Ceritasilat Novel Online

Pendekar Budiman 2

Eps 2 Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo.

Tiga orang murid Hoa-san-pai itu menyatakan hendak ikut dengan Tan Seng, karena merekapun merasa sedih mengingat akan nasib Bi Lan dan ingin sekali turun-tangan membantu susiok mereka dan menolong Bi Lan.

Adapun Liang Tek Sianseng lalu menyatakan hendak mencari seorang tokoh terbesar di dunia kang ouw pada waktu itu untuk dimintai pertolongannya.

Ia percaya bahwa kalau tokoh kang ouw ini yang mendatangi Coa ong Sin kai dan menggunakan pengaruhnya, tentu kakek gila itu akan mengembalikan Bi Lan ke Hoa-san-pai.

Tokoh terbesar pada waktu itu, yang namanya terkenal di seluruh penjuru dunia, bukan lain adalah Pak Kek Siansu (Guru Dewa Kutub Utara), seorang kakek sakti yang bertapa di Puncak Pegunungan Luliang san, yakni puncak yang disebut Jeng in thia (Ruang Seribu Awan).

Kakek ini dahulunya datang dari utara, dari mana asalnya tak seorangpun mengetahuinya, maka ia disebut Guru Dewa Kutub Utara.

Baru kira kira sepuluh tahun yang lalu ia bertapa di puncak Gunung Luliang san akan tetapi biarpun dia sendiri belum pernah turun gunung dan mencampuri urusan dunia, semua orang di dunia kang ouw tahu belaka bahwa kakek ini memiliki kesaktian yang luar biasa sekali.

Banyak sudah tokoh-tokoh dunia persilatan yang ingin menguji kepandaian Pak Kek Siansu, akan tetapi apa yang selalu terjadi?

Jagoan-jagoan ini setelah tiba di Jeng in thia, dengan mudah dirobohkan oleh tiga orang kakek pelayan yang selalu melayani keperluan Pak Kek Siansu, yang boleh juga disebut sebagai murid-muridnya!

Baru menghadapi pelayan pelayannya saja sudah tak ada yang dapat mengalahkan, apalagi kalau Pak Kek Siansu turun-tangan sendiri!

Akan tetapi kakek sakti ini tak pernah mau turun-tangan, bahkan banyak sudah yang tunduk baru mendengar wejangan dan melihat sikapnya saja.

Biarpun Pak Kek Siansu tak pernah mencampuri urusan dunia ramai, akan tetapi oleh karena ia terkenal sakti, maka ia disegani dan dihormati oleh semua golongan, baik dari golongan orang-orang kang ouw yang gagah perkasa, maupun dari mereka yang memilih jalan hitam dan dikenal sebagai orang-orang jahat.

Dan oleh karena menganggap bahwa perbuatan Coa ong Sin kai yang menculik murid perempuannya itu keterlaluan sekali, maka Liang Tek Sianseng mengambil keputusan untuk melaporkannya kepada Pak Kek Siansu dan mohon pertolongannya agar murid itu dapat dilepaskan dari kekuasaan Coa ong Sin kai, pengemis yang gila itu.

Sudah beberapa kali Liang Tek Sianseng mengunjungi Pak Kek Siansu dan kakek sakti itu suka sekali kepada sasterawan ini, yang selain pandai menulis syair, juga pandai sekali bermain catur.

Pada hari itu juga, Liang Bi Suthai berangkat meninggalkan puncak Hoa san.

Pendeta wanita ini hendak mengunjungi Go-bi-san dan hendak bertemu dengan Kian Wi Taisu untuk menghilangkan segala kesalahpahaman antara Hoa-san-pai dan Go-bi-pai.

Dengan demikian yang tinggal di kuil puncak Hoa san hanya Liang Gi Tojin seorang.

Pertapa ini sepeninggal semua orang lalu duduk bersamadhi di dalam kamarnya, mendoakan agar tugas sumoi dan sutenya akan berhasil dengan baik dan semua orang dapat terhindar dari pada malapetaka.

*** Seperti pernah dituturkan di bagian pertama dari cerita ini, Gunung Tapie-san di bagian timur merupakan daerah yang amat sukar dilewati orang, penuh dengan hutan-hutan yang amat dalam.

Belum pernah ada orang berani mendaki Gunung Tapie-san melalui lereng timur, maka Goa Makam Pahlawan tempat bertapa ThianTe Siang mo itu belum pernah terlihat oleh siapapun juga Hanya ada beritanya didengar orang bahwa di puncak Tapie-san terdapat goa penuh tengkorak yang disebut Makam Pahlawan, akan tetapi jarang sekali ada orang yang pernah menyaksikan dengan mata sendiri.

Jalan yang paling aman untuk mendaki bukit itu adalah dari selatan dan bahkan semenjak mulai dari kaki gunung terus naik ke lerengnya terdapat dusun dusun kecil yang penduduknya hidup bertani.

Dan di lereng sebelah selatan inilah adanya Coa ong Sin kai yang membawa ularnya dan yang telah banyak mengorbankan banyak nyawa anak kecil sebagaimana pernah dituturkan, di mana ia dapat dikalahkan oleh Go Ciang Le, murid tunggal dari Thian Te Siang mo!

Adapun bagian yang dipergunakan untuk markas besar atau tempat persembunyian perkumpulan rahasia Hui-eng-pai, adalah di lereng sebelah barat di mana banyak terdapat hutan-hutan liar dan binatang binatang buas.

Oleh karena kepergian mereka ke Tapie-san memang hendak mencari jejak Coa ong Sin kai di samping tujuan untuk mencari Goa Makam Pahlawan, maka Tan Seng dan tiga orang murid keponakannya mengambil jalan dari selatan.

Setiap kali mereka masuk ke dalam sebuah dusun, Tan Seng lalu mengajukan pertanyaan kepada penduduk tentang Coa ong Sin kai, akan tetapi tiada seorangpun pernah mendengar tentang kakek yang bernama Coa ong Sin kai.

Akan tetapi setelah mereka tiba di lereng yang agak tinggi, di dalam sebuah dusun mereka mendengar berita yang amat mendebarkan hati Tan Seng.

Ia mendengar beberapa bulan yang lalu, di dalam hutan terdapat seorang siluman dengan ularnya yang suka makan anak-anak kecil, kemudian datang seorang pemuda yang mereka sebut sebagai Hwa i eng hiong yang telah membunuh ular itu dan telah mengusir siluman tinggi kurus itu.

Ketika para petani itu menggambarkan keadaan siluman itu, tidak ragu-ragu lagi hati Tan Seng, bahwa siluman itu tentu Coa ong Sin kai.

Akan tetapi, siapakah pemuda itu?

Mungkinkah"?

Tan Seng tak berani melanjutkan jalan pikiran dan renungannya.

Akan tetapi, kini bernyala api harapan di dalam hatinya.

Tak mungkin kalau keturunan satu-satunya dari puterinya lenyap begitu saja.

Tak mungkin kalau semangat kepahlawanan dari mantunya, yaitu Go Sik An, akan habis demikian saja dan tidak menurun kepada putera tunggalnya, yang lenyap semenjak kecil.

Hwa i Enghiong?

Pendekar Baju Kembang?

Terbayanglah di depan mata Tan Seng baju kembang dari mantunya yang dipakai ketika mantunya mati digantung oleh tentara Kin dan berdengunglah dalam telinganya pesan isterinya agar supaya kelak Ciang Le putera tunggalnya itu selalu mengenakan baju kembang!

Apakah hubungan Hwa i Enghiong, yang telah mengalahkan Coa ong Sin kai itu dengan putera dari Tan Ceng, puterinya?

Akan tetapi, tentu saja orang-orang dusun itu tidak dapat menceritakan banyak banyak, karena mereka sendiripun tidak tahu siapa nama sebetulnya dari Hwa i Enghiong yang tidak mau menyebutkan namanya itu.

Juga ketika mereka itu ditanyai tentang Goa Makam Pahlawan, semua orang dusun itu menggeleng kepala.

Jangankan mengetahui, mendengarpun belum pernah!

Tan Seng dan murid-murid keponakannya melanjutkan perjalanannya.

Makin tinggi mereka mendaki, makin liarlah hutan-hutan di gunung itu dan kini tidak terdapat rumah orang sama sekali.

Keadaan mulai menyeramkan, hutan-hutan itu benar-benar besar dan liar.

Beberapa kali mereka melihat ular-ular besar bergantungan di pohon dan terdengar auman binatang binatang buas.

Mereka berempat adalah orang-orang gagah yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu saja tidak merasa takut dan melanjutkan perjalanan tanpa banyak cakap.

Tan Seng yang memimpin rombongan ini maju terus, sama sekali tidak mengira bahwa rombongannya mulai membelok ke barat.

Sukar sekali di dalam hutan-hutan liar dan jalan yang sukar itu untuk mengenal arah mata angin.

Setelah berjalan beberapa jauhnya dan tiba di tebing yang meninggi, barulah dengan terkejut Tang Seng sadar bahwa mereka telah tersesat!

"Jangan-jangan kita memasuki daerah Hui-eng-pai"

Katanya perlahan. Sebagai jawaban dari dugaannya! "Auw... auw"

Auuuuuww""

Suara ini bergema di seluruh hutan di sebelah bawah!

Kemudian terdengar jawaban yang sama dari hutan di sebelah atas!

Berdiri bulu tengkuk Ling In ketika ia mendengar suara yang aneh itu saut menyahut dari atas dan bawah.

Suara itu mula mula rendah, kemudian meninggi seperti lengking yang menyakitkan telinga.

"Suara apakah itu, susiok?"

Tanya Ling In kepada Tan Seng. Kakek petani itu menggeleng kepalanya "Entahlah, Ling In. Aku sendiripun belum pernah mendengar suara seperti itu."

"Seperti suara srigala,"

Kata Lie Bu Tek yang banyak pengalaman.

"Suara serigala tidak meninggi seperti itu, suheng. Juga tidak terus-menerus. Lebih menyerupai suara monyet besar atau mungkin suara"

Manusia!"

Kata Gan Hok Seng yang sebagai seorang piauwsu tentu saja banyak pula melakukan perjalanan melalui hutan-hutan besar. Tiba-tiba Tan Seng berseru.

"Awas amgi (senjata gelap)!"

Dan kakek lihai ini lalu mengebut dengan ujung lengan bajunya.

Sebatang anak panah jatuh ke bawah terpukul oleh lengan bajunya.

Serangan anak panah gelap ini disusul oleh serangan banyak sekali senjata rahasia yang menghujani mereka sehingga empat orang ini dengan sibuk sekali memutar senjata masing-masing untuk menangkis.

Suara yang menyeramkan tadi kini telah lenyap.

"Kami adalah pengembara-pengembara dari Hoa-san-pai kalau tanpa disengaja melanggar wilayah orang-orang gagah, harap dimaafkan!"

Kata Tan Seng dengan suara keras sekali karena ia mengerahkan lweekangnya.

Benar saja, serangan senjata-senjata gelap itu berhenti dengan tiba-tiba dan dari atas pohon-pohon yang besar itu terdengar suara.

"Jangan bergerak dan pergi dari sini sebelum ada putusan dari Pangcu (ketua)!"

Tan Seng dan murid-murid keponakannya menengok ke atas pohon dari mana suara itu datang, akan tetapi tidak terlihat seorangpun di sana.

Kemudian terdengar pula suara lengking tinggi dan dari jauh terdengar balasan terus-menerus berbunyi dan yang lama lama menjadi dekat seakan-akan suara itu dikeluarkan oleh seekor burung yang sedang terbang datang.

Kemudian dengan gerakan yang luar biasa ringan dan cepatnya, tahu-tahu di atas pohon depan Tan Seng telah bergoyang-goyang dan ketika mereka memandang terlihatlah seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka merah telah berdiri di atas cabang pohon itu.

Laki-laki ini usianya kurang lebih empat puluh tahun mukanya mengingatkan orang akan tokoh peperangan di jaman Sam kok yang bernama Kwan In Tiang!

Hanya bedanya, kalau Kwan In Tiang memiliki sepasang mata yang bernyala-nyala dan membayangkan kegagahan dan kejujuran, adalah orang bermuka merah di atas cabang pohon ini memandang ke arah Ling In dengan sinar mata seorang mata keranjang.

"Sam-Pangcu dari Hui-eng-pai telah tiba, diminta orang-orang yang di bawah memberi hormat,"

Terdengar seruan dari atas pohon.

Ucapan ini membuat Bu Tek, Ling In dan Hok Seng menjadi mendongkol sekali, karena mereka merasa betapa mereka direndahkan orang.

Mereka tidak sudi memberi hormat, hanya berdiri tegak dengan senjata di tangan dan siap sedia menghadapi segala kemungkinan sebagai layaknya orang-orang gagah.

Akan tetapi Tan Seng yang sudah tua dan berpengalaman, ternyata lebih sabar dan tenang.

Ia lalu menghadapi si muka merah itu, tersenyum ramah dan menjura untuk memberi hormat sebagaimana pantasnya seorang tamu kepada tuan rumahnya, lalu berkata.

"Ah, tidak tahunya lohu (aku yang tua) telah tersesat dan tanpa disengaja memasuki wilayah Hui-eng-pai. Maaf, maaf, betapapun juga ada girang dalam hati kami karena mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Sam-Pangcu (ketua ke tiga) dari Hui-eng-pai. Sudah lama kami mendengar nama besar dari Hui to Sam eng!"

Si muka merah itu dengan sombongnya memandang kepada Tan Seng, lau berkata dengan suaranya yang mengguntur.

"Kalian tadi mengaku orang-orang Hoa-san-pai, dan melihat pakaianmu serta usiamu, agaknya takkan keliru kalau aku menduga kau adalah orang ke empat diri Hoa san yang bernama Tan Seng dan yang menjadi mertua dari Go Sik An, orang yang mengaku bun bu cwan jai (ahli silat dan surat) akan tetapi yang ternyata mati sebagai pengkhianat di tiang penggantungan?"

Merahlah wajah Tan Seng mendengar ini, akan tetapi ia tetap masih dapat menahan kesabarannya.

"Tanpa disengaja kami memasuki wilayah Hui-eng-pai, dan kuulangi lagi permintaan maaf kami yang sebesar besarnya. Kami datang tanpa disengaja, tidak mengandung maksud buruk dan juga tidak ingin mengganggu atau diganggu. Oleh karena itu, harap Sam-Pangcu maafkan kalau kami hendak melanjutkan perjalanan dan mencoba keluar dari wilayah ini."

Setelah berkata demikian, tanpa perdulikan si muka merah, Tan Seng lalu memberi tanda kepada murid-murid keponakannya untuk pergi dari situ dan membelok ke arah timur.

"Hm. tidak begitu mudah, orang she Tan!"

Tiba-tiba si muka merah berkata dengan keras. Tan Seng menjadi mendongkol dan ia berhenti lalu menengok.

"Sam-Pangcu, apakah yang kau kehendaki dari kami?"

Si muka merah itu menggerakkan tangan kirinya dan meluncurlah delapan sinar perak di sekeliling Tan Seng dan murid-murid keponakannya dan ternyata bahwa sinar perak itu adalah delapan batang golok kecil yang kini menancap di atas tanah, mengurung mereka dari delapan penjuru!

Si muka merah itu telah membuktikan kelihaiannya dalam penggunaan hui to (golok terbang) yakni golok yang disambitkan seperti senjata rahasia, akan tetapi yang dapat juga dipergunakan sebagai senjata dalam pertandingan silat.

Diam-diam Tan Seng memuji karena sekaligus dapat melepaskan delapan batang hui to bukanlah pekerjaan yang mudah, selain membutuhkan tenaga lweekang yang kuat, juga memerlukan latihan yang lama dan tekun Gerakan pelemparan hui to ini disusul oleh melayangnya tubuh yang tinggi besar itu.

Pantas saja Pangcu ini dijuluki Hui eng atau Garuda Terbang, karena memang gerakannya, amat indah dan ringan sungguhpun tubuhnya tinggi besar.

Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara ketika ia turun dan berdiri menghadapi Tan Seng dan murid-murid keponakannya.

Akan tetapi, tentu saja tokoh Hoa-san-pai yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu tidak merasa gentar bahkan tiga orang murid keponakannya juga tidak merasa takut.

Ling In merasa benci dan muak sekali melihat betapa kepala gerombolon itu memandangnya seperti seekor harimau lapar memandang seekor kelinci yang gemuk!

Ia beberapa kali membuang muka apabila pandangan matanya kertemu dengan pandangan mata si muka merah itu.

"Orang-orang Hoa san, dengarlah. Aku adalah Ciu Hoan Ta, orang ke tiga dari Hui to Sam eng yang tentu kalian telah mendengar namanya! Kalian bilang tidak bermaksud jahat biarpun telah melanggar dan memasuki wilayah kami? Baik, baik, biar aku percaya saja omonganmu. Akupun takkan mengganggu kalian, akan tetapi ketahuilah bahwa kami Hui-eng-pai mempunyai peraturan sendiri bagi siapa yang telah memasuki daerah kami!"

"Apakah bunyi peraturanmu itu?"

Tanya Tan Seng dan ketiga orang murid keponakannya mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Ada tiga macam. Pertama, yang kuat menjadi sahabat. Ke dua, yang lemah masuk tanah dan ke tiga, yang indah menjadi hadiah! Siapapun juga asal sudah memasuki daerah kami, mau tidak mau harus tunduk terhadap peraturan peraturan kami ini!"

Tan Seng menjadi pucat mendengar ucapan ini, juga Hok Seng menjadi marah sekali mukanya.

Inilah tanda bahwa Tan Seng dan Hok Seng yang mengetahui maksud peraturan itu, telah marah sekali.

Sebagai seorang piauw su Hok Seng banyak berhadapan dengan bangsa perampok, maka ia mengerti istilah istilah di atas, adapun Tan Seng memang sudah banyak pengalaman maka tahulah dia bahwa si muka merah ini tidak bermaksud baik.

Akan tetapi ia berpura pura tidak tahu dan minta penjelasan.

"Apakah maksudmu dengan yang pertama bahwa siapa yang kuat menghadapi pertandingan pibu, akan dijadikan sahabat?"

"Betul, betul, kau memang pandai, oran she Tan!"

"Dan yang keduanya, kalau kalah dalam pibu sampai meninggal dunia, tidak boleh, menaruh dendam dan dianggap sudah sepantasnya menjadi isi tanah?"

Kata pula Tan Seng tanpa memperdulikan kegirangan yang terbayang pada wajah Ciu Hoan Ta.

"Tepat sekali, memang demikianlah!"

"Dan yang ke tiga, kau menghendaki semua barang-barang, perbekalan kami yang indah indah, atau tegasnya, kau hendak merampok kami?"

"Ha-ha-ha, salah! Kali ini kau keliru, orang she Tan. Ketahuilah bahwa biarpun pada umumnya anak buahku memang menghendaki barang-barang indah, akan tetapi aku Ciu Hoan Ta tidak butuh akan barang-barang indah! Aku telah cukup kaya dan mempunyai banyak emas dan perak. Barang indah yang kali ini kubutuhkan bukanlah benda mati."

Sepasang mata Tan Seng mengeluarkan cahaya berapi. Biarpun ia merasa marah sekali karena sudah dapat menduga apa yang dimaksudkan oleh Ciu Hoan Ta, namun ia masih menahan sabar.

"Apa maksudmu, orang she Ciu?"

Tanyanya dengan sabar.

"Dengarlah, sahabat-sahabat dari Hoa-san-pai. Mengingat bahwa kita adalah orang-orang gagah yang menghargai persahabatan, biarlah aku Ciu Hoan Ta membebaskan kalian dari pibu. Kuanggap kalian ini cukup gagah perkasa untuk dijadikan sahabat, bahkan untuk dijadikan keluarga! Adapun tentang yang ke tiga, aku"

Aku adalah seorang jejaka!

Aku belum menikah dan nona ini...

nona ini cocok sekali untuk mempererat tali persaudaraan antara Hui-eng-pai dan Hoa-san-pai.

Berikan nona ini sebagai isteriku, dan kalian tidak saja akan dibebaskan, bahkan, akan dijadikan tamu-tamu agung dari Hui-eng-pai."

Setelah berkata demikian untuk menutupi rasa jengah yang mengganggunya, Ciu Hoan Ta lalu tertawa bergelak.

"Bangsat tak kenal malu!"

Tiba-tiba Ling In memaki dan cepat ia menyerang dengan pedangnya, ditusukkan ke arah leher Ciu Hoan Ta. Akan tetapi Ciu Hoan Ta sambil tersenyum cepat melompat ke belakang.

"Jangan main-main dengan pedang, nona manis. Kalau terluka, aku suamimu akan menjadi susah!"

"Keparat bermulut kotor!"

Ling In hendak menyerang lagi, akan tetapi tiba-tiba lengannya dipegang oleh Tan Seng yang memberi isyarat dengan mata kepadanya.

Dengan marah sekali.

Ling In mengundurkan diri dan berdiri di sebelah Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng yang juga sudah tak dapat menahan kesabaran mereka lagi.

"Ciu Hoan Ta mengapa kau berlaku keterlaluan kepada kami orang-orang Hoa-san-pai?"

"Apa? Aku mengajukan pinangan secara baik-baik, kau masih mengatakan aku keterlaluan?"

Bentak Ciu Hoan Ta.

"Bagaimana kalau kami menampik?"

Ciu Hoan Ta tertawa besar, diikuti oleh semua anak buahnya yang kini nampak muncul dari balik pohon-pohon dan daun-daun pohon di atas.

"Menampik? Berarti kalian binasa, kecuali calon isteriku."

"Ciu Hoan Ta, aku mendengar bahwa Huito Sam eng adalah orang-orang gagah, apakah kau juga merasa sebagai seorang gagah berani dan tidak curang?"

Ciu Hoan Ta membelalakkan matanya.

"Sekali lagi kau mengatakan aku tidak gagah dan curang, golok terbangku akan bicara!"

Tan Seng tersenyum mengejek dan menggerak gerakkan kepalanya.

"Ciu Hoan Ta, kalau memang betul kau gagah perkasa dan tidak curang, aku Tan Seng, orang-tua lemah dari Hoa-san-pai, pada saat ini juga menantang kepadamu untuk mengadu kepandaian secara laki-laki! Kalau aku kalah dan tewas di tanganmu sudahlah, kau boleh lakukan apa yang kau suka. Akan tetapi kalau kau kalah olehku, kau harus membebaskan murid-murid keponakanku yang tiga ini. Bagaimana, beranikah kau?"

Bukan main marahnya Ciu Hoan Ta menerima tantangan ini.

Ia memang seorang yang berwatak keras dan sombong, berbeda dari dua orang kakak seperguruannya yang benar-benar berkepandaian tinggi dan juga biarpun menuntut kehidupan sebagai kepala kepala gerombolan, namun masih menghargai peraturan dari dunia bu lim dan kang ouw.

Ciu Hoan Ta memang belum mempunyai isteri yang sah, karena biarpun sudah seringkali ia menculik anak bini orang tentu saja tidak boleh disebut sebagai isterinya yang sah.

Di dalam kesombongannya, Ciu Hoan Ta tadi memandang rendah kepada Tan Seng yang memang kelihatannya lemah dan seorang petani biasa saja, tidak memegang senjata pula.

"Baik, baik, kalau memang kau yang sudah tua bangka ini telah bosan hidup. Akan tetapi kalau kau mati, jangan nona calon isteriku ini kelak merasa menyesal kepadaku! Ha-ha-ha!"

Diam-diam Ciu Hoan Ta memberi tanda dengan jari-jari tangannya yang merupakan bahasa rahasia dari perkumpulan Hui-eng-pai.

Melihat isyarat ini, anak-anak buahnya maklum bahwa kalau ketua mereka nanti terdesak, mereka diharuskan maju mengeroyok!

Memang Ciu Hoan Ta ini curang sekali wataknya.

Kemudian Cin Hoan Ta mencabut goloknya yang besar.

Gagang golok ini diikat dengan tali yang panjang dan sambil menyeringai dan memandang dengan matanya yang liar ke arah Ling In, Ciu Hoan Ta lalu membelit-belitkan tali golok itu kepada pergelangan tangan kanannya.

Kemudian ia menggerak gerakkan goloknya dan berkata.

"Kakek tua, lekas kau keluarkan senjatamu!"

Tan Seng tadi telah melihat gerakan orang kasar ini dan biarpun harus ia akui bahwa kepandaian lawannya ini benar-benar lihai, namun ia merasa masih kuat menghadapinya.

Apalagi memang keistimewaan Tan Seng terletak pada sepasang ujung lengan bajunya.

Ujung lengan bajunya dapat dipergunakan untuk menotok atau menampar dan kelihaiannya tidak kalah oleh sepasang golok atau pedang!

"Aku tak pernah memegang senjata, kau majulah!"

Tantang Tan Seng.

Ciu Hoan Ta menjadi marah karena mengira bahwa orang itu memandang rendah kepadanya.

Sambil berseru bagaikan seekor garuda menyambar, ia menubruk maju dan membabat dengan goloknya yang bertali pada gagangnya itu.

Tan Seng berlaku waspada dan cepat mengelak sambil mengebutkan ujung lengan baju kiri di muka mata lawan untuk membikin bingung, kemudian ia menggerakkan ujung lengan baju kanan untuk menotok ke arah jalan darah di iga lawannya.

Barulah Ciu Hoan Ta terkejut karena serangan tokoh Hoa-san-pai ini benar-benar lihai dan berbahaya sekali.

Ia cepat memutar goloknya untuk membabat ujung lengan baju lawan, akan tetapi Tan Seng kembali dapat menggerakkan ujung lengan baju sehingga terhindar dari bacokan.

Ciu Hoan Ta lalu mengeluarkan kepandaian simpanannya, yakni Ilmu Golok Hui eng To hwat (Ilmu Golok Garuda Terbang).

Dia dan kedua suhengnya menjadi terkenal dan ditakuti orang karena ilmu golok ini.

Memang sesungguhnya Ilmu Golok Hui eng To hwat ini benar-benar amat lihai, karena selain cepat dan tak terduga gerakannya, juga banyak terdapat tipu-tipu yang menyesatkan.

Baiknya bagi Tang Seng bahwa Ciu Hoan Ta hanya menguasai enam puluh bagian saja dari ilmu golok ini dan terutama Sekali yang menyebabkan Ciu Hoan Ta kurang berbahaya adalah wataknya yang sombong, tidak tenang sehingga Tan Seng yang sudah berpengalaman itu dapat menghadapinya dengan hati-hati, mengelak dan menangkis serangan lawannya yang membabi buta, sebaliknya membalas dengan serangan serangan yang jitu dan tepat.

Baru saja lima puluh jurus mereka bertempur, nampak dengan nyata bahwa Tan Seng lebih menang pengalaman dan mulai mendesak lawannya.

Hal ini dilihat pula oleh anak buah Hui-eng-pai, maka sambil berseru keras, tujuh orang pembantu Ciu Hoan Ta lalu menyerbu maju sambil menggerakkan golok dan pedang.

"Jangan berlaku curang!"

Lie Bu Tek melompat maju dengan pedang di tangannya, demikian pula Ling In dan Hok Seng cepat menghadang datangnya tujuh orang anak buah Hui-eng-pai ini.

Sementara itu, berhubung terdesak, Ciu Hoan Ta lalu mengeluarkan kepandaiannya yang terakhir.

Tiba-tiba ia berseru keras dan goloknya menyerang dengan sebuah tusukan, akan tetapi Tan Seng melompat mundur, golok itu terus menyerang, terlepas dari tangan pemegangnya dan terbang mengarah leher kakek itu.

Inilah keistimawaan ilmu golok dari Ciu Hoan Ta.

Golok itu pada gagangnya diikat dengan tali yang dibelitkan pada pergelangan tangan dan kini golok itu dipergunakan untuk disambitkan tanpa kuatir golok itu akan hilang.

Karena apabila serangan itu luput, golok itu bisa ditarik kembali!

Tan Seng terkejut sekali dan ketika ia menyampok dengan ujung lengan bajunya, terdengar suara membrebet dan ujung lengan bajunya itu putus!

Ia maklum bahwa dengan disambitkan, golok itu akan lebih berbahaya daripada kalau dipegang oleh Ciu Hoan Ta sendiri.

Melihat betapa goloknya berbasil membabat putus ujung lengan baju Tan Seng, Ciu Hoan Ta tertawa bergelak dan golok itu kembali ke tangannya.

Kini ia menyerang lagi, lebih hebat daripada tadi.

Goloknya terbang memutar dari kiri dan membabat ke arah leher Tan Seng dengan kecepatan kilat!

Akan tetapi Tan Seng telah bersiap sedia.

Ia maklum bahwa ia tidak mungkin terus-menerus dapat menghadapi serangan aneh ini, maka dengan keberanian luar biasa sekali, ia menanti sampai golok itu terbang dekat.

Kemudian, sambil mengeluarkan seruan keras dan mengerahkan lweekangnya, ia lalu menyambar dan memukul golok itu dari pinggir sambil mengerahkan ilmu Pukulan Sin ciang ia liong (Pukulan Sakti Menghantam Naga).

Bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, golok Ciu Hoan Ta itu membalik dan secepat kilat meluncur ke arah dada tuannya!

Ciu Hoan Ta mencoba untuk mengelak, akan tetapi ia lupa bahwa golok itu terikat pada pergelangan tangannya maka tetap saja golok itu ikut berobah arahnya dan segera terdengar pekik mengerikan dan golok itu telah menancap di dadanya hampir menembusi punggungnya.

Tan Seng terkejut sekali melihat hasil tangkisannya ini.

Ia tidak bermaksud membunuh Ciu Hoan Ta, maka melihat, ini, ia lalu berkata cepat kepada murid-murid keponakanny.a.

"Hayo lari ke timur!"

Pada waktu itu, anak buah Hui-eng-pai yang hendak mengeroyok, menjadi kaget dan untuk sesaat mereka tidak bergerak, memandang ke arah Ciu Hoan Ta yang sudah roboh mandi darah tak bergerak lagi.

Kemudian, setelah melihat empat orang Hoa-san-pai itu lari, mereka berseru keras dan mengejar sambil mengeluarkan suara yang menyeramkan.

"Mauw"

Auw... auw"!!"

Akan tetapi empat orang Hoa-san-pai memiliki ginkang yang tinggi sehingga para pengejarnya dengan mudah dapat tertinggal jauh dan suara teriakan mereka hanya terdengar sayup sayup saja.

Akan tetapi, tiba-tiba setelah mereka tiba di pinggir hutan sebelah timur, terdengar suara jawaban yang luar biasa nyaringnya dari depan mereka!

Tak lama kemudian, bagaikan dua ekor burung garuda, menyambar turun dua bayangan orang yang memiliki gerakan luar biasa sekali gesitnya.

Ketika Tan Seng dan murid-murid keponakannya memandang, di depan mereka telah berdiri dua orang kakek berusia lima puluh tahun lebih yang memandang dengan tajam ke arah mereka.

"Dari manakah datangnya orang-orang yang telah berani mengganggu anak buah Hui-eng-pai?"

Tanya yang seorang yang memegang pedang. Yang seorang lagi memegang sepasang tongkat bercagak. Tan Seng menjura dan menjawab.

"Siauwte adalah Tan Seng dan tiga anak muda ini adalah murid-murid keponakanku. Kami datang dari Hoa-san-pai dan ternyata tanpa disengaja kami telah tersasar dan memasuki daerah kekuasaan Hui-eng-pai."

Kedua orang-tua itu ketika mendengar bahwa empat orang ini adalah orang-orang Hoa-san-pai, lalu cepat memberi hormat dan berkata.

"Ah, kiranya Tan Lo-Enghiong dari Hoa san! Harap dimaafkan apabila anak buah kami berlaku kurang ajar. Aku adalah Suma Kwan Seng dan ini adikku, Suma Kwan Eng. Kamilah yang menjadi ketua pertama dan ke dua dari Hui-eng-pai. Silakan kalian mampir di tempat kami untuk menerima penghormatan kami,"

Kata orang yang berpedang.

"Terima kasih, harap jiwi tidak kecewa. Lain kali saja kami datang berkunjung, sekarang kami tidak ada waktu lagi,"

Jawab Tan Seng sambil menjura.

"Selamat berpisah!"

Setelah berkata demikian, Tan Seng lalu mengajak murid-murid keponakannya pergi dari situ secepatnya.

Para pengejar sudah semakin dekat, akan tetapi tiba-tiba Suma Kwan Eng mengangkat tongkatnya dan berseru.

"Jangan ganggu Tan Lo-Enghiong dan murid-muridnya! Mereka adalah orang-orang gagah yang patut dijadikan sahabat!"

Tan Seng menengok dan setelah mengucapkan "Terima kasih!"

Ia lalu melompat dan mengajak murid-murid keponakannya untuk berlari cepat-cepat dari tempat itu!

Mereka telah keluar dari hutan dan kini telah berada di luar daerah gerombolan Hui-eng-pai.

Akan tetapi, setelah mereka berlari sejauh empat li kurang lebih, tiba-tiba mereka mendengar seruan-seruan dari belakang dan tampaklah bayangan kedua saudara Suma ketua ketua dari Hui-eng-pai itu.

"Hm, mereka tentu akan membalas dendam. Kita bersiap sedia!"

Kata Tan Seng perlahan kepada Bu Tek dan adik adiknya.

Empat orang Hoa-san-pai ini mempersiapkan senjata masing-masing.

Benar saja, yang datang adalah Suma Kwan Seng dan Suma Kwan Eng dan kini wajah mereka tidak seramah tadi.

Suma Kwan Seng memandang kepada Tan Seng dengan mata bernyala, kemudian ia menegur.

"Orang she Tan, tidak tahunya kau telah nembunuh sute kami, Ciu Hoan Ta!"

Tan Seng tersenyum tenang.

"Saudara Suma Kwan Seng, sebagai seorang kang ouw, apalagi sebagai ciangbujin dari sebuah perkumpulan besar, kau tentu maklum akan akibat dari sebuah pibu. Sutemu memaksa kepadaku untuk mengadakan pibu dan ia tewas oleh goloknya sendiri. Mengapa hal seperti ini saja diributkan? Kalau seandainya di dalam pibu itu aku yang tewas, apakah kau akan ribut-ribut juga?"

Ketua pertama dari Hui-eng-pai itu membanting kakinya dan sebuah batu hitam yang kebetulan berada di depannya menjadi remuk!

"Baiknya kau berada di luar daerah kami dan karena memang betul ucapanmu tadi bahwa sute tewas dalam sebuah pertempuran pibu, kami akan menahan diri dan bersabar.

Betapapun juga, kami tidak dapat menyangkal bahwa kaulah yang menjadi gara gara.

Kalau kalian orang-orang Hoa-san-pai tidak melanggar wilayah kami dan tidak naik ke gunung ini, tak mungkin suteku sampai tewas.

Oleh karena itu, biarlah kami menahan kesabaran, akan tetapi lain waktu kami akan membalas kehormatan ini dan membalas kunjunganmu di Hoa san!"

Setelah berkata demikian Suma Kwan Seng dan Suma Kwan Eng lalu berkelebat dan sekali melompat mereka telah kembali ke dalam hutan. Tan Seng menarik napas panjang.

"Baiknya mereka masih menghargai kesopanan kang ouw dan entah mengapa, mereka agaknya takut untuk turun-tangan di daerah ini! Hm, tanpa disengaja, kita telah menanam bibit permusuhan baru dan kukira kalau tadi mereka berdua turun-tangan, belum tentu kita akan dapat menang. Kepandaian mereka jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Ciu Hoan Ta."

Demikianlah, mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka ke timur, hanya berhenti untuk mengambil buah buah dari dalam hutan dan untuk mengisi perut.

Dua hari kemudian, tibalah mereka di puncak bagian timur, tempat yang jauh lebih menyeramkan lagi kalau dibandingkan dengan bagian lain.

Setelah menjelajah dan memeriksa puncak itu setengah hari lamanya, akhirnya mereka dapat menemukan juga gua yang besar di mana dahulu Thian Te Siang mo membawa masuk muridnya dan di mana kedua orang Iblis Bumi Langit ini mengumpulkan jenazah-jenazah orang-orang gagah yang tewas sebagai pahlawan bangsa!

Mula mula Tan Seng hanya melihat gua yang kecil saja, yang hanya dapat dimasuki oleh tubuh seorang.

Dengan Tan Seng memelopori di depan, empat orang ini memasuki gua itu dan makin dalam mereka masuk, gua itu makin lebar dan besar sekali.

Akan tetapi gelapnya bukan main dan tiba-tiba Ling In berbisik.

"Susiok. mengapa baunya demikian tidak enak?"

"Ah, benar, suci,"

Kata Hok Seng.

"Aku jadi teringat..."

Ia tidak melanjutkan bicara.

"Teringat apa. sute?"

"Teringat"

Teringat akan bau mayat!"

Berdiri bulu tengkuk Ling In ketika ia mendengar ini.

Gadis ini berjalan paling belakang, maka tak terasa lagi ia lalu memegang lengan Hok Seng yang berjalan di depannya dan ketika ia menyentuh tangan Hok Seng, ternyata sutenya inipun amat dingin tangannya dan agak gemetar tubuhnya!

"Susiok, lebih baik kita menyalakan api.

Terlalu gelap bagi kita, siapa tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres,"

Kata Bu Tek.

"Tunggu sebentar, biar aku mencari ranting kering di luar!"

Kata Hok Seng yang segera keluar dari gua itu.

Untuk keluar lebih mudah dari pada masuk ke dalam, karena pintu gua yang sempit itu nampak nyata dan dapat menjadi penunjuk jalan.

Tak lama kemudian, Hok Seng masuk lagi sambil membawa dua ranting yang sudah ia belit-belit dengan alang-alang kering, merupakan obor yang cukup besar.

"Suheng, lekas keluarkan batu apimu,"

Kata Hok Seng.

Bu Tek segera memukul batu apinya dan bernyalalah api membakar dua batang obor itu.

Tan Seng memegang sebatang obor, yang ke dua dipegang oleh Hok Seng.

Untuk sesaat pandang mata empat orang itu menjadi silau dan tak dapat melihat.

Tan Seng mengangkat obor tinggi-tinggi, demikian pula Hok Seng sehingga kini di dalam gua yang gelap itu menjadi terang.

Mereka memandang ke dalam dan...

"Thian Yang Agung..."

Tan Seng berseru.

"Ayaaaa""

Ling In hampir menjerit dan kembali ia menangkap lengan Gan Hok Seng yang berdiri di depannya.

Gadis ini memandang ke depan dengan wajah pucat dan mata terbelalak serta tubuh menggigil saking seramnya.

Bertumpuk-tumpuk, dalam berbagai posisi, terdapat banyak sekali rangka manusia.

Tengkorak-tengkorak yang bermata dan berhidung bolong memandang ke arah mereka dalam cara mengerikan sekali.

Tulang-tulang iga, tulang-tulang lengan kaki tumpang-tindih, di sana-sini tengkorak-tengkorak berserakan!

Inilah Gua Makam Pahlawan itu.

tak salah lagi.

"Lebih tepat disebut gua tengkorak!"

Akhirnya Tan Seng berkata perlahan setelah ia dapat menguasai kekagetannya.

"Susiok, mari kita keluar dari neraka ini""

Kata Ling In yang selama hidupnya belum pernah menyaksikan pemandangan yang demikian menyeramkan.

Kalau saja tidak berada di dalam gua yang demikian gelap tentu pemandangan ini takkan demikian mengerikan.

Akan tetapi, di dalam tempat yang gelap gulita, lalu tiba-tiba di bawah sinar api melihat pemandangan seperti itu, benar-benar bisa membuat orang yang setabah-tabahnya menjadi ketakutan.

"Nanti dulu, aku harus mencari rangka anak dan mantuku. Ceng ji (anak Ceng) diantara sekian banyaknya rangka, bagaimana aku bisa menemukan kau dan suamimu?"

Suara Tan Seng ini amat mengharukan hati murid-murid keponakannya, terutama sekali Ling In.

Kemudian, ketika Tan Seng memberikan obor kepada Bu Tek dan dia sendiri membalik-balikkan tengkorak-tengkorak itu seperti orang memeriksa sekumpulan barang-barang untuk mencari tengkorak puterinya, Ling In tak dapat menahan mengalirnya air matanya.

"Susiok, bagaimana dapat membedakan"

Tengkorak dan tulang"?"

Tanyanya dengar hati terharu.

"Dapat, dapat..."

Tan Seng berkata terengah-engah sambil melanjutkan memilih tengkorak-tengkorak itu.

"Orang sakti yang aneh itu telah menuliskan nama-nama pada tengkorak-tengkorak ini! Lihat, bukankah ini tengkorak dari Kwee Enghiong yang tewas di utara. Dan ini... bukankah ini tengkorak Ang goan swe (Jenderal Ang) yang dahulu jenazahnya lenyap pula? Benar semua tengkorak ditulisi namanya, tentu aku akan bisa mencari rangka anak dan mantuku!"

Makin bersemangat kakek itu memilih tengkorak.

Kemudian perhatiannya tertarik oleh dua rangka manusia yang duduk menyandar dinding batu karang dan agaknya didudukkan sengaja terpisah dari tengkorak-tengkorak lain.

Ia menghampiri, diikuti oleh Bu Tek yang memegang obor tinggi-tinggi.

Sekali saja menjenguk dan melihat huruf-huruf yang terukir di belakang tengkorak.

Tan Seng berseru gembira.

"Inilah mereka! Inilah Tan Ceng dan Go Sik An, suaminya!"

Ia berlutut di depan kedua rangka anak dan mantunya itu.

Bu Tek, Hok eng, dan Ling In juga berlutut dengan penuh hormat.

Tan Seng yang duduk bersimpuh di depan kedua rangka itu, tiba-tiba tak disengaja memandang ke atas lantai di depan rangka, lantai yang terbuat dari pada batu karang keras hitam.

Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, yakni lantai yang hitam itu seperti ada corat coretnya.

Ia meraba dengan jari tangannya.

Benar saja, ada tulisan di situ, tulisan yang dibuat dengan ukiran di lantai batu yang keras.

"Bu Tek, coba dekatkan obor itu. Ada tulisan di sini!"

Katanya Ketika obor didekatkan, semua orang membaca tulisan yang jelas dan besar, yang diguratkan dalam dalam pada lantai di depan kedua rangka manusia itu.

ANAK BERSUMPAH UNTUK MEMBALAS DENDAM AYAH DAN BUNDA.

"Ciang Le"!"

Tan Seng berbisik dan sepasang matanya terbelalak dan penuh harap dan kegembiraan.

"Dia masih hidup"! Ciang Le cucuku.. dia masih hidup dan pernah datang di sini, bersumpah di depan rangka ayah ibunya!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba kakek ini menangis terisak-isak di depan rangka anak dan mantunya.

Tangis karena kegirangan dan keharuan.

Ling In ikut pula menumpahkan air mata, sedangkan Gan Hok Seng mengejap-ngejapkan matanya sendiri yang menjadi pedas dan merah.

Lie Bu Tek menggigit bibirnya menahan keharuan hatinya.

Kemudian, dibantu oleh Bu Tek dan Hok Seng, kakek itu mengangkut keluar rangka puteri dan mantunya dan setelah memilih tempat yang baik hongsuimya (kedudukan tanah), ia lalu mengubur jenazah dua orang pahlawan itu.

Setelah semua beres dan mereka telah bersembahyang, Ling In lalu minta diri untuk pulang ke Biciu, diantar oleh suhengnya, yaitu Lie Bu Tek.

Diantara dua orang saudara seperguruan ini memang terdapat pertalian asmara dan pernikahan mereka hanya tinggal "Tunggu waktu"

Saja. Adapun Gan Hok Seng lalu kembali ke Kanglam di mana ia membuka perusahan ekspedisinya yang diberi nama Hui houw piauwkiok (Kantor Ekspedisi Harimau Terbang).

"Apakah susiok hendak kembali ke Hoa san?"

Tanya tiga orang murid keponakan itu sebelum mereka berpisah mengambil jalan masing-masing. Tan Seng mengerutkan keningnya.

"Aku hendak mencari Bi Lan."

Ketiga murid keponakan itu berjanji bahwa di dalam perjalanan mereka, mereka juga hendak membuka mata memasang telinga untuk mendengarkan di mana adanya Coa ong Sin kai, pengemis gila yang sudah berani menculik sumoi mereka itu.

Maka turunlah mereka dari Pegunungan Tapie-san yang penuh dengan hal hal yang aneh dan berbahaya itu.

Tentu saja mereka mengambil jalan dari lereng sebelah selatan agar jangan sampai bertemu dengan gerombolan Hui-eng-pai yang lihai.

"Kau berjodoh dengan aku! Ha-ha-ha, burung kecil, kau berjodoh dengan aku! Bagus, bagus..."

Sambil terkekeh kekeh Coa ong Sin kai berlari cepat sekali, memondong tubuh Bi Lan yang tidak berdaya, akan tetapi yang dapat melihat dan mendengar serta mengikuti semua gerak-gerik pengemis gila ini.

Tentu saja sebagai seorang gadis yang baru remaja, Bi Lan merasa jijik sekali berada dalam pondongan kakek gila ini dan bau apak yang keluar dari pakaian dan tubuh Coa ong Sin kai membuat ia hampir muntah.

Akan tetapi diam-diam otak gadis yang cerdik ini bekerja keras, terputar putar dan menimbang nimbang.

Ketika ia terpukul oleh Tauw It Hosiang, tokoh dari Go-bi-pai itu, Bi Lan merasa tidak puas sekali akan kepandaian sendiri.

Ia merasa betapa semenjak kecil, kong kongnya melatih dan menggemblengnya dengan nasihat nasihat agar ia belajar dengan tekun.

Oleh karena ia adalah seorang yang taat kepada kong kongnya dan juga memang ia suka sekali akan ilmu silat, maka semenjak kecil, ia suka sekali belajar dan melatih diri sehingga keempat orang gurunya cinta sekali kepadanya.

Tiap kali ia belajar di bawah asuhan guru-gurunya, tentu ia mendesak guru-gurunya untuk menurunkan ilmu ilmu silat yang belum diketahuinya.

Dan sekali ia diajar, ia telah hafal dan dengan gerakan lincah sekali ia dapat mainkan semua ilmu silat yang diajarkan kepadanya.

Berkali kali ia mendengar betapa guru-gurunya memujinya sebagai seorang anak yang benar-benar berbakat untuk menjadi ahli silat tinggi.

Kalau pujian ini keluar dari mulut kong kongnya, ia takkan menganggapnya karena tahu betapa besar kasih sayang Tan Seng kepadanya.

Akan tetapi pujian ini bahkan keluar dari mulut Liang Gi Tojin dan kakek ini selamanya tak pernah membohong.

Tidak tahunya, menghadapi seorang Hwesio seperti Tiauw It Hosiang saja biarpun tak dapat dibilang ia kalah, namun ia masih terkena pukulan Hwesio itu.

Ia benar-benar merasa tidak puas sekali maka ia tadinya girang mendengar bahwa Liang Gi Tojin hendak memberi pelajaran Pi ki hu hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah).

Tidak tahunya, sebelum pelajaran itu diturunkan ia telah terkena totokan yang luar biasa dari pengemis gila ini dan bahkan kena ditawan!

Akan tetapi, ia teringat betapa lihainya pengemis gila ini, sudah terang bahwa guru-gurunya tak dapat melawan kakek gila ini, yang dengan menggendongnya masih sanggup menghadapi keroyokan empat orang gurunya, bahkan dengan enaknya dapat melarikan diri tanpa dapat dikejar oleh tokoh-tokoh Hoa-san-pai!

Alangkah hebat kakek gila ini dan kalau ia dapat menjadi muridnya alangkah akan senang hatinya!

Berfikir demikian lenyaplah semua rasa takutnya, lenyap pula rasa jijiknya terhadap kakek gila ini dan ia memandang dengan mata bersinar gembira.

Kebetulan sekali kakek gila itu memandang ke arah muka Bi Lan.

Melihat betapa sinar mata gadis itu tidak seperti tadi dan kini nampak berseri-seri, ia tertawa bergelak, melepaskan dan sekali tepuk saja pada punggung gadis itu, terlepaslah Bi Lan dari pengaruh totokannya.

"Ha-ha-ha, burung kecil (Siauw niau), kau tidak takut lagi sekarang? Bagus, aku paling benci pada orang penakut! kau berjodoh padaku, Siauw niau, kau berjodoh dengan aku. Aduh gatalnya rambutku, lekas kau cari dan keluarkan kutu-kutu busuk di rambutku ini!"

Kakek ini lalu duduk di pinggir jalan dan minta supaya Bi Lan mencari kutu di kepalanya! Bi Lan ragu-ragu, lalu bertanya.

"Orang-tua, enak saja kau menyuruh aku. Apa upahnya kalau aku mendapatkan kutu rambutmu?"

"Ha-ha-ha, kau lebih pintar dari pada monyet kecil berbulu hitam itu. Dia selalu mencari kutu rambutku tanpa minta upah. Ha-ha, siauw niau, kau mau minta apakah?"

"Aku minta upah ilmu silat."

"Bagus, kalau kau tidak takut lelah bermain silat, akan kuberi itu padamu."

"Aku ingin kau memberi pelajaran Pi ki hu hiat!"

Kakek itu menengok dengan sepasang alis berdiri, lalu berkata sambil terkekeh kekeh.

"Kepandain macam itu saja tua bangka tua bangka dari Hoa-san-pai belum memberikan pelajaran kepadamu? Baik, baik, aku akan memberi pelajaran Pi ki hu hiat yang paling baik, bahkan aku akan memberi pula lajaran I kong hoan hiat (Memindahkan Jalan Darah) asal saja kau dapat mengeluarkan lebih dari lima ekor kutu rambut!"

Bi Lan menjadi girang sekali dan sambil menahan napas agar bau rambut kakek itu yang amat tidat enak jangan terlalu banyak mengotori paru parunya, ia lalu membuka buka rambut yang kotor dan kusut itu dan mencari kutu rambut.

Karena memang rambut kakek itu menjadi sarang kutu, sebentar saja ia sudah dapat menangkap seekor kutu yang hitam dan besar.

Sekali pencet dengan dua kuku ibu jarinya, matilah kutu itu.

"Nah, sudah mendapat satu. Ah, besarnya!"

Seru gadis itu dan ia memperlihatkan kutu yang sudah dibunuhnya itu kepada Coa ong Sin kai.

Kakek gila itu mengeluarkan seruaan keras dan tiba-tiba tangan kirinya dengan gerakan melengkung telah bergerak menampar kepala Bi Lan!

Gadis ini tentu saja terkejut sekali dan mencoba untuk mengelak, akan tetapi pukulan ini benar-benar luar biasa dan tetap saja kepalanya kena ditempiling sehingga terdergar suara nyaring di telinganya dan ia terlempar dengan kulit kepala terasa panas dan pedas!

Tentu saja ia merasa heran karena kakek itu tiba-tiba menamparnya, juga heran sekali mengapa tanparan yang demikian jitu ternyata tidak melukainya sama sekali!

"Anak jahat!"

Kakek itu memaki.

"Mengapa kau telah membunuhnya? Apa salahnya maka kau membunuhnya?"

Bi Lan membuka matanya lebar lebar karena heran dan tidak mengerti.

"Membunuh siapa...?"

Tanyanya Coa ong Sin kai menunjuk ke arah kutu rambut yang masih menempel di kuku ibu jari Bi Lan.

"Apa dosanya maka kau membunuhnya, anak bodoh?"

Hampir saja Bi Lan tertawa geli. Orang-tua ini marah marah karena ia telah membunuh kutu rambut yang ditangkapnya! Alangkah lucu dan ganjilnya.

"Orang-tua, bukankah kutu busuk ini telah mengganggumu, menghisap darah dari kulit kepalamu? Mengapa tidak boleh dibunuh?"

"Bodoh! Dia menghisap darah memang sudah menjadi pekerjaannya, dan memang darah itulah makanannya. Dia tidak melakukan satu yang jahat. Awas, kau tidak boleh lagi sembarangan membunuh."

"Baiklah, akan kutangkap hidup hidup kutu-kutu rambutmu."

Lenyap kemarahan kakek itu dan ia membiarkan rambutnya dicari kutu rambutnya oleh Bi Lan lagi.

"Orang-tua..."

"Hm, apa lagi?"

"Pukulanmu tadi"

Hebat sekali. Aku ingin pula mempelajarinya."

"Tentu kau akan mempelajarinya. Kalau tidak ada artinya aku membawamu? Sudah kukatakan kau berjodoh dengan aku."

Karena kutu rambut di kepala kakek itu memang banyak, maka sebentar saja Bi Lan telah menangkap sepuluh ekor lebih.

Kakek itu menjadi girang sekali dan ia mengumpulkan kutu-kutu rambut itu yang dibungkus di dalam sehelai daun.

"Kau hendak memelihara kutu-kutu itu?"

Bi Lan bertanya heran. Kakek itu tertawa.

"Akan kupindahkan mereka pada tubuh kera di dalam hutan."

Benar saja, ketika mereka memasuki hutan di mana terdapat banyak kera, Coa ong Sin kai lalu membuka daun itu dan menyebarkan kutu-kutu itu pada kera kera yang duduk di bawah.

Kakek itu mencari buah buah dan membagi bagikan kepada kera kera itu dan mengajak mereka tertawa-tawa dan bercakap-cakap kepada mereka.

Diam-diam gadis ini memperhatikan semua itu dan ia dapat menduga bahwa kakek yang aneh sekali ini ternyata lebih sayang kepada binatang dari pada kepada manusia!

Demikianlah, dengan amat cerdik dan pandai mengambil hati, akhirnya Bi Lan dapat menerima pelajaran dua macam ilmu silat dari kakek gila ini selama beberapa bulan, yakni ilmu silat tangan kosong yang disebut Ouw wan ciang (Ilmu Silat Lutung Hitam) yang terdiri dari 36 jurus dan juga ilmu pedang yang oleh kakek itu dimainkan dengan sebatang ranting bambu, yakni ilmu pedang yang disebut Sin-coa kiam-hoat (Ilmu Pedang Ular Sakti).

Memang Bi Lan besar dan luar biasa sekali bakatnya dalam ilmu silat sehingga dalam tiga bulan saja ia telah dapat mewarisi dua macam ilmu silat ini.

Biarpun otaknya agak miring, ternyata bahwa Coa ong Sin kai memang tajam pandangan matanya.

Tadinya tidak terpikir olehnya untuk mengganggu Hoa-san-pai dan menculik Bi Lan, akan tetapi begitu melihat gadis itu, ia menjadi amat terlarik.

Segila-gilanya kakek ini, ia masih mengerti bahwa ia tidak mempunyai murid dan kalau sampai ia mati tanpa menurunkan kepandaiannya kepada orang lain, akan lenyaplah kepandaian yang selama berpuluh tahun dipelajarinya, ia maklum bahwa Bi Lan adalah seorang gadis yang cerdik dan berbakat sekali, dan juga melihat wajah gadis ini, ia menjadi suka sekali, maka diculiknya gadis itu untuk dijadikan muridnya!

"Suhu, apakah tidak ada lain macam ilmu silat yang kau ketahui?

Teecu ingin mempelajari semua kepandaian suhu,"

Kata Bi Lan setelah ia tamat mempelajari Sin-coa kiam-hoat. Coa ong Sin kai tertawa bergelak.

"Kau benar-benar serakah sekali! kau kira kau akan dapat memeluk Gunung Thai san? Kalau kau tidak dapat memeluk Gunung Thai san, bagaimana hendak mempelajari semua kepandaian di dunia ini yang besarnya lebih hebat dari Gunung Thai san? Banyaknya kepandaian seperti air di Telaga See ouw, dapatkah kau minum semua sampai habis? Ha-ha-ha! Kepandaianmu yang telah kau pelajari itu sudah banyak, akan tetapi masih belum hebat. Kalau bertemu dengan orang yang lebih pandai, tetap kau akan kalah. Oleh karena itu, mari kau ikut dengan aku. Aku lebih suka bersahabat dengan binatang yang dapat membantuku di dalam keadaan bahaya dan kalau kau dapat mempelajari kepandaian ini, kau pun akan terjaga dari ancaman siapapun juga."

Sambil berkata demikian, Coa ong Sin kai lalu berlari cepat dan Bi Lan segera mengejar.

Salain dua macam ilmu silat yang telah disebutkan itu, juga kakek gila ini telah mengajarnya Pi ki hu hiat dan I kong hoan hiat, yakni ilmu ilmu menutup atau memindahkan jalan darah yang dalam melatihnya harus memiliki lweekang tinggi, maka otomatis lweekang dari gadis ini memperoleh banyak sekali kemajuan di bawah pimpinan Coa ong Sin kai, juga pengemis sakti ini melatihnya dalam hal ginkang dan ilmu lari cepat sehingga kini ia dapat berlari mengikuti gurunya yang baru ini tanpa tertinggal terlalu jauh.

Setelah berlari kurang lebih tiga puluh li jauhnya, mereka memasuki sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar dan tua.

Tiba-tiba setelah mereka masuk sampai di tengah-tengah hutan Bi Lan menghentikan larinya dan memandang ke depan dengan mata terbelalak.

Nyata ia merasa ngeri dan jijik sekali.

Di depannya terdapat lima batang pohon pek yang besar dan pohon-pohon ini penuh dengan ular yang besar besar, yang melingkari cabang-cabang pohon, ada pula yang melingkar tidur di bawah pohon.

Coa ong Sin kai menghampiri tempat itu sambil tertawa, kemudian ia lalu mengeluarkan suara mendesis yang keras.

Tiba-tiba semua ular yang tadinya nampak mati tak bergerak, kini mulai hidup.

Kepala mereka diangkat dan lidah yang merah bergerak-gerak keluar dari mulut, lalu terdengarlah suara mendesis desis yang keras pula, yang keluar dari mulut semua ular itu.

Agaknya binatang binatang ini mengenal tanda yang dikeluarkan oleh Coa ong Sin kai.

Adapun kakek itu sambil tertawa-tawa lalu maju dan duduk bersila di bawah pohon.

Bi Lan melihat dengan amat jijik dan ngeri betapa ular-ular itu kini melepaskan lingkarannya dan merayap mendekati Coa ong Sin kai.

Setelah tubuhnya terlepas dari lingkaran, nampak betapa panjang ular-ular itu, bahkan ada yang panjangnya hampir tiga tombak!

Coa ong Sin kai masih tertawa-tawa dan ketika ular-ular itu datang dekat, ia mengulurkan tangan membelai belai kepala mereka!

Ular-ular itu mencium cium dan menjilat-jilat dengan lidah mereka yang merah meruncing, sehingga Bi Lan yang melihatnya merasa betapa bulu tengkuknya berdiri.

Tiba-tiba seekor ular belang yang besarnya selengan orang, merayap cepat ke arah kakek itu dan tidak seperti yang lain, ia lalu menyerang ke arah leher kakek itu dengan mulutnya yang bergigi runcing!

"Eh, belang, kau masih belum tunduk kepadaku?"

Kakek itu berseru dan sekali tangannya bergerak, ia telah menggunakan dan jari tangannya untuk menotok arah leher ular itu yang terus dijepitnya.

Ular itu tak sempat menggigit pula dan sekali saja Coa ong Sin kai menekan belakang kepala ular itu dan terus diurut ke belakang, ketika dilepaskan, ular belang yang berbisa itu menjadi jinak!

Bi Lan menjadi kagum sekali dan sekarang tahulah dia mengapa gurunya yang baru ini dijuluki orang Coa ong Sin kai (Pengemis Sakti Raja Ular).

Kiranya suhunya mempunyai kepandaian yang aneh untuk membikin tak berdaya dan takluk binatang merayap yang menjijikkan itu.

"Siauw niau (burung kecil), kau ke sinilah!"

Coa ong Sin kai yang selalu menyebut muridnya "Burung kecil"

Itu memanggil.

Sebetulnya Bi Lan merasa jijik dan geli untuk mendekati ular-ular itu, akan tetapi ia tidak berani membantah panggilan suhunya, ia berjalan mendekati.

Ular-ular yang nampak jinak terhadap Coa ong Sin kai itu ketika melihat seorang manusia asing mendekat, lalu serentak bangun dan merayap hendak menyerang!

Kepala mereka terangkat tinggi dan lidah mereka yang merah itu menjilat-jilat ke luar dibarengi oleh suara mendesis yang menakutkan.

Bi Lan merasa geli akan tetapi sama sekali tidak takut.

Gadis ini mengambil sebatang cabang kering di atas tanah dan siap sedia untuk menggempur ular-ular itu apabila menyerangnya.

"Jangan pukul mereka, lemparkan ranting di tanganmu!"

Tiba-tiba Coa ong Sin kai membentak dan suaranya terdengar begitu marah sehingga Bi Lan menjadi kaget dan buru-buru melempar ranting itu.

Ia teringat akan kemarahan suhunya, ketika ia membunuh kutu rambutnya dahulu itu.

Ular-ular itu merayap makin dekat dan kini tidak kurang dari tujuh ekor ular besar telah mengurung Bi Lan dari genap penjuru!

Bi Lan menjadi bingung dan gelisah.

Untuk menendang atau memukul ular lar itu, ia takut suhunya menjadi marah.

"Mereka tidak apa-apa, asal kau tahu bagaimana menghadapi mereka."

Coa ong Sin kai mengeluarkan suara mendesis dan tujuh ekor ular itu lalu berhenti merayap dan mendekam tak bergerak!

"Lihat, bukankah anak-anak ini manis benar?

Kalau kau sudah mempelajari cara bagaimana untuk menguasai mereka, mereka ini akan membelamu sampai mati dan kau tak perlu takut menghadapi siapapun juga.

Lihatlah, pernahkah, kau melihat ular-ular menari-nari?" (Lanjut ke

Jilid 04) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "

Jilid 04 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo

Jilid 04 Dengan mata terbelalak heran, Bi Lan melihat gurunya memperlihatkan kepandaiannya.

Dengan siul dan desis yang aneh, gruunya ini dapat memerintah kepada ular-ular yang makin lama makin banyak muncul di tempat itu.

Ular-ular itu dapat diperintah untuk berbaris, untuk mengangkat leher dai menari-nari di depannya, kemudian dengan barisan yang rapih sekali merayap rayap mengelilingi Raja Ular itu.

Dan semua ini hanya dilakukan dengan desis dan siulan yang amat kuat bunyinya dan juga amat tinggi sekali hingga Bi Lan dapat menduga bahwa suara suara itu hanya dapat dikeluarkan dengan tenaga khikang yang hebat.

Senang juga melihat binatang binatang itu dapat dipermainkan sekehendak hatinya oleh Coa ong Sin kai.

Akan tetapi, diam-diam Bi Lan merasa makin geli dan jijik, apa lagi setelah ia melihat betapa Coa ong Sin kai mengambil seekor ular kecil panjang yang dikalungkan pada lehernya dan seekor pula yang lain melibat libat di sekitar tubuhnya.

Ia tidak suka mempelajari ilmu menaklukkan ular ini.

Ia akan bisa mati kaku kalau ular itu harus melilit tubuh dan lehernya seperti itu!

Bi Lan bergidik dan meram matanya.

Pada saat itu, pendengaran Bi Lan yang terlatih dan tajam dapat mendengar suara orang bersorak dari jauh.

Ternyata Coa ong Sin kai juga telah mendengar suara ini.

Suara orang-orang itu makin lama makin dekat dan tak lama kemudian, Bi Lan dan gurunya melihat banyak binatang hutan berlari-larian dan burung burung beterbangan ketakutan.

"Hm, agaknya manusia manusia kejam merajalela di hutan ini,"

Tiba-tiba Coa ong sin kai berkata.

"Mari kita lihat."

Bi Lan mengikuti suhunya menuju ke arah suara itu dan dari balik pohon mereka melihat lima orang laki-laki yang berpakaian sebagai pemburu berjalan di dalam hutan itu.

Dua orang memanggul bangkai harimau yang agaknya tadi dikejar kejar oleh mereka, dan yang tiga orang masing-masing memanggul bangkai kelinci yang gemuk.

Mereka memegang tombak di tangan kiri dan di pundaknya nampak pula busur dan anak panah.

"Kurang ajar, benar-benar manusia manusia kejam!"

Kata Coa ong Sin kai perlahan.

"Lihat siauw niau, kau lihat baik-baik betapa setianya ular-ularku itu!"

Setelah berkata demikian, kakek ini menggerakkan bibirnya dan keluarlah suara mendesis yang terputus putus akan tetapi tajam sekali, persis suara ular yang sedang marah.

Lima orang pemburu itu ketika mendengar suara ini, menjadi terkejut sekali dan berdiri diam.

"Ada ular!"

Kata seorang diantara mereka cepat ia mencabut golok yang tergantung di pinggangnya.

Juga kawan-kawannya bersiap sedia, karena memang binatang ular ini yang paling ditakuti oleh para pemburu.

Tiba-tiba, diantara daun-daun dan batang batang pohon, juga dari bawah rumput, keluar belasan ekor ular besar kecil menerjang ke lima orang pemburu itu.

Para pemburu itu terkejut sekali karena belum pernah mereka mengalami hal yang aneh seperti ini, diserbu belasan ekor ular yang agaknya demikian marah kepada mereka.

Bi Lan juga memandang dengan mata terbelalak.

Ia melihat betapa suhunya dengan wajah berkilat karena berpeluh mata berseri dan mulut diruncingkan, terus mengeluarkan suara desisan yang ternyata merupakan panggilan kepada ular-ular itu.

Makin lama makin banyaklah ular-ular itu datang mengeroyok para pemburu itu.

Lima orang itu telah menurunkan bawaan masing-masing dan kini mereka mengamuk dengan mata terbelalak ngeri.

Golok mereka diobat abitkan membacok ular-ular itu, akan tetapi makin lama makin bertambah juga jumlah ular-ular itu sehingga akhirnya mereka kena juga digigit dan dibelit tubuh mereka.

Terjadilah pergulatan yang maha hebat dan yang amat mengerikan Bi Lan menjadi pucat dan tak terasa pula ia memekik ngeri, lalu melompat ke tempat pertempuran itu.

Ia telah mengambil sebatang ranting kecil dan dengan ranting ini ia menghajar ular-ular itu.

Sekali sabet dengan ranting saja, pecahlah kepala seekor ular, atau kalau terkena perutnya, maka pecahlah perut itu dan putus tubuh ular itu menjadi dua!

Kehebatan ranting kecil ini lebih besar dari pada sebatang golok atau pedang!

Ular-ular itu menyerang Bi Lan, akan tetapi gadis ini dengan cepatnya dapat merobohkan mereka sehingga kini bangkai ular bertumpuk-tumpuk dan tubuh mereka menggeliat geliat menggelikan.

"Siauw niau, kau gila?"

Tiba-tiba Coa ong Sin kai membentak dan muncul dari tempat sembunyinya.

"Suhu, kau tidak boleh menyuruh ular-ular ini menyerang manusia!"

Bi Lan membentak marah.

Akan tetapi ketika ia menengok ke arah lima orang yang tadinya bergulingan meronta ronta mencoba melepaskan ular yang melilit leher mereka, ternyata lima orang itu kini telah tak bergerak lagi karena mereka telah menjadi biru!

Mereka telah tewas karena tak dapat bernafas.

"Suhu"!"

Bi Lan terisak, kemudian ia melemparkan rantingnya dan melompat pergi dari situ.

"Siauw niau"

Ke mana kau "?"

Teriak Coa ong Sin kui.

Akan tetapi Bi Lan tidak menjawab, bahkan mempercepat larinya.

tidak sudi lagi berdekatan dengan gurunya yang kejam dan ganas, yang lebih menyayangi nyawa binatang dari pada jiwa manusia.

Kalau gurunya mengejar, ia akan melawan mati-matian.

Akan tetapi ternyata Coa ong Sin kai tidak mengejar, bahkan terdengar kakek itu mengeluh dan menangis menyesali kematian begitu banyak ular-ularnya yang tersayang.

"Tidak ada manusia yang ingat budi""

Suara kakek itu terdengar jelas oleh Bi Lan yang melarikan diri.

"Kalian lebih baik, ular-ularku!"

Gadis itu diam-diam merasa terharu juga.

Gurunya berlaku sedemikian aneh bukan karena wataknya memang jahat, melainkan karena pikirannya sudah rusak dan gila.

Akan tetapi ia tidak perduli lagi.

Tidak mungkin ia harus berkumpul terus dengan guru yang kadang-kadang membuatnya merasa serem dan ngeri itu.

Kadang-kadang gurunya ini berlaku luar biasa manjanya minta dicari kutu-kutu rambutnya yang tidak boleh dibunuh, minta dipijiti seluruh tubuhnya.

Ah, siapa tahu kalau kalau di luar kesadarannya, kakek itu akan melakukan sesuatu yang jahat terhadap dia.

Ia masih ingat betapa karena membunuh seekor kutu rambut saja, gurunya sudah tega menamparnya!

Betapapun juga, ia harus berterima kasih kepada Coa ong Sin kai.

Kakek gila itu sudah menurunkan banyak ilmu silat yang tinggi dan luar biasa kepadanya.

Tidak hanya Ouw wan ciang yang tiga puluh enam jurus itu dan Sin-coa Kiam-hwat yang hebat telah dipelajarinya, bahkan iapun telah dapat melakukan Pi ki hu hiat dan I kiong hoan hiat yang tak sembarang orang dapat melakukan!

Sekarang ke mana ia hendak pergi?

Kembali ke Hoa san?

Ah, pengemis sakti yang gila itu telah membawanya jauh ke utara.

Maka teringatlah Bi Lan akan penuturan Tan Seng, kong kongnya atau lebih tepat sukongnya (kakek gurunya), yaitu guru daripada mendiang ayahnya.

Ayahnya telah tewas dalam pertempuran melawan orang-orang Bangsa Kin yang juga menjadi sebab kematian ibunya.

Dan sekarang Bangsa Kin masih menjajah di Tiongkok bagian utara, yakni di sebelah utara Sungai Huai dan juga di daerah Celah Tasan kuan di Shensi.

Aku harus membalas dendam ayah bundaku, pikir gadis ini.

Dengan hati tetap ia lalu melanjutkan perjalanannya dengan cepat menuju ke utara!

*** Seperti telah diceritakan di bagian depan, semenjak tahun 1141, Kerajaan Sung Selatan dengan amat terpaksa telah mengadakan perdamaian dalam keadaan amat terhina dengan orang-orang Kin yang memiliki barisan kuat itu.

Selain Kerajaan Kin mendapat bagian tanah di sebelah utara Sungai Huai dan di Celah Tasan kuan di Shensi, juga setiap tahun pemerintah Sung harus mengirim upeti tanda bakti kepada pemerintah Kin berupa dua puluh lima laksa tail perak dan dua puluh lima laksa lain sutera halus!

Betapapun juga, pemerintah Sung Selatan ternyata pandai mengatur pemerintahannya sehingga keadaan penghidupan rakyat jelata tidak begitu tertekan.

Pertanian dan perdagangan mendapat kemajuan lumayan dan biarpun harus diakui bahwa penghidupan para petani tak dapat dibilang makmur, namun keadaan mereka jauh lebih baik dari pada keadaan rekan rekan mereka di sebelah utara.

Di bagian utara, yakni di wilayah yang diduduki oleh pemerintah Kin, keadaan rakyat jelata Bangsa Han benar-benar payah dan tertindas.

Bala tentara Kin telah menghancurkan banyak kota dan desa, membunuh dan menyiksa rakyat, merampok harta bendanya sehingga setelah perdamaian diadakan, keadaan rakyat di utara sudah amat miskin dan habis habisan.

Lebih lebih karena daerah ini diberikan kepada Kerajaan Kin, maka keadaan rakyat benar-benar menyedihkan.

Keluarga keluarga pembesar Kerajaan Kin menjadi majikan majikan mereka, sedang rakyat Han menjadi hamba hamba yang kehidupannya lebih berat dari pada penghidupan binatang ternak!

Pada waktu itu, seorang pembesar bangsawan Bangsa Kin sampai mempunyai hamba sebanyak seratus lebih Bangsa Han, yang boleh diperlakukan sesuka hati mereka seperti orang boleh memperlakukan apa saja terhadap binatang peliharaan mereka.

Banyak pula yang dipaksa mengerjakan sawah ladang yang keseluruhannya dibagi bagikan kepada pembesar pembesar dan bangsawan bangsawan Kin, dengan hanya mendapat upah makan sekedarnya untuk menjaga jangan sampai mereka kelaparan saja.

Tentu saja rakyat yang diperlakukan seperti hewan ini mengandung kebencian yang mendalam sekali.

Pemberontakan meletus dimana-mana.

Orang-orang gagah memimpin rakyat untuk melakukan perlawanan dan tuntutan perbaikan nasib.

Biarpun sejarah mencatat bahwa akhirnya pemberontakan-pemberontakan itu berhasil juga dan Kerajaan Kin makin lama makin menjadi lemah untuk akhirnya runtuh dan lenyap, namun dalam tahun-tahun pertama, keadaan Keajaan Kin amat kuatnya.

Kerajaan ini mempunyai banyak sekali orang kuat, terdiri dari pembesar pembesar bu (militer) yang memiliki kepandaian tinggi.

Selain itu, masih ada juga tiga orang gagah yang oleh Kaisar Kin dianggap sebagai tiang negara atau penasihat Kaisar.

Tiga orang gagah ini adalah Bangsa Kin yang terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dikabarkan orang bahwa guru mereka adalah seorang pertapa Bangsa Thian tok (India) yang berilmu tinggi.

Mereka ini setelah menduduki pangkat tinggi sebagai orang-orang yang paling berpengaruh dalam Kerajaan Kin di bawah Kaisar sendiri, lalu memilih nama yang cukup keren dan gagah, yakni yang tertua bernama Kim Liong Hoat ong, yang ke dua Gin Liong Hoat ong dan yang ke tiga Tiat Liong Hoat ong.

Mereka ini adalah saudara-saudara seperguruan dan selain mereka bertiga, Sam thai koksu (Tiga guru negara besar) ini masih mempunyai suheng (kakak seperguruan) yang menjadi pendeta di Tibet dan bernama Ba Mau Hoatsu yang kabarnya memiliki kepandaian paling tinggi diantara mereka.

Sam thai koksu inilah yang berhasil menggagalkan pemberontak pemberontak dan orang-orang gagah yang mencoba menghancurkan pemerintah Kin yang menjajah tanah air mereka.

Jarang ada orang kang ouw yang dapat menandingi kegagahan Sam thai koksu.

Apa lagi akhir akhir ini Sam thai koksu mendatangkan suheng mereka dari Tibet, dan Ba Mau Hoatsu selain tinggi sekali ilmu silatnya, juga memiliki ilmu hoatsut (sihir) yang menakutkan orang.

Kini para orang gagah hanya berani melakukan gerakan secara tersembunyi saja, yakni mengganggu pembesar pembesar yang terlalu menindas rakyat di kota kota yang jauh dari kediaman Sam thai koksu.

Di dalam perjalanannya menuju ke utara, setelah menyeberangi Sungai Huai, yakni tapal batas antara wilayah Sung dan Kin, Bi Lan lalu menuju ke kota Sucouw.

Melihat kemelaratan para petani yang miskin, hati dara perkasa ini memberontak.

Memang ada diantara orang-orang Han yang hidup mewah dan makmur yakni mereka yang memang tadinya orang-orang hartawan dan kemudian setelah pemerintah Kin berdiri, Mereka dapat mengadakan hubungan yang baik dengan pembesar pembesar Kin, melakukan penyogokan.

Harta yang hartawan ini sekarang hidup seperti raja yang terjamin keselamatannya oleh pembesar pembesar Kin.

Dan untuk mengisi kantong para pembesar Kin yang tidak ada dasarnya itu hartawan hartawan ini lalu melakukan pemerasan sehebat hebatnya kepada para petani dan buruhnya.

Setiap orang buruh tani diharuskan bekerja lebih berat dari pada kerbau hanya untuk dapat mengisi perut setiap hari!

Semenjak menyeberangi Sungai Huai Bi Lan mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang pendekar wanita, sesuai dengan pesan dari semua gurunya di Hoa-san-pai.

Dan semenjak Bi Lan memasuki wilayah pemerintah Kin, Di daerah ini muncullah seorang pendekar wanita yang menggemparkan di samping orang-orang gagah yang memang banyak mengadakan perbuatan perbuatan yang membela rakyat.

Di sepanjang perjalanannya, Bi Lan mendatangi pembesar pembesar Kin di waktu malam, mengancamnya, menggurat muka dengan pedang atau bahkan membabat putus sebelah telinganya dengan ancaman agar supaya pembesar itu tidak memeras kepada rakyat.

Kemudian ia mengambil banyak perak dan emas dari pembesar pembesar ini dan pada malam itu juga, orang-orang yang hidup miskin dan hampir kelaparan, tiba-tiba saja menemukan potongan potongan perak atau emas di dalam kamar mereka!

Juga banyak orang-orang hartawan yang didatangi oleh Bi Lan dan diancam untuk dicabut nyawanya apabila tidak ingat akan kesengsaraan bangsanya dan tidak mengulurkan tangan untuk menolong.

Semua perbuatan mulia ini dilakukan Bi Lan dengan diam-diam, dan karena gerakannya amat lincah, cepat dan ginkangnya sudah tinggi, maka semua petani miskin yang hanya melihat bayangan seorang gadis muda yang cantik jelita dan berpinggang langsing lalu memberi julukan kepada Bi Lan.

Julukan ini adalah Sian li Eng cu (Bayangan Bidadari).

Akan tetapi, para pembesar Kin yang tentu saja merasa penasaran dan marah, juga membenci gadis pendekar ini, memberi julukan Mo li Eng cu (Bayangan Iblis Wanita) kepadanya.

Akan tetapi, Bi Lan yang mendengar julukan julukan ini untuknya, hanya tersenyum gembira dan tidak ambil perduli sama sekali.

Beberapa pekan kemudian tibalah Bi Lan di kota Cin-an, kota terbesar di Propingi San tung.

Di kota ini pemerintah Kin mendirikan kantor yang besar, bahkan di sinilah letak pusat kubu kubu atau benteng pertahanan tentara Kin.

Oleh karena itu, jarang sekali ada orang gagah berani main-main di tempat ini, karena di kota Cin-an ini terdapat banyak sekali perwira-perwira Kin yang gagah perkasa.

Bahkan tidak jarang Sam thai koksu mengunjungi tempat ini.

Ketika Bi Lan memasuki kota yang besar ini, perhatiannya tertarik oleh pengumuman yang ditempel di mana-mana.

Ia berhenti dan membaca pengumuman itu dan makin tertariklah dia.

Ini bukanlah sebuah pengumuman, melainkan sebuah undangan untuk orang-orang gagah di dunia kang ouw!

Karena ingin membaca dengan jelas, Bi Lan lalu mendesak maju dan beberapa orang yang sedang membaca surat undangan itu memberi jalan dan memandang kepada Bi Lan dengan heran.

Pengumuman undangan ini tertulis dengan huruf-huruf yang indah dan bergaya kuat dan berbunyi seperti berikut .

PARA ORANG GAGAH DI SELURUH PENJURU.

Kami, Sam Thai Koksu dari Kerajaan Kin dengan ini mengumumkan bahwa pada nanti malam bulan purnama kami hendak mengadakan pesta hiburan menghormat para orang gagah di dunia kang ouw.

Pesta itu diadakan di kebun raya di luar benteng dan di sana disediakan hidangan yang paling lezat dan arak paling baik untuk para Enghiong.

Dengan ini kami mengundang kepada para orang gagah di seluruh penjuru untuk datang dan beramah-tamah dengan kami untuk membersihkan segala sesuatu yang nampak keruh.

Kami percaya bahwa cuwi (tuan-tuan sekalian) tentu akan berani datang dan mengingat bahwa kita adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan dan keberanian, cuwi tentu percaya penuh bahwa kami takkan melakukan penangkapan atau tindakan lain yang mengecewakan dan merusak nama baik kami sendiri.

Menanti dengan hormat, SAM THAI KOKSU.

Bi Lan baru membaca setengahnya ketika tiba-tiba terdengar orang tertawa dan surat pengumuman yang tertempel di atas tembok itu tiba-tiba tertiup angin yang kuat dan tempelannya terlepas lalu melayang ke kiri!

Bi Lan terkejut karena maklum bahwa yang meniup itu, bukanlah angin sewajarnya, melainkan tiupan khikang yang kuat dari orang pandai.

Timbul hati penasaran dalam dada gadis ini karena ia belum membaca habis, maka sekali ia mengulurkan tangannya, ia telah dapat menangkap kertas itu.

Dengan tenang, Bi Lan lalu menempelkan kertas itu di tembok.

Akan tetapi karena lemnya telah kering, kertas itu tidak mau menempel, Bi Lan menjadi mendongkol dan ia menggunakan ibu jarinya untuk menekan kepada empat ujung kertas itu pada tembok.

Dengan mengerahkan sedikit lweekangnya, ia telah dapat membuat kertas itu melesak ke dalam tembok, sehingga kertas itu dapat menempel!

Terdengar suara ketawa lagi, akan tetapi Bi Lan tidak mau menengok atau memandang hanya melanjutkan membaca pengumuman itu sampai habis.

Orang-orang di sekitarnya tentu saja dapat melihat semua ini dan diam-diam mereka menjadi tegang karena dapat menduga bahwa gadis muda cantik jelita ini tentulah seorang tokoh kang ouw yang berilmu tinggi.

Setelah selesai membaca, barulah Bi Lan menengok ke arah orang yang meniup tadi.

la melihat dua orang kakek yang rambutnya sudah putih dan diikat ke atas, jenggotnya terurai ke bawah tak terpelihara, demikian pula pakaian mereka amat sederhana Yang mengherankan adalah persamaan wajah kedua orang kakek ini, sehingga sukar untuk membedakan antara mereka.

Bi Lan tidak mengenal kedua kakek ini, maka setelah membaca, ia lalu pergi dari situ mencari tempat penginapan.

Kedua orang kakek yang sederhana itu memandang kepadanya sambil tersenyum dan Bi Lan merasa betapa dua pasang mata itu berkedip-kedip seakan-akan memberi isyarat "Tahu sama tahu."

Di sepanjang perjalanan mencari hotel, ia mengingat-ingat siapa adanya dua orang kakek ini yang tiupannya demikian kuat sehingga dari jarak jauh dapat melepaskan kertas itu tanpa terasa anginnya oleh semua orang.

Setelah mendapat kamar di hotel, Bi Lan beristirahat sambil berpikir.

Malam ini bulan sudah hampir penuh, jadi undangan itu dimaksudkan besok malam.

Aku harus datang pula untuk melihat apa sebenarnya maksud tiga orang guru besar pemerintah Kin itu, pikir Bi Lan.

Memang sudah lama ia mendengar nama Sam Thai Koksu dan kini mendengar tentang undangan mereka terhadap orang-orang gagah, tentu saja hatinya amat tertarik.

Apakah akan ada perobahan sikap yang baik dari pemerintah Kin terhadap rakyat jelata?

Dan siapa pula dua orang kakek yang kembar itu?

Apakah mereka juga datang untuk memenuhi undangan Sam Thai Koksu?

Tentu saja Bi Lan tidak tahu bahwa surat undangan seperti yang dibaca tadi, oleh pemerintah Kin telah disebar di seluruh wilayahnya.

Setiap kota besar tentu disebari undangan ini karena memang Sam Thai Koksu mempunyai rencana yang amat baik, yang sudah disetujui oleh Kaisar sendiri.

Telah lama Sam Thai Koksu merasa pening kepala karena gangguan orang-orang gagah di dunia kang ouw yang melakukan pemberontakan-pemberontakan kecil.

Biarpun tiga orang guru besar ini dengan kepandaiannya dapat mengerahkan perajurit untuk membasmi setiap pemberontakan, namun perlawanan rakyat yang terus-menerus itu menggelisahkan juga Mereka tahu bahwa rakyat takkan berani bangkit tanpa dorongan dari orang-orang gagah di dunia kang ouw.

Melakukan kekerasanpun sukar karena orang-orang gagah itu tak mungkin dapat dicari dan dibasmi semua.

Pemberontakan-pemberontakan itu akan melemahkan kedudukan negara, maka kini Sam Thai Koksu hendak mengambil jalan halus.

Mereka hendak menggunakan siasat mengambil hati orang-orang gagah untuk menarik mereka agar mau membantu pemerintah dengan hadiah hadiah besar dan juga janji janji muluk demi kebaikan penghidupan rakyat!

Maka diadakanlah undangan itu yang maksudnya untuk mengambil hati orang-orang gagah itu.

Sampai malam Bi Lan tak dapat pulas, la telah mengambil keputusan untuk datang menghadiri pesta itu besok malam dan melihat gelagat.

Kalau kiranya Sam Thai Koksu ternyata mempunyai maksud buruk, ia takkan berlaku kepalang dan hendak menyerang tiga orang besar itu!

Apabila dia dapat membinasakan tiga orang yang dianggap sebagai guru besar negara Kin ini, maka itu merupakan jasa yang tidak kecil artinya bagi seluruh bangsanya yang tertindas!

Bi Lan sekarang telah menemukan kembali sifatnya yang dahulu, yakni percaya penuh akan kepandaiannya sendiri.

Dulu ketika berada di puncak Hoa san, iapun telah memiliki kepercayaan besar terhadap kepandaian sendiri sampai datang Tiauw It Hosiang yang mengecewakan hatinya karena ia tidak dapat mengalahkan Hwesio itu dengan mudah.

Kemudian setelah ia terculik oleh Coa ong Sin kai, ia menjadi makin kecewa karena merasa betapa kepandaiannya masih jauh dari pada memuaskan.

Akan tetapi, setelah ia mendapat latihan dari Coa ong Sin kai dan merasa betapa kepandaiannya telah maju pesat sekali, kini ia merasa bahwa kepandaiannya telah cukup tinggi dan agaknya ia akan dapat membinasakan tiga orang koksu yang terkenal itu!

Bi Lan memang masih terlalu muda untuk dapat mengerti bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang yang berkepandaian tinggi sekali dan bahwa betapapun tinggi kepandaian seseorang, tentu ada orang yang akan mengatasinya.

Pula ia masih kurang pengalaman sehingga kadang-kadang timbul sifatnya yang membanggakan kepandaian sendiri sehingga ia kehilangan kewaspadaannya.

Ketika ia hampir pulas di atas pembaringannya, tiba-tiba ia mendengar suara kaki menginjak genteng di atas kamarnya.

Suara injakan kaki itu amat perlahan, menandakan bahwa orang di atas kamar itu telah mempunyai ginkang yang tinggi.

Bi Lan tersenyum mengejek, kemudian dengan sekali menggerakkan tangan ke arah lilin yang bernyala di atas meja, api lilin itu padam oleh tiupan hawa pukulannya.

Agaknya orang yang di atas genteng dapat melihat pula betapa api di dalam kamar tiba-tiba padam, karena terdengarlah suara berbisik dari atas.

"Lihiap (nona yang gagah), aku datang dengan maksud baik. Harap kau suka keluar untuk bercakap-cakap!"

Bi Lan memang seorang dara muda yang tabah sekali.

Biarpun ia tahu bahwa orang di atas itu tidak boleh dipercaya, akan tetapi ia tidak merasa takut sama sekali.

Malah ia menduga bahwa mungkin sekali orang itu adalah seorang diantara kakek yang dilihatnya siang tadi.

Ketika ia mendengar tindakan kaki dua orang melompat turun dari atas genteng, dugaannya makin kuat bahwa tentu dua orang kakek kembar itulah yang datang mengunjunginya.

Setelah meringkaskan pakaiannya, Bi Lan lalu membuka jendela kamar dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah berada di luar kamar.

Ia melihat dua bayangan orang menanti di tempat agak jauh dari hotel sambil melambaikan tangan, maka ia lalu berlari ke tempat itu sambil memperlihatkan ilmu berlari cepatnya yang lihai.

Ia kecele karena dua orang itu sama sekali bukan dua orang kakek yang dilihatnya siang tadi, melainkan seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun dan seorang wanita yang tinggi besar dan cantik juga, usianya kurang lebih empat puluh tahun akan tetapi masih nampak cantik dan selain pakaiannya mewah, juga masih menggunakan bedak tebal dan yanci (alat pemerah pipi) dan gincu bibir!

Dua orang itu nampak kagum melihat cara Bi Lan berlari, maka buru-buru mereka memberi hormat dengan menjura.

"Maaf kalau kami telah mengganggu lihiap yang sedang tidur,"

Kata wanita pesolek itu sambil tersenyum ramah.

"Ah, tidak apa,"

Bi Lan terpaksa menjawab sambil tersenyum manis.

"Tidak tahu siapakah jiwi dan ada keperluan apakah dengan aku yang muda?"

Memang Bi Lan berwatak nakal.

Ucapannya yang terakhir itu, yang menegaskan bahwa dia jauh lebih muda dari pada wanita itu, diam-diam merupakan sindiran bahwa wanita itu sebetulnya sudah terlalu tua untuk demikian genit dan demikian mewah.

Akan tetapi wanita itu agaknya tidak merasa sama sekali akan sindiran ini, bahkan tertawa makin ramah.

"Aku bernama Coa Kim Kiok dan dia ini adalah suhengku yang bernama Kwa Cu Bi. Kami adalah anak-anak murid dari Go-bi-pai. Melihat betapa siang tadi kau memperlihatkan kepandaianmu ketika menempelkan kertas pada tembok, kami menjadi amat tertarik karena kami merasa bahwa antara kau dan kami tentu terdapat persamaan tujuan datang di kota ini. kau siapakah nona dan mewakili perguruan mana? Tentu kedatanganmu ini ada hubungannya dengan undangan dari Sam Thai Koksu, bukan?"

Bi Lan tentu saja sudah mendengar tentang perguruan silat Go-bi-pai, sungguhpun guru-gurunya di Hoa-san-pai seringkali meragukan dan menyatakan bahwa di Pegunungan Go-bi-san yang amat luasnya itu, banyak sekali terdapat orang-orang pandai yang membuka perguruan silat sendiri-sendiri sehingga yang disebut Go-bi-pai (partai Go-bi-san) sungguh amat kabur dan sukar ditentukan mana yang aseli.

Akan tetapi dia belum pernah mendengar nama Coa Kim Kiok maupun Kwa Cu Bi.

Para pembaca mungkin masih ingat akan nama Coa Kim Kiok ini.

Dia adalah wanita bertubuh tegap yang dahulu ikut mengeroyok Tan Seng dan murid-muridnya ketika hendak mengambil dan merampas jenajah Go Sik An.

Coa Kim Kiok sudah semenjak bala tentara Kin menyerang ke selatan, telah menjadi kaki tangan Kerajaan Kin, bersama dengan orang-orang gagah Bangsa Han lain seperti San mo Liong kui, Kwa Sun Ok dan yang lain lain.

Kwa Cu Bi yang mengawani Kim Kiok pada waktu ini adalah adik kandung dari Kwa Sun Ok.

Tentu saja Bi Lan tidak tahu bahwa dua orang yang dihadapinya itu, selain merupakan mata-mata dan kaki tangan dari Sam Thai Koksu, juga merupakan dua orang yang benar-benar cocok sekali.

Kim Kiok semenjak muda terkenal sebagai seorang perempuan jahat yang bertabiat cabul.

Adapun Kwa Cu Bi yang bermuka putih dan halus serta termasuk orang tampan itu dengan sikapnya yang lemah-lembut seperti seorang laki-laki banci, sebenarnya adalah seorang jai hwa cat besar.

Maka sekarang sepasang manusia bermoral bejat ini menjadi sahabat, tentu, amat cocok bagaikan sampah busuk di keranjang bobrok.

Ketika ia ditanya nama dan mewakili pergurun mana, Bi Lan menjadi agak bingung Karena sebetulnya ia datang bukan karena surat undangan dari Sam Thai Koksu itu dan tidak mewakili perguruan manapun juga.

Akan tetapi karena sudah ditanya, ia menjawab juga.

"Namaku Bi Lan, she Liang. Aku mewakili Hoa-san-pai!"

Coa Kim Kiok nampak terkejut, akan tetapi hanya sebentar karena ia segera tertawa dan berkata girang.

"Ah, tidak tahunya kau adalah seorang anak murid Hoa-san-pai. Pantas saja demikian lihai! Adik yang baik, kebetulan sekali kita dapat bertemu, maka bagaimana pikiranmu kalau besok malam kita pergi bersama ke kebun raya itu?"

Bagi Bi Lan tentu saja tiada halangannya untuk pergi bersama, apa lagi memang dia tidak mempunyai kenalan dan merasa asing di tempat ini, maka ia menganggukkan kepala.

"Boleh saja kalau jiwi suka mengajakku pergi bersama."

"Bagus, sekarang selamat tidur, adik Bi Lan. Besok siang kami akan datang menemuimu dan bercakap-cakap. Maafkan kalau kami datang mengganggu."

Setelah memberi hormat, kedua orang itu lalu berlompat pergi dan Bi Lan mendapat kenyataan bahwa kepandain mereka sebetulnya tidak demikian hebat.

Ia lalu kembali ke kamarnya dan gangguan ini melenyapkan nafsunya untuk tidur.

Ia berpikir pikir dengan hati merasa tegang juga.

Tidak disangkanya bahwa undangan dari Sam Thai Koksu itu telah menarik orang-orang dari Go-bi-pai yang demikian jauhnya.

Diam-diam ia merasa heran sekali mengapa kedua orang anak murid Go-bi-pai ini demikian baik kepadanya, padahal ia pernah bertempur melawan Tiauw It Hosiang, orang yang dianggap sebagai tokoh ke tiga dari pada perguruan Go-bi-pai.

Tentu mereka itu dari perguruan Go-bi-san yang lain lagi dengan Tiauw It Hosiang, pikirnya dan kemudian setelah menjelang fajar, dapat juga ia pulas.

Pada keesokan harinya, baru saja Bi Lan bangun, mandi dan tukar pakaian, seorang pelayan mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa di ruang tamu telah menanti dua orang.

Gadis ini makin heran karena ia dapat menduga bahwa dua orang itu tentulah Kim Kiok dan Cu Bi yang malam tadi datang mengunjunginya.

Ia segera keluar dan benar saja, Coa Kim Kiok menyambutnya dengan senyum di mukanya.

Juga Cu Bi yang pagi ini mengunjunginya, berpakaian mewah dan tersenyum-senyum manis kepadanya!

"Ah, adik Bi Lan yang manis!

kau baru bangun?

Mari kita sarapan, sudah kusediakan semenjak tadi!"

Kim Kiok memberi tanda kepada pelayan yang cepat datang mengantarkan hidangan yang masih mengebul hangat.

"Ah, enci Kim Kiok, kau sungguh membikin aku menjadi sungkan dan malu saja. Mengapa pagi-pagi sudah repot repot?"

"Nona Liang, mengapa harus berlaku sungkan? Bukankah kita adalah orang-orang segolongan yang tak perlu malu malu lagi?"

Kata Kwa Cu Bi dengan ramah sambil tersenyum. Bi Lan tak dapat menolak lagi dan makanlah mereka bertiga sambil bercakap-cakap.

"Apakah jiwi kemarin tidak melihat dua orang-tua yang berpakaian seperti tosu?"

Kim Kiok dan Cu Bi merenung dan mengingat-ingat, akan tetapi mereka menggeleng kepala.

"Tosu yang mana? Aku tidak melihat dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu,"

Kata Kim Kiok.

"Bukankah engkau kemarin melihat aku membaca surat undangan di tembok kota itu?"

Tanya Bi Lan.

"Betul, akan tetapi kami tidak melihat dua orang tosu. Siapakah mereka?"

Tanya Cu Bi dengan pandang mata tajam menyelidik.

Bi Lan diam-diam merasa heran.

Bagaimana kedua orang ini tidak melihat dua orang kakek yang lihai, yang mempergunakan tiupan khikang sehingga kertas undangan itu lepas dari tembok?

Akan tetapi karena mereka tidak mengetahuinya, iapun lalu tersenyum dan berkata.

"Mereka kulihat diantara orang-orang yang membaca surat undangan. Ah, kalau kalian tidak melihat mereka, sudahlah. Kiraku mereka itupun hanya orang-orang biasa saja yang tertarik oleh surat undangan itu. O, ya? hampir aku lupa bertanya Jiwi adalah murid-murid Go-bi-pai, kenalkah dengan Hwesio yang bernama Tiauw It Hosiang?"

"Kau maksudkan It ci sinkang Tiauw It Ho siang?"

Cu Bi mengulang, sambil memandang dengan girang. Ketika Bi Lan mengangguk, ia berkata.

"Tentu saja kenal, karena ia terhitung masih susiok (paman guru) kami. Kenalkah nona kepadanya?"

Bi Lan tersenyum dan mengangguk.

"Kami pernah bertemu satu kali. Akan tetapi sungguh aneh bagaimana dia yang masih muda bisa menjadi susiok dari jiwi. Kukira usianya tidak lebih dari padamu,"

"Memang betul demikian, It ci sinkang semenjak kecil telah menjadi Hwesio di Gobi san dan karena semenjak kecil sudah mendapat latihan ilmu silat dari sukong (kakek guru) kami, yaitu Kian Wi Taisu, maka ilmu kepandaiannya luar biasa sekali. Suhu kami adalah suhengnya dan usia suhu jauh lebih tua dari pada It ci sinkang. Pada waktu ini, boleh dibilang It ci sinkang Tiauw It Hosiang menduduki tempat ke tiga dalam tingkat kepandaian, di bawah guru kami Bu It Hosiang dan sukong kami. Akan tetapi entahlah kalau sekarang terdapat perobahan karena sudah lama sekali kami tidak pernah menghadap suhu di Go-bi-san, karena terlalu jauh."

Bi Lan mengangguk-angguk maklum, akan tetapi tentu saja ia tidak tahu bahwa dua orang di hadapannya ini sebenarnya tidak memberi keterangan yang tepat, bahkan banyak membohong.

Kwa Cu Bi memang betul adalah murid dari Bu It Hosiang, akan tetapi dia dan kakaknya, Kwa Sun Ok, telah diusir dari perguruan Go-bi-pai, karena diketahui melakukan, perbuatan jahat.

Adapun Coa Kim Kiok sama, sekali bukan murid Go-bi-pai, melainkan seorang murid dari pendeta Pek lian kau w yang cabul!

Kim Kiok dan Cu Bi yang menjadi kaki tangan Sam Thai Koksu mendapat tugas untuk menyelidiki orang-orang kang ouw yang datang di kota Cin-an dan sedapat mungkin diperintahkan membujuk orang-orang gagah agar suka bekerja sama dengan pemerintah Kin, atau setidak tidaknya memberi kesan kesan baik dan benar-benar murid keponakan dari orang-orang gagah.

Dan usaha kedua orang ini memang banyak berhasil.

Sudah banyak orang gagah yang dapat mereka bujuk dan kini melihat Bi Lan yang masih muda dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, mereka sedang berusaha untuk membujuk Bi Lan.

Akan tetapi di samping itu.

seperti biasa dan sesuai dengan wataknya yang cabul dan kotor, diam-diam ia tergila-gila melihat kecantikan dan kemudaan Bi Lan yang amat menggiurkan hatinya dan ia telah mengambil kepastian untuk menjadikan gadis muda ini sebagai korbannya!

"Di manakah kau bertemu dengan susiok kami itu, adik Bi Lan?"

Kim Kiok bertanya dengan gaya seakan-akan ia memang benar-benar kenal Tiauw It Hosiang.

"Ah, begitu saja, katika ia datang mengunjungi Hoa san setengah tahun yang lalu,"

Jawab Bi Lan dengan dingin, karena ia tidak ingin menceritakan tentang pertempurannya menghadapi It ci siokang Tiauw It Hosiang.

Kemudian, kedua orang itu mulai dengan tugas mereka.

Dengan gaya menarik dan bergantian mereka menceritakan tertang kebaikan kebaikan pembesar pembesar Kin, terutama Sam Thai Koksu terhadap orang-orang gagah.

"Sam Thai Koksu adalah orang-orang berilmu tinggi yang menghargai orang-orang gagah,"

Kata Kim Kiok.

"Apakah kau kenal baik dengan mereka?"

Bi Lan bertanya.

"Memang aku mengenal mereka sebagai orang-orang yang amat tinggi kepandaiannya dan sebagai orang-orang yang dapat menghargai kepandaian orang. Mereka itu ingin sekali bekerja sama dengan orang-orang gagah untuk dapat bersama-sama mengamankan negeri dan menenteramkan kehidupan rakyat jelata. Sungguh orang-orang-tua yang boleh dipuji."

Bi Lan mengerutkan keningnya.

"Mungkin benar bahwa mereka bekepandaian tinggi karena aku sendiripun sudah mendengar nama mereka. Akan tetapi tentang niat menenteramkan kehidupan rakyat.... ah, enci Kim Kiok, hal ini tidak cocok dengan kenyataan!"

Diam-diam Kim Kiok dan Cu Bi saling bertukar pandang.

"Kau salah sangka, nona,"

Kata Cu Bi. sambil memainkan alis matanya, lagak yang amat "genit"

Bagi seorang laki-laki.

"Memang harus diakui bahwa banyak rakyat kecil yang miskin keadaannya, akan tetapi hal inilah yang justeru hendak dirobah oleh Sam Thai Koksu. Dengan adanya kerusuhan dan pemberontakan dimana-mana, bagaimana keadaan rakyat bisa diperbaiki? Oleh karena ini pula, untuk merundingkan tentang cara dan usaha memperbaiki keadaan penghidupan rakyat, maka Sam Thai Koksu mengadakan pertemuan dengan orang-orang gagah."

Bi Lan diam saja, berpikir dalam dalam.

"Baiklah, kita sama dengar saja apa yang hendak mereka katakan malam nanti, dan kita sama lihat apa yang akan terjadi selanjutnya,"

Akhirnya dia berkata. Menghadapi sikap Bi Lan yang dingin dan tawar ini, Kim Kiok dan Cu Bi merasa tidak enak. Mereka lalu berpamit dan Kim Kiok berkata.

"Adikku yang manis. Malam nanti kita bersama mengunjungi tempat pesta. kau tunggu saja, kami akan menjemputmu."

"Tidak usahlah, enci Kim Kiok. Baik kita bertemu di sana saja, karena sebelum pergi ke kebun raya, aku hendak jalan jalan dulu melihat lihat keadaan kota yang besar ini."

Jawab Bi Lan. Cu Bi nampak kecewa, akan tetapi Kim Kiok lalu berkata dengan ramah.

"Begitupun baiklah. Aku akan memberitahukan kepada Sam Thai Koksu tentang kedatanganmu. Seorang wakil dari Hoa-san-pai perlu disambut baik-baik!"

Setelah berkata demikian, Kim Kiok dan Cu Bi lalu meninggalkan Bi Lan.

Dara ini harus mengakui bahwa ia amat sebal melihat kedua orang itu.

Kim Kiok dianggapnya terlalu genit dan mewah, serta memiliki gaya dan gerak-gerik yang menjemukan.

Sedangkan Cu Bi, biarpun harus diakui jarang ada seorang setua dia masih memiliki wajah yang tampan menarik, namun ia merasa sebal dan muak melihat cara laki-laki itu memandangnya, cara dia tersenyum dan memainkan alis matanya.

"Mereka itu bukan orang-orang baik, aku harus hati-hati,"

Bisiknya seorang diri.

Kesadaran ini bukan timbul karena kecerdikannya, akan tetapi karena suara hati dan perasaannya.

Ia masih belum berpengalaman untuk menghadapi orang-orang jahat yang pandai mempergunakan lidah.

*** Malam hari itu udara bersih sekali.

Tak nampak bintang di langit karena sinar sinar bintang itu tertutup dan kalah oleh cahaya bulan yang, dingin dan terang.

Angin malam bertiup perlahan, membuat suasana menjadi sejuk sekali.

Akan tetapi, cahaya bulan itu masih kalah oleh terangnya lampu-lampu yang dipasang di bawah pohon-pohon dalam kebun raya, yakni sebuah kebun atau taman bunga yang biarpun disebut kebun raya, namun sesungguhnya adalah taman bunga khusus diperuntukkan bagi bangsawan bangsawan Kin dan beberapa orang hartawan terkemuka saja.

Tempat mereka minum arak dan mendengarkan nyanyian gadis-gadis penyanyi dan tempat mereka bersenang-senang!

Akan tetapi pada malam hari itu, biarpun bulan sudah cukup terang namun tempat itu masih diterangi pula oleh lampu-lampu yang digantungkan dicabang-cabang terendah dari pohon-pohon.

Bahkan di tengah-tengah kebun raya yang besar dan luas itu dipasangi tenda-tenda tempat orang masak dan tempat orang menaruhkan alat-alat keperluan pesta malam hari ini.

Penduduk berduyun-duyun menonton dan berdiri di sekeliling taman bunga itu, karena biarpun mereka tidak boleh masuk, namun dari luar saja mereka dapat pula melihat pesta yang meriah itu.

Tamu-tamu mulai masuk ke dalam ke kebun raya, melalui sebuah pintu besar yang terjaga oleh penjaga-penjaga berpakaian militer dan yang memberi hormat dengan gagahnya pada setiap orang yang memasuki taman itu.

Tamu-tamu yang masuk ini semua terdiri dari tokoh-tokoh kang ouw, ada orang-orang berpakaian sebagai piauwsu, (guru silat), ada pula yang berkepala gundul karena dia adalah Hwesio, ada pula tosu, bahkan ada pula yang berpakaian sebagai seorang pengemis.

Ada pula beberapa orang wanita tua muda yang menggantungkan pedang di punggung!

Sam Thai Koksu sendiri menyambut kedatangan para tamu di pintu keluar yakni pintu yang tak berdaun, hanya merupakan jalan masuk terbuka dari lingkungan pagar pohon bunga yang mengelilingi taman luas itu.

Tiga orang guru besar ini memang amat gagah.

Tubuh mereka tinggi besar dan tegap dengan dada yang bidang menandakan bahwa mereka rata-rata bertenaga besar.

Pakaian mereka sederhana potongannya, seperti biasa pakaian orang-orang ahli persilatan, ringkas dan pendek, akan tetapi terbuat dari pada sutera yang paling mahal.

Kim Liong Hoat Ong yang tertua berusia kurang lebih enam puluh tahun, Gin Liong Hoat ong lima puluh tahun lebih, akan tetapi Tiat Liong Hoat Ong yang termuda paling banyak berusia empat puluh lima tahun.

Akan tetapi mereka masih kelihatan segar sehat dan muda, bahkan Kim Liong Hoat ong sendiri masih kelihatan muda dan pesolek.

Di samping tiga orang guru besar dari Kerajaan Kin ini masih ada lagi pembesar kepala daerah sendiri yang menyambut datangnya para tamu.

Benar-benar merupakan satu kehormatan yang besar sekali!

Bi Lan juga memasuki pintu dan disambut dengan hormat oleh penjaga-penjaga pintu yang mau tidak mau memandang kepadanya dengan mata menyatakan kagum kepada nona yang cantik sekali ini.

Kemudian Bi Lan disambut oleh Sam Thai Koksu dengan menjura.

Bi Lan membalas penghormatan ini dengan kaku.

"Ah, kalau tidak salah, nona yang disebut Liang lihiap (pendekar wanita Liang) dan yang mewakili Hoa-san-pai?"

Tanya Kim Liong Hoat ong kepada Bi Lan sambil memandang dengan mata berseri girang.

"Aku yang bodoh memang murid Hoa-san-pai,"

Jawab Bi Lan.

Jawaban ini bukan berarti ia membohong, karena menghadapi tiga orang yang kelihatan gagah perkasa ini, ia merasa tidak enak membohong.

Lagi pula, ia tidak merasa takut sama sekali, mengapa harus membohong?

Terhadap Kim Kiok lain lagi, karena kalau ia tidak membohong tentu wanita itu akan banyak bertanya tentang dirinya dan hal ini ia tidak suka.

"Silakan masuk, Liang lihiap, silakan memilih tempat duduk sesuka hatimu,"

Kim Liong Hoat ong mempersilakan dan Bi Lan lalu menyatakan terima kasih dan memasuki taman itu.

Yang sudah masuk ke dalam taman itu kurang lebih ada dua puluh orang tamu dan keadaan di dalam taman memang meriah.

Di sudut kiri terdapat serombongan penabuh gamelan yang dimainkan terus-menerus hingga suasana makin ramai.

Meja meja dipasang di dalam taman itu, di dekat bunga bunga yang sedang mekar dan lampu-lampu teng yang tergantung di pohon-pohon dihias kertas berwarna warni menimbulkan pemandangan yang indah menggembirakan.

Akan tetapi hati Bi Lan tidak gembira.

Ia tidak melihat orang-orang yang kelihatan memiliki kepandaian tinggi, seperti, misalnya kekek pengemis yang berpakaian tambal tambalan dan yang kini duduk melenggut di atas tanah mengikuti irama gamelan.

Ada pula wanita tua yang kepalanya diikat dengan saputangan putih seperti orang berkabung dan yang duduk menghadapi meja bersama seorang wanita muda dan seorang laki-laki muda pula.

Juga terlihat seorang Hwesio tua yang bertubuh kekar pendek dengan kepalanya yang licin bersih itu menghadapi meja pula seorang diri.

Dalam pandangan mata Bi Lan yang tajam, tiga orang ini tentu memiliki kepandaian yang tinggi, berbeda dari tamu-tamu lain yang nampaknya seperti ahli ahli silat biasa saja.

Bi Lan tidak memilih tempat duduk, sebaliknya ia lalu berjalan jalan dan mengagumi kembang kembang yang memenuhi tempat itu.

Ketika ia tiba di sudut kanan taman itu, tiba-tiba saja ia mendengar suara orang ketawa dan ketika ia mengangkat muka, ternyata di dekat sebuah meja di situ berdiri dua orang kakek yang memandangnya dengan tertawa-tawa.

Melihat betapa dua orang kakek itu mengajak tertawa kepadanya, Bi Lan yang memang berwatak gembira itu tak dapat menahan untuk tidak bersenyum!

Padahal gadis ini tersenyum untuk menyembunyikan rasa heran dan kagetnya karena dua orang kakek ini adalah mereka yang siang kemarin dilihatnya.

Sepasang kakek kembar yang pernah memperlihatkan kelihaian mereka dengan meniup kertas pengumuman di tembok itu.

"Kalau kau benar-benar mewakili Hoa-san-pai, benar-benar Liang Gi Tojin tolol sekali menyuruh bocah seperti kau datang ke tempat semacam ini, akan tetapi kalau tidak mewakili siapa siapa, kau benar-benar bernyali besar. Ha-ha-ha!"

Seorang diantara sepasang kakek kembar ini berkata lalu tertawa terkekeh kekeh, akan tetapi matanya memandang dengan seri gembira kepada Bi Lan.

Kakek yang seorang lagi hanya mengangguk-anggukkan kepala dan juga tertawa.

Sebelum Bi Lan dapat menjawab, kedua orang kakek itu menggerakkan ujung lengan baju dan sekali berkelebat mereka lenyap dari depannya!

Bi Lan terkejut sekali dan selagi ia bengong melihat ke depan, tiba-tiba terdengar orang menegur.

"Adik Bi Lan, semenjak tadi aku mencarimu di mana-mana. Aku sudah kuatir kalau kalau kau tidak akan datang?"

Bi Lan menengok dan ia melihat Kim Kiok berlari menghampirinya. Wanita ini sekarang memakai pakaian sutera yang indah dan bedaknya lebih tebal dari pada biasa.

"Enci, apakah baru saja kau melihat dua orang kakek itu?"

Tanyanya karena pikirannya masih penuh dengan bayangan dua orang kakek aneh tadi. Kim Kiok memandang ke kanan kiri dan mengerutkan kening.

"Dua orang kakek? Yang mana? Aku tidak melihat mereka."

Bi Lan makin kagum dan heran Bagaimanakah dua orang-tua itu dapat bergerak sesukanya tanpa diketahui dan dilihat orang?

Siapakah mereka?

Dan perlu apa mereka datang ke tempat ini dengan sembunyi sembunyi?

Diam-diam Bi Lan berpikir dan hatinya berdebar.

"Eh adik Bi Lan, mengapa engkau termenung saja? Apakah baru saja kau melihat setan?"

Kim Kiok tertawa menggoda dan ucapan ini menyadarkan Bi Lan yang segera tersenyum kepadanya.

"Tamu-tamu sudah banyak,"

Katanya menyimpang sambil memandang ke arah para tamu yang duduk mengelilingi meja mereka.

"Memang, sedikitnya ada tiga puluh orang. Hayo kita duduk dan memilih tempat yang enak, akan tetapi jangan terlalu jauh dari panggung hingga kita akan dapat mendengar segala yang akan diucapkan oleh tuan rumah,"

Sambil berkata demikian Kim Kiok menggandeng tangan Bi Lan dan diajak duduk di bangku dekat korsi yang berada di dekat panggung besar yang sengaja didirikan di tengah-tengah taman itu.

Karena di atas meja ini terdapat sebuah lampu teng yang cukup besar, maka wajah kedua orang wanita ini tersorot lampu dan sebentar saja hampir semua mata memandang ke arah mereka, karena wajah Bi Lan benar-benar amat indah rupawan dan menarik perhatian semua orang tamu yang berada di situ.

Sebentar saja semua orang bertanya-tanya siapakah adanya gadis cantik jelita itu?

Akan tetapi ketika melihat Kim Kiok, pandang mata mereka terhadap Bi Lan berubah, kalau tadi kagum dan mengindahkan sekarang hanya tinggal kagum saja sedangkan di dalam hati menyayangkan mengapa seorang gadis manis yang masih demikian muda telah bergaul dengan seorang perempuan cabul seperti Kim Kiok!

Tentu saja Bi Lan sendiri tidak tahu sama sekali tentang hal ini dan ia duduk sambil tersenyum-senyum gembira, pikirannya masih penuh oleh bayangan sepasang kakek kembar tadi dan beberapa kali ia menoleh ke sana ke mari dengan mata mencari-cari, akan tetapi tetap saja ia tidak menemukan bayangan dua orang kakek itu.

Diam-diam ia mengakui bahwa kepandaian dua orang kakek itu benar-benar hebat sekali dan jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri!

Kalau saja Bi Lan tahu siapa adanya sepasang kakek kembar itu, tentu ia takkan merasa seheran itu.

Sebetulnya dua orang kakek ini bukan lain adalah Thian Te Siang mo, yakni Sepasang Iblis Bumi Langit yang kita sudah lama kenal sebagai guru dari Go Ciang Le!

Thian Te Siang mo mendengar juga tentang undangan yang dikeluarkan oleh Sam Thai Koksu dan memang sudah lama kedua orang kakek kembar ini mendengar tentang nama Sam Thai Koksu yang terkenal lihai.

Kedatangan Thian Te Siang mo sama sekali bukan karena undangan itu, dan juga biarpun Iblis Kembar ini mempunyai kesukaan mengumpulkan jenazah orang-orang gagah, namun mereka sendiri tidak ambil perduli tentang politik dan perang.

Mereka kini datang karena tertarik oleh nama Sam Thai Koksu dan selain ingin menyaksikan kelihaian guru-guru besar negara Kin, juga memang kebetulan sekali mereka mengembara dan berada di dekat kota Cin-an.

Selain dari pada ini semua, Sepasang Iblis Kembar ini ingin pula bertemu dengan orang-orang gagah yang akan mengunjungi pesta di kebun raya ini untuk menghibur hati karena kedua orang sakti ini sedang menderita kekecewaan yang amat besar.

Kekecewaan yang ditimbulkan oleh murid tunggal mereka, yaitu Go Ciang Le!

Sebelum kita melihat lebih jauh apa yang akan terjadi di dalam taman bunga di mana diadakan pesta oleh Sam Thai Koksu itu, lebih baik kita menengok pada peristiwa yang terjadi lebih dahulu dan mengetahui mengapa Thian Te Siang mo bisa menjadi kecewa karena Go Ciang Le.

*** Setelah menolong penduduk dusun di lereng Gunung Tapie san sebelah selatan, membunuh ular yang dipelihara oleh Coa ong Sin kai dan bahkan berhasil mengusir pengemis sakti yang gila itu, Ciang Le lalu melanjutkan perjalanannya turun dari gunung.

Mulailah ia dengan pengembaraannya sebagai pendekar yang budiman, yang selalu siap sedia mengulurkan tangan menolong kepada orang-orang lemah yang tertindas atau mengalami kesengsaraan.

Selama berbulan ia mengembara dan mendapat kenyataan bahwa kepandaiannya yang dipelajari dari dua orang gurunya, ternyata benar-benar memuaskan hatinya dan tak pernah ia menemui tandingan Selama ini, lawan yang dianggapnya paling berat hanyalah Coa ong Sin kai seorang, yang baru melarikan diri setelah melihat pedangnya Kim kong kiam.

Akan tetapi, semenjak itu, tak pernah ia mengeluarkan pedangnya karena semua penjahat yang dihadapinya cukup dilawan dan dirobohkan oleh kedua tangannya saja.

Dan tanpa ia ketahui, semua perbuatannya dilihat dari jauh oleh Thian Te Siang mo.

Sepasang Iblis yang diam-diam memperhatikan sepak terjang murid mereka itu.

Tanpa disengaja, Ciang Le terus menuju ke utara sampai ia memasuki wilayah Kerajaan Kin dan di situ ia menyaksikan kesengsaraan rakyat kecil sehingga makin giatlah ia melakukan perbuatan perbuatan yang sesuai dengan tuntutan jiwa seorang pendekar.

Namanya menjadi makin terkenal dan karena ia tak pernah mau mengaku nama aselinya, ia lebih suka disebut Hwa I Enghiong yang makin lama makin terkenal baik di kalangan rakyat yang tertolong maupun di kalangan dunia liok lim (rimba hijau).

Pada suatu hari, sampailah ia di kota Taigoan di Propingi Shansi dan di kota inilah ia mengalami hal yang hebat, menjumpai orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi yang belum pernah ia impikan atau menduga sebelumnya.

Di dalam kota Taigoan yang besar terdapat sebuah perkumpulan pengemis seperti yang sering kali terdapat di kota kota besar pada waktu itu.

Akan tetapi perkumpulan pengemis yang berada di Taigoan ini bukanlah perkumpulan pengemis biasa saja yang suka membagi bagi hasil pekerjaan mereka di antara kawan-kawan.

Perkumpulan ini amat berpengaruh, bahkan pengaruhnya demikian besarnya sehingga para pemimpinnya mengadakan perhubungan dengan para pembesar Kin yang berada di kota itu, Perkumpulan ini disebut Hek kin kaipang (Perkumpulan Pengemis Ikat Pinggang Hitam).

Semua pengemis yang berada di kota Taigoan dan daerahnya, tidak ada yang tidak menjadi anggauta perkumpulan ini, karena mereka yang berani menjadi pengemis di luar keanggautaan perkumpulan ini tentu akan dipukuli atau diusir dari tempatnya bekerja!

Anggauta anggauta biasa dari perkumpulan ini memang terdiri dari pada pengemis-pengemis biasa saja, akan tetapi perkumpulan ini mempunyai dewan pengurus yang amat kuat organisasinya dan selain semua pengurus ini mempunyai hubungan dan kedudukan yang kuat di Taigoan dan sekitarnya, juga mereka terkenal sebagai ahli ahli silat yang tinggi ilmu kepandaiannya.

Para pemimpin pengemis itupun mempunyai tingkat tingkat kedudukan.

Anggauta biasa dapat dikenal dari jubah hitam tambal tambalan yang memakai sebuah kantong besar di dada, tempat ia menaruh hasil minta minta kepada penduduk.

Pengemis-pengemis yang menjadi pengurus perkumpulan dapat dilihat dari jumlah kantong di dada mereka.

Kantong, kantong ini kecil dan dipasang di baju mereka bagian dada.

Makin banyak jumlah kantong kecil itu di bajunya, makin tinggilah kedudukannya atau tingkatnya dan dengan sendirinya makin tinggi pula ilmu silatnya.

Adapun siapa yang menjadi ketua dari Hek kin kai pang, tak seorangpun mengetahui atau pernah melihatnya, semua pengemis, baik yang menjadi anggauta biasa dengan baju hitam tambal tambalan maupun yang mempunyai kedudukan dan bajunya berwarna macam macam, tentu mengenakan sehelai sabuk atau ikat pinggang berwarna hitam terbuat dari sutera pada pinggang mereka.

Inilah tanda keanggautaan dari perkumpulan Hek kin kai pang.

Para anggauta pengemis itu melakukan pekerjaan minta minta sepeiti pengemis-pengemis biasa dan mereka menerima apa saja yang diberikan orang kepada mereka.

Tak pernah mereka menimbulkan kerusuhan, kecuali kalau ada orang melakukan pekerjaan mencopet.

Pengemis-pengemis ini memang diakui dan dibiarkan oleh pemerintah karena mereka menjamin bahwa di kota Taigoan dan sekitarnya takkan ada pencopet atau pencuri.

Bahkan, sedikitnya mereka menjamin dan merupakan tempat pelarian dari mereka yang lemah dan tidak mampu bekerja lagi sehingga tidak mati kelaparan di pinggir jalan dan memusingkan kepada para petugas pemerintah.

Akan tetapi, ada hal yang amat ganjil dalam perkumpulan ini, yaitu pada para pimpinannya.

Biarpun mereka berpakaian seperti pengemis dan di bajunya terdapat kantong-kantong kecil, jangan mencoba untuk memberi sesuatu kepada pemimpin-pemimpin ini!

Pemberian berupa apapun juga kepada para pengemis yang sudah mempunyai tanda kedudukan, yakni kantong-kantong di bajunya, dianggap sebagai penghinaan dan pemberi itu akan dihajar!

Setidak tidaknya dimaki-maki!

Hal ini sudah diketahui oleh seluruh penduduk di Taigoan dan sekitarnya, maka tak pernah terjadi pelanggaran dan keributan yang tidak diingini.

Karena para pemimpin inipun jarang sekali berkeliaran di dalam kota, maka juga para pelancong dan pendatang dari luar kota jarang ada yang bertemu dengan mereka sehinga biarpun pelancong ini tidak mengetahu tentang "pantangan"

Pemimpin-pemimpin Hek kin kaipang, tidak pernah terjadi pelanggaran.

Ketika Ciang Le memasuki kota Taigoan, secara kebetulan sekali ia bertemu dengan pengemis-pengemis ini dan menyaksikan keributan yang timbul karena pelanggaran ini sehingga mengakibatkan pertempuran besar.

Seperti biasa, Ciang Le memasuki kota dengan tindakan kaki tenang.

Ia gembira sekali melihat keindahan kota Taigoan, biarpun hati kecilnya ada perasaan tak senang karena ia tahu bahwa gedung gedung yang membuat kota ini nampak indah adalah milik dari para pembesar Kin, pembunuh-pembunuh kedua orang-tuanya!

Telah lama Ciang Le dapat mengubur rasa dendamnya, karena kedua orang gurunya memberitahukan kepadanya bahwa ayahnya yang bernama Go Sik An bersama ibunya telah tewas oleh pengeroyokan tentara tentara Bangsa Kin.

"Tak ada gunanya kau berdendam hati, muridku,"

Kata Thian Lo-mo.

"Orang-tuamu tewas sebagai pahlawan pahlawan, sebagai perajurit perajurit gugur dalam perang. Tidak ada sakit hati atau dendam dalam hal ini, karena tewasnya orang-tuamu bukan karena pertempuran atau urusan perseorangan, melainkan membela negara. Pula, kita semua tidak tahu siapa orangnya sebetulnya yang menjatuhkan tangan maut terhadap orang-tuamu, maka tidak mungkin sekali kalau kau hendak membalas sakit hati kepada seluruh tentara Kin yang puluhan laksa jumlahnya itu!"

Dengan nasihat nasihat dan ucapan-ucapan seperti inilah, mata telah lama hati Ciang Le telah menjadi dingin dan tidak ada nafsu untuk membalas dendam atas kematian kedua orang-tuanya.

Menang ia tadinya telah bersumpah untuk membalas dendam dan sakit hati ayah bundanya, akan tetapi karena tidak tahu siapa orangnya yang harus dibalas, hatinya menjadi tawar.

Ada sedikit harapan di dalam dadanya bahwa siapa tahu kalau kalau secara kebetulan ia akan dapat mendengar siapa orangnya yang membunuh mereka dan kepada orang ini tentulah ia akan menjatuhkan tangan pembalasan!

Ketika ia berjalan sampai di sebuah jalan yang menikung, tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut dan melihat seorang laki-laki yang berpakaian seperti seorang pelajar sedang dipukuli oleh dua orang pengemis.

Melihat cara dua orang pengemis itu memukul, dengan kaget Ciang Le mendapat kenyataan bahwa dua orang itu mengerti ilmu silat sedangkan pelajar yang usianya tiga puluh tahun lebih itu hanya mengeluh dan jatuh bergulingan.

"Ampun, Tai-ong"

Ampun"!"

Pelajar itu mengaduh-aduh dan minta ampun sambil menyebut "Tai-ong"

Yang berarti raja besar, yakni sebutan yang lajim bagi kepala kepala perampok! "Kau harus mampus!"

Seorang diantara pengemis itu berseru marah.

"Kau cacing buku ini berani sekali menghina kami, pemimpin tingkat ke lima dari Hek kin kaipang? Apakah matamu buta tidak melihat jumlah kantong-kantong jimat di baju kami?"

"Ampun"

Siauwte tidak tahu tentang hal itu sama sekali"

Baru tiga hari siauwte datang di kota ini"

Harap Tai-ong suka memberi maaf."

"Kami bukan perampok perampok, berani sekali kau menyebut Tai-ong!"

Pengemis ke dua membentak sambil memberi gaplokan ke arah mulut pelajar itu sehingga darah mengalir dari bibirnya yang pecah pecah.

Ketika dua orang pengemis itu hendak memukuli lagi, tiba-tiba mereka merasa tangan mereka tertahan oleh tangan orang lain.

Mereka cepat menengok dan dengan marah sekali mereka melihat seorang pemuda berbaju kembang yang berdiri dengan tenang dan gagah, akan tetapi dengan sepasang mata bernyala saking marahnya.

"Kalian ini dua orang pengemis yang biasanya minta dikasihi orang, mengapa sekarang bahkan berlaku kejam kepada seorang terhormat?"

Ciang Le mencela dua orang pengemis itu dengan suara halus, akan tetapi cukup ketus.

Ia melihat bahwa dua orang pengemis itu memakai baju berwarna biru dan biarpun ditambal di sana-sini, namun nampak bersih dan baru.

Di bagian dadanya dipasangi lima buah kantong kecil berwarna kuning emas dan di pinggang mereka terselip dua batang tongkat bambu yang runcing.

Ia sendiri tidak pernah mendengar tentang perkumpulan Hek kin kaipang, akan tetapi melihat sikap dua orang pengemis yang usianya sudah empat puluh tahun lebih ini, Ciang Le dapat menduga bahwa dua orang pengemis ini tentulah orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan agaknya sombong dan jahat.

Akan tetapi Ciang Le tidak memperdulikan lagi dua orang pengemis itu, sebaliknya ia lalu menolong pelajar itu, membantunya bangun dan berdiri.

Baiknya pelajar itu hanya menerima gebukan dan tendangan yang tidak bermaksud membunuh, maka hanya muka dan tubuhnya saja yang matang biru, namun tidak ada tulang patah atau luka di dalam.

"Saudara, apakah kesalahanmu maka kau sampai dipukuli oleh dia orang ini?"

Tanya Ciang Le kepada orang berpakaian pelajar itu. Orang itu menarik napas panjang dan menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyusut darah dari bibirnya.

"Terima kasih atas pertolonganmu, hohan (orang gagah),"

Katanya.

"Aku sendiri masih merasa heran mengapa kedua orang gagah ini marah marah kepadaku. Ketahuilah bahwa aku tadi melihat mereka duduk di pinggir jalan dan karena merasa kasihan, aku lalu memberi dua potong uang tembaga kepada mereka. Tidak kusangka sangka, mereka tiba-tiba lalu berdiri dan memukul padaku."

Sementara itu, dua orang pengemis Hek kin kaipang yang mempunyai tingkat ke lima itu menjadi marah sekali melihat ada orang berani membela pelajar yang telah menghina mereka.

Kedua orang pengemis ini kedudukannya tidak terlalu rendah, karena pemimpin, yang paling rendah, adalah tingkat ke tujuh yakni yang pekerjaannya mengumpulkan hasil pendapatan para pengemis Pemimpin tingkat ke enam berkewajiban membagi bagi hasil itu untuk makan para pengemis sehingga takkan terjadi keributan.

Tingkat ke lima berkewajiban mengontrol pekerjaan pengemis agar jangan ada yang menganggur atau bermalas malasan dan hanya mengandalkan makan dari hasil pekerjaan kawan-kawan.

"Kau ini orang dari manakah yang sengaja mau membela orang yang telah menghina kami?"

Bentak seorang diantara mereka yang bercambang bauk menutupi hampir seluruh mukanya, sambil mendelik memandang kepada Ciang Le. Pemuda ini tetap berlaku tenang dan sambil tersenyum ia berkata.

"Sungguh perkara yang aneh sekali. Orang mau menyumbang uang, kalian tidak berterima kasih, bahkan berlaku kasar dan menyiksa orang. Aturan manakah ini? Aku yang telah melakukan perjalanan ribuan li jauhnya, baru kali ini melihat hal yang seaneh ini. Sahabat, coba kau terangkan kepadaku mengapa kau memukuli orang yang hendak memberi bantuan uang kepadamu?"

Karena tahu bahwa Ciang Le bukan orang dalam kota dan dari suara pemuda ini terdengar jelas bahwa ia datang dari selatan, pengemis itu menahan marahnya lalu berkata.

"Dia menghina kami dengan memberi uang itu. tidak tahukah kau?"

"Menghina?"

Ciang Le terheran.

"Kalian adalah pengemis-pengemis atau setidak tidaknya orang-orang yang berpakaian seperti pengemis. Apa salahnya kalau orang memberi sumbangan uang kepadamu. Mengapa kau bilang menghina?"

Orang-orang yang menonton ribut-ribut itu diam-diam mengeluh karena mereka menganggap pemuda tampan berbaju kembang ini benar-benar "mencari penyakit"

Dengan ucapan-ucapannya yang tidak disadarinya itu.

Memang benar, dua orang pemimpin pengemis tingkat lima itu makin merah mukanya, akan tetapi si cambang bauk tetap memberi penjelasan dengan suara ketus.

"Babaimana kau bilang tidak menghina? Butakah matanya dan tidak melihat bahwa kami memakai lima buah kantong pada baju kami?"

"Itu artinya bahwa kalian mempunyai banyak tempat untuk menyimpan uang. Adakah arti yang lain lagi?"

Tanya Ciang Le mencoba berkelakar. Terdengar suara ketawa tertahan dari orang-orang yang menonton di pinggir jalan.

"Orang muda, hati-hatilah dengan mulutmu. Jangan-jangan kau akan keluar dari tempat ini dengan bibir pecah pecah pula!"

Pengemis kedua membentak sambil bertolak pinggang.

"Buka matamu baik-baik, kami adalah dua orang pemimpin tingkat ke lima dari Hek kin kaipang! Apa kau mau bilang pula bahwa selama hidup kau belum pernah mendengar tentang Hek kin kaipang?"

Ciang Le memang benar-benar belum pernah mendengar nama perkumpulan ini maka dengan sungguh-sungguh ia menggelengkan kepalanya berkali kali dan berkata.

"Memang aku belum pernah mendengar nama perkumpulan pengemis ini, sahabat. Dan biarpun kalian menduduki tingkat ke satu sekalipun dari perkumpulan yang manapun juga, kurasa kalian berlaku keterlaluan terhadap orang yang bermaksud baik memberi sumbangan kepadamu. Kalau kalian tidak suka menerima kalian boleh menolak dengan halus, bukan dengan main pukul seperti tukang tukang pukul dan jagoan jagoan murah saja!"

Ciang Le bicara keras, karena iapun mulai merasa mendongkol dan marah melihat sikap pengemis yang keterlaluan itu.

Mendengar ucapan ini, tentu saja kedua orang pengemis itu menjadi makin marah dan mencak-mencak.

"Agaknya kau sudah bosan hidup berani bermain gila dan menghina kami!"

Kata si cambang bauk yang segera maju menubruk dan mengayun tangan hendak menampar Ciang Le seperti yang ia lakukan kepada si pelajar tadi.

Akan tetapi kali ini ia bertemu batunya.

Sikap Ciang Le yang lemah-lembut dan kulitnya yang halus itu memang tidak ada bedanya dengan sikap pelajar tadi dan semua orang tentu akan mengiranya sebagai seorang yang lemah.

Ciang Le memang selalu menyembunyikan pedangnya di dalam bajunya yang lebar dan panjang.

Orang-orang yang menonton mengira bahwa Ciang Le tentu akan roboh seperti pelajar tadi, akan tetapi alangkah herannya hati semua orang termasuk si cambang bauk sendiri ketika yang jatuh bukannya Ciang Le, melainkan si cambang bauk itulah!

Ketika ditampar tadi, Ciang Le bersikap tenang tenang saja, sama sekali tidak mengelak.

Akan tetapi begitu kepalan tangan pengemis itu telah mendekati pipinya, tiba-tiba pemuda ini menggerakkan tangan dan miringkan kepalanya.

Pukulan itu tidak mengenai sasaran, sebaliknya begitu tangannya mendorong tubuh pengemis cambang bauk itu, tak dapat dicegah lagi tubuh pengemis yang tinggi besar itu terdorong roboh dan bergulingan beberapa kali!

Hal ini tidak saja mengherankan para penonton, bahkan pengemis cambang bauk itu sendiri dan kawan-kawannya jua terheran-heran.

Bagaimana seorang pemuda lemah-lembut seperti ini dapat merobohkannya, yang sudah memiliki kepandaian lumayan dan menduduki tingkat ke lima?

"Eh, sobat, kau siapakah dan dari golongan mana?

Beri tahu lebih dulu agar kami dari Hek kin kaipang tidak salah tangan terhadap kawan segolongan!"

Si cambang bauk melompat berdiri dan menegur Ciang Le. Pemuda ini tersenyum manis ketika berkata.

"Aku bukan dari golongan mana-mana, hanya seorang pelancong biasa saja yang tidak suka melihat orang-orang kasar mengandalkan tenaganya dan menghina yang lemah. Lebih baik kalian minta maaf kepada Siucai (orang terpelajar) ini, dan habislah perkara ini. Akupun tidak suka bermusuhan dengan siapapun."

"Ah, lagakmu sombong sekali, orang muda! Biarpun kau belum mendengar tentang perkumpulan kami, sedikitnya kau harus tahu bahwa kami bukanlah orang-orang yang boleh dihina begitu saja. kau kira kami takut kepadamu? Rasakan pukulanku ini!"

Dua orang pengemis itu menyerang dari kanan kiri dengan pukulan yang dilakukan sekuat tenaga.

Mereka memang marah sekali dan hendak merobohkan pemuda yang dianggapnya sombong dan lancang ini dengan sekali pukul.

Akan tetapi kembali mereka kecele, karena bukan pemuda itu yang terjungkal roboh, melainkan kedua orang pemukul tadi!

Demikian cepat dan hebat gerakan Ciang Le sehingga tahu-tahu kedua orang pengemis Hek kin kaipang tingkat ke lima itu terjerumus maju dan kepala mereka saling beradu, keduanya lalu roboh sambil meringis ringis kesakitan sambil menggosok gosok kepala mereka yang menjadi benjol!

Terdengar suara ribut-ribut dan semua penonton yang makin banyak bekumpul di tempat itu serentak menjauhkan diri dengan muka nampak takut takut.

Sebaliknya, dua orang pengemis yang masih belum berdiri itu kelihatan girang sekali.

Ciang Le berlaku waspada dan ketika melihat datangnya serombongan orang memasuki tempat itu, ia maklum tentu ia harus menghadapi lawan lawan yang tangguh.

Ternyata bahwa yang datang adalah pemimpin-pemimpin Hek kin kaipang tingkat empat, tiga, dan dua!

Semuanya berjumlah tujuh orang.

"Suheng, pemuda ini telah menghina kita!"

Si cambang bauk itu berkata kepada pengemis tertua yang bajunya berkantong dua, tanda bahwa dia memiliki kedudukan tinggi dalam perkumpulan ini, yakni tingkat ke dua.

"Siucai itu telah merendahkan kita dengan memberi uang. Selagi siauwte menghajarnya, datang pemuda ini yang turun-tangan dan merobohkan siauwte berdua."

Pengemis tua tingkat ke dua itu memandang kepada Ciang Le lalu menjura dan berkata.

"Enghiong siapakah dan dari golongan mana? Harap sudi memperkenalkan diri dan jangan sampai timbul salah faham diantara orang-orang segolongan."

Melihat sikap pengemis ini dan mendengar kata-katanya yang sopan, Ciang Le cepat membalas penghormatan itu dan menjawab.

"Mohon maaf sebanyaknya. Siauwte sesungguhnya tidak ingin mencari keributan. Siauwte seorang pelancong biasa saja yang tidak tahu akan kebiasaan setempat. Akan tetapi melihat seorang Siucai dipukuli oleh dua orang ini, terpaksa siauwte menegur mereka. Tidak tahunya mereka menyerang, maka tiada lain jalan bagi siauwte kecuali membela diri. Kalau kedua orang ini mau minta maaf kepada, Siucai itu, siauwte bersedia minta maaf pula kepada mereka."

Mendengar pemuda ini tidak mau menyebut nama, pengemis tua ini mengerutkan keningnya.

"Hm, apakah kau orang muda merasa terlalu tinggi untuk memperkenalkan diri lebih dulu? Kalau begitu, biarlah lohu memperkenalkan diriku. Aku adalah Thio Han, pemimpin tingkat dua dari Hek kin kaipang. Nah, harap sekarang kau memberitahukan namamu."

Dari kedua orang suhunya, Ciang Le seringkali diberi nasehat agar jangan mengobral namanya, maka ia menjawab.

"Siauwte memberi hormat kepada Lo-Enghiong dan dengan setulusnya siauwte memandang tinggi kedudukan Lo-Enghiong di Hek kin kaipang. Akan tetapi terus terang saja, siauwte tidak mau terlibat dalam urusan pertikaian ini. Marilah sita sudahi saja dan asal kalian melepaskan Siucai itu, siauwtepun akan melanjutkan perantauan."

Tiba-tiba diantara para penonton yang memperhatikan pakaian Ciang Le, berkata.

"Apakah pemuda gagah ini bukan Hwa I Eng hiong?"

Mendengar sebutan ini, berobah muka Ciang Le dan ia segera menoleh untuk memandang kepada orang yang menyebut nama julukannya itu.

Adapun para anggota Hek kin kaipang yang sudah mendengar pula nama pendekar muda yang baru muncul itu, merasa terkejut dan teringat.

Juga Thio Han memandang tajam dan tersenyum.

"Ah, tidak tahunya Hwa I Enghiong yang membuat nama besar! Betulkah lohu berhadapan dengan Hwa I Enghiong?"

Terpaksa Ciang Le tak dapat menyembunyikan diri lagi. Ia tersenyum dan berkata.

"Orang-orang telah terlalu melebih lebihkan sesungguhnya siauwte tidak patut disebut Enghiong (orang gagah) sungguhpun sebutant Hwa I (Berbaju Kembang) tidak dapat kusangkal lagi. Memang aku berbaju kembang."

"Kalau begitu, kebetulan sekali. Harap Hwa I Enghiong sudi memberi sedikit petunjuk kepadaku!"

Kata Thio Han yang menggulung lengan bajunya.

Melihat sikap bermusuh ini dan mendengar ucapan minta petunjuk berarti mengajak adu kepandaian, Ciang Le merasa heran.

Mengapa pengemis tua ini tiba-tiba merobah sikap?

Ia tidak tahu bahwa sudah jadi kebiasaan tokoh-tokoh Hek kin kaipang untak mencoba dan menguji kepandaian setiap orang tokoh kang ouw yang baru muncul apabila kebetulan mereka berjumpa.

Tokoh-tokoh Hek kin kaipang amat bangga atas kemashuran nama mereka dan kepandaian mereka, maka setiap kali ada orang kang ouw memasuki daerah Taigoan, orang kang ouw itu tentu akan menghadap pimpinan Hek kin kaipang sebagai kunjungan kehormatan.

Pemuda ini baru saja membuat nama di dunia kang ouw, dan kini tidak saja lalai untuk kunjungan kehormatan bahkan pemuda ini sama sekali belum pernah mendengar nama Hek kin kaipang dan berani pula merobohkan dua orang pengurus tingkat ke lima!

Oleh karena itu, Thio Han menganggap bahwa sudah sepatutnya ia "memperkenalkan"

Perkumpulannya agar pemuda ini jangan memandang rendah.

"Hm, jadi kau hendak menantangku bertempur?"

Kata Ciang Le dengan pandang mata penasaran.

"Ketahuilah bahwa aku hanya akan turun-tangan terhadap orang yang menyerangku, atau yang melakukan perbuatan jahat. Aku baru akan melayanimu kalau kau menyerangku."

Mendengar ini, Thio Han ragu-ragu untuk turun-tangan.

Kalau ia menyerang lebih dulu, ia akan dianggap keterlaluan, maka ia lalu menengok kepada seorang saudara muda, yakni pemimpin tingkat empat yang bertubuh tinggi kurus "Sute, coba kau layani siauw Enghiong ini beberapa jurus agar kita mendapat tambahan pengertian."

Pengemis tinggi kurus itu kelihatan gembira menerima tugas ini.

Ia memandang rendah kepada pemuda yang lemah-lembut ini, maka ia melangkah maju menghadapi Ciang Le.

Sementara itu.

ketika melihat betapa penolongnya terdesak oleh rombongan pengemis yang agaknya hendak menimbulkan keributan, pemuda pelajar yang tadi dipukuli oleh dua orang pengemis, lalu bertindak maju dan berkata kepada Ciang Le.

(Lanjut ke

Jilid 05) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "

Jilid 05 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo

Jilid 05

"Hohan, sungguh menyesal sekali karena aku kau sampai menghadapi kesulitan ini."

Kemudian ia berpaling kepada para pengemis itu dan berkata.

"Kalian ini kalau mau disebut orang-orang gagah mengapa mencari perkara dengan orang-orang yang baru datang dari tempat jauh? Apakah ini bukan berarti akan membikin malu saja kepada kota Taigoan yang besar dan indah?"

"Kau cacing buku, pergilah!"

Pengemis tingkat empat yang tinggi kurus itu menggerakkan tangan kirinya mendorong ke arah Siucai itu.

Dorongan dilakukan dengan tenaga lweekang dan dari gerakannya itu tahulah Ciang Le bahwa pengemis ini adalah seorang ahli lweekeh yang karenanya amat membahayakan keselamatan Siucai itu kalau sampai terdorong dadanya, ia cepat mengulur tangannya dan berkata.

"Sahabat, jangan kau mencampuri urusan kekerasan ini. Biarlah aku menghadapinya sendiri."

Biarpun ia kelihatannya mendorong pula tubuh Siucai itu, akan tetapi sebenarnya ia menggerakkan tangannya memapaki tangan pengemis yang mendorong tadi.

Belum juga tangan mereka bertemu, pengemis tinggi kurus itu telah terdorong ke belakang dan merasa betapa tangannya sakit sekali.

Cepat ia melompat ke belakang dan menjadi marah sekali.

"Kurang ajar, kau benar-benar hendak bertempur?"

Bentaknya. Ciang Le tersenyum dan tidak memperdulikannya, bahkan memegang pundak Siucai itu, didorongnya perlahan ke pinggir sambil berkata.

"Sahabat, lebih baik kau lekas pergi saja dari sini."

Siucai itu maklum bahwa memang keadaannya berbahaya sekali, maka setelah menganggukkan kepala dengan pandang mata terima kasih kepada Ciang Le, ia lalu pergi dari situ untuk cepat-cepat meninggalkan Taigoan yang mendatangkan pengalaman pahit padanya.

"Menyerang seorang yang tidak mengerti ilmu silat mengandalkan kepandaian sendiri untuk menindas yang lemah, adalah perbuatan yang kusebut pengecut dan hina,"

Kata Ciang Le seperti kepada diri sendiri.

Mendengar ini, pengemis tinggi kurus itu makin marah dan dengan cepat ia melangkah maju dan menyerang Ciang Le dengan pukulan tangan miring.

Akan tetapi, kepandaian pengemis tingkat ke empat ini biarpun bagi orang biasa sudah hebat sekali, namun menghadapi Ciang Le ia masih kalah jauh.

Gerakan pemuda ini jauh lebih cepat lagi dan sebelum tangan yang miring itu menyambar ke lehernya, ia telah mendahuluinya dengan jari-jari terbuka, menyambut datangnya lengan itu dan menangkap pergelangan tangannya, sekali ia mengerahkan tenaga, tubuh pengemis itu terjerumus ke depan.

Hampir saja hidungnya mencium tanah.

Melihat betapa dalam segebrakan saja pemimpin Hek kin kaipang tingkat empat sudah roboh oleh pemuda ini, tentu saja semua orang menjadi makin terheran-heran!

Ketika seorang pengemis tingkat tiga hendak maju.

Thio Han mencegahnya.

Menurut penglihatan kakek ini, kepandaian Hwa I Eng hiong terlalu tinggi untuk dihadapi oleh saudara mudanja tingkat tiga.

Ia sendiri lalu melangkah maju dan berkata.

"Hwa I Eng hiong, iangan berlaku kepalang tanggung memberi petunjuk kepada kami. Sambutlah!"

Sambil berkata demikian, Thio Han mengerang dengan kepalan tangan kanan.

Pukulan datangnya cepat dan antep sekali, maka tahulah Ciang Le bahwa kepandaian kakek ini jauh lebih tinggi dari pada pengemis yang baru saja di kalahkan.

Ia melangkah mundur sehingga pukulan lawan tidak mengenai tubuhnya.

Akar tetapi, dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.

Thio Han sudah melangkah maju lagi dan sekaligus pengemis Hek kin kaipang tingkat dua ini telah melakukan serangan tigat macam dengan kedua tangan dan dibantu oleh kaki kiri!

Ciang Le mengerti bahwa kalau ia tidak mendemonstrasikan kepandaiannya, ia akan di rongrong terus oleh kawanan pengemis yang maju seorang demi seorang.

Oleh karena itu, melihat datangnya serangan yang susul menyusul dan hampir berbareng ini, ia segera mengumpulkan tenaga memperkuat kedudukan kaki, kemudian kedua tangannya memukul dari kaki kanannya menendang lawan.

Bukan main hebatnya gerakan ini dan juga amat aneh dalam pandangan semua kawanan pengemis.

Akan tetapi yang lebih terkejut adalah Thio Han sendiri.

Terdengar suara.

"Buk buk buk!"

Tiga kali ketika kedua tangannya yang terkepal beradu dengan kepalan tangan dari kedua tangan pemuda itu, sedangkan kaki kirinya bertemu dengan kaki kanan lawan.

Kalau Ciang Le masih berdiri seperti biasa sambil tersenyum, sebaliknya Thio Han merasa betapa kedua tangan dan kaki kirinya menjadi sakit dan tergetar.

Ia mencoba untuk mempertahankan diri, akan tetapi pertemuan kaki tadi membuat kuda kuda kaki kanannya bobol dan tak dapat dicegah lagi tubuhnya terlempar ke belakang bagaikan didorong oleh angin besar!

Baiknya ia cukup lihai sehingga dapat berpoksai (membuat salto) untuk mencegah tubuhnya terjungkal.

Akan tetapi ia meringis kesakitan dan melihat betapa kepalan kedua tangan dan kaki kirinya menjadi bengkak!

Saudara-saudaranya melihat kekalahan ini, sambil berteriak teriak marah mereka maju menyerbu dan mengeroyok Ciang Le!

Inilah kerukunan dari Hek kin kaipang dan oleh karena ini pula jarang ada orang berani menentang mereka.

Akan tetapi kerukunan ini dalam pandangan Ciang Le hanya merupakan sifat yang amat licik.

Ia mendongkol juga ketika para pengemis itu menggunakan tongkat untuk menyerangnya.

Diam-diam telah datang banyak pemimpin pengemis yang telah mendengar tentang keributan itu, kini Ciang Le dikepung oleh kurang lebih lima belas orang pengemis dari tingkat lima sampai tingkat dua!

Kepandaian para pengemis Hek sin kaipang itu sudah cukup baik dan lihai, ditambah pula dengan senjata tongkat mereka yang berbahaya, maka tentu saja Ciang Le tidak berani berlaku lambat.

Ia tidak ingin melukai orang yang berpakaian tambal tambalan ini akan tetapi dengan tangan kosong menghadapi keroyokan ini memang membutuhkan kejelian mata dan kegesitan gerakannya.

Ia cepat mainkan ilmu silat tangan kosong yang dipelajarinya dari Thian Lo-mo sambil mengerahkan tenaganya.

Bukan main ramainya pertempuran itu akan tetapi juga amat menarik hati untuk ditonton.

Dengan gerakannya yang lincah dan tenaga dalamnya yang besar, Ciang Le melayani mereka.

Tongkat datang menyerangnya bagaikan hujan, akan tetapi semua itu dengan cepat dapat dielakkan oleh Ciang Le.

Kadang-kadang pemuda ini menggunakan lengan untuk menangkis dan sekali tangkis saja tentu sebatang tongkat menjadi patah atau terpental jauh!

Kemudian dalam serangan balasan, Ciang Le mempergunakan tiam hwat (ilmu menotok jalan darah) sehingga sebentar saja di tempat itu menggeletak tubuh tubuh para pengemis dalam keadaan lumpuh, lemas ataupun kaku membatu!

Akan tetapi tiba-tiba banyak sekali orang yang berpakaian dinas datang menyerbu dengan senjata golok.

Melihat orang-orang berpakaian seragam ini, terkejutlah Ciang Le.

Mereka adalah penjaga-penjaga kota!

Bagaimanakah penjaga-penjaga keamanan ini bahkan datang menyerbu dan membantu para pengemis yang mengeroyoknya?

"Eh, saudara-saudara!

Mengapa kalian mengeroyok aku?

Yang menjadi pengacau pengacau adalah para pengemis ini, bukan aku!"

"Bangsat kecil, kaulah yang mengacaukan kota. Menyerah atau mati!"

Bentak seorang komandan pasukan penjaga itu.

Mendengar ini Ciang Le menjadi penasaran dan marah sekali.

Ketika komandan itu menusukkan goloknya kepadanya, ia cepat membuat gerakan miring dan dengan jalan menyerong tangannya cepat bergerak dan tahu-tahu golok itu telah berpindah ke dalam tangannya!

Dengan gemas sekali pemuda ini lalu menekuk golok itu sehingga patah menjadi tiga!

Semua orang terkejut sekali menyaksikan demonstrasi tenaga yang luar biasa ini, akan tetapi pengeroyokan tetap saja makin merapat, Ciang Le menggerakkan kaki tangannya dan kembali robohlah empat orang pengeroyok sambil mengaduh-aduh.

Pemuda itu masih dapat mengendalikan perasaannya, maka yang roboh itu hanya terluka ringan saja, tidak sampai membahayakan jiwanya.

Mendadak terdengar bentakan nyaring.

"Mundur semua!"

Dan aneh, baik para pengemis maupun penjaga kota yang sedang mengeroyok Ciang Le, ketika mendengar bentakan ini, tiba-tiba menahan senjata masing-masing dan cepat melompat mundur.

Mereka kini berdiri dengan penuh hormat dan ada pula sebagian yang menolong kawan-kawan mereka dan membawa pergi dari tempat itu.

Kini Ciang Le berdiri di tengah-tengah, dikurung oleh banyak orang dan di tempat pertempuran tadi yang nampak sekarang hanyalah bekas bekas darah di atas tanah saja.

Pemuda itu sendiri biarpun masih tenang dan napasnya masih biasa saja, namun wajahnya yang tampan nampak kemerahan dan beberapa butir peluh membasahi jidatnya.

Sebelum ia mengerti mengapa orang-orang yang mengeroyoknya mundur dan siapa yang mengeluarkan bentakan tadi, terdengar angin meniup dari balik orang-orang itu melompat masuk tiga orang yang aneh sekali keadaannya.

Tiga orang inipun berpakaian sebagai pengemis, akan tetapi kantong yang menghiasi baju mereka hanya sebuah saja, tanda bahwa mereka bertiga adalah tokoh-tokoh Hek kin kaipang kelas satu!

Ciang Le benar-benar terkejut melihat tiga orang ini.

Orang pertama adalah seorang kakek yang sukar sekali diduga berapa usianya.

Tubuhnya kecil dan bongkok sehingga tubuh itu hampir melingkar bulat seperti tubuh trenggiling.

Kalau diperhatikan sungguh menggelikan karena tinggi kakek ini hanya setengah orang saja dan bagian tubuh yang paling tinggi bukanlah kepalanya melainkan punggungnya yang berpunuk seperti onta itu!

Kepalanya tergantung di depan perut, dan kini ia berdongak memandang kepada Ciang Le dengan sepasang matanya yang kecil akan tetapi bersinar tajam.

Kedua kakinya telanjang dan nampak jari-jari kaki yang mekar seperti cakar bebek.

Ia memegang sebatang tongkat hitam yang panjangnya hanya tiga kaki.

Kakek ini memandang kepada Ciang Le sambil mengeluarkan suara ketawa seperti burung kakatua.

Orang kedua adalah seorang nenek, seorang pengemis wanita yang usianya paling sedikit enam puluh tahun.

Pakaiannya yang tambal tambalan itu berkembang kembang sehingga nampak lucu sekali.

Wajahnya sangat putih, kepucat pucatan dan seluruh air mukanya membayangkan kekecewaan dan kedukaan hati.

Yang menarik hati adalah bekas luka di sekeliling lehernya, seakan-akan leher itu pernah dipotong lalu disambung lagi.

Nenek ini tidak memegang tongkat seperti pengemis-pengemis lain, melainkan membawa siang kiam (sepasang pedang) yang gagangnya nampak tersembul di balik punggungnya sebelah kiri.

Juga nenek ini memandang kepada Ciang Le dengan mata tajam, dan mulutnya makin mewek seperti mau menangis.

"Dia pantas sekali untuk siocia!"

Kata nenek ini mengangguk-angguk dan matanya memandang kepada Ciang Le seperti seorang pembeli sedang menaksir sebuah barang yang menarik.

Pemuda ini merasa jengah juga menerima pandangan mata seperti itu.

Ia melirik ke arah orang ke tiga yang juga aneh.

Orang ke tiga ini seorang pengemis tua berambut putih dan wajahnya biarpun sudah tua, masih membayangkan ketampanan.

Sayangnya kakek tua yang kelihatan tampan dan gagah ini hanya mempunyai kaki kanan saja, adapun kaki kirinya sebatas lutut telah hilang.

Kakek ke tiga ini memegang dua batang tongkat yang sama panjangnya, kira kira empat kaki.

"Masih kurang pantas. Ia tidak setampan aku ketika muda!"

Kakek ke tiga ini berkata sambil menarik bibirnya mengejek.

Ciang Le maklum bahwa ia berhadapan dengan tokoh-tokoh tertinggi dari Hek kin kai pang, maka cepat ia memberi hormat dengan mengangkat tangan yang dirangkap di depan dada sambil membungkuk.

"Sam wi Pangcu, aku merasa menyesal sekali bahwa telah terjadi keributan antara aku dan anak buahmu. Semua ini bukan karena aku yang muda sengaja hendak mencari permusuhan, sama sekali tidak. Sebetulnya soalnya kecil saja yakni ditimbulkan oleh dua orang anak buahmu yang memukuli seorang Siucai. Aku menegur dan akibatnya aku dikeroyok. Oleh karena itu, harap saja sam wi yang lebih luas pertimbangannya, suka menghabiskan urusan ini."

Kakek yang bongkok itu tertawa cekikikan.

"Heh heh, dia menyebut kita Pangcu (ketua). Heh heh heh!"

"Apakah kau yang disebut Hwa I Eng hiong?"

Kakek ke tiga bertanya. Ciang Le mengangguk.

"Aku yang rendah memang dijuluki orang demikian, sungguh tidak sesuai dengan kepandaianku yang rendah."

Kini nenek itu melangkah maju.

"Benar-benar kau Hwa I Enghiong?"

Tanyanya. Ketika Ciang Le mengangguk, nenek itu lalu tersenyum dan berkata.

"Kalau begitu aku harus memberi selamat kepadamu!"

Setelah berkata demikian, ia lalu menjura dan merangkap kedua tangan di dada sambil membungkukkan tubuhnya.

Ciang Le terkejut sekali karena ia menduga bahwa gerakan ini adalah semacam pukulan gelap yang dilakukan dengan tenaga lweekang yang tinggi.

Benar saja dugaannya ketika ia merasa ada angin menyambar dari kedua kepalan tangan nenek itu ke arah dadanya.

Baiknya ia tadi telah menaruh hati curiga, maka kini ia cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada dan mendorongnya ke depan sambil mengerahkan lweekangnya pula.

Akibatnya membuat pemuda dan nenek itu keduanya terkejut.

Benturan tenaga lweekang ini membuat Ciang Le terpaksa mundur dua langkah.

Adapun nenek itu menjadi terhuyung ke belakang sampai tiga tindak!

Ini saja sudah membuat nenek itu kagum sekali, sebaliknya Ciang Le diam-diam terkejut.

Ia tahu bahwa tenaga lweekang dari nenek ini hanya berbeda sedikit saja dari padanya, padahal ia telah digembleng secara hebat oleh Thian Lo-mo, tokoh besar ahli lweekeh itu.

Baru nenek ini saja sudah demikian lihai, apalagi dua orang kakek yang aneh ini.

Tiba-tiba kakek bongkok itu mengulur tangan dan sebelum Ciang Le dapat mengelak, tangannya telah terpegang oleh tangan kakek itu yang sambil terkekeh kekeh berkata.

"Bukan di sini tempat bicara. Hayo kau ikut dengan kami!"

Setelah berkata demikian, ia melompat cepat dengan tangan masih memegangi tangan Ciang Le.

Pemuda ini merasakan tarikan yang kuat sekali.

Ia tidak mau mempergunakan kekerasan, maka iapun lalu menggenjot kakinya dan mengikuti kakek ini melompati kepala orang-orang yang tadi mengelilinginya.

Nenek itu dan kakek buntung juga melompat sehingga dalam sekejap mata saja empat orang ini lenyap dari tempat itu.

Jalan raya yang tadinya penuh sesak itu kini menjadi biasa kembali, ditinggalkan oleh para penonton yang berjubel di situ.

Ciang Le berlari cepat di sebelah kakek bongkok.

Ia merasa betapa cengkeraman tangan kakek ini benar-benar kuat.

Baiknya ia sendiri memiliki ilmu lari cepat yang sudah mencapai tingkat tinggi sehingga ia dapat mengimbangi kecepatan si bongkok.

Kalau tidak, tentu ia akan terseret dan tangannya akan terasa sakit.

Setelah berlari-lari beberapa lama akhirnya kakek bongkok itu berhenti di depan sebuah rumah gedung yang penuh tanaman kembang di halaman depan.

Rumah gedung itu tidak terlalu besar, akan tetapi benar-benar mungil dan cantik sekali.

Nampak demikian bersih terpelihara.

Ketika kakek bongkok itu hendak memasuki halaman gedung ini, Ciang Le merasa sangsi dan berkuatir kalau kalau ia akan terjebak.

Sambil mempergunakan Ilmu Sia kut hoat, ia membetot tangannya dan sekali tarik, saja tangannya yang digenggam oleh kakek bongkok telah terlepas!

Si bongkok memandangnya dengan kagum dan perlahan lahan mukanya menjadi merah.

Ia telah kena dipermainkan oleh pemuda ini.

Melihat bahwa pemuda ini pandai Ilmu Sia kut hoat, kalau tadi tadi pemuda ini menghendaki tentu sudah dapat melepaskan tangannya yang terpegang!

"Hwa I Enghiong, apakah kau takut memasuki rumah kami?"

Tanya nenek yang sudah berada dibelakang mereka pula bersama, kakek buntung.

Ciang Le tertegun.

Tidak saja ia mendapat kenyataan bahwa nenek dan kakek buntung itupun memiliki ilmu lari cepat yang hebat juga ia merasa aneh melihat betapa tiga orang ketua Hek kin kaipang ini dapat tinggal di dalam sebuah gedung yang demikian indah yang agaknya hanya patut ditinggali seorang bangsawan tinggi!

Akan tetapi, karena nenek itu menyangkanya takut, ia menjadi panas hati.

Betapapun tiaggi kepandaian tiga orang aneh ini belum cukup untuk mendatangkan rasa takut dalam hatinya!

Ia menjawab dengan gagah.

"Mengapa aku harus takut? Hanya orang bersalah saja yang dapat takut dan dalam hal ini, aku tidak merasa bersalah."

Kemudian dengan langkah tenang dan dada terangkat, Ciang Le mengikuti mereka memasuki rumah indah itu.

Seorang pelayan dengan pakaian bersih dan sikap sopan sekali membuka pintu dan membungkuk dengan hormat sekali seakan-akan yang datang bukanlah seorang pemuda dan tiga orang pengemis, melainkan orang-orang bangsawan agung!

Tiga orang-tua itu membawanya menuju ke sebuah ruangan di bagian kiri gedung, sebuah ruangan yang amat luas.

Melihat betapa keadaan ruangan ini berlantai bersih dan datar juga bangku bangkunya dan meja terletak di sudut sehingga di bagian tengah kosong, Ciang Le dapat menduga bahwa ini tentulah ruang bermain silat.

Pada saat itu, tiba-tiba Ciang Le mendengar suara kim (alat musik bertali) yang dipukul dengan merdunya.

Kembali ia tertegun karena suara ini memang amat pantas terdengar dari sebuah gedung indah, tanda bahwa penghuninya adalah seorang seniman terpelajar.

Akan tetapi mengapa tiga orang pengemis tua ini bersikap seakan-akan mereka yang menjadi tuan rumah?

Selagi ia menikmati suara kim yang merdu itu, tiba-tiba terdengar suara lain, suara yang jauh berlainan dengan suara tetabuhan itu.

Kali ini yang terdengar datang dari arah belakang, yakni suara orang-orang berkeluh kesah, menangis, mengerang, pendeknya suara banyak orang sedang menderita sedih dan sakit!

Akan tetapi, suara kim yang terdengar dari sebelah kanan gedung itu masih saja berbunyi, seakan-akan mengiringi tangis dan keluh kesah itu yang dianggap oleh penabuh kim sebagai nyanyian yang enak didengar agaknya!

Melihat keheranan Ciang Le, nenek itu tertawa terkekeh kekeh.

"Anak muda, kau menjadi tamu agung kami, dan agaknya kau tertarik oleh bunyi dan suara itu. Apakah kau ingin menyaksikan dengan mata sendiri?"

Biarpun ia tidak suka dianggap sebagai seorang yang lancang dan ingin mengetahui keadaan rumah orang, namun tangis dan keluh kesah itu membuat Ciang Le curiga kalau kalau di dalam rumah ini terjadi kejahatan, maka ia lalu menganggukkan kepalanya.

Kakek bongkok dan kakek buntung itu agaknya tidak setuju kemudian menggerakkan tangannya akan tetapi mereka itu dibantah oleh nenek tadi dengan kata-kata.

"Sebagai seorang calon pasangan Pangcu, tentu saja berhak mengetahui segalanya."

Kemudian ia lalu mendahului dan mengajak Ciang Le masuk ke ruangan belakang.

Ciang Le mengikuti nenek ini dan di belakangnya, dua orang kekek itupun berjalan sehingga ia seakan-akan dikurung di tengah-tengah.

Biarpun mereka bertiga tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan, diam-diam Ciang Le maklum bahwa dia dijaga keras oleh tiga orang aneh ini.

Setibanya di belakang, nenek itu lalu melompat ke atas dinding tembok.

Ciang Le ikut melompat pula dan di belakang tembok itu ia menyaksikan pemandangan yang aneh dan juga menawan hati.

Di belakang dinding itu ternyata merupakan sebuah taman yang cukup indah dan luas sekali.

Banyak macam bunga bunga mekar semerbak di situ.

Akan tetapi yang amat aneh adalah banyaknya orang-orang yang bekerja di situ.

Biasanya untuk sebuah taman bunga, dua atau tiga orang tukang kebun saja sudah cukup.

Akan tetapi di dalam taman ini nampak orang-orang yang jumlahnya sampai tiga puluh orang lebih!

Mereka ini bekerja mengurus taman bunga dan ketika Ciang Le memperhatikan, ternyata bahwa keadaan mereka amat sengsara.

Pakaian mereka pecah pecah dan tambal tambalan, dan biarpun ada yang pakaiannya cukup baik, namun rata-rata mereka itu pucat pucat bahkan ada beberapa orang yang menderita luka tanpa diobati!

Ketika orang-orang itu melihat nenek dan dua orang kakek tadi berdiri di atas dinding tembok bersama seorang pemuda, tiba-tiba saja semua tangis dan keluh kesah itu lenyap dan berhenti.

Semua orang lalu sibuk bekerja, nampaknya mereka takut sekali menghadapi tiga orang-tua itu!

"He, orang she Kwe!

kau kembali menangis, ya?

Awas, sekali lagi kumendengar kau meraung raung seperti anjing hukumanmu akan kutambah sepuluh tahun lagi!

Ini, rasakan untuk peringatan!"

Nenek itu berseru keras dan tangan kirinya bergerak kearah seorang yang sedang berdiri di dekat sebatang pohon bunga sambil membuangi daun-daun kering.

Ciang Le melihat sinar hitam melayang dari tangan nenek itu dan orang tadi terjungkal.

Sebatang touw kut teng (paku penembus tulang) telah menancap pada pundak orang itu yang biarpun meringis meringis kesakitan sambil memegangi pundaknya, namun sama sekali tidak berani menangis atau mengeluarkan suara!

Ciang Le terkejut dan marah sekali.

"Kau kejam sekali!"

Teriaknya, akan tetapi nenek itu memandang kepadanya dengan mata mendelik dan menudingkan jari tangan ke arah lehernya.

"Kejam? Apakah artinya pundak tertancap paku dengan luka di leherku ini? Tahukah kau bahwa luka ini ditimbulkan oleh guratan golok sehingga leherku hampir putus?"

Ciang Le tertegun karena ia tidak mengerti apakah artinya semua ini.

Tiga orang-tua itu melompat turun ke tempat tadi dan terpaksa Ciang Le ikut melompat turun pula.

Ia tadi telah melihat bahwa air muka orang-orang yang berada di dalam taman bunga itu menunjukkan watak orang-orang yang kurang baik kelakuannya.

Akan tetapi tetap saja ia merasa penasaran mengapa orang-orang itu disiksa seperti itu dan mengapa pula mereka dikumpulkan di tempat itu.

Lagi pula, di antara orang-orang itu ia juga melihat pengemis-pengemis berikat pinggang hitam, anggauta anggauta Hek kin kaipang.

"Sam wi Pangcu (tiga saudara ketua), apakah artinya pemandangan itu? Siapakah mereka dan mengapa mereka berada di tempat itu?"

Tanya Ciang Le karena pemuda itu tak dapat menahan hatinya lagi.

"Mereka itu orang-orang hukuman!"

Jawab nenek itu sambil menyeringai.

"Orang-orang hukuman? Apa kesalahan mereka dan mengapa dihukum di sini?"

"Hwa I Enghiong, dari siapakah kau belajar menyelidik keadaan dalam rumah tangga lain orang?"

Si bongkok tiba-tiba menegurnya dan merahlah wajah Ciang Le.

Sesungguhnya, taman bunga itu masih menjadi bagian dari gedung ini dan apa yang terjadi di dalam taman Itu masih merupakan peristiwa dalam rumah tangga lain orang "Sekarang marilah kau menyaksikan dengan mata sendiri suara lain yang datang dari bangunan sebelah kanan itu,"

Kata nenek itu pula.

Memang suara kim yang ditabuh itu masih terdengar dengan nyaring dan amat merdunya.

Ciang Le mengikuti tiga orang itu menuju ke arah datangnya suara.

Mereka tiba di sebuah ruangan yang luas akan tetapi pintu yang lebar terbuka itu tertutup oleh tirai yang halus sehingga dari luar orang dapat melihat bayangan di sebelah dalam.

Tercenganglah Ciang Le ketika melihat keadaan bagian ini.

Ruangan itu amat indah dan bersih, dihias dengan perabot perabot rumah yang serba indah dan mahal.

Juga dari tirai halus itu semerbak bau yang amat harum.

Ketika ia memandang ke dalam, tiba-tiba matanya terpaku pada sebuah pemandangan yang amat menarik hati.

Di sudut ruangan itu, duduk di atas lantai yang ditilami kasur beralaskan sutera merah muda, nampak seorang gadis yang cantik jelita.

Gadis ini kelihatan seperti seorang bidadari saja dari luar tirai, berpakaian hijau berkembang yang indah sekali dan cara duduknya amat luwes dan.

menarik hati.

Di depannya terletak sebuah alat tetabuhan kim yang dimainkannya dengan asyik.

sepuluh jari tangannya yang runeing bergerak-gerak dan mukanya tunduk memandang alat tetabuhan itu.

Tiba-tiba gadis itu mengangkat muka, seakan-akan pandang mata yang penuh kekaguman dari Ciang Le terasa olehnya.

Sepasang mata yang lebar dan jeli menatap ke arah tirai dan Ciang Le segera menundukkan mukanya yang berobah merah.

Benar-benar ia merasa malu karena sungguh tidak sopan memandang seorang gadis di dalam kamarnya ia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi dari pintu, diikuti oleh tiga orang pengemis tua itu yang tersenyum-senyum.

"Dia cantik jelita bukan? Pernahkah kau melihat seorang gadis yang secantik dia?"

Tanya nenek itu.

"Siapakah dia?"

Tanya Ciang Le. Nenek itu tertawa cekikikan.

"Heh heh, kau tergila-gila kepadanya bukan? Heh heh heh, laki-laki mana yang takkan tergila-gila melihat dia? kau boleh menyebut dia Pangcu, Siocia atau Sianli (Ketua, Nona, atau Dewi)!"

"Pangcu? Nona itu ketua dari apakah?"

Kini si buntung tertawa geli.

"Anak bodoh, dialah Pangcu dari perkumpulan kami!"

Bukan main herannya hati Ciang Le mendengar ini.

Nona pemain kim tadi ketua dari Hek kin kaipang?

Sungguh sukar untuk dapat dipercaya!

Sementara itu, mereka telah tiba kembali di ruang pertama, yakni ruang lian bu thia.

Nenek itu lalu berkata.

"Sekarang bersiaplah kau, orang muda. Tidak sembarangan orang boleh memasuki rumah ini. Dalam pandangan kami, kau cukup memenuhi syarat, kecuali sebuah lagi, yakni kau harus dapat menghadapi kami bertiga selama lima puluh jurus lebih!"

Ciang Le mengerutkan kening.

"Apakah artinya ini? Aku datang atas undangan cuwi, bukan kehendakku sendiri dan aku sama sekali tidak hendak mencari permusuhan dan pertempuran."

"Ha-ha-ha, kau takut?"

Tanya si kakek buntung.

"Siapa bilang aku takut? Aku hanya hendak mencegah pertempuran tanpa alasan."

"Tanpa alasan katamu?"

Si bongkok membentak.

"Kau telah mengacau kota Taigoan telah merobohkan banyak anak buah kami dan para penjaga kota, dan kau bilang tanpa alasan? Anak muda, kami masih belum membunuhmu boleh dibilang sudah cukup baik dan sabar. Kalau tidak Bi Mo Ii (Setan Wanita Cantik) ini yang membuat gara gara hendak menjadi comblang, sudah semenjak tadi kau mampus! Hayo kau boleh memperlihatkan kepandaianmu!"

Setelah berkata demikian, si bongkok ini lalu menggerakkan tongkat pendeknya untuk menyerang dengan sebuah totokan ke arah ulu hati pemuda itu.

Berbareng pada saat itu, sambil tertawa-tawa, nenek itupun telah menyerang dengan siang kiam (sepasang pedang) dan si kakek buntung telah menggerakkan kedua tongkatnya!

Ciang Le terkejut bukan main.

Ia cepat menggerakkan tangan ke arah punggungnya dan tiba-tiba berkelebat sinar emas ketika Kim kong kiam berada di tangannya dan cepat ia menggerakkan pedang itu untuk menangkis senjata lawan.

Terdengar suara nyaring diikuti oleh bunga api berpijar.

Tiga orang pengemis tua itu mengeluarkan seruan kaget dan mereka menahan senjata masing-masing.

"Kau pernah apa dengan Thian Te Siang mo??"

Teriak nenek itu dengan wajah pucat.

"Thian Te Siang mo adalah guruku,"

Jawab Ciang Le dengan tenang dan diam-diam ia merasa girang karena agaknya, seperti kakek pemelihara ular itu, tiga orang-tua ini sudah pernah bertemu dengan kedua orang suhunya dan agaknya jerih menghadapi pedangnya yang dahulu menjadi senjata dari Te Lo-mo, gurunya ke dua.

Akan tetapi rasa girang ini berobah menjadi gelisah ketika ia melihat sikap nenek itu.

Tiba-tiba saja nenek ini memaki-maki.

"Thian Te Siang mo, keparat terkutuk! Sekarang aku mendapat kesempatan untuk mencincang hancur tubah muridmu!"

Setelah berkata demikian, sepasang pedangnya bergerak dengan ganas dan cepatnya, dibantu pula oleh dua orang kakek itu.

Terpaksa Ciang Le melayani mereka dan sebentar saja ia terkurung rapat rapat.

Pemuda ini harus mainkan Kim kong Kiam sut dengan cepat dan sungguh-sungguh, karena, serangan serangan tiga orang lawannya ini benar-benar hebat dan lihai.

Diam-diam ia memikir dengan heran siapakah mereka ini dan mengapa agaknya nenek itu membenci kedua orang gurunya.

Seperti telah disebutkan di bagian depan, tiga orang-tua ini adalah pemimpin-pemimpin Hek sin kaipang tingkat satu, yakni tingkat tertinggi.

Nenek itu berjuluk Bi Mo li (Setan Wanita Cantik), kakek bongkok itu berjuluk Beng san kui (Setan Ganung Sakti), dan kakek yang buntung kaki kirinya itu berjuluk Siang tung him (Biruang Bertongkat Dua).

Melihat cara tiga orang-tua itu menyerangnya, Ciang Le diam-diam menjadi sibuk juga.

Tiga orang-tua itu kini bukan lagi hendak mencoba kepandaian, melainkan menyerang dengan mati-matian!

Agaknya karena ia murid Thian Te Siang mo, tiga orang ini menjadi benci kepadanya dan hendak membunuhnya, terutama sekali nenek yang lihai itu.

Ilmu pedang dari nenek itu benar-benar lihai sekali dan ditambah pula dengan permainan tongkat si bongkok dan sepasang tongkat si buntung, benar-benar Ciang Le terdesak hebat.

Pemuda ini tidak mau mengalah begitu saja, tadinya memang ia terdesak karena ia memang tidak membalas serangan serangan mereka dengan sungguh-sungguh, kuatir kalau kalau melukai mereka.

Sekarang melihat betapa tiga orang-tua itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh dan mati-matian, terpaksa iapun membalas dengan serangan yang amat lihai dari Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut.

Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut yang ia pelajari dari Te Lo-mo ini memang benar-benar luar biasa sekali.

Pedang di tangannya lenyap berobah menjadi segulungan cahaya kekuningan seperti emas dan merupakan benteng kuat sekali yang melindungi seluruh tubuhnya dari serangan senjata-senjata lawannya.

Bahkan kadang-kadang gulungan sinar pedang itu mendesak hebat sekali sehingga setiap kali senjata lawan terbentur, lawan lawannya mengeluarkan suara kaget!

karena merasa telapak tangannya tergetar hebat!

Kalau sekiranya tidak dikeroyok tiga, sudah dapat dipastikan bahwa Ciang Le tentu akan dapat dirobohkan lawannya Biarpun dalam hal lweekang dan ginkang tidak boleh dikatakan kepandaian dan tingkatnya lebih tinggi, namun dengan Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut, ternyata ia menjadi lebih unggul dari pada semua lawannya.

Akan tetapi, karena tenaga dan kepandaian tiga orang pengemis tua yang aneh itu tergabung dan mereka ternyata dapat bekerja sama dengan baik dan teratur sekali, maka Ciang Le akhirnya menjadi kewalahan dan terdesak hebat!

Betapapun juga, berkat daya tahan Kim kong Kiam sut yang rapat dan kuat, ia masih dapat mempertahankan diri dan agaknya tidak akan mudah bagi tiga orang-tua itu untuk mengalahkannya.

Berbeda dengan mereka yang sudah tua sekali, Cian Le masih muda dan tenaga serta napasnya kuat.

Seratus jurus telah lewat dan tiga orang-tua itu menjadi penasaran sekali.

Kalau saja pemuda ini tidak mengaku sebagai murid Thian Le Siang mo, agaknya nenek itu menjadi makin kagum dan suka kepada pemuda ini yang dianggapnya betul-betul berharga menjadi jodoh Siocianya.

Tiba-tiba bayangan hijau melayang keluar dari pintu kanan, dan terdengar bentakan halus akan tetapi nyaring dan amat berpengaruh.

"Kalian bertiga mundurlah!"

Sungguh mengherankan Ciang Le, karena tiga orang-tua itu bagaikan tentara tentara mendengar perintah seorang atasan yang berpangkat tinggi, serentak lalu melompat mundur dan menahan senjata mereka.

Kemudian mereka bertiga memandang ke arah orang yang baru muncul ini dengan sikap penuh hormat.

Adapun Ciang Le ketika melihat siapa orangnya yang datang mukanya menjadi merah dan iapun memandang dengan kagum.

Ternyata bahwa orang itu adalah nona berbaju hijau berkembang yang tadi menabuh kim di dalam kamar bertirai itu, nona yang kini nampak lebih cantik dari pada tadi.

Nona ini bertubuh ramping dan berisi, kini memakai pakaian yang ringkas.

Rambutnya yang hitam dan panjang itu digelung ke atas dan diikat dengan pengikat rambut terbuat daripada permata yang berkilauan.

Di belakang pundaknya nampak gagang siang to (sepasang golok) terbuat daripada emas yang terhias permata hijau pula.

Sepatunya yeng tinggi berwarna hitam.

Bukan main gagah dan cantiknya nona ini, dan kulit mukanya yang putih kemerah-merahan itu demikian halus sehingga seakan-akan amat tipis.

Diam-diam Ciang Le harus akui bahwa selama hidupnya belum pernah ia melihat seorang gadis yang lebih cantik dari pada nona ini.

Karena ia teringat akan penuturan nenek tadi bahwa nona manis ini adalah ketua dari Hek kin kaipang, maka cepat Ciang Le menjura kepada nona itu dengan hormat setelah menyimpan pedangnya.

"Pangcu (ketua), harap kau suka maafkan padaku telah berani datang ke rumahmu yang indah dan membikin ribut. Percayalah aku hanya terpaksa oleh tiga orang-tua yang berkepala batu ini!"

Nona itu tersenyum dan sepasang matanya berseri gembira, Ciang Le melihat sederetan gigi yang putih bagaikan batu kemala di lingkungan bibir yang berbentuk manis dan berwarna merah.

"Hwa I Enghiong, aku paling benci disebut ketua, sungguhpun aku memang menjadi pemimpin Hek kin kaipang. Namaku Kiang Cun Eng, bukankah lebih sedap didengar kalau kau menyebut namaku saja tanpa segala sebutan sungkan dan Pangcu Pangcuan?"

Kembali ia tersenyum manis sekali dengan lesung pipit di pipi kanannya, sedangkan sepasang matanya yang lihai itu mengerling melebihi tajamnya pedang Kim kong kiam!

Melihat gerak bibir, lirikan mata, dan gerak-gerik wajah nona ini, yakinlah Ciang Le bahwa benar-benar ia berhadapan dengan seorang gadis yang luar biasa cantiknya.

Akan tetapi cara gadis itu mainkan bibir dan mata mendatangkan rasa jengah dan tidak enak dalam hati Ciang Le dan berbareng menimbulkan rasa tidak suka.

Gadis ini memiliki sifat tidak baik dan genit, pikir Ciang Le, dan sekaligus berkuranglah kekagumannya.

Akan tetapi ketika ia memandang kepada gagang golok di belakang pundak gadis itu, teringatlah ia akan sesuatu dan diam-diam ia menjadi gelisah.

Baru menghadapi keroyokan tiga orang pemimpin tingkat satu tadi saja ia sudah kewalahan.

Gadis cantik ini sebagai ketua sudah tentu saja memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada kepandaian tiga orang pengemis tua itu.

Kalau saja harus menghadapi gadis ini saja, ia boleh mengerahkan seluruh kepandaiannya dan mustahil kalau ia akan kalah.

Akan tetapi bagaimana kalau dikeroyok empat?

Kemudian gadis itu yang melihat Ciang Le diam saja, lalu berkata kepada tiga orang pembantunya.

"Bi Mo li, bersihkan kamar tamu sebelah barat! Beng san kui, perintahkan kepada restoran yang paling besar untuk mengirim hidangan hidangan yang paling baik, dan kau, Siang tung him beritahukan kepala daerah bahwa urusan dengan Hwa I Enghiong sudah beres dan malam ini diadakan perjamuan untuk menghormatinya di sini, minta dia datang!"

Tidak saja Ciang Le yang menjadi tercengang mendengar ini, bahkan tiga orang pembantunya itupun menjadi tertegun. Apalagi nenek itu, ia kelihatan tidak senang sekali.

"Nona, ketahuilah bahwa orang ini adalah murid Thian Te Siang mo musuh-musuh besar kita!"

Kata nenek itu. Akan tetapi Beng san kui dan Siang tung him tidak membantah perintah nona ini.

"Baik, Pangcu!"

Jawab Beng san kui.

"Aku pergi, nona."

Kata Siang tung him dan dua orang kakek ini sekali berkelebat saja sudah melompat keluar dari ruangan itu Kini Kiang Cun Eng, ketua Hek kin kai pang itu menoleh kepada Bi Mo li dan pandangan matanya yang tadinya lunak dan mesra itu berobah menjadi ganas.

"Bi Mo li, sudah berapakali kau selalu membantah perintahku? Apakah kau ingin melihat golokku bergerak lebih keras lagi? Hwa I Enghiong adalah tamu agung bagiku yang harus kuhormati. Aku suka padanya tidak perduli ia putera siapa dan murid siapa! Hayo lekas jalankan perintahku!"

Bi Mo li masih mengerutkan keningnya dan memandang kepada Ciang Le dengan mata berapi, akan tetapi sekali saja Kiang Cun Eng menggerakkan kedua tangannya kebelakang, tahu-tahu sepasang golok yang putih berkilauan saking tajamnya telah berada di kedua tangan yang kecil halus itu!

"Bi Mo li, lekas pergi!

Jangan tunggu sampai tanganku melakukan gerakan ke dua!"

Kini Ciang Le melihat betapa Bi Mo li menjadi pucat mukanya, dan setelah mengerling sekali lagi ke arahnya dengan penuh kebencian, nenek itu lalu pergi terhuyung-huyung ke belakang, untuk melakukan perintah ketua yang cantik itu.

Ciang Le benar-benar merasa terkejut dan heran.

Alangkah besar kekuasaan dan pengaruh nona ini Tiga orang-tua yang memiliki kepandaian demikian tinggi seakan-akan tiga ekor anjing peliharaan saja yang merangkak rangkak ketakutan di depan kakinya.

"Pangcu..."

Muka manis yang tadinya berubah seram dan ganas, kini melembut dan pandangan matanya mesra lagi ketika ditujukan kepada wajah Ciang Le yang tampan.

"Hwa I Enghiong, ingat namaku Kiang Cun Eng."

"Kiang Pangcu (ketua Kiang)..."

"Jangan menyebutku ketua!"

Ciang Le menghela napas. Nona ini benar-benar aneh.

"Kiang-siocia (nona Kiang),"

Katanya kewalahan.

"Harap kau jangan berlaku sungkan. Aku bukanlah tamu agung dan aku tidak ingin tinggal lama lama di rumahmu dan mengganggu kalian. Sudahlah, biarkan aku pergi saja. Lain kali aku akan menghaturkan terima kasih atas kemurahanmu terhadapku."

Kiang Cun Eng menggeleng-geleng kepalanya.

"Tidak bisa, tidak bisa! Apakah kau ingin menghinaku? kau datang dan kuanggap sebagai tamuku, hidangan sudah disiapkan, bahkan kepala daerah Taigoan sudah kupanggil. Jangan kau membikin malu aku, Hwa I Enghiong. Apa akan kata orang kalau mendengar bahwa undangan yang ramah-tamah dan penuh sikap persahabatan dari ketua Hek kin kaipang ditolak mentah mentah oleh Hwa I Enghiong?"

Ciang Le beripikir cepat.

Memang tidak baik kalau ia memaksa meningagalkan dan menolak undangan itu.

Ketua ini telah berlaku manis padanya.

Melihat betapa ketua ini dapat memanggil kepala daerah dan betapa tadi ketika ia bertempur menghadapi anggauta anggauta Hek kin kaipang para penjaga kota juga membantu perkumpulan pengemis itu, tahulah dia bahwa perkumpulan ini mendapat dukungan dari pemerintah setempat!

Hal ini benar-benar amat aneh dan ia harus dapat menyelidikinya.

Apa lagi tentang orang-orang yang berada di taman bunga di belakang gedung ini.

"Baiklah, nona. Aku tidak berani mengecewakan hatimu, sungguhpun aku terlampau dihormati dan merasa sungkan sekali"

Gadis itu tertawa dengan manis sekali.

Ia nampak girang bukan main dan seperti seorang anak kecil, tangannya menyambar dan memegang tangan Ciang Le.

Baca Juga: Rajawali Emas 11

Baca Juga: Jago Pedang Tak Bernama 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert