Eps 1 Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo.
Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "
Jilid 01 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo
Jilid 01 Tahun 1126.
Kota besar Kaifeng di Propingi Honan terancam bahaya hebat ketika bala tentara kerajaan baru Kin mengurungnya.
Kerajaan Kin adalah kerajaan baru yang didirikan oleh Raja Akutta dalam tahun 1115 Raja Akutta, pemimpin besar Bangsa Wan Yen, telah berhasil mengumpukan rakyatnya yang selalu tertindas dan terhina kerajaan dan tentara Liao.
Kemudian dengan sama yang baik antara, bala tentara Kin dan Sung, Akutta berhasil menyerbu dan menduduki Peking.
Akan tetapi celakanya setelah menikmati beberapa kemenangan, bala tentara Kin yang berasal utara sepanjang lembah Sungai Sungari dan Heitungkiang itu, menjadi "Keenakan"
Dan tidak mau mundur ke utara kembali.
Bahkan tentara yang besar jumlahnya dan amat kuat ini terus menjelajah ke selatan, sebagian besar maju terus menyerbu ke Taigoan di mana mereka mendapatkan perlawanan sengit dari rakyat dan tentara.
Sebagian pula lalu maju mengurung kota Kaifeng sehingga kota itu berada di bawah ancaman bahaya maut!
Kaisar Chin Tsung dan sebagian besar para pembesar yang selalu hidup berkorupsi, tentu saja tidak memiliki semangat bertempur.
Bagi mereka ini, orang-orang yang menamakan diri pembesar dan pemimpin, kehilangan kehormatan atau kehilangan negara bukanlah soal pentng.
Yang penting bagi mereka adalah harta benda, kedudukan, dan jiwa!
Hanya tiga macam inilah isi kehidupan mereka, yakni harta benda, kedudukan dan jiwa.
Merekapun siap sedia untuk menukar kehormatan bangsa atau negara untuk menyelamatkan yang tiga itu.
Para pembesar dan Kaisar Chin Tsung mempunyai niat untuk mengadakan perundingan dan perdamaian saja dengan bala tentara Kin yang kuat dan ingin mempergunakan "sogokan"
Kepada bala tentara asing itu agar jangan mengganggu kesenangan hidup mereka.
Akan tetapi rakyat kecil dan prajurit prajurit yang patriotis tidak menyetujui hal ini.
Mereka ini lebih baik mati daripada menyerah karena mereka maklum sedalam dalamnya bahwa kalau sampai tentara musuh itu merebut Kaifeng yang akan menderita hebat adalah rakyat kecil.
Yang akan dirampok, dibunuh, disiksa, dihina bukan lain adalah rakyat kecil kota Kaifeng, yang akan menderita hebat adalah rakyat kecil.
Yang akan dirampok, dibunuh, disiksa, dihina, bukan lain tentu rakyat kecil juga!
Oleh karena itulah maka rakyat serentak bangkit melakukan perlawanan.
Tidak saja di dalam kota Kaifeng sendiri bahkan dari lain lain kota di sekitar daerah itu, sama datang dan merupakan kesatuan yang gagah perkasa melakukan perlawanan.
Di mana-mana timbul pemimpin kesatuan yang terdiri dari pendekar pendekar gagah perkasa.
Tidak perduli buruh, petani, guru silat, piauwsu (pengawal barang antaran), pedagang maupun pelajar, semua serentak melawan penyerbu.
Melihat semangat perlawanan hebat dari rakyat jelata.
Kaisar Chin Tsung dan para pembesar tidak berani menahan kehendak mereka yang patriotik.
Terpaksa Kaisar Chin Tsung lalu mengangkat Li Kang, pemimpin yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi, untuk menjadi pemimpin barisan melawan bala tentara musuh.
Penjagaan disiapkan di mana-mana dan barisan suka rela yang datang dari semua jurusan dikumpulkan!
Dua ratua ribu orang lebih terkumpul, merupakan kekuatan maha hebat yang siap sedia menggempur musuh.
Karena datangnya bala bantuan dari luar ini, musuh terserang dari dua fihak dan menjadi terpecah dua.
Musuh yang mengurung kota terpisah dari bagian perlengkapan mereka.
Akan tetapi, pertempuran pertempuran hebat itu telah meng goncangkan iman Kaisar Chin Tsung yang lemah, demikian pula para pembesar setiap hari menggigil seluruh tubuhnya.
Telah terbayang di depan mata mereka yang pengecut ini, betapa pihak sendiri kalah dan barisan musuh menyerbu masuk ke dalam kota.
Tentu saja mereka tidak membayangkah keadaan rakyat, melainkan membayangkan keadaan sendiri, menjadi amat gelisah mengingatkan keselamatan sendiri, terutama keselamatan rumah, gedung dan harta benda mereka.
Berita tentang kemenangan Li Kang yang memim pin pasukan rakyat tidak menggembirakan hati Kaisar Chin Tsung dan kaki tangan nya, bahkan membuat Kaisar ini menjadi makin ketakutan.
Dia telah mendengar tentang kekejaman bala tentara Kin.
Apalagi setelah kini bala tentara itu terpukul oleh pasakan yang dipimpin Li Kang tentu mereka menjadi sakit hati dan makin ganas!
Oleh karena itu, diam-diam Kaisar lalu mengirim utusan kepada pimpinan tentara musuh untuk mengajak damai dan menawarkan uang sogokan dari seluruh jumlah perak yang bisa didapatkan dari dalam kota Kaifeng!
Kemudian Kaisar bahkan memecat Li Kang!...
Akan tetapi perbuatan Kaisar ini sekaligus mendapat tentangan hebat dari rakyat jelata.
Laksaan orang berdemonstrasi, berkumpul di depan istana, dipimpin oleh seorang mahasiswa bernama Cheng Tung dan seorang kawannya, juga seorang terpelajar bernama Go Sik An.
Para demonstran ini menuntut agar supaya Li Kang diangkat lagi menjadi pemimpin pasukan untuk menggempur para penyerbu.
Akhirnya Kaisar tidak melihat lain jalan dan terpaksa menuruti kehendak rakyat.
Demikianlah, berkat semangat yang tak kunjung padam dari rakyat jelata yang dipimpin oleh patriot patriot yang tadinya merupakan pendekar pendekar silat di dunia kangouw akhirnya bala tentara Kin yang mengepung kota kaifeng dapat terusir bersih.
Akan tetapi, kemenangan ini membuat Kaisar dan para pembesar berkhawatir, tidak saja takut akan pembalasan barisan Kin, akan tetapi juga merasa ngeri melihat semangat perlawanan rakayat jelata yang diangap remeh sebelumnya itu.
Kalau semangat perlawanan rakyat itu ditunjukan kepada kedudukan Kaisar dan pemerintahannya, bukankah itu berbahaya sekali?
Demikianlah, setelah musuh dapat terusir pergi, Kaisar lalu membubarkan semua kesatuan dan hanya memelihara pasukan pasukan penjaga yang tidak banyak jumlahnya.
Hal ini dilakukan dengan alasan untuk menghemat belanja negara yang habis menderita perang.
Bahkan Li Kang lalu diasingkan ke tempat yang jauh dan orang tidak mendengar berita lagi dari pemimpin besar ini.
Setengah tahun kemudian, kembali barisan besar dari Kin menyerbu ke selatan.
Kini bala tentara yang menyerbu amat besar jumlahnya dan kuat sekali karena memang Raja Akutta hendak menuntut balas kekalahan kekalahannya yang di deritanya beberapa bulan yang lalu.
Kota Kaifeng juga tidak terlewat, mengalami serbuan hebat sekali.
Kembali barisan rakyat melakukan perlawanan gigih sekali.
Akan tetapi apakah yang dilakukan oleh Kaisar?
Kembali Kaisar dan anak buahnya mencoba untuk mengadakan kontak dan damai dengan para penyerbu, bahkan memerintahkan agar bala bantuan dari luar kota dihentikan.
"Kota telah terkepung musuh. Bagaimana kita harus menambah kekuatan barisan? Ransum kita tinggal sedikit, kalau kita harus menambah orang, sebentar saja kita akan kelaparan dan mati semua tanpa dipukul musuh!"
Demikian ucapan Kaisar sebagai alasannya mengurangi daya lawan dari pasukan rakyat.
Atas pernyataan Kaisar ini.
Go Sik An yang menjadi kawan baik mahasiswa Cheng Tung, menjadi marah sekali.
Go Sik An dikenal sebagai seorang bun bu cwan jai (seorang yang memiliki kepandaian bu dan bun atau ilmu silat dan kesusasteraan).
Dan dia adalah seorang keturunan keluarga hartawan, mempunyai gedung besar di kota Kaifeng dan keluarganya terkenal sebagai keluarga ang terhormat dan juga dermawan.
Sebagaimana telah disebutkan di bagian depan setengah tahun yang lalu, juga Go Sik An bersama Chen Tung mengadakan demonstrasi di depan istana.
Kini karena Chen Tung telah meninggalkan Kaifeng, Go Sik An sendiri lalu mengadakan protes atas keputusan Kaisar mengurangi bala bantuan itu.
Dan apa akibatnya?
Co Sik An ditangkap oleh Kaisar dan ketika Go Sik An melakukan perlawanan, ia dikeroyok oleh pasukan pengawal Kaisar dan dimasukkan dalam penjara!
Go Sik An mempunyai banyak kawan terdiri dari orang-orang gagah Bahkan isterinya sendiri juga seorang wanita yang berkepandaian tinggi, seorang anak murid dari Hoa-san-pai.
Ketika mendengar tentang penangkapan suaminya, nyonya Go ini lalu melarikan diri dari rumah, membawa lari putera tunggalnya yang baru berusia tiga tahun.
Ia ditolong oleh kawan-kawannya dan disembunyikan sehingga para pengawal Kaisar yang tadinya hendak menumpas seluruh keluarga Go tidak berhasil mendapatkannya.
Yang menjadi korban hanya harta benda keluarga itu.
Rumah gedung yang penuh barang berharga itu sebentar saja habis dan kosong, diangkut oleh para pembesar yang memakai alasan "sita"!
Makin lemahlah pertahanan kota Kaifeng dan dengan amat mudah barisan Kin dapat menduduki kota ini.
Betapapun juga Kaisar dan para pembesar hendak mengadakan persekutuan dengan mereka.
Tetap saja Kaisar dan banyak bangsawan dijadikan tawanan!
Barisan Kin melakukan penggedoran, pembunuhan dan penyiksaan Dan semua orang hukuman dibunuh dan ketika mereka mendengar bahwa Go Sik An yang ditahan Kaisar itu adalah seorang pemimpin Barisan rakyat, segera diumumkan bahwa orang she Go itu akan dihukum gantung di depan pintu benteng!
Semua orang menjadi terharu dan berduka mendengar pengumuman ini, akan tetapi siapakah yang berani membela Go Sik An?
Orang ini terkenal amat dermawan, gagah perkasa, dan juga pandai.
Akan tetapi sekarang ia terjatuh dalam tangan musuh yang berkuasa, apakah daya orang-orang lain?
Akan tetapi semua orang maklum, diam-diam para orang gagah yang menjadi sahabat Go Sik An tentu takkan tinggal diam saja.
Semua orang menanti datangnya hukuman itu dengan hati berdebar.
Pasti akan terjadi hal hal yang hebat, pikir mereka.
Keadaan di dalam kota sejak diumumkannya hokum gantung bagi Go Sik An itu, menjadi makin sunyi dan pada muka semua orang penduduk terbayang kekhawatiran yang besar.
Sebaliknya, sudah tentu saja sebagaimana terjadi pada setiap peralihan kekuasaan, anjing-anjing penjilat yang merangkak rangkak dan menciumi ujung sepatu para pembesar Kin orang-orang yang berjiwa bobrok, yang tadinya juga merupakan pembesar korupsi dan sekarang bertukar bulu menjadi pengkhianat pengkhianat, cepat menyebar mata-mata untuk mencari rahasia tempat tinggal isteri dan putera Go Sik An dan juga kawan-kawannya.
*** Dalam sebuah hutan liar diluar kota Kaifeng pada pagi hari, Terdengar suara belasan ekor anjing menggonggong diselingi oleh suara banyak orang bercakap-cakap dan suara tindakan kaki mereka tersaruk-saruk atau menginjak ranting dan daun kering.
Mereka ini adalah sepasukan tentara Kin yang telah mendapat khabar dari para penyelidik dan pengkhianat bahwa di hutan itulah isteri dan kawan-kawan Go Sik An bersembunyi.
Pasukan ini lalu membawa anjing pemburu dan mereka memeriksa hutan ini dengan maksud mencari dan membasmi kawan-kawan Go Sik An yang dianggap berbahaya dan mempunyai maksud memberontak terhadap pemerintah baru.
Sampai matahari telah naik tinggi, mereka masuk ke dalam hutan dan memeriksa ke sana ke mari, akan tetapi mereka tidak menemukan orang-orang yang dicari, bahkan tidak nampak bekas bekas mereka, anjing-anjing yang mereka bawa tidak menemukan seorang manusia, bahkan lalu mengejar kelinci dan babi hutan.
Mereka mendapatkan sebuah kuil tua di dalam hutan itu dan beramai-ramai pasukan Kin yang sudah lelah ini masuk ke dalam kuil.
Mereka memeriksa dengan teliti, akan tetapi melihat sarang laba laba yang memenuhi lantai, mereka dapat menduga bahwa kuil ini sudah lama dikosongkan orang.
Seorang di antara mereka sambil tertawa-tawa mendorong roboh sebuah patung Buddha yang gemuk sehingga patung itu berguling dan pecah bagian kepalanya.
"Jangan main-main di tempat ini!"
Tegur seorang kawannya.
"Jangan-jangan roh yang menjadi penghuni patung itu akan marah."
Kawannya tertawa dan menghina, lalu menghampiri patung batu berbentuk singa yang amat besar, ia mendorong singa singaan batu itu sekuat tenaga, akan tetapi jangankan terguling, bergerakpun tidak!
Kawan-kawannya mentertawainya sehingga orang itu nenjadi marah dan menantang.
"Coba kalian mendorongnya. Kalau ada yang kuat mendorong roboh singa batu ini, biar kuberikan gajiku sepekan kepadanya!"
Kawan-kawannya tentu saja segera maju dan bergiliran mendorong singa batu itu, akan tetapi tetap saja tidak bergoyang sedikitpun juga!
Mereka bahkan mulai beramai-ramai mendorongnya, akan tetapi biarpun sepuluh orang mendorong berbareng, singa batu itu tidak bergerak sedikitpun.
Suara mereka menarik perhatian para komandan pasukan yang beristirahat di bagian lain.
Tiga orang di antara para perwira Kin ini datang menghampiri mereka.
"Ada apa ribut-ribut ini?"
Tanya seorang perwira yang bertubuh tinggi besar dan bercambang bauk.
Dia bernama Liang Kui dan berjaluk San mo (Setan Gunung), tenaganya amat besar dau di dalam pertempuran ia amat terkenal kegagahannya, sedangkan senjatanya, sepasang golok besar yang amat ditakuti orang.
"Liang Ciangkun (perwira Liang), singa batu ini luar biasa beratnya dan karena menghalangi pintu, kami mencoba mendorongnya. Akan tetapi sepuluh orang masih belum kuat menggoyangnya!"
Kata seorang perajurit. Liang Kui yang berasal dari sebuah dusun di sebelah utara kota Peking, tertawa bergelak. Dengan ujung kakinya ia menggoyang singa batu itu, kemudian berkata.
"Apa sih beratnya benda macam ini?"
Setelah berkata demikian, Liang Kui lalu membungkuk, memegang singa batu itu dengan kedua tangan dan sekali ia mengerahkan tenaga, singa batu itu telah diangkatnya di atas kepala!
Tentu saja semua perajurit menjadi kagum sekali dan sorak-sorai serta tepuk tangan riuh memenuhi kuil itu, bahkan bergema sampai di tempat jauh dalam hutan itu.
Liang Kui menaruhkan singa batu itu di tempat lain dan ternyata ia bernapas biasa saja, hanya mukanya yang menjadi agak merah tanda bahwa ia hanya mengeluarkan tenaga setengah bagian saja!
Liang Kui dan dua orang kawannya melangkah masuk ke dalam kamar yang pintunya terjaga oleh singa batu tadi.
Baru saja mereka melangkah, tiba-tiba Liang Kui berseru keras.
"Awas!"
Terdengar suara berkeretak dan ternyata bahwa tiang besar yang menyangga atap telah patah!
Berbahaya sekali keadaan mereka dan beberapa orang perajurit yang berada disitu menjadi panik karena kalau atap itu runtuh, maka balok balok besar akan menimpa mereka dari atas!
"Tenang!"
Tiba-tiba seorang kawan Liang Kui yang bertubuh gemuk pendek berseru dan melompat maju.
Cepat bagaikan ular menyambar tidak sesuai dengan gemuknya, kedua tangannya menangkap tiang yang patah tadi dan lalu mengganjal tiang itu dengan pundaknya!
Ternyata bahwa tiang tadi memang sudah retak dan agaknya singa batu yang diangkat oleh Liang Kui tadi memang sengaja ditaruh di dekat pintu untuk menahan tiang yang sudah retak.
Setelah singa batu dipindahkan tiang itu tidak kuat lagi dan patah...
Harus dipuji ketangkasan dan kekuatan luar biasa dari si gemuk pendek itu.
Baru saja masuk pintu dan melihat tiang patah, itu dapat melompat cepat keluar dan menahan tiang itu dengan pundaknya dan nampaknya ringan saja.
Kembali terdengar sorak-sorai pujian para perajurit yang mengagumi ilmu kepandaian dari perwira ini.
Perwira gemuk pendek ini bernama Kwa Sun Ok, bekas perwira dari kerajaan lama yang telah kalah oleh bala tentara Kin dan kini menjadi perwira pemerintah baru.
Kwa Sun Ok adalah seorang ahli silat keturunan Go-bi-pai, dan selain memiliki ilmu silat toya yang amat kuat, iapun terkenal sebagai seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga luar biasa.
"Hayo ambil balok balok penahan atap jangan bertepuk tangan saja!"
Si gemuk pendek itu menegur.
"Apa kau kira selama hidup aku harus menjadi pengganti tiang di kuil ini?"
Barulah para perajurit itu tergopoh gopoh mencari balok balok yang terdapat di luar kuil bahkan ada beberapa orang yang sengaja menebang pohon untuk dipergunakan sebagai penahan atap.
Setelah tiang itu dibantu oleh beberapa batang balok besar, barulah Kwa Sun Ok terlepas dari tugasnya yang tidak ringan itu.
Memang di dalam pasukan Kin banyak terdapat orang-orang pandai, tidak saja dari suku suku bangsa di daerah utara, bahkan banyak sekali orang-orang Kang ouw.
Bangsa Han yang tempat tinggalnya sudah diduduki, lalu berbalik menjadi kaki tangan mereka.
Tentu saja mereka ini adalah orang-orang yang beriman lemah dan tidak tahan menghadapi bujukan manis dan matanya silau melihat mengkilapnya emas dan perak.
Setelah beristirahat, pasukan Kin ini lalu meninggalkan hutan untuk kembali ke kota Kaifeng dengan tangan hampa.
Baru saja mereka keluar dari hutan, seorang demi seorang berkelebatlah bayangan tujuh orang melompat turun dari tempat persembunyian mereka, yakni di atas pohon-pohon besar.
Oleh kareua itulah maka anjing-anjing pemburu tidak dapat mencium bau manusia dan pasukan Kin tidak melihat mereka.
Orang yang bersembunyi di atas pohon terdekat dengan kuil itu, adalah seorang wanita muda yang cantik dan yang menggendong seorang anak laki-laki berusia tiga tahun lebih.
Anak ini diikat erat-erat di punggungnya dan mulut anak inipun diikat dengan sehelai saputangan!
Selain wanita muda ini, terdapat pula seorang kakek yang memakai topi petani yang sederhana.
Dengan gerakan amat ringan, wania muda ini melompat turun dari atas pohon dan berlari masuk ke dalam kuil.
Juga kakek itu dengan gerakan lebih gesit dan ringan lagi, melompat turun dan menyusul wanita tadi.
Kemudian berturut turut datanglah lima orang kawan mereka yang kesemuanya laki-laki setengah tua dan berkepandaian silat tinggi, terbukti dari cara mereka melompat turun dari tempat persembunyian masing-masing.
Dengan diam-diam mereka masuk ke dalam kuil dan memandang ke arah singa batu yang sudah pindah tempat dan atap yang kini tersangga oleh balok balok itu "Banyak terdapat orang lihai diantara mereka!"
Kata kakek petani itu sambil menarik napas panjang.
"Kecil sekali harapannya untuk dapat menolong mantuku."
Wanita muda yang menggendong anak itu makin muram wajahnya dan terdengar ia menahan isak. Lima orang laki-laki yang berkumpul di situ memandang dengan terharu.
"Betapapun juga, Ceng ji (anak Ceng), kau harus dapat menghibur hatimu dengan perasaan bangga bahwa suamimu adalah seorang pahlawan sejati yang takkan pernah lenyap namanya selama dunia berkembang. Tidak kecewa kau menjadi isterinya dan tidak malu pula Ciang Le menjadi puteranya. Akupun bangga bisa menjadi mertuanya. Pula, belum tentu kita takkan dapat menolongnya. Biarpun sukar, selalu masih ada harapan. Besok kalau hukuman itu dijalankan, kita menyerbu dari empat jurusan, mengacaukan pertahanan dan aku sendiri yang akan menolong mantuku."
"Tidak, ayah, menolong dia adalah kewajiban dan bagianku. Ayah dan kawan-kawan menahan serangan penjaga dan biarkan aku yang pergi menolongnya. Untuk keperluan itu. lebih baik besok kita tinggalkan Le ji (anak Le) di kamar ini lebih dulu agar ia tidak terancam bahaya. Andaikan kita gagal dan tewas""
Nyonya muda itu menahan napas dan menggigit bibirnya.
"Tentu ada seorang di antara kita yang dapat lolos dan aku mengharap dengan sangat kepada orang yang dapat lolos itu, sudilah kiranya ingat kepada anakku dan suka memeliharanya baik-baik,"
Dengan air mata berlinang diantara bulu matanya, nyonya itu memandang sayu kepada lima orang yang berdiri di hadapannya.
Lima orang setengah tua yang bersikap gagah itu semua tak dapat menahan pandang mata ini dan memalingkan atau menundukkan muka.
"Jangan khawatir, toanio. Kita adalah orang-orang sendiri dan siapakah yang tidak bersedia menolong putera dari Go-Siucai, seorang hohan (pahlawan) yang gagah perkasa? Tak perlu kita berputus asa, belum tentu kita akan gagal,"
Kata seorang diantara mereka.
Dari percakapan di atas tentu dapat diduga siapa adanya tujuh orang dan seorang anak laki-laki itu.
Kakek petani itu adalah mertua dari Go Sik An yang bernama Tan Seng, seorang tokoh Hoa-san-pai.
Ilmu silatnya tinggi dan ia terkenal sebagai seorang berhati mulia dan berjiwa pendekar.
Setelah tua, ia hidup sebagai seorang petani di luar kota Kaifeng, tidak suka menjadi beban mantunya yang kaya.
la merasa bebas dan senang hidup seorang diri, karena isterinya sudah meninggal dunia dan melakukan pekerjaan tani.
Hanya kadang-kadang saja ia mengunjungi puterinya yang menjadi isteri Go Sik An.
Wanita muda itu adalah Tan Ceng atau nyonya Go, yang mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai dari ayahnya, sedangkan anak yang digendongnya adalah Go Ciang Le, putera tunggal dari Go Sik An.
Lima orang itu adalah kawan-kawan mereka, kawan-kawan seperjuangan yang bersama-sama dengan amat gigihnya melakukan perlawanan terhadap bala tentara Kin.
Mereka ini juga pendekar pendekar kang ouw yang budiman dan berjiwa patriot dan juga mereka adalah murid-murid terkenal dari cabang persilatan Hoa-san-pai, masih terhitung murid-murid keponakan dari Tan Seng.
"Liang Ti, kau dan sute sutemu pergilah melakukan penyelidikan di benteng. Mereka tidak mengenal kalian akan tetapi berlakulah hati-hati agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan dari fihak penjaga. Kami menanti di sini."
Kata Tan Seng kepada seorang diantara mereka.
"Baik, susiok (paman guru)."
Jawab Liang Ti yang paling tua di antara lima tokoh Hoa san ini.
Kemudian mereka keluar dari kuil untuk melakukan tugas menyelidiki keadaan.
Go Sik An yang ditahan di dalam penjara yang gentengnya nampak dari luar tembok benteng.
Sepeninggal mereka ini, Tan Seng dan puterinya duduk di dalam kuil dengan hati gelisah dan wajah muram.
Betapa mereka tidak bersedih dan gelisah kalau mengingat bahwa Go Sik An akan dijatuhi hukuman gantung di luar tembok benteng pada hari esok.
Beberapa kali terdengar Tan Ceng menahan isak, disusul oleh kata-kata hiburan dari ayahnya, dengan suaranya yang besar dan parau.
Kadang-kadang terdengar tangis anak-anak, yakni tangis Ciang Le yang disusul oleh suara hiburan ibunya.
Akan tetapi kedua orang ini sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pembesar pembesar militer Kin berlaku amat curang dan licik.
Setelah mereka menanti sampai malam tiba, terdengarlah suara kaki orang dari luar dan Liang Ti masuk ke dalam kuil napasnya memburu dan wajahnya pucat sekali.
"Suheng, apa yang terjadi?"
Tanya Tan Ceng dengan penuh kekhawatiran sambil mendekap anaknya. Liang Ti tidak dapat menjawab, bahkan lalu menggeleng-geleng kepala dan menjatuhkan diri duduk di atas lantai denpan mata basah.
"Liang Ti, tenanglah dan ceritakan apa yang telah terjadi? Di mana adanya kawan-kawanmu?"
Tanya Tan Seng ang lebih tenang biarpun hatinya juga diliputi kekhawatiran besar.
"Ce"
Celaka, susiok"
Go-Siucai (orang terpelajar Go) telah"
Telah... dibunuh...!"
Biarpun Liang Ji seorang ahli silat gagah perkasa, pada saat itu ia bicara dengan gagap karena sedih dan bingungnya.
Terdengar Tan Ceng menjerit sambil mendekap kepala anaknya, lalu nyonya muda ini menangis tersedu sedu, berbisik-bisik memanggil nama suaminya.
Tan Seng berdiri mengepal tinju, sepasang matanya memancarkan cahaya merah, seluruh urat tubuhnya menegang.
"Ceritakan apa yang kau lihat,"
Perintahnya kepada Liang Ti.
"Ketika teecu (murid) berlima melakukan penyelidikan, tidak nampak sesuatu yang aneh, juga tidak terdengar berita lain. Keadaan biasa saja, hanya kota menjadi makin sunyi seakan-akan semua orang menyatakan ikut berduka dengan nasib Go-Siucai. Berita yang tersiar tetap menyatakan bahwa besok pagi-pagi baru akan dilakukan hukuman itu. Akan tetapi ketika teecu pergi ke belakang tembok benteng di mana genteng penjara kelihatan, teecu melihat... Go-Siucai telah digantung. Jahanam-jahanam terkutuk benar mereka itu!"
Kembali Tan Ceng menjerit perlahan, disusul oleh elahan napas panjang Tan Seng.
"Kuatkan hatimu, Ceng ji. Suamimu telah tewas sebagai seorang pahlawan besar "
"Ayah... aku harus merampas jenazahnya agar dapat dikubur baik-baik."
Nyonya muda itu akhirnya dapat berkata sambil mendekap kepala anaknya yang sudah tidur.
"Tentu saja, Ceng Ji. Dan hal itu lebih baik dilakukan malam ini juga agar besok pagi jenazah suamimu tidak dijadikan tontonan orang. Liang Ti, dimana kawan-kawanmu?"
"Mereka masih teecu suruh mengintai di dekat tempat itu, susiok. Teecu merasa curiga kalau kalau perbuatan mereka itu sengaja untuk menjebak kita."
Tan Seng mengangguk-angguk.
"Memang, kita harus berlaku hati-hati, Ceng ji. Mari kita berangkat sekarang juga. Tidurkan anakmu di dalam kamar singa (kamar di mana terdapat singa batu di depannya), akan tetapi kau harus cancang dia, takut kalau kalau dia akan pergi keluar."
Tan Ceng lalu membawa puterunya ke dalam kamar kuil dan tak lama kemudian nyonya muda ini sudah keluar.
Kini ia mengenakan pakaian ringkas dan gagang pedangnya nampak tersembul di belakang pundaknya.
Wajahnya agak pucat, akan tetapi tidak mengurangi kecantikannya dan nampak amat gagah.
Hati Tan Seng serasa luluh ketika ia melihat puterinya dengan terharu.
Baru lima tahun puterinya berumah tangga dan sekarang sudah ditinggalkan suami dalam keadaan yang demikian menyedihkan.
Berangkatlah mereka bertiga, Tan Seng, Tan Ceng dan Liang Ti menuju ke kota Kaifeng.
Malam itu bulan sepotong bersinar terang karena langit amat bersih.
Beberapa buah bintang yang letaknya tidak terlalu dekat dengan bulan bermain mata dengan bintang bintang lain.
Malam itu memang menyeramkan.
Tidak saja karena cahaya bulan yang redup itu mendatangkan bayang bayang yang aneh dan ganjil Juga kesunyian yang memekik itu mendatangkan perasaan serem, seakan-akan kesunyian itu membisikkan sesuatu tentang maut.
Semua orang di kota Kaifeng, telah menutup pintu jendela, dan telah meniup padam api penerangan di dalam rumah.
Di jalan jalan tidak kelihatan seorangpun penduduk, kecuali beberapa orang tentara roboh yang bernyanyi nyanyi tidak karuan tentang perempum molek dengan kata-kata yang kotor dan tidak sopan.
Setelah beberapa orang pemabok itu lenyap di balik tembok benteng, kembali keadaan kota sunyi sepi.
Akan tetapi, jauh dari luar kota, terdengar sayup sampai suara nyanyian yang dinyanyikan oleh suara laki-laki yang besar dan parau.
Nyanyian ini terdengar dari dalam hutan dan siapa yang mendengarnya tentu akan menjadi makin serem!
Diantara suara yang parau ini terdengar isak seperti orang menangis, akan tetapi harus diakui bahwa nyanyian itu dinyanyikan dengan semangat yang gagah.
Apa lagi kalau orang melihat penyanyinya, seorang kakek tua berpakaian petani yang berjalan keluar dari hutan bersama seorang setengah tua dan seorang nyonya muda yang menangis perlahan lahan di sepanjang jalan.
Kaifeng, kotaku kampung halamanku Betapa buruk nasibmu Srigala buas masuk menyerbu Mencemarkan bumi dan airmu, Ah, Kaifeng!
Aku rela berjuang sampai tewas Untuk membelamu dari cengkeraman srigala buas Kaifeng, tanah tumpah darah, sumber hidupku Nyawa masih terlalu kecil untuk balas jasamu!
Syair ini adalah karangan dari Go Sik An yang tersebar luas di kalangan pejuang.
Go Sik An banyak membuat syair syair perjuangan yang amat disuka dan sekarang dengan suara lantang.
Tan Seng, mertuanya sendiri berjalan sambil menyanyikan lagu kegemarannya ini.
Orang-orang penduduk kota Kaifeng yang sudah bersembunyi di dalam kamar masing-masing, ketika mendengar nyanyian ini, mau tiduk mau menitikkan air mata.
Mereka merasa terharu dan sedih, akan tetapi sekali lagi, apakah daya mereka?
Setelah tiba di dekat benteng, Tan Seng dan puteri serta murid keponakannya, berjalan dengan hati-hati dan tidak mengeluarkan suara.
Mereka bertiga mempergunakan ginkang dan berlari seperti terbang cepatnya tanpa mengeluarkan sedikitpun suara berisik.
Setelah melalui beberapa tempat penjagaan tanpa diketahui oleh penjaga-penjaga, sampailah mereka di luar tembok benteng di mana kelihatan genteng dari bangunan rumah penjara.
Dan jauh mereka telah disambut oleh empat orang kawan yang bertugas mengintai di situ.
"Teecu merasa curiga, susiok,"
Kata seorang diantara mereka.
"Tempat ini terlampau sunyi. Biarpun teecu tidak mendengar gerakan orang dan tidak melihat bayangan, akan tetapi teecu merasa yakin bahwa di tempat tempat tersembunyi pasti ada musuh-musuh berjaga."
Tan Seng mengangguk-angguk dan dengan berindap indap mereka lalu menuju ke tempat di mana menurut lima orang tadi tergantung tubuh Go Sik An.
Hati Tan Ceng berdebar-debar dan bibirnya gemetar, kedua kakinya lemas.
Ketika mereka tiba di dekat tembok benteng, tiba-tiba Tan Ceng menahan jerit isaknya.
"Ayah...!"
Keluhnya sambil menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah tembok benteng.
Kemudian nyonya ini hendak melompat dan lari menghampiri tubuh yang tergantung di dekat tembok itu, akan tetapi ayahnya cepat memegang lengannya.
"Sabar, Ceng ji. Kuatkan hatimu!"
Bisik Tan Seng dengan suara perlahan dan menggetar.
Hatinya juga tertusuk sekali menyaksikan pemandangan yang amat menyedihkan.
Tubuh Go Sik An nampak tergantung lehernya di tiang penggantungan yang dipasang di atas tembok.
Tak salah lagi, Go Sik An yang digantung itu.
Pakaiannya masih seperti ketika ia ditangkap, yakni baju berkembang dengan dasar warna kuning dan kembang kembangnya berwarna merah!
"Ayah, birkan aku mengambil jenazahnya.
Tidak kuat hatiku melihat dia tergantung seperti itu!"
Tan Ceng meronta ronta dalam pegangan ayahnya.
"Tentu saja, akan tetapi kita harus berhati-hati"
Kata ayahnya. Kemudian tokoh Hoa-san-pai ini lalu berkata kepada Ling Ti.
"Awas kalian berlima jagalah sambil berpencar, mengurung tiang gantungan itu sementara aku dan Ceng ji mencoba untuk menurunkan jenazah mantuku."
Setelah bersiap sedia dan melihat keadaan tetap sunyi saja, melompatlah Tan Ceng dan ayahnya.
Dengan dua kali lompatan saja mereka telah tiba di bawah tiang gantungan Tan Ceng tidak dapat menahan hatinya lagi.
Melihat betapa suaminya telah tergantung di situ dalam keadaan tak bernyawa lagi, ia lalu mencabut pedangnya dan sekali melompat saja ia telah dapat bergantung pada besi gantungan di atas.
Ia bergantung di situ dengan tangan kirinya dan sebelum ia mengayun pedangnya untuk memutuskan tali yang menjirat suaminya, tiba-tiba banyak sinar hitam menyambar ke arahnya.
"Ceng ji, awas! Lompat turun!"
Ayahnya berseru kaget.
Akan tetapi Tan Ceng tidak mau turun.
Ia tidak takut segala dalam keadaan seperti itu.
Ia mencoba untuk mengayun pedangnya, di sekeliling tubuhnya dan berusaha menangkis semua senjata rahasia yang menyambar ke arahnya.
Terdengar bunyi nyaring berkali kali dan banyak senjata rahasia piauw, anak panah, pelor besi dan jarum terpental oleh tangkisan pedangnya.
Akan tetapi senjata rahasia yang menyambar ke arahnya, ternyata banyak sekali dan rata-rata disambitkan oleh tangan yang ahli.
Tiba-tiba nyonya muda itu mengeluh dan tangan kirinya yang bergantung kepada besi gantungan itu terlepas.
Nyonya ini merasa tangannya sakit sekali karena sebatang piauw hitam telah menancapp di dekat nadi tangannya.
Akan tetapi ia masih dapat dengan cepat sekali menyambit tubuh suaminya dan tangan kirinya itu kini memeluk pinggang mayat suaminya.
"Suamiku...!"
Keluhnya dengan ratap tangis ketika ia merasa betapa tubuh itu dingin, dan kaku.
"Ceng ji...!"
Terdengar ayahnya berseru keras.
Tan Seng yang melihat anaknya terluka, menjadi marah sekali.
Pada saat itu, dari balik tembok dan diri belakang pohon berlompatan keluar belasan bayangan orang yang memegang senjata.
"Bagus, kalian datang mengantar nyawa seperti kelinci kelinci masuk perangkap. Ha-ha-ha!"
Terdengar suara ketawa seorang tinggi besar yang segera menyerbu ke arah Tan Seng dan dengan sepasang goloknya yang besar, orang tinggi besar ini menyerang kakek itu.
"San mo Liong Kui, pengkhianat keji!"
Tan Seng berseru keras dan ketika lengan bajunya yang panjang bergerak, angin besar menyambar ke arah Liong Kui Si Setan Gunung.
Inilah pukulan yang lihai dari ilmu silat tangan kosong Hoa-san-pai yang disebut Ngo heng cio hwat.
Baru angin pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan seorang lawan.
San mo Liong Kui bukanlah seorang lemah.
Ilmu silatnya sudah termasuk tingkat tinggi.
Akan tetapi menghadapi Ilmu Pukulan Ngo heng cio hwat yang lihai ini ia menjadi gentar juga.
Angin pukulan itu telah membuat ia merasa dadanya tergetar, maka ia lalu mundur kembali untuk menanti kawan-kawannya dan hendak maju bersama.
Pada saat itu, Tan Ceng telah dapat menggerakkan tangan kanannya ke atas dan meraih tali penggantung setelah menggigit pedangnya.
Kemudian, kembali tangan kirinya yang terluka itu telah memegang besi gantungan dan secepat kilat pedangnya di gerakkan oleh tangan kanannya ke arah tali penjirat leher suaminya.
Akan tetapi pada saat itu, beberapa orang pengawal yang berkepandaian tinggi menyerbunya dan baru saja tubuhnya bersama mayat suaminya jatuh ke bawah, tiga batang golok menyambar ke arahnya dengan gerakan yang amat berbahaya, Tan Seng melihat puterinya terancam bahaya, hendak menolong, akan tetapi Liong Kui yang kini telah dibantu oleh Kwa Sun Ok dan dan lain perwira-perwira kosen telah maju mengurungnya dengan hebat.
Sementara itu, murid-murid keponakan dari Tan Seng, yakni Liang Ti dan empat orang adik seperguruannya, begitu melihat munculnya para perwira musuh, segera maju menyerbu.
Tiga orang membantu paman guru mereka adapun Liang Ti dan seorang adiknya membantu Tan Ceng yang berada dalam keadaan berbahaya sekali.
Akan tetapi kedatangan Liang Ti dan kawan-kawannya terlambat.
Ketika tadi nyonya muda itu bersama mayat suaminya jatuh ke bawah, tiga batang golok yang menyambar ke arahnya itu masih dapat ditangkis oleh pedangnya.
Namun bagaimana nyonya muda ini dapat bergerak dengan lincah setelah ia jatuh bersama suaminya dan dalam keadaan hati remuk, dan pikiran bingung melihat keadaan suami nya?
Kembali golok golok musuh menyerang dengan ilmu silat yang tidak rendah Tan Ceng masih berusaha untuk mengelak dan menangkis akan tetapi kembali sebatang piauw menyerangnya dari belakang dan menancap pada punggungnya tanpa dapat dicegah lagi.
Ia menjerit dan roboh, dihujani serangan tiga golok tajam.
Tentu tubuhnya akan menjadi hancur kalau saja pada saat itu Liang Ti dan adiknya tidak keburu datang dan menyerang tiga orang itu.
Pertempuran berjalan seru sekali.
Tan Ceng tak dapat bangun lagi.
Punggungnya terluka oleh piauw beracun, demikian pula tangan kirinya dan di dalam serangan tadi, ia telah mendapat bacokan pula pada lambungnya.
Dengan mandi darah dan keadaan payah, nyonya muda ini merangkak rangkak ke arah mayat suaminya yang jatuh beberapa kaki dari tempat dia rebah.
"Suamiku"
Tunggulah Ceng Ceng..."
Bisiknya setelah ia dapat meraba kepala suaminya.
Matanya menjadi gelap dan ia merebahkan pipinya di atas mayat suaminya yang telentang.
Kemudian ia menjadi pingsan di atas dada mayat suaminya!
Tan Seng yang diam-diam memperhatikan keadaan puterinya, menjadi sedih dan marah sekali melihat keadaan Tan Ceng.
Disangkanya bahwa anaknya itu tentu telah tewas, maka matanya menjadi gelap.
"Keparat keji kalian ini! Aku Tan Seng akan mengadu nyawa dengan kalian!"
Setelah berkata demikian, kakek yang sakti ini lalu mengamuk.
Kedua ujung lengan bajanya merupakan senjata yang amat ampuh dan lihai!
Dalam beberapa belas gebrakan saja robohlah dua orang perwira dengan kepala pecah dan otak berhamburan terkena sambaran ujung lengan baju.
Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat maju menghampiri puterinya oleh karena Liong Kui dan Kwa Sun Ok dibantu oleh banyak perwira lagi, masih mengurungnya rapat rapat dan tidak memberi kesempatan kepada kakek lihai ini untuk keluar dari kepungan.
Adapun Liang Ti dan empat orang saudaranya yang bertempur melawan keroyokan lain perwira, juga memperlihatkan kepandaian mereka.
Namun fihak perwira makin lama makin banyak jumlahnya sehingga kini selaruh pengeroyok yang berada di tempat itu lebih dari dua puluh orang!
Dan diantara para pengengeroyok itu tidak semua berpakaian seperti perwira.
Enam orang di antara mereka adalah orang-orang berpakaian biasa, bahkan di antaranya terdapat searang wanita yang bertubuh tegap dan besar, bermuka cukup manis dan mainkan sebatang golok besar pula.
Wanita ini memiliki ilmu golok yang lihai sekali.
Siapakah mereka ini?
Bukan lain mereka adalah orang-orang kang ouw yang termasuk golongan penjilat.
Begitu melihat bala tentara Kin mendapat kemenangan, mereka ini buru-buru datang menyatakan kesanggupan mereka untuk membantu pemerintah baru.
Wanita itu adalah seorang wanita sakti yang telah lama terkenal sebagai seorang tokoh hek-to (jalan hitam) dan karena ia merasa bahwa dirinya dimusuhi oleh banyak orang gagah, maka ia lalu mencari tempat perlindungan yang kuat pada benteng pasukan Kin.
Tentu saja orang-orang seperti ini diterima baik oleh komandan pasukan pasukan Kin, karena mereka maklum bahwa mereka menghadapi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh banyak ahli ahli silat yang lihai.
Melihat betapa fihaknya terancam bahaya, Tan Seng menjadi khawatir juga.
Kalau sampai semua orang tewas dalam keroyokan itu, bukankah itu kerarti pengorbanan sia sia belaka?
Lebih baik menyelamatkan mayat mantunya dan tubuh puterinya yang terluka atau tewas itu, lalu mengajak murid-murid keponakannya melarikan diri!
Pikiran seperti ini ternyata juga timbul dalam otak Liang Ti.
Ia berseru kepada empat orang saudaranya.
"Kalian membantu sosiok membawa pergi sumoi dan mayat suaminya. Biar aku menahan anjing-anjing busuk ini!"
Setelah berkata demikian, Liang Ti lalu memutar pedangya dan mainkan Hoa san kiam hwat yang paling lihai.
Pedang itu merupakan sinar putih bergulung gulung melagukan serangan serangan nekat ke arah para pengeroyokannya dan kenekatannya ini ternyata berhasil ketika seorang pengeroyok menggelundung dengan leher hampir putus!
Marahlah Coa Kim Kiok, wanita tegap itu melihat orang yang terbunuh oleh pedang di tangan Liang Ti, karena orang itu adalah seorang kekasihnya.
Ia mengangkat goloknya dan menyerang sambil memaki-maki, dibantu pula oleh empat orang kawannya.
Akan tetapi Liang Ti tidak menjadi jerih, bahkan mengamuk hebat sekali berkali kali menyuruh saudara-saudaranya cepat membantu sosiok mereka menolong Tan Ceng dan mayat suaminya.
Tan Seng mengerti akan maksud Liang Ti dan diam-diam ia menjadi amat terharu.
Murid keponakannya itu ternyata hendak mengorbankan dirinya untuk memberi kesempatan kepada yang lain lain, agar supaya dapat melarikan diri dan menolong Tan Ceng.
Iapun lalu berseru keras dan tubuhnya berkelebat cepat kearah Go Sik An.
Beberapa orang perwira mengejarnya, akan tetapi empat orang murid keponakannya cepat menghadang mereka dan sebentar saja empat orang ini di kurung hebat.
Dua orang adik seperguruan dari Liang Ti tak dapat menahan serangan fihak lawan yang banyak ini dan robohlah mereka ini.
Tan Seng, makin bingung dan pada saat itu Tan Ceng siuman dari pingsannya.
Wanita ini dengan amat lemah menggerakkan kepalanya, lalu membuka matanya.
Melihat betapa ayahnya dikeroyok hebat dan dua orang suhengnya tewas, timbul tenaga dan semangat baru dalam dirinya.
Serentak ia melompat berdiri dan dengan pedang ditangan ia menerjang maju pula.
Bukan main hebatnya nyonya muda ini.
Mukanya telah menjadi kehitaman karena pengaruh racun yang telah menjalar di dalam tubuhnya dan luka di lambungnya mengeluarkan banyak darah.
Akan tetapi rasa sakit hati melihat suamiya dan khawatir melihat ayahnya dan suheng suhengnya, telah mendatangkan kekuatan baru yang ajaib.
Tenaganya menjadi berlipat ganda dan gerakannya cepat dan kuat.
Ia menyerang dengan nekat, dan sebentar saja merobohkan tiga rang musuh!
Melihat sepak terjang nyonya muda ini, para pengeroyok menjadi jerih juga.
Akan tetapi, akhirnya pengaruh racun dan kekurangan darah membuat Tan Ceng roboh lagi tanpa tersentuh senjata lawan.
Ia roboh sambil berseru nyaring kepada ayahnya yang masih melayani keroyokan lawan.
"Ayah... aku minta agar supaya Le ji (anak Le) selamanya mengenakan hwa i (baju kembang) ayahnya agar rohku dapat mengenalnya di mana-mana!"
Setelah berkata demikian, nyonya ini lalu merangkak kedekat suaminya yang memakai baju kembang dan...
menghembuskan napas terakhir di atas dada mayat suaminya.
Tan Seng tentu saja tidak tahu bahwa puterinya telah tewas, akan tetapi kata-kata ini membuat ia menahan sedu sedan yang naik ke lehernya.
Ia tahu bahwa mantunya semenjak masa kanak kanaknya paling suka mengenakan baju kembang, bahkan setelah menikah selalu memakai baju berkembang.
Agaknya karena pikiran Tan Ceng penuh dengan bayangan suaminya dan penuh kesedihan, maka ia berkata demikian, pikir kakek ini, sama sekali tidak mengira bahwa puterinya itu telah mati dan bahwa kata-kata tadi merupakan pesan terakhir!
Kembali dua orang murid keponakannya roboh binasa.
Tan Seng cepat mendekati Liang Ti yang masih mengamuk bagai seekor naga terluka.
Orang inipun telah menderita banyak luka sehingga bajunya telah penuh darah, tangan kirinya hampir putus di bagian siku, akan tetapi dengan penuh kegeraman, Leng Ti masih mengamuk terus dan pedangnya menyambar nyambar hebat, masih banyak merobohkan pengeroyok!
Tan Seng yang melihat hal ini, mengambil keputusan nekad untuk bertempur sampai akhir.
Biarlah kita mati semua asalkan dapat membunuh sebanyak banyaknya, demikian pikir kakek yang gagah ini.
Akan tetapi tiba-tiba Liang Ti berseru.
"Susiok, semua sudah tewas, tinggal kita berdua. Larilah kau, biar teecu menahan tikus tikus ini."
"Enak saja kau bicara. Liang Ti! kau kira aku takut menghadapi maut?"
Kata Tan Seng sambil memutar ujung lengan bajunya.
Juga dia sekarang dapat melihat bahwa Tan Ceng sudah meninggal, hal itu mudah dilihat dari wajah anaknya itu yang menjadi kebiruan dan matanya yang setengah terbuka tanpa bergerak.
"Bukan begitu, susiok. kau harus hidup untuk merawat cucumu dan juga... jangan lupakan anak isteriku!"
Baru saja mulutnya tertutup, tiba-tiba Liang Ti mengeluh ngeri dan tubuhnya terkulai.
Dadanya terpanggang oleh pedang musuh yang tak kenal ampun.Tan Se ng merasa hatinya hancur luluh, ia kagum dan terharu melihat betapa Liang Ti telah mengorbankan diri sedangkan di rumahnya masih ada anak isterinya!
Ah, Liang Ti hanya seorang diantara sekian banyak pahlawan pahlawan bangsa.
Kini semua pengeroyok mengepung Tan Seng sambil bersorak sorak karena hanya tinggal kakek ini seorang yang belum roboh.
Tan Seng hendak berlaku nekad, akan tetapi kata-kata Liang Ti berdengung di dalam telinganya.
Aku harus hidup, pikirnya.
Aku harus hidup demi kebaikan cucuku dan juga demi keluarga Liang Ti!
Aku harus dapat melarikan diri!
Tiba-tiba para pengeroyok menjadi kacau balau.
Entah apa sebabnya, mereka jatuh bangun dan dibagian luar kepungan, banyak perwira roboh sambil memekik kesakitan.
Tan Seng melihat sinar keemasan berkelebat ke sana ke mari tanpa terlihat orangnya dan hampir saja ia tidak percaya kepada pandangan matanya sendiri.
Dia adalah seorang tokoh dari Hoa-san-pai telah memiliki kepandaian tinggi, bagaimana ia sampai tidak dapat melihat gerakan orang?
Benar-benarkah seorang manusia yang sedang mengamuk, dan membantunya itu?
Belum pernah selama hidupnya ia melihat gerakan pedang yang dapat menjadi satu dengan bayangan orangnya sehingga orang itu sendiri terbungkus sama sekali oleh gundukan sinar pedang!
"Tan Lo-Enghiong, tidak lekas lari mau tunggu kapan lagi?"
Terdengar suara yang nyaring dari dalam gundukan sinar pedang itu.
Barulah Tan Seng teringat.
Ketika ia hendak mencari mayat mantunya dan mayat anaknya, ia menjadi terkejut melihat sinar pedang keemasan itu menyambar ke arah kedua mayat itu dan tiba-tiba kedua mayat itu terangkat ke atas dengan cepatnya bagaikan terbang.
"Tan Lo-Enghiong kalau hendak mencari jenazah orang-orang gagah, harus pergi ke Guha Makam Pahlawan!"
Terdengar lagi orang aneh itu berkata.
Para pengeroyok telah berlari cerai berai setelah dihajar oleh sinar pedang keemasan itu, maka ketika Tan Seng melihat dua mayat itu lenyap dibawa lari oleh orang aneh itu, iapun segera menyambar mayat Liang Ti dan seorang murid keponakan lagi.
Lalu berlarilah kakek ini keluar dari tempat itu memasuki hutan.
Malam itu juga ia mengubur mayat Liang Ti dan seorang adik seperguruannya.
Kemudian kakek ini lalu kembali ke tempat pertempuran tadi.
Ternyata bahwa mayat mayat fihak lawan telah diangkat masuk ke dalam benteng, akan tetapi mayat tiga orang murid keponakannya ditinggalkan di situ saja, bahkan telah rusak karena dihujani senjata tajam.
Dengan hati penuh dendam dan haru, kakek ini lalu mengangkat semua mayat murid keponakannya, kemudian menguburnya menjadi satu di dalam hutan itu.
Kemudian, Tan Seng cepat berlari memasuki hutan menuju ke kuil di mana cucunya ditinggalkan.
Hampir Tan Seng tak dapat menahan runtuhnya dua titik air matanya ketika ia teringat akan cucunya.
Go Ciang Le.
Anak itu telah menjadi seorang anak yatim piatu!
Dan usianya baru juga tiga tahun lebih!
Ia teringat akan pesan terakhir dari anaknya dan sedu sedan naik ke lehernya.
Bagaimana pula pesan anaknya?
Bahwa Ciang Le harus selamanya memakai Hwa I (baju berkembang), seperti ayahnya!
Dengan hati penuh keharuan, Tan Seng melompat ke dalam kuil dan terus menuju ke dalam kamar singa batu di mana Ciang Le ditidurkan oleh ibunya.
Tidak terdengar suara sesuatu.
Kasihan, anak itu masih tidur nyenyak, sama sekali tidak tahu nasib apakah yang telah menimpa diri ibunya, pikir kakek ini.
Akan tetapi setelah ia memasuki kamar, terbelalak ia memandang ke sudut kamar di mana tadi anak kecil itu tidur.
Tempat itu sekarang kosong dan tidak nampak bayangan cucunya!
"Ciang Le"!"
Tak terasa pula ia berseru keras memanggil.
Apakah anak itu berhasil melepaskan ikat pinggangnya dan ke luar dari kamar?
Kakek ini memeriksa di dalam kamar, akan tetapi tidak kelihatan ikat pinggang yang tadi diikatkan pada tiang.
Ia lalu keluar dan mencari-cari di seluruh kuil sambil berseru berulang ulang memanggil nama cucunya.
Akan tetapi sia sia belaka, tidak ada jawaban, juga tidak ada tanda tanda ke mana cucunya pergi.
"Ciang Le"!!"
Kini panggilan ini mengandung kekhawatiran besar dan terdengar menggetar.
Kakek Tan Seng benar-benar gelisah sekali.
Apakah yang telah terjadi dengan Ciang Le??
Sambil berlari ke sana kemari dan memanggil manggil nama Ciang Le, kakek ini mencari di dalam hutan, membuka rumpun dan menjenguk ke dalam jurang.
Sampai pagi hari bahkan sampai siang dan kembali senja mendatang, kakek ini masih saja mencari ke sana ke mari di dalam hutan itu seperti orang gila!
Akhirnya ia menjadi putus harapan dan menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon, menyembunyikan mukanya di atas kedua lututnya.
Ia merasa lelah sekali, lelah lahir batin, dan merasa bosan hidup di atas dunia ini.
Puterinya telah tewas, mantunya mati tergantung, dan kini cucunya, harapan satu-satunya sebagai penyambung keturunan, telah lenyap pula!
Siapakah yang begitu jahat menculik Ciang Le anak berumur tiga tahun itu?
Tiba-tiba ia teringat akan orang aneh yang telah mencuri jenazah.
Go Sik An dan Tan Ceng.
Apakah orang aneh itu pula yang mem bawa pergi Ciang Le?
Mungkin sekali.
Harapannya timbul kembali dan ia teringat pula akan pengorbanan dan pesan terakhir dari Liang Ti, murid keponakannya.
Ah, benar, ia masih mempunyai kewajiban, yakni memelihara anak dan isteri Liang Ti.
Tergopoh gopoh kakek ini lalu meninggalkan hutan dan pergi menuju ke kampung Keng an bun, sebuah kampung kecil tak jauh dari Kaifeng.
Ketika Kaisar Chin Tsung dan ayahnya.
Kaisar Hui Tsung, tertawan oleh pasukan Kin di Kaifeng, seorang pangeran berhasil melarikan diri di bawah perlindungan beberapa orang pembesar yang setia kepadanya.
Pangeran ini adalah Kao Tsung yang berhasil lari ke Propinsi Honan dan kemudian mendirikan lagi kerajaan dengan ibu kota Sang ciu di Propingi Honan.
Kemudian ia memindahkan pula ibu kota atau Kotaraja ke Hongkouw, Kerajaan Kaisar Kao Tsung ini disebut dinasti Sung selatan.
Bala tentara Kim masih saja melanjutkan serbuannya ke selatan, akan tetapi di mana-mana mereka menjumpai perlawanan yang gigih dari rakyat jelata.
Di seluruh daerah Propingi Hopei dan Sansi, rakyat membentuk kesatuan kesatuan sendiri untuk bangkit melawan bala tentara Kin, Pasukan pasukan rakyat ini bermarkas di lereng gunung atau di lembah sungai sungai, melakukan perang gerilya dan menyerang pasukan musuh di mana saja musuh berada.
Sebuah di antara pasukan pasukan rakyat ini, yang paling terkenal adalah Pasukan Surban Merah yang gagah perkasa.
Pernah pasukan Surban Merah ini menyergap markas besar musuh dan membasmi seluruh penghuni markas besar itu.
Kemenangan yang dicapai oleh Pasukan Surban Merah yang gagah berani ini tidak sedikit menambah semangat perlawanan dari rakyat jelata terhadap barisan musuh.
Patriot patriot yang paling gagah berani adalah mereka yang melakukan perlawanan di sebelah utara Sungai Huang ho (Sungai Kuning).
Boleh dibilang hampir seluruh rakyat mengadakan perlawanan.
Hal ini tidak aneh karena yang paling menderita akibat perampokan dan penghinaan bala tentara Kin, adalah orang-orang utara, maka dendam dan sakit hati merekapun lebih besar dan mendalam.
Jenderal yang bertugas mempertahankan daerah Kaifeng adalah Jenderal Tsung Ce yang terkenal gagah dan ahli dalam siasat perang.
Karena melihat bahwa para pasukan patriot di sebelah utara Sungai Kuning dapat diandalkan, Jenderal Tsung Ce lalu menyeberangi Huang ho dan mengadakan perundingan dengan patriot patriot rakyat itu dan mencari jalan bagaimana untuk dapat merampas kembali daerah yang diduduki oleh musuh.
Para patriot utara yang sudah mendengar nama Jenderal Tsung Ce, menyatakan kesanggupan mereka untuk membantu.
Diantara para patriot ini, terdapat kakek Tan Seng yang terkenal gagah dan disegani oleh kawan-kawannya.
Kemudian Jenderal Tsung Ce menentukan siasat dan memerintahkan sebarisan patriot terdiri dari tujuh ribu orang dipimpin oleh seorang gagah bernama Ong Goan dibantu oleh kakek Tan Seng, untuk menyerbu barisan musuh yang puluhan ribu jumlahnya.
Dengan amat gagah berani, pasukan tujuh ribu orang ini membobolkan barisan pertahanan bala tentara Kin dan dapat merebut dan menduduki Pegunungan Tai hang.
Dan di Tai hang inilah dikumpulkan barisan barisan rakayat sampai mencapai jumlah ratusan ribu orang.
Demikianlah, di bawah pimpinan Jenderal Tsung Ce yang gagah perkasa dan pandai, barisan tertara Han dan barisan rakyat petani yang kuat itu bertubi tubi mengadakan serangan kepada musuh dan berhasil merebut kembali daerah yang amat luas, menyelamatkan jiwa banyak sekali rakyat dan merampas kembali harta benda dari tangan musuh.
Akan tetapi, sungguh merupakan catatan sejarah yang harus disesalkan.
Semua usaha dan perjuangan rakyat ini sia sia belaka.
Kaisar Kao Tsung yang seperti juga kakak-kakaknya atau ayahnya berada di bawah pengaruh menteri-menteri durna (menteri jahat), tidak menyetujui perjuangan rakyat ini.
Kaisar Kao Tsung dan menteri menterinya terlalu takut kepada musuh dan terlalu memandang ringan kekuatan rakyat jelata sendiri.
Bagi Kaisar dan para pembesar, akan lebih amanlah apabila dapat mengadakan perundingan secara damai dengan fihak musuh yang terkenal amat kuat itu.
Sungguh tepat sekali ucapan seorang bijaksana di jaman dahulu yang menyatakan bahwa orang yang selalu hidup di dalam kemewahan bertabiat pengecut, berbeda dengan orang yang pernah mengalami pahit getir penghidupan.
Kaisar Kao Tsung yang semenjak kecilnya hidup berenang di laut kemewahan, tidak pernah mengalami kesukaran, menjadi amat penakut dan ia merasa khawatir kalau kalau ia akan menderita di dalam hidupnya.
Untuk keselamatan dirinya sendiri ia tidak memikirkan nasib rakyat jelata.
Biar rakyat dirampok habis, biar rakyat dihina, dijadikan budak belian, dibunuh, asal dia sendiri tidak kehilangan jiwa, demikianlah jalan pikirannya!
Beberapa kali jenderal Tsung Ce yang sudah amat tua itu mendesak kepada Kaisar untuk mengadakan ekspedisi ke utara, untuk mengusir penjajah mengandalkan bantuan rakyat di utara.
Akan tetapi jangankan Kaisar menyetujuinya, bahkan Kaisar menjadi takut kalau kalau jenderal itu kelak di utara akan bersekutu dengan para patriot dan mengancam kedudukannya!
Oleh karena itu, jenderal yang sudah berusia tujuh puluh tahun ini bahkan lalu dicurigai dan diawasi gerak-geriknya dan dilarang melanjutkan gerakkannya mengadakan pambersihan ke sebelah utara Sungai Huang ho.
Atas sikap Kaisar ini, Jenderal Tsung Ce yang amat setia kepada Kaisar mendapat pukulan batin yang hebat sekali.
Tubuhnya yang sudah tua itu tak dapat menahan datangnya pukulan ini sehingga ia jatuh sakit.
Dan apakah yang dilakukan oleh pahlawan ini ketika ia menghadapi saat terakhir?
Ia memanggil semua pemimpin patriot, termasuk kakek Tan Seng dan dengan suaranya yang sudah lemah akan tetapi tetap menggelora, berapi api bersemangat, ia memesan kepada mereka agar melanjutkan perjuangan dan membasmi musuh!
Kemudian ketika ajalnya tiba, ia mengigau dan di dalam igauannya ini ia selalu menyebut nyebut tentang ekspedisi menyeberangi Sungai Kuning untuk membasmi bala tentara Kin, musuhnya dan musuh rakyatnya!
Bukan main hebatnya semangat kepahlawanan jenderal ini, semangat yang patut dijadikan tauladan oleh semua orang yang bertanah air.
Kakek Tan Seng sampai menumpahkan air mata ketika ia menghadapi kematian jenderal besar itu.
"Kaisar benar-benar tidak dapat melihat mana pahlawan mana pengkhianat!"
Kakek ini berkata sambil mengepal tinju.
Dengan hati marah kakek ini lalu meninggalkan pasukan dan kembali ke Hoa san menyusul Bi Lan, anak perempuan Liang Ti yang telah dibawanya ke atas puncak Hoa San.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, kakek ini mendatangi rumah Liang Ti dan menemui isteri dari murid keponakannya ini.
Mendengar betapa suaminya telah tewas, nyonya Liang Ti menjadi amat berduka.
Kemudian, ketika Tan Seng memberi nasihat agar supaya menyerahkan puterinya untuk dididik ilmu silat, ia menyatakan setuju.
Demikianlah, puteri dari Liang Ti, puteri tunggal yang bernama Bi Lan, dibawa oleh Tan Seng ke puncak Hoa san.
Adapun nyonya Liang Ti sendiri lalu kembali ke kampung orang-tuanya di mana ia hidup menjanda sambil menanti kembalinya puterinya dengan penuh harapan.
Setelah kakek Tan Seng menyerahkan Bi Lan yang baru berusia dua tahun lebih itu kepada suheng suhengnya di kuil Thian seng si di puncak Gunung Hoa san, ia lalu turun gunung untuk menggabungkan diri dengan para patriot.
Akan tetapi, perbuatan Kaisar terhadap Jenderal Tsung Ce membuat harinya menjadi tawar dan dingin.
Maka kembalilah dia ke Hoa san dan membantu suheng suhengnya untuk mendidik Bi Lan, puteri dari mendiang Liang Ti.
Sampai belasan tahun, rakyat masih mengadakan perlawanan gigih terhadap penyerbuan tentara Kin.
Akan tetapi, karena Kaisar tidak menyetujui kenekatan rakyat yang mempertahankan daerah masing-masing, maka perlawanan rakyat itu kurang sempurna dan balatentara Kin yang banyak dibantu oleh orang-orang pandai berjiwa pengkhianat, terus mau menyerbu ke selatan.
Dalam masa inilah munculnya pahlawan pahlawan termasuk pahlawan besar Gak Hui yang tercatat dengan tinta emas dalam buku sejarah Tiongkok.
Agaknya kurang sempurnalah kalau dalam cerita ini kita tidak mengenang pahlawan bangsa yang besar ini dan mengikuti riwayatnya secara singkat sebelum melanjutkan inti cerita.
Gak Hui adalah seorang keturunan petani yang sederhana dari kota Tang yin di Propinsi Honan.
Semenjak bala tentara Kin menyerbu ke selatan, ia telah aktip dalam perlawanan sehingga kemudian ia diakui sebagai seorang pemimpin yang cakap.
Ia adalah seorang patriot sejati yang amat mencinta tanah airnya dan yang karenanya mempunyai kebencian hebat terhadap musuh.
Semua perajuritnya terdiri dari pada petani petani utara yang patuh terhadap disiplin dan peraturan yang diadakan dengan keras oleh Gak Hui.
"Lebih baik mati kelaparan atau kedinginan dari pada mengambil milik rakyat jelata!"
Demikian bunyi sumpah mereka.
Oleh karena ini barisan yang dipimpin oleh Gak Hui amat dihormat dan dicinta oleh rakyat.
Di mana-mana mereka berada, mereka membantu penduduk kampung dan karenanya disambut dengan hangat oleh rakyat, dan mendapat dukungan rakyat kecil.
Pasukan manakah yang takkan menjadi kuat setelah mendapat simpati dan dukungan rakyat, sumber kekuatan masa itu?
Akhirnya Gak Hui dapat bergerak maju memukul pasukan musuh, dan tiba di lembah Kuning di mana ia lalu menggabungkan diri lengan patriot patriot dari Pegunungan Tai hang.
Juga hubungan dengan patriot patriot lain, diantaranya di Hopei, diadakan sehingga kedudukan mereka makin kuat.
Dengan kerja sama yang amat baik, mereka dapat melakukan pukulan lebih cepat terhadap musuh.
Alangkah baiknya persatuan antara tentara akyat dan tentara pemerintah Sung Selatan yang mempunyai tujuan satu, yakni mengusir musuh dari tanah air.
Demikianlah, dalam tahun 1140 fihak Kin mengalami pukulan besar dan hebat seperti yang belum pernah mereka rasakan.
Pukulan ini dirasakan oleh seorang komandan tentara Kin yang amat terkenal dan yang bernama Bucu (Wuchu).
Ia memimpin bala tentaranya ke selatan dan mula mula menerima pukulan dari pasukan Jenderal Liu Ti di Shuncang Propinsi Anhwi.
Dalam pada itu, lain panglima Kerajaan Sung Selatan yakni Wu Lin, mehkukan gempuran hebat pula pada pasukan Kin di Kufeng di Propingi Shensi.
Pada saat itulah Gak Hui bergerak dan menyerbu dari Siang yang di Propingi Hupeh.
Dengan serangan berantai ini, bala tentara Bucu dapat dipukul hancur dan di cerai beraikan.
Barisan yang dipimpin oleh Gak Hui terus mengejar musuh dan setelah terjadi pertempuran hebat sekali di Yen ceng (Propingi Honan) maka rusak binasalah bala tentara yang dipimpin oleh Bucu.
Kemenangan besar ini membangkitkan semangat para patriot.
Mereka hendak mengejar terus untuk mengusir penjajah dari tanah air, akan tetapi pada saat kemenangan total berada di ambang pintu, Kaisar Kao Tsung memerintahkan penarikan mundur semua pasukan!
Gak Hui, seperti lain lain patriot, adalah orang gagah yang setia, maka tentu saja tidak berani membantah perintah dan komando tertinggi ini.
Ditarik mundurlah semua tentara sehingga Bucu dapat menarik napas lega karena terlepas dari pada kehancuran total.
Pada waktu itu yang memiliki kekuasaan besar di istana Kaisar adalah Perdana Menteri Jin Kui.
Perdana Menteri durna ini bersama Kaisar merasa amat gelisah, karena mereka ini diam-diam telah mengadakan kontak dengan Bucu, pemimpin bala tentara Kin itu.
Pengaruh Gak Hui yang besar terhadap rakyat dan kemenangan kemenangannya membuat Kaisar dan perdana menterinya ketakutan kalau Gak Hui akan menjadi makin kuat dan bersekutu dengan patriot patriot utara sehingga membahayakan kedudukan mereka sendiri.
Maka mereka lalu memerintahkan penarikan mundur semua pasukan, bahkan memanggil Gak Hui dan lain lain jenderal dan panglima patriotik, menggantikan kedudukan mereka dengan orang-orang sendiri!
Sementer"
Itu, Bucu mengirim surat rahasia kepada Jin Kui, menyatakan bahwa kalau Gak Hui tidak dibunuh, tak mungkin akan ada "perdamaian"
Sebagaimana yang dicita-citakan oleh Kaisar bersama Kerajaan Kin.
Kaisar mempergunakan kekuasaannya dan Gak Hui ditangkap!
Ketika semua orang sedang terkejut dan hendak memprotes, tahu-tahu Gak Hui telah dibunuh mati di dalam penjara atas perintah perdana menteri!
Demikianlah, secara pengecut sekali dan demi menjaga kesenangan sendiri, orang-orang yang menganggap diri sebagai "pemimpin-pemimpin"
Ini telah bersekutu dengan Kin dan negara dibagi dua.
Mulai dari lembah utara Sungai Huai dan Terusan Tasan kuan di Propingi Shensi menjadi daerah kekuasaan Kin.
Di samping itu, Kerajaan Sung masih, diwajibkan membayar upeti tahunan sebanyak dua ratus lima puluh ribu tail perak dan dua ratus lima puluh ribu kayu kain sutera kepada Kin!
*** Tujuh belas tahun telah lewat semenjak pahlawan Go Sik An tewas digantung oleh tentara Kin.
Pada suatu pagi di Pegunungan Tapie san yang terletak di sebelah selatan Sungai Huai, hawa udara pagi hari itu amat dinginnya dan bagi orang-orang kaya, tentu pada hari sepagi dan sedingin itu masih amat malas meninggalkan pembaringan.
Akan tetapi tidak demikian dengan kaum miskin, terutama kaum tani yang rajin.
Sebelum matahari terbit, kaum tani telah meninggalkan rumah, membawa alat cocok tanam dan bagaikan tentara maju ke medan pertempuran, mereka juga berangkat ke medan juang yang bagi mereka tempatnya di tengah-tengah sawah ladang meluas.
Akan tetapi, dari sebuah dusun pertanian yang berada di lereng Gunung Tapie san sebelah selatan, serombongan petani terdiri dari belasan orang laki-laki berjalan berkelompok mengikuti seorang pemuda yang berjalan di depan mereka, Memasuki sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar dan batu batu karang yang kokoh kuat.
Dari dalam hutan itu terdengar suara suara keras menyeramkan, suara binatang binatang hutan yang buas.
Tidak mengherankan apabila belasan orang petani itu saling pandang dengan mata terbelalak ketakutan dan biarpun hawa udara pagi itu amat dingin, mereka semua ajaknya selalu merasa gerah!
Mereka berjalan di belakang pemuda itu dengan kaki selalu bersiap sedia untuk sewaktu waktu melarikan diri dan memutar tubuh meninggalkan tempat berbahaya itu.
Hanya kedua kaki mereka saja yang dipaksa maju padahal semangat mereka sudah mundur ketika mendengar suara geraman srigala dan harimau hutan.
Akan tetapi, pemuda yang berjalan di depan rombongan orang-orang ini, nampak tersenyum-senyum tenang dan tindakan kakinya yang ringan dan tetap itu membuat tubuhnya nampak seperti seekor singa berjalan.
Langkahnya tetap, tubuhnya lurus dengan dada yang bidang.
Tubuhnya tinggi tegap dan kelihatan kuat sekali dan wajahnya membayangkan kegagahan.
Benar-benar seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah.
Ia memakai topi berwarna biru dan sepatunya yang hitam terbuat dari pada kulit.
Yang aneh adalah pakaiannya.
Celananya biru dan biasa saja, akan tetapi bajunya yang aneh.
Baju itu terbuat dari pada sutera halus, berwarna kuning dengan kembang kembang besar warna merah.
Di punggungnya tergantung sebatang pedang yang bersarungkan kain bersulam dan gagang pedang itu nampak bersih mengkilap dengan kain ronce warna merah.
Usia pemuda ini paling banyak dua puluh tahun, akan tetapi sepasang matanya memiliki daya yang amat berpengaruh yang membuat orang tidak berani memandang rendah kepadanya.
Siapakah pemuda yang tampan dan gagah Ini?
Pembaca tentu dapat menerkanya, melihat dari pakaiannya yang berkembang itu.
Memang benar, dia adalah Go Ciang Le putera dari mendiang Go Sik An, sasterawan ahli silat itu!
Seperti telah diceritakan di bagian depan tujuh belas tahun yang lalu, ketika Ciang Le oleh ibunya ditinggalkan seorang diri di dalam kuil tua dan ketika kakek anak ini, yaitu Tan Seng, datang hendak mengambilnya, anak ini telah lenyap tak meninggalkan bekas.
Siapakah yang menculik anak itu dan siapa pula yang mencuri jenazah Go Sik An dan isterinya secara demikian anehnya?
Yang melakukannya adalah sepasang iblis manusia yang disebut di kalangan kang ouw Thian te Siang mo (Sepasang Iblis Bumi Langit), dua orang-tua yang luar biasa dan aneh sekali.
Mereka ini diwaktu mudanya merupakan dua orang penjahat yang ganas sekali, sepasang saudara kembar yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya.
Boleh dibilang hampir seluruh cabang persilatan telah didatangi oleh sepasang saudara kembar ini dan di setiap perguruan silat mereka mengacau, menantang ketuanya untuk mengadakan pibu dan merobohkan mereka!
Tak seorangpun tahu dari mana asalnya sepasang manusia seperti iblis ini dan juga tidak ada yang tahu siapakah yang mengajar ilmu silat selihai itu kepada mereka.
Sebetulnya kalau orang melihat keadaan mereka, yang jarang sekali terjadi karena gerakan mereka memang cepat laksana bayangan iblis, mereka itu tidak kelihatan seperti iblis.
Kedua kakek ini berpakaian serupa, pakaian pendeta Tao yang panjang berwarna kuning keemasan dengan jenggot panjang dan rambut kepala di gelung ke atas seperti umumnya para tosu memelihara rambut mereka.
Juga wajah mereka tidak buruk atau nampak jahat, hanya sepasang mata mereka saja yang bersinar kocak dan seperti mata kanak kanak yang nakal.
Yang menarik adalah persamaan kedua orang itu.
Sukarlah bagi orang lain untuk dapat membedakan.
Yang tertua diantara sepasang iblis kembar ini disebut Thian Lo-mo (Iblis Tua Langit) dan yang muda disebut Te Lo-mo (Iblis Tua Bumi).
Yang tua atau Thian Lo-Mo terkenal dengan ilmu silat tangan kosongnya yang jarang dapat menemukan tandingannya, ditambah pula dengan kehebatannya mainkan senjata rahasia dari segala macam senjata gelap (am-gi).
Adapun Te Lo-mo terkenal dengan ilmu pedangnya, dengan pedang pusakanya yang mengeluarkan cahaya keemasan.
Sebetulnya Thian Lo-mo juga memiliki ilmu pedang yang seperti dimiliki oleh adiknya, akan tetapi Iblis Langit ini tidak suka mempergunakan pedang, lebih suka mengandalkan sepasang kaki tangannya.
Ilmu pedang mereka disebut Kim-kong Sin-kiam-sut (Ilmu Pedang Sakti Sinar Emas).
Thian-te Siang-mo belum lama menjadi tosu (pendeta Agama Tao).
Tadinya mereka adalah orang-orang yang sejahat-jahatnya, yang menganggap perbuatan jahat sebagai semacam hobby (kebiasaan yang disuka).
Setelah mempelajari Agama Tao dan mulai hidup sebagai pertapa, insyaflah mereka bahwa apa yang mereka lakukan dalam hidup selama itu bukanlah jalan yang benar.
Oleh karena itu menyesallah mereka, dan kedua saudara kembar ini lalu berjanji hendak memupuk perbuatan baik sebagai penebus dosa-dosa mereka yang lalu.
Demikianlah, ketika di dalam perantauan mereka, kedua orang kakek ini tiba di Kaifeng dan melihat betapa pahlawan Go Sik An yang terkenal itu dihukum gantung dan keluarganya menghadapi ancaman hebat, mereka berdua lalu turun-tangan.
Te Lo-mo mengamuk dengan pedangnya yang merupakan sinar kuning emas, lalu berhasil mencuri jenazah Go Sik An dan istrinya dan mengusir orang-orang yang mengeroyok kakek Tang Seng.
Kemudian Te Lo-mo ini lalu bertemu dengan kakaknya yang telah pergi mengambil Ciang Le di kuil tua.
Kedua orang kakek kembar yang luar biasa ini memang telah lama melakukan suatu pekerjaan yang mengerikan yang mereka anggap sebagai perbuatan baik.
Mereka mencuri jenazah-jenazah orang-orang gagah yang tewas dalam perang melawan bala tentara Kin, lalu mengumpulkan jenazah-jenazah itu di dalam sebuah gua besar di puncak gunung!
Mereka memberi nama gua ini Gua Pahlawan.
Demikian pula dengan jenazah Go Sik An dan Tan Ceng, oleh kedua orang manusia iblis ini di bawa ke Gua Pahlawan.
Gua ini mulutnya hanya selebar dua kaki dan setinggi satu setengah orang, akan tetapi apabila orang masuk ke dalam makin lama makin besar dan tinggi sekali.
Kedua orang kakek ini membawa jenazah-jenazah itu ke dalam gua, adapun Ciang Le yang dipondong Thian Lo-mo telah menghentikan tangisnya karena tahu bahwa tangis itu tiada gunanya, tidak dapat mendatangkan ayah bundanya atau kakeknya.
Setelah masuk kedalam gua, keadaan di situ gelap sekali dan tercium bau yang tidak enak sekali dari dalam gua.
Akan tetapi Thian-te Siang-mo agaknya tidak terganggu oleh bau ini dan mata mereka seperti sudah biasa di dalam gelap.
Dengan hati-hati Te Lo-mo lalu menurunkan kedua jenazah yang dikempitnya menyandarkan sepasang suami istri yang sudah menjadi mayat itu pada dinding gua.
Kemudian keduanya terus maju ke sebelah kanan dimana merupakan dinding batu karang yang amat keras.
Te Lo-mo menekan sepotong batu yang menonjol dan terbukalah sebuah pintu pada dinding sebelah kanan itu.
Pintu inipun sempit saja, hanya dapat dimasuki oleh seorang.
Akan tetapi begitu pintu terbuka, Nampak cahaya masuk dari pintu itu.
Mereka lalu membawa Ciang Le masuk ke dalam gua sebelah kanan dan menutup pintunya.
Didalam ternyata amat bersih dan mempunyai pintu dan jendela yang menembus ke lereng gunung.
Amat indah pemandangan dari jendela gua itu dan ruangan gua ini amat luas.
Disinilah tempat tinggal dan tempat bertapa sepasang kakek luar biasa ini.
Demikianlah, semenjak saat itu, Go Ciang Le menjadi murid terkasih dari Thian-te Siang-mo (Sepasang Iblis Langit Bumi).
Karena diri sendiri sudah tua dan sudah bosan berursan denganperkara-perkara dunia, kedua orang kakek ini hendak menebus dosa dengan menurunkan seluruh kepandaian mereka kepada murid tunggal ini, agar kelak murid mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik sehingga mereka ikut berjasa dan dapat mengurangi dosa-dosa yang terdahulu.
Sedikit demi sedikit, Ciang Le diceritakan tentang segala macam dosa yang diperbuat kedua orang gurunya dan mendengar betapa kedua orang gurunya itu merasa menyesal sekali.
Bekali-kali kedua orang iblis itu minta Ciang Le bersumpah bahwa kelak murid ini akan menebus dosa guru-gurunya dan akan menjadi seorang budiman selama hidupnya!
Memenuhi pesan terakhir dari Tan Ceng tentang pakaian, kedua orang kakek ini lalu mencarikan baju berkembang untuk murid mereka sehingga semenjak kecil Ciang Le sudah memakai baju berkembang.
Kedua gurunya berpesan bahwa murid ini selamanya harus memakai baju berkembang seperti itu, dengan dasar kuning dan berbunga merah seperti baju yang dipakai pada saat terakhir oleh Go Sik An!
Juga Ciang Le mendengar penuturan guru-gurunya tentang kedua orang-tuanya, maka sering kali anak ini mengunjungi dua tengkorak di depan untuk duduk di dekat rangka rangka ayah bundanya.
Bagi Ciang Le, ruangan yang gelap dan penuh rangka manusia itu merupakan tempat yang menyenangkan!
Sering kali ia bicara seorang diri ditujukan kepada kerangka kerangka ayah bundanya, sehingga kalau orang lain melihatnya berhal demikian, tentu ia akan dianggap seorang yang miring otaknya.
Betapapun gagah perkasanya Thian te Siang mo dan betapapun banyaknya ilmu yang mereka miliki, akhirnya setelah melatih dan menggembleng Ciang Le selama enam belas tahun lebih, habislah semua kepandaian mereka diturunkan kepada Ciang Le!
"Muridku, kata Thian Lo-mo ketika menyatakan kepada muridnya bahwa pemuda itu telah tamat belajar.
"semua ilmu silat yang kami miliki, telah kami ajarkan semua kepadamu Bahkan sedikit ilmu surat juga telah kau pelajari. Usiamu sudah sembilan belas tahun lebih, maka sudah sepantasnya kalau sekarang kau turun gunung untuk mewakili kami menebus dosa! Hanya ada satu macam ilmu pukulan yang belum kau pelajari, ialah ilmu pukulan yang sedang kami ciptakan berdua, yang disebut Thian te Siang mo Ciang hwat. Ilmu pukulan ini sedang kami sempurnakan, sedikitnya makan waktu setahun lagi baru sempurna. Ilmu pukulan ini amat berbahaya, muridku dan agaknya akan melebihi semua ilmu silat yang telah kau miliki. Akan tetapi, biarlah kelak saja kami ajarkan kepadamu." (Lanjut ke
Jilid 02) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "
Jilid 02 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo
Jilid 02
"Dan pedang ini boleh kau bawa, Ciang Le"
Kata Te Lo-mo sambil menyerahkan pedangnya yang disebut Kim kong kiam (Pedang Sinar Emas).
"Kau telah beberapa kali bersumpah hendak mempergunakan ilmu kepandaian yang kau pelajari untuk berbuat kebaikan. kau harus menjadi seorang pendekar budiman dan jangan lupa selamanya kau harus memakai baju kembang, sesuai dengan pesan terakhir ibumu!"
Ciang Le menerima pedang dan buntalan pakaian serta beberapa potong emas dari kedua suhunya, la merasa amat terharu dan berterima kasih.
Baginya, kedua orang yang disebut Sepasang Iblis di dunia kang ouw ini, bukan iblis melainkan dua orang yang paling mulia di dunia ini.
Mereka itu adalah gurunya, juga pengganti orang-tuanya dan penolongnya.
"Teecu (murid) akan memperhatikan segala nasihat jiwi suhu (guru berdua) dengan taat. Dimanapun teecu berada teecu takkan melupakan suhu berdua. Akan tetapi, mohon penjelasan dari jiwi suhu, bilakah teecu diperbolehkan kembali ke sini?"
"Tak usah kembali, tak usah kembali..."
Kata Thian Lo-mo sambil menggoyang-goyang tangannya. Ciang Le memandang dengan terkejut.
"Twa-suhumu (guru besarmu) hanya main-main, Ciang Le,"
Kata Te Lo-mo sambil tertawa.
"Memang tak usah kembali, akan tetapi kita pasti akan bertemu kembali. Ingatlah bahwa kedua gurumu selalu memperlihatkan gerak-gerikmu dan kalau sampai kau menyeleweng dan menyia-nyiakan harapan kedua gurumu dan kedua orang-tuamu, kau harus tahu bahwa dengan ilmu pukulan Thian te Siang mo Ciang hwat, kami dengan mudah akan dapat membinasakanmu!"
Ucapan terakhir ini dikeluarkan oleh Te Lo-mo dengan sikap sungguh-sungguh dan muka keras.
Ciang Le menjadi girang dan menghaturkan terima kasih.
Memang, pemuda ini masih bingung ke mana harus pergi dan merasa amat tidak enak harus berpisah dari kedua suhunya yang disayangnya.
Maka mendengar bahwa kelak kedua suhunya pasti akan menjumpainya, terhiburlah hatinya.
"Nah, kau berangkatlah dan jaga dirimu baik-baik!"
Kata Thian Lo-mo.
Ciang Le berlutut dan memberri hormat serta ucapan selamat tinggal kepada kedua suhu nya, kemudian ia keluar dari pintu gua yang kecil, masuk ke dalam ruang rangka dan berlutut di depan kerangka ayah bundanya.
"Ayah ibu aku pergi turun gunung. Mohon doa restu dan anak akan mencoba mencari orang-orang yang telah membunuh kalian. Kemudian ia berdiri dan keluar dari gua yang besar dan gelap itu. Gua Pahlawan yang dipergunakan sebagai tempat tinggal Thian te Siang mo itu terletak di atas Pegunungan Tapie san sebelah timur, di puncak yang masih liar dan belum pernah didatangi manusia saking sulitnya perjalanan menuju ke situ. Ciang Le yang kini telah merupakan seorang yang gagah dan tampan, kali ini ketika turun gunung, mengenakan baju kembang milik ayahnya yang dulu diambil oleh Thian Lo-mo, sengaja disimpan untuk diberikan kepadanya! Baju itu ternyata persis sekali pada tubuhnya, mendatangkan rasa hangat yang luar biasa. Ia merasa bangga bahwa besar tubuhnya sama benar dengan ayahnya. Akan tetapi tentu saja tidak tahu bahwa wajahnya tidak sama dengan wajah ayahnya, melainkan lebih mirip wajah ibunya. Demikianlah, seperti yang telah dituturkan di bagian depan, Ciang Le tiba di lereng bukit sebelah selatan. Hari telah mulai menjadi gelap ketika ia tiba di dalam dusun di selatan puncak itu. Heranlah ia ketika melihat betapa semua pintu rumah di dalam dusun itu telah ditutup rapat rapat dan tak seorangpun manusia kelihatan berada di luar rumah. Ciang Le tidak takut untuk tidur di mana saja, biar di atas dahan pohon sekalipun, akan tetapi kali ini ia ingin bercakap-cakap dengan orang lain dan bertemu dengari penduduk dusun. Maka, diketoknya pintu rumah pertama. Tak ada yang menyahut, dan telinganya yang tajam mendengar suara yang orang berbisik-bisik ketakutan dan kemudian diam, tanda bahwa tuan rumah sengaja tidak mau menjawab dan bersembunyi ketakutan. Ciang Le tidak putus asa dan mengetuk pintu rumah berikutnya. Sama saja. Makin heranlah dia. Begini tak sopankah penduduk di dusun ini? Ia telah mendengar tentang peradaban dan kesopanan dari kedua suhunya, dan sama sekali tidak pernah mengira bahwa ada orang-orang yang tidak mau menjawab! Ia tahu bahwa di dalam setiap dusun tentu ada kepala dusunnya, maka ia lalu berjalan jalan di dalam dusun itu, mencari rumah yang terbaik dan terbesar. Rumah kepala dusun pasti yang besar dan terbaik, pikirnya dan pada saat seperti itu, semua penuturan suhunya terbayang dalam ingatannya. Akhirnya sampai juga di depan sebuah rumah yang besar dan paling mewah diantara semua rumah di situ. Ia lalu melangkah maju sampai di depan pintu dan mengetuk daun pintu beberapa kali. Kembali tidak ada jawaban, akan tetapi Ciang Le yang berpendengaran tajam dapat mendengar bahwa ada sedikitnya sepuluh orang datang mendekati pintu dan mengintip dari dalam! Akan tetapi ia berpura pura tidak tahu dan mengetuk pintu lagi sambil berkata keras.
"Sungguh mengherankan, mengapa seluruh dusun menutup pintu pada hari sesore ini? Apakah tidak ada yang sudi menolong seorang perantau yang Kemalaman di jalan?"
Tiba-tiba pintu besar terbuka dan dua belas orang laki-laki yang berpakaian sebagai penjaga kampung melompat keluar dengan senjata tajam di tangan!
Ketika mereka keluar, dari penerangan lampu yang bersinar di halaman rumah, Ciang Le melihat wajah mereka ketakutan, akan tatapi kini mereka agaknya lega setelah melihat siapa orangnya yang mengetuk pintu.
Namun, masih saja dua belas orang penjaga itu memandang dengan penuh kecurigaan dan kewaspadaan.
Setelah mengamat amati keadaan Ciang Le dan melihat ke arah gagang pedangnya di pundak, orang tertua yang brewokan lalu melangkah maju dan mengangkat tangan memberi hormat sambil bertanya.
"Siangkong siapa dan dari manakah?"
Ciang Le tersenyum girang mendengar suara ini.
Alangkah merdunya suara orang lain yang sudah bertahun-tahun dirindukannya!
Ia cepat menjura dengan hormat kepada semua orang itu dan berkata dengan halus.
"Mohon maaf sebesarnya apabila siauwte mengganggu cuwi sekalian di waktu malam. Sesungguhnya siauwte adalah seorang perantau yang kemalaman dan ingin sekali siauwte mencari rumah penginapan di dusun yang indah ini. Akan tetapi sayangnya, setiap rumah tertutup dan ketika siauwte mencoba untuk mengetuk pintu guna minta keterangan, tak seorangpun mau menjawab."
Tiba-tiba sikap orang brewokan itu menjadi ramah dan cepat ia berkata.
"Siangkong, silakan masuk dan bermalam di rumah kepala kampung saja. Tak baik kita bicara di luar dalam saat seperti ini."
"Mana siauwte berani mengganggu rumah Chung-cu (kepala kampung)?"
"Masuk sajalah, siangkon. Aku sendirilah kepala kampung di dusun ini. Di sini tidak ada rumah penginapan dan kurasa takkan ada orang yan berani membuka pintu di waktu malam hari."
Ciang Le menjadi tertarik hatinya.
Kalau tidak ada orang berani membuka pintu di waktu malam, tentu terjadi sesuatu yang hebat.
Tentu ada bahaya mengancam penduduk dan inilah yang dicarinya!
Ia harus mencari kesempatan untuk mengulurkan tangan menolong sesama manusia.
Tanpa banyak cakap dan see ji (sungkan) lagi ia lain mengikuti mereka memasuki pintu besar yang cepat ditutup lagi dari sebelah dalam.
Kepala kampung itu ternyata adalah seorang yang amat peramah.
Belum juga mengenal siapa nama dan di mana tempat tinggal tamunya, ia telah memberi perintah kepada pelayan untuk mengeluarkan hidangan dan menemani tamunya di ruang dalam.
Ciang Le merasa berterima kasih sekali.
Itu adalah makanan pertama yang dirasakannya semenjak meninggalkan gua.
Di dalam gua, ia hanya makan buah buah dan daging dipanggang biasa saja, maka tidak mengherankan apabila hidangan kepala kampung yang sebenarnya amat sederhana itu terasa lezat dan baginya merupakan hidangan raja!
Ketika disuguhi arak dan minum arak keras, hampir saja ia tersedak karena selama hidupnya Ciang Le belum pernah minum arak.
Akan tetapi baiknya ia memilki lweekang dan khi kang yang tinggi.
Cepat ia menutup jalan pernapasannya mendorong hawa arak keluar dari dalam perutnya untuk dikeluarkan kembali melalui mulutnya sehingga hawa arak yang memabokkan itu tidak mengganggunya.
Dengan jalan ini biarpun ia harus menghabiskan seguci arak ia takkan terpengaruh.
Setelah sisa makanan diambil oleh pelayan, kepala kampung mengajak Ciang Le bercakap-cakap di ruang depan di mana berkumpul pula se belas orang penjaga.
Dari percakapan mereka, tahulah Ciang Le bahwa mereka itu adalah orang-orang yang dianggap paling kuat didusun itu yang sengaja berkumpul di rumah kepala dusun untuk menjaga sesuatu yang mengancam.
"Chung-cu, sesungguhnya rahasia apakah yang meliputi dusun ini? Siauwte merasa seakan-akan ada sesuatu yang membuat semua penduduk merasa gelisah."
Kepala kampung yang brewokan itu memandang wajah Ciang Le seperti orang menyelidik, lalu mengerling sebentar ke arah gagang pedang pemuda itu, kemudian menarik napas panjang seperti orang putus asa.
"Apa gunanya diceritakan? Siangkong, menceritakan hal ini tidak ada baiknya, bahkan menambah besar bahaya yang mengancam."
Ciang Le menjadi tak sabar, ia tahu bahwa kepala dusun ini memandang rendah kepadanya dan menganggap bahwa dia takkan dapat menolong, maka percuma saja diceritakan juga.
"Chungcu, percayalah, kalau benar-benar ada yang mengganggu dusunmu ini dan menyusahkan kau dan pendudukmu, aku akan membasminya!"
Kepala kampung itu memandang tajam dan di sana-sini terdengar suara orang tertawa kecil. Ciang Le maklum bahwa kepala kampung dan orang-orang yang berada di situ tidak percaya kepadanya.
"Siangkong, kau baik sekali! Akan tetapi, kenapa kau hendak menolong kami? Tahukah kau bahwa menolong kami berarti mengorbankan nyawamu yang masih muda?"
"Biarpun harus mengorbankan nyawa, aku bersedia, chungcu!"
"Kenapa? Kenapa kau begitu mati-matian hendak menolong kami?"
"Kenapa??"
Ciang Le mengulang kata-kata ini seakan-akan ini adalah pertanyaan yang aneh "Karena kau adalah orang baik dan kau telah menerima siauwte dengan ramah-tamah, telah menghidangkan makanan dan memberi tempat beristirahat."
Kepala kampung itu menarik napas panjang.
"Terima kasih, Siangkong. Kalau hanya berdasarkan kebaikan hatimu dan mengandalkan keberanianmu saja takkan ada gunanya, bahkan membuang nyawamu dengan sia sia belaka. Memang dusun kami telah mendapat gangguan hebat selama sepekan ini, akan tetapi pengganggunya bukan sembarang manusia, melainkan siluman-siluman jahat!"
Semenjak kecil Ciang Le hidap di dalam gua yang penuh tengkorak manusia, bahkan kedua orang suhunya juga bernama Iblis! Ia tetap tersenyum tenang lalu bertanya.
"Siluman macam apakah yang menggangu, chungcu? Ceritakan yang jelas agar mudah aku mencari dan membasminya."
Pada saat itu, terdengar suara gemuruh dan diantara suara seperti angin keras itu terdengar pekik mengerikan.
"Kepala kompung tolol! Lagi-lagi kau berani tidak memenuhi permintaanku? Sekarang cucumu sendiri hendak kuambil!"
Menyusul suara ini, terdengar suara keras pada pintu besar di depan rumah itu serasa tergetar, kemudian pintu itu runtuh ke dalam seperti terdorong oleh tenaga raksasa!
Dan di ambang pintu muncul seorang yang bertubuh tinggi kurus dan kedua tangannya sampai ke siku berbulu.
Gerakan orang ini cepat sekali sehingga sukar untuk melihat wajahnya dengan nyata.
Akan tetapi, bagi Ciang Le yang memiliki kepandian tinggi, ia dapat melihat dan ternyata olehnya bahwa orang itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, berwajah biasa saja hanya sepasang matanya terputar putar tanda bahwa otaknya kurang beres!
Namun harus diakuinya bahwa orang-tua itu memiliki ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi.
Sementara itu, kepala kampung dan para penjaga telah menjadi pucat dan tubuh mereka menggigil.
Apalagi ketika kepala kampung mendengar betapa siluman ini hendak mengambil cucunya yang disayangnya!
"Jangan...
jangan ganggu cucuku..."
Katanya dengan suara gemetar, yang disusul oleh suara ketawa menyeramkan dari orang siluman itu.
Dengan gerakan seperti kilat menyambar, siluman itu melompat hendak masuk ke dalam rumah.
Akan tetapi tiba-tiba melayang sinar putih mengkilap ke arah tubuhnya.
"Aaaahh..."
Orang itu menjerit kesakitan dan cepat ia memandang benda yang telah mengenai tubuhnya dan yang kini telah menggelinding pecah di atas lantai.
Ternyata bahwa benda itu adalah sebuah cawan arak yang tadi dipegang oleh Ciang Le.
Pemuda inipun terheran ketika melihat betapa orang gila itu tidak roboh oleh sambitannya.
Ia telah menyambit dengan menggunakan ilmu Sambit Pek po coan ang (Menyambit Tepat Dalam Jarak Seratus Kaki) dan tahu bahwa sambitannya itu biarpun hanya dengan cawan arak, namun tepat mengenai jalan darah Tai hwi hiat yang sudah cukup untuk merobohkan seorang bagaimana gagahpun.
Akan tetapi orang iai hanya menjerit kesakitan dan tidak roboh.
Oleh karena itu, cepat Ciang Le lalu melompat dan ia telah berdiri di depan siluman itu.
Orang tinggi kurus yang bermata liar ini memandang dengan marah sekali kepada Ciang Le, seakan-akan menyelidik dan hendak mengetahui siapakah pemuda tampan yang dapat menyambitkan cawan arak selihai itu.
Akan tetapi ia tidak mengenal Ciang Le, maka sambil menegereng seperti seekor harimau, ia lalu meneabut sebatang ranting pohon bambu berwarna kuning berbintik bintik hijau.
Ciang Le sebagai seorang ahli dapat mengetahui bahwa orang yang mainkan senjata kecil dan lemah, bahkan adalah orang yang paling berbahaya dan sukar untuk dilawan.
Kalau saja lawannya itu mengeluarkan senjata yang besar dan berat ia masih akan memandang ringan.
Akan tetapi kini siluman itu mengeluarkan senjata yang hanya sebesar jari tangan dan panjangnya tiga kaki, juga amat lemas.
Terpaksa untuk menjaga segala kemungkinan karena tahu lawannya amat lihai, pemuda ini lalu mencabut pedang Kim kong kiam.
Anehnya, melihat pedang yang mengeluarkan cahaya emas itu.
siluman tadi nampak terkejut sekali dan melompat mundur dua kali.
Kemudian, sambil memperdengarkan suara pekik seperti tangis yang menyayat hati ia lalu berkelebat keluar dari pintu dan lenyap di dalam gelap malam.
Kepala kampung dan para penjaga menyaksikan semua kejadian ini dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Kemudian setelah iblis itu pergi, kepala kampung lalu menghampiri Ciang Le yang masih berdir dengan pedang di tangan, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda agah itu, diturut oleh semua penjaga.
"Eh, eh, jangan begitu. Chungcu. Harap cu wi sekalian berdiri dan lebih baik ceritakanlah kepada siauwte apa yang telah terjadi dan siapakah orang gila itu tadi!"
Akan tetapi kepala Lampung dan se belas orang penjaga tidak mau berdiri dan tetap berlulut.
"Agaknya Thian Yang Maha Kuasa telah mengutus taihiap (tuan pendekar besar) untuk menolong kami. Terima kasih, taihiap dan mohon jangan kepalang menolong kami dan dapat membersihkan semua bahaya yang mengancam."
Ketika masih tinggal di dalam guha, guru-gurunya seringkali memberi peringatan kepada Ciang Le agar supaya berhati-hati menghadapi omongan yang manis dan merendah karena di dalam segala gerak-gerik dan omongan orang yang terlalu manis atau terlalu merendah seakan-akan dilebih lebihkan, tersembunyi maksud yang jahat dan curang.
Kini melihat sikap kepala kampung, ia teringat akan nasihat guru-gurunya itu sehingga timbul perasaan tidak senang padanya.
"Bangunlah kalian!"
Serunya sambil membanting kakinya di atas lantai.
Bantingan kaki ini ia lakukan dengan pengerahan tenaga dalam sehingga dua belas orang itu merasa lantai tergetar dan tahu-tahu tubuh mereka seperti ada yang mendorong dari bawah dan mau tidak mau mereka bangun berdiri, memandang kepada Ciang Le dengan terheran-heran dan makin kagum.
"Duduklah, chungcu dan coba ceritakan dengan tenang kejadian apakah yang dialami oleh dusun ini?"
Tanya Ciang Le dengan suara sabar. Kepala kampung itu yang kini percaya penuh akan kelihaian pemuda yang sudah berhasil mengusir pergi "siluman"
Tadi, segera menceritakan malapetaka yang telah menimpa dusun itu.
Semenjak sepekan yang lalu dusun itu mengalami gangguan siluman tadi yang datang bersama seekor ular senduk yang luar biasa besarnya.
Telah tiga orang anak-anak ditangkap oleh siluman itu dan dijadikan mangsa ularnya yang mengerikan!
Dua hari sekali siluman itu datang mengambil seorang anak kecil untuk diberikan kepada ularnya dan tiap kali ia selalu minta kepada kepala kampung untuk disediakan seorang anak kecil!
Tentu saja kepala kampung itu tidak mau melayaninya, bahkan mengumpulkan orang-orang untuk berusaha mengusirnya.
Akan tetapi ternyata siluman itu amat sakti dan keroyokan orang-orang hanya menghasilkan tewasnya beberapa orang saja terkena pukulan tangannya yang membuat kulit menjadi hitam seperti terbakar!
Adapun anak-anak yang dikehendakinya tetap saja diculiknya dan diberikan kepada ularnya!
Dan pada malam hari itu karena melihat sikap kepala kampung yang selalu tidak mentaati perintahnya, siluman itu datang hendak menghukum kepala kampung dan menculik cucunya!
Akan tetapi ia telah dapat dibikin mundur dan takut oleh pemuda perkasa yang kebetulan menjadi tamu kepala kampung itu.
"Di mana dia bersembunyi?"
Tanya Ciang Le setelah mendengar penuturan itu.
"Kami pernah mengumpulkan orang-orang dan menyerangnya di siang hari, dan kami mendapatkan dia berada di dalam hutan. Di sudah mengerikan, akan tetapi ular senduknya lebih lebih menyeramkan lagi. Belum pernah selama hidup aku melihat ular senduk sedemikian besarnya,"
"Baiklah, biar kita beristirahat dulu malam ini. Kutanggung besok pagi-pagi siluman itu bersama ularnya akan dapat kubasmi!"
Kata C"ang Le dengan tenang. Kembali kepala kampung itu menghaturkan terima kasihnya dan cepat memerintah para pelayan menyediakan tempat tidur yang paling baik.
"Tak usah, chungcu, aku tidak biasa tidur di atas pembaringan yang enak. Biar aku duduk di atas lantai di ruangan yang sunyi,"
Kata Ciang Le segera pergi ke sudut dan duduk bersila untuk melakukan siulian (samadhi).
Demikianlah pada keesokan harinya, berita tentang kedatangan seorang pemuda yang telah mengusir siluman, tersiar luas dan sebentar saja semua penduduk menyerbu rumah kepala kampung untuk menyaksikan sendiri pemuda gagah perkasa itu.
Dan ketika Ciang Le menyatakan hendak berangkat mencari siluman itu bersama ularnya, berduyun-duyun orang dusun hendak mengikutinya.
Akan tetapi kepala kampung melarangnya, dan hanya memperkenankan serombongan orang-orang lelaki untuk membawa senjata mengantarkan pendekar muda itu.
Dia sendiripun tidak ketinggalan ikut pula mengantar pemuda yang menjadi pusat harapan mereka itu.
Rombongan itu terdiri dari tujuh belas orang, berjalan di belakang Ciang Le yang tetap nampak tersenyum tenang.
Setelah rombongan itu masuk ke dalam hutan liar yang penuh dengan pohon-pohon raksasa dan batu batu karang menghitam, kepala kampung dan kawan-kawannya makin memperlambat jalan kaki mereka.
"Taihiap, di batu batu karang itulah tempatnya,"
Kepala kampung berbisik perlahan.
Ciang Le memandang tajam dun melihat betapa pohon-pohon di situ amat tinggi dengan batangnya yang bengkak bengkok dan berlubang lubang.
Di bawah pohon-pohon itu terdapat batu karang yang tajam dan runcing, menghitam dan nampak kokoh kuat dan keras sekali.
Mata pemuda yang amat tajam ini dapat melihat dua ekor kelinci berlari masuk ke dalam semak semak dan selain itu tidak terdapat gerakan sesuatu.
Kalau saja ada musuh tersembunyi di balik pohon atau di dalam semak semak, tentu akan terlihat oleh mata pemuda yang sakti ini.
Ciang Le melangkah maju terus setelah memberi isyarat kepada rombongan orang dusun itu untuk menunggu di tempat itu.
Dengan langkah tetap pemuda ini menghampiri batu karang yang hitam.
Tiba-tiba terdengar desis yang kuat, yang berbunyi gemerisik bagai angin meniup daun bambu, akan tetapi lebih kuat lagi.
Desis ini disusul oleh desis lain yang lebih kuat dan terdengarlah orang-orang petani yang menonton di tempat aman itu mengeluarkan seruan ngeri dan kaget.
Dari balik batu batu karang itu tiba-tiba keluar kepala seekor ular senduk yang besar sekali.
Besar kepala itu hampir sama dengan besar kepala seekor anjing, matanya dan lidahnya merah menakutkan.
Bagian leher ular itu melar sampai lebar dan tipis menyekung seperti senduk dan sambil menyemburkan uap kehitaman ia lalu menegakkan kepalanya, memandang kepada Ciang Le dengan leher berkembang kempis.
"Taihiap, hati-hati""
Kepala kampung masih dapat mengeluarkan suara memperingatkan.
Adapun kawan-kawannya berdiri bagaikan patung dengan muka pucat dan jelas nampak mereka itu menggigil ketakutan.
Siapa yang tidak merasa ngeri melihat ular siluman yang pernah mereka keroyok, akan tetapi yang dibacok golok tidak terluka itu?
Ketika beberapa hari yang lalu mereka mengeroyok, golok pedang dan anak panah melesat saja ketika mengenai kulit ular itu.
Akan tetapi, Ciang Le tidak merasa gentar sedikitpun juga.
Bahkan pemuda itu tetap berjalan maju mendekati ular itu.
Ular cobra yang luar biasa besar dan yang panjangnya kurang lebih empat meter itu memandang tak bergerak seakan-akan merasa terheran-heran melihat keberanian dan ketenangan manusia muda di depannya ini.
Ia sedang lapar dan marah, karena semalam tidak mendapat mangsa.
Dengan ekornya melilit batu karang, ia bersiap sedia untuk menerkam pemuda itu, sungguhpun pemuda itu tidak membangkitkan seleranya karena terlalu besar dan terlalu keras dagingnya, tidak seperti daging anak kecil.
Tiba-tiba ular itu menyerang Bagaikan anak panah cepatnya, kepala yang besar itu dengan mulut terbuka lebar dan lidah terjulur meluneur ke arah leher Ciang Le!
Serangannya ini didahului oleh semburan uap hitam yang berbau keras dan amis sekali.
Ciang Le berlaku sebat dan sambil miringkan tubuhnya ia mengelak dan sekaligus mengirim tamparan dengan tangan kirinya ke arah kepala ular itu.
"Plakk!!"
Ular itu bagaikan disambar petir dan kepalanya membalik berikut tubuhnya terlempar membentur batu karang!
Akan tetapi Ciang Le segera menjadi heran karena kepala ular itu tidak pecah sebagaimana dikiranya.
Benar-benar ular yang luar biasa kuatnya, pikir pemuda ini.
Pukulan tangan kirinya tadi bukanlah pukulan biasa saja dan batu karang agaknya akan remuk menerima tamparannya tadi.
Akan tetapi ular itu agaknya tidak apa-apa, bahkan setelah kepalanya terbentur batu karang, masih tidak kelihatan ular itu terluka!
Pemuda itu tidak mau menyerang, karena memang ia telah bersumpah kepada Thian te Siang mo kedua gurunya, bahwa ia tidak akan menyerang lebih dulu kepada siapapun juga sebelum lawan yang dihadapkannya itu menyerangnya atau melakukan sesuatu gerakan yang membahayakan orang lain.
Kini ia telah berhasil memukul ular yang menyerangnya dan berdiam saja, menanti serangan selanjutnya dari binatang berbahaya itu.
Akan tetapi, pengalaman yang tidak enak tadi agaknya membuat ular itu menjadi ragu-ragu untuk menyerang lagi.
Untuk beberapa kali binatang ini menggerak gerakkan kepalanya dan Ciang Le melihat betapa pada leher ular itu, tepat di bawah mulutnya terdapat bagian yang mengkilap dan berminyak.
Kembali ular itu mendesis desis, selain untuk mengeluarkan racun juga untuk menakut nakuti lawannya, kemudian tanpa peringatan lebih dulu, ia menyerang lagi.
Serangannya yang kedua kalinya ini lebih hebat dan lebih cepat daripada tadi.
Ciang Le melihat betapa ketika melakukan serangan, bagian leher yang berminyak itu makin mengkilap dan cepat ia lalu menggunakan dua jari tangan kanannya menyambut serangan ular itu.
Dengan menekuk kedua lututnya, Ciang Le mengelak sehingga ular itu melayang lewat dan pada saat itu kedua jari tangan itu menotok ke leher ular, tepat di bagian yan mengkilap tadi.
Serangan ini mengenai sasaran tepat sekali sehingga terdengar leher ular itu berbunyi "Kok!"
Dan secepat kilat tangan kiri Ciang Le menyusul, seperti tadi menampar kepala ular. Terdengar bunyi.
"Prak!"
Dan kepala ular itu terpukul dan menubruk batu karang.
Tubuhnya terkulai dan jatuh di bawah batu karang, menggeliat geliat perlahan.
Ternyata bahwa kepalanya pecah berantakan!
Bukan main girangnya hati kepala kampung dan kawan-kawannya melihat ular itu telah ditewaskan oleh penolong mereka dan tak terasa lagi mereka bersorak-sorai dengan girang.
Akan tetapi tiba-tiba sorak-sorai itu terdiam dan kembali mereka gemetar ketakutan ketika mendengar suara pekik mengerikan.
Siluman itu telah datang, bisik kepala kampung dan tanpa dikomando lagi, para petani ini lalu melarikan diri ke belakang dan bersembunyi di balik batu batu karang!
Mereka hanya berani menonton dari jauh saja sambil mengintai dari balik batu.
Ciang Le tetap tenang dan ia tidak bergerak ketika orang-tua yang dianggap siluman oleh para petani itu muncul dari balik batu karang.
Mata orang-tua ini terputar putar mengerikan dan berwarna merah ketika ia melihat ke arah bangkai ular.
Kemudian terdengar ia melolong dan menangis seperti anak kecil sambil menubruk dan memeluki bangkai ular besar itu.
"Ularku... ularku sayang..."
Ciang Le merasa kasihan juga menyaksikan keadaan orang gila itu.
Ia memandang dengan penuh perhatian.
Ternyata bahwa orang-tua itu pakaiannya compang camping dan tubuhnya kotor.
Akan tetapi selain matanya yang terputar putar, tidak nampak tanda tanda lain yang luar biasa.
Lebih kuat dugaannya bahwa orang-tua ini tentulah seorang ahli persilatan yang telah menjadi gila.
Tiba-tiba tangis orang-tua itu berhenti dan ia melompat ke atas lalu menghadapi Ciang Le dengan air mata membasahi pipinya.
"Orang kejam, kau berani sekali membunuh kekasih Coa ong Sin kai yang takkan mengampuni nyawamu? Siapakah kau orang muda berani mati yang bertangan lancang?"
Kaget juga hati Ciang Le mendengar bahwa orang ini adalah Coa ong Sin kai (Pengemis Sakti Raja Ular).
Nama ini ia pernah mendengar dari kedua gurunya sebagai seorang tokoh besar dari selatan yang memang berotak miring.
Maka ia berlaku waspada dan hati-hati sekali.
Cepat ia menjura dan dengan hormat berkata.
"Ah, kiranya Coa ong Sin kai Lo-Cianpwe yang berada di sini! Siauwte mengharap banyak maaf kalau siauwte kesalahan tangan membunuh ular ini. Hendaknya Lo-Cianpwe ingat bahwa ular ini amat jahat, telah makan anak-anak penduduk dusun dan tadipun bahkan telah dua kali menyerangku. Maka, sudah sepantasnya kalau binatang sejahat ini dilenyapkan agar jangan mengganggu manusia lagi."
Coa ong Sin kai berjingkrak saking marahnya.
"Kau bilang ularku ini kejam? kau anak kecil tahu apa tentang kekejaman? Ularku makan anak-anak karena memang ia suka dan perutnya lapar. Manusia lebih kejam lagi, suka membunuh bukan karena lapar, hanya karena nafsunya. Hayo kau ganti jiwa ularku!"
Sambil berkata demikian, kakek ini mengeluarkan pekik nyaring yang menggetarkan hutan itu, lalu maju menerjang Ciang Le dengan pukulan tangan terbuka seperti cengkeraman kuku harimau.
Ciang Le cepat mengelak dan otomatis ia membalas serangan lawannya.
Memang ilmu silat yang dipelajari oleh pemuda ini adalah ilmu silat yang sifatnya aktif apabila menghadapi serangan lawan.
Ilmu silatnya selalu disesuaikan oleh suhunya seperti sifat air.
Diam dan tenang, kelihatan lemah apabila didiamkan.
Akan tetapi cobalah ganggu air itu, akan nampak kehebatan dan kekuatannya yang tak terkalahkan.
Ilmu silat dari Coa ong Sin kai benar-benar cepat, ganas dan bertubi tubi datangnya.
Karena melihat gerakan lawannya yang aneh, Ciang Le membatasi serangan sendiri.
Ia menjadi amat tertarik dan karena ia pernah mendengar dari suhunya bahwa kepandaian Coa ong Sinkai ini amat tinggi dan ilmu silatnya amat sukar dilawan, ia menjadi makin tertarik.
Ingin sekali ia melihat sampai di mana kehebatan ilmu silat orang miring otaknya ini, maka ia lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mempertahankan saja.
Pertama-tama Coa ong Sin kai menyerang dengan pukulan yang disebut Jit seng to hian (Tujuh Bintang Jungkir Balik).
Gerak tipu ini susul menyusul sampai tujuh kali, dilakukan bertubi tubi dengan kedua tangan yang menyerang dari atas akan tetapi selalu dari jurusan yang berlawanan sehingga Ciang Le merasa seakan-akan ada tujuh lawan yang mengeroyoknya.
Akan tetapi dengan ginkangnya yang sudah tinggi, pemuda itu dapat menghindarkan diri dari serangan lawan dan berkali kali ia mengelak akan menangkis sampai tujuh gerakan dari jurus Jit seng to hian ini lewat tanpa merugikan.
Coa ong Sin kai menjadi penasaran, lalu mengubah serangannya dengan gerak tipu Cong eng kun touw (Garuda Menyambar Kelinci) semacam gerakan ilmu pedang yang olehnya dilakukan dengan tangan.
Kedua tangannya dimiringkan dan disambarkan seperti orang mempergunakan pedang Ciang Le mengerti bahwa biarpun tangan orang gila itu hanya terdiri dari kulit, daging dan tulang namun karena digerakkan dengan tenaga lwekang yang amat tinggi, apabila mengenai tubuhnya dari pedang manapun juga.
Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi saking cepatnya gerakan Coa ong Sin kai yang mengobat abitkan kedua tangannya sehingga mendatangkan angin, hampir saja pundak pemuda itu terkena sabetan!
Ciang Le terkejut.
Tak disangkanya bahwa lawannya yang sudah tua itu memiliki kegesitan yang tidak kalah oleh orang muda.
Berbahaya juga kalau didiamkan saja tanpa di balas dengan serangan serangannya, la mengeluarkan ilmu silat tangan kosong yang ia pelajari dari Thian Lo-mo yakni Ilmu Silat Thian hong ciang hwat (ilmu Silat Tangan Kosong Angin dari Langit).
Karena ilmu silat tangan kosong ini amat luas penggunaannya sehingga ia harus mempelajari sampai sepuluh tahun lebih maka di dalamnya termasuk ilmu tiam hwat (menotok jalan darah), kin na hwat (ilmu mencengkeram dan menangkap) dan juga terdapat jurus jurus yang mengeluarkan tenaga gwakang (tenaga kasar) dan lwekang (tenaga dalam).
Ilmu silat dari ilmu totokan dari Thian Lo-mo memang luar biasa sekali dan dahulu pernah menjagoi di kolong langit, maka setelah Ciang Le mainkan ilmu silat ini, dalam lima jurus saja ia telah berhasil menorok jalan darah yan goat hiat yang berada di bawah pangkal lengan.
Totokan itu mengenai dengan tepat sekali, akan tetapi kembali Ciang Le terkejut karena orang gila itu tidak roboh, hanya terhuyung mundur sambil tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, orang muda. Totokanmu benar-benar lihai, akan tetapi kurang tenaga!"
Ciang Le menjadi penasaran.
Mana bisa kurang tenaga?
Ia telah mengerahkan lwekangnya dan bagi orang lain, totokan tadi pasti akan membuat tangan dan lengan lawannya menjadi kaku tak dapat digerakkan!
Kembali ia menyerang dengan cepat dan kuat, kali ini dengan gerak tipu Thian hong sauw sui (Angin Langit Sapu Air).
Gerakannya cepat sekali dan untuk kedua kalinya, ia berhasil menotok jalan darah di pundak kiri lawannya.
Hanya terdengar suara "Duk"
Akan tetapi kembali lawannya hanya tertawa bergelak sambil membalas dengan serangan ganas!
Mendengar betapa lawannya selalu tertawa bergelak sehabis terkena totokannya dan totokan itu tidak berhasil memuaskan, teringatlah Ciang Le bahwa lawannya itu tentulah seorang ahli Ilmu I-kong-hoan-hiat (Ilmu Memindahkan Jalan Darah).
Pantas saja totokannya tidak pernah menghasilkan sesuatu dan suara ketawa lawannya itu hanya untuk memulihkan pengaruh totokan pada kulil dan jaringan darah.
Sementara itu setelah dua kali terkena totokan.
Coa ong Sin kai barulah maklum bahwa ia menghadapi seorang pemuda yang lihai sekali ilmu silatnya, ia menggereng seperti seekor harimau terluka lalu mengeluarkan senjatanya, yakni ranting bambu yang lemas itu.
Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, ranting bambu ini mengeluarkan suara bersiul dan menyambar ke arah leher Ciang Le.
Ketika pemuda ini melompat ke kiri untuk menghindarkan diri, ujung ranting ini masih mengejarnya bagaikan ekor ular dan terdengar suara keras ketika ujung ranting itu menyabet paha Ciang Le.
Pemuda ini baiknya telah menyalurkan tenaganya untuk menahan sabetan itu sehingga ujung ranting bambu itu terpental kembali ketika menimpa pahanya.
Akan tetapi celananya yang berwarna biru itu lelah robek di bagian paha seperti terobek oleh pisau tajam!
Kembali Coa ong Sin kai tertawa bergelak.
"Orang muda, pukulan ke dua akan merobek kulit lehermu!"
Sindirnya sambil menyerang lagi lebih hebat.
Ciang Le menjadi marah.
Dicabutnya Kim kong kiam dari sarung pedangnya dan ketika ia menggerakkan pedang itu, berkelebatlah sinar emas yang menyilaukan mata.
Tiba-tiba Coa ong Sin kai terbelalak dan berteriak.
"Thian te Siang mo...!"
Kemudian seperti orang ketakutan ia lalu melarikan diri meninggalkan Ciang Le yang memandang dengan senyum ditahan.
Ia dapat menduga bahwa orang gila itu tentu pernah dihajar oleh kedua suhunya, maka sekarang mengenal pedang ini, lalu berlari terbirit birit.
Melihat betapa baru setelah ia mencabut pedangnya, kakek itu mengenalnya, sebagai pemuda yang malam tadi menghalanginya, lebih yakinlah dia bahwa kakek itu memang benar-benar tidak beres pikiran dan ingatannya.
Kalau orang waras, masa tidak mengenalnya setelah pertemuan malam tadi?
Kepala kampung dan kawan-kawannya setelah melihat siluman itu melarikan diri, lalu bersorak girang dan beramai menghampiri Ciang Le.
Ketika mereka mencabut senjata hendak memukul hancur bangkai ular besar itu, Ciang Le mencegah mereka.
Kemudian, pemuda ini meminjam sebuah golok dan dengan hati-hati sekali ia membelek leher ular yang mengkilap itu.
Benda cair berwarna hitam seperti tinta bak mengalir keluar dari leher itu dan akhirnya keluarlah sebuah benda hitam bulat yang mengkilap.
Ciang Le mengeluarkan sehelai saputangan, lalu diambilnya benda itu dan dibungkus dengan saputangan, terus dimasukkan ke dalam kantong bajunya.
"Tidak rugi celanaku robek mendapat benda ini,"
Katanya perlahan sambil tersenyum, seperti kepada diri sendiri.
"Untuk apakah benda itu, taihiap? Dan apakah itu, apa gunanya?"
Tanya kepala kampung yang tidak sengaja mendengar ucapannya ini. Ciang Le tersenyum.
"Benda itu adalah batu yang mengandung racun ular yang amat jahat."
Kepala kampung menjadi terheran-heran, akan tetapi ia tidak berani bertanya lebih panjang lagi bahkan kemudian ia mengajak kawan-kawannya untuk menghaturkan terima kasih kepada Ciang Le sambil berlutut.
"Tak perlu berterima kasih,"
Mencegah pemuda itu.
"Dan tak perlu kalian kini berkuatir. Siluman itu sesungguhnya seorang manusia biasa yang berotak miring. Yang jahat adalah ularnya. Sekarang ularnya telah mati, ia takkan datang kembali. Sepeninggalku, kuburlah bangkai ular ini agar tidak menimbulkan penyakit yang akan lebih jahat lagi mengganggu kampung kalian."
Setelah berkata demikian, pemuda sakti itu membalikkan tubuh dan hendak pergi dari situ. Akan tetapi kepala kampung itu berkata.
"Taihiap, tunggu dulu. Mohon tanya she yang mulia dan nama besar taihiap, agar selama hidup kami takkan melupakan penolong kami yang budiman."
Ciang Le menengok dan tersenyum, lalu menggoyang-goyang tangannya dan berkata.
"Tak perlu diingat lagi, tak perlu. Lupakan, saja semua hal yang telah terjadi, karena apa yang Kulakukan bukanlah pertolongan, melainkan kewajibanku untuk menebus dosa!"
Setelah berkata demikian, agar jangan terganggu lebih lama lagi, pemuda itu menggunakan kepandaiannya berkelebat pergi dan lenyap dari pandang mata orang-orang itu.
Semua orang menjadi bengong dan saling pandang, kemudian atas pimpinan kepala kampung mereka berlutut ke arah menghilangnya pemuda itu.
Dan karena mereka tidak tahu nama pemuda itu, hanya ingat bahwa pemuda itu berpakaian kembang kembang yang lucu dan aneh, maka mereka memberi nama Hwa-I-Enghiong (Pendekar Baju Kembang) kepada Ciang Le.
*** "Kong kong (kakek), sesungguhnya mengapakah ayah bundaku lelah meninggal dunia lebih dulu?
Mengapa aku tak pernah mengenal mereka?"
Demikianlah pertanyaan yang diajukan oleh seorang gadis remaja kepada seorang kakek berpakaian petani.
Mereka berdua duduk di atas batu besar di sebuah lereng Gunung Hoa san yang terkenal indah pemandangan alamnya.
Kakek itu menundukkan kepalanya dan nampak berduka.
Akan tetapi ia menjawab juga.
"Bi Lan, mengapa kau selalu menanyakan hal itu? Orang-tuamu tentu saja meninggal dunia karena sudah tua dan sampai saatnya meninggal dunia."
"Kong kong, dahulu ketika aku masih kecil boleh kau membohongi aku seperti itu. Akan tetapi sekarang tak mungkin lagi. Bagaimana boleh jadi kedua orang-tuaku mati karena usia tua, sedangkan kongkong sendiri yang lebih tua masih hidup? Tidak, kong kong orang-tuaku tentu mati ketika mereka masih muda. Hayo ceritakan, kong kong, kalau tidak, aku akan marah!"
Gadis itu membuang lagak manja dengan mata setengah terkatup tanda marah dan bibirnya yang manis cemberut.
Kakek yang sedang suram wajahnya itu ketika melihat lagak gadis ini menjadi tersenyum.
Gadis ini merupakan cahaya matahari, baginya dan setiap kali gadis ini sajalah yang mampu mengusir kemuraman wajahnya dalam sekejap mata.
Pembaca tentu sudah dapat menduga siapa adanya kakek ini.
Memang, dia adalah Tan Seng, kakek tokoh Hoa-san-pai yang tangguh itu.
Di bagian pertama dari cerita ini telah dituturkan betapa Tan Seng tidak saja kehilangan anak perempuan dan mantunya, bahkan juga cucu tunggalnya, Go Ciang Le, telah lenyap diculik orang tanpa ia ketahui siapa penculiknya dan kemana perginya anak itu.
Tadinya ia merasa putus asa dan tidak tahu untuk apa ia harus hidup lebih lama lagi.
Akan tetapi kemudian ia teringat akan keturunan Liang Ti, murid keponakannya yang telah mengorbankan nyawa demi perjuangan suci.
Maka ia lalu mendatangi isteri Liang Ti, lalu membawa anak tunggal Liang Ti yang bernama Liang Bi Lan, dibawanya ke puncak Hoa-san-pai dan diserahkan kepada suci (kakak perempuan seperguruan) dan suheng suhengnya yang bertapa di puncak Hoa san.
Adapun isteri Liang Ti kembali ke dusun orang-tuanya, akan tetapi tiga tahun kemudian, janda yang bernasib malang ini membunuh diri karena dipaksa oleh seorang pembesar Kin yang mengadakan pembersihan di dusun orang-tuanya.
Selama belasan tahun, Bi Lan mewarisi ilmu silat dari Hoa-san-pai dan boleh dikata untuk masa itu, murid terpandai dan yang banyak mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai adalah Bi Lan!
Memang masih ada beberapa orang suhengnya dan seorang suci.
akan tetapi biarpun kepandaian mereka itu lebih masak, tetap saja Bi Lan seorang yang lebih banyak mewarisi ilmu ilmu paling rahasia dari Hoa-san-pai.
Tokoh-tokoh Hoa-san-pai yang berkumpul di puncak Hoa san dan yang bersama-sama menggembleng Bi Lan adalah empat orang.
Pertama-tama adalah tokoh nomor satu atau yang tertua di Hoa san pada waktu itu, yakni Liang Gi Tojin yang lebih mementingkan ilmu bathin dari pada ilmu silat.
Dari Liang Gi Cinjin, Bi Lan mewarisi lweekang yang tinggi dan juga pengetahuan bathin yang dalam.
Kemudian orang ke dua adalah Liang Bi Suthai, yang berwatak keras akan tetapi yang memiliki ilmu silat paling lihai diantara saudara-saudaranya.
Orang ke tiga adalah sasterawan dan memang dahulunya ketika masih muda, kakek ini adalah seorang sasterawan yang gagal menempuh ujian!
Namanya Kui Tek An, akan tetapi setelah ia menjadi pertapa, ia memakai nama Liang Tek Sianseng.
Dan orang ke empat adalah Tan Seng sendiri yang berpakaian seperti seorang petani.
Empat orang tokoh Hoa-san-pai ini menjadi guru dari Bi Lan, maka tidak mengherankan apabila sekarang nona ini telah menjadi seorang nona yang lihai ilmu silatnya.
Adapun suheng suhengnya (kakak seperguruan laki-laki) atau suci (kakak seperguruan perempuan) dari Bi Lan adalah murid-murid dari semua gurunya, yakni yang pertama bernama Lie Bu Tek murid dari Liang Gi Tojin yang telah meninggalkan perguruan empat tahun yang lalu.
Ke dua adalah murid tunggal dari Liang Bi Suthai, seorang pendekar wanita bernama Ling In she Thio, seorang nona cantik bertubuh langsing tegap yang juga telah turun gunung kembali ke rumah orang-tuanya di Biciu.
Orang ke tiga adalah murid dari Liang Tek Sianseng, seorang pemuda bernama Gau Hok Seng dan yang bekerja sebagai seorang pianwsu di selatan.
Baiklah kita kembali kepada Bi Lan dan kakeknya, yakni Tan Seng yang pada pagi hari yang sejuk dan indah itu duduk di lereng bukit dan bercakap-cakap setelah Tan Seng mengagumi latihan ilmu silat dari cucunya.
Dengan gemblengan empat orang guru, Tan Seng percaya bahwa kini ilmu kepandaian Bi Lan tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaiannya sendiri.
Ia maklum bahwa di dunia ini banyak sekali orang-orang pandai yang menjadi penjahat, sehingga dia sendiri dahulu hampir celaka ketika dikeroyok oleh perwira-perwira Kin yang dibantu oleh orang-orang kang ouw yang menjadi penjilat dan pengkhianat bangsa.
Ketika untuk kesekian kalinya Bi Lan yang sebenarnya bukan cucunya sendiri itu bertanya tentang ayah bundanya, Tan Seng berpikir bahwa agaknya sudah tiba waktunya bagi Bi Lan untuk mendengar hal yang sesungguhnya tentang orang-tuanya.
Nona ini tidak menjadi sedih mendengar tentang kematian ayahnya bahkan ia merasa bangga bahwa ayahnya tewas dalam pertempuran untuk membela bangsa.
Kematian ibunya membuat ia menggertak gigi dan memaki.
"Akan kuhancurkan kepala anjing-anjing Kin itu!"
"Memang sudah menjadi kewajiban kita untuk berusaha mengusir penjajah yang menguasai dan menjajah tanah air bagian utara, Bi Lan, akan tetapi kita tidak boleh menurutkan nafsu marah. Pada waktu inipun rakyat masih terus-menerus melakukan perlawanan dan pemberontakan dengan gigih. Nah, kewajibanmulah untuk membantu perjuangan mereka itu, demi kemerdekaan tanah air dan demi menjunjung tinggi nama Hoa-san-pai kita."
Akan tetapi yang membuat nona itu paling berduka adalah kenyataan bahwa Tan Seng bukanlah kakeknya. Dan mendengar tentang riwayat Go Sik An, ia merasa kagum sekali.
"Kong kong,"
Sebutan ini sekarang terdengar agak ganjil olehnya.
"A... seharusnya aku menyebut sukong (kakek guru) karena aku... aku bukan cucumu,"
"Tidak begitu Bi Lan,"
Jawab Tan Seng terharu, sambil mengusap usap kepala gadis itu.
"Biarpun kau bukan cucuku yang aseli akan tetapi bagiku kau adalah pengganti cucuku. kau seterusnya sebutlah kong kong padaku, Bi Lan."
Suara kakek ini terdengar menggetar sehingga Bi Lan yang amat sayang kepada kakek ini, tidak tega untuk menolak permintaan ini.
"Jadi cucumu yang bernama Go Ciang Le itu lenyap diculik orang, kong kong?"
Tan Seng mengangguk, lalu menceritakan kejadian itu dengan singkat.
"Sampai sekarang aku tidak tahu apakah Ciang Le masih hidup atau sudah mati dan juga masih belum kuketahui siapa sebenarnya yang telah menculik anak malang itu."
"Heran sekali, kong kong, mengapa kau tidak bisa mencari orang yang melakukan perbuatan itu? Bukankah kong kong mempunya banyak sekali sahabat di dunia kang ouw?"
Kakek ini mengangguk-angguk.
"Memang betul begitu, akan tetapi di dunia ini terdapat banyak sekali orang-orang aneh dan orang-orang sakti yang menyembunyikan diri. Kalau maksud penculik itu baik, mungkin cucuku itu kelak akan muncul sebagai seorang gagah perkasa, menjadi murid orang sakti. Akan tetapi kalau dia bermaksud buruk..."
Kakek ini tidak kuasa melanjutkan kata-katanya, kemudian disambungnya pula.
"Akan tetapi, aku telah berpesan kepada kedua suhengmu dan sucimu untuk menyelidiki di mana sesungguhnya gua yang disebut Gua Pahlawan itu."
Pada saat itu, dari kaki bukit Hoa-san-pai berlari-lari naik seorang pemuda tinggi besar berbaju biru, bertopi biru dan bercelana putih.
Pemuda ini memiliki wajah yang biasa disebut "Toapan", simpatik dan jujur.
Tubuhnya kekar dan tegap membayangkan akan kebesaran tenaganya dan wajahnya yang bersih membayangkan kebersihan hatinya, ia melomoat lompat dan berlari cepat mempergunakan Ilmu Lari Cepat Cho sang hui (Terbang di Atas Rumput) yang dilakukan dengan amat mahirnya.
Biarpun tubuhnya tinggi besar, namun ia seakan-akan seekor kupu yang beterbangan tanpa menimbulkan suara berisik.
Inilah Gan Hok Seng, atau yang di daerahnya terkenal dengan sebutan Gan piauwsu, karena dia telah membuka sebuah perusahaan piauwkiok (ekspedisi) yang diberi nama Hui houw piauw kiok (Perusahaan Ekspedisi Macan Terbang) dan oleh karena nama perusahaannya inilah maka ia mendapat nama julukan Hui houw (Macan terbang).
Seperli telah diceritakan di depan, Gan Hok Seng ini adalah murid dari Lian Tek Sian seng, sasterawan tokoh Hoa-san-pai itu.
Cara Hok Seng berlompatan dan berlari-lari, membayangkan bahwa wataknya selain jujur dan polos juga amat gembira.
Sayangnya bahwa pemuda ini agak dogol, yakni kurang cepat jalan pikirannya, sungguhpun ia bukan seorang bodoh, namun menghadapi perkara yang tiba-tiba ia suka memperlihatkan sikap yang ketolol tololan.
Ketika ia tiba di lereng yang penuh rumput hijau tiba-tiba ia mendengar suara angin dari belakang dan ketika ia menengok, ia melihat seorang Hwesio, Pendeta Buddha bekepala gundul yang bertubuh tegap pendek berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun berlari cepat sekali, lebih cepat dari pada larinya sendiri.
Karena Hwesio itu agakiya hendak menuju ke kuil di puncak Hoa san, Gan Hok Seng lalu membalikkan tubuhnya menghadang Hwesio itu yang juga segera berhenti melihat pemuda itu mengangkat tangannya.
"Selamat siang, Twa-suhu"
Tegur Hok Seng sambil tersenyum gembira dan memberi hormat dengan kedua tangannya diangkat ke dada.
"Hendak ke manakah Twa-suhu agaknya amat tergesa gesa?"
Hwesio itu memandang dengan pandang mata menyelidik, kemudian balas bertanya.
"Kau siapakah dan apa hubunganmu dengan Hoa-san-pai?"
Hok Seng tidak senang mendengar pertanyaan dan melihat sikap Hwesio yang kasar ini, yang dianggapnya tidak sesuai untuk seorang pendeta.
Akan tetapi Karena ia jujur, ia menjawab dan mencela dengan terus terang.
"Ah tidak kusangka Twa-suhu demikian kasar seperti seorang kang ouw buta huruf saja! Aku adalah murid Hoa-san-pai bernama Gan Hok Seng atau Gan piauwsu. ketua dari Hui houw piauwkiok."
Hwesio itu mengangkat hidungnya dengan sikap memandang rendah sekali.
"Hem, jadi kau ini masih murid Hoa-san-pai? Siapa gurumu? Si pemalas Liang Gi atau si nenek genit Liang Bi, ataukah si kutu buku Liang Tek? Atau barangkali petani busuk Tan Seng? Hayo kau beritahukan kepada pinceng, karena segala julukan Hui houw dan nama Hui houw piauwkiok, mana pinceng mengenalnya!"
Merahlah wajah Hok Seng.
Dia memang masih muda baru dua puluh tiga tahun umurnya dan darahnya masih panas.
Lagak Hwesio ini benar-benar amat menyebalkan hatinya.
Gurunya Liang Tek Kian seng disebut kutu buku, twa supeknya disebut pemalas, bahkan sukouwnya disebut nenek genit dan susioknya disebut petani busuk!
"Eh, Hwesio gendeng, mengapa kau datang datang memaki orang?
Ketahuilah bahwa aku adalah murid dari Liang Tek Sianseng, guru ku pernah bilang bahwa menilai hati orang dengar saja apa yang keluar dari mulutnya.
kau mengeluarkan omongan kotor dan hawa busuk maka mudah saja menerka bagaimana macamnya isi perutmu!"
Tiba-tiba Hwesio itu tertawa bergelak.
"Sebetulnya memang malu harus ribut-ribut dengan seorang tingkat rendah macam engkau ini, akan tetapi karena kau murid Liang Tek si kutu buku, biarlah pinceng lihat apakah kau juga menjadi kutu buku seperti gurumu."
"Aku bukan kutu buku! Guruku telah mengajar ilmu silat tinggi kepadaku. Jangan kau memandang hina ilmu kepandaian dari Hoa-san-pai!"
Hok Seng membentak, hampir tak dapat menahan marahnya lagi.
"Begitu? Nah, cobalah, bocah! Kalau kau bisa menahan sepuluh jurus seranganku, baru lah aku percaya omonganmu."
Setelah berkata demikian, tiba-tiba Hwesio itu mengibaskan tangan bajunya yang lebar ke arah Hok Seng dalam Ilmu Pukulan Tui san ciang (Pukulan Mendorong Bukit) yang dilakukan dengan pengerahan tenaga lweekang.
Hok Seng merasa betapa angin dingin dan tajam menyambar mukanya, maka ia cepat menggeser kaki sambil miringkan tubuh untuk menghindarkan diri dari pukulan pertama ini.
Akan tetapi tak terduga sama sekali bahwa pada saat itu juga, pukulan kedua dengan ujung lengan baju sebelah kiri telah menyusul ke arah pusarnya!
Inilah pukulan yang amat berbahaya dan dapat membuat jiwa melayang.
Hok Seng cepat melompat ke kiri, akan tetapi masih saja ujung lengan baju itu mengenai tubuh belakangnya sehingga terdengar bunyi berdebuk dan Hok Seng merasa betapa daging dan kulit di bagian belakang Itu panas dan pedas.
Baiknya ia telah mengerahkan lweekang di bagian itu sehingga hanya terasa sakit saja tanpa menderita luka berat.
Akan tetapi yang lebih menyakitkan hatinya adalah suara ketawa Hwesio itu.
"Ha-ha-ha-ha, tidak tahunya hanya sebegitu saja kebecusan murid dari si kutu buku! Ha-ha-ha, orang dogol! Lihat, kulit pantatmu kelihatan, apakah kau masih belum mau mengaku kalah dan berlutut di depan Tiauw It Hosiang yang bergelar It ci sinkang (Si Jari Lihai). Ketahuilah bahwa kau berhadapan dengan tokoh dari Go-bi-pai!"
Hok Seng cepat melirik ke arah tubuh belakangnya dan benar saja, celananya yang putih itu telah hancur di bagian tubuh belakang sebelah kanan sehingga tampak kulit tubuh belakangnya yang putih dan agak kemerahan karena pukulan tadi.
Ia menjadi mendongkol sekali dan secepat kilat tangannya bergerak kearah punggung, mengeluarkan sepasang poan koan pit (senjata seperti alat tulis pensil bulu).
Poan koan pit di tangarnya ini memang senjatanya yang paling istimewa warisan dari suhunya yang memang amat ahli dalam mainkan poan koan pit, baik untuk menulis syair maupun untuk dipergunakan sebagai senjata.
Poan koan pii di tangan kirinya berbulu pulih, dan di tangan kanannya berbulu hitam dan keras.
Melihat pemuda itu mengeluarkan senjata poan koan pit, Tiauw It Hosiang tertawa bergelak dan kelihatan ia geli sekali.
"Ha-ha-ha benar-benar si kutu buku telah membiak muridnya menjadi kutu buku kecil! Eh, bocah! kau mengeluarkan pit, apakah kau hendak menulis sajak ataukah hendak melukis gambar? Ha-ha-ha!"
Hok Seng tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Ia cepat maju menggerakkan sepasang poan koan pit dan pit di tangan kiri yang berbulu putih itu cepat menusuk ke arah mata kanan lawannya, sedangkan pit berbulu hitam di tangan kanan menusuk dengan totokan ke arah jalan darah tai hwi hiat!
Serangannya ini luar biasa hebatnya dan karena ia tahu akan kelihaian lawannya, maka sekali serang ia mengeluarkan gerak tipu yang di sebut Ji liong lo hui (Dua Ekor Naga Mengacau Laut).
Akan tetapi Hwesio itu benar-benar lihai dan memiliki gerak cepat sekali.
Dan kali ia menggerakkan tangannya dan ujung lengan bajunya sekaligus dapat menangkis serangan poan koan pit bahkan ujung lengan baju itu hendak membelit senjata lawan untuk dirampasnya.
Hok Seng sudah berlaku waspada dan karena ia tahu bahwa tenaga lweekang dari lawannya ini masih lebih tinggi diri pada tenaganya sendiri, maka ia tidak membiarkan poan koan pitnya dilibat oleh ujung lengan baju itu.
Ia membetot kedua senjata sambil mengirim tendangan Soan hong twi yang bertubi tubi menyerang bagian tubuh yang paling berbahaya dari Hwesio itu.
Kembali Hwesio itu memperlihatkan kepandaiannya.
Ia tidak mengelit atau menangkis tendangan tendangan itu dengan kedua tangan nya, melainkan menggerakkan kedua kakinya juga dan membarengi tendangan lawan untuk mengadu kaki!
Dengan amat cepatnya ia menyambut kaki Hok Seng dengan dupakan kakinya sehingga pemuda itu mengeluarkan teriakan kaget karena tubuhnya seakan-akan di lemparkan ke belakang oleh tenaga yang amat hebat!
Baiknya ia masih sadar dan dengan cepat ia menggertakkan tubuh yang terlempar di udara berjungkir balik membuat salto tiga kali dengan gerak tipu Kou-liong hoan-sin (Naga Siluman Berjungkir Balik).
Dengan gerakan indah ini barulah ia dapat turun keatas tanah dengan baik dan dalam keadaan berdiri teguh.
"Bagus, sekarang kau harus roboh!"
Teriak Tiauw It Hosiang dan dengan cepat sekali tubuhnya melayang kearah pemuda itu dan melakukan serangan serangan hebat dengan kedua kepalan dibantu oleh ke dua lengan baju.
Tidak hanya dua kepalan tangannya yang amat berbahaya, akan tetapi juga ujung lengan bajunya yang selalu mengadakan serangan menyilang dengan kepalan, merupakan bahaya besar.
Hok Seng benar-benar kali ini merasa terkejut sekali.
Kedua ujung lengan baju Hwesio itu merupakan tandingan setimpal terhadap sepasang poan koan pitnya.
Ke mana juga sepasang alat penotoknya menyerang, selalu terpental kembali karena kebutan kedua ujung lengan baju, adapun sepasang kepalan Hwesio itu merupakan alat penyerang yang berbahaya dan hanya dapat ia hadapi dengan elakan-elakan cepat.
Akan tetapi segera ia terdesak mundur dan menjadi sibuk sekali berlompatan ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari bahaya maut.
Pada saat Hok Seng berada dalam bahaya, tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali dibarengi bentakan nyaring.
"Penjahat gundul jangan kau berani mengacau di Hoa san!"
Tiauw It Hosiang cepat melompat mundur dan menyampok sinar pedang yang mengarah pundaknya itu dengan ujung lengan bajunya.
Akan tetapi sebelum lengan bajunya mengenai pedang, senjata itu telah dibelokkan dan sekarang tanpa tertunda lagi telah maju menusu ke arah lambungnya.
Hwesio ini kaget juga dan tahu bahwa penyerang baru ini memiliki kegesitan yang lebih tinggi daripada Hok Seng.
Ia segera melompat satu setengah tombak ke belakang, lalu memandang.
Ternyata yang datang adalah seorang wanita yang cantik bertubuh tinggi langsing dan tegap, berwajah segar kemerahan bagaikan kembang botan yang sedang mekar.
"Suci"!"
Hok Seng menegur dan gadis itu berpaling lalu tersenyum ramah kepadanya Kemudian gadis yang baru datang ini, yaitu kakak seperguruan dari Hok Seng atau murid dari Liang Bi Suthai yang bernama Thio Ling In, menudingkan pedangnya kepada Tiauw It Hosiang sambil bertanya.
"Kau ini Hwesio dari manakah? Apakah tidak tahu bahwa di sini Gunung Hoa san dan menjadi derah dari Hoa-san-pai? Mengapa kau mengandalkan sedikit kepandaian untuk mengacau?"
Tiauw It Hosiang tertawa bergelak dan karena ia tertawa sambil menggerakkan khikangnya, maka suara ketawanya terdengar bergema sampai jauh.
Pada saat itu, dari bawah berlari naik seorang pemuda pula, seorang pemuda yang bermuka putih dan gagah sekali.
Pakaiannya bersih dan indah dan sikapnya patut sekali kalau ia menjadi seorang pendekar besar.
Dia ini bukan lain adalah Lie Bu Tek, murid dari Liang Gi Tojin, atau murid tertua dan Hoa-san-pai.
Ia tadi memang ber sama-sama Thio Lin ln, hanya sumoinya ini yang tidak sabar telah berlari-lari naik mendahuluinya.
Ketika melihat pemuda ini, Tiauw It Hosiang segera menudingkan telunjuknya sambil bertanya.
"Apakah yang datang inipun seorang murid Hoa-san-pai juga?"
Dari jauh Lie Bu Tek sudah mendengar suara ketawa Hwesio ini dan dia merasa tak senang sekali melihat lagak Hwesio yang amat sombong ini, maka katanya tegas.
"Aku memang murid Hoa-san-pai bernama Lie Bu Tek. Tidak tahu siapakah kau dan apa maksudmu datang di gunung kami?"
"Ha-ha-ha! Murid-murid Hoa-san-pai memang galak galak! Jika geledek bersuara keras takkan turun hujan dan jika gentong berbunyi nyaring, tanda ia kosong! Murid-murid Hoa-san-pai bermulut besar bersuara keras tanda kosong pengetahuannya!"
"Eh, eh, Hwesio gundul gila!"
Thio Ling In memaki marah. Gadis ini memang mempunyai watak keras seperti gurunya.
"Kau ini datang datang mencari perkara, apakah sudah bosan hidup?"
"Suci, dia adalah Tiauw It Hosiang berjuluk It ci sinkang dari Gobi san. Memang dia datang datang menyerangku dan sengaja mencari perkara. Tak usah banyak bicara dengan dia, mari kita tangkap dia untuk diseret ke depan guru-guru kita!"
Kembali Hwesio itu mentertawakan mereka.
Lie Bu Tek menjadi gemas sekali.
Pemuda yang usianya sudah dua puluh lima tahun lebih ini telah merantau dan memiliki pengalaman luas, juga dengan kepandaiannya, ia telah memperoleh nama besar.
Kini menghadapi Hwesio Go-bi-pai ini, tentu saja ia tidak menjadi takut dan marahlah ia melihat kekurangajaran Hwesio ini.
"Sute, sumoi, biarkan aku mencoba kepandaian Hwesio ini,"
Katanya, kemudian dengan sekali lompatan saja ia telah berada di depan Tiauw It Hosiang.
Hwesio ini melihat gerakan orang tahu bahwa ia menghadapi seorang ahli yang tidak boleh dipandang ringan, maka ia hentikan senyumnya dan memasang kuda kuda.
"Bagus, kau murid tertua dari Hoa-san-pai? Majulah, hendak kulihat sampai di mana tua bangka tua bangka di puncak Hoa san itu memberi pelajaran kepadamu."
"Hwesio, mulutmu terlalu kotor!"
Bentak Lie Bu Tek yang cepat maju menyerang dengan kepalan tangan kanannya.
Pukulannya dilakukan dengan cepat dan manlep, membawa tenaga yang luar biasa kuatnya.
Melihat cara pemuda ini memukul, Tiauw lt Hosiang tidak berani main-main lagi.
Ia cepat mengelak ke kiri dai membalas kontan dengan tendangan ke arah perut Lie Bu Tek.
Akan tetapi pemuda Hoa-san-pai inipun tidak gugup dan cepat ia menggunakan tangan tadi ditarik ke bawah dan menggunakan sikunya untuk menangkis tendangan ini.
Pukulan dengan siku tangan kanan ini merupakan totokan ke arah jalan darah pada mata kaki, maka Tiauw It Hosiang cepat menarik kembali kakinya dan kini kedua ujung lengan bajunya menyambar dari kanan kiri mengarah kedua telinga Lie Bu Tek!
Pemuda ini cepat menggunakan gerakan Liang tho lian kai (Dua Bunga Teratai Mekar), kedua tangannya bergerak dari pinggang ke atas dan berhasil menanakis sambaran ujung lengan baju.
Lie Bu Tek merasa betapa lengannya tergetar dan Tiauw It Hosiang melihat betapa kedua lengan bajunya terpental ke belakang.
"Bagus, berisi juga kau !"
Kata Hwesio itu yang melangkah mundur tiga tindak, kemudian ia menggerak gerakkan kedua lengannya.
Tiba-tiba dadanya mengempis dan perutnya mengembung, mukanya menjadi pucat dan matanya tak pernah berkedip memandang ke depan.
Dengan langkah perlahan ia lalu maju menghampiri Lie Bu Tek dengan kedua tangan terkepal, akan tetapi jari telunjuknya lurus keluar.
Inilah Ilmu Silat lt ci tiam hwelouw (Ilmu Totok Satu Jari) atau It ci ciang (Pukulan Satu Jari) yang menjadi kebanggaan dan yang membuat namanya terkenal di dunia kang ouw.
Ilmu silat ini benar-benar luar biasa karena seluruh gerakan berdasarkan lweekang yang berbahaya.
Gerakannya menang perlahan saja, akan tetapi daya pukulannya amat lihai, sukar sekali dilawan, apa lagi oleh orang yang ilmu kepandaian atau tenaga lweekangnya masih rendah, Sebetulnya apabila tidak menghadapi lawan tangguh, Tiauw It Hosiang tidak mau mengeluarkan kepandaian simpanannya ini.
Sekarang ia hendak mengalahkan lawannya cepat-cepat, maka ia mengeluarkan It ci tiam hwelouw.
Lie Bu Tek terkejut.
Sebagai seorang yang banyak merantau, ia maklum akan kehebatan lawannya ini iapun telah melatih diri dan memiliki lweekang yang tinggi, maka tentu saja ia tidak gentar dan menghadapi lawannya dengan tabah.
Akan tetapi ia maklum jika kali ini tidak dapat mengalahkan lawan nya, pasti ia akan terluka hebat!
Gan Hok Seng dan Thio Ling In juga maklum akan hal ini, maka mereka memandang dengan hati berdebar dan gelisah.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa terkekeh yang merdu sekali, lalu disusul oleh suara yang jenaka.
"Eh kau ini orang gundul apakah hendak meniru seekor kepiting? Kepalamu gundul licin, dada kempis perut kembung, telunjuk menuding, apa-apaan sih? Sungguh amat lucu, anak-anak bukan, orang-tuapun tak pantas!"
Saking marah dan mendongkolnya mendengar olok-olok ini, Tiauw lt Hosiang tidak jadi menyerang Lie Bu Tek menyimpan kembali tenaga lweekangnya sehingga perutnya mengempis kembali dan dadanya mekar.
Ia cepat-cepat menoleh dan entah dari mana datangnya, tahu-tahu di sebelah kanannya telah berdiri seorang gadis amat cantik dan usianya baru belasan tahun.
Gadis itu berdiri dengan kedua alis diangkat tinggi, mata memandang lucu dan bibirnya menahan geli hati yang membuatnya tertawa terkekeh.
Di belakangnya berdiri seorang kakek berpakaian petani, maka tahulah Tiauw It Hosiang bahwa ia berhadapan dengan orang keempat dari tokoh-tokoh Hoa-san-pai lalu ia menjura kepada Tan Seng yang berdiri di belakang Bi lan.
"Susiok!"
Lie Bu Tek, Gin Hok Seng, dan Thio Ling In memberi hormat kepada Tan Seng yang mengangguk-angguk kepada mereka.
Adapun Bi Lan lalu menghampiri Ling In sambil berlari-lari, kemudian memeluk gadis itu sambil berkata.
"Enci Ling In mengapa begitu lama kau baru muncul? jiwi suheng, kalian tidak bertambah besar, masih sama seperti dulu!"
Kedua suheng itu tersenyum gembira.
"Kau yang sekarang telah menjadi besar benar-benar telah menjadi sarang dara yang cantik, bukan begitu sute?"
Kata Lie Bu Tek kepada Gan Hok Seng yang semenjak tadi menatap wajah Bi Lan dengan kagum terheran-heran.
"Kalau bertemu berdua di jalan, tentu aku takkan mengenalmu, sumoi. kau benar-benar berubah!"
Akhirnya Hok Seng berkata dan pujian kedua suhengnya ini membuat wajah Bi Lan berseri-seri. Sementara itu Tiauw It Hosiang yang menjura kepada Tan Seng berkata.
"Kebetulan sekali kau turun! Bukankah pinceng berhadapan dengan Tan Seng Lo-Enghiong, tokoh ke empat dari Hoa-san-pai, bukan dari murid-muridnya yang kosong melompong hanya pandai menyombong saja!"
Tan Seng bersikap sabar dan hendak merendahkan diri, akan tetapi tiba-tiba Bi Lan melompat ke depan Hwesio itu dan menudingkan jari telunjuknya hampir mengenai hidung Tiauw It Hosiang Hwesio ini cepat melangkah mundur, karena tentu saja ia tidak sudi hidungnya ditunjuk-tunjuk oleh nona kecil Ini.
"Eh, Hwesio pemotong babi, kau bilang apa tadi? kau bilang datang hendak minta tambah pengertian, akan tetapi mengapa kau memaki-maki murid Hoa-san-pai! Tadipun kau berani mempermainkan saudara-saudaraku, berani pula membadut dan hendak berjoget tari kepiting, apa-apaan sih kau ini? Orang seperti kau tidak berharga untuk bicara dengan kami, hayo kau pergi dari sini!"
Setelah berkata demikian Bi Lan lalu menggunakan tangan kanannya yang jari-jarinya dibuka untuk mendorong dada Hwesio itu, Tiauw It Hosiang tentu saja memandang rendah gadis ini dan melihat kejenakaan Bi Lan, dan karena mendongkol juga dihina oleh gadis cilik ini, ia bermaksud hendak mempermainkan Bi Lan dan membikin malu.
Demikianlah, ketika tangan nona itu mendorong ke arah dadanya, ia lalu mengulur tangan kanan untuk menyambut lengan itu dan hendak ditangkap pergelangan tangannya.
Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika jari-jari tangan Bi Lan yang mendorongnya itu tiba-tiba saja menukik ke bawah dengan pergelangan tangan ditekuk secara mendadak, dan dua buah jari tangan gadis itu dengan tepat sekali menotok ke arah jalan darah pada pergelangan tangannya!
Tiauw It Hosiang cepat menarik kembali tangannya,, akan tetapi pada saat itu tangan kiri gadis yang jenaka ini telah mendorong dadanya.
Tiauw It Ho siang mempertahankan diri, akan tetapi dorongan itu selain tiba-tiba dan tak terduga datangnya, juga tenaga yang dipergunakan luar biasa besarnya sehingga biarpun tidak terjengkang ke belakang, tubuh Hwesio itu telah terhuyung-huyung ke belakang sampai lima tindak!
"Eh eh, kau masih tidak mau pergi?"
Bentak Bi Lan sambil pelototkan mata dan bertolak pinggang, lagaknya seperti sedang menegur seorang anak kecil yang nakal.
"Apakah mau tunggu sampai aku menjewer telingamu?"
Selama Tiauw It Hosiang menjadi tokoh ke tiga dari Go-bi-pai, yakni sudah lebih lima tahun, di manapun dia berada belum pernah Hwesio ini mengalami hinaan orang seperti yang telah dihadapinya sekarang.
Dara remaja yang usianya baru belasan tahun ini, yang nampak lemah-lembut karena kulitnya halus seperti sutera dan wajahnya cantik jelita seperti bidadari, telah berani mempermainkannya dan menghinanya dengan cara yang hebat sekali.
"Tan Seng Lo-Enghiong,"
Katanya dengan suara menggigil saking marahnya kepada gadis itu.
"Kalau kau tidak menyuruh pergi gadis liar ini dan tidak menyuruh dia minta ampun kepadaku, jangan salahkan pinceng turun-tangan menghajarnya!"
"Bi Lan, jangan main-main dengan It ci sinkang Tiauw It Hosiang, dia adalah tokoh besar ke tiga dari Go-bi-pai!"
Kata Tan Seng setengah mengejek Hwesio yang sombong itu tanpa minta gadis itu mengundurkan diri.
Memang Tan Seng kakek petani ini sengaja hendak melihat sampai di mana keberanian dan kepandaian cucunya yang tercinta, dan sampai di mana pula kesombongan Hwesio itu.
Kalau kiranya gadis itu nanti terancam bahaya, baru ia hendak turun-tangan membantu.
"Kong kong, jangan kata baru satu jarinya yang lihai (it ci), biarpun dua puluh jari tangan dan kakinya semua lihai, tidak seharusnya ia main gila di Hoa san! Jangankan baru tokoh ke tiga, biar tokoh terbesar sekalipun harus menaruh hormat kepada Hoa-san-pai! Aku takkan minta ampun sebelum dia yang lebih dulu berlutut minta ampun kepada kong kong karena tadi telah berani menghina anak murid Hoa-san-pai."
Sambil berkala demikian kembali ia menghadapi Hwesio itu dengan kedua tangan bertolak pinggang dan dengan sikap menantang sekali.
"Sumoi, jangan main-main. Dia lihai sekali!"
Kata Gan Hok Seng memperingatkan sumoinya karena peauwsu muda ini tadi telah merasakan sendiri kelihaian Hwesio itu.
"Sumoi, biar susiok menghadapinya, jangan main-main!"
Lie Bu Tek juga memperingatkan, karena tiga tabun yang lalu, ketika ia hendak meninggalkan perguruan, sumoinya yang paling kecil ini kepandaiannya masih di bawah tingkatnya sendiri.
Sedangkan dia sebagai murid pertama dari Hoa-san-pai yang sudah banyak merantau dan berpengalaman, masih tidak kuat menghadapi Hwesio ini, apalagi sumoinya yang cantik dan jenaka ini?
Adapun Thio Ling In, gadis murid Liang Bi Suthai yang juga memiliki watak jenaka akan tetapi keras, melihat betapa sumoinya berani mempermainkan Tiauw It Hosiang tertawa geli dan berkata kepada Tan Seng.
"Susiok, biarkan teecu membantu sumoi menghadapi si gundul sombong ini!"
"Tak usah, suci, tak usah! Orang macam ini saja perlu apa harus kau sendiri turun-tangan? Cukup dihadapi murid termuda dari Hoa-san-pai! Nah, Tiauw It Hosiang, kau hendak berkata apa sekarang?"
Bi Lan kembali mengejek Hwesio itu. Kulit muka Hwesio itu sebentar menjadi merah sampai ke kepalanya dan sebentar pula menjadi sangat pucat saking menahan marahnya.
"Kau ...kau... akan kubunuh kau..."
Hanya ini yang dapat keluar dari mulutnya dengan dada terengah-engah, kemudian ia mengumpulkan tenaganya, menggerak gerakkan kedua tangannya.
Seperti tadi ketika menghadapi Lie Bu Tek, dadanya mengempis dan perutnya mengembung, mukanya pucat dan sepasang matanya melotot memandang kepada Bi Lan!
Ia melangkah maju dengan kedua tangan terkepal akan tetapi jari telunjuknya lurus keluar.
Saking marahnya, menghadapi anak dara ini Tiauw It Hosiang tidak segan segan mengeluarkan ilmunya yang paling dibanggakan dan diandalkan, yakni It ci tiam hwelouw yang jarang sekali gagal dalam menghadapi lawan tangguh.
Lie Bu Tek menjadi pucat ketika melihat ini, juga Thio Ling In dan Gan Hok Seng memandang dengan hati berdebar-debar dan diam-diam mereka menyesali sumoinya yang dianggap terlalu sembrono itu.
Hanya Tan Seng seorang yang masih tenang tenang saja.
Bagaimana sikap Bi Lan sendiri?
Sungguh mengherankan, gadis ini bahkan mentertawakan Tiauw It Hosiang.
Ia tertawa-tawa sambil menutup mulut dengan tangan kirinya, sama sekali tidak memasang kuda kuda untuk menghadapi serangan lawan.
"Aha, badut gundul, kembali kau berjoget kepiting!"
Tiauw It Hosiang mengeluarkan bentakan parau menyeramkan dan tubuhnya menubruk maju, melakukan serangan dengan kedua jari telunjuknya yang kiri menotok jalan darah Hong sai hiat di lutut kanan, sedangkan jari kanan menotok jalan darah Kiam ceng hiat di pundak kiri nona itu!
Memang luar biasa dan hebat sekali serangan beruntun yang hampir berbareng telah menyerang bagian bagian tubuh yang berjauhan ini.
"Ayaaa! Tidak tahunya kepiting gundul ini galak!"
Dengan amat lincahnya Bi Lan mengelak ke belakang menghindarkan serangan totokan yang lihai itu.
Gerakannya tadi ketika mengelak adalah gerakan dari langkah kaki yang disebut Tui-po lian-hoan (Gerakan Kaki Mundur Berantai).
Ketiga kakak seperguruannya tentu saja sudah mempelajari Tui-po lian-hoan, akan tetapi mereka merasa kagum sekali ketika menyaksikan betapa gerakan kaki ini dapat dipergunakan untuk menghindarkan diri dari serangan yang demikian berbahaya.
Di samping itu, Bi Lan masih bisa mengeluarkan kata-kata ejekan pula!
"Mampus kau !"
Tiauw It Hosiang dengan marah menyerang terus tanpa memberi kesempatan kepada lawannya.
Kini kaki kanannya menendang dari bawah ke arah pusar sedangkan dua telunjuknya melakukan totokan berbareng ke arah leher dan ulu hati.
Dengan demikian, maka sekaligus ada tiga serangan yang mengancam diri Bi Lan.
Dengan bibir masih tersenyum manis, Bi Lan menghadapi serangan maut ini dengan gerak tipu Ouw po lat kiang (Menggeser Kaki Menarik Busur).
Gerakan ini indah sekali karena sambil mengelak dari tendangan kaki lawan, kedua tangannya bergerak maju dan sekaligus ia menyambut totokan lawan dengan mendahuluinya menotok ke arah sambungan siku!
Kembali Lie Bu Tek dan dua orang adik seperguruannya melenggong, karena biarpun mereka telah mempelajari gerak tipu Ouw po lat kiang ini, namun harus mereka akui bahwa gerakan mereka takkan secepat dan setepat itu.
Ketika mereka melirik ke arah susiok mereka, Tan Seng hanya mengangguk-angguk puas dan nampaknya juga kagum dan gembira sekali!
Tentu saja Tiauw It Hosiang tidak mau membiarkan sambungan sikunya ditotok lawan, maka cepat ia menarik kembali kedua tangannya.
Akan tetapi sekarang Bi Lan tidak mau memberi hati dan memberi kesempatan kepada lawannya untuk menyerang terus, ia membalas dengan serangan serangan hebat pula dan yang ia pergunakan untuk menyerang adalah Pukulan Hun-kai ciang-hwat (Pukulan Memecah dan Membuka).
Memang pukulan ini tepat sekali untuk menghadapi lt ci tiam hwelouw sehingga pertempuran berjalan luar biasa ramainya.
Tentu saja dara yang masih hijau belum berpengalaman itu kalah dalam hal tenaga dan kemahiran kaki tangan, akan tetapi tak dapat disangkal pula bahwa Bi Lan menang dalam kegesitan, ketabahan dan ketenangan.
Benar-benar amat mengagumkan betapa dara itu mempermainkan Tiauw It Hosiang seperti seorang dewasa mempermainkan seorang anak kecil saja!
Pertempuran telah berlangsung empat puluh jurus lebih dan belum juga Tiauw It Hosiang mengalahkan atau mendesak gadis itu!
Hal ini benar-benar membuat dada Hwesio itu hampir meledak saking marah dan penasaran, ia sengaja datang untuk menantang empat tokoh dari Hoa-san-pai, dan kini menghadapi murid termuda dari Hoa-san-pai saja, sampai kepalanya yang licin itu berpeluh belum juga ia dapat mengalahkannya!
Ia mengeluarkan suara seperti seekor biruang marah, lalu merobah ilmu silatnya dan kini setiap pukulannya ditujukan untuk membunuh!
(Lanjut ke
Jilid 03) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "
Jilid 03 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo
Jilid 03 Bi Lan juga merasa penasaran karena ia tidak dapat mengalahkan Hwesio ini.
Ketawanya mulai menghilang dan ia bersungguh-sungguh untuk merobohkan lawannya.
Gadis ini semenjak kecilnya memiliki kecerdikan yang luar biasa sekali.
Kini setelah ia mengeluarkan seluruh kepandaian dan pikirannya di dalam pertempuran ini, mulailah ia mencari akal untuk mengalahkan Hwesio yang tangguh ini.
Ia tadi melihat betapa Hwesio itu mudah sekali marah dan ternyata amat berangasan.
Kalau dilawan keras sama keras, mungkin dia akan kalah karena Hwesio itu benar-benar tangguh.
Maka setelah berpikir masak-masak, Bi Lan kembali memasang senyumnya yang manis dan tiba-tiba ia merobah ilmu silatnya dan kini ia mainkan Ilmu Silat Bi ciong kun, semacam ilmu silat lemas dan lemah gemulai akan tetapi penuh terisi dengan tipu-tipu menyesatkan!
Karena memang gadis ini merupakan seorang dara remaja, maka bagaikan setangkai bunga ia sedang mekarnya dan Bi Lan memiliki potongan yang langsing dan menggairahkan.
Setelah mainkan ilmu silat ini, ia berhasil mempermainkan lawannya dan membuat Hwesio itu menjadi makin penasaran dan marah.
Memang di dalam gerakan Bi ciong kun ini terisi tipu-tipu yang sifatnya mengejek dan mempermainkan, bagaikan seorang penari sedang menari indah dan tiap kali Hwesio itu menyerang selalu mengenai tempat kosong!
Pada saat yang amat baik di mana terdapat lowongan.
Bi Lan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan cepat mengirim pukulan tangan kiri dengan ilmu pukulan dari Hoa-san-pai aseli.
Tiauw It Hosiang tak sempat mengelak lagi dan terpaksa ia mengerahkan lweekangnya ke bagian dada yang terpukul, sedangkan telunjuk kirinya dengan cepat lalu mengirim totokan ke arah pangkal lengan gadis itu, yakni bagian tubuh lawan yang terdekat di waktu itu.
"Duk!"
Pukulan tangan kiri Bi Lan mengenai sasaran dan tubuh Hwesio itu terlempar sampai setombak lebih dan biarpun ia roboh dalam keadaan berjongkok dan segera berdiri lagi, namun mukanya pucat sekali dan ia telah menderita luka dalam yang cukup lumayan.
Akan tetapi, Bi Lan juga tertolak ke belakang dan gadis ini menahan rasa sakit pada pangkal lengan kanannya, bahkan masih tersenyum mengejek memandang kepada Tiauw It Hosiang.
Padahal lengan kanannya pada saat itu telah menjadi lumpuh!
Tiauw It Hosiang kaget sekali melihat betapa dara itu tidak nampak sakit terkena totokannya tadi, seakan-akan gadis itu tidak merasa sama sekali.
Betul-betulkah anak ini dapat menahan totokannya tadi?
Dengan malu dan penasaran di dalam hati, Tiauw It Hosiang menjura ke arah orang-orang Hoa-san-pai ini sambil berkata.
"Bukan kepandaian Hoa-san-pai yang terlalu tinggi, melainkan pinceng (aku) yang lalai dan kurang latihan. Tan Lo-Enghiong, biarlah kali ini pinceng mengaku kalah, akan tetapi kami dari Go-bi-pai akan merasa terhormat sekali kalau sewaktu waktu kami mengadakan pibu dengan kalian orang-orang Hoa-san-pai."
Setelah berkata demikian, Hwesio ini membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.
"Tiauw It Hosiang, kau telah terluka oleh pukulan Tin san ciang (Pukulan Menggetarkan Gunung), mari kuobati lukamu itu!"
Kata Tan Seng yang diam-diam merasa gembira dan kagum sekali melihat cucunya berhasil mengalahkan Hwesio itu! Tiauw It Hosiang menengok dan mukanya menjadi makin garang.
"Terima kasih, biarlah luka ditimbulkan oleh pukulan Hoa-san-pai dan diobati dengan obat Go-bi-pai! Selamat berpisah,"
Hwesio ini sambil menahan sakit lalu pergi dari situ dengan cepat.
"Hem, orang macam dia mana pantas menjadi pendeta?"
Tan Seng berkata perlahan seperti pada diri sendiri, akan tetapi ketika ia menengok ke arah Bi Lan, ia menjadi kaget sekali.
"Bi Lan, kau kenapa?"
Gadis itu nampak pucat dan meringis kesakitan setelah lawannya sudah pergi.
"Lengan kananku, kong kong. Ketika aku memukul dengan tangan kiri, ia telah berhasil menotok jalan darah di pangkal lengan kananku."
Tan Seng memegang lengan kanan gadis itu dan setelah menekan nadinya, ia berkata.
"Tidak ada yang luka, hanya totokan Go-bi-pai ini lain dari pada tiam hwat (ilmu totok) kita, apalagi Tiauw It Hosiang berjuluk It ci sinkang. Twa-suhumu (guru tertua) paling ahli tentang jalan darah, kau mintalah dia menolongmu sekalian melaporkan kedatangan kedua suheng dan sucimu."
Bi Lan lalu berloncat-loncatan dan berlari mencari Twa-suhunya, yakni Liang Gi Cinjin di dalam kuil.
"Susiok, mengapa kepandaian sumoi menjadi sehebat itu?"
Thio Ling In bertanya kepada Tan Seng dan jelas nampak rasa iri hatinya sebagaimana telah lajimnya terdapat dalam watak sebagian besar wanita.
"Ia memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari pada teecu, bahkan masih lebih tinggi dari pada kepandaian Lie suheng sendiri! Agaknya ada rasa pilih kasih dan berat sebelah dalam perguruan kita."
Tan Seng tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Ling In dan kalian juga, Bu Tek dan Kok Seng. Jangan kalian mengira yang bukan bukan. Apakah kalian tidak melihat suatu gerakan dalam ilmu silat Bi Lan yang belum pernah kalian pelajari? Nah, tentu kalian sudah melihatnya sendiri bahwa semua ilmu silatnya tadi adalah ilmu silat Hoa-san-pai kita yang kalian sudah pelajari. Guru-gurumu tidak berat sebelah dan juga tidak pilih kasih. Sesungguhnya anak itu sendiri yang membuat kepandaiannya jadi sempurna dan sebaik itu. Tahukah kalian bahwa sekarang aku sendiripun agaknya takkan dapat menandinginya? Anak itu amat maju karena bakatnya dan karena ia memang tekun sekali melatih diri."
Tiga orang muda itu menjadi amat kagum dan setelah mereka mengingat-ingat, memang betul bahwa semua gerakan Bi Lan ketika menghadapi Hwesio tadi, tidak ada yang tidak mereka kenal.
Akan tetapi bagaimanakah ilmu silat Bi ciong kun saja dapat dipergunakan untuk menghadapi Tiauw It Hosiang yang memiliki kepandaian begitu tinggi?
"Tinggi dan rendahnya tingkat kepandaian seorang, bahkan semata-mata tergantung pada ilmu silatnya, akan tetapi terutama sekali tergantung kepada orang yang memainkannya."
Tan Seng memberi penjelasan.
"Ilmu silat yang biasa dan sederhana saja dapat menjadi ilmu yang amat tangguh dan lihai jika dimainkan oleh seorang yang telah menguasainya betul-betul dan yang melatihnya sampai ilmu silat itu seakan-akan mendarah daging sehingga gerakan gerakannya menjadi otomatis. Sebaliknya ilmu silat yang bagaimana tinggipun akan percuma saja apabila dimainkan oleh orang yang hanya menguasai kulitnya saja."
Ketiga murid Hoa-san-pai ini mendengarkan sambil menundukkan kepala dan mereka berjanji di dalam hati akan berlatih lebih tekun lagi.
Tak lama kemudian, datanglah Bi Lan berlari-larian dengan wajah girang.
Ternyata, benar sebagaimana kata kong kongnya tadi, sebentar saja Twa-suhunya.
Liang Gi Tojin atau juga disebut Liang Gi Cinjin, dapat memulihkan lengan kanannya yang lumpuh, bahkan lalu menjanjikan untuk mengajar rahasia Ilmu Pi ki hu hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah) untuk menghindarkan serangan totokan lawan.
"Twa-suhu, ji suthai dan sam suhu dengan girang minta suheng dan suci datang di ruang besar,"
Kata Bi Lan sambil memegang lengan Ling In.
"Suci, kau menjadi makin cantik jelita saja!"
Ling In memeluk sumoinya dan berkata dengan bangga.
"Sumoi, kaulah yang amat manis dan kepandaianmu benar mengagumkan hatiku."
"Ah, bagaimana suci bisa bilang begitu kalau melawan seorang gundul saja aku sampai terkena totokannya?"
Sepasang alis Bi Lan berkerut dan ia benar-benar merasa amat penasaran dan tidak puas.
"Tapi kau tadi boleh bilang telah mendapat kemenangan, sumoi!"
"Aku tidak puas, suci. Aku masih belum patut menyebut diri sendiri berkepandaian kalau menghadapi seorang seperti Tiauw It Hosiang saja masih terluka. Aku harus belajar lebih giat lagi!"
Diam-diam Ling In menjadi makin kagum dan ia membenarkan kata-kata susioknya tadi tentang kebesaran semangat Bi Lan dalam pelajaran ilmu silat.
Mereka lalu menuju ke ruang besar dalam kuil di mana telah menanti Liang Gi Tojin, Liang Bi Suthai, dan Liang Tek Siangseng.
Tokoh-tokoh Hoa-san-pai ini merasa girang melihat kedatangan murid-murid mereka, dan ketika mendengar tentang penyerbuan Tiauw It Hosiang, Liang Bi Suthai menjadi marah.
Memang tokouw ini berwatak keras.
Sambil mengepal tangannya ia berkata.
"Orang-orang Go-bi-pai memang sombong sekali! Aku tahu mereka itu tentu masih menaruh hati dendam karena dahulu aku telah membunuh penjahat yang ternyata anak murid mereka itu. Baiklah, lain kali aku sendiri akan datang ke sana untuk membereskan hal ini agar jangan berlarut larut menjadi permusuhan besar!"
Liang Gi Tojin menarik napas panjang.
"Sumoi, memang sebaiknya kalau kau membereskan urusan ini dengan Kian Wi Taisu, ketua Go-bi-pai sendiri. Akan tetapi harap kau suka berlaku sabar agar jangan membikin ribut pula Go-bi-san."
Setelah berkata demikian. Liang Gi Tojin lalu bertanya kepada muridnya.
"Bu Tek, bagaimana dengan penyelidikanmu tentang Gua Makam Pahlawan? Apakah kedatanganmu sekarang ini ada hubungannya dengan itu?"
"Betul suhu. Teecu mendengar dari orang-orang kang ouw bahwa Gua Makam Pahlawan yang dimaksud oleh Tan susiok itu berada di puncak Tapie-san di sebelah selatan Sungai Huai kiang. Akan tetapi..."
Pemuda yang gagah ini mengerutkan keningnya seakan-akan ada sesuatu yang membuat dia merasa ngeri.
"Bagaimana, Bu Tek? Apa yang hendak kau katakan?"
Liang Tek Sianseng mendesak.
"Teecu mendengar berita yang amat menggelisahkan, susiok,"
Jawab Bu Tek.
"Menurut berita yang teecu dengar, Pegunungan Tapie-san adalah tempat yang amat berbahaya kalau tidak boleh disebut tak mungkin didatangi manusia. Di sana menjadi pusat dari pada perkumpulan rahasia Hui-eng-pai (Perkumpulan Garuda Terbang) dengan tiga orang ciang bun jin (ketua) mereka yang amat terkenal jahat dan ganas, yakni Hui to Sam eng."
Memang tiga orang ketua dari perkumpulan Hui-eng-pai menggunakan nama julukan di mana terdapat huruf-huruf Hui eng, akan tetapi Hui to sam eng kalau diterjemahkan boleh juga diartikan Tiga Pendekar Golok Terbang, karena biarpun dituliskan jauh berbeda namun Eng dapat diartikan Garuda atau Pendekar.
Mendengar keterangan ini, Liang Gi Tojin mengangguk-angguk.
"Pantas saja mereka itu tidak kelihatan lagi, tidak tahunya bersembunyi di Gunung Tapie-san. Memang mereka itu terkenal suka sekali mencari permusuhan dan tidak memandang kepada golongan lain. Akan tetapi, apakah jalan menuju Gua Makam Pahlawan itu hanya dapat dilakukan melalui tempat tinggal Hui-eng-pai saja?"
"Memang ada jalan mendaki dari jurusan lain, suhu. Akan tetapi menurut keterangan orang kang ouw, bahkan jalan yang lain itu lebih berbahaya lagi, karena kabarnya di situ bersembunyi Coa ong Sin kai."
Kini empat orang tokoh Hoa-san-pai itu terkejut.
"Apa? Setan pemelihara ular itu masih hidup?"
Kata Liang Tek Sianseng.
"Kukira dia tewas dalam tangan Thian te Siang mo."
Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dari luar kuil.
Cepat sekali adalah gerakan Bi Lan, karena sebelum lain orang melakukan sesuatu gerakan, gadis ini telah melompat keluar.
Suara ketawa itu disambung oleh kata-kata yang parau menyeramkan.
"Siapa bilang Coa ong Sin kai tewas? Dia tidak akan dapat mati karena memiliki tiga nyawa cadangan, ha-ha-ha!"
Keempat tokoh Hoa-san-pai menjadi terkejut sekali dan lalu melompat keluar untuk melihat siapa orangnya yang demikian lihai sehingga dapat mendengar percakapan yang dilakukan di dalam kuil.
Bu Tek dan kedua adik seperguruannya juga menyusul guru-guru mereka keluar dari kuil itu dengan hati berdebar!
Ketika semua orang tiba di luar, mereka melihat Bi Lan sedang bertempur melawan seorang kakek tinggi kurus yang bermata liar.
Kakek itu bertempur sambil tertawa-tawa menghadapi Bi Lan dengan tangan kosong sedangkan gadis itu yang menggunakan pedangnya nampak tak berdaya dan dipermainkan saja oleh kakek tinggi kurus itu.
"Coa ong Sin kai!"
Liang Tek Sianseng berseru kaget lalu kedua kakinya bergerak dan melompatlah ia ke tempat pertempuran itu.
Tangan kanannya telah memegang senjata Poan koan pit, yakni senjatanya yang dapat dipergunakan untuk menulis.
"Harap kau jangan mencari permusuhan dengan kami orang-orang Hoa-san-pai,"
Serunya. Akan tetapi Coa ong Sin kai tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, kalian masih menjaga di Hoa san? Ha-ha-ha, nona kecil ini manis sekali, aku suka padanya. Ada jodoh antara dia dan aku, ha-ha!"
Sambil berkata demikian tanpa memperdulikan Liang Tek Sianseng kakek yang seperti gila ini lalu menggerakkan kedua tangannya.
Tahu-tahu pedang di tangan Bi Lan telah kena ditangkapnya.
Sungguh mengherankan dan hebat sekali kakek ini yang dapat menangkap pedang tajam begitu saja dengan tangannya!
Bi Lan menggunakan tenaganya membetot dengan maksud melukai tangan kakek itu, akan tetapi alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa pedangnya itu telah patah menjadi dua!
Sebelum ia hilang kagetnya, tiba-tiba ia merasa tubuhnya lemas karena jari-jari tangan kiri kakek itu telah mencengkeram pundaknya dan menekan jalan darahnya.
Di lain saat ia telah dikempit oleh Coa ong Sin kai!
"Setan gila, kau lepaskan muridku!"
Liang Bi Suthai dengan marah sekali maju menerjang dan memukul dengan kepalan tangannya.
Angin pukulannya membuat pakaian Coa ong Sin kai yang compang camping itu berkibar, akan tetapi kakek gila ini dengan gerakan yang aneh dapat mengelak dan membalas serangan itu dengan pukulan-pukulan berantai.
Memang hebat sekali kepandaian Coa ong Sin kai.
Biarpun tangan kirinya memondong tubuh Bi Lan yang tak berdaya karena tertotok, namun tangan kanannya dan kedua kakinya masih dapat bergerak dengan amat cepatnya dan menghadapi serangan berantai ini, Liang Bi Suthai sendiri tokoh kedua dari Hoa sanpai sampai berlompatan mundur untuk menyelamatkan diri!
Kembali Coa ong Sin kai tertawa bergelak.
"Anak ini berjodoh dengan aku, jangan kalian menghalangi. Ha-ha-ha!"
"Coa ong Sin kai, kau manusia iblis. Lepaskan muridku!"
Liang Gi Tojin menggerakkan tubuhnya dan menyerang dengan ilmu silat Hoa-san-pai yang paling berbahaya.
Liang Gi Tojin adalah seorang ahli kebatinan, jarang sekali ia mengeluarkan ilmu silatnya, akan tetapi kalau ia sudah mau mengeluarkannya, ternyata bahwa semua gerakannya adalah ilmu ilmu silat yang paling lihat dari Hoa-san-pai.
Juga tenaga lweekangnya adalah paling tinggi diantara adik adik seperguruannya.
Namun Coa ong Sin kai tidak menjadi gentar.
Kini tangan kanannya telah memegang senjatanya yang ringan sederhana, akan tetapi lihai itu yakni sebatang bambu yang berwarna kuning berbintik bintik hijau.
Tan Seng yang semenjak tadi melihat keadaan cucunya dengan hati gelisah, kini dengan amat marah telah mencabut goloknya dan menyerbu kakek gila itu, membantu twa suhengnya.
Demikianpun Liang Bi Suthai dan Liang Tek Sianseng, cepat maju mengurung sehingga kakek gila itu kini terkurung dan dikeroyok oleh empat tokoh Hoa-san-pai!
Lie Bu Tek, Thio Ling In dan Gan Hok Seng hanya menonton saja dengan hati berdebar, karena melihat gerakan kakek gila itu, Mereka tahu bahwa tidak akan ada gunanya kalau mereka ikut mengeroyok Kepandaian kakek itu terlalu tinggi dan kalau mereka membantu, bahkan hanya akan mengganggu pengeroyokan empat orang-tua itu.
Ketika tadi menghadapi Liang Gi Tojin, biarpun ditambah lagi dengan Tan Seng, kakek gila itu masih dapat menahan bahkan dapat membalas serangan serangan mereka.
Akan tetapi kini setelah empat orang tokoh Hoa-san-pai yang rata-rata berkepandaian tinggi itu maju semua mengeroyok Coa ong Sin kai menjadi sibuk juga.
Kalau saja ia tidak sedang memondong tubuh Bi Lan, mungkin ia takkan kalah dan akan dapat merobohkan empat orang pengeroyoknya.
Sebaliknya, serakan empat orang tokoh Hoa-san-pai itupun tidak leluasa karena mereka takut kalau kalau serangan mereka akan mengenai tubuh Bi Lan.
Tiba-tiba kakek itu tertawa lagi dan berkata.
"Kalian curang, main keroyokan! Sudah, aku pergi!"
Ia lalu menggunakan tubuh Bi Lan yang dipegang kedua lengannya untuk diputar sedemikian rupa sebagai pengganti senjata!
Tentu saja Liang Gi Tojin dan adik adik seperguruannya menjadi terkejut sekali dan melompat mundur agar jangan sampai melukai Bi Lan sendiri dan dengan demikian, Coa ong Sin kai dengan enaknya dapat turun gunung dan melarikan Bi Lan!
"Celaka!"
Tan Seng membanting banting kakinya.
"Kalau dia mengganggu Bi Lan, aku akan mengadu nyawa dengan dia!"
"Percuma saja kita mengejarnya,"
Kata Liang Gi Tojin "Dia tidak waras otaknya, kalau kita mendesak mungkin dia bahkan membunuh Bi Lan.
Kita harus mengikutinya diam-diam dan mencari kesempatan untuk merampas Bi Lan kembali.
Lagi pula, biarpun dia terganggu otaknya, kulihat sinar matanya tidak mengandung kebuasan terhadap Bi Lan, tidak ada hawa nafsu jahat terbayang pada matanya.
Maka aku yakin bahwa dia takkan mengganggu Bi Lan."
"Kalau tidak hendak mengganggu, mengapa dia menculik Bi Lan?"
Tanya Liang Bi Suthai dengan kening berkerut, tanda bahwa ia sedang gelisah sekali. Liang Gi Tojin menggerakkan pundaknya.
"Siapa tahu jalan pikiran seorang gila? Mungkin diambil anak, mungkin diambil sebagai murid siapa tahu?"
"Dia tadi menyatakan ada jodoh, kurasa dia ingin mengambil murid kepada Bi Lan."
Kata Liang Tek Sianseng dengan suaranya yang halus seperti lazimnya suara seorang terpelajar.
"Biarpun dia gila, akan tetapi seorang yang berkepandaian silat tinggi tentu akan dapat dengan mudah melihat bakat bakat yang luar biasa dalam diri Bi Lan dan tentu inilah yang menarik hatinya untuk mengambil Bi Lan sebagai muridnya."
Semua orang membenarkan dugaan ini dan hati mereka agak merasa lega.
Betapapun juga, Tan Seng mengambil keputusan untuk menyelidiki dan mengejar ke Tapie-san, sekalian hendak mencari Goa Makam Pahlawan seperti yang diterangkan oleh Lie Bu Tek tadi.
Baca Juga: Si Bangau Merah 10
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 5