Jago Pedang Tak Bernama 4

Eps 4 Jago Pedang Tak Bernama - Kho Ping Hoo

Baca online Jago Pedang Tak Bernama - Kho Ping Hoo

Cersil Jago Pedang Tak Bernama - Kho Ping Hoo.

Bu Ong tertawa dan menggunakan sebatang sumpit menusuk sepotong paha ayam dan sekali menggerakkan jarinya, paha ayam itu terlepas dari ujung sumpit bagaikan anak panah dan menyambar kearah wajah Cin Eng!

Nona ini marah sekali dan hendak menusuk daging itu dengan sumpitnya, tapi Bu Beng mendahuluinya dan menggerakkan tangan, daging itu terbang kembali kearah muka Bu Ong dengan kecepatan dua kali lipat daripada datangnya tadi!

Bu Ong terkejut dan terpaksa menangkis daging yang hendak menghantam mukanya ini dengan tangan, tapi malang sekali bagi Bu Liong jago keempat yang duduk disebelahnya dan masih tertawa karena lagak suhengnya tadi hingga daging itu dengan tak tersangka-sangka menyambar cepat dan tepat memasuki mulutnya yang masih terbuka.

Tentu saja ia menjadi gelagap.

Terdengar suara ketawa di meja Bu Beng, karena Lui Im, Kim Kong Tianglo dan Cin Eng tak dapat menahan geli hatinya dan tertawa gembira.

Kelima saudara Bu itu marah sekali dan Bu Ong meloncat berdiri sambil memaki.

"Maling dan anak maling, saying tempo hari kami tak sempat membasmi kalian. Kebetulan sekali hari ini kalian berani memperlihatkan muka, pasti taiyamu tak dapat memberi ampun padamu."

"Bangsat kurang ajar! Memang kami sengaja mencari-carimu untuk membalas dendam ayah ibuku? Sekarang kita sudah ketemu jangan harap kau akan hidup lebih lama lagi!"

Lo Sam berdiri kebingungan melihat ini. Bu Beng segera menarik tangan Cin Eng dan berkata kepada Bu Ong dan kawan-kawannya.

"Kalian disebut Ngo Houw dari Tiang-An yang sudah tersohor sebagai orang-orang gagah. Tapi mengapa kalian tidak kenal perikesopanan? Kita harus menghormati Lo Sam Enghiong dan jangan membikin rebut di pesta ini. Kalau kalian memang laki-laki, mari kita keluar!."

"Eh, eh, setan kecil, siapa kau berani ikut campur?"

"Dia... dia adalah Bu Beng Kiam Hiap, mari kuperkenalkan,"

Lo Sam mencoba mendamaikan mereka karena ia sebenarnya tak tahu sebab musabab permusuhan mereka ini.

"Hm, pantas sombong sekali, kiranya Bu Beng siauwcut! Kau kira kami takut padamu?"

"Jangan banyak mulut! Kalau memang berani, hayo keluar!"

Teriak Cin Eng marah.

"Ha, ha, galak benar si manis ini, berikan saja padaku twa suheng,"

Kata Bu Kiat, jago yang termuda dan yang terkenal mata keranjang.

Bu Ong hanya tertawa.

Bu Beng, Cin Eng, dan Kim Kong Tianglo sudah tak sabar lagi, mereka meloncat keluar dari pekarangan itu dan menanti di luar setelah menjuru kepada Lo Sam.

Kelima Macan dari Tiang-An ikut keluar.

Tentu saja menghadapi pertempuran yang paasti ramai dan menarik hati, semua tamu ikut keluar dengan makdus menonton, karena mereka semua terdiri dari para ahli silat.

Maka kosonglah tempat pesta itu.

Bu Beng memberi pesan kepada kawan-kawannya untuk tinggal diam karena ia hendak melawan sendiri (Lanjut ke

Jilid 06 -Tamat) Jago Pedang Tak Bernama (Serial 01 -Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 (Tamat) kelima jago itu.

Ia berdiri menanti dengan pedang Ang Coa Kiam di tangan dengan sikap tenang sekali, Tapi, baru saja kelima harimau Tiang-An itu tiba disitu, tiba-tiba dari tempat yang gelap keluar seorang tinggi besar yang langsung menubruk dan menyerang mereka!

Tentu saja hal ini sangat mengherankan orang.

Gerakan-gerakan penyerang itu gesit dan aneh sekali, sedangkan tenaganya besar.

Ketika orang memperhatikan dia ternyata ia adalah seorang muda yang berpakaian compang-camping dan rambutnya terurai kesana kemari tak terurus sama sekali!

Ia kelihaan seram sekali hingga kelima saudara Bu terkejut dan marah.

Melihat orang itu bertangan kosong, maka Bu Ong mencabut goloknya dan menyerang.

"Hek Houw! jangan ikut campur!"

Teriak Bu Beng yang segera mengenal pemuda itu. Demikian juga Cin Eng berseru.

"Hek twako, jangan!"

Tapi Hek Houw tak memperdulikan mereka.

Lalu dengan tertawa haha hihi ia balas menyerang dengan buas!

Segera kelima saudara itu mengeroyok Hek Houw karena mereka segera mengetahui bahwa pemuda gila itu hebat sekali.

Tubuhnya bergerak-gerak aneh dan meloncat kesana kemari diantara sambaran lima batang golok yang dimainkan hebat tapi yang sama sekali tak berdaya seakan mengeluarkan sambaran angin menolak datangnya bacokan golok, bahkan pemuda itu mengeluarkan serangan-serangan berbahaya diiringi suara ketawa ha ha hi hi yang menyeramkan.

Keadaan genting dan seram hingga semua orang memandang dengan hati tegang berdebar-debar.

Bahkan Cin Eng sendiri merasa tegang dan memegang lengan Bu Beng dengan keras.

Tiba-tiba, Hek Houw tertawa keras dan berkata.

"Kudengar tadi kalian Harimau Tiang-An? kalau begitu biarlah aku mewakili suhu dan kouwnio membunuh kalian!"

Lalu ia mempercepat gerakannya dan tiba-tiba Bu Kiat menjerit ngeri. Orang-orang hanya mendengar suara "pletak!"

Dan melihat Bu Kiat terlempar jatuh tak berkutik, kepalanya pecah!

Terdengar Hek Houw tertawa seranm, lalu ia bergerak lagi, kini Bu Bouw mendapat giliran terlempar dan jatuh tak berkutik.

Tiap kali merobohkan seorang lawan, Hek Houw tertawa terbahak-bahak dan sebentar saja lima Harimau Tiang-An itu menggeletak diatas tanah tak berkutik!

"Hek Houw,"

Bu Beng memanggil lagi.

"Ha ha ha! suhuku dan kouwnio akan puas kali ini!"

Rupanya pemuda gila itu tidak mengenal lagi kepada Bu Beng.

"Hek Houw twako!"

Cin Eng maju memanggil tapi Hek Houw memandangnya aneh, lalu pemuda itu meloncat ke tempat gelap dan menghilang hanya suara ketawanya masih terdengar sayup-sayup menyeramkan hati!

Ketika semua orang memeriksa, ternyata lima harimau Tiang-An itu telah mati semuanya.

Tiga orang pecah kepala dan yang dua tulang iganya patah-patah.

Diam-diam Bu Beng kagum dan terkejut menyaksikan kehebatan ilmu silat Hek Houw.

Lo Sam dengan suara bentakan keras memerintahkan anak buahnya merawat lima mayat itu dan ia persilakan semua tamunya kembali duduk dan minum arak.

Diam-diam Lo Sam mendekati Bu Beng dan bertanya.

"Bu Beng Taihiap siapakah pemuda hebat yang kau sebut Hek Houw tadi?"

"Ia... adalah..."

"Muridnya!"

Menyambut Cin Eng dengan bangga.

Gadis itu merasa bangga dan gembira sekali karena musuh ayah-ibunya telah terbunuh semua dengan cara yang memuaskan.

Mendengar keterangan ini, Lo Sam memandang Bu Beng, dengan heran sekali, demikian juga Kim Kong Tianglo.

"Kau mempunyai murid sehebat itu, sute? Tanya Kim Kong Tianglo. Bu Beng hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala sehingga Kim Kong Tianglo maklum bahwa pemuda itu tak hendak memberi keterangan di depan orang banyak, maka ia diam saja. Tiba-tiba seorang anak buah perkumpulan pengemis itu berlari-lari mendatangi dan berkata kepada Lo Sam.

"Celaka suhu, celaka Arca Giok pemberian Pauw Hun Lin tadi lenyap dicuri orang!"

Semua orang tercengang mendengar ini, lebih-lebih Pauw Hun Lin si Naga Ekor Sepuluh. Ia berdiri dan berkata keras.

"Siapa yang begitu kurang ajar dan berani main-main dengan aku? Matanya yang bundar dan lebar melirik-lirik ke kanan kiri dan alis matanya yang tebal seakan-akan berdiri. Tiba-tiba Sim Boan Lip berdiri dan mendekat Pauw Hun Lin. Lalu berbisik perlahan. Pauw Kauwsu segera tujukan pandangan matanya kepada Bu Beng dan ia berkata kepada Lo Sam.

"Lo-Enghiong, kuharap suka periksa bungkusan Bu Beng Kiam Hiap, karena ada yang melihat bahwa dia dan kawannya yang mencuri arca Giok itu."

Tidak hanya Lo Sam yang sangat terkejut mendengar ini, bahkan Bu Beng sendiri merasa seakan dismbar petir. Ia marah dan mendongkol sekali.

"Pauw Lo-Enghiong jangan sembarangan menuduh orang!"

Cin Eng yang juga merasa sangat marah mendengar betapa kekasihnya dihina, segera mengambil bungkusan Bu Beng yang tadi ketika terjadi pertempuran, diletakkan di atas meja.

Ia buka ikatan buntalan itu sambil berkata.

"Ini, saksikan sendiri, siapa yang sudi mengambil barang macam...!"

Tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya dan dengan mata terbelalak dan mulut ternganga memandang ke dalam bungkusan.

Ternyata arca budha itu benar-benar berada dalam bungkusan Bu Beng!

Melihat hal ini Bu Beng merasa heran sekali dan Pauw Hun Lin tertawa menyindir.

"Hm, dasar maling. Kalau begitu benar juga ucapan lima saudara dari Tiang-An tadi bahwa kalian ini tak lain hanya maling-malaing rendah saja!"

Dengan sekali ayun tubuh Bu Beng meloncat beberapa buah meja dan berdiri di depan Pauw Hun Lin.

"orang tua, jangan kau menghina sekali! Kau sendiri tadi melihat aku pergi keluar menghadapi lima pengacau itu. Bagaimana aku bias mengambil barangmu? Tentu ada orang yang memfitnah!"

Dan ia pandang wajah Sim Boan Lip dengan tajam.

"Alasan belaka! Akal maling rendah! Kau benar keluar, tapi siapa tahu ketika semua orang ikut keluar, kesempatan itu digunakan oleh kawan-kawanmu maling yang lain?."

"Pauw Kauwsu! Sampai dimanakah tingginya kepandaianmu maka kau begitu sombong?"

Kata-kata ini mengandung tantangan, maka tentu saja Pauw Hun Lin merasa marah.

"Ha, memang sudah kudengar dari Ang Hwat Tojin bahwa kau mempunyai sedikit kepandaian dan menjadi sombong karenanya. Mari kita boleh coba-coba sebentar!"

Pauw Hun Lin lalu meloncat ke ruangan yang agak lebar. Bu Beng yang merasa marah sekali segera mengejar. Mereka saling berhadapan dan memasang kuda-kuda ketika Lo Sam berseru.

"Tahan!"

Dengan sekali loncatan pengemis pendek itu sudah berada di antara kedua jago yang hendak mengukur tenaga masing-masing itu.

"Pauw Enghiong,"

Kata Lo Sam.

"Janganlah mendesak Bu Beng Taihiap. Karena aku sendiri berani menanggung bahwa bukan Bu Beng Taihiap yang mengambil barang itu."

"Hm, begitu? Tapi mengapa arca itu bias masuk ke dalam bungkusannya?"

Tanya Pauw Hun Lin.

"Dalam hal ini pasti ada tukang fitnahnya!"

Jawab Lo Sam.

"Hm, kau sebagai tuan rumah ternyata berat sebelah. Lo-Enghiong! biarlah, aku memang hendak mencoba kepandaian anak muda ini dan kalau bias mengajar adapt padanya."

"Aku melarangnya. Pauw Kauwsu. Aku tuan rumah dan aku tak suka orang merusak pestaku ini!"

"Kalau aku tetap hendak menghajarnya, kau mau apa?"

Lo Sam agak marah mendengar ini.

"Pauw Kauwsu! Kau adalah tamu undanganku, dan aku tuan rumah tempat ini mengerti? Sebagai tamu kau harus tunduk kepada peraturanku. Pendknya jangan berkelahi atau kalau tidak lebih baik kau keluar saja dan bawalah lagi pemberianmu itu!"

Lo Sam benar-benar marah karena merasa dihina dan tak dihargai oleh kauwsu itu.

"Ha, ha agaknya kau dudah sekongkol dengan maling-maling itu. Kau sendiri memerlukan hajaran pengemis rendah!"

Mendengar ini, Lo Sam berseru marah dan ia segera menyerang!

Maka bertempurlah kedua orang tua itu, Bu Beng tahu akan kepandaian Lo Sam, tapi ia terkejut sekali ketika melihat bahwa sebentar saja Lo Sam terdesak mundur oleh pukulan-pukulan Pauw Kauwsu yang benar-benar hebat!

Tiba-tiba Lo Sam mloncat jauh ke sudut ruangan dan tahu-tahu ia sudah mengambil tongkatnya.

"Untuk memukul anjing aku harus menggunakan tongkatku!"

Katanya.

"Ha, ha, ha! bagus memang aku ingin sekali mencoba tongkat wasiatmu!"

Kata Pauw Kauwsu dengan sombong sambil mencabut pedang.

Bu Beng pernah bertempur melawan Lo Sam dan tahu bahwa ilmu permainan tongkat dari pengemis ini benar-benar hebat dan boleh dikatakan setingkat dengan permainan pedang yang ia pelajari dari Hun San Tojin, gurunya.

Maka ia berpikir kali ini Lo Sam pasti menang.

Tapi di luar dugaannya, orang she Pauw itu benar-benar hebat hingga pedangnya dapat melayani ilmu tongkat Lo Sam dengan baik sekali, bahkan agaknya lebih unggul!

Lo Sam mengeluarkan ilmu tongkatnya Pat kwa mui yang gerakan-gerakannya sangat hebat serta berubah-ubah jurusannya dari delapan penjuru.

Tapi ilmu pedang Pauw Kauwsu tidak kalah hebatnya dan dapat mengatasi ilmu tongkat lawan.

Lama-lama Bu Beng tahu bahwa biarpun dalama permainan senjata LoSam tidak kalah banyak, namun pengemis kate ini kalah tenaga, maka menjadi terdesak mundur.

Bu Beng mencabutpedang dan menggerakkan pedang ular merah diantara kedua orang yang sedang bertempur itu.

Mereka melihat sebuah sinar merah panjang berkilat menyilaukan mata, maka masing-masing menarik senjata dan meloncat mundur.

Bu Beng menjuru kepada Lo Sam.

"Lo-Enghiong, biarlah siauwte melawan orang sombong ini, karena sebenarnya siauwtelah yang ia kehendaki. Siauwte tidak suka membiarkan Lo-Enghiong mewakili siauwte yang muda."

"Bagus Bu Beng siauwcut, majulah!"

Pauw Kauwsu menantang dan tanpa banyak kata lagi ia mengayunkan pedangnya menyerang!

Bu Beng yang merasa marah sekali kepada orang she Pauw yang kasar itu, segera memutar Ang Coa Kiamnya dan melakukan serangan bertubi-tubi dengan menggunakan ilmu pedangnya yang baru dan luar biasa yaitu Ang Coa Kiamsut!

Pedang Ang Coa Kiam adalah pedang mustika yang hebat sekali ketajamannya dan merupakan senjata ampuh, apalagi dimainkan dalam tangan Bu Beng yang memiliki kepandaian tinggi.

Untunglah Pauw Kauwsu juga menggunakan sebuah pedang pusaka, yaitu How kiam.

Tapi menghadapi permainan pedang Ang Coa Kiamsut yang belum pernah dilihat seumur hidupnya, bahkan belum pernah didengarnya, ia menjadi bingung sekali.

Pedang Bu Beng yang membentuk ular merah itu berkilat-kilat merupakan sinar merah menyambar-nyambar hingga menyilaukan mata.

Gerakan-gerakannya demikian aneh dan mempunyai tenaga mujijat.

Sebenarnya Ang Coa Kiamsut memang luar biasa.

Ilmu pedang ini mempunyai empat macam gerakan, memutar, menempel, mengait dan membabat.

Jika Bu Beng menggunakan gerakan dan tenaga memutar, maka pedangnya dapat terputar dan ujungnya seakan-akan merupakan ekor ular yang melilit pedang lawan hingga lawan merasakan tangannya tergetar dan pedangnya hampir terlepas dari pegangan.

Jika menempel, maka pedang ular merah itu seakan-akan besi sambrani yang menempel pedang lawan hingga lawan sukar menggerakkan atau menarik pedangnya.

Demikian juga pedang itu dapat digunakan untuk mengait atau mencongkel pedang lawan, karena dengan membalikkan telapak tangan dengan tiba-tiba, ujung Ang Coa Kiam dapat mengarah nadi orang dan menarik pedang lawan.

Sebaliknya digunakan untuk membabat, maka gerakan ini bukanlah asal membacok saja, tapi dapat diubah membacok terus menerus, membacok lagi dan selalu berubah-ubah tak terduga.

Pauw Hun Lin yang selama hidupnya belum pernah menghadapi permainan pedang macam ini, baru belasan jurus saja menjadi bingung dan pening.

Ia hanya dapat memutar-mutar pedangnya menutupi tubuh agar jangan sampai temakan oleh pedang ular merah itu, tapi sedikitpun ia tidak kuasa menyerang.!

Bu Beng yang tak mempunyai permusuhan apa-apa dengan Pauw Kauwsu tidak ingin melukainya, hanya ingin mempermainkan dan mengajar adapt saja.

Tapi pemuda inipun merasa terkejut dan gembira sekali melihat betapa ilmu pedang baru yang dimilikinya itu bisa begitu hebat.

Sama sekali di luar dugaannya.

Semua tamu yang melihat kehebatan Bu Beng, diam-diam meuji dan kagum.

Juga Lo Sam sangat heran melihat permainan Bu Beng yang asing dan aneh.

"Ah, sungguh hebat anak muda ini, baru beberapa lama berpisah, telah memiliki kepandaian yang demikian hebat dan demikian pesat pula kemajuan yang dicapainya!"

Pikirnya.

Pada saat itu, Cin Eng yang sejak tadi heran melihat Kim Kong Tianglo tidak berada disitu lagi, tiba-tiba melihat suhengnya itu datang dari depan berlari-lari dan segera menghampiri mereka yang sedang bertempur.

"Sute, tahan pedangmu!"

Mendengar suara suhengnya.

Bu Beng menahan serangannya dan meloncat mundur.

Pauw Kauwsu juga menghentikan putaran pedangnya dan memandang Kim Kong Tianglo dengan napas terengah-engah dan keringat membasahi jidat.

"Sute aku sudah tahu orang yang melakukan fitnah ini. Pauw Kauwsu kau memang terburu napsu. Orang telah berlaku curang dan sengaja mengadu kau dengan suteku,"

Kim Kong Tianglo lalu menarik tangan seorang anggota perkumpulan pengemis yang tadi ia ajak berlari kesitu.

"Coba ceritakan apa yang kau lihat tadi!"

Dengan mata memandang kepalanya, anak buah itu berkata.

"Ketika semua orang keluar tadi untuk menonton pertempuran maka siauwte lihat kedua tuan ini mengambil arca dari atas meja. Siauwte kaget sekali dan makin merasa heran ketika mereka memasukkan arca itu ke dalam bungkusan Bu Beng Kiam Hiap!"

Sambil berkata demikian ia menunjuk kearah Sim Boan Lip dan Sim Tek Hin yang berdiri dengan wajah pucat.

"Kau? Eh, mengapa... bagaimana pula ini?"

Kata Pauw Kauwsu samil memandang wajah Sim Pangcu dan puteranya itu.

"Tak usah heran, Pauw Kauwsu,"

Kata Bu Beng tersenyum.

"Mereka ini pernah melakukan kejahatan tapi berhasil saya halag-halangi, dan mungkin kini hendak membalas dendam. Ternyata mereka pengecut sekali dan tak berani membalas sendiri maka lalu menggunakan tanganmu hendak mencelakakan aku!"

"Betulkah ini? Kalian yang melakukan perbuatan terkutuk ini?"

Bentak Pauw Kauwsu kepada Sim Boan Lip dan Sim Tek Hin. Sim Pangcu diam saja tunduk, tapi SIm Tek Hin segera mengangkat dada dan berkata keras.

"Betul, memang kami ingin melihat Bu Beng yang sombong ini terjatuh dalam tangan Pauw Kauwsu. Tapi kami keliru memilih jago!"

Kata-kata ini dianggap lucu dan terdengar suara tawa ditahan dari sana sini.

Pauw Hun Lin merasa marah sekali dan pedangnya segera berkilat menyerang ayah anak itu!

Serangan ini tak terduga sama sekali, hingga Sim Boan Lip kena terbacok lehernya dan sekali berteriak ngeri orang tua itu jatuh mandi darah dan mati disaat itu juga!

Sim Tek Hin berseru keras dan menggunakan pedangnya menyerang Pauw Kauwsu.

Tapi sekali bergerak Pauw Kauwsu dapat menendang pemuda itu hingga terlempar jauh dan Pauw Kauwsu yang sudah gemas dan marah itu meloncat mengejar dan mengayunkan pedangnya.

Tapi tiba-tiba pedangnya tertahan oleh pedang lain yang bersinar merah.

Ternyata Bu Beng yang mencegahnya.

"Pauw Kauwsu tak perlu ditambah dengan pembunuhan kedua! Ampuni saja Sim Tek Hin ini. Ia masih muda masih banyak waktu baginya untuk mengubah wataknya yang buruk!"

Pauw Kauwsu memandang kepada Tek Hin yagn sudah berdiri dengan meringis kesakitan, dan Pauw Kauwsu membentaknya dengan keras.

"Tidak minggat dari sini mau tunggu apa lagi?"

Sim Tek Hin dengan air mata mengucur mengangkat mayat ayahnya dan pergi dari situ dengan kepala tunduk.

Dengan cegahannya ini ternyata Bu Beng seperti juga mencegah orangmembasmi seekor binatang buas dan ia mendatangkan bencana kepada diri sendiri, karena Sim Tek Hin ini merupakan bencana besar di hari kemudian bagi rumah tangganya.

Pauw Hun Lin segera menyatakan maafnya kepada Bu Beng dan memuji pemuda itu dengan kagum sekali.

Bu Beng merendahkan diri dan mereka lalu bicara dengan gembira sekali.

Semua tamu makan minum pula dengan gembira sampai jauh malam.

Tapi Pauw Hun Lin yang merasa malu karena sikap dan tindakannya yang tak menyenangkan tadi, segera menyatakan maaf kepada Lo Sam dan mengajak ANg Hwat Tojin meninggalkan tempat itu karena ia merasa betapa semua mata memandangnya dengan penuh penyesalan.

Kemudian Bu Beng dan Cin Eng diajak oleh Kim Kong Tianglo pergi ke Liong San.

Kim Kong Tianglo memberi nasehat kepada mereka untuk melangsungkan perkawinan disitu.

Mereka setuju dan perkawinan dirayakan dengan sederhana diatas gunung itu, dengan dikunjungi oleh para penduduk kampung yang dekat dengan tempat itu.

Sepasang pengantin yang saling mencina itu hidup dengan penuh kebahagiaan diatas bukit, tiap hari menikmati tamasya alam dan menghirup hawa pengunungan yang bersih dan segar.

Kim Kong Tianglo membujuk agar Bu Beng dan istrinya suka tinggal saja di Liong San dan menggantikan kedudukan suhu mereka, karena Kim Liong Pai sekarang tidak ada bengcunya kagi.

Suheng ini mengharap agar Bu Beng dapat menghidupkan cabang perguruan silat mereka kembali untuk menjunjung nama Kim Liong Pai sebagai pembalas jasa terhadap Hun San Tojin, guru mereka yang tercinta.

Kemudian Kim Kong Tianglo pergi untuk mengambil kedua muridnya, yaitu adaik dari Cin Eng, putera puteri dari Hun Gwat Go, Liu Cin Han dan Liu Cin Lan.

Kedua saudara ini tadinya dititipkan dalam sebuah kelenteng dimana seorang kawan Kim Kong Tianglo menjadi ketuanya.

Sudah tentu Cin Han dan Cin Lan girang sekali bertemu kembali dengan Cici mereka, Cin Eng, hingga mereka bertiga bepelukan sambil menangis karena terharu dan girang.

Kedua anak ini seterusnya tinggal bersama dengan Cici dan cihu mereka, dan mereka berdua belajar silat dengan rajinnya di bawah pimpinan Cin Eng dan Bu Beng.

Cin Eng sendiri mempelajari Ang Coa Kiamsut dari suaminya hingga tak lama kemudian ia juga paham sekali ilmu pedang yang luar biasa ini.

Dua tahun kemudian, Cin Eng melahirkan sepasang anak kembar laki perempuan yang diberi nama Kim Lian dan Kim San.

Demikianlah, Bu Beng anak yatim piatu yang di waktu kecilnya hidup sengsara dan penuh penderitaan itu, kini hidup beruntung dengan istrinya yang mencinta, kedua anaknya yang lucu dan mungil, serta kedua adik yang cerdik dan menurut semua petunjuknya.

Karena memenuhi pesan suhengnya yang pergi merantau.

Bu Beng menerima beberapa orang murid dan hidup sebagai petani diatas gunung Lion San dengan aman dan damai.

TAMAT dino,

http.//indozone.net

/literatures/literature/412 21 September 2008 jam 1.39pm

Baca Juga: Jodoh Rajawali 9

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 4

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger