Eps 5 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.
"Suheng, mengapa kau suka benar mencampuri urusan orang? Apakah lukamu akibat mencampuri urusan orang-orang Hun tadi malam belum membuatmu jera?"
Put-tong-sia menggeram marah.
Matanya memandang nanar ke segala penjuru, mencari tempat persembunyian Put-pai-siu Hong-jin.
Wajah Liu Wan menjadi amat tegang pula.
Suara tanpa ujud itu membuat jantungnya berdegup lebih keras.
Dan otomatis kakinya mendekati Tio Ciu In, siap untuk setiap saat melindungi gadis itu dari bokongan musuh.
Yang justru menjadi ketakutan adalah nelayan tua itu.
Mendengar suara tanpa ujud, padahal suara itu seakan-akan berada di dekatnya, membuat orang tua itu gemetar ketakutan.
Setelah menengok kesana-kemari, ia segera mengambil langkah seribu, meninggalkan tumpukan jala yang belum selesai digulungnya.
"Kurang ajar! Bikin ribut saja! Eh, maaf... aku akan mencari suhengku dulu..."? akhirnya Chin Tong Sia berkata kesal.
"Tapi... saudara belum menjawab pertanyaanku."
Tio Ciu In cepat memotong ucapan pemuda itu. Chin Tong Sia tertegun, kakinya tak jadi melangkah. Sekejap wajahnya menjadi merah lagi, namun segera hilang pula.
"Bukankah suhengku tadi sudah menjawabnya? Maaf, aku pergi dulu..."
"Tunggu...!"
Tio Ciu In berseru seraya melompat ke depan menghadang langkah Chin Tong Sia.
Pemuda kurus itu berdiri tegak, urat-uratnya menegang, sehingga Liu Wan yang amat mengkhawatirkan keselamatan Tio Ciu In cepat-cepat bergeser mendampingi gadis itu.
"Apa yang Nona inginkan lagi?"
Chin Tong Sia berdesis. Matanya menatap dingin, terutama kepada Liu Wan yang kelihatan selalu melindungi Tio Ciu In.
"Saudara, kulihat kau tadi membawa bungkusan pakaian. Apakah bungkusan itu milik gadis yang kau cari itu?"
Tio Ciu In bertanya, suaranya tetap tenang. Mata pemuda kurus itu tiba-tiba bergetar seolah-olah menahan marah.
"Apa peduli Nona dengan bungkusan pakaian itu? Kuharap Nona jangan mencampuri urusan orang!"
Pemuda itu menggeram. Ternyata Tio Ciu ln juga tidak sabar pula.
"Apa? Aku tidak boleh mencampuri urusan Saudara? Bagaimana aku tidak boleh mencampuri urusan saudara kalau bungkusan yang saudara bawa itu milik Adikku?"
Jeritnya marah.
"Apa...?"
Chin Tong Sia berseru kaget.
"Bungkusan itu milik Adikku! Tahu? Sekarang, berikan bungkusan itu kepadaku...!"
Tio Ciu In melangkah ke depan, tapi dengan cepat Chin Tong Sia bergeser ke belakang. Pemuda itu menatap Tio Ciu In dan Liu Wan dengan pandangan curiga.
"Tidak! Aku tidak percaya kepadamu! Akan aku serahkan sendiri bungkusan ini kepada yang punya."
"Kurang ajar! Serahkan kepadaku!"
Tio Ciu In menjerit, kemudian menyerang Chin Tong Sia.
Tapi dengan mudah pemuda kurus itu mengelakkannya.
Hanya dengan mendoyongkan tubuhnya ke kiri, serangan Tio Ciu In gagal mengenai sasarannya.
Bahkan ketika pemuda itu balas memukul dengan siku tangannya, Tio Ciu In menjadi gelagapan dibuatnya.
Untunglah Liu Wan cepat membantu.
Dari jauh Liu Wan melontarkan pukulan Thian-lui kong-ciangnya!
"Whuuuuus!"
Hembusan angin tajam menyambar siku Chin Tong Sia! Chin Tong Sia cepat menarik kembali serangannya, lalu berjumpalitan menghindari sambaran angin tajam yang amat berbahaya itu.
"Thaaaaar!"
Angin pukulan yang gagal mengenai sasaran itu menerjang gundukan pasir yang menghamburkannya kemana-mana.
"Bagus...!"
Sekonyong-konyong Chin Tong Sia bersorak gembira, seakan-akan memperoleh mainan yang menyenangkan.
"Ciu-moi, minggirlah... dia bukan tandinganmu!"
Liu Wan berseru.
Tio Ciu In menarik napas lega.
Hampir saja rusuknya patah.
Dia tak mengira kalau lawannya bisa bergerak begitu.
Sementara itu Liu Wan telah berhadapan dengan Chin Tong Sia.
Seperti dua ekor ayam aduan mereka saling menaksir kekuatan lawannya.
"Maaf, Saudara... bolehkah aku tahu namamu?"
Liu Wan menyapa lebih dulu.
"Boleh. Aku tak pernah menyembunyikan namaku. Namaku Chin Tong Sia dari aliran Beng-kauw. Dan kau sendiri tentu datang dari utara, bukan? Aku belum tahu namamu, tapi aku kenal ilmu pukulanmu tadi. Thian-lui kong-ciang, bukan?"
Jawaban itu benar-benar mengejutkan Liu Wan dan Tio Ciu In, sama sekali mereka tak menyangka kalau pemuda itu dari aliran Beng-kauw, salah satu aliran keagamaan terbesar di daerah selatan, bahkan hati Tio Ciu In menjadi berdebar-debar pula karena pada tahun-tahun terakhir ini di antara aliran Im-yang-kau di utara dan Beng-kauw di selatan seperti bersaing dalam pertumbuhannya.
"Ah, kami sungguh tak menduga dapat berjumpa dengan seorang murid aliran Beng-kauw di pantai timur ini, aku memang dari utara dan ilmu pukulanku tadi kebetulan memang bernama Thian-lui kong-ciang..."
"Hmmm, bagus... bagus! Apakah gadis ini adikmu?"
Liu Wan mengangguk, hatinya mulai panas juga melihat kecongkakan lawannya.
"Oooh, jadi... Kau juga ingin mengambil bungkusan ini?"
"Tentu saja, karena seperti yang dikatakan adikku ini bungkusan yang kau bawa itu, adalah milik adik kami."
"Baiklah, kau boleh membawanya, asal..."
Chin Tong Sia tak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya yang tampan itu tiba-tiba tersenyum dingin.
"Asal apa?"
Liu Wan mendesak, urat-uratnya menegang, siap untuk menggempur lawannya.
"Asal kalian bisa mengalahkan aku! Kalau kalian tidak mampu, jangan harap aku akan memberikannya!"
"Kurang ajar! Sombong sekali!"
Liu Wan menggeram.
Lalu tanpa mengulur-ulur waktu lagi Liu Wan menerjang Chin Tong Sia dengan kedua telapak tangannya.
Hembusan angin yang amat kuat meluncur dari telapak tangan tersebut, bergulung-gulung, susul menyusul, bagiaman gempuran ombak menerjang dada Chin Tong Sia.
"Wah, dahsyat sekali!"
Pemuda kurus itu berteriak kagum sekali sambil melompok tinggi ke udara.
Melihat lawannya bisa meloloskan diri dari gempuran pukulan udara kosongnya, Liu Wan cepat-cepat mengejarnya dengan sabetan sisi tangannya.
Pukulan itu diarahkan ke lutut Chin Tong Sia yang masih mengapung di udara.
Dan sekali lagi dari sisi telapak tangan itu berdesis angin tajam yang menyambar lebih dahulu ke arah sasarannya.
Liu Wan benar-benar tak memberi kesempatan kepada Chin Tong Sia untuk bernapas.
"Wah, gila...! Gila! Hihihi-ha-haha! benar-benar pukulan bagus! Sute, kau takkan bisa mengelak lagi sekarang! Hoho-ho... tibalah ajalmu kini!"
Tiba-tiba suara tanpa ujud itu kembali bergema di tempat itu.
"Suheng keparat! suheng bermuka jelek! kau kira aku tak bisa menghindar lagi? Huh, lihat...!"
Entah disebabkan karena ejekan atau cemoohan suhengnya itu, atau entah karena kemarahannya yang memuncak akibat didesak terus menerus oleh Liu Wan, tapi yang jelas pemuda kurus itu mendadak bisa melakukan suatu gerakan yang aneh, sulit, namun hebat bukan main!
Tubuhnya yang terapung di udara itu tampak menggeliat beberapa kali ke samping, sehingga tubuhnya yang kecil kurus itu bagaikan segumpal kapas yang turun-naik ditiup angin!
"Wah, wah, wah, Setan Busuk!
Setan Gila!
kau benar-benar telah melakukan jurus Menerobos Lubang Pintu Jala dengan amat sempurna!
Oh-ho-ho-ho, Sute...
selamat!
Selamat!
Kini sudah ada dua orang yang mampu melakukan gerakan itu di Aliran Beng-kauw kita, kau dan aku...
He-he-he-he!"
Suara tanpa ujud itu bersorak memuji gerakan Chin Tong Sia yang hebat.
Begitu indah dan mentakjubkan jurus yang diperlihatkan oleh Chin Tong Sia itu, hingga untuk sesaat lamanya Liu Wan ikut tertegun di tempatnya.
Liu Wan baru sadar kembali ketika melihat lawannya itu telah berdiri siap di depannya.
"Bagus!"
Liu Wan memuji sambil menerjang lawannya kembali.
Kali ini dengan tusukan dua buah jari ke leher Chin Tong Sia.
Akan tetapi Chin Tong Sia tak ingin jadi sasaran terus-menerus.
Sambil menghindari tusukan jari Liu Wan, tang"n kanannya menyambar ke depan, menuju ke ulu-hati lawannya.
Serangannya amat cepat dan kuat bagaikan patukan ular kobra!
"Wah, jelek...
jelek!
Siku tanganmu masih terlalu melebar ke luar lagi!
Sute, kau bisa celaka!
Pertahananmu menjadi rapuh!"
Put-pai-siu Hong-jin yang belum juga mau memperlihatkan dirinya itu mencela gerakan Chin Tong Sia.
Entah benar atau kurang benar, namun serangan itu sendiri sudah cukup merepotkan Liu Wan.
Pemuda sakti itu terpaksa membuang tubuhnya ke kanan sambil menjejakkan kakinya ke atas untuk menghantam Chin Tong Sia, kemudian berjumpalitan menjauhkan diri.
Semua itu dilakukan Liu Wan karena dilihatnya kaki kiri Chin Tong Sia telah bersiap-siap menerjang tubuhnya.
"Aduuuh... salah! Seharusnya kau tidak mengelak ke kanan! Seharusnya kau bergeser sedikit saja ke kiri, lalu menghajar ketiak Suteku yang-terbuka itu! Huh, pasti suteku itu mampus!"
Suara Put-pai-siu Hong-jin kembali terdengar, tapi kali ini mencela gerakan Liu Wan.
Sementara itu Tio Ciu In menonton pertempuran itu dengan perasaan kebat-kebit.
Matanya selalu gelisah melirik kesana-kemari, mencari orang yang bersuara tanpa kelihatan ujudnya itu.
Namun sampai bosan ia mencarinya, orang itu tetap tak kelihatan juga.
Padahal tempal itu adalah tempat yang lapang, sama sekali tiada pepohonan ataupun bangunan rumah.
Yang ada cuma gubug kecil reyot tempat nelayan tua tadi berteduh duri teriknya matahari!
Dan bangunan reyot itu tak mungkin untuk bersembunyi, karena selain tak ada dindingnya, atapnyapun hanya dari daun-daun ilalang pula yang sudah bolong di sana-sini.
Seekor kucingpun sudah cukup untuk meruntuhkan atap tersebut bila bertengger di atasnya.
Demikianlah dua jago muda itu segera bertempur pula dengan sengitnya.
Masing-masing memperlihatkan kehebatan ilmunya.
Liu Wan bersilat dengan gerakan-gerakan cepat dan bertenaga, sehingga setiap gerakannya menimbulkan gesekan atau pusaran angin yang semakin lama semakin bertambah besar.
Sedangkan lawannya yang berperawakan kecil kurus itu bersilat dengan amat lincah pula.
Tubuhnya yang ringan itu bagaikan seekor tupai yang gesit dan lincah, berloncatan kesana-kemari menghindari badai serangan yang dilancarkan Liu Wan.
Pertempuran mereka benar-benar ramai dan mengasyikkan untuk ditonton.
Masing-masing tampaknya masih berusaha menjajagi kemampuan dan kekuatan lawannya, sehingga mereka bertempur dengan sangat hati-hati dan tidak segera mengeluarkan ilmu simpanan mereka.
Liu Wan masih tetap bersilat dengan gerakan-gerakan cepat penuh tenaga, sementara Chin Tong Sia melayaninya dengan gerakan-gerakan yang manis, gesit serta lincah bukan main.
Tak terasa lima puluh jurus telah berlalu.
Gesekan dan pusaran angin yang ditimbulkan oleh ilmu silat Liu Wan sudah demikian kuatnya sehingga debu dan pasir di mana mereka berdua berkelahi mulai terangkat dan berhamburan kemana-mana.
Bahkan gubug reyot tadi sudah mulai bergoyang-goyang mau roboh pula.
Tio Ciu In terpaksa mundur beberapa langkah menjauhi arena yang sekarang menjadi gelap oleh debu.
Otomatis pertempuran yang hebat itu tak bisa ditonton lagi.
Tubuh Liu Wan maupun Chin Tong Sia hanya tampak samar-samar saja dari luar.
"Wah-wah-wah, ilmu silat apa ini...? Kasar! Kasar sekali, seperti kerbau berlaga saja! Tak sedap dipandang! Huuuh, sebal mendingan tidur."
Suara Put-pai-siu Hong-jin yang serak itu terdengar kembali namun nadanya terasa sangat kesal dan kecewa.
Pertempuran tetap berjalan terus, bahkan semakin lama arena yang mereka pergunakan semakin lebar dan luas.
Tampaknya mereka mulai meningkatkan kemampuan mereka masing-masing.
Malahan Liu Wan kelihatan sudah mulai menyelipkan pukulan-pukulan Thian-lui kong-ciangnya, karena di dalam pekatnya debu.
yang bertaburan itu sesekali terdengar letupan-letupan kecil.
Akhirnya gubug reyot itu tak bisa ber tahan lagi.
Tiang-tiangnya yang sudah rapuh itu roboh berpatahan, sementara atapnya yang rombeng terhempas entah ke mana.
Dan Tio Ciu In sendiri terpaksa semakin menjauhi arena.
Hatinya masih merasa kebat-kebit dan cemas.
Takut kalau Liu Wan kalah, padahal pihak lawan masih ada satu orang lagi yang belum memperlihatkan diri, seorang lawan yang tampaknya justru lebih tangguh daripada pemuda kurus itu.
Sebenarnyalah, sekali ini Liu Wan memang benar-benar menghadapi lawan yang sangat berat.
Chin Tong Sia memiliki kelincahan dan kegesitan yang luar biasa.
Tubuhnya yang kurus kerempeng itu melejit dan berjumpalitan kesana-kemari laksana tupai yang bermain akrobat di atas pohon.
Gerakan tubuhnya seringkali sangat aneh, muskil dan sulit diduga, bahkan kadangkala seperti tak masuk di akal, sehingga lama kelamaan Liu Wan menjadi bingung juga menghadapinya.
Akhirnya terpaksa juga Liu Wan mengeluarkan ilmu simpanannya, Thian-lui kong-ciang.
Setahap demi setahap gerakannya diperlamban, sehingga prahara atau angin ribut yang ditimbulkan, oleh ilmu silatnya tadi juga berangsur-angsur menjadi reda pula.
Angin Prahara itu bagaikan terhisap kembali ke dalam telapak tangannya, membuat kedua buah telapak tangan itu seolah-olah menggenggam kekuatan angin yang sangat dahsyat.
Dan memang itulah inti kekuatan Thian-lui kong-ciang atau Telapak Tangan Halilintar!
Sementara itu angin laut bertiup dengan kencang.
Sehingga kumpulan debu dan pasir yang menyelimuti arena itu tersapu bersih dalam sekejap.
Sekarang dua jago yang sedang berlaga itu kelihatan lagi.
Keduanya masih bertempur dengan gigihnya dan masing-masing telah mulai memperlihatkan ilmu andalannya.
Thian-lui kong-ciang memang sebuah ilmu yang sangat dahsyat.
Dengan mengerahkan ilmu itu kaki dan tangan Liu Wan seolah-olah berubah menjadi besi yang beratnya ribuan kati.
Setiap hentakan kaki atau tangannya akan menimbulkan kekuatan yang dahsyat tiada terkira.
Bahkan angin pukulannya saja sudah mampu melumatkan semua sasaran yang ada.
Setelah Liu Wan melancarkan serangan dengan Thian-lui kong-ciang, Chin Tong Sia memang mengalami kesulitan.
Gerakan-gerakan Liu Wan yang ketat dan penuh tenaga itu seakan-akan menciptakan dinding-dinding pertahanan yang sulit ditembus.
Bahkan dinding-dinding yang tercipta itu semakin lama terasa semakin banyak sehingga ruang geraknya menjadi ciut.
Otomatis ia tak dapat mengembangkan ciri-ciri ilmu silat Aliran Beng-kauw, yaitu kelincahan dan kegesitan tubuh.
Maka tiada jalan lain lagi bagi Chin Tong Sia selain mengeluarkan ilmu puncaknya, yaitu Chuo-mo-ciang (Ilmu Menangkap Setan), andalan Aliran Beng-kauw, yang salah satu jurusnya, Menerobos Lubang Pintu Jala, telah diperagakan, oleh Chin Tong Sia tadi.
Dan sesuai dengan adat kebiasaan orang dusun, yang selalu menabuh bunyi-bunyian sambil berdoa atau bernyanyi di kala mengadakan upacara adat menangkap setan, maka di setiap menjalankan ilmu Chuo-mo-ciangpun para anggaota Aliran Beng-kauw tentu "bocor"
Pula mulutnya. Dan karena sebagian besar ilmu silat Chin Tong Sia itu hasil didikan suhengnya, maka "Kebocoran"
Chin Tong Siapun sebagian besar juga mewarisi "Keceriwisan"
Put-pai-siu Hong-jin!
Sambil menyerang atau mengelakkan pukulan Li Wan, Chin Tong Sia bernyanyi.
Suaranya kaku dan sumbang, sama sekali tak berbakat menjadi penyanyi.
Syair-syair lagunyapun hanya ngawur dan sekenanya saja.
"Ada ular di dalam lubang... Ularnya satu lubangnya satu! Ularnya bingung lobangnya buntu! Maju mundur sampai mati...!"
"Hohohoo-hahaha...! Sute, ularmu goblok benar! Masakan hanya karena lubang buntu saja sudah mati, hohoho-hahahaa! Goblok... goblok!!!"
Tak terduga suara Put-pai-siu Hong-jin muncul lagi.
"Suheng, diam kau...! Kalau berani, keluarlah! Jangan bersembunyi!"
Chin Tong Sia tersinggung dan marah-marah.
"Oho, Sute... sute! Celaka benar ularmu! Ular goblog saja dipelihara, hohoho! Mengapa engkau tidak mencontoh ularku? Ularku pintar dan cerdik. Dengarlah!"
Ada ular melibat lubang...! Dilihat dulu lubangnya buntu! Ular berbalik ekornya maju! Di Lubang buntu ular berlagu...! "Suheng keparat! suheng bangsat! Awas, kuhajar kau nanti...!"
Bukan main dongkolnya Liu Wan, lawannya yang kurus kerempeng itu bertempur sambil bergurau dengan suhengnya.
Celakanya, tampaknya saja bergurau tapi sambil bergurau ternyata Chin Tong Sia menyerang terus dengan jurus-jurusnya yang aneh.
Demikian anehnya gerakan yang dilakukan Chin Tong Sia, sehingga dia menjadi bingung dan serba salah menghadapinya.
Suatu saat ketika Liu Wan menghajar pelipis Chin Tong Sia, pemuda itu mengelak dengan gaya seperti orang kesurupan setan.
Badannya limbung, kemudian terjerembab ke depan seolah-olah hendak menimpa tubuh Liu Wan.
Tentu saja Liu Wan menjadi curiga, sehingga otomatis bergeser ke samping menghindarinya.
Tak terduga tubuh Chin Tong Sia itu benar-benar jatuh ke tanah, sehingga Liu Wan untuk sedetik menjadi heran.
Namun waktu yang cuma sedetik itu ternyata telah membawa celaka.
Ketika tubuh Chin Tong Sia itu hampir menyentuh tanah, tiba-tiba tangan kanannya menyambar.
Cuma sedetik, sehingga Liu Wan benar-benar tak mempunyai kesempatan lagi.
Tahu-tahu pergelangan kakinya telah dicengkeram Chin Tong Sia!
"Bluug!"
Tubuh Chin Tong Sia membentur tanah! "Auugh!"
Liu Wan menjerit seraya menghajar lengan yang mencengkeram kakinya itu dengan Thian-lui kong-ciangnya.
"Duuuaaar!"
Tanah di depan Liu Wan meledak berhamburan terkena hantaman Thian-lui kong-ciang, karena dengan gesit Chin Tong Sia telah melejit pergi dengan lincahnya.
"Puteri Istana menghisap hun-cwe (pipa panjang), Hun-cwe terisi butiran candu. Bibir pucat matanya sayu. Bagai bidadari sedang bercumbu."
Dengan wajah cerah penuh senyuman Chin Tong Sia telah berdiri siap kembali.
Matanya yang kocak itu memandang Liu Wan yang terpincang-pincang karena salah satu urat darahnya tertutup akibat cengkeramannya.
Sambil tersenyum ia berpantun.
"Hei, Sute! Puterimu itu gila barangkali! Masakan seorang puteri keraton menghisap pipa...!"
Put-pai-siu Hong-jin berteriak penasaran dari tempat persembunyiannya. Chin Tong Sia melirik kesana-kemari mencari arah suara suhengnya. Senyumnya menghilang.
"Suheng, kenapa engkau hari ini usil banget? Apakah tidak boleh seorang puteri Istana menghisap pipa?"
Pemuda itu berseru kesal.
"Boleh... sih... boleh! Tapi, ya... aneh sekali!"
"Ah, peduli amat! Pokoknya puteri itu suka menghisap pipa! Titik!"
"Uh, ya... terserah kalau begitu maumu. Tapi itu tidak wajar, masakan seorang puteri... Menghisap pipa panjang, hehehehe. Tidak lucu. Hmmm, apakah kau mau kalau isterimu besok suka menghisap pipa?"
"Suheng gila, keluar kau!"
Chin Tong Sia berteriak dengan wajah merah padam.
Tak ada jawaban.
Tampaknya Put-pai-siu Hong-jin sudah merasa cukup menggoda adik seperguruannya.
Mungkin orang tua itu kini terkekeh-kekeh gembira di tempat persembunyiannya.
sementara itu Liu Wan memanfaatkan waktu tersebut untuk melancarkan kembali urat darahnya yang tertutup.
Tapi usahanya sia-sia.
Aliran darahnya masih tetap tersumbat, sehingga kakinya tak bisa bergerak dengan leluasa.
Tio Ciu In menghampiri dengan wajah khawatir.
"Bagaimana, Twako? Ada sesuatu yang salah?"
Tanyanya cemas.
"Gila! Anak itu memang lihai sekali, aku tak bisa membuka totokannya."
"Lalu... apa yang harus kita perbuat?"
Tio Ciu In berbisik tegang.
"Apa boleh buat. Mungkin aku tidak bisa menang, tapi yang jelas aku akan mengadu jiwa dengannya!"
"Liu Twako..."
"Sudahlah, Ciu-moi... Minggirlah, aku belum kalah."
Di lain pihak Chin Tong Sia masih menoleh kesana-kemari mencari suhengnya.
Pemuda itu masih kelihatan penasaran terhadap Put-pai-siu Hong-jin, sehingga dia tak peduli lagi kepada Liu Wan.
Bahkan dia juga tidak ambil pusing pula ketika Tio Ciu In menghampiri Liu Wan.
Tio Ciu In melangkah menjauhi arena lagi.
Ia tak dapat menghalangi niat Liu Wan, karena pemuda itu tentu tak ingin kehilangan harga dirinya.
Langkahnya terhenti di dekat tumpukan jala si Nelayan Tua itu.
Sekonyong-konyong tumpukan jala itu terangkat dan terlempar jauh, sementara dari bawahnya muncul Put-pai-siu Hong-jin sambil menjerit-jerit!
"Kurang ajar!
Kepiting keparat!
Kepiting bangsat!
Menjepit pantat orang seenaknya!
Huh, mati kau...!"
Ternyata tak seorangpun yang mengira kalau Put-pai-siu Hong-jin bersembunyi di bawah tumpukan jala tersebut.
Dan tampaknya si Nelayan tadi tidak menyadari pula kalau gulungan jalanya menindih Put-pai-siu Hong-jin yang tipis kerempeng itu.
Mungkin sewaktu meletakkan jalanya tadi si Nelayan tak memperhatikan bahwa di bawah gubug reyot itu ada seseorang yang lagi tidur melingkar keenakan.
Dan sebaliknya Put-pai-siu Hong-jin sendiri kelihatannya justru merasa kesenangan mendapatkan selimut tebal.
"Bagus! Ternyata suheng bersembunyi di situ! Nah, rasakan pukulanku...!"
Begitu melihat suhengnya, Chin Tong Sia segera menerjang dengan pukulan tangannya.
"Hei... Hei, nanti dulu! Aku belum mengikat tali celanaku! Kepiting celaka itu... Kepiting celaka itu... Hei, awas... celanaku nanti melorot turun! Wah!"
Put-pai-siu Hong-jin yang sedang ribut dengan kepiting di dalam celananya itu menjadi kaget dan bingung melihat serangan sutenya.
Sambil berusaha mengikatkan kembali tali celananya orang tua itu mengelak kesana-kemari.
Celakanya Chin Tong Sia tak memberinya kesempatan sama sekali.
Pemuda itu terus saja mengejar suhengnya, sehingga akhirnya tali celana itu bukannya terikat lagi dengan baik, tapi malah menjadi ruwet tidak karuan.
"Wah, ini... Ini bagaimana? Tali celanaku...?"
Orang tua itu berteriak ketakutan, kemudian lari lintang pukang meninggalkan tempat itu.
Kedua tangannya sibuk mencengkeram celananya yang melorot turun memperlihatkan pantatnya yang tepos.
Tio Ciu In menjerit lirih dan cepat cepat memalingkan mukanya.
"Kurang ajar! jangan lari...!"
Chin Tong Sia berseru sambil terus mengejar suhengnya.
Liu Wan menarik napas panjang, seolah-olah beban yang menghimpit perasaannya telah lepas namun demikian matanya masih tampak lesu memandang ke depan, ke arah mana Chin Tong Sia dan suhengnya tadi pergi.
"Bagaimana Liu-twako? Kita kembali saja ke kota? Siau In mungkin sudah tidak berada di pantai ini, karena pemuda itu juga sudah sejak kemarin mencarinya."
Tio Ciu In mendekati dan berkata perlahan.
"Baiklah..."
Liu Wan mengangguk lesu.
"Ciu-moi, ternyata sungguh banyak sekali orang lihai. di dunia ini. Aku yang selama ini sangat bangga dengan julukan Bun-bu Siucai, ternyata harus menghadapi kenyataan dalam sehari ini. Dalam waktu hanya sehari ini saja aku bertemu dengan banyak orang yang kepandaiannya lebih tinggi daripada aku. Kwe Tek Hun, Ma Goat dan pembantunya, orang tua buta itu, orang-orang dari Pondok Pelangi dan sekarang Chin Tong Sia bersama suhengnya dari Aliran Beng-kauw. Aaaah... aku memang harus banyak belajar lagi."
Sambil berjalan kembali ke kota Hang-ciu Tio Ciu In berusaha menghibur kekecewaan Liu Wan.
"Twako, dunia ini memang luas. Kita tak usah merasa kecewa terhadap diri sendiri, karena kitapun sebenarnya juga sudah lebih dari pada yang lain. Contohnya, Twako sendiri masih jauh lebih baik dan lebih beruntung daripada aku, Adikku, suhengku, Ku Jing San, Sogudai dan pendeta-pendeta Pek-hok-bio itu. Namun demikian aku sendiri juga masih lebih mendingan daripada anak buah Kuil Pek-hok-bio dan lain-lainnya. Nah, mau apa lagi?"
Liu Wan memandang tak percaya kepada Tio Ciu In. Ia tak percaya kata-kata yang bermakna amat dalam itu keluar dari bibir tipis itu.
"Bukan main...!"
Pemuda itu berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya menatap redup dan sama sekali tak menyembunyikan rasa kagumnya.
"Apanya yang bukan main...?"
Tio Ciu In bertanya sambil menundukkan mukanya, takut melihat pandangan mata Liu Wan.
"Pandangan hidupmu itu tadi, Ciu-moi. Apakah semua yang kau katakan itu sungguh-sungguh keluar dari lubuk hatimu?"
Tio Ciu In mengangkat wajahnya.
"Tentu saja, Twako. kau kira aku cuma asal bicara saja?"
Katanya kurang senang.
"Eh, bukan begitu maksudku..."
Liu Wan cepat-cepat menyela.
"Aku cuma mempunyai perkiraan, bahwa kau bisa mengatakan seperti itu karena selama ini kau selalu mendapatkan yang baik dan tak pernah mendapatkan kekecewaan di dalam kehidupanmu."
"Maksudmu...?"
"Yaaaah, misalnya saja tentang... rupa. Kau tidak ditakdirkan berwajah jelek, tetapi kau dikaruniai wajah ayu. Sangat ayu malah. Nah, tentu saja kau tidak pernah merasa kecewa dengan keadaanmu. Akan tetapi lain halnya kalau Thian memberimu wajah yang jelek, kau tentu takkan bisa berkata seperti tadi. kau tentu akan merasa kecewa terhadap dirimu sendiri..."
Tak terduga wajah yang cantik dan halus itu tersenyum.
"Kau salah menduga, Twako. Selama ini aku tak pernah memikirkan, apakah wajahku cantik atau jelek, sehingga aku tak pernah mempersoalkan pula, apakah aku merasa gembira atau kecewa terhadap diriku. Bagiku cantik atau tidak cantik itu sama saja. Semuanya tak perlu dikecewakan."
"Apakah kau tidak merasa kecewa kalau wajahmu jelek?"
Liu Wan penasaran. Tio Ciu In menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang perlu dikecewakan. Misalkan aku berwajah jelekpun masih tetap seorang manusia, Masih lebih baik dan lebih cantik daripada seekor monyet betina."
"Hah...? Sungguh gila!"
Liu Wan terbelalak.
"Lalu, misalkan kau benar-benar menjadi... eem, monyet betina? Apakah kau juga tidak pernah kecewa terhadap dirimu?"
Lagi-lagi wajah yang cantik itu tersenyum, sehingga Liu Wan semakin menjadi gemas melihatnya.
"Aku tetap tidak akan menjadi kecewa karenanya. Menjadi monyet masih lebih beruntung daripada menjadi patung batu. Thian maha adil. Kalau pun aku ditakdirkan menjadi monyet, aku percaya Thian akan mengirimkan kepadaku seekor monyet jantan yang kuat dan tampan."
"Ooooooooooh!"
Liu Wan berdesah panjang seraya menundukkan mukanya. Ucapan-ucapan Tio Ciu In yang amat sederhana itu ternyata telah mampu menerangi hatinya, menyadarkannya, betapa serakahnya dia selama ini.
"Ciu-moi, kau benar-benar hebat. Aku sungguh merasa suka dan kagum sekali kepadamu. Rasa-rasanya aku menjadi ingin sekali menjadi monyet jantan itu, tapi..."
"Ah, kau...!"
Tio Cu In cemberut dan mukanya menjadi merah.
"Semua itu hanya perumpamaan saja, bukan kenyataan. Siapa bilang aku seekor monyet betina?"
Liu Wan menjadi malu.
"Maaf, Ciu-moi... Memang tiada seorangpun yang mengatakan kau seekor monyet betina. kau... seorang dewi, seorang bidadari yang hebat tiada tandingannya. Akulah yang benar-benar pantas menjadi monyet dan bukan monyet jantan seperti keinginanmu itu, tapi monyet kerdil yang tiada artinya sama sekali."
"Nah, Twako... Kau mulai merajuk lagi. kau mulai kecewa terhadap dirimu kembali. Semangatmu mudah kembali patah..."
"Aaaaaaah!"
Liu Wan menjadi sadar pula kembali.
"Maafkan aku, Ciu-moi."
Demikianlah, sambil berbicara macam-macam mereka berjalan terus sehingga tak terasa.
mereka telah tiba di kota Hang-ciu lagi.
Mereka berhenti dulu untuk mengisi perut, baru kemudian memulai pencarian mereka.
Seluruh kota mereka jelajahi dan mereka aduk-aduk, bahkan mereka juga menemui Jeng-bin Lokai pula, namun Siau In tetap tak mereka jumpai.
Akhirnya.
setelah sore mereka terpaksa mencari penginapan lagi.
"Bagaimana kalau adikmu tetap tak diketemukan juga? Apakah kau akan tetap mencari di sini?"
Liu Wan bertanya. Tio Ciu In menundukkan wajahnya, menyembunyikan dua tetes air mata yang terlepas dari pelupuk matanya.
"Aku akan menantinya di sini. Aku percaya dia takkan jauh dari kota ini. Ia belum pernah bepergian kemana-mana."
"Tapi...?"
"Twako, kau jangan terlalu memikirkan aku. Aku tahu engkau mempunyai banyak urusan yang lain. Silakan kalau Twako hendak meneruskan perjalanan. Biarlah aku menunggunya di sini, sekalian menanti kedatangan Guruku..."
"Oh, ya...? Jadi Suhumu juga hendak datang ke sini?"
Liu Wan menegaskan, suaranya sedikit berubah.
"Rencananya memang demikian. Empat hari yang lalu kami berangkat bersama-sama dari Gedung Cabang Aliran Im-yang-kauw di kota An-king. Suhu menyuruh suheng, aku dan Adikku, langsung pergi ke kota ini, sementara Suhu sendiri berangkat menyusuri Sungai Yang-tse, melalui kota Wu-hu, Nan-king, Wuh-si dan Soh-ciu. Karena harus melalui jalan memutar yang sangat jauh, kemungkinan dua atau tiga hari lagi Suhu baru sampai di sini."
"Baiklah, Ciu-moi... aku akan menemanimu sehari lagi. Besok lusa baru aku akan berangkat ke barat menemui Guruku. Aku harus melaporkan kegiatan orang orang Hun itu kepada beliau."
Liu Wan berdesah panjang seakan-akan amat berat meninggalkan Tio Ciu In sendiri.
"Yaaaaah, sekalian memohon maaf kepada guruku, karena aku telah meninggalkan beliau selama hampir lima tahun tanpa pamit."
Tio Ciu In memandang Liu Wan degan kening berkerut.
"Kau tinggalkan Gurumu selama lima tahun tanpa pamit? Mengapa...?"
Tanya gadis itu heran. Liu Wan tersenyum kecut. Dipandangnya gadis ayu itu sekejap, kemudian menggeleng lemah.
"Ah, cuma karena urusan keluarga yang kurang menyenangkan saja."
"Yang Twako maksud... Keluarga Gurumu atau keluargamu sendiri?"
Sekali lagi Liu Wan menghela napas panjang, wajahnya kelihatan buram.
"Keluargaku sendiri... aku... ah, sudahlah... aku tak ingin mengingat-ingatnya lagi."
Tio Ciu In menjadi semakin heran.
Baru kemarin pemuda itu memperlihatkan gambar-gambar keluarganya dengan hati riang.
Mengapa sekarang tiba-tiba saja pemuda itu kelihatan sedih membicarakan keluarganya?
Siapakah sebenarnya pemuda itu?
"Baiklah, Twako...
aku juga tak ingin mencampuri urusan keluargamu.
kau tentu mempunyai alasan yang kuat, mengapa sampai pergi meninggalkan keluargamu sekian lamanya."
Demikianlah mereka terpaksa tinggal di kota itu menantikan munculnya Tio Siau In.
Sama sekali mereka tidak membayangkan bahwa gadis itu telah berada jauh di laut utara.
* * * Ketika menyaksikan A Liong benar-benar tidak muncul lagi ke permukaan air, Siau In menjadi sedih dan menyesal bukan main.
Gadis itu merasa telah membunuh orang tak berdosa, sehingga seharian ia tak bosan-bosannya berputar-putar di pinggiran pantai itu, sambil berharap-harap kalau-kalau pemuda itu muncul kembali.
Setelah matahari terbenam barulah Tio Siau In mengayuh sampannya ke pinggir.
Tubuhnya lemas karena seharian tidak makan dan minum.
Dan malam itu terpaksa harus tidur dan berpuasa pula di atas pasir yang dingin.
Demikianlah, karena perasaannya selalu dicengkam rasa gelisah, maka dalam tidurnya Siau In juga mendapat mimpi yang menyeramkan pula.
Di dalam mimpinya gadis itu seperti melihat A Liong timbul tenggelam dipermainkan ombak di tengah lautan.
Pemuda itu seperti menjerit-jerit memanggil namanya.
Siau In berusaha menolong pemuda itu.
Mati-matian ia mengayuh sampannya, menerjang ombak yang setiap kali selalu melemparkan sampannya kembali ke tepian.
Namun suara jeritan A Liong membuat Siau In seperti kesetanan.
Ia tetap mengayuh terus, sehingga akhirnya bisa juga sampannya mendekati A Liong.
Siau In mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh A Liong.
Tetapi belum juga tangan itu sempat menyentuh tubuh A Liong, sekonyong-konyong dari dalam air muncul kepala seekor naga raksasa yang sangat menyeramkan!
Ketika naga itu membuka mulutnya yang lebar, maka air laut yang ada di sekitarnyapun segera membanjir masuk, termasuk pula di antaranya adalah tubuh A Liong serta Siau In bersama sampannya!
ia terbangun dari tidurnya.
Keringat dingin membanjir membasahi seluruh badannya, padahal malam itu bertiup angin laut yang cukup kencang, dinginnya menggigit tulang.
"Ooooooh... aku bermimpi."
Tio Siau In berdesah dengan napas terengah-engah.
Siau In mencoba meringkukkan tubuhnya, berlindung di dalam sampannya yang sempit, namun tetap saja ia menggigil kedinginan.
Saat itulah Siau In baru ingat bahwa buntalan pakaiannya tertinggal ketika berselisih dengan pemuda kurang ajar yang mengintipnya itu.
Teringat akan kekurangajaran Chin Tong Sia, Siau In menjadi merah kembali mukanya.
Ingin rasanya ia membunuh pemuda tak tahu adat itu, yang enak saja mengintip orang sedang berganti pakaian.
"Aaaah!"
Siau In cepat-cepat membuang kenangan yang amat memalukan itu.
Angin laut semakin kencang bertiup membuat Siau In semakin tak bisa memicingkan matanya kembali.
Akhirnya gadis itu bangkit dari tidurnya.
Dipandangnya air laut yang kini tampak tenang di dalam cerahnya sinar bulan.
Dan otomatis matanya mencari-cari kalau-kalau terlihat A Liong di antara riak gelombangnya yang berkejaran ke arah pantai.
Tiba-tiba hidung Siau In mencium bau dupa wangi, tapi ketika gadis itu mencoba mencari dari mana arah bau itu datang, mendadak bau itu hilang kembali.
Tak terasa berdiri juga bulu roma Siau In.
Matanya menatap kesana-kemari, kalau-kalau ada orang yang sedang membakar dupa sekitar tempat itu.
"Jangan-jangan A Liong yang membakar dupa tapi..."
Siau In berpikir keras.
Timbul kembali harapan Siau In untuk menemukan A Liong.
Bergegas ia bangkit dari duduknya, kemudian berjalan meninggalkan sampannya, menyusuri pantai itu menyongsong angin ke arah utara.
Dan semakin jauh ia berjalan, bau dupa wangi itu semakin sering pula tercium oleh hidungnya.
Ketika kemudian tepian berpasir itu terhalang oleh tebing tinggi yang menjorok ke laut, bau dupa itu semakin keras menyentuh hidung Siau In.
Gadis itu lalu melangkah ke kiri, menyusuri tebing tersebut untuk mencari tempat yang landai agar dia bisa naik ke atasnya.
Tapi semakin jauh ke darat tebing itu justru semakin curam dan tinggi, sehingga akhirnya Siau In memutuskan untuk merayapi tebing tersebut dengan ilmu meringankan tubuhnya.
Untunglah dinding tebing itu tidak licin rata seperti tembok rumah.
Selain banyak tumbuh-tumbuhan kecil yang bisa untuk berpegangan, dinding tebing itu sendiri banyak memiliki ceruk-ceruk ataupun tonjolan-tonjolan batu karang yang bisa untuk berpijak.
Namun demikian tanpa memiliki ginkang yang tinggi rasanya sulit orang bisa merayap sampai di atas.
Ternyata dataran di atas tebing yang menjorok ke tengah laut itu cukup luas juga.
Bahkan di atasnya banyak tumbuh pepohonan rindang sampai hampir di ujungnya.
Diam-diam merinding juga hati Siau In.
Hembusan angin laut yang kuat itu membuat pohon-pohon itu bergoyang-goyang, sehingga dalam kerem angan sinar rembulan pohon-pohon itu bagaikan makhluk-makhluk hitam yang bernyawa.
Sekarang bau dupa itu benar-benar terasa menyentak hidung Siau In.
Malahan lapat-Iapat gadis itu seperti mendengar suara manusia pula.
"Ada orang di ujung tebing itu. Coba kulihat ke sana..."
Dengan mengendap-endap Siau In berjalan mendekati ujung tebing itu.
Bau dupa wangi semakin menyengat hidungnya, membuat gadis itu menjadi makin berhati-hati.
Ia tak pernah keluar dari bayangan semak maupun pepohonan yang gelap.
Siau In terpaksa berhenti sebentar di bawah semak-semak yang paling akhir.
Ujung tebing itu ternyata merupakan tanah bebatuan yang tak ada tumbuh-tumbuhannya sama sekali.
Yang ada cuma batu-batu karang tajam berserakan di sana-sini.
Dan persis di ujung tebing itu, di tempat yang kosong dari bebatuan, tampak belasan orang lelaki duduk berjajar, berderet-deret menjadi beberapa lapis, menghadap ke arah laut.
Di depan mereka terlihat berbagai macam sesaji yang ditempatkan di atas nampan-nampan bambu.
Masing-masing orang itu tampak memegang dupa yang terbakar, sehingga asapnya yang tebal bertebaran ditiup angin.
Dengan mengendap-endap di antara batu-batu karang Siau In mendekati, orang-orang itu.
Dalam jarak yang cukup dekat gadis itu berhenti.
Dipandangnya punggung orang-orang itu dengan seksama.
"Kelihatannya mereka bukanlah orang-orang persilatan. Mereka seperti orang-orang dusun biasa yang sedang mengadakan upacara sesaji kepada laut. Mungkin mereka terdiri dari keluarga-keluarga nelayan yang sedang meminta berkah kepada Dewa Laut, agar mereka selalu mendapatkan keselamatan serta memperoleh hasil ikan yang banyak setiap kali pergi ke laut"
Siau ln menduga-duga di dalam hatinya. Siau In beringsut lebih dekat lagi agar ia bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Oh, Dewi Bulan Yang Agung! Tolonglah kami sekali lagi untuk mengenyahkan setan dan hantu yang saat ini sedang meraja-lela mengganggu dusun kami, seperti ketika kau menolong kami membasmi para perompak yang menduduki dusun kami beberapa bulan yang lalu. Dan seperti juga ketika kau menolong kami mendamaikan pertengkaran serta pertempuran antar-dusun di daerah kami dua bulan yang lalu."
Siau In melihat salah seorang di antara orang-orang itu berdiri meneriakkan doa-doanya, lalu berjalan ke ujung tebing diikuti oleh yang lain sambil membawa sesajian yang tadi ditaruh di depan mereka.
Mereka melemparkan sesajian tersebut ke laut yang berdebur di bawah tebing itu.
Setelah itu mereka mengelilingi tumpukan kayu kering yang telah dipersiapkan pula di tempat tersebut.
"Kelihatannya mereka hendak membuat api unggun..."
Siau In yang melihat tumpukan kayu itu membatin.
Benar juga apa yang diduga Siau In.
Orang yang meneriakkan doa-doanya tadi tampak memimpin lagi teman-temannya untuk membakar tumpukan kayu tersebut.
Dan sebentar saja tumpukan kayu yang menggunung itu berkobar dimakan api.
Tempat itu serentak menjadi terang-benderang karena lidah api menjilat sampai tinggi di udara.
Untuk beberapa waktu orang-orang itu masih tetap berdiri di sekeliling api unggun, namun setelah api itu benar-benar berkobar dengan baik mereka lalu bersama-sama meninggalkan ujung tebing tersebut.
Mereka berjalan satu-persatu seperti orang berbaris, dengan orang yang meneriakkan doa-doa sebagai pemimpinnya.
Siau In segera bersembunyi ketika orang-orang itu lewat di dekat tempat persembunyiannya.
"Mudah-mudahan sesaji kita yang ke tiga kalinya ini dapat dilihat dan diterima oleh Dewi Bulan, sehingga dia cepat-cepat datang menolong kita, Cung-cu (Kepala Kampung)..."
Salah seorang diantara mereka berkata penuh harap.
"Mudah-mudahan saja begitu."
Orang yang memimpin doa tadi menjawab.
"Ketika datang yang terakhir kalinya itu Dewi Bulan berpesan, kita disuruh membuat api unggun yang besar di tempat ini apabila menghendaki kedatangannya."
"Tapi kita sudah tiga malam berturut-turut membuat api unggun di sini, ternyata dia belum juga datang menolong kita."
Yang lain berkata pula dengan nada kecewa.
"Ah, kau jangan berkata begitu, Ji Tek."
Orang yang pertama membuka suara tadi memperingatkan temannya tersebut.
"Bukankah Dewi Bulan itu juga mengatakan bahwa dia tidak mesti bisa datang oleh panggilan api unggun itu, karena mungkin dia berada di tempat yang jauh dari sini sehingga dia tidak bisa melihat kobaran api unggun kita."
"Kau benar, Kok Siang. Mungkin saat ini Dewi Bulan memang tidak berada di sekitar pantai Laut Timur ini."
Orang yang disebut Cung-cu tadi membenarkan ucapan orang itu.
Akhirnya rombongan itu menghilang di balik rimbunnya, pepohonan yang tumbuh di atas tebing tersebut.
Tinggallah kini Siau In sendirian di tempat persembunyiannya, sibuk memikirkan kejadian yang baru saja dilihatnya itu.
"Apa sebenarnya yang sedang dihadapi oleh orang-orang dusun itu? Mengapa mereka sampai mengadakan sesaji untuk memanggil Dewi Bulan? Dan... siapa sebenarnya yang mereka anggap sebagai Dewi Bulan itu? Masakan di atas bulan yang bersinar itu benar-benar ada seorang dewi yang mau turun ke bumi untuk menolong orang-orang itu?"
Kejadian tersebut sungguh menarik perhatian Siau In, sehingga gadis itu untuk sementara menjadi lupa akan urusan A Liong.
"Baiklah... akan kuikuti saja mereka! Akan kulihat, apa sebenarnya yang menjadi masalah mereka. Siapa tahu aku bisa melihat Dewi Bulan yang mereka harap-harapkan itu."
Bergegas Siau In meninggalkan tempat persembunyiannya.
Meskipun rombongan itu telah berada jauh.
di depan, Siau In tetap melangkah dengan hati-hati, karena siapa tahu ada satu dua orang di antara mereka yang tertinggal.
Demikianlah, dengan cara menyusup kesana-kemari di antara semak dan pepohonan, Siau In mengejar rombongan orang dusun itu.
Ternyata di balik tebing yang tinggi itu terhampar lembah yang cukup subur.
Malahan tampak pula di sana sebuah sungai kecil yang berkelok-kelok di antara tanah pertania.
Beberapa "erombol perkampungan penduduk tampak berkelompok di kanan kiri sungai kecil tersebut.
Sejenak Siau In terpesona menyaksikan pemandangan yang amat indah itu.
Di bawah tebaran sinar rembulan yang terang-benderang lembah itu benar-benar seperti sebuah taman alam yang menakjubkan.
"Nah... Itu mereka!"
Gadis itu berseru perlahan ketika melihat iring-iringan manusia ke luar dari semak-semak belukar di bawahnya.
Dari atas tebing iring-iringan itu memang sangat jelas sekali.
Mereka keluar dari semak belukar dan mulai berjalan berurutan di pinggir sungai.
Siau In segera hendak beranjak dari tempatnya ketika tiba-tiba ia melihat bayangan orang di belakang rombongan orang dusun itu.
Bayangan itu juga mengendap-endap pula seperti dirinya.
Kadang-kadang berkelebat di antara bebatuan yang banyak terdapat di pinggiran sungai tersebut.
Di bawah sinar bulan bayangan itu seperti seorang perempuan bongkok yang mengenakan jubah panjang sampai ke lutut.
"Eh, siapa dia? Mengapa dia"
Mengikuti rombongan itu secara sembunyi-sembunyi pula? Apakah dia bermaksud buruk?"
Sekarang Siau In benar-benar bergegas turun, mengejar orang-orang dusun itu.
Hatinya sungguh-sungguh tergelitik untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka.
Semakin dekat dengan mereka Siau In semakin meningkatkan kewaspadaannya, apalagi pinggiran sungai itu tidak banyak semak-semak yang bisa dipakai untuk bersembunyi.
Ia hanya dapat mengandalkan ginkangnya untuk bergerak menyusup di antara bebatuan besar saja.
Bayangan perempuan bongkok itu masih berkelebatan di depan Siau In.
Perempuan itu tampaknya tak menduga kalau dirinya yang sedang diikuti orang, buktinya ia sama sekali tak pernah menoleh atau mengawasi keadaan sekitarnya.
Perhatiannya cuma ke depan, ke arah rombongan orang-orang dusun itu saja.
Namun demikian setiap bergerak atau berpindah tempat, gerakannya cepat bukan main.
(Lanjut ke
Jilid 13) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 13
"Mati aku!"
Diam-diam Siau In berdesah di dalam hati.
"Orang itu mempunyai ginkang yang sangat tinggi. Sekali saja aku salah langkah, orang itu tentu tahu kalau kuikuti."
Menyadari kalau ginkangnya masih kalah dibandingkan dengan perempuan bongkok itu, maka Siau Inn semakin tidak berani terlalu dekat.
Untunglah awan tebal lewat menutupi bulan sehingga suasana menjadi sedikit gelap.
Ketika akhirnya di kejauhan mulai tampak sinar-sinar lampu minyak yang berkedip-kedip di kegelapan malam, Siau In menghela napas lega.
"Itu tentu dusun yang mereka tuju..."
Gadis itu membatin.
"Tampaknya dusun itu... eh, kemana perempuan bongkok tadi?"
Siau In cepat-cepat meringkuk di balik sebuah batu besar, sementara matanya nanar melihat ke depan, mencari bayangan perempuan bongkok tadi, namun perempuan itu benar-benar tidak kelihatan lagi, bagaikan hantu tubuh bongkok itu seperti hilang begitu saja.
Tak terasa meremang juga bulu tengkuk Siau In, sehingga untuk beberapa waktu lamanya ia tak berani menggerakkan tubuhnya, takut kalau-kalau perempuan bongkok itu berada di sekitarnya.
"Hantuuuuu! Tolong...!"
Tiba-tiba terdengan jeritan di kejauhan.
Siau In tersentak kaget, suara itu datang dari arah rombongan orang-orang dusun tadi dan benar juga, ketika Siau In memandang ke depan dilihatnya rombongan itu telah lari cerai berai.
Masing-masing seperti berlomba untuk lebih dulu sampai ke dusun mereka.
Mendadak sebuah bayangan berkelebat lewat tidak jauh dari tempat persembunyian Siau In.
Gadis itu terkejut meskipun tidak begitu jelas, namun Siau In segera mengenalnya sebagai perempuan bongkok tadi.
"Dia membawa sesuatu di punggungnya, seperti tubuh manusia! Eh, jangan-jangan perempuan itu telah menculik seorang dari rombongan itu!"
Rasa ingin tahu membuat Siau In melupakan rasa takutnya, gadis itu segera meloncat mengejar bayangan perempuan bongkos tadi.
Untunglah awan yang menutup bulan tadi telah bergeser, sehingga lembah itu kembali menjadi terang-benderang.
Siau In melihat perempuan bongkok itu melesat cepat melintasi lembah itu, kemudian mendekati lereng bukit sebelah barat.
Walaupun larinya jauh ketinggalan dari lawannya, tapi dengan pertolongan sinar rembulan Siau In masih dapat mengikuti terus kemana perempuan itu pergi, apalagi lembah tersebut merupakan tanah lapang dan tidak banyak ditumbuhi pepohonan tinggi.
Namun Siau In sempat menjadi bimbang juga ketika sampai di kaki bukit itu, perempuan bongkok tadi sudah tidak kelihatan bayangannya lagi dari bawah dan Siau In khawatir perempuan itu telah menunggunya di atas bukit.
"Ah, persetan! Aku akan melawannya kalau dia memang berada di sana."
Akhirnya gadis itu mengambil keputusan.
Kemudian dengan sangat berhati-hati Siau In mendaki bukit itu.
Segala kemampuan yang ia miliki ia persiapkan, kalau-kalau secara mendadak mendapat serangan dari perempuan itu.
Tapi sampai di puncak bukit itu ternyata tidak terjadi apa-apa.
Perempuan bongkok itu tidak menghadangnya, bahkan bayangannyapun sudah tidak kelihatan lagi.
Sebaliknya justru ada hal lain yang lebih mengejutkan Siau In!
Tanah lereng di balik bukit itu ternyata merupakan sebuah kuburan kuno yang luas sekali.
Batu-batu nisannya, bangunan-bangunannya, benar-benar menunjukkan betapa sudah ratusan tahun umurnya.
Banyak yang sudah roboh atau rusak, meskipun dahulunya bangunan itu kelihatan sangat kokoh dan kuat.
Malahan ada beberapa di antara bangunan itu yang kini telah ditumbuhi oleh pohon-pohon yang tinggi.
"Melihat luas dan keadaan bangunannya, tampaknya kuburan ini adalah bekas kuburan orang-orang kaya dan orang-orang berpangkat di zaman dulu. Mungkin dahulu ada sebuah kerajaan di sekitar tempat ini."
Bulan sudah jauh bergeser turun ke arah barat dan lapat-lapat juga sudah terdengar suara lonceng ditabuh tiga kali dari arah perkampungan penduduk.
Hari telah menunjukkan pukul tiga pagi.
Suara binatang malam juga sudah mulai berkurang, sementara embun pagi sebaliknya malah menjadi semakin tebal turun ke bumi.
Kabut dingin tampak mulai mengepul menyelimuti tanah kuburan itu, namun demikian semua itu tidak menghalangi niat Siau In untuk mencari perempuan bongkok tadi.
Selangkah demi selangkah gadis itu turun memasuki tanah kuburan tersebut.
Langkahnya tetap berhati-hati, bahkan sebentar-sebentar selalu berhenti untuk mengamati keadaan lebih dahulu.
Ternyata apa yang dilakukan oleh Siau In tersebut membuahkan hasil pula.
Ketika untuk yang kesekian kalinya dia berhenti mengamati keadaan, tiba-tiba matanya menangkap sebuah gerakan di tengah-tengah kuburan itu.
Sebuah bayangan tampak melintas di antara dua bangunan yang masih berdiri megah.
Bayangan itu kemudian masuk ke salah satu dari bangunan megah tersebut.
"Itulah dia perempuan bongkok tadi. Tak salah lagi. Tapi... apakah dia tinggal di tempat itu? Aaaaaaah!"
Sekejap merinding juga bulu roma Siau In, dani otomatis bermacam-macam bayangan menakutkan melintas di dalam pikirannya.
"Sebenarnya... sebenarnya dia itu manusia atau hantu? Kalau manusia biasa... Kenapa berada di tempat yang menyeramkan begini? Tapi kalau hantu, mengapa bisa menggendong orang dan berlari seperti manusia biasa? Ah, kepalang tanggung... sudah sampai di sini, masakan aku harus kembali lagi? Biar kulihat saja sekalian, hantu atau bukan!"
Dengan bekal nekad Siau In beringsut sedikit demi sedikit mendekati bangunan tua itu.
Semakin dekat perasaan Siau In juga semakin tegang, sehingga jantungnya hampir copot ketika dua ekor tikus tiba-tiba berlari melintas di depannya.
Bangunan itu sudah retak-retak dindingnya, bahkan gentingnyapun juga sudah banyak yang pecah dan berlubang-lubang pula sehingga sorot sinar bulan dengan leluasa menerobos masuk menyibak rumput dan alang-alang, juga tampak meraja-lela di antara rekahan-rekahan dinding dan lantainya yang berlumut.
"Benar-benar sebuah bangunan yang menyeramkan..."
Siau In berdesah dengan bulu meremang.
Dalam jarak lima tombak Siau In berhenti dan tidak berani maju lagi, khawatir bila secara mendadak perempuan bongkok itu keluar memergokinya.
Kebetulan pula tempat di mana ia berhenti terdapat sebuah pohon tua yang besar dan rimbun daunnva, dari salah satu cabangnya menjulur panjang mendekati bangunan itu.
"Sebaiknya aku naik ke atas pohon ini dan mengawasi bagian dalam bangunan itu dari atas genting."
Tanpa menimbulkan suara Siau ln merayap mendekati pohoh tua itu, lalu memanjatnya perlahan-lahan.
Gadis itu tidak berani melompat langsung ke dahan dengan ilmu meringankan tubuhnya, karena takut gerakannya justru bisa ditangkap oleh orang lain.
Tapi dengan merayap seperti cecak sambil berlindung di antara sulur-sulur pohon tua yang memiliki batang sebesar perut gajah itu, tubuh Siau In justru terlindung serta tidak menarik perhatian.
Sambil terus mengamati keadaan di sekelilingnya Siau In memanjat setapak demi setapak ke atas.
Beberapa kali gadis itu terpaksa berhenti karena beberapa ekor kelelawar beterbangan di sekelilingnya.
Tampaknya kelelawar-kelelawar itu merasa heran atas kehadiran seorang manusia di daerahnya.
"Teeeeng! Teeeeng! Teeeeng! Teeeeng!"
Terdengar lagi sayup-sayup suara lonceng dikejauhan memberikan tanda bahwa hari telah menunjukkan pukul empat pagi.
Sambil menengadahkan kepalanya Siau In buru-buru mengulurkan tangan guna meraih cabang pohon di atasnya.
"Aku harus cepat-cepat berlindung di balik dedaunan, siapa tahu... oooooh!"
Dengan memekik kecil dan wajah pucat pasi Siau In cepat-cepat melepaskan pegangannya!
Matanya nanar ketakutan, menatap seorang wanita muda bak bidadari yang duduk tersenyum bergantung kaki, persis di atas kepalanya!
Benda yang dikira cabang pohon tadi ternyata sebuah kaki manusia, yang tak lain adalah kaki perempuan cantik yang kini duduk di atas cabang pohon itu!
"K-k-kkau...
siapa?"
Dengan suara gugup serta hampir tak terdengar Siau In bertanya.
"Sssssst! kau duduklah dahulu di dekatku ini!"
Perempuan cantik bak bidadari itu berbisik merdu seraya menaruh jarinya yang lentik di depan bibirnya.
Untuk beberapa saat Siau In berdiam diri, sementara matanya tak lekang dari wajah yang amat cantik itu.
Akhirnya hilang juga rasa kaget, takut dan bimbang di dalam hati Siau In.
Gadis itu segera menyadari bahwa ia benar-benar sedang berhadapan dengan seorang manusia biasa, bukan dengan hantu atau bidadari.
"Ba-baiklah...!"
Siau In lalu melompat ke cabang yang melintang di depan perempuan cantik itu.
Mereka duduk berhadapan dalam jarak yang dekat, tidak lebih dari satu tombak, sehingga Siau In dapat dengan jelas memandang wajah lawannya.
Wanita itu memang benar-benar luar biasa cantiknya.
Wajahnya bulat telur dengan bentuk mata, hidung dan bibir yang amat sempurna.
Tubuhnya tinggi semampai dengan kulit yang putih cemerlang seolah-olah bercahaya di dalam gelap.
Rambutnya yang hitam panjang itu disanggul seperti puteri Istana, sementara tubuhnya yang lentur seperti pohon yang-Iiu"
Itu terbungkus mantel hitam yang panjang sampai di mata kakinya. Siau In menduga perempuan itu berusia di atas dua puluh atau dua puluh satu tahun.
"Adik manis, kulihat sejak tadi kau berlari-lari, kemudian mengendap-endap seperti ada sesuatu yang kau kejar dan kau cari. Eeeem, bolehkah aku tahu siapa yang kau cari?"
Perempuan cantik itu memecah kebisuan dengan suara yang lirih namun sangat jelas diterima oleh telinga Siau In.
Siau In tidak segera menjawab, ia masih tetap bercuriga terhadap perempuan cantik yang baru saja ditemuinya itu.
Bahkan ada terlintas di dalam pikiran Siau In, jangan-jangan perempuan bongkok tadi adalah samaran dari perempuan cantik bak bidadari ini.
Tampaknya perempuan cantik itu merasa pula kalau Siau In mencurigainya.
Namun demikian ia tak menjadi marah atau berkecil hati karenanya, bahkan ia seperti bisa memakluminya.
Pertemuan mereka itu memang sangat mengejutkan, aneh dan terasa kurang wajar!
"Maaf.
Adik manis.
Aku bukan orang jahat, kau tidak perlu khawatir.
Namaku...
giok Hong, Souw Giok Hong!"
Dengan suara sabar dan lembut perempuan cantik itu mencoba meyakinkan Siau In.
Siau In menghela napas panjang.
Ucapan yang halus bernada jujur yang keluar dari bibir perempuan itu mulai menyentuh hatinya.
Kecurigaannya menurun, walaupun ia masih tetap teringat akan pesan suhunya, agar ia selalu berhati-hati terhadap orang asing.
"Aku... aku, ah, aku bernama Siau In. Tio Siau In..."
Akhirnya meluncur juga jawaban dari mulut Siau In.
"Mmmm..."
Bibir perempuan cantik bernama Souw Giok Hong itu tersenyum lega.
"Lalu... apa yang sedang kau cari di tempat seperti ini, In-moi?"
Siau In menatap Souw Giok Hong sekejap.
Perempuan cantik yang baru saja dikenalnya itu memanggilnya adik, seakan akan mereka telah menjadi sahabat akrab, sehingga Siau In semakin merasa tidak enak untuk bercuriga terus menerus.
"Aku, aku... sebenarnya tidak mencari siapa-siapa. Aku... aku tersesat. Cuma, ketika aku memasuki makam kuno ini, aku seperti melihat berkelebatnya sebuah bayangan di bangunan itu sehingga aku ingin melihatnya. Emmmm, apakah Cici juga melihatnya?"
Souw Giok Hong memandang bangunan yang ditunjuk oleh Siau In. Dahinya berkerut, lalu mengangguk perlahan. Meskipun demikian ia tak segera menjawab. Lebih dulu dia mengawasi Siau ln.
"Ya, aku memang melihatnya. Bahkan aku sudah bersiap untuk mengejar bayangan itu, tapi... Niat itu segera kuurungkan karena aku melihat kedatanganmu. Eh, In-moi... apakah kau penduduk Lim-kang-cung itu?"
Siau In menggeleng.
"Cici maksudkan... dusun di pinggir sungai itu?"
Ujarnya menegaskan.
Sikap Siau In sudah mulai longgar.
Souw Giok Hong mengangguk, kemudian berpaling mengawasi langit yang mulai semburat kemerah-merahan.
Fajar mulai menyingsing dan sebentar lagi matahari akan muncul dan peraduannya.
"Pagi telah tiba. In-moi, aku pergi dulu. Lain kali kita berjumpa lagi..."
Tiba-tiba Souw Giok Hong berdesah, lalu tubuhnya yang terbungkus mantel hitam itu melayang ke bawah dan sekejap saja telah hilang di balik semak-semak belukar.
"Cici, tunggu...!"
Siau ln berseru kaget.
Tapi perempuan cantik bak bidadari itu benar-benar telah pergi.
Bayangannya seperti terhisap oleh kabut pagi yang mengepul menvelumuti kuburan kuno itu.
Siau In tertegun di tempatnya.
Wajahnya sedikit pucat dan diam-diam bulu romanya meremang.
Perempuan cantik yang mengaku bernama Souw Giok Hong itu datang dan pergi bagaikan hantu malam.
Sama sekali tak terlihat atau terdengar gerakan tubuhnya.
Tahu-tahu seperti muncul atau menghilang begitu saja dan yang kini tertinggal hanyalah baunya yang harum semerbak tertiup angin.
Siau ln bergegas turun dari pohon itu.
Sebentar ia menoleh ke arah bangunan kuno di mana bayangan perempuan bongkok tadi malam menghilang.
Dadanya berdebar-debar, kembali timbul keinginannya untuk melihat tempat tersebut mumpung hari telah terang tanah.
Setelah menarik napas panjang beberapa kali untuk menguatkan hatinya Siau In melangkahkan kakinya ke bangunan kuno itu.
Setiap langkah rasanya seperti menginjak lumpur liat yang kental, sehingga langkahnya terasa berat dan agak tertahan-tahan.
Apalagi ketika sepatunya telah menginjak lantai pendapa yang berlumut tebal itu, Siau In seperti hendak mengurungkan niatnya saja.
Bangunan itu memang benar-benar menyeramkan.
Lantai dan temboknya yang telah pecah-pecah atau retak-retak itu banyak ditumbuhi alang-alang, rumput atau tetumbuhan perdu lainnya.
Sementara genting dan susunan kayu penyangga atapnya juga sudah banyak yang kropos dan runtuh ke bawah, sehingga atap gedung itu tampak bolong di sana-sini.
Ruang dalamnya yang terlihat dari luar karena pintunya telah hilang itu kelihatan pengab, kotor dan menyeramkan pula.
Rasanya sudah bertahun-tahun, bahkan mungkin sudah berpuluh tahun ruangan dalam itu tak diinjak manusia.
Keadaannya benar-benar porak-poranda.
Tiba-tiba Tio Siau In terpekik kecil karena dua ekor ular mendadak melintas di dekat kakinya.
Kedua ekor binatang menjijikkan itu saling berlumba untuk menangkap anak tikus yang lari ketakutan.
Anak tikus itu melesat ke ruang dalam, diikuti oleh dua ekor ular pengejarnya.
Mereka segera hilang di balik bongkahan-bongkahan batu bekas patung yang berserakan di dalam ruangan itu.
Tio Siau In menghela napas sambil mengusap dadanya yang berdebar-debar.
"Sialan! Mengagetkan orang saja!"
Sungutnya perlahan.
Akibatnya Tio Siau ln mengurungkan niatnya memasuki pintu yang terbuka itu.
Dia tak mau bertemu dengan ular-ular yang menjijikkan tadi.
Langkahnya berbelok ke kanan, keluar dari pintu samping, lalu berjalan mengitari bangunan itu ke arah belakang.
Tio Siau In ingin masuk ke dalam gedung itu dari pintu belakang.
Sementara itu matahari benar-benar telah muncul di ufuk timur.
Sinarnya yang terang keemasan itu segera mengusir sisa-sisa kegelapan yang masih bercokol di kuburan kuno itu.
Tio Ciu In menjadi lega.
Semangat keberaniannya seperti pulih kembali.
Bagian depan dan belakang ternyata sama saja.
Sama-sama rusaknya.
Bahkan ruangan-ruangan yang ada di belakang hampir dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan berduri yang menjalar kemana-mana.
Tio Siau In enggan masuk, takut ada ularnya lagi.
Dia hanya menjulurkan kepalanya saja melalui lubang jendela.
"Iiiih...! Tak ada tempat sedikitpun yang bersih dan lapang untuk lewat. Bagaimana mungkin perempuan bongkok itu dapat masuk ke sini?"
Gadis itu berdesah.
Tio Siau In lalu mengelilingi bangunan itu.
Dicarinya tempat yang kira-kira memungkinkan untuk masuk.
Namun usahanya sia-sia, semua tempat juga penuh dengan onak dan duri.
Malahan dinding gedung yang sebelah kanan hampir runtuh karena terbelah oleh pohon yang tumbuh melekat di dindingnya.
Begitu besarnya pohon tersebut sehingga salah sebuah dahannya yang rimbun itu telah mengangkat sebagian dari atap gedung itu.
"Ah, sudahlah! Lebih baik aku kembali ke pantai saja, atau...wah, perutku lapar!"
Mendadak gadis itu berseru perlahan ketika tiba-tiba dari balik alang-alang di depannya muncul tiga ekor kelinci yang gemuk-gemuk.
Tanpa membuang waktu lagi Tio Siau In mengejar kelinci-kelinci itu.
Tapi tampaknya binatang berbulu tebal itu sudah bercuriga sejak semula, sebab begitu Tio Siau In bergerak maka merekapun segera menghilang ke dalam semak-semak.
Akan tetapi Tio Siau In juga tidak ingin kehilangan calon sarapan paginya.
Semak itu segera diaduknya, sehingga kelinci itu terpaksa lari ketakutan.
"Huup!"
Salah seekor di antaranya cepat disambar oleh Tio Siau In.
Kena.
Namun dua ekor lainnya keburu menghindar dan menyusup ke semak-semak yang lain.
Tio Siau In tidak berusaha mengejar mereka lagi.
Seekor sudah cukup baginya.
Demikianlah, tanpa membuang-buang waktu lagi ia menguliti buruannya.
Sama sekali dia tak peduli bahwa dirinya masih berada di kuburan.
Panas matahari yang semakin terik itu membuatnya tidak takut akan segala macam hantu, termasuk pula hantu perempuan bongkok itu.
Yang penting baginya adalah mengisi perutnya yang lapar.
Sebentar saja bau sedap daging kelinci bakar memenuhi tempat itu.
Dan Tio Siau In dengan gayanya yang bebas dan sedikit urakan menyantap daging yang telah matang.
Sambil berdiri menopangkan sebelah kakinya di atas batu nisan (bong-pai), gadis itu berkacak pinggang seraya mengunyah makanannya.
Sama sekali ia tak berusaha menutupi decak mulutnya yang penuh daging itu.
Tanpa kehadiran sang kakak di sampingnya, Tio Siau In memang merasa bebas dan merdeka.
Segala tingkah lakunya tiada yang mencela atau memarahinya.
Wataknya memang bebas terbuka dan tidak pedulian.
Bahkan cenderung untuk bersikap seenaknya sendiri.
Sepotong demi sepotong daging kelinci itu amblas ke dalam perutnya.
Namun demikian ketika daging itu telah habis, perutnya masih terasa kurang.
"Memalukan benar! Masakan sudah menghabiskan seekor kelinci perut ini masih belum kenyang juga? Wah, kalau cici ada... tentu sudah marah-marah kepadaku."
Gumamnya sambil mengendorkan tali celananya.
Karena masih merasa lapar Tio Siau In mulai mengincar dua ekor kelinci tadi.
Pelan-pelan kakinya melangkah mendekati semak-semak di mana kedua kelinci tadi bersembunyi.
Dan gerumbul perdu yang menutupi gundukan tanah sebuah makam itu disingkapnya hati-hati.
Lalu dengan merangkak ia menyusup di bawah dedaunan yang rimbun itu untuk mencari buruannya.
Diam-diam Tio Siau In tersenyum geli sendiri.
Semak itu ternyata hanya rimbun di bagian atas saja, karena di bagian bawah amat longgar, mengingatkan dia pada ayam-ayam piaraannya yang suka bersembunyi dan bertelur di semak-semak seperti itu.
"Tampaknya aku juga seperti ayam-ayamku itu. Sehabis makan kenyang, lalu mencari tempat tersembunyi untuk... bertelur! Hehehe, rasanya aku juga ingin... buang air besar! Heeei? Apa itu?"
Mata Tio Siau In terbelalak.
Di depannya tampak sebuah lubang persegi setinggi satu meter, menembus ke dalam tanah.
Di dalam bayang-bayang rimbunnya daun, lubang itu menganga bagaikan mulut raksasa yang hendak mencaplok dirinya.
Tio Siau In segera bisa menduga bahwa lubang itu merupakan pintu masuk ke dalam kuburan di bawahnya.
Zaman dahulu, terutama orang-orang kaya, memang sering membuatkan kamar-kamar atau ruangan-ruangan yang lengkap dengan segala perabotnya di dalam makam sanak familinya.
Ruangan-ruangan itu bisa dibuatkan di dalam tanah, di bawah gundukan makamnya, atau bisa juga dibangun di atas kuburan itu, berwujud seperti pondok atau rumah biasa.
Perlahan-lahan Tio Siau In mundur kembali.
Entah mengapa bulu romanya terasa meremang membayangkan apa yang ada di dalam lubang kuburan itu.
Namun baru saja dia beringsut beberapa langkah, tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah banyak orang mendatangi tempat itu.
Terpaksa dia merangkak ke tempat semula, bahkan lebih dekat lagi dengan pintu makam yang menganga itu.
Hati-hati ia mengintip dari balik rimbunnya daun.
"Nah... Inilah dia, Tuan! Dia benar-benar bersembunyi di sini! Baru saja dia membakar daging di tempat ini! Dia tentu melihat kedatangan kita...!"
Tio Siau In beringsut semakin dalam dan tanpa ia sadari ia telah bersandar di bibir pintu makam itu.
Dari tempatnya itu ia masih bisa melihat orang-orang yang baru saja datang.
Mereka terdiri dari tujuh orang lelaki, di mana empat orang di antaranya ternyata telah pernah dilihat olehnya.
"Ah, mereka orang-orang kampung yang mengadakan upacara di atas tebing itu. Hanya tiga orang aneh berpakaian putih-putih itu saja yang belum pernah kulihat. Siapakah mereka?"
Tio Siau In berkata di dalam hatinya.
Tiga lelaki yang dimaksudkan oleh Tio Siau In itu memang berpenampilan aneh dan agak menyeramkan.
Selain pakaian berwarna putih yang mereka kenakan itu dibuat dari kain kasar yang biasa digunakan untuk membungkus mayat, rambut mereka yang panjang itu juga mereka biarkan terurai lepas pula.
Usia mereka rata-rata belum mencapai empat puluh tahun, namun karena wajah mereka sangat pucat dan kurus seperti orang yang sedang menderita penyakit berat, maka mereka kelihatan lebih tua.
Tapi yang paling membuat seram di hati Tio Siau In adalah pancaran sinar mata mereka.
Mata yang cekung dan menjorok ke dalam itu bersinar dingin menyeramkan, seperti mata hantu di kegelapan malam.
"Kalian cepatlah menyingkir! Aku masih membaui kehadirannya di tempat ini... tiba-tiba salah seorang dari lelaki menyeramkan itu menggeram dengan suaranya yang serak.
"Tapi... tapi kuharap Tuan berhati-hati menghadapinya. Hantu Bongkok itu masih membawa teman kami..."
Lelaki menyeramkan itu mendengus dingin, lalu berpaling ke arah teman-temannya.
"Sute, bersiaplah! Tampaknya kali ini kita benar-benar beruntung bisa menemukan persembunyian budak perempuan dan pengasuhnya itu!"
Katanya serak penuh harap.
"Baik, suheng! Kita harus bisa menangkap dia dan mengambil kembali pusaka yang dicurinya!"
Sementara itu Tio Siau In menjadi bingung di tempat persembunyiannya.
Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Dia tak mengenal mereka dan tak tahu siapa mereka pula.
Tapi kalau mereka bertiga benar-benar mengobrak-abrik tempat itu untuk menemukan perempuan bongkok, otomatis mereka akan menemukan dirinya juga.
"Daripada mereka menemukan aku bersembunyi di sini, lebih baik aku mendahului keluar menemui mereka."
Katanya di dalam hati.
Tio Siau In lalu mengerahkan tenaga saktinya untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Kemudian diperiksanya kedua pedang pendek yang terikat di dalam lengan bajunya.
Akan tetapi ketika dia hendak bangkit dari tempatnya, tiba-tiba sebuah totokan membuatnya lemas tak berdaya.
Tio Siau In ingin berteriak, tapi mulutnya tak kuasa mengeluarkan suara.
Ia hanya mampu terbelalak mengawasi seorang wanita tua yang menyeretnya ke dalam lubang makam itu.
Entah mengapa, mendadak saja hatinya menjadi ketakutan setengah mati.
Ia seperti sedang dijemput oleh Giam-lo-ong untuk dibawa ke Akherat.
Semuanya gelap gulita dan Tio Siau In merasakan seperti diseret melalui lorong-lorong yang berliku-liku.
Kadang-kadang seperti melalui sebuah pintu dan memasuki sebuah ruangan, tapi kadang-kadang juga seperti menaiki atau menuruni sebuah tangga pula.
Lama sekali rasanya Tio Siau In diperlakukan seperti itu.
Dibawa setengah diseret, berputar-putar naik turun tangga, tanpa sedikitpun wanita tua itu berbicara kepadanya.
Wanita itu berjalan dengan langkah cepat seolah-olah dia bisa melihat di tempat gelap.
Akh!
Tio Siau In baru menyadari keanehan itu!
Dia yang masih muda saja sama sekali tak bisa mempergunakan matanya untuk menembus kegelapan itu, tapi mengapa wanita tua itu malah bisa berjalan dengan lancar seperti di tempat terang saja?
Keringat dingin membanjir membasahi tubuh Siau In.
Bagaimana kalau wanita tua itu mendadak meninggalkannya di tempat itu?
Bagaimana ia bisa keluar nanti?
Dan bagaimana kalau ia ditinggalkan di antara mayat-mayat atau tulang-belulang yang tentu banyak terdapat di dalam makam itu?
Brug!
Tiba-tiba Tio Siau In merasa tubuhnya diletakkan dengan kasar di atas lantai yang dingin.
Lalu terdengar suara langkah wanita itu meninggalkannya.
Tio Siau In mau berteriak sekeras-kerasnya, tapi suaranya tetap tak bisa keluar!
Otot gagunya masih terkunci oleh totokan wanita itu.
Lalu dicobanya untuk membebaskan totokan yang membelenggu kaki dan tangannya.
Tak berhasil juga.
Rasa takut mulai merayapi hatinya.
Apalagi ketika hidungnya menangkap bau busuk di sekitarnya.
Bayangan mayat yang menakutkan itu seolah-olah telah menjadi kenyataan.
Hampir saja Tio Siau In menangis ketika mendadak ada seberkas cahaya memasuki tempat itu.
Dan semakin lama cahaya itu semakin banyak sehingga tempat tersebut menjadi semakin terang pula.
Namun berbareng dengan itu terdengar juga suara langkah kaki mendatangi.
Wanita tua itu ternyata telah datang kembali ke tempat itu sambil membawa obor besar di tangannya.
"Oooouuh!"
Tio Siau In menjerit kecil ketika wanita itu membebaskan totokannya.
"Berdirilah!"
Wanita tua itu memerintah dengan suaranya yang berat mengerikan.
"Kkkau... siapa?"
Tio Siau In berdesah ketakutan. Wajah yang menyerupai mayat hidup itu menyeringai.
"Diam... Kau!"
Hardiknya. Wanita itu lalu meletakkan obornya di pojok ruangan. Sekali lagi matanya yang cekung itu berkilat ke arah Tio Siau In.
"Kau tunggu sebentar di sini dan jangan pergi kemana-mana!"
Selesai berbicara wanita itu tiba-tiba menghilang.
Tubuhnya yang bongkok itu seperti tertelan oleh kepulan asap obor.
Tio Siau ln menggigil ketakutan.
Meskipun demikian kakinya bergegas melangkah mengitari ruangan itu untuk mencari pintu keluar.
Tapi usahanya sia-sia.
Ruangan itu sama sekali tak berpintu.
Keempat dindingnya tertutup rapat.
Bahkan Tio Siau ln juga tidak melihat sebuah lubang anginpun di sana.
"Lalu... dari mana wanita itu bisa keluar masuk ruangan ini?"
Tio Siau In berdesah ngeri.
Obor yang berada di pojok ruangan itu diambilnya, kemudian dicobanya kembali mencari jalan keluar.
Di pojok yang lain ia melihat lima buah peti mati yang telah terbuka tutupnya.
Dilihatnya mayat yang ada di dalamnya tinggal tulang-tulangnya saja.
"Ooooh... bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini? Apakah aku harus mati sia-sia di dalam lubang kuburan yang gelap dan mengerikan ini?"
Gadis itu lalu menjatuhkan dirinya di atas lantai.
Seluruh tubuhnya merasa lemah lunglai.
Serasa hilang semua harapan dan kini tinggal menanti maut yang akan menjemputnya.
Tak terasa air matanya mengalir.
Timbul rasa sesal di hatinya.
Ternyata dia terlalu menuruti kemauannya sendiri.
Coba kalau kemarin dia tidak ngambek dan pergi meninggalkan kakaknya, dia tentu tidak akan mengalami kejadian seperti ini.
"Cici...!?"
Ratapnya sedih.
* * * Ternyata di kota Hang-ciu, Tio Ciu In sendiri juga tidak kalah sedihnya.
Sejak Siau In pergi, gadis ayu itu sama sekali tidak bisa memicingkan matanya.
Bagaimanapun juga dia merasa bersalah atas kepergian adiknya.
Dan dia harus mempertanggung-jawabkan hal itu di depan gurunya.
Demikianlah, ketika akhirnya korban kebiadaban orang-orang Hun itu dibawa ke kota, maka suasana di-kotapun lalu berubah menjadi gempar.
Korban yang berjumlah lebih dari empat puluh jiwa itu disemayamkan berjajar di pendapa Kabupaten.
Semua orang menjadi sibuk.
Bupati, sebagai penguasa tertinggi di kota itu segera mengumpulkan pembantunya.
Mereka segera berembuk dengan para petugas keamanan daerah, serta para utusan dari Kotaraja yang kebetulan belum meninggalkan kota itu!
Mereka benar-benar menjadi penasaran atas kejadian itu.
Memang semua orang sangat penasaran.
Mereka ingin tahu, apa sebenarnya yang telah terjadi di pantai malam itu?
Dan mereka juga ingin tahu pula, siapakah orangnya yang begitu berani membantai para perwira dan prajurit itu?
Ternyata Liu Wan juga merasa penasaran pula.
Pemuda itu akhirnya juga membatalkan niatnya untuk meninggalkan kota itu.
Pemuda yang setiap harinya selalu menyamar sebagai Tabib Ciok itu juga ingin memastikan, apakah pembantaian itu juga dilakukan oleh Mo Goat seperti yang dikatakan Jeng-bin Lokai?
"Penjahat biasa memang tidak mungkin berani membasmi kelompok prajurit dan perwira kerajaan!
Dendam pribadi juga tidak mungkin sampai membantai pemenang sayembara sebanyak itu!
Satu-satunya kemungkinan memang hanya...
gerombolan Mo Tan!
Jadi kelihatannya memang benar dugaanku selama ini!
Sogudai, yang selalu berkeliaran di daerah Tionggoan itu, memang merupakan sebagian dari orang-orang Hun yang disebar oleh Mo Tan!
Dan kemungkinan besar Mo Goat adalah atasan Sogudai, atau sebaliknya!
Yah, benar...
Memang tak pelak lagi!"
Pemuda itu mencoba merangkai semua penyelidikannya selama ini.
Keesokan harinya seorang pelayan mengetuk pintu kamar Liu Wan.
Pelayan itu melapor bahwa ada dua orang tamu mencari Liu Wan.
Ketika Liu Wan keluar, ternyata tamu itu adalah Ku Jing San dan Song Li Cu, saudara seperguruan Kwe Sun Tek.
"Oh, saudara Ku dan Nona Song! Marilah, silakan duduk!"
Tapi Ku Jing San cepat menggoyangkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tetap memegang tongkat penyangga tubuhnya.
"Tak usah, saudara Liu. Kami hanya singgah sebentar saja. Kami hanya ingin menanyakan khabar Twa-suheng. Kemarin Twa-suheng bersama saudara Liu pergi menemani Nona Tio ke perkampungan Hek-to-pai. Tapi kami lihat Twa-suheng tidak kembali bersama-sama saudara Liu. Lalu... Kemana Twa-suheng kami?"
"Aduh, maaf...! Ketika kemarin kami pergi ke markas Tiat-tung Kai-pang, kami melihat saudara Ku dan Nona Song sehingga kami lupa mengatakan hal itu kepada Jeng-bin Lokai."
"Lalu... di manakah Kwe suheng sebenarnya?"
Song Li Cu menyela dengan suara kurang senang.
Tio Ciu In yang kamarnya tidak terlalu jauh dari kamar Liu Wan, bergegas keluar mendengar ribut-ribut itu.
Dengan senyum ramah dia menyapa murid-murid keluarga Kwe tersebut.
"Ah, ternyata saudara Ku dan Nona Song. Ada apa...? Ada sesuatu yang bisa kami bantu?"
"Saudara Ku dan Nona Song ke sini untuk bertanya tentang saudara Kwe..."
Liu Wan menyahut. Lalu pemuda itu bercerita tentang munculnya tokoh Pondok Pelangi yang mengajak Kwe Sun Tek ke Pulau Meng-to.
"Pondok Pelangi?"
Ku Jing San dan Song Li Cu mengerutkan kening. Mereka belum pernah mendengar nama itu.
"Ya, katanya tokoh itu ingin bertemu Keh-sim Taihiap."
"Ingin bertemu dengan Suhu? Ada maksud apa mereka? Ah, saudara Liu... Nona Tio kalau begitu kami mohon diri saja. Kami akan pulang juga ke Pulau Meng-to. Kami ingin tahu, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh orang dari Pondok Pelangi itu. Ayoh, Sumoi... Kita berangkat!"
Ku Jing San berseru dan menarik lengan Song Li Cu. Liu Wan dan Song Li Cu mengantar mereka sampai ke pintu depan.
"Nah, bagaimana kalau kita mencoba berkeliling kota kembali? Siapa tahu adikmu sudah datang? Dia tidak akan bisa menemukan kita kalau kita hanya berdiam diri di sini."
Liu Wan berkata setelah tamu mereka pergi. Tio Ciu In cepat menganggukkan kepalanya.
"Ayoh!"
Sahutnya bersemangat.
"Tapi... aku akan mengenakan pakaian Tabib Ciok dulu! Tunggulah!"
"Eh, kenapa Twako menyamar lagi? Bukankah musuh Twako yang bernama Sogudai itu sudah pergi meninggalkan kota ini?"
Liu Wan tersenyum sambil mengepalkan tangannya.
"Aku tetap akan memburu orang itu sampai ketemu...!"
Ucapnya tegas.
Demikianlah pagi itu mereka berkeliling kota kembali untuk mencari Siu In.
Tapi dari pagi hingga matahari berada di atas kepala, gadis bengal itu tetap tak dapat mereka temukan.
Sama sekali tidak ada petunjuk tentang Siau In.
Liu Wan yang diam-diam juga mencari berita tentang Sogudai dan rombongan Mo Goat, juga tidak memperoleh khabar apa-apa.
Sebaliknya, secara tak terduga Ciu In justru menemukan isyarat atau tanda yang diberikan oleh gurunya.
"Twako... eh, Tabib Ciok. Guruku sudah tiba di kota ini. Lihatlah pit berwarna merah di atas bubungan rumah itu! Suhu pernah berpesan, bahwa dia akan meletakkan sebuah pit merah di atas bangunan yang paling tinggi di kota ini kalau datang."
Tiba-tiba perasaan Liu Wan menjadi berdebar-debar.
"Kalau begitu, di mana dia sekarang?"
"Entahlah! Tentunya pit itu ditaruh di sana sejak tadi malam. Tidak mungkin Suhu menaruhnya pagi ini. Tempat ini sangat ramai. Sekarang Suhu tentu sudah berada di salah satu penginapan di kota ini. Twako, marilah kita mencarinya..."
Mereka lalu berkeliling kota kembali.
Selain mencari Siau In, mereka juga mencari Giam Pit Seng.
Tapi nasib mujur memang belum berada di tangan mereka.
Sampai matahari mulai bergulir dari puncaknya, mereka belum bisa menemukan orang yang mereka cari.
Tapi sekali ini jerih payah Liu Wan benar-benar mendapat imbalan.
Sekilas pemuda itu melihat bayangan Mo Goat dan kawan-kawannya di depan kabupaten.
Tapi karena tidak ingin meresahkan hati Ciu In, pemuda itu tidak mengatakan apa-apa.
Di pinggiran kota mereka beristirahat dan berteduh di bawah pohon.
Dengan perasaan kesal dan kecewa Ciu In menyeka keringatnya.
"Twako... Kemana kita harus mencari lagi?"
Liu Wan menatap wajah Ciu In. Gadis itu benar-benar kelihatan kesal dan kecewa sekali.
"Wah, kau panggil aku... twako lagi! Bagaimana kau ini? Bukankah kini aku sedang menyamar sebagai Tabib Ciok? Celaka! Bagaimana kalau di depan Gurumu nanti kau tetap memanggil aku Twako? Bisa berantakan penyamaranku!"
Pemuda itu mencoba mengalihkan perhatian. Tio Ciu In pura-pura cemberut dengan mencibirkan bibirnya yang tipis.
"Baiklah... baiklah! Aku berjanji takkan menyebutmu Twako lagi, dah!"
Liu Wan tersenyum meskipun senyumnya nyaris tertutup oleh kumis dan jenggot panjang Tabib Ciok.
"Bagus! Begitu baru cocok! Nah, begini... Mungkin Gurumu tidak tidur di penginapan. Mungkin dia bermalam di rumah kawan atau keluarganya. kau tahu, siapa sahabat atau keluarganya di kota ini?"
Tio Ciu In mengangkat wajahnya. Dahinya berkerut. Dicobanya mengingat, kalau-kalau gurunya pernah bercerita tentang sahabat atau familinya di daerah itu.
"Tapi Guru... guruku tak pernah bercerita tentang keluarga atau sahabatnya yang tinggal di kota ini. Entahlah..."
Akhirnya gadis itu menjawab ragu.
"Baiklah. Kalau begitu kita pergi saja ke markas Tiat-tung Kai-pang sekarang. Siapa tahu mereka memperoleh berita tentang adikmu atau... gurumu? Biasanya kaum persilatan lebih cepat memperoleh khabar daripada orang awam."
"Kau benar! Mengapa tidak terpikirkan oleh kita sejak tadi?"
Tio Ciu In bersorak gembira. Liu Wan tersenyum kembali.
"Yah, pikiran itu juga baru saja timbul dalam pikiranku. Tapi sebaiknya... Kita mencari rumah makan dulu untuk mengisi perut. Jadi ada alasan buat kita nanti untuk menolak jamuan makan para pengemis itu. Bagaimana? Atau... Kau memang berminat untuk mencicipi masakan mereka?"
Terbayang di dalam pikiran Tio Ciu In sebuah bumbung bambu milik Jeng-bin Lokai. Bumbung itu digunakan untuk minum secara bergantian. Dan mereka tidak pernah mencucinya lebih dulu.
"Ih, tidak mau! Lebih baik berpuasa daripada harus makan bersama mereka."
Demikianlah, mereka lalu mencari rumah makam yang terdekat. Mereka memilih tempat yang baik dan bisa leluasa melihat ke jalan raya.
"Aku akan tinggal beberapa hari lagi. Aku ingin mengetahui lebih jelas tentang pembantaian para perwira dan perajurit kerajaan itu."
Liu Wan berkata sambil memesan makanan kepada pelavan.
"Betul...? Wah!"
Tio Ciu In hampir bersorak, tapi segera terdiam pula.
Wajahnya tiba-tiba menjadi merah.
Namun Liu Wan pura-pura tak melihatnya.
Pemuda itu justru melayangkan pandangannya keluar pintu, ke arah anak-anak gelandangan yang bergerombol di pinggir jalan.
Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan Mo Goat dan kawan-kawannya.
Gadis yang ia curigai sebagai pelaku pembantaian para perajurit itu ternyata masih berkeliaran di dalam kota.
Tiba-tiba perasaan Liu Wan menjadi kecut.
Wajahnya berubah.
Sebuah dugaan buruk melintas di benaknya.
"Jangan-jangan pihak yang berwenang memang belum mencium gerakan orang-orang Hun ini."
Katanya di dalam hati.
"Twako! kau... Kau kena apa? Mengapa tiba-tiba wajahmu menjadi pucat?"
Tio Ciu ln menjerit kaget. Liu Wan tersadar kembali.
"Ah, maaf. Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Aku hanya bercuriga terhadap seseorang."
Katanya sambil tersenyum untuk menghibur hati Ciu In.
Matanya yang tajam itu menatap keluar, memperhatikan sebuah kereta yang mendadak berhenti di seberang jalan.
Seorang lelaki jangkung kurus, dengan kulit putih pucat seperti penderita penyakit berat, keluar dari dalam kereta.
Orang itu menyeberang jalan dan melangkah menuju ke restoran.
Kusirnya yang sudah tua mengikuti di belakangnya.
Orang itu mengenakan kain katun kasar, berwarna putih, seperti pakaian yang dikenakan oleh orang-orang yang sedang kesusahan.
Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai menutupi pundaknya.
Anak-anak gelandangan yang berkumpul di depan restoran itu berlarian menyongsongnya.
Mereka berlumba mengacungkan tangan sambil memohon belas kasihan.
"Kasihanilah kami, Tuan. Sejak kemarin sore kami belum makan."
Seperti penyanyi opera mereka meratap bersama-sama.
Lelaki berambut panjang itu berhenti dan menengadahkan kepalanya.
Angin bertiup keras menyibakkan rambut yang terjurai di depan keningnya.
Wajah yang tertutup jenggot dan kumis itu tertimpa sinar matahari.
"Ah...! Hampir saja aku mengira Lo-Cianpwe buta itu yang datang."
Liu Wan berdesah perlahan.
"Siapa...??"
Tio Ciu In menoleh dengan kening berkerut. Liu Wan menunjuk keluar, ke arah tamu yang baru saja datang.
"Oooh...?!?"
Ciu ln terpekik perlahan.
Penampilan orang itu memang hampir sama dengan si Pendekar Buta.
Bahkan lebih menyeramkan.
Di depan pintu restoran orang itu merogoh saku jubahnya, lalu memberikan beberapa keping uang tembaga kepada anak-anak itu.
Tentu saja anak-anak itu menjadi gembira bukan main.
Sambil mengucapkan terima kasih mereka berlarian ke jalan raya.
"Pai-cu...???"
Kusir itu berseru kaget.
Matanya mengawasi bocah-bocah terlantar itu.
Liu Wan yang sedang menyamar sebagai Tabib Ciok itu tiba-tiba bangkit dari kursinya.
Hatinya berdebar-debar.
Ada sesuatu yang mengerikan pada orang itu, tapi ia tidak bisa mengatakan sebabnya.
"Twako ada apa lagi? kau membuatku takut saja!"
Ciu In berseru kesal. Liu Wan cepat menggelengkan kepalanya. Perlahan ia duduk lagi di atas kursinya.
"Entahlah! Aku... aku tidak tahu."
Gumamnya kurang jelas sehingga Ciu In menjadi semakin kesal pula.
Sementara itu pelayan telah meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
Dan begitu menyaksikan makanan yang tersedia, Ciu In segera melupakan sikap Liu Wan yang menjengkelkan.
Dengan penuh semangat dia mengajak Liu Wan menyantapnya.
"Tabib Ciok, ayolah...!"
Akhirnya Liu Wan terseret pula oleh kegembiraan Tio Ciu In.
Dibuangnya pikiran buruk yang sedang menghantui pikirannya.
Kemudian dipandangnya wajah ayu itu seolah-olah meminta maaf.
Mereka lalu menyantap makanan itu dengan lahap.
Selesai makan mereka langsung keluar pula tanpa menghiraukan tamu lainnya.
Ketika melewati jalan setapak di pinggiran kota mereka dihentikan oleh seorang pengemis berwajah bersih.
Terlalu bersih untuk ukuran pengemis.
Bahkan berkesan agak genit dengan dandanan rambutnya.
Usianya sekitar tiga puluhan tahun lebih sedikit.
Pakaiannya benar-benar bersih dan rapi, meskipun di bagian dada ditempelkan tiga lembar kain tambalan.
Dan jumlah tambalan itu merupakan pertanda dari tingkat kedudukannya di dalam perkumpulan.
"Apakah saudara anggota Tiat-tung Kai-pang?"
Liu Wan menyapa pengemis itu dengan ramah. Orang itu tidak segera menjawab. Matanya memandang Liu Wan dan Tio Ciu In berganti-ganti... dan mata itu akhirnya berhenti pada wajah Tio Ciu ln.
"Apakah Nona murid pendekar Giam Pit Seng dari Aliran Im-yang-kauw?"
Pengemis itu tiba-tiba bertanya kepada Tio Ciu In. Sambil melirik ke arah Liu Wan, Tio Ciu In mengangguk. Dia tak tahu arah pembicaraan pengemis itu.
"Maaf. Bolehkah aku melihat sepasang pedang pendek Nona?"
Pengemis itu tetap bercuriga. Tio Ciu In mengerutkan dahinya. Ia merasa kurang senang dengan sikap itu. Tapi Liu Wan cepat menggamit lengannya.
"Tidak apa. Perlihatkan saja kepadanya!"
Bisiknya perlahan. Dengan agak segan Tio Ciu In mengeluarkan pedang pendeknya. Senjata itu dipegangnya erat-erat. Mendadak pengemis tua itu memberi hormat.
"Maaf, Nona Tio. Aku memang mendapat perintah untuk menjemputmu. Pendekar Giam Pit Seng kini berada di markas kami. Beliau telah menunggu Nona sejak tadi pagi."
"Oh, Suhu benar-benar berada di markas Tiat-tung Kai-pang?"
Tio Ciu In bersorak lega.
"Benar, Nona. Dan... Maafkanlah kelakuanku tadi. Aku belum mengenal Nona, karena aku tak berada di markas ketika Nona mengunjungi kami."
"Tapi... paman sudah mengenal Tabib Ciok ini, bukan?"
Tio Ciu In ingin tahu, apakah pengemis itu mengenali penyamaran Liu Wan.
"Mengenal secara pribadi... Memang belum. Tapi semua anggota Tiat-tung Kai-pang tentu sudah mendengar nama dan melihat Tabib Ciok."
Pengemis itu menjawab tegas. Liu Wan menghela napas lega. Ternyata penyamarannya masih tetap baik.
"Terima kasih. Kalau begitu kami juga ingin tahu nama besar Saudara. Bolehkah...?"
Liu Wan menjura.
"Namaku Ho Bing! Tapi kawan-kawan biasa memanggilku si Tongkat Bocor! Dan aku berada dibawah pimpinan Jeng-bin Lokai!"
Pengemis itu menjawab dengan cepat.
"Tongkat Bocor...?"
Tio Ciu In bergumam, namun tak berani bertanya lebih lanjut.
Mereka bertiga lalu menyusuri jalan yang berdebu.
Tapi belum ada seratus langkah, mereka mendengar siulan dari belakang.
Otomatis ketiganya berhenti dan menoleh.
"Lo Kang...!"
Liu Wan berseru ketika dilihatnya orang yang bersiul tadi ternyata pelayannya.
"Ada apa? Mana saudaramu? Mengapa kau menyusulku?"
Pelayan setia itu menggerak-gerakkan kedua tangannya untuk menjawab. Raut wajahnya tampak tegang dan penasaran.
"Apa yang dia katakan, Tabib Ciok?"
Tio Ciu In bertanya kepada Liu Wan. Ternyata air muka Liu Wan berubah pucat.
"Dia mengatakan bahwa saudaranya terluka! Nona Tio... Kau berangkatlah lebih dulu! Setelah melihat Lo Hai, nanti aku akan menyusul!"
"Tapi...?"
Tio Ciu In ragu-ragu.
"Jangan khawatir! Mereka tidak apa-apa! Nah, aku berangkat dulu! Maaf, saudara Ho Bing!"
Liu Wan bergegas pergi bersama Lo Kang. Sejenak Tio Ciu In masih termangu di tempatnya. Matanya tetap saja terpaku di tempat Liu Wan hilang di balik pepohonan.
"Marilah, Nona Tio...!"
Suara si Tongkat Bocor Ho Bing menyadarkan Tio Ciu In.
Mereka lalu melangkah di atas jalan itu kembali.
Teriknya matahari sudah tidak terasa lagi, di kanan kiri jalan mulai banyak pepohonan yang rindang.
Tio Ciu In mengikuti saja langkah si Tongkat Bocor sambil melamun.
Pikirannya sudah membayangkan pertemuannya dengan gurunya.
Bagaimana dia harus melapor dan mempertanggungjawabkan kepergian Siau In?
Bagaimana kalau gurunya menjadi marah?
Lalu bagaimana pula ia harus mengatakan tentang kepergian suhengnya?
"Lho?
Paman...?
Rasanya kemarin aku tidak melewati jalan ini?"
Tio Ciu In berseru kaget ketika melewati jembatan kayu yang melintang di sebuah sungai kecil. Ho Bing menoleh.
"Kita memang mengambil jalan memutar, Nona. Jalan yang biasa kita lalui sudah tidak aman lagi dengan kedatangan para pembunuh."
"Pembunuh...? Pembunuh yang beraksi di pantai itu?"
Ho Bing mengangguk dan melangkahkan kakinya kembali.
Tongkatnya yang pendek itu diseretnya melintasi jembatan.
Untuk beberapa saat Ciu In masih termangu-mangu di tempatnya, tapi memang tiada pilihan lain kecuali mengikuti orang itu.
Ketika sampai di sebuah rawa Tio Ciu In menjadi heran.
Di tempat sepi dan terpencil itu ternyata ada sebuah pondok kecil.
Dan Ho Bing melangkah ke sana.
"Paman, mau ke mana? Tempat siapkah ini?"
Tio Ciu In bertanya ragu. Hatinya mulai was-was. Pengemis itu tersenyum aneh.
"Kita beristirahat dulu di sini. Ada seorang kawan yang ingin berjumpa dengan aku. Mari... Kita masuk!"
Katanya seraya mendahului masuk ke dalam pondok.
Tio Ciu In makin curiga.
Pengemis itu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, seperti masuk ke rumah sendiri saja.
Padahal rumah itu cukup bagus.
Terlalu bagus untuk seorang pengem.
Perasaan Ciu In menjadi semakin was-was.
Seperti ada perasaan yang mengatakan bahwa tempat itu sangat berbahaya baginya.
Tapi sebelum otaknya mampu berpikir lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara lolongan serigala.
Dan suara itu bersaut-sautan, semakin lama semakin dekat.
"Kawanan serigala...?"
Tio Ciu In terbeliak kaget. Otomatis kakinya melangkah ke dalam pondok.
"Di rawa-rawa ini memang banyak berkeliaran serigala pemakan bangkai. Baik bangkai hewan maupun bangkai... Manusia!"
Ho Bing yang berada di dalam ruangan itu tiba-tiba tertawa seram.
Tio Ciu In terbelalak.
Tangannya mencengkeram gagang pedang di balik bajunya.
Tapi hatinya segera bergetar hebat ketika melihat rombongan serigala itu tiba-tiba telah berhamburan datang.
Begitu banyaknya mereka, sehingga dalam tempo singkat halaman pondok itu telah penuh dengan serigala.
Tio Ciu ln bergegas menutup pintu dan jendela, namun beberapa ekor di antaranya sempat melompat melalui jendela.
Gadis itu menjerit dan melompat ke atas meja.
Otomatis pedang pendeknya tercabut dan berkelebat melindungi diri.
"Srrrrt!"
Dua ekor serigala segera meraung kesakitan karena terbelah perutnya.
Bau darah membuat serigala-serigala itu menjadi buas.
Mereka segera menerkam dan menjarah bangkai kawanan yang masih berkelojotan itu.
Mereka berebut sambil meraung, menggeram dan melolong!
Dan lolongan itu bagaikan tengara perang bagi serigala yang lain.
Kawanan binatang buas itu tiba-tiba menyerbu pintu dan jendela.
Mereka mencakar, menggigit dan menerjang daun pintu bagaikan telah menjadi gila!
Daun pintu itu mulai berderak mau pecah, sementara dari lubang jendela yang belum tertutup baik itu telah masuk beberapa ekor serigala lagi!
Meski agak tinggi, tapi beberapa ekor serigala muda ternyata mampu melompati jendela itu.
Tio Ciu In mengamuk, rasa ngeri membuat gadis itu membabat mati semua serigala yang mendekatinya.
"Hihihihi... bagus! Bagus!"
Ho Bing yang berdiri di pojok ruangan tertawa sambil bertepuk tangan.
"Paman! Bantu aku...!"
Tio Ciu In berteriak.
"Bantu? Eh-oh? Baik... baik! Aku datang!"
Ho Bing memutar tongkatnya kuat-kuat, lalu menerjang ke depan.
Desing suaranya mengaung bersamaan dengan derak pecahnya pintu rumah.
Puluhan ekor serigala berhamburan ke dalam, bagaikan kawanan semut memasuki liangnya!
Tio Ciu In menjerit dan berteriak sambil menghentakkan pedangnya.
Dan setiap kali pedangnya terayun, maka tentu ada dua atau tiga ekor serigala yang mati!
Darah muncrat dan memercik kemana-mana!
Akan tetapi semua itu tidak membuat mereka takut.
Bahkan bau daah membuat mereka semakin beringas.
Semuanya seperti sudah berubah menjadi gila.
Mereka meminum darah yang mengalir dari bangkai kawan kawannya dan mencabik-cabik juga dagingnya.
"Pamaaaaaan...!?!?"
Sekali lagi Tio Ciu In memekik. Gadis itu benar-benar merasa ngeri menyaksikan kebuasan binatang itu.
"Ya-ya, aku datang! Awaaaaas...!"
Tapi yang didapatkan oleh Tio Ciu In kemudian, ternyata sungguh di luar dugaannya!
Begitu tiba di dekatnya tiba-tiba ternyata Ho Bing justru menyabetkan tongkatnya ke arah pergelangan tangan Ciu In!
"Wuuuuut!"
Sabetan itu benar-benar cepat dan kuat luar biasa! "Hei!? kau...???"
Tio Ciu In menjerit kaget. Namun sambaran tongkat itu tak mungkin dapat dielakkan lagi. Tio Ciu In hanya mampu mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tangannya.
"Taaaak!"
Tongkat itu dengan telak menghajar pergelangan tangan Tio Ciu In!
Gadis itu berteriak kesakitan.
Meski tidak sampai mematahkan pergelangan tangannya, tapi pukulan tongkat itu terasa nyeri luar biasa!
Sampai-sampai pedang yang ada di dalam genggaman tak bisa dipertahankan pula!
Senjata itu terlempar jatuh menimpa kawanan serigala!
"Kenapa...
Kenapa kau menyerangku?"
Di dalam kekalutannya Tio Ciu In masih sempat berteriak.
Tapi Ho Bing tak mau memberi kesempatan lagi.
Tongkatnya yang garang itu sekali lagi terayun dalam bentuk lingkaran.
Begitu kuatnya sehingga tongkat itu mengeluarkan suara lengkinganSeperti suara suling yang ditiup kuat-kuat!
Sekejap telinga Tio Ciu In seperti tercocok oleh ribuan jarum!
Otomatis konsentrasi dan keseimbangannya ter ganggu!
Dan pada saat itu pulalah tiba-tiba tongkat Ho Bing menerjang pinggangnya!
"Auugh!"
Tio Ciu In mengeluh.
Tubuhnya terhuyung.
Ujung tongkat itu mengenai jalan darah ki-ping-hiat di bawah punggungnya, yang membuat seluruh tubuhnya menjadi lemas.
Dan kawanan serigala itu telah siap untuk menerkam tubuh Tio Ciu In.
Tapi Ho Bing lebih dulu menyambarnya.
"Hihihi... tidak boleh! Ini bagianku, kawan!"
Ho Bing menggendong tubuh Tio Ciu In.
Dengan tangkas ia menerobos kepungan serigala, lalu masuk ke ruangan dalam melalui pintu rahasia.
Sementara itu pesta pora tetap berlangsung dengan meriah.
Kawanan serigala yang sudah terlanjur gila itu saling menyerang diantara mereka sendiri.
Sebentar kemudian Tio Ciu In telah siuman kembali.
Dia sangat terkejut ketika mengetahui dirinya berada di dalam gendongan Ho Bing.
Dia mau meronta, tapi tak bisa.
Seluruh urat darahnya tersumbat!
Berbicarapun ia tak mampu!
Ho Bing membawanya ke ruang bawah tanah.
Satu persatu kakinya melangkah menuruni kayu.
Tubuhnya yang kecil memang terlalu berat untuk menggendong tubuh Ciu In.
Ruangan itu benar-benar lembab, sehingga lampu minyak di atas meja tak mampu untuk menghangatkannya.
Di pojok kiri ada sebuah bangku panjang beralaskan jerami.
Ho Bing meletakkan tubuh Tio Ciu In di sana.
"Hihihi, aku sungguh beruntung sekali hari ini! Sekali menebar jala, seorang bidadari cantik dapat tertangkap dengan mudah! Oh-hoooo, betapa mulus kulitnya! Benar-benar seperti sutera!"
Bagaikan orang gila Ho Bing meraba dan mengelus-elus pipi dan leher Tio Ciu In.
Di dalam ketakutannya Tio Ciu In terus mencoba membebaskan diri.
Dan akhirnya ketika wajah yang kasar dan berminyak itu hendak mencium pipinya, Ciu In telah berhasil membebaskan urat gagunya.
"Jangannnnnn...!"
Tio Ciu In menjerit keras sekali, sehingga Ho Bing meloncat mundur saking kagetnya.
Beberapa saat lamanya pengemis itu memandangi wajah Tio Ciu In.
Dia seperti tak percaya bahwa gadis itu mampu melepaskan totokannya.
Tapi ketika dilihatnya gadis itu hanya bisa melepaskan urat gagunya, ia tertawa "Bukan main!
Ternyata tenaga dalammu hebat juga.
kau dapat membebaskan diri dari totokanku, meskipun hanya sebagian...!
Untunglah aku tadi tidak berlaku sembrono terhadapmu.
Coba, kalau aku hanya main pukul saja, tanpa menggiring dan menjebakmu di dalam rumah ini, mungkin tugasku bisa gagal!"
"L-le-paskan aku...! Lepaskan aku! Aku..."
Tio Ciu In berseru serak dan hampir menangis.
"Lepaskan? Huh, enaknya! Aku sudah dibayar mahal untuk tugas ini. Bagaimana mungkin aku bisa membatalkannya? Hehe he! Apalagi setelah melihat wajahmu! Betapa cantiknya! Aku benar-benar terpesona, tanpa diupahpun aku juga mau..."
Selesai berbicara Ho Bing kembali mendekatkan wajahnya untuk mencium Tio Ciu In.
"Tahaaaaaan!"
Gadis ayu itu menjerit lagi.
"Ada apa lagi, Bidadariku? Ingin kubuka dulu pakaianmu agar kau tidak merasa kegerahan? Boleh... boleh!"
"Jangaaaaann...!"
"Lalu, apa yang kau kehendaki?"
Ho Bing yang sudah kalap itu berhenti sebentar.
"Ceritakan dulu! Siapa kau sebenarnya? Dan siapa pula yang mengupahmu?"
Tiada jalan lain bagi Tio Ciu In selain mengulur-ulur waktu.
Sambil bertanya otaknya bekerja keras untuk mencari jalan keluar.
Pengemis itu mengedip-edipkan matanya.
Wajahnya kelihatan puas sekali.
Puas dan gembira.
"Oh, jadi kau ingin tahu siapa yang memberi tugas kepadaku? Boleh! Nah, apakah kau kenal dengan gadis cantik bernama... Mo Goat? Dia yang memberi banyak uang kepadaku. Dia meminta agar aku mau menangkapmu dan mengurungmu di tempat ini, lalu memperkosamu setiap hari, sampai akhirnya kau mati secara mengenaskan."
Bulu roma Tio Ciu In bergetar dengan hebat. Wajahnya menjadi pucat, seakan-akan darahnya langsung membeku mendengar ancaman itu.
"Mo Goat...?"
Tio Ciu In ternganga.
Di dalam kengeriannya Ciu In merasa kaget setengah mati.
Gadis kejam yang dijumpai di restoran itu ternyata benar-benar membuktikan ancamannya.
Semua orang yang bentrok dengan dia harus mati.
Apalagi dia itu orang Han.
Dan kini, gadis itu benar-benar mengirimkan seorang pembunuh kepadanya.
Sungguh keji!
Begitu ingat Mo Goat, otak Ciu In segera ingat kepada Pendekar Buta pula!
Dan untuk sekejap matanya berbinar.
Tapi sekejap kemudian wajahnya kembali muram.
Tak mungkin dia bisa meminta pertolongan orang itu.
Selain tempat itu sangat terpencil, ruang di mana dia beradapun jauh di bawah tanah.
Meskipun berteriak setinggi langit, tak seorangpun akan bisa mendengarnya.
Apalagi cuma dengan bernyanyi seperti yang diminta oleh orang tua itu.
"Nah, kau sudah mengenal gadis itu, bukan? Dan tentang aku, kau juga sudah tahu pula. Selama ini aku memang sangat menyukai perempuan, sehingga kawan-kawanku memberi julukan si Tongkat Bocor, hehehe...!"
Selesai tertawa pengemis itu kembali mendekatkan mukanya.
Dan kali ini Tio Ciu In tak ingin menjerit lagi.
Satu-satunya jalan untuk melawan hanya menyemburkan ludahnya ke muka penjahat itu!
"Cuuuh!
Cuuuh!"
Ho Bing tak menyangka akan hal itu menjadi kelabakan. Wajahnya yang kelimis dan berminyak itu segera berlepotan dengan ludah Tio Ciu In.
"Bangsat keparat! Perempuan celaka!"
Bukan main berangnya pengemis itu. Sambil mengeluarkan kata-kata kotor tangannya mencengkeram baju Tio Ciu In dan merenggutnya kuat-kuat.
"Brrrrrrt!"
Baju itu sobek dan terlepas.
Tak selembar benangpun menutupi pundak dan dada Tio Ciu In, sehingga kulitnya yang lembut itu seolah-olah bercahaya di dalam kegelapan.
Begitu mempesonakan pemandangan itu sehingga Ho Bing seperti terpaku di tempatnya.
Tak terasa pengemis itu menelan ludahnya berkali-kali.
(Lanjut ke
Jilid 14) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 14 Akan tetapi sebaliknya, Tio Ciu In Hampir pingsan mendapat perlakuan seperti itu.
Rasanya takut, malu dan ngeri, membuat gadis itu seperti kehilangan akal.
Tiba-tiba Ho Bing terbelalak.
Matanya yang melotot itu melihat sebuah tato kecil di bagian kiri atas dari buah dada Tio Ciu In.
Gambar tato itu berbentuk burung Hong!
Burung Hong yang sedang mengepakkan sayapnya.
Indah bukan main!
Sekali lagi Ho Bing menelan ludahnya.
Pemandangan itu membuat otaknya semakin tidak bisa dikendalikan lagi.
Namun sebelum ia menerkam tubuh Tio Ciu In, lonceng di dalam ruangan itu tiba-tiba berbunyi.
"Kurang ajar! Sudah berkali-kali kukatakan bahwa jangan sekali-kali datang ke tempat ini! Tapi tetap saja datang! Huh!"
Mulutnya menggeram. Dengan sikap malas dan geram pengemis itu melangkah ke tangga. Sambil berjalan matanya tetap tak lepas dari tubuh Tio Ciu In, sehingga tubuhnya hampir menabrak meja.
"Baiklah, kau tunggu dulu sebentar! Aku akan melihat siapa yang datang! Setelah itu kita lanjutkan lagi acara kita..."
Sebentar kemudian pengemis itu meng hilang di balik pintu.
Merasa ada kesempatan Tio Ciu In lalu berusaha untuk membebaskan totokannya.
Berkali-kali ia mengerahkan tenaga dalamnya.
Tapi totokan itu benar-benar sulit dibuka.
Keringat sampai mengalir membasahi dada bergambar burung Hong itu.
Akhirnya tidak hanya keringat yang mengalir, tapi air matapun mulai menetes dari mata Tio Ciu In.
Gadis ayu itu benar-benar mulai putus asa sekarang.
Dan di dalam keputusasaannya, tak terasa bibirnya mulai bergumam dengan nyanyian.
Nyanyian yang disukai si Pendekar Buta itu.
Semakin lama semakin keras.
Bahkan untuk melepaskan segala kepepat-an hatinya, Tio Ciu In menyanyikannya dengan seluruh perasaan.
Bahkan dengan dorongan seluruh tenaga saktinya.
Suara yang keluar dari bibir Ciu ln memang tidak terlalu keras, namun dorongan tenaga dalamnya ternyata mampu menggetarkan udara di sekelilingnya.
Memantul dan bergema ke segala penjuru, bagaikan getaran suara guruh yang merambat melalui udara.
Ternyata tanpa disadari Tio Ciu In bernyanyi dengan Iontaran ilmu Coan-im-jip-pit!
Apabila di malam yang gelap gilita.
Tiba-tiba muncul Bulan Purnama.
Maka malampun bagai tersentak dari tidurnya.
Untuk menyambut hangatnya Sang Pelita Malam!
Kekasihku...!
Aku selalu mengharap kehadiranmu!
Sementara itu pada saat yang hampir bersamaan Liu Wan telah tiba di tempat kediamannya.
Rumah di tengah-tengah empang itu kelihatan sepi.
Dan Lo Kang yang sudah tidak sabar lagi un-tuk melihat keadaan saudaranya, segera mendahului menyeberang.
Pelayan gagu itu bergegas membuka pintu.
Tapi tiba-tiba tubuh Lo Kang terpental balik.
"Lo Kang!"
Liu Wan berseru.
Pemuda yang berpakaian sebagai Tabib Ciok itu melesat ke depan dengan tangkasnya.
Tubuhnya yang tegap itu bagaikan burung rajawali yang terbang melintasi empang.
Di lain saat tubuh Lo Kang telah ditangkapnya.
Liu Wan menurunkan tubuh Lokang di sampingnya.
Matanya hampir tak lepas dari lubang pintu, di mana Lo Hai yang baru saja menyerang saudaranya itu berdiri dengan garang.
Pembantunya yang lain itu telah siap untuk melancarkan pukulannya lagi.
"Lo Hai...! kau kenapa, hei?"
Liu Wan berteriak bingung.
"Mengapa kau menyerang saudaramu?"
Tapi Lo Hai yang biasanya sangat penurut itu, tiba-tiba melompat ke luar dan menghantam dada Liu Wan.
Dari te lapak tangannya meluncur getaran tenaga berputar seperti layaknya tenaga untuk menutup botol minuman.
Liu Wan terkejut.
Lo Hai langsung mempergunakan ilmu silat perguruannya, Hong-lui-kun-hoat (Pukulan Petir dan Badai)!
Pukulan itu merupakan pembukaan dari jurus yang ke sembilan, yang di-sebut Badai Berputar Menerjang Ombak!
Jurus itu biasa dilontarkan bila berhadapan dengan lawan bertenaga besar!
Lo Hai maupun Lo Kang memang bukan saudara seperguruan Liu Wan.
Mereka berdua hanyalah pelayan dan pembantu kepercayaan gurunya.
Namun oleh gurunya mereka berdua juga diberi pelajaran ilmu silat.
Meskipun hanya kulitnya!
Tapi karena sebelum mengabdi pada guru Liu Wan, Lo Kang dan Lo Hai juga telah memiliki ilmu silat tinggi, maka tambahan ilmu itu sudah cukup membuat mereka semakin berbahaya.
Demikianlah, meskipun jurus Badai Berputar Menerjang Ombak tersebut tidak ditopang dengan tenaga sakti yang asli dari perguruan Liu Wan, namun perbawanya ternyata cukup mengerikan.
Dada Liu Wan yang merupakan sasaran pokok dari pukulan itu tiba-tiba seperti diremas olah sebuah kekuatan yang tidak kelihatan!
"Lo Hai, jangan!"
Liu Wan berteriak dan bergegas melejit ke samping untuk menghindarkan diri.
Karena terburu-buru maka segumpal dari jenggot penyamarannya terlepas.
Namun seperti orang kesurupan Lo Hai tetap saja menyerang Liu Wan.
Semakin lama semakin gencar.
Bahkan serangan itu tetap tidak mau berhenti walaupun Lo Kang yang sudah bisa mengo-bati luka-lukanya itu mencoba melerai saudaranya.
"Sudahlah, Lo Kang. Engkau mundurlah! Biarlah kucoba untuk melumpuhkan kekuatannya dulu."
Liu Wan memperingat kan pembantunya. Lo Kang memberi isyarat kepada Liu Wan.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan melukainya. Aku hanya ingin melumpuhkannya, agar kita lebih tahu apa yang menyebabkan dia berbuat seperti ini."
Pemuda itu menjawab.
Tapi untuk melumpuhkan Lo Hai tidaklah mudah.
Ilmu silat Lo Hai hanya satu tingkat di bawah Liu Wan.
Maka dengan sangat terpaksa pemuda itu juga mengeluarkan ilmu andalannya.
Hong-lui-kun-hoat!
Liu Wan menjejakkan kakinya ke lantai.
Tubuhnya segera melenting ke atas dalam jurus Awan Mengambang Menutupi Bumi.
Kedua lututnya menempel perut, sementara kedua lengannya mengembang ke depan membentuk sapit udang.
Kemudian dengan sekuat tenaga pemuda itu mengayunkan kedua kakinya ke bawah, menuju ke arah ubun-ubun!
Lo Hai tersentak kaget.
Tapi gerakannya sungguh cepat puja.
Sambil mengangkat kedua sikunya ke atas, orang tua itu melangkah setindak ke kiri.
Gerakannya sungguh indah.
Tubuhnya meliuk ke kanan seperti pohon cemara yang akan roboh.
Namun bersamaan dengan gerakan itu, ke sepuluh jari tangan Lo Hai telah terkepal dalam bentuk kepala ular.
Selanjutnya kepala ular itu segera me-matuk kaki Liu Wan.
Kali ini Lo Hai tidak mempergunakan ilmu Hong-lui-kun-hoat lagi.
Orang tua itu mengeluarkan ilmu silatnya sendiri.
Sebuah ilmu silat dari daerah Selatan, yang lebih mementingkan kekuatan tenaga dalam daripada kemampuan geraknya!
Gerakannya sangat sederhana dan mudah diduga, namun dengan kekuatannya ternyata gerakan itu sulit dielakkan!
Tangan itu memang, belum menyentuh sasaran, tapi kekuatan yang mendorongnya ternyata telah lebih dulu tiba di kaki Liu Wan.
Sengatan udara panas membuat Liu Wan cepat-cepat menarik kedua kakinya sambil membuat salto dua kali ke depan.
Jleg!
Tanpa mendapat kesulitan pemuda itu mendaratkan kakinya di depan pintu.
Dari tempatnya berdiri Liu Wan segera menyerang kembali.
Kedua tangannya mendorong ke depan dalam jurus Satu Petir Dua Gelombang.
Jurus ke dua puluh satu dari Hong-lui-kun-hoat.
Dari telapak tangannya meluncur angin pukulan yang menyambar punggung Lo Hai dengan dahsyatnya.
"Dhuaaaar!"
Pukulan itu menyambar tempat kosong, karena dengan tangkas Lo Hai telah keburu melejit ke kanan!
Melihat letupan yang dahsyat itu Lo Kang tak kuasa menahan dirinya lagi.
apapun yang telah dilakukan Lo Hai kepadanya, dia tetap tidak tega melihat saudaranya itu terluka.
Dengan badan masih terasa sakit, ia segera melesat di antara Liu Wan dan Lo Hai.
Kedua tangannya membuat isyarat untuk memohon belas kasihan Liu Wan.
Liu Wan menggigit bibirnya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melukainya. Aku hanya ingin meringkus. Menyingkirlah...!"
Namun Lo Kang tetap menggoyang-goyangkan tangannya.
Bahkan dia lalu membalikkan tubuhnya dan berusaha memeluk saudaranya.
Tangannya mengembang ke arah Lo Hai.
Tapi tiba-tiba telapak tangan Lo Hai menyambar ke depan dengan cepatnya.
Di tangannya telah terhunus sebilah pisau tajam.
"Cuuuuuus!"
Pisau itu menancap tepat di ulu hati Lo Kang! Suatu hal yang benar-benar tak diduga oleh Liu Wan maupun Lo Kang sendiri! "Uh-uh-uh...?"
Sekejap mata Lo Kang terbelalak tak percaya. Tapi di lain saat tubuhnya segera terbanting di atas lantai. Mata itu tetap terbeliak, namun nyawanya sudah melayang.
"Lo Kang...!"
Liu Wan menjerit dan menubruk tubuh pembantunya.
Tapi lagi-lagi Lo Hai yang sudah kalap itu menghunjamkan pisaunya ke arah Liu Wan.
Untunglah Liu Wan tetap waspada.
Otomatis kedua tangannya menampar ke depan.
Karena ada kemarahan yang terpendam di dalam hati, maka seluruh kekuatannya seolah meluncur begitu saja dalam tangkisan itu.
Duaaaar!
Tangan itu seperti mengeluarkan suara ledakan ketika bertemu dengan lengan Lo Hai!
Pelayan itu mengeluh, sementara pisau di tangannya terlempar ke bawah, persis mengenai pung-gung Lo Kang!
Dan pisau itu menancap sampai di gagangnya!
Kemarahan Liu Wan benar-benar tak bisa dikendalikan lagi.
"Kurang ajar! kau... Kau! Oh, binatang apa sebenarnya kamu ini?"
Pemuda itu menjerit.
Liu Wan tak bisa berpikir lagi.
Tak terasa kedua tangannya menyambar ke depan dalam jurus Mencabut Hutan Mengangkat Gunung, gerakan terakhir dari Hong-Iui-kun-hoat!
Jurus itu diciptakan oleh kakek gurunya pada saat ditinggal pergi nenek gurunya!
Perasaan marahi, sedih dan tertekan seperti tertuang dan terungkap dalam jurus itu!
Maka tidak mengherankan bila pengaruhnya sungguh hebat tiada terkira!
Sekali lagi di hari yang cerah itu terdengar suara letupan petir menyambar.
Dan pada saat yang sama tubuh Lo-Hai tampak terlempar tinggi ke udara.
Lo Hai berusaha menyelamatkan diri dengan menggeliatkan tubuhnya beberapa kali.
Gerakan tersebut mampu menahan daya luncur tubuhnya ketika kembali jatuh ke bawah.
Namun demikian tamparan Liu Wan yang dahsyat tadi telah mengacaukan seluruh susunan syaraf dan aliran darahnya.
Bagaikan hutan dan gunung yang diaduk oleh topan puting beliung, maka seperti itu pulalah keadaan tubuh Lo Hai ketika kakinya mendarat di atas papan.
Orang tua itu sudah tidak berdaya lagi ketika menjejakkan kakinya.
Tubuhnya tersungkur di dekat mayat Lo Kang, saudaranya.
Dan matanya yang terbuka itu tampak berkedip-kedip menahan tangis.
Mata itu tampak redup dan tidak liar lagi.
Tiba-tiba Liu Wan seperti terbangun dari mimpinya.
Matanya terbelalak kosong, seolah tak percaya apa yang telah terjadi.
Dipandangnya tubuh Lo Hai yang bergetaran itu beringsut mendekati mayat Lo Kang.
Darah mengalir dari sela-sela bibirnya.
Dan sebentar kemudian orang itu telah memeluk mayat saudaranya dengan air mata bercucuran.
Keduanya mati di depan kaki Liu Wan.
"Lo Hai... Lo Kang!"
Liu Wan tak kuasa membendung rasa sedihnya.
Pada saat-saat terakhir baru terpikir olehnya ketidakberesan itu.
Sikap Lo Hai sangat aneh dan tidak sewajarnya.
Dan keadaan itu seperti sudah terlihat pula oleh Lo Kang.
Tapi karena tidak bisa berbicara, maka Lo Kang tidak bisa mengatakannya.
Lo Kang hanya berusaha untuk mencegah dan menghentikan kesalah-pahaman itu.
Liu Wan berlutut di depan mayat mereka.
Terbayang kembali saat-saat Lo Hai memeluk mayat saudaranya.
Wajah dan pandang matanya kelihatan wajar seperti biasanya.
Bahkan matanya yang berkeriput itu tampak mengalirkan air mata.
Sungguh sangat berlainan dengan saat berkelahi melawan dirinya tadi.
"Lo Hai! Apa yang telah terjadi denganmu? Bukan watakmu untuk berbuat seperti itu, apalagi sampai membunuh saudara kembarmu sendiri. Tentu ada sesuatu di luar kehendakmu, yang membuatmu berbuat seperti ini. Buktinya pada saat-saat terakhir kau kembali normal seperti biasanya..."
Satu persatu mayat itu dibawa Liu Wan ke dalam.
Mereka diletakkan berjajar di atas meja.
Ketika Liu Wan membuka jubahnya untuk menutupi jasad mereka, tiba-tiba telinganya mendengar suara mencurigakan dari ruang dalam.
"Siapa...?"
Sambil menyapa Liu Wan melesat ke dalam.
Seluruh kekuatannya siap untuk dipergunakan.
Tiada siapapun di sana.
Liu Wan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memeriksa ruangan itu.
Namun tak seorangpun dilihatnya.
Perlahan-lahan dia bergeser ke bagian belakang, dimana dia memasang gambar-gambar keluarganya.
"Ah...!"
Tiba-tiba otot Liu Wan menegang.
Tampak di dalam ruangan itu seorang pemuda tampan sedang menggoyang-goyangkan kipasnya.
Dan di sebelahnya berdiri seorang lelaki yang tak mungkin dilupakan oleh Liu Wan!
Sogudai!
Pemuda tampan itu tampak pucat, namun sorot matanya sungguh tajam luar biasa.
Di depan mereka, persis di tengah-tengah ruangan, terlihat tiga orang lelaki diikat menjadi satu.
Mereka ada-lah seorang pemuda dan dua orang tua, di mana salah seorang di antara orang tua itu benar-benar sudah lanjut usia.
"Inikah Bun-bu Siucai itu, Sogudai?"
Pemuda tampan yang tidak lain adalah Mo Hou bertanya kepada Sogudai.
"Benar, Kongcu. Telah Kongcu lihat sendiri betapa pandainya dia menyamar sebagai seorang tabib tua. Apabila tidak menyaksikan sendiri jenggotnya yang copot tadi, mungkin kita sudah terkecoh pula"
Olehnya."
Sogudai menjawab dengan suara geram.
"Jangan banyak bicara! Aku sudah tahu... dan aku tidak suka melihat dandanannya itu! Ternyata ia hanya seorang pengecut yang berlindung di balik topeng-topeng penyamarannya! Aku justru lebih menghargai pemuda lemah yang kau ikat itu. Dia lebih berani daripada pengecut itu..."
Pantang bagi pemuda seperti Liu Wan disebut sebagai pengecut.
Apalagi oleh gerombolan pengacau seperti Sogudai dan kawan-kawannya.
Tak heran bila wajah di balik penyamaran itu tiba-tiba menjadi merah padam.
"Aku belum kenal denganmu. Tapi enak saja kau berkata jelek tentang aku. Apakah kau sadar apa yang kau katakan? Apakah kau benar-benar masih waras?"
Ternyata kata-kata Liu Wan yang pedas itu menyulut kemarahan Mo Hou pula. Terdengar suara berkerotokan ketika pemuda itu mengerahkan tenaga dalamnya.
"Kurang ajar! Mulutmu sangat tajam! Kubunuh kau...!"
"Tahan!"
Liu Wan mengangkat tangannya ke atas.
"Sebelum bertempur aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Siapakah engkau ini sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Sogudai? Dan siapa pula orang-orang yang kau ikat ini?"
Mo Hou menurunkan tangannya kembali. Namun matanya masih berkilat penuh hawa pembunuhan ketika menjawab pertanyaan Liu Wan.
"Aku bukan pengecut yang suka menyembunyikan diri seperti engkau. Aku orang Hun dari luar Tembok Besar. Aku putera Raja Mo Tan Yang Agung. Namaku Mo Hou dan Sogudai adalah pem-bantuku. Kedatanganku ke sini adalah untuk menangkap dan membunuhmu, karena kau telah berani mengganggu anak buahku. Nah, apa lagi...?"
Jawaban itu memang sangat mengejutkan Liu Wan.
Meskipun sejak semula ia sudah menduga kalau Sogudai itu tentu memiliki hubungan dengan Raja Mo Tan, namun kenyataan tersebut tetap saja menggetarkan hatinya.
Kini tinggal mencari, apa sebenarnya yang dilakukan oleh orang-orang Mo Tan itu di Tionggoan.
"Dan kedatanganku di sini tidak ada hubungannya dengan orang-orang Im-yang kau ini. Kami bermusuhan dengan mereka sejak mereka mencampuri urusan kami kemarin malam. Mereka melarikan diri dari pertempuran. Maka ketika kutemui mereka di sini, kami tak mau kehilangan lagi. Nah, sekarang giliranmu untuk menyerahkan diri. Akan kuikat kau bersama mereka, kemudian kubakar bersama rumahmu ini. Hmmmmmm, bagus sekali, bukan?"
Mo Hou meneruskan ucapannya.
Liu Wan tidak memperdulikan ancaman tersebut.
Pikirannya lebih terpusat pada orang-orang yang terikat itu.
Liu Wan memang belum pernah mengenal tokoh-tokoh Im-yang-kauw.
Namun demikian di dalam hatinya timbul juga perasaan, jangan-jangan salah seorang dari mereka itu adalah Giam Pit Seng, guru Tio Ciu In.
"Aku tahu, kau ingin membalas dendam atas kekalahan Sogudai di Kuil Pek-hok-bio. Tapi sebelum bertempur, katakan juga kepadaku, apakah kematian pembantuku tadi juga karena perbuatan-mu?"
Mo Hou tertawa panjang. Gema suaranya menggetarkan permukaan air empang di sekeliling pondok itu, sehingga ikan-ikan kecil di dalamnya tampak berlarian menyembunyikan diri di balik bebatuan.
"Huh, mengapa otakmu begitu bodoh? kau telah memperlakukan Sogudai seperti binatang buruan. Maka tidak ada salahnya pula kalau aku juga memperlakukan pembantumu seperti ayam aduan. Bukankah hal itu sudah adil?"
"Manusia tak berperasaan...!"
Liu Wan mengumpat.
"Sudahlah! Waktuku tidak banyak. Dan sebentar lagi matahari juga akan terbenam. Tidak enak rasanya kalau malam-malam membakar rumah ini. Ayoh, menyerahlah! kau bukan lawan yang setimpal untukku..."
Mo Hou menggeram.
"Tunggu...! Satu pertanyaan lagi! Benarkah kAu-yang membantai para prajurit dan perwira kerajaan itu?"
Sekonyong-konyong pemuda itu menggertakkan giginya.
"Tidak salah! Setiap prajurit Kerajaan Han memang layak untuk dibunuh! Nah... Kau mau apa?"
"Kemarin aku bertemu dengan seorang gadis bernama Mo Goat. kau kenal"
Dia?"
Dalam kekagetannya Liu Wan masih berusaha untuk mengorek keterangan sebanyak-banyaknya.
Mo Hou tersentak kaget.
Matanya yang dingin tajam itu berkilat-kilat mengawasi Liu Wan.
Ada sinar kecurigaan di mata bak burung hantu itu.
"Kau maksudkan seorang gadis yang selalu memegang kipas seperti kepunyaanku ini?"
Tanyanya kemudian tak percaya.
"Ya!"
Liu Wan menganggukkan kepalanya. Mo Hou menatap Sogudai sebentar.
"Gila! Kenapa bocah itu sudah ada di sini?"
Ia bergumam penasaran.
Pemuda itu melangkah setindak ke depan, sehingga Liu Wan bergegas mengerahkan seluruh kekuatannya.
Mo Hou adalah putera Mo Tan, Raja dari seluruh suku bangsa liar di utara Tembok Besar.
Mo Tan sangat terkenal akan kehebatan ilmunya, karena itu Mo Hou tentu lihai pula seperti ayahnya.
"Dengan siapa adikku itu berada ketika bertemu denganmu?"
"Oh... jadi gadis galak itu adikmu?"
Diam-diam perasaan Liu Wan menjadi kecut. Kalau Mo Goat saja demikian dahsyatnya, apalagi kakaknya. Tak terasa keringat dingin mulai mengalir membasahi punggungnya.
"Gila! Cepat katakan...! Dengan siapa adikku itu berada?"
Tiba-tiba Mo Hou berseru bengis.
"Aku tidak tahu nama-nama mereka. Hanya salah seorang di antaranya dipanggil dengan sebutan Panglima..."
"Solinga!"
Mo Hou berdesah. Matanya menatap Sogudai.
"Kongcu...?"
Sogudai menanti perintah. Pemuda itu mendekati Sogudai, lalu berbisik pelan.
"Pergilah menemui Lok-kui-tin! Katakan kepada mereka bahwa adikku dan Panglima Solinga sudah berada di kota ini! Katakan pula agar me-reka mencari rombongan itu dan menunggu kedatanganku di tempat biasanya!"
"Bagaimana dengan dia?"
Sogudai menunjuk ke arah Liu Wan.
"Jangan pedulikan dia. Bocah yang menyamar jadi tabib ini juga akan kuikat pula seperti yang lain. Mereka akan kubakar bersama-sama rumah ini. Nah, pergilah!"
Sogudai tidak berani membantah lagi. Sekali berkelebat tubuhnya yang besar itu melesat ke luar pondok. Sebentar saja dia telah menghilang di balik rimbunnya pepohonan.
"Nah, Bun-bu Siucai... Nama julukan-mu sangat hebat. Aku percaya kepandai-anmu tentu hebat pula. Tapi demi kebaikanmu sendiri, engkau tak usah melawan. Coba kau lihat, siapa yang terikat di depanmu itu? Mereka adalah tokoh-tokoh puncak aliran Im-yang-kauw. Orang tua yang sudah uzur itu adalah Lojin-Ong, sesepuh Im-yang-kauw. Di waktu mudanya ia disebut orang Toat-beng-jin (Ma lu^sia Pencabut Nyawa). Sedangkan yang lain adalah Giam Pit Seng, Ketua Cabang Im-yang-kauw daerah timur bersama muridnya. Nah, mereka bertiga tidak kuasa melawan aku. Apalagi... Kau!"
Selesai bicara Mo Hou mengangkat tangan kanannya, siap untuk menyerang.
Tangan kirinya yang memegang kipas tetap terlipat di depan dada.
Hawa dingin berembus dari dalam tubuhnya, suatu tanda bahwa tenaga dalamnya telah tersalur ke seluruh darahnya.
Liu Wan terkejut.
Benar juga dugaan nya, ternyata salah seorang di antara orang yang terikat itu adalah guru Tio Ciu In.
Tapi tidak ada kesempatan untuk menolong mereka.
Ia tidak bisa mengelak lagi dari pertempuran itu.
Bagaimanapun juga dia tetap harus berkelahi melawan Mo Hou.
Apabila ilmu silat pemuda itu memang lebih tinggi daripada adiknya, maka kesempatannya memang sangat tipis.
Dan apa yang ditakutkan oleh Liu Wan memang menjadi kenyataan.
Begitu bergerak tubuh Mo Hou laksana burung walet menyambar mangsanya.
Walaupun sudah bersiap-siaga, gerakan Liu Wan tetap terlambat setindak.
Serangan tangan kanan Mo Hou yang berbentuk cengkeraman itu hampir saja mengenai pelipisnya.
Liu Wan sudah berusaha menghindar secepatnya, namun serangan itu tetap menyerempet rambutnya.
Bahkan dorongan hawa dingin yang menyertai serangan tersebut terasa membeset kulitnya dan mencabut beberapa lembar rambut di keningnya.
Buru-buru Liu Wan membanting tubuh ke samping, sekalian melepaskan sebuah pukulan berputar dari bawah ketiaknya.
Gerakan itu disebut Membuat Bendungan Menadah Hujan, jurus ke tiga puluh tiga dari Hong-Iui-kun-hoat.
Jurus ini memang diciptakan untuk menangkal dan menghadapi lawan yang lebih kuat.
Bagaikan sebuah bendungan air tubuh Liu Wan menyedot sebagian dari arus kekuatan lawan, kemudian memuntahkannya kembali lewat pukulan tangannya.
"Bagus...!"
Mo Hou menghindar seraya memuji.
"Dhuuuuaaar!"
Pukulan udara kosong Liu Wan meledak hanya sejengkal dari tubuh Mo Hou!
Ternyata Mo Hou bergerak lebih cepat.
Tubuhnya yang jangkung itu menyelinap ke kanan.
Begitu cepatnya sehingga mata Liu Wan hampir tidak bisa mengikutinya.
Pemuda itu seperti menghilang begitu saja.
Dan pada saat yang hampir bersamaan, Liu Wan merasa seperti diterpa oleh hembusan angin dingin dari arah belakang.
Hembusan hawa dingin itu begitu kuatnya, sehingga kulit punggungnya bagai dicocok dengan ribuan batang jarum.
Liu Wan tahu bahwa Mo Hou berada di belakangnya.
Tetapi untuk berbalik serta menangkis serangan tersebut, jelas tidak ada waktu lagi.
Namun kalau harus menghindar lagi, dia akan semakin kalah langkah dan terdesak.
Bahkan pada serangan selanjutnya dia tentu akan mati langkah dan tidak bisa berkutik lagi.
Hal itu berarti bahwa dia ditundukkan lawan dalam tiga jurus saja!
Demikianlah, pada saat-saat yang berbahaya itu tiba-tiba Liu Wan mengambil keputusan yang amat riskan dan berbahaya.
Bahkan bisa dibilang untung-untungan.
Dia biarkan pukulannya itu mengarah ke punggungnya, sementara secara naluriah tubuhnya menggeliat sedikit untuk memperkecil bidan sasaran.
Kemudian dengan berani Liu Wan menghantamkan sikunya ke belakang, untuk menyongsong pukulan Mo Hou.
Liu Wan hanya berharap agar lawannya yang belum kenal Hong-lui-kun-hoat itu menjadi ragu-ragu dan mengurungkan niatnya.
Ternyata perhitungan Liu Wan benar.
Melihat keberanian Liu Wan, pemuda itu justru menjadi curiga.
Pemuda itu menyangka ada jebakan dalam gerakan Liu Wan, sehingga dengan cepat pula dia menahan tangannya.
Serangan yang sudah hampir mengenai sasaran itu buru-buru ditarik kembali dan diganti dengan tendangan kaki ke arah pinggang.
Tapi waktu yang hanya sesaat itu sudah lebih dari cukup bagi Liu Wan.
Begitu serangan Mo Hou yang berbahaya itu ditarik, Liu Wan dengan tangkas meloncat mundur.
Gerakan yang dia laku pada saat yang sangat berbahaya lawan benar-benar cepat bukan main.
Siiiing!
Ujung sepatu Mo Hou mengejar perut Liu Wan, namun gagal.
Ujung sepatu itu hanya mampu menyerempet baju Liu Wan hingga bolong.
Sebaliknya Liu Wan yang telah dapat membebaskan diri dari tekanan Mo Hou, segera balas menerjang dengan jurus Sambaran Petir Membelah Bumi!
Telapak tangan Liu Wan menyambar ke bawah, tertuju ke arah perut Mo Hou!
"Kurang ajar!
Ternyata engkau berisi juga seperti tokoh Im-yang-kau tua itu!
Mampu melayani tiga jurus seranganku tanpa terluka!
Tapi jangan bergembira dulu, karena semuanya ini baru dimulai, serangan sebenarnya baru akan keluar sebentar lagi..."
Sambil berbicara Mo Hou melangkah ke tengah ruangan, menjauhi tubuh Lojin-Ong dan Giam Pit Seng, sekejap wajah yang tampan tapi berkesan licik itu meringis seperti menahan sakit.
"Kau memang beruntung, Bun bu siucai apabila aku tidak terluka oleh pukulan Put pai siu hong jin, kau tak mungkin bisa menghindar pukulanku tadi"
"Put pai siu hong jin? kau berkelahi dengan orang tua itu?"
"Hmmm... Lojin-Ong dan put pai siu hong jin mencoba menyelamatkan para prajurit itu, sayang usaha mereka sia-sia, Lojin-Ong melarikan dari pertempuran, sementara Put pai siu hong jin terbenam ke dalam laut."
Li Wan merasa semakin kecut hatinya, meskipun dia juga merasa memiliki kepandaian, namun kalau dibandingkan dengan Put pai siu hong jin dan Lojin-Ong terang ia belum ada apa-apanya, aabila benar mereka itu telah dikalahkan oleh Mo Hou berarti diapun tak mungkin bisa selamat pula.
Tapi Liu Wan tak ingin menyerah begitu saja, di dalam petarungan silat semua kemungkinan bisa terjadi, orang yang memiliki ilmu silat lebih tinggi belum tentu selalu mendapatkan kemenangan, kadang-kadang kecerdikan dan akal budi lebih diutamakan, bahkan nasib orangpun sering menentukan pula.
Liu Wan benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya.
Hong lui sin kang yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun terungkap sampai ke puncaknya, kulitnya berubah kecoklatan seperti tembaga yang berkilat di timpah matahari.
Mo Hou juga maklum bahwa lawannya memiliki kepandaian tinggi, tanpa ilmu silat yang baik tak mungkin pemuda itu mendapatkan julukan Bun bu siucaidan mengalahkan Sogudai.
Sogudai telah dikenalnya dengan baik, begitu pula dengan ilmu silatnya.
Oleh karena itu begitu bergerak Mo Hou mengerahkan hampir tiga perempat kekuatannya.
Tangannya menyambar ubun j ubun Liu Wan, diikuti oleh tebaran udara dingin yang berhembus memenuhi ruangan.
Pemuda yang diikat bersama-sama dengan Lojin-Ong itu tampak bergetar menahan dingin.
Liu Wan merendahkan tubuhnya.
Dari bawah ia mendorong ke atas dengan dua telapak tangan terbuka.
Seluruh tenaga saktinya bagai terhentak keluar, menerjang dada.
"Wuuuuuus!"
Suaranya terdengar bergemuruh laksana guruh yang menggelegar di antara hujan.
Mo Hou berputar ke samping untuk mengelakkan pukulan berbahaya tersebut.
Kecepatan geraknya sungguh mentakjub kan.
Sepintas lalu tubuhnya seperti bayang-bayang yang meluncur dan berkelebat pergi menjauhi Liu Wan.
Namun di lain saat bayangan itu kembali datang dengan serangan yang lebih dahsyat lagi.
Liu Wan mencoba untuk mengimbangi kecepatan lawannya, tapi tak berhasil.
Semakin lama gerakan Mo Hou semakin cepat, sehingga Liu Wan terpaksa mengobral Pukulan Geledeknya untuk bertahan.
Tanpa benteng pukulan geledek itu ia tak mungkin bisa menahan kecepatan lawannya.
"Tampaknya ilmu silatmu sudah habis. Padahal aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku, apalagi ilmu andalan perguruanku. Bagaimana...? Ingin diteruskan juga?"
Sambil melesat berputaran mengelilingi lawannya. Mo Hou mengejek.
"Sombong! Kalau memang mampu, cepat kau jatuhkan aku!"
"Tentu saja! Biasanya aku memang tidak pernah membuang-buang waktu. Kalau sekarang aku tidak lekas-lekas meringkusmu, hal itu disebabkan karena rasa kesal dan penasaranku. kau telah banyak merusak rencanaku, membuat sengsara anak buahku, sehingga aku merasa sayang kalau cepat-cepat membunuhmu. Biarlah kau menyadari dulu kesalahanmu sebelum mati. Siapa sebenarnya yang kau hadapi dan seberapa tinggi ilmu yang kau miliki, hingga kau berani me-ngacaukan rencanaku."
"Anak liar! Ayoh, jangan bicara saja!"
Liu Wan menggeram sambil menerjang ke depan.
Tampaknya Mo Hou sudah merasa cukup memberi pelajaran kepada Liu Wan.
Sikapnya yang agak kendor itu kini telah berubah menjadi kaku lagi seperti biasanya.
Dengan sinar mata dingin ia me-nyongsong terjangan Liu Wan itu dengan keras pula.
Kipasnya terayun ke depan, menyambut kepalan Liu Wan.
Tentu saja Liu Wan tidak berani adu tenaga.
Selain tenaga dalamnya masih lebih rendah, kipas Mo Hou juga bisa melukai tangannya.
Oleh karena itu pada kesempatan terakhir Liu Wan memutar pergelangan tangannya dalam jurus Memutar Kemudi Menggulung Layar.
Gelombang getaran yang kuat seolah-olah keluar dari telapak tangannya, menerjang ke depan, menepis kipas Mo Hou.
Hanya menepiskan sedikit saja, karena selain kalah tenaga, kipas itu juga terbuat dari lembaran-lembaran baja tipis yang sulit dirusakkan.
Namun tepisan yang hanya sedikit itu sudah cukup bagi Liu Wan untuk melanjutkan gerakannya.
Begitu arah kipas itu sedikit melenceng, maka kedua tangannya cepat dihentakkan ke bawah, seperti menarik tali layar secara mendadak!
Berbareng dengan itu, kaki kanan Liu Wan menggempur ke atas, ke arah kipas lawannya!
"Bagus!"
Mo Hou berseru. Sambil menyerang Liu Wan masih sempat menatap wajah lawannya. Sekilas ia melihat senyum kemenangan di bibir pemuda itu. Liu Wan terkesiap, tapi terlambat.
"Dhuuuaaar!"
Kipas itu terlempar ke udara.
Tapi pada saat yang sama tangan kanan Mo Hou menyelinap ke bawah, menyongsong tendangan kaki Liu Wan.
Cepat bukan main!
Tahu-tahu kaki Liu Wan terasa kesemutan dan selanjutnya tidak bisa digerakkan lagi.
Lemas!
Liu Wan hampir jatuh tertelungkup karena kaki itu tak mau menyangga tubuhnya.
Sambil terpincang-pincang Liu Wan berusaha membuang"
Tubuhnya ke samping. Mo Hou tidak mengejarnya.
"Hehe, masih mau melawan juga?"
Mo Hou tertawa puas. Lui Wan mencoba memunahkan totok-an Mo Hou, tapi tak berhasil.
"Kurang ajar!"
Tanpa mempedulikan kakinya Liu Wan nekad menerjang lawannya lagi. Seluruh tenaga dalamnya tersalur melalui lengannya.
"Duaarr! Duaaar!"
Ledakan-ledakan kecil memburu bayangan Mo Hou.
Semakin lama semakin cepat, sehingga bangunan kecil di atas empang itu bagaikan hendak meledak karenanya.
Mo Hou berkelebat semakin cepat mengelilingi Liu Wan.
Sambil tertawa mengejek pemuda itu sekali-sekali menggebrak pertahanan Liu Wan.
Dan beberapa kali pula serangannya itu mampu me-ngecoh benteng angin yang diciptakan Liu Wan, bahkan melukainya.
"Dhiegh! Dhuuuuuar! Dhuaaaaarr!"
Pertempuran mereka dapat diibaratkan seperti pertarungan seorang matador melawan seekor banteng liar.
Liu Wan yang memiliki ilmu silat keras dan lugas bagaikan seekor banteng liar, mengumbar pukulan-pukulan petirnya.
Sementara Mo Hou yang gesit dan lincah, laksana seorang matador, melenting kesana-kemari menghindarinya.
Hong-lui-kun-hoat memang dahsyat tiada terkira.
Tapi sayang sekali ilmu silat itu terlalu banyak menguras tenaga dalam.
Menghadapi lawan yang lincah dan pandai mengelak, ilmu itu tak bisa berbuat banyak.
Malah akhirnya bisa menjadi bumerang bagi tuannya.
Demikianlah, seperti halnya banteng liar yang hanya mengandalkan kekuatannya, akhirnya Liu Wan kehabisan tenaga.
Apalagi ketika Mo Hou beberapa kali dapat memasukkan pukulannya.
Liu Wan semakin terdesak.
Tampaknya Mo Hou benar-benar ingin membuktikan ancamannya.
Pemuda itu tidak ingin langsung membunuh Liu Wan, tapi ingin mengikat dan membakarnya bersama yang lain.
Oleh karena itu se-perti sengaja bermain-main ia menotok satu-persatu anggota badan Liu Wan.
Liu Wan memang tak bisa berbuat banyak.
Berturut-turut jalan darah pada anggota badannya tertotok lemas oleh ujung kipas Mo Hou.
Setelah kaki kanannya tak bisa digerakkan, lalu disusul oleh tangan kirinya.
Dan beberapa saat kemudian diikuti pula oleh sambaran kipas pada jalan darah pang-hu-hiat di tangan kanannya, sehingga otomatis Liu Wan hanya bisa menggerakkan kaki kirinya saja.
Kini Liu Wan tinggal bisa berloncatan dengan satu kaki.
Namun demikian pemuda itu tetap tidak mau menyerah.
Bagaikan burung bangAu-yang berloncatan dengan satu kaki, pemuda itu tetap menerjang.
Dia berloncatan menyerang dengan sabetan kakinya.
Tapi hal itu tidak berlangsung lama.
Sejurus kemudian ujung kipas Mo Hou kembali menyelinap dan menghajar dengan tepat jalan darah teng-liu-hiat di atas lutut Liu Wan.
"Thuuuuk...!"
Bruug!
Tubuh Liu Wan yang tegap itu terbanting ke lantai seperti banteng liar yang jatuh berdebam terkena jerat!
"Hehehe...
apa kataku tadi?
Seperti yang lain-lain itu maka engkaupun bukan lawan yang setimpal buatku!
Kini kau juga tak bisa bergerak pula seperti mereka."
"Sudahlah, aku memang kalah! kau bisa membunuhku sekarang!"
Liu Wan yang masih dapat berbicara itu menggeram marah.
"Tentu! Tapi aku berhak menentukan cara-cara yang kusukai untuk membunuhmu! Membunuh orang-orang sombong yang suka mencampuri urusan orang lain! Dan cera yang kuinginkan adalah... Membakar tubuh kalian, seperti layaknya membakar babi panggang di atas perapian, heheheh!"
Mo Hou tertawa kejam.
"Manusia kejam! Manusia berhati binatang!"
"Tapi sebelum aku membakar tubuhmu, aku ingin menyaksikan dulu tampang aselimu. Seperti apakah Bun-bu Siucai itu?"
Mo Hou buru-buru menambahkan. Selesai berkata, tangan Mo Hou benar-benar mencopoti penyamaran Liu Wan, sehingga wajah aseli pemuda itu terlihat dengan jelas.
"Hei, ternyata kau masih muda dan tampan. Wah... sayang juga kalau mati. Tapi... apa boleh buat. kau memang layak untuk mati!"
Demikianlah, setelah melemparkan tubuh Liu Wan ke pojok ruangan di mana tokoh-tokoh Im-yang-kauw tadi berada.
Mo Hou lalu menaburkan jerami kering yang banyak terdapat di ruang belakang.
Dan sesaat kemudian ia telah siap dengan pemantik apinya.
"Nah, selamat jalan... Kalian semua!"
Bersamaan dengan berkobarnya api yang mulai membakar pondok kayu itu.
Mo Hou melesat pergi melalui jembatan penyeberangan.
Untuk beberapa saat pemuda itu masih berdiri di tepi empang, menyaksikan lidah api yang mulai merembet ke atas atap.
Selanjutnya dengan wajah puas ia berlari meninggalkan tempat itu.
* * * Begitulah, kalau Liu Wan dan para tokoh Aliran Im-yang-kauw itu merasa kepanasan akibat kobaran api di sekitarnya, maka nun jauh di tengah lautan A Liong justru kedinginan karena harus bertarung melawan gelombang laut yang hendak menelannya.
Seharian penuh pemuda itu diombang-ambingkan ombak.
Untunglah sejak kecil pemuda itu sudah terbiasa bermain-main di sungai, sehingga dia bisa mengatur tubuhnya agar tidak tenggelam.
Dan lebih beruntung lagi ketika di tengah laut dia mendapatkan sebuah gentong kayu besar, yang biasa dipergunakan oleh para nelayan untuk menyimpan air tawar.
Tampaknya benda itu berasal dari perahu Au-yang Goanswe dan pasukannya.
Air tawar yang masih tersisa di dalam genting kayu itulah yang akhirnya banyak membantu kehidupan A Liong.
Sejak kecil A Liong memang sudah terbiasa menghadapi nasib buruk.
Bahkan pemuda itu juga sudah sangat akrab dengan segala macam kesulitan dan kesengsaraan hidup.
Namun justru kesulitan dan kesengsaraan hidup itulah yang"
Menggembleng dan menggodoknya menjadi lebih cepat dewasa dan matang.
Dengan usianya yang baru enam belas tahun itu A Liong telah memiliki watak dan kepribadian yang kokoh serta tahan uji.
Semangat hidupnya tak pernah padam.
Bahkan dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu dia tetap bergembira dan bersemangat.
Demikianlah ketika cuaca kembali cerah dan bulan yang cantik itu muncul di atas langit, maka tubuh A Liong masih tetap terayun dan terbuai oleh ayunan gelombang laut.
Bahkan"enjgar"
Mengikatkan sabuknya pada gentong kayu itu, A Liong sempat terkantuk-kantuk.
Tiba-tiba pemuda itu tersentak kaget, matanya melotot, memandang gejolak air di sekelilingnya.
Belasan benda aneh tampak timbul tenggelam di dekatnya.
Semakin dekat benda itu semakin sering berada di atas air.
Bahkan sering meloncat tinggi ke udara.
Rasa takut membuat pemuda itu tidak berani bergerak.
"Ah, kelihatan seperti ikan besar. Jangan-jangan ikan hiu!"
Beberapa saat kemudian benda-benda aneh yang belum pernah dilihat oleh A Liong itu telah tiba.
Ternyata mereka adalah sekawanan ikan lumba-lumba yang datang karena tertarik pada A Liong.
Begitu datang mereka segera berputaran di sekeliling A Liong.
Bahkan beberapa ekor di antaranya malah menggesek-gesekkan kulitnya kepada A Liong, seolah-olah binatang cerdik itu mau me-ngajaknya bermain.
Tapi karena belum pernah melihat binatang itu, A Liong tetap tidak berani berbuat apa-apa.
Bergerakpun ia tak berani.
Takut kalau binatang itu kaget Karena perutnya kosong, maka di dalam kantuknya pemuda itu membayangkan makanan dan minuman yang enak-enak.
Dibayangkannya sendiri seolah-olah dia sedang berbaring di kursi goyang dan belasan orang bidadari cantik datang mengerumuni dirinya.
Gadis-gadis cantik itu melayani makan, minum, serta memijiti kakinya.
Oh, bukan main nikmatnya!Sebaliknya ikan lumba-lumba itu kelihatan senang dan amat tertarik kepada A Liong.
Bagaikan binatang-binatang piaraan yang senang bercanda, ikan lumba-lumba itu mengerumuni A Liong.
Mereka menggosok-gosokkan kulitnya, bahkan moncong hidungnya ke kepala A Liong.
Akhirnya A Liong tidak merasa takut lagi.
Ikan-ikan bertubuh besar itu ternyata sangat bersahabat dan sama sekali tidak bermaksud jahat terhadap dirinya.
Diam-diam pemuda-pemuda itu tersenyum geli.
Di dalam pikirannya kembali terbayang bidadari-bidadari cantik yang datang mengerumuninya.
Malam semakin larut.
Bulan yang cerah itu sudah tidak kelihatan lagi.
Gumpalan awan yang tebal menutupi seluruh wajahnya, sehingga dunia seolah-olah beruban menjadi hitam kelam.
Cahaya jutaan bintang di langit tetap tak kuasa menggantikan sinar rembulan.
Lautpun tampak hitam legam, sehingga A Liong merasa seperti berkubang dalam genangan darah yang mengerikan.
Anehnya, kawanan ikan lumba-lumba itu tetap berseliweran di dekat A Liong.
Mereka bagaikan binatang piaraan yang berusaha melindungi tuannya.
Bahkan kawanan lumba-lumba itu seperti Imenggiring A Liong melalui tempat yang aman.
Dalam keadaan gelap seperti itu A Liong tidak tahu arah lagi.
Pemuda itu hanya merasa seperti dihanyutkan oleh arus laut ke arah Utara.
Semakin lama airnya semakin terasa dingin.
"Aduh... gelapnya! Andaikata ada lammm... oh?!"
A Liong terdesak dan hampir saja terminum air yang menyiram wajahnya, ketika matanya tiba-tiba melihat cahaya lampu minyak melayang mendatangi.
Tentu saja A Liong buru-buru menghindar ke balik gentong kayunya.
Tapi sesaat kemudian mulutnya kembali melongo.
"Gila!"
Pemuda itu berdesah dan ter-longong-longong bingung ketika menyaksikan lampu minyak yang hendak melanggar dirinya tadi mendadak lenyap tak keruan arahnya.
Sekejap ada perasaan seram di dalam hati A Liong.
Jangan-jangan ada hantu yang hendak menakut-nakuti dirinya.
Tapi dasar A Liong.
Rasa takut itu hanya singgah sebentar saja dalam hatinya.
Sesaat kemudian matanya justru mencari-cari, kemana perginya lampu aneh itu.
Namun sampai beberapa waktu kemudian lampu itu tak dapat dilihatnya kembali, sehingga A Liong menganggap dia tadi hanya melihat bayang-bayang saja.
Mungkin karena dia terlalu lelah, lapar dan mengantuk, pandangannya menjadi kabur.
Seolah-olah matanya melihat sebuah lampu minyak yang sebenarnya tak pernah ada.
"Ah, karena kedinginan dan kelaparan, pikiranku membayangkan hal yang bukan-bukan. Aku... Hei?!? Ke manakah kawanan ikan besar tadi?"
Sekali lagi mata A Liong belingsatan kesana-kemari.
Tapi tak terlihat apapun di sekelilingnya.
Di mana-mana hanya hitam.
Hitam dan hitam.
Hanya sekali-sekali terlihat kilatan sinar bintang yang memantul di ujung riak dan gelombang.
"Wah, jangan-jangan ikan itu juga... Hantu laut!"
Rasa seram kembali mencekam hati A Liong.
Kubangan hitam di bawahnya itu entah sampai di mana dasarnya.
Dan di dalamnya tentu dihuni oleh bermacam-macam makhluk mengerikan.
Tiba-tiba ingin rasanya ia menarik kakinya dan naik ke atas gentong kayu itu.
Tapi mana mungkin ia bisa melakukannya?
Gentong kayu itu tak cukup kuat untuk menampung tubuhnya.
Akibatnya ia se-perti berada di depan mulut ikan paus, yang sewaktu-waktu akan menelannya.
Kini rasa takut benar-benar telah menguasai hati A Liong.
Keberanian yang dimilikinya hampir tak kuasa lagi bertahan menghadapi peristiwa yang belum pernah dialaminya itu.
Bagaimanapun juga rasa lelah dan lapar membuat daya tahannya menurun.
"Oooh, tampaknya... tampaknya aku sudah... Hei, apa itu?"
Untuk ketiga kalinya mata A Liong terbelalak!
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja sebuah sampan kecil muncul dan melintas dengan cepat di depannya!
Sekilas tampak bayangan seorang manusia duduk di dalamnya.
"Cici Siau In...?!? Otomatis lidah A Liong menyebut nama Siau In. Seperti orang kesetanan A Liong berenang mengejar sampan itu. Demikian bersemangatnya sehingga gentong kayu yang terikat dengan sabuknya itu hampir terlepas dari tubuhnya. Tapi bersamaan dengan datangnya segulung ombak, sampan itu mendadak lenyap begitu saja. Sampan kecil itu bagaikan ditelan masuk ke dalam perut ombak yang ganas. Beberapa saat lamanya A Liong masih mencari kesana-kemari, tapi suasana yang gelap itu tidak menguntungkannya. Seluruhnya kembali berwarna hitam. Hitam mengerikan. A Liong tertunduk lemah. Rasa lelah dan lapar benar-benar membuat keseimbangan batinnya menjadi kacau.
"Gila! Lama-lama aku bisa gila kalau begini...!"
Demikianlah, sampai saatnya matahari memancarkan sinarnya di ufuk timur.
A Liong tetap tak bisa memejamkan matanya.
Rasa lapar benar-benar sangat menyiksanya sehingga matanya terasa berkunang-kunang.
Air laut yang bergejolak merah bak genangan darah itu tak mampu lagi menarik perhatiannya.
Burung-burung laut mulai beterbangan mencari mangsa.
Suaranya terdengar nyaring di antara gemuruhnya deru gelombang.
Mereka melayang berputaran di atas kepala A Liong, seolah-olah mereka ingin memastikan makhluk aneh yang terapung di bawah mereka.
Bahkan ada satu dua ekor, yang berani mendekati dan menyambar rambut pemuda itu.
Tapi gangguan burung itu tak mampu lagi mengusik perhatian A Liong.
Pemuda itu sudah memutuskan untuk tidak mempedulikan lagi bayang-bayang buruk yang menggoda matanya.
Pemuda itu tetap mengira bahwa semua yang dilihatnya hanyalah bayangan, yang sekejap kemudian tentu akan hilang tertiup angin.
Demikian pula ketika tiba-tiba pemuda itu melhat kawanan ikan lumba-lumba datang mendekati.
A Liong sama sekali ak peduli.
Bahkan pemuda itu tetap tak tertarik pula ketika binatang-binatang menyenangkan itu bermain-main di atas permukaan air.
Mereka bergantian meloncat ke udara dan berenang berputaran mengelilingi sebuah sampan yang ditumpangi oleh seorang kakek tua.
"Ah, tipuan lagi...! Paling-paling cuma bayangan yang hendak menggoda mataku saja! Huh!"
A Liong bergumam sambil memejamkan matanya.
"Duuuuk!"
A Liong terperanjat.
Seekor di antara ikanllAnba-lumba itu menyi tuh punggungnya dan nyaris melempar kannya ke dalam air.
Ketika A Liong berputar untuk melihat pengganggunya, sampan kecil itu telah berada di depan matanya.
Bahkan ia dapat melihat dengan jelas senyum kakek itu.
A Liong mengucak-ucak matanya.
Dia tetap belum percaya apa yang dilihatnya.
Tapi ketika kakek di atas sampan itu menyapanya, A Liong baru tergagap kaget.
"Anak muda, kau siapa...? Mengapa kau terapung-apung di sini? Apakah kau juga dari Pondok Pelangi?"
A Liong yang masih dalam keadaan gugup tak bisa segera menjawab.
Pemuda itu masih belum yakin kalau-yang dihadapi adalah manusia biasa seperti dirinya.
Dia masih tetap beranggapan bahwa apa yang dilihatnya itu cuma bayangan seperti tadi malam.
"Byuuuuuur!"
Sebuah ombak yang amat besar menghantam sampan kecil itu hingga terlempar jauh.
Begitu pula dengan gentong kayu A Liong.
Barang itu terlempar pula bersama-sama dengan pe-numpangnya.
A Liong gelagapan seperti anak ayam yang tercebur ke dalam kolam.
Namun demikian, begitu muncul dari dalam air, yang pertama dicarinya adalah kakek tua itu.
Tapi sekali lagi hatinya menjadi kecewa sekali.
Tak ada sebuah bendapun tampak di sekitarnya.
"Gila! Aku sudah gila!"
Umpatnya penuh geram.
"Byuuuuur!"
Makian dan kekesalan pemuda itu dijawab dengan gempuran gelombang lagi.
Bahkan kali ini ombak yang datang lebih besar daripada tadi.
Begitu besarnya sehingga gentong kayu itu terlempar jauh dan terlepas dari A Liong!
A Liong tidak menyadari bahwa tubuhnya terseret ke dalam pusaran air yang sangat ganas.
Sebuah pusaran yang tercipta dari pergesekan dua buah arus laut.
Air laut di tempat itu berputar dengan kuat sekali.
Jangankan manusia kecil seperti A Liong, sebuah perahu besarpun dengan mudah akan dipilinnya seperti baling-baling.
Seperti sehelai daun kering yang tak ada artinya, tubuh A Liong timbul tenggelam tak berdaya.
Memang, bagaimanapun hebat kekuatan dan kesaktian manusia, dia tetap takkan mampu melawan keganasan.
alam.
Akhirnya yang bisa dilakukan oleh A Liong hanya bertahan dan mencoba untuk menyelamatkan diri.
Agaknya Tuhan memang belum menghendaki nyawa A Liong.
Terbukti dengan segala kekuatannya pemuda itu masih bisa melepaskan diri dari pusaran air yang menggulungnya.
Bahkan dengan sisa-sisa tenaganya A Liong masih bisa berenang menjauhi tempat itu.
A Liong berenang bagaikan dikejar setan.
Pemuda itu sama sekali tak sempat memikirkan arah dan tujuannya.
Yang penting bagi pemuda itu, bagaimana menjauhkan diri dari tempat tersebut secepatnya.
Setelah terbebas dari cengkeraman maut, barulah terasa oleh A Liong betapa lemas seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba saja semangat dan kekuatannya seperti tiada lagi.
Bahkan untuk bertahan agar tidak tenggelampun pemuda itu sudah tak mampu lagi.
Bagaikan sebongkah batu yang tak memiliki kekuatan apa-apa, tubuh A Liong tenggelam.
Tiba-tiba seutas tali menjerat kaki A Liong dan di lain saat tubuh pemuda itu ditarik ke atas lagi.
A Liong tidak tinggal diam.
Merasa ada yang membantunya, tangannya berusaha menggapai seke-nanya.
Pemuda itu berpendapat, asal tangan dan kakinya bergerak tubuhnya tak-kan tenggelam.
Tapi pada gerakan yang kesekian kalinya, tangan A Liong merasa menyentuh sesuatu.
Ketika pemuda itu mengangkat kepalanya, hampir saja dahinya melanggar dinding sampan yang mendadak saja sudah berada di depan hidungnya.
Dalam kekagetannya tangan A Liong masih tak lupa untuk meraih pinggiran sampan itu.
Bahkan pemuda itu tak menampik ketika kakek tua yang mengemudikan sampan itu mengulurkan tangan untuk menolongnya.
"Wah, kita benar-benar mendapatkan ahli waris itu! Bukan main! Semula, aku sudah tidak yakin dia bisa keluar dari pusaran air itu! Sudah sekian puluh tahun kita menunggu, tak seorang manusiapun mampu keluar dari lubang itu! Hmm... ternyata benar juga kata Souw Ju Kang."
Tiba-tiba terdengar suara di belakang A Liong.
A Liong tertegun dan hampir saja melepaskan tangannya yang dipegang oleh kakek itu.
Ia bergegas membalikkan badannya untuk mencari asal.
suara itu.
Dan entah dari mana.
datangnya, tiba-tiba di belakangnya telah ada sebuah sampan yang lain.
Sampan kecil dengan seorang kakek pula sebagai penumpangnya.
Orang itulah yang berbicara tadi.
A Liong mengejap-ngejapkan matanya.
Walaupun sudah yakin kalau mereka adalah orang-orang biasa, namun dandanan dan wajah mereka tetap terasa aneh bagi mata A Liong.
Kakek pertama, yang berada di dekat A Liong bertubuh gemuk pendek.
Rambutnya yang putih seperti perak itu digelung ke atas dan diikat seperti layaknya para pendeta Agama To.
Jubahnya sudah sangat lusuh dan penuh tambalan.
Namun wajah kakek itu kelihatan terang dan bercahaya.
Anehnya, walaupun rambut di kepalanya sudah putih semua, tetapi alis mata, kumis dan jenggotnya tetap berwarna hitam legam seperti rambut pemuda belasan tahun.
Sedangkan kakek yang ke dua, bertubuh kurus, rambutnya dibiarkan terurai panjang di belakang punggungnya.
Namun seperti halnya kakek pertama, rambut yang tumbuh di kepala kakek itu juga terbagi dua.
Bahkan pembagian warnanya benar-benar sangat aneh dan tidak masuk akal.
Kepala itu bagaikan terbelah menjadi dua bagian!
Bagian sebelah kiri, rambutnya berwarna putih, semen-tara di bagian kanan berwarna hitam legam.
Pembagian warna itu benar-benar sangat aneh dan mentakjubkan.
"Hei, bocah! Apa yang kau lihat? kau belum pernah melihat orang seperti kami?"
Kata yang bertubuh kurus itu bertanya. Suaranya keras dan kaku. Raut mukanya tampak dingin penuh rasa curiga.
"Lalala... tentu saja dia masih bingung, Kek Ong! Ayoh, kita tolong dulu, baru nanti kita tanyakan siapa dia! Jangan kau takut-takuti dia dengan wajahmu yang jelek itu, lalala!"
Kakek pertama yang bertubuh gemuk itu menegur temannya sambil tertawa.
Kakek kurus itu terdiam.
Matanya yang tajam bagai mata burung elang itu menatap kawannya.
Kemudian sambil membuang muka ia menggeram, seolah-olah berbicara dengan burung-burung laut yang beterbangan di sekitar mereka.
"Huh, kau kira tampangmu yang bulat berminyak itu juga tampan, heh? Sejak dulu setiap orang selalu mengatakan kalau Bok Kek Ong lebih ganteng dari?pada Soat Ban Ong."
Kakek Soat Ban Ong yang gemuk itu tidak mempedulikan kedongkolan hati kawannya. Ia tetap tertawa terkekeh-kekeh. Sambil tertawa tangannya menarik tubuh A Liong ke dalam sampannya.
"Jangan takut, anak muda. Kami berdua memang sering berselisih dan suka berolok-olok, tetapi kami tak pernah bersungguh-sungguh. Kami adalah sahabat karib selama enam puluh tahun, la-lalaaaaaa. Bukankah begitu, Kek Ong?"
"Huh!"
Bok Kek Ong hanya mendengus saja.
Ia memutar sampannya dan mendahului berangkat meninggalkan tempat itu.
Kakek Soat Ban Ong segera membalikkan sampannya pula dan mengayuhnya di belakang Kakek Bok Kek Ong.
Belasan ikan lumba-lumba tiba-tiba muncul kembali di sekitar mereka.
Kawanan ikan besar itu berenang di kanan kiri mereka bagaikan sepasukan pengawal yang sedang melindungi junjungannya.
Sambil mendayung Kakek Soat Ban Ong bercerita.
Mereka berdua tinggal di sebuah gugusan pulAu-yang terpencil di tengah-tengah samudra luas.
Gugusan pulau itu terdiri dari delapan pulau kecil-kecil, yang hanya ditumbuhi jamur dan lumut.
Dan mereka sudah lebih dari setengah abad tinggal di sana.
Sayang keadaan dan situasi di tempat itu membuat mereka berdua selalu terkurung dan tak bisa keluar ke tempat lain.
Apalagi kembali ke daratan Tiongkok.
"Mengapa tak bisa? Bukankah Lo-Cianpwe berdua juga bisa bersampan sampai ke tempat ini?"
Tak terasa A Liong berseru.
Meskipun demikian pemuda itu tak berani sembarangan menyebut nama mereka.
Ia tahu bahwa mereka adalah orang-orang sakti.
Kakek Soat Ban Ong menoleh sambil tersenyum.
Ia kelihatan amat gembira melihat A Liong sudah mau bicara.
Ia tidak segera menjawab pertanyaan A Liong, tapi sebaliknya malah menepuk pundak pemuda itu.
"Lalala, tampaknya rasa kagetmu sudah hilang sekarang. Bagus, siapa namamu, Nak? Dari mana kau datang? Apakah kau terjatuh dari perahu yang kau tumpangi?"
A Liong menarik napas panjang.
Perasaannya memang telah menjadi tenang sekarang.
Pertemuannya dengan kedua orang itu benar-benar telah menyingkirkan kegalauan hatinya.
Tapi dengan demikian tiba-tiba dia merasakan betapa dinginnya udara di tempat itu.
Bahkan dalam guyuran sinar mentari yang kemerah-merahan itu kulitnya masih tetap terasa tebal dan kaku.
"Lalala... Mengapa mulutmu terdiam lagi?"
"Eh-oh, maaf... Lo-Cianpwe. Aku hanya merasa kaget saja, mengapa tiba-tiba udara menjadi dingin sekali?"
"Jadi kau tidak merasakan dinginnya udara di sini? Wah, hebat sekali kalau begitu! Coba kau lihat sekelilingmu! Laut di sini tidak begitu bergolak seperti di sana tadi, tapi airnya bisa kau rasakan perbedaannya. Sekali tercebur ke dalam air, tubuhmu akan segera berubah menjadi balok kayu yang tak bisa ditekuk-tekuk lagi. Lalala A Liong terkejut. Tangannya segera meraup air di bawahnya. Dan tangan itu cepat-cepat ditariknya kembali. Jarinya serasa membeku.
"Lo-Cianpwe... di mana kita sekarang? Mengapa air laut di sini dingin sekali?"
"Lho, masa kau tidak tahu kalau kita berada di Laut Utara?"
"Laut Utara?"
A Liong benar-benar kaget. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu sehari semalam dia bisa terseret ombak sedemikian jauhnya? "Hei, mengapa kau kelihatan terperanjat? Memangnya kau dari mana?"
Soat Ban Ong bertanya dengan kening berkerut.
Sekali lagi A Liong menghela napas panjang.
Matanya memandang kakek Soat Ban Ong seolah tak percaya...
Dari Hang-ciu ke Laut Utara ada ribuan lie jauhnya.
Bagaimana mungkin ia bisa percaya akan hal itu?
"Lo-Cianpwe, namaku A Liong.
siauwte datang dari daratan Tiongkok, dari kota Hang-ciu di Propinsi Se-kiang..."
"Hang-ciu? Di mana itu? Ah, sejak kecil aku memang belum pernah menginjak daratan Tiongkok, jadi... ya, mana aku tahu tempat itu?"
Kakek itu terdiam, begitu pula A Liong, sehingga suasana menjadi sunyi untuk beberapa saat lamanya.
Gelombang lautpun hampir tidak ada lagi.
Permukaan air kelihatan tenang.
Namun A Liong menjadi heran ketika merasakan sampan yang ditumpanginya itu melaju semakin cepat tanpa dikayuh.
"Lociapwe, sampan ini... sampan ini bisa berjalan sendiri?"
Serunya bingung.
"Berjalan sendiri? Lalala... Masa engkau tidak tahu? Kita berada di jalur arus laut yang menuju ke utara, maka tanpa dikayuhpun sampan ini akan berjalan sendiri Kita hanya menjaga saja agar sampan tidak berputar-putar."
"Arus laut...? Masa di dalam genangan air juga ada air yang mengalir? Aneh!"
Soat Ban Ong tertawa.
"A Liong, tampaknya kau belum mengenal jenis-jenis laut di sini. Sungguh mengherankan. Belum kenal, tapi kau mampu membebaskan diri dari sedotan pusaran maut itu. Hmmm, tampaknya Thian memang benar-benar mengirimkan kau kepadaku."
A Liong tidak tahu maksud perkataan Soat Ban Hong, tapi ia tak berkata apa-apa.
Sementara itu sampan Kakek Bok Kek Ong yang berada jauh di depan tampak diselimuti kabut tebal.
Sampan itu kelihatan bergoyang-goyang, ke kanan dan ke kiri.
Bahkan sejenak kemudian Bok Kek Ong tampak berusaha mempertahankan sampannya.
Sampan itu mulai berputar-putar.
Ketika A Liong mencoba memperhatikannya lebih lama, ternyata air laut yang tenang itu sudah mulai bergolak di depan sana.
"Lo-Cianpwe, lihat...! Bok Lo-Cianpwe seperti mendapat kesulitan."
A Liong berseru.
"Jangan khawatir. Tenang saja. Kami sudah biasa melewati tempat itu. Daerah mi adalah daerah tempat kami bercanda dan bermain-main setiap hari."
Soat Ban Ong menjawab tenang. Tiba-tiba A Liong teringat sesuatu.
"Lo-Cianpwe, kau tadi mengatakan bahwa kalian berdua hidup terkurung di pulau itu, tanpa bisa pergi kemana-mana. Tapi... eh, bukankah Lo-Cianpwe bisa bersampan kemana saja? Apa maksud perkataan Lo-Cianpwe itu?" (Lanjut ke
Jilid 15) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 15 Soat Ban Ong menatap mata A Liong beberapa saat lamanya, kemudian, menghela napas panjang berkali-kali.
"Kelihatannya laut di sini biasa-biasa saja. Tidak berbahaya. Bahkan berkesan sangat tenang. Tapi pada waktu-waktu tertentu air laut ini akan berubah menjadi ganas darn mengerikan. Jangankan hanya sampan kecil seperti ini, perahu dagang yang sangat besarpun tidak akan berani melewati tempat ini. Itulah sebabnya daerah ini sangat sepi dan tak pernah dilalui orang."
"Tapi Lo-Cianpwe berdua berani juga sampai di sini, walaupun hanya dengan sampan kecil."
Soat Ban Ong tertawa.
Baca Juga: Suling Emas 12
Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 3