Eps 1 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.
Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 01
"Aat-tat-tat-taaaaar! Taaar! Taaar!"
"Taaaaaar...!"
"Aha... selamat Tahun Baru! Selamat Tahun Baru! Selamat...!"
"Kiong-hi! Kiong-hi...! Selamat Tahun Baru! Kiong-hi...!"
"Taaaar! Taaaaaar! Rat-tat-tat-tat-taaaaaa!"
"Taaaaaaaar...!"
Hari itu adalah permulaan bulan ke satu, tahun 180 Sebelum Masehi, yaitu lima belas tahun setelah Kaisar Liu Pang wafat.
Lima belas tahun memang bukanlah waktu yang pendek, hingga tidak mengherankan bila semua orang seakan telah melupakan kaisar mereka yang bijaksana itu.
Bahkan rasanya semua orang juga sudah tidak peduli pula, bahwa selama itu kursi singgasana masih tetap kosong dan belum ada yang mendudukinya.
Putera Mahkota, Pangeran Liu yang kun, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Kaisar Liu Pang, ternyata justru menghilang dari tempat tinggalnya begitu upacara pemakaman ayahnya selesai.
Bahkan Putera Mahkota yang dicintai rakyat itu tetap tidak muncul takkala beberapa hari kemudian Istana pribadinya musnah dimakan api beserta seluruh isi keluarganya.
Untunglah Permaisuri Li, isteri Kaisar Liu Pang merupakan ibu tiri dari Pangeran Liu yang kun, segera maju ke depan untuk mengambil alih roda pemerintahan untuk sementara.
Permaisuri yang masih berusia muda itu berjanji untuk mewakili sebelum Pangeran Liu yang kun diketemukan.
Akan tetapi setelah bertahun-tahun kemudian ternyata pangeran itu belum juga diketemukan, terpaksa Permaisuri Li mencalonkan puteranya sendiri, Pangeran Liu Wan Ti yang masih kecil, sebagai calon pengganti kaisar yang baru.
Demikianlah, selama lima belas tahun itu ternyata Permaisuri Li benar-benar telah membuktikan kecakapannya sebagai pemangku kekuasaan.
Dia pandai sekali mengatur roda pemerintahan dan dia juga cerdik pula memilih para pembantunya.
Suara rakyat dan kepentingan umum selalu dia perhatikan dengan seksama, sehingga lambat-laun orangpun menjadi suka dan simpati kepadanya.
Apalagi ia bersama para pembantunya benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk memajukan dan memakmurkan negerinya.
Keamanan negara serta kesejahteraan rakyatpun diupayakan pula dengan sebaik-baiknya.
Bala tentara ditambah dan diperkuat, sementara sepanjang Tembok Besar yang menjadi penangkal serangan dari suku bangsa liar itu selalu dijaga dan diawasi.
Maka sudah selayaknyalah bila sejalan dengan berkembangnya rasa aman serta meningkatnya kesejahteraan rakyat tersebut, orangpun lantas mulai melupakan Kaisar Liu Pang dan Pangeran Liu yang kun.
Orang mulai berlumba untuk menikmati kegembiraan dalam suasana aman dan damai itu.
Mereka seolah-olah ingin mengambil kembali kebebasan mereka, yang selama pemerintahan Kaisar Liu Pang terkurung akibat peperangan yang berkepanjangan dengan suku-suku bangsa liar di luar Tembok Besar.
Demikian pula dengan Perayaan Menyongsong Tahun Baru kali ini.
Warga kota Hang-ciu, sebuah kota besar di pantai timur Propinsi Cse-kiang, menyambut kedatangan Tahun Baru ini dengan sangat meriah pula.
Hampir semua toko dan rumah yang berada di pinggir jalan menghias diri sebaik-baiknya.
Segala macam hiasan kertas dan umbul-umbul.
Serta lampu ting yang bercorak warna-warni, mereka pasang di depan bangunan masing-masing.
Sementara di perempatan jalan besar, di pasar-pasar, maupun di tempat-tempat ramai didirikan panggung-panggung pertunjukan guna menghibur penduduk di sekitarnya.
Dan panggung-panggung itu juga dibuat dan dihias pula semeriah-meriahnya, seakan-akan ingin bersaing dan tak mau kalah dengan panggung yang dibuat di halaman kabupaten.
"Selamat Tahun Baru! Kiong-hi! Semoga panjang umur dan murah rejeki!"
"Selamat...! Kiong-hi! Terima kasih! Terima kasih...!"
Setiap orang, tua muda, anak-anak, laki-perempuan, dengan wajah berseri serta gelak dan tawa, saling memberi salam dan puja-puji setiap kali berjumpa.
Mereka berbondong-bondong keluar rumah.
Masing-masing seolah-olah telah menentukan acaranya sendiri-sendiri.
Ada yang saling mengunjungi sanak kerabatnya.
Ada yang pergi ke tempat-tempat pertunjukan untuk melihat hiburan gratis.
Akan tetapi sekali ini semua orang seperti ditumpahkan ke halaman kabupaten yang luas itu.
Selain ada tiga buah panggung di sana, kali ini juga akan di adakan sebuah acara baru.
Sebuah acara perlombaan yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan di seluruh negeri, yaitu "Perlombaan Mengangkat Arca".
Perlombaan yang dilaksanakan di setiap halaman kabupaten di seluruh Tiongkok itu dimaksudkan untuk mencari pemuda-pemuda yang cocok sebagai calon prajurit pengawal Istana.
Suara musik dan tambur yang kemudian menggema di halaman Kabupaten Hang-ciu itu semakin menyemarakkan suasana.
Apalagi para pejabat tinggi di kota itu telah lengkap pula di tempat duduk yang disediakan.
Para penontonpun segera mencari tempat-tempat duduk yang strategis untuk menyaksikan acara-acara yang akan dipergelarkan.
Sementara itu di luar halaman, dua orang petani yang juga ingin menonton "Perlombaan Mengangkat Arca", masih asyik duduk di sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Mereka mengobrol sambil minum arak.
Sesekali mereka melayangkan pandangannya ke arah penonton yang berduyun-duyun memasuki halaman kabupaten.
"Perayaan Tahun Baru kali ini kelihatan lebih meriah dibandingkan tahun, kemarin, A Tung."
Salah seorang di antara mereka yang bertubuh pendek berkulit kuning berkata kepada temannya yang lebih jangkung dan berkulit gelap.
"Benar. Dulu memang tidak semeriah ini. Mungkin karena sekarang ada "Perlombaan Mengangkat Arca", sehingga orang-orang dari kampungpun datang ke sini untuk menyaksikannya. Eh, apakah engkau juga berniat untuk mengikuti perlombaan itu, Lok Ma?"
Petani berkulit gelap itu memandang kawannya dengan senyum menggoda.
"Ah, kau! Bukankah perlombaan itu hanya diperuntukkan bagi remaja berusia enam belas sampai tujuh belas tahun saja? Huh! kau memang selalu menggoda dan mengolok-olok aku!"
Petani bertubuh pendek itu bersungut-sungut.
"Hehehe-hehehe... siapa tahu engkau masih merasa muda belia seperti mereka?"
A Tung cepat-cepat menambahkan.
"Huh, kau ini... Memang menyebalkan!"
Sungut Lok Ma dengan wajah masam.
"Eit, sabar dulu! Jangan mudah tersinggung! Aku cuma bergurau! Masakan kau yang sudah memiliki uban di sana-sini benar-benar mau ikut perlombaan?"
"Habis... sedari tadi kau selalu mengolok-olok aku terus, sih! kau selalu mengatakan aku seperti keledai, seperti katak raksasa dan lain-lain! kau juga selalu mengejekku sebagai babi yang rakus kalau makan! Dan kau juga selalu mengolok-olok aku sebagai suami yang takut bini! Huh, bagaimana aku tidak menjadi sebal kepadamu?"
A Tung tiba-tiba tertawa, namun ditahannya.
"Lok Ma... Lok Ma! Bagaimana aku tidak menyebutmu sebagai keledai kalau setiap saat penampilanmu seperti orang tolol dan malas begini? Sudah kelihatan bodoh dan malas, perutmu buncit lagi akibat banyak makan! Persis seperti katak atau babi yang rakus, he-he-he! Dan lebih celaka lagi... ternyata kau sangat takut kepada binimu!"
"Nah, kau mulai mengejek lagi! Baik! Aku akan pergi saja kalau begitu! Kita menonton sendiri-sendiri!"
Lok Ma benar-benar menjadi marah. Cepat dia bangkit dari kursinya. Akan tetapi dengan tangkas A Tung menyambar lengannya.
"Eeeeee... tunggu sebentar! Maafkanlah aku! Aku benar-benar hanya berkelakar kepadamu. Marilah duduk dahulu! Kita makan minum sepuasnya di sini sebelum menonton pertunjukan. Aku akan memesan ikan mas goreng serta arak wangi kesukaanmu. Aku yang membayarnya. Mau, bukan?"
Tanpa menanti jawaban lagi A Tung menyeret sahabatnya kembali ke kursinya.
Dan Lok Mapun juga tidak menolak pula.
Apalagi mendengar A Tung hendak mentraktir ikan mas goreng kegemarannya.
Sambil masih berpura-pura marah petani bertubuh pendek dan gemuk itu memelototkan matanya.
"Baik! Tapi aku akan segera angkat kaki kalau kau mengolok-olokku lagi!"
"Ya-ya-ya... percayalah, aku tidak akan menyebutmu keledai, katak, ataupun babi lagi! Kalau nanti aku kesalahan omong dan menyebutmu keledai, katak atau babi, kau boleh memukulku. Tapi sebaliknya kalau aku benar-benar dapat memenuhi janjiku ini dan tak sepatah katapun keluar kata-kata keledai, katak, atau..."
"Cukup!"
Lok Ma tiba-tiba berseru, lalu bangkit meninggalkan kursinya.
"Eeeeeeee, Lok Ma... tunggu!"
A Tung cepat mengejarnya. Namun Lok Ma tidak peduli. Ia melangkah dengan cepat menghampiri pelayan yang sedang memberesi dan membersihkan sisa makanan di atas meja.
"Hei, pelayan...!"
Panggilnya keras-keras. Pelayan yang ternyata masih bocah itu cepat berpaling, lalu meletakkan kembali piring-piring kotor yang dibawanya.
"Jiwi memanggil saya?"
Jawabnya sopan seraya memandang Lok Ma dan A Tung yang telah berdiri di belakangnya. Tiba-tiba mata Lok Ma terbelalak. Begitu pula A Tung.
"Kau...?"
Keduanya berseru lirih, seolah-olah tak percaya. Sebaliknya pelayan muda itu menjadi bingung melihat kedua tamunya seperti sudah kenal akan dirinya, padahal ia sendiri sama sekali tak mengenal mereka.
"A Tung...! Bukankah anak muda ini yang menolong anakku dari cengkeraman serigala liar itu?"
Lok Ma berseru kepada A Tung, lupa akan kemarahannya.
"Tak salah lagi! Memang dialah yang menolong anakmu dari terkaman serigala hutan tiga hari yang lalu. Aku tak akan melupakan wajahnya!"
A Tung menyahut dengan gembira pula melihat sahabatnya tidak jadi marah.
Tiga hari yang lalu memang terjadi keributan di kampung Lok Ma.
Kampung sepi di pinggir hutan itu tiba-tiba diterjang kawanan serigala liar.
Untunglah semua lelaki di kampung itu masih berada di rumah masing-masing, sehingga beramai-ramai mereka bisa mengusir kawanan serigala buas itu.
Namun demikian seekor serigala masih juga sempat menerkam anak Lok Ma yang masih kecil.
Untung datang seorang anak muda asing yang kebetulan lewat di tepi hutan itu.
Dengan berani anak muda asing itu merebut anak Lok Ma dari cengkeraman serigala buas tersebut.
"Selamat bertemu lagi, saudara Kecil. Wah, sungguh gembira sekali bisa bertemu denganmu. Aku benar-benar berterima kasih sekali kau telah menyelamatkan anakku dari kematian. Oh... apakah warung ini warung ayahmu?"
Lok Ma dengan riang menyalami pelayan muda itu.
"Oh-eh..."
Pelayan itu menjadi gugup dan tersipu-sipu.
"Saya... saya bukan pemilik warung ini. Saya... cuma pelayan."
A Tung melangkah dengan cepat ke muka. Tangannya mencengkeram lengan pelayan muda itu.
"Nah, engkau hendak berbohong lagi! Kemarin kau mengaku sebagai anak gelandangan yang tak punya sanak saudara dan tempat tinggal. Kini kau mengaku sebagai pelayan warung ini. Eh, saudara Kecil! Siapa sebenarnya kau ini?"
Serunya penasaran.
"Benar."
Lok Ma cepat menyambung perkataan sahabatnya.
"Siapa sesungguhnya saudara ini? Kami tak percaya pada ceritamu tentang anak gelandangan itu."
Pelayan muda itu semakin menjadi gugup dan bingung. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan tamu-tamunya itu. Untunglah suara panggilan majikannya menolong dia dari kesulitannya.
"A Liong, kemari...!"
"Maaf, Tuan... Majikanku memanggil."
Ucapnya terburu-buru, lalu bergegas meninggalkan tamunya.
"Wah!"
Lok Ma dan A Tung menggerutu kecewa.
"Sebenarnya aku ingin tahu, siapa dia itu sesungguhnya! Aku yakin dia telah menyembunyikan keadaannya."
Lok Ma terus saja bersungut-sungut.
"Ya, aku juga. Melihat penampilannya, tak mungkin dia seorang gelandangan. Dia lebih pantas menjadi anak bangsawan atau anak orang kaya. Badannya kokoh kekar. Wajahnya tampan. Pakaiannya bersih dan rapi..."
"Benar. Bahkan kami berani bertaruh, dia akan menjadi rebutan gadis-gadis di kemudian hari."
Lok Ma semakin bersemangat. A Tung mendadak tertawa. Timbul kembali sifatnya yang riang dan suka menggoda.
"Gadis-gadis gelandangan, maksudmu...?"
Oloknya jenaka.
"Nah, kau sudah mulai lagi...!"
Geram Lok Ma bagai diingatkan kembali akan kemarahannya tadi.
Namun tiba-tiba mereka terdiam.
Dua orang penunggang kuda berhenti di depan warung itu.
Dan A Liong yang baru saja dipanggil majikannya tadi tampak berlari keluar menyongsong mereka.
"Silahkan masuk, Tuan! Masih banyak tempat kosong di dalam..."
Anak muda itu mempersilakan tamunya sambil menerima tali kekang kuda dari mereka.
Tamu-tamu baru itu lalu melangkah ke dalam warung.
Mereka adalah pria-pria yang gagah, apalagi dengan pedang panjang di pinggang mereka.
Usia merekapun belum begitu tua.
Kira-kira sekitar empat puluhan tahun.
Cuma yang satu agak kelihatan lebih matang daripada yang lain dengan gumpalan uban di atas telinganya.
Dan secara kebetulan mereka duduk di dekat meja Lok Ma dan A Tung tadi.
"Jiwi ingin memesan apa?"
A Liong yang sudah selesai menambatkan kuda-kudanya itu cepat menanyakan keinginan tamu-tamunya.
"Arak putih dan makanan kecil! Tolong pilihkan arak yang paling wangi!"
Salah seorang dari kedua penunggang kuda itu berkata. A Liong yang cekatan itu segera berlari ke belakang.
"Ssstt, A Tung...! Aku seperti pernah melihat wajah orang yang lebih tua itu di Lok Yang. Tapi aku lupa lagi..."
Lok Ma berbisik kepada kawannya.
"Huh, lagakmu! Kapan kau pergi ke Kotaraja yang jauh itu? kau bermimpi barangkali?"
"Wah, kau ini selalu mengolok-olok aku saja. Bukankah aku pernah menjadi tukang gerobag di Kim-liong Piau-kiok (Perusahaan Ekspedisi Naga Emas)?"
Lok Ma merengut kesal.
"Oooh, benar! Benar! He-he-he, maaf... aku ingat sekarang. kau mendapat upah yang besar sekali kala itu, sehingga kau bisa mengawini binimu yang sekarang ini, he-he-he-he!"
Lok Ma tak menanggapi olokan sahabatnya. Dengan serius ia melanjutnya bisikannya tadi.
"Tapi... tapi rasanya orang itu dahulu mengenakan pakaian seragam perwira. Aku ingat benar hal itu, karena barang-barang yang dimuat di dalam gerobagku itu dikirim ke rumah seorang jenderal. Nah, yang menerima barang hantaran tersebut...wajahnya persis orang ini."
"Sudahlah, lebih baik kita duduk kembali menikmati minuman. Kita tak usah mengurusi mereka. Mungkin orang itu memang perwira yang pernah kau lihat itu. Tapi mungkin juga dia adalah orang lain yang wajahnya mirip perwira itu."
Lok Ma seperti tersadar dari kesalahannya.
"Kau benar..."
Katanya perlahan seraya kembali ke mejanya.
"Kita memang tak perlu..."
Tiba-tiba keduanya terdiam kembali.
Tiga orang lelaki menyandang golok melintas di depan warung itu.
Melihat dua ekor kuda yang tertambat di samping warung, salah seorang di antara mereka mendadak terbatuk-batuk.
Dan seperti terbawa oleh ulah mereka itu, tiba-tiba penunggang kuda yang ada di dalam warung juga ikut terbatuk-batuk pula.
"Sssst! Aku juga pernah melihat tiga orang itu, mereka juga teman dari perwira itu..."
Lok Ma berbisik lagi.
"Ah, kau ini! Bukankah kau sudah setuju untuk berdiam diri saja?"
A Tung berdesah kesal, kemudian bangkit untuk memesan makanan dan minuman lagi.
Lok Ma menarik napas panjang.
Matanya tetap tertuju ke luar warung meskipun tiga orang bergolok itu sudah hilang dari pandangannya.
Mereka telah berbaur dengan penonton-penonton yang lain.
Dari luar justru dilihatnya A Liong pelayan muda itu, berlari masuk sambil membawa sesuatu di tangannya.
Anak itu langsung menghampiri meja tamu-tamu baru tadi.
"Maaf, jiwi... seseorang telah menitipkan selembar saputangan ketika aku membeli minyak tadi. Aku diminta untuk menyampaikannya kepada jiwi berdua."
Katanya terengah-engah sambil menyerahkan saputangan putih kepada tamunya. Lelaki yang memiliki uban kedua pelipisnya itu cepat menerima saputangan tersebut.
"Terima kasih, Nak. Siapa namamu?"
"A Liong, Tuan..."
"A Liong saja? Apa nama keluargamu?"
Anak muda itu tertunduk.
"Saya tak tahu nama keluargaku, Tuan. Saya... anak gelandangan yang tak tahu siapa orang tua saya."
Jawabnya kemudian seraya menengadahkan kepalanya kembali.
Suaranya nyaring dan sama sekali tidak bernada sedih atau malu.
Dua orang penunggang kuda itu tertegun, terutama yang memiliki uban di atas telinga.
"Hei! Berapa umurmu sekarang...?"
Tanyanya lagi dengan wajah heran.
"Maaf, Tuan. Saya... saya juga tidak tahu umur saya. Banyak orang menduga, umur saya sekitar sampai 17 tahunan. Entahlah, mungkin memang sekian itu."
"Eh...?!?"
Dua penunggang kuda itu saling memandang dengan heran, namun juga semakin tertarik kepada pelayan warung itu.
Begitu tertariknya mereka pada penuturan A Liong sehingga untuk sesaat mereka telah melupakan saputangan mereka tadi.
"Maaf, saya hendak melayani tamu-tamu yang lain..."
Tiba-tiba A Liong minta diri.
Lelaki beruban itu menghela napas, sementara kawannya dengan cepat menyisipkan sekeping uang tembaga ke tangan A Liong.
Anak muda itu segera berlalu setelah mengucapkan terima kasih.
Beberapa saat lamanya kedua tamu itu memandang kepergian A Liong.
"Lim suheng, sudahlah. Mari kita lihat, apa pesan di dalam saputangan itu. Jangan-jangan ada sesuatu yang penting yang hendak disampaikan kepada kita."
Teman lelaki beruban itu mengingatkan kawan seperjalanannya.
Lelaki beruban yang dipanggil dengan nama Lim suheng itu tersentak dari lamunannya.
Bergegas ia menyambar arak yang telah tersedia di depannya dan menenggaknya habis.
Beberapa tetes arak mengalir membasahi kumis dan jenggotnya, sehingga ia terpaksa mengusapnya dengan saputangan pemberian A Liong tadi.
Semua itu dilakukan oleh lelaki beruban itu dengan wajar, padahal ketika saputangan itu kemudian digelar di atas meja, keadaannya telah basah kuyup seperti baru saja dicelup ke dalam air.
Namun demikian tiba-tiba saja saputangan yang semula kosong bersih itu kini telah penuh dengan tulisan huruf.
"Apa yang ditulis di situ, suheng?"
Lelaki beruban itu menggulung saputangannya kembali.
"Tong Taisu mengingatkan kita agar lebih berhati-hati lagi. Ada pihak luar yang hendak mengacaukan tugas kita. Mereka terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi."
"Siapa mereka...?"
"Tong Taisu belum mengetahuinya. Dia juga sedang mengadakan penyelidikan. Tapi dikatakannya bahwa para pengacau itu telah muncul di dua kota sekaligus, yaitu kota Cin-kiang dan Wuh-si di Propinsi Kiang-su."
"Hei... Kota itu saling berjauhan satu sama lain. Kalau begitu mereka memiliki kekuatan yang besar."
Lelaki beruban itu tidak menjawab. Matanya memandang ke luar warung, di mana banyak orang berduyun-duyun memasuki halaman kabupaten.
"Perlombaan Mengangkat Arca"
Itu belum juga dimulai..."
Katanya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Kawan seperjalanannya ikut melemparkan pandangannya ke luar, ke jalanan.
Dan pada saat yang bersamaan A Liong datang mendekati mereka, pelayan muda itu bertanya kalau-kalau tamunya ingin menambah pesanan lagi.
"Ya, tambahlah araknya sebotol lagi! Eh... a Liong! Mengapa kau tidak ikut "Perlombaan Mengangkat Arca"
Itu? Bukankah usiamu memenuhi syarat?"
Lelaki beruban itu berkata. A Liong tertawa perlahan.
"Percuma, Tuan. Tak mungkin bisa menang. Rata-rata semuanya mempunyai kepandaian silat yang baik. Aku sama sekali tak bisa apa-apa. Memegang senjatapun tak pernah."
"Hei! Itu perlombaan, bukan perkelahian! kau tidak akan disuruh berkelahi dengan siapa-siapa. kau hanya diminta untuk mengangkat sebuah arca."
A Liong sedikit tersipu-sipu.
"Ya, tapi... orang yang pandai silat tentu lebih kuat, Tuan."
Katanya membela diri.
"Nah, di sinilah kekeliruannya. Semua orang rata-rata berpikir seperti itu, padahal hakekat dan tujuan daripada perlombaan ini sesungguhnya tidak demikian. Perlombaan ini dimaksudkan untuk mencari bibit-bibit unggul dari kalangan remaja, untuk nantinya akan dididik sebagai anggota pasukan pengawal Istana. Jadi penilaiannya bukan dititik-beratkan pada kekuatan pesertanya, tapi pada bakat dan cocok tidaknya peserta itu untuk dijadikan sebagai pengawal Istana. Itulah sebabnya Sang Ratu mengirimkan petugas-petugasnya ke tempat-tempat perlombaan di seluruh negeri."
Lelaki beruban itu memberi keterangan dengan suara berapi-api. Tentu saja keterangan itu sangat menarik perhatian A Liong. Pada zaman itu siapa yang tak "Ngiler"
Menjadi perajurit pengawal Istana? Seragamnya yang megah dan indah itu selalu dikagumi oleh setiap orang.
"Nah! Apakah kau tidak berminat untuk mengikutinya, A Liong?"
Kawan dari lelaki beruban itu tiba-tiba bertanya.
"Kalau begitu... saya juga berminat, Tuan. Tapi..."
A Liong berguman ragu sambil menatap ke arah majikannya berada. Lelaki beruban itu dapat menangkap kesulitan yang dihadapi anak muda itu. Oleh karena itu dengan tenang ia berkata.
"Jangan takut! Pergilah mendaftarkan diri ke panggung itu! Biarlah aku yang memintakan ijin kepada majikanmu."
"Ba-baiklah, Tuan. Terima kasih. Saya akan ke sana."
"A Liong...!"
Majikan A Liong tiba-tiba memanggil.
Anak muda itu mengangkat wajahnya, tapi dengan cepat lelaki beruban itu mendorongnya keluar, sehingga ia tak kuasa lagi membantahnya.
A Liong berlari keluar.
Di depan pintu hampir saja ia bertabrakan dengan tiga orang tamu yang baru saja datang.
"Maaf..."
Katanya meminta maaf sambil terus berlari meninggalkan warung itu.
"Hei, mau kemana anak itu?"
Lok Ma berseru kaget.
"Hmm... Mana aku tahu? Ya... paling-paling menggelandang lagi. Bukankah ia sudah mengatakan bahwa ia anak gelandangan?"
A Tung menjawab seenaknya.
"Ah, kau...!"
Lok Ma bersungut-sungut.
Sementara itu majikan A Liong bergegas ke luar dari belakang mejanya.
Tetapi lelaki beruban itu dengan cepat menghadangnya.
Sambil menyisipkan sekeping uang perak, lelaki beruban itu berkata perlahan.
"Biarkan anak itu pergi! Aku telah menyuruhnya pergi mengikuti acara "Perlombaan Mengangkat Arca."
Untuk sementara kau bisa mencari tenaga pembantu lain..."
Pemilik warung itu tertegun mengawasi tamunya, namun perlahan-lahan wajahnya tertunduk kembali.
Sorot mata lelaki beruban itu seolah-olah menikam jantungnya dan melemaskan seluruh sendi-sendi tulangnya.
"Eh-oh, tapi... tapi aku belum memberikan uang gajinya."
Akhirnya dia berkata lirih tanpa berani memandang tamunya.
"Oh... Itu mudah. Uang itu dapat kau berikan nanti setelah perlombaan selesai. Anak itu tentu akan kembali lagi ke sini."
"Ba-baik, Tuan. Kalau begitu... Kalau begitu... akan saya berikan nanti. Sekarang... Maafkanlah saya, saya hendak menyambut tamuku itu dahulu."
Pemilik Warung itu membungkukkan tubuhnya, kemudian bergegas menyongsong tiga orang tamu yang hampir bertabrakan dengan A Liong tadi.
Lelaki beruban itu duduk kembali di kursinya.
Matanya melirik ke arah tamu-tamu yang baru datang.
Seorang pemuda dan dua orang gadis.
Wajah-wajah mereka sungguh menarik, terutama kedua gadis itu.
Mereka benar-benar amat cantik.
si Pemuda berusia sekitar dua puluh tahun, bertubuh jangkung, mengenakan baju dan celana berwarna kelabu.
Gadis yang pertama berusia kira-kira sembilan belas tahun, berperawakan tinggi langsing, mengenakan baju berwarna kuning-kuning.
Gadis yang ke dua kelihatan lebih muda lagi.
Kemungkinan baru berumur enam belas atau tujuh belas tahun.
Dan sesuai dengan sikapnya yang lincah dan ceria, ia mengenakan baju berwarna merah muda.
Ketiga-tiganya tidak kelihatan membawa senjata.
Namun demikian ditilik dari sikap dan cara mereka berpakaian dapat diduga bahwa mereka bertiga juga terdiri dari orang-orang rimba persilatan pula.
Dugaan tersebut memang tidak salah.
Begitu mendapatkan tempat duduk pemuda itu segera mengambil sikap waspada.
Berkali-kali matanya yang sedikit cekung itu melirik ke sekelilingnya.
Bahkan pada waktu menyantap makanan dan minumanpun ia selalu mengamati keadaan di sekitarnya.
Dan entah mengapa, setiap kali pula pandangannya selalu berhenti pada lelaki beruban itu.
"Sumoi berhati-hatilah...! Tampaknya di tempat ini banyak orang yang pantas dicurigai."
Akhirnya pemuda itu berbisik perlahan kepada dua orang teman gadisnya.
"Ya, kami tahu..."
Kedua gadis itu menjawab perlahan pula.
"Sungguh mengherankan. Rasa-rasanya kota ini seperti dengan tiba-tiba dipenuhi oleh orang-orang dari rimba persilatan. Di mana-mana kita hampir selalu bertemu dengan mereka."
Pemuda itu berdesah lagi.
Kedua gadis itu menatap wajah suhengnya, namun mereka tidak berkata apa-apa.
Mereka lalu kembali menyantap makanannya.
Baru beberapa saat kemudian gadis yang berbaju merah muda itu menggamit lengan suhengnya.
"Twa-suheng...? Aku... aku ingin bertanya kepadamu, tapi...?"
Pemuda yang dipanggil Twa-suheng itu memandang adik seperguruannya.
"Tapi apa...?"
Serunya perlahan.
"Tapi Twa-suheng jangan marah kepadaku! Mau?"
Gadis itu cemberut sambil melirik manja. Pemuda itu tersenyum melihat tingkah adik seperguruannya yang masih kekanak-kanakan itu, kepalanya mengangguk.
"Cici...? kau juga jangan marah, ya?"
Gadis itu merasa lega, tapi masih juga bertanya kepada gadis yang mengenakan baju kuning. Tapi gadis berbaju kuning yang ternyata juga kakak kandungnya sendiri itu cepat mencibirkan bibirnya.
"Huh... tak ada gunanya marah kepadamu. Salah-salah justru hati sendiri yang menjadi kesal. Kapan kau pernah mendengarkan kemarahan orang? Sedangkan suhu sendiri saja kewalahan menghadapimu, apalagi cuma kami berdua. Ayoh, lekas kau katakan apa yang hendak kau tanyakan!"
Gadis centil itu tertawa kecil sambil meremas lengan kakaknya.
"Ah, aku cuma ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian berdua... percaya pada ramalan Lojin-Ong?"
Seketika wajah dua saudara seperguruan itu menjadi pucat. Dengan bibir sedikit gemetar gadis berbaju kuning itu membentak lirih.
"Siau In! Bicara apa kau ini? Tutup mulutmu!"
Namun si Pemuda cepat meraih pundak gadis berbaju kuning.
"Ciu In Sumoi, jangan kau bentak dia! Bukankah kita telah berjanji untuk tidak memarahinya?"
"Tapi pertanyaan itu sangat lancang, Sin Lun suheng! Lojin-Ong adalah sesepuh (tetua) yang sangat dihormati di dalam aliran agama kita."
Gadis yang berbaju kuning, yang ternyata Ciu In itu, bersungut-sungut marah.
"Bukankah aku tadi sudah bilang, bahwa... bahwa kalian tidak boleh marah?"
Gadis berbaju merah yang bernama Siau In itu merajuk.
"Ya... ya, Cicimu memang tidak marah. Dia hanya kaget saja mendengar pertanyaan tadi."
Sin Lun menengahi.
Mereka bertiga lalu berdiam diri.
Masing-masing kembali menyantap makanannya.
Namun demikian Siau In masih tampak penasaran karena pertanyaannya tadi belum dijawab.
Berkali-kali ia melirik ke arah cicinya dan suhengnya, sehingga dua orang itu menjadi risih melihatnya.
"Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu tadi."
Akhirnya Sin Lun berkata.
"Nah... begitu!"
Siau In hampir bersorak. Dan tak lupa jari-jarinya yang lentik itu mencubit pinggang kakaknya, sehingga Ciu In menjerit kecil seraya menampar tangannya.
"Gila, kau...!"
Sin Lun memandang kedua adik seperguruannya itu dengan senyum lebar.
Tak terasa hatinya memperbandingkan keduanya.
Mereka sama-sama cantik dan pintar.
Kepandaian silat merekapun juga tidak berselisih banyak pula.
Hanya sifat dan pembawaan diri mereka sajalah yang berbeda.
Ciu In berperasaan halus dan pendiam.
Tutur katanya selalu lembut dan berhati-hati.
Tapi sebaliknya, Siau In berwatak polos dan terbuka.
Kalau berbicara ceplas-ceplos seenaknya sendiri.
Suka bergurau dan menggoda orang, terutama terhadap orang-orang yang telah dekat dengan dirinya.
Namun demikian mereka berdua sangat rukun dan saling mengasihi satu sama lain.
"Lho! Kenapa terus diam lagi? Bagaimana pendapat Twa-suheng? Apakah Twa-suheng percaya seratus persen ramalan beliau itu?"
"Sssst, jangan keras-keras! Nanti didengar orang!"
Sin Lun pura-pura marah untuk menutupi rasa kagetnya.
"Habis Twa-suheng melamun saja. Masakan sudah duduk berendeng sambil berpegangan tangan dengan Cici begitu masih juga melamun terus? Apakah Twa-suheng ingin lekas-lekas kawin dengan Cici barangkali?"
Siau In malah menggoda sambil meleletkan lidahnya. Wajah Ciu In seketika menjadi merah padam.
"Siapa yang saling berpegangan tangan, heh? Ngaco!"
Desahnya serak. Kebetulan lengannya memang berjejer dan saling bersentuhan dengan lengan Sin Lun, sehingga otomatis lengan itu ditariknya dengan cepat.
"Wah-wah, kalian berdua ini kalau berkumpul selalu bertengkar saja...!"
Sin Lun yang menjadi merah pula mukanya itu bersungut-sungut.
"Hi-hi-hi, baiklah... baiklah, aku mengaku salah. Aku memang suka berkelakar maafkan aku, ya... cici? Mau... ya? Jangan marah, dong...!"
Melihat wajah kakaknya menjadi merah padam seperti itu Siau In menjadi takut juga, dengan cepat tangannya merangkul pinggang Ciu In dan menggelendot manja.
Gadis berwajah lembut itu tak jadi marah, sambil melepaskan rangkulan tangan adiknya ia melengos.
"Huh!"
Dengusnya pendek. Tapi Siau In sudah bisa membaca watak kakaknya, Ciu In tidak jadi marah kepadanya. Oleh karena itu secepat kilat ia mencium pipi kakaknya.
"Terima kasih, Ciciku yang baik."
Katanya renyah.
Mereka memang saling bergurau dan bercanda.
Namun karena hal itu mereka lakukan dengan wajar dan tidak menyolok mata, maka para tamu lainpun juga tidak ada yang memperhatikan mereka.
Kalaupun orang banyak yang melirik ke arah mereka, hal itu disebabkan karena kecantikan Ciu In dan Siau In.
"Siau-sumoi, aku... aku sebenarnya juga sangsi akan kebenaran ramalan Lojin-Ong kali ini. Aku tak yakin kalau orang dari luar Im-yang-kauw, yang belum keruan darma baktinya, kesetiaan dan pengabdiannya, justru diramalkan akan menjadi tokoh pemersatu dari agama kita. Apalagi beliau meramalkan orang itu akan membawa Aliran Im-yang-kauw pada kejayaannya."
Setelah berdiam diri beberapa saat lamanya Sin Lun lalu mengutarakan pendapatnya.
"Nah! Cocok! Sama dengan pendapatku!"
Siau In berseru lirih. Wajahnya tampak puas dan lega.
"Aku juga tidak percaya pada ramalan itu. Bagaimana mungkin orang yang belum pernah dikenal dan bukan orang dari kalangan kita sendiri, malah akan membawa kejayaan pada aliran Im-yang-kauw? Bukankah itu hanya mengada-ada? Siapa tahu Lojin-Ong hanya menguji... eh, menguji kesetiaan kita? Huh, mungkin orang yang disebutkan dalam ramalannya itu sebenarnya tidak ada."
"Siau In...!"
Ciu In membentak lirih.
"Ah, Cici...!"
Siau In bersungut-sungut.
"Masakan Cici tidak bisa merasakan keganjilannya? Ganjil dan mustahil! Bagaimana mungkin kita dapat mencari orang yang belum pernah kita kenal dan kita lihat di daratan Tiongkok yang maha luas ini? Mungkinkah...?"
"Hush! Bukankah Lojin-Ong telah memberi petunjuk bahwa orang yang beliau maksudkan itu mempunyai "tato"
Gambar naga di tubuhnya?"
Siau In memonyongkan mulutnya.
"Ah, Cici! Alangkah banyaknya laki-laki yang suka menggoresi tubuhnya dengan gambar naga di dunia ini. Kalau mau, Twa-suhengpun bisa melakukannya sekarang juga!"
Ucapnya sengit.
"Ah, kau! Tentu saja bukan begitu yang dimaksudkan Lojin-Ong."
Ciu In mencubit gemas pinggang adiknya.
"Kau ini seperti bukan anggota aliran Im-yang-kauw saja, yang belum pernah mengenal siapa Lojin-Ong itu? Sedangkan orang lain saja mengagumi kesaktian dan kemampuannya dalam ilmu meramal, mengapa justru engkau sendiri tidak?"
"Tapi...?"
"Siau In! Lojin-Ong memberikan ciri-ciri orang yang ia ramalkan itu hanya untuk memudahkan kita semua mencarinya. Jadi tidak berarti orang yang mempunyai tato naga itu mesti orang yang kita maksudkan. Waktulah yang nanti akan menunjukkan, siapa di antara orang-orang bertato naga itu yang benar-benar orang yang dimaksudkan oleh ramalan Lojin-Ong itu. Apalagi Lojin-Ong juga sudah memberi batasan daerah mana yang kira-kira akan menjadi tempat munculnya "Manusia pilihan"
Itu, yaitu di sepanjang muara Sungai Yang-tse ini. Nah, bukankah kita tidak perlu mencarinya ke seluruh Tiongkok?"
Siau In menghela napas panjang. Hatinya yang kesal agak lebih surut mendengar ucapan kakaknya.
"Tapi bagaimana caranya mencari orang itu? Apakah setiap berjumpa dengan orang yang kita curigai, kita lalu harus membelejeti pakaiannya agar bisa kita periksa gambar naganya?"
Ciu In cepat mendorong pundak Siau In dengan gemas.
"Ih, pikiranmu selalu yang kotor-kotor saja! Sudahlah! Ayoh, suheng! Kita menonton pertunjukan di dalam. Tak ada gunanya berbicara dengan Siau In. Lama-lama bisa dongkol kita dibuatnya. Mendingan menonton "Perlombaan Mengangkat Arca", siapa tahu kita bisa... Kita bisa..."
"Siapa tahu Cici bisa membelejeti pakaian orang di sana nanti!"
"Kurang ajar! Mulutmu memang..."
Cui In mengangkat tangannya hendak memukul adiknya yang bermulut tajam itu, namun dengan cepat Sin Lun mencegahnya.
Pemuda itu segera memanggil pelayan dan membayar makanan mereka, kemudian menarik lengan adik-adiknya ke luar.
Sian In cepat berlari mendahului mereka, takut akan cubitan kakaknya.
Sementara itu lelaki beruban tadi juga beranjak dari tempat duduknya.
Sambil meletakkan uang perak di atas meja, ia memberi tanda kepada pemilik warung, lalu keluar bersama temannya.
"Kutitipkan kudaku di sini. Nanti aku akan kembali..."
Pesannya kepada pemilik warung.
Tampaknya pertunjukkan yang diadakan di halaman kabupaten itu memang telah mulai memanas.
Terutama di bagian tengah dan barat halaman, di mana panggung untuk permainan barongsai dan panggung lui-tai didirikan.
Tepuk tangan, sorak-sorai dan jeritan penonton, seakan-akan saling bersaing untuk memanaskan panggung masing-masing.
Di atas panggung pertunjukan barongsai ternyata sudah mulai menginjak acara pertandingan.
Dari delapan grup barongsai yang ikut, dua di antaranya di nyatakan kurang memenuhi syarat dalam pertandingan babak pertama, sehingga kini tinggal enam grup lagi yang tersisa.
Dan keenam grup tersebut akan segera diadu pada babak kedua.
Di lain pihak di atas panggung lui-tai telah diselesaikan pula pertandingan "Memainkan jurus indah."
Bahkan para pemenangnya telah diminta untuk tampil di atas panggung untuk menerima hadiah dan piala.
Mereka masih muda-muda.
Dengan piala dan hadiah di tangan mereka menyambut sorak-sorai penonton.
Pemegang pertama, seorang pemuda yang bertubuh pendek gempal, bahkan menyambut satu-persatu uluran tangan para penonton di bawah panggung.
Banyak yang merasa kagum kepadanya.
Badannya yang pendek dengan otot yang bergumpal-gumpal seperti sapi aduan itu ternyata tidak menghalangi keluwesannya dalam memainkan jurus-jurusnya yang indah.
Tapi ketika tangannya menyambut uluran tangan seorang penonton yang berdiri lengket di pojok panggung, tiba-tiba tubuhnya terseret ke depan, kemudian terlempar tinggi ke udara!
Demikian kuat dan kerasnya tenaga penonton yang melemparkannya itu sehingga hadiah dan pialanya terlepas dari kepitan lengannya!
Semua orang seperti terpaku diam di tempat masing-masing.
Apalagi ketika orang yang melemparkan si Juara tadi tiba-tiba melesat ke atas pula dengan tangkasnya.
Bagaikan burung elang tangannya menyambar pinggang si Juara, sekalian dengan piala dan hadiahnya.
Selanjutnya dengan gerakan yang indah dan ringan kakinya mendarat di atas panggung.
Sama sekali tak menimbulkan suara atau goncangan pada lantai panggung yang terbuat dari kayu itu.
Meledaklah suara tepuk tangan, membahana bagaikan mau meruntuhkan bangunan gedung kabupaten yang besar dan megah.
Dan Selanjutnya dengan senyum di kulum orang itu membungkuk ke arah si Juara yang telah dia letakkan kembali di atas panggung.
Dengan senyum menggoda orang itu menyerahkan kembali piala dan hadiahnya.
Wajahnya yang tampan dan masih muda itu sama sekali tidak mencerminkan perasaan bersalah terhadap lawannya.
"Bangsat kurang ajar...!"
Dengan wajah merah padam si Juara itu mengumpat.
Tanpa mempedulikan lagi piala dan hadiah yang dipegang lawannya si Pemuda gempal itu menyerang.
Kaki kirinya terayun ke depan dalam jurus Mengayun Tangkai Pancing di Atas Ombak dan yang dituju adalah kepala.
Tenaganya amat kuat hingga menimbulkan suara angin menderu-deru.
"Whuuuuuuuush! Whuuuuuuuuush!"
Akan tetapi dengan gesit lawannya yang memiliki bentuk tubuh tangan bertolak belakang dengan dirinya itu menghindarkan diri.
Tubuh yang panjang kurus itu ditekuk ke belakang, dalam jurus Tiat pan-kio atau Jembatan Besi, sehingga tendangan ujung sepatu itu menemui tempat kosong.
Selanjutnya dengan gerakan yang semakin mempesonakan pemuda sakti itu berjumpalitan ke belakang dua kali dalam jurus Trenggiling Turun Gunung.
Pada gerakan yang terakhir kedua kakinya mendarat persis di bibir panggung, namun demikian tubuhnya yang jangkung itu sama sekali tak bergoyang, apalagi terpeleset jatuh.
Padahal hanya ujung sepatunya saja yang melekat di atas panggung.
Sekali lagi penonton bertepuk tangan dan bersorak-sorai!
Bahkan kali ini disertai seruan-seruan kagum!
"Bagus!
Lincah benar anak itu!"
"Ya, hebat sekali gerakannya! Tapi sayang sekali, mengapa ia tak ikut dalam perlombaan ini?"
"Gila...! Kakinya bertengger di ujung kayu seperti burung saja!"
Dan penonton di panggung lui-tai itupun menjadi semakin bergairah pula.
Mereka menduga kedua jago di atas panggung itu tentu akan segera berlaga.
Beberapa orang penonton berteriak-teriak memanasi si Juara yang berbadan gempal, agar segera menghajar si Pemuda kurus.
Tapi penonton segera menjadi kecewa ketika belasan prajurit pengawal berloncatan ke atas panggung dan mengepung pemuda kurus itu.
Dengan garang salah seorang prajurit maju ke depan.
Tombaknya merunduk, siap untuk menembus dada si Pemuda kurus.
"Kembalikan piala dan hadiah itu!"
Hardiknya keras.
"Biarkan dia menghadapi aku! Akan kucincang tubuhnya dengan kepalanku ini!"
Tiba-tiba pemuda gempal itu menyibakkan kepungan dan berteriak marah.
"Tahan...!"
Prajurit yang garang tadi membentak.
"Kalian tidak boleh berkelahi! Belum tiba saatnya"
"Pertandingan Bebas diadakan! Tunggulah sebentar lagi! Sekarang kalian berdua kembali ke tempat masing-masing! Dan... Kau, Anak muda! Kembalikan piala itu kepada yang berhak, atau... Kau akan kami tangkap sebagai pengacau!"
Pemuda kurus itu menggeram.
Matanya berubah menjadi liar.
Tampaknya ia tersinggung diperlakukan demikian.
Namun ketika kakinya hendak melangkah ke depan, tiba-tiba ia berpaling ke belakang, ke arah penonton yang ada di bawah panggung, seperti ada orang yang memanggilnya.
Aneh.
Mata yang liar itu tiba-tiba meredup kembali.
Bahkan sekejap kemudian dengan langkah gontai pemuda itu mengangsurkan hadiah dan piala yang dipegangnya ke depan, ke arah prajurit yang membentaknya tadi.
Setelah itu dengan tenang dan tak berkata sepatah katapun ia melompat turun, kemudian menyelinap pergi di antara penonton.
"Tahan dia! Jangan boleh pergi dahulu!"
Seorang penonton yang berdiri tidak jauh dari panggung itu berbisik kepada temannya.
"Baik, suheng!"
"Berhati-hatilah...!"
Pemuda itu tampaknya menyimpan ilmu yang sulit diduga."
Orang itu yang tidak lain adalah lelaki beruban di warung tadi memperingatkan pula. Sementara itu dari tempat yang agak jauh Sin Lun dan kedua sumoinya juga menyaksikan keributan tersebut.
"Bukan main! Berani benar pemuda itu memamerkan kepandaiannya di tempat seperti ini. Apakah ia tidak memikirkan jago-jago silat yang tentu bertebaran di sekeliling panggung?"
Sin Lun berdesah dengan nada sedikit geram.
"Tapi ginkangnya memang hebat, suheng. Kita bertiga mungkin belum bisa menandinginya..."
Ciu In menyahut perlahan.
"Huh, siapa bilang...? Aku berani diadu melawan dia! Belum tentu ia mampu menghadapi ginkang aliran..."
Siau In menyela dengan suara penasaran.
"Siau In!"
Ciu In buru-buru memotong perkataan adiknya.
"Jangan takabur! Ingat pesan Suhu..."
Wajah yang cantik dan bersemangat itu tiba-tiba berubah menjadi cemberut.
"Ya-ya, deh... aku salah!"
Sungutnya kesal. Demikianlah, keributan kecil itu akhirnya mereda juga. Di atas panggung telah dipersiapkan acara selanjutnya, yaitu "Perlombaan Mengangkat Arca."
Sebuah acara baru yang diadakan oleh kerajaan dan diselenggarakan serentak di seluruh negeri.
Acara itu telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya, dengan melibatkan banyak petugas dan utusan dari Kotaraja.
Mereka adalah petugas-petugas khusus yang disebar ke setiap kabupaten dengan tanggung jawab yang amat rahasia, yang tak seorangpun boleh mengetahuinya.
Bahkan para pejabat daerah yang mereka datangi seperti para Bupatipun tidak diperbolehkan mengorek rahasia dari mereka.
Dan para utusan khusus itu rata-rata adalah anggota dari Pasukan Pengawal Istana, Pasukan Sandi atau Pasukan Khusus yang amat terkenal di Kotaraja.
Meskipun persiapan untuk melaksanakan "Perlombaan Mengangkat Arca"
Itu terasa aneh dan menimbulkan banyak pertanyaan di hati para pejabat daerah, namun persiapan tersebut berjalan terus.
Pendaftaran peserta telah dimulai jauh-jauh sebelumnya.
Dengan alasan mencari bibit unggul untuk Pasukan Pengawal Istana, maka peserta yang mendaftarpun menjadi meluap.
Dan semuanya hampir ditangani sendiri oleh utusan-utusan khusus itu.
Mereka yang menyeleksi dan memutuskan, apakah peserta itu memenuhi syarat atau tidak.
Karena tempat pendaftaran itu dipusatkan di rumah-rumah kediaman Bupati, maka dapat di mengerti kalau dalam beberapa bulan itu halaman rumah para Bupati menjadi sibuk setiap harinya.
Akhirnya setelah melalui beberapa kali pendadaran dan ujian, maka jumlah peserta yang mendaftar di Kabupaten Hang-ciu tinggal dua puluh orang saja yang memenuhi syarat.
Dan sekarang pemuda-pemuda itu telah bersiap-siap di atas panggung untuk mengikuti "Perlombaan Mengangkat Arca."
"Hei, namanya saja "Perlombaan Meng angkat Arca,"
Tapi mengapa banyak pesertanya yang kerempeng-kerempeng begitu?"
Beberapa orang penonton memberi komentar.
"He-he, benar juga, ya? Bisa patah tulang-tulangnya nanti!"
Seorang remaja berotot kekar yang ikut berdesakan di antara penonton juga menggeram menumpahkan rasa kesalnya.
"Aku juga heran. Mereka banyak yang lebih kurus dari aku, tapi mereka bisa lolos dari pendadaran, sedangkan aku tidak. Apa sebenarnya yang mereka pilih?"
"Ah, mungkin tidak cuma otot saja yang mereka pilih, tapi juga bakat dan otak encer. Kekuatan bisa dipupuk dengan latihan, tapi bakat dan otak itu merupakan pembawaan sejak lahir yang tak dapat dipelajari."
Lok Ma yang ternyata sudah ada di tempat itu dan kebetulan berdiri berdekatan dengan remaja tersebut memberi komentar, tanpa berpikir bahwa ucapannya bisa menyinggung perasaan orang.
Benar juga.
Pemuda berotot kekar itu melotot matanya.
Hampir saja terjadi keributan.
Untunglah A Tung yang selalu berada di samping Lok Ma cepat menyeret sahabatnya itu ke tempat lain.
"Gila! Apakah kau sudah ingin cerai dengan binimu? Jaga mulutmu kalau berbicara! Jangan sembarangan omong di antara orang-orang kasar begini!"
"Ya-ya, maafkan aku. Aku tidak sengaja dan tidak bermaksud menyinggung perasaannya."
Mereka lalu beringsut semakin menjauhi tempat mereka tadi. A Tung khawatir bertemu dengan pemuda kekar itu. Dan sementara itu "Perlombaan Mengangkat Arca"
Telah dimulai.
Di atas panggung, di depan para peserta yang berbaris menunggu giliran, diletakkan sebuah patung besar dari Kaisar Han Kou Cou atau Kaisar Liu Pang.
Patung itu dibuat dalam ukuran sebenarnya, dari batu pualam putih setinggi hampir dua meter.
Seluruh penonton di panggung lui-tai itu terdiam.
Tegang.
Semuanya ingin tahu, bagaimana perlombaan yang.
belum pernah mereka lihat ini dilaksanakan.
Demikianlah, kalau penonton di panggung lui-tai itu menjadi tegang, sebaliknya penonton di panggung pertunjukan barongsai justru semakin menjadi riuh oleh sorak-sorai mereka.
Keenam grup barongsai yang lolos di babak pertama tadi telah mulai dipertandingkan satu sama lain.
Dan yang kini sedang berlaga di atas panggung adalah pemain barongsai berseragam kuning emas dari Ui-thian-cung (Kampung Langit Kuning) melawan barongsai berseragam merah darah dari Ang-lian-pang (Perkumpulan Teratai Merah).
"Hayo cepat! Terjang saja! Jangan takut...!"
"Benar! Hayo, lemparkan si Kuning itu ke bawah! Jangan dibiarkan beraksi di atas panggung!"
"Ah, mana mungkin si Merah itu mampu! Gerakannya saja lamban begitu!"
"Ya-ya, si Merah tampaknya lemah kuda-kudanya! Oho, kalau begitu hantam saja kakinya! Gasak saja lututnya! He-he-he-he...!"
"Ayo! Ayo! Ayoooooo...!"
Penontonpun berteriak dan menjerit-jerit semakin keras.
Jeritan dan gosokan para penonton itu semakin membakar semangat pemain pemainnya.
Mereka semakin menjadi beringas dalam memainkan barongsainya.
Dengan menggerakkan segala kemampuan dan kecerdikan mereka, masing-masing berusaha mendesak atau melemparkan lawannya ke bawah panggung.
Pemain barongsai selain dituntut untuk memiliki tubuh yang kuat, juga harus mempunyai ilmu silat yang tinggi.
Sebab untuk menggerakkan peralatan barongsai yang berat itu para pemainnya harus memiliki kekuatan dan tenaga dalam yang besar.
Apalagi untuk bisa bermain dengan lincah dan indah dipandang mata, otomatis para pemainnya harus pandai mengatur langkah serta punya ilmu meringankan tubuh pula.
Oleh karena itu bisa dipastikan juga bahwa seorang pemain barongsai tersohor tentulah seorang jago silat ternama pula.
Kampung Ui-thian-cung terletak di tepian pantai dan merupakan sebuah perkampungan nelayan yang lain daripada perkampungan nelayan lainnya.
Seluruh warganya bermarga Ui dan hampir seluruh perumahannya berada di atas air.
Hanya Kepala Kampung dan keluarga-keluarga dekatnya saja yang mendirikan rumah di atas tanah.
Dan mereka itu memang merupakan tulang punggung dari seluruh keluarga Ui tersebut.
Mereka sangat disegani di daerah itu, karena mereka rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.
Terutama Kepala Kampung dan keluarganya.
Mereka mempunyai ilmu silat turunan yang sangat disegani lawan, yaitu Hok-mo Tung-hoat atau Ilmu Tongkat Pembunuh Iblis.
Kepala Kampung Ui-thian-cung sudah berusia tujuh puluh tahun lewat, bernama Ui Tiam Lok.
Puteranya dua belas orang, lelaki semua.
Dan yang memainkan barongsai berwarna kuning emas itu adalah anaknya yang ke sebelas dan dua belas.
Mereka adalah Ui Kong Tee dan Ui Kiong Lam.
Demikianlah, kedua saudara Ui itu bertarung dengan lawan mereka dari balik barongsainya.
Mereka mengerahkan segala kepandaian mereka, karena secara kebetulan yang menjadi musuh mereka adalah orang-orang dari Ang-lian-pang, yang tidak asing lagi bagi mereka.
Perkumpulan Ang-lian-pang adalah perkumpulan para pedagang, pemilik toko dan para tengkulak yang bermukim di daerah pesisir itu.
Mereka itu mempunyai banyak pengawal dan tukang pukul.
Dan mereka itu memang sering berselisih dengan para nelayan, yang dalam segala hal selalu dilindungi oleh keluarga Ui.
Oleh karena itu pertarungan kali ini lebih berarti sebagai pertarungan untuk membela kehormatan dan harga diri daripada sebagai pertarungan untuk memperebutkan piala kejuaraan.
Maka tidaklah mengherankan apabila penontonpun terbagi menjadi dua bagian, yaitu pendukung keluarga Ui dan pendukung keluarga Ang-lian-pang.
Para nelayan otomatis menjagoi barongsai kuning, sedangkan para pedagang menjagoi barongsai merah.
Belasan jurus telah berlalu, akan tetapi mereka berimbang.
Keduanya saling desak mendesak.
Kadang-kadang Ui bersaudara itu melancarkan serangan beruntun, susul menyusul, sehingga pemain barongsai dari Ang-lian-pang itu terdesak sampai ke pinggir panggung.
Namun dengan kecerdikan dan keuletan mereka, pemain dari Ang-lian-pang itu bisa meloloskan diri.
Bahkan mereka kemudian ganti mencecar Ui bersaudara itu dengan jurus-jurus mereka yang ganas.
"Koko...!? Tampaknya yang berada di dalam barongsai merah itu Siang-hai-coa (si Sepasang Ular Laut) sendiri!"
Ui Kiong Lam yang memegangi bagian belakang barongsainya tiba-tiba berseru kepada kakaknya yang berada di depan.
"Benar. Kelihatannya Hu Sing Kak kali ini benar-benar ingin menjuarai perlombaan ini dengan mengeluarkan tangan kanannya. kau harus hati-hati! Awaaas! Kita harus cepat-cepat menyudahi pertarungan ini. Sesuai dengan gelarnya kedua ular laut itu semakin lama akan menjadi semakin berbahaya. Mari kita gunakan Barisan Ui-thian-tin...!"
Ui Kiong Tee menjawab dengan napas memburu.
"Baik, koko!"
Ui Kiong Tee memancing dengan sapuan kaki ke perut lawan, sehingga pemain barongsai lawan terpaksa meloncat mundur.
Dan kesempatan yang sesaat itu dipergunakan oleh Ui bersaudara untuk berdiri tegak menyatukan langkah mereka.
Lalu sebelum lawan mereka menyadari apa yang terjadi, keduanya sudah menyerang lagi dengan terjangan empat langkah ke depan dalam bentuk barisan Baling-baling Berganda!
Empat kali mereka berdua saling bergantian menerjang lawan, sehingga barongsai mereka berputar-putar ke depan seperti baling-baling!
Karena setiap serangan yang tertuju ke arah lawan itu selalu datang dari atas, maka Siang-hai-coa yang berada di dalam barongsai merah tersebut menjadi kewalahan mengelakkannya.
Sekali dua kali dengan kematangan perasaan mereka, mereka bisa menghindarkan diri.
Tetapi pada serangan yang ke tiga mereka terpaksa harus menangkisnya.
Dan keadaan ini sangat merugikan mereka, karena dalam keadaan terdesak seperti itu mereka akan mengalami kesulitan apabila lawan menyusuli dengan serangan yang lain.
"Dhieeees!!!"
Benar juga!
Ternyata serangan Ui bersaudara itu memang masih satu langkah lagi.
Maka untuk ke dua kalinya Siang-hai-coa terpaksa menangkis lagi.
Namun karena kali ini tiada waktu untuk bersiap dan mengumpulkan tenaga, maka kekuatan dan gerakannyapun tidaklah sempurna.
Akibatnya Siang-hai-coa yang berada di depan, yang langsung menerima gempuran kaki Ui Kiong Lam!
jatuh berlutut dengan kepala barongsai terlepas dari pegangannya!
Tapi pada saat yang bersamaan sebuah pisau kecil melesat dari tangan Siang hai-coa itu dan tepat menancap di betis Ui Kong Lam!
"Aduuuh...!"
Tujuh bayangan tiba-tiba melayang ke atas panggung!
Mereka adalah lima orang saudara Ui Kiong Lam, lalu kepala prajurit pengawal dan Hu Sing Kak sendiri.
Demikian berada di atas panggung kedua belah pihak segera hendak bertempur.
Namun dengan sebat kepala pengawal itu menengahi mereka.
"Tahan...! Saudara-saudara tidak boleh berkelahi di tempat ini! Biarlah panitia penyelenggara perlombaan ini yang mengambil keputusan atas peristiwa ini...!"
"Mereka curang! Sudah diputuskan bahwa di dalam perlombaan ini tidak diperbolehkan membawa senjata. Kenapa Siang-hai-coa keparat itu melanggar aturan? Kalau memang mereka menghendaki demikian, baiklah... Kamipun akan melayaninya!"
Teriak putera sulung keluarga Ui sambil menghunus tongkat bajanya.
"Minggir...! Minggir! Aku akan mengadili dan memutuskan pemenangnya!"
Ketua pengawas perlombaan dengan tergesa-gesa meloncat ke panggung sambil berseru lantang.
"Nah, saudara-saudara harap menahan diri! Di sini bukan tempat untuk berkelahi! Kalau saudara-saudara ingin bertempur, kami persilakan nanti di panggung lui-tai!"
Kepala pengawal itu menegaskan lagi.
Sementara itu suara sorak-sorai penonton sudah tidak bisa dibendung lagi.
Rata-rata mereka tidak puas terhadap kecurangan Siang-hai-coa.
Beberapa orang penonton berteriak-teriak mengejek anggota Ang-lian-pang itu.
Bahkan ada satu dua orang yang mulai melemparkan batu dan sepatunya ke panggung.
Yang paling tenang tampaknya adalah penonton di panggung pertunjukan tari-tarian.
Mereka seakan-akan tidak peduli dengan keributan-keributan yang terjadi di panggung lui-tai dan barongsai.
Dengan tenang dan santai mereka menikmati halus gemulainya gerakan para penari yang berputar-putar di atas panggung.
Mereka semua seperti terpaku dan terpesona oleh kecantikan dan kehalusan kulit para penari yang terbungkus oleh aneka ragam warna pakaian sutera itu.
Kota Hang-ciu memang gudangnya gadis-gadis cantik di daerah pantai timur Tiongkok.
Gadisnya rata-rata berhidung mancung, mata lebih lebar dan tulang pipi yang tidak terlalu menonjol.
Kulit merekapun tidak begitu pucat pula, sehingga tampak lebih segar dan merangsang dipandang mata.
"Wah-wah... cantik-cantiknya! Masa... gadis sekian banyaknya tiada satupun yang jelek! Hmh! Hemh!"
Lok Ma yang tiba-tiba telah berada di antara penonton panggung tersebut berdesah kagum.
"Lalu... Kau mau apa?"
Temannya menyambung.
"Hmmm... tahu begini... tahu begini, aku dulu tidak buru-buru kawin dengan biniku."
"Hah...? Lalu kau mau mencari pasangan di sini? Begitu?"
"Iya! Siapa tahu rejeki nomplok?"
"Wah-wah! kau ini memang tidak pernah berkaca diri. Gadis mana yang mau bersanding dengan monyet melarat seperti kau ini? Ho-ho-ho-ho-ho, Lok Ma... Lok Ma! Binimu sendiri, kalau tidak karena sudah terlanjur beranak, he-he-he-he... berani bertaruh tentu sudah minta cerai!"
"Kurang ajar! Enak saja kau mengolok-olok aku!"
Lok Ma menggeram dan menyumpah-nyumpah.
"Plok-plok-plok! Plok-plok-plok!"
Terdengar riuh suara tepuk tangan penonton di panggung lui-tai.
Peserta nomer sepuluh telah berhasil mengangkat arca Kaisar Han Ko Cou.
Kini peserta yang ke sebelas maju ke depan dan berdiri di depan arca.
Mula-mula pemuda itu membungkukkan tubuhnya, lalu bergeser selangkah ke samping kiri arca.
Kemudian dengan lengan kanannya pemuda itu merangkul kaki arca, untuk seterusnya mengangkat arca tersebut perlahan-lahan.
Rasanya enteng saja dan tidak banyak membutuhkan tenaga.
Penonton bertepuk tangan menyambut keberhasilan peserta ke sebelas itu.
Pemuda itu lalu turun dan panitia perlombaan segera memanggil peserta berikutnya.
Pemuda tinggi besar berkulit hitam melompat ke atas panggung.
Setelah memberi hormat ke arah pendapa pemuda itu lalu berlutut di depan arca, seperti layaknya seorang hamba sahaya menghaturkan sembah kepada rajanya.
Setelah itu dia berjalan melingkar ke belakang arca, menekuk lututnya, merangkul kaki arca dan mengangkat tinggi-tinggi ke atas kepalanya.
Tepuk tangan dan sorak-sorai pujian diberikan oleh penonton kepada pemuda tinggi besar berkulit hitam itu.
Dan pemuda itu menyambut pula pujian penonton tersebut dengan membungkuk serta merangkapkan tangan ke segala penjuru.
Peserta ke tiga belas naik ke atas panggung.
Bertubuh jangkung kurus dengan kulit agak pucat.
Seperti para peserta sebelumnya, pemuda itu menekuk lututnya di depan arca dan menyembah dengan cara membenturkan dahinya ke lantai panggung, setelah itu melangkah ke depan arca dengan lututnya.
Menyembah lagi, lalu membalikkan badannya dan meraih kaki arca di belakangnya dengan kedua lengannya.
Sambil mengerahkan sedikit tenaga ia lalu mengangkat arca tersebut di pungungnya.
Kembali penonton bersorak-sorai memuji tingkah laku pemuda jangkung tersebut, lebih meriah daripada sambutan yang diberikan kepada peserta sebelumnya.
Pemuda berotot yang tadi hampir ribut dengan Lok Ma, kelihatan menyesal dan penasaran.
"Oh! Jadi... begitukah caranya mengangkat arca? Sebelumnya harus menyembah... berlutut... dan sebagainya?"
Ia bersungut-sungut. Seorang laki-laki beruban yang berdiri di dekatnya menoleh dan tersenyum.
"Tentu saja, anak muda. Bukankah perlombaan ini diselenggarakan untuk mencari bibit calon pasukan pengawal Istana? Bagaimanapun juga para peserta tentu akan diuji sikap dan hormatnya pada raja."
"Tapi... tapi itu hanya sebuah patung." (Lanjut ke
Jilid 02) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 02 Sekali lagi lelaki beruban itu tersenyum.
"Nah... Inilah salah satu jebakan yang dibuat oleh panitia perlombaan. Barang itu memang cuma sebuah patung. Tapi kenapa mesti berbentuk Kaisar Han Kou Cou yang kita hormati? Mengapa bukan bentuk patung yang lainnya? Nah... peserta yang cerdik tentu bisa menebak maksudnya. Dan... Inilah memang yang dicari oleh panitia perlombaan, yaitu kecerdikan! Jadi selain berbakat, bertulang baik, cerdik, juga sikap pengabdiannya kepada raja. Kalau semua persyaratan itu dapat terpenuhi, tentu saja peserta itu akan lulus..."
Pemuda berotot kekar itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya... ya, benar...!"
Ucapnya lirih penuh penyesalan.
"Yah, sudahlah. kau tak perlu menyesal lagi. Tahun depan kau bisa mencobanya kembali."
Pemuda itu tak menjawab.
Wajahnya tertunduk lesu dan untuk beberapa saat ia terdiam seperti orang kehilangan akal.
Ia baru tersadar kembali ketika para penonton di sekelilingnya bertepuk tangan menyambut keberhasilan peserta berikutnya.
"Oh...!?!"
Tiba-tiba pemuda itu berseru kaget. Kepalanya melongok kesana-kemari.
"Hohooho-hehe...! kau mencari siapa, heh?"seorang kakek berwajah menakutkan yang tahu-tahu berdiri di dekatnya bertanya dengan suara serak.
"Di-di manakah orang tua yang berada di sini tadi?"
Pemuda itu bertanya pula dengan suara gemetar.
Kakek itu tertawa.
Suaranya terdengar mengerikan, karena bibirnya yang lebar dengan mulut melompong tak bergigi itu cuma bisa menciptakan suara desah napas yang tersengal-sengal.
"Apakah orang itu yang kau cari...?"
Sekonyong-konyong seorang pemuda menyela di antara mereka, seorang pemuda berperawakan jangkung kurus, tangannya menunjuk ke pohon siong besar yang tumbuh di samping pendapa.
Pemuda itu menjadi heran, karena orang yang baru saja berbicara dengan dia tadi memang sudah berdiri di bawah pohon siong bersama orang lain.
Rasanya memang aneh.
Pohon itu ada sepuluh tombak lebih jaraknya dan untuk pergi ke sana harus melewati kerumunan penonton yang memadati tempat itu.
Namun demikian hanya dalam sekejap orang itu telah berada di sana dan bahkan tanpa sepengetahuannya pula.
"Ya-ya... Memang dia yang... eh?!?"
Sekali lagi pemuda itu terkejut. Pemuda jangkung dan kakek mengerikan tadi ternyata sudah tidak ada pula di sampingnya. Rasanya seperti hantu yang dapat menghilang begitu saja.
"Ah...!"
Desahnya pucat dan tiba-tiba ingatannya seperti terbuka kembali.
"Pemuda itu! Bukankah dia yang membuat keributan tadi?"
Sementara itu di bawah pohon siong lelaki beruban itu masih berbicara dengan temannya. Lelaki itu tampak sangat penasaran, sedangkan kawannya kelihatan lesu dan kehilangan semangat.
"Jadi... Kau tak bisa menangkapnya? Lalu di mana dia sekarang?"
"Suheng, apa yang dikatakan Tong Taisu memang benar. Mulai sekarang kita harus berhati-hati. Pemuda itu sedang berusaha menyelidiki "Perlombaan Mengangkat Arca."
Kepandaiannya hebat sekali dan aku sama sekali bukan tandingannya. Apalagi dia tidak sendirian..."
"Dia tidak sendirian? Eh, Su Hiat Hong... tolong kau ceritakan saja semuanya agar jelas!"
Orang yang bernama Su Hiat Hong itu memandang ke sekelilingnya. Dilihatnya semua orang melihat ke arah panggung dan tak seorangpun memperhatikan mereka.
"Baiklah, Lim suheng, akan kuceritakan..."
Ketika berusaha mengejar pemuda pengganggu panggung lui-tai tadi, ternyata Su Hiat Hong telah kehilangan jejak.
Pemuda kurus kerempeng itu lenyap berbaur dengan penonton yang berjubel.
Walaupun Su Hiat Hong berusaha mencari, namun pemuda itu tetap tak bisa diketemukan.
Akhirnya Su Hiat Hong melangkah ke jalan, menuju warung A Liong tadi.
Tiba-tiba mata Su Hiat Hong terbelalak.
Dari jauh dilihatnya pemuda itu keluar dari warung A Liong dan berjalan cepat ke utara.
Langkahnya tampak amat tergesa-gesa, menyelinap kesana-kemari di antara para pejalan kaki yang lalu lalang di jalan.
Su Hiat Hong cepat mengikuti dari belakang.
Dengan berlari-lari kecil ia berusaha mendekatinya, tapi pemuda itu seperti merasa kalau sedang diikuti.
Satu kali kepalanya menoleh ke belakang, lalu berjalan lebih cepat lagi, sehingga lagi-lagi Su Hiat Hong kehilangan jejak.
Pemuda itu hilang di antara kerumunan orang.
Su Hiat Hong melangkah perlahan-lahan sambil berusaha menemukan kembali buruannya.
Kakinya melangkah sampai ke Pintu Gerbang kota sebelah utara, tapi pemuda itu tetap tidak kelihattan batang hidungnya.
Tak terasa kakinya melangkah ke luar Pintu Gerbang, berjalan di atas jembatan gantung yang melintang di atas parit besar yang mengelilingi tembok kota.
Beberapa orang prajurit pengawal pintu gerbang tampak berjaga-jaga di kanan kiri jembatan tersebut.
Mereka juga kelihatan santai dan bergembira meskipun harus tetap bertugas di hari bahagia itu.
Sekali lagi Su Hiat Hong terkejut.
Tak terduga matanya yang mengawasi jalan lurus di luar tembok kota itu melihat bayangan pemuda yang diburunya.
Meskipun amat jauh, tapi mata Su Hiat Hong segera dapat mengenalnya.
Tanpa membuang waktu lagi Su Hiat Hong melompat mengejarnya.
Ia tak mempedulikan pandangan orang yang berpapasan dengannya.
Tapi pemuda yang diburunya itu sekonyong-konyong juga berlari pula.
Semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga akhirnya mereka berdua saling berkejaran di jalanan itu.
Su Hiat Hong merasa dongkol dan penasaran.
Pemuda itu seperti mempermainkannya.
Larinya kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat.
Apabila jaraknya terlalu jauh pemuda itu mengendorkan langkahnya.
Tetapi bila sudah dekat, tiba-tiba kakinya melompat dengan langkah yang panjang-panjang.
Semakin jauh jalan itu semakin sepi dan jelek keadaannya.
Di kanan-kiri jalan mulai terlihat semak belukar dan pohon-pohon besar.
Bahkan agak jauh dari jalan sudah terlihat hutan rimba.
Tiba-tiba pemuda itu membelokkan langkahnya ke dalam hutan dan sedetik saja bayangannya telah lenyap.
Su Hiat Hong berbelok dan menerobos hutan itu pula.
Namun beberapa saat kemudian ia menjadi sadar, bahwa sangat berbahaya memburu musuh di dalam hutan.
Salah-salah dirinya bisa terjebak atau dibokong lawan dari belakang.
"Kurang ajar...!"
Geramnya perlahan sambil menghentikan langkah.
Dengan penuh kewaspadaan Su Hiat Hong mengawasi lebatnya semak belukar di depannya.
Hatinya benar-benar menjadi geram.
Perasaannya mengatakan bahwa pemuda itu telah tahu kalau sedang diikuti dan kini sedang berusaha mempermainkannya.
"Ah, sudahlah. Lebih baik aku kembali saja. Tak baik aku menurutkan perasaan. Salah-salah malah bisa celaka kalau aku nekad menerobos hutan ini. Hemm, siapa tahu anak itu sudah menunggu dan memasang jebakan di balik rimbunnya dedaunan? Yaaah, sudahlah..."
Su Hiat Hong membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari hutan itu.
Tapi baru beberapa tindak ia berjalan, mendadak telinganya mendengar suara orang bernyanyi.
Suaranya tidak terlalu keras, namun sangat jelas ucapan maupun kata-katanya.
Diam-diam Su Hiat Hong menjadi tegang.
Suara itu justru berasal dari jalan yang dia lalui tadi.
Burung kecil terbang sendiri Tiada kawan tiada saudara Menentang badai di medan laga Dengan cucuran darah dan air mata!
Su Hiat Hong berhenti beberapa tombak dari pinggir jalan.
Matanya tertuju ke sebatang pohon pek besar yang rindang di tepi jalan.
Di bawah pohon itu kelihatan seorang pemuda yang duduk melenggut sambil bernyanyi.
Dan Su Hiat Hong segera mengenalnya, karena orang itu tiada lain adalah pemuda yang diburunya.
"Gila!"
Su Hiat Hong mengumpat di dalam hati.
"Bocah itu benar-benar sedang mempermainkan aku. Aku harus hati-hati. Ia seperti memiliki kepandaian yang tinggi."
Selangkah demi selangkah Su Hiat Hong datang menghampiri, kemudian berhenti beberapa langkah dari pemuda itu.
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan menghentikan nyanyiannya.
Su Hiat Hong terkejut.
Setelah melihat dari jarak dekat barulah ia ketahui betapa masih mudanya orang itu.
Muda dan tampan, walaupun caranya berpakaian kurang rapi dan berkesan seenaknya sendiri.
"Hemm, apakah Tuan mencari aku?"
Dengan suara berat pemuda itu bertanya.
Pertanyaan itu membuat Su Hiat Hong menjadi gugup dan bingung, karena sebenarnya ia juga tak tahu untuk apa mengejar pemuda tersebut.
Ia cuma melaksanakan perintah kawannya, sehingga tidak siap kalau mendadak harus berhadapan seperti itu.
"Ya-ya, benar... eh-eh, aku ingin tahu... siapa sebenarnya kau ini?"
Tak terduga pemuda itu tertawa nyaring.
"Hahaha, sungguh aneh! Akulah sebenarnya yang harus bertanya kepada Tuan, bukan sebaliknya. Tuanlah yang mengejar-ngejar aku. Ingin bertemu atau ingin... Menangkap aku, padahal aku tidak merasa kenal dan tidak merasa mempunyai urusan dengan tuan."
Pemuda itu perlahan-lahan berdiri. Wajahnya yang agak pucat dengan pandang mata dingin itu sungguh terasa mencekam dan menggiriskan hati. Tak terasa kaki Su Hiat Hong melangkah setindak ke belakang.
"Tuan, aku bertanya kepadamu. Siapakah... engkau? Mengapa engkau mengejar-ngejar aku? Jawablah!"
Pemuda itu mendesak dengan suara berubah kaku.
Wajah Su Hiat Hong menjadi merah.
Bagaimanapun juga ia tak ingin ditekan orang.
Apalagi ia merasa memiliki kedudukan tinggi dan mendapatkan tugas khusus dari Kotaraja "Ketahuilah, Anak muda.
Aku seorang utusan dari Kotaraja, yang menangani urusan "Perlombaan Mengangkat Arca"
Di kota Hang-ciu ini. Nah, engkau tadi telah membuat ribut di atas panggung. Itulah sebanya aku mengejarmu. Pahamkah kau sekarang?"
Su Hiat Hong balas menggertak. Pemuda itu tertegun.
"Oh, jadi Tuan adalah petugas khusus dari Kotaraja? Wah-wah, maafkanlah aku Ciangkun. Mataku benar-benar buta, tak bisa melihat gajah di depan hidung..."
Katanya kemudian sambil membungkukkan tubuh. Su Hiat Hong mendengus dan tak mempedulikan sikap lawannya, la tahu pemuda itu cuma berbasa-basi saja. la melihat senyum tipis di bibir pemuda itu.
"Engkau tak perlu berbasa-basi, apalagi menyebut Ciangkun kepadaku. Aku hanya seorang utusan, jadi belum tentu aku ini seorang perwira. Bukankah aku tidak mengatakannya kepadamu?"
Mata yang dingin tajam seperti mata burung hantu itu mendadak berubah menjadi liar, seperti layaknya burung hantu kalau lagi marah.
Otomatis kaki Su Hiat Hong melangkah lagi setindak ke belakang.
Namun sekejap kemudian mata itu menjadi tenang kembali.
Bahkan dari hidung pemuda itu terdengar suara tarikan napas yang panjang sekali.
"Ah, Ciangkun... Kau tak perlu berbohong kepadaku. Rasanya semua orang juga bisa menebaknya, karena seorang yang mendapatkan kepercayaan dari Kotaraja untuk mengatasi jalannya perlombaan penting itu tentulah bukan petugas berpangkat rendah. Dan khusus untuk "Perlombaan Mengangkat Arca,"
Yang konon diselenggarakan untuk mencari bibit bibit Pasukan Pengawal Istana, tentunya utusan yang dikirim juga dari kalangan pasukan Istana, bukan?"
Su Hiat Hong menghela napas panjang melihat kecerdikan lawannya. Ia semakin berhati-hati menghadapi pemuda itu.
"Terserah kepadamu. Aku tak ingin berbantah tentang hal ini. Sekarang katakan saja kepadaku, siapakah namamu? Darimana asalmu? Dan apa maksudmu membuat ribut di panggung tadi?"
Pemuda itu menengadahkan kepalanya, lalu tersenyum, sehingga seorang perwira kerajaan yang memiliki banyak pengalaman seperti Su Hiat Hongpun tidak bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di dalam hati pemuda aneh itu.
"Baiklah, Ciangkun, akan kujawab pertanyaanmu, walaupun sebenarnya aku tak menyukainya. Aku hanya berharap bahwa Ciangkun nanti juga akan mau. menjawab pertanyaanku pula."
"Asalkan aku bisa menjawab dan tidak bertentangan dengan rahasia negara, aku tentu akan menjawabnya..."
Sekali lagi pemuda itu menentang mata Su Hiat Hong dengan tajam.
"Ci-angkun, namaku Tong Sia... chin Tong Sia. Aku adalah anggota Aliran Beng-kauw yang berpusat di kota Sin-yang!"
Jawaban itu benar-benar mengejutkan Su Hiat Hong.
Banyak sekali aliran keagamaan yang tumbuh dan berkembang pesat pada saat itu, tapi hanya beberapa aliran saja yang benar-benar besar, terkenal dan disegani orang, yaitu Aliran Mo-kau, Im-yang-kauw dan Beng-kauw!
Selain mempunyai anggota yang amat banyak dan tersebar di seluruh pelosok negeri, ketiga aliran agama itu memiliki banyak tokoh-tokoh sakti di dalamnya.
Namun demikian dari ketiga aliran itu Beng-kauw lah yang paling banyak dipergunjingkan orang.
Selain para penganutnya sangat tertutup, aliran itu juga memiliki adat kebiasaan dan aturan-aturan yang aneh, yang tidak lazim dilakukan oleh masyarakat umum.
"Tapi aku mendengar bahwa setiap anggota Aliran Beng-kauw menggunakan nama dengan huruf "PUT"
Di depannya."
"Benar. Setiap anggota Aliran Beng-kauw yang sudah menyelesaikan pengabdian wajibnya selama sepuluh tahun dan kemudian dianggap telah mampu menyebarkan pengaruh serta mendapatkan kepercayaan dari para sesepuh kami, maka akan memperoleh sebutan "PUT"
Di depan namanya."
"Apakah kau juga sudah mendapatkan sebutan itu?"
Pemuda itu mengangguk.
"Nama lengkapku sekarang adalah Put-tong-sia!"
"Baiklah..."
Su Hiat Hong mendesah.
"Sekarang katakan yang sebenarnya, apa maksud dan tujuanmu membuat keributan di atas panggung tadi?"
Wajah pemuda itu tampak tegang kembali. Matanya kelihatan menyala, sementara giginya terkatup rapat.
"Aku tak menyukai "Perlombaan Mengangkat Arca"
Itu! Aku merasa ada sesuatu yang kotor di balik penyelenggaraannya. Aku tak percaya kalau perlombaan itu dikatakan untuk memperoleh bibit-bibit unggul bagi Pasukan Pengawal Istana! Semuanya bohong!"
Put-tong-sia berkata dengan suara berapi-api. Su Hiat Hong tersentak kaget.
"Apa maksudmu...?"
Sekali lagi pemuda itu menggertakkan giginya.
"Maksudku? Hmh, maksudku... perlombaan itu cuma kedok belaka! Ada maksud tertentu di balik semuanya itu! Maksud-maksud kotor yang dibuat dan direncanakan oleh oleh orang-orang atau pihak-pihak tertentu di Istana kerajaan! Memang, sampai saat ini aku belum dapat membuktikannya..."
"Pu-tong-sia! kau jangan omong sembarangan! kau berhadapan dengan petugas kerajaan di sini, bahkan seorang petugas khusus dari Istana di Kotaraja! kau bisa dianggap sebagai pemberontak dan dapat ditangkap! Tahu...?"
Su Hiat Hong membentak. Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak takut. Kakinya justru melangkah dua tindak ke depan. Sikapnyapun berubah menjadi dingin dan kaku.
"Persetan dengan ancaman itu! Aku tidak takut!"
Ucapnya tegas.
"Gila...!"
Su Hiat Hong menggeram melihat kekerasan lawannya.
"Apa sebenarnya alasanmu? Mengapa kau mempunyai dugaan seperti itu?"
Put-tong-sia tidak segera menjawab. Matanya yang mencorong liar itu menatap Su Hiat Hong dengan tajamnya.
"Ciangkun, kau tak perlu bersandiwara di depanku. Sebagai utusan langsung dari Kotaraja, kau tentu mengetahui rahasia di balik penyelenggaraan "Perlombaan Mengangkat Arca"
Ini. Nah, sekarang katakanlah...!"
Su Hiat Hong terkesiap. Hatinya tiba-tiba berdesir keras. Sejak semula ia memang curiga akan keanehan dan keganjilan cara pelaksanaan "Perlombaan Mengangkat Arca"
Itu.
Tidak sewajarnya kalau perlombaan seperti itu sampai harus melibatkan petugas-petugas khusus dari Kotaraja, bahkan dengan cara rahasia pula, sementara para pejabat daerah yang seharusnya lebih tahu dan lebih bertanggung jawab tidak diikut-sertakan.
Tapi sebagai petugas dia memang tak bisa berbuat apa-apa.
Ia dan kawan-kawannya, seperti Lim Kok Liang dan Tong Taisu, hanya melaksanakan tugas saja.
"Ciangkun, mengapa kau tak menjawab?"
Su Hiat Hong menghela napas berat.
"Ah, kukira kau telah salah menduga Put-tong-sia. Tak ada rahasia apapun di balik "Perlombaan Mengangkat Arca"
Itu. Percayalah!"
Katanya meyakinkan seperti diucapkan kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba Put-tong-sia tersenyum dingin.
"Benarkah, Ciangkun? kau berani bersumpah? Hemmm... ciangkun, kau memang keras kepala. Aku tahu bahwa kau tidak berkata sejujurnya. Dari caramu berbicara saja aku dapat menduga bahwa kau berbohong. Nah, Ciangkun... jangan salahkan aku kalau aku terpaksa menggunakan kekerasan untuk memaksamu berbicara!"
Bagaimanapun Su Hiat Hong adalah seorang perwira.
Hatinya menjadi panas juga didesak orang sedemikian rupa.
Apa lagi orang itu cuma seorang bocah yang belum ia ketahui kemampuannya.
Jelek-jelek ia bukan tokoh sembarangan di Kotaraja.
Di kalangan para perwira Pasukan Rahasia, ilmu pedangnya Sin-ho kiam-hoat (Ilmu Pedang Bangau Sakti) belum pernah ada yang mengunggulinya.
"Huh, bagus... Kau benar-benar ingin memberontak?"
Su Hiat Hong menggeram seraya menghunus pedangnya.
Put-tong-sia meringis seperti mau mencemooh ancaman itu.
Tanpa berkata-kata lagi tangan kanannya menyambar ke depan untuk merebut pedang lawannya.
Gerakannya cepat bukan main sehingga Su Hiat Hong tersentak kaget dan buru-buru bergeser selangkah ke belakang Kemudian dengan terburu-buru pula pedang itu diputarnya di depan dada untuk menahan serangan selanjutnya.
Ternyata pemuda itu tidak melanjutkan serangannya.
"Ayoh, Ciangkun, balaslah...! Kenapa diam saja?"
"Gila! Mengapa kau tak mengeluarkan senjata? Apa kau merasa lebih hebat daripada aku?"
"Hoho-haha-hihihi...!"
Tiba-tiba Su Hiat Hong dikejutkan oleh suara tawa yang menggema di antara pepohonan di tempat itu.
"Suheng...! Mengapa kau ikut kemari?"
Put-tong-sia berseru.
"Apa tak boleh, heh? kau tinggalkan aku di halaman kabupaten itu sendirian! Huh, sementara kau di sini bersenang-senang main kejar dan sembunyi! Nah, sekarang aku ikut! Carilah tempat persembunyianku, hoho-haha-hihihi...!"
Diam-diam bergetar juga hati Su Hiat Hong.
Dari getaran suaranya yang kuat dan mantap, serta sulit dicari arah sumbernya itu, ia bisa menduga bahwa pemilik suara tersebut tentu telah mencapai kesempurnaan di dalam ilmunya.
Celakanya, orang itu tampaknya berada di pihak lawan.
"Ah, aku sedang tidak ada waktu. Lebih baik suheng bermain sendiri."
"Kurang ajar, enak saja kau bicara! Masakan orang bermain sembunyi dan kejar-kejaran hanya sendirian saja? kau kira aku sudah gila, ya? Ayoh, cari aku! Kalau tidak mau, hmmh... Kubunuh kau!"
Suara itu mengancam.
"Edan!"
Su Hiat Hong menggerutu sambil mencari-cari di mana sumber suara itu berasal.
"Orang-orang Beng-kauw memang tidak waras semuanya..."
"Tapi aku akan berkelahi dulu dengan orang ini..."
Sungut Put-tong-sia dengan nada kesal.
"Aku tak peduli! Pokoknya kau harus menemukan tempat persembunyianku! Kalau tidak, kubunuh kau! Habis perkara!"
Suheng Pu-tong-sia yang tidak mau menampakkan diri itu berteriak marah.
"Baik... baiklah, suheng, aku akan mencarimu. Tapi... apa hadiahnya kalau kau bisa kutemukan, hei?"
Put-tong-sia buru-buru mengalah begitu suhengnya marah.
"Kau akan kugendong sampai ke kota apabila bisa menemukan aku."
"Ah, tidak mau! Masakan cuma digendong hadiahnya?"
"Lho...? Apalagi? Bukankah enak sekali digendong orang?"
"Huh... apa enaknya digendong? Aku sudah kenyang dan bosan kau gendong."
"Lalu kau minta hadiah apa, anak tolol?"
"Ajari aku jurus "Menerobos Lobang Pintu Jala"
Kebanggaanmu itu! Bagaimana?"
"Bocah Goblok! Pemalas! Tolol! Bukankah setiap hari aku dan Susiok sudah mengajarimu? Otakmulah yang tumpul sehingga jurus itu tidak bisa kau kuasai dengan baik!"
Put-tong-sia tidak menjadi marah oleh maki-makian itu.
Mulutnya justru tertawa, sementara matanya memandang berkeliling, mengawasi pucuk-pucuk pepohonan yang bergoyang-goyang.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada kawanan lebah yang beterbangan di sekeliling pohon siong tua di pinggir jalan.
Dan di lain saat suara tertawanya menjadi semakin keras dan nyaring.
Begitu tawanya berhenti Put-tong-sia menatap Su Hiat Hong kembali.
"Maaf, Ciangkun, ternyata suhengku datang mengganggu permainan kita. Tapi Ciangkun tak perlu khawatir, dia takkan mencampuri urusan ini. Percayalah...!"
"Aku tidak perduli! Kalau perlu dia boleh manju sekalian mengeroyokku!"
"Ah, kukira tidak perlu, Ciangkun. kau bisa repot melayaninya nanti. Bahkan tidak cuma kau, seluruh pasukanmu di Kotaraja akan menjadi repot bila berhadapan dengannya. kau sudah mengenal suhengku, Ciangkun?"
"Buat apa aku mengenal suhengmu? Apakah namanya begitu hebat dan terkenal di dunia persilatan?"
Su Hiat Hong mendengus. Put-tong-sia tersenyum dan sama sekali tidak merasa tersinggung atas sikap lawannya.
"Ah, suhengku memang tidak punya nama besar di dunia kang-ouw. Nama Put-pai-siu Hong-jin (Si Gila Yang Tak Tahu Malu) memang cuma dikenal oleh jago-jago silat kampungan..."
"Put-pai-siu Hong-jin...?"
Su Hiat Hong berdesah kaget.
Aliran Beng-kauw memang sangat tertutup sehingga tokoh-tokohnya tidak banyak dikenal orang, kecuali nama Put-pai-siu Hong-jin tersebut.
Nama itu dikenal oleh hampir setiap tokoh persilatan, meskipun banyak di antara mereka yang cuma mendengar nama itu tanpa pernah melihat wajah pemiliknya.
Mereka hanya mendengar sepak terjang tokoh itu yang angin-anginan, suka membawa adatnya sendiri, namun memiliki kesaktian yang amat tinggi, sehingga orang menjadi segan berurusan dengannya.
"Ah, tampaknya Ciangkun pernah mendengar nama itu?"
"Ya-ya, aku... aku pernah mendengarnya."
Su Hiat Hong menjawab gugup.
"Hei, Sute! Bagaimana...? kau mau tidak?"
Suara teriakan Put-pai-siu Hong-jin kembali terdengar. Keras sekali, tapi Su Hiat Hong tetap tidak bisa mencari sumber suara itu.
"Pokoknya... suheng mau mengajari jurus "Menerobos Lobang Pintu Jala"
Tidak?"
Put-tong-sia balas berteriak.
"Baik! Baik Cepatlah! Tapi kalau sampai tiga kali kuajari kau tetap tidak bisa, kuketok kepalamu sampai benjol! Ayoh, sekarang cari aku!"
Put-tong-sia memandang Su Hiat Hong.
"Ciangkun, apakah kau sudah tahu tempat persembunyian suhengku?"
"Huh!"
Perwira itu mendengus tanpa menjawab. Put-tong-sia tertawa kecil. Tiba-tiba ia berpaling ke pohon siong tua yang tumbuh di dekat jalan.
"Nah, suheng, kau turunlah dari pohon siong itu! Hati-hati, di dekatmu ada sarang lebah! kau bisa dikeroyok bila menyentuhnya!"
Su Hiat Hong terkejut.
Ia sama sekali tak melihat bayangan manusia di balik rimbunnya daun pohon siong tersebut.
Namun rasa kaget segera berubah menjadi rasa penasaran, karena orang itu benar-benar bersembunyi di sana.
"Kurang ajar...! Bagaimana kau bisa tahu aku bersembunyi di sini?"
Pohon itu bergoyang-goyang, tapi Put-pai-siu Hong-jin tetap tidak mau menampilkan dirinya. Hanya kawanan lebah saja yang semakin banyak beterbangan di sekeliling pohon itu.
"Ah, tololnya aku!"
Su Hiat Hong berdesah di dalam hati mengumpati kebodohannya.
Ternyata Put-tong-sia lebih cerdik daripada dia.
Pemuda itu bisa menebak persembunyian suhengnya karena melihat gerakan kawanan lebah tersebut.
"Nah kau telah kalah bertaruh lagi, suheng!"
Put-tong-sia berseru.
"Anak Iblis! Belut Licin! Bocah Cerdik! Kawanan lebah ini memang menjengkelkan!"
Akhirnya Put-pai-siu Hong-jin mengumpat-umpat pula setelah mengetahui penyebab kekalahannya.
"Suheng tak perlu marah-marah, hehe he! Sekarang tunggu saja di situ, aku akan melayani Ciangkun ini dahulu!"
Su Hiat Hong cepat melintangkan pedangnya di depan dada. Sambil merendahkan tubuh ia bersiap siaga menghadapi lawannya.
"Ayoh, keluarkan saja senjatamu...!"
Geramnya. Tapi dengan sikap yang masih tetap santai Put-tong-sia mengelengkan kepalanya.
"Ciangkun, tampaknya kau belum mengenal Aliran Beng-kauw, sehingga tak tahu kalau anggota Beng-kauw tak pernah membawa senjata. Senjata mereka adalah tubuhnya, tangannya, kakinya, dan... pakaian yang dikenakannya."
Wajah Su Hiat Hong menjadi merah.
"Terserah kepadamu! Tapi jangan salahkan aku bila pedangku ini tak bisa kau elakkan!"
"Hahahah, kita lihat saja nanti! Nah, mari kita mulai...!"
Begitu selesai berbicara Put-tong-sia segera meloncat ke depan.
Tangan kanannya menyambar ke atas, seolah-olah mau meraih ubun-ubun Su Hiat Hong, hingga perwira dari Istana itu buru-buru menyongsongnya dengan sabetan pedang.
"Wuuut!"
Terpaksa Put-tong-sia menarik kembali tangannya dan Su Hiat Hong tidak mau kalah cepat.
Sementara lawannya menarik tangan, pedangnya segera memburu dengan tusukan ke arah badan bagian atas.
Ujungnya bergetar, seakan-akan ingin memilih sasaran yang dipilihnya, yaitu mata, leher, atau jantung!
Jurus ini disebut Burung Bangau Mematuk Ikan, jurus ke tujuh dari Sin-ho Kiam-hoat.
"Oh, ternyata bagus juga ilmu pedangmu..."
Sambil memuji Put-tong-sia menggeliatkan tubuhnya ke kanan untuk menghindar, sekaligus balik menyerang dengan totokan ujung jarinya.
"Cussssss!"
Hembusan angin panas menyertai serangan tersebut, tertuju ke arah pergelangan tangan Su Hiat Hong yang memegang pedang!
Terkesiap juga Su Hiat Hong menyaksikan kesigapan lawannya, apalagi hembusan hawa panas itu.
Bergegas ia menarik tubuhnya ke belakang, lalu memutar pedangnya untuk melindungi pergelangan tangan.
"Cring...!"
Ujung jari Pu-tong-sia yang berubah seperti tongkat baja itu membentur badan pedang Su Hiat Hong.
Demikian keras dan kuatnya sehingga pedang itu hampir terlepas dari genggaman.
Untunglah perwira itu cepat mengerahkan tenaga untuk mempertahankannya.
Pengalaman itu membuat Su Hiat Hong semakin berhati-hati.
Dia sadar bahwa lawannya memiliki kepandaian sangat tinggi.
Oleh karena itu Su Hiat Hong tidak ingin mengulur-ulur waktu lagi, ia segera mengerahkan seluruh kemampuannya.
Dikeluarkannya jurus-jurus Sin-ho Kiam-hoat yang paling dia andalkan.
Pedang itu berputar dengan cepat membentuk lingkaran, semakin lama semakin membesar.
Berbareng dengan itu Su Hiat Hong menerjang ke depan, seolah-olah mau mencincang tubuh Put-tong-sia.
Terdengar gaung suara pedang itu menembus angin.
Karena tidak memegang senjata, Put-tong-sia terpaksa melompat ke belakang.
Tapi pedang itu terus mengejarnya, sehingga Put-tong-sia harus menghindarinya dengan melenting tinggi ke udara untuk mematahkannya.
"Huuup!"
Seperti yang dilakukan di atas panggung tadi, Put-tong-sia berjungkir balik di udara beberapa kali.
Lagi-lagi serangan Su Hiat Hong gagal menyentuh lawan.
Bahkan kedudukannya justru berbalik menjadi berbahaya sekarang.
Dari atas Put-tong-sia menjejakkan kakinya ke bawah untuk menggempur kepalanya.
"Bagus...!"
Su Hiat Hong berdecak kagum seraya membanting tubuhnya ke tanah dan menggelinding pergi menjauhi lawan.
Put-tong-sia mendarat kembali di atas tanah, sedangkan Su Hiat Hong cepat berdiri pula di atas kakinya.
Mereka kembali berhadapan dalam jarak lima langkah.
Masing-masing mempersiapkan dirinya.
"Bagus! Lihat pedang...!"
Su Hiat Hong berseru keras dan mendahului menyerang.
Put-tong-sia atau nama sebenarnya adalah Chin Tong Sia itu cepat mengelak kemudian balas menerjang dengan jari-jarinya yang ampuh.
Sekejap saja mereka segera terlibat dalam pertarungan seru.
Su Hiat Hong dengan pedangnya yang panjang, sementara Put-tong-sia bergerak lincah dengan ginkangnya yang tinggi.
Sin-ho kiam-hoat memang memiliki jurus-jurus yang kuat dan berbahaya.
Meskipun inti gerakannya lebih banyak bertumpu pada pertahanan, namun sekali waktu juga dapat menyerang dengan ganas.
Gerakan kakinya tidak begitu banyak bahkan tampak sangat sederhana.
Demikian pula dengan gerakan-gerakan tangannya.
Pedang itu lebih banyak dipergunakan untuk melindungi tubuh daripada untuk menyerang.
Hanya sekali-kali saja ujung pedang itu mematuk lawan.
"Wah... Ilmu pedangnya lumayan juga! Sayang gerakannya terlalu lamban!"
Tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin memuji dari tempat persembunyiannya.
"Benar, suheng! Kuda-kudanya juga kurang kokoh...!"
Dapat dibayangkan betapa murkanya hati Su Hiat Hong. Lawannya yang masih muda dan bertangan kosong itu tampaknya amat memandang rendah ilmu pedangnya.
"Bangsat sombong! Buktikan dulu, baru bicara! Jangan banyak omong!"
"Haha-haha-haha,...! suheng, kau membuatnya marah!"
Put-tong-sia tertawa sambil menghindar sabetan pedang lawan.
Put-pai-sui Hong-jin tertawa terkekeh-kekeh, namun tidak meneruskan ejekannya.
Dari sela-sela tawanya justru terlontar sebuah pantun acak-acakan yang disuarakan dengan nada sumbang.
Tikus kecil mandi di sungai.
Bulunya jelek, merah tak merata.
Aduhh Mak...!
Gadis manis mandi di pantai.
Tubuhnya molek, indah dipandang mata.
Tubuh Chin Tong Sia atau Put-tong-sia berkelebatan kesana-kemari untuk menghindari pedang Su Hiat Hong, meskipun demikian ia masih sempat mendengarkan pantun suhengnya.
"Jorok...! suheng jorok! Pantun yang jelek!"
Serunya kurang senang, lalu ikut-ikutan berdendang dengan sajaknya sendiri.
Tikus kecil mandi di sungai.
Bulunya jelek, merah tidak merata.
Bujang kecil berurai air mata.
Wajahnya jelek, orang tua tiada.
Ooooh, nasib...!
"Wah, bosan!
Benar-benar membosankan!
Sejak zaman purbakala pantunmu melulu yang sedih-sedih saja!
Apakah kau tidak punya hapalan yang lain lagi, heh,.
Tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin marah-marah.
"Biar! Memangnya kenapa? Yang penting aku sendiri senang!"
Chin Tong Sia membantah. Lalu menyanyikan lagunya lagi. Bahkan lebih keras. Tikus kecil mandi di sungai Bulunya jelek merah tak merata Aduuuh Mak...
"Berhenti! Berhentiiiiii...! Mau berhenti tidak? Kubunuh kau nanti!"
Put-pai-siu menjerit berang.
Tangannya meraup daun pek di dekatnya, tapi Chin Tong Sia tetap tak peduli.
Sambil melayani serangan Su Hiat Hong ia tetap menyanyikan pantunnya yang sedih.
Tentu saja Putpai-siu Hong-jin benar-benar menjadi jengkel.
Daun yang tergenggam di tangannya disambitkan ke bawah, ke arah Chin Tong Sia.
"Siiuuut! Siuuut! Siuuut!"
Meski daun itu hanya benda yang tipis dan ringan, tapi begitu terlempar dari tangan Put-pai-siu Hong-jin, bisa meluncur deras bagai pisau terbang, menebas ke arah bagian-hagian berbahaya di tubuh sutenya.
Tentu saja Chin Tong Sia terkejut sekali.
Pukulan-pukulan tangannya yang sebenarnya sedang mendesak Su Hiat Hong, terpaksa ditariknya kembali.
Tubuhnya yang kurus itu terpaksa melenting kesana-kemari untuk menghindarkan diri dari keganasan daun-daun pek yang berbahaya.
Dan kesempatan ini tak disia-siakan oleh Su Hiat Hong.
Perwira pasukan rahasia kerajaan itu cepat melompat meninggalkan pertempuran.
Dengan tangkas kakinya berlari menyusuri jalan yang menuju ke kota Hang-ciu.
"Berhenti...!"
Chin Tong Sia berteriak.
Kakinya menjejak tanah dan tubuhnya meluncur ke depan dengan cepatnya.
Tapi lagi-lagi Puit-pai-siu Hong-jin menaburkan daunnya.
Kali ini bahkan lebih banyak lagi.
Semuanya menerjang ke tempat-tempat yang mematikan di badan sutenya.
"Suheng, kau...! Apa maumu sebenarnya?"
Pemuda itu menjerit marah. Otomatis langkahnya tertunda, sehingga sekejap kemudian buruannya telah hilang di balik tikungan.
"Habis, kau telah membajak laguku! kau ubah pula! Mana aku mau mengerti, heh? Minta maaf dulu kepadaku, baru aku mau berhenti menyerangmu!"
Chin Tong Sia mati-matian mengelakkan serangan suhengnya.
Setelah itu ia berdiri tertegun mengawasi Put pai-siu Hong-jin yang sudah turun pula dari pohon pek.
Perlahan-lahan kejengkelan pemuda itu mereda.
Suhengnya telah kumat gendengnya, kalau dilayani tentu tidak akan ada henti-hentinya.
"Baiklah, suheng. Aku mengaku salah. Aku tak akan membajak pantunmu lagi. Hah, sekarang marilah kita mengejar perwira itu tadi!"
"Ho-ho-ho-ho, enak saja. kau tentu tidak bersungguh-sungguh meminta maaf kepadaku. Di dalam hatimu kau tentu mentertawakan aku. Heh-heh, kau belut kecil ini memang sangat cerdik dan lincah sekali. Jangan harap kau bisa mengakali aku. Aku sudah hapal watakmu luar-dalam, heh-heh. Aku yang mengasuh dan mendidikmu sejak bayi..."
Chin Tong Sia tersenyum sambil menghela napas panjang.
Perasaan jengkelnya sudah hilang.
Sebenarnya ia sangat hormat dan sangat sayang kepada suhengnya itu.
suhengnya itulah yang merawat, mengasuh dan mendidiknya sejak kecil.
Bahkan ilmu silatnyapun sebenarnya sebagian besar adalah hasil didikan suhengnya itu.
Memang tampangnya amat menyeramkan dan tindak-tanduk atau perilakunya seperti orang gila, tapi sebenarnya dia benar-benar waras dan cerdik luar biasa.
Ilmu silatnyapun paling tinggi di antara tokoh-tokoh Beng-kauw sekarang.
Gurunya sendiri, yang kini sudah mengasingkan diri di ruang semedi, mengakui kehebatan ilmu suhengnya itu.
Dialah satu-satunya tokoh Beng-kauw yang mampu mendalami serta menghayati betul ilmu rahasia Aliran Beng-kauw, yaitu Chou-mo-ciang (Tangan Menangkap Setan).
"Lalu... apa yang harus kulakukan agar kau percaya kepadaku, suheng?"
Put-pai-siu Hong-jin menghampiri Chin Tong Sia, lalu merangkul pundaknya. Sambil tertawa terkekeh-kekeh ia berkata lucu.
"Tentu saja kau harus menyanyikannya dulu dengan betul, heh-heh-heh..."
Demikianlah, sambil menyanyikan pantun ciptaan Put-pai-siu Hong-jin tadi, Chin Tong Sia dan suhengnya berjalan bersama-sama ke kota Hang-ciu kembali.
Mereka sama sekali tidak gentar menghadapi para pengawal yang tentu akan menangkap mereka di kota nanti.
* * * "Jadi...
pemuda itu dari aliran Beng-kauw?"
Lelaki beruban atau Lim Kok Liang itu menegaskan.
"Ia memang berkata demikian. Mengapa...?"
Su Hiat Hong bertanya pula. Lim Kok Liang mengerutkan dahinya yang lebar.
"Gawat! Kalau orang-orang kang-ouw (rimba persilatan), apalagi aliran-aliran ternama seperti Bengkauw, sudah ikut campur tangan dalam masalah ini, keadaannya akan menjadi gawat!"
"Tapi mereka cuma seorang anak muda yang masih ingusan dan seorang lelaki tua gila yang tak perlu ditakutkan, suheng."
"Huh, kau sungguh bodoh! Kalau benar apa yang kau lihat dan kau dengar tadi, orang berwajah menyeramkan dan bernama Put-pai-siu Hong-jin adalah tokoh ternama dari aliran Beng-kauw. Dia adalah kakak seperguruan Put-sim-sian (Dewa Tak Berperasaan), pejabat ketua aliran Beng-kauw sekarang."
"Oh! Dan... pemuda itu, kalau begitu dia juga adik seperguruan Ketua Aliran Beng-kauw itu!"
Su Hiat Hong berdesah gagap.
"Mungkin juga. Sudahlah, mari kita pergi ke panggung lui-tai lagi. Masalah ini nanti kita laporkan kepada Au-yang Goanswe. Goanswe harus mengetahui masalah ini."
"Tapi... suheng?"
Lim Kok Liang menghentikan langkahnya. Matanya mengawasi Su Hiat Hong dengan heran.
"Ada apa...?"
"Anu... apakah suheng tahu tentang masalah yang membuat curiga orang-orang Beng-kauw itu? Maksudku... Maksudku, apakah memang benar ada sesuatu yang tidak beres pada acara perlombaan yang diselenggarakan oleh kerajaan ini?"
Lim Kok Liang tertegun.
Matanya semakin tajam mengawasi Su Hiat Hong.
Tapi beberapa saat kemudian mata itu perlahan-lahan menunduk, bahkan perwira itu lalu menghela napas panjang sekali.
Kakinya kembali melangkah perlahan-lahan.
Su Hiat Hong segera mengejarnya.
"Bagaimana, suheng?"
"Mengapa kau tanyakan hal itu? Kita cuma seorang perwira dari pasukan rahasia, yang diperbantukan kepada Au-yang Goanswe. Tugas kita hanyalah melaksakan perintah yang diberikan oleh beliau. Perlu apa kita mencari tahu tentang latar belakang dari perintah itu?"
"Jadi... suheng juga tidak tahu?"
Lim Kok Liang menggelengkan kepalanya.
"Aku memang juga merasakan adanya sesuatu di balik pengadaan lomba "Mengangkat Arca"
Ini. Tapi... sudahlah, sebagai seorang perwira kita tinggal melaksanakan perintah saja. Habis perkara."
Su Hiat Hong tidak mendesak lagi. Mereka segera ikut berdesakan di antara penonton yang memadati arena panggung lui-tai itu. Ternyata perlombaan "Mengangkat Arca"
Telah selesai.
Peserta yang dianggap berhasil dan memenuhi syaratpun telah dipanggil kembali ke atas panggung.
Mereka hanya berjumlah sepuluh orang.
Dan A Liong, pelayan warung itu ternyata berada di antara mereka!
"Lim suheng, lihat!
Jagomu ternyata ikut terpilih juga!"
Su Hiat Hong berseru gembira.
"Anak itu memang hebat! Sejak semula aku telah melihat sesuatu yang mengagumkan pada diri anak itu. Ternyata firasatku itu memang benar."
Dan pada saat itu pula A Liong melihat mereka.
Memang sejak tadi anak itu mencari-cari mereka di antara penonton.
Kedua tangan itu melambai-lambai ke arah mereka.
Su Hiat Hong membalas pula lambaiannya.
"Mulai besok pagi kita harus berjalan jauh lagi, kita bertiga dengan Tong Taisu harus mengawal sepuluh anak ini ke Kotaraja. Dan paling lambat bulan depan harus sampai di sana."
Lim Kok Liang berkata dengan suara berat.
"Yah, kita memang kurang beruntung. Sementara perwira-perwira yang lain hanya mendapatkan tempat tugas yang dekat, kita berdua mendapatkan bagian yang jauh."
"Ah... Kita ini masih lebih beruntung daripada mereka yang dikirim ke kota-kota di propinsi selatan sana. Dalam waktu sebulan mereka juga harus sudah tiba di Lok Yang (Kotaraja). Kasihan sekali, bukan?"
"Lalu dengan apa kita membawa anak itu?"
"Kita tidak perlu memikirkannya. Panitia yang dibentuk dan ditempatkan di sini tentu sudah mempersiapkan segalanya. Kita tinggal mengawal saja. Masing-masing sudah ditentukan tugasnya."
"Nah, hal-hal seperti inilah yang mengundang kecurigaan itu, suheng. Tampaknya seluruh rencana, aturan-aturannya, syarat-syaratnya, sampai pada pelaksanaannya, semua diatur dan dikerjakan oleh petugas-petugas dari Kotaraja. Itupun dilakukan oleh kesatuan-kesatuan dan kalangan tertentu saja, seperti kita ini. Pihak penguasa daerah, seperti kepala daerah, bupati dan lain-lainnya, sama sekali tak diajak atau diberi wewenang untuk melaksanakannya. Bukankah hal itu menimbulkan berbagai macam pertanyaan? Tentu saja tak mengherankan apabila tokoh-tokoh Beng-kauw itu sampai mencurigai kita."
"Ah, kau berbicara tentang itu lagi. Bukankah sudah kukatakan bahwa kita ini cuma pelaksana saja? Lalu kau mau apa? Apa kau mau memberontak dan melawan tugas?"
Su Hiat Hong tersipu-sipu. Ia tak bisa menjawab pertanyaan temannya itu.
"Suheng, kau ini ada-ada saja. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya merasa penasaran, rasanya aku ini seperti melangkah di jalan yang tidak ada ujung-pangkalnya..."
"Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi masalah ini. Pokoknya kita melaksanakan tugas kita sebaik-baiknya."
Mereka tak berbicara lagi.
Mereka memusatkan pandangan mereka ke panggung, menyaksikan piala dan hadiah-hadiah yang diberikan oleh Bupati kota Hang-ciu kepada para pemenang.
Para penonton bertepuk tangan menyambut kemenangan para peserta itu.
Sementara itu di panggung barongsai juga sudah sampai pada babak yang terakhir pula.
Keenam grup barongsai itu sudah dipertarungkan semuanya dan sudah ada tiga pemenangnya.
Mereka itu adalah grup barongsai dari kampung Ui-thian-cung, grup barongsai dari Pek-hok-bio (Kuil Kelelawar Putih) dan grup barongsai dari Hek-to-pai (Perguruan Golok Hitam).
Dan babak selanjutnya adalah menentukan urut-urutan juaranya.
Mereka bertiga akan dipersilakan tampil ke atas panggung semuanya untuk memperebutkan bungkusan mutiara yang digantungkan tinggi-tinggi di tengah arena.
"Wah, kali ini benar-benar akan mengasyikkan. Ketiga barongsai itu akan berlaga bersama-sama. Masing-masing barongsai seperti mendapatkan dua lawan yang harus dihadapi."
A Tung yang telah bergeser pula ke panggung barongsai itu berseru gembira.
"Kau menjagoi yang mana, heh?"
Lok Ma bertanya sambil menyodokkan sikunya ke pinggang A Tung.
"Hehehe... tentu saja aku pilih yang hitam, sesuai dengan kulitku. Apalagi pemain-pemainnya kelihatan serem-serem. Mereka tentu pendekar-pendekar tulen.
"Hah, kau ini ada-ada saja. Masakan ada pendekar tulen segala. Lalu... yang pendekar tipuan mana?"
Lok Ma tertawa.
"Tentu saja ada. kau mau tahu? Lha... Kau ini? Bukankah kalau di desa lagakmu seperti jagoan saja? Tapi...? Dengan binimu saja kau selalu dibantai, hehehe...!"
A Tung yang pintar bicara itu mulai meledek lagi.
"Babi kau...!"
Lok Ma mengumpat jengkel.
Para penonton yang berdiri di sekitar mereka ikut terpingkal-pingkal mendengar kelakar dua sahabat itu.
Bahkan Siau In bertiga, yang telah bergeser pula ke tempat itu, ikut tertawa juga sampai mengeluarkan air mata.
Gadis centil itu, yang pada dasarnya memang suka benar bergurau, segera melemparkan umpan lagi agar kelakar mereka menjadi semakin ramai.
"Masakan Paman ini kalah dengan isterinya...?"
Pancingnya sambil masih tetap tertawa.
"Benar, Kou-nio (Nona). Kawanku ini tak pernah menang melawan isterinya. Asal dia dan isterinya ribut, kami tetangganya, mesti punya pekerjaan sambilan, yaitu... Menggotong dia ke rumah tabib. Heh-heh-heh-heh...!"
A Tung menjawab cepat pancingan Siau In itu.
"Siapa bilang aku tak pernah menang? Bukankah sepekan yang lalu... aku tidak kalian gotong? Dua hari sebelumnya aku juga tetap sehat-sehat saja! Justru biniku yang melolong-lolong minta ampun kepadaku!"
Si Pendek Lok Ma itu menyahut dengan kata-kata konyol, sehingga para penonton menjadi semakin geli dan tertawa bergelak.
Tak terduga A Tung justru semakin tak bisa menahan gelaknya, sampai-sampai ia terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya Siau In tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.
"Kenapa, Paman? Kenapa kau tertawa begitu?"
A Tung melepaskan perutnya, lalu mengusap air matanya.
"Tentu saja... tentu saja dia menang... Ha-ha-ha... Karena... Karena isterinya sedang bunting tua! Ha-ha-ha...! Jangankan harus melawan suaminya, sedangkan untuk berjalan sendiri saja... sudah, ha-ha-ha!"
Tawa penonton di sekitar tempat itupun semakin meledak, sehingga Lok Ma yang konyol itu menjadi merah sekali mukanya.
Dari malu ia menjadi marah.
Tangannya segera diangkat untuk memukul A Tung, tapi A Tung cepat-cepat menghindar dan lari menjauhinya.
Dan keduanya lalu berkejaran di antara rimbunnya penonton.
"Hahaha... ada-ada saja!"
Sin Lun tertawa.
"Mereka memang sangat menggelikan."
Ciu In menyahut pula. Wajahnya yang biasa berkesan dingin itu kini kelihatan merah berseri-seri, sehingga Sin Lun yang ada di sampingnya menjadi kagum dan terpesona melihatnya.
"Ciu Sumoi memang cantik sekali."
Puji Sin Lun di dalam hatinya.
"Eh, kau... Kau kenapa, suheng? Mengapa kau pandang aku seperti itu? Apakah ada kotoran yang menempel di mukaku?"
Gadis itu bertanya gugup sambil mengusap-usap wajahnya. Sin Lun terperanjat kaget.
"Ah, tidak... tidak apa-apa, Sumoi. Tidak ada kotoran apa-apa di... di wajahmu."
Jawabnya kikuk dan malu.
"Hmmh! Hmmh!"
Tiba-tiba Siau In pura-pura terbatuk.
Bahkan matanya yang genit itu tampak berputar-putar dengan lucu, sementara lidahnya yang kecil itu dileletkannya ke kanan dan ke kiri.
Jelas ia hendak menggoda kakaknya lagi.
Tapi niat itu menjadi urung karena tiba-tiba pula di panggung lui-tai terdengar tambur dan gendang ditabuh bertalu-talu, sebagai tanda acara pertandingan bebas yang telah dinanti-nantikan penonton akan segera dimulai.
Dan kesempatan itu digunakan sepenuhnya oleh Cui In.
"Suheng! Pertandingan bebas sudah akan dimulai. Marilah kita ke sana!"
Katanya bersemangat.
"Ayoh,...!"
Sin Lun yang merasa terbebas dari suasana yang kurang menyenangkan itu mengiyakan dengan bersemangat puia.
Karena masing-masing seperti ingin membebaskan diri dari godaan Siu In, maka keduanya segera berlari menuju ke panggung lui-tai.
Tak seorangpun dari keduanya yang berani melontarkan suara ajakan kepada tukang olok-olok itu.
Mereka berdua baru kaget ketika ternyata gadis genit itu tidak ada bersama mereka.
"Hei...? kemana anak badung itu? Kenapa tidak mengikuti kita?"
Ciu In berseru kaget. Seketika hatinya menjadi khawatir.
"Benar. Kemana dia? Mari kita kembali untuk mencarinya!"
Sin Lun menjadi gugup juga.
Mereka kembali lagi ke panggung barongsai.
Tapi sampai lelah mereka berputar-putar, Siau In tetap tidak mereka ketemukan.
Gadis lincah itu seperti hilang begitu saja dari tempat tersebut.
"Kemana dia...?"
Ciu In berdesah bingung.
"Jangan bingung, Sumoi! Dia tentu sedang menggoda kita lagi. Dia tentu berada di antara penonton-penonton ini. Marilah kita cari sekali lagi!"
Tapi bagaimanapun juga mereka tetap takkan dapat menemukan Siau In, karena sebetulnya gadis itu telah sejak tadi meninggalkan tempat keramaian.
Gadis lincah yang merasa tidak diperhatikan oleh saudara-saudaranya lagi itu merasa dongkol dan marah, sehingga ia memutuskan untuk pergi kemana ia suka.
Mula-mula Siau In berniat kembali ke warung dan makan minum sendirian di sana.
Tapi niat itu lalu dibatalkannya pula.
Ia kemudian keluar ke jalan raya dan berjalan tak tentu tujuan.
Di dekat pasar Siau In berhenti.
Matahari telah berada di atas kepala, namun karena langit mendung dan berawan tebal maka suasana tetap sejuk dan dingin.
Bahkan beberapa saat lagi mungkin hujan akan turun.
"Ke manakah aku akan pergi? Kota ini sedemikian besarnya. Di segala tempat orang pada bersuka-ria. Hmm, baiklah... aku akan pergi ke pinggir laut saja. Di sana tentu sepi."
Siau In lalu melangkah lagi perlahan-lahan.
Karena wajahnya memang cantik, berjalan sendirian pula, maka banyak lelaki hidung belang yang mencoba menggoda atau sekedar menyapa dengan ucapan "Tahun Baru."
Tapi Siau In tak pernah menanggapinya.
Gadis itu tetap berjalan terus ke arah pantai.
Jalan semakin lama semakin sepi.
Meskipun banyak rumah dan perkampungan di kanan kiri jalan, namun tampaknya semua penghuninya telah pergi ke tengah kota.
Sebaliknya suara debur ombak semakin lama semakin terdengar nyaring ke telinga.
Udarapun seolah-olah mulai berubah pula.
Angin yang semula bertiup pelan dan terasa hangat, kini sedikit demi sedikit berubah keras dan dingin.
Bahkan baunyapun terasa semakin amis.
Begitu asyiknya Siau In melamun sehingga ia tidak menyadari kalau beberapa orang dari lelaki hidung belang tadi telah mengikutinya.
Mereka berjumlah enam orang, berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun.
Yang terasa aneh namun juga menggelikan ialah kesemuanya berkulit dan berwajah hitam.
Dan dilihat sepintas lalu saja sudah bisa diduga bahwa semuanya menyembunyikan senjata di balik pakaian mereka yang longgar.
Jalan yang dilalui Siau In mulai menginjak daerah pertanian dan perkebunan.
Dan tempat itu benar-benar sepi sekali.
Tak seorang petanipun yang kelihatan berada di sawah atau di kebunnya.
Enam orang hidung belang itu mulai merencanakan niat buruk mereka.
Tapi sebelum mereka bertindak, Siau In telah keburu mempergunakan ginkangnya untuk mempersingkat waktu.
Gadis lincah itu berlari cepat sekali.
"Hei... burung cantik itu ternyata pandai terbang!"
Salah seorang dari lelaki hidung belang itu, yang agaknya adalah pemimpin mereka, berdesah gembira dan bersemangat.
"Benar, Toa-ko. Tapi... justru lebih mengasyikkan buat kita! Heh-heh-heh!"
Yang lain menyahut pula dengan nada bergairah.
"Tapi... tapi Toako, aku... aku seperti melihat berkelebatnya orang di belakang kita. Ketika secara kebetulan aku menengok ke belakang tadi, aku seperti melihat berkelebatnya sesosok bayangan di balik tumpukan jerami itu!"
Pengikut termuda dari rombongan itu tiba-tiba menyela.
"Mana, hah...? Mana? Boneka-boneka sawah itu? kau ini penakut benar! Di belakang kita kosong, tidak ada siapa-siapa! Matamu saja yang mungkin sudah juling, boneka sawah kau kira manusia sungguhan!"
Si Pemimpin itu bersungut-sungut.
"Benar, Toako. Mana ada orang berani bertingkah di depan kita? Ini daerah kita. Tak seorangpun berani mengganggu anggota Hek-to-pai di tempat ini! Ayoh, kita kejar burung cantik itu! Nanti ia keburu tiba di daerah perkampungan nelayan Ui-thian-cung."
"Ayoh...!"
Yang lain dengan serempak mengiyakan.
Semuanya segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka dan berlari secepat-cepatnya mengejar Siau In.
Dan karena gadis itu memang tidak menduga kalau sedang dikejar orang, maka langkahnya juga hanya seadanya saja.
Gadis itu hanya mengerahkan separuh dari kemampuannya berlari.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila sebentar saja keenam hidung belang itu telah bisa mengejarnya.
Mereka berlari di belakang Siau In.
Siau In terkejut dan menoleh.
Dan dahinya yang halus mulus itu segera berkerut ketika melihat enam orang lelaki berlari sambil pringas-pringis di belakangnya.
Otomatis langkahnya dipercepat.
Tapi orang-orang itu juga mempercepat langkah kaki mereka pula.
Siau In menjadi penasaran, ia lalu meningkatkan kemampuannya berlari lagi.
Tapi keenam orang itu ternyata juga menambah kecepatan mereka.
Terjadilah kejar mengejar yang mengasyikkan di siang hari bolong itu.
Mereka mulai menginjak daerah pertambakan garam.
Di sana-sini, di kanan kiri jalan, yang terlihat cuma genangan air garam melulu.
Barulah beberapa saat kemudian tampak sebuah perkampungan petani tambak di depan mereka.
Siau In lalu mengeluarkan seluruh kemampuan ginkangnya.
Tubuhnya yang mungil itu melesat ke depan bagai anak panah yang terlepas dari busurnya.
Dan para pengejarnya segera tertinggal jauh di belakang.
Namun demikian ketika sampai di mulut perkampungan petani tambak itu, Siau In menghentikan langkahnya.
Gadis yang amat berani itu hendak mencoba, apakah para lelaki hidung belang itu masih berani mengganggunya di perkampungan penduduk.
Tapi perkiraan Siau In itu ternyata salah.
Ketika satu persatu para pengejarnya tadi datang dengan napas memburu, semuanya justru menampilkan wajah yang amat lega.
"Bagus-bagus! Ternyata Nona juga berhenti kelelahan di sini. Sungguh kebetulan sekali, hoh-hoh-hoh! Inilah kampung tempat tinggal kami! Selamat datang. hoh-hoh-hoh...! Marilah singgah sebentar...!"
Si Pemimpin itu berkata gembira.
Tentu saja kenyataan itu amat mengejutkan hati Siau In.
Ternyata perkiraannya meleset.
Perkampungan itu justru merupakan tempat tinggal para lelaki hidung belang tersebut.
Bahkan ketika menengok ke sebuah pintu rumah yang paling megah di pinggir jalan itu, ia melihat papan nama yang dipasang secara menyolok sekali.
Papan nama itu bertuliskan huruf .
HEK TO PAI!
"Celaka...!
Ternyata aku berada di sarang buaya!"
Gadis itu berkata di dalam hatinya. Tapi sedikitpun Siau In tidak gentar! Gadis periang dan pemberani itu malah tersenyum menghadapi para pengganggunya.
"Cuwi (Tuan semua) ingin agar aku singgah sebentar di kampung ini? Ah, maaf... Lain kali saja. siauwte (Aku yang rendah) sedang tak pernah enak badan. siauwte hendak pergi ke pantai untuk membuang rasa sebal dan dongkol dulu. Nah, maaf..."
Siau In cepat berbalik dan hendak pergi meninggalkan tempat itu, tapi orang-orang Hek-to-pai itu dengan cepat mengepungnya.
Malahan salah seorang di antara mereka segera berlari ke perkampungan memanggil teman-temannya.
"Nanti dulu, Nona. kau tidak boleh menolak undangan kami. Sekali kami mengundang orang, orang itu harus datang. Menolak undangan kami berarti menghina Hek-to-pai! Dan... siapapun juga yang berani menghina Hek-to-pai tentu tidak akan berumur panjang!"
Si pemimpin itu mengancam.
Bukan main marahnya hati Siau In.
Orang-orang berkulit hitam itu benar-benar telah meremehkan dirinya.
Karena ia cuma seorang perempuan muda, apalagi hanya seorang diri, mereka lalu main paksa seenak mereka sendiri, seolah-olah dia itu cuma seorang perempuan desa murahan.
Apalagi cara mereka memaksa itu dengan kedok dan selubung Hek-to-pai.
Siau In benar-benar muak sekali.
"Anjing-anjing keparat! kau kira aku gentar melihat tampang-tampang hitammu yang menjijikkan itu, hah? Meskipun kau berlindung di balik perkumpulan orang-orang yang berjalan di jalan hitam (hek-to), aku tidak takut! Suruh semua orang-orangmu ke sini! Suruh ketuamu sekalian ke mari! Akan kucuci habis-habisan muka kalian yang hitam legam itu agar kalian bisa melihat hal-hal yang terang dari wajah kalian itu!"
Siau In berteriak lantang.
Betapa hebatnya penghinaan itu!
Tak heran bila orang-orang Hek-to-pai itu tak dapat menahan amarahnya.
Apalagi gadis itu dengan seenaknya mengubah arti dari nama perkumpulan mereka, dari Hek-to yang bermakna Golok Hitam menjadi Hek-to yang bermakna Jalan Hitam.
Kedua buah ucapan itu memang hampir sama.
"Babi betina yang tak tahu diri! kau memang pantas mati dengan mengenaskan! Akan kubelejeti pakaianmu, lalu akan kunista dirimu beramai-ramai di air tambak itu, sehingga kau akan mengalami penderitaan yang tak mungkin bisa kau lupakan seumur hayatmu! Ayoh, kawan-kawan... bekuk dia!"
Si pemimpin itu mengumpat dan mengancam.
si pemimpin itu sendiri lalu minggir untuk memberi kesempatan empat orang temannya untuk membekuk gadis sombong itu.
Ia masih beranggapan bahwa Siau In tidak berbahaya dan hanya pandai berlari saja.
Ia menganggap empat orang temannya itu sudah lebih dari cukup untuk menangkap betina galak tersebut.
Dan kesombongan orang itu benar-benar harus dibayar mahal oleh teman-temannya.
Dalam waktu singkat, hanya dengan empat kali gerakan tangan, ke empat orang itu telah menjerit kesakitan dan kemudian terlempar bergelimpangan terkena ujung sepatu Siau In!
Begitu singkatnya, sehingga orang-orang yang sangat memandang rendah Siau In itu tidak sempat mempergunakan golok hitam kebanggaan mereka!
Masing-masing tergeletak pingsan dengan pisau kecil menancap di keh-jin-hiat mereka.
si pemimpin itu melongo sambil mengucak-ucak matanya.
Ia sama sekali belum sadar apa yang telah terjadi dan sama sekali juga belum bisa percaya bahwa semuanya itu bisa terjadi.
Semuanya berlangsung dengan begitu cepat.
Cepat sekali, sehingga rasa-rasanya suara perintahnya tadi masih terngiang-ngiang di telinganya sendiri.
"Hayo! Mengapa kau berdiri bengong saja di tempat itu? Majulah! Akan kulemparkan bangkaimu nanti ke tengah-tengah air tambak itu, agar rohmu menderita pula di alam baka!"
Siau In yang sudah menjadi buas itu menjerit marah. Di telapak tangannya masih tersisa sebilah pisau.
"Kau... Lukai mer-mereka... semua? kau benar-benar setan betina!!"
Dengan suara hampir tidak jelas si pemimpin itu mengumpat dan menerjang. Tangannya telah menggenggam golok hitam yang berkilauan saking tajamnya.
"Heeiitt!"
Siau In meloncat ke kiri dengan sigapnya.
Tangannya terayun, tapi bukan untuk melemparkan pisaunya.
Tangan yang kecil itu dipakai untuk menghantam pergelangan tangan lawannya yang mencekal golok.
Sementara kaki kanannya yang bersepatu tipis itu menerjang tinggi ke arah ulu hati.
Gerakan bertahan dan menyerang ini adalah sebagian dari jurus Naik Tangga Memandang Bulan, di mana tangan kiri yang memukul pergelangan tangan lawan itu diibaratkan sedang menguak rintangan penutup rembulan dan kaki kanan yang melayang naik ke ulu hati itu diibaratkan sebagai kaki sedang menaiki tangga.
(Lanjut ke
Jilid 03) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 03 Namun meski marah si pemimpin itu sudah sadar siapa lawannya.
Ia tidak mau bernasib seperti kawan-kawannya itu, sehingga pada saat menyerang tadi ia juga tidak lupa akan pertahanannya.
Maka ketika serangan balik Siau In itu hampir mengenai sasarannya, ia terlebih dulu menggeliat ke kiri cepat sekali, hingga serangan itu lewat hanya sejengkal saja dari tubuhnya.
Kemudian sebelum Siau In menarik kaki dan tangannya, ia lebih dulu memanfaatkan kesempatan itu dengan menyabetkan golok hitamnya yang berselubung racun ke arah lawan.
Serangan si pemimpin itu benar-benar bagus dan ganas luar biasa.
Sepintas lalu serangan itu tidak mungkin tidak pasti akan mengenai sasarannya.
Dalam keadaan serta kedudukan tubuh seperti itu tak mungkin Siau In dapat menghindar lagi.
Tubuh yang molek itu tentu akan terbelah menjadi dua bagian.
Atau paling tidak, kaki dan tangan yang mungil itu tentu akan terlepas dari tubuhnya.
Namun apa yang kemudian terjadi ternyata juga di luar dugaan si pemimpin itu.
Dalam keadaan terjepit ternyata Siau In melakukan langkah yang boleh dikatakan amat berbahaya sekali buat dirinya sendiri, tapi tampaknya gadis itu memang telah yakin benar akan kekuatannya, sehingga golok hitam yang lebarnya setelapak tangan orang dewasa itu tiba-tiba hanya ditangkis dengan pisau kecilnya yang tak lebih besar daripada jari tangannya sendiri!
"Traaaaaang!!!"
Terdengar suara nyaring disertai percikan api yang amat hebat.
Siau In mengeluh pendek karena jari-jari tangannya yang kecil halus itu tergetar dengan dahsyatnya sehingga tak kuasa memegangi pisaunya.
Pisau itu terlepas jatuh, namun sebelum menyentuh tanah, tiba-tiba ujung sepatu kiri gadis itu menyambar gagangnya.
"Thaaak!"
Dan pisau itu meluncur ke atas dengan cepatnya!
si pemimpin itu telah bersorak di dalam hati.
Tapi kegembiraannya itu mendadak hilang dan diganti dengan jeritannya yang menyayat hati.
Pisau kecil itu ternyata menyambar urat nadinya, sehingga golok hitamnya itu terlempar ke udara!
Darah mengucur dengan derasnya dari pergelangan tangan si pemimpin itu.
Pisau Siau In telah menembus tulang dan memutuskan urat nadinya, sakitnya tiada terkira.
Sebaliknya Siau In sendiri ternyata juga tidak terbebas begitu saja.
Walaupun ayunan golok lawan dapat ia tahan sepenuhnya, tapi guncangannya masih mampu mengoyakkan kulit telapak tangannya.
Bahkan ujung golok itu juga masih dapat merobek lengan bajunya pula.
Kini Siau In benar benar tidak bisa menahan marahnya lagi.
Dengan cepat tangannya mencabut pedang pendek yang terselip di balik bajunya, tapi sebelum dia mempergunakan pedang itu dan dalam perkampungan petani tambak tersebut tiba-tiba muncul berpuluh-puluh anggota Hek-to-pai yang lain.
Mereka berbondong bondong mengiringkan seorang lelaki tegap berkumis dan berjenggot lebat.
Begitu melihat kawan-kawan mereka yang bergelimpangan, mereka bergegas menghampiri.
"Siapa yang berani mengacau perkampungan ini?"
Lelaki bercambang lebat itu membentak. Suaranya keras dan berwibawa.
"Suhu, dialah gadis yang kukatakan tadi."
Anggota Hek-to-pai yang melapor tadi memberi tahu.
Siau In berdiri tegak di hadapan lelaki itu.
Pedang pendeknya ia sembunyikan di balik lengan bajunya.
Ia sama sekali tidak takut menghadapi lawan yang banyak sekali itu.
Bahkan ia balas menentang pandang mata lelaki bercambang lebat tersebut.
"It Hou...! Bukankah kau tadi kusuruh membawa adik-adikmu pergi ke kota untuk mencari susiok-susiokmu (paman-paman gurumu) yang bermain barongsai di halaman rumah Bupati? Mengapa kalian telah berada di sini lagi dalam keadaan seperti ini?"
Lelaki bercambang lebat itu tiba-tiba membentak si pemimpin tadi.
It Hou yang terluka pergelangan tangannya itu terdiam tak bisa menjawab.
Ia hanya bisa menundukkan kepalanya sambil terus memijit-mijit lukanya yang parah.
"Baiklah, kau boleh menjawabya nanti. Sekarang uruslah Adik-adikmu yang terluka ini. Bawalah mereka ke Balai Latihan Silat!"
"Ba-baik, Suhu..."
It Hou menjawab, lalu mengajak beberapa orang adik seperguruannya yang lain untuk membantu membawa orang-orang yang pingsan itu ke Balai Latihan Silat.
Laki-laki bercambang lebat itu lalu menghadapi Siau In kembali.
Beberapa saat lamanya ia hanya mengawasi saja tubuh Siau In dari kaki sampai ke kepala.
Baru setelah itu ia menggeleng-gelengkan kepala seraya berdecak kagum.
"Bukan main. Masih begini muda, tapi sudah mampu mengalahkan murid kepalaku It Hou, Hmm, Nona... perkenalkanlah, namaku It Kwan. Aku adalah Ketua Hek-to pai yang bermarkas di perkampungan petani tambak ini. Bolehkah aku tahu namamu, nama gurumu dan nama perguruanmu?"
Halus sekali nada suara ketua Hek-to-pai tersebut.
Tapi bagi Siau In suara itu tetap terasa sombong dan menekan dirinya.
Bahkan suara itu masih terasa mengandung nada penasaran dan kemarahan.
Maka Siau In tetap tidak mau mengendurkan kewaspadaannya.
Pedang pendeknya sewaktu-waktu masih siap untuk dipergunakan.
"Namaku Siau In, Tio Siau In. Aku adalah murid Giam Pit Seng, pimpinan Cabang Im-yang-kauw bagian timur. Aku tidak bermaksud melukai..."
"Aaaaaa... jangan sungkan-sungkan."
It Kwan cepat memotong perkataan Siau In.
"Jadi... Nona ini murid Giam Taihiap yang terkenal itu? Wah, pantas... pantas. Nama gurumu memang menjulang tinggi sejak lima tahun yang lalu, sebelum ia dipilih sebagai pimpinan Cabang Im-yang-kauw daerah timur. Namanya boleh disejajarkan dengan Keh-sim Siau-hiap (Pendekar Patah Hati). Tung-hai-tiauw (Rajawali Laut Timur), Tung-hai Nung-jin (Petani Laut Timur) dan Lam-hai-kiam (Pedang Laut Selatan), yang hidup pada dua puluh tahun lalu..."
Keempat tokoh yang disebutkan oleh It Kwan itu adalah tokoh-tokoh persilatan ternama di daerah pantai timur Tiongkok pada dua puluh atau dua puluh lima tahun yang lalu.
Keh-sim Siau-hiap adalah pemilik Pulau Meng-to (Pulau Mimpi), sedangkan tiga tokoh yang lain itu adalah bajak laut terkenal yang menguasai Lautan Timur dan Selatan.
Nama mereka sangat ditakuti di pantai timur Tiongkok, sampai pada suatu saat mereka dikalahkan oleh seorang tokoh jahat bernama Hek-eng-cu (Bayangan Hitam).
Sejak itu nama nama mereka hilang tak terdengar lagi.
Siau In tidak suka nama gurunya diperbandingkan dengan tokoh yang sudah tiada atau tidak pernah muncul lagi itu.
"Maaf, Pangcu. Kalau Pangcu memang benar-benar tidak ingin memperpanjang urusan ini lagi, aku akan mohon diri. Aku...?"
"Eit, nanti dulu. Aku memang tidak akan memperpanjang masalah ini, karena aku menghormati gurumu. Apalagi aku tidak ingin berselisih dengan aliran Im-yang-kauw. Tapi... Kuminta kau singgah dulu di Hek-to-pai!"
Mata yang sudah mulai meredup itu tampak menyala lagi. Malahan bibirnya yang kecil tipis itu kini digigit karena menahan geram.
"Hmm! Sedari tadi kau selalu berbicara manis, padahal maksudmu sebenarnya juga tidak berbeda dengan murid-muridmu itu! Huh, marilah! kau tak perlu sungkan menghadapi gadis muda seperti aku! Tapi ketahuilah, kaki tanganku ini juga takkan sungkan-sungkan pula untuk membunuh orang agar aku bisa keluar dari perkampungan bobrok ini!"
Gadis itu menggeram marah.
"Eeee... Nona salah sangka! Aku..."
It Kwan masih mencoba membujuk dengan kata-kata halus.
Tapi Siau In tak bisa diajak bicara lagi.
Gadis itu cepat melompat ke samping kanan It Kwan dan berusaha menerobos ke depan.
Pedangnya tetap dia simpan di balik lengan bajunya.
Gadis itu telah bergerak cepat, tapi ternyata It Kwan lebih cepat lagi.
Lelaki bercambang lebat itu memutar badannya ke kanan sambil melepaskan tinju kirinya lurus ke depan.
Hal ini berarti bila Siau In meneruskan maksudnya, ia tentu akan dihajar oleh kepalan itu.
Bagaimanapun juga It Kwan memang masih merasa sungkan melayani Siau In.
Sebagai ketua perguruan yang cukup punya nama di daerah itu, sebenarnya ia tak ingin berhadapan langsung dengan gadis ingusan seperti Siau In.
Namun apa daya, murid pertama dan juga puteranya sendiri itu ternyata tak mampu melawan Siau In.
Sayang dua orang adik seperguruannya kini berada di kota ikut berlomba barongsai.
Oleh karena itu dalam melepaskan pukulannya It Kwan sengaja tidak mengerahkan seluruh tenaganya, la hanya melepaskan setengah bagian saja dari seluruh kemampuannya.
Apalagi ia memang tidak ingin melukai gadis itu.
Bagaimanapun juga ia tidak ingin bermusuhan dengan aliran Im-yang-kauw yang sangat besar.
Dia hanya ingin memberi sekedar pelajaran saja kepada gadis itu, agar gadis itu juga mengetahui bahwa Hek-to-pai tidak boleh dipandang enteng.
Tapi inilah kesalahan It Kwan.
Kalau ia bertempur dengan sungguh-sungguh, mungkin ia masih bisa menghadapi Siau in tanpa menderita malu.
Namun karena dia hanya setengah-setengah, padahal Siau In berkelahi dengan seluruh kemampuannya, maka akibat yang kemudian terjadi benar-benar memerahkan telinga ketua Hek-to-pai itu.
Begitu melihat lawannya tergeser ke kiri sambil melontarkan pukulan untuk menghadang dirinya, Siau In segera menyiapkan pedang pendeknya.
Pada saat yang tepat pergelangan tangannya berputar sehingga pedang itu keluar dan menabas kepalan tangan It Kwan.
Ketua Hek-to-pai itu terkejut setengah mati, padahal tadi ketika ia merasa lawannya tak bisa mengelak lagi, ia lalu mengurangi pula tenaganya.
Tak disangka-sangka gadis itu ternyata telah memasang jebakan yang berbahaya, sehingga ia benar-benar sulit menyelamatkan diri sekarang.
Namun sebagai ketua partai persilatan yang cukup berpengalaman, It Kwan tidak segera berputus asa.
Dengan sekuat tenaga ia menghentikan laju kepalannya, kemudian secepat kilat menekuk pergelangan tangannya sehingga kepalan itu paling tidak tertarik dua inchi ke belakang.
Dan bersamaan dengan itu pula dia juga menyemburkan sesuatu dan mulutnya, untuk menahan laju pedang Siau In.
"Tinggg! Sssrrt!"
"Ough!"
It Kwan mengaduh pendek seraya melihat ke punggung tangannya.
Ternyata meski telah berupaya dengan segala macam cara, pedang pendek itu masih juga menyerempet punggung tangan It Kwan, sehingga kulitnya terkelupas dan mengeluarkan darah.
Betapa marah dan terhinanya ketua Hek-to-pai itu tak bisa dilukiskan lagi.
Giginya gemeratak.
Matanya melotot.
Dan kumisnya yang lebat itu kelihatan bergetar menahan geram.
"Kuntilanak busuk tak tahu diuntung...!"
Umpatnya kasar, sehingga kelihatan benar watak aselinya.
It Kwan memang bekas anak murid dari seorang pendeta di puncak Gunung Kun Lun.
Tapi karena tabiatnya yang kurang baik, ia diusir dari perguruannya.
Ia lalu mengembara jauh sekali ke bagian timur negeri Tiongkok dengan bekal ilmu goloknya.
Karena wataknya memang kurang baik, maka di dalam perjalanannya itu ia juga selalu berbuat yang merugikan orang lain, seperti memeras, merampok, membegal dan sebagainya.
Namun sejalan dengan berbagai pengalamannya itu, maka ilmu goloknyapun juga semakin bertambah matang pula.
Bahkan ia telah menambah, mengubah, serta menyesuaikan jurus-jurusnya, sehingga akhirnya ilmu goloknya menjadi lain, tapi amat cocok dengan wataknya sendiri.
Malahan untuk lebih memperdahsyat ilmu goloknya, It Kwan lalu memoles goloknya dengan racun, sehingga golok itu menjadi hitam dan mengerikan.
Akhirnya ia sampai di kota Hang-ciu.
Di tempat ini ia mendapatkan jodohnya dan mendirikan sebuah perguruan yang dinamakan Hek-to-pai, sesuai dengan senjata yang menjadi andalannya.
It Kwan mengerahkan seluruh tenaga saktinya.
Tulang-tulangnya sampai bergemeratak menahan kekuatannya.
Wajahnya yang hitam legam itu tampak menjadi ganas dan mengerikan.
Matanya liar mengungkapkan hawa pembunuhan.
Namun demikian ketua Hek-to-pai itu belum merasa perlu mengeluarkan golok hitamnya.
"Kubunuh kau betina memuakkan! Aku tidak peduli lagi kalau si Tua Bangka Giam Pit Seng itu akan memusuhi aku! Dan aku juga tidak peduli lagi misalkan seluruh tokoh Im-yang-kauw menuntut balas ke mari! Lihat pukulan...!"
Ngeri juga hati Siau In menyaksikan wajah lawannya yang berubah menjadi sangat menyeramkan itu.
tapi perasaan itu segera dibuangnya jauh-jauh.
Sebagai seorang gadis yang telah digembleng ilmu silat tinggi oleh gurunya, ia telah mampu menguasai perasaan takutnya.
Ia segera menundukkan tubuhnya untuk mengelakkan pukulan lawannya, lalu balas menusukkan pedang pendeknya ke arah perut.
Tapi dengan cepat It Kwan mengibaskan tangannya yang lain, sehingga ujung pedang Siau In seperti terdorong oleh sebuah tenaga raksasa dan melenceng ke samping.
Terpaksa untuk menjaga keseimbangannya Siau In ikut bergulir ke samping pula.
Bahkan untuk menjaga segala kemungkinan gadis itu lalu menambah lagi dengan melangkah ke kiri dua tindak.
It Kwan membalikkan tubuhnya.
Sekali lagi ia mempersiapkan seluruh tenaga saktinya.
Kakinya lalu menjejak tanah dan kedua lengannya terulur ke depan, membentuk cakar untuk merobek robek badan Siau In.
Jurus ini ia beri nama Harimau Tutul Menyergap Anjing!
Walau belum banyak pengalaman, namun Siau In sadar bahwa tenaga dalam orang tua itu lebih tinggi daripada tenaga dalamnya.
Berdasarkan hasil dari beberapa gebrakan tadi, Siau In bisa menyimpulkan bahwa berhadapan langsung dengan lawannya adalah tidak menguntungkan.
Ia harus lebih banyak mengandalkan kelincahan dan kehebatan ilmu pedangnya.
Ilmu pedang Siau In memang aneh dan lain daripada yang lain, karena ilmu pedang ciptaan suhunya itu sebenarnya hanya gubahan saja dari ilmu Hok-hong Pit-hoat (Ilmu Menulis Menaklukkan Angin) andalan gurunya.
Suhunya sebelum menjadi pemimpin cabang Im-yang-kauw memang seorang pendekar silat bersenjatakan sepasang pena (pit).
Ilmu Hok-hong Pit-hoat sangat dikagumi dan disegani lawan di daerah pantai timur Tiongkok sejak beberapa tahun yang lalu.
Ketika kemudian gurunya itu menerima murid, ia menjadi bingung karena dua di antara tiga muridnya ternyata adalah wanita.
Padahal senjata pena tersebut hanya cocok untuk laki-laki.
Oleh karena itu terpaksa gurunya mengubah dan menyesuaikan jurus-jurus Hek-hong Pit-hoat itu ke dalam permainan pedang pendek, agar cocok dan sesuai dengan kedua orang murid perempuannya.
Hanya Sin Lun saja sebagai lelaki yang mempelajari Hok-hong Pit-hoat yang aseli.
Melihat lawannya menerkam seperti harimau, Siau In menggeser kakinya ke samping, lalu meloncat ke atas pula seperti lawannya.
Pedang pendeknya menyabet ke depan untuk menabas putus kedua lengan It K wan.
Jurus ini sebenarnya adalah gubahan dari jurus ke sebelas dari Hok-hong Pit-hoat, yaitu Melukis Dua Mata di Lamping Gunung.
Gerakan aslinya ialah menusukkan dua mata pena (pit) ke arah pelipis dan siku lawan.
Tapi oleh gurunya gerakan itu diubah dengan menyabetkan dua buah pedang ke leher dan lengan musuh.
Namun karena yang dipegang oleh Siau In sekarang hanya sebatang saja maka tabasan tersebut hanya tertuju pada lengan lawan saja.
It Kwan meraung marah.
Meskipun masih amat muda ternyata Siau In sangat lincah dan cerdik.
Dengan indah It Kwan menggeliatkan tubuhnya di udara untuk menghindari tabasan pedang Siau In.
Begitu kakinya menginjak tanah lagi, ketua Hek to pai itu segera menerjang kembali dengan sabetan sisi telapak tangannya terarah ke pinggang Siau In.
Anak murid It Kwan yang mengepung arena itu kelihatan tegang dan cemas.
Meskipun mereka sangat percaya pada kesaktian guru mereka, tapi mereka juga melihat bahwa gadis muda itu memiliki ilmu pedang yang luar biasa pula.
Malahan pada gebrakan pertama tadi gurunya sempat mendapat luka di punggung tangannya.
Mereka menjadi tidak sabar, kenapa gurunya tidak lekas-lekas saja mempergunakan goloknya.
Dua puluh jurus telah berlalu, tapi It Kwan yang berjanji hendak membunuh Siau In itu tetap belum bisa melaksanakan niatnya.
Gadis muda itu ternyata sangat alot dan licin bukan main.
Bahkan beberapa kali malah ia sendiri yang hampir termakan oleh pedang pendek itu.
Tiga puluh jurus telah berlalu pula.
Malahan beberapa waktu kemudian empat puluh juruspun telah terlampaui juga.
Meskipun demikian ketua Hek-to-pai itu tetap tak mampu melumpuhkan perlawanan Siau In.
Sebaliknya gadis itu malah lebih sering mendesaknya ke dalam kesulitan.
Akhirnya It Kwan sadar bahwa lawannya memang memiliki kepandaian tinggi.
Kalau dia tetap bertahan dengan kesombongannya, bukan mustahil ia sendiri malah yang akan terkapar di atas tanah.
Oleh karena itu ia segera mengesampingkan perasaan malunya dan memberi tanda kepada salah seorang muridnya untuk memberinya sebilah golok.
Murid itu segera melemparkan golok hitamnya.
Kini It Kwan berdiri dengan golok di tangan.
Matanya tajam mengawasi lawannya yang masih amat muda itu.
Hawa pembunuhan benar-benar telah terpancar dari sorot matanya.
Dan golok hitam di tangannya itu tiba-tiba seperti berkilau mengerikan.
Sekejap bergetar juga hati Siau In.
Gadis itu menyadari bahwa dengan golok di tangan, It Kwan benar-benar akan seperti harimau tumbuh sayap.
Maka untuk melindungi keselamatannya, Siau In cepat mengeluarkan pula pedang pendeknya yang lain.
Kini kedua belah tangannya benar-benar telah memegang senjata andalannya, sepasang pedang pendek!
* * * Sementara itu matahari telah condong ke barat dan pertunjukan di halaman rumah Bupati itupun sudah hampir selesai pula.
Semua penonton sudah mengumpul dan tertumpah semua di sekeliling panggung lui-tai.
Pertandingan barongsai dan tari-tarian telah rampung, sehingga seluruh penontonnya berpindah ke panggung lui-tai.
Juara pertama di panggung barongsai adalah pemain barongsai dari Ui-thian-cung.
Walaupun betisnya telah dilukai Siang-hai-coa dari Ang-lian-pang, namun dua saudara Ui itu tetap bisa memenangkan pertandingan melawan barongsai dari Pek-hok-bio dan Hek-to-pai.
Sekarang di atas panggung lui-tai sedang berlaga dua orang lelaki bersenjatakan pedang dan tongkat besi.
Keduanya telah bertarung lebih dari tiga puluh jurus, namun belum ada juga yang kalah atau menang.
Sedangkan di bawah panggung, di dekat tempat duduk wasit atau panitia, telah berdiri dua orang pemenang yang telah lolos dari ujian pertama, yaitu memenangkan peserta lain tiga kali berturut-turut.
Siu Lun dan Ciu In masih sibuk mencari Siau In.
Sepasang merpati itu terduduk lesu di pintu gerbang halaman.
Wajah mereka tampak sedih dan khawatir.
"Suheng...? Ke manakah sebenarnya Siau In? Jangan-jangan telah terjadi sesuatu pada dirinya. Oh, suheng..."
Ciu In mulai berkaca-kaca matanya. Sin Lun berdiri dari duduknya.
"Marilah kita cari di jalan. Mungkin ia marah karena kita tinggalkan tadi, lalu pergi meninggalkan kita ke jalan raya."
Mereka lalu berjalan perlahan-lahan sambil memasang mata dan telinga, kalau-kalau mereka melihat atau mendengar orang berbicara tentang Siau In.
Di depan pasar di mana Siau In tadi juga berdiri, mereka berhenti sebentar.
Di pondok perempatan jalan di muka mereka, tampak beberapa orang berdiri bergerombol sambil berbicara dengan riuhnya.
"Ayo kita mendekati mereka! Siapa tahu mereka pernah melihat Siau In lewat."
Sin Lun menarik lengan Ciu In dan mengajak gadis itu berjalan lagi. Orang orang itu segera menoleh dan melihat kepada mereka, terutama kepada Ciu In yang cantik dan lembut.
"Cuwi, maaf... bolehkan kami bertanya? Tampaknya baru ada sesuatu yang terjadi di tempat ini?"
Dengan sopan Sin Lun menegur orang-orang itu.
"Benar. Di sini baru saja ada seorang gadis yang pingsan dengan mendadak."
Salah seorang dari orang-orang itu memberi jawaban. Hati Sin Lun dan Cui In berdesir. Tiba-tiba mereka menjadi khawatir, jangan jangan gadis itu adalah Siau In.
"Seorang gadis...?"
Sin Lun menegaskan.
"Apakah gadis itu masih sangat muda dan cantik?"
"Ya-ya, Sicu (Tuan) benar."
Orang-orang itu menjawab serentak.
"Apakah Sicu kenal gadis itu?"
Dengan gugup dan suara serak Cui In maju ke depan.
"Apakah... apakah gadis itu mengenakan baju warna merah muda?"
Tanyanya harap-harap cemas.
"Ya, betul! Gadis itu memang mengenakan baju warna merah."
Orang-orang itu menjawab tidak bersamaan.
"Oh, suheng... dia... dia memang Siau In."
Ciu In mulai menangis perlahan.
Tentu saja orang-orang itu menjadi kaget.
Mereka saling pandang dan tak tahu harus berbuat apa.
Untunglah Sin Lun dengan sigap lalu meminta agar salah seorang menceritakan apa yang telah terjadi.
Sin Lun berkata kepada orang-orang itu bahwa ia adalah kakak dari gadis yang pingsan tersebut.
Ternyata beberapa saat yang lalu ada seorang gadis muda dan cantik berjalan sendirian di tempat itu.
Beberapa orang di antara orang-orang itu malah sempat pula menggodanya.
Namun gadis itu tidak meladeni godaan mereka.
Mungkin karena risi gadis itu lalu menyeberang jalan.
Dan pada saat itu ada sebuah gerobag kuda yang kebetulan lewat pula.
Entah mengapa, tiba-tiba gadis itu lalu terkulai jatuh ke jalan.
Mereka dan beberapa orang yang kebetulan lewat segera memberi pertolongan, termasuk juga penumpang gerobag kuda tadi.
Tapi sampai beberapa saat lamanya gadis itu tidak juga siuman.
Kemudian diambil keputusan untuk membawa gadis itu ke rumah tabib yang tinggal di bagian barat kota.
Pemilik gerobag itu lalu menawarkan diri untuk membawa gadis itu ke sana dan semua orang menyetujuinya.
"Jadi gadis itu dibawa ke rumah tabib? Oh, di manakah rumah tabib itu?"
Dengan gugup Sin Lun bertanya kepada orang yang bercerita itu.
"Sicu ambil saja jalan yang menuju ke barat ini. Jangan berbelok sebelum sampai di sebuah kuil besar di pinggir jalan. Kalau Sicu sudah sampai di kuil Pek-hok-bio itu, silakan berbelok ke kanan. Kira-kira seratus tombak dari kuil itulah rumah Tabib Ciok. Setiap orang tahu rumahnya."
"Terima kasih...!"
Sin Lun menjura, lalu menarik lengan Ciu In untuk diajak berlari ke rumah tabib itu. Keduanya tak mempedulikan orang-orang lain yang keheranan melihat mereka berlari-lari.
"Kenapa Siau In bisa pingsan? Apakah ia sakit? Bukankah tadi ia sehat-sehat saja? Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres..."
Sambil berlari Ciu In menduga-duga.
"Aku juga bingung. Masakan gadis kuat seperti Siau-sumoi bisa pingsan tanpa sebab? Jangan-jangan dia bukan Siau-sumoi, tapi orang lain..."
Sin Lun mengemukakan kebimbangannya pula.
"Benar. Mudah-mudahan demikian... tapi kita harus membuktikannya dahulu."
Dua lie kemudian mereka sampai di jalan yang sepi.
Di kanan kiri jalan hanya kebun kebun kosong milik penduduk.
Namun demikian jalan itu amat teduh dan nyaman karena di pinggir jalan ditanam orang pohon-pohon siong besar yang rimbun daunnya.
"Suheng, lihat! Itu kuilnya...! Ciu In berseru seraya menunjuk ke sebuah halaman yang amat luas dengan banyak sekali pohon-pohon besar sebagai pelindung.
"Benar. Aku hampir tak melihatnya karena pohon-pohon besar itu hampir menutupi genting-gentingnya. Padahal bangunan itu demikian besar dan tinggi... Kalau begitu kita harus berbelok ke kanan. Kata orang tadi di depan kuil ada jalan yang menuju ke rumah tabib itu. Marilah..."
Sin Lun menyambar telapak tangan Ciu In dan mencengkeramnya, lalu ditariknya lengan itu ke depan.
Entah mengapa, tanpa kehadiran Siau In di dekatnya, Sin Lun merasa bebas dan senang sekali memegangi jari-jari tangan yang lentik serta berkulit halus itu.
Padahal sejak kecil mereka selalu bersama sama dan Sin Lun acap kali juga memegangi tangan itu.
"Nanti dulu, suheng... aku seperti mendengar suara ringkik kuda di dalam kuil itu."
"Ah... apa anehnya suara ringkik kuda?"
Sin Lun berkata gemas.
"Oh, maksudmu... Kau menduga pemilik gerobag kuda yang membawa Siau In itu berada di dalam kuil itu? Wah, kau ini ada-ada saja. Orang yang memiliki gerobag kuda bukan hanya seorang saja. Ayoh, kita nanti terlambat sampai di rumah tabib itu!"
"Baiklah... baiklah!"
Ciu In merengut dan bersungut-sungut. Selama ini Sin Lun tak pernah melihat Ciu In bersikap manja atau "Ngambek"
Seperti itu.
Di hadapan siapa saja gadis itu selalu bersikap dingin, serius, tegas, namun juga tampak lembut dan anggun.
Apalagi di depan guru dan saudara-saudara seperguruannya.
Tapi sekarang, ketika mereka hanya berduaan, entah mengapa tiba-tiba Ciu In dapat bersikap lain.
Gadis ini merengut dan bersungut-sungut dengan sikap yang dibuat-buat.
Bahkan beberapa kali mata yang redup itu melirik ke arahnya.
Sin Lun tak tahan lagi.
Hatinya tergetar dengan hebat.
Wajah lembut itu seperti menantangnya.
Maka tanpa pikir panjang lagi kedua tangannya menyambar pundak Ciu In, lalu diciumnya pipi gadis itu dengan bersemangat.
Tapi ketika bibirnya hendak bergeser ke mulut, dengan cepat Ciu In mendorongnya.
"Ssssu-Suheng...? Kkkk-kau...?"
Cui ln menjerit lirih.
Pipinya menjadi merah seperti buah tomat tua.
Matanya berkaca-kaca mau menangis.
Sin Lun sendiri menjadi salah tingkah dan gugup sekali.
Berulang kali pemuda itu menoleh kesana-kemari, seakan-akan ia takut perbuatannya tadi diketahui orang.
"Sumoi, ma-ma-maafkan aku..."
Akhirnya pemuda itu berkata dengan ketakutan.
"A-aku tak tahan lagi. Habis kau... Kau cantik sekali!"
Terdengar suara sesenggukan ketika Cui In kemudian berlari meninggalkan Sin Lun.
Gadis itu berlari-lari kecil menuju ke rumah Tabib Ciok.
Sin Lun yang merasa bersalah itu menjadi gelagapan.
Otomatis kakinya melangkah mengejar sumoinya.
Di sepanjang jalan menuju ke rumah tabib itu Sin Lun meratap-ratap minta ampun, tapi Cui In tak menggubrisnya.
Gadis itu telah berjalan biasa lagi.
Air matanya yang mengalir juga sudah dihapusnya.
Namun gadis itu tetap saja berdiam diri.
Wajahnya yang cantik itu hanya memandang ke arah jalan yang hendak diinjak atau dilangkahinya.
Sama sekali ia tak melayani rengekan Sin Lun yang mengemis-ngemis minta dikasihani.
"Baiklah, kalau Sumoi memang tidak mau memaafkan aku... aku nanti akan pergi. Biarlah aku mencari Siau-sumoi sendirian. Setelah Siau-sumoi ketemu, aku akan pergi jauh sekali. Biar Suhu tidak marah kepadaku..."
Akhirnya Sin Lun berkata dengan suara sedih.
"Mengapa Suhu harus marah kepadamu?"
Tiba-tiba Ciu In menyahut dengan suara ketus. Sin Lun terbelalak girang. Namun kegembiraannya itu segera lenyap kembali. Ternyata sumoinya itu masih tetap marah kepadanya.
"Habis, kau tentu mengadu kepada Beliau, sehingga aku tentu akan diusirnya."
Jawabnya memelas. Mendadak Cui In menghentikan langkahnya. Gadis itu menatap wajah suhengnya dengan wajah keruh.
"Siapa yang akan mengadu kepada Suhu? Ngaco!"
Serunya gemas, kemudian melangkah lagi dengan cepat.
"Jadi... jadi Sumoi tidak akan mengadukan peristiwa tadi kepada suhu? Oh, terima kasih Sumoi... terima kasih!"
Sin Lun bersorak gembira, lalu seperti anak kecil ia berjungkir balik di belakang Ciu In.
Ciu In membuang muka seolah-olah tak melihat tingkah laku suhengnya yang konyol itu.
Tapi kegembiraan suhengnya itu tampaknya tidak lama, karena di lain saat dia telah berjalan lesu kembali di belakangnya.
"Sumoi memang tidak akan mengadu kan hal itu kepada Suhu, tapi... tapi Sumoi sendiri masih tetap marah kepadaku. Sumoi belum mau memaafkan aku. Sumoi, aku menyesal sekali... Maukah kau memaafkan aku?"
Sin Lun kembali merengek-rengek.
Sebenarnya Siu In sudah tidak marah lagi kepada suhengnya.
Namun untuk berbicara panjang lebar atau bertatap muka dengan suhengnya ia masih sungkan.
Sebagai seorang gadis yang belum pernah dicium oleh seorang lelaki, meskipun yang dicium itu hanya pipinya, ia belum dapat dengan segera membenahi perasaannya kembali.
Sebaliknya Sin Lun yang juga belum berpengalaman menghadapi wanita, menganggap bahwa diamnya Ciu In itu disebabkan karena marah dan bencinya gadis itu terhadapnya, sehingga gadis itu sama sekali tak mau mengampuninya lagi.
"Baiklah, Sumoi. Aku memang biadab dan tak pantas untuk dimaafkan lagi. Laki-laki seperti aku memang hanya memuakkan saja. Baiklah, aku minta diri saja. Biarlah kita berpisah untuk mencari Siau In sendiri-sendiri. Selamat, tinggal, Sumoi. Jagalah dirimu baik-baik!"
Akhirnya Sin Lun berkata dengan suara putus asa.
Sekejap Ciu In tak tahu apa yang harus ia perbuat.
Ia ingin menahan suhengnya, tapi mulutnya sulit untuk diajak berbicara.
Bahkan perasaan sungkan dan malunyapun belum bisa hilang dari dadanya, sehingga untuk menolehpun ia juga masih belum berani pula.
Beberapa waktu kemudian baru gadis itu menoleh karena langkah kaki suhengnya tidak terdengar lagi.
Namun ia terlambat.
Sin Lun telah pergi.
Pemuda itu sudah menghilang di balik lebatnya pepohonan yang tumbuh di kanan kiri jalan sepi itu.
Pemuda itu benar-benar telah pergi membawa kekecewaannya yang mendalam.
"Suheng...?"
Cui In tiba-tiba menangis sedih.
Berbagai macam perasaan menggumpal di dadanya, namun sulit untuk dikeluarkan.
Lama sekali Cui In menangis di tempat itu.
Untunglah jalan itu memang jalan kecil yang jarang sekali dilalui orang.
Mungkin memang hanya tabib itu saja yang sering melewatinya.
Ia baru berhenti menangis ketika telinganya mendengar desir langkah kaki orang mendekatinya.
Untuk sesaat Cui In menyangka yang datang itu adalah suhengnya, sehingga ia cepat-cepat menghapus air matanya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
Namun harapan itu menjadi kendor kembali.
Orang yang berada di depannya ternyata bukan suhengnya.
Orang yang baru saja datang itu menatapnya dengan rasa heran dan ingin tahu.
Wajahnya sangat tampan, lebih tampan daripada suhengnya.
Tapi usianya agak lebih tua, yaitu antara dua puluh lima atau dua puluh enam tahun.
Pakaiannya sangat longgar seperti pakaian seorang pelajar atau sasterawan.
"Nona kehilangan jalan...? Atau... Nona baru saja diganggu orang?"
Pemuda tampan itu bertanya halus. Ciu In menghela napas panjang sambil menata kembali perasaannya. Ia dapat bersikap tenang dan wajar di depan orang yang masih sangat asing baginya itu.
"Maaf, aku baru saja bertengkar dengan Kakakku. Aku tidak apa-apa. Sekarang biarlah aku pergi..."
Kata Cui In kemudian dengan suara masih kaku.
"Eee, nanti dulu. Mengapa Nona sangat tergesa gesa? Apakah Nona takut atau mencurigai aku sebagai orang jahat?"
Pemuda itu cepat menahan dengan ucapan yang masih tetap sopan.
"Tidak. Aku tidak mencurigai, Tuan. Aku ingin cepat-cepat pulang."
Cui In berdusta.
"Ooo... di manakah rumah Nona?"
Pemuda itu tetap mengejar.
Ciu In mulai jengkel.
Pemuda di hadapannya itu criwis sekali serta selalu ingin tahu urusan orang lain.
Karena kesal Ciu lu lalu menjawab sekenanya.
Ia menunjuk ke depan, ke tempat di mana rumah tabib Ciok tinggal.
"Eh, di sana hanya ada sebuah rumah saja dan tidak ada rumah yang lain. Rumah itu adalah rumah seorang tabib."
Pemuda tampan itu keheranan.
"Aku memang tinggal di sana!"
Ciu In menjawab kesal.
"Nona...! Nona tinggal di sana? Eh... bagaimana ini?"
Pemuda itu kelihatan bingung.
"Memangnya aku tinggal di sana. Mengapa Tuan menjadi kebingungan begitu? Tuan tidak percaya?"
Karena sudah terlanjur berdusta, maka Ciu In tidak bisa mundur lagi. la harus bisa menyakinkan kepada pemuda itu bahwa ia memang tinggal di sana, sehingga ia bisa segera lepas dari gangguannya.
"Lalu... Nona ini apanya Tabib Ciok?"
Pemuda itu bertanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tentu saja aku ini... anaknya!"
Karena, benar-benar sudah jengkel Ciu In membentak.
"Hah...?"
Tiba-tiba pemuda itu berseru kaget dan melangkah mundur.
Air mukanya semakin tampak kebingungan.
Ciu In puas sekali.
Ia mengira pemuda itu menjadi ketakutan mendengar kenyataan bahwa ia adalah puteri Tabib Ciok.
"Tahu rasa kau. Makanya jadi orang jangan usil dan suka mencampuri urusan orang. Hi-hi-hi... tampaknya Tabib Ciok itu orang yang disegani juga..."
Ucapnya di dalam hati.
"Nona...? Apakah Nona tidak salah?"
Pemuda itu masih berani bertanya pula.
"Eh, Tuan ini mau bertanya atau mau menyelidiki asal-usul orang? Enak saja bertanya terus menerus. Huh, Tuan sendiri siapa?"
"Akulah... tabib Ciok itu!"
Pemuda itu menjawab pendek.
"Ooooh...!!!"
Saking kagetnya Ciu In menjadi lemas. Untunglah pemuda itu cepat-cepat menahan tubuhnya.
"Sudahlah, Nona. Nona tak perlu berpikir macam-macam. Aku tahu Nona sedang sedih dan bingung. Marilah kita berteduh di bawah pohon itu..."
Pemuda itu berkata dengan lembut.
Suaranya seperti mengandung wibawa yang sangat kuat.
Tidaklah mengherankan bila Ciu In menjadi lemah seperti itu.
Dalam waktu yang hampir berurutan gadis itu menerima hantaman perasaan yang bertubi-tubi.
Pertama kali ia kehilangan adik yang disayanginya.
Kedua kali, suheng yang dihormati dan juga dicintainya itu tiba-tiba pergi meninggalkannya.
Ciu In menurut saja ketika pemuda yang baru dikenalnya itu menuntunnya ke bawah pohon yang rindang.
Bahkan ia juga menerima saja ketika pemuda itu memberinya selembar saputangan, padahal ia sendiri juga membawa.
"Usaplah keringat yang menempel di dahi Nona, agar Nona menjadi tenang!"
Pemuda itu memberi perintah.
Makin lama Ciu In memang menjadi semakin tenang.
Air mukanya yang berubah-ubah tadi, kini telah menjadi semakin dingin dan anggun seperti biasanya.
Tatapan matanya yang tajam dan liar telah berubah menjadi redup pula kembali.
Kini mata itu memandang ke arah Tabib Ciok yang masih muda itu.
"Benarkah Tuan adalah Tabib Ciok?"
Akhirnya gadis itu bertanya dengan nada sedikit sungkan.
"Benar, aku memang orang yang disebut Tabib Ciok di sini. Aku baru sebulan tinggal di rumah itu, tapi orang di sekitar tempat ini tahu saja kalau aku seorang tabib, sehingga setiap hari ada saja yang datang berobat ke rumahku. Ehmmm, siapakah nama Nona? Apakah Nona juga akan berobat ke rumahku?"
Dengan ramah pemuda itu memberi keterangan.
"Namaku Ciu In, Tio Ciu In! Aku ke mari memang hendak ke rumah Tuan. Kata orang adikku telah pingsan di jalan, kemudian dibawa berobat ke mari. Oh, Tuan..., benarkah adikku berada di rumahmu?"
"Ah, beberapa saat yang lalu juga ada seorang pemuda yang datang untuk bertanya adik perempuannya yang hilang. Kini Nona bertanya pula tentang adikmu kepadaku. Apakah kalian masih bersaudara?"
"Oh, jadi suhengku sudah lebih dulu bertemu dengan Tuan?"
Tiba-tiba Ciu In berseru dengan penuh pengharapan.
"Betulkah pemuda itu suherigmu? Dia seorang pemuda jangkung, agak kurus, matanya sedikit cekung, berpakaian kelabu... dan aku melihat sepasang senjata berbentuk pit (pena) di balik bajunya."
"Benar. Orang itu memang benar suhengku. Lalu... Ke mana dia sekarang?"
Ciu In mengangguk-angguk dengan amat bersemangat.
"Dia telah pergi lagi, setelah aku katakan bahwa tak seorang gadispun yang dibawa orang untuk berobat ke rumahku. Memang mulanya ia tak percaya, sehingga ia bersikeras menggeledah rumahku. Tapi setelah ia yakin bahwa aku memang tidak membohonginya, ia lalu pergi dengan lesu. Ia tampak sangat sedih sekali. Bahkan kelihatan seperti orang yang sudah berputus asa."
"Oooh, suheng...!"
Ciu In kembali merintih.
Semangatnya yang melonjak tadi telah patah pula kembali.
suhengnya telah pergi, adiknyapun hilang.
Tabib muda yang selalu memperhatikan gerak-gerik Ciu In itu menarik napas panjang sekali.
Walaupun masih muda, namun wajahnya yang tampak angker dan berwibawa itu seperti dapat memaklumi apa yang terkandung di dalam hati Ciu In.
Dibiarkannya, gadis itu tenggelam di dalam lamunan sedihnya, ia hanya duduk saja mengawasinya.
Baru setelah itu sadar akan keadaannya, ia beringsut mendekatinya.
"Maaf, Tuan... ternyata aku telah lupa bahwa aku tidak sendirian di tempat ini. Aku... aku terlalu larut dalam perasaanku sendiri."
Dengan air muka bersemu merah Ciu In meminta maaf.
"Nona tak perlu meminta maaf kepadaku. Menurut perasaanku, apa yang Nona lakukan tadi adalah wajar. Aku bisa menyelami perasaan Nona. Sudah kehilangan saudara, masih harus berselisih dengan orang yang amat disayangi pula. Bukankan begitu, Nona? Oh, maaf... aku tidak bermaksud mencampuri masalah pribadi Nona. Aku hanya ingin membantu memecahkannya, kalau boleh."
Ciu In menatap wajah pemuda di depannya itu dengan tajamnya.
Tiba-tiba kulit mukanya terasa panas.
Setelah memperhatikan betul, tampak benar bahwa pemuda itu memang ganteng bukan main.
Dahinya lebar, hidungnya mancung, alisnya tebal, dagunya kokoh kuat.
Perawakannya sedang, tidak tinggi tapi juga tidak pendek, namun dadanya yang bidang itu benar-benar mencerminkan kejantanan yang luar biasa.
"Tuan... tuan ini siapa sebenarnya? Mengapa seakan-akan mengetahui keadaanku?"
Ciu In bertanya dengan suara yang agak sedikit gemetar.
Kini Ciu In benar-benar merasa kikuk dan agak gemetar menghadapi pemuda yang memiliki wibawa yang amat mengagumkan itu.
Pemuda itu tertawa perlahan.
Giginya yang putih itu kelihatan berderet rapih dan kokoh.
"Nona jangan memandangku seperti itu. Aku ini hanya seorang perantau biasa, yang suka bertualang mencari pengalaman di mana saja. Kebetulan aku melihat suatu kejahatan di suatu daerah dan aku turun tangan mencampurinya. Orang jahat itu dan perkumpulannya aku porak-porandakan. Namun ternyata ada seorang penjahat yang bisa meloloskan diri. Orang itu lari ke kota ini. Karena orang itu sangat berbahaya bagi masyarakat, terutama terhadap wanita dan gadisnya, maka aku mengejarnya pula ke kota ini. Sayang aku kehilangan jejak. Tapi aku telah mencurigai sebuah tempat yang mungkin menjadi tempat persembunyiannya. Maka aku lalu menyamar menjadi seorang tabib dan bertempat tinggal di tempat ini. Namaku yang sebenarnya adalah Liu Wan. Nama margaku sama dengan nama marga keluarga Istana, mungkin nenek-moyang kami dulu memang ada pertalian saudara."
Pemuda itu menutup keterangannya dengan gurauan.
"Oh, kalau begitu ilmu silat Tuan tentu tinggi sekali."
Ciu In memandang dengan kagum.
"Ah, tidak. Ilmu silatku biasa-biasa saja. Tidak lebih tinggi daripada ilmu silat pedang Nona."
Ciu In terperanjat.
"Tuan tahu aku bisa memainkan pedang?"
Tanyanya kaget.
"Ketika memegangi lengan Nona tadi aku merasa menyentuh sepasang pedang di balik baju Nona."
"Oh...!"
Wajah Ciu In menjadi kemerah-merahan. Tiba-tiba Liu Wan menjadi bersungguh-sungguh.
"Nona Tio, kalau engkau mau, nanti malam kita bersama sama mencari adikmu. Kita datangi tempat yang telah kucurigai itu. Aku percaya adikmu ada di sana. Penjahat itu memang selalu menculik seorang wanita setiap pergantian tahun baru. Tahun ini tampaknya adikmulah yang hendak dijadikan korbannya."
"Ohhh, apa...? Adikku hendak dijadikan korban? Korban apa?"
Ciu In menjerit ketakutan.
"Tenang Nona. Ini baru dugaanku saja. Marilah ke rumahku dulu. Nanti kuterangkan marilah...!"
"Mengapa tidak sekarang saja kita berangkat ke tempat itu? Mengapa harus menunggu nanti malam?"
Cui In mencengkeram lengan Liu Wan.
"Tenang, Nona. Sekali lagi... tenanglah! Percayalah kepadaku. Sampai tengah malam nanti adikmu, tidak akan diapa-apakan oleh mereka. Mereka masih menyembunyikannya dengan rapi. Kita tidak akan bisa menemukannya sekarang. Salah-salah mereka malah akan membawanya pergi kalau kita bergerak sekarang. Lebih baik kita menunggunya sampai mereka sendiri yang mengeluarkannya tengah malam nanti. Pada saat itulah kita bergerak untuk menyelamatkannya. Sekalian mengobrak-abrik tempat tinggal mereka itu. Nah, marilah...!"
Dengan suara yang tenang, namun terasa tegas dan berwibawa, Liu Wan membujuk Ciu In. Ciu In menundukkan kepalanya.
"Baiklah, aku menurut..."
Desah gadis itu kemudian dengan nada pasrah.
Liu Wan lalu mengajak Ciu In melangkah menuju ke pondoknya.
Sebuah pondok keril di tengah-tengah empang yang cukup luas, di mana bermacam-macam ikan kecil berenang di dalamnya.
"Oh, bukan main indahnya tempat ini. Tuan sungguh pandai sekali memilih tempat tinggal."
Cui In berseru memuji sambil melangkah perlahan-lahan di jembatan kayu yang membentang ke tengah-tengah empang.
"Tempat ini memang bekas peristirahatan. Rumah di tengah empang itu semula sudah tidak dipergunakan lagi. Atapnya sudah bocor, dinding sudah retak dan hancur. Aku dan pembanluku kemudian berusaha membangunnya kembali, walaupun cuma sederhana."
"Pembantu...? Siapakah pembantu tuan? Di manakah mereka?"
Belum juga hilang gaung suara Ciu In di telinga, dua orang lelaki tua tiba-tiba keluar dari pondok di tengah empang itu.
Bergegas mereka menyambut kedatangan Liu Wan.
Ciu In tercengang melihat wajah mereka yang presis satu sama lain.
"Itulah kedua orang pembantuku. Maaf, mereka berdua tidak bisa berbicara. Mereka bisu, karena lidah mereka cacad sejak kecil. Tapi mereka sangat setia kepadaku. Merekalah yang membantu aku melayani para pendatang yang ingin minta obat kepadaku."
"Mereka... Kembar?"
Ciu In menegaskan Liu Wan mengangguk.
"Mereka bernama Lo Kang dan Lo Hai. Tapi jangan kau tanyakan yang mana Lo Kang dan yang mana Lo Hai, karena aku sendiri juga tak dapat membedakannya. Kalau butuh mereka, aku ngawur saja memanggilnya..."
Demikianlah, mereka lalu masuk ke dalam pondok di tengah empang itu.
Lo Kang dan Lo Hai berjaga-jaga di luar.
Seperti dua ekor anjing penjaga mereka duduk melenggut di depan pintu.
Begitu berada di dalam pondok Ciu In semakin merasa kagum kepada Liu Wan.
Selain menguasai ilmu pengobatan pemuda itu ternyata juga menguasai bidang kesusastraan pula.
Beberapa buah tulisan sajak dan lukisan tergantung dengan indahnya di setiap dinding-dindingnya.
Semuanya tertulis atas namanya.
"Seluruhnya Tuan yang membuatnya. Indah sekali...!"
Ciu In tak tahan pula untuk tidak memuji.
"Aku memang menyukai keindahan. Semua keindahan. Baik keindahan yang tersembunyi dalam gerakan ilmu silat. keindahan terselubung yang ada di dalam ilmu pengobatan, keindahan nyata yang terpancar di dalam lukisan dan keindahan rasa di dalam ilmu kesusasteraan. Semuanya itu aku senang sekali menghayatinya."
Liu Wan menerangkan seperti orang yang sedang membacakan sajak.
Ciu In mendekati sebuah sajak yang tergantung di atas meja tulis.
Sajak itu diberi bingkai kayu berukir yang bagus sekali.
Cui In lalu membacanya.
BURUNG HONG DALAM SANGKAR EMAS Elok dipandang mata, tapi sedih dipendam hati.
Meski seribu warna ada di sayapnya.
Meski segala hiasan ada di sangkarnya.
Tapi kebebasan tiada diberi.
Apa indahnya jadi burung Hong?
Apa nikmatnya di dalam sangkar emas?
Elok dipandang mata, tapi sedih dipendam hati!
Liu Wan.
Ciu In membalikkan tubuhnya dan ia sangat kaget ketika Liu Wan tepat berada di depannya.
Ia sama sekali tidak mendengarkan langkah kaki pemuda itu di belakangnya.
"Oh, Tuan mengagetkan aku...! Aku sama sekali tidak mendengar langkah kaki Tuan."
Gadis itu menjerit kecil seraya melihat papan kayu yang menjadi alas lantai pondok itu. Liu Wan tersenyum.
"Lantai papan ini memang berderit bila terinjak kaki. Tapi Nona tampaknya terlalu asyik membaca sajak itu sehingga tak mendengar suaranya."
"Ah, Tuan ini pandai benar merendahkan diri. Lantai ini memang berderit bila yang menginjaknya adalah seorang jago silat pasaran. Tapi akan lain halnya bila yang berjalan di atasnya adalah seorang jago silat berkepandaian tinggi."
Liu Wan tak menanggapi bantahan Cui In. Ia melangkah ke depan dan mengambil bingkai sajak itu, perlahan-lahan ia membacanya.
"Tampaknya sajak Tuan ini mengandung perasaan sedih. Mengapa?"
Ciu In tiba-tiba bertanya kepada Liu. Wan. Liu Wan menjadi gugup, satu hal yang belum pernah dilihul oleh Ciu In.
"Ah, aku hanya membuatnya secara serampangan saja di kala hatiku sedang sunyi dan sepi. Aku seperti tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Dan kesepianku itu aku tuangkan dalam sajak ini. Aku mengibaratkan diri sebagai Burung Hong yang kesepian di dalam sangkar emasnya."
Dalam kegugupannya Liu Wan mencoba menjelaskan.
Ciu In merasakan kejanggalan jawaban pemuda itu, tapi ia tak ingin mendesaknya lagi.
Baca Juga: Pendekar Kelana 6
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 11