Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pedang Pelangi 9

Eps 9 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono

Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.

Justru Liu Wan dan Souw Hong Lam yang diam-diam masih sibuk memikirkan peristiwa kemarin.

Semalaman dua orang itu memeras otak untuk mengetahui cara bagaimana A Liong meloloskan diri dari pisau terbang Tiau Hek Hoa!

Dan dari mana munculnya pedang pendek yang sarungnya tampak kuno itu?

Benarkah pedang tersebut milik A Liong?

Tapi sejak kapan pemuda itu mengeluarkannya?

"Pemuda itu hanya menggeliatkan i.

pinggangnya.

Kedua tangannya sama sekali tak ada kesempatan untuk menangkis ataupun menghindarkan diri.

Apalagi harus mencabut senjata."

Souw Hong Lam tak habis pikir.

Sebaliknya, selain berpikir tentang hal itu, Liu Wan juga mulai curiga kepada Tiau Hek Hoa.

Pemuda yang sedang menyamar sebagai tabib tua itu, merasa pernah melihat gerakan melempar pisau Tiau Hek Hoa.

Tapi dia tidak dapat mengingatnya lagi.

Air sungai Huang-ho mengalir dengan tenang.

Begitu tenang dan luasnya sehingga orang sulit menduga, berapa dalam dasar sungai itu.

Sinar matahari menyorot menembus kabut dan mulai menggapai ujung layar mereka.

"Lihat...! Indah sekali! Sedemikian banyaknya perahu berlayar di sungai ini, sehingga dari jauh seperti barisan semut yang sedang berbaris menuju ke liangnya."

Liu Wan yang suka keindahan alam itu mulai berpantun.

Souw Hong Lam tersenyum.

Perlahan-lahan tangannya mengambil suling dari balik, mantelnya, kemudian meniupnya dengan halus.

Suaranya mengalun panjang, semakin lama semakin nyaring.

Dan Liu Wanpun tak tahan untuk tidak bernyanyi.

Walaupun harus membuat suaranya seolah-olah sedikit serak, tapi nyanyiannya terasa sedap didengar telinga.

A Liong mengetuk-ngetukkan jarinya di pagar perahu.

Meskipun tidak mengerti irama, apalagi soal pantun dan musik, namun pemuda itu bisa merasakan kenikmatan lagunya.

Hanya Tiau Hek Hoa yang masih tetap diam di tempatnya.

Air mukanya juga masih gelap, sementara bibirnya yang hitam itu tetap merengut pula.

"Awan berarak ke selatan, Mengalir ke Bukit Kun-lun, Menebar pasir dari Gurun Gobi, Merata bagai tikar dari Parsi."

Para penumpang perahu yang lainpun kelihatan menikmati pula alunan suara suling dan nyanyian Liu Wan.

Beberapa orang nelayan sampai melongokkan kepalanya ke arah mereka.

Sebuah perahu mendekati mereka.

Seorang kakek tinggi kurus dengan rambut putih menganggukkan kepalanya ke arah mereka.

Kakek itu memegang sebatang suling pula.

"Tiupan sulingmu sungguh bagus, Anak muda. Bolehkah Lohu turut menyema-rakkannya?"

Tiba-tiba terdengar suara halus di telinga mereka.

Suara yang di dorong oleh tenaga dalam yang sangat tinggi.

Meskipun kaget, Souw Hong Lam tidak menolaknya.

Sambil mengangguk pemuda itu mulai meniup sulingnya lebih keras lagi.

Kali ini nadanya tambah renyah dan gembira.

Ternyata kakek berambut putih itu tidak mau kalah pula.

Dengan nada tinggi sulingnya mengikuti irama Souw Hong Lam.

Nada dan suaranya terasa serasi dan nyaman di telinga, membuat duet seruling mereka terdengar nikmat dan menyenangkan.

Akhirnya perahu kakek berambut putih itu berendeng dengan perahu mereka.

"Bukan main...! saudara masih muda, tapi suara sulingmu sudah mampu menggetarkan awan di langit! Bukan main! saudara muda, bolehkah Lohu yang tua ini mengenal namamu?"

Souw Hong Lam menggosok-gosok sulingnya dengan ujung bajunya.

"Siauwte bernama... souw Hong Lam, Lo-Cianpwe. Maaf, siauwte juga belum mengenal Lo-Cianpwe pula..."

Mata yang tajam berkilat tegun sebentar, lalu kembali seperti semula.

"Hohoho, Lohu tidak pernah menginjak daerah biasa berkeliaran di sepanjang pantai timur Propinsi Shantung. Lohu bernama Kwe Tiong Li..."

"Kwe Tiong Li...?"

Liu Wan berdesah kaget. Nama itu sangat terkenal puluhan tahun lalu. Sebuah nama yang dikaitkan dengan julukan yang menyedihkan. Keh-sim Taihiap atau Pendekar Patah Hati...

"Ciok Sinshe mengenal namanya?"

A Liong bertanya ketika melihat kegugupan Liu Wan.

"Yah! Dia seorang pendekar ternama yang kemudian mengasingkan diri di Pulau Meng-to. Lohu juga kenal puteranya yang gagah perkasa, Kwe Tek Hun. Tapi beberapa tahun yang lalu Keh-sim Taihiap dikhabarkan pergi ke Pondok Pelangi. Entah benar atau tidak."

"Oh, jadi beliAu-yang bernama Keh-sim Taihiap?"

A Liong tersentak kaget.

"Kau pernah mendengar namanya?"

A Liong tidak menjawab.

Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menatap orang tua gagah itu tanpa berkedip.

Ternyata bukan hanya Liu Wan dan A Liong yang terkejut mendengar nama Kwe Tiong Li.

Souw Hong Lampun ternyata juga kaget pula.

Terbukti matanya yang tajam itu terbelalak lebar.

"Ah, Kwe Taihiap rupanya. Nama Lo-Cianpwe terkenal di mana-mana. Setiap orang kang-ouw tentu mengenalnya. Sayang siauwte baru dapat bertemu sekarang..."

Souw Hong Lam berkata sambil memberi hormat.

"Ah, sudah lama Lohu mengasingkan diri. Sungguh tidak kusangka kini banyak tumbuh jago-jago muda di kalangan persilatan. Dan caramu meniup suling mengingatkan aku kepada seseorang. Hmmm, apakah saudara mempunyai hubungan darah dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai?"

Sekali lagi Souw Hong Lam terkejut. Orang tua itu benar-benar awas dan lihai sekali. Hanya dengan mendengarkan caranya meniup suling, dia sudah dapat menebak asal usulnya.

"B-benar, Locianpj^. BSirfute#nlemaflg masih mempunyai pertalian darah dengan Souw Taihiap. Sayang sekali siauwte jarang dapat berjumpa dengan beliau."

"Benarkah? Oh, ternyata masih baik juga telingaku ini."

Aliran sungai itu mulai mendekati belokan yang tajam.

Arus juga mulai terasa kuat menggoyang perahu mereka.

Liu Wan yang sedianya hendak memperkenalkan diri menjadi batal.

Dengan tangkas pemuda itu meraih dayung untuk ikut menjaga.

keseimbangan perahu.

"Tiau Lihiap! saudara A Liong! Awas...! Jangan sampai perahu kita bersenggolan dengan perahu Kwe Taihiap! Ombak sungai ini dapat menenggelamkan perahu yang saling berbenturan!"

Liu Wan berteriak sambil membelokkan kemudinya.

"Benar! Kita tidak boleh terlalu berdekatan!"

Kwe Tiong Li berseru pula dari atas perahunya.

Dan kakek gagah itu bergegas mengayunkan dayungnya ke dalam air.

A Liong, Tiau Hek Hoa dan Souw Hong Lam bekerja sama mengendalikan perahu.

Dengan kesaktian mereka, perahu itu mudah saja mereka kuasai.

Terutama A Liong.

Pemuda itu telah terbiasa mengarungi lautan ganas hanya dengan sampan kecil dari tulang ikan hiu.

Baginya, ayunan ombak sungai itu belum seberapa bila dibandingkan dengan keganasan arus Pusaran Maut di Laut Utara!

Apabila kawan-kawannya tampak tegang dalam usaha melawan ombak arus sungai, maka tidak demikian dengan"

ALiong.

Pemuda itu kelihatan tenang saja berdiri di ujung perahu.

Matanya tak pernah lepas dari arus air di bawahnya.

Sebentar-sebentar dayungnya dihentakkan ke dalam air untuk menggeser arah perahu.

Tak seorangpun menyadari perbuatan A Liong.

Semuanya baru sadar setelah beberapa kali perahu mereka lolos dari terjangan ombak.

Setiap arus datang dari samping, tahu-tahu ujung perahu mereka telah berbalik menyongsong arus.

Mereka baru sadar bahwa semua itu adalah hasil perbuatan A Liong!

"Ooooiiii...!

Anak muda!

kau sungguh hebat...!"

Kwee Tiong Li berseru dari perahunya.

Suaranya tertelan oleh deru angin dan ombak.

Kakek tua yang sudah terbiasa mengarungi lautan itu gampang saja mengendalikan perahunya.

Perahu-perahu yang lain bergulat pula seperti mereka.

Walaupun sulit tapi tak sebuah perahupun yang terbalik atau tenggelam.

Semua orang memang sudah tahu keganasan tempat itu, sehingga merekapun telah berjaga-jaga sebelumnya.

Hanya orang yang pandai mengemudikan perahu, berani melewati tikungan tersebut.

Selepas dari tikungan itu aliran sungai kembali bergelombang seperti biasa.

Hanya arusnya saja yang masih terasa deras.

Tetapi sebagai gantinya deru angin bercampur debu mulai terasa meniup dari arah utara.

"Di manakah perahu Kwe Taihiap tadi?"

Liu Wan melongok kesana-kemari, tapi perahu yang dimaksud sudah tak kelihatan lagi.

"Perahunya lebih kecil. Mungkin sudah meluncur lebih dulu."

A Liong menjawab.

"Eh, lihat...! Orang-orang itu seperti mau berpindah. Apakah mereka juga mau mengungsi seperti penduduk di sepanjang Tembok Besar?"

Tiba-tiba Souw Hong Lam mengacungkan tangannya ke daratan.

"Benar. Tampaknya pasukan Mo Tan sudah ada yang menyusup sampai ke daerah ini. Gawat! Sungguh gawat!"

Liu Wan berdesah cemas.

A Liong yang tidak begitu paham soal negara hanya diam saja di tempatnya.

Dia yang sejak kecil hidup menderita di kolong-kolong jembatan, tak begitu acuh pada persoalan-persoalan pemerintahan.

Ia hanya tahu, peperangan membuat kehidupan menjadi sulit.

Terutama bagi rakyat kecil.

Di masa perang seorang pengemispun akan sulit mencari sisa-sisa makanan.

Dia sendiri pernah mengalaminya.

"Heran. Mengapa orang suka benar berperang?"

Tak terasa pemuda itu bergumam perlahan.

"Ciok Sinshe! Kita harus lekas-lekas membebaskan Yap Tai-Ciangkun! Kita tidak boleh terlambat!"

Souw Hong Lam berkata.

"Benar, Hian-te. Marilah...!"

Mereka semakin bersemangat mendayung perahu.

Beberapa kali mereka melewati dusun-dusun kecil yang sudah ditinggalkan penghuninya.

Seharian mereka mendayung perahu tanpa mengenal lelah.

Terik matahari tidak menghalangi semangat mereka.

Apalagi kalau mereka menyaksikan para penduduk yang berbondong-bondong meninggalkan sawah ladangnya.

"Eh, Lo-Cianpwe. Rasa-rasanya orang di perahu itu selalu mengawasi kita. Mencurigakan benar..."

Tiba-tiba A Liong menggamit Liu Wan.

"Perahu mana...?"

"Empat perahu besar di belakang kita itu! Seharusnya perahu mereka lebih cepat dari perahu ini. Layar mereka juga lebih besar dan lebih lebar. Tapi, tampaknya mereka memang sengaja tidak memasang layar sepenuhnya. Mereka memang memperlambat perahu mereka."

"O, perahu itu! Apakah mereka bukan pengungsi pula? Hemmm, jangan-jangan mereka malah mencurigai kita. Siapa tahu mereka justru menganggap kita perampok?"

Souw Hong Lam yang ikut mendengar percakapan mereka tertawa lirih.

"Benar. Dalam keadaan seperti ini, setiap orang tentu akan saling curiga-mencurigai. Sulit untuk menentukan, siapa kawan siapa lawan."

Sekonyong-konyong Tiau Hek Hoa mendengus. A Liong tertawa lebar.

"Ah, aku hanya omong sekenanya saja. kau juga tak perlu marah-marah."

"Siapa yang marah? Marahpun juga percuma melihat tampangmu yang bodoh seperti kerbau ini!"

"Nah! Nah...! Kalau tidak merasa marah, jangan mengumpat-umpat begitu! Tenang saja...!"

A Liong yang tidak mudah marah itu tersenyum menggoda.

"Bangsat kecil...!"

Tiau Hek Hoa menjerit. Mendadak kedua tangannya terayun ke depan.

"Sing! Sing! Sing!"

Belasan buah paku kecil melesat ke tubuh A Liong. Semuanya menuju ke jalan darah kematian! "Tiau Lihiap!"

Liu Wan berseru.

Begitu pula dengan Souw Hong Lam.

Serang-flm itu sungguh amat ganas dan keji.

Sama sekali tidak memberi kesempatan atau peringatan kepada lawannya.

Perahu itu tidak begitu besar.

Paling-paling hanya dua tombak panjangnya, sehingga jarak antara Tiau Hek Hoa dan A Liong juga tidak lebih dari sepanjang dua lengan mereka.

Maka dapat dibayangkan bahwa serangan paku itu tidak mungkin dapat dihindari lagi.

Kalaupun A Liong sempat menangkis, maka tak mungkin dapat ditangkis semuanya.

"Gila...!"

A Liong mengumpat lirih. Kemudian dengan gerakan yang mentakjubkan, tubuh pemuda itu meliuk ke kanan dan ke kiri sambil menggeser ke samping, sehingga badannya yang kekar itu terperosok keluar perahu.

"A Liong...!??"

Souw Hong Lam yang berada di dekat pemuda itu berteriak kaget. Bergegas ia melongok ke bawah.

"Bagaimana...?"

Liu Wan ikut melongok ke bawah pula.

"Heran. Tidak terdengar suara dia tercebur air."

"Ciok Sinshe, aku di sini! Jangan khawatir, aku tidak apa-apa..."

Tiba-tiba terdengar suara A Liong di buritan. Pemuda itu baru saja mengangkat kakinya dari pagar perahu.

"Kau...?!?"

Tiau Hek Hoa memekik dan siap menyerang kembali.

"Aduh, tahaaaan! Kenapa sebenarnya kalian ini?"

Liu Wan cepat melerai di tengah-tengah mereka.

"Ciok Lo-Cianpwe, menyingkirlah! Akan kubunuh kerbau dungu ini!"

Tiau Hek Hoa menggeram. Sebaliknya A Liong tetap bersikap tenang.

"Aku sudah dua kali bersikap sabar kepadamu. Tapi kesabaran orang tentu ada batasnya. Terserah kepadamu. Yang jelas aku tidak takut pada wajah hitammu itu. Dari harap kau ketahui juga, bahwa kau tidak akan mudah mengalahkan aku. Sebaliknya, aku justru mempunyai kesempatanku lebih banyak untuk mengalahkanmu. Mau coba?"

"Kau menantang aku?"

Wajah hitam itu semakin kelam.

"Sudahlah! Kalian ini mau melanjutkan perjalanan kita atau tidak? Kalau tidak, silakan turun dari perahu! Lohu dan saudara Souw akan berangkat sendiri! Marilah, saudara Souw... Kita turunkan mereka ke pinggir! Kita berdua saja!"

Liu Wan berseru marah.

"Baik, Lo-Cianpwe..."

Souw Hong Lam mengangguk. Tiba-tiba A Liong mengangkat tangannya.

"Maaf, Ciok Sinshe. Aku mengaku salah. Tak kusangka tadi membuat marah Nona Tiau. Biarlah aku meminta maaf kepadanya."

Dan pemuda pendekar itu benar-benar membungkuk di depan lawannya.

Liu Wan dan Souw Hong Lam tercengang.

Bagi mereka A Liong sebenarnya tidak bersalah.

Justru Tiau Hek Hoa yang mereka anggap keterlaluan.

Gadis itu yang seharusnya meminta maaf kepada A Liong.

Tiau Hek Hoa membuang muka.

Tapi keinginan untuk berkelahi sudah tidak ada.

Ternyata pada saat yang tepat pikiran sehatnya telah muncul kembali.

Dia ingat tugas yang diberikan oleh ayahnya.

Bersama Mo Hou, dia ditugaskan untuk mengawasi gerakan para tokoh persilatan di daerah Tionggoan.

Kebetulan dalam perjalanan mereka di Tai-bong-sui, mereka mencium berita tentang pertemuan para pendekar persilatan daerah utara.

Dan secara kebetulan pula mereka mendengar rencana pembebasan Panglima Yap Kim.

Mereka lalu membagi tugas.

Mo Goat menyusup di antara para pendekar sebagai Tiau Hek Hoa, sementara Mo Hou melindunginya dari kejauhan.

Panglima Yap Kim memang sangat disegani Mo Tan.

Beberapa kali raja suku bangsa Hun itu menelan kekalahan bila berperang melawan pasukan Yap Kim.

Oleh karena itu Mo Hou bersama Mo Goat harus dapat menggagalkan rencana pembebasan itu.

Bahkan kalau dapat, mereka harus bisa melenyapkan panglima perang yang tersohor itu.

Semakin ke timur, suasana perang semakin terasa panas.

Pasukan Mo Tan yang dipimpin oleh Panglima Yeh Sui, tampaknya sudah tidak main kucing-kucingan lagi.

Kelihatannya pasukan itu sudah mulai menyerang dengan terang-terangan.

Dan kemungkinan besar pasu-kan itu sudah bertemu dengan pasukan Ciang Kwan Sit, sehingga pasukan Au-yang Goanswe yang sedianya akan menangkap Pangeran Liu Wan Ti itu berhadapan dengan mereka.

Pertempuran dahsyat tak bisa dielakkan lagi.

Korban berjatuhan.

Pasukan Han sebenarnya lebih banyak dan lebih lengkap peralatannya, tapi semangat tempur mereka ternyata tidak setinggi pasukan Mo Tan.

Pasukan Ciang Kwan Sit yang telah terbiasa hidup enak itu segera kocar-kacir dilanda pasukan Yeh Sui.

Akibatnya dapat diduga.

Kekalahan itu membuat penduduk di sekitar daerah pertempuran menjadi kalang-kabut.

Mereka menerima perlakuan kasar dari pasukan Mo Tan.

Seperti halnya negeri yang kalah perang, tempat itu dijarah rayah oleh pemenangnya.

Benar juga.

Berita tentang pertempuran itu segera mereka dengar dari para pengungsi.

Bahkan diberitakan pula bahwa Panglima Ciang Kwan Sit terbunuh dalam pertempuran itu.

"Celaka! Sekarang di Kotaraja tidak ada panglima perang yang pandai. Semua jendral yang setia kepada Panglima Yap Kim telah dibuang atau dipenjarakan. Bagaimana mungkin negeri ini dapat mempertahankan diri? Ah! Mo Tan sungguh pintar dan licik! Bertahun-tahun dia telah mempersiapkan penyerangan ini..."

Liu Wan bergumam perlahan.

Suaranya gemetar mencerminkan kegelisahan hati.

* * * Sementara itu Chin Tong Sia yang terkurung di ruang bawah tanah, terkejut sekali ketika siuman dari pingsannya.

Sepasang kaki dan tangannya terikat rantai besi.

Dan dia tidak tahu di mana dia berada.

Ruangan luas itu hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak di pojok ruangan.

Dan sinarnya yang lemah hanya mampu menggapai meja"

Kecil tempat ia diletakkan.

"Anak muda...? Engkau siapa? Apakah kau juga ditangkap oleh Liok-kui-tin?"

Tiba-tiba terdengar suara berat dari pojok ruangan.

Chin Tong Sia berpaling kaget.

Tapi sinar lampu terlalu lemah untuk mencapai tempat itu, sehingga matanya tak mampu melihat siapa yang berbicara.

Matanya hanya mampu menangkap dua sosok bayangan kehitaman.

"Aku... eh, kau... siapa?"

Pemuda itu balik bertanya. Otomatis kaki tangannya bersiaga.

"Aku bernama Souw Thian Hai. Ini isteriku... Kami berdua juga ditawan oleh pengawal Raja Mo Tan itu."

"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai?"

Terdengar gemerincing suara rantai ketika pendekar ternama itu mendekati Chin Tong Sia.

Dan sesaat kemudian terlihatlah bayangannya di keremangan lampu.

Pendekar itu datang bersama Chu Bwe Hong, isterinya.

Mereka masih tampak kuat dan bersemangat walaupun rambutnya telah memutih.

Meski sudah sering melihat dan mendengar namanya, tapi baru sekali inilah Chin Tong Sia berhadapan langsung dengan Souw Thian Hai dan isterinya.

"Lo-Cianpwe, seorang pemuda yang katanya masih keluarga dan mencarimu. Namanya Souw Hong Lam. Sekarang dia juga ada di kota ini. Kami bersama beberapa teman bermaksud pergi ke suatu tempat. Sayang aku terperangkap di sini..."

Souw Thian Hai memandang Chu Bwe Hong. Dahinya berkerut.

"Souw Hong Lam...? Siapakah dia? Rasanya tak ada nama itu di keluarga Souw kami. Berapakah usianya?"

Chu Bwe Hong berbisik sambil tetap mengawasi suaminya.

"Masih muda. Mungkin empat atau lima tahun lebih muda dariku. Tinggi langsing dan ganteng."

Souw Thian Hai menggeleng lemah.

"Sudahlah, nanti kalau sempat bertemu, tentu akan saling mengenal. Sekarang kita pikirkan dulu keadaan kita. Emmm, kau tadi belum menyebutkan namamu."

"Namaku Put-tong-sia, dari Beng-kauw..."

Terdengar jerit lirih dari bibir Chu Bwee Hong yang masih menatap wajah Chin Tong Sia seperti melihat hantu.

"Kau... Kau putera Put-ceng-li Lojin?"

Souw Thian Hai bertanya dengan suara sedikit gemetar. Sekejap Chin Tong Sia menjadi gugup. Sikap suami-isteri ternama itu tiba-tiba terasa aneh. Mereka kelihatan kaget sekali ketika mendengar namanya.

"Benar, Lo-Cianpwe. Aku memang putera mendiang Put-ceng-li Lojin. Mengapa Lo-Cianpwe kelihatan kaget?"

Souw Thian Hai memandang isterinya dan tiba-tiba wanita cantik itu menubruk serta menangis di dadanya.

Tentu saja Chin Tong Sia semakin bingung.

Sambil mengelus rambut isterinya, Souw Thian Hai berpaling kepada Chin Tong Sia.

"Tapi, maaf... Kami... Kami tidak pernah tahu kalau Put-ceng-li Lojin sudah pernah menikah. Sejak kami saling mengenal, orang tua itu selalu sendirian."

Chin Tong Sia menghela napas panjang. Wajahnya kelihatan sedih.

"Menurut penuturan Ayah, Ibu meninggal pada saat melahirkan aku. Dan Ayah tidak pernah kawin lagi..."

Tak terduga Chu Bwe Hong semakin terisak-isak.

"Jadi kau belum pernah melihat wajah Ibumu? Apakah Put-ceng-li Lojin juga tidak pernah bercerita tentang Ibumu?"

Souw Thian Hai bertanya seolah tak percaya.

Chin Tong Sia menatap wajah pendekar ternama itu lekat-lekat.

Ada perasaan tidak enak di hatinya.

Orang tua itu menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi baginya.

Dan kebetulan pula mengenai masalah yang kurang begitu disukainya.

Tapi wajah pendekar tua itu kelihatan bersungguh-sungguh.

Bahkan kulit mukanya tampak pucat dan serba salah.

Chin Tong Sia menggelengkan kepalanya.

"Apakah... Lo-Cianpwe mengenal Ibuku?"

Souw Thian Hai menepuk punggung isterinya.

"Sudahlah, Put-ceng-li Lojin memang seorang lelaki sejati. Meskipun pembawaannya seperti orang yang tidak beradab, tetapi ia seorang yang tahu memegang janji dan sumpahnya. Sekarang semuanya tergantung kepadamu. Apakah engkau sudah dapat menghapus kebencian itu?"

"Aku... aku, oh... entahlah."

Chin Tong Sia semakin tak mengerti.

Kelakuan sepasang pendekar ternama itu terasa sangat aneh baginya.

Mula-mula mereka kaget ketika mendengar nama dan asalnya.

Lalu isteri pendekar tua itu menangis terisak-isak setelah ia bercerita tentang ayah-ibunya.

"Lo-Cianpwe, apakah sebenarnya yang terjadi? Tampaknya Lo-Cianpwe berdua sangat mengenal Ayah-ibuku..."

Chu Bwe Hong semakin kuat tangisnya, sehingga Souw Thian Hai terpaksa membujuknya.

"Baiklah... Kau tidak usah memikirkannnya lagi kalau memang belum dapat melupakan peristiwa itu. Tapi kuminta kau jangan menyakiti hatinya. Bagaimanapun dia tidak bersalah. Dia tidak tahu apa-apa..."

Akhirnya Souw Thian Hai menghibur isterinya.

"Maaf, Lo-Cianpwe... aku menjadi bingung. Apa yang telah terjadi sebenarnya? Apakah ada sesuatu yang Lo-Cianpwe ketahui tentang kedua orang tuaku?"

Souw Thian Hai melepaskan pelukan isterinya melangkah mendekati Chin Tong Sia.

Pendekar itu lalu mengangkat tangannya dan menepuk pundak Chin Tong Sia, sehingga rantai besi yang terikat di pergelangan tangannya saling bergesekan dan menimbulkan suara gemerincing nyaring.

"Kau tidak perlu bingung. Kami berdua memang mempunyai sebuah rahasia besar tentang orang tuamu. Tapi sekarang belum saatnya rahasia itu dibeberkan. Aku berjanji, suatu saat kami berdua tentu akan memberitahukannya kepadamu. kau tidak usah khawatir..."

Souw Thian Hai berkata perlahan. Chin Tong Sia mengerutkan keningnya. Wajahnya kelihatan kecewa. Tapi dia memang tidak dapat memaksa.

"Chin Tong Sia bagaimana ceritanya sehingga kau berada di sini? Apakah orang-orang Mo Tan itu bermusuhan denganmu?"

Souw Thian Hai mengalihkan pembicaraan.

"Benar, Lo-Cianpwe. Semula aku tidak menyangka kalau mereka orang Hun. Tapi setelah pemuda yang berhadapan dengan aku itu menyebut dirinya putera Raja Mo Tan, baru aku sadar bahwa aku berhadapan dengan pasukan asing. Sayang jumlah mereka sangat banyak sehingga aku tak berdaya melawannya."

Souw Thian Hai mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Tak kusangka semuanya berubah dengan cepat sekali. Semenjak pengkhianatan Au-yang Goanswe itu berkuasa dan berhasil mempengaruhi Ibu Suri negeri ini benar-benar kacau."

Chin Tong Sia mengangkat wajahnya.

"Kudengar Lo-Cianpwe pergi ke Pondok Pelangi dalam lima tahun ini. Benarkah?"

Pendekar itu menatap Chin Tong Sia kemudian mengangguk. Lengannya yang masih kelihatan kokoh disilangkan di depan dadanya.

"Sebenarnya aku belum sampai di sana. Sulit sekali mencapai tempat itu. Utusan Pondok Pelangi yang membawa aku dan isteriku, ternyata juga tidak mampu pulang ke tempat tinggalnya. Mereka tak mampu mengatasi keganasan laut utara. Kami terdampar di sebuah pulau kecil yang hampir selalu diselumuti es."

"Khabarnya Kwe Taihiap dari Pulau Meng-to juga pergi ke Pondok Pelangi. Lo-Cianpwe bertemu dengan dia?"

"Tidak. Aku justru mengetahui hal itu setelah pulang dari sana. Mungkin utusan Pondok Pelangi yang membawa Kwe Taihiap justru dapat membawanya ke Pondok Pelangi. Aku belum sempat bertemu dengan Kwe Taihiap."

"Em, Lo-Cianpwe... Kudengar Utusan Pondok Pelangi itu sangat sakti. Benarkah?"

Souw Thian Hai menghela napas panjang. Terasa nada kecewa dalam suaranya.

"Benar. Selama hidupku baru sekali itu aku dikalahkan orang dengan amat mudahnya. Ilmu silat yang kupelajari selama ini bagaikan permainan anak kecil saja bagi mereka. Sungguh mentakjubkan..."

"Akh!"

Chin Tong Sia berdesah hampir tak-percaya.

Jago-jago silat ternama seperti Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dikalahkan orang dengan mudah?

"Untunglah mereka bukan orang-orang jahat.

Setelah bertahun-tahun tidak mampu kembali ke Pondok Pelangi, kami berdua diperbolehkan pulang.

Bahkan selama lima tahun itu mereka telah memberikan tambahan penjelasan tentang ilmu silat secara panjang lebaE."

"Begitu sulitkah mencari jalan ke Pondok Pelangi? Rasanya sangat aneh kalau orang tak mampu mencari jalan pulang ke rumah sendiri."

Souw Thian Hai tersenyum.

"Anak muda, kau memang belum menyaksikan sendiri kedahsyatan Laut Utara. Apabila kau sudah pernah ke tempat itu, kau baru akan percaya kata-kataku. Jadi bukannya mereka tak mampu mencari jalan pulang, tapi kedahsyatan alamlah yang menghalangi mereka untuk mencapai tempat tersebut."

"Oooh...?.!?"

Chin Tong Sia menarik napas panjang. (Lanjut ke

Jilid 24) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 24 Hening sejenak. Terdengar suara jengkerik di pojok ruangan.

"Ah, tampaknya hari sudah malam. Hong-moi, kau istirahatlah. Kita perlu banyak menyimpan tenaga untuk dapat keluar dari tempat ini."

Pendekar tua itu berkata kepada isterinya.

Chu Bwe Hong beringsut dan duduk kembali di dekat lampu.

Chin Tong Sia benar-benar kagum melihatnya.

Nenek itu tentu telah berusia lebih dari setengah abad, tapi wajah dan penampilannya masih kelihatan cantik dan anggun.

Coba kalau rambutnya yang putih itu dicat kembali dengan warna hitam, niscaya orang akan mengira kalau dia masih muda.

"Kudengar kesaktian suami-isteri ini sangat disegani di dunia persilatan. Bagaimana mungkin mereka dikalahkan oleh Mo Hou dan para pengawalnya itu?"

Chin Tong Sia berkata di dalam hatinya, seperti tahu apa yang dipikirkan Chin Tong Sia, pendekar itu bergumam perlahan.

"Sejak mendengarkan penjelasan tentang ilmu silat dari Utusan Pondok Pelangi, aku merasa ilmu silatku sudah jauh lebih baik lagi. Tapi dugaanku meleset. Ternyata ilmu silat orang lainpun dapat bertambah tinggi pula. Buktinya ilmu silat para pengawal Raja Mo Tan itu juga bertambah hebat pula dibandingkan dulu. Dua puluhan tahun yang lalu pernah kukalahkan. Kini ketika ilmuku sudah bertambah, mereka justru dapat mengalahkan aku."

"Tetapi... Mereka menang karena kau belum pulih dari lukamu. Coba kalau luka dalam akibat sabetan ekor ikan paus itu sudah sembuh, mungkin kau tidak akan dikalahkan oleh mereka."

Chu Bwe Hong menghibur suaminya. Chin Tong Sia terkesiap.

"Apakah yang Lo-Cianpwe maksudkan itu... Lok-kui-tin, pengawal Mo Hou?"

"Benar, selain sebagai pengawal keluarga raja, enam hantu itu sebenarnya adalah murid Ulan Kili, Pendeta Agung suku bangsa Hun. Sebelum menjadi Pendeta Agung, Ulan Kili bernama Bok Siang Ki, jago silat nomor dua di seluruh negeri ini. Seperempat abad yang lalu ia kabur keluar Tembok Besar, karena dikalahkan oleh Pangeran Liu yang kun. Maka kau jangan kaget kalau melihat murid-muridnya sangat lihai."

"Lo-Cianpwe benar. Kepandaian Lok-kui-tin memang benar-benar hebat. Saya juga tidak berdaya melawan mereka, walaupun dalam perkelahian tadi dapat kurobohkan tiga orang diantaranya!"

Souw Thian Hai terkejut.

"Kau dapat merobohkan tiga orang di antara mereka? Benarkah? Wah, ilmu silatmu tentu hebat sekali! Sungguh tidak kusangka Put-Ceng-li Lojin dapat mewariskan ilmunya kepadamu."

Tiba-tiba Chin Tong Sia menundukkan mukanya.

Pujian itu justru menyadarkannya.

Tidak seharusnya ia mengatakan seperti itu.

Bagaimanapun juga robohnya ketiga orang itu lebih disebabkan oleh keberuntungannya, bukan karena ilmu silatnya yang lebih baik.

Coba kalau sejak semula lawannya itu tidak memandang rendah kepadanya dan melawannya dengan hati-hati, mungkin kesudahannya akan menjadi lain.

Chin Tong Sia menengadahkan kepalanya kembali.

Namun ketika mulutnya hendak mengatakan hal tersebut, di luar kamar terdengar suara langkah orang mendatangi.

Souw Thian Hai bergegas mendekati isterinya.

Matanya mengawasi pintu yang terbuat dari besi itu dengan penuh kewaspadaan.

"Silakan makan malam...! Baru besok pagi Kongcu dapat menemui kalian."

Terdengar suara penjaga di luar pintu. Lobang kecil di bagian bawah pintu terbuka. Sebuah nampan berisi makanan dan minuman disorongkan masuk.

"Koko, jangan diambil! Makanan itu beracun."

Chu Bwe Hong memperingatkan suaminya.

"Tenanglah...! kau tidak perlu kuatir. Mereka belum bermaksud membunuh kita, Mereka masih menginginkan sesuatu dari kita. Kalau mereka menghendaki, mereka tidak perlu menggunakan segala macam racun. Tanpa diberi racunpun kita akan mati kelaparan di ruang pengap ini."

"Lo-Cianpwe benar. Kalau mereka menginginkan nyawa kita, mereka tak perlu menyekap kita di sini. Mereka akan segera membunuh lawan yang tidak mereka butuhkan."

Chin Tong Sia sependapat.

"Lalu... apa yang akan kita kerjakan?"

Chu Bwe Hong akhirnya dapat menerima alasan Chin Tong Sia dan suaminya.

"Biarlah saya mengambil makanan itu, Nyonya. Saya akan mencobanya lebih dahulu. Mati dan hidup tidak ada bedanya bagiku. Tak seorangpun di dunia ini yang peduli akan kehidupan atau kematianku. Sekarang yang penting adalah memanfaatkan apa saja yang perlu bagi kesehatan tubuh kita. Siapa tahu kita dapat meloloskan diri dari penjara ini?"

Chin Tong Sia bangkit, kemudian menyeret rantai yang mengikat, kedua kakinya.

Diambilnya nampan berisi makanan itu dan dia letakkan di atas meja di depan Chu Bwe Hong.

Tanpa rasa gamang sedikitpun ia mengambil sebagian dari makanan itu dan menelannya.

Kemudian dengan tenang pula ia menyambar cangkir teh dan meminumnya.

"Nah, Nyonya Souw... silakan!"

Wanita cantik itu menatap wajah Chin Tong Sia seperti menatap wajah hantu.

Matanya yang telah mulai berkeriput itu terbelalak bagaikan mata burung hantu yang menyimpan berbagai macam perasaan.

Tak terasa mata itu kembali berair.

"Sudahlah, mari kita makan!"

Souw Thian Hai merangkul istrinya dan membagi makanan itu menjadi tiga bagian.

Chin Tong Sia juga tidak segan-segan lagi.

Pemuda itu menyingsingkan lengan bajunya, sehingga tahi lalat lebar di bawah sikunya terlihat jelas oleh Souw Thian Hai suami-isteri.

Tubuh Chu Bwe Hong kembali bergetar.

Tak terasa tangannya juga meraba siku kirinya pula.

"Kita memang tidak dapat mengelakkannya, Moi-moi. Thian telah memberikan tanda yang tak bisa dipungkiri lagi. Pertemuan yang tidak diduga-duga inipun merupakan petunjuk dari Thian. Tapi, sudahlah... Kalau kau belum siap menerima... tak perlu memaksa diri. Marilah, kau makanlah...!"

Mereka lalu makan tanpa bicara lagi.

Chin Tong Sia yang sejak kecil biasa bersikap acuh tak acuh itu segera makan dengan lahapnya, sementara Souw Thian Hai dan isterinya sebentar-sebentar tampak melirik kepadanya.

Malam itu mereka benar-benar istirahat.

Mereka duduk bersamadhi sambil berusaha mengumpulkan seluruh tenaga sakti mereka.

Walaupun rantai besi membuat gerakan mereka terganggu, tapi mereka tetap berusaha sekuatnya.

Asap tipis berwarna merah dan putih mengepul keluar dari kepala Souw Thian Hai, sementara Chu Bwe Hong duduk tegak di sebelahnya.

Butit-butir keringat tampak mengalir membasahi kening dan lehernya.

Chin Tong Sia berada di pojok ruangan.

Caranya bersemadhi memang lain dari pada yang lain.

Ia berjungkir balik dengan kepala sebagai alas tubuhnya.

Kedua kakinya tegak lurus ke atas, sementara kedua lengannya dilipat di depan dada.

Rantai yang mengikat kaki dan tangannya seperti tidak mengganggunya.

Dan malam itu berlalu tanpa terjadi peristiwa apa-apa.

Cuma, pagi harinya Chin Tong Sia sedikit terkejut ketika tiba-tiba Souw Thian Hai dan isterinya telah berada di depannya.

Pemuda itu buru-buru melompat dan berdiri kembali di atas kakinya.

"Wah, aku terlambat bangun rupanya."

Chin Tong Sia menyapa mereka.

"Anak muda, kita harus berusaha keluar dari tempat ini. Malam tadi aku sempat menguping pembicaraan para penjaga. Mereka mengatakan bahwa pimpinan mereka sedang meninggalkan tempat ini untuk sesuatu urusan. Berarti saat ini kita mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri. Hmm, apakah kau punya usul yang baik?"

Souw Thian Hai berkata perlahan. Chin Tong Sia memandang pintu besi yang kokoh kuat itu. Keningnya berkerut.

"Entahlah. Saya belum memikirkannya. Bagaimana dengan Lo-Cianpwe sendiri?"

"Mungkin gabungan dari kekuatan kita bertiga dapat merobohkan pintu besi itu. Tapi... Kalau gagal, keadaan kita justru akan semakin sulit."

"Benar, Koko. Aku juga sangsi. Tak mungkin mereka mengumpulkan kita di sini, kalau kekuatan gabungan kita akan dapat merobohkan pintu itu."

Chu Bwe Hong tidak sependapat dengan usul suaminya.

"Kau punya pendapat lain?"

Chu Bwe Hong menggelengkan kepalanya.

"Aku juga belum mendapatkannya. Sebentar aku pikirkan..."

Chin Tong Sia menyeret kakinya mendekati pintu.

Sambil melangkah ia mencoba mencari akal untuk keluar dari tempat itu.

Dia lalu memperhatikan pintu besi itu lekat-lekat, kalau-kalau ada bagian yang dapat dipergunakan untuk meloloskan diri.

Pemuda itu berjongkok di depan lubang kecil, tempat menyodorkan makanan kemarin.

Lubang itu hanya pas untuk lewat makanan.

Kepala manusiapun tak mungkin dapat memasukinya.

"Makanan datang...!"

Tiba-tiba terdengar suara penjaga mendatangi. Raut muka Chin Tong Sia menjadi tegang. Apalagi ketika lobang kecil itu terbuka dan makanan disorongkan masuk.

"Ambil makanan ini! Lalu kembalikan bekas tempat makanan kemarin ke sini! Cepat...!"

Penjaga itu berteriak dari luar pintu.

Chin Tong Sia mengambil makanan itu, kemudian menyodorkan bekas tempat makanan mereka kemarin.

Tapi bersamaan dengan bergesernya nampan tersebut, tangan Chin Tong Sia juga ikut bergeser keluar di bawah nampan.

Begitu tangan penjaga itu terulur untuk memungut nampan, cepat bagai kilat tangan Chin Tong Sia menyambar.

"Wuuus... sst!"

Pergelangan tangan penjaga itu berhasil dicengkeram.

Selanjutnya lengan itu ditarik dengan paksa sehingga penjaga itu terjungkal mencium lantai.

Di lain saat jari telunjuk Chin Tong Sia telah menekan urat gagunya.

"Berikan kunci pintu ini atau... Kau tak ingin melihat isteri dan anakmu lagi?"

Pemuda itu mengancam sambil menekan jarinya sehingga menimbulkan sakit yang luar biasa.

"Uh-uh-uh...!"

Penjaga itu kesakitan namun tak bisa bersuara karena urat gagunya telah ditotok Chin Tong Sia.

"Cepat! Aku. tahu kau tidak bisa menjawab! Tapi aku tak peduli! Sekali lagi kuminta kau tak memberikannya, jariku akan mencoblos tengkorakmu! Nah, berikan!"

Sekali lagi pemuda itu menghardik. Suaranya terdengar sungguh-sungguh. Tiba-tiba terdengar suara gemerincing. Tangan kiri penjaga itu melemparkan seuntai kunci melalui lobang tersebut.

"Lo-Cianpwe, bukalah...!"

Chin Tong Sia memberikan kunci itu kepada Souw Thian Hai, sementara tangannya yang lain tetap mencengkeram lengan lawannya.

Souw Thian Hai mencoba kunci tersebut satu persatu, sehingga akhirnya pintu itu terbuka.

Selanjutnya pendekar itu mencoba pula kunci-kunci yang lain untuk membuka rantai di tubuh mereka.

Semua itu berlangsung dengan cepat, seolah-olah rencana pembebasan tersebut telah mereka atur secara rapi.

"Bagus...! Benar-benar rencana yang hebat! Tapi... bagaimana kau bisa tahu penjaga itu membawa kunci?"

Souw Thian Hai berdesah dengan suara gembira. Sambil melepaskan tubuh penjaga yang lemas itu Chin Tong Sia mengebut-ngebutkan lengan bajunya.

"Rencana itu juga timbul dengan mendadak saat mendengar suara gemericing di antara suara langkahnya. Sebenarnya saya juga tidak yakin kalau dia membawa kunci itu. Semuanya hanya untung-untungan saja..."

Chin Tong Sia menjelaskan.

Suara ribut-ribut itu terdengar pula oleh penjaga yang lain.

Sebentar saja tempat itu telah dipenuhi para pengawal.

Pertempuranpun tidak dapat dielakkan lagi.

Tapi mana mungkin para pengawal itu dapat menahan Souw Thian Hai bertiga?

Sekejap saja mereka telah bergelimpangan di lantai.

Semuanya tertotok lemas tanpa bisa bangun lagi.

Souw Thian Hai mengandeng isterinya untuk menaiki tangga.

Sementara Chin Tong Sia mengikut di belakang mereka sambil menyeret rantai yang tadi mengikat lengannya.

Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di atas tangga.

Sekejap mata mereka menjadi silau oleh sinar matahari yang menyorot ke dalam ruangan itu.

"Serang...!"

Sekonyong-konyong terdengar aba-aba di sekeliling mereka. Belasan anak panah meluncur ke arah mereka bertiga. Bahkan panah berikutnya telah menyusul pula sebelum yang pertama sampai di tujuan.

"Cepat bertiarap di lantai!"

Souw Thian Hai berseru sambil melepaskan baju luarnya.

Baju itu diputar-putar di sekeliling tubuhnya dan tubuh isterinya.

Chin Tong Sia juga memutar rantai besi di tangannya.

Panah berjatuhan di sekitar mereka.

Tetapi lawan terus saja melepaskan panah, sehingga Souw Thian Hai dan Chin Tong Sia juga tidak berani pula menghentikan gerakan mereka.

Keduanya tetap saja memutar-mutar senjata mereka seperti baling-baling.

Akhirnya Chin Tong Sia menjadi marah.

Hujan anak panah itu segera diterjangnya dengan berani.

Sambil memutar rantainya dia melepaskan pukulan-pukulan jarak jauhnya.

Beberapa anak panah yang lolos dari sabetan rantainya, ternyata juga tidak dapat melukai tubuhnya.

Anak panah itu hanya mampu menggores kulit dan merobek pakaiannya.

"Traaaang! Traaaaang...! Braaak! Braaaakk!"

Dalam kemarahannya Chin Tong Sia tidak lagi memilih-milih sasaran.

Rantai besi itu menyapu apa saja yang menghalang di depannya.

Tembok, jendela dan pintu ruangan itu hancur bertaburan terkena sabetan rantainya.

Para pemanah yang bersembunyi di sana segera berlari menyelamatkan diri.

"Awaaaas...! Lari!"

Mereka berteriak dan berhamburan seperti kawanan lebah yang dihancurkan sarangnya.

Namun demikian beberapa orang diantara mereka tidak sempat meninggalkan tempatnya.

Mereka tewas terkena sambaran rantai Chin Tong Sia.

Kesempatan itu dipergunakan pula oleh Souw Thian Hai dan isterinya.

Keduanya bangkit berdiri dan mengamuk pula.

Ternyata kepalan tangan mereka justru lebih berbahaya daripada senjata tajam.

Sesekali tampak sinar putih atau kemerahan melesat dari ujung jari Souw Thian Hai.

Dan sinar itu melesat bagaikan mata pedang yang mampu merusak segala macam benda penghalangnya.

Tembok, kayu, perabotan rumah, semuanya hancur terkena kilatan sinar tersebut.

Bahkan barang-barang yang terbuat dari besipun menjadi rusak terkena sambaran sinar yang keluar dari ujung jari pendekar itu.

Pertunjukan kesaktian itu benar-benar mengecutkan hati para pengawal Mo Hou.

Mereka segera lari berserabut-an meninggalkan tempat itu.

"Gila! Mengapa. kalian lari! Lawan terus!"

Ho Bing dan kawan-kawannya tiba-tiba muncul dari ruang dalam. Pengemis berpakaian rapi itu berteriak marah.

"Bagus, kita ketemu lagi!"

Chin Tong Sia berseru gembira.

Sesaat pertempuran itu berhenti.

Mereka saling berhadapan.

Ho Bing dibantu Tiat-tou dan Siang-kiam-eng, berhadapan dengan Chin Tong Sia beserta Souw Thian Hai suami-isteri.

Sementara itu para pengawal rumah itu menjadi besar lagi hatinya menyaksikan Ho Bing telah berada diantara mereka.

Mereka segera bersiap lagi mengepung tempat tersebut.

"Kalian bertiga... Menyerahlah! Tempat ini penuh dengan jebakan! Kalian tidak mungkin dapat meninggalkan tempat ini! Sekali aku memberi perintah, maka jebakan demi jebakan akan menghalangi langkah kalian!"

Ho Bing berseru dengan penuh keyakinan. Souw Thian Hai, Chu Bwee Hong dan Chin Tong Sia saling memandang satu sama lain. Ancaman itu membuat mereka menjadi was-was juga.

"Sudahlah! Apapun yang terjadi kita wajib berusaha. Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Siapa tahu Thian memberi jalan kepada kita?"

Souw Thian Hai berbisik kepada Chin Tong Sia.

Chin Tong Sia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Di dalam benaknya juga tidak ada kata-kata untuk menyerah.

Sambil menggeram rantai di tangannya kembali berkelebat menyerang lawannya.

"Jangan banyak bicara! Lakukanlah kalau kau mampu!"

"Siiiiing!"

Rantai itu melesat ke depan dengan cepatnya. Ujungnya mematuk ke arah dada Ho Bing.

"Baiklah. kau memang perlu diberi pelajaran! Pengawal, semprotkan bubuk pelemas...!"

Ho Bing mengelak sambil berseru memberi perintah. Tiba-tiba dari langit-langit ruangan itu bertaburan bubuk putih ke bawah. Dalam sekejap ruangan itu bagaikan dilanda hujan abu.

"Hong-moi, awaaaas...! Tahan napasmu! Cepat keluar dari tempat ini!"

Souw Thian Hai memperingatkan isterinya.

Ruangan itu menjadi gelap, penuh dengan taburan bubuk putih yang berhamburan dari atap ruangan tersebut.

Meskipun tidak berani membuka mata, tapi Souw Thian Hai dapat mengenali gerakan lawannya.

"Ha-ha-ha, jangan harap bisa lolos! Pengawal, siapkan jaring-jaring perangkap!"

Terdengar suara teriakan Ho Bing diantara kelamnya kabut putih itu.

Chin Tong Sia terpaksa kembali untuk menolong Souw Thian Hai dan isterinya.

Pemuda itu telah menutupi wajah dan seluruh kepalanya dengan sobekan kain bajunya.

"Lo-Cianpwe, tutuplah kepala dengan sobekan kain apa saja! Walau tidak dapat menangkal sepenuhnya, tetapi paling tidak dapat mengurangi pengaruh racun bubuk putih ini!"

Pemuda itu berbisik di telinga Souw Thian Hai.

"Benar. Tapi kita tidak dapat melihat jaring yang mereka siapkan! Apa yang harus kita perbuat?"

"Kita terjang saja jaring-jaring itu! Lo-Cianpwe dapat merusaknya dengan Tai-kek-sin-ciang tadi!"

Chin Tong Sia berdesah dengan nada geram.

"Wah, sayang sekali! Tai-kek-sin-ciang justru tidak berguna bila berhadapan dengan benda lentur. Kekuatannya akan hilang, bahkan bisa memantul balik."

Pendekar itu menerangkan.

"Lepaskan jaring perangkap...!"

Ruangan itu kembali bergema oleh suara perintah Ho Bing.

Souw Thian Hai dan Chin Tong Sia benar-benar kaget ketika melihat jaring besar jatuh dari atap ruangan.

Otomatis tangan mereka bergerak.

Souw Thian Hai melepaskan totokan ujung jarinya, sedangkan Chin Tong Sia segera mengayunkan rantainya.

Masing-masing berusaha merusakkan perangkap itu.

"Wuuut! Wuut! Dhugg!"

Benar juga.

Tai-kek-sin-ciang yang ampuh itu sama sekali tidak berdaya menghadapi kelenturan jaring perangkap.

Tali jaring terbuat dari kulit kerbau itu hanya mental terkena sambaran Tai-kek-sin-ciang.

Bahkan rantai di tangan Chin Tong Siapun tak mampu merusakkannya.

"Celaka! Lo-Cianpwe, apa yang harus kita perbuat?"

Pemuda itu berteriak cemas.

"Kita kembali ke ruang bawah tanah! Cepat! Hong-moi, ikut aku!"

Souw Thian Hai berseru pula. Hampir saja jaring itu menggulung mereka. Untunglah dengan lincah mereka lebih dulu masuk ke lubang tangga ruang bawah tanah.

"Nah, apa kataku? Kalian tidak akan dapat. keluar dari tempat ini! Akhirnya kalian kembali juga ke dalam penjara! Ha-ha-ha-ha! Hei Penjaga...! Tutup pintunya!"

Pintu rahasia ke ruang bawah tanah itu segera ditutup dan lorong sempit menuju ke bawah itu menjadi gelap. Hanya ada satu lampu minyak di tempat itu.

"Hai-ko, kita benar-benar terperangkap sekarang."

Chu Bwe Hong berdesah.

"Sssst, dengar...! Ada keributan di luar! Seperti suara perkelahian..."

Tiba-tiba Souw Thian Hai meletakkan jarinya di atas bibir.

"Benar. Rasanya aku mendengar suara Ho Bing mengumpat dan memaki-maki!"

Chin Tong Sia berkata pula. Chin Tong Sia lalu menempelkan telinganya di atas pintu. Lapat-lapat terdengar jeritan perempuan di antara umpatan Ho Bing.

"Tiau Hek Hoa...?"

Chin Tong Sia menduga-duga.

"Bagaimana...?"

Souw Thian Hai bertanya pelan. Chin Tong Sia menggeleng kepalanya.

"Benar. Memang ada suara pertempuran di luar. Tapi... Kita tak mungkin dapat keluar dari sini. Pintu ini terbuat dari besi tebal."

"Ho Bing? Siapa itu... Ho Bing?"

"Pengemis bermuka kelimis yang berada di antara penjaga tadi. Dia telah berkhianat dan menjadi kaki tangan Raja Mo Tan. Beberapa hari yang lalu, dia berusaha membunuh utusan Kong-sun Goanswe di kota Lu-feng! Untung aku dapat menggagalkan rencananya dan menyelamatkan utusan itu."

Chin Tong Sia menjelaskan.

"Ooh...?!"

Souw Thian Hai mengangguk-angguk.

"Kalau begitu... Kita cari jalan keluar! Air...!"

Chu Bwe Hong yang sudah berada di bawah tangga itu tiba-tiba menjerit.

Souw Thian Hai melompat turun dengan tergesa-gesa.

Dan kakinya segera menginjak genangan air yang entah dari mana datangnya.

Ternyata tempat itu telah dibanjiri air setinggi mata kaki.

"Wah, tampaknya mereka ingin membenamkan kita di sini!"

Pendekar tua itu menggeram.

"Ular! Hai-ko, ulaaaar...! Lihat! Banyak sekali!"

Sekali lagi Chu Bwe Hong menjerit keras sekali.

Chin Tong Sia melongok ke bawah.

Di antara kelap-kelipnya lampu minyak, terlihat banyak sekali ular berenang di dalam air itu.

Sungguh menjijikkan dan sekaligus juga menakutkan!

"Lo-Cianpwe!

Naiklah ke atas tangga!"

Akan tetapi permukaan air itu juga bertambah naik pula. Dan beberapa ekor ular mulai menaiki tangga. Souw Thian Hai segera menghalaunya.

"Wah kita terpaksa haJus menjebol pintu! Mari kita coba!"

Souw Thian Hai berkata agak cemas.

Tapi bukan mencemaskan keselamatannya sendiri.

Dia lebih memikirkan keselamatan isterinya.

Mereka lalu menghimpun tenaga bersama-sama, kemudian mendorong pintu itu.

Sekejap lempengan besi tebal itu bergetar dengan hebat.

Namun sampai di puncak kekuatan mereka, ternyata pintu itu tetap tak bergeming.

"Pintu ini kuat bukan main!"

Chin Tong Sia terengah-engah.

"Oh! Air sudah mencapai tangga! Hai-ko, lihat! Ular-ular itu juga berebut naik pula!"

Chu Bwe Hong berseru tertahan.

"Cuuus! Cuuuus! Cus...!"

Cahaya putih kemerahan meluncur dari ujung jari Souw Thian Hai, menerjang gerombolan ular yang sedang berebut naik tangga.

Binatang melata itu terpental kembali ke dalam air.

Tubuh mereka terpotong menjadi beberapa bagian, bagai direjam oleh pisau tajam.

Diam-diam Chin Tong Sia tergetar juga.

Pendekar itu benar-benar hebat sekali.

Tampaknya sulit sekali bagi orang lain untuk menghindar dari sinar berbahaya itu.

"Tapi setinggi apapun ilmu silat seseorang tentu ada titik kelemahannya. Tak terkecuali Tai-kek-sin-ciang ini, tentu ada titik kelemahan juga. Hmm, bila suheng Put-pai-siu Hong-jin ada di sini, tentu dia dapat menemukan titik kelemahan itu."

Semakin lama air di dalam lorong itu semakin naik pula.

Souw Thian Hai dan Chin Tong Sia semakin sibuk melayani ular-ular yang naik ke atas tangga.

Darah ular yang terbunuh membuat ruangan itu menjadi amis sekali.

"Hai-ko, bagaimana ini...?"

Chu Bwe Hong berdesah cemas.

Wajahnya pucat.

Akhirnya permukaan air mulai menyentuh sepatu.

Dan mereka tidak mungkin dapat naik lagi.

Punggung mereka sudah menempel pada pintu besi.

Ular-ular itu seperti tidak mati pula.

Meski banyak yang mati, namun mereka tetap saja menyerang.

Justru Chu Bwe Hong yang akhirnya menjadi ketakutan.

Wanita tua yang masih tetap cantik itu hampir pingsan menyaksikan kenekatan binatang-binatang menjijikkan tersebut.

Sambil menjerit-jerit tangannya memukuli pintu.

"Naiklah ke punggungku, Hong-moi!"

Souw Thian Hai berseru.

"Lo-Cianpwe, mari kita coba mendorong pintu ini sekali lagi. Mumpung air belum menenggelamkan tubuh kita!"

Chin Tong Sia berteriak pula. Mereka lalu mengerahkan tenaga dalam lagi. Bahkan semua yang ada pada mereka. Kemudian mendorong pintu besi itu sekali lagi! "Hup!"

Pintu besi itu kembali tergetar dengan hebat, sehingga debu dan pasir berjatuhan mengotori tubuh mereka.

Namun pintu tetap tak tergoyahkan.

Kekuatan gabungan mereka sama sekali tak berdaya untuk menggerakkannya.

"Aduh...!"

Tiba-tiba Souw Thian Hai menjerit kecil. Tangannya menyambar ke bawah dan dua ekor ular loreng terpental remuk menghajar diding. Chu Bwe Hong berdesah kaget.

"Hai-ko? Ular itu mematuk kakimu...?"

Pendekar tua itu mengangguk sambil menotok beberapa jalan darah di kakinya.

Dalam keadaan terpojok seperti itu Souw Thian Hai masih tetap berusaha bersikap tenang "Lo-Cianpwe, aku punya obat!

Silakan makan!

Jangan sampai terlambat!"

Chin Tong Sia merogoh sakunya dan memberikan sebotol obat kepada pendekar tua itu.

Air semakin tinggi.

Kaki dan perut mereka mulai tenggelam pula.

Diam-diam Chu Bwe Hong mulai putus asa.

Meski tidak bersuara, tapi air matanya mengucur semakin lama menjadi semakin deras.

"Hai-ko...!"

Ia berbisik pelan sambil memeluk suaminya.

Souw Thian Hai tidak tahan pula.

Pendekar tua yang sudah kenyang menikmati asam garam kehidupan itu balas memeluk isterinya.

Keduanya berpelukan seolah tak ingin berpisah lagi.

Hanya Chin Tong Sia yang masih kelihatan tenang.

Pemuda itu benar-benar seperti tidak peduli akan hidupnya.

Pemuda itu tetap waspada terhadap ular-ular yang berseliweran di sekitar mereka.

"Lihatlah, Hong-moi! Apakah dalam keadaan seperti ini, kau masih belum mau berterus terang juga kepadanya? Apakah akan kita pendam terus rahasia ini sampai mati?"

Souw Thian Hai berbisik di telinga Chu Bwe Hong seraya melirik Chin Tong Sia. Chu Bwe Hong menangis tersedu-sedu. Air mulai membasahi dagunya dan sekejap lagi dia tidak akan dapat berna-pas lagi.

"Hai-ko, aku... aku..."

"Braaaaak!"

Tiba-tiba pintu besi itu terbuka dengan keras. Sinar matahari menerobos masuk dan menyilaukan pandangan mereka.

"Pintu terbuka! Lo-Cianpwe, kita keluar!"

Chin Tong Sia berteriak gembira, lalu melompat keluar.

Sambil memeluk pinggang isterinya Souw Thian Hai meloncat keluar pula.

Mereka bertiga segera bersiap-siaga menghadapi segala kemungkinan.

Ho Bing dan kawan-kawannya tidak terlihat lagi di tempat itu.

Sebaliknya mereka melihat.

seorang gadis cantik bertubuh kecil bertolak pinggang di depan mereka.

Kedua tangannya memegang sepasang pedang pendek.

Gadis itu sedang mengawasi para penjaga yang tergeletak di sekitarnya.

Chin Tong Sia mengusap-usap matanya.

Dia seperti tak percaya akan penglihatannya sendiri.

Beberapa kali ia mengawasi gadis cantik itu.

"Kau... Kau...? Ah!"

Pemuda itu berdesah gugup seperti layaknya jejaka yang tiba-tiba bertemu dengan gadisnya. Ternyata tidak hanya Chin Tong Sia yang kaget. Gadis itu bahkan lebih kaget daripada Chin Tong Sia.

"K-k-kau...?"

Gadis yang tidak lain adalah Tio Siau In itu menjerit. Kulit mukanya berubah merah seketika. Peristiwa memalukan yang terjadi di pinggiran kota Hang-ciu lima tahun lalu, kembali terbayang di matanya.

"Bagus! Ternyata... KAu-yang berada di ruang bawah tanah itu! Hmmh! Lihat pedangku...!"

Tio Siau in memekik sambil mengayunkan pedangnya.

Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong terkejut.

Tusukan pedang itu sangat.

cepat dan mematikan.

Namun demikian Chin Tong Sia sama sekali tak bereaksi!

tiba-tiba saja pemuda itu seperti orang kehilangan akal.

"Criiiiiing!"

Ujung pedang Siau In tiba-tiba tergetar ke samping!

Dalam situasi yang sangat gawat itu, ternyata Souw Thian Hai tidak dapat tinggal diam!

Seleret sinar putih terlepas dari ujung jarinya dan menghantam pedang Siau In!

Demikian kuatnya sehingga pedang itu hampir terlepas dari tangan Siau In.

"Hong-gi-hiap...? Benarkah Lo-Cianpwe ini...?"

Tio Siau In tergagap. Pedangnya cepat ia sarungkan kembali. Ilmu dahsyat yang baru saja menghantam pedangnya itu hanya dimiliki keluarga Souw, keluarga gurunya.

"Nona, bersabarlah...! Kita bicarakan dulu segala sesuatunya dengan baik. Engkau telah menyelamatkan jiwa kami. Tentu saja kami bertiga sangat berterima kasih sekali. Lohu, Souw Thian Hai, mewakili isteriku dan temanku ini, mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepadamu."

"Oh, Souw Lo-Cianpwe... terimalah hormatku! Siauwte... tidak bermaksud kurang ajar di hadapanmu. siauwte sebenarnya... ehm... sudahlah. Biarlah lain kali saja aku menagih hutang kepada bocah ini!"

Tio Siau In yang biasanya bersikap liar dan berani itu, tiba-tiba menjadi kikuk dan salah tingkah.

Dia telah diberi tahu oleh Souw Lian Cu dan Han Tui Lan, siapakah sebenarnya Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu.

Selama ini Siau In, Yok Ting Ting dan Souw Giok Hong, tinggal bersama Souw Lian Cu dan Han Tui Lan.

Mereka belajar silat dengan tekun, sehingga kepandaian Giok Hong, Siau In dan Ting Ting maju dengan pesat.

Masing-masing belajar menurut alirannya sendiri.

Sebagai bekas murid pendeta Im-yang-kauw, Han Tui Lan menurunkan semua ilmu Aliran Im-yang-kauw kepada Tio Siau In.

Bahkan wanita sakti itu juga menurunkan ilmunya yang lain, yang dulu pernah ia pelajari bersama Liu yang kun.

Sedang Yok Ting Ting, karena bukan anak murid Im-yang-kauw, hanya diberikan ilmu-ilmu Han Tui Lan yang lain.

"Cici In, orang-orang itu sudah pergi semua!"

Tiba-tiba seorang gadis cantik, berkulit pucat dan agak kurus, berlari masuk ke dalam ruangan itu.

"Ting Ting, jangan kurang ajar di depan Souw Lo-Cianpwe!"

Tio Siau In menegur.

Gadis kurus itu terbelalak mengawasi Souw Thian Hai dan isterinya.

Dia baru tergagap dan memberi hormat kepada Souw Thian Hai ketika Tio Siau In menepuk pundaknya.

Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong telah terbiasa menerima perlakuan seperti itu.

Sebagai tokoh persilatan ternama, mereka berdua sangat dikenal dan selalu dihormati orang.

Namun demikian melihat gadis-gadis ini, Souw Thian Hai seperti merasakan sesuatu yang aneh.

Tidak terasa kakinya melangkah ke depan.

"Siapakah kalian berdua ini? Tampaknya kalian telah mengenal kami dengan baik..."

Sekonyong-konyong Tio Siau In dan Yok Ting Ting saling berpelukan dengan wajah gembira sekali. Dengan berdiri berendeng mereka sekali lagi memberi "Souw Lo-Cianpwe, terimalah hormat kami berdua...!"

Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong tertegun. Jantung mereka berdebar dengan cepat. Jelas kedua gadis itu mempunyai maksud tertentu kepadanya. Siapa sebenarnya mereka? "Kalian...?"

Chu Bwe Hong berdesah bingung.

Tio Siau In biasanya memang berwatak liar dan suka mengganggu orang.

Namun sekali ini ia tak berani kurang ajar.

Souw Thian Hai adalah ayah Souw Lian Cu, wanita yang selama ini dia anggap sebagai pengganti gurunya.

Oleh karena itu dengan jujur dia bercerita apa adanya.

Betapa mereka selama ini mencari Souw Thian Hai.

Bukan main gembiranya hati pendekar itu.

Bahkan kegembiraan itu benar-benar terasa lengkap dan utuh.

Sudah lama mereka berusaha menemukan Souw Lian Cu.

Malahan ketika pulang dari Laut Utara, mereka tidak terus pulang ke rumah, tapi tetap meneruskan pe-ngembaraan mereka, mencari puteri mereka itu.

Chu Bwe Hong menangis di dada suaminya.

Berita itu sangat membahagiakan hatinya pula.

Walaupun Souw Lian Cu bukan puteri kandungnya, tapi ia telah menganggapnya sebagai puteri sendiri.

Apalagi ternyata Souw Giok Hong, puteri kandungnya, juga dalam keadaan baik-baik bersama Souw Lian Cu.

Souw Thian Hai menarik napas panjang.

Diam-diam ia bersyukur di dalam hati.

Ternyata semua yang ia yakini selama ini benar-benar membuahkan hasil.

Souw Lian Cu masih hidup.

Di dalam keharuannya itu tak terasa mata Souw Thian Hai melirik ke arah Chin Tong Sia.

Pemuda itu masih tampak bingung menyaksikan pertemuan tersebut.

Sebenarnya, kebahagiaan itu benar-benar lengkap bagi Chu Bwe Hong.

Selain dapat menemukan kembali Souw Lian Cu dan Souw Giok Hong, sebenarnya Chu Bwe Hong juga menemukan seorang anaknya yang lain, yang selama ini tak pernah dipikirkannya.

Chin Tong Sia yang sejak kecil dipelihara dan diasuh oleh Put-ceng-li Lojin, sesungguhnya adalah puteranya pula.

Namun karena anak itu lahir dari seorang penjahat yang amat dibencinya, maka Chu Bwe Hong tak pernah mengakuinya.

Dahulu, sebelum menjadi isteri Souw Thian Hai, Chu Bwe Hong mendapat musibah yang amat mengerikan.

Dia diculik dan dibawa lari Hek-eng-cu, seorang Datuk Kejahatan, sehingga dia hamil dan melahirkan Chin Tong Sia.

Karena sangat membenci penjahat itu, maka Chu Bwe Hong tidak mau mengurusi bocah itu.

Anak tak berdosa itu diasuh oleh Put-ceng-li Lojin dan diakui sebagai anaknya.

(Baca .

Memburu Iblis).

Kini secara tak terduga anak itu muncul di depan mereka.

Maka tidak mengherankan bila terjadi perang batin di hati Chu Bwe Hong.

Dia sama sekali tidak menginginkan anak itu.

Namun di sisi lain, dia juga tidak dapat mengingkari pula bahwa anak itu adalah darah dagingnya.

"Biarlah Chu Bwe Hong sendiri yang memutuskan. Tampaknya rahasia itu benar-benar dijaga oleh Beng-kauw, sehingga anak ini juga tidak mengetahui tentang dirinya."

Souw Thian Hai berkata di dalam hatinya.

Demikianlah mereka lalu keluar dari rumah itu.

Ternyata matahari mulai naik ke atas kepala.

Entah mengapa, Chin Tong Sia masih merasa takut berdekatan dengan Siau In.

Peristiwa lima tahun lalu masih membekas di hatinya.

Bahkan kenangan itu tak pernah lepas dari pikirannya.

Sebenarnya Chin Tong Sia tak pernah melupakan wajah Siau In.

Selama ini wajah gadis itu selalu mengganggu hatinya.

Entah sudah berapa ratus kali dalam lima tahun ini Chin Tong Sia berkeliaran di daerah pantai timur Tiongkok, dengan harapan dapat berjumpa kembali dengan Siau In.

Tetapi secara tak terduga gadis itu justru ia temukan di tempat ini, jauh dari daerah wilayah kekuasaan Giam Pit Seng.

Maka tidak mengherankan bila ia sampai bingung begitu melihat Siau In.

Bahkan ia sama sekali tak mau mengelak ketika pedang gadis itu menyambarnya.

Untunglah Souw Thian Hai menyelamatkannya.

"Saudara Chin, bagaimana sekarang? Lohu hendak mencari puteriku bersama gadis-gadis ini. Mau kemana kau sekarang?"

Mendadak terdengar suara Souw Thian Hai bertanya. Chin Tong Sia menjadi gugup. Dia tak ingin kehilangan Siau In lagi. Tapi, bagaimana caranya? Tiba-tiba Chin Tong Sia menepuk jidatnya.

"Ah, Lo-Cianpwe. Bagaimana dengan temanku yang bernama Souw Hong Lam itu? Apakah Lo-Cianpwe tak ingin melihatnya? Siapa tahu dia dapat menunjukkan tempat puteri Lo-Cianpwe itu?"

"Ah, benar. Di mana sekarang dia berada?"

Chin Tong Sia mengajak rombongan itu ke rumah makan, tempat pemuda itu bersama rombongannya kemarin berhenti.

Tapi pemilik rumah makan itu mengatakan bahwa rombongan Chin Tong Sia sudah berangkat lebih dahulu dengan naik kuda.

"Lo-Cianpwe, bagaimana sebaiknya? Pemuda yang bernama Souw Hong Lam itu telah berangkat ke Sungai Huang-ho. Apakah Lo-Cianpwe akan mengejar dia? Kalau memang demikian, kita dapat bersama-sama mengejarnya."

Souw Thian Hai memandang Tio Siau In.

"Eh, Siau In... apakah kau mengenal pemuda bernama Souw Hong Lam? Mungkin dia pernah mengunjungi Souw Lian Cu?"

"Souw Hong Lam? Maaf, kami belum mengenalnya, Lo-Cianpwe."

"Baik kita kejar saja mereka. Ehm, apakah ada sesuatu yang akan dikerjakan oleh teman-temanmu di perairan Sungai Huang-ho itu?"

Pendekar tua itu bertanya kepada Chin Tong Sia. Chin Tong Sia mengangguk, tapi tak mau mengatakan tujuannya.

"Baiklah. Lohu takkan ikut campur urusan kalian. Lohu hanya ingin melihat wajah Souw Hong Lam, yang mengaku keluarga kami dan sedang mencari aku itu."

Siang itu juga mereka berlima mencari kuda dan berangkat menuju ke Sungai Huang-ho.

Seperti halnya rombongan Liu Wan, mereka menerobos hutan dan perkampungan penduduk.

Di sepanjang jalan mereka juga melihat banyak desa yang telah ditinggalkan penduduknya.

"Ah... perang lagi! Mengapa orang tak bosan-bosannya berperang?"

Pendekar tua itu berdesah sedih.

Karena bulan bersinar dengan terang, maka mereka berjalan terus tanpa berhenti.

Menjelang tengah malam mereka pinggir Sungai Huang-ho.

Chin Tong Sia segera mencari tahu tentang teman-temannya di tempat persewaan perahu.

Dia mendapatkan berita tentang mereka.

"Mereka itu temanmu? Wah, mereka telah berangkat pagi tadi. Mungkin mereka sudah sampai di tujuan."

Pemilik perahu itu menerangkan.

"Lo-Cianpwe, mereka telah berangkat ke selatan dengan perahu. Apakah Lo-Cianpwe tetap ingin melanjutkan juga perjalanan ini?"

Souw Thian Hai terdiam... Hari telah larut malam, namun pinggiran sungai itu masih banyak terlihat kesibukan.

"Bagaimana Hong-moi? Rasanya aku sangat penasaran dengan pemuda bernama Hong Lam ini. Kita teruskan perjalanan ini?"

Chu Bwe Hong tersenyum, lalu mengangguk. Walaupun lelah wanita tua itu masih tampak cantik dan anggun.

"Bagaimana dengan gadis-gadis ini? Apakah mereka tidak kelelahan?"

Chu Bwe Hong balik bertanya pula.

"Ah, kami juga sudah terbiasa berjalan jauh. Apalagi di atas perahu kami dapat beritirahat."

Yok Ting Ting menyahut dengan cepat.

Demikianlah, Souw Thian Hai lalu menyewa perahu yang agak besar.

Karena tak seorangpun di antara mereka yang dapat mengemudikan perahu, maka pendekar tua itu minta kepada pemilik perahu untuk memberinya seorang tukang perahu.

"Cuwi mau berangkat malam ini juga?"

"Benar. Tidak bisa?"

Chin Tong Sia memotong dengan tergesa-gesa.

"Bukan itu maksudku. Justru kebetulan sekali, karena ada seorang anak buahku yang ingin lekas-lekas kembali ke hilir."

"Bagus sekali...!"

Souw Thian Hai berseru gembira.

Setelah mengisi perut dan menyiapkan bekal secukupnya, malam itu juga mereka berangkat.

Tukang perahu yang kebetulan hendak pulang ke hilir itu masih tampak muda, walau usianya telah mencapai empat puluhan tahun.

Badannya masih kekar dan kuat.

Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong duduk di belakang bersama tukang perahu, sementara Tio Siau In dan Yok Ting Ting menikmati cerahnya sinar rembulan di ujung depan.

Semuanya kelihatan gembira dan bersemangat, kecuali Chin Tong Sia.

Pemuda itu duduk lesu di bawah atap perahu.

Matanya menatap jauh ke langit, di antara gemerlapnya sinar bintang di angkasa.

Sesekali matanya yang redup itu mencuri pandang ke arah Siau In.

Tak jarang bibirnya berdesah panjang sekali.

Sesungguhnya bahwa hati Chin Tong Sia sedang gundah.

Kemunculan Tio Siau In yang tak terduga itu benar-benar seperti mengoyakkan luka lama.

Sejak pertemuan mereka yang pertama di Hang-ciu lima tahun lalu, Chin Tong Sia tak pernah, melupakan gadis itu.

Bagi Chin Tong Sia, awal pertemuan mereka benar-benar seperti impian.

Impian yang belum pernah dia rasakan selama hidupnya, Kemulusan tubuhnya pada saat berganti pakaian di tengah semak belukar itu, benar-benar membuat Chin Tong Sia terpesona.

Baru sekali itulah Chin Tong Sia melihat bentuk seorang wanita.

Sungguh suatu pemandangan yang mendebarkan.

Begitu hebatnya pengaruh impian itu di hati Chin Tong Sia, sehingga pemuda itu bagaikan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Beberapa waktu lamanya pemuda itu tidak dapat melupakan peristiwa tersebut sampai akhirnya seperti orang sinting, Chin Tong Sia berkeliaran mengelilingi Propinsi Tse-kiang dan Kiang-su, hanya untuk mencari Tio Siau In.

Tapi sampai berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, Chin Tong Sia tidak pernah dapat menemukan Tio Siau In.

Malah sekarang, setelah pemuda itu putus asa dan tidak punya pengharapan lagi, tiba-tiba Tio Siau In muncul di depannya.

Begitulah, sementara Chin Tong Sia duduk melamun memikirkan Tio Siau In, ternyata di ujung perahu, gadis itu justru sedang terlibat dalam percakapan yang menggembirakan dengan Yok Ting Ting.

Mereka sangat senang sekali dapat bertemu Sbuw Thian Hai.

Kini mereka berharap dapat segera mempertemukan pendekar tua itu dengan Souw Lian Cu dan Souw Giok Hong.

"Sayang sekali Cici Giok Hong memisahkan diri. Kalau tidak, dia sudah dapat bertemu orang tuanya."

Yok Ting Ting menyesali kepergian Souw Giok Hong.

Setelah lima tahun tinggal bersama di balik air terjun itu, ternyata hubungan mereka bertiga seperti layaknya saudara kandung.

Bagi Tio Siau In, keberadaan Souw Giok Hong bagaikan pengganti kakaknya.

Sementara bagi Souw Giok Hong dan Yok Ting Ting sendiri, keberadaan yang lain merupakan tambahan kebahagiaan bagi diri mereka yang selama ini selalu sendiri.

Dan ternyata kebahagiaan mereka itu juga membuat cerah pula suasana di tempat tersebut.

Suasana gua yang semula terasa sedih dan dingin, akhirnya berubah menjadi ceria dan bersemangat.

Kebahagiaan itu pula yang akhirnya membuat hati Souw Lian Cu dan Han Tui Lan mencair.

Kedua wanita sakti itu kembali menemukan semangat untuk mengarungi kehidupan mereka.

Mula-mula Souw Giok Hong membujuk Souw Lian Cu untuk mencari ayah mereka.

Gadis itu mengatakan bahwa ayah-ibunya belum kembali semenjak pergi dengan Utusan Pondok Pelangi.

Tak terduga permintaan itu diluluskan oleh Souw Lian Cu, karena wanita itu ternyata telah berembug dengan Han Tui Lan dan sudah memutuskan untuk kembali lagi ke dunia ramai.

Agar tidak terlalu menyolok, serta lebih cepat dapat menemukan Souw Thian Hai, mereka lalu berpencar menjadi dua rombongan.

Rombongan pertama, Souw Lian Cu dan Han Tui Lan, menuju ke arah utara.

Sementara rombongan ke dua, Souw Giok Hong bersama Tio Siau In dan Yok Ting Ting, berangkat ke arah barat.

Sayang sekali di tengah jalan Souw Giok Hong memisahkan diri, karena gadis ayu itu hendak berkunjung dulu ke Gunung Hoa-san.

Jadilah Tio Siau In mengembara berdua saja dengan Yok Ting Ting.

Mereka berjalan terus ke arah barat sambil selalu mencari berita tentang Souw Thian Hai.

Dan ternyata jerih payah mereka memperoleh hasil.

Secara tidak sengaja Tio Siau In melihat Lok-kui-tin membawa kereta tawanan.

Tio Siau In masih ingat akan peristiwa di tepi pantai Hang-ciu lima tahun lalu.

Enam hantu dari luar Tembok besar itu telah membantai prajurit-prajurit Han.

Bahkan hampir membunuh gurunya, Giam Pit Seng.

Tio Siau In tidak tahu siapa tawanan itu, tetapi ia telah berketetapan hati untuk menolongnya.

Namun demikian ia harus berhati-hati, karena Lok-kui-tin sangat lihai.

Demikianlah setelah seharian mengikuti kereta itu, akhirnya mereka sampai di rumah besar itu.

Tio Siau In dan Yok Ting Ting semakin waspada ketika melihat Mo Tan bersama gadis berkulit hitam di tempat itu.

Mereka bersembunyi di halaman belakang.

Tio Siau In maupun Yok Ting Ting tidak melihat kedatangan Chin Tong Sia.

Mereka tetap bersembunyi dan menanti kesempatan untuk membuka pintu ruang bawah tanah itu.

Mereka juga tidak tahu kalau Chin Tong Sia dikeroyok dan dijebloskan ke dalam penjara tersebut.

Bahkan keduanya menunggu kesempatan itu semalam penuh.

Keesokan harinya Tio Siau In dan Yok Ting Ting baru berani bergerak ketika melihat Mo Hou dan seluruh anak buahnya meninggalkan tempat tersebut.

Tapi di ruang belakang mereka dihadang oleh anak buah Ho Bing.

Dan perkelahianpun berlangsung dengan seru.

Sementara itu Chin Tong Sia dan Souw Thian Hai suami-isteri juga dapat meloloskan diri mereka dari penjara.

Di ruang tengah mereka dihadang pula oleh anak buah Ho Bing.

Maka terjadilah pertarungan hebat di seluruh rumah itu.

Selanjutnya, seperti telah diceritakan di bagian depan, Souw Thian Hai dan Chin Tong Sia kembali terkurung di Ruang Bawah Tanah.

Untunglah Tio Siau In dan Yok Ting Ting dapat mengalahkan Ho Bing dan anak buahnya.

"Cici, ternyata justru kita berdua yang dapat menemukan Souw Lo-Cianpwe. Ah, betapa senangnya mereka nanti."

Yok Ting Ting meremas tangan Tio Siau In.

"Benar. Tapi... di mana kita harus-mencari Bibi Lian Cu?"

Yok Ting Ting terdiam..."Bagaimana kalau Souw Lo-Cianpwe itu kita ajak saja ke gua kita?"

Ucapnya kemudian dengan ragu. Tio Siau In menoleh ke belakang. Tetapi matanya justru bentrok dengan mata Chin Tong Sia. Otomatis kulit mukanya menjadi merah.

"Cici, eh... omong-omong, pemuda itukah yang kau ceritakan dulu?"

Yok Ting Ting yang melihat keadaan itu berbisik sambil mengedipkan matanya. Siau In mengangguk. Wajahnya berubah menjadi kerun.

"Benar. Suatu saat akan kubunuh dia. Sekarang biar saja dia bersenang-senang di depan Souw Taihiap."

"Ah, sayang sekali. Wajahnya cukup tampan."

Ting Ting tersenyum menggoda. Siau In melotot.

"Ngaco! Kubunuh kau...!"

"Tapi kau pernah mengatakan bahwa ilmu silatnya sangat tinggi. Bagaimana Cici dapat mengalahkan dia nanti? Jangan-jangan Cici akan kalah lagi."

"Apa katamu? kau menyangsikan kemampuanku?"

"Sabar, Cici. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin mengingatkan agar kau berhati-hati. Tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membantumu."

"Huh, lihat saja nanti. Selesai mempertemukan Souw Taihiap dengan Bibi Lian Cu, aku akan menantang dia!"

Tio Siau In menggeram.

Ketika melewati tikungan berbahaya, tukang perahu memperingatkan mereka untuk berpegangan dengan kuat.

Orang itu sama sekaji tidak menyadari bahwa penumpangnya adalah jago-jago silat berkepandaian tinggi.

Perahu besar itu berkelak-kelok mengikuti arus air.

Demikian besarnya ombak yang menghempas dinding perahu itu, sehinga mereka berlima seperti sedang berlayar di lautan lepas.

Beruntung sekali perahu itu di bawah tangan seorang ahli.

Demikian lihainya tukang perahu itu membawa kemudinya sehingga perahu tersebut selalu terhindar dari kesulitan.

"Untunglah kita membawa dia. Heemm, coba kalau kita berangkat sendiri. Mungkin perahu ini sudah kandas menghantam batu."

Souw Thian Hai berkata kepada isterinya.

"Ah, paling-paling kita berenang lagi seperti di Laut Utara itu."

Chu Bwe Hong menyahut. Souw Thian Hai tersenyum dan merangkul pundak isterinya. Pengalaman mereka di laut ganas itu memang jauh lebih mengerikan.

"Benar. Tapi kalau kita tidak berjumpa dengan pemuda perkasa itu hmmm... Mungkin kita sudah dimakan hiu dan takkan bertemu dengan anakmu"

"Benar, suamiku. Aku juga kagum sekali kepada bocah itu. Umurnya masih sangat muda, jauh lebih muda dari Giok Hong, tapi kepandaiannya benar-benar mentakjubkan. Dan bicara sejujurnya, eh... rasanya kepandaian kita belum dapat menyamainya, bukan?"

Souw Thian Hai menganggukkan kepalanya.

"Kau benar isteriku. Rasanya tokoh semacam Bok Siang Kipun belum tentu dapat menandinginya. Tenaga dalamnya benar-benar tidak terbatas. Hem, mungkin hanya Pangeran Liu yang kun yang mampu menandingi dia."

"Ah, kau teringat lagi pada menantu kita."

Pendekar tua itu menghela napas panjang. Sinar matanya meredup. Setiap kali teringat Pangeran Liu yang kun, perasaannya sangat sedih. Dia langsung ingat akan cucu-cucunya yang telah tiada.

"Aaaaah... di mana dia sekarang berada? Dua puluh tahun lamanya dia menghilang. Mungkinkah dia sudah benar-benar tiada? Aaaah...!"

"Yah, mungkin memang sudah tiada."

Malam semakin larut.

Embun mulai turun membasahi pakaian mereka.

Demikian dinginnya sehingga mereka tidak merasa bahwa aliran sungai mulai berbelok ke arah selatan.

Sungai besar itu mulai lewat di tengah-tengah tanah perkampungan penduduk yang padat.

Namun yang sangat mengherankan mereka, perumahan padat di tepian sungai itu tampak lengang dan sepi.

Tidak secercahah sinar lampupun yang menyorot keluar dari lubang dinding mereka.

Kampung itu seperti tak berpenghuni lagi.

Satu-satunya suara yang terdengar cuma lolongan anjing lapar di kejauhan.

"Gila! Tampaknya Mo Tan telah sampai di daerah ini."

Souw Thian Hai tiba-tiba menggeram sambil mengepalkan tangannya.

"Benar, Tuan. Pasukan Hun memang sudah menyusup sampai di kota Sing-yun. Itulah sebabnya aku ingin segera pulang, karena kota itu hanya seratus lie dari kampungku. Aku harus cepat-cepat mengungsikan anak isteriku."

Tukang perahu itu memotong perkataan Souw Thian Hai.

"Benarkah? Cepat sekali...! Setengah bulan yang lalu kota itu masih aman dan tenang. Bahkan Lohu sempat menyaksikan pesta perkawinan di sana."

"Pasukan Hun memang seperti siluman. Pasukan perbatasan dibawah pimpinan Kong-sun Goanswe tidak berdaya menahan mereka. Pasukan Jendral Ciang Kwan Sit, yang dikirim dari Kotaraja juga mereka hancurkan dengan mudah. Bahkan Jendral Ciang Kwan Sit sendiri juga terbunuh dalam pertempuran itu."

Souw Thian Hai mengerutkan keningnya. Tukang perahu itu tahu banyak sekali tentang medan pertempuran.

"Oh, lihat...! Ada pertempuran di sana!"

Sekonyong-konyong Yok Ting Ting berseru sambil mengangkat jari telunjuknya ke depan.

Dua buah perahu besar penuh prajurit kerajaan tampak dikepung oleh pasukan asing yang menggunakan sampan-sampan kecil.

Anak panah beterbangan di udara, sementara beberapa buah sampan kecil berusaha mendekati perahu besar itu.

Balasan orang tak berseragam berebut naik ke atas, sehingga pertempuran sengit segera berlangsung dengan hebatnya.

Suara pedang dan tombak berdentang memecah kesunyian.

"Traaaang! Trang! Traaaaang...!"

Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong melompat ke depan, diikuti pula oleh Chin Tong Sia.

Mereka menyaksikan pertempuran itu dengan perasaan tegang.

Demikian tegangnya hingga Tio Siau In-lupa bahwa di tempat itu dia terpaksa berdesakan dengan Chin Tong Sia.

"Melihat seragamnya... Mereka seperti pasukan kerajaan! Tapi siapa lawan mereka?"

Souw Thian Hai bergumam pelan.

"Marilah kita mendekat!"

Chu Bwe Hong berseru.

"Tapi... tapi aku tidak berani, Tuan. Kita kembali saja."

Tukang perahu itu berseru gemetar.

"Tidak apa-apa. Berbaringlah di bilik perahu."

Souw Thian Hai memberi perintah.

Perahu itu mereka bawa ke tempat pertempuran.

Chin Tong Sia terpaksa mengemudikannya.

Dan kedatangan mereka segera menarik perhatian orang-orang itu.

Tampaknya masing-masing mencurigai mereka.

"Benar, Lo-Cianpwe. Mereka memang prajurit Han. Dan segerombolan orang tak berseragam itu adalah kaki tangan Raja Mo Tan. Lihat, mereka mengenali kan rompi dari kulit binatang!"

Chin Tong Sia berseru lantang.

Pertempuran di atas perahu besar itu semakin tampak brutal dan mengerikan.

Masing-masing berusaha untuk membunuh lawan sebanyak-banyaknya.

Namun karena jumlah pasukan berseragam itu lebih kecil maka lambat laun mereka terdesak.

Apalagi ketika orang-orang di atas perahu kecil itu memanggil bala bantuan dengan panah apinya.

Sekonyong-konyong dari dalam perkampungan sepi di pinggir sungai itu muncul ratusan obor menyambut kilatan panah berapi tadi.

Terdengar jerit penyerbuan ketika para pembawa obor itu berlari ke sungai dan menyiapkan sampan-sampan mereka.

Tukang perahu yang ditumpangi Souw Thian Hai menjadi pucat pasi wajahnya.

Seluruh badannya gemetar dan akhirnya jatuh pingsan di bawah bangku.

"Bagaimana, Lo-Cianpwe? Kita menolong para prajurit itu?"

Chin Tong Sia meminta pendapat Souw Thian Hai.

"Benar, anak muda. Pergilah bersama nona-nona ini ke perahu besar itu dan selamatkan prajurit yang tersisa! Aku akan mencegah bala bantuan yang datang itu!"

Bagai panglima perang pendekar itu membagi tugas. Aku bagaimana, Hai-ko?"

Chu Bwe Hong mengerutkan dahinya.

"Kau tetap di perahu ini! Dan... jangan terlampau dekat dengan pertempuran! Perahu ini akan sangat penting bila kebakaran terjadi! Lihat mereka mulai melepaskan panah-panah api!"

"Tapi...?"

"Sudahlah, Hong-moi, Ikutilah, kata-kataku!"

Selesai berkata pendekar sakti itu mencabut dua potong kayu penahan atap, kemudian mengikatnya di bawah sepatu.

Kemudian tanpa membuang waktu lagi pendekar tua itu telah meloncat ke dalam air.

Bagaikan seekor capung orang tua itu meluncur di atas permukaan sungai.

Chin Tong Sia juga tidak mau kalah.

Dia mengambil bangku tempat duduk, lalu mematahkannya menjadi beberapa bagian.

Ia mengambil dua potong dan sisanya ia berikan kepada Yok Ting Ting.

"Hati-hati...!"

Tak terasa bibir Chu Bwe Hong berdesah pelan.

Demikianlah anak-anak muda itu seperti berlomba dengan ilmu meringankan tubuh mereka.

Siau In dan Ting Ting yang mendapatkan pelajaran ilmu meringankan tubuh Bu-eng Hwe-teng (Loncat Terbang Tanpa Bayangan) dari Tui Lian, berloncatan di atas permukaan air seper ti burung camar yang beterbangan mencari ikan.

Potongan kayu yang mereka ikat di bawah sepatu merupakan landas-an untuk tidak tenggelam ke dalam sungai.

Gerakan Chin Tong Sia memang tidak sebagus gadis-gadis itu.

Ilmu meringankan tubuh Aliran Beng-kauw lebih bertumpu pada kekuatan tenaga dalamnya.

Dengan perhitungan yang tepat, antara kelincahan gerak dan pengerahan tenaga dalam, maka Ilmu Meringankan Tubuh dari Aliran Beng-kauw sangat sulit dicari tandingannya.

Mereka hampir berbareng tiba di perahu besar itu.

Mereka segera berhadapan dengan pasukan Mo Tari yang menyamar seperti rakyat biasa.

Mereka kelihatan beringas sekali.

Senjata mereka telah berlepotan darah para prajurit Han, yang di atas perahu itu kini tinggal beberapa orang saja lagi.

Seorang perajurit Han berpangkat Cian-bu masih tampak tegar memimpin kawan-kawannya.

Dia sendiri sedang berhadapan dengan empat orang pengeroyok.

Goloknya terayun kesana-kemari Mencari mangsa.

Dan beberapa orang lawan segera tergores kulitnya.

Karena tidak ingin dekat dengan Chin Tong Sia, maka Tio Siau In mengajak Yok Ting Ting ke bagian belakang.

Di sana mereka menyaksikan pertempuran yang lain.

Sepuluh orang perajurit Han berhadapan dengan belasan anak buah Mo Tan.

Mereka bertempur dengan kacau.

Mereka tidak memilih lawan lagi.

Musuh yang berada di dekat mereka adalah lawan yang harus dibunuh.

Tio Siau In melihat seorang lelaki pendek kekar, bersandar di pagar perahu.

Lengannya panjang sekali.

Lebih panjang dari kebanyakan orang.

"Hati-hati, Ting-moi. Orang yang berdiri di pagar perahu itu tentu sangat berbahaya."

Tio Siau In berbisik. Sementara itu para penyerbu mulai melepaskan panah api dari sampan mer-ka. Beberapa anak panah menancap di geladak dan mulai membakar kayu-kayu kering.

"Ting-moi, mari kita padamkan dulu api-api itu!" (Lanjut ke

Jilid 25) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 25

"Ting moi, mari kita padamkan dulu api-api itu!"

Tio Siau In dan Yok Ting Ting berusaha memadamkan api yang mulai berkobar di atas geladak.

Keduanya bergerak dengan cepat, walaupun mereka selalu dirintangi oleh orang-orang yang menyerang perahu itu.

Tapi pukulan dan tendangan mereka membuat orang-orang itu terlempar ke dalam sungai.

Kehebatan Tio Siau In dan Yok Ting Ting segera menarik perhatian lelaki pendek kekar itu.

Orang itu bergeser dari tempatnya, kemudian menyerang Yok Ting Ting dari samping.

Lengannya yang panjang menyambar ke arah pinggang Yok Ting Ting.

Hembusan angin tajam mengejutkan Yok Ting Ting.

Gadis itu sadar akan bahaya.

Dengan tangkas dia menarik tubuhnya ke belakang, kemudian meloncat tinggi ke udara.

Sambil berjumpalitan gadis itu ganti menyerang dengan sisi tangannya.

Gerakannya sungguh lincah dan gesit, seperti seekor tupai meloncat di atas pohon.

Sementara dari kedua belah telapak tangannya terhembus angin dingin ke segala penjuru.

Lelaki pendek itu terkejut.

Sekejap udara di sekelilingnya terasa berat dan sulit untuk bernapas.

Otomatis gerakannya terganggu.

Untunglah dengan mengerahkan tenaga sepenuhnya, ia masih mampu menghindar dari pukulan Yok Ting Ting.

Namun demikian jjantungnya terasa berdegup dengan keras.

"Siapa kau...? Apa hubunganmu dengan partai Soa-hu-pai?"

Lelaki pendek itu berseru kaget.

Yok Ting Ting memang menggunakan ilmu meringankan tubuh ajaran Han Tui Lan, yang bersumber pada ilmu warisan Bit-bo-ong (Raja Kelelawar) almarhum.

Ilmu tersebut diberi nama Bu-eng Hwe-teng (Loncat Terbang Tanpa Bayangan), yang merupakan salah satu dari tiga ilmu silat ciptaan Bit-bo-ong.

Bit-bo-ong hidup hampir setengah abad yang lalu.

Sebenarnya ia adalah anak murid Soa-hu-pai, yang membelot dan memusuhi perguruannya sendiri.

Dia mampu menemukan rahasia ilmu perguruannya, sehingga mampu menciptakan ilmu silat yang tiada taranya.

Dengan ilmu ciptaannya itu ia malang-melintang sebagai raja iblis di dunia persilatan.

Tak seorangpun mampu menandinginya.

Bahkan datuk-datuk persilatan yang hidup pada zaman itu, kewalahan pula menghadapinya.

(Baca.

Pendekar Penyebar Maut dan Memburu Iblis) Ilmu ciptaan Bit-bo-ong yang menggegerkan persilatan itu adalah Pat-hong-sin-ciang (Telapak Sakti Delapan Penjuru), Kim-liong-sin-kun (Pukulan Sakti Naga Emas) dan Bu-eng Hwe-teng (Loncat Terbang Tanpa Bayangan).

Karena tokoh itu memang bekas murid Soa-hu-pai maka tidak mengherankan kalau ilmu ciptaannya juga tidak jauh berbeda dengan ilmu silat Soa-hu-pai.

Seperti halnya ilmu silat Soa-hu-pai, maka ilmu ciptaannya juga mengandung kekuatan sihir.

Bahkan bisa dikatakan kalau ilmu ciptaannya itu bertumpu pada kekuatan sihirnya.

Sehingga makin tinggi dan makin dalam ilmu tersebut dipelajari, maka akan semakin kuat pula cengkeraman ilmu sihirnya.

Dan takdir telah menentukan, bahwa ilmu ciptaan Bit-bo-ong itu secara tidak sengaja jatuh ke tangan Han Tui Lan dan Pangeran Liu yang kun.

Keduanya mempelajari ilmu tersebut, walau akhirnya Han Tui Lan tidak berani meneruskannya.

Selain amat dahsyat, ternyata ilmu itu juga dapat mempengaruhi jiwa pemiliknya.

Ilmu yang diciptakan dengan semangat dan nafsu tamak, serakah, kejam dan tak mengenal belas kasih itu, ternyata juga menyeret jiwa dan pikiran pemiliknya ke jalan yang kelam...

Hanya Pangeran Liu yang kun yang mampu mempelajari ilmu-ilmu tersebut sampai tuntas.

Walaupun semasa mudanya pangeran itu juga pernah menapak di jalan kelam, namun dengan kekuatan tenaga dalamnya yang dahsyat, dia dapat menjinakkan pengaruh buruk dari ilmu tersebut.

Oleh karena itu Han Tui Lan juga tidak berani menurunkan ilmu silat tersebut kepada Yok Ting Ting maupun Tio Siau In.

Dia hanya berani mengajarkan ilmu meringankan tubuhnya saja, yakni Bu-eng Hwe-teng.

Dan salah satu geraknya telah dilakukan oleh Yok Ting Ting tadi.

Siapa sangka lelaki pendek itu ternyata sangat awas.

Sekalipun hanya sekilas, ternyata orang itu dapat menebak asal-usul gerakan Yok Ting Ting.

Namun karena selama ini Yok Ting Ting juga tidak pernah diberitahu oleh Han Tui Lan, maka gadis itu juga tidak dapat menjawab pertanyaan lawannya.

"Aku tidak memiliki hubungan sedikitpun dengan Partai Soa-hu-pai. Apabila ilmu silatku hampir sama dengan mereka, hemm... Mungkin cuma kebetulan saja. Sudahlah, kau sendiri siapa? Mengapa kau dan orang-orangmu ini menyerang prajurit-prajurit pemerintah? Apakah kau mau berontak?"

"Hohoho...! Berontak? kau kira siapa kami ini, heh? Kami bukan orang Han. Kami datang dari utara untuk menaklukkan negeri ini! Dan... akulah pemimpin pasukan ini. Namaku... yuen Ka, pembantu terpecaya Panglima Yeh Sui."

Yok Ting Ting tidak kaget mendengar perkataan lawannya. Khabar tentang pasukan Mo Tan yang menyerbu ke selatan, memang sudah banyak ia dengar dalam perjalanan.

"Bagus. Kalau begitu biarlah kubunuh kau lebih dulu, agar kawan-kawanmu segera menyerah!"

Begitulah, mereka segera terlibat dalam perkelahian seru.

Yok Ting Ting yang kini telah tumbuh menjadi seorang gadis lihai, berhadapan dengan Yuen Ka, seorang pembantu dekat Panglima Yeh Sui.

Yuen Ka memiliki ilmu silat dari utara.

Turun-temurun keluarganya me-ngabdi pada keluarga Mo Tan.

Sementara itu panah berapi semakin banyak beterbangan di atas perahu.

Chin Tong Sia yang berada di bagian depan juga sibuk menghadapi keroyokan gerombolan penyerang itu.

Dan ternyata jumlah mereka semakin lama semakin banyak.

Mereka berebut naik ke atas perahu dan menyerang para prajurit Han dengan ganasnya.

Mereka menyerang seperti kawanan lebah yang tidak takut mati.

Di beberapa tempat api tidak bisa dipadamkan lagi.

Api berkobar dan membakar apa saja di dekatnya, sehingga perahu itu mulai miring.

Beberapa orang mulai terjun ke dalam sungai.

Mereka tidak ingin terpanggang dalam panasnya api.

Suasana menjadi kacau-balau.

"Tidak berapa jauh dari perahu itu Souw Thian Hai masih mencoba menghalangi para penyerang yang lain. Pendekar sakti itu menyongsong kedatangan mereka dan menenggelamkan sampan yang mereka tumpangi. Kekuatan dan kesaktian pendekar itu benar-benar menggiriskan hati. Namun demikian usaha untuk menolong prajurit-prajurit kerajaan itu tetap sia-sia. Begitu banyaknya gerombolan yang menyerang, sehingga prajurit-prajurit itu tidak mampu bertahan lagi. Satu-persatu mereka mati di tangan gerombolan penyerang. Bahkan perahu besar itu akhirnya mulai tenggelam pula.

"Tong Sia! Siau In! Ting Ting! Kita tinggalkan tempat ini! Cepat...!"

Tiba-tiba terdengar teriakan Souw Thian Hai, mengatasi suara hiruk-pikuk di atas air tersebut.

Sementara itu Chu Bwe Hong telah membawa perahunya jauh ke hilir.

Wanita tua yang masih amat cantik itu tetap mentaati perintah suaminya.

Dia menghindar dari arena pertempuran dan membawa perahunya terus ke hilir.

Panah dan api yang nyasar ke perahunya, dihalaunya dengan dayung.

Yok Ting Ting dan Tio Siau In juga mendengar perintah Souw Thian Hai.

Mereka segera bersiap untuk pergi.

Sambil menghindari serangan Yuen Ka, Yok Ting Ting berteriak ke arah Tio Siau In.

"Cici! Ayoh, kita pergi dari tempat ini!"

Tapi dengan wajah beringas Yuen Ka mencoba menghalang-halanginya.

"Hoho, jangan harap bisa lolos..."

Yuen Ka mengejek sambil menghadang langkah Yok Ting Ting.

Namun belum juga hilang gema suaranya, lelaki pendek kekar itu tiba-tiba menjerit kesakitan!

Tio Siau In yang sejak tadi berada di dekatnya, sekonyong-konyong berbalik dan menyerang dengan pedang pendek!

"Cresss...!"

Pedang itu menyerempet pinggangnya! Maka tiada ampun lagi dia terdorong mundur dan jatuh keluar perahu! Byuuurr! "Ayolah, Ting-moi! Kita jangan sampai kehilangan Souw Taihiap! Marilah...!"

Tio Siau In dan Yok Ting Ting segera mencari sampan kosong dan bergegas pergi dari tempat itu.

Beberapa orang yang berusaha menghalangi mereka langsung saja mereka bereskan.

Sementara itu di bagian depan, Chin Tong Sia masih berkutet dengan para pengeroyoknya.

Pemuda itu berusaha menolong perwira kerajaan yang pada akhirnya harus berjuang sendirian melawan gerombolan penyerang itu.

Chin Tong Sia tidak ingin ditinggalkan Tio Siau In maupun Souw Thian Hai.

Tetapi pemuda itu juga tak ingin meninggalkan perwira tersebut.

Oleh karena itu tiada jalan lain baginya selain mengeluarkan ilmu pamungkasnya, Cuo-mo-ciang!

Perwira itu harus segera dibawa pergi!

Hanya sesaat saja pemuda itu bersiap, maka seluruh tenaga saktinya telah berkumpul di dalam perutnya.

Ketika kemudian ia berteriak dan menerjang kepungan lawan, maka hasilnya benar-benar menggiriskan!

"Wuuuuus!"

Tujuh orang penyerang yang mengeroyok perwira itu tiba-tiba terpental pergi, bagai dilanda angin puting-beliung. Tubuh mereka terlempar tinggi ke udara dan jatuh di luar perahu.

"Cian-bu! Tinggalkan saja perahu ini! Tidak ada harapan untuk mempertahankannya lagi! Semua prajuritmu telah habis dan perahu ini juga akan tenggelam! Ayoh, ikutlah aku!"

Pemuda itu menyambar lengan perwira itu dan mengajaknya turun ke sebuah sampan kecil yang tiada penghuninya lagi.

Chin Tong Sia lalu mendayung sampan tersebut ke daratan.

Puluhan anak panah bertaburan bagai hujan ke arah mereka, namun dengan mudah mereka menangkisnya.

Beberapa orang yang mencoba menghalang di depan mereka, mereka singkirkan pula.

Ilmu silat Chin Tong Sia memang menakutkan.

Selain sangat ganas juga aneh luar biasa.

Mereka mendarat di tepi sungai hampir berbareng dengan sampan Tio Siau In.

Souw Thian Hai yang telah tiba lebih dahulu, segera mengajak mereka, pergi meninggalkan tempat itu.

Mereka berlalu menyusuri sungai ke arah hilir.

"Marilah! Isteriku tentu sudah tidak sabar lagi menantikan kita!"

Perahu Chu Bwe Hong memang belum terlalu jauh, sehingga mereka segera dapat bergabung kembali.

Souw Thian Hai memerintahkan Tukang Perahu yang telah siuman, untuk memacu perahu mereka.

Souw Thian Hai tidak ingin terkejar lawan.

Sementara itu cahaya kemerahan mulai mengintip di balik pepohonan.

Dan beberapa saat kemudian gelombang air yang bergulung di sekitar perahu merekapun tampak dengan jelas.

Apalagi setelah kehangatan matahari mulai menepis kabut yang ada.

Rasa lega tampak di wajah rombongan itu.

Perasaan tegang serasa hilang bersamaan dengan hilangnya kabut itu.

Kini semuanya dapat saling bertatap muka.

Dan semua mata tertuju ke arah perwira itu.

"Cian-bu...! Apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa pasukanmu sampai bentrok dengan pasukan asing itu?"

Souw Thian Hai bertanya pelan. Perwira itu menarik napas panjang. Rasa sesal tampak sekali di matanya.

"Terima kasih atas pertolongan Taihiap. Terus terang aku tidak mengenal Saudara-saudara, tetapi aku percaya bahwa saudara semua adalah pendekar-pendekar yang mencintai negeri ini. Aku Li Ku Si, perwira pada pasukan Jenderal Ciang Kwan Sit. Pasukan kami digempur habis-habisan oleh pasukan Mo Tan yang dipimpin oleh Panglima Yeh Sui. Kami tercerai berai dan berusaha mencari keselamatan sendiri-sendiri. Aku terpaksa membawa sisa pasukanku ke selatan, menyusuri sungai ini. Tapi di sini pasukanku tetap saja dihancurkan lawan. Tak seorangpun lolos dari tangan Mo Tan. Aku benar-benar sangat menyesal..."

"Sudahlah, Li Cian-bu. Tidak seorangpun menyalahkanmu. Mereka memang lebih kuat. Sekarang Li Cian-bu harus cepat-cepat melaporkan keadaan ini. Apabila terlambat, maka negeri ini akan benar-benar dikuasai Mo Tan. Kami akan membantu, meskipun hanya sebatas tenaga saja, karena soal tatacara atau siasat perang kami tidak mengerti."

Tak terduga wajah Li Kui si semakin kusam.

"Justru hal tersebut yang memprihatinkan kami. Sebenarnya dilihat dari jumlah prajurit dan perlengkapannya, kami sama sekali tidak kalah. Keadaan kami malah lebih baik dari mereka. Tapi perang bukan hanya mengandalkan jumlah dan perlengkapan saja. Taktik dan siasat perang justru memegang peranan yang lebih penting. Mereka dipimpin oleh jago-jago perang yang hebat, sementara kami hanya mengandalkan kekuatan dan perlengkapan saja. Bagaimana mungkin bisa menang?"

Souw Thian Hai terbelalak.

"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Di mana jen-dral-jendral perang yang dulu kita banggakan?"

Li Ku si berdesah pendek.

"Aku tidak berani mengatakannya."

Souw Thian Hai mengangguk-angguk.

Dia memang sudah banyak mendengar tentang keadaan di Kotaraja.

Oleh karena itu dia dapat mengerti ucapan Li Ku Si.

Tapi tidak demikian dengan Chin Tong Sia.

Pemuda itu menjadi marah.

Ucapan Li Ku si benar-benar membuatnya penasaran.

Serentak dia berdiri dan berseru keras sekali.

"Suasana di Kotaraja sekarang memang tidak sehat. Manusia-manusia tamak dan bodoh, yang cuma mengandalkan mulut manis dan kata-kata busuk, dibiarkan memimpin negara. Sebaliknya pahlawan-pahlawan kebanggaan rakyat justru dibuang dan dijebloskan ke dalam penjara. Mana mungkin negeri ini bisa bertahan?"

"Saudara Chin...!"

Souw Thian Hai berbisik.

"Biarlah, Taihiap. Kesal rasanya kalau perasaanku ini tidak aku keluarkan. Biarlah semua orang tahu. Biarlah mereka mengerti. Negeri ini dalam bahaya. Kita harus bangkit. Kita harus menyelamatkannya. Kalau perlu kita singkirkan orang-orang bodoh dan tamak itu! Kita kembalikan pahlawan-pahlawan yang masih ada. Mumpung musuh belum menduduki negeri ini!"

Suara Chin Tong Sia makin bersemangat.

"Saudara Chin, tenanglah...! Dinginkan hatimu! kau berbicara di depan petugas kerajaan. Apakah kau tidak takut dituduh sebagai pemberontak?"

Souw Thian Hai membujuk.

"Biarlah, Souw Taihiap. Aku tidak takut. Biarlah Au-yang Goanswe dan para begundalnya memburu aku. Yang penting, negeri ini harus diselamatkan!"

Li Ku si menatap Souw Thian Hai dengan mata terbelalak.

"Jadi Tuan ini... Hong-gi-hiap Souw Thian Hai yang terkenal itu?"

"Benar, Cian-bu. Perkenalkan ini... Isteriku. Dan anak-anak muda ini adalah teman puteriku. Maafkanlah mereka. Usia mereka masih terlalu muda untuk mengerti urusan negara."

"Ah, tidak apa... souw Taihiap. Apa yang diucapkan anak muda ini memang benar. Kalau boleh memilih, sungguh menyenangkan sekali di bawah pimpinan Yap Tai-Ciangkun dulu. Sayang beliau dianggap bersalah terhadap negara, sehingga harus menjalani hukuman di Benteng Langit. Coba kalau beliau masih berkuasa, hem... tidak mungkin Mo Tan berani menyerang negeri ini!"

"Bagus. Ternyata Cian-bu masih memiliki kecintaan terhadap tanah ini. Namun demikian kecintaan itu tidaklah lengkap tanpa diikuti dengan semangat berkorban."

Chin Tong Sia kembali berseru.

"Anak muda, apa maksudmu?"

Li Ku si mengerutkan keningnya.

"Melihat dan menyadari kekeliruan, tetapi tidak berani bertindak, sama saja dengan pengecut. Nah, kalau keadaan negeri sudah begini, mengapa kita tidak berusaha menyelamatkannya.

"Saudara Chin, katakan yang jelas! Apa maksudmu? Kami belum bisa mencerna kata-katamu..."

Souw Thian Hai berdesah. Chin Tong Sia menatap semua orang yang ada di perahu itu. Tatapan matanya yang dingin dan keras itu menggetarkan juga hati Li Ku si maupun yang lain.

"Li Cian-bu, Souw-Taihiap...! Hanya seorang saja di negeri ini yang sangat disegani Mo Tan! Dia adalah... panglima Yap Kim! Nah, mengapa tidak kita keluarkan saja panglima itu dari penjara? Kita minta beliau untuk memimpin para pejuang!"

Kata-kata yang keluar dari mulut Chin Tong Sia itu benar-benar mengejutkan mereka.

Ucapan itu terlalu berani, karena ucapan seperti itu sudah cukup untuk menuduhnya sebagai pemberontak.

Akhirnya Souw Thian Hai maju ke depan.

Dengan sareh ia berkata.

"Saudara Chin, sadarlah. Kami paham perasaanmu. Tapi hati-hatilah berbicara. Ucapan itu sangat membahayakan jiwamu. kau... Hem... Lebih baik kau segera meminta maaf kepada Li Cian-bu."

Souw Thian Hai berkata tegas. Tidak terduga Li Ku si maju ke depan dan memegang lengan Souw Thian Hai. Ucapan yang keluar dari mulutnya justru lebih mengagetkan dari pada perkataan Chin Tong Sia.

"Souw Taihiap, biarlah. Kurasa apa yang dikatakan anak muda ini memang benar semua. Dalam situasi seperti ini pikiranku justru terbuka. Kita memang harus berani berkorban demi negeri ini. Berapalah harganya jiwa ini kalau dibandingkan dengan kepentingan negara? Mengapa kita harus takut mati? Mengapa kita harus takut sengsara dan menderita? Hmmh... aku setuju untuk mengeluarkan Yap Tai-Ciangkun dari Benteng Langit!"

Semuanya terdiam.

Ucapan perwira kerajaan itu bagaikan petir yang menyambar lubuk hati mereka.

Kesadaran mereka timbul.

Terutama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

Di waktu muda pendekar itu pernah berjuang bersama Panglima Yap Kim menegakkan negeri ini.

Sekarang setelah semuanya menjadi baik, seorang pengkhianat justru menjebloskan pahlawan itu ke dalam penjara.

"Baik! Aku juga setuju! Mari kita buat rencana untuk membebaskan dia!"

Tiba-tiba pendekar tua itu berkata tegas.

"Hai-ko...?"

Chu Bwe Hong menyentuh lengan suaminya. Souw Thian Hai merangkul pundak isterinya.

"Aku tahu bahwa usiaku sudah tua, Hong-moi. Tapi bila kuingat saat-saat kita berjuang bersama saudara Yap, hatiku kembali terbakar. Sungguh tidak adil. Seorang pahlawan dan pejuang besar, yang ikut menegakkan negeri ini malah dikurung di dalam penjara! Sungguh tidak adil! Almarhum Kaisar Liu Pang tentu tidak akan menerima perlakuan ini. Kita harus berbuat sesuatu!"

"Jadi...?"

Chu Bwe Hong menatap wajah suaminya.

"Benar apa yang dikatakan saudara Chin. Kita harus berani berkorban. Kalau anak muda seusia dia saja berani meng-ngorbankan nyawanya, apalagi kita yang sudah mau masuk liang kubur ini!"

"Baiklah, Hai-ko. Aku juga setuju pada niatmu. Kita berangkat bersama! Kita tunda dulu urusan anak kita."

Wajah Chin Tong Sia yang dingin itu menjadi lega dan gembira sekali.

Tanpa harus membujuk atau memberi alasan macam-macam, mereka telah memutuskan sendiri untuk pergi ke Benteng Langit!

Kini tinggal Tio Siau In dan Yok Ting Ting yang belum bicara.

"Bagaimana dengan jiwi Lihiap?"

Pemuda itu bertanya dengan suara kaku.

Tio Siau In dan Yok Ting Ting saling pandang.

Keduanya memang belum mengenal Panglima Yap Kim.

Tapi melihat Souw Thian Hai yang terkenal itu ingin pergi ke Benteng Langit, mereka merasa tertarik pula.

Tak terasa keduanya mengangguk.

"Bagus. Kalau begitu sekarang juga kita ke sana...!"

Chin Tong Sia berseru lega. Lalu sambil berjalan pemuda itu menjelaskan apa yang hendak dia kerjakan di Benteng itu bersama teman-temannya.

"Jadi... Itukah yang hendak kau kerjakan bersama teman-temanmu? Ah, Lohu semakin menjadi tidak sabar untuk melihat Souw Hong Lam. Siapa sebenarnya anak itu?"

Souw Thian Hai berdesah dengan suara gemetar.

"Taihiap dapat menemuinya nanti. Tapi yang jelas kita harus segera menemui mereka. Kita harus membentahu bahwa salah seorang dari mereka adalah penyelundup."

"Benar. Sementara itu aku bisa mengumpulkan sisa-sisa pasukan Jendral Ciang Kwan Sit yang kita temui. Siapa tahu mereka dapat membantu rencana ini?"

Li Ku si berseru pula dengan wajah gembira.

Demikianlah mereka lalu mempercepat jalan perahu mereka.

Benteng Langit tinggal setengah hari perjalanan lagi.

Sambil melaju mereka juga melihat-lihat, kalau ada sisa-sisa prajurit Jendral Ciang Kwan Sit yang dapat mereka kumpulkan.

Sekarang kita ikuti kembali rombongan Liu Wan yang telah tiba lebih dulu di Benteng Langit.

Rombongan itu tiba tepat pada waktu tengah malam, di saat rombongan Chin Tong Sia bertempur melawan pasukan Yuen Ka.

Seperti yang pernah mereka dengar sebelumnya, benteng itu didirikan Kaisar Chin di atas tanah karang luas.

di tengah-tengah pertemuan dua aliran sungai besar, yaitu Sungai Huang-ho dan Sungai Huai.

Tanah berkarang terjal itu menjulang tinggi di atas permukaan air, sehingga sulit dijangkau dari daratan.

Dan tempat itu sangat berbahaya bagi perahu-perahu yang lewat.

Selain gelombangnya besar, di tempat itu juga banyak pusaran air akibat pertemuan dua aliran sungai.

Untuk memasuki benteng juga hanya satu jalan, yaitu dari pintu gerbang depan.

Di bagian ini dibangun anak tangga menuju gerbang.

Sementara bagian samping dan belakang hanya terdiri dari bangunan tembok tinggi di atas karang terjal.

Meskipun demikian tadi malam Liu Wan dan rombongannya telah berhasil memasuki benteng.

Mereka merayap seperti cecak di atas dinding terjal itu.

Kenyataan di mana selama ini tidak pernah seorangpun berani memasuki benteng itu, membuat penjaganya lengah, tidak seorangpun menyadari bahwa benteng mereka dimasuki orang.

Akan tetapi Liu Wan dan kawan-kawannya menjadi bingung setelah berada di dalam benteng.

Tempat itu demikian luas dan rumit.

Puluhan gedung atau bangunan tersebar di mana-mana.

Ratusan kamar dan ruangan terdapat di dalamnya.

Mereka tidak tahu, di mana Panglima Yap Kim disekap.

Semalam mereka mondar-mandir.

Dengan kesaktian mereka, tidak seorang penjagapun mampu melihat mereka.

Namun demikian mereka tetap tidak dapat menemukan Panglima Yap Kim.

Sampai matahari terbit usaha mereka belum membawa hasil.

Terpaksa mereka mencari tempat bersembunyi.

Akhirnya mereka menyelinap di gudang bawah tanah.

"Wah! Sama sekali tidak terbayang-kan olehku, bahwa benteng ini demikian luasnya. Bagaimana kita dapat menemukan ruang itu, tanpa petunjuk dari orang-orang dalam benteng ini sendiri...?"

A Liong yang belum pernah melihat benteng itu bersungut-sungut.

"Kau benar. Kita memang harus menangkap seorang dari penjaga itu. Kita paksa dia menunjukkan tempatnya. Benar, cuma itu yang dapat kita tempuh!"

Tiau Hek Hoa tersentak lega, seakan dapat menemukan sebuah benda berharga. Liu Wan mengangguk-angguk.

"Baik. Kita coba setelah hari menjadi gelap nanti. Sekarang sangat berbahaya. Lebih baik kita beristirahat dan menyusun tenaga. Rencana kita ini harus berhasil. Apabila gagal, maka Panglima Yap Kim akan mereka sembunyikan di tempat yang lebih sulit lagi!"

Mereka lalu mencari tempat sendiri-sendiri yang mereka anggap nyaman untuk beristirahat.

Gudang itu sangat luas dan kurang terawat.

Rongsokan senjata atau bekas peralatan.

bangunan banyak berserakan di tempat itu.

A Liong mendapatkan tempat tersembunyi di bawah tangga.

Badannya yang besar seperti kerbau jantan itu segera tergeletak di atas papan kayu.

"Awas! Kalau sampai mendengkur, kubunuh kau!"

Terdengar suara ancaman Tiau Hek Hoa di belakangnya. A Liong menoleh. Dilihatnya gadis berkulit hitam itu melotot di pojok ruangan, tidak jauh dari tempatnya. Tidak terasa bibir A Liong tersenyum.

"Apakah kau tega membunuh aku? Lihatlah baik-baik! Betapa tampannya aku! Sayang, bukan?"

Pemuda itu meledek dengan suara tertahan.

"Srettt!"

Gadis bermuka hitam itu tiba-tiba melompat dan menyerang A Liong! Tangannya telah menggenggam kipas baja! "Kerbau jelek! Lebih baik kubunuh saja kau sekarang!"

A Liong mengelak.

Pemuda itu telah bersiap sejak tadi.

Dua kali dibokong Tiau Hek Hoa, membuat A Liong selalu waspada terhadap gadis itu.

Ternyata benar juga kekhawatirannya, gadis berkulit hitam itu telah membokongnya lagi.

"Ssst! Jangan berisik, atau... Kita akan menggagalkan tugas kita, A Liong menggeram. Kali ini suaranya berubah tegas dan bersungguh-sungguh. Tiau Hek Hoa menahan tangannya. Matanya melirik. Sekilas ia melihat rasa kesal dan marah di wajah Tabib Ciok dan Souw Hong Lam. Otomatis tangannya menurun.

"Baik. Kita tunda dulu urusan kita. Tapi setelah tugas ini selesai, hemm... jangan harap bisa lolos dari tanganku!"

Tiau Hek Hoa tetap mengancam. A Liong tersenyum geli. Sambil merebahkan tubuhnya kembali, ia menjawab seenaknya.

"Ah, peduli amat! Kalau nasibku memang akan mati, orang lainpun bisa membunuhku. Tidak perlu harus menggunakan tanganmu. Hehehehe...! Apa bedanya mati di tangan gadis ayu atau nenek-nenek jelek?"

"Apa katamu...?"

Tiau Hek Hoa hampir kehilangan kendali lagi.

"Tiau Lihiap...! saudara A Liong!"

Liu Wan berdesah pendek.

"Kuharap kalian dapat saling menahan diri."

Souw Hong Lam menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Seperti anjing dan kucing saja..."

Hari itu terasa panjang sekali.

Tiau Hek Hoa selalu bersungut-sungut dan mondar-mandir mengelilingi ruangan itu.

Gadis yang biasanya bergerak bebas dan berbuat apa saja itu benar-benar merasa tersiksa harus menunggu.

Ingin benar rasanya dia mendobrak pintu ruangan dan mengamuk di luar sana.

Untunglah Liu Wan selalu membujuknya.

Sambil bermain "petak kerikil,"

Pemuda itu berusaha mendinginkan hati Tiau Hek Hoa.

"Waduh, perutku mulai lapar...! Sialan!"

Tiba-tiba A Liong bangkit dari tidurnya dan menggerutu. Liu Wan dan Souw Hong Lam tersenyum.

"Badanmu terlalu besar sehingga cepat lelah dan lapar."

Liu Wan menggoda. Pemuda itu tidak meladeni kelakar Liu Wan. Perlahan-lahan dia melangkah-ke pintu samping.

"Hai, saudara A Liong... Mau kemana kau? Di luar banyak prajurit berjaga."

"Ciok Sinshe, jangan khawatir. Aku cuma ingin mengintip saja. Siapa tahu di luar ada makanan. Bisa melihatpun sudah cukup bagiku..."

"Silakan saja, asal tidak keluar!"

"Beres, deh!"

A Liong menjawab santai sambil tetap melangkah melintasi ruangan itu.

Mula-mula pemuda itu memang hanya mengintip saja dari celah-celah daun pintu.

Tapi begitu melihat di luar kelihatan sepi dan kosong, dia segera menyelinap keluar dengan mengendap-endap.

Seluruh uratnya menegang, suatu tanda bahwa dia dalam keadaan siap-siaga penuh.

Ternyata lorong di luar pintu itu menembus ke bangunan belakang.

Bau asap yang terbawa oleh angin menunjukkan bahwa bangunan tersebut adalah dapur.

Diam-diam A Liong gembira.

Sungguh sangat kebetulan baginya.

Beberapa saat lamanya A Liong berdiam diri di mulut lorong.

Matanya beredar ke segala penjuru.

Setelah yakin tidak ada orang, baru dia menyelinap ke luar.

Dalam sekejap tubuhnya telah melesat ke atas bangunan.

Dari atas A Liong dapat melihat beberapa orang petugas sedang menanak nasi dan membuat bubur panas.

"Nasi itu tentu untuk para penjaga, sedangkan buburnya untuk para tawanan."

A Liong berkata dalam hati.

Ilmu meringankan tubuh A Liong sungguh hebat sekali.

Meskipun bertubuh besar, namun A Liong mampu bergerak cepat dan lincah.

Pemuda itu berloncatan di atas penglari rumah, seperti seekor tupai berkejaran.

Demikian ringan dan gesit gerakannya, sehingga petugas dapur itu tidak ada yang tahu.

A Liong cepat berlindung di balik kayu ketika seorang prajurit masuk ke dalam ruangan.

Prajurit itu duduk di atas bangku sambil mengeluh.

"Uh, gila! Semalaman aku tak bisa tidur! Kini harus berkumpul pula! Huh! A-sam, berilah aku semangkuk bubur aku lapar sekali."

"Berkumpul? Bukankah sekarang belum waktunya untuk berganti pasukan?"

Seorang tukang masak mendekat sambil membawakan bubur panas. Demikian gemuk badannya, sehingga langkahnya terasa berat sekali.

"Bukan itu sebabnya, katanya tadi malam ada utusan dari Kotaraja masuk ke dalam benteng ini. Utusan itu memperingatkan kita, agar bersiap-siaga menerima kedatangan musuh."

"Hei...???"

Semua orang yang berada di dalam ruangan itu tersentak kaget. Prajurit itu tidak peduli. Sambil menikmati buburnya, dia melanjutkan ceritanya.

"Katanya... pasukan Raja Mo Tan telah merembes ke selatan. Kemarin telah terjadi pertempuran di hulu sungai, antara sisa-sisa pasukan Jendral Ciang Kwan Sit melawan pasukan Mo Tan. Dan sisa-sisa pasukan itu dibabat habis oleh mereka. Sekarang pasukan Mo Tan dalam perjalanan ke daerah ini. Diperkirakan mereka akan sampai di sini besok lusa"

"Aduh! Celaka, bagiamana mereka dapat menyeberangi tembok besar bukankah di sana ada bala tentara Jendral Kongsun yang kuat dan besar jumlahnya?"

"Ah, piciknya pengetahuanmu! Pasukan Raja Mo Tan juga banyak sekali jumlahnya. Panglima-panglima mereka juga terkenal gagah berani. kau pernah mendengar nama... panglima Solinga? Panglima Yeh Sui? Atau... panglima Huang Yin? Huh, mereka itu tidak kalah hebatnya dengan bekas Panglima Yap Kim!"

A Liong kaget juga mendengar cerita itu.

Ternyata keadaan telah berubah dengan cepat.

Pasukan Mo Tan benar-benar bergerak sangat cepat.

Belum ada sepekan khabar tentang gerakan pasukan itu, kini sebagian dari mereka telah menyeberangi Propinsi Syan-si.

"Panglima Solinga yang terkenal kejam itu? Tentu saja semua orang mengenalnya. Memang hanya Panglima Yap Kim yang dapat menandingi dia!"

Salah seorang dari tukang masak itu kelepasan bicara.

"Sssst! Berani benar kau omong seperti itu?"

Kawannya cepat menyodok pinggangnya.

"Tapi... tapi aku hanya mengikuti omongan dia!"

Tukang Masak itu menunjuk ke arah prajurit yang sedang makan bubur.

"Sudahlah. Tidak apa-apa. Kita cuma berbicara tentang kehebatan bekas panglima itu. Kita tidak berbuat hal-hal yang menyalahi aturan. Bekas panglima itu memang hebat dan sangat pandai ilmu perang. Tidak salah, bukan?"

Prajurit itu tersenyum santai. Tukang Masak itu menjadi lega. Sambil mengambilkan semangkuk bubur lagi, dia duduk di sebelah prajurit itu.

"Eh! Omong-omong tentang bekas panglima itu, emm... bagaimana khabarnya sekarang? Apakah dia baik-baik saja?"

Sambil menyambar bubur yang disodorkan kepadanya, prajurit itu mendengus.

"Tentu saja keadaannya tetap baik. Sebagai bekas panglima, ia tetap diperlakukan secara khusus. Ruangannya selalu bersih. Makanannyapun selalu teratur."

"Ah! Baik sekali kalau begitu. Bagaimanapun juga dia pernah ikut berjasa mendirikan negeri ini. Ehm, lalu... apakah ruangnya masih tetap di atas Ruang Penyiksaan itu? Tidak dipindah-pindahkan lagi?"

Tukang Masak yang gemuk itu bertanya lagi dengan suaranya yang nyaring.

"Dulu memang harus selalu dipindah-pindah untuk mengelabuhi kawan dan para pendukungnya. Tapi sekarang? Sudah bertahun-tahun tidak ada orang yang datang kemari. Mereka telah bosan. Kekuatan mereka telah habis. Sekarang kita tak perlu khawatir lagi."

A Liong beringsut.

Tiba-tiba muncul sebuah rencana di idalam benaknya.

Prajurit itu dapat dipergunakan sebagai penunjuk jalan menuju ruang penjara.

Selesai menghabiskan dua mangkuk bubur, prajurit itu menguap.

Sambil mengelus-elus perutnya, ia melangkah ke luar menuju baraknya.

Di luar pintu ia berpapasan dengan petugas pengambil air, seorang lelaki tua berambut putih.

Orang tua itu memikul dua gentong besar tanpa kesulitan.

"Persediaan air di sini masih cukup banyak, Lo Liu. kau tidak perlu menambahnya lagi."

Prajurit itu menegur sambil menghadang di depan Tukang Air. Tukang Air itu berhenti. Tanpa meletakkan pikulannya dia memasang teli nga, sementara matanya justru terpejam.

"Ah, Prajurit Go rupanya. Maaf. Air di dapur ini memang masih banyak. Tapi aku ingin menambahnya lagi barang sepikul..."

"Hohoho, ternyata ingatan dan pendengaranmu hebat sekali. Hanya dengan mendengar suaraku, kau langsung bisa menebak namaku."

"Prajurit Go, orang buta seperti aku harus dapat menggunakan panca indera yang lain sebaik-baiknya."

"Baiklah, silakan..."

A Liong tertegun.

Tukang air itu ternyata buta.

Namun demikian langkahnya amat mantap dan tegas.

Sama sekali tidak canggung atau ragu.

Gerakannya seperti orang waras saja.

Ketika lewat di bawah penglari di mana A Liong bertengger, tukang air bernama Lo Liu itu berhenti sebentar.

Mulutnya terbatuk-batuk, kemudian berjalan lagi.

A Liong berdebar-debar.

Dia merasa orang itu tahu akan kehadirannya.

"Wah, kalau orang itu benar-benar pekerja beteng ini, aku harus berhati-hati. Firasatku mengatakan kalau dia memiliki kepandaian sangat tinggi."

Ketika orang-orang itu mulai bekerja lagi, A Liong lalu beringsut keluar.

Dilihatnya prajurit Go itu masih berjalan santai menuju baraknya.

Sebuah barak panjang di dekat kandang kuda.

Dan di depan barak itu berkumpul belasan prajurit lainnya.

A Liong melihat seorang Tukang Kuda melintas di dekat gudang penyimpan jerami.

Dan kesempatan itu tidak disia-siakannya.

Sekejap saja ia telah berada di belakang orang itu.

"Tukk! Tukk!"

Tukang Kuda itu roboh pingsan terkena totokannya.

Sebelum ada yang tahu, orang itu telah diseret A Liong ke dalam gudang jerami.

Bergegas celana dan bajunya dia ambil dan dipakai.

A Liong tidak peduli meskipun agak kekecilan.

Setelah menyembunyikan tubuh Tukang Kuda itu di balik tumpukan jerami, A Liong keluar sambil menggendong seikat jerami.

"Prajurit Go...!"

A Liong memanggil prajurit yang sedang melangkah ke barak itu. Prajurit itu menoleh.

"Ada apa...? Hmm, kau Tukang Kuda baru, ya?"

Kata prajurit itu kemudian sambil melangkah kembali mendekati A Liong. A Liong melirik ke sekelilingnya. Perasaannya menjadi lega ketika para prajurit di depan barak itu tidak melihat ke arahnya.

"Prajurit Go, di dalam gudang jerami ada... Kantung emas. Lihatlah!"

Setelah berhadapan A Liong berbisik. Mendengar perkataan "emas,"

Prajurit itu segera kehilangan kewaspadaannya. Dengan wajah kaget prajurit itu segera masuk ke dalam gudang.

"Mana...?"

Tapi belum juga habis perkataannya, jari A Liong telah menotok pangkal lehernya.

"Bruuug!"

Prajurit itu terpuruk di atas jerami.

"Bagus. Sekarang tinggal memikirkan, bagaimana caranya membawa dia ke gudang bawah tanah."

A Liong berpikir.

Belasan orang petugas telah mulai membawa nasi dan bubur dari dapur ke beberapa tempat.

Dalam kesibukan seperti itu A Liong menyelinap keluar dengan sebongkok besar jerami di atas kepalanya.

Dia sengaja mengambil jalan memutar, melewati semak-semak perdu yang banyak terdapat di antara kandang kuda dan dapur.

Seorang petugas dapur melihatnya, tetapi dia menyangka A Liong sedang memindahkan jerami ke bangunan belakang.

"Hei, apakah gudang jeramimu sudah penuh?"

Tanpa mengendorkan langkahnya A Liong mengiyakan.

Tapi demikian lolos dari penglihatan semua orang, pemuda itu segera masuk ke dalam lorong bawah tanah.

Dan tentu saja kedatangannya sangat mengagetkan kawan-kawannya.

Apalagi setelah dari gulungan jerami yang dibawanya itu muncul tubuh Prajurit Go tadi.

"Saudara Aliong dari mana kau dapatkan orang ini...?"

Liu Wan bertanya dengan suara tegang.

"Benar, kemana saja kau ini...?"

Souw Hong Lam mendesak pula.

"Dia seorang prajurit penjaga benteng ini. Aku membawanya kemari karena dia mengetahui tempat Panglima Yap Kim disembunyikan. Dia dapat menunjukkan tempat itu."

Dengan tenang A Liong menjelaskan.

Begitu siuman, prajurit itu terkejut sekali.

Dia segera bangkit, namun segera jatuh kembali di atas lantai.

Tiau Hek Hoa menghantam tengkuknya dengan gagang kipasnya.

"Kau tidak boleh pergi. kau harus menunjukkan tempat di mana Panglima Yap Kim dikurung."

Gadis itu mengancam.

"Kalian siapa? Kalian mau menyerang benteng ini?"

Dalam keadaan terdesak prajurit itu mencoba menggertak.

"Jangan banyak bicara! Pilih saja salah satu! Mengantar kami ke tempat Panglima Yap Kim nanti malam, atau... Kubunuh saja kau sekarang!"

Tiau Hek Hoa yang kejam itu menghardik.

"Nona Tiau, jangan terlalu keras...!"

Liu Wan berdesah pendek. Prajurit itu melirik Liu Wan, lalu ia menggeram.

"Bagaimana kalau aku tidak bersedia?"

Tiba-tiba tangan kiri Tiau Hek Hoa mencengkeram rambut prajurit itu, sementara tangan kanannya mengeluarkan sebutir pel merah dari kantungnya.

Sebelum yang lain dapat mencegah, pel itu telah dijejalkan ke mulut Prajurit Go.

"Nah! Dengarlah...! Tanpa obat pemunah dari aku, jangan harap kau bisa hidup! Lihatlah...!"

Sekali lagi gadis itu bergerak.

Kali ini dia menyambar cecak yang sedang merayap di atas dinding.

Binatang itu lalu diletakkan di depan Prajurit Go.

Cecak itu lalu dijejali dengan pel yang sama.

Hanya kali ini tidak diberikan seluruhnya, tapi hanya sepotong kecil saja.

"Nih, lihatlah...!"

Gadis itu lalu meletakkan binatang tersebut di atas lantai.

Baik A Liong maupun Liu Wan hanya saling pandang sambil mengerutkan dahi mereka.

Seperti halnya Souw Hong Lam, mereka juga belum memahami maksud Tiau Hek Hoa.

"Nona Tiau, kasihan cecak ini. Kembalikan dia ke..."

Belum habis kata-katanya, mata Liu Wan terbelalak.

Tubuh cecak yang menggeliat-geliat di atas lantai itu tiba-tiba mencair.

Mula-mula dari kepalanya, kemudian merata ke seluruh badannya.

Sebentar saja binatang itu telah berubah menjadi cairan kuning kehijauan!

"Oooh...!"

Prajurit Go memekik ketakutan. Tapi bukan hanya prajurit itu yang! merasa ngeri melihat keganasan pel Tiau Hek Hoa. Ternyata A Liong, Liu Wan dan Souw Hong Lampun diam-diam merasa ngeri juga.

"Gadis ini sungguh berbahaya..."

Masing-masing berkata di dalam hati. Sekarang Prajurit Go benar-benar ketakutan setengah mati. Dia tak ingin dagingnya mencair seperti cecak itu.

"Lihiap, to-tolonglah...! Jangan bunuh aku! Akan aku tunjukkan tempat itu! Percayalah! Tapi... t-tapi... berilah aku obat pemunahnya dulu! Tolonglah!"

Tiau Hek Hoa mencibirkan bibirnya.

"Huh, aku tidak sebodoh yang kau kira. Obat pemunah itu baru akan kuberikan kepadamu setelah kau menunjukkan tempat Panglima Yap Kim. Untuk sementara kamu tak usah takut pada Pel Pemusnah Dagingku. Aku hanya memberimu sebutir pel saja. Berarti tubuhmu masih dapat bertahan sampai besok pagi. Percayalah!"

"Jadi... jadi...??"

"Sudahlah. Kita tunggu saja sampai matahari terbenam. Setelah kau tunjukkan ruang Panglima Yap Kim, pel pemunahnya akan kuberikan padamu."

Gadis itu sekali lagi mencibirkan bibirnya. Liu Wan menggeleng-gelengkan kepalanya. Meskipun gertakan itu sangat jitu, namun rasanya terlalu keji dan semena-mena.

"Tapi... Lihiap, bagaimana kalau racun pel itu terlanjur merusak isi perut-ku? Lihiap, kumohon... berikan obat pemunahnya sekarang! Aku bersumpah tidak akan ingkar janji! Kasihanilah aku..."

Prajurit itu merintih dan mengiba-iba di depan Tiau Hek Hoa.

"Diam kau! Sekali kukatakan nanti... ya nanti! Keputusanku tidak dapat diubah-ubah lagi!"

Tiau Hek Hoa membentak. A Liong merasa kasihan. Bagaimanapun juga dialah yang membawa prajurit itu ke sini.

"Ah! Mengapa kita harus takut padanya? Berikan saja pel pemunahmu itu! Aku tanggung dia takkan berani melarikan diri!"

Mata Tiau Hek Hoa mendelik. Suaranya terdengar kaku dan ketus ketika menjawab perkataan A Liong.

"Huh! Tampaknya kau memang tidak tahan lagi! kau ingin bertarung dengan aku sekarang juga! Baik! Akan kulayani sampai salah seorang diantara kita mampus di tempat ini!"

A Liong berdiri tegak.

Tampaknya pemuda itu juga tidak mau mengalah lagi.

Wajahnya tampak keruh dan kesal, sorot matanya juga kelihatan seram dan menakutkan.

Dari kedua belah tangannya yang terkepal terdengar suara ber-kerotokan.

"Kau memang perempuan tak tahu diri. Orang sudah mau mengalah, kau tetap saja menindas dan memojokkan! Hmh, kau kira orang lain juga tidak dapat berbuat gila sepertimu? Baik! Kalau kau memang ingin bermain gila-gilaan, bermain menang-menangan, kau akan mendapatkannya! kau akan mendapat lawan main yang cocok! Aku dapat berbuat lebih edan dan lebih menyeramkan dari pada kamu!"

Sebagai manusia yang sudah kenyang dengan segala macam pengalaman buruk, maka A Liong memang dapat berbuat apa saja.

Dia pernah.

diperlakukan orang seperti anjing, seperti benda mati, seperti kotoran!

Sebagai pengemis hidupnya memang penuh penghinaan dan kesengsaraan!

Ternyata sikap pemuda itu cukup menggetarkan hati Tiau Hek Hoa.

Wajahnya yang galak sedikit meredup.

Namun sebelum mereka benar-benar bertarung, Liu Wan sudah lebih dulu melerainya.

"Hentikan! Kalian mau berhenti atau tidak?"

Pemuda yang sedang menyamar sebagai tabib tua itu berteriak tertahan. Dua orang yang siap berlaga itu menggeram. Keduanya tampak marah dan penasaran.

"Baiklah, Ciok Sinshe. Maafkanlah aku."

Akhirnya A Liong mengendorkan tangannya.

"Terima kasih, saudara A Liong. Dan... Kau, Lihiap! Kuharap kaupun dapat menahan diri. Kita semua sedang melaksanakan tugas berat. Kita harus menggalang kekuatan kita. Singkirkan dulu segala macam pertengkaran dan perbedaan kita! Bagaimana...? Emm, baiklah... sekarang kuminta Tiau Lihiap mau memberikan obat pemunah racunnya! Berikan kepada orang ini supaya dia dapat menunjukkan tempat itu dengan hati tenang!"

Mata yang menyala itu perlahan-lahan meredup.

"Baiklah, aku turuti katamu. kAu-yang paling tua. Dan... Kau pula yang memimpin tugas ini. Tapi setelah tugas ini selesai, jangan harap kau dapat melarangku lagi. Kerbau dungu ini tetap akan kubunuh!"

"Terserah...! Lohu memang tidak berhak untuk mencampuri urusan kalian."

A Liong tidak mau berbicara lagi. Setelah gadis itu memberikan pel pemunah racunnya, dia segera kembali pula ke tempatnya. Souw Hong Lam yang jarang berbicara itu datang mendekatinya.

"Saudara A Liong, bersabarlah! Kami tahu bahwa kau sudah banyak mengalah kepadanya. Tapi demi keberhasilan tugas kita, kuharap kau lebih banyak mengalah lagi. Rasanya kau lebih dapat berpikir jernih daripada dia. Nah, sekarang beristirahatlah...!"

A Liong tersenyum.

"Jangan khawatir, saudara Souw. Aku bukan macam orang suka berkelahi. Bahkan sejak kecil aku sudah terbiasa hidup bergotong-royong dengan orang lain. Aku bekas gelandangan, yang tumbuh diantara kawanan pengemis. Rasanya aku lebih banyak memiliki rasa perdamaian daripada permusuhan."

"Gelandangan...? kau bekas gelandangan? Ah, aku tidak percaya. Tubuhmu besar dan kuat!"

Sekali lagi A Liong tersenyum.

"Saudara Souw! Aku berkata sebenarnya. Aku benar-benar tidak mempunyai sanak-keluarga seperti engkau. Sejak kecil aku selalu berkelana dari kota ke kota. Kawanku banyak sekali. Kalau akhirnya badanku bisa tumbuh seperti ini, aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin karena nafsu makanku besar sekali. Sekali makan aku bisa menghabiskan sebakul nasi."

"Ah, kau bisa saja...!"

Ternyata pada saat yang sama, Tiau Hek Hoa juga sedang mendekati Prajurit Go.

Dengan suara geram bibir tipis itu berbisik di telinga prajurit itu.

Perlahan saja, tapi sangat mengejutkan pendengarnya!

"Awas!

Jangan macam-macam kau!

Obat yang kuberikan itu obat palsu, bukan obat pemunah racunku!

Obat pemunah yang asli baru akan kuberikan setelah tugasmu selesai!

Tahu...?"

Demikianlah, malam itu mereka mulai bergerak setelah lonceng berdentang sembilan kali.

Prajurit Go yang tidak mau mati konyol membawa mereka menyelinap melalui tempat-tempat yang aman.

Mereka melewati lorong-lorong rahasia, yang tidak mungkin mereka ketahui tanpa bantuan Prajurit Go.

Setelah naik-turun tangga dan berputar-putar melewati puluhan lorong rahasia, mereka muncul di tempat terbuka.

Prajurit Go berhenti.

Kulit mukanya tampak pucat.

"Nah! Mulai dari tempat ini kita tidak dapat melalui jalan rahasia lagi. Kita harus menyeberang halaman ini dan masuk ke pintu gerbang di tengah-tengah bangunan itu. Tapi hal itu tidak mungkin kita lakukan tanpa diketahui penjaga. Di sekeliling halaman ini banyak pos-pos penjagaan yang dihuni oleh pasukan prajurit pilinan. Lihatlah lampu-lampu minyak itu...! Itulah pos-pos penjagaan!"

Liu Wan termangu-mangu. Prajurit itu tentu tidak berbohong. Memang sulit melintas di halaman luas itu tanpa terlihat oleh penjaga. Apalagi bulan bersinar dengan cerahnya.

"Bagaimana pendapatmu, saudara Souw? kau jarang. sekali berbicara. Mungkin kau dapat menemukan jalan yang terbaik?"

Pemuda ganteng itu tidak segera menjawab. Matanya menatap ke ujung halaman tanpa berkedip. Tiba-tiba ia melihat kesibukan di setiap pos penjagaan itu.

"Ciok Sinshe, lihat...! Prajurit-prajurit itu keluar dari pos masing-masing! Mereka menyusun barisan dengan tergesa-gesa! Tampaknya telah terjadi sesuatu dalam benteng ini...!"

Tangan Tiau Hek Hoa dengan cepat menyambar lengan Prajurit Go.

"Cepat katakan! Apakah mereka tahu kedatangan kita?"

Gadis itu menggeram marah.

"Aku~. aku tidak tahu! Benar! Aku tidak tahu! Bukankah seharian penuh aku bersama kalian? Mana sempat aku berbuat yang bukan-bukan?"

Prajurit itu mendesis kesakitan.

"Kalau begitu... Mengapa mereka ber-siap-siaga seperti itu?"

A Liong cepat-cepat menengahi.

"Sungguh! Aku tidak tahu! Oh, ya... Mungkin... Mungkin pasukan Mo Tan itu benar-benar sudah datang! Jadi... jadi mereka bersiap untuk mempertahankan benteng ini. Pertempuran besar akan segera berlangsung...!"

"Pasukan Mo Tan? Oh? Begitu cepatnya mereka datang?"

Sekejap kemudian suasana di dalam benteng itu menjadi sibuk luar biasa.

Ratusan prajurit yang sedang berada di dalam benteng itu segera menyebar ke segala penjuru.

Mereka menempati pos masing-masing.

Segala macam perleng-^ kapan tempur mereka siapkan.

Mereka mengeluarkan gerobag-gerobag senjata, kereta berisi batu-batu peluncur dan segala macam peralatan perang lainnya.

Semua itu mereka lakukan tanpa banyak menimbulkan suara.

Mereka bekerja seperti kawanan hantu.

"Bagus! Keributan ini justru membantu kita! Ayoh, sekarang kita menyeberang ke pintu gerbang itu!"

Liu Wan berbisik sambil mencengkeram lengan Prajurit Go.

"Nanti dulu! Bagaimana kalau ada yang melihat kita...?"

Souw Hong Lam mencegah niat itu. Semuanya tertegun. Ucapan itu memang mengandung kebenaran. Walaupun suasana sedang ribut, tapi hanya mereka sendiri yang tidak mengenakan seragam.

"Hei, dimana Kerbau Dungu itu?"

Tiba-tiba Tiau Hek Hoa berseru lirih ketika matanya tidak melihat A Liong.

Liu Wan dan Souw Hong Lam terkejut.

Tapi mereka segera menghela napas lega.

Pemuda tinggi besar itu melangkah dari tempat gelap.

Kedua tangannya memeluk tumpukan seragam prajurit.

"Maaf, aku baru saja mencari seragam prajurit! Nih! Silakan pakai! Pilihlah yang cocok! Kita pergunakan untuk menyamar seperti mereka!"

Liu Wan saling pandang dengan Souw Hong Lam.

Mereka benar-benar kagum atas kecekatan pemuda itu.

Hanya Tiau Hek Hoa yang semakin masam mukanya.

Hampir saja ia tak mau memakainya.

Dalam situasi kalut seperti itu, maka seragam mereka benar-benar membantu.

Apalagi disamping mereka ada Prajurit Go yang mengenal baik isyarat atau kode-kode di dalam benteng itu.

Namun demikian ketika hendak masuk ke dalam pintu gerbang, Prajurit Go sempat gemetar juga.

Pintu gerbang itu dijaga ketat oleh pasukan khusus, yang terdiri dari tiga puluh enam orang.

Pasukan itu dibagi menjadi empat kelompok, yang bergantian menjaganya.

Tapi A Liong tidak takut.

Pemuda itu tetap melangkah dengan tenang, seperti layaknya seorang prajurit jaga.

Di tengah pintu dia berhenti.

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.

Ia tak melihat seorang penjagapun di tempat itu.

A Liong justru menjadi curiga.

Jangan-jangan para penjaga itu telah mengetahui kedatangan mereka dan memasang jebakan.

"Tidak ada penjaga di sini. Hei, Prajurit Go... benarkah pintu ini "tidak ada penjaganya?"

Katanya perlahan.

"Hemm! Ada yang tidak beres di sini! Biasanya tempat ini dijaga ketat, karena gerbang ini merupakan pintu penghubung menuju ke benteng dalam. Di sanalah tempat Panglima Yap Kim dipenjara!"

Prajurit Go menerangkan.

"Ssssst!"

Tiba-tiba Souw Hong Lam memperingatkan. Sesosok bayangan tampak berkelebat dalam gelap. Bayangan itu melesat ke atas genting dan hilang di balik bubungan.

"Benar! Memang ada orang yang mendahului kita!"

Liu Wan berdesis pendek.

"Inilah mereka! Penjaga-penjaga itu dibuang ke sini!"

Tiba-tiba Tiau Hek Hoa berseru pula.

Kepalanya melongok ke balik gardu jaga.

Liu Wan menghela napas panjang.

Hatinya berdebar.

Siapa orang itu?

Kawan atau lawan?

"Sudahlah!

Kita masuk saja!

Kita hadapi bersama semua rintangan!

Nah, Prajurit Go...!

Di mana...

ruang Panglima Yap Kim?"

A Liong bertanya kepada Prajurit Go.

"Di dalam bangunan itu! Di ruang belakang! Tapi... Hati-hatilah! Tempat ini penuh dengan jebakan! Setiap lorong pasti ada jebakannya! Aku... Hei!!"

Belum juga habis dia berkata, sekonyong-konyong terdengar suara ledakan keras di bagian belakang bangungan itu.

Bahkan berbareng dengaji itu, di luar benteng juga terdengar suara terompet dan genderang memecah kesunyian malam!

"Ada musuh menyerang benteng ini...!"

Prajurit Go berkata dengan suara gemetar.

"Tapi... Ledakan di dalam bangunan itu?"

A Liong berkata pula dengan suara ragu.

"Jebakan...! Orang yang masuk tadi telah melanggar salah satu dari jebakan itu!"

Prajurit Go menjelaskan.

Sekejap kemudian halaman kecil itu menjadi ramai sekali!

Penjaga berlarian keluar.

Mereka berlari ke tempat di mana telah terjadi ledakan tadi.

Beberapa orang membawa obor sambil berteriak-teriak.

"Musuh menyerang benteng!"

"Awas! Ada penyelundup yang masuk ke dalam bangunan ini! Kita cari dia...!"

"Musuh datang menggempur benteng...!"

"Tutup semua pintu! Cepat...!"

Liu Wan menarik tangan Prajurit Go ke jurusan lain.

Tiau Hek Hoa, Souw Hong Lam dan A Liong mengikuti di belakangnya.

Mereka langsung masuk ke dalam gedung dan menyelinap ke pintu belakang.

Setiap kali bertemu penjaga mereka menghindar.

Tapi dalam keadaan terpojok, Tiau Hek Hoa tidak segan-segan menggunakan senjatanya!

"Lihiap, hindari pembunuhan!"

Liu Wan memperingatkan.

Mereka tiba di ruang tengah.

Belasan prajurit tampak berjaga di sana.

Mereka seperti tidak terpengaruh oleh keadaan di sekeliling mereka.

Demikian berhadapan dengan Liu Wan dan Prajurit Go, salah seorang diantara mereka segera menggertak sambil mengacungkan tombaknya.

"Berhenti! Prajurit dari kesatuan mana kalian ini, heh? Mengapa datang ke mari? Jawab!"

Liu Wan menekan tangan Prajurit Go agar menjawab pertanyaan itu.

Tapi terlambat.

Samaran mereka segera terbaca oleh penjaga-penjaga itu!

Rambut Tiau Hek Hoa yang panjang itu terjulur keluar dari seragamnya!

"Awaaaas, penyelundup!

Ringkus mereka!"

Belasan penjaga itu segera menghambur datang.

Mereka menyerang tanpa memberi kesempatan lagi.

Tombak dan panah segera beterbangan ke arah Liu Wan dan kawan-kawannya.

Dalam keadaan gawat seperti itu semuanya tidak dapat mengekang diri lagi.

Masing-masing segera mengeluarkan kesaktiannya.

Apalagi mendengar keributan itu, penjaga yang berada di bagian lain segera datang mengalir ke tempat itu.

"Perajurit Go! Di mana kamar itu? Lekas katakan!"

Sambil menangkis panah-panah itu Liu Wan berteriak.

"T-t-t-tapi... bagaimana dengan obat pemunah itu?"

Prajurit itu berseru ketakutan.

"Apa... Maksudmu? Obat apa?"

Liu Wan bertanya heran.

"Nona itu... belum memberikan obatnya! Sebentar lagi dagingku akan mencair...!"

Prajurit itu menjerit dengan air mata bercucuran. Mata Liu Wan bagaikan menyala saking marahnya. Dengan suara kasar ia berteriak kepada Tiau Hek Hoa.

"Mengapa tidak kau berikan juga obat itu? Di pihak mana sebenarnya kau ini...? Tugas ini tinggal selangkah saja lagi! Lihat! Apakah kau benar-benar ingin menggagalkannya?"

Belasan orang penjaga kembali menyerang dengan tombaknya.

Semuanya menyerang Liu Wan dan Prajurit Go.

Karena sedang marah Liu Wan tidak dapat mengendalikan diri lagi.

Pemuda itu dengan cepat menggeser ke depan.

Kedua tangannya terayun tanpa disadari.

"Thuuaaaas...!"

Terdengar suara letupan kecil seperti tepukan tangan!

Tapi akibatnya sungguh hebat!

Separuh dari prajurit itu terpental jatuh tanpa dapat bangun kembali!

Sekejap Mo Goat yang menyamar sebagai Tiau Hek Hoa itu terkejut.

Rasanya dia pernah melihat pukulan itu!

"Kau...

Kau, eh...

baik!

Baik!

Inilah obatnya!"

Dalam keadaan gugup gadis itu menyerahkan obatnya.

Sementara itu beberapa langkah di dekat mereka, Souw Hong Lam dan A Liong juga dipaksa untuk bertempur pula.

Kehebatan pukulan Liu Wan sama sekali tidak mempengaruhi daya tempur prajurit-prajurit pilihan itu.

Tanpa ragu-ragu mereka menerjang Souw Hong Lam dan A Liong, sehingga keduanya terpaksa harus bekerja keras untuk menahan mereka.

Souw Hong Lam mengerahkan ginkangnya dan berloncatan di antara kepala lawan-lawannya.

Badannya yang jangkung itu melayang-layang seperti burung rajawali di antara kawanan serigala.

Sementara tangannya menyambar kesana-kemari, bagaikan tangan malaikat mencabut nyawa!

Setiap kali tangan itu menyambar, seorang prajurit pasti terpe-lanting tak berdaya.

(Lanjut ke

Jilid 26) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 26 Tapi setiap kali ada prajurit terjatuh, prajurit yang lain segera datang menggantikan.

Mereka mengalir seperti semut yang tidak ada habisnya.

Melihat kesibukan kawannya, A Liong tidak dapat tinggal diam.

Dia turun tangan membantu.

Tapi karena pada dasarnya memang tidak ingin melukai orang, maka pemuda itu hanya berusaha untuk melumpuhkan perlawanan lawannya.

Namun demikian apa yang dilakukan A Liong cukup membuat lawan-lawannya terkejut.

Tanpa membawa senjata pemuda itu menyongsong serbuan mereka.

Dan hanya dengan mengandalkan lengan dan kakinya, pemuda itu menangkis hujan senjata yang datang menghantam dirinya.

Tapi apa yang terjadi selanjutnya, sungguh membuat lawan-lawannya ternganga.

Ternyata bukan tangan atau kaki pemuda itu yang patah atau terpotong, sebaliknya justru pedang dan golok mereka sendiri yang patah atau rusak!

Pemuda itu seolah-olah telah berubah menjadi patung besi, yang mampu menahan sabetan golok dan pedang!

Bahkan sambil melayani para perajurit itu, A Liong masih sempat berteriak ke arah Liu Wan.

"Ciok Sinshe! Kita jalan ke mana...?"

"Pintu sebelah kanan!"

Prajurit Go yang sudah mendapatkan obat pemunah itu menjawab dengan keras.

"Baik! Kalau begitu biar aku yang membuka jalan! Kalian semua mengikut di belakangku!"

A Liong kembali berteriak.

Lalu tanpa menanti jawaban lagi pemuda itu benar-benar membuka jalan.

Dengan kekebalan tubuhnya dia terus menerjang ke pintu sebelah kanan.

Siapapun yang berusaha menghalang di depannya, segera terlempar bersama senjata mereka.

Liu Wan cepat menyeret Prajurit Go di belakang A Liong.

Souw Hong Lam dan Tiau Hek Hoa juga mengikuti di belakang mereka.

Mereka berlari menuju pintu yang ditunjuk oleh Prajurit Go.

Mereka masuk ke dalam ruangan yang lebih luas.

Namun kedatangan mereka di sana sudah dinantikan oleh kelompok penjaga lain.

Begitu datang mereka segera dikepung pula.

Bahkan penjaga di tempat itu kelihatan lebih ganas dan lebih terlatih daripada tadi.

"Tangkap mereka...!"

Seorang perwira tinggi dengan seragam gemerlapan, tampak berdiri di tengah ruangan.

Suaranya bergetar penuh kekuatan.

A Liong tetap menerjang ke depan.

Barisan pejijaga itu segera tersibak dan berjatuhan begitu berhadapan dengan A Liong.

Mulai dari lapisan terdepan sampai ke lapisan yang ke empat langsung terpental ke kanan dan ke kiri.

Tetapi karena A Liong tidak berusaha melukai mereka, maka merekapun segera berdiri kembali dan menyerang dari kanan dan kiri.

Sambil menghalau prajurit-prajurit itu A Liong melihat ke sekitarnya.

Ia melihat belasan buah pintu keluar di dalam ruangan itu.

"Ciok Sinshe, lihatlah! Banyak sekali pintu di sini! Pintu mana yang harus kita lalui?"

Pemuda itu berseru sambil menoleh ke arah teman-temannya yang selalu mengikut di belakangnya. Liu Wan menggenggam lengan Prajurit Go.

"Katakan...!"

Di mana ruangan itu?"

"Pintu hijau! Pintu itu menuju ke lorong bawah, tempat Panglima Yap Kim dikurung!"

"Baik! Kita menuju ke sana!"

A Liong kembali berteriak seraya menerjang ke depan.

Bagaikan kawanan serigala yang tidak takut mati barisan penjaga itu tetap menyerang dan menghalangi langkah A Liong.

Walaupun mereka harus berjatuhan setiap kali bentrok dengan lengan pemuda itu, tapi mereka tetap saja me-rangsek ke depan.

Mereka sama sekali tidak takut menyaksikan kehebatan A Liong.

Mereka benar-benar memiliki disiplin prajurit yang tinggi.

Melihat kehebatan A Liong, akhirnya perwira tinggi itu terjun pula ke dalam arena.

Dengan golok di tangan perwira itu menyerang A Liong.

Demikian kuat ayunan goloknya sehingga terdengar suara desing yang mengerikan.

A Liong tidak berani menangkis golok itu.

Ia menghindar ke samping sambil menghantam pinggang lawannya.

Tapi dengan tangkas perwira itu menggeliat ke samping pula.

Goloknya yang gagal mengenai A Liong, berputar ke belakang dan kembali menebas ke depan.

A Liong cepat membungkukkan badannya, sehingga golok itu nyelonong ke belakang, ke arah Tiau Hek Hoa!

"Traaaang!"

Bunga api berhamburan ketika golok itu bertemu dengan kipas baja Tiau Hek Hoa.

"Aduh...!"

Perwira itu menjerit sambil melepaskan goloknya.

Kekuatan gadis bermuka hitam itu membuat kulit tangannya seperti terkelupas.

Namun ketika gadis itu kembali mengayunkan kipasnya ke depan, A Liong cepat-cepat menepisnya ke samping!

Dalam keadaan terluka perwira itu tak mungkin dapat mengelakkan serangan tersebut.

Dan A Liong tidak tega melihat perwira itu mati.

"Gila! Kenapa kau... Halangi aku? Bukankah dia ingin membunuh kita?"

Tiau Hek Hoa menjerit penasaran.

Namun gadis itu tidak dapat melanjutkan kemarahannya.

Belasan prajurit lainnya segera datang menolong perwira itu.

Mereka menyerbu seperti lebah yang keluar dari sarangnya.

Hal itu membuat Tiau Hek Hoa marah bukan main sambil menjerit kesal ia menyebar paku beracunnya!

Maka tiada ampun lagi kawanan prajurit itu berjatuhan ke lantai!

Liu Wan tertegun.

Kipas baja dan paku-paku beracun itu mengingatkan dia pada gadis cantik yang ditemuinya lima tahun lalu.

"Dia...?"

Tapi belum sempat menyebut nama gadis itu, dari Pintu Hijau tiba-tiba keluar belasan prajurit yang ketakutan! Mereka berlari seperti dikejar setan! "Ada apa pula ini...?"

Perwira yang. selamat dari tangan Tiau Hek Hoa tadi berseru mengatasi keributan tersebut.

"Panglima Yap Kim lolos dari penjara! Dua orang penyelundup telah membebaskan dia!"

Seorang perwira yang ikut berlari di antara prajurit-prajurit itu berkata gugup. Seragamnya telah basah dengan darah.

"Panglima Yap Kim lolos? Kemana dia sekarang?"

"Aku ada di sini!"

Tiba-tiba prajurit yang ada di dekat pintu hijau itu menyibak.

Seorang kakek berperawakan sedang, berusia sekitar enam puluh lima tahun, dengan rambut berwarna kelabu, keluar dengan langkah gagah.

Sambil mengelus kumis dan jenggotnya yang tertata rapi orang tua itu menatap dengan penuh wibawa.

Dan tak seorangpun dari para prajurit di ruangan itu yang berani menentang matanya.

"P-p-p-panglima...?"

Perwira yang garang tadi ternyata menjadi gentar juga berhadapan dengan bekas panglima itu.

Sementara itu di pihak lain, wajah Tiau Hek Hoa kelihatan berubah ketika melihat Panglima Yap Kim.

Matanya berkilat penuh nafsu membunuh.

Namun ketika gadis itu melangkahkan kakinya ke depan, Liu Wan segera mengejarnya.

Pemuda itu merasa curiga.

"Lihiap, kau mau ke mana? Kita tidak boleh bertindak sendiri-sendiri. Panglima Yap Kim telah bebas. Seseorang telah mengeluarkannya dari penjara. Sekarang tugas kita untuk melindungi dan membawanya keluar dari tempat ini."

Tiau Hek Hoa tertegun.

Sesaat timbul keraguan di hatinya.

Tapi keraguan itu segera lenyap.

Perintah ayahnya lebih penting dari segalanya.

Dan sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk melaksanakan perintah itu.

Mantan panglima yang sangat berpengaruh itu harus dibunuhnya sekarang.

Apabila orang tua itu sampai lolos dan terlanjur dikelilingi para pengikutnya, maka akan sulit sekali untuk mendekatinya.

Mulut Tiau Hek Hoa menggeram.

Tiba-tiba ia membalikkan badannya.

Tangannya terangkat dan mendorong dengan kekuatan penuh, menyongsong kedatangan Liu Wan.

"Aku memang hendak melindungi Panglima Yap Kim. Minggirlah!"

Gadis itu mengeram.

Angin dingin tiba-tiba menyerang Liu Wan.

Pemuda itu gelagapan.

Sesaat timbul rasa tak percaya bahwa gadis itu menyerang dirinya.

Tapi kenyataan memang demikian.

Gadis itu benar-benar hendak membunuhnya.

Dalam keadaan terpojok, tiada jalan lain selain membela diri.

Otomatis kedua tangan Liu Wan menyongsong ke depan pula.

Hong-lui-kang tersalur sepenuhnya.

"Whhuuuuus...!"

Tetapi sekali lagi Liu Wan menjadi gelagapan.

Tangannya yang terulur penuh tenaga itu sama sekali tidak membentur tangan Tiau Hek Hoa.

Pukulannya menggapai tempat kosong.

Ternyata dalam waktu singkat, Tiau Hek Hoa sudah mengubah serangannya.

Gadis itu bergeser ke samping.

Bahkan sambil bergeser ia mengerahkan ilmu-pamungkasnya.

Tubuhnya yang ramping kecil itu mendadak berubah menjadi delapan orang.

Bentuk dan wajahnya sama.

Bahkan pakaiannyapun juga sama pula.

Semuanya bergerak menuju ke arah Panglima Yap Kim.

Tentu saja kejadian itu mengejutkan semua orang.

Tidak terkecuali Panglima Yap Kim sendiri.

Malah A-liong juga kaget pula melihatnya.

"Awas! Tahan Dia!"

Liu Wan menjerit kuat-kuat. Souw Hong Lam yang kebetulan berada paling dekat dengan gadis itu segera menusukkan jarinya ke depan! "Srrrt!"

Seleret sinar kemerahan menyerang salah seorang dari delapan Tiau Hek Hoa itu. Persis pada punggungnya.

"Cuuus!"

Sinar itu dengan tepat mengenai sasarannya.

"Haaah...?!?"

Souw Hong Lam ternganga kaget. Punggung itu jelas kena, malah sampai bolong! Tapi gadis itu seolah-olah tak merasakannya. Bahkan luka bolong itu sama sekali tidak mengucurkan darah! "Ilmu sihir...?"

A-liong berdesah.

"Tangkap dia! Dia orang Hun, anak buah Mo Tan!"

Liu Wan sekonyong-konyong berteriak begitu ingat siapa gadis itu.

Tapi Mo Goat atau Tiau Hek Hoa sudah tidak memikirkan jiwanya lagi.

Sejak kecil dia sudah dididik dengan keras oleh ayahnya.

Seorang warga Hun selalu siap mengobankan nyawa untuk negerinya.

Apalagi dia adalah puteri Raja Hun yang sangat dijunjung tinggi oleh rakyatnya.

Sesaat kemudian kedelapan orang itu kembali bergerak.

Mereka berpencar, lalu menerobos kepungan prajurit yang mengelilingi Panglima Yap Kim.

Masing-masing bergerak seolah-olah mereka memang hidup sendiri-sendiri.

Namun teriakan Liu Wan tadi sudah cukup untuk membuka kedok Mo Goat.

Sehingga A Liong dan Souw Hong Lam seperti mendapatkan, komando untuk meghentikan gadis itu.

Hampir berbareng keduanya melompat tinggi ke udara, melewati kepala prajurit yang mengepungnya!

Mereka berusaha secepatnya mendahului lawan agar dapat lebih dulu tiba di dekat Panglima Yap Kim.

Mereka harus melindungi bekas panglima itu.

A Liong benar-benar mengeluarkan segala kemampuannya, sehingga tubuh kekar itu benar-benar melesat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.

Dan sekejap saja pemuda itu telah berada di dekat Panglima Yap Kim.

Jauh mendahului Souw Hong Lam, Liu Wan, maupun kedelapan bentuk Mo Goat itu sendiri!

Tetapi kedcatangannya segera disambut dengan tusukan pedang.

Sedangkan lelaki gemuk berpakaian pelayan dapur menyerangnya.

"Traaaang!"

A Liong menepis pedang itu dengan ujung sepatunya.

"Ughhh!"

Pelayan dapur itu mengeluh pendek. Tubuhnya yang gemuk terhuyung, sementara pedang pendeknya hampir terlepas dari genggaman.

"Hah...?"

A Liong sendiri juga tersentak kaget pula.

Ternyata lelaki gemuk itu adalah pelayan dapur yang dilihatnya pagi tadi.

Sesaat mereka saling pandang dengan rasa kagum.

Dan keduanya baru sadar ketika rombongan manusia Mo Goat itu datang menyerbu.

Tanpa direncanakan lebih dulu mereka berdiri berdampingan menghadapi "delapan bayangan"

Mo Goat tersebut.

Dan selanjutnya pertempuran sengit tidak bisa dihindarkan lagi.

Para prajurit di dalam ruangan itu.

segera bergabung pula dengan Mo Goat.

Mereka beramai-ramai menyerang rombongan Liu Wan yang berusaha melindungi Panglima Yap Kim.

Melihat pelayan dapur itu juga melindungi Panglima Yap Kim, maka A Liong segera tahu di mana lawannya berpijak.

"Apakah... saudara yang membebaskan Panglima Yap Kim? Ah, maaf! Kami semua telah salah sangka. Kukira saudara penghuni benteng ini..."

A Liong menjelaskan. Pelayan dapur itu tidak menanggapi omongan A Liong. Matanya justru mengawasi Liu Wan yang bertempur di dekat mereka.

"Bukankah dia itu... tabib Ciok?"

Katanya seperti tak percaya.

"Siapa? Oh, kawanku itu? Benar! Dia memang Ciok-sinshe."

"Ough? Jadi benar dia itu Tabib Ciok?"

Pelayan dapur itu kelihatan gembira sekali!

Tapi kegembiraannya segera terputus oleh desakan para prajurit yang mengepungnya.

Mereka menyerang seperti air bah yang tumpah dari bendungan.

Gempuran mereka membuat A Liong dan pelayan dapur tidak sempat lagi untuk saling berbicara.

Masing-masing harus melayani belasan prajurit, yang menyerang tanpa rasa takut.

Suasana benar-benar ruwet dan campur aduk tidak karuan.

Tentu saja Liu Wan menjadi cemas sekali.

Pertempuran brutal seperti itu sangat membahayakan jiwa Panglima Yap Kim.

Tanpa pelindung atau pengawal, mantan Panglima itu dapat dibo-kong oleh lawan-lawannya.

"A Liong! Lindungi Panglima Yap Kim.! Cepat...!"

Liu Wan berteriak keras mengatasi kegaduhan itu.

Tanpa diperintah dua kali, A Liong segera menerjang lawan yang menghalangi dirinya.

Begitu dahsyat tenaganya, sehingga prajurit yang menghalang di depannya terlempar ke kanan dan ke kiri.

"Panglima aku akan mengawalmu keluar..."

Pemuda itu berseru kepada Yap Kim.

Orang tua itu menoleh.

Sikapnya masih sangat tenang, walaupun empat sosok bayangan Mo Goat dan belasan orang prajurit mengepungnya.

Ia selalu dapat menghindari serangan lawan.

Bahkan sekali-sekali dari telapak tangannya meluncur pukulan jarak jauh yang perba-wanya sampai menggetarkan udara di ruangan itu.

Bagaimanapun juga Yap Kim adalah ahli waris keluarga Yap, keluarga pendekar yang sangat terkenal di dunia persilatan.

Selain ilmu silatnya sangat hebat, dia juga pernah menjabat sebagai Panglima Perang di jaman Kaisar Liu Pang.

Bahkan kakaknya, Yap Kiong Lee, adalah jago silat nomer satu di Kotaraja.

"Anak muda, ilmu silatmu sangat tinggi. Engkau murid siapakah?"

Orang tua itu bertanya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ah, Guruku sama sekali tak dikenal orang. Beliau belum pernah menginjakkan kakinya di daratan Tiongkok, karena beliau tinggal di sebuah pulau kecil di Laut Utara. Beliau bernama Soat Bun Ong dan Bok Kek Ong..."

Benar juga.

Panglima itu mengerutkan keningnya.

Nama-nama yang disebutkan A Liong itu sama sekali belum pernah didengarnya.

Tapi sebelum dia bertanya lagi, salah seorang dari bentuk Mo Goat itu kembali menyerang dirinya.

Yap Kim tidak tahu, orang itu Mo Goat asli atau palsu.

Yang jelas serangan itu menebarkan hawa dingin!

Serangan gadis itu memang hebat.

Selain kuat dan cepat, ternyata waktunya sangat tepat.

Kedua tangan Yap Kim baru saja menepis pedang dan golok yang menyerangnya dari kanan dan kiri, sehingga dadanya otomatis terbuka.

Sesaat orang tua itu menjadi bimbang.

Kalau dia menghindar, maka korban akan berjatuhan.

Kipas itu tentu akan menyelonong dan mengenai prajurit-prajurit di dekatnya.

Tapi kalau dia tidak menghindar, berarti nyawanya yang akan melayang.

"Ah...!?"

Orang tua itu berdesah bingung.

A Liong melihat kesulitan itu.

Tiba-tiba kakinya melangkah dan berputar beberapa kali.

Dan dalam sekejap saja ia telah berada di samping Panglima Yap Kim.

Ketika tangannya terayun ke depan, maka tangan itu telah menggengam sebilah pedang kecil mirip belati.

Dan dari ujung belati itu melesat cahaya berwarna-warni.

Semuanya tertuju ke arah kipas Mo Goat!

"Criiing!

Cring!

Criiiing!"

Kipas itu terdorong ke belakang, seolah-olah membentur dinding baja! "Panglima, marilah kita keluar dari ruangan ini!"

Pemuda itu berseru sambil mengayunkan kembali pedang kecil yang dapat mengeluarkan cahaya pelangi itu.

Seleret cahaya berwarna-warni kembali meliuk-liuk seperti naga terbang.

Benda apapun yang membentur cahaya itu tentu terpental bagaikan membentur benteng yang amat kuat.

"Oh! Ilmu pedang apa itu?!"

Dalam keadaan terdesak orang tua itu masih saja tergagap keheranan.

Ternyata cahaya pelangi itu benar-benar ampuh.

Ke manapun cahaya itu bergerak, korban segera berjatuhan...

Tidak terkecuali bentuk-bentuk Mo Goat berjumlah delapan buah itu.

Walaupun setiap saat selalu dapat berdiri dan hidup kembali, namun bentuk-bentuk Mo Goat itu tidak dapat menahan setiap kali diterjang cahaya pelangi!

Tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar, diikuti sorak-sorai setinggi langit!

Sesaat para perajurit di dalam ruangan itu terkejut!

Wajah mereka tampak puas!

Beberapa saat kemudian di luar gerbang terdengar suara terompet dan tambur bertalu-talu.

Beberapa orang prajurit berbegas meninggalkan ruangan itu.

"Pasukan musuh berhasil membobol benteng! Kita harus keluar menghadapi mereka!"

Prajurit itu berteriak dan berlari keluar.

Ternyata langkah mereka diikuti pula oleh prajurit yang lain.

Berbodong-bondong mereka berlari keluar untuk menyongsong pasukan musuh.

Tambur dan terompet tadi merupakan aba-aba buat mereka.

Akhirnya Mo Goat terpaksa harus bertempur sendirian.

Meskipun dengan ilmunya Pat-sian ih-hoat, ia dapat berubah menjadi delapan orang, tapi dia tidak dapat menghadapi Liu Wan dan kawan-kawannya.

Mereka terlalu kuat untuk dilawan seorang diri.

Terutama A Liong, pemuda yang memiliki ilmu pedang aneh itu.

Mo Gpat benar-benar menjadi repot.

Cahaya pelangi yang muncul dari pedang A Liong mempunyai gerakan yang sulit diduga.

Cahaya itu meliuk-liuk di atas kepala, seperti naga yang terbang di atas langit.

Ilmu silat Pat-sian ih-hoat miliknya, yang selama ini belum pernah menemukan tandingan, ternyata dibuat tak berkutik oleh permainan pedang kecil tersebut.

Oleh karena itu Mo Goat tidak bisa berbuat apa-apa ketika Panglima Yap Kim dibawa keluar dari gedung itu.

Dia justru ikut menyelinap keluar pula setelah melepas Pat-sian ih-hoatnya.

Dia berbaur dalam arena pertempuran.

Sementara itu suasana di dalam benteng benar-benar kacau-balau.

Pintu gerbang utama sudah terbuka lebar dan pasukan penyerbu yang terdiri dari para pendekar persilatan menyebar di mana-mana.

Mereka mencari ruang penjara Panglima Yap Kim.

Seorang pemuda tampan dengan pedang di tangan, tampak mengamuk di dekat jembatan gantung.

Pemuda itu bertempur bersama-sama dengan seorang gadis manis, yang selalu mengekor di belakangnya.

Walaupun dikepung oleh belasan prajurit bertombak, mereka sa-ma sekali tidak mengalami kesulitan.

"Saudara Kwe, Ayahmu sudah datang. pula! Beliau berada di bagian utara...!"

Seorang pengemis tua berteriak dari atas tangga.

"Bagus!"

Pemuda itu berseru gembira.

"Jeng-bin Lokai, silakan membawa orang-orangmu ke dalam pula! Carilah Panglima Yap Kim sampai ketemu!"

"Apakah kita tidak ikut masuk ke dalam, Twa-suheng...?"

Gadis manis yang tidak lain adalah Song Li Cu itu berseru.

"Tentu saja! Tapi aku ingin memastikan dulu, apakah semua kawan kita sudah masuk ke dalam benteng?"

Kwe Tek Hun menjawab sambil menggempur para pengeroyoknya.

Sementara itu Jeng-bin Lokai telah pergi dengan para pengawalnya.

Mereka menerobos barisan prajurit yang berada di bagian barat.

Di sana bertempur rombongan pendekar dari Im-yang-kauw, yang bergabung dan bercampur dengan pendekar-pendekar dari perguruan lain.

Bahkan Chin Tong Sia yang terpisah dari rombongan Souw Thian Hai pada saat memasuki benteng itu, tampak berloncatan di antara para perajurit.

Seperti biasanya pemuda itu berkelahi sambil mengoceh tidak karuan.

Namun demikian setiap kali tangannya bergerak, dua atau tiga lawannya pasti tersungkur mencium tanah.

Giam Pit Seng yang berada tidak jauh dari tempat itu hanya dapat berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Meski umurnya lebih tua, tapi kepandaiannya tidak mungkin dapat menyamai pemuda dari Aliran Beng-kauw itu.

"Murid mendiang Put-ceng-li Lojin ini memang hebat. Dan biasanya anak ini selalu diikuti oleh suhengnya yang jauh lebih gila lagi!"

Katanya sambil mengedarkan matanya.

Pertempuran semakin dahsyat.

Para prajurit di dalam benteng bertempur dengan gagah berani.

Sebagai perajurit pilihan mereka sama sekali tidak gentar melihat ribuan musuh berhasil menjebol benteng mereka.

Meskipun korban berjatuhan, tetapi mereka tetap bertahan.

Bahkan para perwiranya bertempur di antara prajurit dengan semangat menyala-nyala.

Mereka bertempur di garis terdepan bagaikan banteng terluka.

Apabila dibuat perbandingan, sebenarnya kekuatan kedua belah pihak boleh dikatakan berimbang.

Para pendekar persilatan itu memiliki jumlah yang lebih banyak dan secara perorangan mereka juga memiliki kepandaian silat yang lebih baik.

Tetapi prajurit yang bertugas di dalam benteng itu mempunyai pengalaman tempur yang lebih terlatih.

Mereka juga hebat dalam pertempuran berkelompok.

Mereka juga amat terlatih, menggunakan siasat dalam ilmu perang.

Apalagi mereka juga bertempur di dalam benteng mereka sendiri.

Alhasil pertempuran itu masih belum dapat diramalkan kesudahannya.

Kalaupun pada permulaannya para penyerang dapat menjebol benteng, hal itu disebabkan oleh karena kelengahan para perajurit itu sendiri.

Mereka menjadi lengah karena sudah terlalu lama dalam suasana tenang dan damai.

Mereka benar-benar tidak menyangka kalau akhirnya ada kekuatan yang berani menentang kekuatan benteng itu.

Demikianlah, ketika bulan semakin turun ke barat dan cahaya terang mulai meremang di ufuk timur, maka suara dentang senjata dan sumpah serapah mereka juga mulai reda.

Meskipun pertempuran masih tetap berlangsung, tetapi tenaga dan semangat tempur mereka juga mulai menyusut.

Api berkobar di mana-mana.

Jilatan apinya menerangi mayat-mayat yang bergelimpangan di segala tempat.

Benteng itu benar-benar berubah menjadi padang pembantaian yang sangat mengerikan.

Mayat berserakan, terinjak-injak oleh pasukan yang masih tetap bertempur untuk menentukan pemenangnya.

Mo Goat yang menyelinap di antara pertempuran itu membunuh siapa saja yang dijumpainya.

Gadis itu tidak peduli lagi siapa yang dibunuhnya.

Baginya semua orang Han adalah musuh.

Tidak peduli mereka itu perajurit kerajaan pendekar persilatan.

Seiain kecewa atas kegagalannya, Mo Goat juga mendongkol karena bantuan yang dijanjikan kakaknya belum juga datang.

Seharusnya kakak dan pasukannya telah tiba di benteng itu, sesuai rencana yang mereka susun sebelumnya.

Ketika melintasi parit perlindungan, kaki Mo Goat hampir tersandung oleh mayat yang terbaring di atas tanah.

Karena kaget Mo Goat menjadi marah.

Mayat itu ditendangnya dengan sekuat tenaga.

Mayat itu harus "Menyingkir"

Dari jalannya! "Wuuuut!"

"Eiiit...?!"

Tiba-tiba Mo Goat menjerit.

Kakinya menyambar tempat kosong.

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 12

Baca Juga: Mutiara Hitam 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert