Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pedang Pelangi 3

Eps 3 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.

"Apakah mereka tidak akan mengenal kita? Dalam upacara penting seperti ini tentu hanya anggota-anggota yang telah dikenal saja yang boleh hadir."

Ciu In menanggapi. Liu Wan tersenyum dan pemuda itu memang ganteng sekali kalau tersenyum.

"Tentu saja, Ciu-moi. Kitapun harus memilih pula dalam menyamar,"

Katanya dengan nada yakin.

"Bagaimana caranya?"

Sekali lagi Liu Wan tersenyum.

"Maaf, Ciu-moi. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan rencana itu jauh sebelumnya. Aku sudah menyelidiki siapa-siapa saja penduduk kota ini yang menjadi pengikut aliran Pek-hok-bio. Nah, untuk melaksanakan rencana kita ini aku telah menyuruh Lo Kang dan Lo Hai ke kota sore tadi. Sekarang kita tinggal menantikan khabar dari mereka. Marilah kita ke jalan raya menunggu kedatangan mereka!"

Tio Ciu In merengut karena merasa dibohongi "Huh, kau tadi mengatakan bahwa belum mempunyai rencana apa-apa.

Ternyata.

kau sudah mempersiapkannya jauh-jauh sebelumnya.

Huh, mengapa tak kau katakan sejak tadi?"

Sungut gadis itu jengkel.

"Eeee... jangan marah dulu! Aku tidak bermaksud mempermainkanmu."

Liu Wan buru-buru memberi keterangan.

"Aku hanya ingin mengetahui pendapatmu. Siapa tahu kau memiliki rencana yang lebih bagus daripada rencanaku? Kalau aku buru-buru mengatakan rencanaku, kau tentu tak mau mengatakan pendapatmu. kau tentu akan mengikut saja apa perkataanku. Benar tidak?"

Tio Ciu In. mengerlingkan matanya dengan gemas. Pemuda di hadapannya itu memang pintar berbicara dan mengambil hati wanita.

"Baiklah... baiklah, Tuan Muda. kau memang baik. Baik sekali. Nah, kalau begitu mau tunggu apalagi? Ayoh, kita pergi...!"

Katanya gemas.

Mereka lalu berjalan berendeng di jalan setapak yang cukup gelap itu.

Sinar rembulan terhalang oleh rimbunnya dedaunan yang memayungi jalan tersebut, membuat bayangan-bayangan hitam di permukaan tanah.

Namun demikian kedua jago silat itu tidak menjadi takut atau merasa kesulitan karenanya.

Dari jauh terdengar lonceng dua belas kali.

Mereka telah sampai di jalan raya yang menuju ke kuil Pek-hok-bio.

Di tempat yang cukup terlindung mereka berhenti.

"Kita tunggu saja di tempat ini. Mudah-mudahan Lo Kang dan Lo Hai berhasil."

Liu Wan berbisik di telinga Ciu In, tapi buru-buru menjauhkah diri lagi"

Ketika hidungnya tiba-tiba membaui bau harum rambut gadis itu.

"Kau suruh apa sebenarnya kedua pembantumu itu, Twako?"

Ciu In yang tidak menyadari kalau dirinya baru saja membuat Liu Wan kembali kesengsem kepadanya itu berbisik perlahan pula di dekat telinga Liu Wan.

"Aku... aku suruh mereka mencegat kereta Cia-Wangwe yang tentu diundang pula dalam upacara korban ini. Cia-Wangwe adalah salah-seorang penganut Pek-hok-bio yang dihormati. Kalau Lo Kang dan Lo Hai nanti berhasil, kita berdua akan menyamar sebagai Cia-Wangwe suami-isteri. Wajahmu akan kuperjelek sedikit agar seperti wajah bini muda Cia-Wangwe."

Liu Wan menerangkan dengan suara sedikit gemetar.

"Eh, mengapa justru diperjelek? Masakan seorang hartawan kaya-raya seperti Cia-Wangwe mencari isteri muda yang wajahnya jelek?"

Ciu In bertanya bingung. Liu Wan tersenyum kecut.

"Yaaah, kata orang istri muda Cia-Wangwe itu memang cantik, karena dia adalah penari termashur di kota Hang-ciu ini. Tapi... Kalau dibandingkan dengan wajahmu, yaaa... Ketinggalan, jauh!"

Katanya kemudian dengan suara agak takut-takut.

Hampir saja Tio Ciu In merasa hendak dipermainkan lagi.

Tapi.

kemudian, terpandang olehnya wajah Liu Wan yang bersungguh-sungguh, pipinya justru menjadi merah.

"Hei... Itu suara kereta!"

Tiba-tiba Liu Wan berseru perlahan.

Dari jauh tampak sebuah kereta kuda merayap pelan-pelan menuju ke arah mereka.

Sebuah kereta yang cukup bagus dan terawat baik, ditarik oleh dua ekor kuda besar-besar.

Dua orang pengendara atau sais tampak duduk di bagian depan mengendalikan kuda-kuda itu.

Dan meskipun dalam penyamaran, Liu Wan segera mengenal dua sais kereta itu sebagai Lo Kang dan Lo Hai.

"Ah... Mereka berhasil menculik Cia-Wangwe. Nah, Ciu-moi... Marilah kita songsong mereka. Kita berdandan di dalam kereta saja nanti."

Selesai bicara Liu Wan Gwe segera bersiul untuk memberi tanda kepada kedua pembantunya bahwa dia berada di tempat itu.

Dan ternyata kedua orang bisu itu benar-benar amat setia dan terlatih sekali.

Tanpa menimbulkan kecurigaan kereta itu mereka hentikan di bawah pohon siong yang rindang.

Sambil turun dari kereta dan seolah-olah memeriksa kendali kudanya, kedua orang bisu itu memberi kesempatan kepada Liu Wan dan Tio Ciu In untuk naik ke dalam kereta secara diam-diam.

Setelah yakin majikan mereka telah berada di dalam kereta, Lo Kang dan Lo Hai lalu berpura-pura pula memeriksa roda-roda keretanya.

"Lo Kang... Lo Hai, berilah aku waktu barang sekejap! Aku dan Nona Tio akan berdandan dulu... sebagai Cia-Wangwe."

Liu Wan berpesan kepada pembantunya.

"Ah... bagaimana... bagaimana aku harus berdandan? Aku belum pernah melihat wajah bini muda Cia-Wangwe."

Ciu In bertanya dengan air muka kemerah-merahan.

Ternyata Liu Wan menjadi kikuk juga.

Pemuda yang sebenarnya sudah amat terbiasa berhubungan dengan wanita itu kini ternyata bisa menjadi salah tingkah pula menghadapi gadis ayu seperti Ciu In.

"Ciu-moi, aku... eh... Kalau boleh... anu... biarlah aku merias dan memoles sedikit wajahmu, agar mirip dengan bini muda Cia-Wangwe. Tentang bentuk badan dan pakaiannya, kau nanti tinggal memberi ganjal sedikit pada dada dan perut, kemudian menutupnya dengan pakaian mewah yang telah kusediakan. kau akan kelihatan agak gemuk dan pendek."

Dengan nada gemetar pemuda itu memberikan keterangan.

Seketika kulit yang putih halus itu menjadi merah seperti udang direbus.

Kalau mukanya dirias, hal itu berarti membiarkan jari-jari tangan pemuda itu memegang dan mengusap-usap wajahnya.

Untuk sesaat lamanya Tio Ciu In tak bisa menjawab atau bersuara.

Hatinya menjadi bimbang dan bingung luar biasa.

Namun ketika kemudian terbayang wajah adiknya yang ia kasihi, hatinyapun lalu menjadi bulat.

Biarlah dirinya berkorban sedikit demi keselamatan adiknya.

"Ba-baiklah..."

Katanya kemudian dengan suara seret hampir-hampir tak terdengar.

Tampaknya Liu Wan tahu juga bahwa sebenarnya Tio Ciu In agak merasa keberatan dirias wajahnya.

Oleh karena itu dengan cepat, bahkan dengan kesan tergesa-gesa tangannya yang trampil itu merias wajah Cui In.

Meskipun demikian ketika jari-jarinya menyentuh dagu Cui In yang mungil itu, keringat dingin tiba-tiba seperti membanjiri tubuhnya.

Apalagi ketika mata yang bulat berpendar-pendar indah itu untuk sesaat menatap dirinya, kontan jari-jarinya menjadi gemetar sehingga alat riasnya nyaris jatuh dari tangannya.

Ternyata kegugupan Liu Wan itu sedikit banyak menular juga kepada Ciu In.

Ketika ujung-ujung jari Liu Wan yang penuh bedak itu menyentuh dan mengusap pipinya, tiba-tiba Ciu In merasa jantungnya berhenti berdetak.

Kaki dan tangannya terasa dingin sekali.

Apalagi ketika hembusan napas pemuda itu menerpa wajahnya, mendadak tubuhnya seperti gemetaran dan seakan mau melayang ke udara.

"Se-selesai... Ciu-moi, kau... Kau sekarang boleh mengenakan baju luar yang mewah ini. kau... Kau tak perlu berganti pakaian."

Akhirnya Liu Wan dapat juga menyelesaikan tugasnya.

Kemudian sementara Tio Ciu In menyelesaikan sendiri dandanannya, Liu Wan juga memolesi wajahnya agar sesuai dengan wajah Cia-Wangwe.

Begitu mahirnya pemuda itu menyamar sehingga sebentar saja wajahnya telah berubah menjadi gemuk dan tua seperti halnya Cia-Wangwe.

"Nah, kita sekarang telah menjadi Cia-Wangwe suami-isteri."

Pemuda itu berkelakar. Lalu serunya kepada Lo Kang dan Lo Hai di luar.

"Lo Kang... Lo Hai, sekarang kita pergi ke Kuil Pek-hok-bio."

Tio Ciu In berdebar-debar juga hatinya.

Baru sekarang ini dia memperoleh pengalaman yang mendebarkan, namun juga mengasyikkan pula.

Otomatis perasaannya menjadi tegang, takut kalau penyamarannya tidak berhasil dan diketahui oleh lawannya.

"Jangan takut! Tenang-tenang saja. Paling-paling kita berkelahi, bukan? Apakah kau takut berkelahi?"

Liu Wan yang merasakan ketegangan Ciu In mencoba mengendorkannya. Dan ucapan Liu Wan itu memang mengenai sasarannya. Semangat dan keberanian Ciu In seperti terungkat kembali.

"Huh, mengapa mesti takut? Tadipun aku sudah mengajak Twako untuk menggebrak sarang mereka dari pintu depan!"

Kata gadis ayu itu panas, Liu Wan tertawa perlahan. Tapi suaranya segera terhenti ketika pintu jendela kereta itu diketuk dari luar.

"Ada apa Lo Kang... Lo Hai?"

Pemuda itu membuka jendela kereta seraya bertanya kepada pembantu-pembantunya.

Kedua orang bisu itu tak memberi jawaban, hanya tangan Lo Kang yang menyodorkan sesobek kain putih bertuliskan huhuf-huruf yang panjang.

Liu Wan cepat menyambar sobekan kain tersebut dan membaca huruf-hurufnya Kalau Penjaga menanyakan undangan, sebutkan saja sebuah angka ganjil.

"Ada apa, Twako? Apa yang ditulis di situ?"

Tio Ciu In mendesak. Liu Wan menghela napas panjang sambil tersenyum gembira. Sobekan kain itu dia perlihatkan kepada Tio Ciu In.

"Kode rahasia mereka. Nanti kalau penjaga pintu menanyakan undangan, kita harus menjawab dengan angka ganjil."

Pemuda itu menerangkan.

"Ah, sungguh teliti juga mereka..."

Tio Ciu In berdesah.

Akhirnya kereta itu membelok ke kiri dan memasuki halaman depan Kuil Pek hok-bio.

Sepuluh orang anggota Pek-hok-bio segera berjajar menghalangi kereta.

Mereka tidak kalah garang dengan orang-orang yang datang di rumah Liu Wan sore tadi, semua memegang golok.

"Berhenti! Apakah Tuan membawa undangan?"

Salah seorang di antara mereka berseru. Liu Wan yang sudah menyamar sebagai Cia-Wangwe itu melongokkan kepalanya keluar jendela.

"Kami mendapat... Lima buah undangan!"

Jawabnya mantap.

"Oooh, Cia-Wangwe rupanya! Silakan! Silakan...!"

Orang itu berseru lagi, namun dengan suara yang lebih ramah.

Dengan tenang Lo Kang dan Lo Hai membawa kereta tersebut ke depan pendapa.

Diam-diam mata mereka melirik kesana-kemari ketika Liu Wan dan Tio Ciu In turun dari kereta dan melangkah menaiki tangga pendapa itu.

Belasan orang penjaga tampak, berdiri berderet-deret di kanan kiri pintu masuk.

Dan seorang pendeta berjubah kuning berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan para undangan.

"Nah... Ini dia Cia-Wangwe! Silakan masuk! Kami kira Cia-Wangwe berhalangan datang..."

Pendeta itu menyambut kedatangan Liu Wan.

Liu Wan tidak menjawab.

Pemuda itu hanya tersenyum sambil membungkukkan badannya untuk membalas penghormatan Tuan rumah, sementara Tio Ciu In dengan hati berdebar-debar mengikuti saja langkah Liu Wan.

Mereka segara diantar ke tempat pertemuan, di mana para undangan yang lain telah duduk berkumpul mengelilingi sebuah panggung kecil yang dihiasi dengan kertas dan bunga-bungaan yang indah dan meriah.

Sekejap wajah Tio Siau In menjadi tegang.

Matanya yang lebar indah itu.

menatap tajam ke arah panggung.

Ia ingin mencari di mana adiknya itu ditempatkan.

Demikian tegangnya sehingga ia tak sempat membalas anggukan kepala atau sapaan ramah dari tamu-tamu yang lain.

Gadis itu baru sadar ketika Liu Wan meremas pergelangan tangannya.

"Sabar sedikit, Ciu-moi. Ia baru dikeluarkan pada, upacara puncak nanti."

Pemuda itu berbisik halus seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ciu In.

Untunglah Liu Wan dan Tio Ciu In datang terlambat, sehingga perhatian semua orang tertuju ke arah panggung, di mana upacara keagamaan memang telah dimulai sejak tadi.

Delapan orang pendeta dengan jubah beraneka-warna tampak memimpin upacara di atas panggung, sementara dua orang di antara mereka tampak berdiri diam di tengah-tengah panggung.

Yang seorang bertubuh tinggi kurus, berusia sekitar lima puluhan tahun, sedangkan yang seorang lagi berbadan besar tinggi seperti raksasa.

"Pendeta bertubuh tinggi besar itulah yang bernama So Gu Tai atau Sogudai."

Liu Wan membisiki Tio Ciu In.

"Dan... pendeta tinggi kurus, itu pemimpin Pek-hok-bio ini. Kepandaiannya sangat tinggi dan ginkangnya sangat bagus. Ilmu andalannya adalah Tiat-poh-san (Baju Besi), yang membuat ia kebal terhadap segala macam senjata tajam. Tanpa sinkang yang tinggi jangan harap bisa melukai tubuhnya yang kurus kering itu."

Tio Ciu in melirik ke arah Liu Wan.

Diam-diam hatinya merasa kagum terhadap pemuda itu.

Selain memiliki kepandaian yang bermacam-macam, pemuda itu juga mempunyai pengetahuan yang luas pula di dalam dunia persilatan.

"Gurunya yang tak mau dikenal orang itu tentu seorang tokoh persilatan yang amat tersohor di masa lalu."

Gadis itu berkata di dalam hatinya.

Tiba-tiba terdengar suara pujaan yang menggelegar memenuhi ruang pertemuan itu, sehingga suara doa yang diucapkan secara berbareng oleh pendeta-pendeta tersebut seperti hilang atau tertindih oleh getaran suara itu.

Para undangan yang berada di tempat itu segera berdiri sambil mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, semuanya lalu mengikuti kata-kata yang diucapkan oleh suara yang menggelegar itu.

Liu Wan dan Tio In terpaksa mengikuti pula apa yang mereka lakukan.

Suara yang menggelegar itu seperti meletup dari mana-mana, sehingga Ciu In tidak bisa mencari siapa yang telah mengeluarkan.

suara tersebut.

Gadis itu baru mengerti ketika Liu Wan.

memberitahukannya...

"Suara itu dikeluarkan oleh So Gu Tai dengan ilmu Sai-cu Ho-kangnya (Auman Singa). Lwekangnya memang sangat tinggi. Hmmh, mari kita tunggu! Sebentar lagi upacara puncak, yaitu upacara Korban untuk Dewa Matahari dan Bulan, akan dimulai."

Diam-diam Tio Ciu In bergetar juga hatinya, orang yang bernama So Gu Tai itu ternyata memiliki tenaga dalam yang begitu hebat.

Terus terang kalau diperbandingkan dengan orang itu, dirinya masih kalah jauh.

Oleh karena itu hatinya semakin kagum kepada Liu Wan yang bisa mengalahkan orang itu.

Ketika Tio Ciu In memandang ke arah panggung kembali, tiba-tiba secara tak sengaja matanya melihat sesuatu yang mencurigakan pada seorang tamu undangan.

Orang itu berdiri tak jauh di depannya, seorang laki-laki bongkok dengan rambut dan jenggot yang penuh uban.

Tadi secara tak sengaja Tio Ciu In melihat orang tua itu membetulkan letak punggungnya yang menonjol itu.

Sekejap Tio Ciu In tak habis mengerti, mengapa punggung yang bongkok itu bisa melenceng ke kanan dan ke kiri sehingga perlu dibetulkan kembali.

Namun di lain saat gadis itu menjadi berdebar-debar hatinya.

Jangan-jangan orang itu juga sedang menyamar seperti dirinya.

Tapi sebelum ia mengatakan kecurigaannya itu kepada Liu Wan, sekonyong-konyong lampu di ruangan tersebut padam.

Dan gantinya lilin-lilin besar yang telah disiapkan di atas panggung itu kemudian dinyalakan oleh para pendeta tadi.

Sementara itu penjagaan di sekitar ruangan dan gedung tempat pertemuan itu semakin diperkuat lagi.

Puluhan orang penjaga tampak berpagar betis mengelilingi setiap tempat yang dirasa berbahaya.

Bahkan pintu halaman juga telah ditutup, sedangkan para anggota Pek-hok-bio yang garang-garang itu kelihatan meronda di seluruh halaman.

Malam semakin terasa dingin.

Bulan penuh yang sejak sore tadi selalu terbungkus, awan, mendadak muncul pula di atas langit.

Dan seperti mendapat aba-aba, tiba-tiba anginpun lalu bertiup pula dengan derasnya.

"Ah, tampaknya Dewi Bulan benar-benar menerima persembahan kita kali ini...!"

Salah, seorang anggota Pek-bok-bio yang bertugas di halaman depan itu berkata kepada kawannya.

"Yah, sungguh mengherankan, bersamaan dengan akan dimulainya upacara Korban ini,"

Tiba-tiba-rembulan muncul dari peraduannya. Dewa angin seakan-akan menjadi ikut bergembira pula."

Temannya menyahut dengan suara bersungguh-sungguh.

"Hemmm, tetapi omong kosong... Malam ini rasanya hatiku seperti tidak tenteram. Sedari tadi perasaanku selalu berdebar-debar saja. Jangan-jangan..."

Yang seorang lagi tiba-tiba menyela.

"Ah, kau ini...!"

Tampaknya kekalahanmu dalam memainkan Barongsai di pendapa kabupaten tadi masih membekas di hatimu, sehingga kau masih dilanda kekhawatiran saja sampai sekarang!"

Orang yang pertama tadi berkata kesal karena kegembiraannya seperti diganggu oleh temannya tersebut.

"Benar! kau tampaknya memang masih terpengaruh, oleh kekalahanmu tadi. Sudahlah, jelek-jelek kau dan Pang Un masih mendapatkan nomer dua. kau masih lebih unggul daripada pemain Hek-to-pai itu."

Orang yang ke dua tadi juga ikut menghibur pula.

"Ah, bukan hal itu yang membuat hatiku tidak tenteram, Kekalahanku tadi memang wajar. Pemain barongsai dari Ui-thian-cung itu memang cerdik dan lihai, sehingga aku dan Pang Un selalu dibuat mati langkah."

Anggota Pek-hok-bio yang selalu berdebaran hatinya itu membela diri.

"Lalu... apa yang kau khawatirkan? Apakah kau mempunyai pikiran bahwa malam ini akan ada orang yang berani datang ke mari untuk mengacaukan jalannya upacara kita? Hehehehe, kau jangan terlalu bodoh. Siapa yang akan berani memasuki sarang macan seperti ini?"

"Bukan! Bukan itu! upacara ini...?"

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pemain barongsai Pek-hok-bio itu menolak tuduhan teman-temannya, tapi untuk menerangkan kekhawatirannya itu ternyata mulutnya mengalami kesulitan.

"Sudahlah...! Tampaknya kau hanya merasa tegang karena upacara korban seperti ini memang baru sekali ini kita selenggarakan. Mungkin kau juga terpengaruh atau terlalu memikirkan gadis manis yang hendak kita korbankan itu, hehehe...!"

Orang ke dua tadi segera menengahi perselisihan kecil itu.

"Ayoh, kita meronda lagi...!"

Para anggota Pek-hok-bio yang lain segera berseru pula.

Demikianlah para anggota Pek-hok-bio yang bertugas mengawasi halaman itu lalu menyebar kembali.

Dengan kewaspadaan tinggi mereka mengawasi seluruh halaman kuil mereka.

upacara yang sedang mereka selenggarakan sekarang ini adalah upacara khusus yang tidak boleh diketahui oleh orang luar, karena itu tak seorangpun diperbolehkan masuk selain anggota-anggota kehormatan.

Ternyata tidak cuma para penjaga kuil saja yang menjadi tegang, tapi tamu-tamu undangan yang berada di dalam ruang pertemuanpun menjadi tegang pula hatinya ketika gadis yang akan dikorbankan itu telah dikeluarkan dari tempat penyimpanannya.

Tak terkecuali Tio Ciu In dan Liu Wan!

Bahkan pemuda itu sampai harus memegang lengan Ciu In agar tidak bertindak sembrono.

Hampir-hampir semua mata tak berkedip memandang ke arah altar yang ada di tengah-tengah panggung di mana gadis itu dibaringkan.

Seperti terkena pengaruh sihir, gadis itu sama sekali tak bergerak atau bersuara.

Meskipun pelupuk matanya itu terbuka lebar, namun sama sekali matanya tak bereaksi melihat kerumunan orang di sekitarnya.

Liu Wan menggamit lengan Tio Ciu In.

"Bagaimana...? Apakah gadis itu benar Adikmu?"

Bisiknya perlahan. Tio Ciu In mengusap keringat yang mengalir di lehernya.

"Aku... aku agak sangsi, Twako. Potongan tubuhnya memang seperti Siau In, adikku, tapi... tapi wajahnya rasanya seperti bukan. Aku belum bisa melihatnya dengan jelas. Twako, mari... Marilah kita mendekat saja!"

Jawabnya kemudian dengan suara seperti tercekik karena ketegangan hatinya.

Liu Wan ingin mencegah, tapi Tio Ciu In sudah terlanjur melangkah ke depan.

Dan pada saat yang sama orang tua bongkok di depan Tio Ciu In tadi juga bergeser, ke arah panggung pula, sehingga Tio Ciu ln seperti sedang membuntutinya.

Tentu saja Liu Wan juga takkan membiarkan Tio Ciu In menempuh bahaya sendirian.

Dialah yang tadi mengajak gadis itu ke mari.

Apalagi di tempat tersebut dia sebagai Cia-Wangwe memang seharusnya selalu mendampingi isterinya kemana ia pergi.

Oleh karena itu dengan agak tergesa namun juga jangan sampai menimbulkan kecurigaan Liu Wan mengikuti langkah Tio Ciu In dari belakang.

Sementara itu di atas panggung, upacara benar-benar telah mencapai puncaknya.

Dengan diikuti suara-suara pujian yang ditujukan kepada Dewi Bulan dan Matahari, Ketua Kuil Pek-hok-bio yang tinggi kurus itu mulai mencopoti pakaian yang dikenakan oleh gadis korban mereka.

Dan bersamaan itu pula sebagian dari atap genteng yang menaungi ruangan tersebut dibuka oleh petugas Pek-hok-bio,.

sehingga sinar bulan yang putih pucat itu segera menerobos ke dalam, persis diatas altar dimana korban itu tergeletak...

Suasana semakin mencekam.

Di dalam keremangan sinar lilin yang bergoyang-goyang, cahaya bulan yang menerobos genting itu bagaikan tebaran jala yang mengurung altar tempat gadis korban itu berbaring.

Semuanya diam terpaku di tempat masing-masing.

Hanya para pendeta itu saja yang masih tetap melantunkan doa-doa pujaannya.

Ketua Kuil Pek-hok-bio telah selesai mencopoti pakaian gadis korbannya.

Tubuh mulus itu tampak gilang gemilang ditimpa sinar bulan.

Dan gadis itu sendiri tetap seperti semula Diam, pasrah, dengan tatapan mata yang dingin kaku seolah tak bernyawa.

Ketika ketua Kuil Pek-hok-bio itu kemudian mencabut pisau belati dari pinggangnya dan siap untuk dihujamkan ke jantung gadis itu, sekonyong-konyong berkelebat sebuah bayangan dari bawah panggung, yang kemudian ternyata diikuti pula oleh sebuah bayangan lainnya.

(Lanjut ke

Jilid 07) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 07

"Tahaan"

Bayangan pertama yang tidak lain adalah orang tua bongkok tadi berteriak seraya menyerang punggung Ketua Kuil Pek-hok-bio.

"Hentikan...!"

Bayangan ke dua yang tidak lain adalah bayangan Tio Ciu In berseru pula seraya menerjang ke arah altar.

Semua orang terkejut, kejadian itu benar-benar di luar dugaan.

Tak seorangpun berpikir bahwa tempat yang terjaga kuat dan rapi itu akan bisa kemasukan perusuh dari luar.

Demikian pula halnya dengan para pimpinan, pendeta dan para anggota Kuil Pek-hok-bio itu.

Namun semua telah terjadi, dua orang tamu undangan telah meloncat menyerang ke arah panggung.

Dan penyerang itu ternyata sangat dikenal.

Oleh para anggota Kuil Pek-hok-bio tersebut, karena mereka adalah Gu Lam si Kakek Penjaga Kamar Buku dan Nyonya Cia anggota kehormatan Kuil Pek-hok-bio sendiri.

"Gu Lam! Apa yang kau lakukan?"

Ketua Kuil Pek-hok-bio yang kurus kering itu membentak sambil mengelak ke samping.

"Cia Hu-jin (Nyonya Cia), tahaaaaaan...!"

Para pendeta yang mengelilingi altar itu berteriak seraya menghadang langkah Tio Ciu In.

Melihat serangan tangannya gagal, kakek bongkok itu segera berputar pula ke samping untuk mengejar lawannya, tapi dua orang pendeta berjubah merah itu telah memotong langkahnya.

Bahkan kedua orang itu telah menyabetkan dua pasang ujung lengan baju atau jubah mereka yang panjang ke arah dada dan kepalanya.

Begitu kuat tenaga dalam yang mereka pergunakan sehingga angin pukulannya telah lebih dulu datang daripada ujung lengan bajunya.

"Gu Lam! Apakah kau sudah gila, menyerang Ketua sendiri?"

Sambil menyerang salah seorang dari pendeta itu menghardik.

"Wuuuuus! Wuuuuus!"

"Plak! Plak!"

Kakek bongkok itu tidak berusaha untuk mengelak, sebaliknya ia mengerahkan tenaga ke lengannya untuk menangkis serangan tersebut.

Dan akibatnya sungguh di luar dugaan masing-masing.

Kedua pendeta berjubah merah, itu merupakan tokoh tingkat dua di Kuil Pek-hok-bio dan merupakan orang-orang ke dua setelah ketuanya.

Sedangkan Gu Lam hanyalah penjaga Kamar Buku.

Maka tidaklah aneh kalau kedua pendeta berjubah merah tersebut tidak bersungguh-sungguh dalam serangan mereka.

Mereka hanya mengerahkan separuh bagian dari tenaga dalam mereka dan semua itu sudah lebih dari cukup untuk menghentikan amukan Gu Lam.

-Dan ke duanya yakin betul akan hal itu.

Akan tetapi hasilnya sungguh mengejutkan!

Bukannya Gu Lam yang jatuh tunggang langgang akibat bentrokan kekuatan itu, tapi sebaliknya justru mereka berdualah yang terdorong ke belakang dengan kuatnya!

Untunglah dalam kekagetan mereka, mereka masih bisa bertahan untuk tidak jatuh terjengkang ke atas panggung, sehingga untuk sementara mereka masih dapat menyelamatkan diri dari rasa malu yang lebih besar!

Tentu saja kedua pendeta itu menjadi marah bukan main.

Wajah mereka menjadi merah padam saking malu dan gusarnya.

Namun ketika mereka berdua sudah bersiap sedia untuk menghukum Kakek Gu Lam, tiba-tiba mereka terbelalak!

Kakek penjaga kamar buku itu kini telah berubah bentuk maupun wajahnya!

Kakek bongkok itu kini dapat berdiri dengan tegap.

Sebuah bantal kecil yang dipakai untuk mengganjal punggungnya tadi tampak tergeletak di bawah kakinya.

Wajahnya yang berjenggot dan berkeriput tadi kini kelihatan bersih dan gagah.

Ternyata getaran udara yang diakibatkan oleh bentrokan tenaga tadi telah merontokkan tempelan-tempelan bedak kering yang dipakai untuk menyamar sebagai Gu Lam.

Sementara itu nasib Tio Ciu In ternyata juga tidak jauh bedanya dengan Gu Lam palsu!

Di dalam ketergesaannya tadi ternyata Ciu In juga telah melupakan pula penyamarannya sendiri.

Ketika empat orang pendeta yang berada di sekeliling altar tadi mencegatnya, ia tidak peduli.

Ciu In nekad saja menjenguk ke arah altar untuk melihat gadis korban itu.

Gadis itu hanya mengelak saja secara reflek ketika dua orang di antara pendeta itu mendorongnya.

Akibatnya dorongan itu mengenai bantal yang mengganjal perut dan dadanya, sehingga bantal itu tersembul ke luar dari tempatnya.

Tentu saja bentuk tubuhnya menjadi lucu dan aneh!

"Hah, kau bukan Cia Hu-jin!"

Kedua pendeta itu segera berteriak.

"Hei? Siapa kau...?"

Dua orang pendeta berjubah merah itu juga berteriak pula ke arah Gu Lam palsu.

Kejadian yang tak tersangka-sangka itu segera merubah suasana yang semuIa tenang dan serius itu menjadi ribut dan panik.

Para tamu yang rata-rata tak mengerti ilmu-ilmu silat itu menjadi ketakutan.

Mereka menyangka kuil itu telah kedatangan musuh atau pasukan keamanan kota.

Mereka segera berlarian ke arah pintu, sehingga tak ayal lagi mereka saling bertubrukan dan berdesak-desakan.

Jerit dan tangis para tamu wanita tak dapat dicegah lagi.

Namun keributan itu sama sekali tak mempengaruhi keadaan di atas panggung.

Lelaki yang menyamar sebagai Gu Lam palsu dan masih tetap berhadapan dengan pendeta berjubah merah.

Lelaki yang masih amat muda itu tidak segera menjawab pertanyaan lawan-lawannya.

Matanya yang tajam itu justru melirik ke arah Tio Ciu In yang juga kedodoran penyamarannya.

Sekilas dahinya yang lebar itu berkerut, agaknya ia merasa kaget atau heran karena ada orang lain yang sedang menyamar pula seperti dirinya...

Ada terbersit keinginannya untuk mengetahui siapa gadis itu, tapi kedua lawannya tak memberi kesempatan kepadanya.

Melihat perusuh yang menyaru sebagai Gu Lam palsu itu tidak mempedulikan pertanyaan mereka, kedua pendeta berjubah merah itu menjadi marah bukan buatan.

Berbareng mereka menerjang dari kanan dan kiri, masing-masing tetap mempergunakan ujung lengan baju mereka yang lebar itu sebagai senjata.

"Whuuus! Whus! Whuuuss!"

Hembusan angin yang amat kuat segera mengurung Gu Lam palsu.

Begitu kuatnya sehingga anak muda itu tidak berani lagi adu kekuatan seperti tadi.

Dan untuk menyelamatkan diri dari kurungan tersebut, pemuda itu cepat merendahkan tubuh serendah-rendahnya, kemudian bergeser mundur mengikuti hembusan angin pukulan lawannya.

Sesaat dua pendeta berjubah merah itu terkesiap melihat gerakan anak muda tersebut.

Gerakan yang dilakukan oleh anak muda itu terang sangat sulit dan merupakan bagian dari sebuah jurus ilmu silat yang sangat tinggi.

Kelihatannya memang sederhana, tapi tanpa dasar dan perhitungan yang matang tak mungkin gerakan tersebut bisa dilaksanakan dengan mulus.

Jelas bagi kita sekarang, pemuda itu memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Cuma mereka berdua tidak tahu, dari aliran atau perguruan mana lawan mereka tersebut berasal.

Yang terang mereka berdua harus berhati-hati.

Sementara itu di dekat mereka Tio Ciu In juga sedang menghadapi empat orang pendeta berjubah kuning tingkat tiga di kuil Pek-hok-bio itu.

Karena penyamarannya sudah terlanjur kedodoran, maka Tio Ciu In juga tak ingin direpotkan oleh dandanannya lagi.

Baju luar, sanggul, ganjal perut dan tempelan-tempelan bedak yang menutup sebagian wajahnya segera dibuangnya.

Melihat lawan mereka sekarang berubah menjadi gadis yang lebih cantik lagi, empat pendeta berjubah kuning itu terkejut.

Apalagi ketika mereka lihat gadis itu masih sangat muda sekali.

"Kau... Kau siapa? Mengapa kau mengacau upacara kami? dalam gugupnya salah seorang dari pendeta itu berseru. Seperti halnya dengan Gu Lam palsu, sikap Tio Ciu In sekarang juga tidak setegang tadi. Kenyataan bahwa gadis yang terbaring di atas altar itu bukan adiknya membuat hati Tio Ciu In menjadi tenang kembali. Namun demikian Tio Ciu In tetap bertekad untuk menolong gadis itu. Gadis yang tak berdosa itu harus diselamatkan.

"Jangan kalian ributkan aku ini siapa! Lebih baik kalian melepaskan gadis yang tak berdosa itu!"

"Kurang ajar! kau bocah kecil ini memang sudah bosan hidup! Pergi...!"

Pendeta itu tersinggung dan berteriak gusar.

Tanpa basa-basi lagi keempat pendeta berjubah kuning itu lalu menyerang Tio Ciu In.

Seperti teman-teman mereka yang berjubah merah, merekapun mempergunakan lengan baju mereka yang lebar dan panjang itu untuk senjata.

Bagaikan gumpalan awan yang bertebaran di udara, lengan baju mereka bergulung-gulung menimpa ke arah dada Tio Ciu In.

Begitu dahsyatnya tenaga yang mereka kerahkan sehingga Tio Ciu In merasa seperti ada ratusan batu besar yang hendak menimpanya.

Dan kali ini Tio Ciu In tidak mau sembrono lagi seperti tadi.

Dengan tangkas kedua tangannya mencabut pedang pendek yang terselip di lengannya.

"Srrrt! Srrrt...!"

Pedang itu lalu diputarnya dengan kencang mengelilingi tubuhnya, sehingga lawan-lawannya terpaksa menarik kembali serangan mereka agar tidak terpotong oleh sabetan pedang tersebut.

Tapi para pendeta itu juga tak ingin melepaskan Tio Ciu In.

Untuk menanggulangi pedang tesebut mereka terpaksa mengeluarkan senjata pula, yaitu kebutan lalat yang gagangnya terbuat dari besi dan bulu kebutannya dari ekor kuda pilihan.

Dengan bulu kebutan tersebut para pendeta itu ingin merampas pedang pendek Tio Ciu In.

Demikianlah pertempuran serupun tak bisa dielakkan lagi, sehingga panggung yang sempit itu menjadi terlalu sesak untuk pertempuran dua arena tersebut.

Terpaksa dalam sebuah kesempatan Tio Ciu In meloncat turun ke bawah panggung.

Tentu saja lawan-lawannya tak ingin kehilangan dirinya.

Mereka melayang turun pula mengejar dia.

Sambil melayani kurungan lawannya Tio Ciu In mencuri lihat ke sekelilingnya, ke ruang kosong yang telah ditinggalkan tamu-tamunya.

Gadis itu hanya melihat belasan penjaga atau anggota Kuil Pek-hok-bio di tempat itu.

Mereka bersiaga penuh dengan senjata masing-masing mengurung ruangan tersebut.

Tapi ia tak melihat Liu Wan di antara mereka.

Kemanakah sebenarnya pemuda lihai itu?

Ternyata apa yang dilakukan oleh Liu Wan juga tidak kalah sibuknya dengan Tio Ciu In maupun Gu Lam palsu.

Pemuda itu sekarang sedang bertempur pula dengan hebatnya melawan So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio di atas genting.

Jauh lebih dahsyat dan lebih seru dari pada pertempuran di dalam ruangan tersebut.

Tadi ketika seluruh perhatian orang tertuju ke arah keributan di atas panggung, diam-diam Liu Wan melihat musuh lamanya, So Gu Tai bersama Ketua Kuil Pek-hok-bio berusaha meloloskan diri melalui lobang genting yang terbuka.

Tentu saja pemuda itu tak mau melepaskannya.

Dengan tangkas ia mengejar mereka.

Untuk beberapa saat kedua tokoh Pek-hok-bio itu menjadi bingung melihat Cia-Wangwe yang telah mereka kenal itu bisa melompat ke atas genting mengejar mereka.

Tetapi setelah Liu Wan tertawa dan mengejek tingkah laku mereka, So Gu Tai segera mengenalnya.

"Bun-bu Siucai (Pelajar Serba Bisa), mengapa kau selalu saja mengejar-ngejar aku? Apa salahku kepadamu?"

Peranakan suku bangsa Monggol dan Hun itu bertanya jeri.

"Saudara So, siapakah yang menyamar seperti Cia-Wangwe ini?"

Ketua Pek-hok-bio bertanya kepada So Gu Tai.

"Dialah pemuda yang kuceritakan dulu. Namanya Liu Wan, digelari orang si Pelajar Serba Bisa karena dia pandai ilmu silat, ilmu sastra, ilmu-ilmu pengobatan, melukis dan menyamar"

"Oooh!"

Ketua Kuil Pek-hok-bio yang kurus kering itu terkejut.

"Benar, hahaha...! Kalian tak menyangka, bukan? Akupun tak menyangka pula bahwa tokoh-tokoh terhormat seperti kalian berdua ini bisa berubah menjadi pengecut yang meninggalkan anak buahnya untuk menyelamatkan dirinya sendiri!"

Liu Wan tertawa mengejek sambil melepaskan alat-alat penyamarannya.

"Bangsat! kau benar-benar sombong! kau kira aku takut mendengar namamu, hah?"

Ketua Kuil Pek-hok-bio itu tersinggung dan menjerit berang. Selesai mencopoti semua alat yang ia pakai untuk menyamar, Liu Wan bertolak pinggang.

"Hehehe, kalau kau memang tidak takut... Mengapa kau harus melarikan diri?"

"Kurang ajar! Bocah bermulut lancangi Lihat kebutanku...!"

Sambil berteriak marah Ketua Kuil Pek-hok-bio itu mengeluarkan kebutan dan menyerang Liu Wan.

Bulu kebutan yang lemas itu mendadak menjadi kaku seperti sikat baja dan menusuk ke ulu hati.

Tapi dengan lincah Liu Wan menggeliat ke samping, kemudian balas menyerang dengan tusukan jari tangannya.

"Cuuuus!"

Jari itu melesat ke arah ketiak lawannya.

Ketua Pek-hok-bio semakin gusar.

Kebutan yang gagal mengenai lawannya itu ia tarik ke atas, kemudian ia sabetkan mendatar mengarah ke kepala Liu Wan.

Dan kali ini bulu kebutan itu telah berubah menjadi lemas kembali seperti cambuk.

"Taaaaar!"

Bulu kebutan itu melecut udara kosong, karena Liu Wan telah lebih dulu menundukkan tubuhnya.

Bahkan sambil menundukkan tubuhnya pemuda itu masih sempat membalas pula, siku kanannya terayun menghajar lutut lawannya.

Dengan tergesa-gesa Ketua Kuil Pek-hok-bio itu membuang tubuhnya ke belakang!

"Praaak!"

Dua buah genting hancur terijak kakinya. Dan tubuh yang kurus kering itu terguling ke kiri hampir jatuh. Untunglah So Gu Tai cepat menyambar ujung jubahnya.

"Bedebah! kau memang harus dibunuh!"

Untuk menutupi perasaan malunya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu mengumpat-umpat.

"Sudahlah! Mari kita lawan bersama-sama!"

Akhirnya So Gu Tai yang lihai itu menawarkan diri.

"Baik! Marilah...!"

Ternyata Ketua Kuil Pek-hok-bio itu menyahut tanpa malu-malu lagi.

Namun sebelum pertempuran itu dilanjutkan kembali, tiba-tiba di halaman depan terdengar suara ribut-ribut pula.

So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio saling pandang dengan wajah kaget, lalu menatap Liu Wan dengan curiga.

"Kau membawa teman?"

So Gu Tai menggeram. Liu Wan tercengang. Tapi di lain saat bibirnya kembali tersenyum.

"Kau jangan mengada-ada! Bukankah itu suara para tamu yang lari ketakutan? kau jangan mencari-cari alasan untuk melarikan diri!"

Ejeknya pedas.

"Bangsat sombong...!"

Ketua Kuil Pek-hok-bio mengumpat. Tapi sebelum orang kurus kering itu melompat menerjang Liu Wan, mendadak dari bawah genting meloncat tiga orang berjubah kuning.

"Suhu! Kuil... Kuil kita diserbu gerombolan pengemis! Mereka telah masuk ke halaman!"

Dengan suara gugup mereka bertiga melapor kepada Ketua Kuil Pek hok-bio.

"Hah...? Gerombolan pengemis? Pengemis dari mana?"

So Gu Tai menyahut dengan suara geram.

"Tampaknya mereka dari perkumpulan Tiat-tung Kai-pang!"

"Tiat-tung Kai-pang?"

Ketua Kuil Pek-hok-bio berdesah cemas.

"Hmmh, kalau begitu... cepat kalian siapkan saudara-saudara kalian untuk menghadapi mereka! Sebentar lagi aku datang!"

Tak heran kalau Ketua Kuil Pek-hok-bio itu merasa cemas.

Perkumpulan Tiat-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Bertongkat Besi) memang sebuah perkumpulan yang amat disegani di daerah selatan.

Belasan tahun yang lalu ketika masih dipimpin oleh Tiat-tung Lokai, perkumpulan pengemis tersebut benar-benar mengalami kejayaannya.

Sedemikian kuat dan besar anggota mereka waktu itu sehingga perkumpulan mereka terpaksa dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah selatan dan utara aliran Sungai Yang-tse.

Daerah di sebelah selatan Sungai Yang-tse dipimpin oleh Tiat-tung Lokai, sedangkan di sebelah utara Sungai Yang-tse dipimpim oleh Tiat-tung Hong-kai (Pengemis Gila Bertongkat Besi).

Mereka berdua adalah saudara seperguruan.

Dan sekarang, meskipun perkumpulan itu tidak sebesar dan sekuat dulu lagi, namun sisa-sisa kebesarannya masih tetap melekat di hati kaum persilatan.

Begitu pendeta-pendeta berjubah kuning itu pergi, Ketua Kuil Pek-hok-bio kembali menghadapi Liu Wan.

"Huh! Ternyata kau bersekongkol dengan pengemis-pengemis busuk dari Tiat-tung Kai-pang!"

Liu Wan menjadi marah juga akhirnya.

"Kau jangan mencampur-adukkan urusanku dengan urusan Tiat-tung Kai-pang! Aku tidak mengenal mereka dan mereka juga tidak mengenal aku! Kalau kebetulan sekarang mereka datang ke sini bersamaan dengan kedatanganku, hal itu berarti bahwa kuilmu ini memang mempunyai banyak musuh!"

"Tutup mulutmu!"

Orang tua itu menjadi marah.

Demikianlah pertempuran tak bisa dielakkan lagi, Liu Wan dikeroyok Ketua Kuil Pek-hok-bio dan So Gu Tai.

Mereka bertempur di atas genting dengan ginkang mereka yang tinggi.

Di dalam cahaya bulan yang gilang gemilang tubuh mereka berkelebatan kesana-kemari bagaikan burung malam yang sedang berebut mangsa.

Ketua Kuil Pek-hok-bio tetap memegang kebutannya, sementara So Gu Tai telah mengeluarkan ruyungnya pula, tapi Liu Wan tetap mempergunakan tangan kosong untuk melayani mereka.

Meskipun demikian pemuda itu tidak tampak di bawah angin.

Malahan seringkali pemuda itu bisa menindih permainan senjata lawannya.

"Anak Setan! Anak Gila! Siapakah sebenarnya kau ini? Siapakah Gurumu?"

Karena kesalnya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu mengumpat-umpat tiada habisnya. Liu Wan tertawa lepas.

"Kau ingin mengetahui siapa aku dan siapa Guruku? Hahahaha, mudah sekali! Desaklah aku! Paksalah aku untuk mengeluarkan ilmu silatku yang sejati! Nanti kau akan mengenalnya...!"

"Baik! Hati-hatilah...!"

Ketua Kuil Pek-hok-bio itu lalu memberi tanda kepada So Gu Tai.

Bersama-sama mereka menerjang Liu Wan.

Sambil mengibaskan kebutannya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu menebarkan tepung kuning berbau wangi ke tubuh Liu Wan.

Dan serangan tersebut segera dibantu pula oleh So Gu Tai.

Raksasa Monggol itu menyabetkan ruyungnya ke bawah, sementara tangannya yang lain mengayunkan belasan batang paku kecil ke arah kepala, dada dan perut Liu Wan.

Tampaknya mereka berdua memang benar-benar ingin mendesak pemuda itu.

Serangan yang bertubi-tubi itu memang membuat Liu Wan kewalahan, tapi pemuda itu masih tetap bertahan untuk tidak mengeluarkan ilmu andalannya.

Dengan berjungkir balik sambil berkali-kali mengibaskan lengan bajunya, pemuda itu berusaha mengelak dan menyingkirkan paku-paku serta tepung beracun yang mengurung dirinya.

Tapi So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio sudah bertekad untuk memaksa Liu Wan mengeluarkan ilmu andalannya.

Belum juga pemuda itu mampu membebaskan dirinya, mereka telah menyusulkan pula serangan yang lain.

Bulu kebutan Ketua Kuil Pek-hok-bio itu tiba-tiba meledak ketika disabetkan dan sejumput bulu pada ujungnya mendadak putus, lalu menebar ke arah Liu Wan.

Sedangkan So Gu Tai dengan tenaga dalamnya yang kuat memutar-mutar ruyungnya sekuat tenaga.

Kini Liu Wan memang tidak memiliki kesempatan untuk mengelak lagi.

Dalam keadaan sibuk menghindari serangan paku dan taburan tepung wangi itu, dia tidak mungkin bisa mengelakkan dua serangan tersebut.

Apalagi putaran ruyung So Gu Tai itu benar-benar ganas luar biasa.

Dalam keadaan seperti itu Liu Wan memang dipaksa untuk mengeluarkan kesaktiannya.

Tanpa mempergunakan jurus-jurus silat tingkat tinggi tak mungkin seseorang dapat melepaskan diri dari hujan serangan seperti itu.

Dan hal itu memang dilakukan oleh Liu Wan!

Ketika akhirnya pemuda itu merasa tidak dapat menghindar lagi, tiba-tiba ia memutar tubuhnya seperti gasing.

Dan pada saat itu pula sekonyong-konyong dari telapak tangan Liu Wan meniup angin pusaran yang amat kuat, berputar seperti puting beliung, yang melanda dan melontarkan kembali semua benda yang kembali mendekati dirinya.

Begitu dahsyatnya hembusan angin yang keluar dari telapak tangan pemuda itu, sehingga tidak cuma paku, tepung wangi dan bulu kebutan saja yang terpental balik, tapi tubuh Ketua Pek-hok-bio dan So Gu Tai pun ikut terdorong mundur pula dengan kuatnya.

Bahkan tumpukan genting yang terinjak oleh.

pemuda itu turut tersibak dan terlempar kemana-mana.

Dan sebagian di antaranya jatuh ke bawah menimpa panggung upacara!

Semuanya terkejut.

Tidak terkecuali Gu Lam palsu yang masih bertempur seru melawan dua pendeta berjubah merah itu.

Pecahan-pecahan genting yang berjatuhan dari atas itu memaksa dia berjumpalitan ke arah altar untuk menyelamatkan gadis korban yang masih terbujur diam di tempat tersebut.

Sekali sambar pemuda itu berhasil menyingkirkan tubuh telanjang itu dari malapetaka.

Bergegas pemuda itu melepaskan baju luarnya dan mengenakannya pada tubuh gadis itu.

Kemudian dengan geram pemuda itu menatap ke atas panggung kembali.

Tapi kedua lawannya tadi telah menghilang.

Demikianlah pula halnya dengan anggota-anggota Pek-hok-bio lainnya.

Ruangan itu telah kosong.

Tinggal gadis yang menyamar sebagai Cia Hujin bersama lawan-lawannya saja yang masih berada di sana.

Pemuda yang menyamar sebagai Gu Lam itu menatap ke atas genting.

Ia tidak tahu siapa yang sedang berlaga di sana.

Namun mendengar deru angin dahyat yang menggetarkan bangunan gedung itu ia percaya tentu ada orang sakti di atas genting.

Tak terasa matanya menatap ke arah Tio Ciu In kembali.

"Tampaknya gadis itu juga membawa teman pula. Mungkin gurunya. Dia juga bermaksud menolong Li Cu. Eeem, siapakah dia...?"

Pemuda itu berkata di dalam hatinya. Pemuda itu lalu melangkah ke jendela dan melongok ke halaman. Di dalam cerahnya sinar rembulan ia melihat pertempuran yang kacau-balau di sana.

"Ah, teman-teman dari Tiat-tunig kai-pang benar-benar telah datang aku tinggal merawat dan mengurusi Li Cu saja sekarang."

Desisnya gembira.

Pemuda itu lalu kembali lagi ke dalam.

Sambil bersila di dekat gadis yang ditolongnya, pemuda itu memusatkan seluruh pikiran dan perasaannya.

Jari-jarinya yang telah terisi tenaga sakti itu lalu menotok dan mengurut beberapa jalan darah di tubuh gadis yang baru saja ditolongnya tersebut.

Peluh mengalir membasahi dahi dan lehernya, tapi pemuda itu tak mempedulikannya.

Tangannya terus sibuk mengurut di sana-sini.

Tubuh yang terpaku diam seperti patung itu tiba-tiba bergerak.

Mula-mula bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri, lalu kepalanya menoleh pula ke kanan dan ke kiri.

Demikian melihat pemuda yang duduk di dekatnya, gadis itu tiba-tiba bangkit dengan kaget.

Tak terduga tangannya melayang menampar pipi Gu Lam palsu beberapa kali.

"Plaak! Plaaak! Plaaak!"

Lalu dengan isak tertahan gadis itu melompat berdiri terus berlari meninggalkan tempat itu, namun begitu sadar bagian bawah tubuhnya tidak mengenakan apa-apa gadis itu segera mendekam kembali dengan tergesa-gesa.

Dan tangisnyapun segera meledak pula dengan hebatnya.

"Kau jelek...! kau jahat...! kau apakan aku tadi? Uhu-huuuuu...!"

Pemuda yang menyamar sebagai Gu-Lam palsu itu beringsut, namun tidak berani terlalu dekat. Dengan sedih ia memandang gadis yang sedang menangis itu. Tangannya mengusap-usap pipinya yang bengkak.

"Li Cu Sumoi...! Aku tidak berbuat apa-apa kepadamu. Percayalah. Aku tahu kau membenciku. Tapi apa daya, suheng telah mengutus aku untuk membawamu pulang. Maafkan aku..."

Tak terduga tangis perempuan itu malahan semakin menjadi-jadi.

"Bohong! kau bohong! kau tentu telah menculik aku! kau tidak bisa mendapatkan aku secara wajar, maka kau lalu menculik aku! Memperkosa aku! Huuuuu...!"

"Tidak, Sumoi... aku tidak serendah itu! Aku justru yang menolongmu dari cengkeraman pendeta-pendeta Pek-hok-bio ini! Lihatlah...! Pertempuran antara kawan-kawan kita kaum Kai-pang melawan penculikmu masih berlangsung!"

Gadis yang bernama Li Cu itu tersentak kaget.

"Kai-pang...? kau maksudkan perkumpulan Tiat-tung Kai-pang? Ada apa mereka itu di sini?"

Serunya tak percaya. Otomatis tangisnya berhenti dan tinggal sedu-sedan saja. Pemuda yang baru saja menyamar sebagai Gu Lam palsu itu menghela napas panjang.

"Sumoi, ketahuilah...! kau telah diculik oleh pendeta Kuil Pek-hok-bio ini untuk dikorbankan kepada Dewi Bulan. Untunglah aku dapat melacak jejakmu, sehingga dengan pertolongan kawan-kawan kita dari Tiat-tung Kai-pang aku bisa membebaskanmu. Lihatlah di luar, kawan-kawan kita masih bertempur melawan orang-orang Pek-hok-bio ini!"

Gadis itu memandang ke jendela sebentar, lalu menunduk kembali. Wajahnya yang cantik manis itu masih tampak marah dan kesal.

"Kau jangan melihat aku saja! Carikan kembali pakaianku!"

Bentaknya kaku.

"Eh... ba-baik, Sumoi!"

Dengan gugup pemuda itu menjawab, lalu berlari ke atas panggung untuk mencari pakaian sumoinya tadi.

Sekilas pemuda itu menoleh ke pertempuran yang masih berlangsung antara Tio Ciu In dan empat orang pengeroyoknya.

Dengan sepasang pedang pendeknya gadis itu menghadapi lawan-lawannya yang garang.

Pedangnya berkelebatan mengelilingi tubuhnya, seakan-akan sedang merangkai sebuah pagar besi yang menutup dan melindungi seluruh bagian tubuhnya.

Dan dalam waktu dan kesempatan yang tepat, pagar besi itu tiba-tiba terbuka untuk balas menyerang lawan-lawannya.

Permainan pedang gadis itu sangat rapi dan kuat, baik pada saat menyerang maupun bertahan.

Ilmu pedang gadis itu agak aneh.

Biasanya orang selalu mengandalkan kelincahan dan kecepatannya dalam bermain pedang, tapi gadis ini ternyata tidak demikian.

Dia justru selalu bertumpu pada kuda-kudanya yang kuat dan gerak pergelangan tangannya yang luwes.

Rasanya seperti tidak bermain pedang, tapi sedang menulis atau menggambar saja.

Gerakan-gerakan pedang Tio Ciu In memang sangat berlainan dengan gerakan ilmu pedang pada umumnya.

Selain tidak mengandalkan kecepatan maupun kelincahan gerak, permainan pedang Tio Ciu In juga tidak mengandalkan ketajaman mata pedang pula seperti halnya ilmu-ilmu pedang umumnya.

Ilmu pedang Hok-hong Kiam-hiat milik.

Tio Ciu In justru bertumpu pada kelihaian memainkan ujung pedangnya.

Dengan keluwesan serta ketrampilan pergelangan tangannya, ujung pedang pendek itu mampu menusuk, menoreh, mengungkit, mencongkel dan mengukir tubuh lawan, tanpa membutuhkan ancang-ancang.

Maka tidak mengherankan bila ke empat pendeta berjubah kuning itu menjadi kebingungan melayani Tio Ciu In.

Semula mereka berempat sangat berbesar hati karena merasa dengan kebutan mereka itu mereka akan segera bisa menundukkah ilmu pedang gadis tersebut.

Senjata kebutan yang bergagang pendek dengan juntai rambut panjang itu benar-benar sebuah senjata yang cocok untuk menundukkan pedang.

Ketajaman mata pedang takkan berguna menghadapi juntai rambut yang lemas.

Sebaliknya juntai rambut panjang itu akan dengan mudah membelit batang pedang dan merampasnya.

Akan tetapi permainan pedang Tio Ciu In yang aneh dan tidak umum itu ternyata sangat sulit untuk ditundukkan.

Bahkan sebaliknya mereka berempat sendirilah yang menjadi kelabakan melayani ilmu pedang gadis itu.

Padahal kalau diukur, kepandaian gadis itu terpaut banyak dengan mereka.

Gadis itu hanya menang sedikit bila dibandingkan dengan masing-masing dari mereka.

Tapi ilmu pedang aneh itulah yang membuat gadis itu sulit dihadapi.

Demikianlah, pertempuran antara Tio Ciu In dan empat orang pengeroyoknya semakin tampak seru dan menegangkan.

Untuk beberapa saat sulit untuk menentukan siapa yang lebih unggul.

Tio Ciu In sendiri sangat sukar memecahkan kepungan lawan-lawannya, tapi sebaliknya ke empat pendeta tersebut juga sulit menundukkan gadis yang masih muda belia itu.

Mungkin cuma daya tahan mereka berlimalah yang akan menentukan akhir dari pertempuran tersebut.

Sementara itu pecahan kayu dan genting yang berjatuhan dari atas semakin lama semakin banyak pula, sehingga atap ruangan itu lambat-laun tinggal kerangkanya saja.

Akibatnya orang yang sedang berlaga di atas genting itu lalu menjadi kelihatan dari bawah.

Tapi pertempuran mereka memang tinggal menunggu saat-saat akhir saja.

Setelah Liu Wan mengeluarkan kesaktiannya.

So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio itu sama sekali tak mampu melawan lagi.

Dengan ilmunya yang dahsyat, yang mampu menimbulkan gejolak angin pusaran yang amat kuat, pemuda itu sama sekali tak bisa didekati lagi.

Bahkan dengan pukulan-pukulan jarak jauhnya (pek-kong-ciang) yang ampuh, pemuda itu dapat membunuh lawan-lawannya setiap saat.

So Gu Tai menyadari bahaya tersebut.

Oleh karena itu pula, meskipun keadaannya sangat sulit, otaknya selalu mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari tempat itu.

Dan kesempatan itu akhirnya memang ia dapatkan!

Suatu saat ketika rekannya, si Ketua Kuil itu, tak mampu mengelak lagi dari sambaran pukulan Liu Wan, So Gu Tai pura-pura memberi pertolongan.

Tubuh kurus kering itu dipeluknya agar tidak terbanting ke bawah tapi bersamaan dengan saat itu tangan kirinya menghajar genting dibawahnya hingga ambrol seperti tidak disengaja tubuhnya yang besar itu terjeblos ke bawah.

Namun ketika Liu Wan mencoba mengejar dirinya, So Gu Tai cepat melemparkan tubuh Ketua Kuil Pek-hok-bio yang ada di dalam pelukannya itu ke arah Liu Wan.

Terpaksa Liu Wan menghantam sekali lagi tubuh Ketua Kuil Pek-hok-bio itu dengan Pek-khong-ciangnya.

"Bhuuk!"

Tubuh kurus kering itu terhempas ke samping, membentur dinding dan terkulai di atas genting.

Darah segar tampak mengalir dari mulut orang tua itu.

Liu Wan cepat melongok ke lobang genting di mana So Gu Tai tadi meloncat turun, tapi buruannya itu sudah hilang.

Di bawah hanya terlihat pertempuran antara Tio Ciu In melawan empat orang pengeroyoknya.

Ketika pemuda itu bermaksud membantu gadis tersebut, sekonyong-konyong terdengar suara menahannya.

"Liu Wan, tunggu...!"

Pemuda itu mengurungkan niatnya. Dilihatnya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu masih bisa bergerak. Mata yang sudah hampir kehilangan cahayanya itu menatap ke arah dirinya.

"Kau benar, Anak Muda... aku sekarang tahu siapa dirimu. kau... Kauuu... Huk-huk! kau... Huk... ooough...!"

Ternyata orang tua itu tak kuasa meneruskan perkataannya.

Kepalanya terkulai, nyawanya melayang.

Liu Wan menghela napas, kemudian melompat turun melalui lobang tadi.

Belum juga kakinya menyentuh lantai seseorang telah membentaknya.

"Kau... siapa?"

Liu Wan cepat membalikkan tubuhnya. Di depannya berdiri sepasang muda mudi dalam sikap siap sedia untuk berkelahi. Mereka adalah Gu Lam palsu dan Li Cu, yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.

"Ooooh, Nona adalah gadis yang hendak dikorbankan tadi..."

Begitu memandang Li Cu, Liu Wan segera menyapa ramah. Pemuda yang menyaru sebagai Gu Lam itu mengerutkan keningnya. Hatinya sedikit cemburu mendengar pemuda tampan itu menyapa sumoinya.

"Kau siapa...?"

Tanyanya kemudian dengan suara kaku. Liu Wan tersenyum. Dan pemuda itu memang ganteng sekali kalau tersenyum, hingga Gu Lam palsu itu semakin cemburu dibuatnya.

"Saudara tidak perlu khawatir kepada saya. Saya adalah teman gadis yang sedang bertempur itu. Kami berdua bermaksud menolong Nona ini dari kebiadaban orang-orang Pek-hok-bio."

Liu Wan menerangkan maksudnya berada di tempat itu. Pemuda yang menyaru sebagai Gu Lam itu menyeringai malu.

"Maaf, kalau begitu kami berdua sangat berhutang budi kepada Tuan. Ehm, kami berdua adalah kakak beradik seperguruan. Namaku Ku Jing San, sedangkan Sumoiku ini bernama Song Li Cu. Bolehkah kami mengetahui nama Tuan?"

Katanya kemudian dengan suara lantang dan tegas. Liu Wan membalas penghormatan Ku Jing San dan Song Li Cu.

"Ah, jangan sungkan-sungkan. Aku, Liu Wan, memang telah lama bermusuhan dengan pimpinan Kuil Pek-hok-bio ini. Kebetulan saudara perempuanku juga hilang, sehingga aku yang curiga kepada pendeta jahat itu lalu mencarinya ke sini. Tapi ternyata Nona Li Cu yang diculik oleh mereka, bukan adikku..."

Ku Jing San dan Song Li Cu terkejut.

"Jadi adik Tuan juga diculik orang?"

Ku Jing San bertanya kaget. Liu Wan mengangguk, lalu memandang keluar jendela.

"Apakah saudara Ku yang membawa kaum Kai-pang itu?"

Katanya mengalihkan pembicaraan.

"Benar antara kami dan perkumpulan Tiat-tung Kai-pang memang bersahabat erat. Guru kami sangat dekat dengan pimpinan mereka."

Ku Jing San menerangkan.

"Baiklah. Kalau begitu saya akan membantu temanku itu dahulu. Silakan saudara Ku dan Nona Song melihat di luar, mungkin orang-orang Kai-pang itu ingin bertemu dengan kalian!"

Setelah merangkapkan kedua tangannya di depan dada Liu Wan lalu melangkah menghampiri arena pertempuran Tio Ciu In. Dan gadis ayu itu segera menyambutnya dengan dampratan.

"Twako, kemana saja kau tadi? Aku sampai kewalahan memecahkan kepungan pendeta-pendeta jahat ini!"

Liu Wan berhenti di luar arena dan tidak segera terjun membantu Tio Ciu In.

Dengan tenang pemuda itu menonton pertempuran sambil bersilang tangan di atas dada.

Akan tetapi sikap itu justru menggetarkan hati empat orang pendeta berjubah kuning tersebut.

Apalagi ketika pemuda itu bercerita kepada Tio Ciu In tentang kedatangan orang-orang Kai-pang dan kematian Ketua Kuil Pek-hok-bio, empat orang pendeta tak bisa lagi menguasai hatinya.

Mereka menjadi ketakutan dan putus asa.

"Kau... bohong! kau berusaha. mempengaruhi kami!"

Salah seorang dari pendeta itu berteriak. Liu Wan tertawa.

"Kau tak percaya? Lihatlah di atas genting! kau akan melihat mayat ketuamu! Nah... Itu lihat! Tangan dan kaki yang terjulur keluar dari lobang genting itu, bukankah tangan dan kaki ketuamu? Atau... Kalian ingin menyaksikan dulu mayat-mayat kawan kalian yang dibantai oleh orang-orang Kai-pang di luar sana?"

Ucapan yang bernada ejekan dan ancaman itu ternyata besar sekali pengaruhnya.

Suasana ruangan yang sepi, keributan di luar gedung dan hancurnya sebagian besar atap dan genting ruangan itu, benar-benar membuat empat pendeta itu percaya akan ucapan Liu Wan tersebut.

Otomatis semangat dan keberanian mereka menghilang.

Tak ada keinginan mereka untuk melawan lagi.

"Aku menyerah...!"

Orang yang paling tua di antara mereka kemudian berseru sambil melompat mundur.

Senjatanya dibuang.

Ternyata yang lainpun mengikuti pula langkah pendeta tertua tersebut.

Mereka meloncat mundur dan membuang kebutan mereka.

Tio Ciu In juga tidak mengejar mereka lagi.

Dan gadis itu semakin kagum pada kecerdikan Liu Wan.

Tanpa turun tangan pemuda itu ternyata bisa menundukkan perlawanan mereka.

Liu Wan lalu mengumpulkan senjata-senjata mereka, lalu menaruhnya di atas meja.

"Coba dua orang di antara kalian pergi ke atas genting untuk mengambil mayat ketua Pek-hok-bio!"

Perintahnya kepada pendeta yang tertua tadi.

"Baik...!"

Demikianlah pertempuran di dalam gedung itu sudah selesai.

Kini tinggal pertempuran seru di halaman, antara anak buah Kuil Pek-hok-bio melawan orang-orang dari Kai-pang.

Ku Jing San dan Song Li Cu yang telah turun di halaman depan tampak mengamuk dengan hebatnya.

Tak seorangpun anak buah Kuil Pek-hok-bio yang mampu menahan pukulan dan tendangan mereka.

Mayat-mayat dari kedua belah pihak telah bergelimpangan, terutama orang-orang dari Pek-hok-bio.

"Berhenti semua...!!!"

Seperti seorang panglima perang, Liu Wan berseru sambil berkacak pinggang di atas tangga pendapa.

Di belakangnya tampak empat pendeta berjubah kuning, di mana salah seorang di antaranya tampak membawa mayat Ketua Kuil Pek-hok-bio.

Tio Ciu In mengawasi mereka dari samping dengan pedangnya.

Suara bentakan Liu Wan itu disertai oleh lwekangnya yang tinggi, maka tidak lah mengherankan bila suaranya dapat mengatasi gaduhnya suasana di tempat tersebut.

Bahkan demikian kuat getaran suaranya sehingga mampu mengguncang jantung setiap orang yang berada di halaman itu.

Tak terkecuali Ku Jing San dan Song Li Cu sendiri.

Pertempuranpun berhenti dengan tiba-tiba.

Semuanya memandang ke atas tangga pendapa seperti terkesima.

Dengan takjub mereka menatap Liu Wan yang sangat berwibawa itu.

"Saya harap semuanya menghentikan pertumpahan darah ini! Lihat...! Orang yang menjadi biang keladi pertumpahan darah malam ini telah mati! Oleh karena itu semua anggota Kuil Pek-hok-bio harap meletakkan senjata masing-masing, Liu Wan berteriak sekali lagi. Melihat tokoh-tokoh mereka telah menyerah, bahkan ketua mereka juga sudah meninggal, maka seluruh anggota Kuil Pek-hok-bio yang masih hidup lalu membuang senjata mereka pula. Mereka diam dan menurut saja ketika digiring lawan-lawan mereka ke pendapa. Beberapa saat kemudian terjadi kesibukan di ruang pendapa yang luas itu. Ku Jing San dan beberapa tokoh Kai-pang tampak mengatur tawanan dan kawan-kawan mereka sendiri. Beberapa orang ditugaskan untuk mengumpulkan orang-orang yang terluka dan yang menjadi korban di dalam kemelut tadi. Demikian sibuknya mereka sehingga mereka seolah-olah melupakan Liu Wan dan Tio Ciu In yang secara diam-diam meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan terdengar dentang suara lonceng dua kali, pertanda waktu telah menunjukkan pukul dua malam. Langit terang-benderang, sehingga rembulan penuh yang telah jauh bergulir ke arah barat itu bebas menebarkan sinarnya ke seluruh permukaan bumi. Semua jalan-jalan yang membelah kota Hang-ciu tampak sepi, sama sekali tidak mencerminkan bahwa seharian tadi orang baru saja bersuka-ria menyambut kedatangan Tahun Baru. Malam ini semua orang tampaknya benar-benar ingin. mengaso setelah seharian penuh mereka tak beristirahat. Yang masih kelihatan hidup dan bergerak di jalan-jalan itu hanyalah hewan-hewan piaraan seperti anjing, kucing dan lain sebagainya. Mereka masih berkeliaran di jalan-jalan untuk mengais sisa-sisa makanan yang dibuang orang di pinggir jalan. Tampaknya penduduk kota itu benar-benar telah dicekam oleh mimpi mereka masing-masing, sehingga kedatangan kereta Liu Wan itu sama sekali tak menggoyahkan tidur mereka. Lo Kang dan Lo Hai yang amat setia itu membawa kereta tersebut ke penginapan. Suara roda besinya yang geludak-geluduk itu terdengar amat nyaring dan berkumandang memenuhi jalanan. Dari jauh suaranya seperti genderang perang yang ditabuh di malam hari, nikmat namun juga menggetarkan hati. Kereta itu berhenti di depan penginapan. Lo Hai turun membukakan pintu dan mempersilakan Liu Wan dan Tio Ciu In untuk menemui pemilik penginapan itu sendiri.

"Ciu-moi, malam ini kita beristirahat dulu di penginapan ini. Besok pagi kita lanjutkan usaha kita untuk mencari Adikmu. Marilah... Kau tidak usah curiga atau ragu-ragu. Aku telah mengenal dengan baik pemilik penginapan ini. Lo Kang dan Lo Hai telah memesan dua kamar untuk kita berdua. Ayo...!"

Sesaat Tio Ciu In masih merasa ragu. Tapi di lain saat melihat kesungguhan hati Liu Wan, hatinya menjadi tenteram pula.

"Baiklah, Twako..."

Desahnya pelan tanpa berani memandang Liu Wan.

"Bagus. Nah, Lo Kang dan Lo Hai, kalian kembalilah ke pondok kita di tengah empang itu! Tunggulah aku di sana!"

Pemuda itu memberi perintah kepada pembantunya.

* * * Demikianlah, seperti yang telah diceritakan di bagian depan, malam itu Tio Ciu In sama sekali tak bisa memejamkan matanya.

Bayangan wajah Siau In yang lincah dan bandel itu selalu melintas dan menggoda hatinya.

Adiknya itu memang nakal dan usil sehingga seringkali sangat menjengkelkan hatinya.

Tapi bagaimanapun juga gadis itu adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya di dunia ini.

Untuk kesekian kalinya Tio Ciu In menarik napas panjang.

Panjang sekali, la mengenang nasibnya.

Nasib perjalanan hidupnya dengan Siau In, adiknya.

Sejak kecil mereka diasuh oleh gurunya, Giam Pit Seng, seorang tokoh aliran Im-yang-kauw.

Menurut cerita gurunya, dia dan adiknya dulu diambil dari dekapan seorang nelayan tua yang mati akibat kebiadaban bajak laut yang menjarah rayah kampungnya.

Nelayan she Tio itu menitipkan dia dan adiknya kepada Giam Pit Seng agar dirawat seperti anaknya sendiri.

Kebetulan Giam Pit Seng juga tidak memiliki anak isteri pula, sehingga kedatangan dia dan adiknya itu benar-benar sangat membahagiakan hati pendekar pit (pena) tersebut.

Dia dan Siau In benar-benar dianggap sebagai anak sendiri, diasuh dan diberi pelajaran ilmu silat tinggi.

Waktu itu dia sudah berusia enam tahun, sementara Siau In berumur tiga tahun.

Menurut Giam Pit Seng, dia dan Siau In adalah anak-anak yang cerdas dan cerdik, sehingga semua pelajaran ilmu silat dan ilmu sastra yang diberikan oleh gurunya itu cepat sekali diserap dan diterima.

Namun demikian sesekali gurunya itu masih mengeluh karena mereka berdua adalah wanita.

Gurunya juga menginginkan seorang murid lelaki, yang akan diwarisi ilmunya Hok-hong Pit-hoat.

Dan keinginan Giam Pit Seng itu akhirnya terkabul juga.

Setelah mengasuh dia dan Siau In selama empat tahun, suatu hari Giam Pit Seng membawa seorang anak lelaki berusia dua belas tahun ke rumah.

Anak yang lebih tua dua tahun dari dia itu bernama Tan Sin Lun, putera seorang kepala desa, sahabat Giam Pit Seng.

Meskipun lebih dulu berguru kepada Giam Pit Seng, tetapi dia dan Siau In memanggil suheng kepada Tan Sin Lun.

Hubungan mereka bertiga sangat baik dan rukun seperti saudara sekandung saja.

Hal itu berlangsung hingga mereka menjadi dewasa.

Setelah menjadi dewasa itulah lambat laun tali hubungan mereka semakin berubah.

Kata orang, dia dan adiknya memiliki wajah yang sangat cantik sehingga orang-orang selalu memandang kagum kepada mereka.

Dan anggapan seperti itu akhirnya menular pula kepada Tan Sin itu jatuh cinta kepadanya.

Dan rasa cinta itu selalu diperlihatkan oleh suhengnya apabila tiada seorangpun di dekat mereka.

Selama ini dia memang belum paham akan perasaannya sendiri.

Ia memang menyukai Tan Sin Lun, karena sejak kecil mereka selalu bersama-sama.

Tapi ia tidak tahu, rasa sukanya itu berdasarkan rasa cinta atau cuma rasa sayang saja.

Ia memang senang selalu berdekatan dengan suhengnya itu, tapi selama ini ia tak pernah berpikir atau membayangkan bahwa ia akan menjadi suami-isteri dengan Tan Sin Lun.

Selama ini ia hanya berpikir bahwa Tan Sin Lun adalah pemuda yang baik hati dan berjiwa ksatria, itu saja.

Lain tidak.

Itulah sebabnya ketika kemarin siang Tan Sin Lun mencium pipinya, ia menjadi tersinggung dan marah.

Sekali lagi Tio Ciu In menghela napas panjang.

Tiba-tiba saja bayangan Liu Wan berkelebat di depan matanya.

Pemuda yang baru dijumpainya kemarin siang itu seperti telah dikenalnya bertahun-tahun.

Wajahnya, kepandaiannya, sikapnya serta semua tindakannya, rasanya selalu mengundang kagum di hatinya.

Tiba-tiba Tio Ciu In menjadi jengah sendiri.

Belum-belum ia telah memperbandingkan Liu Wan dengan Tan Sin Lun.

"Tok! Tok! Tok!"

Tio Ciu In terkejut. Pintu kamarnya diketuk orang. Bergegas turun dari pembaringan dan mengenakan. baju luarnya. Sebelum membuka pintu ia merapikan dulu rambutnya.

"Selamat pagi, gadis ayu...!"

Liu Wan memberi salam.

"Eh-oh... pukul berapa sekarang?"

Tio Ciu In menjawab gugup.

Tiba-tiba berhadapan dengan orang yang baru saja dilamunkan membuat gadis itu gugup tidak keruan.

Untunglah Liu Wan seorang pemuda yang pandai bicara, sehingga rasa kikuk dan malu yang mengharu biru di hati Tio Ciu In segera menghilang pula.

"Hei, kau jadi mencari adikmu tidak? Hari sudah siang. Lihatlah, matahari telah berada di atas atap! Mengapa kau belum bangun juga? Apakah mimpimu indah sekali? Ahaa, tahulah aku! kau tentu bermimpi jadi pengantin, sehingga kau menjadi segan untuk bangun. Pengantin lelakinya tentu... tentu..."

"Apaaa...? Coba, siapa...? Siapa Sebutkan! Sekali kau kesalahan omong, aku akan pergi dan tak mau kenal kau lagi!"

Seru Tio Ciu In gemas. Matanya membelalak, pipinya merah. Liu Wan meringis dan tak berani menggoda lagi.

"Maaf, Ciu-moi... jangan marah. Aku cuma ingin bercanda denganmu. Entah mengapa, pagi ini hatiku merasa gembira bukan main, sehingga rasanya aku jadi ingin menggoda siapa saja yang kutemui."

Tio Ciu In mencibirkan mulutnya.

"Huh! Dasar...! Kalau mau bercanda lihat-lihat dulu orangnya! Jangan asal sambar saja! Huh, coba katakan terus terang! Siapa yang hendak kau sebutkan sebagai... pengantin lelaki? suhengku, bukan?"

Sergahnya kemudian dengan nada tetap marah-marah.

"Haaah...?"

Liu Wan berdesah kaget. Mulutnya ternganga, matanya melotot.

"Sungguh mati aku tak bermaksud mengatakan seperti itu! Sumpah!"

Kini giliran Tio Ciu In yang tercengang keheranan.

"Kau tidak bermaksud mengatakan seperti itu? Lalu... Lalu apa yang hendak kau katakan?"

Suara Tio Ciu In merendah.

Wajahnya menjadi pucat.

Mendadak air muka Liu Wan menjadi merah padam.

Sikapnya menjadi kikuk dan kemalu-maluan, persis seperti pengantin yang sedang dipertemukan di depan tamu.

"Apa...? Apa yang hendak kau katakan tadi?"

Tio Ciu In mendesak penasaran. Sambil cengar-cengir Liu Wan memandang Tio Ciu In. Masih kelihatan rasa takutnya kalau-kalau gadis itu akan menjadi marah lagi.

"Aku tadi ingin mengatakan bahwa... pengantin prianya adalah aku sendiri!"

Akhirnya pemuda itu berani juga mengatakannya. Wajah yang putih mulus itu tiba-tiba berubah menjadi merah seperti udang direbus. Tanpa mengatakan apa-apa lagi pintu kamarnya dibanting.

"Ciu-moi... Ciu-moi! Maafkanlah aku!"

Liu Wan berseru sambil berusaha membuka pintu itu dari luar, tapi tidak bisa. Tio Ciu In menguncinya dari dalam.

"Wah, gawat...! Dia benar-benar marah sekarang! Huh... Inilah akibatnya kalau orang suka bergurau!"

Liu Wan menggerutu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Dengan lesu pemuda itu melangkah meninggalkan kamar Tio Ciu ln.

Wajahnya yang semula cerah dan gembira itu kini kelihatan susah dan sedih.

Hatinya sungguh-sungguh amat menyesal telah menggoda Tio Ciu In tadi.

Seharusnya dia tidak omong sembarangan di depan Tio Ciu In yang sedang bersusah hati karena kehilangan adiknya itu.

"Tapi apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur. Mulutku ini kadang-kadang memang terlalu ceriwis, sehingga sering membuat gara-gara."

Liu Wan lalu melangkah ke ruang makan.

Di ruangan yang luas itu sudah banyak orang, sebagian besar adalah tamu-tamu yang menginap di rumah penginapan itu sendiri.

Rata-rata mereka telah bersiap-siap untuk meninggalkan penginapan itu.

Ada yang hendak meneruskan perjalanannya, ada pula yang akan pulang ke kampung setelah menyaksikan perayaan Tahun Baru yang sangat meriah kemarin.

"Tuan Liu...! Ah, hampir saja kami kehilangan jejak Tuan tadi malam. Untunglah ada seorang teman kami yang melihat Tuan masuk ke penginapan ini."

Tiba-tiba terdengar suara orang menegur.

Liu Wan menoleh.

Seorang pemuda gagah bangkit dari kursinya dan bergegas menghampiri dirinya.

Liu Wan segera mengenalnya sebagai Ku Jing San, pemuda yang ditemuinya tadi malam di Kuil Pek-hok-bio.

"Oh, saudara Ku Jing San rupanya. Bagaimana saudara Ku tahu aku menginap di sini?"

Liu Wan menyambut teguran pemuda itu dengan ramah pula.

"Ah, mudah saja. Bukankah di kota ini banyak anggota Kai-pang yang berkeliaran? Tuan Liu marilah kita duduk semeja saja di sana. Nanti kuperkenalkan dengan suhengku. Dia baru saja datang di kota ini beberapa saat yang lalu. Dia ingin sekali berkenalan dengan Tuan Liu, sekalian mengucapkan rasa terima kasih atas bantuan Tuan membebaskan Sumoi kami."

Liu Wan memandang ke meja yang ditunjuk oleh Ku Jing San.

Di sana telah berdiri seorang pemuda tampan bertubuh tinggi tegap bersama Song Li Cu.

Mereka berdua tampak tersenyum menantikan kedatangannya.

Liu Wan menjadi kikuk dan tidak enak hati.

"Wah, saudara Ku terlalu membesar-besarkan masalah sepele seperti itu. Aku malah menjadi malu..."

Liu Wan menggerutu, tapi terpaksa menurut saja ketika lengannya ditarik Ku Jing San ke mejanya.

Pemuda bertubuh tinggi tegap itu memberi hormat kepada Liu Wan dan mempersilakan Liu Wan untuk duduk di depannya.

Dengan berat hati Liu Wan terpaksa mengikuti saja kemauan mereka.

"Maaf, kami telah mengganggu saudara Liu Wan pagi ini."

Pemuda tinggi tegap itu membuka pembicaraan.

"Perkenalkan, aku yang rendah adalah saudara seperguruan tertua dari Ku Jing San dan Song Li Cu ini. Namaku Kwe Tek Hun. Atas nama adik-adikku ini aku mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan saudara Liu Wan tadi malam."

Liu Wan tersenyum dan melirik ke arah Song Li Cu, tapi yang dilirik sedang asyik mengawasi Twa-suhengnya yang gagah ganteng itu.

"Ah, saudara Kwe... Kau keliru! Aku sama sekali tidak merasa telah membantu saudara Ku Jing San dalam membebaskan Nona Song Li Cu. Dia sendirilah yang sebenarnya telah membebaskan sumoinya. Aku hanya kebetulan saja di sana, karena aku juga sedang mencari adikku yang hilang."

Liu Wan cepat menyang gah perkataan Kwe Tek Hun.

Sambil berkata Liu Wan menepuk pundak Ku Jing San, seakan-akan hendak mengatakan bahwa yang sebenarnya sangat berjasa di dalam pembebasan Song Li Cu itu adalah Ku Jing San sendiri Bukan dirinya.

Ku Jing San tampak tersipu, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sangat senang dan bangga mendengar perkataan tersebut.

Berkali-kali matanya yang polos jujur itu menatap ke arah sumoinya, walaupun Song Li Cu sendiri tampak acuh tak acuh terhadapnya.

Gadis cantik itu masih tetap memandangi Kwe Tek Hun yang tampan dan gagah.

Diam-diam Liu Wan menghela napas.

Ia melihat sesuatu yang kurang serasi di antara mereka.

Tampaknya ada jalinan cinta segitiga yang ruwet di antara tiga saudara seperguruan itu.

"Cinta... cinta. kau memang aneh. Kadang-kadang kau bisa membuat orang merasa sangat berbahagia. Namun sering kali pula kau membikin orang menjadi sangat menderita. Hemmmmmmmmm...!"

Liu Wan mengeluh di dalam hati. Melihat tamunya termenung diam seperti sedang memikirkan sesuatu, Kwe Tek Hun cepat menghibur.

"Saudara Liu, bagaimanapun juga kami tetap menganggap bahwa kau telah membantu kami membebaskan Song Li Cu. Dan untuk membalas kebaikan saudara Liu itu kami telah berjanji pula akan membantu mencari adik saudara Liu yang hilang. Bahkan kami juga akan meminta pertolongan orang-orang Tiat-tung Kai-pang untuk mencarinya."

Wajah Liu Wan menjadi cerah dengan tiba-tiba.

Usul Kwe Tek.

Hun itu benar-benar amat bagus dan menggembirakan hatinya.

Dengan pertolongan orang-orang Kai-pang, jejak Tio Siau In tentu akan mudah diketahui.

Bukankah ratusan anggota Tiat-tung Kai-pang yang ada di daerah itu.

setiap harinya selalu tersebar di segala tempat?

Bukan mustahil salah seorang di antaranya pernah melihat kepergian Tio Siau In.

"Terima kasih, saudara Kwee... terima kasih. Aku sungguh-sungguh sangat gembira dan berterima kasih sekali bila saudara Kwe dan kawan-kawan dari Tiat-tung Kai-pang mau membantu aku mencari adikku."

Kwe Tek Hun tersenyum puas.

"Bagus. Kalau begitu mau tunggu apa. Lagi? Marilah kita sekarang menemui Jeng-bin Lokai (Pengemis Tua Bermuka Seribu) yang kebetulan berada di kota ini. Nanti aku yang akan berbicara kepadanya."

"Jeng-bin Lokai...? Siapakah dia?"

Liu Wan bertanya pelan.

"Dia adalah Hu-pangcu (Wakil Ketua) Tiat-tung Kai-pang. Kepandaiannya amat tinggi, terutama di bidang berdandan dan menyamar, sehingga ia dijuluki orang Jeng-bin Lokai. Dia pulalah yang telah mendandani Ku Jing San tadi malam."

"Apakah dia juga ikut datang di kuil Pek-hok-bio tadi malam?"

"Benar. Dia memang ikut memimpin anak buahnya di halaman kuil itu. Bahkan dia sempat mengutarakan kekagumannya ketika Tuan Liu dengan amat berwibawa menghentikan pertempuran dari atas pendapa. Namun ketika dia ingin bersua dan berkenalan, ternyata Tuan Liu sudah pergi."

Ku Jing San yang sejak duduk di kursi tadi hanya berdiam diri saja, tiba-tiba menjawab pertanyaan Liu Wan.

"Ah, maaf... aku memang segera meninggalkan tempat itu tadi malam. Aku tidak ingin mengganggu..."

Suara Liu Wan sekonyong-konyong merendah.

Begitu pula halnya dengan tamu-tamu yang lain.

Suara percakapan dan obrolan yang ramai di dalam ruangan itu mendadak menurun, bahkan hampir terhenti sama sekali.

Semua mata memandang keluar, ke pintu yang menghubungkan ruang makan tersebut dengan pendapa depan.

Seorang gadis remaja yang cantik sekali, berusia antara enam belas atau tujuh belas tahun, dengan pakaian dan perhiasan mahal, tampak melangkah lincah ke dalam ruangan itu.

Tubuhnya yang kecil namun berbentuk indah itu melenggang sedikit genit ke arah meja yang kosong.

Sikapnya sangat tenang dan berani, bahkan terasa agak dingin dan penuh percaya diri, sehingga orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tak ada yang berani bersikap kurang ajar.

Apalagi ketika gadis cantik itu meletakkan kipasnya di atas meja.

Sebuah kipas yang sangat aneh karena kipas tersebut terbuat dari lembaran baja tipis bermata tajam.

Seorang pelayan bergegas menghampiri dan menanyakan keinginan gadis itu.

"Kau siapkan makanan apa saja yang paling enak di rumah makanmu ini untuk lima orang lelaki dan seorang wanita, lalu hidangkan di atas meja ini! Nih, kau bawa sekalian uang pembayarannya!"

Gadis itu berkata nyaring seraya memberikan uang dua tail perak.

Suaranya terdengar bening dan merdu sehingga pelayan itu menjadi bengong seperti orang yang kesengsem mendengarkan suara buluh perindu.

Pelayan itu menjadi gugup dan salah tingkah melihat uang sebanyak itu.

"Ini... Ini, eh... Ini terlalu banyak, Siocia. Satu tailpun sudah lebih dari cukup untuk memenuhi meja ini..."

"Sudahlah! kau bawa saja uang ini! Aku memang sengaja membayar dua kali lipat... Tapi ingat...! Kalau masakanmu tidak bisa memenuhi seleraku, nasibmu dan nasib rumah makanmu, ini benar-benar akan menjadi jelek sekali! Nah, pergilah...!"

Mata yang bulat indah itu menatap dingin seperti mengandung ancaman, membuat pelayan itu meremang bulu kuduknya. Entah mengapa sikap gadis cantik itu benar-benar amat berwibawa dan menggiriskan hati.

"Ba-baik, Siocia..."

Hampir serentak para pengunjung restoran itu menghela napas panjang.

Dalam waktu yang cuma sesaat tadi mereka seperti disuguhi sebuah pemandangan yang menegangkan.

Demikian pula halnya dengan Liu Wan dan Kwe Tek Hun bersaudara.

Tak terasa sikap dan tingkah laku gadis cantik itu telah mampu merampas dan mempengaruhi perhatian mereka berempat.

"Saudara Kwe mengenal dia?"

Liu Wan bertanya perlahan kepada Kwe Tek Hun. Pemuda tinggi tegap itu menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Aku belum pernah melihat dia. Tapi kipasnya itu...?"

Tiba-tiba pemuda itu menghentikan kata-katanya.

Matanya memandang ke arah pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan ruang dalam.

Semua pengunjung yang sudah mulai mengobrol lagi itu sekonyong-konyong menghentikan pula obrolan mereka seperti halnya Kwe Tek Hun.

Pandangan mereka juga tertuju pula ke pintu dalam, ke arah Tio Ciu In yang mendadak keluar menuju ruang makan tersebut.

Tidak seperti biasanya, kali ini Tip Ciu In memang berdandan sedikit luar biasa.

Tubuhnya yang tinggi lentur itu dibalut pakaian berwarna hijau muda, sehingga kulitnya yang putih halus itu tampak semakin cerah dan segar dipandang mata.

Rambutnya yang biasanya cuma dikepang dan dibiarkan terurai di belakang punggungnya itu sekarang disanggul ke atas seperti layaknya gadis-gadis pingitan.

Maka tidaklah mengherankan bila wajahnya yang sudah ayu itu menjadi semakin cantik seperti bidadari.

"Gila! Rasanya seperti bermimpi saja... Melihat dua bidadari di pagi hari!"

Seorang tamu yang duduk di sebelah meja Liu Wan berdesah tak terasa.

Ternyata kali ini Kwe Tek Hun juga tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Matanya menatap tak berkedip ke arah Tio Ciu In yang melenggang lembut mendekati mereka berempat.

Dan matanya mungkin akan terus melotot kalau Song Li Cu tidak segera menggamit lengannya dengan perasaan tak senang.

"Huh...!"

Song Li Cu yang mendadak merasa seperti kehilangan kecantikannya di depan gadis-gadis ayu yang baru saja datang itu bersungut-sungut kesal. (Lanjut ke

Jilid 08) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 08

"Whuh!"

Gadis cantik bermata dingin itu merasa tak senang pula melihat kedatangan Tio Ciu In yang mampu menyaingi kecantikannya.

Di depan meja Kwe Tek Hun, Tio Ciu In menegur Liu Wan yang ternyata juga ikut terbengong-bengong pula menyaksikan kecantikan gadis itu.

"Twako, mari kita berangkat sekarang...!"

"Ini... Ini... eh, kemana kita. akan pergi?"

Liu Wan menjawab gugup, sehingga Ciu In menjadi geli melihatnya.

"Hei bukankah kita akan mencari Siau In? Mengapa kau sudah lupa lagi?"

Dengan gemas Tio Ciu In menggerutu.

"Eh-oh... ya benar. Mari... mari...!"

Bagaikan orang bingung Liu Wan lalu berdiri dan hendak beranjak pergi dari tempat itu. Untunglah dengan sigap Kwe Tek Hun menahan lengannya.

"Sebentar, saudara Liu...! kau hendak pergi ke mana? Bagaimana dengan rencana kita untuk menemui Jeng-bin Lokai,?"

Pemuda itu mengingatkan.

"Hah?"

Liu Wan tersentak kaget dan tersadar dari linglungnya.

Kemudian dengan tergesa-gesa pemuda itu mempersilakan Tio Ciu In duduk di kursi dan memperkenalkannya kepada Kwe Tek Hun bersaudara.

Tak lupa dengan wajah kemerah-merahan Liu Wan meminta maaf atas kekilafannya.

Lalu pemuda itu juga bercerita kepada Tio Ciu In tentang rencana mereka untuk minta pertolongan orang-orang Tiat-tung Kai-pang, agar jejak Tio Siau In cepat ditemukan.

"Terserah kepada Twako. Pokoknya Adikku segera diketemukan."

Tio Ciu In menyahut perlahan.

"Nah, kalau begitu kita berangkat saja sekarang!"

Kwe Tek Hun menggeram dengan suara bersemangat.

"Aih... Nanti dulu! Bagaimana dengan makan pagi kita? Bukankah perut kita belum terisi?"

Namun dengan cepat Song Li Cu menahan keinginan kakak seperguruannya itu.

"Ah, kau benar Nona Song. Kita tak perlu tergesa-gesa. Kita memang harus mengisi perut kita dulu."

Sambil tertawa Liu Wan menyambut usul gadis manis itu.

Demikianlah seraya menyantap bubur ayam hangat mereka lalu melanjutkan obrolan mereka kembali.

Dan Kwe Tek Hun yang merasa dirinya sebagai pihak tuan rumah lalu bercerita tentang pengalaman pengalamannya yang mengesankan selama ia berkelana di dunia persilatan.

Pengalaman Kwe Tek Hun memang sangat banyak, pengetahuannya juga luas karena sejak kecil sampai menginjak remaja sering diajak oleh gurunya yang juga orang tuanya sendiri, mengembara ke seluruh pelosok negeri.

Semuanya asyik mendengarkan.

Sambil makan perhatian mereka hampir tak pernah lepas dari bibir Kwe Tek Hun.

Bahkan Liu Wan yang sudah bertahun-tahun bertualang di dunia kang-ouwpun masih tetap merasa kagum pula mendengar kisah-kisah yang diutarakan oleh Kwe Tek Hun.

Apalagi Tio Ciu In yang masih hijau itu, kisah cerita yang baru pertama kali didengarnya itu benar-benar amat menarik hatinya.

Namun yang sungguh amat menyolok adalah perhatian yang dibenarkan oleh Song Li Cu.

Dengan pandang mata mesra, kagum serta bangga, gadis itu selalu mengawasi wajah kakak seperguruannya yang gagah tampan itu.

Gadis cantik itu hanya mau melepaskan pandangannya apabila sedang melayani tambahan makanan atau minuman Kwe Tek Hun.

Walaupun sedang asyik makan dan mendengarkan cerita Kwe Tek Hun, tetapi Liu Wan sempat juga melihat kemesraan yang diberikan oleh gadis itu.

Sesaat Liu Wan merasa terharu juga.

Namun apabila kemudian dilihatnya wajah Ku Jing San yang sayu, hatinya ikut merasa sedih pula.

"Secara diam-diam tampaknya Ku Jing San telah mencintai Song Li Cu, akan tetapi gadis itu sendiri kelihatannya lebih mengagumi Twa-suhengnya. Sementara Kwe Tek Hun sendiri tak bisa diduga hatinya, apakah ia membalas cinta Song Li Cu atau tidak..."

Tak terasa Liu Wan berdesah panjang.

Pikirannya lantas terhunjam pada keadaannya sendiri.

Dalam usianya yang sudah dua puluh lima tahun ini ia telah banyak mengenal dan berhubungan dengan wanita, namun tak seorangpun di antaranya yang mampu menarik dan menggugah perasaan cintanya.

Bahkan sudah berulang kali ia mencoba menyelusuri keadaan diri pribadinya sendiri, untuk mengetahui mengapa ia merasa sulit mencintai wanita.

Tapi sampai sekarang ia belum pernah mendapatkan jawabannya.

Padahal ia tak memiliki impian yang muluk-muluk.

Sama sekali ia tak bercita-cita untuk kawin dengan seorang putri raja yang cantik bagai bidadari.

Diam-diam Liu Wan melirik Tio Ciu In yang duduk di sampingnya.

Gadis yang lembut dan ayu itu benar-benar lain daripada yang lain.

Gadis itu mampu menggoncangkan batinnya, meruntuhkan dinding hatinya, sehingga beberapa kali membuatnya gugup, linglung dan salah tingkah.

Namun demikian dia juga belum tahu, apakah dirinya telah jatuh cinta atau tidak, karena menurut pengalaman, perasaannya yang panas membara dan menggebu-gebu itu akan segera padam apabila wanita itu mulai bertingkah ingin menguasai dirinya.

"Liu Twako...?"

Tiba-tiba terdengar suara Tio Ciu In memanggilnya.

"Ha? Yaa... apa?"

Bagaikan disengat lebah Liu Wan tersentak kaget, bahkan hampir terjengkang dari kursinya.

Sesaat kemudian pemuda itu menjadi gugup.

Tapi hanya sesaat saja, karena dengan cepat pemuda itu bisa menguasai dirinya kembali.

"He, Twako... Kau melamun, ya?"

Tio Ciu In menegur sambil tertawa.

"Tidak. Aku sedang asyik mendengarkan cerita saudara Kwe..."

Liu Wan mencoba membela diri. Tak terduga Tio Ciu In dan yang lain justru tertawa semakin keras.

"Nah... Nah... Kebohonganmu justru ketahuan malah. Apa yang hendak kau dengarkan lagi kalau cerita itu sudah selesai sejak tadi?"

Dengan suara riang Tio Ciu In semakin menggoda.

"Benarkah...? Wah, ini... Ini..."

Liu Wan tersenyum malu.

"Sudahlah, tampaknya saudara Liu Wan menyukai ceritaku sehingga tertidur."

Kwe Tek Hun bergurau.

"Oleh karena itu sebaiknya kita segera berangkat saja."

Semuanya tertawa. Liu Wan terpaksa ikut tertawa pula, meskipun tertawa kecut. Namun suara tertawa mereka terpaksa terhenti ketika mendadak gadis ayu yang baru saja datang tadi menggebrak mejanya.

"Brengsek! Pelayan...!"

Gadis ayu itu berteriak memanggil pelayan.

"Ya. Siocia...? Apakah Siocia menghendaki sesuatu? Apakah... apakah...? Anu... eh, hidangan yang Siocia pesan be-be-belum selesai!"

Tergopoh-gopoh pelayan yang melayani gadis itu tadi datang dan bertanya gugup.

"Persetan! Aku tidak menanyakan masakanmu! Aku hanya tidak menyukai suara berisik di ruangan ini! Hmmmh! Apakah kau tidak mempunyai tempat yang lain, yang terpisah dari tempat ini, agar aku bisa tenang menikmati hidanganmu?"

Gadis itu membentak sambil bertolak pinggang.

Suaranya nyaring dan beberapa kali matanya yang bulat indah itu melirik ke arah meja Kwe Tek Hun.

Pipi Song Li Cu menjadi merah karena jelas yang dimaksudkan oleh gadis itu adalah rombongannya.

Namun sebelum Song Li Cu bertindak lebih jauh, Kwe Tek Hun telah lebih dahulu menahannya.

Dengan sabar dan tenang pemuda gagah itu menjura ke arah tetangganya yang sedang marah tersebut.

"Maafkanlah kami. Nona. Kami sampai lupa bahwa kami bukan berada di tempat kami sendiri. Biarlah kami pergi. Nona tak perlu mencari tempat yang lain lagi."

Kwe Tek Hun lalu mengajak Liu Wan, Tio Ciu In dan adik-adik seperguruannya meninggalkan tempat itu.

Liu Wan, sebagai pemuda matang yang telah kenyang pengalaman, dapat menerima dan memahami sikap Kwe Tek Hun yang sabar dan mau mengalah itu.

Tapi bagi Tio Ciu In, Ku Jin San dan Song Li Cu, sikap Kwe Tek Hun yang terlalu mengalah itu benar-benar tidak bisa mereka terima.

Bukankah tempat itu tempat umum?

Bukan rumah pribadi?

Seharusnyalah setiap orang yang berada di tempat itu menyadari bahwa ia tidak berada di rumahnya sendiri.

Tetapi karena Kwe Tek Hun sebagai wakil dari rombongan itu telah mengutarakan sikapnya, maka meskipun menahan berang Ku Jing San, Song Li Cu dan Tio Ciu In terpaksa menahan dirinya.

Dengan perasaan kesal dan penasaran mereka mengikuti saja langkah Kwe Tek Hun dan Liu Wan, keluar dari ruangan tersebut.

Namun demikian tetap saja Ku Jing San dan Song Li Cu yang agak berangasan itu tak bisa menyembunyikan kedongkolan hatinya ketika lewat di dekat meja gadis itu.

Kedua saudara seperguruan itu menatap dengan mata melotot seakan-akan hendak menelan tubuh gadis itu.

Tak terduga gadis yang rewel dan cerewet itu ternyata pemarah pula.

Sikap yang ditunjukkan Ku Jing San dan Song Li Cu itu ternyata telah menyulut api kemarahannya juga.

Persis pada saat Ku Jing San dan Song Li Cu berjalan di dekat mejanya, gadis ayu itu dengan sengaja menumpahkan minumannya.

Tentu saja air teh itu muncrat mengenai pakaian Ku Jing San dan Song Li Cu.

Song Li Cu tak bisa mengekang kemarahannya lagi, dengan cepat tangannya meraup tumpahan air teh yang ada di atas meja untuk disiramkan kembali ke wajah gadis ayu itu.

Namun sebelum tangannya mampu meraih ke atas meja, ujung sepatu gadis ayu itu ternyata telah lebih dulu menghantam lututnya.

"Duukk!"

Seketika itu juga Song Li Cu kehilangan keseimbangan tubuhnya.

Badannya terjungkal ke depan menghantam meja!

Ku Jing San yang sedikit terlambat menyadari keadaan sumoinya, cepat bertindak Tangannya menyambar tubuh gadis yang terpental itu!

"Braaaaaak!"

Tubuh Song Li Cu menghajar meja sehingga tumpahan air teh tadi justru membasahi pakaiannya lagi.

Untunglah sebelum tubuh Song Li Cu itu terjerembab ke lantai dan mencium kaki gadis ayu tersebut, lengan Ku Jing San yang kokoh itu telah berhasil menyambarnya, sehingga Song Li Cu terhindar dari penghinaan yang lebih besar lagi.

Ku Jing San benar-benar tak mampu mengendalikan dirinya lagi.

Apalagi ketika tubuh Song Li Cu yang ada di dalam pelukannya itu ternyata telah tertotok lemas tak bisa bergerak.

Kemarahannya benar-benar meledak.

Dengan cepat pemuda itu meletakkan tubuh Song Li Cu di atas kursi yang terdekat, lalu tanpa bicara apa-apa lagi kaki kanannya terayun deras ke depan, mengarah ke kaki meja, dengan maksud untuk melontarkannya ke tubuh lawan.

Dengan kekuatan dan ketangkasan kakinya Ku Jing San yakin ia dapat membalas penghinaan yang menimpa sumoinya.

Gadis ayu itu tentu akan jatuh tunggang langgang tertimpa meja.

Tapi sedetik kemudian mata Ku Jing San terbelalak!

Hampir tak dipercayainya gadis ayu yang kelihatan amat lemah itu ternyata mampu bergerak lebih cepat!

Jauh lebih cepat dari gerakannya malah!

Seperti main sulap saja gadis ayu itu membawa kursinya meluncur ke depan meja, lalu kakinya yang terbungkus sepatu mungil itu diangkat ke atas, menyongsong kaki Ku Jing San.

Maka tak dapat dihindarkan lagi kedua kaki yang berlawanan arah itu bertemu satu sama lain.

Sekejap Ku Jing San agak menyesal.

Pemuda itu khawatir tenaganya akan terlalu besar sehingga kaki lawannya yang cantik itu dapat menjadi patah karenanya.

Mati-matian Ki Jing San mencoba mengurangi tenaganya!

Tapi untuk yang kedua kalinya Ku Jing San telah terkecoh oleh lawannya.

Kebaikan hatinya itu ternyata justru telah mencelakakan dirinya sendiri.

Ketika kedua kaki yang berlawanan arah itu saling berbenturan satu sama lain.

bukannya kaki mungil itu yang patah, tetapi justru sebaliknya kaki Ku Jing San yang kokoh kuat itulah yang berderak mau patah.

"Dhiieees!"

"Uuugh!"

Ku Jing San mengeluh pendek.

Tubuhnya yang besar itu terlempar ke belakang menabrak meja yang lain.

Namun demikian dengan tangkas pemuda itu bangkit kembali.

Hanya saja ketika akan melangkah, tiba-tiba saja kakinya terasa sakit bukan main.

Terpaksa dengan hanya bertumpu pada kaki kirinya pemuda itu meloncat ke depan lawannya kembali.

Tangan kirinya meluncur dengan kekuatan penuh ke arah muka gadis ayu itu.

Dan kali ini pemuda itu benar-benar tidak mau sembrono lagi.

Pukulannya itu benar-benar dilandasi dengan seluruh tenaga dalamnya yang dahsyat.

Akan tetapi untuk yang kesekian kalinya Ku Jing San telah salah perhitungan pula.

Lawannya kali ini ternyata memiliki watak, sifat dan kesaktian yang tidak lumrah manusia.

Gadis ayu yang kelihatan lemah gemulai itu ternyata sama sekali tidak mempunyai rasa belas kasihan dan kebajikan.

Bagaikan iblis wanita yang haus darah gadis ayu itu juga mengayunkan tangan kanannya dan belasan am-gi (senjata rahasia) berbentuk bintang segera menebar menyongsong kedatangan Ku Jing San.

Begitu banyaknya senjata rahasia itu tersebar dari telapak tangannya, seolah-olah gadis ayu itu hendak membunuh seekor gajah hanya dengan sekali timpuk.

Wajah Ku Jing San menjadi pucat pasi.

Pemuda itu merasa ajalnya telah sampai.

Tak mungkin ia dapat menghindari semua senjata rahasia yang tertuju ke arah bagian-bagian tubuhnya yang mematikan itu.

Seluruh kejadian, sejak Song Li Cu mendapat musibah sampai dengan Ku Jing San terancam jiwanya, berlangsung dalam waktu yang singkat, sehingga orang-orang yang berada di dalam ruang makan itu hampir sama sekali belum menyadari apa yang telah terjadi.

Baru sesaat kemudian semuanya sadar bahwa telah terjadi keributan yang bisa mengancam jiwa mereka.

Otomatis semuanya bubar dan lari menghindar.

Ternyata Liu Wan dan Kwe Tek Hun yang berjalan mendahului rombongan itu juga terlambat mengetahui kejadian yang menimpa Song Li Cu dan Ku Jing San tersebut.

Mereka berdua baru sadar ketika keadaan Ku Jing San sudah diambang maut!

Demikianlah, di dalam situasi yang amat mendesak dan berbahaya bagi keselamatan Ku Jing San itu, tiada lain yang bisa dilakukan oleh Kwe Tek Hun dan Liu Wan selain berusaha menolong dengan ilmunya yang paling tinggi.

Hampir berbareng keduanya bergerak!

Liu Wan berbalik sambil merendahkan badannya.

Dari bawah pinggangnya pemuda itu menggerakkan kedua tangannya ke depan, ke arah taburan am-gi yang meluncur dari tangan gadis ayu itu.

Terdengar suara mendesing tajam dari telapak tangannya itu ketika hembusan angin yang kuat menyambar ke arah taburan amgi.

"Siiiiiiing!!!"

Dan pada saat yang bersamaan Kwe Tek Hun menjejakkan kakinya ke lantai.

Tubuh pemuda itu melesat seperti kilat ke depan dengan gaya dan gerakan yang sangat aneh serta mentakjubkan.

Badan pemuda itu selalu berputar setengah lingkaran setiap menjejakkan kakinya ke lantai.

Dan hanya dalam dua kali gerakan saja pemuda itu telah mampu menyambar tubuh Ku Jing San.

Jauh lebih cepat daripada luncuran am-gi lawannya.

Pada detik itu pula tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras bagaikan petir.

"Duuuuuuuaaar!"

Belasan senjata rahasia yang meluncur dari tangan gadis itu tadi tampak berhamburan ke lantai terkena pukulan udara kosong yang melesat dari tangan Liu Wan!

Akan tetapi secara tak terduga salah sebuah di antaranya mendadak meledak ketika jatuh menimpa lantai!

Dan ledakan itu ternyata disertai semburan api kecil berwarna kehijauan!

Celakanya semburan api itu persis mengenai tumit Ku Jing San yang terseret ketika diselamatkan Kwe Tek Hun!

"Auuuugh...!"

Sekali lagi Ku Jing San mengeluh kesakitan karena semburan api panas itu kebetulan mengenai bagian tulangnya yang nyeri tadi.

Ku Jing San lolos dari maut berkat pertolongan Kwe Tek Hun dan Liu Wan.

Tetapi gadis ayu itu justru tertawa menyakitkan.

"Hihihi... Hebat sekali! Sungguh hebat sekali! Selama keluar dari rumah baru sekarang aku melihat ilmu silat yang bermutu! Dan kalian berdua ternyata memiliki ilmu silat yang berbeda. Yang satu mempunyai Thian lui-khong (Pukulan Petir Membelah Langit) dari keluarga Yap, sedangkan yang lain memiliki Ban seng-po Lian-hoan (Langkah Selaksa Bintang Berantai) dari Keluarga Kwe yang tersohor! Nah, coba kalian sebutkan... apa hubungan kalian dengan keluarga-keluarga tokoh persilatan yang kusebutkan tadi?"

Kalau pada saat itu ada halilintar yang menyambar di dalam ruangan tersebut, mungkin Liu Wan maupun Kwe Tek Hun tidak akan sekaget seperti sekarang.

Rasanya benar-benar tak masuk akal, hanya dengan melihat sebuah gerakan saja dari ilmu silat mereka, gadis ayu yang masih berusia sangat muda itu mampu menebak dengan tepat asal-usul ilmu silat Liu Wan maupun Kwe Tek Hun!

"Nona...?

Sebutkan dulu, kau siapa...?"

Dengan suara serak Liu Wan bertanya.

"Benar, Nona... sebutkanlah namamu dan nama perguruanmu!"

Kwe Tek Hun turut menandaskan pertanyaan Liu Wan. Gadis ayu itu tertawa geli, namun kali ini nadanya terasa dingin dan kaku. Suaranyapun terdengar congkak dan ketus ketika memberi jawaban.

"Kalian mau tahu namaku? Huh, boleh saja! Setiap saat kalian boleh saja mencari aku untuk membuat perhitungan! Dengar, namaku... Mo Goat! Aku datang jauh dari utara Tembok Besar, dari Gurun Gobi! Cukup jelas?"

"Gurun Gobi...?"

Liu Wan dan Kwe Tek Hun berdesah sambil berusaha mengingat-ingat tokoh-tokoh persilatan yang bertempat tinggal di Gurun Gobi, yang mungkin mempunyai hubungan dengan gadis di depan mereka itu.

Tetapi sampai beberapa saat mereka berdua tetap tak mampu menemukan tokoh yang mereka kenal.

Sebaliknya dengan tatapan matanya yang semakin mengancam, gadis ayu yang bernama Mo Goat itu mendesak mereka.

"Ayoh, sekarang lekaslah kalian katakan! Apa hubungan kalian dengan tokoh-tokoh tua yang telah kusebutkan tadi?"

Liu Wan dan Kwe Tek Hun saling pandang satu sama lain.

Sebenarnya mereka tak ingin membawa-bawa nama guru atau perguruan mereka.

Akan tetapi gadis itu telah menyebutkan nama dan asal-usul perguruannya, sehingga tak enak rasanya kalau mereka tetap menyembunyikan diri mereka.

Salah-salah mereka dikira takut terhadap gadis itu.

Sementara itu Tio Ciu ln telah membawa Song Li Cu dan Ku Jing San ke tempat yang aman.

Song Li Cu masih tetap lemas kena totokan tadi, sedangkan Ku Jing San juga masih merasakan kesakitan pada kaki kanannya.

Karena tidak bisa mengobati mereka, maka Tio Ciu In memutuskan untuk menantikan saja petunjuk dari Kwe Tek Hun dan Liu Wan.

Dan Tio Ciu In segera memasang telinga ketika gadis yang bernama Mo Goat itu bertanya tentang asal-usul Liu Wan dan Kwe Tek Hun.

Di dalam hatinya gadis ayu itu juga ingin tahu siapa sebenarnya Liu Wan yang baru saja dikenalnya itu.

"Baiklah. Dugaan Nona memang benar. Aku memang mempunyai hubungan perguruan dengan keluarga Yap, karena salah seorang dari anggota keluarga itu adalah Guruku. Dan namaku sendiri adalah Liu Wan..."

Akhirnya Liu Wan mengaku juga.

"Nah, dugaanku benar bukan? Thian-lui-khong-ciang hanya ada satu di dunia ini dan ilmu sakti itu hanya dimiliki oleh keluarga Yap di Kotaraja. Melihat kesempurnaan ilmu yang kau keluarkan tadi, aku berani memastikan bahwa kau adalah murid Hong-lui-kun Yap Kiong Lee yang terkenal itu. Benar tidak?"

Dengan suara tetap kaku Mo Goat berkata lantang. Liu Wan yang biasanya tangkas berbicara itu terdiam. Wajahnya kelihatan kaku menahan geram.

"Dan dugaanku tentang engkau juga benar, bukan?"

Mo Goat mengalihkan ucapannya kepada Kwe Tek Hun.

"Kau tentu anak murid Keluarga Kwe yang bertempat tinggal di Pulau Meng-to itu."

Kwe Tek Hun berdesah pendek. Hatinya juga merasa geram terhadap gadis itu, tapi seperti halnya Liu Wan dia juga merasa sulit untuk mengungkapkannya. Gadis itu memang pintar mempermainkan orang.

"Ya! Aku memang putera tunggal pendekar Kwe Tiong Li, pemilik Pulau Meng-to."

Sekejap mata yang bulat indah itu terbelalak.

"Oh, jadi kau putera pendekar yang disebut orang Keh-sim Taihiap itu? Sungguh tak kusangka sama sekali. Pantaslah kalau Ban-seng-po Lian-hoan yang kau keluarkan tadi mampu mengungguli kecepatan senjata rahasiaku. Ban-seng-po Lian-hoan memang hebat sekali. Mungkin sejajar dengan Bu-eng Hwe-teng milik Bit-bo-ong jaman dahulu."

Diam-diam Liu Wan dan Kwe Tek Hun merasa tergetar juga hatinya. Gadis remaja itu ternyata luas sekali pengetahuannya. Sungguh tak sebanding dengan usianya.

"Wah, jangan-jangan ilmu silat gadis ini juga hebat pula..."

Liu Wan mulai menduga-duga di dalam hati. Semantara itu melihat kedua adik seperguruannya masih menderita akibat perbuatan lawannya, Kwe Tek Hun menjadi penasaran.

"Nona...! Kami hanya tertawa secara tidak sengaja. Itupun aku sudah berusaha mengalah dengan meminta maaf kepadamu. Tetapi mengapa kau tetap saja menganiaya dan mempermainkan Adik-adikku? Apakah engkau benar-benar tidak memiliki perasaan?"

Mata itu tiba-tiba berkilat marah.

"Apa katamu? kau anggap aku tak berperasaan? Huh! justru kalianlah yang tak memiliki perasaan! Semua orang Han berhati culas dan kejam! Mengapa aku harus berbelas kasihan kepada kalian?"

Sekonyong-konyong Mo Goat menjerit.

Semua orang terperanjat.

Ucapan yang baru saja keluar dari mulut gadis itu seperti melantur, namun juga seperti mengandung arti yang dalam, seolah-olah gadis itu sangat kecewa dan amat membenci bangsa Han.

"Eh, ucapan Nona sungguh sangat mengherankan sekali. Mengapa Nona menyeret-nyeret bangsa Han dalam pertengkaran kita ini? Mengapa pula Nona mengatakan orang Han itu culas dan kejam? Apa hubungannya?"

Liu-Wan bertanya penasaran. Tak terduga kemarahan Mo Goat semakin berkobar. Gadis itu mengembangkan kipasnya di depan dada. Matanya yang indah itu menjadi beringas.

"Jangan banyak tanya! Pokoknya setiap orang Han yang mengganggu aku takkan kuberi ampun! Harus dibunuh! Termasuk... temanmu yang telah berani menyerangku itu!"

Serunya nyaring seraya menuding ke arah Ku Jing San. Kwe Tek Hun mendengus melalui hidungnya.

"Kau takkan bisa membunuhnya. Dia adalah adik seperguruanku. Selama aku masih ada di sini, dia takkan bisa kau apa-apakan!"

Pemuda gagah itu menggeram.

"Hihihihi...! kau katakan aku tak bisa membunuhnya? Oooo, kau benar-benar buta dan bodoh! Apa kau tak menyadari bahwa Sutemu itu sebentar lagi akan mati? Coba kau lihat kakinya yang sakit itu...!"

Mendadak gadis itu tertawa mengejek. Kwe Tek Hun menoleh. Dipandangnya Ku Jing San lekat-lekat. Hatinya merasa was-was juga "Jing San...! Bagaimana kakimu?"

Tanyanya khawatir. Ku Jing San yang kesakitan itu cepat membuka sepatunya. Tiba-tiba matanya terbeliak. Kaki yang terbungkus sepatu itu ternyata sudah busuk dan berwarna hijau.

"Suheng...!"

Ku Jing San berteriak naikkan pipa celananya, warna kehijauan itu ternyata telah merembes ke atas sampai di bawah lututnya kehijauan!

Dan ketika pemuda itu melihat dengan gemetar ke arah Kwe Tek Hun.

Bagai berlomba Kwe Tek Hun dan Liu Wan melesat mendekati Ku Jing San.

Keduanya bergegas memeriksa kaki anak muda itu.

Kwe Tek Hun mencoba menekan bekas luka bakar akibat ledakan senjata rahasia tadi.

Tapi betapa kagetnya dia ketika daging itu mendadak terlepas dan jatuh tergumpal di atas lantai.

Daging di atas tumit itu sekarang menganga, namun anehnya tak setetespun darah keluar.

Kwe Tek Hun meloncat mundur dengan muka pucat.

Liu Wan menatap pendekar muda itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sebagai seorang tabib yang mengerti ilmu pengobatan ia tahu bahwa kaki itu tak bisa dipertahankan lagi.

"Saudara Kwe! Potong saja kaki itu sebelum racunnya naik ke atas! Cepat!"

Liu Wan berseru tegang.

"Apaaaa...? Kakiku dipotong?"

Ku Jing San menjerit hampir pingsan.

"Saudara Liu? Apa maksudmu...?"

Kwe Tek Hun menegaskan pula dengan suara menggeletar.

"Daging itu sudah mati dan busuk! Tak mungkin bisa dihidupkan lagi walau dengan obat dewa sekalipun! Satu-satunya jalan hanya dibuang, sebelum menjalar ke bagian lain!"

Liu Wan menerangkan.

"Ooouuh...!"

Ku Jing San berdesah ketakutan. Wajahnya menjadi putih pucat seperti tak berdarah.

"Saudara Kwe, cepat...! Lakukan apa yang dikatakan Liu Twako! Dia seorang tabib yang tak mungkin berdusta!"

Dalam ketegangannya Tio Ciu ln ikut berteriak.

"Hihihih...! Mengapa kalian semua menjadi cemas? Biarkan saja dia mati! Racun api itu memang tidak ada obat pemunahnya! Sekali kena tak mungkin bisa hidup lagi!"

Mo Goat tertawa puas. Melihat pertunjukkan kekejaman yang sangat mengerikan itu para tamu yang masih tersisa di tempat tersebut segera bubar menyelamatkan diri. Ruang makan itu lantas menjadi sepi.

"Iblis keji! kau memang bukan manusia...!"

Akhirnya Kwe Tek Hun memekik, lalu mencabut pedang yang terselip di pinggangnya dan menabas kaki Ku Jing San, persis pada lututnya.

Darah segar mengucur deras dari kaki yang terpotong itu.

Dan pukulan batin tersebut benar-benar tak dapat dipikul oleh Ku Jing San.

Pemuda itu terkapar di lantai tak sadarkan diri.

Liu Wan yang kemudian bergerak menolongnya.

Pemuda yang mahir ilmu pengobatan itu segera memungut bungkusan obatnya.

Paha Ku Jing San cepat diikatnya erat-erat, kemudian lukanya yang menganga lebar itu ditaburinya dengan obat sampai rata.

Setelah itu semuanya dibalut dengan kain bersih, sehingga sebentar kemudian kaki yang buntung tersebut telah terbungkus dengan rapi.

Melihat sutenya telah dirawat Liu Wan, Kwe Tek Hun segera kembali menghadapi Mo Goat.

Wajah pemuda gagah itu tampak suram.

Bagaimanapun sabarnya pemuda itu, namun usia Kwe Tek Hun tetap masih muda.

Darahnya masih mudah bergejolak pula seperti halnya pemuda lain.

Apalagi tindakan sewenang-wenang itu menimpa adik seperguruannya sendiri.

Maka tidaklah mengherankan bila akhirnya pemuda itu tak bisa menahan dirinya lagi.

Terdengar suara berkerotokan ketika Kwe Tek Hun mengerahkan tenaga saktinya.

Matanya tampak mencorong seperti mata harimau di dalam kegelapan.

"Nona! Sebetulnya aku tidak suka berkelahi dengan wanita. Tetapi perlakuanmu yang amat kejam itu dan tak berperikemanusiaan itu membuat aku terpaksa menghadapimu."

Lagi-lagi Mo Goat tertawa dingin. Nada suaranya semakin terasa mengerikan, seperti suara hantu cantik di malam sunyi.

"Kau mau melawanku? Baiklah! Tapi jangan menyesal bila nasibmu sama seperti kawanmu itu. Hihihi, majulah...!"

Kwe Tek Hun mencabut kembali pedangnya.

Pemuda itu tidak ingin bernasib malang seperti halnya Ku Jing San dan Song Li Cu, terjungkal pada gebrakan pertama.

Apalagi gadis cantik itu sekarang membawa kipas bajanya yang aneh.

"Lihat pedang!"

Kwe Tek Hun tiba-tiba berseru dan menyerang.

Mula-mula pedang Kwe Tek Hun menghunjam ke bawah, menuju ke perut Mo Goat.

Tapi sebelum ujung pedang itu menyentuh sasaran, Kwe Tek Hun mengangkatnya ke atas seperti layaknya orang mencongkel sebuah benda dengan ujung pedang.

Terdengar suara mengaung tak kala ujung pedang yang tipis itu bergetar dengan hebat.

Mo Goat terkesiap Walaupun serangan yang sesungguhnya belum datang, namun getaran ujung pedang yang menggiriskan itu seperti memberi bisikan padanya agar berhati-hati.

Oleh karena itu sama sekali ia tak berusaha menangkis atau menyentuh ujung pedang pedang tersebut.

Gadis itu memilih jalan yang lebih aman, yaitu menghindar sambil balas menyerang.

Dengan gesit Mo Goat menggeliatkan tubuhnya ke kanan, sehingga pinggangnya yang kecil pipih itu seolah-olah terlipat mau patah.

Dan gerakannya yang indah itu segera diikuti dengan meluncurnya ujung kaki kirinya ke atas, ke dagu Kwe Tek Hun.

Untuk sesaat Kwe Tek Hun mengagumi kecerdikan lawan yang tak mau membentur ujung pedangnya, sehingga jebakan yang telah dia persiapkan menjadi batal untuk dilakukan.

Bahkan sekarang dagunya balik diserang dengan ujung sepatu lawan.

Kwe Tek Hun menarik tubuhnya ke belakang sambil mengayunkan pedangnya mendatar.

Sambil mengelak pemuda itu bermaksud menabas kaki Mo Goat.

Kali ini Kwe Tek Hun benar-benar mengerahkan kelincahan dan kecepatan geraknya agar mampu memotong kaki gadis itu, sehingga dendam Ku Jing San dapat terbalas.

Tapi keinginan itu memang sulit terlaksana.

Jangankan memotong kaki lawan, menyentuh kainnyapun ternyata tidak bisa.

Gerakan Kwe Tek Hun yang dilandasi tenaga dalam sepenuhnya itu memang cepat bukan main, namun ternyata gerakan Mo Goat jauh lebih cepat lagi.

Hanya dengan jalan melemparkan badannya ke belakang, gadis ayu itu sudah bisa meloloskan diri dari tebasan pedang Kwe Tek Hun.

Meskipun demikian beberapa gebrakan tadi sudah cukup bagi mereka untuk menjajaki ilmu masing-masing.

Ternyata mereka sama-sama memiliki kegesitan dan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa.

Ban-seng-po Lian-hoan dari keluarga Kwe yang sangat dikagumi orang itu ternyata sekarang bisa dilayani dengan baik oleh Mo Goat.

Ginkang gadis itu benar-benar hebat tiada terkira.

Dan pertarungan selanjutnya lebih tepat disebut pertandingan ilmu meringankan tubuh daripada bertempur mengadu ilmu silat.

Mereka berdua bagaikan sepasang burung walet yang berlaga di udara.

Tubuh mereka berkelebatan kesana-kemari, di antara meja dan kursi.

Kadang-kadang terdengar suara nyaring apa bila kedua senjata mereka beradu satu sama lain.

"Traaaaaang, Trannnnnng! Thing!"

Tak terasa peluh dingin membasahi punggung tangan Liu Wan.

Pertarungan itu sungguh dahsyat dan menegangkan.

Masing-masing ternyata memiliki modal ilmu silat yang sulit dicari tandingannya.

Mo Goat yang cantik itu mempunyai ilmu silat yang aneh dan mengerikan.

Sepintas lalu gaya dan gerakannya seperti campur aduk antara beberapa ilmu silat yang dimainkan bersama-sama.

Namun apabila diperhatikan benar-benar, maka akan tampak betapa dalamnya arti dari setiap gerakan yang kelihatan seperti campur aduk itu.

Begitu dalam dan rumit sehingga menyimpan kekuatan yang dahsyat tiada terkira.

Apalagi semuanya itu didukung oleh lwekang dan ginkang gadis itu yang sukar diukur pula tingginya.

Akan tetapi Kwe Tek Hun sendiri juga memiliki ilmu yang hebat pula.

Sebagai ahli waris Keh-sim Taihiap (Pendekar Patah Hati), yang tersohor memiliki beberapa macam ilmu kesaktian tinggi, seperti Pek-in Ginkang (Ilmu Meringankan Tubuh Awan Putih), Kim-hong-kun-hoat (Pukulan Burung Merak), Pai-hud-sinkang (Tenaga Sakti Menyembah Budha) dan Ban-seng-po Lian-hoan (Langkah Selaksa Bintang Berantai), maka tak mengherankan bila pemuda gagah itu juga tumbuh seperti ayahnya.

Di dalam usianya yang masih amat muda, kesaktian Kwe Tek Hun benar-benar sulit dicari tandingannya.

Namun di kota Hang-ciu ini ternyata Kwe Tek Hun mendapatkan lawan yang setimpal.

Mo Goat, seorang gadis remaja, yang usianya jauh lebih muda daripada Kwe Tek Hun, ternyata mampu menandinginya.

Malahan kalau dikaji benar-benar, gadis cantik itu justru memiliki beberapa kelebihan yang bisa membahayakan jiwa Kwe Tek Hun.

Apalagi gadis itu tampaknya belum mengeluarkan seluruh ilmu simpanannya.

Sebagai seorang yang juga memiliki ilmu silat tinggi Liu Wan segera bisa membaca irama pertempuran mereka.

Setelah pertempuran berlangsung lebih dari lima puluhan jurus, terlihat permainan pedang Kwe Tek Hun mulai tampak kesulitan menghadapi kelincahan kipas Mo Goat.

Meskipun permainan pedang Kwe Tek Hun tersebut bukan merupakan ilmu andalan Keluarga Kwe, tapi untuk memainkannya pemuda itu sudah menopangnya dengan Pai-hud-sinkang dan Pek-in-ginkang, sehingga kekuatan dan kecepatannya benar-benar telah menjadi berlipat ganda.

Akan tetapi kehebatan ilmu pedang itu masih tetap saja di bawah bayang-bayang ilmu kipas Mo Goat yang cepat dan kuat.

Tampaknya lwekang dan ginkang gadis cantik itu memang lebih tinggi daripada Kwe Tek Hun.

Kenyataan itu benar-benar mengecutkan hati Liu Wan.

Pemuda sakti yang mahir bermacam-macam ilmu itu merasa bahwa kepandaiannya tak lebih baik daripada Kwe Tek Hun.

Walaupun dia memiliki Thian-Iui-khong-ciang yang ampuh, rasanya juga sulit mengalahkan Mo Goat.

Gadis cantik itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, sehingga Pek-in ginkang keluarga Kwe yang sangat disegani orang itu tak berdaya dibuatnya.

Thian-lui-khong-ciang memang dahsyat.

Tapi ilmu itu membutuhkan pengerahan Iwekang yang berat pula.

Kalau lawan dengan ginkangnya yang tinggi bisa selalu menghindari pukulannya, akhirnya ia sendiri yang akan kehabisan tenaga.

"Bukan main...!"

Liu Wan berdesah kagum.

Sebaliknya pertempuran tingkat tinggi itu semakin membuka mata Tio Ciu In.

Ternyata apa yang didapat dari gurunya selama ini belumlah apa-apa bila dibandingkan dengan mereka, jangankan harus mengikuti jurus-jurus yang mereka keluarkan, melihat gerakan-gerakan mereka yang cepat bagai kilat itu saja sudah membuat pening kepalanya.

Namun kenyataan itu justru menggugah semangatnya.

Ia harus bisa seperti mereka.

Ia harus lebih tekun mempelajari ilmu silat Im-yang-kauw, karena gurunya pernah bercerita bahwa Aliran Im-yang-kauw juga memiliki sebuah ilmu yang amat dahsyat, yang disebut Ilmu Silat Kulit Doma.

Siapa tahu dirinya bisa mempelajarinya kelak?

"Traaaaaaang...!"

Tiba-tiba Tio Ciu In dikejutkan oleh suara benturan senjata yang amat nyaring.

Ketika gadis ayu itu memandang ke arena pertempuran, dilihatnya Kwe Tek Hun dan Mo Goat telah berhenti bertempur.

Mereka tampak berdiri berhadapan dalam jarak lima langkah.

Sementara Liu Wan yang berdiri menonton tadi telah berada di dekat Tek Hun.

Mo Goat berdiri tegak sambil mengibas-ngibaskan kipasnya di depan dada.

Bibirnya yang merah tipis itu tersenyum mengejek.

Sedangkan Kwe Tek Hun tampak berdiri lesu memandangi pedang yang terlepas jatuh dari tangannya.

"Kau memang hebat, Nona. Rasanya aku harus belajar sepuluh tahun lagi untuk bisa menandingimu. Baiklah, kami mengalah kali ini. Tapi suatu saat aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan lagi."

Akhirnya pemuda itu menggeram perlahan. Tak terduga gadis cantik itu mencibirkan bibirnya.

"Wah, enak benar...! Begitu kalah langsung pergi sambil mengancam akan membalas dendam. Mana ada. peraturan begitu?"

Ujarnya lantang. Kwe Tek Hun tersentak kaget.

"Maksud Nona...?"

"Crek!"

Gadis cantik itu menutup kipasnya dengan tiba-tiba. Matanya yang mencorong dingin itu menatap ganas.

"Tinggalkan dulu kepalamu! Baru kau boleh pergi meninggalkan tempat ini!"

Ben-taknya keras.

"Kurang ajar...!"

Kwe Tek Hun menggeram dengan wajah pucat pasi.

"Kau sungguh keterlaluan sekali, Nona! Apakah kau benar-benar ingin membunuh kami semua?"

Liu Wan berseru penasaran.

"Tentu saja."

Kalian telah berani mengusik ketenanganku. Dan tadi sudah kukatakan, orang-orang Han yang berani mengganggu aku akan kubunuh!"

"Baik! Kalau begitu silakan kau buktikan niatmu itu!"

Liu Wan menjadi marah juga akhirnya.

"Saudara Liu! Biarkan aku yang membuktikan ucapannya itu!"

Tiba-tiba Kwe Tek Hun berteriak, lalu menerjang lebih dulu ke arah Mo Goat. Gadis cantik itu tertawa mengejek.

"Majulah kalian semuanya, agar aku bisa menghemat waktu!"

Serunya seraya mengelak ke samping.

"Iblis...!"

Liu Wan mengumpat keras.

Pemuda itu lalu merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

Berbareng dengan kedua kakinya yang ditarik merenggang, kedua belah telapak tangan yang terbuka itu mendorong ke depan dengan kekuatan penuh.

"Wuuus!"

Terdengar suara desir angin meluncur dari kedua telapak tangan tersebut.

Mo Goat ingin mencoba kekuatan Thian-lui-khong-ciang Liu Wan.

Sambil merendahkan badannya, gadis itu mengibaskan kipasnya ke depan.

"Duaaaaar!"

Terdengar sebuah letupan yang amat keras!

Gadis cantik itu terdorong mundur satu langkah, sementara dua lembar daun kipasnya di bagian tengah tampak melengkung.

Sebaliknya tubuh Liu Wan sendiri kelihatan bergoyang-goyang, meskipun kedua kakinya tetap kokoh menghunjam lantai.

Pemuda itu merasakan betapa kuatnya sambaran kipas lawannya tadi.

"Bagus, kalian berdua telah maju berbareng! Kali ini akupun tidak akan segan-segan lagi mengeluarkan ilmuku! Nah, lihatlah...!"

Sekonyong-konyong Mo Goat berseru nyaring.

Liu Wan bersiap kembali dengan pukulan Thian-lui-khong-ciangnya.

Bahkan pemuda itu telah siap untuk mengurung lawannya dengan ilmu silat andalan perguruannya, Tai-khong Sin-kun (Pukulan Angin Puyuh)!

Sedangkan Kwe Tek Hun tampak merapatkan ujung-ujung jari tangannya di depan wajahnya.

seolah-olah ingin membentuk dua buah paruh burung merak dengan jari-jarinya itu.

Tapi mata mereka tiba-tiba terbeliak.

Tubuh lawannya yang rampirg indah itu.

mendadak pecah menjadi dua bagian dan masing-masing bagian lalu tumbuh menjadi tubuh Mo Goat yang utuh, sehingga di dalam arena tersebut ada dua Mo Goat yang siap bertarung dengan mereka.

"Gila! Tidak mungkin..."

Kwe Tek Hun berdesis ragu.

"Awas, saudara Kwe, ia pandai ilmu sihir!"

Liu Wan yang juga menjadi bingung itu memperingatkan temannya.

"Hihihihi...! Ayolah, keluarkan seluruh kepandaianmu!"

Sepasang Mo Goat kembar itu menantang.

"Saudara Kwe, mari kita hadapi dia bersama-sama!"

"Mari!"

Karena tak tahu mana Mo Goat yang aseli dan mana Mo Goat yang palsu, maka Liu Wan dan Kwe Tek Hun menyerang saja semuanya.

Liu Wan segera mengeluarkan Pukulan Angin Puyuhnya.

Bergantian kedua telapak tangannya menghantam tubuh Mo Goat yang berdiri di depannya.

Angin kencang terasa bersiutan dari telapak tangannya, melanda tubuh gadis itu.

Dan dalam waktu yang bersamaan Kwe Tek Hun juga menerjang pula tubuh Mo Goat yang lain.

Pemuda gagah itu menyerang dengan jurus Kim-hong-pao-goat (Burung Merak Memeluk Bulan), salah satu jurus Kim-hong-kun-hoat andalan Keluarga Kwe.

Gerakannya sangat indah, namun amat berbahaya dan mematikan.

Memang sebenarnyalah bahwa ilmu silat Keluarga Kwe sangat hebat.

Kalau tadi Kwe Tek Hun dikalahkan, hal itu bukan karena kepandaiannya yang rendah, tapi disebabkan karena pemuda tersebut telah terlanjur mempergunakan pedangnya.

Padahal bukan itulah yang menjadi inti kepandaiannya.

Namun karena pedangnya terlanjur dikalahkan, sebagai seorang ksatria pemuda itu mengakui kekalahannya.

Kini tanpa pedang di tangannya Kwe Tek Hun justru menjadi lebih berbahaya malah.

Dengan ilmu andalan keluarganya itu Kwe Tek Hun benar-benar seperti seekor harimau ganas yang tumbuh sayapnya.

Demikianlah dalam waktu yang bersamaan Mo Goat diserang dengan dua macam ilmu silat tinggi yang jarang tampak di dunia persilatan.

Meskipun demikian gadis yang kini berubah menjadi dua orang itu sama sekali tak menunjukkan perasaan takut.

Kedua tubuh kembarnya itu masing-masing cepat mengelak dengan ginkangnya yang amat tinggi.

Bahkan beberapa saat kemudian tubuh kembar itu ganti menyerang dengan gesitnya.

Masing-masing dari tubuh kembar itu berkelebatan mengurung Liu Wan dan Kwe Tek Hun.

Memang mentakjubkan, masing-masing seperti memiliki nyawa sendiri-sendiri.

Maka terjadilah sebuah pertempuran seru, aneh dan membingungkan!

Seru, karena ilmu-ilmu yang mereka keluarkan adalah ilmu yang jarang ada duanya di dunia persilatan.

Tapi aneh dan membingungkan karena salah seorang di antaranya cuma bentuk semu atau bentuk tipuan yang sebenarnya tidak ada.

Hanya karena kehebatan ilmu sihir Mo Goat saja hal itu bisa terjadi.

Yang benar-benar repot adalah Liu Wan.

Tanpa disadarinya pemuda itu berkelahi melawan bentuk Mo Goat yang palsu.

Maka ilmu silatnya yang dahsyat dan menggiriskan itu menjadi percuma saja.

Dia seperti bertempur dengan sebuah bayangan yang bisa dilihat, tapi tak dapat disentuhnya.

Thian-lui-khong-ciangnya yang meledak-ledak seperti halilin tar itu tidak bisa menghancurkan tubuh lawannya.

Paling-paling tubuh lawannya itu seperti bergoyang-goyang mau hilang bila terkena pukulannya.

Sementara itu Kwe Tek Hun yang kebetulan berhadapan dengan Mo Goat asli, benar-benar harus mengerahkan segala kemampuannya.

Lawannya yang masih amat muda itu ternyata menyimpan ilmu yang luar biasa tingginya.

Ilmu silat keluarganya yang selama ini tak pernah memperoleh lawan, sekarang benar-benar ketemu batunya.

Tenaga sakti Pai-hud-sinkang dan ilmu meringankan tubuh Pek-in-ginkang, yang selama ini ditakuti orang sama sekali tak berdaya mengungguli tenaga dalam dan kelincahan lawannya.

Dalam segala hal gadis cantik itu ternyata berada di atasnya.

Hanya langkah ajaib Ban-seng-po Lian-hoan saja yang akhirnya masih bisa menolong Kwe Tek Hun dari kehancuran.

Dalam keadaan terpojok, langkah ajaib itu ternyata masih mampu menyelamatkan nyawanya.

Akan tetapi dengan demikian akhir dari pertempuran itu sudah bisa diduga.

Cepat atau lambat Kwe Tek Hun maupun Liu Wan mesti mengakui keunggulan lawannya.

Dan hal itu berarti saat kematian mereka telah tiba Mo Goat yang kejam dan amat benci kepada orang Han itu tentu akan membunuh mereka.

Walaupun tidak dapat mengikuti irama pertempuran tersebut, namun Tio Ciu In dapat juga merasakan kesulitan kawan-kawannya.

Tapi karena kepandaian sendiri masih terlampau rendah, maka tak mungkin bisa menolong mereka.

Matahari belum terlampau tinggi.

Sinarnya yang hangat masih menerobos lobang jendela, menebarkan kehangatan di udara pagi yang dingin itu.

Tio Ciu In memang tidak merasa kedinginan karena pertempuran itu justru membuatnya gerah dan cemas.

* * * Lain halnya dengan Tio Siau In, yang pada saat itu sedang duduk merenung sendirian di rumah tabib di tepi laut itu.

Walau di depan perapian, gadis itu masih kedinginan.

Matahari memang bersinar terang di tepi laut itu.

Tapi karena angin laut.

berhembus sangat kencang, maka panasnya seolah-olah selalu terguncang pergi terbawa angin.

Bahkan hembusan angin yang amat kuat itu justru melemparkan butiran-butiran air ke daratan.

Dinginnya bukan alang kepalang.

Tio Siau In melipat kakinya yang dingin di depan perapian.

Gadis centil yang biasanya selalu bersikap lincah itu kini hanya merenung diam tak bergerak.

Matanya yang berbulu lentik itu menatap kosong ke dalam api, seakan-akan lidah api yang menjilat-jilat ke atas itu amat mengasyikkannya.

Tio Siau In memang sedang melamun.

Berbagai peristiwa menegangkan yang dialaminya sejak dia meninggalkan rumah berkelebat satu persatu di depan matanya.

Semenjak gurunya memerintahkan dia dan kakaknya ke kota Hang-ciu untuk mencari pemuda bertato "Naga"

Di badannya, hingga peristiwa menegangkan yang terjadi di dalam rumah makan itu tadi malam.

Semula Tio Siau In memang tidak menyukai tugas itu.

Tugas >ang dianggapnya terlalu mengada-ada dan kurang masuk akal.

Tugas yang diberikan atas dasar ramalan-ramalan yang belum tentu benar.

Tapi kejadian demi kejadian yang secara tak sengaja dilihatnya, membuat Tio Siau In berbalik pikiran.

Sekarang gadis itu berubah menjadi ingin tahu, apa sebenarnya yang ada di balik cerita tentang pemuda bertato naga itu?

Mengapa kelihatannya setiap orang mempunyai kepentingan dengan pemuda bertato naga tersebut?

Bahkan sekarang di dekat Tio Siau In sendiri ada seorang pemuda yang juga memiliki tato naga di dadanya.

Mungkinkah pemuda ini yang dimaksudkan oleh gurunya itu?

Tak terasa Tio Siau In melirik ke pintu kamar yang ada di belakangnya.

Di dalam kamar itu A Liong beristirahat.

Sejak meminum obat penyembuh luka dalam, pemuda itu langsung tertidur dengan nyenyaknya.

Tio Siau In menarik napas panjang.

Matanya kembali terhunjam ke dalam perapian.

Kejadian yang mendebarkan hatinya semalam kembali di pelupuk matanya.

Kejadian yang sangat membekas di dalam hatinya, yang membuka mata batinnya akan sifat-sifat manusia.

Keculasan, keserakahan, kekejaman dan tipu daya demi kepentingan pribadi.

Tadi malam, ketika mereka memasuki perairan teluk kecil itu, Su Hiat Hong meminta kepada Tio Siau In untuk meminggirkan sampannya.

Berbeda dengan pantai di sekitarnya, pantai di teluk kecil tersebut memiliki hamparan pasir yang landai, sehingga Tio Siau In mudah membawanya ke daratan.

Rumah bekas tabib kerajaan itu didirikan di atas tiang-tiang yang cukup tinggi dari tanah.

Mungkin dimaksudkan untuk menghindari air pasang atau binatang-binatang melata yang banyak berada di tempat itu.

Setiap pintu keluar dipasangi tangga ke bawah.

Sementara di kanan kiri bangunan tersebut ditanami pohon-pohon besar untuk melindungi rumah itu dari angin laut dan terik matahari.

Rumah itu tidak begitu besar.

Mungkin hanya terdiri dari tiga atau empat Kamar saja.

Dan dinding bagian belakang rumah itu menempel pada tebing curam yang memagari ceruk sempit tersebut, sungguh sebuah rumah yang aneh dan antik.

"Rupanya Tong Kiat Teng belum tidur Mungkin dia masih bekerja di kamar obatnya, atau mungkiri dia sedang membaca di kamar tidurnya. Kita jangan sampai mengagetkannya."

Su Hiat Hong berkata pelan ketika melihat jendela rumah itu terbuka lebar. Sinar lampu dari dalam ruang panggung itu menyorot keluar.

"Lalu... apa yang harus kulakukan, Paman? Apakah aku harus naik dan mengetuk pintunya?"

Tio Siau In bertanya.

"Ya! Tapi lebih baik kita pergi ke sana bersama-sama. Coba, kau tolong pemuda ini agar bisa berjalan ke rumah itu!"

Su Hiat Hong yang masih lemah itu meminta kepada Tio Siau In.

Tio Siau In lalu memapah A Liong turun dari sampan, kemudian membantunya berjalan melewati hamparan pasir di tepian pantai tersebut.

Su Hiat Hong sambil mendekap dadanya yang sakit melangkah di belakang mereka.

"He, Paman... Lihatlah! Di sana ada perahu!"

Tiba-tiba Tio Siau Iri yang secara tak sengaja memandang ke laut berdesah perlahan. Tangannya menuding ke sebuah perahu yang ditambat di antara bongkalan batu karang besar di luar pantai.

"Haaah...? Nanti dulu, Nona! Jangan-jangan itu perahu orang-orang Hun tadi! Awas...! Mari kita mencari tempat persembunyian yang aman!"

"Bagaimana dengan sampan kita?"

"Biarkan saja. Takkan kelihatan dari rumah itu. Kalaupun diketemukan oleh orang-orang itu, paling-paling juga dikira kepunyaan Tong Kiat Teng. Ayoh, cepat!"

A Liong sama sekali tak berkata apa-apa ketika dibawa bersembunyi di semak-semak yang tumbuh di pinggiran tebing ceruk itu.

Pemuda yang masih tampak kesakitan itu menurut saja ketika dituntun Tio Siau In ke balik perdu.

Beberapa saat lamanya mereka menunggu di tempat itu.

Tapi tak seorangpun tampak keluar atau terdengar suaranya.

Rumah itu kelihatan sepi-sepi saja, Su Hiat Hong menjadi curiga.

Benarkah yang datang itu rombongan orang-orang Hun?

Kalau benar mereka, apa maksud mereka datang ke rumah Tong Kiat Teng ini?

Mengapa rumah itu tampak tenang-tenang saja?

Apakah mereka sudah saling mengenal?

"Nona...?"

Akhirnya Su Hiat Hong tak tahan lagi menunggu lebih lama.

"Mari kita mendekat ke rumah itu! Kita bergeser perlahan-lahan melalui semak-semak ini, lalu kita mendekam di bawah kolong rumah. Beranikah kau?"

Tio Siau In tersenyum.

"Seharusnya aku yang bertanya kepada Paman. Dengan keadaan Paman dan A Liong ini, apakah bisa merangkak sampai ke sana?"

"A Liong...? Bagaimana? kau tinggal di sini atau ikut kami ke rumah itu...?"

Su Hiat Hong bertanya kepada A Liong, pemuda itu menengadah kepalanya. Meskipun pucat namun pandangannya kelihatan tegar dan bersemangat.

"Aku ikut!"

Jawab pemuda itu tegas.

"Baiklah! Tapi kita harus berhati-hati benar! Langkah kita tidak boleh mengeluarkan suara sama sekali. Sekali kita ketahuan oleh orang-orang Hun itu, matilah kita! Bagaimana, Nona?"

Tio Siau In mengangguk.

Bagaimanapun juga gadis cantik itu sudah membulatkan tekadnya untuk menyelidiki masalah pemuda bertato naga ini.

Apalagi dia juga sudah bersedia untuk memberi pertolongan kepada Su Hiat Hong dan A Liong.

Tidak enak rasanya membiarkan mereka menempuh bahaya sendirian.

Mereka lalu merangkak perlahan-lahan mendekati rumah panggung itu.

Su Hiat Hong paling depan, A Liong di tengah dan Tio Siau In di belakang sendiri.

Semakin dekat dengan rumah itu perasaan mereka menjadi semakin tegang.

Apalagi lapat-lapat mereka mulai mendengar suara percakapan orang di dalam rumah itu.

Dua puluh langkah dari bangunan rumah itu Su Hiat Hong berhenti.

Perwira kerajaan itu teringat akan kebiasaan pimpinan orang Hun yang bersembunyi dalam gelap.

Ditelitinya lebih dulu tempat di sekeliling rumah tersebut, kalau-kalau ada orang di sana.

Setelah yakin tak ada bahaya yang mengancam mereka, Su Hiat Hong baru merangkak lagi.

Suara percakapan itu semakin jelas terdengar.

Apalagi ketika mereka telah sampai di bawah kolong rumah tersebut.

Mereka mencari tempat yang terlindung di antara bebatuan yang berserakan di bawah bangunan itu.

"Nah, sudah habis waktu yang kita berikan kepada Tabib Tua itu! Bawa dia ke sini!"

Tiba-tiba terdengar suara menggeledek di dalam rumah itu.

"Baik,. Goanswe! Prajurit, bawa orang tua itu ke mari!"

Hampir saja Su Hiat Hong berseru kaget.

Untunglah telapak tangannya cepat membungkam mulutnya sendiri.

Tentu saja Tio Siau In menjadi terheran-heran melihat ulahnya.

Gadis itu mendekatkan mulutnya ke telinga Su Hiat Hong.

"Ada apa. Paman? Mengapa kau tampak kaget sekali? Apakah Paman Telah mengenal suara itu?"

Su Hiat Hong mengangguk, namun ia menaruh jari telunjuknya di depan bibir.

Terdengar suara kaki dari bagian belakang diatas lantai papan rumah itu, terdengar suara ribut sebentar.

Kemudian terdengar suara langkah lagi, namun kali ini terdiri dari dua orang, di mana yang seorang langkahnya terdengar lemah dan agak di seret.

"Inilah dia, Goanswe!"

"Bagus! Nah, Tong Kiat Teng... waktu berfikir yang kami berikan telah habis. Bagaimana pendapatmu? Apakah kau sudah mau berterus-terang kepadaku?"

"Maaf, Goanswe... aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak tahu di mana anak-anak itu sekarang."

"Bangsat! Kau memang keras kepala! Apakah kau sudah tidak ingin hidup lagi?"

"Goanswe...? Apalagi yang aku harus katakan kepadamu? Aku sudah mengatakan semuanya. Memang akulah yang menyelamatkan anak-anak itu dari kobaran api yang mengamuk di Istana Pangeran Liu Yang Kun. Dan aku pulalah yang membawa mereka keluar dari Kotaraja. Tapi luka-lukaku ketika aku menerobos kobaran api itu selalu mengganggu perjalananku. Aku tak tahan lagi, sehingga ditengah jalan aku terpaksa menitipkan mereka pada seseorang. Celakanya, karena saat itu aku dalam keadaan sakit dan kalut pikiran, maka aku telah lupa kepada siapa aku telah menitipkan anak-anak itu."

"Bohong...! kau memang keras kepala! kau tak mau berterus terang kepadaku! kau tentu telah menyembunyikan mereka di suatu tempat...! Hmmh!"

"Aku tidak membohong, Goanswe. Selama lima belas tahun ini aku juga sia-sia mencari jejak anak-anak itu. Bagaikan orang gila aku mencari mereka kemana-mana. Seluruh negeri ini hampir telah kujelajahi semuanya, tapi aku tetap tidak menemukan mereka. Aku sudah berputus asa. Aku merasa berdosa kepada Pangeran Liu yang kun. Itulah sebabnya aku mengasingkan diri di tempat ini."

"Huh, kau memang benar-benar keras kepala, Kiat Teng! Rupanya kau memang sudah tidak menyayangi jiwamu lagi. Baiklah, tanpa bantuanmupun aku tentu dapat menemukan anak-anak itu. Masih banyak jalan untuk menemukan mereka, walaupun untuk itu akan jatuh korban jiwa. Aku tidak peduli. Jangankan cuma ribuan jiwa, kalau aku harus membantai setiap anak yang seusia merekapun akan aku laksanakan juga!"

Ucapan Au-yang Goanswe itu benar-benar mengejutkan Tong Kiat Teng.

Bahkan juga mengagetkan Su Hiat Hong yang bersembunyi di kolong rumah itu.

sungguh keji sekali hati Jenderal Au-yang yang telah diselimuti dendam itu.

Tak terasa Su Hiat Hong menoleh ke belakang, mencari Tio Siau In dan A Liong.

Tapi yang tampak cuma Siau In saja.

A Liong tidak berada di tempatnya.

Tentu saja keduanya semakin kaget.

Tio Siau In menjadi cemas sekali.

Hampir saja mulutnya berteriak memanggil.

Untung tidak jadi, karena tiba-tiba saja pemuda itu muncul dari celah-celah besar di sampingnya.

"Batu besar ini dapat bergeser. Ada lubang di bawahnya. Aku tadi menemukannya secara tak sengaja. Nona, marilah kita bersembunyi di sini. Di dalam ada ruangan yang lebar."

Pemuda itu memberi keterangan dengan kalimat pendek-pendek seperti orang yang terengah-engah. Lupa bahwa mereka sedang bersembunyi.

"Hei, siapa di luar...? Beng Ciangkun tangkap orang yang bersembunyi di luar itu!"

Sekonyong-konyong Goanswe yang ada di dalam rumah itu berseru keras.

Muka Su Hiat Hong menjadi pucat seperti kapur.

Kehadiran mereka bertiga telah diketahui orang itu.

Satu-satunya jalan hanya menyelamatkan anak-anak muda itu.

"Nona, cepatlah kau ikut A Liong masuk ke dalam lubang itu! Biarlah kutemui mereka sendirian. Cepat..."

Su Hiat Hong cepat berbisik di telinga Tio Siau In.

"Paman sendiri bagaimana?"

Tio Siau In ragu-ragu.

"Jangan khawatir aku kenal mereka! Cepat!"

Bersamaan dengan melompatnya Tio Siau In ke dalam lobang batu, yang kemudian menutup perlahan-lahan, beberapa orang perajurit kerajaan tampak berloncatan keluar dari dalam rumah panggung tersebut.

Seorang perwira setengah baya cepat mendekati persembunyian Su Hiat Hong.

Empat orang perajurit mengikuti di belakangnya.

"Selamat bertemu, Beng Ciangkun...!"

Su Hiat Hong menyapa perwira itu dengan ramah.

"Kau...? Ah, Su Ciangkun rupanya! Bagaimana kau bisa sampai berada di tempat ini? Di mana Lim Ciangkun?"

Orang yang disebut Beng Ciangkun tersebut berseru kaget. Suaranya bernada curiga dan berkesan menyelidik, sama sekali tidak terasa ramah atau gembira.

"Beng Ciangkun, siapa dia? Mengapa tidak segera kau bawa ke dalam?"

"Su Ciangkun, mari kita masuk...! Au-yang Goanswe memanggilmu!"

Beng Ciangkun berkata pelan, Su Hiat Hong tak berani menolak.

Beng Ciangkun yang bernama Beng Cun itu memiliki kepandaian yang tinggi, karena dia adalah tangan kanan Au-yang Goanswe.

Perlahan-lahan, dengan menahan rasa sakit Su Hiat Hong menaiki tangga rumah.

"Apakah kau sakit, Su Ciangkun?"

Beng Cun bertanya keheranan.

"Ya...! Nanti kuceritakan semuanya..."

Begitu memasuki ruangan Su Hiat Hong terperanjat.

Tong Kiat Teng, sahabatnya itu, benar-benar mengenaskan sekali keadaannya.

Tubuh yang kurus itu tidak mengenakan baju sama sekali.

Wajahnya, kulit punggungnya, lengannya, semuanya terdapat bekas luka siksaan.

"Tong Kiat Teng, kau kenapa? Siapakah yang telah menyiksamu?"

"Ah, Su Hiat Hong... Kau?"

Tong Kiat Teng menyapa lemah.

Su Hiat Hong cepat melangkah maju, namun dengan cepat Au-yang Goanswe yang bertubuh tinggi besar dan berusia lima puluhan tahun itu menghadangnya.

Sama sekali tidak ada kesan ramah atau bersahabat dari jenderal yang menjadi atasannya itu.

Bahkan jenderal itu seperti memusuhinya, suatu hal yang benar-benar tidak dipahami oleh Su Hiat Hong.

Bahkan Su Hiat Hong menjadi kaget ketika pimpinannya itu membentak marah!

"Su Hiat Hong!

Di mana Lim Kok Liang dan yang lain-lainnya?

Mengapa engkau tiba-tiba berada di tempat yang terasing ini?

Apakah kau memata-matai aku?"

Su Hiat Hong menjadi kaget meskipun dia telah mencium sesuatu yang tidak beres pada pimpinannya itu, tapi ia juga belum bisa mengetahuinya dengan pasti.

Dan terus terang dia juga tidak berani menduga-duga, berprasangka yang bukan-bukan terhadap atasannya itu.

Dia memang menjadi kaget ketika mendengar niat jenderal itu untuk membasmi semua anak keturunan Pangeran Liu yang kun, tetapi tidak memahami apa sebenarnja terselip di balik maksud dan tujuan Au-yang Goanswe itu, ia tidak berani menanyakannya.

"Goanswe...! Tugas yang Goanswe berikan kepada kami itu ternyata penuh aral dan rintangan. Tak seorangpun di antara kami yang mampu melaksanakan tugas itu dengan baik. Bahkan mereka telah menjadi korban. Semuanya telah tewas di tangan para pengacau yang tidak menyetujui diadakannya "Perlombaan Mengangkat Arca"

Itu. Tinggal aku seorang yang masih hidup. Lim Kok Liang, Ong Ci Kin. Kwa Sing, Gui Ciangkun, semuanya telah gugur di tangan gerombolan suku bangsa Hun..."

Su Hiat Hong melapor seolah-olah tidak memiliki prasangka apa-apa terhadap pimpinannya.

Namun Au-yang Goanswe seperti tidak mengacuhkan laporan Su Hiat Hong.

Bahkan jenderal itu juga seperti tidak mempedulikan kematian-kematian anak buahnya.

"Persetan dengan kematian teman-temanmu! Aku tidak peduli! Sekarang katakan terus terang kepadaku! Mengapa kau sampai di tempat ini? Bukankah kau kutugaskan di kota Hang-ciu? Lekas jawab!"

Jenderal itu menggeram keras.

"Goanswe, aku sungguh tidak mengerti apa yang Goanswe maksudkan..."

"Bohong! kau tidak perlu bersandiwara lagi di depanku. kau tentu sudah tahu, atau setidak-tidaknya telah bercuriga kepadaku, sehingga kau tidak pergi melaksanakan perintahku, tapi selalu menguntit dan memata-matai semua kegiatanku. Benar tidak...?" (Lanjut ke

Jilid 09) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 09 Su Hiat Hong tidak menjawab. Ia memang pernah mengutarakan kecurigaannya kepada Lim Kok Liang, bahwa pihak kerajaan menangani masalah "Perlombaan Mengangkat Arca"

Benar-benar terasa aneh baginya.

Tapi karena waktu itu Lim Kok Liang juga tidak bisa menebak apa yang terselip di balik keanehan tersebut, maka mereka terpaksa melakukan saja apa yang ditugaskan kepada mereka.

Dan kini secara kebetulan ia mulai bisa melihat rahasia keanehan itu.

Namun tampaknya diapun tak bisa melihatnya sampai tuntas.

Au-yang Goanswe, yang kelihatannya merupakan tokoh utama di balik tabir keanehan tersebut, tentu tidak akan melepaskan dirinya.

Au-yang Goanswe tentu tidak ingin rahasianya diketahui orang luar.

"Nah, Su Hiat Hong! Ternyata kau tidak berani menjawab pertanyaanku! Itu berarti kau memang telah mengetahui rahasia sepak terjangku selama ini! Dan kau tampaknya hampir berhasil mengungkapkannya! Hmm, tapi jangan berharap kau bisa menggagalkan rencanaku! Aku akan membunuhmu! Aku tidak peduli, apakah sudah memberi laporan kepada Kong sun Goanswe atau belum, karena aku yakin kau belum bisa memperoleh bukti yang kuat untuk menjatuhkan aku...!"

Su Hiat Hong menarik napas panjang. Hatinya semakin tergelitik untuk mengetahui rahasia keterlibatan Au-yang Goanswe di dalam masalah "Perlombaan Mengangkat Arca"

Yang aneh itu. Begitu inginnya perwira itu menguak tabir rahasia tersebut, sehingga ia tidak peduli pula akan tuduhan Au-yang Goanswe tentang dirinya.

"Sebentar lagi tentu aku akan dibunuhnya untuk menutupi rahasianya. Namun demikian aku sungguh akan merasa puas apabila telah mengetahui rahasia "Perlombaan Mengangkat Arca"

Itu."

Perwira itu berkata di dalam hatinya. Oleh karena itu dengan perasaan yang semakin tabah dan pasrah, Su Hiat Hong menentang pandangan mata Au-yang Goanswe.

"Baiklah, Goanswe. Aku memang sudah bercuriga dengan tugas-tugas yang kau berikan selama ini. Banyak keanehan dan kejanggalan yang kulihat di dalam melaksanakan tugas itu. Akan tetapi secara jujur juga kukatakan bahwa aku belum dapat menebak apa yang terselip di balik kejanggalan-kejanggalan itu. Aku baru mulai memahami setelah mendengar ucapan-ucapan Goanswe kepada Tong Kiat Teng tadi. Walaupun demikian aku tetap belum bisa menguak maksud dan tujuan Goanswe yang sebenarnya di dalam masalah ini. Nah, Goanswe... sebentar lagi kau akan membunuhku dan aku... sama sekali tidak akan melawan. Namun sebelum aku mati, bolehkah aku mengetahui serba sedikit semua rahasia itu? Biarlah aku mati dengan tenang dan tidak membawa rasa penasaran ke alam baka..."

"Hahahaha...! Boleh! Boleh! kau boleh mendengarnya agar arwahmu tidak penasaran nanti."

Au-yang Goanswe tertawa gembira sambil mengawasi para pembantunya yang berdiri mengelilinginya.

Semuanya juga ikut tertawa puas.

Termasuk Beng Ciangkun yang menangkap Su Hiat Hong tadi.

Sementara itu di dalam lubang persembunyiannya A Liong dan Tio Siau In meraba-raba di dalam gelap.

Lubang sempit seperti liang tikus itu ternyata terus memanjang dan berbelok kesana-kemari, sehingga akhirnya mencapai sebuah tangga yang menuju ke atas.

"Nah, kita sudah hampir sampai di tempat itu."

A Liong berbisik.

"Tangga ini akan membawa kita ke ruangan belakang dari rumah itu tadi."

"Hei, mengapa bisa demikian? Bukankah lubang terowongan ini berada di dalam tanah? Bagaimana bisa berhubungan dengan ruangan yang ada di dalam rumah itu?"

Tio Siau In berbisik pula dengan heran.

"Mudah saja, Cici. Bukankah bagian belakang rumah itu menempel pada dinding tebing? Nah, tentu saja lubang rahasia ini dibuat seperti liang tikus yang melubangi tanah, kemudian terus naik ke atas tebing, sampai di dinding bagian belakang rumah yang menempel tebing tersebut."

A Liong yang tadi tampak lemah tak bertenaga itu kini sudah kelihatan lebih kuat dan sehat.

Memang sungguh mengagumkan sekali ketahanan tubuh pemuda itu.

Benar-benar sesuai dengan perawakannya yang kekar.

Tio Siau In mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Sayang liang itu gelap sekali keadaannya.

Kalau tidak, tentu akan tampak betapa cantiknya gadis itu bila tersenyum.

Mereka lalu menaiki tangga kecil dan sempit itu.

Dan benar juga ucapan A Liong tadi, mereka tiba di sebuah ruangan yang lebih lega.

Tapi tempat yang disebut ruangan oleh A Liong itu sebenarnya tak lebih dari sebuah gua kecil dan sempit.

"A Liong...!"

Tio Siau In berbisik.

"Bagaimana kau bisa mengatakan gua sempit ini sebagai ruangan belakang rumah itu?"

Pemuda itu tidak menjawab, tapi segera bergeser ke dinding gua yang berada di depan mereka.

Tangannya meraba-raba kesana-kemari, seakan-akan pemuda itu sudah paham keadaan gua tersebut dan kini sedang mencari sesuatu di tempat itu.

Tiba-tiba sebuah lubang sebesar perut kerbau terbuka di depan mereka.

A Liong masuk ke dalam, diikuti oleh Tio Siau In.

Pemuda itu memberi isyarat agar Tio Siau In berhati-hati.

"Cici, lihatlah...! Bukankah ruang sempit ini berada di bagian belakang rumah itu? Coba kau intip melalui celah-celah kayu ini!"

A Liong berbisik perlahan.

Tio Siau In mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

Ruang sebesar kandang ayam itu memang berdindingkan kayu seperti halnya dinding rumah tabib itu.

Lantainyapun juga terbuat dari balok-balok kayu besar.

Berkas-berkas sinar lampu masuk dari sela-sela dindingnya, sehingga ruang sempit itu tidak gelap lagi.

Lapat-lapat terdengar suara orang bercakap-cakap di luar ruang sempit tersebut.

A Liong mengintip melalui sela-sela kayu, sehingga Tio Siau Inpun menjadi ikut-ikutan pula untuk mengintip.

Betapa kagetnya Tio Siau In.

Di sebelah luar dari ruang sempit tersebut ternyata adalah ruang tengah milik Tong Kiat Teng.

Di dalam ruangan itu tampak beberapa orang prajurit berjaga-jaga.

Mereka mengelilingi seorang lelaki tua berseragam perwira tinggi, yang saat itu sedang membentak-bentak Su Hiat Hong!

"Hiat Hong...!

kau tahu siapa sebenarnya Beng Ciangkun di sebelahku ini?

Ketahuilah, dia adalah keponakan Beng Tian almarhum.

Hmm, kau ingat tidak nama Jendral Beng Tian, Panglima Besar tangan kanan Chin si Hong-te itu?"

Su Hiat Hong tampak merenung sebentar, kemudian mengangguk.

"Ya, aku ingat. Dia adalah Panglima Besar Kerajaan pada zaman Dinasti Chin, pada saat Kaisar Chin si Hong-te berkuasa. Dia gugur ketika menghadapi pasukan pemberontak yang dipimpin oleh mendiang Kaisar Liu Pang."

"Bagus ternyata otakmu masih encer. Nah, apakah kau juga tahu siapa yang telah membunuh jenderal besar itu?"

Au-yang Goanswe mendesak lagi. Su Hiat Hong menghela napas pendek. Ia tak tahu kemana arah tujuan pertanyaan itu.

"Aku tidak mengetahuinya, Goanswe. Bagaimana orang bisa memastikan siapa yang membunuh di dalam peperangan besar seperti itu? Aku memang pernah mendengar beberapa cerita tentang jenderal besar itu, tapi belum yakin tentang kebenarannya."

"Kau tidak usah ragu-ragu. Cerita yang tersebar di antara kita itu memang benar. Jenderal Beng Tian terbunuh oleh tangan Liu Pang dan para pembantunya!"

Dengan suara geram Au-yang Goanswe menggertak. Su Hiat Hong terdiam.

"Lalu... apa hubungannya antara Jenderal Beng Tian itu dengan peristiwa yang terjadi sekarang ini?"

Sesaat kemudian Su Hiat Hong mengajukan pertanyaan. Au-yang Goanswe tertawa dingin lagi.

"Banyak sekali hubungannya! kau tahu siapa aku sebenarnya...? Aku sebenarnya bukan bermarga Au-yang seperti kalian kenal selama ini. Namaku yang sesungguhnya adalah Beng Han. Aku adalah putera bungsu Jenderal Beng Tian itu. Nah, Hiat Hong... sekarang kau tentu sudah mulai dapat meraba, apa yang sedang kukerjakan saat ini!"

Su Hiat Hong benar-benar terperanjat mendengar pengakuan Au-yang Goanswe tersebut.

Dan otomatis ia menjadi sadar bahwa selama ini ia dan Lim Kok Liang, bahkan juga para perwira yang lain, telah terperangkap dalam jebakan Au-yang Goanswe.

Putera bungsu Jenderal Beng Tian itu tampaknya telah menyimpan dendam di dalam hatinya dan sekarang bangkit untuk melampiaskan dendam kesumatnya itu.

Dan tentu saja yang dituju adalah anak keturunan Kaisar Liu Pang.

Bergidik hati Su Hiat Hong memikirkan hal itu.

"Jangan-jangan lenyapnya Pangeran Liu yang kun dan terbakar musnahnya Istana Putera Mahkota itu juga hasil perbuatan Au-yang Goanswe pula."

Perwira pasukan rahasia itu bergumam di dalam hatinya.

"Tampaknya Au-yang Goanswe ingin menuntut balas atas kematian Jendral Beng Tian itu..."

Su Hiat Hong akhirnya mengatakan juga dugaannya itu. Au-yang Goanswe tersenyum puas. Kepalanya yang besar dan berambut tebal itu juga mengangguk-angguk.

"Otakmu memang encer sekali. Aku memang hendak menuntut balas atas kematian orang tuaku. Dan untuk melaksanakan niatku itu aku sudah merencanakannya sejak dulu. Sejak aku masih berusia dua puluh tahun..."

"Aaah...!"

Su Hiat Hong berdesah panjang.

"Jangan kaget! Aku memang tidak ingin gagal. Oleh karena itu aku selalu menyabarkan diri dan merencanakan niatku itu dengan rapi."

Au-yang Goanswe berhenti sejenak untuk memperbaiki duduknya. Kemudian lanjutnya lagi.

"Mula-mula aku mengubah nama margaku, agar orang tak menghubungkan aku lagi dengan almarhum ayahku. Lalu aku memasuki bidang keprajuritan seperti Ayahku, dengan harapan suatu hari kelak aku akan memperoleh kedudukan seperti halnya Ayahku pula. Sebab hanya dengan kekuasaan dan kekuatan aku akan mampu menuntut balas kepada Liu Pang."

Su Hiat Hong menatap wajah Au-yang Goanswe sebentar, lalu menunduk kembali dengan perasaan sedih dan kecewa.

Sedih karena sebenarnya, setelah Au-yang Goanswe itu membeberkan rahasianya, ia tentu akan dibunuh mati agar tidak bisa bercerita kepada siapa-siapa lagi.

Dan kecewa, karena dengan kematiannya itu ia tak akan mempunyai kesempatan lagi untuk memberitahukan rencana Au-yang Goanswe tersebut kepada Kong-sun Goanswe atasannya.

"Akhirnya dengan kepandaianku dan kecerdikanku aku bisa juga memperoleh kedudukan yang tinggi. Setelah itu dengan berbagai cara aku mendekati keluarga Istana. Dan jerih payahku itu akhirnya berhasil pula. Aku mendapatkan kedudukan sebagai Komandan Pasukan Pengawal Istana. Saat itu aku benar-benar sudah merasa bahwa cita-citaku tinggal melangkah satu tindak lagi. Sebagai Komandan Pasukan Pengawal Istana rasa-rasanya sangat mudah untuk melenyapkan jiwa setiap keluarga Liu Pang."

"Tapi Goanswe juga tidak berani melakukannya, karena di antara keluarga kaisar itu ada seorang yang kesaktiannya sangat ditakuti di seluruh pelosok negeri ini. Maka sebelum melaksanakan rencana itu, Goanswe lebih dulu berusaha dengan segala macam cara untuk menyingkirkan Pangeran Liu yang kun terlebih dahulu. Bukankah demikian, Goanswe?"

Entahlah darimana datangnya keberanian itu, mendadak Su Hiat Hong menyela cerita Au-yang Goanswe tersebut.

Ternyata jenderal itu juga tidak menjadi marah karenanya.

Bahkan Au-yang Goanswe kelihatan senang dan puas menyaksikan Su Hiat Hong bisa mengikuti ceriteranya.

"Hahaha, Hiat Hong... Kau memang benar-benar cerdik. Sayang kau berada di pihak lawan, sehingga kau harus mati karenanya. Dugaanmu memang benar. Untuk berhadapan muka melawan Pangeran Liu yang kun, rasanya tak seorangpun yang mampu melakukannya di dunia ini. Tetapi jangan lupa, bahwa kesaktian itu masih bisa dikalahkan dengan kecerdikan. Aku lalu menyusup ke dalam puri Istana. Aku berusaha mengadu domba dan memecah-belah keutuhan keluarga Liu Pang itu dari dalam. Heheh, akhirnya Pangeran Liu yang kun yang maha sakti itu pergi juga dari Istana dengan sendirinya. Bahkan aku telah membuatnya menderita seumur hidupnya. Hohoho... aku sungguh-sungguh puas melihatnya."

Su Hiat Hong mengerutkan dahinya.

Matanya tajam memandang kepada Au-yang Goanswe yang sedang tertawa puas menikmati keberhasilan rencananya.

Su Hiat Hong tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh jenderal itu terhadap Pangeran Liu yang kun, sehingga Pangeran Mahkota tersebut bisa pergi dari Istananya.

"Dan selanjutnya Goanswe lalu membakar Istana pribadi Pangeran Liu yang kun, bukan?"

Dengan berani pula Su Hiat Hong lalu melontarkan dugaannya. Tiba-tiba Au-yang Goanswe menghentikan ketawanya. Dengan nada geram ia berkata lantang.

"Tidak. Aku memang ingin menumpas keluarga Liu. Tapi tak sekalipun terlintas di dalam benakku untuk membakar Istananya. Namun demikian kejadian itu membuat hatiku terhibur juga, karena menganggap mereka telah musnah dimakan api."

"Tapi dugaan Goanswe ternyata keliru. Anak-anak Pangeran Liu yang kun ternyata masih hidup."

Su Hiat Hong yang tadi mendengar pembicaraan Tong Kiat Teng dengan Au-yang Goanswe segera menyela. Jendral itu menggeram kembali.

"Ya! Semua itu karena perbuatan monyet tua ini!"

Katanya gemas sambil menunjuk ke arah Tong Kiat Teng.

"Monyet ini ternyata membawa anak-anak Liu yang kun itu keluar Istana, sehingga mereka terhindar dari kobaran api. Aku baru mengetahui hal itu setelah beberapa tahun kemudian."

"Goanswe lalu berusaha mencari anak anak itu?"

"Tentu saja. Aku tak ingin melepaskan seorangpun di antara mereka. Aku tidak ingin menanam kesulitan di kemudian hari. Semuanya harus dimusnahkan."

"Tapi sampai sekarang Goanswe belum juga menemukan mereka."

"Siapa bilang? Hahahaha...!"

Tiba-tiba Au-yang Goanswe tertawa keras.

"Sebentar juga Tong Kiat Teng akan mengatakannya...!"

Diam sejenak.

"Goanswe memang hebat..."

Akhirnya Su Hiat Hong memuji.

"Tetapi setelah dapat menyingkirkan keluarga Pangeran Liu yang kun, mengapa kelihatannya Goanswe berhenti dan tidak melanjutkan rencana itu? Bukankah di Istana masih ada keluarga Liu yang lain? Adik-adik Pangeran Liu yang kun misalnya."

"Pangeran Liu Wan Ti maksudmu?"

"Ya, bukankah dia yang ditunjuk oleh Ibu Suri untuk menggantikan Kakaknya?"

Lagi-lagi Au-yang Goanswe menggeram.

"Benar! Aku memang telah gagal melenyapkan Pangeran kecil itu. Dia keburu menghilang dari Istana sebelum aku bertindak terhadapnya. Aku curiga kepada Panglima Yap Khim. Tentu dia yang menyembunyikannya..."

"Dan... sampai sekarang Goanswe masih tetap penasaran karena belum menemukan anak keturunan Pangeran Liu yang kun maupun Pangeran Liu Wan"

"Ya! Aku memang sangat penasaran. Aku harus bisa menemukan mereka dan memusnahkannya."

"Lalu bagaimana dengan dua orang adik Pangeran Liu Wan Ti yang kini masih berada di Istana? Mengapa Goanswe tidak menyingkirkannya sekalian?"

"Anak-anak cacad itu? Hehehehe...! Mengapa aku harus mengkhawatirkan anak-anak tidak berguna itu? Tak seorangpun di dunia ini yang mau diperintah oleh manusia tidak waras."

"Kalau begitu mengapa Goanswe tidak lekas-lekas mengambil alih kekuasaan? Belum waktunya? Apakah Goanswe masih takut kepada Panglima Yap Khim?"

"Kurang ajar...! Tutup mulutmu!"

Hardik Au-yang Goanswe berang.

"Maaf, Goanswe."

"Hmmh...! Waktunya memang belum tiba! Panglima keparat itu memang masih memiliki kekuatan yang besar di antara anak buahnya! Dia harus dicarikan lawan yang setimpal lebih dahulu!"

"Dan Goanswe telah mendapatkannya, meskipun cara yang Goanswe tempuh sangat hina. Goanswe telah mengkhianati negeri sendiri. Goanswe mengundang kekuatan asing, bersekongkol dengan Mo Tan, raja suku bangsa Hun itu untuk mengacau negeri kita. Bukankah begitu, Goanswe?"

Su Hiat Hong semakin berani mengungkapkan kecurigaannya di depan Au-yang Goanswe dan sama sekali tak mempedulikan lagi keselamatannya sendiri.

Benar juga.

Ucapan Su Hiat Hong itu benar-benar menyinggung perasaan Au-yang Goanswe.

Wajah jendral bertubuh tinggi besar itu menjadi merah padam.

Kemarahannya tak bisa dikekang lagi.

Tiba-tiba tangannya mencabut golok yang terselip di pinggangnya, lalu mengayunkannya ke leher Su Hiat Hong!

Su Hiat Hong berusaha sekuat tenaga untuk mengelak, namun karena luka dalamnya kembali menyengat, maka gerakannya menjadi lamban dan kaku.

Golok itu tak jadi mengenai leher Su Hiat Hong, tapi menerjang bahu kanannya.

Segumpal daging dan sepotong tulang bahu perwira pasukan rahasia itu terlepas dari tempatnya.

Begitu tajamnya golok tersebut sehingga Su Hiat Hong hampir-hampir tak merasakannya.

Baru sesaat kemudian ketika rasa nyeri terasa menggigit di tempat yang terluka itu, Su Hiat Hongmenjadi sadar bahwa lengan kanannya sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Kejadian tersebut berlangsung cepat sekali, sehingga semua orang yang berada di dalam ruangan itu baru sadar ketika semuanya telah terjadi.

Tong Kiat teng yang keadaannya juga sudah payah itu baru menjerit kaget ketika sahabat-baiknya itu menggelepar di atas lantai.

"Su Hiante (Saudara Su)...?"

Tabib Istana itu merintih sedih.

"Ah!"

Tak terasa Tio Siau In juga menjerit lirih di tempat persembunyiannya.

Walau cuma lirih, akan tetapi telinga Au-yang Goanswe yang tajam itu dapat juga menangkapnya.

Hanya saja jendral yang telah haus dendam tersebut tidak bisa memastikan, dari mana jerit kecil Tio Siau In itu berasal.

"Bangsat busuk! Ternyata kau membawa kawan ke tempat ini, Hiat Hong...! Beng Ciangkun, cari orang yang mengeluarkan suara tadi!"

Jendral itu berseru cemas sambil mengayunkan kembali goloknya. Kali ini tak mungkin lagi dielakkan oleh Su Hiat Hong.

"Goanswe, jangan...!"

Tong Kiat Teng melompat ke depan, berusaha menolong sahabatnya.

Namun usaha Tong Kiat Teng itu justru membahayakan dirinya sendiri.

Au-yang Goanswe yang sudah terlanjur mengayunkan goloknya itu tak mungkin menariknya kembali.

Maka di lain saat bukan Su Hiat Hong yang terkena tabasan golok tajam itu, tapi justru tubuh Tong Kiat Teng yang menjadi korbannya.

"Craaaaaak!"

"Aaauggh!"

Tabib tua itu mengeluh pendek. Tubuhnya terjerembab menimpa badan Su Hiat Hong. Punggungnya terbelah lebar, sehingga darah segar seperti membanjir ke luar.

"Tong-heng (Saudara Tong)...?"

Su Hiat Hong yang masih sadar itu terpekik kaget.

Otomatis lengannya memeluk sahabatnya itu.

Akan tetapi iblis tampaknya memang sudah merasuk ke dalam jiwa Au-yang Goanswe.

Bukannya terharu menyaksikan kedua orang sahabat itu saling berangkulan, tapi sebaliknya justru keganasanlah yang timbul di dalam hati Au-yang Goanswe.

Sekali lagi golok yang haus darah itu berkelebat dan kali ini benar-benar mengenai leher Su Hiat Hong!

Dan kepala Su Hiat Hong, perwira pasukan rahasia kerajaan yang telah banyak jasanya kepada negara itu menggelinding di atas lantai, terpisah dari tubuhnya!

Kekejaman itu sungguh amat menggoncangkan pikiran Tio Siau In yang masih polos.

Hampir saja gadis itu menerjang dinding pemisah tersebut dan bertarung melawan Au-yang Goanswe.

Untunglah A Liong cepat memeluknya dari belakang, kemudian dengan paksa menariknya masuk ke dalam lubang gua kembali.

Dan untuk mengamankan tempat itu A Liong lalu menutup kembali pintu rahasia lubang tersebut.

"Sabar, Cici... Kita takkan menang melawan mereka. Mereka berjumlah banyak serta lihai-lihai. Kita harus mempergunakan akal bila ingin menghadapi mereka..."

A Liong membujuk dengan suara pelan.

Sementara itu Beng Ciangkun beserta prajurit-prajuritnya mengobrak-abrik seluruh dataran sempit itu, namun usaha mereka sia-sia saja.

Tak seorang manusiapun yang mereka dapatkan di tempat itu.

Mereka hanya menemukan sampan yang ditinggalkan oleh Tio Siau In tadi.

"Heran...! Aku tadi juga mendengar suara itu. Tapi... di mana dia? Masakan ada hantu sepagi ini?"

Beng Ciangkun menggerutu kesal.

Fajar memang mulai tampak menyorot di ufuk timur.

Sinarnya yang merah kekuning-kuningan itu seakan-akan menembus dari bawah permukaan air laut, sehingga air lautpun lalu ikut-ikutan berubah pula warnanya menjadi merah seperti darah.

"Bagaimana, Beng Ciangkun? kau temukan orang itu?"

Au-yang Goanswe yang kemudian ikut menyusul keluar, bertanya kepada Beng Ciangkun.

"Sungguh mengherankan sekali, Goanswe. Sudah kami periksa setiap jengkal tanah di tempat ini, tapi kami tak menemukan seorang manusiapun di sini. Kami memang menemukan sampan kecil di tepian sana, tapi jejak-jejaknya sudah terhapus oleh air pasang."

"Gila! Seharusnya tidak kubunuh dulu Su Hiat Hong itu! Disiksa dulu agar mau mengatakan, berapa teman yang dibawanya ke tempat ini. Hhhh...! Jika dia memang benar-benar membawa teman dan orang itu juga ikut mendengarkan pula ceritaku tadi, kedudukanku menjadi sangat berbahaya. Sewaktu-waktu orang itu bisa menghadap Yap Tai Ciangkun (Panglima Besar Yap) di Kotaraja untuk melaporkan kegiatan kita."

Beng Ciangkun melangkah maju ke depan Au-yang Goanswe.

"Kita tak perlu berkecil hati, Goanswe. Mungkin kita tadi salah dengar, sehingga menyangka ada orang lain di tempat ini. Nyatanya tidak ada. Kalaupun memang benar tadi ada orang yang mengintip dengar pembicaraan kita dan orang itu keburu bisa menyelamatkan diri, kita juga tidak perlu takut kepadanya. Dimisalkan ia melapor kepada Yap Tai Ciangkunpun kita juga tak perlu mengkhawatirkannya. Bukankah Au-yang Goanswe mempunyai hubungan yang lebih baik dengan Ibu Suri daripada hubungan Yap Tai-Ciangkun? Aku percaya bahwa Ibu Suri akan lebih mendengarkan perkataan Goanswe daripada ucapan Yap Tai Ciangkun."

Tiba-tiba wajah Au-yang Goanswe yang cemas itu menjadi cerah kembali.

"Benar, kau memang benar, Beng Ciangkun! Ha haha, kau memang seorang perwiraku yang baik, sungguh beruntung aku memiliki pembantu seperti kau."

Jendral itu berseru dengan gembira, kemudian katanya pula kepada para prajurit yang berkumpul di sekelilingnya.

"Dan... Kalian semua adalah prajurit-prajurit pilihan, yang sengaja kupilih serta kukumpulkan karena kalian semua sebenarnya adalah anak keturunan marga Beng yang besar, meskipun di kehidupan sehari-hari kalian telah menyembunyikan marga kalian seperti halnya aku, tapi jiwa kita tetap mendambakan kejayaan marga kita seperti dahulu, oleh karena itu kita semua harus berusaha sekuat tenaga agar cita-cita kita itu bisa terwujud, kalian harus tetap mentaati sumpah kita bersama, untuk tetap merahasiakan gerakan-gerakan yang telah kita lakukan sehingga rencana dan cita-cita kita itu berhasil, mengerti?"

"Kami mengerti, Goanswe...!"

Prajurit-prajurit itu menjawab serentak.

"Nah, hari sudah siang, mari kita pergi...!"

"Bagaimana dengan mayat Su Hiat Hong dan Tong Kiat Teng, Goangswe?"

Beng Ciangkun bertanya.

"Ah, biarkan saja mereka disana, tempat ini tak mungkin didatangi orang, biarlah mayat mereka membusuk dengan sendirinya."

Demikianlah, sebentar kemudian prajurit-prajurit kerajaan itu telah pergi meninggalkan teluk kecil tersebut, mereka berlayar dengan perahu mereka ke selatanm menuju ke kota Hang-ciu, ternyata di tengah lautan mereka sudah dinantikan tiga buah perahu besar yang sarat dengan prajurit berserta perlengkapannya.

Au-yang Goangswe yang sangat dipercaya serta mempunyai hubungan erat dengan Ibu Suri itu memang banyak mendapatkan kekuasaan istimewa di kalangan prajurit.

Setelah yakin bahwa Au-yang Goangswe dan anak buahnya telah pergi, A Liong dan Tio Siau In lalu keluar dari lubang persembunyian mereka.

Bergegas mereka naik ke rumah Tong Kiat Teng untuk -menjenguk mayat Su Hiat Hong yang mengenaskan.

"Ah, Paman... Kematianmu sungguh menyedihkan. Dibunuh oleh atasanmu sendiri yung tamak dan tak berperikemanusiaan. Alangkah malangnya nasibmu..."

Tio Siau In menyesali kematian perwira yang baru dikenalnya itu.

"Sudahlah, Cici. Marilah kita kuburkan jenazah mereka...!"

A Liong berkata perlahan.

Tio Siau ln menoleh.

Matanya menatap pemuda tanggung yang bertubuh tinggi dan kekar itu.

Hampir saja gadis itu menjerit.

Baca Juga: Pendekar Kelana 7

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert