Ceritasilat Novel Online

Pendekar Budiman 5

Eps 5 Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Budiman - Kho Ping Hoo.

Kata Bu Tek sambil mengeluarkan potongan sabuk dari kantongnya.

"Aku takkan mengganggu, sumoi, selama hidupku tak mungkin aku mau mengganggumu. Nah, ini terimalah kembali sabuk ini. Tak perlu lagi bagiku."

Bu Tek tak usah bertanya kemana Wan Kan atau Wan Yen Kan, karena ia dapat menduga bahwa pangeran itu tentu kembali ke utara dan ia bermaksud hendak menyusulnya tanpa memberi tahu kepada sumoinya.

Ling In menerima potongan sabuk itu dan hatinya terharu.

"Suheng, kau maafkanlah aku, suheng. Pernikahan ini... pembatalan hubungan kita... semua adalah kesalahanku... suamiku tidak ada hubungannya dengan ini, dia tidak boleh dipersalahkan."

"Aku tidak menyalahkan siapapun juga dalam hal pernikahanmu, sumoi. Kalau ada orang yang kupersalahkan, orang itu adalah... aku sendiri. Aku seorang bodoh tak tahu diri, tak tahu malu! Nah, selamat tinggal sumoi."

"Suheng, kau masih bersikap marah kepadaku"!"

"Tidak, sumoi. Semoga Thian melindungimu. Selamat tinggal!"

Maka pergilah Bu Tek dengan cepat, meninggalkan Ling In yang memandangnya dengan air mata berlinang.

Ling In merasa kasihan sekali kepada suhengnya yang ia ketahui amat menderita hatinnya itu.

*** Karena melakukan perjalanan siang malam dengan cepat sekali, Lie Bu Tek hampir dapat menyusul Wan Yen Kan.

Pagi harinya Wan Yen Kan tiba di kota Cin-an, sedangkan pada hari itu juga, menjelang senja, Lie Bu Tek juga tiba di kota itu!

Pemuda ini hatinya penuh dendam yang membuatnya menjadi nekad dan berani mati.

Ia bukan tidak tahu bahwa kota Cin-an merupakan sarang naga gua harimau bagi orang-orang gagah seperti dia, dan ia telah mendengar pula bahwa selain di situ terdapat Sam Thai Koksu yang kosen, juga masih terdapat orang-orang gagah yang sengaja didatangkan oleh Sam Thai Koksu untuk membantu pemerintah Kin.

Akan tetapi, nafsunya untuk membunuh Pangeran Wan Yen Kan demikian besar dan alangkah girangnya ketika ia menyelidiki, ia dapat mendengar bahwa pangeran itu memang betul berada di dalam gedung Sam Thai Koksu pada hari itu!

Malam hari itu, sambil membawa pedangnya, Lie Bu Tek meloncat ke atas genteng dan bagaikan seekor kucing gesitnya, ia berlari-lari di atas genteng rumah orang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga karena ginkangnya memang sudah cukup tinggi.

Tak lama kemudian, tibalah ia di atas genteng sekelompok rumah gedung yang dijadikan markas oleh Sam Thai Koksu, di mana orang-orang gagah yang membantu pemerintah Kin berkumpul.

Dengan amat hati-hati Lie Bu Tek meloncat-loncat di atas genteng dan menyelidiki untuk mencuri tahu di mana adanya pangeran yang dibencinya itu!

Betapapun tinggi kepandaian Lie Bu Tek, namun ia masih tidak tahu bahwa semenjak tadi sesosok bayangan yang bagaikan setan saja gerakannya telah mengikutinya dan kini bayangan itu bersembunyi di balik wuwungan dan mengintai sambil memperhatikan gerak-geriknya.

"Pemuda goblok,"

Bayangan itu berkata seorang diri di dalam hatinya.

"Orang dengan kepandaian seperti dia, bagaimana berani mati sekali mendatangkan sarang harimau?"

Benar saja dugaan bayangan yang aneh ini karena baru saja Lie Bu Tek menurunkan kakinya di atas genteng yang berada di tengah-tengah kelompok rumah gedung itu, dari bawah melayang naik tubuh seorang tosu yang membentak keras.

"Bangsat dari mana berani datang mengantar kematian?"

Lie Bu Tek sudah siap sedia dan secepat kilat ia mencabut pedangnya menghadapi tosu itu. Ia tidak mengenal siapa adanya tosu ini, maka ia berkata.

"Aku datang bukan untuk berurusan dengan totiang, akan tetapi hendak mencari Wan Yen Kan pangeran mata keranjang itu. Suruh dia keluar untuk menghadapi Lie Bu Tek dan mengadu nyawa di sini!"

Tosu itu tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha! kau ini orang macam apakah berani buka mulut besar hendak menantang siauw ongnya? Di hadapan Giok Seng Cu jangan kau menjual kesombongan! Hayo lekas berlutut minta ampun agar kuhadapan kepada siauw Ongya!"

Lie Bu Tek marah sekali.

Ia tidak mengenal siapa adanya Giok Seng Cu, yang seperti pembaca masih ingat adalah murid dari Pak Hong Siansu yang lihai.

Dengan seruan keras Lie Bu Tek lalu menggerakkan pedangnya menyerang dengan hebat.

Giok Seng Cu tertawa mengejek dan ketika tubuhnya bergerak, Bu Tek terkejut sekali karena gerakan kakek itu benar-benar cepat sekali seperti berkelebatnya burung terbang.

Namun hati Lie Bu Tek sudah nekad dan ia melanjutkan serangannya secara bertubi tubi, memutar pedangnya sehingga berobah menjadi segulung sinar putih menyilaukan mata.

Namun yang ia hadapi adalah murid dari Pak Hong Siansu yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya.

Jangankan baru Lie Bu Tek, biarpun guru-gurunya sendiripun takkan mungkin dapat menangkan Giok Seng Cu!

Tosu ini mempergunakan telapak tangannya, untuk menangkis atau menyampok pedang Lie Bu Tek.

Seorang yang tidak memiliki kepandaian tinggi, mana berani menyampok pedang tajam hanya dengan telapak tangan?

Bu Tek maklum akan hal ini dan iapun sudah putus harapan untuk memperoleh kemenangan menghadapi tosu itu, akan tetapi ia berlaku nekad dan menyerang membabi buta.

Dengan amat hati-hati dan garang, Bu Tek lalu menggunakan ilmu pedang yang paling lihai dari Hoa-san-pai.

Ia menyerang dengar gerak tipu To goat jio seng (Menyangga Bulan Merampas Bintang).

Gerakannya cepat dan kuat sekali, kaki kirinya diangkat, tangan kirinya membuat gerakan seperti menahan atau menyangga sesuatu di atas kepalanya untuk mengimbangi gerakan pedangnya yang ditusukkan ke ulu hati lawannya!

Gerak tipu To goat jio seng ini sesungguhnya amat berbahaya bagi lawan yang kurang pandai karena akan disusul oleh serangan serangan lain dan juga dengan tendangan berantai.

Akan tetapi, dengan enak saja Giok Seng Cu lalu miringkan tubuh ke kanan tanpa merobah kedudukan kakinya dan ketika pedang Bu Tek meluncur di samping tubuhnya sebelah kiri, tosu ini secepat kilat menggerakkan tangan kanan mencengkeram pergelangan tangan Bu Tek, yang memegang pedang!

Pemuda ini merasa tangan kanannya lumpuh dan tak terasa pula pedangnya terlepas dari pegangan!

Sebelum ia sempat bergerak, Giok Seng Cu sudah menggerakkan tangan kirinya, menotok jalan darah di bawah lengan kanannya sehingga tak dapat dicegah lagi tubuh Lie Bu Tek roboh lemas tak berdaya sedikitpun juga.

Ia roboh dalam keadaan lumpuh seluruh tubuhnya, mendekam di atas genteng!

"Ha, ha, ha!

Orang dengan kepandaian macam ini berani mengganggu Enghiong Hwee koan (Rumah Perkumpulan Orang-orang Gagah)?"

Kata Giok Seng Cu sambil tertawa bergelak.

Memang rumah itu adalah kelompok rumah rumah yang dijadikan markas oleh Sam Thai Koksu yang membentuk Enghiong Hwe atau Perkumpulan Orang-orang Gagah seperti yang pernah dikemukakan di hadapan para orang gagah dalam pertemuan di taman kota Cin-an dahulu.

Pada saat Giok Seng Cu masih tertawa bergelak, tiba-tiba menyambar sesosok bayangan cepat dan ringan sekali gerakannya.

Tahu-tahu bayangan itu telah menyambar tubuh Lie Bu Tek dan sebelah tangannya menyambar pedang Lie Bu Tek yang berada di atas genteng pula.

Giok Seng Cu terkejut sekali dan cepat ia mengulur tangan menyerang pundak bayangan hitam itu.

Bayangan itu dengan tangan kirinya mengempit tubuh Lie Bu Tek dan tangan kanannya memegang pedang, Kini melihat orang menyerang pundaknya, ia melontarkan pedang yang dipegangnya ke atas untuk memberi kesempatan kepada tangan kanannya menangkis pukulan Giok Seng Cu, kemudian ketika pedang itu meluncur turun, ia menyambut pedang lalu melompat jauh sekali lenyap dari pandangan mata Giok Seng Cu!

Tosu ini terkejut bukan main karena tadi ketika lengan tangannya bertemu dengan tangkisan tangan bayangan itu, ia merasa seakan-akan ada api memasuki tangannya yang menyerang dan cepat ia menarik kembali tangannya.

Ia masih dapat menyaksikan betapa bayangan itu sengaja tidak mau mempergunakan pedang mencelakainya, dan melihat betapa lompatan bayangan yang menolong pemuda yang menyerangnya tadi demikian ringan dan gesit, ia tak terasa lagi berseru.

"Tangkap penjahat!"

Sebentar saja, beberapa bayangan orang melompat naik, di antaranya terdapat Pek Hong Siansu. Ba Mau Hoatsu, Sam Thai Koksu dan masih banyak orang-orang gagah lagi.

"Ada apakah ribut-ribut?"

Tanya Pak Hong Siansu dengan kening dikerutkan.

Tentu saja orang-tua ini merasa kurang senang melihat betapa muridnya sampai minta tolong menangkap penjahat, karena hal itu menandakan bahwa muridnya ini tidak sanggup menghadapi penjahat itu seorang diri!

Merahlah wajah Giok Seng Cu, ia lalu bercerita bahwa tadi datang seorang pemuda yang menurut ilmu pedangnya tentu seorang anak murid Hoa-san-pai.

Ia berhasil merobohkan pemuda itu, akan tetapi tiba-tiba sesosok bayangan menolongnya dan ia tidak keburu menangkap bayangan itu.

Janganlah menangkap, mengenal siapa orangnyapun tidak!

"Hm, siapa lagi kalau bukan murid Pak Kek Siansu itu!"

Kata Ba Mau Hoatsu dengan suara gemas. Teringatlah Giok Seng Cu.

"Bisa jadi..."

Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Sekarang aku ingat, biarpun gerakannya cepat sehingga aku tidak sempat mengenal mukanya namun bajunya berkembang...!"

"Tentu pemuda she Go itu yang datang menolong murid Hoa-san-pai!"

Kata pula seorang pendeta atau Hwesio gundul yang ikut pula naik ke atas genteng.

"Orang-orang Hoa-san-pai sudah patut dibasmi, selalu mendatangkan kekacauan!"

Orang yang bicara ini adalah seorang Hwesio gundul dari Go bi dan ia ternyata adalah Bu It Hosiang yang dulu pernah ribut-ribut dengan Bi Lan di taman kota Cin-an!

Kini Bu It Hosiang juga menjadi sahabat dari Sam Thai Koksu karena ia menaruh dendam kepada Hoa-san-pai dan mengharapkan bantuan orang-orang gagah dari negeri Kin!

Dengan sikap mendongkol, orang-orang itu lalu turun lagi dari atas genteng dan marilah kita ikuti keadaan Bu Tek.

Pemuda ini ketika tertotok oleh Giok Seng Cu tadi, telah lumpuh tubuhnya, namun panca inderanya masih berjalan baik.

Ia tahu bahwa seorang yang berkepandaian tinggi sekali telah menolongnya dan ia melihat seorang pemuda tampan yang menolongnya, akan tetapi ia tidak kenal siapa adanya pemuda ini.

Karena gerakan pemuda ini cepat sekali, ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas, dan ia kagum sekali ketika pemuda itu membawanya berlari luar biasa cepatnya melalui genteng genteng rumah penduduk kota Cin-an.

Selama hidupnya, belum pernah Bu Tek menyaksikan ilmu lari cepat seperti dilakukan oleh pemuda penolongnya ini, yang berlari seakan-akan terbang saja cepatnya.

Setelah tiba di luar kota Cin-an, di tempat yang gelap pemuda itu menepuk pundaknya dan seketika itu juga pulihlah kesehatan Bu Tek dan totokan dari Giok Seng Cu yang mempengaruhi lenyap sama sekali.

"Kau jangan bertindak secara bodoh dan sembarangan, sahabat,"

Pemuda itu berkata di dalam gelap.

"Andaikata ada sepuluh orang seperti kau, masih belum cukup kuat untuk menyerbu Sam Thai Koksu dan kawan-kawannya. Bukan perbuatan gagah berani untuk berlaku nekad dan menyerbu musuh tanpa memperhitungkan kekuatan sendiri. Paling baik, kalau kau memang seorang hohan (orang gagah), atau menggabungkan diri dengan para patriot lain untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman orang-orang Kin!"

Sebelum Bu Tek sempat menjawab atau bertanya, sekali berkelebat saja orang itu lenyap dari hadapannya.

Untuk beberapa lama Bu Tek berdiri ternganga, kemudian ia menghela napas dan tahu betapa rendahnya tingkat kepandaiannya kalau dibandingkan dengan penolongnya tadi.

Juga ia merasa malu sendiri.

Dengan kepandaiannya yang tidak berarti itu, bagaimana ia berani mencari Wan Yen Kan di sarang harimau?

Sungguh bodoh dan lucu.

Sudah sepatutnya ia ditertawai oleh orang gagah di dunia.

Lie Bu Tek segera pergi, dan ia mengambil keputusan untuk menggabungkan diri dengan patriot patriot yang sedang memberontak hendak menumbangkan kekuasaan pemerintah Kin di Tiongkok utara.

*** Siapakah pemuda yang luar biasa lihainya, yang menolong Li Bu Tek?

Tepat seperti dugaan para tokoh yang membantu Sam Thai Koksu, pemuda ini bukan lain adalah Hwa I Enghiong (Pendekar Baju Kembang), Go Ciang Le!

Telah dituturkan di bagian depan bahwa Ciang Le menerima gemblengan ilmu silat dari Pak Kek Siansu di puncak Bukit Luliang san.

Dengan amat tekun dan rajinnya ia menerima latihan ilmu silat Pak Kek Sin ciang hoat yang amat sukar dipelajari itu.

Berkat ketekunannya dan kekerasan hati serta bakatnya yang luar biasa, akhirnya dapat juga ia menguasai ilmu silat ini.

Alangkah girangnya bahwa ia berhasil mempelajari ilmu silat yang aneh ini, kepandaiannya meningkat secara luar biasa sekali.

Baik ginkang maupun khikang dan lweekangnya telah mencapai tingkat yang melebihi ketiga murid Pak Kek Siansu, yaitu Luliang Ciangkun.

Luliang Siucai, dan Luliang Nungjin!

Pada suatu hari, datanglah Luliang Siucai menghadap kepada gurunya dan menceritakan tentang keadaan di utara.

Ketika Pak Kek Siansu yang tadinya mendengarkan dengan acuh tak acuh itu mendengar bahwa Pak Hong Siansu didatangkan oleh Sam Thai Koksu untuk membantu pemerintah Kin, ia menaruh perhatian dan sepasang alisnya yang putih itu dikerutkan.

"Siancai, siancai!"

Ia menyebut perlahan.

"Bagaimana sute (adik seperguruan) demikian bodoh dapat diperalat oleh pemerintah Kin?"

Untuk sehari lamanya kakek sakti ini tidak mau bicara lagi dan duduk termenung seakan-akan menyesalkan sesuatu yang amat mengganggu hatinya. Kemudian ia memanggil Ciang Le menghadap.

"Ciang Le, sekarang tiba saatnya kau harus berjuang demi kebenaran. kau telah dapat menamatkan Pak kek Sin ciang dan akan sia sialah semua jerih payahmu mempelajari ilmu itu apabila kau tidak dapat mempergunakan pada saat penting seperti sekarang ini. Pak Hong Siansu itu adalah susiokmu sendiri, namun ia ternyata telah tersesat jalan. Sudah menjadi kewajibanmu untuk menginsyafkannya dan untuk menolong para patriot bangsa yang memperjuangkan nasib mereka. kau pergilah ke utara dan temui susiokmu itu, membawa suratku kepadanya. Kalau dia menurut nasihatku, itu lebih baik lagi. Kalau tidak, terpaksa kau harus mempergunakan kepandaian untuk mencegah pemerintah Kin menghancurkan para patriot yang berjuang demi kebenaran dan kesucian."

Pak Kek Siansu lalu membuat sehelai surat untuk Pak Hong Siansu, kemudian berangkatlah Ciang Le membawa surat itu.

Dengan amat cepat Ciang Le lalu menuju ke Cin-an, karena dari Luliang Siucai ia mendapat petunjuk bahwa orang-orang gagah yang membantu pemerintah Kin bermarkas di kota ini.

Demikianlah, dengan perjalanan yang cepat sekali, Ciang Le tiba di Cin-an.

Tanpa ragu-ragu lagi ia segera menuju ke Enghiong Hwe koan.

Rumah perkumpulan ini sebetulnya masih menjadi kelompok dengan rumah kepala daerah di Cin-an dan karenanya, di situ terjaga oleh sepasukan pengawal yang berpakaian seperti tentara menghadapi peperangan!

Di halaman depan dari Enghiong Hwekoan terjaga oleh pasukan yang dikepalai oleh seorang panglima yang menjadi pembantu Sam Thai Koksu.

Panglima ini sudah setengah tua, dan ia dibantu oleh dua orang perwira yang amat gagah, dua orang yang terkenal memiliki kepandaian tinggi karena menerima latihan ilmu silat dari Sam Thai Koksu sendiri!

Seorang diantara dua perwira ini bertubuh tinggi besar, seorang ahli gwakang (tenaga kasar) bernama Ban Kui yang selain ilmu silatnya yang tinggi, juga terkenal ahli dalam ilmu gulat.

Orang ke dua adalah seorang perwira bertubuh kecil pendak bermata tajam.

Dia ini seorang ahli lweekang yang memiliki tenaga lweekang yang amat terkenal.

Selain tenaga lweekangnya sudah mahir, juga ia pandai mempergunakan senjata rahasia berupa jarum-jarum perak yang diberi nama Hui gin ciang (Jarum Perak Terbang).

Perwira ke dua ini bernama Lee Gai.

Dua orang perwira ini boleh dibilang menjadi jago jago yang diandalkan dalam penjagaan kelompok rumah pembesar di Cin-an dan yang bertanggung jawab atas penjagaan Enghiong Hwekoan.

Ketika Ciang Le tiba di Enghiong Hwekoan, ia dibawa oleh penjaga menghadap ke kantor penjagaan yang berada di ruang depan dari Enghiong Hwekoan itu.

Ban Kui dan Lee Gai tengah berunding dengan komandannya yaitu panglima ahli perang yang sudah setengah tua bernama Kim Ti.

Melihat seorang pemuda berbaju kembang, berwajah tampan dan tersenyum-senyum datang menghadap tanpa memheri hormat, Kim Ciangkun menjadi marah!

Ia menggebrak meja.

"Orang liar dari manakah datang menghadap di sini?? Apakah kau tidak tahu cara bagaimana memberi hormat kepada pembesar?"

Ciang Le memperlebar senyumnya dan ia lalu menjura sambil berkata.

"Aku datang bukan hendak menghadap melainkan hendak bertemu dengan Pak Hong Siansu."

Terkejut juga Kim Ti dan dua orang perwira pembantunya mendengar bahwa pemuda ini hendak bertemu dengan Pak Hong Siansu.

Akan tetapi pemuda ini terang adalah seorang Han, tentu saja mereka menjadi bercuriga dan Kim Ciangkun membentak lagi.

"Kau ini masih pernah apakah dengan Pak Hong Siansu?"

Ciang Le menggelengkan kepalanya karena ia tidak perlu memperkenalkan diri terhadap pembesar Kim yang sombong ini.

"Disebut pernah apa, bertemupun belum pernah. Disebut tidak ada hubungan, sekarang aku datang khusus untuk bertemu dengan dia. Lebih baik lekas minta Pak Ho Siansu keluar menemuiku, atau"

Apakah dia tidak berada di sini?"

Pembesar she Kim itu marah sekali.

"Kau orang Han benar-benar kurang ajar sekali. Menghadap di sini kau harus berlutut!"

Sambil berkata demikian, Kim Ti memberi tanda dengan tangannya kepada dua orang penjaga yang tadi mengantar Ciang Le masuk agar dua orang itu memaksa Cian Le berlutut.

Dua orang itu segera melangkah maju dan sebentar saja kedua pundak Ciang Le dipegang dan ditekan kanan kiri.

"Berlutut kau !"

Seru penjaga-penjaga itu Akan tetapi, ketika mereka menekan pundak pemuda itu, sama sekali pemuda itu tidak bergeming seakan-akan mereka menekan sebuah batu karang saja.

Bahkan sambil tersenyum, Ciang Le lalu membalikkan tubuh dan kini dia yang memegang belakang leher dua orang penjaga itu sambil berseru.

"Kau dua ekor anjing keluarlah!"

Entah bagaimana, agaknya Ciang Le tidak mempergunakan tenaganya, namun ternyata dua tubuh penjaga itu terlempar keluar pintu, jatuh bergulingan bagaikan dua ekor anjing ditendang!

Melihat peristiwa ini, Kim Ciangkun menjadi makin marah.

Akan tetapi ia adalah seorang yang cerdik dan suka berlaku hati-hati.

Kalau dia bodoh dan ceroboh, tidak nanti ia diangkat untuk menjadi komandan penjaga dari Enghiong Hwekoan.

Ia tahu bahwa Pak Hong Siansu adalah seorang sakti yang aneh dan tentu saja mempunyai kawan-kawan yang aneh pula di dunia kang ouw.

Ia belum tahu apakah pemuda yang berpakaian lucu ini kawan atau lawan, maka tidak pada tempatnya kalau ia berlaku ceroboh.

Pula, pemuda ini terang memiliki kepandaian tinggi dan kalau seandainya ia berlaku kasar kemudian ternyata pemuda ini kawan baik Pak Hong Siansu, ia tentu akan mendapat teguran dari Sam Thai Koksu.

Oleh karena itu, ia lalu berkata.

"Aha, tidak tahunya kau adalah seorang Enghiong muda yang gagah! Ah, kau tentu seorang tamu yang terhormat. Lee Ciangkun, ada tamu terhormat datang, mengapa tidak menyuguh sepotong daging dan secawan arak?"

Memang di atas meja di depan pembesar ini masih penuh dengan mangkok mangkok terisi masakan dan cawan cawan arak, tanda bahwa tiga orang perwira tadi tengah makan minum ketika Ciang Le dihadapkan.

Mendengar ucapan atasannya ini, Lee Gai mengerti maksudnya, maka ia lalu berdiri dari tempat duduknya dengan muka tersenyum-senyum ia menghadapi Ciang Le lalu menjura dan berkata.

"Enghiong yang gagah perkasa memang perlu mendapat penghormatan. Baiklah siauwte memberi hormat dengan sepotong daging empuk!"

Ia lalu mengambil sepasang sumpit dari atas meja dan sekali ia menggerakkan sumpitnya, ia telah menyumpit sepotong daging besar, lalu dengan gaya dibuat buat ia meluncurkan daging di ujung sumpit itu ke arah mulut Ciang Le!

Diam-diam Ciang Le merasa mendongkol sekali.

Kalau ia mengelak atau menolak, tentu dianggap takut, maka terpaksa ia lalu memperlihatkan kepandaiannya.

Ia melihat datangnya sumpit itu cepat dan kuat sekali dan maklum bahwa perwira kecil pendek ini bermaksud buruk terhadapnya, bukan sekedar mencoba kepandaian atau menghormat, akan tetapi sumpit dan daging itu merupakan serangan ke arah mulut yang berbahaya sekali!

Namun, dengan tenang Ciang Le membuka mulutnya dan ketika daging berikut sumpit memasuki mulutnya, ia menyambar daging itu dengan giginya lalu miringkan kepalanya sehingga sumpit yang menusuk mulut itu lewat didekat pipinya.

Akan tetapi daging itu telah memasuki mulutnya sedangkan sumpit itu sedikitpun tidak melukainya!

Ciang Le tentu saja tidak sudi makan daging itu, maka ia lalu meniupkan mulutnya dan daging itu menyambar ke tembok dan terus amblas masuk ke dalam tembok!

Lee Gai menjadi merah mukanya, akan tetapi kini ia mempunyai alasan untuk menjadi marah.

"Kau tidak mau menerima daging suguhanku, sungguh tidak menghormat!"

Sepasang sumpit di tangannya kini meluncur lagi dan menusuk ke arah Ciang Le!

Pemuda ini cepat mengelak dan berlaku mengalah.

Akan tetapi ternyata orang itu tidak tahu diri dan terus menyerang secara bertubi tubi dan sepasang sumpit itu kini mengancam jalan darah di leher, dada, dan pundak!

Ciang Le mengebutkan lengan bajunya untuk menangkis.

Akan tetapi tentu saja ia kewalahan kalau terus-menerus diserang tanpa membalas, maka tiba-tiba ia mengulur tangan kanannya menyambar sepasang sumpit dari atas meja.

Ia menanti sampai sumpit ditangan lawannya menyerang lagi, lalu tiba-tiba, bagaikan sepasang ular hidup, sumpitnya menyambut tangan Lee Gai dan tahu-tahu sepasang sumpit ditansan Ciang Le menjepit pergelangan tangan Lee Gai!

Kalau dilihat benar-benar amat aneh dan sukar dipercaya.

Berapakah kuatnya jepitan sepasang sumpit yang dipegang tangan?

Apalagi pergelangan tangan Lee Gai yang berbaju perang itu terlindung oleh kulit tebal, akan tetapi begitu pergelangan tangan ini terkena jepitan sumpit Ciang Le, perwira pendek kecil ini tiba-tiba menjadi pucat dan ia menjerit kesakitan!

Ia merasa betapa jepitan itu mendatangkan rasa sakit yang demikian hebat sampai menusuk ke sumsum dan jantung.

Ia mencoba mempertahankankan diri, namun ia tidak kuat dan tanpa terasa lagi ia jatuh berlutut dengan tangan masih terjepit!

"Ciangkun, kau lepaskanlah sumpitmu, baru akupun hendak melepaskan sumpitku!"

Kata Ciang Le sambil tersenyum.

Pemuda ini berdiri dan nampaknya tidak menggunakan tenaga sama sekali sehingga melihat hal ini, Ban Kui yang berdri disebelah kiri Kim Ti berdiri bengong dan memandang dengan mulut ternganga.

Adapun Kim Ti menjadi terkejut dan wajahnya pucat.

Mendengar ucapan Ciang Le, maklumlah Lee Gai bahwa pemuda ini menganggapnya keterlaluan telah mempergunakan sumpit sebagai senjata, maka kini dialah yang harus melepaskan "senjata"

Lebih dulu.

Akan tetapi alangkah herannya ketika ia merasa jari-jari tangan kanannya kaku dan ia tidak dapat melepaskan sumpit yang dipegangnya itu!

Ia terkejut bukan main karena sebagai seorang ahli lweekeh (tenaga dalam), ia maklum bahwa pemuda aneh ini sedang mempergunakan lweekang untuk menguasai jalan darahnya!

Ia mengerahkan lweekangnya untuk melawan tenaga lawan ini, namun begitu ia mengerahkan lweekangnya, kembali ia menjerit kesakitan karena tubuhnya terasa panas dan sakit sakit.

Terpaksa ia merintih-rintih.

"Taihiap (pendekar besar), harap kau sudi memaafkan aku yang bodoh dan lancang!"

Ciang Le juga tidak ingin mempermainkan orang lebih lama lagi.

Ia melepaskan sumpit itu dan melemparkan sumpit secara sembarangan di atas meja, namun sumpit itu menancap sampai setengah lebih di depan Kim Ti.

Sepasang sumpit bambu itu menembus papan, meja yang demikian tebalnya!

Ternyata pemuda ini telah memperlihatkan kepandaiannya untuk menundukkan orang-orang sombong itu.

Akan tetapi ia keliru kalau menganggap bahwa dengan demonstrasi itu ia akan menundukkan mereka, ia tidak tahu bahwa orang-orang Kin amat sombong dan mengandalkan kekuatan fihak sendiri.

Baru saja Lee Gai diberi kesempatan berdiri, tiba-tiba perwira yang curang ini menggerakkan tandannya dan tahu-tahu belasan Hui gio ciam (Jarum Perak Terbang) menyambar ke arah tubuh Ciang Le dari belakang!

Jarak diantara mereka hanya dua tombak lebih maka tentu saja serangan ini amat berbahaya bagi Ciang Le!

Akan tetapi, dengan tenang seperti gunung akan tetapi cepat laksana angin lalu, Ciang Le membalikkan tubuh sambil mengebutkan lengan bajunya yang lebar dan semua jarum itu tersampok runtuh!

Kemudian, tahu-tahu tubuhnya berkelebat dan sebelum tiga orang itu tahu bagaimana pemuda ini bergerak, tiba-tiba Lee Gai menjadi kaku dan berdiri dengan tangan kanan masih terulur bekas menyambit dan tangan kiri masih menggenggam jarum-jarum yang lain!

Dia telah terkena totokan yang luar biasa lihainya dari Ciang Le!

Melihat ini Ban Kui segera menubruk maju dan menyerang Ciang Le dengan pukulannya yang dilakukan keras sekali.

Kepalan tangan Ban Kui besarnya sama dengan kepala Ciang Le dan kerasnya seperu pelor besi.

Tenaganyapun seperti tenaga kerbau, maka kalau sekiranya pukulan yang diarahkan kepada kepala Ciang Le itu mengenai sasaran, agaknya kepala itu akan pecah!

Akan tetapi, apakah yang dilakukan oleh Ciang Le?

Pemuda ini tidak mengelak, hanya secepat kilat tangannya menotok dari bawah dan memapaki pukulan tangan lawan ini.

Sebelum pukulan itu mengenai kepalanya, pergelangan tangan lawannya telah kena ditotok oleh jari telunjuknya, benar-benar menggelikan kalau melihat betapa Ban Kui yang tinggi besar itu tiba-tiba merendahkan diri berjongkok sambil mengaduh-aduh dan memegangi tangannya.

Sebentar saja tangannya membengkak dan sambil mengurut urut tangan kanannya dengan tangan kiri, ia mengaduh-aduh terus seperti babi disembelih!

Ciang Le kehilangan kesabarannya.

Ia membungkuk memegang kaki meja di depan Kiat Ti dan sekali menggerakkan tangan, ia mengangkat meja besar itu di atas kepalanya dan mengancam hendak menimpakan meja itu kepada Kim Ti sambil membentak.

"Manusia sombong! Lekas kau katakan, di mana adanya Pak Hong Siansu? kau sebagai kepala penjaga ternyata tidak menghormat tentu yang datang hendak bertemu dengan tuan rumah!"

Kim Ti menjadi pucat dan dengan ketakutan ia berseru.

"Tolong...! Tolong ada penjahat!"

Akan tetapi suaranya lenyap ketika meja itu benar-benar menimpanya, akan tetapi tidak begitu keras karena Ciang Le masih memegang kaki meja, namun cukup keras untuk membuat Kim Ti terpelanting dalam keadaan pingsan.

Beberapa orang berlari dari dalam gedung dan ternyata mereka ini adalah Ba Mau Hoatsu, Giok Seng Cu, Suma Kwan Eng dan beberapa orang pembesar dan tokoh pemerintah Kin yang membantu Sam Thai Koksu.

Pada waktu itu Pak Hong Siansu sedang keluar kota bersama Sam Thai Koksu.

"Siapakah kau ini berani mengacau di sini?"

Bentak Ba Mau Hoatsu ketika melihat keadaan di situ dan melihat pula Ciang Le yang berdiri dengan muka merah akan tetapi sikapnya tenang sekali.

Ciang Le memandang semua orang itu, lalu menjura dan bertanya.

"Di mana adanya Pak Hong Siansu? Aku datang dengan maksud bertemu dengan dia, akan tetapi siapa tahu anjing-anjing penjaga ini bahkan menghinaku!"

Giok Seng Cu yang mendengar bahwa pemuda ini hendak bertemu dengan suhunya, lalu melangkah maju dan bertanya.

"Siapakah kau dan ada keperluan apakah hendak bertemu dengan suhu?"

Mendengar ini, Ciang Le memandang kepada tosu ini dengan penuh perhatian.

Ia tahu bahwa kalau tosu ini murid susioknya, betapapun juga tingkatnya dalam perguruan lebih tinggi, maka ia tidak memberi hormat dan hanya berkata tenang.

"Aku datang hendak bertemu dengan orang-tua itu untuk memberikan sepucuk surat yang dialamatkan kepadanya."

"Surat? Dari siapa? Dan siapa kau?"

Giok Seng Cu mendesak dan memandang penuh kecurigaan.

"Siapa adanya aku, tak perlu kalian ketahui karena tidak ada sangkut pautnya. Juga dari siapa surat itu tak perlu kusebutkan. Lebih baik biarkan aku bertemu dengan orang-tua itu agar segala sesuatu berjalan beres tanpa ada salah pengertian,"

Jawab Ciang Le. Jawaban yang singkat ini menang terdengar agak sombong, maka tentu saja Giok Seng Cu menjadi marah sekali.

"Orang muda di hadapan Giok Seng Cu murid Pak Hong Siansu kau tidak boleh berlaku sombong. Suhu tidak berada di sini dan kau berikanlah saja surat itu kapadaku. Akan tetapi kalau kau tidak mau mengaku siapa adanya dirimu dan dari siapa surat itu, tentu saja kau tidak boleh pergi dari sini sebelum suhu datang."

"Ah, jadi Pak Hong Siansu tidak berada di sini? Sayang sekali. Kalau begitu kedatanganku percuma saja. Baik lain kali saja aku kembali."

Tanpa mempedulikan omongan Giok Seng Cu tadi, Ciang Le lalu memutar tubuhnya dan hendak pergi meninggalkan Enghiong Hwekoan.

Bukan main marahnya Giok Seng Cu melihat sikap orang muda ini yang sama sekali tidak memandang mata kepadanya.

"Kau tidak boleh pergi dari sini!"

Bentaknya dan serentak ia melompat maju dengan tangan kiri diulur ke arah pundak Ciang Le.

Sekaligus murid Pak Hong Siansu ini menyerang Ciang Le dengan sebuah totokan kearah jalan darah kian goan hiat di pundak kiri!

Serangan ini berbahaya sekali karena dilakukan oleh seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi.

Baru angin serangan saja sudah dapat menginsyafkan Ciang Le bahwa orang ini memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan begitu saja.

"Maaf, kau yang mulai lebih dulu!"

Serunya dan cepat ia mengelak dengan merendahkan pundak itu, kemudian sambil membalikkan tubuh ia membalas serangan lawan dengan gerak tipu Tan-hong lian-sim (Burung Hong Membelah Hati).

Tangan kanannya dengan jari-jari terbuka ditusukkan ke arah dada kiri Giok Seng Cu.

Melihat gerakan ini, terkejutlah Giok Seng Cu.

Hanya orang yang telah mempelajari ilmu silat tinggi saja dapat membalas serangannya dengan cara demikian cepat dan juga berbahaya datangnya.

Ia cepat manangkis sambil mengerahkan tenaganya dengan maksud membuat lengan tangan lawannya yang masih muda itu patah atau setidaknya sakit.

Akan tetapi ia kecele, karena begitu kedua tangan beradu, pemuda itu nampaknya tidak apa-apa, sebaliknya dia mencelat mundur dengan tubuh terhuyung!

Giok Seng Cu berlaku hati-hati.

Kepandaian pemuda ini sudah demikian tinggi tingkatnya, maka ia merasa kuatir kalau kalau salah tangan terhadap orang pandai.

"Siapakah kau? Mengakulah, barangkali kita dapat mendamaikan urusan ini,"

Katanya.

"Giok Seng Cu, percuma saja kau memakai jubah pendeta dan menjadi murid Pak Hong Siansu kalau kau tidak bisa mengendalikan nafsumu yang terdorong kesombongan itu!"

Ciang Le mengejek dan kembali ia membalikkan tubuh hendak pergi dari situ. Ba Mau Hoatsu marah dan merasa tersinggung. Cepat ia meloncat menghadapi Ciang Le.

"Nanti dulu, anak muda! Ketahuilah bahwa aku adalah Ba Mau Hoatsu dari Tibet. Kalau kau belum pernah mendengar namaku, itu tidak mengapa. Akan tetapi aku mewakili Sam Thai Koksu dan boleh dibilang pada saat ini aku menjadi tuan rumah. kau telah datang sebagai tamu, maka sebelum menyambut mu, aku merasa tidak patut sebagai tuan rumah."

Ciang Le mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Ah, tidak nyana begitu banyak tokoh besar berkumpul di sini. Ba Mau Hoatsu, seperti telah kunyatakan tadi, kedatanganku ini hanya ada urusan dengan Pak Hong Siansu. Karena aku mendengar bahwa Pak Hong Siansu berada di sini, maka aku berada di tempat ini. Sekarang Pak Hong Siansu tidak berada di sini, untuk apa berdiam lebih lama lagi? Aku akan kembali kalau orang-tua itu sudah berada di sini."

Ba Mau Hoatsu tertawa bergelak.

"Anak muda, siapapun juga kau, dan siapapun juga adanya gurumu yang besar, kiranya tidak patut kalau kau bersikap demikian sombong. Sebagai tamu dari rumah di mana aku menjadi wakil tuan rumah, tentu saja kau haru memberitahukan namamu. Kalau tidak bagaimana kelak aku memberi laporan kepada Pak Hong Siansu?"

"Tak perlu memperkenalkan nama kalau Pak Hong Siansu tidak ada di sini."

Ciang Le berkukuh.

"Kalau begitu, terpaksa aku menghalangi kau pergi dari sini!"

Kata Ba Mau Hoatsu sambil mengeluarkan sepasang senjatanya yang aneh, yaitu sepasang roda (siang lun) terbuat dari pada emas dan perak.

Tangan kanannya memegang kim lun (roda emas) dan tangan kiri memegang gin lun (roda perak).

Melihat senjata ini saja, tahulah Ciang Le bahwa dia berhadapan dengan lawan berat yang berilmu tinggi.

Akan tetapi, murid Pak Kek Siansu ini tidak gentar sedikitpun juga.

Dengan sikapnya yang tenang, pandang mata tajam dan bibir tersenyum, Ciang Le menghadapi Ba Mau Hoatsu yang melarangnya pergi meninggalkan Enghiong Hwekoan.

Pendeta Tibet yang bertubuh tinggi besar itu berdiri memagang kuda kuda dengan kedua tangan memegang senjatanya siang lun (sepasang roda) yang hebat.

"Hm, BaMau Hoatsu, agaknya dengan cara seperti ini pula kau dapat merampas kedudukan yang tinggi di mana-mana."

"Pemuda sombong jangan banyak cakap, tandingilah senjataku ini kalau kau memang lihai!"

Kata Ba Mau Hoatsu sambil menggerakkan kedua roda di tangannya.

Sepasang roda perak dan emas itu terputar cepat sekali dan menerbitkan angin serta mengeluarkan suara mendesing.

Senjata ini memang luar biasa sekali dan lebih lebih lagi di tangan Ba Mau Hoatsu yang telah melatih diri berpuluh tahun, sepasang senjata ini benar-benar amat lihai.

Dalam penyerangannya.

Ba Mo Hoatsu dapat mempergunakan senjata roda ini untuk dilontarkan kepada lawan dan sambil terputar putar, roda ini dapat mengejar lawan dan dapat kembali pula ke tangannya seperti roda roda terbang.

Atau dapat juga dipegang untuk dipergunakan sebagai senjata amat kuat.

Ciang Le maklum bahwa menghadapi kim lun dan gin lun ini, tak mungkin bertangan kosong saja.

Maka iapun menggerakkan tangan meraba ke balik jubahnya yang berkembang itu dan di lain saat tangan kanannya telah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning emas.

"Kim kong kiam!"

Seru Suma Kwan Eng ketua Hui-eng-pai yang mengenal baik pedang ini.

"Dia ada hubungan dengan Thian Te Siang mo!"

"Benarkah kau ada hubungan dengan Sepasang Iblis Kembar itu? Apakah kau muridnya, anak muda?"

Ciang Le tersenyum.

"Memang pernah aku menjadi murid Thian Te Siang mo dan pedang ini memang pemberian mereka. Apakah salahnya itu?"

"Bagus! Memang kami sedang mencari iblis kembar itu dan sekarang lebih dulu aku akan menangkap muridnya!"

Kata Ba Mau Hoatsu dan secepat kilat roda peraknya menyambar ke arah kepala Ciang Le.

Pemuda ini cepat mengelak dan ketika roda emas menyusul menyambar dengan kuat dan cepat ke arah dadanya, ia menangkis dengan Kim kong kiam.

"Traaang...!"

Roda emas itu berputar kembali ke arah pemiliknya sedangkan Ciang Le cepat menggetarkan pedangnya agar tenaga benturan tadi tidak mempengaruhi tangannya.

Pemuda ini telah memiliki kepandaian tinggi dan berkat latihan dari Pak Kek Siansu, ia telah dapat mengatur tenaga di dalam tubuhnya dan tidak mengherankan apabila kini ia kuat menghadapi benturan kim lun, bahkan dapat membuat roda emas itu terputar kembali ke arah Ba Mau Hoatsu!

Sebaliknya, pendeta Tibet itu kaget bukan main menyaksikan kehebatan tenaga lawan yang masih muda ini.

Ia memang maklum akan kelihaian Thian Te Siang mo dan untuk menghadapi Sepasang Iblis Kembar itu ia memang merasa jerih.

Akan tetapi apakah untuk menghadapi murid dari iblis kembar itu saja ia harus kalah?

Tentu saja ia merasa penasaran sekali dan cepat ia menyerbu lagi sambil menggerakkan kedua rodanya dengan cepat.

"Ha Mau Hoatsu, kau telah menjadi buta karena nafsu marah!"

Ciang Le menegur sambil menggerakkan pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut yang pernah ia pelajari dari Thian Te Siang mo.

Memang ilmu pedang ini hebat sekali, ditambah pula oleh tenaganya yang besar dan gerakannya yang cepat, maka kini pedang itu berobah menjadi segulung sinar kuning emas yang amat panjang dan yang bergulung gulung seperti seekor sinar kuning!

dapun sepasang roda di tangan Ba Mau Hoatsu juga tidak kurang hebatnya.

Sepasang senjata itu diputar sedemikian rupa sehingga yang nampak hanyalah bundaran sinar kuning dan putih yang menyilaukan mata.

Bagi orang-orang yang menonton pertempuran ini, benar-benar mereka melihat pemandangan yang luar biasa dan indah.

Kalau sinar pedang di tangan Ciang Le merupakan seekor naga kuning yang gagah, adalah dua roda itu seakan-akan menjadi sepasang mustika yang berkejaran dengan naga itu!

Pertempuran berjalan puluhan jurus, namun tetap saja sepasang roda itu tidak dapat mendesak Ciang Le.

Pemuda ini tetap berlaku sabar dan tenang, tidak mau ia mempergunakan Pak kek Sin ciang untuk merobohkan lawan, karena memang ia tidak berniat membunuh atau melukai Ba Mau Hoatsu tanpa alasan.

Sebaliknya, Ba Mau Hoatsu menggigit bibirnya dengan hati penasaran dan mendongkol sekali.

Tak pernah disangkanya bahwa menghadapi murid dari Thian Te Siang mo saja ia tidak becus mengalahkannya!

Kemarahannya memuncak dan ia makin ganas.

Sepasang rodanya diputar sedemikian rupa sehingga kini setiap serangannya mengarah nyawa lawan.

Ciang Le merasa betapa lawannya ini benar-benar keterlaluan dan tidak mau mengerti bahwa sebetulnya ia telah banyak mengalah.

Oleh karena itu ia berseru keras dan tiba-tiba pedangnya berubah gerakannya dan ia mulai mempergunakan gerakan dari Pak kek Sinciang!

Bukan main kagetnya hati Ba Mau Hoatsu ketika tiba-tiba ia merasa sambaran angin yang aneh dan kuat sekali keluar dari sambaran pedang lawan dan tiba-tiba roda perak di tangan kirinya telah dapat dimasuki pedang lawan dan sekali gertak, rodanya itu telah terlepas dari pegangannya!

Ciang Le menggerakkan pedangnya dan roda itu kini terputar putar oleh pedang.

"Ba Mau Hoatsu, terimalah kembali roda perakmu!"

Pada saat itu, Ba Mau Hoatsu yang menjadi marah sedang melontarkan roda emasnya ke arah kepala Ciang Le dan ketika pemuda ini menggerakkan pedang sehingga roda perak itu meluncur ke arah pemiliknya, maka sepasang roda itu saling bertemu di udara dan mengeluarkan suara nyaring sekali seperti gembreng dipukul.

Sepasang roda itu runtuh dan jatuh di atas lantai!

"Bangsat muda, kau benar-benar berani mati!"

Seru Ba Mau Hoatsu yang cepat menggerakkan tubuh menyambar kembali sepasang rodanya dan tanpa mengenal malu pendeta Tibet ini menyerang lagi.

Akan tetapi, pada saat itu, dari pintu depan berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu tubuh Ba Mau Hoatsu tertarik ke belakang oleh sebuah lengan tangan yang halus dan nampak lemah.

"Ba Mau Hoatsu, tahan dulu!"

Terdengar suara halus menegur dan ternyata bahwa yang datang itu adalah seorang kakek tua renta berpakaian seperti pendeta, bertubuh bongkok dan berkepala botak.

Kakek ini bukan lain adalah Pak Hong Siansu yang baru saja kembali dari perjalanannya.

Ba Mau Hoatsu cepat meloncat mundur dan kini Pak Hong Siansu berdiri menghadapi Ciang Le dengan mata penuh selidik.

Adapun Ciang Le ketika melihat kakek bongkok dan botak ini, tahu bahwa tentu inilah Pak Hong Siansu.

Ia lalu menyimpan kembali pedangnya kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Pak Hong Siansu sambil berkata.

"Teecu Go Ciang Le datang menghadap susiok atas perintah suhu."

Mendengar ini semua orang terkejut.

Pemuda ini menyebut susiok kepada Pak Hong Siansu dan ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa pemuda ini adalah murid dari Pak Kek Siansu!

Juga Pak Hong Siansu tercengang mendengar ini.

"Hm, suheng masih mempunyai seorang murid baru yang begini muda dan gagah? Ada keperluan apa kau disuruh menghadapku di sini?"

Ciang Le mengeluarkan surat dari suhunya lalu memberikan surat itu kepada Pak Hong Siansu.

"Suhu menyuruh teecu menghaturkan surat ini kepada susiok,"

Katanya penuh hormat.

Pak Hong Siansu suka juga melihat sikap Ciang Le yang amat sopan ini, maka sambil tersenyum ia menerima surat dari suhengnya.

Telah belasan tahun ia tidak bertemu dengan suhengnya, juga tidak pernah mendengar berita dari Pak Kek Siansu.

Sekarang tiba-tiba suhengnya itu menulis surat, ada keperluan apakah?

Begitu membuka surat itu, Pak Hong Siansu tersenyum.

Ia mengenal baik tulisan tangan suhengnya, tulisan yang bertenaga akan tetapi yang kelihatan indah dan halus, tulisan seorang ahli surat yang pandai, yang bagaikan lukisan indah sekali.

Akan tetapi, setelah ia mulai membaca isi surat, berobahlah wajahnya.

Mukanya yang putih bersih dan yang tadinya berseri dengan senyumnya, tiba-tiba menjadi merah dan keningnya berkerut kerut.

Nyata bahwa ia kelihatan marah sekali.

Tiba-tiba kakek sakti ini tertawa.

Suara ketawanya halus, akan tetapi di dalamnya mengandung getaran yang mempengaruhi semua orang yang berada di situ karena suara ketawa ini mengandung tenaga yang menggetarkan hati orang.

"Aha, suheng benar-benar masih sombong dan lancang! Menganggap diri sendiri selalu betul!"

Ia lalu melemparkan surat itu ke atas dan biarpun surat itu terbuat dari pada kertas yang ringan, namun ketika dilemparkan ke atas, kertas itu meluncur dan Pak Hong Siansu menyusul dengan gerakan tongkatnya yang merah dan panjang.

"Bret!"

Ujung tongkat itu menusuk kertas sehingga terobeklah surat itu dan kini berada di ujung tongkat.

Kembali kakek itu menggerakkan tongkatnya dan kertas yang sudah bolong dan berada di ujung tongkat kini melayang cepat sekali ke arah Ciang Le.

Pemuda ini mengangkat tangan menyambut surat itu dan terkejutlah ia ketika merasa betapa telapak tangannya terasa sakit ketika menerima kertas yang meluncur tadi.

Alangkah hebatnya tenaga susioknya yang dapat membuat kertas seringan itu seperti sebuah senjata rahasia yang berat!

"Kembalilah kepada gurumu.

Katakan bahwa ia sudah pikun dan selalu bersembunyi di puncak gunung, ia tidak melihat kenyataan di atas dunia ini!

Kerajaan Kin adalah kerajaan yang kuat dan jaya, yang akan dapat menjadi pemerintah yang adil di Tiongkok.

Mengapa aku tidak membantunya?"

Tanpa banyak cakap lagi, sambil menahan gelora hatinya yang merasa mendongkol sekali, Ciang Le lalu bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.

Ba Mau Hoatsu merasa penasaran melihat betapa Pak Hong Siansu hendak membebaskan begitu saja pemuda yang telah berani menghina Enghiong Hwee.

"Jangan harap bisa pergi dari sini!"

Serunya dan ia mengejar. Akan tetapi terdengar Pak Hong Siansu mencegah.

"Tahan, Ba Mau Hoatsu! Dia seorang utusan, tak boleh diganggu!"

Ciang Le menoleh dan memandang kepada Ba Mau Hoatsu dengan sikap mengejek, lalu ia menjura ke arah mereka semua dan sekali berkelebat, ia lenyap dari situ! "Kau tadi terburu nafsu,"

Kata Pak Hong Siansu kepada Ba Mau Hoatsu.

"Kulihat kepandaian anak itu tidak berada di sebelah kepandaianmu sendiri. Kalau dilanjutkan pertempuran tadi, kau akan kalah."

Ba Mau Hoatsu memperlihatkan muka tidak puas.

"Belum tentu, Siansu. Betapapun juga, biar ia murid dari Pak Kek Siansu, rasanya tak mungkin aku akan kalah oleh seorang bocah."

Pak Hong Siansu tertawa.

"Kau masih belum melihat kekalahanmu? Ha, coba lihatlah jubahmu di dekat dada."

Ba Mau Hostsu melirik ke arah jubahnya dan pucatlah mukanya.

Ternyata bahwa jubahnya tepat yang melindungi jantung, telah bolong bekas tertusuk pedang!

Ternyata bahwa pemuda lawannya tadi telah melobangi jubahnya, yang berarti bahwa pemuda itu masih mengampuninya, karena kalau pedang itu diteruskan tusukannya, tentu nyawanya tak tertolong lagi.

Karena itu, ia tidak dapat mengeluarkan suara lagi dan diam-diam semua orang memuji kepandaian pemuda tadi yang benar-benar lihai sekali.

Demikianlah pengalaman Ciang Le yang kemudian berhasil menolong Lie Bu Tek yang tertawan oleh Giok Seng Cu, karena Ciang Le memang masih berada di Cin-an.

Sesuai dengan perintah gurunya ketika ia turun dari Luliang san, melihat sikap Pak Hong Siansu, Ciang Le berdiam dikota ini secara diam-diam dan melakukan penyelidikan untuk membantu sepak terjang para orang gagah yang berjuang untuk membebaskan rakyat daripada tindasan pemerintah Kin.

Selama ia berdiam dikota ini, ia mengalami banyak hal hebat yang akan di tuturkan kemudian.

Sekarang lebih baik kita menengok lebih dulu keadaan Bi Lan yang lama kita tinggalkan.

Bi Lan yang ikut merantau dengan guru-gurunya yang baru yaitu Thian Te Siang mo, mempelajari ilmu silat dengan amat tekunnya.

Thian Te Siang mo merasa amat gembira melihat kemajuan Bi Lan dan ternyata oleh mereka bahwa Bi Lan murid yang cerdik dan berbakat sekali.

Oleh karena itu, kedua orang-tua ini lalu menurunkan seluruh kepandaian mereka kepada Bi Lan, bahkan menurunkan pula Ilmu Silat Thian te kun hoat yang paling lihai.

Betapapun juga, Thian Te Siang mo masih merasa penasaran dan kecewa kalau mereka terkenang kepada Ciang Le.

Pada suatu hari, Bi Lan bertanya keprda mereka.

"Suhu, apakah sebelum menerima teecu sebagai murid, jiwi suhu belum pernah mempunyai seorang murid lain? Apakah teecu tidak mempunyai saudara seperguruan yang menjadi murid jiwi suhu?"

Thian Lo-mo menarik napas panjang.

"Ada seorang suhengmu (kakak seperguruan). Anak itu semenjak kecil kami didik dan setelah besar dan pandai, ternyata ia menyakitkan hati kami dan menjadi murid orang lain!"

Bi Lan merasa tertarik.

"Siapakah dia, suhu? Dan di mana sekarang dia berada?"

"Kalau kelak bertemu dengan dia, kau harus memberi hajaran kepadanya sebagai wakil kami. Kalau perlu, kau boleh bunuh dia!"

Kata Te Lo-mo yang lebih keras wataknya.

"Siapakah namanya, suhu?"

"Namanya Go Ciang Le, dia lebih tua beberapa tahun dari padamu,"

Jawab Thian Lo-mo.

Diam-diam Bi Lan terkejut sekali dan kalau saja ia belum mempelajari ilmu batin yang membuat hatinya kuat menahan getaran, tentu ia sudah menjadi pucat dan berobah air mukanya.

Ia menahan gelora hatinya dan dengan suara biasa ia bertanya.

"Apakah dia bukan putera dari mendiang Go Sik An, pahlawan yang kenamaan itu?"

"Eh, bagaimana kau bisa tahu?"

Tanya Te Lo-mo. Bi Lan tersenyum.

"Dia adalah cucu dari Tan Seng, tokoh Hoa-san-pai sedangkan teecu adalah seorang murid Hoa-san-pai pula, mengapa teecu tidak tahu?"

"Memang benar, dia adalah Go Ciang Le putera dari mendiang Go Sik An."

Kemudian Thian Lo-mo lalu menceritakan tentang pertolongan mereka kepada anak itu dan betapa mereka mendidik Ciang Le semenjak kecil.

Dengan hati berdebar Bi Lan mendengarkan pembukaan rahasia ini dan diam-diam ia merasa girang luar biasa karena cucu dari Tan Seng yang dianggap sebagai kakeknya sendiri itu ternyata masih hidup dan tanpa disangka sangka ternyata adalah suhengnya sendiri!

"Kepandaiannya tentu hebat, bukan, suhu?"

Tanyanya kepada Te Lo-mo. Akan tetapi dengan muka sungguh-sungguh, Thian Te Siang mo menggelengkan kepala.

"Kau akan menang menghadapi dia. Kami sengaja menciptakan Ilmu Silat Thin-te kun-hoat dan ilmu ini belum kami ajarkan kepadanya. Oleh karena anak itu mengecewakan hati kami, maka sekarang kau harus berjanji untuk memberi hajaran kepadanya kalau kau kelak bertemu dengan dia!"

"Bagaimana kalau teecu kalah!"

Tanya Bi Lan.

"Tak mungkin, kau takkan kalah? Berjanjilah."

"Teecu berjanji untuk bertanding dengan dia,"

Kata Bi Lan sungguh-sungguh, bukan terdorong oleh benci dan hendak membalaskan sakit hati kedua gurunya ini, melainkan terdorong oleh keinginan tahunya sampai di mana kepandaian pemuda yang menjadi suhengnya dan juga menjadi cucu dari Tan Seng itu.

Setelah yakin betul kepandaian gadis itu sudah sempurna dan semua ilmu telah mereka turunkan kepada murid ini, Thian Te Siang mo lalu memberi kesempatan kepada Bi Lan untuk memisahkan diri dan melakukan perjalanan seorang diri.

Gadis ini menjatuhkan diri berlutut, di depan kedua orang gurunya, menghaturkan terima kasih atas semua pimpinan dan pelajaran yang diterimanya selama itu.

Kemudian Bi Lan lalu melakukan perjalanan cepat.

Tempat pertama-tama yang ditujunya adalah Hoa san, karena ia ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan Tan Seng kakeknya untuk menceritakan tentang Ciang Le!

Juga anak ini tidak mempunyai keluarga lain kecuali Tan Seng yang dianggap sebagai kakeknya sendiri, maka orang pertama yang dirindukan adalah Tan Seng dan saudara-saudara seperguruannya seperti Lie Bu Tek, Gan Hok Seng, Thio Ling In dan tokoh-tokoh Hoa-san-pai seperti Liang Gi Cinjin, Liang Tek Sianseng dan Liang Bi Suthai.

Dengan hati ringan dan gembira Bi Lan berlari-lari mendaki Bukti Hoa san, tempat di mana ia tinggal semenjak kecil.

Betapa hatinya takkan girang?

Kepandaiannya telah maju dengan pesat sekali, terbukti dari cara ia mendaki gunung dan meloncati jurang jurang yang menghadang perjalanannya.

Ginkangnya telah menjadi berlipat ganda lebih maju daripada dahulu.

Dan selain ini, ia akan bertemu dengan orang-orang yang dicintanya, membawa berita menggembirakan tentang Ciang Le kepada Tan Seng.

Akan tetapi setelah ia tiba di puncak Bukit Hoa san tiba-tiba mukanya menjadi pucat dan dadanya berdebar.

Ia berdiri bagaikan patung memandang ke arah tempat di mana dahulu berdiri bangunan yang kini telah menjadi abu dan melihat kayu kayu yang masih hangus itu agaknya baru beberapa hari saja tempat itu dimakan api!

Tak seorangpun kelihatan berada di tempat itu.

Suasana amat sunyi dan menyeramkan dan Bi Lan merasa seakan-akan ada sesuatu yang hebat telah terjadi di tempat itu.

Suasananya demikian sunyi dan menyedihkan.

"Apakah yang telah terjadi?"

Katanya perlahan dan ia lalu berlari-lari mengelilingi tempat itu, mencari-cari, akan tetapi tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menjelaskan kepadanya tentang arti semua ini.

Bi Lan benar-benar menjadi bingung sekali.

Kepada siapa harus bertanya?

Di sekitar tempat ini tidak ada dusun, hanya di lereng gunung sebelah bawah terdapat dusun dusun kecil.

Tidak ada lain jalan baginya, setelah sekali lagi memeriksa tumpukan puing tanpa mendapatkan sesuatu tanda, ia lalu turun dari puncak, menuju ke kelompok dusun yang berada di lereng bukit.

Tiba-tiba ia melihat bayangan orang berlari di sebelah depan.

Bi Lan mempercepat larinya dan sebentar saja ia dapat menyusul orang itu.

"Gan suheng...!"

Serunya girang Orang itu terkejut dan berhenti berlari lalu menoleh.

Benar saja, dia adalah Gan Hok Seng.

Ketika melihat Bi Lan, tiba-tiba Gan Hok Seng lalu menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis sedih!

"Suheng, apa"

Apakah yang telah terjadi"?"

Tanya Bi Lan dengan hati makin tidak enak. Akhirnya Gan Hok Seng dapat juga menegangkan hatinya, lalu ia memandang sumoinya dengan mata merah dan muka suram.

"Ah, sumoi"

Banyak macam malapetaka terjadi semenjak kau pergi dibawa oleh Coa ong Sin kai,"

Kata Hui houw Gan Hok Seng, Si Macan Terbang itu kepada sumoinya sambil menarik napas panjang.

"Malapetaka apakah, suheng? Lekas kau ceritakan padaku!"

Bi Lan mendesak tak sabar lagi.

"Baru saja tiga hari yang lalu, Hoa-san-pai diserbu oleh Sam Thai Koksu dan guru-guru kita telah ditawan dan tempat kita dibakar habis."

Bukan main terkejutnya hati Bi Lan mendengar warta ini juga ia merasa marah sekali.

"Mengapa...? Apa sebabnya Sam Thai Koksu dari negeri Kin memusuhi guru-guru kita?"

"Entahlah, sumoi. Aku kebetulan sekali sedang menuju ke Hoa san ketika aku bertemu dengan mereka di tengah jalan. Tentu saja aku terkejut sekali melihat rombongan Sam Thai Koksu yang membawa empat orang guru kita di tengah-tengah mereka sebagai orang-orang tahanan. Akan tetapi apakah dayaku menghadapi mereka? Aku cepat lari ke sini untuk melihat keadaan dan ternyata tempat tinggal suhu sekalian telah dibakar habis."

"Siapa saja yang berada dengan Sam Thai Koksu?"

Tanya Bi Lan dengan wajah beringas. Dan kemanakah mereka membawa-suhu sekalian?"

"Aku melihat Sam Thai Koksu dan seorang-tua berkepala botak yang nampakaya lemah akan tetapi yang selalu mereka hormati, kemudian aku melihat pula Bu It Hosiang dari Go-bi-pai dan mereka ini masih diikuti pula oleh beberapa orang perwira Kerajaan Kin dan diantar oleh pembesar Sung setempat."

"Hm, kalau begitu tentu orang-orang Go-bi-pai yang menghasut dan sengaja minta bantuan Sam Thai Koksu untuk membalas dendam kepada fihak kita! Dan aku dapat menduga kemana suhu-suhu kita dibawa, tentu ke kota Cin-an, sarang dari Enghiong Hwee bentukan Sam Thai Koksu! Suheng, dalam perjalananku ke sini, aku telah mendengar bahwa pemerintah Kin telah mengumpulkan orang-orang berkepandaian tinggi dengan maksud menggempur semua patriot yang sedang berjuang hendak membebaskan Tiongkok Utara dari cengkeraman pemerintah Kin Sekarang pemerintah Kin telah memperlihatkan kekejaman terhadap Hoa-san-pai maka kita tidak boleh tinggal diam saja. Aku sendiri akan mengejar ke Cin-an, berusaha menolong guru-guru kita. Sedangkan kau lebih baik mencari Lie Bu Tek suheng dan Thio Ling In suci untuk diajak bersama-sama dengan para hohan, menggempur pemerintah Kin demi nusa dan bangsa kita!"

Akan tetapi, mendengar disebutnya Lie Bu Tek dan Thio Ling In, Hok Seng kelihatan makin sedih.

"Kau tidak tahu, sumoi. Diantara Lie suheng dan Thio suci, juga telah terjadi hal yang hebat dan amat menggelisahkan hati."

"Apa pula terjadi pada mereka?"

"Thio suci sudah menikah..."

"Itu baik sekali!"

Kata Bi Lan girang.

"Mengapa hal yang baik itu suheng sebut menggelisahkan hati?"

"Nanti dulu, sumoi, dengar dulu penuturanku. Thio suci bukan menikah kepada Lie suheng sebagaimana yang kita semua duga dan harapkan, melainkan kepada Pangeran Wan Yen Kan dari Kerajaan Kin!"

"Apa...??"

Bi Lan benar-benar tercengang dan terkejut mendengar berita yang tak pernah disangka sangkanya itu.

"Kau tentu sudah dapat membayangkan betapa hancur hati Lie suheng."

Hok Seng melanjutkan.

"Aku sudah bertemu dengan dia dan keadaannya amat menyedihkan. Tidak saja ia patah hati karena cinta kasihnya kepada Thio suci dihancurkan orang, juga ia merasa sengsara hati karena Thio suci justeru memilih suami seorang pangeran Bangsa Kin! Lie suheng di hadapanku bersumpah untuk mencari dan membunuh Pangeran Wan Yen Kan itu, bukan hanya disebabkan karena telah merebut Thio Suci, akan tetapi juga ia menganggap pangeran itu sebagai musuh rakyat dan patut dibinasakan. Ah, sumoi, benar-benar banyak hal yang menyedihkan telah terjadi dan sekarang dengan tertawannya guru-guru kita, apakah yang dapat kita lakukan? Bagaimana kita dapat menghadapi kekuasaan dan pengaruh pemerintah Kin yang dibantu oleh orang-orang pandai?"

"Suheng, dalam keadaan seperti sekarang ini, tiada gunanya berkeluh kesah. Paling baik kita berdaya upaya dengan segala tenaga yang ada pada kita. kau jangan khawatir, tentang guru-guru kita, biarlah aku yang akan membebaskan mereka dari tangan Sam Thai Koksu. Adapun kau sendiri, lebih baik kau mengumpulkan kawan-kawan dan kalau mungkin juga Lie suheng, untuk menggabungkan diri dengan pasukan pasukau gerilya dan rakyat yang sudah lama bergerak di bawah tanah menghadapi tentara tentara Kin penindas rakyat jelata."

Mendengar kata-kata Bi Lan, terbangun pula semangat Hok Seng dan ia mengangkat dadanya.

"Kata-katamu benar, sumoi! Kita sebagai murid-murid Hoa-san-pai, harus memperlihatkan kegagahan kita. Bagaimana dengan keadaanmu sendiri, sumoi? Aku masih belum mendengar tentang pengalamanmu dibawa oleh Coa ong Sin kai dahulu itu. Tentu kau telah mengalami hal yang hebat, sumoi."

"Gan suheng, sekarang bukan waktunya bagi kita untuk bercakap-cakap panjang lebar, oleh karena itu cukup kiranya kau ketahui bahwa aku telah menjadi murid Coa ong Sin kai untuk beberapa lama, kemudian akupun menjadi murid dari jiwi suhu Thian Te Siang mo. Nah, biarlah aku segera menyusul Sam Thai Koksu, takut kalau kalau guru-guru kita akan menghadapi bahaya!"

Setelah berkata demikian sekali berkelebat saja Bi Lan telah lenyap dari hadapan suhengnya! Gan Hok Seng berdiri bengong saking heran dan kagumnya.

"Aduh, sumoi yang dulu juga telah memiliki kepandaian paling lihai diantara anak murid Hoa-san-pai, sekarang telah memiliki kepandaian yang agaknya tidak di bawah kepandaian guru-guru Hoa-san-pai!"

Pikirnya dengan hati girang dan kagum.

Pengertian bahwa sumoinya memiliki kepandaian yang amat tinggi ini menambah semangatnya dan ia lalu turun dari Hoa-san-pai mengambil keputusan untuk sementara waktu, membubarkan perusahaan piauw kioknya (ekspedisi) dan membawa kawan-kawannya menggabungkan diri dengan para gerilyawan rakyat.

*** Sebelum kita mengikuti perjalanan Bi Lan dara perkasa itu, baiklah kita menjenguk dulu peristiwa pada tiga hari yang lalu, yang terjadi di puncak Hoa-san-pai.

Setelah mengalami kekalahan dan bersama Lu siang Siucai dirobohkan oleh Coa ong Sin kai di padang pasir, Liang Lek Sianseng yang menjadi girang sekali melihat Bi Lan telah menjadi murid Thian Te Siang mo, lalu cepat-cepat pulang ke Hoa san.

Ia disambut oleh saudara-saudaranya dan bukan main girang hati mereka, terutama sekali Tan Seng, ketika mendengar bahwa Bi Lan masih selamat, bahkan menjadi murid guru-guru yang pandai.

Akan tetapi, di samping kegirangan ini, mereka juga merasa gelisah dan marah mendengar bahwa pemerintah Kin dibantu oleh orang-orang yang sakti dan bahkan Ba Mau Hoatsu dan Pak Hong Siansu dari Tibet juga diundang oleh pemerintah Kin untuk membantu.

"Kita tidak boleh tinggal diam saja,"

Kata Tan Seng.

"Sudah terang pemerintah Kin memeras rakyat menghisap habis kekayaan bumi kita dan sekarang mereka bahkan hendak membasmi para patriot kita. Bagaimana kita bisa tinggal diam saja! Kita harus kumpulkan kawan-kawan sehaluan dan membantu pergerakan para gerilyawan, mengusir penjajah itu dari tanah air kita!"

Saudara-saudaranya, baik yang berwatak sabar dan tenang seperti Lang Gi Cinjin maupun yang berwatak keras seperti Liang Bi Suthai, ketika mendengar kata-kata ini serentak terbangun semangatnya dan mereka seakan-akan kembali menjadi muda lagi dan perasaan cinta tanah air timbul di dalam dada masing-masing.

Akan tetapi, sebelum empat orang tokoh Hoa-san-pai ini meninggalkan gunung untuk ikut berjuang melawan penjajah Kin yang menindas rakyat dan bangsa mereka, dari bawah gunung naik serombongan orang yang sama sekali tak pernah mereka sangka akan datang di tempat itu.

Rombongan ini bukan lain adalah Pak Hong Siansu yang datang bersama Sam Thai Koksu, Bu It Hosiang dan lain lain perwira Kin sebagaimana telah diceritakan oleh Gan Hok Seng kepada Bi Lan karena pemuda murid Hoa-san-pai ini melihat mereka di tengah jalan.

Semenjak Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo mengacau pertemuan di taman kota Cin-an, Bu It Hosiang menjadi makin sakit hati terhadap Hoa-san-pai.

Ia diam-diam mengadakan persekutuan dengan Sam Thai Koksu dan menjanjikan tenaganya dan tenaga semua kawan-kawannya di Go-bi-san untuk membantu pemerintah Kin apabila Sam Thai Koksu suka pula membantunya untuk membalaskan sakit hatinya terhadap Hoa-san-pai!

Oleh karena itulah, maka pada hari itu Bu It Hosiang dengan bantuan Sam Thai Koksu, bahkan dengan bantuan Pak Hong Siansu naik ke Hoa-san-pai dengan maksud hendak membalas dendamnya!

Dapat dibayangkan betapa heran dan juga kagetnya empat orang tokoh Hoa-san-pai itu ketika melihat siapa adanya rombongan orang yang naik ke Hoa san!

Akan tetapi dengan tenang dan sama sekali tidak merasa jerih, mereka keluar menyambut.

Liang Gi Cinjin mengenal baik siapa adanya Sam Thai Koksu, akan tetapi ia tidak mengenal kakek botak yang kelihatannya lemah itu.

Ia lalu memimpin adik adiknya menyambut mereka dan menjura kepada Sam Thai Koksu tanpa memperdulikan Bu It Hosiang.

"Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa Hoa san yang buruk mendapat kunjungan Sam Thai Koksu dari Negeri Kin,"

Kata Liang Gi Cinjin.

"Tidak tahu ada kepentingan yang manakah sehingga Sam wi sampai memerlukan datang ke sini?"

Sebelum Sam Thai Koksu menjawab, Bu It Hosiang dengan sikap galak karena merasa mendapat bantuan orang-orang pandai, melangkah maju dan menudingkan telunjuknya sambil berkata.

"Kalian ini orang-orang Hoa-san-pai benar-benar jahat! Beberapa kali anak muridmu mengacau, bahkan mengandalkan bantuan orang-orang jahat seperti Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo untuk mencelakakan orang lain. Sungguh tidak memandang mata kepada orang-orang gagah sedunia. Kami orang-orang dari Go-bi-pai sudah seringkali menerima hinaanmu maka sekarang kami datang, kamu masih bertanya lagi ada kepentingan apa? Sungguh tidak kenal malu, hendak menutupi kesahihan dengan omongan manis!"

Tentu saja tokoh-tokoh Hoa-san-pai menjadi marah mendengar omongan ini, kalau Liang Gi Cinjin masih dapat bersikap sabar, adalah Liang Bi Suthai yang terkenal berwatak keras, menudingkan jarinya ke muka Hwesio dari Go-bi-pai itu sambil membentak.

"Bangsat gundul! kau yang berwatak sombong dan mencari perkara, sekarang kau datang hendak mengoceh tidak karuan! Hm, agaknya kau datang untuk membalas kekalahanmu, akan tetapi kini kau mengandalkan bantuan bantuan orang gagah dan dengan lidahmu yang beracun itu kau agaknya berhasil pula menggerakkan hati orang-orang seperti Sam Thai Koksu ini untuk menyerbu kami!"

Mendengar ini, Sam Thai Koksu menjadi merah mukanya. Kim Liong Hoat ong lalu berkata dengan suara keren.

"Liang Bi Suthai, harap kau jangan bicara sembarangan saja! Kami bukan sekali kali datang hanya karena hendak membantu Bu It Losuhu. Ketahuilah bahwa seorang anak muridmu yang bernama Bi Lan pernah mengacau di kota Cin-an dan mengandalkan bantuan Coa ong Sin kai, dia telah mendatangkan banyak kerusakan dan kematian. Oleh karena ini, kami anggap semua itu adalah tanggung jawab kalian dan sekarang, harap kalian berempat menurut saja kami bawa ke Cin-an sebagai tawanan. Kami tahu bahwa kalian berempat bermaksud memberontak kepada pemerintah kami terbukti dari perbuatan anak muridmu itu!" (Lanjut ke

Jilid 11) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "

Jilid 11 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo

Jilid 11 Tan Seng tertawa bergelak mendengar ini.

"Jadi kalian ini, Sam Thai Koksu dari Kerajaan Kin, hendak menangkap kami atas tuduhan memberontak? Ha, ha, benar-benar lucu sekali! Kami adalah orang-orang Han aseli, penduduk Tiongkok sejak ribuan tahun yang lalu, keturunan nenek moyang kami yang selamanya menjadi penduduk pribumi, sekarang kalian cap sebagai pemberontak? Eh, Sam Thai Koksu, dengarlah baik-baik. Tahukah kalian mengapa rakyat Tiongkok memberontak terhadap pemerintahaamu? Karena orang-orang bangsamu yang memegang pemerintahan, adalah orang-orang picik seperti kalian pula, yang dengan bodoh sekali dapat dihasut oleh orang-orang macam Bu lt Hosiang, mempergunakan kedudukan dan kepandaian untuk memeras rakyat jelata, demi kesenangan dan kebesaran serta kemuliaan diri sendiri"

"Tutup mulutmu!"

Bentak Tiat Liong Hoat ong, orang termuda dari Sam Thai Koksu.

"Mengapa kami harus menutup mulut?"

Liang Bi Suthai balas membentak.

"Kami berada di tempat sendiri. Kami adalah tuan rumah dan kalian adalah tamu, tamu-tamu yang tidak mengenal aturan. Kalian hendak menawan kami? Silakan kalau kalian sanggup!"

Ini merupakan tantangan hebat dan dengan marah sekali Tiat Liong Hoat ong lalu menerjang maju setelah mencabut goloknya yang lebar dan tajam.

Liang Bi Suthai berlaku waspada dan cepat mengelak dan mencabut keluar pedangnya yang tipis pendek.

Nenek tua yang lihai dari Hoa-san-pai ini maklum akan kelihaian lawan, namun ia tidak takut sama sekali dan dengan gemas membalas serangan lawan.

Sebentar saja sinar pedang dan golok berkelebatan dan tubuh mereka terbungkus oleh gulungan sinar senjata.

Bu It Hosiang mengeluarkan suara geraman seperti harimau dan Hwesio ini lalu menggerakkan tongkatnya menyerang Tan Seng yang segera menghadapinya sambil menggerak gerakkan kedua ujung lengan bajunya yang panjang.

Memang untuk menghadapi serangan tongkat lawan, senjata yang berupa ujung legan baju kanan kiri merupakan senjata yang amat baik, karena selain ujung lengan baju ini dapat dipergunakan untuk menyampok ujung tongkat, juga dapat dipergunakan untuk melihat dan merampas tongkat lawan.

Akan tetapi tentu saja dibutuhkan pengalaman, kepandaian, dan tenaga untuk dapat mainkan kedua ujung lengan baju dengan baik.

Adapun Bu It Hosiang adalah seorang tokoh Go-bi-pai yang sudah tinggi ilmu silatnya, maka pertempuran itu berjalan seru sekali, tidak kalah ramainya dengan pertempuran yang berjalan antara Liang Bi Suthai melawan Tiat Liong Hoat ong.

Kim Liong Hoat ong dan Gin Liong Hoat ong tidak mau tinggal diam dan keduanya lalu melompat maju disambut oleh Liang Gi Cinjin din Liang Tek Sianseng.

Seperti juga Tan Seng, Liang Gi Cinjin hanya mempergunakan kedua ujung lengan bajunya, adapun Liang Tek Sian seng telah mengeluarkan sepasang pit bulunya yang digerakkan secara lihai, menghadapi serbuan Gin Liong Hoat Ong yang memegang sepasang ruyung warna hijau.

Hebat sekali adalah gerakan Kim Liong Hoat Ong yang bersenjatakan sebatang rantai baja yang besar dan berat.

Liang Gi Cinjin yang kepandaiannya paling lihai diantara saudara-saudaranya, harus mengerahkan ginkangnya untuk menghadapi rantai baja ini.

Sebetulnya, tingkat kepandaian Sam Thai koksu masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian tokoh-tokoh Hoa-san-pai, namun karena pada saat itu para tokoh Hoa-san-pai maklum akan kelihaian lawan, mereka melawan mati-matian dan bersemangat sehingga pertandingan berjalan seru sekali.

Biarpun fihaknya takkan mengalami kekalahan, namun melihat jalannya pertandingan demikian lama, Pak Hong Siansu tidak sabar lagi.

Tiba-tiba tubuhnya berkelebat luar biasa cepatnya memasuki gelanggang pertempuran dan berturut turut Tan Seng, Liang Tek Sianseng, dan Liang Gi Ciijin roboh terkena totokannya.

Bukan main lihainya tokoh besar Tibet ini, yang dengan sekali serang saja sudah berhasil merobohkan tiga tokoh Hoa-san-pai!

Akan tetapi, karena Liang Bi Suthai seorang wanita, ia merasa malu untuk menyentuh tubuh nenek ini dan ia hanya mengerahkan pikulannya dari jarak jauh Namun demikian, ketika sambaran hawa pukulan itu menyerang Liang Bi Suthai, nenek ini terhuyung kebelakang dan saat itu dipergunakan oleh Tiat Liong Hoat ong untuk menyerang dengan goloknya secara hebat sekali!

Tubuh Liang Bi Suthai sudah terhuyung dan kedudukannya amat lemah, maka menghadapi serangan golok ini, ia terkejut sekali dan cepat, menjatuhkan tubuhnya ke belakang agar jangan sampai "Termakan"

Oleh golok lawan.

Akan tetapi, Tiat Liong Hoat ong tidak mau memberi hati lagi dan ketika kaki kanannya menendang.

Liang Bi Suthai terlampir dan menderita patah tulang iganya!

Namun, dasar seorang yang berkepangan tinggi, ia masih dapat meloncat berdiri dengan muka pucat dan ketika Tiat Liong Hoat ong menotoknya, Ia tidak berdaya lagi dan tertawan seperti juga tiga orang saudaranya.

Demikianlah, empat orang tokoh Hoa-san-pai ini tertawan dan digiring menuju ke Cin-an oleh Pak Hong Siansu dan kawan-kawannya.

Mereka tidak berdaya untuk melawan lagi karena mereka berada dalam keadaan tertotok dan tidak dapat menggerakkan kedua tangannya.

Lebih lebih Liang Bi Suthai, yang telah menderita luka dan tidak terawat, keadaannya amat sengsara sehingga tiga orang saudaranya yang melihat keadaan nenek ini menjadi kasihan dan terharu sekali.

Dengan nafsu marah meluap luap, Bi Lan melakukan perjalanan cepat sekali dan pada suatu hari sampailah ia di kota Taigoan.

Karena hari sudah malam, ia lalu bermalam di sebuah hotel besar dan menyewa sebuah kamar cukup bersih.

Ia bermaksud untuk melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya pagi-pagi, akan tetapi keinginannya ini gagal karena tak tersangka sangka ia menghadapi perkara besar.

Ketika ia memasuki hotel, ia melihat tujuh orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan nampaknya galak tengah duduk menghadapi meja di ruang tengah.

Mereka ini terang sekali adalah orang-orang kang ouw yang kasar, karena begitu mereka melihat Bi Lan, tujuh orang itu menghentikan percakapan dan memandang kepada Bi Lan dengan mata kurang ajar sekali.

Namun Bi Lan biarpun merasa amat mendongkol tidak mau memperdulikan mereka dan memasuki kamarnya.

Akan tetapi sebelum ia menutup pintu ia mendengar percakapan mereka tanpa disengaja dan alangkah kagetnya ketika ia mendengar seorang diantara mereka menyebut nyebut nama Lie Bu Tek!

"Lebih dulu kita singkirkan Lie Bu Tek itu, baru kita menggunakan kekerasan terhadap Hek kin kaipang!"

Kata orang berbaju kotak-kotak dengan lagak sombong.

Agaknya dia yang menjadi kepalanya, karena Bi Lan mendengar orang-orang yang lain membenarkan kata-kata ini.

Malam itu Bi Lan tak dapat tidur.

Ia berlaku waspada dan memasang telinga baik-baik, siap untuk mengikuti tujuh orang yang mengancam hendak menyingkirkan suhengnya itu.

Akan tetapi tujuh orang yang menyewa kamar kamar besar di bagian belakang, malam itu tidak keluar dan terpaksa Bi Lan menanti saja di dalam kamarnya dan akhirnya tertidur.

Ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan perkara ini lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanannya, ia tidak tahu entah di mana adanya Lie Bu Tek yang diancam oleh tujuh orang kasar itu, akan tetapi ia hendak mengikuti mereka.

Demikianlah pada keesokan harinya ketika pagi-pagi rombongan dari tujuh orang itu keluar dari hotel, diam-diam Bi Lan mengikuti mereka.

Tujuh orang itu kembali memandang kepadanya dengan sikap menjemukan sekali, akan tetapi oleh karena Bi Lan ingin mengikuti mereka, gadis mi menahan sabarnya.

Ia pikir belum waktunya turun-tangan karena ia ingin tahu lebih dulu kemana tujuh orang itu hendak pergi mencari Lie Bu Tek.

Ternyata bahwa orang-orang itu pergi menuju ke persimpangan jalan lalu membelok ke kiri.

Mereka berhenti di depan sebuah rumah dan berdiri di depan pintu rumah itu dengan sikap ugal ugalan.

"Hek kin kai Pangcu (ketua Perkumpulan Sabuk Hitam)! Suruh bangsat Lie Bu Tek keluar untuk mengadu kepandaian dengan kami kalau memang kau anggap dia lebih jantan!"

Seru orang yang berpakaian baju kotak-kotak sambil menggerak gerakkan sepasang ruyungnya dengan lagak jagoan.

Bi Lan menjadi heran sekali.

Apakah mungkin Lie Bu Tek suhengnya itu berada di dalam rumah ini?

Mengapa suhengnya berada di dalam rumah perkumpulan pengemis?

Untuk memuaskan keinginan tahunya kenapa sampai lama dari rumah itu tidak terdengar jawaban, diam-diam Bi Lan, lalu mempergunakan kepandaiannya, meloncat dari belakang tembok rumah dan terus naik ke atas genteng.

Gerakannya demikian ringan dan lincah laksana seekor burung walet saja sehingga tidak di ketahui oleh lain orang, baik oleh tujuh orang yang sedang petentang-petenteng di depan pintu maupun oleh penghuni rumah itu.

Ketika ia membuka genteng mengintai, tiba-tiba mukanya menjadi merah sekali.

Ia melihat Lie Bu Tek yang berwajah kurus sekali sedang rebah di atas pembaringan dan di pinggir pembaringan itu duduk seorang wanita cantik dan berpakaian mewah dan bersikap genit.

Beberapa kali wanita itu menggunakan tangannya yang halus untuk membelai muka Lie Bu Tek, bahkan mengelus-elus rambut pemuda itu dan terdengar ia berkata perlahan "Kau tenanglah dan tidurlah.

Selama aku berada disampingmu orang-orang kasar itu takkan dapat mengganggumu!

tak seorangpun di dunia ini boleh merampas kau dari tanganku."

Bi Lan menjadi tertegun, terheran, mendongkol dan juga jengah sendiri.

Siapakah perempuan ini dan mengapa suhengnya rebah di situ dan dikawani oleh seorang perempuan cantik yang bersikap seakan-akan menjadi kekasihnya?

Akan tetapi untuk meloncat turun, ia merasa malu sekali, maka kini Bi Lan hendak menumpahkan kemendongkolan hatinya kepada orang-orang kasar yang mengancam Lie Bu Tek.

Ia maklum bahwa keadaan Lie Bu Tek demikian lemah seperti orang sakit maka tak mungkin dapat melawan orang-orang itu.

Ia hendak membereskan orang-orang, itu lebih dulu, baru kemudian ia hendak menyelidiki ke dalam untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya dari suhengnya yang amat mencurigakan hatinya itu.

Dengan beberapa lompatan saja Bi Lan sudah berada di atas genteng halaman depan dan tubuhnya lalu melayang turun ke bawah menghadapi tujuh orang itu.

Tentu saja tujuh erang itu menjadi terkejut sekali ketika mengenal Bi Lan.

Tadinya mereka mengira bahwa Hek kin kai Pangcu sendiri yang akan keluar menyambut mereka, tidak tahunya yang datang adalah gadis yang sehotel dengan mereka dan yang kecantikannya membuat mereka tertarik sekali.

"Eh, nona manis! Siapakah kau? Apakah kau kawan dari Hek kin kai Pangcu yang sengaja menyuruhmu memata-matai kami?"

Tanya orang yang berbaju kotak-kotak sambil menyeringai dan memandang dengan mata kurang ajar.

"Eh, Gak twako, bunga ini berikan kepadaku. Bukankah twako sudah punya bunga dari Hek kin kaipang?"

Tiba-tiba seorang yang memegang golok berkata. Orang ini berbaju hitam dan tubuhnya tinggi besar dengan muka seperti seekor lutung. Ia cengar cengir dan mendekati Bi Lan, lalu berkata.

"Nona manis, kalau kami sudah membikin mampus bangsat Lie Bu Tek itu dan Gak twako menikah dengan nona Kiang Cun Eng kau pun menikah dengan aku! Aku masih bujang dan di seluruh Taigoan tidak ada yang tidak mengenal Kwa Swan si golok sakti! Ha-ha-ha!"

Akan tetapi, ketawanya terhenti sampai di situ ketika tiba-tiba Bi Lan menggerakkan tubuhnya.

Dengan kecepatan yang luar biasa sekali sehingga tidak terlihat oleh lawannya, Bi Lan menggunakan kedua tangannya dengan berbareng.

Tangan kanan merampas golok dan tangan kiri menggaplok muka orang.

Kwa Swan menjerit-jerit seperti babi di sembelih.

Hidungnya berdarah dan pecah terkena gamparan tangan kiri Bi Lan sedangkan goloknya kena dirampas oleh gadis itu!

Selagi ia mengaduh-aduh, kaki kiri Bi Lan bergerak menendang dan bagaikan sebutir pelor, tubuh orang she Kwa ini mencelat sampai tiga tombak jauhnya dan ia roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi karena ia telah menjadi pingsan!

Sebelum menuturkan keadaan Bi Lan lebih jauh, baiklah kita mundur dulu dan melihat bagaimana Lie Bu Tek bisa berada di tempat itu dan siapa adanya rombongan tujuh orang yang mengancamnya ini.

Seperti pernah dituturkan di bagian depan dengan hati patah dan amat berduka, Lie But Tek meninggalkan Ling In dengan maksud hendak mencari Wan Yen Kan.

Kemudian, bukannya berhasil membunuh Wan Yen Kan, bahkan ia terkalahkan oleh Giok Seng Cu dan hampir saja ia tertawan kalau tidak tertolong oleh bayangan aneh yang kita ketahui adalah Ciang Lee.

Makin kecewalah hatinya dan ia merantau dengan hati patah dan keadaan amat sengsara.

Akhirnya ia tiba di kota Taigoan dalam keadaan payah karena hatinnya yang tertindih serta makannya yang amat tidak terjaga itu membuat ia jatuh sakit.

Namun kegagahannya masih tetap tidak lenyap.

Di kota ini, ketika ia sedang berjalan dengan muka pucat, kurus, dan mata sayu, ia melihat seorang pengemis tua diseret seret oleh dua orang pengemis muda.

Jiwa kesatria di dalam tubuhnya menuntut melihat perlakuan tidak adil dari dua orang pengemis muda ini, maka biarpun tubuhnya amat lemah dan kepalanya pening, Lie Bu Tek melompat maju dan sekali ia menerkam, ia telah berhasil mencengkeram leher dua orang pengemis muda itu yang segera dilontarkan sehingga dua orang itu jatuh tunggang langgang!

"Congsu (orang gagah), jangan ikut campur urusan kami!"

Pengemis tua itu berseru kepadanya sehingga Bu Tek berdiri tertegun.

Bagaimana ada orang ditolong bahkan menegurnya?

Sementara itu, tiba-tiba ia telah dikerumuni oleh banyak orang pengemis dan baru sekarang Bu Tek mendapat kenyataan bahwa semua orang pengemis itu memakai ikat pinggang hitam yang sama!

Diantara para pengemis ini, muncul seorang kakek bongkok yang memegang sebatang tongkat hitam.

Dengan muka menyeringai, kakek ini menudingkan tongkatnya kepada Bu Tek lalu memaki.

"Orang muda yang lancang dari manakah berani mencampuri urusan dalam perserikatan kami Hek kin kaipang? Ketahuilah bahwa setelah aku Beng san kui berada di sini, kau takkan kuberi ampun sebelum kau berlutut dan minta ampun sambil membayar denda seratus tail perak!"

Lie Bu Tek adalah seorang pemuda perantau yang sudah banyak pengalamannya, maklum akan keanehan orang-orang kang ouw dan kini mendengar sebutan Hek kin kaipang diam-diam ia terkejut sekali karena nama ini adalah nama perkumpulan pengemis yang amat berpengaruh.

Ia cepat menjura tanda hormat, lalu berkata.

"Maaf, Lo-Enghiong Siauwte Lie Bu tek dai Hoa-san-pai tidak tahu bahwa siauwte berhadapan dengan para orang gagah dari Hek kin kaipang. Tadi siauwte melihat seorang pengemis tua diseret seret oleh dua orang muda, maka karena kasihan, tanpa menyelidiki lebih dulu telah turun-tangan, harap dimaafkan."

Beng san kui tertawa bergelak dengan suara besar, jauh berbeda dengan potongan tubuhnya yang kecil bongkok.

"Ha, ha-ha! Bocah Hoa-san-pai berani main gila. kau tidak tahu bahwa pengemisitu adalah anggota kami yang melanggar dan melakukan pencurian makanan, karenanya harus dihukuum. Sekarang kau telah berlaku lancang, hayo lekas berlutut dan keluarkan uang denda itu!"

Mendengar ini, panaslah hati Lie Bu Tek. Ia memang sedang berduka dan hatinya, penuh dendam penasaran, sekarang ada orang menghinanya, tentu saja ia menjadi marah.

"Beng san kui, kau sombong sekali! Apakah kau tidak mau memandang muka orang lain dan mengingat hubungan orang-orang tang ouw? Aku sudah minta maaf, akan tetapi siapa sudi berlutut dan membayar denda?"

"Kalau begitu, kau harus merasakan kerasnya tongkatku!"

Kata Beng san kui yang segera menyerang dengan tongkat hitamnya.

Bu Tek terkejut sekali dan cepat ia menggerakkan tubuhnya mengelak lalu membalas serangan lawan.

Akan tetapi, ternyata kakek pengemis yang bertubuh kecil itu gesit sekali dan sebentar saja Bu Tek yang sudah amat lelah dan pening itu terdesak hebat.

Akhirnya, tak dapat tertangkis lagi pundaknya terpukul tongkat dan terasa amat sakit.

Kini Bu Tek menjadi mata gelap dan dicabutnya pedangnya, lalu ia mengamuk, namun tongkat di tangan Beng san kui benar-benar lihai dan dalam jurus ke tiga puluh, sebuah dorongan tongkat mengenai dada kanan pemuda itu yang segera terguling roboh dan pingsan!

Kalau sekiranya tubuh Bu Tek tidak demikian lemah, belum tentu Beng san kui akan dapat merobohkannya dengan mudah, biarpun sebetulnya tingkat ilmu silat si kate ini memang masih lebih tinggi daripada kepandaian Bu Tek.

Beramai-ramai tubuh Lie Bu Tek diangkat oleh para pengemis dan dibawa ke rumah perkumpulan mereka untuk melaporkan hal pemuda itu kepada ketua mereka, yaitu nona Kiang Cun Eng yang sudah lama kita kenal.

Nona ini adalah ketua Hek kin kaipang yang dulu tergila-gila kepada Ciang Le.

"Bunuh saja pemuda ini!"

Kata Bi Mo li, nenek pengemis seperti setan yang amat galak itu.

"Suruh dia membayar denda seribu tail perak!"

Kata Siang tung him, kakek tampan yang buntung kaki kirinya.

Seperti telah kita ketahui, Kiang Cun Eng mempunyai tiga orang pembantu yang lihai, yaitu kakek pendek bongkok Beng san kui (Setan Gunung Sakti), nenek jembel bermuka setan Bi Mo li (Setan Perempuan Cantik), dan kakek berkaki sebelah Siang tung him (Biruang Tongkat Dua).

Akan tetapi, begitu melihat Lie Bu Tek, hati Kiang Cun Eng amat tertarik, apalagi ketika mendengar bahwa pemuda ini adalah murid dari Hoa-san-pai.

Semenjak gagal menarik perhatian Ciang Le, nona ini merasa amat kecewa dan berduka.

Memang tidak sukar baginya untuk mencari jodoh karena banyak laki-laki yang tergila-gila kepada nona yang cantik, kaya dan berkepandaian tinggi ini.

Akan tetapi tak seorangpun diantara mereka berkenan di hati Kiang Cun Eng.

Mana ia mau pandang mata kepada segala pemuda biasa yang biasanya hanya berpakaian mewah dan menjual lagak!

Ia merindukan seorang suami yang gagah perkasa.

Dan Bu Tek cocok dengan bayangan pemuda yang dirindukannya.

"Dia murid Hoa-san-pai, tidak boleh diganggu. Baringkan di kamarku dan sediakan obat!"

Kata ketua ini dan tak seorangpun berani membantahnya.

Dengan amat telaten dan penuh perhatian, Kiang Cun Eng sendiri merawat Lie Bu Tek.

Hek kin kaiPangcu ini tidak mengulangi kekecewaannya seperti dulu ketika ia bertemu dengan Ciang Le.

Disamping memberi minum obat kepada Bu Tek yang selain terluka juga menderita sakit panas itu, ia memberi pula tiap hari semacam arak yang telah dicampur dengan obat pemabok.

Oleh pengaruh obat inilah maka Lie Bu Tek menjadi tak berdaya, seakan-akan berada dalam mimpi dan terjatuh ke dalam kekuasaan dan pengaruh kecantikan Kiang Cun Eng.

Pemuda ini seakan-akan tidak tahu lagi apa yang dilakukannya.

Patah hati dan kedukaan telah membuat ia kurang perduli akan kehidupannya, dan sekarang di bawah pengaruh obat pemabok, wajah Cun Eng yang cantik, sikapnya yang genit, dan kesenangan yang diberikan oleh ketua Hek kin kaipang itu kepadanya, membuat Bu Tek lupa akan segalanya.

Namun di dalam lubuk hatinya.

Bu Tek tetap merana, tetap menderita.

Hal ini terbukti dari keadaan tubuhnya yang kurus pucat, ia seakan-akan tak bersemangat lagi, bagaikan boneka hidup.

Di dalam kota Taigoan, selain adanya perkumpulan pengemis Hek kin kaipang yang berpengaruh sekali dan boleh dibilang menjadi pembantu penjaga keamanan kota, baru baru ini terbentuk pula sebuah perusahaan pengantar barang yang dikepalai oleh tujuh orang saudara seperguruan.

Perusahaan ekspedisi ini diberi nama Jit liong piauwkiok (Piauwkiok Tujuh Naga) dan setiap kali mereka mengantar dan mengawal barang, tempat barang ditancapi tujuh buah bendera kecil yang kesemuanya bergambarkan liong dalam tujuh macam warna!

Kalau diceritakan memang aneh, akan tetapi sesungguhnya betul bahwa diantara tujuh orang piauwsu ini, yang paling tinggi kepandainnya dan bahkan yang menjadi kepalanya orang termuda!

Dia ini bernama Gak Un Kiong, dan biarpun ia termuda usianya, namun saudara-saudaranya menyebutnya "Twako"

Untuk tanda menghormat!

Memang mereka ini orang-orang kasar yang tidak begitu mengindahkan kesopanan atau peraturan dan hal inipun tidak begitu aneh kalau orang mengetahui asal usul mereka.

Gak Un Kiong dan kawannya ini memang bekas perampok perampok kejam yang telah keluar dari hutan dan kini mencoba peruntungan dengan menjadi piauwsu!

Kepandaian Gak Un Kiong dan kawan-kawannya memang cukup lihai, apalagi orang she Gak ini sendiri, kepandaiannya tinggi dan tenaganya besar.

Di samping itu, enam orang saudaranya juga memiliki kepandaian tinggi, belum diingat akan hubungan hubungannya dengan dunia hitam (penjahat-penjahat), maka tentu saja ia amat berpengaruh.

Kiang Cun Eng maklum akan hal ini, namun ia melarang anak buahnya mengganggu.

Gak Un Kiong karena ia anggap bahwa biarpun mereka itu bekas perampok, akan tetapi kalau sekarang sudah bertobat dan mau menjadi penduduk baik-baik, bahkan menjadi piauwsu, mengapa harus diganggu?

Ia tahu bahwa kalau ia mengganggu piauwsu piauwsu bekas perampok itu, ia akan mengundang permusuhan hebat dengan orang-orang jahat dan hal ini amat berbahaya bagi perkumpulannya sendiri.

Pendeknya, Kian Cun Eng hanya akan turun-tangan kalau benar-benar terbukti orang melakukan kejahatan.

Ketika Gak Un Kiong melihat Cun Eng pada suatu hari, jatuhlah hatinya terhadap nona ketua ini dan serta merta ia majukan lamaran.

Akan tetapi mana gadis ini mau menerimanya?

Dengan sikap halus, ia menolak pinangan itu dengan alasan bahwa ia masih mempunyai tugas berat sebagai pemimpin Hek kin kaipang dan belum ada ingatan menikah.

Gak Un Kiong mengerti bahwa penolakan ini berdasarkan rasa tidak suka maka diam-diam ia merasa sakit hati sekali.

Namun terhadap ketua dari Hek kin kaipang, ia tidak berani mempergunakan kekerasan, ia bukan seorang bodoh dan tahu pula akan kelihaian Kiang Cun Eng yang dibantu oleh tiga orang-tua yang berkepandaian tinggi pula, maka ia menahan hatinya dan diam-diam ia berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan merintangi dengan kekerasan, hanya apabila ketua Hek kin kaipang itu akan menikah dengan orang lain.

Pendeknya, kedua fihak, baik dari Pihak Jit liong piauwkiok maupun dari fihak Hek kin kaipang saling menaruh perasaan jerih dan tidak mau membuat gara gara.

Dan akhirnya datanglah Lie Bu Tek yang kini sudah terkenal sebagai kekasih atau orang yang terpilih oleh Kiang Cun Eng.

Hal ini tentu saja membuat Gak Un Kiong marah sekali.

Kepala Jit liong piauwkiok ini merasa serba salah.

Untuk mempergunakan kekerasan sesungguhnya ia merasa agak jerih terhadap nama Hek kin kaipang.

Akan tetapi mendiamkannya saja, hatinya tidak rela mendengar nona yang dicintanya itu akan menjadi milik orang lain.

Maka ia telah berhari hari tidak kembali ke rumah dan selalu mabok mabokan dan bermalam di dalam hotel di kota Taigoan.

Akhirnya enam orang saudaranya menyusul dan di dalam hotel itu mereka berunding, lalu mengambil keputusan untuk membunuh Lie Bu Tek kemudian merampas Kiang Cun Eng dengan paksa.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, kebetulan sekali ketika mereka mengadakan pertemuan di dalam hotel, datang Bi Lan yang mendengar percakapan mereka dan gadis ini bersiap sedia menolong suhengnya yang terancam bahaya.

Demikianlah keadaan di kota Taigoan dan pengalaman pengalaman Lie Bu Tek, pemuda yang patah hati dan sengsara itu, yang kini berada dalam cengkeraman Kiang Cun Eng dan terancam oleh Gak Lu Kiong dan kawan-kawannya yang merasa sakit hati kepadanya.

Kita kembali pula kepada Bi Lan yang bagaikan seekor burung walet menyambar turun dari atas genteng dan dalam segebrakan saja telah berhasil merampas golok dari tangan Kwa Swan, seorang saudara dari Un Kiong yang menjadi marah sekali.

Kwa Swan adalah seorang saudaranya yang memiliki ilmu golok cukup lihai, namun dalam segebrakan saja telah roboh dalam keadaan pingsan oleh Bi Lan, maka tentu saja Gak Un Kiong selain menjadi marah juga amat kaget menyaksikan kehebatan sepak terjang nona muda yang cantik manis ini.

"Kawan-kawan serbu!"

Seru Gak Un Kiong sambil menggerakkan sepasang ruyungnya.

Dengan gerak tipu Ji-liong jut-tong (Sepasang Naga Keluar Dari Goa), ia menyerang Bi Lan dengan ruyungnya.

Namun Bi Lan sambil tersenyum mengejek, menggerakkan golok rampasannya dan sekaligus ia menindih ruyung kanan di tangan Gak Un Kiong dengan gerakan Yan-cu liok-sui (Burung Walet Menyambar Air).

Bukan main kaget hati Gak Un Kiong ketika ia merasa seakan-akan ruyung kanannya tertimpa oleh benda yang berat sekali sehingga saja ruyungnya itu terlepas dari pegangannya.

Akan tetapi ia lihai sekali dan ruyung kirinya yang berada di atas itu secepat kilat menimpa dari atas mengarah kepala Bi Lan!

Dara perkasa ini tidak menjadi bingung menghadapi serangan hebat ini.

Ia miringkan tubuh ke kanan dan begitu ruyung kiri lawannya lewat di samping kepalanya, goloknya, membabat diantara kedua ruyung dan langsung menyambar ke arah leher Gak Un Kiong.

Sabetan ini demikian cepat dan kuatnya sehingga menimbulkan suara angin dan membuat Gak Un Kiong menjerit kaget.

Piauwsu ini cepat melempar tubuh ke belakang dan bergulingan di atas tanah menjauhkan diri.

Keringat dingin berkumpul di dahinya karena serangan gadis itu tadi benar-benar amat berbahaya dan hampir saja lehernya terbabat putus!

Ia meloncat lagi dan kini lima orang saudaranya dan beberapa orang anak buah Jit liong piauw kiok yang sudah memburu ke tempat itu, segera maju mengeroyok Bi Lan!

Gadis ini sama sekali tidak menjadi jerih dan begitu goloknya berkelebat, robohlah beberapa orang anak buah piauw kiok itu.

Betapapun juga, Bi Lan tidak mau sembarangan membunuh orang dan goloknya hanya menerbangkan senjata-senjata lawan dan melukai tangan dan pundak mereka saja.

Gerakan Bi Lan demikian cepatnya sehingga mereka yang terluka itu sendiri tidak tahu bagaimana mereka sampai dapat dirobohkan.

Pada saat itu, dari dalam rumah perkumpulan Hek kin kaipang, meloncat keluar empat orang.

Mereka ini adalah Kiang Cun Eng dan tiga orang pembantunya yang menyeramkan, yaitu Bi Mo li, Siang tung him dan Beng san kui!

Ketika itu Gak Un Kiong sudah terluka pundaknya oleh ujung golok Bi Lan, maka ketika melihat empat orang pemimpin Hek kin kaipang ini keluar, mereka menjadi ketakutan dan tidak ada harapan untuk dapat melawan lagi.

Un Kiong bersuit keras dan kawan-kawannya segera angkat kaki sambil menyeret kawan-kawan yang terluka!

"Gak Un Kiong.

mulai saat ini kau tidak boleh terlihat di kota ini!

Kalau kami melihat kau dan kawan-kawanmu, jangan anggap kami keterlaluan kalau kami takkan memberi ampun lagi!"

Teriak Kiang Cun Eng dengan suaranya yang nyaring dan berpengaruh.

Tentu saja untuk ini Gak Un Kiong tidak perlu mendapat peringatan dua kali, karena ia sendiripun sudah tahu bahwa setelah menderita kekalahan dan pengacauan yang dilakukannya terhadap Hek kin kaipang ini, ia dan kawan-kawannya takkan mungkin tinggal di Taigoan lagi.

Maka pergilah ia bersama kawan-kawannya, kembali ke dalam hutan!

Kini Kiang Cun Eng menghadapi Bi Lan dan sepasang matanya yang bagus dan genit itu memandang tajam, penuh kekaguman.

"Adik yang gagah perkasa, kau siapakah dan mengapa kau mencampuri urusan kami?"

Tanya Cun Eng dengan suara halus dan ramah, namun mengandung nada tinggi, tanda bahwa ketua Hek kin kaipang ini tidak merasa puas karena Gak Un Kiong dan kawan-kawannya dihajar oleh orang lain.

Sebaliknya, Bi Lan memang sudah merasa jemu dan muak melihat lagak genit dari Kiang Cun Eng, apalagi kalau ia teringat akan pemandangan yang dilihatnya di dalam kamar tadi.

"Sebelum kita bicara lebih jauh, ingin aku bertanya kepadamu, Pangcu (ketua), siapakah pemuda di dalam kamarmu itu dan pernah apakah kau dengan dia?"

Pertanyaan ini diajukan dengan nada gemas, karena memang Bi Lan merasa mendongkol terhadap perempuan ini, terutama sekali mendongkol melihat keadaan suhengnya yang sungguh mengecewakan hatinya.

Merahlah muka Cun Eng mendengar pertanyaan ini.

Sepasang matanya dibuka lebar dan ia membentak marah.

"Bocah lancang mulut! Perduli apa kau dengan urusan pribadiku dan mengapa kau mengurus perkara di dalam kamar orang lain! Sungguh tak tahu malu! Apakah kau iri hati? Kalau kau iri hati carilah pemuda lain jangan mencampuri urusanku. Dia adalah calon suamiku, kau mau apakah tanya-tanya tentang dia?"

Bukan main malunya Bi Lan ketika mendengar bentakan ini, akan tetapi kemarahannya lebih besar dari pada rasa malunya.

"Aku merasa heran mengapa dia sudi berdekatan dengan perempuan macam engkau! Lekas kau panggil dia keluar. Lie Bu Tek adalah suhengku dan biarpun aku tidak perduli apa yang ia lakukan dengan kau, namun aku hendak bicara tentang urusan penting sekali dengan dia."

Cun Eng mengerutkan keningnya, akan tetapi hatinya lega.

Kalau gadis ini hanya sumoi (adik seperguruan) dari Bu Tek saja, kepandaiannya tak perlu ditakuti.

Namun mengingat bahwa gadis ini adalah sumoi dari kekasihnya, ia merobah nada suaranya dan kini ia berkata dengan suara agak ramah.

"Ah, tidak tahunya sumoi yang datang! Mengapa tidak dari tadi memperkenalkan diri sehingga tak perlu kita ribut-ribut? Suhengmu sayang sekali tidak dapat keluar karena ia sedang menderita sakit panas. Marilah kau mengaso di rumah kami, akan kami sediakan kamar untukmu dan setelah suhengmu agak mereda sakitnya, boleh kau bertemu dengan dia."

"Tidak, aku mau bertemu sekarang juga. Harap kau suka menyuruh dia keluar."

Bi Lan berkata tetap.

"Tidak bisa, adikku yang baik. Aku lebih sayang kepadanya dari pada kau menghormat suhengmu, pada waktu ini ia tidak boleh keluar dari kamarnya."

"Kalau begitu, terpaksa aku akan masuk ke dalam mencarinya!"

Kata Bi Lan mengancam. Tiba-tiba Cun Eng mengeluarkan seruan marah dan tubuhnya melompat ke depan pintu, menghadang jalan masuk.

"Bocah kurang ajar! kau mengandalkan apakah maka demikian lancang dan berani mati? kau sungguh-sungguh tidak tahu diri, berani main gila dan bersikap sombong di depan kami! Kalau aku tidak mengingat bahwa kau adalah sumoi dari Lie Bu Tek, sudah semenjak tadi aku usir engkau!"

"Nona, pukul saja mulutnya yang lancang, habis perkara!"

Bi Mo li yang melangkah maju dengan sikap mengancam, siap untuk menyerang Bi Lan.

"Nona muda, lebih baik kau menurut kata-kata Pangcu dan bermalam di sini menanti saatnya kau boleh bertemu dengan suhengmu,"

Kata Siang tung him si kakek buntung dengan suara membujuk.

"Benar, nona. Akupun tidak suka bermusuhan dengan seorang nona muda seperti engkau, apalagi engkau adalah sumoi dari calon Pangcu kami,"

Kata Beng san kui sambil menyeringai.

"Kalian bandot tua mata keranjang!"

Bi Mo li memaki marah kepada dua orang kawannya.

"Hek kin kaipang sudah mempunyai nama besar. Aku benar-benar mengharap kalian tidak berlaku memalukan dan memberi kesempatan kepadaku untuk bicara dengan suhengku. Kalau kalian tidak merintangi, akupun tidak akan memperdulikan segala urusanmu, akan tetapi kalau kalian memaksa merintangi aku bertemu dengan suhengku, terus terang saja kukatakan, bahwa itu berarti rusaknya Hek kin kaipang di tanganku!"

"Bocah sombongl Biarpun sumoi Lie Bu Tek, tidak boleh bersombong seperti itu di hadapanku. Hendak kulihat sampai di mana sih kepandaianmu maka begitu sombong kau !"

Setelah berkata demikian, Kiang Cun Eng mencabut keluar siang to (sepasang golok) yang berkilauan saking tajamnya.

Ketua Hek kin kaipang ini memang ahli main golok pasangan dan kini sepasang goloknya itu menyambar dari kanan kiri, yang kanan menyambar leher Bi Lan sedangkan yang kiri, menyambar ke arah pinggang, inilah gerak tipu Ji-seng hui-thian (Dua Bintang Terbang di Langit) yang amat hebat dan berbahaya!

Akan tetapi, Bi Lan tersenyum mengejek dan sekali goloknya berkelebat mengitari tubuhnya, sepasang golok di tangan Cun Eng sudah dapat tertangkis dan alangkah kagetnya hati Cun Eng ketika merasa betapa telapak tangannya tergetar dan sakit sekali.

"Kau benar-benar hendak melihat perkumpulanmu hancur hari ini?"

Bentak Bi Lan yang cepat membalas dengan serangan bertubi tubi. Menghadapi serangan ini, Cun Eng cepat memutar dua batang goloknya, menangkis sambil mundur sehingga terdengar suara nyaring "Trang!"

Berkali kali.

Melihat betapa dalam segebrakan saja ketua mereka sudah terdesak hebat, Bi Mo li menjerit dan menyerbu dengan siang kiamnya (sepasang pedangnya).

Juga Siang tung him Si Beruang Tongkat Dua menyerbu dan membantu ketuanya dengan mainkan sepasang tongkat yang lihai.

Beng san kui tidak mau tinggal diam.

Betapapun ia merasa sayang kepada nona muda yang lihai ini, namun melihat kedudukan perkumpulannya terancam, ia lalu menerjang dengan tongkat hitamnya dan sebentar saja Bi Lan dikeroyok empat oleh tokoh-tokoh Hek kin kaipang.

Namun, Bi Lan sekarang bukanlah Bi Lan dahulu lagi.

Dara perkasa ini telah mendapat gemblengan hebat, tidak saja oleh Coa ong Sin kai, akan tetapi bahkan telah digembleng secara hebat oleh Thian Te Siang mo, maka jangankan baru empat orang ini, biar ditambah empat lagi agaknya takkan mungkin dapat menangkan gadis jelita yang lihai ini.

Golok rampasan di tangannya bergerak laksana seekor naga mengamuk, gulungan sinar goloknya demikian lebar, panjang, dan kuat sehingga menindih dan mengurung empat orang pengeroyoknya yang menjadi bingung dan kabur pandangan matanya.

Kini tempat ini penuh dengan pengemis-pengemis anggauta Hek kin kaipang dan mereka ini sambil berteriak teriak ikut pula menyerbu dan mengeroyok Bi Lan dengan tongkat mereka.

Gadis ini menjadi gemas sekali, berkali kali ia berseru.

"Roboh kau !"

Dan sebentar saja terdengar pekik disana-sini karena di mana saja tubuh dara ini berkelebat, tentu seorang dua orang pengemis roboh terkena tendangan, pukulan tangan kiri atau juga kena dicium oleh ujung golok sehingga menderita luka dan tidak dapat bangun kembali.

Tiba-tiba terlihat serombongan orang datang berlari-lari.

Melihat cara mereka berjalan, rombongan ini merupakan pasukan terlatih dan benar saja, mereka adalah penjaga-penjaga kota dan tanpa banyak cakap lagi mereka ini menyerbu Bi Lan dan membantu para pengemis itu!

Bi Lan terkejut buka main.

Bagaimana ada penjaga-penjaga kota bahkan membantu para pengemis yang mengeroyoknya?

"Eh, eh, apakah kalian sudah gila?

Bukan menangkap pengemis-pengemis yang mengacau ini, bahkan mengeroyokku!"

"Perempuan pemberontak, lebih baik kau menyerah!"

Komandan pasukan itu membentak sambil menyerang dengan goloknya.

Bi Lan menjadi makin marah.

Ketika kaki kirinya menyambar dan mengenai pergelangan tangan komandan itu, orang ini menjerit dan goloknya terlempar.

Ternyata pergelangan tangannya telah patah tulangnya.

Bi Lan lalu mengamuk, ia pikir bahwa keroyokan para pengemis dan penjaga itu tak perlu ditakuti, dan yang paling penting merobohkan pentolannya.

Goloknya dikerjakan menurut ajaran Te Lo-mo, dicampur-adukkan dengan Ilmu Pedang Sin-coa kiam-hoat yang ia pelajari dari Coa ong Sin kai.

Baru beberapa jurus saja, ia telah berhasil melukai pundak Bi Mo li dan menendang roboh Siang tung him!

Jerihlah semua pengeroyok melihat kehebatan gadis ini.

"Mundur semua! Kalau tidak, demi golok ini... akan kurobohkan kalian ini semua kecoa-kecoa yang tiada guna!"

Bi Lan berseru keras sambil mainkan goloknya sehingga tubuhnya lenyap terbungkus oleh gulungan sinar golok!

Para pengeroyok terkejut dan melangkah mundur, akan tetapi Kiang Cun Eng dan Beng san kui masih nekad mengeroyok.

Dalam gemasnya, menggerakkan goloknya keras sekali.

Terdengar suara nyaring dan sepasang golok di tangan Cun Eng terlempar jauh, kemudian terdengar ketua Hek kin kaipang ini menjerit karena pahanya telah terluka oleh tusukan golok, sedangkan Beng san kui sendiripun roboh karena dadanya didorong oleh tangan kiri Bi Lan.

"Kau yang menjadi biang keladinya! kau perlu dihajar!"

Seru Bi Lan sambil memburu ke arah Cun Eng yang sudah rebah di atas tanah. Akan tetapi pada saat itu dari pintu muncul seorang laki-laki yang cepat mencegah dengan tegurannya.

"Sumoi jangan...!"

Bi Lan tertegun dan menengok sambil bertolak pinggang. Sikapnya gagah sekali, matanya tajam bersinar-sinar dan semua pengeroyok yang masih belum roboh menjauhkan diri dengan gentar.

"Suheng, mengapa kau berada di neraka ini?"

Bi Lan segera menegur Bu Tek. Pemuda itu menghela napas dan mukanya menjadi merah.

"Sumoi, sudahlah, jangan kau lanjutkan amukanmu. Betapapun juga, Hek kin kaipang telah berlaku baik kepadaku bahkan"

Bahkan mereka telah menolongku."

Pemuda ini dengan tindakan kaki terhuyung-huyung menghampiri Kiang Cun Eng dan berkata.

"Cun Eng, terima kasih atas segala kebaikanmu dan"

Maafkan aku orang yang tidak kenal budi dan tiada guna ini. Aku pergi..."

"Bu Tek, jangan tinggalkan aku...!"

Cun Eng menangis, akan tetapi Bu Tek tidak memperdulikannya lagi dan pergi dari situ diikuti oleh Bi Lan.

"Serbu! Tangkap mereka. Bunuh keduanya!"

Cun Eng meloncat dan bagaikan seekor harimau betina ia menerjang Bi Lan dan Bu Tek.

Akan tetapi dengan sekali tendang saja Bi Lan sudah merobohkannya kembali dan tidak ada seorangpun anak buahnya berani menyerbu Bi Lan lagi setelah menyaksikan kelihaian gadis ini.

Bi Lan tersenyum sindir dan melemparkan golok rampasannya ke atas tanah, di mana golok itu menancap setengahnya lebih.

Kemudian Bi Lan lalu menarik tangan Bu Tek berlari cepat pergi dari tempat itu.

Setelah berada jauh dari Taigoan, Bi Lan berhenti dan bertanya kepada Bu Tek.

"Suheng, bagaimana kau menjadi begini kurus dan lemah? Aku sudah mendengar dari suheng Gan Hok Seng tentang kau dan"

Dan suci Ling In."

"Jangan sebut sebut namanya lagi, sumoi..."

Terharu hati Bi Lan dan biarpun ia masih amat muda, ia dapat menyelami keadaan hati suhengnya ini.

Agaknya karena kehilangan kekasihnya, Bu Tek menjadi manusia yang tidak bersemangat lagi sehingga sampai termasuk dalam perangkap ketua Hek kin kaipang.

"Suheng mengapa begitu lemah? Mana kegagahanmu? Mana semangat dan kepahlawanan murid Hoa-san-pai? kau hanya menghancurkan nama Hoa-san-pai kalau kau bersikap selemah ini."

Bi Lan sengaja mengeluarkan kata-kata keras untuk membakar semangat pemuda ini. Bu Tek menundukkan kepalanya.

"Apa dayaku, sumoi?"

"Suheng, tidak tahukah kau betapa rakyat sedang berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman Bangsa Kin? Dari pada kau bersikap seperti ini, tidakkah lebih baik kalau kau menggabungkan diri dengan para pejuang? Suheng Gan Hok Seng juga menggabungkan diri, maka sayangnya kalau kau menyia-nyiakan usia muda dan kepandaianmu. Pula ketahuilah, guru-guru kita telah tertawan oleh Sam Thai Koksu dari pemerintah Kin dan sekarang..."

"Apa katamu?"

Berita ini membangunkan semangat Bu Tek dan ia nampak marah sekali. Bi Lan menjadi girang dan ia menceritakan peristiwa yang terjadi di Hoa san. Bu Tek mengepal ngepal tinjunya dan memaki-maki.

"Jahanam benar orang-orang Kin! Tidak saja menghancurkan hidupku, bahkan berani mengganggu Hoa-san-pai. Aku bersumpah untuk membalas dendam ini. Sumoi, mari kita serbu ketempat mereka di Cin-an."

"Sabar, suheng. Aku memang hendak menuju ke sana untuk berusaha menolong guru-guru kita. Akan tetapi, keadaanmu masih lemah, kau masih belum sehat benar. Paling baik kau carilah Gan suheng dan setelah merawat kesehatanmu, kau dan Gan suheng dapat berjuang di samping para patriot lainnya. Adapun tentang, keselamatan guru-guru kita, kau doakanlah saja mudah mudahan aku berhasil menolong mereka."

Bu Tek telah menyaksikan kepandaian sumoinya tadi, maka ia merasa akan kebenaran kata-kata ini.

Ia sendiri selain masih lemah tubuhnya, juga apakah artinya kepandaiannya?

Bagaimana ia bisa menyerbu ke Cin-an?

Sedangkan menghadapi Giok Seng Cu saja ia tak berdaya!

Maka ia lalu menyetujui pendapat Bi Lan dan berpisahlah kedua saudara seperguruan ini.

Bi Lan melanjutkan perjalanan ke Cin-an, adapun Lie Bu Tek lalu berangkat mencari sutenya, Gan Hok Seng.

Sekarang pemuda ini seakan-akan telah mendapat semangat baru dan hidupnya mempunyai cita-cita yaitu membantu perjuangan rakyat menghalau pemerintah Kin!

*** Bi Lan melakukan perjalanan cepat sekali menuju ke Cin-an.

Ketika tiba di kota ini, ia tidak berani mengambil tempat bermalam di dalam hotel, karena tahu bahwa mata-mata pemerintah Kin tersebar di mana-mana.

Ia lalu memilih sebuah kelenteng yang berada di luar kota dan bermalam di situ.

Setelah beristirahat sehari lamanya, pada keesokan sorenya, masuklah ia ke kota Cin-an dan malam hari itu ia mulai dengan penyelidikannya.

Siang tadi ia telah bertanya-tanya akan tetapi tak seorangpun dapat memberi tahu kepadanya tentang keadaan tokoh-tokoh Hoa-san-pai yang tertawan.

Agaknya hal ini dirahasiakan oleh Sam Thai Koksu.

Perlu diketahui bahwa ketika Sam Thai Koksu pulang ke Cin-an membawa para tawanan di tengah jalan Liang Bi Suthai menghemhuskan napas terakhir karena tidak kuat menahan penderitaan luka lukanya.

Ketiga saudara seperguruannya hanya dapat menangis dan jenazah nenek lihai ini dimakamkan di dalam sebuah hutan di tengah jalan.

Kemudian, karena tidak sabar melihat perjalanan terlalu lambat baginya, Pak Hong Siansu mendahului rombongan itu dan berlari cepat lebih dulu pulang ke Cin-an di mana seperti telah dituturkan di bagian depan, kebetulan sekali ia dapat bertemu dengan Ciang Le yang membaca surat dari suhengnya, yakni Pak Kek Siansu.

Malam itu sunyi sekali.

Pemberontakan yang timbul di mana-mana membuat keadaan Tiongkok utara menjadi kacau dan tidak aman.

Jarang ada orang berani keluar pintu di malam hari karena boleh dibilang setiap malam tentu terjadi penyerbuan oleh fihak pemberontak yang tiba-tiba menyerang tempat yang kurang kuat penjagaannya.

Yang dijadikan sasaran oleh para penyerbu tentulah rumah rumah gedung pembesar Kin atau tangsi tangsi penjaga dan lain lain.

Pokoknya, para pemberontak itu mengarahkan penyerbuan mereka terhadap kaki tangan pemerintah Kin yang mereka benci.

Bi Lan mengambil jalan di atas genteng, langsung menuju ke Enghiong Hweekoan untuk menyelidiki dan kalau mungkin menolong guru-gurunya yang tertawan oleh Sam Thai Kok su.

Tingkat kepandaian Bi Lan sekarang sudah tinggi sehingga ketika ia berlari di atas genteng tidak menimbulkan suara berisik.

Pada waktu itu, biarpun nampaknya sunyi, namun sebetulnya penjagaan di Enghiong Hweekoan amat kuat.

Sam Thai Koksu maklum bahwa sekarang para orang gagah dari selatan sudah bangkit dan membantu perjuangan para pemberontak, maka selain mengatur barisan barisan untuk memadamkan api pemberontakan, merekapun tidak lalai untuk menjaga gedung itu secara diam-diam.

Maka ketika Bi Lan berada di atas genteng Enghiong Hweekoan, diam-diam segala gerak-geriknya telah dilihat oleh para penjaga yang sudah siap dengan anak panah di tangan dan mengurung tempat itu!

Sam Thai Koksu sendiri yang memimpin penjagaan ini, terkejut melihat gerakan bayangan nona muda di atas genteng, karena gerakan itu benar-benar cepat dan ringan sekali, tanda bahwa yang datang adalah seorang pandai.

Ketika Bi Lan sedang berdiri di atas genteng dan menduga duga di mana kiranya tokoh-tokoh Hoa-san-pai dikurung, tiba-tiba terdengar suara mendesing dan dari segenap penjuru menyambar anak panah ke arah dirinya!

Gadis ini tidak menjadi gugup.

Dengan cepat ia menanggalkan baju mantelnya dan memutar jubah itu sedemikian rupa melindungi dirinya, sehingga semua anak panah yang menyambar ke arahnya runtuh semua ke atas genteng.

"Sam Thai Koksu, manusia manusia curang!"

Bentaknya sambil mencabut pedang dan secepat terbangnya burung walet, tubuh Bi Lan sudah meloncat ke kanan di mana terdapat barisan panah yang tadi menyerangnya.

Keadaan menjadi gempar ketika Bi Lan menyerbu ke arah ini.

Beberapa orang penjaga menyambutnya dengan golok, akan tetapi terdengar suara nyaring dan beberapa batang golok terbabat putus berikut tangan yang memegangnya.

Teriakan-teriakan ngeri terdengar dan tubuh beberapa orang penjaga berguling dari atas genteng!

Bi Lan mengamuk terus dan dalam waktu pendek saja ia sudah merobohkan tujuh orang penjaga.

Sam Thai Koksu marah sekali dan mereka ini muncul sendiri, menghadapi Bi Lan dengan senjata di tangan.

"Gadis liar dari manakah berani datang mengacau di sini?"

Bentak Kim Liong Hoat ong sambil melintangkan rantai bajanya di depan dada.

"Sam Thai Koksu berada di sini, apakah kau tidak lekas-lekas berlutut?"

Bi Lan melihat tiga orang gagah berdiri di hadapannya, maka dengan marah ia menudingkan pedangnya.

"Sam Thai Koksu, bagus benar perbuatanmu! Ketahuilah bahwa aku datang untuk minta kembali guru-guruku yang kalian tawan dari Hoa san!"

Kini Sam Thai Koksu mengenal gadis yang lihai ini, yang bukan lain adalah nona yang dulu telah mengacaukan pertemuan orang-orang gagah di taman bunga di kota Cin-an. Tertawalah Kim Liong Hoat ong.

"Ha, ha, ha, tidak tahunya kau yang datang! Bagus, kebetulan sekali. Memang sudah lama kami hendak menangkapmu atas kedosannmu dahulu di taman bunga. Sekarang kami takkan memberi ampun lagi padamu!"

Biarpun mulutnya berkata demikian, namun diam-diam Kim Liong Hoat ong menjadi terkejut dan juga gelisah.

Dahulupun gadis ini yang mendatangkan malapetaka.

Terhadap gadis ini sendiri, ia tidak merasa takut, akan tetapi siapa tahu kalau kalau gadis ini datang bersama Coa eng Sin kai dan Thian Te Siang mo!

Diam-diam Kim Liong Hoat ong lalu memberi tanda rahasia kepada seorang penjaga untuk menyusul Ba Mau Hoatsu dan Pan Hong Siansu yang bermalam di rumah kepala daerah, untuk memanggil mereka membantu, karena kalau Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo benar-benar datang bersama gadis ini, hanya Ba Mau Hoatsu dan Pak Hong Siansu saja yang kiranya dapat menghadapi mereka.

"Kim Liong Hoat ong, percuma saja kau dan dua orang saudaramu menyebut diri sebagai Sam Thai Koksu, karena ternyata kalian adalah pengecut dan berwatak curang. Mengapa kalian menawan guru-guruku di Hoa san? Kalau memang kalian berkepandaian, bebaskan guru-guruku dan marilah kita bertempur secara jujur! Biar aku yang mewakili Hoa-san-pai menghadapi kalian bertiga."

Kim Liong Hoat ong tertawa.

"Bocah sombong, kau dan semua orang Hoa-san-pai adalah pemberontak pemberontak yang mengacau keamanan, maka sekarang juga kami akan menangkapmu!"

Sambil berkata demikian, rantai baja di tangan Kim Liong Hoat ong bergerak menyambar ke arah kepala Bi Lan.

Gadis ini menjadi marah sekali dan pedangnya berkelebat cepat.

Dengan gerakan yang indah dan manis ia mengelak dari sambaran rantai baja dan dalam gerakan mengelak ini ia membarengi dengan tusukan maut ke arah dada lawannya.

Kim Liong Hoat ong terkejut sekali.

Gerakan nona ini benar-benar cepat dan tidak terduga sekali, maka ia lalu melompat ke belakang sampai setombak jauhnya untuk menghindarkan diri dari serangan ganas itu.

Namun Bi Lan tidak mau memberi hati dan secepat kilat ia mengejar dengan tusukan lain dari pedangnya yang berkelebat kelebat ganas.

Melihat betapa nona itu mendesak suheng mereka, Gin Liong Hoat ong menyerbu dengan sepasang ruyungnya yang berwarna hijau, sedangkan Tiat Liong Hoat ong juga tidak mau tinggal diam, langsung menyerang dengan goloknya yang lebar.

"Bagus, hari ini aku akan menamatkan riwayat Sam Thai Koksu!"

Bi Lan berseru dan pedangnya diputar cepat sekali dalam permainan pedang Sin-coa kiam-hoat (Ilmu Pedang Ular Sakti) yang dulu ia pelajari dari Coa ong Sin kai.

Ilmu pedang ini memang sifatnya ganas sekali dan paling tepat dan cepat untuk dipergunakan menyerang lawan.

Kalau saja tiga orang tokoh Kerajaan Kin ini maju seorang demi seorang, dalam beberapa jurus saja mereka tentu roboh oleh ilmu pedang ini.

Namun, mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi dan kini dengan jalan mengeroyok mereka masih dapat mempertahankan diri dan bahkan membalas dengan serangan yang tak kurang hebatnya.

Melihat ketangguhan tiga orang lawannya, Bi Lan kehilangan kesabarannya dan tiba-tiba pedangnya berobah gerakannya.

Kini ia mainkan Ilmu Pedang Thian te Kiam hoat yang ia pelajari dari Thian Te Siang mo.

Kebebatan ilmu pedang ini luar biasa sekali dan dalam beberapa jurus saja.

terdengar teriakan kesakitan ketika pedangnya berhasil melukai pundak Tiat Liong Hoat ong sehingga golok besar di tangan orang ini terlempar di atas genteng.

Kim Liong Hoat ong dan Gin Liong Hoat ong menjadi terkejut dan marah sekali.

Mereka menyerbu makin ganas, akan tetapi kembali ujung pedang Bi Lan telah melukai lengan kiri Gin Liong Hoat ong sehingga kini terpaksa orang ke dua dari Sam Thai Koksu itu hanya mainkan ruyung kanan saja sambil meringis kesakitan karena lengan kirinya telah terluka dan ruyung kirinya juga terlepas dari pegangan.

Bi Lan mendesak terus dan agaknya tak lama lagi ia akan dapat merobohkan lawannya yang tinggal dua orang itu kalau saja pada saat itu tidak terdengar bentakan hebat.

"Bocah liar kau mencari mampus!"

Bentakan ini disusul dengan melayangnya dua senjata roda yang lihai sekali.

Ba Mau Hotsu telah datang atas panggilan para penjaga tadi!

Melihat kedatangan kawan yang tangguh ini, Kim Liong Hoat ong dan Gin Liong Hoat ong menjadi lega dan meloncat mundur.

Gin Liong Hoat ong segera merawat lengan kirinya, adapun Kim Liong Hoat ong lalu merawat Tiat Liong Hoat Ong yang menderita luka parah di pundaknya.

Bi Lan terkejut melihat datangnya serangan sepasang roda itu, ia belum kenal siapa adanya pendeta yang bertubuh tinggi besar ini.

Dengan cepat ia menangkis dengan pedangnya dan karena ia kurang mengenal kelihaian sepasang roda ini, hampir saja pedangnya terampas dari tangannya dan hampir ia mendapat celaka.

Roda yang kiri berputar dan pedangnya seakan-akan terbetot oleh tenaga yang luar biasa kuatnya, sedangkan roda kanan terbang menyambar kepalanya.

Bi Lan cepat mengerahkan tenaganya mencabut pedangnya dan serangan roda kanan itu dapat dihindarkan dengan jalan merendahkan tubuhnya.

Kemudian ia meloncat mundur dan memandang dengar penuh perhatian, la mulai merasa kuatir dan bersikap hati-hati sekali.

Ternyata olehnya bahwa yang menyerangnya adalah pendeta tinggi besar itu, yang datang bersama dua orang-tua lain.

Seorang diantaranya adalah seorang kakek yang sudah tua sekali, dan orang ke dua adalah seorang tosu.

Ia tidak tahu bahwa yang menyerangnya, yaitu Ba Mau Hoatsu, datang bersama Pak Hong Siansu dan Giok Seng Cu yang amat lihai.

Ba Mau Hoatsu memang mempunyai watak yang agak sombong dan menganggap diri sendiri terpandai.

Tadi ketika melihat Sam Thai Koksu tidak dapat mengalahkan lawannya yang ternyata hanya seorang gadis muda ia lalu berpesan kepada Pak liong Siansu dan Giok Seng Cu agar jangan turun-tangan, karena ia sendiri hendak menghadapi gadis itu.

Melihat betapa gadis itu dapat menangkis serangannya, Ba Mau Hoatsu menjadi terkejut dan juga penasaran, ia lalu menyerang lagi dan kini sepasang rodanya mengancam gadis itu dan mengurung rapat.

Diam-diam Bi Lan nengeluh karena ternyata kepandaian lawannya ini benar-benar hebat.

Tahulah ia mengapa kakek dan gurunya dari Hoa-san-pai sampai kalah dan tertawan, karena Sam Thai Koksu mempunyai pembantu yang begini pandai, ia mengerahkan seluruh kepandaiannya dan melawan mati-matian.

Pedangnya bergerak cepat sekali dan kini ia mainkan Ilmu Pedang Thian te Kian hoat yang amat aneh gerakannya.

Namun, tetap saja sepasang roda itu masih mengancam dan menindih pedangnya, bahkan beberapa kali hampir saja pedangnya dapat terampas, Bi Lan maklum bahwa menghadapi pendeta ini saja ia sukar mencapai kemenangan, apalagi kalau Kim Liong Hoat ong membantu, tentu akan kalah.

Tak seorangpun tahu bahwa diam-diam sepasang mata yang tajam menyaksikan pertempuran ini dari balik wuwungan rumah.

Mata ini memandang penuh kekhawatiran.

Karena ia maklum bahwa tak lama lagi Bi Lan pasti akan kalah apalagi kalau Giok Seng Cu atau Pak Hong Siansu turun-tangan!

Yang mengintai adalah mata Ciang Le pemuda gagah perkasa yang memang selalu memasang mata menyelidiki keadaan Enghiong Hwee koan, bersiap untuk menolong orang-orang gagah yang menyerbu tempat itu.

Kini ia menjadi bingung, untuk keluar membantu ia merasa sungkan dan takut kepada susioknya.

Kalau dia diam saja tidak membantu, ia benar-benar kasihan kepada gadis itu.

Juga diam-diam ia merasa kagum sekali melihat gadis yang perkasa itu.

Keadaan Bi Lan kini benar-benar amat terdesak dan berbahaya sekali.

Makin lama gerakan sepasang roda dari Ba Mau Hoatsn makin kuat saja dan Bi Lan yang tadi sudah mengeluarkan banyak tenaga ketika dikeroyok oleh Sam Thai Koksu dan kawan-kawannya Uni mulai merasa lelah menghadapi Ba Mau Hoatsu yang demikian tangguhnya.

Keadaan malam hari itu gelap dan penerangan di atas genteng itu hanya dari tiga buah lampu yang digantung tinggi-tinggi di sekeliling rumah.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan tiga buah lampu ini meledak pecah dan padam.

Bahkan sebuah diantaranya, terbakar dan mulai membakar tiang di bawah gunungan sang melintang!

Pada saat itu, sepasang roda dari Ba Mau Hoatsu sedang mengurung dan mengancam Bi Lan.

Tiba-tiba nampak beberapa benda berkeredepan menyambar dan dengan cepat sekali menghantam kedua pundak Ba Mau Hoatsu.

Kakek ini terkejut sekali, la melihat pula datangnya benda benda ini dan mendengar suara anginnya, maka cepat ia merendahkan tubuhnya untuk mengelak dari sambaran dua buah benda yang mengarah pundaknya, akan tetapi beberapa buah benda lain menghantam roda roda di tangannya sehingga ia merasa kedua rodanya terpukul dan hampir terlepas dari tangannya!

Cepat ia melompat mundur dan pada saat itu terdengar seruan.

"Laril!!"

Bi Lan juga tahu bahwa ada orang pandai membantunya secara diam-diam, maka kini mendengar seruan "lari!"

Itu, ia cepat melompat jauh, melarikan diri dari tempat berbahaya itu.

"Bangsat kecil, kau berani main gila?"

Seru Pak Hong Siansu yang tahu-tahu menggerakkan tubuhnya ke arah dari mana benda benda itu menyambar. Adapun Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu juga tidak tinggal diam.

"Gadis liar, kau hendak lari ke mana?"

Bentak Ba Mau Hoatsu yang bersama Giok Seng Cu mengejar Bi Lan.

Lain lain orang dikepalai oleh Kim Liong Hoat ong, segera memadamkan kebakaran kecil yang diakibatkan oleh pecahnya lampu, dan memasang lampu baru untuk menerangi tempat itu.

Ciang Le yang menolong Bi Lan, ketika melihat susioknya melayang ke arahnya, tidak berani menyambut dan segera melompat jauh.

Pak Hong Siansu dapat mengenal sambitan senjata rahasia yang berkeredepan tadi, karena itu adalah amgi (senjata gelap) yang disebut Siauw seng ciam (Jarum Bintang Kecil), semacam jarum yang ujungnya runcing dan gagangnya mempunyai kepala terbuat dari batu yang berkeredep.

Inilah senjata rahasia yang biasa dipergunakan oleh Pak Kek Siansu di waktu muda, maka Pak Hong Siansu dapat menduga bahwa pelemparnya tentulah murid suhengnya itu.

Karena Ciang Le berlaku hati-hati dan tidak mau melayaninya ketika Pak Hong Siansu tiba di tempat itu, pemuda tadi telah pergi jauh.

Adapun Bi Lan yang melarikan diri, dikejar oleh Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu.

Gadis ini berlari cepat sekali, melompat turun dari atas rumah.

Akan tetapi Ba Mau Hoatsu yang merasa penasaran, terus mengejarnya dan telah mengambil keputusan hendak menangkap gadis ini.

Setelah mereka keluar dari kota Cin-an dan tiba di luar tembok kota, tiba-tiba di atas tembok melayang turun sesosok bayangan yang menghadang larinya Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu.

Ketika mereka ini memandang, bukan main marahnya Ba Mau Hoatsu mengenal bahwa penghadangnya bukan lain adalah Go Ciang Le, pemuda yang pernah mengalahkan sepasang rodanya ketika pemuda ini datang membawa surat suhunya untuk Pak Hong Siansu!

"Keparat!

Lagi-lagi kau yang mengganggu kami!"

Seru Ba Mau Hoatsu dan cepat ia menyerang dengan sepasang rodanya.

Giok Seng Cu tanpa mengeluarkan kata-kata langsung maju mengeroyok sambil mainkan senjata rantainya yang lihai.

Akan tetapi kali ini Ciang Le tidak main-main lagi dan begitu ia mainkan pedangnya sambil mengerahkan tenaganya, Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu terpaksa mundur dengan kaget sekali.

Serbuan pemuda ini benar-benar hebat dan tenaga yang keluar dari sambaran pedang Kim kong kiam sekaligus dapat membuat sepasang roda dan rantai itu terpental memukul pemegangnya sendiri!

Beberapa jurus lamanya Ciang Le tidak mau memberi kesempatan kepada dua orang lawannya untuk membalas serangannya, ia mendesak dan mengeluarkan Ilmu Silat Pak kek Sin ciang hoat yang lihai.

Oleh karena ilmu silat ini memang ilmu silat rahasia yang belum pernah terlihat di dunia dan yang kehebatannya menduduki tingkat tertinggi, tentu saja Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu menjadi bingung dan tidak dapat membalas serangan pemuda itu, melainkan sibuk menjaga diri karena pedang kuning emas itu seakan-akan berobah menjadi puluhan banyaknya.

Ciang Le memang hanya bermaksud menolong Bi Lan saja dan memberi kesempatan kepada gadis itu untuk melarikan diri, maka setelah ia mendesak beberapa jurus dan mengerti bahwa kini Bi Lan telah lari jauh, tiba-tiba ia meloncat keluar dari kalangan pertepruran dan berlari meninggalkan Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu!

Bukan main marahnya kedua orang ini.

Sambil memaki-maki mereka lalu melepaskan senjata-senjata gelap ke arah bayangan Ciang Le yang meloncat jauh.

Akan tetapi Ciang Le adalah bekas murid Thian Lo-mo, seorang ahli amgi (senjata gelap) yang lihai sekali.

Sebelum senjata-senjata rahasia yang dilepas oleh kedua orang pendeta itu mengenai tubuh Ciang Le, terlebih dulu pemuda ini sudah menggerakkan tangan kirinya dan beberapa benda berkerdepan telah menyambar dan memukul runtuh semua senjata rahasia lawan.

Sebelum menjadi murid Pak Kek Siansu, Ciang Le memang sudah ahli dalam penggunaan senjata rahasia yaitu kepandaian yang dipelajarinya dari Thian Lo-mo.

Setelah ia menjadi murid Pak Kek Siansu di puncak Luliang san, ia menambah kepandaiannya ini dengan penggunaan Siauw seng ciam (Jarum Bintang Kecil), yaitu senjata rahasia yang dahulu seringkali dipergunakan oleh Pak Kek Siansu di waktu muda.

Setelah dapat melarikan diri dari Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu, Ciang Le berlari terus.

Akan tetapi, tiba-tiba dari balik sebatang pohon meloncat keluar sesosok bayangan dan ketika ia memandang, ternyata Bi Lan telah berdiri di hadapannya!

Keadaan suram suram mendekati gelap dan ia tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas, akan tetapi melihat bentuk tubuhnya, tahulah Ciang Le bahwa ia berhadapan dengan gadis yang ditolongnya tadi.

"Anjing pemerintah Kin, kau masih mengejarku? Asal jangan main keroyokan, aku Liang Bi Lan takkan mundur setapakpun!"

Seru BiLan sambil maju menerjang dengan pedangnya.

Di dalam gelap, gadis inipun tidak dapat mengenal siapa adanya orang yang ia hadapi, akan tetapi karena orang ini berlari cepat mengejarnya tentu saja ia menduga bahwa orang ini juga seorang kaki tangan Sam Thai Koksu yang mengejarnya.

Ciang Le menjadi geli dan diam-diam ia memuji ketabahan hati gadis muda ini.

Dimaki dan diserang, ia diam saja, hanya segera mengeluarkan pedangnya dan melayani Bi Lan bermain pedang!

Ketika mereka bertempur dam bergebrak beberapa jurus lamanya, keduanya terkejut dan heran.

Bi Lan merasa terkejut sekali karena ternyata bahwa kepandaian atau ilmu pedang dari lawannya ini benar-benar lihai sekali, adapun Ciang Le merasa terheran-heran karena ia mengenal ilmu pedang yang dimainkan oleh Bi Lan sebagai ilmu pedangnya sendiri sebelum menjadi murid Pak Kek Siansu, yakni ilmu pedang dari Thian Te Siang mo dan biarpun gerakan gadis ini lebih lihai dan juga ilmu pedang itu banyak sekali kemajuannya seakan-akan kedua bekas gurunya itu telah menyempurnakannya, namun pada dasarnya sama saja dengan ilmu pedang yang ia pernah pelajari dari Iblis Kembar itu.

Maka iapun lalu merobah gerakan pedangnya dan kini iapun mainkan ilmu Pedang Thian Te Kiam sut yang tentu saja dikenal baik oleh Bi Lan.

"Eh, siapa kau?"

Gadis ini membentak dengan suara heran.

"Dari mana kau mencuri ilmu pedang Thian Te Kiam hoat?"

"Tidak ada yang mencuri ilmu pedang. Sebaliknya kau tadi mengaku anak murid Hoa-san-pai, mengapa sekarang mainkan ilmu pedang dari Thian Te Siang mo?? Sejak kapankah kau menjadi murid dari kedua orang guruku?"

"Hm"

Kau mengaku guru kepada kedua suhuku? Tak salah lagi kau tentulah Go Ciang Le murid yang murtad dan yang mengkhianati kedua suhuku itu!"

Seru Bi Lan yang sengaja bersikap keras, padahal hatinya berdebar-debar karena ia kini berhadapan dengan cucu dari kakek angkatnya, yaitu Tan Seng.

"Eh, eh, nanti dulu!"

Kata Ciang Le.

"Betapapun juga, kalau kau sudah menjadi murid mereka kau masih terhitung sumoiku sendiri. Bagaimana kau tadi dapat katakan bahwa aku seorang murid murtad dan mengkhianati guru-guruku!"

"Karena kau meninggalkan mereka dan belajar silat kepada orang lain!"

Tiba-tiba pemuda itu tertawa bergelak, seakan-akan ia mendengar sesuatu yang amat menggelikan hatinya.

Bi Lan menjadi gemas, sayang ia tidak dapat melihat dengan nyata wajah pemuda itu, karena keadaan gelap.

Akan tetapi ia dapat melihat bahwa tubuh pemuda itu tinggi tegap, biarpun tidak setegap tubuh Lie Bu Tek suhengnya, dan dapat mendengar bahwa suara pemuda ini lantang akan tetapi bernada halus.

"Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?"

Ciang Le menahan suara ketawanya.

"Karena kau tadi memaki aku sebagai murid murtad dan berkhianat, sedangkun kau sendirpun murtad dan berkhianat."

Bi Lan terkejut.

"Kurang ajar, kau lancang sekali."

"Bukankah betul kata-kataku tadi. kau, seorang anak murid Hoa-san-pai, namun kau juga meninggalkan Hoa-san-pai dan menjadi murid Thian Te Siang mo. Orang selagi muda mencari kemajuan, mengapa disebut murtad dan berkhianat?"

Bi Lan tertegun.

Memang, biarpun kedua orang suhunya telah berpesan agar kalau bertemu dengan Ciang Le ia suka menghajar murid murtad itu, namun di dalam hatinya tentu saja ia merasa berat untuk melakukan tugas ini.

Pertama-tama ia sendiripun berganti guru, sama halnya dengan Ciang Le, ke dua karena Ciang Le adalah cucu dari kakek angkatnya!

"Kau pandai memutar lidah!

Cukup tentang itu, sekarang hendak kubertanya apakah maksudmu mengejarku?

Apakah kau sudah menjadi kaki tangan pemerintah Kin?"

"Nona, jangan menuduh secara sembarangan saja. Kita bersatu haluan. Bahkan aku tahu pula akan maksud kedatanganmu, tentu hendak mencari tokoh-tokoh Hoa-san-pai itu dan hendak menolong mereka bukan? Tak usah kau bersusah-payah, kalau hendak bertemu dengan mereka, pergilah ke bio (kuil) rusak di sebelah barat kota, di dalam hutan bambu itu."

Setelah berkata demikian, Ciang Le meloncat ke dalam gelap dan lenyap dari situ.

"Sayang... aku belum dapat melihat mukanya... dan belum berkesempatan untuk menanya tentang riwayatnya. Apakah ia tidak tahu bahwa kong kong adalah kakeknya yang aseli?"

Pikir Bi Lan dan teringatlah ia akan kata-kata pemuda itu.

Benar-benarkah ia akan dapat menemui kong kongnya dan suhu-suhunya di dalam hutan sebelah barat kota?

Hatinya berdebar penuh harapan ketika Bi Lan berlari-lari dalam menuju ke barat.

Ketika ia tiba di dalam sebuah hutan bambu, benar saja ia melihat kuil kuno yang biarpun di bagian bawahnya sudah buruk dan rusak, namun gentengnya masih kuat dan baik.

Ia meloncat ke atas karena sebagai seorang gadis kang ouw yang berpengalaman, ia selain berlaku hati-hati dan menyelidiki lebih dulu sebelum mengambil tindakan.

Begitu kakinya menginjak genteng, lampu penerangan yang tadinya terpasang di dalam kuil itu padam dan tiba-tiba dari bawah menyambar tiga buah benda ke arah tubuhnya, Bi Lan terkejut dan cepat mengelak sambil mengulur tangannya.

Ia berhasil menyambar sebutir senjata rahasia itu dan ketika dilihatnya ternyata itu adalah sebutir besi thi lian ci, senjata rahasia yang biasa dipergunakan oleh Tan Seng, kakeknya!

"Kong kong!

Suhu, teecu Bi Lan berada di sini!"

Teriak Bi Lan dengan girang sekali!

Terdengar seruan girang dan juga terheran dari bawah dan tak lama kemudian, dari bawah melayang naik, tiga bayangan yang bukan lain adalah Tan Seng, Liang Gi Cinjin dan Liang Tek Sian seng!

Bi Lan cepat-cepat memberi hormat dengan hati girang sekali.

"Bi Lan, sungguh tidak kami nyana bahwa kau yang datang! Semenjak tadi memang ada bayangan seorang yang mengintai kami, kami sedang menanti saat baik untuk menangkapnya. Agaknya ia mata-mata dari pemerintah Kin!"

Kata Tan Seng.

"Kalau begitu, mari kita mencari dan membekuknya, kong kong!"

Kata Bi Lan dengan gemas.

"Tadi dia datang dari jurusan sana!"

Kata Liang Gi Cinjin sambil menunjuk ke arah kanan kuil.

Beramai-ramai mereka lalu mengejar ke jurusan itu, namun tidak nampak bayangan siapapun juga.

Padahal, memang ada seorang laki-laki bertubuh pendek berkumis melintang panjang yang bersembunyi di balik wuwungan sebelah depan.

Orang yang pendek kecil ini mempunyai gerakan yang amat lincah dan cepat.

Juga ginkangnya sudah tinggi sekali sehingga ia tidak menerbitkan suara sedikitpun juga.

Dengan sepasang matanya yang lebar ia mengintai ke arah mereka berempat yang mencoba mencarinya dan sikapnya seperti seorang maling yang amat mencurigakan.

Ketika sudah melihat dengan jelas dan mendapat kenyataan bahwa tiga orang-tua itu adalah tokoh-tokoh Hoa-san-pai, sedangkan nona itu adalah pendekar wanita yang paru saja mengacau Enghiong Hweekoan, orang ini lalu bergerak hendak meninggalkan kuil.

Akan tetapi, baru saja ia meloncat, tiba-tiba bayangan lain menyambar dan sebelum ia berdaya, ia telah kena ditotok oleh orang itu yang mempergunakan tiam hwat (ilmu menotok jalan darah) yang istimewa sekali.

Orang pendek kecil ini seketika menjadi lumpuh seluruh tubuhnya dan ia tidak dapat melawan lagi ketika orang yang menotoknya itu memegang leher bajunya dan membawanya turun ke bawah dengan gerakan yang luar biasa ringannya.

Orang yang menangkapnya ini bukan lain adalah Ciang Le yang diam-diam tadi mengikuti perjalanan Bi Lan.

Setelah Ciang Le membuat pengintai itu tidak berdaya, ia lalu melemparkan tubuh itu ke dalam kuil, kemudian ia pergi meninggalkan kuil itu.

Bi Lan dan tiga orang tokoh Hoa-san-pai kembali ke kuil dengan tangan hampa.

Mereka telah mencari-cari, namun tidak menemukan orang di dalam hutan yang sunyi itu.

Maka, alangkah heran dan tercengang mereka ketika di dalam kuil mereka melihat seorang laki-laki rebah dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya.

"Inilah dia orang yang mengintai kami tadi!"

Kata Liang Gi Cinjin kepada Bi Lan, kemudian kakek ini lalu menotok orang itu untuk membebaskannya dari pengaruh totokan Ciang Le.

Orang pendek kecil berkumis itu berlutut dengan tubuh gemetar, ia maklum bahwa kini ia telah berada di tangan musuh dan dalam keadaan berbahaya.

"Kau siapa dan mengapa mengintai kami?"

Tanya Liang Gi Cinjin dengan suara keren.

"Aku"

Aku tidak mengintai"

Aku seorang pelancong yang kemalaman di"

Di hutan ini..."

Jawab orang itu gugup.

"Bohong!"

Bi Lan membentak dan sekali pedangnya berkelebat, lenyaplah sebelah kumis orang itu! "Sekali lagi membohong, telingamu kupotong! Hayo mengaku kau siapa dan apa kerjamu di sini!"

Dengan muka pucat dan suara megap megap, orang ini mengaku.

Dia adalah seorang pencopet atau pencuri yang kenamaan di kota Cin-an dan telah lama bekerja sebagai mata-mata yang amat dipercaya oleh Sam Thai Koksu.

Karena ia memiliki kepandaian berlari cepat dan ginkang yang sudah tinggi maka gerakannya gesit dan cocok sekali kalau ia menjadi seorang mata-mata.

Ia bernama Lo Tek dan dijuluki Sin touw (Malaikat Copet)!

Atas perintah Sam Thai Koksu ia disuruh menyelidiki keadaan orang-orang gagah yang mengganggu kota Cin-an dan kebetulan sekali ia dapat menemukan tempat bersembunyi tokoh-tokoh Hoa-san-pai yang telah lari dari tempat kurungan mereka di Cin-an.

"Dan bagaimana kau tahu-tahu meringkuk di sini dalam keadaan tertotok?"

Tanya Bi Lan setelah orang ini menuturkan keadaan dirinya.

"Aku"aku diserang oleh setan! Mungkin malaikat penjaga kuil yang menangkapku!"

Jawab Lo Tek dengan ketakutan.

"Bohong!"

Kembali pedang di tangan menyambar dan kali ini sebelah telinga Sin-touw Lo Tek putus.

"Hayo mengaku sebetulnya!"

"Ampun, Lihiap"

Aku"

Sungguh aku tidak bohong"tahu-tahu ada bayangan berkelabat dan sebelum aku dapat melihat siapa dia, aku telah ditotok dan dilempar ke tempat ini""

Bi Lan hendak membentak lagi, akan tetapi Tan Seng berkata mencegah.

"Tentu dia penolong kami, siapa lagi yang begitu lihai?"

"Kau adalah mata-mata Sam Thai Koksu, hayo ceritakan terus terang, siapa yang menjadi biangkeladinya sehingga Sam Thai Koksu memusuhi kami dan menawan kami?"

Liang Tek Sianseng ikut mendesak mata-mata yang sudah mati kutu itu.

"Aku tahu...aku tahu..."

Lo Tek meringis-ringis sambil memegangi kepalanya yang berdarah di mana telinganya sudah copot.

"Yang menghasut adalah orang-orang Go-bi-pai, siapa lagi? Kalau tidak ada Bu It Hosiang yang datang membujuk, tidak nanti Sam Thai Koksu memusuhi Cuwi dan tidak nanti pula aku sampai kehilangan telinga pada saat ini..."

Bi Lan marah sekali. Ia menendang tubuh orang itu sehingga terlempar ke luar pintu. Liang Gi Cinjin mencegahnya bertindak terus, lalu orang-tua itu berkata kepada Lo Tek.

"Kau pergilah, kami ampunkan nyawamu."

Sin-tauw Lo Tek tentu saja menjadi girang dan cepat ia berlari pergi bagaikan seekor anjing kena pukul.

"Orang-orang Go-bi-pai benar-benar kurang ajar. Mari kita menyusul ke Gobi, Suhu biarlah teecu yang akan menghajar adat kepada Bu It Hosiang!"

Kata Bi Lan marah-marah.

"Nanti dulu, Bi Lan. kau tidak tahu bahwa kami bertiga telah mengalami hal yang mengagetkan dan tubuh kami masih lemah bekas luka-luka pukulan."

Bi Lan baru sadar dan dia tiba-tiba bertanya.

"Di mana adanya Suthai?"

Mendengar pertanyaan ini, Tan Seng menghela napas.

"Dia telah tewas karena luka-lukanya."

Bukan main kagetnya, marahnya dan sedihnya hati Bi Lan mendengar ini.

Ia menangis dan menyumpah-nyumpah orang-orang Go-bi-pai dan pemerintah Kin.

Kemudian, atas pertanyaan kong-kongnya, ia menuturkan pengalamannya, betapa ia menerima pendidikan dari Thian-te Siang-mo sehingga tokoh-tokoh Hoa-san-pai itu menjadi girang sekali karena mereka dapat menduga bahwa kepandaian Bi Lan kini tentu amat tinggi.

Sebaliknya Bi Lan lalu mendengar penuturan kakek angkatnya.

Ternyata bahwa tiga orang tokoh Hoa-san-pai ini ditawan dan dibawa ke Cin-an, di mana mereka selain menerima siksaan juga mendapat bujukan dari Sam Thai Koksu agar supaya suka menyerah saja dan membantu pemerintah Kin.

Tentu saja tiga orang kakek gagah ini tidak sudi menerima bujukan ini dan menyatakan lebih baik binasa dari pada membantu pemerintah Kin yang menindas rakyat Tiongkok.

(Lanjut ke

Jilid 12) Pendekar Budiman/Hwa I Eng-hiong (Seri ke 01 -Serial Pendekar Budiman) "

Jilid 12 Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo

Jilid 12 Mereka diputuskan mendapat hukuman mati, akan tetapi pada malam hari terakhir, sesosok bayangan yang aneh dan luar biasa cepat gerakannya, merobohkan para penjaga tanpa banyak ribut.

Kemudian bayangan ini di dalam gelap memutuskan belenggu mereka dan mengajak mereka pergi dari tempat tahanan.

"Siapa dia itu kong kong?"

Tanya Bi Lan dengan hati berdebar, karena iapun teringat akan orang yang membantunya dalam pertempuran ketika ia terdesak oleh Ba Mau Hoatsu.

Ia ada persengkaan bahwa orang itu tentu Ciang Le, akan tetapi ia rasa tidak mungkin pemuda itu memiliki kepandaian begitu tinggi.

Kakeknya menggelengkan kepanya.

"Ia tidak mau mengaku hanya membawa kami ke tempat ini dan minta kepada kami supaya beristirahat dan jangan pergi sebelum sehat benar. Dia tentu seorang pemuda yang berkepandaian tinggi sekali, akan tetapi entah siapa kami tidak tahu."

"Juga yang menangkap mata-mata tadi tentu dia pula"

Kata Liang Tek Sianseng sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Kong kong, tahukah kau bahwa Go Ciang Le cucumu itu masih hidup?"

Tan Seng terkejut dan girang.

"Betulkah? Di mana dia?"

"Untuk apa aku membohong, kong kong? Aku bahkan sudah bertemu dengan dia di dalam gelap, sudah pula bertempur melawan dia! Dia juga murid dari Thian Te Siang mo, jadi suhengku sendiri."

Bi Lan lalu menuturkan pertempurannya antara dia dan Ciang Le, akan tetapi tentu saja dia tidak menuturkan bahwa kedua suhunya berpesan agar supaya dia memberi "Hajaran"

Kepada pemuda itu! "Sayang mengapa kau tidak memberi tahu bahwa aku menunggu dan mencarinya."

Kata orang-tua ini.

"Aku tidak diberi kesempatan, kong kong. Dia terus pergi lagi."

Setelah berunding, empat orang Hoa-san-pai ini lalu mengambil keputusan untuk pergi ke Go-bi-pai, memberi teguran kepada ketua Go-bi-pai yaitu Kian Wi Taisu, atas sepak terjang Bu It Hosiang yang khianat, mempergunakan tenaga pemerintah Kin untuk memusuhi Hoa-san-pai.

*** Pemberontakan di Tiongkok utara, wilayah yang diduduki oleh pemerintah Kin makin meluas.

Para gerilyawan melakukan perjuangan mati-matian, dibantu oleh orang-orang gagah dari utara dan selatan, orang-orang Han aseli yang tidak rela melihat bangsanya ditindas oleh orang Kin.

Pemerintah Kin di utara makin menggila dan menindas rakyat.

Banyak orang-orang Han dipaksa menjadi budak belian, diperdagangkan dan diperlakukan seperti kerbau peliharaan.

Banyak sekali kaum tani dipaksa menjadi pelayan ketentaraan dan diperas tenaganya habis habisan.

Setiap orang Kin menjadi bangsawan dan tiap orang bangsawan tentu mempunyai budak belian orang Han.

Bahkan ada sekeluanga bangsawan besar mempunyai hamba hamba orang Han sampai seratus orang lebih!

Namun pemberontakan rakyat tak kenal lelah dan tak kenal mundur.

Dibunuh seorang maju dua orang, dibinasakan sepasukan maju dua pasukan.

Muncullah orang-orang gagah yang memimpin barisan petani dan barisan rakyat yang berjuang dengan gigih, di mana-mana merupakan barisan berani mati, menyerbu dan mengganggu keamanan para petugas Kerajaan Kin.

Barisan Kin dikerahkan dan Sam Thai Koksu menjadi sibuk sekali.

Namun berkat bantuan Pak Hong Siansu yang lihai, setiap muncul barisan yang dipimpin oleh seorang gagah dari fihak pemberontak, pasti dapat dihancurkan.

Banyak tokoh-tokoh kang ouw gugur dalam membela rakyatnya.

Yang amat mengagumkan, biarpun tokoh-tokoh kang ouw yang tadinya berwatak kasar dan ganas, boleh dibilang jahat dalam pandangan umum, ketika melihat betapa banyak sekali bangsanya menjadi korban barisan Kin, serentak bangkit dan membantu perjuangan bangsanya!

Orang seperti Coa ong Sin kai yang terkenal ganas, yang disohorkan berotak miring dan yang berani membunuh sesama manusia tanpa berkejap mata, sampai bisa tergerak hatinya dan kakek aneh ini bahkan berani seorang diri mendatangi Enghiong Hweekoan dan mengamuk!

Hal ini terjadi pada suatu pagi.

Ketika itu bala tentara Kin yang dipimpin oleh Kim Liong Hoat ong sendiri melakukan pembasmian terhadap sebuah dusun yang dianggap menjadi sarang pemberontak.

Seluruh dusun dibakar musnah, orang-orang lelaki dibunuh dan perempuan perempuan diculik oleh barisan ini.

Dalam waktu kurang dari setengah hari saja dusun itu telah menjadi tumpukan puing dan mayat rakyat berserakan di mana-mana ada diantaranya yang terpanggang api sampai hangus!

Kebetulan Coa ong Sin kai berada di tempat yang tidak jauh dari dusun itu dan ketika kakek gila ini tiba di dusun yang sudah menjadi abu, timbul jiwa kepatriotannya dan ia menangis menggerung gerung ditengah dusun kosong itu.

Kemudian, bagaikan orang gila, ia mencak-mencak dan langsung berlari cepat menuju ke Cin-an sambil memaki-maki di sepanjang jalan, menyumpah-nyumpah pemerintah Kin.

Tentu saja setibanya di kota Cin-an, ia disambut oleh sepasukan penjaga yang hendak menangkap atau membunuhnya.

Akan tetapi dengan ranting bambunya yang lihai ia membuka jalan darah dan sebentar saja sepuluh orang lebih penjaga roboh tak bernyawa lagi!

Coa ong Sin kai terus berlari ke Enghiong Hweekoan dan menyerbu ke dalam sambil memaki keras.

"Sam Thai Koksu, keluarlah untuk terima binasa!"

Beberapa orang penjaga Enghiong Hweekoan keluar menyambut dengan golok di tangan, akan tetapi seperti penjaga kota tadi, sebentar saja terdengar jerit mengerikan dan beberapa orang itu roboh malang melintang dengan kepala pecah atau tubuh bolong bolong tertusuk ranting bambu!

Pada saat itu, yang berada di dalam Enghiong Hweekoan adalah Sam Thai Koksu dan Ba Mau Hoatsu.

Mereka ini sedang merayakan "Kemenangan"

Dari Kim Liong Hoat Ong yang siang tadi katanya melakukan pembersihan di dusun itu.

Ketika mendengar ribut-ribut di luar, kemudian disusul oleh bentakan dan tantangan Coa ong Sin kai, mereka menjadi marah sekali dan memburu keluar dengan senjata siap di tangan.

Sam Thai Koksu menjadi terkejut dan jerih juga melihat Coa ong Sin kai.

Akan tetapi Bamu Hoatsu membentak kepada para penjaga yang mengeroyok Coa ong Sin kai supaya mundur, kemudian dia sendiri lalu menghadapi kakek Raja Ular itu dengan sepasang senjata rodanya.

"Orang gila, bagus benar kau datang mengantar kematian. Memang telah lama aku mencarimu!"

Kata Ba Mau Hoatsu sambil mempersiapkan sepasang rodanya.

Coa ong Sin kai menunda amukannya dan dengan mata merah ia memandang kepada Ba Mau Hoatsu.

Tentu saja ia mengenal orang ini, akan tetapi ia tidak memperdulikan pendeta dari Tibet ini dan pandang matanya ditujukan ke arah Sam Thai Koksu.

"Tiga anjing Kin, aku datang untuk menghirup darah kalian!"

Serunya dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat menyerang kepada Kim Liong Hoat ong!

Sam Thai Koksu terkejut sekali dan berbareng mereka menangkis serangan ini.

Namun gerakan Coa ong Sin kai bukan main hebatnya, karena ia berada dalam keadaan marah.

Ranting bambunya bagaikan telah menjadi seekor ular hidup yang bergerak berlenggak lenggok sukar sekali dijaga serangannya.

Kim Liong Hoat Ong yang diserang menangkis dengan rantainya, dibantu oleh Tiat Liong Hoat Ong yang juga membantu suhengnya menangkis dengan goloknya.

Adapun Gin Liong Hoat Ong yang memegang sepasang ruyung, menghantamkan ruyungnya ke pundak dan lambung Coa ong Sin kai!

Akan tetapi, kakek yang dianggap gila ini sudah nekad benar rupanya.

Ia tidak mengelak dari serangan ruyung dan ranting bambunya begitu tertangkis oleh rantai dan golok, bukannya ditarik mundur, melainkan diteruskan dan kini meluncur cepat menotok ulu hati Kim Liong Hoat ong.

Serangan iri demikian tiba-tiba dan tak terduga sehingga orang pertama dari Sam Thai Koksu ini tidak melihat lain jalan untuk menghindarkan diri.

Namun ia masih percaya bahwa serangan ruyung Gin Liong Hoat ong akan mengenai sasaran dan secepat kilat ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang.

Pada saat itu, terjadilah akibat yang hebat dari serangan serangan ini.

Terdengar pekik kesakitan dari Kim Liong Hoat ong dan seruan kaget dari Gin Liong Hoat ong.

Ruyung sebelah kanan di tangan Gin Liong Hoat ong dengan tepat mengenai pundak Coa ong Sin kai dan terdengar tulang pundak kaket gila ini patah, akan tetapi ujung ranting bambu di tangan Coa ong Sin kai masih sempat menusuk pundak Kim Liong Hat Ong yang segera terguling dan merintih-rintih di atas tanah dengan muka menjadi pucat sekali.

Adapun ruyung di tangan kiri Gin Liong Hoat Ong yang menyerang lambung Coa ong Sin kai, kena disabet oleh tangan kiri kakek pengemis ini dan terdengar suara.

"Krak"

Dan patahlah ruyung yang kuat itu!

Biarpun tulang pundaknya telah patah, namun Coa ong Sin kai seakan-akan tidak merasa sakit sama sekali.

Terdengar ia tertawa bergelak dan menyeramkan kemudian ia menubruk mau menyerang Tiat Liong Hoat ong dengan ranting bambunya.

Pada saat itu, sepasang roda di tangan Ba Mau Hoatsu menyambar cepat.

Melihat datangnya senjata yang luar biasa lihainya ini, Coa ong Sin kai tidak berani menerimanya dan cepat mengelak.

Sementara itu, ranting bumbunya telah berpindah ke tangan kiri, karena lengan kanannya tak dapat digerakkan lagi.

Ia membatalkan niatnya menyerang Tiat Liong Hoat ong dan kini dengan sepenuh tenaga dan pengerahan kepandaiannya, ia menghadapi Ba Mau Hoatsu sambil masih tertawa bergelak gelak.

Gin Liong Hoat ong dan Tiat Liong Hoat ong ketika melihat keadaan Kim Liong Hoat Ong yang terluka parah, menjadi marah sekali dan berbareng mereka mengeroyok Coa ong Sin kai.

Akan tetapi, perbuatan mereka ini merugikan Ba Mau Hoatsu dan bahkan menggirangkan hati Coa ong Sin kai yang menjadi makin ganas.

Dengan tendangan kaki berantai, ia berhasil membuat golok di tangan Tiat Liong Hoat ong terlempar jauh dan sebelum Tiat Liong Hoat ong sempat menangkis, sebuah tendangan kakek pengemis ini mengenai pahanya sehingga tubuhnya terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi karena tulang pahanya patah!

"Ha-ha-ha!

Anjing-anjing Kin, kalau belum membasmi kalian, aku belum puas!

Ha-ha-ha!"

Kata Coa ong Sin kai dan kini ia menubruk Gin Liong Hoat Ong yang sudah menjadi pucat dan gentar.

Akan tetapi, Ba Mau Hoatsu mendesak maju dan karena perhatian Coa ong Sin kai ditujukan kepada Gin Liong Hoat Ong yang hendak dirobohkannya ia tidak dapat menjaga datangnya roda kiri di tangan Ba Mau Hoatsu yang amat lihai.

"Prak!"

Dengan tepat sekali roda itu menghantam kepala Coa ong Sin kai dan pengemis tua ini menjerit ngeri, akan tetapi ia masih sempat melontarkan rantingnya ke arah Ba Mau Hoatsu.

Lontaran ranting ini dilakukan dengan tenaga terakhir sebelum ia roboh tak bernyawa di atas tanah karena kepalanya telah pecah.

Bukan main hebatnya lontaran ini dan Ba Man Hoatsu maklum bahwa ranting ini ujungnya mengandung racun dan apabila mengenai tubuhnya akan berbahaya sekali.

Ia cepat menangkis dengan sepasang rodanya sehingga ranting itu menyeleweng ke pinggir dan menjeritlah seorang penjaga, lalu roboh tak bernyawa lagi.

Ranting itu dengan keranya menancap di dadanya dan ia tewas di saat itu juga.

Dengan amat marah, Gin Liong Hoat ong mengerjakan ruyungnya yang tinggal sebelah untuk memukuli kepala dan tubuh Coa ong Sin kai sehinga tak lama kemudian tubuh kakek pengemis itu sudah tidak karuan macamnya lagi.

Ngeri orang-orang melihat peristiwa ini dan hati para perwira Kin menjadi gentar.

Bukan main hebatnya orang-orang Han yang datang mengamuk.

Baiknya ada Pak Hong Siansu yang datang pada senja harinya, karena kalau tidak ditolong oleh kakek sakti ini, agaknya Kim Liong Hoat Ong yang tertusuk ujung ranting bambu berbisa, tentu akan tewas.

Sam Thai Koksu merawat luka mereka sambil menyumpah-nyumpah.

"Masih ada dua orang lagi, yakni Iblis Kembar. Kalau mereka tidak dibasmi dan mereka beri kesempatan mengacau di sini, akan lebih hebat lagi,"

Kata Kim Liong Hoat ong.

"Jangan khawatir, biar dia datang kalau hendak mencari mampus!"

Kata Ba Mau Hoatsu. Mendengar ini Kim Liong Hoat ong menjadi mendongkol.

"Apa lagi kalau mereka datang, sedangkan baru Coa ong Sin kai yang datang saja, hampir saja kami binasa. Kalau Pak Hong Siansu berada di sini, tentu takkan terjadi hal seperti ini."

Ucapan ini terang terangan menyindir bahwa adanya Ba Mau Hoatsu di situpun tidak banyak gunanya!

Merah wajah Ba Mau Hoatsu.

Ia adalah seorang sombong yang segan mengalah, maka diam-diam ia timbul perasaan tidak senang kepada Sam Thai Koksu, katanya.

"Salah sam wi sendiri, kalau tadi sam wi tidak ikut campur dan menyerahkan Coa ong Sin kai kepadaku seorang, tak nanti akan jatuh korban. Di dalam pertempuran menghadapi musuh pandai, paling selamat menonton saja di pinggir dan membiarkan orang yang lebih kuat maju melayaninya!"

Ucapan inipun merupakan sindiran bagi Sam Thai Koksu yang terang terangan dikatakan masih terlampau rendah kepandaian mereka!

Suasana menjadi panas dan Ba Mau Hoatsu maupun Sam Thai Koksu, kedua fihak telah mulai merasa tidak senang hati.

"Tak perlu ribut-ribut,"

Kata Pak Hong Siansu.

"Hal yang sudah lewat tak perlu diributkan. Sekarang kita ke depan dan mencari jalan terbaik."

"Tidak ada lain jalan lagi, sebelum harimau menyerang, kita turun-tangan lebih dulu!"

Kata Kim Liong Hoat ong.

"Ucapan Kim Liong Hoat ong betul juga,"

Kata Giok Seng Cu.

"Pemberontakan ini tidak kuat kalau di belakang mereka tidak ada orang-orang seperti Coa ong Sin kai, orang-orang Hoa-san-pai, dan Thian Te Siang mo. Oleh karena itu, sebelum menanti mereka bergerak terlebih dulu membasmi mereka, adalah siasat yang baik sekali."

"Akan tetapi Thian Te Siang mo tidak tentu tempat tinggalnya. Di mana kita bisa mencari mereka?"

Kata Pak Hong Siansu.

"Memang aku sendiripun sengaja meninggalkan gunung dengan maksud mencoba kepandaian mereka."

"Mudah saja,"

Kata Kim Liong Hoat ong.

"Kalau kita menyiarkan berita menantang mereka, apakah mereka tidak akan datang? Biar kami bertiga mempergunakan nama kami untuk menantang dia menantang pibu di kota Cin-an!"

Demikianlah, tak lama kemudian, tersiar berita luas di kalangan kang ouw bahwa Sam Thai Koksu menantang Thian Te Siang no untuk mengadu kepandaian!

*** Gan Hok Seng, murid ke tiga dari Hoa-san-pai, setelah bertemu dengan Bi Lan, cepat pulang dan ia mulai mengumpulkan kawan-kawan sehaluan di daerahnya, lalu ia memimpin pasukan suka rela ini untuk membantu perjuangan saudara-saudaranya di utara melawan pemerintah Kin.

Sebelum berangkat, ia membuat sepucuk surat ditujukan kepada sucinya, yaitu Thio Ling In di Biciu, lalu ia menyuruh seorang kawannya naik kuda mengantar surat itu ke Biciu.

Kemudian pada hari keberangkatan pasukannya ke utara, kebetulan sekali datanglah Lie Bu Tek di tempat itu.

Hok Seng menyambut suhengnya ini dengan girang sekali dan Bu Tek juga menyatakan kesediaanya membantu sutenya, memimpin barisan ini menuju ke utara untuk digabungkan dengan para pejuang di sana.

Karena melihat pakaian Lie Bu Tek yang berkembang sudsh tidak karuan macamnya lagi, Hok Seng lalu memberi pakaian kepada suhengnya itu dan Lie Bu Tek kini berganti pakaian seperti kawan-kawannya yang hendak berjuang, pakaian orang Han yang ringkas dan pedangnya tergantung di punggungnya.

Pemuda ini telah mendapatkan semangatnya kembali dan ia berjalan dengan gagahnya di sebelah sutenya.

Dengan semangat bernyala-nyala, rombongan orang-orang muda ini berangkat untuk menyumbangkan jiwa raga guna membela tanah air di utara yang dijajah oleh musuh!

Thio Ling In menanti-nanti kembalinya suaminya dan hatinya mulai terasa gelisah.

Ia hanya tahu bahwa suaminya tinggal di utara, di wilayah Kerajaan Kin dan ia mendengar pula akan keributan dan pemberontakan di utara.

Telah berbulan-bulan suaminya tidak muncul dan ia setiap malam tak dapat tidur, mengkhawatirkan keselamatan suaminya yang dicintanya itu.

Pada suatu senja, selagi ia duduk di depan rumahnya menanti dan mengharap-harapkan kembalinya Wan Kan, dari jauh ia melihat seorang laki-laki menunggang kuda yang dilarikan cepat sekali menuju ke arahnya.

Hatinya berdebar penuh harapan dan ia bangkit dari duduknya karena mengharapkan bahwa yang dating itu suaminya.

Akan tetapi alangkah kecewanya bahwa yang menunggang kuda itu adalah seorang laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya.

Akan tetapi penunggang kuda ini menghentikan kudanya di depan rumah, lalu turun memberi hormat.

"Apakah di sini rumah Biciu Lihiap Thio Ling In?"

Tanya orang itu. Ling In mengerutkan keningnya.

"Betul dan aku sendirilah Thio Ling In,"

Jawabnya. Muka orang itu nampak girang.

"Bagus, kebetulan sekali Lihiap. Memang aku sengaja dating dari jauh untuk menemui Lihiap."

"Siapakah kau, dari mana datangmu?"

"Aku datang dari Kanglam, diutus oleh Hui-houw Gan Hok Seng Toako untuk menyampaikan suratnya kepada Lihiap."

Setelah berkata demikian, orang itu lalu mengeluarkan sepucuk surat dari saku bajunya. Ling In menerima surat ini dengan hati tidak enak.

"Duduklah, saudara. kau datang dari tempat jauh dan mengasolah."

Akan tetapi orang itu menggeleng kepalanya.

"Aku harus segera kembali untuk menyusul pasukan Gan toako yang berangkat lebih dulu ke utara."

Setelah berkata demikian, pesuruh Gan Hok Seng itu segera meloncat kembali ke atas kudanya, ia memang sudah tidak sabar lagi untuk segera menyusul rombongan pasukannya karena, kuatir kalau kalau tertinggal.

Beginilah semangat kepahlawanan yang membakar dada setiap pemuda di waktu itu dan pergi perang menghadapi penjajah bagi mereka seakan-akan pergi menuju ke medan pesta!

Ling In duduk kembali di atas bangkunya dan membuka surat dari Hok Seng.

Dibacanya surat itu dengan berdebar.

"Suci (Kakak seperguruan) THIO LING IN, Siauwte (adik) mengharap suci takkan terkejut dengan isi surat ini. Siauwte hendak berterus terang saja dan percayalah bahwa siauwte, juga Lie Suheng dan kami semua tidak mengandung rasa hati benci atau mendendam kepada suci karena dapat menduga bahwa perbuatan suci yang memutuskan hubungan dengan Lie Suheng dan menikah dengan orang she Wan itu tentu dengan alas an yang kuat. Akan tetapi, hendaknya suci maklum bahwa orang yang bernama Wan Kan dan menjadi suami suci bukan lain adalah WAN YEN KAN, pangeran Bangsa Kin, musuh bangsa kita yang kejam dan ganas! Oleh karena itu, terserah kepada suci hendak bersikap bagaimana hanya ketahuilah bahwa kami juga Lie suheng, sekarang berangkat hendak membantu perjuangan rakyat di utara untuk membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman dan penindasan kaum penjajah! Harap saja suci insyaf dan dapat mengambil tindakan yang sesuai sebagai anak murid Hoa-san-pai yang gagah perkasa! Tertinggal Hormatnya, Siauwte GAN HOK SENG Membaca surat ini, pucatlah wajah Ling In. Kedua tangannya gemetar, bibirnya menggigil dan tak terasa pula surat itu terlepas dari tangannya. Kemudian ia menutup mukanya dengan kedua tangan dan menangis.

"Kau ... kau "

Wan Yen Kan Pangeran Kin"? Ya Tuhan Yang Maha Kuasa"

Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini"?"

Sampai setengah hari Ling In menangis dan segala pertanyaan ibu dan pamannya tak di jawabnya.

Kemudian, bagaikan seorang gila dan nekad, tanpa mengeluarkan sepatah katapun kepada orang serumah, Ling In membuntal pakaiannya dan pergilah ia meninggalkan rumahnya.

Tekadnya hendak mencari suaminya, hendak menuntut balas karena suaminya dianggap telah menipunya, ia akan mencari Wan Kan atau Wan Yen Kan, hendak dibunuhnya, kemudian ia akan membunuh diri sendiri, karena sesungguhnya ia cinta kepada suami itu, siapapun juga adanya orang itu!

Ibu dan pamannya hanya saling pandang dengan bingung dan nyonya Thio hanya bisa menangis dan mengeluh melihat kepergian puterinya.

Akan tetapi ketika ia mendapatkan surat dari Hok Seng bukan main bingung dan menyesalnya.

Tak disangkanya sama sekali bahwa mantunya yang kelihatan baik itu adalah pangeran Bangsa Kin!

Sementara itu, di dalam istana Kaisar Kin terjadi peristiwa lain lagi, Wan Yen Kan ribut mulut dengan ayahnya.

"Kalau kau ingin mempunyai selir perempuan Han, tentu saja aku tidak keberatan. kau boleh mencari beberapa belas atau beberapa puluh sesukamu. Akan tetapi membawa seorang perempuan Han ke sini untuk menjadi isteri tunggal? Tak mungkin!"

"Ayah, aku cinta kepadanya dan aku tidak mau menikah dengan wanita lain!"

Bantah Wan Yen Kan.

"Bodoh! Karena sejak muda kau merantau dan bergaul dengan orang-orang Han, watak mupun berobah seperti seorang petani Han! Bangsa Han sedang memberontak dan merongrong kita, apakah sekarang kau hendak memasukkan seorang wanita Han sebagai mantuku di sini? Tidak boleh!"

"Ayah, pemberontakan mereka itu terjadi karena tidak becusnya para pembesar kita sendiri mengurus pemerintah. Mereka itu tidak lain merupakan orang-orang jahat yang berselimutkan pangkat, korupsi besar besaran dan memeras rakyat jelata untuk kantong sendiri. Tidak dapat disalahkan kepada rakyat yang memberontak begitu saja, karena setiap pemberontakan tentu ada sebabnya dan selalu yang menjadi sebabnya adalah penindasan dan pemerasan. Siapa orangnya takkan memberontak kalau ditindas dan dicekik? Dari pada menindas mereka yang memberontak untuk perbaikan nasib, lebih tepat kalau ayah bertindak keras terhadap para pembesar tukang makan dan mengganti mereka dengan orang-orang yang benar-benar jujur dan tepat."

"Apa katamu?"

Kaisar menggebrak meja.

kau membela kaum pemberontak?

Sungguh gila, mana yang lebih gila dari pada ini?

Dan kau adalah pangeran, puteraku, calon Kaisar menggantiku!

Terkutuk, agaknya kau telah kemasukan racun orang-orang Han.

Lebih baik kau mampus dalam tanganku!"

Kaisar yang marah itu lalu mencabut pedangnya, akan tetapi permaisurinya atau ibu dari Wan Yen Kan segera mencegah dan menghiburnya.

"Dia masih terlalu muda, harap kau suka maafkan dia dan memberi kesempatan padanya,"

Kata ibu Wan Yen Kan.

"Bangsat besar!"

Kaisar memaki-maki.

"Pendeknya, tidak boleh dia membawa perempuan Han itu di sini sebagai isterinya. Kalau sebagai selir, masa bodoh."

"Dari pada menganggap isteriku sebagai selir, lebih baik aku pergi dan hidup sebagai seorang petani biasa,"

Wan Yen Kan membantah, sedikitpun tidak takut.

"Bangsat tak tahu malu, kalau begitu baik, pergilah!"

Ayahnya menudingkan jarinya mengusir Wan Yen Kan memeluk ibunya lalu berlari keluar.

Hatinya sudah tetap.

Ia lebih suka meninggalkan istana ayahnya, meninggalkan kesempatan menjadi pengganti ayah nya, dari pada harus merendahkan Ling In sebagai selirnya!

Setelah keluar dari istana ayahnya, Wan Yen Kan lalu membuang semua pakaian pangeran yang melekat di tubuhnya dan mengganti dengan pakaian biasa, pakaian seorang Han!

Baiknya semua orang di Kotaraja sudah mengenalnya, dan sudah biasa melihat Pangeran Wan Yen Kan berpakaian seperti itu.

Mereka menganggap bahwa pangeran yang pandai dan tinggi kepandaiannya ini tentu akan bekerja sebagai mata-mata, menyelidiki orang-orang Han yang memberontak, maka berpakaian seperti itu.

Kalau saja semua orang tidak mengenal Wan Yen Kan, tentu ia akan dikeroyok dan dibunuh, karena pada waktu itu, siapa yang tidak membenci orang Han yang telah menimbulkan pemberontakan di mana-mana?

Bahkan para hamba sahaya Bangsa Han yang berada di Kotaraja, menjadi manusia setengah binatang, banyak yang dibunuh oleh orang-orang Kin untuk melampiaskan amarah mereka mendengar betapa orang-orang Han memberontak.

Keputusan hati Wan Yen Kan sudah tetap.

Ia hendak pergi ke Biciu dan hidup sebagai suami-isteri penuh bahagia dengan Ling In, isterinya.

Bahkan ia hendak mengajak Ling In pindah jauh ke selatan agar jangan mendengar pula tentang keributan dan pemberontakan Bangsa Han terhadap Kerajaan Kin!

Ia lalu melakukan perjalanan ke selatan dengan cepat, tak diperdulikannya keributan dan pertempuran pertempuran kecil yang selalu ia dengar dan lihat di sepanjang perjalanannya.

Apabila ia ditahan oleh sepasukan Kin, ia memperlihatkan tanda pengenalnya dan menyatakan kepada komandan tentara bahwa dia bertugas menyelidiki ke selatan!

Kalau bertemu dengan pasukan pemberontak, tak seorangpun mencurigainya, karena selain pakaian yang dipakainya seperti pakaian seorang Han aseli, juga Wan Yen Kan pandai sekali berbahasa Han dengan lidah yang fasih.

Akan tetapi, dasar memang sudah nasibnya untuk menghadapi keributan.

Pada suatu hari, ia mendengar dari komandan barisan Kin bahwa tak jauh di sebelah utara lembah Sungai Huai, terdapat sekelompok barisan pemberontak yang dikepalai oleh orang-orang Hoa-san-pai.

Mendengar ini tertariklah hati Wan Yen Kan karena ia teringat bahwa Thio Ling In, isterinya tercinta, juga anak murid Hoa-san-pai, juga memperkenalkan nama saudara-saudara seperguruan isterinya, yaitu yang bernama Lie Bu Tek, Gan Hok Seng, dan Liang Bi Lan.

Dengan hati girang dan besar Wan Yen Kan lalu meninggalkan barisan Kin itu dan dengan tabah menuju ke tempat di mana pasukan pemberontak berada, ia ingin sekali bertemu dan berkenalan dengan saudara-saudara seperguruan isterinya!

Ketika ia berjalan di daerah pemberontak itu, seorang penjaga menegurnya.

"Eh, saudara! Di waktu tidak aman seperti ini, mengapa kau berjalan enak-enak saja? Apakah kau tidak tahu bahwa barisan Kin yang ganas berada hanya beberapa li di sebelah utara?"

Wan Yen Kan tersenyum.

"Tentu saja siauwte tahu akan hal itu karena siauwtepun mengungsi dari utara. Siauwte mendengar bahwa pemimpinmu adalah orang-orang gagah dari Hoa-san-pai, betulkah? Apakah ada yang bernama Gan Hok Seng dan Lie Bu Tek di sini? Siauwte kenal baik dengan nama mereka, maka kalau bisa, mohon bertemu dengan mereka."

Sikap penjaga itu berobah manis ketika mendengar ini.

"Ah, tidak tahunya Siangkong adalah kawan-kawan baik dari Gan piauwsu dan Lie taihiap. Mereka memang berada di sini, dan kalau kau ingin bertemu datanglah di lembah sebelah kiri itu, mereka biasanya berada di tempat itu. Aku tidak dapat mengantar, maaf, karena aku harus menjaga di sini."

Wan Yen Kan menghaturkan terima kasih dan dengan girang ia lalu menuju ke tempat yang ditunjuk oleh penjaga itu.

Ia bertemu dengan orang-orang yang bersenjata tajam, sikap mereka gagah dan bersemangat sekali.

Diam-diam Wan Yen Kan menarik napas panjang dan menyesalkan kesalahan tindakan dari pemerintahan ayahnya.

Tempat yang ditunjuk oleh penjaga tadi merupakan sebuah tempat terbuka di mana Gan Hok Seng dan Lie Bu Tek seringkali mengadakan perundingan dan membicarakan siasat dengan kawan-kawan lain.

Pada saat itu, tempat itu sunyi saja dan ketika Wan Yen Kan tiba di tempat itu, ia memandang ke kanan kiri dengan ragu-ragu.

Mengapa tidak ada orang di sini, pikirnya.

Tiba-tiba dari balik pohon muncul seorang pemuda yang gagah perkasa.

Pemuda ini adalah Lie Bu Tek yang bersikap hati-hati dan waspada.

Tidak seperti penjaga tadi, ia selalu bersikap hati-hati dan curiga.

Biarpun pemuda yang berdiri di situ terang adalah seorang Han, namun karena ia belum pernah melihatnya, maka timbul kecurigaan dalam hatinya.

"Siapa kau dan ada keperluan, apa datang di sini?"

Bentaknya. Wan Yen Kan menengok dan ia melihat seorang pemuda yang memandangnya tajam penuh selidik.

"Siauwte ingin bertemu dengan Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng, anak murid Hoa-san-pai,"

Jawabnya. Makin besar curiga di hati Lie Bu Tek.

"Ada keperluan apakah kau hendak bertemu dengan mereka? Siapakah kau?"

"Aku bernama Wan Kan, suami dari Biciu Lihiap Thio Ling In."

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 6

Baca Juga: Istana Pulau Es 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert