Eps 3 Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo.
Gerakan ini cepat sekali sehingga sebelum pemuda itu dapat mengelak, tangannya sudah terpegang dan ditarik tarik.
"Hwa I Enghiong, hayo ikut aku. Aku akan mainkan kim dan bernyanyi untukmu."
Dengan gaya menarik, genit dan manja sekali nona cantik itu membetot betot tangan Ciang Le.
Tentu saja wajah Ciang Le menjadi merah seperti kepiting direbus!
Ia merasa betapa jari-jari tangan yang halus menekan tangannya dengan mesra dan wajah gadis itu menatapnya berseri-seri dan sinar matanya penuh arti!
Untuk melenyapkan rasa jengahnya, Hwa I Enghiong tersenyum dan berkata.
"Kiang-siocia, aku sudah mendapat kehormatan mendengarkan kau mainkan kim yang benar-benar merdu sekali tadi ketika aku dibawa datang oleh tiga orang-tua itu."
"Aku tahu, akan tetapi yang kumainkan tadi adalah lagu sedih. Lagu dari seorang puteri Kaisar yang meratapi nasibnya karena tak dapat mendekati pemuda ksatria yang menjadi idaman hatinya! Sekarang aku hendak menyanyikan kisah pertemuan kedua teruna remaja itu, lagu yang gembira!"
Sambil berkata demikian, ia terus menarik tangan Ciang Le ke arah ruang di sebelah barat yang tertutup tirai halus itu.
Ciang Le benar-benar merasa amat jengah, sungkan, dan serba salah.
Ia tadi telah mengerahkan lweekangnya agar tangannya yang dipegang itu dapat terlepas tanpa menyinggung nona itu.
Akan tetapi ia merasa betapa jari-jari tangan itupun mengerahkan lweekang yang tinggi sehingga mereka bahkan seperti saling menekan dengan mesra!
Oleh karena ia melihat mata nona itu memandangnya dengan penuh arti seakan-akan menegur "Kenakalannya", ia tidak berani lagi menarik tangannya dan membiarkan saja dirinya dituntun seperti kerbau ke dalam kamar yang menyiarkan bau harum itu.
Kamar itu selain semerbak harum, ternyata juga indah sekali.
Ciang Le berdiri seperti seorang murid bodoh yang dihukum oleh guru sekolah dan disuruh berdiri di muka kelas.
Ia merasa bingung, malu dan tidak enak.
Kalau ia menggunakan kekerasan, pergi dari tempat itu, Sebentar saja ia tentu akan dikeroyok dan amat tidak enak menanamkan bibit permusuhan dengan perkumpulan yang kuat ini hanya karena ia merasa malu berada di dalam kamar seorang gadis cantik.
"Silakan duduk, eh, siapa pula namamu?"
Tanya Kiang Cun Eng sambil tertawa dan gadis ini dengan gaya menarik, lalu menjatuhkan diri duduk di atas lantai yang di tilami kasur dan bersih.
Ciang Le terpaksa mengambil tempat duduk pula di atas lantai bertilam itu, sejauh mungkin dari nona rumah dan duduknya amat tidak leluasa, seakan-akan kasur bertilam sutera yang empuk itu adalah arang membara!
"Aku she Go bernama Ciang Le."
Demikian katanya singkat sambil melayangkan pandang kepada dinding kamar yang terhias lukisan lukisan indah dan sajak sajak terkenal.
Hem, selain cantik dan gagah, gadis ini agaknya ahli pula dalam hal kesusasteraan, pikirnya dan diam-diam ia merasa kagum.
Sukarlah mencari seorang gadis seperti ini, sayang sekali ia demikian genit dan manja.
Ketua Hek kin kaipang itu yang sudah mengambil alat tetabuhannya lalu mulai membunyikannya dan berkata.
"Go-Enghiong, sekarang dengarkanlah aku bernyanyi untukmu."
Suaranya diucapkan dengan lagak dibuat buat dan matanya mengerling penuh arti.
Kemudian, diiringi suara kim yang indah bernyanyilah gadis itu.
Kembali Ciang Le tertegun dan kagum karena suara gadis ini benar-benar merdu sekali.
Akan tetapi ketika ia mendengar kata-kata dalam nyanyian itu, wajahnya yang sudah merah menjadi makin merah dan Ciang Le tidak berani memandang gadis itu.
Gadis in bernyanyi tentang pertemuan seorang puteri dengan kekasihnya, memuji muji kecantikan puteri itu, memuji muji ketampanan wajah pemuda kekasihnya, kemudian tentang pertemuan yang mesra dan romantis itu dengar kata-kata yang tidak kenal malu lagi!
Kalau saja bukan Ciang Le yang mendengar nyanyian ini keluar dari mulut seorang gadis yang demikian menggiurkan dan cantik, kalau saja pemuda pemuda biasa yang mendengarnya, tentu hatinya akan jatuh dan akan berlututlah dia di depan kaki Kiang Cun Eng memohon belas kasihan dan cinta kasih.
Tentu akan berkobarlah api nafsu birahi dalam dada pemuda yang mendengarnya bagaikan api disiram minyak.
Akan tetapi Ciang Le adalah keturunan seorang pahlawan sejati, keturunan Go Sik An seorang bun bu cwan jai yang terpelajar dan gagah perkasa.
Pula dia adalah murid dari sepasang manusia kembar yang sakti, murid dari Thian Te Siang mo yang sudah menggemblengnya semenjak ia masih Kecil sehingga pemuda ini memiliki kekuatan batin yang cukup teguh.
Maka biarpun mukanya menjadi makin merah sampai ke telinganya karena ia merasa jengah dan malu, namun di dalam hatinya terasa kemuakan dan kejemuan mendengar nyanyian yang tidak kenal kesopanan dan melanggar susila itu.
Kiang Cun Eng mengakhiri nyanyiannya dengan kata-kata.
"Selagi muda tidak mencari kesenangan dunia. Sesudah tua, menyesalpun tiada guna!"
Ia mengakhiri nyanyian dan sambil tersenyum-senyum dan sepasang matanya setengah dikatupkan, napasnya agak terengah-engah, gadis itu lalu mendorong kimnya ke samping, kemudian ia menggeser duduknya, mendekati Ciang Le!
Wajah pemuda itu yang tadinya kemerah-merahan, tiba-tiba menjadi pucat dan dengan suara kaku dan kening berkerut ia berkata.
"Aku tidak setuju dengan kata-kata dalam nyanyianmu itu."
"Eh, Go kongcu yang manis, apakah kau menganggap suaraku tidak merdu?"
Kiang Cun Eng telah berada dekat sekali dan kulit mukanya kemerah-merahan menambah manisnya.
"Suaramu merdu sekali, kau memang pandai bernyanyi,"
Terus terang Ciang Le menjawab. Gadis itu meramkan matanya dan mengeluarkan suara seperti seekor kucing dibelai kepalanya.
"Aai, kau tidak saja tampan dan gagah akan tetapi juga pandai memuji dan merayu seorang wanita, kongcu yang baik. Atau..... bolehkah aku menyebutmu koko saja? Lebih sedap didengar..."
Tangan gadis itu diulur dan hendak merangkul leher Ciang Le. Ciang Le menganggap hal ini sudah keterlaluan sekali, maka ia lalu bangkit berdiri.
"Kiang Pangcu, aku tidak sependapat denganmu. Selagi muda mencari kesenangan dunia adalah perbuatan yang sebodoh-bodohnya. Aku juga mempunyai peribahasa yang berbunyi Selagi muda bersuka suka, sudah tua banyak menderita, atau selagi muda beriman kuat, sudah tua akan selamat! Oleh karena itu, sudah cukuplah kiranya hiburan ini dan perkenankanlah aku sebagai seorang sahabat yang sama-sama menjunjung tinggi perikebajikan dan keadilan, memberi nasihat dan minta sesuatu darimu."
Gadis itupun berdiri dari tempat duduknya dan sepasang matanya kini bersinar terang, tidak seperti tadi yang setengah dikatubkan ketika dirinya dikuasai oleh nafsunya sendiri.
"Nasihat apa yang hendak kau berikan kepadaku dan permintaan apa yang hendak kau ajukan?"
"Nasihatku kepadamu seperti yang patut kunasihatkan kepada seorang adik perempuanku. Amat tidak baik perlakuanmu kepadaku, Pangcu. Tidak selagaknya seorang gadis muda seperti engkau ini membawa seorang pemuda ke dalam kamarnya dan kemudian kau bersikap menarik hatinya seperti yang kau lakukan tadi. Adapun permintaanku kepadamu, berlakulah murah hati terhadap orang-orang yang terkurung di dalam taman bunga di belakang rumahmu itu. Apapun juga kesalahan mereka, kau tidak berhak mengurung dan menyiksa mereka di tempat itu."
Berkilat kedua mata Cun Eng mendengar kata-kata ini.
"Nasihatmu itu tidak ada artinya bagiku, Go-Enghiong. Aku bukan anak-anak lagi, usiaku sudah dua puluh lebih, dan seperti kunyatakan dalam nyanyian tadi, selagi muda aku takkan menyia-nyiakan saja kesenangan yang datang menjelang! Adapun permintaanmu itu, ah, jadi tiga orang-tua bangka tolol itu telah membawamu ke belakang?"
Ciang Le hanya mengangguk dan keningnya berkerut.
Ia tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh wanita cantik ini, dan merasa lebih berbahaya menghadapi si cantik ini dari pada menghadapi musuh-musuh lainnya.
Kalau disuruh pilih, ia tentu lebih suka menghadapi keroyokan tiga orang pemimpin Hek kin kai pang tingkat satu yang lihai itu daripada harus menghadapi gadis ini di dalam kamarnya!
"Go-Enghiong, mari kau ikut denganku.
Aku hendak memperlihatkan sesuatu!"
Setelah berkata demikian, air muka gadis itu berubah cepat sekali, kini menjadi sungguh-sungguh dan kekejaman membayang pada wajahnya yang cantik.
Tiba-tiba ia menggerakkan kedua tangannya dan siangto (sepasang golok) tadi telah berada di tangannya.
Kemudian ia melambaikan goloknya mengajak Ciang Le sambil melompat keluar.
Sungguhpun Ciang Le diam-diam menaruh hati curiga, akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan sikap takut.
Iapun lalu menggerakkan kedua kakinya dan melompat mengikuti gadis itu.
Ternyata Cun Eng membawanya ke belakang dan seperti tiga orang pemimpin tingkat satu dari Hek kin kaipang tadi, kini gadis itupun melompat ke atas pagar tembok yang menutup taman itu.
Kalau tadi ketika berada di situ dengan Bi Mo li dan kedua orang kawannya.
Ciang Le melihat pemandangan yang aneh karena orang-orang di dalam taman itu nampak ketakutan seperti melihat iblis, sekarang ia melihat pemandangan yang lebih aneh lagi.
Begitu melihat Cun Eng berdiri di atas tembok dengan sepasang golok di tangan, orang-orang yang tadinya asyik bekerja itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut semua dan mereka membentur benturkan jidat di atas tanah seakan-akan menghormat kedatangan seorang puteri raja!
"Toa Sam dan Tangan Seribu, majulah!"
Terdengar bentakan nyaring dari Cun Eng.
Dari rombongan orang itu muncul dua orang.
Yanp bernama Toa Sam bertubuh tinggi besar, bermuka brewok dan matanya sipit, mulutnya mengejek selalu.
Orang kedua yang disebut Tangan Seribu adalah seorang yang kurus kecil tubuhnya akan tetapi tindakan kakinya cepat dan gesit sekali.
Dua orang itu berdiri lalu berjalan menuju ke depan rombongan orang yang berlutut.
Di situ mereka juga berlutut.
Si Tangan Seribu menundukkan mukanya, akan tetapi Toa Sam kadang-kadang mengerling ke arah Cun Eng dan Ciang Le.
"Sudah kami pertimbangkan tentang dosa dosamu dan sekarang hukuman itu akan di jatuhkan. Bersiaplah kalian!"
Baru saja kata-kata ini habis diucapkan, Toa Sam tertawa dan berkata.
"Sayang aku tidak tampan seperti pemuda itu. Kalau aku tampan, sudah tentu Sianli (Dewi) akan mengampuni kesalahanku!"
Akan tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk bicara lebih lanjut, karena pada saat itu, dari atas telah menyambar Cun Eng.
Benar saja seperti yang diduga Ciang Le, gadis itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, terbukti dari gerakannya yang cepat dan ringan bagaikan seekor burung walet.
Akan tetapi, kepandaian gadis itu tidak amat mengejutkan hati Ciang Le, yang membuat ia benar-benar terkejut dan memandang dengan mata terbelalak adalah ketika ia melihat sinar putih dari kedua batang golok di tangan Cun Eng itu berkelebat dan tahu-tahu menyembur darah hidup yang mengerikan sekali.
Ternyata ketika ia memandang dengan penuh perhatian, kepala Toa Sam telah terpisah dari tubuhnya dan Tangan Seribu telah putus tangan kanannya sebatas siku!
Darah mengalir membasahi rumput di taman itu.
Tubuh Toa Sam menggeletak tak bergerak, hanya darah yang menyembur nyembur dari lehernya saja yang bergerak Tangan Seribu menggigit gigit bibir dengan muka pucat, boleh dipuji sekali orang ini karena biarpun tangannya dibuntungi, ia tidak mengeluarkan sedikit suara keluhan!
Ciang Le menjadi marah sekali dan hendak melompat turun dan menegur gadis yang ganas dan kejam itu, tahu-tahu Cun Eng telah melayang dan berdiri di atas tembok di sebelahnya lagi.
Kejadian itu hanya terjadi sekejap mata saja, sehingga benar-benar sukar dipercaya.
Cun Eng merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebungkus obat lalu melemparkan obat itu kepada Si Tangan Seribu.
"Pakai obat ini dan balut ujung tanganmu baik-baik. kau sudah menerima hukuman, lekas kau pergi dari sini!"
Kalau dibicarakan sungguh aneh sekali.
Orang yang baru saja tangannya dibikin buntung dan kini diberi obat lalu disuruh pergi, kini berlutut menghaturkan terima kasih kepada gadis yang telah membuatnya bercacad selama hidupnya itu!
Kemudian, dengan sebuah lompatan yang cukup membuktikan bahwa Si Tangan Seribu itu memiliki kepandaian lumayan, orang itu telah mengambil bungkusan obat lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Orang-orang yang berada di situ masih berlutut dan kini mereka nampak menggigil seluruh tubuh mereka.
Biasanya, kalau Hek kin kai Pangcu (ketua Hek kin kaipang) sudah datang dengan sepasang goloknya di tangan, dia takkan pergi sebelum "membagi bagi"
Hukuman dengan cara yang amat ganas dan kejam.
Siapa lagi yang akan menjadi korban?
Sementara itu, Ciang Le menyambut kembalinya nona itu di atas pagar tembok dengan mata bersinar marah.
Ingin sekali ia memukul dan menyerang wanita yang kejam ini, akan tetapi baiknya pemuda itu masih dapat mengendalikan diri dan ingat bahwa ia adalah seorang tamu dan juga bahwa sebelum tahu jelas duduknya perkara tidak baiklah kalau ia bertindak secara sembrono.
"Kiang Pangcu, mengapa kau seganas itu? Membunuh orang begitu saja dan membuntungi lengan orang pula? Apakah artinya semua ini?"
"Go-Enghiong, kau kasihan kepada mereka?"
Tanya Kiang Cun Eng sambil tersenyum dan kalau dia tersenyum, lenyaplah bayangan kejam dan ganas pada mukanya yang cantik.
"Orang-orang ini adalah penjahat-penjahat yang melakukan pelanggaran di wilayah yang kujaga! Tahukah kau mengapa aku menghukum mati kepada Toa Sam? Dia adalah seorang jai hwa cat (penjahat cabul) yang merusak dan mempermainkan banyak sekali anak bini orang di kota ini! Kepala daerah telah percaya kepada kami sebagai pencegah terjadinya kejahatan bukankah perbuatannya itu merupakan tamparan bagi nama kami? Apakah hukuman mati tadi kau anggap tidak sudah sepatutnya bagi seorang macam dia? Adapun Tangan Seribu itu, dia adalah seorang pencuri ulung yang datang dari luar kota dan ia kurang ajar sekali. Coba pikir, dia berani mencuri di dalam rumah kepala daerah sendiri! Inipun merupakan tamparan bagi kami dan sudah sepatutnya aku membikin buntung tangannya!"
Baru tahulah Ciang Le dan diam-diam iapun mengakui bahwa hukuman-hukuman yang dijatuhkan itu tentu akan membikin kuncup hati para penjahat.
Namun ia masih penasaran dan menganggap bahwa perbuatan seorang gadis cantik dengan hukuman-hukuman kejam itu amat keterlaluan.
"Hm, kau bukan algojo, mengapa membunuh orang seperti membunuh ayam saja?"
"Habis, kalau menurut pendapatmu, Go-Enghiong yang budiman dan berhati mulia, apakah aku harus memperlakukan orang-orang jahat itu dengan lemah-lembut dan melepaskan mereka semua berkeliaran melakukan kejahatan tanpa diganggu?"
Suara gadis ini mengandung ejekan sehingga muka Ciang Le menjadi merah.
"Bukan demikian, hanya hukuman itu terlalu kejam dan ganas seperti perbuatan iblis saja! Bukan hakmu untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka ini. Apakah tidak ada rasa kasihan dalam hatimu?"
Gadis itu menahan ketawanya dan tersenyum lebar.
"Aha, jadi kau benar-benar merasa kasihan kepada mereka? Baiklah, Go-Enghiong, kebaikan hatimu ini akan kusampaikan kepada mereka. Memandang mukamu sebagai tamuku, hari ini aku akan menurunkan semua hukuman mereka."
Cun Eng lalu mengangkat tangan kanannya yang memegang golok dan berkata dengan nyaring kepada semua orang yang masih berlutut.
"Hai, kalian dengarlah baik-baik! Hari ini aku kedatangan tamu agung yang berhati mulia, yakni Hwa I Enghiong, pemuda gagah dan budiman ini! Atas permintaannya dan melihat mukanya, baiklah aku mengurangi hukuman kalian dan memotong setengahnya!"
Orang-orang yang tadinya berlutut dan menundukkan mukanya, kini mengangkat muka dengan girang sekali.
Dengan wajah terharu dan berseri-seri mereka lalu mengangkat kedua tangan di atas kepala, menyembah ke arah Hwa I Enghiong untuk menyatakan terima kasih.
Ciang Le yang berdiri dengan gagah di sebelah kiri Cun Eng lalu mengangkat tangan kirinya ke atas.
"Kalian dengarlah baik-baik! Sesungguhnya tidak seharusnya aku membela orang-orang seperti kalian yang telah melakukan kejahatan, baik kejahatan kecil maupun besar. Orang-orang seperti kalian ini wajib dihukum. Sekarang Kiang Pangcu telah berlaku baik untuk mengurangi hukuman kalian, bukan sekali kali karena jasaku. Kepada Pangcu inilah kalian harus berterima kasih. Kemurahan hati Pangcu ini hendaknya kalian jadikan pedoman untuk kemudian hidup dengan jalan baik dan menebus dosa. Ingatlah bahwa kalau lain kali kalian masih saja melakukan perbuatan terkutuk, aku sendiri bahkan akan membantu Kiang Pangcu untuk menangkap kembali dan memberi hukuman yang seberat beratnya!"
Cun Eng tersenyum manis mendengar ini dan ia lalu mengajak pemuda itu turun kembali meninggalkan tempat itu setelah berpesan kepada orang hukuman itu untuk mengubur jenazah Toa Sam di tempat kuburan umum.
Sambil menanti datangnya malam hari di mana akan diadakan perjamuan untuk menghormat tamu.
Ciang Le dilayani oleh Cun Eng dengan segala keramahan.
Pemuda ini benar-benar merasa amat sungkan akan tetapi oleh karena ia telah menerima sambutan perjamuan itu, terpaksa ia menyabarkan diri, bahkan ia menggunakan kesempatan itu untuk bertanya dan bercakap-cakap dengan Cun Eng tentang keadaan perkumpulan Hek kin kaipang yang aneh.
Adapun ketua perkumpulan Pengemis Sabuk Hitam itupun agaknya sudah "jatuh hati"
Betul-betul terhadap Ciang Le yang tampan, karena tanpa ragu-ragu lagi Cun Eng menceritakan semua hal dan bahkan menceritakan pula siapa adanya tiga orang-tua yang menjadi pembantu pembantu itu.
Cun Eng adalah puteri tunggal dari Kiang Pangcu, ketua dan pendiri dari perkumpulan Hek kin kaipang, seorang tokoh kang ouw yang amat terkenal karena ilmu silatnya yang tinggi dan biarpun Kiang Pangcu pernah menjadi seorang bajak tunggal, namun setelah berusia tua, ia mencuci tangan, bahkan lalu membentuk perkumpulan Hek kin kaipang yang sifatnya mengumpulkan semua pengemis dan menjaga keamanan kota di mana mereka tinggal!
Nama Kiang Pangcu amat tersohor sebagai ketua perkumpulan Hek kin kaipang.
Akan tetapi, lebih terkenal lagi adalah nama tiga orang pembantunya, yakni pertama-tama Bi Mo li yang sebenarnya menjadi juga bini mudanya, setelah ibu dari Cun Eng meninggal dunia, Bi Mo li menjadi kekasih Kiang Pangcu.
Orang ke dua Siang tung him, seorang yang tampan dan gagah, bekas perampok tunggal yang menjadi sahabat baiknya pula.
Akan tetapi, bukan merupakan rahasia lagi bahwa di antara Bi Mo li dan Siang tung him, terdapat perhubungan rahasia.
Bahkan Kiang Pangcu sendiri juga tahu akan hal ini, akan tetapi ia diam saja karena kalau ia bertindak, berarti ia akan melemahkan kedudukannya.
Baik Bi Mo li maupun Siang tung him merupakan pembantu pembantu yang cakap dan lihai.
Akan tetapi orang yang merasa marah dan sakit hati melihat kejadian ini adalah Cun Eng!
Gadis ini telah mewarisi kepandaian ayahnya.
Beberapa kali ia mengatakan kepada ayahnya untuk turun-tangan memberi hajaran kepada ibu tirinya dan Siang tung him yang dianggap mencemarkan nama ayahnya dan bahkan dianggap menghina ayahnya.
Akan tetapi ayahnya bahkan mencegahnya.
Sebaliknya, diam-diam Kiang Pangcu menderita tekanan batin hebat dengan menyelewengnya Bi Mo li yang sudah menjadi bini mudanya itu Ia terlalu mencinta Bi Mo li dan juga sayang kepada Siang tung him berhubungan rahasia itu merupakan pukulan batin dan akhirnya Kiang Pangcu yang sudah tua itu jatuh sakit.
Di dalam sakitnya, mengingau dan tanpa disadarinya ia memaki-maki Bi Mo li dan Siang tung him.
Mendengar igauan ayahnya ini larilah Cun Eng keluar, mencari Siang tung him dan menyerangnya.
Pertempuran hebat terjadi, akan tetapi akhirnya Siang tung him kalah dan roboh.
Dengan ganas sekali Cun Eng lalu menggunakan siangtonya (golok sepasang) untuk membuntungi kaki kiri Siang tung him yang tampan itu!
Setelah itu, Cun Eng lalu mencari ibu tirinya, Bi Mo li juga tidak menyerah begitu saja karena iapun memiliki ilmu silat yang tinggi.
Namun, ilmu kepandaian Cun Eng telah meningkat tinggi, bahkan mungkin tidak kalah oleh ayahnya sendiri, maka setelah bertempur dengan hebatnya akhirnya juga Bi Mo li dapat dirobohkan!
Tadinya Cun Eng hendak menenggal leher wanita itu.
Bi Mo li menjerit minta ampun sehingga golok di tangan gadis itu hanya menggurat sekitar leher bi Mo li yang menjadi ketakutan dan pingsan karena mengira bahwa lehernya akan di babat!
Ketika ia siuman kembali, ternyata bahwa kulit lehernya sudah digurat sekelilingnya agak dalam, sehingga, untuk selamanya kulit lehernya akan menjadi cacad!
Adapun Beng san kui, kakek bongkok itu tadinya adalah seorang tokoh kang ouw yang menaruh hati dendam kepada Kiang Pangcu.
Ia datang hendak membalas dendam, akan tetapi ia mendapatkan musuh besarnya meninggal dunia dan kedatangannya disambut oleh Cun Eng yang menggantikan ayahnya menjadi ketua dan kakek bongkok ini juga roboh di tangan Cun Eng, bahkan kemudian diangkat menjadi pembantu!
Ciang Le yang mendengar semua penuturan ini, diam-diam menarik napas panjang dan merasa sayang bahwa gadis seperti Cun Eng terlahir di tengah-tengah lingkungan orang-orang kasar dan jahat seperti itu.
Tidak mengherankan bahwa gadis ini menjadi seorang yang ganas, kejam, genit dan tak tahu malu, di samping sifatnya yang baik, yakni memberantas kejahatan.
"Aku mendengar Bi Mo li menyatakan bahwa guru-guruku, Thian Te Siang mo, adalah musuh-musuh besar kalian. Benarkah ini, dan mengapa demikian?"
Tanya Ciang Le.
"Kau benar-benar tabah dan berani sekali mengajukan pertanyaan ini, Go-Enghiong. Keberanian inilah agaknya yang membuat aku amat tertarik kepadamu. Kedua orang gurumu itu pernah mengganggu ayahku, dan ayah telah dikalahkan oleh mereka. Juga, belakangan ini, Thian Te Siang mo pernah pula bentrok dengan Bi Mo li dan kedua orang pembantuku. Soalnya mudah saja diduga, karena Bi Mo li memang menaruh hati dendam kepada guru-gurumu, karena.... karena sesungguhnya gurumu Te Lo-mo itulah yang membuka rahasia tentang perhubungan rahasia antara Bi Mo li dan Siang tung him kepada mendiang ayahku!"
Ciang Le mengangguk-angguk.
Kini tahulah ia mengapa Bi Mo li demikian benci kepada guru-gurunya.
Malam itu tiba dan perjamuan yang dijanjikan itu diadakan di ruang tengah yang telah diterangi oleh banyak sekali api lilin.
Di situ hadir Cun Eng, Bi Mo li, Siang tung him Beng san kui, dan kepala daerah Taigoan, seorang gemuk bermuka ramah, she Lo dengan seorang kepala pengawalnya, seorang yang berpakaian sebagai guru silat yang bernama Lai Sui.
Lai Sui ini merupakan bayangan dari Lo taijin, ke mana juga Lo taijin berada, tentu Lai Sui berada di sampingnya!
Hidangan yang dikeluarkan adalah masakan masakan yang paling istimewa, sedangkan arak yang mengalir di tenggorokan mereka juga arak yang termahal dan wangi.
Tidak mengherankan apabila Lo taijin sebentar saja telah menjadi setengah mabok.
Sambil mengelus-elus perutnya yang makin gendut karena daging, ia berdiri dan mengisi sendiri cawan arak yang telah kosong di depan Cun Eng lalu berkata.
"Sungguh aku orang she Lo amat berbahagia dapat duduk makan semeja dengan Kiang Pangcu atau Kiang-siocia yang perkasa dan cantik jelita, pelindung kota Taigoan yang ternama. Harap siocia sudi menerima penghormatanku secawan arak!"
Dipuji puji oleh kepala daerah ini, Cun Eng hanya tersenyum dan segera mengangkat cawan araknya dan diminum kering.
Pipinya yang memerah itu menjadi makin kemerahan dan menarik hati sekali.
Dari percakapan yang terjadi selagi mereka makan minum, tahulah Ciang Le bahwa perhubungan antara kepala daerah dan pemimpin-pemimpin Hek kin kaipang ini erat sekali dan Hek kin kai pang benar-benar dipandang tinggi dan dihormati oleh kepala daerah Taigoan.
Semua orang kecuali Bi Mo li yang selalu muram dan cemberut atau kadang-kadang mengerling ke arah Ciang Le dengan penuh kebencian, dan Ciang Le yang bersikap tenang tenang saja, nampak bergembira Cun Eng bicara dengan wajah berseri-seri, mata bersinar-sinar, dan senyumnya murah sekali, Sian tung him yang berwajah tampan itupun tersenyum-senyum, demikian pula si bongkok dan Lai Sui pengawal Lo taijin.
Mereka semua telah dipengaruhi oleh wajah Pangcu yang cantik itu dan oleh arak wangi yang keras.
Ciang Le membatasi dirinya dalam minum arak, karena ia tidak mau kalau sampai menjadi mabok dan lupa daratan.
Akan tetapi sambil tersenyum, Cun Eng menggerakkan ujung sabuknya yang berwarna hitam terbuat dari sutera lemas dan yang melambai di depan tubuhnya.
Sabuk sutera hitam itu melayang di atas meja dan bagaikan lengan yang lemas dari seorang puteri juita, Ujung sabuk itu membelit guci arak yang besar dan berat, kemudian begitu Cun Eng mengerakkan tangannya yang memegang sabuk itu, ujung sabuk lalu bergerak mengangkat guci itu ke atas.
Sambil mengerling ke arah Ciang Le dengan sepasang matanya yang bening dan indah, barengi senyumnya yang manis, Cun Eng lalui menggunakan ujung sabuk itu yang telah membelit guci untuk menuangkan guci itu dan memenuhi cawan Ciang Le!
Pemuda ini terkejut sekali melihat demonstrasi lweekang yang tinggi ini.
Sabuk sutera itu lemas saja, akan tetapi di dalam tangan nona ini dapat menjadi hidup.
Dengan lweekangnya yang tinggi, nona itu dapat mempergunakan sabuk itu seperti orang mempergunakan lengan tangannya sendiri.
Dari sini saja dapat dilihat, bahwa selain sepasang goloknya, nona ini tentu seorang ahli dalam permainan senjata istimewa, yakni sabuknya.
"Go koko (engko Go), marilah kita minum untuk kebahagiaan pertemuan ini,"
Kata Cun Eng dengan nona ini menggigit bibir bawah dengan sikap genit sekali. Bi Mo li memandang kepada ketuanya dengan sinar mata tajam penuh pertanyaan "Koko...? Apa pula ini?"
Tanyanya.
Memang sebagai ibu tiri, Bi Mo li ini kadang-kadang bersikap sebagai seorang-tua terhadap puterinya kepada Cun Eng.
Dalam keadaan biasa mungkin sekali kata-kata ini dapat menimbulkan kemarahan Cun Eng.
Akan tetapi pada saat itu gadis ini sedang bergembira, maka sambil tertawa ia berkata.
"Hwa I Enghiong adalah seorang pemuda yang gagah perkasa dan budiman. Tidak patutkah ia menjadi kokoku?"
Bi Mo li hanya menjebikan bibirnya dan berkata.
"Hm"!"
Akan tetapi tidak berkata apa-apa lagi hanya menenggak araknya di dalam cawan dengan hati gemas sekali.
Ciang Le tak dapat menolak suguhan arak yang dilakukan secara istimewa oleh ketua Hek kin kai pang itu.
Ia tidak mau menunjukkan kelemahannya.
Sambil mengangguk dan mengucapkan terima kasihnya, ia lalu memegang cawannya yang penuh tanpa mengangkat cawan itu, lalu tangannya menekan meja sambil mengerahkan lweekangnya.
Meja sedikit bergetar akan tetapi arak di dalam cawan itu bergelombang lalu memercik ke atas bagaikan sebuah pancuran air dan semua arak itu masuk ke dalam mulutnya.
Tidak setetes arakpun tumpah di atas meja!
Melihat demonstrasi yang dilakukan oleh Cun Eng dan Ciang Le, Lo taijin terbelalak memandang dengan penuh kekaguman.
"Ah, benar-benar hebat. Hwa I Enghiong memang pantas sekali menerima penghormatan dari Kiang Pangcu."
Ia lalu menoleh kepada pengawalnya dan menepuk bahunya.
"Eh, Lai suhu, kau pun harus memberi hormat kepada Hwa I Enghiong yang gagah ini!"
Pembesar ini biarpun tidak mengerti ilmu silat, namun ia selalu dikawal oleh Lai Sui yang ilmu silatnya cukup tinggi.
Maka melihat orang-orang mendemonstrasikan kepandaiannya, ia tidak mau kalah muka dan ingin pula memamerkan kepandaian pengawalnya.
Lai Sui mengerti akan hal ini.
Sebetulnya dia sendiri tidak berani sembarangan memperlihatkan kepandaian karena ia tahu bahwa kepandaian dari nona ketua itu masih lebih lihai daripada kepandaiannya sendiri, akan tetapi oleh karena majikannya mendesak, ia tidak berani menolak atau membantah.
Sambil tersenyum sungkan ia lalu berdiri dari bangkunya dan mengambil guci arak itu dengan tangannya.
"Siauwte yang bodoh masih terlalu rendah untuk mengganggu Hwa I Enghiong dengan penghormatan minum arak. Akan tetapi siauwte mewakili Lo-taijin untuk menghormat tamu agung dengan secawan arak."
Setelah berkata demikian, ia lalu membungkuk memberi hormat dan mengambil cawan arak Ciang Le yang sudah kosong.
Dengan cawan arak di tangan kiri dan guci arak di tangan kanan, pengawal ini lalu menuangkan arak dari guci ke dalam cawan.
Hal ini kelihatan biasa saja sehingga Lo-taijin sudah merah mukanya karena menganggap bahwa pengawalnya melakukan perbuatan bodoh.
Akan tetapi ketika, cawan itu sudah penuh, Lai Sui masih terus menuangkan arak sehingga kini arak dalam cawan itu menjadi terlalu penuh, lebih tinggi daripada permukaan cawan!
Barulah Lai Sui menghentikan guci dan kini di dalam tangannya terdapat cawan yang araknya tinggi sekali akan tetapi yang tidak mau tumpah ke pinggir!
Dalam pandangan mata Lo-taijin, hal ini seperti sulapan atau sihir saja, akan tetapi dalam pemandangan Ciang Le, pemuda ini maklum bahwa pengawal kepala daerah ini sedang memamerkan Lweekangnya.
Kalau cawan itu ditaruh di atas meja, tentu arak yang lebih itu akan tumpah!
"Kau baik sekali, Lai-kauwsu,"
Kata Ciang Le sambil menerima cawan yang terlalu penuh ini.
Iapun harus mengerahkan lweekangnya sehingga arak itu tidak sampai tumpah.
Bahkan Ciang Le agak miringkan cawannya sehingga arak itu agak mendoyong ke kiri, akan tetapi tetap saja tidak mau tumpah, seakan-akan arak itu telah berubah menjadi barang kental yang hamper mengeras.
Sambil menahan napas, Ciang Le lalu terus miringkan cawan sampai berjungkir ke bawah, namun tetap saja arak itu tidak tumpah!
"Hebat, hebat!"
Seru Lo-taijin sambil bertepuk tangan.
"Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri, siapa dapat percaya akan hal ini?"
Ciang Le lalu minum arak dalam cawannya itu dan menghabiskannya dengan sekali teguk.
Pemuda ini mengerahkan lweekangnya untuk menekan pengaruh arak yang panas itu keluar lagi dari hidung dan mulutnya.
Cun Eng dapat menduga bahwa tamunya Ini tentu tidak biasa minum arak, maka sambil tersenyum ia berkata kepada Siang-tung-him dan Beng-san-kui.
"Lo-taijin dan aku sudah memberi hormat kepada tamu agung kita, apakah kalian juga tidak ingin memberi penghormatan pula?"
Beng-san-kui terkekeh-kekeh dengan suara ketawanya yang seperti ringkik kuda.
"Tamu kita yang masih muda agaknya kurang suka minum arak, buktinya tiap kali arak dituang ke dalam perutnya, mukanya menjadi merah. Ha-ha, lebih baik lohu menghormatinya dengan daging-daging yang paling lezat!"
Sambil berkata demikian, Si Bongkok ini lalu mempergunakan sumpit dan dengan sumpit itu ia mencari-cari di semua mangkok masakan.
Aneh sekali, tiap kali sumpit menemukan potongan daging yang baik, tanpa menggerakkan sumpit itu, tahu-tahu potongan daging itu telah melompat ke atas, terputar-putar kemudian meluncur turun ke dalam mangkok kosong di depan Ciang Le!
Ia melakukan hal ini beberapa kali sambil tersenyum-senyum dan sebentar saja di dalam mangkok Ciang Le itu telah terkumpul sedikitnya tujuh potong daging masakan paling gemuk!
Siang-tung-him tersenyum lebar dan wajahnya yang biarpun sudah tua namun masih nampak bersih dan tampan itu berseri.
"Biarlah aku yang menyediakan sumpitnya!"
Katanya.
Ia mengambil sepasang sumpit gading yang belum terpakai dari atas meja dan biarpun ia menaruh sepasang sumpit tanpa tenaga begitu saja di depan Ciang Le namun ternyata setelah ia melepaskan sumpit itu, sepasang sumpit telah tertancap di atas meja sampai setengahnya lebih!
Ketika melakukan hal ini tangan kiri Siang-tung-him seperti tanpa sengaja menekan cawan arak di depan Ciang Le dan kini cawan itupun amblas sampai setengahnya di atas meja.
Ciang Le tersenyum dan menyaksikan demonstrasi kedua orang kakek ini, adapun Lo-taijin memandang terbelalak dan Lai Sui mengangguk-angguk kagum.
"Sungguh siauwte merasa berat sekali menerima penghormatan yang begini,"
Kata Ciang Le.
Ia meraih sepasang sumpit yang menancap di meja itu seakan-akan sumpit itu tidak tertancap.
Padahal orang biasa saja belum tentu dapat mencabut sumpit-sumpit itu tanpa mengerahkan seluruh tenaganya.
Kemudian, sekali ia menjepit ke dalam mangkoknya dengan sepasang sumpit gading ini, tujuh potong daging itu sekaligus telah dijepitnya.
Berapa kali ia mainkan sumpit itu dan aneh sekali, makin lama potongan daging yang sudah menjadi makin kecil seperti dipres oleh alat penjepit yang kuat.
Kemudian, pemuda ini dengan tenaganya lalu memasukkan potongan daging yang sudah menjadi kecil itu kedalam mulutnya.
Akan tetapi ketika ia mencabut sepasang sumpit itu dari mulutnya, sumpit itu telah patah dan potongannya tertinggal di dalam mulut!
Ciang Le makan daging itu dengan enaknya dan Lo taijin sampai melongo memandangnya karena mengira bahwa pemuda itu telah makan potongan sumpit gading!
Akan tetapi tiba-tiba Ciang Le meniup ke atas dan dua potongan sumpit gading itu melayang lalu menancap di tiang melintang yang berada di atas kepala mereka!
Kemudian Ciang Le mengangkat cawannya yang masih ada sedikit araknya, lalu diminumnya.
Juga ketika mengangkat cawan ini, seakan-akan ia tidak tahu bahwa cawan itu telah amblas sampai setengahnya.
Bukan main kagumnya semua orang yang berada di situ, termasuk Cun Eng, Gadis ini menjadi makin kagum dan suka kepada Ciang Le dan kerlingnya makin tajam menarik.
"Bi Mo li, kau belum memberi hormat!"
Kata Cun Eng yang menghendaki agar semua orang memberi hormat kepada pemuda yang telah menjatuhkan hatinya itu.
Bi Mo li sudah setengah mabok seperti yang lain, dan kebenciannya terhadap pemuda itu membuat dia makin marah saja ketika disuruh memberi hormat.
Ia memegang cawan araknya yang terbuat dari pada perak, menggenggamnya lalu tertawa dan melemparkan cawan kosong itu ke depan Ciang Le.
"Murid Thian Te Siang mo hanya patut dihormati di dalam peti mati!"
Ketika semua orang melihat, ternyata bahwa cawan perak yang digenggamnya tadi kini telah menjadi hancur berkeping keping di atas meja depan Ciang Le!
Lo-taijin menjadi pucat dan semua yang memandang dengan hati tegang, hanya Cun Eng yang memandang marah sekali sedangkan Ciang Le masih tetap tenang seperti biasa.
Seakan-akan tidak tahu kemarahan Bi Mo-li, pemuda ini mengambil potongan-potongan perak bekas cawan arak yang hancur itu, menggenggamnya lalu mengembalikannya kepada Bi Mo-li.
"Terima kasih atas penghormatan Bi Mo-li!"
Ketika pemuda itu melepaskan tangannya, ternyata bahwa pecahan-pecahan perak tadi kini telah menjadi segumpal perak yang telah menjadi satu, menjadi sepotong perak yang bulat!
Kalau lweekang dari Bi Mo-li telah dapat menghancurkan perak itu, ternyata kini Ciang Le lebih hebat lagi, karena hancuran itu telah menjadi satu dan keras seakan-akan pecahan perak itu hanya tanah liat belaka!
Sepasang mata Bi Mo-li mengeluarkan cahaya berapi.
Ia menyambar segumpal perak itu dari depannya,kemudian membentak.
"Makanlah ini!"
Potongan perak itu melayang dan menyambar ke arah jalan darah di leher Ciang Le!
Ini adalah serangan maut yang amat berbahaya karena dilakukan dari jarak dekat sekali.
Dan sesungguhnya, biarpun ilmu kepandaian Ciang Le sudah cukup tinggi, namun pemuda ini sudah tak berdaya lagi untuk menyelamatkan dirinya dan hanya dapat berseru dengan muka pucat.
"Celaka!"
Akan tetapi pada saat itu, Cun Eng yang duduk di sebelah kanan Ciang Le, yakni di meja kepala atau kursi tuan rumah, cepat mengulurkan tangan kirinya.
Terdengar suara ketawa Bi Mo-li yang lantang karena iblis wanita ini telah merasa girang melihat bahwa serangannya pasti akan berhasil mengenai pemuda itu.
Suara ketawa ini tiba-tiba terhenti dan berganti oleh suara jerit Cun Eng yang merasa kesakitan.
Gadis ini telah menyambar perak itu dengan nekad sehingga telapak tangan kirinya terluka hebat.
Gumpalan perak itu menggelinding ke atas meja dan warnanya yang tadi putih berkilauan menjadi merah karena darah Cun Eng!
Seluruh telapak tangan gadis itu terbeset kulitnya dan berdarah banyak sekali.
Bukan main kagetnya Bi Mo-li melihat ini.
Suara ketawanya yang tadi terhenti tiba-tiba dan mukanya menjadi pucat sekali.
Ia terbelalak memandang ke arah tangan kiri Cun Eng yang terluka oleh potongan perak itu.
Dan kini gadis itu telah berdiri, memandang kepada Bi Mo-li seakan-akan hendak menelan nenek itu bulat-bulat.
Gadis ini benar-benar gagah, sama sekali ia tidak merasakan sakitnya lagi.
"Ampun... Ampun, Nona..."
Bi Mo-li mencoba memohon ampun, akan tetapi tiba-tiba tangan kanan Cun Eng berkelebat dan terdengar suara keras.
Tangan itu telah menampar muka nenek itu sehingga Bi Mo-li terhuyung-huyung ke belakang.
Pipinya menjadi biru karena tamparan tadi!
Sebetulnya, biarpun kepandaian Cun Eng tingkatnya lebih tinggi daripada Bi Mo-li, namun kalau saja Bi Mo-li berani dan mau, tasmparan tadi itu tentu akan dapat dielakkannya dengan mudah.
Namun Bi Mo-li tidak berani melakukan hal ini karena hal itu akan menerima hukuman lebih hebat lagi!
"Ampun, Nona...
Aku tidak bermaksud melukaimu..."
Bi Mo-li mencoba untuk bermohon lagi.
Cun Eng sudah mencabut siang-tonya dan sekali melompat ia telah menghadapi Bi Mo-li.
Akan tetapi tiba-tiba ia merasa tangan kananya dipegang orang dan ketika ia menengok, ternyata Ciang Le telah berdiri di (Lanjut ke
Jilid 06) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "
Jilid 06 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo
Jilid 06 belakangnya.
"Kiang-siocia, harap kau ampunkan dia. Memang benar tidak disengaja ia melukai kau..."
Sinar mata gadis itu berobah heran.
"Apa? kau yang akan dibunuhnya bahkan mintakan ampun?"
"Ia memang benci kepadaku, kepada suhu-suhuku. Sudahlah, ampunkan saja dia."
Juga Lo taijin yang merasa ketakutan dan tidak enak sekali melihat peristiwa ini, berdiri dan berkata.
"Kiang Pangcu, harap kau suka memberi maaf kepadanya. Untuk apakah ribut-ribut dengan orang sendiri? Dan pula karang sudah jauh malam, harap kau maafkan, aku harus pulang karena besok banyak sekali pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Setelah berkata demikian, pembesar ini lalu menjura kepada Cun Eng dan Ciang Le, yang dibalas oleh gadis itu, Lo taijin merasa ngeri, melihat tangan gadis itu masih saja mengalirkan darah.
Maka ia lalu buru-buru mengajak Lai Sui untuk segera meninggalkan tempat itu.
Bi Mo li masih berdiri sambil menundukkan mukanya di depan Cun Eng, sementara itu, kakek bongkok dan kakek buntung masih terus saja minum arak, seakan-akan tidak terjadi sesuatu yang hebat!
"Siang tung him, Beng san kui!
Bawa dia ke belakang, keram dalam kamar gelap!"
Perintah Cun Eng kepada dua orang kakek itu Siang tung him dan Beng san kui saling pandang, akan tetapi merekapun tidak berani membantah perintah ketua ini, dan tak lama kemudian Bi Mo li dipegang tangan kiri kanannya oleh dua orang kakek itu yang membawanya pergi dari situ.
Terdengar isak tangis nenek itu ketika ia dibawa pergi.
"Go koko, harap kau maafkan kekurang ajaran Bi Mo li. Aku akan memberi hukuman yang setimpal padanya."
Kata Cun Eng sambil mulai membalut tangan kirinya dengan saputangan.
Ciang Le merasa jemu dan tidak enak hati sekali melihat seraja peristiwa tadi.
Akan tetapi ketika ia melihat tangan kiri gadis itu yang berdarah, timbul rasa haru dan kasihan.
Betapapun juga, boleh dibilang gadis itu telah menolongnya, bahkan menolong nyawanya karena harus ia akui bahwa serangan gelap tadi benar-benar amat berbahaya dan ia tidak berdaya untuk menghindarkan diri.
Kini, tangan yang kecil dan halus itu berdarah karena menolongnya.
Melihat betapa tangan kanan Cun Eng amat canggung membalut tangan kirinya sendiri, pemuda itu lalu menghampiri dan berkata.
"Biarlah aku membalut tanganmu, nona."
Tanpa menanti jawaban, ia lalu mengambil saputangan itu dan mulai membalut tangan Cun Eng yang terluka, setelah menaruhkan obat bubuk warna putih yang selalu berada di kantongnya untuk membuat luka itu lekas kering dan mencegah panas.
Ketika pemuda itu sedang membalut tangannya, Cun Eng memandang dengan mata tertutup dan mesra sekali.
Ia mendoyongkan tubuhnya mendekati pemuda itu lalu berbisik.
"Koko, kau baik sekali. Aku... aku suka kepadamu."
Melihat betapa gadis itu makin mendekat sehingga sebagian rambut yang panjang hitam itu, membelai pipinya, Ciang Le menjadi berdebar dan cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya membalut.
Kemudian ia melangkah mundur tiga tindak dan menjura lalu berkata.
"Kiang Pangcu, sekarang aku bermohon diri. Terima kasih atas segala kebaikanmu. Biarlah lain kali kalau ada kesempatan akui akan membalas keramahanmu itu."
Terbelalak mata Cun Eng mendengar ucapan ini.
"Apa...? kau hendak pergi? Jangan koko, jangan pergi dulu"! kau harus bermalam di sini. Bukankah kau tamuku, tamu ku yang kami hormati? kau harus bermalam disini koko."
Ia mengulang dengan suara memohon. Ciang Le ragu-ragu, akan tetapi ia lalu menggeleng kepala.
"Tidak usah, nona. Aku sudah cukup banyak menimbulkan repot padamu. Aku harus pergi dari sini."
Berkerut kening gadis itu dan untuk beberapa lama ia diam saja.
Ciang Le tidak tahu bahwa gadis ini sedang memutar otaknya yang cerdik dan penuh tipu muslihat Kemudian gadis itu menarik napas panjang dan nampak sedih sekali.
"Hwa I Enghiong, kalau kau berkeras hendak pergi, aku yang bodoh juga tak dapat berbuat sesuatu. Bagaimana aku dapat menahanmu? Akan tetapi, dengan terjadinya hal tadi, hatiku merasa tidak enak dan lenyap kegembiraan kita. kau mau pergi? Baiklah, akan tetapi lebih dulu temanilah aku minum tiga cawan arak."
Ciang Le merasa serba salah.
Ia telah minum arak terlalu banyak daripada semestinya, ia bukan seorang peminum dan beberapa cawan tadi saja sudah membuat kepalanya mulai terasa ringan sekali.
Akan tetapi, bagaimana ia dapat menolak?
"Kiang-siocia, maafkanlah aku.
Sekarang aku sudah cukup banyak minum arak.
Baiklah aku berjanji bahwa lain kali, kalau aku kebetulan lewat di kota ini, aku akan menemani minum arak, tidak hanya tiga cawan, bahkan sepuluh cawan!"
Ia mencoba tersenyum. Akan tetapi Cun Eng tampak marah dan kecewa.
"Hm, jadi sedemikian sajakah penghargaan Hwa I Enghiong kepadaku? Aku telah mengundangnya, menjamunya, permintaannya untuk mengurangi hukuman para penjahat kuturuti, bahkan baru saja aku telah melepaskan dia dari bahaya maut sehingga tanganku berdarah. Dan sekarang hanya menemani minum tiga cawan arak saja dia tidak mau? "Ah"
Aku benar-benar telah merendahkan diri terlalu sekali""
Dengan amat pandai nya, tiba-tiba Cun Eng dapat mengeluarkan air mata dari kedua matanya dan nona cantik ini mulai menangis.
Tentu saja Ciang Le menjadi sibuk sekali "Ah, jangan kau berpikir bahwa aku memandang rendah kepadamu, nona."
Kemudian melihat nona itu tetap menangis, ia menghela napas.
"Baiklah, baiklah, aku menemaniku minum tiga cawan lalu aku pergi. Akan tetapi jangan mentertawakan kalau aku menjadi mabok karenanya!"
Cun Eng mengangkat mukanya dan dengan air mata masih membasahi pipinya, gadis itu tersenyum.
"Koko, kau baik sekali, terima kasih!"
Mau tak mau Ciang Le tersenyum juga melihat gadis ini.
Baru saja menangis, sudah tersenyum lagi dan diam-diam ia mengakui bahwa gadis ini benar-benar cantik dan menarik hati sekali.
Hanya sayang...
ah, ia mencela diri sendiri, mengapa ia menyayangkan?
Perduli apa dengan nona ini?
Ia tidak berhak memikirkannya.
Dengan langkah tetap Ciang Le lalu menghampiri bangkunya yang tadi dan duduk sambil menanti Cun Eng menuangkan arak ke dalam cawan.
"Hwa I Enghiong."
Kata Cun Eng sambil menukarkan cawannya sendiri dengan cawan Ciang Le.
"Baru sekarang aku bertemu dengan orang seperti engkau. Sayang sekali kau mau buru-buru pergi saja, sesungguhnya aku me rasa berbahagia kalau kau "
Suka tinggal untuk beberapa lama di sini atau"
Bahkan selama hidupmu tinggal bersamaku di sini.
Aku suka kepadamu, terus terang saja, aku suka sekali kepadamu.
Biarlah perpisahan ini akan selalu menjadi kenang kenangan, maka mari kita bertukar cawan.
Aku takkan melupakanmu, sahabatku yang baik."
Cun Eng mengangkat cawannya.
Ciang Le tak dapat menjawab.
Mukanya sudah menjadi merah karena jengah dan malu.
Kata-kata apa yang dapat ia ucapan terhadap pernyataan seperti itu?
Ia lalu mengangkat cawannya pula dan mereka minum arak itu dengan sekali teguk.
Kembali Cun Eng mengisi cawan cawan yang sudah kering.
"Cawan kedua ini untuk bersyukur bahwa kau telah terhindar dari pada bahaya maut!"
Karena hal itu memang betul-betul terjadi dan tidak ingin menyinggung perasaan nona itu, Ciang Le menurut saja dan minum pula araknya yang ke dua ini, kepalannya mulai terasa pening dan denyut darahnya makin cepat.
Celaka, pikirnya, maboklah aku?
Akan tetapi pemuda ini masih dapat mempergunakan lweekangnya untuk mengatur jalan darahnya dan memperkuat dirinya.
"Cawan ke tiga untuk pertemuan kita yang mesra ini"
Cun Eng mengangkat cawannya dan memandang kepada Ciang Le dengan, kerling mata demikian tajam dan senyum demikian menarik dan manisnya sehingga ketika Ciang Le mengangkat cawannya sendiri memandang kepada gadis itu, ia melihat seorang bidadari yang luar biasa eloknya berdiri di depannya!
Dengan kepala makin bingung dan tidak karuan, Ciang Le cepat-cepat menenggak araknya yang ke tiga.
Ia lalu menaruh cawan kosong itu di atas meja, menghela napas lega lalu menjura kepada Cun Eng dan berkata.
"Sekarang maafkan aku, nona. Aku harus pergi!"
Setelah berkata demikian, ia buru-buru membalikkan tubuhnya agar jangan melihat lagi senyum yang manis sekali dan kerling yang seakan-akan membetot semangatnya Itu.
Cun Eng tidak menahannya, bahkan tidak mengeluarkan sepatahpun kata-kata.
Akan tetapi gadis ini memandang kepada pemuda itu dengan senyum melebar ketika melihat betapa Ciang Le ketika membalikkan tubuh tadi tidak menuju keluar, bahkan menuju ke dalam rumah!
Kemudian, pemuda itu terhuyung-huyung dan hampir roboh kalau saja Cun Eng tidak cepat melompat dan memeluknya.
"Hati-hati, koko, kau nanti jatuh""
Tegurnya dengan senyum dikulum dan suara merdu dan halus.
Ciang Le benar-benar bingung Ada bau yang harum menusuk hidungnya, bukan bau arak tadi.
Tiba-tiba ia teringat bahwa ketika minum cawan kedua bau harum ini lebih keras lagi memasuki tenggorokannya.
Ah, celaka, pikirnya.
Tentu wanita ini telah mencampur racun di dalam arak yang diminumnya!
Ketika ia merasa betapa Cun Eng memeluknya, ia cepat memberontak dan membentak.
"Kau mencampuri apa dalam arak tadi""
Akan tetapi Cun Eng hanya tertawa-tawa saja dan terdengar ia berkata.
"Ah, kau mabok"
Kau lucu sekali, koko yang manis"!"
Kembali Cun Eng hendak memeluk karena tubuh Ciang Le bergoyang-goyang hendak jatuh.
"Kurang ajar, kau tentu meracuniku!"
Kata Ciang Le dan pemuda ini segera mengangkat tangan kanan untuk menampar muka nona itu.
Akan tetapi ternyata bahwa tenaganya telah menjadi lemah dan ketika Cun Eng meunduk kan kepala, tamparannya mengenai tempat kosong dan kini bahkan lengannya itu melingkari leher nona itu seperti orang yang memeluk kekasihnya!
"Kokoku yang manis..."
Kata pula Cun Eng sambil merangkul Cian Le dan ditariknya pemuda itu menuju ke kamarnya di bagian barat gedung.
Ciang Le seperti orang yang setengah pingsan, tidak ingat apa-apa dan dengan tersaruk-saruk setengah ditarik oleh Cun Eng, ia menurut saja dibawa ke dalam kamar bertirai halus itu.
Dua orang itu tidak tahu bahwa semenjak pertemuan dalam perjamuan tadi, telah ada bayangan orang yang mengintai mereka.
Bayangan ini adalah seorang kakek yang berpakaian sebagai seorang sasterawan dan yang berwajah sabar sekali.
Sungguh luar biasa gerakan kakek ini karena biarpun yang berada di dalam ruangan itu orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, namun tak seorangpun diantara mereka yang dapat mendengarkan gerakan kakinya.
Ketika Cun Eng merangkul Ciang Le yang sudah setengah pingsan dan mabok karena pengaruh obat yang dicampurkan dalam arak oleh Cun Eng, tiba-tiba datang lain bayangan menyambar dan mengintai.
Berbeda dengan bayangan pertama, yakni sasterawan itu, bayangan ke dua ini memandang ke dalam dengan mata bernyala-nyala.
Tak lama kemudian datang lagi seorang kawannya yang juga mengintai di sebelahnya.
Dua orang ini adalah dua orang kakek yang berpakaian pendeta dan berwajah sama.
Mereka saling pandang dengan muka merah dan seorang diantaranya berbisik...
"Kurang ajar sekali, Ciang Le! Benar-benarkah dia hendak mengecewakan kita dan demikian lemah menghadapi wajah cantik?"
Yang bicara ini adalah Te Lo-mo, sedangkan Thian Lo-mo hanya mengerutkan keningnya.
Memang dua orang yang baru datang ini adalah Thian Te Siang mo, guru dari Ciang Le yang selama ini diam-diam dan dari jauh mengikuti perjalanan murid mereka untuk melihat sepak terjangnya.
Ketika Ciang Le berada di rumah ketua Hek kin kaipang, kedua orang iblis tua ini merasa heran.
Mereka dulu pernah datang di tempat ini, yakni ketika mereka mengalahkan ketua dari Hek kin Kaipang dan membuka rahasia Bi Mo Ii dan Siang tung him sebagaimana yang telah dituturkan oleh Cun Eng kepada Ciang Le.
Thian Te Lo-mo lalu mengadakan penyelidikan di dalam kota dan mendengar bahwa kini Hek kin kaipang merupakan perkumpulan yang kuat dan bahkan membasmi kejahatan, mereka merasa lega.
Akan tetapi ketika dinanti sampai malam murid mereka belum juga keluar dari rumah itu, mereka merasa curiga dan segera melakukan penyelidikan.
Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi dan tahu-tahu mereka menyaksikan betapa dalam keadaan mabok, Ciang Le dirangkul dan dituntun oleh ketua Hek kin kaipang yang cantik dan genit itu memasuki kamarnya!
Thian Te Lo-mo menjadi marah sekali.
Mereka telah mendengar akan sifat-sifat cabul dan genit dari Kiang Pangcu, ketua Hek kin kaipang, dan kini melihat Ciang Le seperti melayani kehendak wanita ini, mereka menjadi kecewa sekali.
Yang amat mengherankan, biarpun kedua iblis tua ini amat lihai, juga tidak melihat adanya bayangan sasterawan tua yang mengintai di tempat itu, sebaliknya sasterawan itu dapat melihat mereka!
"Anak itu lebih baik mampus di tangan kita dari pada mencemarkan nama baik kita!"
Kata Te Lo-mo yang berwatak lebih keras dari pada kakaknya.
Akan tetapi sebelum mereka bergerak, tiba-tiba melayang bayangan yang gesit sekali bagaikan seekor burung garuda menyambar ke dalam kamar itu.
Thian Te Lo-mo terkejut dan merekapun lalu melarang turun.
Yang lebih kaget adalah Cun Eng.
Ia telah merasa girang sekali karena berhasil membikin Ciang Le tidak berdaya.
Gadis ini benar-benar jatuh hati kepada pemuda itu dan ia hendak berusaha membikin pemuda itu menjadi kekasihnya atau kalau mungkin, menjadi suaminya.
Ia percaya akan kecantikan dan kecerdikannya.
Biarpun pemuda ini keras hati, namun ia telah mendapat daya untuk membikin Ciang Le menurut kehendak hatinya.
Sambil membisik-bisikkan rayuan yang mesra, ia telah menarik pemuda yang telah lemas tak berdaya itu dan membaringkannya di atas pembaringannya yang indah.
Dan pada saat itu, ia melihat bayangan yang luar biasa gesitnya memasuki kamarnya.
"Kurang ajar, siapa kau berani masuk ke dalam kamarku?"
Bentak Cun Eng.
Ia tadinya mengira bahwa ini mungkin Bi Mo li yang telah dapat melepaskan diri dan hendak mengganggu Ciang Le.
maka ia telah mencabut sepasang goloknya dan berniat membunuh Bi Mo li yang dianggapnya terlalu sekali.
Akan tetapi ketika melihat bahwa yang datang dan yang kini telah berdiri di depannya dengan senyum mengejek itu adalah seorang laki-laki tua berpakaian sasterawan, Cun Eng tertegun.
Ia tidak kenal siapa orang ini.
"Siapakah engkau? dan perlu apa kau berlancang memasuki kamarku tanpa permisi?"
Sasterawan tua itu menuding ke arah Ciang Le dan berkata.
"Lohu datang hendak membawa dia keluar dari sini. Nona, namamu sebagai ketua Hek kin kaipang telah ternama dan terkenal sebagai seorang gagah yang tidak tercela, apakah kau sekarang hendak merusak namamu itu hanya karena ketampanan wajah seorang pemuda? Salah, kau salah..."
Setelah berkata demikian, sekali bergerak saja, sasterawan tua itu telah melompat ke dekat pembaringan Ciang Le dan di lain saat, pemuda itu telah dikempit di bawah lengan kirinya.
"Setan tua, lepaskan!"
Seru Cun Eng marah sekali.
"Siapakah kau berani sekali mencampuri urusanku? Sungguh tak bermalu!"
"Aku sudah tua, Nona. Memasuki kamar gadis seperti engkau, tak perlu aku malu-malu karena memang aku tidak bermaksud buruk terhadapmu. kaulah yang harus malu karena mengeram seorang pemuda yang berhati bersih!"
Dengan ucapan ini, sekali berkelebat saja kakek sastrawan ini telah melompat keluar dari kamar itu! "Bangsat jangan lari!"
Cun Eng mengejar dengan sepasang golok di tangan. Ketika sastrawan tua itu tiba di luar kamar, ia dihadang oleh Thian-te Siang-mo! "Aha, tidak tahunya Luliang Siucai yang telah mendahului kami!"
Kata Thian Lo-mo sambil menjura.
"Terima kasih bahwa kau telah menolong kami menangkap murid kami yang tak tahu malu ini."
Ia mengulur tangan hendak merampas tubuh Ciang Le dari kempitan Luliang Siucai, akan tetapi sastrawan ini mengibaskan lengan baju kanannya dan Thian Lo-mo hanya menangkap angin.
"Thian-te Siang-mo, aku justeru mendahului kalian agar kalian jangan membunuhnya,"
Katanya dengan halus.
"Peduli apa kau dengan urusan kami menghadapi anak murid kami? Apakah orang Lu-liang-san sekarang sudah tidak tahu aturan lagi dan suka memasukkan hidungnya ke dalam rumah tangga lain orang?"
Bentak Te Lo-mo dengan marah. Luliang Siucai, seorang diantara pelayan dari Pak Kek Siansu itu tersenyum sabar.
"Bukan mencampuri urusanmu, Siang mo. Soalnya ialah bahwa aku telah melihat sendiri betapa pemuda ini telah menolong seorang pemuda sasterawan. Oleh karena ini maka aku merasa menjadi kewajibanku untuk membalas budinya itu terhadap orang segolonganku."
Pada saat itu Cun Eng telah tiba di situ dan gadis ini terkejut bukan main ketika melihat Thian Te Siang mo berada di situ dan mendengar bahwa sasterawan tua yang merampas kekasihnya itu adalah Luliang Siucai, tokoh luar biasa yang sudah banyak dikenai namanya.
Siapakah orang di dunia kang ouw yang tidak mengenal nama Luliang Ciangkun.
Luliang Siucai, dan Luliang Nungjin, tiga tokoh utama berpakaian Perwira, Sasterawan, dan Petani, tiga orang murid dan pelayan dari Pak Kek Siansu, guru besar yang ditakuti oleh semua orang itu?
Melihat mereka ini, Cun Eng segera mengeluarkan jerit rahasia dari perkumpulannya dan sebentar saja terdengar suara kaki yang banyak sekali mendatangi tempat itu.
Pertama-tama yang muncul adalah Siang tung him dan Beng san kui.
Akan tetapi dua orang kakek tokoh Hek kin kaipang inipun berdiri tertegun dan tidak berani sembarangan bergerak ketika melihat Thian Te Siang mo.
Adapun Luliang Siucai mengeluarkan suara ketawa perlahan, kemudian mengenjot kedua kakinya dan bagaikan sesosok bayangan setan tubuhnya telah melayang keluar dari tempat itu sambil mengempit tubuh Ciang Le!
"Siucai tua bangka, lepaskan dia!"
Seru Thian Lo-mo dan diikuti oleh adiknya, ia lalu melompat mengejar.
Cun Eng dan dua orang kakek pembantunya itu tidak berani mengejar dan mereka hanya saling pandang dengan muka pucat.
Ketika para pemimpin Hek kin kaipang tingkat dua ke bawah datang berturut turut mendengar pekik tanda rahasia tadi.
Cun Eng dengan mendongkol dan kecewa sekali lalu membubarkan mereka.
Kemudian ketua dari Hek kin kaipang, nona cantik ini, lalu kembali ke dalam kamarnya menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis terisak-isak dengan amat sedih dan kecewanya!
"Siucai, benar-benarkah kau tidak mau melepaskan dia?"
Seru Te Lo-mo ketika dia dan kakaknya mengejar Luliang Siucai.
"Dia itu murid kami, tahukah kau? Apakah kau tidak malu melarikan murid orang lain?"
"Tidak ada guru yang hendak membunuh muridnya tanpa dosa!"
Kata Luliang Siucai sambil mempercepat larinya.
"Kau perduli apa? Lepaskan dia!"
Sambil berkata demikian.
Thian Lo-mo mengayun tangannya dan tujuh batang Kim-kong-touw kut-ciam (Jarum Penembus Tulang Bersinar Emas) melayang dengan amat cepatnya ke arah belakang tubuh kakek sasterawan itu mengarah jalan darah di tujuh tempat!
Luliang Siucai takkan patut disebut pelayan dan murid Pak Kek Siansu kalau ia roboh oleh serangan gelap ini, sungguhpun serangan ini agaknya takkan mudah dielakkan oleh sembarang tokoh persilatan.
Tanpa menoleh, kakek sasterawan itu meneebutkan lengan bajunya yang panjang dan lebar itu ke belakang tubuhna.
Bagaikan sehelai layar perahu tertiup angin keras, ujung lengan baju itu mengembang dan mengeluarkan angin, mengebut runtuh tujuh jarum itu.
Akan tetapi, kembali menyambar tujuh batang jarum, disusul lagi oleh tujuh batang yang lain berturut turut sebanyak tiga kali.
Luliang Siucai terkejut sekali Cepat ia mempergunakan ginkangnya untuk melompat jauh menghindarkan diri dari sambaran dua puluh satu batang jarum yang datang bagaikan hujan itu.
Baiknya di dekat situ terdapat sebatang pohon yang besar sekali sehingga ia cepat melompat ke balik pohon dan dengan sendirinya serangan jarum-jarum itu tertahan oleh pohon berikut dahan dan daun-daunnya.
Ketika Thian Te Siang mo mengejar ke balik pohon, kakek sasterawan itu telah menghilang di dalam gelap.
Sepasang iblis ini menyumpah-nyumpah dan memaki-maki.
Kalau saja mereka tidak jerih menghadapi Pak Kek Siansu, tentu mereka akan terus mengejar ke Luliang san.
Menghadapi tiga pelayan atau murid dari Pak Kek Siansu yakni Luliang Siucai, dan Luliang Nungjin saja mereka berdua masih sanggup untuk mengimbangi kepandaian mereka, akan tetapi biarpun kedua orang lihai ini belum pernah berhadapan sendiri dengan Pak Kek Siansu, namun mendengar nama guru besar itu mereka telah kuncup hatinya!
"Dasar kita yang bernasib buruki"
Te Lo-mo membanting banting kaki kanannya.
"Anak itu kita didik semenjak kecil, tidak tahunya sekarang ternyata hanya menjadi seorang pemuda pemogoran, pemuda hidung belang, mata keranjang yang kelak hanya akan mencemarkan nama kita saja!"
Thian Lo-mo yang lebih tenang dan sabar berkata.
"Belum tentu seburuk itu. Yang paling menggemaskan adalah Luliang Siucai itu. Dia bawa pergi murid kita mau apakah?"
"Hm, apalagi? Dia tentu tertarik melihat bakat yang baik pada diri Ciang Le dan hendak mengambilnya sebagai murid!"
Karena masih penasaran, kedua orang iblis ini lalu mendatangi rumah Cun Eng.
Tanpa permisi lagi mereka lalu melompat ke atas genteng dan Cun Eng ketika itu masih menangis tersedu sedu di dalam kamarnya ketika tahu-tahu ia mendengar suara angin dan ketika gadis ini mengangkat kepala, ternyata ia telah berhadapan dengan Thian Te Lo-mo!
Kalau dalam keadaan biasa, tentu gadis ini akan menjadi pucat ketakutan, karena ia sudah tahu sampai di mana kelihaian sepasang iblis ini yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.
Akan tetapi pada saat itu, Cun Eng sedang patah hati berduka, maka ia menjadi nekat dan tidak merasa takut sama sekali.
"Kalian datang apakah hendak membunuhku? Kalau demikian, lekas turun-tangan, aku tidak takut mati!"
"Hm, apa sukarnya membunuh orang seperti engkau? Akan tetapi, apa gunanya pula? Betapapun juga, kami sudah tahu akan sepak terjang Hek kin kai pang dan tidak ada alasan bagi kami untuk membunuhmu. Kami datang untuk minta penjelasan darimu. Mengakulah sejujurnya, apakah murid kami yang goblok ini betul-betul suka kepadamu, ataukah kau yang menipu dan membujuknya?"
Perih hati Cun Eng mendengar pertanyaan ini.
Ia tahu bahwa biarpun ia mencinta pemuda itu dengan seluruh hatinya, namun ia masih belum berani menentukan apakah pemuda yang keras hati itu akan sudi melayani dan menyambut cinta kasihnya.
Ia tersenyum pahit dan berkata.
"Jiwi totiang kalian ini dua orang-tua mengapa hendak mencampuri urusan orang-orang muda? Aku suka kepada Ciang Le dan dia tergila-gila kepadaku, kalian orang-orang-tua ini apakah tidak lebih baik lekas panggil dia kembali dan rebut dari tangan sasterawan gila itu agar kebahagian kami berdua takkan terganggu?"
"Betul-betul bangsat berhidung kerbau!"
Te Lo-mo memaki muridnya dan tanpa banyak cakap lagi kedua orang iblis ini lalu melompat dan pergi dari tempat itu.
Kembali Cun Eng menjatuhkan diri di atas pembaringan untuk melanjutkan tangisnya yang tadi terganggu oleh Thian Te Siang mo.
Inilah sebabnya mengapa Thian Te Siang mo menjadi kecewa sekali terhadap murid mereka dan ketika mereka mendengar tentang undangan terhadap orang-orang kang ouw yang dilakukan oleh Sam Thai Koksu di kota Cin-an mereka lalu datang mengunjungi, sebagian untuk menghibur hati mereka yang kecewa, juga untuk melihat siapa siapa saja diantara orang-orang kang ouw yang akan datang menghadiri undangan itu.
Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, Thian Te Siang mo bertemu dengan Liang Bi Lan, murid Hoa-san-pai yang muda, cantik manis, lincah dan cerdik itu.
Mari sekarang kita kembali menengok keadaan Bi Lan yang hadir di dalam taman besar di kota Cin-an di mana Sam Thai Kok su mengadakan perjamuan untuk menghormat orang-orang kang ouw yang hendak diajak berunding.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Bi Lan diajak duduk di bangku dekat panggung oleh Kim Kiok.
Sebetulnya, Bi Lan merasa tidak suka kepada wanita setengah tua yang masih genit ini, akan tetapi oleh karena ia tidak melihat orang yang dikenalnya di tempat itu, dan pula Kim Kiok berlaku ramah kepadanya terpaksa ia melayani ajakan kawan baru ini.
Makin banyak tamu yang datang memenuhi tempat itu Akan tetapi, menurut pandangan Bi Lan, sebagian besar orang-orang yang datang adalah orang-orang kang ouw yang kasar dan tidak seberapa tinggi kepandaiannya.
Tentu saja ada kekecualiannya, misalnya tiga orang yang semenjak ia masuk telah menarik perhatiannya, yakni kakek jembel, nenek yang kepalanya dibalut saputangan putih, dan Hwesio yang besar pendek itu.
Kemudian datang dua orang yang menarik perhatian karena mereka ini biarpun telah berusia kurang lebih lima puluh tahun, namun masih bertubuh kekar dan gagah, serta tindakan kaki mereka gesit sekali.
Orang pertama membawa pedang dan orang ke dua membawa tongkat bercagak.
Sam Thai Koksu menyambut kedatangan dna orang ini dengan muka berseri.
"Selamat datang, jiwi ciang bunjin (dua orang ketua) dari Hui-eng-pai! Sudah lama sekali kita tidak saling bertemu. Silakan duduk!"
Kata Kim Liong Hoat ong sambil berdiri dari bangkunya.
Semua orang mendengar disebutnya Hui-eng-pai, menjadi tertarik dan memandang kepada dua orang yang baru datang itu.
Juga Bi Lan terkejut dan memperhatikan.
Ia sudah lama mendengar nama Hui-eng-pai sebagai perkumpulan yang amat ditakuti dan terkenal sekali di Pegunungan Tapie san.
Tepat seperti dugaan Bi Lan tentang orang-orang yang paling lihai yang berada di situ, orang-orang yang dipersilakan duduk di meja kehormatan, yakni yang berada di panggung, adalah kakek jembel tadi, Hwesio yang besar pendek itu, dan nenek tua yang kepalanya dibalut saputangan putih.
Ketika tadi Kini Liong Hoat ong mempersilakan nenek itu untuk duduk di meja kehormatan, nenek itu menerima baik akan tetapi menuntut agar supaya dua orang muda laki-laki dan wanita yang datang bersama dia dan yang disebut sebagai murid-muridnya itupun diperkenankan duduk di tempat itu!
Oleh karena jumlah orang yang menduduki tempat kehormatan kini banyak sekali, maka terpaksa dinaikkan sebuah meja lagi dan tempat kehormatan itu dipecah menjadi dua meja yang dikelilingi korsi korsi atau bangku bangku berukir yang mewah.
Agar jelas, maka baik diterangkan bahwa yang menduduki tempat kehormatan di atas panggung itu adalah Kim Liong Hoat ong, Gin Liong Hoat ong, dan Tiat Liong Hoat ong sebagai tuan rumah, yaitu ketiga Sam Thai Koksu.
Kemudian sebagai tamu-tamunya adalah nenek itu yang kemudian ternyata adalah seorang tokoh besar dari barat yang hanya diketahui shenya saja, yaitu she Liu.
Oleh karena itu, ia di sebut Liu Toanio dan berjuluk Siu kun (Kepalan Sakti).
Pemuda dan pemudi itu adalah enci adik yang menjadi muridnya, yang perempuan bernama Liok Hui berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berwajah cantik dan pendiam sehingga nampak keren sekali, yang laki-laki bernama Liok San berusia dua puluh lima tahun.
Ke tiganya adalah tokoh-tokoh Kwan im pai.
Kakek jembel yang selalu nampak mengantuk dan melenggut saja itu juga bukan orang sembarangan, karena dia ini adalah Bu Eng Lokai (Pengemis Tua Tanpa Bayangan) seorang hiapkek (pendekar) perantau yang sudah banyak membikin pusing kepala para pembesar Kin karena melakukan hal hal yang menggemparkan dan menentang tindakan sewenang wenang dari pemerintah Kin.
Hwesio gemuk pendek itu bukan lain adalah tokoh ke dua dari Go-bi-pai bernama Bu It Hosiang, yang menurut pengakuan Cu Bi adalah guru pemuda ini.
Akan tetapi benar-benar aneh karena pada saat itu, pemuda ini sama sekali tidak pernah memperlihatkan diri.
Bagi yang mengetahui, tentu tidak aneh karena memang Cu Bi telah diusir oleh Bu It Hosiang dan karenanya orang muda ini tidak berani memperlihatkan hidungnya kepada bekas suhunya.
Siapakah dua orang yang baru datang itu tadi, yang disebut oleh Kim Liong Hoat ong sebagai ketua ketua dari Hui-eng-pai?
Tentu pembaca masih ingat karena dua orang ini bukan lain adalah Suma Kwan Seng dan Suma Kwan Eng, ketua pertama dan ke dua dari Hui-eng-pai yang lihai.
Demikianlah, ada sepuluh orang duduk di atas panggung itu, dan semua tamu memandang kearah mereka dengan penuh keseganan karena semua itu adalah orang-orang terkemuka.
Bi Lan juga memandang dengan penuh perhatian, dan karena kebetulan sekali Kim Kiok mengajaknya duduk di dekat panggung, maka ia berada di bawah tokoh-tokoh besar itu dan dapat mendengarkan percakapan mereka.
"Mengapa jiwi hanya datang berdua? Di mana adanya Sam paicu?"
Ditanya tentang orang ketiga, yaitu adik seperguruan mereka. Suma Kwan Eng menjadi muram mukanya.
"Sute kami Ciu Hoan Ta telah celaka dalam tangan orang-orang Hoa-san-pai."
Mendengar nama Hoa-san-pai disebut sebut, Bi Lan memasang telinga dengan penuh perhatian.
"Apa yang telah terjadi?"
Tanya Kim Liong Hoat ong.
"Bagaimana Ciu Enghiong sampai bentrok dengan orang-orang Hoa-san-pai?"
"Ah, tak perlu diceritakan, karena hanya akan memanaskan perut, Toa koksu,"
Kata Suma Kwan Seng kepada Kim Liong Hoat ong.
"Suteku itu telah tewas karena keroyokan orang-orang Hoa-san-pai tetapi biarlah, akan datang masanya kami berdua membalas dendam kepada keparat-keparat Hoa-san-pai itu!"
Bukan main marahnya Bi Lan mendengar partainya dimaki-maki orang, wajahnya menjadi merah sekali dan sepasang matanya yang bening itu memancarkan cahaya berapi, Kim Liong Hoat ong mengerling ke arah Bi Lan dan tuan rumah ini merasa tidak enak juga mendengar ketua Hui-eng-pai itu memaki-maki Hoa-san-pai yang pada saat itu diwakili oleh seorang nona yang kebetulan sekali duduknya begitu dekat!
"Harap Suma ciangbunjin jangan terlalu keras mengeluarkan celaan, karena pada waktu ini ada pula seorang wakil dari Hoa-san-pai yang hadir..."
Katanya perlahan.
Akan tetapi pada saat itu, sebelum Suma Kwan Seng dan Suma Kwan Eng yang telah menjadi marah itu bertanya di mana adanya wakil Hoa-san-pai, tiba-tiba Bu It Hosiang yang duduknya berhadapan dengan dua orang ketua Hui-eng-pai itu, telah menggebrak meja di depannya sehingga cawan cawan arak berlompatan ke atas.
"Memang sungguh menjemukan sekali orang-orang Hoa-san-pai! Pantas saja jiwi merasa sakit hati. Pinceng sendiri kalau hari ini melihat seorang diantara mereka berada di sini, akan pinceng beri tempelengan tiga kali pada batok kepalanya!"
Kim Liong Hoat ong dan dua orang adiknya saling pandang dan mereka merasa makin tidak enak.
Sesungguhnya, tiga orang guru negara ini amat licin dan cerdik di samping kepandaian silat mereka yang tinggi.
Pada waktu itu, perlawanan rakyat secara sembunyi sembunyi terhadap pemerintah Kin tiada hentinya dilakukan oleh patriot patriot Bangsa Han.
Biarpun secara resmi Tiongkok bagian utara diduduki oleh pemerintah Kin namun rakyat yang tidak merelakan tanah airnya dikuasai penjajah, selalu mendatangkan rongrongan berupa pemberontakan-pemberontakan, pengacauan-pengacauan dan perlawanan terhadap pemerintah Kin.
Sam Thai Koksu maklum bahwa biarpun pemberontakan-pemberontakan ini bersumber pada semangat rakyat jelata yang tidak mau dijajah, namun tanpa pimpinan orang-orang pandai pemberontakan-pemberontakan itu takkan berarti apa-apa.
Oleh karena inilah, maka Sam Thai Koksu telah merendahkan diri untuk mengundang dan menghubungi orang-orang kang ouw.
Kalau jalan "mempererat"
Hubungan dengan mereka ini tidak berhasil, masih ada jalan lain, yaitu mengadudombakan mereka!
Oleh karena inilah, biarpun pada wajah mereka kelihatan perasaan tak senang dan tidak enak mendengar kedua pimpinan Hui-eng-pai dan Hwesio tokoh Go-bi-pai itu memaki-maki Hoa-san-pai, namun di dalam hati tiga orang tokoh pembesar Kin ini diam-diam tertawa dengan puas.
Hoa-san-pai telah mereka kenal sebagai partai persilatan yang besar dan berpengaruh.
Demikian pula Go-bi-pai.
Adapun Hui-eng-pai juga merupakan partai liar yang amat kuat, maka kalau sampai terjadi bentrokan antara tiga partai ini, hai itu hanya mendatangkan kepuasan dan sesuai benar dengan siasat siasat pemerintah Kin!
Kini menghadapi Bu It Hosiang yang kelihatannya berangasan itu, Kim Liong Hoat ong bermaksud "menyiram"
Api itu dengan minyak.
Akan tetapi sebagai seorang yang pandai dan berpengalaman, ia tidak mau berpihak, tidak mau kalau sampai terlibar di dalam bentrokan itu.
Maka seperti tak disengaja dan karena memang tertarik ingin mengetahui Kim Liong Hoat ong bertanya kepada Bu It Hosiang.
"Bu It Losuhu, sebetulnya mengapakah kau marah marah kepada Hoa-san-pai? Bukankah sepanjang pendengaran kami, Hoa-san-pai adalah partai persilatan besar dan nama-nama seperti Lian Gi Tojin, Liang Bi Suthai, Liang Tek Sianseng, dan Tan Seng taihiap sudah amat terkenal sebagai orang-orang gagah di dunia kang ouw?"
Bi Lan ikut membuka telinga baik-baik. Diam-diam ia suka kepada Kim Liong Hoat Ong yang memuji muji nama guru-gurunya.
"Bah, orang-orang gagah di dunia kang ouw? Mereka itu, terutama Liang Bi Suthai, adalah orang-orang sombong yang mengandalkan kepandaian sendiri untuk menghina orang! Baru beberapa hari yang lalu, kalau tidak suhu berhati murah, nenek sombong itu tentu sudah pinceng hajar mampus!"
Hampir saja Bi Lan membuka mulutnya untuk membalas dampratan Hwesio gemuk pendek itu, akan tetapi ia didahului oleh Kim Liong Hoat Ong yang bertanya kepada Bu It Hosiang.
"Sebenarnya apakah yang telah terjadi antara losuhu dengan Liang Bi Shuthai?"
Bu It Hosiang tadi sudah mendengar bahwa di situ terdapat seorang wakil Hoa-san-pai, karena tadi ia telah menengok ke sana ke mari dan tidak melihat adanya seorang diantara empat tokoh Hoa-san-pai ia menduga bahwa yang datang tentulah seorang anak murid yang tidak mempunyai kedudukan berarti.
Maka ia tidak ambil perduli dan bahkan sengaja menuturkan kejadian itu untuk memberi tahu kepada semua yang mendengarnya betapa sombong nenek dari Hoa-san-pai itu.
"Liang Bi Suthai, nenek sombong Hoa-san-pai itu belum lama ini dengan beraninya, mengandalkan kesombongannya, telah naik ke Go bi dan menemui kami,"
Ia mulai menutur dengan singkat.
"Dengan kata-katanya yang kasar ia menuduh bahwa seorang murid kami berbuat jahat. Nenek itu telah membunuh seorang anak murid Go-bi-pai, kemudian ia datang bukan untuk minta maaf kepada suhu, melainkan mengeluarkan kata-kata kasar, siapa yang dapat menahan sabar lagi? Suteku, Tiauw It Hosiang karena masih muda tak dapat menahan sabar lagi lalu menyerangnya, akan tetapi Tiauw It sute yang masih muda itu tentu saja tidak dapat menang. Setelah pinceng turun-tangan barulah nenek bawel itu dapat kukalahkan. Tadinya pinceng hendak membalas kematian anak murid kami, sayangnya suhu yang berhati penuh welas asih itu mencegahku dan mengampuni nenek bawel itu, membiarkan nenek bawel itu pergi tanpa mengganggunya. Bahkan suhu telah memberi obat kepada nenek yang telah kulukai itu. Nah, cuwi (tuan-tuan sekalian) pikir, bukankah Liang Bi Suthai si nenek bawel itu benar-benar sombong sehingga bebani dia datang menjual lagak di tempat kami?"
Bi Lan terkejut sekali dan juga marah, tahu bahwa setelah Tiauw It Hosiang dahulu itu datang mengacau di Hoa-san-pai dan ia kalahkan, gurunya wanita itu memang hendak pergi ke Go-bi-pai untuk mendamaikan urusan perselisihan itu dengan ketua Go-bi-pai, Kian Wi Taisu.
Menurut penuturan Hwesio gendut ini, ternyata gurunya itu telah mengalami kekalahan di puncak Go bi!
Tentu saja Bi Lan dan juga semua orang tidak tahu duduknya perkara yang sesungguhnya.
Memang di dunia ini siapakah orangnya yang dapat menginsafi kekeliruan sendiri dan mengemukakan kebenaran lain orang yang bermusuhan dengan dia?
Tak terkecuali Bu It Hosiang.
Penuturannya tadi memang berat sebelah dan ia menimpakan semua kesalahan pada Liang Bi Suthai.
Agar jelas, mari kita meninjau sebentar apa yang telah terjadi di puncak Go-bi-pai itu beberapa hari yang lalu.
Sebagaimana telah dituturkan di depan Liang Bi Suthai berangkat seorang diri mengunjungi Go-bi-pai untuk bertemu dengan ketua Go-bi-pai, Kian Wi Taisu, guna membicarakan perselisihan yang timbul antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai, juga untuk menegur Kian Wi Taisu berhubung dengan sepak terjang anak murid Go-bi-pai dan yang akhir akhir ini tentang pengacauan Tiauw It Hosiang di Hoa san.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, Liang Bi Suthai sebentar saja sudah berada di puncak Go-bi-san dan menghadap Kian Wi Taisu.
Ia diterima oleh ketua Go-bi-pai itu di mang berlatih silat di kelenteng Go-bi-pai, di mana Kian Wi Taisu, dan murid-muridnya telah duduk menantinya.
Di ujung ruangan lian bu thia (tempat berlatih silai) itu, nampak Kian Wi Taisu duduk di atas sebuah bangku.
Sikapnya dingin dan angker.
Hwesio yang sudah tua sekali ini menegangi tongkat Hwesionya yang berat dan panjang.
Para Hwesio pengurus yang menjadi murid-murid dan cucu cucu muridnya berdiri dengan sikap sopan di kanan kiri dan belakangnya.
Tokoh ke dua dan ke tiga dari Go-bi-pai, yakni Bu It Hosiang dan Tiauw It Hosiang, berdiri di sebelah kiri guru besar itu.
Melihat sikap Hwesio Hwesio itu yang amat dingin menyambut kedatangannya, hati Liang Bi Suthai merasa tidak enak, akan tetapi ia tidak merasa jerih dan terus menghampiri Kian Wi Taisu sambil memberi hormat.
Ia tidak tahu bahwa Kian Wi Taisu telah dibikin panas hatinya oleh Tiauw It Hosiang muridnya.
Karena menaruh hati dendam atas kekalahannya terhadap murid termuda dari Hoa-san-pai di puncak Hoa san, Tiauw It Hosiang lalu mengadu kepada gurunya.
Ia menceritakan betapa seorang anak murid telah terbunuh oleh Liang Bi Suthai, dan bahwa ketika ia naik ke Hoa san untuk menegur, ia dikalahkan pula oleh seorang anak murid Hoa-san-pai.
Kian Wi Taisu adalah seorang tokoh besar Go-bi-pai yang memiliki kepandaian tinggi sekali, namun ia tetap seorang manusia biasa dari darat dan daging, oleh karena itu iapun belum dapat melepaskan jiwanya dari pada sifat memilih.
Sudah tentu saja ia lebih berat kepada anak-anak muridnya dan lebih percaya kepada Tiauw It Hosiang, sehingga ketika mendengar penuturan muridnya itu, diam-diam ia merasa mendongkol juga.
Akan tetapi ia telah dapat memiliki kesabaran besar, maka ia hanya berpesan agar supaya para muridnya jangan sekali kali mencari permusuhan lagi dengan orang-orang Hoa-san-pai.
Kini tiba-tiba Liang Bi Suthai muncul, tentu saja diam-diam Kian Wi Taisu menjadi makin gemas.
Ia menerima kedatangan nenek Hoa-san-pai ini dengan muka dingin dan pandang mata penuh selidik.
"Harap Tai suhu suka memaafkan kelancanganku datang menghadap tanpa memberi tahu lebih dulu,"
Kata Liang Bi Suthai dengan tenang, setelah ia memberi hormat ia tidak memberi hormat secara berkelebihan, karena biarpun Kian Wi Taisu memiliki kedudukan tinggi dalam partai Go-bi-pai, Liang Bi Suthai merasa bahwa kedudukannya setingkat.
Biarpun ia bukan pemeluk Agama Buddha melainkan seorang pendeta wanita Agama To kau w namun kedudukannya di Hoa-san-paipun terhitung paling tinggi.
"Hm, bagus, Liang Bi Suthai. Baik kau datang, karena bukankah kedatanganmu ini akan minta maaf atas kesalahan tangan membunuh seorang murid kami dan hendak mendamaikan urusan ini?"
Tanya Kian Wi Taisu.
Sebetulnya memang Hwesio tua ini sudah merasa lega juga melihat kedatangan nenek ini, di samping perasaan mendongkol.
Kalau saja orang Hoa-san-pai mau datang minta maaf, iapun akan menghabiskan urusan itu.
Sebagai seorang pemimpin partai besar, Kian Wi Thaisu dapat tahu juga bahwa anak murid Go-bi-pai yang terbunuh oleh nenek ini bukanlah seorang murid yang baik, bahkan boleh dibilang seorang murid yang murtad dan menyeleweng.
Akan tetapi, ucapan ketua Go-bi-pai tadi membangkitkan kerut merut pada kening Liang Bi Suthai.
Nenek ini memang terkenal berwatak berangasanan keras hati, ia datang hendak menegur Kian Wi Taisu atas sepak terjang murid-muridnya, tidak tahunya ia bahkan diharapkan datang untuk minta maaf!
"Tidak salah dugaanmu bahwa aku datang untuk mendamaikan urusan, akan tetapi sekali kali bukan dari fihakku yang harus minta maaf.
Aku bukan seorang yang gila akan pujian akan tetapi kalau hendak dibicarakan tentang maaf, Pihak Go-bi-pailah yang seharusnya minta maaf!"
Sepasang mata Kian Wi Taisu memancarkan sinar kilat.
Ia telah bertahun-tahun dapat menahan kesabarannya karena memang di puncak Go-bi-san itu tidak pernah ada urusan sesuatu yang dapat membangkitkan marahnya.
Kini menghadapi Liang Bi Suthai, kemarahannya timbul bagaikan seekor harimau tidur dibangunkan.
"Liang Bi Suthai, kalau kau tidak mau minta maaf, apakah kau anggap bahwa pembunuhanmu terhadap anak murid kami, dan perlakuanmu terhadap muridku Tianw It ketika ia pergi ke Hoa san, apakah semua itu kau anggap sudah tepat dan betul?"
Liang Bi Suthai tidak takut dan menentang sinar mata Hwesio tua itu.
"Mengapa tidak betul? Dengarlah, Kian Wi Taisu. Murid Go-bi-pai yang terbunuh olehku itu adalah seorang penjahat cabul yang amat kejam! Aku membunuhnya bukan mengingat bahwa dia murid Go bi, melainkan berdasar kejahatannya dan untuk menolong wanita wanita dari gangguannya. Salahkah itu? Kemudian, muridmu Tiauw It Hosiang ini yang mengandalkan kepandaiannya, menyerbu ke Hoa-san-pai di mana ia menghina murid-murid kami. Akhirnya datang muridku yang termuda dan Tiauw lt Hosiang dikalahkan oleh muridku yang termuda itu! Salah pulakah ini?"
Tiba-tiba terdengar seman keras dan Tiauw It Hosiang meloncat maju sumbil membentak.
"Setan perempuan, kau hendak berlaku sombong di sini?"
Sambil berkata demikian, Tiauw It Hosiang sudah menyerang dengan jari telunjuk tangan kanannya yang dituruskan ke atas!
Datang datang Tiauw It Hosiang ini sudah hendak mempergunakan ilmu pukulan It ci sinkang yang terkenal.
Liang Bi Suthai maklum akan berbahayanya serangan It ci sinkang ini, maka cepat ia mengelak ke kiri sambil berkata kepada Kian Wi Taisu.
"Kian Wi Tai suhu, beginikah kelakuan murid-muridmu terhadap seorang tamu?"
Nenek yang keras hati ini tidak menanti sampai Hwesio tua itu menjawab, kemudian secepat kilat ia lalu membalas serangan Tiauw It Hosiang dengan ilmu pukulan yang bertubi tubi dilakukan dengan kedua tangannya.
Liang Bi Suthai adalah ahli silat tangan kosong yang paling lihai diantara saudara-saudaranya, maka serangannya ini hebat sekali sehingga biarpun Tiauw It Hosiang sudah berusaha menangkis, namun tetap saja Hwesio ini terdesak mundur dengan hebat dan angin pukulan yang bertenaga kuat itu membuat Tiauw It Hosiang terhuyung-huyung!
Tiba-tiba dari samping menyambar angin pukulan yang sekaligus menolak pukulan Liang Bi Suthai.
Nenek ini terkejut karena tangkisan itu benar-benar kuat sekali.
Ketika ia memandang, ternyata yang menangkis itu adalah Bu It Hosiang yang menolong sutenya.
"Hm, Bu It Hosiang apakah kau juga sedogol sutemu?"
Kemudian nenek ini berkata kepada ketua Go-bi-pai.
"Tai suhu, benar-benarkan kau hendak menghina seorang tamu dari Hoa-san-pai? Apakah benar-benar kau tidak ingat dan tidak mau tahu lagi bahwa kita semua sebenarnya berasal dari satu sumber?"
Kian Wi Taisu tersenyum dingin.
"Memang sukarlah bagi seseorang untuk menyadari, Liang Bi Suthai. kau menyalahkan kami, akan tetapi kau tidak ingat bahwa betapapun besar kejahatan seorang anak murid kami, namun kau sama sekali tidak berhak untuk membunuhnya! Kalau memang benar anak murid Go-bi-pai jahat, mengapa kau tidak menegurku sehingga kami dapat turun-tangan sendiri? Mengapa tahu-tahu kau telah membunuhnya? Itu adalah kesalahan besar sekali. Kemudian sekarang kau mengejek kami karena Tiauw It telah menyerangmu. Apakah kau tidak ingat lagi betapa Tiauw It ketika menjadi tamu di gunungmu, juga kau telah menyerangnya dengan murid-muridmu sehingga ia kalah?"
Liang Bi Suthai tidak mengira bahwa ketua Go-bi-pai ini demikian pandai bicara, ia lalu memandang tajam dengan sikap menantang.
"Kalau begitu, kalian hendak mengambil keputusan bagaimanakah? Aku bersedia melayani, memang sudah lama aku ingin sekali menyaksjkan sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian dari Kian Wi Taisu ketua Go-bi-pai!"
Kian Wi Taisu tertawa dan ia mengetuk ngetukkan tongkatnya di atas lantai.
"Liang Bi Suthai, biar suhengmu sendiri, Liang Gi Cinjin, masih belum cukup kuat untuk menguji kepandaianku. Apalagi kau ! Bu It, coba kau layani tamu kita ini main-main sebentar!"
Hal ini memang sudah sejak tadi dikehendaki oleh Bu It Hosiang, maka ia segera melangkah maju menghadapi nenek Hoa-san-pai itu.
Hwesio pendek besar ini lalu mengeluarkan sebatang toya kuningan dan sambil tersenyum mengejek ia berkata.
"Liang Bi Suthai, cobalah kau layani toyaku ini beberapa jurus untuk menambah kebodohanku!"
Liang Bi Suthai sudah marah sekali Dengan muka merah ia menjawab.
"Hwesio kasar, tak perlu banyak cakap lagi,"
Lalu tiba-tiba ia mengayun tangan kacaunya menampar ke arah dada Hwesio itu Bu It Hosiang cepat mengelak dan di lain saat, toyanya sudah menggempur ke arah kepala Liang Bi Suthai.
Keistimewaan nyonya tua ini memang terletak pada kedua tangan dan kedua ujung lengan bajunya yang panjang dan yang ia pergunakan sebagai sepasang senjata pendek, maka ia tak pernah mempergunakan senjata dalam pertempuran.
Dengan ginkangnya yang tinggi, biarpun bertangan kosong, ia tidak gentar menghadapi lawan yang bersenjata.
Akan tetapi, menghadapi Bu lt Hosiang murid tertua dari Kian Wi Taisu dan tokoh ke dua dari Go-bi-pai, ternyata ia telah menemui tandingan yang setimpal.
Keduanya mengerahkan kepandaian masing-masing dan sebentar saja tubuh kedua orang-tua ini lenyap terbungkus gulungan sinar toya yang diputar cepat sekali oleh Bu It Hosiang.
Menonton pertempuran yang hebat ini, hanya Tiauw It Hosiang dan Kian Wi Taisu saja yang dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan jelas dan diam-diam Kian Wi Taisu mengagumi ilmu silat tangan kosong dari tokoh Hoa-san-pai itu.
Akan tetapi oleh karena senjata toya lebih berat dan panjang dari pada senjata sederhana berupa ujung lengan baju, setelah bertempur seratus jurus lebih, tiba-tiba terdengar suara keras dan kedua orang itu melompat mundur.
Bu It Hosiang terkejut sekali melihat senjata toyanya telah patah menjadi dua, akan tetapi Liang Bi Suthai terhuyung dengan wajah pucat dan bibirnya menjadi merah karena dari mulutnya mengeluarkan darah!
Ternyata bahwa tadi ujung toya Bu It Hosiang berhasil menyodok dada nenek itu, yang cepat mengerahkan lweekangnya dan "menggunting"
Dengan kedua lengannya. Biarpun ia berhasil dapat mematahkan toya itu, namun tetap saja bagian atas dadanya, dekat pundak kanan telah tersodok toya dan ia menderita luka di dalam tubuh yang lumayan.
"Kepandaian Bu It Hosiang benar-benar lihai,"
Nenek itu menjura sambil menahan sakit.
"Liang Bi Suthai,"
Kata Kian Wi Taisu menyesal.
"Ketika Tiauw lt pergi ke Hoa san, ia telah menderita luka di dalam tubuhnya. Sekarang kau datang ke sini, luka pula. Ah, aku menyesal sekali. Biarlah pinceng memberi obat untuk menyembuhkan lukamu."
Sambil berkata demikian, Kian Wi Taisu merogoh kantong jubahnya dan memberi tiga butir pil merah kepada Liang Bi Suthai. Akan tetapi nenek ini menjura kepadanya dan berkata.
"Tai suhu mulia sekali, akan tetapi ketika Tiauw It Hosiang terluka di Hoa san, iapun menolak obat dari Hoa-san-pai. Apakah sekarang aku ada muka untuk menerima obat dari Go-bi-pai? Tidak, terima kasih dan sampai jumpa pula!"
Setelah berkata demikian,, Liang Bi Suthai lalu pergi meninggalkan tempat itu.
*** Demikianlah peristiwa jang terjadi di puncak Go-bi-san, di kelenteng dari partai Go-bi-pai.
Tentu saja Bu It Hosiang yang kini hadir di dalam taman raya di kota Cin-an, tidak menceritakan semua dengan jelas.
Namun penuturannya itu, kecuali kepada Bi Lan yang menjadi marah sekali, membuat semua tamu menarik kesimpulan bahwa Liang Bi Suthai benar-benar sombong.
"Memang terlalu sekali orang-orang Hoa-san-pai!"
Kata Suma Kwan Eng, ketua nomor dua dari Hui-eng-pai.
"Mereka itu baru tahu rasa kalau sudah diberi hajaran. Karena itu, setelah selesai menghadiri pertemuan di sini kami berdua juga hendak menuntut balas atas kematian sute kami di Hoa san! Orang she Tan itu harus menebus kematian sute!"
Wajah Bi Lan sebentar pucat sebentar merah saking marah dan mendongkolnya.
Akan tetapi gadis ini maklum bahwa ia menghadapi banyak sekali orang pandai yang sukar untuk dilawan, oleh karena itu, gadis ini memutar otaknya dan tidak berani berlaku secara sembrono.
Ia telah mengambil keputusan untuk memperkenalkan diri agar orang-orang itu tidak membuka mulut seenaknya saja, akan tetapi baru saja ia berdiri, terdengar Bu It Hosiang bertanya kepada Satu Thai Koksu.
"Pinceng tadi mendengar bahwa di sini hadir pula anak murid Hoa-san-pai. Yang manakah dia? Menurut pinceng, agar jangan sampai pertemuan ini dikotori oleh orang sombong, wakil Hoa-san-pai itu disuruh meninggalkan tempat ini saja!"
Pada saat itu, dari bawah panggung berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tahu-tahu Bi Lan sudah berdiri menghadapi tokoh-tokoh besar yang mendapat tempat duduk istimewa itu.
Karena gadis ini langsung menghampiri Bu It Hosiang sambil memandang dengan senyum mengejek dan mata tak berkedip, Hwesio ini membentak.
"Anak kurang ajar, siapa kau?"
"Dia inilah wakil dari Hoa-san-pai,"
Kata Kim Liong Hoat Ong yang diam-diam merasa girang karena ia mengharapkan mereka semua itu saling bentrok dan bermusuhan, sungguhpun pada lahirnya ia seakan-akan menjadi orang yang mendamaikan.
Bu It Hosiang tertegun, demikian juga kedua orang saudara Suma dari Hui-eng-pai.
Melihat bahwa wakil dari Hoa-san-pai hanya seorang nona muda sekali yang cantik jelita dan nampak lemah, mereka tentu saja memandang rendah.
"Ah, kalau nona ini yang mewakili Hoa-san-pai, biar sajalah jangan disuruh pergi. Kasihan dong nona manis yang masih muda ini. Biarlah memandang mukanya, kami mengalah dan menberi ampun. Baiknya dia diberi tempat duduk di atas panggung sehingga semua orang dapat melihatnya,"
Kata Suma Kwan Eng.
Ucapan ini sebenarnya selain memperolok-olok, juga memandang rendah dan menghina sekal, di samping sifatnya yang membuktikan nilai watak orang yang bicara.
Akan tetapi, banyak juga yang tertawa gembira dan menyatakan setuju!
Demikianlah watak orang-orang lelaki yang pada dasarnya memang gila kecantikan apa bila melihat seorang nona cantik.
Memang sedari tadi, Bi Lan telah dijadikan sasaran banyak sekali mata laki-laki yang hadir di tempat itu!
Bi Lan tersenyum manis sehingga dekik pipinya nampak nyata ketika ia menjura kepada Suma Kwan Eng.
"Terima kasih, kau baik sekali, pantas saja kau masih hidup, tidak seperti sutemu itu yang pendek usia."
Kalau tadi wajah Suma Kwan Eng penuh dengan seri mentertawakan, kini tiba-tiba berobah cemberut dan keningnya berkerut.
Sudah biasanya, kalau orang suka memperolok orang lain di depan umum dia sendiri tidak suka dipermainkan orang.
Akan tetapi sebelum Suma Kwan Eng menjawab, Bu It Hosiang sudah berdiri dan menghadapi Bi Lan.
Pendeta gundul ini memandang tajam penuh perhatian.
Ia tidak memandang gadis ini serendah pandangan kedua saudara Suma itu, karena ia teringat akan penuturan sutenja yang katanya kalah oleh gadis muda murid Hoa-san-pai.
"Apakah kau yang telah melukai suteku Tiauw It Hosiang?"
Tanyanya. Bi Lan menghadapi Hwesio tua ini dengar senyum manis, sungguhpun hatinya gemas sekali memikirkan bahwa Hwesio ini telah melukai Liang Bi Suthai.
"Siapa sih Tiauw It Hosiang itu?"
Ia balas bertanya dengan pandangan mata lucu. Bu It Hosiang meraba tongkatnya yang lihai.
"It ci sinkang Tiauw It Hosiang hanya seorang saja, yaitu suteku dari Go-bi-pai. kau kah yang dulu di puncak Hoa san telah melukainya?"
Bi Lan beraksi seakan-akan ia berpikir keras kemudian dengan muka lucu ia berkata.
"Aku tidak tahu apakah namanya It ci sinkang Tiauw It Hosiang atau bukan. Yang aku tahu hanyalah seekor kepiting gundul yang lucu sekali. Eh, Bu It Hosiang, kalau waktu itu kau berada di sana, kau tentu takkan dapat menahan ketawamu karena geli. Aku benar-benar masih ingin tertawa terpingkal pingkal kalau mengenangkan kepiting gundul itu. Ia menari-nari kepiting, beginilah!"
Lalu gadis ini membuat gerakan dengan kedua jari telunjuk di mainkan, seperti kepiting merayap. Orang-orang yang hadir di situ tertawa bergelak melihat sikap yang lucu ini.
"Nah, apakah kau mau bilang bahwa kepiting gundul itu sutemu?"
"Gadis kurang ajar! kau berani mempermainkan tokoh-tokoh Go-bi-pai demikian rupa? Apakah kau sudah bosan hidup?"
"Bosan hidup? Kalau aku bosan hidup, aku akan menutup hidung dan mulutku dengan tangan, menahan napas dan"
Nah, apakah kau kira aku dapat bernapas lagi? Tidak, Hwesio tua aku masih suka sekali hidup.!"
Jawaban Bi Lan terang sekali hendak mempermainkan Hwesio itu.
"Setan cilik, mengakulah bahwa kau yang melukai suteku,"
"Bukan aku yang melukai, adalah kepiting gundul itu sendiri yang cari penyakit. Kalau di dalam laut, ia boleh beraksi mengulur kaki kakinya yang panjang. Akan tetapi ia menari di darat dan kebetulan sekali pada waktu itu aku dan guru-guruku ingin makan telur kepiting. Aku berusaha menangkap kepiting untuk dimasak, eh, dia hendak menyapit, tentu saja kuketok kepalanya. Begini!"
Gadis itu membuat gerakan seperti orang memukul sesuatu dengan tangannya.
Hampir saja Bu It Hosiang tak dapat menahan nafsunya lagi.
Dari hidungnya keluar hawa panas dan kepalanya sampai pening saking bergolaknya nafsu marah di dalamnya.
"Mengakulah, benar-benar kau yang melukainya? Aku hampir tidak percaya! Atau, apakah memang murid Hoa-san-pai pengecut semua, berani berbuat tidak berani mengaku?"
"Bu It Losuhu, sebelum aku menjawab, kau mengakulah dulu, apakah kau yang melukai guruku Liang Bi Suthai di puncak Go-bi-san?"
Bu It Hosiang tertegun.
"Sudah kuceritakan tadi."
"Kau mengakulah yang jelas, atau, apakah orang-orang Go-bi-pai pengecut semua, berani berbuat tidak herani mengaku?"
Pertanyaan ini jelas sekali adalah tiruan dari pertanyaan Hwesio tadi maka makin marahlah Bu It Hosiang.
Bu It Hosiang yang sudah marah sekali hampir saja tak dapat menahan hatinya.
Ingin ia sekali menggerakkan toyanya menghancurkan kepala gadis muda Hoa-san-pai yang sudah pernah menjatuhkan sutenya, juga sekarang di hadapan orang banyak telah berani mengeluarkan kata-kata mempermainkannya.
Akan tetapi sebelum ia bergerak, tiba-tiba dari bawah menyambar tubuh seorang laki-laki yang berkumis tebal.
Sepasang tangannya memegang dua batang tombak pendek dan sikapnya sombong sekali.
Biarpun orang ini masih belum tua benar, paling banyak empat puluh tahun, namun kumisnya yang tebal itu sudah putih, demikian pula rambutnya.
Akar tetapi ia menutup ubannya dengan topi sedangkan bajunya kotak-kotak aksi sekali.
Dia adalah seorang tokoh kang ouw yang cukup terkenal, bernama Ciang Kui San.
Telah lama Kui San tertarik dan tergila-gila kepada Coa Kim Kiok wanita genit itu dan karena Kim Kiok mengaku bahwa dia adalah murid dari Go-bi-pai, maka kini melihat seorang tokok besar Go-bi-pai dipermainkan dan dihina oleh seorang nona muda, Ciang Kui San tak sabar lagi dan melompat ke atas panggung.
"Lo-Cianpwe, silakan mundur, biar siauwte yang menghadapi bocah kurang ajar ini. Untuk apa memukul seekor anjing betina kecil dengan tongkat besar?"
Bu It Hosiang tidak mengenal orang itu, akan tetapi ia pikir betul juga.
Kalau dia tidak dapat menahan nafsu dan melayani Bi Lan di tempat itu, maka semua orang yang kebanyakan adalah orang-orang kang ouw itu akan menyaksikan pertempuran antara dia dan anak murid Hoa-san-pai.
Ini sungguh merendahkan namanya.
Dia adalah tokoh ke dua dari Go-bi-pai, seorang yang boleh dibilang telah menduduki tingkat tinggi.
Masa dia harus menghadapi seorang gadis semuda ini, yang bahkan menjadi murid termuda dari Hoa-san-pai?
Sungguh tidak patut sekali!
Maka ia mengangguk kepada Kui San lalu mengundurkan diri, duduk di tempatnya yang tadi.
Ciang Kui San terkenal sebagai seorang yang mabok akan paras cantik.
Dia seorang laki-laki pemogoran yang mengandalkan kepandaiannya suka membikin ribut.
Kini ia menghadapi Bi Lan sambil tertawa cengar cengir seperti seekor monyet tua.
"Nona, kau ini masih terlalu hijau sudah berani berlagak di tempat ini. Lebih baik kau berlutut minta ampun kepada Lo-Cianpwe dari Go-bi-pai itu, kemudian kau turut aku Ciang Kui San untuk belajar silat barang lima tahun lagi. Bagaimana?"
Bi Lan adalah seorang gadis yang lincah dengan kata-kata. Mendengar ucapan yang menghina ini, biarpun ia merasa marah dan mendongkol, namun ia tetap memperlihatkan senyumnya yang manis.
"Sungguh lucu mahluk ini!"
Katanya penuh ejekan.
"Kau bisa bicara dan mempunyai nama seperti manusia, akan tetapi melihat mukamu kau seperti monyet tua berkumis lebat, melihat sikapmu kepada Bu It Hosiang, kau tak ubahnya seekor anjing penjilat! Aku namakan engkau manusia setengah monyet setengah anjing. Apa kau ingin dicabut kumismu?"
Sambil berkata demikian, tubuh Bi Lan bergerak cepat ke depan dan tangan kanannya menyambar dari kanan untuk mencabut kumis orang.
Merasa betapa sambaran tangan kanan itu mendatangkan hawa yang amat kuat, Ciang Kui San terkejut sekali dan cepat mengelak ke kanan, akan tetapi segera ia berteriak kesakitan karena tangan kiri nona itu sudah memapaki dari kiri dan sekali jambak saja kumisnya yang sebelah kanan copot!
Darah mengalir dari kulit di mana kumis lebat tadi tumbuh!
Karuan saja Ciang Kui San berjingkrak jingkrak kesakitan sehingga kelihatan amat lucu.
Di sana-sini terdengar tertawa tertahan, Kui San marah sekali, ia lalu menyerang dengan sepasang tombaknya.
Akan tetapi Kui San ini hanya besar lagaknya saja dan kepandaiannya masih kalah jauh oleh Bi Lan yang kini mainkan Ilmu Silat Ouw wan ciang hwat yang dipelajari dari Coa ong Sin kai.
Ouw wan ciang hwat atau Ilmu Silat Lutung Hitam ini lihai sekali, sebagai mana tadi telah diperlihatkan ketika ia mencabut kumis.
Gerakan ilmu silat ini dilakukan dengan kedua tangan dan kedua kaki yang selalu saling membantu.
Seperli tadi, begitu tangan kanan menyerang, disusul serangan tangan kiri dan sesungguhnya sukar diduga tangan yang manakah yang tenar benar hendak menyerang dan tangan mana yang hanya memancing belaka!
Bi Lan memang seorang dara yang jenaka.
Baru segebrakan saja, kalan dia mau, ia dapat merobohkan lawan yang besar suara tiada isi ini, akan tetapi ia bukan Bi Lan kalau hanya merobohkan lawan begitu saja tanpa mempermainkan dulu.
Lagi pula, gadis ini hendak menguji Ilmu Silat Ouw wan ciang hwat nya, maka ia sengaja mempermainkan lawannya sambil menampar, menendang, menyiku, dan semua pukulan ini tak lain hanya untuk mempermainkan lawannya belaka.
Mulai terdengar suara suara pujian dari para tamu ketika mereka menyaksikan kehebatan ilmu silat tangan kosong gadis itu.
Bahkan para locian pwe seperti Sam Thai Koksu, iuga Bu It Ho siang, terkejut sekali melihat ilmu silat itu.
Belum pernah mereka menyaksikan ilmu silat seaneh itu, dan dengan malu dan penasaran sekali mereka harus akui bahwa mereka tidak mengenal ilmu silat dari gadis itu!
Yang paling heran dan penasaran adalah Ciang Kui San sendiri.
Ia telah melatih diri belasan tahun dan pengalamannya bertempur juga banyak.
Bagaimana sekarang dengan sepasang tombaknya yang sudah terkenal itu ia tidak dapat merobohkan seorang dara muda?
Benar-benar memalukan sekali!
Rasa malu ini membuat ia marah bukan main dan kini tombaknya digerakkan secara lebih cepat, nekad dan ganas lagi!
Sambil berseru keras, Bi Lan tertawa-tawa dan sambil mengelak ia telah mendupak paha Kui San sehingga terasa sakit sekali.
Ciang Kui San maju menubruk dan dengan tangan kanannya ia menusukkan tombaknya ke arah dada Bi Lan.
"Mampus kau setan!"
Bentaknya.
"Aya"
Monyet tua masih galak, eh?"
Bi Lan meloncat ke atas sambil mengelak sehingga tombak itu lewat disamping tubuhnya.
Tombak kanan Kui San itu meluncur cepat dan menancap pada tiang panggung.
Dan sebelum Kui San dapat mencabutnya kembali, Bi Lan menggerakkan tangannya ke arah muka Kui San, maka tercabutlah kumis di sebelah kiri dari orang itu, Bi Lan tidak berhenti sampai di situ saja.
Kakinya menendang dan tubuh Kui San terlempar ke bawah panggung.
Sambil tertawa-tawa, Bi Lan mencabut tombak pendek yang masih menancap di tiang itu dan memegangnya dengan sikap tenang.
"Cuwi sekalian lihat sendiri bahwa monyet tua itu mencari perkara sendiri. Aku hanya melayaninya saja, jangan mengira bahwa aku yang mencari permusuhan!"
Diantara para penonton ada yang mengenal Bi Lan, maka ia berseru.
"Kepandaian Sian li Eng cu benar-benar mengagumkan sekali!"
Pada saat itu, Bu It Hosiang sudah meloncat ke depan nona ini dan menggerak gerakkan toyanya.
"Anak Hoa-san-pai, keluarkanlah senjatamu, biar pinceng di sini membuktikan sendiri sampai di mana kelihaianmu maka kau berlagak sombong di depan kami!"
Akan tetapi, setelah keadaan meruncing, Sam Thai Koksu merasa sudah tiba waktunya turun-tangan.
Kim Liong Hoat ong lalu meloncat maju dan berdiri diantara dua orang itu sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Jiwi harap suka memandang muka kami Sam Thai Koksu untuk menyudahi saja pertempuran ini."
"Tidak mungkin!"
Kata Bu It Hosiang tak sabar.
"Anak Setan ini sudah terlampau jauh menghina kami kaum Go-bi-pai,"
"Lo-Enghiong,"
Kata Bi Lan kepada Kim Liong Hoat ong.
"Kalau memang losuhu dari Go-bi-pai ini hendak memperlihatkan bagaimana seorang pendeta menurutkan nafsunya untuk menghina orang muda, biarkanlah dia berbuat sesukanya!"
Ucapan Bi Lan ini menyakitkan hati, akan tetapi juga membuat Bu It Hosiang merasa tak berdaya.
Ucapan ini dikeluarkan nyaring sehingga terdengar oleh semua orang, kalau dia sebagai seorang Hwesio berlaku nekad terus, tentu semua orang akan menganggapnya keterlaluan!
Maka sambil mengertak gigi, Hwesio tua ini berkata.
"Anak setan, baiklah kita mencari tempat yang sunyi untuk menentukan siapa yang lebih kuat antara Hoa san dan Go-bi-san!"
"Sudahlah, harap bersabar. Sekarang diatur begini saja. Kami sebagai tuan rumah hendak melanjutkan acara pertemuan malam ini dan kemudian sebagai acara hiburan, boleh diadakan pibu secara terbuka. Siapa saja yang berminat boleh menguji kepandaian sendiri di panggung ini, bagaimana?"
"Setuju! Setuju!!"
Terdengar teriakan orang dan semua orang lalu mengikuti teriakan ini.
Terpaksa dengan uring uringan Bu It Hosiang kembali ke tempat duduknya.
Juga Bi Lan lalu meloncat turun, kembali ke tempat duduknya, akan tetapi Kim Kiok tidak berada di tempatnya yang tadi lagi.
Bi Lan juga tidak mau memperdulikan nona itu dan ia duduk dengan senang hendak melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sam Thai Koksu, yang terdiri dari Kim Liong Hoat ong Cin Liong Hoat ong dan Tiat Liong Hoat ong, berdiri di atas panggung, berjejer dan Kim Liong Hoat ong sebagai saudara tertua, bicara terhadap tamu.
"Cuwi sekalian yang mulia. Kami menghaturkan selamat datang dan terima kasih atas perhatian cuwi sekalian mengunjungi pertemuan ini atas undangan kami. Dalam kesempatan ini, kami ingin memperkenalkan diri, dan ingin memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemerintah kami ingin bekerja sama dengan cuwi sekalian yang gagah perkasa demi keamanan dan kemakmuran. Kami mempersilakan kepada cuwi Enghiong besok pagi mendaftarkan diri sebagai anggauta di kantor kepala daerah Cin-an. Hendaknya diketahui bahwa kami membentuk sebuah perkumpulan orang gagah, yang bernama Eng hiong hwe dan kantornya berada di sebelah kantor kepala daerah. Di sana cuwi akan mendapat penjelasan tantang cara dan rencana kerja diri perkumpulan kita. Nah, sekarang kami persilakan kepada cuwi sekalian untuk menikmati hidangan sekedarnya!"
Para pelayan lalu sibuk mengeluarkan arak dan makanan yang serba mahal dan enak.
Orang-orang gagah yang mendengar omongan Kim Liong Hoat ong dan melihat sikap kakek ini.
merasa enak hatinya.
Diam-diam mereka menganggap bahwa Sam Thai Koksu ternyata bersikap sopan dan beraturan, patut dijadikan kawan daripada menjadi lawan.
Akan tetapi semua ini tentu saja tidak dihiraukan oleh Bi Lan.
Ketika gadis ini memperhatikan kepada tokoh-tokoh lain, hanya melihat bahwa Sin kun Liu Toanio dan juga Bu eng Lo kai kelihatan tak senang.
Bu eng Lo kai si kakek jembel itu mencoret coret tanah dengan tongkatnya dan tidak mau minum arak sama sekali.
Matanya memandang ke arah Sam Thai Koksu penuh selidik.
Adapun Sin kun Liu Toanio, bicara berbisik-bisik dengan Liok Hui dan Liok San dua orang muridnya.
Sikap mereka juga tidak bersahabat.
Diam-diam Bi Lan menjadi gembira karena ia menduga bahwa tentu akan terjadi hal hal yang hebat.
Ia sama sekali tidak pernah merasa gentar menghadapi Bu It Hosiang dan dua orang ketua Hui-eng-pai yang kasar itu, hanya ia masih sangsi akan kepandaian Sam Thai koksu karena melihat sikap mereka, dapat diduga bahwa mereka tentu memiliki kepandaian luar biasa.
Juga kakek jembel dan nenek yang kepalanya diikat kain putih itu agaknya orang-orang yang lihai sekali.
Setelah arak dibagikan beberapa putaran, Bu It Hosiang sudah tak dapat menahan rasa penasaran dan marahnya lagi terhadap Bi Lan gadis Hoa-san-pai itu, maka ia lalu melompat dan berdiri di atas panggung yang luas.
Ia menjura kepada tuan rumah, lalu berkata sambil menoleh keoada Bi Lan.
"Sekarang pinceng hendak menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Sam Thai Koksu, pinceng menantang pibu kepada orang-orang Hoa-san-pai yang kebetulan berada di sini, untuk menentukan mana yang lebih lihai antara ilmu silat Go-bi-pai dan ilmu silat Hoa-san-pai."
Bi Lan biarpun amat periang, namun ia masih muda dan berdarah panas.
Ia tidak takut kepada Hwesio tua dari Go-bi-pai itu maka cepat ia berdiri dan sekali kedua kakinya digerakkan, tubuhnya sudah melayang naik ke atas panggung.
"Bu It Hosiang, kau tokoh kedua dari Gobi pai benar-benar bermulut besar sekali. Biarlah pada malam hari ini tokoh kedua dari Go-bi-pai berpibu melawan aku, murid paling kecil dari Hoa-san-pai."
Bi Lan sengaja menekan pada kata-kata tokoh kedua dan murid paling kecil, sehingga orang-orang yang mendengar kata-katanya dapat menangkap maksud ucapannya itu bahwa sungguh Bu It Hosiang tidak tahu malu, sebagai tokoh ke dua dari Go-bi-pai ia hendak turun-tangan terhadap murid paling kecil dari Hoa-san-pai!
(Lanjut ke
Jilid 07) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "
Jilid 07 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo
Jilid 07 Bu It Hosiang tentu saja mengerti akan sindiran ini, maka juga dengan keras ia berkata.
"Pinceng telah mengalahkan gurumu, Liang Bi Suthai tokoh Hoa-san-pai yang terkenal. Sebaliknya kau sebagai muridnya, telah mengalahkan suteku. Bukankah hal ini aneh sekali? Entah kau yang memiliki kepandaian melebihi gurumu, entah suteku yang goblok sekali! Oleh karena itu, tidak ada salahnya kalau pinceng sendiri mencoba dan mengukur sampai di mana tingkat kepandaianmu. Apakah kau takut, nona? Kalau kau takut, pinceng takkan memaksa dan kau boleh kembali ke Hoa san!"
"Kakek gundul, siapa takut?"
Bi Lan gemas juga karena dengan pandai Hwesio itu dapat membalasnya dengan kata-kata.
"Lekas gerakkan toyamu pemukul anjing itu."
Bu It Hosiang tersenyum mengejek.
"Untuk apakah aku harus bersenjata menghadapi seorang anak kecil? Lebih tepat kalau kau mengeluarkan senjatamu, biar pinceng melawan dengan tangan kosong!"
"Betulkah?"
Kata Bi Lan dan cepat bagaikan kilat ia telah mengambil tombak pendek milik Ciang Kui San tadi yang masih berada di panggung itu, sekali ia menggerakkan tombak itu yang dipegang pada gagangnya, ia telah melakukan serangan yang hebat sekali!
Bukan main kagetnya Bu It Hosiang.
Tombak pendek ini setelah berada di tangan Bi Lan ternyata dimainkan seperti sebatang pedang dan nona ini karena dapat menduga akan kelihaian lawannya, tidak mau main-main seperti menghadapi Ciang Kui San tadi, sebaliknya datang datang ia telah mainkan Sin-coa Kiam-hwat, ilmu pedang yang ia pelajari dari Coa ong Sin kai.
Hebat sekali ilmu pedang ini, dan pula Ilmu Pedang Sin-coa Kiam-hwat dari Coa ong Sin kai ini jarang sekali diperlihatkan di dunia kang ouw.
Oleh karena iu ilmu pedang ini masih asing bagi semua orang yang berada di situ.
Bu It Hosiang benar-benar merasa terkejut.
Tadipun ketika ia melihat gadis ini menghadapi Ciang Kui San, ia sudah merasa heran karena ilmu silat tangan kosong yang dimainkan oleh Bi Lan bukanlah ilmu silat Hoa-san-pai.
Kini dengan tombak pendek gadis ini mainkan ilmu pedang yang aneh dan luar biasa sekali lagi.
Maka Hwesio ini lalu berseru dan toyanya menyambar nyambar dengan dahsyat sekali sehingga Bi Lan harus berlaku awas dan cepat sekali.
Namun gadis ini tidak menjadi takut, bahkan iapun lalu mainkan ilmu pedangnya yang terpecah menjadi tiga bagain dan setiap bagian mempunyai sembilan jurus yang lihai.
Bu It Hosiang sudah pernah menyaksikan ilmu pedang Hoa-san-pai, bahkan ia beberapa kali pernah menghadapi ilmu pedang ini, maka melihat jalannya ilmu pedang yang dimainkan oleh Bi Lan, ia benar-benar tidak mengerti.
Beberapa kali mendesak, akan tetapi sia sia saja karena permainan pedang yang juga bukan mempergunakan pedang asli, melainkan sebatang tombak pendek dari gadis ini tidak dapat didesaknya, bahkan beberapa kali tombak menyerang dengan cara yang amat dahsyat sehingga membingungkan Bu It Hosiang.
"Tahan dulu!"
Hwesio itu berseru keras sambil meloncat mundur dan mengeluarkan toyanya yang dipalangkan di depan dada.
"Ada apa, Bu It Hosiang? Apakah kau sudah merasa cukup?"
Tanya Bi Lan mengejek.
"Nona, pinceng lihat kau tidak mengguna ilmu pedang dari Hoa-san-pai! Betul-betulkah kau seorang murid Hoa-san-pai? Jangan kau main-main. Ilmu pedang apakah yang kau mainkan tadi? Juga, ilmu pukulanmu ketika kau merobohkan Ciang Enghiong tadipun bukan dari Hoa-san-pai!"
Bi Lan biarpun suka bergurau, namun mempunyai watak jujur. Ia tertawa dan menjawab.
"Aku memang anak murid Hoa-san-pai, itu tak dapat disangkal lagi. Akan tetapi, guru-guruku tidak melarangku untuk mempelajari ilmu silat lain. Apakah kau jerih menghadapi ilmu pedangku tadi?"
"Siapa jerih kepadamu? Kulihat ilmu pedangmu aneh seperti ilmu kepandaian siluman. Agaknya kau dapat belajar dari seorang iblis!"
Merah muka Bi Lan mendengar ini.
Memang Bu It Hosiang mempergunakan akalnya.
Hwesio yang sudah banyak pengalaman ini maklum bahwa menghadapi seorang lincah dan berani seperti nona ini, kalau ia bertanya siapa guru nona ini mengajar ilmu pedang itu tentu ia hanya akan dipermainkan saja.
Maka ia mendahului dan sengaja mencaci maki guru nona itu untuk membangkitkan kemarahannya.
Memang benar.
Bi Lan yang menjadi marah lupa untuk bergurau dan ia segera mengaku.
"Hwesio tua lancang mulut. kau hendak bilang bahwa guruku yang baru Coa ong Sin kai seorang iblis? Hati-hati kau dengan mulutmu, Hwesio!"
Terdengar seruan-seruan kaget.
Bahkan Sam Thai Koksu sendiri sampai bangun dari tempat duduknya.
Sin kun Liu Toanio, dan juga Bu eng Lo kai juga bangun dari bangku masing-masing, memandang kepada Bi Lan dengan mata terbelalak.
Adapun Bu It Hosiang menjadi pucat dan otomatis memandang ke sana ke mari untuk melihat apakah manusia iblis yang ditakuti itu benar-benar berada ditempat ini!
"Kau mencari suhuku?
Ha-ha!
Bu It Hosiang, jangan kau ketakutan.
Suhu tidak berada di sini, kalau tidak kupanggil dia takkan datang.
Jangan kau takut!"
Akan tetapi Bi Lan melihat ke sekelilingnya dan ia menjadi terkejut sekali karena sebagian besar orang-orang yang berada di situ memandang kepadanya dengan sikap bermusuhan dan mengancam.
Bahkan Sam Thai Koksu sudah menghampirinya dan Kini Liong Hoat eng, berseru keras.
"Murid si jahat berada di sini, kalau kita tidak menghajarnya, si jahat Coa ong Sin kai takkan tahu rasa!"
"Betul, si ular jahat itu memang masih hutang beberapa pukulan dari aku!"
Berkata Bu eng Lo kai dan tahu-tahu tubuhnya bergerak dan telah berdiri di hadapan Bi Lan.
"Anak ular, kau rebahlah!"
Ketika tongkat bambunya melayang ke arah kepala Bi Lan, gadis ini cepat menangkis dengan tombak pendeknya.
Akan tetapi Bi Lan terkejut sekali karena telapak tangannya terasa sakit sekali dan hampir saja tombak pendeknya terlepas dari pegangan.
Ia menjadi marah dan tangan kirinya memukul dengan gerakan Ouw wan hian to (Lutung Hitam Persembahkan Buah) sebuah serangan dari Ilmu Silat Ouw wan ciang hoa dari Coa ong Sin kai.
Kini Bu eng Lo kai yang terkejut sekali.
Ia adalah seorang hiap kek perantau yang sudah banyak makan asam garam dalam dunia, persilatan, maka ia tahu akan bahayanya serangan kilat ini.
Iapun pernah pula menghadapi Ouw wan ciang hoat dari Coa ong Sin kai, maka ia tidak berani main-main dan cepat ia mengelak sambil berkata.
"Bagus, kau memang murid si jahat!"
Kim Liong Hoat ong melihat betapa kakek pengemis itu sudah turun-tangan, lalu iapun tidak mau kalah, cepat ia mencengkeram dengan tangan kanannya ke arah pundak kiri Bi Lan.
Nona ini cepat melompat sambil mengelak, karena cengkeraman yang mendatangkan angin keras itu benar-benar tidak kalah lihainya oleh senjata-senjata tajam lainnya.
Bi Lan benar-benar sibuk, baru saja ia mengelak, datang sambaran toya dari Bu It Hosiang dari belakang!
Ia melompat ke atas dan disambar oleh tongkat dari Bu eng Lo kai.
Ia dikeroyok oleh tiga orang tokoh persilatan yang tingkatnya jauh lebih tinggi daripadanya.
Akan tetapi gadis ini tidak menjadi gentar dan ia memutar tombak pendeknya sedemikian rupa, mainkan Sin-coa kiam-hoat sebaik-baiknya sehingga untuk beberapa lama ia dapat mempertahankan diri dengan baiknya.
Akan tetapi ketika Bu eng Lo kai berseru keras dan menghantamkan tongkat bambunya kepada tombak di tangan Bi Lan, gadis ini berseru, tombaknya patah dua dan terlepas dari pegangannya!
Tangan Kim Liong Hoat Ong yang mencengkeram itu telah datang lagi mengarah kepala sedangkan toya Bu It Hosiang kembali telah menyambar pula Bi Lan menjadi sibuk sekali dan ia lalu menggulingkan tubuhnya ke lantai dan menyerang dengan tendangan kaki bertubi tubi sambil melompat bangun.
Inipun sebuah jurus tipu serangan dari Ouw wan ciang hoat yang lihai sekali sehingga untuk beberapa jurus gadis ini masih dapat mempertahankan diri dan mengejutkan tiga orang pengepungnya.
Akan tetapi Bi Lan maklum bahwa kali ini ia takkan terlepas lagi dan pasti akan celaka.
Ia tidak mengira sama sekali bahwa dengan menyebutkan nama Coa ong Sin kai sebagai gurunya, ia dimusuhi oleh semua orang kang ouw!
"Suhu"!
Coa ong Sin kai"!
Mengapa suhu tidak menolong teecu?"
Bi Lan berteriak teriak keras sekali.
Maksud gadis ini hanya menakut nakuti para pengeroyoknya untuk mencari kesempatan melarikan diri.
Benar saja, tiga orang pengeroyoknya terkejut mendengar ini dan untuk sesaat serangan mereka mengendur.
Mereka berhati-hati sekali sambil memandang ke sekeliling, takut kalau betul-betul Coa ong Sin kai muncul.
Karena hal itu berbahaya sekali bagi mereka.
Bi Lan mempergunakan kesempatan ini hendak lari, akan tetapi melihat gerakan ini, tiga orang pengeroyoknya yang terdiri dari orang-orang yang sudah berpengalaman, dapat menduga akan akal bulusnya ini.
"Ha, ha, ha, ular betina. kau jangan menipu kami! Kali ini, biarpun si jahat Coa ong Sin kai sendiri berada di sini, kau takkan terlepas dari senjata kami!"
Kata Bu It Hosiang yang kembali menggerakkan toyanya menghantam kepala Bi Lan. Gadis ini cepat mengelak dan.
"Brak!"
Toya yang kuat sekali itu menghantam lantai sehingga papan lantai itu pecah dan bolong! Sementara itu, di bawah panggung, Sin kun Liu Toanio berkata kepada dua orang muridnya.
"Kalau saja nona itu bukan murid Coa ong Sin kai, tentu aku akan turun-tangan memberi hajaran kepada tua bangka tua bangka yang tak tahu malu itu! Untuk apa kita berada lama lama di tempat ini? Hayo pergi!"
Setelah berkata demikian, nenek ini lalu melompat pergi diikuti oleh dua orang muridnya, menghilang di dalam gelap.
Bi Lan sudah terdesak betul-betul.
Ketika tangan Kim Liong Hoat ong menyambar lehernya, ia sedang mengelak dari serangan tongkat dan toya, maka ia hanya miringkan tubuhnya saja.
"Brett!"
Biarpun lehernya terhindar dari bahaya, namun cengkeraman ini masih saja mengenai pundaknya sehingga pakaian gadis ini di bagian pundak terkena cengkeraman dan robek, kulitnya terbawa sedikit sehingga berdarah pundak Itu.
"Suhu, benar-benar suhu tidak muncul?"
Kembali Bi Lan berseru keras sambil melakukan serangan pembalasan mati-matian kepada Kim Liong Hoat ong, yaitu sambil menubruk maju ia memukul ke arah ulu hati kakek ini.
Akan tetapi, Kim Liong Hoat ong hanya tertawa mengejek dan sekali ia menangkis, tubuh Bi Lan terhuyung dan celaka sekali bagi gadis ini, ia kena injak papan yang bolong, yang tadi terpukul oleh toya Bu It Hosiang.
"Celaka!"
Seru gadis ini dengan muka pucat karena kakinya terjeblos sampai di paha bawah panggung!
Pada saat itu, toya Bu It Hosiang kembali menyambar kepalanya dengan keras sekali Bi Lan merobohkan dirinya ke belakang sehingga telentang di atas lantai dan toya itu menyambar lewat di atas mukanya dan memukul lantai yang kembali menjadi bolong!
Pada saat yang sudah pasti akan menewaskan nyawa gadis itu, tiba-tiba bertiup angin keras dan tahu-tahu tubuh seorang kakek tinggi kurus yang matanya liar, pakaiannya tidak karuan memegang sebatang tongkat atau ranting bambu warna kuning, berbintik bintik hijau telah berdiri di situ sambil tertawa terkekeh kekeh dan berkata.
"Siauw niauw, siapa mengganggu kau?"
Pada saat itu, tongkat bambu dari Bu eng Lo kai telah menusuk ke arah jalan darah di leher Bi Lan sedangkan toya dari Bu It Hosiang telah menyambar lagi, kini untuk memberi pukulan maut ke arah dada gadis itu, juga Kini Liong Hoat ong telah mengirim tendangan ke arah kepala Bi Lan!
Hebat sekali akibat dari tiga macam serangan itu setelah kini kakek aneh itu berada di dekat Bi Lan.
Dengan kecepatan yang tak terduga sama sekali, ranting bambunya telah melayang dan mendahului gerakan Bu eng Lo kai, menotok jalan darah di leher pengemis tua ini sehingga ia roboh kaku tertotok jalan darahnya.
Kemudian, ketika toya Bu It Hosiang mengarah dada Bi Lan, kakek liar matanya ini menggerakkan kaki menendang dan aneh sekali, Toya itu ketika beradu dengan ujung kakinya, terpental dan membalik, bukan memukul dada Bi Lan, bahkan sebaliknya memukul dada Bu It Hosiang sendiri!
Baiknya Bu It Hosiang telah mengerahkan lweekangnya, maka ketika toyanya melakukan gerakan senjata makan tuan ini terdengar suara.
"Buk"
Dan ia hanya merasa terdorong oleh tenaga besar sehingga tubuhnya terguling ke bawah panggung.
Adapun Kim Liong Hoat ong adalah yang paling cerdik.
Melihat datangnya kakek ini, ia telah melompat mundur menjauhi dan kini semua orang melihat kakek itu menarik tangan Bi Lan disuruh berdiri.
"Coa ong Sin kai...!"
Berseru orang-orang kang ouw ketika melihat kakek jembel ini.
Coa ong Sin kai tertawa terkekeh kekeh, kemudian ia menudingkan jari telunjuknya yang hanya tulang terbungkus kulit itu ke arah Saru Thai Koksu sambil berkata.
"Kalian ini Sam Thai Koksu yang keluar dari neraka, menjelma di dunia hanya untuk membikin rusuh! Kalau kalian tidak menyerahkan nyawamu padaku, akan kubasmi semua orang di sini. Hayo maju berlutut!"
Sam Thai Koksu menggigil, akan tetapi mereka adalah tokoh-tokoh besar dan tentu saja mereka tidak sudi mentaati perintah ini.
Bahkan ketiganya lalu mencabut senjata masing-masing dan Kim Liong Hoat ong merasa jerih lalu berteriak kepada para tamunya.
"Calon calon anggauta Eng hiong hwee, cu wi Enghiong yang mulia. Si jahat ini telah datang, mari kita basmi bersama!"
Orang-orang yang berkumpul di situ, hampir semua membenci Coa ong Sin kai yang sudah banyak membunuh orang tanpa sebab, yang sudah banyak merobohkan tokoh-tokoh kang ouw, maka serentak mereka itu mencabut senjata dan bersiap mengeroyok!
Melihat ini, Coa ong Sin kai menari-nari kegirangan dan berkata.
"Sayang, sayang, ular-ularku tidak berada di sini. Kalau ada mereka akan berpesta pora! Baik, baik, malam ini aku akan mengantar banyak nyawa kesasar kembali ke asalnya!"
Setelah berkata demikian, kaki tangannya bergerak dan terdengar suara.
"Kraak! kraak!"
Keras sekali. Ternyata tiang tiang panggung itu hampir roboh. Ketika ia melihat tubuh Bu eng Lo kai masih terbaring kaku di lantai panggung, ia lalu mengangkat kaki menginjak kepala pengemis itu.
"Praak!"
Pecahlah kepala Itu dan otaknya berhamburan. Kemudian ia menendang mayat Bu eng Lo kai itu ke bawah panggung! "Suhu, jangan!"
Bi Lan mencegah dan merasa ngeri sekali.
Gadis ini tahu bahwa gurunya ini kalau sudah marah, amat kejamnya.
Gurunya yang berotak miring ini memang pembenci manusia dan akan terjadi perkara mengerikan sekali kalau suhunya ini melanjutkan amukannya.
Akan tetapi Coa ong Sin kai sudah kumat gilanya, ia memondong tubuh muridnya dan membawanya melompat ke bawah panggung.
Sekali saja ia menggerakkan kaki menendang tiang besar yang menyangga panggung, terdengar suara keras dan panggung itu roboh, membawa para tokoh besar yang masih duduk di ujung panggung.
Mereka yang duduk di atas itu adalah Sam Thai Koksu dan para tokoh tua yang berkepandaian tinggi, maka cepat mereka bergerak melompat turun sehingga semua selamat, kecuali tiga orang pelayan yang ikut jatuh bersama panggung dan tertimpa oleh tiang tiang dan atap sehingga mereka menjerit-jerit seperti babi disembelih!
Suma Kwan Seng yang melihat hal ini, menjadi marah sekali.
Orang tertua dari tokoh Hui-eng-pai ini memang bernyali besar sekali, dan juga ia memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
Melihat sepak terjang Coa ong Sin kai, ia menjadi marah sekali dan sambil berseru keras ia mencabut pedang lalu menerjang orang gila yang mengamuk itu.
"Pengemis gila, kau jahat dan kejam sekali!"
"Jangan...!"
Bi Lan masih berseru mencegah perbuatan Suma Kwan Seng dan juga mencegah gurunya bertindak, akan tetapi terlambat!
Melihat terjangan Suma Kwan Seng yang memutar pedang dan menyerang dengan hebatnya, menusuk ke arah dada Coa ong Sin kai, pengemis sakti ini tertawa bergelak gelak dan ranting bambu di tangannya memapaki pedang itu.
Sungguh aneh, ranting itu bagaikan seekor ular, dapat melengang lenggok dan membelit pedang itu, Dan ketika Suma Kwan Seng hendak membetot kembali, tahu-tahu ia bahkan terdorong ke depan, terbawa oleh tenaga tarikan dari Coa ong Sin kai yang benar-benar kuat sekali itu.
Kwan Seng terkejut sekali dan ia tahu akan bahaya.
Seandainya ia melepaskan pedangnya dan meloncat mundur, belum tentu keburu karena ia tahu akan kecepatan serangan kakek gila ini, dan jarak antara mereka sudan dekat sekali.
Maka lalu menggerakkan tangan kirinya memukul kepala Coa ong Sin kai.
Kakek ini kembali tertawa dan dengan tangan kiri ia mengganti pegangan pada ranting bambunya dan dengan demikian tangan kanannya menerima pukulan itu.
Gerakannya cepat sekali dan tahu-tahu tangan kiri Suma Kwan Seng yang dipukulkan itu telah tertangkap pergelangannya.
Ia memencet dengan tenaga lweekang dan Suma Kwan Seng memekik keras dan terdengar suara.
"Krak"
Dan tulang pergelangan tangan ketua Hui-eng-pai itu remuk!
Suma Kwan Seng menjadi nekad sekali.
Ia menahan napas, mengerahkan lwekangnya ke arah kepalanya, dengan nekad ia hendak mengadu nyawanya.
Ia menyerudukkan kepalanya ke arah dada kakek itu.
Akan tetapi Coa ong Sin kai bahkan meloncat sedikit ke atas sehingga yang kena serudukan bukan dadanya melainkan perutnya yang kempis itu!
"Cep!"
Kepala Suma Kwan Seng menancap di perut Coa ong Sio kai yang masih tertawa ha-ha hi hi dan kepala itu tidak dapat terbetot kembali!
Suma Kwan Seng merasa betapa kepalanya sakit sekali, seperti dijepit oleh jepitan besi, berdenyut denyut dan makin lama makin panas.
Juga ia tidak dapat bernapas lagi, sehingga kini hanya kedua kakinya yang bergerak-gerak seperti orang sekarat.
"Celaka!"
Teriak Sam Thai Koksu dengan muka pucat.
"Bedebah lepaskan saudaraku!"
Suma Kwan Eng mencabut senjatanya, yaitu sepasang tongkat bercagak dan ia menerjang.
Akan tetapi Coa ong Sin kai sambil tertawa-tawa lalu mengerahkan ambekannya dan tahu-tahu tubuh Suma Kwan Seng terpental ke belakang bagaikan sebuah pelor besar menerjang ke arah adiknya sendiri!
Suma Kwan Eng lalu melepaskan senjatanya dan menyambut tubuh kakaknya itu, akan tetapi alangkah kagetnya ketika melihat bahwa Suma Kwan Seng sudah mati dan pada kening dan jidatnya ada tanda tanda biru!
Suma Kwan Eng menjerit dan hampir ia pingsan saking marah dan sakit hatinya.
Juga Sam Thai Koksu sudah bersiap siap untuk mengeroyok.
"Suhu, jangan banyak membunuh orang...."
Bi Lan kembali berseru, akan tetapi dijawab dengan tertawa menyeramkan oleh Coa ong Sin kai. Pada saat itu dari atas melayang turun dua tubuh orang-tua yang gerakannya ringan dan gesit sekali.
"Coa ong Sin kai, orang gila! Biarpun kami senang melihat kau membunuh mereka semua, akan tetapi kau terlalu kejam dan terlalu gila!"
Coa ong Sin kai marah sekali dan cepat ia memandang.
Tiba-tiba matanya terbelalak lebar dan Bi Lan merasa heran sekali melihat wajah gurunya ini kelihatan takut!
Ia cepat menengok dan melihat bahwa yang datang itu bukan lain adalah dua orang kakek kembar yang telah beberapa kali bertemu dengan dia dan main mata!
Dua orang kakek itu sambil tersenyum-senyum berdiri di situ, nampak tenang tenang saja seperti di situ tidak terjadi perkara hebat.
Keduanya memandang ke arah Coa ong Sin kai dengan senyum mengejek.
"Thian Te Siang mo..."
Bibir Coa ong Sin kai berkata perlahan, akan tetapi suaranya cukup terdengar oleh semua orang sehingga muka orang-orang itu menjadi makin pucat.
Baru mendengar dan melihat Coa ong Sin kai saja sudah membuat jantung mereka berdebar gelisah, kini nama Thian Te Siang mo membuat mereka seakan-akan kehilangan semangat yang terbang keluar dari tubuh saking takutnya!
Sebaliknya Bi Lan cepat memandang dan ia terheran-heran.
Kedua kakek itu kelihatannya baik hati dan sabar, mengapa ditakuti semua orang kang onw dan dianggap amat kejam dan ganas?
Coa ong Sin kai tiba-tiba menyambar tubuh Bi Lan, mengempit pinggang yang ramping dari muridnya itu sambil berseru.
"Siauw niauw (burung kecil), mari kita terbang pergi dari sini!"
Setelah berkata demikian, sekali saja ia menggerakkan kedua kakinya, ia telah meloncat tinggi sekali dan lenyap di malam gelap.
"Suhu...! Aku tidak mau ikut suhu pergi"!"
Suara gadis ini terdengar jauh sekali, tanda betapa hebatnya ilmu lari cepat dari Coa ong Sin kai itu.
"Sin kai, kau tidak boleh memaksa orang menjadi muridmu!"
Te Lo-mo berseru dan sekali tubuhnya berkelebat, kakek inipun lenyap dari pandangan mata.
Thian Lo-mo hanya tersenyum-senyum saja.
Adapun Sam Thai Koksu setelah mengetahui bahwa dua orang kakek yang sama mukanya itu adalah Thian Te Siang mo yang amat terkenal di dunia kang ouw, lalu ketiganya maju menghampiri Thian Lo-mo yang masih berdiri di situ.
Dengan hormat sekali mereka menjura, lalu terdengar Kim Liong Hoat ong berkata.
"Oh, tidak tahunya jiwi adalah Thian te Siang Lo-Cianpwe yang amat terkenal di dunia? Siauwte bertiga menghaturkan hormat kepada jiwi dan silahkan duduk di dalam di mana kita dapat mengobrol dengan enak. Harap jiwi sudi memaafkan bahwa kami tidak mengetahui lebih dulu sehingga berlaku kurang hormat dan tidak mengadakan penyambutan yang selayaknya."
Akan tetapi, melihat sikap yang bermuka muka ini, Thian Lo-mo hanya memperlebar senyumnya, lalu sekali tangannya bergerak mendorong, ia telah melakukan serangan hebat sekali ke arah tiga orang Guru Negara Kin itu!
Sam Thai Koksu cepat mengelak, akan tetapi angin dorongan itu tetap saja telah membuat mereka terhuyung-huyung mundur sampai lima langkah lebih, seakan-akan mereka itu tertiup oleh angin taufan yang kuat sekali!
Ketika Sam Thai Koksu menengok, ternyata Thian Lo-mo sudah tidak kelihatan lagi!
Mereka menarik napas panjang dan hati mereka menjadi kuncup.
Baiknya orang-orang seperti Thian Te Siang mo dan Coa ong Sin kai itu tidak mau mencampuri urusan negara, karena kalau mereka itu ikut campur dan memusuhi negara Kin, sungguh beratlah tugas mereka bertiga!
Maka mereka lalu cepat menyuruh orang membereskan semua kerusakan dan mengurus semua jenazah yang menjadi korban keributan itu.
Pesta dilanjutkan, akan tetapi sekarang sudah tidak dapat ditimbulkan kegembiraan seperti tadi.
Semua orang telah ketakutan dan seorang demi seorang, mereka meninggalkan taman itu.
*** Betapapun cepatnya Coa ong Sin kai berlari, namun ketika fajar menyingsing dan ia telah tiba di tempat yang hampir seratus li jauhnya dari Cin-an dan berhenti di pinggir jalan, tahu-tahu dari belakangnya terdengar seruan keras.
"Coa ong Sin kai, kau lepaskan nona Itu!"
Pengemis ular ini terkejut dan marah sekali. Ia menurunkan Bi Lan dari pondongannya dan berkata kepada muridnya itu.
"Bi Lan, benar-benarkah kau tidak mau turut dengan aku dan hendak ikut mereka itu?"
Mendengar suara yang mengandung ancaman dan melihat sinar mata kakek ini, Bi Lan terkejut sekali dan tahu bahwa kalau ia salah omong, gurunya ini tentu takkan segan segan untuk membunuhnya!
Maka ia berkata.
"Suhu, siapa mau turut mereka? Aku tidak mengenal mereka itu. Aku hanya ingin hidup sendiri, tidak terikat oleh siapapun juga. Maka biarkanlah aku pergi sekarang, suhu."
Sebelum Coa ong Sin kai menjawab, berkelebat dua bayangan orang dan tahu-tahu Thian te Siang mo telah berada di depan mereka!
"Coa ong Sin kai, kami tahu kau gila dan ganas.
Nona ini mempunyai bahan yang baik, sayang kalau sampai rusak di tanganmu!"
"Iblis kembar! Kalian mau apakah mengejar ngejarku? Bi Lan ini adalah muridku, mengapa tidak kubawa pergi dari tempat celaka itu. Kami tahu bahwa dia pernah mempelajari ilmu silatmu yang ganas dan buruk, akan tetapi kamipun mendengar bahwa dia tidak mau ikut dengan kau lagi. Mengapa kau hendak memaksanya?"
"Tak tahu malu! Ada sangkut paut apakah kau dengan urusan kami guru dan murid?"
Coa ong Sin kai membentak dan mukanya menjadi merah saking marahnya. Kalau bukan Thian te Siang mo yang dihadapinya, tentu kakek ini sudah membunuh orang lagi.
"Sangkut paut apa? Kami telah memilihnya untuk mewarisi ilmu silat baru yang kami ciptakan!"
"Bagus!"
Coa ong Sin kai melirik ke arah Bi Lan.
"Bocah lancang, apakah kau berani hendak menipu gurumu? kau harus mampus!"
Setelah berkata demikian dengan cepat sekali Coa ong Sin kai menubruk dan mengirim serangan maut ke arah lambung muridnya sendiri!
Kalau lain orang yang diserang secara begini tentu ia akan roboh tak bernyawa lagi.
Akan teiapi Bi Lan pernah mempelajari ilmu silat dan Raja Ular ini dan karena serangan yang dilakukan oleh Coa ong Sin kai itu adalah jurus dairi Ouw wan ciang hoat yang pernah dipelajari oleh Bi Lan, maka dara ini tahu cara mengelaknya.
Ia tahu bahwa gurunya menyerang dengan tipu Ouw-wan tui-san (Lutung Hitam Mendorong Gunung) yang tentu akan diteruskan dengan tendangan berantai yang dahsyat sekali.
Maka gadis ini lalu menjatuhkan diri bergulingan di atas tanah dengan gerak tipu Trengiling Turun Gunung.
Memang ia selamat dari serangan pertama itu, akan tetapi Coa ong Sin kai sambil memaki-maki terus melompat mengejarnya dan mengangkat tangan memukul!
Pada saat itu terdengar bentakan keras.
"Jangan bunuh dia!"
Dan tubuh Coa ong Sin kai terpental ke belakang.
Ternyata bahwa Thian Lo-mo telah menangkis pukulan ini.
Melihat betapa tubuh Coa on Sin kai terpental, dapat diduga bahwa tenaga lweekang dari Thian Lo-mo lebih menang setingkat.
Coa ong Sin kai terkejut dan makin marah ia lalu menyabet dengan ranting bambunya.
Sabetan ini tidak boleh dipandang ringan dan Thian Lo-mo cukup maklum akan bahayanya sabetan ini.
Walaupun senjata kakek ular itu hanya sebatang ranting bambu, namun ranting bambu itu bukanlah bambu biasa, melainkan bambu ular yang hanya terdapat di puncak bukit sebelah selatan Go-bi-san, sebuah bukit yang penuh ular di mana bambu kuning berbintik bintik hijau ini batangnya penuh dengan ular-ular berbisa sehingga ranting bambu inipun mengandung bisa yang jahat sekali!
Thian Lo-mo meloncat ke atas lalu berjungkir balik beberapa kali ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan ranting bambu.
Akan tetapi, Coa ong Sin kai maklum bahwa senjatanya ini ditakuti lawan, maka mengejar terus dan mendepak Thian Lo-mo sebelum Te Lo-mo datang membantu.
Pikirnya, kalau ia dapat membunuh Thian Lo-mo, biarpun dia harus menghadapi pedang dari Te Lo-mo, ia takkan begitu merasa berat, pula biarpun andaikata ia akan mati di tangan Te Lo-mo, ia tidak rugi kalau sudah berhasil membunuh Thian Lo-mo.
Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa kepandaian Thian Lo-mo tinggi sekali.
Biarpun ia sedang berjungkir balik di udara, namun Thian Lo-mo dapat melihat lawannya mendesak.
Tiba-tiba ia berseru keras.
"Coa ong Sin kai, terimalah jarum-jarumku!"
Dan ketika tangannya terayun, sekaligus tujuh batang jarum yang merupakan sinar emas menyambar ke arah tujuh jalan darah di seluruh tubuh Coa ong Sin kai.
Itulah Kim kong touw kut cum (Jarum Penembus Tulang Bersinar Emas), salah satu keistimewaan atau kepandaian khusus dari Thian Lo-mo!
Kini Coa ong Sin kai yang repot.
Sambil menyumpah-nyumpah pengemis ular ini memutar ranting bambunya sambil mengelak ke sana ke mari agar jangan sampai menjadi korban jarum-jarum itu.
Sebatang saja jarum mengenai tubuhnya, akan celakalah dia!
"Curang!"
Bentaknya marah setelah tujuh batang jarum itu dapat dielakkan.
Akan tetapi Te Lo-mo telah menghadapinya dengan sebatang pedang kayu!
Pedang ini sepotong cabang pohon yang baru saja dipatahkannya dari batangnya.
"Ular hina dina, kau menyerang orang bertangan kosong, sekarang kau bilang orang lain curang? Nah, majulah, kebetulan sekali kami hendak mencoba ilmu silat kami yang baru!"
Coa ong Sin kai pernah bentrok dengan Thian Te Siang mo dan dulu ia sudah kena dikalahkan.
Biarpun selama ini Coa ong Sin kai sudah melatih diri dan mendapat kemajuan pesat, namun ia tetap saja merasa jerih menghadapi dua orang kakek kembar yang tingkat kepandaiannya sudah lebih tinggi dari padanya itu.
Akan tetapi, karena penasaran dan merasa betapa haknya sebagai guru dari Bi Lan hendak dirampas, ia tidak puas kalau tidak menyerang lebih dulu.
Maka sambil berseru keras ia lalu menerjang dengan ranting bambunya yang lihai.
Te Lo-mo mengeluarkan pekik menyeramkan dan pedang kayunya digerakkan secara aneh.
Inilah Ilmu Silat Thian te kun yang baru baru ini diciptakan bersama kakak kembarnya.
Ilmu Thian te kun ini dapat dimainkan baik dengan tangan kosong, berpedang, atau bahkan dengan senjata lain.
Oleh karena itu, biarpun ia hanya memegang pedang kayu, namun kelihaiannya tidak kalah oleh pedang pusaka yang manapun juga!
Menghadapi permainan pedang kayu yang aneh ini, Coa ong Sin kai menjadi bingung dan sibuk sekali menjaga diri.
Biarpun ranting bambunya cukup ganas, namun ia kalah cepat dan pula kalau gerakan ranting bambunya aneh, maka gerakan pedang kayu ini lebih aneh lagi!
Thian Lo-mo hanya menonton saja, lalu sambil tersenyum ia berkata kepada Bi Lan.
"Kau lihat, mana lebih hebat, ilmu silat orang gila itu ataukah ilmu silat kami?"
Bi Lan merasa gembira sekali melihat ilmu pedang yang benar-benar hebat dan aneh dari Thian Lo-mo.
Gadis ini berbakat baik dan memiliki pandangan tajam serta kecerdikan otak luar biasa.
Ia telah mempelajari Hoa san Kiam hoat dan Kim coa kiam hoat, akan tetapi dua ilmu pedang itu dibandingkan dengan ilmu pedang yang dimainkan oleh kakek berpedang kayu ini, benar-benar kalah jauh!
Tak terasa pula ia mengeluarkan kata-kata memuji.
"Anak baik, kaulah kelak yang akan mewarisi ilmu silat kami Thian te kun!"
Kata pula Thian Lo-mo melihat kegembiraan Bi Lan.
"Maukah kau mempelajarinya dari kami?"
Bi Lan melihat betapa Coa ong Sin kai terdesak hebat. Kakek gila itu menyumpah-nyumpah dan mempertahankan diri sekuatnya dengan ranting bambunya.
"Kalau kalian membunuh suhu, aku takkan mau mempelajari ilmu silatmu yang ganas!"
Katanya dengan keras.
Te Lo-mo mendengar pula ucapan ini, maka sambil tertawa bergelak ia menggerakkan pedang kayunya secara luar biasa sekali, Coa ong Sin kai memaki keras karena pundaknya terluka oleh pedang kayu itu dan biarpun pedang itu sebetulnya hanya sepotong cabang pohon dan ia telah memiliki kekebalan hebat, tetap saja kulit pundaknya pecah dan darah mengalir keluar.
Coa ong Sin kai maklum bahwa lawannya tidak bermaksud membunuhnya, maka iapun tahu diri, lalu melompat ke belakang dan sambil mendelikkan matanya kepada Bi Lan, ia berkata.
"Kalau kau mempelajari ilmu silat setan ini, lain kali aku akan membunuhmu I"
Sehabis berkata demikian, Coa ong Sin kai tertawa bergelak dan tubuhnya lalu mencelat jauh, menghilang di balik pohon-pohon. Sepasang kakek kembar itu lalu menghadapi Bi Lan.
"Nah, sekarang katakan, apakah kau mau menjadi murid kami?"
Bi Lan menjatuhkan diri berlutut dan hatinya girang sekali.
"Tentu saja teecu mau mempelajari ilmu silat dari jiwi suhu."
Dalam kegirangannya nona ini lupa bahwa ia tadi telah berjanji kepada Coa ong Sin kai bahwa ia takkan ikut kepada dua orang kakek ini.
Hal ini kelak akan mendatangkan permusuhan hebat dari fihak Coa ong Sin kai, bekas gurunya itu.
Thian Te Siang mo yang merasa kecewa karena Ciang Le dianggapnya melanggar kesusilaan dan telah menjadi murid Lulian Siucai, kini menurunkan Ilmu Silat Thian te kun kepada Bi Lan yang mempelajarinya dengan penuh ketekunan.
Gadis ini merasa girang bukan main karena memang kepandaian dua orang gurunya ini benar-benar hebat sekali.
Jauh lebih tinggi daripada kepandaian tokoh-tokoh Hoa-san-pai, bahkan masih lebih tinggi daripada kepandaian Coa ong Sin kai yang terkenal hebat dan lihai!
*** Sekarang kita menengok keadaan Ciang Le yang telah lama kita tinggalkan.
Pemuda ini yang mabok keras, tidak sadar bahwa dirinya diperebutkan oleh guru-gurunya dan Luliang Siucai, murid dan pelayan dari tokoh besar Pak Kek Siansu, Guru Dewa Kutub Utara di Luliang san!
Ketika ia sadar kembali dan merasa dirinya dikempit oleh lengan tangan yang halus tapi kuat sekali dan dibawa lari, Ciang Le menjadi kaget dan heran sekali.
Ia dikempit di lengan kanan dan ia tahu bahwa orang ini menggunakan ilmu lweekang yang tinggi sekali, maka kalau ia mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri, selain belum tentu ia akan dapat terlepas, juga itu amat membahayakan dirinya.
Maka ia lalu menengok muka orang yang membawanya lari.
Ia makin terheran-heran, karena wajah orang itu nampaknya sebagai seorang sasterawan tua yang halus raut mukanya dan lembut sinar matanya.
"Lo-Enghiong, siauwte hendak kau bawa kemanakah?"
Tanyanya. Ketika melihat bahwa Ciang Le sudah sadar kembali, Luliang Siucai tersenyum dan menghentikan larinya, lalu melepaskan tubuh pemuda itu yang segera berdiri di depannya.
"Anak muda, aku mendengar bahwa kau bernama Go Ciang Le, apakah benar kau berjuluk Hwa I Enghiong dan menjadi murid dari Thian Te Siang mo?"
"Betul, memang siauwte bernama Go Ciang Le. Tidak tahu siapakah Lo-Enghiong dan mengapa tahu-tahu Lo-Enghiong membawa lari siauwte?"
Sasterawan tua itu tersenyum dan memandang tajam.
"Orang muda, coba kau ingat-ingat, lupakah kau akan peristiwa yang baru saja kau alami di rumah ketua Hek kin kaipang?"
Ciang Le mengerutkan keningnya dan mengingat-ingat dan perlahan lahan semua pengalamannya terbayang kembali sampai pada saat ia minum arak dan mabok, lalu terbayang pula sikap yang genit dan tak tahu malu dari Cun Eng yang cantik!
Tak terasa lagi merahlah wajah Ciang Le ketika ia teringat akan semua itu.
"Tahukah kau bahwa karena perbuatanmu di dalam rumah ketua Hek kin kaipang itu, hampir saja kau mati oleh kedua orang gurumu sendiri? Mereka amat marah dan jemu melihat kelakuanmu."
"Akan tetapi, siauwte sama sekali tidak melakukan pelanggaran! Siuwte tidak... tidak..."
Luliang Siucai mengangkat tangannya mencegah Ciang Le melanjutkan pembelaannya.
"Aku tahu, anak muda. Kalau aku tidak tahu bahwa kau berhati bersih, apa kau kira aku begitu usilan dan merampasmu dari Thian Te Siang mo yang hendak membunuhmu? Karena kau telah menolong seorang sasterawan muda, maka hatiku tergerak dan ketika aku melihat betapa kau terjerumus dalam sarang ular cantik itu aku segera membawamu keluar."
Ciang Le memandang dengan penuh perhatian.
Kakek ini melihat sikap dan pakaiannya, terang adalah seorang sasterawan tua, akan tetapi mengapa memiliki Kepandaian silat yang begitu tinggi?
Tadi saja ia sendiri sudah menyaksikan ketika kakek ini mengempitnya dan sekarang mendengar bahwa kakek ini dapat merampasnya dari tangan Thian Te Siang mo yang hendak membunuhnya, ia benar-benar merasa terkejut.
"Siapakah lo enhiong yang gagah perkasa?"
Tanyanya. Luliang Siucai tertawa perlahan.
"Aku tidak punya nama. Apakah artinya nama bagi orang-tua seperti aku? kau masih muda dan bertulang pendekar. Siansu tentu akan senang melihatmu. kau ikutlah saja padaku."
Setelah berkata demikian, ia menyambar tangan Ciang Le dan berlari cepat seperti terbang.
Ciang Le terpaksa mengerahkan ilmunya berlari cepat karena kalau tidak, ia tentu akan terseret.
Biarpun sasterawan itu nampaknya lari biasa saja, akan tetapi Ciang Le harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk dapat mengimbanginya.
Hati pemuda ini berdebar aneh.
Orang ini saja kepandaiannya sudah seimbang atau bahkan lebih tinggi dari pada kepandaian Thian Te Siang mo, akan tetapi orang ini masih mengaku rendah tidak berarti dan hendak membawanya kepada Siansu.
Ah, sampai di manakah hebatnya kepandaian orang yang disebut Siansu itu?
Karena ingin tahu sekali, Ciang Le tidak banyak membantah dan mengikuti sasterawan ini yang menuju ke sebuah gunung yang menjulang tinggi.
Luliang Siucai ternyata percaya betul kepada Ciang Le.
Biarpun sasterawan itu tidak pernah bicara apa-apa lagi, ia tidak memaksa Ciang Le ikut dengan dia.
Mereka makan dan mengaso atau tidur tanpa banyak cakap, hanya kalau mereka melanjutkan perjalanan, barulah Luliang Siucai memegang tangan Ciang Le sehingga perjalanan dilakukan cepat sekali.
Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi tibalah mereka di lereng Pegunungan Luliang san.
Ketika mereka tengah berjalan cepat dan tiba di daerah terbuka di mana hanya terdapat rumput alang-alang yang luas dan tidak nampak pepohonan, Tiba-tiba terdengar suara bersiut keras dan Ciang Le melihat belasan batang anak parah meluncur cepat sekali ke atas udara.
belasan batang anak panah ini di susul oleh belasan batang anak panah lain lagi yang tepat mengenai anak-anak panah pertama sehingga anak-anak panah itu patah menjadi dua.
Kembali menyusul rombongan anak panah ke tiga yang seperti juga tadi, mematahkan rombongan anak panah ke dua.
Baru saja rombongan ke dua ini di patahkan oleh rombongan ke tiga, dari bawah meluncur lagi rombongan ke empat dan demikian sampai tujuh rombongan dari belasan anak panah, semua diluncurkan dengan cara main-main dan anak-anak panah dari rombongan berikutnya mematahkan anak-anak panah yang terdepan!
"Bagus sekali!"
Ciang Le memuji karena sesungguhnya ilmu panah yang didemontrasikan itu benar-benar hebat!
Baru saja ia menutup mulutnya, tiba-tiba meluncur belasan anak panah ke arah mereka dan anehnya, semua anak panah itu sama sekali tidak tertuju kepada kakek sasterawan, melainkan seluruhnya menyambar ke arah Ciang Le!
Pemuda ini terkejut dan juga marah sekali ia lalu mengeluarkan Kim-kong-touw kut-ciam sebanyak belasan batang, lalu disambitkannya ke arah anak panah yang terbang datang.
Sambitannya ini tepat dan jitu, juga dilakukan dengan tenaga keras.
Memang benar ada tujuh batang anak panah yang menjadi mencong arahnya ketika terbentur oleh sinar sinar kuning emas dari jarum-jarum yang dilepas oleh Ciang Le, akan tetapi masih ada lima batang yang cepat mengarah tubuhnya!
Ciang Le kaget sekali.
Tidak saja jarum-jarumnya kalah kuat sehingga anak-anak panah itu masih terus meluncur biarpun menceng arahnya, namun lima batang yang kini menyambar itu benar-benar berbahaya sekali.
"Suheng, jangan main-main dan menakut nakuti hati orang muda!"
Sasterawan tua itu berseru dan sekali ia mengebutkan ujung lengan bajunya lima batang anak panah itu runtuh ke atas tanah.
Berbareng dengan terdengarnya suara ketawa yang keras dan kasar muncullah tubuh manusia dari balik alang-alang yang tinggi.
Orang ini tubuhnya tinggi besar dan kekar, nampak kuat sekali.
Pakaiannya adalah baju perang yang indah dan gagah.
Mukanya keren dan menyeramkan seperti muka Kwan Kong, panglima perang terkenal di jaman Sam Kok, matanya lebar dan kulit mukanya kemerah-merahan.
Cambang dan jenggotnya memanjang sampai di dada.
Ciang Le kagum sekali melihat orang-tua yang gagah perkasa ini, maka sekali pandang saja menimbulkan rasa suka dan hormat.
"Sute, mengapa kau membawa orang muda ini naik ke tempat kita? Kulihat dia tadi menggunakan Kim-kong-touw kut-ciam milik Thian Te Siang mo, siapakah orang muda ini? Hati-hati, kau nanti bisa membuat Siansu marah besar,"
Kata orang yang berpakaian seperti panglima perang itu.
"Suheng, secara kebetulan saja aku bertemu dengan orang muda ini. Memang dugaanmu benar, dia adalah murid dari Thian Te Siang mo yang hendak membunuhnya, maka aku mencegahnya."
"Eh, sute, mengapa kau begitu tidak tahu aturan? Urusan antara guru dan murid, mengapa kau ikut mencampurinya? Itu tidak baik!"
Ciang Le diam-diam kagum melihat sikap orang gagah ini yang demikian jujur dan polos.
"Nanti dulu, suheng, sabarlah. Kalau dia tidak berjasa terhadap kami orang-orang sasterawan apakah aku mencampuri urusannya?"
Sasterawan tua ini lalu menceritakan betapa Ciang Le telah menolong seorang terpelajar muda yang disiksa oleh anak buah Hek kin kaipang, kemudian betapa ia melihat kebersihan hati Ciang Le yang tidak sudi menurut bujukan Cun Eng yang cantik genit, dan kemudian ia menuturkan betapa Thian Te Siang mo tanpa memeriksa lagi, menyangka muridnya berjina dengan ketua Hek kin kaipang itu dan hendak membunuhnya.
"Hm, kau ini kutu-kutu buku memang saling membela dan menangkan fihak sendiri,"
Orang gagah yang sesungguhnya adalah Luliang Ciangkun, atau pelayan dan murid pertama dari Pak Kek Siansu, mencela adik seperguruannya.
"Bukan begitu, suheng. kau lihatlah sendiri baik-baik, tidak pantaskah anak itu menghadap Siansu?"
Luliang Ciangkun menggerakkan kedua kakinya yang besar dan kuat itu menghampiri Ciang Le.
Dipandangnya pemuda ini seperti seorang pedagang kuda memandang seekor kuda yang hendak dibelinya, menaksir naksir dan menyelidik, menepuk-nepuk bahu pemuda itu dan mengetuk ngetuk buku-buku tulangnya!
Ciang Le merasa geli dan juga penasaran, akan tetapi oleh karena maklum bahwa orang jujur itu tidak bermaksud buruk atau menghina, ia diam saja, hanya mengerahkan lweekangnya tiap kali ditepuk atau diketuk, karena kalau tidak tentu ia akan merasa sakit.
Luliang Ciangkun agaknya nampak puas.
Ia telah dapat merasa bawa tenaga yang membuat tangannya terbentur pada kulit dan daging yang keras tiap kali ia menepuk dan mengetuk, dan ia tahu bahwa pemuda itu memang bertulang bersih dan berbakat baik sekali.
Akan tetapi, diantara tiga orang pelayan dan murid Pak Kek Siansu, memang Luliang Ciangkun atau yang biasa disebut si Panglima ini, adatnya paling keras dan kukuh.
Pak Kek Siansu sudah memesan agar jangan ada orang luar datang mengganggunya, dan dalam hal memegang teguh larangan ini Panglima ini memang paling kukuh.
Berbeda dengan si Sasterawan (Luliang Siucai) atau si Petani (Luliang Nung jin) yang kadang-kadang masih suka menyampaikan permohonan permohonan tolong dari rakyat jelata kepada guru mereka.
"Kau adalah murid dari Thian Te Siang mo, siapa bisa bilang bahwa kau tidak mempunyai watak yang buruk seperti guru-gurumu?"
Ia membentak sambil menghadapi Ciang Le.
"Kau tidak boleh menghadap Siansu!"
Ciang Le memang berwatak sabar, akan tetapi ia masih muda sekali dan kini menghadapi perlakuan kasar seperti itu, tentu saja ia merasa penasaran dan marah.
Hanya, terhadap seorang-tua, ia masih dapat menekan kemarahannya hingga memperlihatkan muka biasa saja, akan terapi ia menjawab juga.
"Orang-tua gagah, tak perlu kiranya aku menyangkal dan mengaku aku bahwa aku mempunyai watak yang baik. Siapa orangnya di dunia ini mau mengaku berwatak buruk? Hanya orang lain yang berhak menentukan apakkah watak kita baik atau buruk, dan dalam hal watakku, kalau kau menganggapnya buruk, terserah. Adapun tentang Siansu yang kau sebutkan itu, bukan kehendakku untuk berjumpa, sungguhpun aku ingin sekali menyatakan penghormatanku kepada Pak Kek Siansu, akan tetapi aku dibawa oleh Lo-Enghiong ini."
"He, siapa bilang kau akan menghadap Pak Kek Siansu?"
Kini sasterawan itu bertanya heran. Memang dia belum pernah memperkenalkan diri sendiri, apalagi menyebut nyebut nama Pak Kek Siansu. Ciang Le tersenyum.
"Bukankah Lo-Enghiong ini Luliang Siucai dan orang-tua gagah ini Luliang Ciangkun? Apakah sukarnya menebak ini kalau melihat sikap, pakaian, dan tingkat kepandaian jiwi? Sudah lama siauwte mendengar tentang tiga orang-tua yang gagah perkasa dan yang menjaga Bukit Luliang san, yaitu Luliang Ciangkun, Luliang Siucai dan Luliang Nungjin, sekarang siauwte melihat jiwi berdua, dan mendengar jiwi menyebut nyebut Siansu siapa lagi kalau bukan Pak Kek Siansu yang jiwi maksudkan?"
Panglima dan sasterawan itu saling pandang, kemudian tertawa gelak.
"Kau mempunyai otak juga!"
Panglima itu memuji.
"Eh, kau anak siapakah?"
"Ayah bunda siauwte sudah meninggal dunia oleh bala tentara Kin,"
Jawab Ciang Le.
Mendengar ini, tiba-tiba Luliang Ciangkun mencabut pedangnya yang besar dan berat, lalu sekali ayun saja pedangnya itu menimpa batu karang.
Terdengar bunyi keras dan terlihat bunga api berpijar menyilaukan mata dan batu karang itu terbelah menjadi dua!
Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga dari panglima inj, dan menjadi bukti bahwa pedangnya itupun pedang baik sekali.
"Keparat Bangsa Kin!"
Teriaknya gemas "Kalau tidak ada Siansu yang mencegah, sudah sejak dulu aku turun gunung dan membasmi mereka!"
"Suheng, Siansu mengajar kita mengendalikan nafsu, apakah suheng sudah lupa lagi?"
Luliang Ciangkun menarik napas panjang dan alangkah heran dan kagetnya hati Ciang Le ketika ia melihat betapa di atas pipi panglima ini terdapat dua titik air mata yang besar dan bening!
Diam-diam ia merasa terharu juga.
Ia dapat menyelami jiwa panglima besar ini.
Sebagai seorang panglima besar yang berjiwa patriotis, tentu saja hatinya sakit melihat Tiongkok dihina dan dihisap oleh Bangsa Kin, akan tetapi ia lebih taat dan tunduk kepada pesan suhunya, maka kini ia hanya dapat menekan gelora semangatnya.
"Anak baik, jadi orang-tuamu menjadi korban musuh? Siapakah nama ayahmu?"
"Ayah bernama Go Sik An,"
Jawab Ciang Le dengan jujur. Akan tetapi, jawaban ini membuat dua orang-tua itu meloncat dan segera Ciang Le dipeluk dari kiri kanan oleh sasterawan dan panglima itu.
"Apa"? Sungguh kebetulan sekali. Jadi kau ini keturunan Go-taihiap? Aduh, anakku"!"
Kata sasterawan dan kini kedua orang-tua itu mengucurkan air mata sungguh-sungguh!
Tentu saja Ciang Le merasa terheran-heran.
la tidak tahu bahwa kedua orang ini dahulunya adalah kawan-kawan seperjuangan dari Go Sik An dan tentu saja mereka merasa terharu sekali melihat putera dari Go Sik An yang dihukum gantung karena membela negara dan tanah air.
Pada saat itu datanglah seorang kakek lain yang pakaiannya penuh lumpur demikianpun kedua kakinya yang telanjang.
Celananya digulung sampai sebatas lutut, kepalanya ditutup caping (topi yang atasnya runcing) bundar lebar sekali seperti payung dan tangan kirinya memanggul sebatang cangkul.
Dilihat sekelebatan saja, tahulah orang bahwa dia adalah seorang petani yang rajin.
Di tangan kanannya ia memegang sebuah alat dari kayu dan besi yang besar dan berat sekali.
Kayu ini ternyata sebuah bajak yang besar dan yang biasanya ditarik oleh kerbau untuk meluku sawah, akan tetapi melihat cara kakek ini menjinjing, agaknya ringan sekali.
Maka Ciang Le dapat menduga bahwa ini tentulah orang ke tiga dari para murid atau pelayan Pak Kek Siansu, yakni yang bernama atau yang disebut Luliang Nung jin (Petani dari Gunung Luliang).
"Jiwi suheng, lihat betapa aku telah dapat membuat sebuah luku yang akan meringankan pekerjaan para kerbau. Kasihan binatang binatang itu harus menarik luku yang giginya terlalu melengkung dan kurang runcing, dengan luku buatanku ini, pekerjaan akan lebih cepat dan ringan. Kalian lihat!"
Sambil berkata demikian, biarpun ia masih jauh dari mereka, petani ini telah melemparkan luku tadi yang melayang cepat sekali menimpa ke arah panglima dan sasterawan yang sedang memeluk Ciang Le.
Pemuda ini melihat betapa benda yang berat itu melayang turun dan dengan kaget ia mendapat kenyataan bahwa dua orang kakek yang memeluknya tidak menyambuti sama sekali!
Ini berbahaya karena kalau mereka tertimpa oleh luku yang demikian berat dan besarnya, biarpun tubuh mereka kebal, tentu mereka akan terluka juga.
Apalagi dia sendiri yang tentu akan tertimpa pula.
Dengan cepat Ciang Le melompat ke depan dan mengulurkan kedua tangannya menyambuti luku yang besar ini.
Baiknya Ciang Le amat cerdik dan ia telah menduga lebih dulu bahwa lemparan kakek itu tentu bertenaga besar sekali sehingga ia sudah berlaku hati-hati.
Benar saja, ketika kedua tangannya menyambut luku yang datang menimpa, ternyata tenaga lemparan kakek itu luar biasa kuatnya ditambah pula oleh gaya bobot benda itu sendiri sehingga kalau ia mempergunakan tenaganya untuk menerima benda ini, tentu ia akan terluka di sebelah dalam tubuhnya!
Maka Ciang Le lalu mempergunakan gerakan yang disebut Siu po pan san (Sambut Mustika Memindahkan Gunung).
Kedua kakinya membuat kuda kuda tegak dan dibuka lebar lebar, tubuhnya agak direndahkan dan ketika luku itu ia terima dengan tangan yang terangkat ke atas, ia lalu mengayun luku itu dengan bantuan ayunan tubuh dan kedua lengannya, terus ia melemparkan luku itu ke atas kepalanya!
Dengan cara ini, maka tenaga luncuran luku itu menjadi patah dan habis, kemudian ketika benda itu turun kembali dengan tenaga luncuran lemah, ia menerimanya dengan mudah dan cepat membungkuk dan memberi hormat kepada si Petani.
"Siauwte Go Ciang Le memberi hormat kepada Luliang Nung jin yang terhormat dan gagah perkasa."
Petani itu hendak menegur, akan tetapi ketika ia melihat dua orang suhengnya berdiri dengan muka basah oleh air mata, ia menjadi melongo dan memandang dan pemuda itu kepada dua orang suhengnya penuh pertanyaan.
"Eh, eh, apakah yang terjadi?"
Tanyanya.
"Sute, perkenalkanlah. Dia itu adalah Go Ciang Le, keturunan satu-satunya dari sahabat kita Go-taihiap,"
Kata Sasterawan kepada adik seperguruannya.
"Kau maksudkan Go Sik An, suheng?"
Tanya petani itu sambil membelalakkan matanya.
Ketika melihat Sasterawan itu mengangguk, Luliang Nung jin nampak girang sekali.
Ia melempar paculnya dan sambil menari-nari ia lalu menghampiri Ciang Le, menangkap pinggang pemuda itu dan melemparkan Ciang Le ke atas!
Bukan main hebatnya tenaga lemparan ini sehingga Ciang Le terpaksa hanya mengerahkan keseimbangan badannya saja sehingga ia dapat meluncur turun dengan tegak.
Memang orang termuda dari tiga sekawan yang aneh ini berwatak paling gembira.
Setiap hari ia mengerjakan sawah sambil bernyanyi nyanyi, meniup suling dan bersenda gurau dengan para petani di bawah gunung.
"Bagus, bagus! kau keponakanku yang tampan dan gagah! Siapa namamu? Go Ciang Le? Bagus, bagus! Eh, suheng, setelah dia berada di sini, apakah kehendak jiwi?"
"Kami hendak membawanya menghadap Siansu, sute."
Petani itu nampak terkejut.
"Siansu terus-menerus bersamadhi, bahkan laporanku tentang sawah ladang sama sekali tidak didengarnya. Siansu makin dingin menghadapi urusan dunia. aku sangsi apakah dia akan menerima orang muda ini."
"Kita coba cobalah! Segala sesuatu ada jodohnya, siapa tahu kalau Ciang Le berjodoh dengan Siansu,"
Kata Sasterawan sambil menarik tangan pemuda itu. Mendengar semua percakapan ini, diam-diam Ciang Le merasa tidak enak sekali, maka ia berkata.
"Sam wi Lo-Enghiong (tiga orang-tua gagah), mana berani siauwte mengganggu Pak Kek Siansu!"
"Keponakanku, kau tidak tahu. Memang Siansu mencari seorang yang berjodoh untuk mewarisi kepandaiannya. Kami tiga orang-tua bangka mana ada bakat untuk mewarisinya? Hayolah!, jangan ragu-ragu, ada kami bertiga yang menanggung!"
Kata Petani yang berwatak gembira itu.
Karena tidak ingin menyinggung hati tiga orang kakek aneh ini, terpaksa Ciang Le ikut dengan mereka mendaki puncak bukit itu.
Kini iapun seperti tadi digandeng tangannya oleh Sasterawan sehingga dapat berlari cepat sekali, kalau tidak, tentu ia akan tertinggal ke belakang karena gerakan tiga orang kakek itu benar-benar cepat sekali.
Diam-diam Ciang Le merasa kagum sekali dan berpikir bahwa tiga orang kakek ini yang menjadi pelayan dan murid Pak Kek Siansu sudah demikian tinggi kepandaiannya apalagi Guru Dewa itu sendiri!
Ah, kalau, saja ia dapat diterima menjadi murid, alangkah senangnya.
Jalan menuju ke puncak sukar sekali, makin menanjak makin sulit dilewati.
Tidak saja di situ tidak terdapat jalan biasa, bahkan terkurung oleh jurang jurang yang dalam dan jalan hanya dapat dilakukan melalui batu batu karang yang amat licin karena selalu basah oleh halimun.
Akan tetapi, bagi tiga orang kakek itu mudah saja untuk melalui itu semua dan akhirnya mereka tiba di puncak Ciang Le merasa heran sekali karena berbeda dengan tadi kini puncak itu sama sekali tidak tertutup halimun.
Bahkan sinar matahari memancar sepenuhnya.
Di atas puncak bukit ini terdapat sebuah pondok kayu yang besar dan kokoh kuat.
Di sinilah Pak Kek Siansu bertapa dan mengasingkan diri dari dunia ramai, dilayani oleh tiga orang kakek aneh itu.
Ketika tiga orang pelayan itu datang menghadap bersama Ciang Le, Pak Kek Siansu sedang bersamadhi dan meramkan matanya Orang-tua ini sudah berusia tinggi, sedikitnya delapan puluh tahun, kepalanya sudah botak dan hanya di bagian bawah dan di belakang telinganya saja masih ada rambut yang halus berwarna putih kekuningan tumbuhnya jarang sekali.
Alisnyapun sudah putih semua, demikian pula jenggotnya.
Kulit mukanya putih kemerahan dan halus sekali, seperti muka seorang anak bayi.
Tubuhnya sehat dan agak gemuk, pakaiannya sederhana, dari kain putih yang dililit lilitkan pada tubuhnya.
"Siansu"!"
Tiga orang kakek pelayan itu sambil berlutut menyebut suhu mereka.
"Ada apa lagi kalian datang menggangguku?"
Pak Kek Siansu berkata, suaranya halus dan sabar akan tetapi ia tidak bergerak dari samadhinya, bahkan tidak membuka mata, hanya bertunduk saja, Ciang Le merasa tidak enak sekali mendengar pertanyaan ini, karena sesungguhnya, dia tidak akan bertega hati untuk mengganggu orang suci yang sudah lanjut usianya ini.
"Maaf, Siansu. Teecu bertiga datang menghadap bersama seorang pemuda yang benar-benar teecu lihat mempunyai bakat dan tulang yang bersih dan baik, patut menjadi ahli waris daripada Luliang san,"
Kata Sasterawan. Hening sejenak, kemudian terdengar kakek botak itu menarik napas panjang, akan tetapi tetap tidak membuka matanya ketika berkata.
"Hm, apa gunanya lagi? Siapa orangnya sanggup menerima latihan Pak kek sin ciang (Ilmu Silat Sakti dari Kutub Utara)? Kalian bertiga yang sudah berlatih silat puluhan tahunpun tak sanggup menerimanya."
"Siansu, anak muda ini berbeda lagi. Ia pasti bisa!"
"Tiada gunanya, aku sudah tua, tidak ada nafsu mengajar lagi."
"Siansu, penjajah Kin masih saja menindas rakyat, apakah tidak perlu dibasmi? Siapakah kuat menghadapi mereka selain pemilik dari ilmu Pak kek sin ciang?"
Tiba-tiba Luliang Ciangkun Si Panglima berkata dengan suaranya yang besar.
"Aku tidak mau mengurus soal pemerintahan,"
Jawab kakek tua itu tanpa membuka mata.
"Siansu, kaum petani masih tertindas mati-matian, kerja banyak makan kurang. Pak kek sin ciang masih amat dibutuhkan untuk membahagiakan dan menolong keadaan mereka!"
Kata petani, Luliang Nungjin.
Pak Kek Siansu tetap diam saja bahkan kini ia tidak mau membuka mulut lagi.
Ciang Le benar-benar merasa jengah, malu, dan tidak enak hati terhadap kakek itu.
Ia merasa seakan-akan ikut mengganggu ketenteraman hidup orang suci itu, maka ia lalu berkata.
"Siansu, mohon banyak maaf apabila teecu mengganggu dengan kehadiran teecu di tempat terlarang dan suci ini."
"Tidak apa, tidak apa, kalian pergilah!"
"Siansu, apakah keturunan seorang gagah, perkasa yang sudah mengorbankan nyawa sendiri dan nyawa keluarganya harus didiamkan begitu saja? Siansu, pemuda ini adalah putera dari Go Sik An!"
Aneh, mendengar ini, kakek itu membuka kedua matanya dan memandang kepada Ciang Le.
Ketika pemuda ini mengangkat muka memandang, terkejutlah ia karena sepasang mata kakek ini benar-benar amat tajam, seakan-akan menembusi dadanya dan menjenguk ke dalam hati!
Cepat-cepat ia lalu mengangguk-angguk sambil berlutut, memberi hormat.
Pak Kek Siansu memandang kepada tiga orang murid atau pelayannya, lalu katanya.
"Semenjak tadi, aku sudah tertarik oleh pemuda ini, hanya masih ragu-ragu karena tidak tahu siapa dia. Tidak tahunya dia putera dari mendiang Go-taihiap! Kalian bertiga boleh keluar menjaga, jangan perbolehkan orang lain masuk. Biar anak ini mencoba kekuatan semangatnya."
Setelah tiga orang kakek itu pergi dengar wajah puas dan girang, Pak Kek Siansu bertanya.
"Orang muda, siapakah namamu?"
"Teecu bernama Go Ciang Le, Siansu."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Kau pernah belajar ilmu silat dan lweekang, sayang sekali pelajaran yang kau terirna itu sifatnya, kurang bersih! Gurumu tentu orang-orang yang tidak bisa dibilang baik, siapa mereka?"
Ciang Lee merasa tak senang juga mendengar gurunya dicela, maka ia menjawab.
"Teecu memang murid dari Thian Te Siang mo, akan tetapi bagi teecu, kedua orang suhu itu baik dan mulia hatinya."
"Hm, tak salah dugaanku. kau datang menghadap aku inipun bukan kehendakmu sendiri, akan tetapi atas desakan ketiga orang muridku. Sekarang katakan, apakah kau suka mempelajari Pak kek sin ciang? Aku tidak mau memaksa orang."
Ciang Le benar-benar merasa heran.
Baca Juga: Harta Karun Jenghis Khan 2
Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 6