Ceritasilat Novel Online

Pendekar Kelana 7

Eps 7 Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo.

"Aihh, diantara kita, mana ada berterima kasih segala, enci Bwe Hwa? Kami bersyukur sekali bahwa engkau tidak terluka dalam pengeroyokan tadi. Akupun pernah bertemu dengan pemuda bernama Coa Leng Kun tadi. Dia bersikap sopan dan baik, juga ilmu silatnya lihai sekali. Siapa kira dia seorang yang berwatak jahat."

"Aku sendiripun terjebak oleh sikapnya yang baik dan sopan, adik Hui Lan. Aku secara kebetulan saja bertemu dan berkenalan dengan dia ketika aku mendekati bukit ini. Karena sikapnya amat sopan dan baik, aku mau berkenalan dengan dia dan bersamanya naik ke puncak bukit ini. Dia sudah mengenal ketua Kwi-jiauw-pang maka dia mengajak aku menemui para pimpinan Kwi-liong-pang. Dan benar saja, para pemimpin Kwi-liong-pang menerimaku dengan baik sebagai tamu yang terhormat. Bahkan mereka telah menyerahkan pedang pusaka Pek-lui-kiam kepadaku!"

"Ahh...!"

Hui Lan berseru.

"Bohong semua itu! Tipuan belaka! Tadi malam empat orang Tosu itu membantu Leng Kun untuk menguasai aku dengan sihir mereka sehingga malam tadi aku terbangun dan ada kekuatan yang menarikku supaya berkunjung ke kamar Leng Kun. Aku menyadari akan pengaruh sihir maka dapat membebaskan diri dari pengaruh itu. Akan tetapi aku pura-pura masih tersihir dan diam-diam telah membawa pedangku Kwan-im-kiam dan juga pedang Pek-lui-kiam pemberian mereka. Aku sengaja mengetuk daun pintu dan memanggil Leng Kun. Pintu terbuka dan ternyata Leng Kun berniat busuk terhadap aku dan dikamarnya terdapat empat orang pendeta itu. Aku marah dan menyerang Leng Kun, akan tetapi empat orang pendeta itu mengeroyokku dan ternyata mereka lihai juga. Aku terpaksa melarikan diri sampai disini. Setalah fajar, aku mengira mereka tidak mengejarku, maka aku hendak melanjutkan perjalanan. Mereka berlima menyusul kembali dan kembali aku dikeroyok disini sampai engkau muncul membantuku."

"Dan pedang pusaka Pek-lui-kiam itu?"

Tanya Si Kong yang juga tertarik oleh cerita Bwe Hwa.

"Pedang Pek-lui-kiam palsu!"

Kata Bwe Hwa yang lalu memungut pedang yang telah patah menjadi dua potong itu.

"Inilah pedang itu. Ketika terdesak tadi, aku mencabut pedang ini untuk membela diri. Ternyata pedang ini patah ketika bertemu dengan senjata mereka!"

Si Kong memeriksa dua potong pedang itu.

"Memang palsu, besi biasa yang dilapisi perak sehingga mengeluarkan sinar. Jelas bahwa semua yang kau alami itu telah mereka atur, Hwa-moi. Untung engkau masih dapat lolos dari siasat licik mereka. Akan tetapi ada baiknya juga karena pengalamanmu sebagai tamu di puncak sana amat berharga. Engkau tentu mengetahui keadaan dan kekuatan mereka."

"Yang menjadi ketua Kwi-jiauw-pang ada tiga orang yang menyebut dirinya Toa-pangcu, Ji-pangcu dan Sam-pangcu. Toa-pangcu dan Ji-pangcu itu adalah Toa Ok dan Ji Ok, dan Sam-pangcu tentu Ang I Sianjin karena dia selalu berjubah merah. Disamping ketiga ketua ini, di sana masih ada Bu-tek Ngo-sian yang lihai, dan kini bahkan ditambah lagi dengan empat orang Tosu tadi yang juga lihai. Anak buah Kwi-jiauw-pang kurang lebih seratus orang, dan aku pernah melihat segerombolan orang di hutan sebelah utara, mungkin anak buah empat orang Tosu itu."

"Hemm, kalau begitu kedudukan mereka kuat sekali. Kong-ko, ternyata mereka yang berkuasa di puncak dan menjadi pimpinan Kwi-jiauw-pang adalah Toa Ok, Ji Ok, dan Bu-tek Ngo-sian yang pernah mengeroyok kakek buyut Ceng Thian Sin."

"Memang kedudukan mereka kuat sekali."

Kata Si Kong dengan tenang.

"Dan kita belum tahu pasti apakah Pek-lui-kiam berada di tangan mereka."

"Sudah pasti, Kong-ko!"

Kata Bwe Hwa sambil menatap wajah pemuda itu dengan sinar mata yang tajam.

"Lihat saja pedang palsu ini. Kalau mereka tidak menguasai Pek-lui-kiam yang aseli, bagaimana mereka dapat membuat yang palsu? Sekarang aku baru tahu mengapa mereka semudah itu menyerahkan Pek-lui-kiam kepadaku. Ternyata mereka hanya mempermainkan aku. Semua ini tentu ulah jahanam Coa Leng Kun itu!"

Bwe Hwa dengan gemas mengepal tangan kanannya.

"Sebenarnya siapakah Coa Leng Kun itu? Mengapa dia memusuhimu, enci Bwe Hwa? Dan empat orang Tosu itu, dari manakah mereka?"

"Aku sendiri tidak tahu, Lan-moi. Aku hanya mendengar darinya bahwa dia sudah yatim piatu dan bahwa gurunya bernama Bu Beng Lo-jin. Entah benar atau tidak keterangan itu. Dan mengenai empat orang Tosu itu, sebelum ini aku tidak pernah bicara dengan mereka dan tidak tahu mereka berasal dari mana."

Si Kong yang sejak tadi mendengarkan penuh perhatian, lalu berkata.

"Empat orang Tosu itu menggunakan sihir untuk mempengaruhimu, Hwa-moi. Dan melihat ilmu silat mereka tadi, aku hampir yakin bahwa mereka adalah orang Pek-lian-kauw."

"Pek-lian-kauw yang dipergunakan sebagai agama dan dipergunakan untuk menutupi kejahatan Pek-lian-pai yang selalu mengadakan pemberontakan itu?"

Tanya Hui Lan sambil memandang wajah Si Kong.

"Kalau begitu, Kwi-jiauw-pang bersekongkol dengan pemberontak Pek-lian-pai?"

Tanya Bwe Hwa.

"Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Datuk-datuk besar seperti Toa Ok dan Ji Ok menguasai perkumpulan kecil seperti Kwi-jiauw-pang, untuk apa mereka melakukan itu kalau bukan mencari pengikut dan kini bergabung dengan Pek-lian-kauw?"

Kata Si Kong.

"Kalau begitu, apakah Coa Leng Kun itu anggauta Pek-lian-kauw?"

Tanya Bwe Hwa.

"Bisa jadi,"

Kata Si Kong.

"Kedudukan mereka kuat sekali. Kalau kita bertiga naik ke puncak dan harus menghadapi mereka semua, kita akan kalah kuat."

"Lalu bagaimana baiknya, apakah kita harus berdiam saja membiarkan pedang Pek-lui-kiam di tangan orang-orang jahat seperti mereka?"

Tanya Bwe Hwa penasaran.

"Tentu saja tidak, Hwa-moi. Akan tetapi kita harus berhati-hati. Mereka sudah mengetahui kehadiran kita bertiga, tentu mereka akan melakukan penjagaan kuat. Sebaiknya kita menahan diri dulu, melihat perkembangan dan kita bersembunyi dulu di dalam guha yang kami temukan di bawah lereng ini."

"Benar, enci Bwe Hwa. Guha itu besar dan tersembunyi, baik untuk persembunyian kita untuk sementara. Aku mendengar bahwa banyak tokoh kang-ouw akan datang ke puncak Kwi-liong-san untuk memperebutkan pedang Pek-lui-kiam. Biarlah mereka naik dulu dan bertanding dengan pimpinan Kwi-jiauw-pang. Dalam keadaan ribut itu, baru kita mendaki puncak sehingga kita tidak perlu harus menghadapi pengeroyokan orang-orang Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai,"

Kata Hui Lan yang menyetujui usul Si Kong.

Demikianlah, tiga orang muda itu menuruni lagi lereng itu dan mereka tiba di tempat yang dimaksudkan tanpa halangan.

Seperti dikatakan oleh Si Kong, tempat itu merupakan tempat persembunyian yang baik sekali.

Guha itu lebar dan dalam sehingga mereka akan terhindar dari hujan dan panas, dan tak jauh dari situ, disebelah kiri guha terdapat air pancuran yang jernih sekali.

Guha itu tertutup oleh semak belukar sehingga tidak nampak dari luar.

Si Kong dan Hui Lan menemukan guha itu tanpa disengaja.

Mereka berdua sedang memburu kijang yang sudah terluka oleh sambitan batu Si Kong, dan kijang itulah yang membawa mereka menemukan guha itu.

Bwe Hwa juga senang melihat guha itu yang lantainya sudah ditutup rumput dan daun kering.

Kalau malam mereka dapat membuat api unggun di dalam guha untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin.

Melihat pancuran air jernih itu, Bwe Hwa ingin sekali mandi dan bertukar pakaian.

"Kau mandilah dulu, enci Bwe Hwa. biar aku menyusul setelah engkau selesai mandi,"

Kata Hui Lan.

Bwe Hwa lalu membawa pakaian yang bersih ke pancuran air yang juga tertutup semak sehingga tidak nampak dari guha.

Gadis ini mandi membersihkan dirinya dan perasaan bahagia menyelimuti perasaan hatinya sehingga tanpa terasa ia bersenandung!

Setelah Bwe Hwa pergi mandi, Hui Lan duduk berdua saja dengan Si Kong.

"Engkau sudah mengenal baik enci Bwe Hwa, bukan? Bagaimana pendapatmu tentang gadis itu?"

Si Kong mengangguk.

"Mengenal baik sih belum. Baru satu kali aku bertemu dengannya dan kami sempat bertanding karena kesalahpahaman antara kita. Aku salah duga bahwa Hek I Kaipang itu perkumpulan pengemis yang sesat maka aku menyerbu ke sana. Sebaliknya Bwe Hwa menjadi tamu kehormatan Hek I Kaipang karena ketua perkumpulan itu kenalan Ayahnya dan dia sedang mencari keterangan tentang Pek-lui-kiam. Karena kesalah-pahaman ini kami bertanding dan ia segera mengenal ilmu silatku. Demikianlah, kami baru bertemu satu kali dan berkenalan."

"Akan tetapi bagaimana pendapatmu tentang dia, Kong-ko?"

Si Kong memandang tajam.

"Mengapa engkau tanyakan itu, Lan-moi?"

"Karena aku ingin tahu pendapatmu tentang ia, apakah cocok dengan pendapatku."

Si Kong tersenyum.

"Ah, mudah saja menilai Bwe Hwa. Ia seorang gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa, memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan ia pemberani pula."

Hui Lan mengangguk-angguk.

"Tepat, memang ia cocok sekali dengan engkau Kong-ko."

Si Kong tertegun.

"Cocok, apa maksudmu, Lan-moi?"

"Maksudku bahwa ia memang cocok dan pantas sekali untuk menjadi pasanganmu!"

Si Kong terbelalak dan dia melihat wajah Hui Lan berubah agak kemerahan.

"Ah, engkau ini ada-ada saja, bicara yang tidak karuan!"

Dia menegur halus serius. Akan tetapi Hui Lan masih berkata.

"Seorang pemuda seperti engkau harus mendapatkan pasangan yang setimpal, Kong-ko. Dan kalau ada gadis yang pantas mendampingimu, maka enci Bwe Hwa itulah orangnya!"

"Aih, jangan begitu, Lan-moi. Engkau membuat aku menjadi salah tingkah dan malu."

Kata Si Kong sambil tersenyum lebar dan menganggap gadis ini hanya bergurau dan menggodanya saja.

Akan tetapi percakapan itu terhenti karena suara Bwe Hwa memangggil.

"Adik Hui Lan, aku sudah selesai! Ke sinilah menggantikan aku mandi!"

Terdengar langkah kaki Bwe Hwa yang lari ke guha.

Hui Lan segera bangkit dan mengambil pakaian penggantinya.

Bwe Hwa muncul dengan wajah segar kemerahan, rambutnya basah terurai dan tangannya membawa pakaian bekas pakai yang tadi telah dicucinya.

"Wah, airnya jernih dan sejuk sekali, Lan-moi!"

Katanya gembira.

"Aku benar beruntung sekali bertemu dengan kalian."

"Aku hendak mandi dan mencuci pakaian. Engkau temani Kong-ko di sini enci Bwe Hwa!"

Kata Hui Lan yang cepat lari menuju ke pancuran air.

"Ah, rambutku basah dan awut-awutan!"

Kata Bwe Hwa sambil tersenyum dan menggosok-gosok rambut kepalanya dengan sehelai kain.

"Tentu jelek sekali seperti iblis betina. Benar tidak, Kong-ko?"

Di tanya demikian terpaksa Si Kong memandang gadis itu dan melihat rambut hitam panjang yang terurai itu dan terpaksa dia menjawab sejujurnya.

"Rambutmu indah sekali, Hwa-moi!"

"Aih, benarkah itu?"

"Aku berkata dengan jujur, bukan pujian untuk menyenangkan hatimu saja."

Bukan main girangnya rasa hati Bwe Hwa mendengar ucapan itu.

Pemuda itu bukan merayu, melainkan memuji sejujurnya.

Wanita manakah yang tidak akan bangga dan girang kalau dirinya dipuji, bukan sekedar rayuan melainkan pujian yang sejujurnya?

Bwe Hwa lalu menggelung rambutnya setelah mengeringkan dengan kain.

Sungguh sedap dipandang kalau wanita sedang menggelung rambutnya, dengan kedua tangan diangkat, dengan cekatan menata rambut itu.

Apalagi wanita secantik Bwe Hwa.

Sambil menyusut mukanya dengan kain, Bwe Hwa memandang kepada Si Kong dan ternyata pemuda itu tidak memandangnya.

Si Kong memang tidak berani memandang lama-lama takut terpesona oleh keindahan tubuh Bwe Hwa.

"Kong-ko, engkau dan Hui Lan tentu telah bergaul erat sekali, bukan? Engkau melakukan perjalanan ke sini bersama-sama dan tentu telah mengalami banyak hal bersama pula. Sudah berapa lamakah engkau melakukan perjalanan dengan Hui Lan?"

"Kurang lebih setengah bulan,"

Jawab Si Kong sebenarnya.

"Ia seorang gadis yang amat lihai dan juga memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, bukan?"

"Memang ia lihai, mewarisi ilmu-ilmu Ayah ibunya."

Kembali Si Kong menjawab dengan wajar, namun hatinya mulai heran mengapa Bwe Hwa bicara tentang Hui Lan dan tadi Hui Lan bicara tentang Bwe Hwa.

Benar mirip sekali watak dua orang gadis ini.

Si Kong memandang wajah Bwe Hwa dan melihat dagu yang indah itu terhias tahi lalat yang membuat ia nampak semakin manis.

Akan tetapi hanya sebentar Si Kong memandang, lalu menunduk lagi.

"Dan ia canti jelita! Jarang sekali ada gadis secantik ia yang memiliki ilmu kepandaian setinggi ia. Betulkah, Kong-ko?"

Heran bin ajaib, pikir Si Kong.

Mengapa sama benar arah percakapan Bwe Hwa ini dengan Hui Lan tadi?

Seolah mereka berdua telah bersepakat untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama.

Terpaksa kembali dia menjawab sejujurnya.

"Betul memang ia cantik jelita dan lihai."

"Ya, aku tahu. Memang ia paling cocok kalau mendampingimu, menjadi pasanganmu!"

Si Kong tertegun. Mengapa persis benar? "Apa... apa maksudmu dengan ucapan itu, Hwa-moi?"

"Tanpa kau akui akupun sudah dapat menerka, Kong-ko. Engkau dahulu begitu tergesa meninggalkan aku sehingga aku tidak sempat bicara banyak. Engkau begitu angkuh! Akan tetapi sekarang engkau melakukan perjalanan bersama Hui Lan sampai setengah bulan. Itu hanya mempunyai satu arti saja, yaitu bahwa engkau dan Hui Lan saling mencinta. Benar bukan?"

Bwe Hwa kini menatap wajah Si Kong dengan tajam penuh selidik.

"Ah, tidak sampai begitu jauh, Hwa-moi. Kami melakukan perjalanan bersama karena kebetulan saja, yaitu kami berdua mempunyai keinginan yang sama untuk memperebutkan Pek-lui-kiam. Harap jangan menyangka yang bukan-bukan!"

"Aih, Kong-ko, aku dapat melihat pandang mata Hui Lan begitu bersinar penuh cinta ketika memandangmu. Hui Lan mencintamu, itu sudah jelas."

"Aku tidak tahu akan hal itu, Hwa-moi."

"Jangan pura-pura, engkau sendiri juga mencintanya, bukan?"

"Ah, aku tidak tahu, Hwa-moi. Aku belum pernah memikirkan tentang hal itu. Aku adalah murid mendiang Ceng Lo-jin, sedangkan Hui Lan adalah cucu buyutnya, maka aku merasa seperti melakukan perjalanan dengan saudara sendiri."

Percakapan itu terhenti oleh panggilan Hui Lan.

"Kong-ko, aku sudah selesai, engkau mandilah!"

"Baik, engkau kembalilah kesini, Lan-moi. Aku akan segera menggantikanmu."

Si Kong menyambar buntalan pakaiannya lalu pergi dari situ ketika melihat Hui Lan datang memasuki guha itu.

Dia merasa tidak enak kalau berada di dalam guha menghadapi dua orang gadis itu.

Hui Lan menduga bahwa dia tertarik kepada Bwe Hwa dan sebaliknya Bwe Hwa menduga bahwa dia mencinta Hui Lan.

Dia merasa seperti menjadi seekor domba yang akan diperebutkan oleh dua ekor singa betina!

Dia memang kagum kepada Hui Lan akan kecantikan dan kelihaiannya, akan tetapi dia juga kagum kepada Bwe Hwa.

tidak terbayangkan olehnya tentang cinta!

Orang seperti dia, hidup sebatangkara, tanpa sanak kadang, miskin tidak mempunyai apa-apa, seorang petualang miskin, bagaimana sempat memikirkan tentang cinta dan perjodohan?

Kalaupun ada perasaan cinta masuk ke dalam hati akal pikirannya, seketika akan diusirnya dengan penuh kesadaran bahwa perjodohan bukanlah milik seorang petualang miskin seperti dia.

Demikianlah, Si Kong berpikir-pikir sambil mandi.

Dia sengaja membawa buntalan pakaiannya karena dia merasa tidak tahan lagi kalau menghadapi dua orang gadis yang seolah-olah saling cemburu itu.

Akan tetapi hatinya masih meragu apakah sikapnya tidak terlalu kaku terhadap dua orang gadis itu kalau dia meninggalkan mereka!

Sementara itu, Bwe Hwa memandang Hui Lan yang baru selesai mandi itu dengan pandang mata iri.

Dalam pandangannya Hui Lan cantik sekali dan inilah yang membuat ia merasa iri.

Ia hampir merasa yakin bahwa Si Kong saling mencinta dengan Hui Lan.

Kalau memang benar demikian, ia harus mengalah.

Akan tetapi siapat tahu Si Kong benar-benar belum jatuh cinta kepada Hui Lan seperti yang dikatakan tadi.

Kalau benar demikian, masih ada kesempatan baginya untuk mengharapkan pemuda itu dapat mencinta dirinya.

"Adik Hui Lan, engkau nampak cantik sekali sehabis mandi dengan rambut terurai itu."

Hui Lan memandang kepada Bwe Hwa sambil tersenyum.

"Terima kasih, enci Bwe Hwa. Engkau sendiri juga cantik bukan main."

Hui Lan duduk di atas lantai dan mengeringkan rambutnya.

"Hemm, setiap orang pria tentu akan mudah jatuh cinta kepadamu, Hui Lan!"

Bwe Hwa tersenyum. Hui Lan mengangkat muka menatap wajah Bwe Hwa lalu berkata.

"Ihh, enci Bwe Hwa. Mengapa engkau berkata begitu? Aku tidak perduli ribuan orang pria jatuh cinta kepadaku. Demikian pula engkau tentu mudah merobohkan hati pria yang manapun dengan kecantikanmu dan kepandaianmu."

"Aku tidak akan merobohkan hati pria manapun, adik Lan. Akan tetapi jelas nampak olehku betapa engkau saling mencinta dengan Si Kong! hayo sangkal kalau kata-kataku tidak benar!"

Biarpun dalamn nada suaranya terdengar pahit, namun Bwe Hwa memandang Hui Lan dengan senyum manis.

Hui Lan menghentikan kedua tangannya yang sejak tadi menggosok untuk mengeringkan rambutnya dengan kain.

Ia memandang Bwe Hwa dengan mata terbelalak, kemudian menggelung rambutnya seolah tidak pernah mendengar kata-kata Bwe Hwa tadi.

"Bagaimana, Lan-moi? Kata-kataku benar, bukan? Mudah saja bagiku untuk melihat bahwa engkau mencinta dia dan diapun mencintamu. Jawablah!"

Hui Lan menyelesaikan gelung rambutnya dan ia memandang Bwe Hwa dengan wajah serius.

"Enci Bwe Hwa, kepadamu aku tidak perlu berbohong. Engkau mengatakan bahwa aku mencinta Kong-ko, dan hal itu tidak perlu kusangkal. Memang benar aku kagum dan tertarik sekali kepada Kong-ko, akan tetapi itu tidak berarti bahwa diapun suka kepadaku. Dan akupun dapat menduga bahwa engkau juga suka dan kagum kepadanya, bahwa engkau mencintanya, enci Bwe Hwa!"

Wajah Bwe Hwa berubah kemerahan, akan tetapi sebagai seorang gadis yang gagah perkasa ia tidak berpura-pura.

Seperti juga Hui Lan ia berani mengakui apa yang tersembunyi di dalam hatinya.

"Terus terang saja, dugaanmu itu benar, Lan-moi. Belum pernah aku tertarik kepada pria kecuali dia. Akan tetapi apakah dia suka kepadaku, hal ini masih belum dapat diketahui."

Hening sejenak.

Kedua orang gadis perkasa dan cantik jelita itu menundukan muka dengan alis berkerut.

Mereka menyadari bahwa diantara mereka terdapat jurang pemisah yang ditimbulkan oleh rasa cinta mereka terhadap seorang pemuda!

Mereka seolah menjadi saingan.

"Ternyata kita mencintai orang yang sama, Lan-moi. Sungguh sebuah kenyataan yang pahit sekali. Tidak mungkin kita memperebutkan hati seorang pria. Sekarang begini saja, Lan-moi. Kita lihat saja nanti, siapa diantara kita yang dicinta oleh Kong-ko, ialah yang berhak menjadi pasangannya. Yang tidak dicinta harus mengalah. Bagaimana pendapatmu?"

Kedua pipi Hui Lan berubah kemerahan, Bwe Hwa telah bicara dari hati ke hati, secara terbuka dan sejujurnya.

Ia harus menghargai sikap ini, walaupun terdengar memalukan dua orang gadis membicarakan cintanya terhadap seorang pemuda dengan gadis lain!

Akan tetapi ia dapat menghargai kejujuran Bwe Hwa.

Dalam urusan hati seperti ini memang sebaiknya kalau mereka berdua bersikap terbuka dan jujur sehingga tidak menimbulkan dendam diantara mereka seperti kalau hal itu tidak dibicarakan sejujurnya dan disimpan menjadi rahasia sehingga mereka berdua akansaling cemburu.

"Lega hatiku mendengar keterbukaan, enci Bwe Hwa. Dengan kejujuranmu ini kita berdua tidak perlu saling bersaing dan saling cemburu. Aku setuju dengan pendapatmu. Cinta tidak dapat dipaksakan dan kita lihat saja nanti siapa diantara kita yang dicinta Kong-ko."

"Aku juga girang dengan kejujuranmu, adikku!"

Bwe Hwa merangkul Hui Lan dan mereka saling berangkulan dengan hati lega dan terharu.

Setelah lama mereka menanti munculnya Si Kong dan pemuda itu belum juga datang, mereka merasa heran.

Hui Lan lalu bangkit dan berjalan keluar guha, diikuti oleh Bwe Hwa.

"Kong-ko, sudah selesaikah engkau mandi?"

Hui Lan berteriak lantang, akan tetapi tidak terdengar jawaban.

"Kong-ko, dimana engkau?"

Teriak Bwe Hwa sambil mengerahkan khi-kang sehingga suaranya dapat terdengar sampai jauh.

Akan tetapi Bwe Hwa inipun tidak memperoleh jawaban.

Suasananya sunyi saja.

Matahari telah naik di langit timur dan kedua orang gadis itu saling pandang dengan heran.

Mereka berdua berseru kembali beberapa kali untuk memanggil Si Kong, namun tetap saja tidak ada jawaban.

"Hatiku merasa tidak enak, Lan-moi. Mari kita lihat di pancuran air,"

Kata Bwe Hwa.

Kedua gadis itu lalu pergi ke tempat air memancur di mana mereka tadi mandi dan mencuci pakaian.

Akan tetapi tidak nampak Si Kong di sana.

Mereka lalu memandang ke kanan kiri sambil berteriak memanggil nama Si Kong.

"Enci Bwe Hwa, lihat di sana itu!"

Kata Hui Lan.

Bwe Hwa menengok dan melihat apa yang ditunjuk oleh Hui Lan.

Di tanah padas yang berbentuk dinding nampak coretan-coretan.

Mereka berdua lalu melompat mendekat dan benar apa seperti dugaan mereka, coret-coretan itu merupakan huruf-huruf yang diukir pada tanah padas itu.

Kedua orang gadis itu berlumba membacanya dengan hati khawatir.

"Seekor burung gagak yang papa tidak pantas berdekatan dengan sepasang burung Hong yang mulia! Seekor burung gagak yang papa terbang naik ke angkasa sendirian bermain di udara bebas dan merdeka tak terikat apapun juga!"

Setelah membaca bunyi tulisan di tanah padas itu, Hui Lan dan Bwe Hwa merasa betapa tubuh mereka menjadi lemas.

Mereka berdua mengerti benar bahwa Si Kong sengaja menjauhkan diri dari mereka, karena merasa tidak berharga untuk berdekatan lebih lama dengan mereka yang disebut burung-burung Hong yang mulia.

"Kong-ko...!"

Hampir berbareng mereka menyerukan nama ini dan mereka menjatuhkan diri duduk di atas batu sambil termenung.

"Enci Bwe Hwa, agaknya dia... dia telah mendengar percakapan kita di..."

Bwe Hwa mengangguk.

"Kong-ko adalah seorang pemuda yang rendah hati sekali. Dari tulisannya itu kita tahu bahwa dia tidak mencinta kita, menganggap diri terlalu rendah untuk mencinta kita. Seperti pernah kukatakan, Lan-moi, cinta tidak dapat dipaksakan! Cinta tidan mungkin hanya terjadi sepihak saja. Sekarang bagaimana kehendakmu, Lan-moi?"

"Kita cari pedang Pek-lui-kiam enci Bwe Hwa."

"Benar, kita mencari pedang pusaka itu dan siapapun yang mendapatkan harus diserahkannya kepada Kong-ko."

"Ah, betapa mendalam rasa cintamu. Biarpun tidak mendapat sambutan engkau tetap memikirkan dia! Akan tetapi pendapatmu itu memang tepat. Aku telah mendengar dari Kong-ko bahwa dia mencari pedang itu untuk dikembalikan kepada seorang gadis bernama Tan Kiok Nio yang kini tinggal di kota Ci-bun."

Bwe Hwa mengerutkan alisnya.

"Pedang itu akan diserahkan kepada seorang gadis? Apakah gadis itu..."

Ia tidak melanjutkan dan Hui Lan menjelaskan.

"Jangan mengira bahwa Kong-ko jatuh cinta kepada gadis itu, enci Bwe Hwa. gadis itu adalah puteri mendiang Tan Tiong Bu yang tadinya menjadi pemilik pedang pusaka Pek-lui-kiam. Tan Tiong Bu tewas oleh seseorang dan ada dugaan bahwa pembunuhnya adalah Ang I Sianjin yang kemudian mencuri pedang pusaka itu. Nah, gadis itu minta pertolongan Kong-ko untuk mencari pembunuh Ayahnya dan merampas kembali pedang pusaka milik mendiang Ayahnya itu."

Bwe Hwa mengangguk-angguk.

"Tidak mengherankan kalau begitu. Kong-ko memang memiliki watak yang budiman dan tangannya selalu terbuka untuk menolong siapa saja. Kalau begitu, sebaiknya kita berpisah, Lan-moi. Kita mendaki secara terpisah dan marilah kita berlumba untuk mendapatkan pedang pusaka Pek-lui-kiam itu. Siapa yang mendapatkannya tentu akan menyerahkannya kepada Kong-ko dan siapa tahu, hal itu akan melunakkan hatinya."

Hui Lan tersenyum dan ia semakin yakin bahwa cinta Bwe Hwa terhadap Si Kong memang mendalam sekali.

Ia hanya menghela napas dan berkata.

"Baiklah, mari kita mengambil jalan masing-masing.

Aku tidak akan merasa menyesal kalau engkau yang akan dapat menguasai pedang itu."

Setelah berkemas, kedua orang gadis itu lalu meninggalkan guha dan melanjutkan pendakian ke puncak dengan mengambil jalan terpisah.

Si Kong berjalan seorang diri sambil termenung.

Dia terpaksa meninggalkan dua orang gadis yang dikagumi dan disukanya setelah mendengar percakapan mereka.

Dia mendengarkan itu tanpa disengaja.

Setelah mandi, dia sudah memikirkan bahwa sebaiknya dia berpamit dari mereka dan mencari jalannya sendiri.

Akan tetapi ketika dia mendekati guha, dia mendengar dua orang gadis itu bercakap-cakap mengenai dirinya.

Dia menjadi bingung dan bersedih.

Tak disangkanya dua orang gadis itu menaruh hati kepadanya.

Bagaimana mungkin dia menyambut cinta kasih seorang gadis seperti mereka yang menjadi puteri pendekar besar, serba kecukupan?

Apalagi diperebutkan antara dua orang gadis yang dikaguminya itu.

Dia merasa bahwa sebagai seorang kelana miskin dan yatim piatu seperti dia amat tidak sepadan kalau berpasangan dengan Hui Lan maupun Bwe Hwa.

Dia mengeraskan hatinya dan mengambil keputusan untuk pergi begitu saja tanpa pamit.

Akan tetapi untuk tidak membuat dua orang gadis itu penasaran, dia meninggalkan coretan-coretan di batu padas itu.

Dengan pikiran dipenuhi bayangan kedua orang gadis itu, Si Kong melanjutkan perjalanan.

Niatnya hanya untuk menyelidiki pembunuh pendekar Tan Tiong Bu dan merampas kembali pedang pusaka Pek-lui-kiam untuk dikembalikan kepada Tan Kiok Nio.

Kenapa dia harus terlibat dalam urusan cinta dengan seorang diantara dua orang gadis itu?

Karena tidak ingin tersusul oleh dua orang gadis itu, Si Kong mengambil jalan ke barat melalui lereng-lereng perbukitan itu.

Dia harus mendaki puncak melalui lereng sebelah barat agar tidak sampai bertemu dengan Hui Lan atau Bwe Hwa.

Akan tetapi, sambil melangkah ke depan, dia merasa betapa perasaan hatinya berat seperti terhimpit perasaan bersalah.

Dua orang gadis itu dengan jujur mengatakan bahwa mereka mencintanya.

Dan sekarang, dia pergi begitu saja tanpa memberi tahu.

Hal ini tentu saja akan membuat mereka bersedih dan kecewa.

Berulang kali dia bertanya kepada hatinya sendiri, gadis mana diantara keduanya itu yang dia cinta.

Jawaban hatinya membingungkannya.

Dia kagum kepada keduanya dan merasa suka kepada keduanya.

Apakah dia mencinta mereka?

Mencinta seorang diantara mereka?

Entahlah, dia jawab sendiri pertanyaan itu.

Dia ragu dan bingung, tidak dapat menjawab pertanyaan itu.

Dia tidak tahu dan belum mengenal apa itu yang disebut cinta.

Dia memang suka kepada mereka, kagum kepada mereka karena mereka adalah dua orang gadis yang cantik jelita dan berilmu tinggi, gagah perkasa dan budiman, puteri dari pendekar-pendekar kenamaan.

Cinta asmara memang mendatangkan banyak macam akibat, dapat membahagiakan seseorang namun dapat pula menyengsarakan seseorang.

Cinta asmara adalah cinta yang diboncengi nafsu.

Ingin menyenangkan dan disenangkan, memiliki dan dimiliki, menguasai dan dikuasai.

Kalau semua keinginan ini dipenuhi maka hatinya mengaku cinta.

Dilayani, dimanja, disukai, betapa menyenangkan semua itu.

Akan tetapi begitu muncul kenyataan lain, tidak lagi dilayani, tidak lagi dimanja, tidak lagi disenangi, maka cinta asmara pun terbang pergi seperti kabut terkena sinar matahari, dan cinta asmara berganti dengan kebencian.

Kegagalan cinta asmara membuat seseorang menjadi kecewa, duka dan merasa sengsara sekali.

Bagaimana kalau cinta asmara terpenuhi dan disambut dengan baik?

tentu saja mendatangkan kesenangan besar yang dianggap sebagai bahagia.

Akan tetapi betapa pendeknya usia kebahagiaan itu.

Betapa rapuhnya hati yang mengaku cinta.

Si Kong belum pernah jatuh cinta, maka dia tidak dapat membedakan antara rasa suka dan rasa cinta.

Rasa kagum dan suka tidak menuntut balasan, tidak ingin menguasai, memiliki atau ingin menyenangkan diri sendiri.

Orang tidak akan pernah patah hati kalau rasa sukanya lenyap atau berubah, karena tidak merasa kehilangan.

Rasa suka diantara sahabat tidak ingin memiliki, maka tidak akan merasa kehilangan.

Si Kong berhenti melangkah dan seluruh perhatiannya kini dipusatkan kepada mata dan telinganya.

Dia mendengar langkah kaki yang datang dari jauh, akan tetapi derap langkah itu sudah terdengar dari situ, seolah yang datang mendekat adalah seekor gajah besar yang amat berat!

Setelah dekat, Si Kong memandang dengan heran dan kagum karena yang datang menghampirinya adalah seorang kakek tinggi kurus yang usianya lebih dari enam puluh tahun.

Pakaiannya ringkas dan mewah, dan disabuknya terselip sebuah kantung dan tangan kirinya memegang sebuah kong-ce (tombak cagak), mukanya penuh brewok sehingga wajah itu nampak bengis.

Karena kakek itu menghampiri dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, Si Kong lalu mengangkat kedua tangan di depan dada untuk memberi hormat.

Dia dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek yang berilmu tinggi.

"Selamat siang, lo-cianpwe."

Sepasang mata kakek itu mencorong mengamati Si Kong dari atas yang memakai caping lebar sampai ke kaki yang mengenakan sepatu butut dan pakaiannya yang sederhana.

"Hemm, siapa engkau?"

Tanya kakek itu penuh kecurigaan.

"Namaku Si Kong, Locianpwe."

"Engkau anggauta Kwi-jiauw-pang?"

"Bukan, Locianpwe."

"Hemm, kalau bukan anggauta Kwi-jiauw-pang, lalu mengapa engkau berada di sini?"

"Aku... aku tidak inginkan sesuatu..."

Jawab Si Kong dengan gugup karena dia meragu apakah dia harus berterus terang atau tidak.

"Hemm, engkau datang ke Kwi-liong-san untuk mencari Pek-lui-kiam, bukan?"

Semua orang yang datang ke sini mencari dan hendak memperebutkan Pek-lui-kiam, maka diapun menjawab sejujurnya.

"Benar, Locianpwe, namun aku tidak yakin apakah aku mampu..."

"Kalahkan aku dulu kalau engkau mau memperebutkan Pek-lui-kiam disini!"

Kakek itu menggerakkan tangan kanannya, memukul ke arah dada Si Kong dengan cepat dan kuat sekali.

Tahu-tahu tangannya yang kanan telah hampir mengenai dada Si Kong.

Hawa pukulan yang dahsyat sudah terasa oleh pemuda itu.

Dia cepat melangkah mundur selangkah lalu mendorong pula dengan tangan kanan untuk menyambut pukulan lawan itu.

Untuk mengelak sudah tidak ada waktu lagi dan satu-satunya jalan untuk menangkis pukulan yang dipenuhi tenaga sinkang itu hanyalah menyambutnya dengan tangan juga.

"Wuuuuutttt... dessss!"

Dua telapak tangan bertemu dan tubuh Si Kong terhuyung mundur lima langkah.

Akan tetapi kakek itu juga terhuyung mundur lima langkah.

Si Kong merasa betapa dadanya sesak dan tahulah dia bahwa kakek itu menggunakan sinkang yang amat kuat sehingga pertemuan tangan itu membuat isi dadanya terguncang.

Maklum bahwa dia menghadapi lawan tangguh yang berbahaya, Si Kong tidak ingin melanjutkan perkelahian tanpa sebab yang kuat itu.

Maka diapun lalu melompat dari situ dan pergi melanjutkan perjalanannya.

Kakek itu agaknya juga maklum bahwa pemuda itu seorang yang tangguh sekali, maka diapun tidak melakukan pengejaran.

Siapakah kakek tinggi kurus brewok yang amat tangguh ini?

Kalau Si Kong mendengar nama julukan kakek itu, tentu dia tahu dengan orang macam apa dia berhadapan.

Kakek itu bukan orang sembarangan, melainkan datuk besar dari timur yang berjuluk Tung-giam-ong (Raja Maut Timur)!

Seperti para datuk yang lain, dia mendaki Kwi-liong-san dengan dua tujuan.

Pertama, memenuhi undangan Toa Ok dan Ji Ok yang hendak menentukan siapa diantara para datuk besar yang patut dipilih sebagai datuk nomor satu di dunia.

Dan kedua, tentu saja, untuk memperebutkan Pek-lui-kiam.

Ketika bertemu dengan Si Kong, dia menduga bahwa pemuda itu tentu seorang diantara orang kangouw yang hendak memperebutkan pedang pusaka.

Setiap orang yang hendak memperebutkan pedang itu dianggapnya sebagai musuh yang patut di bunuh untuk mengurangi jumlah saingan.

Maka dia lalu menyerang dengan pukulan maut, dan dia hampir yakin bahwa sekali pukul saja pemuda itu tentu akan mati!

Pukulannya itu mengandung tenaga sinkang yang panas dan amat kuat, dilakukan dengan penuh tenaga karena dia bermaksud membunuh pemuda itu dengan sekali pukul.

Akan tetapi dia menjadi terkejut setengah mati ketika pemuda itu menyambut dorongannya dengan telapak tangan pula dan ketika kedua tangan bertemu, dia terdorong ke belakang sampai lima langkah!

Dan diapun merasa betapa isi perutnya terguncang dan cepat dia mengumpulkan hawa murni untuk melindungi isi perutnya agar jangan terluka dalam.

Maka diapun sama sekali tidak mengejar ketika pemuda itu lari dari situ.

Sementara itu, Si Kong merasa heran dengan munculnya kakek sakti itu dan dia tahu bahwa memperebutkan pedang Pek-lui-kiam sungguh merupakan pekerjaan yang amat sulit dengan adanya orang-orang sakti di tempat itu.

Dia berjalan dengan hati-hati karena maklum bahwa perjalanan itu berbahaya, terdapat banyak jurang dan siapa tahu disitu terdapat pula perangkap dan jebakan yang dipasang oleh orang-orang Kwi-jiauw-pang.

Selagi dia berjalan dengan hati-hati, tiba-tiba dia mendengar seruan orang dari belakang.

Dia menengok dan melihat seorang kakek lari mengejarnya dengan kecepatan yang mengagumkan.

Tadinya Si Kong mengira bahwa kakek tadi yang mengejarnya.

Dia bersiap untuk lari lebih cepat, akan tetapi ketika dia melihat bahwa kakek yang mengejarnya itu adalah seorang kakek yang bertubuh sedang, tidak memegang tombak cagak seperti tadi, dia merasa lega dan menanti dengan siap siaga.

Kakek itu mempergunakan ginkang yang hebat sehingga sebantar saja sudah tiba di depan Si Kong.

Si Kong memandang penuh perhatian.

Kakek inipun sudah berusia enam puluh tahun lebih.

Tubuhnya sedang dan tegap.

Alisnya tebal dan matanya mencorong membuat wajah yang tampan itu nampak berwibawa.

Dipunggungnya terselip sebatang pedang dan dipinggangnya terdapat belasan batang anak panah kecil.

Melihat panah itu, Si Kong terkejut karena dia teringat akan anak panah tangan yang biasa dipergunakan oleh Cu Yin!

Dia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah datuk besar selatan yang berjuluk Lam Tok!

Si Kong tidak mencari permusuhan, apalagi dengan Lam Tok Ayah dari Cu Yin yang pernah menjadi sahabat baiknya.

Datuk besar ini tentu lihai sekali, dan keadaannya sendiri belum pulih dari guncangan akibat beradu tenaga dengan kakek tinggi kurus yang amat lihai.

Maka kalau dipaksa harus bertanding melawan Lam Tok, lebih baik dia menghindarkan diri.

Ketika bertemu kakek pertama, dia menegur lebih dulu, akan tetapi akibatnya, dia diserang secara hebat sekali.

Siapa tahu Lam Tok juga akan menyerangnya kalau kakek ini mengira dia hendak memperebutkan Pek-lui-kiam.

Watak para datuk besar ini amat aneh.

Kalau mereka hendak menguasai Pek-lui-kiam, maka setiap orang yang bermaksud memperebutkan Pek-lui-kiam tentu dianggap musuh yang harus dibunuh!

Setelah berpikir demikian, Si Kong merasa lebih baik menjauhkan diri dari perkelahian dengan kakek itu.

Tidak ada gunanya melayani para datuk yang suka berkelahi tanpa sebab.

Berbeda kalau andaikata dia sudah mendapatkan Pek-lui-kiam, tentu dia akan menghadapi siapapun yang hendak merampas dari tangannya.

"Hei, orang muda. Tunggu dulu!"

Lam Tok berteriak sambil meloncat dan mengejar.

Akan tetapi Si Kong menggunakan ilmu berlari cepat Liok-te Hui-teng sehingga sebentar saja tubuhnya lenyap di balik pohon-pohon dan semak belukar.

Lam Tok merasa heran dan penasaran tidak dapat mengejar pemuda itu, akan tetapi dia tidak mengejar terus karena diapun harus berhati-hati berada di pegunungan yang asing baginya itu.

Setelah merasa yakin bahwa dia tidak dikejar lagi, barulah Si Kong menghentikan larinya dan menyelinap di balik semak belukar untuk mengaso.

Dia menanti sampai lama akan tetapi tidak ada yang mengejarnya.

Legalah hatinya dan kini tenaganya juga sudah pulih kembali karena selama menanti itu dia bersamadhi mengumpulkan hawa murni untuk menghilangkan bekas pertemuan tenaganya dan tenaga kakek tinggi kurus brewok yang lihai itu.

Matahari telah naik tinggi dan Si Kong melanjutkan perjalannnya mendaki puncak, menyelinap diantara pohon-pohon dan semak belukar.

Para pimpinan Kwi-jiauw-pang di puncak Kwi-liong-san sudah bersiap menyambut kunjungan para tokoh kang-ouw yang hendak memperebutkan Pek-lui-kiam.

Kedudukan Kwi-jiauw-pang kuat sekali.

Toa Ok, Ji Ok dan Sam Ok telah mendatangkan banyak balabantuan.

Coa Leng Kun telah mengundang See-thian Su-hiap, empat orang tokoh Pek-lian-kauw yang memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu sihir.

Disitu berkumpul pula Bu-tek Ngo-sian, lima orang tangguh yang sudah lama menjadi pembantu Toa Ok dan Ji Ok.

Mereka merupakan tiga belas orang yang kesemuanya memiliki ilmu silat yang dapat diandalkan.

Selain mereka, masih ada pula seregu pasukan Pek-lian-pai yang jumlahnya kurang lebih seratus orang dan yang kini sudah bergabung dengan pasukan Kwi-jiauw-pang sendiri yang berkekuatan seratus orang lebih.

Pek-lian-pai telah berhasil menghasut Gubernur Ji dari propinsi Ce-kiang untuk memberontak.

Dengan janji bahwa kalau pemberontakan mereka berhasil Gubernur Ji akan mereka angkat menjadi kaisar baru, Gubernur Ji setuju dan dia segera bersekongkol dengan Pek-lian-pai dan Kwi-jiauw-pang.

Karena mereka merasa belum kuat untuk memberontak dan menyerang pasukan kerajaan, maka kini mereka berniat untuk mengadu domba orang-orang kang-ouw dengan umpan pedang Pek-lui-kiam.

Hal ini selain dilakukan untuk mengacau ketenteraman, juga untuk melemahkan dunia kangouw yang sebagian besar condong membantu dan mendukung pemerintah kerajaan.

Juga untuk memancing para tokoh kangouw membantu persekongkolan mereka dengan menjanjikan kedudukan yang tinggi kalau pemberontakan berhasil.

Tiga belas orang itu kini berkumpul mengadakan rapat untuk mengatur siasat.

Para anak buah Kwi-jiauw-pang disebar untuk mengamati gerakan orang-orang yang mendaki Kwi-liong-san, dibantu oleh orang-orang Pek-lian-pai.

Toa Ok dan Ji Ok memimpin pertemuan itu di dalam ruangan yang luas dalam rumah induk Kwi-jiauw-pang.

"Coba ceritakan kembali pertemuan kalian dengan pemuda dan gadis yang lihai itu. Benarkah mereka telah membunuh sepuluh orang kita dan melukai belasan orang lainnya?"

Tanya Toa Ok kepada Bu-tek Ngo-sian. Ciok Khi sebagai orang pertama dari Bu-tek Ngo-sian menjawab.

"Ketika itu kami berlima melihat seorang pemuda dan seorang gadis mengamuk dan merobohkan belasan orang anggauta Kwi-jiauw-pang yang mengeroyok mereka. Kami segera menyerang mereka, akan tetapi ternyata mereka lihai sekali. Bahkan gadis itu memiliki ilmu sihir. Terpaksa kami melarikan diri karena tidak kuat melawan mereka."

"Bodoh kalian! Melawan seorang muda dan seorang gadis saja tidak mampu mengalahkan mereka!"

Toa Ok mengomel dan lima orang itu hanya menunduk saja.

Mendengar Toa Ok menegur Bu-tek Ngo-sian dengan marah, See-thian Su-hiap saling pandang dan orang tertua dari mereka, Kui Hwa Cu segera berkata.

"Harap Toa-pangcu tidak menegur mereka Bu-tek Ngo-sian. Pemuda dan gadis itu memang lihai bukan main. Kami sendiri sudah bertemu dan mengeroyok mereka dan mereka memang orang-orang muda yang memiliki kepandaian hebat. Ketika kami mengeroyok nona Pek Bwe Hwa, mereka berdua muncul dan terpaksa kami menggunakan bahan peledak untuk menyingkir. Nona Pek Bwe Hwa dan dua orang muda itu merupakan lawan yang tangguh, Toa-pangcu dan ini harus kami akui."

Dengan hati kega Bu-tek Ngo-sian mendengarkan pembelaan secara tidak langsung ini dan Ciok Khi berani membuka mulut melapor.

"Ada satu hal lagi yang perlu kami laporkan kepada Sam-wi Pangcu (tiga ketua) bahwa ternyata pemuda dan gadis itu tidak berbohong ketika mereka mengatakan bahwa yang membunuh sepuluh orang anggauta Kwi-jiauw-pang itu bukan mereka."

"Hemm, bagaimana engkau bisa tahu bahwa bukan mereka pembunuhnya? Lalu siapa yang membunuh?"

"Dari para anggauta yang melakukan penguburan kami mendengar bahwa sepuluh orang itu tewas terkena anak panah beracun. Kami mendatangi kuburan mereka dan menyuruh gali kembali untuk memeriksa. Dan ternyata mereka itu terkena anak panah dan pada gagangnya terdapat tulisan Lam Tok."

"Ahhh...! Jadi Lam Tok kiranya yang membunuh mereka?"

Bentak Toa Ok marah.

"Agaknya memang benar begitu, Toa-pangcu."

"Keparat Lam Tok. Belum bertemu dengan kami telah turun tangan membunuh anak buah kami. Pasti akan kutegur perbuatannya itu!"

Pada saat itu, seorang anggauta Kwi-jiauw-pang masuk dengan muka pucat dan melapor kepada Toa Ok.

"Toapangcu di lereng selatan ada seorang gadis dan seorang pemuda yang sedang mengamuk!"

Mendengar laporan ini, Toa Ok marah sekali.

"Mari kita semua pergi ke sana! Dua orang muda itu harus dibunuh!"

Semua orang bangkit dari tempat duduknya dan serentak mereka berlari menuruni puncak bagian selatan, dan pelapor tadi menjadi penunjuk jalan.

Setelah tiba di lereng bagian selatan, mereka melihat seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan sedang dikeroyok belasan orang anggauta Kwi-jiauw-pang yang dibantu lima orang angguta Pek-lian-kauw.

Sudah ada beberapa orang pengeroyok yang roboh dan dua orang muda itu masih mengamuk, si pemuda memainkan sebatang pedang dan gadis itupun mengamuk dengan pedangnya.

Melihat mereka, See-thian Su-hiap dan Bu-tek Ngo-sian berbisik.

"Bukan, bukan mereka...!"

Mendengar ucapan mereka itu, Toa Ok lalu melompat maju dan membentak.

"Bocah-bocah lancang! Berani benar kalian mengacau di Kwi-liong-san!"

Bentakan itu mengandung tenaga khikang yang amat kuat sehingga suara itu seolah menggetarkan bumi.

Pemuda dan gadis itu bukan lain adalah Tio Gin Ciong dan Siangkoan Cu Yin!

Mendengar bentakan yang dahsyat itu, Gin Ciong dan Cu Yin maklum bahwa yang datang adalah seorang yang sakti bersama belasan orang lainnya.

Cu Yin dan Gin Ciong melompat ke belakang dan sekali tangan Cu Yin bergerak, tiga batang anak panah sudah meluncur ke arah Toa Ok!

"Sing-sing-singgg...!"

Toa ok menyambut dengan kedua tangannya dan dia sudah menangkap tiga batang anak panah itu.

Ketika dia memeriksa, mata anak panah itu mengandung racun dan pada gagangnya terdapat dua huruf.

Lam Tok.

Segera dia dapat menduga siapa adanya gadis yang ganas itu.

"Hemm, engkau puteri Lam Tok, bukan? Ada urusan apa engkau berani mengacau di tempat ini?"

Biarpun maklum bahwa tiga belas orang yang datang adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, namun Cu Yin sama sekali tidak kelihatan jerih.

"Aku memang puteri Lam Tok. Aku dan kawanku ini sedang melakukan perjalanan disini, mengapa orang-orang ini mengeroyok kami? Kalian datang hendak membantu mereka?"

"Hemm, gadis kecil, Ayahmu sendiri Si Racun Selatan tidak berani memandang rendah kami! Dan engkau, anak muda. Siapakah engkau?"

Toa Ok mengamati wajah Gin Ciong dengan tajam penuh selidik karena tadipun dia melihat sepak terjang pemuda ini cukup hebat.

Gin Ciong tersenyum bangga.

"Ayahku adalah Majikan Pulau Beruang!"

Toa Ok membelalakkan matanya.

"Jadi engkau putera Tung-giam-ong Si Datuk Timur? Bagaimana kalian dapat berada disini? Di mana Ayah kalian?"

Toa Ok mendapat pikiran yang bagus sekali.

Gadis dan pemuda ini ternyata adalah puteri dan putera Lam Tok dan Tung-giam-ong.

Alangkah baiknya kalau dia dapat menarik mereka menjadi sekutu, dengan demikian ada harapan baginya untuk menarik Lam Tok dan Tung-giam-ong menjadi sekutu pula.

"Bagus sekali! Kiranya kalian adalah puteri dan putera Lam Tok dan Tung-giam-ong yang memang kami tunggu-tunggu sebagai tamu-tamu kami. Nona, siapakah namamu, dan engkau muda, siapa namamu?"

Melihat sikap ramah kakek yang berkepala botak dan besar itu, Cu Yin mengerutkan alisnya.

"Sebelum kami memperkenalkan diri lebih dulu engkau yang mengatakan siapakah engkau dan apa hubunganmu dengan Kwi-jiauw-pang?"

"Ha-ha-ha-ha!"

Toa Ok tertawa bergelak.

"Anak Lam Tok ternyata bernyali besar, tidak percuma menjadi puteri Lam Tok. Kalian ingin tahu siapa kami? Aku dan adikku ini adalah datuk-datuk dari barat."

Cu Yin menyipitkan matanya.

"Toa Ok dan Ji Ok?"

Tanyanya.

"Ha-ha-ha, bagus kalau engkau sudah mengetahuinya. Akan tetapi sekarang kami menjadi ketua Kwi-jiauw-pang aku menjadi Toa Pangcu, adikku menjadi Ji Pangcu dan yang berjubah merah itu adalah Sam Pangcu."

Mendengar bahwa gadis dan pemuda itu adalah anak-anak Lam Tok dan Tung-giam-ong, Bu-tek Ngo-sian segera memperkenalkan diri mereka.

"Kami adalah Bu-tek Ngo-sian!"

"Perkenalkan, aku adalah Coa Leng Kun."

Leng Kun juga memperkenalkan diri kepada gadis yang cantik molek itu, senyumnya memikat dan pandang matanya bersinar-sinar!

"Kami berempat adalah See-thian Su-hiap."

Empat orang Tosu itiu tidak mau kalah memperkenalkan diri.

Mendengar sederetan nama julukan itu, diam-diam Cu Yin terkejut bukan main.

Baru Toa Ok dan Ji Ok itu saja sudah merupakan dua orang tokoh yang kedudukannya setingkat dengan Ayahnya.

Dan masih banyak nama julukan yang terkenal mendampingi mereka!

Iapun maklum bahwa terhadap mereka ini ia tidak boleh bersikap kasar karena mereka semua adalah orang-orang tangguh.

Cu Yin cukup cerdik untuk mengubah sikap menjadi ramah kepada mereka.

"Aih, kiranya kalian adalah orang-orang yang menjadi sahabat Ayah. Aku bernama Siangkoan Cu Yin dan temanku putera Tung-giam-ong ini bernama Tio Gin Ciong. Tadi terjadi kesalah-pahaman antara orang-orangmu dan kami. Kami dicurigai dan diusir dari tempat ini, maka terjadilah perkelahian."

"Ah, tidak mengapa, nona. Mereka itu bodoh dan tidak tahu berhadapan dengan siapa maka berani bertindak kasar. Harap nona dan kongcu suka memaafkan anak buah kami."

"Hemm, tidak mengapa paman. Kami tidak terluka dan syukur kami tidak membunuh seorangpun dari orang-orangmu. Eh, kalau tidak salah, Sam Pangcu ini yang berjuluk Ang I Sianjin, bukan?"

Kakek berjubah merah itu mengelus jenggotnya.

"Nona Siangkoan ternyata bermata tajam dan cerdik sekali. Aku memang Ang I Sianjin, akan tetapi sekarang aku berjuluk Sam Ok dan berkedudukan sebagai Sam Pangcu di Kwi-jiauw-pang."

"Hemm-hemmm... aku mendengar bahwa engkau telah membunuh pendekar Tan Tiong Bu yang tinggal di Sia-lin dan telah merampas pedang pusaka Pek-lui-kiam. Benarkah kabar itu?"

"Ah, nona Siangkoan. Aku yang sudah tua ini tidak membutuhkan pedang pusaka itu, walaupun benar aku telah mengambilnya. Ketahuilah, aku membunuh Tan Tiong Bu dan merampas Pek-lui-kiam karena dahulu dia telah membunuh keluargaku dengan menggunakan pedang pusaka itu. Aku sudah tua, pedang pusaka itu lebih patut menjadi milik seorang muda seperti nona."

"Heh-heh-heh, nona Siangkoan. Marilah kita pergi kerumah perkumpulan agar dapat bicara lebih leluasa. Nona dan kongcu menjadi tamu kehormatan kami. Kami mengundang ji-wi (kalian) untuk menunjukkan penyesalan kami atas sikap anak buah kami."

Cu Yin dan Gin Ciong saling pandang dan gadis itu menganggukkan kepalanya maka Gin Ciong juga menyetujuinya.

Siangkoan Cu Yin terlalu percaya kepada diri sendiri dan nama besar Ayahnya.

Tidak mungkin ada yang berani mengganggunya!

Beramai-ramai mereka pun mendaki puncak menuju ke sarang Kwi-jiauw-pang.

Sebuah perjamuan makan dihidangkan untuk menghormati dua orang muda yang menjadi tamu agung itu.

Coa Leng Kun segera bermanis-manis muka terhadap Cu Yin, bahkan mengambil tempat duduk di sebelah kanan Cu Yin ketika mereka duduk menghadapi meja perjamuan.

Diam-diam Gin Ciong merasa tidak senang, akan tetapi karena Leng Kun bersikap sopan dan agaknya Cu Yin juga menerima uluran persahabatan Leng Kun dengan senang hati, diapun tidak dapat mencegah.

"Akupun sependapat dengan Sam Pangcu yang tadi mengatakan bahwa pedang Pek-lui-kiam lebih pantas kalau berada di tangan seorang pendekar wanita muda seperti nona Siangkoan,"

Kata Leng Kun sambil tersenyum manis dan mengerling ke arah gadis itu.

"Ah, Sam Pangcu tentu berkata hanya untuk main-main saja,"

Kata Cu Yin sambil tersenyum.

"Mana mungkin pusaka yang diperebutkan orang-orang kang-ouw itu diberikan begitu saja kepadaku?"

"Ha-ha-ha, apa gunanya bagi kami untuk berbohong, nona Siangkoan?"

Kata Toa Ok sambil mengangkat cawan araknya dan minum habis sekali tenggak.

"Kami akan menyerahkan pedang pusaka Pek-lui-kiam itu dengan senang hati kepada nona, asal saja nona mau membantu kami menghadapi orang-orang kang-ouw yang hendak merampas dan memperebutkan pedang pusaka itu. Kepada puteri Lam Tok kami merasa seperti berhadapan dengan keponakan sendiri dan kalau kami menyerahkan pedang Pek-lui-kiam kepadamu, tentu Lam Tok tidak akan bersusah payah memperebutkan pusaka itu lagi bahkan membantu agar pedang pusaka itu tidak terlepas dari tanganmu dan direbut lain orang!"

Siangkoan Cu Yin yang cerdik itu segera mengerti bahwa pihak tuan rumah mau menyerahkan pedang akan tetapi ada syaratnya, yaitu bahwa dia harus membantu mereka.

"Bantuan apa yang dapat kuberikan kepada paman sekalian?"

Tanya Siangkoan Cu Yin.

"Tidak banyak dan tidak sukar, nona. Engkau dan putera Tung-giam-ong tinggal disini sebagai tamu kehormatan kami dan kalian berdua membantu kami menghadapi musuh-musuh kami yang berdatangan dengan niat merampas pedang pusaka Pek-lui-kiam. Bagaimana?"

"Hemm, menghadapi para tokoh kangouw merupakan pekerjaan berbahaya! Akan tetapi kapankah kalian hendak menyerahkan pedang pusaka itu?"

"Sekarang juga kami serahkan kalau nona mau berjanji akan membantu kami!"

Kata Toa Ok sambil mengeluarkan pedang Pek-lui-kiam.

Dia mencabut pedang itu dan nampak sinar kilat berkelebat ketika pedang itu terhunus.

"Nah, terimalah Pek-lui-kiam ini, nona Siangkoan!"

Cu Yin menjadi girang bukan main.

Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa ia akan mendapatkan pedang pusaka itu (Lanjut ke

Jilid 19) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 sedemikian mudahnya!

Ia lalu menerima pedang yang sudah disarungkan kembali itu dan untuk meyakinkan hatinya, ia mencabut kembali pedang Pek-lui-kiam itu dan matanya silau melihat sinar berkilat dari pedang itu.

Dengan girang ia menyarungkan kembali dan berkata.

"Terima kasih, Toa Pangcu. Tentu aku akan membantu kalian, dan kalau bertemu Ayah, aku akan meminta Ayah membantu pula."

"Itu bagus sekali, nona Siangkoan."

"Akupun akan membujuk Ayah untuk membantu kalau aku bertemu dengan Ayah di sini,"

Kata Tio Gin Ciong, ikut gembira melihat Siangkoan Cu Yin demikian senang hatinya.

Malam itu Cu Yin mendapatkan sebuah kamar yang lengkap, dan disebelah kiri kamarnya adalah kamar yang diberikan kepada Gin Ciong.

Akan tetapi malam itu Cu Yin tidak dapat tidur.

Seluruh hati dan pikirannya terkenang kepada Si Kong dan ada rasa rindu yang mendalam terhadap pemuda itu.

Ia membayangkan ketika masih menyamar sebagai Siangkoan Ji ia melakukan perjalanan bersama Si Kong dan ia merasa bahagia sekali.

Akan tetapi perasaannya terpukul ketika ia teringat betapa Si Kong menolak cintanya.

Sakit rasanya dan ia merasa benci sekali kepada Si Kong.

Namun di lain saat ia merasa rindu.

Harus diakuinya bahwa ia mencintai Si Kong dengan sepenuh hatinya dan ia merasa menyesal mengapa ia muncul sebagai Siangkoan Cu Yin di depan Si Kong sehingga pemuda itu tidak mau lagi melakukan perjalanan bersamanya.

Kalau saja ia masih menjadi pengemis muda, tentu sekarang ia masih bersama Si Kong dan membantu pemuda itu mendapatkan Pek-lui-kiam!

Ah, bagaimana kalau ia menyerahkan Pek-lui-kiam kepada Si Kong?

Barangkali saja pemuda itu akan berubah dan membalas cintanya kalau ia menyerahkan Pek-lui-kiam kepadanya!

Dengan pikiran ini Cu Yin dapat juga tidur pulas dan bermimpi tentang Si Kong.

Bwe Hwa berjalan seorang diri sambil berpikir tentang pengalamannya yang baru terjadi tadi.

Kalau diingat kembali, timbul rasa malu dan penyesalan di dalam hatinya.

Jelas bahwa ia telah jatuh cinta kepada Si Kong.

Akan tetapi pantaskah kalau ia seperti memaksakan cintanya itu agar dibalas oleh Si Kong?

Dan ia merasa begitu cemburu kepada Hui Lan!

Kalau Si Kong mencintai Hui Lan, pantaskah kalau ia mencampuri dan hendak menghalangi?

Berpikir tentang pemuda yang dicintanya itu, ia teringat akan sajak yang ditinggalkan Si Kong untuk ia dan Hui Lan.

Tak mungkin ia melupakan sajak itu, seolah telah terukir bukan di tanah padas, melainkan di dalam hatinya.

Mulut dara ini berkemak-kemik membaca sajak itu.

"Seekor burung gagak yang papa tidak pantas berdekatan dengan sepasang burung Hong yang mulia! Seekor burung gagak yang papa terbang naik ke angkasa sendirian bermain di udara bebas dan merdeka tidak terikat apapun juga!"

Bwe Hwa menghela napas panjang dan berkata seorang diri dalam bisikan lirih.

"Seekor burung gagak yang papa? Aih, Kong-ko, betapa engkau telah merendahkan diri sedemikian rupa sehingga merasa tidak pantas berdekatan dengan kami."

Ia lalu membayangkan keadaan pemuda itu sehingga pemuda itu begitu merendahkan dirinya.

Si Kong seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, murid mendiang Ceng Lo-jin.

Tidak, Si Kong bukan merendahkan diri karena kepandaian.

Kepandaiannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan kepandaiannya atau kepandaian Hui Lan.

Akan tetapi dia seorang yatim piatu, tidak bersanak kadang, tidak mempunyai apa-apa di dunia ini, bahkan tempat tinggalpun dia tidak punya.

Inilah kiranya yang membuat pemuda itu merasa kehilangan harga diri dan begitu merendahkan diri.

Kemudian ia teringat akan Hui Lan.

Sudah jelas bahwa Hui Lan mencintai Si Kong, dan apakah Si Kong juga mencintai Hui Lan?

Sangat boleh jadi demikian, mengingat bahwa Si Kong mau melakukan perjalanan bersama gadis itu.

Akan tetapi tulisan sajak dari Si Kong itu menunjukkan lain.

Pemuda itu agaknya tidak mencintai mereka berdua dan menganggap dirinya tidak pantas bersanding dengan Hui Lan atau ia!

Bwe Hwa yang sedang melamun itu tiba-tiba terkejut ketika dua orang laki-laki muncul di depannya.

Yang muncul itu adalah seorang pemuda dan seorang yang lebih tua berusia kurang lebih empat puluh tahun.

Tentu anggota Kui-jiaw-pang atau Pek-lian-pai, pikirnya.

Tanpa banyak cakap lagi karena dua orang itu tentu hendak menangkapnya dan khawatir kalau yang lain-lain akan segera muncul, Bwe Hwa mencabut Kwan-im-kiam dan tanpa berkata apa-apa ia lalu menyerang mereka dengan dahsyat.

Pedangnya berkelebat, membacok leher pemuda itu dan ketika pemuda itu mengelak dengan loncatan ke belakang, pedangnya terus menusuk ke arah dada orang yang lebih tua.

Akan tetapi orang itupun dapat mengelak dengan cepat.

Melihat gerakan mereka, tahulah Bwe Hwa bahwa dua orang itu memiliki ilmu silat yang tangguh.

"Hei, tahan dulu!"

Bentak orang yang lebih tua.

"Kenapa engkau menyerang kami, nona?"

Mendengar seruan ini, Bwe Hwa menahan gerakannya dan melintangkan pedangnya di depan dada.

Jari telunjuknya yang kiri menuding ke arah mereka.

"Kalian tentulah kaki tangan Kwi-jiauw-pang! Bersiaplah untuk mati!"

Bentaknya dan iapun meloncat ke depan, menerjang dengan cepat dan kuat.

Akan tetapi kembali kedua orang itu dapat mengelak dengan lompatan ke belakang.

"Tahan dulu nona! Kami sama sekali bukan kaki tangan Kwi-jiauw-pang!"

Kata pria setengah tua itu.

Mendengar ini, Bwe Hwa mengerutkan alisnya tanpa menyimpan pedangnya karena ia masih curiga.

"Kalau kalian bukan kaki tangan Kwi-jiauw-pang, lalu siapakah kalian dan mengapa berkeliaran disini?"

Tanyanya sambil mengelebatkan pedangnya.

Yang muda kini mengamati pedang di tangan Bwe Hwa dan dia berseru.

"Bukankah itu Kwan-im-kiam yang kau pegang, nona?"

Kini Bwe Hwa yang terkejut dan ia memandang penuh selidik kepada pemuda itu.

Seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh dua tahun dan berwajah tampan dan gagah.

"Bagaimana engkau dapat mengenal pedangku?"

Tanya Bwe Hwa, semakin curiga.

Pemuda itu memandang Bwe Hwa dengan penuh perhatian, lalu dia berkata.

"Bukankah engkau nona Pek Bwe Hwa?"

Bwe Hwa terkejut dan heran, akan tetapi semakin curiga dan menduga bahwa pemuda ini tentu ada hubungannya dengan Kwi-jiauw-pang maka mengerti namanya dan mengenal pedangnya.

"Siapakah engkau?"

Tanyanya.

"Aku bernama Cang Hok Thian, datang dari kota raja."

Pemuda itu memperkenalkan dirinya.

Bwe Hwa teringat.

Nama keluarga Cang itu adalah keluarga Pangeran Cang Sun.

Ayahnya pernah bercerita bahwa Pangeran Cang Sun dikenalnya dengan baik dan pangeran itu telah menikah dengan dua orang wanita.

Yang seorang bernama Mayang dan yang kedua bernama Tang Cin Nio.

"Apakah Ayahmu bernama Cang Sun?"

Tanyanya. Wajah yang tampan itu berseri.

"Benar sekali, nona. Aku adalah puteranya. Kita tidak pernah saling bertemu akan tetapi telah diceritakan oleh orang tua kita, bukan?"

"Mengapa engkau dari kota raja datang ke tempat ini? Apakah engkau juga ingin memperebutkan Pek-lui-kiam?"

"Tidak, aku datang untuk ikut paman Gui Tin ini. Perkenalkan, ini adalah paman Gui Tin, seorang panglima kota raja yang menyamar sebagai petani biasa untuk menyelidiki tentang Kwi-jiauw-pang."

Bwe Hwa terkejut dan memandang kepada orang tua gagah itu dengan pandang mata penuh selidik.

"Seorang panglima? Apakah yang hendak paman lakukan di sini?"

"Terdapat desas-desus bahwa Kwi-jiauw-pang bersekutu dengan Pek-lian-pai untuk melakukan pemberontakan, bahkan mereka telah berhasil menghasut Gubernur Ce-kiang untuk bersekutu dengan mereka. Karena itulah kami bertugas untuk melakukan penyelidikan tentang kebenaran berita itu."

"Berita itu benar dan tidak perlu disangsikan lagi, paman."

"Bagaimana engkau dapat begitu yakin, adik Bwe Hwa? Aku boleh menyebutmu adik, bukan?"

"Tentu saja, kalau engkau putera bibi Maya berarti kita adalah orang sendiri. Akupun akan menyebutmu koko. Tentu saja aku yakin akan kebenaran berita itu karena aku baru saja meninggalkan Kwi-jiauw-pang. Tadinya aku disambut dengan baik sebagai tamu terhormat. Akan tetapi aku kemudian mengetahui bahwa mereka adalah sekumpulan orang jahat. Ada tokoh-tokoh Pek-lian-kauw di sana, dan kabarnya ada pula sepasukan orang Pek-lian-pai yang sudah siap membantu."

Mendengar ini Cang Hok Thian berpaling kepada Gui Tin dan berkata.

"Paman Gui Tin tidak perlu meragukan lagi. Keterangan adik Bwe Hwa tentu benar, maka sebaiknya kalau kita mempersiapkan pasukan untuk mengepung puncak ini."

"Benar sekali, kita harus cepat mempersiapkan pasukan kita,"

Kata Gui Tin.

"Sekarang juga kita berangkat!"

"Adik Bwe Hwa, sebaiknya kalau engkau ikut pula dengan kami dan membantu kami menghancurkan para pemberontak."

"Biarlah Paman Gui Tin dan engkau saja yang melakukan persiapan itu, Thian-ko. Aku hendak menyelidiki di mana adanya Pek-lui-kiam yang berada di tangan mereka. Aku harus merampas pusaka itu. Selamat berpisah!"

Setelah berkata demikian, Bwe Hwa mengangkat kedua tangan depan dada lalu sekali berkelebat Bwe Hwa sudah lenyap di antara pohon-pohon.

Cang Hok Thian memandang dengan kagum ke arah lenyapnya Bwe Hwa.

Dia terpesona oleh kecantikan dan kecepatan gerakan gadis itu.

Gui Tin tersenyum memandang pemuda yang terpesona itu.

"Dara itu seorang pendekar wanita yang hebat."

Hok Thian tersadar dari lamunannya dan tergugup berkata.

"Ah, benar sekali paman."

Sambil tersenyum Gui Tin berkata.

"Mari kita berangkat, Kongcu."

"Ya, baiklah, paman!"

Pemuda itu berkata seakan menjadi orang yang canggung sekali.

Semangatnya seperti hilang setengahnya terbawa terbang gadis yang membuatnya terpesona itu.

Mereka lalu menuruni lereng itu untuk bergabung dengan pasukan yang telah dipersiapkan di lereng terbawah.

Si Kong berindap-indap mendekati suara orang berbantahan itu.

Dari balik sebatang pohon besar dia mengintai.

Jantungnya berdebar ketika dia melihat dua orang kakek itu berdiri saling berhadapan dengan wajah tak senang, bahkan marah.

Dia mengenal kedua orang kakek itu yang bukan lain adalah Lam Tok dan Tung-giam-ong!

Datuk besar selatan dan datuk besar timur itu saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago sedang berlagak.

"Lam Tok!"

Seru Tung-giam-ong sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka datuk besar selatan itu.

"Kedatangan kita ke sini bukan saja untuk menentukan siapa yang terkuat diantara para datuk empat penjuru, juga untuk memperebutkan Pek-lui-kiam! Nah, sekarang kebetulan kita saling bertemu di sini, maka kita tentukan siapa diantara kita yang lebih berhak memiliki Pek-lui-kiam!"

"Ha-ha-ha, bagus sekali, Tung Giam Ong!"

Jawab Lam Tok dengan suara menyindir dan mengejek.

"Apa kau kira aku gentar menghadapi tua bangka macam engkau? Memang sebaiknya kita tentukan dari sekarang agar kita tidak menghadapi terlalu banyak saingan!"

"Lam Tok, pukulan beracunmu tidak akan meruntuhkan selembar rambutku! Dan engkau tidak akan dapat menahan pukulan dari Thai-yang Sin-ciang!"

"Ha-ha-ha, aku sudah mendengar bahwa engkau menyempurnakan pukulan dari tanganmu yang panas, akan tetapi ilmumu itu bagiku seperti permainan kanak-kanak saja! Majulah kalau ingin kuhajar!"

"Lam Tok, sombong sekali engkau. Bersiaplah untuk mampus di tanganku hari ini!"

"Ha-ha-ha, selain tidak mungkin engkau dapat mengalahkan aku, juga kalau engkau sampai dapat membunuhku, berarti engkau membunuh puteramu sendiri!"

"Apa maksudmu?"

Tung Giam Ong memandang dengan heran dan kaget.

"Maksudku puteramu jatuh cinta dan tergila-gila kepada puteriku! Kalau engkau membunuhku, apa kau kira puteriku sudi berdekatan dengan puteramu? Ia bahkan akan membalas dendam kepadamu!"

Ucapan ini benar-benar mengejutkan hati Tung Giam Ong.

"Puteraku Gin Ciong jatuh cinta kepada puterimu? Apa buktinya?"

"Ha-ha, buktinya? Belum lama ini aku bertemu dengan mereka berdua di pegunungan ini. Puteramu bahkan hendak membantu puteriku untuk mendapatkan Pek-lui-kiam. Lucunya, puteramu itu sungguh tidak tahu malu! Dia tergila-gila kepada puteriku padahal puteriku itu tidak mencintanya, meliankan mencinta seorang pemuda lain! Ha-ha, sungguh lucu. Anaknya dan bapaknya sama bodohnya!"

"Keparat!"

Tung Giam Ong marah dan menerjang dengan pukulannya yang ampuh, yang di sebut Thai-yang Sin-ciang yang berhawa panas.

Akan tetapi dengan mudah dielakkan oleh Lam Tok yang membalas dengan serangannya Lam-hai-sin-ciang (Tangan Sakti Lautan Selatan) yang datangnya seperti gelombang lautan.

Akan tetapi Tung Giam Ong juga dapat menghindarkan diri dengan mudah.

Si Kong yang menonton pertandingan itu menjadi terkejut.

Dia tahu bahwa kedua orang kakek itu menggunakan ilmu-ilmu pukulan yang amat ampuh dan dapat mematikan.

Kakek itu memperebutkan Pek-lui-kiam dengan taruhan nyawa.

Mengingat bahwa Lam Tok adalah Ayah kandung Cu Yin, Si Kong merasa tidak tega kalau kakek itu terancam bahaya maut.

Maka selagi kedua orang kakek itu bertanding hebat, Si Kong melompat ke tengah-tengah diantara mereka dan mendorong ke kanan kiri.

Dua orang kakek itu terkejut sekali ketika merasakan betapa dari dorongan itu terkandung tenaga dahsyat yang membuat mereka mundur dan menahan gerakan berikutnya.

"Ji-wi Locianpwe, harap jangan berkelahi. Pek-lui-kiam yang ji-wi perebutkan berada di tangan ketua Kwi-jiauw-pang!"

Dua orang kakek itu mengamati wajah Si Kong dan Tung Giam Ong mengenalnya sebagai pemuda yang dapat menahan pukulan saktinya.

"Kiranya engkau, bocah setan!"

Bentaknya.

"Hemm, orang muda, mengapa engkau melerai pertandingan kami? Siapa engkau?"

Tanya Lam Tok sambil mengamati wajah pemuda itu penuh selidik.

"Saya berani melerai karena yang ji-wi perebutkan itu berada di tangan para pimpinan Kwi-jiauw-pang. Jadi tidak ada gunanya berkelahi memperebutkan pedang yang berada di tangan orang lain. Merugikan saja."

"Siapa namamu?"

Lam Tok mengulang. Si Kong memberi hormat kepada kakek ini dan mejawab.

"Nama saya Si Kong..."

"Jahanam! Jadi engkau yang telah menghina nama keluargaku?"

Bentak Lam Tok marah sekali.

"Apa maksud Locianpwe?"

Tanya Si Kong kaget karena dia sama sekali tidak merasa pernah melakukan penghinaan terhadap keluarga datuk ini.

"Hemm, maksudku sudah jelas! Engkau berani menolak cinta anakku Cu Yin, bukankah itu penghinaan namanya? Karena itu engkau sekarang harus mati di tanganku!"

Setelah berkata demikian, Lam Tok segera menerjang Si Kong dengan pukulan maut sambil mengerahkan tenaga Jeng-kin-lat (Tenaga Seribu Kati)!

"Eh, nanti dulu, Locianpwe!"

Kata Si Kong sambil mengelak ke belakang.

"Jadi engkaukah pemuda yang menghalangi cinta puteraku terhadap puteri Lam Tok? Memang engkau harus mampus!"

Tung Giam Ong juga berseru sambil menyerang Si Kong dari samping, menggunakan pukulan maut dari ilmu Thai-yang Sin-ciang.

Akan tetapi Si Kong juga dapat mengelak dan pemuda ini merasa bingung sekali diserang oleh dua orang datuk yang sakti itu!

Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk membela dirinya, maka diapun menggunakan Yan-cu Hui-kun untuk mengelak dari serangan berganda itu.

Untuk melarikan diri sudah tidak ada kesempatan lagi karena dua orang datuk itu sudah menyerangnya secara bertubi.

Terpaksa dia mengelak dan menangkis sambil mencoba untuk balas menyerang untuk membendung hujan serangan itu.

Dua orang datuk besar itu menjadi penasaran dan marah sekali.

Mereka berdua telah menyerang sampai belasan jurus dan pemuda itu masih belum dapat mereka robohkan.

Karena penasaran, dua orang datuk itu lalu berdiri sejajar dan berbareng menyerang dengan pukulan masing-masing yang amat kuatnya.

Tung Giam Ong menyerang dengan ilmu Thai-yang Sin-ciang yang amat panas sedangkan Lam Tok menyerang dengan ilmu Eng-jiauw-kang (Tenaga Cakar Garuda) yang selain amat kuat juga mengandung racun yang berbahaya.

Kulit lawan yang terkena cakaran ini sedikit saja sudah cukup untuk membunuhnya.

Darahnya akan keracunan.

Melihat dua pukulan ini Si Kong menyadari bahwa nyawanya terancam bahaya maut.

Terpaksa dia harus mengeluarkan ilmu silat simpanannya, yaitu Hok-liang Sin-ciang.

Karena untuk mengelak atau menangkis dua serangan itu amat berbahaya, tidak ada jalan lain baginya kecuali melawan keras sama keras.

Dia berdiri hampir berjongkok, kedua tangannya di dorongkan ke depan menyambut dua serangan lawan itu sambil mengerahkan tenaga sinkangnya.

"Wuuuutt... dessss...!!"

Dua tenaga dahsyat itu saling bertemu dan akibatnya tubuh Si Kong terjengkang lalu bergulingan, akan tetapi dua orang kakek itupun terhuyung-huyung kebelakang.

Dua orang datuk itu mengira bahwa Si Kong terluka berat, padahal pemuda itu sengaja menggulingkan tubuhnya untuk memunahkan tenaga pukulan yang melanda dirinya.

Lam Tok yang melihat Si Kong bergulingan, cepat menggerakkan tangan kirinya ke arah pinggang.

Dicabutnya tiga batang anak panah dan disambitkan dengan sepenuh tenaga ke arah tubuh Si Kong yang bergulingan.

"Ayah, jangan...!!"

Terdengar pekik melengking dan sesosok bayangan berkelebat menghadang antara Si Kong dan Lam Tok.

Bayangan itu bagaikan perisai yang melindungi Si Kong dan tiga batang anak panah itu dengan telak menancap di dadanya dan bayangan itu roboh!

"Yin-moi...!!"

Si Kong berteriak sambil menubruk gadis yang roboh itu.

Gadis itu memang Cu Yin.

Baru saja ia muncul di situ bersama Gin Ciong dan pada saat Lam Tok menyambitkan anak panahnya, Cu Yin mengetahui bahwa nyawa Si Kong berada dalam bahaya maut.

Maka tanpa memperdulikan dirinya, gadis itu lalu menghadang dan menjadi perisai, terkena tiga batang anak panah beracun itu.

Si Kong menubruk dan memangku kepala gadis itu, sambil mengguncang pundaknya.

"Yin-moi..., Cu Yin...!"

Si Kong meratap dan baru sadarlah dia betapa sesungguhnya di lubuk hatinya terdapat perasaan kasih sayang yang besar terhadap Cu Yin.

"Yin-moi... ah, Yin-moi...!"

Si Kong mendekap kepala itu.

Sekali melihat saja maklumlah dia bahwa tidak dapat tertolong lagi.

Tiga batang anak panah itu menancap sampai amblas seluruhnya di dadanya dan seketika tubuh Cu Yin sudah berubah biru kehitaman yang berarti bahwa ia telah keracunan.

Cu Yin membuka matanya dan ia tersenyum mendapatkan kenyataan bahwa ia dipangku oleh Si Kong.

Ia mengangkat tangan kirinya, mengelus pipi Si Kong.

"Kong-ko... ah, Kong-ko, aku... girang melihat... engkau selamat..."

"Yin-moi, kenapa kau lakukan ini? Kenapa engkau mengorbankan nyawamu untukku?"

Si Kong menunduk dan menciumi muka gadis itu dengan hati hancur.

Tak terasa lagi air matanya jatuh berderai membasahi muka Cu Yin.

"Koko... aku girang"

Dapat"

Melakukan sesuatu... untukmu... aku... aku cinta padamu, koko..."

"Cu Yin...! Jangan mati, Cu Yin, akupun cinta padamu!"

Si Kong menangis. Gadis itu tersenyum lebar dan memandang ke arah muka Si Kong.

"Engkau... menangis, koko? Menangis untukku...?"

"Ya, aku ingin engkau hidup, Yin-moi!"

Cu Yin menggerakkan tangan kanan dan mengambil pedang Pek-lui-kiam dari punggungnya.

"Ini... Pek-lui-kiam... kuserahkan padamu sebagai bukti cintaku... selamat... selamat... tinggal, koko..."

Gadis itu terkulai dan tewas dalam rangkulan Si Kong.

"Cu Yin... ah, Yin-moi...!"

Si Kong menangis.

"Desss...!"

Tiba-tiba sebuah tendangan yang keras membuat tubuhnya terpelanting dan bergulingan.

Kiranya yang menendang adalah Gin Ciong, yang hatinya merasa terbakar oleh api cemburu.

Si Kong baru sadar dan bangkit dari lautan duka di mana dia tadi terbenam.

Pada saat itu, Gin Ciong sudah mengejarnya dan sekali lagi, kaki itu terayun, akan tetapi kini mengarah kepala Si Kong, merupakan tendangan maut.

Si Kong sudah sadar sepenuhnya, maka ketika kaki itu menyambar ke arah kepalanya, dia menggerakkan tangan kanannya, menyambar dan menangkap kaki itu lalu dilontarkannya ke depan.

Tubuh Gin Ciong terlempar sampai jauh dan menimpa batang pohon.

Berdebuk suaranya dan Gin Ciong terbanting, seketika nanar dan tidak mampu bangkit.

Melihat puteranya terlempar dan terbanting, Tung Giam Ong menjadi marah sekali.

Akan tetapi Lam Tok lebih marah lagi melihat puterinya tewas.

Biarpun puterinya tewas karena anak panahnya sendiri, namun dia menyalahkan Si Kong.

"Jahanam, kau bunuh anakku!"

Teriaknya dan berbareng dengan Tung Giam Ong, dia menerjang maju.

Kini Si Kong telah siap siaga.

Mengingat akan kematian Cu Yin, dia berseru.

"Kalian dua orang tua bangka telah menyebabkan kematian Cu Yin!"

Setelah itu dia membabatkan pedang yang diterima dari Cu Yin tadi ke arah kedua orang datuk besar itu.

Melihat pedang yang bersinar kilat itu, baik Lam Tok maupun Tung Giam Ong terkejut dan cepat merekapun mencabut senjata mereka.

Lam Tok mencabut pedangnya dan Tung Giam Ong mencabut tombak cagaknya.

"Cringg"

Trakkk...!"

Pedang di tangan Si Kong patah-patah ketika bertemu dengan kedua senjata itu.

Si Kong terbelalak, demikian pula dengan dua orang datuk besar itu.

Akan tetapi Gin Ciong yang sudah dapat bergerak kembali berseru kepada Ayahnya.

"Ayah, pedang itu bukan Pek-lui-kiam, melainkan hanya pedang tiruan!"

Mendengar ucapan ini, mengertilah Si Kong dan dia membuang pedang itu dengan marah, lalu menyambar sebatang cabang pohon untuk di jadikan senjata tongkat.

Kini Si Kong dikeroyok tiga.

Dia maklum bahwa tiga orang itu lihai dan berkeras hendak membunuhnya.

Dia sendiri marah sekali melihat kematian Cu Yin yang mengorbankan nyawa untuknya, maka dia menyambut serangan tiga orang itu dengan tongkatnya, Memainkan Ta-kauw Sin-tung dan mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya.

Namun, betapa lihainya Si Kong, sekarang dia melawan pengeroyokan dua orang datuk besar yang masih dibantu pula oleh Gin Ciong yang cukup tangguh.

Dia tidak mendapat kesempatan menggunakan ilmu Thi-khi-i-beng karena tiga orang lawannya semua menggunakan senjata.

Thi-khi-i-beng hanya boleh diandalkan kalau bertanding dengan tangan kosong, kalau ada persentuhan antara tangan lawan dan anggauta tubuhnya.

Untung bahwa ilmu tongkat yang dimainkannya, yaitu Ta-kauw Sin-tung mempunyai gerakan yang luar biasa, ditambah pula dengan ilmunya Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang) membuat tubuhnya bergerak dengan lincah sekali sehingga sampai lima puluh jurus lebih mereka bertanding, belum juga pemuda itu dapat dirobohkan.

Ini merupakan hal yang luar biasa sekali.

Dua orang kakek itu hampir tidak dapat percaya bahwa mereka berdua, dibantu Gin Ciong, tidak dapat merobohkan pemuda itu dalam waktu lima puluh jurus lebih!

Kalau hal ini diketahui dunia kangouw, mereka tentu akan menjadi bahan olok-olok.

Si Kong merasa bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, dia akhirnya akan kehabisan tenaga dan akan kalah.

Dia ingin melepaskan diri dari pengeroyokan mereka, akan tetapi mereka bertiga tidak memberi kesempatan kepadanya.

Mereka mengepung ketat sekali.

Tiba-tiba muncul banyak orang, ada puluhan orang banyaknya, tidak kurang dari empat puluh orang.

Mereka adalah orang-orang Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai.

Melihat mereka, Gin Ciong berseru.

"Kalian semua bantu kami menangkap pemuda ini!"

Puluhan orang Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai segera menyerbu dengan senjata mereka.

Akan tetapi hal ini bukan membuat Si Kong terancam bahaya, bahkan memberi jalan kepadanya untuk meloloskan diri dari ancaman maut.

Begitu melihat puluhan anak buah itu mengepung dan menyerangnya, Si Kong meninggalkan tiga orang pengeroyoknya dan melompat ke tengah-tengah puluhan orang anak buah itu.

Gerakannya demikian cepat sehingga setelah merobohkan beberapa orang, dia sudah lenyap diantara mereka sehingga Lam Tok, Tung-giam-ong dan Tio Gin Ciong tidak dapat mengejarnya.

Dari dalam kerumunan banyak orang itu Si Kong menyelinap dan akhirnya berhasil keluar dari kepungan dan melarikan diri secepatnya, mempergunakan ilmu berlari cepat Liok-te Hui-teng dan sebentar saja bayangannya telah lenyap di telan pohon-pohon dalam hutan.

Setelah bayangan Si Kong lenyap, Lam Tok menghampiri jenazah puterinya dan berjongkok dekat jenazah, melamun sedih.

Gin Ciong menghampiri Ayahnya dan menceritakan betapa dia sudah diterima oleh para pimpinan Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai dan bersekutu dengan mereka.

Tung Giam Ong Tio Sun adalah datuk besar timur yang tentu saja sudah mengenal nama besar Pek-lian-pai sebagai perkumpulan pemberontak yang kuat.

Dia mendengar bahwa puteranya telah bersekutu dengan mereka, maka dia menjadi girang sekali.

"Kabarnya Pek-lui-kiam berada di tangan ketua Kwi-jiauw-pang,"

Katanya.

"Benar, Ayah. Akan tetapi kini Kwi-jiauw-pang mempunyai tiga orang ketua, yaitu Toa Ok, Ji Ok dan Ang I Sianjin yang kini memakai julukan Sam Ok. Toa Ok yang mengatur bahwa yang didapatkan para tokoh kangouw hanyalah Pek-lui-kiam palsu, sedangkan yang aseli berada di dalam kekuasaannya."

"Hemm, aku datang ke sini atas undangan Toa Ok dan Ji Ok untuk menentukan siapa diantara empat datuk besar dari empat penjuru yang pantas mendapatkan gelar datuk terlihai di dunia! Kalau begitu, siapa menang dalam pertandingan nanti berhak memiliki Pek-lui-kiam!"

"Ayah, mengenai Pek-lui-kiam harap jangan khawatir. Toa Ok dan Ji Ok telah bergabung dengan Pek-lian-pai dan mereka memiliki cita-cita besar untuk meraih kedudukan tertinggi setelah kerajaan Beng dapat kita kuasai. Kalau Ayah menyatakan bersedia membantu gerakan mereka, tentu urusan pedang Pek-lui-kiam menjadi mudah, dan tanpa susah payah Ayah akan dapat memilikinya sebagai upah Ayah suka membantu gerakan mereka."

Wajah Tung Giam Ong Tio Sun berseri mendengar ucapan puteranya itu.

"Kau pikir begitukah? Dan bagaimana dengan Lam Tok itu? Diapun ikut diundang dan diapun menginginkan pedang pusaka Pek-lui-kiam!"

Gin Ciong memandang ke arah kakek yang masih duduk dekat jenazah Cu Yin dan termenung sedih.

Pemuda ini mengerutkan alisnya.

Cu Yin yang diharapkan menjadi isterinya telah tewas.

Tidak ada hubungannya lagi dengan Lam Tok dan bahkan Lam Tok merupakan saingan yang berat, patut disingkirkan lebih dulu.

"Ayah, diapun menghendaki pedang Pek-lui-kiam. Dia musuh kita. Akan tetapi kalau dia suka membantu gerakan kita, dia boleh dijadikan teman."

"Kalau dia tidak mau bekerja sama?"

Tanya kakek tinggi kurus yang mukanya penuh brewok itu.

Gin Ciong menggerakkan tangan kanan seperti sebatang golok dan menggorok lehernya sendiri, sebagai tanda bahwa kalau Lam Tok menolak bekerja sama, lebih baik di bunuh saja!

Isarat ini membuat Tung Giam Ong merasa senang dan dia menyeringai lebar sambil mendekati Lam Tok yang masih duduk bersila dekat jenazah puterinya.

"Hemm, Lam Tok. Yang sudah mati tidak perlu ditangisi, tiada gunanya. Lebih baik sekarang engkau bekerja sama dengan aku dan kelak kita tentu akan mampu membalas dendam kepada Si Kong itu!"

Lam Tok menoleh dan memandang kepada Tung-giam-ong dengan wajah dingin.

"Bekerja sama dengan kamu?"

Dia mengulang dalam suaranya terkandung ejekan.

"Bukan saja dengan aku, Lam Tok. Akan tetapi terutama sekali membantu Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai."

Tiba-tiba Lam Tok meloncat berdiri.

Mukanya berubah merah dan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

Telunjuk kirinya menuding ke arah muka Tung-giam-ong.

"Tung-giam-ong, kau kira aku ini orang apa? Engkau mengajak aku bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memberontak? Aku bukan pemberontak dan aku tidak sudi membantu Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai, tidak sudi bekerja sama dengan pengkhianat macam kamu!"

Wajah Tung-giam-ong menjadi pucat, lalu merah sekali.

"Jahanam busuk, kau berani menghinaku?"

Sementara itu Gin Ciong sudah memberi aba-aba kepada orang-orang Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai.

"Bunuh orang tak tahu diri ini!"

Pada saat itu, Tung-giam-ong sudah menyerang Lam Tok dengan senjata tombak cagaknya.

Gin Ciong mencabut pedangnya dan dia pun menyerang Lam Tok.

Lam Tok yang marah sekali itu sudah pula mencabut pedangnya dan dia menangkis penyerangan Ayah dan anak itu, dan membalas serangan mereka dengan tak kalah hebatnya.

Akan tetapi Lam Tok sekali ini menghadapi pengeroyokan yang ketat dan kuat.

Baru menghadapi Tung-giam-ong seorang saja kepandaiannya sudah seimbang.

Dengen pengeroyokan Gin Ciong, Lam Tok sudah terdesak, apalagi masih ada puluhan orang anggauta Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai yang mengeroyoknya, maka dia segera terdesak hebat.

Lam Tok mengamuk.

Ketika dia berloncatan meninggalkan pengeroyokan Ayah dan anak itu dan menerjang kepungan anak buah Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai, pedangnya diputar dengan hebat dan empat ornag pengeroyok mati berdarah.

Akan tetapi Tung-giam-ong Tio Sun dan Tio Gin Ciong sudah mengejar dan menyerang dengan berbareng, membuat Lam Tok terpaksa harus memutar pedang menangkis.

Pada saat itulah, sebuah cakar setan dari anggauta Kwi-jiauw-pang telah mengenai punggungnya.

Cakaran itu merobek baju dan kulit punggungnya, mendatangkan luka memanjang.

Lam Tok terkejut dan membalikkan tubuhya.

Tangan kirinya menyambar dan dia sudah dapat memegang lengan penyerangnya itu dan sekali sentakan, tubuh anggauta Kwi-jiauw-pang itu terangkat ke atas lalu dibanting ke atas tanah.

Orang itu tewas seketika.

Lam Tok sudah pula memutar pedangnya, akan tetapi pengeroyokan semakin ketat dan kembali pundak kirinya terkena goresan cakar setan.

Karena luka dipunggung dan pundaknya itu terasa nyeri sekali, Lam Tok lalu meniru perbuatan Si Kong tadi.

Dia meloncat dan menyerbu diantara para anggauta Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai, menyelinap diantara mereka dan merobohkan banyak orang.

Akhirnya dia dapat lolos, melarikan diri dan dikejar oleh Tung-giam-ong dan Gin Ciong.

Kembali Lam Tok dapat dikejar dan terpaksa melayani datuk timur dan puteranya itu.

Akan tetapi luka-luka beracun di punggung dan pundaknya membuat gerakannya lambat dan terpaksa dia mundur terus sampai tiba di dekat jurang.

Karena tidak mungkin mundur lagi, dia mengamuk menghadapi pengeroyokan dua orang itu dan akhirnya, sebuah pukulan tangan kiri Tung-giam-ong mengenai dadanya.

Pukulan itu adalah satu jurus dari Thai-yang Sin-ciang.

Dadanya yang terpukul terasa panas dan tubuhnya terjengkang masuk ke dalam jurang yang menganga di belakang Lam Tok.

Tung-giam-ong dan Gin Ciong menjenguk ke dalam jurang.

Ternyata jurang itu amat dalam dan tertutup kabut sehingga mereka tidak dapat melihat tubuh Lam Tok.

"Ha-ha-ha, lenyaplah sudah seorang sainganku!"

Tung-giam-ong tertawa bergelak karena girangnya.

Ketika terjatuh tadi, pikiran Lam Tok masih terang.

Tahulah dia bahwa bahaya maut mengancam dirinya.

Dia berusaha untuk menggunakan kedua tangan meraih, kalau-kalau ada sebatang pohon terjulur, akan tetapi tangannya tidak dapat menangkap apa-apa dan dirinya tenggelam dalam kabut.

Tidak ada lain jalan baginya untuk menyelamatkan diri kecuali mengerahkan tenaga saktinya melindungi tubuh dari bantingan ke dasar jurang.

"Wuuuuttt... bukk...!!"

Tubuh Lam Tok terbanting ke atas dasar jurang itu.

Dia sudah mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi pinggulnya dari bantingan itu.

Akan tetapi ternyata dia mendarat dengan mulus dan lunak.

Kiranya di tempat itu terdapat banyak daun kering, bertumpuk sampai tebal sehingga merupakan tempat lunak seolah dia terbanting ke atas kasur tebal!

Akan tetapi rasa nyeri di punggung dan pundaknya karena terluka cakar setan membuat dia pening sekali.

Apalagi bekas pukulan Tung-giam-ong tadi masih terasa panas sekali olehnya, maka setelah merintuh satu kali, Lam Tok lalu jatuh pingsan.

Lam Tok membuka matanya dan dia segera teringat bahwa dia habis dikeroyok Tung-giam-ong dan terjatuh ke dalam jurang.

Dia teringat pula bahwa punggung dan pundaknya terluka oleh cakaran setan anggauta Kwi-jiauw-pang yang mendatangkan rasa nyeri bukanmain.

Akan tetapi dia merasa heran karena punggung dan pundaknya tidak terasa sakit sama sekali.

Juga rasa panas akibat pukulan Tung-giam-ong sudah lenyap!

Dan bajunya tersingkap seolah ada yang menanggalkannya sebagian.

Terdengar gerakan orang disebelah kirinya dan Lam Tok segera menengok.

Ketika melihat bahwa seorang pemuda duduk diatas batu di sebelahnya, dia segera bangkit, kaget karena dia mengenal pemuda itu sebagai Si Kong!

Dia menoleh ke kanan kiri.

Dia tidak lagi berada di dasar jurang, melainkan dalam sebuah hutan, rebah di atas rumput hijau.

Lam Tok adalah seorang yang cerdik sekali maka sekali lihat saja dia sudah dapat menduga apa yang terjadi.

Tentu pemuda ini yang telah memindahkannya dari dasar jurang.

Dia mengerahkan sinkang ke punggung dan pundaknya.

Tidak terasa nyeri.

Juga dadanya yang tadi terasa panas kini telah biasa kembali.

Lam Tok dapat menduga bahwa dia telah di tolong oleh Si Kong.

Akan tetapi, dia bangkit duduk, memandang kepada Si Kong lalu bertanya, suaranya dingin karena dia masih ingat bahwa pemuda ini yang menyebabkan kematian Cu Yin.

"Engkau disini?"

Si Kong memberi hormat dan berkata sopan.

"Saya melihat Locianpwe rebah pingsan di dasar jurang itu."

Dia menuding ke depan dimana terdapat jurang.

"Engkau memindahkan aku kesini dan engkau yang mengobati aku sehingga lukaku sembuh?"

Tanyanya lagi dan pandang mata datuk itu mengamati wajah Si Kong penuh selidik.

"Benar, Locianpwe. Melihat Locianpwe terluka goresan cakar beracun dan akibat pukulan yang berhawa panas, aku lalu mengobati Locianpwe dengan menyedot racun dan melawan hawa panas dengan sinkang. Sayang aku tidak mempunyai mustika batu giok seperti yang dimiliki nona Tang Hui Lan sehingga bekas racun itu belum bersih benar, akan tetapi dengan pengerahan sinkang, Locianpwe tentu akan dapat mengusirnya keluar."

"Hemm, mengapa engkau menolong dan menyelamatkan aku?"

Pertanyaan ini dilakukan dengan suara membentak seperti orang menuntut.

"Mengapa tidak, Locianpwe? Melihat engkau atau siapa saja menggeletak pingsan dan terancam bahaya maut, tentu saja aku turun tangan menolongmu."

"Tapi... tadi aku berusaha untuk membunuhmu! Bahkan mengeroyokmu dengan si jahanam Tung-giam-ong itu. Dan engkaupun tentu sudah mati di tanganku kalau saja Cu Yin tidak mengorbankan nyawa untukmu!"

Si Kong memejamkan kedua matanya dan mengerutkan alisnya, lalu berkata dengan suara parau penuh permohonan.

"Ah, Locianpwe, aku mohon janganlan Locianpwe bicara lagi tentang Yin-moi!"

Si Kong membuka matanya yang menjadi basah air mata.

Hatinya tertusuk ketika dia teringat akan Cu Yin, gadis yang sesungguhnya dikasihinya itu.

"Cu Yin begitu mencintamu, mengapa engkau pernah menolak cintanya?"

"Aku tidak menolak, hanya... merasa tidak berharga untuk melakukan perjalanan bersamanya, pula tidak patut dipandang orang kalau seorang gadis seperti ia melakukan perjalanan bersama seorang pemuda. Akan tetapi... ah, semua itu telah berlalu, Locianpwe dan aku memang bersalah kepada Cu Yin. kalau Locianpwe masih merasa menyesal dan hendak membunuh aku, silakan. Aku tidak akan melawan."

Melihat pemuda itu demikian sedihnya, kemarahan Lam Tok menghilang, bahkan timbul rasa suka di hatinya terhadap pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya itu.

Akan tetapi dia tidak mau memperlihatkan kelemahan hatinya ini dan berkata dengan nada keras.

"Sudahlah, pergilah, pergi jauh-jauh sebelum aku berubah pikiran. Pergi tinggalkan aku seorang diri!"

Si Kong menghela napas dan bangkit berdiri lalu memberi hormat kepada datuk itu.

"Selamat tinggal, Locianpwe."

Lam Tok diam saja, wajahnya dingin dan dia bersila sambil memejamkan matanya untuk menghimpun hawa murni dan menghilangkan sisa racun dari punggung dan pundaknya.

Si Kong memandang dengan terharu, maklum betapa sedihnya datuk yang kehilangan puterinya itu, dan dia lalu pergi meniggalkan Lam Tok.

Si Kong berlari cepat ke tempat dimana pertempuran tadi berlangsung.

Dan seperti yang diharapkannya, jenazah Cu Yin masih menggeletak disitu, tidak ada yang mengurus, sedangkan mayat-mayat para anak buah Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai sudah dibawa rekan-rekan mereka.

Dia merasa kasihan sekali kepada Cu Yin.

Tak disangkanya nasib gadis jenaka itu demikian menyedihkan.

Tewas di tangan Ayah kandungnya sendiri dan jenazahnya terlantar tidak ada yang mengurusnya.

"Maafkan aku, Yin-moi. Baru sekarang aku dapat mengurus jenazahmu. Semoga arwahmu mendapat tempat yang layak di alam baka."

Si Kong lalu menggali sebuah yang cukup dalam.

Dengan hati kasihan dan terharu terpaksa dia menguburkan jenazah itu begitu saja, tanpa peti, tanpa upacara sembahyang, tanpa apa-apa.

Dan setelah dia merebahkan jenazah itu di dalam lubang, dari atas dia melihat jenazah itu dan kembali kedua matanya basah.

Cu Yin yang nampak demikian cantik rebah di lubang itu, seperti orang sedang tidur pulas saja.

"Selamat berpisah, Yin-moi, semoga kita dapat saling bertemu kembali di alam lain."

Dia menguatkan batinnya, menutupi jenazah itu dengan daun-daun kering sehingga tidak nampak lagi dan barulah dia tega untuk menutup lubang itu dengan tanah kembali.

Setelah selesai, dia mengambil sebuah batu besar yang digulingkannya ke depan makam itu agar dapat menjadi semacam nisan atau tanda.

Dengan mengerahkan sinkangnya, dia lalu mengukir beberapa huruf di permukaan batu, yang berbunyi.

"Yang tercinta Siangkoan Cu Yin."

Setelah duduk bersila di depan batu nisan itu selama setengah jam, Si Kong lalu bangkit dan sekali lagi memandang ke arah gundukan tanah, berbisik.

"Selamat tinggal Yin-moi."

Dia lalu mengerahkan tenaganya dan sebentar saja hilang dari tempat itu, berlari cepat sekali di antara pohon-pohon besar.

Ketiga ketua Kwi-jiauw-pang bergembira menerima Tung-giam-oang yang diajak oleh puteranya menjadi tamu kehormatan Kwi-jiauw-pang.

Toa Ok semakin senang mendengar bahwa Lam Tok telah tewas oleh Tung-giam-ong.

Lam Tok merupakan satu diantara para datuk yang disegani dan sekarang datuk itu telah tewas.

"Kami mengucapkan selamat atas kemenangan Tung-giam-ong atas Lam Tok. Mari minum secawan arak untuk menghormati Tung-giam-ong dan menghaturkan selamat datang!"

Semua orang minum arak untuk menyambut ucapan selamat dari Toa Ok itu.

Tung-giam-ong sendiri juga dengan gembira minum araknya.

"Sebagai Ayah dari sahabat baik kami Tio-kongcu, kami harap agar Tung-giam-ong berterus terang tentang tujuan perjalanannya kesini,"

Kata pula Toa Ok.

"Ha-ha-ha-ha, Toa Ok masih pura-pura bertanya lagi!"

Tung-giam-ong tertawa, memandang kepada semua yang hadir dan minum lagi arak dari cawannya.

Mereka semua lengkap duduk di meja perjamuan itu.

Toa Ok, Ji Ok, Sam Ok, Coa leng Kun, Tio Gin Ciong, kelima Butek Ngo-sian dan empat orang tokoh Pek lian-kauw See-thian Su-hiap.

"Biarpun kamu sudah dapat menduga, akan tetapi akan lebih baik kalau engkau mengatakannya kepada kami, karena sebagai seorang tamu kehormatan, kami harus dapat melayanimu sebaik-baiknya, Tung-giam-ong!"

Kembali Tung-giam-ong tertawa, lalu memandang kepada puteranya dan berkata.

"Puteraku telah mengadakan hubungan dengan Kwi-jiauw-pang, itu saja sudah menunjukkan bahwa kedatanganku sebagai sahabat, bukan musuh. Akan tetapi aku mengingatkan Toa Ok dan Ji Ok. Kalian sudah mengundang para datuk termasuk aku untuk mengadakan pertandingan disini untuk menentukan siapa yang paling lihai di antara para datuk. Karena undangan itulah aku datang, dan kedua, akupun tertarik oleh berita tentang Pek-lui-kiam, maka akupun hendak memperebutkannya pula!"

Kini dia memandang kepada Sam Ok atau Ang I Sianjin dengan sinar mata menantang.

"Bagus, memang sudah kami duga, Tung-giam-ong. Akan tetapi mengingat bahwa engkau adalah Ayah dari Tio-kongcu, kami mengajak engkau untuk bekerja sama. Pertama-tama, engkau bantulah kami untuk mengusir semua datuk dan tokoh kang-ouw yang hendak memperebutkan pedang Pek-lui-kiam. Setelah semua datuk dapat kita kalahkan, barulah diantara engkau dan kami berdua bertanding untuk menentukan siapa datuk yang paling lihai,"

Kata Toa Ok.

"Ha-ha-ha-ha! Aku orang tua tidak begitu berminat untuk mengejar nama. Tanpa menjadi datuk paling lihai di dunia akupun sudah dikenal orang. Akan tetapi bagaimana kalau pertandingan, pemenangnya bukan saja menjadi datuk terlihai, akan tetapi juga berhak memiliki pedang pusaka Pek-lui-kiam?"

Toa Ok dan Ji Ok saling pandang, kemudian tertawa bergelak.

Toa Ok kembali mengangkat cawannya dan berkata.

"Tung-giam-ong, mari kita minum untuk itu. Kami setuju sekali karena sebagai datuk terlihai, tentu saja berhak menjadi pemilik Pek-lui-kiam!"

Bukan main girang rasa hati Tung giam-ong.

Tentu saja baginya jauh lebih ringan memenuhi syarat yang diajukan Toa Ok daripada kalau dia sendiri harus memperebutkan Pek-lui-kiam itu diantara banyak datuk dan tokoh kangouw.

Dia lalu menerima ajakan minum arak sampai tuga cawan penuh.

Selagi mereka minum dengan gembira, tiba-tiba seorang penjaga berlari masuk dan wajahnya pucat.

Toa Ok memandang penjaga itu dengan marah.

"Berani benar engkau mengganggu kami! Apa kau tidak takut untuk dihukum mampus?"

"Ampun, Toa-pangcu,"

Penjaga itu melapor.

"Diluar terdapat seorang pemuda yang minta bertemu dengan pangcu, dan"

Dan puncak ini sudah terkepung pasukan yang besar jumlahnya!"

Semua orang menjadi kaget mendengar ini.

Tanpa banyak kata lagi Toa Ok memberi isarat kepada para pembantunya dan Tung-giam-ong juga segera bangkit dan ikut keluar.

Serombongan orang yang menjadi pimpinan itu keluar membawa senjata masing-masing.

Toa Ok berjalan di depan, diikuti Ji Ok dan Sam Ok, lalu Tung-giam-ong.

Mereka terkejut dan terheran melihat bahwa yang datang hanya seorang pemuda saja.

Akan tetapi Tung-giam-ong dan Bu-tek Ngo-sian mengenal pemuda itu dan sudah tahu akan kelihaiannya, maka mereka memandang dengan alis berkerut, tidak gentar karena mereka kini ditemani tiga pangcu dari Kwi-jiauw-pang dan yang lain-lain.

"Hemm, orang muda, siapakah engkau dan apa maksudmu hendak bertemu dengan kami?"

"Aku datang untuk menantang pembunuh pendekar Tan Tiong Bu di Sia-lin dan minta kembali Pek-lui-kiam yang dirampasnya!"

Kata Si Kong sambil memandang tajam kepada Sam Pangcu atau Ang I Sianjin yang berjubah merah.

Mendengar tantangan ini, semua orang tersenyum mengejek.

Pemuda itu hanya seorang diri dan mereka terdiri dari lima belas orang jagoan.

"Ha-ha-ha, katakan siapa engkau sebelum kami membunuh engkau, jangan sampai mati tanpa nama!"

Gertak Toa Ok.

Si Kong tersenyum.

Pemuda perkasa ini tidak begitu tolol untuk mendatangi sarang harimau itu seorang diri pula.

Dia telah bertemu dengan Pek Bwe Hwa dan Hui Lan, telah diperkenalkan pada Panglima Gui Tin dan Cang Hok Thian yang sudah memimpin pasukannya mendaki puncak dan mengepung puncak yang menjadi sarang Kwi-jiauw-pang itu.

Dia muncul seorang diri akan tetapi teman-temannya menanti di belakangnya, siap untuk turun tangan kalau dia dikeroyok!

"Toa Ok, biarkan Ang I Sianjin melawan aku, ataukah engkau sendiri yang akan maju?"

Toa Ok mengerutkan alisnya.

"Bocah sombong! Katakan siapa namamu!"

"Toa Ok, apakah engkau sudah lupa kepadaku? Ingat, ketika engkau bersama Ji Ok dan Bu-tek Ngo-sian menyerbu Pulau Teratai Merah, kita sudah pernah saling berhadapan, akan tetapi kalian begitu pengecut untuk melarikan diri!"

Toa Ok terbelalak dan mengingat-ingat.

Kini teringatlah dia akan pemuda yang membawa tongkat dan hendak menerjangnya ketika mereka sudah terluka oleh perlawanan Ceng Lo-jin.

"Hemm, kiranya engkau bocah di Pulau Teratai Merah itu?"

"Benar, namaku Si Kong. Aku menantang Ang I Sianjin atau siapa saja yang menghalangiku untuk merampas kembali Pek-lui-kiam."

"Engkau akan mampus dikeroyok!"

Kata Gin Ciong yang membenci pemuda yang pernah di cinta Cu Yin itu.

Si Kong tersenyum dan menatap tajam wajah Toa Ok yang kelihatan masih ragu-ragu.

Kemudian dia berkata dengan suara lantang sehingga terdengar oleh semua orang yang berada di situ.

"Toa Ok, jangan mencoba untuk main keroyokan! Aku tantang kalian untuk bertanding satu lawan satu. Kalau kalian mau main keroyokan, dibelakangku terdapat banyak kawan-kawanku, dan juga pasukan kerajaan telah mengepung sarang Kwi-jiauw-pang ini!"

Toa Ok adalah seorang datuk yang cerdik.

Dari laporan penjaga tadi, dia tidak perlu menyangsikan kebenaran ucapan Si Kong, bukan gertakan kosong belaka.

Akan tetapi dia ditemani banyak orang pandai, kalau bertanding satu lawan satu belum tentu kalah.

Dia juga melihat kebawah dan dibelakang Si Kong, teraling pohon-pohon dan semak-semak, kelihatan bayangan beberapa orang.

"Si Kong, apakah engkau menepati janji untuk bertanding satu lawan satu dan tidak mengerahkan pasukan?"

"Pasukan kerajaan akan maju kalau pasukan Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai bergerak, dan kawan-kawan akan maju kalau teman-temanmu maju pula! Engkau sebagai orang nomor satu disini, hayo majulah dan tandingi aku, murid Pendekar Sadis Ceng Thian Sin!"

Tantang Si Kong yang sudah marah sekali.

Mendengar disebutnya pemuda itu sebagai murid Pendekar Sadis, agak gentarlah hati rasa Toa Ok, dan dia lalu menoleh kepada Ji Ok dan berkata.

"Ambilkan Pek-lui-kiam!"

Ji Ok melompat pergi memasuki rumah induk. Si Kong yang mendengar ini, tersenyum.

"Bagus, pergunakan Pek-lui-kiam kalau engkau merasa jerih kepadaku dan aku hanya akan menggunakan tongkat bambu ini!"

Si Kong memalangkan tongkat bambu yang sudah di bawanya ke depan dada.

Tak lama kemudian Ji Ok datang lagi sambil membawa pedang pusaka Pek-lui-kiam.

Toa Ok menerima pedang itu lalu digantungkan di punggungnya, sedangkan tangan kananya memegang senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang tongkat berbentuk ular yang tingginya sepundaknya.

Agaknya dia akan membawa pedang pusaka itu agar jangan sampai dirampas orang lain dan juga agar dia dapat mempergunakannya dan mengandalkan keampuhannya kalau sampai dia terdesak.

Selain itu, juga kalau pihaknya terdesak dan dia terpaksa melarikan diri, dia dapat membawa serta pedang pusaka itu.

"Bocah sombong, sekarang saatnya bagimu untuk mampus ditanganku!"

Toa Ok membentak untuk mengecilkan hati lawannya. Akan tetapi Si Kong tersenyum mengejek.

"Toa Ok, ketika engkau menyerbu Pulau Teratai Merah dulu, masih untung guruku memberi maaf kepadamu sehingga tidak mencabut nyawamu. Akan tetapi sekarang aku tidak akan memberi maaf lagi karena kejahatanmu sudah meningkat dengan pemberontakan!"

Mendengar ucapan ini, Toa Ok menjadi marah sekali dan dia sudah menggerakkan tongkat ularnya menerjang maju.

Tongkat itu menyambar dahsyat ke arah kepala Si Kong, dibarengi dengan menyambarnya tangan kirinya yang melakukan pukulan dengan sinkang yang panas.

Tangan kiri ini ampuh sekali, tidak kalah dahsyatnya dibandingkan tongkatnya.

Namun Si Kong telah siap siaga.

Dia maklum akan kelihaian datuk dari barat ini.

Tongkatnya diputar secara aneh menangkis tongkat ular dan menyambar ke bawah menotok tangan kiri lawan yang terbuka dan didorongkan kepadanya.

Toa Ok kaget karena dari kedudukan menyerang sekarang mendadak dia diserang!

Tongkat ularnya mental kembali ketika bertemu tongkat bambu yang mengandung getaran kuat itu dan kini telapak tangan kirinya terancam totokan tongkat bambu.

Dia cepat menarik kembali tangan kirinya dan tongkatnya sudah menyambar ke arah kedua kaki Si Kong.

Dengan gerakan ringan bagaikan burung walet tubuh Si Kong meloncat ke atas sehingga tongkat ular itu lewat di bawah kakinya.

Ketika tubuhnya masih terbang ke atas, tongkat bambunya sudah menyambar ke bawah, menotok ke arah belakang kepala Toa Ok.

Kembali Toa Ok terkejut karena serangan balik Si Kong itu sama sekali tidak disangka-sangka.

Memang disitulah letak kelihaian ilmu tongkat Ta-kauw Sin-tung, gerakannya sukar diduga lebih dulu dan amat aneh, tidak seperti ilmu tongkat pada umumnya.

Ilmu tongkat Pemukul Anjing ini memang amat hebat dan pernah dengan ilmu itu Yok-sian Lo-kai malang melintang di dunia kang-ouw, dan menjadi tokoh nomor satu diantara seluruh kaipang (perkumpulan pengemis).

Toa Ok harus memutar tubuhnya dilindungi oleh tongkat ularnya untuk dapat terhindar dari bahaya maut.

Tongkatnya menangkis tongkat bambu yang menotok ke arah tengkuknya itu.

"Trakkk!"

Tongkat ular bertemu tongkat bambu dan tongkat ular mental kembali dengan kuatnya.

Memang tongkat bambu ini cocok sekali untuk ilmu tongkat Ta-kauw Sin-tung, seolah dalam ruas-ruas tongkat yang kosong itu kini terisi tenaga sinkang yang kuat sekali, membuat tongkat bambu itu terasa keras dan berat ketika bertemu tongkat ular.

Tiba-tiba Toa Ok melompat ke belakang dan sambil melompat itu tangannya bergerak.

Sinar hitam menyambar ke arah Si Kong.

Melihat sambaran senjata-senjata rahasia itu hebat sekali, Si Kong melepaskan capingnya dan sekali melemparkan caping itu, topi lebar itu berputar dan semua jarum hitam itu menancap pada caping dan runtuh ke atas tanah.

Si Kong cepat menerjang ke depan dengan tongkatnya sehingga Toa Ok harus melindungi dirinya dengan putaran tongkat ularnya yang membentuk perisai melindungi seluruh tubuhnya.

Melihat betapa Toa Ok sudah maju dan bertanding dengan pemuda itu dengan serunya, hati Tung-giam-ong menjadi tidak enak.

Yang dikhawatirkan adalah kalau Toa Ok kalah dan pedang Pek-lui-kiam yang aseli di punggung Toa Ok itu sampai berpindah tangan terampas oleh pemuda lihai itu.

Dia tidak dapat membantunya karena sebelumnya sudah berjanji terlebih dahulu.

Akan tetapi dia ingin mengetahui kekuatan pihak lawan, maka diapun meloncat ke depan sambil menantang.

"Siapa yang akan melayani aku? Marilah kita bertanding satu lawan satu!"

Sebelum Hui Lan atau Bwe Hwa menyambut tantangan datuk besar dari timur itu, dari arah kiri meloncat seorang laki-laki tua yang bertubuh sedang, berwajah tampan dan sikapnya gagah.

Orang ini bukan lain adalah Lam Tok Siangkoan Lok, datuk dari selatan itu.

Begitu muncul, dia langsung menghadapi Tung-giam-ong Tio Sun sambil tersenyum lebar.

"Tua bangka dari timur yang curang dan pengecut. Tentu engkau mengira bahwa aku sudah mati, bukan? Tidak, aku tidak mati sebelum mencabut nyawamu yang rendah itu!"

Setelah berkata demikian, Lam Tok sudah mencabut pedangnya.

Tung-giam-ong Tio Sun memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Dia melihat Lam Tok seperti melihat setan, melihat orang yang sudah mati hidup kembali!

Bagaimana mungkin Lam Tok masih hidup dan segar bugar setelah menerima cakaran-cakaran beracun dari cakar setan, menerima pukulan sinkangnya dan kemudian bahkan terjatuh ke dalam jurang yang teramat dalam?

"Kau...

kau masih"

Hidup?"

Kata-kata ini keluar dari mulutnya dan seperti bertanya kepada diri sendiri, matanya masih terbelalak dan mulutnya ternganga.

Akan tetapi diam-diam majikan Pulau Biruang itu telah mengerahkan tenaga Thai-yang Sin-ciang di tangan kirinya, siap untuk menyerang dengan pukulan jarak jauh.

"Hemm, andaikata aku sudah mati, aku akan hidup kembali hanya untuk mencabut nyawamu!"

Kata Lam Tok dan dia menggerakkan tangan kirinya.

Tiga batang anak panah meluncur seperti kilat menyambar ke arah tubuh Tung-giam-ong.

Akan tetapi pada saat itu, Tung-giam-oang sudah siap siaga dan dia lalu memukulkan tangan kirinya ke depan.

Hawa pukulan yang amat kuat menyambut tiga batang anak panah itu dan tiga batang anak panah beracun itu runtuh ke atas tanah.

Lam Tok menerjang ke depan, menggerakkan pedang di tangan kanan dan tangan kirinya siap melancarkan pukulan Jeng-kin-lat (Tangan Seribu Kati).

Tung-giam-ong melihat serangan dahsyat dan berbahaya.

Dia menggerakkan senjata tombak cagaknya menangkis sambil mengerahkan sinkangnya.

"Tringg... cringgg...!!"

Dua senjata itu bertemu dua kali dan kedua orang datuk itu terhuyung mundur beberapa langkah.

Akan tetapi Lam Tok sudah menerjang lagi dengan hebatnya.

Dia menyerang dengan pedangnya, memainkan ilmu silat Lam-hai Sin-ciang yang bergelombang, dan tangan kirinya juga membentuk cakar garuda mengirim serangan bergantian dengan pedangnya.

Tung-giam-ong terpaksa harus memutar tombak cagaknya melindungi dirinya.

"Tranggg...!"

Kembali pedang berdentang ketika bertemu dengan tombak cagak dan pada saat itu, tangan kiri Lam Tok menyambar ke arah dada lawannya.

Bukan main hebatnya serangan tangan kiri ini karena menggunakan tenaga seribu kati dan tangan kiri yang ampuh itu mengandung racun yang berbahaya sekali.

Maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli racun yang lihai, Tung-gia-ong terpaksa menghindarkan diri dengan elakan ke kiri sambil menusukkan tombak cagaknya ke arah lambung Lam Tok "Cringgg...!"

Kembali kedua senjata saling bertemu dan bunga api berpijar.

Keduanya kembali saling serang dengan hebatnya.

Sementara itu, ketika Ji Ok melihat betapa kakaknya mulai terdesak melawan Si Kong, dia lalu meloncat ke depan dengan maksud untuk mengeroyok.

Toa Ok dan Ji Ok memang biasanya maju bersama dan pasangan ini merupakan lawan yang amat tangguh.

"He-he, tidak boleh main keroyokan! Engkau adalah lawanku, Ji Ok!"

Terdengar bentakan dari samping dan seorang kakek tinggi besar berkepala botak telah melompat dan menyambut Ji Ok dengan melintangkan sepasang goloknya di depan dada dan sikapnya menantang.

Ji Ok segera mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Pai Ong Loa Thian Kun.

Dia dijuluki Pai Ong (Raja Utara) karena semua orang kang-ouw di utara menganggap dia sebagai rajanya dunia kang-ouw.

"Pai Ong! Jangan mencampuri urusan kami!"

Ji Ok membentak marah.

"Heh-he-heh! Engkau dan Toa Ok yang mengundang kami semua naik ke sini. Sekarang aku sudah datang dan melihat ramai-ramai mengadu kepandaian ini, aku tidak mau ketinggalan. Toa Ok sudah mendapatkan lawan, kalau engkau maju, akulah lawanmu untuk menentukan siapa yang lebih lihai diantara kita, dan siapa yang lebih berhak mendapatkan Pek-lui-kiam!"

Ji Ok adalah seorang datuk besar dari barat.

Tentu saja dia tidak gentar melawan Pai Ong.

Dia menggerakkan kepala dan rambutnya yang tadi sebagian terurai ke depan, kini tergantung dibelakang punggungnya sampai ke pinggang.

Wajahnya yang menyeramkan seperti wajah monyet penuh rambut itu nampak marah, matanya kemerahan dan hidungnya mendengus-dengus.

Tangannya meraih kepunggung dan dia telah mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang pecut penggembala yang berekor panjang.

(Lanjut ke

Jilid 20 -Tamat) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 20 (Tamat) "Pai Ong, jangan mengira bahwa aku takut melawanmu!"

"Tar-tar-tarr...!"

Pecutnya meledak-ledak di udara dan nampak asap mengepul saking kuatnya pecut itu melecut, dan di lain saat dia sudah menyerang Pai Ong dengan pecutnya.

Pai Ong menggerakkan sepasang goloknya, menyambut lecutan itu dengan gerakan menggunting dengan sepasang goloknya.

Ji Ok tidak membiarkan pecutnya digunting dua batang golok.

Ditariknya kembali pecutnya dan kini tiba-tiba dia menyerang kedua kaki lawan dengan sabetan pecutnya.

Pai Ong melompat ke atas akan tetapi dari atas menyambar sinar hitam yang bukan lain adalah rambut panjang Ji Ok yang menyambar begitu dia menggerakkan kepalanya.

Ternyata Ji Ok dapat menggunakan rambutnya untuk menyerang dengan cepat dan berbahaya karena rambut itu mengandung tenaga sin-kang yang kuat.

Pai Ong kembali menangkis dengan golok kirinya, dengan maksud untuk menyabet putus rambut itu, sementara golok kanannya sudah membacok ke arah pinggang lawan.

Dari kedudukan menyerang kini Ji Ok malah terserang hebat.

Maka dia mencelat ke belakang untuk mengelak, lalu memutar tubuh dan kembali menyerang dengan pecutnya.

Dua orang datuk ini sudah bertanding dengan hebatnya.

Setiap serangan mereka merupakan serangan maut yang berbahaya.

Melihat betapa Toa Ok dan Ji Ok sudah maju dan berkelahi dengan para pendatang itu, Sam Ok atau Ang I Sianjin menjadi marah.

Bagaimanapun juga, tadinya puncak Kwi-liong-san adalah sarang dari perkumpulannya.

Dialah tuan rumah disitu.

Kini, agaknya perkumpulannya terancam oleh Si Kong dan kawan-kawannya, bahkan Lam Tok dan Pai Ong, dua orang datuk besar itu, menentang Kwi-jiauw-pang seperti berpihak kepada Si Kong.

Dia merasa berbesar hati karena bagaimanapun dia memiliki seratus orang lebih anggauta Kwi-jiauw-pang dan seratus orang lebih anggauta Pek-lian-pai.

Kalau dia mengerahkan semua pembantunya maju, pihaknya tidak akan kalah.

Agaknya Tio Gin Ciong berpendapat sama dengan Sam Ok.

Melihat betapa Ayahnya, Tung-giam-ong kini telah di lawan oleh Lam Tok, dia menjadi marah sekali.

Diapun meloncat ke depan dengan maksud untuk membantu Ayahnya menghadapi Lam Tok.

Akan tetapi pada saat itu, muncul Pek Bwe Hwa dan Hui Lan.

Hui Lan melompat ke depan saat Sam Ok dan Gin Ciong maju sehingga dara ini menghadapi dua orang lawan.

Tanpa banyak cakap lagi Sam Ok dan Gin Ciong sudah menggunakan senjata masing-masing untuk menerjang Hui Lan.

Sam Ok menggunakan pedang di tangan kanan dan kipas di tangan kiri, sedangkan Gin Ciong juga menggunakan pedangnya.

Biarpun dara itu diserang oleh dua orang lawan, namun Hui Lan sama sekali tidak menjadi gentar.

Hok-mo Siang-kun (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) telah berada di kedua tangannya dan begitu ia memainkan sepasang pedang itu, nampak sinar hitam bergulung-gulung, dan gulungan sinar yang seperti sepasang naga bermain di angkasa.

Begitu gadis itu memainkan sepasang pedangnya, Sam Ok dan Gin Ciong terkejut dan main mundur, mencoba untuk mengepung dara itu dari kiri dan kanan.

Segera dua orang pengeroyok itu melakukan serangan bertubi-tubi, akan tetapi semua serangan itu terpental kembali begitu bertemu dengan dua gulungan sinar hitam itu.

Coa Leng Kun merasa tidak enak kalau tinggal diam saja.

Dia melompat ke depan untuk membantu pihak tuan rumah, akan tetapi Bwe Hwa melompat ke depannya dengan muka kemerahan karena gadis ini sudah marah sekali melihat Coa Leng Kun.

Ia teringat betapa ia hampir celaka, dipengaruhi sihir empat orang tokoh Pek-lian-kauw kemudian ia dikeroyok oleh Leng Kun dan See-thian Su-hiap.

Ia yang tadinya tertarik dan kagum kepada Leng Kun ternyata hanya ditipu saja oleh pemuda berpakaian serba putih dan yang bersenjata suling itu!

"Jahanam Coa Leng Kun, sekarang tiba saatnya aku membasmi manusia berwatak rendah dan hina seperti kamu!"

Melihat munculnya Pek Bwe Hwa, Leng Kun terkejut bukan main.

Dia sudah tahu akan kelihaian gadis itu, maka dia lalu menoleh kearah See-thian Su-hiap dan berkata.

"Su-wi totiang, bantulah aku!"

See-thian Su-hiap memang sudah siap untuk bertanding, maka mendengar permintaan Leng Kun, mereka berlompatan dan mengepung gadis itu.

Melihat ini, Cang Hok Thian melompat ke depan dan membantu Bwe Hwa.

Dua orang muda ini berhadapan dengan lima orang lawan dan mereka segera bergerak mengamuk, membuat lima orang pengeroyok itu mengepung dengan hati-hati.

Pertempuran itu menjadi semakin hebat ketika Bu-tek Ngo-sian maju pula mengeroyok.

Dua orang dari mereka membantu Toa Ok yang sudah terdesak oleh Si Kong, dua orang lagi membantu Ji Ok yang juga kerepotan menghadapi serangan Pai Ong, dan seorang lagi membantu Tung-giam-ong yang sedang bertanding melawan Lam Tok.

Panglima Gui Tin melihat betapa pertandingan itu sudah tidak adil lagi, melainkan main keroyokan.

Maka diapun memberi aba-aba kepada pasukannya.

Beratus-ratus pasukan kerajaan menyerbu dan mengepung tempat itu, mengepung sarang Kwi-jiauw-pang dan pasukan Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai menyambut mereka.

Terjadilah pertempuran sengit dan hiruk-pikuk di puncak Kwi-liong-san.

Akan tetapi pasukan kerajaan berjumlah tiga sampai empat kali lebih banyak dibandingkan pasukan pemberontak, maka pertempuran itu menjadi berat sebelah.

Gui Tin yang berpengalaman dalam pertempuran segera melihat bahwa pasukannya akan menang dengan mudah.

Dia lalu memilih belasan orang pembantunya yang memiliki ilmu silat tinggi untuk membantu para pendekar yang dikeroyok.

Bu-tek Ngo-sian dan See-thian Su-hiap tidak dapat lagi membantu kawan-kawan mereka karena mereka sendiri menghadapi pengeroyokan para prajurit.

Kini Si Kong berhadapan satu lawan satu dengan Toa Ok.

Ketika dia mendapat kesempatan, pemuda itu memutar tongkat bambunya dan melibat tongkat ular lawan.

Selagi mereka saling betot, Si Kong mempergunakan Hok-liong Sin-ciang untuk menyerang dengan tangan kirinya.

Ilmu silat Hok-liong Sin-ciang ini merupakan ilmu silat istimewa dari mendiang Ceng Lo-jin.

Pukulan yang dilakukan tangan kiri Si Kong itu mendatangkan hawa pukulan yang amat dahsyat.

Karena tongkat mereka seolah menjadi satu sama lain, tidak ada jalan lain bagi Toa Ok kecuali menangkis dengan dorongan tangan kiri pula.

"Plakkk!"

Dua telapak tangan bertemu, akan tetapi Si Kong sudah menyimpan tenaga Hok-liong Sin-ciang dan menggantikan dengan ilmu Thi-ki-i-beng!

Seketika Toa Ok merasa betapa tenaga sin-kangnya membocor keluar dari tangan kirinya, tersedot oleh telapak tangan kiri Si Kong.

Dia terkejut sekali dan teringat akan ilmu Thi-ki-i-beng yang amat berbahaya itu.

Cepat dia menyimpan kembali tenaga sin-kangnya.

Setelah tidak lagi menggunakan sin-kang, tempelan telapak tangan itu terlepas dengan sendirinya.

Akan tetapi pada saat itu, tangan kiri Si Kong menghantam ke arah tongkat ular dengan tangan miring seperti sebatang golok.

"Krekk!"

Tongkat berbentuk ular itu patah menjadi dua potong.

Marahlah Toa Ok.

Dia membuang tongkat yang sudah patah itu dan mencabut pedang di punggungnya.

Tampak sinar terang berkilat ketika pedang tercabut dan sekali ini Si Kong maklum bahwa yang berada di tangan Toa Ok itu adalah pedang Pek-lui-kiam yang aseli dan karena itu ampuh sekali.

Sinar terang itu menyambar ke arah lehernya dari samping.

Si Kong menggetarkan tongkat bambunya untuk menangkis.

"Crokk!"

Tongkat bambunya putus menjadi dua potong.

Si Kong terkejut sekali.

Tongkat bambunya itu tidak akan putus bertemu dengan senjata tajam yang manapun juga.

Akan tetapi sekali ini, begitu bertemu Pek-lui-kiam lalu putus, padahal dia sudah mengerahkan tenaga sin-kangnya!

Terdengar Toa Ok tertawa mengejek dan kakek itu terus menyerang dengan gencar.

Si Kong menggunakan dua potongan bambu di tangan kanan dan kiri untuk menyambut, akan tetapi berturut-turut tongkat bambu yang sudah menjadi pendek itu putus lagi.

Dia lalu membuang potongan tongkat bambu itu dan menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dari sambaran Pek-lui-kiam.

Biarpun Toa Ok menyerang dan mendesak dengan pedang pusakanya, namun gerakan Si Kong terlampau gesit sehingga semua serangannya hanya mengenai tempat kosong saja.

Makin cepat Toa Ok menyerang, semakin cepat pula Si Kong bergerak mengelak dan dia sudah menggunakan ilmu silat Yan-cu Hui-kun yang membuat tubuhnya seperti seekor burung walet saja gesitnya.

Setelah lewat lima puluh jurus sejak Toa Ok mencabut Pek-lui-kiam Si Kong mendapatkan kesempatan yang baik.

Secepat kilat dia menangkap pergelangan tangan kanan lawan yang memegang pedang.

Tangan kiri Toa Ok melakukan pukulan dengan sin-kang panas ke arah dada Si Kong dalam jarak dekat.

Akan tetapi Si Kong menerima pukulan itu dengan dadanya.

"Bukk!"

Telapak tangan Toa Ok melekat pada dada Si Kong dan seketika hawa sin-kang membanjir keluar dari tangan kiri Toa Ok, tersedot oleh ilmu Thi-ki-i-beng!

Toa Ok terkejut bukan main, akan tetapi Si Kong sudah mengerahkan tenaganya dan menggunakan tangan kanan untuk merenggut pedang Pek-lui-kiam dari tangan kanan Toa Ok.

Karena Toa Ok sedang sibuk hendak melepaskan tangan kirinya, maka dia tidak dapat mempertahankan pedang itu yang dapat terampas oleh Si Kong.

Dia menggereng marah dan menggerakkan tangan kirinya tanpa pengerahan sin-kang.

Akan tetapi dia terlambat.

Si Kong sudah memukulnya dengan jurus Hok-liong Sin-ciang dan pukulan itu tepat mengenai ulu hatinya.

Dess...!!"

Tubuh Toa Ok terlempar seperti bola dan jatuh terbanting ke atas tanah tanpa bergerak lagi.

Isi dadanya sudah remuk oleh pukulan yang amat hebat itu!

Pada saat yang hampir bersamaan, Hui Lan sudah merobohkan Sam Ok atau Ang I Sianjin dengan pedang hitamnya.

Dada Ang I Sianjin tertusuk pedang dan diapun roboh dan tewas seketika.

Setelah merobohkan Sam Ok, Hui Lan mengamuk dan robohlah Tio Gin Ciong dan Kui Hwa Cu, orang pertama dari See-thian Su-hiap.

Mendengar teriakan maut puteranya, Tung-giam-ong terkejut dan perhatiannya terpecah sehingga Lam Tok berhasil memukul dada datuk besar timur itu dengan tangan kirinya.

Pukulan itu beracun dan hebat sekali sehingga tubuh Tung-giam-ong terjengkang keras dan diapun tewas seketika.

Dapat dibayangkan betapa paniknya Ji Ok yang masih dapat bertahan melawan Pai Ong.

Akan tetapi karena hatinya sudah merasa takut melihat robohnya teman-temannya, terutama robohnya Toa Ok, dia main mundur dan mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Dia memutar pecutnya dengan cepat, membentuk perisai yang lebar menutupi tubuhnya dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak ke depan.

Tiga batang paku beracun menyambar ke arah tubuh Pai Ong.

Datuk utara ini cepat mengelak sambil meloncat ke kiri dan kesempatan itu di pergunakan oleh Ji Ok untuk melarikan diri.

Akan tetapi baru lima langkah dia lari, Pai Ong menggerakkan tangan kirinya dan golok di tangan kirinya itu meluncur dan menancap di punggung Ji Ok sampai tembus ke dadanya dan Ji Ok roboh.

Diapun tewas seketika.

Yang masih bertahan terhadap Bwe Hwa hanya Coa Leng Kun.

Pemuda ini masih dapat bertahan karena dia dibantu oleh dua orang dari Bu-tek Ngo-sian yang lihai.

Melihat betapa Bwe Hwa belum dapat merobohkan lawan yang mengeroyoknya, Hui Lan melompat dan membantu Bwe Hwa.

Kini pertempuran itu menjadi berat sebelah dan dengan mudah pedang Kwan-im-kiam di tangan Bwe Hwa menyambar dan melukai leher Coa Leng Kun.

Dua orang Bu-tek Ngo-sian itu, orang pertama Ciok Khi dan orang kedua Sia Leng Tek, menjadi gentar akan tetapi tidak ada kesempatan bagi mereka untuk melarikan diri sedangkan tiga orang adik mereka juga sudah terdesak oleh pengeroyokan banyak prajurit.

Mereka berdua menjadi nekat melawan dua orang gadis perkasa itu.

Akan tetapi karena hati mereka sudah gentar, permainan pedang mereka menjadi lemah dan hampir berbareng mereka roboh oleh tusukan pedang Hui Lan dan pedang Bwe Hwa.

Para anggauta Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai sudah banyak yang tewas melawan pasukan kerajaan yang tiga empat kali lebih banyak jumlahnya.

Tiga orang dari See-thian Su-hiap dan tiga orang dari Bu-tek Ngo-sian masih bertahan, Akan tetapi Si Kong, Hui Lan dan Bwe Hwa menerjang mereka dan dalam waktu singkat saja mereka semua sudah roboh dan tewas.

Apalagi karena Si Kong mempergunakan Pek-lui-kiam yang amat ampuh sehingga sepak terjangnya menggiriskan.

Begitu sinar berkelebat, sudah ada seorang lawan yang tewas!

Melihat ini, sisa anak buah Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai menjadi ketakutan dan mereka membuang senjata dan berlutut menyerah.

Panglima Gui Tin lalu menyuruh pasukannya untuk menangkapi mereka, kemudian dia memerintahkan pasukannya untuk mundur.

Setelah memeriksa keadaan pasukannya, dia lalu memerintahkan pasukannya untuk bekerja, mengubur semua jenazah dan mengobati mereka yang terluka.

Sementara itu, Lam Tok berhadapan dengan Pai Ong.

Mereka saling pandang dan Lam Tok yang lebih dulu berkata.

"Ha-ha-ha, kita berdua saja yang masih hidup diantara empat orang datuk besar. Apakah engkau masih ada hasrat untuk menjadi datuk paling lihai di kolong langit ini?"

Pertanyaan ini mengandung tantangan. Pai Ong tertawa pula.

"Ha-ha-ha, ucapanmu benar, Lam Tok! Karena kita berdua memilih pihak yang benar, tidak menuruti hasutan Toa Ok dan Tung-giam-ong yang bersekongkol dengan pemberontak, maka kita masih hidup. Ini berarti kita memilih pihak yang benar."

"Tepat sekali, Pai Ong! Pek-lian-kauw selamanya memang membujuk dan menghasut para tokoh kangouw sehingga terseret ke dalam pemberontakan melawan pemerintah. Dan kalau seorang datuk masih dapat terbujuk omongan manis, dia tidak berhak menjadi seorang datuk yang berpendirian gagah perkasa dan bebas. Akan tetapi mengingat sekarang yang tinggal hidup hanyalah Pai Ong datuk dari utara dan aku Lam tok datuk selayan, lalu bagaimana pendapatmu?"

"Lam Tok, aku sudah merasa malas untuk memperebutkan sebutan Datuk Nomor Satu di Dunia. Kalau yang ada tinggal dua orang datuk saja, apa artinya mendapat sebutan Datuk Nomor Satu? Tidak kau boleh memakai sebutan Datuk Terlihai, aku tidak ingin merebutnya. Akan tetapi pedang pusaka Pek-lui-kiam, itulah yang dapat diperebutkan!"

"Tepat sekali! Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih berhak memperoleh pedang pusaka Pek-lui-kiam!"

Kata Lam Tok.

"Bagus, aku setuju!"

Teriak Pai Ong.

"Siapa pemilik Pek-lui-kiam biar tanpa sebutan apapun, menjadi bukti bahwa dia yang terlihai!"

Pada saat itu Si Kong melangkah maju menghampiri dua orang datuk yang saling tantang itu dan memberi hormat kepada mereka.

"Ji-wi Locianpwe, pedang pusaka Pek-lui-kiam telah berada di tanganku."

"Bagus, Si Kong. Serahkan pedang pusaka itu kepadaku. Sejak aku melihat betapa engkau mengubur jenazah puteriku, aku telah berubah pikiran dan membantumu menentang mereka yang menjadi musuh-musuhmu. Karena engkau tidak termasuk seorang datuk, maka serahkan pedang Pek-lui-kiam kepadaku!"

Kata Lam Tok yang kini mengerti mengapa puterinya dahulu jatuh cinta kepada pemuda perkasa ini.

Dia berterima kasih sekali ketika melihat Si Kong mengubur jenazah Cu Yin dan timbul rasa sukanya kepada pemuda ini "Bukan diserahkan kepada Lam Tok.

Itu kurang adil karena disini ada dua orang datuk yang masih hidup.

Orang muda, serahkan pedang itu kepada siapa di antara kami yang menangkan pertandingan memperebutkan Pek-lui-kiam"

Kata Pai Ong.

Si Kong kembali memberi hormat kepada dua orang datuk itu.

Kini pandangannya terhadap dua orang datuk itupun sudah berubah.

Dua orang datuk itu tidak seperti yang lain, tidak tunduk terhadap pemberontak Kwi-jiauw-pang dan Pek-lian-pai, bahkan menentang mereka.

Dia beranggapan bahwa dua orang datuk ini masih memiliki jiwa pahlawan dan berpendirian, walaupun mereka memiliki watak yang aneh dan menurut kehendak mereka sendiri.

"Ji-wi Locianpwe, pedang pusaka ini adalah milik pendekar Tan Tiong Bu, karena itu tidak dapat dimiliki siapapun, harus kukembalikan kepada yang berhak."

"Akan tetapi Tan Tiong Bu telah mati, terbunuh oleh Ang I Sianjin!"

Tegur Lam Tok.

"Benar, Locianpwe. Akan tetapi dia masih mempunyai seorang anak perempuan dan kepada anaknya itulah pedang Pek-lui-kiam akan kuserahkan. Dara itulah yang berhak memiliki Pek-lui-kiam sebagai peninggalan Ayahnya."

"Ah, mana bisa begitu?"

Pai Ong mencela.

"Siapa yang terkuat dialah yang berhak memiliki Pek-lui-kiam. Karena itu kita bertiga akan membuktikan siapa yang terkuat dan siapa yang berhak memiliki Pek-lui-kiam!"

Akan tetapi Lam Tok menghela napas panjang dan berkata.

"Apa yang dikatakan Si Kong benar! Apa gunanya kita memperebutkan sebuah pusaka yang sesungguhnya menjadi hak milik seseorang? Memalukan saja! Apa engkau suka kalau disebut sebagai seorang pencuri? Aku tidak! Sudahlah, Si Kong, aku tidak akan memperebutkan pusaka Pek-lui-kiam itu. Dan engkau, Pai Ong, kalau engkau masih penasaran untuk memperebutkan kedudukan datuk nomor satu, kupersilakan engkau mendatangi tempat tinggalku di Lembah Sungai Heng-kiang. Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, Lam Tok meloncat jauh dan lenyap di balik pohon-pohon.

"Bagaimana Locianpwe? Apakah engkau tidak sependapat dengan Locianpwe Lam Tok?"

Tanya Si Kong kepada Pai Ong.

"Tentu saja tidak. Sebelum aku dapat kau kalahkan dalam pertandingan, aku tidak rela engkau membawa pergi Pek-lui-kiam! Kalahkan aku dulu, baru engkau berhak menentukan apa yang akan kau lakukan dengan Pek-lui-kiam!"

"Sesungguhnya, Locianpwe, aku sendiri tidak ingin memiliki pedang pusaka itu. Aku hanya hendak mempertahankan bahwa pusaka itu harus diserahkan kepada puteri pemiliknya, sebelum pusaka itu dibawa pergi oleh Ang I Sianjin."

"Kalau begitu, mari kalahkan aku lebih dulu!"

Kakek tinggi besar berkepala botak ini mencabut sepasang goloknya.

"Akan tetapi engkau licik kalau engkau hendak menghadapi sepasang golokku dengan pedang pusaka itu."

Si Kong tersenyum dan memungut sebatang kayu dari bawah pohon.

Dia membuang ranting dan daun kering dari cabang kayu itu dan memegangnya sebagai tongkat.

"Pedang Pek-lui-kiam tidak akan kupergunakan untuk melawanmu, Locianpwe. Cukup dengan sebatang kayu ini saja. Kalau aku kalah terhadap Locianpwe, pedang Pek-lui-kiam akan kuserahkan."

Pai Ong tersenyum dan wajahnya berseri.

"Aku tahu bahwa engkau seorang pemuda yang gagah perkasa dan dapat dipercaya. Marilah kita tentukan siapa diantara kita yang berhak membawa pergi Pek-lui-kiam. Mulailah, Si Kong."

"Aku telah siap, Locianpwe. Harus mulai lebih dulu."

"Bagus, lihat golok!"

Kakek tinggi besar itu sudah menggunakan sepasang goloknya untuk menyerang.

Serangannya memang dahsyat sekali karena dia menggunakan seluruh tenaga dan kecepatannya.

Karena maklum bahwa lawannya, biarpun masih muda, memiliki ilmu silat yang tinggi, maka begitu menyerang dia telah mengeluarkan jurusnya yang paling ampuh.

Golok kanan membacok miring dari atas ke bawah ke arah leher Si Kong sedangkan golok kiri bergerak dari lain jurusan menyambar pinggang.

Si Kong tidak berani memandang rendah lawannya yang dia tahu merupakan orang yang tingkat ilmu silatnya tidak berada di bawah tingkat mendiang Toa Ok.

Dengan ringan sekali Si Kong mengelak mundur sehingga serangan sepasang golok itu mengenai tempat kosong.

Ketika datuk itu memutar goloknya untuk menyerang lagi, Si Kong mendahuluinya dengan serangan balasan.

Tongkatnya tergetar ujungnya dan sekali bergerak seperti ular-ular mematuk, ujung tongkatnya sudah mengarah tujuh jalan darah di bagian depan tubuh Pai Ong.

"Hemmm...!"

Pai Ong menggereng dan kedua goloknya sibuk menangkis totokan itu dengan pengerahan tenaga agar tongkat itu terpotong oleh goloknya.

Namun biarpun ditangkis sepasang golok yang tajam, tongkat itu tidak terpotong melainkan terayun dan membuat gerakan melingkar menyerang lagi dengan totokan ke arah lambung kakek tinggi besar itu.

Pai Ong terkejut.

Tak disangkanya pemuda itu dapat menggerakkan tongkatnya demikian cepat dan tidak terduga.

Karena tidak sempat menangkis, dia meloncat kebelakang untuk menghindarkan diri dari serangan cepat itu.

Kemudian, setelah memutar sepasang goloknya, dia menyerang lagi dengan dahsyat.

Namun, gerakan tubuh Si Kong terlampau cepat baginya, juga amat aneh sehingga dia menjadi bingung.

Makin lama permainan tongkat Si Kong semakin banyak perubahannya yang sama sekali tidak tersangka-sangka sehingga setelah lewat lima puluh jurus kakek tinggi besar itu mulai terdesak.

Si Kong tidak berniat buruk terhadap Pai Ong.

Bagaimanapun juga, datuk utara ini telah memperlihatkan bahwa dia tidak sudi menjadi pengkhianat seperti Toa Ok dan Tung-giam-ong.

Biarpun dia disebut datuk besar dunia kangouw, akan tetapi dia masih memiliki kegagahan.

Karena itu, Si Kong tidak ingin mencelakainya.

Melihat lawannya sudah terdesak, Si Kong mempercepat gerakan tongkatnya sehingga Pai Ong menjadi semakin bingung.

Seolah-olah tongkat itu berubah menjadi banyak sekali, mengurung dirinya dari berbagai penjuru.

Karena bingung menghadapi tongkat itu, Pai Ong menggerakkan sepasang goloknya, berniat untuk menggunting tongkat yang ampuh itu agar terpotong.

Suatu saat dia melihat bayangan tongkat itu dan secepat kilat sepasang goloknya menggunting dari atas ke bawah.

Si Kong sengaja memperlambat gerakan tongkatnya sehingga tampaknya hampir terjepit sepasang golok.

Pai Ong sudah merasa girang sekali, akan tetapi pada saat terakhir, tongkat itu hilang dan sepasang goloknya bertemu sendiri di udara.

"Traangg...!!"

Pada saat itu, ujung tomgkat Si Kong bergerak dua kali menotok ke arah pergelangan tangan Pai Ong sehingga kedua tangan itu kehilangan kekuatannya dan sepasang golok itupun terlepas dari tangannya, jatuh ke atas tanah.

Si Kong melompat mundur, memberi kesempatan kepada Pai Ong untuk memungut sepasang goloknya kembali.

Pai Ong terbelalak, mukanya berubah sedikit pucat.

Dia harus mengakui kekalahannya, akan tetapi hatinya masih penasaran sekali.

Harus diakuinya bahwa pemuda itu memiliki ilmu tongkat yang hebat, akan tetapi mungkin dalam perkelahian tangan kosong pemuda itu tidak akan mampu mengalahkannya.

Untuk menebus rasa malu karena kalah dalam pertandingan menggunakan senjata, Pai Ong berkata tanpa memungut sepasang goloknya.

"Harus kuakui bahwa engkau memiliki ilmu tongkat yang luar biasa dan aku mengaku kalah dalam permainan senjata. Akan tetapi, aku baru mengakui kekalahanku kalau engkau mampu menandingi aku dalam pertandingan tangan kosong dan penggunaan sin-kang."

Si Kong tersenyum maklum.

Kakek tinggi besar itu dikenal sebagai seorang datuk besar.

Tentu saja dia sukar mengakui kekalahannya terhadap seorang pemuda sepertinya.

Dia dapat memaklumi hal ini dan sambil tersenyum dia menjawab.

"Kalau Locianpwe mengajak bertanding dengan tangan kosong, akan kulayani, akan tetapi harap Locianpwe suka mengalah dan tidak menjatuhkan tangan yang terlalu keras bagiku."

Pai Ong memandang kagum.

Pantas saja Lam Tok enggan bermusuhan dengan pemuda ini.

Seorang pemuda yang luar biasa.

Sudah jelas dapat mengalahkannya, akan tetapi tetap merendahkan diri.

"Engkau terlalu merendahkan diri, Si Kong. Mari kita uji kekuatan masing-masing."

"Aku sudah siap, locianpwe,"

Kata Si Kong sambil membuang tongkatnya.

Dua orang itu saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago hendak bertarung.

Pai Ong mengerutkan alisnya dan bersungguh-sungguh karena dalam pertandingan ini dia harus mempertahankan kedudukannya sebagai datuk besar yang patut disegani semua orang.

Akan tetapi Si Kong kelihatan tenang-tenang saja dengan bibir tersenyum seolah dia sudah merasa pasti bahwa dia tidak akan kalah oleh lawannya.

Sikap percaya diri ini ditanamkan mendiang Pendekar Sadis kepadanya bersama ilmu-ilmu yang dipelajarinya.

"Lihat serangan!"

Terdengar Pai Ong membentak karena dia melihat pemuda itu agaknya tidak mau mendahului menyerang.

Tubuhnya menerjang maju dan dia sudah mengirimkan pukulan yang mendatangkan hawa panas sekali.

Inilah ilmu pukulan Hok-ciang (Tangan Api) yang meangdung sin-kang amat kuat.

Si Kong mengenal pukulan ampuh, maka diapun mengelak dan selanjutnya memainkan Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang) sehingga tubuhnya bergerak amat cepat.

Dengan penuh penasaran Pai Ong melancarkan serangan bertubi-tubi, namun tidak satu pun dari semua pukulannya mengenai sasaran.

Dengan seluruh tenaga dan kepandaiannya, Pai Ong menyerang dan agaknya tidak memberi kesempatan kepada Si Kong untuk membalas serangannya.

Hebat memang kakek datuk utara ini.

Serangannya sambung menyambung dan bertubi-tubi sehingga menggetarkan sekeliling tempat itu.

Bahkan orang yang berdiri dalam jarak sepuluh meter dari tempat pertandingan itu, terpaksa mundur menjauh karena merasakan sambaran angin yang panas.

Si Kong sama sekali tidak mampu membalas.

Setiap kali dia mengelak dari satu serangan lawan, maka serangan lain telah menyusul sebagai sambungan, seolah jurus-jurus itu telah dirangkai dan tiada putusnya.

Diam-diam pemuda ini merasa kagum bukan main.

Tingkat kepandaian datuk utara ini bahkan lebih unggul dibandingkan tingkat kepandaian Toa Ok.

Andaikata pertandingan Pai Ong dan Lam Tok diadakan, tentu Pai Ong akan merupakan lawan tangguh dari Racun Selatan itu.

Hampir seratus jurus telah lewat dengan cepatnya dan belum juga ada pukulan Pai Ong yang mengenai tubuh Si Kong.

Pai Ong sudah mulai lelah dan dia semakin penasaran.

Pada suatu saat, tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka menghantam ke arah dada Si Kong dan tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar.

Si Kong yang tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang, menganggap sudah cukup dia memberi kesempatan kepada lawannya.

Diapun lalu menggerakkan kedua tangannya menyambut dua serangan Pai Ong itu.

Tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka menyambut pukulan ke arah dadanya dan tangan kanannya mengibas ke bawah untuk menyambut cengkeraman tangan kiri lawan.

"Plak! Plak!"

Dua pasang tangan bertemu di udara dan mata Pai Ong terbelalak.

Dia merasa betapa kedua tangannya bertemu benda lunak yang langsung menghisap tenaga sin-kangnya.

Tenaga sinkangnya membanjir keluar disedot telapak tangan yang lunak itu.

Tentu saja dia terkejut setengah mati.

Dalam dunia persilatan hanya para hwesio Siauwlimpai yang sudah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu mereka yang dapat menggunakan tenaga dalam untuk menyedot tenaga lawan.

Akan tetapi dia teringat akan ilmu menyedot seperti itu yang pernah dimiliki mendiang Pendekar Sadis.

Maka, tanpa disadarinya mulutnya mengeluarkan apa yang terasa di hatinya.

"Pendekar Sadis...?"

Si Kong yang tidak bermaksud mencelakai lawan memang sudah hendak melepaskan ilmu Thi-ki-i-beng, ketika mendengar disebutnya nama gurunya, lalu melepaskan kedua tangannya dan meloncat mundur ke belakang.

Pai Ong memejamkan mata dan menghirup hawa murni untuk memulihkan tenaganya, kemudian dia membuka matanya dan maklum bahwa kalau lawannya yang muda itu menghendaki, dengan mudah lawan akan mengirim pukulan maut selagi dia tidak berdaya tadi.

Dia melangkah maju dan mengangkat kedua tangannya.

"Si-Taihiap (Pendekar besar Si), aku Pai Ong Loa Thian Kun mengaku kalah dan dengan kekalahanku ini, engkaulah yang berhak memakai gelar Jago Silat Nomor Satu di dunia dan pedang pusaka Pek-lui-kiam memang pantas menjadi milikmu."

Si Kong cepat membalas penghormatan kakek itu.

"Locianpwe, harap jangan bersikap seperti ini. Aku sama sekali tidak ingin disebut Jago Nomor Satu, dan akupun sama sekali tidak ingin memiliki Pek-lui-kiam untuk pribadi. Locainpwe telah mengalah kepadaku, aku berterima kasih sekali."

Wajah Pai Ong menjadi kemerahan.

"Ahh, betapa bodohnya kami yang menyebut diri datuk besar persilatan, betapa sombongnya seperti katak dalam tempurung! Aku telah mendapat pelajaran yang amat berharga, orang muda. Mulai saat ini Loa Thian Kun hanya seorang biasa, tidak ada lagi Pai Ong. Selamat tinggal!"

Orang tua itu lalu melompat dan lenyap di antara pohon-pohon besar di bawah puncak.

Si Kong menghela napas panjang dan diam-diam bersyukur bahwa mendiang gurunya telah mewariskan ilmu-ilmu yang dapat menundukkan orang-orang sakti seperti para datuk besar itu.

Mereka semua sudah bubaran.

Para pasukan kerajaan, setelah menguburkan semua jenazah, lalu ditarik mundur dan kembali ke kota raja oleh Panglima Gui Tin dan juga Cang Hok Thian.

Percuma saja Cang Hok Thian yang amat terpesona oleh Bwe Hwa mencoba untuk membujuk Bwe Hwa agar mau ikut pulang bersamanya, dan ingin dia perkenalkan kepada Ayah bundanya.

Bwe Hwa menolak halus dan minta agar Cang Hok Thian meninggalkannya.

Hok Thian terpaksa ikut Panglima Gui Tin pulang, di dalam hatinya mengambil keputusan bahwa dia harus berjodoh dengan gadis itu atau tidak akan menikah dengan gadis lain.

Setelah semua orang pergi, Si Kong juga melakukan perjalanan seorang diri menuruni puncak.

Akan tetapi baru tiba di lereng bawah puncak, gerakan dua orang telah membuat dia membalikkan tubuh dan ternyata yang mengejarnya adalah Pek Bwe Hwa dan Hui Lan!

Dia berhenti dengan jantung berdebar.

Tadi dia telah berpamit dari dua orang gadis ini dan kini mereka mengejarnya.

Apa yang mereka kehendaki?

Hatinya menjadi tegang dan gelisah, akan tetapi dia menekan hatinya sehingga kelihatan tenang saja ketika dua orang gadis itu tiba di depannya.

"Lan-moi dan Hwa-moi, ada urusan apakah kalian mengejarku?"

Tanya Si Kong sambil memandang ke kiri.

Tanpa disengaja, dia berhenti tak jauh dari makam Siangkoan Cu Yin ketika dua orang gadis itu menyusulnya!

Dua orang pendekar wanita itu adalah puteri-puteri para pendekar yang gagah perkasa dan keduanya mewarisi watak ibu mereka yang terkenal keras dan terbuka.

Mendengar pertanyaan Si Kong, Hui Lan menjawab.

"Kong-ko, kami berdua mengejarmu karena hendak menanyakan sesuatu yang kami harap Kong-ko akan menjawab dengan sejujurnya dan terbuka, sesuai dengan watak kita yang menghargai kebenaran dan kejujuran!"

Debar jantung di dada Si Kong makin menggebu.

"Pertanyaan tentang apakah?"

Sekarang Bwe Hwa yang melangkah maju.

"Kong-ko, ketika engkau meninggalkan kami berdua dari guha dahulu, mengapa engkau meninggalkan sajak itu? Aku masih ingat bunyinya!"

Kata Bwe Hwa yang lalu membacakan sajak itu.

"Seekor burung gagak yang papa tidak pantas berdekatan dengan sepasang burung Hong yang mulia! Seekor burung gagak yang papa terbang naik ke angkasa sendirian bermain di udara bebas dan merdeka tak terikat apapun juga!"

"Nah, mengapa engkau meninggalkan sajak itu dan meninggalkan kami tanpa pamit? Kong-ko, apakah engkau tidak menghargai perasaan kami terhadapmu?"

Hui Lan bertanya secara terbuka sehingga wajah Si Kong berubah kemerahan.

"Engkau harus menjawab sejujurnya, Kong-ko. tidak perlu ada rahasia diantara kita, semua harus dijelaskan agar tidak terkandung pikiran buruk satu sama lain. Apakah kami berdua yang kau maksudkan dengan Sepasang Burung Hong itu dan engkau menganggap dirimu seekor burung gagak yang papa, yang tidak pantas berdekatan dengan kami?"

Si Kong harus menelan ludah berulang kali untuk menenteramkan hatinya yang berdebar gelisah menghadapi dua orang gadis yang bicara secara terbuka itu.

Lebih gelisah daripada harus menghadapi dua ekor singa betina yang marah!

"Eh"

Hemmm...

aku...

terus terang saja aku telah mendengar percakapan kalian ketika aku habis mandi.

Hatiku menjadi gelisah dan bingung.

Aku merasa tidak berharga untuk kalian, merasa tidak pantas.

Aku tidak ingin melihat kalian berduka atau kecewa, maka kupikir"

Sebaiknya aku meninggalkan kalian.

Percayalah, Lan-moi dan Hwa-moi, tidak ada maksudku untuk membikin kalian berduka.

Aku"

Aku merasa lebih baik aku menjauhkan diri, aku sungguh tidak berharga untuk kalian..."

"Kami tidak perlu menyembunyikan, Kong-ko, bahwa kami berdua kagum dan tertarik kepadamu. Karena itu buanglah keraguanmu bahwa pilihanmu akan membuat seorang diantara kami menderita kecewa atau berduka. Kami sudah saling menceritakan rahasia hati kami masing-masing dan kami berani menghadapi kenyataan dengan hati terbuka,"

Kata Hui Lan.

"Benar, Kong-ko. Andaikata engkau memilih Hui Lan, akupun tidak akan merasa sakit hati atau mendendam kepada kalian."

Kata Bwe Hwa.

"Dan andaikata engkau memilih enci Bwe Hwa, akupun rela dan menganggap bahwa engkau bukan jodohku,"

Kata pula Hui Lan.

"Engkau boleh menganggap kami sebagai wanita tidak tahu malu membicarakan urusan cinta kami, akan tetapi kami sudah bersikap terbuka dan jujur, maka harap engkau terbuka dan jujur pula terhadap kami,"

Sambung Bwe Hwa.

Si Kong mengeluarkan keringat dingin.

Tentu saja tidak sedikitpun terdapat pendapat bahwa dua orang gadis itu tidak tahu malu, bahkan dia kagum sekali terhadap keterbukaan mereka.

Kalau di dunia ini semua orang bersikap terbuka dan jujur, tentu dunia tidak seperti sekarang, penuh pertikaian dan kesalahpahaman.

"Aih, Lan-moi dan Hwa-moi, apakah yang harus aku katakan?"

Si Kong menghela napas panjang dan sekali lagi dia menengok ke kiri, ke arah kuburan Cu Yin.

"Kepada kalian aku merasa kagum dan hormat. Kalian bagiku merupakan pendekar-pendekar wanita yang gagah dan patut dikagumi selain berilmu tinggi juga berbudi luhur. Perasaan kalian terhadap diriku sungguh merupakan kehormatan yang berlebihan bagiku."

"Tidak perlu berbelit-belit, Kong-ko!"

Kata Hui Lan.

"katakan saja, siapakah diantara kami berdua yang kau cinta? Ataukah, engkau tidak mencinta kami berdua?"

Si Kong menggeleng kepala dan menghela napas lagi.

"Cintaku telah terbawa mati oleh Cu Yin yang sekarang bermakam di sana. Kalian bagiku terlampau tinggi untukku. Aku hanya kagum dan hormat, dan terus terang saja, sayangku kepada kalian bukan seperti yang kalian duga. Maafkan keterus teranganku ini, akan tetapi sesungguhnya, tidak ada perasaan cinta asmara dalam hatiku."

Dua orang gadis itu saling pandang dan wajah mereka menjadi agak pucat, akan tetapi lalu menjadi kemerahan kembali.

"Kong-ko, siapa itu Cu Yin?"

Tanya Hui Lan sambil menoleh dan memandang makam baru itu.

"Ya, siapa gadis yang telah mampu menjatuhkan hatimu itu, Kong-ko?"

Tanya Bwe Hwa penasaran. Si Kong menghela napas.

"Sebelum ia tewas aku pun tidak tahu bahwa aku mencintainya. Kasihan Cu Yin. Ia bukan berkedudukan tinggi seperti kalian. Ia hanyalah puteri Lam Tok yang tewas oleh anak panah Ayahnya sendiri ketika ia berkorban untukku, menghadang anak-anak panah yang ditujukan kepadaku."

Dua orang gadis itu menunduk, merasa terharu.

Mereka adalah dua orang gadis perkasa yang gagah, maka keterusterangan Si Kong tidak membuat mereka menjadi sakit hati.

Mereka menerimanya dengan wajar dan dapat menekan perasaan sendiri.

Mereka maklum bahwa cinta asmara tidak mungkin terjadi sepihak saja, dan juga cinta tidak dapat dipaksakan.

Mereka tidak marah, tidak sakit hati dan hanya pandangan mereka terhadap Si Kong berubah.

Kini mereka melihat pemuda itu sebagai seorang sahabat yang mereka kagumi, tidak lagi mengharapkan balasan cinta darinya.

"Menyedihkan sekali..."

Kata Hui Lan sambil memandang ke arah kuburan itu.

"Kasihan gadis itu...,"

Kata pula Hui Lan.

Sikap kedua orang gadis itu menerima keterusterangannya yang menolak cinta mereka membuat Si Kong semakin kagum kepada mereka.

Demikian bijaksana.

Pantas kalau mereka berdua merupakan dua orang gadis yang disebut pendekar yang berbudi luhur dan tidak mementingkan kesenangan diri sendiri.

"Nah, selamat tinggal, Lan-moi dan Hwa-moi. Aku hendak melanjutkan perjalanan untuk menyerahkan Pek-lui-kiam ini kepada yang berhak."

"Selamat berpisah, Kong-ko,"

Kata Hui Lan.

"Selamat tinggal, Kong-ko,"

Kata Bwe Hwa dan kedua orang gadis itu lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Mereka dapat menerima kenyataan yang betapa pahitpun dengan tabah dan gagah, tanpa penyesalan, melainkan penuh keikhlasan dan kemakluman.

Setelah dua orang gadis itu pergi, Si Kong menghela napas panjang.

Dia telah berbohong dalam usahanya agar tidak membuat salah satu dari mereka kecewa dan menyesal.

Kalau hanya seorang saja yang mencintanya, alangkah mudahnya baginya untuk jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Hui Lan atau Bwe Hwa.

Akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia memilih salah satu, yang lain akan merasa kecewa dan menyesal.

Pula, dia melihat betapa buruk nasib Cu Yin, gadis yang mencintainya.

Dia tidak ingin kalau kedua orang dara perkasa itu mengalami nasib buruk pula.

Dengan perlahan dia menghampiri makam Cu Yin, lalu duduk bersila di depan makam itu sampai hampir sejam lamanya.

Setelah itu, dia lalu pergi menuruni gunung Kwi-liong-san untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Ci-bun, dimana Tan Kiok Nio tinggal mondok dirumah pamannya, yaitu Hartawan The Kun.

Ketika tiba di kota Ci-bun, Si Kong langsung saja menuju ke rumah Hartawan The Kun.

Hari masih pagi, akan tetapi didepan rumah keluarga hartawan itu sudah menunggu banyak pengemis besar kecil laki perempuan.

Setiap hari rumah itu pasti didatangi para pengemis yang minta sumbangan dan tak pernah mereka pergi dengan tangan kosong.

Melihat ini, Si Kong mengangguk-angguk dan tersenyum senang.

Kalau semua hartawan di dunia ini bermurah hati seperti hartawan The Kun, akan berkuranglah kesengsaraan di dunia.

Hartawan The Kun bahkan merupakan sumber kehidupan bagi banyak orang di waktu musim panen gagal.

Dia membuka tangannya untuk memberi atau menyumbang, bahkan yang memerlukan sesuatu dapat meminjam darinya tanpa bunga.

Ketika Si Kong memasuki pekarangan, seorang tukang kebun yang sedang menyapu di pekarangan itu menyambutnya dan tukang kebun ini bertanya ramah.

"Kongcu mencari siapakah dan ada keperluan apa datang berkunjung? Si Kong tersenyum pula. Kalau majikannya murah hati, tak mungkin pembantu-pembantunya galak dan sombong. Tukang kebun inipun ramah dan hormat sekali.

"Maafkan kalau aku mengganggu, paman. Aku ingin bertemu dengan The-wan-gwe. Dapatkah paman melaporkan ke dalam?"

"Kalau kedatangan kongcu mengenai urusan sumbangan, sebaiknya kongcu menanti sebentar,"

Kata tukang kebun itu dengan sikap ramah dan halus.

"Ah, tidak, paman. Aku mempunyai urusan lain yang amat penting dengan The-wan-gwe."

"Kalau begitu harap tunggu sebentar, biar kulaporkan ke dalam."

Tukang kebun itu melepaskan sapunya lalu melangkah memasuki rumah besar itu.

Tak lama kemudian tukang kebun itu sudah keluar bersama seorang kakek yang di kenal Si Kong sebagai The-wan-gwe.

Si Kong segera memberi hormat kepada hartawan itu.

"Engkau siapakah orang muda dan ada keperluan apakah ingin bertemu dengan aku?"

Kakek itu memandang wajah Si Kong dengan penuh selidik. Si Kong tersenyum.

"Apakah The-wan-gwe sudah lupa kepadaku? Aku pernah membantu membagi-bagi beras di sini."

Si Kong mengingatkan dan hartawan itu segera teringat.

"Ah, kiranya engkau, Si Kong...! Aku, aku sudah tua dan menjadi pelupa. Mari masuk, kita bicara di dalam!"

Hartawan itu menawarkan dengan sikap ramah sekali.

"Baik, loya (tuan tua) dan terima kasih."

"Ha-ha-ha, engkau jangan menyebut loya kepadaku, cukup kau sebut paman saja. Bukankah manusia di dunia ini merupakan satu keluarga yang besar?"

Si Kong semakin kagum.

Orang tua ini melaksanakan ujar-ujar dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang yang hafal akan ujar-ujar bijaksana itu dan dapat menirukan dengan suara lantang dan indah.

"Di empat penjuru lautan, semua orang adalah saudara!"

Dan ada pula ujar-ujar yang berbunyi.

"Cintailah orang lain seperti kamu mencintai diri sendiri!"

Akan tetapi semua itu tinggal menjadi slogan belaka.

Kalau dengan saudara sendiri saja sudah bertengkar, bagaimana dapat menganggap manusia di empat penjuru sebagai saudara?

Kalau kepada saudara sendiri saja kita tidak dapat mengasihi, bagaimana mungkin mencintai orang lain?

Akan tetapi The-wan-gwe agaknya melaksanakan segala pelajaran yang bijaksana itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dia, yang dulu pernah bekerja kepada hartawan itu, kini diterima sebagai anggota keluarga!

Setelah tiba di ruangan tamu, dengan sikap ramah Hartawan The mempersilakan Si Kong duduk.

Mereka duduk berhadapan dan hartawan itu bertanya.

"Bantuan apakah yang dapat kami berikan kepadamu Si Kong?"

Si Kong tersenyum.

Baru pertanyaan itu saja sudah menunjukkan sikap yang murah hati dari hartawan itu.

"Sebetulnya saya tidak mempunyai keperluan apapun dengan paman The, melainkan dengan nona Tan Kiok Nio. Akan tetapi rasanya tidak pantas kalau saya minta tolong kepada tukang kebun tadi untuk memanggilkan nona itu."

Hartawan The tersenyum lebar.

"Kiok Nio? Dia berada di dalam. Tentu akan merasa heran mendengar engkau berkunjung kepadanya."

Untuk menghilangkan prasangka yang bukan-bukan Si Kong cepat berkata.

"Dalam pertemuan antara kami dahulu, nona Tan Kiok Nio minta kepadaku untuk menyelidiki tentang pembunuh Ayahnya dan pencuri pedang pusaka milik Ayahnya."

"Ah, itukah? Dan engkau telah berhasil?"

Si Kong mengangguk dengan wajah berseri.

"Bagus!"

Kata hartawan itu.

"Kiok Nio tentu akan senang sekali mendengarnya! Kau tunggu sebentar, aku akan memanggilnya untuk menemui engkau disini!"

Hartawan itu lalu masuk kedalam dan Si Kong menanti di atas kursinya.

Tak lama dia menanti.

Bunyi langkah kaki yang halus terdengar dan dia memandang ke arah pintu sebelah dalam.

Muncullan Tan Kiok Nio, gadis yang cantik manis itu.

Dengan pandang mata penuh harapan gadis itu menghampiri Si Kong.

Pemuda ini segera bangkit untuk memberi hormat.

"Tan-siocia...,"

Katanya lembut.

"Ah, Si-Taihiap. Engkau sudah datang? Dan bagaimana dengan pembunuh itu?"

"Harap nona suka duduk. Ceritanya agak panjang, akan tetapi aku telah berhasil menemukan pembunuh itu dan membawa pedang Pek-lui-kiam untuk dikembalikan kepadamu. Nah, terimalah pedang ini, nona Tan Kiok Nio."

Si Kong menjulurkan tangan memberikan pedang itu.

Melihat pedang itu, Tan Kiok Nio menerimanya lalu mendekap pedang itu dengan kedua mata basah.

Akan tetapi ia tidak menangis dan menelan kembali tangisnya.

"Terima kasih, Taihiap. Akan tetapi bagaimana ceritanya sampai engkau dapat menemukan kembali pedang ini dan bagaimana pula dengan pembunuh itu? Siapakah dia?"

"Pembunuh itu berjuluk Ang I Sianjin ketua Kwi-jiauw-pang di Kwi-liong-san. Akan tetapi dia telah tewas dan beruntung sekali aku dapat berhasil merampas pedang pusaka milik Ayahmu ini. Ceritanya panjang, nona."

"Ceritakanlah, Taihiap!"

Si Kong lalu menceritakan pengalamannya sehingga Ang I Sianjin sampai tewas dan pedang itu dapat dirampasnya.

Tentu saja dia hanya menceritakan garis besarnya saja yang ada hubungannya dengan Ang I Sianjin dan pedang Pek-lui-kiam.

"Demikianlah, nona."

Si Kong mengakhiri ceritanya.

"Pedang Pek-lui-kiam yang diperebutkan orang itu akhirnya dapat kurampas kembali dan aku segera ke sini untuk menyerahkannya kepadamu."

Kiok Nio kini tidak dapat menahan keharuan hatinya.

Ia mendekap pedang itu sambil menangis dan terdengar ia berkata seperti berdoa.

"Ayah... Ibu... tenang-tenanglah Ayah ibu beristirahat di alam baka. Pembunuh Ayah ibu telah terbalas, dan pedang Pek-lui-kiam telah dikembalikan kepadaku..."

Pada saat itu hartawan The memasuki ruangan tamu dan melihat keponakannya menangis sambil mendekap pedang, dia bertanya.

"Heii, pedang itukah milik Ayahmu? Sekarang sudah kembali, mengapa engkau menangis, Kiok Nio?"

Kiok Nio menghapus air matanya.

"Aku... aku terharu, paman. Pembunuh Ayah ibu sudah dapat ditewaskan dan pedang Ayah dapat dikembalikan!"

"Hemm, sepatutnya engkau bersyukur dan berterima kasih kepada Si Kong, bukan malah menangis."

Kiok Nio kini memandang kepada Si Kong dengan mata kemerahan bekas tangisnya.

"Terima kasih, Taihiap..."

Dan ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Si Kong.

Pemuda itu terkejut dan cepat dia pun berlutut.

"Jangan begini nona. Sebetulnya tanpa bantuan banyak pendekar lainnya, belum tentu aku akan dapat merampas pedang ini. Bangkitlah, nona."

Kiok Nio bangkit dan Si Kong juga bangkit berdiri.

Mereka berdiri berhadapan dan Kiok Nio berkata dengan suara gemetar.

"Taihiap, engkau terimalah pedang pusaka ini!"

Ia menyerahkan pedang dan dengan bingung Si Kong terpaksa menerimanya karena pedang itu dilepaskan dari pegangan Kiok Nio.

"Tapi, pusaka ini harus kembali kepada yang berhak, nona. Tidak dapat aku menerimanya! Yang berhak memiliki adalah engkau, nona."

"Tidak, bukan aku yang berhak, melainkan engkau, Si-Taihiap. Ketahuilah bahwa dulu pernah Ayah memberi tahu kepadaku pemilik sesungguhnya dari pusaka ini adalah seorang sakti bernama Pek In Losian yang tinggal di Pulau Bayangan. Aku tidak berhak menyimpannya, dan karena engkau yang dapat merampasnya dari Ang I Sianjin, maka engkaulah yang berhak memilikinya. Sekali lagi terima kasih, Taihiap. Sampai mati aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini."

Gadis itu terisak lalu berlari masuk.

Si Kong masih memegang pedang itu dengan kedua tangannya dan termenung, tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Ha-ha-ha!"

The-wan-gwe tertawa.

"Tidak tahukah engkau, Si Kong, mengapa Kiok Nio berlari masuk sambil menangis?"

"Saya... saya tidak mengerti, paman."

"Si Kong, berapakah usiamu sekarang ini?"

"Dua puluh satu atau dua puluh dua, paman. Mengapa?"

"Dan engkau belum terikat, maksudku belum menikah atau bertunangan?"

Tanya Hartawan The Kun tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.

"Belum,"

Si Kong menggeleng kepalanya dengan bingung.

"Bagus sekali! Sudah cocok kalau begitu, Kiok Nio berusia sembilan belas tahun dan iapun belum mempunyai calon suami. Si Kong, kami sekeluarga akan merasa berbahagia sekali kalau engkau dan Kiok Nio dapat menjadi jodoh masing-masing."

Si Kong terbelalak.

"Ah, mana mungkin? Aku... aku seorang yatim piatu..."

"Sama dengan Kiok Nio. Dengar, Si Kong. Aku tidak mempunyai anak dan Kiok Nio sudah kami anggap anak sendiri. Aku sudah tua, malas berusaha. Kalau engkau menjadi suami Kiok Nio, kalian akan mewarisi seluruh hartaku dan engkau dapat melanjutkan usahaku."

Tapi..., tapi..."

"Tidak ada tapi, Si Kong. Kiok Nio pasti setuju. Ketika ia berlari masuk sambil menangis, aku sudah tahu. Karena itulah maka ia menyerahkan pedang pusaka Ayahnya kepadamu. Anggaplah itu sebagai tanda pengikat perjodohan, ha-ha-ha!"

Hartawan The Kun tertawa girang sekali karena dia tidak melihat alasan bagi Si Kong untuk menolak perjogohan itu.

Kiok Nio cantik sekali, berilmu tinggi, dan menjadi pewaris hartawan itu pula.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan kecewa hatinya ketika Si Kong berkata dengan suara tegas.

"Tidak, paman. Maafkanlah aku. Aku merasa amat terhormat sekali akan penawaranmu, akan tetapi, aku tidak dapat menerimanya. Aku sama sekali belum mempunyai keinginan untuk berjodoh. Aku masih hendak berkelana, aku mendengar keterangan nona Kiok Nio tadi, aku hendak mengembalikan pedang pusaka ini kepada yang berhak, yaitu pemiliknya yang berjuluk Pek In Losian di Pulau Bayangan itu."

"Si Kong, jangan mengecewakan hatiku. Aku sungguh berharap engkau akan menerima tali perjodohan ini!"

"Maafkan kalau aku mengecewakan hatimu, paman. Akan tetapi perjodohan adalah urusan hati pribadi, tidak mungkin dapat dipaksakan. Selamat tinggal, paman!"

Si Kong melangkah keluar dengan cepat.

Ketika dia tiba dipekarangan, ada sesuatu yang memaksa dia menoleh dan memandang ke atas.

Dan disana, di jendela loteng yang menghadap ke pekarangan, dia melihat Kiok Nio memandang kepadanya dengan air mata mengalir dari kedua matanya.

Ada rasa haru menusuk hatinya.

Akan tetapi dia mengeraskan hatinya dan melanjutkan langkahnya, keluar dari pekarangan rumah Hartawan The Kun, terus keluar dari kota Ci-bun!

Setelah tiba diluar kota Ci-bun, dia merasa hatinya ringan dan bebas.

Dia memang ingin bebas, tidak terikat.

Dia ingin menjadi pengelana, menjelajahi banyak tempat, bertemu dengan pengalaman-pengalaman baru.

Sampai disini tamatlah kisah Si Pendekar Kelana dan kita bersua kembali di lain kisah pengalaman Si Pendekar Kelana Si Kong!

semoga kisah ini ada manfaatnya bagi para pembaca.

TAMAT

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 10

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert