Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pedang Pelangi 4

Eps 4 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.

Setelah berada di tempat terang, barulah terlihat betapa pakaian yang dikenakan A Liong itu telah compang-camping.

Bahkan bajunya nyaris hancur sama sekali.

"Iiih! A Liong, carilah pakaian seadanya di rumah ini! Jangan telanjang begitu...!"

Gadis itu memekik lirih.

Mukanya agak merah.

A Liong tertawa.

Bagi pemuda itu tanpa baju sudah biasa baginya.

Sebagai gelandangan yang kadang-kadang cuma hidup dari belas kasihan orang, A Liong sudah terbiasa mengenakan pakaian yang tidak utuh.

Tapi karena sekarang sedang berdekatan dengan gadis terhormat seperti Tio Siau In, maka A Liong menurut saja ketika disuruh mencari pakaian yang pantas.

Sebentar saja pemuda itu sudah kembali lagi dengan pakaian yang utuh dan bersih.

Namun karena pakaian yang dikenakan itu milik Tong Kiat Teng yang kurus, maka baju dan celana tersebut menjadi kelihatan kekecilan untuk Aliong.

"Nah, aku sudah berpakaian sekarang. , Tampan juga, ya... cici?"

Dengan senyum riang A Liong melucu di depan Tio Siau ln. Tio Siau In tersenyum pula melihat kepolosan sikap pemuda tanggung itu.

"Ya, kau memang cukup tampan. Sayang terlalu lemah."

Tio Siau In menggoda.

"Ah, belum tentu, sekarang aku memang masih lemah. Tapi lihat lima tahun lagi, aku akan menjadi pendekar yang gagah perkasa."

Tio Siau In terpaksa tidak bisa menahan senyumnya yang lebar. Pemuda tanggung di depannya itu benar-benar sangat menggelikan.

"Lima tahun...? Wah, cepat benar! Lalu di mana kau akan belajar silat secepat itu?"

Tiba-tiba pemuda itu bersikap serius.

"Uh, apa Cici lupa... bahwa untuk menuntut kesaktian ada tiga tempat untuk di pilih. Coba Cici dengarkan pantun ini..."

Menjadi pendekar gagah perkasa, Ada tiga jalan untuk mencapainya!

Pertama di puncak gunung Hoa-san!

Kedua di tengah Gurun Gobi!

Dan terakhir di lembah Tak Berwarna!

"Nah, Cici tentu pernah mendengar pantun itu bukan?"

A Liong mengakhiri pantunnya dengan nada yakin dan bersemangat.

"Oh... itu! Lalu kau hendak belajar ke mana? ke Gunung Hoa-san, ke Gurun Gobi atau ke Lembah Tak Berwarna?"

Dengan suara menggoda Tio Siau In bertanya. Tapi A Liong tak memperdulikan godaan Tio Siau In. Dengan suara tetap bersemangat pemuda itu menjawab lantang.

"Aku tak ingin yang nomer dua atau nomer tiga, Cici. Aku ingin menjadi pendekar nomer satu. Oleh karena itu aku akan ke puncak Gunung Hoa-san!"

"Apakah kau kuat mendaki gunung yang tinggi itu? Bukankah kau sedang terluka dalam?"

"Ah, Aku sudah sembuh sekarang! Lihat...!"

A Liong berseru gembira sambil memperagakan otot-otot lengannya yang membengkak kencang.

Namun tiba-tiba mulutnya meringis, tangannya yang bergaya itu segera turun memegangi dadanya.

Tio Siau In terkejut.

"Eh, kenapa kau...?"

Tenyanya cemas.

"Wah, Cici... dadaku sakit lagi."

Dengan suara kikuk dan malu A Liong menjawab.

Tio Siau In tertawa kecil "Nah...

apa kataku tadi?

kau belum sembuh benar dari luka dalammu.

Keadaanmu memang cepat menjadi baik karena tubuhmu sangat kuat dan sehat.

Tapi kau belum boleh mempergunakan tenaga terlalu berat.

Sekarang beristirahat sajalah, biar aku yang menguburkan mayat-mayat ini!"

"Wah, tidak bisa! Mana boleh aku membiarkan Cici bekerja sendirian! Aku harus membantumu! Ayoh...!"

A Liong tetap memaksa juga. Terpaksa Tio Siau In tak tega untuk melarang lagi.

"Baiklah! Tapi setelah selesai menguburkan mayat-mayat ini, kau harus minum obat! Nanti kita mencarinya di almari obat Tong Kiat Teng. Dia tentu banyak menyimpan obat-obatan..."

"Tapi bagaimana kita bisa memilih obat yang cocok untuk penyakitku? Jangan-jangan kita malah salah obat nanti?"

A Liong kurang setuju. Tio Siau In mencibirkan bibirnya yang tipis kemerah-merahan.

"Nah, ketahuan satu lagi! Ternyata selain lemah kau juga bodoh pula! Huh!"

Tiba-tiba wajah A Liong menjadi cemberut.

"Wah, jangan menghina... cici! Mengapa aku kau katakan bodoh pula?"

Katanya penasaran. Tio Siau In membalikkan tubuhnya. Sambil bertolak pinggang gadis lincah itu mengawasi A Liong.

"Habis, soal begitu saja kau sudah bingung. Bagaimana aku tidak mengatakan kau bodoh? Ketahuilah, di manapun juga setiap tabib atau tukang obat tentu memberi tanda atau keterangan pada setiap jenis obat yang disimpannya. Mereka itu juga tak ingin salah ambil obat. Tahu...?"

Sergahnya dengan nada menggurui. Raut muka A Liong yang kokoh keras itu perlahan-lahan menunduk.

"Ya, kau benar... cici. Dalam hal tulis menulis aku memang tak mengerti."

Pemuda itu berdesah sedih. Sekonyong-konyong Tio Siau In tertawa.

"Hei, A Liong! kemana semangatmu tadi? Mengapa mendadak kau menjadi loyo begitu? Mengapa kau tidak mengeluarkan pantunmu lagi? Ayo, bersemangat! Ilmu membaca dan menulis juga bisa dipelajari...!"

Gadis itu meledek untuk menggubah semangat A Liong. Benar juga, air muka pemuda kekar itu menjadi cerah kembali.

"Wah, kau sungguh hebat sekali, cici! Aku senang kepadamu! kau pintar, ceria dan selalu percaya diri, Eh, siapakah namamu Cici? kau tadi sudah mengatakannya belum? Aku sampai lupa lagi..."

Tio Siau In memonyongkan mulutnya yang lancip.

"Uh, enak aja tanya-tanya nama orang, memang hendak kau bawa kemana namaku?"

A Liong menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Ya... tidak di bawa kemana-mana sih, Cici, kau ini bagaimana sih...? Ditanya namanya saja, marah."

"Habis, caramu bertanya juga ngawur!"

"Ngawur? Ngawur gimana...? A Liong semakin bingung.

"Sudahlah! Tak usah tanya-tanya nama segala!"

Tio Siau In cemberut, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi A Liong.

"Baiklah...! Bialah aku tak usah tahu nama Cici."

Akhirnya A Liong mengalah, tapi kemudian disambungnya pula dengan senyum di kulum.

"Biarlah kalau nanti bertemu di jalanan aku akan berteriak memanggilnya, hei... cici Pelit! Cici Pemarah!"

Tubuh mungil itu kontan berbalik menghadapi A Liong, tapi sekarang mata itu tidak berpendar-pendar indah lagi, mata itu berubah seperti mata harimau betina yang sedang kehilangan anaknya.

"Apa katamu...? kau sebut aku... pelit?... pemarah? Begitu...?"

A Liong meringis, pura-pura ketakutan.

"Habis, aku harus memanggil apa? Bukankah Cici memang pelit dan pemarah? Buktinya, ditanya namanya saja tidak boleh. Bahkan mara-marah pula. Yaaa, sudah...! Aku akan berteriak memanggilnya, hei... cici Ayu! Cici Ayu! Begitu! Nah, boleh tidak...?"

"Panggil aku... siau In! Bodoh!"

Akhirnya Tio Siau In menjadi kesal sendiri menghadapi pemuda konyol seperti A Liong itu.

Selesai berkata gadis itu berbalik dan tidak memperdulikan A Liong lagi.

Tanpa rasa takut ataupun jijik gadis itu membenahi mayat Su Hiat Hong dan Tong Kiat Teng.

Kepala yang terpisah itu diambilnya, kemudian dijadikan satu dengan badannya.

Lalu kedua mayat itu masing-masing dibungkus dengan kain seadanya yang ada di dalam rumah itu, agar darah atau anggota tubuh lainnya tidak berceceran kemana-mana.

"Sungguh kejam! Orang itu benar-benar berhati Iblis!"

Gadis itu bergumam di dalam hati.

Sementara itu seperti orang gendeng (linglung), A Liong masih termangu-mangu di tempatnya.

Matanya tak lepas dari wajah Tio Siau In yang sedang sibuk membenahi mayat-mayat itu, tapi pikirannya tampak melayang-layang entah ke mana.

"Siau In, hemm... cici Siau In?"

Gumamnya tak jelas.

"Akan kuukir nama ini di dalam otakku, agar tidak sampai lupa..."

Selesai membungkus mayat-mayat itu, Tio Siau In bermaksud membawa keluar. Tapi serentak mendengar igauan A Liong, hatinya menjadi tergelitik lagi.

"Dasar bodoh, ya tetap bodoh! Masa mengukir nama di dalam otak? Mengukir nama itu di dalam hati! Tahu?"

Semprotnya lantang. A Liong tersentak kaget. Tapi selanjutnya dengan tenang pemuda itu menjawab seenaknya. Bahkan nada omongannya masih tampak kekanak-kanakan.

"Wah, Cici ini bagaimana... sih? Kalau sepasang kekasih yang sedang bercintaan, nama itu memang diukir di dalam hati. Tapi kalau hanya teman biasa seperti kita ini, nama itu cuma diukir di dalam otak."

"Hush, omonganmu semakin melantur...!"

Tio Siau In membentak.

"Hei aku tidak melantur. Aku memang benar-benar mengukir nama Cici di dalam otakku. Besuk kalau aku sudah dewasa dan menjadi pendekar gagah perkasa, aku akan benar-benar mencari Cici Siau In."

"Mau apa kau mencariku?"

Tio Siau In bertanya heran. Tapi dengan wajah ketolol-tololan A Liong menggelengkan kepalanya.

"Wah, mana aku tahu? Bukankah waktunya masih lama? Tentu saja aku tak bisa memikirkannya sekarang, dong...."

"Ah, sudahlah! Bicaramu semakin menjengkelkan! Ayoh, kita kuburkan mayat ini!"

Tio Siau In memotong perkataan A Liong dengan kesal.

A Liong tertawa.

Dengan gesit pemuda itu membantu Tio Siau In mengeluarkan kedua mayat itu ke halaman.

Sama sekali tidak kelihatan kalau dia masih menderita luka dalam.

Sambil bekerja masih saja pemuda itu mengganggu Tio Siau In dengan ucapan-ucapannya yang polos dan menggelikan.

"Cici, kau jangan marah, ya...? Kasihanilah aku. Sejak kecil aku menjadi gelandangan. Hidup terlunta-lunta, dari kota ke kota mencari sesuap nasi dan belas kasihan orang. Tampaknya saja selalu berkeliaran di tempat ramai, namun hatiku selalu merasa kesepian dan sunyi. Tak seorang pun selama ini yang memperhatikanku. Rasanya aku ini seperti sampah, yang selalu dihindari dan disingkirkan. Oleh karena itu hatiku benar-benar tersentuh melihat perhatianmu padaku tadi malam. Cici seorang gadis dari kalangan baik-baik dan terhormat, ternyata mau menolong aku, menuntun aku, bahkan mau memapah aku, seorang pemuda gelandangan yang kotor dan hina. Aku keenakan. Padahal sebenarnya sakitku sudah tidak begitu terasa lagi. Sudah sembuh. Malah... sudah bisa berjalan sendiri. Tetapi aku tidak ingin kehilangan rasa haru dan nikmat itu...."

"Huh, jadi malam tadi kau menipuku, ya? Ih, enaknya...!"

"Habis aku tak mempunyai... orang tua atau kakak yang bisa menggandeng tanganku, menuntun langkahku, atau mengajakku bercanda. Maka kesempatan yang membahagiakan itu tentu saja takkan kulewatkan, hehe. Bahkan kalau tidak merasa kasihan kepada Cici, rasanya aku ingin menjadi lumpuh saja biar kau gendong."

"Ih, enaknya...!"

Tio Siau In mencibir.

Mereka bercakap-cakap sambil bekerja.

Untunglah tanah di tempat itu sangat empuk sehingga sebentar saja mereka telah selesai menguburkan mayat Su Hiat Hong dan Tong Kiat Teng.

Setelah membersihkan tangan dan kaki, mereka lalu mencari obat yang cocok untuk A Liong.

Benar saja, semua obat yang tersimpan di dalam almari obat Tong Kiat Teng dibubuhi tulisan dan keterangan, sehingga dengan mudah Tio Siau In memilihnya.

Semula A Liong masih tetap ragu-ragu, tapi karena didesak!

terus oleh Tio Siau In, terpaksa pemuda itu meminumnya.

Ternyata habis meminum obat A Liong merasa mengantuk sekali.

"Uuuuuuuhh...?!"

Tiba-tiba Tio Siau In tersentak dari lamunannya.

Bergegas gadis cantik itu menjenguk ke dalam kamar A Liong.

Hampir saja mereka bertabrakan di depan pintu, karena pemuda itu dengan tergesa-gesa juga berlari keluar.

"Cici Siau In, aah...! Kukira kau telah pergi meninggalkan aku. Hmm, aku ketiduran dan bermimpi... Indah sekali."

"Bermimpi? Nah, begitu bangun kau sudah akan mulai mengoceh lagi. Sudahlah, aku tak mau mendengarkannya lagi. Ayoh sekarang kita kembali ke kota!"

A Liong kelihatan kecewa karena Tio Siau In tak mau mendengarkan ceritanya.

"Ke kota? Kota mana...?"

Tanyanya kurang bersemangat.

"Ya... Ke kota Hang-ciu! Mau kemana lagi? Aku akan menemui kakakku di sana. Dia tentu telah menanti-nanti kedatanganku. Ayoh!"

"Menemui Kakakmu?"

A Liong semakin tak bergairah. Hatinya terasa menjadi sepi kembali seperti hari-hari yang lalu. Kalau Tio Siau In sudah berkumpul dengan saudaranya, otomatis tentu akan melupakan dirinya.

"Ah, aku tak ingin kembali ke kota Hang-ciu lagi. Kota itu terlalu rusuh. Aku ingin pergi ke tempat lain saja, yang sepi dan jauh dari keramaian kota."

"Hei? kau mau ke mana? Apakah kau benar-benar ingin mendaki puncak Gunung Hoa-san?"

Tio Siau In tersentak.

Tiba-tiba gadis itu teringat akan tugas yang diberikan suhunya.

Siapa tahu.

pemuda ini yang dimaksudkan dalam ramalan itu?

A Liong memandang Tio Siau In sebentar, lalu mengangguk lemah.

Tentu saja Tio Siau In menjadi bingung, bagaimana harus membujuk A Liong supaya ikut dengannya.

"Wah, repot benar. Masakan aku harus menotoknya lemas, kemudian menggendongnya Hang Ciu, keenakan dia nanti..."

Gadis itu berpikir keras.

"Nah, kalau begitu aku akan berangkat lebih dahulu, Cici."

Tiba-tiba A Liong pergi sambil meminta diri. Wajahnya tampak kuyu dan tak bersemangat.

"Eh, nanti dulu...!"

Tio Siau In berseru kelabakan.

Gadis itu mengejar langkah A Liong.

Ternyata A Liong benar-benar sangat sedih, sehingga ia tak mau berlama-lama tinggal di situ.

Suara panggilan Siau In sama sekali tak dihiraukannya.

"Hei! Hei! A Liong...! Mau kemana kau? Bukankah sampan kita cuma satu? Bagaimana aku dapat meninggalkan tempat ini nanti?"

Tanpa mengendurkan langkahnya A Liong berdesah pendek.

"Aku akan berjalan melewati pinggiran pantai. Silakan Cici menggunakan sampan itu..."

Karena A Liong tetap tidak mau menghentikan langkahnya, terpaksa Tio Siau In menarik lengannya.

"Eh, berheti dulu...! Sebenarnya kenapa kau ini? Mari kita berbicara dulu secara baik. Masakan kita berpisah begitu saja tanpa kesan apa-apa?"

Gadis itu mencoba membujuk dengan suara manis.

Benar saja.

A Liong berhenti melangkah.

Sambil menghela napas panjang pemuda itu menundukkan mukanya di depan Tio Siau In.

Sama sekali hilang kesan kegarangan tubuhnya yang kokoh kekar itu.

"Apa yang hendak kita bicarakan lagi, Cici?"

Ucapnya lemah.

Mereka saling berhadapan dekat sekali.

bahkan tangan Tio Siau In masih memegang lengan A Liong yang kokoh itu.

Namun gadis itu tetap saja belum tahu apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam dada A Liong.

Sebagai gadis yang juga baru mulai menginjak remaja, Tio Siau In juga belum bisa meraba pula apa yang menyebabkan pemuda itu secara mendadak bersikap aneh seperti itu.

Tio Siau In cuma bisa melihat, tiba-tiba A Liong kelihatan sedih dan tak bersemangat begitu diajak kembali ke Hang-ciu.

Malah akhirnya pemuda itu memutuskan untuk tidak kembali ke kota tersebut.

Pemuda itu ingin pergi ke puncak Gunung Hoa-san.

Tio Siau In mengangkat wajahnya.

Dipandangnya pemuda tanggung bertubuh tinggi kekar di depannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"A Liong, mengapa kau kelihatan bersedih? Apakah kau mempunyai persoalan di kota Hang-ciu?"

Bujuknya kemudian dengan suara lemah lembut. A Liong melirik sekejap kemudian menggeleng.

"Lalu... Mengapa kau tak mau kembali ke sana?"

"Cici sudah kukatakan aku ini anak gelandangan yang tak mempunyai tempat tinggal tetap. Aku juga tak punya sanak-saudara. Bahkan aku ini juga tak tahu pula dari mana asalku dan siapa orang tuaku. Sejak kecil aku hidup di antara bocah-bocah gelandangan, yang mengembara dari kota ke kota untuk meminta belas kasihan orang. Maka sekarangpun aku berniat untuk meneruskan perjalananku pula. Aku sudah terlalu lama tinggal di Hang-ciu."

Tio Siau In mengerutkan keningnya.

Sudah dua kali A Liong bercerita tentang keadaan dirinya yang papa dan yatim piatu.

Semula Tio Siau In memang tidak begitu ambil pusing mendengar cerita itu, tapi setelah kini A Liong menceritakannya kembali, entah mengapa hatinya tersentuh.

"Benarkah kau tak tahu siapa orang tuamu?"

Tio Siau In yang mendadak juga ingat pula keadaan dirinya yang yatim piatu bertanya tak percaya. A Liong mengangguk lesu.

"Sama sekali tak tahu siapa orang tuamu? Lalu siapa yang merawatmu ketika masil kecil?"

"Entahlah. Mungkin para gelandangan atau pengemis lain yang lebih besar dari pada aku. Sebab yang kutahu sejak aku bisa berpikir, aku telah berada di antara gerombolan anak-anak gelandangan. Kami tidur di mana saja dan pergi kemana saja sambil meminta-minta belas kasihan orang. Di dalam kelompok itu kami biasa saling berbagi rejeki dan makanan. Jadi kemungkinan besar aku dulu ditinggal mati orang tuaku yang juga seorang gelandangan, kemudian aku dirawat dan diberi makan oleh para gelandangan lainnya yang satu kelompok dengan orang tuaku itu..."

"Oooooh..."

Tio Siau In berdesah panjang.

Ia benar-benar tidak menyangka kalau sejarah hidup A Liong itu sedemikian menyedihkan.

Lebih memilukan daripada sejarah hidupnya sendiri yang ia anggap sudah sangat menyedihkan.

Ia dan kakaknya, Tio Ciu In, juga yatim piatu pula, namun mereka masih bisa mengenal serba sedikit ayah mereka.

Tidak seperti A Liong yang sama sekali tak tahu siapa orang tuanya.

Sejak kematian ayahnyapun dia dan kakaknya langsung dirawat dan dibesarkan oleh gurunya, tidak seperti A Liong yang harus bertarung dengan kekerasan hidup bersama anak-anak gelandangan lainnya.

"Hemm, kasihan benar kau A Liong."

Tio Siau In bergumam perlahan sambil melepaskan pegangan tangannya.

"Hanya yang mengherankan, hidupnya serba susah dan kekurangan, tapi mengapa, tubuhmu bisa sedemikian subur dan kuat seperti ini?"

"Aku memang hidup serba susah dan kekurangan, tapi aku punya tekad dan semangat hidup yang besar, Cici. Sejak aku bisa mempergunakan tenagaku, aku tidak mau mengemis lagi. Aku bekerja apa saja untuk mencari makan. Bahkan pekerjaan-pekerjaan berat yang biasanya hanya dilakukan oleh orang dewasa aku kerjakan juga. Aku pernah bekerja di pabrik penggilingan tahu, perusahaan pemotongan kayu,. pengangkutan garam, pandai besi dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Makanku banyak, sesuai dengan bidang pekerjaanku, sehingga tulang dan ototkupun tumbuh dengan keras pula."

A Liong menerangkan.

"Bukan main...!"

Tio Siau In berdecak kagum.

"Kulihat usiamu tidak lebih banyak dari usiaku. Tapi badanmu membengkak hampir dua kali lipat dari tubuhku. Penuh otot lagi!"

A Liong tersenyum kecut.

"Aku memang seperti kerbau liar yang hidup di alam belantara yang keras tentu saja berbeda dengan Cici yang selalu hidup teratur di antara keluarga yang penuh kedamaian."

Tiba-tiba Tio Siau In tersenyum. Gadis itu seperti mendapatkan jalan untuk membujuk A Liong.

"Nah, kalau begitu... apakah kau tidak ingin hidup yang serba teratur dan penuh kedamaian seperti itu?"

A Liong menghembuskan napasnya keras-keras.

"Ah, tentu saja aku juga ingin hidup seperti itu pula, Cici. Aku juga sudah bosan menjadi gelandangan terus-terusan. Tapi untuk hidup wajar seperti itu perlu modal pula agar bisa hidup tenang dan dihormati orang."

"Modal? Modal apa?"

Tio Siau In berseru heran. A Liong tertawa kecut.

"Ah, Cici... Kau ini seperti tidak tahu saja. Modal hidup agar dihormati orang hanyalah harta, kekuasaan dan kepandaian. Dapat memiliki salah satu saja dari ketiga modal utama itu, kita akan dihormati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat di sekitar kita. Padahal aku sama sekali tak memiliki modal itu. Oleh karena itu aku harus bisa mendapatkannya lebih dahulu agar bisa hidup tenang dan damai seperti Cici."

"Wah, lalu... Modal mana yang akan kau cari itu?"

Tio Siau In pura-pura bertanya. Sekali lagi A Liong menghembuskan napasnya kuat-kuat.

"Orang seperti aku jelas tidak mungkin untuk mencari harta maupun kekuasaan. Tapi kalau hanya untuk mencari kepandaian, rasanya aku bisa. Oleh karena itu aku akan tetap melaksanakan niatku, yaitu belajar silat di puncak Gunung Hoa-san. Kalau aku nanti benar-benar pandai ilmu silat, berarti aku sudah memiliki sebuah modal. Modal untuk bisa hidup tenang dan dihormati orang."

Tio Siau In terdiam untuk beberapa saat lamanya.

Gadis itu merasa bahwa ia tak mungkin bisa mempengaruhi keinginan A Liong lagi.

Satu-satunya jalan hanyalah memaksa pemuda itu dengan kekerasan untuk dibawa ke hadapannya.

Tapi untuk melakukan hal itu Tio Siau ln tidak sampai hati.

"Tampaknya memang akulah yang harus mengalah. Biarlah kuikuti saja kemauannya itu. Nanti sedikit demi sedikit akan kubelokkan perhatiannya."

Gadis itu berkata di dalam hatinya.

"Nah, Cici... Kau tak usah menghalangi niatku. Tekadku sudah bulat. Aku akan mendaki Gunung Hoa-san."

A Liong mengulangi keinginannya yang teguh.

"Baiklah. Terserah kalau tekadmu memang demikian. Tapi... apakah kau. sudah mengetahui jalan ke Gunung Hoa-san?"

A Liong menggeleng lemah.

"Hmmm, kalau begitu untuk sementara kita bisa berjalan bersama. Aku tidak jadi pergi ke Hang-ciu. Aku akan langsung ke Sin-yang. Maukah kau berjalan bersamaku?"

Tiba-tiba A Liong berteriak gembira.

Lengannya yang penuh otot itu secara reflek menyambar pinggang Tio Siau In, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.

Tentu saja gadis itu menjerit kaget.

Otomatis tubuh gadis itu menggeliat melepaskan diri, sedang kakinya menjejak dada A Liong.

"Buuuk!"

"Aduuuuh...!"

A Liong memekik kesakitan.

Bagaikan pohon tumbang, badan A Liong yang tinggi kekar itu terbanting ke tanah.

Karena tidak bisa ilmu silat, maka jatuhnyapun juga sangat keras pula.

Untunglah mereka telah berada di atas pasir, sehingga pemuda itu tidak begitu menderita karenanya.

Namun demikian tetap saja A Liong meringis kesakitan.

Tio Siau In sendiri menjadi kaget begitu sadar apa yang dilakukannya.

Sebagai jago silat semuanya tadi memang ia lakukan secara reflek.

Dan celakanya, dalam keadaan seperti itu ia tak bisa mengontrol tenaganya.

Maka tidak mengherankan bila badan A Liong yang kokoh kekar itu terbanting keras terkena tendangannya.

Akan tetapi yang tak kalah mengherankan adalah kesudahan dari kejadian tersebut.

Tio Siau In yang kemudian merasa menyesal sekali, bahkan agak ketakutan, karena tendangan kakinya itu bisa memecahkan batu gunung, tiba-tiba ternganga mulutnya.

Dengan heran gadis itu melihat A Liong bangkit kembali tanpa kurang suatu apa.

Malahan bibir pemuda itu mencoba tersenyum, walaupun akhirnya cuma bisa meringis.

"Maaf, Cici. Aku memang benar-benar seperti kerbau liar yang tak mengenal aturan dan sopan santun. Begitu melonjak kegembiraanku mendengar Cici hendak berjalan bersama aku, sehingga aku meluapkannya dengan mengangkat tingi-tinggi badan Cici seperti kebiasaan yang kami lakukan di antara kawan gelandangan."

Pemuda itu meminta maaf dengan halus.

"Eh-oh, anu... Kau tidak apa-apa, A Liong?"

Tio Siau In menjadi gugup malah.

"Ah, tidak apa-apa, Cici. Badanku ini sudah terbiasa mendapat kecelakaan. Pernah tertimpa pohon kayu yang tumbang ketika bekerja di perusahaan pemotongan. Juga pernah tergencet batu besar penggilingan tahu ketika berada di penggilingan tahu. Bahkan aku pernah tertimbun belasan karung garam ketika berada di perusahaan pengangkutan garam. Tapi seperti yang Cici lihat sekarang, badanku tetap sehat tidak kurang suatu apa."

Sekali lagi Tio Siau In menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu benar-benar heran melihat ketahanan tubuh A Liong yang tidak sewajarnya itu. Padahal pemuda itu sama sekali tak mengerti ilmu silat.

"Pukulan Lok-kui-tin itu mampu menewaskan jago-jago silat kelas satu seperti Lim Kok Liang, Tong Taisu dan yang lain-lainnya. Tapi pukulan itu ternyata tak banyak berarti terhadap tubuh A Liong. Badan yang kokoh kekar itu seperti terbuat dari besi saja."

Tio Siau ln bergumam di dalam hatinya.

"Jadi... cici benar-benar hendak berjalan bersama aku?"

A Liong menegaskan lagi. Tio Siau In tergagap kaget, lalu mengangguk.

"Aku hendak menemui Kauwcu Im-yang-kauw di kuil Agung Sin-yang. Karena jurusan yang akan kita tempuh sama, maka kita dapat berjalan bersama-sama. Tapi... Maukah kau nanti singgah sebentar di Kuil Agung Im-yang-kauw itu?"

Dengan cerdik gadis itu membujuk. A Liong tertawa gembira.

"Tentu saja, Cici. Jangankan cuma singgah, menginap beberapa haripun aku bersedia..."

"Bagus. Kalau begitu mari kita berangkat sekarang!"

Ajak Tio Siau In riang.

"Ayoh, Cici!"

Demikianlah kedua remaja tanggung itu lalu pergi meninggalkan rumah Tong Kiat Teng.

Mereka mengayuh sampan mereka ke utara, mencari pantai yang landai, yang sekiranya bisa mereka darati, untuk selanjutnya berjalan ke arah barat, melalui kota-kota di sepanjang Sungai Yang-tse.

Langit sangat cerah, hanya beberapa gumpal awan saja yangkelihatan bergerak dari timur ke barat.

Angin juga sudah reda, tidak sederas dan sekencang tadi.

Sementara kabutpun telah terusir pergi pula bersama sinar matahari yang semakin menyengat.

Udara pagi itu sungguh-sungguh nyaman.

A Liong mendayung sampan seenaknya.

Tidak tergesa-gesa ataupun terburu-buru.

Ia bersama Tio Siau In memang sengaja menikmati keindahan pantai yang dilaluinya.

Burung camar yang beterbangan di atas kepala mereka, kadang-kadang menukik mengelilingi sampan kecil itu, kemudian terbang pergi.

Burung-burung itu seakan-akan merasa heran melihat kedatangan mereka.

Berbondong-bondong burung itu mendekati, mengitari sampan, lalu bergegas pergi bila A Liong dan Tio Siau In berusaha menangkapnya.

"Aaah, kehidupan burung-burung itu tidak jauh berbeda dengan kehidupanku. Setiap hari terbang melayang kemana saja, tanpa tujuan, tanpa kepastian."

A Liong berkata perlahan sambil menengadahkan kepalanya. Tio Siau In melirik.

"Tapi burung-burung itu kelihatan amat riang bermandikan sinar matahari pagi."

Tukasnya sambil tersenyum.

"Ya, Cici... Mereka memang kelihatan riang, karena mereka cuma binatang yang tak memiliki akal budi seperti kita kaum manusia."

"Hmmmmm"

Tio Siau In bergumam tak jelas.

Mereka lalu berdiam diri kembali, masing-masing mengembara dengan jalan pikirannya sendiri-sendiri.

A Liong dengan lamunannya untuk menjadi pendekar gagah perkasa, sedangkan Tio Siau In dengan rencananya membawa pemuda itu ke hadapan Kauwcu Aliran Im-yang-kau, siapa tahu pemuda itu benar-benar pemuda bertato Naga yang dikehendaki Kauwcu Im-yang-kau?

Mereka mengemudikan sampan itu tidak terlalu jauh dari garis pantai, sambil mendayung A Liong bernyanyi-nyanyi dengan gembira, sekali-sekali dayungnya dipakai untuk memukul burung camar yang terlalu bandel mendekati dirinya.

Tio Siau In akhirnya terseret juga oleh arus kegembiraaan A Liong, gadis itu ikut-ikutan mengganggu burung-burung camar itu, bedanya kalau A Liong tak pernah bisa memukul burung itu sebaliknya Tio Siau In selalu berhasil menyambarnya dengan tangan kosong, tapi karena memang hanya ingin bercanda burung tersebut segera dilepaskan lagi.

A Liong menjadi heran.

"Wah, Cici... ajari aku! Mudah benar kau menangkapnya."

A Liong mencoba ikut menangkap pula dengan kedua tangannya, tapi tak pernah berhasil. Bahkan tubuhnya yang besar itu membuat sampan mereka menjadi oleng kesana-kemari.

"Hei-hei! Jangan banyak bergerak! Sampan ini bisa terguling nanti!"

A Liong menghentikan gerakannya. Mulutnya cemberut. Hatinya kesal karena tak bisa menangkap burung yang amat lincah itu. Tio Siau In tersenyum melihat kekesalan A Liong.

"Memang tak mudah menangkap burung camar itu. kau baru bisa menangkapnya apabila gerakanmu dapat lebih cepat dari gerakan mereka."

"Lebih cepat? Wah... Mana bisa? Burung itu terbang secepat angin, mana mungkin manusia bisa melebihi kecepatannya?"

"Mengapa tidak bisa? Nih, lihat...!"

Sekonyong-konyong Tio Siau In menjejakkan kakinya ke lantai sampan, sehingga tubuhnya melenting ke atas dengan ringannya.

Di udara tubuh Tio Siau In yang ramping kecil itu berjumpalitan beberapa kali, lalu mendarat kembali di bibir sampan, tanpa membuat banyak goncangan pada sampan yang kecil itu.

Dan ketika tangannya terbuka, ada empat ekor burung camar yang menggelepar lepas dari sela-sela jarinya.

A Liong melongo melihatnya.

"Ah, Cici... bukan main! Ternyata kau pandai ilmu silat! Ilmu meringankan tubuh Cici benar-benar hebat!"

Pemuda itu memuji setinggi langit.

"Kau ingin mempelajarinya?"

"Ya... ya... ya, aku ingin sekali belajar seperti itu!"

Dengan gembira sekali A Liong menjawab sambil mengangguk-angguk. Namun Tio Siau In cepat menyambungnya.

"Tapi aku tak bisa mengajarimu. Ilmuku sendiri belum seberapa tinggi. kau harus belajar kepada Guruku, atau kepada tokoh Im-yang-kauw yang lebih tinggi. Syukur kalau Kauwcu sendiri yang membimbingmu..."

A Liong terdiam. Sekejap pemuda itu tampak kecewa karena ia menyangka Tio Siau In sendiri yang akan mengajarinya, tapi ternyata tidak.

"Ah, kalau begitu... biarlah aku belajar saja sekalian ke puncak Gunung Hoa-san!"

Akhirnya pemuda itu berkata tegas.

Kini ganti Tio Siau In yang menjadi kecewa.

Semula dengan muslihatnya tadi Tio Siau In berharap A Liong mau menjadi anggota aliran Im-yang-kauw seperti dirinya.

Tapi ternyata pemuda itu mempunyai tekad yang kukuh untuk mendaki puncak Gunung Hoasan.

"Eh, Cici... Mengapa kau lalu diam saja? Apa yang sedang kau pikirkan?"

Mendadak pemuda itu mengagetkan Tio Siau In.

"Ah-eh, anu... aku tidak memikirkan apa-apa. Aku cuma merasa heran padamu. kau mengatakan tidak bisa ilmu silat, tapi kenapa tubuhmu tahan terhadap pukulan seorang jago silat berkepandaian tinggi?"

Untuk menutupi perasaan kagetnya Tio Siau In menjawab sekenanya.

"Pukulan jago silat berkepandaian tinggi? Ah, kapan aku berkelahi dengan seseorang? Ooooh, itu...! Kejadian malam tadi, ketika rombonganku dicegat penjahat-penjahat kejam itu? Ah, kiranya pukulan mereka juga biasa-biasa saja. Tidak lebih sakit daripada ketika aku tertimpa batang pohon di perusahaan pemotongan kayu itu. Apalagi bila dibandingkan dengan ketika aku tergencet batu penggilingan tahu atau tertimbun belasan karung garam itu..."

Sekali lagi Tio Siau In ternganga keheranan.

Bagaimana mungkin semuanya itu bisa terjadi?

Lim Kok Liang, Tong Taisu dan tiga orang bergolok itu bukan jago-jago silat biasa, meskipun demikian mereka itu tetap tidak kuat menahan pukulan Lok-kui-tin.

Lantas bagaimana mungkin A Liong yang tak mengerti silat itu bisa menahan pukulan sakti mereka?

Apakah pemuda itu memiliki kulit besi bertulang baja?

Diam-diam Tio Siau In semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang diri A Liong.

Keadaan pemuda itu benar-benar amat aneh, demikian pula sejarah hidupnya.

Tio Siau In semakin curiga, jangan-jangan pemuda itu memang benar-benar "Manusia pilihan"

Yang dimaksudkan oleh sesepuh Aliran Im-yang-kauw itu.

Sekali lagi Tio Siau In menghela napas panjang.

Penilaiannya tentang ramalan Lojin-Ong, sesepuh Aliran Im-yang-kauw, mulai berubah.

Tampaknya ramalan tentang pemuda bertato naga itu memang dapat dipercaya.

"Eh, A Liong...? Bolehkah aku bertanya sedikit kepadamu?"

"Ah, tentu saja, Cici! Banyak juga boleh."

Tio Siau In tersenyum.

"Anu, eemm... Kau tadi mengatakan bahwa kau tidak mengenal orang tuamu. Lalu siapa yang memberi nama A Liong itu kepadamu? Apakah teman-temanmu pula?"

Tak terduga A Liong mengangguk.

"Benar, Cici. Aku semula memang tidak mempunyai nama, apalagi nama keluarga. Nama A Liong ini memang kuperoleh dari kawan-kawan sekelompokku, karena aku memiliki gambar tato naga di dadaku. Nih, lihat...!"

Pemuda itu menjawab sambil membuka bajunya.

"Ooooh...!"

Tio Siau In pura-pura terkejut.

"Siapa yang membuat gambar itu? kau sendiri?"

A Liong tertawa.

"Ah... yang benar saja, Cici. Masakan aku bisa melukis sebagus ini?"

"Lalu... siapa? Kawanmu lagi?"

Tiba-tiba A Liong menghentikan tawanya.

"Entahlah, Cici. Aku juga tidak tahu. Mungkin mendiang orang tuaku, atau mungkin teman ayahku. Kata kawan-kawan sekelompokku, sejak aku bergabung dengan mereka gambar ini telah ada. Itulah sebabnya mereka memanggilku A Liong. Apalagi kulit tubuhku juga liat dan kuat seperti kulit naga."

Pemuda itu menjawab serius.

"Kulit naga...?"

Sekarang ganti Tio Siau In yang tertawa.

"Bukankah kulit naga itu ada sisiknya? Sisiknya yang keras yang membuat dia kuat dan liat. kau tidak memiliki sisik-sisik itu, lalu bagaimana mungkin kulitmu bisa kuat seperti naga?"

"Cici tidak percaya? Boleh kau coba! Pukullah aku! Atau... Hantamlah aku dengan dayung ini! Tanggung tidak apa-apa!"

Pemuda itu berkata penasaran.

Tio Siau In tertawa semakin keras.

Namun untuk menyenangkan hati A Liong, gadis itu benar-benar mengambil dayung dari tangan A Liong.

A Liong tersenyum gembira seperti layaknya seorang anak yang ingin memperlihatkan atau membanggakan kebolehannya.

Dengan cekatan ia membuka bajunya dan membusungkan dadanya yang bidang dan penuh otot itu.

"Silakan...!"

Ucapnya mantap. (Lanjut ke

Jilid 10) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 10 Tio Siau In tertegun.

"Kau benar-benar ingin dicoba juga?"

"Hei, tentu saja!"

Pemuda itu menirukan kata-kata Tio Siau In.

"Mengapa harus batal? A Liong tak pernah menjilat ludahnya sendiri! Ayoh, Cici... cobalah! Pukullah aku dengan dayung itu!"

Tentu saja kesungguhan hati A Liong benar-benar membuat Tio Siau In jadi kelabakan malah.

Sejak semula gadis itu kurang begitu menanggapi bualan A Liong, sehingga diapun hanya main-main pula ketika ingin mencoba kekebalan A Liong.

Akan tetapi tak diduganya pemuda itu benar-benar melayani sikapnya dan ingin membuktikan sesumbarnya.

Tentu saja Tio Siau In menjadi kebingungan.

Bagaimana kalau dayung itu melukainya?

Tampaknya keragu-raguan Tio Siau In itu semakin membuat penasaran hati A Liong.

Tiba-tiba pemuda itu merebut dayung yang ada di tangan Tio Siau In, kemudian dengan sekuat tenaga kayu keras itu dipukulkan sendiri ke arah kepalanya.

Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Terdengar suara berdentangan yang keras seperti layaknya suara orang membelah batu cadas.

Tak ada luka di kepala itu.

Tak ada darah yang mengalir.

Semuanya tampak wajar seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Bahkan pemuda itu tampak tersenyum bangga ketika menyerahkan kembali dayung tersebut.

Tio Siau In melongo.

Matanya terbeliak tak percaya.

Hatinya menjadi penasaran.

Karena penasaran maka dicobanya juga memukulkan dayung itu ke pundak A Liong.

Mula-mula pelan, tapi akhirnya disabetkannya pula dengan keras ketika melihat pemuda itu tetap tersenyum memandangnya.

Bahkan hantaman dayung itu tidak cuma diarahkan ke pundak lagi, tapi juga ke dada, punggung dan kepala.

Namun demikian Tio Siau In masih mengekang diri untuk tidak mengerahkan tenaga dalamnya.

"Ayoh, Cici... yang lebih keras lagi! Jangan pelan-pelan begini! Kerahkan seluruh tenagamu!"

Dengan suara lantang pemuda itu menantang. Tio Siau In menjadi penasaran juga akhirnya. Dicobanya untuk menyalurkan sebagian kecil tenaga saktinya ke arah dayung yang dipegangnya.

"Blug!"

Hantaman ujung dayung itu berubah menjadi kuat dan keras seperti hantaman sebongkah batu hitam!

A Liong terhuyung dua langkah ke belakang.

Tapi pemuda itu bukannya menjadi kaget atau kesakitan, bahkan dengan suara gembira dia berseru menantang.

"Ayoh, Cici... sekali lagi yang keras! Aku belum merasakan apa-apa!"

Kini Tio Siau In benar-benar menjadi penasaran. Sekali lagi ia menyabetkan dayung itu ke dada A Liong. Kali ini dengan pengerahan separuh bagian dari kekuatan lwekangnya.

"Siiiiing! Dhuuug! Kraaaak!"

Dayung itu patah menjadi tiga bagian! "Aaaaaaaaah...!"

Dayung itu menghantam dada A Liong keras sekali! Demikian kuatnya sehingga pemuda itu memekik kaget dan terpelanting ke luar perahu! Byuuuur! Pemuda itu tercebur ke dalam laut.

"A Lioooooong...!!!"

Tio Siau In berteriak cemas.

Lalu dengan mata nanar dan hampir menangis Tio Siau In mencari-cari tubuh A Liong di antara riak gelombang yang mengelilingi sampan kecil itu.

Namun pemuda itu tidak kunjung kelihatan juga, seakan-akan tubuhnya sudah lenyap ditelan air.

Tio Siau In semakin ketakutan, jangan-jangan dayungnya tadi telah melukai dada A Liong sehingga pemuda itu tak bisa berbuat apa-apa melawan arus ombak yang menggulungnya.

Mata Tio Siau In mulai merah ketika tiba-tiba terdengar suara A Liong di belakangnya.

"Wah... pukulan Cici kuat benar! Rasanya seperti diterjang pohon tumbang saja...!"

Tio Siau In membalikkan tubuhnya dengan cepat.

Gadis itu melihat A Liong bergayut pada pinggiran sampan.

lak ada tanda-tanda pemuda itu mengalami luka atau kesakitan.

Wajahnya tetap segar berseri-seri, dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian besar mukanya.

"A Liong, kau tak apa-apa...?"

Gadis itu bertanya cemas. A Liong lalu naik kembali ke dalam sampan. Dengan bangga pemuda itu memperlihatkan dadanya yang masih tetap utuh tak kurang suatu apa.

"Nih, lihat! Tak apa-apa, bukan?"

Tio Siau ln benar-benar takjub sekarang.

Pemuda di hadapannya itu sungguh-sungguh memiliki kekebalan yang hebat.

Walaupun dia juga tahu, apakah pemuda itu masih tetap bisa mempertahankan kekebalannya apabila ia benar-benar mengerahkan seluruh kekuatan lwekangnya.

"A Liong...! Aku percaya sekarang, bahwa kulitmu memang liat dan kuat seperti kulit naga. Tetapi sebaliknya aku menjadi kurang percaya kalau kau mengatakan tidak pernah belajar ilmu silat. Kekebalan tubuhmu itu hanya dapat diperoleh dengan mempelajari lwekang yang tinggi. kau tentu pernah belajar silat, atau setidak-tidaknya kau pernah belajar bersamadi untuk mengumpulkan sinkang..."

"Bersamadi...? Eh, Cici! Apakah yang kau maksudkan begini ini?"

Tiba-tiba pemuda itu berseru, kemudian duduk bersila di atas papan sambil mengatur napasnya.

Tio Siau In mengerutkan dahinya.

Pemuda itu memang melakukan cara bersamadi, tapi apa yang dilakukan itu adalah cara bersamadi yang umum, yang sama sekali tidak ada keistimewaannya.

Jadi rasanya tidak mungkin kalau hal itu yang membuat pemuda tersebut kebal terhadap pukulan.

Tapi sekonyong-konyong mata Tio Siau In terbeliak ketika sesaat kemudian mendengar suara tulang berkerotokan di dalam tubuh A Liong.

Bahkan gadis itu semakin kaget tatkala hidungnya juga mencium bau amis yang amat menyengat.

"A Liong, cukup...!"

Akhirnya Tio Siau In berseru. A Liong membuka matanya, lalu tersenyum gembira.

"Seperti itukah yang Cici maksudkan?"

Tanyanya riang.

"Benar. Tapi coba katakan kepadaku. Sejak kapan kau melakukan cara bersamadi seperti itu? Dan siapa pula yang mengajarkannya kepadamu?"

Pertanyaan itu membuat A Liong terdiam untuk beberapa saat lamanya.

"Bagaimana? Sejak kapan...?"

Tio Siau In mendesak.

"Wah... sudah lama sekali, Cici. Sejak aku masih kecil, ketika aku masih suka ngompol (terkencing di waktu tidur). Dan cara bernapas aneh itu... Kudapatkan dari seorang kakek tua renta, yang merasa kasihan kepadaku, ketika aku hampir mati kedinginan di bawah jembatan di kota Tai-yuan. Kakek itu mengatakan bahwa cara bernapas seperti itu bisa menghangatkan tubuhku. Ternyata perkataan kakek itu memang benar. Aku dapat bertahan dan tidak merasa kedinginan meskipun setiap hari hujan salju mengguyur badanku."

Tio Siau In menatap A Liong dengan heran.

"Kau... sekecil itu, sudah berkeliaran sampai di kota Tui-yuan di Propinsi Syunsi?"

"Mengapa mesti diherankan, Cici? Namanya saja anak gelandangan, meskipun baru berumur lima tahun atau enam tahun, aku sudah biasa menjelajah kemana-mana. Jangankan cuma kota Tai-yuan yang masih berada di dalam Tembok Besar itu, sedangkan ke kota Wan-suan dan Ceng-teh di luar Tembok Besarpun aku sudah pernah."

A Liong menjawab dengan mulut meringis.

Wau-suan dan Ceng-teh adalah ibu kota Propinsi Tsa-har dan Je-hol di perbatasan Monggol dan Mancu.

Kota-kota rersebut masih ratusan lie jauhnya dari Tembok Besar.

Udaranya kering dan dingin.

Bahkan di musim dingin, salju turun menutupi kota.

"Dan... Kau cuma tidur di sembarang tempat? Tanpa alas dan selimut?"

Tio Siau In bertanya pula dengan suara heran.

"Tentu saja, Cici. kau ini ada-ada saja. Masakan seorang gelandangan memiliki kasur dan selimut? Jangankan punya peralatan seperti itu. Sedangkan untuk makan dan minum saja harus menunggu belas kasihan orang."

"Wah...wah!"

Tio Siau In berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Masa kecilmu sungguh sangat sengsara dan menderita... Lalu... Kau tahu nama kakek tua renta yang memberimu pelajaran bersamadi itu? Dan kau juga pernah bertemu lagi sesudah itu?"

A Liong menggoyangkan kepalanya.

"Tidak. Aku tidak tahu namanya. Dan aku juga cuma berjumpa sekali itu saja. Hanya saja ketika dia hendak meneruskan perjalanannya, dia memberikan tasbehnya kepadaku. Dia berpesan agar setiap hari aku melakukan cara bernapas yang aneh itu sebanyak-banyaknya. Paling tidak seribu kali jumlah untaian tasbeh tersebut setiap harinya."

"Dan... Kau mematuhinya?"

A Liong mengangguk.

"Ya. Soalnya... Manfaatnya banyak sekali, Cici. Selain dapat mengusir hawa dingin, ternyata badankupun menjadi sehat pula. Aku tidak pernah sakit. Bahkan banyak sekali keanehan-keanehan yang terjadi akibat aku melakukan cara bernapas yang aneh itu. Misalnya... badanku lalu mengeluarkan bau amis setiap kali aku melakukan cara bernapas itu, sehingga binatang-binatang berbisa menjadi takut kepadaku. Bukankah aku tadi mengeluarkan bau amis, Cici?"

Dengan wajah yang masih mengungkapkan ketakjubannya Tio Siau In mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tidak boleh tidak sekarang Tio Siau In harus percaya pada omongan A Liong.

Ia harus percaya bahwa A Liong pernah tertimpa pohon tumbang tanpa cidera.

Dan ia juga harus percaya pula bahwa A Liong pernah tergencet batu penggilingan tahu yang beratnya ribuan kati itu tanpa cidera yang berarti.

Bahkan ia juga harus percaya bahwa A Liong tidak tewas meskipun teruruk belasan karung garam.

Dan sekarang, ia terpaksa harus percaya juga kalau A Liong ditakuti oleh binatang-binatang berbisa.

"Tapi... tahukah kau, mengapa badanmu mengeluarkan bau amis?"

A Liong menggeleng. Tapi sesaat kemudian tiba-tiba saja pemuda itu tersenyum geli. Matanya memandang Tio Siau In seolah-olah hendak menggoda.

"Kenapa kau terseyum-senyum, heh? Ada yang kau sembunyikan?"

Tio Siau In menegur dengan nada kesal.

"Ayoh, katakan! Mengapa badanmu berbau amis?"

Hampir saja A Liong tertawa.

"Mungkin... Mungkin karena aku mempunyai telur naga! Hahahaha...!"

Akhirnya pemuda itu tak bisa menahan ketawanya.

"Hus! Telur naga...? Apa yang kau maksudkan?"

A Liong semakin tak dapat mengekang ketawanya. Suaranya lepas menyaingi suara ombak yang berdebur keras di sekeliling sampan mereka.

"Cici, teman-temanku mengatakan bahwa aku mempunyai sebutir telur naga di bawah pusarku, hahahaha...!"

Seketika air muka Tio Siau In menjadi merah padam.

"Kurang ajar! kau berani berkata sembarangan di depanku?"

Bentaknya marah. A Liong cepat membungkam mulutnya.

"Maaf Cici... aku tidak main-main. Aku benar-benar mempunyai telur naga itu. kau... Kau mau lihat?"

Katanya agak takut-takut sambil mengendurkan tali celananya. Tentu saja Tio Siau In menjadi kelabakan. Sambil menjerit keras gadis itu membalikkan badannya.

"A Liong, jangaaaan...! Awas, berani kau berani membukanya... Kubunuh kau!"

A Liong tak jadi membuka celananya, namun demikian tangannya masih tetap berada di bawah pusarnya. Wajahnya tampak penasaran.

"Cici, aku... aku tidak kurang ajar! Aku bersungguh-sungguh! Bau amis itu memang berasal dari telur nagaku ini! Tapi kalau Cici malu melihatnya... raba sajalah!"

"Apaaa...?"

Tio Siau In menjerit tinggi seperti mau menangis.

Kemudian sambil memejamkan matanya sekonyong-konyong gadis itu memutar badannya.

Tangan kanannya menyambar cepat ke mulut A Liong.

Dan A Liong yang terkejut setengah mati itu mencoba menghindarinya.

Tapi mana mungkin pemuda itu dapat mengelakkan serangan Tio Siau In yang lagi marah?

"Plaaak!"

"Byuuuur!"

Tak ampun lagi tubuh A Liong yang masih basah itu terlempar kembali ke dalam air.

Sekejap Tio Siau In menjadi puas, sebab pemuda kurang ajar itu telah ia hajar dan ia ceburkan ke dalam air.

Tapi beberapa saat kemudian, ketika pemuda itu tidak muncul-muncul juga dari dalam air, Tio Siau In berbalik menjadi ketakutan pula seperti tadi.

Dengan gugup Tio Siau In mencari kesana-kemari.

"A Liong...?!?"

Gadis itu bergumam lirih.

Namun sekali ini tubuh A Liong tampaknya memang benar-benar hilang ditelan air laut.

Gulungan ombak yang berputar-putar di bawah sampan itu tampaknya telah menyeret tubuh A Liong ke tengah laut.

"A Liongggg...!!!"

Akhirnya Tio Siau In berseru memanggil nama pemuda gelandangan itu.

Suaranya terdengar cemas dan penuh penyesalan.

* * * Demikianlah kalau di pagi hari yang telah mulai menyengat itu Tio Siau In menjadi cemas akan keselamatan A Liong, maka di kota Hang-ciu ternyata Tio Ciu In juga sedang mencemaskan keselamatan Liu Wan dan Kwe Tek Hun.

Pertempuran di rumah penginapan itu memang telah sampai di puncaknya.

Baik Liu Wan maupun Kwe Tek Hun benar-benar telah melepaskan seluruh kesaktiannya.

Liu Wan dengan Thian-lui-khong-ciangnya itu sungguh-sungguh seperti Dewa Petir dan angin yang sedang murka.

Pukulan jarak jauhnya meledak-ledak bagaikan sambaran halilintar yang mengejar mangsanya, sementara arena pertempuran itu seperti digoncang oleh badai besar.

Semakin cepat pemuda itu bergerak, semakin dahsyat pula badai yang bergolak.

Meja, kursi dan peralatan yang ada di dalam ruangan itu porak-poranda bagai diterjang angin puting beliung.

Begitu dahsyatnya ilmu yang dikeluarkan oleh Liu Wan itu sehingga Tio Ciu In terpaksa mengamankan Ku Jing San dan Song Li Cu ke ruangan lain...

Sementara itu di luar rumah, baik di halaman penginapan maupun di jalan raya, orang-orang mulai berkerumun ingin menyaksikan apa yang terjadi.

Namun mereka tidak berani mendekat, karena suara pertempuran yang amat gaduh itu membuat hati mereka menjadi ngeri.

Pada saat itu pula dari arah jalan raya masuk lima orang lelaki berbadan besar-besar dan tinggi-tinggi seperti layaknya orang dari daerah utara.

Wajah merekapun tampak kaku dan keras-keras pula.

Mereka masuk ke halaman rumah penginapan itu dengan menyibakkan para penonton yang berjubel di pintu halaman.

Pada saat yang hampir bersamaan, dari arah lain masuk pula seorang lelaki buta ke halaman rumah penginapan tersebut.

Meskipun buta lelaki itu berjalan dengan langkah biasa seperti manusia normal lainnya, sehingga sepintas lalu orang tidak akan menyangka kalau dia buta.

Tubuhnya yang kurus jangkung itu tertutup jubah panjang sampai ke betisnya.

Sedangkan usianya tak dapat ditaksir karena hampir seluruh wajahnya tertutup kumis, jenggot dan rambutnya yang terurai panjang.

Namun bila dilihat dari warna rambutnya yang telah terdiri dari dua macam itu dapat dikira-kira umurnya telah lebih dari empat puluh tahun.

Tangannya memegang tongkat panjang.

Lelaki buta itu tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi, namun demikian ia tidak berusaha bertanya kepada orang-orang yang sedang menonton tersebut.

Ia melangkah dengan tenang di belakang lima orang lelaki tadi seperti tidak ada kejadian apa-apa.

Tongkatnya diseret di samping tubuhnya dan sama sekali tidak dipergunakan untuk mencari jalan seperti halnya orang buta lainnya.

"Tampaknya Sang Puteri mendapat kesulitan di tempat ini."

Salah seorang dari lima orang lelaki itu, yang tampaknya adalah pimpinan mereka, berkata dengan suaranya yang berat dan berwibawa.

"Tampaknya memang demikian, Panglima."

Demikian memasuki pintu pendapa, mereka berlima sudah merasakan hembusan angin yang amat kuat menerpa tubuh mereka.

Bahkan ledakan-ledakan yang diakibatkan oleh Thian-lui-khong-ciang juga sudah mulai menggetarkan isi dada mereka.

"Wah tampaknya kali ini Sang Puteri benar-benar menerjang badai."

Orang yang disebut panglima itu berkata agak cemas.

Memang benar, walau tidak di bawah angin, namun Mo Goat memang mendapatkan kesulitan untuk menundukkan perlawanan Kwe Tek Hun dan Liu Wan.

Ilmu silat Liu Wan yang dahsyat itu benar-benar membatasi ruang gerak Mo Goat kembar.

Padahal meski dalam bentuk dan sifat yang berbeda, namun ilmu silat Kwe Tek Hun juga tidak kalah hebatnya pula.

Berlainan dengan Thian-lui-khong-ciang yang sifatnya keras, kuat dan meledak-ledak, Kim-hong-sin-kun milik Kwe Tek Hun lebih bersifat halus, lembut dan indah dipandang.

Namun demikian ternyata akibatnya justru lebih berbahaya daripada Thian-lui-khong-ciang.

Apabila Thian-lui-khong-ciang tersebut lebih berdaya-guna untuk menghancurkan seluruh sasarannya, sebaliknya Kim-hong-sin-kun hanya bersifat melumpuhkan dan merusakkan bagian-bagian titik terpenting dari sasaran keseluruhannya.

Oleh karena itu tidak mengherankan bila Mo Goat mendapatkan kesulitan untuk menundukkan mereka.

Meskipun ilmu silat gadis muda belia itu sangat tinggi dan menggiriskan hati, tapi menghadapi dua macam ilmu silat yang saling bertolak belakang sifatnya tersebut benar-benar berat dan sulit.

Untung bagi Mo Goat karena selain ginkangnya lebih tinggi dan lebih sempurna, lawan-lawannya yang masih muda itu juga belum berpengalaman menghadapi ilmu sihirnya, sehingga gadis muda belia itu dengan mudah masih bisa mengecoh dan mengelabuhi lawan-lawannya.

Akan tetapi dengan demikian pertempuran itu akan terus berlarut-larut dan takkan kunjung selesai.

Masing-masing pihak memiliki kemampuan yang hampir setara.

Mo Goat yang bisa memecah diri menjadi dua bentuk manusia kembar itu mempunyai tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh setingkat lebih tinggi daripada lawan-lawannya.

Namun sebaliknya di pihak lain, Liu Wan dan Kwe Tek Hun juga bisa saling mengisi serta memadukan ilmu silat mereka yang sangat bertolak belakang itu demi pertahanan mereka.

Justru yang paling cemas pada waktu itu adalah Tio Ciu In.

Dengan kepandaiannya yang masih terbatas gadis ayu itu tidak dapat melihat perbandingan ilmu mereka.

Ia cuma bisa melihat keadaan luarnya saja, yaitu repotnya Liu Wan dan Kwe Tek Hun dalam menghadapi ilmu sihir Mo Gat.

Dan kecemasan gadis ayu itu semakin bertambah pula ketika di tengah-tengah pintu masuk ruangan tersebut tiba-tiba muncul lima orang lelaki bertampang keras.

Apalagi ketika lima orang lelaki itu memberi salam kepada Mo Goat.

"Hmmh, di mana meja dan kursinya? Kenapa ruang makan ini sama sekali tak ada tempat duduknya?"

Sekonyong-konyong Tio Ciu In mendengar suara di belakangnya.

Hampir saja Tio Ciu In melompat karena kaget.

Gadis itu sama sekali tak melihat atau mendengar langkah kaki orang itu.

Ketika ia membalikkan badannya, di depannya telah berdiri seorang lelaki tua memegang tongkat.

Tio Ciu In tak bisa.

melihat wajah orang itu karena rambut dan kumisnya menutupi hampir seluruh mukanya.

"Kau... Kau siapa?"

Tio Ciu In menyapa dengan hati semakin cemas dan gelisah.

"Oooh!"

Lelaki tua itu kelihatan kaget mendengar suara Tio Ciu In.

"Apakah... apakah Nona pemilik penginapan ini?"

Tio Ciu ln baru menyadari bahwa lelaki di depannya itu buta.

Perasaannya sedikit tenang, walaupun ia tetap waspada dan hati-hati.

Ia selalu ingat pesan gurunya, agar ia selalu berhati-hati bila berhadapan dengan orang asing.

"Bukan. Aku seorang tamu di penginapan ini. kau... siapa?"

Orang buta itu tidak lekas menjawab pertanyaan Tio Ciu In, seolah-olah ia memang tidak mendengarnya.

Sebaliknya orang itu malah memalingkan kepalanya ke arah pertempuran sambil memasang telinganya untuk mengetahui apa yang telah terjadi di dalam ruangan tersebut.

"Seperti ada yang berkelahi di tempat ini. Hmm, siapakah mereka itu, Nona?"

Lelaki buta itu bertanya halus.

Sebenarnya Tio Ciu In merasa enggan untuk menjawabnya.

Namun lelaki buta itu seperti memiliki perbawa yang menakutkan, sehingga Tio Ciu In tak kuasa untuk tetap berdiam diri.

"Dua orang kawanku berselisih paham dengan seorang gadis muda, sehingga mereka saling berbaku hantam."

Lelaki buta itu mengarahkan telinganya lagi ke arena pertempuran.

Mulutnya yang tertutup kumis dan jenggot lebat itu seperti menggumamkan sesuatu.

Tio Ciu In seperti tersihir.

Gadis ayu itu hanya mengawasi saja tanpa berani bersuara.

Lelaki buta itu terasa menakutkan, berwibawa, tapi juga tampak sangat berbahaya.

"Apakah orang yang memiliki pukulan seperti petir itu temanmu?"

Lelaki buta itu bertanya pula. Sekali lagi Tio Ciu In tak kuasa menentangnya. Gadis ayu itu menganggukkan kepalanya, namun segera sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan orang buta.

"Be-benar. Apakah Tuan mengenal temanku itu?"

Lelaki buta itu cepat menggelengkan kepalanya, sehingga rambutnya yang panjang sampai ke pinggang itu terjurai ke depan menutupi wajahnya. Dan orang itu ternyata membiarkan saja rambutnya demikian.

"Dia itu temanmu atau saudara seperguruanmu?"

Sekonyong-konyong lelaki buta itu bertanya aneh, seperti sedang menyelidiki.

Tio Ciu In tersentak kaget.

Wajahnya menjadi merah.

Matanya yang bulat indah itu bergetar, seakan-akan berusaha melihat rupa di balik tirai rambut tersebut.

Tapi ketika orang itu kemudian menyibakkan rambutnya ke belakang sehingga tampak sebagian mukanya yang tidak tertutup kumis dan jenggot, lagi-lagi Tio Ciu In tertunduk.

Wajah itu kelihatan kaku dan dingin.

Bahkan matanya yang jernih seperti mata orang sehat itu seperti menyimpan sebuah kekuatan yang mengerikan.

Sekejap Tio Ciu In menjadi ragu, jangan-jangan lelaki yang mempunyai perbawa menyeramkan itu cuma pura-pura buta.

"Nona belum menjawab pertanyaanku!"

Sekali lagi Tio Ciu In dikejutkan oleh suara orang itu.

"Kami... Kami baru saja berkenalan. Dia... dia bukan saudara seperguruanku."

Tio Ciu In menjawab dengan gugup.

"Hmmmmmm...!"

Sekali ini Tio Ciu In benar-benar heran terhadap dirinya sendiri.

Selama ini ia tak pernah merasa takut terhadap siapapun juga.

Bahkan di dalam sarang perampok-perampok liarpun ia tak pernah merasa ketakutan.

Namun sekarang di depan lelaki tua bermata buta ini, entah mengapa tiba-tiba hatinya menjadi ngeri.

"Kudengar ada tiga orang yang sedang berkelahi. Apakah temanmu dikeroyok dua?"

Lelaki buta itu bertanya kembali.

"Ah, tidak..."

Tio Ciu In menjadi malu.

Malu karena telah berprasangka buruk terhadap orang yang ternyata benar-benar buta itu, serta malu karena justru teman-temannyalah yang telah mengeroyok lawannya.

Meskipun Tio Ciu In tidak meneruskan jawabannya, tapi orang itu tampaknya sudah dapat menangkap maksudnya.

"Ah, kalau begitu gadis muda yang kau maksudkan itu benar-benar lihai sekali karena mampu melayani keroyokan teman-temanmu. Hmm... siapakah temanmu yang satu lagi itu? Apakah dia saudara seperguruanmu? Kudengar gerakan ilmunya tidak sama dengan temanmu tadi."

Tio Ciu In tidak segera menjawab. Kali ini gadis itu menjadi bingung juga untuk menjawabnya. Ia memang tidak begitu paham tentang Kwe Tek Hun dan saudara-saudara seperguruannya.

"Maaf, aku... aku juga baru mengenal mereka di tempat ini. Katanya pemuda itu bernama Kwe Tek Hun."

Akhirnya Tio Ciu In dapat juga menjawab pertanyaan lelaki buta itu.

"Oooh..."

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Tetapi meskipun maju berdua... Kawan-kawanmu itu seperti merasa sulit menghadapi lawannya. Mengapa kau tak ikut membantu mereka?"

"Ah, kepandaianku belum cukup untuk ikut dalam kancah pertempuran tingkat atas seperti itu. Selain itu aku juga sedang menjaga teman-temanku yang terluka."

"Hah? Teman-temanmu sudah ada yang terluka? Apanya yang terluka?"

Lelaki buta itu terperanjat.

Tio Ciu In menghela napas panjang.

Entah apa sebabnya, tapi yang jelas gadis ayu itu seperti menurut saja untuk menceritakan apa yang telah terjadi.

Dan lelaki buta itu terdengar menggeram perlahan mendengar kekejaman Mo Goat.

"Dan sekarang... Kawan-kawan Mo Goat telah datang pula. Mereka kelihatan lebih kasar dan garang daripada Mo Goat. Aku benar-benar sangat cemas. Kepandaianku amat rendah, sedangkan teman-temanku yang lain sudah terluka..."

Tio Ciu ln mengakhiri ceritanya dengan nada gelisah.

"Hmmh!"

Tiba-tiba lelaki itu menggeram.

"Nona, bawa kemari teman-temanmu yang terluka itu!"

Tio Ciu In tercengang mendengar perintah itu.

Ada perasaan untuk menentangnya, tapi keinginan itu segera sirna begitu laki-laki itu kembali menyerukan perintahnya.

Tio Ciu In cepat membawa Song Li Cu dan Ku Jing San ke hadapan lelaki buta itu.

Song Li Cu dipapahnya, sementara Ku Jing San beringsut di belakangnya dengan berpegangan pada dinding.

Anehnya kedua saudara seperguruan itu juga menurut saja.

"Inilah mereka, Tuan."

Lelaki buta itu mengulurkan tangannya kepada Song Li Cu.

"Di bagian mana gadis ini mendapatkan totokan?"

Tanyanya kepada Tio Ciu In.

"Kalau tak salah di bagian kakinya, Seperti orang yang masih sehat kedua matanya, lelaki itu cepat mengurut dan menotok di beberapa bagian kaki Song Li Cu. Dan yang terakhir jari telunjuk lelaki itu menotok pada jalan darah tan-bi-hiat di bawah puser Song Li Cu.

"Maaf...!"

Ucap lelaki itu pendek, kemudian mengebut-ngebutkan lengan bajunya tanda ia telah selesai mengobati gadis itu.

Sungguh mengherankan!

Song Li Cu yang semula tak bisa menggerakkan tubuhnya itu tiba-tiba bisa bergerak lagi!

"Nona tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu!

Totokan yang melumpuhkan Nona tadi merupakan ilmu totok (tiam hoat) yang tiada duanya di dunia ini.

Totokan itu hanya bisa dipunahkan kembali oleh seseorang yang memiliki lwekang setidak-tidaknya dua kali lipat Iweekang penotoknya."

Lelaki buta itu memberi peringatan kepada Song Li Cu yang sudah bersiap-siap untuk melabrak Mo Goat kembali. Song Li Cu tertunduk kecewa.

"Terima kasih, Lo-Cianpwe..."

Gadis manis itu mengucapkan rasa terima kasihnya.

"Lo-Cianpwe...? Ah!"

Orang itu berdesah panjang.

"Tampaknya aku memang sudah tua. Belasan tahun telah lewat tanpa terasa dan tentunya umurku juga sudah mendekati setengah abad. Hmmm... cepat sekali..."

Sementara itu di arena pertempuran tampaknya Mo Goat sudah tidak sabar lagi.

Gadis cantik itu sudah mulai menggenggam senjata rahasianya pula.

Senjata rahasia yang ampuh, yang dalam sekali lempar telah melukai Song Li Cu dan Ku Jing San!

"Puteri...!

kau jangan menghambur-hamburkan senjata rahasiamu!

Sungguh sayang rasanya kalau dibuang hanya untuk membunuh kelinci-kelinci seperti mereka!"

Orang yang dipanggil dengan sebutan Panglima tadi berseru kepada Mo Goat.

"Tapi sulit sekali menundukkan mereka! Padahal aku sudah menggunakan Pat-sian-i-hoat (Delapan Baju Dewa)! Sayang ilmuku belum sebaik ilmumu. Kalau aku sudah dapat memecah diri menjadi empat seperti kau, kelinci-kelinci ini sudah kuhabisi sejak tadi."

Mo Goat menyahut dengan suara jengkel.

Tentu saja ucapan-ucapan yang amat memandang rendah itu sangat menyinggung perasaan Liu Wan dan Kwe Tek Hun.

Apalagi bagi Kwe Tek Hun yang dalam perjalanan petualangannya selama ini hampir tak pernah menjumpai lawan tangguh.

Ejekan sebagai kelinci itu benar-benar menyinggung harga dirinya.

Tanpa memikirkan akibatnya, pendekar muda dari Pulau Meng-to itu melesat keluar dari arena pertempuran.

Hanya dengan dua gerakan saja dari Ban-seng-po Lian-hoan, maka tubuhnya telah berada di depan panglima itu.

"Kalau kau memang ingin mencoba menangkap kelinci-kelinci kecil seperti kami, mengapa cuma berteriak-teriak saja dari luar arena? Mengapa tidak langsung saja mempergunakan kepalan dan kakimu? Takut?"

Kwe Tek Hun balas mengejek dengan nada pedas.

"Bangsat! kau memang bosan hidup!"

Benar saja, orang yang disebut panglima itu menjadi marah bukan main.

Sambil mengumpat kasar ia menerjang Kwe Tek Hun.

Kesepuluh jari tangannya mengejang seperti cakar garuda, menyambar ke arah dada dan perut pendekar dari Pulau Meng-to itu.

Kwe Tek Hun tidak berani adu tenaga.

Mendengar percakapan lawannya tadi Kwe Tek Hun tahu bahwa lawannya itu jauh lebih berbahaya dan lebih lihai daripada Mo Goat.

Padahal melawan Mo Goat saja dia dan Liu Wan tidak menang.

Oleh karena itu satu-satunya jalan untuk menandinginya hanyalah dengan kecerdikan dan tipu muslihat.

Untunglah ilmunya Ban-seng-po Lian-hoan benar-benar mentakjubkan, sehingga setiap kali dalam bahaya ia selalu dapat menyelamatkan diri.

Demikianlah Kwe Tek Hun tidak mau menangkis serangan itu.

Pemuda itu justru memanfaatkan kelebihannya dalam main petak.

Dengan langkah ajaibnya itu ia menghindar dan mengitari tubuh lawannya.

Sekali-sekali ia balas menyerang, meskipun ia tahu lawannya jauh lebih gesit dan lebih tinggi tenaga dalamnya.

Tentu saja ulah Kwe Tek Hun tersebut amat menjengkelkan lawannya.

Di dalam segala hal panglima itu jauh lebih unggul, baik ginkang, lwekang, maupun ilmu silatnya.

Namun pemuda itu ternyata memiliki ilmu langkah ajaib yang amat mentakjubkan, sehingga keunggulan ginkang panglima itu hampir tak ada gunanya lagi.

Bagaikan seekor belut pemuda itu selalu bisa melepaskan diri dari cegatan-cegatan lawannya.

Akhirnya panglima itu tak dapat mengekang kegusarannya lagi.

Seperti halnya Mo Goat tadi, tiba-tiba panglima itu melompat ke belakang sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

Kwe Tek Hun terkejut, tapi sudah terlambat Matanya sudah terlanjur menantang mata panglima yang mencorong seperti mata burung elang itu, hingga untuk selanjutnya mata dan pikirannya telah jatuh dalam perangkap ilmu sihir lawannya.

"Oooooh!"

Tio Ciu In menjerit kecil. Demikian pula dengan Song Li Cu.

"Hah? Ada apa...?"

Lelaki buta itu tersentak kaget pula.

"Orang itu bisa merubah dirinya menjadi empat! Dan semuanya bisa bergerak sendiri-sendiri mengeroyok Kwe suheng!"

Song Li Cu berdesah bingung.

"Berubah menjadi empat? Wah, ilmu sihir!"

Lelaki buta itu berkata kaget, seperti sudah pernah mengenalnya.

"Lo-Cianpwe, kau tolonglah kami!"

Tiba-tiba Song Li Cu berlutut sambil menghiba di depan lelaki buta itu.

"Tolonglah suhengku sekalian, seperti halnya Lo-Cianpwe telah menolongku tadi. Aku percaya Lo-Cianpwe bisa mengatasi mereka..."

Ternyata perasaan cinta gadis manis itu sedemikian besarnya kepada Kwe Tek Hun, sehingga gadis itu rela menanggalkan kekerasan hatinya selama ini untuk meminta tolong kepada orang yang baru saja dikenalnya.

Semula Tio Ciu In menjadi kaget juga menyaksikan ulah Song Li Cu.

Demikian pula halnya dengan Ku Jing San sendiri.

Tapi keduanya segera memakluminya, apalagi ketika mereka menyaksikan jalannya pertempuran setelah pembantu Mo Goat yang lihai itu maju.

Baik Kwe Tek Hun maupun Liu Wan memang dalam keadaan yang memprihatinkan.

Setelah terpisah sendiri-sendiri, kedua pemuda sakti itu memang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap lawannya.

Rasanya memang tinggal menunggu waktu saja, kapan keduanya dibabat habis oleh lawan lawan mereka.

Lelaki buta itu mengerutkan dahinya yang tertutup rambut.

Sikapnya tetap dingin dan kaku, seolah-olah tidak peduli pada keadaan sekelilingnya.

Demikian pula terhadap ratapan Song Li Cu.

Sama sekali ia tak bereaksi mendengar suara yang menghiba itu.

"Lo-Cianpwe...? Kakiku sudah buntung. Aku tak bisa lagi membantu suhengku. Maukah Lo-Cianpwe menolongnya?"

Ku Jing San yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba ikut memohon.

Ternyata di dalam keadaan kritis seperti itu ia memaklumi perasaan sumoinya.

Tapi lelaki buta itu tetap tak bergeming.

Bahkan orang tua itu perlahan-lahan menyeret kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut.

Wajahnya tertunduk lesu seakan-akan hatinya amat menyesal sekali berada di tempat itu.

Beberapa kali terdengar suara tarikan napasnya yang berat dan panjang.

"Lo-Cianpwe! Lo-Cianpwe...! Jangan tinggalkan kami! Tolonglah suhengku!"

Song Li Cu memohon dengan suaranya yang semakin memelas.

"Benar, Lo-Cianpwe... tolonglah Kwe suheng sekali ini saja!"

Ku Jing San ikut pula meminta dengan suaranya yang serak.

"Maaf. Maafkanlah aku... aku tak bisa menolong kalian."

Terdengar lelaki buta itu menjawab perlahan.

Kakinya tetap melangkah tersaruk-saruk ke arah pintu.

Song Li Cu memandang sekali lagi ke arena pertempuran.

Hatinya semakin merasa cemas akan keselamatan Kwe Tek Hun.

"Lo-Cianpwe...!?!"

Ratapnya sedih. Namun dengan suara tak kalah lesunya, lelaki buta itu menyahut lirih.

"Maaf, Nona... aku tetap tak bisa menolongmu. Sudah lama aku tidak melibatkan diri di dalam urusan rimba persilatan seperti ini. Aku sudah bosan. Aku sudah cukup banyak menderita karena urusan perkelahian, permusuhan dan dendam kesumat di dunia yang keras itu..."

"Buuuuk!"

"Auuuugh...!"

Sekonyong-konyong terdengar suara pukulan dan keluhan tertahan dari arena pertempuran.

Liu Wan, pemuda sakti itu ternyata telah terkena tendangan kaki Mo Goat.

Tio Ciu In terkejut.

Ia menyaksikan Liu Wan terhuyung-huyung sambil tetap berusaha menghindari serangan Mo Goat kembar yang terus saja memburunya.

Pemuda itu kelihatan seperti lampu yang kehabisan minyak.

Tenaganya yang besar tadi tampak sudah habis, sehingga pukulannya yang meledak-ledak seperti petir itu sudah tidak kelihatan lagi.

"Tuan...?"

Tio Ciu In yang mencemaskan keselamatan Liu Wan itu tiba-tiba menjerit kecil tanpa terasa.

Sungguh mengherankan!

Jeritan lemah dan amat singkat dari Tio Ciu In itu ternyata mampu mengejutkan lelaki buta tersebut!

Entah bagaimana caranya bergerak.

Namun orang tua yang telah-berada di depan pintu keluar itu mendadak saja telah berada di dekat Tio Ciu In kembali!

Sama sekali tak kelihatan bayangan tubuhnya yang berkelebat!

Di mata Ku Jing San, Song Li Cu dan Tio Ciu In sendiri, tubuh lelaki buta itu seperti menghilang dan berpindah tempat begitu saja!

"Nona memanggil aku?

Ada apa...?"

Orang tua itu bertanya tegang.

Tio Ciu In yang baru saja menjerit kecil itu justru menjadi gugup menyaksikan kesaktian lelaki buta tersebut.

Beberapa saat lamanya ia tak bisa menjawab atau membuka mulutnya.

"Nona! kau kenapa...? Apakah kau diserang dan dilukai musuhmu?"

Lelaki buta itu mendesak semakin tegang.

"Ti-tidak...! Kawanku... Kawanku terdesak! Dia... dia dalam bahaya!"

Akhirnya Tio Ciu In dapat bersuara dengan patah-patah.

"Ooooh!"

Orang tua itu berdesah lega, kemudian perlahan-lahan membalikkan badannya kembali.

"Tuan, tunggu...!"

Tio Ciu In mengejar dan berseru. Lelaki buta itu berhenti.

"Ada apa lagi...?"

Tio Ciu In berdiri tegak di depan orang tua itu. Matanya yang bulat indah itu mencoba mengawasi wajah yang dingin tertutup rambut tersebut.

"Tuan...? Mengapa Tuan tidak mau menolong teman-temanku itu?"

Mendadak tubuh lelaki buta itu seperti bergetar menahan perasaan sedih.

Tulang pipinya yang menonjol itu tampak pucat, sementara matanya yang bening seperti mata orang sehat itu kelihatan berair.

Kemudian sambil menghela napas berat orang tua itu menundukkan wajahnya.

"Namamu siapa, Nona? Apakah kau tinggal di sekitar Laut Kuning? Apakah kau bermarga Han?"

Mendadak lelaki buta itu bertanya tanpa mempedulikan pertanyaan Tio Ciu In.

"Bukan... bukan! Aku tidak bermarga Han! Namaku Tio Ciu In dan aku juga tidak tinggal di sekitar Laut Kuning! Aku tinggal di kota Yun-kia..."

"Oooh...!"

Orang tua itu berdesah panjang seperti mengandung rasa kecewa yang amat dalam. Sebaliknya Tio Ciu In menjadi sangat heran melihat peri laku orang tua itu.

"Mengapa... Mengapa Tuan tidak segera menolong teman-temanku? Mengapa Tuan secara tiba-tiba malah menanyakan nama dan tempat tinggalku?"

Sekali lagi orang tua itu menarik napas panjang sekali.

"Sudahlah, Nona Tio. Jangan kau hiraukan pertanyaanku tadi. Hmmmm, sekarang jawab saja pertanyaanku. Mengapa kau meminta pertolongan kepadaku?"

"Karena... Karena aku percaya Tuan akan meluluskan permintaanku!"

Orang tua itu tampak tercengang sebentar, kemudian mengangguk-angguk.

"Kau benar, Nona Tio. Khusus untuk dirimu, aku bersedia mengubah pendirianku. Aku akan menolong teman-temanmu, tapi... dengan syarat!"

"Syarat? Syarat apa...? Lekas katakan!"

Tio Ciu In yang melihat keadaan Liu Wan dan Tek Hun semakin mengkhawatirkan itu menjadi tidak sabar.

"Tolong nyanyikan sebuah lagu untukku! Terserah lagu apa saja boleh...!"

"Menyanyikan lagu...?"

Tio Ciu In tercengang mendengar syarat yang amat aneh itu.

"Aku... aku tak dapat bernyanyi! Aku...?!"

"Terserah kepadamu, Nona Tio Hanya itu syaratku. Kalau kau tak mau, juga tidak apa-apa..."

Orang tua itu berkata perlahan sambil membalikkan badannya kembali.

Tio Ciu In menjadi tegang bukan main.

Apalagi ketika sekali lagi ia menyaksikan Liu Wan terpelanting menabrak dinding.

Darah segar tampak mengalir dari mulut dan hidung pemuda itu.

"Tunggu...!"

Gadis ayu itu berteriak.

Namun sekali ini orang tua buta itu tak menghiraukan panggilan Tio Ciu In.

Kakinya tetap melangkah perlahan ke arah pintu.

Dalam keadaan panik akhirnya Tio Ciu In juga tidak menghiraukan lagi kejanggalan-kejanggalan yang dihadapinya.

Gadis ayu itu lalu menyanyikan sebuah lagu lama.

Lagu yang sering dinyanyikan oleh gurunya.

Entah lagu apa, ia tidak tahu.

Yang penting ia menyanyi, meskipun suaranya yang merdu itu menjadi sumbang karena kecemasan dan ketegangan hatinya.

Apabila di malam yang gelap gulita, Tiba-tiba muncul bulan purnama, Alampun tersentak dari tidurnya, Untuk menyambut kehangatan Sang Pelita Malam.

Kekasihku...!

Harapkan kehadiranmu!

Dalam keadaan yang sangat menegangkan seperti itu, suara nyanyian Tio Ciu In memang benar-benar aneh dan terasa janggal kedengarannya.

Bahkan Mo Goat dan pembantunya yang disebut panglima itu sampai merasa kaget dan agak mengendor desakannya.

Sabetan kipas yang mematikan dari Mo Goat terhadap leher Liu Wan seolah-olah tertahan sejenak mendengar alunan suara Tio Ciu In tersebut.

Demikian pula dengan hantaman siku si Panglima yang tertuju ke arah tengkuk Kwe Tek Hun seakan-akan juga terhenti beberapa saat pula ketika mendengar suara nyanyian Tio Ciu In.

Namun pada waktu yang cuma sesaat itu tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan, yang hampir-hampir tak bisa ditangkap oleh pandangan mata siapapun juga.

Begitu cepatnya, sehingga Kwe Tek Hun yang memiliki Pek-in Ginkang yang amat tersohor di dunia persilatan itu tak kuasa apa-apa ketika mendadak leher bajunya secara mendadak telah dicengkeram bayangan tersebut dan dilemparkannya keluar arena.

Demikian pula dengan Liu Wan.

Bahkan Mo Goat dan pembantunya yang memiliki ilmu meringankan tubuh jauh lebih tinggi lagi daripada Kwe Tek Hun itu juga tak berkutik pula ketika bayangan tersebut menyambar ke arah mereka serta mendorong mereka keluar arena.

Bukan alang kepalang kagetnya Mo Goat dan pembantunya menyaksikan kesaktian yang luar biasa itu.

Sejenak mereka berdua memandang dengan sinar mata jeri ke arah lelaki buta yang kini telah berdiri tegak di tengah-tengah ruangan.

"Kau... Kau siapa?"

Mo Goat yang kejam dan tak pernah mengenal rasa takut itu mendadak menjadi gemetaran suaranya.

Bagaimana Mo Goat maupun pembantunya itu tidak jeri?

Orang asing berpenampilan buruk dan mengerikan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh ilmu sihir mereka Pat-sian-i-hoat.

Bahkan ilmu meringankan tubuh orang asing itu juga jauh lebih hebat daripada ginkang perguruan mereka, yang menurut guru mereka tiada bandingannya di dunia ini.

Begitu pula dengan tenaga dalam yang dikeluarkan oleh orang asing tersebut untuk mendorong mereka, rasa-rasanya berlipat jauh dengan tenaga dalam yang mereka miliki.

Demikianlah, kalau Mo Goat dan para pembantunya merasa heran dan ketakutan, sebaliknya Tio Ciu In dan Song Li Cu menjadi gembira bukan main melihat Liu Wan serta Kwe Tek Hun selamat dari keganasan lawan.

Tio Ciu In segera membantu Liu Wan mengobati luka-lukanya, sementara Song Li Cu dengan telaten dan penuh perhatian mengusap peluh yang mengalir di wajah dan leher Kwe Tek Hun.

"Siapa orang itu, Ciu-moi?"

Dengan napas yang masih memburu Liu Wan bertanya tentang orang buta itu kepada Tio Ciu In.

"Siapa... dia, Sumoi?"

Kwe Tek Hun juga bertanya keheranan kepada Song Li Cu dan Ku Jing San yang merubungnya.

Tapi baik Tio Ciu In maupun Song Li Cu tidak bisa memberi jawaban.

Keduanya memang tidak mengenal orang buta yang maha sakti itu.

Mereka cuma bisa bercerita bahwa orang tua itu menolong Liu Wan dan Kwe Tek Hun karena suara nyanyian Tio Ciu In.

"Nyanyian...?"

Baik Liu Wan maupun Kwe Tek Hun tercengang keheranan.

Kalau semua orang menatap heran atau jeri kepada orang tua buta itu, sebaliknya orang yang bersangkutan justru sedang berdiri terlongong-longong mengenangkan isi syair nyanyian Tio Ciu In tadi.

Beberapa kali terlihat dadanya turun naik seakan-akan sedang menyangga beban yang teramat berat.

"Nona Tio...! Dari mana kau belajar lagu lama itu? Siapakah yang mengajarimu lagu "Merindukan Kekasih"

Itu?"

Tiba-tiba orang tua itu menoleh dan bertanya kepada Tio Ciu In. Gadis ayu yang sedang sibuk menolong Liu Wan itu tersentak kaget.

"Aku... aku tidak belajar dari siapa-siapa. Aku hanya sering mendengarnya dari Suhuku..."

Tio Ciu In menyahut dengan suara gugup.

"Oh, ya? Apakah Gurumu itu seorang tokoh Aliran Im-yang-kauw?"

Tio Ciu In tercengang, lalu mengangguk.

"Benar. Beliau adalah Giam Pit Seng, Ketua Cabang Im-yang-kauw di kota An-king."

Sekarang ganti orang tua buta itu yang mengangguk-angguk.

"Sudah kuduga..."

Orang tua itu kemudian bergumam.

"Ketahuilah, Nona Tio... Lagu itu adalah ciptaan seorang tokoh tua aliran Im-yang-kauw dua puluhan tahun yang lalu. Lagu itu sangat populer dan disukai orang, terutama oleh para anggota aliran itu sendiri. Maka tak mengherankan bila Gurumu juga suka menyanyikannya. Aaah, memang sungguh indah lagu itu..."

"Tuan sangat, menyukai lagu itu?"

Tio Ciu In bertanya hati-hati, takut menyinggung perasaan orang tua aneh itu.

"Ya, aku dulu sering menyanyikannya. Aku hafal seluruh syair-syairnya..."

Ternyata orang tua buta itu justru bersemangat menjawab pertanyaan Tio Ciu In.

"Kalau begitu... Kalau begitu, emmm... apakah Tuan ini juga anggauta Aliran Im-yang-kauw pula?"

Dengan sangat hati-lati Tio Ciu In mencoba untuk mengorek asal-usul orang tua tersebut.

"Oh, bukan...! Isteriku yang...?!"

Tiba-tiba orang tua itu menghentikan kata-katanya. Dia seperti menyesal telah mengeluarkan ucapannya tadi. Dan untuk menutupi kecanggungannya, tiba-tiba pula ia melangkah meninggalkan tempat tersebut.

"Aku... pergi dulu!"

Katanya singkat, lalu tubuhnya yang jangkung tinggi itu berkelebat meninggalkan ruangan tersebut.

"Tuan, tunggu...! Bolehkah aku mengenal nama besarmu?"

Tio Ciu In berseru.

Kakinya melompat, mencoba mengejar sampai ke pintu.

Tak ada jawaban.

Orang tua itu telah melesat jauh meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Tapi sekonyong-konyong terdengar suara lapat-lapat dari kejauhan yang dikirim dengan ilmu Coan-im-ib-it (Ilmu Mengirim Suara Dengan Gelombang Angin).

"Nona Tio, panggil saja aku si Buta! Kalau kau ingin bertemu dan ingin meminta pertolonganku lagi, nyanyikan saja lagu "Merindukan Kekasih"

Itu! Aku tentu datang...!"

"Ihhh...!"

Tio Ciu In yang menjadi salah terima dengan ucapan orang tua buta itu mencibirkan bibirnya. Wajahnya berubah sedikit memerah.

"Masakan aku harus menyanyikan lagu "Merindukan Kekasih"

Untuk bertemu dengan dia?"

Mendadak gadis ayu itu tersentak kaget karena teringat kepada Mo Goat kembali.

Bergegas gadis itu membalikkan badannya.

Matanya nanar mencari gadis muda yang kejam itu di antara para pelayan penginapan yang telah mulai berdatangan.

Tapi gadis itu sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya.

Mungkin secara diam-diam gadis cantik itu telah pergi bersama para pembantunya, pada saat dia sedang terlibat pembicaraan dengan orang tua buta tadi.

Tapi bagaimanapun juga kepergian Mo Goat itu justru sangat melegakan hati Tio Ciu In.

Apa jadinya kalau Mo Goat dan para pembantunya itu belum pergi, sedangkan orang tua buta itu sudah tiada lagi?

"Bagaimana, Ciu-moi?

Siapakah orang tua itu?"

Liu Wan menyambut kedatangan Tio Ciu In dengan sebuah pertanyaan.

"Entahlah! Dia hanya memperkenalkan diri dengan nama si Buta!"

"Si Buta? Jadi... orang itu buta? Ah! Bukan main!"

Kwe Tek Hun berseru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apanya yang bukan main, suheng?"

Song Li Cu menukas keheranan. Kwe Tek Hun tersenyum kecut.

"Yah, kau lihat sendiri! Caranya bergerak yang gesit dan lincah itu sama sekali tak mencerminkan bahwa dia buta! Kita semua yang waras ini benar-benar harus malu terhadapnya."

Sementara itu orang-orang yang datang menonton mulai berani memasuki ruangan tersebut.

Pemilik rumah penginapan itu beserta para pelayannya datang menghampiri mereka.

Dengan wajah sedih pemilik rumah penginapan itu meratapi barang-barangnya yang rusak dan berantakan.

"Sudahlah, kau tak perlu meratapi harta bendamu yang sudah rusak!"

Liu Wan yang sudah mengenal pemilik rumah penginapan itu menghiburnya.

"Meskipun bukan aku yang membuat gara-gara di dalam peristiwa ini, tapi aku akan menggantikannya. Tolong kau hitung jumlah seluruh kerugianmu ini, lalu masukkan ke dalam rekening kamarku!"

"Tapi... tapi...?"

Pemilik rumah penginapan itu pura-pura menolak, padahal hatinya menjadi senang bukan main.

"Jangan membantah! Lakukan saja perintahku!"

Liu Wan berkata dengan tegas.

"Saudara Liu...!?"

Kwe Tek Hun terkejut mendengar kesanggupan Liu Wan. Liu Wan tersenyum.

"Tidak apa-apa, saudara Kwe! Biarlah, aku masih mempunyai bekal yang cukup."

Demikianlah, setelah membayar sewa kamar beserta kerugian yang diderita oleh pemilik rumah penginapan itu, mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.

Seperti rencana mereka semula, mereka langsung menuju ke markas Tiat-tung Kai-pang di kota itu.

Ku Jing San yang sekarang buntung sebelah kakinya itu terpaksa mempergunaan tongkat seadanya untuk menopang tubuhnya.

Meskipun sangat sedih, tetapi pemuda itu tetap tegar menghadapi penderitaannya.

Markas Tiat-tung Kai-pang di kota itu menempati bekas bangunan kuil tua yang sudah rusak dan tak terpakai lagi.

Halamannya yang amat luas itu penuh ditumbuhi rumput dan alang-alang tinggi, sementara bangunan gedung dan tembok pagarnya sudah banyak yang pecah dan runtuh.

Hanya bagian pendapa dan ruang dalam yang masih agak utuh, meskipun gentengnya juga sudah banyak yang bocor di sana-sini.

Bangunan kuil itu berada jauh di pinggiran kota, dan terpisah dengan perkampungan penduduk, sehingga kedatangan Kwe Tek Hun beserta kawan-kawannya itu sama sekali tidak menarik perhatian orang.

Justru orang-orang Tiat-tung Kai-pang sendiri yang merasa kaget akan kedatangan mereka.

Beberapa pengemis yang berkumpul di pintu gerbang kuil itu segera memberi tanda dengan suitan mulut kepada teman-temannya di dalam gedung.

Kwe Tek Hun terpaksa berkali-kali mengangguk setiap melewati gerombolan pengemis yang sedang duduk-duduk atau beristirahat di halaman kuil yang luas itu.

Banyak di antara mereka sedang mengobati lukanya akibat pertempuran di kuil Pek-hok-bio semalam.

"Ah, Kwe Siau-hiap rupanya..."

Beberapa orang di antaranya menyapa begitu mengenal Kwe Tek Hun dan Ku Jing San.

Namun banyak juga di antara mereka yang kaget melihat kaki Ku Jing San yang buntung itu.

Kwe Tek Hun membawa rombongannya ke atas pendapa dan seorang pengemis tua yang tampaknya paling berpengaruh di antara para pengemis yang bertebaran di dalam ruangan yang luas itu segera menyambut kedatangannya.

"Oh, Kwe Siau-hiap sudah kembali. Apakah Kwe Siau-hiap akan langsung menemui Hu-pang-cu?"

Pengemis tua itu bertanya. Kwe Tek Hun memberi hormat kepada pengemis tua itu.

"Terima kasih, Pek-bi-kai (Pengemis Beralis Putih). Aku memang bermaksud menemui kau dan Jeng-bin Lokai sekalian kalau boleh..."

Katanya merendah.

"Ah, jangan sungkan-sungkan! Marilah ke dalam! Hu-pangcu berada di belakang. Hei...? Apa yang terjadi dengan Ku Siau-hiap?"

Pengemis tua yang disebut Pek-bi-kai itu mendadak kaget menyaksikan kaki Ku Jing San.

"Biarlah nanti kami ceritakan di depan Jeng-bin Lokai sekalian."

Kwe Tek Hun menjawab cepat.

Jeng-bin Lokai berusia di atas enam puluh tahun, namun badannya masih segar dan sehat.

Rambutnya yang putih seperti perak itu digelung ke atas dan diikat dengan tali kain berwarna putih pula.

Pakaiannya terbuat dari kain tenun kasar dengan dua buah tambalan di kedua pikirnya.

Orang tua itu sedang menikmati minuman teh hangat dari potongan bambu yang dibentuk seperti cangkir, ketika Pek-bi-kai datang melapor sambil membawa rombongan Kwe Tek Hun.

"Hu-pangcu, Kwe Siau-hiap. ingin berjumpa dengan engkau!"

Pek-bi-kai melapor tanpa basa-basi, kemudian juga ikut menenggak teh dari potongan bambu tadi tanpa permisi.

Tio Ciu In mengernyitkan dahinya menyaksikan tata cara atau kelakuan yang amat bebas di antara kaum pengemis itu.

Diam-diam gadis ayu itu menjadi khawatir juga, jangan-jangan mereka disuruh minum pula dari potongan bambu itu.

"Oh, Kwe Siau-hiap rupanya. Mari silakan duduk...!"

Jeng-bin Lokai menyambut kedatangan mereka.

Demikianlah setelah memperkenalkan Liu Wan dan Tio Ciu In, Kwe Tek Hun lalu bercerita tentang musibah yang baru saja terjadi di rumah penginapan tadi.

Selain itu Kwe Tek Hun juga bercerita pula tentang keinginan Tio Ciu In untuk menemukan adiknya yang hilang.

Ternyata Jeng-bin Lokai amat kaget mendengar kedatangan Mo Goat di kota itu, bahkan berkelahi dengan rombongan Kwe Tek Hun.

"Baru saja aku menerima laporan tentang sepak terjang mereka di Ciu-siang, Wu-an dan An-king, sekarang justru sudah berada di sini. Hmmh, di manakah mereka itu sekarang?"

"Entahlah, Hu-pangcu. Mungkin mereka juga belum meninggalkan kota ini. Siapakah mereka itu sebenarnya? Apa yang telah mereka lakukan di kota Ciu-siang, Wu-an dan An-king?"

Jeng-bin Lokai berdiri dari tempat duduknya.

"Pek-bi-kai! Tolong kau kirim beberapa orang anak buahmu ke kota untuk mencari khabar tentang orang-orang Hun itu!"

Perintahnya kepada Pek-bi-kai. Sekali lagi Pek-bi-kai meraih potongan bambu tempat air teh itu dan menenggaknya habis, kemudian tanpa berbicara apa-apa ia beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.

"Orang-orang Hun? Apakah yang kau maksudkan suku Hun."

Kwe Tek Hun berseru kaget.

"Ketahuilah, Kwe Siau-hiap, gadis kejam itu adalah puteri Mo Tan, raja dari suku Hun di luar Tembok Besar. Gadis itu datang ke Tionggoan bersama, beberapa orang pasukan pilihan Ayahnya, dengan tujuan yang belum diketahui. Tapi yang terang mereka telah membunuhi para pemenang perlombaan "Mengangkat Arca"

Di kota-kota yang kusebutkan tadi. Langsung di atas panggung-panggung perlombaan tersebut diadakan!"

"Benar-benar keji! Apa sebenarnya yang mereka kehendaki dengan membunuhi orang-orang yang tak berdosa seperti itu? Apakah karena mereka sangat membenci orang-orang Han dan ingin membasmi pemuda-pemudanya yang terbaik?"

Liu Wan berseru penasaran.

"Entahlah, Liu Siau-hiap. Tapi khabarnya para pembesar kota itu telah mengirimkan utusan untuk melapor ke Kotaraja. Kita nantikan saja perkembangannya."

Mereka lalu berbicara tentang suku bangsa Hun dan rajanya yang bernama Mo Tan, yang sejak Kaisar Liu Pang dulu selalu membuat rusuh dan kekacauan di daerah Tionggoan.

Mo Tan yang sekarang sudah semakin tua itu tampaknya sudah enggan untuk melompati tembok Besar sendiri, sehingga kini mengirim putrinya untuk mewakilinya.

Sejak dulu suku bangsa Hun memang bermusuhan dengan orang-orang Han.

Beberapa saat kemudian Pek-bi-kai telah datang kembali ke ruangan itu.

Wajahnya tampak kesal dan cemas.

"Hmmh, bagaimana Pek-bi-kai? Apakah ada laporan yang masuk lagi?"

Jeng-bin Lokai cepat menanyainya.

"Wah, gawat... Hu-pangcu! Pemuda-pemuda Hang-ciu yang memenangkan perlombaan "Mengangkat arca"

Kemarin ditemukan tewas semua di pantai dekat perkampungan Ui-thian-cung!"

Pek-bi-kai melapor. Lalu katanya lagi sambil melirik kepada Liu Wan dan Tio Ciu In.

"Dan... salah seorang anggota kita ada yang melihat seorang gadis cantik berbaju merah berkelahi dengan orang-orang Hek-to-pai di perkampungan mereka kemarin sore."

"Berkelahi dengan orang-orang Hek-to-pai?"

Liu Wan bergumam seraya mengawasi Tio Ciu In.

"Oh!"

Gadis ayu itu berdesah pucat.

"Di manakah perkampungan Hek-to-pai itu? Jangan-jangan...?"

Bagaimanapun juga Tio Ciu In menyadari bahwa kepandaian adiknya tidak terpaut banyak dengan dirinya.

Dan sekarang setelah mengetahui betapa banyaknya orang-orang berilmu tinggi di dunia ini, otomatis hatinya menjadi khawatir terhadap keselamatan adiknya yang suka bertindak sembrono itu.

"Perkumpulan Hek-to-pai tidak terlalu jauh dari kota ini, Nona Tio. Di tepi jalan yang menuju ke perkampungan Ui-thian-cung, kira-kira dua lie sebelum pantai."

Kwe Tek Hun memberi keterangan. Tiba-tiba Tio Ciu In berdiri. Air mukanya tampak semakin gelisah dan cemas.

"Terima kasih atas keterangan Lo-Cianpwe. Aku akan pergi ke sana."

Gadis ayu itu menjura kepada Jeng-bin Lokai dan Pek-bin-kai, kemudian berlari ke luar meninggalkan tempat itu.

Tentu saja Liu Wan menjadi kaget dan khawatir.

Khawatir akan keselamatan gadis ayu itu.

Apalagi tempat yang hendak ditujunya itu dekat sekali atau satu jalan dengan tempat pembantaian para pemenang perlombaan itu.

Siapa tahu pelaku pembantaian tersebut memang benar rombongan Mo Goat dan sekarang masih berkeliaran di daerah itu?

"Maaf, Lokai...!"

Pemuda itu dengan tergesa-gesa meminta diri kepada Jeng-bin Lokai dan Pek-bi-kai lalu berlari mengejar Tio Ciu In.

"Saudara Liu, tunggu...!"

Kwe Tek Hun berseru memanggil. Pemuda sakti dari Pulau Meng-to itu juga memohon diri kepada Jeng-bin Lokai.

"Suheng, aku ikut!"

Song Li Cu tak mau ketinggalan.

"Jangan...! kau tunggu saja di sini bersama Ku Jing San! Aku tidak akan lama!"

Kwe Tek Hun melarang.

"Tapi...?"

Song Li Cu cemberut.

"Sudahlah! Kalian tetap di sini saja!"

Kwe Tek Hun menggeram, kemudian dengan Pek-in Ginkangnya yang tinggi badannya melesat bagaikan peluru melintasi pendapa tersebut.

Jeng-bin Lokai dan Pek-bi-kai tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Bukan main...! Benar-benar tidak berbeda dengan ayahnya!"

Matahari telah berada tepat di atas kepala, namun karena awan tebal menutupi hampir seluruh udara di atas kota itu, maka panasnya tidak sampai membakar bumi.

Akan tetapi dengan demikian justru hawanya menjadi gerah bukan main.

Tio Ciu In sengaja berputar menyusup di pinggiran kota, agar langkahnya yang cepat dan kadang kala juga berlari itu tidak menarik perhatian orang.

"Ciu-moi tunggu...!"

Gadis ayu itu menoleh dan hatinya menjadi lega begitu melihat kedatangan Liu Wan. Namun gadis itu terpaksa mengerutkan alisnya ketika menyaksikan Kwe Tek Hun juga ikut berlari di belakang pemuda itu.

"Ciu-moi...! Tenangkanlah dulu perasaanmu! kau jangan bertindak gegabah dan sembrono memasuki perkampungan Hek-to-pai itu! Tempat itu sangat berbahaya! Ketuanya memiliki ilmu golok beracun yang cukup disegani di daerah pantai timur ini!"

"Apa yang dikatakan oleh saudara Liu itu memang benar, Nona Tio. Tapi kalau kau memang berkeras untuk memasuki perkampungan itu, biarlah aku dan saudara Liu menemanimu. Kita Lihat saja, apakah adikmu di sana."

Tio Ciu In berhenti melangkah dan memandangi dua pemuda yang sama-sama gagah dan tampan itu.

Sejenak hatinya seperti memperbandingkannya.

Liu Wan berperangai halus, pandai bicara dan serba bisa.

Sedangkan Kwe Tek Hun tampaknya berwatak lebih keras, jujur dan tidak suka banyak bicara.

Namun yang jelas keduanya sama-sama menariknya.

Jauh lebih menarik daripada Tan Sin Lun, suhengnya.

"Aaah..."

Tio Ciu In berdesah lirih begitu teringat akan suhengnya.

"Eh, kenapa kau kelihatannya seperti ragu-ragu?"

Liu Wan bertanya heran. Tio Ciu In tersentak sadar.

"Anu... emm, aku khawatir hanya akan merepotkan kalian saja."

Jawab gadis ayu itu berbohong.

"Wah, mengapa masih sungkan-sungkan pula? Bukankah kita sudah saling bersahabat? Ayohlah, kita berangkat!"

Kwe Tek Hun menyela.

Tio Ciu In tak bisa mengelak lagi.

Mereka bertiga lalu berlari menerobos sawah ladang ke arah timur.

Kedua pemuda berilmu tinggi itu, terutama Kwe Tek Hun terpaksa harus memperlambat langkah kakinya untuk mengimbangi ginkang Tio Ciu In.

Sampai di jalan besar yang dilalui Tio Siau In kemarin terpaksa mereka mengendorkan langkah.

Jalan tersebut adalah jalan utama menuju ke pantai, sehingga banyak sekali orang lalu lalang di jalan itu.

Ketiganya tak ingin menarik perhatian orang.

(Lanjut ke

Jilid 11) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 11 Akan tetapi setiap orang yang berpapasan dengan mereka tetap saja memandang dengan kagum, terutama kepada Tio Ciu In yang ayu itu. Untunglah mereka segera sampai di perkampungan Hek-to-pai.

"Hei, ramai benar suasananya! Sedang ada apa di kampung itu?"

Liu Wan berseru heran melihat kesibukan di pintu gerbang perkampungan Hek-to-pai itu.

Kampung besar yang dipakai sebagai markas perguruan Hek-to-pai itu memang lain daripada biasanya.

Sehari-harinya hanya ada dua atau tiga orang penjaga yang berdiri di pintu gerbangnya, namun kali ini ternyata ada delapan atau sepuluh orang di sana.

Dan apabila di hari-hari biasa para anggotanya itu cuma berpakaian seadanya, tapi kali ini mereka juga mengenakan pakaian kebesaran mereka, yaitu hitam-hitam dan ikat kepala hitam pula.

Bahkan Liu Wan dan Kwe Tek Hun seperti mendengar suara tambur dan gendang ditabuh di tengah-tengah kampung itu.

"Apakah mereka masih merayakan Tahun Baru?"

Tio Ciu ln menduga-duga dengan perasaan masih cemas memikirkan adiknya.

"Mungkin benar. Tapi... Hei, lihat"

Liu Wan berseru tertahan sambil menunjuk ke arah bendera atau panji perguruan yang terpancang Kwe Tek Hun dan Tio Ciu In memandang pula dengan kening berkerut.

Di samping tiang bendera perguruan Hek-to-pai, ternyata terpancang pula bendera lain yang lebih megah serta lebih besar ukurannya.

Bendera berwarna hitam legam itu bergambar burung rajawali berbulu emas sedang mencengkeram sebuah golok pusaka yang berwarna kuning emas pula.

"Ah... Itu bendera keluarga Tiau dari Hai-ong-hu di Lautan Timur sana. Ada urusan apa mereka ke sini?"

Kwe Tek Hun yang sudah terbiasa bertualang di laut itu berseru heran.

"Wah, sungguh gawat! Kalau sampai bajak laut itu berada di sini, semuanya bisa berbahaya."

Liu Wan menambahkan. Tentu saja yang menjadi semakin cemas dan gelisah adalah Tio Ciu In. Dengan wajah pucat gadis ayu itu mengawasi Liu Wan dan Kwe Tek Hun berganti-ganti.

"Siapa keluarga Tiau itu? Mengapa kalian tampaknya sangat mengkhawatirkan keadaan itu"

Liu Wan menghela napas panjang, lalu dengan sangat hati-hati agar tidak semakin membuat cemas perasaan Tio Ciu In ia menerangkan.

"Keluarga Tiau adalah penguasa bajak laut terbesar di daerah Lautan Timur. Nama mereka amat tersohor dari dulu, karena selain memiliki kekuatan yang sangat besar mereka juga berkepandaian luar biasa tinggi. Keluarga itu berdiam di sebuah pulau kecil yang mereka sulap menjadi sebuah Istana yang dikelilingi benteng kuat seperti Istana raja. Mereka menyebut tempat itu Hai-ong-hu, mereka menggunakan panji atau bendera seperti yang berkibar di samping pintu gerbang itu.

"Jadi mereka itu bajak laut? Tak terduga Tio Ciu In berseru geram, gadis ayu itu teringat akan nasib keluarganya yang musnah karena serangan para bajak laut.

"Ciu moi...?"

"Marilah! Kalau begitu kita hadapi mereka sekalian! Aku akan mengadu jiwa dengan mereka bila mereka benar-benar telah mencelakai adikku!"

Lalu tanpa menanti reaksi teman-temannya lagi Tio Ciu In berlari menuju ke perkampungan hek to pai.

Liu Wan hanya bisa saling pandang saja dengan Kwe Tek Hun, keduanya terpaksa berlari mengikuti gadis ayu itu.

"Berhenti...!"

Para pengawal pintu gerbang itu menghentikan Tio Ciu In, namun semuanya segera cengar-cengir melihat kecantikan gadis ayu itu.

Tetapi mereka cepat pula bersiaga kembali begitu menyaksikan Liu Wan dan Kwe Tek Hun.

"Kau mau kemana, nona?"

Salah seorang dari penjaga itu bertanya. Tio Ciu In mencoba untuk meredakan perasaannya dahulu sebelum menjawab.

"Aku Cuma mau bertanya, apakah kemarin ada seorang gadis muda berpakaian merah ke sini?"

"Nona maksudkan gadis galak yang membawa sepasang pedang pendek di balik lengan bajunya?"

"Benar! Jadi dia berada di sini?"

Tio Ciu In berteriak tinggi penuh harap.

"Lalu... di mana dia sekarang?"

Tak terduga para penjaga itu justru menebar dalam posisi mengurung rombongan Tio Ciu In, wajah mereka yang semula cengar cengir, mendadak berubah kaku penuh kewaspadaaan, bahkan pimpinan mereka segera memberi perintah ke pada salah seorang diantara mereka untuk melapor ke dalam.

"Nona siapa...? Apakah hubungan nona dengan gadis itu? Apakah saudara seperguruan atau keluarganya?"

Pimpinan penjaga itu menggeram dengan suara tak bersahabat.

Otomatis Tio Ciu In dan juga Liu Wan serta Kwe Tek Hun menjadi curiga pula.

Tentu ada apa-apa di antara Tio Siau In dengan perguruan itu sehingga mereka bersikap seperti itu.

Oleh karena itu baik Tio Ciu In maupun Liu Wan dan Kwe Tek Hun segera bersiap siaga pula menghadapi segala kemungkinan.

"Aku adalah Kakak kandung gadis itu"

Tanpa diperintah untuk yang kedua kalinya para penjaga itu segera berloncatan sambil mengayunkan golok mereka ke tubuh Tio Ciu In.

Mereka tidak merasa sayang atau tertarik lagi melihat kecantikan Tio Ciu In.

Pengalaman menghadapi Tio Siau In kemarin, yang mengakibatkan beberapa orang teman mereka terluka, bahkan ketua mereka juga, membuat mereka lebih berhati-hati menghadapi lawan.

Perubahan keadaan yang sangat cepat itu tak lepas dari pengamatan Liu Wan melindungi Tio Ciu In.

Bukannya ia tak percaya akan kemampuan Tio Ciu In, tapi ia hanya ingin menghindarkan gadis itu dari bentrokan langsung dengan laki-laki kasar tersebut.

"Traaang! Traaaang! Trangg...!"

Golok-golok hitam yang datang menyambar ke arah tubuh Tio Ciu In itu tiba-tiba terpental balik dan hampir mengenai pemiliknya sendiri ketika saling berbenturan dengan pedang Kwe Tek Hun.

Untunglah para penjaga itu sejak semula sudah berhati-hati, sehingga masing-masing cepat bisa menguasai senjatanya sendiri.

"Nona Tio, kau beristirahatlah! Biarlah aku saja yang mewakilimu menghadapi manusia-manusia kasar ini!"

Kwe TeK Hun berkata tegas.

"Terima kasih, Kwe Siau-hiap! Aku akan masuk ke dalam untuk mencari Adikku."

Tanpa menanti jawaban lagi Tio Ciu ln lalu melesat ke dalam.

Para penjaga itu mencoba merintangi, namun dengan tangkas Kwe Tek Hun menyerang mereka.

Terpaksa mereka melepaskan Tio Ciu In untuk menghadapi pendekar muda dari Pulau Meng-to itu.

"Ciu-moi, hati-hati...!"

Liu Wan berseru seraya melompat ke depan mengejar gadis itu.

Tapi baru saja Tio Ciu In dan Liu Wan melompat ke atas lantai pendapa utama yang ada di tengah-tengah halaman depan itu, mereka telah disongsong oleh It Kwan dan murid-muridnya.

Luka di leher ketua Hek-to-pai itu telah dibalut dengan rapi.

Begitu pula dengan luka di punggung tangannya.

Bekas-bekas luka yang diakibatkan oleh pedang pendek Tio Siau In kemarin tampaknya telah diobati dengan baik.

"Tangkap mereka...!"

Begitu berhadapan muka orang tua itu berteriak memberi perintah kepada anak buahnya.

"Tahaaaaan! Orang tua, kau siapa?"

Namun dengan seruan lantang, tidak kalah kerasnya dengan suara It Kwan, Tio Ciu In menghentikan langkah mereka.

"Aku It Kwan, ketua partai persilatan di sini! Nah, mau apa kau mencari adikmu ke sini? Mau menggantikan adikmu untuk menerima hukumanku, heh?"

"Bagus...! Kebetulan sekali kalau begitu, karena aku memang ingin bertemu dengan engkau! Nah, lekas kau katakan, di mana Adikku? Jawab!"

Ternyata Tio Ciu In yang biasanya lembut dan halus budi bahasanya itu kini tidak mau berbasa-basi lagi. Kekhawatiran terhadap Siau In membuatnya tegang dan kaku.

"Kurang ajar...! Ternyata sifatmu juga tidak jauh berbeda dengan Adikmu, Kuntilanak Kecil itu! Huh, cepat... tangkap perempuan ini!"

It Kwan menjerit marah.

Rasa malu dan terhina karena dilukai Siau In kemarin membuat ketua Hek-to-pai ini dendam sekali.

Belasan anggota Hek-to-pai yang menyertai ketuanya itu segera berloncatan menyerang Tio Ciu In dan Liu Wan.

Golok mereka yang hitam mengkilat itu berkelebatan seperti tangan-tangan hantu yang berebut mangsa.

Sebagian menerjang ke tubuh Tio Ciu In, sementara yang sebagian lagi menyambar ke arah Liu Wan.

Sedangkan It Kwan cepat-cepat menghunus goloknya pula untuk setiap saat membantu anak buahnya.

"Hmm... siapakah mereka, It Kwan?"

Tiba-tiba dari ruang dalam muncul seorang lelaki tua berpakaian mewah bertanya kepada It Kwan.

Dia keluar dikawal oleh empat orang laki-laki kekar berpakaian hitam-hitam.

It Kwan menoleh.

Bibirnya berusaha tersenyum.

"Perempuan ini mengaku sebagai kakak kandung dari gadis yang melukai aku kemarin, Cong Su. Aku akan menangkap dia sebagaj ganti adiknya yang terlepas akibat kebodohan Tong Taisu."

Lelaki berpakaian mewah itu mencibirkan bibirnya yang ditumbuhi kumis seolah olah amat meremehkan kemampuan Tio Ciu In dan Liu Wan. Sambil melangkah mendekati It Kwan ia menggerutu.

"Kau ini masih saja suka bermain-main dengan anak-anak."

Wajah It Kwan menjadi merah.

Matanya memancarkan sinar tak senang.

Namun demikian ia tak berbuat apa-apa.

Tampaknya ia segan terhadap tamunya itu.

Ia cuma menarik napas panjang seraya menatap kembali ke arena perkelahian.

Begitu mendengar adiknya sudah pergi dan tidak ada di tempat itu lagi, sebenarnya Tio Ciu In sudah tidak ingin berkelahi lagi.

Tapi untuk lebih meyakinkan hatinya bahwa Siau In memang benar-benar sudah tidak ada lagi di tempat itu, Tio Ciu In ingin menangkap salah seorang anggauta Hek-to-pai itu untuk dikorek keterangannya.

Dan tampaknya Liu Wan juga mempunyai maksud yang sama.

"Ciu-moi...! Hadapi mereka! Aku akan meringkus ketuanya itu! Berhati-hatilah...!"

Pemuda itu berbisik ke telinga Tio Ciu In. Tio Ciu In tersenyum.

"Kaulah yang harus berhati-hati. Sebagai seorang ketua partai persilatan tentunya kepandaian silatnya sangat tinggi."

Demikianlah, dengan ginkangnya yang tinggi Liu Wan berkelit kesana-kemari untuk meloloskan diri dari kurungan para pengeroyoknya.

Sabetan-sabetan golok yang datang bagaikan air hujan itu sama sekali tak mampu menyentuh tubuhnya.

Bahkan beberapa kali ia mampu membalas dan menjatuhkan lawannya.

"Wah, pemuda itu tampaknya memiliki ilmu juga. kau harus berhati-hati menghadapinya."

Laki-laki berpakaian mewah itu berkata kepada It Kwan.

"Tentu saja, Cong Su. kau tak perlu ikuit campur dalam masalah ini."

Ketua Hek-to-pai itu mendengus kesal.

"Ah, jangan begitu... Kita sudah lama saling mengenal, meskipun kita tidak bersahabat. Tiada jeleknya kalau sekali waktu aku ikut membantu kesulitanmu."

"Siapa yang berada di dalam kesulitan?"

Akhirnya It Kwan menjerit gusar. Matanya mendelik, siap berkelahi melawan tamunya. Akan tetapi dengan tertawa perlahan Cong Su mengerak-gerakkan tangannya.

"Sabar...! Sabar, It Kwan... sabaaaar! Aku bermaksud baik. Kenapa kau cepat sekali tersinggung hari ini?"

It Kwan menggeram. Dengan sekuat tenaga Ketua Hek-to-pai itu mengekang kemarahannya.

"Habis kata-katamu juga sangat memandang rendah kepadaku! Jangan dikira aku takut kepadamu! Kalau selama ini aku selalu menghormati kamu, hal itu karena kau adalah orang kepercayaan Hai-ong-hu! Aku tidak ingin berselisih dengan mereka..."

Cong Su tertawa keras-keras.

"Haaha-ha, baiklah...! Sekarang kau hadapi saja lawanmu itu! Lihat! Pemuda itu lolos dari kepungan anak buahmu!"

It Kwan terperanjat. Ia melihat Liu Wan berlari menghampirinya.

"Cong Su, pergilah! Pulanglah sekalian ke Hai-ong-hu! Bawa tukang masak kami seperti yang diminta oleh rajamu! Tapi cepat kau kembalikan mereka apabila tugas mereka telah selesai!"

"Terima kasih. Tapi aku ingin menyaksikan keramaian ini dahulu. Hei, pengawal! Jemput lebih dahulu tukang masak itu ke sini! Kita segera kembali ke Hai-ong-hu!"

Cong Su berseru kepada pengawalnya.

"Kau memang selalu ingin mencampuri urusanku!"

It Kwan menggeram dengan mata mendelik.

Tapi ketua Hek-to-pai itu tak sempat untuk berdebat lagi.

Liu Wan yang sudah lepas dari kepungan itu keburu menyerangnya.

Pemuda itu mengayunkan sisi telapak tangannya sambil melompat ke arahnya.

Terdengar desis angin tajam bagaikan suara anak panah yang lepas dari busurnya.

"Siiiiiing!"

It Kwan terperangah.

Ia segera sadar sedang menghadapi seorang lawan yang memiliki lwekang serta ilmu pukulan yang tinggi.

Dan ia tidak ingin mendapat malu lagi.

Goloknya segera bergetar di depan dadanya, siap untuk menyongsong serangan Liu Wan.

"Whuuuus!"

Golok hitam itu terayun keras ke depan, seolah-olah hendak menjemput kedatangan telapak tangan Liu Wan, sementara kedua kaki It Kwan siap untuk bergeser ke kiri apabila lawannya menarik kembali serangannya.

Liu Wan kagum juga melihat kesigapan ketua Hek-to-pai.

Tapi ia tak mau menarik kembali tangannya yang sudah terlanjur terulur ke depan.

Apalagi dengan ketajaman penglihatannya yang sudah terlatih baik, ia merasa ada sesuatu yang dipersiapkan oleh lawannya apabila ia menarik tangannya kembali.

Oleh karena itu Liu Wan hanya memutar lengannya setengah lingkaran ke kanan untuk menghindari tabasan golok, kemudian mengubah jari-jari tangannya yang merapat itu menjadi sebuah cengkeraman ke arah pergelangan It Kwan yang memegang golok.

Gerakan tangannya yang cepat itu diikuti dengan gerakan tubuhnya ke samping.

Sekali lagi It Kwan terkejut menyaksikan ilmu silat lawannya.

Tentu saja ia tak ingin pergelangan tangannya tertangkap.

Mati-matian ia membuang badannya ke kanan untuk menghindari tangkapan itu, sambil kaki kirinya menjejak ke depan untuk memaksa lawan mundur kembali.

"Duuuk!"

Tumit sepatu It Kwan membentur ujung jari Liu Wan!

Langkah Liu Wan bagaikan tertahan oleh tembok yang sangat kuat, namun sebaliknya kuda-kuda It Kwan yang goyah itu tak mampu lagi menopang berat tubuhnya!

Sambil menyeringai kesakitan Ketua Hek-to-pai itu terdorong jatuh ke atas lantai.

Tapi dengan cepat pula orang tua itu bangkit kembali.

Cong Su bertepuk tangan menyaksikan gebrakan pertama yang amat menegangkan itu.

Dari gebrakan tersebut sudah dapat dinilai bahwa tenaga dalam Liu Wan masih jauh lebih baik dibandingkan tenaga dalam It Kwan.

Sekarang tinggal ilmu golok It Kwan, apakah bisa mengatasi lawannya.

"Menyerah sajalah kau agar aku tidak perlu menyakitimu!"

Liu Wan mengejek agar lawannya menjadi semakin panas dan penasaran.

"Persetan! Akan kukuliti kepalamu dan kucincang tubuhmu, keparat!"

It Kwan berteriak berang.

Goloknya berputar-putar di tangan kanannya.

Ketua Hek-to-pai itu cepat menerjang kembali.

Ilmu goloknya yang ganas dan keji itu segera mengurung Liu Wan.

Sinarnya yang hitam mengkilat itu berkelebatan bagaikan hendak mencacah-cacah tubuh lawannya.

Suaranya mengaung keras seperti suara ribuan lebah yang terbang mengelilingi Liu Wan.

Liu Wan menjadi repot juga melayani kurungan golok yang sangat beracun itu.

Salah langkah sedikit saja mata golok yang tajam itu akan menyayat kulitnya atau membelah tubuhnya dan hal itu berarti kematian baginya.

"Kalau hanya mengandalkan ilmu pukulan dan ilmu meringankan tubuh saja kukira harus membutuhkan waktu yang lama untuk menundukkan goloknya. Tapi kalau harus mempergunakan Thian-lui-khong-ciang, rasanya juga masih terlalu pagi. Ah, lebih baik aku mempergunakan pisau saja..."

Pemuda itu berpikir sambil tetap melayani serangan It Kwan.

Sementara itu melihat kawannya dapat mengurung Liu Wan, Cong Su bertepuk tangan dengan gembira.

Berkali-kali orang tua itu memuji ilmu golok It Kwan yang cepat dan ganas luar biasa.

"Bagus! Bagus! Wah, ternyata Ilmu Golokmu benar-benar hebat sekali! Aku sungguh tidak menyangkanya! Sayang tenagamu terlalu lemah...!"

Cong Su berteriak-teriak gembira.

"Diam kau, Cacing Tua!"

It Kwan berteriak pula dengan kerasnya. Liu Wan tertawa perlahan.

"Kau benar,... orang Tua! Ilmu Golok orang ini memang hebat sekali. Sayang kurang terdukung oleh tenaga dalamnya, sehingga kehebatannya menjadi hambar dan kurang berbobot! Hei, bagaimana kalau kau membantunya agar pertarungan ini menjadi lebih mengasyikkan lagi?"

Tiba-tiba senyum di bibir Cong Su menghilang. Wajah tua yang masih kelimis itu berubah menjadi keruh.

"Bangsat kecil! kau menantang Hai-go Cong Su (Si Buaya Laut)...?"

Orang tua itu menjerit marah.

"Eh, memangnya kenapa? Bukankah orang ini kawanmu? Apa salahnya kalau kalian saling menolong? Orang ini terang tidak akan menang melawanku. Begitu pula kalau kau nanti maju sendirian. Bukankah akan lebih baik kalau kau maju bersama mengeroyok aku, sehingga kalian saling tolong menolong bila dalam kesulitan?"

"Apa katamu...? kau masih waras atau sudah gila, heh?"

Cong Su berteriak tinggi.

Liu Wan tertawa panjang.

Dia tak menjawab umpatan itu.

Dia sedang sibuk melayani golok It Kwan.

Pisau yang kini tergenggam di tangannya benar-benar dahsyat.

Pisau yang tak seberapa panjang itu ternyata mampu menahan golok lawannya yang besar dan berat.

"Ayolah...! kau tak perlu malu-malu untuk mengeroyokku! Majulah!"

Tantangnya kembali kepada Hai-go Cong Su.

"Kau...?"

Hai-go Cong Su hendak mengumpat lagi, tapi terhenti karena empat orang pengawalnya telah kembali membawa lima orang tukang masak yang tadi dikehendakinya.

"Inilah mereka, Cong Tou-bak..."

Salah seorang dari pengawal itu melapor.

"Suruh mereka menanti di luar! Sekarang kalian bantu aku dulu membungkam si Mulut Sombong itu!"

Cong Su berseru sambil menunjuk ke arah Liu Wan.

"Baik, Tou-bak!"

Tanpa basa-basi lagi keempat pengawal Cong Su itu segera menyerang Liu Wan.

Kebetulan keempat-empatnya juga bersenjatakan golok, sehingga berlima dengan It Kwan mereka mengeroyok dengan golok.

Sesuai dengan perawakan mereka yang gempal, cara mereka bersilatpun ternyata juga kasar dan keras.

Apalagi mereka memang anggota bajak laut yang sudah terbiasa berlaku kasar dan keras.

Namun untuk melawan Liu Wan kepandaian mereka masih terlalu jauh.

Kepandaian mereka berempat tidak lebih baik daripada anak murid It Kwan sendiri.

Maka tidaklah mengherankan bila sebentar saja mereka telah menjadi bulan-bulanan pisau Liu Wan.

Pemuda itu tidak bermaksud membunuh mereka.

Pemuda itu hanya, menggores saja beberapa kali di tubuh empat orang pengawal itu.

Namun semuanya itu telah membuat mereka mundur ketakutan.

"Wah, kalian memang cuma gentong nasi yang tak berguna! Minggir...!"

Cong Su marah-marah, kemudian meloncat ke dalam arena menggantikan mereka. Tangannya memegang sebuah ruyung besi yang diberi gerigi tajam di bagian ujungnya.

"Nah, begitu! Akhirnya kau terjun juga ke arena membantu kawanmu ini...!"

Liu Wan mengejek.

"Bangsat keparat, diam kau! Lihat ruyungku...!"

Tapi kedatangan Cong Su sungguh tidak menyenangkan hati It Kwan. Meskipun dia sendiri merasa kewalahan menghadapi Liu Wan, tapi ia benar-benar tidak menghendaki bantuan orang seperti Cong Su itu.

"Kaulah orangnya yang mestinya diam dan tak ikut campur dengan urusan orang, Cong Su! Cepat kau pergi dari sini! Bukankah tugasmu hanya mengambil tukang masak di sini?"

Ketua Hek-to-pai itu membentak.

"Maaf It Kwan. Anak ini telah menghina dan menantangku, aku tidak boleh mendiamkannya saja. Pantang bagi warga Hai-ong-hu untuk menolak tantangan lawan."

"Tapi... dia baru bertempur dengan aku. Apakah kau tidak bisa menunggu sampai pertempuran ini selesai dahulu?"

"Wah, mana sempat aku menunggu lagi? Biarlah aku saja yang lebih dulu berkelahi dengan dia! kau minggirlah!"

Liu Wan benar-benar tak bisa menahan tawanya mendengar perdebatan kedua orang itu. Sambil meloncat mundur pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hei... sebenarnya kalian berdua ini bersahabat atau bermusuhan? Kalau kalian memang saling bermusuhan dan ingin berkelahi dahulu, yah... baiklah, aku akan menunggu! Berkelahilah kalian!"

Akhirnya Liu Wan berkata sambil menyeret sebuah kursi dan duduk bertopang kaki.

It Kwan dan Cong Su menjadi salah tingkah sekarang.

Mereka saling berhadapan dengan senjata masing-masing, tapi tentu saja tak seorangpun dari mereka yang ingin menyerang yang lain.

Mereka hanya saling memandang dengan wajah kikuk.

"Nah, nah, nah... akhirnya kalian menjadi bingung sendiri sekarang, hahahaha! Makanya kalian tak perlu bertengkar lagi! Bersatu sajalah kalian berdua untuk melawanku! Tidak usah malu-malu...! He-hehe-hehe-hehe!"

Sekali lagi Liu Wan tertawa mengejek.

"Bedebah...!"

It Kwan meraung, kemudian meloncat menyerang Liu Wan.

"Bangsat...!"

Cong Su juga mengumpat dan menerkam pemuda itu.

"Brraaaaak!!!"

Terdengar suara keras ketika kursi yang diduduki Liu Wan tadi hancur berkeping-keping dihantam golok dan ruyung lawannya.

Pemuda itu sendiri telah lebih dahulu melesat pergi.

Bahkan sebelum kedua lawannya itu menyadari apa yang terjadi, Liu Wan ganti menyerang dengan pisaunya.

"Singggg! Siiing!"

Pisau itu sekaligus menyambar pergelangan tangan Cong Su dan It Kwan yang memegang senjata.

"Aaaaah...!"

Baik It Kwan maupun Cong Su berusaha mati-matian untuk menyelamatkan tangannya, namun tetap saja pisau itu menggores sedikit di lengan mereka masing-masing.

Untunglah mereka masih mampu mempertahankan senjata mereka.

Namun dengan demikian kedua orang itu menjadi semakin sadar bahwa pemuda yang mereka hadapi itu benar-benar memiliki kepandaian di atas mereka.

Oleh karena itu tidak boleh tidak mereka berdua harus bersatu padu untuk menghadapinya.

Demikianlah mereka berdua lalu mengeroyok Liu Wan bersama-sama.

Mereka menyerang dan bertahan bergantian, saling mengisi dan melindungi, sehingga membentuk sebuah kerja sama yang cukup kuat untuk melayani ilmu silat Liu Wan yang tinggi.

"Nah, begitu...!"

Dalam kesibukannya Liu Wan masih bisa memuji kerja sama lawannya.

Namun bagi It Kwan dan Cong Su, pujian itu dirasakan sebagai sebuah ejekan yang sangat menyakitkan hati.

Terutama bagi It Kwan, yang selama dua hari ini selalu dirundung kesialan.

Sudah barongsainya dikalahkan orang, dia sendiri dikalahkan dan dilukai seorang gadis kecil dan kini malah dipermainkan serta dipecundangi pula oleh seorang pemuda yang umurnya belum seberapa.

Maka sungguh tidak mengherankan bila ketua Hek-to-pai itu menjadi mata gelap, mengamuk tanpa mempedulikan keselamatannya lagi.

Golok beracunnya yang berwarna hitam legam itu tampak berkilat-kilat memantulkan sinar, berkelebatan mengejar tubuh Liu Wan, bagaikan seekor naga hitam yang berkelok-kelok di udara, memburu mustika.

Dan kegarangan golok It Kwan itu menjadi semakin berbahaya karena dibantu oleh permainan ruyung Hai-go Cong Su.

Meskipun permainan ruyung tou-bak (kepala pasukan bajak) itu masih terasa lugas dan kasar, tapi dasar dari ilmu ruyung itu sendiri ternyata sangat baik dan berbahaya.

Tak heran kalau orang tua itu mendapat kepercayaan untuk memimpin satu pasukan bajak laut.

Untunglah Liu Wan memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Walaupun hanya melawan dengan pisau dan tidak mengeluarkan ilmu andalannya, namun pemuda yang telah memperoleh julukan Bun-bu Siucai itu dapat melayani keganasan golok dan ruyung lawannya.

Malahan beberapa waktu kemudian, yaitu setelah bisa membaca permainan ilmu silat lawan-lawannya, pemuda itu mulai bisa mendikte dan mendesak mereka.

Dengan kelebihan ginkang dan lwekangnya semua itu dapat dia lakukan dengan mudah.

Tetapi sebaliknya di arena pertempuran yang lain Tio Ciu In benar-benar harus memeras keringat untuk melayani kerubutan anak murid Hek-to-pai.

Beberapa orang dari mereka memang telah dilumpuhkannya, akan tetapi kawan-kawan mereka yang lain segera berdatangan pula ke tempat itu.

Belasan anak murid Hek-to-pai sekarang mengepung gadis itu.

"Gila! Jumlah mereka banyak sekali! Jatuh satu datang tiga! Wah, kalau terus-terusan begini aku bisa kehabisan napas nanti! Hmmm... Kemana Kwe Siau-hiap tadi? Mengapa tidak lekas-lekas ke mari?"

Gadis itu berkata di dalam hati.

Tio Ciu In sama sekali tidak tahu bahwa Kwe Tek Hun sendiri ternyata juga sedang mendapat kesulitan di pintu gerbang.

Sebenarnya mudah saja bagi pendekar sakti itu untuk melumpuhkan para penjaga yang merintanginya, kalau saja tidak ada pihak ke tiga yang ikut campur.

Namun karena mendadak ada pihak lain yang kemudian ikut turun tangan mengganggu usahanya, maka niat untuk melumpuhkan para penjaga pintu gerbang tersebut menjadi gagal.

Bahkan pendekar muda dari Pulau Meng-to itu justru berbalik menjadi repot dan menderita kesulitan malah.

Ketika Kwe Tek Hun ingin cepat-cepat menyelesaikan perlawanan para penjaga itu, tiba-tiba di jalan besar lewat dua orang penunggang kuda, lelaki dan perempuan.

Kedua penunggang kuda itu segera menghentikan kuda mereka begitu menyaksikan perkelahian tersebut.

Bahkan mereka lalu bergegas membelokkan kuda mereka untuk menonton.

Akan tetapi begitu melihat ilmu silat Kwe Tek Hun, kedua penunggang kuda itu kelihatan amat tertarik, mereka saling berbisik satu sama lain, kemudian yang lelaki segera memajukan kudanya.

"Berhenti...!"

Orang itu berseru pendek. Kwe Tek Hun terperanjat, otomatis kakinya meloncat mundur, namun kesempatan yang terakhir kedua tangannya masih sempat membagi pukulan ke arah lawan-lawannya.

"Bluuk Bluuk"

Empat orang penjaga yang masih tersisa segera bergelimpangan kesakitan.

Kwe Tek Hun berdiri siap menghadapi dua orang pendatang baru yang belum dia ketahui lawan atau kawan itu, tapi diam-diam hatinya sedikit bergetar juga, suara orang itu tidak begitu keras, namun terdengar sangat nyaring dan menyakitkan gendang telinga, suatu tanda bawah pemilik suara itu memiliki tenaga dalam yang hampir sempurna.

Kedua orang yang baru datang itu segera turun dari kudanya.

Mereka seperti sepasang suami-isteri, yang lelaki berusia kira-kira empat puluhan tahun, sedangkan yang wanita sekitar dua tahun lebih muda, keduanya mengenakan pakaian seragam putih-putih, dengan pedang panjang tergantung di masing-masing pinggang mereka.

Selain ciri-ciri tersebut tiada yang aneh atau menonjol pada diri mereka, kecuali satu, yaitu batang pedang mereka melengkung seperti samurai pada bangsa Jepang.

"Anak muda, perkenalkanlah... aku bernama Swat Kim Po dan wanita ini adalah istriku. Kami datang dari pulau-pulau di sebelah utara laut kuning, ketika lewat tadi kami amat terkesan oleh ilmu silatmu, langkah-langkah kakimu rasanya hampir sama atau mirip dengan langkah-langkah ilmu silat perguruan kami. Emmmmm bolehkan kami berdua mengetahui nama perguruanmu? Dan apakah nama ilmu yang kau pergunakan tadi?"

Kwe Tek Hun terdiam dan tak segera bisa menjawab. Orang asing itu berbicara dengan nada halus dan sopan, tetapi pertanyaaannya yang menyinggung ilmu silat itu terasa sulit untuk dijawab.

"Tuan... Namaku Kwe Tek Hun, aku juga datang dari sebuah pulau di sebelah timur daratan ini, dari Pulau Meng-to. Tentang ilmu langkahku tadi... ehm..."

"Apakah ilmu langkahmu tadi bernama Ban-seng-po Lian-hoan pula?"

Tiba-tiba Swat Kim Po menyela begitu melihat keragu-raguan Kwe Tek Hun.

Bukan main terkejutnya Kwe Tek Hun!

Orang itu menyebut nama ilmu silatnya dengan tepat!

Dan orang itu mengatakan bahwa ilmu langkah milik keluarganya itu mirip dengan ilmu mereka!

"Benar...?

Jadi ilmu langkahmu tadi juga bernama Ban-seng-po Lian-hoan...?"

Orang itu menjadi kaget pula. Ia berpaling kepada isterinya.

"Jadi... jadi Tuan berdua juga bisa mempergunakan Ban-seng-po Lian-hoan...?"

Kwe Tek Hun juga balik berseru pula dengan ragu dan curiga.

Tentu saja Kwe Tek Hun menjadi curiga, karena selama ini ayahnya tak pernah mengatakan bahwa ada orang lain selain ayahnya, dia sendiri dan kakek gurunya yang sudah meninggal, yang mempelajari Ban-seng-po Lian-hoan.

Sedangkan Ku Jing San dan Song Li Cupun belum diperbolehkan mempelajarinya.

"Kau bertanya, apakah kami berdua bisa mempergunakan Ban-seng-po Lian-hoan? Ah-ah-ah, Anak muda... Kau ini suka sekali bergurau tampaknya. Ilmu itu justru merupakan salah satu ciri dari perguruan kami, bagaimana kami tidak mahir mempergunakannya? Justru kamilah yang seharusnya bertanya kepadamu. Darimana engkau atau Gurumu mempelajarinya? Ketahuilah, Ilmu tersebut tidak pernah diturunkan kepada orang lain selain warga Pondok Pelangi. Itupun tidak semua warga Pondok Pelangi bisa mempelajarinya sampai ke tingkat yang tertinggi."

"Pondok Pelangi...?"

Kwe Tek Hun mencoba mengingat-ingat kalau-kalau ayahnya pernah menyebut tempat itu.

"Hmmm, tidak... ayah memang belum pernah bercerita tentang pondok itu."

"Anak muda, tampaknya kau belajar ilmu silat dari Ayahmu sendiri. Siapakah nama ayahmu?"

Kwe Tek Hun menghela napas panjang.

Rasa curiganya tadi kini berubah menjadi rasa penasaran.

Apalagi Swat Kim Po seakan-akan telah memojokkan dirinya sebagai orang yang tak berhak memiliki Ban-seng-po Lian-hoan.

"Maaf, Tuan... ayahku adalah Keh-sim Taihiap Kwe Tiong Li dari Pulau Meng-to. Beliau adalah satu-satunya pewaris Ilmu Ban-seng-po Lian-hoan. Tuan jangan bicara seenaknya sendiri, mengaku sebagai pemilik ilmu itu..."

Akhirnya pemuda itu berkata dingin.

Swat Kim Po memandang isterinya yang sejak tadi belum pernah membuka suara.

Keningnya berkerut.

Sementara bibirnya tampak tersenyum kecut.

Dan wanita itu seolah tahu apa yang diinginkan suaminya.

Ia segera bergeser maju menghadapi Kwe Tek Hun.

"Anak muda, kelihatannya kau menyangsikan ucapan-ucapan suamiku. Sekarang begini saja, kita saling mencoba ilmu kita masing-masing. Dan siapa yang kalah harus tunduk dan menurut perintah yang menang. Bagaimana...?"

Tiba-tiba wanita itu menantang.

"Nyonya, aku...?"

Kwe Tek Hun men, jadi salah tingkah.

"Hmmh, kau takut kepadaku?"

Wajah Kwe Tek Hun menjadi merah sampai ke telinganya.

"Siapa takut kepada kalian? Aku tidak pernah takut kepada siapa-siapa! Aku hanya tidak ingin bertaruh apa-apa di dalam pertarungan ini! Kalah, ya kalah! Menang, ya... Menang! Tidak perlu harus tunduk atau menurut perintah yang menang! Bagaimana kalau yang menang nanti memberi perintah yang bukan-bukan kepada yang kalah?"

Katanya berapi-api.

"Tapi... Kami takkan memberi perintah yang bukan-bukan kepadamu paling-paling kami hanya akan meminta agar kau membawa kami ke hadapan Ayahmu!"

Wanita itu menukas cepat seakan-akan sudah yakin akan menjadi pemenangnya. Tentu saja Kwe Tek Hun semakin menjadi berang.

"Marilah kita coba, Nyonya."

Geramnya tertahan.

Sementara itu para penjaga yang tadi dikalahkan oleh Kwe Tek Hun segera menyingkir agak jauh untuk mengobati luka-luka mereka.

Selain mengobati luka, mereka juga ingin menonton pertarungan Kwe Tek Hun dengan wanita asing itu.

"Nah, Anak muda... Lihat serangan!"

Wanita itu berseru serta menyerang lebih dahulu ketika dilihatnya Kwe Tek Hun tidak mau mendahuluinya.

Sederhana saja serangan wanita itu, seakan-akan memang hanya ingin memancing reaksi Kwe Tek Hun, sehingga pemuda itupun hanya mengelak sedikit pula, asalkan serangan tersebut tidak mengenai tubuhnya.

Bahkan pemuda itu segera membalas dengan pukulan sisi telapak tangannya, dalam jurus Kim-hong san-bwe atau Burung Hong Menebarkan Ekor.

Sambil menggeliat dari samping pemuda itu mengayunkan sisi telapak tangannya dari atas miring ke bawah dan yang diserang adalah leher atau punggung wanita itu.

"Bagus...!"

Wanita itu berseru nyaring.

Lalu dengan cepat kakinya melangkah pendek-pendek tiga kali, ke kanan dan ke kiri sambil meliukkan badan setengah lingkaran ke muka dan ke belakang.

Tampaknya gerakan wanita itu amat sederhana sekali.

Langkahnyapun hanya pendek-pendek pula.

Akan tetapi hasilnya sungguh mencengangkan.

Hanya dengan tiga kali melangkah itu ternyata dia bisa berputar mengelilingi Kwe Tek Hun dan hanya dengan meliukkan badan ke muka dan ke belakang itu ternyata juga dapat mengelakkan pukulan tangan Kwe Tek Hun pula.

Tak heran kalau para penjaga yang menonton pertempuran itu merasa takjub melihatnya.

Namun rasa heran dan takjub mereka belumlah sehebat rasa heran dan takjub yang ada di dalam dada Kwe Tek Hun sendiri.

Pemuda itu hampir-hampir tak percaya apa yang dilihatnya, bahwa wanita itu benar-benar menguasai Ban-seng-po Lian-hoan dengan baik.

Apa yang baru saja dilakukan oleh wanita itu adalah gerakan yang ke sepuluh dari Ban-seng-po Lian-hoan, yaitu Mengejar Bulan Mengelilingi Matahari.

Kwe Tek Hun semakin penasaran.

Tapi ia tak bisa terlalu lama memikirkan keajaiban itu, karena di lain saat wanita itu ganti menyerangnya kembali.

Terdengar suara mencicit tajam ketika jari tangan kanan wanita itu menusuk ke arah tulang rusuknya.

Pemuda itu seperti tersentak dari mimpinya.

Otomatis kakinya melangkah dengan gerakan Memindah Bintang Kejora ke Kutub Utara, gerakan Ban-seng-po Lian-hoan yang ke lima belas.

Dan seperti main sulap saja tubuhnya yang tegap itu telah berpindah tempat di belakang lawannya.

"Bagus...!"

Sekali lagi wanita itu memuji.

Dan sebelum Kwe Tek Hun memanfaatkan kedudukannya yang menguntungkan wanita itu cepat meluncurkan tubuhnya setombak ke depan, lalu berputar setengah lingkaran dan melangkah mundur tiga tindak.

Gerakannya sangat cepat, manis dan lincah, sehingga Kwe Tek Hun yang amat mengenal gerakan Menerobos Awan Mengejar bintang Jatuh tertegun dibuatnya.

Lagi-lagi keraguan Kwe Tek Hun tersebut dimanfaatkan oleh lawannya.

Sambil berseru lirih wanita itu kembali menyerang dengan jari-jari tangannya.

Kini yang dituju adalah jalan darah ping-tai-hiat di bawah pinggang kiri Kwe Tek Hun.

Hawa panas seolah-olah menerpa tubuh pemuda itu.

Dengan tangkas Kwe Tek Hun menghindar.

Tak terasa kakinya melangkah dalam Ban-seng-po Lian-hoan yang ke empat, yaitu Bintang Kejora Meniti Pelangi.

Kakinya melangkah enam kali ke belakang cepat sekali.

Kaki kanan melangkah lebar, sementara kaki kiri hanya pendek-pendek saja, sehingga jalannya tidak lurus, tapi melengkung ke bawah otomatis Kwe Tek Hun berada di samping kanan wanita itu sekarang.

Dan kesempatan tersebut segera digunakan oleh pemuda itu untuk balas menyerang.

Kedua belah tangannya mencengkeram ke atas dan ke bawah, ke.

arah pundak dan pinggang lawannya.

Akan tetapi wanita itu seperti sudah bisa menebak apa yang hendak dilakukan oleh Kwe Tek Hun.

Baru saja serangan pemuda itu mencapai separuh ja lan, wanita itu sudah keburu melompat satu tombak ke samping, lalu membalikkan badan menghadapi Kwe Tek Hun.

Kedua telapak tangannya juga terulur ke depan, menyongsong serangan Kwe Tek Hun.

"Plaaaak! Plaaaak!"

Dua pasang tangan bertemu di udara dan menimbulkan suara yang amat nyaring.

Karena masing-masing telah mengerahkan tenaga dalamnya, maka benturan itu menimbulkan getaran kekuatan yang sangat kuat.

Kwe Tek Hun yang merasa berhadapan dengan lawan yang berkepandaian sangat tinggi, telah mengerahkan hampir seluruh tenaga saktinya.

Sebaliknya wanita itu merasa belum perlu untuk bertarung mati-matian dengan Kwe Tek Hun, sehingga ia hanya melepaskan separuh dari tenaga saktinya.

Namun akibatnya sungguh tidak terduga.

Benturan yang keras itu menyebabkan Kwe Tek Hun terpental seperti layang-layang putus.

Untunglah pemuda itu memiliki ginkang yang cukup tinggi, sehingga tubuhnya tidak sampai terbanting ke atas tanah.

Namun demikian ketika dengan sempoyongan kakinya menginjak tanah, pemuda itu merasa aliran darahnya bergolak dengan hebat.

Ketika dengan nanar matanya memandang ke depan, Kwe Tek Hun melihat lawannya tetap berdiri kukuh di tempatnya.

Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa wanita itu terpengaruh oleh benturan tadi.

Wanita itu tersenyum dan Kwe Tek Hun harus mengakui bahwa wanita setengah baya itu tentu cukup cantik di masa mudanya.

"Anak muda...! Apakah kau sudah percaya sekarang?"

Dengan perasaan berat Kwe Tek Hun terpaksa mengangguk.

"Tetapi... aku belum puas."

Desahnya kemudian setelah aliran darahnya telah kembali normal. Sekali lagi wanita itu tersenyum. Sekilas ia menatap suaminya yang berdiri diam di tempatnya.

"Ah, Anak muda... Kalau bicara soal puas dan tidak puas, sebenarnya akupun juga belum merasa puas pula. Sedari tadi Kau cuma mengeluarkan gerakan tingkat pertama dan tingkat ke dua saja. kau belum pernah mengeluarkan gerakan pada tingkat-tingkat selanjutnya. Hmm, apakah kau baru memperoleh pelajaran sampai pada tingkat ke dua saja?"

Perasaan Kwe Tek Hun tergetar dengan hebat.

"Tingkat pertama dan ke dua? Apa... apa maksud Nyonya?"

Wanita itu tetap tidak melepaskan senyumnya.

"Nah, sekarang semakin terbukti betapa kurangnya pengetahuanmu tentang Ban-seng-po Lian-hoan. Ketahuilah, Anak muda... ban-seng-po Lian-hoan itu terbagi dalam delapan tingkatan. Setiap tingkat memiliki sembilan gerakan, sehingga seluruhnya ada tujuh puluh dua gerakan. Jadi, apabila engkau baru belajar sampai pada tingkat yang ke dua, berarti yang kau pelajari baru delapan belas gerakan saja..."

"Delapan belas gerakan? Tapi... tapi Ban-seng-po Lian-hoan keluargaku cuma ada lima belas gerakan saja!"

Tak terasa Kwe Tek Hun menyela.

"Lima belas gerakan?"

Kini ganti wanita itu yang terkejut.

"Hei, kalau begitu tingkat ke dua saja kau belum selesai!"

Kwe Tek Hun tertunduk diam tak bisa berkata-kata lagi.

Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam hatinya.

Bingung, kikuk, malu, tak percaya, sedih, kesal dan berbagai macam perasaan yang lain lagi.

Tapi di lain saat pemuda itu masih tetap merasa penasaran dan kurang percaya pula.

Benarkah semua yang dikatakan oleh wanita itu?

"Nyonya, aku...

aku tetap belum puas!

Engkaupun sendiri tadi juga belum mengeluarkan gerakan yang belum kukenal pula.

Aku...

aku ingin kau memperlihatkan gerakan-gerakan yang kau sebutkan itu."

"Baik!"

Tiba-tiba Swat Kim Po berseru seraya melangkah mendekati isterinya.

"lsteriku ini juga baru mempelajarinya sampai ke tingkat yang ke empat. Akulah yang akan memperlihatkan kepadamu beberapa gerakan Ban-seng-po Lian-hoan yang lain. Marilah...!"

"Tuan...?"

Kwe Tek Hun berdesah ragu.

"Seranglah aku!"

Laki-laki setengah baya itu berkata tegas. Kwe Tek Hun tersentak. Hatinya tergugah. Otomatis tangannya terangkat, kemudian menerjang dada lelaki itu.

"Wuuuus!"

Kini pemuda itu tidak mau setengah-setengah lagi. Sekaligus ia mengerahkan seluruh kekuatannya! "Bagus!"

Swat Kim Po memuji.

Serangan Kwe Tek Hun memang kuat dan berbahaya.

Kedua belah telapak tangannya yang terbuka lebar itu menyambar dalam jurus Kim-hong-pao-goat (Burung Merak Memeluk Bulan).

Dari telapak tangan itu.

meluncur udara hangat yang sangat kuat.

Swat Kim Po cepat memiringkan tubuhnya untuk menghindari benturan telapak tangan itu.

Kemudian sesuai dengan janjinya untuk-mengeluarkan gerakan Ban-seng-po Lian-hoan, Swat Kim-po mengangkat lengan kanannya ke atas dan mengebutkah ujung lengan bajunya yang lebar itu ke wajah Kwe Tek Hun.

Udara yang luar biasa dingin berhembus dari ujung lengan baju tersebut, sehingga Kwe Tek Hun terpaksa berpaling untuk mengelakkannya.

Akan tetapi ketika udara dingin itu telah lewat dan Kwe Tek Hun ingin balas menyerang lagi, Swat Kim Po telah menghilang dari hadapannya!

Sekejap Kwe Tek Hun menjadi bingung.

Namun dengan cerdik ia berbalik sambil mengayunkan kakinya menendang ke belakang dalam jurus Burung Merak Mengibaskan Ekor.

Benar juga dugaan pemuda itu.

Swat Kim Po yang lihai itu memang telah bergeser ke belakang tubuhnya dengan gerakan Melihat Bintang di Balik Cakrawala, gerakan yang ke dua puluh satu dari Ban-seng-po Lian-hoan.

"Hahaha, meskipun ngawur, tapi Kau cukup cerdik juga...!"

Swat Kim Po tertawa melihat kecerdikan Kwe Tek Hun.

Sambil memuji Swat Kim Po berkelit menghindari tendangan Kwe Tek Hun.

Sekali lagi lengan bajunya yang longgar itu menyambar ke depan.

Namun kali ini bukan udara dingin yang tertiup dari lubang lengan baju tersebut, tetapi udara panas!

Kwe Tek Hun tak mau berpaling dari lawannya.

Ia tak ingin terkecoh untuk yang kedua kalinya.

Oleh karena itu ia hanya meloncat mundur menghindari serangan ujung lengan baju tersebut.

Tapi Swat Kim Po tidak mau melepaskannya.

Lelaki itu kembali mengebut-kan lengan bajunya yang lain.

Kali ini udara yang meniup semakin terasa menyengat.

Bahkan ujung lengan baju itu seperti mengepulkan asap tipis.

Asap tipis yang cukup membuat pedas mata Kwe Tek Hun!

Sekali lagi Kwe Tek Hun melompat mundur.

Dan sebelum kakinya menginjak tanah, pemuda itu balas menyerang dengan sisi tangannya.

Kwe Tek Hun tidak ingin terus-terusan diserang lawan.

"Wuuuuuush!"

Pukulan Kwe Tek Hun menerjang ke depan dengan sia-sia!

Swat Kim Po telah tiada di depan lagi!

Laki-laki itu telah menghilang begitu saja!

Kwe Tek Hu cepat berbalik sambil memukul.

Namun kali ini ia terkecoh.

Swat Kim Po tidak bersembunyi di belakang punggungnya.

"Hahahaha...! Anak Muda, aku di sini!"

Tiba-tiba terdengar suara lelaki itu dari kejauhan. Ternyata Swat Kim Po telah berdiri di samping isterinya.

"Aaaah...!"

Kwe Tek Hun berdesah. Badannya menjadi lemas dan lesu. Ternyata lawannya benar-benar memiliki gerakan-gerakan Ban-seng-po Lian-hoan yang lebih lengkap.

"Apakah kau sekarang sudah percaya, Anak muda?"

Isteri Swat Kim Po berseru seraya menghampiri Kwe Tek Hun kembali.

Kwe Tek Hun menghembuskan napasnya kuat-kuat seperti ingin memuntahkan semua perasaan kesal yang menindih hatinya, lalu menganggukkan kepalanya.

Tak sepatahpun kata-kata yang bisa terucap dari bibirnya.

"Nah! Sekarang antarkan kami menemui Ayahmu!"

"Apa...?"

Kwe Tek Hun tersentak. Wa jahnya yang kuyu itu kembali memerah.

"Antarkan kami menemui Ayahmu atau Gurumu itu!"

Wanita itu mengulangi perintahnya. Kini suara itu sangat tegas dan kaku. Kwe Tek Hun mendengus. Dadanya seperti disengat bara.

"Nyonya, aku memang percaya bahwa kau dan suamimu memiliki Ban-seng-po Lian-hoan yang lebih lengkap daripada aku. Tapi semua itu bukan berarti aku harus tunduk pada perintah kalian. Dari semula aku juga tidak berjanji apa-apa kepada kalian. Apalagi aku juga belum kalah."

Wanita itu mengerutkan dahinya yang halus.

"Maksudmu...?"

Serunya kaku.

"Ban-seng-po Lian-hoan tidak menjamin seseorang untuk menang di segala pertempuran, karena ilmu itu hanya ilmu langkah kaki dan tidak untuk menyerang. Ilmu itu harus dilengkapi dengan ilmu silat lain yang sepadan, sehingga bisa terlihat kedahsyatannya."

Kwe Tek Hun berdesah dengan suara kaku pula.

"Oooooo, jadi kau ini masih menyangsikan kemampuan kami? Begitu...? Baik! Mari kita uji sekali lagi dengan ilmu silat yang lain!"

Wanita itu menggeram sambil memasang kuda-kuda. Kwe Tek Hun segera bersiap diri pula.

"Hmmh! Mengapa kau tidak mencabut pedang anehmu itu, Nyonya?"

"Tidak usah! Kami warga Pondok Pelangi hanya mencabut pedang bila benar-benar memerlukannya! Untuk mengalahkanmu cukup dengan ilmu silat kami yang lain."

"Sombong!"

Kwe Tek Hun berseru berang, kemudian menerjang perempuan itu dengan tendangan kaki kanannya.

"Kau sendiri yang sombong, tidak mau mengakui kenyataan!"

Wanita itu menjawab seraya mengelak ke samping, lalu dari samping ia balas menyerang dengan tusukan jari telunjuknya.

"Cusss! Cusss!"

Dari ujung jari itu meluncur seleret sinar kebiruan menyambar tubuh Kwe Tek Hun.

Pemuda itu terkejut!

Ia mengenal ilmu itu!

Namun belum juga ia sempat membuka suara, serangan itu telah menyentuh pakaiannya!

Mati-matian Kwe Tek Hun mengelak.

Tubuhnya bergeser ke kanan dengan cepat, lalu meliukkan badan sambil melangkah ke kanan dan ke kiri sebanyak tiga kali dalam gerak Mengejar Bulan Mengelilingi Matahari.

Tapi belum juga pemuda itu berdiri tegak, wanita itu kembali telah mengejarnya dengan serangannya yang lain!

"Cuuus!

Cuuus!

Cuuus!"

Kwe Tek Hun menjadi sibuk sekali!

Ternyata dia tak bisa mengandalkan Ban-seng-po Lian-hoan lagi!

Gerakan-gerakannya yang dikenal baik oleh lawannya!

Terpaksa dia berkelit dan menghindar dengan bantuan ilmu meringankan tubuhnya yang hebat, yaitu Pek-in Ginkang!

Namun demikian tetap saja salah sebuah serangan wanita itu menyerempet pakaiannya!

"Sreeet!"

Pakaian itu bolong seperti ditebas oleh pedang yang amat tajam! "Aaaah! Tahan!"

Begitu memperoleh kesempatan Kwe Tek Hun berteriak.

"Kau menyerah, Anak Muda?"

Wanita itu bertanya seraya menghentikan serangannya.

"Nanti dulu, Nyonya. Bukankah ilmu yang baru saja kau pergunakan ini tadi... tai-lek Pek-kong-ciang?"

Sekarang ganti wanita itu yang kaget. Demikian pula suaminya, Swat Kim Po.

"Hei, apakah kau juga mempelajari ilmu silat itu?"

Swat Kim Po dan isterinya bertanya hampir berbareng.

"Ah, tidak... tidak!"

Kwe Tek Hun cepat-cepat menggoyangkan tangannya.

"Ilmu itu milik Keluarga Souw..."

"Keluarga Souw...?"

Tak terduga kedua suami-isteri dari Pondok Pelangi itu berteriak gembira.

Lalu dengan gerakan yang sangat cepat sehingga tidak bisa diikuti oleh pandangan mata, tangan Swat Kim Po menyambar pergelangan tangan Kwe Tek Hun.

Dan pemuda itu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengelak.

Tahu-tahu tangannya telah tertangkap oleh cengkeraman Swat Kim Po tersebut.

"Kau kenal keluarga Souw? Di mana mereka tinggal?"

Laki-laki itu memberondong Kwe Tek Hun dengan pertanyaan.

Kwe Tek Hun mengerahkan Iweekangnya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Swat Kim Po, tapi tak bisa.

Tenaga dalam orang itu hebat bukan main.

Terpaksa Kwe Tek Hun mempergunakan kakinya untuk menyerang.

Dan tangannya yang lain ikut membantu pula.

Swat Kim Po mencoba untuk mengelakkan tendangan Kwe Tek Hun, tapi ketika siku pemuda itu mengancam ulu hatinya, terpaksa ia melepaskan cengkeramannya.

Swat Kim Po mundur selangkah ke belakang.

"Bagus, Anak muda. Kepandaianmu memang hebat. Tapi tolong katakan kepadaku! Benarkah Keluarga Souw yang kau kenal itu memiliki ilmu Tai-lek Pek-kong-ciang?"

Tanyanya bersemangat.

Kwe Tek Hun menjadi ragu dan agak bingung.

Ia tak bisa menduga apa yang dikehendaki suami-isteri itu terhadap Keluarga Souw.

Adakah mereka mempunyai hubungan perguruan?

"Semua kaum persilatan tahu bahwa Keluarga Souw memiliki ilmu Tai-lek Pek-kong-ciang dan Tai-kek-sin-ciang..."

Akhirnya Kwe Tek Hun menjawab apa adanya.

"Tai-kek-sin-ciang? Seperti ini?"

Swat Kim Po tiba-tiba berdesah keras dan tampak semakin bersemangat.

Lelaki itu memasang kuda-kuda.

Dua buah telapak tangannya ia rangkapkan di depan dada seperti layaknya orang menyembah.

Dan sekejap kemudian dari seluruh lobang kulitnya keluar asap tipis berwarna kemerah-merahan.

Anehnya, asap itu tidak membuyar ditiup angin.

Asap itu seperti melekat dan menyelimuti tubuh lelaki itu setebal beberapa inchi, sehingga sepintas lalu ia bagaikan mengenakan baju kabut tembus pandang.

Tentu saja ilmu silat tingkat tinggi itu membuat takjub para anggota Hek-to-pai yang dikalahkan Kwe Tek Hun tadi.

Mereka seperti melihat jago sihir yang sedang memperlihatkan mujijat atau kesaktiannya.

Apalagi ketika Swat Kim Po tiba-tiba melayangkan pukulannya ke sebuah pohon pelindung di samping pintu gerbang.

Batang pohon sebesar pelukan orang dewasa itu mendadak mengeluarkan asap kehitaman seperti kena bakar.

Belum juga hilang ketakjuban mereka, tiba-tiba Swat Kim Po mengubah kuda-kudanya.

Badannya berdiri tegak lurus.

Kedua tangannya merapat, sementara kedua tangannya juga terangkap lurus ke atas seperti hendak meraih langit.

Asap atau kabut tipis masih tetap menyelimuti tubuhnya.

"Waaaah...?!?"

Mendadak para penjaga itu berseru takjub lagi.

Kwe Tek Hun yang pernah menyaksikan ilmu itu memang tidak seheran para penjaga tersebut.

Namun bagaimanapun juga ilmu yang dipertunjukkan oleh Swat Kim Po itu tetap mendebarkan hatinya.

Apalagi ketika melihat kabut yang menyelimuti badan Swat Kim Po tersebut mendadak berubah warnanya menjadi putih, kemudian kuning, hijau, biru dan sebagainya.

Setiap kali berubah warna, Swat Kim Po tentu menyerang batang pohon itu.

Dan akibatnya memang sangat mendebarkan hati.

Berganti-ganti pohon itu seperti disulut api, diguyur air panas, disiram salju, dihembus badai dan lain-lainnya.

Akibatnya sungguh menyedihkan.

Begitu Swat Kim Po menghentikan serangannya, pohon besar itu perlahan-lahan tumbang bagaikan pohon tua yang telah lapuk dimakan rayap.

Batang kayunya yang semula sangat kuat dan keras luar biasa itu kini telah berubah menjadi empuk dan rapuh seperti gumpalan tanah.

Swat Kim Po kembali berdiri di depan Kwe Tek Hun.

"Seperti itukah Tai-kek-sin-ciang Keluarga Souw?"

Kwe Tek Hun terdiam, kemudian menggeleng lemah.

"Memang hampir sama. Tetapi yang pernah kulihat, asap yang menyelimuti tubuh Pendekar Souw cuma ada dua warna."

"Dua warna...?"

"Yah! Putih dan merah!"

"Aneh. Mengapa hanya putih dan merah saja?"

Swat Kim Po mengerutkan keningnya.

"Ah, sudahlah...! Anak muda, ketahuilah. Kami berdua datang ke Tionggoan ini memang sedang mencari sesesorang atau keturunan seseorang yang telah menyimpan barang-barang pusaka Pondok Pelangi selama lima ratus tahun. Kami tidak tahu siapa orang itu, namun yang jelas orang itu tentu memiliki ilmu yang sama dengan kami. Nah, itulah sebabnya kami mencurigai keluargamu atau keluarga Souw itu. Sekarang marilah kita berangkat menemui Ayahmu dulu!"

Kwe Tek Hun menunduk.

Sekejap terjadi perang batin di dalam hatinya.

Melawan atau menuruti perintah orang itu.

Melawan mereka berarti sia-sia.

Jangankan melawan Swat Kim Po, melawan isterinya saja ia tak mungkin menang.

Tapi kalau menuruti perintah mereka, lalu bagaimana dengan Tio Ciu In dan Liu Wan?

"Bagaimana, Anak muda?

Kita berangkat sekarang?"

Swat Kim Po mendesak.

"Baiklah. Tapi biarlah aku memberitahukan kepergianku ini kepada teman-temanku yang ada di dalam perumahan itu."

Akhirnya Kwe Tek Hun memberikan persetujuannya. Ia juga ingin tahu, bagaimana reaksi Ayahnya tentang Ban-seng-po Lian-hoan itu. Tapi dengan cepat Swat Kim Po menggoyangkan tangannya.

"Tak usah! Biarlah orang-orang itu yang mengatakan kepada teman-temanmu nanti. Kita langsung berangkat saja sekarang."

Orang itu berkata sambil menunjuk ke para penjaga yang tadi mengeroyok Kwe Tek Hun.

"Mengapa...?"

Kwe Tek Hun berdesis.

Wajahnya memerah, sementara urat-uratnya menegang kembali.

-"Maaf, anak muda...

Kami tak ingin membunuh teman-temanmu!

Kalau kau.

mengatakan kejadian ini kepada mereka, mereka pasti akan menahanmu, membelamu!

Nah, kalau kejadian nanti akan demikian halnya...

Hemmm, terpaksa kami harus membunuh mereka!

Paham?"

Swat Kim Po menerangkan dengan suara dingin.

Hampir saja hati Kwe Tek Hun berontak.

Dia tak takut mati dan tentu demikian pula halnya dengan Liu Wan.

Tapi bagaimana dengan Tio Ciu In?

Ia merasa kasihan kepada gadis ayu itu.

Gadis itu sedang mencari adiknya.

Perlahan-lahan darah yang telah naik ke kepala itu turun kembali.

Kwe Tek Hun tak ingin mencelakakan teman-temannya, terutama gadis ayu itu.

Biarlah ia sendiri yang menghadapi Swat Kim Po dan isterinya.

"Baiklah marilah kita berangkat!"

"Bagus! Nah, Sui Nio, kau berkuda bersama aku! Biarlah anak muda ini menggunakan kudamu!"

Swat Kim Po berseru lega sambil menghampiri isterinya.

Demikianlah, tanpa berpamitan kepada teman-temannya, Kwe Tek Hun menempuh perjalanan ke utara bersama Swat Kim Po dan isterinya.

Sebenarnya ada dua jalan untuk pergi ke Pulau Meng-to.

Pertama, menempuh jalan laut!

melalui Kampung Ui-thian-cung, dengan perahu besar ke arah utara.

Ke dua, menempuh jalan darat lebih dahulu hingga kota Lia-siu di Propinsi Kiang-su, lalu dari kota itu nanti berlayar lurus ke timur ke arah matahari terbit.

Dan ternyata Kwe Tek Hun memilih melalui kota Lia-siu tersebut.

Sementara itu di pendapa perguruan Hek-to-pai, Liu Wan telah hampir bisa menguasai lawan-lawannya.

Ketika pemuda itu melihat kerepotan Tio Ciu In, hatinya menjadi tidak sabar lagi.

Otomatis ilmu Thian-lui kong-ciangnya terungkap keluar tanpa disengajanya.

Dan yang men jadi korban pertama adalah It Kwan sendiri!

"Whuuuuuus!

Dhuuaaar!"

"Aduuuuuuh!."

Ketua Hek-to-pai menjerit keras.

Tubuhnya terlontar tinggi dan jatuh berdebam di halaman.

Cong Su terbeliak ketakutan dan tanpa malu-malu lagi ia membuang ruyungnya tanda menyerah.

Liu Wan tak mengacuhkan Cong Su.

Dia cepat menghampiri It Kwan yang tak mampu bangkit lagi itu.

Dengan kaki di atas punggung It Kwan, pemuda itu mengancam orang-orang Hek-to-pai yang mengepung Tio Ciu In.

"Berhenti semua...! Kalau tak mau berhenti, tubuh ketua kalian akan kuinjak sampai hancur!"

Puluhan anggota Hek-to-pai yang ada di pendapa itu segera mundur ketakutan.

Mereka sama sekali tak mengerti bagaimana ketuanya yang lihai itu sampai dapat dikuasai oleh anak-anak muda itu.

Tio Ciu In lalu menghampiri Liu Wan dan berdiri di samping pendekar muda itu.

"Nah, orang tua... sekarang katakan yang sebenarnya kepada kami! Di manakah gadis berbaju merah yang datang ke sini kemarin itu? Ayoh, jawab! Kuhitung sampai lima, kalau kau tetap tak menjawab jangan salahkan aku menginjak punggungmu ini sampai patah! Satu... dua... tiga..."

"Baik... baik, aku akan menjawabnya!"

Dengan suara kesakitan. It Kwan berkata.

"Gadis itu... gadis itu telah pergi ke arah pantai! Kawanku, Tong Taisu, kalah bertaruh dengan dia, sehingga dia dilepaskan oleh temanku itu! Nah, lepaskan kakimu... aku telah mengatakan semuanya."

Liu Wan memandang ke sekelilingnya, ke arah anak murid perguruan Hek-to-pai yang menunggu dengan cemas nasib ketuanya itu.

"Hei benarkah apa yang dikatakan oleh ketua kalian?"

Pemuda itu berseru keras.

"Ya... benar!"

Orang-orang itu menjawab hampir berbareng. Liu Wan mengangkat kakinya dan membiarkan ketua Hek-to-pai itu ditolong oleh anak buahnya.

"Ciu-moi marilah kita pergi! Kita susul adikmu ke pantai! (Lanjut ke

Jilid 12) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 12

"Tapi apakah anak itu masih berada di sana? Apakah Ia tidak kembali lagi ke kota?"

"Yaaa... Mungkin saja. Tapi lebih baik kita membuktikan dulu masih ada tidaknya adikmu di pantai. Setelah kita cari di pantai dia tidak ada, baru kita ke kota."

Tak seorangpun para anggota Hek-to-pai yang bertebaran di halaman depan itu berani menghalangi Liu Wan dan Tio Ciu In ketika sepasang muda-mudi itu melewati mereka.

Bahkan mereka segera menyingkir untuk memberi jalan kepada Liu Wan.

"Heran...! Mengapa Kwe Tek Hun tidak kelihatan? Bukankah dia tadi menghadapi para penjaga pintu gerbang itu?"

Liu Wan bergumam kaget ketika tidak melihat Kwe Tek Hun di pintu gerbang masuk.

"Eh, Liu Twako... Lihat pohon besar yang tumbang itu! Bukankah tidak ada badai yang mengamuk ini tadi? Mengapa pohon itu roboh?"

"Benar. Memang aneh. Marilah kita tanyakan kepada penjaga itu!"

Para penjaga pintu gerbang itu menjadi pucat wajahnya ketika Liu Wan dan Tio Ciu ln datang mendekati mereka.

"Hei! Katakan, kemana teman kami tadi? Cepat!"

Hardik Liu Wan keras.

"Dia... dia pergi bersama seorang lelaki dan seorang wanita, setelah kedua orang itu mengalahkannya."

Salah seorang penjaga menjawab dengan suara gemetar.

Bukan main kagetnya Liu Wan dan Tio Ciu In!

Demikian gugupnya Liu Wan mendengar laporan itu sehingga secara tak sadar tangannya menyambar leher baju penjaga tersebut.

"Apa katamu...? Katakan yang benar!"

Tentu saja penjaga itu semakin menjadi takut.

"Anu... anu... aku mengatakan yang... yang sebenarnya. Li-lihat pohon itu! Laki-laki yang mengaku dari Pondok Pelangi itu menumbangkannya dari jauh dengan... dengan pukulannya yang dahsyat, sehingga teman Taihiap mengaku kalah, dan... dan ikut pergi dengan mereka!"

Liu Wan melepaskan cengkeramannya dan mendorong penjaga itu ke belakang, sehingga menabrak teman-temannya. Mereka jatuh terjengkang tumpang-tindih.

"Sungguh gawat sekali, Ciu-moi. Orang yang bisa mengalahkan Kwe Tek Hun tentu bukan orang sembarangan. Rasanya akupun takkan bisa menolongnya. Mungkin hanya tokoh-tokoh setingkat Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, Guruku, atau ayah Kwe Tek Hun sendiri yang bisa menghadapinya."

"Orang itu... orang itu memang mengajak teman Taihiap untuk menemui ayahnya."

Penjaga yang didorong jatuh oleh Liu Wan tadi tiba-tiba berkata.

"Heh...? Jadi mereka pergi ke Pulau Meng-to?"

Liu Wan berseru kaget.

"Ya-ya... Mereka tadi memang nyebut-nyebut Pulau Meng-to."

Penjaga itu berkata pula.

"Aaaaah..."

Liu Wan menarik napas panjang.

Keningnya berkerut dan untuk beberapa waktu lamanya pemuda itu tak berkata-kata lagi.

Tio Ciu In yang tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Liu Wan segera menarik lengannya.

"Twako, apa yang kau pikirkan?"

Sekali lagi pemuda itu menghela napas panjang, kemudian menggandeng tangan Tio Ciu In untuk dibawa keluar meninggalkan perkampungan itu.

Liu Wan tetap melangkah ke arah pantai seperti rencananya semula.

Sementara itu matahari mulai bergulir dari atas kepala.

Panasnya benar-benar mulai menyengat, sehingga pipi Tio Ciu In yang ranum itu menjadi kemerah-merahan.

Beberapa tetes keringat juga mulai mengalir membasahi kening gadis ayu itu.

Akan tetapi tak sepatah katapun keluh-kesah yang keluar dari bibir tipis tersebut.

Justru Liu Wan lah yang akhirnya merasa kasihan melihatnya.

"Ah, panasnya bukan main! Kita berteduh dulu, Ciu-moi?"

"Tidak usah, Twako. Panas sedikit tidak apa. Kita berjalan terus saja hingga ke perkampungan Ui-thian-cung. Aku cepat-cepat ingin bertemu Siau In..."

"Tapi... tapi keringatmu mengalir membasahi pelipis dan lehermu. Pipimu... pipimu..."

Liu Wan tak berani meneruskan kalimatnya. Matanya juga tidak berani memandang gadis itu lama-lama.

"Pipiku... Kenapa, Twako?"

Tio Ciu In mengerutkan alisnya yang lentik.

"Ah, tidak... tidak apa-apa!"

Tiba-tiba Liu Wan menjawab cepat sambil menundukkan mukanya. Suaranya bergetar seperti orang yang sedang menahan beban batin yang amat berat.

"Lho? kau ini bagaimana, sih? Seperti orang sedang kebingungan saja!"

Tio Ciu In mendamprat kesal.

Liu Wan cuma tersenyum kecut dan tak berani mengeluarkan suara apa-apa.

Bahkan memandang, Tio Ciu lnpun ia tak berani.

Rasanya seperti ada kesedihan di hatinya setiap kali memandang gadis ayu itu.

Namun ia tak tahu, apa yang menyebabkan kesedihan itu.

Sebaliknya gadis itu sama sekali tak tahu apa yang sedang bergejolak di dada teman seperjalanannya.

Ia hanya menduga kalau Liu Wan sedang bingung memikirkan kepergian Kwe Tek Hun.

"Siapa sebenarnya orang yang mengaku dari Pondok Pelangi itu? Mengapa Twako sangat mengkhawatirkan mereka?"

Akhirnya gadis itu bertanya perlahan. Liu Wan tersentak seperti orang yang terbangun dari lamunannya segera menggeleng tanda tak tahu.

"Aku juga baru mendengarnya sekali ini. Tapi kalau benar apa yang dikatakan penjaga itu bahwa mereka dapat mengalahkan Kwe Tek Hun, rasanya kepandaian mereka benar-benar sangat tinggi. Hanya yang tidak kumengerti, mengapa mereka membawa Kwe Tek Hun ke Pulau Meng-to. Apakah orang-orang dari Pondok Pelangi itu bermusuhan dengan ayah Kwe Tek Hun, sehingga mereka menyandera Kwe Tek Hun?"

Pemuda itu kemudian berkata agak lancar Tio Ciu In memandang Liu Wan sekejap, lalu cepat-cepat beralih ke pucuk-pucuk pepohonan tinggi yang tumbuh berjejer-jejer di pinggir jalan.

Tak terasa pikiran gadis itu juga ikut terbenam pula di dalam urusan yang tak dimengertinya itu.

"Apakah kira-kira mereka itu mempunyai hubungan dengan gadis yang memusuhi kita di penginapan pagi tadi?"

Tiba-tiba Tio Ciu In bergumam.

Liu Wan terkejut.

Pemuda itu tidak berpikir sampai ke sana, tapi kemungkinan tersebut memang bisa saja terjadi.

Mereka sama-sama memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Angin terasa mulai berhembus dengan kencang, membawa butiran debu dan pasir kemana-mana.

Mereka berdua telah melewati hamparan tambak garam yang berpetak-petak di kanan kiri jalan.

Lautpun mulai tampak di kejauhan, dengan garis pantai yang rimbun oleh pepohonan perdu dan alang-alang tinggi.

Mereka masih sempat menyaksikan bekas-bekas kesibukan luar biasa di perkampungan nelayan itu.

Belasan orang perajurit penjaga keamanan masih tampak berada di sana.

Bahkan di rumah Tiam Lok, kepala kampung Ui-thian-cung itu masih kelihatan seregu pasukan keamanan kota Hang-ciu sedang beristirahat.

"Eh, tampaknya ada sesuatu yang baru saja terjadi di tempat ini, Lopek?"

Liu Wan mencoba bertanya kepada se orang nelayan tua yang sedang menambal jalanya.

Nelayan itu memandang Liu Wan dan Tio Ciu ln beberapa saat lamanya.

Melihat wajah-wajah yang bersih dan halus dari kedua anak muda itu, ia kelihatan lesu.

"Yaaah... ada pembunuhan besar-besaran di pantai sebelah sana! Para Pemenang "Perlombaan Mengangkat Arca"

Dan pengawal mereka dibantai orang di atas pasir itu..."

"Ohhhh!"

Liu Wan dan Tio Ciu ln yang sudah mendengar berita tersebut di markas Tiat-tung Kai-pang berdesah pendek.

"Apakah sanak saudara Kongcu ikut menjadi korban pula?"

"Oh, tidak... tidak!"

Ciu In cepat-cepat menjawab.

"Kedatangan kami berdua kemari memang mau mencari seseorang, tapi orang yang kami cari itu bukan salah seorang dari orang-orang yang terbunuh itu. Orang yang kami cari adalah seorang gadis muda berpakaian merah. Perawakannya biasa-biasa saja, tak begitu tinggi tapi juga tidak pendek, badannya agak kurus sedikit, rambutnya dikepang dua, Eh, apakah Lopek melihatnya...?"

Sekali lagi nelayan tua itu menatap Ciu In dan Liu Wan beberapa saat lamanya, keningnya berkerut, seolah-olah merasa heran, kaget dan curiga.

"Sungguh mengherankan...! Beberapa saat yang lalu juga ada yang bertanya kepadaku tentang gadis yang ciri-cirinya seperti itu..."

"Apa...? Ada orang lain yang bertanya kepada lopek? Siapa dia? Bagaimana ciri-cirinya?"

Ciu In mendesak dengan suara penuh harap, gadis itu teringat akan suhengnya lagi. Nelayan itu meletakkan jalanya, kemudian berdiri.

"Dia seorang pemuda tampan, tingginya kira-kira sama dengan aku, kurus, rambutnya awut-awutan..."

"Oooohhh..."

Ciu In berdesah kecewa karena ciri-ciri yang disebutkan bukan ciri Tan Sin Lun suhengnya.

"Nah... Itu dia orangnya!"

Tiba-tiba nelayan tua itu berseru, tangannya menuding ke pintu masuk perkambungan Ui-Thian-cung.

Liu Wan dan Ciu In menatap ke depan, mereka melihat seorang pemuda kurus mengenakan pakaian hitam kedodoran berjalan lesu ke arah mereka, tampaknya pemuda itu baru saja menemui kepala kampung.

"Tampaknya memang bukan suhengmu..."

Liu Wan berdesah hambar seperti kehilangan semangat.

Ciu In berpaling, sekejap, mata yang bulat indah itu menatap tajam penuh selidik, ada terungkap rasa heran dan tak mengerti pada pancaran sinar mata itu.

Tapi mata indah itu segera berpaling kembali ketika Liu Wan balas memandangnya.

Tampaknya pemuda kurus yang tidak lain adalah Chin Tong Sia atau Put-tong-sia itu memang bermaksud menemui nelayan tua tersebut.

Tapi ia menjadi ragu-ragu melihat kehadiran Liu Wan dan Tio Ciu In, sehingga ia diam saja di depan nelayan itu.

Liu Wan baru pertama kali ini melihat pemuda itu, tapi Tio Ciu In sudah melihatnya di atas panggung perlombaan kemarin.

Tio Ciu In masih ingat sekali karena pemuda itu telah membuat keributan di atas panggung.

"Nah, apakah Tuan hendak bertanya tentang gadis itu lagi?"

Sekonyong-konyong nelayan tua itu mendahului bertanya kepada Chin Tong Sia yang tampak ragu-ragu. Chin Tong Sia melirik ke arah Liu Wan dan Tio Ciu In, kemudian mengangguk lemah.

"Apakah engkau tetap belum melihatnya juga?"

Tanyanya kaku. Nelayan tua itu menggelengkan kepalanya.

"Belum. Mungkin gadis itu memang tidak pergi ke tempat ini. Tapi... eh, omong-omong... Kongcu dan Siocia ini juga menanyakan gadis itu. Apakah Tuan mengenal mereka?"

Chin Tong Sia memandang Liu Wan dan Tio Ciu In sekejap, kemudian mengangkat pundaknya. Sambil beranjak pergi pemuda itu meninggalkan pesan kepada nelayan tersebut.

"Paman, tolong beritahukan kepadaku kalau gadis yang kumaksudkan itu lewat di sini. Aku berada di tempat penambatan perahu."

"Saudara, tunggu...!"

Tio Ciu In yang menjadi penasaran itu tiba-tiba berseru memanggil.

Chin Tong Sia berhenti melangkah, lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya.

Dan pada saat membalikkan badan itulah buntalan pakaian Tio Siu In yang dibawanya melorot turun dan jatuh dari balik bajunya yang kedodoran, namun dengan tangkas dan cepat pula bungkusan itu disambarnya serta dimasukkan kembali ke balik bajunya.

Akan tetapi waktu yang hanya sekejap itu sudah cukup bagi Tio Ciu In.

untuk mengenali bungkusan pakaian adiknya.

"Nona memanggil saya?"

Dengan tenang Chin Tong Sia menghadapi Tio Ciu In.

Sebaliknya Tio Ciu In sendiri juga mencoba untuk bersikap hati-hati pula.

Dia ingin mencari tahu perihal hubungan adiknya dengan pemuda itu, sehingga pemuda itu kelihatan berhasrat sekali menemui Siau In.

"Maaf, kudengar dari Lopek ini saudara sedang mencari seorang gadis muda berbaju merah di tempat ini. Eeem... apakah yang saudara maksudkan itu bernama Tio Siau ln?"

Dengan amat sopan Tio Ciu In bertanya, membuat Liu Wan yang berdiri di sampingnya merasa kikuk melihatnya.

Tak terduga wajah Chin Tong Sia menjadi merah.

Pertanyaan itu membuatnya bingung dan tak tahu harus menjawab apa, karena dia memang belum tahu nama gadis yang dicarinya itu.

"Ha-ha-haha-hihihi! Nona ayu, jangan kau tanyakan nama gadis itu kepadanya! Dia takkan tahu, karena dia memang belum sempat menanyakan nama pacarnya itu!"

Tiba-tiba terdengar suara serak berkumandang tanpa kelihatan orangnya.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 4

Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert