Eps 2 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.
Hanya di dalam hatinya Ciu In mulai merasakan keanehan-keanehan yang ada pada diri pemuda itu.
"Uh uh...uh uh!"
Tiba tiba salah seorang dari pembantu Liu Wan masuk ke dalam pondok.
Dengan suara tak jelas orang itu mencoba melapor, bahwa di luar ada orang yang ingin bertemu.
Liu Wan cepat membuka sebuah laci, lalu mengambil kumis tiruan dan jenggot tiruan.
Kedua buah alat yang biasa dipakai oleh para pemain sandiwara itu lalu dipasangnya di mukanya.
Sekejap saja pemuda yang tampan itu menjadi seorang kakek berkumis dan berjenggot lebat.
"Maaf, Nona Tio... Ini wajah Tabib Ciok sehari-hari..."
Pemuda itu berkelakar.
Ciu In tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gadis itu semakin bertambah lagi kagumnya kepada Liu Wan.
Ternyata pemuda tampan itu masih memiliki satu kepandaian lagi, yaitu kepandaian menyamar.
Tak terasa Ciu In mengambil bingkai sajak burung hong itu.
Sekali lagi dibacanya sajak itu di dalam hatinya.
Rasanya isi sajak seperti tertuju pula pada dirinya.
Ia merasa seperti burung hong pula, karena burung itu seperti telah lekat pada dirinya.
Perlahan-lahan ia memeluk bingkai sajak itu di dada kirinya, tempat burung hongnya selama ini bersemayam.
Sementara Liu Wan menemui tamunya di atas jembatan penyeberangan.
Mereka terdiri dari empat orang lelaki bersenjatakan tongkat besi.
"Apakah kau yang bernama Tabib Ciok?"
Salah seorang dari lelaki itu bertanya dengan suara kasar.
"Benar, Tuan. Tuan siapa...?"
Liu Wan menjawab tenang. Sama sekali tidak terpengaruh oleh kekasaran lawannya.
"Kami dari Kuil Pek-hok-bio! Pendeta kami sedang sakit dan kini membutuhkan kau! Maka dari itu kau harus ikut kami!"
Liu Wan memandang tamunya dengan curiga. Jangan-jangan penyamarannya telah diketahui oleh lawannya.
"Maaf, Tuan. Aku juga sedang melayani tamuku. Lebih baik Tuan membawa pendeta itu ke sini saja. Nanti aku akan mencoba mengobatinya."
Liu Wan membuat alasan.
"Tidak bisa! kau harus ikut dengan kami! Kalau tidak mau, kami berempat akan memaksamu!"
Orang itu mengancam.
Kedua pembantu Liu Wan mulai beranjak dan tempat mereka, tapi dengan cepat Liu Wan memberi isarat agar mereka tetap berdiam diri.
Sementara itu Ciu In segera melangkah keluar pula begitu mendengar suara ribut-ribut mereka.
Dengan cepat gadis itu berlari mendekati Liu Wan.
"Ada apa, Tuan?"
Gadis itu bertanya kepada Liu Wan.
"Mereka memaksa aku untuk ikut ke tempat mereka, tapi aku tidak mau. Dan sekarang mereka akan memaksa aku dengan kekerasan. Bagaimana ini, Nona? Nona tahu, aku tak begitu pandai bersilat..."
Liu Wan pura-pura bingung. Ciu In hendak tertawa, namun tiba-tiba saja telinganya mendengar suara pemuda itu.
"Nona! Mereka ini anak buah orang yang saya cari. Tampaknya mereka ditugaskan untuk menyelidiki aku. Sekarang tolonglah aku bersandiwara. Biarlah aku berlagak sebagai orang yang benar-benar tak begitu mengerti silat. Setelah itu aku nanti minta tolong kepadamu untuk mengusir mereka. Apakah kau berani melawan mereka?"
Ciu In memandang Liu Wan yang telah mengirimkan suaranya dengan ilmu coan-im-ji-bit.
Pemuda itu sekilas memberi tanda dengan kedipan matanya.
Ciu In menarik napas panjang, pemuda itu benar-benar lihai bukan main.
"Jangan banyak alasan! Ayoh... Ikut kami!"
Sambil membentak empat orang anak buah Pek-hok-bio itu menubruk Liu Wan.
Seorang memegang lengan kanan dan seorang lagi memegang lengan kiri Liu Wan.
Sedangkan dua orang lainnya mencegat Ciu In dan dua orang pembantu Liu Wan.
Semuanya sudah menyiapkan tongkat besi mereka.
Liu Wan pura-pura melawan.
Dengan sebagian kecil saja dari tenaganya, pemuda itu pura-pura mengibaskan kedua lengannya yang diringkus.
Tentu saja usahanya itu sia-sia saja, karena orang yang ditugaskan Pek-hok-bio itu memang memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
Namun demikian Liu Wan masih tetap berpura pura mencoba untuk membebaskan diri dengan sekuat tenaganya.
Bahkan pemuda itu juga mempergunakan kedua kakinya pula untuk menyepak ke sana kemari.
Kedua orang yang memegangi lengan Liu Wan menjadi jengkel dan marah.
Keduanya segera mempergunakan lengan mereka yang masih bebas untuk menampar pipi Liu Wan.
Wuuut!
Liu Wan pura-pura ingin mengelak sambil mengerahkan tenaga sakti ke pipinya.
Namun pemuda itu sengaja memperlambat gerakannya sehingga kedua tamparan lawannya masih menyerempat pipinya.
"Plaak! Plaak!"
Liu Wan sengaja menjerit keras sekali, kemudian mulutnya menyemprotkan rontokan gigi dan darah segar yang cukup banyak.
Setelah itu, seperti orang yang tidak takut mati saja, Liu Wan menendang ke kanan kiri ke arah kaki orang yang meringkus tangannya.
Beberapa kali kaki pemuda itu hampir mengenai kaki lawannya sehingga orang-orang Pek-hok-bio menjadi dongkol sekali.
Mereka segera membalas tendangan Liu Wan itu dengan tendangan kaki mereka pula.
"Blug! Blug...!"
Tendangan mereka tepat mengenai paha Liu Wan!
Lagi-lagi Liu Wan meraung keras sekali!
Bahkan kali ini sampai mengeluarkan air mata pula.
Tentu saja Ciu In dan kedua pembantu Liu Wan menjadi kaget bukan main.
Tapi sebelum mereka bergerak maju, telinga mereka lagi-lagi mendengar suara Liu Wan yang dikirim dengan ilmu Coan-im-ji-bit!
"Lo Kang dan Lo Hai jangan ikut campur.
Kalian justru harus berpura-pura ketakutan malah.
Dan Nona Tio, kau cepatlah menghajar mereka!
Jangan biarkan mereka berlaku semaunya terhadapku!
Aku bisa benar-benar kehilangan kesabaranku nanti!"
"Baik...!"
Ciu In berseru keras tak terasa.
"Uuuh...!"
Lo Kang dan Lo Hai mengeluh kecewa, kemudian seperti orang yang menjadi ketakutan mereka mundur kembali ke pintu pondok.
Ciu In mencabut pedang pendeknya, lalu menerjang orang yang tadi menghadangnya.
Pedangnya yang sebelah kiri tetap bertahan di depan dadanya, sementara pedang kanannya menabas ke depan, ke arah dua orang Pek-hok-bio yang menghalangi jalannya.
Jembatan itu memang tidak begitu lebar dan hanya cukup dua orang yang berjalan berbareng.
Oleh karena itu ke dua orang lawan yang ada di depannya memang harus disingkirkan dulu oleh Ciu In untuk membantu Liu Wan.
Kedua orang Pek-hok-bio itu ternyata cukup berhati-hati.
Melihat Ciu In memegang sepasang pedang pendek dengan gerakan yang tangkas dan cekatan, mereka segera bisa menduga kalau gadis itu seorang pendekar wanita yang pandai mempergunakan pedang.
Oleh karena itu mereka tak segera melayani serangan pertama Ciu In itu.
Mereka justru bersiap siaga terhadap perkembangan dari serangan berikutnya.
Keduanya tidak menangkis atau balas menyerang, tapi malah melompat ke samping, dengan bertengger di atas pagar jembatan.
Kecurigaan mereka itu ternyata memang benar.
Serangan pertama Ciu In tadi memang hanya sebuah pancingan.
Demikian lawannya menangkis dengan tongkat besi mereka, Ciu In bermaksud menyusulinya dengan serangan pedang kirinya yang telah siap di depan dadanya.
Serangan itu tentu akan sulit sekali dihindarkan oleh lawan, karena senjata mereka sedang mereka gunakan untuk menangkis pedang kanannya.
Tapi karena orang-orang Pek-hok-bio itu tidak terjebak ke dalam pancingannya, bahkan kedua orang itu sekarang justru berada di kanan kirinya, Ciu In terpaksa mengambil jalan paling aman, yaitu berjumpalitan terus ke depan.
Dan langkahnya ini memang telah menyelamatkan tubuhnya dari gebugan tongkat besi lawannya.
Namun pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara lengking kesakitan dari mulut Liu Wan!
Dan ketika Ciu In menoleh, dilihatnya tubuh pemuda itu terlempar ke dalam empang!
"Biarkan tabib yang tak berguna itu terbenam di dalam air.
Kita ringkus saja gadis cantik itu untuk hiburan nanti malam!"
Salah seorang dari kedua orang yang memegangi tangan Liu Wan itu berseru.
Ciu In berdiri tegak kembali.
Sekarang ia benar-benar dikepung oleh empat orang lawan.
Dua orang di depan dan dua orang di belakangnya.
Tapi ia sama sekali tidak merasa gentar, la sangat percaya pada ilmu pedangnya yang telah ia tekuni lebih dari sepuluh tahun lamanya.
Matahari telah jauh bergulir ke arah barat.
* * * Pada saat yang bersamaan, Siau In sedang berlaga dengan maut.
Gadis centil itu juga sedang memegang sepasang pedang pendeknya untuk menghadapi golok hitam ketua Hek-to-pai!
Keduanya sedang berputar-putar di arena untuk mencari kelengahan lawan.
Ketika kemudian It Kwan menggerung keras sambil menyabetkan goloknya ke pinggang Siau In, gadis itu cepat-cepat menjejakkan kakinya ke tanah, sehingga tubuhnya yang mungil itu melesat ke atas seperti burung walet meninggalkan sarangnya.
Sambil melayang gadis itu berusaha menghunjamkan kedua bilah pedangnya ke dahi dan leher It Kwan.
Jurus itu dinamakan Burung Rajawali Menyambar Mutiara dan merupakan jurus ke empat dari ilmu pedang ajaran pendekar Giam Pit Seng.
It Kwan tergetar hatinya.
Walaupun masih amat muda ternyata lawannya memang benar-benar lihai bukan main.
Ilmu silatnya ternyata tidak lebih rendah dari pada ilmunya sendiri.
Bahkan ginkang gadis itu terasa lebih gesit daripada ilmu meringankan tubuhnya.
"Gila! Giam Pit Seng memang bukan orang sembarangan!"
Umpat It Kwan di dalam hatinya.
Tubuhnya cepat merendah untuk menghindari patukan pedang lawannya.
Begitu tubuh Siau In lewat dari atas kepalanya, It Kwan segera membalikkan badannya seraya mengayunkan goloknya ke depan.
Lagi-lagi ia menyerang pinggang Siau In yang baru saja mendarat ke atas tanah.
Dan kali ini tampaknya mata golok itu benar-benar akan bisa membelah pinggang Siau In.
Meskipun pengalamannya masih kurang, namun Siau In telah dibekali dengan ilmu silat tinggi oleh gurunya.
Sambaran golok It Kwan yang meluncur dari arah belakang itu segera dicium oleh nalurinya.
Sambaran udara dingin yang disertai bau amis itu cepat dielakkannya dengan cara meliukkan tubuhnya ke depan, disertai dengan jejakan ujung sepatunya ke atas tanah yang baru saja dipijaknya.
Otomatis badan Siau In bergeser ke depan, sehingga tabasan golok It Kwan yang meluncur ke arah pinggangnya itu membabat udara kosong.
Demikianlah keduanya tak pernah mengendorkan senjata mereka.
Dengan pedang pendeknya Siau In tampak lebih lincah dan lebih gesit gerakannya daripada It Kwan yang sudah berumur dan bersenjata golok hitam yang amat berat.
Tetapi sebaliknya, dengan jenis senjatanya yang lebih berat, pengalamannya yang lebih luas dan kematangannya yang lebih mendalam daripada Siau In maka It Kwan bisa melayani kelincahan gerak dan kehebatan ilmu pedang gadis itu.
Yang jelas Siau In tidak berani beradu tenaga dengan ketua Hek-to-pai tersebut.
Belasan jurus segera berlalu dengan cepatnya.
Kelincahan dan kegesitan Siau In mulai kendor pula akhirnya.
Namun sebaliknya tenaga dan kemampuan It Kwanpun juga telah menyusut pula.
Tentu saja keadaan ini benar-benar di luar dugaan ketua Hek-to-pai itu.
Sebagai seorang ketua perguruan yang cukup ternama di daerah itu, ia benar-benar merasa malu dan terpukul harga dirinya.
Masakan seorang lelaki tua yang sudah kenyang makan garam di dunia persilatan, sehingga ia mampu memimpin sebuah partai persilatan yang memiliki banyak murid, seperti dirinya, ternyata hanya dipermalukan oleh seorang bocah perempuan yang belum hilang bau pupuknya.
"Betina busuk! Akan kurejam tubuhmu! Akan kucincang dagingmu!"
Berulang kali ia mengumpat dan memaki saking geramnya. (Lanjut ke
Jilid 04) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 04 Akhirnya It Kwan tak sabar lagi.
Ia mulai menggunakan siasat-siasat yang cukup berbahaya, la tak lagi mempedulikan harga dirinya sebagai ketua sebuah perguruan silat ternama.
Serangannya mulai menjamah ke arah bagian-bagian tubuh yang terlarang bagi wanita.
Tentu saja kelakuannya itu membuat Siau In menjadi malu dan marah sekali.
Ketika suatu saat tangan It Kwan mencengkeram ke arah dadanya, Siau In yang nakal dan bengal itu segera membalasnya dengan tak kalah kotornya.
Dengan tangkas gadis itu mengelak sambil meludahkan air liurnya ke muka lt Kwan!
"Cuuh!"
It Kwan menjadi merah padam mukanya, meskipun air ludah itu dapat dielakkannya.
Dengan beringas ia menubruk ke depan dengan goloknya.
Kali ini yang diserang adalah bagian kepala Siau In.
Namun ketika Siau In mengangkat pedang kanannya untuk mengincar pergelangan tangannya, It Kwan tiba-tiba mengulurkan tangan kirinya untuk mencengkeram kemaluan Siau In.
"Iiih...!"
Siau In menjerit jijik dan malu.
Karena merasa jijik dan tak ingin bertempur lebih lama lagi melawan orang yang tak mengindahkan tata-susila kesopanan itu, maka Siau Inpun lalu menempuh siasat yang nekad dan berbahaya pula.
Gadis itu mula-mula seperti membiarkan jari-jari lawan menyentuh kain celana yang dikenakannya.
Bahkan untuk lebih meyakinkan lawan bahwa ia sudah tidak bisa mengelakkan serangan tersebut, Siau In melepaskan pedangnya yang sebelah kiri.
Namun pada saat yang bersamaan pula gadis itu melepaskan tiga buah pisau kecilnya yang selalu terselip di pergelangan tangannya!
"Ssiuut!
Siiuutt!
Ssiiuut!"
"Adooouuuh...!"
It Kwan berteriak nyaring. Meskipun ia berusaha menghindar, tapi tetap saja sebuah dari pisau terbang tersebut menancap di lehernya! "Iiiih!"
Siau In menjerit keras pula karena celananya di bagian depan terkoyak lebar direnggut jari tangan It Kwan.
Tentu saja pahanya yang putih mulus itu tampak dengan nyata.
Tapi tak seorangpun anak murid Perguruan Hek-to-pai itu yang memperhatikan paha Siau In, karena perhatian mereka tercurah semua pada keadaan guru mereka.
Darah mengalir dengan derasnya dari luka di leher It Kwan.
Pisau kecil itu kebetulan mengenai urat nadinya, sehingga tokoh tingkat tinggi seperti It Kwanpun tak bisa bertahan lagi.
Ketua Hek-to-pai itu segera terjerembab kesakitan.
Anggota Hek-to-pai yang mengepung tempat itu menjadi gempar.
Sebagian mengurusi guru mereka dan yang sebagian segera mengepung Siau In kembali.
Tanpa banyak cingcong lagi orang-orang yang mengepung Siau In itu segera mengeroyok dengan senjata andalan mereka.
"Traaaang! Triiing!"
"Aaaaaah!"
"Adduuuuuuh!"
"Ough!"
Siau In juga tidak sungkan-sungkan lagi gadis itu cepat mengambil pedangnya kembali dan mengamuk bagai singa betina.
Pedangnya menyambar-nyambar kesana-kemari sambil meninggalkan korban yang tidak sedikit.
Lawan-lawannya bergelimpangan dengan luka yang menganga di sekujur tubuh mereka.
"Berhenti...!!!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang menggelegar bagaikan guntur yang meledak di telinga setiap orang, termasuk pada telinga Siau In pula!
Gadis itu terhuyung-huyung sambil mengerahkan tenaga sakti untuk melawan gempuran suara yang mengandung tenaga khikang tinggi itu.
Kalau Siau In saja sampai terhuyung-huyung akibat gempuran Sai-cu Ho-kang (Tenaga Sakti Auman Singa) itu, apalagi para anggota perguruan Hek-to-pai yang masih rendah ilmunya.
Mereka segera bergelimpangan sambil menutup telinga mereka.
Untunglah orang yang baru datang dan menghentikan ilmu tersebut tidak meneruskan serangannya, sehingga semuanya segera bisa menguasai diri mereka kembali.
Kesempatan itu cepat digunakan oleh Siau In untuk membenahi celananya yang bolong.
Agar lebih rapat serta lebih tertutup lagi, Siau In lalu melepaskan pula ikat pinggangnya, sehingga kain bajunya yang longgar itu melorot turun sampai ke pahanya.
Begitu selesai, gadis itu segera bersiap menghadapi orang yang baru saja muncul itu.
Orang itu berdiri tegak di tengah jalan.
Dengan cekatan ia memberi perintah serta mengatur orang-orang Hek-to-pai yang ada di tempat itu.
Anggota Hek-to-pai yang masih sehat dan tidak terluka ia perintahkan untuk membawa saudara-saudara mereka ke dalam perkampungan.
Sebagian juga ia perintahkan untuk mengumpulkan golok-golok yang bertebaran di arena pertempuran tersebut.
Siau In berdebar-debar hatinya.
Orang itu sangat tenang sekali dan memiliki rasa percaya diri yang amat besar.
Meskipun telah melihat hasil pertempuran yang banyak merugikan pihak Hek-to-pai seperti itu, namun orang itu sama sekali tidak kelihatan kaget atau gentar menghadapi Siau In.
Bahkan orang itu tampak acuh tak acuh terhadap Siau In.
Orang itu bertubuh tinggi besar dan gemuk.
Rambutnya yang panjang dan sudah berwarna dua macam itu dibiarkannya terurai lepas menutupi telinga dan bahunya.
Hanya saja untuk mengikat rambut itu agar tidak menutup wajahnya, orang itu mempergunakan untaian mutiara sebagai pengikatnya.
Kumis dan jenggotnya yang juga sudah terdiri dari dua warna itu hampir menyelimuti seluruh mukanya, sehingga kepalanya yang besar itu hampir seluruhnya tertutup rambut, kecuali mata dan hidungnya.
Orang itu mengenakan jubah yang sangat longgar dan panjang berwarna kelabu.
Tangannya memegang tasbeh panjang, terbuat dari bulatan-bulatan besi sebesar kelereng.
Karena sering dipegang dan diusap maka warnanya sudah berubah menjadi hitam mengkilap agak kemerah-merahan.
Ketika kemudian orang itu menatap ke arahnya, tiba-tiba Siau In merasa bulu romanya berdiri.
Ia seperti melihat mata hantu yang hendak menerkam ke arah dirinya.
"Gadis kecil, siapa namamu? Mengapa kau berani mengacau perkampungan sahabatku ini?"
Orang itu bertanya dengan suaranya yang dalam dan besar.
Siau In tidak segera menjawab.
Lebih dulu ia mengatur pernapasan dan perasaannya yang terguncang, agar semangatnya juga tidak larut dalam kengerian menghadapi keseraman lawan.
Setelah dapat menguasai dirinya kembali, baru Siau In membuka suara.
"Kau tidak perlu tahu namaku. Kulihat kau mengenakan jubah pendeta. Kalau kau memang benar-benar seorang pendeta, kau tentu dapat membedakan baik dan buruk. kau tentu akan melihat dan meneliti dulu siapa yang salah sebelum ikut turun tangan."
Siau In berkata berani.
Orang itu tertegun sebentar, lalu tertawa, walaupun tawanya terdengar ganjil dan menyeramkan.
Mulutnya sama sekali tidak kelihatan terbuka karena tertutup oleh kumis dan jenggotnya yang lebat.
"Kau benar-benar cerdik dan berani, Gadis kecil! Aku memang seorang pendeta pengembara. Orang menyebutku Tong Taisu. Kebetulan aku berada di sini karena It Kwai itu adalah sahabatku. Dan karena ia sahabatku, maka tentu saja aku takkan mempersoalkan apakah ia salah atau tidak. Yang jelas ia sekarang terluka dan anak muridnya juga kacau-balau oleh amukanmu. Maka sudah selayaknyalah bila sekarang aku membantu dia menangkap kau untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanmu."
"Baik! Aku memang sudah menduganya. Orang berwatak buruk dan jahat seperti lt Kwan tidak mungkin mempunyai sahabat dari kalangan baik-baik pula. Sahabatnya tentu tidak jauh pula bedanya dengan dia. Meskipun engkau memakai jubah pendeta, tapi aku yakin jiwamu tentu tak lebih baik daripada dia."
"Bangsat...! Mulutmu memang tajam! Tapi jangan harap kau bisa membakar kemarahanku. Bagaimanapun juga kau akan kutangkap dan kuserahkan kepada lt Kwan!"
Tong Taisu menggeram.
Namun Siau In sudah tidak peduli lagi.
Dalam keadaan terdesak timbul lagi keberaniannya.
Ia tahu lawannya berkepandaian sangat tinggi dan mungkin ia tak mampu melawannya.
Namun bagaima napun juga ia tak ingin mati dalam ketakutan.
Dia harus melawan sebisa-bisanya.
Siau In mengerahkan lwekang sepenuhnya.
Sinkang yang kemudian mengalir ia salurkan ke seluruh tubuhnya.
Kemudian dengan perlahan-lahan sepasang pedangnya ia angkat ke depan dada.
"Hahaha... tampaknya kau mau melawan juga! Baik! Tapi supaya aku tidak ditertawakan orang karena melawan anak kecil seperti kau, maka aku akan menyimpan senjataku dan mengikat tangan kiriku, sehingga aku hanya menggunakan tangan kanan saja untuk melayanimu."
"Jangan menghina!"
Siau In tersinggung. Sambil mengalungkan tasbehnya ke lehernya dan menyelipkan lengan kirinya ke belakang, pada ikat pinggangnya, Tong Taisu melangkah ke depan.
"Marilah! Aku tidak menghinamu! Aku melihat kau bisa mengalahkan It Kwan, tapi kau sendiri juga hampir celaka oleh cengkeramannya. Hal itu berarti kepandaianmu tidak terpaut banyak dengan dia. Padahal aku sangat mengenal kepandaiannya. Oleh karena itu asal kau bisa lolos dari tangan kananku, kau boleh pergi."
Pendeta itu berkata.
"Baik!"
Siau In sedikit lega.
Demikianlah Siau In lalu menyerang dengan sepasang pedang pendeknya.
Pedang itu berkelebatan ke bagian-bagian tubuh yang berbahaya dari lawannya.
Suaranya mencicit-cicit saking kencangnya, karena Siau In memang mengerahkan seluruh kemampuannya.
Tapi Tong Taisu memang hebat.
Ia memang tidak membual atau menyombongkan diri ketika berjanji untuk melawan hanya dengan tangan kanannya.
Ternyata meskipun hanya satu tangan yang maju, tapi ketika tangan itu mulai digerakkan oleh pemiliknya, tiba-tiba Siau In menjadi silau dan bingung menghadapinya.
Tangan itu seperti berubah menjadi puluhan banyaknya, sehingga ke manapun Siau In menyerang ia seperti dikeroyok oleh empat atau lima orang lawan.
Akibatnya beberapa kali pedangnya hampir terlepas disambar tangan-tangan itu.
Untunglah dengan kematangannya bermain pedang ia masih bisa menyelamatkannya.
"Hei...!? Apa hubunganmu dengan Giam Pit Seng? Kulihat ilmu pedangmu mirip sekali dengan permainan pit-nya!"
Sambil terus mencecar Tong Taisu berseru keras.
"Beliau adalah guruku! Huh, kalau beliau berada di sini, jangan harap kau bisa menghina aku!"
Siau In berteriak pula dengan tak kalah kerasnya. Tak terduga Tong Taisu tertawa bergelak.
"Hahaha...! kau ini anak kemarin sore tahu apa? Gurumu itu telah dua kali bertanding dengan aku, tapi ia tak pernah bisa mengalahkan aku. Malahan pada pertandingan yang ke dua ia justru hampir mati oleh tasbehku. Untung ada orang yang menolong dia..."
Siau In terkejut bukan main, sehingga permainan pedangnya agak sedikit kacau.
Akibatnya pedangnya hampir saja terpental dari genggamannya.
Untunglah dia segera sadar kembali.
Mati-matian ia mempertahankannya.
Samar-samar Siau In memang mengingatnya.
Saat itu ia baru berusia dua belas tahun.
Suatu malam suhunya pulang dari bepergian jauh dalam keadaan lesu.
Gurunya mengatakan bahwa dia baru saja bertempur dengan musuhnya, tapi ia kalah.
Untunglah nyawanya diselamatkan oleh seorang pendekar aneh, yang hanya dengan tiga jurus bisa membuat musuhnya itu lari tunggang langgang.
Dan sebelum pergi pendekar aneh itu menyuruh gurunya untuk mengabdi pada aliran Im-yang-kauw.
Karena sudah berhutang nyawa, serta beranggapan bahwa pendekar penolongnya itu adalah tokoh Im-yang-kauw, maka gurunya lalu masuk menjadi anggota Im-yang-kauw.
Namun setelah bertahun-tahun mengabdi pada Aliran Im-yang-kauw dan telah berulang kali menemui tokoh-tokohnya, gurunya tak pernah menjumpai penolongnya itu.
Ternyata pendekar tersebut bukanlah tokoh Im-yang-kauw.
Tiada seorangpun tokoh Im-yang-kauw yang wajahnya mirip pendekar itu.
Tapi gurunya sudah terlanjur mencintai Im-yang-kauw, sehingga ia tak mau meninggalkannya lagi.
Bahkan oleh karena pengabdiannya yang besar, gurunya diangkat menjadi Pimpinan cabang Im-yang kau wilayah timur setahun yang lalu.
"Oh, jadi kau kah orang yang pernah mengalahkan Guruku itu? Ah, kalau begitu Guruku sekarang bisa tertawa dengan gembira."
Gadis itu balas mengejek.
"Memangnya kenapa...?"
Tong Taisu ternyata terpancing juga oleh ejekan Siau In.
"Habis... Ilmumu tetap seperti ini saja! Tidak ada kemajuan! Padahal setelah masuk aliran Im-yang-kauw, kesaktian Guruku sudah tiga kali lipat dibandingkan dengan dahulu! Buktinya sekarang beliau dijadikan Pimpinan Cabang di daerah timur."
Siau In membual agar lawannya menjadi panas perutnya.
Benar juga.
Tong Taisu menjadi merah padam mukanya.
Ejekan gadis centil itu betul-betul mengenai sasarannya.
Begitu marah, penasaran dan jengkelnya, sehingga Tong Taisu lupa pada janjinya.
Tangan kirinya yang terselip pada ikat pinggangnya itu tiba-tiba ditarik dan terayun ke depan untuk merampas pedang Siau In.
Meskipun kaget tapi Siau In tersenyum penuh kemenangan.
Mula-mula gadis itu menarik kedua bilah pedangnya ke depan dada seperti hendak melindungi pedang itu ke dalam pelukannya.
Namun ketika tangan kiri Tong Taisu hendak menyambar pedang kanannya, pedang kirinya cepat menabas ke depan dengan dahsyatnya.
Tentu saja Tong Taisu tidak ingin mengadu jari-jarinya dengan pedang.
Otomatis tangan kanannya segera membantu dengan menyambar pedang kiri Siau In yang berbahaya itu.
Gerakannya demikian cepat dan kuat luar biasa sehingga tingkat kepandaiannya itu tidak mungkin Siau In mengelakkannya.
Tapi anehnya gadis itu seperti membiarkan saja pedang kirinya itu ditangkap lawannya.
Bahkan berusaha untuk menghindari saja tidak.
Sekejap Tong Taisu curiga.
Tapi sebelum kecurigaannya itu terpecahkan, tiba-tiba Siau In menusukkan pedang kanannya yang bebas itu ke arah pergelangan tangan kanan Tong Taisu yang sudah mencengkeram pedang kirinya itu.
Tong Taisu terperanjat.
Otomatis tangan kirinya yang kagok tadi cepat menyambar terus ke depan, ke pergelangan tangan kanan Siau In!
Dan sekejap kemudian kedua bilah pedang pendek Siau In telah terampas semuanya!
Namun di luar dugaan gadis itu justru bersorak gembira sambil bertepuk tangan!
"Apa kau sudah gila...?"
Tong Taisu menghardik dengan mata melotot.
"Lhoh... aku menang, bukan? Mana pedangku!"
Seenaknya Siau In menyahut.
"Menang apa? Apa kau tidak melihat pedangmu ini?"
Tong Taisu memperlihatkan pedang Siau In yang dirampas.
"Hei! Bukankah Taisu tadi sudah berjanji untuk tidak menggunakan tangan kiri? Ternyata Taisu telah melanggar janjimu sendiri. Bukankah hal itu berarti kalah?"
Siau In menuntut dengan gayanya yang kocak.
"Tapi... Ini...!"
Tong Taisu menjadi pucat. Tak terasa pedang itu dilepaskannya begitu saja, sehingga jatuh berdentang di tanah. Siau In cepat memungut pedangnya.
"Tahan...!"
Tiba-tiba Tong Taisu membentak.
"Tapi... bukankah kau belum bisa mengalahkan tangan kananku? Nah, kau belum boleh pergi!"
Tapi dengan berani Siau In bertolak pinggang.
"Siapa bilang tangan kananmu belum kalah? Bukankah tangan kanan Taisu tadi sudah tidak berkutik karena sedang mencengkeram pedangku? Kalau tangan kiri Taisu tidak turut campur, bukankah pedangku yang satunya sudah bisa menembus pergelangan tangan kanan Taisu itu? Hayo..., benar tidak?"
Sergahnya berani.
"Lha... Ini..., wah! kau gadis cilik memang cerdik sekali! Tapi...?"
Tong Taisu akhirnya mengakui pula kekalahannya. Namun ia masih tampak bingung.
"Taisu, kau seorang Lo-Cianpwe (tokoh persilatan angkatan tua)! kau tidak boleh menjilat ludahmu sendiri. Apalagi lawanmu hanya seorang gadis muda seperti saya. Hanya seekor binatang yang biasa menjilat ludahnya sendiri."
Dengan cerdik Siau In mengolok-olok Tong Taisu agar lawannya itu menjadi malu untuk mengubah keputusannya.
"Kurang ajar! kau memang luar biasa licinnya! Sudahlah... pergi sana!"
Tong Taisu berteriak kecewa.
Bagai burung yang terlepas dari sangkarnya, Siau In tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dengan gesit tubuhnya melesat ke depan untuk secepatnya meninggalkan tempat berbahaya itu.
Sebaliknya Tong Taisu dengan lesu melangkah ke perkampungan Hek-to-pai, diiringkan oleh sebagian anak muridnya It Kwan yang masih sehat.
* * * Kalau baru saja tadi Siau In mengalahkan lawannya dengan kecerdikan, sebaliknya Ciu In harus benar-benar menguras tenaga untuk menundukkan lawan-lawannya.
Empat orang Pek-hok-bio itu ternyata memiliki ilmu tongkat yang cukup tinggi.
Terutama cara mereka bekerja sama satu sama lain.
Setiap kali Ciu In menyerang dengan pedangnya, secara serempak dua orang lawannya segera menempatkan diri untuk menghadapinya, sementara dua orang yang lain segera mengambil kesempatan itu dengan balas menerjang.
Demikian selalu terjadi sehingga Ciu In merasa kewalahan.
Apalagi setiap pedangnya bertemu dengan tongkat lawan, ia seperti membentur dua kekuatan sekaligus.
Bahkan pada saat yang sama ia harus menerima tekanan dua kekuatan yang lain lagi.
Untunglah ia bersenjatakan dua bilah pedang, sehingga setiap saat senjatanya dapat berada di dua jurusan.
Ciu In memang belum mempunyai banyak pengalaman bertempur sehingga ia belum bisa memanfaatkan kelihaian ilmu pedangnya.
Walaupun demikian karena ilmu pedang gubahan Giam Pit Seng itu memang cukup hebat serta aneh diduga, maka empat orang Pek-hok-bio itupun juga merasa sulit pula menghadapinya.
Hal itu membuat mereka menjadi penasaran sekali.
Di Kuil Pek-hok-bio mereka berempat merupakan tokoh-tokoh tingkat dua, karena mereka berempat adalah adik-adik seperguruan dan kepala kuil itu.
Maka sungguh memalukan sekali bagi mereka karena tidak bisa meringkus seorang gadis muda belia seperti Ciu ln.
"Baiklah...!"
Ciu ln berkata di dalam hatinya.
"Aku terpaksa mempergunakan pisau terbangku! Tanpa senjata kecil itu tampaknya aku akan kehabisan napas melayani mereka."
Ciu ln lalu mencari kesempatan.
Mula-mula ia berkelebatan kesana-kemari melayani lawan-lawannya.
Namun pada suatu saat tiba-tiba ia berhenti.
Sebelum lawan-lawannya bisa menduga apa yang hendak ia kerjakan, secara mendadak Ciu In melepaskan pisau-pisaunya.
Sekali melepas gadis itu menaburkan delapan buah sekaligus.
Karena setiap lawan memperoleh jatah dua buah pisau dan dalam posisi terpencar pula, maka otomatis kedudukan mereka menjadi tercerai-berai.
Kesempatan inilah yang dikehendaki Ciu In.
Mumpung lawan-lawannya sedang sibuk menangkis atau mengelakkan pisau-pisaunya, ia segera mencecar salah seorang di antaranya dengan sergapan dua bilah pedangnya.
Orang itu tentu saja menjadi sibuk bukan main.
Selagi tongkat besinya sedang ia pakai untuk menghantam pisau kecil itu, tiba-tiba Ciu In menyerangnya dengan tebasan dua pedangnya.
Ia mencoba untuk meloncat mundur.
Tapi papan jembatan itu ternyata terlalu sempit, sehingga badannya melayang ke dalam empang.
Mati-matian ia berusaha mengaitkan tongkat besinya ke ujung papan di dekatnya, namun sekali lagi Ciu ln memberondong dengan tendangan dan tusukan pedang.
Akibatnya tongkat itu justru terguncang lepas dari tangannya.
Ketika temannya yang terdekat berusaha menolong orang itu, Ciu In kembali melepaskan pisau terbangnya.
Kali ini hanya dua buah, tapi semuanya mengarah ke bagian jantung dan pusar orang yang akan menolong temannya tersebut.
Orang itu menjadi gelagapan.
Karena dalam posisi melayang ke depan, maka gerakannya menjadi kagok.
Menangkis salah, mengelakkan juga salah.
Dua-duanya akan membuat ia terpelanting ke samping sehingga dirinya akan mudah diserang kembali.
Benar juga.
Ketika orang yang hendak menolongnya mencoba untuk mengelak, tubuhnya menjadi terbuka dan kesempatan tersebut memang dipergunakan oleh Ciu In dengan sebaik-baiknya.
Pedang gadis itu meluncur ke depan ke arah lutut dan pinggang orang itu.
Dan sekali ini jalan satu-satunya bagi orang itu cuma menangkis.
Tapi karena menangkis dalam posisi yang jelek mengakibatkan tubuhnya terbanting ke arah empang pula.
"Byuuuuuur!"
"Byuuuuuurr!"
Dalam waktu yang hampir bersamaan kedua orang Pek-hok-bio tercebur ke dalam empang yang dalam itu.
Ciu In cepat membalikkan badannya karena pada saat yang bersamaan pula kedua lawannya yang lain telah menerjang ke arah dirinya.
Dua orang yang masih tersisa itu tampak berang sekali karena kawan-kawannya dapat diperdaya oleh gadis itu.
Setelah kini tinggal dua orang saja yang harus dihadapinya, Ciu In benar-benar bisa mengembangkan ilmu pedangnya dengan leluasa.
Pedang pendeknya menjadi semakin lincah menari-nari mengelilingi tubuh lawan-lawannya.
Meskipun lawannya memegang tongkat besi, namun senjata yang berat itu terlalu lamban untuk mengejar ayunan pedang pendeknya yang gesit bagai lebah madu.
Berulang kali kedua orang lawannya itu terpaksa jatuh bangun untuk menghindarkan diri dari sengatan pedang Ciu In.
Lima juruspun segera berlalu dan dua orang Pek-hok-bio yang masih tersisa itupun sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Ketika salah seorang di antara mereka terpaksa melepaskan tongkat besinya dan terjungkal ke dalam kolam terkena ujung sepatu Ciu In, yang lainpun segera ikut terjun ke dalam empang pula.
Celakanya tak seorangpun dari empat orang Pek-hok-bio itu yang mampu berenang di dalam air, sehingga dengan mudah mereka menjadi bulan-bulanan Liu Wan yang sejak tadi masih mengapung di empang menonton pertempuran mereka.
Pemuda itu dengan cerdik menyelam ke dalam air, lalu bergantian menarik kaki-kaki mereka ke bawah.
Tentu saja orang-orang Pek-hok-bio itu menjadi gelagapan seperti anak ayam yang menggelepar-gelepar di dalam lumpur.
Entah berapa mangkuk air saja yang mengalir ke dalam perut mereka.
Setelah orang-orang Pek-hok-bio itu kelihatan lemas dan kecapaian, barulah tubuh mereka diseret ke pinggir oleh Liu Wan.
Ciu ln cepat berlari mendekati dan bersiap siaga kalau-kalau orang Pek-hok-bio itu masih hendak meneruskan pula pertempuran mereka.
Tapi empat orang itu sudah tidak berdaya lagi.
Selain senjata mereka tertinggal di dalam air, keadaan tubuh merekapun sudah tidak keruan lagi.
Tenaga hilang, perut dan paru-paru merekapun penuh dengan air.
Berkali-kali mereka terpaksa muntah-muntah untuk mengeluarkan air yang mereka minum.
Celakanya yang keluar tidak cuma air empang, tapi juga seluruh isi perut mereka, termasuk puluhan ekor ikan hidup yang ikut tertelan ketika sekarat tadi.
Begitu dapat berdiri mereka berempat segera ngeloyor pergi tanpa pamit lagi.
Mereka berjalan terhuyung-huyung, sambil sesekali masih harus memuntahkan kotoran-kotoran dan ikan-ikan kecil yang tersisa di dalam perut mereka.
"Nona Tio, ilmu pedangmu sungguh hebat sekali! Terutama pisau-pisau terbangmu itu. Dan kau benar-benar cerdik. Semula aku sudah merasa khawatir, karena pada permulaannya kau tampak sangat kerepotan menghadapi kerja sama mereka."
Ciu In tersenyum kemalu-maluan.
Pujian pemuda tampan yang baru setengah hari dikenalnya itu terasa menyesakkan dadanya.
Pemuda itu sungguh pintar bergaul dan pandai mengambil hati orang, sehingga sebentar saja Ciu In merasa dekat dan akrab dengannya.
"Ah, diam-diam Tuan tentu mentertawakan ilmu pedangku itu..."
Ciu In pura-pura kurang senang.
"Hei, benar... Nona! Aku berkata sebenarnya. Ilmu pedangmu sungguh-sungguh hebat. Hanya saja dalam penggunaannya kau seperti belum menyatu dan mengenal betul akan sifat-sifatnya. Tapi... eh, omong-omong, sudah setengah harian kita saling mengenal, mengapa masih mempergunakan sebutan "Tuan"
Dan "Nona"? Mengapa kita tidak saling menyebut kakak dan adik saja?"
Dengan gaya yang menyenangkan Liu Wan membelokkan arah percakapan mereka.
"Ah... aku...?"
Wajah Ciu In yang cantik itu menjadi merah.
"Baiklah, kalau kau setuju... aku akan memanggilmu adik, karena usiamu tentu belum ada dua puluh tahun. Sedangkan aku sudah seperempat abad. Nah, mulai saat ini aku akan memanggilmu Ciu-moi dan kau boleh menyebutku Engko Wan atau...Wan Siok-siok (Paman Wan)!"
Pemuda itu berkelakar.
"Wah, tidak mau kalau Wan Siok-siok! Terlalu tua!"
Ciu In terpancing untuk melayani kelakar Liu Wan.
"Terserah Ciu-moi... Nah, sekarang kita masuk ke pondok lagi untuk mengatur siasat. Aku juga akan berganti pakaian pula. Pakaian ini basah dan berbau amis. Setelah itu kita juga akan merayakan keberhasilan sandiwara kita tadi. Anak buah So Gu Thai yang dikirim ke mari tadi dapat kita kelabuhi dan pulang dengan tangan hampa..."
"So Gu Thai? Siapakah So Gu Thai itu?"
Liu Wan melangkah ke atas jembatan, diikuti oleh Ciu In.
"So Go Thai adalah penjahat yang kuceritakan itu. Sebenarnya ia bukan orang Han, tapi orang Tartar dari suku Hun. Nama sebenarnya adalah Sogudai. Seperti nenek-moyangnya ia juga pemuja matahari dan bulan. Dan setiap pergantian tahun ia tentu mengadakan upacara korban untuk dewa matahari dan bulan. Dia sangat lihai dan berbahaya karena dia adalah bekas pengawal pribadi Mo Tan, raja orang-orang Tartar itu."
Sambil berjalan melewati jembatan itu Liu Wan memberi keterangan tentang musuhnya.
"Jadi dia orang... tartar?"
Ciu In bertanya ngeri.
Ciu In sering mendengar penuturan suhunya, bahwa bangsa Tartar yang terdiri dari bermacam-macam suku itu sangat kasar, kejam dan tak mengenal perikemanusiaan.
Di jaman pemerintahan mendiang Kaisar Liu Pang, suku bangsa biadab itu telah beberapa kali menyerang ke pedalaman Tionggoan.
Di bawah rajanya yang lihai, buas, kejam namun amat cerdik luar biasa itu, hampir saja bisa mengalahkan bala tentara Kerajaan Han.
Untunglah Kaisar Liu Pang memiliki pembantu-pembantu dan panglima-panglima perang tangguh dan gagah berani, sehingga beberapa kati pula Mo Tan dan pasukan perangnya dapat dihalau keluar dari Tembok Besar.
"Ya! So Gu Thai orang Tartar dari suku Hun. Satu suku dengan Mo Tan, rajanya."
Liu Wan mengiyakan.
"Ciu-moi...! Sebenarnya aku tidak heran melihat So Gu Thai berkeliaran di daerah Tionggoan. Mungkin dia hanya salah seorang pengikut Mo Tan yang tercecer di sini ketika mereka mengundurkan diri ke utara. Tetapi yang aku herankan, selama sebulan ini aku sering melihat dan bertemu dengan orang-orang Tartar di sepanjang daerah pantai timur ini. Walaupun mereka menyamar seperti orang Han, tapi logat bicara dan tingkah laku mereka dapat kukenali dengan baik. Aku jadi curiga dan berpikir keras. Jangan-jangan ada sesuatu yang mereka kerjakan di daerah ini. Aku... jangan-jangan Mo Tan telah bersiap-siap untuk melintasi Tembok Besar lagi."
"Oh, kalau benar-benar demikian... sungguh mengerikan!"
Ciu In menatap Liu Wan dengan muka pucat.
"Yah... rakyatlah yang akan mengalami nasib yang buruk. Sampai sekarang bekas-bekas kebiadaban pasukan Mo Tan itu masih melekat di dada orang-orang Han. Ah, silakan duduk dulu, Ciu-moi! Aku akan berganti pakaian..."
Sampai di dalam pondok Liu Wan mempersilakan Ciu In untuk duduk di kursi yang telah disediakan, sementara ia sendiri masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya yang basah.
Lo Kang dan Lo Hai segera menyiapkan minuman.
Ciu In lalu melihat-lihat lagi keadaan pondok yang menyenangkan itu.
Di ruang samping Ciu In melihat tiga buah lukisan orang dalam ukuran yang cukup besar.
Lukisan itu terdiri dari sebuah lukisan wanita cantik setengah baya dan dua buah lukisan lelaki usia empat puluhan dan enam puluhan.
Gambar lelaki berusia empat puluhan itu hampir mirip dengan Liu Wan.
Hanya bedanya wajah Liu Wan tidak setajam dan sekeras wajah di dalam gambar itu.
Dan juga, di dalam gambarnya, lelaki itu kelihatan lebih tinggi dan lebih jangkung daripada Liu Wan.
"Ciu-moi, kau di sini rupanya..."
Seperti tadi, kali inipun Ciu In hampir menjerit saking kagetnya. Tanpa menimbulkan suara tiba-tiba saja Liu Wan telah berada di belakangnya.
"Wan-ko, kau kembali mengagetkanku!"
Sungutnya kesal. Tapi tampaknya Liu Wan tak mempedulikan kekesalan Ciu In itu. Dengan wajah bersungguh-sungguh pemuda itu menatap mata Ciu In.
"Kau... Mengenal wajah yang terlukis di dalam gambar-gambar ini, Ciu-moi?"
Desaknya dengan suara yang agak bergetar.
Ciu In balas memandang dengan aneh dan tak mengerti.
Kadang-kadang dirasakannya pemuda itu bersikap aneh dan membingungkan.
Seperti ada sesuatu yang disembunyikan atau dirahasiakannya.
"Tidak. Aku sama sekali tidak mengenal mereka. Siapakah mereka...?"
Sambil menggeleng Ciu In menyahut dengan suara curiga.
Tiba-tiba Liu Wan menghela napas lega.
Wajahnya kembali cerah seperti biasanya.
Dengan cepat tangannya meraih gambar wanita cantik setengah baya itu.
"Ini... Ibuku. Cantik sekali, bukan? Gambar ini kubuat lima tahun yang lalu! Tentu saja Ibuku sekarang lebih tua dari pada gambar ini."
Liu Wan menerangkan "Apakah Wan-ko dari keluarga bangsawan atau pejabat kerajaan? Kulihat Ibumu mengenakan perhiasan yang bagus-bagus."
Ciu In mencoba bertanya tentang asal-usul Liu Wan. Pemuda itu tertawa.
"Siapapun bisa mengenakan perhiasan yang bagus-bagus, Ciu-moi. Tak perlu ia harus keluarga bangsawan atau pejabat kerajaan. Seorang pedagang yang berhasilpun bisa membeli perhiasan-perhiasan seperti itu kalau dia suka. Apalagi di dalam gambar itu aku memang sengaja menambahi perhiasan-perhiasan bagus pada wajah Ibuku, agar beliau kelihatan lebih cantik lagi dipandang mata."
Dengan cerdik dan luwes pemuda itu menjawab.
"Ah, Wan-ko ini ada-ada saja. Pandai benar mengambil hati Ibumu. Ehm, lalu lukisan orang tua berambut agak putih ini siapa?"
Liu Wan mengambil gambar lelaki berusia enam puluhan itu pula.
"Ini gambar... guruku!"
Jawab pemuda itu singkat.
"Gurumu? Bolehkah aku mengenal nama dan gelar Gurumu?"
Sekali lagi Ciu In mencoba mengetahui latar belakang Liu Wan. Tapi pemuda itu dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Ciu-moi... guruku sangat suka menyendiri dan tak suka namanya dikenal orang."
"Baiklah... Lalu siapakah gambar yang lain itu? Apakah ia juga suka menyendiri dan tak ingin namanya diketahui orang?"
Dengan suara menggoda Ciu In menunjuk lukisan lelaki berusia empat puluhan itu. Liu Wan tersenyum kemalu-maluan. Suaranyapun terasa sungkan ketika menjawab.
"Benar, Ciu-moi. Itu gambar Kakakku. Dia... dia memang tak suka diketahui namanya."
"Yah..."
Ciu In berdesah kecewa seraya mengangkat pundaknya.
"Tampaknya seluruh keluargamu suka menyendiri dan tak ingin bergaul dengan orang lain, kecuali... Kau!"
Kali ini Liu Wan benar-benar meringis kecut.
"Bukan begitu maksudku, Ciu-moi. Soalnya... ah, sudahlah... Kelak engkau tentu akan mengerti juga, Ciu-moi. Sekarang memang belum waktunya..."
Ujarnya kemudian dengan suara sedih dan menyesal. Ciu In tertawa.
"Ya, kalau kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi. Kalau tidak...? Soalnya kalau adikku yang hilang itu sudah aku ketemukan, aku akan kembali pulang dan tidak akan pergi kemana-mana lagi."
"Terus mau pulang? Di manakah rumahmu? Apakah...?"
Tiba-tiba Liu Wan tidak meneruskan pertanyaannya. Ia menjadi sungkan dan malu sendiri. Apalagi ketika kemudian Ciu In tertawa kecil sambil menutupi mulutnya.
"Maaf, Wan-ko. Rumah dan keluargaku juga tidak suka dikenal orang pula."
Liu Wan mengambil gambar-gambar itu dan memasangnya kembali di tempat semula. Lalu dengan wajah agak lesu ia mengajak Ciu In ke ruang depan.
"Sudahlah, Ciu-moi. Kita tidak perlu saling mengolok-olok. Biarlah untuk sementara kita tak usah saling bertanya tentang asal-usul kita masing-masing. Sekarang yang penting adalah menyelamatkan Adikmu. Lihat... Matahari sudah hampir terbenam. Sebentar lagi kita akan berangkat."
Malam memang cepat sekali datangnya.
Belum juga mereka menghabiskan teh dan makanan kecil yang disuguhkan oleh Lo Kang dan Lo Hai, untuk merayakan keberhasilan sandiwara mereka, ribuan kunang-kunang telah mulai menyerbu empang itu.
Begitu banyaknya binatang malam itu beterbangan di sekitar pondok tersebut, sehingga tanpa lampu minyakpun rasa-rasanya sudah terang-benderang.
* * * Demikian pula keadaannya di tepian pantai di dekat perkampungan nelayan Ui-thian-cung pada malam itu.
Karena angin laut tidak begitu kencang berhembus, maka ribuan kunang-kunang segera berkumpul dan bercengkerama di tempat sepi itu.
Mereka beterbangan di antara riak-riak gelombang yang berdebur lemah di hamparan pasir yang luas.
Kalau Ciu In menonton keindahan kunang-kunang itu sambil makan minum dan mengobrol bersama Liu Wan, sebaliknya Siau In mengagumi binatang malam itu sendirian, tanpa kawan, tanpa minuman dan makanan, bahkan di atas hamparan pasir yang sunyi sepi pula.
Seperti tujuannya semula, sehabis mengalahkan Tong Taisu dengan kecerdikannya, Siau In berlari menyusuri jalan yang menuju ke laut itu.
Sambil mengerahkan ginkangnya, kadang-kadang Siau In masih menoleh ke belakang.
Gadis itu masih merasa khawatir kalau-kalau Tong Taisu yang lihai itu berubah pikiran lagi.
Tapi setelah beberapa saat lamanya tak ada tanda-tanda kalau pendeta pengembara itu mengejar dirinya, Siau In menjadi lega.
Gadis itu lalu mengendorkan langkahnya.
Dengan bernyanyi-nyanyi kecil ia melenggang seenaknya.
Angin sore berhembus agak sedikit kencang sehingga bajunya yang longgar menyibak.
Siau In menjerit lirih sambil membungkukkan badannya.
Angin nakal itu menyelonong masuk lewat celananya yang robek di bagian depan.
"Oh...!"
Tiba-tiba gadis itu terperanjat.
Sekejap Siau In menyangka Tong Taisu mengejarnya, karena ketika dia membungkuk tadi, ia seperti melihat sebuah bayangan menyelinap cepat ke semak-semak di belakangnya.
Namun ketika ia membalikkan badan dan melihat jalan lengang di belakangnya, Siau In tak melihat siapapun di sana.
Untuk lebih meyakinkan dugaannya Siau In berbalik dan meneliti semak-semak itu.
Tapi semak itu kosong.
"Ah, tampaknya aku hanya terbayang-bayang saja wajah Tong Taisu yang menyeramkan itu..."
Akhirnya Siau In membesarkan hatinya sendiri.
Gadis yang memang memiliki watak lincah dan gembira itu sebentar saja telah melupakan rasa kaget dan kecurigaannya.
Siau In telah bernyanyi-nyanyi kecil kembali.
Bahkan di tempat yang dirasa sangat sepi dan lengang, ia menyelinap ke semak-semak di tepi jalan.
Di tempat itu mengalir sebuah selokan kecil yang sangat jernih airnya.
Sambil buang air kecil Siau In mengganti celananya yang sobek.
Celana itu tidak dibuang tetapi dimasukkannya ke dalam bungkusannya.
Tiba-tiba...!
"Iiiiiiiiih...!"
Siau In menjerit sekeras-kerasnya.
Seketika wajah Siau In menjadi pucat, matanya berkedip-kedip mau menangis, sementara bungkusan pakaiannya ia lepaskan begitu saja!
Gadis itu memandang kaget ke tengah-tengah semak itu!
Di tempat yang agak longgar itu tampak seorang pemuda sedang tiduran di atas rumput dan hanya dua tombak jauhnya dari tempat Siau In berdiri!
"Kkkkau?
Si-si-siapakah kau?
Mengapa kau di sini?
kau...
Mengintip-intip aku, ya?
K-k-kau tadi...
Melihat...
Melihat...
ya?
Ooooh!"
Dengan suara sember dan serak, seperti mau menangis, Siau In menuding pemuda nakal itu.
Lalu seperti induk ayam yang diganggu anaknya, Siau In mengamuk sejadi-jadinya.
Gadis itu menerjang, memukul, menendang dengan membabi-buta ke arah pemuda nakal itu untuk melampiaskan rasa dongkolnya.
Siau In lupa bahwa pukulannya itu bisa membunuh orang.
Untunglah pemuda itu bukan pemuda petani tambak atau nelayan yang tak mampu apa-apa.
Pemuda itu ternyata seorang jago silat tinggi yang bisa mengelak serta menghindarkan diri dari amukan "induk ayam"
Yang baru kesal dan marah itu.
"Hei! Hei! Berhenti! Apa-apaan ini? Mengapa kau menyerang aku? Apa salahku?"
Sambil melesat kesana-kemari pemuda itu berteriak-teriak.
Setelah beberapa saat tak dapat mengenai tubuh lawannya, Siau In tiba-tiba malah menjadi sadar akan perbuatannya.
Ia segera menghentikan amukannya.
Terlongong-longong ia memandang lawannya.
Air mukanya tampak menyesal karena dia hampir saja membunuh orang.
Tapi ketika dilihatnya orang itu masih segar bugar seperti tidak pernah terjadi apa-apa, kemarahan Siau Inpun cepat meluap kembali.
"Kurang ajar! Ternyata kau pandai bersilat, ya? Jadi kau memang sengaja mau mengganggu dan mencoba aku, ya? kau sengaja mengintip dan... eh, katakan terus terang! kau... Hei, bukankah kau yang mengacau di atas panggung perlombaan tadi?"
Siau In berkicau seperti burung sedang birahi.
Pemuda yang tak lain memang Chin Tong Sia itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.
Ia sama sekali tak mempunyai kesempatan untuk menjawab atau membela diri.
Demikian mulutnya terbuka hendak bersuara, Siau In sudah menggencetnya dengan berondongan suaranya.
Demikian berulang kali sehingga akhirnya Chin Tong Sia menjadi kesal pula dibuatnya.
Dan merasa kesal, gendengnyapun segera kumat.
Dengan sikap acuh tak acuh pemuda itu membalikkan tubuhnya.
Sambil melangkah pergi, mulutnya masih sempat membalas semprotan Siau In.
Suaranya tenang, seenaknya, malahan agak sedikit menggoda.
"Tentu saja aku melihatnya! Habis, begitu dekatnya, sih! Masa aku buta?"
Dapat dibayangkan rasa marah, malu, penasaran, dongkol di hati Siau In, sehingga gadis itu rasanya ingin menangis menggerung-gerung di tanah.
"Bagus! Kalau begitu kau harus mati!"
Siau In berteriak marah, lalu menerjang Chin Tong Sia.
Dengan tangkas Chin Tong Sia mengelak, lalu melangkah ke samping dan berusaha meneruskan jalannya.
Tapi mana mau Siau In melepaskannya?
Dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya gadis itu mencoba meringkus pemuda yang telah membuat dirinya menderita malu bukan main itu.
Belasan jurus telah terlewati.
Ternyata dengan tangan kosong Siau In tak mampu menjatuhkan lawannya, padahal pemuda itu sama sekali tak pernah membalas.
Saking marah dan jengkelnya Siau In menghunus sepasang pedang pendeknya.
Dengan dua buah senjata andalannya itu Siau In mencoba mencabik-cabik tubuh Chin Tong Sia!
Namun kali ini Siau In benar-benar ketemu batunya.
Pedang pendeknya yang baru saja menaklukkan seorang ketua partai persilatan yang cukup tenar seperti It Kwan itu, kini ternyata menjadi melempem dan sama sekali tak bisa berbuat banyak terhadap pemuda tak ternama seperti lawannya itu.
Jangankan dapat menyentuh tubuhnya, sedang bayangannyapun Siau In tak mampu menggapainya.
Bahkan bila mau, tampaknya dengan mudah pemuda itu bisa meloloskan diri dari libatan pedang Siau In dan pergi dari tempat itu.
Namun kelihatannya Chin Tong Sia memang tak hendak meninggalkan tempat tersebut.
Sebaliknya dari berlari, Chin Tong Sia malah melenggang bolak-balik dan berputar-putar di tempat itu sambil mengelakkan serangan pedang Siau In.
Sambil melenggang dan menghindar, pemuda yang sudah angot gendengnya itu berpantun!
Di sana gunung, di sini gunung!
Di lembah ada sungainya...!
Di sana melembung, di sini...
ya melembung!
Oooiiiiii...?
Di tengah-tengah ada...
jurangnya!
Ketika menyebut kata-kata gunung, Chin Tong Sia menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah, seperti hendak memperagakan dua buah benda yang menonjol atau melembung.
Dan ketika menyebut kata-kata melembung serta kalimat pada bait yang paling akhir, pemuda itu melakukannya dengan tertawa cekikikan.
Kulit muka Siau In menjadi merah padam bagai udang direbus.
Malunya bukan main.
Gadis yang cerdik dan sudah biasa mengolok-olok orang itu dengan cepat bisa menangkap atau menduga arah pantun yang dinyanyikan pemuda itu.
Yang dimaksudkan dengan gunung yang melembung itu tak lain tentulah pantatnya yang menonjol besar.
Sementara kata-kata lembah atau jurang itu tentu juga dimaksudkan untuk menghina atau mengejek dirinya.
Rasanya Siau In tak ingin hidup lagi kalau tak membunuh pemuda kurang ajar tersebut.
Tapi sebelum ia benar-benar menumpahkan seluruh kelihaiannya, mendadak dari arah depan terdengar suara ketawa yang lain lagi.
"Ah, salaaaaaah! Salah...! Sute, pantunmu itu kurang benar! Harusnya begini...!"
Di sana bokong, di sini bokong...! "Wah... terpeleset! Keliru... Keliru...! Oh, ya begini...!"
Di sana gunung, di sini gunung!
Di lembah ada sungainya...!
Di sana melembung, di sini melembung hi-hi-hi-hi...!
Di tengah-tengah ada...
ada...
ada sungainya!
"Hahaha!
Nah, itu baru benar!
Di tengah-tengah ada sungainya!
Bukankah di sana ada mata air yang mengalir?
Haha-hoho-ha-ho...!"
"Suheng...!"
Tiba-tiba Chin Tong Sia membentak keras sekali.
"Di mana kau sekarang? Apakah kau tadi juga melihat...? Awas, sekali ini kau tidak boleh ikut campur!"
"Aku berada di depan. Wah... aku tidak melihat apa-apa tadi. Habis, aku sendiri sedang berak, sih! kau juga nakal, tak mau membagi-bagi kebahagiaan bila dapat mangsa. Seharusnya tadi kau memberi tahu, dong! Meski masih berak, aku juga akan berlari ke situ, hehehe...!"
Siau In cepat mengeluarkan pisau-pisaunya.
Karena kemarahannya sudah tidak bisa dibendung lagi, maka pisau-pisau itupun segera beterbangan mencari mangsa.
Kali ini Chin Tong Sia benar-benar harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Tubuhnya yang kurus itu berkelebatan melebihi kecepatan pisau.
Meliuk, meluncur, menukik, melenting dan melayang ke segala penjuru, laksana lebah yang mengitari bunga.
Gerakannya indah dan cepat bukan main.
Belasan pisau yang dipunyai Siau In telah habis terpakai, namun tak sebuahpun yang dapat mengenai sasarannya.
Pemuda lawannya itu terlalu gesit dan lincah.
Siau In menjadi kesal dan putus asa.
Saking kesalnya gadis itu segera membuang pedangnya.
Sambil menjatuhkan diri di atas rumput Siau In menangis sejadi-jadinya!
Tentu saja Chin Tong Sia menjadi kaget sekali "Lho...
bagaimana ini?
Kenapa tiba-tiba jadi menangis...?"
Chin Tong Sia menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.
Pemuda itu tidak tahu apa yang harus dikerjakannya.
Membujuk salah, tidak membujuk hatinya tidak tega.
Siau In memang ingin menumpahkan seluruh kekesalannya, seluruh kemarahannya dan juga seluruh kekecewaannya, sehingga beberapa waktu lamanya ia masih menangis sesenggukan.
Sebaliknya Chin Tong Sia yang menunggu di dekatnya, melihat Siau In tak kunjung menghentikan tangisnya, menjadi salah tingkah.
Mendadak timbul rasa sesalnya, karena telah membuat kesal hati gadis cantik itu.
Dengan agak takut-takut, takut mendapat semprotan lagi, Chin Tong Sia berlutut di samping Siau In.
Dengan kata-kata halus dan ucapan sesal, pemuda itu mencoba menghentikan tangis Siau In.
Tak terasa tangan pemuda itu terulur ke depan untuk memegang pundak Siau In.
Pada saat itulah tiba-tiba Siau In membalik!
"Plaaak!
Plaaaak!"
Dua kali tamparan yang keras mendarat di pipi Chin Tong Sia!
Begitu cepat dan keras sehingga pemuda itu tidak kuasa lagi untuk menghindarinya.
Jaraknya demikian dekat dan Chin Tong Sia sendiri memang lengah.
Akibatnya pipi pemuda itu menjadi bengkak dan merah, bahkan dari sela-sela bibirnya mengalir darah segar.
Tapi sungguh mengherankan!
Sama sekali pemuda itu tidak marah atau sakit hati.
Pemuda itu hanya mengusap-usap saja pipinya yang bengkak.
Hanya matanya saja yang berkedip-kedip seperti lampu kehabisan minyak, memandang dengan wajah menyesal kepada Siau In.
"Heh? Kenapa kau diam saja ditampar gadis ini?"
Entah dari mana datangnya, mendadak di dekat Chin Tong Sia telah berdiri Put-pai-siu Hong-jin!
si Gila itu seperti hantu yang muncul begitu saja di tempat itu, sehingga Siau In yang baru saja menampar Chin Tong Sia itu sampai terlonjak saking kagetnya!
Apalagi ketika gadis itu melihat wajahnya yang menyeramkan!
"Suheng!
Sekali lagi kau jangan turut campur!
Aku...
tiba-tiba aku merasa menyesal telah mempermainkan gadis ini.
Aku memang anak bengal.
Aku tak pernah mempunyai Ayah dan Ibu.
Yang ada hanya Suhu dan para suheng yang terlalu amat memanjakan aku.
Aku tak pernah diajari untuk menghormati wanita.
Aku tak pernah ditampar kalau berbuat nakal.
Oooh, kalau aku punya Ibu, aku tentu sering dipukul dan ditampar seperti ini kalau nakal..."
Seperti orang melamun Chin Tong Sia bergumam dengan suara lemah.
"Nah, kau sudah mulai cengeng lagi! Huh, bosan aku...! Sudahlah, aku akan pergi dulu! Silakan kau menangis bersama gadis ini sepuasnya, asal jangan lupa datang di rumah nelayan itu tengah malam nanti!"
Selesai menggerundel Put-pai-siu Hong jin melesat pergi dari tempat itu.
Datangnya sangat tiba-tiba, begitu perginya.
Tubuhnya yang kurus dan agak bungkuk itu seperti berubah menjadi asap yang tertiup angin semakin jauh.
Cepat bukan main!
Siau In sampai terbelalak saking herannya.
"Nona, maafkanlah aku. Aku benar-benar menyesal mempermainkan engkau. Kuharap kau tidak menjadi sakit hati terhadapku..."
Sambil tetap mengelus-elus pipinya yang bengkak Chin Tong Sia meminta maaf kepada Siau In.
Siau In sudah tidak sesenggukan lagi.
Masih dengan kaki bersimpuh di atas rumput gadis itu menatap dengan rasa benci kepada Chin Tong Sia.
Rona merah masih menjalar di pipi gadis itu kalau mengingat keadaannya ketika diintip oleh pemuda itu.
Tapi pemuda itu kini juga ikut bersimpuh di depannya.
Bahkan pemuda itu tampak sangat menyesali perbuatannya.
Terbukti ditampar sampai bengkak dan berdarahpun ia tak membalas.
Akhirnya susut juga kemarahan Siau In.
"Baiklah, aku memaafkan kau. Tapi... coba kau berkata terus terang! Apakah kau tadi benar-benar melihat... eh... Melihat seluruhnya?"
Dengan wajah kembali memerah Siau In mencoba meyakinkan sekali lagi akan kekhawatirannya.
Chin Tong Sia menatap dengan agak takut-takut.
Sikapnya itu benar-benar aneh dan bertolak belakang dengan kehebatannya dalam ilmu silat!
Perlahan-lahan kepala Chin Tong Sia mengangguk.
"Plaaaak!"
Kemarahan Siau In tiba-tiba meledak kembali dan tangannya melayang ke pipi Chin Tong Sia tanpa bisa dicegah lagi. Akibatnya untuk kedua kalinya darah mengalir keluar dari mulut pemuda itu.
"Wah, payah...! Sute, apa sebenarnya yang telah terjadi padamu? Kenapa kau tetap diam saja seperti patung? Lama-lama kau bisa ompong... ditampar terus-menerus oleh perempuan galak itu!"
Terdengar suara Put-pai-siu Hong-jin dari kejauhan.
Siau In tercengang.
Orangnya sudah tidak tampak, tapi kenapa seperti masih bisa menyaksikan keadaan di tempat itu?
Berdiri juga bulu roma Siau In melihat kesaktian orang itu.
Apa jadinya kalau manusia menyeramkan itu tadi menjadi marah dan membela sutenya?
Baru si pemuda ini saja sudah bukan main lihainya, apalagi orang itu.
Perlahan-lahan Siau In menurunkan tangannya yang telah siap sedia hendak menampar lagi.
Matanya yang galak itu tiba-tiba meredup tatkala menyaksikan aliran darah yang masih menetes-netes di sudut bibir Chin Tong Sia.
Sejenak heran juga hati Siau In melihat pemuda itu diam saja tak membalas ketika ia tampar tadi.
Apakah pemuda itu takut padanya?
Jelas tidak.
Pemuda itu memiliki kesaktian yang jauh lebih tinggi dan pada silatnya.
Apakah pemuda itu benar-benar menyesali perbuatannya?
Siau In menghela napas panjang.
Matanya tertunduk pula.
"Menurut aturan aku harus membunuhmu untuk menghilangkan rasa maluku. Tapi... sudahlah. Aku tak tega melihat kau telah menyesali perbuatanmu. Hanya kuminta untuk selanjutnya kau jangan sampai bertemu dengan aku. Kalau sampai berjumpa sekali lagi, aku akan membunuhmu. Kalau tak bisa membunuhmu, aku sendiri yang akan bunuh diri. Aku tak ingin melihat orang yang telah melihat tubuhku, kecuali..."
Siau In tak meneruskan ucapannya, kemudian berdiri dan meninggalkan tempat itu.
"Kecuali... apa, Nona?"
Chin Tong Sia cepat berdiri dan bertanya.
Tapi Siau In tak mau berbicara lagi.
Kakinya melangkah cepat menuju ke pantai.
Chin Tong Sia sendiri sebenarnya juga akan ke perkampungan nelayan pula.
Tapi ia tak berani membarengi gadis itu.
Ia takut gadis itu akan membuktikan ancamannya.
Barulah ketika gadis itu tidak kelihatan lagi, Chin Tong Sia melangkah pula menuju ke pantai.
Inilah pengalamannya yang pertama dengan seorang gadis selama hidupnya yang telah menginjak dua puluh enam tahun itu.
"Oh... tololnya aku! Sampai lupa aku menanyakan namanya! Hmmm...!"
Pemuda itu menyesali dirinya.
Tiba-tiba Chin Tong Sia ingat pada bungkusan Siau In yang masih ketinggalan di dekat selokan itu.
Bergegas pemuda itu kembali dan mengambilnya.
Namun ketika ia hendak berlari untuk memberikan benda tersebut ke pemiliknya, hatinya kembali ragu-ragu.
"Ah, peristiwa ini masih mengeruhkan pikirannya. Dia bisa benar-benar berbuat nekad kalau aku tetap mendesaknya. Hmh, biarlah lain kali saja kalau takdir masih mempertemukan aku dengan dia, barang ini akan kuserahkan kepadanya."
Sambil menarik napas panjang Chin Tong Sia mengikatkan bungkusan itu ke pundaknya.
Entah apa isinya ia tak tahu.
Demikianlah, peristiwa yang tidak mengenakkan hati itu masih saja mengganggu dan berkecamuk hebat di dalam pikiran Siau In.
Oleh sebab itu pula walaupun malam telah merangkak semakin larut, gadis cantik itu masih saja bermenung sendirian di tepi pantai.
Dibiarkannya angin malam yang nakal itu membelai dan mengacaukan rambutnya.
Bahkan dibiarkannya pula air laut yang mulai pasang itu membasahi kain celananya.
Berjam-jam lamanya gadis itu duduk diam bagai patung batu.
Diam tak bergerak.
Matanya menerawang jauh ke tengah laut seolah-olah ingin menjenguk cakrawala, di mana langit dan permukaan laut saling bertaut menjadi satu.
Hanya tarikan napasnya yang panjang dan berat saja yang menandakan gadis itu masih hidup.
Terdengar suara lonceng dari kampung Ui-thian-cung, pertanda hari sudah lewat tengah malam.
Air laut benar-benar telah mulai pasang, sehingga pasir di mana Siau In duduk juga mulai dibanjiri air.
Siau In terpaksa beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Dengan lesu gadis itu melangkah satu-satu ke tempat yang lebih tinggi.
Kadang-kadang ia harus melompati batu-batu karang yang berserakan di depannya.
Dan akhirnya gadis itu memutuskan untuk duduk kembali di sebuah batu karang yang menjulang paling tinggi.
Namun ketika Siau In mulai meletakkan pantatnya di puncak batu karang itu, tiba-tiba matanya terbelalak memandang ke tengah laut.
Di antara gulungan ombak yang bergulung-gulung datang, gadis itu melihat sebuah perahu datang mendekati pantai di mana ia berada.
Yang membuatnya heran adalah perahu itu sama sekali tidak memasang lampu seperti halnya perahu-perahu nelayan yang lain.
Siau In meloncat turun dan bersembunyi di balik batu karang.
Nalurinya mengatakan bahwa perahu yang datang itu bukanlah perahu nelayan biasa.
Ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan.
Selain tidak memasang lampu, perahu itu juga tidak berlabuh di perkampungan nelayan, tapi tempat terasing seperti ini.
Perahu itu ternyata cukup besar pula, mungkin ada empat atau lima tombak panjangnya.
Di tengah-tengahnya dibangun sebuah ruangan lengkap dengan atapnya.
Dan begitu menyentuh pasir, enam orang penumpangnya segera berloncatan turun untuk menyeret perahu itu ke tepian.
Siau In menjadi berdebar-debar hatinya.
Melihat gerakan orang-orang itu dapat dipastikan bahwa mereka memiliki kepandaian silat yang tinggi.
Tubuh mereka yang hanya mengenakan baju tanpa lengan itu, tampak kokoh kekar dan perkasa.
"Tutup perahu ini dengan daun ilalang yang tumbuh di tepian itu!"
Tiba-tiba terdengar suara berwibawa dari dalam perahu.
Siau In terkejut bukan main.
Ternyata masih ada lagi orang di dalam perahu itu.
Untunglah gadis itu tidak gegabah dalam pengintaiannya.
Sekejap saja keenam orang itu telah membabati daun ilalang dan menutupkannya pada perahu besar itu.
Mereka bekerja dengan cepat tanpa suara, seperti kawanan hantu yang bekerja di malam hari.
Mereka seperti tidak memperdulikan orang yang masih berada di dalam perahu.
Selesai menimbun perahu dengan daun ilalang, orang-orang itu lalu berdiri tegak menunggu perintah.
Tak seorangpun membuka mulutnya.
Mereka tegak kaku bagaikan patung batu.
Siau In mencoba melihat wajah-wajah mereka.
Namun karena jaraknya terlalu jauh, maka hanya warna pakaian dan bentuk perawakan mereka saja yang bisa dilihatnya.
Kegelapan membuat wajah mereka tampak hitam dan samar-samar.
Keenam orang itu mengenakan pakaian yang berbeda-beda warnanya.
Kuning, hijau, biru, merah, putih dan hitam.
Masing-masing membawa pedang di atas punggungnya.
"Carilah tempat berlindung! Kita tunggu kedatangan mereka!"
Tiba-tiba terdengar suara di atas batu karang di mana Siau In bersembunyi.
Hampir saja Siau In menjerit.
Tanpa dia ketahui bagaimana atau kapan keluarnya, orang yang berada di dalam perahu tadi telah berdiri tegak di atasnya, di atas batu karang besar itu.
Demikian dekatnya, sehingga rasa-rasanya dia bisa menjangkau ujung sepatu orang itu.
Untunglah cuaca cukup gelap dan suara debur ombak juga cukup berisik pula sehingga benar-benar membantunya dari perhatian orang itu.
Coba kalau tidak, arang itu tentu akan segera mengetahui persembunyiannya.
Angin laut berhembus dengan tajamnya, tapi peluh dingin justru mengucur dengan derasnya di leher dan punggung Siau In.
Hampir-hampir gadis itu tidak berani bernapas, takut suaranya akan terdengar.
"Ada orang datang...!"
Orang itu bersuara lagi.
"Bersembunyilah...!"
Dan untuk yang kedua kalinya Siau In tersentak kaget.
Suara itu telah berada di dalam timbunan daun ilalang kembali, tanpa sedikitpun ia ketahui kapan berpindahnya.
Padahal perahu yang ditimbun ilalang itu ada tiga atau empat tombak jauhnya dari batu karang tempat ia bersembunyi.
Sekarang bukan hanya ketegangan atau ketakutan yang melanda hati Siau In, tapi juga rasa ngeri menyaksikan kehebatan orang itu.
Sekejap timbul juga perasaan bimbang di hatinya.
Benarkah orang itu atau mereka itu manusia-manusia biasa seperti dirinya?
Ataukah mereka itu hantu-hantu penjaga pantaj yang sedang menakut-nakuti dirinya?
"Aku sama sekali tak melihat gerakannya.
Orang yang berdiri di atas batu karang ini tadi seperti menghilang begitu saja.
Rasa-rasanya memang cuma hantu atau roh yang bisa berbuat demikian."
Gumam Siau In di dalam hatinya.
Kemudian gadis itu menyurukkan tubuhnya semakin dalam ke celah-celah batu karang.
Kalau memang benar makhluk-makhluk itu bukan manusia seperti dirinya, Siau In ingin tahu apa yang hendak mereka perbuat di tempat itu.
"Hemmm, kenapa hanya seorang yang datang...?"
Tiba-tiba orang yang bersembunyi di dalam perahu tadi berdesah agak keras.
Siau In menjulurkan kepalanya di antara celah sempit di dekatnya.
Dengan amat hati-hati gadis itu mengintip ke luar.
Benar juga.
Tidak lama kemudian dari arah kampung Ui-thian-cung terlihat sesosok bayangan hitam berloncatan di antara batu karang yang berserakan di tepian pantai tersebut.
Dengan cepat bayangan hitam itu terbang mendekati.
Gerakan kakinya sangat ringan dan lincah, menandakan orang itu memiliki ginkang yang tinggi pula.
Sekejap saja bayangan itu telah berada di dekat perahu.
Dan sungguh kebetulan juga, bayangan itu berdiri tak jauh dari tempat Siau In bersembunyi, sehingga gadis itu bisa melihat wajah orang itu dengan jelas.
Orang itu mengenakan jubah hitam yang amat longgar, hingga tubuhnya yang tegap dan tinggi itu semakin tampak seperti raksasa.
Rambutnya yang panjang dan telah berwarna dua itu dibiarkan tergerai di pundaknya.
Demikian juga dengan kumis dan jenggotnya yang lebat itu dibiarkannya tumbuh bebas menutupi sebagian besar wajahnya pula.
Sesaat hampir saja Siau In menyangkanya sebagai Tong Taisu.
(Lanjut ke
Jilid 05) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 05
"Maafkan hamba, kongcu, hamba datang terlambat, sehingga hamba tidak bisa menjemput kedatangan paduka di tengah laut tadi."
Orang yang baru saja datang itu membungkuk hormat ke arah perahu sambil melaporkan keadaannya.
"Ada urusan apa di pek hok bio sehingga kau mesti terlambat menjemput aku?"
Orang lihai di dalam perahu itu berkata dingin. Raksasa berjubah hitam itu menarik napas panjang.
"Musuh lama hamba kembali datang mengganggu tugas hamba."
Jawabnya kemudian dengan suara geram.
"Hmmmh! Sogudai...! Siapa musuh lamamu itu? Apakah kau dan teman-temanmu tidak dapat menyelesaikan dia?"
Suara di dalam perahu itu terdengar marah. Raksasa yang dipanggil Sogudai itu kelihatan gemetar tubuhnya.
"Dia bernama Liu Wan, kongcu, dia dikenal orang sebagai Bun bu siucai, kepandaiannya sangat tinggi sehingga hamba dan kawan-kawan tidak bisa menghadapinya, Pek hok bio terpaksa kami tinggalkan..."
Siau In yang sejak tadi selalu melotot mengawasi timbunan ilalang di atas perahu itu, tiba-tiba melihat sebuah gerakan, tumpukan daun ilalang yang menutupi bagian atap perahu itu mendadak tersingkap sedikit, lalu sesosok bayangan tampak melesat keluar dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dan selanjutnya yang terdengan suara tamparan pada pipi Sogudai, sehingga raksasa itu sempoyongan hampir jatuh.
"Tolol kau...!"
Orang yang bersuara angker itu mengumpat dan di lain saat bayangannya telah menyusup kembali ke dalam perahu.
Meskipun bisa menangkap gerakan orang di dalam perahu itu, tapi tetap saja Siau In tak dapat melihat dengan jelas macam apa orang itu, demikian cepat orang tersebut bergerak sehingga rasa-rasanya Cuma bayangannya saja yang nampak.
Sogudai berlutut di atas pasir, kepalanya tertunduk dalam-dalam.
"Maafkan hamba, kongcu..."
Desahnya lirih hampir tak terdengar. Hening sesaat, lalu terdengar suara tarikan napas panjang dari dalam perahu.
"baiklah, semua ini memang bukan salahmu sendiri, kau boleh terus melanjutkan tugasmu, lalu... Kemanakah kawan-kawanmu?"
Suara dari dalam perahu itu berubah lunak. Sogudai tampak gembira sekali, berulang kali dia membungkukkan tubuhnya dan mengucapkan terima kasih.
"Mereka hamba perintahkan untuk pergi meninggalkan Pek hok bio dan berkumpul di kota Cia sing, kalau kongcu memperbolehkan kami bermaksud untuk menggabungkan diri dengan rombongan Bayan Tanu di kotang Siang-hai."
"Bodoh!"
Tiba-tiba orang yang ada di dalam perahu membentak.
"Mengapa otakmu sekarang menjadi amat tolol begitu, Sogudai? Bukankah kau dan anak buahnya ditugaskan di propinsi She-kiang ini? Kenapa sekarang tiba-tiba kau ingin bergabung dengan Bayan Tanu yang bertugas di propinsi Kiang-su? Lalu siapa yang bertanggung jawab di daerah ini?"
Sogudai dengan ketakutan berlutut di atas pasir basah, berulang-ulang ia meminta maaf dan mengakui kebodohannya itu.
"Hamba... Hamba memang terlalu bodoh, kongcu, kegagalan-kegagalan dalam tugas hamba selama ini membuat hamba berputus asa dan kehilangan kepercayaan diri. Hamba takut akan semakin mengecewakan Seng-yu (sebutan untuk raja suku bangsa Hun atau tartar)."
"Jadi... Kau hendak mengundurkan diri dari tugasmu ini?"
Suara dari dalam perahu itu mendadak menjadi kejam dan dingin kembali.
"Bukan..... bukan begitu, kongcu!"
Sogudai merintih ketakutan.
"Hamba tidak bermaksud demkian, hamba... Hamba justru ingin bertanggungjawab atas kegagalan-kegagalan hamba itu, tapi hamba ingin mempertanggungjawabkan sendiri, hamba tidak ingin melibatkan dan menyeret teman-teman hamba dalam hal ini, mereka adalah orang-orang yang sangat patuh dan setia kepada Seng-yu, maka biarlah mereka bergabung dengan Bayan Tanu, sementara hamba akan menanti hukuman dari Kongcu."
Hening kembali, orang yang ada di dalam perahu itu tidak segera menjawab perkataan Sogudai dan keheningan tersebut benar-benar mencekam hati Siau In yang menggigil kedinginan di dalam persembunyiannya.
Meskipun tidak mengetahui ujung pangkal dari pembicaraan orang-orang itu, namun sebagai orang Han yang setia kepada negerinya, sedikit banyak Siau In menjadi curiga terhadap sepak terjang mereka, Gurunya pernah bercerita tentang kekejaman suku bangsa Hun dari luar tembok besar, yang pernah beberapa kali menyerang negeri Tiongkok.
"Jangan-jangan mereka ini orang-orang Hun yang pernah diceritakan Suhu itu, tetapi... rasa-rasanya juga mustahil, tempat ini ada ribuan lie jauhnya dari tembok besar itu, apa yang mereka cari di daerah ini?"
Gadis itu bertanya-tanya didalam hatinya.
"Sogudai...! Kita tunda dulu persoalan ini, kita bicarakan lagi nanti setelah tugas di tempat ini selesai, untuk sementara kau boleh bergabung dengan rombongan Hulungka yang sebentar lgi akan tiba disini."
Akhirnya suara dari dalam perahu itu memecah keheningan.
"Terima kasih, Kongcu."
"Nah... Itu dia! Hulungka telah datang! kau tetaplah di tempatmu!"
Siau In semakin berdebar-debar hatinya, secara tak sengaja ia berada di tempat yang sangat berbahaya, dimana sebuah kekuatan rahasia yang amat mencurigkan mengadakan pertemuan.
Tak lama kemudian dari tengah laut muncul tiga buah sampan kecil merapat ke pantai, setiap sampan memuat tiga orang lelaki berseragam nelayan, lengkap dengan jaring dan topi lebarnya, salah seorang dari mereka yang bertubuh besar seperti halnya Sogudai, segera meloncat turun dan berlari mendapatkan Sogudai.
Namun sebelum orang itu menyapa Sogudai, orang yang ada di dalam perahu itu sudah menegur terlebih dahulu.
"Hulungka! bagaimana dengan hasil penyelidikanmu? Apakah para pemenang sayembara "Mengangkat Arca"
Dari lima kabupaten di sekitar muara sungai Yan-tse itu jadi dkumpulkan di daerah ini?"
Nelayan bertubuh besar itu terkejut sekali, ia tak bisa segera menjawab teguran tersebut.
"Kongcu berada di dalam perahu yang tertimbun ilalang itu."
Sogudai memberitahukan.
"Akh...! Maaf, Kongcu, perhatian hamba Cuma ke Sogudai saja sehingga tidak tahu kalau Kongcu sudah berada di tempat ini."
Hulangka cepat-cepat menjawab dan memberi hormat ke arah perahu itu.
"Lekas kau laporankan hasil penyelidikanmu itu!"
Suara dari dalam perahu itu kembali menghardik.
Hampir saja Siau In terpeleset di tempat persembunyiannya, suara itu tidak begitu keras, namun terasa menggelegar di dalam rongga dadanya.
Untungnya ia segera mengerahkan sinkangnya, sehingga getaran suara itu dapat diredamnya.
"Orang yang dipanggil Kongcu ini sungguh hebat sekali kepandaiannya, rasanya tidak kalah dengan pemuda nakal yang memberi malu kepadaku sore tadi. Hmmmmm, dunia persilatan memang benar-benar menggetarkan. Kepadaian silat yang kupelajari dan kubangga-banggakan selama ini ternyata belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan mereka."
Gadis itu berdecak kagum di dalam hati.
"Kongcu, seperti yang diperintahkan oleh Pendeta Agung Ulan Kili, hamba beserta anak buah hamba sudah menjelajah hampir seluruh kota aliran muara sungai Yant-tse. Hamba melihat dan mengikuti terus persiapan-persiapan yang dilakukan oleh anak buah Au-yang Goanswe di daerah tersebut, menurut penglihatan hamba, rencana mereka tetap tak berubah. Pemuda-pemuda itu tetap akan dikumpulkan lebih dulu di tempat di sepanjang pantai ini. Sayang hamba tak bisa memperoleh kepastian tempatnya..."
"Huh!"
Orang yang ada di dalam perahu itu mendengus kesal.
"Lalu, apa yang hendak kalian lakukan selanjutnya?"
Hampir berbareng Hulungka dan Sogudai mengangkat wajahnya, keduanya tampak kaget dan bingung.
"Aa... apa... Maksud Kongcu?"
Akhirnya Hulungka memberanikan diri untuk bertanya.
"Sudah kukatakan, apa rencana kalian selanjutnya? Lekas kalian jawab!"
"Eh, anu... bukankah kita telah diperintahkan oleh Panglima Solinga untuk menumpas mereka setelah mereka berkumpul semuanya?"
Hulungka menjawab dengan gugup.
"Aku tidak sependapat!"
Tiba-tiba orang yang ada di dalam perahu itu menggeram keras. Tubuh Sogudai dan Hulungka yang besar itu tersentak kaget. Mereka saling berpandangan.
"Maksud... Maksud Kongcu?"
Sogudai memohon penjelasan.
"Aku tidak setuju dengan rencana panglima Solinga!"
"Jadi...?"
"Kita akan membantai para pemenang perlombaan itu secepatnya, dimanapun juga mereka kita temukan! Tak perlu harus menunggu mereka berkumpul!"
Hulungka dan Sogudai menjadi ketakutan, wajah mereka menjadi pucat.
"Tapi... tapi... panglima Solinga telah dipercaya oleh "Seng-yu"
Untuk memimpin tugas rahasia ini."
Dengan suara gemetar Hulungka mencoba untuk memperingatkan.
"Persetan dengan kepercayaan itu! Yang penting kita harus berhasil dengan tugas ini! Seharusnya panglima Solinga berpikir dua kali untuk mempercayai rencana Au-yang Goangswe itu!"
Orang di dalam perahu itu menggeram lagi dengan keras.
"Maksud Kongcu...?"
Hulungka bertanya.
"Orang Han terkenal akan kelicikan dan kecerdikannya. Aku khawatir Au-yang Goanswe sengaja meniupkan berita palsu untuk menjebak orang-orang yang hendak merintangi tugasnya, ingatlah! Au-yang Goanswe adalah seorang penglima perang yang terkenal cerdik dan ahli bersiasat!"
"Oooohh!"
Hulunga tertegun seperti orang yang baru saja terbangun dari tidurnya. Perkataan orang yang ada di dalam perahu itu mulai mengusik hatinya.
"Seharusnya kita merasa heran atas rencana itu. Cobalah kalian pikirkan, kota An king dan Wuhu di propinsi AnHui lalu kota-kota Nanking, Cin Kiang dan Wu shi di propinsi Kiangsu. Kota-kota tersebut lebih dekat jaraknya dengan Kotaraja daripada Hang ciu ini, nah mengapa anak buah Au-yang Goangswe itu harus bersusah payah membawa rombongan pemenang sayembara itu ke sini kalau akhirnya mereka harus dibawa kembali ke utara? Masuk akalkah itu?"
"Ini..., ini, eh... pendapat Kongcu rasanya betul juga."
Akhirnya dengan suara lirih Hulungka mengakui.
"Benar, rasanya memang aneh, mengapa mereka tidak dikumpulkan di kota Nanking saja, sehingga tidak bolak-balik membawanya?"
Sogudai berdesah pula dengan heran.
"Nah! sekarang kalian berdua boleh memilih, menurut perintahku atau... tetap mengikuti rencana Panglima Solinga! Lekas jawab!"
"Tapi... bagaimana dengan Panglima Solinga?"
Hulungka menjawab ragu.
"Jangan khawatir! Aku sendiri yang akan berbicara dengan dia nanti."
Orang yang ada di dalam perahu itu berkata tegas.
"Bagimana dengan Seng-yu...?"
Sogudai bertanya pula.
"Jangan cerewet! Aku juga yang akan bertanggung jawab jika Seng-yu marah! Nah... bagaimana?"
Sogudai dan Hulungka saling memandang sejenak, kemudian mengangguk ke arah perahu.
"Baiklah, kongcu, kami berdua akan patuh pada perintah Kongcu"
Keduanya menjawab berbareng.
"Bagus! Pilihan kalian memang tepat! Aku tidak perlu bersusah payah memerintahkan Lok kui tin (barisan enam hantu) untuk mengambil nyawa kalian..."
Orang di dalam perahu itu berkata dingin.
"Terima kasih, Kongcu."
Hulungka dan Sogudai cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut di atas pasir, keringat dingin keluar membasahi punggung mereka.
Keringat dingin juga mengalir membasahi tubuh Siau In di tempat persembunyiannya.
Semakin banyak gadis itu mendengarkan percakapan mereka, hatinya semakin ngeri dan di dalam hatinya gadis itu juga menjadi semakin yakin bahwa ia sedang berhadapan dengan orang-orang asing.
Orang-orang dari suku bangsa Nomad yang berdiam jauh di utara, bahkan kalau ditilik dari nama maupun sebutan-sebutan yang mereka gunakan, mereka memang benar-benar dari suku bangsa Hun.
"Apa yang hendak mereka lakukan di tempat yang jauh ini? Mengapa mereka akan membunuh semua pemenang perlombaan "Mengangkat arca"? mengapa mereka sampai mengirimkan panglima pula? Ah...! aku tidak mengerti, tentu... tentu ada sesuatu rencana yang besar di balik semua ini. Aku... aku harus melaporkannya kepada Suhu."
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benak Siau In.
"Kongcu! Perahu besar itu sudah kelihatan!"
Tiba-tiba entah darimana datangnya, salah satu dari keenam pengawal itu telah berada disamping Hulungka, ia mengenakan seragam merah-merah.
Kedatangan orang itu tidak hanya mengagetkan Siau In, tapi juga mengejutkan Sogudai dan Hulungka.
Menurut Siau In gerakan orang berseragam merah-merah ini sungguh sesuai dengan julukannya.
Hantu!
Tanpa diketahui gerakannya dan darimana ia datang, tahu-tahu ia telah berdiri di dekat Hulungka!
Kecepatannya gerakannya rasa-rasanya tidak jauh dibawah orang yang bersembunyi di dalam perahu itu.
Sedangkan bagi Sogudai dan Hulungka sendiri rasa kaget itu lebih disebabkan karena tidak menyangka bahwa mereka bisa bertemu muka secara langsung dengan salah seorang Hantu Pengawal Raja yang amat tersohor di negerinya.
Soal kesaktian, barisan enam hantu itu memang sudah lama mereka ketahui, apalagi sepak terjangnya yang ganas, kejam, serta penuh rahasia itu dan seperti halnya Siau In, dia-diam hati merakapun merasa bergetar menyaksikan kehebatan ginkang hantu berseragam merah tersebut.
"Kata orang hantu merah ini adalah orang termuda dari barisan hantu itu, paling muda tapi kabarnya paling ganas dan paling sulit diajak bersahabat, hmm kalau yang termuda saja ginkangnya sudah demikian tinggi, apalagi dengan yang lain-lainnya"
Diam-diam Sogudai dan Hulungka berkata di dalam hatinya.
"Baik, Ang kui! kau bersiaplah bersama saudara-saudaramu! Kita tumpas rombongan pemenang sayembara itu setelah mereka berkumpul di atas perahu!"
Orang yang bersembunyi di dalam perahu itu tiba-tiba memberi perintah.
"Baik, Kongcu!"
Ang-kui menyahut lantang, kemudian tubuhnya melesat pergi dengan cepatnya.
"Sogudai...! Hulungka! Perahu besar yang dikirim untuk mengangkut pemenang sayembara itu telah datang, ternyata semuanya memang sesuai dengan rencana. Kita basmi mereka setelah pemenang dari kota Hangciu nanti datang, hm, apakah kalain sudah siap?"
Orang yang disebut kongcu itu lalu mengalihkan kata-katanya kepada Sogudai dan Hulungka yang masih berdiri di tempat itu.
"Hamba juga sudah siap, Kongcu."
Sogudai dan Hulungka menjawab hampir berbarengan.
"Bagus, nah, Hulungka... Kau ajak Sogudai bersama anak buahmu untuk mengawasi perahu itu di tengah laut! Awas, kalian harus benar-benar dapat mempergunakan penyamaran kalian sebagai nelayan dengan baik! Jangan sampai anak buah Au-yang Goanswe curiga, cepat kalian melapor kalau perahu itu merubah haluan!"
Hulungka cepat membungkukkan tubuhnya, kemudian menggandeng lengan Sogudai, menuju ke sampan bersama anak buahnya, sebentar saja sampan-sampan itu telah dikayuh ke tengah lautan.
Siau In benar-benar memperoleh tempat persembunyian yang bagus, yaitu di sebuah tumpukan karang-karang besar yang berongga di dalamnya, sehingga dengan aman dan leluasa ia bisa mengawasi keadaan di tepian itu tanpa diketahui oleh lawan-lawannya.
Siau In memang tidak menunggu terlalu lama, begitu sampan-sampan tadi hilang ditelan kegelapan, dari tengah laut tampak sinar lampu yang semakin lama semakin membesar, keringat dingin mulai membanjir kembali di tubuh gadis itu, ia tak segera bisa memutuskan apa yang harus ia perbuat untuk menolong mereka.
"Kepandaian mereka rata-rata berada di atas kepandaianku, melawan mereka sendirian berarti bunuh diri, tapi kalau hanya melihat dan berdiam diri saja di sini, rasanya juga salah. Ahhh... apa yang harus kulakukan?"
Belum juga Siau In menemukan jalan keluar yang baik untuk ia lakukan, telinganya telah mendengar suara derak perahu dan lengkingan suara aba-aba di kejauhan.
Ketika Siau In melongok dari lobang persembunyiannya, dilihatnya sebuah perahu besar telah membuang sauh agak jauh dari garis pantai, dua buah lampu besar menerangi bagian haluan dan buritannya dan Siau In segera melihat kesibukan para penumpangnya.
Belasan orang prajurit berseragam lengkap berbegas menurunkan beberapa buah sampan kecil ke dalam air, kemudian satu persatu mereka turun menaikinya, sebuah sampan untuk tiga orang prajurit, mereka lalu menyebar di sekeliling perahu besar tersebut untuk berjaga-jaga.
Seorang perwira tinggi berseragam indah gemerlapan tampak keluar dai bilik perahu, seperti sedang kesal ia melangkah cepat ke atas anjungan, seorang lelaki berpakaian biasa tampak menempel ketat dibelakangnya.
"Heran! Kemana Lin Kok Liang dan Su Hiat Hong ini? Mengapa mereka tidak menyambut kedatangan kita?"
Perwiran itu menggerutu kesal.
"Mungkin ada sesuatu yang menhambat tugas pekerjaan mereka, Ciangkun."
Lelaki berpakaian biasa yang tidak lain adalah pengawal pribadi perwira itu menjawab perlahan.
"Jangan-jangan mereka kena musibah juga seperti yang lain..."
Perwira itu tidak berkata lagi, dia hanya berdesah panjang seraya naik ke tempat yang lebih tinggi lagi, matanya tajam mengawasi kegelapan malam, tiba-tiba wajahnya menjadi cerah, ia melihat iring-iringan manusia menuju ke tempat itu.
"Itu mereka datang...!"
Serunya lega.
"Tampaknya banyak juga anak yang dibawanya..."
Siau In mengintip lagi dari celah-celah lobang persembunyiannya, di kejauhan dari arah perkampungan Ui-Thian-cung, memang terlihat sebuah iring-iringan panjang mendatangi, setelah dekat gadis itu segera mengeryitkan dahinya, rombongan itu terdiri dari sepuluh orang pemuda tanggung dan enam orang pengiringnya.
Siau In memang tidak mengenal tiga orang pengiring bersenjata golok di belakang barisan, tapi ia mengenal tiga orang pengiring yang berjalan di depan barisan.
Dua orang diantaranya pernah di lihatnya di dalam warung arak pagi tadi, sementara yang seorang lagi adalah Tong taisu yang baru saja berkelahi dengannya.
Perwira tinggi yang berdiri diatas anjungan itu segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan sampan lagi yang agak besar, bersama pengawal pribadinya ia lalu mendarat di tepian.
"Selama malam, Gui Ciangkun...!"
Lin Kok Liang yang segera tiba pula bersama rombongannya, menyapa sambil membungkukkan badannya.
"Maaf kami datang terlambat, ada keributan sedikit yang menggangu perjalanan kami."
"Keributan...?"
Gui Ciangkun berdesah kaget.
"Apakah rombonganmu juga diganggu orang-orang dari Rimba persilatan?"
Lim Kok Liang, Su Hiat Hong dan Tong Taisu saling berpandangan dengan mata terbelalak.
"Mengapa Ciangkun berkata demikian? Apakah Ciangkun sudah lebih dulu mengetahuinya?"
Lim Kok Liang bertanya.
"Hmmm... benar, bukan? Nah, tadi aku hanya menduga-duga saja, karena rombongan yang lain-lain juga mengalami hal yang sama, sampai sekarang perahuku masih kosong karena rombongan dari Sao hing yang dipimpin oleh Kwa Ciangkun diserbu penjahat di tengah jalan, semuanya mati terbunuh kecuali Kwa Ciangkun, ia terluka parah dan kini ada di dalam perahu. Kwa Ciangkun mengatakan bahwa selain rombongannya, rombongan Ong Ci Kin dari kota Cia-sing juga telah disergap pengacau bahkan Ong Ci Kin dan seluruh anak buahnya ikut terbunuh pula."
"Gila...! Ternyata benar juga hasil penyelidikan Tong Taisu."
Lim Kok Liang menggeram marah sambil menoleh ke arah temannya yang berambut panjang itu.
"Aku sudah memberi peringatan kepada Lim Ciangkun pagi tadi, kita harus lebih berhati-hati karena ada sebuah kekuatan rahasia yang besar jumlahnya sedang mengintai kita, bahkan sekarangpun hatiku merasa kurang enak, jangan-jangan tempat ini telah mereka ketahui pula..."
Tong Taisu menyambut dengan berat.
Diam-diam Siau In menjadi tegang sendiri, rombongan pemenang sayembara dari kota Hangciu itu berkumpul tidak jauh dari tempat persembunyiannya, lalu Tong Taisu dan Lim Kok Liang berdiri didekat perahu yang ditimbuni ilalang tadi dan di dalam ketegangnnya itu Siau In hampir saja berteriak memperingatkan mereka akan bahaya yang sedang mengintai.
"Taisu tak perlu khawatir, hanya kalangan kita sendiri saja yang mengetahui tempat ini."
Tiba-tiba Gui Ciangkun membesarkan hati Tong Taisu.
"Tapi... Kalau rahasia tempat ini memang sudah bocor ke telinga mereka, kitapun tidak perlu takut, aku membawa tiga puluh enam prajurit pilihan untuk melaksanakan tugasku ini."
Tong Taisu menjura denga hormatnya, namun sebelum pendeta berambut panjang itu mengutarakan pendapatnya sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa dingin, suara tersebut demikian dekatnya sehingga semua merasa seolah-olah orang yang sedang tertawa itu berada diantara mereka.
"Hahahahaha...! Hahaha...! Ciangkun, kau jangan terlalu menyombongkan prajuritmu yang tidak ada gunannya itu. Berpalingalah...! Coba kau lihat lagi prajurit kebangganmu itu! Adakah mereka itu bisa diandalkan? Hahaha...!"
Otomatis semuanya berpaling ke perahu besar milik Gui Ciangkun dan semuanya segera terbelalak kaget!
Belasan prajurit yang tadi kelihatan diatas geladak, kini tampak bergelimpangan dimana-mana.
Ada yang tergolek di atas anjungan, ada yang terjungkal di bawah tangga dan ada pula yang tersampir di pagar perahu.
Semuanya telah meninggal, sedangkan sampan-sampan kecil tadi kini juga tidak berpenumpang lagi, penumpannya telah mengapung di dalam air.
Mati.
"Haaaa...?"
Semuanya menjerit kaget seolah tak percaya, mereka sama sekali tidak mendengar suara apa-apa, apalagi suara keributan ketika para prajurit itu mendapatkan serangan, para prajurit itu seperti dengan mendadak mati sendiri secara berbareng.
"Gui Ciangkun...!"
Lim kok Liang berseru dengan suara serak.
"Kok Liang...!"
Gui Ciangkun berdesah pula dengan suara lirih.
"Hahaha, bagaimana Gui Ciangkun? Benar, bukan? Prajuritmu itu sama sekali tidak berguna, mereka mati tanpa sedikitpun berkesempatan menggerakkan senjatanya dan sebentar lagi engkau dan kawan-kawanmu ini akan bernasib sama pula seperti mereka. Hahihiha... bersiap-siaplah!"
Sura itu kembali menggema di telinga mereka.
Otomatis semuanya saling mendekatkan diri membentuk lingkaran.
Gui Ciangkun dan pengawalnya, Lim kok Liang, Su Hiat Hong, Tong Taisu serta tiga orang bersenjata golok yang dibawa oleh Lim Kok Liang.
Masing-masing telah menggenggam senjata andalan mereka sendiri.
Lim Kok Liang dan Su Hiat Hong memegang pedang, sedangkan Tong Taisu juga telah mengeluarkan tasbehnya.
"Kok Liang! Apakah orang ini yang mengganggu perjalananmu?"
Dalam ketegangannya Gui Ciangkun masih sempat berbisik kepada Lim Kok Liang.
"Entahlah. Dia belum memperlihatkan batang hidungnya..."
Sementara itu pemuda-pemuda pemenang sayembara itu menjadi ketakutan setengah mati, termasuk pula A Liong di dalamnya.
Hati yang semula diliputi kebanggaan dan kegembiraan itu tiba-tiba kini berubah menjadi ngeri dan ketakutan yang amat sangat, bahkan beberapa orang diantara mereka telah menjadi lemas dan pingsan, sementara yang lain seperti memperoleh kekuatan untuk lari dari tempat tersebut.
Namun langkah mereka segera terhenti ketika enam orang berseragam warna-warni sekonyong-konyong muncul dari dalam kegelapan menghalangi mereka.
"Tolong! Tolong...!"
Mereka menjerit ketakutan.
"Lok kui tin, bunuh mereka!"
Suara tanpa wjud itu tiba-tiba memberi perintah.
"Jangan! Jangan bunuh aku...!"
A Liong yang berdiri diantara pemuda-pemuda itu merintih ketakutan.
Tapi rintihan itu segera terbenam dalam teriakan dan jeritan ngeri teman-temannya, tubuhnya dan juga tubuh kawan-kawannya sekonyong-konyong seperti dihantam oleh badai yang maha dahsyat sehingga terlempar kesana kemari dan tubuh A Lion bersama dua orang temannya secara kebetulan membentur batu karang dimana Siau In bersembunyi.
Semuanya berlangsung dengan cepat sehingga Gui Ciangkun dan Lin Kok Liang terlambat memberi pertolongan, pemuda-pemuda itu telah terlanjur mati dengan tubuh menggenaskan.
"Bunuh juga yang pingsan itu! Jangan biarkan seorangpun lolos!"
Suara tanpa wujud itu kembali memberi perintah lagi. Keenam hantu itu cepat menghanpiri pemuda-pemuda yang pingsan tadi, tapi sebelum mereka melepaskan serangan, Lin Kok Liang lebih dulu berteriak.
"Tunggu...! Jangan bunuh mereka!"
Lin Kok Liang cepat melesat ke depan Lok kui tin, kemudian diikuti pula oleh teman-teman yang lain.
"Kalian ini sebenarnya siapa? Mengapa membunuhi orang-orang yang tak berdosa?"
Lin Kok Liang menggeram penasaran.
"Bagaimana, Kok Liang? Benarkah mereka yang telah mengganggu perjalanan tadi?"
Gui Ciangkun yang telah berada di samping Lim Kok Liang berbisik pelan. Lin Kok Liang menghembuskan napasnya kuat-kuat.
"Bukan Ciangkun, orang yang mengganggu kami tadi adalah anak murid aliran Beng-kauw, orang-orang ini kelihatannya bukan dari aliran itu."
"Kalau begitu mereka ini tentulah kawanan penjahat yang teleh mencegat dan membasmi rombongan Ong Ci Kin dan Kwa Sing."
Gui Ciangkun menggeram pula.
"Hahaha... dugaan Ciangkun memang tidak salah. Memang kamilah yang telah menumpas seluruh rombongan Ong Ciangkun dan kwa Ciangkun dan kami memang sengaja tidak membunuh mati Kwa Ciangkun agar kami bisa bertemu dengan rombongan Gui Ciangkun, hehehe..."
Suara tanpa wujud itu kembali menertawakan kebodohan Gui Ciangkun.
"Kurang ajar...! keluarlah kau! Dan... Katakanlah siapa kalian ini sebenarnya? Mengapa kalian membunuhi petugas-petugas kerajaan? Apakah engkau ingin memberontak terhadap kerajaan?"
Gui Ciangkun berteriak lantang. Tak terduga teriakan Gui Ciangkun itu disambut dengan ketawa dingin oleh lawannya, bahkan orang itu kemudian menjawab dengan suara yang amat menghina.
"Persetan dengan kerajaanmu! Kami orang-orang Hun sama sekali tidak takut terhadap Rajamu!"
"Oooooh??"
Gui Ciangkun, Lim Kok Liang dan Tong Taisu saling pandang dengan wajah kaget, mereka sama sekali tak menyangka bila lawan mereka itu ternyata adalah orang-orang dari suku bangsa Hun di diluar tembok besar.
"Jadi kalian ini orang-orangnya Mo Tan? Tapi..... Mengapa kalian?"
Tong Taisu yang sejak tadi belum mengeluarkan suara tiba-tiba berseru keras.
"Karena kami benci terhadap Liu Pang dan keluarganya!"
Orang yang masih belum mau menampakkan diri itu menggeram dengan nada berang. Sekali lagi Gui Ciangkun, Lim Kok Liang dan Tong Taisu saling pandang dengan dahi berkerut.
"Benci dengan keluarga Kaisar? Mengapa? dan... Kalau kalian memang membenci keluar Kaisar kami, mengapa kalian justru membunuhi orang-orang tak berdosa seperti pemuda-pemuda itu?"
Lim Kok Liang cepat menyela. Tapi orang itu tampaknya menjadi kesal karena diajak omong terus menerus.
"Kurang ajar! Kenapa kalian masih berpura-pura juga? Apa bedanya kami dengan kalian he? Perempuan junjungan kalian itu (permaisuri Li Liong Hui) mengumpulkan anak-anak muda ini juga untuk dibunuh pula! Apa bedanya...? Bukankah perbuataku ini justru membantu niatnya itu?"
Katanya berapi-api.
"Fitnah! kau omong sembarangan kau...?"
Lim Kok Liang berteriak pula dengan marah.
"Bagus! Kini kalian menjadi marah setelah ketahuan belangnya! Tapi aku malah menjadi senang melihatnya! Kalian akan mampus dengan hati penasaran hahahahahaa!"
Suara orang itu berubah menjadi gembira sekali sekarang.
"Bangsat pengecut, keluarlah kau! Marilah kita bertempur sampai mati!"
Lim Kok Liang berteriak marah.
"Tidak perlu! Para para pengawalku itu sudah lebih dari cukup untuk mengantarkan nyawamu ke akherat! Lok kui tin, bunuh mereka pula! cepaaat!"
Enam hantu itu tiba-tiba menggeram, bersama-sama mereka menerjang rombongan Gui Ciang Kun, dari telapak tangan mereka segera menghembus angin dingin yang mendahului langkah mereka.
"Wuuuuushhhh"
Dan tiba-tiba saja Gui Ciangkun bersama teman-temannya merasa seperti diterjang oleh air yang maha dahsyat.! "Aaahhhhh..."
Semuanya menjadi gelagapan seperti anak ayam tercebut di kolam dan otomatis masing-masing berusaha menyelamatkan diri mereka dengan cara mereka sendiri-sendiri.
Gui Ciangkun bersama pengawalnya segera menjatuhkan diri ke pasir dan berguling-guling menjauhi arena, sedangkan Lim Kok Liang dan Su Hiat Hong cepat-cepat menjejakkan kaki mereka ke tanah dan berjumpalitan ke belakang, hanya tiga orang kawan Lim Kok Liang yang bersenjatakan golok itu saja yang berusaha melawan hembusan angin dahsyat itu dengan kekuatan mereka.
Masing-masing memutar golok mereka di depan dada, kemudian dengan nekad menerjang ke depan menyerang lawan.
Namun apa yang dilakukan oleh jago-jago silat kerajaan itu tetap sia-sia belaka, kepadaian enam hantu dari luar tembok besar itu benar-benar jauh dari jangkauan kepandaian mereka, tanpa mengendorkan langkah masing-masing, barisan hantu itu tiba-tiba memecah barisannya.
Dua orang bergeser ke kiri dan ke kanan menghindari terjangan tiga orang bergolok itu, untuk kemudian meneruskan langkah mereka memburu Gui Ciang Kun dan pengawalnya.
Dua orang lagi segera melesat tinggi ke udara melewati kepala tiga orang bergolok tadi, untuk menangkap Lim Kok Liang dan Su Hiat Hong, sedangkan sisanya yang dua orang lagi tetap menyongsong kedatangan tiga orang bergolok itu dengan tangan kosong.
"Sisakan salah seorang dari mereka untuk memberi laporan kepada Au-yang Goangswe"
Pimpinan orang-orang Hun itu tiba-tiba berseru lagi memperingakan pengawal-pengawalnya.
Sementara itu di tempat persembunyiannya Tio Siau In belum juga bisa menemukan jalan terbaik yang harus ia lakukan, sebenarnya dengan kedatangan Tong Taisu diantara para pengawal pemenang perlombaan tersebut telah membuat gadis itu menjadi lega, tapi ketika pada gebrakan pertama tadi pendeta lihai itu sama sekali tak mampu mencegah atau menghalangi Lok kui tin membunuhi korban-korbannya, hati Siau In menjadi goyah lagi, bahkan akhirnya gadis itu merasa yakin bahwa Tong taisu takkan bisa menyelamatkan orang-orang yang dilindunginya.
Dengan perasaan sedih dan kasihan Tio Siau In menatap tiga sosok mayat pemuda-pemuda tak berdosa yang berserakan di depan lobang persembunyiannya.
Pakaian yang menempel di badan mayat-mayat itu nyaris hancur terkena pukulan tenaga sakti gabungan dari lok kui tin.
Kulit tubuh mereka tampak kehitam-hitaman seperti bekas tersiram air panas.
Mendadak Tio Siau In terbelalak!
Secara tak sengaja dan tak terduga mata gadis itu melihat gambar tato naga di pangkal lengan salah satu dari tiga mayat itu.
Pikiran gadis itu segera melayang pada pesan gurunya, bahwa ia dan kakak-kakak seperguruannya ditugaskan untuk mencari seorang pemuda yang memiliki tato di tubuhnya.
Sejenak Tio Siau In terpaku diam ditempatnya, betulkan pemuda ini yang dikendaki oleh gurunya itu?
Kalau memang benar lalu apa yang harus ia lakukan?
Masakan ia harus membawa mayat itu ke hadapan gurunya?
Tak terasa tangan Siau In terulur keluar untuk meraih mayat bertato naga itu, seolah-olah ia ingin menyakin sekali lagi bahwa orang itu tidak mati.
Tapi karena mayat itu tertindih oleh mayat yang lain, terpaksa Siau In menggeser mayat yang lain itu terlebih dahulu.
Tapi sekali lagi mata Siau In terbeliak lebar!
untuk yang kedua kalinya gadis itu melihat gambar tato naga pada tubuh mayat yang lain tersebut, hanya bedanya pada mayat yang pertama tadi gambar itu berada di pangkal lengan dan Cuma berwujud sebuah kepala naga yang menganga, sementara pada mayat yang kedua gambar naga itu berada di tengah-tengah dada dan lebih lengkap bentuknya, bahkan gambar pada mayat yang kedua itu terdiri dari dua ekor naga yang saling membelit satu sama lain.
Setelah hatinya menjadi tenang kembali Siau In mencoba memperhatikan mayat yang ketiga yang tergolek miring membelakangi lobang persembunyiannya, seperti mayat-mayat yang lain mayat itu juga hampir telanjang sama sekali, hanya ada sedikit saja serpihan-serpihan kain yang masih tersisa di badannya.
"Hmmmmmmm... jangan-jangan mayat itu juga memiliki gambar tato naga di tubuhnya."
Gadis itu menduga-duga.
Tangan Siau In sedikit gemetar meraih tubuh mayat yang ketiga itu, lalu disentakkanya sehingga terlentang dan...
benar juga dugaannya!
Mayat yang berdada bidang itu mempunyai tato naga pula di atas dada sebelah kanan, tidak begitu besar, Cuma sebesar jari tangan orang dewasa, tapi digores dengan coretan yang kuat dan bagus sekali sehingga gambar naga itu tampak garang dan hidup.
"Nah, apa kataku? Banyak sekali orang yang menggambari tubuhnya dengan lukisan naga di dunia ini, lalu bagiamana aku bisa menentukan orangnya yang dikehendaki oleh suhu?"
Gadis itu berkata di dalam hatinya.
Beberapa saat lamanya Siau In tercenung diam memikirkan masalah yang dihadapinya, kemarin gadis itu masih merasa sulit untuk bisa melaksanakan perintah gurunya, namun sekarang sekali bertemu ia malah bisa mendapatkan sekaligus tiga orang yang memiliki gambar tato naga di badannya, sehingga ia justru menjadi bingung karenanya.
Sebuah bayangan yang mengerikan tiba-tiba melintas di benak Siau In, mengapa tiga diantara sepuluh orang pemenang "Perlombaan Mengangkat Arca"
Itu secara kebetulan memiliki gambar tato naga di tubuhnya?
Apakah semua itu hanya merupakan kebetulan saja?
Jangan-jangan para pemenang lomba yang lain itu juga memiliki gambar tato naga pula?
Kalau memang demikian halnya, persoalan pemuda bertato naga ini tampaknya memang bukan persoalan kecil, tentu ada sebuah misteri besar di balik semua ini.
Otomatis Siau In teringat kembali akan kata-kata Lojin-Ong yang disampaikan melalui gurunya, bahwa suatu saat seorang laki-laki bertato naga akan mengharumkan nama aliran Im-yang-kau di kemudian hari.
"Hmmmm, apakah para pejabat kerajaan juga sedang mencari laki-laki bertato naga itu karena ia juga dianggap bisa mengharumkan nama negeri ini? Lalu... bagaimana dengan orang-orang Hun yang membunuhi para rombongan pemenang "Perlombaan Mengangkat Arca"
Ini? Apakah mereka juga mencari laki-laki bertato naga itu untuk dimusnahkan agar tidak membahayakan negeri mereka di kemudian hari?"
Bermacam-macam pikiran dan dugaan memenuhi kepala Siau In.
Untuk membuktikan dugaannya gadis itu mencoba mencari mayat pemuda pemenang perlombaan yang lain, tetapi ketika tangannya terjulur keluar hendak meraih mayat yang berada agak jauh dari lobang persembunyiannya, mendadak telinganya mendengar suara keluhan.
Siau In terkejut, salah seorang dari tiga sosok mayat tadi ternyata belum mati, mayat berdada bidang dengan gambar naga yang indah dan hidup itu tampak berusaha menggerak-gerakkan tangannya.
"Hei! Pemuda itu belum mati, sungguh mengherankan sekali, tampaknya pukulan dahsyat enam hantu tadi tidak benar-benar telak mengenai tubuhnya, aku harus menolongnya, biarlah ia kuseret ke dalam lobang ini agar tidak terlihat oleh pembunuh-pembunuh itu."
Dengan hati-hati Tio Siang In menarik tubuh pemuda yang masih hidup itu ke dalam lobang persembunyiannya dan bertepatan dengan masuknya tubuh tersebut ke dalam lobang.
Diarena pertempuran terdengar jeritan ngeri saling susul-menyusul, enam orang hantu itu tampaknya telah menyelesaikan tugasnya membunuh mati semua musuhnya.
Tempat itu menjadi lengang kembali, Siau In tidak berani bergerak, angin malam yang berhembus dari laut membawa butiran-butiran air bercampur embun, demikian dingin udaranya sehingga bulan tipis yang tergantung di langit seperti terburu-buru menyurukkan diri ke dalam pelukan awan, malam semakin gelap gulita.
Siau In semakin ketakutan di dalam lobang persembunyiannya, sama sekali ia tidak berani bergerak.
Gadis itu hanya dapat membayangkan bahwa para petugas kerajaan itu sudah menjadi mayat bercampur dengan mayat para pemuda pemenang angkat arca.
Siau In menjadi kaget ketika terdengar geraman orang yang bersembunyi di dalam perahu seperti kura-kura itu.
"siapakah kalian... He? Berani benar menghalangi orang-orangku! Apakah kalian sudah bosan hidup?"
"Ada orang yang menghalangi mereka, siapa?"
Siau In berdesah tak percaya, hampir saja kepalanya melongok keluar tapi karena takut segera ditariknya kembali.
"Biarlah kami yang membereskannya Kongcu, tak perlu kongcu mengotori tangan untuk membunuh dua orang tua ini."
Ang-kui yang pernah di dengan suaranya oleh Siau In tadi menggeram.
"Benar, kongcu, mereka telah menghalangi niat kami untuk mencabut nyawa para anjing kaisar Han itu, mereka harus dilumatkan untuk mempertanggungjawabkan kelancangannya...!"
Pek Kui si hantu putih yang tertua berseru keras. Hening sejenak, kemudian terdengar suara napas ditarik, panjang sekali.
"Maafkan kami... Kami tak bermaksud mencampuri urusan tuan, bukankah kami belum mengenal tuan-tuan semua, kami hanya ingin mencegah pertumpahan darah ini"
Terdengar suara serak.
"Kurang ajar...! Enak saja berbicara! Siapa bilang pertumpah darah ini tak berguna? Mereka adalah begundal kaisar Han dan keluarga kami adalah musuh bebuyutan kaisar itu! Nah sudah selayaknyalah kalau kami membasmi mereka!"
Orang yang bersembunyi di dalam perahu itu membentak.
"Ooooh, jadi tuan-tuan ini bermusuhan dengan mendiang Kaisar Liu Pang? Dan saat kaisar Liu Pang masih hidup tidak berani berhadapan langsung dengan beliau, setelah beliau meninggal baru keluar untuk membunuhi orang-orangnya yang tidak tahu permusuhan itu, wahhh alangkah hebatnya!"
Tiba-tiba terdengar suara lain yang membuat kaget Siau In di tempat persembunyiannya.
"Suhu...?!?"
Gadis itu bersorak dalam hati.
Siau In cepat-cepat melongokkan kepalanya keluar, memang tepat, dilihatnya gurunya Giam Pit Seng dengan tenang dan gagah berdiri tak jauh dari perahu orang Hun itu.
Di dekatnya berdiri Lojin-Ong, seorang kakek yang benar-benar sudah sangat tua, sehingga tubuhnya yang renta itu telah condong ke depan seolah-olah tulang punggungnya tak lagi kuat untuk menyangganya.
Sebatang tongkat terpegang di tangan kirinya untuk menopang agar tubuh reyot itu tidak tersungkur ke depan, rambutnya yang tipis berwarna putih di gelung ke atas sepertinya layaknya seorang pendeta, sementara jenggotnya yang panjang sampai perut dibiarkan melambai-lambai di tiup angin laut.
Dua orang tua itu telah dikepung oleh Liok kui tin, sementara di belakang mereka berdiri bergerombol rombongan Lim kok liang dan Gui Ciangkun, para abdi kerajaan itu tampak pucat kesakitan menahan luka dalam yang parah akibat gempuran lok kui tin tadi, bahkan Gui Ciangkun dan Su Hiat Hong yang memiliki ilmu silat paling rendah diantara mereka tampak tergeletak diam diatas pasir.
Gui Ciangkun masih tampak bergerak-gerak dalam rangkulan pengawalnya, sementara Su Hiat Hong diam tak bergerak seolah telah mati.
Tiba-tiba terdengar suara mendengus dari dalam perahu dan mendadak pula Siau In melihat sesosok bayangan berdiri diatas atap perahu tersebut.
Bayangan itu mengenakan baju berlengan pendek yang ditutup oleh kulit rusa berbulu tebal, rambut yang gemuk hitam itu sebagian di gelung keatas dan sebagian lagi dibiarkan terurai di atas bahunya, persis seperti model banci jaman sekarang.
Tiga butir mutiara berwarna merah, kuning, hijau tampak gemerlapan di atas tali pengikat rambutnya.
Cara berpakaian orang itu tampak sedikit aneh dan tak layaknya orang Han, namun dari bahan yang dikenakan kelihatan bahwa semua itu mahal.
"Hei, orang tua...! Enak saja kau bicara! Kalau keluarga kaisarmu itu tidak selalu bersembunyi di balik tembok Istana yang dijaga oleh ribuan pengawalnya tentu telah kuhabisi dulu-dulu."
Bayangan itu menggeram ke arah Giam Pit Seng.
"Ah, kukira mereka tidak bersembunyi, sejak dahulu keluarga raja atau kaisar memang tinggal di dalam tembok Istana yang kuat dan dijaga para pengawal. Mengapa tuan tidak menggempur saja tembok itu kalau berani, jangan membunuhi anak buahnya dijalanan, hal ini kelihatan bahwa Tuan pengecut tidak berani langsung berhadapan dengan beliau hanya secara pengecut menyergap anak buah beliau"
Guru Siau In menjawab seolah tak tahu akan bahaya yang dapat menimpanya.
"Kurang ajar...!"
Bayangan itu berseru marah.
Kemudian seperti kilat menyambar tubuh orang itu melesat ke arah Giam Pit Seng, demikian cepat gerakannya sehingga bayanganya saja hampir tak dapat diikuti oleh mata Siau In, hanya gemerlapnya mutiara dan permata di sarung pedang orang itu yang membantu Siau In untuk melihat.
"Suhu..."
Gadis itu berdesah khawatir dalam hatinya.
"Pit Seng, awaaasss...!"
Orang tua bongkok di samping Giam Pit Seng berdesah dengan suara khawatir pula, tongkat yang ada di tangan kirnya tiba-tiba beralih ke tangan kanan.
"Baik, Lojin-Ong"
Ketua cabang aliran Im-yang-kau-yang kenyang asam garam pertempuran itu menyahut keras sambil bergegas merogoh sepasang pit atau benda yang menjadi senjata andalannya, tetapi gerakan orang itu benar-benar cepat dan dahsyat tidak terkira, sehingga Giam Pit Seng terbelalak tak percaya, belum juga senjatanya siap ditangan, badai serang itu keburu tiba, cepatnya bukan main.
"Traaaaaan! Traaaaaaaang...!"
Untunglah Lojin-Ong cepat membantu, ujung tongkat yang telah pindah ke tangan kanan itu tiba-tiba melambung ke atas, memotong badai serangan yang lewat di depannya.
Benturan keras seperti layaknya dua bilah pedang baja berdentang memekakkan telinga ketika ujung tongkat itu beradu dengan lengan si penyerang, namun berkat bantuan tersebut ternyata tidak sepenuhnya bisa menyelamatkan Giam Pit Seng, lengan si penyerang yang lain ternyata masih terjulur menyambar ke dada Pit Seng.
Namun hambatan yang Cuma sedetik dari tongkat Lojin-Ong telah banyak artinya buat Giam Pit Seng, meski tergesa-gesa dan belum siap sepenuhnya tapi setidak-tidaknya sebuah pit telah terpegang di depan dadanya, sehingga pada sat serangan lawan tiba, pit itu sempat menangkis, meskipun akhirnya harus terlepas dari pegangannya.
Ketika kemudian Lojin-Ong dan Giam Pit Seng meloncat mundur untuk bersiap sedia, bayangan yang menyerang mereka itu telah bertengger di atas perahu.
"B-bu-bukan main!"
Giam Pit Seng berdesah dengan suara bergetar, telapak tangannya yang memegang pit tadi tampak terkelupas mengeluarkan darah.
"Memang hebat sekali! Sungguh tak kusangka! Usianya masih begitu muda tapi ginkang dan lwekangnya hampir telah mencapai kesempurnaan, sungguh berbahaya...!"
Lojin-Ong mengangguk-angguk sambil mengawasi ujung tongkatnya yang somplak. Sementara itu Lok kui tin telah mengepung mereka, siap untuk menerjang.
"Lok kui tin, hati-hati dengan orang tua bongkok itu! Kulit dan tulang-tulangnya ternyata masih alot sekali."
Orang yang ada di atas perahu itu memperingatkan pengawalnya.
"Kalian bertiga atau berempat baru bisa menghadapinya..."
"Kongcu...?"
Keenam orang yang tergabung dalam barisan hantu itu berdesah seperti orang penasaran.
Mereka yang selama ini ditakuti orang dan hampir tak pernah menemukan lawan yang bisa menandingi ilmu mereka tentu saja takkan percaya kalau orang tua jompo itu harus dikeroyok tiga atau empat.
Masa orang tua itu memiliki kesaktian melebihi guru mereka?
Tampaknya orang yang berada di atas perahu itu merasakan keragu-raguan pengawalnya.
"Jangan bertindak bodoh! Lakukan seperti yang kuperintahkan, nanti kalian akan mengerti! Nah, Pek-kui, Hek-kui, Cing-kui dan Ui-kui... Kalian berempat"
Menghadapi orang tua bongkok itu!
Gi-kui kau melanjutkan pekerjaan kalian yang tertunda tadi!
Dan...
ang-kui, kau membereskan orang tua bersenjata pit.
itu!
"Dia sebenarnya tidak ada apa-apa-hya.
Paling-paling dia cuma mampu bertahan lima jurus menghadapimu!
Kakek bongkok itulah yang berbahaya...!."
Meskipun masih merasa penasaran, tapi Keenam Hantu itu tak berani membantah lagi.
Mereka segera membagi diri untuk melaksanakan perintah itu...
Namun ketika mereka telah siap untuk bergerak, tiba-tiba orang di atas perahu itu berseru lagi.
Tapi tidak kepada mereka.
O rang itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah batu karang besar ditempat Tio Siau ln bersembunyi.
"Kau siapa...?"
Lemas seluruh, sendi-sendi tulang Tio Siau In.
Walaupun ia merasa tak menimbulkan suara gerakan.
yang membuat dirinya diketahui lawan, tapi tampaknya orang lihai itu telah mengetahui, persembunyiannya.
Dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran Tio Siau In mengusap keringat dingin yang membanjiri dahi dan lehernya.
"Cepat katakan.! Siapakah kau...?"
Orang diatas perahu itu Membentak lagi.
Hampir saja Tio Siau In menjawab serta keluar dari lobang, persembunyiannya ketika tiba-tiba, di atas batu karang itu terdengar suara jawaban yang.
amat dikenalnya.
Suara kakek gila, saudara seperguruan si Pemuda nakal yang dibencinya itu!
"Ho-ho-ho-ha-ha-ha...!
Sungguh penasaran!
Penasaran...!
Hei, Bocah Tampan...
Kenapa kau melupakan aku di sini?
Semuanya kau beri lawan bertanding, tapi...
Kenapa aku belum, hah?
Lalu...
dengan siapa aku harus berkelahi?
Apakah...
apakah...
ohh, ya...
tahu aku sekarang, he-he-he-he!
Tampaknya kau sendiri yang hendak bertarung denganku!
Bagus!
Bagus...!
lo-ho-ho-ha-ha-ha-ha!"
Tio Siau Tn tidak jadi keluar dari lobang persembunyiannya.
Entah mengapa, ada perasaan lega di hatinya.
Ternyata bukan dirinya yang dimaksud oleh orang di atas perahu itu.
Walaupun di dalam hati ia juga merasa kaget karena ia tak tahu, sejak kapan kakek gila itu bertengger di atas batu karang persembunyiannya.
Di lain pihak kemunculan Put-pai-siu Hong-jin itu juga amat melegakan hati Lojin-Ong dan Giam Puit Seng.
Bagaimanapun juga kedua tokoh Aliran Im-yang-kauw itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka menghadapi lawan yang amat berat, sehingga kedatangan Put-pai-siu Hong-jin itu benar-benar menambah semangat mereka.
"Iblis gila! Siapakah kau...? Lekas katakan!"
Orang yang berdiri di atas perahu itu menghardik lagi.
"Percuma saja kau bicara apabila dia sedang sinting seperti itu. Dia adalah Put-pai-siu Hong-jin dari aliran Beng-kauw, heh-heh..."
Lojin-Ong cepat-cepat menyela perkataan lawannya.
"Put-pai-siu Hong-jin? Huh, aku belum pernah mendengarnya."
Orang yang berdiri di atas perahu itu mendengus dingin.
"Bagus! Bagus! kau memang tidak perlu mengenal nama itu! Akupun benci kepadanya! Hahaha-heheh...! Buat apa mengingat-ingat nama? Hanya membuang waktu saja! Lebih baik berkelahi! He-he... Itu baru asyik! Ayoh!"
Si Gila dari Beng-kauw itu tiba-tiba berteriak kegirangan, kemudian meloncat turun mendekati perahu.
Gerakannya ketika melayang turun dari atas batu karang berkesan santai dan ogah-ogahan, bahkan seperti anak kecil yang sedang main lompat tali saja.
Tapi semuanya menjadi kaget dan tercengang keheranan ketika tubuh si Gila itu tidak segera jatuh ke pasir, namun melayang-layang lebih dulu ke kanan kiri, bagaikan daun kering yang terbang tertiup angin, jatuhnyapun tidak di atas kaki tapi menggelepar di atas punggungnya.
"Gila! Bocah itu memang semakin gila...!"
Lojin-Ong berdecak kagum menyaksikan peragaan ilmu mengentengkan tubuh yang tiada tara itu.
"Ginkangnya benar-benar telah mencapai kesempurnaan, sehingga tubuhnya menjadi seringan kapas..."
Giam Pit Seng berdesah pula dengan kagumnya.
Ternyata demonstrasi ginkang Put-pai-siu Hong-jin itu membuat keder juga di hati lawannya.
Selama ini, orang yang bertengger di atas perahu itu merasa, bahwa ginkangnya tak ada yang bisa mengalahkan selain gurunya, Pendeta Ulan Kili.
Namun di tepi pantai yang sepi ini, ternyata ada seorang kakek gila, yang ginkangnya bisa dikatakan setingkat dengan gurunya.
"Hei! Kenapa masih diam saja di situ? Ayoh, cepat kita berkelahi! Tangan dan kakiku sudah tak bisa dikendalikan lagi! Mereka segera ingin berantem!"
Put-pai-siu Hong-jin yang sudah berdiri di dekat perahu itu berseru keras.
"Baik! Jangan menyesal kalau nyawamu melayang di tempat ini! Lihat pukulan...!"
Orang yang bertengger di atas perahu itu menyambar turun ke arah Put-pai-siu Hong-jin.
"Hoho-haha...! Sekali-sekali aku memang ingin merasakan... bagaimana rasanya nyawaku ini keluar sedikit demi sedikit dari dalam tubuhku, hehehe! Kubiarkan dulu dia merangkak sampai ke ubun-ubun, setelah itu cepat-cepat kutarik lagi ke dalam! Hohoho... tentu asyik sekali!"
Sambil berceloteh Put-pai-siu Hong-jin melompat ke kiri untuk menghindari serangan lawannya.
Kemudian dengan tangkas badannya berputar ke kanan seperempat lingkaran, seraya melepaskan pukulan tangan kiri ke pinggang lawan.
"Wuuusssss!"
Gelombang udara dingin menerjang pemimpin rombongan suku Hun itu! Tak ada suaranya, namun terasa mengandung kekuatan yang amat dahsyat! "Bagus!"
Pemimpin rombongan Suku Hun itu berseru.
Tubuhnya berjumpalitan ke belakang untuk mematahkan serangan itu, kemudian berdiri tegak menghadapi Put-pai-siu Hong-jin kembali.
Masing-masing telah menyerang satu kali, sebagai pembukaan dan sebagai penjajagan pertama atas kekuatan lawan.
Dan gebrakan tersebut seolah-olah menjadi tengara atau tanda bagi si Enam Hantu, bahwa pertempuran telah dimulai!
Seperti yang telah diperintahkan pemimpin mereka tadi, maka mereka memecah diri menjadi tiga rombongan.
Rombongan pertama terdiri dari Pek-kui, Hek-kui, Cing-kui dan Ui-kui, menghadapi Lojin-Ong.
Rombongan kedua hanya seorang, yaitu Ang-kui, mendapat jatah untuk membunuh Giam Pit Seng.
Sedangkan rombongan ke tiga juga hanya seorang saja, Ci-kui, bertugas mencari dan membasmi seluruh sisa-sisa lawan yang masih hidup.
Demikianlah, dalam waktu yang hampir bersamaan, pertempuran sengit tak dapat dielakkan lagi!
Masing-masing telah mendapatkan lawan!
Giam Pit Seng yang berhadapan Ang-kui sama sekali tidak kelihatan gentar walaupun lawannya sangat memandang rendah dirinya.
Dua batang pit (pena) terbuat dari baja tulen, berukuran panjang dan pendek, tergenggam, erat di tangannya.
Dua batang pit itu berkelebatan di sekeliling tubuhnya, baik untuk menyerang maupun untuk mempertahankan diri, sementara.
Ang-kui yang bertangan kosong itu masih belum bersungguh-sungguh melayaninya.
Sebentar-sebentar Iblis Merah itu menghentikan gerakannya melihat-lihat pertempuran lainnya.
Seperti halnya Ang-kui, maka Ci-kui yang mendapat tugas ringan, menghadapi sisa-sisa kekuatan Lim Kok Liang, masih kelihatan santai pula.
Hanya dengan sebelah tangan Iblis Ungu itu mempermainkan Lim Kok Liang, Tong Taisu dan pengawal Gui Ciangkun.
Pada saat segar-bugar saja mereka tak mampu melawan, apalagi dalam keadaan luka dalam yang parah seperti sekarang.
Mereka bertiga hanya tinggal menunggu waktu saja, kapan Iblis Ungu itu ingin menghabisi mereka.
Pertempuran yang seru, namun cukup konyol, berlangsung antara Put-pai-siu Hong-jin melawan pemimpin rombongan suku Nun itu.
Kali ini pemimpin rombongan suku Hun itu benar-benar membentur musuh yang berat.
Dia yang selama perjalanannya ke selatan ini tak pernah mendapatkan lawan tangguh, sehingga sikapnya menjadi congkak dan takabur, kini benar-benar dibuat jengkel dan berang oleh Put-pai-siu Hong-jin yang sinting dan konyol!
si Gila dari aliran Beng-kauw itu berkelahi tanpa aturan.
Selain gerakannya kadang-kadang kacau tak keruan, mulutnya yang lebar tanpa gigi itu juga nyerocos terus tanpa berhenti.
Anehnya, dengan gerakannya yang kacau itu bisa saja ia meloloskan diri dari gempuran lawan!
Bahkan dengan gayanya yang tak beraturan itu seringmembikin lawannya kalang kabut!
"Lalat busuk!
Ternyata kepandaianmu benar-benar hebat!
Tangan dan kakiku sampai...
Hwaduh!
Bangsat...
Keparat curang!
kau sepak bisulku!
Haduuuh!
A-duuuh...
bocah tak tahu sopan-santuh!
Lihat...
Nih, sampai keluar madunya!"
Pu-pai-siu Hong-jin berjingkrak-jingkrak kesakitan.
Tapi pemimpin rombongan suku Hun itu tidak mempedulikan ulah Put-pai-siu Hong-jin.
Dia terlanjur kesal dan marah menghadapi tingkah-laku Put-pai-siu Hong-jin yang menjengkelkan.
Sedari tadi ia telah mengerahkan beberapa macam ilmu silat kebanggaannya, namun kakek gila yang wajahnya lebih mirip monyet daripada manusia itu, ternyata mampu melayaninya dengan baik.
Meskipun gerakannya kacau, kakek gila itu selalu bisa menyelamatkan diri.
Ginkangnya memang hebat sekali!
Menurut ucapan gurunya, Ulan Kili, Ilmu Meringankan Tubuh yang paling baik di dunia ini adalah ilmu meringanngankan tubuh milik perguruan mereka sendiri, perguruan Ui-soa-pai (Perguruan Pasir Kuning) dari Gurun Gobi!
Demikian tersohornya ilmu itu sehingga dalam perkembangan sejarahnya banyak tokoh-tokoh persilatan yang berusaha memilikinya.
Tapi perguruan Ui-soa-pai sangat tertutup dan keras menjaga tradisi sehingga sulit ditembus orang luar.
Meskipun demikian ada juga tokoh persilatan yang berhasil mencuri rahasia ilmu meringankan tubuh tersebut dan menirunya.
Diantaranya adalah Bu-eng Hwe-teng (Ilmu Terbang di Atas Rumput) milik seorang tokoh iblis yang hidup beberapa puluh tahun yang lalu.
Ilmu tersebut merupakan hasil tiruan dari ginkang perguruan Ui-soa-pai!
"Hmmh, apakah ginkang kakek gila ini yang disebut Bu-eng Hwe-teng itu?
Tapi...
Kulihat gerakannya sama sekali tidak ada yang mirip dengan ginkang Ui-soa-pai."
Sambil bertempur orang dari suku Hun itu menduga-duga.
"Buk!"
Tak terduga sebuah tendangan Put-pai-siu Hong-jin nyelonong mengenai pantat pemimpin rombongan suku Hun itu!
Tidak terlalu keras, karena posisi Put-pai siu Hong-jin sendiri sebenarnya juga tidak memungkinkan untuk melepas tendangan!
Meskipun demikian tendangan tersebut telah membuat pemimpin rombongan suku Hun itu menjadi marah dan mereka merasa terhina!
"Hehe-hoho...
sekarang impas sudah!
kau tadi menyepak bisulku, kini aku ganti menghajar pantatmu!
Hoho-hooo...!
Sayang tidak punya bisul!"
Mulut Put-pai-siu Hong-jin yang lebar itu tertawa terbahak-bahak.
"Monyet Tua! Mulutmu memang harus segera dibungkam agar tidak menggonggong terus menerus! Nah, terimalah kematianmu sekarang...!"
Tampaknya pemimpin rombongan suku Hun itu telah merasa cukup menjajaki ilmu kepandaian Put-pai-siu Hong-Jin.
Kini dia ingin mengakhiri pertempuran itu.
Ia berdiri tegak dengan tangan tersilang di depan dada.
Matanya yang mencorong dingin itu menatap Put-pai-siu Hong-jin tanpa berkedip.
Dan sebentar kemudian tubuhnya diselimuti.
kabut tipis berwarna kebiruan.
Walaupun konyol dan sinting, tapi perasaan dan otak Put-pai-siu Hong-jin sebenarnya tajam dan cerdas luar biasa.
Melihat lawannya mulai mengeluarkan ilmu pamungkas, dia juga tak berani main-main lagi.
Diapun segera bersiap sepenuhnya.
Seluruh urat-urat tubuhnya menggeletar, suatu tanda ilmu silat andalan Aliran Beng-kauw yang disebut Chou-mo-ciang (Ilmu Menangkap Setan), telah siap dilontarkan pula!
(Lanjut ke
Jilid 06) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 06 Sementara itu pertempuran yang paling dahsyat dan paling brutal adalah pertempuran Lojin-Ong melawan Empat Iblis itu.
Karena merasa penasaran atas sanjungan pemimpin rombongan mereka terhadap tokoh Im-yang-kauw itu, serta keinginan untuk membuktikan bahwa mereka bisa mengalahkannya, maka begitu bergebrak Empat Hantu tersebut ingin segera bisa menyelesaikan pertempuran mereka.
Seperti halnya Kongcu mereka, Enam Hantu itu juga murid dari Pendeta Agung suku bangsa Hun, Ulan Kili.
Meskipun kepandaian mereka tidak setinggi Kongcu mereka itu, tapi mereka justru menjadi murid-murid utama, karena mereka telah mengikuti guru mereka sejak di Perguruan Ui-soa-pai.
Terutama Hek-kui, Ui-kui dan Pek-kui.
Sebelum menjadi pengawal ketiga hantu itu lebih dikenal dengan sebutan Sam Eng (Tiga Garuda) di kalangan persilatan.
Demikianlah, begitu menyerang mereka berempat telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
Jago-jago ginkang itu bergerak cepat, berkelebatan bagaikan kawanan lebah madu yang beterbangan mengelilingi bunga.
Sebentar-sebentar mereka menyerang Lojin-Ong dengan pukulan, tendangan, sabetan, maupun sapuan kaki yang mematikan.
Gerakan mereka benar-benar seperti kawanan lebah yang mematuk, menggigit dan menyengat korbannya!
Namun yang amat mengherankan adalah lawan mereka.
Lojin-Ong yang sudah tua renta, bahkan bisa dikatakan sudah jompo dan pikun itu, ternyata mampu melayani serbuan mereka dengan gesit dan lincah.
Walaupun kadang-kadang harus mundur untuk mengambil napas, tapi gerakannya masih amat cepat.
Tenaga sakti yang terlontar dari telapak tangannya juga sangat menggiriskan hati lawan-lawannya.
Alhasil pertempuran mereka berjalan dengan sangat cepat dan mendebarkan.
Beberapa kali lengan dan tangan mereka berlaga di udara dan menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga.
"Gila! Orang tua ini memang masih alot sekali kulitnya"
Hek-kui mengumpat tiada hentinya.
"Yah, tapi bagaimanapun juga dia sudah tua. Tenaga dan pernapasannya tentu terbatas. Lama-lama dia akan ambruk sendiri karena kelelahan, hehehe...!"
Pek-eng mengejek pula.
"Kalian benar, orang-orang muda! Sebentar lagi aku tentu akan kehabisan napas! Tapi... Lihat saja, sebelum napasku benar-benar habis... beberapa orang di an tara kalian tentu akan lebih dulu putus napasnya!"
"Kurang ajar! Orang tua tak tahu diri! Marilah kita lihat, siapa yang lebih "
Dulu terkapar di atas pasir ini!"
Hek-kui menjerit marah.
"Wusssss...!"
Hek-kui menghantam punggung Lojin-Ong dengan tenaga sepenuhnya.
Tapi dengan tangkas orang tua itu meliuk ke kanan, kemudian membalikkan badan sambil balas memukul dengan tebasan tangan kiri.
Terdengar suara mencicit, suatu tanda bahwa serangan tersebut didukung oleh tenaga sakti yang luar biasa kuat.
Sementara itu Ui-kui, Cing-kui dan Pek-kui, tidak tinggal diam.
Bersama-sama mereka menerjang dari sisi yang lain.
Mereka juga menggunakan seluruh tenaga kekuatan mereka, sehingga dalam gebrakan tersebut mereka ingin menghancur-lumatkan Lojin-Ong.
Apa boleh buat, Lojin-Ong tak ingin menjadi bulan-bulanan pukulan lawannya.
Ia mengurungkan tebasan tangannya yang mengarah kepada Hek-kui.
Sebagai gantinya ia menjejakkan kakinya dalam jurus Burung Walet Meninggalkan Sarang.
Tetapi Ui-kui dan Cing-kui, yang berada di sebelah kanan dan kiri, tidak mau memberi kesempatan keduanya juga melenting ke atas, berjumpalitan di udara dan memotong gerakan Lojin-Ong dengan jurus Membajak Sawah Menabur Benih.
Serangan mereka menimbulkan suara gemuruh bagaikan benturan ombak di atas batu karang!
Lojin-Ong tak ingin membentur serangan mereka.
Selain tulang-tulangnya sudah terlalu rapuh, dia tak ingin terjebak dalam kesulitan pada saat menyongsong pukulan tersebut.
Hek-kui dan Pek-kui tentu telah menunggu pula di atas tanah.
Jalan satu-satunya hanya menghindar lagi.
Tapi hal itu benar-benar sulit dilakukan dalam keadaan seperti itu!
"Tingkat kepandaian dari masing-masing orang ini hanya setingkat atau dua tingkat di bawahku.
Dua orang atau tiga orang saja rasanya sudah sulit bagiku untuk menghadapinya, apalagi empat orang sekaligus.
Tampaknya Giam Pit Seng juga akan mendapat kesulitan pula kali ini.
Aku harus segera menolongnya keluar dari tempat ini."
Dalam keadaan terdesak Lojin-Ong masih memikirkan anak buahnya.
Apa yang dikhawatirkan orang tua itu memang benar.
Giam Pit Seng tak dapat berbuat banyak melawan Ang-kui.
Iblis Merah itu memang berada jauh di atas kemampuan Giam Pit Seng.
Walaupun sudah, berusaha sekuat tenaga mengerahkan Ilmu Hok-hong Siang-pitnya, tapi Giam Pit Seng masih juga di bawah angin.
Bahkan satu demi satu pitnya terlepas dari tangan akibat gempuran Ang-kui.
Demikianlah, dalam waktu yang hampir bersamaan Lojin-Ong dan Giam Pit Seng berada dalam keadaan terancam jiwanya!
Sementara itu di dalam lubang perlindungannya Siau In tak bisa berbuat apa-apa.
Dia tahu, apabila ia keluar dari tempat itu, dia justru akan menambahi beban dan mempersulit keadaan gurunya.
Dia hanya bisa menonton pertempuran berat sebelah itu dengan perasaan tegang dan khawatir.
Apalagi ketika ia melihat Ci-kui (Si Iblis Ungu) bebar-benar membantai Lim Kok Liang, Tong Taisu dan pengawal Gui Ciangkun.
Bahkan Iblis kejam itu juga membunuh Gui Ciangkun yang terluka, serta pemuda-pemuda pemenang sayembara yang pingsan tadi.
Sekarang rombongan pemenang sayembara dan para perwira kerajaan itu benar-benar tertumpas tanpa sisa.
"Hong-jin... tinggalkan tempat ini!"
Tiba-tiba terdengar Lojin-Ong berteriak ke arah Put-pai-siu Hong-jin.
Sekejap kemudian terdengar suara berdentang keras sekali, diikuti oleh berkelebatnya tubuh Lojin-Ong ke arah Giam Pit Seng!
"Dhieeeees!"
Tubuh orang tua itu seolah-olah membentur Ang-kui, yang sudah siap melepaskan pukulan terakhirnya kepada Giam Pit Seng! Ang-kui terpental, sementara Lojin-Ong juga terjatuh di samping Giam Pit Seng.
"Pit Seng! Ayoh, kita pergi dulu mencari bantuan! Kita tak bisa menyelamatkan mereka!"
Lojin-Ong berteriak. Giam Pit Seng menyambar lengan Lojin-Ong, lalu bergegas bersama-sama melesat pergi dari tempat itu.
"Bagaimana dengan Put-pai-siu Hong-jin?"
"Jangan takut! Orang gila itu banyak akalnya!"
Lojin-Ong menjawab sambil berkelebat menerobos semak belukar yang gelap.
Hek-kui, Pek-kui, Cing-kui dan Ui-kui, yang tadi mengeroyok Lojin-Ong datang menolong Ang-kui.
Ci-kui yang juga sudah menyelesaikan tugasnya, bergegas menghampiri pula.
Mereka melihat keadaan Ang-kui.
"Aku tidak apa-apa. Aku terpental karena kalah tenaga. Orang tua itu benar-benar kuat sekali!"
"Dia memang kuat dan cerdik luar biasa! Dalam keadaan terjepit dia bisa mengecoh kami berempat dan meloloskan diri! Lihat potongan tongkatnya ini! Dia mengorbankan tongkatnya untuk menahan serangan kami...!"
Hek-kui menggeram marah.
"Ayoh kita kejar mereka!"
Ui-kui berseru.
"Tidak perlu!"
Tiba-tiba pemimpin mereka yang sedang bertempur dengan Put-pai-siu Hong-jin itu berteriak.
"Siapkan saja perahu kita! Kita segera berangkat setelah monyet tua ini mati"
"Mati...? Oh, enaknya! Sudah sepuluh tahun ini aku ingin mati, tapi tak seorangpun bisa membunuh aku, he-he-he! Apalagi hanya bocah ingusan seperti kau! HO-ho-ho-ho!"
Enam Hantu itu memandang ke arah pertempuran dan mereka segera terbelak kaget.
Dua orang yang sedang berlaga itu mengadu kesaktian sambil berbicara, seakan-akan mereka tidak bersungguh-sungguh.
Padahal Enam Hantu itu melihat bagaimana seru dan hebatnya pertempuran mereka.
Kongcu mereka yang berilmu sangat tinggi itu sudah menggunakan ilmu silat Ui-soa-pai tingkat tertinggi, campuran ilmu silat dan ilmu sihir!
Ginkang yang digunakan juga ginkang tingkat terakhir dari Ui-soa-pai, yang disebut Hui-eng-cu-in (Bayangan Terbang di Atas Awan)!
Mereka berenam tidak bisa mengikuti gerakan Kongcu mereka lagi, padahal mereka berenam juga mempelajari ilmu tersebut!
Meskipun demikian ketika Enam Hantu itu memperhatikan Put-pai-siu Hong-jin, wajah mereka semua menjadi pucat pasi!
Si Gila dari aliran Beng-kauw itu bersilat dengan gerakan-gerakan yang aneh dan mengerikan.
Selain sikap dan bentuk gerakannya kelihatan kacau dan tidak beraturan, tenaga sakti yang mendukung gerakan tersebut juga tampak aneh dan tidak terkendali.
Sepintas lalu seperti ada kekuatan lain yang menggerakkan kaki dan tangan itu selain Put-pai-siu Hong-jin.
Kadang-kadang kuat luar biasa, sehingga Kongcu mereka seperti tak tahan menghadapinya.
Tapi juga sering tampak lemah atau biasa-biasa saja, sehingga dengan mudah Kongcu mereka mengatasinya.
Jika tokoh seperti Enam Hantu itu saja merasa takjub, apalagi Tio Siau In!
Pertempuran itu berlangsung tidak jauh dari tempat persembunyiannya.
Meskipun demikian gadis itu tak mampu membedakan, yang mana Put-pai-siu Hong-jin dan yang mana pula pemimpin rombongan suku Hun itu.
Mereka bertempur dengan cepat sekali, seperti bayangan yang saling membelit, melesat dan berkelebatan kesana-kemari.
Bahkan menurut penglihatan Siau In, bayangan itu semakin lama menjadi semakin banyak.
Rasa-rasanya tidak hanya dua orang yang bertempur, tapi lebih dari lima orang!
Memang benar apa yang disaksikan oleh Tio Siau In.
Saat itu pemimpin rombongan dari suku Hun tersebut telah mengeluarkan Pat-sian ih-hoat (Delapan Baju Dewa), sebuah ilmu silat andalan Ui-soa-pai yang telah dicampur dengan ilmu sihir!
Pemimpin rombongan suku Hun itu seolah-olah telah memecah diri menjadi enam orang, yang masing-masing.
dapat bergerak sendiri untuk menyerang Put-pai-siu Hong-jin!
Akibatnya si Gila dari Aliran Beng-kauw itu seperti dikeroyok enam orang sekaligus!
Tapi hanya beberapa saat Put-pai-siu Hong-jin terpengaruh dan terkecoh oleh ilmu sihir yang mengerikan itu.
Justru menghadapi manusia sinting, yang jarang berpikir dengan otaknya seperti Put-pai-siu Hong-jin itu, segala ilmu sihir menjadi mentah dan mati kutu!
Melihat lawannya berubah menjadi banyak dan sangat membingungkan matanya, Put-pai-siu lantas berkelahi dengan mata terpejam.
Karena si Gila ini memang tak pernah peduli akan kematian, maka enak saja ia berbuat seperti itu.
Ia hanya mengandalkan perasaan, pendengaran dan penciumannya saja untuk bertempur.
Maka akibatnya bisa diduga, segala macam bentuk yang aneh-aneh dari lawannya, sama sekali tak mempengaruhi pikiran Put-pai-siu Hong-jin!
Apalagi si Gila dari Aliran Beng-kauw itu kini mengeluarkan ilmu baru, hasil ciptaannya sendiri, yang ia beri nama Tiga Langkah Bulu Angsa!
Ilmu silat inilah yang dilihat oleh Enam Hantu itu.
Sebuah ilmu silat yang seolah-olah tidak dilakukan atau digerakkan sendiri oleh pelakunya.
"Monyet Tua! Ayoh, kita berkelahi! Jangan hanya menghindar kesana-kemari!"
Pemimpin rombongan suku Hun itu menjerit marah.
Tangannya menghantam ke depan, ke arah pinggang Put-pai-siu Hong-jin yang sedang melayang turun ke tanah.
Tapi sebelum pukulan itu menyentuh sasaran, tubuh Put-pai-siu Hong-jin telah lebih dulu melayang pergi, bagaikan selembar bulu angsa yang tertiup angin!
"Hohoho-haha...
ada hitam ada putih Ada perempuan...
ada lelaki!
Ada lobang...
ada semut!
Hohahohaaaa!
Anak muda, kau tahu arti perkataanku?"
Mulut Put-pai-siu Hong-Jin mengoceh.
"Artinya... segala sesuatu yang tercipta di dunia ini tentu ada imbangannya. Contohnya...? Ilmu silatmu tadi sangat aneh dan menakutkan. Aku percaya, kau tentu bisa menciptakan bentuk yang aneh-aneh dengan ilmumu itu. Hehehe... tapi kalau lawanmu itu buta atau... Memejamkan matanya, oh-ho-ho... apakah dia masih juga bisa melihat? Huuuaaah-hahahaha! Konyol! Konyol! Sungguh sebuah ilmu yang konyol!"
"Kurang ajar! Kubunuh kau, Monyet tua!"
Pemimpin rombongan dari suku Hun itu berteriak.
"Hei! Hei! Nanti dulu...!"
Mendadak Put-pai-siu Hong-jin mengangkat tangannya.
"Tampaknya kau benar-benar ingin mengadu nyawa! Ho-ho-ho, kalau begitu... sebutkan dulu namamu Jadi, hehehe... aku bisa menyebutkan namamu kalau suteku nanti bertanya kepadaku."
"Maksudmu...?"
"Sebutkan dulu namamu! Apakah kau anak kura-kura yang takut namamu diketahui orang?"
"Bangsat! Putera Raja Mo Tan tidak mengenal takut! Namaku Mo Hou! Sudah kau dengar, hei?"
"Kongcu...????"
Enam Hantu itu berdesah kaget...
"Hohoho... jadi kau ini putera Raja suku bangsa biadab Hun itu? Hahaha, ketahuilah...! Ayahmu itu sudah beberapa kali bertemu denganku dan dia... takut sekali kepadaku! Hohohahaaaaaa! Pada pertemuan yang terakhir... Ho-hoha-ha... ayah mu telah kukencingi punggungnya! Hoha-haaaha!!!."
Put-pai-siu Hong-jin menutup ucapannya dengan tertawa terbahak-bahak.
Saking marahnya Mo Hou justru tak bisa mengucap apa-apa.
Kabut kebiruan kembali menyelimuti tubuhnya.
Hanya ini lebih pekat, sehingga tubuh itu cuma kelihatan samar-samar dalam kegelapan malam.
"Wuuuuuus!"
Mo Hou menerjang Put-pai-siu Hong-jin, Gerakannya cepat bukan main!
Dari dalam lobang persembunyiannya Tio Siau In hanya melihat segumpal asap pekat, berwarna kebiruan, melesat ke arah Put-pai-siu Hong-jin!
Dan dari gumpalan asap itu berkelebat pula cahaya berwarna kekuningan!
Tampaknya kali ini Put-pai-siu Hong-jin ingin menjajal kekuatan lawannya.
Dia juga mengerahkan segala kekuatannya dan menyongsong gempuran Mo Hou.
"Plak! Plaaak! Siiiiiing...! Dhieeeeeees!"
Dua bayangan tampak berlaga di udara, lalu masing-masing terpental ke belakang!
Bluuk!
Mou Hou jatuh terlentang di atas pasir!
Tangannya yang memegang kipas berwarna kuning keemasan itu menggeletar menahan sakit!
Dah dari mulutnya mengalir darah segar!
Sebaliknya, PUt-pai-siu Hong-jin yang membelakangi laut, terlempar ke udara dan jatuh ke dalam gelombang air yang kebetulan menerjang pantai!
Sebentar saja tubuhnya hilang dibawa ombak!
"Kongcu...!"
Enam Hantu itu bergegas menghampiri Mo Hou.
"Cepat bawa aku pergi dari tempat ini! Aku terluka dalam!"
Keenam Hantu itu tak banyak bicara pula.
Cepat-cepat mereka menggotong tubuh Mo Hou ke dalam perahu dan bergegas meninggalkan pantai itu.
Sementara itu Tio Siau In masih tetap berada di lobang persembunyiannya.
Meskipun perahu orang Hun itu sudah pergi, ia tetap belum keluar.
Ia masih merasa khawatir kalau-kalau orang Hun itu kembali lagi.
Baru setelah beberapa waktu kemudian suasana tetap lengang dan sepi, Siau In merangkak keluar dari lubang batu karang itu.
Kemudian gadis itu menarik keluar pemuda yang ditolongnya tadi dan membawanya ke tempat kering.
Sekilas tampak tato gambar di dada pemuda itu.
"Oh, ya... akan kulihat! Apakah para pemenang sayembara yang lain itu juga memiliki tato naga?"
Siau In berkata di dalam hatinya. Siau In lalu menghampiri mayat-mayat yang bergelimpangan di pasir. Setiap menjumpai mayat para pemenang sayembara, gadis itu memeriksanya dengan teliti.
"Hah... benar! Pemuda ini juga memiliki gambar naga di punggungnya! gadis itu berdesah lirih ketika membalikkan sebuah mayat yang mati terlentang.
"Ini juga...! Ah, itu juga!"
Desisnya kemudian berkali-kali ketika meneliti mayat-mayat yang lainnya. Ternyata persis dengan yang telah diduga Tio Siau In, semua pemuda yang memenangkan "Perlombaan Mengangkat Arca"
Itu mempunyai gambar tato naga di tubuh mereka.
Hanya bentuk gambar dan tempatnya saja yang berbeda-beda.
Ada yang di lengan, dada, perut, pinggang atau punggung.
Sementara bentuk gambarnya ada yang lengkap, ada yang tidak.
Ada yang hanya kepala naga saja, tapi ada juga yang dilukis penuh dari kepala sampai ekor.
Bahkan ada yang tidak cuma satu ekor saja, tapi dua ekor naga sekaligus.
"Tidak mungkin kalau hal ini hanya satu kebetulan saja. Tampaknya pihak Istana secara rahasia memang bermaksud mengumpulkan para pemuda bertato naga di seluruh negeri dengan dalih "Perlombaan Mengangkat Arca". Sebaliknya Raja suku bangsa Hun tampaknya juga ikut ambil bagian pula di dalam urusan ini. Namun dengan tujuan yang berbeda, yaitu membasmi pemuda-pemuda bertato naga itu. Sementara itu di pihak yang lain lagi, Aliran Im-yang-kauw juga memerintahkan seluruh cabang-cabangnya untuk mencari pemuda bertato naga itu pula. Aaah, kalau memang demikian halnya, pemuda itu tentu merupakan seorang yang hebat sekali. Siapakah dia sebenarnya...?"
Sambil mengawasi mayat-mayat yang berserakan itu Siau In mencoba menduga-duga dan merangkai semua yang telah diketahuinya.
"Ooouugh..."
Tiba-tiba gadis itu dikejutkan oleh suara erang kesakitan.
Sesosok mayat yang ada di dekatnya sekonyong-konyong menggerakkan kaki dan tangannya.
Malahan beberapa saat kemudian mayat itu bangkit dengan perlahan-lahan.
Dengan agak takut-takut Tio Siau In mendekati.
Dengan seksama ditatapnya mayat yang kini telah duduk bersimpuh itu lekat-lekat.
Dan akhirnya Siau In mengenali orang itu sebagai pembantu dari Lim Kok Liang, pemimpin pengawal rombongan pemenang, perlombaan tersebut.
Lelaki itu tidak lain adalah Su Hiat Hong, tahu bahwa dia terluka dalam.
Maka pertama-tama yang dia lakukan adalah duduk bersila dan mengerahkan tenaga sakti untuk mengobati luka-lukanya itu.
Dan usaha itu dilakukannya berulang-ulang.
Setelah rasa sakit itu hilang dan aliran darahnya menjadi normal kembali, Su Hiat Hong membuka matanya.
Dan ia benar-benar kaget sekali melihat Siau In di depannya.
"Nona... Nona siapa?"
Ujarnya dengan suara cemas. Siau In mencoba tersenyum.
"Tuan tidak usah khawatir. Saya kebetulan lewat di tempat ini dan melihat keributan yang baru saja berlalu. Tapi maaf, saya sama sekali tak berani keluar untuk membantu. Saya sadar bahwa saya tak mungkin bisa melawan mereka. Ah, apakah Tuan sudah merasa baik kembali?"
"Oooli...!"
Su Hiat Hong bernapas lega.
"Terima kasih. Kulitku memang tidak terluka, tapi bagian dalam dari tubuhku rasanya hancur, semua. Aku harus lekas-lekas mencari tabib yang pandai untuk menyembuhkannya. Nona, maukah kau menolong aku?"
"Salah seorang dari rombongan Tuan juga masih hidup walaupun terluka parah pula. Tapi... Mana ada tabib pandai di sekitar tempat ini?"
"Ohh, benarkah ada temanku yang lain yang masih selamat?"
Su Hiat Hong berdesah gembira.
"Ya! Pemuda itu saya tinggalkan di dekat batu karang itu."
"Ooo...!"
Su Hiat Hong berdesah kembali, tapi sekarang dengan suara sedikit kecewa.
Sebenarnya ia berharap yang selamat itu adalah Lim Kok Liang, sahabatnya, tapi ternyata bukan.
Namun demikian petugas dari Istana kerajaan itu cepat berkata lagi.
"Bagaimana, Nona? Apakah kau mau menolong kami? Dua lie dari tempat ini tinggal seorang tabib yang sedang mengasingkan diri."
Siau In tidak segera menjawab. Sebenarnya ia ingin cepat-cepat kembali ke kota untuk menemui kakak dan suhengnya. Tapi orang-orang ini amat butuh bantuannya pula.
"Baiklah...!"
Akhirnya ia menyanggupi.
"Tapi bagaimana cara kita pergi ke tabib itu? Bukankah Tuan belum dapat berjalan? Lalu... bagaimana pula dengan mayat-mayat ini?"
Wajah yang pucat itu tampak lega.
"Nona tidak usah khawatir. Aku mempunyai sampan kecil, yang kusembunyikan di celah-celah batu karang besar itu!"
Katanya sambil menunjuk ke arah yang ia maksudkan.
"Dan... tentang mayat-mayat ini, Nona juga tidak perlu khawatir. Pagi nanti, sepasukan prajurit kerajaan akan meronda ke mari."
"Ooh...!"
Siau In mengangguk lega pula. Tapi tiba-tiba keningnya berkerut.
"Tapi kalau kita bersampan... bisa bertemu dengan orang-orang Hun itu!"
"Jangan khawatir, Nona. Lapat-lapat kudengar mereka tadi menuju ke utara, sedang tujuan kita adalah ke selatan."
Dengan cepat Su Hiat Hong memberi keterangan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil sampannya..."
"Terima kasih, Nona. Terima kasih..."
Akan tetapi sebelum berangkat mengambil sampan Tio Siau In menengok pemuda yang ditolongnya tadi lebih dahulu.
Dilihatnya pemuda itu telah sadar pula, meskipun keadaannya tampak lebih parah dari pada Su Hiat Hong.
Namun kelihatannya pemuda itu memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa.
Pemuda itu tidak terkejut melihat dirinya.
Pemuda itu justru tersenyum, walaupun senyumnya lebih menyerupai seringai kesakitan daripada senyum kegembiraan.
"Siapa namamu...?"
Tio Siau-In perlahan.
"A Liong..."
Pemuda itu menjawab singkat.
"Kau mau kubawa ke tabib?"
Lagi-lagi pemuda itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. Wajahnya yang pucat pasi itu tampak pasrah.
"Kalau begitu tunggulah di sini sebentar. Aku akan mengambil sampan untuk membawamu pergi. Nah... Kuatkanlah hatimu!"
Tio Siau In menepuk lengan A Liong, kemudian berlalu.
Dengan mengikuti arah yang telah ditunjukkan oleh Su Hiat Hong, Siau ln mencoba mencari sampan tersebut...
Ternyata tidak sulit untuk mendapatkannya.
Sampan itu hanya tersuruk di antara celah-celah batu karang yang banyak bertonjolan di tepi pantai.
Lengkap dengan dua batang kayu pendayungnya.
Su Hiat Hong semakin kelihatan bersemangat melihat kedatangan Tio Siau In bersama sampannya.
Dengan agak tertatih-tatih ia melangkah ke dalam sampan, sementara Tio Siau ln membantu A Liong yang tidak bisa berjalan sendiri.
Pemuda tanggung itu terpaksa berpegangan pada lengan Siau In.
Dan gadis cantik itu sama sekali tidak merasa risih.
Malam semakin larut, bahkan embun pagi sudah mulai turun pula ke bumi.
Semakin lama embun itu semakin tebal sehingga dari jauh seperti awan tipis yang turun perlahan-lahan menyelimuti bumi.
Dengan susah payah Tio Siau In mendayung sampan itu menyusuri pantai.
Dan dua lie kemudian ia sampai ke sebuah ceruk atau teluk kecil yang dikelilingi tebing pantai yang menjulang tinggi ke atas, sehingga ceruk yang mempunyai dataran sempit itu seolah-olah merupakan dasar jurang yang terbuka ke arah laut.
Tio Siau In melihat sinar lampu minyak berkedip-kedip di tengah-tengah dataran sempit tersebut.
Dan ketika sampan itu datang semakin dekat, Tio Siau In melihat sebuah rumah kecil di antara rimbunnya pepohonan.
Ternyata cahaya lampu yang dilihatnya itu keluar dari salah sebuah jendelanya yang terbuka.
"Kita telah sampai ke rumahnya, Nona. Marilah kita ke pinggir."
Su Hiat Hong berkata lega, Tio Siau ln mendayung sampan itu ke pinggir. Diam-diam perasaannya merinding juga. Rumah di tempat yang sangat terasing itu kelihatan menyeramkan di malam hari.
"Siapakah tabib itu sebenarnya...? Mengapa ia memilih tempat yang sepi seperti ini?"
Tanyanya lirih kepada Su Hiat Hong. Petugas kerajaan itu menghela napas, panjang. Raut mukanya yang pucat itu tampak suram, sementara matanya berkaca-kaca mengawasi rumah kecil di tempat terasing itu.
"Dia sebenarnya seorang bekas prajurit kerajaan pula. Bahkan antara dia dan aku bersahabat erat sekali, meskipun tugas kami berbeda. Pertama kali kami bertemu, dia bertugas di bagian kesehatan dan perawatan prajurit yang terluka, sedangkan aku bertugas di bawah bendera pasukan berkuda. Karena luka-lukaku yang parah aku pernah dirawat oleh dia. Tapi aku juga pernah menyelamatkan dia ketika markas kami diserang musuh."
Mata Su Hiat Hong menerawang jauh, teringat akan pengalamannya di masa lalu.
Tapi mata itu segera berkaca-kaca ketika bayangan seorang sahabatnya yang lain, yaitu Lim Kok Liang, ikut berkelebat di depan matanya.
"Alangkah malangnya dia. Seorang perwira yang telah banyak berjasa kepada negara, tapi pada saat kematiannya tak seorangpun yang merawat jenazahnya."
Keluhnya dalam hati, menyesali kematian Lim Kok Liang.
"Lalu... Kenapa dia sekarang tinggal di tempat seperti ini, Paman?"
Siau In yang merasa kasihan kepada Su Hiat Hong itu kini menyebutnya Paman. Su Hiat Hong seperti disentakkan dari lamunannya yang hanya sesaat itu.
"Aaaah... ya, dia... dia akhirnya dipindahkan ke Istana. Sementara aku juga dipindahkan ke Pasukan Rahasia. Karena kepandaiannya mengobati orang, sahabatku itu lalu diambil oleh mendiang Pangeran Liu yang kun ke Istana pribadinya. Dia diangkat sebagai perwira dan ditunjuk sebagai tabib pribadi dalam keluarga Pangeran Mahkota itu. Tapi..."
"Tapi... bagaimana, Paman?"
Kejar Tio Siau In.
"Yah... ternyata keberuntungannya itu tak berlangsung lama. Seperti yang mungkin telah kau dengar pula, Pangeran Liu yang kun itu mendadak hilang setelah upacara pemakaman Kaisar Liu selesai. Bahkan tidak cuma itu. Ternyata keluarga Pangeran Liu yang kun dan Istana pribadi beliau, beberapa hari kemudian juga ikut musnah pula dimakan api. Sahabatku yang sudah terlanjur mengasihi keluarga itu menjadi sedih dan kehilangan gairah hidup. Dia yang memang tidak mempunyai keluarga lagi lalu pergi menyepikan diri ke tempat sunyi ini. Hanya aku yang diberi tahu kepergiannya. Dan secara diam-diam aku pernah mengunjunginya di tempat ini. Tapi itu telah bertahun-tahun yang lalu. Entahlah, sekarang aku tak tahu bagaimana keadaannya..."
Su Hiat Hong dengan nada sedih mengakhiri ceritanya.
Tio Siau In tidak bertanya lagi.
Sambil mengayuh dayungnya gadis itu juga sedang terbuai oleh lamunannya.
Entah mengapa cerita Su Hiat Hong itu tiba-tiba juga mengingatkan keadaannya sendiri.
Gadis itu teringat kepada kakaknya, Tio Ciu In.
Kakaknya itu tentu sedang kebingungan mencari dirinya.
"Aku tidak memiliki sanak saudara lagi selain Cici Cui ln. Saat ini dia tentu sangat sedih dan menangisi kepergianku. Aaaah... aku harus cepat-cepat kembali selesai mengantar orang-orang ini."
Katanya di dalam hati.
* * * Seperti ada seutas benang yang menghubungkan dua pikiran mereka, ternyata pada saat yang sama di kota Hang-ciu Tio Ciu In juga sedang memikirkan Siau ln pula.
Semalam Ciu In bersama-sama dengan Liu Wan telah berhasil memporak-porandakan upacara yang diadakan oleh para pendeta Pek-hok-bio.
Namun Ciu In menjadi kecewa dan cemas karena gadis yang mereka bebaskan dari upacara korban itu ternyata bukan Siau In.
Untunglah Liu Wan pandai menghiburnya.
Pemuda itu mengajaknya ke kota untuk beristirahat dulu.
Mereka menyewa kamar sendiri-sendiri di sebuah penginapan.
Dan Liu Wan yang kelelahan sehabis bertempur dengan musuh-musuhnya itu segera tertidur di kamarnya, sementara Ciu In sendiri tidak bisa memicingkan matanya.
Gadis itu melamun di atas pembaringannya.
Tengah malam tadi ketika di tepi pantai Siau In menyaksikan pertempuran antara rombongan petugas kerajaan dan orang-orang Hun, maka di Kuil Pek-hok-bio Ciu In justru sedang bertempur melawan para pendeta Pek-hok-bio pula dengan sengitnya.
Seperti yang telah direncanakan, Liu Wan mengajak Tio Ciu ln ke Pek-hok-bio menjelang tengah malam.
Karena sore harinya mereka telah didatangi anak buah Pek-hok-bio, maka Liu Wan tidak berani sembarangan memasuki sarang macan itu.
Pemuda itu yakin bahwa kuil Pek-hok-bio tentu telah dijaga dengan ketatnya.
Pagar, halaman, atap-atap bangunan, pepohonan, tentu tidak luput dari pengawasan mereka.
"Kita harus mencari jalan yang baik supaya mereka tidak tahu kalau kita telah menyusup ke dalam sarang mereka. Tapi... bagaimana caranya?"
Sebelum sampai di tempat tujuan Liu Wan menjadi bingung.
"Kita lewat melalui pagar belakang?"
Ciu In mengusulkan.
"Wah... tidak mungkin. Segala tempat tentu telah dijaga. Kita tidak mungkin menerobosnya tanpa ketahuan."
"Mengapa tidak kita dobrak saja sekalian pintu halamannya?"
Ciu In yang sangat mengkhawatirkan keselamatan adiknya itu menjadi tidak sabar.
"Wah, itu lebih konyol lagi. upacara korban yang akan mereka laksanakan tentu menjadi batal dan mereka tentu akan menyembunyikan gadis korbannya. Kita akan sulit mencarinya nanti."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Tio Ciu In menjadi gelisah dan hampir menangis. Liu Wan tersenyum. Dengan sabar dan penuh perhatian pemuda itu membesarkan hati Ciu In.
"Jangan cemas. Aku telah mendapatkan akal yang bagus."
Katanya halus. Tio Ciu In mengerling dengan bibir cemberut.
"Twako memang suka menggoda aku. Kalau memang sudah tahu jalannya, mengapa tidak dikatakan sejak tadi?"
Sergahnya dengan kesal.
"Eeee, jangan keburu marah dulu Nona Cantik! Aku tidak bermaksud menggoda. Aku hanya ingin mengetahui pendapat mu. Yah, siapa tahu...!"
Tiba-tiba pandangan mata Liu Wan meredup sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sebagai gadis yang telah menginjak dewasa, Ciu In tahu arti pandangan pemuda itu.
Pandangan kagum seorang lelaki terhadap wanita.
"Jangan memandangku seperti itu, Twako. Ngeri aku melihatnya."
Gadis itu berdesah lirih sambil menundukkan mukanya.
"Amboi...! Sungguh beruntung sekali suhengmu itu, bisa mendapatkan bidadari sedemikian cantiknya. Aku benar-benar iri kepadanya. Bertahun-tahun aku berkeliling ke seluruh pelosok negeri, naik gunung turun gunung, keluar masuk dusun dan kota, namun belum pernah juga bertemu bidadari. Tak tahunya bidadari itu sudah ada yang punya. Maaf, Ciu-moi... Maafkan aku."
"Ngaco! Siapa bilang aku sudah ada yang punya? Aku dengan suheng..."
Tiba-tiba Ciu In menutup mulutnya. Kulit mukanya yang putih mulus itu mendadak berubah menjadi merah padam.
"Kau... Kau memang suka menggoda aku!"
Akhirnya ia bersungut-sungut kesal sambil membuang mukanya.
"Ciu-moi..."
"Sudah! Aku tak mau bicara lagi denganmu! Twako jahat!"
Selesai bicara Tio Ciu In berlari meninggalkan Liu Wan.
"Eeee... Ciu-moi! Ciu-moi! Tunggu...!"
Liu Wan berseru memanggil. Tapi Ciu In tak ambil peduli lagi. Gadis cantik itu tetap berlari terus, sehingga Liu Wan menjadi khawatir juga akhirnya. Pemuda itu cepat mengejar.
"Tunggu Ciu-moi! Apakah kau tidak jadi menolong Adikmu?"
Pemuda itu berseru.
"Biar, aku akan menolongnya sendiri."
Ciu In menjawab ketus, tanpa mengendorkan langkahnya.
"Bagaimana engkau akan menolong adikmu? Akan menerobos penjagaan mereka? Atau kau akan nekad mendobraknya dari pintu depan? Ingat, Ciu-moi! Jangan gegabah! Sekali kau gagal, kau takkan dapat menemukan adikmu lagi!"
Liu Wan memperingatkan.
Sejenak Ciu In masih tetap berlari.
Namun sesaat kemudian gadis itu sekonyong-konyong berhenti.
Sambil menutupi mukanya gadis itu tersedu-sedu.
Tampaknya ucapan Liu Wan tadi amat mengena di hatinya.
Dengan hati-hati Liu Wan mendekati.
Disentuhnya pundak Ciu In dengan halus, tapi gadis itu cepat menghindarinya.
Tapi Liu Wan tidak berputus asa.
Sekali lagi diraihnya pundak Ciu In sambil tak lupa mulutnya menghibur.
Dan kali ini gadis itu tidak mengelak lagi.
"Maafkanlah aku kalau aku kesalahan omong, Ciu-moi. Aku tak bermaksud menggoda atau mengganggumu. Aku hanya mengatakan apa yang ada, yang tadi kebetulan terlintas di dalam hatiku. Aku bukan seorang munafik. Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa aku seorang yang sangat menyenangi keindahan? Dan aku memang tidak bohong atau berpura-pura ketika mengatakan kau sangat cantik bagai bidadari. Engkau memang benar-benar seperti bunga pek-lian (teratai putih) yang mekar segar di pagi hari. Indah, anggun dan mengandung perbawa yang memukau. Nah, Ciu-moi... tidak sadarkah kau akan karunia Thian yang diberikan kepadamu itu? Bukankah setiap hari kau juga melihatnya sendiri di dalam kaca?"
Dengan panjang lebar pemuda yang mahir menyusun sajak itu menghibur Ciu In.
Gadis mana yang tak suka disanjung dan dipuja di dunia ini?
Akhirnya luluh juga hati Tio Ciu In.
Bahkan diam-diam gadis itu merasa bangga juga hatinya.
"Aku tahu, Twako. Tapi kau tak perlu mengatakan semuanya itu kepadaku. Aku malu. Apalagi kau lalu menghubung-hubungkannya dengan suhengku. Aku sama sekali tak mempunyai hubungan apa-apa dengan Sin Lun suheng selain hubungan sebagai saudara seperguruan."
"Baiklah... baiklah, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Aku berjanji takkan mengulanginya lagi. Nah, kau puas Nona Cantik?"
"Itu... Kau sudah mulai lagi!"
Geram Ciu In dengan suara tinggi. Liu Wan terbelalak kaget seperti orang yang terlanjur makan sayur kepanasan.
"Ah, benar... benar. Mulutku ini memang keterlaluan!"
Serunya kemudian sambil menampari sendiri mulutnya yang usil itu. Suaranya plak-plok menggelikan.
"Sudah... sudah kau hentikan tanganmu itu! kau memang lelaki konyol dan menggemaskan!"
Akhirnya tak tahan juga Ciu In melihatnya.
"Sekarang lebih baik kau jelaskan saja rencanamu untuk memasuki Kuil Pek-hok-bio itu!"
Liu Wan mematuhi perintah Tio Ciu In.
Telapak tangannya yang semula menampari pipi dan mulutnya sendiri itu kini ganti mengelus-elusnya.
Ternyata pipi itu telah berubah menjadi merah juga.
Sambil tersenyum malu pemuda itu memandang Ciu In.
Mereka berada di jalan setapak di mana keduanya mulai berjumpa kemarin.
Bahkan tempat di mana mereka sekarang berdiri adalah di bawah pohon di mana Ciu In kemarin menangis.
"Hei, jangan bengong saja! Lekas katakan, bagaimana rencanamu?"
Ciu In menghardik, sehingga Liu Wan tersentak kaget untuk yang kedua kalinya. Pemuda itu benar-benar sedang kesengsem melihat kecantikan Ciu In.
"Gila...!"
Pemuda itu mengumpat di dalam hati.
"Mengapa aku begini pusing melihat kecantikannya? Bukankah aku baru kenal kemarin siang? Bukan main! Gadis ini sungguh memiliki daya tarik yang luar biasa. Aku toh sebenarnya bukan anak dusun yang masih ingusan, yang terkagum-kagum melihat kecantikan gadis kota. Aku sudah terbiasa dikelilingi gadis-gadis cantik. Bahkan kalau mau aku bisa mengambil sebanyak aku suka. Tapi sekali ini benar-benar lain. sungguh luar biasa."
"Hei...? kau ini bagaimana, sih?"
Sekali lagi Ciu In membentak dengan suara yang sangat mendongkol.
"Eh, anu... ya-ya, aku akan menyamar seperti... seperti bidadari! Lhoh!"
Liu Wan yang masih kehilangan semangat itu menjadi gugup sehingga ucapannya jungkir-balik tidak keruan.
Dan pemuda itu menjadi kaget sendiri setelah menyadarinya.
Tio Ciu In tak bisa menahan senyumnya.
Bahkan gadis molek itu akhirnya tak kuasa menahan ketawanya.
Liu Wan memang benar-benar seperti pemuda dusun yang baru pertama kalinya melihat kecantikan gadis kota.
Akhirnya sadar juga pemuda itu dari belenggu keindahan yang memukaunya.
"Maaf, Ciu-moi. Aku mempunyai rencana untuk menyusup ke dalam upacara keagamaan mereka dengan menyamar. Kita berdua berdandan sebagai salah seorang dari penganut aliran mereka."
Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat 3
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 4