka berdua cepat melangkah ke depan untuk meringkus Yok Ting Ting.

"Nona Yok, Ibumu sudah mati. Tak perlu kau tangisi lagi. Marilah sebaiknya kau ikut kami untuk menemui Ayahmu."

"Pembunuh! Kalian bertiga benar-benar manusia busuk! Kalian telah membunuh Ibuku dan Nenekku! Aku... aku... ah, kubunuh kalian bertiga!"

Yok Ting Ting berteriak tinggi, kemudian dengan nekad melompat dan memukul orang tertua dari Giam-lo Sam-kui.

Tapi hanya dengan sebelah tangan orang tertua dari Giam-lo Sam-kui menangkap pergelangan tangan Yok Ting Ting.

Kemudian hanya dengan sekali sentak gadis itu terkulai lemas dalam pelukannya.

Sebuah totokan jari telah membuat gadis itu tak berdaya.

Namun sebelum ketiga iblis itu beranjak pergi, dari balik air terjun terdengar suara bentakan nyaring.

"Lepaskan anak itu...!"

Dengan gesit Giam-lo Sam-kui membalikkan badan.

Dan mata mereka segera menangkap dua sosok bayangan wanita berkelebat menghampiri tempat itu.

Salah seorang dari bayangan itu tiba-tiba telah berdiri di depan mereka, sementara bayangan yang lain melesat ke tempat di mana Tio Siau In tergeletak.

Sekejap ketiga iblis itu melongo menyaksikan wajah cantik berkesan agung itu.

"Engkau... siapa?"

Di dalam kekagetan mereka orang tertua dari Giam-lo Sam-kui itu bertanya. Wanita cantik di depan Giam-lo Sam-kui, yang tidak lain adalah Bibi Lian itu berdesah pendek.

"Kalian tak perlu tahu... siapa kami berdua. Kami hanya meminta agar anak itu dilepaskan!"

"Oh...!"

Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui menggeram. Kulit wajahnya yang pucat itu kembali memerah. Hatinya tersinggung.

"Tahukah kau... siapa gadis ini? Dia puteri ketua kami yang hilang sejak dua tahun lalu. Kami telah menemukannya kembali dan akan membawanya ke Tai-bong-pai. Nah, apakah kau tetap ingin mencampuri urusan kami?"

"Bohong...! Penjahat ini berbohong! Aku bukan anak Yok si Ki! Orang-orang ini justru telah membunuh Ibu dan Nenekku!"

Tak terduga Yok Ting Ting berteriak keras sekali.

Tentu saja Giam-lo Sam-kui menjadi marah sekali.

Kelima jari-jari tangan kanannya tiba-tiba terayun ke ubun-ubun Yok Ting Ting.

Gadis itu menjadi pucat seketika.

Dia tak mungkin bisa mengelak, karena tubuhnya tertotok lemas dan tak bisa bergerak!

Namun di dalam situasi yang kritis itu mendadak terdengar suara berdesis seperti suara bara api terjatuh ke dalam air.

"Cush!"

Dan Giam-lo Sam-kui tiba-tiba melihat cahaya kebiruan melesat menerjang ke arah jari tangannya yang hendak mencoblos kepala Yok Ting Ting!

Ujung jari yang hampir menembus ubun-ubun Yok Ting Ting itu cepat ditarik kembali.

Sebagai gantinya orang tertua dari Giam-lo Sam-kui itu mengebutkan ujung lengan bajunya ke arah cahaya yang datang.

"Taaak...! Taaaak!"

Tak terasa lengannya bergetar hebat seperti menahan gempuran pedang, sehingga Yok Ting Ting terlepas dari pelukannya!

Dan pada saat itu pula wanita cantik tersebut berkelebat menyambar tubuh gadis itu!

"Aaiiih...!?"

Tiga Iblis dari Neraka itu membelalakkan mata mereka.

Ujung lengan baju saudara tertua mereka tampak berlubang di kedua sisinya.

Lubang sebesar ujung jari itu bagaikan lubang bekas tertembus anak panah.

"Kau... Kau dari keluarga Souw?"

Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui bertanya gugup.

"Benar! Ia memang puteri kesayangan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!"

Tiba-tiba dari pinggir arena terdengar suara lembut dan merdu.

Semuanya berpaling dengan cepat ke arah suara itu.

Di tepian kolam, di mana air terjun itu tertumpah tampak seorang gadis cantik bak bidadari.

Tubuhnya yang tinggi langsing itu melenggang gemulai bagaikan pohon yang-liu tertiup angin.

Sementara itu wajahnya yang bulat telur kelihatan bercahaya laksana bintang kejora.

Kalau Giam-lo Sam-kui terbelalak matanya melihat kecantikan yang tiada tara itu, sebaliknya Bibi Lian tersentak keheranan seperti melihat hantu!

"Kau...

Kau siapa?

Bagaimana kau bisa mengenal aku?"

Gadis ayu itu tersenyum sambil memberi hormat kepada Bibi Lian.

"Cici, kau tentu telah melupakan Adikmu, karena akupun hampir melupakan wajahmu pula. Tapi Ayah telah memberikan ciri-ciri wajahmu, sehingga aku bisa mencarimu..."

"Kau... Kau mencariku? Apakah kau... souw Giok Hong?"

Gadis ayu yang kemarin berjumpa dengan Tio Siau In di atas kuburan itu mengangguk.

"Benar, Cici Lian Cu. Ayah sangat prihatin dan tidak pernah percaya kalau kau mati dalam musibah kebakaran itu. Beliau tetap mencarimu kemana-mana bersama Ibu. Beruntunglah aku bisa melacakmu sampai di tempat ini. Cici, Ayah sangat kangen padamu..."

Terdengar suara tertahan di tenggorokan wanita bertangan buntung itu.

Matanyapun tampak berkaca-kaca.

Perlahan-lahan tangannya yang memegang Yok Ting Ting itu terkulai lemas, sehingga gadis remaja itu melorot turun ke atas rumput.

Sementara itu Giam-lo Sam-kui saling memberi isyarat untuk secara diam-diam meninggalkan tempat tersebut, karena melihat kesaktian wanita buntung tadi mereka sadar bahwa mereka tak mungkin bisa menghadapinya.

Apalagi wanita itu masih memiliki dua orang kawan yang belum mereka ketahui kepandaiannya.

Namun mereka percaya bahwa kedua orang itu tentu memiliki kesaktian yang serupa pula.

Tapi ketika Giam-lo Sam-kui mulai bergerak melangkahkan kakinya, gadis ayu yang baru datang itu cepat membentak.

"Berhenti...! Kalian telah membunuh orang! Hmm, bagaimana mungkin pergi begitu saja?"

Bukan main malunya ketiga iblis neraka itu.

Mereka benar-benar menjadi marah sekarang.

Walaupun tahu berhadapan dengan tokoh sakti yang mereka perkirakan dari keluarga Souw, tapi mereka juga pantang dihina.

Bagaimanapun juga mereka adalah tokoh dari partai persilatan terkenal pula.

"Hmmh! Peduli apa dengan engkau? Kami adalah petugas Pengawas Hukum dari Tai-bong-pai! Dan kedua wanita yang kami bunuh itu adalah anggota-anggota partai kami yang harus kami adili karena telah berbuat kesalahan! Apakah engkau hendak mencampuri urusan kami?"

Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui menggeram.

Ketiga Iblis Neraka itu lalu berdiri berdampingan, siap untuk bertempur.

Sebaliknya gadis ayu itu tergagap bingung mendengar ucapan lawannya.

Melihat hal itu Bibi Lian atau Lian Cu segera memunahkan totokan Yok Ting Ting dan bertanya kepada gadis itu.

"Benarkah Nenek dan Ibumu anggota Partai Tai-bong-pai?"

Gadis remaja itu memandang jenazah ibu dan pengasuhnya. Air matanya kembali bercucuran.

"Orang-orang itu sangat jahat! Mereka adalah Giam-lo Sam-kui! Mereka...uhuk-huk...!"

"Jawablah pertanyaanku dulu! Benarkah Ibu dan Nenekmu itu anggota Partai Tai-bong-pai seperti mereka?"

Wanita bertangan buntung itu kembali mendesak. Sambil tersedu-sedu Yok Ting Ting mengangguk.

"Tapi... tapi Ibuku dipaksa oleh..."

Jawabnya tersendat, lalu tiba-tiba terdiam kembali dan tak mau melanjutkan kata-katanya.

"Ya, sudah! Kalau begitu urusan ini memang urusan Partai Tai-bong-pai sendiri! Orang luar tidak berhak untuk mencampurinya."

Wanita buntung itu melirik Souw Giok Hong.

"Tapi... dia telah membunuh Ibuku! Aku harus membunuhnya!"

Yok Ting Ting melengking tinggi. Wanita berlengan buntung itu melepaskan pegangannya.

"Kalau engkau sendiri yang hendak melawan mereka, silakan...! kau dan mereka memang sama-sama anggota Tai-bong-pai! Cuma... Hm, rasanya kepandaianmu masih terlalu lemah dibandingkan mereka. Melawan mereka sekarang, sama saja dengan bunuh diri. Dan hal itu berarti dendam Ibu dan Nenekmu tidak ada yang membalaskan."

Yok Ting Ting terbelalak.

Di balik ucapannya wanita cantik itu seolah-olah memberi harapan kepadanya.

Harapan untuk belajar ilmu silat kepadanya.

Dan ketika menoleh, gadis ayu bak bidadari tadi juga tampak mengedip-ngedipkan mata kepadanya.

Akhirnya Yok Ting Ting memberi hormat.

"Bibi, kau... Kau mau menerima aku sebagai murid?"

Katanya dengan suara gemetar. Wanita cantik itu menghela napas. Matanya menerawang jauh, seperti ada banyak masalah yang sedang membebani pikirannya.

"Sudahlah, hal itu bisa kita pikirkan belakangan. Sekarang biarkanlah Giam-lo Sam-kui pergi. Lebih baik kita urus sendiri jenazah Ibu dan Nenekmu."

Akhirnya wanita cantik itu berdesah dengan suara berat.

Lalu tangannya dikibaskan untuk memberi isyarat agar lawannya segera pergi meninggalkan tempat itu.

Bagi Giam-lo Sam-kui yang penting adalah tugas yang diberikan oleh ketua mereka, yaitu mencari Tai-bong Kui-bo dan Buku Pusaka Tai-bong Pit-kip.

Sekarang mereka telah berhasil menyelesaikan tugas tersebut dengan baik.

Selain sudah berhasil menemukan Tai-bong Kui-bo dan membunuhnya, mereka juga berhasil mendapatkan Tai-bong Pit-kip pula.

Oleh karena itu urusan Yok Ting Ting sebenarnya tidak penting bagi mereka.

Kalau tadi mereka berniat menangkap gadis itu, sesungguhnya hanya untuk menyenangkan ketua mereka saja.

Maka melihat Yok Ting Ting sekarang dilindungi oleh orang-orang yang lebih kuat, mereka tidak ingin mencari kesulitan lagi.

Mereka bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Begitu ketiga iblis itu pergi, Yok Ting Ting segera menubruk mayat ibunya dan menangis sekuat-kuatnya.

Sementara itu dari arah lain Bibi Lan datang bersama Tio Siau In.

Wanita cantik itu, yang begitu tiba tadi langsung menghampiri tubuh Siau In, berhasil menyelamatkan gadis itu dari maut.

Wajah Tio Siau In kelihatan pucat sekali.

Meskipun dapat berjalan, namun gadis itu masih tampak lemah sekali.

Serangan Giam-lo Sam-kui dan Tai-bong Kui-bo tadi benar-benar telah melukai bagian dalam tubuhnya dengan parah.

Apabila tadi tidak cepat-cepat ditolong oleh Bibi Lan, mungkin dia sudah mati.

"Cici Tui Lan...? Benarkah?"

Melihat kedatangan wanita cantik itu, Souw Giok Hong tiba-tiba berseru gembira.

Wanita cantik yang datang bersama Siau In itu terkejut.

Matanya menatap Souw Giok Hong dengan tajamnya.

Karena merasa belum pernah kenal juga, maka ia memandang Lian Cu, seakan-akan menuntut penjelasan.

"Lan-moi, kau masih ingat gadis kecil yang sering digendong Ayahku dahulu"

Wanita bertangan buntung itu akhirnya berkata pelan.

"Maksudmu dia ini... giok Hong?"

Wanita yang datang bersama Siau In itu bertanya ragu. Lian Cu mengangguk sambil meraih pundak Giok Hong.

"Benar, Lan-moi entah bagaimana caranya dia sampai bisa menemukan persembunyian kita ini. Padahal sudah dua belas tahun kita menghilang dan kukira setiap orang juga beranggapan bahwa kita sekeluarga telah terbakar hangus di dalam Istana itu. Aaah!"

Wanita cantik itu berdesah sedih.

"Semua orang memang berpendapat begitu, karena perajurit yang memeriksa reruntuhan Istana itu telah menemukan mayat dua wanita yang sedang memeluk anak-anaknya. Jadi semua orang menganggap bahwa Cici sekeluarga memang telah menjadi korban kebakaran itu. Cuma... ayah dan Ibu yang tidak percaya pada khabar itu. Menurut Ayah, Cici bedua memiliki kepandaian tinggi. Tidak mungkin Cici mati hanya karena kobaran api itu. Dan sampai sekarangpun Ayah tetap mencari Cici."

Sekali lagi wanita bertangan buntung itu berusaha menahan sedu-sedannya. Terbayang kembali wajah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, ayahnya, yang kini tentu sudah tua.

"Aku bersama kakakmu Tui Lan memang dapat menyelamatkan diri. Tapi anak-anak...? Ah, kasihan sekali mereka..."

Sementara itu Siau In yang tidak pernah melupakan wajah Giok Hong, menyapa dengan suara lemah pula.

"Hei, Cici... ternyata kita bertemu kembali."

"Ah, kau? Mengapa kau tampak kesakitan begitu? Apakah engkau terluka?"

Giok Hong menyahut kaget.

"Aku terkena pukulan Perempuan Bongkok yang kukatakan tadi malam itu. Kebetulan aku menemukannya di dekat air terjun ini dan sedang berkelahi dengan lawan-lawannya. Tetapi ketika mereka melihat aku, entah mengapa... tiba-tiba semuanya berbalik menyerangku."

Siau In bercerita dengan suara lirih dan agak gemetar.

"Begitukah? Padahal sebenarnya Perempuan Bongkok itu tidak begitu jahat. Kelakuannya yang aneh itu disebabkan oleh keinginannya untuk melindungi anak dan cucunya, lihatlah, dia telah menjadi korban lawan-lawannya!"

"Oooh! Lalu... Kemana tiga orang lawannya itu? Apakah mereka menemukan anak dan cucunya?"

Souw Giok Hong mengangguk sambil menunjuk Yok Ting Ting yang sedang menangisi mayat ibunya "Itu dia anak dan cucunya. Hampir saja mereka mati di tangan orang-orang itu."

"Sudahlah!"

Tui Lan atau Bibi Lan menengahi.

"Kita urus dulu mayat mereka! Setelah itu kita bisa berbincang-bincang lagi sepuasnya. Bagaimana? Setuju?"

Lian Cu dan Giok Hong mengangguk.

Mereka lalu membujuk Yok Ting Ting, agar merelakan kedua orang tuanya dikuburkan.

Semakin cepat dikuburkan akan semakin baik buat mereka.

Semula Yok Ting Ting menolak.

Gadis yang sekarang merasa sebatangkara dan tidak memiliki sanak saudara lagi itu tidak memperbolehkan ibunya dikubur.

Namun setelah Lian Cu dan Tui Lan membujuknya, gadis itu mau juga menurut.

Sambil menimbun tanah ke liang lahat, Lian Cu mendekati Giok Hong.

Ia berbisik ke telinga gadis ayu itu.

"Eh, Giok Hong! Bagaimana dengan Pangeran Liu yang kun? Apakah dia telah pulang ke Istana?"

Tapi gadis ayu itu menggelengkan kepalanya.

"Belum, Cici. Sampai sekarang Pangeran Liu yang kun belum muncul juga. Entahlah, semua orang juga sudah melupakannya. Malah sekarang Permaisuri Li telah mengangkat puteranya sendiri untuk menggantikan Pangeran Liu yang kun menjadi putera mahkota. Anehnya... pangeran mahkota yang baru itu mendadak juga hilang dari Istana. Persis seperti peristiwa hilangnya Pangeran Liu yang kun pada lima belas tahun yang lalu. Dan sekarang sudah lebih dari dua tahun pangeran muda itu menghilang dari Istana. Permaisuri Li sudah berkali-kali mengerahkan pasukan rahasia untuk mencari puteranya itu."

Terdengar tarikan napas yang berat di dada Lian Cu. Matanya juga menerawang jauh. Kenangannya bersama Pangeran Liu yang kun kembali terbayang di depan matanya.

"Apakah dia benar-benar sudah tiada...?"

Lian Cu bergumam seperti kepada dirinya sendiri.

Memang sebenarnyalah bahwa kedua wanita cantik itu adalah isteri Pangeran Liu yang kun.

Mereka bernama Han Tui Lan dan Souw Lian Cu.

Mereka berdua merupakan jago-jago silat berkepandaian tinggi, sebelum menjadi isteri Pangeran Liu yang kun.

Han Tui Lan adalah Anggota Aliran Im-yang-kauw, sedangkan Souw Lian Cu adalah puteri Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dari isteri pertamanya.

Seperti telah dituturkan pada permulaan cerita ini, Istana Pangeran Liu yang kun terbakar habis bersama seluruh isinya.

Semua orang berpendapat bahwa keluarga Pangeran Liu yang kun habis terbakar api.

Namun anggapan itu ternyata tidak benar.

Kedua isteri Pangeran Liu yang kun dan putera-puteri mereka ternyata dapat lolos dari malapetaka tersebut.

Semuanya selamat walaupun terpisah dan saling tidak mengetahui keadaan masing-masing.

Han Tui Lan dan Souw Lian Cu dapat menyelamatkan diri dengan luka bakar di seluruh badan mereka.

Sedangkan putera-puteri mereka dapat diselamatkan oleh Tabib Tong Kian Teng, walaupun akhirnya anak-anak tersebut juga hilang di dalam perjalanan mereka.

Karena mengira anak-anak mereka sudah mati, apalagi mereka berdua juga menderita luka bakar yang parah, maka Souw Lian Cu dan Han Tui Lan sengaja menyembunyikan diri di gua itu sambil mengobati luka-lukanya.

Sepuluh tahun telah berlalu dan mereka sudah dapat melupakan peristiwa sedih itu.

Namun peristiwa tak terduga pada hari ini, telah membangkitkan kembali kenangan lama mereka.

Kenangan yang sangat menyakitkan, yang membuat luka di hati mereka seolah-olah terkoyak kembali.

"Lalu... bagaimana dengan mayat para dayang dan anak-anak yang ditemukan setelah kebakaran itu? Apakah mereka juga dikuburkan secara layak? Hmm, kasihan sekali para dayang itu! Mereka tentu telah berusaha menyelamatkan anak-anak..."

Souw Lian Cu meneruskan pertanyaannya begitu upacara penguburan itu selesai.

"Benar, Cici. Mereka dimakamkan secara terhormat, karena semua orang memang menyangka bahwa mereka adalah isteri dan putera-puteri Pangeran Liu yang kun. Permaisuri Li malah mengadakan upacara kebesaran di seluruh negeri. Ah... semua orang tentu akan kaget sekali kalau tiba-tiba Cici berdua muncul di depan mereka."

"Jangan dipikirkan dulu masalah itu! Sebaliknya kita mengatur rencana sebelum melangkah. Dan pertama-tama... Kita bicarakan dulu masalah Yok Ting Ting ini. Eh... Namamu Yok Ting Ting, bukan? Kudengar Giam-lo Sam-kui menyebut namamu tadi..."

Souw Lian Cu mengalihkan pembicaraan kepada Yok Ting Ting. Gadis yang masih dibalut kesedihan itu mengangguk.

"Kau boleh memilih, tinggal bersama kami atau pulang ke Tai-bong-pai?"

Souw Lian Cu bertanya dengan suara perlahan. Yok Ting Ting menundukkan mukanya. Beberapa kali dia mengusap matanya yang basah.

"Aku... aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Semua orang Tai-bong-pai juga memusuhi aku. Maka... Kalau diperbolehkan aku akan tinggal di sini saja. Aku bisa membantu apa saja. Memasak, menyediakan teh, mencuci pakaian..."

Ucapan itu benar-benar menyentuh lubuk hati Souw Lian Cu dan Han Tui Lan.

Mereka jadi ingat akan anak-anak mereka sendiri, yang tidak dapat mereka asuh karena musibah itu.

Mereka tentu telah tumbuh sebesar Yok Ting Ting atau Tio Siau In ini apabila masih hidup.

Dengan penuh kelembutan Han Tui Lan lalu mengelus rambut Yok Ting Ting.

Bahkan matanya tampak berkaca-kaca ketika berkata.

"Anak manis, jangan khawatir! kau boleh tinggal bersama kami sesukamu. Sampai kau bosan. Lihatlah, kau akan mempunyai banyak teman di sini. Gadis ayu yang ada di depanmu ini bukan bidadari, tapi adik Bibi Lian Cu. Namanya... souw Giok Hong. Dan gadis di dekatku ini bernama Tio Siau In, dari Aliran Im-yang-kauw. Dia akan lama berada di sini, karena luka dalamnya sangat parah. Mudah-mudahan aku dan Bibi Lian Cu bisa menyembuhkan lukanya."

Yok Ting Ting melelehkan air mata saking gembiranya.

Ia segera berlutut di depan Han Tui Lian dan Souw Lian Cu.

Han Tui Lan dan Souw Lian Cu saling pandang dengan tersenyum.

Mereka berdua benar-benar merasa bahagia, seolah-olah kehilangan mereka akan keluarga selama ini sedikit terhibur dengan kedatangan mereka.

Gua yang sepi itu tiba-tiba terasa semarak.

Mereka lalu saling menceritakan pengalaman mereka masing-masing.

Souw Lian Cu bercerita tentang penderitaannya bersama Han Tui Lan pada waktu menyelamatkan diri dari Istana dua belas tahun lalu.

Mereka berdua berlari tanpa mengenakan sepotong pakaianpun di tubuh mereka.

Baju yang mereka pakai telah habis dimakan api.

Bahkan hampir semua kulit tubuh mereka melepuh, sementara rambut di kepala mereka juga tidak ada tersisa sama sekali.

Oleh karena itu selain merasa kesakitan, mereka juga malu bertemu orang.

Keadaan mereka pada waktu itu lebih pantas disebut mayat daripada manusia hidup.

Begitulah, mereka lalu mencari tempat sunyi untuk bersembunyi dan mengobati luka-luka mereka.

"Mengapa Cici tidak pulang saja ke rumah? Ayah dan Ibu tentu akan mengobati luka-luka itu."

Souw Giok Hong menyela keputusan kakaknya untuk menyendiri. Han Tui Lan tersenyum.

"Ah, saat itu kami benar-benar sudah putus asa. Suami hilang, anak mati terbakar, sementara kami sendiri juga lebih pantas disebut kuntilanak daripada manusia."

"Ya... Mana ada keinginan untuk kembali lagi?"

Souw Lian Cu menambahkan sambil tersenyum.

"Tapi sekarang Cici berdua telah pulih menjadi cantik lagi."

Souw Giok Hong memuji.

"Ah, kami telah menjadi tua sekarang. Dan kami berdua merasa betah di tempat ini, sehingga kami tidak ingin kemana-mana lagi."

"Cici, kau...?"

Souw Giok Hong tiba-tiba cemberut.

"Sudahlah! Sekarang ganti kau yang bercerita. Bagaimana kau dapat menemukan kami di sini?"

Souw Lian Cu cepat mengalihkan pembicaraan lagi.

Merasa belum puas bicara tentang kakaknya, Souw Giok Hong hampir saja tidak mau bercerita tentang dirinya.

Tapi dengan nada halus dan lembut akhirnya Han Tui Lan bisa juga membujuknya, sehingga gadis itu lalu menceritakan pengalamannya.

"Ayah sering mengajak aku dan Ibu berkeliling ke seluruh pelosok negeri untuk mencari jejak dan berita Cici. Walaupun semua orang menganggap kami gila, tapi kami tak peduli. Dan bertahun-tahun kemudian, setelah aku selesai mempelajari ilmu silat Keluarga Souw, aku berusaha mencari Cici sendiri. Setiap kali mendengar berita tentang pendekar wanita yang muncul di dunia kang-ouw, aku segera mencarinya."

"Giok Hong, kau memang gila... Mencari orang yang sudah dianggap mati!"

Souw Lian Cu menyela.

"Tetapi... bukankah jerih payahku tidak sia-sia? Akhirnya aku juga dapat menemukan Cici berdua."

Souw Lian Cu menatap adik tirinya dengan perasaan haru.

"Baiklah, teruskan ceritamu!"

Souw Giok Hong tersenyum, lalu melanjutkan ceritanya.

"Sebulan yang lalu aku mendengar dongeng tentang Dewi Bulan yang sering muncul di daerah pantai timur ini. Malah selain Dewi Bulan aku juga mendengar cerita tentang Perempuan Bongkok pula. Demikianlah, hampir sebulan lamanya aku berkeliaran di daerah ini untuk menemui Dewi Bulan atau Perempuan Bongkok itu. Siapa tahu salah seorang di antara mereka adalah Cici?"

"Benar. Aku malah melihat sendiri penduduk kampung di tepi sungai itu mengadakan upacara memanggil Dewi Bulan di atas tebing. Ketika aku membuntuti mereka, tiba-tiba datang Perempuan Bongkok menculik salah seorang di antara mereka. Eh...??"

Tak terasa Siau In menyela.

Tapi mulutnya segera terdiam manakala menyebut si Perempuan Bongkok.

Dia segera sadar bahwa perempuan bongkok itu adalah pengasuh Yok Ting Ting.

Untunglah Yok Ting Ting tidak merasa tersinggung oleh ucapan Siau In.

Bahkan.

gadis itu mau memberi penjelasan kepada mereka.

"Maaf, Cici. Orang-orang Tai-bongpai memang memiliki sifat dan adat istiadat aneh yang lain dari orang kebanyakan. Kami sering dianggap jahat dan disebut sebagai pengikut ajaran ilmu hitam. Bahkan untuk mempelajari ilmu silat Tai-bong-pai, sering dilakukan dengan cara-cara yang aneh. Dengan upacara-upacara mistik serta menggunakan benda-benda yang dianggap bertuah. Dan salah satu di antara benda bertuah yang dapat menambah kekuatan kami adalah... Memanfaatkan zat yang keluar dari mayat manusia."

"Mayat manusia...?"

Siau In bergidik ngeri.

"Ya! Itulah yang dilakukan Tai-bong-Kui-bo selama ini. Untuk menambah kekuatan Ilmu Perampas Ingatan yang sedang dia pelajari, dia harus banyak menyadap dari bangkai manusia. Karena sudah kehabisan bangkai manusia, maka Tai-bong Kui-bo mulai menculik orang kampung. Ah, kasihan dia. Dia melakukan hal itu karena ingin membalaskan dendam kami kepada Ketua Tai-bong-pai."

"Hei! Bukankah mereka masih satu perguruan?"

Souw Giok Hong bertanya keheranan.

Wajah Yok Ting Ting tiba-tiba berubah.

Mulutnya terdiam, tapi sinar matanya menyimpulkan kesedihan, kegeraman, sekaligus juga keputusasaan yang dalam.

Souw Lian Cu cepat menepuk pundak Yok Ting Ting.

"Sudahlah! kau tak usah menceritakannya kalau keberatan."

Sekonyong-konyong Yok Ting Ting memeluk Souw Lian Cu dan menangis sekeras-kerasnya.

Tentu saja kelakuannya itu mengagetkan yang lain.

Namun dengan sabar dan telaten Han Tui Lan dan Souw Lian Cu membujuk dan membesarkan hatinya.

Akhirnya Yok Ting Ting mau juga menceritakan siapa sebenarnya dia dan ibunya.

Siapa pula sesungguhnya Tai-bong Kui-bo itu.

Dia juga bercerita tentang aib yang disandang ibunya.

Bagaimana penderitaan ibunya selama ini.

Mereka sangat membenci Yok si Ki.

Benci sekali.

Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.

karena bagaimanapun juga orang itu adalah ayahnya.

Semuanya berdesah dan menggeram, seolah-olah ikut terbuai dalam kekalutan pikiran Yok Ting Ting.

Terutama Tio Siau In.

Gadis yang biasanya acuh tak acuh dan suka berbuat sekehendak hatinya itu, seperti bisa merasakan penderitaan Yok Ting Ting dan ibunya.

"Sudahlah, kau benar. kau memang tidak boleh memusuhi Ayahmu sendiri. Perbuatannya yang tak terpuji itu tentu akan mendapatkan balasan nanti. Biarkan saja orang lain yang melakukannya. Sekarang tenangkanlah hatimu di sini. Anggaplah kami semua ini sebagai pengganti keluargamu."

Souw Lian Cu menghibur.

"Te-terima kasih! Terima kasih...!"

Yok Ting Ting sekali lagi memberi hormat sambil meneteskan air mata. Untuk beberapa saat mereka hanyut dalam keharuan. Tapi Siau In segera mengganggu keheningan itu dengan pertanyaannya.

"Cici Hong, kau belum selesai dengan cerita Dewi Bulanmu tadi. Selesaikan dulu, dong!"

Souw Giok Hong tidak menjawab. Justru Souw Lian Cu yang meneruskan kisah adiknya itu.

"Ternyata daya cium Giok Hong kali ini memang benar. Meskipun sempat dikacaukan oleh keberadaan Tai-bong Kui-bo di sini, tapi tokoh yang dianggap sebagai Dewi Bulan itu memang kami berdua adanya. Dan anggapan penduduk itu berawal dari seringnya kami berdua membantu segala macam kesulitan mereka secara diam-diam. Oleh karena kami hanya berani keluar di malam hari, maka mereka menganggap kami sebagai seorang dewi. Dan sebagai imbalan atas bantuan itu mereka mengadakan persembahan makanan kepada kami. Ah, mereka memang terlalu bodoh dan sederhana..."

"Untunglah pada saat-saat terakhir aku bisa melihat Cici. Kalau tidak, ah... aku tentu akan segera pergi begitu melihat perempuan bongkok itu bukan Cici. Dalam benakku perempuan bongkok itu juga... dewi Bulan."

Souw Lian Cu memeluk adiknya.

"Thian memang telah mentakdirkan kita bersua kembali."

Demikianlah, mulai hari itu Tio Siau In tinggal bersama mereka untuk memulihkan kembali luka-lukanya.

Dia memang selalu teringat kepada kakaknya.

Tapi dengan keadaannya sekarang, tidak mungkin dia bisa meninggalkan tempat itu.

* * * Sementara itu jauh di luar Kota Hang-ciu, di sebuah pondok kecil yang terpencil di tengah-tengah rawa, Tio Ciu In benar-benar berada dalam keadaan putus asa.

Dengan badan lumpuh akibat totokan dan dada terbuka akibat kekasaran Ho Bing, gadis itu meratapi nasibnya.

Tiada aib yang lebih menyakitkan dan memilukan hati seorang gadis selain diperkosa oleh laki-laki yang dibencinya.

Dan kini Tio Ciu In akan mengalami hal seperti itu, diperkosa oleh seorang pengemis yang belum pernah dikenalnya.

Demikianlah, dalam keadaan putus asa segala macam usaha segera dicoba oleh Tio Ciu In.

Ketika tiba-tiba muncul bayangan Pendekar Buta di benaknya, maka gadis itu segera ingat akan pesannya.

Apabila ingin berjumpa dengan orang tua itu dia harus menyanyikan lagu "Menanti Kekasih."

Dan harapan itulah yang sekarang dicoba oleh Tio Ciu In.

Dia menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan.

Dia tak peduli lagi apakah lagu itu dapat didengar atau tidak.

Apabila di malam gelap gulita, Tiba-tiba muncul Bulan Purnama.

Malampun bagai tersentak dari tidurnya, Menyambut hangatnya Sang Pelita Malam!

Kekasihku?

Aku selalu mengharap kedatanganmu!

Karena merasa tak berpengharapan lagi, maka suara itu bebar-benar bergetar dari lubuk hati.

Suaranya mengalun pedih penuh dengan dorongan perasaan.

Maka getaran suara yang terciptapun mampu menggetarkan udara di sekitarnya.

Sementara itu si Tongkat Bocor Ho Bing meninggalkan ruangan tersebut dengan hati mendongkol.

Ketika menyanggupi perintah Mo Goat, dia sudah berpesan bahwa dia akan bekerja sendiri dan tidak mau diganggu sebelum selesai menunaikan tugasnya.

Maka kedatangan seseorang di saat seperti itu benar-benar tidak disukainya.

"Bangsat kurang ajar! Kalau urusan yang dibawa cuma sepele, akan kubunuh orang itu!"

Ho Bing agak terkejut juga ketika sampai di ruang tengah.

Ruangan berukuran tiga tombak persegi itu penuh dengan bangkai serigala.

Begitu pula halnya dengan ruangan depan.

Bau darah terasa anyir memuakkan.

Ruangan depan itu tampak sepi.

Halaman depan yang terlihat dari pintunya yang terbuka juga kelihatan sunyi.

Yang tampak hanya tumpukan bangkai serigala di mana-mana.

Ho Bing mulai curiga.

"Bbrrrrrrh!"

Tiba-tiba seekor elang putih menukik dari atas dan terbang masuk ke dalam rumah.

Ho Bing meloncat mundur.

Namun sebelum kakinya mendarat, matanya terbelalak kaget!

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba di depan pintu telah berdiri seorang lelaki berambut panjang.

Wajahnya putih pucat, seputih warna pakaian yang dipakainya.

"Kau... Kau siapa? Mengapa kau masuk rumah orang seenaknya? kau kah yang membunyikan lonceng?"

Di dalam kegugupannya Ho Bing membentak garang.

"Benar. Akulah yang menarik loncengmu. Tapi kau tak perlu tahu namaku, karena aku hanya ingin mengambil gadis yang datang bersamamu tadi."

Orang yang berpenampilan aneh dan menakutkan itu menjawab dengan suara dingin.

Ho Bing menggeram.

Jawaban orang itu benar-benar memuakkan hatinya, sehingga hasratnya untuk membunuh orang benar-benar timbul sekarang.

"Kurang ajar! Enak saja kau bicara! kau kira mudah mengambil sesuatu dari tangan si Tongkat Bocor Ho Bing?"

Tak terduga orang itu meludah.

"Aku! tidak peduli! Untuk menyingkirkan kau tak perlu waktu lama. Paling-paling cuma dua jurus saja! Itupun nyawamu sudah melayang!"

Saking marahnya Ho Bing malah tak bisa bicara lagi.

Tongkatnya segera terayun ke depan dengan derasnya.

Kekuatannya sungguh hebat luar biasa, sehingga tongkat berlubang itu mengeluarkan suara melengking seperti suling.

Namun pada saat yang hampir bersamaan, orang itu juga melesat ke depan untuk menyongsong tongkat Ho Bing.

Tubuhnya berputar cepat di udara, sementara telapak tangannya menyambar ke arah kepala Ho Bing.

Kecepatannya benar-benar sulit diikuti dengan pandang mata biasa.

Ho Bing hanya bisa melihat lawannya menerjang ke arah dirinya dengan cara berputar seperti gasing di udara.

Tapi akibatnya sungguh di luar dugaan!

Rambut Ho Bing yang digelung ke atas itu tiba-tiba jatuh ke tanah!

Rambut itu seolah-olah dipangkas dengan pisau cukur!

Wajah Ho Bing seolah-olah tak berdarah lagi!

Putih pucat seperti mayat!

Apalagi ketika menyadari bahwa rambut itu hanya ditabas dengan sisi telapak tangan saja!

Oh, kalau saja tebasan tangan itu sejengkal lebih ke bawah, pikirnya.

Ho Bing benar-benar menjadi lemas.

Dia yang selama ini sangat ditakuti orang, ternyata ditaklukkan orang dalam satu gerakan saja.

Sungguh suatu kepandaian yang amat mentakjubkan!

"Tu-tuan...

si-siapa?"

Ho Bing bertanya dengan suara gemetaran.

Untunglah pada saat itu juga terdengar suara nyanyian Tio Ciu In, mengalun perlahan melintasi ruangan tersebut.

Hawa pembunuhan yang memenuhi ruangan itu mendadak surut kembali.

"Hmmh... sedang apa dia? Mengapa bernyanyi-nyanyi begitu? Apa dia sedang mandi, heh?"

Orang berambut panjang itu menurunkan tangannya, lalu melangkah ke ruang dalam.

Ho Bing mencoba menggerakkan kakinya untuk menghadang, tetapi tidak bisa.

Kekuatannya seperti tidak ada lagi.

Dan pada saat itu pula sekonyong-konyong dari ruang dalam menyambar burung elang putih, yang tadi masuk ke dalam rumah.

Burung itu terus melesat keluar dan terbang tinggi ke udara.

"Hehehe...! Tampaknya kau ingin memanggil bantuan dengan burungmu itu?"

Orang berambut panjang itu berhenti melangkah dan berpaling sambil tertawa menghina. Ho Bing terkejut. Dia juga mengira burung itu milik lawannya.

"Jadi... burung itu... burung itu juga bukan milik Tuan?"

"Apa...? Jangan mengada-ada! Huh!"

Wajah Ho Bing menjadi merah!

Hatinya sungguh amat sakit.

Biarpun berpakaian pengemis, tapi selama ini tak seorangpun berani membentak-bentak dirinya seperti itu!

Bahkan setiap orang cenderung segan dan takut kepadanya!

Namun apa boleh buat, sekali ini lawannya memang benar-benar bukan tandingannya.

Sedikit saja ia salah ngomong, nyawanya bisa melayang.

Oleh karena itu dia tidak boleh bermain kasar.

Dia harus pandai-pandai melihat keadaan, dia harus menghadapinya dengan kecerdikan.

"Baiklah! Tuan boleh mengambil gadis itu. Tapi sebelumnya perkenankanlah aku mengetahui nama besarmu agar hatiku merasa puas karenanya."

Ho Bing memberi hormat. Wajah pucat itu tampak sangat puas.

"Apakah kau benar-benar ingin tahu namaku? Hehehe, dengarlah! Namaku... yok si Ki! kau pernah mendengarnya?"

"Yok... si... Ki? Tuan ini... Ketua Tai-bong-pai?"

Suara Ho Bing menjadi gemetaran lagi.

"Nah... Kau mulai ketakutan, bukan?"

Ho Bing menggeretakkan giginya.

Nama itu memang sangat mengerikan baginya.

Meskipun baru sekarang melihat orangnya, tapi nama itu telah didengarnya sejak dulu.

Nama itu sangat terkenal di dunia persilatan.

Setiap orang tentu tahu, siapa Ketua Partai Tai-bong-pai yang ganas itu.

"Tidak! Aku hanya ingin bertanya sedikit..."

"Bertanya...? Apa yang hendak kau tanyakan?"

"Tuan tadi mengatakan... bahwa Tuan ingin bertemu dengan gadis itu. Hem mm, apakah Tuan mempunyai hubungan keluarga dengan dia?"

Tak terduga orang itu berkata kasar.

"Kau gila! kau kira rupaku mirip dengan dia, hah? Aku ingin bertemu dia karena dia seorang gadis yang cantik menggairahkan! Tahu? Sudah berbulan-bulan aku tidak menjumpai gadis secantik dia. Hahaha... aku akan menyesal sekali kalau kesempatan ini tak kupergunakan!"

Bukan main kagetnya Ho Bing. Ternyata orang itu mempunyai keinginan yang sama dengan dirinya. Sama-sama ingin menikmati tubuh cantik itu. Tiba-tiba timbul akalnya yang cerdik.

"Bagus! Kalau begitu... Maksud Tuan tidak berbeda dengan tugas yang diberikan kepadaku. Tidak ada bedanya, siapa yang harus menikmati gadis itu."

Yok si Ki bukan orang bodoh.

Bahkan sebagai ketua sebuah partai persilatan besar, yang terkenal tak disukai orang, maka otaknya juga penuh dengan akal dan kelicikan pula.

Namun demikian sekali ini Yok si Ki tidak dapat menebak, apa yang ada di belakang ucapan Ho Bing itu.

"Apa maksudmu? Katakan lekas!"

"Seseorang telah mengupah aku untuk memperkosa gadis itu sampai mati. Nah, bukankah tidak menjadi soal bagiku... siapa yang harus memperkosanya? Pokoknya gadis itu mati dalam keadaan sudah diperkosa. Habis perkara"

Yok si Ki mengerutkan keningnya. Masa ada tugas seaneh dan seenak itu? Dibayar pula? "Hei! Siapa yang mengupahmu itu? Apakah dia telah ditolak lamarannya oleh gadis itu?"

Ho Bing meringis.

"Ditolak? Wah, bukan-bukan! Dia juga seorang perempuan! Bukan karena itu...!"

"Perempuan? Oh, kalau begitu... tentu bersaing dalam kecantikan. Mereka tentu bersaing dalam hal kecantikan. Karena cantik, maka perempuan itu ingin menghabisi saingannya. Lalu dia mengupahmu untuk membunuh gadis itu. Begitukah?"

"Tidak. Bukan begitu. Gadis yang mengupah aku itu juga cantik sekali. Bahkan menurut pendapatku dia justru lebih menarik dan lebih bergaya."

Yok si Ki mengerutkan dahinya.

"Jadi, mengapa dia mengupahmu? Ooooh... apakah mereka saling berebut lelaki?"

Ho Bing menatap lawannya. Melihat wajah lawannya tidak sekeruh dan seganas tadi, hatinya menjadi lega.

"Aku juga tidak tahu persis sebabnya, Menurut keterangan beberapa orang pelayan tadi di kota mereka memang pernah berkelahi, malah pada waktu berkelahi masing-masing membawa teman sehingga pertempuran menjadi semakin seru, pertempuran baru berhenti setelah dilerai oleh seorang lelaki buta datang memisah mereka."

"Kalau begitu mereka mengupahmu karena... dendam? Lalu... berapa dia memberi uang kepadamu?"

Ho Bing menatap lawannya sambil menghela napas. Tidak mungkin dia membohongi orang itu.

"Sepuluh tail emas! Dan akan ditambah lagi bila tugas itu bisa kuselesaikan dengan baik."

Jawabnya singkat.

"Wah... begitu murahkah harga gadis secantik itu? Tapi, baiklah... sekarang serahkan saja uang itu kepadaku! Biarlah aku yang melakukan tugasmu! Dan kau boleh mengambil uang tambahannya nanti. Bagaimana...?"

Ho Bing tak bisa mengelak lagi.

Terhadap Yok si Ki ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena orang itu dapat berbuat apa saja.

Termasuk hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa Jangankan harus menolak atau memilih, dapat lepas dari keganasannya saja sudah untung bagi Ho Bing.

Maka tiada jalan lain baginya selain harus memenuhi perintahnya.

Yok si Ki menerima uang itu dengan sorot mata dingin.

"Nah, sekarang tunjukkan tempat gadis itu! Awas, kau jangan bertingkah macam-macam di depanku."

Ho Bing terpaksa membawa Yok si Ki ke ruang bawah tanah.

Mereka berjalan beriringan.

Ho Bing di depan dan Yok si Ki mengikuti di belakangnya.

Sayup-sayup masih terdengar alunan suara Tio Ciu In menyanyikan lagu "Menanti Kekasih."

Semakin lama suara itu semakin jelas.

"Dia menggunakan Coan-im-jib-bit. Tampaknya dia ingin menghubungi seseorang..."

Yok si Ki bergumam perlahan.

"Menghubungi teman-temannya? Ah, mana mungkin! Temannya hanya Tabib Ciok ketika datang ke mari tadi. Dan orang tua itu sudah pergi bersama pembantunya."

"Hanya Tabib Ciok? Bukankah kau tadi mengatakan bahwa temannya sangat banyak?"

"Yah... tapi mereka tidak ada gunanya dibandingkan Tuan. Hanya dengan sebelah tangan saja Tuan mampu mengalahkan mereka."

"Jangan terlalu meremehkan kekuatan orang lain. Satu persatu mereka mungkin tidak bisa melawanku. Tapi kalau mereka maju bersama? Huh... bisa merepotkan juga!"

"Kalau begitu... apa yang hendak Tuan lakukan? Membawa gadis itu pergi dari tempat ini?"

Yok si Ki tersenyum. Senyum pertama sejak kemunculannya tadi.

"Kau memang pandai menebak hati orang. Aku memang baru saja memikirkannya."

Ho Bing juga tersenyum. Senyum lega karena jalan untuk mengambil hati orang itu terasa kian licin. Namun senyumnya segera hilang begitu lawannya meneruskan ucapannya.

"Tapi... aku juga harus lebih berhati-hati terhadapmu! Orang seperti engkau tentu sangat berbahaya! Dan... aku tidak ingin terkecoh olehmu. Ingatlah itu! Sedikit saja aku curiga, jangan harap kepalamu masih bertengger di situ!"

Ho Bing terkesiap. Ketua Tai-bong-pai itu ternyata lebih cerdik dan lebih berbahaya dari yang ia duga.

"Lihat, Tuan! Itulah kamarnya!"

Ucapnya keras untuk menghilangkan rasa kecut di hati.

"Bagus! Masuklah! Aku ikut di belakangmu! Ingat, jangan berbuat yang mencurigakan!"

Tapi ketika Ho Bing meraih daun pintu, Yok si ki membentak kembali.

"Tahan! Ada orang datang...!"

"Siapa? Aku tidak mendengarnya..."

Ho Bing berbisik.

"Mereka masih satu lie dari sini. Ah banyak sekali..."

"Satu lie? Ah, masih jauh! mungkin mereka hanya lewat saja. Walaupun terpencil, kadang-kadang tempat ini juga dilewati orang. Mungkin..."

"Diam! Mereka menuju ke tempat ini. Ada kira-kira sepuluh atau lima belas orang banyaknya. Ah, lebih baik gadis itu kita bawa keluar dulu. Ayoh, cepat!"

Mereka bergegas masuk.

Dan Tio Ciu In hampir saja bersorak begitu melihat bayangan Yok si Ki.

Namun kegembiraan itu segera hilang begitu menyadari siapa yang datang.

Sepintas lalu penampilan Ketua Partai Tai-bong-pai itu memang mirip dengan Pendekar Buta.

Keduanya sama-sama jangkung dan berambut panjang.

Begitu datang mata Yok si Ki dan Ho Bing tak pernah lepas dari dada Tio Ciu In yang terbuka.

Gadis itu benar-benar memiliki dada yang mulus dan indah.

Bahkan kulitnya yang bersih itu seperti mengeluarkan cahaya di dalam gelap.

"Gila! Sungguh sempurna! Ayoh, kita bawa dulu gadis ini keluar! Kita sembunyikan agar tidak diketahui orang! Ah, sungguh beruntung sekali aku hari ini...!"

Yok si Ki berkata sambil menyambar tubuh Tio Ciu In dan dibawa keluar.

"Ouuuugh! Lepaskan aku! Lepaskan...!"

Tio Ciu In menjerit-jerit, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

Tubuhnya lemas bagai tak bertulang.

Yok si Ki melompat dan berlari ke luar, diikuti oleh Ho Bing.

Tapi langkah mereka segera terhenti di halaman depan.

Sekelompok pengemis tampak berdiri bergerombol menantikan mereka.

Dua pengemis tua tampak memimpin rombongan itu.

Mereka adalah Jeng-bin Lokai dan Pek-bi-kai.

Yok si Ki terkejut.

Ternyata ia salah perhitungan.

Tak disangka mereka datang begitu cepat.

Yok si Ki tidak tahu bahwa kaum pengemis, terutama anggota Tiat-tung Kai-pang, mengenal daerah itu seperti mengenal diri mereka sendiri.

Mereka mengenal jalan pintas dan jalan setapak yang biasa dilalui binatang-binatang buruan.

Ketika Yok si Ki berusaha menghindar, Jeng-bin Lokai buru-buru menghadang.

"Maaf, Tuan! Ijinkanlah kami berbicara sebentar..."

Orang tua itu cepat menganggukkan kepalanya dan memberi hormat.

"Kalian siapa?"

Yok si Ki menggeram penuh kewaspadaan.

"Mereka anggota Tiat-tung Kai-pang..."

Ho Bing buru-buru membisiki Yok si Ki.

Suaranya sedikit gemetar.

Sementara itu di dalam gendongan Yok si Ki, Tio Ciu In seperti mengenal suara, orang-orang yang baru saja datang itu.

Tapi karena dipanggul secara terbalik di atas pundak Yok si Ki, maka pandangannya terhalang oleh punggung orang itu.

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 15

Baca Juga: Dewi Sungai Kuning 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert