Eps 1 Kisah Sepasang Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Sepasang Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Sepasang Naga - Kho Ping Hoo.
Kisah Sepasang Naga/Ji Liong Jio Cu (Seri ke 02 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmarainan S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Pada suatu senja, dikala angin pengantar malam tengah sibuk mengatur mega, memindahkan awan yang berkelompok dari barat ke timur dan matahari telah kehilangan cahayanya dan redup-redup mengintip di balik puncak Kam-Hong-San hingga langit di barat tampak ke merah-merahan dengan dasar biru laut, berdirilah seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun di pinggir sebuah jurang.
Anak itu dengan asyiknya melamun seorang diri sambil memandang ke arah awan putih dan hitam yang berkejar-kejaran di puncak bukit-bukit dan membentuk gambar mahluk-mahluk yang aneh dan menimbulkan khayal ke dalam otak siapa yang memandangnya.
Anak itu berdiri di kaki pegunungan yang banyak terdapat di dataran tinggi Yunan di mana terdapat puncak tertinggi yang menjulang di udara seakan-akan merupakan cakar naga sedang mencengkram awan-awan yang bergerak didekatnya.
Pakaian anak itu menunjukkan bahwa ia seorang anak petani.
Memang ia baru saja pulang menggembala dua ekor kerbau yang berkulit hitam abu-abu dan yang kini dengan senangnya berdiri dengan kepala kebawah dan mulut memilih-milih rumput tergemuk dan ekor mereka yang kecil bergerak-gerak tiada hentinya keperut mereka untuk mengusir lalat dan nyamuk.
Baju anak itu berwarna kuning memakai sabuk biru mengikat pinggangnya, dan di pinggang kirinya terselip sebuah suling bambu yang berlubang lima.
Anak itu tenggelam dalam samudra lamunannya hingga ia tidak merasa betapa kedua ekor kerbaunya telah jauh meninggalkannya dan menuju ke kampung karena kedua binatang itu agaknya telah hafal akan jalan pulang ke kandang yang tiap hari dilaluinya itu.
Beberapa lama kemudian dari bawah kaki bukit tampak seorang tua yang berpakaian sebagai petani pula, jalan mendaki bukit itu menuju ke pinggir jurang dimana anak itu masih berdiri melamun.
Kakek ini usianya tidak kurang dari enam puluh tahun, tapi tubuhnya masih tampak sehat dan wajahnya kemerah-merahan sebagaimana lajimnya wajah seorang petani yang hidup di udara bebas dan tubuhnya tiap hari melakukan pergerakan yang sehat.
Tapi yang sangat mengherankan ialah betapa Kakek itu mendaki bukit itu, Ia berlari demikian ringan dan cepat seakan-akan terbang saja!
Ternyata orang tua itu mengunakan ilmu lari cepat Hui-Heng-Sut dan dari keringanan tubuhnya yang seolah-olah burung kepinis terbang itu dapat diduga bahwa ginkangnya telah mencapai tingkat tinggi sekali.
Melihat anak yang masih berdiri melamun dan agaknya lupa keadaan di sekelilingnya itu, Kakek tadi tersenyum lalu menghampiri perlahan.
"Sin Wan, kau sedang melamun apakah?"
Tanyanya halus, Anak itu ketika mendengar suara Kakeknya baru sadar dari lamunannya dan menengok cepat.
"Eh, Kong-kong, mana kerbau kita?"
Kakeknya tersenyum mentertawakan.
"Mereka sudah pulang dan kini bermalas-malasan di kandang. Heran, apakah yang kau pikirkan hingga kau tidak tahu akan keadaan kerbaumu?"
Sin Wan putar tubuhnya ke arah puncak Kam-Hong-San dan menunding keatas.
"Lihatkah kong, bukankah di atas puncak yang tinggi itu terbang dua ekor naga?"
Mendengar kata-kata ini, Kakek itu berubah air mukanya dan ia datang mendekat dan ikut memandang. Lalu dengan suara bersungut-sungut ia berkata.
"Sin Wan, janganlah kau berkata yang bukan-bukan. Yang kau lihat itu ialah awan hitam dan mega putih."
"Tapi, Ngkong, lihatlah yang jelas, Bukankah yang panjang-panjang itu seekor naga putih dan seekor naga hitam yang sedang mengulur lidah dan cakar depan? Lihatlah, lihatlah, mereka bergerak-gerak. Ngkong, mereka sedang terbang!"
"Anak bodoh! Yang putih itu adalah mega dan yang hitam awan. Karena tertiup angin maka awan-awan itu membentuk gambar yang aneh-aneh. Sebentar lagi gambar-gambar itu akan lenyap pula. Lihatlah, awan hitam telah mulai buyar."
Tapi Sin Wan yang mempunyai daya kayal besar segera bersorak.
"Ngkong, mereka bertempur! Nah, naga hitamnya yang kalah dan ia sekarang buyar, hancur digigit naga putih!"
Kakek pegang lengan cucunya.
"Sudahlah, Sin Wan, mari kita pulang. Ibumu menanti-nantimu dengan tak sabar."
"Ngkong, biarlah aku nonton perkelahian naga putih dan naga hitam dulu,"
Anak itu memohon.
"Sudah malam dan sebentar lagi gelap. Nanti saja kuceritakan tentang naga putih dan hitam yang dulu tinggal di puncak bukit itu, Sin Wan"
Sin Wan pandang Kakeknya dengan heran dan tertarik.
"Betulkah, Ngkong? Mereka tinggal di puncak gunung itu?"
Ia menuding ke arah puncak Kam-Hong-San yang kini agak tertutup gelap awan yang tak dapat melewati puncaknya yang tinggi.
"Sudahlah, nanti di rumah saja aku mendongeng. Maka Sin Wan tidak membantah lagi. Keduanya lalu turun dari lereng itu.
"Sin Wan, hayo gunakan ilmu lari cepat yang belum lama ini kuajarkan kepadamu."
Sin Wan tersenyum girang karena di dekat Kakeknya ia tak usah takut tergelincir atau jatuh.
Maka keduanya lalu lari secepat angin menuruni lereng yang banyak jurangnyaitu.
Jurang-jurang kecil diloncati begitu saja oleh Sin Wan dan Kakeknya dan jika melintasi jurang yang besar lagi curam maka Kakeknya pegang lengan Sin Wan dan bawa cucunya itu meloncat!
Sebentar saja mereka sudah tiba di sebuah kampung kecil yang hanya terdapat beberapa belas rumah sederhana.
Di sekitar kampung itu adalah sawah-sawah sumber hasil dan makan orang-orang kampung itu yang hidup secara sederhana sekali.
Ketika melangkah ambang pintu, seorang wanita cantik dan berwajah muram dan sedih menyambut mereka.
Dengan kata-kata halus ia tegur Sin Wan yang disebut tidak tahu waktu.
"Kau hanya membikin kami orang orang tua berkhawatir saja. Kalau hendak pergi bermain, pulanglah dulu agar kami tahu ke mana saja kau pergi!"
Ibu itu menegur dan Sin Wan lalu menghampiri Ibunya.
"Ibu maafkan aku. Aku tadi nonton perkelahian naga putih dan naga hitam hingga lupa waktu. Biarlah lain kali aku tidak akan ulangi lagi Ibu, jangan marah padaku, ya?"
Dengan sikap manja ia pegang tangan Ibunya dan gesek-gesek tangan yang halus itu kepipinya dengan penuh kasih sayang.
Nyonya muda yang cantik itu tiba-tiba merasa terharu dan sedapat mungkin ia tahan keluarnya air mata dari kedua matanya hingga matanya menjadi merah dan bibirnya gemetar.
Ia hanya bisa dekap kepala puteranya dan ciumi kepala itu.
Siapakah nyonya muda cantik jelita yang berwajah sedih itu?
Dan siapa pula Kakek yang lihai itu?
Kakek itu bukan lain ialah seorang pendekar luar biasa yang pernah menjagoi di Kang Lam dan bernama Bun Gwat Kong, digelari orang Kang Lam Cuihiap atau Pendekar Arak dari Kang Lam.
Gelaran ini menunjukkan bahwa ia doyan sekali minum arak.
Hal ini memang betul, karena bukan saja ia doyan sekali minum arak, bahkan dengan lweekangnya yang tinggi ia dapat gunakan itu sebagai senjata yang ampuh.
Dengan semburkan arak dari mulutnya, ia sanggup menjatuhkan lawan yang lihai.
Kang Lam Cuihiap mempunyai seorang anak perempuan tunggal, yakni Ibu Sin Wan atau nyonya muda yang berwajah muram itu.
Puterinya itu dijodohkan dengan seorang pembesar yang bijaksana di kota Kang Lam.
Perjodohan puterinya cukup mendatangkan bahagia sampai terlahir Sin Wan.
Tapi kemudian datanglah malapetaka, Ayah Sin Wan sebagai seorang pembesar yang jujur dan adil, sangat dimusui oleh rekan-rekannya yang curang dan korup.
Maka ia kena fitnahan dan mendapat hukuman mati yang diperintahkan oleh Raja yang dapat disebut buta karena mabok di bawah pengaruh para durna dan selirnya yang jahat.
Untung sebelum sekeluarga terbasmi habis, datang Kang Lam Ciuhiap yang cepat menyelamatkan puterinya dan telah menjadi janda dan cucunya, yakni Sin Wan.
Setelah selamatkan anak cucunya, Kang Lam Ciuhiap lalu mengamuk dan membasmi para musuh mantunya yang telah memfitnah anak mantunya hingga menjadikannya matinya itu.
Setelah itu, barulah ia merasa puas dan melarikan diri dengan anak cucunya ke sebuah kampung kecil di kaki gunung Kam-Hong-San itu.
Semenjak ditinggal mati suaminya yang tercinta, Ibu Sin Wan seakan-akan hidup tanpa semangat.
Nyonya muda ini tiada hentinya bersedih dan menangis jika teringat akan kematian suaminya dalam cara yang sangat menyedihkan itu.
Karena itu, ia sering jatuh sakit dan mempunyai semacam penyakit, yakni terganggu jantungnya dan kadang-kadang ia batuk-batuk dan keluar darah dari mulutnya!
Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong lalu didik cucunya dalam ilmu silat yang tinggi karena ia hendak turunkan seluruh kepandaiannya kepada cucunya yang tunggal itu, sedangkan Sin Wan oleh Ibunya dididik dalam hal ilmu surat.
Demikianlah maka selama lima tahun atau enam tahun mereka tinggal dengan aman di kampung kecil di kaki Kamhongsan itu.
Atas kehendak Ibunya, Sin Wan menggunakan she Ibunya, yakni she Bun hingga ia disebut Bun Sin Wan, sedangkan sebenarnya Ayahnya dari keluarga Liu.
Setelah makan malam, makan Sin Wan ingat akan janji Kakeknya, maka ia segera datangi Kakeknya itu di dalam kamarnya dan berkata.
"Ngkong, hayo ceritakanlah padaku tentang naga itu."
"Sin Wan, kau harus menghafal pelajaranmu yang kuberikan kemarin malam."
Ibunya menegur ketika mendengar suara anaknya di kamar Ayahnya.
"Biarlah aku besok bangun pagi-pagi sekali dan menghafal pelajaran membaca itu, Ibu. Kong-kong tadi sudah berjanji hendak mendongeng tentang naga putih dan naga hitam."
Akhirnya Kakek dan Ibunya mengalah dan mulailah Bun Gwat Kong mendongeng.
Dongeng itu demikian menarik, hingga Ibu Sin Wan dibalik bilik juga ikut mendengarkan dengan asik.
Demikianlah dongeng itu.
Ratusan, atau mungkin ribuan tahun yang lalu, di puncak gunung Kam-Hong-San yang tinggi sekali, lebih tinggi dari keadaannya sekarang karena semenjak itu telah ratusan kali puncak itu gugur dan longsor, terdapat dua ekor nagasakti yang besar sekali.
Dua ekor naga itu sedang bertapa dan telah bertahun-tahun tidak bergerak dari gua Pertapaan masing-masing dalam memohon kepada yang Maha Kuasa untuk mengangkat mereka menjadi dewa.
Dua ekor nagasakti itu seekor betina dan bersisik hitam mulus, sedangkan yang kedua adalah seekor naga jantan yang bersisik warna putih bersih.
Mereka bertapa dalam gua masing-masing yang berjajar, melingkar merupakan bukit kecil dalam gua yang besar itu dan tumpangkan kepala di atas lingkaran tubuh.
Telah puluhan tahun mereka bertapa, tanpa mengisi perut, hanya beberapa tahun sekali mereka keluar dari gua untuk minum air telaga sebuah yang terdapat di puncak gunung itu.
Mereka bercakap-cakap sebentar untuk bertukar pendapat, kemudian masuk ke dalam gua pula untuk melanjutkan pertapaan mereka.
Di pegunungan yang banyak puncaknya itu, terdapat sebuah puncak bukit kecil dan disitu terdapat lain gua pertapaan.
Tapi yang bertapa disitu seorang manusia, seorang pertapa laki-laki yang gagah lagi sakti.
Diapaun bertapa disitu menyucikan diri dan bermohon menjadi dewa.
Pada suatu hari, ketika seluruh puncak bukit-bukit di situ diliputi halimun putih tebal, pertapa itu keluar dari gua untuk pergi ke dalam hutan dan memetik buah yang dapat dimakan.
Tapi ketika ia sedang berjalan perlahan menuruni puncak, tiba-tiba ia melihat dua batang sinar memancar dari puncak Kam-Hong-San.
Ia terkejut sekali karena sinar itu cahayanya keemas-emasan dan tahulah ia bahwa dua ekor naga-sakti yang bertapa disitu telah mendekati kesempurnaan dan boleh dibilang telah berhasil baik dalam pertapaan mereka!
Mungkin telah menjadi kehendak Yang Mahakuasa, karena pada saat yang kebetulan sekali itu, pertapa itu kena asap hawa-hawa kotor yang keluar dari dunia ramai dan berkumpul diatas puncak, terbawa awan dan mega.
Maka tiba-tiba saja timbullah irihati dan kecewa dalam kepala dan hatinya.
Ia merasa malu sekali mengapa ia seorang manusia sampai kalah oleh dua ekor naga itu.
Buktinya, sedangkan ia sendiri belum berhasil apa-apa dalam pertapaannya, adalah dua ekor naga itu telah sampai di dekat pantai cita!
Rasa iri dan dengki mengamuk hebat di dadanya hingga ia menyerah terhadap godaan ini.
Ia gunakan kesaktiannya untuk terbang melayang kepuncak Kam-Hong-San.
Benar saja, dua cahaya terang itu mencorot keluar dari dua buah gua yang berdampingan.
Timbullah marahnya dan ia membentak marah ke arah dua gua itu.
"Hai, siluman naga yang rendah! Kalian telah mengotorkan puncak bukit ini. Pergilah kalian sebelum Pinto mewakili Thian menghukum kalian!"
Kedua naga mendengar bentakan nyaring dan keras ini menjadi heran dan keluarlah mereka dari gua masing-masing. Naga jantan yang bersisik putih segera menegur pertapa itu.
"Engkau seorang manusia pertapa mengapa ganggu kami? Apakah salah kami? Maka kau bersikap seperti ini?"
"Eh, siluman jahat kau masih berpura-pura! Tak tahukah kau bahwa aku telah bertahun-tahun bertapa di puncak gunung ini? Kalian yang berhawa siluman sekarang mengotorkan tempat ini hingga mengganggu sekali pertapaanku. Hayo kalian pergi sekarang juga, kalau tidak terpaksa Pinto bersihkan tempat ini dan membunuh kalian."
Naga betina yang bersisik hitam mulus menjadi gemas dan berkata kepada naga putih.
"Saudaraku Pek Liong (Naga Putih), Kakek ini begini sombong. Biarlah kucoba kesaktiannya!"
Maka bertempurlah pertapa itu melawan naga hitam.
Mereka berkelahi dengan seru, saling mengeluarkan kesaktian hingga mereka dari atas tanah terbang ke atas mega-mega dan bertempur diantara awan hitam.
Kilat menyambar-nyambar dan berhari-hari mereka bertempur tiada hentinya.
Melihat kesaktian pertapa itu, naga putih tidak sabar lagi.
Ia melayang dan terjang pertapa itu, menggantikan naga hitam.
Maka kalahlah pertapa itu dan ia kena ditiup pergi oleh naga putih.
Karena sakit hati, pertapa itu menaruh dendam.
Ia mencari daya untuk membalas, tapi apa daya?
Sepasang naga itu terlampau sakti dan kuat baginya.
Tapi dasar ia manusia dan memiliki otak manusia yang penuh tipu daya dan muslihat, akhirnya ia mendapat akal juga.
Ia tahu bahwa pada musim kemarau dan hawa sangat panasnya, kedua naga itu akan keluar gua dan minum air telaga diatas gunung itu.
Maka ia menjaga dengan sabar di dekat telaga sambil mempersiapkan semacam ramuan obat beracun.
Benar saja, ketika musim sedang panas-panasnya, kedua naga itu keluar dari guha mereka dan dengan berbareng sambil bercakap-cakap mereka menuju ketelaga dengan gembira.
Keduanya merasa gembira dan puas karena pertapaan mereka sudah mendekati hasil baik.
Mereka tidak tahu sama sekali bahwa petapa itu dengan cepatnya melempar ramuan obat yang mempunyai pengaruh luar biasa ke dalam air yang hendak mereka minum.
Tanpa ragu-ragu sedikitpun mereka minum dengan segar dan nikmatnya.
Kemudian mereka kembali ke puncak gunung.
Si pertapa yang tadinya bersembunyi melihat betapa ke dua naga itu benar-benar telah minum air yang telah dicampurnya dengan racun hebat, menjadi girang sekali dan menanti-nanti hasil perbuatannya yang curang.
Ternyata pengaruh racun itu mujijat sekali.
Kalau hanya racun atau bisa yang berbahaya dan dapat menghanguskan isi perut saja, tak mungkin dapat mempengaruhi dan mencelakakan ke dua naga sakti itu.
Tapi racun atau obat yang dilepas oleh pertapa itu adalah racun yang langsung merangsang perasaan dan melemahkan iman, lalu membangkitkan nafsu-nafsu keduniaan yang telah lama dapat ditekan dan dipadamkan oleh kedua nagaitu.
Kini obat itu menjalar dan bekerja dengan hebat.
Nafsu-nafsu yang telah padam dan terpandam di dasar hati kedua naga sakti itu kini mulai bernyala kembali dan timbul menguasai seluruh hati dan pikirannya.
Maka mulai merahlah kulit muka mereka dan mulai suramlah cahaya mata mereka dan mulai suramlah cahaya meling pandang dan timbullah hati suka dan tertarik kepada masing-masing dan lupalah mereka bahwa pantangan terbesar bagi pertapaan mereka ialah menurutkan napsu hati.
Kesadaran mereka kini dikuasai hati, hati dikuasai pikiran dan pikiran dikuasai pancaindera mereka.
Maka di bawah pengaruh ramuan obat mujijat itu, kedua naga sakti mulai bercumbu dan melupakan segala!
Ternyata obat itu tidak bertahan lama mempengaruhi kedua naga yang sebenarnya telah mempunyai batin yang teguh dan kuat itu.
Beberapa hati kemudian, lenyaplah pengaruh obat itu dan keduanya kembali sadar kembali dari kekhilapan.
Alangkah menyesal dan malunya hati mereka.
Kedua perasaan ini lalu bersatu dan berubah menjadi perasaan marah yang hebat.
Mereka dapat menduga bahwa keadaan mereka yang tidak sewajarnya dan bagaikan mabok itu tentu terkena pengaruh obat mujijat.
Maka dengan penuh kemarahan dan dendam, mereka berdua turun gunung dan mencari pertapa itu.
Si pertapa yang ketahui pula akan hal ini, segera melarikan diri dari gunung ke gunung.
Tapi sepasang naga itu tidak mau melepaskannya, dan tiada hentinya mengejar.
Hati mereka terlampau menyesal dan sedih hingga kini hanya satu tujuan mereka, yakni membalas dendam!
Akhirnya di puncak sebuah gunung di pegunungan Thai-san, kedua naga dapat menangkap pertapa denga hati gemas mereka lalu membunuhnya dan menghancurkan tubuhnya.
Namun mereka masih merasa penasaran karena hasil pertapaan yang puluhan tahun lamanya itu lenyap dan membuat hati mereka berduka.
Mereka lalu bertapa kembali, tapi para dewa yang melihat pelanggaran yang mereka lakukan, lalu memberi hukuman kepada mereka.
Hukuman itu ialah bahwa mereka harus ke alam ramai dan memberi pertolongan kepada manusia untuk tebus dosa mereka.
Sepasang naga-sakti itu lalu mengubah diri menjadi sepasang pedang mustika, naga jantan bersisik putih berubah menjadi sebatang pedang warna putih dan naga betina bersisik hitam berubah menjadi sebatang pedang berwarna hitam!
Karena masih diliputi hawa nafsu mereka ketika mengubah diri menjadi pedang, maka kedua pedang itu masih penuh mengandung hawa Im dan Yang, yaitu hawa positip dan negatif!
Pedang putih dan pedang hitam lalu turun ke alam ramai dan keduanya berjuang melalui tangan orang-orang gagah untuk membasmi semua keturunan pertapa yang jahat, yakni manusia-manusia yang hanya mengotorkan dunia dengan perbuatan mereka yang sewenang-wenang dan menindas sesama manus!
"Demikianlah dongeng itu, Sin Wan, dan sampai sekarangpun orang-orang jahat, betapapun pandai dia itu pasti mereka takkan terluput dari hukuman.
Maka kau yang mempelajari ilmu silat dariku, kelak harus mencontoh perjuangan suci dari sepasang naga-sakti itu untuk membela keadilan kebenaran serta membasmi segala kejahatan."
Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong akhiri ceritanya yang sangat menarik hati Sin Wan, hingga anak itu seakan-akan lupa akan segala dan melihat sendiri kedua naga dalam dongeng itu di depan mata khayalnya.
"Kalau begitu, bayang-bayang naga yang kulihat tadi adalah Pek Liong dan Ouw Liong yang sakti itu, Ngkong?"
"Aah, yang kuceritakan hanya dongeng, Sin Wan, dan telah terjadi ribuan tahun yang lalu. Mana ada liong betul-betul di jaman ini?"
Kata Engkongnya sambil usap-usap jenggotnya yang putih.
"Sin Wan telah jauh malam, hayo kau tidur!"
Terdengar suara Ibu Sin Wan memerintah anaknya. Sin Wan bersungut-sungut, api ia tidak berani membantah kehendak Ibunya, dan Engkongnya berkata dengan tertawa.
"Benar kata Ibumu, Sin Wan. Tidak baik bagi anak-anak tidur terlampau malam. Kau tentu masih ingat kata-kata orang dahulu bahwa tidur tak terlambat bangun pagi-pagi, tubuh sehat banyak rejeki!"
Sin Wan tertawa pula lalu ia masuk ke biliknya di mana hanya terdapat sebuah dipan bambu sederhana.
Seperti biasa menurut ajaran Kakeknya sebelum tidur ia bersemedhi membersihkan napas.
Sin Wan adalah seorang anak yang rajin sekali, dan otaknya sangat cerdik.
Baik dalam pelajaran silat yang diturunkan oleh Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong kepadanya, maupun dalam pelajaran menulis yang diajakankan Ibunya, ia sangat maju dan tekun belajar hingga dalam usia sepuluh tahun saja ia telah memiliki kepandaian gin-kang dan lwee kang yang cukup mengagumkan serta telah menguasai dasar-dasar ilmu silat tinggi, juga dalam hal membaca dan menulis ia telah dapat melampai pengetahuan Kakeknya.
Semenjak mendengar dongeng tentang sepasang naga sakti yang diceritakan Kakeknya itu, Sin Wan seringkali duduk termenung di lereng gunung terendah sambil memandang ke arah puncak Kam-Hong-San dengan tertarik.
Ia suka sekali memandang awan-awan yang bergerak-gerak dan membentuk lukisan binatang aneh.
Ia suka mengkhayalkan betapa di antara awan-awan hitam itu tampak terbang melayang dua ekor naga hitam dan putih saling berkejaran memperebutkan mustika, yaitu matahari yang hampir tenggelam dan berwarna merah keemasan!
Seringkali Sin Wan memikirkan dengan hati tertarik sekali di mana gerangan sepasang naga itu.
Kalau saja ia bisa memiliki pedang itu, alangkah senangnya!
Tidak jarang Kakeknya menyusul ketempat itu karena Sin Wan sering pulang terlambat hingga didahului kerbaunya yang pulang lebih dulu.
Selain duduk melamun dan mengkhayal, Sin Wan juga senang sekali meniup suling bambunya.
Ia memang mempunyai bakat akan seni suara, hingga tiupan sulingnya terdengar merdu sekali dan ia dapat memainkan beberapa lagu yang digubahnya sendiri.
Bahkan seringkali Ibunya diam-diam mengalirkan airmata karena terharu mendengar suara suling puteranya di tengah malam, membikin nyonya muda itu teringat akan suaminya yang juga pandai meniup suling!
Juga Kang Lam Ciuhiap, seorang pendekar tua yang telah banyak mengalami pertempuran-pertempuran hebat dan hatinya menjadi keras, jika mendengar tiupan suling cucunya, diam-diam ia bengong dan terpesona.
Seakan-akan dirinya dibawa terbang melayang-layang oleh suara suling yang mengalun itu, dibawa terbang kedunia halus dan suci!
Beberapa kali Sin Wan nyatakan keinginannya kepada Kakeknya untuk naik mendaki puncak Kam-Hong-San tapi selalu Kang Lam Ciuhiap mencegahnya dan bilang bahwa di atas Kam-Hong-San banyak terdapat hutan-hutan lebat yang penuh dengan binatang buas dan keadaannya berbahaya sekali.
"Sin Wan, ketahuilah. Beberapa tahun yang lalu aku sendiri pernah naik ke puncak itu,"
Kata Kakeknya sambil menunjuk ke arah puncak gunung yang dikelilingi awan putih itu.
"Aku tidak takut segala binatang buas, tapi aku sungguh-sungguh ngeri melihat jurang-jurang yang curam sekali dan dataran dataran palsu."
"Apakah dataran palsu itu Engkong?"
Tanya Sin Wan heran.
"Tampaknya seperti tanah datar yang ditumbuhi rumput-rumput hijau segar dan gemuk, tapi kalau kau kurang hati-hati dan menginjaknya, maka kakimu akan terjeblos dan tubuhmu akan tenggelam dalam tanah lumpur yang berbahaya sekali karena sekali tubuh kita diisap olehnya sukarlah kita dapat melepaskan diri dari bahaya maut."
Tapi Sin Wan adalah seorang anak yang semenjak kecilnya mengalami banyak kesukaran ketika ia dengan Ibunya dibawa mengungsi oleh Kakeknya hingga hidup secara sederhana dan sengsara di tempat sunyi, maka hatinya tabah sekali.
Mendengar cerita Kakeknya ini, ia tidak merasa takut atau ngeri, Bahkan timbul keinginan yang besar dalam hatinya untuk melihat dengan mata sendiri semua keanehan itu!
Sebetulnya Kang Lam Ciuhiap tidak berkata bohong.
Memang beberapa tahun yang lalu pernah ia naik ke Kam-Hong-San untuk mencari tempat yang lebih enak, tapi ia hanya ketemukan tempat-tempat berbahaya, maka ia turun kembali.
Ia hanya membohong ketika ia berkata bahwa hatinya merasa ngeri melihat keadaan-keadaan berbahaya itu.
Seorang dengan kepandaian setinggi dia tak perlu merasa ngeri dan takut hanya menghadapi bahaya seperti itu saja.
Memang Kakeknya itu sengaja membohong untuk membikin cucunya merasa jeri dan batalkan keinginannya mendaki bukit tinggi itu.
Ia sama sekali tidak sangka bahwa cerita yang seram-seram itu bahkan menjadi pendorong bagi Sin Wan untuk melaksanakan keinginan hatinya!
Dan pada suatu hari, pagi-pagi sekali Sin Wan tinggalkan rumahnya dan pergi naik ke gunung Kam-Hong-San yang mengandung penuh rahasia-rahasia ganjil dan menarik baginya itu.
Tadinya Ibu dan Kakeknya tidak menyangka akan hal ini.
Memang biasanya Sin Wan bangun pagi-pagi sekali dan anak itu tentu berlatih silat di pekarangan belakang atau berlatih ginkang sambil meloncati anak sungai berkali-kali seperti yang diajarkan Kakeknya, karena menurut Kakeknya; berlatih silat di waktu hari masih pagi sekali adalah sangat bermanfaat bagi kesehatan dan baik sekali bagi kemajuan kepandaiannya.
Sin Wan tak pernah abaikan petunjuk ini.
Karena itulah, maa pagi hari itu, Ibu dan Kakeknya tidak menyangka sedikit juga bahwa anak yang mereka sayang itu telah pergi mendaki gunung yang berbahaya itu.
Setelah matahari naik tinggi, barulah hati Ibu Sin Wan merasa heran karena anaknya belum juga pulang.
"Ayah,"
Katanya kepada Kang Lam Ciuhiap yang sepagi itu telah minum arak buatannya sendir.
"Mengapa Sin Wan belum juga pulang? Bukankah pagi ini ia harus bantu meluku sawah dengan kerbaunya?"
"Anakku, kuharap kau jangan terlampau keras kepada Sin Wan. Anak itu cukup rajin dan ia perlu hiburan. Biarkanlah ia bermain sebentar lagi, nanti ia tentu datang."
Nyonya muda itu hanya menghela napas, ia tahu bahwa Ayahnya sangat sayang kepada cucunya itu hingga agak memanjakan.
Ia khawatir sekali kalau Sin Wan kelak meniru kebiasaan Ayahnya yang hanya minum arak saja kerjanya itu!
Menurut keinginannya, ia akan suka sekali melihat puteranya menjadi seorang terpelajar, seorang ahli surat dan memangku jabatan tinggi seperti Ayahnya.
Tapi hatinya makin sedih melihat betapa Sin Wan, biarpun tekun mempelajari ilmu surat, namun agaknya lebih menyukai ilmu silat.
Pernah ia mengemukakan suara hatinya ini kepada Ayahnya, tapi Kang Lam Ciuhiap berkata dengan sungguh-sungguh kepada anak perempuannya itu.
"Kau agaknya tidak ingat bahwa karena tidak pandai ilmu silat tinggi maka suamimu sampai mengalami fitnahan dan hukuman mati. Masa sekarang banyak orang jahat yang tak mungkin dilawan dengan menggunakan coretan pit dan tinta hitam belaka. Gantilah pit dengan pedang tajam, maka kau akan dapat menjaga dirimu lebih baik daripada gaungguan orang jahat. Aku ingin sekali melihat cucuku itu menjadi seorang hohan yang gagah perkasa dan membasmi para manusia-manusia rendah yang suka ganggu orang lain!"
Mendengar ucapan yang bersemangat dari Ayahnya, nyonya muda itupun di dalam hati membenarkan, maka ia tidak mau ganggu lagi kesukaan Sin Wan belajar silat.
Tapi tetap ia merasa kurang puas melihat betapa Kakek itu memanjakan Sin Wan.
Setelah hari hampir siang, maka Ibu yang mencinta anaknya ini makin gelisah bahwa Kanlam Ciuhiap yang biasanya tenang, nampak heran dan curiga.
Ia lalu tunda guci araknya dan pergi mencari Sin Wan.
Ketika di mana-mana tak dapat menemukan anak itu, Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong menjadi gelisah juga dan ia berdiri di tebing jurang sambil layangkan pandangannya ke arah gunung.
Timbul dugaannya bahwa cucunya itu tentu telah nekad dan mendaki Kam-Hong-San.
Ia maklum akan ketabahan dan kekerasan hati cucunya yang pantang mundur menghadapi apapun untuk melaksanakan cita-citanya.
Dengan hati mulai cemas ia lalu gunakan kepandainnya mendaki gunung yang sukar di lalui itu.
Ketika pagi hari itu Sin Wan tinggalkan rumahnya menuju ke gunung yang menarik hatinya, ia merasa gembira sekali dan dadanya berdebar karena tertarik oleh pengalaman-pengalaman dasyat yang ia harapkan akan ditemukan di puncak gunung.
Mula-mula perjalan mendaki gunung itu tidak sesukar yang diceritakan Kakeknya.
Hutan-hutan kecil yang dilaluinya bahkan indah menarik, penuh dengan burung-burung yang berkicau merdu dan indah warna bulunya.
Beberapa ekor monyet hitam berlari cepat dan bergantungan di puncak pohon karena takut melihat Sin Wan.
Anak itu merasa gembira sekali dan ia geli melihat betapa monyet kecil bergelantungan di dada induknya sambil perdengarkan suara cecowetan lucu.
Karena jalan masih mudah dilalui bahwan penuh pemandangan indah, Sin Wan lari cepat seenaknya saja, terus mendaki sebuah lereng yang hijau penuh rumput.
Di pundaknya tergantung seutas tali yang kuat dan besi pengait, karena dari Engkongnya ia pernah diberitahu bahwa untuk mendaki gunung yang tinggi perlu membawa tambang dan besi seperti itu.
Karena maksudnya mendaki puncak Kam-Hong-San telah lama terkandung dalam hatinya, maka Sin Wan telah siapkan segalanya.
Bahkan tidak lupa ia membawa roti kering di dalam kantongnya!
Ketika ia sedang berlari terus naik makin tinggi, tiba-tiba ia melihat bayangan seorang anak perempuan berlari cepat dari balik lereng dan dengan sigapnya anak perempuan itu berloncat-loncatan menuju keatas!
Sin Wan merasa heran sekali dan ia segera gunakan kepandaiannya mengejar, tapi biarpun ia lari secepatnya, ternyata ia tidak mampu mengejar anak perempuan itu!
Anak perempuan itu agaknya melihat Sin Wan dan sengaja mempermainkannya, karena ia sering mengengok sambil tertawa, lalu loncat dan lari pula ke atas makin tcepat, Sin Wan merasa penasaran sekali.
Masak ia harus kalah oleh seorang perempuan yang tidak lebih besar darinya?
Ia kerahkan ginkangnya dan mengejar makin cepat pula.
Dalam kejar-mengejar ini, mereka naik makin tinggi dan jalan juga tidak semudah tadi.
Kini jalan mereka banyak terhalang jurang-jurang yang curam dan batu-batu cadas dan karang yang tinggi bagaikan menara.
Tapi gadis cilik itu agaknya telah hafal akan jalan disitu, karena ia dapat memilih jalan dengan cepat.
Sin Wan tidak mau mengalah dan mengikuti jejaknya.
Ia bertekad takkan berhenti mengejar sebelum dapat menyandak anak perempuan itu.
Tiba-tiba di tempat yang tinggi sekali, anak perempuan itu berhenti dan berdiri sambil bertolak pinggang menghadapi Sin Wan sambil tertawa menghina.
Sin Wan juga berusaha naik secepatnya, tapi ia telah merasa lelah sekali.
Ketika ia tiba di hadapan gadis cilik itu, ia memandangnya dengan penasaran dan mendongkol.
Gadis cilik itu berpakaian warna biru, dan senyumnya manis sekali.
Dua titik lesung pipit menghias kanan kiri bibirnya yang kecil merah, dan rambutnya yang hitam panjang itu diiikat merupakan jambul diatas kepala sebelah kanan dan kiri, lalu terurai kebelakang.
Wajahnya tampak berseri dan kemerah-merahan, agaknya iapun lelah juga.
Dengan mendongkol, mau tidak mau Sin Wan harus mengaku bahwa ilmu meringankan tubuh anak perempuan itu masih menang sedikit darinya!
"hei, kenapa kau kejar-kejar aku?"
Tegur gadis cilik itu dengan suara yang nyaring dan tinggi.
"Kenapa kau belari-lari seperti maling kesiangan?"
Sin Wan balas bertanya.
Gadis cilik itu tertawa geli mendengar pertanyaan Sin Wan, suara ketawanya merdu dan bebas, dan Sin Wan melihat dua baris gigi yang kecil rata dan mengkilap putih hingga wajah anak perempuan itu tampak makin manis.
"Kau tidak kuat mengejarku mengapa memaksa? Ah, kasihan kakimu tentu lelah sekali."
Gadis itu menyindir. Merahlah wajah Sin Wan, ia angkat dadanya dan memandang marah.
"Kau kira aku tak dapat mengejarmu? Ke mana saja kau lari, aku pasti dapat mengejarmu!"
"Betulkah? Kau lihat jurang ini, dapatkah kau meloncatinya?"
Sin Wan memandang ke depan, ternyata disitu terdapat sebuah jurang yang selain curam juga lebar sekali, tidak kurang dari lima belas tombak.
Bagaimana ia bisa loncat sejauh itu?
Engkongnya yang terkenal ahli dalam kepandaian loncat jauh, belum tentu dapat loncati jurang selebar ini.
Tapi dia tidak percaya bahwa gadis itu dapat meloncati jurang itu, maka iapun angkat dada dan menantang.
"Jurang sebegini saja apa susahnya untuk diloncati? Aku katakan tadi, kemanapun kau pergi, aku tentu dapat mengejarmu. Biarpun kau akan loncat melalui jurang ini, aku pasti dapat mengejar."
Gadis itu memandangnya tak percaya.
"Benarkah? Coba kita buktikan!"
Kemudian dengan lincah dan ringan sekali gadis itu loncat ke atas karang di belakang mereka.
Karang ini menjulangtinggi dan di dekat situ terdapat beberapa batang poon semacam liu, tapi batangnya lebih kecil dan tinggi.
Gadis itu lalu menghampiri sebatang pohon itu, dengan kedua tangan, dengan kedua tangan pegang puncak pohon dan menariknya kebawah dengan tenaga yang mengagumkan.
Kemudiania berseru kepada Sin Wan yang melihat semua itu dengan heran.
"Nah, kau lihatlah. Aku hendak menyebrang!"
Dengan kata-kata ini, gadis itu lalu lepaskan tenaganya hingga punak pohon terayun keras karena batang pohon itu memang kuat dan ulat serta mempunyai sifat keras seperti baja.
Karena ayunan batang pohon itu keras sekali, maka tubuh gadis itupun terayun dan dengan ambil waktu dan saat yang tepat sekali gadis itu lepaskan pegagannya hingga dilontarkan keudara oleh ayunan itu.
Ia atur gerakan dan tenaga ayunan itu dengan berjumpalitan hingga sebentar saja ia telah berada di seberang jurang, turun dengan gerakan alap-alap menyambar kelinci indah.
"Dapatkah kau loncat kesini?"
Tantangnya kepada Sin Wan sambil tersenyum. Sin Wan kagum sekali melihat akal dan gerakan gadis yang cerdik itu hingga tanpa terasa ia berseru.
"Bagus!"
Ketika mendengar tantangan itu, ia putar otak mencari akal.
Untuk meloncat begitu saja, pasti ia tidak akan berhasil dan tentu ia akan terjatuh ke dalam jurang dan tubuhnya kan hancur.
Untuk meniru akal dan gerakan itu ia masih sanggup, tapi ia tidak sudi lakukan karena ia tidak mau ditertawakan nanti oleh gadis itu.
Ia lalu teringat akan tambang dan besi pengaitnya.
Tapi tambang itu belum tentu ada sepuluh tombak panjangnya.
Tiba-tiba ketika memandang ke atas dan melihat batu karang yang tinggi menjulang di dekatnya itu, ia mendapat akal.
"Tunggulah, sebentar aku akan mengejarmu!"
Teriaknya.
Seperti gadis tadi, iapun loncat ke atas dengan dan cekatan sekali ia lempar besi kaitan itu ke atas hingga dengan tepat besi itu mengait pada pinggir karang yang kuat di puncak.
Setelah menarik-narik tambang dan mendapat kepastian bahwa tali dan besi pengait itu sudah kuat-kuat mengait batu karang diatas, ia lalu bawa ujung tali ke puncak karang lain, kemudian sambil berseru.
"Awas, aku mengejarmu!"
Ia loncat dari atas puncak karang itu dan tubuhnya terayun sambil pegang ujung tambang.
Betul saja, tambang itu tidak cukup panjang untuk mencapai seberang jurang.
Melihat hal ini gadis cilik itu terkejut dan berkhawatir sekali hingga ia menjerit.
Tapi Sin Wan yang sudah tahu bahwa tambangnya takkan dapat sampai ke seberang dan sudah siap sedia untuk menghadapi hal ini, gunakan saat tenaga ayunan tambang belum habis lalu loncat keras menuju ke seberang.
Dengan beberapa kali jungkir balik, ia berhasil juga turn di sebelah gadis itu yang memandangnya dengan mata terbelalak dan kagum.
"Kau hebat!"
Katanya memuji sambil tersenyum dan mendengar pujian serta melihat senyuman ini, kemarahan hati Sin Wan lenyap seketika.
Ia memang bukan orang pemarah, dan tadi ia juga tidak marah, hanya mendongkol dan penasaran.
"Kau juga lihai,"
Ia balas memuji.
"Tapi kurasa kau tidak akan dapat menangkan ilmu silatku,"
Gadis itu berkata lagi.
Timbul pulalah rasa penasaran Sin Wan yang tadinya sudah tenggelam dan lenyap.
Ia tadinya pandang tambang yang terayun-ayun karena dilepaskan tadi dengan agak kecewa dan sayang, tapi kini ia menengok dan pandang gadis itu dengan tajam.
Ia sudah lupa sama sekali akan kekecewaannya karena kehilangan tambang itu.
"Apa katamu? Kau dapat menangkap aku dalam ilmu silat? Hayo, kau cobalah!"
Tantangnya sambil gulung lengan bajunya. Gadis itu tersenyum menggoda.
"Awas ya, kalau terpukul olehku jangan kau menangis!"
Dan ia lalu maju menyerang dengan cepat ke arah dada Sin Wan.
Pemuda ini berkelit cepat dan hatinya terkesiap juga melihat betapa gadis cilik itu datang-datang menyerang dengan gerakan dari cabang Kun-Lun yang berbahaya!
Ia lalu balas menyerang danuntuk menebus kekalahannya dalam balap lari tadi.
Sin Wan keluarkan semua ilmu pukulan yang ia pelajari dari Kang Lam Ciuhiap!
Biarpun gadis itu memiliki dasar-dasar ilmu sila Kunlun yang cukup lihai, namun ia tidak tahan juga menghadapi serbuan Sin Wan yang mempunyai pukulan anep dan cepat juga.
Terhadap Sin Wan ia kalah tenaga hingga ke dua lengannya yang digunakan untuk menangkis sudah merasa sakit!
Akhirnya gadis itu lalu balikkan tubuh dan lari!
Entah bagaimana, tiba-tiba timbul nafsu dalam hati Sin Wan untuk menjatuhkan gadis itu dan memaksa gadis itu mengakui kekalahannya!
Nafsu ini membuat ia loncat dan lari mengejar gadis itu dengan cepat.
Kedua anak itu tidak tahu bahwa pada saat itu, mendung yang tebal dan hitam mengancam tempat di mana mereka berada!
Gadis itu lari makin cepat ke atas, dikejar oleh Sin Wan.
Karena gugup, maka gadis itu agaknya salah ambil jalan dan mereka tiba di sebuah jalan buntu dimana hanya tampak jurang-jurang dalam di depan dan sebelah kanannya, sedangkan sebelah kiri mereka terdapat dinding karang yang tebal dan tinggi.
Jalan maju tidak ada lagi, yang ada hanya jalan mundur lagi.
Gadis itu bingung dan dengan kertak gigi ia balikkan tubuh menghadapi Sin Wan yang mendatangi dengan cepat.
Sementara itu, cuaca yang tadinya terang telah berubah suram dan hampir gelap karena mendung tebal telah datang menyerbu.
Hawa lalu menjadi dingin luar biasa!
Sin Wan melihat betapa gadis itu terhalang jalannya menjadi girang dan berseru.
"Kau hendak lari kemana?"
Sementara gadis itu, dengan nekad lalu menyerang lagi dan mereka segera bertempur lagi di tebing jurang yang berbahaya itu, sedangkan dari atas kepala mereka mendung hitam tebal menyelubungi tempat itu dan menghalang cahaya matahari hingga keadaan menjadi makin gelap.
Tiba-tiba mendung hitam dan gelap itu mengakibatkan munculnya kilat dan guntur yang menggelegar.
Kedua anak yang sedang bertempur itu menjadi kaget.
Mereka loncat mundur dan menengok ke atas.
Alangkah terkejut dan takut mereka ketika melihat betapa mendung hitam tebal telah menutup tempat itu dan membuat semua menjadi gelap dan betapa kilat dan guntur merupakan lidah lidah api yang menakutkan menyambar nyambar di atas mereka.
Gadis cilik itu merasa ngeri dan menjerit ketakutan, lalu menubruk Sin Wan, memeluknya dan menangis dengan wajah pucat!
Sin Wan juga merasa betapa tubuhnya menjadi dingin sekali sampai hampir beku, kemudian ketika ia memandang lagi keatas, ia hampir saja memekik karena terkejut dan ngeri.
Ia melihat dengan samar-samar betapa di dalam kegelapan mendung itu ia melihat berkelebatnya dua ekor naga hitam dan putih!
Ia melihat betapa dua pasang mata naga itu menyinarkan cahaya merah menyilaukan dan betapa lidah mereka menjululur keluar mengluarkan api menakutkan sekali!
Dengan tak terasa Sin Wan peluk tubuh gadis cilik itu dengan erat dan ia berdiri untuk melarikan diri.
Tapi tiba-tiba ia merasa betapa ekor kedua naga itu bergerak dan menyabet ke arah ia dan gadis itu.
Sabetan ekor itu mendatangkan angin dingin dan Sin Wan terlempar oleh angin itu hingga terhuyung huyung.
Hampir saja ia terlempar ke dalam jurang sebelah depan yang sangat curam dan banyak batu-batu karang tajam bagaikan ujung golok terpancang di bawah!
Tapi dengan sekuat tenaga Sin Wan dan gadis itu saling berpegangan dan Sin Wan seret gadis menggelinding di atas tanah menuju ke dinding batu karang hingga mereka terbentur karang!
Pada saat itu dari atas datang hujan yang menimpa badan dalam butir besar bagaikan peluru saja hingga menerbitkan rasa sakit.
Dan pada saat itu tampak cahaya kilat gemerlapan di di atas kepala mereka.
Dalam pandangan Sin Wan tampak kepala sepasang naga itu dan menambar dan hendak menggigit mereka, maka sambil memekik ngeri ia tarik tangan gadis itu loncat ke kanan.
Karena keadaan sudah menjadi gelap gulita, maka Sin Wan tidak melihat bahwa di sebelah kanan itu adalah jurang yang sangat gelap karena selalu tertutup awan hitam!
Tak dapat tercegah lagi tubuh kedua anak itu terpelanting ke bawah dan meluncur bagaikan dua buah batu di lempar kedalam sumur!
Sin Wan buka matanya dan ia dapatkan dirinya rebah terlentang di atas tumpukan pasir halus.
Mulutnya penuh pasir hingga ia segera bangun duduk dan menyemburkan pasir itu dari mulut.
Pada saat itu terlihatlah olehnya tubuh gadis itu berbaring miring.
Maka teringatlah ia akan peristiwa tadi.
Ia tidak tahu bahwa telah beberapa lama mereka pingsan.
Agaknya Thian masih melindungi jiwa mereka karena secara kebetulan sekali mereka jatuh menimpa tumpukan pasir lembut yang menahan tubuh mereka dan mencegahnya dari kehancuran.
Hanya bantingan yang keras dari kejatuhan itu membuat mereka pingsan untuk beberapa lama.
Sin Wan segera menghampiri gadis cilik yang masih pingsan itu.
Ia melihat betapa jidat gadis itu mengeluarkan sedikit darah dan terdapat sebuah luka kecil, Sin Wan segera lepaskan ikat pinggangnya dan cepat balut kepala gadis itu agar darah dari lukanya berhenti mengalir.
Ia agak khawatir melihat betapa gadis itu rebah tak bergerak dengan tubuh lemas, dan dengan bingung ia memandang kesekelilingnya.
Ternyata mereka terjatuh kedalam jurang yang lebar dan disitu terdapat batu-batu besar dan air lumpur.
Anehnya di tengah-tengah jurang itu terdapat tumpukan pasir lemas yang telah menolong jiwa mereka!
Sin Wan lalu menghampiri sebagian tanah yang terdapat airnya lalu celupkan ujung bajunya disitu.
Setelah direndam agak lama dan ujung baju itu menjadi cukup basah, ia lalu kembali ketempat gadis itu berbaring dan peras ujung bajunya hingga airnya mengucur membasahi muka anak perempuan itu.
Dengan perlahan anak perempuan itu sadar dari pingsannya.
Ia gerak-gerakkan bibir dan pelupuk matanya.
Karena duduk di dekat kepala gadis cilik itu, Sin Wan dapat melihat betapa bulu mata yang panjang, hitam dan lentik itu bergerak-gerak dan betapa kulit pelupuk mata yang halus itu terbuka perlahan.
Pertama-tama pandangan mata gadis itu bertemu dengan Sin Wan dan ia tersenyum karena segera ia teringant kepada pemuda ini.
Kemudian ia merasa betapa jidatnya agak sakit maka dirabanya jidat itu.
Pandang matanya berubah heran ketika jari-jari tangannya menyentuh ikat pinggang membalut jidatnya.
"Kau terluka sedikit dan aku membalutnya."
Ketika Sin Wan melihat betapa gadis itu memandangnya dengan agak bingung, ia mengingatkan.
"Kita jatuh ke dalam jurang, ingatkan?"
Maka teringatlah gadis itu.
Ia loncat bangun dan memandang ke atas dengan ketakutan.
Sin Wan juga memandang keatas.
Ternyata mereka terjatuh dalam sekali hingga mereka tak dapat melihat tebing jurang di atas, apalagi jurang itu tertutup oleh uap semacam embun yang tebal dan tergenang di situ.
"Aneh sekali, mengapa kita masih hidup?"
Anak gadis itu berkata perlahan. Sin Wan meraba pasir lemas di bawah kaki mereka.
"Inilah yang menolong kita, kalau kita terjatuh disitu, ah... ah""
Ia bergidik ketika memandang kepada lain bagian dalam jurang itu yang penuh batu-batu hitam besar, Gadis cilik itupun bergidik ngeri.
"Kau... kau siapakah? Siapa namamu?"
Tanyanya sambil pandang wajah Sin Wan dengan sepasang matanya yang bening dan bagus, sedangkah karena terjatuh tadi, maka kedua jambul di atas kepalanya menjadi kusut dan rambut-rambut halus menutup sebagian mukanya.
"Aku she Bun bernawa Sin Wan, dan kau siapakah?"
"Namaku Kui Giok Ciu, aku tinggal bersama Ayah dilereng gunung Kam-Hong-San sebelah timur, Ah, Ayah tentu mencari-cariku dan nanti tentu akan marah padaku."
"Namamu bagus sekali, Giok Ciu. Kau beruntung masih mempunyai Ayah. Ayahku telah meninggal dan aku hanya tinggal bersama Ibu dan Kakekku di kampung Lok-thian-kwan di kaki gunung. Kakekku juga tentu mencari aku karena aku pergi tanpa pamit."
"Bagaimana kita bisa keluar dari sini? Sin Wan, kita harus keluar dari sini secepatnya, aku... aku takut dan perutku lapar sekali."
Sin Wan tersenyum dan merasai kemenangan di dalam jurang ini.
Ia sama sekali tidak merasa takut sekarang.
Mendengar bahwa kawannya itu merasa lapar, ia teringat akan roti keringnya.
Ia rogoh saku dan ternyata rotinya masih ada.
Segera ia keluarkan roti itu dan berkan kepada Giok Ciu.
Gadis cilik ini tanpa sungkan-sungkan lagi lalu terima roti itu dan terus saja menggigitnya.
"Ah, enak juga rotimu,"
Kata Giok Ciu. Ketika melihat betapa pemuda itu melihatnya dengan wajah ingin sekali,ia tertegun dan bertanya.
"Tidak ada lagikah rotimu? Hanya ini?"
Sin Wan menggeleng kepala.
"Tidak ada lagi, tapi tidak apa, kau makanlah."
"Ah, mana bisa begitu. Ini, kau makanlah sepotong."
Gadis kecil itu lalu potong roti kering di tangannya menjadi dua potong dan ia berikan yang sepotong kepada Sin Wan.
"Makanlah semua, Giok Ciu, aku tidak lapar,"
Jawab Sin Wan sambil geleng kepala. Tapi Giok Ciu tiba-tiba menjadi ngambul dan cemberut, lalu ia kembalikan dua potong roti itu kepada Sin Wan.
"Kalau begitu, aku juga tidak lapar. Mari, kau terima kembali rotimu!"
Katanya marah.
Sin Wan tersenyum melihat ini dan terpaksa ia terima juga sepotong.
Tapi tanpa disengaja ia menerima potongan yang bekas digigit oleh Giok Ciu.
Ketika Giok Ciu gigit bagiannya sambil melihat kepada Sin Wan, gadis cilik itu melihat betapa roti yang dipegang oleh Sin Wan terdapat bekas gigitannya maka cepat ia berkata sebelum roti digigit Sin Wan.
"Eh tahan dulu, jangan kau makan roti itu!"
Sin Wan telah bawa roti itu kedekat mulut dan siap hendak menggigitnya. Maka ketika mendengar seruan Giok Ciu, ia heran dan turunkan kembali rotinya.
"Ada apakah?"
Wajah Giok Ciu memerah hingga Sin Wan makin heran.
"Kemarikan roti itu, itu adalah roti bagianku yang telah kugigit. Ini, kau harus makan yang ini."
Dengan cepat Giok Ciu saut roti dari tangan Sin Wan dan berikan rotinya dari tangan Sin Wan dan berikan rotinya sendiri kepada pemuda itu.
Tapi pada saat itu dengan terkejut ia melihat bahwa roti ke dua itupun telah digigitnya tadi!
Maka ia menjadi bingung dan berkata dengan mata terbelalak.
"Ah, itupun sudah kugigit! Bagaimana baiknya, ah... eh""
Melihat kebingungan gadis itu, Sin Wan tersenyum sambil melihat bekas gigitan pada roti ditangannya.
"Giok Ciu kau aneh sekali! Kukira tadi ada apa maka kau tahan roti yang hendak kumakan. Tidak tahunya hanya soal itu. Apakah salahnya kalau aku makan roti bekas gigitanmu? Apakah gigitanmu berbahaya seperti ular berbisa?"
Makin merahlah wajah Giok Ciu mendengar godaan ini.
"Bukan begitu, tapi... tapi... bekas mulutku... dan... kotor!"
Sin Wan segera gigit rotinya dibagian bekas gigitan Giok Ciu lalu makan roti itu dengan enak. Ia angguk-anggukkan kepala dan berkata.
"Ah, bekas gigitanmu tidak berbisa, dan kulihat mulutmu tidak kotor, bahkan bersih dan bagus. Mengapa adatmu seaneh-aneh ini? Makanlah."
Mereka lalu makan roti yang tidak berapa besar itu.
Tentu saja mereka tidak kenyang.
Kemudian mereka merasa haus karena roti kering itu dimakannya seret sekali.
Mereka mencari air bersih dan temukan pancuran air kecil yang bening dan mengucur dari ats sepanjang batu cadas.
Setelah puas minum air, tiba-tiba Giok Ciu menunjuk kedepan.
"Sin Wan, lihat itu, ada gua!"
Benar saja, tertutup oleh alang-alang yang rapat sekali, terdapat sebuah gua besar dan gelap dalam jurang itu.
Gua ini bukan hanya karena tertutup oleh alang-alang maka tak tampak, tapi adalah karena gua itu gelap dan hitam sedangkan di dasar jurang dimana kedua anak itu terjatuh terdapat cahaya matahari yang masuk dari sebelah utara di mana tida ada awan yang menghalang.
Jurang itu sebenarnya adalah semacam lamping gunung, dan bukanlah merupakan jurang biasa, maka di belakang masih terdapat tempat terbuka yang curam kebawah dan berbahaya sekali.
Sin Wan tidak melihat kemungkinan untuk keluar dari tempat itu melalui jalan naik karena batu cadas yang merupakan dinding jurang itu licin sekali dan tinggi luar biasa, juga tidak mungkin melepaskan diri dari kurungan itu melalui bagian yang terbuka, karena bagian itu merupakan jurang lain yang lebih curam lagi!
Ia mencoba melongok kesana dan cepat-cepat tutup kedua matanya karena ngeri!
Ternyata bawah mereka berada di lereng gunung dan dari tempat terbuka yang dimasuki cahaya matahari itu mereka dapat melihat dasar dibawah yang luas dan dalamnya puluhan li!
"Sayang tambang dan besi pengaitku tertinggal disana ketika kita meloncati juran itu,"
Kata Sin Wan. Sekarang terpaksa kita harus coba menyelidiki gua itu."
"Gua hitam itu? Ah, aku takut, Sin Wan. Agaknya mengerikan sekali tempat itu."
"Habis apakah kita mau tinggal selamanya disini dan mati kelaparan? Kita harus berdaya mencari jalan keluar!"
Terbangun semangat Giok Ciu mendengar kata-kata ini.
Mereka lalu saling berpegang tangan untuk saling menahan kalau tergelincir, dan bersama-sama memasuki gua yang gelap sekali itu.
Sambil meraba-raba dengan kaki dan tangan mereka masuk.
Gua itu ternyata besar dan di bawahnya tidak basah, melainkan pasir belaka isinya.
Sin Wan dan Giok Ciu berjalan terus setengah merayap karena khawatir kalau-kalau terjeblos kedalam lubang.
Setelah berjalan lama dan membelok lebih dari tujuh kali dalam tikungan-tikungan yang tajam, tiba-tiba disebuah tikungan mereka dibikin silau oleh cahaya yang dengan aneh sekali dapat memasuki guha itu!
Gua yang merupakan terowongan panjang itu makin lama makin lebar, dan ketika tiba di tempat yang terang, Giok Ciu dan Sin Wan cepat menuju ke ruang tersebut.
Ternyata bahwa rung itu merupakan sumur yang lebar dan besar dan cahaya masuk dari atas.
Tapi sayang, sumur itu terlalu dalam hingga tak mungking untuk loncat naik, juga dindingnya dari karang-karang yang tajam dan tak mungkin didaki.
Kedua anak itu duduk melepaskan lelah dan saling pandang dengan putus asa.
Tapi Sin Wan tidak mau memperlihatkan kelemahannya, ia gigit bibirnya dan berkata.
"Giok Ciu, bukankah aneh sekali kejadian yang menimpa diri kita hari ini? Kau lihatkah tadi dua ekor naga yang menyerang kita?"
Giok Ciu pandang kawannya dengan heran. Ia takut kalau-kalau Sin Wan sudah berubah ingatan.
"Apa maksudmu? Dua naga yang mana?"
Kini Sin Wan yang heran.
"Apa Kau tidak melihat dua naga yang menyambar-nyambar kita dan memukul-mukul kita dengan ekornya ketika kita berada di atas dan sebelum terjatuh ke dalam jurang?"
Giok Ciu geleng-geleng kepala.
"Aku hanya melihat mendung tebal menghitam dan kilat menyambar-nyambar, disertai suara geluduk yang mengerikan. Dimanakah ada naga? Aku tidak melihatnya."
Sin Wan tundukkan kepalanya.
"Apakah benar kata Kakeknya bahwa ia terlalu banyak memikirkan dongeng naga itu hingga sering mimpi dan melamun sampai bayangan-bayangan naga tampak di depan mata? Ah, tak mungkin. Dua naga yang tadi jelas kelihatan olehnya!"
"Sin Wan, jangan mengobrol yang tidak-tidak. Paling perlu, pikirkanlah bagaimana kita harus keluar dari sini!"
Sin Wan bangkit berdiri diikuti oleh Giok Ciu.
"Hayo kita berjalan terus,"
Ajaknya.
Ketika menyelidiki ruang itu, mereka meliha sesuatu yang menarik hati sekali.
Tadi hal itu tidak tampak oleh mereka, tapi kini setelah meneliti dengan baik, Sin Wan dapatkan bahwa bentuk batu di dalam sumur ini mengherankan sekali.
Ia mundur sampai di dinding yang berhadapan dengan batu-batu di dinding itu, dan hampir saja ia berseru kaget dan heran.
Giok Ciu segera menghampiri kawannya dan ikut melihat.
Juga gadis cilik itu terherannya ketika lihat betapa batu-batu besar yang menonjol di dinding karang itu bentuknya sedemikian rupa hingga merupakan mata, sedemikian rupa hingga merupakan kepala seekor naga!
Sepasang batu bulat merupakan mata, batu dibawh merupakan hidung dengan dua lubangnya, dan bawa di bawah yang memanjang diserta batu-batu runcing merupakan mulut naga yang sedang ternganga!
Dengan tabah Sin Wan mendekati dinding berlukis kepala naga itu dan meraba-raba.
Juga Giok Ciu meraba-raba, dan gadis kecil ini berteriak kaget ketika ia meraba mata kiri batu naga itu.
"Sin Wan! Batu yang menduduki tempat mata ini dapat bergerak-gerak!"
Sin Wan cepat meraba batu mata kanan dan ternyata batu itupun dapat bergerak-gerak.
Dengan berbareng Sin Wan dan Giok Ciu menekan-nekan kedua batu yang merupakan mata naga itu.
Ini sebetulnya terjadi kebetulan saja, tapi sungguh mengagetkan mereka ketika tiba-tiba terdengar bunyi berkerotokan seperti barang yang sangat berat bergerak pindah dan perlahan-lahan batu yang menempati mulut itu bergeser dan terbuka!
Sin Wan dan Giok Ciu loncat mundur dengan takut dan menunggu-nuggu kalau-kalau dari lubang itu akan keluar makhluk yang dahsyat.
Tapi ternyata setelah ditunggu-tunggu dengan hati berdebar, tak tampak sesuatu keluar dari situ.
Dalam kegelapan hati mereka, kalau saja pada saat itu ada seekor tikus kecil keluar dari lubang itu tentu keduanya akan terperanjat sekali!
"Giok Ciu biarlah aku memasuki lubang ini untuk memeriksa.
Kau tinggal saja disini."
"Tidak, Sin Wan. Aku tidak mau berada seorang diri disini. Kita terjerumus di tempat ini berdua, maka sekarang maju harus berdua pula."
"Giok Ciu lubang ini terjadi karena kita berdua menggerakkan batu-batu yang membentuk mata naga, maa tentu ini bukan hal kebetulan saja. Pasti lubang dan batu-batu ini sengaja dibuat oleh orang, atau setidaknya oleh makhluk hidup. Maka kurasa tentu ada apa-apa menanti dibalik lubang dan bukan tidak berbahaya. Kalau aku saja yang masu biarpun ada bahaya menimpa, hanya aku yang menghadapinya. Biarpun sampai mati, tapi masih ada engkau. Lebih baik kurban hanya seorang daripada kedua duanya."
Tak tersangka ketika mendengar kata-kata ini, Giok Ciu marah sekali.
Sepasang matanya yang lebar memancarkan cahaya yang mengingatkan Sin Wan akan sepasang mata naga yang dilihatnya didalam hujan ribut tadi pagi!
"Sin Wan, kau anggap aku orang apakah?
Aku bukan seorang pengecut, dan Ayahku ialah seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang gagah perkasa dan dihormati orang!
Kalau kau tidak takut menghadapi bahaya, apa kau kira akupun takut mati?
Pendeknya kau pilih saja, kita masuk berdua atau kalau hanya seorang yang boleh masuk, kau yang tinggal disini dan aku yang masuk sendiri!"
Sin Wan pandang gadis cilik yang usianya sepantaran dia tapi sudah bersemangat gagah ini dengan kagum.
Maka iapun mengalah.
Ia hendak masuk lebih dulu, tapi Giok Ciu tetap hendak masuk berbareng.
Karena lubang itu cukup besar, maka dengan merangkak berdampingan mereka dapat juga menerobos masuk.
Tapi, dalam keadaan masih merangkak bagaikan dua ekor binatang kaki empat, kedua anak itu dengan mata terbelalak dan mulu ternganga serta wajah pucat memandang sambil berdongak ke depan mereka, sedang tubuh mereka tak bergerak bagaikan berubah menjadi patung!
Di depan mereka tidak ada tiga tombak jauhnya, terdapat rangka dua ekor ular besar sekali dengan tengkorak menghadap mereka dan mulut tengkorak ular itu terbuka lebar seakan-akan hendak telan mereka!
Sin Wan dapat tenteramkan goncangan hatinya lebih dulu dan ia berkata.
"Ah, tidak apa-apa Giok Ciu. Hanya rangka yang telah mati. Hayo berdirilah."
Tapi biarpun mulutnya berkata begini, ketika berdiri SinWan merasa heran karena kedua kakinya agak menggigil!
Giok Ciu berpegang kepada tangan Sin Wan yang diulurkan dan gadis cilik itupun berdiri dengan wajah masih pucat.
Mereka maju selangkah demi selangkah ketempat di mana dua rangka ular itu berada.
"Aduh besarnya!"
Giok Ciu berbisik ketika mereka telah dekat dengan rangka itu. Memang rangka itu besar dan panjang dengan tubuh kedua ular saling belit.
"Jangan-jangan masih ada ularnya yang hidup."
Giok Ciu berbisik kepada Sin Wan, tapi pemuda kecil ini sedang pandang kedua tengkorak ular dengan penuh perhatian dan tertarik.
Bayangan dua ekor naga sakti bersisik putih dan hitam terbayang depan matanya.
Apakah ini rangka naga sakti itu?
Demikian hatinya berbisik dengan takjub.
Melihat betapa Sin Wan berdiri bengong di depan tengkorak ular, Giok Ciu segera betot tangan kawannya itu.
"Sin Wan, hayo kita kesana. Lihat ada apa itu di sana?" (Lanjut ke
Jilid 02) Kisah Sepasang Naga/Ji Liong Jio Cu (Seri ke 02 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmarainan S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 Sin Wan memandang dan ternyata di bagian sebelah dalam terdapat semacam tetumbuhan yang mengeluarkan bau harum.
Mereka segera menghampiri tetumbuhan itu dan ternyata daun tetumbuhan itu seperti daun anggur dan disitu terdapat enam butir buah yang berwarna putih.
Buah itu besarna sekepalan tangan dan macamnya seperti apel, tapi baunya sangat harum.
Giok Ciu yang merasa lapar sekali dan belum puas makan roti kering pemberian Sin Wan, segera petik buah itu dan bawa ke mulutnya.
"Giok Ciu, tahan dulu!"
Kata Sin Wan cepat.
"Ada apa? Kalau kau mau, petiklah itu."
Jawab Giok Ciu.
"Buka begitu, Giok Ciu. Buah ini kita tidak tahu apakah boleh dimakan atau tidak. Bagaimana kalau mengandung racun?"
Tapi baunya enak sekali, kurasa tidak beracun,"
Jawab Giok Ciu.
"Pula lebih mati makan buah beracun daripada mati kelaparan."
"Kalau begitu, biarlah aku yang mencobanya dulu!"
Kata Sin Wan.
"Ah, kau ini anak laki-laki memang hendak mencari enaknya sendiri saja! Apa-apa hendak mendahului!"
"Kalau begitu, biarlah kita makan bersama,"
Kata Sin Wan yang lalu petik sebuah lagi.
Mereka berbareng gigit buah itu dan saling pandang heran.
Ternyata buah itu manis dan harum sekali, rasanya lezat dan segar!
Karena hanya ada enam butir di situ, maka masing-masing makan tiga.
Dan betul-betul heran, setelah makan tiga butir buah mereka merasa kenyang dan mengantuk sekali hingga hampir-hampir tak kuat menahan pula.
Bagaikan orang mabuk, Giok Ciu terhuyung-huyung dan hampir jatuh.
Sin Wan berseru.
"Celaka, kita makan buah beracun!"
Dan ia masih sempat peluk tubuh kawannya yang hendak roboh.Tapi ternyata Giok Ciu telah tidur pulas dalam pelukannya.
Dengan hati-hati dan perlahan Sin Wan baringkan tubuh kawannya itu di atas tanah, sedangkan ia sendiri ang sudah tak dapat menahan rasa kantuknya lagi, segera rebahkan diri di atas tanah yang tertutup pasir itu.
Sebentar saja ia mengeros karena tertidur pulas!
Kedua anak itu tidak merasa bahwa mereka terus tidur sampai sumur itu menjadi gelap karena matahari telah terbenam.
Semalam penuh lewat tanpa mereka ketahui samasekali, juga mereka tidak merasa betapa hawa dingin mengalir masuk dari lubang mulut naga itu karena mereka telah tertidur lelap sekali.
Pada keesokan harinya, ketika sinar matahari telah masuk ke dalam sumur, Giok Ciu bangun lebih dulu.
Gadis cilik ini merasa perutnya mulas dan sakit bagaikan diremas-remas dari dalam hingga ia bangun duduk sambil pegang-pegang perutnya.
Ia merasa hendak buang air besar, maka ia bingung sekali dan tidak berani bangunkan Sin Wan yang masih tidur enak, karena malu.
Ia lari kesana kemari mencari tempat untuk buang air, tapi sekelilingnya hanya dinding batu.
Sedangkan perutnya terasa makin sakit dan terdengar suara berkeruyukan di dalam perutnya.
Peluh dingin memenuhi muka Giok Ciu yang menahan-nahan rasa sakit, dan akhirnya ia tak kuat lagi.
Dengan cepat ia loncat di sebelah kiri rangka kedua ular itu dan cepat buka pakaiannya.
Dan disudut situlah ia buang air besar yang banyak sekali seakan-akan perutnya dikuras habis.
Kotoran keluar dari perutnya tiada hentinya hingga Giok Ciu hampir menangs karena malu.
Ah, bagaimana kalau Sin Wan tahu?
Ia tekap muka dengan kedua tangan dan tubuhnya terasa lemas sekali karena benar-benar semua kotoran dalam perutnya terkuras keluar!
Tapi tiba-tiba Giok Ciu pasang telinga dan mendengarkan dengan teliti.
Ia mendengar suara Sin Wan mengeluh dan sebentar lagi ia mendengar suara orang buang air di sebelah kanan rangka ular itu!
Hampir Giok Ciu tak dapat menahan rasa gelinya karena ia maklum apa yang telah terjadi di balik rangka yang menghalangi mereka itu!
Ternyata Sin Wan juga telah sadar dari tidurnya dan mengalami nasib yang sama seperti dia!
Maka legalah hati Giok Ciu.
Kenapa mesti malu kalau pemuda itupun berhal seperti dia?
Karena perut kedua anak itu dikuras bersih dan habis, dan di dalam ruangan itu tersiar bau yang tidak sedap hingga keduanya merasa jengah dan malu.
Masing-masing tidak berani berdiri, biarpun buang air itu telah selesai dan tidak ada apa-apa lagi di dalam perut mereka yang dapat keluar.
Giok Ciu hanya mendengarkan saja dan tidak tahu harus berbuat atau berkata apa.
Juga suara rintihan Sin Wan sudah lenyap dan ia tidak tahu apakah pemuda itu masih berada di balik rangka ular aau tidak.
Tak lama kemudian terdengar suara Sin Wan, dibalik rangka.
"Giok Ciu, ternyata kita telah makan buah beracun hingga perut kita dikuras habis! Barusan aku menuju ke tikungan sebelah kiri dan tak jauh dari situ jika kau berjalan terus kau akan menemukan sebuah pancuran air. Tadi aku telah ke situ untuk cuci badan dan cuci pakaian. Kau kesanalah, Giok Ciu!"
Giok Ciu tidak menjawab, tapi diam-diam ia melangkah ke tikungan yang ditunjuk oleh Sin Wan itu.
Ketika memasuki tikungan, ia mengerling ke arah Sin Wan dan hatinya berterima kasih sekali ketika melihat Sin Wan sengaja berdiri membelakangi tikungan itu hingga tidak melihatnya.
Biarpun tubuhnya lemas tidak bertenaga, Giok Ciu cepat lari ke depan dan betul saja, tak jauh dari situ ia melihat air memancur keluar dari sebuah batu yang terbelah.
Ia cepat cuci tubuhnya dan bersihkan dir, maka ia makan waktu yang agak lama.
Ketika dengan badan lemas tapi hati lega ia pakai kembali pakaiannya dan pergi ke ruang rangka ular itu, ia melihat betapa Sin Wan telah menggali lantai pasir di situ dan telah pendam semua kotoran yang berada disitu, juga kotoran Giok Ciu!
Perbuatan Sin Wan ini tepat sekali karena dengan terpendamnya semua kotoraan itu, maka bau busuk juga lenyap.
Tapi Giok Ciu merasa malu sekali karena kawannya itu dengan tak merasa jijik telah pendam kotorannya pula.
"Kenapa tidak kau biarkan aku melakukan itu sendiri?"
Ia mencela dengan mulut memberengut, tapi sepasang matanya memandang dengan berterima kasih.
"Ah, apa bedanya Giok Ciu? Tak perlu hal seremeh itu dibicarakn. Yang penting sekarang marilah kita pikirkan nasib kita. Ternyaa bahwa buah putih yang lezat itu mengandung racun hingga is perut kita terkuras kosong! Bagaimana sekarang? Masih baik kita tidak terracun mati, tapi dengan perut kosong dan lapar seperti ini, kita dapat bertahan sampai kapan?"
"Baiknya masih ada air dan kita boleh minum secukupnya,"
Kata Giok Ciu.
Sin Wan tak sengaja memandang ke atas melihat semacam tetumbuhan di dinding sumur.
Tetumbuhan kecil itu juga berbuah dan buahnya berwarna merah dan kecil-kecil.
Sayang sekali tempat tetumbuhan itu sangat tinggi hingga tak mungkin ia meloncat mengambilnya.
"Itu ada buah merah, entah buah apa."
Kata Sin Wan dengan sedih.
Giok Ciu berdongak dan juga melihat buah itu.
Ia lalu enjot tubuhnya yang lemah ke atas.
Dan Sin Wan kagum sekali melihat betapa tubuh gadis cilik itu melaang ke atas dan dapat memetik sekepal buah-buah kecil!
"Kau hebat betul, Giok Ciu!"
Ia memuji, tapi Giok Ciu pandang ia dengan mata terbelalak.
"Sin Wan sungguh aneh. Mengapa tubuhku menjadi begini ringan? Biasanya tak mungkin aku dapat loncat setinggi dan semudah itu! Apa yang terjadi?"
Sin Wan memang cerdik dan otaknya dapat bekerja cepat.
Tentu ini adalah pengaruh buah mujijat yang mereka makan itu.
Kalau pengaruhnya menguasai tubuh Giok Ciu, mengapa ia tidak?
Sin Wan lalu berdiri di bawah tetumbuhan itu dan iapun enjot tubuhnya.
Sungguh heran!
Hampir ia berteriak girang karena tubuhnya melayang ke atas demikian cepat dan ringan hingga dengan mudah ia dapat ambil buah-buah itu!
Kedua anak itu girang sekali hingga mereka makan buah yang rasanya manis itu sambil tertawa-tawa.
Buah kecil merah itu ternyata berat sekali, tidak sesuai dengan kecilnya.
Rasanyapun sedap dan manis, dan baru makan beberapa butir saja mereka telah merasa kenyang.
Tentu saja kedua anak itu girang bukan main.
"Giok Ciu, ini tentu pengaruh kesaktian kedua rangka ini yang menolong kita. Kedua macam buah yang telah kita makan itu tentu buah dewa yang hanya terdapat di tempat suci ini. Hayo kita menghaturkan terima kasih kepada dua rangka itu,"
Kata Sin Wan.
Giok Ciu menyetujui pendapat ini dan mereka berlutut di depan dua buah rangka ular itu untuk menghaturkan terima kasih mereka.
Setelah mendapat kenyataan bahwa tubuh mereka menjadi ringan sekali akibat khasiat yang mujijat dari buah-buah yang mereka makan, dua orang ini lalu mencoba keluar lagi dari dasar sumur.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya keduanya berhasil meloncat ke luar dari sumur.
Ilmu ginkang mereka maju demikian pesatnya sehingga dalam melompat keluar ini, tidak saja amat mudah, bahwa mereka masih berhasil menjambret sisa buah-buah merah itu.
Giok Ciu ternyata memiliki keringan dan kecepatan lebih hebat sehingga dia berhasil memetik lebih banyak buah-buah merah mujijat.
Melihat bahwa Sin Wan hanya mendapatkan tidak berapa banyak, Giok Ciu dengan rela lalu membagi buah kepada Sin Wan sehingga mereka mendapat bagian jumlah yang sama.
Bukan main girang dan gembira hati dua orang anak ini.
Mereka lalu berlumba untuk mencoba ginkang mereka, berlari-lari saling kejar dan ternyata gerakan mereka luar biasa pesatnya bagaikan dua ekor burung terbang saja.
Tiba-tiba keduanya berhenti berlari.
"Kau mendengar sesuatu?"
Tanya Sin Wan.
Giok Ciu mengangguk.
Keduanya lebih memperhatikan dan terdengarlah oleh mereka suara tiupan suling diselingi siulan-siulan aneh.
Terkejutlah mereka karena masing-masing mengenal baik suara itu.
Sin Wan mengenal suling itu yang bukan lain adalah tiupan suling Engkongnya, Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong dan kalau Engkongnya meniup suling itu, berarti sedang mainkan ilmu silatnya untuk melawan musuh berat.
Sebaliknya, Giok Ciu juga mengenal siulan-siulan itu adalah siulan pertempuran dari Ayahnya, Kwie Cu Ek.
Dua orang anak ini tidak membuang waktu lagi, cepat mereka melesat pergi, berlari-lari seperti terbang menuju ke arah suara itu.
Sukar untuk mengikuti gerakan bayangan mereka karena ginkang mereka yang betul-betul luar biasa itu.
Ketika keduanya tiba di sebuah jalan tikungan, mendadak mereka berhenti dan berdiri di situ dengan bengong, keduanya tampak khawatir sekali melihat pertempuran antara dua orang yang bagi orang lain tentu dianggap main-main.
Tapi Sin Wan dan Giok Cu maklum bahwa kedua orang yang sedang bertempur itu berada dalam kedudukan berbahaya dan keduanya sedang keluarkan ilmu mereka yang tertinggi!
Yang seorang adalah Kang Lam Ciu hiap Kakek yang lihai dari Sin Wan.
Kakek itu bertempur sambil pegang sebatang suling dan tiup-tiup suling itu dalam lagu yang tak keruan dan membuat sakit anak telinga!
Ia bersilat dengan tenang dan gerak kaki yang teguh sekali sedangkan kedua tangannya memegang sulingnya yang ditiup-tiup hanya kadang-kadang.
Ia angkat tangan kanan dan kiri untuk menangkis atau menyerang!
Dengan cara demikian gerakannya tak terduga lawannya.
Lawannya juga mempunyai cara bertempur yang aneh.
Ia adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun dan gerak-geriknya gesit sekali.
Ia bersilat bagaikan gerakan seekor burung, kedua lengannya terpentang bagaikan sayap dan kakinya berloncat-loncatan keatas, kadang-kadang tinggi sekali dan turunnya langsung menerjang lawannya.
Mulutnya dimoncongkan dan dari bibirnya keluarlah siulan-siulan aneh dan nyaring, dan dalam hal menyakiti anak telinga, siulan itu tidak kalah oleh suara suling!
Laki-laki ini bukan lain ialah Kwie Cu Ek Ayah Giok Ciu, seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang sangat terkenal dan digelari orang Hui-Houw atau Macan terbang.
Bagaimana kedua orang gagah itu dapat terlibat pertempuran mati-matian ini?
Sebenarnya ini hanyalah suata kesalah-pahaman yang timbul dari hati bingung karena masing-masing telah sehari semalam berkeliaran di seluruh permukaan bukit Kam-Hong-San, yang seorang mencari cucunya yang seorang mencari anaknya!
Ketika Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong, empek yang lihai itu sedang mencari-cari cucunya dengan hati cemas dan bingung karena telah sehari semalam ia mencari dengan sia-sia, ia mulai berteriak-teriak memanggil nama Sin Wan.
Karena ia gunakan tenaga Tian-tan yang dikerahkan ke dalam suaranya, maka suara itu dapat terdengar oleh Kwie Cu Ek yang memang semenjak kemarin telah meencari sambil memanggil-manggil.
Karena jarak mereka tadinya sangat jauh, seorang di lereng sebelah timur dan yang seorang laagi di sebelah barat, maka tadinya suara mereka tidak terdengar.
Tapi kini mereka telah saling mendekati hingga Kwie Cu Ek mendengar juga teriakan Bun Gwat Kong.
Cu Ek sendiri telah berteriak-teriak memanggil nama anaknya sehingga Bun Gwat Kong mendengar pula suaranya.
Setelah saling mendengar suara masing-masing, maka kedua orang tua itu timbul harapan baru dan cepat menuju ke suara yang mereka dengar.
Tapi alangkah kecewa hati mereka ketika mereka saling bertemu di sebuah lereng gunung dan melihat bahwa yang muncul hanyalah seorang asing.
Timbullah hati curiga di kedua belah pihak.
Kang Lam Ciuhiap yang beradat keras segera mendakwa Kwie Cu Ek menculik cucunya, sebaliknya Kwie Cu Ek melihat seorang Kakek yang aneh dan berada keras itu, memakinya sebagai siluman gunung yang mencuri anaknya.
Tak dapat dicegah pula keduanya lalu bertarung!
Baru segebrakan saja, terkejutlah kedua fihak karena ternyata masing-masing memiliki kepandaian silat tinggi dan merupakan lawan yang berat.
Namun karena hati mereka telah nekad dan terdorong oleh rasa duka dan bingung kehilangan anak-anak yang dikasihi, merka tidak mau saling mengalah.
Setelah bertempur ratusan jurus dengan keadaan masih seimbang, tiba-tiba Kang Lam Ciuhiap cabut keluar sulingnya dari ikat pinggang.
Ia memang memiliki dua macam kepandaian hebat, yakni yang pertama, ia pandai gunakan arak untuk disemburkan dengan kekuatan lweekang sepenuhnya hingga arak biasa itu dapt menjadi senjata yang ampuh, karena lawan yang kena sembur mukanya jika tidak cepat berkeliat bisa menjadi buta matanya.
Kelihaiannya yang kedua juga berdasarkan ilmu lweekang yang dalam dan terlatih sempurna, jika sambil bertempur ia tiup sulingya dengan suara demikian nyaring dan tinggi rendah tak keruan hingga tidak saja dapat membingungkan dan menyakiti hati dan telinga lawan, juga bisa membuat jantung berdebar-debar dan melemahkan lawannya!
Gerakan bersilat sambil meniup suling juga menjadi lambat dan Kokoh kuat, namun semua gerakan disertai tenaga lweekang yang hebat!
Melihat kehebatan lawannya dan merasa betapa isi perutnya bagaikan diaduk dan jantungnya bagaikan ditusuk-tusuk pisau tajam ketika mendengar suara tiupan suling, Kwie Cu Ek merasa terkejut sekali, maka iapun buru-buru mengeluarkan kepandaian simpanannya.
Dengan mengatur napasnya menjadi panjang dan lama ia kerahkan lweekang dan ginkangnya lalu mainkan silat Rajawali Sakti, Yakni ilmu pukulan rahasia yang telah dipelajarinya bertahun-tahun dan merupakan kepandaian simpanan yang membuat ia tak terkalahkan sampai berpuluh-puluh tahun lamanya menjagoi di dunia kang-ouw.
Tubuhnya berubah ringan sekali dan berloncatan bagaikan seekor rajawali menyambar-nyambar dari segala jurusan, sedangkan dari mulutnya keluar siulan-siulan tajam mengiris jantung untuk mengimbangi suara suling lawannya.
Demikianlah, yang seorang bergerak lambat-lambatan tapi Kokoh-kuat sedangkan yang seorang lagi bergerak cepat dan lincah sekali hingga merupakan tandingan yang jarang terdapat, tapi keadaan mereka tetap seimbang.
Sin Wan dan Giok Ciu yang berdiri berdampingan sambil melihat pertempuran itu, merasa kagum berbareng khawatir kalau-kalau seorang di antara keduanya terluka.
Oleh karena itu maka keduanya lalu berseru.
"Hai! Jangan bertempur, kami berada disini!"
Mendengar teriakan kedua anak itu, Kang Lam Ciuhiap dan si Macan terbang kenali cucunya dan anaknya masing-masing, maka dengan heran sekali mereka loncat mundur lalu memandang.
Diam-diam kedua orang tua kosen ini merasa terkejut sekali.
Bagaiman mereka berdua sampai tidak mendengar kedatangan kedua anak itu?
Padahal, biarpun mereka sedang bertempur mati-matian, mereka pasti akan dapat mendengar jika ada orang lain datang di dekat situ.
Untuk ini telinga mereka sudah cukup terlatih.
Tentu saja mereka tidak tahu bahwa kedua anak itu telah memiliki ilmu ginkang yang berlipat ganda kehebatannya dengan kepandaian mereka sebelum mengalami hal-hal yang berbahaya itu.
"Ayah!"
"Ngkong!"
Kedua anak itu lari ke masing-masing orang tuanya dengan gerakan demikian cepatnya hingga membuat Bun Gwat Kong dan Kwie Cu Ek melenggong! "Eh, eh, anak nakal. Kau datang dari mana?"
Kedua orang tua itu berbareng tegur mereka.
Maka ramailah keduanya menceritakan pengalaman mereka kepada masing-masing orang tua itu yang mendengarkan dengan mulut ternganga keheranan.
Setelah kedua anak itu habis bercerita, Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong lalu menghampiri Kwie Cu Ek dan berkata sambil tertawa dan elus-elus jenggotnya.
"Sungguh lucu, kita orang-orang tua saling sibuk gebuk kaya kerbau gila, sedangkan kedua anak yang kita cari tahu-tahu selamat tidak apa-apa, bahkan mendapat untung besar."
Kwie Cu Ek juga tertawa besar.
"Kau orang tua sungguh lihat sekali membuat aku yang muda tunduk. Bolehkan kiranya aku ketahui nama besarmu?"
"Ha, ha, ha! Mana aku tua bangka dapat dibandingkan dengan kau yang gagah? Aku sudah lama tinggalkan dunia kang-ouw dan tenaga makin habis tubuh juga makin tua dan bobrok. Namaku Bun Gwat Kong, dan siapakah kau yang selihai ini?"
Terkejutlah Kwi Cu Ek mendengar nama ini, ia lalu tertawa girang dan menjura tanda hormat.
"Ah, ah, sungguh benar kata orang. Kalau sengaja dicari-cari, sampai di ujung dunia juga tidak bertemu, kalau tidak disengaja, tiba-tiba saja berhadapan denga Kang Lam Ciuhiap yang terkenal. Sungguh beruntung! Telah bertahun-tahun aku mendengar nama Kang Lam Ciuhiap yang besar dan hari ini aku Kwie Cu Ek telah membuktikan sendiri kebenaran nama besar itu!"
"Apa? Jadi kau ini Kwie Cu Ek si Harimau Terbang?"
Berkata Bun Gwat Kong dengan heran.
"Pantas saja kau lihai sekali dan masih untung tubuhku tidak terbinasa dalam tanganmu. Tapi yang mengherankan sekali, kenapa kau juga berada disini? Apakah kau juga tinggal di atas gunung ini?"
Kwie Cu Ek menghela napas duka.
"Dunia sudah berubah banyak semenjak kau pergi. Dulu aku mendengar tentang malapetaka yang menimpa diri putera mantumu dan aku tahu pula bahwa yang membunuh para pembesar anjing itu adalah kau orang tua. Tapi, memang nasi rakyat jelata yang buruk! Kata orang Kaisar adalah manusia pilihan Thian, tapi agaknya kali ini Thian telah salah memilih orang yang menjadi Kaisar! Raja lalim itu hanya tahu berpelesir dan bersenang-senang saja hingga ia tidak tahu sama sekali keadaan rakyatnya yang tertindas. Tidak tahu bahwa para dorna dan pembesar anjing memegang kekuasaan penuh di seluruh negeri. Rakyat yang sudah tertindas, makin menderita lagi dengan turunnya wabah penyakit bermacam-macam dan bencana alam berupa banjir besar yang menghabiskan jiwa dan harta. Keluargaku juga terkena bencana ketika kampung kami terserang wabah penyakit, hingga isteriku, Ibu anakku Giok Ciu ini meninggal dunia."
Sampai disini Kwie Cu Ek berhenti dan tampak berduka.
Giok Ciu yang mendengar bicara Ayahnya disamping dan melihat Ayahnya bersedih, lalu menubruk orang tua itu.
Kang Lam Ciuhiap menghela napas dan diam-diam ia merasa kasih kepada si Harimau Terbang yang biarpun usianya baru empat puluh tahun, tapi sebagian besar rambut kepalanya telah putih.
Tapi hanya sebentar saja Kwie Cu Ek berduka, karena ia segera tindas perasaannya yang tertekan dan sambil memandang Sin Wan ia berkata.
"Anak ini cucumu, bukan? Hm, ia baik juga, tidak mengecewakan menjadi cucu Kang Lam Ciuhiap!"
Demikian ia memuji sejujurnya.
"Anakmu juga berbakat baik,"
Si Kakek memuji juga. Tiba-tiba Kwie Cu Ek bangun berdiri.
"Setelah kau tersesat sampai disini, kau harus mampir di tempat tinggalku. Tidak jauh dari sini, tuh di atas bukit sebelah timur itu!"
"Baik, baik. Kita memang tetangga dekat dan sudah sepantasnya saling mengunjungi."
Jawab Bun Gwat Kong gembira.
"Giok Ciu, kau ajak temanmu itu pergi dulu dan di rumah kau boleh sediakan makan seadanya untuk tamu-tamu kita!"
Kata si Harimau Terbang kepada anaknya.
"Baik, Ayah,"
Jawab Giok Ciu yang lalu berpaling kepada Sin Wan dan berkata.
"Hayo, Sin Wan, kita berlumba kerumahku!"
Sin Wan tersenym gembira dan kedua anak itu segera loncat dan lari cepat sekali ke arah bukit yang di tunjuk oleh Kwie Cu Ek tadi.
Kwie Cu Ek tertawa gembira melihat tingkah anaknya dan ia berkata kepada Kang Lam Ciuhiap.
"Mereka dapat bergaul rapat sekali!"
Tiba-tiba kedua mata Kakek itu bersinar gembira dan wajahnya berseri.
"Eh Kwie Enghiong bagaimana kalau mereka itu dijodohkan saja? Kalau kau tidak mencela Sin Wan dan tidak keberatan mempunyai mantu sebodoh ia, sekarang juga kulamar anakmu itu untuk Sin Wan!"
Kwie Cu Ek terperanjat dan pandang muka Kakek itu dengan heran.
"Aah, Ciuhiap mengapa begini aneh? Anakku baru berusia sepuluh tahun dan cucumu itupun paling banyak baru..."
"Ia juga sepuluh tahun lebih, hampir sebelas..."
Kakek itu memotong.
"Nah, mereka itu keduanya masih kanak-kanak, tidak pantas dikawinkan!"
Maka tertawalah Kang Lam Ciuhiap dengan keras.
"Bukan kawin sekarang, maksudku kita ikat mereka dengan tali pertunangan. Mereka itu kulihat berjodoh."
Keduanya saling pandang agak lama, agaknya untuk menyelami hati dan pikiran masing-masing, kemudian Kwie Cu Ek maju pegang lengan Kakek itu sambil berkata gembira.
"Baik, orang tua, aku percaya penuh kepadamu. Kau orang jujur. Eh, siapa nama cucumu itu?"
"Bun Sin Wan."
"Nah, biarlah, mulai saat ini Kwie Giok Ciu anakku itu menjadi calon isteri atau tunangan Bun Sin Wan, cucu Kang Lam Ciuhiap."
"Ha, ha, ha, ha, bagus, bagus! Kalau kau perlu tahu, dapat juga aku ceritakan tentang almarhum Ayahnya, mantuku itu."
"Ah, siapakah yang tidak kenal Bun taijin? Mantumu adalah pembesar yang adil dan jujur, kalau tidak demikian sifatnya, mana dia bisa dihukum mati oleh Kaisar lalim?"
"Kau pintar, sungguh Sin Wan boleh bangga mempunyai mertua seperti kau ini!"
Sekali lagi empek gagah itu tertawa senang.
"Nah, hayo kita susul mereka. Kita harus rayakan ikatan ini dengan arak wangi. Kebetulan sekali aku mempunyai simpanan arak dari Hunlim yang telah puluhan tahun umurnya.Wajah Kang Lam Ciuhiap tiba-tiba berseri.
"Apa kau kata? Arak wangi dari Hunlim? Aah, bagus sekali. Hayo kita pergi, mau tunggu apa lagi?"
Maka keduanya menggunakan ilmu lari cepat menyusul kedua anak yang telah pergi lebih dulu itu.
"Eh, Kwi Enghiong, tahukah kau bahwa kedua anak kita kelak akan menjadi pendekar-pendekar yang tiada taranya di muka bumi ini?"
"Akupun sedang berpikir dan tak habis mengerti, Lo-Ciuhiap,"
Kata Kwie Cu Ek sambil berlari cepat di samping Kakek itu.
"Kedua anak itu belum lama mendahului kita, tapi sampai sekarang belum juga kita bisa mengejar mereka. Sungguh ajaib sekali, buah apakah gerangan yang demikian mujijat dan menambah tenaga mereka berlipat ganda?"
"Itulah kurnia Thian Yang Maha Esa, Kwie Enghiong. Dan tepat sekali kalau kukatakan tadi bahwa mereka memang berjodoh satu kepada yang lain,"
Kata si empek gagah.
Biarpun mereka percepat lari mereka, ternyata ketik mereka tiba di depan pondok kayu tempat tinggal Macan Terbang, kedua anak itu telah bisa isitu dan Giok Ciu sedang sibuk mencabuti bulu ayam dan Sin Wan sibuk mengumpulkan kayu kering.
Ternyata menghadapi Giok Ciu yang tentu saja lebih pandai masak dari padanya, Sin Wan tunduk dan taat akan segala perintah Giok Ciu ketika ia menawarkan diri untuk membantunya.
"Kami mempunyai beberap belas ekor ayam,"
Kata gadis kecil itu dengan gembira.
"Ayah dulu membeli beberapa ekor induk ayam dan kini telah menjadi belasan ekor."
Kemudian Giok Ciu tangkap dua ekor ayam yang paling gemuk dan suruh Sin Wan memotongnya.
Dengan cekata gadis yang sejak masih kecil telah ditinggal Ibunya dan pandai masak karena terpaksa itu, memotong-motong daging ayam dan memasaknya, dibantu oleh Sin Wan, sedangkan Kang Lam Ciuhiap dan Hui-Houw Kwie Cu Ek bercakap-cakap dengan gembira di luar pondok yang kecil itu.
Kang Lam Ciuhiap memuji Kwie Cu Ek yang dikatakan pandai memilih tempat.
Memang tempat di situ indah sekali pemandangannya, lagipula nyaman hawanya.
Dibanding dengan lereng-lereng lain di gunung itu tempat ini yang terindah dengan puncak Kam-Hong-An yang tinggi menjulang di atasnya merupakan atap tertutup awan.
Kwie Cu Ek semenjak ditinggal mati isterinya, telah lima tahun tinggal di situ dengan anaknya, dan agar Giok Ciu tidak terasing sama sekali dari pergaulan manusia, ia seringkali ajak anak gadisnya turun gunung di kaki gunung.
Setelah Giok Ciu agak besar dan memiliki kepandaian hingga tidak berbahaya baginya untuk turun gunung seorang diri, seringkali anak perempuan ini mengunjungi kampung-kampung itu dan bermain-main.
Karena ini maka Giok Ciu tidak merasa sangat kesunyian.
Setelah masakan siap, mereka berempat lalu makan dengan gembira, dan tuan rumah serta anak perempuannya kagum melihat betapa Kang Lam Ciuhiap minum arak bagaikan minum air tawar saja!
"Arak baik, arak baik!"
Berkali-kali Kakek itu memuji tiap habis minum semangkuk besar.
Kwie Cu Ek walaupun seorang peminum yang kuat juga, namun tiap kali minum ia hanya dapat tuang semangkuk kecil kedalam perutnya, karena arak yang mereka minum itu adalah arak tua yang sangat keras.
Sebentar saja, habislah arak wangi seguci besar dan Kakek Bun Gwat Kong itu elus-elus perutnya dengan puas sekali.
"Engkong ini sungguh kuat sekali minum arak!"
Berkata Giok Ciu yang ikut-ikutan menyebut Engkong atau Kakek kepada Kang Lam Ciuhiap, meniru Sin Wan. Mendengar dirinya disebut Kakek, Bun Gwat Kong girang sekali.
"Bagus Giok Ciu, memang kau selayaknya menyebut Engkong padaku."
Lalu ia tertawa bergelak-gelak hingga semua orang ikut tertawa, sedangkan Sin Wan diam-diam agak heran karena tidak pernah ia melihat Kakeknya segembira itu.
"Giok Ciu, kau tidak tahu, Kakek ini adalah Kang Lam Ciuhiap si Pendekar Arak dari Kang Lam. Ia tidak hanya kuat minum, tapi arak di dalam mulutnya dapat dipakai membunuh seekor kerbau besar!"
"Hebat sekali!"
Kata Giok Ciu ambil leletkan lidahnya.
"Kong-kong, perlihatkan ilmu kepandaianmu menyembur dengan arak itu!"
Melihat kegembiraan Giok Ciu, maka empek itu menengok kesana-sini mencari sasaran, kemudian sambil tersenyum dan elus-elus jenggotnya ia berkata kepada Kwie Cu Ek.
"Kwie Enghiong, bolehkah aku bereskan tiang di atas itu?"
Tuan rumah mengangguk dengan tersenyum juga.
Kang Lam Ciuhiap lalu tuang sedikit arak yang masih tertinggal di dalam mangkok, dan setelah mengejapkan sebelah matanya kepada Giok Ciu dengan cara yang lucu hingga anak perempuan itu tertawa geli, si empek lalu semburkan arak dari mulutnya, Giok Ciu melihat sinar keputih-putihan tersembur keluar dari mulut orang tua itu bagaikan seekor ular meluncur ke atas dan menyambar tian melintang yang agak kelebihan menumpang di tiang besar dan agaknya dulu lupa dipotong oleh Kwie Cu Ek ketika ia membangun pondok itu.
Sinar putih itu melanggar ujung kayu sebesar lengan itu dan.
"Krak!"
Ujung itu patah dan jatuh ke bawah! Kwie Cu Ek memuji.
"Bagus sekali, Lo-Ciuhiap! Kau benar-benar patut di sebut ciuhiap, bahkan bagiku kau pantas disebut ciusian karena kau benar-benar dewa arak!"
Juga Sin Wan dan Giok Ciu bertepuk tangan memuji.
"Kong-kong!"
Kata Giok Ciu lagi, sedangkan matanya yang bagus memandang Kakek itu seperti seorang anak yang meminta sesuatu.
"Apa lagi?"
Kakek itu bertanya.
"Itu... suling yang kau selipkan di pinggang itu! Tadi kudengar kau tiup sulingmu ketika kau bertempur melawan Ayah, tapi lagunya buruk sekali hingga telingaku tak sedap mendengarnya! Apakah kau bisa mainkan lagu yang enak didengar? Aku suka sekali mendengar suling!"
Giok Ciu menunjuk ke arah pinggang Kakek itu dimana tampak ujung suling tersembul keluar.
"Giok Ciu, jangan kau main-main dengan tiupan Kakekmu! Kalau aku tadi tidak kerahkan seluruh tenaga dan barengi keluarkan siulan untuk menahan pengaruh tiupan suling, aku sudah dirobohkan oleh daya tiupan suling itu! Jangan kau pandang rendah tiupan tadi karena itu adalah sesuatu ilmu yang mujijat dan dapat mematahkan lawan dan melemahkan semangat serta membuat lawan bingun hingga gerak-geriknya menjadi kacau!"
Giok Ciu leletkan lidah, satu kebiasaan darinya untuk menyatakan kekaguman atau keheranan.
"Kalau begitu, jangan kau mainkan lagi lagu yang buruk tadi, Kong-kong! Coba mainkan saja lagu merdu yang dapat menghibur kita!"
Kang Lam Ciuhiap sedang gembira, maka mendengar permintaan Giok Ciu ini, ia cabut sulingnya dan pandang Kwie Cu Ek dengan tak berdaya. Ia angkat pundaknya dan berkata.
"Anakmu memang benar, Kwie Enghiong, aku hanya dapat tiup lagu-lagu buruk yang tak sedap didengar. Sebenarnya tadi aku hanya tiup suling untuk menghibur-hibur hatiku yang bingung tak karuan karena serangan-seranganmu yang hebat!"
Lau sambil ulur tangan dan elus-elus rambut di kepala Giok Ciu, Kakek itu berkata.
"Kau ingin mendengar lagu merdu? Nah, kau mintalah Sin Wan untuk meniup suling ini. Selain dia tidak ada yang bisa meniup lagu merdu!"
Sin Wan mendengar pujian ini, mukanya berubah merah karena jengah di puji Kakeknya di depan Giok Ciu dan Ayahnya.
Sebaliknya, Giok Ciu menjadi girang sekali.
Ia ambil suling itu dari tangan Bun Gwat Kong dan geser duduknya mendekati Sin sambil angsurkan suling kecil itu.
"Sin Wan, kau mainlah barang satu dua lagu untuk kami!"
Berkata demikian, gadis itu pandang wajah Sin Wan dengan senyum menarik.
Sin Wan tak dapat menolak lagi, karena Kwie Cu Ek juga berkata bahwa iapun ingin sekali mendengar tiupan suling anak itu.
Dengan tenang ia ambil suling itu lalu atur jari-jari tangannya diatas lubang-lubang kecil di batang suling, tempelkan peniup di bibirnya dan dengan mata setengah terkatup meniup suling itu.
Mula-mula terdengar bunyi lengking yang rendah dan bening serta disertai getaran halus merdu, kemudian lengking rendah itu makin meninggi dengan perlahan dan mulailah terdengar nyanyian suara suling yang merdu, indah dan menggetarkan kalbu.
Giok Ciu dan Kwie Cu Ek tadinya hanya kagum karena pandainya Sin Wan meniup suara yang meninggi rendah, tapi tak lama kemudian kedua Ayah dan anak itu duduk bengong dengan bibir setengah terbuka dan mata tak pernah berkejab menatap wajah Sin Wan.
Mereka merasa sekan-akan dibaw melayang naik oleh gelombang ombak yang mengalun tinggi diangkasa dan dibawa ke alam mimpi yang halus dan menakjubkan.
Mula-mula suara suling terdengar gagah dan riang membuat Giok Ciu merasa dadanya berdebar dan wajahnya panas, tapi ketika suara itu makin lama makin lambat dan rendah,ia merasa terharu sekali, ketika ia berpaling kepada Ayahnya dengan perlahan, ia melihat betapa dari kedua mata Ayahnya itu mengalir air mata!
Nyata sekali bahwa suara suling itu telah mempesona dan menimbulkan keharuan hebat di sanubari Kwie Cu Ek hingga pendekar gagah ini teringat akan isterinya dan membuatnya tak dapat menahan kesedihannya.
Melihat keadaan Ayahnya sedemikian itu, Giok Ciu berteriak kepada Sin Wan.
"Sin Wan, cukup! Simpan sulingmu!"
Dan anak perempuan itu menubruk Ayahnya dan menangis di atas pangkuan orang tua itu!
Sin Wan tunda sulingnya dan buka kedua matanya yang tadi hampir tertutup sama sekali, lalu memandang heran.
Kwie Cu Ek duduk bengong dengan wajah pucat dan pendekar ini menghela napas berulang-ulang.
"Bukan main! Suara sulingmu sungguh luar biasa, Sin Wan! Lebih hebat dan kuat daripada tiupan Kakekmu, bukankah demikian. Lo-Ciuhiap?"
Kang Lam Ciuhiap yang tadipun duduk sambil tunduk karena terpengaruh tiupan suling cucunya, mengangguk-angguk membenarkan.
"Memang hebat lagu itu, entah bagaimana Sin Wan dapat menciptakan lagu sehebat itu."
Mendengar ini tiba-tiba Giok Ciu menunda tangisnya dan dengan senyum girangia berkata kepada Sin Wan.
"Jadi kau sendirikah yang mencipta lagu tadi?"
Kang Lam Ciuhiap dan Sin Wan kini merasa heran sekali melihat sifat Giok Ciu.
Baru saja manis menangis sesunggukan, tiba-tiba bisa tersenyum manis.
Alangkah ganjilnya!
Sin Wan hanya mengangguk sebagai jawab atas pertanyaan Giok Ciu padanya itu.
"Ah, pandai sekali kau! Bagaimana kau bisa mencipta lagu sehebat ini?"
"Sederhana saja,"
Kata Sin Wan merendah.
"Pada suatu hari ketika aku sedang menggembala kerbauku dan duduk di punggung kerbau yang sedang makan rumput di pinggir anak sungai di pagi hari, aku mendengar suara air sungai berpercikan memukul batu mengeluarkan suara seperti sedang berdendang. Dan di atas pohon terdengar burung-burung berkicau girang, diseling bunyi kerbau-kerbauku menguak senang. Tiba-tiba, entah mengapa, seekor monyet kecil yang tadinya bergetungan di dada induknya, terlepas jatuh ke tengah sungai riak menangis, mencicit-cicit menimbulkan suara mengharukan. Nah, ketika itu aku telah keluarkan sulingku dan entah bagaiman, tiba-tiba dapat melagukan nyanyian itu yang kusesuaikan dengan pendengaranku akan keadaan di sekeliling pada saat itu. Dan semenjak itu, aku suka sekali meniup lagu ini."
"Memang indah!"
Giok Ciu memuji kagum.
"Aku harus bersihkan mangkuk-mangkuk ini dan mencucinya di belakang,"
Katanya kemudian.
"Mari kubantu,"
Kata Sin Wan yang lalu ikut mengangkat mangkuk-mangkuk yang telah kosong untuk dicuci di belakang rumah. Sementara itu, dengan bangga dan suara berbisik, Kang Lam Ciuhiap berkata kepada tuan rumah.
"Bukankah mereka itu rukun sekali? Mereka sudah berjodoh!"
Kwie Cu Ek mengangguk-angguk senang, lalu ia minta diri dari tamunya untuk masuk ke kamar sebentar. Ketika keluar lagi, ia membawa sepasang sepatu kecil dan serahkan benda itu kepada Kang Lam Ciuhiap.
"Kami orang-orang miskin tidak punya apa-apa untuk tanda pengikat perjodohan anakku. Nah ini sepasang sepatu sulam adalah sepatu Giok Ciu ketika ia berusia setahun. Sepatu ini tadinya kami simpan sebagai barang keramat karena ini adalah buah tangan Ibunya!"
Kang Lam Ciuhiap terima sepasang sepatu kecil itu dan masukkan benda itu kedalam saku bajunya yang lebar.
Kemudian ia ambil suling yang tadi ditiup Sin Wan dan berikan barang itu kepada Kwie Cu Ek sambil berkata.
"Dan suling ini kubut ketika Sin Wan masih kecil dan baru bisa merangkak. Maksudku hanya untuk barang mainan, tapi ternyata sampai besar Sin Wan suka sekali bermain-main dengan suling ini. Nah, biarlah barang ini menjadi tanda mata dan tanda pengikat perjodohannya dengan putrimu!"
Kwie Cu Ek terima suling itu dengan girang dan cepat menyimpannya ke dalam kamar, lalu keluar lagi dan bercakap-cakap.
Sementara itu, Sin Wan dan Giok Ciu muncul dari belakang karena pekerjaan mereka telah selesai.
Bun Gwat Kong lalu berpamit kepada tuan rumah dan ajak Sin Wan pulang, karena Ibu Sin Wan tentu mengharap-harap kembalinya yang telah dua hari pergi itu.
Setelah saling memberi hormat, Kakek dan cucu itu gunakan ilmu lari cepat tinggalkan tempat itu dan beberapa kali Sin Wan menengok dan melambaikan tangan ke arah Giok Ciu sampai bayangan Sin Wan lenyap di satu tikungan jalan.
Alangkah terkejutnya hati Sin Wan dan Gwat Kong ketika mereka tiba di rumah, karena Ibu Sin Wan ternyata jatuh sakit dan muntahkan darah!
Sin Wan tubruk Ibunya sambil menangis sedih Nyonya muda yang banyak menderita ternyata tak dapat menindas tekanan dan kekhawatiran hatinya ketika dua hari Sin Wan tidak pulang.
Ia cemas sekali hingga tidak dapat tidur, setiap saat memikirkan anaknya itu, hingga akhirnya ia jatuh pingsan.
Ketika melihat Sin Wan kembali dengan selamat, nyonya muda itu sembuh seketika!
Tapi kesehatannya makin buruk.
Sin Wan menyesal sekali dan berlutut di depan Ibunya meminta ampun dan berjanji bahwa semenjak saat itu ia takkan berani pergi lagi tanpa ijin Ibunya!
Diluar tahunya Sin Wan, Kang Lam Ciuhiap beri tahu anak perempuannya akan ikatan jodoh antara Sin Wan dan puteri Kwie Cu Ek.
Nyonya muda itu merasa girang sekali, ia terima sepasang sepatu kecil itu dengan girang.
Warta baik ini membuat ia banyak terhibur.
Ia percaya sekali akan pilihannya Ayahnya tapi ia nyatakan bahwa ia ingin sekali melihat gadis cilik itu dengan mata sendiri karena ia ingin mengagumi nona calon mantunya!
Semenjak hari itu, Sin Wan makin tekun mempelajari ilmu silat dan ia di gembleng oleh Kakeknya yang ingin turunkan seluruh kepandaian yang dimilikinya kepada cucu yang terkasih itu.
Ia tahu bahwa dengan bantuan keganjilan alam yang telah dialami Sin Wan, maka dengan latihan-latihan keras, anak itu akan menjadi seorang yang mempunyai tenaga dan kesanggupan jah lebih tinggi dari dia sendiri.
Hal ini membuat ia tak kenal lelah dan selain ilmu silat tinggi, ia juga menuturkan dunia kang-ouw dan aturan-aturannya kepada Sin Wan.
Ketika Sin Wan menanyakan sulingnya yag dibawa oleh Kakeknya itu, Kang Lam Ciuhiap terus terang katakan bahwa suling itu diberikannya kepada Giok Ciu sebagai tanda mata.
"Menyesalkah kau?"
Tanyanya. Sin Wan geleng kepala dan matanya berseri.
"Ah, tidak Ngkong, biarlah. Aku melihat ada bambu kuning di kaki gunung sebelah sana, bambu itu indah lagi kecil. Aku hendak membikin suling sendiri."
Pada keesokan harinya, Sin Wan telah membuat sebatang suling yang panjanganya tidak kurang dari tiga kaki.
Karenanya Engkongnya ahli pembuat suling, ia lalu minta Kakeknya itu yang membuat lobang-lobang agar suaranya tidak sumbang.
Ketika Kang Lam Ciuhiap sedang asyik gunakan api melobangi batang suling bambu itu, ia teringat sesuatu dan dengan sungguh-sungguh ia berkata.
"Sin Wan, aku hendak ajar kau menggunakan batang sulingmu sebagai senjata istimewa!"
Sin Wan girang sekali dan mulai saat itu Kakeknya mengajar ia mainkan suling itu bagaikan sebatang petang dan karena semua gerakan adalah pukulan-pukulan merupakan totokan hebat dan disertai tenaga lweekang, maka suling itu merupakan senjata yang ampuh sekali.
Juga Kang Lam Ciuhiap mengajar cucunya untuk bersilat sambil tiup suling untuk mengacaukan gerakan lawan, seperti yang pernah ia lakukan ketika menghadapi si Harimau Terbang dulu!
Karena memang suka sekali meniup sulingmaka mendapat pelajaran baru ini, Sin Wan merasa girang sekali dan ia lebih giat melatih ilmu silatnya hingga memperoleh kemajuan pesat.
Juga Sin Wan yang sangat mencinta dan berbakti kepada Ibunya, mentaati permintaan Ibunya dan membuat nyonya muda itu puas melihat kemajuan yang dicapai oleh Sin Wan dalam ilmu surat.
Dengan pesat sekali waktu berjalan tanpa terasa oleh manusia, Tahu-tahu tiga tahun telah lewat.
Selama itu Sin Wan yang kini telah berusia hampir empat belas tahun ,mendapat kemajuan besar hingga dalam hal ilmu silat ia telah menyusul Kakeknya!
Kalau dibuat perbandingan, mungkin Sin Wan lebih gesit dan cepat daripada Kakeknya, tapi tentu saja ia masih kalah dalam hal tenaga lweekang.
Selama tiga tahun itu, tidak jarang Sin Wan terkenang kepada Giok Ciu, teman baru yang begitu bertemu telah mengalami peristiwa-peristiwa aneh bersama dia itu.
Semenjak perjumpaan pertama, belum pernah mereka bertemu lagi dan ia sedikitpun tidak menyangka bahwa dirinya telah terikat jodoh dengan anak perempuan itu!
Musim semi telah tiba dan orang-orang dikampung kecil itu menyambut musim chun dengan pesta gembira.
Penduduk kampung yang hanya berjumlah dua puluh keluarga dan semuanya kurang dari seratus jiwa itu saling mengantar makanan dan saling selamat.
Mereka mengenakan pakaian yang paling baik dan memasang petasan yang didatangkan oleh seseorang dari kota.
Sin Wan juga tidak ketinggalan.
Sejak pagi-pagi sekali Ibunya telah menyuruh dia bertukar pakaian dan mengenakan baju warna kuning yang indh.
Pemuda itu tidak melupakan kerbaunya dan ia mencari kembang-kembang dan daun-daun yang lalu dibuat karangan bunga dan dikalungkan di leher semua kerbaunya!
Kemudian ia pergi dengan anak-anak lain yang berkumpul memasang petasan.
Tiba-tiba dari luar pintu kampung itu terdengar suara kaki kuda banyak sekali.
Semua orang kampung terkejut dan heran karena belum pernah kampung itu dikunjungi orang luar.
Ketika orang-orang berkuda itu telah melewati pintu kampung, terkejutlah Sin Wan karena yang datang memasuki kampungnya adalah belasan orang besar berpakaian tentara seragam dengan golok atau pedang terhunus di tangan!
Para wanita cepat memanggil anak mereka dan melarikan diri bersembunyi di belakang rumah atau di dalam kamar, sedangkan orang-orang lelaki memandang dengan membongkok hormat dan ketakutan.
Ternyata rombongan orang itu berjumlah lima belas orang.
Seorang kate gemuk yang agaknya menjadi pemimpin karena pakaiannya paling mewah, loncat turun menghampiri seorang petani tua yang berdiri terdekat.
"He, orang tua! Di manakah rumah Bun Gwat Kong dan anaknya?"
Biarpun orang-orang kampung itu terdiri dari petani-petani lemah, tapi mereka adalah orang-orang jujur dan penuh rasa setiakawan.
Melihat lagak rombongan ini ternyata tidak membawa maksud baik, maka Kakek itupun menggelengkan kepala dan berkata.
"Aku tidak tahu!"
Baru saja jawaban itu terlepas dari mulutnya, Kakek itu terlempar ke belakang karena di dorong oleh seorang anggauta rombongan yang berdiri di dekat pimpinannya.
"Hayo kalian mengaku, dimana adanya bangsat tua she Bun itu? Kalau tidak mau mengaku kalian semua akan dihukum seratus cambukan!"
Demikian pendorong Kakek itu berkata dengan putar mata galak sekali.
Bun Sin Wan merasa gemas sekali, tapi ia masih hendak menunggu apa ayng akan terjadi, juga ia heran sekali mengapa orang-orang ini mencari Kakeknya.
Tapi sebelum rombongan tentara Kaisar itu dapat mengganas lebih jauh terdengar bentakan keras.
"Aku orang she Bun ada disini, kamu anjing-anjing Kaisar lalim mau apakah?"
Dan Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong dengan tolak pinggang berdiri angket menghadapi rombongan itu.
Sikapnya yang gagah membuat lima belas orang tinggi besar bersenjata tajam itu mundur beberapa tindak dengan jeri.
Tapi orang kate gemuk yang menjadi pemimpin dapat tetapkan hatinya.
Ia cabut sepasang ruyung dari pinggangnya dan membentak kepada para anak buahnya.
"Pemberontak she Bun ada disini, hayo tangkap dia!"
Berbareng dengan bentakan itu ia maju ayun ruyungnya di atas kepala lalu maju menyerang, diikuti oleh anak buahnya yang menerjang dengan masing-masing senjata di tangan.
"Ha, ha, ha! Kamu anjing-anjing kecil berani menggonggong di depan tuanmu? Pergilah!"
Kakek itu lalu bergerak cepat dan tahu-tahu dua orang pengeroyoknya telah kena dipegang dan dilempar sampai beberapa tombok jauhnya bagaikan seorang melempar rumput saja!
Kang Lam Ciuhiap lalu perlihatkan kepandaiannya.
Dengan kedua tangan kosong ia bergerak cepat dan setiap kali tangan dan kakinya bergerak, tentu terdengar pekik kesakitan dan tubuh seorang pengeroyok terlempar atau roboh.
Sebentar saja ia dapat merobohkan delapan orang pengeroyoknya dan kini yang mengeroyoknya hanya pemimpin yang bersenjata sepasang ruyung itu dan dua orang lain bersenjata pedang.
Yang lain telah cemplak kuda dan lari pergi, tak pedulikan makian dan teriakan pemimpin mereka!
Ternyata pemimpin kate gemuk itu lihai juga.
Sepasang ruyungnya bergerak-gerak cepat dan kuat hingga untuk beberapa saat tak mudah bagi Kakek itu untuk merobohkannya.
Kemudian Kang Lam Ciuhiap mendapat pikiran untuk menguji cucunya.
Ia segera merobohkan dua pengeroyok lain hingga kini tinggal si kate gemuk seorang.
"Sin Wan, kau ke sinilah!"
Kakek itu berteriak.
Sin Wan yang sejak tadi memang berada di dekat situ dan sengaja tidak mau bantu Kakeknya karena melihat bahwa Kakeknya tak perlu dibantu, dan menonton dengan kagum melihat kegagahan Kakeknya, kini loncat maju.
"Ada apa, Ngkong?"
Jawabnya.
"Coba kau layani anjing kate gemuk itu,"
Perintah Kakek itu yang loncat mundur ke belakang.
Si kate gemuk memang telah terdesak hebat oleh Kang Lam Ciuhiap, kini melihat orang tua lihai itu mundur dan diganti oleh seorang pemuda tanggung yang pegang sebatang suling bambu panjang, ia merasa agak lega.
Ia pikir, tidak apa kemudian terbunuh oleh Kakek gagah itu asal sudah bisa menjatuhkan anak muda ini.
Dengan demikian, maka ia tidak penasaran lagi dan tidak rugi.
Maka ia lalu putar-putar kedua ruyungnya dan menyerang tanpa berkata apa-apa lagi.
Sin Wan telah siap dan waspada.
Biarpun ia telah mendapat latihan sampai masak oleh Kakeknya, tapi ia belum pernah bertempur betul-betul melawan musuh.
Baiknya ia memang mempunyai nyali yang besar dan ketabahannya ini membuat ia dapat bersilat dengan baik.
Baru bertempur beberapa gebrakan saja tahulah ia bahwa ilmu kepandaian lawannya ini tidak seberapa hebat.
Maka ia tidak mau kasih hati lagi dan balas menyerang dengan sulingnya.
Terkejutlah si kate itu, karena tidak disangkanya sama sekali bahwa suling bambu kecil itu ternyata lihai dan berbahaya sekali karena selalu meluncur ke arah jalan darahnya!
Pula gerakan-gerakan suling itu terlalu cepat dan tidak terduga olehnya higga ia menjadi sibuk sekali karena harus putar-putar ruyung menangkis atau loncat ke sana kemari hindarkan diri dari totokan.
Tentu saja Sin Wan tidak mau sulingnya terusak oleh tangkisan ruyung, maka ia tidak mau adukan senjatanya dan percepat gerakannya.
Ketika pada suatu saat lawannya berkelit ke kiri, Sin Wan tusukan sulingnya dan getarkan ujung suling dengan tenaga lweekangnya hingga ujung suling itu menjadi tiga dan sekaligus menyerang tiba bagian tubuh!
Lawannya tidak dapat menangkis atau menyingkir dari serangan lihai ini dan tak ampun lagi iganya tertotok dan ia roboh tak berdaya.
Tapi pemimpin tentara itu memang seorang peperangan yang berani mati dan keras hati.
Ia merasa malu sekali terjatuh dalam tangan seorang pemuda yang masih anak-anak, maka ia segera membentak.
"Kau telah robohkan aku, tidak lekas bunuh mau tunggu apa lagi?"
Sin Wan marah dan hendak jatuhkan pukulan maut dengan sulingnya, tapi tiba-tiba Kakeknya mencegah.
"Tahan, Sin Wan"!"
Kakek ini memang suka melihat orang yang gagah dan berani mati.
Selama ia merantau di dunia kang-ouw, jika menemukan lawan yang sifatnya penakut dan jika terluka merintih-rintih, ia segera bunuh lawan itu.
Tapi jika lawannya seorang pemberani, ia bahkan selalu memberi ampun!
Kini mendengar si kate berkata demikian, ia larang cucunya membunuh orang itu.
"Kau pergilah!"
Kata Kang Lam Ciuhiap kepada si kate gemuk itu.
"Dan bawa pergi semua kawan-kawanmu itu."
Tangan kirinya dilambaikan ke arah orang-orang yang merintih-rintih di atas tanah. Pemimpin rombongan tentara itu berkata.
"Baik, bagimu sama saja, bunuh aku atau tidak, akhirnya kau juga bakal tertangkap. Ketahuilah, kami diperintahkan menangkapmu oleh Suma Cian Bu, dan sebentar lagi dia dan juga Siauw-San Ngo-Sinto tentu datang kesini!"
Sehabis berkata demikian dengan mata mengandung penuh ancaman, si kate itu lalu bantu anak buahnya yang terluka untuk naiki kuda mereka dan perlahan-lahan tinggalkan kampung itu, disoraki oleh penduduk kampung.
Tapi Sin Wan yang memperhatikan Kakeknya betapa Kang Lam Ciuhiap tiba-tiba menjadi pucat dan tampak gelisah.
Ia segera menghampiri dan memegang lengan Kakeknya.
"Engkong, kau kenapakah?"
Kakeknya geleng-geleng kepala dan tanpa banyak cakap ia mengajak cucunya pulang. Kemudian, di depan anak perempuannya dan Sin Wan, Kang Lam Ciuhiap berkata dengan sungguh-sungguh.
"Sin Wan, kau ajak Ibumu pergi, sekarang juga! Aku harus menghadapi hal ini sendiri, jangan sampai kalian juga tertimpa bencana!"
"Ayah, mengapa kau kata begitu? Apakah yang terjadi?"
Ibu Sin Wan bertanya cemas.
"Ketahuilah, dulu aku telah membasmi habis orang-orang yang memfitnah suamimu. Tidak kurang dari enam jiwa melayang di tanganku. Karena yang kubunuh adalah orang-orang berpangkat, maka sejak saat itu pemerintah telah mencari-cariku. Agaknya kini mereka berhasil dan dapat mengetahui tempat sembunyiku disini."
Kakek itu menghela napas.
"Tapi, Ngkong. Kalau baru orang-orang macam si kate saja yang datang hendak mengganggumu, jangankan baru satu dua orang, biar ada puluhan, kau dan aku masih sanggup mengusirnya!"
Kata Sin Wan dengan gagah. Kang Lam Ciuhiap tersenyum girang melihat sikap Sin Wan, tapi ia lalu menggeleng kepala perlahan.
"Kau tidak tahu, Sin Wan. Tidakkah kau dengar tadi bahwa ada seorang Cianbu she Suma dan Siauw Ngo-Sinto akan segera datang kesini?"
Sin Wan merasa penasaran.
"Takut apa, Ngkong? Macam apakah orang she Suma itu? Aku ingin sekali mengukur kepandaiannya."
"Kapten she Suma itu sendiri sudah merupakah lawan berat,"
Kata Kang Lam Ciuhiap perlahan seakan-akan tak mendengar kejumawaan Sin Wan.
"tapi lima saudara dari Siauw-San yang dijuluki Ngo-Sinto atau Lima Golok Malaikat benar-benar berat dilawan."
"Siapakah mereka itu dan mengapa mereka ikut datang membikin susah kau?"
Tanya Ibu Sin Wan yang merasa khawatir.
"Sum Cian Bu adalah seorang kapten yang sangat terkenal karena kegagahannya. Selain pandai mengatur tentara, iapun tinggi sekali ilmu pedangnya. Kedatangannya itu tentu dengan tugas menangkapku karena Kaisar pun tahu orang macam apakah aku, maka kapten yang konsen itulah yang diutus. Tapi agaknya Sum Cian Bu sendiri jerih untuk datang seorang diri, maka ia ajak kelima setan itu. Memang telah kudengar desas-desus bahwa Ngo-Sinto itu telah mengkhianati dunia kang-ouw dan rela menjadi anjing penjilat Kaisar asing! Mereka adalah lima orang pertapa atau Tosu dari Gunung Siauw-San. Agaknya mereka itupun runtuh iman mereka dan melihat sogokan berupa harta benda dan emas, seperti yang banyak dialami orang-orang gagah yang akhirnya menjadi kaki tangan Kaisar lalim. Sin Wan jangan sia-siakan waktu, kau bawalah Ibumu pergi ke rumah Kwie Cu Ek di balik gunung. Beri tahukan padanya tentang keadaan kita dan titipkan Ibumu disana untuk sementara waktu. Disini berbahaya sekali."
"Tapi, Ayah! Rasa takutku sudah lenyap dan segala kengerian telah pergi semenjak Ayah Sin Wan terfitnah oleh bangsat-bangsat itu. Biarlah merekia datang. Biarkan mereka membunuhku. Aku tidak takut!"
Nyonya muda yang lemah dan berpenyakitan itu angkat dada dengan beraninya hingga Sin Wan kagum sekali serta bangga akan Ibunya.
"Kau benar, Ibu. Akupun tidak takut, dan akulah yang akan membelamu mati-matian Ibu!"
Kang Lam Ciuhiap jengkel sekali melihat anak dan cucunya itu. Ia membanting-banting kakinya, lalu bertindak keluar sambil mengomel.
"Kau Ibu dan anak sama-sama kepala batu!"
Kakek itu yang merasa bingung dan mengkhawatirkan keselamatan anak dan cucunya, lalu pergi kerumah seorang temannya dikampung itu dan bersama temannya menenggak arak sampai habis beberapa guci.
Kemudian ia menyuruh seorang teman untuk keluar dan pergi menyelidiki keadaan musuh yang hendak datang.
Ia sendiri putar otak mencari akal untuk menyingkirkan anak dan cucunya.
Terutama Sin Wan harus pergi dari kampung itu.
Untuk dirinya sendiri, Kang Lam Ciuhiap tidak khawatir.
Ia sudah cukup kenyang mengalami pertempuran, sudah cukup lama hidup di dunia yang penuh derita ini, dan mati baginya hanya berarti pulang ke kampung halaman.
Tapi bagaimana nasib Sin Wan dan Ibunya?
Yah, tentang anak perempuannya ia telah tahu isi hatinya.
Anak perempuannya yang bernasib malang itupun hanya hidup untuk Sin Wan saja, dan boleh dikata sebagian besar dari dirinya telah ikut mati dengan suaminya.
Tentu saja soal mati bagi anak perempuannya yang malang itu bukan soal apa-apa.
Tapi Sin Wan masih muda, pengharapannya masih banyak dan luas.
Anak itu tidak boleh menjadi korban begitu saja, dan jika Suma Cianbu datang, ia tidak dapat tanggung tentang keselamatan Sin Wan.
Walaupun ia tahu bahwa anak itu telah memiliki kepandaian yang lumayan juga, namun keenam lawan yang mendatangi itu terlampau lihai.
Kemudian Kang Lam Ciuhiap dengan diam-diam mengadakan perundingan dengan anaknya.
Setelah dijelaskan tentang bahaya yang dapat mengancam jiwa Sin Wan, nyonya muda itu menjadi gugup.
"Ketahuilah, anakku. Kalau kaki tangan Kaisar mengetahui bahwa Sin Wan adalah putera tunggal suamimu, maka jangan harap jiwa puteramu akan tertolong. Mereka itu tentu berebut membuat pahala dan sedapat mungkin hendak menawan Sin Wan pula, hidup atau mati!"
Maka lalu diambil keputusan oleh kedua orang itu untuk menyuruh Sin Wan pergi dari situ untuk sementara waktu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ibunya memanggilnya dan ketika Sin Wan menghadap, ternyata di situ sudah tampak Engkongnya sedang minum arak.
Sepagi itu sudah minum arak, sungguh kuat sekali Engkongnya itu, demikian Sin Wan berpikir menghampiri.
"Sin Wan, kau masih ingat kepada keluarga Kwie di balik gunung itu?"
Tanya Kang Lam Ciuhiap kepadanya. Sin Wan pandang Kakeknya dengan tajam dan heran, dan ia mencoba membaca isi hati Kakeknya itu.
"Tentu saja aku masih ingat, Engkong."
"Mereka itu ramah tamah dan baik hati sekali, ya?"
Sin Wan mengangguk.
"Katanya ada juga seorang anak gadisnya yang cantik, benarkah Sin Wan?"
Tanya Ibunya. Sin Wan makin heran dan dadanya berdebar, tapi dengan menindas perasaannya ia menjawab.
"Setahuku Kwie Pekhu hanya mempunyai seorang anak perempuan namanya Giok Ciu." (Lanjut ke
Jilid 03) Kisah Sepasang Naga/Ji Liong Jio Cu (Seri ke 02 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmarainan S. Kho Ping Hoo
Jilid 03
"Bagaimana pendapatmu tentang anak perempuan itu, Sin Wan?"
Dengan cepat Ibunya bertanya hingga anak muda itu cepat memandang Ibunya.
"Apakah maksudmu, Ibu? Ia pandai silat, berwatak baik, dan pandai... masak."
Ibunya tersenyum dan Ciuhiap tertawa bergelak.
"Sin Wan, karena mereka itu baik sekali dan masih tetangga dengan kita, yakni karena kita masih tinggal di satu gunung, maka untuk menyambut hari raya ini kita harus mengantar apa-apa kepada mereka. Aku sudah sediakan sedikit kue-kue dan sutera simpananku di dalam bungkusan itu, kau antarlah bungkusan ini kepada mereka sekarang juga."
Sin Wan memandang ke atas meja di depan Kakeknya dimana memang terdapat sebuah bungkusan besar. Kemudian ia memandang Kakeknya dan berkata dengan sangsi.
"Tapi, Ngkong. Perlu sekalikah itu? Apakah tenagaku tidak diperlukan disini? Aku harus menjaga keselamatan Ibu."
"Aku cukup kuat untuk menjaganya, Sin Wan."
"Dan kalau musuh-musuh itu datang aku dapat membantumu, Ngkong."
"Aah, musuh-musuh macam itu saja? Tak perlu, Sin Wan."
"Tapi, Ngkong, kalau Suma Cianbu dan Ngo-Sinto ikut datang?"
"Ha, ha ! Mereka boleh datang, dengan batang suling dan kepalan akan kuhancurkan kepala mereka seorang demi seorang!"
"Tapi, bukankah kemarin kau katakan bahwa mereka itu tangguh sekali?"
"Aku kemarin hanya membohong."
"Tapi... tapi... Aku khawatir, Ngkong..."
Kakeknya berdiri serentak dan membentaknya.
"Sin Wan! Tidak percayakah kau kepada Kang Lam Ciuhiap? Tidak taatkah kau kepada Engkong dan gurumu?"
Melihat sikap Kakeknya Sin Wan tak berani membantah lagi. Ia mengambil bungkusan kain itu dari atas meja, lalu menghampiri Ibunya dan memegang tangan Ibunya dengan rasa sayang.
"Ibu, jaga baik-baik dirimu, ya? Aku akan segera kembali, kalau mungkin sore nanti juga aku sudah kembali."
"Sin Wan, sampaikan salamku kepada Kwie Cu Ek, dan engkau jangan sampai memalukan kami dengan berlaku kurang sopan. Jika mereka minta kau bermalam disana, biarpun hanya untuk semalam, kau harus menerima dan jangan kukuh menampik hingga mereka akan menyangka bahwa kau sombong dan tidak ramah-tamah."
Setelah sekali lagi memandang Ibunya dengan mesra, pemuda itu lalu berangkat meninggalkan rumahnya dengan lari secepat mungkin agar ia segera sampai di tempat tujuan dan segera kembali.
Dulu ketika ia dan Kakeknya pulang dari rumah keluarga Kwie, mereka gunakan waktu hampir sehari penuh.
Tapi sekarang ilmu larinya telah maju berlipat ganda hingga ketika matahari telah naik sampai tepat di atas kepalanya ia telah sampai di rumah Giok Ciu.
Hati Sin Wan berdebar keras ketika ia melihat seorang gadis berbaju merah muda dan bercelanaa biru berdiri di depan rumah sambil mengambil baju yang dijemur disitu.
Ia segera mengenal gadis itu yang bukan lain ialah Giok Ciu adanya!
Biarpun gadis itu sedang berdiri membelakanginya, tapi ia tidak lupa melihat potongan badan gadis itu.
Ketika ia telah menghampiri dekat, gadis itu berpaling dan seketika itu juga kain yang sedang dipegangnya terlepas dari tangannya dan didiamkannya saja karena kedua matanya yang indah itu memandang bengong kepada pemuda tampan yang berdiri di depannya.
Juga Sin Wan merasa malu-malu dan sungkan sekali karena kini Giok Ciu telah menjadi seorang gadis yang luar biasa cantik jelitanya.
Kedua pipinya kemerah-merahan, kulit leher dan lengannya demiian halus dan putih, apa lagi sepasanga mata yang gemilang dan bibir yang merah dan manis itu!
Untuk beberapa saat keduanya hanya saling pandang tanpa dapat mengucapkan sepatah katapun Kemudian Sin Wan maju dan membungkuk untuk mengambil kain yang terjatuh itu, lalu memberikannya kepada Giok Ciu.
"Terima kasih,"
Kata gadis itu dengan bibir sedikit gemetar.
"Giok Ciu!"
Sin Wan menegur perlahan, dan menatap wajah yang selalu ditundukkan itu. Giok Ciu menangkat kepalanya dan memandang dengan senyum malu-malu.
"Hm??"
Hanya demikian mulutnya menggumam.
"Kau... kau sudah lupakah kepadaku? Kenapa diam saja?"
Kata Sin Wan lagi dengan agak heran.
Mengapa gadis yang dulu genit dan lincah itu sekarang menjadi begini kikuk?
Giok Ciu tundukkan lagi mukanya dan mengerling pemuda itu serta memandangnya dari sudut matanya.
Gerakan mata ini manis dan menarik sekali.
"Masak begitu mudah melupakan orang?"
Jawabnya perlahan.
"Giok Ciu!, aku tidak pernah lupakan kau. Mana bisa aku melupakanmu, teman baikku yang telah mengalami hal-hal aneh dan hebat bersamaku."
Diingatkan akan peristiwa yang dialami bersama-sama Sin Wan dulu, Giok Ciu tiba-tiba merasa gembira dan wajahnya berseri.
Kemudian ia teringat bahwa pada saat itu Sin Wan adalah seorang tamu, maka dengan gugup ia berkata.
"Kau..., masuklah , marilah."
Dan ia mendahului pemuda itu ambil tempat duduk.
"Dimana Kwie Pekhu? Apakah ia baik-baik saja selama ini?"
"Baik, terima kasih. Ia sekarang sedang turun ke kampung di bawah bukit untuk membeli kain."
"Aku disuruh oleh Ibuku untuk mengantar sedikit barang tak berharga ini dan sekalian menyambangi kau."
"Aku? Bukan menyambangi Ayah?"
Wajah Sin Wan memerah.
"Ya Ayahmu juga!"
Kemudian sambil menatap wajah gadis jelita itu ia berkata sungguh-sungguh.
"Giok Ciu, aku heran benar melihat engkau."
Giok Ciu balas memandang.
"Heran? Mengapa? Apakah aku berubah dan... Jelek?"
Sin Wan tersenyum.
"Berubah sih tentu. Kau sekarang menjadi tinggi dan... dan... makin manis!"
Giok Ciu segera tundukkan muka, tapi senyum yang menghias bibirnya itu menandakan bahwa hatinya senang sekali.
"Tapi yang membuat aku heran sekali adalah perubahan yang sangat menyolok pada dirimu. Kau sekarang begitu... Begitu pendiam dan agaknya malu-malu padaku, mengapakah?"
Giok Ciu memandang lagi tapi tidak berani menentang mata Sin Wan terlalu lama.
"Kau tidak mempunyai perasaan... malu kepadakukah?"
"Mengapa aku mesti malu-malu kepadamu? Bukankah kau ini sahabatku yang baik, kawan sependeritaan ketika kita terjeblos dalam jurang dan akhirnya keluar dari sumur itu?"
Untuk sejenak gadis itu memandang heran, kemudian tiba-tiba saja sikapnya yang malu-malu itu lenyap dan ia berubah menjadi seperti biasa, bahkan gembira sekali seakan-akan ada sesuatu yang tadinya mengganjal di dalam hatinya telah disingkirkan.
"Sin Wan, kau tentu sudah maju sekali dalam ilmu silat, bukan?"
"Ah, belum tentu semaju engkau!"
"Hayo, kita mencoba kepandaian kita, boleh?"
Ajak Giok Ciu gembira. Sin Wan geleng-gelang kepala.
"Sebenarnya aku tergesa-gesa sekali, Giok Ciu."
Katanya perlahan dan tiba-tiba lenyap kegembiraannya karena ia teringat akan Ibu dan Kakeknya yang mungkin diancam bahaya dan bencana besar.
Melihat betapa pemuda itu kehilangan seri wajahnya dan keningnya tampak berkerut seperti orang bingung dan susah, gadis itu menjadi heran dan buru-buru bertanya.
"Sin Wan, apakah yang terjadi? Kau agaknya bingung, apakah yang menyusahkanmu? Katakan padaku, aku pasti akan membantumu!"
Melihat sikap gadis yang sangat memperhatikan padanya itu, hati Sin Wan terhibur dan ia merasa berterima kasih sekali.
Ternyata gadis ini sama sekali tidak berubah, bahkan lebih baik dan setia kawan.
Karena ini ia lalu ceritakan dengan sejelasnya apa yang telah terjadi, yakni tentang pengeroyokan yang terjadi atas diri Kakeknya dan betapa Kakeknya telah memberi hajaran kepada rombongan tentara itu, tapi kini telah datang ancaman bahaya baru yang sangat mengkhawatirkan.
"Karena itulah maka aku tidak dapat lama-lama berada disini, Giok Ciu, karena mungkin sekali tenaga bantuanku dibutuhkan sangat oleh Kakekku. Aku harus kembali sekarang juga!"
"Sebetulnya aku harus menyesal karena kau tak pernah mengunjungi kami dan sekarang begitu datang kau hendak pergi lagi. Tapi urusan di kampung itu memang gawat sekali. Tidak saja kau harus lekas pulang, bahkan akupun akan menyertai kesana. Kita lebih baik sama-sama menghajar orang-orang kurang ajar itu!"
Sin Wan pandang gadis itu dengan heran, hatinya girang seklaik tapi ia ragu-ragu.
"Ah, Giok Ciu, apakah kau tidak akan dimarahi Ayahmu? Betapapun juga kau harus memberi tahu lebih dulu kepada Kwie Pekhu!"
"Untuk urusan sepenting ini, aku boleh pergi tanpa pamit. Apa pula untuk membela Ibumu dan Ayahmu adalah kewajibanku yang terutama! Biarlah aku meninggalkan surat saja untuknya agar kalau telah pulang ia bisa segera menyusul kita."
"Kau maksudkan... Kwie Pekhu juga akan ke sana membantu kami?"
Tanyanya girang sekali.
"Mengapa tidak? Ia pasti akan menyusul kita."
Giok Ciu lalu cepat ambil alat tulis dan menulis surat pemberitahuan untuk Ayahnya di atas meja dalam kamar Ayahnya.
"Hayo kita pergi,tapi kau harus makan dulu. Bukankah kau tadi belum makan? Jangan kita nanti kelaparan lagi dijalan seperti dulu."
Kata gadis itu menimbulkan kegembiraan lagi di dalam hati Sin Wan.
"Tak usah, Giok Ciu, kalau ada kuih, kau bawa kuih saja, kita makan di jalan nanti."
Giok Ciu tidak membantah lalu mereka berangkat dengan lari cepat.
Sin Wan sengaja lari cepat sekali dan sekuat tenaganya, tapi ternyata ilmu lari cepat gadis itu tidak berada dibawh tingkatnya hingga ia menjadi kagum dan girang.
Ketika tiba di jurang yang lebar, dimana dulu mereka meloncatinya dengan bantuan pohon dan tambang, mereka loncati begitu saja dengan tidak terlalu sukar.
Giok Ciu dengan gembira menunjuk ke sebuah batu karang yang tinggi dan runcing sambil berkata.
"Sin Wan, lihat I sana itu, masih ingatkah kau?"
Sin Wan memandang dan melihat sebuah benda panjang keputih-putihan menggantung dari puncak karang.
Ia ingat bahwa itu adalah tali tambang yang dulu ia pakai untuk meloncati jurang itu.
Ia menghela napas dan berkata.
"Alangkah cepatnya waktu berjalan. Tiga empat tahun telah lalu dan tali itu masih tergantung di situ hingga kalau kita pergi berdiri di sini, seakan-akan peristiwa itu baru terjadi kemarin. Dan kitapun tak terasa pula sudah bukan kanak-kanak lagi, sudah setengah dewasa!"
"Kenapa dalam beberapa tahun itu kau atau Kong-kong tak pernah datang menengok kami? Tadinya kukira kalian sudah lupa!"
Gadis itu berkata sambil cemberutkan bibirnya, tapi dalam pandangan Sin Wan malahan tampak lebih manis.
"Kakekku selalu sibuk mengajar silat padaku, sedangkan kalau aku hendak pergi sendiri, Ibu selalu melarangku setelah terjadi aku hilang dua hari dulu itu!"
Giok Ciu padang wajah Sin Wan dengan iri hati.
"Ah, kau memang beruntung, mempunyai seorang Ibu menyayangimu."
Dan mata gadis itu menjadi merah. Tapi Sin Wan segera menghiburnya.
"Tapi aku tidak mempunyai Ayah seperti kau. Keadaan kita sama. Giok Ciu, jangan kau bersedih. Biarlah kau anggap Ibuku seperti Ibumu sendiri."
Tiba-tiba sikap Giok Ciu berubah dan ia lari menjauhi Sin Wan.
Pemuda itu terheran dan tunda larinya, hingga Giok Ciu yang tidak kenal jalan terpaksa berhenti juga, agak jauh dari tempat Sin Wan berhenti.
"Giok Ciu, kau kenapakah? Marahkah kau?"
Giok Ciu memandangnya dengan tajam seakan-akan hendak membaca isi hatinya. Kemudian gadis itu tampak tenang kembali dan bersikap biasa.
"Tidak apa-apa, hanya aku tadi terharu mendengar bahwa aku harus menganggap Ibumu seperti Ibuku sendiri. Alangkah baiknya, dan kau juga menganggap Ayahku seperti Ayahmu sendiri."
"Ya, begitulah lebih baik,"
Kata Sin Wan sambil tunduk dan tidak tahu betapa Giok Ciu memandang padanya dengan mata setengah terkatup hingga sepasang mata yang bening itu mengincar dari balik bulu matanya yang panjang dan lentik.
"Marilah kita percepat perjalanan ini agar segera sampai dirumah,"
Kata Sin Wan.
"Apakah kau tidak lapar? Ini, makanlah kueh ini."
Gadis itu keluarkan sepotong kueh kering dari saku bajunya, dan mereka lalu makan kuih itu.
Hal ini membuat mereka teringat lagi akan peristiwa dulu didalam jurang, dimana mereka juga makan kuih kering bekal Sin Wan.
Setelah makan dan minum air gunung yang jernih, dingin, dan segar mereka lalu berangkat pula.
Perjalanan kali ini berbeda dengan ketika Sin Wan berangkat dari rumah, karena dengan berdua mereka merasa gembira dan lebih menikmati pemandangan di kanan kiri.
Tamasya alam yang tadi ketika berangkat tidak diindahkan, bahkan tidak terlihat oleh Sin Wan, Kini nampak bagus dan menarik sekali hingga beberapa kali ini ia dan Giok Ciu berhenti untuk menikmati pemandangan indah itu beberapa lama.
Dari perjalanan ini maka terbuktilah kekuatan dan keuletan tubuh Sin Wan.
Pemuda itu boleh dibilang sehari penuh terus berlari cepat dan hanya berhenti sebentar, tapi ia sama sekali tidak merasa lelah!
Karena sering berhenti, maka ketika mereka tiba di kampung Sin Wan telah mulai senja.
Matahari telah sembunyi di balik puncak Kam-Hong-San dan keadaan telah sunyi senyap karena burung-burung telah kembali ke sarang mereka dan beristirahat setelah sehari penuh beterbangan mencari makan.
Beberapa ekor burung kuntul yang berbulu putih terbang tergesa-gesa di bawah mega, gerakan sayap mereka perlahan tapi kuat hingga tubuh mereka meluncur maju bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.
"Sin Wan kenapa kampungmu begini sunyi?"
Tanya Giok Ciu dengan heran ketika mereka mulai masuk perkampungan itu.
Sin Wan tak menjawab, tapi ia sendiri juga heran sekali.
Tiba-tiba telinga mereka dapat mendengar suara tangis sedih yang tertahan-tahan, agaknya orang-orang menangis tapi karena takut maka tidak berani menangis keras.
Sin Wan terkejut dan ia memegang lengan Giok Ciu sambil berkata.
"Hayo cepat, Giok Ciu!"
Gadis itu merasa betapa tangan Sin Wan yang memegang lengannya sangat dingin!
Maka hatinyapun berdebar karena menyangka sesuatu yang tidak beres.
Dan apa yang tampak oleh mereka sungguh mengerikan!
Ketika mereka tiba di depan rumah Sin Wan, tampak tubuh-tubuh malang melintang di atas tanah yang telah menjadi merah karena aliran darah dari para korban itu.
"Sin Wan, apakah yang terjadi?"
Giok Ciu dengan wajah pucat pegang lengan pemuda itu, tapi bagaikan orang kalap Sin Wan mengkipaskan tangan Giok Ciu dan meloncat masuk ke dalam rumahnya sambil berteriak-teriak.
"Ibu...! Kakek"!"
Giok Ciu cepat mengikut pemuda itu dan meloncat masuk ke dalam pintu yang terpentang lebar.
Dan ketika ia masuk kedalam, ia melihat Sin Wan telah berlutut dan memeluki tubuh Ibunya yang menggeletak mandi darah!
Juga Kakeknya rebah dengan lengan kanan putus dan tidak ingat orang!
"Ibu...
Kong-kong..."
Giok Ciu berbisik perlahan dan ia merasa betapa seluruh tubuhnya menggigil.
Sin Wan seperti orang gila.
Ia menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya kedua matanya melotot lebar dan dari pelupuk matanya mengalir air mata berbutir-butir membasahi pipinya.
Ia angkat kepala Ibunya dan dipangkunya kepala yang lemas itu, di dekapnya muka Ibunya pada dadanya dan diciuminya jidat yang halus putih dan pucat itu.
Kemudian, lama sekali, barulah Sin Wan dapat berbisik, suaranya tenggelam dalam keroNgkongannya.
"Ibu... Ibu"
Bangunlah, Ibu"
Bukalah matamu, aku datang, Ibu... aku Sin Wan anakmu""
Giok Ciu melihat keadaan pemuda itu dan mendengar ratap tangisnya, hanya bisa mencucurkan air mata dari belakang ia pegang lengan Sin Wan.
Hatinya ingin menghibur, tapi tak sepatah kata-kata dapat keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba ia melihat Ibu Sin Wan menggerak-gerakkan kulit matanya.
"Sin Wan, lihat Ibumu siuman."
Bisik Giok Ciu. Sin Wan pandang wajah Ibunya dan harapan timbul dalam hatinya.
"Ibu"
Bangunlah, Ibu..."
Ratapnya dan ia mencoba untuk mengangkat tubuh Ibunya, tapi tiba-tiba nyonya itu merintih kesakitan sehingga terpaksa Sin Wan menunda maksudnya dan ia baringkan kepala Ibunya di atas pangkuannya.
Nyonya yang bernasib malang itu buka pelupuk matanya dan ia tersenyum ketika melihat Sin Wan.
"Sukur"
Kau"
Kau selamat, Sin Wan""
Katanya perlahan.
"Ibu, bagaimana kau bisa berkata begitu? Kau... ah, siapakah yang melakukan ini, Ibu? Siapa? Katakanlah, hendak kubeset menjadi dua tubuhnya!"
"Siapa lagi, anakku... Kalau bukan orang-orangya"
Kaisar... lalim..."
Ibu Sin Wan melirik ke arah gadis yang berada di belakang Sin Wan dan ikut mengalirkan air mata itu. Wajahnya yang sudah menyuram tiba-tiba berseri dan berbisik.
"Sin Wan... inikah... Giok Ciu...?"
"Betul, Ibu,"
Jawab Giok Ciu sambil mendekat. Ibu Sin Wan masih kuasa mengangkat lengan kanannya untuk meraba-raba muka dan rambut Giok Ciu, agaknya ia puas sekali.
"Kau... cantik"
Dan"
Baik, bahagialah kau dengan"
Anakku""
Giok Ciu tak kuasa menahan keharuan hatinya, ia hanya mengangguk-angguk sambil menciumi tangan yang membelainya itu.
"Sin Wan... jagalah baik-baik dia ini"
Dia ini calon isterimu"
Tanda perjodohannya... Sepatu kecil... kusimpan di peti pakaianku... Sin Wan... Giok Ciu... Aduh!"
Dan Nyonya yang telah kepayahan karena kehabisan darah yang mengalir dari lukanya itu menjadi lemas dan napasnya berhenti! "Ibu"! Ibu"!!"
Sin Wan menjerit dan kedua matanya jelalatan bagaikan mencari-cari sesuatu. Kemudian ia turunkan kepala yang dipangkuannya perlahan, lalu ia loncat berdiri dan memburu ke depan.
"Siapa yang membunuh Ibuku? Siapa?? Hayo keluar!!"
Kemudian, karena yang dilihatnya hanya mayat-mayat orang kampung bergelimpangan, ia lari lagi ke dalam dan tubruk mayat Ibunya.
"Ibu... Ibu...! Mana Kong-kong, mana...? Kong-kong"
Dimana kau?"
Sin Wan benar-benar seperti orang gila hingga ia tidak melihat Kong-kongnya yang menggeletak tak jauh dari situ. Giok Ciu sambil menangis lalu memegang tangan Sin Wan dan berkata.
"Sin Wan, tenanglah, Kong-kong ada disini, lihatlah...!"
Sin Wan menengok ke bawah dan ketika melihat tubuh Kakeknya membujur di situ mandi darah, ketegangan di wajahnya lenyap seketika. Ia menubruk Kong-kongnya dan mengangkat kepala yang sudah putih itu.
"Kong-kong! Kau juga menjadi korban? Kong-kong"
Katakanlah siapa yang melakukan ini, siapa??"
Ia menggoyang-goyang tubuh Kong-kongnya yang sudah lemas itu.
Agaknya nyawa Kakek itu belum meninggalkan raganya, karena memang orang tua itu kuat sekali dan telah mempunyai latihan tenaga dalam yang luar biasa.
Maka dalam keadaan yang bagi orang lain sudah tak mungkin dapat mempertahankan lebih lama itu karena selain lengannya yang kanan terpotong sebatas pundak, juga ia mendapat luka-luka di dada dan perutnya, ia masih dapat membuka matanya.
Mata itu memandang kepada Sin Wan dengan tajam dan dengan paksaan tenaganya yang terakhir ia berkata dengan suara parau seakan-akan bukan suara manusia lagi.
"Sin Wan... yang melakukan ini ialah... Suma Cianbu dan Siauw-San Ngo-Sinto...!"
Kepala yang tadinya menegang itu lalu terkulai lemas dalam pelukan Sin Wan, tanda bahwa hayatnya telah meninggalkan tubuh!
Sin Wan lepaskan kepala itu kebawah, lalu tiba-tiba ia betot suling bambu yang terpegang di tangan kiri Kakeknya, kemudian dengan geraman hebat Sin Wan meloncat keluar bagaikan seekor naga mengamuk!
Pemuda itu tidak ingat apa-apa lagi, yang diingat hanya dendam kepada musuh-musuhnya!
Ia tiba diluar dan matanya memandang jelalatan ke sana ke mari.
Tiba-tiba ia meloncat ke samping ketika merasa betapa pundaknya dijamah orang dengan perlahan dari belakang.
Sambil meloncat ia mengayun suling ke arah orang yang menjamahnya itu hingga Giok Ciu cepat berkelit dengan kaget sekali.
"Sin Wan, ingatlah, ini aku, Giok Ciu!"
Kata gadis itu sambil bertindak maju dan memegang lengan Sin Wan.
"Sin Wan, begini lemahkah hatimu? Beginikah sikap seorang jantan yang gagah perkasa? Kau boleh marah dan sakit hati, tetapi kau tidak tahu dimana adanya musuh-musuhmu. Apakah kau telah melupakan jenazah Ibu dan Kakek? Apakah mereka itu tidak harus diurus lebih dulu dan dibiarkan saja? Ah, Sin Wan... Sin Wan..."
Tubuh Sin Wan yang tadinya menegang dan matanya yang liar dan ganas itu melembut.
Suling yang dicengkeram dalam tangannya terlepas dan jatuh di tanah tanpa terasa.
Kemudian ia lari dengan tubuh lemas ke dalam rumah.
Melihat mayat Kong-kongnya ia lalu berlutut dan sambil memandang wajah Kakeknya itu dan ia meratap dan menyesali Kakeknya.
"Kong-kong, kenapa kau suruh aku pergi? Kenapa? Kau sengaja menyuruh aku menyingkir. Aku tahu... Aku tahu...! Kong-kong, apa kau sangka aku penakut? Apa kau sangka aku takut mati? Ah, Kong-kong. Kalau saja aku tidak pergi... Kong-kong"
Kau bikin aku selamanya akan menyesali saat kepergianku itu... Kau bikin aku menjadi penasaran selalu..."
Kemudian, sambil menyusut air mata dengan ujung baju, pemuda tanggung yang mengalami nasib buruk itu menubruk mayat Ibunya.
"Ibu... Ibu... anakmu tidak berbakti! Kau... kau diserang musuh, dilukai, dibunuh... sedangkan aku... anakmu... Pergi dan bergembira di luar! Ibu ampunkan anakmu, Ibu... aku bersumpah, sebelum dapat membunuh orang-orang terkututk itu, aku tidak mau menyebut namaku kepada orang lain""
Kemudian Sin Wan menangis lagi sambil berlutut di dekat mayat Ibunya.
Ia pukul-pukulkan kepalanya di atas lantai hingga terluka dan kulit jidat itu mengeluarkan darah!
Demikian besar rasa penyesalannya telah pergi hingga Ibunya dibunuh orang pada saat ia tidak berada di situ, maka karena menyesal ia bentur-benturkan jidat di lantai dan akhirnya sambil memekik keras ia roboh pingsan di atas dada Ibunya!
Semenjak tadi, Giok Ciu tak berdaya dan hanya ikut menangis.
Ia adalah seorang yang keras hati, tapi menghadapi pemandangan demikian mengerikan dan mengharukan, ia tak dapat menahan mengucurnya ia mata dan rasa iba hati yang luar biasa sampai menyakitkan dadanya.
Ia merasa iba sekali sekali melihat Sin Wan, pemuda tunangannya yang sebelum diberi tahu oleh Ibunya tidak mengerti bahwa Giok Ciu adalah tunangannya!
Giok Ciu sendiri telah diberi tahu oleh Ayahnya, bahkan suling kecil pemberian Kang Lam Ciuhiap telah diserahkan kepadanya untuk disimpan.
Inilah sebabnya maka ketika bertemu dengan Sin Wan, ia meraa malu sekali dan kikuk.
Tapi, kemudian dapat diterkanya bahwa pemuda itu agaknya belum tahu akan pertunangan mereka, maka lenyaplah rasa malunya terhadap Sin Wan.
Hal ini membuat kegembiraannya timbul dan ia bisa bergaul lebih bebas dengan pemuda itu.
Tapi, tidak disangkanya sama sekali, musuh telah mendahului mereka dan telah mengamuk demikian kejamnya!
Kini melihat betapa Sin Wan jatuh pingsan, Giok Ciu merasa makin bingung dan ia merasa hatinya seperti diremas-remas!
Ia lari keluar dan masuk ke dalam rumah terdekat.
Di dalam rumah itu terdapat dua orang wanita tua dan muda saling peluk dengan tubuh gemetar, dan ditengah-tengah mereka ada tiga anak-anak kecil.
Ternyata mereka masih ketakutan.
Alangkah kaget mereka ketika da orang masuk ke rumah, mereka sangkat bahwa tentara-tentara yang kejam itu masih berada di luar.
Tapi Giok Ciu berkata dengan halus.
"Encim dan cici, jangan takut-takut, musuh telah pergi semua. Marilah kau bantu aku untuk memberi tahu semua tetangga. Suruh mereka keluar dan menolong kawan-kawan kita."
Maka berdirilah kedua wanita itu dan sebentar saja mereka berdua pergi ke rumah-rumah para tetangga.
Semua orang keluarlah berbondong-bondong dan tangis dan pekik saling menyusul ketika mereka melihat mayat-mayat bergelimpangan.
Masing-masing keluar lalu mengangkat korban-korban yang masih menggeletak di luar dan menggotong tubuh-tubuh itu ke rumah masing-masing.
Giok Ciu dengan bantuan beberapa orang lalu mengurus kedua jenasah Ibu Sin Wan dan Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong.
Sedangkan Sin Wan setelah siuman, hanya duduk bengong menghadapi kedua mayat orang-orang tercinta itu.
Selama hidupnya ia hanya kenal Ibu dan Ayahnya, dan kini tiba-tiba saja kedua orang tua itu tinggalkan dia dalam cara yang demikian menyedihkan!
Sementara itu Giok Ciu mendengarkan keterangan yang diberikan oleh orang-orang kampung yang tidak menjadi korban keganasan gerombolan kaki tangan Kaisar.
Ternyata pada kira-kira tengah hari tadi, sebarisan tentara berkuda dan bersenjata lengkap menyerbu kampung itu, dipimpin oleh Suma Cianbu dan lima orang gagah, yakni Siauw-San Ngo-Sinto atau Lima Golok Malaikat dari Gunung Siauw-San.
Mereka hendak menangkap Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong, tapi Kakek yang gagah perkasa itu melawan hebat.
Pertempuran seru terjadi dan orang-orang kampung yang jujur dan setia kawan ketika melihat betapa empek itu dikeroyok, lalu maju membantu.
Tapi mereka bukanlah tandingan para tentara yang terlatih hingga sebentar saja belasan orang roboh mandir darah.
Kang Lam Ciuhiap dengan senjata suling mengamuk bagaikan seekor naga sakti.
Seorang pemuda yang berhasil menonton pertempuran itu sambil bersembunyi, menuturkan beriktu.
Rombongan penyerbu itu terdiri dari dua puluh anggauta tentara dibawah pimpinan seorang tinggi besar yang brewokan dan mengaku bahwa Suma Cianbu, yakni kapten Suma.
Kapten Suma itu bersenjatakan sepasang pedang.
Di antara mereka terdapat lima orang Tosu atau Pendeta yang semua berbaju kuning dan rambutnya diikat ke atas.
Mereka ini langsung menuju ke rumah Kang Lam Ciuhiap.
Kakek yang gagah itu dengan tenang dan sedikitpun tidak jeri menyambut kedatangan mereka di luar rumahnya.
"Ha, ha! Kang Lam Ciuhiap! Sungguh aku beruntung sekali karena ternyata kau masih hidup hingga memberi kesempatan kepadaku untuk membunuhmu!"
Kata Kapten Suma itu sambil meloncat turun dari kudanya.
"Memang benar kata-katamu bahwa aku masih hidup, Suma Cianbu. Tapi tentang membunuh itu masih merupakan teka-teki siapa tahu, barangkali akulah yang akan berhasil membunuhmu."
"Hm, orang she Bun! Kau seorang yang berdosa tetapi masih berani membuka mulut besar!"
Menegur seorang diantara kelima Tosu itu.
"Tahukah kau akan dosa-dosamu?"
Kang Lam Ciuhiap memandang ke arah Tosu itu dengan pandang mata menghina.
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 3
Baca Juga: Suling Emas 15