Eps 10 Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Baca online Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono
Cersil Pendekar Pedang Pelangi - Sriwidjono.
Mayat itu bergeser dari tempatnya.
Cara bergesernyapun sangat aneh dan mengejutkan.
Sama sekali tidak terlihat gerakannya.
Mayat itu bergeser begitu saja, seolah-olah berpindah tempat dengan sendirinya.
Mo Goat terbelalak.
Hatinya berdebar-debar.
Bahkan jantungnya juga bergetar dengan kuat.
Ternyata "Mayat"
Itu hanyalah seorang kakek tua berwajah sangat buruk.
Selain kurus kering, tubuh itu juga kelihatan tidak sehat.
Orang itu berpakaian seadanya.
Itupun tidak dikenakan dengan rapi.
Kakinya juga tidak bersepatu.
Bahkan kepalanya yang nyaris gundul itu juga tidak mengenakan penutup sama sekali.
"Kau... siapa? Menyingkirlah!"
Mo Goat membentak.
Sambil berkata Mo Goat kembali menyerang dengan kipasnya.
Tapi serangannya menjadi batal, karena tiba-tiba muncul beberapa orang prajurit yang menyerbu ke arah dirinya.
Kipas itu berbalik arah, menyongsong kedatangan prajurit-prajurit tersebut.
"Trang! Trang! Trang!"
Prajurit-prajurit itu terpental bersama senjata mereka.
Namun beberapa di antara mereka segera bangkit kembali.
Tanpa rasa takut mereka kembali menerjang Mo Goat.
Mo Goat semakin marah.
Sekali lagi ia mengayunkan kipasnya.
Ia sama sekali tak mau menghindar dari terjangan lawan.
"Crees! Cres! Cressss...!"
Daun kipas itu memotong tubuh lawan bagaikan memotong pohon pisang! Prajurit itu segera bergelimpangan seperti potongan kayu di atas tanah.
"Huh!"Mo Goat berdesis puas. Tapi matanya segera terbelalak ketika melihat orang tua jelek tadi sudah tidak ada di tempatnya lagi. Mayat itu sudah lenyap. Namun lapat-lapat telinganya masih mendengar suara orang menggerutu di balik dinding halaman.
"Wah, sial...! Mau tidur saja tidak bisa! Belum-belum sudah bertemu Tukang Sihir!"
"Kurang ajar! Tua"Bangka jelek! Keluar kau!"
Mo Goat mengumpat dan memaki. Tak ada jawaban. Mo Goat melayang ke atas tembok. Belasan anak panah justru melesat ke arahnya.
"Wusss! Wusss!"
Mo Goat mengibaskan kipasnya sehingga panah-panah itu jatuh berpatahan! Mo Goat menggeram. Di bawah tembok dia melihat seorang pemuda tampan telah siap untuk melepaskan anak panahnya lagi.
"Sin Lun, awas...!"
Tiba-tiba terdengar suara orang memberi peringatan kepada pemuda itu.
Benar saja.
Belum juga gaung suara orang itu lenyap, tubuh Mo Goat yang kecil itu telah menyambar ke bawah.
Kipasnya menyambar dari atas ke bawah dalam Jurus Membelah Gunung Menyibak Lautan!
Pemuda yang tidak lain adalah Tan Sin Lun itu terkejut sekali.
Tak ada waktu lagi untuk mengelak.
Terpaksa dia menangkis dengan busurnya.
Dan pada saat yang sama, sepasang senjata berbentuk pena ikut menangkis kipas tersebut.
"Traaaang...!"
Akibatnya sungguh hebat!
Kipas itu bergetar di tangan Mo Goat.
Tapi sebaliknya busur dan pena itu terpental patah dari tangan pemegangnya!
Mereka berdiri berhadapan.
Mo Goat di satu pihak dan Tan Sin Lun bersama Giam Pit Seng dipihak lain.
Mo Goat kelihatan marah sekali, sementara Tan Sin Lun dan Giam Pit Seng rnengerutkan dahinya.
Keduanya tampak kesakitan.
Bahkan dari telapak tangan Tan Sin Lun menetes darah segar.
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai menggelegar dari luar benteng.
Sebuah pasukan besar datang menyerbu benteng itu.
Kekuatan mereka jauh lebih besar daripada kekuatan pendekar persilatan.
Begitu masuk benteng, pasukan itu segera menggempur siapa saja yang mereka jumpai.
Baik pasukan kerajaan maupun pasukan para pendekar.
"Apakah kakak kutelah datang?"
Mo Goat bergumam di dalam hati.
Empat orang pendekar, terdiri dari seorang lelaki tua dan tiga orang wanita, mendekati tempat itu.
Begitu dekat, seorang dari ketiga wanita itu tiba-tiba berlutut di depan Giam Pit Seng.
"Suhu...!"
Wanita yang tidak lain adalah Tio Siau In itu berdesah haru.
"Siau In, kau!"
Giam Pit Seng mengelus kepala Siau In, sementara di belakangnya Tan Sin Lun hanya terlongong-longong saja seperti tak percaya.
Pendekar dari Im-yang-kauw itu lalu menoleh ke kiri dan ke kanan.
Dia mencari Tio Ciu In.
Tetapi Tio Ciu In tidak ada.
Dia justru melihat Souw Thian Hai dan isterinya.
Pendekar ternama itu datang bersama Tio Siau In.
"Souw-Taihiap? Souw-hujin? Apakah selama ini muridku bersamamu?"
Giam Pit Seng menyapa dengan terbata-bata. Tio Siau In cepat bangkit dan memperkenalkan gurunya kepada Souw Thian Hai, sekalian menjelaskan kepada gurunya itu kemana ia selama ini berada.
"Ohh, lalu... ciu In ke mana? Dia juga tidak pulang selama ini. Kukira dia pergi bersamamu."
Giam Pit Seng tertunduk.
Siau In kaget.
Dia sendiri juga tidak menyangka kalau kakaknya tidak pulang.
Sementara itu Mo Goat sudah tidak sabar lagi melihat percakapan itu.
Walaupun ia pernah mendengar nama Souw Thian Hai, tapi ia tidak takut.
Kata Ulan Kili, gurunya, dia tak perlu takut dengan siapapun di Tionggoan.
Tidak seorangpun yang dapat menandingi ilmu silatnya.
"Hmm, jadi inikah pendekar tua yang sangat tersohor namanya itu? Hong-gi-hiap Souw Thian Hai! Huh!"
Souw Thian Hai mengerutkan keningnya. Tentu saja dia tak mengenal gadis berwajah hitam itu.
"Siapakah kau, gadis muda? Apakah aku mengenalmu?"
Mo Goat mencibirkan bibirnya.
"Kau tentu tidak mengenalku, karena baru sekali ini kita berjumpa. Tapi Guruku pernah bercerita tentang engkau. Katanya kau seorang pendekar silat yang sangat tersohor di daerah Tionggoan. Dulu kau menempati urutan ke lima dalam daftar Urutan Jago Silat Terkemuka di Dunia Persilatan!"
Souw Thian Hai tertawa panjang.
"Semua itu bohong, Gadis Muda. Siapakah gurumu itu? Dia salah menilai kalau menganggapku nomer lima di dunia persilatan. Dunia begini luasnya. Bagaimana mungkin aku berani mendudukkan diri di nomer lima? Ha-ha-ha-ha!"
"Tapi Guruku memang mengatakan demikian. Bahwa dengan sudah meninggalnya beberapa orang di antara tokoh-tokoh persilatan itu, kau sekarang dapat menjadi tokoh yang nomer dua atau tiga."
Souw Thian Hai menghentikan tawanya. Dengan suara keren dia berkata kepada Mo Goat.
"Nona, katakan kepadaku! Siapa nama Gurumu?"
Tak terduga Mo Goat yang liar dan tak punya rasa takut itu balas membentak.
"Guruku adalah Pendeta Agung Ulan Kili. Ayahku adalah Raja Mo Tan yang gagah perkasa."
Pengakuan gadis itu memang mengejutkan semua orang.
Tak terkecuali Giam Pit Seng yang baru saja merasakan kesaktian gadis itu.
Matahari benar-benar muncul dari balik cakrawala.
Suasana menjadi terang, sehingga masing-masing dapat melihat dengan jelas wajah lawannya.
Perang berkecamuk di sekitar mereka.
Dan kedatangan pasukan baru tadi membuat keadaan semakin kisruh.
Suara terompet yang dibuyikan oleh pasukan baru itu sangat melegakan hati Mo Goat.
Jelas bahwa suara itu adalah "tengara"
Yang biasa digunakan oleh pasukan ayahnya. Kakaknya benar-benar datang menggempur benteng itu.
"Hou-ko, aku di sini...!"
Tiba-tiba Mo Goat berseru dengan khikangnya yang tinggi.
Suaranya melengking tajam, menyusup di antara kegaduhan di sekitarnya.
Dari tangannya melesat bola api yang kemudian meledak di angkasa.
Beberapa orang datang "Menghampiri tempat itu.
Mereka adalah pasukan Mo Hou yang baru saja tiba.
Seorang lelaki tinggi besar dengan tombak di tangan mendekati Mo Goat.
Di belakangnya tampak pasukannya bergerak dalam kelompok-kelompok yang teratur.
Beberapa orang jago silat seperti Ho Bing, Tiat-tou dan Siang-kiam-eng berada di antara mereka.
"Apakah aku berhadapan dengan Puteri?"
Lelaki lelaki besar itu memberi hormat. Mo Goat menoleh sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya ia meng geram.
"Berapa orang yang dibawa kakakku ke sini, Bayan Tanu?"
Sungguh mengherankan. Panglima pasukan yang tampak perkasa itu kelihatan gugup.
"Maaf, Puteri. Aku tidak mengenali samaranmu. Anu, eh... Kongcu membawa empat ribu lima ratus prajurit untuk menaklukkan benteng ini! Tapi sebagian besar masih berada di luar benteng."
"Bagus! Sekarang bunuh orang-orang ini! Tapi awas! Mereka adalah tokoh persilatan berkepandaian tinggi. Terutama orang tua itu. Gunakan barisan untuk melawan mereka! Nah, aku akan menemui Kakakku dulu. Di mana dia sekarang?"
"Kongcu berada di bagian timur. Kami dapat berita kalau Kongcu dapat menemukan bekas panglima itu. Katanya bekas panglima itu dapat lolos dari penjara dan berusaha kabur melalui pintu timur. Kabarnya beberapa orang tokoh persilatan. melidunginya..."
Bayan Tanu menjawab.
"Aku tahu. Aku juga baru saja dari tempat itu. Nah, cepat bereskan orang-orang ini! Aku akan ke sana!"
Mo Goat melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Dia kembali ke halaman dalam.
Sambil berlari ia dapat menyaksikan pasukan kakaknya sudah bertebaran di mana-mana.
Pasukan itu menggempur siapa saja yang mereka jumpai.
Mereka tidak peduli, apakah lawan itu pasukan Kerajaan Han atau pasukan para pendekar persilakan.
Ketika melewati lorong yang penuh dengan prajurit, Mo Goat segera berai?
Dia menerobos dengan mengerahkan seluruh kemampuanya.
Setiap tangan dan kakinya mengibas, maka lawan yang menghalang di depannya segera terbang seperti diguncang prahara.
"Menyingkir...!"
Berkali-kali bibirnya melengking.
Siapapun yang melihat keganasan gadis itu menjadi giris.
Bagi mereka yang sempat menghindar segera menyingkir menyelamatkan diri.
Tapi bagi yang tidak sempat, terpaksa harus menjadi korban keganasan Mo Goat.
"Dhuuuug!"
Tiba-tiba langkah gadis itu tertahan! Seorang kakek yang tidak sempat menyingkir ternyata mampu menahan kibasan tangan Mo Goat. Dan hal ini sudah cukup untuk membuat Mo Goat menjadi marah sekali.
"Menyingkir kau, Kakek Tua!"
Gadis itu berteriak seraya mengibaskan kipasnya. Segumpal angin dingin menghembus ke arah kakek itu.
"Waduuh Lohu menjadi bingung! Sun Tek bilang, katanya dia dikalahkan oleh seorang gadis cantik bersenjata kipas baja di kota Hang-ciu lima tahun lalu. Sekarang Lohu melihat, kau juga membawa kipas baja seperti yang dikatakannya. Tapi kulihat wajahmu tidak mirip dengan ceritanya. Hmm, apakah kau mempunyai hubungan dengan gadis cantik itu?"
Sambil menghindar kakek tua itu berbicara tanpa henti.
Meskipun demikian serangan Mo Goat tak pernah dapat mengenainya.
Langkah kakinya sangat aneh.
dan mentakjubkan.
Seperti orang bermain petak, tubuhnya selalu berpindah setiap kali kakinya bergerak.
"Bagus! Aku tahu siapa kau! kau tentu pendekar dari Pulau Meng-to, yang disebut orang Keh-sim Taihiap itu! Nah, tampaknya anakmu yang jelek itu telah melapor kepadamu. Hu-hu-hu, sekarang ia akan menyadari bahwa ayahnya juga tidak mampu melawanku!"
Sambil tertawa Mo Goat melepas alat penyamarannya.
Baju luarnya ia tanggalkan, sehingga pakaian dalamnya yang gemerlapan dapat terlihat oleh semua orang.
Kulitnya yang hitam dia gosok dengan saputangan.
Walau belum bersih benar, tapi kulitnya yang putih mulai kelihatan bersinar di cahaya mentari.
"Huurraa! Hidup Puteri! Hiduup Puteri...!"
Pasukan Hun yang berada di tempat itu segera bersorak-sorai.
"Hah! Benar! Ternyata engkAu-yang dimaksud Tek Hun!"
Pendekar tua dari Pulau Meng-to itu berdesah waspada.
"Keh-sim Taihiap, di mana anakmu itu? Beruntung dia ditolong oleh Pendekar Buta. Kalau tidak, nyawanya sudah melayang lima tahun lalu..."
Keh-sim Taihiap menghela napas panjang.
Kwe Tek Hun memang sudah bercerita tentang hal itu.
Ketika pulang ke Meng-to bersama Utusan Pondok Pelangi, Kwe Tek Hun bercerita tentang orang-orang dari suku bangsa Hun, yang berkeliaran di pesisir timur Propinsi Kiang-su dn Se-kiang.
Teringat akan Utusan Pondok Pelangi yang datang bersama puteranya, otomatis Keh-sim Taihiap teringat pula akan kehebatan ilmu silat mereka.
Ternyata pasangan suami-isteri dari Pondok Pelangi itu memiliki ilmu silat yang maha dahsyat.
Sebuah ilmu silat yang ternyata merupakan kelengkapan dari ilmu silat Ban-seng-po Lian-hoan, miliknya.
Utusan itu datang ke Meng-to untuk melacak "pedang pusaka"
Milik Partai Pondok Pelangi, yang ratusan tahun lalu dibawa oleh leluhur mereka ke daratan Tiongkok.
Karena ilmu silat Kwe Tek Hun menyerupai ilmu silat mereka, maka kedua utusan itu mengira kalau Kelu arga Kwe mempunyai hubungan dengan mendiang leluhur mereka.
Tentu saja Keh-sim Taihiap tidak tahu tentang pedang pusaka itu menjawab pula apa adanya.
Utusan dari Pondok Pelangi itu merasa tidak puas, sehingga akhirnya mereka bertempur.
Tetapi seperti halnya Kwe Tek Hun, Keh-sim Taihiap juga tidak mampu menghadapi kedua utusan tersebut.
Selain kedua utusan itu memiliki kesaktian yang mal dahsyat, ternyata mereka juga dapat memainkan Ban-seng-po Lian-hoan dalam bentuk yang lebih lengkap.
Bahkan mereka juga mampu memainkan ilmu silat Keluarga Souw dengan lebih hebat pula.
Ketika hal tersebut ditanyakan kepada mereka, kedua utusan itu menjadi sangat gembira.
Mereka membawa Keh-sim Taihiap ke Gunung Hoa-san, tempat tinggal keluarga Souw.
Dan selanjutnya, seperti halnya ceritera yang telah berkembang di dunia persilatan selama ini, Keh-sim Taihiap dilepas oleh kedua utusan itu.
Sebaliknya Thian Hai suami-isteri dibawa pergi ke Laut Utara.
"Hei! Jawab pertanyaanku! Mengapa diam saja?"
Tiba-tiba terdengar suara Mo Goat membentak keras sekali. Keh-sim Taihiap tersentak dari lamunannya.
"Ah, entahlah! Tek Hun tidak pernah berada di rumah. Dia selalu berkelana kemana-mana. Mungkin sekarangpun dia berada di tempat ini pula. Mana Lohu tahu?"
"Bagus! Mudah-mudahan begitu. Biar dia tahu bahwa ayahnya mati di ben-I ng ini! Nah, bersiaplah...!"
Pengalaman Keh-sim Taihiap sangat banyak.
Dia sadar bahwa gadis muda itu memiliki ilmu silat yang amat tinggi.
Kalau lima tahun lalu Kwe Tek Hun dapat ditaklukkan dengan mudah, maka sekarangpun rasanya dia juga tidak mampu melawannya.
Ilmu silatnya tidak berbeda jauh dengan puteranya.
Apalagi gadis itu tentu sudah bertambah pula tingkat ilmunya.
Tapi tentu saja pantang bagi Keh-sim Taihiap untuk menyerah begitu saja.
Paling tidak ia tentu dapat bertahan dengan langkah Ban-seng-po Lian-hoan.
Maka pertempuran antara dua jago silat tingkat tinggi itu berlangsung dengan hebatnya.
Otomatis semua orang yang berada di tempat itu menyibak menjauhkan diri.
Pukulan dan tendangan mereka sangat berbahaya bagi siapapun juga.
Sementara itu kehadiran pasukan Hun telah mengubah situasi pertempuran.
Jumlah pasukan Hun yang dibawa Mo Hou sangat banyak, melebihi jumlah pasukan kerajaan dan pasukan para pendekar.
Peralatan perang yang mereka bawapun juga jauh lebih lengkap pula.
Tak heran kalau akhirnya kedua pasukan yang sudah babak belur itu terdesak ke dalam.
Walaupun para pendekar itu memiliki ilmu silat yang cukup, namun menghadapi pasukan Hun yang terlatih dan bersenjata lengkaR, mereka sungguh tidak dapat berbuat banyak.
Sedikit demi sedikit mereka terdesak ke dalam.
Bahkan beberapa kelompok pasukan penjaga benteng juga telah menyerah.
Mereka meletakkan senjata masing-masing.
Puluhan pendekar persilatan telah tertawan pula.
Pasukan Hun yang dipimpin oleh para panglima perangnya, benar-benar seperti "Kereta penggilas"
Yang mampu meluluh-lantakkan siapa saja yang menghadang di depannya. Terompet kemenangan bergaung semakin keras di angkasa, membuat pasukan asing itu bertambah garang.
"Munduuuuur...! Munduuuur...!"
Terdengar suara nyaring membelah udara.
Pasukan penjaga benteng dan pasu-ka para pendekar yang masih tersisa Sefusarra "rffindar ncebagian dalam benteng.
Tapi pasukan Hun berusaha memotong jalan mereka.
Pertempuran menjadi semakin seru.
Jeritan, teriakan, sumpah serapah, berbaur menjadi satu dengan suara dentang senjata.
Mayat dan darah berserakan di mana-mana.
Di bagian lajn pasukan Bayan Tanu.
yang mendapat perintah untuk membereskan rombongan Souw Thian Hai, ternyata mengalami sedikit kesulitan.
Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong, adalah tokoh persilatan terkemuka.
Seribu orang prajuritpun belum tentu dapat mengalahkan mereka.
Apalagi suami-isteri itu dibantu oleh Tio Siau In dan Yok Ting Ting.
Namun demikian Bayan Tanu tidak putus asa.
Bersama pasukan khususnya dia terus mengepung dan menggempur lawan-lawannya.
Anak buahnya memang telah dipersiapkan untuk menghadapi jago-jago silat berkepandaian tinggi.
Selain dilatih untuk selalu bertempur dalam kelompok atau barisan, pasukannya juga dilengkapi dengan senjata-senjata khusus.
-Maka tidak mengherankan bila perlawanan mereka membuat sibuk Souw Thian Hai dan rombongannya.
Apalagi di antara mereka terdapat Ho Bing, Tiat-tou dan Siang-kiam-eng, tiga jago silat yang berkepandaian cukup tinggi.
Walau tidak sehebat Souw Thian Hai, namun keberadaan mereka bertiga tetap menyulitkan.
lawan-lawannya.
Souw Thian Hai dengan Tai-lek Pek-khong-ciang dan Tai-kek Sin-ciangnya memang sangat menggiriskan.
Tapi menghadapi pasukan Bayan Tanu yang terlatih itu ternyata tidak dapat berbuat banyak.
Seperti telah dipersiapkan sebelumnya, pasukan Bayan Tanu melengkapi diri mereka dengan perisai baja tahan senjata.
Kilatan-kilatan sinar Tai-lek Pek-khong-ciang ternyata tidak mampu menembus perisai tersebut.
Sementara itu Tio Siau In dan Yok Ting Ting juga tidak dapat berkutik pula.
Mereka berdua dikepung oleh barisan yang kuat dan berlapis-lapis.
Satu-satunya kelebihan yang dapat diandalkan oleh Souw Thian Hai dan rombongannya hanyalah kelincahan gerak mereka.
Walau terdesak, namun mereka selalu dapat menyelamatkan diri.
Bagaikan belut mereka selalu lepas dari bahaya kematian.
Tapi memang sulit bagi mereka berempat untuk meloloskan diri.
kemanapun mereka pergi, Bayan Tanu dan pasukannya selalu mengejar.
Bagaikan kerumunan lebah pasukan terlatih itu selalu merubung mereka.
"Wah! Di mana Chin Tong Sia tadi? Pada saat dibutuhkan anak itu justru menghilang...!"
Souw Thian Hai menggerutu.
Bayan Tanu, Ho Bing, Tiat-tou dan Siang-kiam-eng memang bukan lawan yang setimpal dibandingkan dengan Tio Siau In dan Yok Ting Ting.
Apalagi dibandingkan dengan Souw Thian Hai.
Namun dengan dukungan pasukan khusus tersebut, Bayan Tanu benar-benar sulit dikalahkan.
Setiap kali rombongan Souw Thian Hai dapat melepaskan diri dari kepungan, Ho Bing dan temannya selalu dapat mengejar dan menghentikan mereka.
Memang hanya sesaat, tapi sudah cukup untuk membuat pasukan itu datang mengepung lagi.
Sementara itu di benteng bagian timur pertempuran juga tidak kalah serunya.
Panglima Yap Kim yang dikawal oleh rombongan A Liong berusaha lolos dari pintu timur.
Namun kenyataannya mereka justru terjebak dalam kepungan pasukan Mo Hou.
Sekali ini tampaknya Mo Hou benar-benar mengerahkan semua kekuatannya.
Hampir semua pembantu-pembantunya ikut dalam pasukan ini.
Bahkan Lok-kui-tin yang sangat lihai itu juga berada di dekatnya.
Pada bentrokan pertama hampir saja Liu Wan mendapat celaka.
Melihat Mo Hou dan pasukannya memburu Panglima Yap Kim, langsung ia memotong dan menyerang.
Namun ternyata bukan Mo Hou yang menangkis pukulannya, tapi seorang lelaki tua berseragam merah.
Hanya dengan mengibaskan lengannya lelaki tua yang tidak lain adalah Ang-kui itu membuat Liu Wan terpelanting.
Untunglah A Liong segera datang menolongnya!
Kalau tidak, maka serangan Ang-kui selanjutnya tentu sudah membunuhnya.
"Dhieesss!"
Pukulan Ang-kui yang ditujukan kepada Liu Wan berhasil ditangkis oleh A Liong!
Tidak banyak tenaga yang dikeluarkan oleh pemuda itu, namun sudah cukup menggetarkan lengan Hantu Merah!
Anggota Lok-kui tin yang lain segera tahu kalau saudaranya membentur lawan berat.
"Ang-kui! kau tidak apa-apa?"
Hek-kui yang berada di dekatnya berbisik perlahan.
"Awas... badai Pasir!"
Ang-kui menggeleng sambil memperingatkan saudara-saudaranya. Sementara itu Mo Hou telah berdiri di depan Panglima Yap Kim. Sambil mengepalkan tangannya pemuda itu menggeram.
"Hmm. jadi inikah panglima yang terkenal itu? Bukan main!"
Yap Kim tetap tenang.
Sikapnya benar-benar mencerminkan wibawa seorang panglima.
Dan sikap itu amat sangat melegakan hati Liu Wan dan A Liong.
Bersama-sama dengan si Pelayan Dapur mereka bertiga segera mengelilinginya.
"Ahh, waktu benar-benar cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin aku bertempur dengan Raja Mo Tan. Ternyata hari ini aku harus berhadapan pula dengan anaknya."
Yap Kim bergumam perlahan. Mo Hou mendengus.
"Ayahku sering bercerita tentang kehebatanmu! Katanya ilmu perangmu tiada duanya di dunia ini. Pasukanmu tidak pernah kalah dalam setiap pertempuran."
Pemuda sakti itu berhenti sejenak. Lalu sambungnya lagi dengan gigi gemeretak.
"Tapi semua itu sudah berlalu. Kini keadaanmu sudah jauh berbeda. kau tidak memiliki pasukan lagi. Dan nasibmu akan segera berakhir di tempat ini. kau akan hancur-luluh diterjang Pasukan Hun yang dulu selalu kau kalahkan."
"Aaaah...!"
Yap Kim menghela napas panjang. Liu Wan cepat menyentuh lengan bekas panglima itu.
"Ciangkun, jangan kau hiraukan ucapannya. Dia hanya ingin mempengaruhi perasaanmu. Meskipun kau tidak memiliki pasukan, tetapi banyak pendekar yang siap menerima perintahmu. Lihatlah orang-orang yang datang menyerbu benteng ini! Mereka datang untuk membebaskanmu! Mereka siap mati dibawah pimpinanmu!"
Yap Kim menoleh. Dahinya berkerut ketika menatap Liu Wan.
"Kau siapa...? Rasanya aku pernah mengenal suaramu."
Liu Wan yang menyamar sebagai Tabib Ciok itu tersentak mundur.
"Ciangkun, aku... aku hanyalah seorang tabib. Namaku... tabib Ciok. Mungkin Ciangkun memang pernah berjumpa denganku."
"Apakah... KAu-yang memimpin para pendekar ini?"
"Bukan! Bukan! Tapi aku mengenal mereka semua...!"
Yap Kim mengangguk, lalu berkata tegas.
"Baik. Kita enyahkan dulu pasukan asing ini! Nanti kita bicara lagi!"
"Kalian memang kelinci yang tidak tahu diri! Kematian sudah di depan mata, masih saja bemimpi...!"
Mo Hou menggeram. Tapi Yap Kim tidak mempedulikan ancaman itu. Sambil mengatupkan tangannya di depan mulut ia berseru dengan suara tinggi.
"Para pendekar semua...! Dengarlah! Aku... adalah Yap Kim! Marilah kita enyahkan pasukan asing ini!"
Suaranya menggema di atas benteng.
Melingkar-lingkar, bagaikan suara genderang yang bergaung di tengah medan pertempuran.
Beberapa kali seruan itu diteriakkan oleh Yap Kim, agar semua orang tahu bahwa dia telah bebas Tapi suaranya selalu tenggelam dalam hiruk-pikuknya pertempuran.
Hanya orang-orang di sekitar mereka saja yang memperhatikan seruannya.
"Huh, percuma saja kau berteriak setinggi langit! Mereka tak akan peduli."
Mo Hou mengejek.
Melihat hal itu A Liong menjadi tidak sabar lagi.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga saktinya dia meloncat ke atas tembok, lalu berteriak sekeras-kerasnya.
Namun pada saat yang sama, Mo Hou juga mulai menyerang Yap Kim.
Pemuda, itu juga tidak sabaran pula.
"Haiii...! Panglima Yap Kim sudah bebas! Beliau ada di sini! Beliau mengajak kita mengenyahkan pasukan musuh ini!"
A Liong berseru sekuat-kuatnya.
Teriakan A Liong bagaikan suara petir yang menggelegar di angkasa.
Demikian dahsyatnya sehingga udara di dalam benteng itu seperti ikut bergetar pula.
Bahkan getarannya sampai menyusup ke dalam dada dan mempengaruhi keseimbangan pendengarnya.
Otomatis semua orang menahan diri.
Mereka berusaha untuk melawan pengaruh suara itu.
Mo Houpun tidak terkecuali pula.
Pada saat tubuhnya melayang ke depan, maka getaran suara A Liong menghentak isi dadanya.
Otomatis ia menarik lagi tenaganya.
Sebagian ia pergunakan untuk bertahan dan sebagian lagi untuk meneruskan serangannya.
Terdengar suara gemuruh ketika tangan itu menyambar ke depan bergantian.
Walaupun hanya sebagian, tapi tenaga yang keluar dari tangan itu benar-benar dahsyat.
Liu Wan dan si Pelayan Dapur segera bersiap dengan seluruh tenaga mereka pula.
Bertiga dengan Yap Kim mereka menyongsong gempuran Mo Hou.
Masing-masing mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
"Huh! Jangan harap kalian dapat menahan pukulanku!"
Mo Hou menjerit marah.
"Dhuuuaaar...!"
Dua buah"
Kekuatan yang maha dahsyat bertemu di udara!
Dan akibatnya sungguh mengejutkan.!
Tubuh Liu Wan dan Yap Kim terpelanting jatuh ke tanah, sementara si Pelayan Dapur terhuyung ke belakang.
Demikianlah, dalam gebrakan pertama itu masing-masing telah menguji tingkat ilmu mereka.
Dan ternyata tingkatan ilmu silat Mo Hou masih jauh di atas kepandaian Yap Kim, Liu Wan, maupun si Pelayan Gemuk.
Buktinya pemuda itu sama sekali tak bergeming melawan tenaga gabungan mereka.
Kenyataan itu benar-benar sangat mengejutkan Yap Kim.
Dia adalah ahli waris keluarga Yap, yang pada zaman ayahnya merupakan salah satu Datuk Persilatan ternama.
Namun sekarang, menghadapi seorang pemuda saja dia tak mampu.
Padahal ia telah melepaskan seluruh tenaga sakti Hong-lui-kangnya yang hebat!
Dan rasa heran itu semakin bertambah lagi, ketika ia menyadari bahwa kawan-kawannya juga mengerahkan tenaga sakti yang tidak kalah hebat dengan miliknya.
Bahkan orang tua yang mengaku sebagai Tabib Ciok itu mengerahkan tenaga sakti Hong-lui-sinkang seperti dirinya.
Namun demikian tenaga gabungan mereka itu tetap tidak berdaya menghadapi kekuatan Mo Hou!
Sementara itu pertempuran di dalam benteng semakin bertambah sengit.
Ternyata seruan A Liong tadi benar-benar manjur.
Para pendekar persilatan yang mendengar berita itu segera berteriak gembira.
Mereka menjadi sangat bersemangat.
Mereka lalu bertempur seperti orang kesurupan.
Mereka bertempur sambil bersorak-sorai.
"Hidup Panglima Yap Kim! Hidup Panglima Yap Kim...! Mari kita usir pasukan asing ini...!"
Ternyata berita lepasnya Panglima Yap Kim itu berpengaruh pula pada prajurit penjaga benteng.
Sebagian besar dari prajurit itu tiba-tiba ikut bersorak pula.
Mereka berteriak sambil mengacung-acungkan senjata mereka.
Mereka ikut.
bergabung dengan para pendekar untuk menghadapi pasukan Hun.
Bagaimanapun juga banyak diantara mereka yang masih mencintai Panglima Yap Kim.
Yap Kim dan Liu Wan bangkit berdiri.
Kedua mata mereka masih berkunang-kunang.
Tulang-tulang merekapun masih terasa linu pula.
Namun demikian bekas panglima itu masih juga penasaran melihat ilmu silat Liu Wan.
"Kau... Menggunakan Hong-lui Kun-hoat! Siapa sebenarnya dirimu?"
Bekas panglima itu bertanya kepada Liu Wan.
Liu Wan gelagapan.
Dia tidak mampu menjawab.
Untunglah serangan Mo Hou kembali datang mengempur mereka.
Dan kali ini pemuda itu tidak mau mengulur-ulur waktu lagi.
Tangannya menggenggam senjata kipasnya!
Melihat tuannya menghadapi banyak orang, Lok-kui-tin bergegas mendekati.
Tapi Mo Hou segera membentak.
"Jangan ikut campur! Kalian bunuh saja pemuda di atas tembok itu! Jangan sembrono! Hadapilah dia bersama-sama!"
"Baik, Kongcu."
Demikianlah, Yap Kim bertiga terpaksa harus menghadapi Mo Hou.
Walaupun mereka kalah, tapi mereka tetap bertahan sekuat tenaga.
Mereka berusaha untuk mengulur waktu.
Mereka menunggu kedatangan A Liong, meski mereka harus berjuang mati-matian.
Sambil bertempur mata Yap Kim masih saja melirik ke arah Liu Wan.
Diam-diam hatinya semakin penasaran melihat tabib tua itu benar-benar menggunakan ilmu yang sama dengan dirinya.
Dan ketika perhatiannya beralih kepada si Pelayan Dapur, panglima itu semakin tidak ialilLnlengerti pula.
PefaV"
Gemuk itu ternyata bergerak dengan amat lincahnya. Nyaris selincah Mo Hou. Bahkan semakin lama gerakan pelayan itu semakin aneh dan mengerikan.
"Aaah! Siapa sebenarnya mereka? Sungguh mencurigakan."
Tapi bekas panglima itu tidak mempunyai banyak waktu utuk berpikir.
Mo Hou tidak pernah berhenti menyerang.
Kipasnya menyambar ke sana kemari, bagaikan burung elang yang terus memburu nyawa mereka.
Bahkan sesekali dari telapak tangan pemuda itu melesat belasan paku beracun.
Ternyata dalam menghadapi senjata rahasia, ilmu silat si Pelayan Dapur justru paling hebat.
Dengan kebutan lengan bajunya yang longgar dia mampu meredam keganasan paku-paku beracun itu.
Gerakannya sangat aneh.
Setiap kali kedua lengannya selalu bergerak menyilang.
Dari bawah ke atas, dari kanan-kiri, atau sebaliknya.
Gerakannya sangat kuat, namun berkesan berat, seperti gerakan penari topeng yang menari dengan seragamnya yang^ Berlapis-lapis.
Namun demikian setiap kali lengan itu bergerak, maka terasa semburan hawa dingin yang menyebar ke segala penjuru.
"Kim-liong Sin-kun (Kepalan Sakti Naga Emas)..."
Tiba-tiba Yap Kim berdesah kaget menyaksikan gerakan-gerakan itu.
Kim-liong Sin-kun merupakan salah satu ilmu warisan Bit-bo-ong.
Seharusnya ilmu itu dilengkapi dengan jubah atau mantel sakti tahan senjata, yang dahulu selalu dipakai oleh mendiang Bit-bo-ong.
Tapi mantel pusaka itu khabarnya telah kembali ke tangan pendek, ir sakti Souw Thian Hai, yang memang berhak atas benda tersebut.
"Kurang ajar...! Kalian memang sudah bosan hidup!"
Mo Hou benar-benar tidak sabar lagi.
Tiba-tiba saja tubuh pemuda itu pecah menjadi enam orang.
Bentuk, rupa dan pakaiannya semua sama.
Semuanya persis Mo Hou.
Dan semuanya juga memegang kipas baja.
Mereka segera berpencar dan mengepung Yap Kim bertiga.
"Awaaas! Dia menggunakan ilmu sihir! Kita harus berhati-hati!"
Yap Kim berseru ke arah Liu Wan dan si Pelayan Dapur.
"Benar, Ciangkun. Kita memang harus hati-hati,"
Liu Wan menyahut dengan suara gemetar.
"Ya-yaa, aku juga pernah melihatnya di kota Hang-ciu lima tahun lalu..."
Pelayan Dapur itu tiba-tiba menyahut.
"Kau pernah melihatnya di Hang-ciu?"
Liu Wan tersentak.
Sementara itu pertempuran berkobar semakin hebat.
Berita bebasnya Panglima Yap Kim sangat mempengaruhi semangat para pendekar.
Bersama-sama dengan para prajurit yang membelot, pasukan para pendekar itu menyongsong gempuran lawannya.
Rombongan Souw Thian Hai, yang terdiri dari Chu Bwe Hong, Tio Siau In dan Yok Ting Ting, tetap belum bisa membebaskan diri dari kepungan pasukan Bayan Tanu.
Mereka benar-benar terkepung oleh pasukan khusus yang sangat terlatih itu.
Ilmu silat Souw Thian Hai sama sekali tidak berdaya melawan kepungan prajurit-prajurit khusus itu.
Selain mempergunakan perisai baja, pasukan yang amat terlatih itu selalu menghindar dari tusukan jari Souw Thian Hai.
"Wah, kemana Put-tong-sia tadi?"
Souw Thian Hai-berseru.
"Entahlah. Pada waktu masuk ke dalam benteng tadi, dia masih berada di belakang kita."
Chu Bwe Hong menyahut.
"Jangan-jangan dia terluka..."
"Aaaah, tidak...!"
Tak terasa Chu Bwe Hong berdesah pendek.
Wajahnya pucat.
Semua orang yang berada di arena itu juga dikagetkan oleh suara A Liong.
Selain berita itu amat menggembirakan mereka, mereka juga dipaksa untuk bertahan atas getaran suara itu.
"Bukan main! Siapakah orang yang dapat mengeluarkan suara seperti ini?"
Demikianlah, dalam arena itu Tio Siau In dan Yok Ting Ting berhadapan dengan Ho Bing dan kawan-kawannya, sementara Souw Thian Hai dan isterinya tetap melawan Bayan Tanu dan pasukan khususnya.
Walaupun ditekan dan didesak terus, tapi rombongan itu memberikan perlawanan hebat.
Hanya karena mereka semua memiliki ilmu silat tinggi, maka Bayan Tanu dan pasukannya masih sulit untuk mengalahkan mereka.
Ho Bing dan kawan-kawannya, yang kebetulan menghadapi Tio Siau In dan Yok Ting, jpga dapat mendesak kedua gadis remaja itu.
Tongkat Bocornya melayang-layang, mengurung Tio Siau In dan Yok Ting Ting.
Untunglah kedua gadis itu sudah menerima pelajaran dari Han Tui Lan dan Souw Lian Cu.
Walaupun terdesak, mereka masih tetap dapat bertahan.
Di bagian-bagian lain keadaannya sama saja.
Pasukan para pendekar itu tetap tidak mampu menghadapi gempuran pasukan Hun.
Walaupun mereka dibantu oleh pasukan penjaga benteng, tapi jumlah mereka masih tetap kalah banyak.
Pasukan Hun memang benar-benar pasukan perang yang telah dipersiapkan dengan matang.
Walaupun mereka berhadapan dengan para pendekar yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, tetapi mereka selalu bergerak dalam barisan yang teratur.
Mereka bertempur dalam kelompok-kelompok yang saling menunjang satu sama lain.
Mereka bergerak di dalam strategi perang yang teratur.
Kekuatan lawan selalu mereka hadapi se-cara kelompok atau barisan.
Tidak ada perang tanding satu lawan satu.
Mereka selalu bergerak dalam barisan.
Kekuatan mereka selalu bergt ung menjadi-satu.
Maka tidak menghe.
ankan kalau lawan mereka menjadi mati kutu.
Para pendekar yang lihai-lihai itu.
benar-benar tidak berdaya.
Para pendekar itu memang kuat dan banyak sekali jumlahnya.
Tapi mereka bertempur secara perorangan, mengandalkan kemampuan mereka masing-masing.
Mereka bertempur dengan semangat tinggi, tapi tidak saling menunjang satu sama lain.
Mereka bertempur hanya dengan tujuan membunuh lawan sebanyak-banyaknya.
Mereka bertempur sendiri-sendiri.
(Lanjut ke
Jilid 27) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 27 Keberingasan mereka justru dimanfaatkan oleh pasukan Hun.
Para komandan pasukan Hun yang cerdik itu segera mengatur siasat.
Mereka menggiring pendekar-pendekar itu ke dalam jebakan, sehingga banyak diantara pendekar yang jatuh ke dalam perangkap.
Mereka terpisah dari kawan-kawannya dan terkurung dalam kepungan.
Dan mereka segera dikeroyok dan dicincang seperti binatang buruan.
Korban semakin banyak.
Baik di pihak para pendekar, maupun di pihak pasukan Hun.
Namun karena jumlah pasukan Hun lebih banyak, maka pasukan para pendekar itu semakin terdesak.
Matahari naik semakin tinggi.
Panasnya mulai membakar arena.
Bau darah dan keringat"
Bercampur dengan kepulan asap dan debu.
Pertempuran sudah berlangsung hampir setengah hari.
Diam-diam Liu Wan menjadi khawatir.
Walaupun tidak dapat melihat seluruhnya, tapi ia merasa kesulitan berada di pihaknya.
"Eh? Mengapa Souw Hong Lam belum juga muncul? Kemana dia?"
Tampaknya kekhawatiran Liu Wan itu dirasakan pula oleh Yap Kim.
Bekas panglima yang mahir ilmu perang itu sadar pula bahwa mereka dalam kesulitan.
Dari suara terompet dan genderang yang terdengar, sudah dapat ditebak apa yang terjadi.
Tapi mereka bertiga tidak dapat berbuat banyak.
Keenam bentuk Mo Hou itu hampir tidak pernah memberi kesempatan untuk berpikir.
Mereka benar-benar dalam kesulitan.
Bahkan berkali-kali mereka harus jatuh bangun untuk menghindari serangan Mo Hou...
baik Liu Wan maupun si Pelayan Dapur sudah tidak dapat lagi melindungi alat penyamaran mereka.
Satu persatu alat penyamaran mereka terlepas.
"Saudara A Liong...!?"
Liu Wan mencoba memanggil A Liong yang bertempur dengan barisan Lok-kui-tin.
"Aku di sini, Lo-Cianpwe!"
Pemuda itu hanya mampu menjawab, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.
Dia sendiri sedang berjuang menghadapi barisan Liok-kui-tin.
Mereka bertempur di atas tembok dan genting.
Mereka bergerak cepat sekali.
Berputar-putar bagaikan kelompok hantu yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Begitu kuatnya angin pukulan mereka, sehingga debu dan daun beterbangan ke segala penjuru.
Membuat orang-orang pada menyingkir dan menjauhi tempat itu.
Sementara itu keenam bayangan Mo Hou sudah dapat menguasai Yap Kim bertiga.
Keenam buah kipas baja itu melayang-layang di sekitar lawannya.
Pemuda sakti itu masih menunggu saat yang tepat untuk memilih mangsanya.
Dan hal itu memang segera ia lakukan.
"Aduuuh!"
Kipas Mo Hou menyerempet punggung dan kepala si Pelayan Dapur kemudian menghajar dada Liu Wan.
Begitu kuatnya sehingga Liu Wan memuntahkan darah segar.
Yap Kim bergegas melepaskan pukulan petirnya untuk menahan serangan berikutnya.
Dia benar-benar melepaskan seluruh kemampuannya dan tidak memperhitungkan lagi kesehatannya.
Dia tidak peduli lagi kalau kekuatannya akan terkuras habis.
"Dhuuuuar...!"
Pukulan itu memang dapat mendorong bayangan Mo Hou ke belakang.
Tapi bersamaan dengan itu tubuh Liu Wan dan si Pelayan Dapur juga jatuh ke tanah.
Topi dan baju tebal si Pelayan Dapur terkoyak dan terlepas.
Begitu pula dengan bantal dan jenggot Liu Wan.
Alat penyamaran kedua orang itu sudah tidak berfungsi lagi.
"Heiii???"
Mo Hou dan Yap Kim berseru kaget.
Otomatis Mo Hou dan kelima kembarannya melompat mundur.
Yap Kim ternganga menyaksikan wajah Liu Wan dan si Pelayan Dapur.
Tiba-tiba saja mereka berdua berubah menjadi seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik.
Dan wajah pemuda itu segera dikenal oleh Yap Kim.
"Pangeran Liu Wan Ti...?"
"Apa? Pangeran?"
Seruan Yap Kim itu segera diikuti pula.
oleh jeritan gadis cantik si Pelayan Dapur yang tidak lain adalah Tio Ciu In itu.
Segumpal darah segar tiba-tiba menyembur lagi dari mulut Liu Wan atau Pangeran Liu Wan Ti.
Pangeran Mahkota yang telah menghilang hampir sepuluh tahun itu tampak pucat sekali.
Pukulan gagang kipas fcju telah melukai isi dadanya.
Meskipun demikian pemuda itu masih bisa tersenyum kepada Tio Ciu In.
"Nona Tio...? Aaaah!"
"Liu Toako? kau benar-benar Pangeran Liu Wan Ti?"
Tak terduga Mo Hou tertawa gembira. Karena kelima kembarannya juga ikut tertawa, maka suaranya menjadi riuh sekali.
"Hahaha... aku benar-benar tidak menyangka kalau Pangeran Mahkota yang dicari-cari itu ada di sini! Sungguh kebetulan sekali! Sekali tepuk kudapatkan dua harimau sekaligus! Hmmmh!"
Munculnya Pangeran Liu Wan Ti di tempat itu memang mengejutkan semua orang.
Lima tahun lamanya pangeran itu dicari dan ditunggu-tunggu kedatangannya.
Tak terduga pangeran itu muncul dalam situasi yang sulit seperti itu.
Keenam bayangan Mo Hou itu kembali bergabung menjadi satu lagi.
Dengan wajah puas pemuda itu memandang ketiga lawannya.
Mereka sudah tak berdaya lagi.
Pangeran Liu Wan Ti terluka dalam.
Tio Ciu In terluka punggungnya.
Sedangkan Yap Kim berdiri lemah di tempatnya.
Bekas panglima itu benar-benar kehabisan tenaga setelah melepaskan pukulan petirnya.
"Nah! Kuberi waktu untuk berunding! Siapa diantara kalian yang ingin kupenggal kepalanya lebih dahulu? Panglima Yap Kim? Atau... pangeran Liu Wan Ti?"
"Jangan sombong! Aku belum. menyerah! Lihat pukulan...!"
Tiba-tiba Tio Ciu In melompat sambil menyerang Mo Hou.
Mo Hou berputar sambil melangkahkan kakinya ke belakang.
Tubuhnya lalu meliuk ke samping sambil menyambar pinggang gadis itu.
Tentu saja Tio Ciu In tidak ingin celaka.
Dengan gesit ia menggeliat ke samping.
Di lain saat tangannya telah memegang sepasang pedang pendek dan langsung menyerang Mo Hou lagi.
Lagi-lagi terasa udara menjadi padat sehingga Mo Hou sulit bernapas.
"Gila! Tampaknya kau mempunyai hubungan perguruan dengan mendiang Bit-bo-ong!"
Pemuda itu menggeram marah. Yah, benar! Gadis itu memang mengunakan ilmu silat Bit-bo-ong! Tadi bocah itu menggunakan Kim-liong Sin-kun, sekarang Pat-hong-sin-ciang! Apakah dia murid iblis itu?"
Walaupun dalam keadaan lemah Yap Kim masih juga berpikir tentang Tio Ciu In.
Mo Hou menghentakkan tenaganya.
Sekejap tekanan udara itu mengendor.
Dan kesempatan itu segera ia gunakan sebaik-baiknya.
Ia melompat ke kiri sambil menebaskan kipasnya ke tangan Tio Ciu In.
itu nyaris memotong pergelangan tangan Tio Ciu In.
Untung dengan sisa-sisa tenaganya gadis itu berhasil mengelak.
Gerakannya cepat bukan main.
Tio Cu In tidak mau memberi kesempatan pada lawannya.
Walau punggungnya terasa sakit, tapi dia berusaha mati-matian untuk menahannya.
Dia tak ingin pemuda itu membunuh Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti.
Darah mulai merembes membasahi punggung Tio Cu In.
Luka akibat goresan kipas itu mulai mengeluarkan darah.
Untunglah dalam penyamarannya tadi dia mengenakan pakaian berlapis-lapis, hingga sabetan kipas lawan lebih banyak mengiris pakaian daripada kulit punggungnya!
Selama tinggal di dalam gua Tio Ciu In mendapat banyak pelajaran dari si Pendekar Buta.
Pendekar berambut panjang itu benar-benar memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.
Bahkan menurut Tio Ciu In, ilmu silat Pendekar Buta itu masih berada di atas Toat-beng-jin atau Lojin-Ong!
Kini ilmu silat Tio Ciu In memang sudah melampaui Liu Wan.
Tapi ilmu yang dia dapatkan itu ternyata masih jauh dari cukup untuk melawan Mo Hou.
Putera Raja Mo Tan itu memang benar-benar hebat sekali.
Beberapa kali gadis itu terdorong mundur bila harus beradu tenaga dengan lawannya.
Pedang pendeknya selalu bergetar bila beradu dengan kipas Mo Hou.
Dan rasanya ia semakin sulit mempertahankan pedang itu.
"Lihatlah! Aku tak perlu memanggil enam orang kembaranku untuk meringkusmu! Bahkan sebenarnya aku juga tidak perlu menggunakan kipas ini untuk me-ngalahkanmu! Satu tangan kosong saja sudah cukup untuk membunuhmu!"
Tio Ciu In diam tak menjawab.
Pemuda itu memang sangat sombong.
Tapi kenyataannya memang benar.
Dalam keadaan terluka seperti sekarang, ia memang tak lebih dari seekor anak ayam yang berusaha keras untuk melawan induknya.
"Aduuuh!"
Sekali lagi Tio Ciu In memekik, kipas Mo Hou menyambar lengan kanannya dan hampir saja memutuskan urat nadinya, darah merembes keluar bersamaan dengan terlepasnya pedang yang tergengam di dalam tangan itu.
Lengan itu terasa nyeri dan sulit digerakkan, sementara luka di punggungnya juga semakin banyak mengeluarkan darah.
"Berdoalah! Tampaknya... engkaulah yang pertama akan mati oleh kipasku!"
Mo Hou menggeram sambil mengangkat kipasnya tinggi-tinggi.
Kipas terbuat dari baja tipis itu berkelebat, terdengan suara mendesing saat kipas itu menyambar leher Tio Ciu In dan kali ini gadis itu memang tidak bisa berbuat banyak, walaupun masih ada pedang di tangan kirinya, tetapi luka di tangan dan punggunya membuat ia tidak leluasa menyalurkan tenaga dalamnya, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan oleh Tio Ciu In hanya mengelak, itupun hanya dapat dilakukan dengan cara melemparkan diri ke belakang dan ketika hal itu benar-benar dilakukannya maka sabetan kipas itu memang luput mengenai lehernya, Namun cara menghindar itu juga membuat posisi Tio Ciu In menjadi semakin sulit, tubuh Tio Ciu In terlentang diatas tanah, dengan demikian pertahanannnya menjadi terbuka dan otomatis dia tak bisa berbuat apa-apa menghadapi serangan Mo Hou berikutnya.
"Liu Toako...!"
Tak terasa bibir gadis itu bergetar.
"Nona Tio!"
Liu Wan mencoba bangkit tapi segera jatuh kembali, wajahnya semakin pucat. Mo Hou benar-benar membuktikan ancamannya, sekali lagi kipasnya menyambar ke leher Tio Ciu In.
"Wuuuu!"
Dan sekejap saja kipas itu sudah menempel di leher Tio Ciu In, namun pada saat yang sama seleret sinar merah tiba-tiba membentur daun kipas itu.
Duk!
Demikian kuatnya tenaga yang terkandung dalam sinar merah itu, sehingga kipas itu melenceng dan hampir terlepas dari gengaman Mo Hou.!
Mo Hou terkejut sekali.
Terkejut dan marah.
Dan dalam kemarahannya kekuatan ilmu sihir pemuda itu muncul dengan sendirinya!
"Wussss!"
Tiba-tiba saja pemuda gagah itu berubah menjadi mahluk yang sangat mengerikan!
Tubuh Mo Hou berkembang menjadi dua kali lipat besarnya.
Sementara wajahnya yang tampan itu berubah menjadi kasar dan berbulu lebat.
Bahkan dari sela-sela giginya yang berubah menjadi tonggos itu menetes darah segar!
"Ooooh...???"
Tidak seorangpun yang tidak kaget menyaksikan pemandangan itu.
Tidak terkecuali Souw Hong Lam, orang yang baru saja datang dan menyelamatkan jiwa Tio Ciu In.
Pemuda dari keluarga Souw itu sama sekali tidak menduga kalau totokan sinar merahnya membuat Mo Hou berubah menjadi raksasa.
"Souw-heng, awas...! Itu hanya ilmu sihir!"
Liu Wan memberi peringatan. Mo Hou yang telah berubah bentuk menjadi seorang raksasa itu menggeram. Matanya melotot seolah-olah mau keluar dari lobangnya.
"Siapakah kau? Sungguh berani sekali kau mengganggu dan melawanku!"
Suara itu terasa menggelegar di telinga Souw Hong Lam.
Membuat pemuda itu tiba-tiba tertegun dan merasa ngeri tanpa sebab.
Rasanya wajah itu sangat menyeramkan sekali.
Demikian menakutkan sehingga Souw Hong Lam tidak ingin melihatnya.
"Kau... Kau...?"
Souw Hong Lam terbata-bata. Lehernya bagai tercekik. Sementara itu Mo Hou telah mengangkat kipasnya. Perlahan-lahan kipas itu terayun ke bawah, siap untuk membelah tubuh Souw Hong Cam;
"Saudara Souw...!"
A Liong yang masih sibuk dengan keroyokan Lok-hui-tin itu tiba-tiba berteriak.
Suaranya bergetar penuh tenaga.
Demikian kuatnya sehingga pengaruh sihir yang mencekam hati Souw Hong Lam menjadi goyah.
Kesempatan itu segera dimanfaatkan oleh Souw Hong Lam.
Dengan menghentakkan seluruh kekuatannya pemuda itu mengibaskan pengaruh sihir yang mencengkeram pikirannya.
Dan begitu pengaruh sihir itu hilang, dia cepat-cepat melompat ke depan untuk menyelamatkan Tio Ciu In dan membawanya ke tempat aman.
Namun bantuan itu justru berakibat buruk terhadap A Liong sendiri.
Begitu perhatiannya terpecah, maka pukulan Lok-kui-tin menerobos pertahanannya dan menggempur bertubi-tubi.
Keenam Hantu itu memang benar-benar tokoh berkepandaian tinggi.
"Buk! Buk!"
A Liong terlempar ke bawah.
Demikian cepatnya pukulan Enam Hantu itu sehingga A Liong tak mampu lagi menghindar.
Tapi dengan cepat A Liong bangkit kembali.
Wajahnya menjadi merah.
Pukulan itu sangat menyakitinya, meskipun tidak sampai melukai kulitnya.
"Ah, kalian sungguh pandai menggunakan kesempatan. Kalau begitu aku juga tidak akan segan-segan lagi. Awas, aku akan menggunakan senjata untuk menyelesaikan perkelahian ini."
Keenam Hantu itu benar-benar kaget.
Pukulan mereka ternyata tidak mampu membunuh pemuda itu.
Pukulan berganda yang dapat meremukkan seekor gajah itu ternyata tidak berarti apa-apa bagi A Liong.
Ternyata pemuda itu hanya terlempar dari tempatnya.
Ang-kui yang paling berangasan di-antara Lok-kui-tin tampak bengong, sementara saudara-saudaranya yang lain juga saling pandang dengan dahi berkerut.
"Bocah itu mempunyai tenaga tersembunyi yang sangat hebat dalam tubuhnya. Kita... Kita harus berhati-hati menghadapinya,"
Hek-kui berdesah perlahan.
Ketika A Liong menghunus pedang anehnya, maka keenam hantu itu melangkah mundur.
Pedang atau pisau panjang berbentuk aneh itu memantulkan sinar beraneka-warna, seperti pancaran sinar pelangi yang merebak dan membungkus mata pedang itu.
"Hati-hati! Pedang kecil itu memiliki perbawa aneh! Kita tidak boleh melawannya dengan tangan kosong! Kita harus melawan dengan p iau kita pula!"
Pek-kui memperingatkan saudara-saudaranya.
A Liong menimang-nimang pedang pemberian gurunya, Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong.
Pedang itu memang bukan pedang biasa seperti kebanyakan pedang di daerah Tionggoan.
Pedang itu lebih menyerupai pisau panjang yang melengkung setengah lingkaran.
Mata pisaunya yang mengkilat bersih itu memantulkan sinar beraneka-warna.
"Kalian memang beruntung! Pedang ini jarang sekali kupergunakan. Hanya dalam keadaan sulit aku memakainya. Kini dia terpaksa kukeluarkan untuk melawan kalian. Nah, berhati-hatilah! Biasanya lawanku tidak ada yang tahan menghadapinya! Ayoh...!"
"Sungguh sombong sekali! Tampaknya engkau juga belum pernah mengenal kami, sehingga kau menjadi takabur. Ketahuilah... sekarang kau berhadapan dengan Lok-kui-tin dari Gurun Gobi!"
Hek-kui berkata penuh geram.
"Sayang sekali. Aku memang belum mengenal kalian, karena aku hanya seorang pemuda gelandangan bernama A Liong, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan sanak keluarga. Hehehe...!"
Wajah Ang-kui menjadi merah.
"Tutup mulutmu!"
Teriaknya keras sambil mendahului menyerang. Pisau lebarnya terayun ganas ke ulu hati A Liong. Dan kelima saudaranya segera mengikuti pula langkahnya. Mereka menyerang dari segala jurusan.
"Siiing! Siiing! Siiing! Trang! Trang!"
Sekilas nampak sinar pelangi berkelebatan di arena itu, kemudian lenyap setelah terjadi benturan beberapa kali.
Apa yang terjadi benar-benar mengecutkan hati Lok-kui-tin!
Dalam, gebrakan pertama itu mereka dikejutkan oleh kehebatan ilmu pedang A Liong.
Baru kali ini mereka berenam menyaksikan ilmu pedang sekuat dan sehebat itu.
Memang dapat dimaklumi kalau Lok-kui-tin terkesima melihat ilmu pedang A Liong.
Sudah puluhan tahun mereka malang melintang di dunia persilatan, baik di luar maupun di dalam Tembok Besar.
Dan selama itu pula mereka menyaksikan berbagai macam ilmu silat yang aneh-aneh.
Namun ternyata baru sekarang ini mereka menemukan ilmu pedang seperti kepunyaan A Liong.
Ilmu pedang anak muda itu sama sekali tidak mengandalkan ketajaman pedangnya, tapi justru memanfaatkan pengaruh dari kilatan sinar pedang tersebut.
Ternyata A Liong mampu membuat pedang itu seperti terbakar dan selanjutnya mengeluarkan kilatan sinar beraneka warna.
Dan kilatan sinar itu lalu meluncur dan memburu Lok-kui-tin berenam.
Anehnya sinar itu mampu melukai kulit daging mereka.
Bahkan pisau Lok-kui-tin tidak kuasa menghadapi sinar itu.
Pisau mereka menjadi rusak ketika menangkis sinar itu.
"Aaah! Sungguh berbahaya!"
Pek-kui menyeringai kecut.
"Kita gunakan Barisan Lok-kui-tin!"
Hek-kui memberi aba-aba.
"Benar! Sinar itu jangan dilawan dengan kekerasan... Harus kita hindari atau kita pantulkan dengan badan pisau kita! Hanya dengan cara itu kita dapat merendam kekuatannya!"
Ui-kui menanggapi ucapan saudaranya.
"Tetapi sinar yang memantul itu masih berbahaya buat kita. Salah-salah bisa mengenai kawan sendiri."
Ang-kui berkata dengan suara bergetar.
"Kalau begitu kita arahkan pantulannya ke atas! Jangan sampai mengarah ke samping atau ke bawah!"
"Baiklah! Mari kita lakukan!"
Pek-kui mengangguk. A Liong membiarkan lawan-lawannya berbicara. Dia tetap tenang saja di tempatnya. Bibirnya justru tersenyum.
"Sudah selesai berunding? Ayolah...!"
Sikap pemuda itu benar-benar membakar hati Lok-kui-tin.
Mereka segera menyusun barisan dan menyatukan kekuatan mereka.
Mereka harus melawan tenaga A Liong secara bersama-sama.
Mereka harus melawan pemuda itu sebagai kesatuan, bukan sebagai orang per orang.
"Kalian benar-benar cerdik. Begitu melihat kalian segera tahu kelemahan dan jalan keluarnya. Bagus sekali. Tampaknya pertempuran ini memang akan berlangsung lama. Tapi akan kita lihat, siapa di antara kita yang lebih dulu membuat kesalahan."
Selesai bicara A Liong menyabetkan pisaunya. Seleret sinar putih melecut seperti cambuk ke arah lawan-lawannya.
"Siiing...!"
Lok-kui-tin merunduk berbareng sambil bersama-sama menyilangkan senjata mereka di atas kepala. Gerakan mereka begitu serempak dan indah sehingga senjata itu membentuk deretan tangga yang panjang.
"Traaaaang!"
Sinar putih itu mengenai deretan Pisau yang disusun oleh Lok-kui-tin dan memantul ke samping.
Celakanya, pantulan sinar itu menyambar dan mengenai beberapa pendekar persilatan di dekat mereka.
Orang-orang itu menjerit kesakitan, sebelum akhirnya jatuh dengan kulit terkelupas bagai dibelah senjata tajam.
A Liong terkejut.
Dia tak menduga kalau serangannya akan melukai kawan sendiri.
"Ah! Mereka memang cerdik sekali.! Aku benar-benar ceroboh! Aku terlalu meremehkan mereka."
A Liong menyesal.
Lok-kui-tin benar-benar puas, mereka dapat menjinakkan ilmu pedang A Liong yang aneh.
Bahkan mereka dapat memanfaatkannya pula.
Sekarang justru mereka berenam yang balik menguasai arena.
Sambil bertahan A Liong mencari jalan untuk menghadapi lawannya.
Serangan.
Lok-kui-tin yang bertubi-tubi hanya ia hindari dan ia punahkan sebelum mengenai tubuhnya.
Namun karena serangan itu datang tanpa henti, maka sekali dua kali terpaksa harus ditahan dengan kekuatan pula.
Dan akibatnya memang mengejutkan.
Karena tenaga yang dilontarkan oleh Lok-kui-tin itu merupakan tenaga gabungan, maka kekuatannyapun bukan main hebatnya.
Berbenturan dengan tenaga A Liong ternyata membuat kedua belah pihak merasakan akibatnya.
Masing-masing tergetar mundur ke belakang.
Hek-kui dan Pek-kui terlongong-Io-ngong di tempatnya.
Keduanya hampir tidak percaya melihat hasil benturan itu.
"Gila! Tenaga dalam pemuda itu masih selapis lebih tinggi dibandingkan tenaga gabungan kita! Benar-benar tidak masuk akal."
Demikianlah, Lok-kui-tin semakin berhati-hati menghadapi A Liong.
Sebaliknya A Liong sendiri juga tidak berani berlaku ceroboh terhadap mereka.
Masing-masing tak ingin mencelakai kawan sendiri.
Sementara itu Souw Hong Lam telah1 meletakkan tubuh Tio Ciu In di dekat Yap Kim dan Liu Wan Ti.
Tio Ciu In semakin kelihatan lemah dan menderita.
Punggungnya telah basah oleh darah yang terus mengalir dari lukanya.
"Saudara Souw...? Tolong, ambilkan obat luka di dalam bungkusanku! Berikan kepada Nona Tio agar darahnya segera berhenti mengalir."
Tabib Ciok atau Liu Wan atau Pangeran Liu Wan Ti itu berkata kepada Souw Hong Lam.
"Aku? Nona Tio...?"
Pemuda ganteng itu mengerutkan dahinya seraya mengawasi Tio Ciu In dan Pangeran Liu Wan Ti berganti-ganti. Wajahnya kelihatan bingung. Tio Ciu In tersenyum dan mengangguk.
"Benar apa yang dikatakan Pangeran Liu Wan Ti. Aku yang rendah bernama Tio Ciu In. Terima kasih atas pertolongan Souw Taihiap."
"Haaah...? Pangeran Liu Wan Ti? Siapa yang... Lhoh, kau...? Kenapa kumis dan jenggotmu, Ciok Lo... eh!"
Souw Hong Lam kelihatan bingung sekali.
Semula dia mengira berhadapan dengan Tabib Ciok, tetapi ternyata bukan.
Orang yang berdandan seperti Tabib Ciok itu ternyata tidak memiliki kumis dan jenggot.
Wajahnya juga tidak tua dan keriput seperti biasanya.
Wajah itu masih kelihatan muda dan tampan.
"Dia memang Pangeran Mahkota Liu Wan Ti yang hilang hampir sepuluh tahun lalu, Anak Muda. Nah, kini lakukan dulu perintahnya! Ambilkan obat yang ada di dalarn bungkusan itu."
"Yayaya, Tai-Ciangkun!"
Souw Hong Lam memandang Panglima Yap Kim yang terduduk lemah tak berdaya. Namun sebelum pemuda itu bergerak, Mo Hou sudah berdiri di depannya.
"Tak perlu bersusah-susah lagi! Bersiap sajalah untuk mati!"
Hardik pemuda itu sambil mengayunkan kipasnya.
Souw Hong Lam terbelalak.
Namun dia tidak segera menghindar.
Dia hanya memutar atau membalikkan tubuhnya saja, sehingga kipas itu menghunjam telak ke arah punggungnya.
"Mampus... Kau!"
Mo Hou menggeram.
"Souw-heng...!"
Pangeran Liu Wan Ti berdesah khawatir.
Duuk!
Ujung kipas itu menghantam punggung Souw Hong Lam dan melemparkannya ke tanah.
Kebetulan pemuda itu jatuh di dekat bungkusan Liu Wan Ti, sehingga kesempatan tersebut dia pergunakan sebaik-baiknya.
Obat yang dimaksud segera ia keluarkan dan ia lemparkan kepada Tio Ciu In.
Mo Hou terkesiap.
Ujung kipasnya seperti menggores benda keras.
Dan lawannya sama sekali tidak mati atau ter-luka seperti kehendaknya.
Pemuda ganteng itu hanya tersungkur.
Bahkan masih dapat bergerak dengan lincah seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
"Hmm, kau...? kau dapat menahan tajamnya kipasku?"
"Kenapa tidak? Kukira kipasmu tidak setajam mata pedang!"
Souw Hong Lam menjawab sambil mengebutkan debu yang mengotori jubah panjangnya. Tiba-tiba Mo Hou menyeringai.
"Ah, aku tahu. kau keturunan Keluarga Souw dan kini mengenakan mantel hitam panjang... kau tentu mengenakan mantel pusaka warisan Bit-bo-ong itu, bukan?"
Souw Hong Lam tidak menjawab.
Kedua tangannya bersilang di depan dada, siap untuk menyerang Mo Hou.
Asap putih dan merah tampak mengepul di atas kepalanya.
Mo Hou tersenyum.
Sama sekali tidak ada kesan khawatir atau takut di wajahnya.
Baginya, Souw Hong Lam bukan lawan yang perlu diperhitungkan.
Dari rumah ia telah dibekali berbagai macam kiat untuk mengalahkan ilmu silat Tionggoan.
Termasuk juga ilmu silat Keluarga Souw.
Jangankan cuma Souw Hong Lam, melawan Hong-gi-hiap Souw Thian Haipun dia tidak takut.
Ketika asap di atas kepala Souw Hong Lam itu semakin tebal, Mo Hou tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Kipas itu justru ia masukkan ke dalam saku, kemudian dengan tangan kosong dia menerjang ke depan.
Kedua tangannya mencakar wajah Souw Hong Lam.
Souw Hong Lam tidak berani beradu tangan.
Dia sadar bahwa Iweekangnya masih kalah jauh dibandingkan lawannya.
Dari pukulan kipas di punggungnya tadi dia sudah dapat menyelami kekuatan lawan.
Dia memilih jalan lain, yaitu mengelak ke samping sambil memukul pinggang Mo Hou.
Dan pukulan tersebut hanya pancingan saja, karena pukulan sebenarnya akan ia susulkan kemudian.
Tapi Mo Hou adalah seorang jago silat yang cerdik dan berbakat sekali.
Dalam hal tipu muslihat dan kelicikan, rasanya tidak ada orang lain yang mampu melebihi dia.
Pukulan pancingan itu ternyata ia biarkan saja mengenai pinggangnya, sehingga Souw Hong Lam justru menjadi bingung sendiri.
"Anak Muda, awas...!"
Yap Kim yang sudah tidak berdaya itu berteriak lemah.
Souw Hong Lam berusaha menarik kembali pukulannya.
Kakinya melangkah ke samping, lalu berputar menjauhi lawannya.
Sambil bergerak jari telunjuk kirinya terayun ke depan!
Cus!
Seleret sinar merah menusuk ke arah punggung Mo Hou!
"Bless!"
Sinar itu menghunjam telak ke punggung Mo Hou!
Begitu kuatnya sehingga sinar itu tembus melewati dada.
Tapi sungguh mengherankan.
Luka itu sama sekali tidak mengeluarkan darah.
Bahkan tubuh itu sama sekali tidak ambruk atau kesakitan.
Sebaliknya putera Raja Mo Tan itu justru tertawa gembira.
Suaranya terdengar dimana-mana, karena suara itu tidak cuma keluar dari mulutnya, tapi juga keluar dari mulut tujuh Mo Hou yang lain, yang tiba-tiba telah berdiri di sekitar arena.
Yap Kim, Lu Wan Ti dan Tio Ciu In mengeluh.
Mereka tidak mempunyai harapan lagi.
Melawan satu orang Mo Hou saja sudah sulit, apalagi harus melawan delapan orang sekaligus.
Benar juga.
Baru beberapa jurus saja Souw Hong Lam sudah kebingungan menghadapi lawannya.
Totokan Tai-kek Sin-ciangnya benar-benar tidak berguna menghadapi bayangan-bayangan semu itu.
Beberapa kali totokan jarinya mengenai bayangan Mo Hou palsu, sehingga tenaganya banyak terbuang sia-sia.
"Hmmm, sebentar lagi tenagamu habis. kau tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi kepadaku."
Mo Hou mengejek.
Beberapa buah pukulan mendarat di tubuh Souw Hong Lam, membuat pemuda itu jatuh bangun di atas tanah.
Membuat pakaian pemuda ganteng itu menjadi lepas dan kedodoran.
Bahkan debu dan tanah membuat wajahnya yang ganteng itu berlepotan tidak keruan.
Akhirnya ketika topi yang melekat di kepala Souw Hong Lam itu copot diterjang angin pukulan Mo Hou, semua orang yang melihatnya terkejut.
Rambut yang hitam panjang tiba-tiba terurai lepas menutupi sebagian pundak dan punggung pemuda ganteng itu.
"Eh, saudara Souw... jadi kau ini?"
Liu Wan Ti berdesah perlahan.
Matanya terbelalak.
Souw Hong Lam palsu yang tidak lain adalah Souw Giok Hong, puteri Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, menjadi merah mukanya.
Sambil tersenyum malu gadis itu membersihkan alis buatan dan semua kotoran yang menempel di wajahnya.
Dan beberapa saat kemudian wajahnya yang cantik bak bidadari itu membuat terpesona semua orang.
"Aah!"
Tak terasa Pangeran Liu Wan Ti menelan ludahnya.
"Bukan main! Sungguh tak kusangka hari ini aku dapat bertemu dengan banyak anak muda berkepandaian tinggi! Aku benar-benar sudah ketinggalan zaman."
Panglima Yap Kim berdesah panjang. Orang yang tidak peduli akan perubahan"
Itu hanya Mo Hou. Delapan sosok bayangan kembarnya masih tetap bersiaga penuh di sekitar mereka. Wajahnya tampak puas dan berseri ketika melihat pasukan Hun dapat menguasai seluruh arena.
"Nona! Kalau kau benar-benar dari keluarga Souw, kau tentu puteri kedua Hong-gi-hiap Souw Thian Hai."
Yap Kim berkata.
"Benar, Yap Tai-Ciangkun. Aku memang Souw Giok Hong, puteri kedua Souw Thian Hai."
"Dimana ayahmu sekarang? Apakah dia juga datang kemari?"
Wajah cantik itu tertunduk sebentar. Ketika kemudian wajah itu terangkat kembali dan siap untuk menjawab, tiba-tiba terdengar suara Mo Hou membentak.
"Diam! Kubunuh kalian semua...!"
Dua diantara delapan bayangan kembar itu segera meloncat dan menyerang Souw Giok Hong.
Sementara empat bayangan lainnya mendekati Pangeran Liu Wan Ti, Tio Cu In dan Panglima Yap Kim.
Sisanya, dua bayangan, masih tetap berdiri tegak mengawasi keadaan.
Situasi memang sangat gawat bagi pasukan para pendekar dan bekas Panglima Yap Kim.
Lawan mereka kali ini memang sangat kuat.
Selain kalah banyak, pasukan asing yang dipimpin oleh Mo Hou itu memang lebih berpengalaman dalam perang besar.
Tampaknya keinginan para pendekar untuk membebaskan Panglima Yap Kim gagal total.
Bahkan mereka sendiri sekarang berada dalam kesulitan besar.
Ternyata ilmu silat tinggi saja tidak dapat menjamin untuk menang perang.
Rombongan Kwe Tek Hun dengan para pengemis Tiat-tung Kai-pang, sudah tercerai-berai.
Korban sudah tidak terhitung lagi.
P,ara pendekar persilatan yang lain juga sama saja keadaannya.
Bersama-sama dengan para prajurit penjaga benteng yang membelot, mereka mencoba bertahan sedapat mungkin.
Mereka memanfaatkan lorong-lorong bangunan yang lebih mereka kenal untuk main petak-umpet.
Api berkobar dimana-mana.
Pasukan Hun telah membakar apa saja untuk memburu lawannya.
Mereka benar-benar menjadi brutal setelah merasa menang.
Watak asli mereka sebagai bangsa barbar tak dapat dikendalikan lagi.
Benteng itu benar-benar menjadi tempat pembantaian sadis.
Rombongan Souw Thian Hai, Kwe Tiong Li, serta para jago silat ternama lainnya, masih tetap mengamuk di arena masing-masing.
Kesaktian mereka memang membuat pasukan Hun kewalahan.
Tetapi dalam perang besar seperti itu mereka tetap tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenangkan pertempuran.
Mereka hanyalah beberapa tetes air di-antara api yang berkobar di medan pertempuran.
Matahari mulai membakar atap benteng itu.
Panasnya menambah, gerah hati manusia-manusia haus darah, yang kini saling bunuh diantara mereka sendiri.
Perang memang membuat manusia kehilangan harkat hidupnya sebagai manusia.
Perang menghilangkan peradaban manusia sendiri.
Sementara itu Panglima Yap Kim dan rombongannya tinggal menantikan saat-saat kematian mereka pula.
Mereka tidak mungkin lagi menyelamatkan diri.
Apalagi sekarang tinggal Souw Giok Hong sendiri yang mampu melawan.
Tapi mana mungkin Souw Giok Hong melawan ilmu sihir Mo Hou?
Tai-kek Sin-ciang dan Tai-lek Pek-kong-ciang andalan keluarga Souw, hampir tak ada gunanya melawan bentuk-bentuk semu itu.
Bayangan itu sama sekali tidak dapat disentuh, apalagi diserang.
Tapi se-baliknya bayangan itu mampu menyerang dan melukai Souw Giok Hong.
"Rahasianya hanya pada bentuk asli orang ini. Kalau aku bisa menyerang yang asli, dia pasti dapat kukalahkan. Tapi bagaimana aku dapat memilih, mana diantara mereka yang asli? Semuanya tampak sama, bahkan seperti hidup sendiri-sendiri."
Souw Giok Hong berkata hampir putus asa.
Mo Hou memang pemuda pilihan.
Bertulang baik.
Dalam usia yang masih amat muda ia telah memiliki ilmu silat sangat tinggi.
Bakat dan kemampuannya lebih baik daripada kebanyakan orang.
Bahkan lebih baik dari Pangeran Liu Wan Ti, Kwe Tek Hun, Souw Giok Hong, Tio Ciu In atau lainnya.
Selain itu ia masih juga beruntung mendapatkan guru yang baik.
Kalau diperbandingkan, mungkin cuma A Liong atau Chin Tong Sia yang setara dengan bakat Mo Hou.
Hanya saja, karena ilmu yang mereka pelajari tidak sama, maka hasil yang mereka dapatkan juga tidak sama pula.
Mereka memiliki kelebihan dan keistimewaan sendiri.
Se-lain itu, dalam perjalanan hidup mereka, masing-masing juga memiliki suratan nasib serta keberuntungan yang berbeda pula, sehingga akhirnya ilmu yang mereka miliki juga tidak sama pula tingginya.
A Liong sejak kecil mempunyai benjolan aneh di bawah pusarnya.
Benjolan yang entah berisi apa dan dari mana datangnya, namun yang jelas benjolan sebesar telor ayam itu mempunyai khasiat menguatkan tubuh dan melipatgandakan tenaga dalam.
Dan keberuntungan seperti itu jelas tidak diperoleh Mo Hou maupun Chin Tong Sia.
Sedangkan Mo Hou, meskipun tidak seberuntung A Liong, tapi dia mendapat kan seorang guru yang memiliki ilmu silat sangat langka.
Selain perguruan Soa-hu-pai itu sudah berusia ribuan tahun, ilmu silatnya juga berakar pada ilmu sihir.
Oleh karena itu dapat dimaklumi kalau Soa-hu-pai memiliki beberapa kelebihan dibandingkan Beng-kauw atau aliran silat lainnya.
Sementara itu ilmu silat Beng-kauw adalah ilmu silat murni dan usianya belum setua Soa-hu-pai.
Kelebihan Soa-hu-pai hanya terletak pada ilmu sihirnya.
Oleh karena itu untuk menghadapi ilmu silat Soa-hu-pai, orang harus bisa mengatasi ilmu sihirnya dulu.
Sebelum kekuatan sihir itu hilang, maka pertempuran dengan orang Soa-hu-pai boleh dikatakan berat sebelah.
Maka dapat dimaklumi kalau akhirnya pertempuran antara Souw Giok Hong melawan Mo Hou itu dimenangkan oleh Mo Hou.
Seperti halnya ilmu silat aliran Beng-kauw, ilmu silat keluarga Souw adalah ilmu silat murni.
Dan celakanya, tingkat kepandaian Souw Giok Hong sekarang juga belum mencapai tingkat yang tertinggi, sehingga dia juga belum tahu cara yang baik untuk mengatasi ilmu sihir tersebut.
Dua sosok bayangan Mo Hou itu mengurung dan mendesak Souw Giok Hong.
Karena bayangan itu hanya bentuk semu, maka tidak dapat disentuh maupun dilukai.
Sebaliknya, dengan kehebatan tenaga dalam pemiliknya, dua sosok bayangan itu dapat menyerang dan melukai Souw Giok Hong.
Sementara itu empat bayangan Mo Hou lainnya, terus melangkah mendekati Yap Kim bertiga.
Bentuk-bentuk semu itu siap menghabisi mereka.
"Pangeran...! Tampaknya kita tidak dapat mengelak lagi! Sebaiknya kita gabungkan kekuatan kita untuk menyongsong mereka. Lebih baik mati sebagai kesatria, daripada mati seperti binatang yang akan disembelih!"
Yap Kim berbisik.
"Be-benar, Ciangkun..."
Keempat bayangan itu mengangkat tangannya. Terdengar suara gemeretak tulang dan otot mereka. Namun sebelum tangan itu melayang, tiba-tiba terdengar suara teriakan Chin Tong Sia "Tunggu...!"
Pemuda itu melenting dan berjungkir balik di atas kepala para prajurit, kemudian berdiri di depan mereka.
Dan air muka pemuda itu segera berubah melihat lawan yang ada di depannya.
Selain sudah mengenal wajahnya, dia melihat wajah itu tidak hanya satu, tapi empat sekaligus.
"Gila...!"
Chin Tong Sia mengumpat.
"Saudara Chin, awas... dia itu putera Raja Mo Tan. Dia mahir ilmu sihir."
Pangeran Liu Wan Ti memberi peringatan.
Chin Tong Sia menoleh.
Air mukanya semakin keruh menyaksikan dandanan Pangeran Liu Wan Ti.
Dia mengenal suara dan dandanan itu, tapi tidak mengenal orangnya.
Pangeran Liu Wan Ti menyeringai menahan sakit.
"Ah, saudara Chin, maafkan aku. Aku... tabib Ciok. Maksudku, aku menyamar sebagai tabib. Aku menyamar untuk mencari Panglima Yap Kim! Dan aku... aku telah menemukan orang yang kucari itu. Lihat, dia ada di sini!"
Chin Tong Sia tertegun, kemudian memandang bekas panglima yang sangat ia hormati itu.
Kepalanya mengangguk, namun mulutnya masih terkunci.
Tiba-tiba Panglima Yap Kim beringsut ke depan.
Tubuhnya masih sangat lemah.
Sambil menunjuk Liu Wan Ti ia berbisik.
"Anak muda, ketahuilah...! Dia ini sebenarnya adalah Pangeran Mahkota Liu Wan Ti!"
Sekali lagi Chin Tong Sia terkejut.
"Pangeran Liu Wan Ti? Tapi kata orang Pangeran Liu Wan Ti berada di perbatasan? Beliau berada di Benteng Kongsun Goanswe. Kurasa... ciok Lo-Cianpwe sendiri yang mengatakan hal itu."
Liu Wan Ti menghela napas.
"Saudara Chin, panjang ceritanya. Akan kuceritakan nanti."
Pembicaraan mereka terhenti, karena empat sosok Mo Hou itu tiba-tiba membentak Chin Tong Sia.
"Jadi kau dapat meloloskan diri dari penjara bawah tanah itu, heh? Siapa yang menolongmu-? Hong-gi-hiap Souw Thian Hai...?"
"Benar. Tunggulah sebentar lagi. Pendekar itu akan sampai di sini. Dia sedang membersihkan orang-orangmu yang berusaha merintangi jalannya."
"Bagus. Kalau begitu aku tidak perlu mencarinya!"
Keempat bayangan Mo Hou itu lalu menerjang Chin Tong Sia.
Masing-masing menyerang dari arah berbeda, seakan-akan mereka itu memang hidup sendiri-sendiri.
Dan seperti dugaan Chin Tong Sia, tenaga dalam Mo Hou memang selapis lebih tinggi daripada tenaga dalamnya, sehingga dia harus berhati-hati.
Chin Tong Sia lalu melompat ke samping.
Dari tempatnya berdiri ia melihat pertempuran lain di dekatnya.
Dan ia benar-benar kaget ketika melihat beberapa orang Mo Hou lain di arena itu.
Beberapa orang Mo Hou lain itu sedang mendesak gadis berwajah ayu.
Otak cerdas Chin Tong Sia segera melihat dan meyimpulkan keanehan itu.
Untuk mengalahkan semua bentuk semu itu, dia harus tahu dulu mana yang asli.
Dan untuk mencari yang asli, semua bentuk semu itu harus dikumpulkan dan tidak boleh ada yang bersembunyi.
Demikianlah, karena ingin memilih sosok Mo Hou yang asli, maka Chin Tong Sia segera bergeser mendekati arena pertempuran gadis ayu itu.
Dan seperti yang ia inginkan, empat bayangan itu terus memburunya pula.
Maka di lain saat mereka telah berbaur dalam arena pertempuran Souw Giok Hong.
Chin Tong Sia berdiri di sebelah Souw Giok Hong, sementara delapan sosok bayangan Mo Hou itu menebar di sekeliling mereka.
"Hei, saudara Chin! Akhirnya kau datang juga...!"
Souw Giok Hong menyapa dengan lega begitu melihat Chin Tong Sia.
Tentu saja Chin Tong Sia bingung.
Dia tak mengenal wajah Souw Giok Hong.
Dia tak tahu kalau Souw Giok Hong adalah Souw Hong Lam.
Souw Giok Hong segera menyadari kekeliruannya.
Sambil bertempur dia lalu bercerita tentang dirinya.
"Ah, jadi kau ini puteri Souw Taihiap. Kalau begitu malah kebetulan sekali. Sebentar lagi Souw Taihiap dan isterinya akan datang. Dia ingin berjumpa dengan Souw Hong Lam."
"Ayah-ibuku juga datang?"
Gadis itu tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.
Demikianlah, Souw Giok Hong lalu bertempur berpasangan dengan Chin Tong Sia, sehingga delapan bayangan Mo Hou itu harus bekerja keras menghadapi mereka.
Chin Tong Sia bergeser mendekati Giok Hong, lalu berbisik.
"Nona Souw. suhengku pernah mengatakan bahwa manusia-manusia tiruan ini dikendalikan oleh yang asli. Semakin tinggi tenaga dalam pemiliknya, maka semakin dahsyat pula kekuatan mereka. Untuk mengalahkan mereka, kita harus dapat mengetahui yang asli."
Souw Giok Hong memandang Chin Tong Sia, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjawab dengan suara lirih pula.
"Aku tahu. Tapi bagaimana caranya?"
"Sebenarnya mudah, tapi sulit melakukannya. Pertama-tama kita harus dapat melacak sumber tenaga yang menggerak-! kan bonska-bor,eka ini. Caranya, setiap kali mereka bergerak dan menyalurkan tenaga, kita Jihat dan kita rasakan. Kita lihat, siapa diantara mereka itu yang menjadi sumbernya, yang menyalurkan tenaganya kepada yang lain. Getaran tenaga itu yang harus kita lacak. Memang sulit, karena orang itu akan selalu berusaha mengacaukan indera kita."
"Suhengmu benar. Memang sulit melakukannya. Apalagi mereka berjumlah delapan, sementara kita"
Hanya berdua. Kita bertahan saja sudah sulit, apalagi harus melacak sumber tenaga mereka. Belum sampai ketemu, kita sudah mati duluan."
"Ah, jangan patah semangat dulu. Kita belum mencobanya. Ayoh, sekarang lindungi saja aku. Akulah yang akan melacak sumbernya."
"Baiklah,"
Souw Giok Hong menarik napas panjang.
Keduanya lalu berdiri berendeng.
Ketika salah satu dari Mo Hou itu menyerang, Souw Giok Hong cepat melangkah ke depan melindungi Chin Tong Sia.
Dibiarkannya pemuda itu mencari Mo Hou asli.
Tapi delapan orang Mo Hou itu terus saja bergerak ke sana kemari.
Bagai kawanan burung elang yang mengincar anak ayam, mereka menyambar-nyambar dari segala jurusan.
Souw Giok Hong terpaksa jatuh bangun melindungi Chin Tong Sia.
"Bagaimana, saudara Chin? Belum kau dapatkan?"
"Wah, sulit sekali! Setiap kali kutemukan, mereka cepat bergeser dan berbaur lagi."
Ternyata Mo Hou mengetahui maksud Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong.
Buktinya pemuda itu.
lalu meningkatkan serangannya.
Delapan sosok bayangannya menyerang habis-habisan, sehingga Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong menjadi kalang-kabut mempertahankan diri.
Keinginan Chin Tong Sia untuk mencari Mo Hou asli, tidak dapat terlaksana.
Pat-sian ih-hoat memang terlalu sulit untuk dilawan.
Ilmu silat bercampur ilmu sihir itu tidak mungkin dihadapi dengan ilmu silat biasa.
Untunglah Souw Giok Hong mengenakan mantel pusaka dan Chin Tong Sia mahir Cuo-mo-ciang.
Walaupun kalah, tapi setiap kali terjepit masih dapat meloloskan diri.
"Sayang sekali suhengku tidak ada di sini. Kalau ada dia... Hm, orang ini sudah lari terbirit-birit sejak tadi."
Chin Tong Sia bergumam dengan suara dongkol.
Begitu ingat suhengnya, gerak-gerik Chin Tong Sia tiba-tiba berubah linglung.
Mulutnya melantunkan pantun sekenanya.
Suaranya sumbang dan sama sekali tidak enak untuk didengar.
Kalau saja burung gagak itu datang padaku, Mataharipun terpaksa sembunyi.
"Saudara Chin, kau...?"
Souw Giok Hong kaget.
Tapi Chin Tong Sia tidak peduli.
Sambil bergumam tak jelas pemuda itu menyerang lawan yang berada di depannya.
Wajahnya kelihatan.
keras dan kaku.
Pukulannya juga kuat mengejutkan!
Demikianlah, walau terdesak dan tak bisa berbuat apa-apa lagi, tapi Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong tetap melawan dengan gigih.
Mereka mencoba bertahan dengan berpasangan.
Masing-masing saling membantu dan saling melindungi.
Tapi bagaimanapun juga delapan bayangan Mo Hou itu terlalu berat bagi mereka.
Seorang Mo Hou saja sudah sulit dilawan, apalagi sampai delapan orang.
Maka dapat dimaklumi kalau akhirnya mereka menjadi bulan-bulanan serangan Mo Hou.
Karena marah dan kesal Chin Tong Sia mengumpat dan memaki sambil bernyanyi.
Gerakannya juga semakin ngawur ternyata pemuda itu justru semakin berbahaya.
Tampaknya saja ngawur, tapi ternyata gerakannya semakin sulit diduga.
Seringkah pertahanannya juga terbuka dan tak terjaga.
Namun anehnya, pukulan lawan justru sulit sekali mengenainya.
Babi, monyet, kerbau sialan...
Tahu ada ekor, tetap saja mencari Dasar binatang bodoh!
Tentu saja Souw Giok Hong yang belum tahu adat kebiasaan Chin Tong Sia menjadi bingung dan risih.
Bingung karena mendadak Chin Tong Sia berlagak seperti orang tidak waras.
Risih, karena pemuda itu mengucapkan kata-kata kasar di depannya.
Tapi seperti halnya Chin Tong Sia, Souw.
Giok Hong tidak punya banyak waktu untuk berpikir.
Gempuran Mo Hou benar-benar membuatnya putus asa.
Beberapa kali pukulan dan tendangan Mo Hou mengenai tubuhnya.
Untung saja mantel pusaka itu melindunginya.
Walau sakit, tapi tidak sampai melukai bagian dalam tubuhnya.
Sebuah tendangan juga tidak bisa dihindari Chin Tong Sia.
Begitu kerasnya sehingga Chin Tong Sia terlempar menabrak tembok bangunan.
Rasanya seluruh bangunan itu ikut bergoyang.
"Aduh! Monyet gundul menampung air Sahabat dekat menggali kubur. Monyet tua sialan...!"
Sambil berteriak kesakitan Chin Tong Sia berpantun.
Sebuah pantun konyol yang diteriakkan sesukanya.
Tapi dalam keributan itu tiba-tiba terdengar suara pantun lain.
Serangkai pantun yang dinyanyikan dengan suara lebih sumbang dan lebih jelek, tapi dengan dorongan kekuatan tenaga dalam yang menggetarkan hati.
"Monyet mati belum tentu jadi mayat. Apa gunanya menampung air? Bila sahabat tidak putus asa. Apa gunanya menggali kubur?"
Ketika orang berpantun itu tiba-tiba muncul di arena, Mo Hou benar-benar kaget setengah mati.
Penyanyi bersuara jelek itu tidak lain adalah Put-pai-siu Hong-jin, manusia bertampang jelek yang dulu melukainya.
"Kau lagi...!"
Pemuda itu menggeram marah.
Seperti orang tidak bersalah Put-pai-siu Hong-jin tertawa terkekeh-kekeh.
Entah apa sebabnya, kali ini dia datang tanpa baju, sehingga tulang-tulangnya yang kurus itu menonjol kesana-kemari.
Wajahnya yang buruk itu sangat mengerikan, sehingga Souw Giok Hong tidak berani menatapnya lama-lama.
Sebaliknya Chin Tong Sia kelihatan gembira dan berseri-seri.
"Nona Souw, inilah... suhengku. Dia benar-benar datang!"
Souw Giok Hong berusaha tersenyum.
Namun senyumnya segera hilang dan berubah kecut ketika Put-pai-siu Hong-jin tertawa kepadanya.
Lobang mulut yang lebar itu sama sekali tidak ada giginya, kosong melompong.
"Waduh, temanmu cantik sekali...!"
"Suheng, jangan macam-macam!"
Chin Tong Sia membentak.
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggunya. Sekarang pergilah kau membantu teman-temanmu itu! Serahkan saja anak j penyihir ini kepadaku. Akan kuajak dia main sihir-sihiran, heh-heh-heh."
Chin Tong Sia mengerutkan dahinya.
"Suheng, kau juga mempunyai ilmu sihir?"
Put-pai-siu Hong-jin tertawa terkekeh-kekeh.
"Konyol kau! Siapa bilang aku bisa ilmu sihir? Ilmu bohong-bohongan itu tidak ada gunanya untuk dipelajari."
Mo Hou benar-benar marah sekali, begitu geramnya dia, sehingga semua bentuk kembarannya berteriak bersama-sama, lalu menerjang Put-pai-siu Hong-jin.
"Monyet ompong! Kubunuh kau!"
Delapan orang Mo Hou itu menggempur Put-pai-siu Hong-jin dari empat penjuru.
Tidak sesosok bayanganpun yang peduli pada Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong lagi.
Sehingga kesempatan itu dipergunakan pula oleh mereka untuk meloloskan diri dari tempat itu.
Mereka menyelinap kembali ke tempat Pangeran Liu Wan Ti berada.
Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, sesosok bayangan telah berdiri bertolak pinggang di depan mereka.
Seorang gadis cantik bermata liar dan ganas yang tidak lain adalah Mo Goat atau Tiau Hek Hoa!
"Saudara Chin, awaaas...
dia Tiau Hek Hoa!
Pengkhianat itu!"
Souw Giok Hong yang amat mengenal Tiau Hek Hoa itu menjerit.
"Jadi kau gadis bermuka hitam itu, heh?"
Chin Tong Sia yang telah dikhianati oleh Mo Goat itu membentak marah.
"Bocah bodoh...! Memang benar aku! Mau apa?"
"Huh! Sudah kuduga bahwa kau seorang pengkhianat! Menjebloskan aku ke dalam perangkap! Lalu kembali ke rombongan dan membohongi mereka! Sungguh licik!"
Chin Tong Sia berseru marah.
"Biar saja! Aku adalah puteri Raja Mo Tan, yang mendapat tugas untuk mencari dan membunuh bekas Panglima Yap Kim! Aku melakukan apa saja untuk melaksanakan tugas itu. Dan ternyata aku berhasil mendapatkan buruanku itu. Nah, kalian mau apa? Mau menghalangi aku? Huh! Jangan harap! Lihat saja sekelilingmu! Pasukanku telah menguasai benteng ini!"
Selesai bicara gadis itu mengerahkan tenaga dalamnya, kemudian memecah diri menjadi empat bayangan. Dan bayangan itu segera bergeser ke samping untuk mengepung Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong.
"Saudara Chin, hati-hati dengan senjata gelapnya! Gadis itu suka menggunakan racun!"
Liu Wan Ti memberi peringatan. Mo Goat menoleh. Dia segera mengenal wajah Liu Wan yang pernah berkelahi dengan dia di kota Hang-ciu lima tahun lalu.
"Bagus. Sebenarnya aku sudah curiga padamu, karena aku pernah melihat ilmu pukulanmu. kau bukan seorang tabib. Tapi aku tak menyangka kalau kau masih begini muda..."
"Adik Goat! Jangan lepaskan orang itu! Dia itu Liu Wan Ti! Putera Mahkota Han yang kita cari selama ini!"
Tiba-tiba Mo Hou berteriak dari tempatnya begitu melihat kedatangan adiknya.
"Putera Mahkota? Wah, aku benar-benar terkecoh dalam beberapa hari ini! Aku sama sekali tidak mengenalnya walau sudah berkumpul berhari-hari!"
Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong saling pandang.
Ternyata terlepas dari mulut singa, mereka jatuh ke taring serigala pula.
Puteri Raja Mo Tan itu tidak kalah berbahayanya daripada Mo Hou.
Tio Ciu In yang duduk di sebelah Liu Wan Ti menjadi cemas pula.
Dia teringat peristiwa lima tahun lalu, pada saat Mo Goat melukai Ku 3ing San sehingga pemuda itu harus dipotong kakinya.
"Liu Toako, eh... pangeran Liu? Bagaimana ini. ?"
"Bagaimana dengan lukamu sendiri? Sudah lebih baik?"
Pangeran Mahkota itu balik bertanya.
"Lumayan. Tapi aku belum berani mengerahkan tenaga dalam. Aku khawatir darahnya akan keluar lagi."
Panglima-Yap Kim menghela napas panjang.
"Jangan dipaksa. Istirahat sajalah barang sebentar lagi. Aku juga sedang berusaha mengembalikan tenagaku. Aku sebenarnya tidak terluka. Aku hanya kehilangan tenaga karena tadi terlalu memaksa diri."
Pangeran Liu Wan Ti mengangguk-angguk, lalu menatap Tio Ciu In kembali.
Kenangan masa lalu kembali terbayang di depan matanya.
Sungguh tidak diduga ia masih bisa berjumpa dengan gadis yang pernah merampas hatinya itu.
"Nona Tio, dimana saja kau selama Ini? Aku benar-benar tidak mengira bahwa kita bisa bertemu lagi. Pada waktu itu aku dan para tokoh Im-yang-kauw melihat sendiri gua yang runtuh itu. Kami semua berpendapat bahwa kau telah terkubur di gua itu. Apalagi kami menemukan sepatu dan ikat pinggangmu..."
Liu Wan Ti berbisik perlahan. Tio Ciu In tertunduk dalam-dalam.
"Pendekar Buta itu menyelamatkan aku. Aku dibawa ke tempat tinggalnya dan diambil sebagai murid."
Selesai berkata gadis itu tiba-tiba tersentak. Dia ingat gurunya si Pendekar Buta, yang juga datang ke benteng ini bersamanya.
"Lalu dimana Pendekar Buta itu sekarang, Nona Tio?"
"Eh, dia... dia juga berada di benteng! Aku tidak tahu, dimana dia sekarang. Mungkin masih di dapur atau... di gudang penyimpanan kayu bakar."
"Dia? Dia ada di sini...?"
Sementara itu rombongan Souw Thian Hai masih berkutat dengan pasukan Bayan Tanu yang mengeroyok mereka.
Walaupun pasukan pilihan itu tidak dapat mendekati mereka, namun Souw Thian Hai dan rombongannya juga tidak bisa mengalahkan barisan pengepung itu.
Mereka bertempur sambil terus bergeser mendekati arena pertempuran Mo Hou dan Put-pai-siu Hong-jin.
Souw Thian Hai berpasangan dengan isterinya, Chu Bwe Hong.
Tio Siau In berpasangan dengan Yok Ting Ting.
Sedangkan Giam Pit Seng berpasangan dengan muridnya, Tan Sin Lun.
Mereka berenam selalu menjaga jarak agar pasangan mereka tidak terpisah satu sama lain.
Hanya dengan berpasangan mereka mampu bertahan dari kurungan lawan.
Dua kelompok pasukan pilihan itu dipimpin oleh Bayan Tanu.
Dibantu Ho Bing, Siang-kim-eng, Tiat-tou dan lain-lain.
Dilihat dari segi ilmu silat, mereka itu memang bukan lawan Souw Thian Hai dan Tio Siau In.
Namun karena mereka dibantu oleh pasukan pilihan yang sudah dipersiapkan untuk menghadapi jago silat tinggi, maka mereka sangat sulit dikalahkan.
Setiap kali terdesak atau mendapat bahaya, mereka selalu dilindungi barisannya.
Ketika pertempuran itu terus bergeser maju dan akhirnya sampai di tempat Pangeran Liu Wan Ti berada, tiba-tiba Panglima Yap Kim bangkit berdiri.
Bekas panglima itu segera mengenal Souw Thian Hai dan isterinya!
"Saudara Souw...!
Souw Hujin!
Selamat bertemu!"
Ternyata tidak hanya bekas panglima itu saja yang gembira melihat kedatangan rombongan itu. Ternyata Tio Ciu In dan Souw Giok Hong juga gembira sekali.
"Suhu...! Siau In!"
"Ayah! Ibu...,!"
Panggilan atau seruan itu benar-benar mengejutkan rombongan pendekar Souw Thian Hai.
Bahkan Souw Thian Hai sendiri sampai lupa bahwa dia sedang berkelahi dengan Bayan Tanu.
Dan kelengahan itu benar-benar dimanfaatkan oleh Bayan Tanu.
Tombak rantainya menerobos pertahanan lawan dan melukai paha Souw Thian Hai.
"Souw Taihiap, awas...!"
Giam Pit Seng berteriak.
Tapi mata tombak itu sudah terlanjur mengenai sasarannya.
Darah memancar dari luka itu, membuat Souw Thian Hai menyeringai kesakitan.
Sekejap kaki kanan itu seperti lumpuh karena mata tombak itu tepat mengenai urat pokok.
"Aduuuh...!"
Giam Pit Seng yang baru saja memberi peringatan itu tiba-tiba menjerit pula.
Ternyata pedang Siang-kim-eng juga menerobos pertahanan Giam Pit Seng dan menyambar lengan pendekar itu.
Sebuah goresan yang panjang dan dalam membuat lengan itu tidak bisa digerakkan lagi.
Otomatis senjata pit yang dipegangnya terlepas.
Seperti berlumba Chu Bwe Hong dan Tang Sin Lun memberi pertolongan.
Chu Bwe Hong menolong suaminya, sedangkan Tan Sin Lun menolong gurunya.
Walau kaget mendengar suara panggilan kakaknya, namun Tio Siau In tidak mengurangi kewaspadaannya, sehingga rasa kaget itu tidak sampai mencelakakannya.
Sambil berseru girang ia meloncat keluar arena.
Dia berlari menuju ke arah Tio Ciu In.
Tapi jeritan Giam Pit Seng mengejutkan Tio Siu In.
Sekejap pikirannya bingung.
Siapa yang harus dia lihat lebih dulu?
Gurunya yang berada dalam bahaya atau kakaknya yang sudah lima tahun berpisah?
Akhirnya Tio Siau In berbalik kembali.
Dia tidak bisa meninggalkan gurunya.
Dengan pedang pendeknya dia menerjang Siang-kiam-eng.
"Cici, maaf! Aku akan menolong Suhu dulu!"
Di pihak lain Souw Giok Hong tak dapat berbuat apa-apa melihat bahaya yang mengancam ayahnya.
Dia dan Chin Tong Sia benar-benar tak berkutik menghadapi delapan bayangan Mo Hou.
Dia hanya bisa melihat, bagaimana sibuknya ibunya bersama Yok Ting Ting menolong ayahnya.
Demikianlah situasi benar-benar buruk bagi pihak Pangeran Liu Wan Ti.
Pasukan para pendekar yang bergabung dengan perajurit benteng itu tidak mampu bertahan lagi.
Banyak diantara mereka yang tewas atau terluka.
Bahkan banyak pula diantara mereka yang tertawan.
Terompet kemenangan telah ditiup di segala tempat.
Matahari tepat di atas kepala.
Akhirnya pertempuran usai juga.
Panas matahari tidak menghalangi kegembiraan pasukan Hun.
Mereka bersorak sambil membunyikan terompet dan tamburnya.
Benteng itu telah mereka taklukkan dan mereka kuasai.
Kalaupun masih ada pertempuran, maka pertempuran itu hanya pertempuran kecil, yaitu pertempuran beberapa tokoh persilatan yang dikepung prajurit Hun.
Walau tidak memiliki kawan lagi, tapi tokoh seperti Kwe Tiong Li, Kwe Tek Hun, Jing-bin Lokai dan lainnya lagi, masih tetap bertempur sekuat tenaga.
Seperti halnya rombongan Souw Thian Hai, mereka tetap tidak mau menyerah.
Pangeran Liu Wan Ti merasa sangat sedih.
Walaupun serangan ke dalam benteng itu bukan rencananya, tapi kekalahan para pendekar persilatan tersebut benar-benar menyakitkan hatinya.
Rasanya ia ikut bersalah atas kejadian itu.
Panglima Yap Kim juga menyesal sekali.
Semua itu hanya karena dia.
Dua kekuatan besar yang Bsama-sama menginginkan dirinya.
Yang satu ingin membebaskan dia, sementara yang lain ingin membunuh dirinya.
Dan ternyata kekuatan yang menginginkan kematiannya itu telah mengalahkan kekuatan yang hendak membebaskan dia.
Yap Kim benar-benar sedih dan menyesal sekali.
Ratusan korban telah jatuh di kalangan pendekar persilatan.
Mereka mati hanya karena mau membebaskan dirinya.
Benar-benar suatu pengorbanan besar, pengorbanan yang sangat menyentuh jiwa dan semangatnya.
Perasaan seperti itu menghinggapi pula hati Pangeran Liu Wan Ti.
Pangeran itu tak kuasa menyembunyikan rasa sedihnya.
Berkali-kali dia berdesah panjang.
"Ciangkun, apa yang harus kita lakukan sekarang? Para pendekar itu telah dikalahkan. Tinggal tokoh-tokohnya saja yang masih bertahan. Dan mereka juga akan tergilas oleh pasukan Hun,"
Pangeran Liu Wan Ti mengeluh sedih.
Yap Kim tidak menjawab.
Matanya menatap ke sekelilingnya.
Dilihatnya A Liong, Souw Thian Hai, Giam Pit Seng, Put-pai-siu Hong-jin, Chin Tong Sia dan yang lain lagi.
Semuanya bertempur dengan susah payah.
Lawan mereka memang hebat.
Pasukan dan jago yang di-bawa Mo Hou memang benar-benar pilihan.
Karena tempat itu lebih tinggi dari tempat lain,-maka Yap Kim juga dapat menyaksikan sisa-sisa pertempuran di sekitarnya.
Ia masih melihat para tokoh Tiat-tung Kai-pang yang mati-matian bertahan dari kurungan pasukan Hun.
Bahkan dengan ketajaman matanya ia juga dapat melihat sahabat lamanya, Kwe Tiong Li dan puteranya, berkelahi dengan gagah perkasa.
Keadaan mereka tidak kalah sulitnya dibandingkan tokoh-tokoh Tiat-tung Kai-pang.
Barisan yang mengepung mereka terdiri dari empat lapis, yang secara bergantian menyerang mereka dari empat jurusan.
Ketika pandangan Yap Kim bergeser ke selatan, tiba-tiba matanya terbelalak.
Lebih kurang seratus tombak jauhnya dari tempat itu, dia melihat keributan kecil diantar a kerumunan pasukan Hun.
Wlasan orang prajurit Hun tampak beterbangan, terlempar ke kanan dan ke kiri, seolah-olah ada gajah mengamuk di tengah-tengah mereka.
Namun ketika kerumunan itu menyibak, bukan gajah yang muncul, tapi seorang lelaki berpakaian tukang kebun dengan topi lusuh di kepalanya.
Orang itu melangkah perlahan, sambil sebentar-sebentar memasang telinganya.
Wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas, karena rambut putih di bawa"-topi lusuh itu dibiarkan terurai lepas menutupi mukanya.
"Siapa dia...?"
Tak terasa bibir Yap Kim itu bergumam.
"Ada apa, Panglima?"
Pangeran Liu Wan Ti dan Tio Ciu In bertanya kaget.
"Ah, tidak. Aku... aku hanya sedih sekali. Begitu tulus perjuangan para pendekar itu, sehingga mereka lebih rela mati daripada menyerah kepada musuh. Lihatlah! Masih banyak pendekar yang tidak mau meninggalkan benteng ini walau perang sudah usai. Mereka memilih gugur daripada pulang menanggung malu."
Yap Kim menjawab hampir tidak terdengar. (Lanjut ke
Jilid 28-Tamat) Pendekar Pedang Pelangi (Seri ke 04 Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 28 (Tamat) Ho Hou dan pengikut-pengikutnya memang tidak bisa ditahan lagi.
Walau dia dan Liok-kui-tin belum bisa menaklukkan lawan masing-masing, tetapi Mo Goat dan yang lain sudah dapat menguasai keadaan.
Bahkan Tan Sin Lun dan Tiam Pit Seng sudah terkapar di atas tanah.
Kedatangan Tio Siau In untuk menolong mereka sudah tidak keburu lagi.
Siang-kim-eng bersama Tiat-tou telah mengakhiri perlawanan mereka.
Sabetan golok dan tusukan pedang membuat guru dan murid itu jatuh terluka parah.
"Suhu...!"
Tio Siau In menjerit, namun tak bisa menolong karena pasukan Ho Bing segera mencegatnya.
Sebaliknya, pendekar Souw Thian Hai masih dapat diselamatkan oleh isterinya.
Karena keduanya selalu berdampingan, maka kesulitan Souw Thian Hai segera dapat ditolong oleh Chu Bwe Hong.
Bahkan pada waktu menolong tadi, pedang Chu Bwe Hong nyaris menebas leher Bayan Tanu.
Namun demikian luka di paha Souw Thian Hai itu benar-benar mengganggu sepak terjangnya.
Kaki yang luka itu menjadi sulit digerakkan, sehingga Souw Thian Hai menjadi lamban dan kurang bersemangat.
Pendekar itu lebih banyak diam di tempatnya dan bersama Chu Bwe Hong mencoba bertahan sekuat tenaga.
Yok Ting Ting yang berhadapan langsung dengan Ho Bing juga tidak mampu berbuat apa-apa.
Meskipun ilmu silat gadis itu jauh lebih tinggi daripada lawannya, tapi Ho Bing mendapat dukungan pasukan khususnya.
Pasukan khusus yang sudah dilatih dan dipersiapkan untuk melayani jago silat berkepandaian tinggi.
Mereka bergerak dalam kelompok atau barisan, seperti layaknya kawanan semut yang selalu bekerja bersama-sama.
Melawan satu dari mereka, berarti harus menghadapi seluruhnya.
A Liong sendiri masih terus berupaya menekan lawannya.
Dengan habisnya perlawanan para pendekar, maka arena pertempuran itu menjadi longgar.
A Liong tidak merasa takut lagi mengeluarkan ilmu pedang pelanginya.
Kilatan-kilatan cahaya segera memancar dari pedang bengkoknya.
Berkelebatan kesana-kemari, memburu dan mengurung anggota Lok-kui-tin.
Lok-kui-tin dengan Barisan Enam Hantunya memang dapat melayani kedahsyatan sinar pelangi tersebut.
Dengan cara mempersatukan tenaga dan pikiran mereka, Lok-kui-tin selalu berusaha memantulkan cahaya yang menyerang mereka.
Dan sebagai balasannya, mereka ganti, menyerang dengan segala macam senjata rahasia mereka.
"Baiklah. Akan kulihat sampai di mana kalian bisa bertahan. Bagaimana kalau senjata rahasia itu habis?"
A Liong mengejek.
Lok-kui-tin menggeram.
Mereka benar-benar menjadi gemas dan penasaran.
Baru sekarang mereka menemukan lawan setangguh A Liong.
Biasanya mereka tidak pernah bertempur sesulit ini.
Satu atau dua orang diantara mereka, biasanya cukup untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Marilah! Menang atau hancur!"
Hek-kui berseru keras.
Demikianlah walau sangat sulit, A Liong mampu mengimbangi keuletan Lok-kui-tin.
Bahkan pemuda itu selalu berada di atas angin.
Celakanya, A Liong yang kurang pengalaman itu belum mampu menilai keadaan.
Pikirannya hanya tertumpah pada pertempurannya sendiri.
Dia hanya berpikir, bagaimana mengalahkan Lok-kui-tin.
Sama sekali tidak terpikir olehnya akan hasil akhir dari pertempuran itu.
Sementara itu Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong masih juga bertahan terhadap kurungan Mo Goat.
Sebenarnya ilmu silat mereka berdua tidak kalah hebatnya dengan ilmu silat Mo Goat.
Namun karena mereka berdua tidak mampu mencari Mo Goat asli diantara enam bayangan itu, mereka segera jatuh di bawah angin.
Bagaimanapun juga dahsyatnya ilmu silat mereka, tapi bayangan-bayangan itu tidak dapat diserang atau dilukai dengan pukulan atau senjata mereka.
Sebaliknya seperti yang dikhawatirkan Liu Wan Ti, bayangan Mo Goat itu mulai melepaskan senjata rahasianya.
Senjata rahasia yang amat berbahaya karena mengandung racun.
Tapi Chin Tong Sia yang cerdik itu ternyata berpendapat lain.
"Bagus! walau lebih berbahaya, tapi aku justru dapat mengetahui aslinya! Hanya yang asli yang melepaskan senjata rahasia, karena yang lain tidak mungkin melepas senjata betulan! Nah, Nona Souw... Lindungi aku! Akan kucekik dia!"
Chin Tong Sia berbisik kepada Souw Giok Hong dengan ilmu Coan-im-ji-bit, yaitu ilmu mengirim gelombang suara.
"Baik. Mari kita lakukan!"
Souw Giok Hong mengangguk.
Dengan mantel pusakanya Souw Giok Hong memang tidak dapat dilukai oleh senjata rahasia Mo Goat.
Sebaliknya, setiap kali senjata rahasia itu meluncur dari tangan Mo Goat, maka Chin Tong Sia segera menyerang lawannya.
Beberapa kali pukulan Chin Tong Sia yang amat mematikan itu nyaris mengenai tubuh Mo Goat asli, sehingga gadis itu segera menyadari kesalahannya.
Ternyata maksudnya untuk segera mengakhiri pertempuran itu justru membahayakan dirinya.
"Kau benar-benar cerdik...!"
Gadis itu berseru.
Mo Goat menarik kembali niatnya untuk mempergunakan senjata rahasia.
Dia kembali mengurung Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong dengan ilmu silat Pat-sian ih-hoatnya.
Karena tingkatan ilmu silat Mo Goat sekarang sudah lebih tinggi, maka dia sudah dapat mengubah dirinya menjadi enam sosok bayangan kembar.
Dan semua itu amat merepotkan lawan-lawannya.
Sementara itu arena pertempuran di dekat mereka juga berlangsung tidak kalah sengitnya.
Mo Hou dengan Pat-sian ih-hoatnya melawan Put-pai-siu Hong-jin dengan Cuo-mo-ciangnya!
Tapi kali ini Mo Hou benar-benar ketemu batunya.
Pat-sian ih-hoat yang ia bangga-banggakan itu ternyata tidak mampu mengelabuhi mata Put-pai-siu Hong-jin.
Seperti memiliki mata malaikat kakek tua jelek rupa itu dapat memilih Mo Hou asli diantara delapan sosok kem-barannya.
Walau orang tua itu harus menerobos kesana-kemari menghindari lima bayangan Mo Hou palsu, namun dia terus saja memburu Mo Hou asli.
Pukulan dan tendangan kakinya yang berbahaya itu hampir tidak pernah keliru memilih sasaran.
"Monyet buruk!"
Mo Hou mengumpat tidak habisnya.
"Sudahlah, menyerah sajalah! kau tidak bisa mengakali aku dengan bentuk-bentuk palsumu itu. Meskipun hidungku ini bengkok dan jelek, tapi daya ciumnya tajam sekali. Aku dapat membedakan bau keringatku dan bau keringatmu. Sementara semua bentuk palsumu itu tidak berkeringat, bukan? Heh-heh-heh!"
"Kurang ajar!"
Mo Hou terkejut melihat kecerdikan lawannya. Put-pai-siu Hong-jin tertawa puas. Saking senangnya mulutnya segera berdendang. Dendang yang tidak keruan lagunya.
"Bersampan di atas telaga, Airnya bening bagai kaca. Melihat rambut beralih rupa, Serasa mimpi jadi bayangan."
Karena bibirnya tebal dan lebar, sementara giginya juga sudah ompong, maka suara dendang yang keluar dari mulut kakek jelek itu lebih menyerupai omelan daripada nyanyian.
Namun demikian, apa yang terjadi sungguh diluar dugaan.
Semakin panjang dan semakin getol kakek itu mengomel, semakin hebat pula jurus-jurus yang dia keluarkan.
Benturan-benturan tenaga vang terjadi, semakin lama semakin menggoyahkan kuda-kuda Mo Hou.
"Monyet tua! Monyet gila!"
Tiba-tiba gerakan Mo Hou berubah.
Satu persatu kembarannya menghilang.
Put-pai-siu Hong-jin tidak mau terkecoh.
Setelah kini tinggal satu, Mo Hou justru bergerak lebih cepat.
Demikian cepatnya sehingga tubuh pemuda itu kadang-kadang menghilang dari pandangannya.
"Heh-heh-heh! Ilmu apa lagi yang kau keluarkan?"
Put-pai-siu Hong-jin terkekeh-kekeh.
Sungguh mendebarkan.
Mo Hou mulai menapak ke tingkat akhir dari Pat-sian ih-hoat, yaitu membuat tubuhnya menghilang.
Dengan tenaga dalamnya yang tinggi, disertai dengan kemampuan sihirnya yang hebat, pemuda itu mulai mengecoh pandangan Put-pai-siu Hong-jin.
Semakin cepat gerakan Mo Hou, maka semakin sering pula Put-pai-siu Hong-jin kehilangan lawannya.
Ketika akhirnya pemuda itu mengerahkan segala kemampuannya, maka Put-pai-siu Hong-jin tidak dapat melihat lawannya lagi.
Pemuda itu hanya kelihatan bila sedang mengambil napas.
"Ah! Bocah itu benar-benar hebat dan menakjubkan!"
Yap Kim yang tidak pernah melepaskan matanya dari pertempuran itu memuji kedahsyatan ilmu silat Mo Hou.
Sekarang Put-pai-siu Hong-jin kebingungan.
Dengan ketajaman indera dan perasaannya, sebenarnya dia dapat melacak keberadaan Mo Hou.
Tapi karena situasi di arena itu sangat riuh dan gerakan Mo Hou juga sangat cepat, maka langkahnya selalu lebih lambat dari la-wannya.
Akibatnya serangan Mo Hou yang datang bertubi-tubi membuatnya kalang-kabut.
"Tikus busuk memakan cacing! Cacing kurus kepanasan"
Perubahan yang sangat mendadak itu sungguh mengejutkan Pangeran Liu Wan Ti.
Sungguh tidak terduga keadaan menjadi berbalik seperti itu.
Tampaknya semua orang memang akan dikalahkan oleh pasukan Hun.
Satu persatu tokoh Tiat-tung Kai-pang jatuh ke tanah.
Demikian pula dengan tokoh persilatan lainnya, hingga akhirnya tinggal rombongan pendekar Pulau Meng-to saja yang masih bertahan.
Namun demikian mereka juga sudah kepayahan, sementara pasukan Hun terus mendesak dan memburu mereka.
Akhirnya rombongan itu sampai juga di tempat Pangeran Liu Wan Ti berada.
Demikianlah, akhirnya seluruh pasukan Hun mengepung tempat itu.
Mereka bersorak sambil meniup terompet dan menabuh tambur perang.
Suasana benar-benar ramai dan hingar bingar.
Yap Kim dan Pangeran Liu Wan putus asa.
Seluruh kekuatan di pihak mereka sudah kalah.
Tiada lagi yang dapat mereka andalkan.
Tinggal A Liong yang masih berada di atas angin.
Tapi apa gunanya kemenangan A Liong itu kalau seluruh kekuatan lainnya kalah?
Oleh karena itu pertempuran selanjutnya boleh dikatakan cuma menunggu waktu saja.
Menunggu saat jatuhnya para pendekar itu seorang demi seorang.
Dan semuanya memang tak bisa dihindarkan lagi.
Dengan dukungan pasukan khususnya, Ho Bing dan para pembantunya mulai mendesak Tio Siau In dan Yok Ting Ting.
Tongkat Ho Bing mulai menyentuh kulit Tio Siau In dan Yok Ting Ting.
Tapi sentuhan itu belum sampai membahayakan jiwa mereka.
Namun ketika akhirnya tongkat itu sering menyentuh tubuh mereka, otomatis perlawanan mereka menjadi terganggu.
Apalagi ketika pasukan yang mengepung mereka itu semakin kuat mendesak mereka.
Tio Ciu In benar-benar sedih melihat kesulitan adiknya.
Matanya berkaca-kaca.
Lima tahun mereka berpisah.
Kini mereka bertemu justru dalam situasi yang tidak menyenangkan.
Dan celakanya dia sendiri juga terluka parah, sehingga tidak bisa menolong adiknya.
"Tak kusangka nasib kami sangat menyedihkan. Tidak ada orang tua, tidak ada kebahagiaan. Ada guru yang membesarkan kami, tapi sekarang guru juga menjadi korban keganasan perang. Aaah...!"
Dalam kesedihannya tiba-tiba terlintas wajah Pendekar Buta, gurunya yang lain. Meski buta tapi memiliki kesaktian yang hebat.
"Ah, dimana guru sekarang? Apakah dia juga menjadi korban perang besar ini? mengapa dia tidak muncul-muncul? Saking teganganya bibir Tio Ciu In bergetar menyanyikan lagu kesukaan Pendekar Buta. Mulanya hanya perlahan, tapi semakin lama semakin keras, sehingga akhirnya suara itu melengking tinggi penuh getaran tenaga dalam.
"Apabila di malam yang gelap gulita, Tiba-tiba muncul bulan purnama, Alampun tersentak dari tidurnya, Untuk menyambut kehangatan Sang Pelita malam. Kekasihku...! Aku selalu mengharapkan kehadiranmu...!"
Pangeran Liu Wan Ti dan Panglima Yap Kim kaget, bekas panglima itu memandang Tio Ciu In dengan bingung sekilas ia menyangka gadis itu menjadi gila.
Namun dugaan itu segera dihapusnya.
Sebaliknya Pangeran Liu Wan Ti menjadi berdebar-debar hatinya.
Masih teringat di benaknya peristiwa lima tahun lalu di kota Hang-ciu.
Kala itu Tio Ciu In juga bernyanyi seperti sekarang dan tiba-tiba muncul seorang pendekar sakti bermata buta menolong mereka.
"Apakah Nona Tio hendak meminta pertolongan pendekar buta itu lagi?"
Ternyata nyanyian itu sampai ke telinga Kwe Tek Hun pula.
Pemuda yang sedang bertempur di samping ayahnya itu mempunyai pendapat yang sama dengan Pangeran Liu Wan Ti.
Ia juga teringat peristiwa mengerikan di kota Hang-ciu itu.
Peristiwa yang membuat Ku Jing San kehilangan salah satu kakinya.
Belum juga lagu itu habis dinyanyikan oleh Tio Ciu In, tiba-tiba terdengar suara gemuruh mendekati tempat itu.
Suara itu seperti suara angin atau badai yang menerjang pepohonan.
"In-ji...! Aku datang! Bertahanlah!"
Bersamaan dengan hilangnya suara gemuruh itu, seorang lelaki separuh baya telah berdiri di depan Tio Ciu In.
Wajahnya sama sekali tidak kelihatan karena tertutup oleh rambut putih yang terurai lepas di mukanya.
"Auuh...!"
Pada saat yang sama Chin Tong Sia justru mengeluh karena pundaknya tergores kipas Mo Goat. Souw Giok Hong terkejut.
"Saudara Chin, kau terluka...?"
Walau tidak parah tapi kipas itu mengandung racun sehingga bahu Chin Tong Sia terasa linu sekali.
Untung ia selalu membawa obat pemunah racun di sakunya.
Walau tidak segera sembuh, tapi racunnya tidak berbahaya lagi.
"Nona Souw, berhati-hatilah! Kipas itu mengandung racun!"
Sementara itu pendekar Buta telah memegang lengan T. o Ciu In. Tubuhnya tiba-tiba bergetar begitu mengetahui keadaan gadis itu.
"Siapa yang melukaimu? Siapa? Katakan!"
Katanya kaku. Tio Ciu In tak kuasa lagi membendung air matanya.
"Suhu, tolonglah mereka? Mereka itu para pendekar persilatan yang ingin membebaskan Panglima Yap Kim. Sekarang mereka dalam kesulitan. Pasukan Hun telah mengepung tempat ini. Tidak ada jalan untuk meloloskan diri."
"Apakah panglima itu sudah dapat dibebaskan?"
"Sudah, Suhu. Beliau juga ada di sini sekarang. Beliau berada di sebelah kananmu."
Wajah tertutup rambut itu kelihatan kaget sekali.
"Baiklah, aku akan mencoba menolong mereka."
Ucapnya kemudian dengan terburu-buru. Tapi ketika Pendekar Buta hendak berlalu, Tio Ciu In cepat meraih lengannya.
"Suhu! Di sini juga ada Pangeran Liu Wan Ti."
"A-apa...?"
Sekali lagi Pendekar Buta itu terkejut.
"Benar, Suhu. Beliau duduk di dekat Panglima Yap Kim. Mereka berdua terluka parah seperti aku."
Pendekar itu menundukkan mukanya dalam-dalam. Sejenak tubuhnya seperti bergoyang-goyang mau jatuh. Tentu saja Tio Ciu In menjadi kaget sekali.
"Suhu! Suhu! kau kenapa...?"
Wajah itu tengadah kembali. Sambil menghela napas ia berkata.
"Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Emmm, In-ji. Coba katakan! Siapa saja pendekar persilatan yang ada di tempat ini? Sebutkan satu persatu!"
Tio Ciu In menjadi lega kembali.
Lalu disebutnya pendekar yang berada di arena itu satu persatu.
Pendekar yang belum pernah dia kenal, hanya ia sebutkan ciri-cirinya.
Disamping itu Tio Ciu In juga menyebutkan lawan yang mereka hadapi.
Pendekar itu tertegun ketika Tio Ciu In menyebutkan nama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.
Tapi ia segera mengalihkan perhatiannya.
"Jadi mereka itu benar-benar... pasukan Hun? Baiklah, In-ji. Aku akan mencoba menolong Panglima Yap Kim keluar dari benteng ini. Tapi kau jangan pergi kemana-mana. Tetaplah di tempat ini. Berteriaklah kalau ada yang mengganggumu."
Sementara itu Panglima Yap Kim hampir tidak berkedip memandang pendekar itu.
Ternyata orang itu adalah orang yang dilihatnya melempar-lempar-kan prajurit Hun tadi.
Dan setelah dekat, serasa ada sesuatu yang dikenalnya pada pendekar itu.
Di lain pihak, Pendekar Buta telah berjalan mendekati pertempuran, yaitu pertempuran antara Mo Goat dengan Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong.
Semua orang melihat ada enam orang Mo Goat yang mengurung Chin Tong Sia.
Tetapi bagi orang buta seperti Pendekar Buta, yang mengamati pertempuran itu dari indera tubuhnya yang lain, pertempuran di depannya itu hanya berlangsung antara seorang melawan dua orang saja.
Memang menurut pengamatan Pendekar Buta, orang dikeroyok itu memiliki ilmu silat yang sangat aneh.
Orang itu mampu memecah tenaganya menjadi beberapa bagian dan setiap bagian dapat digunakan untuk menyerang lawan dari berbagai arah.
Sementara itu munculnya Pendekar Buta di arena itu benar-benar mengejutkan Mo Goat.
Walau sudah lima tahun, tapi gadis itu tidak pernah melupakan orang yang pernah mengalahkan ilmu silatnya.
"Hou-ko! kau ingat orang yang kuceritakan itu? Dia berada di sini...!"
Gadis itu berteriak kepada Mo Hou.
Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong terkejut, tapi tidak tahu apa yang dimaksudkan lawannya.
Mereka berdua hanya melihat seorang lelaki mengenakan pakaian tukang kebun, datang menghampiri mereka.
Lelaki separuh baya itu kelihatan sedang mengerahkan tenaga saktinya.
Terdengar suara desis dari sela-sela bibir Pendekar Buta, seperti suara desis ribuan ular berbisa yang keluar dari liangnya.
Dan berbareng dengan itu tercium pula bau amis yang menyengat hidung.
"Dia... dia...!"
Panglima Yap Kim gelagapan.
Sekonyong-konyong tubuh Pendekar Buta itu mencelat ke depan.
Demikian cepatnya, sehingga orang hanya melihat hembusan asap yang meluncur ke arena pertempuran.
Gulungan asap itu menyambar salah seorang dari-enam orang Mo Goat itu.
Mo Goat menghindar secepatnya, kemudian berbaur dengan Mo Goat yang lain.
Tetapi Pendekar Buta itu terus saja memburunya, seolah-olah tidak ada Mo Goat lain di arena itu.
Dia hanya mengelak atau menangkis bila Mo Goat yang lain itu menyerangnya.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong untuk keluar dari arena.
Mereka segera menghambur ke arena Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan Tio Siau In.
Kedatangan Souw Giok Hong segera disambut ayah-ibunya dengan penuh kegembiraan.
Begitu berjumpa gadis ayu itu segera melapor.
"Ayah! Ibu! Aku sudah menemukan Cici Lian Cu...!"
"Souw Taihiap! Itu dia yang bernama, Souw Hong Lam!"
"Apaaaa...??"
Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong berteriak bersama-sama. Begitu kerasnya teriakan mereka, sehingga Bayan Tanu menjadi kaget pula.
"Nanti aku ceritakan...!"
Souw Giok Hong berseru gembira.
Lupa bahwa mereka dalam kepungan musuh.
Tapi kedatangan Chin Tong Sia di arena Tio Siau In, disambut dengan bentak kemarahan oleh gadis itu.
Marah, karena tongkat Ho Bing mulai menyakiti tubuhnya.
"Mau apa kau ke sini? Mau ikut mengeroyok aku? Majulah!"
Chin Tong Sia gelagapan tak dapat menjawab, sehingga Yok Ting Ting menjadi kasihan melihatnya.
Sebenarnya gadis remaja ini amat senang dengan bantuan Chin Tong Sia.
Dia dan Tio Siau In memang berada dalam kesulitan.
"Sudahlah, Cici. Dia hanya ingin membalas kita, urusan nanti kita selesaikan. Bahu Chin Tong Sia masih terasa Sakit, namun tidak sesakit bentakan Siau In di hatinya. Tapi ketika dia bermaksud meninggalkan tempat itu, Tiat-tou menyerangnya dari belakang.
"Wuuuus!"
Chin Tong Sia segera menghindar. Otomatis tangannya menyambar lengan Tiat-tou.
"Thaaaas!"
Kedua lengan mereka bentrok satu sama lain.
Akibatnya si Kepala Besi itu terdorong mundur beberapa langkah.
Untung pasukannya segera menolong.
Mereka menyerbu Chin Tong Sia dari segala jurusan.
Chin Tong Sia tidak bisa mundur lagi.
Dia terpaksa bertempur melawan pasukan khusus itu bersama-sama Tio Siau In dan Yok Ting Ting.
Dan kedatangannya itu memang sangat membantu gadis itu.
Paling tidak mengurangi lawan Tio Siau In.
Di lain pihak kedatangan Pendekar Buta benar-benar menjadi neraka buat Mo Goat.
Walaupun sudah berusaha seButa menjadi cemas.
Dalam keributan atau pertempuran yang hingar-bingar dia tak mungkin bisa menolong Panglima Yap Kim.
Oleh karena itu dia harus segera meringkus gadis itu sebagai sandera.
Pendekar Buta lalu mengerahkan ilmu silatnya yang lain, yang jarang sekali ia keluarkan.
Terdengar tulang dan urat-uratnya saling membelit dan beradu satu sama lain.
Ketika akhirnya Mo Goat yang marah itu menyerang dengan jarum-jarum beracunnya, kedua tangan Pendekar Buta itu segera menyambar ke depan.
Taburan jarum beracun itu tersapu habis oleh kibasan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap melaju ke depan, menuju ke arah muka Mo Goat.
Mo Goat cepat menarik kepalanya ke belakang.
Tapi mulutnya menjerit keras sekali, ketika tangan itu tetap saja memburunya.
Mati-matian gadis itu membanting tubuhnya ke belakang.
Namun sekali lagi gadis itu berteriak ngeri.
Lengan Pendekar Buta itu terus saja bertambah panjang, sehingga tangan itu tidak bisa dicegah lagi saat mencengkeram pundak Mo Goat.
Di lain saat gadis itu telah ditangkap oleh Pendekar Buta.
"Hou-ko! Tolong...!"
Mo Goat menjerit keras.
Mo Hou terperanjat.
Tanpa berpikir lagi pemuda itu melompat meninggalkan Put-pai-siu Hong-jin.
Karena saat itu dia sedang mengerahkan Pat-sian ih-hoat pada lapis yang teratas, maka gerakannya sama sekali tidak terlihat oleh semua orang.
Tahu-tahu dia telah berdiri di depan Pendekar Buta.
Put-pai-siu Hong-jin yang ditinggalkan, termangu-mangu di tempatnya.
Kakek buruk rupa itu tidak segera tahu kalau lawannya telah pergi.
"Tikus kecil! Dimana kau...?"
"Suheng, mengapa kau memaki aku? Apa kau tidak mempunyai lawan lagi?"
Tak terduga Chin Tong 5ia menjawab umpatan Put-pai-siu Hong-jin.
Dasar manusia sinting, kakek itu sudah melupakan keinginannya untuk mencari Mo Hou.
Suara Chin Tong Sia telah merubah jalan pikirannya.
Tiba-tiba saja ia ingin menggoda pemuda itu.
"Hei, Bocah Gendeng. Mengapa kau bersama gadis itu lagi? Apa gigimu ingin dipatahkan lagi?"
"Suheng, kemarilah! Bantu aku! Jangan berdiri diam saja."
"Hohoho, baik. Aku senang sekali. Di situ banyak musuhnya."
Lalu tanpa berbasa-basi lagi kakek buruk rupa itu segera menghambur ke dalam pertempuran.
Gayanya yang kocak dan seenaknya sendiri itu membikin gemas dan marah lawan-lawannya.
Apalagi begitu masuk kakek itu sudah mengobral pukulan dan tendangan yang sulit dihindarkan.
Sementara itu para prajurit Hun yang mengepung tempat tersebut menjadi beringas.
Mereka menjadi marah karena Mo Goat tertangkap musuh.
Hampir saja mereka menyerbu ke dalam arena pertempuran, kalau Mo Hou tidak segera menghentikan mereka.
Mo Hou sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya.
Dia takut orang buta itu akan membunuh Mo Goat.
"Bagus. Tampaknya kAu-yang memimpin pasukan ini. Siapakah namamu, Anak Muda? Apakah kau salah seorang dari panglima Raja Mo Tan?"
Sambil tetap mencengkeram punggung Mo Goat, Pendekar Buta bertanya kepada Mo Hou. Mo Hou menggeram menahan marah.
"Namaku Mo Hou, putera Raja Mo Tan. Memang aku yang memimpin pasukan ini. Nah, lepaskan adikku! Kalau tidak, pasukanku akan segera membunuh teman-temanmu!"
Pendekar Buta mengangkat mukanya. Suaranya terdengar kaku ketika menjawab ucapan Mo Hou.
"Kalau benar-benar putera Raja Mo Tan, engkau tentu mengenal Bok Siang Ki, ketua partai Soa-hu-pai."
"Beliau adalah guruku, beliau telah diangkat menjadi Pendeta Agung Ulan Kili oleh ayahku."
"Pendeta Agung? Apakah dia telah menyelesaikan tingkat terakhir dari Pat-sian ih-hoat? Dia sudah mahir menghilang?"
Bukan main kagetnya Mo Hou. Orang buta di depannya itu seperti mengetahui segala hal tentang gurunya. Siapa dia? "Kau... Kau mengenal guruku? Siapakah kau?"
"Sudahlah. Lebih baik kau tanyakan sendiri kepada gurumu. Yang jelas gurumu tentu akan memperingatkan, agar kau tidak terlalu dekat dengan aku. Apalagi sampai melawan aku."
"Sombong sekali!"
Pendekar Buta menghela napas panjang.
"Sudahlah, perintahkan saja prajurit-prajuritmu menyingkir. Biarkan kami membawa Panglima Yap Kim keluar dari benteng ini. Di luar nanti akan kulepaskan adikmu."
"Tidak bisa! Lepaskan adikku, atau... Kuperintahkan pasukanku membunuh kalian semua!"
Mo Hou berseru marah.
"Begitukah? Baik! Majulah! Akan kuremukkan dulu kepala gadis ini, baru kita berkelahi!"
Pendekar Buta berseru pula.
Tangannya diangkat ke atas, siap untuk menghajar kepala Mo Goat.
Pasukan Hun menjadi beringas lagi.
e eka mengacung-acungkan senjata mereka dan siap untuk menerjang ke arena.
Sebaliknya Mo Hou menjadi bimbang.
Wajahnya bertambah kusut.
"Pengecut! Kalau berani, lawanlah aku! Jangan berlindung di balik nyawa perempuan! Bertempurlah dengan aku! Satu lawan satu!"
Akhirnya Mou Hou menjerit marah. Pendekar Buta tertegun.
"Kau menantang aku? Wah, kau akan benar-benar dimarahi gurumu nanti."
"Diam! Lihat pukulanku!"
Mo Hou tidak dapat mengekang diri lagi.
Tubuhnya melesat ke depan sambil mengayunkan kipasnya.
Begitu bergerak dia sudah menggunakan tingkat akhir dari Pat-sian ih-hoatnya.
Tak seorangpun dari sekian ratus orang yang mengurung tempat itu, yang dapat melihat dirinya.
Semuanya mengira kalau tubuhnya hilang begitu saja.
Kali ini Mo Hou memang ingin menunjukkan kesaktiannya.
Semua orang memang melihat bahwa Mo Hou menghilang.
Tapi tidak demikian halnya dengan Pendekar Buta.
Sebagai orang buta yang biasa mengandalkan perasaan dan indera tubuh selain matanya, ia tetap dapat merasakan hembusan angin yang datang menerpa dirinya.
Dan sentuhan angin lembut itu sudah cukup memberitahukan dia, bahwa ada orang yang mendekat dan menyerang tubuhnya.
Tanpa melepaskan tubuh Mo Goat, Pendekar Buta mengelak ke samping, lalu membalas dengan menyodokkan siku kanannya ke belakang.
Mo Hou yang tidak terlihat oleh mata itu terperanjat dan cepat-cepat melenting menjauhkan diri.
Sesaat pemuda itu merasa heran melihat lawannya tidak terpengaruh oleh ilmunya.
Namun sebentar kemudian ia menjadi sadar pula akan kebodohannya.
Lawannya buta, sehingga tidak ada bedanya, dirinya kelihatan atau tidak.
Mo Hou lalu berputar sambil menotok bahu kanan Pendekar Buta.
"Wusss!"
Kipasnya yang tergulung itu menyambar bahu lawannya.
Sengaja dia menyerang sambil berputar untuk mengurangi getaran udara yang keluar dari kipasnya.
Sambil mengempit tubuh Mo Goat di ketiaknya, Pendekar Buta merendahkan tubuhnya.
Betapapun kecil getaran itu, ternyata Pendekar Buta masih dapat menciumnya.
Bahkan sambil merendah pendekar itu masih sempat menyabetkan rambut panjangnya ke leher Mo Hou.
"Taaaar!"
Ujung rambut itu melecut di udara, karena Mo Hou keburu mengelak ke samping.
Demikianlah mereka bertempur semakin lama semakin sengit.
Dan pertempuran itu sama sekali tidak dimengerti oleh orang lain.
Bagi mereka Pendekar Buta itu bermain silat sendirian.
Kalaupun sekali-sekali tubuh Mo Hou itu kelihatan, mereka juga tidak dapat melihatnya dengan jelas.
Namun bagi Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti, pertempuran itu benar-benar mentakjubkan.
Mereka memang tidak dapat melihat Mo Hou, tapi mereka yakin bahwa Pendekar Buta itu sedang bertempur dengan Mo Hou.
Oleh karena itu bagi mereka kesaktian Pendekar Buta sungguh amat hebat.
Betapa tidak?
Ilmu sihir aneh >ang sempat membingungkan Put-pai-siu Hong-jin itu ternyata tidak berpengaruh apa-apa terhadap Pendekar Buta.
Padahal pendekar itu masih membawa tubuh Mo Goat pula.
Sementara itu situasi pertempuran di arena yang lain tetap belum berubah.
Souw Thian Hai dan anak-isterinya tetap dikepung Bayan Tanu bersama pasukan pilihannya.
Pasukan khusus yang berkelompok dan berlapis-lapis sehingga sulit sekali ditembus.
Demikian pula dengan keadaan Tio Siau In dan Yok Ting Ting.
Walaupun sudah dibantu Chin Tong Sia dan Put-pai-siu Hong-jin, mereka tetap belum bisa keluar dari kepungan.
Memang, kedatangan Put-pai-siu Hong-jin dan Chin Tong Sia sangat menolong mereka.
Tetapi pasukan khusus itu memang kuat sekali.
Untunglah dengan gaya bertempur Put-pai-siu Hong-jin yang angin-anginan itu, pasukan pilihan itu tidak berani terlalu mendesak.
Hanya pertempuran A Liong yang mulai menampakkan hasilnya.
Walau seorang diri harus menghadapi enam jago pilihan dari Raja Mo Tan, tapi akhirnya pemuda itu dapat menguasai lawannya.
Ilmu Pedang Pelangi yang belum pernah terlihat di dunia persilatan itu ternyata dapat menggempur Barisan Enam Hantu.
Satu persatu Barisan Enam Hantu yang sangat ditakuti orang itu terlepas dari kelompoknya.
Mula-mula Ang-kui atau si Hantu Merah, hantu paling muda dalam kelompok itu, terpental keluar dari barisannya.
Hantu Merah itu tergores pedang pelangi pada betisnya, yaitu pada saat dia dan saudaranya gagal menangkis pedang A Liong.
Barisan Enam Hantu itu semakin kacau.
Hek-kui segera berteriak mengatur barisan mereka.
Ui-kui yang terluka lengannya segera menempatkan diri di belakang barisan.
Sedangkan Ang-kui yang terluka betisnya, tidak mampu bangkit lagi.
Darah mengalir deras dari luka itu.
"Kalian tetap belum mau menyerah Baik! Akan kupotong kaki kalian satu persatu!"
A Liong mengancam.
Benar juga.
Belum habis pemuda itu mengucapkan ancamannya, pedang bengkoknya telah terlepas dari tangan dan terbang berputar-putar di udara.
Ketika kemudian A Liong mengalihkan perhatian mereka dengan pukulan jarak jauhnya, tiba-tiba pedang itu menukik kembali dan menyambar Ui-kui di belakang barisan.
"Aduh...!"
Hantu Kuning itu menjerit kesakitan.
Ui-kui jatuh ke tanah sambil memegangi lengan kirinya.
Kini kedua lengannya tidak dapat digunakan lagi.
Pisaunya juga hilang entah ke mana.
Kini tinggal empat orang saja diantara Lok-kui-tin yang masih dapat bertempur.
Hek-kui saling pandang dengan saudara-saudaranya.
Mereka mulai berpikir untuk mengerahkan pasukan khusus.
Namun sebelum Hek-kui memberi perintah, tiba-tiba terdengar suara jeritan Mo Hou!
Ketika Lok-kui-tin memandang ke arena itu, mereka menyaksikan dua majikan mudanya telah berada dalam genggaman Pendekar Buta!
"Apa...
a-apa yang terjadi?"
Hek-kui memekik bingung.
A Liong juga melihat ke tempat itu.
Dia melihat seorang lelaki berpakaian tukang kebun mencengkeram punggung Mo Hou dan Mo Goat.
A Liong juga diam saja ketika sisa-sisa Lok-kui-tin itu menghampiri Pendekar Buta.
Mo Hou tidak berkutik di tangan Pendekar Buta.
Dia sama sekali tidak menduga kalau lawannya memiliki ilmu silat aneh, yang dapat mengecoh dirinya, sehingga dia terjebak pula seperti adiknya.
Ternyata Pendekar Buta itu dapat membuat tangan atau kakinya lebih panjang daripada semestinya.
Bahkan yang lebih mengerikan lagi, Pendekar Buta itu dapat melepas engsel sendinya, sehingga lengan dan kakinya dapat ditekuk dan digerakkan ke segala arah.
Mo Hou juga terjebak ketika suatu saat berada di belakang Pendekar Buta.
Sama sekali dia tak menyangka ketika tiba-tiba tangan pendekar itu menghantam ke belakang seperti layaknya kalau tangan itu menghanam sasaran di mukanya.
Ketika dia mencoba menghindar, ternyata lengan itu bertambah panjang, sehingga dengan mudah menotok urat di lehernya.
"Nah! kau kalah, Anak Muda. kau bukan tandinganku. Mungkin hanya gurumu yang dapat melayani aku. Itupun kalau ilmunya sudah lebih baik daripada dulu."
Pendekar Buta berkata ketus.
"Apa maumu sekarang?"
Mo Hou berseru kesal. Pendekar Buta membawa kedua tawanannya itu ke. depan Tio Ciu In. Ketika Hek-kui bersama tiga saudaranya mengejar dan mengurung, Pendekar Buta menghardik mereka.
"Semuanya berhenti bertempur! Lihat...! Nyawa pimpinan kalian berada dalam genggamanku! Apakah kalian menginginkan kematian mereka?"
Suara Pendekar Buta itu benar-benar mengejutkan prajurit Hun.
Semuanya berhenti bertempur.
Termasuk juga Bayan Tanu, Ho Bing dan seluruh pasukan khusus mereka.
Para tokoh persilatan yang tersisa segera berkumpul di dekat Pangeran Liu Wan Ti.
Mereka menunggu perintah Pendekar Buta.
"Suhu! Para pendekar telah berkumpul di sini. Apa yang harus kami lakukan?"
Tio Ciu In bertanya kepada gurunya. Pendekar Buta mengangguk, kemudian membentak Hek-kui dan Pek-kui yang berdiri di depannya.
"Bagus! Nah, kalian dengar itu? Sekarang perintahkan kepada pasukan kalian untuk mundur! Aku tidak main-main! Kedua orang ini menjadi jaminannya!"
"Hek-kui...! kau...!"
Mo Hou membuka mulutnya.
Tapi belum juga habis ucapan itu keluar dari mulutnya, Pendekar Buta sudah lebih dulu menotok urat gagunya.
Hek-kui bertukar pandang dengan Pek-kui.
Mereka merupakan pimpinan tertinggi setelah Mo Hou dan Mo Goat.
Dengan tertangkapnya kedua pimpinan mereka itu, otomatis kini mereka berdua yang harus menentukan jalan pertempuran selanjutnya.
"Cepat lakukan! Atau kalian ingin gadis ini yang kubunuh lebih dahulu? Baik...!"
Pendekar Buta menggertak sambil mengangkat Mo Goat di atas kepalanya.
Pendekar Buta sengaja mencengkeram jalan darah pao-si-hiat di dekat tulang punggung Mo Goat, sehingga gadis itu meringis kesakitan.
Hek-kui gemetar.
Pikirannya menjadi bingung, dia dan saudara-saudaranya tak mungkin bisa hidup bila kedua putera Raja Mo Tan itu mati.
Tapi kalau mereka melepaskan Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti, mereka akan mendapat marah pula.
"Baiklah! Akan kami lakukan!"
Tiba-tiba Pek-kui berseru.
"Pek-kui...?"
Hek-kui berbisik pelan.
"Apa boleh buat. Masih ada waktu lain untuk membunuh mereka. Tapi tak ada kesempatan kedua bila dua junjungan kita itu mati. Bagaimana pendapatmu, Hek-kui?"
Pek-kui menarik napas pedih. Hek-kui mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi bibirnya tetap terkatup rapat. Pendekar Buta bernapas lega. Tangannya turun kembali.
"Kalau begitu lekas kalian perintahkan mereka untuk memberi jalan kepada kami! Siapkan pula dua perahu besar dan satu sampan kecil untuk kami!"
"Suhu...?"
Tio Ciu In mendekati gurunya.
"In-ji! Kumpulkan teman-temanmu! Minta kepada mereka untuk mengikut di belakangku!"
Pek-kui dan Hek-kui terpaksa menuruti perintah Pendekar Buta.
Mereka menyibakkan prajurit Hun yang memenuhi tempat itu.
Mereka juga harus menghalangi serta membujuk keberingasan prajurit Hun.
Mereka benar-benar tidak menginginkan orang buta itu membunuh Mo Hou dan Mo Goat.
Dalam perjalanan ke pintu gerbang itulah Tio Siau In bertemu dengan A Liong.
Betapa gembiranya gadis itu, sehingga Chin Tong Sia menjadi iri melihatnya.
Sebaliknya pertemuan antara Kwe Tek Hun dengan Pangeran Liu Wan Ti dan Tio Ciu In terasa kaku dan kikuk, karena Liu Wan yang mereka kenal dulu ter-nyata adalah Pangeran Liu Wan Ti.
Ketika melewati kumpulan tawanan yang masih hidup, A Liong berteriak.
"Lo-Cianpwe! Bagaimana dengan teman-teman kita yang tertawan itu?"
"Bawa mereka!"
Pendekar Buta berseru tegas.
"Baik!"
A Liong melesat pergi, diikuti Chin Tong Sia dan Kwee Tek Hun.
Bertiga, mereka mengurus para pendekar persilatan yang tertawan itu dan membawa mereka pergi.
Para pendekar yang terluka dipapah atau digendong perraekar lainnya.
Akhirnya rombongan itu menjadi banyak sekali.
Mungkin lebih dari tiga puluh orang.
Mereka berbondong-bondong pergi ke pintu gerbang benteng.
Setiap kali melewati mayat-mayat para pendekar yang tewas mereka berdesah sedih.
Matahari mulai bergulir ke barat.
Panasnya benar-benar menyengat ubun-ubun.
Di depan pintu gerbang, di bawah tangga, telah disiapkan dua perahu besar dan satu sampan kecil.
Tampak belasan prajurit Hun berjaga-jaga di sekitar perahu tersebut.
"Aku mendengar suara air. In-ji, apakah kita telah sampai di pintu gerbang benteng? Apakah mereka telah menyiapkan perahu untuk kita?"
"Sudah, Suhu. Ada belasan prajurit yang menjaga perahu itu."
"Suruh mereka pergi!"
Hek-kui memberi isyarat kepada prajurit-prajurit itu agar pergi meninggalkan perahu.
A Liong dan Chin Tong Sia segera meloncat ke depan mendahului yang lain.
Mereka memeriksa perahu tersebut lebih dahulu.
"Bagaimana, saudara Chin? Baik dan aman?"
Souw Giok Hong berseru kepada Chin Tong Sia.
"Marilah! Semuanya beres!"
A Liong menjawab seruan itu.
"Nanti dulu...!"
Pek-kui berseru dan melompat ke depan Pendekar Buta.
"Bagaimana dengan kedua pimpinan kami itu? Kami telah menuruti permintaanmu. Sekarang kau harus menepati janji pula. Bebaskan mereka!"
Pendekar Buta menggeram.
"Jangan takut. Aku tentu akan membebaskan mereka. Tapi aku juga tidak sebodoh yang kau kira. Kami baru melepas mereka setelah semuanya pergi."
"Suhu...? Engkau tidak pergi bersama-sama kami?"
Tio Ciu In memegangi lengan gurunya.
"Jagalah dirimu baik-baik, In-ji. Aku tentu mencarimu nanti. Nih! Ambil saputangan ini! Berikan kepada Pangeran Liu Wan Ti dan Panglima Yap Kim setelah semuanya aman! Mengerti...?"
"Sudanlah. Ikuti saja perintahku."
A Liong maju ke depan.
"Lo-Cianpwe, biarlah aku menemanimu. Siapa tahu mereka berlaku curang?"
"Tidak usah, Anak Muda. kau pergi saja bersama yang lain."
Para pendekar itu, mengikuti Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti ke dalam perahu.
Mereka dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat satu perahu.
Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti berada dalam satu perahu, sementara Souw Thian Hai dan keluarganya di perahu lainnya.
Mereka segera berangkat setelah mengucapkan terima kasih kepada Pendekar Buta.
Beberapa waktu kemudian dua perahu besar itu telah menghilang dari pandangan.
Kini tinggal Pendekar Buta yang masih tinggal di tempat itu.
Dia tinggal sendirian, dikelilingi Hek-kui dan saudara-saudaranya.
Bahkan ribuan prajurit Hun yang ada di dalam benteng itu ikut mengepung pula.
Perlahan-lahan Pendekar Buta membawa Mo Hou dan Mo Goat menuruni SJahgga.
HwABi dan samlara-saudaranya mengikuti dari belakang.
Sementara itu Bayan Tanu dan pasukannya tetap mengawasi dari kejauhan.
Semuanya siap untuk menyerang Pendekar Buta.
Sampai di bawah Pendekar Buta memasang telinganya.
Suara kecipak air menjilat kayu, memberi petunjuk dimana sampan kecil itu berada.
Dan pendekar itu segera melompat ke dalam sampan.
"Nih, terimalah!"
Pendekar itu berseru sambil melemparkan tubuh Mo Hou dan Mo Goat ke atas tangga. Selesai mengembalikan tawanan pendekar itu rnenepukkan tangannya ke dalam air.
"Plak! Plak! Plak!"
Tiba-tiba sampan kecil itu terbang ke tengah sungai.
Ratusan anak panah segera bertaburan dari atas tembok, memburu sampan itu.
Ternyata para prajurit Hun yang berada di atas tembok telah menyiapkan serangan anak panah.
Pendekar Buta segera melepas bajunya dan menangkis hujan anak panah itu.
Cuma sebentar, karena hujan panah itu segera berhenti.
Sampan itu telah berada di luar jangkauan anak panah.
Sementara itu perahu yang ditumpangi Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti melaju terus tanpa berhenti.
Semuanya lupa lapar, lupa haus dan lupa lelah.
Yang mereka pikirkan hanya menyingkir jauh-jauh dari benteng itu.
Akhirnya mereka mendarat di sebuah dusun di tepian sungai.
Penduduknya menyebut dusun itu Ui-kang-cung.
Kepala dusun Ui-kang-cung segera menyongsong dan menjamu mereka.
Apalagi ketika dia tahu bahwa yang datang adalah Pangeran Liu Wan Ti dan bekas Panglima Yap Kim.
Daerah itu memang daerah para pengagum Panglima Yap Kim.
"Pangeran...! Kedatangan Pangeran di dusun ini sungguh suatu keberuntungan yang tidak kami sangka sebelumnya. Bagaimana tidak? Kebetulan sekali dusun ini menjadi ajang perjuangan para pendekar yang ingin menumbangkan kekuasaan Au-yang Goanswe."
Kepala Dusun itu melapor kepada Liu Wan Ti.
"Menjadi ajang perjuangan para pendekar...?"
Pangeran Liu Wan Ti mengerutkan keningnya.
"Benar, Pangeran. Akan hamba tunjukkan tempat mereka bila Pangeran menghendaki."
Pangeran Liu Wan Ti mengawasi Panglima Yap Kim untuk meminta pendapat. Dan panglima itu segera menganggukkan kepalanya.
"Lebih baik kita melihatnya, Pangeran."
Demikianlah, Kemala Dusun itu lalu membawa mereka ke suatu tempat di pinggiran sungai. Di sana tampak ribuan tenda memenuhi tepian Sungai Huang-ho.
"Gila! Ini benar-benar kekuatan yang maha dahsyat!"
Panglima Yap Kim berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siapa yang memimpin para pejuang ini?"
Pangeran Liu Wan Ti bertanya kepada Kepala Dusun Ui-kang-cung.
"Jenderal Yo Keng, Pangeran."
Pangeran Liu Wan Ti terkejut.
"Kau maksudkan... jenderal Yo Keng dari perbatasan itu?"
"Benar, Pangeran. Dulu beliau diutus Kongsun Goanswe ke Kotaraja untuk menemui Menteri Kui Hua Sin. Tapi sampai di Istana beliau malah hampir dibunuh oleh Au-yang Goanswe. Akhirnya Jenderal Yo Keng pulang dan di sepanjang jalan beliau mengumpulkan para pejuang yang ingin menumbangkan kekuasaan Au-yang Goanswe. Sekarang pejuang yang bergabung dengan Jenderal Yo Keng telah mencapai ribuan."
Demikianlah, malam itu juga Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti menemui Jenderal Yo Keng.
Bukan main gembiranya jenderal itu karena sejak dulu ia sangat mengagumi Panglima Yap Kim maupun Pangeran Liu Wan Ti.
Bahkan kedatangannya ke Kotaraja dulu juga untuk memberitahukan munculnya Pangeran Liu Wan Ti di perbatasan.
Ketika berita kedatangan Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti itu diumumkan kepada para pejuang, mereka menyambut dengan gegap gempita.
Dan jadilah malam itu mereka berpesta-pora menyambut kehadiran Panglima Yap Kim dan Putera Mahkota.
Kebetulan malam itu bulan muncul dengan terangnya.
Maka dengan disaksikan oleh gemerlapnya bintang di langit, Panglima Yap Kim dikukuhkan sebagai pimpinan dari para pejuang itu.
Sementara para pendekar yang lain, seperti Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, Kwe Taihiap, Put-pai-siu Hong-jin, A Liong, Tio Ciu In dan lain-lainnya, ikut membantu pula dari belakang.
Para pendekar itu lalu berkumpul di tepian sungai.
Mereka bergerombol sambil menikmati aliran sungai di atas bebatuan.
"Sayang sekali Pendekar Buta tidak ikut hadir di tengah-tengah kita. Di mana dia sekarang?"
Panglima Yap Kim bergumam perlahan.
"Benar, saudara Yap. Kita banyak berhutang budi kepadanya. Tanpa pertolongannya, kita semua sudah mati di dalam benteng itu. Ilmu silatnya benar-benar hebat..."
Sow Thian Hai berkata pula.
"Tapi omong-omong... rasanya aku pernah mengenal gaya ilmu silatnya. Tapi aku benar-benar sudah lupa. Apakah Souw Taihiap juga berpikir demikian?"
"Entahlah. Semuanya serba cepat dan aku sendiri sedang repot menghadapi lawan, sehingga tidak memperhatikan ilmu silatnya."
"Hai...!"
Tiba-tiba Panglima Yap Kim tersentak kaget.
"Aku ingat sekarang! Ilmu silat itu... Ilmu silat itu...? Ah, dia... pangeran Liu yang kun!"
"Pangeran... Liu yang kun?"
Semuanya berseru kaget.
"Benar, Souw Taihiap. Sekarang aku ingat ilmu silat yang digunakan untuk menangkap putera Raja Mo Tan itu. Namanya... Kim-coa ih-hoat (Baju Ular Emas)! Yah, benar... Namanya Kim-coa ih-hoat! Hanya Pangeran Liu yang kun saja di dunia ini yang memiliki ilmu silat itu."
"Benarkah? jadi... dia masih hidup?"
"Wah, sungguh menyenangkan kalau dia masih hidup. Kita dapat mempertemukan Enci Lian Cu dengan suaminya."
Sekonyong-konyong Souw Giok Hong bersorak gembira sambil memeluk ibunya.
"Eh, aku lupa membawa titipan saputangan dari guruku!"
Tio Ciu In ikut-ikutan berteriak. Gadis itu merogoh sakunya dan mengeluarkan saputangan putih. Saputangan itu lalu diserahkan kepada Pangeran Liu Wan Ti.
"Maaf, Pangeran. Aku benar-benar lupa. Guruku berpesan untuk memberikan saputangan ini kepadamu atau kepada anglima Yap Kim."
Pangeran Liu Wan Ti menerima saputangan itu dengan perasaan heran.
Tapi jantungnya segera berdegup keras ketika melihat tulisan di atas saputangan itu.
, Adikku, Kau yang berbakat mengurus negara.
Kuserahkan segalanya kepadamu.
Kakakmu.
"Benar. Dia... dia memang Pangeran Liu yang kun!"
Panglima Yap Kim berdesah panjang.
Sejenak pertemuan itu menjadi sunyi, masing-masing memikirkan sepak terjang pangeran yang amat sakti itu.
Hanya golongan muda seperti A Liong yang tidak tahu cerita tentang Pangeran Liu yang kun.
"Wah, tampaknya ilmu silat Pangeran itu tinggi sekali, ya?"
A Liong yang duduk di dekat Tio Siau In itu berkata perlahan.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin dia bisa menyelamatkan kita kalau ilmu silatnya biasa-biasa saja. Lalu... bagaimana dengan keinginanmu dulu? Katanya kau ingin mendaki Gunung Hoa-san? Bagaimana? Jadi tidak?"
Tio Siau In tersenyum menggoda.
"Wah, Cici. kau ini baru bertemu sudah mengajak berantem"
Demikianlah, mulai malam itu Pangeran Liu Wan Ti dan Panglima Yap Kim bersumpah untuk melawan kekuasaan Au-yang Goanswe.
Mereka bahu-membahu memimpin para pejuang demi menegakkan keadilan di negeri mereka.
Yogyakarta, 31 Maret 1995 TAMAT Penerbit .
CV.
GEMA Cetakan Tahun .
1995 Karya .
Sriwidjono Ilustrasi .
Widodo Sumber Buku & Gambar .
-Edit ke DOC, PDF, TXT oleh .
Cersil KPH
Baca Juga: Pendekar Buta 7
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 6