Ceritasilat Novel Online

Pendekar Budiman 4

Eps 4 Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo.

Kakek ini kelihatan lemah-lembut peramah dan halus tutur sapanya, akan tetapi isi dari pada kata-katanya itu bersifat kasar, jujur, dan tidak banyak hiasan.

Juga ia kagum sekali melihat kecerdikan kakek tua ini karena ternyata dapat menduga segala sesuatu dengan tepat sekali biarpun semenjak tadi ia hanya dieramkan mata dan duduk tak bergerak.

"Sesungguhnya, teecu datang bukan atas kehendak teecu sendiri, melainkan atas desakan dan setengah paksaan ketiga Lo-Enghiong tadi. Akan tetapi tentang mempelajari ilmu silat, apabila Siansu yang mulia suka memberi petunjuk, tentu teecu akan merasa berterima kasih sekali dan akan mempelajarinya baik-baik."

Sepasang mata Pak Kek Siansu melebar.

"Betulkah? kau takkan menyesal? Ingat, Ilmu Silat Pak kek sin ciang itu bukan sembarangan ilmu silat dan tidak mudah diyakinkan. Sedangkan tiga orang muridku tadi, yang kepandaiannya lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaianmu, mereka juga tidak sanggup melatih ilmu silat ini!"

"Teecu akan mencoba dan teecu berjanji akan mempelajarinya dengan tekun dan rajin."

"Akan tetapi, latihannya amat berbahaya, anak muda. Kalau kau lulus, itulah amat baik, akan tetapi sebaliknya kalau tidak, kau dapat kehilangan nyawamu!"

Ciang Le terkejut sekali. Mana ada ilmu silat yang demikian anehnya? Akan tetapi pikirannya sudah bulat. Kalau ia hendak mempelajari ilmu silat yang paling tinggi, di sinilah tempatnya, pikirnya.

"Biarpun teecu harus berkorban nyawa, teecu akan mentaati segala petunjuk dari Siansu."

Kakek tua itu nampak puas dan tersenyum sambil mengangguk-angguk.

"Kau bersemangat besar dan berhati teguh seperti ayahmu! Akan tetapi ini bukan main-main. Dengarlah dulu beberapa macam latihan ujian untuk mempelajari Pak kek Sin ciang ini. kau harus berpuasa dua puluh satu hari, sama sekali tidak boleh makan dan hanya hidup dari hawa udara saja, kau harus menghindari sinar matahari selama dua puluh satu hari dan hidup di dalam gua yang gelap, menghadapi godaan dari pikiran dan nafsu nafsumu sendiri. kau harus tidur di atas salju selama dua puluh satu hari, kemudian tidur di dalam gua dekat api unggun yang panas sekali selama dua puluh saiu hari pula. Beberapa ujian yang kusebutkan tadi baru beberapa diantaranya, belum ujian pengendalian nafsu dan lain lain."

"Teecu akan lakukan semua itu dengan patuh"

Kata Ciang Le dengan suara tetap. Setelah mendapat kenyataan akan ketabahan dan ketetapan hati pemuda itu. Pak Kek Siansu tertawa puas dan berkata.

"Baiklah, Ciang Le, kaulah satu-satunya muridku yang kelak akan menjunjung tinggi nama baik Luliang san dan akan mempergunakan Pak kek Sin ciang dalam perbuatan nyata."

Mulai hari itu, Ciang Le berdiam di puncak Luliang san dan menerima gemblengan dari Pak Kek Siansu yang sudah tua sekali itu.

Benar saja seperti yang dikatakan oleh Guru Dewa itu, latihan latihannya amat berat.

Bukan saja berat bagi jasmani, terutama beratlah latihan latihan batinnya.

Dan setelah pada waktu menjalani latihan menghindarkan cahaya matahari, tahulah Ciang Le mengapa tiga orang kakek murid Pak Kek Siansu itu tidak sanggup.

Di dalam latihan ini, di mana ia bersamadhi, Pak Kek Siansu yang sudah memiliki ilmu batin tinggi sekali itu, sengaja menggoda muridnya dengan menyalurkan pikirannya kepada pikiran muridnya, Di mana guru besar ini dengan kekuatan batinnya membayangkan segala macam kesenangan dunia yang akan meruntuhkan iman seorang pertapa!

Akan tetapi baiknya Ciang Le masih perjaka dan tidak begitu mudah jatuh oleh bayangan wanita cantik, pula ia memang memiliki hati bersih dan bakat yang baik sehingga ia dapat lulus dari semua ujian itu.

Setelah mengalami ujian bermacam macam yang makin lama makin berat, barulah perlahan lahan, Pak Kek Siansu menurunkan ilmu silatnya yang luar biasa, yaitu Pak kek Sin ciang yang belum pernah dituturkan pada siapapun juga, bahkan yang belum pernah dipergunakan di dunia ini, karena tanpa mempergunakan ilmu silat inipun, tak seorangpun berani mengganggu atau memusuhi Guru Dewa ini!

Dengan tekun dan rajin sekali Ciang Le melatih diri, sama sekali tak pernah keluar dari puncak sehingga ia tidak tahu bahwa tak lama setelah ia diterima menjadi murid olek Pak Kek Siansu, di atas Bukit Luliang san tim datang seorang tamu, yaitu tokoh dari Hoa-san-pai, Liang Tek Sianseng!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah Bi Lan diculik oleh Coa ong Sin kai, tokoh-tokoh Hoa-san-pai menjadi gempar dan Liang Tek Sianseng mendapat tugas untuk minta bantuan Pak Kek Siansu agar Coa ong Sin kai suka melepaskan murid Hoa-san-pai itu Kedatangan tokoh Hoa-san-pai ini disambut oleh Luliang Siucai yang sudah kenal baik dengan tokoh Hoa-san-pai yang juga seorang sasterawan ini.

Kedua orang tokoh ini bertemu dan segera asik bercakap-cakap.

"Sayang sekali, saudaraku yang baik, Siansu pada waktu ini sedang sibuk sekali dan tidak boleh diganggu. Ada keperluan apakah gerangan maka, saudara jauh jauh datang dari Hoa-san-pai dan agaknya amat perlu bertemu muka dengan Siansu?"

Liang Tek Sianseng lalu menceritakan tentang diculiknya Bi Lan oleh Coa ong Siu kai dan segala peristiwa yang terjadi di puncak Hoa san.

"Kami merasa tidak sanggup mengalahkan Coa ong Sin kai, dan oleh karena kita semua sudah maklum akan kejahatan Pengemis Raja Ular itu, maka kami hendak mohon pertolongan Siansu untuk menegur Coa ong Sin kai sehingga murid kami itu dapat dibebaskan kembali."

"Sayang, Siansu tak mungkin diganggu. Akan tetapi, baiklah aku akan pergi bersama untuk mencari Raja Ular itu. Agaknya memandang muka guruku, ia akan tunduk kepadaku."

Bukan main girangnya Liang Tek Sianseng mendengar kesanggupan sasterawan ini.

Ia maklum bahwa kepandaian Luliang Siucai ini saja sudah amat tinggi dan ia percaya bahwa Luliang Siucai akan dapat mengalahkan Coa ong Sin kai apabila Raja Ular itu hendak menggunakan kekerasan.

Dua orang sasterawan yang memiliki kesukaan yang sama ini lalu bercakap-cakap dan main catur sampai tiga hari di atas puncak Luliang san.

Kemudian Luliang Siucai lalu berpamit kepada suhengnya, yaitu Luliang Ciangkun dan sutenya, Luliang Nung jin, untuk turun gunung.

Ia berpesan agar suka menyampaikan kepada Siansu apabila Siansu menanyakan, kecuali ditanya, tiga orang ini tidak berani mengganggu Pak Kek Siansu!

Demikianlah, dua orang sasterawan tua yang keduanya merupakan tokoh-tokoh persilatan yang berilmu tinggi ini, bersama-sama turun gunung untuk mencari Coa ong Sin kai dan minta Bi Lan yang telah diculik oleh pengemis aneh itu.

*** Semenjak Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo mengacau pertemuan di malam hari dalam taman di kota Cin-an yang diadakan oleh Sam Thai Koksu, maka hati ketiga orang guru negara pemerintah Kin ini menjadi kuncup dan kecil.

Ternyata di Tiongkok terdapat banyak sekali orang-orang kang ouw yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi sekali.

Suma Kwan Eng, orang kedua dari Hui-eng-pai, ketika kakaknya, yaitu Suma Kwan Seng, tewas di tangan Coa ong Sin kai, menjadi demikian sakit hati, sehingga ia lalu mengumpulkan anak buahnya dan menggabungkan diri kepada Sam Thai Koksu untuk rela menjadi kaki tangan Bangsa Kin!

Suma Kwan Eng amat sakit hati kepada Hoa-san-pai, karena pembunuh adik seperguruannya, yakni Ciu Hoan Ta, adalah Tan Seng, tokoh Hoa-san-pai.

Kemudian, biarpun pembunuh kakaknya adalah Coa ong Sin kai, namun terbunuhnya adalah gara gara Bi Lan, anak murid Hoa-san-pai pula!

Untuk menjatuhkan sakit hati kepada Coa ong Sin kai, itulah terlalu berat baginya, maka segala kesalahan ia timpakan kepada Hoa-san-pai semua.

Beberapa hari semenjak peristiwa yang terjadi di taman kota Cin-an itu, datanglah seorang kakek tua dari perantauannya, yaitu yang bernama Ba Mau Hoatsu, seorang tokoh dari Tibet yang kenamaan.

Ba Mau Hoatsu adalah sahabat baik yang dihormati sekali dari Sam Thai Koksu dan hubungannya dengan Pemerintah Kin adalah karena Ba Mau Hoatsu ini menjadi guru dari Wan Yen Kan seorang pangeran Kin yang selain berwajah tampan, juga berilmu tinggi.

Kedatangan Ba Mau Hoatsu bersama dengan pangeran ini.

Semua orang menyambut dua orang agung ini dengan penuh penghormatan.

Ketika Ba Mau Hoatsu mendengar tentang pengacauan di Cin-an oleh Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo, ia menjadi marah sekali.

"Kepandaian Coa on Sin kai sih tidak berapa hebat. Aku sendiri sanggup menghadapinya dan takkan kalah. Akan tetapi Thian Te Siang mo memang lihai sekali. Kalau dua orang iblis itu memusuhi kita, baiknya aku memanggil datang Pak Hong Siansu yang kini tinggal di Tibet. Hanya sahabat baikku Pak Hong Siansu itu saja yang akan sanggup menghadapi dan mengalahkan Thian Te Siang mo!"

Sam Thai Kok su merasa girang sekali, akan tetapi Pangeran Wan Yen Kan berkata.

"Akan tetapi, suhu. Bukankah Pak Hong Siansu sudah menjadi wali dari Buddha hidup di Tibet? Kedudukannya paling tinggi di Tibet, dan beliau sudah tua, mana mau datang ke sini?"

Ba Mau Hoatsu tertawa bergelak.

"Benar kata-katamu itu, muridku. Akan tetapi akulah yang lebih kenal wataknya. Memang kedudukannya tinggi, hidupnya sudah makmur dan tidak membutuhkan sesuatu sehingga mustahil dia mau datang ke sini yang begitu jauh dari sana. Akan tetapi kalau kita beri tahu tentang Thian Te Siang mo, kiraku dia mau juga turun-tangan, karena dia adalah seorang yang tidak mau kalah dan kalau mendengar orang mengabarkan bahwa hanya kepandaian Thian Te Siang mo lebih tinggi dari kepandaiannya, kupastikan ia akan menjadi penasaran dan dengan sendirinya ia yang akan mencari Thian Te Siang mo untuk diajak pibu!"

"Baiklah kalau suhu mau ke barat untuk mengunjungi Pak Hong Siansu, akan tetapi teecu hendak melancong ke Biciu,"

Kata Pangeran Wan Yen Kan.

"Eh, apakah kau tidak kembali ke Kotaraja dulu? Apakah nona Hoa-san-pai itu sudah demikian hebat pengaruhnya atas dirimu?"

Ditanya demikian oleh gurunya, Wan Yen Kan menjadi merah mukanya.

"Teecu ingin mengambil kepastian, suhu,"

Katanya dan Ba Mau Hoatsu hanya tertawa.

"Ah, orang-orang muda memang berdarah panas."

Tentu saja semua orang tidak tahu akan maksud kata-kata guru dan murid ini, akan tetapi siapakah orangnya yang berani bertanya kepada Ba Mau Hoatsu atau kepada Pangeran Wan Yen Kan?

Hanya seorang saja yang berada di situ menjadi amat tertarik, yaitu Suma Kwan Eng.

Seperti diketahui, bekas ketua Hui-eng-pai ini menaruh hati dendam hebat kepada Hoa-san-pai, maka segala sesuatu yang didengarnya mengenai Hoa-san-pai tentu saja menarik hatinya.

Diam-diam ia lalu mendekati Pangeran Wan Yen Kan dan mengajaknya bercakap-cakap.

Pangeran Wan Yen Kan masih muda, paling banyak dua puluh empat tahun usianya.

Tubuhnya tidak begitu besar, akan tetapi tegap dan gagah.

Wajahnya halus tampan, rambutnya yang hitam dan tebal itu diikat di atas kepala.

Dandanannya seperti orang Han dan karenanya, jarang ada orang mengetahui bahwa pemuda ini sebenarnya adalah Pangeran Wan Yen Kan, seorang pangeran putera Kaisar Kin!

Wan Yen Kan suka mengenakan pakaian orang-orang Han karena memang semenjak menjelang dewasa, ia telah melakukan perantauan dan banyak menjelajah daerah pedalaman Tiongkok Karena ia semenjak kecil mendapat pendidikan ilmu silat dari Ba Mau Hoatsu, Maka kepandaiannya tinggi sekali dan dalam perantauannya, ia selalu berlaku hati-hati agar tidak menarik perhatian orang kang ouw, akan tetapi ia selalu dapat menjaga diri dengan baik-baik.

Oleh karena ini, namanya tidak terkenal di dunia kang ouw, akan tetapi siapa saja yang sudah menghambakan diri kepada pemerintah Kin, pasti sudah mengenal nama Wan Yen Kan sebagai pangeran yang paling pandai, paling tampan paling disayang oleh Kaisar dan banyak orang meramalkan bahwa Wan Yen Kan inilah yang kelak akan menggantikan ayahnya sebagai Kaisar!

Ketika Wan Yen Kan mendengar bahwa orang bertubuh tinggi besar dan nampak kuat dan gagah itu adalah ketua dari Hui-eng-pai yang ternama, ia menaruh perhatian dan sebentar saja mereka menjadi sahabat baik.

Suma Kwan Eng memang pandai sekali bermuka muka dan bicara manis.

Akhirnya ia berhasil memancing pangeran muda itu untuk menceritakan, pengalamannya yang bersangkutan dengan nona Hoa-san-pai seperti yang dibicarakan dengan Ba Mau Hoatsu tadi.

Beberapa bulan yang lalu, Wan Yen Kan seorang diri sedang merantau ke selatan dan berada di wilayah Kerajaan Sung selatan.

Pada masa itu, Tiongkok dibagi dua, sebelah utara Sungai Huai dikuasai dan dijajah oleh pemerintah Kin, adapun daerah selatan dari Sungai Huai dikuasai oleh Kerajaan Sung.

Akan tetapi dalam kenyataannya, Kerajaan Sung setengah dijajah oleh Kerajaan Kin, dan di dalam banyak hal, Kerajaan Sung selalu mengalah.

Beberapa kali terjadi pelanggaran pelanggaran oleh orang-orang dari pemerintah Kin, akan tetapi pemerintah Sung hanya mengurut dada saja dan tidak berani bertindak.

Bahkan, Kerajaan Sung selalu bermuka muka untuk mengambil hati Kerajaan Kin yang amat kuat.

Kalau saja Wan Yen Kan melakukan perjalanan sebagai seorang pangeran Kin, tentu ia akan mendapat sambutan di mana-mana, sambutan yang amat besar dan penuh penghormatan.

Sebaliknya, nyawapun akan terancam bahaya besar karena selain di satu fihak para pembesar Kerajaan Sung akan menyambutnya, di lain fihak orang-orang kang ouw dan gagah perkasa yang masih menaruh sakit hati kepada bala tentara Kin yang dulu pernah menyerang ke selatan, tentu akan berusaha untuk membunuh pangeran musuh ini.

Akan tetapi, seperti biasa kalau melakukan perjalanan, Wan Yen Kan selalu berpakaian seperti orang Han dan karena iapun pandai berbahasa Han seperti orang-orang Han asli ia dapat melakukan penyamaran dengan amat mudahnya.

Pada suatu hari, tibalah ia di kota An-keng yang berada di lembah Sungai Yang-ce-kiang di Propinsi An-hui, sebuah kota yang besar dan ramai.

Wan Yen Kan seorang diri, memandang keindahan kota dan keramaian di pinggir sungai.

Gedung-gedung besar berada di kota An-keng gedung-gedung yang mempunyai tingkat satu atau dua dengan taman-taman bunganya yang indah.

Memang lembah Sungai Yang-ce ini tanahnya subur sekali sehingga orang dapat menanam berbagai macam bunga dari daerah lain.

Banyak orang-orang kaya, pedagang-pedagang dan bangsawan-bangsawan berpangkat mempunyai rumah hiburan di kota ini, baik bangsawan-bangsawan yang tinggal memangku jabatan di daerah ini maupun bangsawan-bangsawan daerah lain yang sengaja membeli rumah di tempat ini.

Bukan hanya karena pemandangannya yang indah, tanahnya yang subur dan hawanya yang nyaman, juga daerah ini terkenal sekali mempunyai banyak...wanita cantik!

Memang, wanita-wanita dari selatan jauh lebih cantik dalam ukuran umum jika dibandingkan dengan wanita-wanita dari utara.

Hal ini tentu saja tergantung sepenuhnya dari selera pandangan mata kaum laki-laki, akan tetapi memang harus diakui bahwa gadis-gadis dari selatan lebih cantik.

Mungkin karena iklimnya.

Betapapun juga, demikianlah pendapat Wan Yen Kan, pangeran Kin itu!

Ketika Wan Yen Kan tengah berjalan seorang diri, menikmati pemandangan di tepi sungai dan banyak menjadi perhatian orang karena memang ia tampan dan menarik, tiba-tiba ia mendengar orang memanggilnya perlahan.

"Siauw-Ongya...!"

Wan Yen Kan terkejut sekali karena siapakah yang dapat mengenalnya di tempat ini sehingga menyebutnya Siaw-Ongya?

la menoleh dan melihat seorang laki-laki bangsa Kin yang tinggi besar dan wajahnya keren sekali.

"Sst, Wu Ki, tutup mulutmu. Di sini aku adalah seorang Siucai bernama Wan Kan!"

Orang tinggi besar yang disebut Wu Ki tadi membelalakan matanya yang besar, akan tetapi ia lalu tersenyum-senyum dan menjura dengan hormat.

"Aha, Wan-Siangkong, hendak kemanakah?"

Katanya, kini suaranya keras sehingga terdengar oleh banyak orang.

Terutama sekali wanita-wanita yang berada di situ, ketika melihat pemuda tampan itu diberi hormat oleh seorang perwira Kin, tentu saja makin memperhatikan dan tertarik sekali.

Wan Yen Kan tidak berani menggunakan she Wan Yen di tempat umum, karena she ini saja sudah menunjukan keturunannya.

Dahulu bangsa Kin berasal dari suku bangsa Wan Yen dan setelah bangsa dan Kerajaan Kin terbentuk, maka rajanya dan orang-orang besar banyak menggunakan nama Wan Yen sebagai nama keturunan atau nama tanda bahwa mereka adalah bangsa Wan Yen aseli berpangkat tinggi.

"Wu-Ciangkun, marilah kita bicara di rumah makan itu,"

Kata Wan Yen Kan dengan keras juga, kemudian mereka berdua duduk di dalam sebuah restoran yang sunyi, karena memang bukan maksud mereka hendak mencari restoran yang banyak dikunjungi orang, melainkan hendak mengobrol.

"Eh, Wu Ki, bagaimana kau bisa berada di sini? Bukankah kau melakukan pekerjaanmu di An-yang?"

Memang Wu Ki adalah seorang perwira Kin yang kini memegang jabatan sebagai pembesar militer merangkap algojo di kota An-yang.

Semenjak dahulu, Wu Ki kini memang seorang algojo dan memperoleh kedudukan baik karena kepandaiannya yang tinggi dan karena ia sudah berjasa dalam hal melakukan tugas sebagai algojo, la lebih terkenal di kotanya dengan sebutan Algojo Wu!

Senjatanya adalah sebuah kapak alat pemenggal kepala yang luar biasa tajamnya dan kalau Algojo Wu sudah memegang kapak ini, sudah dapat dipastikan bahwa tentu akan ada leher manusia yang putus!

"Benar, Siauw-Ongya, memang hamba masih bertugas di An-yang, akan tetapi sudah dua hari hamba berada di sini, karena hamba ditugaskan kepala daerah An-yang untuk melindungi Liok-taijin di kota An-keng ini."

"Siapa itu Liok-taijin dan mengapa ia harus dilindungi olehmu?"

Tanya Wan Yen Kan. Suaranya tidak senang, karena memang dalam hal disiplin para petugas pemerintah Kin, pangeran ini amat keras.

"Liok-taijin adalah kepala daerah di sini dan mempunyai perhubungan baik dengan kepala daerah An-yang. Belum lama ini, Liok-taijin sengaja minta bantuan ke An-yang karena ia terancam bahaya, maka hamba diutus datang ke sini untuk melindungi."

"Apa yang terjadi?"

Wan Yen Kan tertarik.

"Persoalannya biasa saja, Siauw-Ongya. Liok-taijin mempunyai seorang penyewa tanah yang tidak mampu bayar sewanya karena belum lama ini terjadi banjir besar. Karena isteri dari petani itu amat cantik, Liok-taijin tertarik dan membebaskan petani dari hutang-hutangnya dengan jalan mengoper isteri petani itu. Semua terjadi dengan aman dan baik. Petani muda itu sudah memberikan isterinya kepada Liok-taijin sudah berlaku demikian murah hati sehingga bukan saja membebaskan hutangnya, bahkan memberi pinjaman tanah baru tanpa membayar uang sewa di muka. Petani itu merasa beruntung, isterinya tentu senang menjadi calon selir Liok-taijin yang kaya raya, sedangkan Liok-taijin sendiri tentu saja girang mendapatkan selir baru yang demikian cantiknya. Akan tetapi" "

Sepasang alis Wan Yen Kan berkerut mendengar berita ini.

la merasa mendongkol sekali mendengar kelakukan pembesar she Liok itu, dan juga ia marah sekali mendengar kata-kata Wu Ki yang sudah jelas membayangkan betapa buruk perangai Algojo Wu ini.

Akan tetapi pangeran muda ini masih dapat menahan sabar, bahkan mendesak bertanya.

"Akan tetapi bagaimana?"

"Akan tetapi, entah bagaimana, urusan ini terdengar oleh seorang pendekar wanita yang mengaku bernama Biciu-lihiap (Pendekar Wanita dari Biciu) Thio Ling In. Lihiap ini malam-malam datang di rumah Liok-taijin dan meninggalkan surat ancaman bahwa kalau di dalam lima hari isteri dari petani muda itu tidak diantarkan pulang kepada suaminya dan kalau Liok-taijin berani mengganggunya, maka ia akan datang mengambil kepala Liok-taijin!"

Wan Yen Kan mengangguk-angguk kagum, la tidak merasa aneh mendengar akan hal ini.

Memang di selatan banyak terdapat pendekar-pendekar yang gagah berani dan yang suka mempergunakan kepandaiannya menolong orang-orang yang lemah tertindas.

Tertariklah hatinya untuk dapat bertemu dengan lihiap ini.

"Liok-taijin memanggil kau datang apakah untuk menyuruh kau melawan Biciu-lihiap Thio Ling In?"

Tanyanya.

"Benar, Siauw-Ongya. Menurut perhitungan, lima hari yang diberikan oleh Biciu-lihiap berakhir besok pagi. Maka sebelum menghadapi penjahat perempuan itu, hamba berpesiar dulu di tempat ini dan tidak sengaja dan tidak dikira bertemu dengan Ongya di sini."

"Hm, Wu Ki, kau berlaku gegabah sekali. Apakah kau pikir akan dapat menghadapinya? Bagaimana kalau dia lihai sekali?"

Wu Ki tersenyum-senyum mengejek.

"Ongya, selihai-lihainya perempuan, masa hamba akan kalah?"

La menepuk-nepuk pinggangnya di mana tersembunyi di balik bajunya senjata pemenggal kepala yang mengerikan bentuknya. Wan Yen Kan tersenyum pula dan pangeran ini menyembunyikan kemendongkolannya.

"Aku ingin menyaksikan pertarunganmu dengan Biciu-lihiap."

"Kalau begitu, marilah Siauw-Ongya, hamba perkenalkan kepada Liok-taijin."

Wan Yen Kan mengangguk.

"Akan tetapi jangan beri tahu siapa adanya aku, Wu-Ciangkun. Katakan saja bahwa aku adalah sahabatmu bernama Wan Kan."

Girang sekali hati Wu Ki karena pangeran ini mau ikut dengan dia ke rumah gedung Liok-taijin.

Hatinya besar, karena iapun maklum bahwa Pangeran Wan Yen Kan ini adalah murid Ba Mau Hoatsu dan pangeran muda ini mempunyai kepandaian yang masih lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.

Dengan adanya pangeran ini, maka ia tak usah takut akalu kalah menghadapi Biciu-lihiap.

Liok-taijin menerima Wan Yen Kan atau yang diperkenalkan sebagai Wan Kan dengan sikap dingin saja.

Pembesar ini menghadapi perwira-perwira bangsa Kin boleh jadi akan memperlihatkan sikap menghormat dan bermuka-muka, akan tetapi menghadapi Wan Kan seorang bangsa Han biasa, atau seorang bangsanya sendiri yang diperkenalkan sebagai seorang sahabat dari Wu Ki, ia tidak memandang sebelah mata.

Dengan sikap acuh tak acuh ia memerintahkan kepada pelayan untuk mempersiapkan sebuah kamar di dekat kamar Wu Ki untuk sahabat perwira Kin itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, baru saja Wu Ki dan Pangeran Wan Yen Kan makan pagi, terdengar suara ribut-ribut di halaman depang gedung Liok-taijin.

Mereka buru-buru keluar dan di halaman depan, kelihatan seorang gadis yang cantik dan gagah sekali, yang datang dengan pedang tergantung di pinggang.

"Manusia mata keranjang she Liok. Keluarlah kau untuk terima binasa!"

Dengan suara nyaring, wanita muda ini berseru.

Dia bukan lain adalah Biciu-lihiap Thio Ling In, yaitu suci dari Bi lan atau murid dari Liang Bi Suthai, tokoh Hoa-san-pai.

Wu Ki melompat maju, la sudah melihat betapa empat orang penjaga pintu telah roboh di atas lantai sambil memegangi dada danmengusap muka yang berdarah bibirnya, la maklum bahwa empat penjaga itu tentu dirobohkan oleh gadis cantik ini.

"Hm, perempuan liar dan ganas! Agaknya kau kah yang bernama Thio Ling In yang mengaku sebagai pendekar wanita dari Biciu? Sayang sekali akan kecantikanmu kalau kau berani kurang ajar di sini! Hayo lekas berlutut di depan tuanmu. Algojo Wu yang sudah memenggal ratusan orang-orang gagah! Kalau tidak lekas berlutut dan menyerah, terpaksa kepalamu yang akan terpisah dari lehermu!"

Thio Ling In memang berwatak keras sekali.

Di dalam perantauannya, ia tiba di kota An-keng dan mendengar berita tentang dirampasnya isteri petani oleh Liok-taijin kepala daerah yang sudah berusia tua akan tetapi masih suka mengganggu anak bini orang mengandalkan harta dan pangkatnya.

Hal ini tentu saja membuat ia marah sekali.

Akan tetapi, oleh karena berurusan dengan kepala daerah, seorang berpangkat tinggi, ia tidak mau turun-tangan begitu saja dan mencoba untuk mengancam agar Liok-taijin melepaskan wanita itu.

Tidak tahunya, kepala daerah itu tidak mentaati perintahnya, bahkan ia mendengar bahwa kepala daerah ini mendatangkan jago-jago dari pemerintah Kin.

Kini menghadapi Wu Ki dan mendengar bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang Kin yang jagoan, kemarahan gadis perkasa ini tak dapat dikendalikannya lagi.

Tadipun empat orang penjaga itu bersikap kasar dan kurang ajar terhadap dia, maka ia segera merobohkan mereka dengan pukulan dan tendangan.

"Manusia sombong, kuperingatkan kau agar kau jangan mencoba untuk menghalangi aku! Panggil saja Liok-taijin keluar. Aku tidak suka membikin banyak ribut, kalau perkara itu dapat diselesaikan dengan baik-baik. Suruh Liok-taijin keluar!"

"Bocah sombong! kau murid siapakah berani berlagak di depan Algojo Wu?"

Bentak Wu Kl sambil mengeluarkan senjatanya yang hebat.

Senjata ini adalah sebuah kapak yang bergagang pendek dan bermata lebar sekali, tajamnya bukan main sampai berkilauan mengerikan.

Juga ujung gagang di atas kapak itu runcing sekali.

Namun Ling In tidak takut sedikitpun juga, la bahkan tersenyum mengejek dan bukan main manisnya wajah dara perkasa ini kalau tersenyum.

"Orang sombong, kau kira aku takut melihat mainan tiada guna di tanganmu itu? Boleh jadi yang dapat kupenggal lehernya hanya sebangsa ayam dan babi saja, akan tetapi kau berhadapan dengan Thio Ling In murid dari Hoa-san-pai!"

Sambil berkata demikian, gadis ini mencabut keluar pedangnya yang juga berkilauan menyilaukan mata.

Sementara itu, Pangeran Wan Yen Kan yang juga sudah keluar dan berdiri di pinggir, memandang kepada Ling In dengan berdebar dan mata tak pernah berkedip.

Di dalam pandangan matanya, Ling In nampak demikian cantik jelita, demikian gagah dan hatinya sekaligus jatuh dan cinta kasih timbul, membuat pangeran muda ini berdiri bengong seakan-akan kehilangan semangatnya.

Adapun Wu Ki ketika mendengar ucapan Ling In, menjadi marah sekali.

"Bocah sombong, kau jagalah baik-baik batang lehermu!"

Katanya sambil mengayun kapaknya dan menyerang leher Ling In.

Gadis ini cepat mengelak dan membalas serangan lawannya dengan gerakan pedangnya yang cepat dan kuat.

Melihat cara Ling In begerak seringan dan secepat itu, diam-diam Wu Ki maklum bahwa gadis cantik ini benar-benar lihai dan tidak boleh dipandang ringan.

Maka ia lau mengeluarkan kepandaiannya bermain kapak.

Senjata yang mengerikan itu digerakkan dengan tangan kanan, demikian cepat sehingga ketika senjata ini menyambar lawannya denagn tenang-tenang saja, lapun maklum bahwa lawannya ini memiliki tenaga yang luar biasa besarnya.

Kalau sampai pedangnya bertemu dengan senjata lawan, mungkin pedangnya akan rusak atau terlepas dari pegangannya.

Maka Ling In amat cerdiknya lalu mengandalkan ginkangnya, berlompatan ke sana ke mari di antara sambaran senjata lawan, hanya mempergunakan pedang untuk menangkis kalau kedudukannya baik dan aman saja, yaitu hanya menyampok senjata lawan itu dengan pedangnya dari samping, tidak berarti mengadu senjata secara langsung Ling In tidak hanya mempertahankan diri belaka, Bahkan dengan ilmu pedang Hoa-san-pai yang terkenal kuat gerakannya, ia membalas serangan lawannya.

Pertandingan itu berjalan seru sekali.

Wu Ki menang kuat dan bertempur dengan ilmu silat bangsanya yang mengandalkan tenaga dan kenekadan.

Namun Ling In menang lincah dan ringan, tidak hanya mengandalkan tenaga, terutama sekali mengandalkan ginkang dan kecerdikan otaknya.

Oleh karena itu, gulungan sinar pedang di tangan Biciu-lihiap ini makin lama menjadi makin besar dan keadaan Wu Ki amat terdesak!

Pangeran Wan Yen Kan ketika melihat Ling In, menjadi jatuh cinta dan ia segera berlari masuk ke dalam rumah gedung Liok-taijin.

Timbul pikirannya untuk membantu usaha nona dari Hoa-san itu.

Ketika Liok-taijin melihatnya, pembesar ini lalu menegur.

"Bagaimana dengan Wu-Ciangkun? Apa kehendakmu masuk ke sini?"

Wan Yen Kan membentaknya.

"Kau bandot tua memang patut menerima hukuman karena perbuatanmu memang terlalu sekali!"

Liok-taijin menjadi pucat dan marah sekali.

"Pengawal, tangkap orang ini!"

Teriaknya kepada beberapa orang penjaga yang berdiri dengan tombak di tangan dan yang menjaga di luar kamarnya.

Akan tetapi baru saja para penjaga itu bergerak, Wan Yen Kan sudah mendahului mereka dan meloncat masuk ke dalam kamar.

"Tua Bangka tak tahu diri! Lihat baik-baik, kenalkah kau akan tanda ini?"

Wan Yen Kan mengeluarkan tanda pangkat atau kedudukannya yang selalu disimpan di saku bajunya.

Melihat tanda ini, seketika itu juga Liok-taijin menggigil ketakuan dan mukanya menjadi pucat sekali, la mengangkat tangan dan berkata kepada para penjaga yang kini menyerbu ke dalam kamar hendak menangkap Wan Yen Kan.

"Mundur kalian semua! Mundur dan biarkan aku dan Siangkong (Tuan Muda) ini bicara sendiri."

Para penjaga mundur teratur dengan muka heran.

Pintu lalu ditutup dan Liok-taijin segera menjatuhkan diri berlutut di depan Wan Yen Kan!

Sebetulnya, menurut aturan, seorang pembesar Kerajaan Sung tidak semestinya memberi penghormatan sedemikian besarnya kepada seorang pangeran muda Kerajaan Kin di utara.

Akan tetapi oleh karena Liok-taijin (Pembesar Liok) termasuk segolongan oarng yag berwatak penjilat seperti anjing dan selalu bermuka-muka pada para pembesar Kin, tanpa ragu-ragu lagi ia berlutut di depan Wan Yen Kan sambil berkata.

"Ah, tidak tahunya Siauw-Ongya yang berada di sini. Hamba harus mampus tidak mengenal Ongya sehingga berlaku kurang hormat."

"Sudahlah, Liok-taijin. Tak perlu segala macam penghormatan kosong ini. Paling perlu kau lekas menyuruh isteri petani itu keluar, dan harus diserahkan kembali kepada Biciu-lihiap."

Dengan muka sebentar merah sebentar pucat, Liok-taijin memanggil penjaga untuk menjemput selir barunya yang belum lama ini dapat dirampas dari tangan seorang petani.

Ketika selir itu muncul, Wan Yen Kan menjadi merah mukanya saking jengah dan juga mual perutnya.

Wanita muda itu memang benar cantik manis, akan tetapi matanya liar dan genit, pakaiannya mewah dan sikaptnya terhadap Llok-taijin amat manis dan memikat hati!

Sama sekali bukan sikap seorang isteri yang dirampas dari suaminya dan dipaksa menjadi selir orang-tua berpangkat itu.

Akan tetapi, karena maksudnya hanya untuk membantu usaha Biciu-lihiap, ia segera mengajak Liok-taijin dan selir barunya itu keluar dari kamar.

Pertandingan antara Ling In dan Wu Ki masih berjalan ramai.

Biarpun Ling In di fihak yang mendesak, namun Wu Ki bukanlah seorang yang lemah.

Sebegitu jauh, belum juga Ling In dapat merobohkan lawannya, maka tentu saja nona ini menjadi marah dan gemas bukan main.

Pedangnya bergerak-gerak seperti tangan maut yang menjangkau, dan agaknya tak lama lagi Wu Ki pasti akan menjadi korban pedangnya.

Tiba-tiba nampak dua benda bergerakn di antara dua orang yang bertempur itu dan benda ini bukan lain adalah kedua ujung lengan baju dari Wan Yen Kan.

Pangeran yang berkepandaian tinggi ini mempergunakan Iweekangnya, dan ujung lengan bajunya sekaligus menangkis pedang dan kapak yang saling serang.

Baik Wu Ki maupun Ling In terkejut sekali karena biarpun yang menangkis senjata mereka itu hanya ujung lengan baju, namun demikian kuat tangkisan itu sehingga pedang di tangan Ling In terpukul mundur dan yang lebih hebat lagi, kapak di tangan Wu Ki terlepas dari pegangan dan jatuh di atas lantai mengeluarkan suara nyaring!

Hal ini tidak aneh karena memang dalam menangkis kapak Wu Ki, Wan Yen Kan mempergunakan tenaga yang lebih besar.

Memang tadi Wan Yen Kan mengajak Liok-taijin dan selirnya keluar, dan berpesan kepada pembesar she Liok itu agar jangan membuka rahasia penyamarannya dan menyebutnya sebagai seorang bernama Wan Kan saja.

Kemudian, melihat betapa Wu Ki berada dalam bahaya, ia cepat melompat dan mempergunakan kepandaiannya untuk memisah kedua orang yang sedang bertempur itu.

Biciu-lihiap Thio Ling In memandang tajam dan hatinya khawatir juga.

Kalau orang muda yang nampak halus dan tampan ini berada di fihak lawan, ia harus mengerahkan tenaga dan bertempur mati-matian karena pemuda ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Akan tetapi, pemuda itu memberi hormat kepadanya dengan cara sopan santun, lalu berkata.

"Maafkan kalau aku Wan Kan yang bodoh mengganggu Biciu-Lihiap yang terkenal gagah perkasa. Kali ini Lihiap sia-sia belaka mengeluarkan tenaga dan melepas budi, karena yang Lihiap tolong adalah seorang wanita yang tidak setia."

Ling In tertegun dan sepasang alisnya dikerutkan yang dalam pandangan Wan Yen Kan menjadi bertambah manis saja.

"Apakah artinya kata-katamu ini?"

Lapun melirik ke arah Liok-taijin dan melihat pula seorang perempuan muda yang mukanya cantik akan tetapi berbedak tebal dan sikapnya genit, berdiri di dekat pembesar itu. Wan Kan tersenyum.

"Aku maklum Lihiap tentu membayangkan seorang isteri muda yang menangis sedih karena dipisahkan orang dari suaminya. Akan tetapi bukan kau saja, Lihiap. Aku sendiripun kecele ketika melihat bahwa wanita itu sebetulnya lebih suka hidup di samping seorang pembesar tua yang kaya raya daripada di dekat suaminya seorang petani muda yang miskin. kau lihatlah saja apakah dia itu patut ditolong? Kurasa kalau kau berhasil membawa dia pergi dari sini, dia bukan berterima kasih, melainkan akan menangis sedih!"

Bukan main heran dan marahnya hati Ling In. Dengan pedang di tangan, ia melangkah maju mendekati Liok-taijin dan selir barunya yang berdiri ketakutan.

"Kau kah isteri petani muda yang dibayarkan hutang?"

Tanya Ling In sambil menudingkan telunjuk kirinya ke muka nyonya muda itu. Selir muda itu mengangguk dan tersenyum malu-malu.

"Apakah benar kau tidak ingin pulang kepada suamimu?"

Tiba-tiba wanita itu mengangkat mukanya dan memandang dengan penasaran dan marah kepada Ling In.

"Aku sudah bosan hidup kurang sandang-pangan di samping manusia tolol dan malas itu! Aku tidak sudi kembali kepadanya!"

Wan Yen Kan atau Wan Kan tersenyum menang kepada Ling In yang juga mengerling kepadanya.

"Nah, Lihiap bukankah kali ini kau salah pilih?"

Akan tetapi Ling In sudah menjadi marah sekali, la telah mendatangi petani muda yang dirampas isterinya itu dan telah menolong petani itu untuk merampaskan kembali isterinya.

Tidak tahunya, perempuan macam inilah yang harus ditolongnya!

"Perempuan hina dina!"

Bentak Ling In dalam kemarahannya dan pedangnya bekelebat menusuk dada perempuan itu!"

"Sabar, Lihiap!"

Wan Kan beseru dan secepat kilat rantai perak di tangannya bergerak menangkis pedang, la tadi memang sudah siap sedia karena dapat menduga bahwa pendekar wanita itu tentu akan marah sekali dan diam-diam ia telah meloloskan senjatanya, yaitu rantai perak dari pinggangnya.

"Lihiap, apa gunanya membunuh dia? Mari kita datangi suaminya dan kita berdua menolongnya!"

Karena merasa tiada alasan untuk melanjutkan niatnya membunuh wanita itu, Ling In tidak menjawab dan sekali ia melompat, ia telah berada di luar gedung.

Ketika ia berdiri, ia mendengar suara tindakan kaki dari belakangnya, la mengerling dan melihat pemuda tampan tadi masih mengikutinya.

Ling In merasa penasaran dan ia mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat.

Sebagai murid dari Liang Bi Suthai, ilmunya berlari cepat tentu saja lihai sekali.

Kedua kakinya yang kecil seakan-akan tidak menginjak tanah ketika ia lari bagaikan terbang cepatnya.

Akan tetapi, ketika ia menoleh ke belakang, pemuda tampan itu masih saja berlari di belakangnya, dan nampak pemuda itu tidak terlalu mengerahkan tenaga dan dengan enak saja dapat mengimbangi kecepatannya!

Ling In terkejut sekali dan juga terheran-heran.

Siapakah pemuda yang mengaku bernama Wan Kan ini?

la menghentikan larinya dan membalikkan tubuh dengan muka cemberut.

"Eh, Lihiap (Nona Pendekar), mengapa kau berhenti? Apakah di hutan ini tempat tinggal petani muda itu?"

Tanya Wan Yen Kan atau Wan Kan. Ling In tidak menjawab pertanyaan ini, sebaliknya bertanya.

"Orang she Wan, kau ada keperluan apakah dengan aku? Mengapa mengikuti perjalananku? Apakah kau hendak melakukan pembalasan karena perbuatanku terhadap Liok-taijin? Apakah kau orangnya Liok-taijin?"

Wan Kan tersenyum dan memandang nona cantik itu dengan hati makin terjerat.

"Lihiap, harap kau jangan salah sangka dan jangan menduga yang bukan-bukan terhadap aku. Aku tidak mengenal pembesar itu dan aku bahkan memaksa dia keluar bersama perempuan itu untuk menemuimu. Seperti juga kau, aku merasa jemu dan gemas melihat bandot tua tak tahu diri itu. Dalam hal ini, pendapat kita sama!"

Kembali ia tersenyum dan memang pangeran muda ini wajahnya tampan dan menarik, maka senyumnya membuat wajah itu benar-benar menarik, bagai mata seorang gadis.

Ling In diam-diam harus mengakui bahwa pemuda di hadapannya ini amat menarik, tidak saja tampan dan sikapnya halus dan sopan juga ilmu kepandaiannya agaknya tidak berada di sebelah tingkat kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi tentu saja ia merasa sungkan dan likat, bahkan agak mendongkol melihat pemuda ini tersenyum-senyum padanya.

"Sama atau tidak pendapat kita, bukan urusanku! Seperti juga semua usahaku mengenai diri petani miskin itupun bukan urusanmu. kau siapakah dan murid siapa, mengapa hendak mengganggu? Harap kau jangan mencari perkara dan lekas pergi jangan mencampuri urusanku."

Wan Kan mengangkat kedua tangannya memberi hormat.

"Maaf, Nona. Bukan sekali-kali aku hendak berlaku kurang ajar kepadamu. Aku mendengar tentang perbuatanmu yang mulia, yang hendak menolong kaum tertindas, maka sebagai orang segolongan yang benci akan kejahatan, apakah aku bersalah kalau aku tertarik kepada kegagahanmu? Bertemu dengan seorang pendekar wanita seperti kau, siapa orangnya yang tidak ingin berkenalan? Aku bukan anak murid mana-mana, hanya suka berkelana dan mempelajari sedikit ilmu silat, berkenalan dengan orang-orang gagah sedunia. Sekarang mendengar tentang nasib pemuda itu, hatiku merasa amat kasihan dan ingin sekali aku menolongnya. Apalagi melihat betapa isterinya bersikap menjemukan, ah, aku ingin sekali menolongnya, Lihiap."

Melihat sikap Wan Kan dan mendengar ucapannya yang penuh kesopanan dan pribudi tinggi, Ling In berdebar jantungnya.

Pemuda ini benar-benar hebat dan berhati mulia, pikirnya.

Merahlah mukanya karena ia merasa telah bersikap kasar dan galak, sikap yang tidak semestinya dari seorang gagah kepada orang gagah yang lain.

Maka iapun mengangkat kedua tangan membalas penghormatan itu dan berkata halus.

"Maaf, Wan-Enghiong, kalau tadi aku bicara kasar. Di dunia ini banyak sekali orang-orang jahat, apalagi laki-laki kalau berhadapan dengan wanita."

La melihat wajah pemuda itu menjadi merah, maka buru-buru ia berkata lagi.

"Tentu saja bukan semua laki-laki bersikap kurang ajar terhadap wanita. Aku belum mengenalmu dan bertemu dengan tiba-tiba saja, sudah tentu tadinya akupun merasa curiga. Akan tetapi mengingat bahwa kepandaianmu tinggi dan sikapmu baik, maafkanlah kekasaranku tadi. Aku bernama Thio Ling In dan anak murid Hoa-san-pai. Sekarang aku hendak mengunjungi petani muda yang dirampas isterinya, karena kepadanya aku sudah menjanjikan akan membawa pulang isterinya. Aku masih bingung sekali bagaimana harus bicara dengan dia, karena sekarang ternyata aku pulang tidak dengan isterinya."

"Lihiap jangan khawatir. Serahkan saja hal ini kepadaku. Aku yang akan bicara dan menolong petani malang itu,"

Kata Wan Kan.

Kini Ling In tidak berkeberatan pula untuk melakukan perjalanan bersama pemuda ini dan ia langsung menuju ke dusun di luar kota tempat tinggal petani itu.

la masih tetap berlari cepat dan kini Wan Kan tidak berlari di belakangnya, melainkan berlari di sebelah kirinya.

"Saudara Wan, ilmu lari cepat yang kau miliki benar-benar hebat!"

Kata Ling In yang kini tidak merasa kikuk lagi. Wan Kan tersenyum.

"Ah, kau hanya memuji saja, Lihiap. Mana aku bisa disamakan dengan kau yang lihai?"

"Sebetulnya kau pernah belajar ilmu silat dari siapakah?"

"Aku hanya belajar di sana-sini, Nona, tidak pantas untuk diceritakan kepada murid Hoa-san-pai yang besar dan terkenal."

Ling In makin tertarik kepada pemuda ini.

Sikapnya demikian sopan dan merendah, la diam-diam menduga bahwa pemuda ini tentulah murid seorang pandai.

Karena lari mereka cepat sekali, tak lama kemudian tibalah mereka di sebuah dusun kecil di mana petani muda ini tinggal.

Mereka menuju ke sebuah gubuk kecil di pinggir sawah dan dari jauh seorang petani muda yang bertubuh kurus dan berwajah pucat keluar dari gubuk dan berlari menyambut kedatangan Ling In.

ia nampak takut-takut melihat Wan Kan dan mukanya menjadi makin muram ketika ia tidak melihat isterinya datang bersama pendekar wanita yang menolongnya itu.

"Lihiap, bagaimana dengan dia? Mengapa tidak ikut pulang?"

La serta merta menanyakan isterinya kepada Ling In.

Yang ditanya menjadi bingung dan tidak tahu harus menjawab bagaimana.

Ling In dengan sinar mata minta bantuan menghadapi pertanyaan yang tak dapat dijawabnya ini.

Wan Kan melangkah maju dan ia mengulur tangan memegang pundak petani muda itu.

"Sobat, kau dengarlah aku baik-baik. Aku adalah kawan dari nona pendekar yang menolongmu ini dan kedatanganku ini tak lain hendak menolong kau dari pada kesengsaraan ini. Isterimu tidak berharga untuk kau tangisi dan kau sedihkan."

Terbelalak kedua mata petani itu ketika memandang kepada Wan Kan dan mendengar omongan ini.

"Apa maksudmu, Siangkong? Apakah isteriku mati... ataukah ia telah dipaksa oleh Liok-taijin...?"

Wan Kan menggelengkan kepalanya.

"Dia seorang isteri tidak berharga, seorang isteri yang tidak setia kepadamu. Tidak ada orang memaksanya, akan tetapi dia sendiri yang leih suka menjadi bini muda Liok-taijin daripada menjadi isterimu."

"A-ceng kau kejam!"

Suami ini berseru dengan bibir gemetar.

"Sudahlah jangan kau demikian lemah! Kalau keadaanmu baik dan penghasilanmu cukup, apa susahnya mencari isteri lagi yang lebih baik daripada dia yang tidak setia itu?"

"Siangkong (Tuan muda) untuk makan sendiri saja sukar, apalagi untuk mencari seorang isteri baru! Biarpun saya miskin dengan seorang isteri di sampingku, masih tertahankan derita hidupku ini. Akan tetapi sekarang untuk apa aku hidup lebih lama lagi?"

Wan Kan menggoncang-goncang pundak petani itu dan berkata bengis.

"Kalau aku tidak ingat betapa Biciu-lihiap sudah bersusah-payah untuk menolongmu, mendengar bicaramu ini agaknya aku lebih suka melihat kau mampus! kau laki-laki lemah tiada guna! Sungguh memalukan hidup menjadi seorang laki-laki kalau seperti kau ini sikapnya. Mari terimalah ini dan tinggalkan saja tempat ini. Carilah penghidupan baru di tempat lain dengan modal ini, kemudian carillah isteri yang lain yang lebih baik. Enyahlah!"

Sambil berkata demikian, Wan Kan mengeluarkan sebuah kantong terisi penuh uang emas dan memberikan kantong itu kepada petani muda ini.

Ketika petani itu menerima kantong dan membukanya, melihat betapa isinya adalah uang emas, terbelalak matanya dan ia menjatuhkan diri berlutut di depan Wan Kan.

"Terima kasih, Siangkong. Terima kasih!"

"Cukup! Pergilah lekas-lekas! Jangan tunggu sampai aku berubah pikiran dan minta kembali uang itu!"

Bentak Wan Kan. Petani itu berdiri dan berlari pergi sambil kegirangan. Sampai lama Wan Kan berdiri diam dan akhirnya kesunyian dipecahkan oleh suara Ling In yang berkata kepadanya.

"Kau berhati Mulia sekali, Saudara Wan."

Wan Kan memandang Ling In. Sepasang mata yang bagus itu masih memancarkan cahaya kemarahan.

"Lihiap kau lihat sendiri betapa rendahnya pekerti orang yang kau tolong. Laki-laki macam dia, sungguh muak aku melihatnya, la tidak lebih daripada Liok-taijin!"

Ling In menarik napas panjang.

"Memang ia berwatak pengecut sekali, akan tetapi siapa tahu kalau-kalau sifatnya ini terdorong oleh besarnya rasa cintanya kepada isterinya."

Wan Kan mengangguk-angguk.

"Mungkin kau benar, Lihiap. Memang rasa cinta kasih dapat membuat seorang laki-laki seperti gila. Ini hanya kumengerti dari buku-buku, karena aku sendiri belum pernah menderita penyakit itu."

"Aku..."

Sampai di sini Ling In menahan kata-katanya dan mukanya menjadi merah.

"Kau kenapa, Nona?"

Mendesak Wan Kan. Ling In menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa,"

Jawabnya.

Sebetulnya mendengar kata-kata Wan Kan tadi, saking tertariknya, Ling In hampir saja mengatakan bahwa dia pernah merasai penderitaan penyakit cinta kasih itu, karena telah lama dia dan suhengnya, yaitu Lie Bu Tek, saling menaruh cinta!

la merasa marah terhadap diri sendiri.

Mengapa kepada seorang pemuda yang baru saja dijumpainya ia hampir saja membuka rahasia hatinya?

Saking gemas kepada diri sendiri, ia lalu meloncat dan pergi sambil berkata.

"Sudahlah, Saudara Wan. Kita saling berpisah di sini!"

"Nanti dulu, Lihiap!"

Kata Wan Kan sambil meloncat ke depan nona ini.

"Kita baru saja bertemu dan aku amat tertarik kepadamu, mengapa kau tidak sudi melakukan perjalanan bersamaku?"

Merah muka Ling In.

"Hal itu tidak patut, Saudara Wan. Tidak selayaknya seorang gadis melakukan perjalanan dengan seorang pemuda yang belum dikenalnya.

"Akan tetapi bukanlah kita sudah berkenalan? Apakah kau tidak mau menjadi sahabatku?"

"Bukan demikian, Saudara Wan. Akan tetapi, aku ingin melakukan perjalanan seorang diri saja. Harap kau jangan mengganggu."

"Nona Ling In, kalau aku boleh bertanya, kau hendak ke manakah? Kalau tujuan kita sama, apa salahnya kita melakukan perjalanan bersama?"

Ling In menggeleng kepala.

"Tetap saja kurang baik. Terpaksa aku menolak maksud baikmu itu. Maafkan."

Kembali Ling In meloncat jauh, dan sekali lagi Wan Kan mengejarnya. Pemuda ini merasa gelisah sekali kalau-kalau setelah berpisah takkan dapat bertemu dengan gadis yang telah merebut hatinya ini.

"Nona, maafkanlah aku! Aku tidak mau berlaku kurang ajar dan mendesakmu. Akan tetapi setelah kita berkenalan bolehkah aku mengetahui di mana tempat tinggalmu? Kalau aku kebetulan lewat di kotamu dalam perantauanku, tentu aku akan mengunjungimu untuk menyatakan hormatku."

Melihat desakan pemuda ini, diam-diam hati Ling In berdebar, la adalah seorang wanita, karenanya ia memiliki perasaan yang halus sekali.

Melihat sikap dan pandangan mata pemuda ini, tak salah lagi, ia dapat memastikan bahwa pemuda ini jatuh hati kepadanya!

Hal ini mendatangkan debaran hebat dalam dadanya.

Bagaimana ia bisa menolak permintaan yang demikian sopan dan mendesak?

"Aku tinggal di Bi ciu, Saudara Wan.

Nah, selamat berpisah!"

La lalu melompat pergi dan berlari cepat.

Ketika larinya sudah jauh dan ia menengok, ternyata pemuda tampan itu masih berdiri bertolak pinggang sambil memandangnya seperti patung.

Hal ini membuat muka Ling In terasa panas dan merah, maka ia lalu mempercepat larinya.

Di sepanjang perjalanan, bayangan pemuda itu selalu mengikutinya.

Ling In sendiri merasa heran mengapa ia selalu terkenang kepada Wan Kan, pemuda tampan dan gagah perkasa yang baru dijumpainya satu kali itu.

Diam-diam ia mencela diri.

Apakah aku berwatak seperti perempuan hina dina yang rela menjadi bini muda Liok-taijin itu dan melupakan suami sendiri?

Ah, aku tidak boleh mengenang Wan Kan, bukankah ada Lie Bu Tek yang amat mencitaku dan biarpun mulut kita belum pernah membuka rahasia hati, namun hati masing-masing sudah tahu bahwa mereka adalah milik masing-masing?

Sementara itu, Wan Kan seperti orang tergila-gila.

Ketika di dalam perjalanannya ia bertemu dengan suhunya, yaitu Ba Mau Hoatsu yang juga menuju ke Cin-an, Wan Kan atau Wan Yen Kan menceritakan pengalamannya dan menyatakan kepada suhunya bahwa ia tergila-gila kepada gadis Hoa-san-pai itu.

Memang Ba Mau Hoatsu amat sayang kepada Wan Yen Kan dan sebaliknya pemuda ini amat percaya kepada gurunya sehingga semua rahasia hatinya ia tumpahkan kepada gurunya.

Demikianlah pertemuan antara Wan Yen Kan dan Thio Ling In dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah bertemu dengan Sam-thai koksu di kota Cin-an, di mana Ba Mau Hoatsu menyatakan pendapatnya untuk mendatangkan Pak Hong Siansu dari Tibet, Wan Yen Kan menyatakan kepada gurunya bahwa dia tidak hendak turut gurunya karena ingin pergi ke Biciu!

Tentu saja Ba Mau Hoatsu tahu bahwa muridnya ini tentu ingin mengunjungi Thio Ling In, gadis yang dicintainya itu!

Suma Kwan Eng, orang ke dua dari Hui-eng-pai (Perkumpulan Garuda Terbang) yang menaruh hati dendam kepada Hoa-san-pai karena kedua orang saudaranya mati di tangan orang-orang Hoa-san-pai, berhasil menarik perhatian dan membujuk Wan Yen Kan sehingga pangeran muda ini menceritakan pengalamannya dengan Thio Ling In.

"Ongya tidak enak melakukan perjalanan seorang diri. Hambapun ingin sekali merantau ke selatan dan kalau sekiranya Ongya tidak berkeberatan, membolehkan hamba ikut. Hamba banyak mempunyai kenalan orang-orang kang-ouw dan kalau Ongya ingin meluaskan pengetahuan, mari hamba perkenalkan dengan tokoh-tokoh kang-ouw di perjalanan."

Wan Yen Kan menjadi girang sekali.

Tidak hanya karena janji perkenalan dengan tokoh-tokoh kang-ouw ini, akan tetapi terutama sekali karena ia mengandung maksud meminang Thio Ling In, dan agaknya Suma Kwan Eng ini tepat sekali untuk menjadi seorang perantara!

Akan tetapi Wan Yen Kan sama sekali tidak tahu bahwa orang ke dua dari Hui-eng-pai ini menaruh hati dendam kepada orang-orang Hoa-san-pai dan bahwa di dalam hati Suma Kwan Eng terkandung maksud hendak mencelakakan semua orang Hoa-san-pai, termasuk Thio Ling In sendiri!

* * * Thio Ling In tinggal bersama ibunya yang sudah janda di kota Biciu dalam sebuah jalan yang sunyi.

Biarpun rumahnya tidak sangat besar, namun cukup baik dan rapi.

Kehidupan ibu dan anak ini boleh dibilang cukup, karena ayah Ling In dahulu adalah seorang pedagang yang meninggalkan warisan cukup banyak.

Ibunya telah membeli sawah dan dari hasil sawah inilah anak dan ibu ini mendapatkan nafkahnya.

Selain ibunya, di rumah itu ikut tinggal pula pamannya, yaitu adik laki-laki ibunya yang sudah menikah pula dan ikut tinggal di situ dengan isterinya.

Pamannya ini yang mengurus sawah milik ibu Ling In atau nyonya janda Thio.

(Lanjut ke

Jilid 08) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "

Jilid 08 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo

Jilid 08 Nyonya janda Thio seringkali menegur puterinya yang mempunyai kesukaan pergi merantau.

Sering kali memberi nasihat mengapa puterinya itu tidak mau tinggal saja di rumah mengawaninya dan bahwa kurang baik bagi seorang gadis untuk melakukan perjalanan seorang diri.

"Ibu tidak tahu bahwa sudah menjadi kebiasaan seorang ahli silat untuk berkelana dan melakukan perbuatan gagah berani menolong orang-orang yang tertindas."

Ling In menjelaskan sambil memeluk ibunya dengan sikap manja.

"Kalau aku berada di rumah saja dan sibuk di dapur, untuk apakah aku selama ini mempelajari ilmu silat?"

Ibunya menarik napas panjang.

"Ah, mengapa kau dahulu belajar silat, anakku? Sesungguhnya, aku lebih suka melihat kau lekas-lekas menikah dan mempunyai anak, agar aku dapat menimang nimang cucuku."

"Aah"

Ibu...!"

Ling In menjadi merah mukanya.

"Mengapa tidak, Ling In?"

Ibunya mengelus-elus rambut anaknya yang menumpangkan kepalanya di atas pangkuan ibunya.

"Kau sudah berusia dua puluh tiga tahun. Sejak kau berusia tujuh belas tahun, entah sudah berapa banyak pemuda pemuda meminangmu, akan tetapi kau berkeras kepala dan tidak mau menerimanya. kau membikin ibumu kecewa dan berduka, Ling In."

Sampai di sini, ibunya menyusut air matanya Ling In terharu dan memeluk ibunya.

"Ibu, aku... aku belum suka menjadi isteri orang, tidak sampai hatiku meninggalkan ibu seorang diri di rumah ini."

"Kau selalu berkata begitu, Ling In. Sebenarnya itu hanya alasan belaka, karena aku tahu bahwa kau tidak suka kepada semua pemuda yang melamarmu. Akan tetapi kulihat suhengmu itu, yang seringkali mengantar kau pulang, pemuda bernama Lie Bu Tek itu, dia amat baik dan agaknya kau pun suka kepadanya."

"Sst, ibu"

Kenapa sih hari ini ibu membicarakan soal pernikahan?"

Anaknya menegur dengan muka makin merah. Pada saat itu, bibi dari Ling In yakni isteri pamannya, masuk dan memberitahukan bahwa di luar ada seorang tamu ingin bertemu dengan Biciu lihiap.

"Ling In, hati-hatilah. Dia kelihatannya kasar dan berwajah menakutkan. Hatiku tidak enak melihat dia,"

Kata bibinya.

"Terangkanlah hatimu, bibi."

Gadis itu dengan tabah lalu bertindak keluar.

"Ling In, jangan kau mencari keributan dengan orang lain,"

Ibunya memperingatkan.

Akan tetapi Ling in telah melompat keluar dan ia melihat seorang laki-laki tinggi besar, berusia kurang lebih lima puluh tahun akan tetapi masih nampak sehat dan kuat.

Bahkan sepasang matanya ketika memandang, secara kurang ajar dan terang terangan menyatakan kekagumannya akan kecantikan Ling In!

Melihat orang ini, Ling In terkejut sekali dan hatinya berdebar.

Ia mengenal orang itu yang bukan lain adalah Suma Kwan Eng, orang ke dua dari Hui-eng-pai yang amat lihai.

Dahulu ketika mencari Gua Makam Pahlawan bersama Tan Seng, Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng, ia sudah bertemu dengan orang ini, yaitu setelah paman gurunya, Tan Seng menewaskan orang ke tiga dan Hui-eng-pai.

Sebaliknya, Suma Kwan Eng tidak ingat lagi kepada gadis ini.

Dahulu ketika bersama Suma Kwan Seng ia mengadang perjalanan Tan Seng yang telah membunuh adik seperguruan mereka, ia hanya melihat dan bertemu sebentar saja.

Maka kini ia memandang dengan penuh kekaguman dan juga kebencian kepada murid Hoa-san-pai ini.

"Eh, kiranya Suma Lo-Enghiong dari Hui-eng-pai yang datang berkunjung ke gubukku yang buruk. Ada keperluan apakah Lo-Enghiong (orang-tua gagah) membuang waktu berharga datang ke tempat ini?"

Suma Kwa Eng tertegun, lalu mengingat-ingat.

"Nona, pernahkah kita saling berjumpa? Kalau pernah, aku sudah lupa lagi di mana."

Ling In tersenyum.

"Lo-Enghiong agaknya lupa lagi. Dahulu di lereng Tapie san, aku pernah ikut susiok (paman guru) dan kami berjumpa dengan Lo-Enghiong."

"Ah, benar! Jadi aku berhadapan dengan Bi ciu lihiap anak murid Hoa-san-pai?"

Ling in mengangguk.

"Bagus!"

Kata Suma Kwan Eng.

"Susiokmu itu telah membunuh mati suteku Ciu Hoan Ta. Kemudian suhengku tewas pula gara gara seorang murid Hoa san yang bernama Sianli Eng cu (Bayangan Bidadari) Liang Bi Lan. Pantaslah kalau aku Suma Kwan Eng harus membalas dendam dan menewaskan kau yang menjadi murid Hoa-san-pai. Akan tetapi aku Suma Kwan Eng bukanlah seorang yang tidak menyayang usia muda dan wajah cantik Nona, kau ikutlah dengan aku dan aku berjanji takkan mempergunakan kekerasan terhadap kau !"

Berkerut alis Ling In mendengar kata-kata ini.

"Orang-tua, apakah maksudmu dengan kata-kata itu?"

Suma Kwan Eng tertawa bergelak dan pada saat itu, ibu Ling In muncul, lalu berkata.

"Ling In, ada tamu datang, mengapa tidak dipersilahkan duduk di dalam?"

"Ibu, kau masuklah dan biarkan aku menghadapi orang-tua ini!"

Kata Ling In yang dapat menduga bahwa menghadapi tamu ini, akhirnya ia harus mempergunakan kekerasan. Akan tetapi Suma Kwan Eng segera berkata kepada ibu Ling In.

"Jadi nyonya adalah ibu dari nona ini? Bagus sekali dan amat kebetulan. Kedatanganku ini sebenarnya hendak meminang puterimu ini untuk menjadi bini muda dari Siauw Ongya!"

"Bangsat tua bermulut lancang! kau berani menghinaku?"

Ling In berseru keras sambil mencabut pedangnya. Kemudian ia berpaling kepada ibunya.

"Ibu, harap kau suka masuk saja."

Mendengar ucapan tamu itu dan permintaan puterinya, nyonya janda Thio lalu masuk ke dalam, akan tetapi ia mengintai dari balik daun pintu. Ling In menghadapi Suma Kwan Eng.

"Orang she Suma, aku sudah dapat menduga bahwa kedatanganmu ini tentu tidak mengandung maksud baik. Apa kau kira aku takut kepadamu sehingga kau berani sekali menghinaku?"

"Eh, eh, nona manis mengapa begitu galak! Sebetulnya memang sudah sepatutnya kalau aku membunuhmu, sebagai pembalasan dendam terhadap Hoa-san-pai atas tewasnya kedua orang saudaraku. Akan tetapi aku sayang akan kecantikanmu dan juga Siauw Ongya amat cinta kepadamu. Lebih baik kau turut padaku dan hidup berbahagia dengan Siauw Ongya yang tampan, karena kalau kau menolak, apamukah yang dapat kau pergunakan untuk menangkan aku?"

"Keparat jahanam, makanlah pedangku ini!"

Sambil membentak marah, Ling In lalu menyerang dengan pedangnya.

Serangan ini cepat dan ganas sekali dan sebagai ahli pedang, murid Liang Bi Suthai, tentu saja ilmu pedang Hoa-san-pai yang dimilikinya amat tinggi.

Namun ia menghadapi Suma Kwan Eng orang ke dua dari Hui-eng-pai yang lihai.

Sambil tersenyum mengejek, Suma Kwan Eng lalu mengelak dan di lain saat, kedua tangannya telah mengeluarkan senjatanya.

Suma Kwan Eng terkenal sekali dengan senjatanya yang aneh, yaitu sepasang tongkat bercabang.

Kedua ujung tongkat ini mempunyai cabang dan apabila dimainkan olehnya, dua cabang inilah yang berbahaya sekali, karena biarpun pukulan atau dorongan tongkat boleh tidak mengenai sasaran, namun cabangnya itu masih dapat melakukan serangan lanjutan dari samping yang datangnya amat tidak terduga sama sekali.

"Hm, nona manis! Kalau aku, menghendaki nyawamu, apa sukarnya? Akan tetapi aku harus dapat menangkapmu hidup hidup, Siauw Ongya akan marah kalau burung yang indah bulunya ini sampai terluka!"

Sambil berkata demikian, Suma Kwan Eng menggerakkan tongkatnya dan membalas serangan gadis itu.

Kata-kata Suma Kwan Eng ini memang ada benarnya.

Kalau dia mau, tentu dengan serangan serangannya yang hebat ia dapat merobohkan gadis itu.

Akan tetapi ia tidak hendak membunuh Ling In dan mau menangkapnya hidup hidup, maka agak sukar jugalah baginya mengalahkan gadis Hoa-san-pai yang lihai ilmu pedangnya ini.

Betapapun juga, Ling In selalu berada di fihak yang terdesak.

Gadis ini melawan mati-matian dan karena ia kalah tenaga, dalam pertempuran yang kurang lebih lima puluh jurus lamanya, ia telah lelah sekali, tubuhnya penuh peluh dan rambutnya awut-awutan.

Namun semangatnya tak kunjung padam dan pedangnya masih berkelebatan menyambar nyambar, tidak kurang bahayanya!

Pada saat Ling In menusukkan pedangnya ke arah dada Suma Kwan Eng, orang Hui-eng-pai yang lihai ini melompat mundur dan kedua tongkatnya menggunting pedang itu diantara cabang-cabangnya.

Ling In mencoba untuk menarik pedangnya, akan tetapi pedang itu tak dapat terlepas daripada jepitan sepasang tongkat!

Suma Kwan Eng menggerakkan tongkatnya ke bawah dan cabang-cabang tongkat itu mengancam jari tangan Ling In yang memegang pedang.

Gadis itu terkejut sekali dan ketika pegangannya mengendur, Suma Kwan Eng menggerakkan kedua tongkatnya ke atas dan...

melayanglah pedang Ling In dari tangannya!

Setelah pedangnya dapat terampas, Ling In bukannya menjadi takut, bahkan menjadi makin gemas dan nekad.

Ia menubruk maju dan kini ia menyerang lawannya dengan tangan kosong!

"Ha, ha, ha, nona yang baik.

Pedangmu sudah tidak ada, mengapa begitu nekad?

Lihat, rambutmu sudah awut-awutan dan napasmu senin kamis, ah!

Aku tentu akan mendapat marah dari Siauw Ongya nanti!

kau menyerahlah saja, nona manis, tentu Ongya akan membereskan rambutmu yang awut-awutan itu."

Suma Kwan Eng memang sengaja mengeluarkan ucapan-ucapan menghina, karena sebetulnya ia ingin sekali membunuh gadis Hoa-san-pai untuk melampiaskan dendamnya.

Hanya karena takut kepada Wan Yen Kan saja maka ia tidak membunuh Ling In dan hanya memuaskan hati dengan mengejek dan menghina.

Kini sepasang tongkatnya mengurung tubuh Ling In yang sudah tak berdaya sungguhpun gadis ini melawan terus.

Ibu Ling In sudah menggigil di belakang pintu dan merasa gelisah dan takut sekali.

Keadaan Ling In sudah terdesak sekali dan agaknya gadis itu takkan dapat melepaskan diri lagi dari lawannya yang hendak menangkapnya.

"Nona manis, sudahlah, kau menyerah saja, apa gunanya melawan terus? Siauw Ongya akan memperlakukan kau baik-baik dan kau akan hidup beruntung, kaya raya, dan dicinta"!"

"Bangsat tua bangka, aku Thio Ling In akan mengadu nyawa dengan kau !"

Seru Ling In sambil menyerang terus dengan nekad.

"Ha-ha-ha, kau benar-benar galak! Heran sekali mengapa Siauw Ongya bisa tergila-gila kepada seorang perempuan galak!"

Suma Kwan Eng mentertawakan sambil menyerang terus. Pada saat yang amat berbahaya bagi keadaan Ling In, tiba-tiba menyambar tubuh yang gesit sekali dibarengi bentakan.

"Kurang ajar sekali kau ! Enyah dari sini!"

Bentakan ini disusul oleh tendangan kilat.

Suma Kwan Eng terkejut sekali ketika melihat bahwa yang datang menyerangnya itu adalah Wan Yen Kan!

Ilmu kepandaian Wan Yen Kan masih lebih tinggi sedikit dari pada tingkat kepandaian Suma Kwan Eng.

Akan tetapi kalau saja Suma Kwan Eng berani melawan, tidak akan mudah bagi Wan Yen Kan untuk merobohkannya.

Pada saat itu Suma Kwan Eng sedang terkejut dan tidak mengira bahwa pangeran muda itu akan menyerangnya, pula ia tidak berani melawan pangeran ini, maka tendangan Wan Yen Kan tepat mengenai pahanya sehingga Suma Kwan Eng terlempar sampai dua tombak jauhnya!

Akan tetapi Suma Kwan Eng dapat bangun kembali dan ketika tubuhnya terlempar tadi, sepasang tongkatnya masih ia pegang.

Ia berdiri memandang Wan Yen Kan dengan mata terbelalak dan mulutnya berkata.

"Akan tetapi"

Wan..."

"Diam dan enyah kau dari sini! Apakah kau sudah bosan hidup? Pergi dan jangan ganggu kami,"

Bentak Wan Yen Kan dengan garang.

Suma Kwan Eng tak berani membantah dan pergilah dia dengan hati mendongkol dan muka merah.

Sebetulnya, Wan Yen Kan memang marah benar-benar.

Tadi ia tinggal di hotel dan menyuruh Suma Kwan Eng datang lebih dulu ke rumah Ling In untuk mengajukan pinangan secara baik-baik.

Akan tetapi siapa tahu bahwa Suma Kwan Eng bukan melakukan perintahnya secara sopan, sebaliknya telah menghina Ling In dan hampir saja menangkapnya.

Sesungguhnya, Suma Kwan Eng salah sangka.

Dikiranya bahwa Wan Yen Kan menghendaki gadis itu sebagai kekasih belaka, bukan dipinang sebagai calon isteril Oleh karena itu, dalam mendapatkan gadis ini, ia tidak mau mengambil jalan terhormat, karena memang maksudnya hendak menghina murid Hoa-san-pai yang dibencinya.

Adapun Ling In ketika melihat siapa orangnya yang menolongnya dari tangan Suma Kwan Eng mukanya menjadi merah sekali.

Tidak saja ia merasa jengah karena lagi-lagi pemuda ini menolong dan membantunya, juga karena pemuda tampan ini tadi melihat betapa ia tidak berdaya menghadapi Suma Kwan Eng, juga heran mendengar betapa kedua orang itu agaknya sudah saling kenal baik!

"Wan Enghiong, kiranya kau yang datang menolongku.

Agaknya Suma Kwan Eng amat takut kepadamu."

Wan Yen Kan tersenyum.

"Bangsat tua itu memang kurang ajar dan ia pernah mendapat hajaran dari aku, maka kini setelah bertemu, ia ketakutan. Mengapa dia menyerangmu, lihiap?"

Sebelum Ling In menjawab, nyonya janda Thio sudah berlari keluar dan nyonya ini serta merta menjatuhkan duri berlutut di depan Wan Yen Kan sambil berkata.

"Sungguh beruntung sekali inkong (tuan penolong) datang, kalau tidak, apa jadinya dengan puteriku? Terima kasih, inkong, terima kasih!"

Wan Yen Kan buru-buru menjura dan dengan kikuk sekali cepat membangunkan nyonya janda itu sambil berkata halus.

"Harap hujin (nyonya) jangan melakukan penghormatan seperti ini. Aku menolong lihiap sudah sewajarnya karena memang diantara kita sudah semestinya saling tolong menolong."

Nyonya Thio berkata kepada puterinya.

"Ling In, mengapa kau tidak pernah menceritakan kepadaku tentang inkong ini?"

"Ibu, kami baru satu kali bertemu,"

Jawab Ling In dan mukanya yang cantik menjadi kemerahan.

"Silahkan masuk dan duduk di dalam, inkong."

Nyonya janda itu mempersilahkan tamunya, dan sambil tersenyum Ling In juga mempersilahkan Wan Yen Kan untuk duduk di ruang dalam rumah. Setelah ketiganya duduk menghadapi meja, Wan Yen Kan berkata.

"Aku menyusahkan saja."

"Ah, tidak sama sekali, kongcu,"

Jawab ibu Ling In.

"Eh, Ling In, siapakah tamu kita yang terhormat ini?"

"Ibu, ini adalah saudara Wan Kan, seorang pendekar perantau yaag gagah perkasa."

Ling In memperkenalkan Wan Yen Kan kepada ibunya. Nyonya Thio memandang kagum.

"Pantas, pantas! Memang betul-betul seorang pendekar muda yang gagah perkasa, dan kalau tidak ada dia, entah bagaimana jadinya dengan nasibmu, Ling In."

Wan Yen Kan menjadi malu malu dan sungkan.

"Aku benar-benar menyusahkan saja, sebetulnya perbuatanku tadi apakah yang patut dikagumi?"

"Wan kongcu merendahkan diri!"

Kata ibu Ling In.

"Ah ya, sampai aku yang sudah tua lupa. Tunggulah kalian anak-anak muda, biar aku mengeluarkan hidangan seadanya."

"Eh, harap hujin jangan sungkan sungkan, aku tidak mau merepotkan,"

Wan Yen Kan mencegah, akan tetapi nyonya itu sudah pergi ke belakang.

"Maafkan aku, lihiap. Sebetulnya, seperti pernah kukatakan ketika kita bertemu dahulu, apabila kebetulan lewat di Biciu, aku tentu akan mampir. Kebetulan sekali kedatanganku tadi ada baiknya bagimu, dan aku hanya ingin... ingin bertemu denganmu, nona."

Setelah terjadi kekasaran yang dilakukan oleh Suma Kwan Eng, tentu saja Wan Yen Kan tidak berani bicara tentang pinangan lagi. Siapa tahu kalau kalau gadis ini akan menjadi curiga kepadanya.

"Aku heran sekali melihat sikap Suma Kwan Eng tadi,"

Kata Ling In sambil memandang tajam kepada Wan Yen Kan, karena memang gadis ini sedikitnya menaruh hati curiga terhadap pemuda ini.

"Penyerangannya terhadapku tidak aneh karena ia menaruh hati dendam atas kematian saudara-saudaranya dan ia agaknya memusuhi partai persilatan Hoa-san-pai. Akan tetapi, ia menyebut nyebut nama seorang yang dipanggil siauw Ongya. Pangeran manakah gerangan yang menyuruhnya datang menggangguku? Agaknya pangeran atau pembesar yang menyuruhnya itu seorang laki-laki mata keranjang yang jahat, atau seorang bandot tua yang wataknya seperti Liok taijin dahulu itu."

"Benci benarkah kau kepada pangeran dan bangsawan tinggi, lihiap?"

"Tentu saja, kalau dia jahat seperti Liok taijin dan orang yang disebut siauw Ongya oleh Suma Kwan Eng tadi."

"Sifat jahat memang menyerang dan hendak menguasai hati semua orang, nona. Tidak perduli dia itu pengemis ataupun pangeran. Tidak jarang terdapat pangeran yang sifatnya buruk, juga sama banyaknya orang-orang biasa berhati jahat. Akan tetapi, kita harus akui bahwa tidak semua bangsawan jahat-jahat, demikian pula, banyak orang biasa yang berhati mulia."

"Kau agak membela kaum bangsawan, saudara Wan."

Mendengar ucapan yang tepat ini, Wan Yen Kan berdebar hatinya, akan tetapi ia masih tetap tenang dan tersenyum.

"Yang kubela hanya mereka yang baik hati, nona. Adapun tentang Suma Kwan Eng tadi, ah, mana kita bisa mengharapkan kebaikan dari seorang bekas pemimpin Hui-eng-pai? Baik kita lupakan saja dia, dan percayalah, kalau aku ketemu dengan dia, takkan kuberi ampun lagi."

"Kau baik sekali, saudara Wan. Tak perlu kau bersusah-payah karena aku."

"Diantara kita tak perlu sungkan sungkan, nona. Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik?"

"Kau memang sahabat baik, telah dua kali kau membantu dan menolongku. Akan tetapi aku..."

"Kau juga baik sekali, nona Thio. Belum pernah selama hidupku aku mengagumi seorang dara gagah perkasa seperti kau."

Ucapan ini tentu saja membuat muka Ling In menjadi merah sekali.

Baiknya pula pada saat itu, ibunya muncul diikuti oleh bibinya yang membawa makanan hidangan.

Wan Yen Kan menyambutnya dengan ucapan merendahkan diri akan tetapi akhirnya mereka makan bersama dalam suasana ramah-tamah sekali.

Kebetulan sekali, tengah mereka makan, paman dari Ling In datang.

Pamannya ini bernama The Liok, yang bekerja mengurus sawah kakak perempuannya, yaitu ibu Ling In.

Wan Yen Kan diperkenalkan dan The Liok segera ikut makan semeja.

Keadaan menjadi makin meriah karena ternyata bahwa The Liok pandai berkelakar.

"Wan kongcu, setelah jauh jauh kau datang di tempat kami, harap kau suka bermalam di sini saja,"

Kata The Liok.

"Terima kasih banyak. Siauwte telah menyewa kamar hotel."

"Mana ada aturan begitu? kau telah menjadi sahabat Ling In. Diantara kita sendiri mengapa sungkan sungkan? Sebagai tamu kami, kau sebaiknya bermalam saja di sini. Jangan kuatir, di sini terdapat dua kamar kosong yang memang disediakan untuk tamu. Bu Tek juga bermalam di sini."

"Siapakah Bu Tek itu, The toako?"

Tanya Wan Yen Kan. Ketika The Liok bertemu pandang dengan Lin In yang menegurnya dengan matanya, The Liok berkata.

"Dia adalah seorang diantara saudara-saudara seperguruan dari keponakanku Ling In. Orang-orang gagah itu apabila datang berkunjung juga bermalam di sini, maka tiada halangannya bagimu untuk bermalam di sini, Wan kongcu."

Juga nyonya janda Thio membujuk.

"Benar kata-kata adikku, Wan Siangkong. kau bermalamlah saja di sini selama kau berada di kota Biciu."

"Akan tetapi"

Aku bermaksud tinggal sedikitnya sepekan di kota ini. Bagaimana aku berani mengganggu kalian yang begini baik budi dan ramah-tamah?"

Kata Wan Yen Kan.

"Lebih baik lagil Kalau kau tinggal sepekan di kota ini, kita akan dapat bercakap-cakap dengan senang,"

Kata The Liok dengan gembira. Wan Yen Kan menoleh kepada Ling In yang semenjak tadi berdiam diri saja.

"Nona, benar-benarkah aku tidak akan mengganggu? Sesungguhnya aku tidak mau kalau menjadi pengganggu, akan tetapi untuk menolak tawaran yang demikian manis budi, akupun merasa tidak enak sekali."

Ling In memang semenjak tadi merasa suka melihat sikap pemuda yang benar halus budi pekertinya dan sopan tutur sapanya ini.

Dalam hal sikap, benar-benar pemuda ini mengatasi semua orang muda yang pernah dijumpainya, bahkan lebih halus dan sopan daripada Lie Bu Tek sendiri.

Juga terus terang saja harus ia akui bahwa pemuda ini bahkan lebih tampan dari pada Bu Tek.

Akan tetapi, tentu saja pengakuan dalam hatinya ini bukan berarti bahwa dia jatuh hati kepada Wan Kan.

"Kau tidak merupakan gangguan, saudara Wan. Asal saja kau tidak merasa keberatan bermalam di pondok yang kecil dan buruk ini."

Demikianlah, Wan Yen Kan diterima oleh keluarga Thio itu dengan baik dan ramah-tamah.

Tak seorangpun mengira bahwa dia adalah seorang pangeran muda.

Bahkan kini Ling In telah melenyapkan kecurigaannya dan diam-diam ia mengaku bahwa pemuda ini betul-betul baik dan manis budi, di samping pengetahuannya yang amat luas, baik dalam ilmu silat maupun dalam ilmu surat Wan Kan benar-benar seorang bun bu cwan jai (ahli silat dan ahli surat) yang mengagumkan.

Ling In tidak merasa likat dan malu malu lagi untuk bercakap-cakap dengan Wan Kan yang memperlihatkan sikap sopan.

Bahkan ia pernah membicarakan ilmu silat dengan pemuda itu dan mereka pernah pibu (mengadu kepandaian) secara main-main.

Dalam pibu ini, Ling In harus mengaku bahwa ia masih kalah setingkat, baik dalam hal ilmu silat, lweekang maupun ginkang.

Kekagumannya terhadap pemuda ini makin meninggi.

Tiga hari kemudian, The Liok paman Ling tn mengajak Wan Kan bicara di ruang dalam secara empat mata.

"Wan Siangkong,"

Kata petani ini sambil tersenyum-senyum.

"Bolehkah kiranya aku mengetahui, siapakah adanya kedua orang-tuamu? Di mana mereka tinggal?"

"Aku hidup sebatangkara di dunia ini dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap"

Jawab Wan Kan.

"Aku sudah menduga demikian."

The Liok mengangguk angeuk.

"Berapakah usiamu tahun ini, Wan Siangkong?"

Wan Kan yang berotak cerdik itu sudah dapat menduga ke mana tujuan percakapan ini, akan tetapi ia pura pura tidak mengerti dan menekan debaran jantungnya.

"Ah, The toako, kau ini aneh benarl kau seperti sedang menyelidiki keadaanku, ada apa sih? Usiaku tahun ini dua puluh empat tahun."

"Bagus! Cocok betul!"

The Liok kembali mengangguk-angguk.

"Dan"

Kau belum menikah?"

Wan Kan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Orang bodoh dan sebatangkara seperti aku ini siapakah yang mau menjadikan suaminya?"

Karanya sambil tersenyum.

"Wan Siangkong, jangan kau berkata begitu. Aku dan kakak perempuanku telah berunding dan kami merasa sangat suka kepadamu. Keponakanku Ling In itu wataknya aneh sekali. Semenjak berusia enam belas atau tujuh belas tahun, telah banyak pemuda pemuda datang meminangnya akan tetapi dia selalu menolak dengan keras. Sekarang usianya sudah dua puluh tiga tahun. Dan jika kau suka dan tidak menganggap Ling In terlalu bodoh dan buruk, kami akan merasa beruntung sekali untuk menjodohkan Ling In dengan kau, Siangkong."

Biarpun sudah menduga sebelumnya, namun tetap saja Wan Kan menjadi merah mukanya.

Mau rasanya ia bersorak kegirangan.

Semenjak tinggal di rumh itu beberapa hari ini dan selalu dekat dengan Ling In, cintanya makin mendalam terhadap gadis itu.

Akan tetapi ada satu hal yang mengganggu hatinya.

Di utara, sebagai seorang pangeran, sekali mengulurkan tangannya saja, gadis-gadis yang menjadi puteri bangsawan maupun hartawan atau puteri rakyat biasa, akan datang berlari-lari kepadanya.

Tak usah ia menikah dengan puteri itu, dan orang-tua gadis itupun tentu takkan keberatan biarpun ia mengambil gadisnya tanpa mengawininya.

Bahkan ia pernah mempunyai bini muda beberapa kali, akan tetapi tak pernah ada yang dicintanya secara mendalam.

Akan tetapi, terhadap Ling In perasaannya lain lagi.

Ia benar-benar mencinta gadis perkara ini dan ingin hidup selamanya di samping Ling In sebagai suami-isteri yang saling mencinta.

Akan tetapi, hal inipun tidak mungkin, karena banyak sekali halangannya.

Pertama-tama dari fihak istana Kerajaan Kin pasti akan menentangnya.

Ke dua, kalau gadis ini dan keluarganya tahu bahwa dia seorang pangeran Kin, belum tentu mereka menerimanya sebagai keluarga.

Apalagi gadis itu sendiri, sebagai seorang pendekar, besar sekali kemungkinan takkan sudi menjadi isteri seorang pangeran Kin!

Akan tetapi, perasaan cinta kasih mengalahkan segala macam rintangan.

Bahkan sewaktu waktu cinta kasih menimbulkan ketidakjujuran dan kecurangan.

Demikian pula Wan Yen Kan.

Ia tidak berani berterus terang bahwa dia adalah seorang pangeran Kin, takut kalau kalau ia akan terpisah dari Ling In.

Kalau ia tetap dalam penyamaran dan hidup sebagai suami-isteri dengan Ling In di Biciu, apa salahnya?

Tak seorangpun akan mengenalnya dan karena ia sudah biasa merantau, maka sewaktu waktu ia dapat berkunjung ke utara, ke istana ayah ibundanya.

Soal kelak kalau rahasianya bocor, bagaimana nanti sajalah!

Maka ia cepat berdiri dan menjura kepada The Liok.

"Banyak terima kasih atas penghargaan dan penghormatan besar yang dilimpahkan padaku. Akan tetapi, aku seorang yang sebatangkara, tiada rumah tinggal, bagaimana aku ada harga untuk menjadi suami nona Ling In?"

"Jangan bimbang, Wan Siangkong,"

Kata The Liok sambil tertawa.

"Ibu anak itu sudah setuju dan memang sudah lama mencari seorang mantu yang baik. Sekarang aku akan menjumpainya dan menyatakan bahwa kau menerima usul ini. Bolehkah?"

Wan Yen Kan hanya bisa mengangguk dengan hati berdebarl Tak lama setelah pergi meninggalkan pemuda itu, The Liok muncul lagi dengan wajah berseri, kini diikuti oleh nyonya Thio.

Wan Kan cepat bangun dari tempat duduknya.

"Terima kasih, Wan kongcu. kau menerima anak ku sebagai jodohmu. Ah, sekarang legalah hatiku, mendapatkan seorang mantu yang mencocoki hati. Semoga kau dan Ling In kelak hidup berbahagia,"

Kata nyonya tua itu dengan mata berlinang air mata.

Wan Kan segera menjatuhkan diri berlutut di depan calon ibu mertuanya ini memberi hormat.

Nyonya Thio buru-buru mengangkatnya bangun dengan wajah gembira.

Juga kepada The Lok, Wan Kan menghaturkan terima kasih dan hormatnya sebagai calon mantu keponakan.

"Aku yang miskin tidak mempunyai sesuatu yang pantas untuk dijadikan tanda ikatan jodoh, karena di dalam perantauan tak pernah membawa sesuatu,"

Kata Wan Kan, kemudian ia melanjutkan cepat-cepat.

"Namun demikian, sesungguhnya ketika orang-tuaku tiada lagi aku telah menerima warisan yang cukup besar. Oleh karena itu, biarlah untuk sementara ini gak bo (ibu mertua) dan paman menerima tanda-mata ini untuk adik Ling in, dan aku akan pergi mengambil barang-barangku untuk disumbangkan sebagai mas kawin. Harap jiwi jangan kuatir, tentang segala keperluan pernikahan, biarlah semua tanggung jawabku."

Sambil berkata demikian, Wan Kan mengeluarkan sehelai ikat pinggangnya yang dibuat dari pada sutera halus sekali yang digulung merupakan sehelai tali pinggang.

Selain ini, juga ia mengeluarkan sebuah benda dari sakunya, dan benda ini ternyata adalah sebuah mainan dari batu pualam yang berupa seekor burung Hong.

Ukirannya indah sekali dan sekali melihat saja, dua orang-tua itu dapat mengetahui bahwa benda ini tak ternilai harganya.

Kedua benda itu diterima oleh Nyonya Thio.

"Kau tunggulah dulu sebelum pergi. Aku hendak mintakan sesuatu untuk tanda ikatan dari puteriku."

Dengan muka girang, nyonya Thio membawa dua macam benda tanda ikatan jodoh itu ke kamar Ling In.

Gadis ini duduk di dalam kamarnya seperti patung, sedikiipun tak bergerak.

Mukanya pucat sekali dan di kedua pipinya masih nampak air mata mengalir turun.

Semenjak malam tadi, Ling In berada dalam keadaan sedih dan bingung.

Ibunya memaksa dan memohon, bahkan mengancam kalau Ling In berkeras kepala, ibunya akan membunuh diri, agar ia mau menjadi isteri Wan Kan!

Ling In benar-benar bingung.

Ia memang tertarik kepada pemuda yang tampan dan sopan ini, akan tetapi, hatinya berat pula kepada suhengnya, Lie Bu Tek!

Diam-diam ia merasa menyesal mengapa suhengnya itu sejak dulu tak pernah mengajukan pinangan kepadanya?

"Ibu tentu maklum betapa perasaan Lie suheng kepadaku,"

Kata Ling In malam tadi membantah kehendak ibunya untuk menjodohkannya kepada Wan Kan.

"Ah, laki-laki mana yang tidak kelihatan suka kepada seorang gadis seperti kau yang cantik manis? Kalau benar-benar Bu Tek ingin mengambil kau sebagai jodohnya, mengapa dia tidak pernah datang meminang? Jangan-jangan dia hanya mau main-main saja. Aku sejak dulu tidak senang melihat kau gulang gulung dengan suhengmu itu. Tak pantas!"

"Ibu, kau tahu sendiri bahwa Lie suheng hidup sebatangkara dan keadaannya miskin sekali. Adanya dia tidak mau meminang, karena ia merasa belum kuat mendirikan rumah tangga."

Ling In membela suhengnya itu.

"Hm, apakah dia mau tunggu sampai kau menjadi seorang nenek nenek? Anakku, pikirlah. kau sudah berusia dua puluh tiga, dan aku tak lama lagi akan menyusul ayahmul Apa kau tega melihat ibumu mati tidak meram karena masih penasaran ingin melihat cucunya? kau bukalah matamu baik-baik. Kurang apakah Wan kongcu itu? Apakah dia kalah oleh suhengmu? Coba bandingkan, baik ketampanannya, maupun kepandaiannya, atau juga kesopanannya! Apalagi dalam hal kepandaian sastera, benar-benar suhengmu itu kalah jauh!"

Hal ini harus diakui kebenarannya oleh Ling In.

Memang, dalam segala hal, bahkan mungkin sekali dalam ilmu silat juga, Wan Kan masih lebih unggul apabila dibandingkan dengan Lie Bu Tek.

Akan tetapi, ia telah mengenal suhengnya itu selama bertahun-tahun, ia sudah tahu benar akan watak dan hati suhengnya.

Ia yakin bahwa suhengnya itu akan menjadi seorang suami yang bijaksana.

Akan tetapi Wan Kan?

Baru dua kali ia bertemu, biarpun sikap dan bahasanya halus dan sopan santun, namun siapakah bisa mengetahui hati orang?

Akan tetapi setelah ibunya mengancam akan membunuh diri apabila dia menolak lagi perjodohan ini, Ling In kalah dan dengan kepala tunduk, ia mengambil keputusan.

"Tentang pernikahanku berada di dalam tanganmu, ibu. kau juga yang akan ikut merasa perih hati kelak kalau melihat anakmu tidak bahagia hidupnya."

Ibunya memeluk dan menciuminya.

"Siapa bilang kau tidak akan bahagia? Ibumu tidak sembarangan memilih calon suami untukmu. Percayalah, anakku. Diantara semua pemuda yang pernan menimangmu, bahkan juga akan meminang mu, Wan kongcu ini pasti yang terbaikl Sikapnya demikian agung sehingga kadang-kadang aku merasa bahwa dia bukanlah seorang sembarangan dan masih berdarah bangsawan."

Demikianlah, setelah Ling In menurut, Nyonya Thio menyuruh adiknya untuk menyampaikan usul perjodohan itu kepada Wan Kan.

Alangkah girangnya ketika The Liok memberi tahu kepadanya bahwa pemuda itu sudah setuju, maka cepat-cepat ia menghampiri pemuda itu bersama The Liok.

Sebagaimana telah dituturkan di depan, kini Nyonya Thio membawa dua buah benda tanda ikatan jodoh dari Wan Kan ke kamar anaknya.

"Lihat, Ling In! Pernah kau melihat benda sebagus ini selama hidupmu?"

Kata nyonya itu sambil memperlihatkan ikat pinggang dan burung Hong pualam itu kepada puterinya.

Ling In menyusut air mata dan menengok.

Ibunya terkejut juga karena melihat betapa kedua mata anaktya membengkak, tanda bahwa semalam gadis itu tidak tidur sama sekali dan terus terusan menangis.

Memang benar, Ling In tidak pernah tidur dan menangis terus.

Bukan karena ia benci atau tidak suka kepada Wan Kan, akan tetapi ia menangis karena selalu timbul perasaan kasihan yang besar sekali kalau ia teringat kepada suhengnya.

Ia dapat menduga betapa akan hancur hati Lie Bu Tek mendengar dia akan menikah dengan lain pemuda.

Biarpun suhengnya itu belum pernah menyatakan cinta kasihnya namun dari pandangan matanya Ling In sudah dapat membaca jelas apa yang terkandung dalam hati pemuda gagah perkasa itu.

Namun ketika gadis itu menengok dan meiihat benda yang dipegang oleh ibunya, ia menjadi kagum juga.

Terutama sekali burung Hong dari batu pualam itu, benar-benar sebuah benda yang langka sekali terlihat orang.

Ling In menerima dua benda itu dan melihat lihat dengan amat tertarik.

Memang belum pernah ia menyaksikan mainan batu pualam sehalus dan seindah itu, juga sehelai tali sutera itu henar benar indah warnanya dan agak mengkilap dan halus.

"Ibu, dari manakah kau mendapatkan benda yang demikian besarnya?"

Nyonya Thio tersenyum dan dengan hati bangga dan kedua matanya mulai basah, ia memeluk puterinya dengan penuh kasih sayang.

"Anakku, peruntunganmu baik sekali. Tepat dugaanku bahwa calon suamimu tentu bukan orang sembarangan. Ini adalah tanda-mata dari calon suamimu. Wan kongcu!"

Hampir saja kedua macam benda itu terlepas dari tangan Ling In yang tiba-tiba menggigil kedua tangannya. Ia segera menaruh benda itu di atas meja di depannya dan memandangnya dengan mata termenung.

"Anakku, sekarang Wan kongcu menanti tanda-mata darimu. Benda apakah yang kiranya patut dijadikan ikatan jodoh dan diberikan kepadanya?"

Wajah Ling In tiba-tiba menjadi merah sekali dan dengan kepala tetap tunduk ia berkata perlahan.

"Terserah kepadamu, ibu. Terserah kepadamu,"

Dan air matanya mengucur kembali.

Ibunya lalu mencabut tusuk konde gadis itu yang merupakan ukiran bunga bwe dan yang selalu menghias rambutnya yang hitam dan halus.

Rambut itu terlepas dan terurai di atas pundak Ling In.

"Tusuk kondemu inilah tanda-mata yang tepat sekali, anakku."

Dengan menyayang sekali ibu ini lalu mengonde rambut Ling In yang terlepas dan memasang mainan burung Hong pada konde anaknya.

"Aduh, bagus dan cocok sekali. kau bercerminlah!"

Serunya girang karena burung Hong itu benar-benar cocok dan menambah kemanisan wajah Ling In. Akan tetapi gadis itu tidak bergerak dan hanya menundukkan mukanya.

"Ling In, calon suamimu sekarang hendak pergi untuk mengatur pernikahan yang akan diadakan dua pekan kemudian. Apakah kau hendak berjumpa dengan dia sebelum dia pergi?"

Ling In menggelengkan kepalanya.

"Tak usah, ibu."

Nyonya Thio maklum bahwa setelah sekarang menjadi calon isteri, tentu saja Ling In merasa malu malu untuk bertemu muka dengan Wan kan, maka sambil tersenyum-senyum ia lalu meninggalkan kamar anaknya untuk pergi keluar menjumpai calon mantunya dan untuk memberikan penghias rambut anaknya itu.

Wan Kan menerima dengan hati girang dan bahagia sekali.

Ia memegang tusuk konde bunga bwe dari emas itu dengan penuh kasih sayang dan menyimpan benda itu di dalam saku bajunya sebelah dalam.

Kemudian ia lalu berpamit dan memberi hormat, kemudian pergilah dia meninggalkan kota Bi ciu, setelah mendapat ketetapan bahwa pernikahan akan dilangsungkan dua pekan lagi.

Adapun Ling In setelah ibunya pergi, masih saja duduk termenung.

Tak terasa pula, tangannya bergerak ke arah kepala dan menyentuh burung Hong pualam itu, kemudian bagaikan dalam mimpi, ia menghampiri tempat di mana terdapat cerminnya dan melihat bayangan sendiri di dalam cermin.

Benar ibunya!

Memang burung Hong yang indah itu cocok sekali menghias rambutnya.

Sayang sekali tidak berbentuk tusuk konde, sehingga ada bahayanya terjatuh dari kepalanya.

Maka diambilnya cemara rambut dan dengan seikal cemara rambut, dibelitnya burung Hong itu sehingga kini tidak mungkin jatuh kembali dari rambutnya.

Ling In tidak tahu bahwa seperginya Wan Kan, terjadilah sesuatu yang mengharukan di ruang depan rumahnya.

Tak lama setelah Wan Kan pergi, datanglah Lie Bu Tek mengunjungi rumah itul Seperti biasa, pemuda yang bertubuh tegap tinggi ini, berjalan dengan langkah bagaikan seekor harimau, dan wajahnya yang gagah itu berseri-seri, menuju ke pintu rumah.

Alangkah heran dan gelisahnya ketika ia di sambut oleh Nyonya Thio dan The Liok dengan muka dingin dan sama sekali tidak ramah-tamah seperti biasal Namun, Lie Bu Tek tetap berkata gembira sambil menjura untuk memberi hormat.

"Bibi dan paman The, apakah sekeluarga baik-baik saja?"

Memang, sudah menjadi kebiasann Lie Bu Tek untuk bicara dengan sederhana, bahkan mendekati kasar.

Memang dia seorang ahli silat dan wataknya jujur dan terus terang.

Tak dapat ia bersikap seperti seorang anak sekolah, dan dalam hal ini jauh bedanya dengan Gan Hok Seng sutenya.

Inipun tidak aneh.

Sebagaimana telah diketahui, Ling In adalah murid Liang Bi Suthai dan Lie Bu Tek murid Liang Gi Tojin.

Akan tetapi Hok Seng adalah murid Liang Tek Sianseng, seorang sasterawan.

Maka di samping ilmu silat yang didapatnya dari Liang Tek Sianseng juga menerima pelajaran bun (sastera).

Sikapnya boleh dibilang paling sopan dan halus diantara suheng dan sucinya.

"Kami sekeluarga baik-baik saja, Lie hiante,"

Jawab The Liok yang kemudian bertanya secara langsung dan tiba-tiba.

"Dan ada keperluan apakah kau datang mengunjungi kami, Lie hiante?"

Lie Bu Tek adalah seorang pemuda gagah perkasa yang tabah.

Kalau dia disuruh menghadapi serangan pedang yang dilakukan tiba-tiba, mungkin ia masih akan dapat berlaku tenang.

Akan tetapi, kini menghadapi serangan The Liok dengan pertanyaan yang sama sekali tak terduga dan yang tidak biasa ini, Bu Tek tertegun dan menjawab gagap.

"Aku"

Aku"

Aku berkunjung saja karena sudah lama"

Dan mana sumoi?"

Kini Nyonya Thio yang maju menjawab.

"Anak Bu Tek, harap kau ketahui bahwa mulai sekarang, Ling In tidak bisa lagi bertemu dengan kau seperti yang sudah-sudah."

Bu Tek menjadi pucat.

"Apa... apa maksudmu?"

"Dia sudah bertunangan dan dua pekan lagi Ling In akan menikah. Maka, tentu kau tahu sendiri bahwa dia tidak boleh lagi bergaul dengan pemuda lain, sungguhpun kau suhengnya."

Bu Tek merasa seakan-akan petir menyambar kepalanya. Ia memegangi kepalanya dengan muka pucat dan memandang kepada nyonya Thio.

"Aku... sebetulnya aku datang untuk... meminangnya kali ini..."

Nyonya Thio memandangnya dengan pandang mata iba, kemudian menggeleng-geleng kepala sambil berkata.

"Sayang kau terlambat, nak Bu Tek!"

Hening sejenak dan dalam waktu beberapa detik itu. Bu Tek telah menjadi puluhan tahun lebih tua agaknya.

"Bibi Thio, sebagai suheng dari Ling In, bolehkah aku mengetahui dengan siapa dia dijodohkan?"

"Calon suaminya bernama Wan Kan, seorang pemuda bun bu cwan jai yang kepandaian ilmu silatnya tidak kalah oleh Ling In sendiri,"

Jawab Nyonya Thio dengan bangga.

"Dan agaknya, biarpun hanya dugaan, dia tentu bukan orang sembarangan. Seperti berdarah bangsawan."

Lie Bu Tek tertegun dan hampir ia tak dapat percaya ada seorang pemuda tidak terkenal yang kepandaiannya lebih tinggi dari Ling In.

"Sukar bagiku untuk percaya, bibi Thio. Apakah pertunangan ini sudah resmi?"

"Anak Bu Tek, apa kau kira aku dapat membohong dalam hal ini? Tentu saja sudah resmi. Malah sudah bertukar tanda-mata ikatan jodoh. Kalau kau lihat apa yang Ling In terimal Sebuah burung Hong batu pualam yang indah bukan main dan sehelai ikat pinggang sutera yang belum pernah kulihat seumur hidupku, demikian indah dan halus. Dan, Ling In juga sudah memberi tusuk kondenya bunga bwe kepada tunangannya!"

Hampir saja Bu Tek tidak dapat percaya, ia sudah kenal baik tusuk konde itu.

Mengenal begitu baik karena sering kali secara diam-diam ia mengagumi rambut sumoinya yang terhias bunga bwe emas itul Dan kini bunga bwe emas itu tetah diberikan kepada pemuda lain.

"Sudahlah, anak Bu Tek. Dunia bukan selebar telapak tangan dan wanita bukan hanya Ling In saja. Paling baik kau menjauhkan diri dari Ling in dan mencari jodoh lain. Dia bukan jodohmu,"

Kata Nyonya Thio yang ingin menghibur, akan tetapi kata-kata ini bahkan menikam ulu hati pemuda itu.

Sambil memegangi kepalanya, Bu Tek mengangguk-angguk perlahan dan suaranya hampir tidak kedengaran ketika ia berkata.

"Aku... aku tahu..."

Ia lalu memutar tubuhnya dan berjalan tersaruk-saruk dengan tubuh lemas.

"Kasihan juga dia..."

Kata Nyonya Thio.

"Sebetulnya diapun seorang pemuda yang baik."

"Sayang dia hanya hidup sebagai petualang, tiada pekerjaan, hanya merantau ke sana ke mari."

The Liok memberi komentarnya.

*** Malam hari itu, Ling In duduk di dalam kamarnya, memandang api lilin yang bernyala di atas mejanya.

Ia masih termenung menung, akan tetapi tidak berduka lagi seperti siang tadi.

Rasa iba terhadap Lie Bu Tek berangsur angsur hilang, ketika dipikirnya bahwa hubungannya dengan suhengnya itu belum erat benar, yaitu belum saling menyatakan cinta kasih.

Memang tak dapat disangkal pula bahwa cahaya pandangan mata suhengnya itu selalu penuh cinta kasih dan mungkin pandangan matanya sendiri terhadap suhengnyapun demikian.

Akan tetapi karena mulut mereka tak pernah menyatakan sesuatu, maka boleh dibilang diantara mereka belum ada janji apa-apa.

Suhengnya seorang perantau, seorang pemuda yang gagah perkasa, tentu akan bisa mendapatkan jodoh yang setimpal.

Apalagi kalau Ling In mengenangkan tunangannya, ia tidak bisa merasa kecewa.

Wan Kan memenuhi syarat menjadi calon suami.

Ketampanannya tidak kalah oleh Lie Bu Tek, bahkan bentuk tubuhnya tidak sekasar dan setegap Lie Bu Tek, wajahnya berkulit putih dan halus.

Apalagi matanya, Ling In berdebar dan wajahnya memerah dengan mata bercahaya kalau ia ingat akan mata tunangannya yang indah dan lebar itu.

Tentang ilmu silatnya, sudah pasti tidak kalah oleh suhengnya itu.

Apa lagi yang harus disusahkan atau dibuat kecewa?

Wan Kan benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi suaminya.

Dan diam-diam Ling In membenarkan keputusan ibunya.

Kalau ia menanti datangnya pinangan Bu Tek, bilakah terjadinya?

Bagaimana kalau suhengnya itu tidak akan pernah melamarnya?

Sedangkan usianya sudah dua puluh tiga, sudah terlalu tua untuk seorang gadis memasuki pintu pernikahan!

Ling In masih memakai hiasan rambut burung Hong.

Ia telah memasang jarum panjang pada kaki burung sehingga kini dapat dijadikan tusuk konde.

Tali sutera masih terletak di atas meja, kadang-kadang dipegangnya, dicobanya pada pinggangnya.

Kadang-kadang ia bercermin mengagumi burung Hong di kepalanya.

Tiba-tiba terdengar suara di atas genteng.

Ling In cepat bersiap, akan tetapi pada saat itu, dari atas melayang turun tubuh seorang pemuda tegap yang berseru perlahan.

"Ling In"!"

"Suheng...??"

Ling In terkejut sekali dan mengingat akan burung Hong yang menghias kepalanya, ia menjadi demikian malu dan gugup sehingga dengan saputangannya yang lebar, segera dibungkusnya rambutnya untuk menutupi hiasan rambut itu!

"Tiada gunanya, sumoi.

Aku sudah melihat burung Hong itu dan aku sudah tahu pula betapa kejamnya hatimu!

Tak kusangka bahwa kau diam-diam menerima pinangan pemuda lain.

Ah, Ling In bagaimana kau sampai hati berlaku demikian?"

"Suheng, kau ada hak apakah hendak mencampuri urusan perjodohanku?"

Ling In penasaran juga karena disebut kejam.

"Hak apa? Hak atas ikatan batin yang ada diantara kita Sumoi, mengapa kau mengkhianat perasannku terhadapmu? Mengapa kau mengkhianati suara hatimu sendiri? Salahkah dugaanku selama ini atau memang hati dan pandang matamu kepadaku itu palsu belaka? Sudah butakah mataku atau memang kau seorang wanita kejam yang suka melihat kehancuran hatiku? Ataukah kau melihat pemuda yang meminangmu itu seorang bangsawan kaya raya sehingga kau melupakan aku?"

"Cukup, suheng!"

Ling In membentak dengan wajah pucat.

"Kau agaknya sudah lupa bahwa aku adalah seorang gadis dan bahwa aku masih mempunyai seorang ibu! kau lupa pula bahwa urusan perjodohan, tergantung sepenuhnya atas keputusan ibuku. Mengapa kau berani sekali datang menghinaku? Kedatanganmu seperti seorang pencuri ini saja sudah melanggar kesopanan dan tata susila!"

"Ling In, betulkah bahwa kau tidak tahu bahwa aku mencintamu sepenuh jiwaku? Dengarlah, sumoi. Aku datang kali ini untuk meminangmu secara resmi, untuk meminta agar kau suka menjadi isteriku."

"Sudah, sudah, aku tak ingin mendengar lagi! kau bilang mencinta, akan tetapi sudah bertahun-tahun ini kau menutup mulut saja? Mengapa kau tidak meminangku kepada ibu? kau terlalu memandang rendah kepadaku, tidak menghargaiku. kau kira aku dan ibu mau menunggu terbukanya mulutmu sampat aku menjadi seorang nenek beruban? Kini, setelah ibu menerima pinangan orang lain, kau pura pura datang marah marah dan meminangku! Sudahlah suheng, nasi sudah menjadi bubur, tak dapat diperbaiki lagi. kau pergilah dari sini, karena tidak baik kalau sampai terdengar orang lain."

Ling In menahan air matanya yang hendak mengucur pula setelah siang tadi ia berhasil membendungnya. Lie Bu Tek tiba-tiba melihat ikat pinggang sutera yang terletak di atas meja.

"Hm, kau agaknya telah lupa kepadaku hanya karena benda benda ini? Ingin aku melihat orangnya yang memberi benda ini kepadamu!"

Dengan cepat tangannya diulur ke depan dan ia telah memegang ujung tali pinggang itu.

"Jangan pegang itu!"

Ling In membentak dan iapun berusaha merampas tanda-mata tunangannya. Akan tetapi Bu Tek tidak mau melepaskan sehingga mereka saling tarik.

"Suheng, apakah kau sudah gila? kau sudah gila kaena iri hati dan cemburu! Alangkah bodoh dan rendahnya! Lepaskan benda ini, kau tak berhak memegangnya!"

"Tidak, aku akan membawanya dan kemudian mencari orangnya. Hendak kupakai menggantung lehernya!"

Kata Bu Tek sambil menarik keras. Ling In juga menggunakan tenaga membetot untuk merampas tali pinggang sutera itu. Keduanya saling menarik"

"Brett!"

Putuslah ikat pinggang itu pada tengahnya! "Ah"

Putus!"

Ling In berseru marah.

"Suheng, putusnya barang ini berarti putusnya pula perhubungan kita!"

Akan tetapi Lie Bu Tek sudah melompat ke atas dan pergi dari situ sambil membawa sepotong ikat pinggang yang putus menjadi dua tadi.

Pada saat itu, pintu kamar Ling In terbuka dan masuklah ibunya dengan muka khawatir.

"Ling In, kau bicara kepada siapakah?"

Tanyanya heran.

Akan tetapi Ling In tidak menjawab, hanya menjatuhkan diri di atas pembaringan sembil menangis.

Akan tetapi tangisnya kali ini adalah tangis dari hati yang lega.

Kalau saja Bu Tek datang dan memperlihatkan sikap penuh kedukaan dan patah hati, mungkin Ling In akan merasa lebih tersiksa hatinya, karena memang ia amat kasihan kepada suhengnya itu.

Akan tetapi, Bu Tek datang dan memperlihatkan sikap kasar, bahkan telah berani mencoba merampas dan kemudian merusak tali pinggang sutera itu, sehingga perasaan marah dan penasaran, ditambah pula dengan ucapan-ucapan menghina dari suhengnya itu, melenyapkan rasa kasihan dari hatinya.

Kini ia dapat menghadapi perjodohannya dengan Wan Kan dengan hati lebih ringan.

*** Di Tiongkok sebelah utara, di perbatasan Mongol, terdapat padang pasir yang amat luas.

Hanya dengan bantuan binatang onta dan membawa perbekalan yang lengkap saja manusia berani menyeberangi padang atau juga disebut laut pasir ini.

Beratus lie jauhnya, orang hanya melihat pasir di mana-mana, tidak sehelaipun rumput atau tetumbuhan lain nampak, tidak ada setetespun air di tempat yang luas itu.

Panasnya tak dapat diceritakan lagi, karena sinar matahari yang terpantul kembali oleh pasir yarg panas cukup hebat untuk menghanguskan sepatu pelindung kaki.

Jarang ada orang melakukan perjalanan seorang diri melintasi padang pasir ini.

Selalu yang menyeberang adalah rombongan orang yang dapat saling membantu sewaktu waktu seorang diantara mereka jatuh sakit atau tertimpa bencana lain.

Kalau orang menjalankan penyeberangan sendiri saja dan ketika tiba di tengah padang pasir ia jatuh sakit, itu berarti kematian yang amat mengerikan baginya.

Jarang ada perampok di daerah ini, hanya kadang-kadang saja timbul dan terjadi perampokan.

Ini terjadi secara kebetulan saia, yaitu kalau ada serombongan orang jahat melintasi padang pasir, kemudian bertemu dengan serombongan pedagang, maka terjadilah perampokan.

Akan tetapi tidak ada gerombolan perampok yarg tetap tinggal di daerah ini.

Bahaya yang benar-benar ditakuti orang adalah angin ribut yang datangnya tiba-tiba dan menyerang para penyeberang.

Kalau angin ribut timbul, maka banyak terjadi angin puyuh, yaitu angin putaran yang akan menerbangkan orang dan barang dengan mudahnya, yang akan mendatangkan gelombang pasir dan akan menimbuni apa saja yang berada di depannya!

Akan tetapi, tidak seperti biasanya, pada hari itu di atas padang pasir nampak seorang kakek berjalan dengan tongkat di tangan.

Kakek ini benar-benar luar biasa sekali.

Jangankan naik onta atau membawa perbekalan, bahkan sebelah kaki nyapun bertelanjang tak bersepatu!

Akan tetapi, biarpun matahari sedang teriknya dan pasir sedang panasnya, kakek itu kelihatannya ayem saja dan berjalan sambil berdendang!

Kakek ini tubuhnya tinggi kurus, sepasang matanya liar dan pakaiannya serta rambutnya tidak karuan, sama sekali tidak terpelihara.

Tongkat di tangannya itu bukan sembarang tongkat, melainkan sebatang ranting bambu kuning dengan bintik bintik hijau.

Bagi orang biasa, tentu akan mengira bahwa kakek ini adalah seorang pengemis tua yang kelaparan dan yang menjadi gila karena kesengsaraan hidupnya.

Akan tetapi, kalau ada orang kang ouw kebetulan bertemu dengan kakek ini, mungkin ia akan mengambil langkah seribu dan berlari pergi menyelamatkan diri.

karena kakek ini bukan lain adalah Coa ong Sin kai (Pengemis Sakti Raja Ular) yang amat ditakuti oleh orang-orang gagah di dunia kang ouw.

Siapakah orangnya yang tidak jerih menghadapi kakek gila yang amat lihai ini?

Pembaca tentu masih ingat akan kekejaman dan kegilaan kakek ini, yang lebih menyayang jiwa binatang dari pada jiwa manusia.

Sebagaimana telah diuraikan di bagian depan, Coa ong Sin kai setelah mengamuk di Cin-an, dalam amukannya di taman pertemuan yang diadakan oleh Sam Thai Koksu itu membunuh Suma Kwan Seng, Bu eng Lo koai, dan banyak orang lagi, lalu melarikan bekas muridnya, yakni Bi Lan.

Akan tetapi Thian Te Siang mo mengejarnya dan akhirnya merampas Bi Lan dan Coa ong Sin kai terpaksa berlari pergi karena tidak kuat menghadapi Sepasang Iblis Kembar yang sakti itu.

Orang seperti Coa ong Sin kai yang jalan pikirannya sudah tidak normal, tidak dapat mempunyai hati dendam.

Marahnya kepada Bi Lan sudah terlupa lagi.

Akan tetapi ia merasa kecewa, karena sebegitu jauh ia belum mempunyai murid.

Bi Lan ia anggap bukan muridnya lagi dan kini ia merantau tanpa tujuan untuk mencari seorang murid baru yang cocok.

Memang Coa ong Sin kai orang aneh.

Dari caranya ia berjalan melintasi padang pasir itu saja sudah aneh dan lucu.

Ia seperti seorang anak kecil yang baru bisa lari saja.

Kadang-kadang ia berjalan lambat lambat, dan kadang-kadang ia berlari cepat sekali.

Inilah yang membuat ia tak lama kemudian tersusul oleh dua bayangan orang yang mempergunakan ilmu lari cepat dan memang mengejarnya.

Dua orang ini adalah orang-orang-tua yang berpakaian seperti sasterawan, akan tetapi yang memiliki ilmu lari cepat luar biasa sekali.

Karena ginkang dari dua orang ini memang amat tinggi dan pula mereka berjalan di atas pasir, biarpun Coa ong Sin kai telah memiliki pendengaran yang amat tajam, namun ia tidak mendengar kedatangan dua orang kakek ini.

Adapun dua orang kakek itu setelah melihat bayangan Coa ong Sin kai dari jauh, lalu mempercepat kejaran mereka.

Setelah dekat, seorang diantara kedua kakek sasterawan in berseru.

"Coa ong Sin kai, perlahan dulu. Kami hendak bicara dengan kau !"

Pengemis Sakti Raja Ular berhenti dan menengok, la segera mengenal dua orang kakek sasterawan itu dan tertawalah Coa ong Sin kai sambil menggerak gerakkan tongkat bambunya.

"Ha, ha, ha, hal Di tempat seperti ini dapat bertemu dengan Liang Tek Sianseng dan Luliang Siucai, benar-benar seperti dalam mimpi! Bagaimana ini? Aku Coa ong Sin kai yang sedang mimpi bertemu dengan kalian, ataukah kalian yang sedang mimpi bertemu dengan aku?"

Kemudian ia menjura kepada Luliang Siucai dan berkata.

"Siucai, apakah orang-tua yang gagah di puncak Luliang san baik-baik saja?"

Ternyata segila-gilanya Coa ong Sin kai, ia masih ingat kepada Pak Kek Siansu dan masih memandang hormat kepada orang-tua sakti itu!

"Terima kasih, Coa ong Sin kai.

Siansu baik-baik saja, sehat seperti kita,"

Jawab Luliang Siucai sambil membalas penghormatan pengemis sakti itu.

"Kalian ini jauh jauh datang menyusulku, apakah memang keberulan saja bertemu dengan aku, ataukah sengaja mencariku? Agaknya sasterawan dari Hoa-san-pai ini yang ada urusan dengan aku, betulkah?"

Tanya Coa ong Sin kai sambil melirik ke arah Liang Tek Sianseng. Liang Tek Sianseng melangkah maju dan berkata.

"Coa ong Sin kai, kau benar-benar keterlaluan sekali. Apakah sampai sekarang kau masih mau berpura pura? kau telah menawan murid kami dan membawanya pergi dengan paksa. Di mana dia?"

"Eh, siap yang kau maksudkan?"

Co ong Sin kai tertawa-tawa menggoda.

"Orang liar, apakah kau masih hendak main-main? kau telah menculik murid perempuan kami, Liang Bi Lan. Sekarang di mana dia?"

"Aha, kau maksudkan burung kecil yang liar itu? Ha, ha, kau lihat sendiri, dia tidak berada bersamaku. Dia telah terbang pergi!"

"Siapa bisa percaya omongan seorang seperti engkau? Hayo kau katakan, di mana dia? Kalau kau sampai mengganggunya, aku terpaksa akan bertempur mati-matian melawanmu."

Coa ong Sin kai merobah sikapnya yang main-main. Ia membelalakkan matanya dan berdiri sambil bertolak pinggang.

"Sudah kukatakan dia terbang pergi, kau masih tidak percaya. Habis kau mau apa?"

Ia menantang.

"Kau sendiri yang menculiknya dari kami di Hoa san, maka sekarang kau pula yang harus mengembalikan Bi Lan kepada kami!"

"Bohongl Burung kecil itu memang suka ikut dengan aku untuk belajar ilmu silat. Sudahlah, kutu buku, kau pergi saja jangan bikin aku marah!"

Kata Coa ong Sin kai dan menggerak gerakkan tongkat bambunya dengan senyum mengejek.

"Dasar tua bangka jahat!"

Seru Liang Tek Sianseng yang segera maju menyerang dengan senjatanya, yaitu sepasang poan koan pit yang gerakannya amat lihai.

"Bagus, tempat ini memang tepat sekali untuk main-main, cukup lega dan luas. Marilah!"

Kata Coa ong Sin kai sambil tertawa bergelak.

Ranting bambunya bergerak cepat menangkis serangan Liang Tek Sianseng dan sebentar saja kedua orang-tua yang berkepandaian tinggi itu bertempur hebat.

Dulu ketika Coa ong Sin kai naik ke Hoa san dan sebelum ia menculik Bi Lan, ia pernah menghadapi keroyokan empat orang tokoh Hoa-san-pai, yaitu Liang Gi Tojin, Liang Bi Suthai, Liang Tek Sianseng dan Tan Seng.

Setelah dikeroyok empat, barulah Coa ong Sin kai menjadi sibuk dan kewalahan.

Akan tetapi kalau tokoh-tokoh Hoa-san-pai itu maju seorang demi seorang, Coa ong Sin kai tak perlu takut karena memang tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi.

Kini karena Liang Tek Sianseng menghadapi dia sendiri, ia dapat mainkan ranting bambunya sambil tertawa-tawa mengejek.

Dan benar saja sepasang poan koan pit di tangan Liang Tek Sianseng biarpun jarang ada yang dapat menandinginya, namun menghadapi ranting bambu di tangan Coa ong Sin kai, tak berdaya dan hilang kelihaiannya.

Liang Tek Sianseng mempergunakan sepasang poan koan pit dengan tenaga berlawanan, yaitu tenaga kasar dan lemas.

Penyerangan selalu dilakukan bertubi tubi dari kanan kiri atau atas bawah.

Namun, Coa ong Sin kai selalu dapat memecahkannya dengan tangkisan rantingnya yang bergerak cepat bagaikan seekor ular hidup.

Ranting yang lemas dan kuat ini memang cocok sekali untuk menghadapi senjata lawan, baik senjata berat maupun ringan.

Dan begitu ranting ini terbentur senjata lawan dalam menangkis, selalu ranting terpental dan terus dipergunakan untuk menyerang!

Kalau Liang Tek Sianseng bukan seorang tokoh kang ouw yang sudah banyak pengalaman dalam pertempuran besar, tentu dalam dua puluh jurus saja ia sudah akan dikalahkan.

Dengan mati-matian tokoh Hoa-san-pai ini melakukan perlawanan dan ia masih kuat menghadapi lawannya sampai empat puluh jurus lebih, baru ia mulai terdesak hebat dan gulungan sinar ranting yang kehijau hijauan itu mulai mengurung tubuhnya.

Akhirnya ia hanya bisa menangkis saja tanpa dapat membatas serangan lawan!

Ketika ranting bambu di tangan Coa ong Sin kai menyambar ke arah ulu hatinya.

Liang Tek Sianseng yang tidak keburu mengelak lalu cepat menggerakkan poan koan pit di tangannya.

Senjata yang bentuknya seperti alat tulis (pena bulu) ini, datang dari kanan kiri dan menggunting ranting bambu itu.

Yang atas menekan dan yang bawah mendorong sehingga ranting bambu itu tidak dapat ditarik kembalil Coa ong Sin kai mengerahkan tenaga, demikianpun Liang Tek Sianseng, namun tetap saja Pengemis Sakti itu tidak dapat menarik kembali rantingnya.

Akan tetapi tangan kirinya masih bebas dan kini Pengemis Sakti ini menggerakkan tangan kirinya mengirim pukulan ke arah leher Liang Tek Sianseng dengan kerasnya!

Tokoh Hoa-san-pai ini maklum bahwa kalau sampai lehernya terkena pukulan yang berbentuk totokan itu, pasti jalan darah kematian akan terpukul dan ia takkan dapat bernapas lagi.

Untuk menangkis, kedua tangannya sedang menggunakan poan koan pit untuk menahan tongkat lawan, maka terpaksa ia menggeser tubuh dan miringkan kepalanya.

Namun tetap saja jari-jari tangan kiri yang lihai dari Coa ong Sin kai mengenai pundak kirinya dan sambil mengeluarkan seruan lemah, tubuh Liang Tek Sianseng terdorong dan terhuyung-huyung ke belakang.

Dari mulut dan hidungnya mengalir darah!

Coa ong Sin kai tertawa bergelak gelak dan maju untuk mengirim tusukan maut dengan rantingnya.

Akan tetapi tiba-tiba dari samping menyambar angin pukulan yang mendorongnya kuat sekali sehingga terpaksa ia membatalkan serangannya kepada Liang Tek Sianseng dan cepat meloncat mundur.

Ternyata bahwa yang menyerang tadi adalah Luliang Siucai.

Tadi ketika pertempuran berjalan, Luliang Siucai tidak berani turun-tangan membantu, karena hal itu akan menyalahi hukum orang-orang gagah.

Ia hanya menyesalkan sikap sahabatnya, yakni Liang Tek Sianseng yang berlaku sembrono sehingga memperlibatkan diri dalam pertempuran satu lawan satu menghadapi Coa ong Sin kai, padahal sudah tahu bahwa kepandaiannya kalah jauh.

Namun, di dalam pertempuran satu lawan satu, ia tidak berdaya turun-tangan, maka ia hanya memandang dengan penuh kegelisahan.

Setelah Liang Tek Sianseng terluka dan hendak dibunuh barulah ia turun-tangan menolongnya.

"Coa ong Sin kai, lawan yang sudah kalah tak boleh didesak!"

Tegurnya. Coa ong Sin kai tertawa bcrgelak.

"Luliang Siucai, mengapa kau mencampuri urusau kami? Kami memperebutkan kebenaran, ada hubungan apakah dengan kau penjaga Gunung Luliang san?"

Luliang Siucai tersenyum.

"Kau tadi bilang memperebutkan kebenaran, sebetulnya kebenaran yang manakah yang diperebutkan olehmu? kau tadi bertempur dengan Liang Tek Sianseng itu bukan urusanku, buktinya sampai Liang Tek Siangseng kau kalahkan, akupun tidak mau turut campur. Akan tetapi kalau kau hendak membunuh lawanmu yang sudah kalah, itu adalah urusan siapa saja yang suka membela yang lemah. Dan di hadapanku, kau tidak boleh membunuh siapapun juga tanpa alasan. Selain itu, ketahuilah, Coa ong Sin kai, bahwa kedatanganku ini adalah atas permintaan Liang Tek Sianseng. Katanya kau menculik muridnya perempuan, betulkah ini? Kalau betul, tak perlu dibicarakan panjang lebar lagi. karena sudah tentu kau yang salah. Maka, kuharap kau suka melihat mukaku dan mengingat kepada Siansu, kembalikanlah anak perempuan itu."

"Hm, kau memang pandai bicara. Tidak aneh, karena orang-orang seperti kau yang menganggap diri sasterawan, selalu pandai putar lidah! Akan tetapi, bukankah tadi aku sudah menyatakan bahwa anak perempuan itu telah lari pergi? Apakah kau juga tidak percaya kepadaku, Luliang Siucai?"

Coa ong Sin kai memandang sambil menyeringai, sikapnya penasaran dan matanya makin liar dan ganas. Luliang Siucai seperti biasa, berlaku tenang, sabar dan tetap tersenyum.

"Coa ong Sin kai, kepercayaan ada dua macam, yaitu kepercayaan yang berdasar dan kepercayaan yang membuta. Aku tidak mau menaruh kepercayaan secara membuta. Kalau memang betul bahwa murid perempuan Hoa-san-pai itu telah lari, kau harus ceritakan ke mana ia lari dan mengapa sampai bisa lari daripadamu. Aku tidak percaya begitu saja bahwa dia bisa lari dari kau orang-tua yang lihai."

Merah muka Coa ong Sin kai mendengar ini.

Ia tidak sudi menceritakan bahwa Bi Lan lari karena dirampas oleh Thian Te Siang mo, karena pengakuan ini sama halnya dengan mengaku bahwa ia kalah oleh Sepasang Iblis Kembar itu!

Maka katanya sambil tersenyum mengejek.

"Luliang Siucai, agaknya kau memandang rendah kepadaku! Kalau aku tidak mau memberi tahu kepadamu, kau mau apakah?"

"Kalau begitu, sebagai sahabat Hoa-san-pai, terpaksa aku harus menggunakan kekerasan."

"Heh, heh, heh? Begitukah? kau kira aku takut kepadamu? Cobalah, Luliang Siucai, hendak kulihat sampai di mana kehebatan kepandaian tokoh Luliang san. Kalau kau bisa mengalahkan tongkatku ini, baru aku mau memberi keterangan tentang murid perempuan Hoa-san-pai itu."

"Coa ong Sin kai, kau sombong! Jangan kira di dunia ini hanya kau seorang saja yang pandai!"

Kata Luliang Siucai, yang segera mengeluarkan dua buah benda dari saku bajunya yang lebar.

Melihat sepasang benda ini, Coa ong Sin kai tertawa bergelak.

Ternyata bahwa di tangan kiri Luliang Siucai terdapat sebuah kitab kosong, yaitu hanya sampulnya saja yang tebal dan dapat dibuka tutup dalam penggunaan sebagai senjata.

Adapun tangan kanannya memegang sebatang pit bulu yang panjangnya ada satu kaki, gagangnya terbuat daripada bambu biasa sedangkan bulunya berwarna hitam karena memang pit bulu ini biasanya ia pergunakan untuk menulis!

Adapun sampul buku itupun bisa dipergunakan sebagai alas menulis.

"Ha, ha, ha, dasar kutu buku! Terimalah tongkatku!"

Sambil tertawa-tawa, Coa ong Sin kai lalu menyerang dengan tongkat bambunya secara hebat sekali.

Luliang Siucai berlaku waspada.

Gerakan gerakannya tenang sekali dan nampaknya lambat, namun setiap kali ujung tongkat Coa ong Sin kai mendekat, selalu tongkat itu terpental kembali begitu terbentur dengan sampul buku atau pit bulu.

Adapun serangan balasan dan Luliang Smcai datangnya jarang, namun setiap kali datang, Coa ong Sin kai sampai terlompat lompat saking bingungnya hendak menghindarkan diri.

Serangan totokan pit bulu itu benar-benar amat lihai dan kuat sekali sehingga biarpun ditangkis oleh tongkat, masih saja pit bulu itu meluncur terus menjangkau sasarannya!

Oleh karena itu, kini Coa ong Sin kai tak berani tertawa-tawa lagi, juga menghadapi setiap totokan, ia selalu menghindarkan diri dengan jalan mengelak cepat-cepat.

Sementara itu, Liang Tek Sianseng yang telat menderita luka berat.

Semenjak tadi sudah duduk bersila di atas pasir dan mengendalikan napas serta mengerahkan tenaga lweekangnya untuk memulihkan jalan darah dan menyembuhkan luka di dalan pundak kirinya yang terpukul oleh jari-jari tanga yang lihai dari Coa ong Sin kai tadi.

Kalau ia tidak sedang dalam keadaan seperti itu, tentu Lian Tek Sianseng akan melihat datangnya tiga titik hitam dari utara yang makin besar dan dekat.

Tiga titik hitam itu ternyata adalah bayangan tiga orang yang mendatangi dengan cepat sekali ke arah dua orang yang sedang bertempur hebat.

Coa ong Sin kai benar-benar terdesak hebat oleh Luliang Siucai.

Namun, murid dan pelayan dari Pak Kek Siansu ini memang seorang yang berwatak sabar dan pemurah.

Luliang Siucai tidak hendak melukai lawannya kalau lawannya itu bersedia memenuhi permintaannya.

Berkali kali ia membujuk.

"Coa ong Sin kai, masih belum mengaku kalah kah kau? Lebih baik kau beritahukan di mana adanya murid Hoa-san-pai itu!"

Namun Coa ong Sin kai takkan amat terkenal namanya di dunia kang ouw katau dia tidak keras kepala dan mau mengalah.

Biarpun ia sudah terdesak hebat dan napasnya mulai memburu, namun ia masih berlaku nekad, bahkan kini tongkatnya menyerang dengan ganasnya.

Setiap gerakannya tidak lagi merupakan adu kepandaian, melainkan adu nyawa!

(Lanjut ke

Jilid 09) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "

Jilid 09 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo

Jilid 09 Kalau saja Luliang Siucai bukan seorang yang berbatin tinggi dan amat penyabar, tentu ia sudah menjadi marah dan merobohkan lawannya ini dengan pukulan maut.

Akan tetapi, murid Pak Kek Siansu ini tidak mau membunuh orang, dan ia berlaku amat hati-hati, dengan maksud merobohkan Coa ong sin kai tanpa membahayakan nyawanya.

Akan tetapi hal ini bukanlah mudah, karena kepandaian Coa ong Sin kai sudah terlalu tinggi untuk dapat dirobohkan dengan mudah begitu saja, Ketika Coa ong Sin kai membalas serangan Luliang Siucai dengan sebuah tusukan yang berbahaya sekali ke arah lambung tokoh Luliang san ini, tiba-tiba Luliang Siucai berseru keras dan tahu-tahu ujung tongkat bambu itu terjepit oleh sampul kitab di tangan kirinya.

Jepitan ini demikian kuatnya sehingga Coa ong Sin kai tak berdaya untuk mencabutnya kembali!

"Coa ong Sin kai, kau menyerahlah!"

Seru Luliang Siucai.

Akan tetapi Coa ong Sin kai mengerahkan tenaganya untuk mencabut kembali tongkatnya yang terjepit oleh sampul kitab sehingga dua orang kakek lihai ini saling betot dan keadaan menjadi tegang.

Tentu saja kalau Luliang Siucai mau, ia dapat menggerakkan tangan kanannya dan dapat menyerang lawannya dengan pit bulunya yang lihai.

Akan tetapi, murid Pak Kek Siansu ini tidak mau berlaku demikian.

Pada saat itu, tiga bayangan orang sudah tiba di situ dan terdengar bentakan halus.

"Luliang Siucai, jangan menghina orang dengan kepandaianmu yang tidak seberapa itu!"

Ucapan ini dibarengi dengan menyambarnya sehelai sinar putih yang ternyata adalah seikat mutiara putih yang dibuat seperti tasbeh.

Ketika tasbeh mutiara ini menyentuh tongkat dan sampul kitab, baik Coa ong Sin kai maupun Luliang Siucai merasa tubuh mereka gemetar dan dengan kaget sekali mereka melompat mundur.

Cepat mereka memandang kepada tiga orang yang baru datang itu.

Orang yang tadi menegur dan menggerakkan tasbeh secara hebat dan luar biasa sekali adalah seorang kakek tua sekali dengan tubuh bengkok sehingga kelihatan pendek, berkepala botak dan kulit mukanya putih sekali.

Sepasang matanya lebar, pakaiannya seperti seorang pertapaan, tangan kirinya memegang sebatang tongkat panjang berwarna merah dan tangan kanannya memegang seuntai tasbeh terbuat diri pada batu mutiara putih yang mengeluarkan cahaya gemilang.

Orang ke dua adalah seorang pendeta tinggi besar bermuka hitam dan nampaknya sombong sekali.

Adapun orang ke tiga adalah seorang yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian seperti seorang tosu, sepasang matanya nampak cerdik dan juga kejam.

Siapakah mereka ini?

Mereka bukan orang-orang sembarangan, karena orang pertama yang memegang tasbeh bukan lain adalah Pak Hong Siansu, orang yang paling lihai dan amat berkuasa di Tibet.

Ilmu kepandaian Pak Hong Siansu sukar diukur sampai di mana tingginya, dan dari gerakan tasbehnya tadi saja sudah dapat dilihat bahwa kepandaiannya beberapa kali lipat lebih pandai dari pada Luliang Siucai atau Coa eng Sin kai!

Orang ke dua itu adalah Ba Mau Hoatsu, juga seorang tokoh Tibet dan sebagaimana para.

pembaca sudah mengenalnya.

Ba Mau Hoatsu ini adalah guru dari Pangeran Wan Yen Kan.

Adapun orang ke tiga itu adalah Giok Seng Cu, murid dari Pak Hong Siansu, seorang yang memiliki kepandaian tinggi pula dan sudah banyak merantau ke dunia barat.

Ketika Luliang Siucai melihat orang-orang yang datang ini, ia terkejut sekali dan cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan Pak Hong Siansu sambil berkata.

"Susiok, mohon maaf sebanyaknya bahwa teecu tidak tahu akan kedatangan susiok sehingga terlambat memberi hormat."

Sementara itu, Coa ong Sin kai yang tahu bahaya orang-orang yang datang itu adalah orang-orang lihai, ia lalu tertawa-tawa dan pergi meninggalkan tempat itu sambil berkata.

"Banyak benar orang-orang lihai di dunia ini...! Hebat, aku mesti melatih diri baik-baik!"

Ba Mau Hoatsu yang tadinya melihat Coa ong Sin kai dan hendak memberi hajaran kepada orang aneh yang pernah mengacau dan menghina Sam Thai Koksu ketika diadakan pertemuan orang-orang gagah, terpaksa menunda niatnya dan tidak mengganggu kepergian Coa ong Sin kai.

Karena melihat betapa orang berpakaian sasterawan yang kepandaiannya tinggi dan bertempur dengan Coa ong Sin kai tadi kini berlutut di depan Pak Hong Siansu.

Ia pernah mendengar tentang suheng (kakak seperguruan) dari Pak Hong Siansu, yaitu yang bernama Pak Kek Siansu, dan mendengar pula bahwa Pak Kek Siansu mempunyai tiga orang murid yang lihai.

Ketika mendengar disebutnya nama Luliang Siucai oleh Pak Hong Siansu tadi, tahulah Ba Mau Hoatsu bahwa yang mengalahkan Coa ong Sin kai tadi adalah seorang murid dari Pak Kek Siansu.

Memang benar.

Pak Hong Siansu adalah sute (adik seperguruan) dari Pak Kek Siansu, maka tidak mengherankan apabila kepandaiannya amat tinggi.

Kedua orang sakti ini telah berpuluh tahun bertapa di kutub utara dan keduanya memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.

Akan tetapi Pak Hong Siansu memiliki cita-cita sehingga akhirnya ia menjadi seorang yang paling tinggi di Tibet, di dewa dewakan oleh para Lama sehingga hidupnya sama dengan seorang raja!

Sebaliknya, Pak Kek Siansu menyembunyikan diri di puncak Bukit Luliang san, bertapa dan tidak mencampuri urusan duniawi.

Pak Hong Siansu sendiri sebetulnya juga sudah malas untuk berurusan dengan orang lain, karena hidupnya sudah aman, tenteram, dan makmur di Tibet.

Akan tetapi, Ba Mau Hoatsu adalah seorang sahabat baiknya, seorang tokoh Tibet pula yang berkedudukan tinggi dan yang telah banyak berjasa membantunya memperoleh kedudukan yang paling mulia di Tibet, maka ketika Ba Mau Hoatsu datang minta bantuannya menolong negara Kin menghadapi orang-orang seperti Thian Te Siang mo, ia memenuhi juga.

Apalagi ketika ia mendengar bahwa Thian Te Siang mo memiliki kepandaian tinggi sekali dan oleh Ba Mau Hoatsu dikabarkan sebagai Sepasang Iblis Kembar yang sombong dan menjagoi daratan Tiongkok.

Memang, berbeda dengan Pak Kek Siansu, Pak Hong Siansu ini adatnya keras dan tidak mau kalah oleh siapapun juga dalam hal kepandaian ilmu silat.

Maka ia lalu menyanggupi Ba Mau Hoatsu untuk turun dari Tibet, ikut ke negara Kin dan berjanji hendak mengalahkan Thian Te Siang mo.

Tentu saja Ba Mau Hoatsu merasa girang sekali, Ba Mau Hoatsu tidak takut kepada siapapun juga dan yang membuat ia jerih hanya menghadapi Thian Te Siang mo.

Maka dengan adanya Pak Hong Siansu yang membantu, apalagi di situ ada pula murid dari Pak Hong Siansu, yaitu Giok Seng Cu yang kepandaiannya juga setingkat dengan Ba Mau Hoatsu, tentu saja Ba Mau Hoatsu berbesar hati sekali.

Dari Tibet, tiga orang-tua yang lihai ini melakukan perjalanan berkuda ke Cining, sebuah kota di sebelah selatan dari Mongolia dalam karena Pak Hong Siansu hendak mengunjungi seorang sahabatnya, Kemudian, dari Cining mereka ke selatan dengan berjalan kaki melintasi padang pasir karena Pak Hong Siansu tidak suka naik unta.

Demikianlah, secara kebetulan sekali rombongan dari tiga orang ini bertemu dengan Luliang Siucai yang tengah bertanding silat dengan Coa ong Sin kai dan berkat campur tangan Pak Hong Siansu, maka selamatlah Coa ong Sin kai yang berlaku cerdik dan segera pergi dari situ.

Biarpun Pak Hong Siansu tidak tahu siapa orangnya yang bertempur melawan Luliang Siucai, namun melihat murid keponakannya itu mendesak seorang pengemis tua yang sudah kewalahan, tanpa banyak pikir lagi ia turun-tangan dan menegur.

"Luliang Siucai,"

Kata Pak Hong Siansu melihat murid keponakannya itu berlutut di depannya.

"Agaknya biarpun suheng telah lama tidak muncul, namun dia masih mengumbar nafsu melalui murid-muridnya. Ini namanya turun-tangan secara tidak langsung!"

Luliang Siucai adalah seorang yang amat tenang dan sabar, akan tetapi ada pantangannya, yaitu kalau suhunya dicela orang lain, akan naik darahnya.

Kini mendengar Pak Hong Siansu mengucapkan tuduhan yang sifatnya menyinggung dan sedikit menghina suhunya, ia menjawab tak senang.

"Susiok, pertempuran teecu menghadapi Coa ong Sin kai tadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan Siansu yang bertapa di puncak Gunung Luliang san. Suhu benar-benar telah mencuci tangan dan segala tanggung jawab dalam sepak terjang teecu adalah tanggung jawab teecu sendiri!"

Mendengar jawaban ini, tahulah Pak Hong. Siansu bahwa murid keponakannya ini marah, maka ia tertawa sambil berkata lagi.

"Aha, Luliang Siucai, kau agaknya sudah mendapat banyak kemajuan sehingga berani mengeluarkan kata-kata di depanku. Sebagai paman gurumu aku hendak bertanya, mengapakah kau tadi mendesak dan menyerang pengemis tua itu? Apa alasanmu?"

Luliang Siucai menunjuk ke arah Liang Tek Sianseng yang masih duduk bersila di atas pasir tanpa bergerak.

"Teecu bertempur untuk membela sahabat teecu itu."

"Siapakah dia?"

"Dia adalah Liang Tek Sianseng dari Hoa an pai. Karena muridnya diculik oleh Coa ong Sin kai, maka dia minta tolong kepada teecu untuk membujuk Coa ong Sin kai, agar suka mengembalikan murid perempuannya, akan tetapi siapa kira, Coa ong Sin kai bahkan menyerang dan melukainya. Ketika teecu menegur dan minta supaya pengemis ular itu mengembalikan murid Hoa-san-pai, Coa ong Sin kai bahkan menentang teecu. Oleh karena itulah maka teecu sampai bertempur dengan dia."

Tiba-tiba terdengar Ba Mau Hoatsu tertawa bergelek.

"Ha, ha, ha, benar orang-orang Hoa-san-pai selalu menimbulkan keributan belaka di mana saja mereka berada! Sam Thai Koksu dari negeri Kin ketika mengadakan perayaan di Cin-an, juga terjadi keributan yang ditimbulkan oleh orang-orang Hoa-san-pai! Sangat meragukan apakah orang-orang Hoa-san-pai ini benar-benar orang-orang yang baik dan patut dibela!"

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Pak Hong Siansu mengerutkan keningnya sehingga matanya yang lebar itu nampak makin bundar.

"Luliang Siucai, apakah kau sudah tahu betul mengapa murid perempuan Hoa-san-pai itu diculik? Apakah kau sudah yakin betul mana yang benar dan mana yang salah dalam persoalan antara Coa ong Sin kai dan orang-orang Hoa-san-pai?"

Tanya kakek sakti itu. Luliang Siucai menggeleng kepalanya.

"Teecu tidak mengetahui sedalam dalamnya tentang urusan itu. Yang teecu ketahui bahwa Liang Tek Sianseng dari Hoa-san-pai adalah seorang sahabat teecu yang baik dan boleh dipercaya kemuliaan hatinya, sedangkan Coa ong Sin kai, siapakah yang tidak mengenal kebusukan hatinya?"

"Kau berat sebelah!"

Pak Hong Siansu membentak marah.

"Tidak boleh mendasarkan benar tidaknya seseorang dalam satu urusan, atas watak mereka! Bulan tidak selamanya bundar dan matahari tidak selamanya terang! Orang pintar sekali kali melakukan kebodohan dan orang bodoh sekali waktu akan melakukan kebenaran. kau terlalu mengandalkan kepandaian sendiri sehingga tidak memandang kepada orang lain. Sekarang hendak kulihat sampai di mana sih kepandaianmu sehingga kau berani bertindak demikian sembrono dan sombong? Giok Seng Cu, coba kau layani Luliang Siucai ini beberapa jurus untuk mengukur kepandaiannya!"

Dengan sikapnya yang tenang dan gerakan kakinya yang kuat, Giok Seng Cu melangkah maju menghadapi Luliang Siucai yang juga sudah bangun sendiri.

"Luliang Siucai, beranikah kau melawan pinto (aku)?"

Tanya Giok Seng Cu kepada Luliang Siucai yang memandang dengan penuh perhatian.

Tokoh Luliang san ini belum pernah melihat tosu yang menjadi murid susioknya itu.

Memang Giok Seng Cu bukan murid semenjak kecil.

Dia adalah seorang tosu perantau yang tadinya memang telah memiliki kepandaian tinggi.

Pada suatu waktu, ia bentrok dengan Pak Hong Siansu dan setelah kena dikalahkan, dia mengaku guru kepada Pak Hong Siansu yang suka menerimanya sebagai murid karena memang Giok Seng Cu berbakat baik sekali.

Semenjak menjadi murid Pak Hong Siansu, kepandaian Giok Seng Cu meningkat cepat sekali.

"Giok Seng Cu, sebetulnya menurut tingkat perguruan kita, kau masih terhitung saudara muda atau masih menjadi suteku. Kalau susiok hendak memberi pengajaran kepadaku, tentu aku tidak berani melawan. Akan tetapi kalau kau yang hendak mencoba kepandaianmu kepadaku, silakan!"

Giok Seng Cu meraba pinggangnya di mana ia memakai senjatanya sebagai sabuk, yaitu sehelai rantai perak, lalu berkata.

"Luliang Siucai, apakah kau menghendaki dipergunakannya senjata dalam permainan ini?"

"Giok Seng Cu, kita masih saudara seperguruan. Mengapa harus bersikap seperti dua orang musuh? Mari kita main-main dengan tangan kosong saja."

"Baik, sambutlah seranganku,"

"Hati-hatilah, Giok Seng Cu!"

Giok Seng Cu mulai dengan serangannya.

Ia mengirim pukulan dengan tangan kiri dimiringkan dan jari-jari tangannya diluruskan.

Pukulan ini mendatangkan sambaran angin dan mengarah leher Luliang Siucai.

Dari gerakan pertama ini saja Luliang Siucai maklum bahwa ilmu silat dari lawannya amat lihai serta tenaga dalamnya juga luar biasa.

Ia berlaku tenang akan tetapi cepat.

Dengan gerakkan halus Luliang Siucai mengelak ke kiri lalu membalas serangan Giok Seng Cu dengan tatokan ke arah dada.

Giok Seng Cu menarik kembali tangan kirinya dan dari samping, tangan kanannya menyampok pukulan lawan.

Dua tangan beradu dan keduanya merasa bahwa tenaga lawan sebanding kuatnya.

Setelah bertempur lima puluh jurus, tahulah Luliang Siucai bahwa kepandaian tosu ini hanya sedikit saja di bawah tingkatnya dan agaknya tak mungkin ia akan dapat menang tanpa menggunakan serangan yang dapat melukai Giok Seng Cu.

Sedangkan ia tidak mau melukai murid susioknya ini, karena ia tahu akan kekerasan hati susioknya.

Kalau ia merobohkan Giok Seng Cu sehingga luka berat, tentu susioknya akan merasa tersinggung hatinya.

Setelah berpikir masak-masak, ia lalu berobah gerakannya dan kini ia mainkan ilmu Silat Pak kek Sin ciang!

Ilmu sitat ini hanya sedikit saja ia pelajari dari Pak Kek Siansu, karena ia terpaksa harus menyerah dan tidak sanggup melanjutkan pelajaran ilmu silat yang aneh dan amat berat syarat syaratnya itu.

Namun, biarpun ia baru mempelajari sedikit saja, ketika ia menggerakkan kaki tangannya menurutkan ilmu silat ini, Giok eng Cu mengeluarkan suara tertahan saking kaget dan bingungnya dan pada suatu saat, Luliang Siucai berhasil menangkap kedua pergelangan tangannya!

Pak Hong Siansu juga terkejut melihat gerakan Luliang Siucai itu, dan tanpa terasa pula ia mengepal tinjunya dan berkata perlahan.

"Hm, inikah ilmu silat yang baru dari suheng!"

Luliang Siucai merasa tidak enak, maka katanya.

"Sute Giok Sengcu, sudahlah. Cukup kiranya main-main ini!"

Ia mengharapkan dari mulut Giok Seng Cu untuk mengakui kekalahannya, akan tetapi siapa kira Giok Seng Cu masih merasa penasaran dan tosu ini mengerahkan tenaga lweekang dan diam-diam melalui pergelangan tangan yang terpegang ia menyalurkan tenaga untuk melukai Luliang Siucai yang memegangnya.

Tentu saja Luliang Siucai menjadi terkejut ketiga merasa betapa telapak tangannya yang memegangi pergelangan tangan lawan itu menjadi panas.

Ia cepat mengerahkan tenaganya dan pegangannya makin mengeras.

Ia menjadi bingung.

Kalau diteruskan, urat nadi Giok Seng Cu akan menjadi putus, dan kalau ia lepaskan, benar sekali bahayanya ia akan menerima serangan yang tiba-tiba dari lawannya yang tidak mau mengaku kalah itu.

"Giok Seng Cu, apakah kau sudah gila? lepaskan perlawananmu dan mari kita sudahi pertempuran gila ini!"

Namun Giok Seng Cu sebagai jawaban malah makin memperhebat tenaganya sehingga terpaksa Luliang Siucai juga memperhebat tenaga gencetannya.

Untuk menjaga diri.

terpaksa Luliang Siucai tidak mau melepaskan tangan lawannya yang tak tahu diri itu.

Muka Giok Seng Cu sudah mulai berpeluh dan nyata sekali tosu ini menahan kesakitan.

Pegangan kedua tangan Luliang Siucai bukan sembarang pegangan, karena yang dipegang adalah tepat jalan darah bagian urat nadi!

Pada saat itu, terdengar Pak Hong Siansu berkata perlahan.

"Hm, Giok Seng Cu ternyata kau masih belum mendapat kemajuan!"

Setelah berkata demikian, kakek sakti ini melangkah maju dan berdiri di belakang muridnya, kemudian dengan tangan kirinya ia menepuk perlahan ke arah punggung muridnya itu.

Tepukan itu perlahan saja, akan tetapi akibatnya hebat bagi Luliang Siucai.

Ternyata bahwa kakek sakti ini sambil menepuk telah, menyalurkan tenaganya yang luar biasa sehingga tenaga ini membantu kekuatan muridnya dan seketika itu juga, Luliang Siucai merasa betapa kedua telapak tangannya seperti ditusuk jarum.

Sambil menjerit "celaka!"

Ia melepaskan pegangannya dan melompat mundur, akan tetapi ia terhuyung-huyung lalu roboh dengan mulut menyemburkan darah.

Ternyata bahwa dia telah menderita luka hebat di sebelah dalam tubuhnya!

Melihat ini, Pak Hong Siansu merasa tidak enak hati juga, karena biarpun tidak terlihat secara menyolok mata sesungguhnya ia telah berlaku curang, diam-diam membantu muridnya dan merobohkan Luliang Siucai.

Maka ia lalu berkata.

"Sudahlah, mari kita pergi dari sini!"

Sebentar saja, Pak Hong Siansu, Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu telah pergi dari tempat itu meninggalkan Luliang Siucai dan Liang Tek Sianseng yang terluka parah.

Dua orang sasterawan gagah ini tak berdaya dan luka yang diderita oleh Luliang Siucai bahkan lebih parah daripada Liang Tek Sianseng.

Keduanya duduk di atas pasir, bersila untuk mengerahkan tenaga menolak daya luka di dalam tubuh yang dapat merenggut nyawa.

Melanjutkan perjalanan bagi keduanya tak mungkin.

Kalau mereka memaksa diri melakukan perjalanan di terik panas matahari di atas padang pasir itu, tentu sebentar saja mereka akan kehabisan tenaga dan akan roboh binasa.

Akan tetapi, sebaliknya sukar pula memulihkan tenaga mereka untuk mengatasi luka di bagian dalam yang parah itu.

Nasib mereka agaknya sudah dapat ditentukan, yaitu mati di padang pasir yang luas dan panas!

"Aku merasa menyesal sekali telah membawamu sehingga kau menderita luka hebat,"

Kata Liang Tek Sianseng dengan suara lemah kepada Luliang Siucai. Tokoh Luliang san itu tersenyum.

"Mengapa menyesal? Mati atau hidup hanya sebutan saja, siapakah yang dapat menguasai hidup dan mati? Yang penting bagi kita, tiada ruginya harus mati dalam membela kebenaran! Pula, kalau kita mati bersama di tempat ini, bukankah kita akan berangkat bersama pula dan tidak akan merasa kesepian?"

Diam-diam Liang Tek Sianseng merasa kagum atas sikap kawannya ini, yang dalam menghadapi maut masih bersikap gembira dan tenang.

Ucapan tokoh Luliang san ini membesarkan hatinya dan melenyapkan kekecewaan dan penyesalannya.

Memang ucapan Luliang Siucai itu benar belaka.

Manusia yang manakah di dunia ini dapat menguasai mati.

Dilihat begitu saja agaknya sudah tiada harapan lagi bagi mereka untuk menghindarkan diri dari bahaya maut.

Siapa yang dapat menolong mereka di padang pasir yang sunyi itu?

Akan tetapi, kalau Thian menghendaki, ada saja jalan bagi mereka untuk dapat hidup terus.

Secara kebetulan sekali, pada saat itu, dari jurusan timur datang tiga orang yang tepat menuju ke tempat itu.

Bagaikan dituntun oleh tangan Thian Yang Kuasa, tiga orang itu kebetulan sekali mengambil jalan di tempat itu sehingga mereka dapat melihat dua orang kakek yang sedang duduk meramkan mata dan tidak bergerak sedikitpun juga.

"Susiok"...!"

Seorang diantara ketiga orang ini berseru kaget ketika ia melihat Tiang Tek Sianseng.

Tokoh Hoa-san-pai ini mengenal suara orang yang menegurnya, maka cepat ia membuka matanya dan alangkah girang dan herannya melihat orang yang baru datang ini.

"Bi Lan! kau "? Di sini"??"

Setelah berkata demikian, saking menahan gelora hatinya yang memang sudah lemah karena dikerahkan untuk menahan lukanya.

Liang Tek Sianseng roboh pingsan di atas pasir!

Memang, orang ke tiga ini adalah Liang Bi Lan anak murid Hoa-san-pai yang tadinya diculik oleh Coa ong Sin kai dan kemudian menjadi murid Thian Te Siang mo.

Adapun dua orang yang datang bersama dia itupun bukan lain adalah Thian Te Siang mo gurunya.

Sepasang Iblis Kembar ini setelah mendapatkan murid baru yang cerdik dan rajin ini, segera membawa Bi Lan merantau sambil tiada hentinya menggembleng nona itu dengan ilmu silat mereka yang baru diciptakan, yaitu Thian Te Kun hwat (Ilmu Silat Langit dan Bumi) Dan di dalam perantauan mereka ini, Bi Lan banyak sekali mendapat kemajuan dan pengalaman.

Ia dapat mempelajari Thian Te Kun hwat dengan amat baiknya dan beberapa kali ia oleh guru-gurunya dicoba menghadapi tokoh-tokoh persilatan dan selalu mendapat kemenangan.

Oleh karena ini, Bi Lan banyak bertemu dengan tokoh-tokoh kang ouw dan namanya sebagai murid Thian Te Siang mo dan juga sebagai Sian li Eng cu (Bayangan Bidadari) cukup terkenal.

Bi Lan demikian maju kepandaiannya sehingga ia bahkan telah mempelajari pula Ilmu Ciang siang ci hoat (Ilmu Mengobati Luka Pukulan Tangan) dari kedua gurunya.

Oleh Karena itu, ketika melihat bahwa yang berada di padang pasir dan sedang terluka hebat adalah susioknya sendiri dari Hoa san, Bi Lan cepat-cepat maju mendekati dan diam-diam ia lalu mengumpulkan seluruh perhatian dan mengerahkan tenaga lweekangnya.

Kedua telunjuknya kanan kiri telah siap sedia untuk melakukan Ciang siang ci hoat setelah ia melihat bahwa susioknya ini terluka di dalam tubuh oleh pukulan tangan lawan yang ampuh.

Akan tetapi sebelum gadis perkasa ini menggerakkan tangannya, tiba-tiba Thian Lo-mo membentaknya.

"Bi Lan, jangan gunakan Ciang siang ci hoat!"

Karena maklum bahwa gurunya amat aneh dan keras wataknya, Bi Lan menunda niatnya dan berpaling kepada suhunya.

"Suhu, ini adalah susiokku sendiri, Liang Tek Sianseng dari Hoa-san-pai. Dia terluka hebat, bagaimana teecu tidak akan menolongnya?"

Kini Te Lo-mo yang mencelanya.

"Anak bodoh! Kami bersusah-payah melatihmu dan kau sendiri telah melatih Ciang siang ci hoat selama beberapa bulan dengan tekun. Apakah kau hendak melenyapkannya begitu saja dan bahkan membahayakan dirimu sendiri?"

"Suhu, untuk menolong orang, apalagi susiok sendiri, teecu rela kehilangan tenaga."

"Bodoh!"

Sepasang Iblis Kembar itu mencela marah.

Memang, penggunaan Ciang siang ci hoat atau ilmu pengobatan luka bekas pukulan tangan yang diajarkan oleh Thian Te Siang mo, berdasarkan kepandaian ilmu dalam yang amat tinggi tingkatnya.

Ilmu ini sebetulnya merupakan latihan untuk memperkuat keadaan di dalam tubuh sendiri, akan tetapi kalau dipergunakan untuk mengobati orang lain yang menderita luka parah karena pukulan yang lihai dari lawan, maka akibatnya akan berbahaya sekali bagi si penolong.

Ciang siang ci hoat dipergunakan dengan pengerahan tenaga lweekang dan pengerahan seluruh perhatian sambil menahan napas.

Yang dipergunakan hanya dua jari telunjuk untuk menotok, menutup dan membuka jalan jalan darah tertentu di seluruh tubuh.

Dengan jalan ini maka aliran aliran darah yang teratur membangkitkan daya tahan dan kekuatan di dalam tubuh orang yang terluka sehingga luka itu akan terobati sendiri oleh daya tahun di dalam tubuhnya sendiri.

"Hayo kita pergi! Jangan berlaku bodoh, dan jangan mencampuri urusan orang lain!"

Kata Thian Lo-mo kepada muridnya sambil memegang tangan Bi Lan untuk mencegah gadis itu mempergunakan Ciang siang ci hoat untuk menolong Liang Tek Sianseng yang masih rebah pingsan.

"Tidak, suhu! Teecu tidak bisa pergi sebelum susiok ditolong!"

Kata Bi Lan dan sikapnya yang keras kepala itu membuat dua orang gurunya saling pandang.

"Jangan begitu, Bi Lan. Kita tak perlu bercampur tangan dengan urusan lain. Jangan-jangan kita hanya akan terbawa dalam urusan permusuhan yang memusingkan belaka. Hayo kita pergi saja,"

Mendesak Te Lo-mo. Akan tetapi Bi Lan tetap berkeras kepala.

"Kalau suhu berdua tidak mau menolong susiok. terpaksa teecu mengobatinya sendiri!"

Guru-guru dan murid ini bersitegang dan tiba-tiba terdengar suara ketawa halus. Yang tertawa ini adalah Luliang Siucai yang sudah membuka matanya.

"Lain guru lain murid! Sungguh aneh dunia ini."

"Luliang Siucai, kau sudah menculik murid kami! Sekarang kami tidak turun-tangan membunuhmu masih boleh dianggap beruntung sekali bagimu!"

Kata Te Lo-mo marah.

"Siapa hendak mencampuri urusan kalian dengan murid kalian ini? Aku hanya hendak mencegah percekcokan antara guru dan murid. Kedua luka Liang Tek Sianseng memang berat, akan tetapi kalau kalian mau membawanya keluar dari pedang pasir ini, tentu ia akan dapat beristirahat dan dapat pulih kesehatannya. Dengan berbuat demikian, kalian akan mendatangkan tiga macam kebaikan. Pertama, Liang Tek Sianseng akan selamat. Kedua, muridmu akan puas, dan ke tiga, kalian sendiri berarti tidak menolong sepenuhnya, hanya setengah setengah saja. Bukankah itu baik sekali."

Dari bicaranya ini, dapat dimengerti bahwa Luliang Siucai benar-benar seorang yang berhati mulia dan ia sama sekali tidak memperdulikan keadaannya sendiri.

Baginya, kalau Liang Tek Sianseng sudah tertolong, cukuplah.

Thian Te Siang mo ketika mendengar ini, lalu tertawa dan Thian Lo-mo berkata.

"Ucapan itu ada isinya juga, kutu buku! Akan tetapi, jangan kau kira kami begitu gila untuk bersusah-payah membawa kawanmu ini keluar dari padang pasir."

"Suhu, teecu tetap tidak mau pergi kalau suhu tidak mau mengobati atau menolong susiok."

Bi Lan berkata dengan suara tetap.

"Baiklah, baiklah! Akan tetapi jangan kira aku mau diganggu oleh orang yang kau sebut susiok ini sehingga terpaksa kita harus merobah haluan perjalanan. Biar susiokmu ini kuberi obat sehingga ia kuat untuk melanjutkan perjalanan seorang diri, kemudian ia dapat berobat di kota yang berdekatan,"

Kata Thian Lo-mo yang segera mengeluarkan sebungkus besar obat-obat yang selalu dibawa di dalam saku bajunya.

Ia memilih sebungkus kecil yang setelah dibuka berisi beberapa butir pel merah.

Dengan amat hati-hati seakan-akan obat itu didapatkannya dari sorga, Thian Lo-mo mengambil tiga butir dan memberikannya kepada Bi Lan.

Muridnya menerima dengan wajah girang.

"Masukkan dua butir ke dalam perutnya dan yang sebutir lagi untuk bekal di jalan sebelum ia dapat tiba di kota,"

Kata Thian Lo-mo sambil membungkus kembali, obat-obatnya dan memasukkan ke dalam kantongnya.

Bi Lan melakukan perintah gurunya.

Ia menghampiri Liang Tek Sianseng yang masih pingsan dengan muka pucat dan napas terengah-engah.

Karena mulut orang-tua ini terbuka saking kepanasan dan menahan sakit, dengan mudah Bi Lan dapat memasukkan dua butir pel merah ke dalam mulut susioknya dan dengan sedikit tenaga, gadis ini dapat melontarkan pel itu melalui kerongkongan dan turun ke dalam perut.

Tak lama kemudian, siumanlah Liang Tek Sianseng.

Ia bangkit dan memandang kepada Bi Lan dengan muka girang sekali.

"Bi Lan, sampai aku bertempur dan mengejar ngejar Coa ong Sin kai karena mengira kau masih dibawanya."

"Jadi susiok terluka oleh Coa ong Sin kai?"

Tanya Bi Lan. Liang Tek Sianseng mengangguk, kemudian ia bertanya.

"Apakah Thian Te Siang Lo-Enghiong ini yang menolongku?"

"Benar, susiok. Mereka ini sekarang telah menjadi guru-guruku."

Bukan main girangnya hati Liang Tek Sianseng. Ia menghampiri dua orang iblis kembar itu dan memberi hormatnya.

"Banyak terima kasih atas pertolongan jiwi, terutama sekali atas kesediaan jiwi memberi pimpinan kepada Bi Lan,"

Kata Liang Tek Sianseng.

"Kalau tidak karena anak keras kepala ini, siapa sudi bersusah-payah?"

Jawab Thian Lo-mo acuh tak acuh. Bi Lan memberikan pel merah yang sebutir lagi kepada susioknya.

"Susiok, ini obat dari suhu masih ada sebutir lagi, harap kau telan di dalam perjalanan."

"Kedua suhumu baik sekali, Bi Lan, kau belajarlah baik-baik dan rajin agar tidak mengecewakan pengharapan mereka. Aku akan kembali ke Hoa san dan mengabarkan tentang keadannmu yang selamat."

Kemudian Liang Tek Sianseng berjalan menghampiri Luliang Siucai yang masih duduk bersila.

"Sahabat baik, kita mendapat pertolongan dari dua orang Lo-Enghiong, kau telanlah obat ini,"

Katanya sambil menyerahkan pel merah. Akan tetapi Luliang Siucai menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Tiada guna, Liang Tek Sianseng. Pel itu untuk bekalmu di jalan. Aku tak perlu kau pikir, pergilah sendiri."

"Apa? Tak mungkin. kau sudah membelaku mencari Bi Lan dan menghadapi Coa ong Sin kai, bagaimana aku bisa meninggalkanmu begitu saja? Kalau kau tidak mau makan obat ini, akupun tidak akan pergi dari sampingmu,"

Kata Liang Tek Sianseng dengan suara keras.

"Kau benar-benar sahabat sejati,"

Kata Luliang Siucai yang terpaksa menerima dan menelan pel merah itu. Sebentar saja mukanya yang pucat telah berobah merah.

"Ah, obat yang bagus. Patut sekali berada di tangan Thian Te Siang mo,"

Katanya memuji sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Akan tetapi, lukaku terlampau berat dan aku masih belum kuat berlari. Aku hanya akan menghambat perjalananmu, Liang Tek Sianseng, dan mungkin sekali sebelum keluar dari padang pasir ini, aku akan roboh dan kau juga."

"Akan tetapi aku sudah kuat, aku akan menggendongmu!"

Tanpa menanti jawaban lagi, Liang Tek Sianseng sudah menyambar tubuh Luliang Siucai dan terus digendong. Kemudian ia menjura kepada Thian Te Siang mo dan berkata.

"Sekali lagi terima kasih banyak. Bi Lan, kau belajarlah baik-baik dan yang pandai menjaga diri!"

Setelah berkata demikian, Liang Tek Sianseng yang menggendong tubuh Luliang Suicai lalu berjalan cepat.

"Susiokmu benar-benar orang aneh,"

Kata Te Lo-mo kepada Bi Lan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak saja memberikan sebutir pel merahnya, bahkan kini menggendongnya. Mana dia kuat keluar dari padang pasir kalau begitu?"

"Tidak ada gunanya sama sekali,"

Menyambung Thian Lo-mo.

"sebelum keluar, keduanya akan mati. Percuma saja kita kehilangan tiga butir Ang kim tan (Pel Emas Merah)."

"Belum tentu, suhu,"

Bantah Bi Lan dan tiba-tiba gadis ini berlari cepat mengejar Liang Tek Sianseng.

"Eh, anak gila, kau mau ke mana?"

Te Lo-mo berteriak.

"Teecu akan mewakili susiok menggendong Luliang Siucai!"

Kata Bi Lan sambil berlari terus.

Thian Te Siang mo mendongkol sekali dan cepat mengejar, akan tetapi sementara itu, Bi Lan telah dapat menyusul Liang Tek Sianseng yang tidak berani berlari terlalu cepat.

"Susiok, kau takkan kuat menggendongnya keluar dari padang pasir. Biarkan teecu yang menggendongnya!"

Kata gadis ini kepada Liang Tek Sianseng. Tokoh Hoa-san-pai ini berhenti dan sementara itu, Thian Te Siang mo telah berada di situ pula.

"Bi Lan, anak berkepala batu! kau tidak boleh menggendongnya, mari kita pergi melanjutkan perjalanan kita!"

Kata Thian Lo-mo. Bi Lan menggelengkan kepalanya.

"Tidak, suhu. Sebelum susiok dan sahabatnya tertolong, teecu takkan mau pergi."

"Anak setan!"

Memaki Te Lo-mo. Akan tetapi, biarpun memaki, Thian Lo-mo mengeluarkan bungkusan obatnya dan mengambil tiga butir Ang kim tan lagi.

"Celaka, gara gara bocah ini, terpaksa bari ini aku harus kehilangan enam butir kim tan!"

Katanya sambil menyerahkan tiga butir pel itu kepada Bi Lan yang cepat memberikannya pula kepada Luliang Siucai.

Luliang Siucai menelan sebutir pel lagi dan kini dia mempunyai sisa dua untuk bekal di jalan sehingga ia dan Liang Tek Sianseng akan dapat keluar dari padang pasir itu.

Luliang Siucai tertawa geli.

"Thian Te Siang mo, kalian adalah sebaliknya dari pada pel pel merah ini. Pel ini luarnya kelihatan merah dan bagus, akan tetapi dalamnya pahit sekali. Adapun kalian ini pada luarnya kelihatan ganas dan jahat, akan tetapi di dalam hatimu adalah orang-orang yang budiman. Mengapa berpura pura jahat? Ha, ha, ha!"

"Luliang Siucai, mengapa kau tidak mampus saja sehingga tidak membikin susah kepada kami?"

Bentak Thian Lo-mo, akan tetapi Luliang Siucai tertawa dan setelah menjura mengucapkan terima kasihnya, ia lalu mengajak Liang Tek Sianseng pergi dari situ.

Kini ia tidak perlu digendong lagi karena setelah menelan sebutir kim tan lagi, tubuhnya menjadi kuat kembali.

Sambil mengomel panjang pendek.

Thian Te Siang mo lalu mengajak Bi Lan melanjutkan perjalanan.

Gadis ini tersenyum-senyum dan berlaku gembira.

Akan tetapi ia tiba-tiba terkejut sekali ketika melihat kedua orang suhunya berlari cepat mengejar Liang Tek Sianseng dan Luliang Siucai.

Bi Lan cepat mengejar pula.

Ia maklum akan watak yang aneh dari kedua suhunya dan khawatir kalau kalau suhu-suhunya ini berobah pikiran dan mengandung maksud buruk terhadap dua orang-tua.

Juga Liang Tek Sianseng dan Luliang Siucai heran melihat dua iblis kembar itu mengejar, maka mereka itu berdiri menanti.

"Thian Te Siang mo, kalian mengejar apakah hendak menyatakan menyesal karena telah menyelamatkan nyawa kami?"

Tegur Luliang Siucai.

"Siapa perduli akan nyawamu?"

Bentak Thian Lo-mo.

"Kami hanya merasa tertipu olehmu."

"Siapa yang menipu? Apa maksudmu?"

Tanya Luliang Siucai.

"Kau tadi bilang bahwa Liang Tek Sianseng terluka oleh Coa ong Sin kai, ini mungkin benar! Akan tetapi, apakah kau juga terluka olehnya? Kami tidak percaya!"

Luliang Siucai hanya tertawa sehingga Sepasang Iblis Kembar ini menjadi makin penasaran.

"Jiwi Lo-Enghiong, harap tenang. Sahabatku ini mana bisa terluka oleh Coa ong Sin kai? Ia terluka oleh sutenya sendiri, yakni Giok Seng Cu murid dari Pak Hong Siansu atau sebenarnya ia terluka oleh susioknya itulah yang membantu Giok Seng Cu."

Thian Te Siang mo mengerutkan kening.

"Apa? Orang-tua bangkotan itu bisa berada di sini? Apakah Tibet sudah terlalu panas untuknya?"

"Dia memang telah turun bersama muridnya itu. Agaknya ikut dengan Ba Mau Hoatsu yang berada diantara mereka pula,"

Jawab Luliang Siucai.

"Hm, Sam Thai Koksu agaknya tidak mau bekerja kepalang tanggung,"

Kata Te Lo-mo seperti bicara kepada diri sendiri.

"Dengan bantuan Pak Hong Siansu, keadaannya akan kuat sekali,"

"Apa?"

Luliang Siucai bertanya.

"Apakah mereka itu membantu Sam Thai Koksu? Apakah Ba Mau Hoatsu pembantu pemerintah Kin?"

Thian Lomo mengeluarkan suara mengejek.

"Kau belum tahu? Hm, sungguh bodoh!"

Sebelah berkata demikian.

Thian Te Siang mo lalu mengajak pergi Bi Lan dari situ.

Juga Luliang Siucai dan Liang Tek Sianseng cepat pergi, karena setelah mendengar bahwa Sam Thai Koksu mengundang Pak Hong Siansu dan Ba Mau Hoatsu, mereka menjadi gelisah sekali.

Liang Tek Sianseng hendak buru-buru pulang ke Hoa-san-pai dan juga Luliang Siucai hendak cepat-cepat menyampaikan warta ini kepada saudara dan kepada gurunya.

*** Mari kita mengikuti perjalanan Lie Bu Tek, pemuda murid Hoa-san-pai pertama, pemuda yang harus dikasihani karena menderita luka di hatinya, karena patah hatinya.

Sumoinya, Ling In, gadis yang telah bertahun-tahun menjadi bayangan yang selalu mengisi dan memenuhi lubuk hatinya, telah direbut orang!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lie Bu Tek mengunjungi Ling In dan merampas sepotong dari sabuk sutera, yakni barang tanda-mata dari Wan Kan yang diberikan kepada Ling In yang menjadi calon isterinya.

Dengan hati remuk rendam, tubuh lemah lunglai, Bu Tek meninggalkan rumah sumoinya yang amat dikasihinya itu sambil membawa sepotong sabuk yang amat dibencinya.

Ia ingin sekali bertemu muka dengan orang yang bernama Wan Kan itu.

Ingin ia mengadu kepandaian, bertanding pedang dan ia baru mengalah dan memberikan Ling In kepada orang lain melalui darahnya!

Lie Bu Tek mulai dengan penyelidikannya, hendak tahu siapa adanya Wan Kan yang telah merebut kekasihnya itu.

Akhirnya ia mendengar tentang perbuatan Ling In di kota An keng, yaitu bagaimana sumoinya itu menolong seorang petani muda yang terjatuh ke dalam cengkeraman Liok taijin kepala daerah kota An keng.

Maka ia segera menuju ke kota An keng dan dengan mendatangi Liok taijin pada malam harinya dan mengancam dengan pedangnya, akhirnya tahulah dia siapa adanya Wan Kan itu.

Dan bukan main kagetnya ketika ia mendengar bahwa Wan Kan sesungguhnya adalah Wan Yen Kan, Pangeran Kerajaan Kin!

Kemarahan yang mengamuk di dalam dada Lie Bu Tek hampir saja membuatnya pingsan.

Bagaimana sumoinya bisa terpikat hatinya oleh seorang pangeran Kin?

Inilah pengkhianatan terhadap bangsa, pengkhianatan terhadap cita-cita dan jiwa kepatriotan sendiri!

Ia harus menegur sumoinya, kalau perlu, ia harus melupakan cinta kasihnya dan memberi hajaran kepada sumoinya dan juga berusaha membunuh Pangeran Wan Yen Kan itu!

Dengan rasa marah yang meluap luap, Bu Tek segera menuju ke Biciu, hendak menegur dan mencela sumoinya.

Akan tetapi, penyelidikan yang ia lakukan itu makan waktu dua bulan lamanya dan sementara itu, Thio Ling In telah menjadi isteri dari Wan Yen Kan!

Memang, sepekan kemudian setelah Wan Yen Kan meninggalkan Biciu, ia datang kembali membawa banyak perbekalan dan keperluan upacara pernikahan.

Tentu saja Nyonya Thio sekeluarga girang bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa calon mantunya itu ternyata adalah seorang yang kaya raya.

Upacara pernikahan dilakukan dengan meriah dan setiap orang memuji mantu Nyonya Thio tapi yang selain tampan sekali, juga cukup kaya untuk membiayai semua peralatan pernikahan.

Dan bagaimana dengan Ling In sendiri?

Ia cukup puas dan bahagia.

Suaminya benar-benar amat mencintanya, berlaku penuh cinta kasih, lemah-lembut, dan amat menghormatinya.

Jatuhlah hatinya terhadap suami ini dan iapun membalas cinta kasih suami dengan sepenuh hati.

Kalau tadinya masih ada perasaan membekas di dalam lubuk hatinya terhadap Bu Tek.

Kini perasaan itu lenyap sama sekali dan terganti oleh cinta kasih sepenuhnya kepada suaminya yang masih dikenalnya sebagai Wan Kan, seorang pemuda gagah yang hidup sebagai perantau.

Hanya sedikit yang mengecewakan hati Ling In atau setidaknya yang mengganggu kebahagiaannya, yakni bahwa pernikahannya tidak dihadiri oleh seorangpun keluarga Hoa-san-pai.

Hal ini karena pernikahannya dilakukan dengan amat cepat dan terburu-buru.

Hanya ada waktu sepekan dan mana bisa ia memberi kabar kepada tokok tokoh Hoa-san-pai?

Dan pula, kalau ia mengingat kepada Bu Tek yang memperlihatkan sikap bermusuh, ia menjadi sedih juga.

Akan tetapi, sikap suaminya yang manis budi melenyapkan kekecewaan dan kesedihannya.

Mereka hidup sebagai suami-isteri yang saling mencinta dan pekan pekan mendatang merupakan hari hari bermadu yang manis.

Suaminya belum bercerita tentang keadaan dirinya, maka sebegitu jauh Ling In tetap mengira bahwa suaminya adalah seorang terpelajar yang berkepandaian tinggi seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara akan tetapi yang menerima warisan banyak dari mendiang orang-tuanya.

(Lanjut ke

Jilid 10) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "

Jilid 10 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo

Jilid 10 Sebulan lebih setelah pernikahan dilangsungkan, Wan Kan minta diri dari isterinya untuk membereskan sisa sisa hartanya yang katanya hendak dibawa semua ke Biciu.

Padahal sebetulnya, pangeran ini ingin pulang dulu karena sudah terlalu lama meninggalkan istana ayahnya, Ling In tentu saja menyatakan keinginan hatinya hendak turut, akan tetapi Wan Kan berkeras mencegahnya, menyatakan bahwa perjalanan itu amat sukar dan jauh dan bahwa ia tidak tega melihat isterinya menderita dalam perjalanan.

"Suamiku, kau kira aku seorang wanita yang amat lemah? Perjalanan jauh dan sukar sudah seringkali kulakukan. Mengapa kau tidak mau mengajakku?"

Ling In membantah.

"In-moi, isteriku yang manis,"

Wan Kan menghibur dengan sikap mesra penuh cinta kasih.

"Aku pergi takkan lama, dan dalam waktu yang tidak aman ini, lebih baik kau menanti saja di Biciu. Paling lama dua pekan aku pasti akan kembali."

Kata-kata suaminya ini mengherankan Ling In.

Pada waktu itu, di daerah selatan amat aman dan tidak pernah terjadi kekacauan.

Memang tentu saja Ling In tidak tahu akan maksud suaminya.

Wan Yen Kan maksudkan keadaan di utara yang pada waktu itu memang amat tidak aman.

Pemberontakan-pemberontakan terhadap Kerajaan Kin meletus di mana-mana.

Akhirnya, karena dibujuk-bujukpun tetap tidak mau menyerah kalah, Ling In menarik napas panjang dan dua butir air mata mengalir turun di pipinya.

"Asal saja tidak terlalu lama kau meninggalkan aku,"

Katanya perlahan. Wan Kan memeluknya dan menghiburnya.

"Bodoh, siapa mau berpisah terlalu lama dengan isterinya yang demikian cantik dan mencinta?"

Demikianlah, Wan Kan berangkat ke utara, meninggalkan Ling In yang merasa kecewa sekali karena tidak diajak.

Ling In merasa amat kesunyian ditinggalkan suaminya.

Suaminya yang tampan, peramah, dan amat mencintanya itu benar-benar telah mengisi hidupnya dan membuat dunianya nampak ramai gembira.

Sekarang, seperginya suaminya, ia selalu duduk termenung di halaman rumahnya, menanti nanti kembalinya orang yang dicintanya itu.

Dua hari kemudian, datang seorang muda memasuki halaman rumah itu, akan tetapi bukan Wan Kan yang datang, melainkan Lie Bu Tek!

Pemuda Hoa-san-pai ini dengan hati panas dan penuh amarah, datang kepada Ling In dengan maksud menegur sumoinya itu yang telah begitu merendahkan diri untuk menikah dengan seorang pangeran Bangsa Kin yang menindas rakyat bangsanya!

Untuk sesaat Ling In berseri wajahnya karena mengira bahwa yang datang adalah suaminya.

Akan tetapi ternyata dugaannya keliru.

Sebetulnya perawakan Bu Tek lebih besar dari pada Wan Kan, akan tetapi pada waktu itu Bu Tek amat kurus sehingga mendekati perawakan Wan Kan.

Ketika Ling In melihat bahwa yang datang adalah Bu Tek, wajahnya berobah merah dengan tiba-tiba dan ia merasa terkejut, malu dan jengah.

Akan tetapi, segera semua perasaan ini terganti oleh rasa kasihan ketika ia melihat betapa kurusnya suhengnya ini.

"Suheng... kau "?"

Perhatian Ling In tertarik oleh kekurusan pemuda itu dan entah mengapa, melihat pemuda itu menderita karena dia, selain perasaan kasihan, juga ada perasaan puas!

Sebagai seorang wanita, dia tetap saja memiliki perasaan suka kalau melihat laki-laki menderita karena mencinta dia!

Melihat betapa besar dan hebat pengaruh dirinya terhadap laki-laki yang mencintanya!

Kalau saja Ling In tidak tenggelam dalam laut kebanggaannya, tentu ia akan dapat melihat betapa muka Bu Tek memperlihatkan sikap mengancam dan galak sekali.

Sebaliknya, laki-laki yang disohorkan amat kuat dan jauh lebih kuat daripada hati wanita, di dalam persoalan cinta ternyata sebaliknya!

Wanitalah yang jauh lebih kuat menguasai hatinya, dan sebaliknya, hati laki-laki yang bagaimana kuatpun, menghadapi kekasihnya, akan merobah menjadi sepotong gumpalan darah yang tak berdaya.

Menjadi lemah sekali dan demikian pula Bu Tek.

Ketika dia melihat wajah Ling in, bentuk tubuhnya, dan pakaiannya yang kini jauh berbeda daripada dahulu, wajah yang kini nampak segar kemerahan dan bagaikan setangkai bunga sedang mekarnya, bentuk tubuhnya yang kini tidak bercorak "jantan"

Seperti dahulu akan tetapi dengan jelas membayangkan kewanitaannya yang menimbulkan kemesraan di hati, ditambah pula dengan pakaian dan bentuk sanggul serta hiasan rambutnya yang indah menarik, seketika itu juga cairlah kekerasan hati Bu Tek.

Inilah Ling In seperti yang seringkali ia impikan.

Bukan Ling In pendekar wanita yang kasar dan keras.

Inilah Ling In seratus prosen wanita, penuh kehalusan, penuh kelembutan dan kemesraan.

"Sumoi..."

Katanya dan suaranya tersendat di dalam kerongkongannya. Ling In lebih dulu dapat menguasai hatinya dan dengan muka girang ia lalu tersenyum dan berkata.

"Ah, Lie suheng, terima kasih kau mau mengunjungiku. Silakan duduk di dalam, suheng!"

Makin lemah dan lenyap kemarahan hati Bu Tek mendengar suara ini, dan timbul pula kehangatan dalam hatinya.

Betapapun juga Ling In adalah sumoinya yang telah bertahun-tahun belajar ilmu silat di Hoa san dengan dia!

Bagaimana ia dapat melukai hati sumoinya ini?

Bagaimana ia dapat mencela dan menegurnya berhubung dengan pernikahannya dengan pangeran Kerajaan Kin itu?

Tentu ada sesuatu yang membuat sumoinya ini mau menjadi isteri pangeran itu.

Ia tidak percaya bahwa sumoinya ini membuta mau menjadi isteri Wan Yen Kan.

"Tak usah, sumoi. Biarlah, cukup di sini saja."

Baru sekarang Ling In melihat sikap Bu Tek yang dingin dan mukanya yang tidak memperlihatkan kemarahan. Ia mengerutkan kening, lau bertanya dengan hati timbul kecurigaan.

"Suheng, kedatanganmu ini, hanya ingin mengunjungi aku ataukah... ataukah ada keperluan lain?"

"Aku hendak melihat keadannmu, sumoi. Syukur kau nampak bahagia..."

"Aku memang berbahagia, suheng,"

Kata Ling In sambil menundukkan mukanya yang menjadi merah.

"Ling In, mana suamimu?"

Kembali Ling In merasa gembira ketika diingatkan kepada suaminya. Sepasang matanya berseri dan mukanya menjadi merah.

"Ah, kau tentu akan senang kalau berkenalan dengan dia, suheng. Kami telah merencanakan untuk mengunjungi Hoa-san-pai, dan memperkenalkan suamiku kepada para suhu di sana. Ia seorang baik hati dan mulia suheng."

Lie Bu Tek hanya memperdengarkan suara "Hm... hmm..."

Saja, kemudian ia memandang tajam sambil bertanya.

"Sumoi, sebetulnya siapakah suamimu itu? Dia orang apa dan dari mana? Aku ingin sekali bertemu dengan dia. Di mana dia sekarang?"

Kembali berobah sikap Ling In. Kini air mukanya memperlihatkan sikap menentang.

"Kau mau apa, suheng? Apakah setelah dia menjadi suamiku kau masih saja hendak melampiaskan nafsu jahatmu? Apakah kau hendak menyerangnya? Terus terang saja, suheng. kau takkan menang menghadapi dia! Wan Kan adalah seorang yang berkepandaian tinggi, jauh lebih tinggi daripada kepandaianmu atau kepandaianku. Dia murid seorang pandai, Suheng. Maka lebih baik hilangkanlah saja rasa iri hati dan cemburu di dalam dadamu yang tak berdasar itu. Aku menjadi isterinya karena aku memang mencintanya."

"Hm"

Jadi namanya Wan Kan? Putera siapakah dia, sumoi?"

"Ayah bundanya sudah tidak ada lagi. Dia yatim piatu dan perantau seperti engkau, suheng. Dia seorang baik-baik, sungguh! Harap kau suka sadar dan janganlah mencari perkara dengan kami. Karena, kalau kau memusuhi dia, berarti pula bahwa kau memusuhi aku, suheng!"

Tahulah sekarang Bu Tek bahwa sumoinya ini sungguh tidak tahu bahwa suaminya adalah seorang pangeran Kin! Akan tetapi ia merasa tidak tega untuk membuka rahasia ini di depan sumoinya.

"Di mana dia sekarang, sumoi?"

"Dia sedang pergi, sejak dua hari yang lalu. Kenapakah?"

"Ah, tidak apa-apa, sumoi"

Baca Juga: Gelang Kemala 3

Baca Juga: Kemelut Kerajaan Mancu 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert